Contoh PTK TK/ RA: Upaya Meningkatkan Pembelajaran pengukuran Sederhana Dengan Bermain Sambil Belajar Untuk Melatih Kemampuan Berpikir

Siswa TK Aisyiyah II Palu Posted by noer al khosim on 23:33 in PTKtk | 1 komentar UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN PENGUKURAN SEDERHANA DENGAN BERMAIN SAMBIL BELAJAR UNTUK MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR SISWA TK AISYIYAH II PALU KECAMATAN PALU BARAT SULAWESI TENGAH Oleh :Sarintan. P ABSTRAK Sarintan;2008."Upaya Meningkatkan Pembelajaran pengukuran Sederhana Dengan Bermain Sambil Belajar Untuk Melatih Kemampuan Berpikir Siswa TK Aisyiyah II Palu", Kata kunci: Penngukuran sederhana, bermain sambil belajar, kemampuan berpikir Telah dilaksanakan penelitian tentang pembelajaran pengenalan sains sederhana (pengukuran) dengan bermain sambil belajar untuk melatih kemampuan berpikir siswa di TK Aisyiyah II Palu. Dalam pelaksanaan Kurikulum 2006 Taman Kanak-kanak dan Raudlatul Athfal, guru mengalami kesulitan terutama untuk mengenalkan konsep sains sederhana. Karena dunia anak adalah dunia bermain, maka pembelajaran sains di TK dapat dilakukan melalui kegiatan bermain dengan pendekatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah pembelajaran pengenalan sains sederhana pada materi pengukuran dengan bermain sambil belajar dapat melatih kemampuan berpikir dan bagaimana pelaksanaannya. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak-anak usia TK . Dengan bermain, anak dapat mengekspresikan berbagai perasaan, ide-ide yang sedang dipikirkan dan mengembangkan daya kreativitas serta kemampuan berpikirnya. Dengan demikian, penerapan metode bermain dengan pendekatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain dapat memberikan kesempatan pada anak untuk melatih kemampuan berpikir baik kritis maupun kreatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus, yang tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik diperoleh dari lembar observasi. Sedangkan untuk kemampuan berpikir diperoleh dari hasil observasi pada lembar evaluasi bermain sambil belajar yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berupa gambar-gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pengenalan sains sederhana pada materi pengukuran dengan bermain sambil belajar dapat melatih kemampuan berpikir. Hasil belajar kognitif yang berupa kemampuan berpikir, hasil belajar afektif dan hasil belajar psikomotorik dari siklus I ke siklus II meningkat secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan nilai thitung dengan nilai ttabel, dimana untuk masing-masing aspek diperoleh thitung lebih besar dari ttabel. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pengenalan sains sederhana dengan bermain sambil belajar dapat melatih kemampuan berpikir dan meningkatkan hasil belajar siswa TK Aisyiyah II Palu. Bagi guru TK hendaknya menambah jumlah alat yang sejenis sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran siswa tidak harus saling bergantian. Bagi sekolah hendaknya memacu kreativitas guru untuk membuat alat peraga sederhana sendiri. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan kurikulum 2006 Taman Kanak-kanak dan Raudlatul Afhtal, pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak usia dini yang dilakukan dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Melalui upaya ini, anak diharapkan memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Berdasarkan observasi dan dokumentasi yang telah kami lakukan di TK Negeri Aisyiyah II Palu, diketahui bahwa guru mengalami kesulitan dalam memilih metode yang tepat untuk memberikan pembelajaran mengenai konsep sains sederhana. Guru juga merasa kesulitan dalam menyusun skenario pembelajaran agar pembelajaran mengenai konsep pengukuran sederhana menjadi lebih menarik bagi anak.Karena dunia anak adalah bermain maka pembelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak (Sudono A, 2000: 1). Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, mempraktekkan dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya.

b. Selain menyenangkan. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. 2. Artinya anak tidak hanya dijadikan sebagai objek. Untuk mendapatkan model pembelajaran pengenalan Pengukuran sederhana yang dapat melatih kemampuan berpikir siswa TK Aisyiyah II Palu. Untuk mengetahui apakah melalui pembelajaran pengenalan pengukuran sederhana dengan bermain sambil belajar dapat melatih kemampuan berpikir siswa TK Aisyiyah II Palu. 17 Juli 2007) taman Kanak-kanak adalah pendidikan untuk anak usia prasekolah. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Di Taman Kanak-kanak Menurut R. Karena memegang peranan penting dalam proses pendidikan. sikap dan perilaku dalam kehidupan seharihari. Manfaat Penelitian a. Bagaimanakah model pembelajaran pengenalan Pengukuran sederhana yang dapat melatih kemampuan berpikir siswa TK Aisyiyah II Palu? C. Dapat memupuk dan megembangkan konsep mengajar yang aplikatif mampu mengkomunikasikan pengajaran dengan lingkunganya . .com/bpost/ 062003/2/opini/opini1. mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan belajar yang disesuaikan dengan karakteristik anak Taman Kanak-kanak misal anak diajak untuk mengamati fenomena alam yang terjadi di sekitarnya atau anak diajak untuk menggolongkan benda-benda sesuai kategori masing-masing. c. Tujuan Penelitian a. Pengelolaan pembelajaran hendaknya juga dilakukan secara dinamis. (2000: 63) guru adalah pemegang kendali dalam proses pendidikan anak usia dini.   Dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan mengenai pembelajaran Pengukuran sederhana dengan bermain sambil belajar. metode. Melalui kegiatan bermain anak diajak untuk bereksplorasi. Bagi Peneliti/sekolah. A. Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak-anak usia Taman Kanak-kanak dan Raudlatul Athfal. membangkitkan rasa ingin tahu. Dalam kurikulum 2006 Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudlatul Athfal (RA) yang juga dirujuk oleh TK suasta menguraikan bahwa pendekatan pembelajaran pada pendidikan TK dan RA dilakukan dengan berpedoman pada suatu program kegiatan yang telah disusun sehingga seluruh pembiasaan dan kemampuan dasar yang ada pada anak dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya. bahasa. D. penanaman nilai. Rumusan Masalah a. motorik. tetapi juga dijadikan subyek dalam proses pembelajaran. Taman Kanak-kanak merupakan pendidikan untuk usia prasekolah sehingga kegiatannya mencakup kegiatan pendidikan. memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal baru. maka dalam upaya mengembangkan seluruh potensi anak seorang guru harus bisa merencanakan. b. b. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran di Taman Kanak-kanak Menurut Sudono. Landasan Teori 1. materi dan media yang digunakan harus menarik perhatian serta mudah diikuti sehingga anak akan termotivasi untuk belajar. Apakah pembelajaran pengenalan pengukuran sederhana dengan bermain sambil belajar dapat melatih kemampuan berpikir siswa TK Aisyiyah II Palu? b. Untuk itu dalam memberikan pendidikan pada anak usia Taman Kanak-kanak dan Raudlatul Athfal harus dilakukan dalam situasi yang menyenangkan sehingga ia tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran. J Drost dalam Mardiyanto (http://www. menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya. Berorientasi pada Kebutuhan Anak Anak TK adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun perkembangan psikis yang meliputi intelektual. sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Pendekatan pembelajaran pada anak TK dan RA hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. dan sosio emosional. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak. Bagi Guru  Melatih ketrampilan menggunakan metode dan model pembelajaran yang variatif dan kreatif.indomedia.htm.B. Kreatif dan Inovatif Proses pembelajaran dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik.

mengikuti perintah guru dan bekerjasama dalam kelompok. 1. Desain Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan model penelitian tindakan kelas (classroom action reseach). Kemampuan Berpikir Kemampuan berarti kesanggupan. K (2000: 327). Data tentang nilai hasil belajar kognitif yang berupa kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Untuk melakukan pengukuran. lidi dan sedotan. B. sains merupakan sebuah batang tubuh pengetahuan yang terorganisir dengan baik mengenai dunia fisik dan alami. mengkritik. D. Hipotesis tindakan Hipotesis yang penulis ajukan adalah ” melalui pembelajaran pengenalan pengukuran sederhana dengan bermain sambil belajar dapat melatih kemampuan berpikir dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa TK Aisyiyah II Palu tahun pelajaran 2008/2009. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini setiap siklus terdiri dari empat tahap kegiatan yaitu perencanaan. dengan jumlah 32 anak didik. Analisis Data Analisis data dilakukan untuk melihat ketuntasan belajar siswa dan peningkatan hasil belajar. Tinjauan Tentang Materi Pengukuran Menurut Foster. observasi dan refleksi.3. Keterampilan-keterampilan ini mencakup keterampilan untuk mengamati. mengklasifikasikan dan mengukur. Lembar ini mencakup kemampuan kognitif yang berupa kemampuan berpikir kritis dan kreatif. B. 4. pita. (2004: 2) pengukuran adalah membandingkan sesuatu (besaran) dengan sesuatu yang lain yang dipakai sebagai patokan. Setting dan Subyek Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester satu sejak bulan September sampai Nopember 2008 kegiatan penelitian ini mulai perencanaan hingga pembuatan laporan hasil penelitian khususnya pada siswa kelompok B5. Sebagai produk. E. 2. METODE PENELITIAN A. Lembar Evaluasi Bermain Sambil Belajar Lembar evaluasi bermain sambil belajar. Teknik Pengumpulan Data 1. Data hasil belajar kognitif yang berupa kemampuan berpikir kritis dan kreatif diperoleh dari hasil observasi pada lembar evaluasi bermain sambil belajar. B. C. Pengenalan Sains Sederhana Menurut Juwita. Alasan sehingga peneliti menggunakan kelas ini sebagai subyek penelitian adalah karena kelas B5 ini bila dipandang secara umum dari jumlah seluruh anak didik yang ada di TK Aisyiyah II Palu ini dianggap kelas yang mempunyai kecepatan belajar rendah/lamban untuk kelompok B. Sebagai proses. menjelaskan. 2. psikomotorik serta tanggapan atau respon siswa terhadap pembelajaran pengenalan sains sederhana pada materi pengukuran dengan bermain sambil belajar dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: . kecakapan. pelaksanaan tindakan. memutuskan segala sesuatu (Poerwadarminta. 5. mengamati dan melakukan percobaan. mengkomunikasikan. Berpikir berarti menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan. 2000: 707). Instrumen Penelitian 1. Selain itu. berisi pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang berbentuk gambargambar dan siswa diminta untuk menjawab dengan cara memilih. Bila menggunakan patokan pengukuran yang berbeda-beda dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda pula. sains adalah produk dan proses. mewarnai dan menghubungkan gambar yang sesuai. dan mencapai kesimpulan berdasarkan referensi atau pertimbangan yang seksama. Aspek yang dinilai dengan lembar observasi psikomotorik adalah mengukur dengan langkah. afektif. bisa digunakan patokan apa saja misal dengan pensil.Kerangka Berpikir Gambar 2.1. memperkirakan. menimbang dengan timbangan buatan dan merapikan alat. Lembar Observasi Aspek yang dinilai dengan lembar observasi afektif adalah menghargai alat bermain. Desain kerangka Berpikir penelitian C. kekuatan (Poerwadarminta. Untuk itu para ilmuwan telah menetapkan suatu sistem satuan internasional (sistem SI) yang bisa digunakan oleh semua orang dengan tujuan untuk menghindari perbedaan penafsiran terhadap hasil pengukuran dengan berbagai patokan tersebut. mengukur dengan alat. menakar dengan sendok takar. 2000: 872). Data hasil belajar afektif dan psikomotorik serta respon siswa terhadap pembelajaran pengenalan sains sederhana pada materi pengukuran dengan bermain sambil belajar diperoleh melalui metode observasi. berpikir juga merupakan kemampuan untuk menganalisis. Sebelum Pelaksanaan penelitian atau sebelum tindakan pada siklus I terlebih dahulu melakukan pengamatan dan tes awal kemudian diadakan penerapan Tindakan yang direncanakann sampai dua siklus. membandingkan. sains merupakan kegiatan menelusuri.

Hasil kemampuan berpikir kreatif dapat disajikan dalam tabel tabel 4.29 Ketuntasan klasikal ( % ) 83.1a berikut: Kemampuan Berpikir kritis Skor Tertinggi 100 100 Membedakan Fakta dan opini Menemukan kemungkinan 100 Skor Terendah 50 25 25 Skor Ratarata 78. materi yang diajarkan adalah mengukur panjang. Untuk memperoleh perbedaan hasil belajar antara siklus I dan siklus II digunakan prosentase peningkatan tiap siklus. Siklus I Ketika pembelajaran berlangsung. jika hasil belajar siswa mencapai 65% secara individu dan 85% secara klasikal.65 75 82. Pada siklus I. 1984:184) N Keterangan: P : persentase n : jumlah skor yang diperoleh dari data N : jumlah skor maksimal 2. Hasil Belajar Kognitif Hasil belajar kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir siswa. seorang siswa dikatakan tuntas bila telah mencapai 75% dengan ketuntasan klasikal 75% . F. 2. baik kemampuan berpikir kritis maupun kemampuan berpikir kreatif.P = n X 100 % ( Ali M.46 Ketuntasan klasikal ( % ) 75 % Siklus I 1.2a berikut.62 80. aspek psikomotorik. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan pada penelitian tindakan kelas ini. Hasil kemampuan berpikir kritis siswa dapat disajikan tabel 4. meminta siswa melakukan percobaan. menjelaskan cara melakukan percobaan dengan demontrasi. aspek penilaian afektif bila telah mencapai 60% dengan ketentuan klasikal 75% . No Kemampuan Berpikir kreatif Skor Tertinggi 100 100 Membuat kombinasi baru 100 Skor Terendah 50 25 75 Skor Ratarata 78. guru mengajar sesuai dengan satuan kegiatan harian (SKH) yang telah dibuat yaitu membuka pelajaran. a.83 86. . untuk aspek kognitif dapat dilihat dari hasil tes. menyimpulkan hasil percobaan dan mengadakan evaluasi di akhir siklus.33 % 1 Siklus I 1. Kemampuan berpikir kreatif siswa pada siklus I meliputi kemampuan dalam membuat kombinasi baru dan membandingkan benda. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.

3a berikut. Hasil belajar psikomotorik yang diperoleh siswa pada siklus I dapat disajikan dalam Tabel 4.4a No Siklus Skor Tertinggi 100 Skor Terendah 41. Gambar 4.67 95. No Siklus Skor Tertinggi 100 Skor Terendah 50 Skor Ratarata 79. Hasil belajar afektif yang diperoleh siswa pada sikllus I dapat disajikan dalam tabel 4.58 % Data kemampuan berpikir kritis siswa di atas dapat disajikan dalam bentuk diagram batang seperti tertera pada Gambar 4.67 Skor Ratarata 77. 2.78 Ketuntasan klasikal ( % ) 58. 2 Siklus II 1. Hasil Belajar Psikomotorik Penilaian hasil belajar psikomotorik pada siklus I meliputi penilaian terhadap kemampuan siswa dalam mengukur dengan langkah.51 Ketuntasan klasikal ( % ) 75 % 1 Siklus I c.62 80.5 50 75 88.46 Ketuntasan klasikal ( % ) 75 % 1 Siklus I 3.2.1. Hasil Belajar Kognitif Pada siklus II meliputi membedakan fakta dan opini dan menemukan kesalahan Hasil kemampuan berpikir kritis siswa dapat disajikan dalam Tabel 4. 4.42 91.1. Membandingkan b.54 85. mengukur dengan alat dan merapikan alat.33 % 1 Siklus I 2. Grafik kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I .83 86. Hasil Belajar Afektif Penilaian hasil belajar afektif meliputi penilaian terhadap sikap siswa dalam menghargai alat. Membedakan Fakta dan opini Menemukan kesalahan 100 100 100 62.1. Siklus II a. No Kemampuan Berpikir kritis Skor Tertinggi 100 100 Membedakan Fakta dan opini Menemukan kemungkinan 100 Skor Terendah 50 25 25 Skor Ratarata 78. mengikuti perintah guru dan kerjasama dalam kelompok.

Pada siklus II. Grafik hasil belajar afektif siswa pada siklus I dan siklus II Dari Gambar 4.3 Gambar 4.65 75 82.2. diperoleh informasi bahwa skor rata-rata pada siklus I adalah 79.83%. Pada siklus II meliputi menemukan alternatif lain dan membuat kombinasi baru. diperoleh skor rata-rata sebesar 81.29 Ketuntasan klasikal ( % ) 83. mengikuti perintah guru dan kerjasama dalam kelompok Tabel 4.dan siklus II Dari Gambar 4.3.65 dengan ketuntasan klasikal 75%.94 dengan ketuntasan klasikal 87.2. Ini berarti ada peningkatan yang signifikan untuk kemampuan berpikir kreatif dari siklus I ke siklus II. Tabel 4. Hasil Belajar Afektif Penilaian hasil belajar afektif meliputi penilaian terhadap sikap siswa dalam menghargai alat. Kemampuan berpikir kreatif siswa pada siklus I dan siklus II No Kemampuan Berpikir kreatif Skor Tertinggi 100 100 Membuat kombinasi baru Membandingkan 100 Skor Terendah 50 25 75 Skor Ratarata 78. diperoleh informasi bahwa skor rata-rata siswa pada siklus I sebesar 78. Hasil Belajar Psikomotorik .33% Data tersebet di atas dapatdisajikan dalam bentuk diagram batang seperti gambar berikut: Gambar 4. 2 Siklus II 1.50% 1 2 Siklus I Siklus II Data tersebut diatas dapat disajikan dalam diagram batang seperti gambar 4.33 % 1 Siklus I 3. Pada siklus II.51 81.29 70. skor rata-rata siswa adalah 88.3. dapat diperoleh informasi bahwa skor rata-rata siswa pada siklus I adalah 78. b. 2. c. Grafik kemampuan berpikir kreatif siswa pada siklus I dan siklus II Dari Gambar 4.51 dengan ketuntasan klasikal 75%.29 dengan ketuntasan klasikal 83.33%. maka dapat dikatakan bahwa ada peningkatan yang signifikan dari siklus I ke siklus II untuk hasil belajar afektif. terjadi peningkatan skor rata-rata siswa dari 78.2.54 dengan ketuntasan klasikal 95.5%.75 83.94 Ketuntasan klasikal ( % ) 75 % 87.65 menjadi 82.3.33%.83 93.65 dengan ketuntasan klasikal 83. 4. Pada siklus II. Hasil kemampuan berpikir kreatif dapat disajikan dalam Tabel 4. Menemukan alternatif Membuat kombinasi baru 100 100 100 50 50 50 82.1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan untuk kemampuan berpikir kritis siswa dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar afektif siswa pada siklus I dan siklus II No Siklus Skor Tertinggi 100 100 Skor Terendah 50 50 Skor Ratarata 79.2.

54 82. lebih tepat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar kognitif yang berupa kemampuan berpikir kritis dan kreatif.65 88.33 Skor Ratarata 77.5. B.Aspek psikomotorik yang dilakukan pada siklus II meliputi menakar dengan sendok takar. afektif dan psikomotorik dapat dilihat pada tabel 4. menimbang dengan timbangan buatan dan merapikan alat Tabel 4.94 83.94 Signifikan Signifikan Siklus II T tabel T hitung peningkatan 2. Ini berarti telah terjadi peningkatan yang signifikan untuk hasil belajar psikomotorik siswa dari siklus I ke siklus II.67 58. 2. Grafik hasil belajar psikomotorik siswa siklus I dan II Dari Gambar 4. sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran siswa tidak harus saling bergantian.68 0. .. diperoleh informasi bahwa skor rata-rata siswa pada siklus I adalah 77.851 2. Pada siklus II skor rata-rata siswa meningkat menjadi 83. 3 Hasil belajar efektif Hasil belajar psikomotorik 79.78 81. maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: . 4. Simpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pengenalan sains sederhana pada materi pengukuran dengan bermain sambil belajar dapat melatih kemampuan berpikir siswa TK Aisyiyah II Palu.78 83. Hasil uji peningkatan hasil belajar No Aspek yang dinilai Skor rata-rata Silus I 1 Hasil Belajar Kognitif 1.29 2. Gambar 4.23 2. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.68 dengan ketuntasan klasikal meningkat menjadi 91. .07 Signifikan Signifikan PENUTUP A. Kemampuan berpikir kritis Kemampuan berpikir kreeatif 78.4. Hasil belajar psikomotorik siswa pada siklus I dan siklus II No Siklus Skor Tertinggi 100 100 Skor Terendah 41. hasil belajar afektif dan hasil belajar psikomotorik.33 % 91.5. Peningkatan Hasil Belajar Tiap siklus Hasil analisis uji peningkatan hasil belajar kognitif.66%.66 % 1 2 Siklus I Siklus II Data hasil belajar psikomotorik siswa dapat digambarkan dalam bentuk diagram batang seperti tertera pada gambar 4.65 78. Tabel 4.02 1.58 0.Bagi guru TK Aisyiyah II Palu hendaknya menambah jumlah alat yang sejenis.78 dengan ketuntasan klasikal 58.851 2. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya hasil tes kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. diketahui bahwa hasil tes kemampuan berpikir kritis dan kreatif meningkat secara signifikan dari siklus I ke siklus II.68 Ketuntasan klasikal ( % ) 58.51 77.4.33%.4. Berdasarkan uji signifikansi.02 0. Hal ini dapat dilakukan dengan memacu kreativitas guru untuk membuat alat peraga sederhana sendiri. Model pembelajaran pengenalan sains sederhana dengan metode bermain melalui pendekatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain.Bagi sekolah hendaknya menyediakan sarana dan alat percobaan yang dapat menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar.

2004. J. 2004.htm.com/kesehatan/news/0605/05/093521. Penelitian Tindakan Kelas. Pendidikan Usia Dini (Mengajar Anak Berpikir Kritis).kompas. 2000. Reid. Jakarta: Depdiknas. Mandiri. Depdiknas. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2006. suaramerdeka. 2005.indomedia.com/harian/0511/07/ragam03.org/sabdaweb/?p =Zakharia+8:5.com/bpost/ 062003/2/opini/opini1. Kurikulum 2006 Standar Kompetensi TK dan RA. http:// www.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Jakarta: Grasindo.htm. (23/04/2007). Melatih Anak Berpikir Analistis. Makalah dalam Seminar Nasional FMIPA Unnes.htm. Harsanto. D. (29/06/2007). http://www. R. http://http://www. Kritis dan Kreatif. Yulianti. B. Takwin. Menyoal Academic Oriented Pendidikan Prasekolah. Mengenalkan Sains Pada Anak Usia Dini. Sudono. Jakarta: Grasindo.sabda. Pengembangan Model Pengajaran Sains Sederhana untuk Menumbuhkan Minat Sains Siswa Taman Kanak-Kanak. -------. 2006. Sumber Belajar dan Alat Permainan. Mardiyanto. A. Mental dan Analitis. Mengajari Anak berpikir Kreatif. Suharsimi. Yulianti. Bermain Sambil Belajar.C. (23/04/2007). 2005. D. 2005.(17/07/2007). Jakarta: Prestasi Pustakaraya. http:// www. Desember 2005. 2006. . 2003.