P. 1
BAB II PKPR

BAB II PKPR

|Views: 193|Likes:
Published by kampusmesum

More info:

Published by: kampusmesum on May 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2015

pdf

text

original

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan 1. Pengertian a. Menurut Notoatmodjo (2006) dalam Wawan dan Dewi (2010 : h.11) pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri melalui mata dan telinga. b. Menurut Barnadib dalam Ahmadi dan Uhbiyati (2003 : h.79) ilmu pengetahuan ialah suatu uaraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu objek. c. Menurut Indrakusuma dalam Ahmadi dan Uhbiyati (2003 : h.79) ilmu pengetahuan merupakan uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah. 2. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2006) dalam Wawan dan Dewi (2010 : h.1214) pengetahuan dalam aspek kognitif dibagi menjadi 6 tingkatan, yaitu : a. Tahu (Know) Artinya mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, yang termasuk dalam kategori ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 7

8

b. Memahami (Comprehension) Artinya suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yangtelah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Aplication) Artinya kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (Analysis) Artinya suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi danmasih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, sepertidapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan dan mengelompokkan. e. Sintesis (Synthesis) Artinya kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sinteisis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Artinya kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

9

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan a. Faktor Internal 1) Pendidikan Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Wiwik (2009 : h.9)

mengemukakan bahwa konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti bahwa dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan dan perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok, atau masyarakat. Sedangkan Nursalam dan Siti Pariani (2001) dalam Wiwik (2009 : h.9) mengemukakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai yang di kenakan. Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (2003)

pendidikan dibebedakan menjadi 3 yaitu : a) Pendidikan Informal Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. Pendidikan ini dapat berlangsung dalam keluarga, dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam pekerjaan, masyarakat, keluarga dan organisasi. b) Pendidikan Formal Pendidikan formal adalah pendidikan yang berlangsung secara teratur, bertingkat dan mengikuti syarat-syarat tertentu secara

10

ketat. Pendidikan ini berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal atau sekolah. Pendidikan formal yang berlangsung di lembaga pendidikan memiliki jenjang atau tingkatan. Menurut pendapat Ahmadi dan Uhbiyati (2003 : 163) jenjang pendidikan dibagi 3 yaitu : (1) Pendidikan dasar yaitu TK dan SD. (2) Pendidikan Menengah yaitu SMTP (umum dan kejuruan), SMTA (umum dan kejuruan). (3) Pendidikan Tinggi (Perguruan Tinggi). c) Pendidikan Non Formal Pendidikan non formal adalah pendidikan yang dilaksanakan secara tertentu dan sadar tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan yang ketat. Contoh dari pendidikan non formal ini salah satunya adalah seminar. 2) Pengalaman Menurut Notoatmodjo (2003) yang dikutip Wiwik (2009 : h.9-10) mengemukakan bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi pengalaman sendiri atau dari orang lain, sebagai contoh seorang anak memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas adalah setelah memperoleh pengalaman dimana tangan atau kakinya terkena api dan terasa panas. b. Faktor Eksternal 1) Lingkungan Menurut Purwanto dalam Wiwik (2009 : h.10) lingkungan adalah segala apa yang berpengaruh pada diri individu dalam perilaku

11

dengan lingkungan, dapat mempengaruhi perilaku manusia sehingga kenyataan akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. 2) Sosial Budaya Menurut Azwar (2007) dalam Wiwik (2009 : h.10) berpendapat bahwa kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita, apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam

pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang. 4. Cara Memperoleh Pengetahuan Pengetahuan seseorang menurut Lilik (2009) dalam Sulistyawati, (2011 : h.18-19) dapat diperoleh melalui : a. Pengalaman Pribadi Pemahaman seseorang dapat diperoleh melalui pengalaman pribadi yang memberikan pribadi tidak informasi mengenai suatu masalah. masalah Melalui yang

pengalaman sebelumnya

iniditemukan diketahui.

jawaban

atas

Pengelama

merupakan

sumber

pengetahuan yang terbaik dengan kata lain pengalaman adalah guru yang terbaik. b. Pengalaman Orang Lain Pengalaman dapat juga diperoleh melalui pengalaman orang lain. Dengan melihat kejadian atau masalah yang terjadi pad orang lain, seseorang dapat memperoleh informasi mengenai suatu masalah baik secara langsung maupun tidak langsung.

12

c. Media Massa Media massa merupakan sumber informasi yang paling banyak memberikan pengetahuan pada seseorang mengenai suatu masalah. Sumber informasi melalui media ini dapat berupa majalah, korang, televisi, radio, iklan dan lain sebagainya. 5. Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dillakukan dengan wawancara atau kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan pengetahuan (Sulistyawati, 2011 : h.18). 6. Kriteria Tingkat Pengetahuan Menurut Arikunto (2006) yang dikutip Wawan dan Dewi (2010 : h.18), pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu : a. Baik : Hasil presentase 76% - 100% b. Cukup : Hasil Presentase 56% - 75% c. Kurang : Hasil presentase < 56%.

B. Remaja 1. Pengertian Remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif

(Widyastuti, dkk, 2009: h.11).

13

Menurut WHO, remaja adalah anak yang berusia antara 10-19 tahun. Sedangkan menurut Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (2007), remaja adalah laki-laki atau perempuan yang belum kawin dengan batasan usia meliputi 15-24 tahun (Muladi, 2010). Menurut Hurlock istilah adolescense atau remaja berasal dari bahasa Latin yang berarti “tumbuh atau berkembang menjadi dewasa”. Istilah adolescense seperti yang digunakan saat ini mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial danfisik. Jadi, masa remaja adalah usia dimana individu terintegrasi dengan masyarakat dewasa, anak tidak lagi di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya adalah masalah hak (Anonim, 2011). WHO dalam Sarwono (2002) mendefinisikan remaja lebih bersifat konseptual, ada 3 kriteria yaitu biologis, psikologis dan sosial ekonomi dengan batasan usia 10-20 tahun, secara lengkap definisi tersebut adalah : a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri. 2. Tahapan Remaja Menurut Yusuf (2003) masa remaja dapat dibedakan menjadi : a. Masa pra remaja 11-12 tahun, yaitu masa yang ditandai dengan sifatsifat negatif dengan gejalanya seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pesimis.

14

b. Masa remaja awal 13-15 tahun, yaitu masa yang dintandai dengan tumbuhnya dorongan kontak hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, tempat yang dapat turut

merasakansuka dan duka. c. Masa remaja akhir 16-18 tahun. d. Masa dewasa awal 18-25, yaitu masa pemantapan pendirian hidupnya. 3. Perkembangan Remaja a. Perkembangan Seksual Menurut Anonim (2008; h.18) ciri perkembangan seksual remaja tumbuh seiring perkembangan fisik seseorang. Pertumbuhan fisik yang cepat pada remaja, terjadi pula pada pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga mampu melangsungkan fungsi reproduksi. Perubahan dengan ciri-ciri : 1) Tanda-tanda seks primer, yaitu yang berhubungan Iangsung dengan organ seks (terjadinya haid pada remaja puteri/manarche dengan terjadinya mimpi basah pada remaja laki-laki) 2) Tanda-tanda seks sekunder, yaitu: a) Pada remaja laki-laki terjadi perubahan suara, tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, dada lebih lebar, badan berotot, tumbuhnya kumis, cambang dan rambut di sekitar kemaluan dan ketiak; b) Pada remaja puteri: pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan vagina, payudara membesar, tumbuhnya rambut di ketiak dan sekitar kemaluan (pubis). ini ditandai

15

b. Perkembangan Psikologi Setiap tahap perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut. Berikut ini merupakan berbagai tuntutan psikologis yang muncul di tahap remaja, diantaranya : 1) Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat

memanfaatkannya secara efektif. 2) Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua 3) Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin 4) Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri 5) Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma (Kristiono, 2008). c. Perkembangan Sosial Manusia tumbuh dan berkembang pada masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangan itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi sosial merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial. Pada masa remaja, interaksi dan pengenalan/pergaulan dengan

16

teman sebaya terutama lawan jenis menjadi sangat penting. Pada akhirnya pergaulan sesama manusia merupakan suatu kebutuhan. (Tisna, 2009). 4. Masalah-masalah Kesehatan Remaja Menurut Soelaryo (2003; h.18) mengemukakan bahwa masa remaja adalah masa peralihan. Remaja kadang mengalami kesulitan beradaptasi dalam masa peralihan dan cenderung memerlukan beberapa kebutuhan, diantaranya adalah kebutuhan akan pengendalian diri, kebebasan, rasa kekeluargaan, penerimaan sosial, penyesuaian diri, agama dan nilai-nilai sosial. Dalam pemenuhan kebutuhannya, remaja sering mengalami masalah diberbagai bidang, termasuk dalam kesehatan reproduksinya, baik fisik maupun perilaku yang menimbulkan kelainan fisik. a. Masalah Fisik Masalah fisik biasanya remaja bermasalah dengan jerawat (acne). b. Masalah Perilaku Perilaku remaja yang perlu penanganan khusus adalah akibat dari keingintahuan remaja, sehingga seringkali melakukan dengan cara cobacoba, diantaranya adalah : 1) Masalah seks dan seksualitas. a) Pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak tepat tentang masatah seksualitas, misalnya mitos yang tak benar. b) Kurangnya bimbingan untuk bersikap positif dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas. c) Penyalahgunaan dan ketergantungan napza, yang mengarah kepada penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik dan melalui hubungan seks bebas. Masalah ini semakin mengkhawatirkan dewasa ini.

17

d) Penyalahgunaan seksual. e) Kehamilan pranikah di luar ikatan pemikahan. 2) Masalah terhadap keingintahuan dan mencoba-coba terhadap NAPZA (narkotik, psikhotropik dan zat adiktif lain, termasuk rokok dan alkohol). 3) Masalah perkawinan dan kehamilan dini. a) Ketidak matangan secara fisik dan mental. b) Risiko komplikasi dan kematian ibu dan bayi lebih besar. c) Kehilangan kesempatan untuk pengembangan diri remaja. d) Risiko untuk melakukan aborsi yang tidak aman.

C. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja 1. Pengertian PKPR adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau oleh remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Singkatnya, PKPR adalah pelayanan kesehatan kepada remaja yang mengakses semua golongan remaja, dapat diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien (Anonim, 2005; h.5). 2. Tujuan dan Sasaran PKPR a. Tujuan Tujuan umum dari PKPR menurut Anonim (2005; h.5) adalah optimalisasi pelayanan kesehatan remaja di puskesmas, sedangkan tujuan khususnya adalah :

18

1) Meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja berkualitas. 2) Meningkatkan pemanfaatan Puskesmas oleh remaja

yang

untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan. 3) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam

pencegahan masalah kesehatan khusus pada remaja. 4) Meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan remaja. b. Sasaran PKPR Semua remaja dimana saja berada baik di sekolah atau di luar sekolah seperti karang taruna, pondok pesantren, asrama, dan kelompok remaja lainnya. (Muladi, 2010) 3. Manfaat PKPR Manfaat PKPR menurut Muladi (2010) adalah sebagai berikut : a. Menambah wawasan dan teman melalui kegiatan-kegiatan penyuluhan, dialog interaktif, Focus Group Discussion (FGD), seminar, jambore, dan lain-lain. b. Konseling/curhat masalah kesehatan dan berbagai masalah remaja lainnya (dan kerahasiaannya dijamin). c. Remaja dapat menjadi peer counselor/kader kesehatan remaja agar dapat ikut membantu teman yang sedang punya masalah. 4. Strategi Pelaksanaan PKPR Menurut Anonim (2005; h.8-9) dalam mempertimbangkan berbagai keterbatasan Puskesmas dalam menghadapi hambatan untuk dapat memenuhi elemen karakteristik tersebut diatas, maka perlu digunakan

19

strategi demi keberhasilan dalam pengembangan PKPR di puskesmas, sebagai berikut: a. Penggalangan kemitraan, dengan membangun kerjasama atau jejaring kerja. Meskipun keempat aspek upaya kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) menjadi tugas keseharian puskesmas, namun melihat kompleks dan luasnya masalah kesehatan remaja, kemitraan merupakan suatu hal yang esensial khususnya untuk upaya promotif dan preventif. Penggalangan kemitraan didahului dengan advokasi kebijakan publik, sehingga adanya PKPR di puskesmas dapat pula dipromosikan oleh pihak lain, dan selanjutnya dikenal dan didukung oleh masyarakat. Selain itu, kegiatan di luar gedung, yang menjadi bagian dari kegiatan PKPR, amat memerlukan kemitraan dengan pihak di luar kesehatan. Kegiatan berupa KIE, serta Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat/PKHS (life Skills Education/LSE) seperti ceramah, diskusi, role play, seperti halnya konseling, dapat dilakukan oleh petugas terlatih di luar sektor kesehatan dan LSM. b. Pemenuhan sarana dan prasarana dilaksanakan secara bertahap. Strategi penahapan ini penting, memperhatikan urgensi dilaksanakannya PKPR dan keterbatasan kemampuan pemerintah, hingga PKPR dapat segera dilaksanakan, sambil dilakukan penyempurnaan dalam

memenuhi kelengkapan sarana dan prasarana. c. Penyertaan remaja secara aktif. Dalam semua aspek pelayanan mulai perencanaan, pelaksanaan pelayanan dan evaluasi, remaja secara aktif diikut-sertakan. Dalam

20

menyertakan remaja dianjurkan dipilih kelompok remaja laki-laki dan perempuan yang dapat “bersuara“ mewakili puskesmas untuk informasi penyediaan pelayanan sebayanya meneruskan kepada sebayanya dan sebaliknya mewakili keinginan, kebutuhan, dan harapannya

berkaitan dengan penyediaan pelayanan. Selain itu dengan keterlibatan remaja ini, informasi pelayanan dapat cepat meluas, menjangkau baik remaja laki-laki maupun perempuan, serta memperkenalkan lebih awal konsep keadilan dan kesetaraan gender. d. Penentuan biaya pelayanan serendah mungkin. Pada awal pelaksanaan diupayakan biaya pelayanan serendah mungkin, bahkan kalau mungkin gratis. e. Dilaksanakannya kegiatan minimal. Pemberian KIE, pelaksanaan konseling serta pelayanan klinis medis

termasuk laboratorium dan rujukan, harus lengkap dilaksanaan secara bersamaan dari sejak awal dilaksanakannya PKPR. Tanpa konseling, pelayanan tidak akan disebut PKPR, melainkan pelayanan kesehatan remaja seperti sebelum dikenalnya PKPR. f. Ketepatan penentuan prioritas sasaran. Keberhasilan pelayanan ditentukan antara lain oleh ketepatan penetapan sasaran, sesuai dengan hasil kajian sederhana sebelum pelayanan dimulai. Sasaran ini misalnya remaja sekolah, anak jalanan, karang taruna, buruh pabrik, pekerja seks komersial remaja dan sebagainya. g. Ketepatan pengembangan jenis kegiatan. Perluasan kegiatan minimal PKPR ditentukan sesuai dengan masalah dan kebutuhan setempat serta sesuai dengan kemampuan Puskesmas,

21

misalnya pelaksanaan PKHS dengan pilihan kegiatan mengadakan FGD (Focus Group Discussion/diskusi kelompok terarah diantara remaja tentang seks pra-nikah didukung dengan penyebarluasanslogan dan keterampilan “bagaimana bilang tidak” untuk seks- pranikah. h. Pelembagaan monitoring dan evaluasi internal. Monitoring dan evaluasi secara periodik yang dilakukan oleh tim Jaminan Mutu Puskesmas merupakan bagian dari upaya peningkatan akses dan kualitas PKPR. 5. Jenis Kegiatan PKPR Menurut Anonim (2005; h.14-18) bahwa kegiatan dalam PKPR sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung, untuk sasaran perorangan atau kelompok, dilaksanakan oleh petugas puskesmas atau petugas lain di institusi atau masyarakat, berdasarkan kemitraan. Jenis kegiatan PKPR tersebut meliputi : a. Pemberian Informasi dan edukasi. 1) Dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung, secara perorangan atau berkelompok. 2) Dapat dilaksanakan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih dari sekolah atau dari lintas sektor terkait dengan menggunakan materi dari (atau sepengetahuan) puskesmas. 3) Menggunakan metoda ceramah tanya jawab, FGD (Focus Group Discussion), diskusi interaktif, yang dilengkapi dengan alat bantu media cetak atau media elektronik (radio, email, dan telepon/hotline, SMS).

22

4) Menggunakan sarana KIE yang lengkap, dengan bahasa yang sesuai dengan bahasa sasaran (remaja, orang tua, guru ) dan mudah dimengerti. Khusus untuk remaja perlu diingat untuk bersikap tidak menggurui serta perlu bersikap santai b. Pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang rujukannya. Hal yang perlu diperhatikan dalam melayani remaja yang berkunjung ke Puskesmas adalah: 1) Bagi klien yang menderita penyakit tertentu tetap dilayani dengan mengacu pada prosedur tetap penanganan penyakit tersebut. 2) Petugas dari BP umum, BP Gigi, KIA dll dalam menghadapi klien remaja yang datang, diharapkan dapat menggali masalah dan

psikososial atau yang berpotensi menjadi masalah khusus remaja, untuk kemudian bila ada, menyalurkannya ke ruang konseling bila diperlukan. 3) Petugas yang menjaring remaja dari ruang lain tersebut dan juga petugas penunjang seperti loket dan laboratorium seperti halnya petugas khusus Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) juga harus menjaga kerahasiaan klien remaja, dan memenuhi kriteria peduli remaja. 4) Petugas PKPR harus menjaga kelangsungan pelayanan dan mencatat hasil rujukan kasus per kasus. c. Konseling Konseling adalah hubungan yang saling membantu antara konselor dan klien hingga tercapai komunikasi yang baik, dan pada saatnya konselor dapat menawarkan dukungan, keahlian dan

23

pengetahuan secara berkesinambungan hingga klien dapat mengerti dan mengenali dirinya sendiri serta permasalahan yang dihadapinya dengan lebih baik dan selanjutnya menolong dirinya sendiri dengan bantuan beberapa aspek dari kehidupannya. Tujuan konseling dalam PKPR adalah: 1) Membantu klien untuk dapat mengenali masalahnya dan

membantunya agar dapat mengambil keputusan dengan mantap tentang tersebut. 2) Memberikan pengetahuan, keterampilan, penggalian potensi dan sumber daya secara berkesinambungan hingga dapat membantu klien dalam: (a) Mengatasi kecemasan, depresi atau masalah kesehatan mental lain. (b) Meningkatkan kewaspadaan terhadap isu masalah yang mungkin terjadi pada dirinya. (c) Mempunyai motivasi untuk mancari bantuan bila menghadapi masalah. Konseling merupakan kegiatan yang dapat mewakili PKPR. Sebab itu langkah pelaksanaannya perlu dijadikan standar dalam menilai kualitas pelaksanaan PKPR. Semakin banyak remaja yang konsultasi menandakan bahwa remaja memerlukan pelayanan kesehatan dan membuktikan bahwa hal ini adalah masalah penting dalam kehidupan remaja. VCT (Voluntary Counseling and Testing for HIV/AIDS) adalah konseling khusus diikuti oleh pemeriksaan laboratoriun untuk HIV/AIDS apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi masalah

24

atas dasar sukarela. VCT memerlukan keterampilan dan sarana khusus, dan hanya dilakukan oleh petugas terlatih khusus untuk penanggulangan HIV/AIDS. d. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) Dalam menangani kesehatan remaja perlu tetap diingat dengan optimisme bahwa bila remaja dibekali dengan keterampilan hidup sehat maka remaja akan sanggup menangkal pengaruh yang merugikan bagi kesehatannya. PKHS merupakan adaptasi dari Life Skills

Education(LSE). Life skils atau keterampilan hidup adalah kemampuan psikososial seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi

masalah dalam kehidupan sehari-hari secara efektif. Keterampilan ini mempunyai peran penting dalam promosi kesehatan dalam lingkup yang luas yaitu kesehatan fisik, mental dan sosial. PKHS dapat dilaksanakan dalam bentuk drama, main-peran (role play), diskusi dan lain-lain. Contoh aplikasi keterampilan ini dalam

kehidupan sehari-hari adalah cara menolak ajakan atau tekanan teman sebaya untuk melakukan perbuatan berisiko, dan menolak ajakan melakukan hubungan seksual di luar nikah. Dengan menerapkan ajaran PKHS, remaja dapat mengambil keputusan segera untuk menolak ajakan tersebut, merasa yakin akan kemampuannya menolak ajakan tersebut, berpikir kreatif untuk mencari cara penolakan agar tidak menyakiti hati temannya dan mengerahkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dan mengendalikan emosi, sehingga penolakan akan berhasil dilaksanakan dengan mulus. Pelaksanaan PKHS di Puskesmas disamping meningkatkan pengetahuan dan keterampilan hidup sehat

25

dapat juga menimbulkan

rasa gembira bagi remaja sehingga dapat

menjadi daya tarik untuk berkunjung kali berikut, serta mendorong melakukan promosi tentang adanya PKPR di Puskesmas kepada temannya dan menjadi sumber penular pengetahuan dan keterampilan hidup sehat kepada teman-temannya e. Pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya Pelatihan ini merupakan salah satu upaya nyata mengikut sertakan remaja sebagai salah satu syarat keberhasilan PKPR. Dengan melatih remaja menjadi kader kesehatan remaja yang lazim disebut pendidik sebaya, beberapa keuntungan diperoleh yaitu pendidik sebaya ini akan berperan sebagai agen pengubah sebayanya untuk berperilaku sehat, sebagai agen promotor keberadaan PKPR, dan sebagai

kelompok yang siap membantu dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi PKPR. Pendidik sebaya yang berminat, berbakat dan sering menjadi tempat “curhat” bagi teman yang membutuhkannya dapat diberikan pelatihan tambahan untuk memperdalam keterampilan

interpersonal relationship dan konseling, sehingga dapat berperan sebagai konselor remaja. f. Pelayanan rujukan Sesuai kebutuhan, Puskesmas sebagai bagian dari pelayanan klinis medis, melaksanakan rujukan kasus ke pelayanan medis yang lebih tinggi. Rujukan sosial juga diperlukan dalam PKPR, sebagai contoh penyaluran kepada lembaga keterampilan kerja untuk remaja pasca penyalah-guna napza, atau penyaluran kepada lembaga tertentu agar mendapatkan program pendampingan dalam upaya rehabilitasi mental

26

korban

perkosaan.

Sedangkan

rujukan

pranata

hukum

kadang

diperlukan untuk memberi kekuatan hukum bagi kasus tertentu atau dukungan dalam menindaklanjuti suatu kasus. Tentu saja kerjasama ini harus diawali dengan komitmen antar institusi terkait, yang dibangun pada tahap awal sebelum PKPR dimulai. 6. Langkah langkah pembentukan dan pelaksanaan PKPR Menurut Anonim (2005; h.9-12) langkah-langkah pembentukan dan

pelaksanaan PKPR adalah sebagai berikut : a. Identifikasi masalah melalui kajian sederhana b. Advokasi Kebijakan Publik c. Persiapan pelaksanaan PKPR Kegiatan pada persiapan ini bertujuan untuk membentuk puskesmas

Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), berdasarkan urut berikut: 1) Sosialisasi internal. Bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan semua staf Puskesmas untuk menyelenggarakan PKPR di Puskesmasnya 2) Penunjukan petugas peduli remaja Petugas yang melayani PKPR di Puskesmas PKPR bisa seorang dokter, bidan atau perawat yang sudah terlatih. Mereka akan melayani dengan sabar, ramah, siap menampung segala

permasalahan remaja serta siap berdiskusi (memberikan konseling). Petugas khusus yang peduli remaja harus memenuhi kriteria: (a) Mempunyai perhatian dan peduli, baik budi, penuh pengertian, bersahabat, memiliki kompetensi teknis dalam memberikan

27

pelayanan khusus kepada remaja, mempunyai ketrampilan komunikasi interpersonal dan konseling. (b) Mempunyai motivasi untuk menolong dan bekerjasama dengan remaja. (c) Tidak menghakimi, tidak bersikap dan berkomentar tidak menyenangkan atau merendahkan. (d) Dapat dipercaya dan dapat menjaga kerahasiaan. (e) Mampu dan mau mengorbankan waktu sesuai kebutuhan. (f) Dapat/mudah ditemui pada kunjungan ulang. (g) Menunjukkan sikap menghargai kepada semua remaja dan tidak membeda-bedakan. (h) Mau memberikan informasi dan dukungan yang cukup hingga remaja dapat memutuskan pilihan yang tepat untuk mengatasi masalahnya atau memenuhi kebutuhannya. 3) Pembentukan Tim Tim terdiri dari dokter Puskesmas, paramedis (bidan dan perawat), petugas UKS, petugas penyuluhan, petugas Gizi, dan petugas lain yang dibutuhkan pelatihan formal petugas PKPR. 4) Pelatihan formal petugas PKPR Agar dapat melaksanakan PKPR dengan baik perlu ditunjuk petugas tambahan yang bekerja dalam tim, atau sebagai petugas pengganti. Petugas ini dapat dilatih tersendiri oleh dokter Puskesmas terlatih, sebelum mendapat kesempatan diikut sertakan dalam pelatihan resmi.

28

5) Penentuan jenis kegiatan dan pelayanan serta sasaran Selain ketiga kegiatan yang dipersyaratkan yaitu KIE, konseling dan pelayanan klinis medis termasuk laboratorium dan rujukannya. Puskesmas dapat memutuskan untuk memperluas jenis kegiatannya baik di dalam atau di luar gedung serta menentukan sasaran berdasarkan kondisi dan situasi wilayah serta kebutuhan remaja setempat. Kegiatan ini strategis untuk meningkatkan akses di kemudian hari. 6) Pemenuhan sarana dan prasarana Pemenuhan sarana dan prasarana ini selain memberikan

kenyamanan, menjaga privasi serta menjamin kerahasiaan bagi klien, juga mempermudah bagi pemberi layanan. Melihat rata-rata kondisi dan kemampuan Puskesmas saat ini, pemenuhan sarana ini memerlukan upaya khusus. Privasi, kenyamanan, suasana yang menarik dan fasilitas yang baik saling terkait satu sama lain. 7) Penentuan prosedur pelayanan Termasuk di dalamnya penentuan biaya pelayanan, jam buka, penyimpanan kartu,

penentuan desain, proses pemberian dan

register dan catatan (status) medis/konseling, serta penentuan alur pelayanan. Pertimbangan kerahasiaan dan efisiensi juga merupakan bagian penting. Prosedur pelayanan menjadi bagian kritis dan menjadi salah satu penentu apakah remaja tersebut akan datang atau tertarik untuk kembali, serta mempromosikan PKPR kepada teman-temannya. Remaja yang puas terhadap pelayanan akan

29

menjadi pelanggan yang puas dan dengan sukarela membantu mempromosikan keberadaan PKPR tersebut. d. Sosialisasi eksternal Sosialisasi eksternal dapat dilakukan di setiap kesempatan tempat dan waktu, baik dalam forum resmi ataupun tidak resmi. Pelibatan pers setempat dari media cetak ataupun elektronik dapat membantu

mempercepat sosialisasi. Sosialisasi dapat pula dilakukan di tempat remaja berada antara lain di sekolah, komunitas/organisasi karang taruna, sanggar seni atau gelanggang remaja remaja:

dalam bentuk

pampangan poster, selebaran, leaflet atau informasi verbal di sela-sela ceramah / KIE berkaitan dengan masalah remaja. e. Pelaksanaan PKPR Perlu dipahami, penyelenggaraan PKPR di Puskesmas ini penting

segera dilaksanakan, meskipun pemenuhan sarana dan prasarana belum sempurna. Penyempurnaan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Kegiatan KIE di dalam dan di luar gedung perlu ditingkatkan dengan tidak melupakan pelayanan medis dan konseling.

30

D. Kerangka Teori

PKPR :  Pengertian  Tujuan  Sasaran  Manfaat  Jenis Kegiatan : - Pemberi informasi dan edukasi - Pelayanan klinis medis - Konseling - PKHS - Pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya - Pelayanan rujukan

Pengetahuan Siswa Tentang PKPR

Faktor-faktor yang mempengaruhi :  Faktor Internal : - Pendidikan - Pengalaman  Faktor Eksternal : - Lingkungan - Sosial Budaya

Bagan 2.1 Kerangka Teori Pengetahuan Siswa SMK NU 04 Patebon Tentang PKPR Sumber : Modifikasi dari teori Anonim (2005; h.1-12), Wiwik (2009; h.9-10) dan Sulistiawati (2009; h.18-19)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->