P. 1
panduan_promkes_DBK

panduan_promkes_DBK

|Views: 78|Likes:
Published by Putri Mahacakri

More info:

Published by: Putri Mahacakri on May 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2012

pdf

text

original

!

PROMOSI KESEHATAN
DI DAERAH BERMASALAH KESEHATAN
Panduan bagi Petugas Kesehatan di Puskesmas
KEMENTERIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
Z
PROMOSI KESEHATAN
DI DAERAH BERMASALAH KESEHATAN
Panduan bagi Petugas Kesehatan di Puskesmas
Z
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya, maka buku Promosi Kesehatan di Daerah
Bermasalah Kesehatan telah selesai disusun.
Buku ini berisikan informasi mengenai kegiatan serta langkah-
langkah promosi kesehatan yang dapat diaplikasikan di Daerah
Bermasalah Kesehatan (DBK). Fakta menunjukkan, bahwa
munculnya DBK di 10 provinsi di Indonesia umumnya disebabkan
oleh adanya kesenjangan pelayanan kesehatan dan derajat
kesehatan yang diukur dengan menggunakan 24 indikator dari Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).
Apabila indikator-indikator tersebut kita cermati, ternyata berbagai
kendala yang dijumpai di DBK pada umumnya berkaitan erat dengan
faktor perilaku masyarakat. Oleh karena itu penanganan dan
intervensi yang dilakukan harus menggunakan prinsip pemberdayaan
dan kemandirian masyarakat, agar masyarakat memiliki kemampuan
KATA PENGANTAR
3
untuk mengenal dan mengatasi permasalahan kesehatan yang
dihadapi dengan menggunakan sumberdaya yang dimiliki.
Buku ini diharapkan dapat menjadi bahan pegangan yang mudah
diaplikasikan oleh petugas kesehatan dalam mengemban tugas
mulia untuk mengentaskan Daerah Bermasalah Kesehatan dengan
melaksanakan kegiatan-kegiatan inovatif yang mampu mendorong
peningkatan IPKM.
Akhirnya saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah
terlibat dalam proses penyusunan buku ini. Buku ini tentunya belum
sempurna dan dalam perjalanannya akan diperbaiki kembali sesuai
perkembangan yang ada.
Jakarta, Oktober 2011

Kepala Pusat Promosi Kesehatan

dr. Lily S. Sulistyowati, MM.
~
KATA PENGANTAR .Z
SELAYANG PANDANG .E

PENANGGULANGAN DAERAH
BERMASALAH KESEHATAN (PDBK) .!B
Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat .!B
Daerah Bermasalah Kesehatan .!3
Penanggulangan Daerah Bermasalah
Kesehatan .!~

PROMOSI KESEHATAN DI DAERAH
BERMASALAH KESEHATAN .ZB
Pengertian Promosi Kesehatan .ZB
Sasaran Promosi Kesehatan .ZZ
Strategi Promosi Kesehatan .Z~
Pelaksana Promosi Kesehatan .3E









LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN
PROMOSI KESEHATAN .~Z
Langkah-langkah Promosi Kesehatan
di Puskesmas .~Z
Langkah-langkah Promosi Kesehatan
di Masyarakat .EB

PENUTUP .EB
LAMPIRAN .E!
Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan
Dilakukan dalam Pelaksanaan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Di
Daerah Bermasalah Kesehatan .E!
Daftar Kabupaten/Kota yang
mendapat Pendampingan dalam
Penanggulangan Daerah Bermasalah
Kesehatan .!BB




DAFTAR ISI
E
DI INDONESIA TERDAPAT 10 PROVINSI
YANG MEMILIKI LEBIH DARI 50% JUMLAH
KABUPATEN/KOTANYA MASUK KE DALAM
KRITERIA INDEKS PEMBANGUNAN
KESEHATAN MASYARAKAT YANG
PERLU MENJADI DAERAH PRIORITAS
PERHATIAN KEMENTERIAN KESEHATAN
DAN JAJARANNYA MELALUI UPAYA
PENANGGULANGAN DAERAH BERMASALAH
KESEHATAN (PDBK). KESEPULUH PROVINSI
TERSEBUT ADALAH ACEH, NTB, NTT,
SULTRA, SULTENG, GORONTALO, SULBAR,
MALUKU, PAPUA BARAT DAN PAPUA.
E
Pembangunan kesehatan yang selama
ini kita laksanakan telah banyak
menghasilkan kemajuan di bidang
kesehatan masyarakat. Angka Kematian
Ibu (AKI) melahirkan telah menurun
dari 307 per 100.000 kelahiran hidup
pada tahun 2004 menjadi 228 per
100.000 kelahiran hidup pada tahun
2007. Prevalensi gizi kurang pada balita
telah menurun dari 25,8% pada akhir
tahun 2003 menjadi 18,4% pada tahun
2007. Angka Kematian Bayi (AKB) telah
menurun dari 35 per 1.000 kelahiran
hidup pada tahun 2004 menjadi 34 per
1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.
!.
SELAYANG PANDANG
7
Sejalan dengan itu, Umur Harapan Hidup (UHH) pun telah
meningkat dari 66,2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,5
tahun pada tahun 2007.
Upaya kesehatan masyarakat mengalami peningkatan
kinerja. Cakupan rawat jalan sudah mencapai 15,26% pada
tahun 2008. Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan meningkat dari 77,23% pada tahun 2007 menjadi
80,36% pada tahun 2008. Begitu pun cakupan pelayanan
antenatal (K4) telah meningkat dari 79,65% pada tahun
2007 menjadi 86,04% pada tahun 2008. Sedangkan cakupan
kunjungan neonatal meningkat dari 78% pada tahun 2007
menjadi 87% pada tahun 2008. Pelayanan kesehatan dasar
di Puskesmas secara cuma-cuma bagi keluarga miskin telah
mencapai target, yaitu 100%.
Upaya kesehatan perorangan juga mengalami peningkatan
dan beberapa telah mencapai target, bahkan melebihi
target. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan
gawat darurat telah meningkat dari 88% pada tahun 2007
menjadi 90% pada tahun 2008. Jumlah rumah sakit yang
melaksanakan PONEK meningkat dari 183 rumah sakit (42%
pada tahun 2007 menjadi 265 rumah sakit (60%) pada tahun
2008. Jumlah rumah sakit yang terakreditasi meningkat dari
702 rumah sakit (54,33%) pada tahun 2007 menjadi 760
rumah sakit (58,8%) pada tahun 2008. Cakupan pelayanan
kesehatan bagi keluarga miskin di rumah sakit juga telah
mencapai 100%. Pemanfaatan rumah sakit meningkat cukup
besar, yaitu dari 15,1% pada tahun 1996 menjadi 33,7%
pada tahun 2006, sehingga contact rate pun meningkat dari
B
34,4% pada tahun 2005 menjadi 41,8% pada tahun
2007.
Program pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular pun mengalami peningkatan.
Cakupan nasional program imunisasi menunjukkan
peningkatan yang cukup bermakna. Cakupan
nasional imunisasi tahun 2008 adalah BCG 93,4%,
DPT-HB3 91,6%, HB 59,2%, Polio 90,2%, dan
Campak 90,8%.
Sementara itu, program perbaikan gizi masyarakat
juga meningkat kinerjanya. Pemberian Kapsul
Vitamin A pada anak balita usia 6-59 bulan mencapai
85% (melampaui target 80%). Pemberian Tablet
Tambah Darah pada ibu hamil telah mencapai 75%
dari target 80%. Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan
terjadinya perbaikan status gizi anak balita. Demikian
juga penurunan prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4%
tahun 2007 menajdi 4,9% pada tahun 2010.
Namun demikian, berdasarkan evaluasi oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dengan
menggunakan Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat (IPKM), terdapat sejumlah daerah
yang pencapaian pembangunan kesehatannya
masih berada di bawah rerata. Daerah-daerah ini
disebut sebagai Daerah Bermasalah Kesehatan
(DBK). Di Indonesia terdapat 10 provinsi yang lebih
dari 50% jumlah kabupaten/kotanya masuk dalam
kriteria IPKM yang perlu mendapatkan prioritas
Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan
B
(PDBK). Kesepuluh provinsi tersebut adalah Aceh,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo,
Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua.
Pelaksanaan PDBK ini memerlukan kegiatan
pendampingan bagi daerah dalam pengembangan
dan aplikasi Model Penanggulangan Daerah
Bermasalah Kesehatan (PDBK) sebagai upaya
peningkatan IPKM. Dalam kegiatan pendampingan
ini, sejumlah petugas kesehatan akan diperbantukan
guna meningkatkan kinerja pelaksanaan program-
program kesehatan di DBK. Salah satu program
yang penting untuk dilaksanakan adalah Promosi
Kesehatan, yang tidak hanya dilaksanakan secara
tersendiri, melainkan juga harus terintegrasi ke
dalam setiap program kesehatan lain.
Berkaitan dengan hal-hal tersebut dan dalam
rangka memberikan bekal rujukan bagi para petugas
kesehatan yang melaksanakan pendampingan dan
para petugas Puskesmas di DBK dalam hal promosi
kesehatan, disusun Panduan Promosi Kesehatan
di Daerah Bermasalah Kesehatan. Dengan adanya
panduan ini diharapkan para petugas kesehatan
tersebut dapat memahami seluk-beluk promosi
kesehatan dan dapat melaksanakannya dengan baik.
!B
Z.
PENANGGULANGAN
DAERAH BERMASALAH
KESEHATAN
Sebagaimana dikemukakan di atas,
evaluasi terhadap kinerja daerah
dalam pelaksanaan pembangunan
kesehatan dilakukan dengan
menggunakan Indeks Pembangunan
Kesehatan Masyarakat (IPKM). IPKM
adalah gabungan beberapa indikator
kesehatan yang menggambarkan
kemajuan pembangunan kesehatan
masyarakat di seluruh kabupaten/kota
yang dirumuskan dari data kesehatan
berbasis komunitas. IPKM dirumuskan
dari 24 indikator kesehatan yang
INDEKS
PEMBANGUNAN
KESEHATAN
MASYARAKAT
!!
dikumpulkan dari Riset Kesehatan Dasar, Survai Sosial Ekonomi
Nasional dan Potensi Desa, Pengembangan IPKM memungkinkan
pemerintah untuk melakukan penajaman sasaran pembangunan
kesehatan yang inklusif. Dua puluh empat indikator kesehatan
terpilih berdasarkan kesepakatan pakar diberikan bobot tertentu
sesuai dengan kriteria :
Mutlak; dengan bobot 5 yang terdiri dari 11 indikator
Penting; dengan bobot 4 yang terdiri dari 5 indikator
Perlu; dengan bobot 3 yang terdiri dari 8 indikator
Nilai IPKM berkisar 0 (nol) adalah nilai terburuk dan nilai 1 (satu)
adalah nilai terbaik. IPKM menggambarkan keberhasilan dan
kesenjangan antardaerah.
BOBOT/ARTI INDIKATOR
Bobot 5 : Mutlak Prevalensi balita gizi buruk dan kurang
Prevalensi balita pendek dan sangat pendek
Prevalensi balita kurus dan sangat kurus
Proporsi rumah tangga dengan akses air bagus
Proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi
bagus
Proporsi penimbangan balita yang rutin
Cakupan kunjungan neonatus I
Cakupan imunisasi lengkap
Rasio dokter terhadap Puskesmas
Rasio bidan terhadap desa
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Bobot 4 : Penting Prevalensi balita gemuk
Prevalensi penyakit Diare
Prevalensi penyakit Hipertensi
Prevalensi penyakit Pnemonia
Proporsi cuci tangan dengan benar
1.
2.
3.
4.
5.
!Z
Bobot 3 : Perlu Prevalensi gangguan mental emosional
Prevalensi merokok
Prevalensi penyakit gigi dan mulut
Prevalensi penyakit asma
Prevalensi disabilitas (bermasalah dan
sangat bermasalah)
Prevalensi cedera
Prevalensi penyakit sendi
Prevalensi penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
INDIKATOR KESEHATAN PENENTU IPKM
IPKM dapat dimanfaatkan sebagai:
Indikator untuk menentukan peringkat provinsi dan kabupaten/kota
dalam keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat.
Bahan advokasi ke pemerintah daerah, baik provinsi maupun
kabupaten/kota agar terpacu menaikkan peringkatnya, sehingga
sumber daya dan program kesehatan diprioritaskan.
Salah satu kriteria penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari
pusat ke daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dan dari provinsi ke
kabupaten/kota.
Dengan adanya IPKM diharapkan tiap daerah (provinsi, kabupaten,
kota) dapat memperjelas masalah kesehatannya, sehingga program
intervensinya menjadi lebih terarah. Dilihat dari berbagai sisi, maka
pemanfaatan IPKM dapat berupa hal-hal sebagai berikut.
Dari sisi kesehatan wilayah, penggunaan indikator IPKM secara
keseluruhan dapat menghasilkan daftar kabupaten dan kota yang
mempunyai masalah kesehatan kesehatan berat atau kompleks.
Selanjutnya, dengan mengacu pada indikator-indikator IPKM, lalu
!3
dapat dilakukan penajaman program dengan mengarahkan intervensi
kepada masalah-masalah kesehatan utama.
Dari sisi pengelola program kesehatan, baik tingkat provinsi maupun
tingkat pusat, dengan IPKM dapat dilakukan pemusatan perhatian
pada kabupaten-kabupatan/kota-kota yang bermasalah.
Dari sisi alokasi bantuan pusat ke daerah, IPKM dapat dijadikan
salah satu kriteria perhitungan bantuan pusat ke kabupaten/kota
secara berkeadilan.
DAERAH BERMASALAH KESEHATAN
Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah (1) kabupaten/kota yang
memiliki IPKM di bawah rerata dan proporsi penduduk miskinnya
lebih tinggi dari rerata, atau (2) kabupaten/kota yang memiliki
masalah khusus seperti geograf (daerah terpencil, perbatasan dan
kepulauan), sosial budaya yang berdampak buruk pada kesehatan
dan penyakit tertentu yang spesifk. DBK mengambarkan adanya
kesenjangan pencapaian indikator-indikator pembangunan
kesehatan antar-daerah di Indonesia.
Di Indonesia terdapat 10 provinsi yang memiliki lebih dari 50%
jumlah kabupaten/kotanya masuk ke dalam kriteria IPKM yang
perlu menjadi daerah prioritas perhatian Kementerian Kesehatan
dan jajarannya melalui upaya Penanggulangan Daerah Bermasalah
Kesehatan (PDBK). Kesepuluh provinsi tersebut adalah Aceh, NTB,
NTT, Sultra, Sulteng, Gorontalo, Sulbar, Maluku, Papua Barat dan
Papua.
Berdasarkan pada nilai IPKM masing-masing daerah, selanjutnya
dapat dibedakan adanya 3 (tiga) kategori DBK (kabupaten/kota),
!~
yaitu DBK Ringan, DBK Berat dan DBK Khusus. Klasifkasi DBK
Ringan dan DBK Berat didasarkan pada hasil penilaian indeks IPKM
sesuai ketentuan yang ditetapkan pada Riskesdas 2007.
Daerah Bermasalah Kesehatan Ringan (DBK) adalah kabupaten atau
kota yang mempunyai nilai IPKM rerata sampai dengan -1 (minus
satu) simpangan baku dan mempunyai nilai kemiskinan (Pendataan
Status Ekonomi/PSE) di atas rerata (masing-masing untuk kelompok
kabupaten atau kelompok kota).
Daerah Bermasalah Kesehatan Berat (DBK-B) adalah kabupaten/kota
yang memiliki nilai IPKM lebih rendah dari rerata IPKM -1 (minus 1)
simpang baku.
Daerah Bermasalah Kesehatan Khusus (DBK-K) adalah kabupaten/
kota yang mempunyai masalah khusus seperti geograf (daerah
terpencil, perbatasan dan kepulauan), sosial budaya (tradisi/adat
kebiasaan) yang mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan,
penyakit tertentu yang spesifk seperti Fasciolopsis buski,
Schistosomiasis, dll.
PENANGGULANGAN DAERAH
BERMASALAH KESEHATAN
Timbulnya DBK disebabkan karena adanya kesenjangan pelayanan
kesehatan serta kesenjangan derajat kesehatan antar-daerah, antar-
kelompok masyarakat dan antar-tingkat sosial ekonomi. Contohnya,
kesenjangan antara Daerah Indonesia Bagian Barat dengan Daerah
Indonesia Bagian Timur, antara Daerah di Jawa dengan Daerah di
Luar Jawa, antara Daerah Kaya dengan Daerah Miskin.
!E
Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) merupakan
intervensi kesehatan masyarakat yang terfokus, terintegrasi,
berbasis bukti dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi
prioritas bersama kementerian terkait dalam jangka tertentu
sampai mampu mandiri dalam penyelenggaraan kewenangan
pemerintahan di bidang kesehatan. Tujuan dari PDBK adalah
mempercepat peningkatan IPKM di kabupaten/kota DBK sehingga
terjadi percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat
secara nasional yang ditunjukkan dengan peningkatan IPKM serta
pengurangan kesenjangan antar-daerah.
Penanggulangan DBK menggunakan pendekatan integrasi dengan
upaya kesehatan prioritas nasional. Diawali dengan pembentukan
tim pendamping di setiap tingkat administrasi mulai dari pusat,
provinsi dan kabupaten/kota, melaksanakan langkah-langkah
PDBK, meningkatkan sistem kesehatan DBK, pendampingan teknis
di daerah dan pengembangan model pemecahan masalah spesifk
daerah.
Sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi, di
DBK tentu akan diselenggarakan percepatan dan peningkatan kinerja
pelaksanaan program-program kesehatan. Oleh sebab ujung tombak
pelaksanaan program-program kesehatan adalah Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas), maka fokus perhatian akan ditujukan
kepada peningkatan kapasitas Puskesmas, tanpa mengabaikan
peningkatan kapasitas rumah sakit dan dinas kesehatan kabupaten/
kota.
Keputusan Menteri Kesehatan No. 128/Menkes/SK/II/2004
menyatakan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas
!E
adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari dinas
kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung
jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan
di suatu wilayah kerja. Sebagai UPT dari dinas
kesehatan kabupaten/kota (UPTD), Puskesmas
berperan menyelenggarakan sebagian tugas teknis
operasional dinas kesehatan kabupaten/kota dan
merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta
ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan
upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia, untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang, agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Penanggungjawab utama penyelenggaraan
seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah
kabupaten/kota adalah dinas kesehatan kabupaten/
kota. Sedangkan Puskesmas bertanggungjawab
hanya untuk sebagian upaya pembangunan
kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan
kabupaten/kota sesuai dengan kemampuannya.
Tujuan pembangunan kesehatan yang
diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung
tercapainya tujuan pembangunan kesehatan
nasional. Yakni meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang
bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas, agar
terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
!7
Terdapat tiga fungsi yang harus diperankan oleh
Puskesmas, yaitu:
Puskesmas merupakan pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan.
Puskesmas merupakan pusat pemberdayaan
masyarakat.
Puskesmas merupakan pusat pelayanan
kesehatan strata pertama, yang terdiri atas
pelayanan kesehatan individu dan pelayanan
kesehatan masyarakat.
Untuk mencapai visi pembangunan kesehatan
yakni mewujudkan Kecamatan Sehat, Puskesmas
bertanggung jawab untuk menyelenggarakan upaya
kesehatan. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan
ke dalam dua kategori, yaitu (1) upaya kesehatan
wajib dan (2) upaya kesehatan pengembangan.
Upaya kesehatan wajib Puskesmas adalah
upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen
nasional, regional dan global, serta mempunyai
daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat
kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib
ini harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas.
Upaya kesehatan wajib tersebut adalah: (1)
Promosi Kesehatan, (2) Kesehatan Lingkungan, (3)
Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana,
(4) Perbaikan Gizi Masyarakat, (5) Pencegahan
dan Pemberantasan Penyakit Menular dan (6)
Pengobatan.



!B
Upaya kesehatan pengembangan
Puskesmas adalah upaya
yang ditetapkan berdasarkan
permasalahan kesehatan yang
ditemukan di masyarakat serta
disesuaikan dengan kemampuan
Puskesmas. Upaya kesehatan
pengembangan dipilih dari
daftar upaya kesehatan pokok
Puskesmas yang telah ada,
yaitu: (1) Kesehatan Sekolah,
(2) Kesehatan Olah Raga,
(3) Perawatan Kesehatan
Masyarakat, (4) Kesehatan Kerja,
(5) Kesehatan Gigi dan Mulut, (6)
Kesehatan Jiwa, (7) Kesehatan
Mata, (8) Kesehatan Usia Lanjut
dan (9) Pembinaan Pengobatan
Tradisional. Upaya kesehatan
pengembangan Puskesmas dapat
pula berupa upaya inovatif,
yakni upaya di luar upaya-upaya
tersebut di atas, yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.
!B
ZB
3.
PROMOSI KESEHATAN
DI DAERAH BERMASALAH
KESEHATAN
PENGERTIAN
PROMOSI
KESEHATAN
Sebagaimana disebutkan di atas,
ujung tombak dari program PDBK
adalah Puskesmas dan salah
satu dari upaya kesehatan wajib
Puskesmas yang harus ditingkatkan
kinerjanya adalah promosi kesehatan.
Sebagaimana tercantum dalam
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1114 /MENKES/SK/VII/2005
tentang Pedoman Pelaksanaan
Promosi Kesehatan di Daerah,
promosi kesehatan adalah upaya
untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui pembelajaran dari,
Z!
oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat
menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang
bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat
dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
Bila diterapkan untuk DBK, maka menolong diri sendiri
artinya masyarakat DBK mampu menghadapi masalah-
masalah kesehatan potensial (yang mengancam) dengan
cara mencegahnya dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan yang sudah terjadi dengan cara menanganinya
secara efektif serta efsien. Dengan kata lain, masyarakat
DBK mampu berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
dalam rangka memecahkan masalah-masalah kesehatan
yang dihadapinya (problem solving), baik masalah-masalah
kesehatan yang sudah diderita maupun yang potensial
(mengancam), secara mandiri (dalam batas-batas tertentu).
Jika defnisi itu diterapkan di Puskesmas, maka dapat
dibuat rumusan sebagai berikut: Promosi Kesehatan oleh
Puskesmas adalah upaya Puskesmas untuk meningkatkan
kemampuan pasien, individu sehat, keluarga (rumah tangga)
dan masyarakat di DBK, agar (1) pasien dapat mandiri dalam
mempercepat kesembuhan dan rehabilitasinya, (2) individu
sehat, keluarga dan masyarakat dapat mandiri dalam
meningkatkan kesehatan, mencegah masalah-masalah
kesehatan dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber
daya masyarakat, melalui (3) pembelajaran dari, oleh, untuk
dan bersama mereka, sesuai sosial budaya mereka, serta
didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
ZZ
SASARAN PROMOSI KESEHATAN
Dalam pelaksanaan promosi kesehatan dikenal adanya 3 (tiga)
jenis sasaran, yaitu (1) sasaran primer, (2) sasaran sekunder dan (3)
sasaran tersier.
Sasaran Primer
Sasaran primer (utama) upaya promosi kesehatan sesungguhnya
adalah pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai
komponen dari masyarakat. Mereka ini diharapkan mengubah
perilaku hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat menjadi
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Akan tetapi disadari bahwa
mengubah perilaku bukanlah sesuatu yang mudah. Perubahan
perilaku pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) akan
sulit dicapai jika tidak didukung oleh:
Sistem nilai dan norma-norma sosial serta norma-norma hukum yang
dapat diciptakan/dikembangkan oleh para pemuka masyarakat, baik
pemuka informal maupun pemuka formal.
Keteladanan dari para pemuka masyarakat, baik pemuka informal
maupun pemuka formal, dalam mempraktikkan PHBS.
Suasana lingkungan sosial yang kondusif (social pressure) dari
kelompok-kelompok masyarakat dan pendapat umum (public
opinion).
Sumber daya dan atau sarana yang diperlukan bagi terciptanya
PHBS, yang dapat diupayakan atau dibantu penyediaannya oleh
mereka yang bertanggung jawab dan berkepentingan (stakeholders),
khususnya perangkat pemerintahan dan dunia usaha.
Z3
Sasaran Sekunder
Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik
pemuka informal (misalnya pemuka adat, pemuka agama
dan lain-lain) maupun pemuka formal (misalnya petugas
kesehatan, pejabat pemerintahan dan lain-lain), organisasi
kemasyarakatan dan media massa. Mereka diharapkan
dapat turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS pasien,
individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan cara:
Berperan sebagai panutan dalam mempraktikkan PHBS.
Turut menyebarluaskan informasi tentang PHBS dan
menciptakan suasana yang kondusif bagi PHBS.
Berperan sebagai kelompok penekan (pressure group) guna
mempercepat terbentuknya PHBS.
Sasaran Tersier
Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yang
berupa peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan
dan bidang-bidang lain yang berkaitan serta mereka yang
dapat memfasilitasi atau menyediakan sumber daya. Mereka
diharapkan turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS
pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan
cara:
Memberlakukan kebijakan/peraturan perundang-
undangan yang tidak merugikan kesehatan masyarakat
dan bahkan mendukung terciptanya PHBS dan
kesehatan masyarakat.

Z~
Membantu menyediakan sumber daya (dana, sarana dan
lain-lain) yang dapat mempercepat terciptanya PHBS
di kalangan pasien, individu sehat dan keluarga (rumah
tangga) pada khususnya serta masyarakat luas pada
umumnya.
STRATEGI PROMOSI KESEHATAN
Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perlu
dilaksanakan strategi promosi kesehatan paripurna yang
terdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina
suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4)
kemitraan.
Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan
pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi
masalah kesehatan, guna membantu individu, keluarga atau
kelompok-kelompok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu,
mau dan mampu mempraktikkan PHBS.
Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan
sosial yang kondusif dan mendorong dipraktikkannya PHBS
serta penciptaan panutan-panutan dalam mengadopsi PHBS
dan melestarikannya.
Sedangkan advokasi adalah pendekatan dan motivasi
terhadap pihak-pihak tertentu yang diperhitungkan dapat
mendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari segi
materi maupun non materi.

ZE
KEMITRAAN
ADVOKASI
BINA
SUASANA
PEMBERDAYAAN
PERILAKU
MENCEGAH
DAN
MENGATASI
MASALAH
KESEHATAN
MASYARAKAT
STRATEGI
PROMOSI KESEHATAN
ZE
PEMBERDAYAAN
Dalam upaya promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat
merupakan bagian yang sangat penting dan bahkan dapat dikatakan
sebagai ujung tombak. Pemberdayaan adalah proses pemberian
informasi kepada individu, keluarga atau kelompok (klien) secara
terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan
klien, serta proses membantu klien, agar klien tersebut berubah
dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari
tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu
melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Oleh
sebab itu, sesuai dengan sasaran (klien)nya dapat dibedakan adanya
(a) pemberdayaan individu, (b) pemberdayaan keluarga dan (c)
pemberdayaan kelompok/masyarakat.
Dalam mengupayakan agar klien tahu dan sadar, kuncinya
terletak pada keberhasilan membuat klien tersebut memahami
bahwa sesuatu (misalnya Diare) adalah masalah baginya dan
bagi masyarakatnya. Sepanjang klien yang bersangkutan belum
mengetahui dan menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah,
maka klien tersebut tidak akan bersedia menerima informasi apa pun
lebih lanjut. Saat klien telah menyadari masalah yang dihadapinya,
maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjut
tentang masalah yang bersangkutan.
Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan
menyajikan fakta-fakta dan mendramatisasi masalah. Tetapi selain
itu juga dengan mengajukan harapan bahwa masalah tersebut bisa
dicegah dan atau diatasi. Di sini dapat dikemukakan fakta yang
berkaitan dengan para tokoh masyarakat sebagai panutan (misalnya
tentang seorang tokoh agama yang dia sendiri dan keluarganya tak
pernah terserang Diare karena perilaku yang dipraktikkannya).
Z7
Bilamana seorang individu atau sebuah keluarga sudah akan
berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan
terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang
bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung. Tetapi yang
seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses
pemberdayaan kelompok/masyarakat melalui pengorganisasian
masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat
(community development). Untuk itu, sejumlah individu dan keluarga
yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama
memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun
masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah
atau dari dermawan). Di sinilah letak pentingya sinkronisasi promosi
kesehatan dengan program kesehatan yang didukungnya dan
program-program sektor lain yang berkaitan. Hal-hal yang akan
diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan dan program
lain sebagai bantuan, hendaknya disampaikan pada fase ini, bukan
sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang
dibutuhkan masyarakat.
Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melalui
kemitraan serta menggunakan metode dan teknik yang tepat. Pada
saat ini banyak dijumpai lembaga-lembaga swadaya masyarakat
(LSM) yang bergerak di bidang kesehatan atau peduli terhadap
kesehatan. LSM ini harus digalang kerjasamanya, baik di antara
mereka maupun antara mereka dengan pemerintah, agar upaya
pemberdayaan masyarakat dapat berdayaguna dan berhasilguna.
Setelah itu, sesuai ciri-ciri sasaran, situasi dan kondisi, lalu
ditetapkan, diadakan dan digunakan metode dan media komunikasi
yang tepat.
ZB
BINA SUASANA
Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang
mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan
perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau
melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada
(keluarga di rumah, organisasi siswa/mahasiswa, serikat pekerja/
karyawan, orang-orang yang menjadi panutan/idola, kelompok
arisan, majelis agama dan lain-lain, dan bahkan masyarakat umum)
menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu,
untuk memperkuat proses pemberdayaan, khususnya dalam upaya
meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu
dilakukan bina suasana.
Terdapat tiga kategori proses bina suasana, yaitu (a) bina suasana
individu, (b) bina suasana kelompok dan (c) bina suasana publik.
BINA SUASANA INDIVIDU
Bina suasana individu dilakukan oleh individu-individu tokoh
masyarakat. Dalam kategori ini tokoh-tokoh masyarakat menjadi
individu-individu panutan dalam hal perilaku yang sedang
diperkenalkan. Yaitu dengan mempraktikkan perilaku yang sedang
diperkenalkan tersebut (misalnya seorang kepala sekolah atau
pemuka agama yang tidak merokok). Lebih lanjut bahkan mereka
juga bersedia menjadi kader dan turut menyebarluaskan informasi
guna menciptakan suasana yang kondusif bagi perubahan perilaku
individu.
ZB
BINA SUASANA KELOMPOK
Bina suasana kelompok dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam
masyarakat, seperti pengurus Rukun Tetangga (RT), pengurus Rukun
Warga (RW), majelis pengajian, perkumpulan seni, organisasi
Profesi, organisasi Wanita, organisasi Siswa/mahasiswa, organisasi
pemuda, serikat pekerja dan lain-lain. Bina suasana ini dapat
dilakukan bersama pemuka/tokoh masyarakat yang telah peduli.
Dalam kategori ini kelompok-kelompok tersebut menjadi kelompok
yang peduli terhadap perilaku yang sedang diperkenalkan dan
menyetujui atau mendukungnya. Bentuk dukungan ini dapat berupa
kelompok tersebut lalu bersedia juga mempraktikkan perilaku yang
sedang diperkenalkan, mengadvokasi pihak-pihak yang terkait
dan atau melakukan kontrol sosial terhadap individu-individu
anggotanya.
BINA SUASANA PUBLIK
Bina suasana publik dilakukan oleh masyarakat umum melalui
pengembangan kemitraan dan pemanfaatan media-media
komunikasi, seperti radio, televisi, koran, majalah, situs internet dan
lain-lain, sehingga dapat tercipta pendapat umum. Dalam kategori
ini media-media massa tersebut peduli dan mendukung perilaku
yang sedang diperkenalkan. Dengan demikian, maka media-media
massa tersebut lalu menjadi mitra dalam rangka menyebarluaskan
informasi tentang perilaku yang sedang diperkenalkan dan
menciptakan pendapat umum atau opini publik yang positif tentang
perilaku tersebut. Suasana atau pendapat umum yang positif ini
akan dirasakan pula sebagai pendukung atau “penekan” (social
pressure) oleh individu-individu anggota masyarakat, sehingga
3B
akhirnya mereka mau melaksanakan perilaku yang sedang
diperkenalkan.
ADVOKASI
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana
untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang
terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini berupa tokoh-
tokoh masyarakat (formal dan informal) yang umumnya berperan
sebagai narasumber (opinion leader), atau penentu kebijakan
(norma) atau penyandang dana. Juga berupa kelompok-kelompok
dalam masyarakat dan media massa yang dapat berperan dalam
menciptakan suasana kondusif, opini publik dan dorongan (pressure)
bagi terciptanya PHBS masyarakat. Advokasi merupakan upaya
untuk menyukseskan bina suasana dan pemberdayaan atau proses
pembinaan PHBS secara umum.
Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan
melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu singkat. Pada diri
sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan, yaitu
(1) mengetahui atau menyadari adanya masalah, (2) tertarik untuk
ikut mengatasi masalah, (3) peduli terhadap pemecahan masalah
dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah,
(4) sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu
alternatif pemecahan masalah dan (5) memutuskan tindak lanjut
kesepakatan. Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukan
secara terencana, cermat dan tepat. Bahan-bahan advokasi harus
disiapkan dengan matang, yaitu:
Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi
Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah


3!
Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah
Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
Dikemas secara menarik dan jelas
Sesuai dengan waktu yang tersedia
Sebagaimana pemberdayaan dan bina suasana, advokasi juga
akan lebih efektif bila dilaksanakan dengan prinsip kemitraan.
Yaitu dengan membentuk jejaring advokasi atau forum kerjasama.
Dengan kerjasama, melalui pembagian tugas dan saling-dukung,
maka sasaran advokasi akan dapat diarahkan untuk sampai kepada
tujuan yang diharapkan. Sebagai konsekuensinya, metode dan media
advokasi pun harus ditentukan secara cermat, sehingga kerjasama
dapat berjalan baik.
KEMITRAAN
Kemitraan harus digalang baik dalam rangka pemberdayaan
maupun bina suasana dan advokasi guna membangun kerjasama
dan mendapatkan dukungan. Dengan demikian kemitraan perlu
digalang antar individu, keluarga, pejabat atau instansi pemerintah
yang terkait dengan urusan kesehatan (lintas sektor), pemuka atau
tokoh masyarakat, media massa dan lain-lain. Kemitraan harus
berlandaskan pada tiga prinsip dasar, yaitu (a) kesetaraan, (b)
keterbukaan dan (c) saling menguntungkan.
KESETARAAN
Kesetaraan berarti tidak diciptakan hubungan yang bersifat hirarkhis.
Semua harus diawali dengan kesediaan menerima bahwa masing-
masing berada dalam kedudukan yang sama (berdiri sama tinggi,
duduk sama rendah). Keadaan ini dapat dicapai apabila semua




3Z
pihak bersedia mengembangkan hubungan
kekeluargaan. Yaitu hubungan yang dilandasi
kebersamaan atau kepentingan bersama.
Bila kemudian dibentuk struktur hirarkhis
(misalnya sebuah tim), adalah karena
kesepakatan.
KETERBUKAAN
Oleh karena itu, di dalam setiap langkah
diperlukan adanya kejujuran dari masing-
masing pihak. Setiap usul/saran/komentar
harus disertai dengan alasan yang jujur,
sesuai fakta, tidak menutup-tutupi sesuatu.
Pada awalnya hal ini mungkin akan
menimbulkan diskusi yang seru layaknya
“pertengkaran”. Akan tetapi kesadaran
akan kekeluargaan dan kebersamaan, akan
mendorong timbulnya solusi yang adil dari
“pertengkaran” tersebut.
SALING MENGUNTUNGKAN
Solusi yang adil ini terutama dikaitkan
dengan adanya keuntungan yang didapat
oleh semua pihak yang terlibat. PHBS
dan kegiatan-kegiatan kesehatan dengan
demikian harus dapat dirumuskan
keuntungan-keuntungannya (baik langsung
maupun tidak langsung) bagi semua pihak
yang terkait. Termasuk keuntungan ekonomis,
bila mungkin.
33
KETERBUKAAN
Oleh karena itu, di dalam setiap langkah
diperlukan adanya kejujuran dari masing-
masing pihak. Setiap usul/saran/komentar
harus disertai dengan alasan yang jujur,
sesuai fakta, tidak menutup-tutupi sesuatu.
Pada awalnya hal ini mungkin akan
menimbulkan diskusi yang seru layaknya
“pertengkaran”. Akan tetapi kesadaran
akan kekeluargaan dan kebersamaan, akan
mendorong timbulnya solusi yang adil dari
“pertengkaran” tersebut.
SALING MENGUNTUNGKAN
Solusi yang adil ini terutama dikaitkan
dengan adanya keuntungan yang didapat
oleh semua pihak yang terlibat. PHBS
dan kegiatan-kegiatan kesehatan dengan
demikian harus dapat dirumuskan
keuntungan-keuntungannya (baik langsung
maupun tidak langsung) bagi semua pihak
yang terkait. Termasuk keuntungan ekonomis,
bila mungkin.
3~
ADVOKASI ADALAH UPAYA ATAU PROSES YANG STRATEGIS DAN
TERENCANA UNTUK MENDAPATKAN KOMITMEN DAN DUKUNGAN
DARI PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT (STAKEHOLDERS).
3E
PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT INI BERUPA TOKOH-TOKOH
MASYARAKAT (FORMAL DAN INFORMAL) YANG UMUMNYA
BERPERAN SEBAGAI NARASUMBER (OPINION LEADER), ATAU
PENENTU KEBIJAKAN (NORMA) ATAU PENYANDANG DANA.
3E
PELAKSANA PROMOSI
KESEHATAN
Memperhatikan strategi promosi kesehatan
tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa
terdapat dua kategori pelaksana promosi
kesehatan, yaitu (1) setiap petugas kesehatan
dan (2) petugas khusus promosi kesehatan
(disebut penyuluh kesehatan masyarakat).
SETIAP PETUGAS KESEHATAN
Setiap petugas kesehatan yang melayani
pasien dan ataupun individu sehat (misalnya
dokter, perawat, bidan, tenaga gizi, petugas
laboratorium dan lain-lain) wajib melaksanakan
promosi kesehatan. Namun demikian tidak
semua strategi promosi kesehatan yang
menjadi tugas utamanya, melainkan hanya
pemberdayaan.
Pada hakikatnya pemberdayaan adalah upaya
membantu atau memfasilitasi pasien/klien,
sehingga memiliki pengetahuan, kemauan
dan kemampuan untuk mencegah dan
atau mengatasi masalah kesehatan yang
dihadapinya (to facilitate problem solving),
dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS). Dalam pelaksanaannya, upaya
ini umumnya berbentuk pelayanan informasi
atau konsultasi. Artinya, tenaga-tenaga
37
kesehatan Puskesmas tidak hanya memberikan
pelayanan teknis medis atau penunjang medis,
melainkan juga penjelasan-penjelasan berkaitan
dengan pelayanannya itu. Apalagi jika pasien
ataupun individu sehat menanyakannya atau
menginginkan penjelasan. Sedangkan jika
mereka diam saja pun, tenaga kesehatan
Puskesmas harus mengecek apakah diamnya itu
karena sudah tahu atau sebenarnya belum tahu
tetapi segan/tidak berani bertanya.
Tantangan pertama dalam pemberdayaan adalah
pada saat awal, yaitu pada saat meyakinkan
seseorang bahwa suatu masalah kesehatan
(yang sudah dihadapi atau yang potensial) adalah
masalah bagi yang bersangkutan. Sebelum orang
tersebut yakin bahwa masalah kesehatan itu
memang benar-benar masalah bagi dirinya, maka
ia tidak akan peduli dengan upaya apa pun untuk
menolongnya. Tantangan berikutnya datang pada
saat proses sudah sampai kepada mengubah
pasien/klien dari mau menjadi mampu. Ada
orang-orang yang walaupun sudah mau tetapi
tidak mampu melakukan karena terkendala oleh
sumber daya (umumnya orang-orang miskin). Ada
juga orang-orang yang sudah mau tetapi tidak
mampu melaksanakan karena malas.
3B
Orang yang terkendala oleh sumber daya
(miskin) tentu harus difasilitasi dengan diberi
bantuan sumber daya yang dibutuhkan.
Sedangkan orang yang malas dapat dicoba
rangsang dengan “hadiah” (reward) atau
harus “dipaksa” menggunakan peraturan dan
sanksi (punishment).
PETUGAS KHUSUS
PROMOSI KESEHATAN
Petugas khusus promosi kesehatan
diharapkan dapat membantu para petugas
kesehatan lain dalam melaksanakan
pemberdayaan, yaitu dengan:
Menyediakan alat bantu/alat peraga atau
media komunikasi guna memudahkan
petugas kesehatan dalam melaksanakan
pemberdayaan.
Menyelenggarakan bina suasana baik
secara mandiri atau melalui kemitraan
dengan pihak-pihak lain.
Menyelenggarakan advokasi dalam
rangka kemitraan bina suasana dan
dalam mengupayakan dukungan dari
pembuat kebijakan dan pihak-pihak lain
(sasaran tersier).
Dalam keterbatasan sumber daya manusia
kesehatan, sehingga belum dimungkinkan



3B
adanya petugas khusus promosi kesehatan
di setiap Puskesmas, maka di dinas
kesehatan kabupaten/kota harus tersedia
tenaga khusus promosi kesehatan. Tenaga
ini berupa pegawai negeri sipil dinas
kesehatan kabupaten/kota yang ditugasi
untuk melaksanakan promosi kesehatan.
Petugas ini bertanggung jawab membantu
pelaksanaan promosi kesehatan di
Puskesmas.
Oleh karena itu, agar kinerja mereka baik,
seyogianya di dinas kesehatan kabupaten/
kota terdapat lebih dari seorang tenaga
khusus promosi kesehatan (jumlahnya
disesuaikan dengan kemampuan setiap
orang untuk membantu jumlah Puskesmas
yang ada). Jika tidak mungkin diperoleh
dari pegawai negeri sipil dinas kesehatan
kabupaten/kota , untuk tenaga khusus
promosi kesehatan ini dapat direkrut tenaga-
tenaga dari organisasi kemasyarakatan yang
ada (seperti Aisyiyah, Perdhaki dan lain-lain)
melalui pola kemitraan.
~B
~!
TANTANGAN PERTAMA DALAM
PEMBERDAYAAN ADALAH PADA
SAAT AWAL, YAITU PADA SAAT
MEYAKINKAN SESEORANG BAHWA
SUATU MASALAH KESEHATAN
(YANG SUDAH DIHADAPI ATAU YANG
POTENSIAL) ADALAH MASALAH BAGI
YANG BERSANGKUTAN.
~Z
~.
LANGKAH-LANGKAH
PELAKSANAAN
PROMOSI KESEHATAN
Langkah-langkah pelaksanaaan promosi kesehatan di DBK
dibedakan atas dua kelompok, yaitu (1) langkah-langkah promosi
kesehatan di Puskesmas, dan (2) langkah-langkah promosi kesehatan
di masyarakat.
LANGKAH-
LANGKAH
PROMOSI
KESEHATAN
DI PUSKESMAS
Pelaksanaan promosi kesehatan di
Puskesmas pada dasarnya adalah
penerapan strategi promosi kesehatan,
yaitu pemberdayaan, bina suasana, dan
advokasi di tatanan sarana kesehatan,
khususnya Puskesmas. Oleh karena
itu, langkah awalnya adalah berupa
penggerakan dan pengorganisasian
untuk memberdayakan para petugas
Puskesmas agar mampu mengidentifkasi
~3
masalah-masalah kesehatan yang disandang pasien/klien
Puskesmas dan menyusun rencana untuk menanggulanginya dari
sisi promosi kesehatan. Setelah itu, barulah dilaksanakan promosi
kesehatan sesuai dengan peluang-peluang yang ada, yaitu peluang-
peluang di dalam gedung Puskesmas dan peluang-peluang di luar
gedung Puskesmas.
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari dinas kesehatan
kabupaten/kota . Oleh karena itu, keberhasilan pelaksanaan
promosi kesehatan di Puskesmas juga merupakan tanggung jawab
dari dinas kesehatan kabupaten/kota. Dengan demikian, sangat
diperlukan keterlibatan dinas kesehatan kabupaten/kota dalam
pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas, khususnya dalam
langkah penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan
para petugas Puskesmas. Petugas Puskesmas harus mendapat
pendampingan oleh fasilitator dari dinas kesehatan kabupaten/kota
agar mampu melaksanakan: (1) Pengenalan Kondisi Puskesmas,
(2) Identifkasi Masalah Kesehatan dan PHBS di Puskesmas, (3)
Musyawarah Kerja, (4) Perencanaan Partisipatif, (5) Pelaksanaan
Kegiatan dan (6) Pembinaan Kelestarian.
PENGENALAN KONDISI PUSKESMAS
Sebelum memulai promosi kesehatan di Puskesmas, perlu dilakukan
pengenalan kondisi institusi kesehatan untuk memperoleh data dan
informasi tentang PHBS di Puskesmas tersebut, sebagai data dasar
(baseline data). Yang digunakan sebagai standar adalah persyaratan
Puskesmas yang Ber-PHBS (8 indikator proksi). Pengenalan kondisi
Puskesmas ini dilakukan oleh fasilitator dengan dukungan dari
Kepala dan seluruh petugas Puskesmas.
~~
Pengenalan kondisi Puskesmas dilakukan melalui pengamatan
(observasi), penggunaan daftar periksa (check list), wawancara,
pemeriksaan lapangan atau pengkajian terhadap dokumen-dokumen
yang ada.
IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DAN PHBS
Pengenalan kondisi Puskesmas dilanjutkan dengan identifkasi
masalah, yaitu masalah-masalah kesehatan yang saat ini diderita
oleh pasien/pengunjung dan masalah-masalah kesehatan yang
mungkin akan terjadi (potensial terjadi) jika tidak diambil tindakan
pencegahan.
Masalah-masalah kesehatan yang sudah diidentifkasi kemudian
diurutkan berdasarkan prioritas untuk penanganannya.
Identifkasi masalah dilanjutkan dengan Survai Mawas Diri, yaitu
sebuah survai sederhana oleh petugas-petugas kesehatan di
Puskesmas yang dibimbing oleh fasilitator. Dalam survai ini akan
diidentifkasi dan dibahas:
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah
kesehatan, baik dari sisi teknis kesehatan maupun dari sisi
perilaku. Dari segi PHBS harus digali lebih lanjut data/informasi
tentang latar belakang perilaku.
Potensi yang dimiliki Puskesmas untuk mengatasi masalah-
masalah kesehatan tersebut.
Kelompok-kelompok Kerja (Pokja) apa saja yang sudah ada (jika
ada) dan atau harus diaktifkan kembali/dibentuk baru dalam
rangka mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut, jika
perlu.
Bantuan/dukungan yang diharapkan: apa bentuknya, berapa
banyak, dari mana kemungkinan didapat (sumber) dan bilamana
dibutuhkan.




~E
Selain untuk menggali latar belakang perilaku pasien/pengunjung,
survai ini juga bermanfaat untuk menciptakan kesadaran dan
kepedulian para petugas Puskesmas terhadap masalah kesehatan
(termasuk infeksi nosokomial) khususnya dari segi PHBS.
MUSYAWARAH KERJA
Musyawarah Kerja yang diikuti oleh seluruh petugas/karyawan
Puskesmas, diselenggarakan sebagai tindak lanjut Survai Mawas
Diri, sehingga masih menjadi tugas fasilitator untuk mengawalnya.
Dalam rangka pembinaan PHBS di Puskesmas, Musyawarah Kerja
bertujuan:
Menyosialisasikan tentang adanya masalah-masalah kesehatan
yang masih dan kemungkinan akan diderita/dihadapi pasien/
pengunjung serta langkah-langkah untuk mengatasi dan
mencegahnya.
Mencapai kesepakatan tentang urutan prioritas masalah-
masalah kesehatan yang hendak ditangani.
Mencapai kesepakatan tentang pokja-pokja yang hendak
dibentuk baru atau diaktifkan kembali, jika diperlukan.
Memantapkan data/informasi tentang potensi Puskesmas
serta bantuan/dukungan yang diperlukan dan alternatif sumber
bantuan/dukungan tersebut.
Menggalang semangat dan partisipasi seluruh petugas/
karyawan untuk mendukung pembinaan PHBS di Puskesmas.
PERENCANAAN PARTISIPATIF
Setelah diperolehnya kesepakatan, fasilitator mengadakan
pertemuan-pertemuan secara intensif dengan petugas kesehatan





~E
guna menyusun rencana pemberdayaan pasien dalam tugas masing-
masing. Pembuatan rencana dengan menggunakan tabel berikut:
NO. PERILAKU
YANG ADA
PHBS YANG
DIHARAPKAN
PESAN PELUANG METODE DAN
MEDIA
Di luar itu, fasilitator juga menyusun rencana bina suasana yang
akan dilakukannya di Puskesmas, baik dengan pemanfaatan media
maupun dengan memanfaatkan pemuka/tokoh. Untuk bina suasana
dengan memanfaatkan pemuka/tokoh digunakan tabel berikut.
NO. DUKUNGAN YANG
DIHARAPKAN
PIHAK YANG AKAN
DIADVOKASI
PESAN ADVOKASI
YANG DISAMPAIKAN
PELAKSANAAN KEGIATAN
Segera setelah itu, kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya
operasional seperti pemberdayaan pasien/pengunjung dan advokasi
dapat dilaksanakan. Sedangkan kegiatan-kegiatan lain yang
memerlukan dana dilakukan jika sudah tersedia dana, apakah itu
dana dari Puskesmas, dari pihak donatur atau dari pemerintah.
Pembinaan PHBS di Puskesmas dilaksanakan dengan pemberdayaan,
yang didukung oleh bina suasana dan advokasi.
Pemberdayaan
Pemberdayaan dilaksanakan oleh para petugas
kesehatan yang melayani pasien/pengunjung (dokter
kecil, perawat, bidan, laboran, penata rontgen,
~7
apoteker, dan lain-lain).
Pemberdayaan dilaksanakan di berbagai
kesempatan, terintegrasi dalam pelayanan
masing-masing petugas kesehatan kepada pasien/
pengunjung.
Bina Suasana
Bina suasana di Puskesmas selain dilakukan oleh
fasilitator, juga oleh pemuka/tokoh yang diundang
untuk menyampaikan pesan-pesan. Para pemuka/
tokoh berperan sebagai motivator/kelompok
pendorong (pressure group) dan juga panutan dalam
mempraktikkan PHBS di Puskesmas.
Bina suasana juga dapat dilakukan dengan
pemanfaatan media seperti billboard di halaman,
poster di dinding ruangan, pertunjukan flem,
pemuatan makalah/berita di majalah dinding, serta
penyelenggaraan diskusi, mengundang pakar atau
alim-ulama atau fgur publik untuk berceramah,
pemanfaatan halaman untuk taman obat/taman gizi
dan lain-lain.
Advokasi
Advokasi dilakukan oleh fasilitator dan Kepala
Puskesmas terhadap pembuat kebijakan
dan pemuka/tokoh masyarakat agar mereka
berperanserta dalam kegiatan pembinaan PHBS di
Puskesmas.
~B
Para pembuat kebijakan misalnya, harus
memberikan dukungan kebijakan/pengaturan
dan menyediakan sarana agar PHBS di
Puskesmas dapat dipraktikkan. Para pemuka
/tokoh masyarakat diharapkan untuk
ikut serta melakukan motivasi terhadap
pasien/pengunjung institusi kesehatan,
berperan sebagai kelompok pendorong dan
berperilaku sebagai panutan dalam hal PHBS
di Puskesmas.
Advokasi juga dilakukan terhadap para
penyandang dana, termasuk pengusaha, agar
mereka membantu upaya pembinaan PHBS di
Puskesmas.
Kegiatan-kegiatan pemberdayaan, bina suasana, dan
advokasi di Puskesmas tersebut di atas harus didukung oleh
kegiatan-kegiatan (1) bina suasana PHBS di Puskesmas
dalam lingkup yang lebih luas (kabupaten/kota dan provinsi)
dengan memanfaatkan media massa berjangkauan luas
seperti surat kabar, majalah, radio, televisi dan internet;
serta (2) advokasi secara berjenjang dari dari tingkat provinsi
ke tingkat kabupaten/kota dan dari tingkat kabupaten/kota
ke kecamatan.
~B
EVALUASI DAN PEMBINAAN KELESTARIAN.

Evaluasi dan pembinaan kelestarian PHBS di Puskesmas
terintegrasi dengan manajemen Puskesmas. Dengan
demikian, evaluasi dan pembinaan kelestarian PHBS di
Puskesmas pada dasarnya juga merupakan tugas dari
Kepala Puskesmas, dengan dukungan dari berbagai pihak,
utamanya pemerintah daerah (dinas kesehatan kabupaten/
kota) dan pemerintah. Kehadiran fasilitator di Puskesmas
sudah sangat minimal, karena perannya sudah dapat
sepenuhnya digantikan oleh Kepala Puskesmas dengan
supervisi dari dinas kesehatan kabupaten/kota.
Perencanaan partisipatif dalam rangka pembinaan PHBS di
Puskesmas, sudah berjalan baik dan rutin serta terintegrasi
dalam proses perencanaan Puskesmas.
Pada tahap ini, selain pertemuan-pertemuan berkala serta
kursus-kursus penyegar bagi para petugas kesehatan,
juga dikembangkan cara-cara lain untuk memelihara dan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para petugas
kesehatan tersebut.
EB
LANGKAH-LANGKAH PROMOSI
KESEHATAN DI MASYARAKAT
Langkah-langkah promosi kesehatan di masyarakat mencakup: (1)
Pengenalan Kondisi Wilayah, (2) Identifkasi Masalah Kesehatan,
(3) Survai Mawas Diri, (4) Musyawarah Desa atau Kelurahan,
(5) Perencanaan Partisipatif, (6) Pelaksanaan Kegiatan dan (7)
Pembinaan Kelestarian.
PENGENALAN KONDISI WILAYAH
Pengenalan kondisi wilayah dilakukan oleh fasilitator dan petugas
Puskesmas dengan mengkaji data Profl Desa atau Profl Kelurahan
dan hasil analisis situasi perkembangan desa/kelurahan. Data dasar
yang perlu dikaji berkaitan dengan pengenalan kondisi wilayah,
sebagai berikut:
DATA GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI :
Peta wilayah dan batas-batas wilayah, jumlah desa/kelurahan,
jumlah RW, jumlah RT, jumlah penduduk, jumlah rumah tangga,
tingkat pendidikan, mata pencaharian/jenis pekerjaan.
DATA KESEHATAN :
Jumlah kejadian sakit akibat berbagai penyakit (Diare,
Malaria, ISPA, Kecacingan, Pneumonia, TB, penyakit
Jantung, Hipertensi, dan penyakit lain yang umum dijumpai
di Puskesmas).
Jumlah kematian (kematian ibu, kematian bayi, dan
kematian balita).
Jumlah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi


-
-
-
E!
baru lahir dan balita.
Cakupan upaya kesehatan (cakupan pemeriksaan kehamilan,
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, cakupan
Posyandu, imunisasi dasar lengkap, sarana air bersih dan
jamban).
Jumlah dan jenis fasilitas kesehatan yang tersedia
(Poskesdes, Puskesmas Pembantu, klinik).
Jumlah dan jenis Upaya Kesehatan Bersumberdaya
Masyarakat (UKBM) yang ada seperti Posyandu, kelompok
pemakai air, kelompok arisan jamban, tabulin, dasolin.
Jumlah kader kesehatan/kader PKK, ormas/LSM yang ada.
SURVAI MAWAS DIRI
Sebagai langkah pertama dalam upaya membina peranserta
masyarakat, perlu diselenggarakan Survai Mawas Diri, yaitu sebuah
survai sederhana oleh para pemuka masyarakat dan perangkat desa/
kelurahan, yang dibimbing oleh fasilitator dan petugas Puskesmas.
Selain untuk mendata ulang masalah kesehatan, mendiagnosis
penyebabnya dari segi perilaku dan menggali latar belakang
perilaku masyarakat, survai ini juga bermanfaat untuk menciptakan
kesadaran dan kepedulian para pemuka masyarakat terhadap
kesehatan masyarakat desa/kelurahan, khususnya dari segi PHBS.
Dalam survai ini akan diidentifkasi dan dirumuskan bersama hal-hal
sebagai berikut:
Masalah-masalah kesehatan yang masih diderita/dihadapi dan
mungkin (potensial) dihadapi masyarakat serta urutan prioritas
penanganannya.
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah
kesehatan, baik dari sisi teknis kesehatan maupun dari sisi
-
-
-
-


EZ
perilaku masyarakat. Dari sisi perilaku, setiap perilaku digali
faktor-faktor yang menjadi latar belakang timbulnya perilaku
tersebut.
Tabel berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk menggali
latar belakang setiap perilaku.
NO. PERILAKU
PENYEBAB
MASALAH
KESEHATAN
PENGE-
TAHUAN
SIKAP NILAI/
NORMA
TELADAN SARANA
MUSYAWARAH DESA/KELURAHAN
Musyawarah Desa/Kelurahan diselenggarakan sebagai tindak
lanjut Survai Mawas Diri, sehingga masih menjadi tugas fasilitator
dan petugas Puskesmas untuk mengawalnya. Musyawarah Desa/
Kelurahan bertujuan:
Menyosialisasikan tentang adanya masalah-masalah kesehatan
yang masih diderita/dihadapi masyarakat.
Mencapai kesepakatan tentang urutan prioritas masalah-
masalah kesehatan yang hendak ditangani.
Mencapai kesepakatan tentang UKBM-UKBM yang hendak
dibentuk baru atau diaktifkan kembali.
Memantapkan data/informasi potensi desa atau potensi
kelurahan serta bantuan/dukungan yang diperlukan dan
alternatif sumber bantuan/dukungan tersebut.
Menggalang semangat dan partisipasi warga desa atau
kelurahan untuk mendukung pengembangan kesehatan
masyarakat desa/kelurahan.
Musyawarah Desa/Kelurahan diakhiri dengan dibentuknya







E3
Forum Desa, yaitu sebuah lembaga kemasyarakatan di mana
para pemuka masyarakat desa/kelurahan berkumpul secara rutin
untuk membahas perkembangan dan pengembangan kesehatan
masyarakat desa/kelurahan.
Dari segi PHBS, Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan untuk
menjadikan masyarakat desa/kelurahan menyadari adanya
sejumlah perilaku yang menyebabkan terjadinya berbagai
masalah kesehatan yang saat ini dan yang mungkin (potensial)
mereka hadapi.
PERENCANAAN PARTISIPATIF
Setelah diperolehnya kesepakatan dari warga desa atau kelurahan,
Forum Desa mengadakan pertemuan-pertemuan secara intensif
guna menyusun rencana pengembangan kesehatan masyarakat
desa/kelurahan untuk dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan
Desa/Kelurahan. Rencana Pengembangan Kesehatan Masyarakat
Desa/Kelurahan harus mencakup:
Rekrutmen/pengaktifan kembali kader kesehatan dan pelatihan
pembinaan PHBS di Rumah Tangga untuk para kader kesehatan
oleh petugas Puskesmas dan fasilitator, berikut biaya yang
diperlukan dan jadwal pelaksanaannya.
Kegiatan-kegiatan pembinaan PHBS di Rumah Tangga yang
akan dilaksanakan oleh kader kesehatan dengan pendekatan
Dasawisma, berikut jadwal pelaksanaannya. Pembuatan rencana
dengan menggunakan tabel berikut:
NO. PERILAKU
YANG ADA
PHBS YANG
DIHARAPKAN
PESAN PELUANG
PROMKES
METODE DAN
MEDIA



E~
Sarana-sarana yang perlu diadakan atau direhabilitasi untuk
mendukung terwujudnya PHBS di Rumah Tangga, berikut biaya
yang dibutuhkan dan jadwal pengadaan/rehabilitasinya.
Hal-hal yang dapat dilaksanakan tanpa biaya atau dengan swadaya
masyarakat dan atau bantuan dari donatur (misalnya swasta),
dicantumkan dalam dokumen tersendiri. Sedangkan hal-hal yang
memerlukan dukungan pemerintah dimasukkan ke dalam dokumen
Musrenbang Desa atau Kelurahan untuk diteruskan ke Musrenbang
selanjutnya.
PELAKSANAAN KEGIATAN
Sebagai langkah pertama dalam pelaksanaan kegiatan promosi
kesehatan, petugas Puskesmas dan fasilitator mengajak Forum
Desa merekrut atau memanggil kembali kader-kader kesehatan
yang ada. Selain itu, juga untuk mengupayakan sedikit dana (dana
desa/kelurahan atau swadaya masyarakat) guna keperluan pelatihan
kader kesehatan. Selanjutnya, pelatihan kader kesehatan oleh
fasilitator dan petugas Puskesmas dapat dilaksanakan.
Segera setelah itu, kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya
operasional seperti penyuluhan dan advokasi dapat dilaksanakan.
Sedangkan kegiatan-kegiatan lain yang memerlukan dana dilakukan
jika sudah tersedia dana, apakah itu dana dari swadaya masyarakat,
dari donatur (misalnya pengusaha), atau dari pemerintah, termasuk
dari desa /kelurahan.
Promosi kesehatan dilaksanakan dengan pemberdayaan keluarga
melalui Dasawisma, yang didukung oleh bina suasana dan advokasi.

EE
Pemberdayaan
Pemberdayaan individu dilaksanakan dalam berbagai
kesempatan, khususnya pada saat individu-
individu anggota rumah tangga berkunjung dan
memanfaatkan upaya-upaya kesehatan bersumber
masyarakat (UKBM) seperti Posyandu, Poskesdes,
dan lain-lain, melalui pemberian informasi dan
konsultasi. Dalam kesempatan ini, para kader (dan
juga petugas kesehatan) yang bekerja di UKBM
harus berupaya meyakinkan individu tersebut akan
pentingnya mempraktikkan PHBS berkaitan dengan
masalah kesehatan yang sedang dan atau potensial
dihadapinya.
Pemberdayaan keluarga dilaksanakan melalui
kunjungan ke rumah tangga dan konsultasi keluarga
oleh para kader kesehatan. Juga melalui bimbingan
atau pendampingan ketika keluarga tersebut
membutuhkan (misalnya tatkala membangun jamban,
membuat taman obat keluarga dan lain-lain).
Dalam hal ini, fasilitator dan petugas Puskesmas
mengorganisasikan para kader kesehatan dengan
membagi tugas dan tanggung jawab melalui
pendekatan Dasawisma. Seorang atau dua orang
kader diberi tugas dan tanggung jawab untuk
membina PHBS 5–10 rumah tangga.
Bina Suasana
Bina suasana diawali dengan advokasi oleh
fasilitator dan petugas Puskesmas untuk menggalang
EE
kemitraan. Advokasi dilakukan terhadap para
pemuka atau tokoh-tokoh masyarakat, termasuk
pemuka agama dan pemuka adat serta para
pengurus organisasi kemasyarakatan di tingkat desa
dan kelurahan seperti pengurus Rukun Warga/Rukun
Tetangga, pengurus PKK, pengurus pengajian,
pengurus arisan, pengurus koperasi, pengurus
organisasi pemuda (seperti Karang Taruna) dan
lain-lain.
Keberhasilan advokasi dan penggalangan kemitraan
akan memotivasi para pemuka atau tokoh-tokoh
masyarakat tersebut untuk berperan aktif dalam bina
suasana, dalam rangka menciptakan opini publik,
suasana yang kondusif dan panutan di tingkat desa
dan kelurahan bagi dipraktikkannya PHBS oleh rumah
tangga. Para pengurus organisasi kemasyarakatan
juga termotivasi untuk mendorong anggota-
anggotanya agar mempraktikkan PHBS.
Bina suasana juga dapat dilakukan dengan
pemanfaatan media seperti pemasangan spanduk
dan atau billboard di jalan-jalan desa/kelurahan,
penempelan poster di tempat-tempat strategis,
pembuatan dan pemeliharaan taman obat/taman gizi
percontohan di beberapa lokasi, serta pemanfaatan
media tradisional.
E7
Advokasi
Sebagaimana disebutkan di atas, advokasi dilakukan
oleh fasilitator dan petugas Puskesmas terhadap
para pemuka masyarakat dan pengurus organisasi
kemasyarakatan tingkat desa dan kelurahan, agar
mereka berperanserta dalam kegiatan bina suasana.
Di samping itu, advokasi juga dilakukan terhadap
para penyandang dana, termasuk pengusaha, agar
mereka membantu upaya pengembangan kesehatan
masyarakat desa/kelurahan.
Kegiatan-kegiatan pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi di
desa dan kelurahan tersebut di atas harus didukung oleh kegiatan-
kegiatan (1) bina suasana PHBS di Rumah Tangga dalam lingkup
yang lebih luas (kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional)
dengan memanfaatkan media massa berjangkauan luas seperti surat
kabar, majalah, radio, televisi dan internet; serta (2) advokasi secara
berjenjang dari tingkat provinsi ke tingkat kabupaten/kota dan dari
tingkat kabupaten/kota ke tingkat kecamatan.
EVALUASI DAN PEMBINAAN KELESTARIAN
Evaluasi dan pembinaan kelestarian merupakan tugas dari Kepala
Desa/Lurah dan perangkat desa/kelurahan dengan dukungan dari
berbagai pihak, utamanya pemerintah daerah dan pemerintah.
Kehadiran fasilitator di desa dan kelurahan sudah sangat minimal,
karena perannya sudah dapat sepenuhnya digantikan oleh kader-
kader kesehatan, dengan supervisi dari Puskesmas.
EB
Perencanaan partisipatif dalam rangka pembinaan kesehatan
masyarakat desa/kelurahan, sudah berjalan baik dan rutin serta
terintegrasi dalam proses perencanaan pembangunan desa atau
kelurahan dan mekanisme Musrenbang. Kemitraan dan dukungan
sumber daya serta sarana dari pihak di luar pemerintah juga sudah
tergalang dengan baik dan melembaga.
Pada tahap ini, selain pertemuan-pertemuan berkala serta kursus-
kursus penyegar bagi para kader kesehatan, juga dikembangkan
cara-cara lain untuk memelihara dan meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan para kader tersebut.
Pembinaan kelestarian juga dilaksanakan terintegrasi dengan
penyelenggaraan Lomba Desa dan Kelurahan yang diselenggarakan
setiap tahun secara berjenjang sejak dari tingkat desa/kelurahan
sampai ke tingkat nasional.
Dalam rangka pembinaan kelestarian juga diselenggarakan
pencatatan dan pelaporan perkembangan kesehatan masyarakat
desa/kelurahan, termasuk PHBS di Rumah Tangga, yang berjalan
secara berjenjang dan terintegrasi dengan Sistem Informasi
Pembangunan Desa yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam
Negeri.
EB
EB
E.
PENUTUP
Keberhasilan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di
DBK sangat bergantung pada peran aktif petugas kesehatan di
Puskesmas sebagai koordinator sekaligus motivator pemberdayaan
masyarakat di DBK. Hal ini didasari oleh adanya kenyataan bahwa
24 indikator IPKM di DBK pada umumnya sangat berkaitan dengan
aspek perilaku. Oleh karena itu untuk memperbaiki angka IPKM
diperlukan upaya perubahan perilaku masyarakat secara terencana
dan berkesinambungan melalui penyelenggaraan promosi kesehatan
di DBK.
Panduan ini diharapkan dapat membantu para petugas kesehatan
di Puskesmas dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan
Promosi Kesehatan di DBK. Secara berkala buku ini akan dievaluasi
dan diperbaiki guna menyesuaikan dengan perkembangan program.
Selanjutnya untuk lebih mendalami lagi materi dan substansi
program kesehatan, sebaiknya dirujuk buku-buku pedoman yang
telah diterbitkan sebelumnya.
E!
LAMPIRAN
HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI DAN
DILAKUKAN DALAM PELAKSANAAN
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
DI DAERAH BERMASALAH KESEHATAN
EZ
E3
PEMBINAAN PERILAKU HIDUP
BERSIH DAN SEHAT DI RUMAH TANGGA
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku
yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran,
yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat
mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan
dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 dapat diketahui, bahwa rumah
tangga yang telah mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) baru mencapai 38,7%, sedangkan target yang harus dicapai
oleh Kementerian Kesehatan yaitu sebesar 70% rumah tangga
sudah mempraktikkan PHBS pada tahun 2014.
Tingkat pencapaian pembinaan PHBS di Rumah Tangga dapat diukur
melalui 10 indikator sebagai berikut:
Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.
Memberi bayi ASI Ekslusif.
Menimbang balita setiap bulan.
Menggunakan air bersih.
Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun.
Menggunakan jamban sehat.
Memberantas jentik di rumah seminggu sekali.
Makan sayur dan buah setiap hari.
Melakukan aktivitas fsik setiap hari.
Tidak merokok di dalam rumah.
Dalam melakukan pembinaan PHBS di DTPK, petugas kesehatan
dapat bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK setempat, baik di
tingkat kecamatan maupun tingkat desa/kelurahan.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
E~
PEMBINAAN KESEHATAN IBU
Ibu hamil, bersalin dan nifas merupakan kelompok yang rawan
terhadap gangguan kesehatan, sehingga perlu mendapatkan
perhatian yang serius dan pelakuan khusus.
Hal-hal yang harus dilakukan petugas kesehatan dalam
meningkatkan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas:
PENDATAAN
Mendata dan mencatat jumlah ibu hamil termasuk ibu hamil
yang mempunyai risiko pada kehamilannya.
Mendata jumlah ibu bersalin dan nifas.
Mendata jumlah ibu yang mempunyai bayi dan balita.
Menganalisis data cakupan program kesehatan ibu dan
merumuskan permasalahan yang menyangkut kesehatan ibu.
Stikerisasi P4K.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dapat diketahui permasalahan
kesehatan ibu yang dihadapi untuk setiap desa guna dibahas dalam
musyawarah desa.
PENYEBARLUASAN INFORMASI
Materi penyuluhan tentang:
Tanda dan bahaya kehamilan.
Pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin kepada Bidan
Poskesdes minimal 4 kali selama hamil.
Pendampingan suami dalam pemeriksaan dan persalinan.
Tanda bahaya dan penyakit pada masa nifas antara lain
perdarahan lewat jalan lahir, demam, wajah, tangan atau kaki
bengkak, nyeri/panas di daerah tungkai, payudara bengkak,









EE
berwarna kemerahan, sakit dan lain- lain.
Inisiasi Menyusu Dini.
Cara merawat bayi baru lahir dan cara menyusui yang benar
serta cara menyimpan ASI khususnya bagi ibu bayi yang bekerja
Pemberian ASI eksklusif bagi bayi usia 0- 6 bulan, yaitu bayi
hanya diberikan ASI saja sebagai makanan dan minuman utama.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga
berkunjung ke Posyandu, Poskesdes atau Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan Kelas Ibu,
forum pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah
minggu, kunjungan Posyandu, pertemuan PKK.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya
kesenian tradisional, pemutaran flm, ceramah umum. Selain itu,
penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan
media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat
keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa,
Posyandu, Poskesdes, Puskesmas, dll).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Pemberdayaan dan penggerakan masyarakat untuk
menggunakan Buku KIA.
Penerapan program P4K (Program Perencanaan Persalinan
dan Pencegahan Komplikasi) untuk membantu keluarga agar
menyiapkan persalinan seperti mencatat perkiraan persalinan,
bidan yang akan menolong persalinan, golongan darah ibu hamil
dan calon pendonor darah yang selanjutnya akan dicatat pada
Stiker P4K.








EE
Penerapan P4K.
Penggerakan Kelas Ibu hamil yang telah ada di
Puskesmas .
Mendorong masyarakat membentuk upaya
kesehatan berbasis masyarakat, seperti
Kelompok Sayang Ibu, Tabungan ibu bersalin
(Tabulin), dana sosial ibu bersalin (Dasolin) Pos
Kesehatan Desa (Poskesdes), meningkatkan
opersionalisasi Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu), Gerakan Sayang Ibu dan Bayi, Donor
Darah di Desa, Pos Obat Desa, Taman Obat
Keluarga dan lainnya.
Mendorong masyarakat untuk menyediakan
ambulan desa sesuai dengan karakteristik
transportasi daerah.
PEMBINAAN
Melakukan orientasi dan pelatihan kader dalam
upaya peningkatan kesehatan ibu.
Membina kader dalam membuat pencatatan dan
melaporkan ibu hamil di setiap desa/kelurahan
melalui Dasawisma.
Membahas permasalahan kesehatan ibu secara
rutin dalam forum desa (MMD).
Pemantauan dan evaluasi penerapan P4K.
Menyelenggarakan lomba-lomba yang
menyangkut kesehatan ibu, seperti lomba
Kesehatan Ibu hamil, lomba Desa Sayang Ibu dan
lain-lain.









E7
EB
PEMBINAAN KESEHATAN ANAK
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan di bidang kesehatan anak:
PENDATAAN
Jumlah bayi baru lahir, bayi, dan balita di tahun berjalan.
Jumlah kelompok sasaran yang perlu diimunisasi di tahun
berjalan.
Jumlah cakupan Posyandu : jumlah balita yang ditimbang,
cakupan imunisasi, Kapsul Vitamin A dan status gizi balita.
Jumlah kematian bayi dan penyebabnya di tahun berjalan.
Jumlah kasus Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di tahun berjalan.
Jumlah kasus gizi buruk di tahun berjalan.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dapat diketahui permasalahan
yang dihadapi untuk setiap desa guna menjadi bahan pembahasan
di Musyawarah Desa. Data juga digunakan untuk melakukan
pemantauan dalam pelaksanaan pembinaan di setiap rumah tangga
baik oleh petugas kesehatan maupun kader.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan tentang:
Pelayanan Posyandu, terutama yang menyangkut pelayanan
kesehatan tentang bayi baru lahir dan balita.
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif.
Imunisasi dasar lengkap dan lanjutan.
Gizi balita.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Penyakit yang sering menyerang anak.












EB
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat
warga berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan
desa, forum pengajian atau majelis taklim, khotbah
jumat, khotbah minggu, kunjungan Posyandu, pertemuan
PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya
pesta rakyat, kesenian tradisional, pemutaran flm,
ceramah umum, tablig akbar. Selain itu, penyuluhan
massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media
massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat
keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai
desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas, dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam
menggerakkan masyarakat.
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Melakukan perekrutan kader-kader Posyandu.
Mengaktifkan Forum Peduli KIA yang diharapkan
memanfaatkan forum-forum yang sudah ada di
masyarakat seperti forum Desa Siaga, Pokja Posyandu,
Gerakan Sayang Bayi, Kelompok Pendukung Air Susu Ibu,
Kadarzi, dan lain sebagainya.
Gerakan Imunisasi dasar lengkap dan lanjutan di tatanan
rumah tangga dan tatanan sekolah.
Menggerakkan masyarakat untuk mencapai UCI.
Gerakan IMD di tatanan institusi kesehatan.










7B
Gerakan pemberian ASI Eksklusif di
tatanan rumah tangga dan institusi
kesehatan.
Gerakan pengadaan Ruang ASI di
tatanan tempat kerja, tempat-tempat
umum dan institusi kesehatan.
Gerakan peningkatan gizi seimbang
di tatanan rumah tangga dan tatanan
sekolah.
Mengaktifkan Posyandu dan Poskesdes.
Mengadakan kegiatan yang menarik
seperti lomba bayi dan balita sehat,
lomba memasak makanan balita sehat,
kegiatan makan bersama balita.
PEMBINAAN
Menyelenggarakan pelatihan bagi kader-
kader posyandu.
Memfasilitasi pertemuan rutin Forum
Peduli KIA.
Peningkatan kerja sama lintas program
dan sektoral di bidang kesehatan anak.
Monitoring dan evaluasi secara rutin.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan
rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan
tempat-tempat umum, tatanan tempat
kerja dan tatanan institusi kesehatan
dengan berkoordinasi dengan pihak-
pihak terkait.










7!
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
BERBAGAI JENIS PENYAKIT DAN MASALAH
KESEHATAN
DIARE
Diare adalah bertambahnya frekuensi buang air besar (defekasi)
lebih dari biasanya/lebih dari 3 kali sehari yang disertai dengan
perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa darah.
Hal-hal yang perlu diketahui dan dilakukan oleh petugas kesehatan
untuk mencegah dan menanggulangi Diare:
PENDATAAN
Mengetahui data kesehatan yang ada di wilayah kerja petugas
kesehatan. Data ini dapat diperoleh dengan cara melakukan
kegiatan pemantauan dan pencatatan kasus Diare. Data yang
dimaksud yaitu:
Data kasus Diare dan kasus dehidrasi berat di tahun berjalan dan
berdasarkan kelompok umur.
Jumlah dan jenis sarana air bersih dan jamban yang ada.
Jumlah KK yang telah dan belum memiliki sarana air bersih dan
jamban.
Jumlah dan jenis sarana air bersih dan jamban yang memenuhi
syarat.
Perilaku masyarakat terkait sanitasi dasar dan hygiene
perorangan, terutama yang menyangkut kebiasaan Cuci Tangan
Pakai Sabun (CTPS), memasak air minum atau menyediakan
makanan dan minuman di rumah tangga.






7Z
73
7~
PEMETAAN
Melakukan pemetaan wilayah potensial KLB Diare, kemudian
disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil pemetaan
ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD), termasuk
mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pemenuhan kebutuhan sarana
sanitasi dasar (air bersih, jamban, pembuangan sampah/limbah dan
lain-lain) melalui berbagai sumber pendanaan, baik yang bersifat
swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara mencegah, serta
cara menanggulangi Diare, termasuk didalamnya cara mencegah
kekurangan cairan tubuh (dehidrasi), cara mengobati dehidrasi, cara
pemberian makanan bagi penderita Diare, serta informasi rujukan
bagi penderita Diare.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga
berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum
pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta
rakyat, kesenian tradisional, pemutaran flm, ceramah umum,
tablig akbar. Selain itu, penyuluhan massa juga dapat dilakukan
melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di
tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran
(balai desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas dan lain-lain).



7E
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Gerakan masyarakat untuk kesehatan lingkungan.
Gerakan cuci tangan di tatanan rumah tangga dan
tatanan sekolah.
Melakukan Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat
(UKBM), misalnya dengan cara arisan jamban bila
di wilayah tersebut banyak masyarakat yang belum
memiliki jamban atau membentuk Kelompok Pemakai Air
(Pokmair) bila di wilayah tersebut sulit air bersih.
Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change.
Untuk menyampaikan pesan-pesan ke teman sebaya dan
orang tuanya.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama
mencegah dan menanggulangi Diare.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk
membahas permasalahan kesehatan terkait Diare.
Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap
wilayah, terutama di wilayah potensial KLB Diare.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga
dan tatanan sekolah dengan berkoordinasi dengan pihak-
pihak terkait.









7E
77
INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT
(ISPA)
ISPA adalah Infeksi saluran pernafasan yang berlangsung sampai 14
hari yang dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin maupun
udara pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang
sehat.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi ISPA:
PENDATAAN
Data kasus ISPA di tahun berjalan.
Status imunisasi dan gizi anak.
Lingkungan yang dapat memicu kejadian kasus ISPA.
Jumlah rumah yang memenuhi kriteria Rumah Sehat.
Perilaku masyarakat terkait kebiasaan merokok di dalam rumah,
memasak dalam ruang yang sama untuk tidur.
PEMETAAN
Melakukan pemetaan wilayah potensial kejadian ISPA, kemudian
disandingkan dengan data –data yang ada. Data dan hasil pemetaan
ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD), termasuk
mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pemenuhan kriteria Rumah
Sehat melalui berbagai sumber pendanaan, baik yang bersifat
swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir.





7B
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara
mencegah, serta cara menanggulangi ISPA, termasuk
didalamnya cara mencegah kekurangan cairan tubuh
(dehidrasi), cara mengobati dehidrasi, cara pemberian
makanan bagi penderita ISPA, serta informasi rujukan
bagi penderita ISPA.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah,
pada saat melakukan pendataan kasus, maupun
pada saat warga berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan
desa, forum pengajian atau majelis taklim, khotbah
jumat, khotbah minggu, kunjungan Posyandu,
pertemuan PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat
digelarnya pesta rakyat, kesenian tradisional,
pemutaran flm, ceramah umum. Selain itu,
penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui
pemasangan media massa seperti poster dan
spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai
dengan kelompok sasaran (balai desa, Posyandu,
Poskesdes, Puskesmas dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan





7B
gotong-royong membersihkan lingkungan.
Gerakan untuk mensukseskan program
imunisasi, baik di tatanan rumah tangga maupun
di tatanan sekolah.
Gerakan peningkatan gizi seimbang di tatanan
rumah tangga dan tatanan sekolah.
Mengajak masyarakat untuk membuang
kebiasaan yang buruk, misalnya kebiasaan
membuang ludah sembarangan dan tidak
menutup mulut ketika bersin, terutama ketika
berada di tempat umum.
Mengaktifkan Posyandu dan Poskesdes.
Menjadikan anak sekolah sebagai agent of
change.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-
sama mencegah dan menanggulangi ISPA.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk
membahas permasalahan kesehatan terkait
ISPA.
Membina kader untuk melakukan pemantauan
di setiap wilayah, terutama di wilayah potensial
kejadian ISPA.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah
tangga, tatanan sekolah dan tatanan tempat-
tempat umum dengan berkoordinasi dengan
pihak-pihak terkait.









BB
B!
PENYAKIT GIGI DAN MULUT
Penyakit gigi dan mulut antara lain karang gigi, karies gigi, dan
radang gusi.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi penyakit gigi dan
mulut:
PENDATAAN
Data kasus penyakit gigi dan mulut di tahun berjalan.
Jumlah dan jenis sarana air bersih.
Perilaku masyarakat terkait kebiasaan makan makanan manis.
Perilaku masyarakat terkait kebiasaan menggosok gigi.
PEMETAAN
Melakukan pemetaan wilayah potensial kejadian penyakit gigi dan
mulut, kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. Data
dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan masyarakat desa
(MMD), termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pemenuhan
fasilitas air bersih melalui berbagai sumber pendanaan, baik yang
bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana
bergulir.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara mencegah, serta
cara menanggulangi penyakit gigi dan mulut, termasuk didalamnya
informasi rujukan bagi penderita penyakit gigi dan mulut.




BZ
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga
berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum
pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya
kesenian tradisional, pemutaran flm, ceramah umum. Selain itu,
penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan
media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat
keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa,
Posyandu, Poskesdes, Puskesmas dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan gigi
minimal 6 bulan sekali.
Gerakan gosok gigi di tatanan rumah tangga dan tatanan
sekolah.
Mengaktifkan Poskesdes.
Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah
dan menanggulangi penyakit gigi dan mulut.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas
permasalahan kesehatan terkait penyakit gigi dan mulut.
Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah,
terutama di wilayah potensial kejadian penyakit gigi dan mulut.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga dan
tatanan sekolah dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak












B3
MALARIA
Malaria adalah penyakit serius yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Anopheles. Penyakit Malaria adalah penyakit menular yang
dapat menyerang semua golongan umur, mulai dari bayi, anak- anak,
dan dewasa. Malaria juga sangat membahayakan ibu hamil, karena
mengakibatkan Anemia, keguguran, bayi lahir mati, Berat Badan
Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan kematian ibu.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Malaria:
PENDATAAN
Data kasus Malaria di tahun berjalan (penemuan kasus).
Screening Malaria pada ibu hamil.
Status ANC.
Tempat potensial perindukan nyamuk.
Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Perilaku berisiko masyarakat terhadap gigitan nyamuk penular
Malaria, dalam hal ini penggunaan kelambu atau repellant di
masyarakat.
PEMETAAN
Melakukan pemetaan kepadatan vektor penular Malaria, kemudian
disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil pemetaan
ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa, termasuk
mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pengadaan kelambu atau
repellant melalui berbagai sumber pendanaan, baik yang bersifat
swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir.






B~
BE
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara
mencegah, serta cara menanggulangi Malaria,
termasuk didalamnya informasi rujukan bagi
penderita Malaria.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan
rumah, pada saat melakukan pendataan
kasus, maupun pada saat warga berkunjung ke
Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat
pertemuan desa, forum pengajian atau majelis
taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan
Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat
digelarnya pesta rakyat, kesenian tradisional,
pemutaran flm, ceramah umum, tablig akbar.
Selain itu, penyuluhan massa juga dapat
dilakukan melalui pemasangan media massa
seperti poster dan spanduk di tempat-tempat
keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran
(balai desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas,
dan lain-lain).



BE
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Mengajak masyarakat untuk gotong-royong
membersihkan lingkungan minimal seminggu sekali.
Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan
jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3
hari sekali.
Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal
seminggu sekali di tatanan rumah tangga, tatanan
sekolah, tatanan tempat-tempat umum, tatanan tempat
kerja dan tatanan institusi kesehatan.
Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change.
Mengaktifkan Poskesdes.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama
mencegah dan menanggulangi Malaria.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk
membahas permasalahan kesehatan terkait Malaria.
Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap
wilayah, terutama di wilayah potensial kejadian Malaria.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga,
tatanan sekolah, tatanan tempat-tempat umum, tatanan
tempat kerja dan tatanan institusi kesehatan dengan
berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.










B7
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
Demam Berdarah adalah penyakit yang disebarkan oleh virus
Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi DBD:
PENDATAAN
Data kasus DBD di tahun berjalan.
Tempat potensial perindukan nyamuk.
Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Perilaku berisiko masyarakat terhadap gigitan nyamuk penular
DBD, dalam hal ini penggunaan obat anti nyamuk/repellant.
PEMETAAN
Melakukan pemetaan kepadatan vektor penular DBD, kemudian
disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil pemetaan
ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa, termasuk
mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) dan pengadaan obat anti nyamuk atau
repellant melalui berbagai sumber pendanaan, baik yang bersifat
swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara mencegah,
serta cara menanggulangi DBD, termasuk didalamnya mengenai
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta informasi rujukan bagi
penderita DBD.




BB
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga
berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum
pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta
rakyat, kesenian tradisional, pemutaran flm, ceramah umum,
tablig akbar. Selain itu, penyuluhan massa juga dapat dilakukan
melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di
tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran
(balai desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik
nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali.
Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal
seminggu sekali di tatanan rumah tangga, tatanan sekolah,
tatanan tempat-tempat umum, tatanan tempat kerja, dan
tatanan institusi kesehatan.
Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change.
Mengaktifkan Poskesdes.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah
dan menanggulangi DBD.









BB
BB
B!
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas
permasalahan kesehatan terkait DBD.
Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah,
terutama di wilayah potensial kejadian DBD.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga, tatanan
sekolah, tatanan tempat-tempat umum, tatanan tempat kerja,
dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan
pihak-pihak terkait.



CACINGAN
Cacingan adalah kumpulan gejala gangguan kesehatan akibat
adanya cacing parasit di dalam tubuh.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Cacingan:
PENDATAAN
Data kasus Cacingan di tahun berjalan.
Ketersediaan air bersih dan jamban keluarga (MCK).
Perilaku berisiko masyarakat terhadap penularan Cacingan.
Pemeriksaan tinja rutin pada anak sekolah.
Pemberian obat cacing pada anak sekolah.
PEMETAAN
Melakukan pemetaan daerah endemis Cacingan, kemudian
disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil pemetaan
ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa, termasuk
mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan pencegahan dan





BZ
pengobatan Cacingan melalui berbagai sumber
pendanaan, baik yang bersifat swadaya masyarakat
maupun bantuan stimulan/dana bergulir.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara
mencegah, serta cara menanggulangi Cacingan,
termasuk didalamnya mengenai informasi rujukan
bagi penderita Cacingan.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan
rumah, pada saat melakukan pendataan
kasus, maupun pada saat warga berkunjung ke
Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat
pertemuan desa, forum pengajian atau majelis
taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan
Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat
digelarnya pesta rakyat, kesenian tradisional,
pemutaran flm, ceramah umum, tablig akbar.
Selain itu, penyuluhan massa juga dapat
dilakukan melalui pemasangan media massa
seperti poster dan spanduk di tempat-tempat
keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran
(balai desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas,
dan lain-lain).



B3
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN
MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Arisan jamban bila di wilayah tersebut banyak
masyarakat yang belum memiliki jamban.
Pembentukan Kelompok Pemakai Air (Pokmair),
bila di wilayah tersebut sulit air bersih.
Gerakan cuci tangan di tatanan rumah tangga
dan tatanan sekolah.
Menjadikan anak sekolah sebagai agent of
change.
Mengaktifkan Posyandu dan Poskesdes.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-
sama mencegah dan menanggulangi Cacingan.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk
membahas permasalahan kesehatan terkait
Cacingan.
Membina kader untuk melakukan pemantauan
di setiap wilayah, terutama di wilayah potensial
kejadian Cacingan.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan
rumah tangga dan tatanan sekolah dengan
berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.










B~
KAKI GAJAH (FILARIASIS)
Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing
flaria yang ditularkan oleh nyamuk. Apabila tidak segera diobati
akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan
dan alat kelamin, baik perempuan maupun laki-laki.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Filariasis:
PENDATAAN
Data kasus kronis Filariasis di tahun berjalan.
Tempat potensial perindukan nyamuk.
Penemuan kasus kronis Filariasis.
Pelaksanaan pemberian obat massal pencegahan (POMP)
Filariasis.
Penatalaksanaan kasus klinis Filariasis sesuai prosedur/SOP.
Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Perilaku berisiko masyarakat terhadap gigitan nyamuk penular
Filariasis, dalam hal ini penggunaan kelambu.
PEMETAAN
Melakukan pemetaan daerah endemis Filariasis dengan survey
darah jari atau dengan RDT, kemudian disandingkan dengan data-
data yang ada. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan
musyawarah desa, termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi
kegiatan pencegahan dan pengobatan Filariasis melalui berbagai
sumber pendanaan, baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun
bantuan stimulan/dana bergulir.







BE
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara mencegah,
serta cara menanggulangi Filariasis, termasuk didalamnya mengenai
POMP Filariasis serta informasi rujukan bagi penderita Filariasis.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga
berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum
pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta
rakyat, kesenian tradisional, pemutaran flm, ceramah umum,
tablig akbar. Selain itu, penyuluhan massa juga dapat dilakukan
melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di
tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran
(balai desa, Posyandu, Poskesdes, Puskesmas, dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Mengajak masyarakat gotong-royong membersihkan lingkungan
minimal seminggu sekali.
Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik
nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali.
Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal
seminggu sekali di tatanan rumah tangga, tatanan sekolah,
tatanan tempat-tempat umum, tatanan tempat kerja dan tatanan







BE
institusi kesehatan.
Menjadikan anak sekolah sebagai agent of
change.
Mengaktifkan Poskesdes.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-
sama mencegah dan menanggulangi Filariasis.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk
membahas permasalahan kesehatan terkait
Filariasis.
Membina kader untuk melakukan pemantauan
di setiap wilayah, terutama di wilayah potensial
kejadian Filariasis.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah
tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat-tempat
umum, tatanan tempat kerja, dan tatanan
institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan
pihak-pihak terkait.






B7
FLU BURUNG (AVIAN INFLUENZA)
Flu Burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
virus infuenza dan ditularkan oleh unggas.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Flu Burung:
PENDATAAN
Data kasus Flu Burung pada manusia dan unggas, terutama di
tahun berjalan.
Perilaku berisiko masyarakat terhadap penularan Flu Burung.
Melakukan tata laksana kasus Flu Burung sesuai prosedur/SOP.
PEMETAAN
Melakukan pemetaan daerah endemis Flu Burung pada manusia
dan unggas serta pemetaan kelompok berisiko tinggi, kemudian
disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil pemetaan
ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa, termasuk
mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan pencegahan dan
pengobatan Flu Burung melalui berbagai sumber pendanaan, baik
yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana
bergulir.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara mencegah, serta
cara menanggulangi Flu Burung, termasuk didalamnya mengenai
penggunaan desinfektan dan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)



BB
BB
ketika mengolah hasil unggas serta informasi rujukan bagi penderita
Flu Burung.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga
berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum
pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta
rakyat, kesenian tradisional, pemutaran flm, ceramah umum,
tablig akbar. Selain itu, penyuluhan massa juga dapat dilakukan
melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di
tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran
(balai desa, Posyandu,Poskesdes, Puskesmas, dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Mengajak masyarakat membentuk Tim Tanggap Cepat Flu
Burung.
Gerakan cuci tangan di tatanan rumah tangga dan tatanan
tempat kerja (tempat pengolahan hasil unggas).
Gerakan pemakaian APD di tatanan tempat kerja (tempat
pengolahan hasil unggas).
Mengaktifkan Poskesdes.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah
dan menanggulangi Flu Burung.









!BB
HIV dan AIDS
HIV (Human Immunodefciency Virus) adalah virus yang menyerang
kekebalan tubuh manusia. HIV dapat menyebabkan AIDS. AIDS
(Acquired Immune Defciency Syndrome) adalah penyakit-penyakit
yang terjadi akibat menurunnya kekebalan tubuh manusia.
Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas
kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi HIV dan AIDS:
PENDATAAN
Data kasus HIV dan AIDS, terutama di tahun berjalan.
Data jumlah pengguna narkoba suntik di wilayah potensial
kejadian HIV dan AIDS (kelompok berisiko tinggi).
Data jumlah pekerja seks komersial di wilayah potensial
kejadian HIV dan AIDS (kelompok berisiko tinggi).
Perilaku berisiko masyarakat di wilayah potensial kejadian HIV
dan AIDS.




PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas
permasalahan kesehatan terkait Flu Burung.
Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah,
terutama di wilayah potensial kejadian Flu Burung.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga dan
tatanan tempat kerja dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak
terkait.



!B!
!BZ
PEMETAAN
Melakukan pemetaan wilayah potensial kejadian HIV dan
AIDS serta pemetaan kelompok berisiko tinggi, kemudian
disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil
pemetaan ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD),
termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan
pencegahan dan pengobatan HIV dan AIDS melalui berbagai
sumber pendanaan, baik yang bersifat swadaya masyarakat
maupun bantuan stimulan/dana bergulir.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan
Materi penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara
mencegah, serta cara menanggulangi HIV dan AIDS,
termasuk didalamnya mengenai penggunaan jarum suntik
yang steril dan kondom bagi kelompok berisiko tinggi serta
informasi rujukan bagi penderita HIV dan AIDS.
Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada
saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat
warga berkunjung ke Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan
desa, forum pengajian atau majelis taklim, khotbah
jumat, khotbah minggu, kunjungan Posyandu, pertemuan
PKK, pertemuan Karang Taruna.
Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya
pesta rakyat, kesenian tradisional, pemutaran flm,
ceramah umum, tablig akbar. Selain itu, penyuluhan



!B3
massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa
seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian
yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa, Posyandu,
Poskesdes, Puskesmas, dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT
Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.
Mengajak masyarakat untuk melakukan survai mawas diri.
Mengadakan Klinik VCT (Voluntary Counseling Test) di
Puskesmas dan Poskesdes.
Gerakan Stop HIV dan AIDS di tatanan rumah tangga, tatanan
sekolah, tatanan tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum,
dan tatanan institusi kesehatan.
Gerakan Anti Narkoba di tatanan rumah tangga, tatanan sekolah,
tatanan tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum, dan
tatanan institusi kesehatan.
Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah
dan menanggulangi HIV dan AIDS.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas
permasalahan kesehatan terkait HIV dan AIDS.
Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah,
terutama di wilayah potensial kejadian HIV dan AIDS.
Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga, tatanan
sekolah, tatanan tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum,
dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan
pihak-pihak terkait.









!B~
PENYEHATAN LINGKUNGAN
Aspek penyehatan lingkungan merupakan salah satu dari 24
indikator kesehatan penentu IPKM. Komponen yang dinilai
secara umum terkait dengan masalah sanitasi dasar dan hygiene
perorangan, seperti akses terhadap air besih dan jamban serta
perilaku cuci tangan yang benar.
Hal-hal yang perlu diketahui dan dilakukan oleh petugas kesehatan
di DTPK meliputi :
PENDATAAN
Mengetahui data kesehatan lingkungan yang ada di DTPK. Data ini
dapat diperoleh dengan cara melakukan kegiatan Inspeksi Sanitasi
atau pemantauan dan pencatatan kondisi sarana air bersih dan
sanitasi, termasuk lingkungan sekitar rumah. Data yang dimaksud
yaitu:
Data jumlah dan jenis sarana air bersih dan jamban yang ada di
wilayahnya.
Jumlah KK yang telah dan yang belum memiliki sarana air bersih
dan jamban.
Jumlah sarana air bersih dan jamban yang telah memenuhi
syarat kesehatan.
Pendataan keluarga yang belum memiliki sarana air bersih dan
jamban.
Sumber-sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan oleh warga.
Perilaku masyarakat terkait sanitasi dasar dan hygiene
perorangan.






!BE
!BE
PEMETAAN
Melakukan pemetaan terhadap sebaran KK yang
telah memiliki sarana air bersih dan jamban,
termasuk keberadaan fasilitas umum MCK. Data dan
hasil pemetaan serta masalah sarana sanitasi dasar
ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD),
termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi
pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar (air
bersih, jamban, pembuangan sampah/limbah dan
lain-lain) melalui berbagai sumber pendanaan, baik
yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan
stimulan/dana bergulir.
PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN
Materi Penyuluhan antara lain tentang:
Keterkaitan antara penyediaan sarana sanitasi
dasar dengan penyakit menular yang disebarkan
melalui air dan tinja manusia.
Persyaratan kualitas air bersih dan jamban.
Metode perbaikan kualitas air.
Perilaku cuci tangan memakai sabun dan air
bersih.
Sanitasi makanan dan minuman.
Pengelolaan sampah dan air limbah rumah
tangga.
Metode Penyuluhan yang dapat dilakukan yaitu
Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan
rumah, pada saat melakukan inspeksi sanitasi,







!B7
maupun pada saat warga berkunjung ke
Puskesmas.
Penyuluhan kelompok, seperti pada saat
pertemuan desa, forum pengajian atau majelis
taklim, khotbah jumat, khotbah minggu,
kunjungan Posyandu, pertemuan PKK, pertemuan
Karang Taruna.
Penyuluhan massa, pada saat digelarnya pesta
rakyat, kesenian tradisional, pemutaran flm,
ceramah umum. Selain itu, penyuluhan massa
juga dapat dilakukan melalui pemasangan media
massa seperti poster dan spanduk di tempat-
tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok
sasaran (balai desa, Posyandu, Poskesdes,
Puskesmas dan lain-lain).
PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKKAN
MASYARAKAT
Kegiatan gotong royong membangunan sarana
air bersih, jamban, tempat sampah, baik berupa
sarana pribadi maupun MCK umum.
Kegiatan pemicuan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STMB) atau Community Total Led
Sanitation (CLTS).
Gerakan Jumat Bersih atau Minggu Bersih.
Gerakan PSN termasuk melakukan survei jentik.
Menggalang gerakan kebersihan lingkungan
permukiman dan pencegahan pencemaran secara
berkala, seperti membangun/membersikan
saluran air limbah maupun saluran drainase.







!BB
Menggerakkan murid sekolah yang ada di wilayahnya untuk
berperan sebagai agen perubahan perilaku (agent of change).
Mengupayakan bantuan/fasilitasi sarana air bersih dan
jamban untuk warga melalui pembentukan Kelompok Arisan
Jamban, Kelompok Pemakai Air (Pokmair) dan fasilitasi dana
stimulan/dana bergulir lainnya.
Membentuk atau mengaktifkan kembali kegiatan Posyandu
setiap bulan.
PEMBINAAN
Melakukan pertemuan rutin dengan para kader kesehatan
lingkungan untuk membahas berbagai masalah kesling yang
dijumpai.
Melibatkan para kader dalam kegiatan SMD, MMD,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi intervensi kesling.
Memotivasi kader kesling untuk senantiasa mendukung
upaya penyuluhan kesehatan, penggerakan masyarakat dan
pengembangan UKBM.
Menyampaikan berbagai informasi baru terkait program
kesehatan lingkungan.
Membahas perilaku yang akan diubah, metode penyuluhan
yang akan diterapkan dan media promkes yang akan
digunakan.
Melakukan kunjungan rumah, inspeksi santasi, pemantauan,
supervisi dan kunjungan lapangan bersama para kader.
Melakukan pembinaan kesehatan lingkungan di tatanan
rumah tangga, tatanan sekolah, tempat-tempat umum,
institusi kesehatan, tempat kerja.










!BB
KABUPATEN/KOTA
YANG DILAKUKAN
PENDAMPINGAN
DALAM RANGKA PDBK
!!B
ACEH
Kabupaten

2007

2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Simeulue 0.43874 344 0.693076 175
Aceh Singkil 0.44685 321 0.721259 116
Aceh Selatan 0.39205 393 0.664349 246
Aceh Tenggara 0.39294 391 0.745931 57
Aceh Timur 0.42588 360 0.700423 157
Aceh Tengah 0.52434 192 0.698321 164
Aceh Barat 0.37804 404 0.681964 212
Aceh Besar 0.48969 245 0.671426 231
Pidie 0.47964 260 0.697942 167
Bireuen 0.48456 253 0.71678 124
Aceh Utara 0.39771 389 0.684477 207
Aceh Barat Daya 0.48906 246 0.691095 182
Gayo Lues 0.27128 439 0.627771 297
Aceh Tamiyang 0.51131 219 0.71646 125
Nagan Raya 0.38888 396 0.688122 192
Aceh Jaya 0.37314 410 0.63762 288
Bener Meriah 0.47000 279 0.688516 191
Kota Banda Aceh 0.59304 98 0.762668 35
Kota Sabang 0.63417 40 0.783505 11
Kota Langsa 0.52409 194 0.747829 55
Kota Lhok-semawe 0.51989 205 0.754379 46
!!!
NUSA TENGGARA BARAT
Kabupaten

2007

2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Lombok Barat 0.46278 296 0.69841 163
Lombok Tengah 0.46728 286 0.68735 197
Lombok Timur 0.49593 237 0.72245 113
Sumbawa 0.4593 303 0.74763 56
Dompu 0.44181 336 0.73135 86
Bima 0.46732 284 0.73037 88
Sumbawa Barat 0.49988 234 0.75238 47
Mataram 0.82741 48 0.81371 4
Kota Bima 0.48541 252 0.7427 65
NUSA TENGGARA TIMUR
Kabupaten


2007 2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Sumba Barat 0.37743 406 0.629234 296
Sumba Timur 0.357076 422 0.692273 178
Kupang 0.416146 370 0.715176 127
Timor Tengah Selatan 0.386755 399 0.676563 224
Timor Tengah Utara 0.450906 313 0.692925 176
Belu 0.459197 304 0.706933 138
Alor 0.390217 395 0.718128 121
Lembata 0.477881 264 0.687863 194
Flores Timur 0.522098 197 0.741998 68
Sikka 0.503396 227 0.709041 133
Ende 0.449823 316 0.701783 150
Ngada 0.501934 231 0.669698 235
Manggarai 0.28322 437 0.619968 308
Rote Ndao 0.385605 401 0.685761 203
Manggarai Barat 0.321211 427 0.617674 310
Kota Kupang 0.643858 32 0.829838 2
!!Z
GORONTALO
Kabupaten


2007 2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Boalemo 0.371624 411 0.637867 287
Gorontalo 0.412362 372 0.677588 220
Pohuwato 0.363029 419 0.624976 299
Bone Bolango 0.442348 333 0.698438 162
Kota Gorontalo 0.551443 146 0.789407 8
SULAWESI TENGGARA
Kabupaten

2007 2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Buton 0.466681 289 0.724577 106
Muna 0.429366 357 0.696003 168
Konawe 0.47617 271 0.732261 84
Kolaka 0.463434 294 0.733212 83
Konawe Selatan 0.450837 314 0.722968 111
Bombana 0.433098 351 0.728729 90
Wakatobi 0.439676 340 0.744836 60
Kolaka Utara 0.388577 397 0.730718 87
Kota Kendari 0.594733 96 0.794748 7
Bau-bau 0.517897 209 0.741052 69
!!3
SULAWESI TENGAH
Kabupaten


2007 2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Banggai Kepulauan 0.443375 330 0.701658 152
Banggai 0.477513 265 0.724755 104
Morowali 0.494967 239 0.72755 96
Poso 0.555379 142 0.737832 74
Donggala 0.440977 337 0.716965 123
Toli-toli 0.401544 387 0.687524 196
Buol 0.392416 392 0.668091 242
Parigi Moutong 0.44696 320 0.703848 144
Tojo Una-una 0.463214 295 0.745616 59
Palu 0.524115 193 0.744592 62
SULAWESI BARAT
Kabupaten

2007 2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Majene 0.509314 221 0.754654 45
Polewali Mamasa 0.446343 322 0.724994 102
Mamasa 0.301325 430 0.684537 206
Mamuju 0.371524 412 0.686504 201
Mamuju Utara 0.377814 405 0.734327 82
MALUKU
Kabupaten

2007 2013 (Simulasi)
IPKM R-IPKM IPKM R-IPKM
Maluku Tenggara Barat 0.404237 385 0.706583 140
Maluku Tenggara 0.501291 233 0.750287 53
Maluku Tengah 0.520899 199 0.778206 15
Buru 0.368814 415 0.728533 91
Kepulauan Aru 0.391465 394 0.716301 126
Seram Bagian Barat 0.432828 352 0.763024 34
Seram Bagian Timur 0.294741 433 0.677351 222
Kota Ambon 0.632536 43 0.836738 1
!!~
PENGARAH
dr. Lily S. Sulistyowati, MM
TIM PENYUSUN
drg. Marlina Ginting, M.Kes
drg. Ivo Syayadi, M.Kes
Ir. Chandra Rudiyanto, MPH
drg. Yusra, M.Kes
Dra. Sri Koesminarti
Winitra Rahmani, S.Sos
Kiki Anton Syahroni, SIP
Setio Nugroho, SSn
Dra. Rufina Rauf, SKM, MSi
KONTRIBUTOR
Dr. Bambang Hartono, SKM
!!E
!!E
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
PUSAT PROMOSI KESEHATAN
Lantai 10 Gedung Prof. Dr. Sujudi
JL. HR Rasuna Said Blok X5 Kav.4-9
Jakarta, 12950
Telp/Fax: (021) 5203873
www.promosikesehatan.com

DI DAERAH BERMASALAH KESEHATAN

PROMOSI KESEHATAN 

Panduan bagi Petugas Kesehatan di Puskesmas

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, maka buku Promosi Kesehatan di Daerah Bermasalah Kesehatan telah selesai disusun. Buku ini berisikan informasi mengenai kegiatan serta langkahlangkah promosi kesehatan yang dapat diaplikasikan di Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Fakta menunjukkan, bahwa munculnya DBK di 10 provinsi di Indonesia umumnya disebabkan oleh adanya kesenjangan pelayanan kesehatan dan derajat kesehatan yang diukur dengan menggunakan 24 indikator dari Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Apabila indikator-indikator tersebut kita cermati, ternyata berbagai kendala yang dijumpai di DBK pada umumnya berkaitan erat dengan faktor perilaku masyarakat. Oleh karena itu penanganan dan intervensi yang dilakukan harus menggunakan prinsip pemberdayaan dan kemandirian masyarakat, agar masyarakat memiliki kemampuan 

untuk mengenal dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi dengan menggunakan sumberdaya yang dimiliki. Buku ini diharapkan dapat menjadi bahan pegangan yang mudah diaplikasikan oleh petugas kesehatan dalam mengemban tugas mulia untuk mengentaskan Daerah Bermasalah Kesehatan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan inovatif yang mampu mendorong peningkatan IPKM. Akhirnya saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim penyusun dan semua pihak yang telah terlibat dalam proses penyusunan buku ini. Buku ini tentunya belum sempurna dan dalam perjalanannya akan diperbaiki kembali sesuai perkembangan yang ada. Jakarta, Oktober 2011 Kepala Pusat Promosi Kesehatan dr. Lily S. Sulistyowati, MM. 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . SELAYANG PANDANG .6 PENANGGULANGAN DAERAH BERMASALAH KESEHATAN (PDBK) .0 • Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat .0 • Daerah Bermasalah Kesehatan . • Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan .

LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN . • Langkah-langkah Promosi Kesehatan di Puskesmas . • Langkah-langkah Promosi Kesehatan di Masyarakat .50 PENUTUP .60 LAMPIRAN .6 Hal-Hal yang Perlu Diketahui dan Dilakukan dalam Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Di Daerah Bermasalah Kesehatan .6 • Daftar Kabupaten/Kota yang mendapat Pendampingan dalam Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan .09

PROMOSI KESEHATAN DI DAERAH BERMASALAH KESEHATAN .0 • Pengertian Promosi Kesehatan .0 • Sasaran Promosi Kesehatan . • Strategi Promosi Kesehatan . • Pelaksana Promosi Kesehatan .6 

SULTRA.DI INDONESIA TERDAPAT 10 PROVINSI YANG MEMILIKI LEBIH DARI 50% JUMLAH KABUPATEN/KOTANYA MASUK KE DALAM KRITERIA INDEKS PEMBANGUNAN KESEHATAN MASYARAKAT YANG PERLU MENJADI DAERAH PRIORITAS PERHATIAN KEMENTERIAN KESEHATAN DAN JAJARANNYA MELALUI UPAYA PENANGGULANGAN DAERAH BERMASALAH KESEHATAN (PDBK). SULTENG. MALUKU. PAPUA BARAT DAN PAPUA. GORONTALO. NTT. KESEPULUH PROVINSI TERSEBUT ADALAH ACEH. SULBAR. 5 . NTB.

. 6 .000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.SELAYANG PANDANG Pembangunan kesehatan yang selama ini kita laksanakan telah banyak menghasilkan kemajuan di bidang kesehatan masyarakat.4% pada tahun 2007. Angka Kematian Bayi (AKB) telah menurun dari 35 per 1. Prevalensi gizi kurang pada balita telah menurun dari 25. Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan telah menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 34 per 1.8% pada akhir tahun 2003 menjadi 18.

Upaya kesehatan perorangan juga mengalami peningkatan dan beberapa telah mencapai target. Cakupan rawat jalan sudah mencapai 15. Cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan meningkat dari 77. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan pelayanan gawat darurat telah meningkat dari 88% pada tahun 2007 menjadi 90% pada tahun 2008. Pemanfaatan rumah sakit meningkat cukup besar. sehingga contact rate pun meningkat dari  . bahkan melebihi target.26% pada tahun 2008. yaitu 100%. Cakupan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di rumah sakit juga telah mencapai 100%. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan PONEK meningkat dari 183 rumah sakit (42% pada tahun 2007 menjadi 265 rumah sakit (60%) pada tahun 2008. Begitu pun cakupan pelayanan antenatal (K4) telah meningkat dari 79. Sedangkan cakupan kunjungan neonatal meningkat dari 78% pada tahun 2007 menjadi 87% pada tahun 2008.2 tahun pada tahun 2004 menjadi 70.04% pada tahun 2008.7% pada tahun 2006.8%) pada tahun 2008.36% pada tahun 2008.1% pada tahun 1996 menjadi 33. Pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas secara cuma-cuma bagi keluarga miskin telah mencapai target.65% pada tahun 2007 menjadi 86. yaitu dari 15. Jumlah rumah sakit yang terakreditasi meningkat dari 702 rumah sakit (54. Upaya kesehatan masyarakat mengalami peningkatan kinerja.5 tahun pada tahun 2007.23% pada tahun 2007 menjadi 80.33%) pada tahun 2007 menjadi 760 rumah sakit (58. Umur Harapan Hidup (UHH) pun telah meningkat dari 66.Sejalan dengan itu.

Program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular pun mengalami peningkatan.34. Daerah-daerah ini disebut sebagai Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). terdapat sejumlah daerah yang pencapaian pembangunan kesehatannya masih berada di bawah rerata. Cakupan nasional imunisasi tahun 2008 adalah BCG 93. Pemberian Kapsul Vitamin A pada anak balita usia 6-59 bulan mencapai 85% (melampaui target 80%). Di Indonesia terdapat 10 provinsi yang lebih dari 50% jumlah kabupaten/kotanya masuk dalam kriteria IPKM yang perlu mendapatkan prioritas Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan  .8% pada tahun 2007. dan Campak 90. Cakupan nasional program imunisasi menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna. Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan terjadinya perbaikan status gizi anak balita. Polio 90.8%. program perbaikan gizi masyarakat juga meningkat kinerjanya.2%. berdasarkan evaluasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dengan menggunakan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).4% tahun 2007 menajdi 4.6%.4%. Demikian juga penurunan prevalensi gizi buruk yaitu dari 5.2%. Pemberian Tablet Tambah Darah pada ibu hamil telah mencapai 75% dari target 80%. Namun demikian. DPT-HB3 91. Sementara itu.4% pada tahun 2005 menjadi 41. HB 59.9% pada tahun 2010.

Salah satu program yang penting untuk dilaksanakan adalah Promosi Kesehatan. Sulawesi Barat. Papua Barat dan Papua. melainkan juga harus terintegrasi ke dalam setiap program kesehatan lain. Dalam kegiatan pendampingan ini. Pelaksanaan PDBK ini memerlukan kegiatan pendampingan bagi daerah dalam pengembangan dan aplikasi Model Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) sebagai upaya peningkatan IPKM. yang tidak hanya dilaksanakan secara tersendiri. disusun Panduan Promosi Kesehatan di Daerah Bermasalah Kesehatan. Nusa Tenggara Timur. sejumlah petugas kesehatan akan diperbantukan guna meningkatkan kinerja pelaksanaan programprogram kesehatan di DBK. Kesepuluh provinsi tersebut adalah Aceh. Berkaitan dengan hal-hal tersebut dan dalam rangka memberikan bekal rujukan bagi para petugas kesehatan yang melaksanakan pendampingan dan para petugas Puskesmas di DBK dalam hal promosi kesehatan. Gorontalo. Maluku. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Barat. 9 .(PDBK). Dengan adanya panduan ini diharapkan para petugas kesehatan tersebut dapat memahami seluk-beluk promosi kesehatan dan dapat melaksanakannya dengan baik.

IPKM adalah gabungan beberapa indikator kesehatan yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan masyarakat di seluruh kabupaten/kota yang dirumuskan dari data kesehatan berbasis komunitas. 0 .PENANGGULANGAN DAERAH BERMASALAH KESEHATAN INDEKS PEMBANGUNAN KESEHATAN MASYARAKAT Sebagaimana dikemukakan di atas. IPKM dirumuskan dari 24 indikator kesehatan yang . evaluasi terhadap kinerja daerah dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan dilakukan dengan menggunakan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).

2. 5. 4. 4. Rasio bidan terhadap desa 11. Pengembangan IPKM memungkinkan pemerintah untuk melakukan penajaman sasaran pembangunan kesehatan yang inklusif. Cakupan kunjungan neonatus I 8.dikumpulkan dari Riset Kesehatan Dasar. Proporsi penimbangan balita yang rutin 7. Dua puluh empat indikator kesehatan terpilih berdasarkan kesepakatan pakar diberikan bobot tertentu sesuai dengan kriteria : Mutlak. dengan bobot 5 yang terdiri dari 11 indikator Penting. Cakupan imunisasi lengkap 9. dengan bobot 3 yang terdiri dari 8 indikator Nilai IPKM berkisar 0 (nol) adalah nilai terburuk dan nilai 1 (satu) adalah nilai terbaik. 3. Prevalensi balita gizi buruk dan kurang Prevalensi balita pendek dan sangat pendek Prevalensi balita kurus dan sangat kurus Proporsi rumah tangga dengan akses air bagus Proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi bagus 6. 2. IPKM menggambarkan keberhasilan dan kesenjangan antardaerah. 3. Prevalensi balita gemuk Prevalensi penyakit Diare Prevalensi penyakit Hipertensi Prevalensi penyakit Pnemonia Proporsi cuci tangan dengan benar  . BOBOT/ARTI Bobot 5 : Mutlak INDIKATOR 1. Rasio dokter terhadap Puskesmas 10. Survai Sosial Ekonomi Nasional dan Potensi Desa. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan Bobot 4 : Penting 1. dengan bobot 4 yang terdiri dari 5 indikator Perlu. 5.

Salah satu kriteria penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari pusat ke daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dan dari provinsi ke kabupaten/kota. Dari sisi kesehatan wilayah. Prevalensi cedera 7. Dengan adanya IPKM diharapkan tiap daerah (provinsi. Prevalensi penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut INDIKATOR KESEHATAN PENENTU IPKM IPKM dapat dimanfaatkan sebagai: Indikator untuk menentukan peringkat provinsi dan kabupaten/kota dalam keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat. sehingga sumber daya dan program kesehatan diprioritaskan. maka pemanfaatan IPKM dapat berupa hal-hal sebagai berikut. 2. Selanjutnya. Prevalensi gangguan mental emosional Prevalensi merokok Prevalensi penyakit gigi dan mulut Prevalensi penyakit asma Prevalensi disabilitas (bermasalah dan sangat bermasalah) 6.Bobot 3 : Perlu 1. Bahan advokasi ke pemerintah daerah. 3. Dilihat dari berbagai sisi. penggunaan indikator IPKM secara keseluruhan dapat menghasilkan daftar kabupaten dan kota yang mempunyai masalah kesehatan kesehatan berat atau kompleks. kabupaten. kota) dapat memperjelas masalah kesehatannya. baik provinsi maupun kabupaten/kota agar terpacu menaikkan peringkatnya. lalu  . dengan mengacu pada indikator-indikator IPKM. sehingga program intervensinya menjadi lebih terarah. 4. Prevalensi penyakit sendi 8. 5.

dengan IPKM dapat dilakukan pemusatan perhatian pada kabupaten-kabupatan/kota-kota yang bermasalah. Sulteng. Dari sisi pengelola program kesehatan. Sultra. Di Indonesia terdapat 10 provinsi yang memiliki lebih dari 50% jumlah kabupaten/kotanya masuk ke dalam kriteria IPKM yang perlu menjadi daerah prioritas perhatian Kementerian Kesehatan dan jajarannya melalui upaya Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK). NTB. perbatasan dan kepulauan). IPKM dapat dijadikan salah satu kriteria perhitungan bantuan pusat ke kabupaten/kota secara berkeadilan. Papua Barat dan Papua. DAERAH BERMASALAH KESEHATAN Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah (1) kabupaten/kota yang memiliki IPKM di bawah rerata dan proporsi penduduk miskinnya lebih tinggi dari rerata. atau (2) kabupaten/kota yang memiliki masalah khusus seperti geografi (daerah terpencil. sosial budaya yang berdampak buruk pada kesehatan dan penyakit tertentu yang spesifik. baik tingkat provinsi maupun tingkat pusat.dapat dilakukan penajaman program dengan mengarahkan intervensi kepada masalah-masalah kesehatan utama. Berdasarkan pada nilai IPKM masing-masing daerah. Dari sisi alokasi bantuan pusat ke daerah.  . Kesepuluh provinsi tersebut adalah Aceh. NTT. Gorontalo. selanjutnya dapat dibedakan adanya 3 (tiga) kategori DBK (kabupaten/kota). Maluku. DBK mengambarkan adanya kesenjangan pencapaian indikator-indikator pembangunan kesehatan antar-daerah di Indonesia. Sulbar.

Klasifikasi DBK Ringan dan DBK Berat didasarkan pada hasil penilaian indeks IPKM sesuai ketentuan yang ditetapkan pada Riskesdas 2007. PENANGGULANGAN DAERAH BERMASALAH KESEHATAN Timbulnya DBK disebabkan karena adanya kesenjangan pelayanan kesehatan serta kesenjangan derajat kesehatan antar-daerah. penyakit tertentu yang spesifik seperti Fasciolopsis buski. antarkelompok masyarakat dan antar-tingkat sosial ekonomi. antara Daerah di Jawa dengan Daerah di Luar Jawa. kesenjangan antara Daerah Indonesia Bagian Barat dengan Daerah Indonesia Bagian Timur. Daerah Bermasalah Kesehatan Ringan (DBK) adalah kabupaten atau kota yang mempunyai nilai IPKM rerata sampai dengan -1 (minus satu) simpangan baku dan mempunyai nilai kemiskinan (Pendataan Status Ekonomi/PSE) di atas rerata (masing-masing untuk kelompok kabupaten atau kelompok kota).  . antara Daerah Kaya dengan Daerah Miskin. DBK Berat dan DBK Khusus. Schistosomiasis. Daerah Bermasalah Kesehatan Berat (DBK-B) adalah kabupaten/kota yang memiliki nilai IPKM lebih rendah dari rerata IPKM -1 (minus 1) simpang baku. perbatasan dan kepulauan). sosial budaya (tradisi/adat kebiasaan) yang mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan. Contohnya. dll. Daerah Bermasalah Kesehatan Khusus (DBK-K) adalah kabupaten/ kota yang mempunyai masalah khusus seperti geografi (daerah terpencil.yaitu DBK Ringan.

provinsi dan kabupaten/kota. Oleh sebab ujung tombak pelaksanaan program-program kesehatan adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Penanggulangan DBK menggunakan pendekatan integrasi dengan upaya kesehatan prioritas nasional. di DBK tentu akan diselenggarakan percepatan dan peningkatan kinerja pelaksanaan program-program kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan No. Sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi. Tujuan dari PDBK adalah mempercepat peningkatan IPKM di kabupaten/kota DBK sehingga terjadi percepatan peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara nasional yang ditunjukkan dengan peningkatan IPKM serta pengurangan kesenjangan antar-daerah. Diawali dengan pembentukan tim pendamping di setiap tingkat administrasi mulai dari pusat. pendampingan teknis di daerah dan pengembangan model pemecahan masalah spesifik daerah. tanpa mengabaikan peningkatan kapasitas rumah sakit dan dinas kesehatan kabupaten/ kota. maka fokus perhatian akan ditujukan kepada peningkatan kapasitas Puskesmas. melaksanakan langkah-langkah PDBK. terintegrasi. meningkatkan sistem kesehatan DBK. berbasis bukti dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi prioritas bersama kementerian terkait dalam jangka tertentu sampai mampu mandiri dalam penyelenggaraan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan. 128/Menkes/SK/II/2004 menyatakan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas 5 .Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) merupakan intervensi kesehatan masyarakat yang terfokus.

Penanggungjawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten/kota adalah dinas kesehatan kabupaten/ kota. Sebagai UPT dari dinas kesehatan kabupaten/kota (UPTD). untuk meningkatkan kesadaran. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas. 6 . Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional. Sedangkan Puskesmas bertanggungjawab hanya untuk sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan kemampuannya. agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Yakni meningkatkan kesadaran. agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia.adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian tugas teknis operasional dinas kesehatan kabupaten/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.

Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan ke dalam dua kategori. • Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan strata pertama. Puskesmas bertanggung jawab untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. serta mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. yaitu: • Puskesmas merupakan pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. Upaya kesehatan wajib Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas. Untuk mencapai visi pembangunan kesehatan yakni mewujudkan Kecamatan Sehat. (3) Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana. yaitu (1) upaya kesehatan wajib dan (2) upaya kesehatan pengembangan.Terdapat tiga fungsi yang harus diperankan oleh Puskesmas. regional dan global. (4) Perbaikan Gizi Masyarakat. • Puskesmas merupakan pusat pemberdayaan masyarakat. (2) Kesehatan Lingkungan. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah: (1) Promosi Kesehatan. (5) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan (6) Pengobatan. yang terdiri atas pelayanan kesehatan individu dan pelayanan kesehatan masyarakat.  .

 .Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. yakni upaya di luar upaya-upaya tersebut di atas. (6) Kesehatan Jiwa. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada. (4) Kesehatan Kerja. (3) Perawatan Kesehatan Masyarakat. yaitu: (1) Kesehatan Sekolah. yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat pula berupa upaya inovatif. (7) Kesehatan Mata. (8) Kesehatan Usia Lanjut dan (9) Pembinaan Pengobatan Tradisional. (2) Kesehatan Olah Raga. (5) Kesehatan Gigi dan Mulut.

9 .

Sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1114 /MENKES/SK/VII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah. promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari. 0 . . ujung tombak dari program PDBK adalah Puskesmas dan salah satu dari upaya kesehatan wajib Puskesmas yang harus ditingkatkan kinerjanya adalah promosi kesehatan.PROMOSI KESEHATAN DI DAERAH BERMASALAH KESEHATAN PENGERTIAN PROMOSI KESEHATAN Sebagaimana disebutkan di atas.

secara mandiri (dalam batas-batas tertentu). baik masalah-masalah kesehatan yang sudah diderita maupun yang potensial (mengancam). maka dapat dibuat rumusan sebagai berikut: Promosi Kesehatan oleh Puskesmas adalah upaya Puskesmas untuk meningkatkan kemampuan pasien. keluarga dan masyarakat dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatan. agar (1) pasien dapat mandiri dalam mempercepat kesembuhan dan rehabilitasinya. masyarakat DBK mampu berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam rangka memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya (problem solving). Bila diterapkan untuk DBK. (2) individu sehat. individu sehat. agar mereka dapat menolong diri sendiri. sesuai sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Jika definisi itu diterapkan di Puskesmas. serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat. keluarga (rumah tangga) dan masyarakat di DBK. melalui (3) pembelajaran dari. serta didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. untuk dan bersama masyarakat. maka menolong diri sendiri artinya masyarakat DBK mampu menghadapi masalahmasalah kesehatan potensial (yang mengancam) dengan cara mencegahnya dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang sudah terjadi dengan cara menanganinya secara efektif serta efisien. sesuai sosial budaya mereka. untuk dan bersama mereka. oleh. mencegah masalah-masalah kesehatan dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat. Dengan kata lain.oleh.  .

individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen dari masyarakat. individu sehat dan keluarga (rumah tangga) akan sulit dicapai jika tidak didukung oleh: Sistem nilai dan norma-norma sosial serta norma-norma hukum yang dapat diciptakan/dikembangkan oleh para pemuka masyarakat. yaitu (1) sasaran primer. baik pemuka informal maupun pemuka formal. dalam mempraktikkan PHBS. yang dapat diupayakan atau dibantu penyediaannya oleh mereka yang bertanggung jawab dan berkepentingan (stakeholders).  . Perubahan perilaku pasien. Suasana lingkungan sosial yang kondusif (social pressure) dari kelompok-kelompok masyarakat dan pendapat umum (public opinion). baik pemuka informal maupun pemuka formal. Sasaran Primer Sasaran primer (utama) upaya promosi kesehatan sesungguhnya adalah pasien. khususnya perangkat pemerintahan dan dunia usaha. (2) sasaran sekunder dan (3) sasaran tersier. Sumber daya dan atau sarana yang diperlukan bagi terciptanya PHBS. Akan tetapi disadari bahwa mengubah perilaku bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka ini diharapkan mengubah perilaku hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat menjadi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).SASARAN PROMOSI KESEHATAN Dalam pelaksanaan promosi kesehatan dikenal adanya 3 (tiga) jenis sasaran. Keteladanan dari para pemuka masyarakat.

individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan cara: Berperan sebagai panutan dalam mempraktikkan PHBS. Mereka diharapkan turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS pasien. organisasi kemasyarakatan dan media massa. pejabat pemerintahan dan lain-lain). baik pemuka informal (misalnya pemuka adat.  . pemuka agama dan lain-lain) maupun pemuka formal (misalnya petugas kesehatan. Berperan sebagai kelompok penekan (pressure group) guna mempercepat terbentuknya PHBS. Turut menyebarluaskan informasi tentang PHBS dan menciptakan suasana yang kondusif bagi PHBS. individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan cara: • Memberlakukan kebijakan/peraturan perundangundangan yang tidak merugikan kesehatan masyarakat dan bahkan mendukung terciptanya PHBS dan kesehatan masyarakat. Mereka diharapkan dapat turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS pasien.Sasaran Sekunder Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat. Sasaran Tersier Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yang berupa peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan dan bidang-bidang lain yang berkaitan serta mereka yang dapat memfasilitasi atau menyediakan sumber daya.

keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu. individu sehat dan keluarga (rumah tangga) pada khususnya serta masyarakat luas pada umumnya. Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan sosial yang kondusif dan mendorong dipraktikkannya PHBS serta penciptaan panutan-panutan dalam mengadopsi PHBS dan melestarikannya. guna membantu individu.  . mau dan mampu mempraktikkan PHBS. serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan. yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi. Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan. STRATEGI PROMOSI KESEHATAN Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku.• Membantu menyediakan sumber daya (dana. maka perlu dilaksanakan strategi promosi kesehatan paripurna yang terdiri dari (1) pemberdayaan. Sedangkan advokasi adalah pendekatan dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu yang diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari segi materi maupun non materi. sarana dan lain-lain) yang dapat mempercepat terciptanya PHBS di kalangan pasien.

STRATEGI PROMOSI KESEHATAN MASYARAKAT ADVOKASI KEMITRAAN PEMBERDAYAAN PERILAKU MENCEGAH DAN MENGATASI MASALAH KESEHATAN BINA SUASANA 5 .

Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan menyajikan fakta-fakta dan mendramatisasi masalah. Tetapi selain itu juga dengan mengajukan harapan bahwa masalah tersebut bisa dicegah dan atau diatasi. kuncinya terletak pada keberhasilan membuat klien tersebut memahami bahwa sesuatu (misalnya Diare) adalah masalah baginya dan bagi masyarakatnya. 6 . serta proses membantu klien. Di sini dapat dikemukakan fakta yang berkaitan dengan para tokoh masyarakat sebagai panutan (misalnya tentang seorang tokoh agama yang dia sendiri dan keluarganya tak pernah terserang Diare karena perilaku yang dipraktikkannya). keluarga atau kelompok (klien) secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan klien. (b) pemberdayaan keluarga dan (c) pemberdayaan kelompok/masyarakat. Saat klien telah menyadari masalah yang dihadapinya. maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang bersangkutan. Dalam mengupayakan agar klien tahu dan sadar. maka klien tersebut tidak akan bersedia menerima informasi apa pun lebih lanjut. agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge). Oleh sebab itu. Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi kepada individu. dari tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).PEMBERDAYAAN Dalam upaya promosi kesehatan. sesuai dengan sasaran (klien)nya dapat dibedakan adanya (a) pemberdayaan individu. pemberdayaan masyarakat merupakan bagian yang sangat penting dan bahkan dapat dikatakan sebagai ujung tombak. Sepanjang klien yang bersangkutan belum mengetahui dan menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah.

boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. bukan sebelumnya. LSM ini harus digalang kerjasamanya. Di sinilah letak pentingya sinkronisasi promosi kesehatan dengan program kesehatan yang didukungnya dan program-program sektor lain yang berkaitan. situasi dan kondisi. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. sesuai ciri-ciri sasaran. Pada saat ini banyak dijumpai lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan atau peduli terhadap kesehatan.Bilamana seorang individu atau sebuah keluarga sudah akan berpindah dari mau ke mampu melaksanakan. Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melalui kemitraan serta menggunakan metode dan teknik yang tepat. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Setelah itu. Tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pemberdayaan kelompok/masyarakat melalui pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat (community development). diadakan dan digunakan metode dan media komunikasi yang tepat.  . baik di antara mereka maupun antara mereka dengan pemerintah. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung. agar upaya pemberdayaan masyarakat dapat berdayaguna dan berhasilguna. hendaknya disampaikan pada fase ini. dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. lalu ditetapkan. sejumlah individu dan keluarga yang telah mau. Hal-hal yang akan diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan dan program lain sebagai bantuan. Untuk itu.

(b) bina suasana kelompok dan (c) bina suasana publik. Lebih lanjut bahkan mereka juga bersedia menjadi kader dan turut menyebarluaskan informasi guna menciptakan suasana yang kondusif bagi perubahan perilaku individu. untuk memperkuat proses pemberdayaan. serikat pekerja/ karyawan. BINA SUASANA INDIVIDU Bina suasana individu dilakukan oleh individu-individu tokoh masyarakat. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada (keluarga di rumah. khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase mau. organisasi siswa/mahasiswa. yaitu (a) bina suasana individu. Oleh karena itu.  . Dalam kategori ini tokoh-tokoh masyarakat menjadi individu-individu panutan dalam hal perilaku yang sedang diperkenalkan. Yaitu dengan mempraktikkan perilaku yang sedang diperkenalkan tersebut (misalnya seorang kepala sekolah atau pemuka agama yang tidak merokok). dan bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut.BINA SUASANA Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. kelompok arisan. majelis agama dan lain-lain. Terdapat tiga kategori proses bina suasana. perlu dilakukan bina suasana. orang-orang yang menjadi panutan/idola.

Bentuk dukungan ini dapat berupa kelompok tersebut lalu bersedia juga mempraktikkan perilaku yang sedang diperkenalkan. Dalam kategori ini kelompok-kelompok tersebut menjadi kelompok yang peduli terhadap perilaku yang sedang diperkenalkan dan menyetujui atau mendukungnya. koran. BINA SUASANA PUBLIK Bina suasana publik dilakukan oleh masyarakat umum melalui pengembangan kemitraan dan pemanfaatan media-media komunikasi. sehingga 9 . seperti pengurus Rukun Tetangga (RT). perkumpulan seni. Bina suasana ini dapat dilakukan bersama pemuka/tokoh masyarakat yang telah peduli. majalah.BINA SUASANA KELOMPOK Bina suasana kelompok dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat. seperti radio. organisasi Profesi. mengadvokasi pihak-pihak yang terkait dan atau melakukan kontrol sosial terhadap individu-individu anggotanya. sehingga dapat tercipta pendapat umum. situs internet dan lain-lain. Suasana atau pendapat umum yang positif ini akan dirasakan pula sebagai pendukung atau “penekan” (social pressure) oleh individu-individu anggota masyarakat. Dalam kategori ini media-media massa tersebut peduli dan mendukung perilaku yang sedang diperkenalkan. organisasi Wanita. organisasi pemuda. majelis pengajian. Dengan demikian. serikat pekerja dan lain-lain. televisi. maka media-media massa tersebut lalu menjadi mitra dalam rangka menyebarluaskan informasi tentang perilaku yang sedang diperkenalkan dan menciptakan pendapat umum atau opini publik yang positif tentang perilaku tersebut. organisasi Siswa/mahasiswa. pengurus Rukun Warga (RW).

Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu singkat. (2) tertarik untuk ikut mengatasi masalah. (4) sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah dan (5) memutuskan tindak lanjut kesepakatan. (3) peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah. yaitu (1) mengetahui atau menyadari adanya masalah. atau penentu kebijakan (norma) atau penyandang dana. Advokasi merupakan upaya untuk menyukseskan bina suasana dan pemberdayaan atau proses pembinaan PHBS secara umum.akhirnya mereka mau melaksanakan perilaku yang sedang diperkenalkan. maka advokasi harus dilakukan secara terencana. opini publik dan dorongan (pressure) bagi terciptanya PHBS masyarakat. Dengan demikian. cermat dan tepat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan. ADVOKASI Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Juga berupa kelompok-kelompok dalam masyarakat dan media massa yang dapat berperan dalam menciptakan suasana kondusif. yaitu: • Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi • Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah 0 . Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan matang. Pihak-pihak yang terkait ini berupa tokohtokoh masyarakat (formal dan informal) yang umumnya berperan sebagai narasumber (opinion leader).

KESETARAAN Kesetaraan berarti tidak diciptakan hubungan yang bersifat hirarkhis. Yaitu dengan membentuk jejaring advokasi atau forum kerjasama. duduk sama rendah). Semua harus diawali dengan kesediaan menerima bahwa masingmasing berada dalam kedudukan yang sama (berdiri sama tinggi. yaitu (a) kesetaraan. KEMITRAAN Kemitraan harus digalang baik dalam rangka pemberdayaan maupun bina suasana dan advokasi guna membangun kerjasama dan mendapatkan dukungan. Dengan kerjasama. (b) keterbukaan dan (c) saling menguntungkan. pemuka atau tokoh masyarakat.• • • • Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based Dikemas secara menarik dan jelas Sesuai dengan waktu yang tersedia Sebagaimana pemberdayaan dan bina suasana. Dengan demikian kemitraan perlu digalang antar individu. melalui pembagian tugas dan saling-dukung. pejabat atau instansi pemerintah yang terkait dengan urusan kesehatan (lintas sektor). advokasi juga akan lebih efektif bila dilaksanakan dengan prinsip kemitraan. keluarga. Keadaan ini dapat dicapai apabila semua  . sehingga kerjasama dapat berjalan baik. Sebagai konsekuensinya. maka sasaran advokasi akan dapat diarahkan untuk sampai kepada tujuan yang diharapkan. metode dan media advokasi pun harus ditentukan secara cermat. media massa dan lain-lain. Kemitraan harus berlandaskan pada tiga prinsip dasar.

Akan tetapi kesadaran akan kekeluargaan dan kebersamaan. adalah karena kesepakatan. Pada awalnya hal ini mungkin akan menimbulkan diskusi yang seru layaknya “pertengkaran”. tidak menutup-tutupi sesuatu.pihak bersedia mengembangkan hubungan kekeluargaan. SALING MENGUNTUNGKAN Solusi yang adil ini terutama dikaitkan dengan adanya keuntungan yang didapat oleh semua pihak yang terlibat. akan mendorong timbulnya solusi yang adil dari “pertengkaran” tersebut. Bila kemudian dibentuk struktur hirarkhis (misalnya sebuah tim). Termasuk keuntungan ekonomis. di dalam setiap langkah diperlukan adanya kejujuran dari masingmasing pihak. Yaitu hubungan yang dilandasi kebersamaan atau kepentingan bersama. KETERBUKAAN Oleh karena itu. sesuai fakta.  . bila mungkin. PHBS dan kegiatan-kegiatan kesehatan dengan demikian harus dapat dirumuskan keuntungan-keuntungannya (baik langsung maupun tidak langsung) bagi semua pihak yang terkait. Setiap usul/saran/komentar harus disertai dengan alasan yang jujur.

Pada awalnya hal ini mungkin akan menimbulkan diskusi yang seru layaknya “pertengkaran”. sesuai fakta. di dalam setiap langkah diperlukan adanya kejujuran dari masingmasing pihak. bila mungkin.KETERBUKAAN Oleh karena itu. SALING MENGUNTUNGKAN Solusi yang adil ini terutama dikaitkan dengan adanya keuntungan yang didapat oleh semua pihak yang terlibat.  . PHBS dan kegiatan-kegiatan kesehatan dengan demikian harus dapat dirumuskan keuntungan-keuntungannya (baik langsung maupun tidak langsung) bagi semua pihak yang terkait. tidak menutup-tutupi sesuatu. Setiap usul/saran/komentar harus disertai dengan alasan yang jujur. akan mendorong timbulnya solusi yang adil dari “pertengkaran” tersebut. Termasuk keuntungan ekonomis. Akan tetapi kesadaran akan kekeluargaan dan kebersamaan.

ADVOKASI ADALAH UPAYA ATAU PROSES YANG STRATEGIS DAN TERENCANA UNTUK MENDAPATKAN KOMITMEN DAN DUKUNGAN DARI PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT (STAKEHOLDERS).  .

5 . ATAU PENENTU KEBIJAKAN (NORMA) ATAU PENYANDANG DANA.PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT INI BERUPA TOKOH-TOKOH MASYARAKAT (FORMAL DAN INFORMAL) YANG UMUMNYA BERPERAN SEBAGAI NARASUMBER (OPINION LEADER).

Dalam pelaksanaannya. upaya ini umumnya berbentuk pelayanan informasi atau konsultasi. bidan. SETIAP PETUGAS KESEHATAN Setiap petugas kesehatan yang melayani pasien dan ataupun individu sehat (misalnya dokter. Namun demikian tidak semua strategi promosi kesehatan yang menjadi tugas utamanya. perawat. petugas laboratorium dan lain-lain) wajib melaksanakan promosi kesehatan.PELAKSANA PROMOSI KESEHATAN Memperhatikan strategi promosi kesehatan tersebut di atas. tenaga-tenaga 6 . maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua kategori pelaksana promosi kesehatan. sehingga memiliki pengetahuan. kemauan dan kemampuan untuk mencegah dan atau mengatasi masalah kesehatan yang dihadapinya (to facilitate problem solving). Artinya. yaitu (1) setiap petugas kesehatan dan (2) petugas khusus promosi kesehatan (disebut penyuluh kesehatan masyarakat). melainkan hanya pemberdayaan. dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Pada hakikatnya pemberdayaan adalah upaya membantu atau memfasilitasi pasien/klien. tenaga gizi.

Sebelum orang tersebut yakin bahwa masalah kesehatan itu memang benar-benar masalah bagi dirinya. Tantangan pertama dalam pemberdayaan adalah pada saat awal.kesehatan Puskesmas tidak hanya memberikan pelayanan teknis medis atau penunjang medis. melainkan juga penjelasan-penjelasan berkaitan dengan pelayanannya itu.  . Ada orang-orang yang walaupun sudah mau tetapi tidak mampu melakukan karena terkendala oleh sumber daya (umumnya orang-orang miskin). maka ia tidak akan peduli dengan upaya apa pun untuk menolongnya. Apalagi jika pasien ataupun individu sehat menanyakannya atau menginginkan penjelasan. yaitu pada saat meyakinkan seseorang bahwa suatu masalah kesehatan (yang sudah dihadapi atau yang potensial) adalah masalah bagi yang bersangkutan. Sedangkan jika mereka diam saja pun. Tantangan berikutnya datang pada saat proses sudah sampai kepada mengubah pasien/klien dari mau menjadi mampu. Ada juga orang-orang yang sudah mau tetapi tidak mampu melaksanakan karena malas. tenaga kesehatan Puskesmas harus mengecek apakah diamnya itu karena sudah tahu atau sebenarnya belum tahu tetapi segan/tidak berani bertanya.

• Menyelenggarakan advokasi dalam rangka kemitraan bina suasana dan dalam mengupayakan dukungan dari pembuat kebijakan dan pihak-pihak lain (sasaran tersier). sehingga belum dimungkinkan  . • Menyelenggarakan bina suasana baik secara mandiri atau melalui kemitraan dengan pihak-pihak lain.Orang yang terkendala oleh sumber daya (miskin) tentu harus difasilitasi dengan diberi bantuan sumber daya yang dibutuhkan. Sedangkan orang yang malas dapat dicoba rangsang dengan “hadiah” (reward) atau harus “dipaksa” menggunakan peraturan dan sanksi (punishment). yaitu dengan: • Menyediakan alat bantu/alat peraga atau media komunikasi guna memudahkan petugas kesehatan dalam melaksanakan pemberdayaan. Dalam keterbatasan sumber daya manusia kesehatan. PETUGAS KHUSUS PROMOSI KESEHATAN Petugas khusus promosi kesehatan diharapkan dapat membantu para petugas kesehatan lain dalam melaksanakan pemberdayaan.

seyogianya di dinas kesehatan kabupaten/ kota terdapat lebih dari seorang tenaga khusus promosi kesehatan (jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan setiap orang untuk membantu jumlah Puskesmas yang ada). Tenaga ini berupa pegawai negeri sipil dinas kesehatan kabupaten/kota yang ditugasi untuk melaksanakan promosi kesehatan. 9 .adanya petugas khusus promosi kesehatan di setiap Puskesmas. Oleh karena itu. Petugas ini bertanggung jawab membantu pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas. Jika tidak mungkin diperoleh dari pegawai negeri sipil dinas kesehatan kabupaten/kota . maka di dinas kesehatan kabupaten/kota harus tersedia tenaga khusus promosi kesehatan. untuk tenaga khusus promosi kesehatan ini dapat direkrut tenagatenaga dari organisasi kemasyarakatan yang ada (seperti Aisyiyah. Perdhaki dan lain-lain) melalui pola kemitraan. agar kinerja mereka baik.

0 .

 .TANTANGAN PERTAMA DALAM PEMBERDAYAAN ADALAH PADA SAAT AWAL. YAITU PADA SAAT MEYAKINKAN SESEORANG BAHWA SUATU MASALAH KESEHATAN (YANG SUDAH DIHADAPI ATAU YANG POTENSIAL) ADALAH MASALAH BAGI YANG BERSANGKUTAN.

 . bina suasana. dan advokasi di tatanan sarana kesehatan. dan (2) langkah-langkah promosi kesehatan di masyarakat.LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN Langkah-langkah pelaksanaaan promosi kesehatan di DBK dibedakan atas dua kelompok. yaitu pemberdayaan. LANGKAHLANGKAH PROMOSI KESEHATAN DI PUSKESMAS Pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas pada dasarnya adalah penerapan strategi promosi kesehatan. langkah awalnya adalah berupa penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas Puskesmas agar mampu mengidentifikasi . khususnya Puskesmas. yaitu (1) langkah-langkah promosi kesehatan di Puskesmas. Oleh karena itu.

sebagai data dasar (baseline data). khususnya dalam langkah penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas Puskesmas.  . (5) Pelaksanaan Kegiatan dan (6) Pembinaan Kelestarian. PENGENALAN KONDISI PUSKESMAS Sebelum memulai promosi kesehatan di Puskesmas. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari dinas kesehatan kabupaten/kota . keberhasilan pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas juga merupakan tanggung jawab dari dinas kesehatan kabupaten/kota. Setelah itu.masalah-masalah kesehatan yang disandang pasien/klien Puskesmas dan menyusun rencana untuk menanggulanginya dari sisi promosi kesehatan. yaitu peluangpeluang di dalam gedung Puskesmas dan peluang-peluang di luar gedung Puskesmas. Oleh karena itu. Pengenalan kondisi Puskesmas ini dilakukan oleh fasilitator dengan dukungan dari Kepala dan seluruh petugas Puskesmas. (3) Musyawarah Kerja. Petugas Puskesmas harus mendapat pendampingan oleh fasilitator dari dinas kesehatan kabupaten/kota agar mampu melaksanakan: (1) Pengenalan Kondisi Puskesmas. perlu dilakukan pengenalan kondisi institusi kesehatan untuk memperoleh data dan informasi tentang PHBS di Puskesmas tersebut. sangat diperlukan keterlibatan dinas kesehatan kabupaten/kota dalam pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas. barulah dilaksanakan promosi kesehatan sesuai dengan peluang-peluang yang ada. (4) Perencanaan Partisipatif. (2) Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS di Puskesmas. Dengan demikian. Yang digunakan sebagai standar adalah persyaratan Puskesmas yang Ber-PHBS (8 indikator proksi).

• Potensi yang dimiliki Puskesmas untuk mengatasi masalahmasalah kesehatan tersebut. jika perlu. yaitu sebuah survai sederhana oleh petugas-petugas kesehatan di Puskesmas yang dibimbing oleh fasilitator. Masalah-masalah kesehatan yang sudah diidentifikasi kemudian diurutkan berdasarkan prioritas untuk penanganannya. wawancara. yaitu masalah-masalah kesehatan yang saat ini diderita oleh pasien/pengunjung dan masalah-masalah kesehatan yang mungkin akan terjadi (potensial terjadi) jika tidak diambil tindakan pencegahan. Dalam survai ini akan diidentifikasi dan dibahas: • Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah kesehatan. Dari segi PHBS harus digali lebih lanjut data/informasi tentang latar belakang perilaku. • Bantuan/dukungan yang diharapkan: apa bentuknya. • Kelompok-kelompok Kerja (Pokja) apa saja yang sudah ada (jika ada) dan atau harus diaktifkan kembali/dibentuk baru dalam rangka mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DAN PHBS Pengenalan kondisi Puskesmas dilanjutkan dengan identifikasi masalah. pemeriksaan lapangan atau pengkajian terhadap dokumen-dokumen yang ada. dari mana kemungkinan didapat (sumber) dan bilamana dibutuhkan. Identifikasi masalah dilanjutkan dengan Survai Mawas Diri. baik dari sisi teknis kesehatan maupun dari sisi perilaku. penggunaan daftar periksa (check list).Pengenalan kondisi Puskesmas dilakukan melalui pengamatan (observasi). berapa banyak.  .

Dalam rangka pembinaan PHBS di Puskesmas. jika diperlukan. PERENCANAAN PARTISIPATIF Setelah diperolehnya kesepakatan. • Mencapai kesepakatan tentang urutan prioritas masalahmasalah kesehatan yang hendak ditangani. • Mencapai kesepakatan tentang pokja-pokja yang hendak dibentuk baru atau diaktifkan kembali. MUSYAWARAH KERJA Musyawarah Kerja yang diikuti oleh seluruh petugas/karyawan Puskesmas. diselenggarakan sebagai tindak lanjut Survai Mawas Diri. Musyawarah Kerja bertujuan: • Menyosialisasikan tentang adanya masalah-masalah kesehatan yang masih dan kemungkinan akan diderita/dihadapi pasien/ pengunjung serta langkah-langkah untuk mengatasi dan mencegahnya. sehingga masih menjadi tugas fasilitator untuk mengawalnya. • Menggalang semangat dan partisipasi seluruh petugas/ karyawan untuk mendukung pembinaan PHBS di Puskesmas. fasilitator mengadakan pertemuan-pertemuan secara intensif dengan petugas kesehatan 5 . • Memantapkan data/informasi tentang potensi Puskesmas serta bantuan/dukungan yang diperlukan dan alternatif sumber bantuan/dukungan tersebut.Selain untuk menggali latar belakang perilaku pasien/pengunjung. survai ini juga bermanfaat untuk menciptakan kesadaran dan kepedulian para petugas Puskesmas terhadap masalah kesehatan (termasuk infeksi nosokomial) khususnya dari segi PHBS.

Pembuatan rencana dengan menggunakan tabel berikut: NO. perawat.guna menyusun rencana pemberdayaan pasien dalam tugas masingmasing. laboran. baik dengan pemanfaatan media maupun dengan memanfaatkan pemuka/tokoh. yang didukung oleh bina suasana dan advokasi. apakah itu dana dari Puskesmas. NO. Untuk bina suasana dengan memanfaatkan pemuka/tokoh digunakan tabel berikut. Pembinaan PHBS di Puskesmas dilaksanakan dengan pemberdayaan. DUKUNGAN YANG DIHARAPKAN PIHAK YANG AKAN DIADVOKASI PESAN ADVOKASI YANG DISAMPAIKAN PELAKSANAAN KEGIATAN Segera setelah itu. dari pihak donatur atau dari pemerintah. 6 . kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya operasional seperti pemberdayaan pasien/pengunjung dan advokasi dapat dilaksanakan. fasilitator juga menyusun rencana bina suasana yang akan dilakukannya di Puskesmas. PERILAKU YANG ADA PHBS YANG DIHARAPKAN PESAN PELUANG METODE DAN MEDIA Di luar itu. Sedangkan kegiatan-kegiatan lain yang memerlukan dana dilakukan jika sudah tersedia dana. Pemberdayaan Pemberdayaan dilaksanakan oleh para petugas kesehatan yang melayani pasien/pengunjung (dokter kecil. penata rontgen. bidan.

 . serta penyelenggaraan diskusi. poster di dinding ruangan. terintegrasi dalam pelayanan masing-masing petugas kesehatan kepada pasien/ pengunjung. Bina suasana juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan media seperti billboard di halaman. pemuatan makalah/berita di majalah dinding. pertunjukan filem. Advokasi Advokasi dilakukan oleh fasilitator dan Kepala Puskesmas terhadap pembuat kebijakan dan pemuka/tokoh masyarakat agar mereka berperanserta dalam kegiatan pembinaan PHBS di Puskesmas. pemanfaatan halaman untuk taman obat/taman gizi dan lain-lain. Pemberdayaan dilaksanakan di berbagai kesempatan. dan lain-lain). Para pemuka/ tokoh berperan sebagai motivator/kelompok pendorong (pressure group) dan juga panutan dalam mempraktikkan PHBS di Puskesmas. mengundang pakar atau alim-ulama atau figur publik untuk berceramah.apoteker. Bina Suasana Bina suasana di Puskesmas selain dilakukan oleh fasilitator. juga oleh pemuka/tokoh yang diundang untuk menyampaikan pesan-pesan.

Advokasi juga dilakukan terhadap para penyandang dana. agar mereka membantu upaya pembinaan PHBS di Puskesmas. berperan sebagai kelompok pendorong dan berperilaku sebagai panutan dalam hal PHBS di Puskesmas. harus memberikan dukungan kebijakan/pengaturan dan menyediakan sarana agar PHBS di Puskesmas dapat dipraktikkan. dan advokasi di Puskesmas tersebut di atas harus didukung oleh kegiatan-kegiatan (1) bina suasana PHBS di Puskesmas dalam lingkup yang lebih luas (kabupaten/kota dan provinsi) dengan memanfaatkan media massa berjangkauan luas seperti surat kabar.  . termasuk pengusaha. majalah. Para pemuka /tokoh masyarakat diharapkan untuk ikut serta melakukan motivasi terhadap pasien/pengunjung institusi kesehatan. radio. Kegiatan-kegiatan pemberdayaan.Para pembuat kebijakan misalnya. televisi dan internet. bina suasana. serta (2) advokasi secara berjenjang dari dari tingkat provinsi ke tingkat kabupaten/kota dan dari tingkat kabupaten/kota ke kecamatan.

EVALUASI DAN PEMBINAAN KELESTARIAN. Evaluasi dan pembinaan kelestarian PHBS di Puskesmas terintegrasi dengan manajemen Puskesmas. Dengan demikian, evaluasi dan pembinaan kelestarian PHBS di Puskesmas pada dasarnya juga merupakan tugas dari Kepala Puskesmas, dengan dukungan dari berbagai pihak, utamanya pemerintah daerah (dinas kesehatan kabupaten/ kota) dan pemerintah. Kehadiran fasilitator di Puskesmas sudah sangat minimal, karena perannya sudah dapat sepenuhnya digantikan oleh Kepala Puskesmas dengan supervisi dari dinas kesehatan kabupaten/kota. Perencanaan partisipatif dalam rangka pembinaan PHBS di Puskesmas, sudah berjalan baik dan rutin serta terintegrasi dalam proses perencanaan Puskesmas. Pada tahap ini, selain pertemuan-pertemuan berkala serta kursus-kursus penyegar bagi para petugas kesehatan, juga dikembangkan cara-cara lain untuk memelihara dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para petugas kesehatan tersebut. 

9

LANGKAH-LANGKAH PROMOSI KESEHATAN DI MASYARAKAT Langkah-langkah promosi kesehatan di masyarakat mencakup: (1) Pengenalan Kondisi Wilayah, (2) Identifikasi Masalah Kesehatan, (3) Survai Mawas Diri, (4) Musyawarah Desa atau Kelurahan, (5) Perencanaan Partisipatif, (6) Pelaksanaan Kegiatan dan (7) Pembinaan Kelestarian. PENGENALAN KONDISI WILAYAH Pengenalan kondisi wilayah dilakukan oleh fasilitator dan petugas Puskesmas dengan mengkaji data Profil Desa atau Profil Kelurahan dan hasil analisis situasi perkembangan desa/kelurahan. Data dasar yang perlu dikaji berkaitan dengan pengenalan kondisi wilayah, sebagai berikut: • DATA GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI : Peta wilayah dan batas-batas wilayah, jumlah desa/kelurahan, jumlah RW, jumlah RT, jumlah penduduk, jumlah rumah tangga, tingkat pendidikan, mata pencaharian/jenis pekerjaan. • DATA KESEHATAN : - Jumlah kejadian sakit akibat berbagai penyakit (Diare, Malaria, ISPA, Kecacingan, Pneumonia, TB, penyakit Jantung, Hipertensi, dan penyakit lain yang umum dijumpai di Puskesmas). - Jumlah kematian (kematian ibu, kematian bayi, dan kematian balita). - Jumlah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi

50

-

-

-

baru lahir dan balita. Cakupan upaya kesehatan (cakupan pemeriksaan kehamilan, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, cakupan Posyandu, imunisasi dasar lengkap, sarana air bersih dan jamban). Jumlah dan jenis fasilitas kesehatan yang tersedia (Poskesdes, Puskesmas Pembantu, klinik). Jumlah dan jenis Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang ada seperti Posyandu, kelompok pemakai air, kelompok arisan jamban, tabulin, dasolin. Jumlah kader kesehatan/kader PKK, ormas/LSM yang ada.

SURVAI MAWAS DIRI Sebagai langkah pertama dalam upaya membina peranserta masyarakat, perlu diselenggarakan Survai Mawas Diri, yaitu sebuah survai sederhana oleh para pemuka masyarakat dan perangkat desa/ kelurahan, yang dibimbing oleh fasilitator dan petugas Puskesmas. Selain untuk mendata ulang masalah kesehatan, mendiagnosis penyebabnya dari segi perilaku dan menggali latar belakang perilaku masyarakat, survai ini juga bermanfaat untuk menciptakan kesadaran dan kepedulian para pemuka masyarakat terhadap kesehatan masyarakat desa/kelurahan, khususnya dari segi PHBS. Dalam survai ini akan diidentifikasi dan dirumuskan bersama hal-hal sebagai berikut: • Masalah-masalah kesehatan yang masih diderita/dihadapi dan mungkin (potensial) dihadapi masyarakat serta urutan prioritas penanganannya. • Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah kesehatan, baik dari sisi teknis kesehatan maupun dari sisi

5

• Musyawarah Desa/Kelurahan diakhiri dengan dibentuknya 5 . • Tabel berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk menggali latar belakang setiap perilaku. PERILAKU PENYEBAB MASALAH KESEHATAN PENGETAHUAN SIKAP NILAI/ NORMA TELADAN SARANA MUSYAWARAH DESA/KELURAHAN Musyawarah Desa/Kelurahan diselenggarakan sebagai tindak lanjut Survai Mawas Diri. • Memantapkan data/informasi potensi desa atau potensi kelurahan serta bantuan/dukungan yang diperlukan dan alternatif sumber bantuan/dukungan tersebut. setiap perilaku digali faktor-faktor yang menjadi latar belakang timbulnya perilaku tersebut. Musyawarah Desa/ Kelurahan bertujuan: • Menyosialisasikan tentang adanya masalah-masalah kesehatan yang masih diderita/dihadapi masyarakat. sehingga masih menjadi tugas fasilitator dan petugas Puskesmas untuk mengawalnya. Dari sisi perilaku.perilaku masyarakat. • Mencapai kesepakatan tentang UKBM-UKBM yang hendak dibentuk baru atau diaktifkan kembali. NO. • Menggalang semangat dan partisipasi warga desa atau kelurahan untuk mendukung pengembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan. • Mencapai kesepakatan tentang urutan prioritas masalahmasalah kesehatan yang hendak ditangani.

Forum Desa. yaitu sebuah lembaga kemasyarakatan di mana para pemuka masyarakat desa/kelurahan berkumpul secara rutin untuk membahas perkembangan dan pengembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan. PERILAKU YANG ADA PHBS YANG DIHARAPKAN PESAN PELUANG PROMKES METODE DAN MEDIA 5 . Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan untuk menjadikan masyarakat desa/kelurahan menyadari adanya sejumlah perilaku yang menyebabkan terjadinya berbagai masalah kesehatan yang saat ini dan yang mungkin (potensial) mereka hadapi. berikut jadwal pelaksanaannya. • Dari segi PHBS. • Kegiatan-kegiatan pembinaan PHBS di Rumah Tangga yang akan dilaksanakan oleh kader kesehatan dengan pendekatan Dasawisma. berikut biaya yang diperlukan dan jadwal pelaksanaannya. Forum Desa mengadakan pertemuan-pertemuan secara intensif guna menyusun rencana pengembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan untuk dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Desa/Kelurahan. PERENCANAAN PARTISIPATIF Setelah diperolehnya kesepakatan dari warga desa atau kelurahan. Pembuatan rencana dengan menggunakan tabel berikut: NO. Rencana Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa/Kelurahan harus mencakup: • Rekrutmen/pengaktifan kembali kader kesehatan dan pelatihan pembinaan PHBS di Rumah Tangga untuk para kader kesehatan oleh petugas Puskesmas dan fasilitator.

PELAKSANAAN KEGIATAN Sebagai langkah pertama dalam pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan. termasuk dari desa /kelurahan. Promosi kesehatan dilaksanakan dengan pemberdayaan keluarga melalui Dasawisma. atau dari pemerintah. Hal-hal yang dapat dilaksanakan tanpa biaya atau dengan swadaya masyarakat dan atau bantuan dari donatur (misalnya swasta). 5 . pelatihan kader kesehatan oleh fasilitator dan petugas Puskesmas dapat dilaksanakan. Segera setelah itu. dicantumkan dalam dokumen tersendiri. Selain itu. juga untuk mengupayakan sedikit dana (dana desa/kelurahan atau swadaya masyarakat) guna keperluan pelatihan kader kesehatan.• Sarana-sarana yang perlu diadakan atau direhabilitasi untuk mendukung terwujudnya PHBS di Rumah Tangga. petugas Puskesmas dan fasilitator mengajak Forum Desa merekrut atau memanggil kembali kader-kader kesehatan yang ada. kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya operasional seperti penyuluhan dan advokasi dapat dilaksanakan. Selanjutnya. dari donatur (misalnya pengusaha). apakah itu dana dari swadaya masyarakat. berikut biaya yang dibutuhkan dan jadwal pengadaan/rehabilitasinya. Sedangkan hal-hal yang memerlukan dukungan pemerintah dimasukkan ke dalam dokumen Musrenbang Desa atau Kelurahan untuk diteruskan ke Musrenbang selanjutnya. Sedangkan kegiatan-kegiatan lain yang memerlukan dana dilakukan jika sudah tersedia dana. yang didukung oleh bina suasana dan advokasi.

membuat taman obat keluarga dan lain-lain). Pemberdayaan keluarga dilaksanakan melalui kunjungan ke rumah tangga dan konsultasi keluarga oleh para kader kesehatan. Seorang atau dua orang kader diberi tugas dan tanggung jawab untuk membina PHBS 5–10 rumah tangga. khususnya pada saat individuindividu anggota rumah tangga berkunjung dan memanfaatkan upaya-upaya kesehatan bersumber masyarakat (UKBM) seperti Posyandu. Poskesdes.Pemberdayaan Pemberdayaan individu dilaksanakan dalam berbagai kesempatan. Juga melalui bimbingan atau pendampingan ketika keluarga tersebut membutuhkan (misalnya tatkala membangun jamban. melalui pemberian informasi dan konsultasi. para kader (dan juga petugas kesehatan) yang bekerja di UKBM harus berupaya meyakinkan individu tersebut akan pentingnya mempraktikkan PHBS berkaitan dengan masalah kesehatan yang sedang dan atau potensial dihadapinya. Bina suasana diawali dengan advokasi oleh fasilitator dan petugas Puskesmas untuk menggalang Bina Suasana 55 . dan lain-lain. fasilitator dan petugas Puskesmas mengorganisasikan para kader kesehatan dengan membagi tugas dan tanggung jawab melalui pendekatan Dasawisma. Dalam hal ini. Dalam kesempatan ini.

kemitraan. serta pemanfaatan media tradisional. termasuk pemuka agama dan pemuka adat serta para pengurus organisasi kemasyarakatan di tingkat desa dan kelurahan seperti pengurus Rukun Warga/Rukun Tetangga. 56 . dalam rangka menciptakan opini publik. pengurus arisan. Para pengurus organisasi kemasyarakatan juga termotivasi untuk mendorong anggotaanggotanya agar mempraktikkan PHBS. Bina suasana juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan media seperti pemasangan spanduk dan atau billboard di jalan-jalan desa/kelurahan. Advokasi dilakukan terhadap para pemuka atau tokoh-tokoh masyarakat. pengurus organisasi pemuda (seperti Karang Taruna) dan lain-lain. pengurus PKK. Keberhasilan advokasi dan penggalangan kemitraan akan memotivasi para pemuka atau tokoh-tokoh masyarakat tersebut untuk berperan aktif dalam bina suasana. penempelan poster di tempat-tempat strategis. pengurus pengajian. pengurus koperasi. suasana yang kondusif dan panutan di tingkat desa dan kelurahan bagi dipraktikkannya PHBS oleh rumah tangga. pembuatan dan pemeliharaan taman obat/taman gizi percontohan di beberapa lokasi.

utamanya pemerintah daerah dan pemerintah. agar mereka berperanserta dalam kegiatan bina suasana. karena perannya sudah dapat sepenuhnya digantikan oleh kaderkader kesehatan. EVALUASI DAN PEMBINAAN KELESTARIAN Evaluasi dan pembinaan kelestarian merupakan tugas dari Kepala Desa/Lurah dan perangkat desa/kelurahan dengan dukungan dari berbagai pihak. radio. serta (2) advokasi secara berjenjang dari tingkat provinsi ke tingkat kabupaten/kota dan dari tingkat kabupaten/kota ke tingkat kecamatan. bina suasana. agar mereka membantu upaya pengembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan. 5 . kabupaten/kota. advokasi dilakukan oleh fasilitator dan petugas Puskesmas terhadap para pemuka masyarakat dan pengurus organisasi kemasyarakatan tingkat desa dan kelurahan. dengan supervisi dari Puskesmas. majalah. termasuk pengusaha.Advokasi Sebagaimana disebutkan di atas. advokasi juga dilakukan terhadap para penyandang dana. televisi dan internet. Di samping itu. provinsi dan nasional) dengan memanfaatkan media massa berjangkauan luas seperti surat kabar. Kehadiran fasilitator di desa dan kelurahan sudah sangat minimal. dan advokasi di desa dan kelurahan tersebut di atas harus didukung oleh kegiatankegiatan (1) bina suasana PHBS di Rumah Tangga dalam lingkup yang lebih luas (kecamatan. Kegiatan-kegiatan pemberdayaan.

Pada tahap ini. sudah berjalan baik dan rutin serta terintegrasi dalam proses perencanaan pembangunan desa atau kelurahan dan mekanisme Musrenbang. Dalam rangka pembinaan kelestarian juga diselenggarakan pencatatan dan pelaporan perkembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan. 5 . yang berjalan secara berjenjang dan terintegrasi dengan Sistem Informasi Pembangunan Desa yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri. Kemitraan dan dukungan sumber daya serta sarana dari pihak di luar pemerintah juga sudah tergalang dengan baik dan melembaga. selain pertemuan-pertemuan berkala serta kursuskursus penyegar bagi para kader kesehatan. Pembinaan kelestarian juga dilaksanakan terintegrasi dengan penyelenggaraan Lomba Desa dan Kelurahan yang diselenggarakan setiap tahun secara berjenjang sejak dari tingkat desa/kelurahan sampai ke tingkat nasional.Perencanaan partisipatif dalam rangka pembinaan kesehatan masyarakat desa/kelurahan. juga dikembangkan cara-cara lain untuk memelihara dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para kader tersebut. termasuk PHBS di Rumah Tangga.

59 .

Selanjutnya untuk lebih mendalami lagi materi dan substansi program kesehatan. Oleh karena itu untuk memperbaiki angka IPKM diperlukan upaya perubahan perilaku masyarakat secara terencana dan berkesinambungan melalui penyelenggaraan promosi kesehatan di DBK. sebaiknya dirujuk buku-buku pedoman yang telah diterbitkan sebelumnya. Panduan ini diharapkan dapat membantu para petugas kesehatan di Puskesmas dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan Promosi Kesehatan di DBK. Secara berkala buku ini akan dievaluasi dan diperbaiki guna menyesuaikan dengan perkembangan program. 60 .PENUTUP 5. Hal ini didasari oleh adanya kenyataan bahwa 24 indikator IPKM di DBK pada umumnya sangat berkaitan dengan aspek perilaku. Keberhasilan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di DBK sangat bergantung pada peran aktif petugas kesehatan di Puskesmas sebagai koordinator sekaligus motivator pemberdayaan masyarakat di DBK.

LAMPIRAN HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI DAN DILAKUKAN DALAM PELAKSANAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI DAERAH BERMASALAH KESEHATAN 6 .

6 .

6. petugas kesehatan dapat bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK setempat. sedangkan target yang harus dicapai oleh Kementerian Kesehatan yaitu sebesar 70% rumah tangga sudah mempraktikkan PHBS pada tahun 2014. 2. 8. Memberi bayi ASI Ekslusif. kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. yang menjadikan seseorang. 6 . Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. 10. baik di tingkat kecamatan maupun tingkat desa/kelurahan. 7. 4. bahwa rumah tangga yang telah mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) baru mencapai 38. Menimbang balita setiap bulan. 3. Tingkat pencapaian pembinaan PHBS di Rumah Tangga dapat diukur melalui 10 indikator sebagai berikut: 1. Menggunakan air bersih. Melakukan aktivitas fisik setiap hari. Makan sayur dan buah setiap hari. 9. keluarga. Dalam melakukan pembinaan PHBS di DTPK. Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 dapat diketahui. Menggunakan jamban sehat. Tidak merokok di dalam rumah.PEMBINAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI RUMAH TANGGA Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran. 5. Memberantas jentik di rumah seminggu sekali.7%.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dapat diketahui permasalahan kesehatan ibu yang dihadapi untuk setiap desa guna dibahas dalam musyawarah desa. • Pendampingan suami dalam pemeriksaan dan persalinan. • Stikerisasi P4K. sehingga perlu mendapatkan perhatian yang serius dan pelakuan khusus. wajah. • Mendata jumlah ibu yang mempunyai bayi dan balita. • Mendata jumlah ibu bersalin dan nifas. bersalin dan nifas merupakan kelompok yang rawan terhadap gangguan kesehatan. nyeri/panas di daerah tungkai.PEMBINAAN KESEHATAN IBU Ibu hamil. bersalin dan nifas: PENDATAAN • Mendata dan mencatat jumlah ibu hamil termasuk ibu hamil yang mempunyai risiko pada kehamilannya. • Tanda bahaya dan penyakit pada masa nifas antara lain perdarahan lewat jalan lahir. • Pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin kepada Bidan Poskesdes minimal 4 kali selama hamil. demam. tangan atau kaki bengkak. • Menganalisis data cakupan program kesehatan ibu dan merumuskan permasalahan yang menyangkut kesehatan ibu. PENYEBARLUASAN INFORMASI Materi penyuluhan tentang: • Tanda dan bahaya kehamilan. 6 . Hal-hal yang harus dilakukan petugas kesehatan dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil. payudara bengkak.

khotbah minggu. pertemuan PKK. Puskesmas. kunjungan Posyandu. golongan darah ibu hamil dan calon pendonor darah yang selanjutnya akan dicatat pada Stiker P4K. seperti kunjungan rumah. Poskesdes atau Puskesmas. dapat dilakukan pada saat digelarnya kesenian tradisional. maupun pada saat warga berkunjung ke Posyandu. sakit dan lain. yaitu bayi berwarna kemerahan.6 bulan. Selain itu. • Penyuluhan massa.lain. • Penyuluhan kelompok. ceramah umum. pada Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. Poskesdes. serta cara menyimpan ASI khususnya bagi ibu bayi yang bekerja hanya diberikan ASI saja sebagai makanan dan minuman utama.• Inisiasi Menyusu Dini. Posyandu. seperti pada saat pertemuan Kelas Ibu. • Penyuluhan perorangan. • Penerapan program P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) untuk membantu keluarga agar menyiapkan persalinan seperti mencatat perkiraan persalinan. forum pengajian atau majelis taklim. pemutaran film. • Cara merawat bayi baru lahir dan cara menyusui yang benar • Pemberian ASI eksklusif bagi bayi usia 0. dll). yaitu: saat melakukan pendataan kasus. bidan yang akan menolong persalinan. 65 . penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. khotbah jumat. • Pemberdayaan dan penggerakan masyarakat untuk PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT menggunakan Buku KIA.

Taman Obat Keluarga dan lainnya. seperti Kelompok Sayang Ibu. Pos Obat Desa. dana sosial ibu bersalin (Dasolin) Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). PEMBINAAN • Melakukan orientasi dan pelatihan kader dalam upaya peningkatan kesehatan ibu. lomba Desa Sayang Ibu dan lain-lain. meningkatkan opersionalisasi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Tabungan ibu bersalin (Tabulin). 66 . Gerakan Sayang Ibu dan Bayi. seperti lomba Kesehatan Ibu hamil. • Mendorong masyarakat untuk menyediakan ambulan desa sesuai dengan karakteristik transportasi daerah. • Membahas permasalahan kesehatan ibu secara rutin dalam forum desa (MMD). Donor Darah di Desa. • Menyelenggarakan lomba-lomba yang menyangkut kesehatan ibu. kesehatan berbasis masyarakat. • Membina kader dalam membuat pencatatan dan melaporkan ibu hamil di setiap desa/kelurahan melalui Dasawisma.• Penerapan P4K. • Pemantauan dan evaluasi penerapan P4K. • Penggerakan Kelas Ibu hamil yang telah ada di • Mendorong masyarakat membentuk upaya Puskesmas .

6 .

• Imunisasi dasar lengkap dan lanjutan. • Jumlah kelompok sasaran yang perlu diimunisasi di tahun berjalan. • Jumlah kematian bayi dan penyebabnya di tahun berjalan. 6 . dan balita di tahun berjalan. • Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif. terutama yang menyangkut pelayanan kesehatan tentang bayi baru lahir dan balita. • Penyakit yang sering menyerang anak.PEMBINAAN KESEHATAN ANAK Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan di bidang kesehatan anak: PENDATAAN • Jumlah bayi baru lahir. • Gizi balita. Kapsul Vitamin A dan status gizi balita. • Jumlah cakupan Posyandu : jumlah balita yang ditimbang. Data juga digunakan untuk melakukan pemantauan dalam pelaksanaan pembinaan di setiap rumah tangga baik oleh petugas kesehatan maupun kader. • Jumlah kasus Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di tahun berjalan. PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan tentang: • Pelayanan Posyandu. • Jumlah kasus gizi buruk di tahun berjalan. Berdasarkan data yang dikumpulkan dapat diketahui permasalahan yang dihadapi untuk setiap desa guna menjadi bahan pembahasan di Musyawarah Desa. • Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). cakupan imunisasi. bayi.

seperti pada saat pertemuan desa. dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. Poskesdes. • Gerakan Imunisasi dasar lengkap dan lanjutan di tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah. • Penyuluhan massa. pertemuan PKK. forum pengajian atau majelis taklim. khotbah minggu. Gerakan Sayang Bayi. tablig akbar. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. kunjungan Posyandu. ceramah umum. Selain itu. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. Puskesmas. Posyandu. pada saat melakukan pendataan kasus. Kadarzi. • Mengaktifkan Forum Peduli KIA yang diharapkan memanfaatkan forum-forum yang sudah ada di masyarakat seperti forum Desa Siaga. pemutaran film. Kelompok Pendukung Air Susu Ibu. kesenian tradisional. • Penyuluhan kelompok. Pokja Posyandu.Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. khotbah jumat. yaitu: • Penyuluhan perorangan. • Menggerakkan masyarakat untuk mencapai UCI. PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam menggerakkan masyarakat. seperti kunjungan rumah. • Gerakan IMD di tatanan institusi kesehatan. pertemuan Karang Taruna. dan lain sebagainya. dan lain-lain). • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. 69 . • Melakukan perekrutan kader-kader Posyandu.

tatanan tempat-tempat umum. Gerakan peningkatan gizi seimbang di tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah. PEMBINAAN • Menyelenggarakan pelatihan bagi kaderkader posyandu. • Memfasilitasi pertemuan rutin Forum Peduli KIA. • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga. Gerakan pengadaan Ruang ASI di tatanan tempat kerja. tatanan tempat kerja dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan pihakpihak terkait. 0 . Mengadakan kegiatan yang menarik seperti lomba bayi dan balita sehat. lomba memasak makanan balita sehat. tatanan sekolah. kegiatan makan bersama balita. • Peningkatan kerja sama lintas program dan sektoral di bidang kesehatan anak. • Monitoring dan evaluasi secara rutin. Mengaktifkan Posyandu dan Poskesdes. tempat-tempat umum dan institusi kesehatan.• Gerakan pemberian ASI Eksklusif di • • • • tatanan rumah tangga dan institusi kesehatan.

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BERBAGAI JENIS PENYAKIT DAN MASALAH KESEHATAN DIARE Diare adalah bertambahnya frekuensi buang air besar (defekasi) lebih dari biasanya/lebih dari 3 kali sehari yang disertai dengan perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa darah. Data ini dapat diperoleh dengan cara melakukan kegiatan pemantauan dan pencatatan kasus Diare. • Jumlah KK yang telah dan belum memiliki sarana air bersih dan jamban. terutama yang menyangkut kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). • Jumlah dan jenis sarana air bersih dan jamban yang memenuhi syarat. • Jumlah dan jenis sarana air bersih dan jamban yang ada. Data yang dimaksud yaitu: • Data kasus Diare dan kasus dehidrasi berat di tahun berjalan dan berdasarkan kelompok umur. memasak air minum atau menyediakan makanan dan minuman di rumah tangga.  . • Perilaku masyarakat terkait sanitasi dasar dan hygiene perorangan. Hal-hal yang perlu diketahui dan dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Diare: PENDATAAN • Mengetahui data kesehatan yang ada di wilayah kerja petugas kesehatan.

 .

 .

seperti pada saat pertemuan desa. pemutaran film. PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. pada saat melakukan pendataan kasus. Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. ceramah umum. seperti kunjungan rumah. tablig akbar. serta cara menanggulangi Diare. gejala. termasuk didalamnya cara mencegah kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). Poskesdes. forum pengajian atau majelis taklim. cara pemberian makanan bagi penderita Diare. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD). • Penyuluhan massa. Selain itu. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. pertemuan Karang Taruna.  . kesenian tradisional. khotbah minggu. pertemuan PKK. Posyandu. Puskesmas dan lain-lain). jamban. cara mengobati dehidrasi. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. cara mencegah. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar (air bersih. kunjungan Posyandu. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. yaitu: • Penyuluhan perorangan. dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. khotbah jumat.PEMETAAN Melakukan pemetaan wilayah potensial KLB Diare. pembuangan sampah/limbah dan lain-lain) melalui berbagai sumber pendanaan. serta informasi rujukan bagi penderita Diare. • Penyuluhan kelompok.

• Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi Diare. • Melakukan Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM).PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. terutama di wilayah potensial KLB Diare. 5 . • Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. Untuk menyampaikan pesan-pesan ke teman sebaya dan orang tuanya. misalnya dengan cara arisan jamban bila di wilayah tersebut banyak masyarakat yang belum memiliki jamban atau membentuk Kelompok Pemakai Air (Pokmair) bila di wilayah tersebut sulit air bersih. PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait Diare. • Gerakan masyarakat untuk kesehatan lingkungan. • Gerakan cuci tangan di tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah. • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah dengan berkoordinasi dengan pihakpihak terkait. • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah.

6 .

darah. • Status imunisasi dan gizi anak. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pemenuhan kriteria Rumah Sehat melalui berbagai sumber pendanaan. PEMETAAN Melakukan pemetaan wilayah potensial kejadian ISPA. memasak dalam ruang yang sama untuk tidur. Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi ISPA: PENDATAAN • Data kasus ISPA di tahun berjalan. • Lingkungan yang dapat memicu kejadian kasus ISPA.  . • Jumlah rumah yang memenuhi kriteria Rumah Sehat. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD). bersin maupun udara pernafasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat. • Perilaku masyarakat terkait kebiasaan merokok di dalam rumah. kemudian disandingkan dengan data –data yang ada. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir.INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) ISPA adalah Infeksi saluran pernafasan yang berlangsung sampai 14 hari yang dapat ditularkan melalui air ludah.

serta informasi rujukan bagi penderita ISPA. Puskesmas dan lain-lain). Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. gejala. termasuk didalamnya cara mencegah kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). kesenian tradisional. seperti pada saat pertemuan desa. seperti kunjungan rumah. Poskesdes. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. Selain itu. forum pengajian atau majelis taklim. khotbah minggu. kunjungan Posyandu. Posyandu. pada saat melakukan pendataan kasus. cara mengobati dehidrasi. • Penyuluhan massa. PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. cara pemberian makanan bagi penderita ISPA. cara mencegah. dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. pemutaran film. khotbah jumat. • Penyuluhan kelompok. yaitu: • Penyuluhan perorangan. ceramah umum. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa.PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. pertemuan PKK. pertemuan Karang Taruna. • Mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan  . serta cara menanggulangi ISPA.

Mengaktifkan Posyandu dan Poskesdes. imunisasi. • • • • • PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait ISPA. Gerakan peningkatan gizi seimbang di tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah. • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah. • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga. terutama ketika berada di tempat umum. misalnya kebiasaan membuang ludah sembarangan dan tidak menutup mulut ketika bersin. Melakukan mobilisasi massa untuk bersamasama mencegah dan menanggulangi ISPA. Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change.• Gerakan untuk mensukseskan program gotong-royong membersihkan lingkungan. terutama di wilayah potensial kejadian ISPA. Mengajak masyarakat untuk membuang kebiasaan yang buruk. 9 . tatanan sekolah dan tatanan tempattempat umum dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. baik di tatanan rumah tangga maupun di tatanan sekolah.

0 .

kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. karies gigi. Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi penyakit gigi dan mulut: PENDATAAN • Data kasus penyakit gigi dan mulut di tahun berjalan. cara mencegah. serta cara menanggulangi penyakit gigi dan mulut.PENYAKIT GIGI DAN MULUT Penyakit gigi dan mulut antara lain karang gigi. PEMETAAN Melakukan pemetaan wilayah potensial kejadian penyakit gigi dan mulut. • Perilaku masyarakat terkait kebiasaan menggosok gigi. PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pemenuhan fasilitas air bersih melalui berbagai sumber pendanaan. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan masyarakat desa (MMD). • Jumlah dan jenis sarana air bersih. dan radang gusi.  . • Perilaku masyarakat terkait kebiasaan makan makanan manis. termasuk didalamnya informasi rujukan bagi penderita penyakit gigi dan mulut. gejala.

Posyandu. • Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi penyakit gigi dan mulut. • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah. forum pengajian atau majelis taklim. ceramah umum. • Penyuluhan massa. Puskesmas dan lain-lain).Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. • Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. • Mengaktifkan Poskesdes. khotbah minggu. PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. seperti pada saat pertemuan desa. PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait penyakit gigi dan mulut. yaitu: • Penyuluhan perorangan. Poskesdes. seperti kunjungan rumah. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. • Gerakan gosok gigi di tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah. • Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan gigi minimal 6 bulan sekali. khotbah jumat. • Penyuluhan kelompok. • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak  . pertemuan Karang Taruna. Selain itu. pertemuan PKK. terutama di wilayah potensial kejadian penyakit gigi dan mulut. pada saat melakukan pendataan kasus. kunjungan Posyandu. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. pemutaran film. dapat dilakukan pada saat digelarnya kesenian tradisional.

dan dewasa.  . bayi lahir mati. karena mengakibatkan Anemia. kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. • Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). • Screening Malaria pada ibu hamil. keguguran. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. Malaria juga sangat membahayakan ibu hamil. anak. dalam hal ini penggunaan kelambu atau repellant di masyarakat. Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan kematian ibu. • Tempat potensial perindukan nyamuk.anak. • Perilaku berisiko masyarakat terhadap gigitan nyamuk penular Malaria. PEMETAAN Melakukan pemetaan kepadatan vektor penular Malaria.MALARIA Malaria adalah penyakit serius yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pengadaan kelambu atau repellant melalui berbagai sumber pendanaan. mulai dari bayi. Penyakit Malaria adalah penyakit menular yang dapat menyerang semua golongan umur. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa. Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Malaria: PENDATAAN • Data kasus Malaria di tahun berjalan (penemuan kasus). • Status ANC.

 .

seperti pada saat pertemuan desa. Poskesdes. tablig akbar. Posyandu. • Penyuluhan massa. termasuk didalamnya informasi rujukan bagi penderita Malaria. Selain itu. 5 . gejala. Puskesmas. forum pengajian atau majelis taklim. pertemuan Karang Taruna. khotbah minggu. pemutaran film.PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. • Penyuluhan kelompok. khotbah jumat. pada saat melakukan pendataan kasus. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. serta cara menanggulangi Malaria. cara mencegah. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. pertemuan PKK. seperti kunjungan rumah. Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. yaitu: • Penyuluhan perorangan. dan lain-lain). dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. kunjungan Posyandu. ceramah umum. kesenian tradisional.

• Mengajak masyarakat untuk gotong-royong membersihkan lingkungan minimal seminggu sekali. tatanan tempat kerja dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. tatanan tempat-tempat umum. wilayah. tatanan sekolah. tatanan sekolah. terutama di wilayah potensial kejadian Malaria. membahas permasalahan kesehatan terkait Malaria. tatanan tempat-tempat umum. PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga. tatanan tempat kerja dan tatanan institusi kesehatan. • Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi Malaria. • Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal seminggu sekali di tatanan rumah tangga. • Mengaktifkan Poskesdes. 6 . • Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. • Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali.

PEMETAAN Melakukan pemetaan kepadatan vektor penular DBD. • Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). • Tempat potensial perindukan nyamuk. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. dalam hal ini penggunaan obat anti nyamuk/repellant. termasuk didalamnya mengenai Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta informasi rujukan bagi penderita DBD. serta cara menanggulangi DBD.  . gejala. PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan pengadaan obat anti nyamuk atau repellant melalui berbagai sumber pendanaan. • Perilaku berisiko masyarakat terhadap gigitan nyamuk penular DBD. kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi DBD: PENDATAAN • Data kasus DBD di tahun berjalan.DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Demam Berdarah adalah penyakit yang disebarkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. cara mencegah.

dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. khotbah minggu. • Penyuluhan kelompok. • Mengaktifkan Poskesdes.Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. forum pengajian atau majelis taklim. tatanan sekolah. • Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. seperti pada saat pertemuan desa. Posyandu. pertemuan Karang Taruna. • Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi DBD. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. kunjungan Posyandu. seperti kunjungan rumah. dan tatanan institusi kesehatan. • Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali. PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. tatanan tempat kerja. • Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal seminggu sekali di tatanan rumah tangga. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. • Penyuluhan massa. kesenian tradisional. ceramah umum.  . khotbah jumat. Puskesmas dan lain-lain). tablig akbar. pertemuan PKK. Selain itu. pada saat melakukan pendataan kasus. Poskesdes. pemutaran film. tatanan tempat-tempat umum. yaitu: • Penyuluhan perorangan.

9 .

90 .

• Pemberian obat cacing pada anak sekolah. PEMETAAN Melakukan pemetaan daerah endemis Cacingan. tatanan sekolah. Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Cacingan: PENDATAAN • Data kasus Cacingan di tahun berjalan. tatanan tempat kerja. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan pencegahan dan 9 .PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait DBD. • Perilaku berisiko masyarakat terhadap penularan Cacingan. dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa. terutama di wilayah potensial kejadian DBD. kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. • Pemeriksaan tinja rutin pada anak sekolah. CACINGAN Cacingan adalah kumpulan gejala gangguan kesehatan akibat adanya cacing parasit di dalam tubuh. tatanan tempat-tempat umum. • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah. • Ketersediaan air bersih dan jamban keluarga (MCK). • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga.

ceramah umum. yaitu: • Penyuluhan perorangan.pengobatan Cacingan melalui berbagai sumber pendanaan. dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. pemutaran film. seperti pada saat pertemuan desa. PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. • Penyuluhan kelompok. • Penyuluhan massa. Posyandu. pertemuan Karang Taruna. pada saat melakukan pendataan kasus. cara mencegah. 9 . forum pengajian atau majelis taklim. Selain itu. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. tablig akbar. seperti kunjungan rumah. serta cara menanggulangi Cacingan. khotbah minggu. Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. termasuk didalamnya mengenai informasi rujukan bagi penderita Cacingan. kesenian tradisional. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. kunjungan Posyandu. khotbah jumat. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. Poskesdes. dan lain-lain). pertemuan PKK. Puskesmas. gejala.

• Mengaktifkan Posyandu dan Poskesdes. • Gerakan cuci tangan di tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah. bila di wilayah tersebut sulit air bersih. • Pembentukan Kelompok Pemakai Air (Pokmair). • Arisan jamban bila di wilayah tersebut banyak masyarakat yang belum memiliki jamban. terutama di wilayah potensial kejadian Cacingan.PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. • Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga dan tatanan sekolah dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah. 9 . • Melakukan mobilisasi massa untuk bersamasama mencegah dan menanggulangi Cacingan. PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait Cacingan.

Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Filariasis: PENDATAAN • Data kasus kronis Filariasis di tahun berjalan. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa. kemudian disandingkan dengan datadata yang ada. • Penemuan kasus kronis Filariasis. • Pelaksanaan pemberian obat massal pencegahan (POMP) Filariasis. PEMETAAN Melakukan pemetaan daerah endemis Filariasis dengan survey darah jari atau dengan RDT. Apabila tidak segera diobati akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki. • Penatalaksanaan kasus klinis Filariasis sesuai prosedur/SOP. • Perilaku berisiko masyarakat terhadap gigitan nyamuk penular Filariasis. 9 . • Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).KAKI GAJAH (FILARIASIS) Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan oleh nyamuk. baik perempuan maupun laki-laki. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan pencegahan dan pengobatan Filariasis melalui berbagai sumber pendanaan. lengan dan alat kelamin. dalam hal ini penggunaan kelambu. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. • Tempat potensial perindukan nyamuk.

dan lain-lain). • Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali. Posyandu. pertemuan Karang Taruna. khotbah jumat. yaitu: • Penyuluhan perorangan. tatanan tempat-tempat umum. dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. tablig akbar. tatanan sekolah.PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. kesenian tradisional. khotbah minggu. tatanan tempat kerja dan tatanan 95 . penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. termasuk didalamnya mengenai POMP Filariasis serta informasi rujukan bagi penderita Filariasis. • Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal seminggu sekali di tatanan rumah tangga. seperti pada saat pertemuan desa. • Penyuluhan kelompok. Poskesdes. • Mengajak masyarakat gotong-royong membersihkan lingkungan minimal seminggu sekali. seperti kunjungan rumah. pada saat melakukan pendataan kasus. forum pengajian atau majelis taklim. pertemuan PKK. Puskesmas. cara mencegah. pemutaran film. Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. serta cara menanggulangi Filariasis. kunjungan Posyandu. • Penyuluhan massa. Selain itu. ceramah umum. gejala. PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.

PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait Filariasis. tatanan tempat kerja. change. tatanan sekolah. • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga. 96 . terutama di wilayah potensial kejadian Filariasis.• Menjadikan anak sekolah sebagai agent of • Mengaktifkan Poskesdes. tatanan tempat-tempat umum. dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah. • Melakukan mobilisasi massa untuk bersama- institusi kesehatan. sama mencegah dan menanggulangi Filariasis.

PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. cara mencegah. termasuk didalamnya mengenai penggunaan desinfektan dan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) 9 . serta cara menanggulangi Flu Burung. kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi Flu Burung: PENDATAAN • Data kasus Flu Burung pada manusia dan unggas. • Perilaku berisiko masyarakat terhadap penularan Flu Burung. • Melakukan tata laksana kasus Flu Burung sesuai prosedur/SOP. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa. PEMETAAN Melakukan pemetaan daerah endemis Flu Burung pada manusia dan unggas serta pemetaan kelompok berisiko tinggi. gejala.FLU BURUNG (AVIAN INFLUENZA) Flu Burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza dan ditularkan oleh unggas. terutama di tahun berjalan. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan pencegahan dan pengobatan Flu Burung melalui berbagai sumber pendanaan.

9 .

• Gerakan cuci tangan di tatanan rumah tangga dan tatanan tempat kerja (tempat pengolahan hasil unggas). yaitu: • Penyuluhan perorangan. pertemuan PKK. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. kesenian tradisional. pemutaran film. seperti pada saat pertemuan desa. • Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi Flu Burung. khotbah minggu. dan lain-lain). khotbah jumat. Puskesmas. • Penyuluhan massa. • Mengajak masyarakat membentuk Tim Tanggap Cepat Flu Burung. PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.ketika mengolah hasil unggas serta informasi rujukan bagi penderita Flu Burung. • Penyuluhan kelompok. tablig akbar. pada saat melakukan pendataan kasus. Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat.Poskesdes. Posyandu. seperti kunjungan rumah. ceramah umum. Selain itu. • Gerakan pemakaian APD di tatanan tempat kerja (tempat pengolahan hasil unggas). forum pengajian atau majelis taklim. 99 . • Mengaktifkan Poskesdes. pertemuan Karang Taruna. kunjungan Posyandu.

terutama di tahun berjalan.PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait Flu Burung. 00 . AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah penyakit-penyakit yang terjadi akibat menurunnya kekebalan tubuh manusia. HIV dan AIDS HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. • Perilaku berisiko masyarakat di wilayah potensial kejadian HIV dan AIDS. terutama di wilayah potensial kejadian Flu Burung. HIV dapat menyebabkan AIDS. • Data jumlah pekerja seks komersial di wilayah potensial kejadian HIV dan AIDS (kelompok berisiko tinggi). • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah. Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi HIV dan AIDS: PENDATAAN • Data kasus HIV dan AIDS. • Data jumlah pengguna narkoba suntik di wilayah potensial kejadian HIV dan AIDS (kelompok berisiko tinggi). • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga dan tatanan tempat kerja dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

0 .

seperti kunjungan rumah. termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan pencegahan dan pengobatan HIV dan AIDS melalui berbagai sumber pendanaan. • Penyuluhan massa. penyuluhan 0 . termasuk didalamnya mengenai penggunaan jarum suntik yang steril dan kondom bagi kelompok berisiko tinggi serta informasi rujukan bagi penderita HIV dan AIDS. seperti pada saat pertemuan desa. serta cara menanggulangi HIV dan AIDS. ceramah umum. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD). khotbah minggu. forum pengajian atau majelis taklim. yaitu: • Penyuluhan perorangan. maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan Materi penyuluhan tentang pengertian. pertemuan PKK. pada saat melakukan pendataan kasus. cara mencegah. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat. • Penyuluhan kelompok. pemutaran film. pertemuan Karang Taruna. kesenian tradisional.PEMETAAN Melakukan pemetaan wilayah potensial kejadian HIV dan AIDS serta pemetaan kelompok berisiko tinggi. tablig akbar. kunjungan Posyandu. gejala. kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. Selain itu. Metode penyuluhan yang dapat dilakukan. khotbah jumat.

Puskesmas. • Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi HIV dan AIDS. 0 . dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. tatanan sekolah. dan tatanan institusi kesehatan. • Mengajak masyarakat untuk melakukan survai mawas diri.massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. tatanan sekolah. tatanan sekolah. • Mengadakan Klinik VCT (Voluntary Counseling Test) di Puskesmas dan Poskesdes. tatanan tempat kerja. • Gerakan Anti Narkoba di tatanan rumah tangga. dan tatanan institusi kesehatan. dan lain-lain). • Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga. tatanan tempat kerja. tatanan tempat-tempat umum. PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKAN MASYARAKAT • Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. terutama di wilayah potensial kejadian HIV dan AIDS. • Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah. tatanan tempat kerja. Posyandu. tatanan tempat-tempat umum. • Gerakan Stop HIV dan AIDS di tatanan rumah tangga. PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait HIV dan AIDS. tatanan tempat-tempat umum. Poskesdes.

• Sumber-sumber air bersih yang dapat dimanfaatkan oleh warga. • Jumlah KK yang telah dan yang belum memiliki sarana air bersih dan jamban. seperti akses terhadap air besih dan jamban serta perilaku cuci tangan yang benar. • Jumlah sarana air bersih dan jamban yang telah memenuhi syarat kesehatan. Data ini dapat diperoleh dengan cara melakukan kegiatan Inspeksi Sanitasi atau pemantauan dan pencatatan kondisi sarana air bersih dan sanitasi.PENYEHATAN LINGKUNGAN Aspek penyehatan lingkungan merupakan salah satu dari 24 indikator kesehatan penentu IPKM. • Perilaku masyarakat terkait sanitasi dasar dan hygiene perorangan. termasuk lingkungan sekitar rumah. 0 . Data yang dimaksud yaitu: • Data jumlah dan jenis sarana air bersih dan jamban yang ada di wilayahnya. Hal-hal yang perlu diketahui dan dilakukan oleh petugas kesehatan di DTPK meliputi : PENDATAAN Mengetahui data kesehatan lingkungan yang ada di DTPK. Komponen yang dinilai secara umum terkait dengan masalah sanitasi dasar dan hygiene perorangan. • Pendataan keluarga yang belum memiliki sarana air bersih dan jamban.

05 .

seperti kunjungan rumah. • Persyaratan kualitas air bersih dan jamban. • Perilaku cuci tangan memakai sabun dan air bersih. 06 . termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar (air bersih. • Pengelolaan sampah dan air limbah rumah tangga.PEMETAAN Melakukan pemetaan terhadap sebaran KK yang telah memiliki sarana air bersih dan jamban. • Sanitasi makanan dan minuman. • Metode perbaikan kualitas air. pembuangan sampah/limbah dan lain-lain) melalui berbagai sumber pendanaan. Metode Penyuluhan yang dapat dilakukan yaitu • Penyuluhan perorangan. pada saat melakukan inspeksi sanitasi. termasuk keberadaan fasilitas umum MCK. baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir. jamban. PENYEBARLUASAN INFORMASI KESEHATAN Materi Penyuluhan antara lain tentang: • Keterkaitan antara penyediaan sarana sanitasi dasar dengan penyakit menular yang disebarkan melalui air dan tinja manusia. Data dan hasil pemetaan serta masalah sarana sanitasi dasar ini dibahas pada pertemuan rembug desa (MMD).

Selain itu. pada saat digelarnya pesta rakyat. Posyandu. jamban. ceramah umum. pertemuan PKK. seperti membangun/membersikan saluran air limbah maupun saluran drainase. penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempattempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa. • Menggalang gerakan kebersihan lingkungan permukiman dan pencegahan pencemaran secara berkala. tempat sampah. baik berupa sarana pribadi maupun MCK umum. kesenian tradisional. khotbah jumat. seperti pada saat pertemuan desa. pertemuan Karang Taruna. • Penyuluhan massa. forum pengajian atau majelis taklim. • Gerakan Jumat Bersih atau Minggu Bersih. Puskesmas dan lain-lain). PEMBERDAYAAN DAN PENGGERAKKAN MASYARAKAT • Kegiatan gotong royong membangunan sarana air bersih. • Penyuluhan kelompok. • Gerakan PSN termasuk melakukan survei jentik. pemutaran film. khotbah minggu. kunjungan Posyandu. • Kegiatan pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STMB) atau Community Total Led Sanitation (CLTS).maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas. 0 . Poskesdes.

tempat-tempat umum. metode penyuluhan yang akan diterapkan dan media promkes yang akan digunakan. • Melakukan kunjungan rumah. penggerakan masyarakat dan pengembangan UKBM. MMD. perencanaan. pemantauan. • Memotivasi kader kesling untuk senantiasa mendukung upaya penyuluhan kesehatan. • Melibatkan para kader dalam kegiatan SMD. inspeksi santasi. tempat kerja. Kelompok Pemakai Air (Pokmair) dan fasilitasi dana stimulan/dana bergulir lainnya. PEMBINAAN • Melakukan pertemuan rutin dengan para kader kesehatan lingkungan untuk membahas berbagai masalah kesling yang dijumpai.• Menggerakkan murid sekolah yang ada di wilayahnya untuk • Mengupayakan bantuan/fasilitasi sarana air bersih dan berperan sebagai agen perubahan perilaku (agent of change). • Menyampaikan berbagai informasi baru terkait program kesehatan lingkungan. • Membentuk atau mengaktifkan kembali kegiatan Posyandu setiap bulan. 0 . pelaksanaan dan evaluasi intervensi kesling. tatanan sekolah. supervisi dan kunjungan lapangan bersama para kader. jamban untuk warga melalui pembentukan Kelompok Arisan Jamban. institusi kesehatan. • Membahas perilaku yang akan diubah. • Melakukan pembinaan kesehatan lingkungan di tatanan rumah tangga.

KABUPATEN/KOTA YANG DILAKUKAN PENDAMPINGAN DALAM RANGKA PDBK 09 .

698321 0.39294 0.48456 0.697942 0.37314 0.627771 0.71678 0.664349 0.59304 0.754379 2013 (Simulasi) R-IPKM 175 116 246 57 157 164 212 231 167 124 207 182 297 125 192 288 191 35 11 55 46 0 .47964 0.681964 0.37804 0.39771 0.39205 0.38888 0.47000 0.51131 0.700423 0.71646 0.48969 0.745931 0.783505 0.ACEH Kabupaten IPKM Simeulue Aceh Singkil Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Bireuen Aceh Utara Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Tamiyang Nagan Raya Aceh Jaya Bener Meriah Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhok-semawe 0.44685 0.688516 0.52434 0.691095 0.63762 0.43874 0.762668 0.671426 0.63417 0.688122 0.747829 0.52409 0.721259 0.693076 0.27128 0.42588 0.684477 0.51989 2007 R-IPKM 344 321 393 391 360 192 404 245 260 253 389 246 439 219 396 410 279 98 40 194 205 IPKM 0.48906 0.

390217 0.48541 R-IPKM 296 286 237 303 336 284 234 48 252 2013 (Simulasi) IPKM 0.386755 0.459197 0.709041 0.503396 0.706933 0.82741 0.46278 0.46728 0.619968 0.692925 0.829838 R-IPKM 296 178 127 224 176 138 121 194 68 133 150 235 308 203 310 2  .NUSA TENGGARA BARAT Kabupaten 2007 IPKM Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Dompu Bima Sumbawa Barat Mataram Kota Bima 0.46732 0.74763 0.75238 0.477881 0.73135 0.81371 0.643858 R-IPKM 406 422 370 399 313 304 395 264 197 227 316 231 437 401 427 32 2013 (Simulasi) IPKM 0.357076 0.450906 0.68735 0.718128 0.49593 0.37743 0.73037 0.741998 0.522098 0.44181 0.72245 0.629234 0.617674 0.321211 0.676563 0.7427 R-IPKM 163 197 113 56 86 88 47 4 65 NUSA TENGGARA TIMUR Kabupaten 2007 IPKM Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Rote Ndao Manggarai Barat Kota Kupang 0.416146 0.69841 0.687863 0.449823 0.385605 0.715176 0.501934 0.701783 0.669698 0.4593 0.28322 0.692273 0.49988 0.685761 0.

724577 0.722968 0.733212 0.677588 0.551443 2013 (Simulasi) R-IPKM 411 372 419 333 146 IPKM 0.696003 0.412362 0.363029 0.624976 0.732261 0.741052 R-IPKM 106 168 84 83 111 90 60 87 7 69 GORONTALO Kabupaten 2007 IPKM Boalemo Gorontalo Pohuwato Bone Bolango Kota Gorontalo 0.429366 0.637867 0.794748 0.47617 0.728729 0.SULAWESI TENGGARA Kabupaten 2007 IPKM Buton Muna Konawe Kolaka Konawe Selatan Bombana Wakatobi Kolaka Utara Kota Kendari Bau-bau 0.388577 0.442348 0.698438 0.594733 0.730718 0.439676 0.450837 0.371624 0.433098 0.789407 R-IPKM 287 220 299 162 8  .744836 0.463434 0.466681 0.517897 R-IPKM 289 357 271 294 314 351 340 397 96 209 2013 (Simulasi) IPKM 0.

706583 0.401544 0.744592 2013 (Simulasi) R-IPKM 152 104 96 74 123 196 242 144 59 62 SULAWESI BARAT Kabupaten Majene Polewali Mamasa Mamasa Mamuju Mamuju Utara 2007 IPKM 0.440977 0.701658 0.684537 0.677351 0.524115 2007 R-IPKM 330 265 239 142 337 387 392 320 295 193 IPKM 0.443375 0.477513 0.687524 0.724755 0.377814 R-IPKM 221 322 430 412 405 2013 (Simulasi) IPKM 0.494967 0.294741 0.716965 0.501291 0.754654 0.745616 0.368814 0.763024 0.750287 0.SULAWESI TENGAH Kabupaten IPKM Banggai Kepulauan Banggai Morowali Poso Donggala Toli-toli Buol Parigi Moutong Tojo Una-una Palu 0.737832 0.724994 0.446343 0.404237 0.778206 0.836738 R-IPKM 140 53 15 91 126 34 222 1  .72755 0.301325 0.520899 0.509314 0.44696 0.555379 0.734327 R-IPKM 45 102 206 201 82 MALUKU Kabupaten Maluku Tenggara Barat Maluku Tenggara Maluku Tengah Buru Kepulauan Aru Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kota Ambon 2007 IPKM 0.463214 0.432828 0.392416 0.728533 0.686504 0.703848 0.632536 R-IPKM 385 233 199 415 394 352 433 43 2013 (Simulasi) IPKM 0.371524 0.391465 0.716301 0.668091 0.

M. Yusra. Ruflina Rauf. M.Sos Kiki Anton Syahroni. M. MPH drg.Kes drg.Kes Dra. SKM  . Chandra Rudiyanto. SIP Setio Nugroho. Bambang Hartono. Ivo Syayadi. SSn Dra. Marlina Ginting. MM TIM PENYUSUN drg. Sri Koesminarti Winitra Rahmani.PENGARAH dr.Kes Ir. MSi KONTRIBUTOR Dr. Lily S. S. Sulistyowati. SKM.

5 .

4-9 Jakarta. Dr. Sujudi JL. 12950 Telp/Fax: (021) 5203873 www.KEMENTERIAN KESEHATAN RI PUSAT PROMOSI KESEHATAN Lantai 10 Gedung Prof.com 6 . HR Rasuna Said Blok X5 Kav.promosikesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->