P. 1
KALAMSIASI MARET 12

KALAMSIASI MARET 12

|Views: 297|Likes:
Published by Totok Wahyu Abadi
jurnal ilmiah
jurnal ilmiah

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Totok Wahyu Abadi on May 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2014

pdf

text

original

IMPLEMENTASI KOMUNIKASI LINGKUNGAN PADA KEPEMIMPINAN PARABELA DALAM MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KABUPATEN BUTON

M. Najib Husain1), Trisakti Haryadi2), Sri Peni Wastutiningsih3)
(1) Dosen Unhalu Sulawesi, 2) Dosen PPs PKP UGM Yogyakarta, 3) Dosen PPs PKP UGM Yogyakarta)

ABSTRACT
There are three purposes of the study. First, it is intended to know the roles of parabela leadership in maintaining Kaombo area. Second, the study describes the governance of environmental communication in Parabela leadership in maintaining Kaombo area. At last, the study is aimed at identifying the impact of interpersonal communication in Parabela leadership on the change of community attitudes in Kaombo area. In this case, the setting of the study is focused on the period after the regional autonomy policy. Moreover, the study employs ethnography approach. Besides, the study is done in Kabupaten Buton by engaging informants – Parabela and its personnel, the head of village, community leaders, and community. The results of the research using ethnographic approach show that Parabela implement both of the functions, but the first function – pragmatic – is more successful. Key words: environmental communication implementation, Parabela leadership, environmental sustainability based on local wisdom

PENDAHULUAN
Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan hutan sebagai penghasil kayu dan non-kayu. Hasil hutan begitu lekat dengan kebutuhan hidup manusia dari lahir sampai mati sehingga sistem pengambilannya harus dilakukan secara bijak. Kabupaten Buton merupakan suatu daerah otonom yang kondisi topografinya berbukit - bukit dan relatif curam, juga memiliki kawasan hutan dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menjaga kelestarian hutan adalah dengan menggunakan
1

pendekatan budaya, yang sampai saat ini masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Buton. Masyarakat Buton memandang perlu untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya hutan karena berhubungan dengan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan diri sendiri, sehingga ada falsafah hidup orang Buton sebagai bentuk komunikasi persuasif yang mengatakan Balimo arataa somanmo Karo (mendahulukan kepentingan orang banyak daripada mempertahankan harta) dan Bolimo Karo Somanamo Lipu (siap untuk mengorbankan diri untuk kepentingan negara).

2

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 1 - 10

Untuk menjalankan nilai-nilai dan norma tersebut di atas dalam kehidupan keseharian, maka di tingkat kadie atau desa dipimpin oleh Parabela, Parabela merupakan salah satu unsur dalam lapisan ketiga dalam kelompok sistem sosial pada masa Pemerintahan Kerajaan Buton yaitu papara. Papara tersebar di seluruh kadie dalam wilayah kesultanan Buton. Kadie ini merupakan organisasi sosial politik yang dapat disamakan dengan desa saat ini (Schoorl 2003:235). Setiap kadie memiliki struktur pemerintahan yang disebut sara kadie. Sara kadie ini memiliki struktur organisasi yang pemimpinnya disebut parabela. Dalam menjalankan tugasnya, seorang parabela dibantu oleh beberapa orang sebagai perangkatnya dan memiliki hak otonomi dalam urusan kadienya masing-masing. Parabela yang memperoleh sumber kewenangan dari aturan-aturan adat yang masih kuat melekat di masyarakatnya memiliki berbagai peran salah satunya sebagai pemimpin. Peran parabela sebagai pemimpin inilah yang merupakan peran yang sengat utama. Parabela sebagai seorang pemimpin Nampak sangat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan keseharian masyarakat yang dipimpin oleh parabela atas berbagai perintah ataupun nasehat dan anjuran serta pendapatnya sangat mereka patuhi. Parabela akan selalu tampil sebagai wakil dari masyarakatnya bila ia dibutuhkan oleh pejabat formal. Kepemimpinannya juga nampak dari kemampuannya menggerakkan masyarakatnya. Bila ia yang memerintahkan sangat jarang ada masyarakat yang berani menentangnya, namun demikian sebagai konsekwensi dari kepemimpinannya seorang parabela tersebut harus menyediakan waktu dua puluh empat jam sehari untuk melayani masyarakat yang membutuhkannya. Masyarakat sangat patuh pada perintah parabelanya karena diyakini bahwa perintah

seorang parabela adalah juga merupakan perintah dari leluhur mereka dan selalu diikuti dengan “bala”. Mereka berpendapat bahwa kesejahteraan dan keselamatan serta rezeki yang mereka peroleh banyak tergantung dari kemampuan yang dimiliki oleh parabela tersebut dalam memimpin negerinya. Apabila hasil panen mereka yang pada umumnya jagung dan ubi kayu dapat berhasil dengan baik, keamanan juga terpelihara dengan baik, orang yang meninggal dalam tahun tersebut juga sedikit yang berarti kesehatan warga juga baik maka ia menunjukkan bahwa pemimpin mereka benarbenar memiliki “Kabarakati” (kesaktian) dan mampu menjaga mereka dari berbagai kesengsaraan dan malapetaka. Sebaliknya bila terjadi musim kemarau yang berkepanjnagan, panen yang gagal baik oleh iklim maupun hama, banyak kekacauan, banyak warga yang sakit dan meninggal itu berarti parabelanya tidak becus memimpin dan harus segera diturunkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa keamanan dan kesejahteraan kemampuannya sangat tetrgantung dengan “kabarakati” atau kesaktian yang dimiliki parabelanya.Jadi pada dasarnya masyarakat buton berpersepsi bahwa seorang parabela adalah merupakan figure yang suci dan memiliki kesaktian yang setiap kata-kata dan nasehatnya harus diikuti. Kekuatan inilah yang dimiliki oleh parabela dalam menjalin hubungan komunikasi dengan masyarakat (pengikutnya) yaitu saling melindungi dan saling menyanyangi. Littlejohn (1996) menyatakan jalinan hubungan merupakan kekuatan komunikasi antarpribadi dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, yakni dalam jalinan hubungan terdapat 4 asumsi: (1) jalinan hubungan senantiasa terkait dengan komunikasi dan tidak mungkin dapat dipisahkan; (2) sifat jalinan hubungan ditentukan oleh komunikasi yang

M. Najib Husain, Trisakti Haryadi, Sri Peni Wastutiningsih, Implementasi Komunikasi...

3

berlangsung di antara individu partisipan; (3) jalinan hubungan biasanya didefenisikan secara lebih implisit; (4) jalinan hubungan bersifat dinamis. Jalinan komunikasi lingkungan yang dilakukan Parabela bukan hanya pada hubungan horizontal tetapi juga dengan hubungan vertikal, sehingga parabela dalam memimpin baik saat menanam maupun saat panen hasil usahatani, masyarakat selalu mengucapkan “Batata” atau ucapan-ucapan yang mengandung Tuah. Misalkan ucapan Parabela saat mulai menanam “saya pindahkan hewan-hewan ini ke dalam hutan lindung (Kaombo)”. Kebun belum akan dibersihkan, Padi/jagung belum akan di tanam atau di panen sebelum adanya perintah dari parabela tersebut termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan pendekatan kearifan lokal (Local Wisdom). Semua ini dilakukan parabela sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi selanjutnya untuk dapat menyaksikan berbagai jenis hewan di kawasan tanah Kaombo merupakan tanggung jawab Parabela dalam pengelolaan lingkungan dan menjaga berbagai jenis tumbuhan dan binatang langka yang ada di dalam kawasan hutan adat. Disadari, sebagian besar masyarakat dalam wilayah kepemimpinan parabela adalah petani yang tinggal di sekitar hutan memiliki alternatif terbatas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatan ilegal yang dilakukan masyarakat di sekitar hutan saat ini dilakukan terpaksa, karena tidak tersedia alternatif sumber ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hari ini, sehingga tidak sedikit perselisihan pendapat atau perbedaan persepsi yang terjadi antara Pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Saluran-saluran informasi dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat seringkali mengalami berbagai hambatan yang mendorong jurang antara

keduanya. Disinilah letak pentingnya keterlibatan opinion leader (pemimpin pemuka pendapat) pada daerah-daerah yang masih kuat adatistiadatnya seperti masyarakat Buton, yang perlu memfungsikan kembali keberadaan pemimpin informal dalam hal ini Parabela. Parabela dapat menjalin komunikasi lingkungan antara pemerintah dan masyarakat, antara ketiga pihak seharusnya tidaklah terlalu sulit dilaksanakan mengingat kultur bangsa ini memang sangat memungkinkan untuk itu. Cox (2006:11-13) menjelaskan konsep komunikasi lingkungan sebagai pembicaraan atau transmisi informasi tentang berbagai topik lingkungan di bumi ini. Menurutnya, ada 3 inti komunikasi lingkungan, yaitu: (a) komunikasi manusia sebagai bentuk dari aktivitas simbolik, (b) keyakinan, sikap dan perilaku individu yang terkait dengan alam dimediasi oleh komunikasi dan (c) ruang publik yang merupakan wadah wacana bagi komunikasi lingkungan, melalui dialog dalam pertemuan informal dan formal, ataupun sebagai usaha dari setiap individu untuk mengemukakan pemikirannya melalui berbagai media konvensional, media elektrionik, internet blog dan lain sebagainya. Ketiga hal di atas kemudian dijelaskan oleh Cox dengan menggunakan pemikiran Kenneth Burke (Language as Symbolic Action) yang menekankan bahasa dan tindakan merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Selanjutnya, Cox membagi konsep komunikasi lingkungan ke dalam dua fungsi: yang pertama bersifat pragmatis, seperti mendidik, mengajak untuk waspada, mempersuasi, memobilisir dan menolong mengatasi problema lingkungan. Fungsi kedua yang bersifat konstitutif, yang berada pada tataran lebih dalam, seperti membangun pemahaman dan mendorong munculnya kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Berdasarkan latar belakang di atas maka

4

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 1 - 10

fokus permasalahan dalam penelitian ini ádalah, pertama, bagaimana peran kepemimpinan parabela dalam menjaga kawasan tanah Kaombo. Kedua, bagaimana tata kelola komunikasi lingkungan pada kepemimpinan parabela dalam menjaga kawasan tanah kaombo. Ketiga, Dampak komunikasi antarpribadi pada kepemimpinan parabela pada perubahan sikap Masyarakat pada kawasan tanah Kaombo.

METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian ini menggunakan acuan dari James P. Spradley dalam (developmental research sequence) yang harus di tempuh oleh peneliti etnografi. Penelitian ini dilaksanakan di 3 Kecamatan dengan penetapan secara purposive (sengaja). Adapun kecamatan tersebut 3 parabela yang berdaya: Kecamatan Pasar Wajo yang berjarak 48 Km dari Kota bau-Bau, Kecamatan Lasalimu Selatan yang berjarak 50 Km dari Kota Bau-Bau, dan kecamatan Lapandewa yang berjarak 54 Km dari Kota Bau-bau. Sasaran dalam penelitian ini adalah Parabela, Kepala Desa/Lurah dan masyarakatnya.

HASIL PENELITIAN
Komunitas adat di Indonesia memiliki kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan, baik dalam bentuk adat, hukum adat, maupun dalam bentuk kawasan. Komunitas masyarakat adat di Buton juga memiliki kearifan lingkungan dalam suatu kawasan khusus hutan lindung atau Kaombo yang masih tetap terjaga kelestariannya dalam pengawasan parabela. Kaombo ini dapat ditemui di wilayah Kabupaten Buton, diantaranya : di Takimpo, Lapodi, Burangasi,

Lapandewa dan Takimpo Kambula Bulana Pasar Wajo. Dalam Masyarakat Takimpo masih terdapat Parabela, dibantu oleh 2 Moji, 2 Waci, 2 Pocuno Limbo, dan parabela Akanoanamohane (parabela Pemuda), Dalam masyarakat Lapandewa juga masih terdapat parabela yang dibantu oleh 1 Moji, 1 Wati, 1 Pandesuka, 1 Pandekuele. Dalam masyarakat Burangasi terdapat parabela yang dibantu oleh 1 kolaki, 2 Moji, dan 1 Wati. Dalam masyarakat Lapodi terdapat 2 parabela yaitu Parabela Lapodi dan Parabela Labahawa dan 6 Wati. Adapun untuk masyarakat Takimpo Kambula Bulana Pasar Wajo memiliki 1 parabela dan dibantu oleh 4 orang Waci, 4 Moji, 6 orang Pocuno Limbo,dan 5 Parabela Akano anamohane. Parabela di Buton telah hadir dalam dua masa yang berbeda yakni masa kesultanan dan masa pemerintahan sekarang, pada masa kesultanan Parabela Sebagai Elit, Parabela sebagai elit dimaksudkan di sini bahwa parabela memiliki kekuasaan dan wewenang serta pengaruh yang didasarkan atas aturan--aturan adat yang mereka tetap pegang selama ini. Adapun untuk saat ini keberadaan parabela tidak sendiri lagi sebagai pemimpin karena sejak kesultanan Buton dinyatakan bubar sekitar tahun 1960-an, maka praktis jabatan-jabatan di sarana Wolio (pemerintahahan pusat) juga hilang, yang digantikan dengan masuknya jabatan-jabatan formal yang merupakan struktur pemerintahan yang baru dengan lahirnya kepala desa atau Lurah. Eksistensi parabela juga menggalami penurunan dan hanya berperan dalam beberapa hal: Pertama, pengaturan tentang waktu pesta baik pernikahan ataupun pesta pingitan, mengingat pesta pingitan yang selalu diadakan pada saat musim kemarau cukup banyak. Mereka juga percaya bahwa tidak boleh ada dua matana kariya (puncak pesta) bertemu dalam waktu yang bersamaan, karena bila hal itu terjadi dianggap sebagai

M. Najib Husain, Trisakti Haryadi, Sri Peni Wastutiningsih, Implementasi Komunikasi...

5

pamali besar. Karena itu pengaturan jadwal/ waktu pelaksanaan oleh Parabela dapat diterima oleh semua pihak. Kedua, Parabela sebagai pemersatu dalam pertanian. Tetap adanya lembaga Parabela ini dalam kehidupan masyarakat Buton pada umumnya telah dapat membuat masyarakat Kadie ini memiliki esprit de corp, adanya pemimpin ini membuat mereka sebagai suatu kesatuan masyarakat yang cukup kuat, ibaratnya mereka memiliki satu kiblat atau arah yang dalam semua persoalan yang dihadapi sehingga perbenturan di antara mereka sedapat mungkin dapat dihindari. Sebaliknya dengan adanya Parabela ini membuat mereka memiliki keseragaman langkah dalam berbagai hal seperti untuk memulai musim tanam yang sebelumnya dimulai dengan menebas belukar atau hutan dan pada akhirnya memanen bersama semua melalui satu perintah yaitu perintah dari Parabelanya. Saat mulai menebas rumput (membuka kebun) kita harus menunggu hasil musyawarah di Kusai Parabela, bila sudah ada perintah baru dimulai menebas dan menanam. Mereka menunggu Parabela karena tanah itu harus dibelai (disarati dulu oleh Parabela). Demikian pula bila ingin memanen harus menunggu Parabela, baru mulai dipanen. Ketiga, Parabela sebagai tokoh utama dalam adat istiadat dan pesta adat. Pada umumnya masyakat Buton merupakan pemeluk agama Islam. Namun demikian dalam kehidupan keseharian orang Buton tidak jarang kita menemukan beberapa upacara upacara yang menunjukkan adanya sisa-sisa kepercayaan pra Islam. Parabela sebagai peninggalan masa lalu sebelun adanya Islam, memang masih menunjukkan hal-hal tersebut. Ini tercermin dari berbagai upacara atau berbagai ritual yang sampai saat ini mereka masih lakukan. Sehingga dari berbagai upacara adat yang dilakukan masih nampak adanya kepercayaan-

kepercayaan sebelum Islam. Dalam pelaksanaan upacara-upacara ini Parabela sebagai tokoh utama, yaitu: Tuturangi Lipu Morikana, dan Tuturangina Kalampa. Keempat, Parabela sebagai mediator. Parabela disamping perannya sebagai pemimpin juga dapat berperan sebagai hakim dalam pertikaian antar warganya khususnya dalam hal yang bersifat perdata. Peran-peran ini yang dijadikan dasar Parabela dalam mengatur Komunitas masyarakat adat di Buton salah satunya peran dalam bidang pertanian, dengan pendekatan komunikasi lingkungan yang bersifat pragmatis parabela mendidik, mengajak untuk waspada, mempersuasi, memobilisir dan menolong mengatasi problema lingkungan. Ajakan parabela kepada masyarakat untuk tetap mempertahankan hutan lindung atau Kaombo di kadie masing-masing, yang masih tetap terjaga kelestariannya dalam pengawasan parabela, kaombo ini dapat ditemui di wilayah Kabupaten Buton, diantaranya : di Pasar Wajo, Wabula, Rongi dan Lapandewa. Tanah Kaombo berasal dari kata kaombo yang diartikan peran, lindungi, suaka, awasi, kontrol, karena dalam kawasan tanah tersebut memiliki sumberdaya yang bernilai harganya. Tanah kombo dalam kadie adalah tanah lindung yang berada dalam pengawasan bersama oleh masyarakat dan berisi berbagai tanaman berguna bagi masyarakat seperti kayu jati, bambu, buluh, kemiri, kapuk, asam, mangga, sawo dan sebagainya. Tanah kaombo menurut jenisnya terdiri dari tiga macam yakni sebagai berikut: a. Tanah kaombo milik bersama masyarakat ialah tanah kadie yang dipilih khusus dan berisi hutan berguna seperti kayu untuk kebutuhan bangunan. b. Tanah kaombo milik perorangan ialah kaombo yang berisi tanaman berguna,

6

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 1 - 10

tetapi ditanam serta dipelihara oleh orang tertentu. c. Tanah kaombo milik pejabat ialah tanah kaombo yang dipelihara oleh seseorang atau masyarakat dengan sumber pembiayaan dari salah seorang pejabat. (Zahari, 1977) Untuk Tanah kaombo di Kelurahan Takimpo, Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton memiliki 6 lokasi hutan kaombo yang sudah ada sejak dari zaman Kesultanan Buton. Kaombo-Kaombo tersebut sengaja ditetapkan sebagai kawasan hutan yang dilindungi oleh Sara (Perangkat Adat), selain untuk menjaga kelestarian hutan juga sebagai salah satu penopang kebutuhan masyarakat Takimpo dimana seperti yang disebutkan diatas bahwa di dalam kawasan hutan kaombo terdapat berbagai macam kebutuhan pokok yang memang sangat dibutuhkan masyarakat. Hal ini diungkapkan langsung Parabela Takimpo Lipuogena, La Aisi. Dimana dia menyebutkan 6 lokasi kaombo yang dilindungi yakni : 1). Kaombo Bakau, 2). Kaombo Ohusii, 3). Kaombo Yambali 4). Kambali Ee Mata, 5). Kaombo Labobou, 6). Kaombo Kumbo. Dari keenam hutam kaombo tersebut mempunyai lokasi yang agak berjauhan antara kaombo yang satu dengan kaombo yang lain dan memiliki fungsinya masing-masing. Untuk Kaombo Bakau yang berada di pinggir pantai berfungsi mengantisipasi jika terjadi abrasi. Kaombo Ohusi yakni hutan yang didalamnya terdapat tumbuhan rotan yang berguna untuk bahan anyaman dinding rumah tradisional. Dimana sengaja dilindungi agar kebutuhan masyarakat. Kaombo Yambali merupakan hutan yang mempunyai berbagai aneka ramuan obat-obat tradisional. Kaombo Ee Mata merupakan hutan yang didalamnya terdapat mata air yang tidak pernah kering meski musim kemarau tiba dan menjadi tempat memperoleh air masyarakat

Takimpo dan sekitarnya. Kaombo Kumbu Labobou dan Kaombo Kumbo juga sengaja dilindungi karena didalam hutan tersebut juga terdapat mata air. La Aisi mengatakan bahwa sejak dulu hingga sekarang ukuran luas kawasan hutan Kaombo tersebut tidak pernah berubah baik itu diperluas apalagi dipersempit karena adanya komunikasi dari parabela kepada masyarakat untuk menjaga kaombo, sehingga lahir kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian kaombo karena dampak positifnya dapat dirasakan sendiri oleh masyarakat dengan adanya hutan Kaombo. Komunikasi lingkungan yang dilakukan Parabela bukan hanya pada hubungan horizontal tetapi juga dengan hubungan vertikal, sehingga parabela dalam memimpin baik saat menanam maupun saat panen hasil usaha tani masyarakat, selalu mengucapkan “Batata” atau ucapanucapan yang mengandung Tuah. Misalkan ucapan Parabela saat mulai menanam “saya pindahkan hewan-hewan ini ke dalam hutan lindung (Kaombo)”. Kebun belum akan dibersihkan, Padi/jagung belum akan di tanam atau di panen sebelum adanya perintah dari parabela tersebut termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan pendekatan kearifan lokal (Local Wisdom). Semua ini dilakukan parabela sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi selanjutnya untuk dapat menyaksikan berbagai jenis hewan di kawasan tanah Kaombo merupakan tanggung jawab Parabela dalam pengelolaannya. Jika ada masyarakat yang ingin melakukan pengolahan atau mengambil sesuatu seperti rotan atau kayu harus atas persetujuan perangkat adat khususnya parabela. Jika ada yang ditemukan mengelolah tanah kaombo tanpa meminta izin terlebih dahulu, akan diberikan sanksi mulai dari denda hingga pada sanksi sosial seperti pelaku akan dikucilkan dari wilayah tersebut. Dia

M. Najib Husain, Trisakti Haryadi, Sri Peni Wastutiningsih, Implementasi Komunikasi...

7

menambahkan, cara menjaga dan memantau kawasan hutan kaombo tersebut yakni dengan melibatkan seluruh masyarakat Takimpo dimana di dalam diri masyarakat telah tertanam rasa memiliki dan bertanggung jawab atas kelangsungan kelestarian hutan kaombo yang menjadi kebutuhan mereka. Oleh karena itu jika mereka melihat ada yang melanggar maka mereka akan segera melaporkannya ke Sara kadie (Perangkat Adat) untuk diberikan sanksi sesuai dengan aturan adat yang berlaku. Rahman (2005: 230) mengemukakan bahwa parabela di Rongi masih melaksanakan hukum adat bagi mereka yang merusak lingkungan yang dikenal dengan sebutan Tauwe taliki yaitu tidak dilibatkan dalam acara-acara adat. Sangsi yang paling berat adalah Tatasi Pulangano artinya mereka yang terkena hukuman maka ia dan anak cucunya tidak akan ditanya oleh seluruh masyarakat termasuk dewan sara dan bila meninggal tidak akan ada masyarakat yang datang.

SIMPULAN
Kearifan lokal secara dominan masih diwarnai nilai-nilai adat, seperti cara suatu kelompok sosial melakukan prinsip-prinsip konservasi, manajemen, dan eksploitasi sumberdaya alam. Hal ini tampak jelas pada perilaku mereka yang memiliki rasa hormat begitu tinggi terhadap lingkungan alam yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupannya. Kenyataan ini juga masih dapat ditemukan dalam masyarakat Buton yaitu dalam setiap aktivitas mereka harus mendapatkan restu dari pemimpin yang dikenal dengan sebutan parabela, ketika ia sudah dinobatkan sebagai pemimpin adat dan sekaligus sebagai pemimpin spiritual. Seorang pemimpin harus menjadi panutan masyarakat dan hidup seadanya tanpa harus mengejar materi sehingga kesimbangan

hidup dengan alam juga tetap terjaga sebagai sebuah jaringan yang saling membutuhkan. Prinsip hidup ini yang menjadi pedoman dan perilaku hidup masyarakat Buton dan juga di dalamya mengajarkan bahwa masyarakat harus lebih bersahaja dari pada pemimpinnya. Kalau misalnya terjadi gagal panen atau musim paceklik, orang yang pertama merasakan lapar adalah Parabela. Sebaliknya, jika panen berhasil, para wargalah yang harus lebih dahulu dipersilahkan untuk menikmatinya, sedangkan Parabela menikmati belakangan. Kondisi ini membutuhkan adanya komunikasi lingkungan yang bersifat pragmatis dan yang bersifat konstitutif, antara parabela dan masyarakat dalam menjelaskan problem di lapangan agar terjalin pengertian bersama (mutual understanding) dan empati lebih besar karena keduanya saling berdekatan dan rasa saling menghormati bukan karena perbedaaan ekonomi, melainkan masing-masing adalah manusia yang tampak di hadapan mata. Namun perubahan dalam wilayah Kadie dan terjadinya pergeseran posisi para pemimpin tradisional, menyebabkan keberadaan Parabela dalam menjaga kelestarian lingkungan tidak lagi seeksis pada saat belum adanya pemekaran wilayah serta lahirnya UU No.32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup. Seiring dengan perjalanan waktu, sikap hidup yang selama ini di junjung tinggi oleh komunitas Buton tak luput dari gempuran modernisasi. Sejumlah toleransi dan kompromi terhadap masyarakat luar yang modern telah mereka lakukan, interaksi antar komunitas adat dan non adat tak bisa terelakkan lagi. Hal ini terjadi ketika pranata adat istiadat dikerdilkan oleh nasionalisasi struktur pemerintah. Tak satupun wilayah dan komunitas di Tanah Air ini bebas dari relasi dan intervensi kekuasaan pemerintah termasuk masyarakat Buton. Pergeseran keberadaan parabela di

8

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 1 - 10

masyarakat menyebabkan tidak adanya tokoh atau figur yang menjadi panutan di tengah – tengah masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan menjadi bom waktu bagi kawasan hutan di Pulau Buton. Pada masyarakat Buton yang berbasis kearifan lokal di atas, menunjukkan bahwa yang dilakukan parabela adalah komunikasi lingkungan yang bersifat pragmatis dan yang bersifat konstitutif, namun lebih dominan pada yang bersifat pragmatis baik dalam hubungan komunikasi horizontal dengan sang pencipta dan hubungan komunikasi vertikal dengan masyarakat yang tinggal di Kadie yang memiliki kawasan Kaombo. Komunikasi dengan Sang Pencipta dilakukan dalam berbagai upacara adat atau berbagai ritual yang sampai saat ini masih lakukan, yaitu : Tuturangi Lipu Morikana, dan Tuturangina Kalampa. Untuk implementasi komunikasi lingkungan pada masyarakat, parabela tetap menggunakan kedudukannya sebagai pemimpin informal yang memiliki peran sebagai pengambil keputusan dalam penetapan waktu pesta, peran sebagai pemersatu dalam pertanian, peran sebagai tokoh utama dalam pesta adat, dan sebagai mediator dilingkungan masyarakat bila terjadi konflik.

Litlejohn, Stephen W., 1996. Theories of Human Communication. Edisi ke-5. Wadsworth Belmont, California. Mulyana, Dedy. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Raga Sarasin. Pustaka Pelajar. Ygyakarta. _____. 2002. Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar. Remaja Rosda Kaya, Bandung. Rahman,Ruslan. 2005. Parabela di Buton . disertasi. Universitas Hasanuddin. Makassar Rahkmat, Jalaludin. 2002. Metode Penelitian Komunikasi. Remaja Rosda Karya, Bandung. Rogers, Everett, M. 1986. Diffusion of Innovation. Four Edition. The Free Press. A Division of Macmillan Publishing Co. Ine. New York. Rogers dan Shomeaker.1971.Communication of Innovation. The Fress Press. A.Division of Macmillan Publishing Co.Ine.New York. Schoorl.Pim.2003. Masyarakat, sejarah dan Budaya Buton (terjemahan G. Wiayan). Jambatan .Jakarta. Zahari, A.M. 1977. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Berlo, David K. 1960. The Process of Communication : An Introduction to Theory and Practice. United States Of America. Cox, Robert (2006). Environmental Communication and The Public Sphere. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.Curran, James (2002): Media and Power. London: Routledge. DeVito, Joseph A. 1989. The Interpersonal Communication. Harpers and Row Publisher. New York.

M. Najib Husain, Trisakti Haryadi, Sri Peni Wastutiningsih, Implementasi Komunikasi...

9

GLOSARIUM
Akoadati: Tau adat, sopan santun Akosabara: Memiliki sifat sabar, dingin tidak cepat emosi Amembali: Sakti Atobungkale: Memiliki sifat terbuka, keterbukaan Atomaeka: Disegani, Ditakuti Atomasiaka: Disegani Aumane: Bersifat Laki-laki, berani Batata: Mantra atau sumpah, ucapan-ucapan yang mengandung Tuah. Bonto: Perangkat kesultanan yang mengawasi kadie yang berasal dari kaum walaka Kadie: Semacam desa di zaman kesultanan Kaombo: Hutan Lindung Kaomu: Golongan bangsawan Kinia: Perangkat kadie yang betugas menutup berbagai acara adat

La Ode: Gelar bangsawan seorang laki-laki Lalaki: Nama lain dari bangsawan atau kaomu (lihat kaomu) Pande Batata: Perangkat kadie bertugas menyumpah parabela menampung aspirasi masyarakat Pande ngkaole: Perangkat kadie bertugas melantunkan syair-syair keramat Papara: Rakyat kebanyakan, lapisan ke tiga masyarakat Buton Parabela: Pemimpin kadie Pikoela liwu: Ritual pra Islam Rongi: Nama salah satu kadie Tuturangi Lipu Morikana: Ritual pra Islam Tuturangi Kalampa: Ritual pra Islam Walaka: Golongan kedua bangsawan adat Buton Wa Ode: Gelar bangsawan seorang wanita

10

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 1 - 10

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN AL QUR’AN STUDI PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENDIDIKAN AL QUR’AN DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
AMKA
(Kabid PMTPK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, dan Staf Pengajar Pascasarjana Universilatas Lambung Mangkurat, Banjarmasin)

ABSTRACT
The study uses descriptive-qualitative approach. In this case, the data collected through participant observations, depth interviews, and documentation study. Meanwhile, the analysis of the data conducted using h taxonomy and domains. The results of this study show that: (1) The purpose of Quran education in South Kalimantan Province is to strengthen the noble character of the learners. The process of implementation of Quran education policy in South Kalimantan Province is started from the socialization of the policy to all education stakeholders. The implementation of Quran education policy in South Kalimantan Province is accomplished by using the structural and political approach, and (2) Several factors support the successfulness of the implementation of Quran education policy in South Kalimantan Province are: the cost, the commitment of regional head, and the involvement of religious leaders and communities. Meanwhile, the inhibiting factors in the process of policy implementation are the lack of structure and human resources at the operational level, both in quantity and quality, i.e., the principals as low managers are responsible for the implementation of the policy in schools, and teachers of religious subject as the stakeholders’ Quran education. Keywords: Implementation, Quran Education Policy.

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan bagian kebutuhan mendasar manusia dan dianggap sebagai bagian dari proses sosial. Pendidikan adalah bagian dari rekayasa sosial. Seperti halnya bangsa-bangsa di dunia, di Indonesia secara sengaja pendidikan dipilih sebagai strategi sekaligus rumusan dasar membangun kualitas manusia Indonesia yang memiliki keunggulan dan kesadaran dalam membangun kehidupan
11

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini dapat dilihat dalam rumusan pasal 3 Undangundang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Secara normatif pasal tersebut menunjukkan kekuatan ideologis pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia, yang diyakini bahwa kekuatan ideologis tersebut mampu membarakan kesadaran bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.

12

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 11 - 24

Secara eksplisit nampak jelas bahwa keunggulan manusia Indonesia yang dibangun melalui sistem pendidikan nasional adalah manusia Indonesia yang memiliki keunggulan yang seimbang pada dimensi ilmu pengetahuan, teknologi dan ketakwaan. Dengan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan manusia Indonesia akan mampu bersaing secara global untuk membangun kompetensi dan kemandirian bangsa Indonesia. Dengan keunggulan ketaqwaan diharapkan manusia memiliki jati diri sebagai bangsa yang bersumber pada kekuatan budi pekerti, moralitas dan spiritualitas sebagai bangsa yang besar yang berakhlakul karimah. Keseimbangan dua dimensi ini dijadikan sebagai landasan filosofisideologis kebijakan pendidikan di Indonesia. Dalam implementasinya keseimbangan tersebut dilaksanakan melalui kebijakan penataan kurikulum pendidikan dan usaha-usaha pencapaian tujuan pendidikan pada tingat sekolah dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Namun dalam realitasnya, keseimbangan dua dimensi ini mengalami distorsi yang cenderung mengedepankan satu dimensi saja, yakni pada keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini tercermin dengan program dan kurikulum pendidikan yang lebih menekankan pada keunggulan siswa pada aspek kognitif untuk menjadi lulusan yang siap kerja. Bahkan ada kecenderungan bahwa dalam implementasinya paradigma mutu pendidikan di Indonesia lebih cenderung bergerser ke arah materialistik-kapitalistik-sekuler. Oleh sebab itu, tidak heran jika dalam keberhasilan pendidikan di Indonesia senantiasa disertai dengan munculnya fenomena yeng mencerminkan adanya kemerosotan nilai-nilai moral-spiritual. Wajah pendidikan Indonesia lebih nampak menghasilkan lulusan yang tidak memiliki kesadaran kritis untuk menjadi manusia yang memiliki keluhuran budi pekerti, kekuatan

akhlakul karimah, dan kemandirian moral. Pendek kata, keberhasilan pendidikan saat ini tidak mampu membangun jati diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia sebagaimana yang dikehendaki dalam rumusan pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Selama ini merosotnya kualitas pendidikan nasional hanya terfokus pada persoalan untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bersaing di era pasar global, sehingga yang disorot hanyalah dari hasil kelulusan (output) belaka. Sementara penanaman moral dan pencapaian tujuan pendidikan nasional untuk mampu mencetak generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual menjadi terlupakan. Disinilah perlu adanya pembenahan dalam pembentukan moralitas pendidikan yang secara praksisnya termuat secara tersembunyi di dalam kurikulum (hidden curriculum) sebagai wujud pendidiksan karakter peserta didik. Kegagalan implementasi kebijakan pendidikan di Indonesia menurut beberapa temuan para ahli, selain disebabkan oleh distorsi atas makna kebijakan, juga disebabkan oleh faktor rumusan kebijakan yang multi tafsir sehingga objektivitas (tujuan konkritnya) mengaburkan makna tujuan pendidikan itu sendiri. Juga faktor personil kebijakan dan faktor sistem organisasi pelaksana turut serta menjadi sumber kegagalan dalam implementasi kebijakan pendidikan. Mencermati problematika pendidikan di Indonesia tersebut di atas, sangat penting dan mendesak untuk merumuskan kebijakan pendidikan yang mampu mengembalikan tujuan dan fungsi pendidikan di Indonesia sebagaimana yang dikehendaki oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. Beranjak dari fenomena di atas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sangat menyadari dan berkeinginan bagaimana membangun pendidikan nasional yang mampu

Amka, Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an Di Provinsi Kalimantan Selatan

13

melahirkan kembali para peserta didik yang memiliki kesadaran kritis, berkepribadian dan pemikir besar bangsa Indonesia. Setelah menetapkan kebijakan pendidikan karakter dalam proses politik dengan melibatkan seluruh stakeholders, yakni berupa Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan. Saat Perda tersebut trengah diimplementasikan dengan diperkuat Peraturan Gubernur Kaliman Selatan Nomor 038 Tahun 2010 tentang Petunjuk Perlaksanaan Perda Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Qur’an di Kalimantan Selatan. sesuai dengan kandungan nilai-nilai ideologis pendidikan. Kebijakan tersebut terumuskan dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan, dan diharapkan kebijakan tersebut menjadi mutu pendidikan karakter di Kalimantan Selatan. Bertitik tolak dari akar permasalahan tersebut di atas, maka sangat penting untuk dilakukan penelitian tentang pendidikan al Qur’an sebagai basis pendidikan akhlak mulia di Provinsi Kalimantan Selatan, dengan rumusan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimanakah implementasi Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 untuk meningkatkan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan ? 2. Faktor-faktor apakah yang mendukung dan menghambat implementasi Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 untuk meningkatkan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan ?

KERANGKA TEORI
Pendidikan Karakter sebagai Instrumen Pembangunan Manusia Pendidikan merupakan instrumen

pembangunan manusia menurut Paulo Freire (2000:5) kegiatan pendidikan merupakan kegiatan memahami makna atas realitas yang dipelajari. Kegiatan tersebut menuntut sikap kritis (critical attitude) dari para pelaku, yakni peserta didik dan pendidik. Dengan bantuan pembimbingan dan pendampingan oleh pendidik, peserta didik dituntut secara kreatif dan aktif memehami makna dari realitas dunia untuk perbaikan kehidupannya dan peradaban manusia. Dalam konteks Indonesia pendidikan sebagai pembangunan manusia terumuskan melalui Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah “Pendidikan nasional berupaya mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Menurut Lictona (1991) tujuan pendidikan dan pembelajaran nilai dan watak adalah “watak baik” yakni hidup dengan perilaku yang benar dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia, alam lingkungan, dan dengan diri sendiri. Character consist of operative value, value in action. Pada pembelajaran nilai dan karakter terdapat tiga sisi yang perlu secara bersama-sama dan proporsional dikembangkan, yaitu: (1) pengetahuan moral (moral knowing) yakni pengetahuan/wawasan tentang baik-buruk, halal-haram, layak-tidak layak, sahtidak sah; (2) perasaan moral (moral feeling)— seperti empati, rasa sayang, cinta, dengan cara

14

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 11 - 24

merasakan kehidupan dalam suasana yang bermoral; dan (3) tindakan moral (moral action). Watak baik itu ditentukan oleh knowing the good, desiring the good, dan doing the good yakni kebiasaan: berpikir positif, berprasangka baik, dan berbuat baik (http://www.labschoolunj.sch.id/smajkt/publikasi.php?action =artikel&id =997, tanggal 23 Pebruari 2010). Wujud dari karakter adalah kepribadian atau personality yang telah memiliki internalisasi nilai, moral, dan spiritual. Oleh karena kepribadian merupakan salah satu bentuk dari sifat manusia yang bisa berubah-ubah, maka penempaan kualitas kepribadian dilakukan melalui proses pendidikan. Dan salah satu tujuan pendidikan adalah untuk melahirkan manusia yang memiliki kepribadian yang baik. Oleh karena itu, reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Reformasi kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan berkeadaban, sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang bersatu padu (integrated). Di samping itu, peran pendidikan nasional dengan berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh, membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki keadaban (civility) kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta berpartisipasi aktif, merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu masyarakat madani Indonesia. Santoso (1981:33) mengemukakan bahwa tujuan tiap pendidikan yang murni adalah menyusun harga diri yang kukuh-kuat dalam jiwa pelajar, supaya mereka kelak dapat bertahan dalam masyarakat. Di bagian lain, Santoso (1979:iii) juga mengemukakan bahwa pendidik bertugas mengembangkan potensi individu

semaksimal mungkin dalam batas-batas kemampuannnya, sehingga terbentuk manusia yang pandai (pintar), terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, serta mempunyai kehormatan diri dan akhlak yang baik. Dengan demikian, pembinaan watak atau pembentukan karakter merupakan tugas utama pendidikan dengan membuat dan mengimplementasikan kebijakan pendidikan karakter. Implementasi Kebijakan Pendidikan Secara teoritik, suatu kebijakan pendidikan dirumuskan dengan mendasarkan diri pada landasan pemikiran yang lebih ilmiah empirik. Kajian ini menggunakan pola pendekatan yang beragam sesuai dengan faham teori yang dianut oleh masing-masing penentu kebijakan. Dalam kajian ini, paling tidak ada dua pendekatan yang dapat direkomendasikan kepada para penentu/berwenang dalam merumuskan suatu kebijakan pendidikan. Dua pendekatan dalam perumusan kebijakan pendidikan tersebut adalah: (1) Social Demand Approach, dan (2) Man-Power Approach (Rohman, 2009-a:114). Secara teoretik, implementasi oleh sebagian ahli diartikan sebagai to provide the means for carying out atau to give practical effect to. Sehingga pengertian di atas mengandung arti bahwa implementasi kebijakan pendidikan sebagai proses menjalankan keputusan kebijakan pendidikan. Wujud dari keputusan kebijakan ini biasanya berupa undang-undang, instruksi presiden, peraturan pemerintah, keputusan pengadilan, peraturan menteri, dan sebagainya (Wahab, 1997:64). Implementasi kebijakan menurut Van Meter dan Van Horn dimaksudkan sebagai keseluruhan tindakan yang dilakukan oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok pemerintahan atau swasta yang diarahkan kepada pencapaian tujuan kebijakan

Amka, Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an Di Provinsi Kalimantan Selatan

15

yang telah ditentukan terlebih dahulu (Van Meter dan Van Horn, dalam Wahab, 1997:65). Girindle menambahkan bahwa proses implementasi mencakup tugas-tugas membentuk suatu ikatan yang memungkinkan arah suatu kebijakan dapat direalisasikan sebagai hasil dari aktivitas pemerintah (Girindle, 1980:6). Seperti tugas-tugas dalam hal mengarahkan sasaran atau obyek, penggunaan dana, ketepatan waktu, memanfaatkan organisasi pelaksana, partisipasi masyarakat, kesesuaian program dengan tujuan kebijakan, dan lain-lain. Dalam menganalisis masalah implementasi kebijakan menurut Jones (1996:296) seharus-nya didasarkan pada konsepsi aktifitas-aktifitas fungsional. Menurutnya, implementasi adalah suatu aktifitas yang dimaksudkan untuk mengoperasikan sebuah program atau kebijakan. Setidaknya ada 3 (tiga) pilar aktifitas dalam mengoperasikan program tersebut, yakni: (1) pengorganisasian, berupa pembentukan atau penataan kembali sumberdaya, unit-unit serta metode untuk menjalankan program atau kebijakan agar bisa berjalan; (2) interpretasi, yaitu aktifitas menafsirkan agar program menjadi rencana dan pengarahan yang tepat dan dapat diterima serta dilaksanakan; (3) aplikasi, berhubungan dengan perlengkapan rutin bagi pelayanan, pembayaran, atau lainnya yang disesuaikan dengan tujuan atau perlengkapan program. Dari beberapa paparan di atas nampak bahwa proses implementasi kebijakan (pendidikan) merupakan proses yang tidak hanya menyangkut perilaku-perilaku badan adminsitratif pemerintah yang bertangung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan ketaatan kepada kelompok sasaran (target groups), melainkan juga menyangkut faktorfaktor hukum, politik, ekonomi, sosial yang langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku dari berbagai pihak yang terlibat dalam program atau kebijakan.

Implementasi kebijakan pendidikan sebenarnya tidak menjadi monopoli birokrasi pendidikan yang secara hirarkis dilakukan dari paling atas kantor Kementrian Pendidikan Nasional sampai dengan paling bawah yaitu ranting Dinas Pendidikan dan Pengajaran. Dalam implementasi kebijakan pendidikan, baik pemerintah, masyarakat serta sekolah idealnya secara bersama dan saling bahu membahu dalam bekerja dan melaksanakan tugas-tugasnya demi suksesnya implementasi kebijakan pendidikan. Beberapa ahli ilmu sosial menyebutkan ada empat pendekatan dalam proses implementasi kebijakan umumnya dan kebijakan pendidikan khususnya sebagaimana telah diungkapkan Wahab (1997:110-120) yaitu: (1) pendekatan struktural, (2) pendekatan prosedural dan manajerial, (3) pendekatan perilaku, dan (4) pendekatan politik. Pada tahap implementasi ini, perlu kiranya dianalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses kegagalan dan keberhasilan implementasi kebijakan. Dan cara meminimalkan kegagalan dan memaksimalkan keberhasilan dalam proses implementasi. Menurut Rohman (2009-a:148-149) ada tiga faktor penyebab kegagalan, yakni: (a) faktor yang terletak pada rumusan kebijakan; (b) faktor yang ter-letak pada personil pelaksana; dan (c) faktor yang terletak pada sistem organisasi pelaksana. Dari perspektif lain, Edward III (1980:148) telah mengidentifikasi setidaknya terdapat 4 (empat) faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan, yaitu : (1) komunikasi (communication), (2) struktur birokrasi (bureaucratic structure), (3) sumberdaya (resources), dan (4) disposisi (disposition) (Edward III, 1980:148). Sedangkan Peters (1986:60-72) mengatakan, implementasi kebijakan yang gagal disebabkan beberapa faktor; informasi, isi kebijakan, dukungan sarana dan prasarana, dan pembagian potensi.

16

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 11 - 24

Beranjak dari kerangka teori tersebut di atas, maka konseptualisasi penelitian ini dideskripsi-kan dalam gambar di bawah ini.

Gambar 1

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif sebagaimana yang dikemukakan oleh Moleong (2000:55). Setting penelitian ini dilakukan di Provinsi Kalimantan Selatan karena didasarkan pada beberapa pertimbangan kondisi riil dan potensi pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan. Sejumlah stakeholders pendidikan dan institusi pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan dijadikan subjek penelitian, baik pada policy level atau level pembuatan kebijakan, organizational level atau implementor ataupun operational level atau implementor kebijakan di level teknis. Sedangkan dari stakeholders pendidikan adalah para akademisi, tokoh

masyarakat, tokoh agama, budayawan, dan penggiat LSM pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan selaku yang menjadi mitra para implementor kebijakan pendidikan al Qur’an. Pengumpulan data untuk membentuk teori dilakukan pengamatan, wawancara dan penelusuran dokumen. Pada proses pengumpulan data, pendekatan manusia sebagai instrumen utama dalam penelitian. Analisis data dilakukan selama maupun sesudah kegiatan lapangan, artinya selama peneliti berada di lapangan tidak hanya mengumpulkan data, tetapi berikut melakukan klasifikasi data, mengolah dan menulis laporan sementara penelitian. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid analisis data dilakukan setelah pencarian data di lapangan dianggap cukup.

Amka, Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an Di Provinsi Kalimantan Selatan

17

Untuk mempertajam analisis dilakukan telaah ulang hasil analisis data dengan memperdalam wawancara terhadap informan kunci hingga dapat ditarik kesimpulan terhadap makna-makna intersubyektif yang sulit dimaknakan sendiri oleh peneliti. Selain itu, hal ini juga akan melibatkan subyek penelitian pada proses penelitian secara maksimal, sehingga hasil penelitian lebih terjamin keterandalannya, dan juga dapat menjaga subyektivitas peneliti ke dalam proses penelitian (Bungin, 2003:178). Untuk melakukan pengujian keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan triangulasi. Teknik ini dilakukan dengan mencari sumber lain yang berhubungan dengan fokus penelitian ini. Mengacu pada pendapat Denzin dan Licoln (1998:47) dalam proses triangulasi ini peneliti tidak menggunakan keempat langkah pengujian keabsahan data, akan tetapi lebih terfokus pada triangulasi terhadap sumber atau informan penelitian. Yakni, peneliti meminta kepada para informan untuk membaca dan menelaah kembali analisis data hasil penelitian. Dengan demikian informan sebagai sumber data telah memberikan koreksi secara langsung terhadap analisis dan penafsiran data yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para informan.

berkelompok. Meskipun masing-masing suku masih menggunakan bahasa aslinya, untuk keperluan sehari-hari mereka memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Konsep dan Tujuan Kebijakan Pendidikan Al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan Dalam konteks regulasi pendidikan karakter adalah amanat dari UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Pada pasal 3 disebutkan: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pada pasal ini 5 dari 8 potensi peserta didik yang ingin dikembangkan lebih dekat dengan karakter manusia. Menyadari akan pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian integral untuk membangun keunggulan siswa, maka Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah membuat kebijakan pendidikan berbasis karakter dengan telah disyahkannya Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pendidikan Al Qur’an . Al Qur’an adalah sumber nilai dan ajaran kebaikan dan kebenaran yang bersifat universal, karenanya Al Qur’an diperuntukan sebagai petunjuk dan pedoman kehidupan bagi seluruh umat manusia. Ajaran dan nilai-nilai Al- Qur’an ini telah terjawantah dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kalimantan Selatan. Oleh sebab itu, menurut Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan, H. Rudy Ariffin, kebijakan Pendidikan Al Qur’an adalah dimaksudkan

HASIL PENELITIAN
Secara administratif wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Kota Banjarmasin sebagai ibukotanya, meliputi 11 kabupaten dan 2 kota. Mayoritas penduduk Kalimantan Selatan adalah suku Banjar. Selain itu juga terdapat suku dayak, terutama di daerah pedalaman Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Barito Kuala. Suku Bugis banyak tinggal di Kabupaten Kotabaru. Selain itu, banyak pula suku Jawa dan Madura yang tinggal di Banjarmasin atau di daerah proyek-proyek transmigrasi secara

18

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 11 - 24

untuk mendidik anak-anak Kalsel sejak dini agar menjadi generasi yang Qur’ani, yakni generasi yang memiliki karakter, cerdas dan Islami, hingga ke depannya anak-anak tidak ada lagi yang buta huruf al Qur’an, sebagai sumber nilai kepribadian dan karakter manusia (Wawancara tanggal, 20 Februari 2010). Secara umum tujuan kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan adalah untuk memperkuat keseimbangan pendidikan karakter, yakni pendidikan akhlakul karimah dan kapabilitas keilmuan melalui penguatan akhlak mulia peserta didik. Keseimbangan antara pembentukan akhlakul karimah sebagai karakter peserta didik dan kapabilitas anak didik merupakan kebijakan standart mutu pendidikan sebagaimana yang diharapkan pada Pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Setiap anak didik mempunyai potensi untuk dikembangkan karakter positifnya sehingga mampu memberikan kontribusi yang baik juga untuk masyarakatnya. Setiap anak didik, siapa pun dia, apa pun latar belakang yang membuatnya ada dan terlahir di dunia ini, berhak untuk dibantu mengembangkan karakter positifnya oleh orang-orang dewasa yang ada di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat di mana dia berada. Konsep keseimbangan mutu pendidikan berbasis karakter yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sesungguhnya memiliki asas legalitas yakni Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, pada Bab II Pasal 3 tentang tujuan pendidikan nasional, yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Tujuan Pendidikan Nasional

Gambar 2 Sumber : Hasil Telaah Penelitian, 2010.

Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan Proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan sudah berjalan dalam bentuk sosialisasi kebijakan kepada seluruh stakeholders pendidikan. Sosialisasi ini dimaksudkan agar seluruh stakeholders pendidikan memahami secara benar terhadap isi kebijakan. Berbagai sarana dan kegiatan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kalimantan Selatan untuk melakukan sosialisasi kebijakan pendidikan al Qur’an ini, baik melalui rapat koordinasi, forum ilmiah, maupun media informasi dan komunikasi. Sosialisasi juga dilakukan melalui majalah atau buletin yang secara resmi diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan secara rutin dan reguler setiap tiga (3) bulan sekali. Pada majalah ini selain dimuat secara lengkap Perda Nomor 3 Tahun 2009 sebagai

Amka, Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an Di Provinsi Kalimantan Selatan

19

landasan formil kebijakan pendidikan karakter di Provinsi Kalimantan Selatan, juga telah dimuat pula visi dan misi Gubernur yang terkait dengan kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan. Bahkan pada edisi Triwulan II T (April-Juni) tahun 2009 dimuat dan dibahas secara khusus tentang Perda Nomor 3 Tahun 2009. Pendekatan implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan struktural (structural approach). Seperti yang dikatakan oleh Wahab (1997: 117) bahwa structural approach menekankan suatu kebijakan diimplementasikan, dikendalikan, dan dievaluasi secara struktural. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya komando dan pengawasan menurut tahapan atau tingkatan dalam struktur masing-masing organisasi, dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan pendekatan struktural ini dilaksanakan melalui kekuatan birokrasi pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota. Meskipun secara struktural birokrasi Dinas Pendidikan Provinsi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tidak lagi memiliki garis vertikal atau hubungan instruksional sebagaimana model birokrasi di masa Pemerintahan Orde Baru. Namun model birokrasi ini tidak menjadi suatu halangan dalam proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan. Selain pendekatan struktural, implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan juga dilaksanakan dengan pendekatan politik. Menurut Wahab (1997:117-119) pendekatan politik juga sangat penting dalam proses implementasi. Pendekatan politik adalah dimaksudkan agar suatu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah

mendapatkan dukungan dan pengawasan dari legislator. Wahab (1997:119) melihat bahwa pelaksanaan kebijakan tidak mungkin hanya dilakukan dengan komunikasi interpesonal akan tetapi komunikasi politik secara formal dengan berbagai kekuatan politik di legislatif sangat penting untuk dilakukan secara intens untuk mencapai tujuan kebijakan. Setelah tahap sosialisasi yang sudah dilaksanakan semenjak Perda Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 3 Tahun 2009 maka tahap berikutnya adalah melaksanakan program penguatan sumber daya manusia dan penyediaan sarana, penyusunan rencana program pembelajaran (RPP), silabus, dan kurikulum dan penyediaan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan, serta pelaksanaan program ekstrakurikuler siswa SLTA dalam bentuk kegiatan pengembangan akhlak mulia, pekan IMTAQ, dan pasantren ramadahan bagi siswa SLTA tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Sasaran program penguatan sumber daya manusia adalah para guru agama baik di sekolah negeri maupun swasta yang secara langsung memangku mata pelajaran pendidikan al Qur’an. Program penguatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan guru agama dalam proses pembelajaran dan penanaman karakter siswa melalui pelajaran agama, khususnya Al Qur’an memalui Pendidikan dan Latihan Training of Trainer (Diklat TOT). Karena memang realitas di lapangan masih banyak ditemukan guru agama yang masih konvensional dalam metode pembelajaran. Jumlah guru yang mengikuti TOT ini masih jauh dari kebutuhan. Dari studi dokumentasi jumlah guru pendidikan al Qur’an sebanyak 4053 sedangkan yang telah mengikuti TOT sebanyak 611 atau sekitar 15%. Dari studi dokumentasi juga telah ditemukan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, yakni Dinas Pendidikan

20

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 11 - 24

Provinsi Kalimantan Selatan telah membentuk Tim Penyusun Kurikulum (TPK) yang diketuai oleh Drs. Ngadimin Saleh, M.Si. TPK yang dibentuk ini beranggotakan pengawas sekolah, akademisi, guru, dan pejabat eselon IV dan staf bagian perencanaan dan program pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan. Saat ini TPK telah berhasil menyusunan RPP, Silabus, dan Kurikulum Pendidikan al Qur’an. Mulai dari pendidikan di tingkat dasar dan lanjutan. Selain itu TPK juga tengah menggodok pedoman monitoring dan evaluasi pelaksanaan pendidikan al Qur’an di Kalimantan Selatan. Program lainnya, yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an adalah penyediaan sarana dan prasarana pendidikan karakter. Dari observasi dan studi dokumentasi memperlihatkan bahwa penyediaan sarana pendidikan al Qur’an yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan adalah bantuan untuk renovasi (perbaikan) dan pembangunan musholah di sekolah negeri maupun swasta. Selain itu, juga penyediaan sarana pembelajaran pendidikan al Qur’an seperti pengadaan al Qur’an , pengadaan buku pendidikan al Qur’an dan keagamaan, serta pengadaan buku silabus, RPP, dan Kurikulum yang dibagikan kepada sekolah-sekolah. Salah satu isu penting dalam kajian implementasi kebijakan adalah peranan pemimpin birokrasi sebagai implementor kebijakan baik pada organizational level maupun operational level. Dalam konteks implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan, yang dimaksudkan dengan implementor kebijakan adalah Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan, Kepala Dinas Pendidikan, Pejabat Eselon V dan Eselon IV pada Dinas Prendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota, dan

Kepala Sekolah. Peranan implementor dalam membuat perubahan pada birokrasi yang dipimpinnya dalam mengimplementasikan kebijakan dari hasil penemuan pada penelitian memiliki peran yang cukup efektif. Para implementor telah melaksanakan fungsinya sebagai: (a) management engineer, yakni mampu menerapkan teknik-teknik perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengawasan dalam tahapan implementasi, (b) communicator, yakni mampu menerapkan teknik motivasi dan komunikasi antar personal, serta pendekatan yang humanist dalam membangun moral kerja guru yang tinggi, (c) clinical practitioner, yakni mampu mendiagnosis masalah-masalah dalam proses implementasi kebijakan, (d) high priest, yakni mampu mengartikulasikan visi dan misi kebijakan, dan (e) memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan kebijakan pendidikan karakter di Provinsi Kalimantan Selatan. Faktor penghambat dan Pendukung Dalam Implementasi Kebijakan Pendidikan al qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan Hoqwood dan Gunn (Rohman, 2009a:83) bahwa adanya komunikasi dan koordinasi yang sempurna sangat menentukan proses implementasi kebijakan. Komunikasi dan koordinasi yang buruk akan menjadi hambatan yang serius dalam proses pelaksanaan kebijakan, bahkan akan berpengaruh terhadap kegagalan pencapaian tujuan kebijakan. Pendekatan struktural dengan pola organisasi Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan yang secara birokratis memiliki beberapa keterbatasan struktur dan sumber daya manusia (personil) menjadi faktor penghambat dalam proses implementasi kebijakan. Kemampuan sumber daya manusia

Amka, Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an Di Provinsi Kalimantan Selatan

21

sangat menentukan keberhasilan implementasi kebijakan. Menurut Daniel Mazmanian dan Paul A. Sabatier (Wahab, 1997:81) sumberdaya manusia yang handal akan mampu mengindentifikasi dan menganalisis variable-variabel yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan kebijakan dalam proses implementasi. Sumber daya manusia yang terkait dengan proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Kalimantan Selatan adalah para implementor atau personil pelaksana kebijakan yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan piranti implementasi kebijakan secara kuantitas dan kualitas masih belum sesuai dengan kebutuhan personil dalam melaksanbakan kebijakan. Jumlah guru agama ini sangat tidak sebanding dengan jumlah sasaran kebijakan juga menjadi faktor hambatan dalam proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an. Keterbatasan sumber daya manusia ini tidak saja dari segi kuantitas kebutuhan guru, tetapi juga dari kualitas, kemampuan guru dalam pembelajaran. Beberapa faktor yang mendukung proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan antara lain; dukungan biaya, komitmen kepala daerah, dan keterlibatan para tokoh agama dan masyarakat. Sebenarnya dengan pendekatan struktural sebagai salah satu pendekatan yang bersifat topdown yang dikenal dalam teori-teori organisasi modern sebagaimana yang dikatakan oleh Wahab (2009:21), kenyataannya proses implementasi kebijakan pendidikan karakter telah mendapatkan dukungan masyarakat, baik dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh LSM, maupun para akademisi. Dalam proses implementasi kebijakan biaya dan sarana-prasarana merupakan faktor penting. Peters (1986:60-72) dan Edward III (1980:148) mengatakan, implementasi

kebijakan yang gagal disebabkan beberapa faktor antara lain ketiadaan atau kurangnya ketersediaan biaya dan sarana-prasarana. Artinya, dukungan biaya, sarana dan prasarana merupakan salah kunci faktor keberhasilan implementasi kebijakan. Dalam implementasi kebijakan pendidikan di Provinsi Kalimantan Selatan dukungan anggaran biaya dan ketersediaan sarana dan prasarana sudah lebih dari memadai. Pada tahun 2010, untuk melaksanakan pendidikan karakter di Provinsi Kalimantan Selatan telah disetujui oleh legislator anggaran biaya sebesar 4 milyar lebih. Anggaran beaya ini dimaksudkan untuk kebutuhan honorarirum guru dan pembenahan ataupun pengadaan sarana dan prasarana pendidikan dan pembelajaran. Komitmen Gubernur sebagai Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan terhadap implementasi kebijakan pendidikan karakter ditunjukkan dengan telah diterbitkannya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 038 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Nomor 3 Tahun 2009. Pergub ini secara teknis sebagai pedoman strategis, pedoman teknis, dan pedoman operasional bagi Pemerintah Kabupaten/Kota untuk melaksanakan kebijakan pendidikan karakter di wilayah kerjanya masing-masing. Komunikasi dan koordinasi (Edward III, 1980:148) juga menjadi bagian penting mendukung proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an. Memperhatikan beberapa faktor yang mendukung keberhasilan implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Kalimantan Selatan secara teoretis Menurut Korten (1988) dapat dikatakan merupakan bentuk model kesesuaian implementasi dengan kebutuhan dan program pendidikan karakter. Tanpa mengurangi kredibilitas model proses implementasi kebijakan dari Van Meter dan Van Horn terlihat bahwa elemen yang menentukan

22

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 11 - 24

keberhasilan penerapannya termasuk ke dalam elemen model proses politik dan administrasi menurut Grindle (1980). Kata kunci yakni perubahan, kontrol dan kepatuhan termasuk dalam dimensi isi kebijakan dan konteks implementasi kebijakan.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Berdasarkan pemaparan data dan Pembahasan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan struktural (structural approach) dan pendekatan politik. Pendekatan struktural dilakukan memalui kekuatan birokrasi pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota. Sedangkan pendekatan politik dimaksudkan agar suatu kebijakan pendidikan al Qur ’an mendapatkan dukungan dari legislator. Dalam proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan, implementor memiliki peran penting baik pada organizational level maupun operational level. Selain itu, manajemen sekolah dan guru juga memiliki peran, fungsi, dan tugas pokok yang penting untuk melaksanakan kebijakan pendidikan al Qur’an sesuai dengan isi Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 3 Tahun 2009. 2. Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan antara lain; (1) dukungan biaya, (2) komitmen kepala daerah dan legislatif, (3) penyediaan sumber-sumber yang cukup memadai, (4)

informasi dan komunikasi guna sosialisasi, koordinasi, pengendalian, pengawasan, (5) dan evaluasi; (6) peran implementor pada level organizational maupun level operational; dan (7) keterlibatan para tokoh agama (ulama), tokoh masyarakat, praktisi pendidikan, dan akademisi. Sedangkan faktor penghambat dalam proses implementasi kebijakan adalah keterbatasan struktur dan sumber daya manusia pada level operasional (operational level) baik secara kuantitas maupun kualitas, yakni kepala sekolah sebagai low manajer yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kebijakan di sekolah, dan guru agama sebagai pemangku pendidikan al Qur’an. Implikasi Hasil Penelitian Dalam perspektif implementasi kebijakan hasil penelitian ini memperkuat teori “the topdown approach” yang dikemukanakan oleh Brian W. Hoqwood dan Lewis A. Gunn (Rohman, 2009-a:84). Teori the top-down approach merupakan teori yang digagas untuk menciptakan perfect implementation, yakni melaksanakan suatu kebijakan secara sempurna dalam upaya memperkuat keseimbangan pendidikan karakter dan kapabilitas keilmuan melalui penguatan akhlak mulia peserta didik. Dilihat dari perspektif faktor yang mendukung keberhasilan dan menghambat proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an di Kalimantan Selatan, maka hasil penelitian ini memperkuat teori yang dikemukakan oleh Rohman (2009-a:148-149) tentang sumber kegagalan dan keberhasilan implementasi kebijakan. Juga memperkuat temuan Nakamura (dalam Silalahi, 1989:154), dan temuan (Edward III, 1980:148) faktor

Amka, Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an Di Provinsi Kalimantan Selatan

23

dominan dalam implementasi kebijakan, serta Peters (1986: 60-72) tentang faktor kegagalan implementasi kebijakan. Secara praktis hasil penelitian ini memberikan kritik terhadap kebijakan pendidikan karakter inklusif yang dikembangkan oleh Ratna Megawangi. Akan tetapi mensintesiskan model kebijakan pendidikan karakter yang dikemukakan Lictona (1997). Sesuai dengan pemaparan implikasi hasil penelitian maka beberapa proposisi utama dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an dapat dilakukan melalui pendekatan struktural dan politik untuk menciptakan perfect implementation dan kapabilitas keilmuan melalui penguatan akhlak mulia peserta didik. 2. Proses implementasi kebijakan pendidikan al Qur’an ditentukan oleh variabel-variabel penting sebagai faktor pendukung implementasi kebijakan antara lain; wewenang kekuasaan, sumber biaya yang cukup tersedia, dukungan politik legislator, struktur birokrasi, kemampuan implementor di level organisasi dan level operasional, serta partisipasi tokoh kunci pendidikan dan masyarakat.

Implementation in the Third World”, Princeton Univercity Press. Jones, Charles O.1996, “Pengantar Kebijakan Publik”, Jakarta : Raja Grafindo. Lictona, Thomas, 1991, http://www.labschoolunj.sch.id/smajkt/publikasi.php? action=artikel&id =997, tanggal 23 Pebruari 2010. ————————, 1997, Educating for Character, New York: Bantam Books. Lindblom, Charles, 1968, “The Policy Making Process”, Englewood Cliffs Nj : Prentice Hall. Mazmanian, Daniel A. and Sabatier, Paul A, 1983, Implementation and Puiblic Policy, Scott Foresman and Company, London. Megawangi, Ratna, 2004, Pendidikan Karakter : Solusi Tepat Untuk Membangun Indonesia, Jakarta : Indonsia Heritage Foundation Megawangi, et al., Ratna., 2004 “Pendidikan Holistik: Untuk Membangun Manusia yang Lifelong Learners”, Indonesia Heritage Foundation Moleong, Lexy, J, 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya. Peters, B. Guy, 1986, Ameriacn Public Policy : Promise and Performance, Chatham : NJ Chatham House Perda Nomor 3/2009 tentang Pendidikan Al Qur’an, Biro Humas Setda Provinsi Kalimantan Seltan, edisi Jum‘at, 16 Oktober 2009 Ratnawati, P., 2004, “Mengukur Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Pendidikan”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi 43, http:// www.depdiknas.go.id/Jurnal/43/pratnawati.htm, 5 Juli 2008.

DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan, 2003, Analisis Data Penelitian Kualitatif, RajaGrafindo Persada, Jakarta. Denzin, N.K., & Lincoln, Yvonna S., (ed), 1998, Strategies of Qualitative Inquiry, New Delhi : Sage Publivations Edward III, George C (edited), 1984, Public Policy Implementing, Jai Press Inc, London-England. Grindle, M., 1980, “Politics and Policy

24

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 11 - 24

Rohamn, Arief, 2009-a, Politik Ideologi Pendidikan, Yogjakarta : Laksbang Mediatama ———————, 2009-b, Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan, Yogjakarta : Laksbang Mediatama Santoso, Slamet Imam, 1981, Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan, Jakarta : UI Pers

Suryadi, Ace dan Tilaar, HAR, 1994, “Analisis Kebijakan Pendidikan: Suatu Pengantar”, Bandung: Rosda Karya. Wahab, Solichin Abdul, 1997, “Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara”, Jakarta: Bumi Aksara. Wahab, Solichin Abdul, 2009, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Malang: UMM Press

KEBIJAKAN MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) DI KOTA BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN
Ngadimun
(Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan)

ABSTRACT
This study used a qualitative approach and the results describe; effectiveness of policy implementation in the city of Banjarmasin MPMBS achieved in accordance with the objectives of the policy MPMBS improve the quality of education by making changes to the educational management from the old pattern toward the pattern of MBS. Effectiveness is achieved because the policy MPMBS interpreted positively, then do MPMBS policy socialization through various media, and the availability of supporting resources policy. Factors that support the effectiveness of policy implementation in the city of Banjarmasin MPMBS among others: (a) has been implemented in earnest owned school autonomy, (b) community participation, (c) a democratic school leadership; transparency and accountability, (d) a conducive school environment, and (e) budgetary support from government and society. While inhibiting factors in the process of policy implementation in the city of Banjarmasin MPMBS among others: (a) the low quality of teachers according to minimum standards of education services, (b) the limitations of learning resources and learning media, and (c) bureaucratic obstacles in the management of school finances. MPMBS effective model is a management model that gives greater autonomy to schools and encourage community participation and community schools to improve the independence and quality of schools. Keywords : School-Based Quality Improvement Management

PENDAHULUAN
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan
25

nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah,

26

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 25 - 38

terutama di kota-kota, menunjukan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan. Berdasarkan kenyataan-kenyataan ini, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Kebijakan manajemen berbasis sekolah ini merupakan salah satu kebijakan nasional dan kebijakan daerah dalam penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan, sebagai upaya perbaikan penyelenggaraan pendidikan adalah perbaikan manajemen yaitu manajemen peningkatan mutu yang berbasis pada pemerintah pusat, menjadi kebijakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). MPMBS telah banyak diterapkan di sekolah, bukan hanya di negara maju, tetapi juga telah menyebar di negara-negara sedang berkembang. Penerapan MPMBS telah banyak menjanjikan untuk peningkatan mutu pendidikan. Penerapan MPMBS akan berhasil jika diberikan prakondisi dengan membangun kapasitas dan komitmen sekolah, termasuk semua pemangku kepentingan, yang memiliki tanggung jawab bersama terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan. Keberhasilan sekolah dalam menerapkan MPMBS amat dipengaruhi oleh kepedulian pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong dan memberikan kesempatan sekolah menerapkan MBS di sekolah. Pilihan MPMBS sebagai kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan di berbagai negara karena keunggulan MPMBS sebagai manajemen modern dalam mengelola pendidikan. Dimmock (1993) dan Caldwell (1994) menemukan bahwa MBS memiliki lima keunggulan antara lain; memungkinan guru dan orangtua siswa dapat mengambil keputusan

tentang pendidikan dengan cara-cara yang lebih demokratis; lebih relevan; tidak birokratis; lebih memiliki akuntabilitas; dan dapat memobilisasi sumberdaya secara lebih besar. Dalin (1994), Carron dan Chau (1996) menemukan dalam penelitiannya bahwa kualitas pendidikan lebih ditentukan oleh cara sekolah mengelola sumberdaya ketimbang oleh ketersediaan sumber dayanya sendiri dan hal sangat dimungkinkan dipenuhi dengan keunggulan MBS yang disampaikan Dimmock dan Caldwell di atas. Sumber daya yang ada di sekolah boleh jadi akan menjadi mala petaka bagi semua pihak jika kepala sekolah tidak dapat mengelolanya secara transparan. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah kemampuan kepala sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Dengan demikian, kedua faktor tersebut (ketersediaan sumber daya dan proses belajar mengajar) harus dikelola secara profesional oleh pihak sekolah. Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah, dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: (1) bagaimanakah efektivitas implementasi kebijakan Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan?, (2) faktor-faktor apakah yang menjadi pendukung dan penghambat implementasi kebijakan MPMBS di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan?, dan (3) bagaimanakah model Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yang efektif di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan? Tujuan penelitian ini adalah (1) memaparkan efektivitas implementasi kebijakan Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, (2) faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat

Ngadimun, Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)...

27

implementasi kebijakan MPMBS di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, dan (3) model Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) yang efektif di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.

KERANGKA TEORETIS
1. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/ keluwesankeluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, dunia industri, pengusaha, dsb.) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Peningkatan mutu sekolah, dapat disebut sebagai suatu perpaduan antara knowledgeskill, art, dan entrepreneurship. Suatu perpaduan yang diperlukan untuk membangun keseimbangan antara berbagai tekanan, tuntutan, keinginan, gagasan-gagasan, pendekatan dan praktik. Perpaduan tersebut di atas berujung pada bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan sehingga terwujud proses pembelajaran yang berkualitas. Semua upaya peningkatan mutu sekolah harus melewati variabel ini. Proses pembelajaran merupakan faktor yang langsung menentukan kualitas sekolah. Dalam kaitan dengan peningkatan mutu, pengalaman menunjukan terdapat berbagai model yang dilaksanakan yang mencakup berbagai kebijakan dalam upaya meningkatkan mutu. Seperti model UNESCO, Model Bank Dunia, Model Orde Baru dan Model Orde Reformasi.

2. Teori Kebijakan
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan azas yang menjadi garis besar dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak (tentang pemerintahan dan organisasi). Menurut Anderson (1979: 50) Kebijakan publik pada dasarnya mencerminkan suatu hubungan antara unit pemerintah dengan lingkungannya. Kebijakan negara merupakan apa yang dipilih pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Anderson juga menyatakan bahwa kebijakan negara sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diakui dan dilaksanakan oleh pelaku atau kelompok pelaku, guna memecahkan masalah tertentu. Sementara Easton (1988:40), memberi arti kebijakan publik sebagai “pengalokasian nilai-nilai secara paksa (syah) kepada seluruh anggota masyarakat. Easton juga berpendapat

28

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 25 - 38

bahwa input, dari suatu kebijakan adalah demand and support, yakni permintaan masyarakat dan dukungan sumberdaya yang ada. Karena pandangannya inilah teori kebijakan oleh Easton seringkali disebut sebagai kebijakan berpola top down. Dalam proses implementasi ini berlangsung upaya-upaya pendayagunaan sumberdaya, interpretasi terhadap keputusan kebijakan, manajeman program dan penyediaan layanan kepada sasaran kebijakan. Proses ini menghasilkan program, proyek atau langkahlangkah nyata dari aparat pelaksana. Tindakantindakan nyata inilah yang kemudian menimbulkan dampak tertentu pada masyarakat. Tetapi dapat terjadi suatu kebijakan menimbulkan dampak negatif tertentu dalam masyarakat yang tidak diperhitungkan sebelumnya oleh para pengambil kebijakan. Implementasi kebijakan, jika dilakukan secara tidak efektif, dapat pula gagal menciptakan perubahan yang signifikan dalam masyarakat (Muhajir Darwin dan Djarot,1993,hal.47). Menurut Edward III (1980: 9-13) beberapa pendekatan yang diperlukan dalam pelaksanaan suatu kebijakan agar berhasil dan efektif adalah memperhatikan variabel-variabel sebagai berikut ; (1) Communication, yang merupakan salah faktor yang menentukan keberhasilan implementasi kebijakan dan inti dari komunikasi adalah penyampaian informasi secara timbal balik dari seluruh stakeholders; (2) Resources sebagai faktor penting yang menentukan keberhasilan proses implementasi; (3) Disposition. watak dan sikap pelaksana memegang otonom tentang apa yang mereka perbuat dalam rangka pelaksanaan kebijakan; (4) Bureaucratic Structure, yang harus dirancang agar sesuai dengan bidang tugas‘masing-masing; (5) Problems and Prospects: menganalisis permasalahan yang terjadi dan merancang prospek penyelesainnya

dengan tidak bertentangan terhadap tata nilai yang ada dalam masyarakat; dan (6) Context of the Approach, mempertimbangkan berbagai pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan kebijakan. Sedangkan Jones (1984:167) merinci aktivitas implementasi kebijakan dalam tiga hal, yaitu ; “1. Organization; The establishment or rearrangement of resources, unit, and methods for putting a policy into effect. 2. Interpretation ; The translation of language (often contained in a statute) into acceptable and feasible plan and directives. 3. Application ; The provision of service, payments, or other agree upon objectives or instruments.” Lebih lanjut, menurut Jones dalam Widodo ( 2008:86) menyatakan bahwa proses implementasi menutut adanya beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu implementasi dapat berlangsung secara efektif, antara lain orang atau pelaksana, uang, dan kemampuan organisasional, kesemuanya itu disebutnya sebagai resources. Aktivitas pengorganisasian (organization) merupakan suatu upaya untuk menetapkan dan menata kembali resources, unit-unit, dan metode-motode yang mengarah pada upaya merealisasikan kebijakan menjadi hasil atau memberikan dampak (outcomes) sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan. Aktivitas interpretasi (interpretation) merupakan aktivitas menjelaskan subatansi dari suatu kebijakan dalam bahasa yang lebih operasional sehingga muda dipahami dan dilaksanakan secara benar oleh implementor (Jones dalam Widodo, 1984). Merujuk pada berbagai pendapat tersebut di atas bahwa suatu kebijakan dalam pelaksanaannya akan efektif apabila dapat secara nyata dalam implementasi dapat dilakukan interpretasi, organisasi, aplikasi, manajemen program, pendayagunaan resources

Ngadimun, Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)...

29

(sumber daya manusia, anggaran, peralatan atau fasilitas, dan dampak kegiatan yang memberikan manfaat bagi publik (Jones, 1984).

3. MPMBS Sebagai Bentuk Desentralisasi Pendidikan
Semangat otonomisasi sektor pendidikan, didasari oleh kegagalan sentralisasi yang hanya menimbulkan formalisme dalam pendidikan, kurang menghargai pluralitas, dan kebenaran hanya ada pada pemerintah pusat. Oleh sebab itu menurut Rahim, MPMBS merupakan pola kebijakan nyang bersifat battom up untuk mengurangi ketergantungan sekolah terhadap campur tangan pemerintah sehingga tercipta desentralisasi (Rahim, 2003:60-62). Tujuan utama desentralisasi pendidikan adalah peningkatan mutu layanan pendidikan kepada masyarakat. Artinya sekolah harus diberi kewenangan secara otonom mengatur rumah tangga sekolah, agar sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Oleh karena itu pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kewenangan tersebut harus dilakukan secara partisipatif oleh warga sekolah. Dengan kata lain pengambilan keputusan harus melibatkan stakeholders sekolah, dengan menerapkan manajemen partisipatif. Desentralisasi pendidikan, memindahkan fungsi-fungsi sekolah yang semula dikerjakan oleh Pemerintah Pusat (Kementrian Pendidikan Nasional) dan Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan) dapat dilakukan oleh sekolah secara profesional, yang meliputi perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengelolaan kurikulum, pengelolaan proses belajar mengajar, pengelolaan ketenagaan, pengelolaan peralatan dan perlengkapan, keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah-sekolah masyarakat, dan pengelolaan iklim sekolah. Imlementasi MPMBS, pada dasarnya bertujuan untuk memberdayakan sekolah

secara optimal dalam pengelolaan dan pengembangan sekolah. Maka manfaat yang akan diperoleh oleh lembaga pendidikan/ sekolah dengan diimplementasikannya pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah adalah sebagai berikut: a. Keleluasaan pengambilan keputusan pada tingkat sekolah dimaksudkan agar sekolah dapat mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai prioritas program serta kebutuhan sekolahnya masing-masing. b. Mengupayakan penyelenggaraan sekolah, khususnya pelayanan pembelajaran yang lebih baik dan bermutu bagi siswa. c. Memberikan kesempatan bagi sekolah meningkatkan kinerja staf secara optimal dan fleksibel. d. Meningkatkan pemahaman masyarakat secara lebih mendalam dan komprehensif karena mereka terlibat langsung dalam setiap kebijakan yang diambil sekolah secara bersama-sama. e. Dengan adanya kewenangan pengelolaan sumber daya, sekolah dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh dalam pelaksanaan tugas mengajarnya. Dari paparan tersebut dapat disusun kerangka pemikiran efektivitas implementasi kebijakan MPMBS sangat tergantung terhadap faktor-faktor yang terkait dengan pemahaman implementor terhadap tujuan kebijakan, interpretasi implementor, sosialisasi kebijakan, dan dukungan sumber daya (resourvces). Faktor-faktor tersebut merupakan realisasi pola manajemen mutu pendidikan, yang secara langsung hal ini terkait erat dengan standarisasi pola menejemen mutu pendidikan. Dan hal ini merupakan harapan masyarakat terhadap pola manajemen pendidikan yang dapat meningkat-

30

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 25 - 38

kan mutu pendidikan di Kota Banjarmasin. Lebih jelasnya konseptualisasi penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1 Kerangka Konseptual Penelitian

METODE PENELITIAN
Mempertimbangkan pokok permasalahan penelitian dan ketepatan metode, maka pendekatan yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini mengambil lokasi di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, dengan objek penelitian adalah enam sekolah rintisan yang dikelompokkan menurut prestasinya. Prestasi tersebut adalah dua sekolah rintisan yang memiliki prestasi baik, dua sekolah rintisan yang memiliki prestasi sedang, dan dua sekolah rintisan yang memiliki prestasi cukup.

Beberapa informan yang menurut penelitian mutlak diminta keterangan ataupun dalam rangka mendapatkan data yang tepat, akurat serta tingkat kebenarannya dapat diandalkan berkaitan dengan penelitian ini adalah : Kepala Kantor Dinas Pendidikan Kota Banjarmasn, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, BP3, Dewan Sekolah, Komite Sekolah, dan warga sekolah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis komparatif, yaitu teknik analisis yang menggunakan logika perbandingan. Komparasi yang dibuat adalah komparasi fakta-fakta replikatif. Dari komparasi fakta-fakta dapat dibuat konsep atau abstraksi teoretisnya. Dari komparasi, dapat menyusun kategori teoretis pula. Lewat komparasi juga dapat membuat generalisasi. Fungsi generalisasi adalah untuk membantu memperluas terapan teorinya, memperluas daya prediksinya (Muhadjir, 1998: 88). Dalam pandangan Glasser & Strauss, dengan analisis komperatif, peneliti berupaya memperbandingkan kategori-kategori serta ciricirinya untuk merumuskan teorinya, dilanjutkan dengan mengembangkan teorinya, mungkin modifikasi, mungkin pula mengganti dengan teori baru (Muhadjir, 1998: 89).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Efektivitas Implementasi Kebijakan MPMBS
Sesuai dengan data-data yang telah disajikan dalam Bab V di muka, dan juga sesuai dengan kerangka teori yang telah dipaparkan pada Bab II, khususnya yang terkait dengan efektifitas implementasi kebijakan MPMBS, maka dapat dianalisis bahwa sekolah-sekolah

Ngadimun, Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)...

31

sampel penelitian di Kota Banjarmasin telah secara efektif melaksanakan kebijakan MPMBS. Hal ini karena di sekolah-sekolah sampel tersebut telah terjadi perubahan

manajemen dari pola lama ke arah pola baru, yakni manajemen MPMBS. Perubahanperubahan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1 Efektivitas Implementasi Kebijakan MPMBS Pada Sekolah-sekolah Sampel
Pergerseran Pola Manajemen Pada Sekolah-sekolah Sampel
POLA LAMA Sentralistik: [] Pola perencanaan masih ada intervensi dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah Berubah ke POLA MBS Desentralisasi : [] Perencanaan dibuat sepenuhnya oleh sekolah dengan melibatkan masyarakat [] Pemerintah sebagai fasilitator Otonomi : [] Pendanaan dari partisipasi masyarakat, selain dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah [] Pelaksanaan program dilakukan oleh sekolah, pemanfaatan dana BOS, pemenuhan tenaga kependidikan, mutasi guru, dan penentuan kepala sekolah Pengambilan keputusan partisipatif: [] Pengambilan keputusan diambil secara bersama oleh sekolah dengan komite sekolah [] Masyarakat terlibat aktif Pendekatan profesional: [] Standart evaluasi dibuat oleh sekolah [] Evaluasi pendidikan dilakukan oleh sekolah [] Tingkat pencapaian dan hasil kelulusan ditentukan oleh sekolah

Subordinasi : [] Pendanaan masih sangat kurang dan sangat tergantung pada kemampuan pemerintah [] Pelaksanaan program penyelenggaraan pendidikan masih tergantung pada kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah

Pengambilan keputusan terpusat : [] Pengambilan keputusan masih ditentukan oleh pemerintah daerah [] Masyarakat tidak terlibat Pendekatan birokratik : [] Standart evaluasi masih ditentukan oleh pemerintah secara nasional [] Evaluasi dilakukan oleh pemerintah [] Tingkat pencapaian dan hasil kelulusan ditentukan oleh pemerintah Dikontrol dan diatur : [] Peningkatan mutu dan jumlah tenaga pendidikan dan kependidikan diatur dan ditentukan oleh pemerintah Koordinasi dan Informasi ada pada yang berwenang : [] Kepemimpinan kepala sekolah mengedepankan otorisasi [] Manajemen sekolah mengambil informasi dari warga sekolah [] Pola komunikasi satu arah Menggunakan dana sesuai anggaran sampai habis: [] Penyusunan dan pola penggunaan anggaran ditentukan oleh pemerintah pusat dan daerah [] Penggunaan anggaran belum sesuai dengan kebutuhan riil sekolah dan proses pembelajaran

Motivasi diri dan saling mempengaruhi: [] Peningkatan mutu dan jumlah tenaga pendidikan dan kependidikan ditentukan oleh sekolah Koordinasi, Komunikasi dan Informasi terbagi : [] Kepemimpinan kepala sekolah mengedepankan partisipasi ? Manajemen sekolah membagi informasi kepada warga sekolah ? Pola komunikasi dua arah Menggunakan anggaran sesuai kebutuhan dan seefisien mungkin : [] Penyusunan dan pola penggunaan anggaran disusun bersama sekolah dengan komite sekolah [] Penggunaan anggaran disusuan dalam RAPBS sesuai dengan kebutuhan sekolah dan proses pembelajaran

32

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 25 - 38

Tabel tersebut, mendeskripsikan bahwa pelaksanaan kebijakan MPMBS pada sekolahsekolah sampel di Kota Banjarmasin telah berlangsung sesuai dengan tujuan MPMBS ini berarti bahwa implementasi kebijakan MPMBS pada sekolah-sekolah sampel di Kota Banjarmasin telah berjalan secara efektif. Efektivitas implementasi kebijakan MPMBS di Kota Banjarmasin karena telah dilakukan sesuai dengan tahapan implementasi kebijakan. Tahapan-tahapan tersebut peneliti identifikasi berdasarkan ; (1) tujuan kebijakan MPMBS; (2) interpretasi kebijakan MPMBS; (3) sosialisasi kebijakan MPMBS; dan (4) sumberdaya pendukung. Kebijakan MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Lebih rincinya MPMBS bertujuan untuk : (a) Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas, partisipasi keterbukaan kerjasama, akuntabilitas, sustainabilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia; (b) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama; (c) Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya; dan meningkatkan kompentisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

Secara umum ada kecenderungan warga sekolah (Pejabat Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, Para Guru, Komite Sekolah) untuk beranggapan bahwa kebijakan MPMBS memiliki implikasi positif terhadap peningkatan mutu sekolah. MPMBS adalah kebijakan yang sangat bagus untuk meningkatkan mutu sekolah karena kebijakan ini memberikan kepercayaan kepada sekolah untuk melaksanakan otonomi sekolah secara penuh. Kebijakan MPMBS mendorong sekolah lebih kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah. Kebijakan MPMBS secara efektif dapat meningkatkan mutu sekolah karena sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada serta dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab warga sekolah. Sosialisasi terhadap kebijakan MPMBS telah dilakukan melalui berbagai media dan cara. Kegiatan sosisalisasi memberikan pemahaman yang positif kepada stakeholders tentang apa dan bagaimana tujuan kebijakan MPMBS, dan memahami prosedur melaksanakan kebijakan MPMBS. Sedangkan sumberdaya pendukung implementasi MPMBS terdiri dari sumberdaya manusia dan sumber keuangan untuk penyelenggaraan operasional sekolah.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Implementasi Kebijakan MPMBS
Faktor-faktor dominan mempengaruhi keberhasilan atau efektivitas implementasi kebijakan MPMBS pada sekolah yang menjadi sasaran penelitian di Kota Banjarmasin dapat dikelompokan pada beberapa variabel antara lain; (1) variabel manajemen sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis dan pengambilan keputusan secara bersama dalam proses pelaksanaan kebijakan; (2) variabel sumberdaya, baik sumberdaya tenaga

Ngadimun, Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)...

33

pendidik dan kependidikan, juga sumberdaya finansial; (3) variabel komunikasi dan koordinasi; (4) variabel dukungan atau partisipasi masyarakat dan warga sekolah; (5) variabel sarana dan prasarana belajar dan pembelajaran; (6) variabel lingkungan sekolah yang kondusif; (7) variabel pemahaman yang benar terhadap isi kebijakan; dan (8) transparansi dalam proses implementasi kebijakan; dan (9) otonomi sekolah yang dapat mendorong peningkitan performance manajemen dan kemandirian sekolah. Adapun faktor-faktor yang menjadi variabel penghambat dalam proses implementasi kenbijakan MPMBS pada sekolah yang menjadi obyek penelitian diantaranya adalah ; (1) variabel kualitas sumberdaya manusia khususnya pada mutu tenaga kependidikan; (2) hambatan birokrasi dalam pengelolaan keuangan sekolah, terutama dalam pengelolaan dana BOS sehingga membuat manajemen sekolah masih kurang efektif; dan (3) keterbatasan sumber belajar dan media pembelajaran. Berbagai faktor pendukung dan faktor penghambat yang telah teridentifikasi perlu diperhatikan, sehingga kegagalan implementasi kebijakan dapat dieleminasi. Sesuai dengan pernyataan dari Presman dan Wildavsky (1973) dalam Wahab (1997:65) yang juga mengingatkan bahwa proses implementasi kebijakan perlu mendapat perhatian yang seksama berbagai faktor penghambat yang muncul dalam proses implementasi. Setyodarmodjo (2000:189) menjelaskan bahwa tidak sedikit kebijakan pemerintah yang sudah dirumuskan dengan sangat sempurna, namun gagal dalam implementasinya mencapai

tujuan, Salah satunya terjadi karena faktorfaktor subjektif para pelaksananya (policy actors) dalam mengindentifikasi hambatan yang muncul dan menyelesaikannya.

3. Model MPMBS yang Efektif
Karakteristik pelaksanaan kebijakan MPMBS pada sekolah rintisan di Kota Banjarmasin memberikan kerangka kerja dalam pembuatan model MPMBS yang efektif bagi peningkatan mutu sekolah. Dalam mengkajiulang data pada model tersebut telah dipilih, dua proses utama yang telah diidentifikasi. Pertama, keinginan kepala sekolah untuk meningkatkan intensitas komunikasi di antara para pemegang peran merupakan alat untuk mengundang mereka untuk menjadi mitra dalam transformasi sekolah. Kesadaran yang lebih tinggi tentang berbagai masalah dan pandangan para pemegang peran dapat menciptakan peluang untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan. Kedua, dalam menggambarkan tanggung jawab pengambilan-keputusan oleh para pemegang peran mengakibatkan pemecahan masalah yang lebih cepat dan membebaskan kepala sekolah untuk berfungsi sebagai fasilitator dalam pengembangan sekolah. Kedua proses tersebut menyebabkan adanya tanggung jawab yang lebih besar bagi para pemegang peran. Hal ini meningkatkan motivasi dan jati diri para pemegang peran. Pemegang peran menggunakan berbagai istilah, misalnya kemitraan dan suasana kekeluargaan untuk menggambarkan adanya hubungan yang baru di sekolah. Lebih jelas model tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

34

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 25 - 38

Model MPMBS Yang Efektif

Gambar 2 Sumber : Hasil Telaah Penelitian, 2010 Model ini merupakan tinjauan yang menyeluruh terhadap semua yang terlibat dalam proses pengembangan kondisi untuk pelaksanaan MPMBS. Beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam model ini antara lain: komunikasi yang lebih terbuka, pengambilan keputusan bersama, memperhatikan kebutuhan guru, memperhatikan kebutuhan siswa, keterpaduan sekolah dan masyarakat. Keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan, serta pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan merupakan salah satu wujud dan kunci keberhasilan setiap usaha dan upaya peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu pendekatan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dan yang dapat memberi ruang bagi kepentingan dan inisiatif masyarakat perlu dikembangkan dan dibina secara terus menerus dengan upaya yang sungguh-sungguh. Tidak dapat dipungkiri bahwa partisipasi masyarakat sangat diperlukan dan memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Senada dengan pernyataan Conyers (1999: 154), Graham dan Phillips (1998:8) mengemukakan bahwa dengan partisipasi yang bertujuan untuk menyebarkan atau membagi informasi, akuntabilitas dan legitimasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan pembagian kekuasaan, maka warga sekolah atau masyarakat percaya bahwa mereka terlibat dalam pembagian kekuasaan (power-sharing) dan akan berpengaruh terhadap agenda dan hasil pelaksanaan kebijakan, sementara itu pemerintah juga dapat mengumpulkan informasi dari masyarakat sehingga dapat menyusun agenda kebijakan yang mantap sesuai dengan TOR (terms of reference). Keberhasilan pelaksanaan model MPMBS yang efektif dapat ditandai dengan terlaksananya praktek pembagian pengambilan keputusan bersama di sekolah. Dengan pembagian tanggung jawab di antara para pemegang peran, kepala sekolah dapat lebih

Ngadimun, Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)...

35

memberi perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan sekolah dan strategi pendanaannya untuk pengembangan sekolah. Aspek lain dari pembagian tanggung jawab dalam pengambilan keputusan adalah memprofesionalkan staf serta mengajak mereka untuk bekerja lebih baik lagi. Rasa menghargai diri sendiri dan percaya diri dapat menggantikan sikap pesimis.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Simpulan
Mencermati pembahasan dari data-data penelitian yang telah diperoleh, maka dapat dipaparkan kesimpulan akhir dari hasil penelitian sebagai berikut : 1. Efektifitas implementasi kebijakan MPMBS di Kota Banjarmasin dicapai sesuai dengan tujuan dari kebijakan MPMBS yakni meningkatkan mutu pendidikan dengan melakukan perubahan terhadap manajemen pendidikan dari pola lama ke arah pola MPMBS. Efektifitas tersebut dicapai karena kebijakan MPMBS diinterpretasikan secara positif, kemudian dilakukan sosialisasi kebijakan MPMBS melalui berbagai media, dan ketersediaan sumberdaya pendukung kebijakan. 2. Faktor-faktor yang mendukung efektifitas implementasi kebijakan MPMBS di Kota Banjarmasin antara lain; (a) telah dilaksanakan secara sungguh-sungguh otonomi yang dimiliki sekolah, (b) peran serta masyarakat, (c) kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis; transparansi dan akuntabel, (d) lingkungan sekolah yang kondusif, dan (e) dukungan anggaran dari pemerintah penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan faktor penghambat dalam proses implementasi kebijakan MPMBS di

Kota Banjarmasin antara lain; (a) masih rendahnya mutu guru sesuai standart pelayanan minimal pendidikan, (b) keterbatasan sumber belajar dan media belajar; dan (c) hambatan birokrasi dalam pengelolaan keuangan sekolah. 3. Model MPMBS yang efektif adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong partisipasi masyarakat maupun warga sekolah untuk meningkatkan kemandirian menuju sekolah yang bermutu.

Implikasi Teoretis
Hasil penelitian ini secara teoretis memperkuat pendekatan baru dalam pengelolaan pendidikan yang berorientasi pada proses, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan. Secara teoretis pendekatan ini peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (School Based Quality Management) atau dalam nuansa yang lebih bersifat pembangunan (developmental) disebut School Based Quality Improvement dapat memperkuat kerjasama yang erat antara sekolah, masyarakat dan pemerintah dengan tanggung jawabnya masing-masing ini, yang didasarkan kepada suatu keinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamis dalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumber daya sekolah yang ada. Dari sudut pandang teori kebijakan publik, secara eksplisit hasil penelitian berimplikasi pada teori-teori; (1) Memperteguh pendapat Widodo (2008: 89) yang secara tegas menyatakan bahwa melakukan interpretasi secara benar terhadap isi kebijakan, melakukan pengorganisasian dan manajemen program, serta pendayagunaan sumberdaya pen-

36

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 25 - 38

dukung akan menciptakan efektifitas implementasi kebijakan; (2) Memperteguh juga teori teori Jones (1986) yang menyatakan bahwa adanya pemahaman yang benar terhadap isi dan tujuan kebijakan dari semua pihak yang terkait (stakeholders) sangat menentukan keberhasilan implementasi kebijakan. Karena pemahaman yang benar terhadap isi dan tujuan kebijakan memberikan interpretasi yang positif terhadap kebijakan itu sendiri. Jones (1986) juga menegaskan bahwa bahwa agar suatu kebijakan berhasil dan berjalan lancar sangat penting untuk dilakukan sosilaisasi kebijakan, yakni memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang isi, tujuan dan tahap-tahap pelaksanaan yang akan dilakukan. Sosialisasi juga sangat penting untuk menciptakan adanya koordinasi dan komunikasi yang sempurna dalam melakukan tahap-tahap implementasi; Selain itu, juga memperkuat teori Jones (1984:167) yang menyatakan bahwa upaya penyediaan dan penataan kembali resources (sumberdaya) adalah bagian penting dari tahapan pengorganisasi implementasi kebijakan agar kebijakan dapat terealisasi sesuai dengan tujuan dan sasaran kebijakan; (3) Memadukan pandangan Easton (1988:40) dengan pandangan Rahim (2003:60-62) pentingnya otonomi pendidikan sebagai salah kunci keberhasilan implementasi pendidikan. Baik Easton (1988) maupun Rahim (2003) menyatakan bahwa input dari kebijakan negara (pendidikan) merupakan pola demand and support, yakni permintaan masyarakat dan dukungan sumberdaya yang ada (Easton, 1988), namun untuk menciptakan mutu pendidikan perlu dibangun pola

desentralisasi atau otonomi pendidikan (Rahim, 2003); dan (4) Memperkuat teori Edward III (1980: 9-13) yang menyatakan bahwa ketersediaan sumberdaya pendukung merupakan aspek penting yang menentukan suatu keberhasilan dalam pelaksanaan kebijakan. Dan sebaliknya keterbatasan sumberdaya pendukung baik dana, SDM, maupun sarana dan prasarana pendidikan akan menghambat proses implementasi kebijakan.

Implikasi Praktis.
Hasil penelitian ini sangat jelas menggambarkan bahwa pemberian kemandirian kepada sekolah ini memperlihatkan suatu perubahan cara berpikir dari yang bersifat rasional, normatif dan pendekatan preskriptif di dalam pengambilan keputusan pandidikan kepada suatu kesadaran akan kompleksnya pengambilan keputusan di dalam sistem pendidikan dan organisasi yang mungkin tidak dapat diapresiasiakan secara utuh oleh birokrat pusat. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah sebagai pendekatan baru dalam pengelolaan sekolah merupakan bagian penting dari desentralisasi pendidikan yang tengah dilakukan di Kota Banjarmasin. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979). Oleh sebab itu, perlu dikembangkan untuk beberapa indikator yang memperkuat implementasi MPMBS antara lain sebagai berikut; (i) lingkungan sekolah yang aman dan tertib, (ii) sekolah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (iii) sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan

Ngadimun, Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)...

37

yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (vi) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (vii) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat. Rumusan Proposisi. (1) Implementasi kebijakan MPMBS yang efektif diawali dengan proses interpretasi kebijakan secara positif dan dilakukan sosialisasi kebijakan kepada seluruh stakeholders pendidikan. Interpretasi merupakan tahapan memterjemahkan subtansi atau tujuan kebijakan dalam bahasa operasional yang mudah dan benar dipahami oleh implementor. Sosialisasi kebijakan merupakan tahapan komunikasikan secara terbuka kebijakan MPMBS sehingga stakeholders memilki pemahaman yang utuh terhadap isi kebijakan dan memberikan dukungannya terhadap pelaksanaan kebijakan. (2) Faktor-faktor yang mendukung efektifitas implementasi kebijakan MPMBS antara lain pelaksanaan otonomi sekolah yang didukung oleh manajemen sekolah, kepemimpinan kepala sekolah, penyediaan sumber-sumber yang cukup (manusia dan dana), lingkungan sekolah yang kondusif, dan partisipasi masyarakat. (3) Faktor-faktor yang menghambat implementasi kebijakan MPMBS antara lain; kualitas sumberdaya manusia khususnya pada mutu tenaga kependidikan; (2) hambatan birokrasi sehingga membuat manajemen sekolah masih kurang efektif; (3) keterbatasan sumber belajar dan media

pembelajaran; dan (4) pemahaman terhadap isi kebijakan yang tidak benar. (4) Model MPMBS yang efektif dilakukan dengan kepemimpinan kepala sekolah yang mampu melibatkan peran serta masyarakat pemangku pendidikan untuk menciptakan otonomi sekolah berdasarkan manajemen, transparansi, dan komunikasi secara terbuka guna pengambilan keputusan bersama untuk mengembangkan kemandirian sekolah di dalam memformulasikannya ke dalam kebijakan mikro dalam bentuk program-program prioritas yang harus dilaksanakan, menentukan target mutu, dan melakukan evaluasi pencapaiannya secara kontinyu.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, James E, 1979, Public Policy Making, Second Edition, New York. Denzin, Norman K., & Yvonna S. Lincoln (ed), 1998, Strategies of Qualitative Inquiry, Sage Publications, New Delhi . Dye, Thomas R., 1978, Understanding Publik Policy, Prentice Hall, Englewood Cliffs, N.J. Dunn, William N., 2003, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Easton, Joseph W. (ed), 1988., Institutional Building and Development: From Concepts To Aplications, 1972, (terjemahan), UI Press, Jakarta. Edward III, George C, 1980, Implementing Public Policy, Congresional Quarterly Press, Washington. Islamy, Irfan M., 2002, Prinsip-Pronsip Perumusan Kebijaksanaan Negara, Bumi aksara, Jakarta. Indrawijaya, Adam I., 1989, Perilaku Organisasi, Sinar Baru, Bandung.

38

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 25 - 38

Jones, Charles O., 1984, An Introduction to the Study of Public Policy, North Scituate Massachussets : Dux bury Press, California. Muhadjir, Noeng H., 1998, Metodologi Penelitian Kualitatif, Penerbit Rakesarasin, Jakarta. Neuman, Lawrence W., 2000, Social research methods : Qualitative and quatitative approaches, Fourth edition, Allyn and Bacon, Boston. Putra Fadillah, 2003, Partai Politik dan Kebijakan Publik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Rahim, Husni, 2003, RUU Sisdiknas dan Reformasi Pendidikan Indonesia, (Makalah) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional. Wahab, Solichin Abdul, 2002, Analisis Kebijaksanaan, Dari Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, Bumi Aksara, Jakarta.

ANALISIS JARINGAN KERJASAMA PETANI DAN KELOMPOK TANI ANGGREK DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN PADA PROGRAM DAFEP DI DESA PABELAN, KECAMATAN MUNGKID, KABUPATEN MAGELANG
Ema Prananingsih1), Ageng Setiawan Herianto2), Sunarru Samsi Hariadi3)
(1) Alumni PPs PKP UGM Yogyakarta, 2) Staf Pengajar PPs PKP UGM Yogyakarta, 3) Guru Besar PPs PKP UGM Yogyakarta, Jl. Teknika Pogung Utara Sleman, Yogyakarta)

ABSTRACT
The main objctive of this study is to analyse the cooperative networking among the farmer group members and with the three main stakeholders of the orchid farm of DAFEP (Decentralized Agriculture and Forestry Extension Project) in Pabelan village, Magelang District. The specific obejectives are: (1) to identify networking structure of the orchid farmers group; (2) to identify the empowerment level of farmer group members in developing their orchid farm through their cooperative networking with three main stakeholders i.e. production input suppliers, technical information as well as the marketing institution, and: (3) to analyse the relationships between the networking structure and the level of empowerment. Social network analysis (SNA) approach based on graph theory was applied for analyzing the networking structure. Rank’s Spearman correlation coefficient (r’) was used to identify the relationship between those networking structure and the empowerment level. The analysis unit was individual relationship with 26 respondents. The results of this research proved that the networking structure of the orchid farmer group was centralized to the three board members, i.e. chairman, secretary and treasurer. The empowerment level of farmers in developing their cooperative networking with three stakeholders was moderate. However, there was a positive and strong relationship between the cooperative networking structure and the empowerment level. The development of cooperative networking at farmer and group level is the key point in empowering the farmers and their farmer group. Keywords: cooperative networking, empowerment level, SNA, Graph theory

PENDAHULUAN
Persoalan umum pendekatan pembangunan sentralistik adalah masih dirancangnya program-program pembangunan secara terpusat serta bukan berdasar kebutuhan masyarakat
39

petani setempat. Hal tersebut menyebabkan petani dihadapkan pada keterbatasan sosial dan ekonomi yang menyebabkan posisi tawarnya lemah. Oleh karena itu, perlu upaya pemberdayaan petani. Salah satunya adalah

40

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 39 - 50

DAFEP (Decentralized Agricultural and Forestry Extension Project)1) yang dilaksanakan dengan pendekatan penyuluhan partisipatif serta fokus utamanya pada pengembangan kapasitas petani. Salah satu sub komponen kegiatan DAFEP adalah pengorganisasian jaringan petani. Sehingga, fenomena pengembangan usahatani yang ada mencakup subsitem hulu (faktor produksi), produksi (on farm), lembaga penunjang serta hilir (off farm). Salah satu komoditas yang dikembangkan di desa Pabelan, Kabupaten Magelang adalah anggrek. Permintaan anggrek cenderung terus meningkat. Guna memenuhi permintaan anggrek yang terus meningkat, maka tidak mungkin pemenuhan anggrek dilaksanakan secara orang per orang. Peningkatan daya saing produk tanaman hias dilakukan melalui sistem usahatani agribisnis yang berkelanjutan dengan mengintegrasikan beberapa sub sistem terkait dari tingkat hulu hingga hilir. Karena merupakan satu mata rantai, maka diperlukan jaringan kerjasama antar sub sistem yang saling terkait. Hal tersebut dapat memberikan jaminan keberlangsungan usahatani dalam hal ketersediaan bahan baku sarana produksi (secara kuantitas, kualitas dan kontinuitas), efisiensi teknik dan ekonomis, serta jaminan pemasaran. Kondisi demikian meningkatkan posisi tawar petani serta menempatkan petani menjadi lebih berdaya. Sebelum dilaksanakan DAFEP, kelompok anggrek belum mempunyai jaringan kerjasama, baik secara internal dalam kelompok, maupun dengan pemangku kepentingan. Sedangkan fenomena pengembangan usahatani melalui jaringan kerjasama yang terjadi pada kelompok tani Anggrek setelah dilaksanakan DAFEP menunjukkan perbedaan dibandingkan sebelumnya. Guna lebih mengembangkan usaha taninya, petani mempunyai jaringan kerjasama

secara internal dalam kelompok, maupun dengan para pemangku kepentingan. Terdapatnya perbedaan fenomena pengembangan usahatani melalui jaringan kerjasama yang terjadi pada kelompok tani Anggrek menarik untuk dikaji. Hal tersebut dapat diketahui dengan melakukan analisis jaringan kerjasama antar petani pada DAFEP yang dihubungkan dengan tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama setelah DAFEP dilaksanakan. DAFEP dilaksanakan berdasar pada prinsip-prinsip pemberdayaan petani melalui pendekatan penyuluhan partisipatif. Pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya” yang berarti kekuatan atau kemampuan (Sulistiyani, 2004). Teori pemberdayaan dapat ditinjau dari proses dan keluaran yang menyarankan suatu tindakan, aktivitas atau struktur memberdayakan (Perkins dan Zimmerman, 1995). Pemberdayaan sebagai proses merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan secara sistematis dan bertahap guna mengubah masyarakat yang kurang atau belum berdaya menuju keberdayaan (Sulistiyani, 2004). Titik tolaknya adalah bahwa setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Dalam teori pemberdayaan, secara implisit setiap individu mempunyai kekuatan yang dapat digerakkan, mempunyai ide atas hal apa yang menjadi tujuannya, serta apa yang dibutuhkan guna mencapainya (Duncan., et al. 2001). Pemberdayaan sebagai keluaran mengacu kepada hasil suatu proses perubahan sosial pada level yang diberdayakan (Perkins dan Zimmerman, 1995; Suharto, 2004). Salah satu keluaran pemberdayaan pada level kelompok adalah upaya kelompok mengembangkan jaringan kerjasama (Perkins dan Zimmerman, 1995; Bartle, 2007). Ditandaskan oleh Bartle (2007) bahwa dalam networking yang menjadi sumber kekuatan bukan sekedar “what you know” tetapi juga

Ema Prananingsih, A. Setiawan H., dan Sunarru S.H., Analisis Jaringan Kerjasama Petani...

41

“who you know”, baik dalam masyarakat maupun dengan pihak lain di luar masyarakat. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa melalui proses pemberdayaan, maka terjadi peningkatan pengetahuan akan orang-orang (badan atau organisasi) yang dapat menyediakan sumber bermanfaat guna lebih memperkuat atau memberdayakan masyarakat secara keseluruhan. Jaringan kerjasama petani merupakan kumpulan hubungan antar individu petani maupun dengan para pemangku kepentingan yang dihubungkan oleh pola alur kerjasama. Salah satu teori yang dapat digunakan untuk memprediksi struktur jaringan kerjasama adalah teori graf. Teori graf berasal dari bidang ilmu matematika, namun dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu seperti kimia, sosiologi dan juga kehidupan sehari-hari. Secara informal, suatu graf adalah himpunan benda-benda yang disebut simpul yang terhubung oleh ikatanikatan. Biasanya graf digambarkan sebagai kumpulan titik-titik (melambangkan simpul) yang dihubungkan oleh garis-garis (melambangkan ikatan). Pada jaringan kerjasama antar petani dalam kelompok simpul-simpulnya adalah para petani, sedangkan pada jaringan kerjasama antara petani dengan pemangku kepentingan, simpul-simpulnya adalah anggota kelompok tani Anggrek serta para pemangku kepentingan (pihak penyedia sarana produksi, penyedia teknik dan informasi, dan pihak pemasaran). Dikatakan ada ikatan antara petani A dan petani B jika petani A menjalin hubungan kerjasama dengan petani B. Dikatakan ada ikatan antara anggota kelompok tani anggrek dengan pihak pemasaran jika anggota kelompok tani Anggrek menjalin hubungan kerjasama dengan pihak pemasaran. Cabang praktis teori graf adalah analisis jaringan (Wikipedia, 2008). Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis jaringan kerjasama petani adalah

pendekatan SNA (Social Network Analysis)2). Disebutkan oleh Breiger (2004) bahwa pendekatan ini tidak seperti metode statistik pada umumnya. Pendekatan ini mampu mengidentifikasi struktur jaringan kerjasama dalam suatu sistem, dimana hubungan data tentang alur batasan masalah yang spesifik dianalisis menggunakan beberapa bentuk hubungan interpersonal. Hal tersebut dimaksudkan guna mendapatkan gambaran alokasi masing-masing aktor dalam jaringan kerjasama serta bagaimana tingkat keterhubungan petani dengan masingmasing pemangku kepentingan dalam jaringan kerjasama yang terjadi (House, et al.,2007). Secara garis besar pertanyaan yang mendasari penelitian adalah apakah keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama ditentukan oleh jaringan kerjasama antar anggota dalam kelompok serta antara kelompok dengan pemangku kepentingan (pihak penyedia sarana produksi, penyedia teknik dan informasi, pihak pemasaran) pada program DAFEP. Secara khusus tujuan penelitian ini untuk: (1) Mengidentifikasi struktur jaringan kerjasama kelompok tani Anggrek pada program DAFEP di Desa Pabelan; (2) Mengidentifikasi tingkat keberdayaan petani dalam mengembangkan usahatani anggrek melalui jaringan kerjasama dengan pemangku kepentingan (pihak penyedia sarana produksi, penyedia teknik dan informasi, pemasaran); (3) Mengetahui hubungan antara struktur jaringan kerjasama kelompok tani Anggrek pada program DAFEP di Desa Pabelan dengan tingkat keberdayaan petani dalam mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pemangku kepentingan (pihak penyedia sarana produksi, penyedia teknik dan informasi, pemasaran).

42

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 39 - 50

METODE PENELITIAN
Metode dasar yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Guna mengkaji jaringan kerjasama digunakan pendekatan SNA. Karena unit analisis jaringan kerjasama pada hubungan interpersonal, penelitian ini dibatasi pada satu kelompok, yaitu kelompok tani Anggrek, Desa Pabelan dengan jumlah responden sebanyak 26 orang. Peubah bebas yang diteliti pada jaringan kerjasama antar petani dalam kelompok adalah peubah derajat pemusatan jaringan kerjasama, tingkat penghubung pemusatan jaringan kerjasama dan kerapatan jaringan kerjasama. Sedangkan, pada jaringan kerjasama antara kelompok dengan pemangku kepentingan adalah peubah derajat pemusatan kelompok dan tingkat eigenvector pemusatan jaringan kerjasama. Sedangkan, peubah tidak bebas yang diteliti adalah tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan para pemangku kepentingan (pihak penyedia sarana produksi, penyedia teknik dan informasi, dan pemasaran). Untuk menganalisa elemen-elemen struktur jaringan kerjasama digunakan uji proporsi dengan membedakan elemen struktur jaringan kerjasama tinggi, sedang maupun rendah berdasarkan nilai skoring yang dicapai. Sedangkan tingkat kerapatan jaringan kerjasama dibedakan menjadi rapat dan menyebar.

nyai jaringan kerjasama antar anggota baik secara internal dalam kelompok, maupun antara kelompok dengan pemangku kepentingan (pihak penyedia sarana produksi, penyedia teknik dan informasi, serta pihak pemasaran). Pendekatan SNA merepresentasi-kan jaringan kerjasama dengan matriks (sosiometri) dan grafik (sosiogram). Sosiogram jaringan kerjasama antar petani dalam kelompok dipaparkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Sosiogram Jaringan Kerjasama antar Petani dalam Kelompok pada Kelompok tani Anggrek Keterangan : 1 = Ketua 2 = Sekretaris 3 = Bendahara 4-26 = Anggota
Sumber: Analisis Data Primer,2008

HASIL PENELITIAN
1. Struktur Jaringan Kerjasama Petani
Fenomena pengembangan usahatani melalui jaringan kerjasama yang terjadi pada kelompok tani Anggrek di desa Pabelan setelah dilaksanakan program DAFEP menunjukkan perbedaan dibanding sebelumnya. Guna lebih mengembangkan usahataninya, petani mempu-

Hasil analisis terhadap ukuran pemusatan jaringan kerjasama antar petani dalam kelompok menunjukkan struktur jaringan tersentral pada pengurus yaitu ketua, sekretaris dan bendahara. Sebagian besar petani (69,23) mempunyai mempunyai derajat pemusatan jaringan kerjasama sedang, artinya jumlah ikatan masing-masing petani berkisar antara 9 hingga 16 orang. Hal tersebut diduga karena letak domisili masing-masing anggota kelompok tani

Ema Prananingsih, A. Setiawan H., dan Sunarru S.H., Analisis Jaringan Kerjasama Petani...

43

berjauhan serta menyebar pada beberapa dusun lingkup Desa Pabelan. Selain itu, masing-masing anggota kelompok juga dihadapkan oleh keterbatasan waktu karena kesibukan di luar kegiatan usahatani anggrek. Selain itu, diketahui bahwa sebagian besar petani (88,46%) mempunyai tingkat penghubung jaringan kerjasama rendah. Artinya, masing-masing petani dapat menghubungkan antara 0 hingga 12 orang petani lainnya dengan rata-rata 2 orang petani pada masing-masing simpul. Terjadi demikian diduga karena adanya pertemuan rutin antar anggota dalam kelompok yang diadakan secara periodik menjadikan petani tidak memerlukan penghubung, melainkan langsung berhubungan dengan orang-orang yang berada pada posisi kunci dalam memecahkan permasalahan untuk pengembangan usahatani anggrek. Hasil analisis terhadap tingkat kerapatan jaringan kerjasama antar petani dalam kelompok menunjukkan bahwa tingkat kerapatan jaringan kerjasama seluruh petani termasuk dalam kategori rendah atau menyebar. Terjadi demikian disinyalir karena kesempatan masing-masing anggota untuk memecahkan masalah bersama kaitannya dengan usahatani anggrek hanya terbatas pada setiap pertemuan rutin kelompok yang diadakan satu bulan sekali. Kondisi tersebut memperkecil peluang pengembangan usahatani anggrek dalam skala lebih besar secara kolektif. Sehingga ke depan diperlukan upaya penyadaran terhadap anggota kelompok secara keseluruhan terhadap pentingnya jaringan kerjasama antar anggota dalam kelompok. Berdasarkan data sosiometri dan sosiogram struktur jaringan kerjasama antara kelompok dengan pihak penyedia sarana produksi (Gb. 2) diketahui bahwa kelompok tani Anggrek mempunyai jaringan kerjasama dengan beberapa pihak penyedia sarana produksi. Diantaranya adalah beberapa pengusaha bunga (Royal Orchid, Rizal Orchid,

Pramono, toko bunga di Magelang), UNY dan Taman Anggrek Borobudur.

Gambar 2. Sosiogram Jaringan Kerjasama Antara Kelompok tani Anggrek dengan Pihak Penyedia Sarana Produksi Anggrek Keterangan: = Petani anggota Kelompok tani Anggrek = Ketua dan Bendahara Kelompok Anggrek = Pihak Penyedia Sarana Produksi Anggrek Hasil analisis terhadap ukuran pemusatan jaringan kerjasama diketahui bahwa sebagian besar petani (92,31 %) mempunyai derajat pemusatan kelompok rendah serta tingkat eigenvektor yang rendah pula. Artinya, masingmasing petani dapat menjalin jaringan kerjasama antara 0 hingga 10 orang termasuk didalamnya dengan pihak penyedia sarana produksi. Selain itu, kontribusi masing-masing petani dalam jaringan kerjasama antara kelompok dengan pihak penyedia sarana produksi rendah. Berdasarkan sosiogram pada Gb.2 dapat dilihat bahwa masing- masing petani tidak menjalin jaringan kerjasama secara langsung dengan pihak penyedia sarana produksi, melainkan melalui satu pintu yaitu aktor yang berapa pada posisi pusat dalam jaringan (ketua dan bendahara). Struktur jaringan kerjasama dengan

44

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 39 - 50

pihak penyedia sarana produksi yang memusat menguntungkan bagi kelompok, utamanya adalah memudahkan petani melakukan negosiasi serta dapat meningkatkan efektivitas kerjasama dengan pihak penyadia sarana produksi. Hasil analisis terhadap struktur jaringan kerjasama antara kelompok dengan pihak penyedia teknik dan informasi diketahui bahwa kelompok tani Anggrek mempunyai jaringan kerjasama dengan beberapa pihak penyedia teknik dan informasi. Pihak penyedia teknik dan informasi yang dimaksud meliputi: beberapa pengusaha bunga (Royal Orchid, Pramono) dan instansi pemerintah (Balai Ben ihInduk Salaman, KIPPK Kabupaten Magelang dan BPPK Kecamatan Mungkid).

Gambar 3. Sosiogram Jaringan Kerjasama Antara Kelompok tani Anggrek dengan Pihak Penyedia Teknik dan Informasi Anggrek Keterangan:
= Petani anggota Kelompok Tani Anggrek = Pengurus Kelompok tani Anggrek (Ketua, bendahara dan Sekretaris) = Pihak penyedia Teknik & Informasi Anggrek

jaringan kerjasama sedang dengan indeks pemusatan jaringan kerjasama tergolong sedang. Terjadi demikian karena selain memusat pada pengurus (ketua, sekretaris dan bendahara) struktur jaringan kerjasama yang ada juga memusat pada pemangku kepentingan (Royal Orchid dan Pramono). Hasil analisis terhadap ukuran pemusatan jaringan kerjasama diketahui bahwa derajat pemusatan jaringan kerjasama dan tingkat eigenvektor petani tergolong rendah. Selain itu indeks pemusatan jaringan kerjasama memusat. Terjadi demikian, karena hanya ketua dan bendahara yang terhubung langsung dengan pihak pemasaran. Bagi keberlangsungan usahatani anggrek baik secara individu maupun kelompok, adanya satu pintu yang tersentral pada pengurus dalam jaringan kerjasama usaha dengan pihak pemasaran menguntungkan kelompok. Terjadi demikian karena harga yang ditawarkan petani melalui pemasaran secara kolektif lebih menguntungkan dibanding secara orang per orang. Mengingat pentingnya jaringan kerjasama usaha antara kelompok dengan pihak pemasaran maka pengelolaan usahatani anggrek harus ditangani secara profesional. Oleh karena itu diperlukan pelatihan manajemen usahatani yang berorientasi agribisnis bagi anggota kelompok tani secara keseluruhan. Pemerintah perlu memfasilitasi petani dalam membangun jaringan kerjasama dengan pihak pemasaran baik melalui internet maupun temu usaha. Sehingga diharapkan kelompok dapat mengetahui dengan pasti kondisi dan peluang permintaan yang ada di pasaran.

2

Hasil analisis terhadap ukuran pemusatan jaringan kerjasama menunjukkan bahwa sebagian besar petani mempunyai tingkat pemusatan kelompok dan tingkat eigenvektor

Tingkat Keberdayaan Petani Mengembangkan Usahatani melalui Jaringan Kerjasama dengan Pemangku Kepentingan

Gambaran tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani anggrek melalui

Ema Prananingsih, A. Setiawan H., dan Sunarru S.H., Analisis Jaringan Kerjasama Petani...

45

jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi diukur berdasarkan kemampuan petani mengutarakan, memperoleh serta mengontrol kebutuhan sarana produksi anggrek untuk pengembangan usahatani anggrek. Hasil analisis menunjukkan sebagian besar petani (76,92 %) mempunyai tingkat keberdayaan sedang dalam mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi. Lebih lanjut hasil analisis terhadap peubah tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi berdasar komponen indikatornya menunjukkan bahwa kemampuan petani tergolong sedang dalam mengutarakan (63,38%), memperoleh (76,92%) dan mengontrol (76,92%) sarana produksi anggrek. Hal demikian terjadi disinyalir karena: (1) anggota kelompok tani memberikan wewenang sepenuhnya kepada pengurus sehingga kemampuan petani mengutarakan, memperoleh dan mengontrol sarana produksi menjadi terbatas; (2) tingkat pendidikan pengurus lebih tinggi dibanding anggota lain. Gambaran tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia teknik dan informasi diukur berdasarkan kemampuan petani mengutarakan, memperoleh serta mengontrol kebutuhan teknik dan informasi guna lebih mengembangkan kegiatan usahatani anggreknya. Hasil analisis menunjukkan 100 % petani mempunyai tingkat keberdayaan tinggi dalam mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia teknik dan informasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani tidak menemui kendala yang berarti dalam mengutarakan, memperoleh serta mengontrol teknik dan informasi yang dibutuhkan untuk pengembangan usahatani anggrek. Sedangkan, berdasarkan komponen indikator peubah ini

diketahui bahwa sebagian besar petani mempunyai kemampuan petani tinggi dalam mengutarakan (57,69%), memperoleh (100%) dan mengontrol (92,31%) teknik dan informasi anggrek. Gambaran tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak pemasaran diukur berdasarkan kemampuan petani mengutarakan, memperoleh serta mengontrol hal-hal yang berkaitan dengan pemasaran hasil produksi anggrek guna lebih mengembangkan kegiatan usahataninya. Hasil analisis menunjukkan sebagian besar petani (80,77%) mempunyai tingkat keberdayaan sedang dalam mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak pemasaran. Sedangkan, berdasar komponen indikatornya menunjukkan kemampuan sebagian besar petani rendah dalam menyampaikan harga yang menguntungkan petani (80,77%), serta kemampuan sebagian besar petani termasuk sedang (80,77%) dalam memperoleh pasar (80,77%) dan mengontrol harga pasar (80,77%).

3

Hubungan antara Struktur Jaringan Kerjasama Petani dengan Tingkat Keberdayaan Petani Mengembangkan Usahatani melakui Jaringan Kerjasama dengan Pemangku Kepentingan

Secara umum, hasil analisis terhadap hubungan antara struktur jaringan kerjasama dengan tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama menunjukkan hubungan yang positif. Utamanya pada hubungan antara struktur jaringan kerjasama antara kelompok dengan pihak penyedia sarana produksi dan pihak pemasaran dengan tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi dan

46

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 39 - 50

pihak pemaasaran. Anggota petani yang mempunyai kemampuan menghubungkan lebih banyak anggota lain secara internal mempunyai kemampuan lebih tinggi dalam memperoleh sarana produksi, serta mempunyai kemampuan lebih tinggi dalam mengutarakan, memperoleh dan mengontrol teknik dan informasi pengembangan anggrek. Selain itu, juga mempunyai kemampuan lebih tinggi dalam menyampaikan harga yang menguntungkan bagi petani, memperoleh pasar dan mengontrol harga pasar. Hal ini sesuai dengan pendapat Hanneman dan Riddle (2005) bahwa aktor yang mempunyai kemampuan sebagai penghubung mempunyai kapasitas untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan lebih mudah menghubungi aktor lain, termasuk dengan pengurus. Secara internal, anggota yang terhubung langsung dengan banyak aktor serta jaringan kerjasamanya lebih rapat maka kemampuannya lebih tinggi dalam memperoleh teknik dan informasi anggrek. Selain itu mempunyai kemampuan lebih tinggi dalam menyampaikan harga yang menguntungkan bagi petani, memperoleh pasar dan mengontrol harga pasar. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Franke (2005) bahwa pada jaringan kerjasama yang rapat, memudahkan terjadinya pertukaran informasi dan koordinasi yang lebih baik. Termasuk didalamnya adalah pertukaran informasi sumber-sumber bermanfaat yang dapat menyediakan teknik dan informasi anggrek. Kondisi tersebut memperbesar peluang petani memperoleh teknik dan informasi yang dibutuhkan. Anggota yang terhubung langsung dengan banyak aktor (termasuk didalamnya dengan pihak penyedia sarana produksi dan pemasaran) serta mempunyai peran yang besar dalam jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi dan pemasaran yang tercermin dari tingkat eigenvektornya mempunyai kemampuan lebih

tinggi dalam mengutarakan, memperoleh dan mengontrol sarana produksi serta dalam menyampaikan harga yang menguntungkan bagi petani, memperoleh pasar dan mengontrol harga pasar. Anggota yang terhubung langsung dengan banyak aktor (termasuk didalamnya dengan pihak penyedia teknik dan informasi) mempunyai kemampuan lebih tinggi dalam mengontrol teknik dan informasi pengembangan anggrek. Hal tersebut disinyalir terjadi karena sifat teknologi pengembangan anggrek yang spesifik. Dengan banyaknya aktor yang terhubung langsung, maka kesempatan petani mengetahui teknik dan informasi anggrek lebih banyak, sehingga memperbesar peluang kemampuan petani mengontrol teknik dan informasi pengembangan anggrek.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Simpulan 1. Program DAFEP berhasil mendorong petani dan kelompok tani anggrek untuk membangun embrio jaringan kerjasama sektor usaha hulu, tengah dan hilir baik antar petani maupun antara kelompoktani dengan pemangku kepentingan lain dalam usahatani anggrek. 2. Struktur jaringan kerjasama dalam kelompok menunjukkan struktur dan derajat pemusatan sedang dengan tiga orang aktor utama yaitu pengurus kelompok tani sebagai pusat jaringan yang memegang peranan sentral untuk memperoleh dan mendistribusikan informasi kebutuhan sarana produksi, teknologi pengembangan budidaya maupun harga produk lewat pemasaran bersama. Dengan memusatnya jaringan kerjasama tersebut, peran masingmasing individu dalam mengembangkan jaringan belum tampak.

Ema Prananingsih, A. Setiawan H., dan Sunarru S.H., Analisis Jaringan Kerjasama Petani...

47

3. Walaupun program DAFEP berhasil membangun embrio jaringan kerjasama, tetapi tingkat kerapatan kerjasama antar petani masih rendah dan dalam pengembangan jaringan kerjasama masih tergantung peran aktif pusat jaringan yaitu pengurus kelompoktani. Oleh karena itu, faktor kepemimpinan dan kinerja pengurus untuk menghubungkan petani anggota satu dengan lainnya masih sangat dominan. 4. Program DAFEP juga berhasil mendorong terbentuknya embrio jaringan kerjasama antara kelompoktani dengan pemangku kepentingan. Walaupun demikian, ukuran pemusatan kerjasama dan kontribusi masing-masing aktor dalam jaringan kerjasama menunjukkan perbedaan antar pemangku kepentingan tersebut. 5. Struktur jaringan kerjasama eksternal antara kelompok tani dengan pihak penyedia sarana produksi dan pihak pemasaran memusat pada dua orang pengurus yaitu ketua dan bendahara. Petani anggota kelompok tidak menjalin kerjasama secara langsung dengan kedua lembaga tersebut melainkan melalui simpul kerjasama yaitu pengurus kelompok. Kedua lembaga tersebut dapat meningkatkan efisiensi kerjasama dengan pengurus kelompoktani. Walaupun struktur jaringan ini mampu meningkatkan efisiensi kerjasama dengan pemusatan jaringan kerjasama tetapi peran petani anggota tetap penting dan diperlukan untuk terjadinya pengawasan yang efektif agar seluruh petani dapat memperoleh layanan dan keuntungan yang sama. 6. Struktur jaringan kerjasama eksternal antara kelompok tani dengan penyedia teknik dan informasi relatif longgar dengan munculnya beberapa pusat jaringan selain pengurus, yaitu dua pihak swasta yang

memiliki kredibilitas tinggi bagi anggota kelompok. Tingkat kepercayaan anggota kelompok kepada pemangku kepentingan swasta lebih tinggi dibanding dengan pihak penyedia teknik dan informasi dari pemerintah kerena pemangku kepentingan swasta berperan lebih besar dalam menyediakan informasi teknologi bagi petani anggota. 7. Tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi dan pemasaran tergolong sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar petani mempunyai keterbatasan dalam mengutarakan, memperoleh dan mengontrol sarana produksi. Selain itu, petani mempunyai keterbatasan dalam negoisasi harga yang menguntungkan petani, memperoleh pasar dan mengontrol harga pasar. Keterbatasan keberdayaan petani mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi dan pihak pemasaran menggambarkan lemahnya posisi tawar petani. Sedangkan, tingkat keberdayaan petani dalam mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia teknik dan informasi tergolong tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani anggota dalam program DAFEP dapat dikatakan masih relatif lemah dalam bernegosiasi dalam urusan penyediaan sarana produksi dan aktifitas pemasaran. 8. Struktur jaringan kerjasama petani dan kelompoktani memiliki hubungan positif dengan tingkat keberdayaan petani untuk bekerjasama dengan tiga pemangku kepentingan, khususnya dalam mengembangkan usahatani melalui jaringan kerjasama dengan pihak penyedia sarana produksi dan pemasaran.

48

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 39 - 50

9. Secara internal, apabila anggota petani memiliki tingkat pemusatan jaringan kerjasama tinggi, maka kelompok tani akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengutarakan, memperoleh, dan mengontrol informasi yang berasal dari pemangku kepentingan. Di sisi lain, anggota yang mempunyai kemampuan tinggi sebagai penghubung, maka tingkat kesempatan dan kemampuannya akan semakin tinggi dalam memperoleh informasi teknik dan pasar untuk melakukan negoisasidan mengontrol harga pasar. 10. Secara eksternal, apabila anggota jaringan terhubung langsung dengan banyak pemangku kepentingan serta mempunyai peran besar dalam jaringan kerjasama yang tercermin dari nilai eigenvektornya, maka kemampuannya lebih tinggi dalam mengutarakan, memperoleh dan mengontrol informasi tentang teknologi maupun harga pasar. Implikasi Penelitian a. Implikasi Penelitian bagi Praktisi dan Pemangku Kebijakan 1. Bentuk fasilitasi yang diharapkan oleh kelompoktani dari pemerintah dalam rangka memperkuat jaringan kerjasama secara eksternal dengan pemangku kepentingan dari hulu, tengah dan hilir adalah seperti temu usaha, studi banding maupun pameran hasil produksi anggrek. Dengan elemen kegiatan tersebut diharapkan terjadi negosiasi dan kesepakatan kerjasama usaha yang makin banyak melibatkan partisipasi anggota kelompok. 2. Agar usahatani anggrek dapat berjalan lebih optimal melalui penguatan jaringan kerjasama kelompok maka perlu adanya upaya berbagi peran yang lebih besar dan

seimbang antara petani anggota dan pengurus kelompok dalam hal melengkapi organ organisasi sehingga ketergantungan anggota kepada pengurus dapat dikurangi dan kelancaran arus informasi dapat lebih terjamin. Upaya pemberdayaan bagi anggota kelompok tani secara keseluruhan dapat dilakukan melalui pendekatan penyuluhan partisipatif yang memungkinkan adanya kerja bersama yang lebih intens antar anggota kelompok. Usaha ini dapat dibarengi dengan mengidentifikasi potensi individu yang mungkin berperan sebagai simpul kerjsama baru. Pelaku pemberdayaan petani bukan hanya penyuluh, tetapi melibatkan para pemangku kepentingan lain, seperti pihak swasta dari ketiga sub sistem hulu, tengah dan hilir. 3. Penyediaan dan pembelian sarana produksi dan pengembangan pemasaran hasil produksi anggrek hendaknya lebih mengoptimalkan peran jaringan kerjasama dengan melakukan pembelian dan penjualan kolektif (dapat dilakukan melalui seksi sarana produksi dan seksi pemasaran yang terbentuk). Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kepercayaan (trust) dalam kerjasama antar anggota serta meningkatkan efisiensi kerjasama usaha dengan pihak penyedia sarana produksi dan pemasaran. 4. Rendahnya tingkat kepercayaan anggota kelompoktani kepada peran pihak penyedia teknik dan informasi dari pemerintah perlu diatasi dengan memformulasikan kebijakan untuk peningkatan kualitas dan kredibilitas penyuluh sebagai ujung tombak proses penyuluhan dan pemberdayaan dari pemerintah. Seperti diketahui bahwa komoditas anggrek bukan komoditas yang memperoleh prioritas utama pemerintah sebagaimana halnya komoditas tanaman

Ema Prananingsih, A. Setiawan H., dan Sunarru S.H., Analisis Jaringan Kerjasama Petani...

49

pangan, oleh karena itu untuk meningkatkan kredibilitas aparat pemerintah dalam informasi komoditas dan usahatani anggrek maka perlu dilakukan upaya pelatihan dan pembinaan khusus pada komoditas ini sebagai komoditas hortikultura yang dapat diandalkan di masa mendatang. b. Implikasi Penelitian bagi Akademisi dan Peneliti 1. Berdasar penelitian ini direkomendasikan bahwa pendekatan SNA dapat berfungsi optimal untuk menganalisis struktur jaringan kerjasama dalam sebuah kelompok dan antar kelompok dari berbagai aras yang berkait dengan individu, klik maupun sistem. Untuk menggambarkan fenomena kerjasama dalam dan antar kelompok, penelitian lanjutan berkaitan dengan (1) tingkat pengawasan dan kepuasan anggota terhadap perolehan layanan sarana produksi serta pembagian keuntungann; (2) tingkat trust anggota terhadap simpul jaringan dan pemangku kepentingan lain yang bergerak di bidang penyedia teknik informasi maupun pemasaran; dan (3). komparasi tingkat kepercayaan dan kredibilitas pihak swasta dan pihak pemerintah. 2. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa struktur jaringan kerjasama antara kelompok dengan pemangku kepentingan berhubungan positif dengan tingkat keberdayaan petani mengembangkan usahatani anggrek. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan pada jaringan kerjasama yang terjadi pada usahatani yang lain sehingga dapat dipetakan jaringan kerjasama berbagai kelompok usaha sebagai upaya peningkatan pemahaman kaitan struktur jaringan kerjasama dalam proses pemberdayaan petani.

3. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive dengan anggota petani sebagai responden utama karena keterbatasan peneliti serta level analisis dalam penelitian ini adalah pada level individu petani. Tetapi disadari bahwa studi struktur kerjasama akan mengungkap jaringan kerjasama yang lebih luas dan dalam apabila keterlibatan pihak lain seperti pedagang dan pemerintah juga diteliti perannya dalam usaha pengembangan jaringan kerjasama. Hal tersebut dapat dikembangkan dengan melibatkan responden lain melalui metode snowball sampling.

DAFTAR PUSTAKA
Alsop, R. Bertelsen, M.F., and Holland, J. 2006. Empowerment in Practice from Analysis to Implementation. The World Bank.Washington, http://siteresources. worldbank.org/INTEMPOWERMENT/ Resources/Empowerment_in_ Practice.pdf. Diakses 24 Januari 2008. Anonim. 2001. Panduan Kebijakan Penerapan Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat. http://www.deliveri.org/guidelines/ implementation /ig-5/ig-5-gi.htm. Diakses 19 September 2007. Duncan, S.F., Dunnagan, T., Christopher, S., and Paul,. L. 2001. EDUFAIM: A Successful Program Helping Empower Rural Families Toward Self- Reliance. Journal of Extension. Vol. 39, No. 1 Franke, S., 2005. Measurement of Social Capital. Reference Document for Public Policy Research, Development and Evaluation. PRI Project. Canada.

50

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 39 - 50

House, L., Mullady, J., Lobb, A., and House, M. 2007. The Influence of Culture the Impact of Recomendations on Product Adoption: A Cross Cultural Social Network Study. Selected Paper prepare for presentation at The American Agricultural Economics Association Annual Meeting. Portland, Oregon July 29-31, 2007.

Perkins, D.D. dan Zimmerman, M.A. 1995. Empowerment Theory, Research, and Application. American Journal of Community Psychology, Vol. 23, No. 5. Rogers, E.M., 1995. Diffusion of Innovations. 4th ed. The Free Press. New York. Setiawan, B., 1989. Pelapisan Sosial Dan Jaringan Komunikasi Penelitian di desa

ANALISIS KOMUNIKASI PEMASARAN JASA PADA PT. JIWASRAYA KENDARI
Marsia Sumule Genggong
Staf Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unhalu, Sulawesi

ABSTRACT
The study is aimed at describing and identifying the marketing services communication at PT. Jiwasraya Kendari. Moreover, the study is expected to give practical contributions to PT. Jiwasraya Kendari as information in formulating and establishing the rules in order to increase the services income through communication strategy. In analyzing the data, the researcher uses a qualitative technique by describing the marketing services communication at PT. Jiwasraya Kendari. Here, the application of the marketing services communication can be done through four components: product, distribution, price, and promotion. Key words: marketing communication, product, price, channel, promotion

PENDAHULUAN
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang cukup kompleks dan berpengaruh dalam penyaluran produk perusahaan. Oleh karena itu, bagaimanapun baiknya kegiatan lain dalam perusahaan misalnya kegiatan dalam bidang administrasi, bidang keuangan atau bidang operasional, jika tidak ditunjang oleh sistem pemasaran yang baik maka kelangsungan hidup perusahaan sulit dipertahankan. Demikian pula halnya dalam bidang pemasaran walaupun sudah baik jika tidak ditunjang oleh kebijaksanaan yang tepat maka perusahaan tersebut tidak akan mencapai tujuan. Tujuan perusahaan pada hakekatnya untuk memperoleh keuntungan yang optimal guna menunjang terjaminnya kelangsungan hidup usaha. Dalam konteks persaingan dengan usaha
51

sejenis maka yang menjadi pemenangnya adalah yang mampu menawarkan produk dengan harga yang lebih rendah pada tingkat kualitas yang diharapkan serta mampu mengatasi tantangan dari para pesaing. Untuk itu diperlukan kebijakan yang tepat dalam aktivitas pemasaran. Salah satu aktivitas pemasaran yang cukup penting adalah komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran memegang peranan yang amat penting dalam hubungan antar manusia yaitu antara pihak perusahaan dengan konsumen. Oleh karena itu diperlukan adanya penerapan strategi komunikasi pemasaran yang baik dan efektif. Strategi komunikasi pemasaran bertujuan menyebarluaskan pesan yang bersifat informatif, peruasif dan instruktif/koersif kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal, kemudian dapat

52

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 51 - 60

menjembatani kesenjangan yang akan merusak nilai-nilai budaya tertentu (Atmadja dalam Effendy, 2003). Komunikasi informatif bertujuan agar orang lain mengerti dan tahu tentang pesan yang disampaikan. Komunikasi persuasif bertujuan agar orang lain menerima pesan dengan sadar karena bujukan, sedangkan komunikasi koersif bertujuan agar orang lain merasa adanya sanksi terhadap akibat suatu pesan. Sebagaimana teknik penyampainnya, pesan dapat disampaikan secara langsung dan secara tidak langsung (menggunakan media). Dalam konteks perusahaan, strategi komunikasi pemasaran sering dipadukan atau dikombinasikan seluruh unsur yang ada didalam aktivitas pemasaran yaitu unsur produk, harga, saluran distribusi, promosi, proses, karyawan dan bukti fisik yang dikenal dengan istilah bauran pemasaran (Kotler, 2007:88). Bauran pemasaran dimaksudkan antara lain untuk meningkatkan pendapatan. . PT. Jiwasraya Kendari adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha jasa asuransi yang menawarkan berbagai jenis produk jasa antara lain Asuransi Dwi Guna, Aneka Guna, Beasiswa, Bea Asuhan, Bekal Belajar, Bekal Dewasa, Dwi Jaya, Tri-Jaya, Dwi-Bhakti, Tri-Bhakti, Eka Pralaya, DwiPralaya, Tri-Pralaya, Lindung Sukma dan Kala Bakti. Dalam aktivitas pemasaran menerapkan strategi komunikasi bauran pemasaran dengan harapan dapat menambah nasabah dan memacu peningkatan pendapatan. Penurunan pendapatan PT. Jiwasraya Kendari kemungkinan salah satu faktornya disebabkan karena komunikasi pemasaran yang dilakukan belum sepenuhnya efektif baik dalam mengkomunikasikan jasa yang ditawarkan, penentuan premi, sistem pelayanan maupun program promosi yang dilakukan. Kenyataannya walaupun sudah ada sejak dulu namun kiprah dan pengenalan masyarakat di Sulawesi

Tenggara akan asuransi jiwa ini kurang familiar atau tidak terlalu dikenal masyarakat. Kalaupun ada masyarakat yang mengetahui keberadaan perusahaan asuransi ini, mereka mengenalnya hanya sebagai tempat mengadukan untuk meminta kompensasi keuangan atau keringan biaya jika ada keluarga mereka yang mengalami kecelakaan lalu lintas.Jadi terkesan bahwa perusahaan ini hanya menangani orang-orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Sebaliknya jika masyrakat yang tidak pernah mengalami kecelakaan lalu lintas maka mereka secara otomatis tidak pernah mengenal keberadaan perusaahaan Jiwa Sraya ini. Padahal selain berkecimpung di bidang asuransi kecelakaan , PT. Jiwasraya pun memiliki jenisjenis asuransi yang lain diantaranya asuransi pendidikan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya sebuah pendekatan komunikasi pemasaran jasa yang efektif dalam rangka memacu pertumbuhan pendapatan perusahaan dan pegenalan masyarakat terhadap PT. Asuransi Jiwasraya ini. Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka permasalahan yang di kemukakan dalam penelitian ini adalah bagaimana komunikasi pemasaran jasa pada PT. Jiwasraya Kendari.

KERANGKA TEORETIS
Komunikasi pemasaran jasa memiliki beberapa aspek yaitu: aspek produk, harga, distribusi dan promosi. Aspek-aspek ini dikenal dengan istilah bauran pemasaran. Bagi suatu perusahaan, bauran pemasaran mempunyai peranan sangat penting dalam usahanya. Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat dikemukakan bahwa bauran pemasaran merupakan kombinasi dari empat variabel (biasa disebut 4P) yaitu product, price, place, dan promotion yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan dan dapat

Marsia Sumule Genggong, Analisis Komunikasi Pemasaran Jasa pada PT. Jiwasraya Kendari

53

dikendalikan oleh perusahaan seefektif mungkin. Produk Produk merupakan hasil dari kegiatan produksi yang berwujud barang. Dalam merencanakan pembuatan produk diperlukan pengelolaan yang baik mulai dari pengembangan ide sampai produk tersebut dipasarkan. Variabel pertama dari pemasaran dan cukup penting dan yang mempengaruhi kepuasan konsumen adalah produk, karena produk merupakan sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Price Bagi konsumen, harga merupakan segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanan dari suatu produk. Sedangkan bagi produsen, penetapan harga merupakan cara untuk membedakan penawarannya dari para pesaing. (Hasan, 2008:298). Harga ialah jumlah uang yang ditetapkan sebagai penukar suatu produk atau jasa.Definisi yang lebih luas mengatakan, harga adalah jumlah nilai manfaat pemilikan atau penggunaan produk atau jasa yang ditukar oleh konsumen. (Mas’ud dan Mahmud, 2005:109). Harga merupakan salah satu dari sarana bauran pemasaran yang digunakan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran. Penetapan harga harus dikoordinasikan dengan desain produk, distribusi, penetapan promosi untuk membentuk program pemasaranyang konsisten dan efektif. Perusahaan seringkali menetapkan harga terlebih dahulu dan kemudian menjadikannya dasar untuk keputusan bauran pemasaran lainnya pada harga yang akan diterapkan. Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga

menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa. Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh organisasi perusahaan. Place Kebanyakan produsen bekerja sama dengan perantara pemasaran untuk menyalurkan produk-produk mereka ke pasar. Mereka membentuk saluran pemasaran atau yang sering pula disebut saluran distribusi. Strategi distribusi ditetapkan sedini mungkin, bahkan sebelum produk siap untuk dipasarkan, manajemen harus menetapkan metode dan rute yang akan digunakan untuk mendistribusikannya agar dapat mencapai pasar. Menurut Kotler yang dikutip Irawan, Wijaya dan Sudjoni (2006:135), saluran distribusi adalah himpunan perusahaan dan perorangan yang mengambil alih hak atau membantu dalam pengalihan hak atas barang atau jasa selama berpindah dari produsen ke konsumen. Sedangkan menurut Stern dan ElAnsari dalam Kotler (2007:140) saluran distribusi adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan suatu produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Promosi Promosi adalah berhubungan dengan metode yang mengkomunikasikan kepada pasar target produk yang tepat yang harus dijual pada tempat yang tepat dan harga yang tepat. (Winardi, 2006:336). Kotler (2002:41) mengemukakan bahwa promosi adalah berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menonjolkan

54

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 51 - 60

keistimewaan-keistimewaan produknya dan membujuk konsumen sasaran agar membeli. Selanjutnya Asri (2001:49) mengemukakan bahwa promosi adalah salah satu bagian dari rangkaian kegiatan pemasaran suatu barang sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh penjual untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen dan membujuk mereka agar melakukan pembelian ulang. Konsep Pendapatan Secara umum pendapatan dapat diartikan sebagai hasil pencaharian melalaui suatu usaha tertentu. Berdasarkan pengertian ini maka pendapatan merupakan hasil yang diperoleh dari pekerjaan seseorang, lembaga dan badan usaha dalam jangka waktu tertentu. Dalam ilmu ekonomi, pendapatan diartikan sebagai keseluruhan balas jasa yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi. Winardi (2002:62) mengemukakan bahwa pendapatan adalah hasil berupa uang atau hasil materi lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa-jasa manusia bebas. Komaruddin (2006:81) mengemukakan bahwa pendapatan adalah uang atau materi atau gabungan keduanya yang timbul dari penggunaan faktor-faktor produksi. Pendapatan pada hakekatnya merupakan balas jasa dari jasa-jasa yang dikorbankan, termasuk didalamnya upah, sewa tanah, bunga modal, deviden, honorarium, laba dan pensiun. Baridwan (2002:64) mengemukakan bahwa pendapatan adalah aliran masuk atau kenaikan aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya atau kombinasi keduanya selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan utama badan usaha. Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan tambahan nilai ekonomi terhadap harta

perusahaan pada waktu terjadinya transaksi kegiatan perusahaan selama suatu periode tertentu. Asuransi Pengertian asuransi adalah definisi Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. Istilah “diasuransikan” biasanya merujuk pada segala sesuatu yang mendapatkan perlindungan.

METODE PENELITIAN
Subyek penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bertugas memasarkan jasa asuransi sebanyak 36 orang,penetapan informan dilakukan dengan cara penunjukan langsung (purposive sampling) sebanyak 7 orang yang terdiri dari kepala seksi operasional, Kepala seksi pertanggungan, Pegawai pertanggungan, Kepala Seksiadministrasi dan logistik, pegawai pertanggungan, Unit Manager dan penagih atau kolektor. Dimana para informan diharapkan dapat memberikan data atau informasi yang berhubungan dengan strategi komunikasi bauran pemasaran jasa maupun pendapatan Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantiatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka-angka seperti jumlah karyawan. Sedangkan data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk angka-angka seperti sejarah singkat, struktur organisasi, tugas pokok

Marsia Sumule Genggong, Analisis Komunikasi Pemasaran Jasa pada PT. Jiwasraya Kendari

55

dan fungsi setiap karyawan serta aktivitas dalam strategi bauran pemasaran jasa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni dengan Wawancara, yaitu mengadakan tanya jawab langsung dengan informan yang telah ditetapkan dengan menggunakan pedoman wawancara.Studi pustaka yaitu mengambil berbagai dokumen atau literatur yang telah dipublikasikan karena ada kaitannya dengan penelitian. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung pada obyek penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu menjelaskan kondisi sesungguhnya mengenai komunikasi pemasaran jasa berdasarkan hasil wawancara dengan informan dan hasil observasi di lapangan.

155,74% atau naik dari 139% di 2009. RBC tersebut masih di atas ketentuan pemerintah sebesar 120%.Karena, kalau di atas 150%, perusahaan belum bisa gunakan modal sebaik-baiknya. Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo menambahkan, peningkatan premi pada 2010 dibarengi peningkatan hasil investasi hingga 11,43%. Ini melebihi target pada 2010 yang naik jadi Rp 669 miliar atau tumbuh 30% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 513 miliar. “Kami berharap total investasi di 2011 minimal tumbuh 20%,”tandasnya.

a. Strategi Produk
Seperti pada perusahaan asuransi lainnya, PT. Jiwasraya Kendari juga menawarkan produk asuransi seperti beasiswa, dan asuransi jiwa, caturkarsa dan JS Link investasi. Produk yang paling diminati oleh masyarakat kota Kendari yakni JS.Link dan asuransi Pendidikan. Adapun strategi produk JS Link sebagai berikut: Rasa Aman dalam Berinvestasi, - Dana yang Anda investasikan akan dikelolaoleh Danareksa Investment Management (DIM), - Fund manager yang telah berpengalaman dan terpercaya dalam mengelola investasi pasar modal. Investasi yang Fleksibel - Anda tidak terikat waktu untuk melakukan penebusan, penambahan dan penarikan dana investasi, disamping itu investasi yang dilakukan tidak terbatasi oleh jumlahdana yang akan Anda investasikan. Perlindungan Asuransi yang Maksimal - Selama masa investasi, Anda akan mendapatkan perlindungan asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan yang besar. - Jadi ahli waris Anda tetap dapat menikmati hasil investasi yang menguntungkan jika sesuatu yang tidak terduga sewaktu-waktu

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dam pengumpulan data di lapangan menunjukkan hasil pendapatan PT.Jiwasraya pada periode 3 tahun terakhir ini yakni premi perusahaan mencapai Rp 3,613 triliun atau tumbuh 43 % dari Rp 2,51 triliun di tahun 2009. Dengan pencapaian itu, maka laba bersih perusahaan pada 2010 mencapai Rp 205 miliar. Perolehan ini turun ketimbang 2009 yang membukukan laba bersih Rp 356,07 miliar. Namun, penurunan itu karena tahun 2009 perusahaan melakukan efisiensi ketat sehingga masuk ke laba perusahaan, sedangkan tahun 2010 otomatis sudah tidak ada efisiensi lagi. Tapi, kisaran laba Rp 200 miliar – Rp 300 miliar terbilang normal. Aset Jiwasraya tahun lalu mencapai Rp 7,3 triliun atau naik dari pada tahun 2009 yang sebesar Rp 5,46 triliun. Sementara ekuitas di atas Rp 1 triliun dengan total investasi mencapai Rp 6,7 triliun, naik ketimbang 2009, yang hanya Rp 4,9 triliun. Adapun rasio modal terhadap risiko (risk based capital/RBC) mencapai

56

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 51 - 60

menimpa Anda.

b. Strategi Harga
Harga dalam asuransi disebut premi.Harga merupakan jumlah yang harus dibayarkan oleh setiap pemegang polis sesuai dengan jenis polis dan jenjang waktu nya. Adapun faktor penentu premi dijelaskan oleh bapak I Made Aryawan, bagian Pegawai Pertanggungan PT. Jiwasraya. Berikut kutipan wawancara dengan beliau:
“Dalamasuransi Jiwasraya Faktor penentu premi yaitu faktor usia dan tingkat keseimbangan tubuh, rumus msuk asuransi yaitu tinggi badan kurang -110. Berat badan harus 47 kg. Standar usia 60 tahun kontrak minimal 5 tahun “

tersebut, Pendekatan dengan melakukan silaturahmi, pencarian fakta, memberikan solusi,menyeleksi atau memproses atau dibawah kepenanggungan, serta menyeleksi resiko apa yang akan terjadi.”

d. Strategi Promosi
Adapun bagian penting dalam komunikasi pemasaran adalah promosi.Perusahaan jasa seperti asuransi PT.Jiwasraya senantiasa menggunakan strategi promosi yang bertujuan untuk menarik nasabah atau calon pemegang polis. Wawancara dengan ibu Titi Indra Suari, SH menyatakan strategi promosi Jiwasraya sebagai berikut :
“tentunya PT. jiwasraya melakukan promosi yaitu dengan cara melakukan sosialisasi kepada nasabah-nasabah, cukup efektif apabila dilakukan dengan cara mendatangi rumah nasabah tersebut”

c. Strategi Saluran Distribusi
Mengenai strategi saluran distribusi, Pak Abdul Aziz Lamod sebagai penagih atau kolektor mengungkapkan :
“Guna memperlancar penyaluran produk dari perusahaan PT. Jiwasraya Kendari maka perusahaan menggunakan Agen. Saluran distribusi di atas adalah saluran distribusi satu tingkat (one chanel) dan dianggap paling efektif dan efisien. “yg di lakukan oleh unit manager yaitu melakukan kunjungan dari rumah ke rumah, karena jika menggunakan media lain seperti radio, brosur dan spanduk tidak efisien.”

Dalam PT. Jiwasraya tidak menggunakan media massa dalam promosi. Hal ini diungkapkan oleh Ibu Titi sebagai berikut :
“ kami tidak menggunakan media massa, karena media massa orang hanya melirik, efeknya tidak langsung. Seperti pengalaman, orang jika melihat brosur, pamphlet, pendapat mereka Cuma oh..asuransi, sebatas itu saja. Jadi lebih efektif jika sosialisasi langsung, face to face.”(wawancara Juni 2011)

Pak Ali M. Ali Mustafa juga mengutarakan sepuluh langkah strategi distribusi PT. Jiwasraya adalah sebagai berikut :
“ ada beberapa langkah srrategi distribusi yang kami lakukan, yakni mendatangi nasabah, apakah nasabah butuh atau tidak produk asurani

Pembahasan Komunikasi Pemasaran Jasa Penelitian ini berfokus pada komunikasi pemasaran jasa pada PT. Jiwasraya Kendari.Adapun komunikasi pemasaran dianalisis dari empat sisi strategi, yaitu strategi produk, strategi harga, strategi saluran distribusi, dan strategi promosi.

Marsia Sumule Genggong, Analisis Komunikasi Pemasaran Jasa pada PT. Jiwasraya Kendari

57

Asumsi teoretis yang mendasari penelitian ini adalah pemasaran jasa adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk menawarkan sebuah produk atau jasa kepada orang lain atau kepada konsumen (Kotler, 2007:183). Pada intinya komunikasi pemasaran jasa PT. Jiwasraya ini adalah suatu cara menyampaikan informasi produk berupa layanan jasa dari perusahaan asuransi kepada nasabah. Swastha dan Irawan (2005:78) mengatakan bahwa bauran pemasaran adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran yakni: produk, harga, saluran distribusi, dan kegiatan promosi. Dalam hubungan dengan penelitian ini, PT. Jiwasraya memasarkan produk jasanya dengan melakukan komunikasi pemasaran jasa dengan strategi bauran pemasaran jasa tersebut yang pada akhirnya berdampak positif dalam meningkatkan nasabah PT. Jiwasraya itu sendiri.

b. Strategi Harga
Harga merupakan segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanan dari suatu produk. Sedangkan bagi produsen, penetapan harga merupakan cara untuk membedakan penawarannya dari para pesaing. (Hasan, 2008:298). Harga ialah jumlah uang yang ditetapkan sebagai penukar suatu produk atau jasa.Definisi yang lebih luas mengatakan, harga adalah jumlah nilai manfaat pemilikan atau penggunaan produk atau jasa yang ditukar oleh konsumen. (Mas’ud dan Mahmud, 2005:109). Pada perusahaan asuransi, harga yang dimaksud adalah jumlah atau besar premi yang harus dibayarkan. Jiwasraya menggunakan strategi harga dengan memberikan berbagai keuntungan besar premi yang harus dibayarkan. Jiwasraya lebih meringankan nasabah dengan tagihan tahapan sekaligus, triwulan, dan semester yang bisa dipilih oleh nasabah sesuai kemampuannya.

a. Strategi Produk.
Pada PT. Jiwasraya memiliki 4 produk yang ditawarkan dengan pertimbangan bahwa produk tersebut sesuai kebutuhan dan keinginan nasabah.JS Link merupakan salah satu produk unggulan adalah salah satu jenis strategi produk yang dilakukan Jiwasraya. Produk tersebut memiliki nilai lebih dibandingkan produk lain.Selain itu, asuransi pendidikan (beasiswa) caturkarsa dan asuransi jiwa jiwasraya juga masih menjadi salah satu produk yang diminati. Berdasarkan wawancara dengan kepala seksi operasional tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk JS Link paling banyak diminati. Karena produk tersebut dinilai menguntungkan bagi pemegang polis atau nasabah .Adapun tanggapan nasabah mengenai polis tersebut adalah sangat positif karena dijadikan sarana investasi.

c. Strategi Distribusi
PT.Jiwasraya dalam strategi distribusinya menggunakan distribusi satu tingkat (one chanel) dan dianggap paling efektif dan efisien karena karyawan jiwasraya (agen manager) langsung berhubungan dengan calon pemegang polis ssehingga langsung diinformasikan dan langsung didaftarkan sebagai nasabah jiwasraya. Adapun saluran distribusi yangdigunakan adalah komunikasi langsung yang di lakukan oleh unit manager yaitu melakukan kunjungan dari rumah ke rumah.Hal ini Berdasarkan hasil wawancara dan hasil penelitian.Adapun 10 langkah strategi distribusi PT. Jiwasraya adalah sebagai berikut: 1. Porspekeling Yaitu dengan mendatangi nasabah / calon

58

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 51 - 60

pemegang polis pertama kali untuk memperkenalkan jenis asuransi. 2. Penjajakan Yaitu tahap mengidentifikasi atau menyelidiki apakah nasabah butuh atau tidak produk asuransi tersebut. 3. Pendekatan Agen manager dari pt.jiwasraya melakukan silaturahmikepada nasabah atau calon pemegang polis. 4. Pencarian fakta Apakan nasabah mempunyai uang atau tidak, biasanya nasabah mau membeli prodak tapi tidak mempunyai uang dan sebaliknya 5. Memberikan solusi Didalam menjalankan penjualan polis, agen harus mengetahui kebutuhan untuk nasabah, misalnya menawarkan produk asuransi beasiswa tetapi dia tidak mempunyai anak, yang lebih utama dalam memberikan solusi adalah kadang kala calon nasabah tidak mau membeli asuransi karena dia tidak mengerti apa manfaatnya sehingga ini adalah tugas agen pemasar yang memberikan penjelasan kepada nasabah 6. Persentase yaitu kalau misalnya sudah melalui 5tahap di atas, agen harus menjelaskan manfaatmanfaat produk yang telah dibeli oleh calon nasabah atau pemegang polis, harus menjelaskan keuntungan-keuntungan produk dan jangan ada yang tersembunyi 7. Persetujuan, yaitu persetujuan disini adalah penutupan dan setelah nasabah membeli produk asuransi, nasabah harus dibawa ke kantor

pt jiwasraya untuk melengkapi biodata calon pemegang polis 8. Underwriting yaitu menyeleksi atau memproses atau dibawah kepenanggungan, menyeleksi resiko apa yang akan terjadi wajarkan membeli asuransi atau tidak, kalau sudsh sekarat tidak cocok untuk masuk di asuransi. 9. Penyerahan polis, yaitu meyiapkan dana berapa yang harus dibayar oleh calon pemegang polis, triwulan,smester,tahunan dan sekaligus 10. Pelayanan yang dimaksud disini adalah begitu setelah diserahkan polis pelayanan masih harus dijalankan oleh seorang agen karna tidak menutup kemungkinan dari nasabah yang di masukan dia akan memebeli polis dalam bentuk yang lain sehingga pelayanan itu perlu, dan masih harus terus dikunjungi supaya terjalin terus kerja sama dengan calon pemegang nasabah.

d. Strategi Promosi
Kotler (2002:41) mengemukakan bahwa promosi adalah berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menonjolkan keistimewaan-keistimewaan produknya dan membujuk konsumen sasaran agar membeli. Adapun strategi promosi ini bisa dilakukan melalui periklanan, personal selling, sales promotion, dan publisitas. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan promosi yang dilakukan PT. Jiwasraya adalah dengan cara personal selling atau penjualan secara langsung kepada masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi dengan alasan masih banyaknya masyarakat yang awam

Marsia Sumule Genggong, Analisis Komunikasi Pemasaran Jasa pada PT. Jiwasraya Kendari

59

terhadap jasa asuransi khusunya asuransi jiwa, maka untuk mendorong agar asuransi telah dilakukan oleh perusahaan, meliputi : a) Periklanan dengan memasang iklan pada beberapa surat kabar dan majalah serta media elektronik. b) Penjualan pribadi, dengan melakukan pendekatan langsung kepada calon nasabah yang dilakukan oleh para agen perusahaan. c) Promosi penjualan, dengan mencetak brosur dan kalender, memberikan potongan harga unutk pembayaran langsung dan tahunan serta potongan masa untuk pembayaran premi (pada beberapa jenis asuransi), dan juga untuk ikut serta dalam kegiatan pameran pembangunan. d) Publisitas, dengan melaksanakan kegiatan: 1. Mengadakan lomba gerak jalan versi jiwasraya 2. Memberikan beasiswa pada ulang tahun perusahaan 3. Menerbitkan majalah bulanan (warta jiwasraya)

c. Aspek saluran distribusi, dilakukan secara langsung dimana para agen aktif mengunjungi calon nasabah. d. Promosi, yaitu menjalankan program promotion mix (bauran pemasaran) didukung dengan prosedur administrasi dan pelayanan petugas yang diupayakan semudah mungkin agar nasabah tertarik untuk membeli jasa asuransi yang ditawarkan. Saran Sesuai kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan beberapa hal berikut : a. Kiranya pihak manajemen perusahaan tersebut lebih pro aktif dalam memperluas pemasarannya pada sasaran wilayah pedesaan. b. Perlunya pembenahan profesionalisme pelayanan para karyawan khususnya para agen sebagai petugas lapangan. c. Perlunya mencari celah produk unggulan yang memiliki daya dorong bagi produk lain.

DAFTAR PUSTAKA SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di muka, dapat ditarik simpulan bahwa strategi pemasaran yang dijalankan PT. Jiwasraya Kendari melalui bauran pemasaran, meliputi : a. Aspek produk, yaitu menawarkan jenis asurasi yang lebih bervariasi dibanding dengan pesaing, dan mempertahankan produk yang telah diciptakan b. Aspek harga/pembayaran premi, yaitu memberikan potongan bagi nasabah yang membayar preminya satu tahun sekaligus. Asri Marwan, 2001, Asas-Asas Marketing, Erlangga, Jakarta. Baridwan Zaki, 2002, Intermediate Accounting, BPFE.,UGM, Yogyakarta. Boediono, 2002, Ekonomi Mikro, Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi, BPFE, UGM, Yogyakarta. Cravens David. W, 2003, Pemasaran Strategis, Edisi Keempat, Jilid 2, Erlangga, Jakarta. Effendy, Onong 2001. Ilmu, Teori dan Filasafat Ilmu Komunikasi. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. ..............., 2002. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Remaja Karya Bandung.

60

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 51 - 60

……..…., 2003. Dinamika Komunikasi. PT. Rosda Karya, Bandung. Hasan Ali, 2008, Marketing, Media Pressindo, Yogyakarta. Irawan, Wijaya Faried dan Sudjoni M. N, 2006, Pemasaran, Prinsip dan Kasus, Edisi 2, BPFE-Yogyakarta,Yogyakarta. Jhingan, 2003, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (terjemahan Guritno), CV. Rajawali Press, Jakarta. Komaruddin, 2006, Ensiklopedia Manajemen, LPPM., Jakarta. Kotler Philip. 2002, Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, Erlangga, Jakarta. ........, 2007, Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, Edisi Revisi, Jilid 2, PT. Prenhallindo, Jakarta. Kotler Philip and Keller Kevin Lane, 2008, Manajemen Pemasaran, Edisi 12, Jilid 1, Terjemahan Benyamin Molan, Pt. Indeks, Jakarta. Mas’ud dan Mahmud Machfoedz, 2005, Kewirausahaan, Metode, Manajemen,

dan Implementasi, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta. Moekijat. 2003. Teori Komunikasi. Mandar Maju. Bandung. Poerwadarminta WJS, 2001, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Poli Wim, 2005, Peralatan-Peralatan Pokok Teori Keynes, LP. Unhas, Ujung Pandang. Sudiyono, 2002, Ekonomi Mikro,Pengantar Analisa Pendapatan Nasional, Liberty, Yogyakarta. Swastha Basu DH, 2001, Manajemen Penjualan, Ananda, Yogyakarta. ........, 2004, Asas-Asas Marketing, Liberty, Yogyakarta. Swastha Basu DH dan Irawan. 2005, Manajemen Pemasaran Modern, Lembaga Manajemen Akademi Manajemen, Yogyakarta. Winardi, 2002, Ilmu Ekonomi, Tarsito, Bandung. ................, 2006, Manajemen Pemasaran, Tarsito, Bandung.

KEPEMIMPINAN INOVATIF DALAM PENYEBARAN INFORMASI PENGELOLAAN SAMPAH DI DESA JANTI KECAMATAN WARU - SIDOARJO
Ainur Rochmaniah
(Staf Pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jln. Majapahit 666 B Sidoarjo, telp.0318945444, email: ninuck@yahoo.com)

ABSTRACT
This research is quantitative research by using analysis of communication network method, because this method gains to describe the way of communication network in a certain system. It is the structure of communication network which is shaped because of innovation participates into the certain system. This innovation is trash management by using trash census taker machine. The population of this research is the entire head of household in Janti, Waru, Sidoarjo, number in 2.135 people, which is divided into four of the lowest administrative unit (RT) and twenty of administrative unit at the next to lowest level (RW). The sample is taken in number of 100 people (head of household) or 5% from the population. This research uses the technique of snow ball sampling. To collect the data questioner is used as a technique, and the questioner is filled by the researcher. The result of this research can be concluded that the diffusion of trash management innovation to the society by means of participators communication involves the important role from the promoter of opinion; there is a difference in taking the innovation of trash management that is determined by the promoter of opinion in convincing the society about the important of trash management; the characteristic of the promoter of opinion determine the success of trash management innovation, therefore, the promoters of opinion must have high formal education, status social of economic, using media, and also they should have the ability of empathy, participation and more cosmopolite; the dominant clique is clique that has prominent promoter of opinion, the high level in clique openness, clique density and clique correlation. Keywords: inovation leader, information delivery, trash management

PENDAHULUAN
Penelitian ini berkaitan dengan penyebaran informasi baru mengenai pengelolaan sampah dari seorang pemuka pendapat kepada masyarakat sehingga dapat merubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
61

Informasi baru yang dimaksud adalah mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis atau mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Cara pandang bahwa sampah yang

62

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

selama ini hanya sebagai sumber masalah, perlu untuk dipertanyakan lagi. Dari sisi positif, sampah justru merupakan komoditas bernilai ekonomi dan membuka lapangan kerja bagi ribuan orang. Bagi sebagian besar masyarakat, apalagi masyarakat kota, sampah adalah beban dan biang masalah, diantaranya adalah banjir, bau busuk, pemandangan yang tidak sedap dan lingkungan yang kurang nyaman. Sampahpun bisa menjadi sebab hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya, seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu, Walikota Surabaya, Cak Narto. Beliau sakit dan tidak ada kabar beritanya pada saat kota Surabaya sedang dilanda bencana, yaitu menumpuknya sampah di berbagai sudut kota, sehingga menimbulkan banyak masalah. Menurut Daud Silalahi, seorang pakar lingkungan dari Universitas Padjajaran Bandung, bahwa sampah saat ini harus semakin dipersoalkan. Pertumbuhan penduduk semakin mempersempit ruang sehingga keberadaan sampah semakin menimbulkan persoalan interaksi masyarakat. Begitu pula kualitas sampah semakin beragam, diantaranya soal semakin bertambahnya sampah yang tergolong beracun dan berbahaya yang membutuhkan penanganan khusus. Untuk itu, pengelolaan sampah semakin menuntut peran masyarakat untuk mengembangkan knowledge based society dengan mengembangkan penggunaan teknologi yang semakin efisien. Karena selama ini penyebab timbulnya permasalahan sampah salah satunya ialah perilaku atau cara masyarakat dalam membuang sampah. Masyarakat menganggaap bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan sebagai perilaku yang wajar (Kompas, 4 Juni 2008). Hal ini terjadi pada Desa Janti Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo. Awal tahun 2005, Irsyad, Kepala Desa Janti yang lahir dan besar di desa ini dan baru terpilih, mempunyai ide

untuk mengubah lingkungan desanya yang kotor, kumuh dan bau menjadi lingkungan yang bersih,dan nyaman. Bertahun-tahun Desa Janti adalah desa yang kumuh. Desa yang penuh dengan timbunan sampah di setiap rumah. Ada sampah yang hanya ditumpuk saja, atau dibakar di pekarangan rumah. Bahkan saluran air merupakan tempat favorit untuk membuang sampah. Laju timbunan sampah untuk wilayah Kecamatan Waru dengan jumlah penduduk 210.426 jiwa (sensus penduduk tahun 2005), dan asumsi laju timbunan sampah adalah sebesar 3 liter/orang/ hari, adalah sebesar 631.278 liter/hari atau sama dengan 230.417 m. Fenomena semakin banyaknya sampah menumpuk di berbagai sudut desa menjadi motivasi dan inspirasi pemimpin desa dan tokoh masyarakat lokal untuk merubah kondisi desa yang kotor dan kumuh menjadi desa yang bersih dari sampah. Karena itu, menurut Irsyad, sangat penting melibatkan warga sebagai penghasil sampah untuk ikut mengambil keputusan tentang cara yang benar dalam mengolah sampah, sehingga mereka ikut bertanggungjawab dalam menyelesaikan masalah sampah mereka sendiri. Menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam mengelola sampah berarti juga merupakan proses mengkomunikasikan informasi mengenai sampah dari pimpinan kepada bawahan dan masyarakatnya. Irsyad sebagai Kepala Desa berusaha mewujudkan ide mengelola sampah dengan program mesin pencacah sampah untuk dijadikan kompos. Sebagai anggota LSM lingkungan, beliau juga mendapat pengetahuan bahwa hasil metabolisme manusia bisa dijadikan bahan bakar pengganti minyak tanah atau dikenal dengan nama gas buang. Dengan informasi dari berbagai sumber seperti LSM BEST dari Jerman, Irsyad

Ainur Rochmaniah, Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah

63

kemudian menyebarkan informasi ini kepada tokoh masyarakat, diantaranya Ketua-Ketua RT dan RW, tokoh agama, dan para pengurus BPD. Pro dan kontra mengenai ide membersihkan dan mengelola sampah terjadi didalam masyarakat. Hal ini karena berbenturan dengan berbagai kepentingan yang ada, apalagi yang melontarkan ide adalah Kades yang baru, sehingga pertentangan dan dukungan mewarnai proses pelaksanaan ide ini. Untuk lebih meyakinkan bahwa ide mengelola sampah bukan sesuatu yang mustahil, Irsyad dan para tokoh lokal melibatkan BEST, sebuah LSM lingkungan di Jerman, yang kemudian menawarinya untuk membuat WC plus plus, tahun 2006. Hasil WC plus plus ini adalah gas, yang bisa menjadi alternatif bahan bakar selain minyak tanah atau yang lebih dikenal dengan sebutan biogas. Kemudian ITS membantu dengan mempipanisasi gas dari kotoran manusia untuk disterilisasikan, sehingga bisa digunakan oleh masyarakat sebagai pengganti bahan bakar minyak. Setelah itu akhir tahun 2007, BEST menawarkan dana untuk pengelolaan sampah menjadi kompos, dan melatih Irsyad dan para tokoh lokal yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat. Maka sekarang, di Desa Janti telah berdiri bangunan, mesin pencacah sampah, dan sarana pelengkap untuk membuat kompos. Warga mengelola tempat ini dengan kekuatan 6 tenaga. Mereka juga dibekali dengan 3 sepeda motor lengkap dengan gerobak sampahnya sehingga memudahkan petugas kebersihan untuk mengambil sampah dari rumah warga. Hal lain yang menjadi alasan peneliti untuk melakukan penelitian di Desa Janti adalah desa ini ditetapkan sebagai pilot project pengelolaan sampah di Jawa Timur, mulai November 2007 (pada saat bangunan pengelolaan sampah didirikan di RW I dan selesai Januari 2008).

Setelah proyek ini berjalan beberapa bulan, pada bulan Maret, mesin pencacah sampah telah menghasilkan residu sampah (RW I dan RW II) hanya satu truk dalam satu bulan (mengeluarkan dana sebesar lebih kurang Rp. 200.000,00), untuk dibuang ke TPA Kupang, Sidoarjo. Sedangkan sampah dari perumahan (terdiri dari 2 RW) yang ada di desa tersebut dan mempunyai teknik pengolahan sampah sendiri harus membuang sampah yang belum diolah dalam satu minggu sebanyak 4 truk, ke TPA. Bila dibandingkan keduanya, jelas yang lebih menguntungkan adalah pengolahan dengan teknik mesin pencacah sampah. Pertama, karena residu yang dihasilkan lebih sedikit, dan kedua, karena residu sampah sedikit, maka TPA tidak cepat penuh. Ketiga, proses ini membantu mengurangi volume sampah di TPA Bareng Krajan Kecamatan Krian dan TPA Kupang Kecamatan Jabon. Hal ini karena dua TPA ini dikhawatirkan tidak mampu menampung sampah yang dihasilkan masyarakat Sidoarjo sebanyak 3.677 m3 setiap hari (www. sidoarjokab.go.id). Kenyataan inilah yang harus disampaikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat mempunyai kesadaran sendiri tentang manfaat sampah. Berdasar uraian di atas penelitian ini lebih diarahkan pada komunikasi yang dilakukan pemimpin dalam menggerakkan masyarakat untuk ikut berperan serta dalam mengelola sampah, sehingga mau dan mampu merubah perilaku membuang sampah sembarangan menjadi sampah yang bermanfaat bagi masyarakat sendiri. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana kepemimpinan inovatif dalam penyebaran informasi pengelolaan sampah dari pemuka pendapat kepada masyarakat dan 2) bagaimana tipologi kepemimpinan inovatif dalam proses penyebaran informasi pengelolaan sampah?

64

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

Adapun tujuan penelitian ini adalah 1) menganalisis dan mendeskripsikan kepemimpinan inovatif dalam penyebaran informasi pengelolaan sampah dari pemuka pendapat kepada masyarakat dan 2) memaparkan tipologi kepemimpinan inovatif dalam proses penyebaran informasi pengelolaan sampah.

KERANGKA TEORETIS
Komunikasi Partisipatoris Konsep ini merupakan pendekatan baru dalam strategi komunikasi pembangunan yang melihat unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi (sumber-penerima) memiliki kesetaraan dalam posisi dan peran. Riley (1992) dalam Dilla (2007:159) menyatakan bahwa sebagian besar pendekatan komunikasi pembangunan memiliki karakteristik pada penekanan partisipasi masyarakat di tingkat akar rumput. Asumsi pendekatan partisipatif memandang masyarakat sebagai penerima informasi memiliki kemampuan untuk membangun dirinya dan lingkungannya dengan segala potensi yang ada, baik aspek ekonomi, sosial-budaya maupun politik. Disini, ruang dan peluang masyarakat untuk terlibat penuh cukup terbuka sehingga memegang posisi sentral dalam melakukan perubahan demi keberhasilan pembangunan. Partisipasi menurut Paul dalam Bracht dan Tsourus (1990), memiliki empat tingkatan, yaitu: 1) Information Sharing, merupakan tingkatan terendah partisipasi, dimana para agen membagi informasi, dan memberi pemahaman terhadap informasi dalam menfasilitasi orang bertindak. 2) Concultation, merupakan tingkatan kedua partisipasi, dimana orang mempunyai

peluang untuk berbagi, bertanya, menyimak dan bertindak terhadap agen perubahan. 3) Decision Making, merupakan tingkatan ketiga, dimana orang mempunyai kesempatan untuk bermain dan berperan dalam menentukan desain dan implementasi dalam melakukan perubahan sosial. 4) Initiating action, merupakan tingkatan tertinggi partisipasi, dimana orang telah mengambil inisiatif dan mencetuskan proses perubahan yang diinginkan. Pemilahan ini membantu para perencana dan pelaksana pembangunan, mengetahui tingkatan partisipasi yang telah dicapai dari suatu program pembangunan. Dalam pendekatan partisipatoris, semua permasalahan yang dihadapi merupakan masalah bersama, sehingga cara menyelesaikannya pun perlu dipikirkan bersama. Karena aktivitas komunikasi terjadi dalam ruang publik (public shere) maka memungkinkan setiap orang dapat melakukan akses informasi dan dialog terbuka secara merata. Pendekatan partisipatoris yang dikenal sebagai model komunikasi konvergen, berarti berusaha menuju pengertian yang bersifat timbak balik diantara partisipan komunikasi dalam perhatian, pengertian, dan kebutuhan. Komunikasi Kovergen Menurut Rogers dalam Kriyantono (2006:317), model ini mendefinisikan komunikasi sebagai sebuah proses konvergen (pemusatan) dimana informasi dibagi oleh para partisipan agar dapat mencapai kesepahaman (mutual understanding). Komunikasi merupakan tindakan bersama untuk mencapai saling pengertian yaitu suatu proses dimana partisipan membuat dan membagi informasi antara satu dengan yang lain, dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian. Saling pengertian

Ainur Rochmaniah, Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah

65

merupakan tujuan utama komunikasi, namun hal ini tidak pernah mampu dicapai secara mutlak. Komunikasi akan berakhir bila telah dicapai saling pengertian pada tingkat tertentu. Tingkat saling pengertian dapat digambarkan sebagai dua atau lebih lingkaran saling tumpang tindih, dalam mewakili pikiran anggota komunikasi, atas maksud lain dengan pengertian aktual yang lain pula. Gambar 2. Keterangan gambar 2. Komunikasi merupakan proses dimana anggota-anggota komunikasi saling menghasilkan dan berbagi informasi dengan anggota lain dalam usaha mencapai saling pengertian. Proses siklus ini meliputi pemberian arti bagi informasi yang saling bertukar antara dua atau lebih individu dalam usaha mencapai konvergensi. Konvergensi merupakan kecenderungan antara dua atau lebih individu dalam mencapai tujuan, atau bagi seorang individu-individu yang lain, dan bagi kesatuan interest yang sama. Proses komunikasi berdasarkan model konvergen dimulai dengan ’kemudian......”. Kata ini mengingatkan kita bahwa sebelum memulai penelaahan tentang hal yang sedang berlangsung, sebenarnya telah terjadi sesuatu yang mendahului. Peserta A mempertimbangkan kenyataan ini sebelum ia menggunakan informasi (I1) bersama peserta B. B menafsirkan informasi yang diciptakan oleh A untuk mengutarakan pikirannya. Sesudah itu B membalas dengan menciptakan informasi (I2) untuk digunakan bersama A. A menafsirkan informasi ini dan kemudian menyampaikan pendapatnya dalam bentuk informasi (I3). B kembali menafsirkan informasi ini dan mereka berdua melanjutkan proses (I4....In). Proses berlanjut sampai mereka puas karena telah mencapai pengertian bersama

Gambar 1. Keterangan gambar 1. Komunikasi merupakan proses dimana anggota komunikasi saling menghasilkan dan berbagi informasi antara satu sama lain dalam rangka mencapai saling pemahaman, yang tampak saling tumpang tindih dari pengertian/ pemahaman dari dua individu. Pencapaian pengertian bersama merupakan proses berbagi informasi terus menerus, sehingga dua orang mungkin akan berkomunikasi sampai kedua pihak kurang lebih dapat memahami maksud pihak lain. Pesanpesan digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi sampai masing-masing memiliki kesamaan makna. Proses komunikasi seperti ini dapat digambarkan dalam model komunikasi konvergen. Model komunikasi konvergen merupakan suatu model komunikasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan suatu proses komunikasi yang terjadi antara dua atau lebih individu. Komunikasi merupakan suatu proses pencapaian saling pengertian dengan memanfaatkan secara bersama-sama informasi yang dihasilkan oleh masing-masing peserta komunikasi.

66

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

mengenai makna yang dimiliki masing-masing pihak, tentang pokok pembicaraan mereka. Komunikasi konvergen selalu terjadi antara dua orang atau lebih. Model ini mempelajari hubungan-hubungan, unit analisisnya adalah pasangan, dimana para anggotanya dihubungkan dengan adanya pertukaran informasi. Secara umum model komunikasi konvergen mempunyai tiga asumsi: b. Individu tidak atomistis, melainkan holistis. sehingga memerlukan komunikasi satu sama lain untuk mereduksi ketidakpastian menghadapi beragam informasi. c. Untuk itu cara yang diambil adalah memusatkan perhatian pada informasi yang mengalir selama proses komunikasi berlangsung. d. Dari hasil komunikasi tersebut, ketidakpastian dapat direduksi dan akhirnya memperoleh mutual understanding. e. Komunikator dan komunikan saling membuat dan berbagi informasi, sehingga keduanya aktif dan terjadi pergantian peran. Difusi Inovasi Teori ini di awal perkembangannya mendudukkan peran pemimpin opini dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Artinya media massa punya pengaruh yang kuat dalam menyebarkan penemuan baru. Apalagi jika penemuan baru itu kemudian diteruskan oleh para pemuka masyarakat (Nurudin, 2004: 177). Menurut Rogers dan Shoemaker (1983), difusi adalah proses dimana penemuan disebar-kan kepada masyarakat yang menjadi anggota sistem sosial. Menurut teori ini, sesuatu yang baru akan menimbulkan keingintahuan masyarakat untuk mengetahui. Seseorang yang menemukan hal baru punya kecenderungan untuk mensosialisasikan, menyebarkan kepada orang lain.

Difusi mengacu pada penyebaran informasi baru, inovasi atau proses baru ke seluruh masyarakat. Kebaruan suatu inovasi diukur secara subyektif, berdasarkan pandangan individu penerimanya. Sebagai hal yang baru, inovasi mengandung ketidakpastian, yang dapat menimbulkan derajat resiko tertentu bagi penerimanya. Sehingga hal ini akan menyebabkan perilaku yang berbeda. Maka dalam proses penyebarserapan inovasi terdapat unsur-unsur utama yang terdiri dari (Rogers dan Shoemaker, 1983): (1) Suatu inovasi (2) Yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu (3) Dalam suatu jangka waktu (4) Diantara para anggota suatu sistem sosial Dalam pandangan masyarakat yang menjadi sasaran dalam penyebarserapan inovasi, ada lima atribut yang menandai setiap gagasan atau cara-cara yang dimaksud, yaitu: - Keuntungan relatif (Relative Advantage), yaitu apakah cara atau gagasan baru tersebut memberikan keuntungan relatif bagi penerimanya. - Keserasian (Compatibility), yaitu apakah inovasi yang akan didifusikan serasi dengan nilai agama, gagasan terdahulu, kebutuhan dan sebagainya dari masyarakat yang bersangkutan. - Kerumitan (Complexity), yaitu apakah inovasi tersebut dirasakan rumit atau tidak oleh penerimanya. - Dapat dicobakan (Trialability), yaitu bahwa suatu inovasi akan lebih cepat diterima bila dapat dicoba dalam ukuran kecil sebelum akhirnya mengadopsi secara keseluruhan. - Dapat diamati (Observability), yaitu bila suatu inovasi dapat diamati dan segera dapat dilihat hasilnya, maka orang akan lebih mudah menerimanya.

Ainur Rochmaniah, Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah

67

Atribut diatas menentukan bagaimana tingkat penerimaan terhadap inovasi yang didifusikan pada suatu masyarakat (Rogers, 1983:15). Suatu inovasi akan didifusikan kepada individu anggota sistem sosial untuk memperoleh hal yang lebih baik. Bila pesan-pesan tersebut dipercaya oleh penerimanya, maka inovasi tersebut akan diterima. Namun bila tidak maka inovasi tersebut akan ditolak oleh individu anggota sistem sosial, dimana inovasi tersebut didifusikan. Sebelum individu anggota sistem sosial membuat keputusan untuk menerima atau menolak inovasi, terdapat proses keputusan inovasi, yang merupakan rangkaian dari proses pencarian informasi untuk menghilangkan atau mengurangi ketidakpastian tentang inovasi (Rogers, 1983:21). Proses keputusan inovasi merupakan proses dimana individu menentukan suatu sikap berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya tentang inovasi untuk membuat keputusan menerima atau menolak inovasi. Terdapat 4 (empat)tahap dalam proses keputusan inovasi, yaitu: a. Pengetahuan (Knowledge), yaitu ketika individu mengetahui adanya suatu inovasi dan menerima informasi mengenai inovasi tersebut. b. Persuasi (Persuasion), terjadi ketika individu membentuk suatu sikap terhadap inovasi, baik sikap yang positif maupun negatif. c. Keputusan (Decision), yaitu ketika individu melakukan tindakan yang mengarah pada keputusan memilih menerima atau menolak inovasi. d. Konfirmasi (Confirmation) yaitu ketika individu melakukan konfirmasi tentang keputusan inovasi yang telah dibuatnya. Konfirmasi akan memperkuat keputusannya, bila individu menerima pesan yang mendukung. Namun bila individu menerima

pesan yang bertentangan, maka ada kemungkinan individu tersebut akan mengubah keputusannya. Proses keputusan inovasi menunjukkan bahwa suatu proses difusi inovasi tidak selalu berakhir dengan keputusan untuk mengadopsi. Proses difusi bisa berakhir dengan keputusan untuk menolak bila inovasi yang didifusikan relatif tidak menguntungkan, terlalu rumit, atau tidak sesuai dengan norma sistem sosial dimana individu tersebut berada. Roger membagi pelapisan penerima pesan atas enam tipe, yakni: a. Innovator (pembaharu) b. Early adopter (penerima dini) c. Early mojority (penerima mayoritas cepat) d. Late majority (penerima mayoritas lambat) e. Laggard (pengikut) f. Die hard (kepala batu) Menurut Roger, kesediaan komunikan untuk menerima ide antara lain disebabkan karena: a. Adanya kepentingan ganda yang dapat diperoleh kedua belah pihak, yakni antara sumber dan penerima (overlanpping of interest). b. Pesan itu memberi pemecahan pada masalah yang dihadapi oleh komunikan (problem solving). c. Komunikan percaya komunikator yang menyampaikan pesan itu memiliki kompetensi dan kredibilitas yang tinggi. d. Komunikan percaya bahwa pesan itu dapat membuat perubahan sebagaimana yang diinginkan oleh komunikan.

Pola Jaringan Komunikasi Terbentuknya jaringan komunikasi dengan arus komunikasinya yang terpola dalam sebuah sistem sosial yang dimasuki inovasi

68

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

dimungkinkan, sebab individu cenderung melakukan konfirmasi dengan mencari informasi mengenai inovasi pada anggota yang dekat secara fisik maupun sosial, serta dianggap mampu memberikan informasi tersebut. Akibatnya akan ada anggota yang dipilih dan ada anggota yang diabaikan. Keadaan yang demikian ini akan membentuk pola jaringan komunikasi diantara anggota-anggota yang bersangkutan (Rogers, 1983:293). Pola jaringan komunikasi adalah suatu gambaran dinamika komunikasi yang membuat kita dapat mengidentifikasi struktur komunikasi yang terbentuk akibat masuknya inovasi ke dalam suatu sistem sosial Struktur komunikasi merupakan susunan dari unsur-unsur yang berlainan yang dapat dikenal melalui pola arus komunikasi dalam suatu sistem. Struktur ini dapat dilihat pada lima tingkat, yaitu individu (terdiri dari kepemukaan pendapat dan struktur komunikasi), jaringan komunikasi personal (terdiri dari jaringan komunikasi personal, integrasi jaringan komunikasi, wilayah pengaruh, sentralitas, prestise, pilihan hubungan komunikasi, frekuensi komunikasi) diadik (terdari dari homofili dan heterofili, dan arah hubungan), klik (klik, keterbukaan klik, kepadatan klik, keterhubungan klik), dan sistem (terdiri dari kepadatan jaringan komunikasi, keterhubungan jaringan komunikasi, kekompakan jaringan komunikasi). Selanjutnya Michael R. Solomon menyatakan karakteristik pemuka pendapat sebagai individu yang menjadi sumber informasi berharga bagi anggota sistem, yaitu sebagai berikut: 1. Secara teknis berkompeten, oleh karena itu dapat dipercaya karena memiliki kekuatan keahlian (expert power) 2. Telah melakukan penyaringan, evaluasi, dan sintesis yang tanpa bias terhadap inovasi sehingga memiliki kekuatan pengetahuan (knowledge power)

3. Secara sosial cenderung aktif sehingga memiliki jaringan komunikasi personal yang luas. 4. Cenderung memiliki kesamaan dengan anggota sistemnya dalam hal kepercayaan dan nilai, sehingga memiliki referent power 5. Cenderung menjadi orang pertama yang mengadopsi inovasi diantara anggota sistem lainnya, sehingga termasuk orang yang berani menanggung resiko (Solomon, 1996:359 – 369)

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan eksplanasi. Lokus penelitian dilakukan di Desa Janti Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo. Penentuan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa desa ini mempunyai program pengelolaan sampah dengan mesin pencacah sampah sejak tahun 2007. Hingga sekarang, mulai dari kepala desa sampai dengan masyarakat, semuanya turut berpartisipasi aktif dalam implementasi program pengelolaan sampah serta menyosialisasikan program tersebut ke masyarakat sekitar. Populasi penelitian sebesar 2.135 orang yang terbagi dalam empat rukun warga dan dua puluh rukun tetangga dengan sampel tanpa ada batasan hingga peneliti merasakan bahwa data yang diperoleh telah jenuh serta tidak menemukan sesuatu hal yang baru. Penentuan sampel menggunakan teknik snow bal. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang berisi pertanyaan sosiometri tentang informasi inovasi pengelolaan sampah. Dalam pengisian angket, setiap responden diberikan kesempatan untuk menunjuka tiga orang pasangan komunikasi yang dianggap sering berinteraksi dan berkomunikasi tentang program pengelolaan sampah. Data yang terkumpul kemudian

Ainur Rochmaniah, Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah

69

dikoding dan dianalisis dengan menggunakan teknik penganalisisan kuantitatif.

HASIL PENELITIAN
1. Kepemimpinan Inovatif dalam Pengelolaan Sampah
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa 4 RW yang berada dalam wilayah Desa Janti melakukan pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan masing-masing RW. a. RW I: warga RW I secara kompak melakukan pengelolaan sampah dengan teknik mesin pencacah sampah yang hasil akhirnya adalah kompos, pupuk untuk tanaman. Warga diminta iuran sebesar Rp. 5000,00. b. RW II: melalui proses pembuangan sampah ke lahan kosong yang ada di sekitar rumah warga, dan warga tetap harus membayar iuran sebesar Rp. 2000,00 per-bulan. c. RW III dan RW IV, mereka membuat kebijakan dengan menyewa petugas kebersihan untuk mengambil sampah dan membuangnya entah kemana, dan warga ditarik iuran sebesar Rp. 8000,00. Inovasi pengelolaan sampah dengan teknik mesin pencacah sampah yang dilakukan oleh kepala desa untuk sementara (pada saat penelitian ini dilakukan) hanya berhasil pada satu RW yaitu RW I yang kebetulan sekali merupakan RW dimana kepala desa (responden no. 1 untuk RW I) bertempat tinggal. Kepala desa sebagai tokoh pemuka pendapat utama dan bridge dengan pemilih sebanyak 20 responden juga dibantu oleh pemuka pendapat lain yang jumlahnya lebih banyak daripada RW-RW lainnya, yaitu 7 orang. Dengan dibantu 7 pemuka pendapat ini, kepala desa melakukan inovasi pengelolaan sampah kepada warganya. Kepala desa tidak sekedar menyebar-

luaskan inovasi, tetapi sebelumnya ia juga belajar dan mencari informasi tentang pengelolaan sampah dengan teknik mesin pencacah sampah ke LSM lingkungan dari Jerman yang bernama BEST. Kebetulan, ia juga menjadi anggota salah satu LSM lingkungan. Langkah yang dilakukannya sesuai dengan pengertian informasi menurut Kincaid & Schramm, yaitu informasi dapat mengurangi ketidakpastian kita dalam situasi tertentu. Informasi tentang inovasi pengelolaan sampah dari BEST meyakinkannya untuk bisa mengubah gaya hidup masyarakatnya dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah dengan mesin pencacah. Selain BEST, kepala desa juga mencari informasi lain dengan mengakses media massa. Kenyataan ini sesuai dengan teori multi step flow communciation. Menurut Rogers, media massa dapat menyediakan informasi kepada khalayak dan memotivasi mereka untuk mengadopsi inovasi. Dan tahap selanjutnya adalah saat opinion leader (pemuka pendapat) meneruskan informasi yang diterimanya kepada sasaran kedua yaitu komunikan pada umumnya.Efek media massa pada khalayak tidak secara langsung, melainkan ide atau pendapat mengalir dari media massa ke pemuka pendapat terlebih dahulu, dan baru setelah itu diteruskan ke bagian khalayak yang lain (Jahi, 1988:110). Jadi media massa membawa pengaruh pada pemuka pendapat, sementara pemuka pendapat mempengaruhi pendapat pengikutnya yang bersifat antarpribadi (De Vito, 1997). Namun pada saat ini, pemuka pendapat tidak lagi tergantung pada informasi dari media massa. Pemuka pendapat berusaha untuk memanfaatkan saluran komunikasi yang dipandang penting dalam usahanya menyebarkan informasi kepada masyarakat, dan saluran tersebut tidak terbatas pada media massa semata-mata. Para penyuluh pembangunan juga

70

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

merupakan saluran komunikasi yang berperan penting, terutama dalam menyebarkan pesanpesan pembangunan. Para penyuluh ini umumnya terdiri dari para pendidik, teknisiteknisi, spesialis maupun politisi. Fakta inilah yang terjadi di Desa Janti, BEST sebagai LSM yang bergerak di bidang lingkungan, didukung oleh Dinas Kebersihan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Dinas Kebersihan Propinsi Jawa Timur, serta Kepala Desa dan tokoh-tokoh masyarakat desa, berusaha mewujudkan harapan Desa Janti yang bersih dari sampah dan merasakan kegunaan sampah. Jadi dapat disimpulkan bahwa saluran utama komunikasi kepala desa untuk menyebarkan inovasi pengelolaan sampah kepada warganya berbentuk komunikasi antarpribadi. Menurut Depari (1995:61) saluran ini bersifat mandiri (otonom), pesan-pesannya menyebar melalui percakapan antaranggota masyarakat atau melalui pertemuan-pertemuan kelompok, diskusi-diskusi, dan peragaanperagaan. Kemudian, dari proses komunikasi antarpribadi ini terjadi proses komunikasi konvergen, yaitu proses dimana anggota komunikasi saling menghasilkan dan berbagi informasi antara satu sama lain salam rangka mencapai saling pemahaman atau pengertian bersama. Pencapaian pengertian bersama merupakan proses berbagi informasi terus menerus, sehingga dua orang mungkin akan berkomunikasi sampai kedua pihak kurang lebih dapat memahami maksud pihak lain. Pesanpesan digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi sampai masing-masing memiliki kesamaan makna. Maka dalam proses komunikasi konvergen ini terjadi tahapan proses keputusan inovasi, yaitu knowledge (pengetahuan), persuasion (persuasi), decision (keputusan), dan confirmation (konfirmasi). Keempat hal ini dilakukan oleh kepala

desa dan tokoh masyarakat lainnya, dengan mengakui bahwa hampir tiap sore hari mereka “cangkrukan” di lokasi TPA/KSM yang ada di lingkungan RW I. Ini menyebabkan inovasi pengelolaan sampah lebih dapat diterima oleh warga RW I daripada warga RW lainnya karena kondisi yang memungkinkan mereka terus berkomunikasi dan menyosialisasikan inovasi ini, disamping karena kepala desa dalam berhubungan lebih banyak dengan individu-individu anggota sistemnya yang kedekatan atau proksimitasnya tinggi. Keadaan ini tampaknya disebabkan oleh adanya kedekatan jarak tempat tinggal (masih dalam satu lingkungan RW) dimana hampir setiap anggota masyarakatnya sangat mengenal satu sama lain. Faktor lainnya adalah partisipasi aktif dari bapak-bapak, yang kebetulan juga pemukapemuka pendapat dan menjabat sebagai Ketuaketua RT dan Ketua RW. Di lingkungan RW I, didapatkan fakta bahwa yang berperan aktif melakukan pengelolaan sampah adalah para bapak-bapak (Kepala Keluarga), sedangkan ibu-ibu rumah tangga bertugas membuang sampah yang telah disediakan di depan rumah dan membayar retribusi setiap bulannya. Strategi yang dilakukan oleh kepala desa dengan melakukan komunikasi konvergen kepada warganya melalui pemuka-pemuka pendapat seperti Ketua-Ketua RT dan Ketua RW, agar warga mau berpartisipasi dalam membangun desanya, dengan model cangkrukan adalah sesuai dengan konsep yang menyatakan bahwa sebagian besar pendekatan komunikasi pembangunan memiliki karakteristik pada penekanan partisipasi masyarakat di tingkat akar rumput. Dimana asumsi partisipatif memandang masyarakat sebagai penerima informasi memiliki kemampuan untuk membangun dirinya dan lingkungannya dengan segala potensi yang ada, baik aspek ekonomi, sosial budaya maupun politik, sehingga disini, ruang

Ainur Rochmaniah, Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah

71

dan peluang masyarakat untuk terlibat penuh cukup terbuka dan memegang posisi sentral dalam melakukan perubahan demi keberhasilan pembangunan. Dalam pendekatan partisipatoris, semua permasalahan yang dihadapi merupakan masalah bersama, sehingga cara menyelesaikannya pun perlu dipikirkan bersama, karena aktivitas komunikasi terjadi dalam ruang publik (public sphere) maka memungkinkan setiap orang dapat melakukan akses informasi dan dialog terbuka secara merata. Pendekatan partisipatoris yang dikenal sebagai model komunikasi konvergen, berarti berusaha menuju pengertian yang bersifat timbal balik diantara partisipan komunikasi dalam perhatian, pengertian, dan kebutuhan. Dengan demikian pemuka-pemuka pendapat di RW I dalam penyebaran informasi pengelolaan sampah juga memiliki tingkat partisipasi, yaitu information sharing, concultacion, decision making dan initiating action. Sedangkan pemuka-pemuka pendapat di RW II, III, IV hanya memiliki tingkatan information sharing dan concultation. Pada tingkat information sharing, yang merupakan tingkatan terendah partisipasi, para pemuka pendapat membagi informasi, dan memberi pemahaman terhadap informasi dalam menfasilitasi orang bertindak. Pemuka pendapat baik di RW I, II, III, dan IV, telah melakukan tingkatan ini dengan memberikan informasi tentang pengelolaan sampah, memberikan pengertian dan pemahaman, serta untung ruginya kepada masyarakat desa dalam berbagai forum formal dan informal. Forum formal, misalkan pertemuan-pertemuan di tingkat RT dan RW yang rutin dilaksanakan setiap sebulan atau dua bulan sekali. Sedangkan pertemuan informal adalah pertemuan yang tidak pernah direncanakan dn terjadi begitu saja, misalkan dengan cangkrukan di warung-warung.

Concultation, merupakan tingkatan kedua partisipasi, dimana orang mempunyai peluang untuk berbagi, bertanya, menyimak dan bertindak terhadap agen perubahan. Disini, pemuka pendapat menjadi tempat bertanya atau konsultasi tentang pengelolaan sampah. Terjadi diskusi yang cukup panjang dan perdebatan diantara pemuka pendapat dan masyarakat. Permasalahannya adalah ketidakjelasan informasi tentang proses pengelolaan sampah, dari proses pemilahan sampah, penanganan bau tidak sedap dari kompos yang masih dalam proses, iuran sampah, dan distribusi kompos. Decision Making, adalah tingkatan ketiga partisipasi, dimana orang mempunyai kesempatan untuk bermain dan berperan dalam menentukan desain dan implementasi dalam melakukan perubahan sosial. Tingkatan ini hanya dilakukan oleh pemuka-pemuka pendapat di RW I. Mereka berperan dan berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah melalui: 1. Pencarian informasi ke berbagai sumber informasi, seperti Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, LSM lingkungan (BEST), dan media massa. 2. Secara berkelompok, mereka mempelajari proses pengelolaan sampah dengan teknik mesin pencacah sampah ke daerah Tangerang, Jawa Barat. 3. Menyebarkan informasi yang telah didapatkan tersebut ke masyarakat desa. Initiating action, merupakan tingkatan tertinggi partisipasi, dimana orang telah mengambil inisiatif dan mencetuskan proses perubahan yang diinginkan. Tingkatan ini juga hanya dilakukan oleh pemuka-pemuka pendapat RW I, dikarenakan mereka telah menyadari manfaat dari teknik pengelolaan sampah dengan mesin pencacah sampah.

72

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

Menurut Rogers, suatu inovasi akan didifusikan kepada individu anggota sistem sosial untuk memperoleh hal yang lebih baik. Bila pesanpesan tersebut dipercaya oleh penerimanya, maka inovasi tersebut akan diterima, dan inovasi pengelolaan sampah ini bisa diterima karena pemuka-pemuka pendapat dan masyarakatnya telah mendapatkan : - Keuntungan relatif (Relative Advantage), yaitu cara atau gagasan baru tersebut memberikan keuntungan relatif bagi penerimanya. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, mereka menyatakan keuntungan dari segi materi dan non materi, lingkungan bersih dari sampah, mendapatkan kompos sebagai hasil dari pengelolaan sampah organik, dan uang dari hasil penjualan sampah anorganik (kertas, plastik, kain, dan lain-lain). - Keserasian (Compatibility), yaitu inovasi yang akan didifusikan serasi dengan nilai agama, gagasan terdahulu, kebutuhan dan sebagainya dari masyarakat yang bersangkutan. Menurut pemuka pendapat, inovasi pengelolaan sampah ini sesuai dengan nilainilai keimanan secara Islami, karena sebagian besar masyarakatnya adalah muslim, maka kalimat kebersihan adalah sebagian dari iman, menjadi modal mereka untuk mempengaruhi masyarakat. - Kerumitan (Complexity), yaitu inovasi tersebut dirasakan rumit atau tidak oleh penerimanya. Setelah melalui proses pembelajaran yang cukup panjang, sampai harus belajar ke Tangerang, dan diskusi sambil cangkrukan di warung, inovasi pengelolaan sampah kemudian diterapkan di RW I. Teknik mesin pencacah sampah sebenarnya merupakan teknik yang membutuhkan peran aktif masyarakat, karena proses yang harus dilalui adalah petugas mengambil sampah dari rumah-

-

-

rumah dengan menggunakan sepeda gerobak; pemilahan sampah kering (anorganik) dan basah (organik) yang seharusnya dilakukan pada level rumah tangga, tapi disini, masyarakat belum mau sehingga yang melakukannya petugas kebersihan; sampah dimasukkan ke mesin pencacah sampah (seperti digiling), kemudian hasil cacahan sampah dimasukkan dalam kotak kayu persegi panjang dan ditutup rapat Dapat dicobakan (Trialability), yaitu bahwa suatu inovasi akan lebih cepat diterima bila dapat dicoba dalam ukuran kecil sebelum akhirnya mengadopsi secara keseluruhan. Dapat diamati (Observability), yaitu bila suatu inovasi dapat diamati dan segera dapat dilihat hasilnya, maka orang akan lebih mudah menerimanya.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Citra Wardhani (2005), yang menyimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam melakukan kegiatan pemilahan sampah rumah tangga mencapai 54,8%, sedangkan variabel tokoh masyarakat dan dukungan komunitas secara bersama mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemilahan sampah rumah tangga sebesar 47% - 53%. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh masyarakat atau dalam hal ini pemuka pendapat mempunyai peran yang penting dalam mempengaruhi masyarakat.

2. Tipologi Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah
Hasil penelitian menjelaskan bahwa pemuka pendapat yang dipilih oleh masyarakat desa adalah juga seorang bridge, hal ini karena

Ainur Rochmaniah, Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah

73

bridge dianggap (1) memiliki status formal yang lebih tinggi dalam organisasi daripada mereka yang bukan bridge, (2) telah menjadi anggota organisasi jauh lebih lama daripada yang bukan bridge, (3) memiliki jumlah kontak komunikasi yang lebih besar dalam organisasi, (4) memiliki jumlah informasi yang lebih besar berkenaan dengan dimensi isi pesan yang dijadikan sebagai definisi peranan mereka, (5) memiliki pengaruh yang lebih besar atas “struktur kekuatan” organisasi, (6) memiliki kendali lebih ketat atas aliran informasi dalam organisasi, (7) lebih kompeten dalam kegiatan organisasi. Disamping itu juga terdapat heterofili pada status sosial ekonomi dan tingkat penguasaan inovasi antara pemuka pendapat dan masyarakat umum. Kedua hal ini menyebabkan inovasi cepat menyebar ke seluruh warga RW I dan berhasil mengubah perilaku masyarakat dalam hal pengelolaan sampah. Sesuai dengan enam tipe penerima pesan menurut Roger, pemuka-pemuka pendapat yang dimiliki oleh RW-RW di Desa Janti, termasuk dalam tipe inovator, early adopter, early majority, late majority, laggard, dan die hard, penjelasannya adalah sebagai berikut: a. Pemuka pendapat tipe inovator adalah responden nomor 1 RW I, dimana responden ini merupakan seorang yang senang pada perubahan dengan berani melakukan uji coba yang penuh resiko. Responden ini juga terbuka pada dunia luar, berusaha mengubah lingkungannya yang tidak cocok dengannya, memiliki tingkat terpaan media massa yang tinggi, dan memiliki jaringan hubungan interpersonal yang luas sehingga menyebabkan terciptanya keterbukaan dalam sistem. b. Pemuka pendapat tipe early adopter adalah responden nomor 1, 2, 7, 12, 13, 15, 21, dan 25 yang bermukin di RW I. Hal ini karena mereka semua adalah

kelompok individu yang pertama kali mengadopsi inovasi setelah inovator. Mereka adalah golongan yang berintegrasi dengan sistem sosial yang ada. Biasanya mereka menjadi tempat bertanya dan pertimbangan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Responden berpendidikan cukup tinggi yaitu lulusan SMA, tetapi tingkat penguasaan inovasi diatas rata-rata, membuatnya dipercaya dan dipilih oleh responden lain berkaitan dengan urusan sampah, karena itu responden mempunyai indeks prestise responden diatas rata-rata dan status sosial ekonomi termasuk dalam kategori tinggi. c. Pemuka pendapat tipe early majority dimiliki oleh responden nomor 1 dari RW II, karena responden ini termasuk awal dalam mengadopsi inovasi, dengan sering melakukan interaksi dengan innovators dan early adopters. Kelompok ini berada diantara orang-orang yang pertama kali mengadopsi inovasi dan orang-orang yang terlambat mengadopsi inovasi, sehingga seringkali berfungsi sebagai jembatan penghubung dalam jaringan sistem. d. Pemuka pendapat tipe die hard dimiliki oleh responden nomor 1 RW III, karena responden ini menolak inovasi pengelolaan sampah dengan teknik mesin pencacah sampah, alasannya masyarakat RW III sudah merasa nyaman dengan model pengelolaan sampah, yaitu dengan membayar iuran secara rutin setiap bulan dan sampah diambil diangkut oleh petugas kebersihan yang disewa untuk hal tersebut. e. Pemuka pendapat tipe late majority dimiliki oleh responden nomor 1 RW IV. Tipe late majority adalah mereka yang menerima ide-ide baru setelah rata-rata anggota lainnya menerimanya lebih awal. Mereka menerima setelah melihat ide baru

74

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

itu membawa keuntungan secara ekonomis, atau setelah ia mendapat tekanan demi keamanan dirinya. Inilah yang terjadi pada responden nomor 1. Kepala Desa telah memberikan pengertian dan pemahaman pada responden ini tentang manfaat mengelola sampah, dan setelah melihat secara langsung teknik bekerja mesin pencacah sampah, barulah responden ini menerima teknik ini.

SIMPULAN
Simpulan dari penelitian ini adalah: 1. Kepemimpinan inovatif dalam penyebaran informasi pengelolaan sampah dari pemuka pendapat kepada masyarakat adalah pemimpin yang memiliki kedekatan (proximity)secara fisik dan moral, memiliki tingkatan partisipasi yaitu information sharing, concultacion, decision making, dan initiating action, dan melakukan teknik berkomunikasi konvergen. 2. Tipologi kepemimpinan inovatif dalam proses penyebaran informasi pengelolaan sampah adalah pemipin dengan tipe inovator (pembaharu) dan early adopter (penerima dini). 3. Berdasarkan pola jaringan komunikasi, masyarakat inovatif adalah masyarakat yang mempunyai tingkat keterbukaan tinggi terhadap masyarakat lain di luar sistemnya, memiliki heterogenitas tinggi dalam tingkat penguasaan inovasi, dan memilih hubungan komunikasi 2 arah dalam proses komunikasi. Saran 1. Penelitian pola jaringan komunikasi sangat terbatas pada dimensi ruang, waktu dan topik inovasi menyebabkan validitas hasil penelitian ini tidak berlaku secara umum.

Dengan demikian diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dan berkesinambungan di masa yang akan datang. 2. Sebagai Kepala Desa dan pemuka pendapat utama dalam inovasi pengelolaan sampah, sebaiknya Kepala Desa melakukan komunikasi yang seimbang antara RWRW yang ada di wilayahnya, sehingga tidak ada ketimpangan informasi dan isu-isu yang tidak benar berkaitan dengan tidak lancarnya arus informasi kepada mereka, dengan begitu inovasi pengelolaan sampah bisa diterima semua warga desa.

DAFTAR PUSTAKA
Devito, Joseph A, Human Communication, dalam Agus Maulana (penerj.) Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Professional Books,1997 Depari, Eduard dan Colin MacAndrews, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan, Gadjah Mada University Press, 1995 Dilla, Sumadi, Komunikasi Pembangunan, Pendekatan Terpadu, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2007 Eriyanto, Metodologi Polling, Memberdayakan Suara Rakyat, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1999 Goldberg, Alvin A, Carl E. Larson, Komunikasi Kelompok (Proses-proses Diskusi dan Penerapannya), UI Press, Jakarta, 2006 Gonzalez, Hernando, Jaringan Sosial, dalam Amri Jahi, Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di NegaraNegara Dunia Ketiga : Suatu Pengantar, PT Gramedia, Jakarta, 1988 Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, PT.

Ainur Rochmaniah, Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah

75

Erlangga, Jakarta. 2004 Kincaid, D. Lawrence dan Wilbur Schramm, Asas-asas Komunikasi Antarmanusia, LP3ES, Jakarta, 1987 Knoke, David, dan James H. Kulkinski, Network Analysis, Sage Publication, London, 1982 Kriyantono, Rachmat, S.Sos, M.Si, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007 Littlejohn, Stephen W, Theories of Human Communication, Wadsworth Publishing Company, New York, 2001 Makmun, Abin Syamsuddin, Prof. DR. H, Psikologi Kependidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003. Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003 Nasution, Zulkarimen, Komunikasi Pembangunan, Pengenalan Teori dan Penerapannya, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004 Nurudin, Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004 _______, Sistem Komunikasi Indonesia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005 Rogers, E.M, A History of Communication Study, The Free Press, New York, 1994

______, Diffusion of Innovations, The Free Press, New York, 1983 Rogers, E.M, dan D. Lawrence Kincaid, Communication Networks Toward A New Paradigma for Research, The Free Press, New York, 1981 Rogers, E.M, dan Floyd F. Shoemaker, Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach, The Free Press, New York, 1981 Sendjaja, Sasa Djuarsa, Pengantar Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta 2002 Setiawan, Bambang, Metode Analisis Jaringan Komunikasi, Seksi Penerbitan FISIPOL Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1989 Severin, Werner J, James W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi, PT. Kencana Prenada Media Group, 2005 Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1994 Tubbs, Stewart, dan Sylvia Moss, Human Communications, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000 Wimmer, Roger D. dan Joseph R. Dominick, Mass Media Research: An Introduction, Wadsworth Pub. Company, 2000.

76

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 61 - 74

PENGELOLAAN KEPEGAWAIAN DAERAH DI ERA DESENTRALISASI
Isnaini Rodiyah
(Staf Pengajar Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jln. Majapahit 666 B Sidoarjo, telp.0318945444, email: isnayusuf7@yahoo.com)

ABSTRACT
The implementation of decentralization and regional autonomy in Indonesia have not been answered all the existing problems in the region, especially in the management of employment areas. It includes the recruitment and selection system, placement, employee development, and payroll system that is loaded with political content and culture of nepotism. In order to restore the original purposes of the principle of decentralization based on local conditions, the strategy of personnel management based Human Resource Management which starts from an effective planning model tailored to the needs and designed to respond to environmental changes to get a competent staff. At the end, it is prepared to be the initial capital in achieving improved quality of public services. Keyword: decentralization, regional autonomy, management of employment areas

PENDAHULUAN
Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia sudah berlangsung lama. Hasil empiris menunjukkan bahwa desentralisasi dan otonomi daerah dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan sektor publik walaupun belum maksimal serta mampu mengakomodasi tekanan berbagai kekuatan politik. Namun demikian desentralisasi dan otonomi daerah memiliki dampak negatif yakni mengancam stabilitas ekonomi dan politik serta mengganggu penyediaan pelayanan publik (Bird and Vaillancourt, 1998; Ter-Minassian, 1997; World Bank, 2000; Shah,1998). Berbagai fakta yang menunjukkan adanya sisi positif (kesuksesan) dan sisi negatif (ketidaksuksesan) desentralisasi dan otonomi daerah dapat dilihat secara nyata di Indonesia.
77

Kesuksesan desentralisasi dan otonomi daerah misalnya ditunjukkan dengan adanya proses pengambilan secara cepat untuk mengatasi berbagai masalah di daerah. Sementara ketidaksuksesan tersebut misalnya berupa ketidakpastian aturan main sehingga menyebabkan kerancuan kewenangan kebijakan dan inefisiensi keuangan. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan desentralisasi. Setidaknya ada 4 (empat) faktor yaitu (1) Tingkat komitmen politik dan dukungan administrasi; (2) Kondisi tingkah laku, perilaku, dan budaya yang kondusif bagi desentralisasi; (3) Desain dan organisasi yang efektif dari program-program desentralisasi; dan (4) Sumber daya keuangan, manusia, dan fisik yang memadai. Dari keempat faktor tersebut, komitmen politik dan fungsi-

79

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 75 - 84

fungsi administratif, kemampuan dan kemauan dari birokrat untuk mendukung desentralisasi, serta kapasitas dari pejabat lapangan untuk mengkoordinasi dan memfalisitasi pelaksanaan desentralisasi dapat dikategorikan sebagai faktor utama (Rondineli, Nellis dan Cheema, 1999: 51-75). Persoalan perilaku, komitmen dan budaya kerja sangat erat kaitannya dengan pengelolaan SDM Aparatur. Keseriusan serta komitmen pejabat yang berwenang dalam hal kebijakan pengelolaan SDM dapat dilihat dalam setiap proses yang meliputi rekrutmen, seleksi, penggajian, pelatihan dan pengembangan, penilaian kinerja, evaluasi, mutasi, dan seterusnya. Efektifitas pengelolaan tersebut membutuhkan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi atas manajemen SDM aparatur. Dalam era desentralisasi, proses pengelolaan SDM menjadi wewenang dan tanggungjawab daerah. Dengan wewenang tersebut daerah dapat mengambil keputusan dengan cepat untuk mengatasi berbagai masalah kepegawaian. Namun demikian harus tetap diingat bahwa desentralisasi kepegawaian dapat berubah menjadi peluang bagi praktek penyalahgunaan kekuasaan seperti korupsi, kolusi, nepotisme, politik uang (money politic), lobi-lobi (lobbying), suap (bribery) atau gratifikasi. Selain itu, salah satu risiko dari sistem desentralisasi dan otonomi daerah adalah kemungkinan terjadinya kontrol penuh oleh elit daerah (Bardhan and Mookherjee, 2002, Martinez-Vasquez dan Nab, 1997, Prud’ Homme, 1995 dan Tanzi, 2000). Hasil survei yang dilakukan oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC) tahun 2010 menunjukkan Indonesia sebagai negara terkorup dari 16 negara di Asia Pasific. Pada tingkat Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN, Indonesia merupakan negara terkorup dengan nilai skor korupsi tertinggi

(8,32), kemudian berturut-turut disusul Thailand (7,11), Kamboja (7,25), Vietnam (7,11), Filipina (7,0), Malaysia dan Singapura masingmasing 1,07. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk mencari alternatif pengelolaan SDM aparatur dalam sudut pandang desentralisasi. Makalah ini memfokuskan diri pada teori, konsep-konsep MSDM dan desentralisasi khususnya berkaitan dengan masalah rekrutmen pegawai negeri sipil (PNS).

KEBIJAKAN DESENTRALISASI DI INDONESIA
Salah satu tantangan desentralisasi adalah pelaksanaan pengelolaan atas penyerahan wewenang yang diterimanya. Karena tantangan tersebut belum mampu mengubah pelaksanaan secara mendasar birokrasi di Indonesia, maka dibutuhkan pengelolaan SDM secara efektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada masyarakat. Melalui wakil-wakilnya di legisltaif, masyarakat memiliki peran untuk mengontrol dan menilai serta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi. Dalam konteks desentralisasi, rekrutmen PNS di daerah membutuhkan transparansi dan akuntalibitas serta melibatkan masyarakat. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di negara berkembang termasuk Indonesia secara umum menggunakan 3 (tiga) jenis teori yaitu (1) Desentralisasi politik; (2) Desentralisasi administratif; dan (3) Desentralisasi fiskal (Litvack dan Seddon, 1999; Shah, 1998). Desentralisasi politik dapat didefinisikan sebagai mekanisme dimana pemerintah pusat menyerahkan kewenangannya kepada pemerintah daerah, hasil dari penyerahan kewenangan tersebut adalah otonomi daerah. Sementara desentralisasi administratif adalah penyerahan wewenang administratif dari

Isnaini Rodiyah, Pengelolaan Kepegawaian Daerah di Era Desentralisasi

78

pusat kepada pemerintah daerah. Ada 3 (tiga) bentuk desentralisasi administratif, yaitu dekonsentrasi, delegasi, dan devolusi. Dekonsentrasi adalah pemberian tanggung jawab pemerintah pusat untuk beberapa pelayanan kepada pemerintah daerahnya. Sedangkan delegasi dan devolusi berhubungan dengan perimbangan kepentingan pusat dan daerah. Adapun desentralisasi fiskal merupakan penambahan tanggung jawab keuangan dan kemampuan pemerintah daerah. Tujuan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah adalah menciptakan pemerintah daerah yang lebih demokratis, transparan, mampu meningkatkan kapasitas administrasi, serta lebih mandiri dan mampu di dalam pengelolaan fiskal. Terdapat dua prinsip umum untuk membedakan pemerintahan pusat dalam mendelegasikan kekuasaannya ke daerah yaitu dekonsentrasi dan desentralisasi. Dalam bentuk dekonsentrasi, pemerintahan daerah hanya menjalankan perintah dari pusat sekaligus merupakan wakil pemerintahan pusat. Sementara dalam bentuk desentralisasi, terjadi penyerahan wewenang dari pemerintahan pusat ke pemerintah daerah dimana unit-unit lokal ditetapkan dengan kekuasaan tertentu atas bidang tertentu sehingga pemerintah daerah dapat menjalankan penilaian dan inisiatif atas pemerintahannya sendiri (Muluk, 2009: 11). Desentralisasi juga merupakan bentuk penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat ke daerah. Dalam hal ini terdapat 2 (dua) jenis kewenangan, pertama, dalam bentuk regulling, yakni kewenangan dalam hal mengatur (policy making). Kewenangan ini hanya dimiliki oleh bupati atau gubernur. Kebijakan yang dihasilkannya dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Gubernur (Pergub). Kedua, bestuur, yaitu kewenangan dalam bentuk policy executing, dimana implementasi kebijakan yang dihasilkan dari policy making

yang berada pada kewenangan regulling. Bentuk dari policy executing ini adalah keputusan (Muluk, 2009: 14). Dalam bestuur terdapat berbagai keraguan tentang siapa yang berwenang terhadap suatu masalah. Dalam situasi yang demkian ini, maka daerah terdekat yang mengambil wewenang tersebut (Sinjal, 2001). Dasar pemikiran ini timbul karena kewenangan sebenarnya dapat dirinci satu persatu. Namun demikian hingga saat ini belum ada satupun undangundang yang mampu memprediksi masalah kemasyarakatan yang berkembang sangat dinamis. Jika terdapat kefakuman kewenangan penanganan masalah tertentu, maka dengan asas bestuur diharapkan ada kepastian jalan keluarnya. Hoessien (dalam Muluk, 2009) menegaskan bahwa bestuur adalah sebuah diskresi dari seorang pejabat pemerintahan dalam mengatasi permasalahan yang tidak diatur dalam undang-undang yang ada. Implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menunjukkan dua dampak baik positif maupun negatif. Selain memberikan dampak positif berupa peningkatan transparansi informasi, desentralisasi ternyata juga memunculkan peluang bagi peningkatan dominasi kontrol elit lokal yang pada akhirnya menghasilkan informasi yang tidak utuh (asymmetric information). Informasi asimetris tersebut pada gilirannya menimbulkan inefisiensi kelembagaan (institution inefficiency). Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum (lack of enforcement) merupakan faktor krusial dalam hubungan pelaku desentralisasi dan otonomi daerah. Perubahan kelembagaan desentralisasi dan otonomi daerah telah mengakibatkan ketidakjelasan siapa yang menjadi pemberi kewenangan (principal) dan siapa yang diberi kewenangan atau yang mewakili (agent). Sebagai akibatnya terjadi ketidakharmonisan

81

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 75 - 84

antar lembaga serta menciptakan kemacetan (bottleneck) bagi terselenggaranya tata kelola yang baik (Jaya, 2005). Perubahan radikal bagi kebijakan desentralisasi di Indonesia dapat dipahami sebagai upaya peninjauan ulang pengalaman pemerintah kolonial Belanda terhadap UndangUndang Desentralisasi Tahun 1903. Desentralisasi sederhana pada periode kolonial terakhir menjadi dasar bagi Republik Federal dalam Negara Federal Indonesia pada saat itu. Segera setelah kemerdekaan, Indonesia disusun kembali sebagai sebuah negara kesatuan dalam bentuk republik. Pemerintahan yang tersentralisasi mencapai puncaknya di bawah rezim Orde Baru yang pada akhimya memicu krisis dalam hubungan antara pusat dan daerah. Seiring dengan tumbangnya rezim Orde Baru melalui reformasi politik pada 1998, lahirlah undangundang baru tentang kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang digulirkan pada 1999 (Jaya dan Dick, 2001). Undang-undang tersebut telah menyebabkan berbagai perubahan kekuasaan (locus of power) yakni dari eksekutif ke legislatif, dari pemerintah pusat ke pemerintah kabupaten dan kota. Realitas lain yang muncul dari implementasi undang-undang baru tersebut ternyata memicu krisis yang terjadi antara kepala daerah (eksekutif) dengan legislatif serta juga masalah yang terjadi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Sebagai upaya mengatasi berbagai krisis tersebut, Pemerintah menggulirkan kebijakan baru yakni Undang-undang Nomer 32 Tahun 2004 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Berbagai realitas yang telah diuraikan menunjukkan bahwa kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia selama ini belum memenuhi kaidah normatif sesuai dengan tujuan undang-undang. Hal ini ditunjukan

misalnya dengan masih adanya praktek penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh beberapa elite di daerah baik dari kalangan legislatif, eksekutif maupun masyarakat (terutama ara pengusaha), terdapat aturan main yang zig-zag di berbagai kabupaten dan kota. Permasalahan juga muncul dalam hal pelaksanaan pengelolaan SDM aparatur di daerah.

PENGELOLAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL Nicholas Henry (2004, 255) membagi kegiatan MSDM dalam beberapa bagian yakni mulai dari recruiting dan hiring, administrasi benefit, administrasi upah, kebijakan SDM, klasifikasi posisi, pelatihan dan pengembangan, pengelolaan kegelisahan pegawai, penilain kinerja, pengukuran kinerja, mediasi konflik, pengelolaan keragaman (diversity management), hingga masalah bargaining kolektif. Tujuan dari kegiatan MSDM adalah tercapainya tujuan secara efektif melalui bagian kepegawaian yang teratur. Kegiatan pertama yang dilakukan dalam MSDM adalah merekrut pegawai secara obyektif dan trasnparan. Henry mengatakan bahwa merekrut pegawai yang berkualitas tinggi merupakan tugas terpenting di semua sektor pemerintahan. Namun demikian, pada kenyataannya pemerintah justru kurang serius, lambat serta subyektif dan bahkan ada unsur kecurangan dalam merekrut calon Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kondisi tersebut sangat kontras dengan pola rekrutmen yang dilakukan di sektor privat. Tahapan kedua setelah rekrutmen adalah pelatihan (training). Program pelatihan dirancang disamping untuk meningkatkan skills juga bertujuan untuk meningkatkan produktifitas pegawai. Namun Henry amat menyayangkan bahwa program ini belum diyakini betul oleh

Isnaini Rodiyah, Pengelolaan Kepegawaian Daerah di Era Desentralisasi

80

pemerintah AS sebagai upaya peningkatan skills dan produktifitas. Walaupun pada beberapa negara bagian merespon program pelatihan dengan baik, namun sejauh ini analisis tentang dampak pelatihan belum diketahui secara pasti. Setelah pelatihan, kegiatan MSDM di sektor publik selanjutnya adalah penilaian kinerja. Kegiatan penilaian kinerja merupakan salah satu aktivitas administrasi kepegawaian sektor publik paling rumit dibanding dengan penilaian kinerja di sektor privat. Pada tahap ini bagian kepegawaian melakukan penilaian terhadap seluruh birokrat baik yang telah menempuh program pelatihan maupun tidak. Sejauh ini reliabilitas dan reputasi penilaian kinerja pada sektor publik masih belum diakui secara penuh dikarenakan masih adanya sikap penilai yang kurang transparan, standar kinerja yang rumit, serta dokumentasi yang buruk. Akibat adanya beberapa faktor itulah banyak pegawai merasa tidak puas dengan hasil penilaian kinerja. Namun demikian perbaikan tentang penlilaian kinerja ini masih terus diupayakan oleh bagian kepegawaian untuk dapat menghasilkan penilaian yang reliable dan dapat menjadi acuan pengukuran bagi peningkatan kinerja setiap pegawai. Hasil dari adanya penilaian kinerja diharapkan: (1) Dapat memotivasi pegawai untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik atau bahkan dapat menumbuhkan komunikasi lebih intensif antara pegawai dengan atasannya terkait masalah pekerjaan yang telah dilakukan; (2) Dipakai untuk menetapkan bonus berdasarkan kinerja; (3) Untuk mengetahui adanya pegawai yang tidak berkompeten dan selanjutnya dicari solusi mengelola pegawai yang tidak berkompeten tersebut. Tahapan selanjutnya dalam manajemen SDM adalah Sistem Penggajian (remunerasi). Berdasarkan survei yang dilakukan menunjukkan bahwa penggajian pada sektor publik perlu

diperhatikan dengan baik (menaikkan gaji pegawai) guna membuat orang-orang yang berkualitas berminat melamar dan menjadi pegawai pemerintah. Oleh karena itu struktur penggajian di pemerintah perlu diperbaiki sehingga dapat bersaing dengan kualitas struktur penggajian di sektor privat.

PENGELOLAAN PNS DI ERA DESENTRALISASI
Pencapaian efektifitas pengelolaan aparatur dimulai dari kegiatan rekrutmen calon pegawai. Rekrutmen yang ditindaklanjuti dengan seleksi calon pegawai merupakan kegiatan sentral dalam Manajemen SDM. Setiap organisasi memiliki metode tertentu untuk menarik dan memilih calon pegawai. Prosedur rekrutmen dan seleksi yang efektif juga merupakan komponen kritis dalam setiap proses Manajemen SDM. Jika rekrutmen dan seleksi dilakukan secara efektif, organisasi akan dapat memiliki pegawai sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian efektifitas kegiatan ini dapat diukur dari kesesuaian antara jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan dengan tersedianya pekerjaan atau jabatan dalam organisasi. Kesesesuaian jumlah pegawai tentu saja harus pula disertai dengan pemenuhan persyaratan sehingga dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan standar. Berdasarkan hasil survei Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2009 dapat diidentifikasi adanya beberapa tahapan dan berbagai permasalahan di daerah dalam mengelola pegawai. Tahapan pengelolaan pegawai dan permasalahan kepegawaian tersebut meliputi: 1. Formasi a. Dalam penentuan formasi pegawai dan jabatan struktural belum menggunakan standar yang jelas dan baku.

83

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 75 - 84

b. Terdapat adanya perbedaan peraturan yang ada dalam UU No 32/2004 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah dengan UU No. 43/1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. 2. Rekrutmen: a. Pola rekrutmen yang dilaksanakan selama ini berbeda antar daerah yang satu dengan yang lain, sehingga mendapatkan saringan yang berbeda. Pada akhirnya tingkatan kompetensi aparatur yang dimiliki pemerintah daerah cenderung tidak seimbang. b. Penerapan PP No. 48/2005 tentang pengangkatan tenaga honorer menjadi PNS di daerah kurang memperhatikan kompetensi pegawai tersebut. c. Untuk daerah pemekaran, terdapat kesulitan rekrutmen pegawai untuk jabatan eselon tertentu (terutama eselon III dan IV). 3. Pola karir a. Masih banyak penempatan jabatan yang tidak sesuai dengan pengalaman dan latar belakang pendidikan karena masalah kekurangan SDM. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam pedoman karir yang telah disusun. b. Terkait adanya pengembangan jabatan fungsional di daerah, pegawai di daerah cenderung tidak tertarik untuk mengambil alternatif jabatan tersebut, dikarenakan rumitnya persyaratan kenaikan pangkat/golongan jabatan fungsional yang didasarkan oleh produk/ output kerja pegawai. 4. Promosi dan Mutasi a. Belum semua daerah menerapkan promosi pegawai atas dasar hasil assesment center bekerjasama dengan pihak ketiga guna menjaga obyektivitas hasil, sehingga sistem

promosi belum dapat berfungsi sebagai pemacu kinerja pegawai. b. Mutasi pegawai antar daerah/propinsi tidak dapat dilakukan dengan mudah karena harus terdapat persetujuan Pemda terkait sehingga menyebabkan ketimpangan kompetensi pegawai karena terkesan adanya “pengkaplingan” pegawai propinsi, ataupun pegawai kabupaten/kota. 5. Remunerasi a. Adanya kesenjangan pemberian tunjangan bagi pejabat eselon antar daerah karena bergantung pada kemampuan daerah masing-masing, tidak hanya terbatas pada plafon pemerintah b. Adanya kebijakan untuk membagi rata remunerasi kepada seluruh aparatur di setiap SKPD sebagai usaha mengurangi ketimpangan besarnya tunjangan tidak sepenuhnya diterima daerah karena pemberian tunjangan tidak berdasarkan kinerja sehingga dimungkinkan dapat menurunkan semangat kerja pegawai. 6. Pengembangan dan disiplin pegawai a. Penyusunan standar pengembangan pegawai dalam rangka peningkatan kinerja aparatur ternyata menimbulkan permasalahan, yakni banyaknya pegawai yang berlomba-lomba melanjutkan studi S1, S2, bahkan S3. Hanya saja sering kali pendidikan yang mereka ambil tidak mendukung tugas pokok dan fungsi (tupoksi). b. Masih terjadinya overlapping penyelenggaraan diklat antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. c. Penegakan disiplin melalui apelpagi dan absensi masih belum efektif.

Isnaini Rodiyah, Pengelolaan Kepegawaian Daerah di Era Desentralisasi

82

Berbagai temuan prosen pengelolaan dan persoalan kepegawaian tersebut dapat dikembangkan menjadi 6 (enam) permasalahan yang menyangkut pengelolaan aparatur di daerah yaitu: (1) Netralitas birokrasi (2) Kualitas pelayanan (3) Rekrutmen pegawai (4) Sistem penggajian (5) Pengembangan karir (6) Komisi pegawai negeri Netralitas birokrasi menjadi persoalan akibat munculnya intervensi politik mengenai penempatan jabatan dalam birokrasi. Sementara persoalan kualitas pelayanan terutama berkaitan dengan inefisiensi pelayanan publik oleh aparatur pemerintah yang disebabkan oleh ketidakmampuan dan inkompetensi aparat. Dalam hal rekrutmen pegawai masih ditemui persoalan buruknya penyelenggaraan rekrutmen pegawai di daerah yang ditandai dengan maraknya KKN serta penyimpangan dan subyektifitas lainnya. Dalam hal penggajian menjadi masalah klasik yakni tidak kompetitif dengan penggajian di sektor swasta. Sedangkan karir pegawai belum berdasarkan atas prestasi kerja dan faktorfaktor obyektif lainnya. Harapan terbentuknya Komisi Pegawai Negeri Sipil tidak lain ditujukan untuk meringankan beban Badan Kepagawaian Nasional (BKN) sehingga dapat memfokuskan pada tugas pokoknya secara terarah dan strategis sekalipun belum terwujud dengan mampu bekerja secara maksimal. Melihat gambaran beberapa temuan tersebut, maka diperlukan analisis sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi alternatif mengenai pengelolaan SDM Aparatur di era desentralisasi. Analisis temuan persoalan dalam tahapan pengelolaan SDM: 1. Terkait manajemen kepegawaian daerah yang merupakan satu kesatuan dengan

kepegawaian nasional, maka masih ditemukan kurang tegasnya sanksi yang termuat dalam Peraturan, mulai Kemendagri No. 10/ 2003, PP No 9/2003, UU No. 43/ 1999, PP No. 31/ 2001, mengenai pegawai negeri sipil. Sementara pelaksanaan pengelolaan kepegawaian di daerah masih berlaku keberpihakan dan unsur politis. 2. Adanya kebijakan pengangkatan tenaga honorer di daerah menjadi PNS, menimbulkan permasalahan walaupun pengangkatan tenaga honorer terpetakan di tiap Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di tiap daerah tetapi belum menggambarkan kebutuhan kompetensi atas jabatan yang dibutuhkan daerah. Secara umum kecenderungan tenaga honorer ialah pegawai yang ada pada awalnya bergabung berdasarkan sistem kekerabatan, bukan berdasarkan kompetensi yang dipunyainya. 3. Sistem dan pola karir menjadi terhambat khususnya dalam menentukan formasi jabatan. Terdapat beberpa faktor yang mempengaruhi jabatan karir yaitu dorongan politis serta belum adanya ketepatan dan kelengkapan database kepegawaian untuk menjawab persoalan kebutuhan atas perubahan kompetensi atas jabatan yang baru atau kosong. 4. Terkait masalah pengembangan jabatan yang terkendala dengan berbagai persyaratan yang sangat rumit dan sulit, sosialisasi dari pemerintah kepada aparaturnya masih sangat kurang. Berdasarkan permasalahan temuan dan analisisnya, maka terlihat bahwa pengelolaan SDM aparatur yang profesional membutuhkan perubahan strategi sehingga pemerintah daerah mampu menjalankan tugasnya sesuai kebutuhan. Era desentralisasi memfasilitasi pemerintah daerah untuk mengatur penyediaan aparatur

85

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 75 - 84

yang kompeten, menyusun rencana pengelolaan serta meningkatkan kapasitas pemerintahan yang baik dalam rangka memberi pelayanan publik.

STRATEGI PENGELOLAAN PNS SESUAI NAFAS DESENTRALISASI
Desentralisasi membuka peluang lebar bagi setiap daerah untuk berperan lebih besar termasuk dalam pengelolaan PNS. Dalam konteks yang demikian semua tantangan desentralisasi hanya dapat diatasi dengan efektif jika semua jajaran dalam birokrasi daerah bersikap responsif. Daerah juga harus memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki kapasitas birokrasi baik dalam hal mengatasi masalah manajemen internal (governability) maupun dalam rangka melayani kebutuhan masyarakat. Karakteristik sektor publik yang berbeda dengan sektor privat tidak memungkinkan semua sistem yang ada di sektor privat dapat ditranformasikan ke dalam sektor publik. Namun demikian dalam hal-hal tertentu terdapat sistem yang dapat ditransformasikan, misalnya sistem rekrutmen calon pegawai. Secara normatif, sistem rekrutmen berdasarkan asas profesionalisme, transparan serta berdasarkan analisis kebutuhan pegawai yang berbasis pada kompetensi. Sistem dan prosedur rekrutmen calon PNS perlu dilakukan perubahan. Perubahan dimulai dari proses formasi sebagai proses perencanaan PNS. Dengan perencanaan PNS dapat diidentifikasi kebutuhan aparatur disertai dengan standar kompetensi dan kualifikasi SDM yang dibutuhkan melalui analisis jabatan. Demikian pula jumlah kebutuhan aparat dapat ditentukan sesuai dengan hasil perhitungan analisis beban kerja. Setelah perencanaan, kegiatan pengelolaan SDM selanjutnya adalah rekrutmen dan seleksi yang dilakukan secara obyektif dan

transparan dilanjutkan dengan penempatan pegawai berdasarkan atas kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki sesuai dengan pekerjaan yang diberikan. Berdasarkan penilaian kinerja sebagai proses setelah penempatan pekerjaan, kemudian dirumuskan dan dilakukan sistem penggajian berdasarkan atas kinerja individu atau performance-based pay ( Long, 1998). Pelatihan diadakan sesuai dengan analisis kebutuhan pelatihan yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kesenjangan antara kompetensi dan standar pelaksanaan pekerjaan (Tovey, 1997). Pola perubahan strategi yang ditawarkan mengenai persoalan pengelolaan aparatur pegawai khususnya dalam hal rekrutmen pegawai yakni : 1. Menjalin kerjasama dengan pihak pergu-ruan tinggi untuk pengadaan rekrutmen pegawai. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pihak pembuat soal dan penilaian, tetapi juga dilibatkan langsung dalam proses keseluruhan dari penjaringan pegawai sampai tahap penerimaan pegawai. 2. Menjalin kerjasama dengan pihak swasta (agency) dalam proses rekrutmen. 3. Membangun manajemen kepegawaian yang terintegrasi secara nasional, yakni dengan memberikan kewenangan dan peran yang besar kepada pemerintahan daerah untuk menata dan mengelola pegawaian dalam hal rekrutmen, penempatan dan segala keputusan yang berhubungan dengan kepegawaian di daerahnya dengan melibatkan pihak lain (poin 1 dan 2). 4. Menghentikan kebijakan yang bisa merugikan bagi para pegawai secara individual atau kelompok dan memberikan kepastian jaminan profesional dalam hal reward, punishment dan kesempatan berkarir secara obyektif. 5. Menata struktur kepegawaian yang

Isnaini Rodiyah, Pengelolaan Kepegawaian Daerah di Era Desentralisasi

84

tumpang tindih pada setiap unit kerja yang ada di daerah. Selain perubahan strategi pengelolaan tersebut, terdapat masalah lain yang harus segera diatasi terutama berkaitan dengan perubahan budaya kerja yang dapat diulas sebagai berikut. 1. Budaya primordialisme, patron-klien, rajaraja kecil, upeti adalah sebagian dari contoh budaya informal yang melekat (embededness) sebagai mindset perilaku pejabat di daerah di era desentralisasi. Budaya seperti ini menciptakan biaya tinggi dan merusak nilai-nilai desentralisasi. Proses administrasi di Indonesia dipengaruhi oleh konsep tradisional Jawa dalam kekuasaan dan hirarki yang menekankan sentralisasi kekuasaan, perilaku patrimonial, primordialism, patron-client dan pembuatan keputusan top-down (Rohdewohld, 1995). 2. Menghilangkan rasionalitas yang terbatas dan perilaku oportunis yang telah menimbulkan nilai-nilai sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan makna desentralisasi. Diharapkan tidak terjadi lagi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dalam bentuk misalnya pola monopoli dan akuntabilitas yang buruk oleh segelintir oknum di daerah. Birokrasi di daerah harus dijauhkan pula dari budaya yang memungkinkan terjadinya kontak personal atau hubungan transaksional antar-pelaku desentralisasi, transaksi oportunis, hubungan ilegal baik yang dilakukan oleh oknum kepala daerah, anggota dewan ataupun lembaga penegak hukum. 3. Merekonstruksi model mental para pelaku desentralisasi dan otonomi daerah sehingga tidak lagi menunjukkan perilaku birokrasi yang masih ingin dilayani (pangrehpraja) dan bukannya ingin melayani masyarakat (pamongpraja).

4. Perbaikan sikap kepemimpinan dan perannya dalam kelembagaan tiap daerah sehingga tidak akan ada lagi kelompok yang menang dan kelompok yang kalah. Kelompok incumbent yang kalah akan mempertahankan status quo saat memimpin dengan cara melawan kembali (revenge). Tarik-menarik kekuatan dari kelompok yang kalah menyebabkan aturan main desentralisasi menjadi tidak jelas sehingga menciptakan biaya transaksi ekonomi. Masalah ini menjadi kian parah karena perilaku aji mumpung (moral hazards) dari sejumlah elit di era desentralisasi. Perilaku sejumlah elit daerah yang oportunis tersebut seringkali menempatkan pegawai secara subyektif berdasarkan kelompok, keluarga, serta jauh dari semangat obyektifitas yang sesuai dengan keahlian dan kompetensi. 5. Perubahan cara pandang (mindset) pelaku desentralisasi yang dipengaruhi kebiasaan masa lalu secara turun temurun. Dari perubahan strategi yang ditawarkan di atas tentunya membutuhkan komitmen dan kemauan politis pemerintah pusat dan daerah. Semua akan terwujud ketika terdapat legitimasi berupa kebijakan dari pihak yang berwenang. Keterlibatan masyarakat dalam menjalankan fungsinya sebagai kontrol dalam pelaksanaan pemerintahan daerah khususnya berkaitan dengan rekrutmen calon PNS akan turut menciptakan terwujudnya transparansi dan akuntabilitas pemerintah.

SIMPULAN
Secara umum pelaksanaan desentralisasi belum sepenuhnya sejalan dengan harapan. Secara umum permasalahan pemerintahan daerah yang terjadi di era desentralisasi

87

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 75 - 84

mencakup isu netralitas birokrasi, kualitas pelayanan, rekrutmen calon pegawai, sistem penggajian, dan pengembangan karir, serta peran komisi pegawai negeri. Dalam rekrutmen calon PNS daerah ditemukan banyak bukti adanya subyektifitas sehingga proses seleksi PNS tidak dapat menghasilkan PNS yang kompeten. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan perubahan strategi dalam pelaksanaan rekrutmen pegawai disertai dengan perubahan mindset dan budaya organisasi yang berorientasi pada peningkatan kualitas layanan publik.

Jaya, W.K (2005). Dysfunctional Institutions in the Case of Indonesia Regional Government Budget Process. Journal of Indonesia Economy and Business, Vol 20, No 2, April 2005, Faculty of Economics of Gadjah Mada University, Yogyakarta. Litvack, J., & Seddon, J. (1999). Decentralization Briefing Notes. Washington, D.C., World Bank Institute. Long, R. J., (1998). Compensation in Canada. Toronto, ITP Nelson. Vasquez, M.J. & McNab, R.M., (1997). Fiscal Decentralization, Economic Growth and Democratic Governance. Atlanta, School of Political Studies, Georgia State University. Muluk, K. (2009). Peta Konsep Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. ITS Press, Surabaya. Prud’homme, R. (1995). The Dangers of Decentralisation. The World Bank Research Observer, 10 (2): 201-220. Shah, A. (1998). Balance Accountability, and Responsiveness: Lesson about Decentralization. Washington, World Bank. Tanzi, V., (2000). Fiscal Federalism and Decentralisation: A. Review of Some Efficiency and Macroeconomic Aspects. Proceeding of the Annual World. Tovey, M.D., (1997), Training in Australia: Design, Delivery, Evaluation and Management. Sydney, Prentice Hall Australia. World Bank (2002). World Development Report 2002: Building Institutions for Market. New York: Oxford University Press.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincolin (2007). Institutions Do Really Matter: Lesson from Village Credit Institutions of Bali. Journal of Indonesia Economy and Business, Vol 20, No 4, October, 2005, Faculty of Economics of Gadjah Mada University, Yogyakarta. Bappenas. 2009. RPJPN tahun 2005-2025. Bardhan, P. & Mookeherjee, D. (2002). Corruption. And Decentralisation of Infrastructure in Developing Countries. Boston University. Bird, R.M. & Vaillancourt, F. (1998). Fiscal Decentralization in Developing Countries. Cambridge, Cambridge University Press. Henry, Nicholas. 2004. Public Administration & Public Affairs (Ninth Edition). Printice Hall, New Jersey. Jaya, W.K. & Dick, H. (2001). The Latest Crisis of Regional Autonomy in Historical Perspective, in Chapter “Indonesia Today”. ISEAS, Singapore.

RANCANGAN APLIKASI KOMPETENSI DOSEN UMSIDA BERBASIS KNOWLADGE MANAGEMENT
Totok Wahyu Abadi
(Staf Pengajar Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jalan Mojopahit 666 B, email: totokwahyu@gmail.com)

ABSTRACT
As a researcher, I had interviewed some students and the chairman of departments at Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo about the process of teaching and learning done by lecturers. Based on their responses, the process of teaching and learning at the Faculty runs well. Spontaneously, I asked the chairman of departments an intriguing question whether the condition occurring implies that the process of teaching and learning is qualified. Then, both of them answered in uncertainty. In relation to the problem, the researcher attempts to describe the knowledge management of lecturers as the intellectual capital. In addition, this way should be performed by Universitas Muhammadiyah Sidoarjo in building the tradition of quality in 2020. Key words: lecturers’ competence, ICT, knowledge management

PENDAHULUAN
Dosen dan mahasiswa adalah sebuah entitas dan modal intelektual yang dimiliki oleh lembaga pendidikan tinggi manapun, termasuk Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (baca: Umsida). Performance Umsida pun banyak ditentukan oleh kualitas dosen sebagai pembelajar dan mahasiswa sebagai stakeholder. Ini berarti bahwa berkualitas-tidaknya mahasiswa banyak ditentukan oleh kualitas dosen itu sendiri melalui proses pembelajaran. Tradisi kualitas ini tentu harus tetap dipertahankan dengan berbagai upaya termasuk diantaranya adalah mengembangkan kompetensi dosen serta menumbuhkembangkan atmosfir pembelajaran secara kreatif, menyenangkan, dan inovatif.
87

Minimal, ada empat kompetensi yang harus dimiliki dosen untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Yaitu, kompetensi pribadi, sosial, profesi, dan pedagogik. Kompetensi pribadi berkaitan dengan potensi psikologis yang dimiliki dosen dalam menjalankan tugas – tugas akademik/ kependidikan. Potensi psikologis tersebut berkaitan dengan empat dasar kebutuhan sebagai tenaga kependidikan, yakni kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk tabah dalam bekerja, kebutuhan untuk berubah, dan kebutuhan untuk bekerja secara mandiri dan tidak mengandalkan orang lain/otonom (Syahidin, 2008). Kompetensi sosial dosen adalah kemampuan dosen dalam berhubungan sosial dengan orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya termasuk tetangga,

89

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 85 - 94

kerabat, kolega, dan orang lain. Kemampuan sosial ini menurut Krech (1962:96) dapat diukur melalui human relation yang dilakukan seseorang, yaitu keramahan atau persahabatan, simpatik, sikap penerimaan terhadap orang lain, dan sosiabilitas. Kompetensi profesional adalah kemampuan dosen dalam penguasaan bahan ajar sekaligus membelajarkan mahasiswa yang diasuhnya dengan penuh pedagogis dan metode pembelajaran yang lebih baik. Sedangkan kompetensi pedagogis berkaitan dengan tugas-tugas dosen sebagai tenaga pendidik seperti bagusnya mengajar dan terkuasainya bahan kuliah oleh mahasiswa. Mampu memotivasi belajar mahasiswa, mengelola kelas dengan baik, mengevaluasi hasil belajar dengan tepat dan adil, menyampaikan tujuan tema perkuliahan secara jelas, dan mampu menjelaskan konsep-konsep dengan baik adalah bagian dari kompetensi pedagogis. Barangkali, kompetensi yang terakhir inilah yang dianggap baik dan bagus atau mungkin berkualitas oleh mahasiswa.

Memang, sangat disayangkan kalau selama ini yang dikatakan berkualitas hanya berkutat pada kemampuan pedagogis belaka. Sementara dosen adalah sebuah profesi, yang tentunya tuntutan profesionalitas juga harus lebih mengedepan selain ketiga kompetensi yang telah dipaparkan. Profesionalitas itu tentu dapat dilihat dari tradisi penulisan karya ilmiah yang dimilikinya. Karya-karya ilmiah yang dihasilkan dan dipublikasikan itu dapat saja berupa buku ajar, riset yang pernah dilakukan, makalah yang ditulis dan dipublikasikan melalui seminar di tingkat regional-nasional-ataupun internasional. Atau bahkan kegiatan pengabdian masyarakat yang pernah dilaksanakan pun dapat ditulis dalam sebuah karya ilmiah yang dapat diterbitkan dalam sebuah jurnal pengabdian masyarakat. Capacity building ini perlu dan urgen bagi dosen untuk menjadi lebih profesional dan mampu berkompetisi di era persaingan yang begitu ketat. Profesionalitas tersebut dapat digambarkan seperti model sirip ikan berikut:

Gambar 1: Model Sirip Ikan “Profesionalisme Dosen” (sumber : penulis)

Totok Wahyu Abadi, Rancangan Aplikasi Kompetensi Dosen Umsida Berbasis Knowladge

88

Kemampuan dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam budaya menulis terutama yang berkenaan dengan penelitian sudah mulai mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan yang diberikan Kopertis VII kepada Umsida sebagai Perguruan Tinggi Swasta Terbaik III untuk kategori Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada tahun 2008-2010. Namun sayangnya hasil-hasil riset tersebut masih tertumpuk dalam rak LPPM yang belum terpublikasikan dalam buku ajar ataupun jurnal. Penelitian-penelitian tersebut hanya tampak sebagai “artefak” belaka tanpa memiliki kontribusi yang sangat berarti bagi peningkatan wawasan keilmuan mahasiswa sebagai masyarakat ilmiah. Buku ajar yang ditulis dosen dari hasil riset, senyatanya, memiliki potensi dan nilai yang sangat tinggi karena merupakan bentuk kontekstualisasi dari teori dalam matakuliah yang diampunya. Bahkan buku ajar yang ditulis berbasis riset tersebut dapat digunakan sebagai referensi tidak hanya oleh mahasiswa di suatu perguruan tinggi, tetapi juga masyarakat secara luas ataupun dunia usaha/industri/pemerintah daerah bila memiliki added value yang sangat relevan dan aplikatif. Mungkin ini merupakan “titik nol” tradisi penulisan ilmiah dan publikasi di Umsida. Atau mungkin juga terjadi di beberapa perguruan tinggi di papan atas. Atau mungkin di level Indonesia pun demikian keadaannya, yakni lemah dalam publikasi karya ilmiah. Menurut laporan yang disampaikan Unesco tahun 2004 bahwa jumlah publikasi ilmiah di Indonesia relatif lebih kecil jika dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Data Unesco tersebut menunjukkan bahwa publikasi ilmiah di Indonesia hanya sekitar 522 buah atau 0,012%. Sementara jumlah publikasi ilmiah per tahun di Singapura sebanyak 5.781 buah,

Thailand sebesar 2.397, dan di Malaysia sebanyak 1.438 buah (http://www.google.com diunduh tanggal 5 Juni 2010). Dari angka tersebut dapatlah diketahui bagaimana sebenarnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi di suatu negara. Di era perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, profesionalitas sebagai salah satu kompetensi dosen Umsida harus dikelola dengan baik dan berkualitas. Hadirnya infrastruktur tersebut sangat membantu organisasi — seperti Umsida — dalam melakukan perubahan dan sistematisasi dengan cara mengagregasi dan mengolah berbagai karya pemikiran/pengetahuan, penelitian, dan lainnya. Keuntungan lain yang tentu didapatkan adalah efektivitas dan efisiensi, produktivitas yang meningkat, kecepatan dalam menyampaikan berbagai informasi hasil tradisi ilmiah serta meningkatkan kapasitas secara kompetitif.

KNOWLADGE MANAGEMENT: APA ITU?
Turban (2008:390) mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai proses yang membantu organsisasi untuk mengidentifikasi, menyeleksi, mengorganisasikan, mendiseminasikan, dan mentransfer informasi dan keahlian yang berserakan yang menjadi aset dari organisasi. Manfaat yang dapat dipetik dari manajemen pengetahuan adalah dapat digunakan untuk memecahkan masalah, proses pembelajaran, penyusunan strategi, dan pembuatan keputusan yang efektif dan efisien. Terminologi knowladge management terdiri dari dua item yakni knowladge (pengetahuan) dan management. Knowladge (pengetahuan) adalah kontekstualisasi informasi yang relevan dan dapat dilaksanakan (actionable). Management menurut Ricky W.

91

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 85 - 94

Griffin (http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen diunduh 5 Februari 2011) adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal Knowladge, dalam konteks IT, berbeda dengan data dan informasi. Meski demikian, ketiganya memiliki hubungan yang erat dan merupakan modal penting bagi organisasi. Data adalah kumpulan dari fakta-fakta, pengukuranpengukuran, dan statistik. Sedangkan informasi adalah data yang telah diolah menjadi keterangan yang memiliki nilai keakuratan. Hubungan antara data, informasi, dan pengetahuan dapat digambarkan sebagai terlihat pada Gambar 2. Knowledge management memiliki dua lapisan. Lapisan pertama adalah proses (process) meliputi utilization, storing, acquisition, distribution/sharing dan creation. Lapisan kedua meliputi structure, technology, measurement, organizational design, leadership dan culture. Kedua lapisan tersebut terintegrasi membentuk ruang lingkup knowledge management. Pengetahuan yang menjadi objek dalam knowledge management terbagi menjadi dua,

yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge (Turban, 2008: 392). Tacit knowledge adalah pengetahuan yang ada dalam kepala manusia. Tacit knowledge bersifat personal, prosedural, kacau, soft (lunak), tersimpan di otak, informal dan biasanya tentang kecakapan atau ketrampilan. Pengetahuan jenis ini sulit untuk dikomunikasikan dan disebarkan kepada orang lain. Yang termasuk dalam pengetahuan tacit adalah gagasan, persepsi, cara berpikir, wawasan, keahlian/kemahiran, dan sebagainya. Tacit knowladge disebut juga dengan sticky knowladge. Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995 dalam Turban, 2008) :
“Tacit knowledge is highly personal and hard to formalized. Subjective insights, intuitions and hunches fall into this categoy of knowledge”

Explicit knowledge adalah pengetahuan manusia yang berada diluar kepala. Pengetahuan eksplisit dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, rumus, spesifikasi, dan manual. Explicit Knowledge merupakan bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari. Contoh manual, buku, laporan, dokumen, surat, file-file elektronik, dan sebagainya. Karenanya, explicit knowladge disebut juga sebagai leaky knowladge. Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995):

Gambar 2: Hubungan data, informasi, dan knowladge (Sumber: diadaptasi dari Turban, 2008:390)

Totok Wahyu Abadi, Rancangan Aplikasi Kompetensi Dosen Umsida Berbasis Knowladge

90

“Explicit knowledge can be expressed in words and numbers and can easily communicated and shared in the form of hard data, scientific formula, codified procedures and universal principles”

Menurut Polanyi (dalam Turban,2008), selalu ada pengetahuan yang akan tetap tacit, sehingga proses menjadi tahu (knowing) sama pentingnya dengan pengetahuan itu sendiri. Selain itu, ada pandangan yang menganggap bahwa semua pembelajaran terjadi di dalam kepala manusia, sebuah organisasi belajar melalui dua cara, yaitu (a) dengan kegiatan belajar anggota-anggotanya (b) dengan menyerap anggota baru yang memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki organisasi itu. Sedangkan menurut Moran dan Goshal (1996), pengetahuan diciptakan melalui dua cara, yaitu : penggabungan (kombinasi) dan pertukaran. Dalam situasi di mana pengetahuan dimiliki oleh pihak-pihak yang berbeda, maka pertukaran merupakan prasyarat bagi penggabungan pengetahuan. Modal intelektual pada umumnya diciptakan melalui proses penggabungan pengetahuan dari pihak berbeda, sebab itu, modal ini tergantung kepada pertukaran antar pihak yang terlibat. Kadang-kadang pertukaran ini melibatkan perpindahan pengetahuan explicit, baik yang dimiliki secara individual maupun kolektif. Penerapan KM akan memberikan pengaruh terhadap proses bisnis organisasi, pertama, penghematan waktu dan biaya. Dengan adanya sumber pengetahuan yang terstruktur dengan baik, maka organisasi akan mudah untuk menggunakan pengetahuan tersebut untuk konteks yang lainnya, sehingga organisasi akan dapat menghemat waktu dan biaya. Kedua, peningkatan aset pengetahuan. Sumber pengetahuan akan memberikan

kemudahaan kepada setiap karyawan untuk memanfaatkannya, sehingga proses pemanfaatan pengetahuan di lingkungan organisasi akan meningkat, yang akhirnya proses kreatifitas dan inovasi akan terdorong lebih luas dan setiap karyawan dapat meningkatkan kompetensinya. Ketiga, kemampuan beradaptasi. Organisasi akan dapat dengan mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis yang terjadi. Keempat, peningkatan produktivitas. Pengetahuan yang sudah ada dapat digunakan ulang untuk proses atau produk yang akan dikembangkan, sehingga produktifitas dari organisasi akan meningkat. Untuk dapat mengaplikasikan manajemen pengetahuan di Universitas Muhammadiyah, beberapa langkah praktis yang perlu diperhatikan adalah:

1. Identifikasi dan Analisis
Tahapan awal dari kegiatan ini adalah mengetahui dimana posisi organisasi atau organisasi saat ini dalam pengelolaan pengetahuan. Hal ini perlu dilakukan karena pengetahuan organisasi spesifik dan berbedabeda untuk setiap organisasi. Pertama yang perlu dilakukan adalah identifikasi pengetahuan yang ada, baik tacit maupun eksplisit dimana pengetahuan tersebut tersimpan dan bagaimana peranan pengetahuan tersebut dalam kegiatan organisasi. Hasilnya adalah sebuah peta pengetahuan yang ada dalam organisasi. Selanjutnya melihat proses-proses, budaya dan kebiasaan yang terkait dengan pengelolaan pengetahuan dalam organisasi, misalnya training, pendidikan dan latihan, tanya jawab, budaya diskusi/debat, penelitian, penulisan karya ilmiah, seminar ataupun lokakarya yang diselenggarakan, pengabdian masyarakat yang dilakukan, dan sebagainya. Kemudian melihat aktor pelaku atau bagian organisasi yang berkaitan dengan proses pengelolaan

93

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 85 - 94

pengetahuan tersebut (bagian diklat, bagian IT, kelompok ahli, pustakawan, dan lain - lain). Perlu juga diketahui bagaimana karyawan dalam organisasi mendapatkan pengetahuan. Tahap selanjutnya adalah indentifikasi infrastruktur yang ada ataupun yang belum misalnya perpustakaan, intranet, media komunikasi internal, email, forum diskusi, digital library dan lain-lain. Infrastruktur ini akan digunakan untuk membangun sistem Knowledge Management dalam organisasi. Dari informasi-informasi tersebut akan diperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan pengetahuan yang ada saat ini, dan infrastruktur apa yang bisa digunakan untuk membangun manajemen pengetahuan.

2. Perancangan, Penerapan, Sosialisasi, dan Evaluasi
Tahap berikut setelah dilakukan identifikasi dan analisis adalah perancangan manajemen pengetahuan dalam organisasi. Beberapa pedoman yang bisa digunakan adalah: a) Penerapan teknologi, pada tahap awal gunakan teknologi yang tepat dan sederhana dan yang telah ada. Kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut. b) Pendekatan top-down, dengan kebijakan, anjuran dan bottom-up dengan menggerakan karyawan melalui perubahan budaya. c) mendorong terciptanya Community of Practice. d) Membangun fasilitas untuk berbagi pengetahuan (formal maupun informal) e) Sosialisasi infrastruktur untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh karyawan. f) mengevaluasi keberhasilan penerapan, misalnya dengan pengukuran kinerja.

3. Tipe Kegiatan manajemen pengetahuan
Kegiatan manajemen pengetahuan dapat diklasifikasikan dalam beberapa tipe yaitu:

a) Mengumpulkan dan menggunakan ulang pengetahuan terstruktur. Pengetahuan sering tersimpan dalam beberapa bagian dari output yang dihasilkan organisasi, seperti disain produk, proposal dan laporan kegiatan, prosedur-prosedur yang sudah dimplementasikan dan terdokumentasikan dan kode-kode software yang semuanya dapat dipergunakan ulang untuk mengurangi waktu dan sumber yang diperlukan untuk membuatnya kembali. b) Mengumpulkan dan berbagi pelajaran yang sudah dipelajari (lessons learned) dari praktik-praktik. Tipe kegiatan ini mengumpulkan pengetahuan yang berasal dari pengalaman, yang harus diinterpretasikan dan diadopsi oleh user dalam konteks yang baru. c) Mengidentifikasi sumber dan jaringan kepakaran. Kegiatan ini bermaksud untuk menjadikan kepakaran lebih mudah terlihat dan mudah diakses bagi setiap mahasiswa, karyawan, dosen-dosen sebagai teman sejawat, pimpinan universitas, fakultas, program studi, dan lain-lain. Dalam hal ini adalah untuk membuat fasilitas koneksi antara orang yang mengetahui pengetahuan dan orang yang membutuhkan pengetahuan. d) Membuat struktur dan memetakan pengetahuan yang diperlukan untuk meningkatkan performansi. Kegiatan ini memberikan pengaruh seperti pada proses pengembangan produk baru atau disain ulang proses bisnis dengam menjadikan lebih eksplisit atau terbuka dari pengetahuan yang diperlukan pada tahap-tahap tertentu. e) Mengukur dan mengelola nilai ekonomis dari pengetahuan. Banyak organisasi mempunyai aset intelektual yang terstuktur, seperti hak paten, copyright, software licenses dan database pelanggan. Dengan mengetahui semua aset-aset ini memung-

Totok Wahyu Abadi, Rancangan Aplikasi Kompetensi Dosen Umsida Berbasis Knowladge

92

f)

kinkan organisasi untuk membuat revenue dan biaya untuk organisasi. Menyusun dan menyebarkan pengetahuan dari sumber-sumber eksternal. Perubahan lingkungan bisnis yang cepat dan tidak menentu telah meningkatkan kepentingan dan kesungguhan pada business intelligence system. Dalam kegiatan ini organisasi berusaha mengumpulkan semua laporan dari luar yang berhubungan dengan bisnis. Dalam kegiatan ini diperlukan editor dan analis untuk menyusun dan memberikan konteks terhadap informasi-informasi yang diperoleh tersebut.

3. PORTAL: RANCANGAN APLIKASI MANAJEMEN PENGETAHUAN DI UMSIDA
Untuk mengaplikasikan konsep knowladge management dalam Sistem Informasi Pakar (SIP) di Umsida perlu dikembangkan “portal”. Portal merupakan jejaring khusus berbentuk web-site yang dapat digunakan untuk melakukan transfer pengetahuan. Pengembangan konsep portal merupakan bentuk konkret dari knowledge management. Portal yang bagus adalah portal yang dapat mentransfer pengetahuan kepada penggunanya. Dalam hal ini pengguna Sistem Informasi Pakar (SIP) adalah mahasiswa, pimpinan universitas dan fakultas, perpustakaan sebagai information provider, dunia usaha – industri – masyarakat (DUIM), dan dikti – kopertis – pemda – NGO. Konsep portal harus memperhatikan ruang lingkup dari knowledge management. Artinya beberapa unsur dari ruang lingkup knowledge management harus terintegrasi dalam portal tersebut. Bagi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, membangun portal adalah salah satu solusi mengatasi ketertinggalannya. Portal akan menjadi salah satu media

yang tepat untuk melakukan transfer pengetahuan. Beberapa keuntungan konkret yang didapatkan dari portal adalah 1) kecepatan pencarian sumber, 2) membangun pencitraan Umsida kepada publik, 3) biaya yang makin murah, 4) kemudahan membangun jaringan (Funny Mustikasari,tt) Pusat Data dan Komputer Umsida dalam membangun portal harus mampu mengintegrasikan konsep searching atau pencarian. Yang paling penting dalam hal ini adalah kecepatan pencarian sumber. Cepatnya mencari sumber yang dilakukan oleh user – selain mahasiswa dan pimpinan universitas maupun fakultas – akan membawa dampak pada ketertarikan pengunjung yang pada gilirannya akan meningkatkan pencitraan Umsida di mata masyarakat pengguna. Kepemilikan portal oleh perguruan tinggi juga memberikan keuntungan tidak hanya bagi pengunjung tetapi juga oleh Umsida sendiri. Penggunaan portal dapat memberikan penghematan biaya yang luar biasa dalam membangun profil company ataupun promosi unggulan yang dimilikinya. Serta yang juga penting adalah membangun jejaring tidak hanya sesama sekolah ataupun perguruan tinggi yang dikelola Persyarikatan Muhammadiyah tetapi juga dikti, kopertis, pemda setempat, dunia usaha, dunia industri, masyarakat yang memiliki concern terhadap Umsida. Hal penting yang juga harus diperhatikan adalah pengembangan database. Penyusunan database memerlukan prosedur-prosedur rancangan yang sesuai dengan sistem pengembangan sistem informasi. Perancangan terdiri dua aktivitas, yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perancangan lunak terdiri dari perancangan database yang berupa ERD (entity relationship diagram) dan DFD (data flow diagram). Penggunaan model entity relationship

95

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 85 - 94

-

ID Dosen NIDN Nama Dosen Kepangkatan Akademik No.Kontak Pengampu MK Presensi dalam perkuliahan

-

ID matakuliah Nama matakuliah Sebaran matakuliah/semeseter

-

Mahasiswa Pimpinan universitas & fakultas Perpustakaan (information provider) Dunia usaha , Industri, & masyarakat Dikti, Kopertis,Pemda, NGO

-

RPM (Rencana Pembelajaran Mahasiswa) Buku Ajar Hasil Penelitian Artikel di Media/Jurnal Ilmiah Partisipasi dalam seminar Pengabdian Masyarakat

Gambar 3: Diagram E-R level I untuk Rancangan Sistem Informasi Pakar (sumber: diadaptasi dari Donald Amoroso dalam Turban,2008) (ERM) dalam sistem informasi memiliki relevansi dengan berbagai aplikasi pemrosesan data, objek data utama, komposisi objek data, atribut dan hubungan antara masing-masing objek data. Pada Entity – Relationship Model, semesta data yang ada di dunia nyata ditransformasikan dengan memanfaatkan sejumlah perangkat konseptual menjadi diagram data yang disebut dengan Entity Relationship Diagram (ERD). Entity relationship ini disusun oleh tiga komponen utama, yaitu entitas (entity), relasi (relationship), dan atribut (atributes). Entitas merupakan individu yang mewakili sesuatu yang nyata eksistensinya dan dapat dibedakan dari sesuatu yang lain (Agus Mulyanto, 2009:273). Turban (2008:97) menyebutnya sebagai suatu hal yang lain dalam hubungan. Dosen dengan matakuliah yang diampunya, mahasiswa, hasil karya/pengetahuan dosen, serta user adalah entitas. Setiap kelompok entitas yang berada dalam lingkup yang sama membentuk sebuah himpunan entitas (entity set). Setiap entitas memiliki atribut yang mendeskripsikan karakteristik dari entitas. Pemilihan atribut-atribut yang relevan bagi sebuah entitas merupakan hal penting dalam pemodelan data. Kedudukan atribut dalam entitas pemodelan ER harus memiliki kejelasan fungsi. Artinya, atribut yang digunakan harus ada yang berfungsi sebagai kunci utama (primary key) dan ada yang menjadi atribut deskripsi. Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Induk Kepegawaian (NIK) merupakan atribut unik identitas yang dimiliki dosen. Relasi menunjukkan adanya hubungan di antara sejumlah entitas yang berasal dari himpunan entitas yang berbeda. Misalnya, relasi entitas dosen dengan entitas matakuliah mengandung arti bahwa dosen tersebut sedang mengampu matakuliah yang disebutkan. Begitu halnya dengan relasi antara entitas matakuliah

Totok Wahyu Abadi, Rancangan Aplikasi Kompetensi Dosen Umsida Berbasis Knowladge

94

dengan entitas hasil karya yang mengandung arti bahwa setiap dosen yang mengampu matakuliah memiliki rencana pembelajaran mahasiswa yang dibreakdown dari silabus, memiliki buku ajar yang ditulis ataupun buku wacana yang dimiliki sebagai rujukan mahasiswa, serta hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan sebagai kontekstualisasi matakuliah yang diajarkan kepada mahasiswa atau artikel dalam jurnal ilmiah sebagai ringkasan hasil penelitian. Kumpulan semua relasi di antara entitas – entitas yang terdapat pada himpunan entitas – himpunan entitas tersebut membentuk himpunan relasi (relationship sets: gambar 3). Untuk menjelaskan aliran informasi dan transformasi data yang bergerak dari pemasukan data hingga ke keluaran digunakan diagram alir data (DFD = Data Flow Diagram). Desain DFD menggunakan label sebagai berikut

a) Persegi panjang digunakan untuk mempresentasikan sebuah esternal entity sebagai sebuah elemen sistem, misalnya user (orang yang menggunakan) atau program lain. b) Lingkaran atau yang disebut dengan bubble mempresentasikan proses atau transformasi data, c) Panah mempresentasikan satu atau lebih objek data, d) Garis ganda mempresentasikan sebuah penyimpan data (data strore), (Pressman, 2001 dalam Agus Mulyanto, 2009:277) Gambar 4 merupakan Rancangan DFD (diagram konteks) yang akan diaplikasikan dalam penyusunan Sistem Informasi Pakar di Universitas Muhammdiyah Sidoarjo. DFD ini merupakan E-R level II yang diderivasikan dari E-R level I.

PENUTUP
1. 2. 3. 4. 5. 6. ID mahasiswa ID matakuliah Daftar matakuliah Dosen Matakuliah Buku ajar Matakuliah Referensi Lainnya 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. ID Pimpinan Daftar pengguna Daftar matakuliah Daftar Dosen Matakuliah Daftar Kepangkatan Akademik Laporan keaktifan/presensi dosen Daftar Buku Ajar yang ditulis dosen Daftar artikel yang dimuat jurnal ilmiah Daftar partisipasi dalam seminar Daftar RPM yang ditulis dosen Daftar riset yang dihasilkan dosen Daftar Penmas dosen

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

ID Dikti, Kopertis,Pemda ID perguruan tinggi ID dosen PT Kepangkatan Akademik dosen Kepakaran ilmu Daftar Buku Ajar yang ditulis Daftar artikel dalam Jurnal Ilmiah Daftar partisipasi dalam seminar Daftar penelitian Daftar Penmas

1. 2. 3. 4. 5. 6.

ID DUIM ID dosen PT Daftar riset yang dihasilkan Daftar penmas Daftar artikel dalam jurnal Kepakaran ilmu

Gambar 4: DFD sebagai derivasi E-R level I SIP Umsida.

97

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012, 85 - 94

Dengan terbangunnya Sistem Informasi Pakar setidaknya akan membawa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menuju visi Umsida Bermutu di Tahun 2020. Ke depan harapan yang harus digapai adalah menuju Research College. Oleh karena itu upaya yang harus dilakukan adalah mengelola SDM yang dimiliki seperti knowladge, idea, skill, dan experience (KISE) menjadi lebih baik dan berkualitas. Untuk menjadi lebih berkualitas tersebut perlu dukungan teknologi informasi yang tepat – guna serta pengembangan budaya organisasi yang lebih baik.

Manajerial. Jakarta: Salemba Empat. Hal. 228 – 240 Rahmad M. Saimad – Ibrahim. 2005. “Tidak Kenal Maka Tidak Sayang: Kiat Mensosialisasikan makalah Internasional Kepada Komunitas Informasi Indonesia”. dalam Sistem Informasi Dalam Berbagai Aspek. Jakarta: Informatika Rd. Funny Mustikasari Elita. tt. “Aplikasi Manajemen Pengetahuan bagi Pembelajaran Organisasi” Artikel Populer Ilmu Computer.com. http:// www.google.com Diunduh 21 Des. 10 Syahidin. 2002. “Studi Ekspektasi Pimpinan dan Mahasiswa terhadap Kompetensi Dosen Pendidikan Agama Islam” dalam Tajdid (Jurnal Ilmu-ilmu Agama Islam dan Kebudayaan). http://www.tajdidiaid.or.id. Diunduh 3 Januari 2011 Tri Pudjadi, Kristianto, dan Andre Tommy. 2007. “Analisis untuk Perencanaan Strategi Sistem dan Teknologi Informasi pada PT. Ritrans Cargo” Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007 (SNATI 2007). ISSN: 1907-5022 hal: 7 – 12 Turban, dkk. 2008. Information Technology of Management: Transforming Organizations in the Digital Economic. USA: Willy. Edisi 6. Hal. 390 - 393 Warnas H, Spits. 2008. “Rancangan Infrastruktur e-Bisnis Bussines Inteligence pada Perguruan Tinggi” Telkomnika. Volume 6 Nomor 2. Hal.115-124

DAFTAR PUSTAKA
Djajadiningrat, Surna Tjahja. 2005. Mengelola Pengetahuan Dan Modal Intelektual Dengan Pembelajaran Organisasi: Suatu Gagasan Untuk Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah pada Sidang Terbuka ITB Peringatan Dies Natalis Institut Teknologi Bandung ke-46, tanggal 2 Maret 2005. Felix Gunawan. 2006. “Mencermati Konsep Bussiness Inteligent di Perusahaan” Jurnal Sosioteknologi Edisi 9 Tahun 5, Desember 2006 Krech, D. & Crutchfield, R. 1962. Individual in Society. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd. Hal: 96 Linawati. 2006. “ERP Infrastruktur Vital Sebuah Industri” Artikel Populer Ilmu Computer.com. http://www.google.com Diunduh 21 Des. 10 Mulyanto, Agus. 2009. Sistem Informasi: Konsep dan Aplikasi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. Hal.: 189 – 220 O’Brien, James A. 2009. Pengantar Sistem Informasi: Perspektif Bisnis dan

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012

96

Indeks Penulis
A
Abadi, Totok Wahyu Rancangan Aplikasi Kompetensi Dosen Umsida Berbasis Knowladge Management, 85 - 94 Amka Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an di Provinsi Kalimantan Selatan, 11 - 24

G
Genggong, Marsia Sumule Analisis Komunikasi Pemasaran Jasa pada PT. Jiwasraya Kendari, 51 - 60

H
Hariadi, Sunarru Samsi Analisis Jaringan Kerjasama Petani dan Kelompok Tani Anggrek dengan Pemangku Kepentingan pada Program DAFEP di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, 39 - 50 Haryadi, Trisakti Implementasi Komunikasi Lingkungan pada Kepemimpinan Parabela dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Buton, 1 - 10 Herianto, Ageng Setiawan Analisis Jaringan Kerjasama Petani dan Kelompok Tani Anggrek dengan Pemangku Kepentingan pada Program DAFEP di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, 39 - 50 Husain, M. Najib Implementasi Komunikasi Lingkungan pada Kepemimpinan Parabela dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Buton, 1 - 10

N
Ngadimun Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, 25 - 38

99

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012

P
Prananingsih, Ema Analisis Jaringan Kerjasama Petani dan Kelompok Tani Anggrek dengan Pemangku Kepentingan pada Program DAFEP di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, 39 - 50

R
Rochmaniah, Ainur Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah di Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, 61 - 74 Rodiyah, Isnaini Pengelolaan Kepegawaian Daerah di Era Desentralisasi, 75 - 84

W
Wastutiningsih, Sri Peni Implementasi Komunikasi Lingkungan pada Kepemimpinan Parabela dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Buton, 1 - 10

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012

98

Indeks Subyek
A
abuse of power 78 actionable 87 added value 87 agency 82 agent 77 anorganik 72 assesment center 80 asymmetric information 77 authentically 14

D
database 81 decentralization 75 Decision 67 Decision Making 64 demand and support 28 desiring the good 14 developmental research sequence 4 Die hard 67 digital library 90 Disposition 28 disposition 15 diversity mana-gement 78 doing the good 14

I
Implementation 11 incumbent 83 information delivery 61 Information Sharing 64 information sharing 71 Initiating action 64, 71 Innovator 67 inovasi 66 inovation leader 61 institution inefficiency 77 integrated 14 interpretation 28

B
Balimo arataa somanmo Karo 1 bargaining 78 battom up 29 benefit 78 bestuur 77 Bolimo Karo Somanamo Lipu 1 bottleneck 78 bribery 76 bridge 72 Bureaucratic Structure 28 business intelligence system 91

K
kadie 5 Kaombo 3 kaombo 6 knowing the good 14 Knowledge 67 knowledge management 85 knowledge power 68 knowledge-skill 27 kompetensi pedagogis 86 Kompetensi pribadi 85 Kompetensi profesional 86 Kompetensi sosial 85 Konvergensi 65

E
Early adopter 67 Early mojority 67 embededness 83 empowerment level 39 entity relationship diagram 91 entity set 92 entrepreneurship 27 environmental communication implementation 1 environmental sustainability based on local wisdom 1 esprit de corp 5 expert power 68 Explicit Knowledge 88

C
cangkrukan 70 Capacity building 86 channel 51 Character consist of operative value 13 civility 14 clinical practitioner 20 communication 15 Community of Practice 90 Compatibility 66 Complexity 66 Concultation 64 Confirmation 67 Context of the Approach 28 cooperative networking 39 copyright 90 critical attitude 13

L
lack of enforcement 77 Laggard 67 Language as Symbolic Action 3 Late majority 67 leaky knowladge 88 lecturers’ competence 85 lessons learned 90 lobbying 76 Local Wisdom 3 locus of power 78

G
genuinely 14 governability 82 Graph theory 39

H
hidden curriculum 12 high priest 20 hiring 78 human relation 86 humanist 20

101

KALAMSIASI, Vol. 5, No. 1, Maret 2012

M
Man-Power Approach 14 management engineer 20 management of employment areas 75 marketing communication 51 matana kariya 4 mindset 83 money politic 76 moral feeling 13 moral hazards 83 moral knowing 13 mutual understanding 7, 64

O
objektivitas 12 Observability 66 off farm 40 operational level 16 opinion leader 3 organizational level 16 outcomes 28 overlanpping of interest 67 overlapping 80

policy actors 33 policy executing 77 policy level 16 policy making 77 power-sharing 34 primary key 92 primordialism 83 principal 77 problem solving 67 Problems and Prospects 28 product, price 51 promotion 51 public shere 64 public sphere 71 punishment 82 purposive sampling 54

S
Sara kadie 7 School-Based Quality Improvement Management 25 Social Demand Approach 14 software licenses 90 stakeholders 13, 16 status quo 83 structural approach 19

T
Tacit knowledge 88 target groups 15 Tatasi Pulangano 7 Tauwe taliki 7 terms of reference 34 top down 28 top-down 83 Training of Trainer 19 trash management 61 Trialability 66 trust 48

Q
Quran Education Policy 11

R
recruiting 78 referent power 68 regional autonomy 75 regulling 77 Relative Advantage 66 reliable 79 resources 15 revenge 83 revenue 91 reward 82

V
value in action 13

P
pamali 5 Parabela leadership 1 patron-client 83 performance 33 performance-based pay 82 Persuasion 67

W
Wolio 4

KALAMSIASI
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara
Vol. 5, No. 1, Maret 2012

IMPLEMENTASI KOMUNIKASI LINGKUNGAN PADA KEPEMIMPINAN PARABELA DALAM MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI KABUPATEN BUTON M. Najib Husain, Trisakti Haryadi, Sri Peni Wastutiningsih ................................... IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN AL QUR’AN DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Amka ............................................................................................................................... KEBIJAKAN MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS) DI KOTA BANJARMASIN, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Ngadimun ....................................................................................................................... ANALISIS JARINGAN KERJASAMA PETANI DAN KELOMPOK TANI ANGGREK DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN PADA PROGRAM DAFEP DI DESA PABELAN, KECAMATAN MUNGKID, KABUPATEN MAGELANG Ema Prananingsih, Ageng Setiawan Herianto, dan Sunarru Samsi Hariadi ........ ANALISIS KOMUNIKASI PEMASARAN JASA PADA PT. JIWASRAYA KENDARI Marsia Sumule Genggong ............................................................................................ KEPEMIMPINAN INOVATIF DALAM PENYEBARAN INFORMASI PENGELOLAAN SAMPAH DI KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO Ainur Rochmaniah ........................................................................................................ PENGELOLAAN KEPEGAWAIAN DAERAH DI ERA DESENTRALISASI Isnaini Rodiyah .............................................................................................................. RANCANGAN APLIKASI KOMPETENSI DOSEN UMSIDA BERBASIS KNOWLADGE MANAGEMENT Totok Wahyu Abadi ........................................................................................................ 87 - 96 77 - 86 61 - 75 51 - 60 39 - 50 25 - 38 11 - 24 1 - 10

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah puji syukur kehadirat Alloh SWT atas terbitnya jurnal KALAMSIASI, volume 5 nomor 1, Maret 2012. Semoga apa yang tersaji dalam edisi ini dapat menambah wawasan pengetahuan dalam kerangka mengasah dan meningkatkan kualitas keilmuan kita. Pembaca yang budiman, dalam edisi ini, Jurnal KALAMSIASI mengalami sedikit perubahan dalam struktur kepengurusan, khususnya dalam struktur Editor Ahli, Editor Pelaksana dan Tata Usaha. Semoga perubahan tersebut akan menjadikan Jurnal KALAMSIASI lebih baik lagi pada masa-masa mendatang. Dalam sajian kali ini Jurnal KALAMSIASI mengetengahkan topik-topik bidang kajian Ilmu Komunikasi, Ilmu Administrasi Publik. Dalam bidang kajian Ilmu Komunikasi, M. Najib Husain, Trisakti Haryadi, Sri Peni Wastutiningsih, membahas Implementasi Komunikasi Lingkungan Pada Kepemimpinan Parabela Dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal. Sedangkan Ema Prananingsih, Ageng Setiawan Herianto, dan Sunarru Samsi Hariadi, mengupas Analisis Jaringan Kerjasama Petani dan Kelompok Tani Anggrek dengan Pemangku Kepentingan. Sementara Marsia Sumule Genggong dan Ainur Rochmaniah, masing masing membahas Analisis Komunikasi Pemasaran Jasa pada PT. Jiwasraya dan Kepemimpinan Inovatif dalam Penyebaran Informasi Pengelolaan Sampah Dalam Kajian Ilmu Administrasi Publik, Amka, mengkaji Implementasi Kebijakan Pendidikan Al Qur’an Di Provinsi Kalimantan Selatan. Sementara itu Ngadimun, mengupas Kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sedangkan Isnaini Rodiyah, mencoba meneropong Pengelolaan Kepegawaian Daerah di Era Desentralisasi. Dilanjutkan dengan paparan Totok Wahyu Abadi, yang mengetengahkan Rancangan Aplikasi Kompetensi Dosen Umsida Berbasis Knowladge Management

Akhir kata, saran dan kritik selalu kami nantikan untuk kebaikan jurnal yang kita cintai ini dimasa-masa yang akan dating. Selamat Membaca..

Penyunting

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->