P. 1
Modul Praktis Panen Dan Pasca Panen

Modul Praktis Panen Dan Pasca Panen

|Views: 1,369|Likes:
Published by Kang Chons
Dalam menjamin keberlangsungan bisnis rumput laut, maka keberadaan hulu (proses produksi budidaya) dengan hilir (industri) bagaikan 2 sisi mata uang. Jaminan mutu rumput laut hasil budidaya, akan menjamin keberlangsungan industri begitupun sebaliknya, jaminan penyerapan produk dengan posisi tawar optimal akan menjamin keberlanjutan usaha budidaya.. Modul ini memberikan informasi sederhana, bagaimana mengelola panen dan pascapanen secara benar untuk menjamin mutu sesuai standar yang diinginkan industri.
Dalam menjamin keberlangsungan bisnis rumput laut, maka keberadaan hulu (proses produksi budidaya) dengan hilir (industri) bagaikan 2 sisi mata uang. Jaminan mutu rumput laut hasil budidaya, akan menjamin keberlangsungan industri begitupun sebaliknya, jaminan penyerapan produk dengan posisi tawar optimal akan menjamin keberlanjutan usaha budidaya.. Modul ini memberikan informasi sederhana, bagaimana mengelola panen dan pascapanen secara benar untuk menjamin mutu sesuai standar yang diinginkan industri.

More info:

Published by: Kang Chons on May 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2014

pdf

text

original

MODUL PRAKTIS

PANEN DAN PASCA PANEN RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii

Oleh : Cocon, S.Pi

www.infoaquaculture.com

2012
Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

DAFTAR ISI

MODUL PERTAMA : MEMANEN RUMPUT LAUT Halaman BAB I PENDAHULUAN 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. Latar Belakang Tujuan Ruang Lingkup Pengertian dan Istilah : : : : .................................... ................................... .................................... ....................................

BAB II MENENTUKAN ALOKASI WAKTU PANEN 2.1. Pengetahuan yang diperlukan 2.2. Keterampilan 2.3. Sikap Kerja BAB III MEMILIH METODE PEMANENAN 3.1. Pengetahuan yang diperlukan : .................................... : .................................... : .................................... : ....................................

3.1.1. Penentuan metode panen : ..................................... berdasarkan aspek efektifitas dan efesiensi 3.2. Keterampilan BAB IV MENYIAPKAN PERALATAN PANEN 4.1. Pengetahuan yang diperlukan 4.2. Keterampilan BAB V MELAKSANAKAN PEMANENAN 5.1. Pengetahuan yang diperlukan 5.2. Keterampilan : .................................... : .................................... : .................................... : .................................... : ....................................

MODUL KEDUA : MENGELOLA PASCA PANEN RUMPUT LAUT BAB I PENDAHULUAN 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. Latar Belakang Tujuan Ruang Lingkup Pengertian dan istilah : : : : .................................... .................................... .................................... ....................................

BAB II MELAKUKAN SORTIR RUMPUT LAUT HASIL PANEN BASAH 2.1. Pengetahuan yang diperlukan 2.2. Keterampilan : .................................... : ....................................

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB III MENYIAPKAN PERALATAN PENGERING 3.1. Pengetahuan yang diperlukan 3.2. Keterampilan : .................................... : ....................................

BAB IV MELAKUKAN PENGERINGAN RUMPUT LAUT 4.1. Pengetahuan yang diperlukan 4.1.1. : ....................................

Metode pengeringan rumput : .................................... laut 4.1.2. Kontrol kualitas selama : .................................... pengeringan : ....................................

4.2. Keterampilan

BAB V MENGONTROL KUALITAS PRODUK RUMPUT LAUT KERING 5.1. Pengetahuan yang diperlukan : ....................................

5.1.1. Spesifikasi rumput laut kering : .................................... 5.1.2. Kontrol kualitas produk : .................................... rumput laut kering BAB VI PENGEPAKAN , PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN 6.1. Pengetahuan yang diperlukan 6.1.1. 6.1.2. 6.1.3. 6.1.4. Teknik pengepakan Labelling Teknik penyimpanan Transportasi/Pengangkutan : .................................... : : : : .................................... .................................... .................................... ....................................

6.2. Keterampilan

: ....................................

DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya Modul Praktis yang berjudul “Panen dan Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottoni” dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Kompleksitas nilai guna rumput laut baik untuk kebutuhan pangan (food grade), industri (industrial grade) maupun farmasi (Pharmautical) telah mendorong meningkatnya permintaan pasar baik nasional maupun ekspor dari tahun ke tahun. Menyadari hal tersebut, maka upaya peningkatan produksi harus terus didorong dengan tetap menjamin persyaratan mutu dan keamanan pangan hasil produksi. Namun demikian disisi lain permasalahan kerap muncul khususnya masih minimnya jaminan mutu rumput laut yang masuk ke industri pengolah, sehingga menghambat suplly and demand yang berpotensi mengancap keberlanjutan industri pengolah. Jika industri di hilir mengalai keterhambatan, maka sudah barang tentu akan mengancam pula keberlanjutan proses produksi di hulu, sehingga nasib pembudidaya menjadi taruhan. Salah satu penyebab munculnya permasalahan di atas, diantaranya disebabkan kurangnya pengetahuan pembudidaya dalam melakuka pengelolaan proses budidaya yang baik khususya pada tahapan proses panen dan pengelolaan pasca panen. Modul ini diharapkan akan memberikan gambaran dan sekaligus acuan informasi bagi pembudidaya dan pelaku usaha rumput laut dalam melakukan kegiatan panen dan pasca panen rumput laut secara benar guna menghasilkan produk sesuai yang dipersyaratkan pihak industri pengolah. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan modul ini sehingga kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan. Tak lupa, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan modul ini baik langsung maupun tidak langsung. Akhirnya, semoga modul ini bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi pembudidaya dan pelaku usaha, umumnya bagi masyarakat yang tertarik dan peduli terhadap kemajuan bisnis perumputlautan di Indonesia.

Jakarta, 24 April 2012

Penulis

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

MODUL PERTAMA

MEMANEN RUMPUT LAUT

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan garis pantai 81.000 km, merupakan potensi yang sangat besar untuk budidaya rumput laut. Jenis rumput laut yang telah dibudidayakan secara komersial adalah jenis Eucheuma spp dan Gracilaria spp, Eucheuma spp dibudidayakan di laut/pantai sedangkan Gracilaria spp banyak dibudidayakan di tambak. Peningkatan produksi rumput laut indonesia saat ini pada kenyataannya belum diimbangi dengan peningkatan kualitas hasil produksi, dimana hasil produksi rumput laut yang berasal dari pembudidaya belum sepenuhnya memenuhi standar kualitas yang diinginkan oleh industri pengolah antara lain mencakup umur panen, dan perlakukan panen yang masih belum mempertimbangankan standar mutu. Salah satu langkah yang perlu segera dilakukan adalah memberikan pengetahuan dan membangun kesadaran tentang pentingnya perlakuan panen dan secara benar yang mempertimbangkan efektifitas, efisiensi dan jaminan kualitas produksi yang dihasilkan, sehingga secara langsung akan mendorong keberlanjutan Industri pengolah sudah barang tentu akan menjamin keberlangsungan kegiatan usaha pembudidaya rumput laut. 1.2. Tujuan Adapun tujuan penyusunan modul memanen rumput laut adalah sebagai berikut:

1. Memberikan informasi mengenai teknik melakukan proses pemanenan secara benar,
efektif dan efisien guna menjamin kualitas/mutu hasil produksi sebagaimana yang dikehendaki pihak industri pengolah.

2. Untuk mendapatkan hasil panen rumput laut yang memenuhi standar kualitas industry
pangan dan non pangan dan untuk memperoleh hasil panen rumput laut yang menguntungkan secar ekonomis.

3. Meningkatkan posisi tawar (bargaining position) hasil produk rumput laut di tingkat
pembudidaya.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

1.3. Ruang Lingkup Perlu diketahui bahwa untuk pembahasan materi pada modul ini adalah untuk rumput laut jenis Eucheuma cottoni yang saat ini telah dilakukan budidaya secara masal ditingkat pelaku budidaya. Adapun ruang lingkup kegiatan memanen rumput laut ini adalah memberikan bimbingan agar persiapan dan pengoperasian peralatan untuk pemanenan rumput laut, pemilihan metode dan pelaksanaan pemanenan tepat, efektif dan efisien sesuai industri. 1.4. Pengertian/Istilah dilakukan dengan secara usaha atau dengan kriteria yang berlaku di dunia

1. Umur panen
Umur panen adalah lamanya waktu yang diperlukan dari mulai penanaman bibit rumput laut sampai dengan rumput laut dipanen.

2. Metode pemanenan
Adalah cara-cara yang digunakan untuk memanen rumput laut sesuai dengan jenis dan tempat budidayanya.

3. Gel Strength
Tingkat kekenyalan jelly yang terdapat dalam rumput laut atau kekuatan membentuk gel pada karaginan

4. Menyeleksi
Melakukan pemilihan untuk mendapatkan produk terbaik sesuai kualifikasi

5. Efektifitas Panen
Kemampuan untuk melakukan panen secara tepat, cermat, dan berhasil guna sesuai standar hasil panen yang dikehendaki.

6. Standar Mutu
Ukuran tertentu yang digunakan sebagai patokan kualitas suatu produk

7. Efisiensi Panen
Kemampuan melakukan panen dengan tepat sehingga tidak terjadi pemborosan waktu, tenaga dan biaya.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

8. Panen total (Full Harvest)
Cara panen yang dilakukan dengan mengangkat tanaman rumput laut bersama tali ris, untuk kemudian dilakukan pelepasan dan seleksi di darat.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB II MENENTUKAN ALOKASI WAKTU PANEN

2.1.

Pengetahuan yang diperlukan dalam menentukan alokasi waktu pemanenan

Penentuan waktu panen merupakan faktor penting untuk menjaga kualitas rumput laut, baik rumput laut yang akan digunakan untuk bibit maupun untuk produk panen basah. Kualitas rumput laut tidak hanya ditentukan oleh faktor teknis budidaya pada saat proses produksi, namun ditentukan juga oleh umur panen, cara dan perlakuan pada saat panen serta keadaan cuaca pada saat melakukan pemanenan. Rumput laut Eucheuma cottoni telah siap panen apabila telah memasuki umur panen 40-45 hari setelah penanaman. Sedangkan panen untuk kebutuhan bibit dilakukan pada saat memasuki umur 25-30 hari. Panen produk basah yang dilakukan kurang dari 40 hari akan menghasilkan rumput laut dengan kualitas yang rendah, hal ini dikarenakan kandungan karaginan maupun kekuatan gel (gel strength) yang terdapat didalam rumput laut rendah sedangkan kandungan kadar air masih tinggi. Kondisi tersebut tentunya tidak dikehendaki oleh pihak industri pengolah rumput laut, sehingga secara langsung akan menurunkan posisi tawar produk atau bahkan tidak dibeli sama sekali. Sedangkan rumput laut Gracilaria spp dilakukan panen pada saat mencapai umur 60 hari, usia panen tersebut dinilai telah mempunyai kandungan agar yang optimal dibanding usia dibawah 60 hari. Keberhasilan dari kegiatan budidaya rumput laut dapat dinilai dari jumlah dan kualitas rumput laut yang dipanen. Perlu diperhatikan pula bahwa saat panen yang tepat yang berhubungan dengan tindakan selanjutnya yaitu teknis pengeringan adalah bahwa kegiatan pemanenan rumput laut harus dilaksanakan pada saat cuaca cerah sehingga pengeringan dapat dilaksanakan dengan baik. Apabila kegiatan budidaya dan pemanenan dilakukan dengan memperhatikan persyaratan teknis tersebut, maka dapat diharapkan hasil panen rumput laut akan memuaskan dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi. Faktor lain yang juga menentukan kualitas adalah teknik panen, penanganan saat dan sesudah panen dan keadaan cuaca. Saat panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari sehingga rumput laut akan cepat dapat dijemur untuk mengurangi kadar airnya, hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan saat disimpan sebelum diteruskan untuk dijemur pada hari berikutnya Sebelum melakukan proses pemanenan terlebih dahulu perlu diperhitungkan mengenai alokasi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan panen per unit budidaya atau disesuaikan

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

dengan target kapasitas produksi yang akan dipanen. Efektifitas dan efesiensi kerja pada saat proses pemanenan perlu menjadi perhatian, selain dalam rangka menjaga kualitas produk (panen basah maupun bibit) juga dalam rangka menekan biaya operasional panen, hal ini biasanya kegiatan panen membutuhkan tenaga dari luar, sehingga perhitungan kemampuan tenaga kerja untuk melakukan panem perlu mendapat perhatian. Rencana Kegiatan panen Rencana kegiatan pemanenan untuk tiap-tiap unit budidaya perlu dibuat, hal ini dalam rangka upaya kontrol terhadap kualitas produk terutama usia tanam. Selama proses kegiatan budidaya hendaknya dilakukan pencatatan secara terprogram dengan membuat table pencatatan yang mencakup rencana kegiatan pemanenan antara lain : kode unit, luas lahan per unit, metode budidaya, tanggal tanam, jenis rumput laut, bibit (umur bibit awal, berat bibit per rumpun, jumlah bibit per unit), tanggal panen, produksi (target produksi dan realisasi produksi). Melalui pencatatan yang dilakukan secara terprogram, maka pembudidaya akan dengan mudah untuk menentukan lahan/unit budidaya mana yang telah siap dilakukan pemanenan sesuai standar kualitas produk hasil panen basah sebagaimana yang dikehendaki pihak industri/pasar. Lahan/unit budidaya yang harus segera dipanen adalah yang telah memasuki usia panen yaitu 45 hari sejak penanaman awal. Dalam menentukkan usia panen tersebut tentunya melalui perhitungan sebagaimana yang tercantum dalam rekaman/catatan yang dibuat sebelumnya. Catatan/rekaman yang mencakup didalamnya rencana kegiatan panen merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka keperluan telusur terhadap jaminan kualitas produk rumput laut yang dihasilkan dari pembudidaya. Berikut disajikan contoh tabel catatan/rekaman proses produksi serta rencana kegiatan pemanenan yang harus diisi dan dilakukan secara terpogram, sebagaimana tabel 1. Di bawah ini : Tabel. 1. Rencana Kegiatan Panen
Bibit Kode Unit Luas Lahan (m2) Metode Budidaya Tgl. Tanam Jenis Rumput Laut Umur (hari) Berat Perrumpun (grm) Jumlah Perunit (kg) Tgl. panen Produksi Target (Kg) Realisasi (Kg)

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

2.2.

Keterampilan Dalam Menentukan Alokasi Waktu Panen

Keterampilan yang perlu dilakukan dalam menenentukan alokasi waktu panen meliputi kemampuan dalam menentukan alokasi waktu pemanenan yaitu dengan melakukan pembuatan catatan/rekaman rencana kegiatan panemnselama proses produksi yang didalamnya mencakup rencana kegiatan yang tercatat secara terpogram, sehingga pelaku budidaya akan dengan mudah mengontrol umur dan lahan budidaya mana yang telah siap dilakukan pemanenan.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB III MEMILIH METODE PEMANENAN
3.1. Pengetahuan Dalam Memilih Metode Pemanenan

3.1.1. Penentuan metode panen berdasarkan aspek efektifitas dan efisiensi

Metode pemanenan harus dipilih dengan memperhatikan aspek efisiensi dan efekifitas kerja dan dilaksanakan secara efesien sehingga pelaksanaan pemanenan dapat dilakukan dengan cepat tanpa mengurangi prinsip-prinsip yang berlaku untuk mempertahankan mutu produk. Dalam hal ini perlu mempertimbangkan mengenai teknik pemaenan antara panen untuk pembibitan dengan panen untuk produk basah siap jemur. Ada beberapa metode pemanenan yang telah terbiasa dilakukan oleh para pembudidaya di beberapa daerah, antara lain sebagai berikut : 1. Metode pemanenan sebagian (pruning) Metode pemanenan dengan melakukan pemotongan sebagian rumput laut dengan memisahkan cabang-cabang dari tanaman induknya. Cara panen ini dilakukan dilokasi budidaya (di laut) yaitu dengan melakukan seleksi terhadap thallus yang siap dipanen serta menyisakan dan membiarkan thallus/cabang lain pada tanaman induk untuk kebutuhan bibit. Cara ini bisa menghemat tali pengikat bibit sedangkan kekurangan metode panen seperti ini adalah membutuhkan waktu yang relative lama sehingga kurang efisien, selain itu cara ini akan menyebabkan rumput laut yang disisakan pada tanaman induk mengalami pertumbuhan yang lambat, sehingga kualitasnya kurang baik. Dengan demikian metode panen ini kurang dianjurkan jika melihat aspek efektifitas dan efisiensi 2. Metode pemanenan total (full harvest) Cara ini dengan melakukan pelepasan tanaman rumput laut dari tali ikat dengan jalan memotong tali ikat atau melepaskan ikatan tali. Kegiatan pemanenan pada metode ini dilakukan di darat atau dipinggir pantai pada tempat yang teduh (tidak terkena sinar matahari langsung). Kelebihan cara ini adalah membutuhkan waktu kerja yang tidak terlalu lama sehingga efisien, selain itu dapat dengan mudah melakukan seleksi terhadap thallus yang masih muda untuk keperluan bibit sehingga secara langsung dapat dilakukan penanaman kembali dengan laju pertumbuhan yang baik. Sedangkan kekurangannya tali pengikat bibit perlu diganti setiap kali panen.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

Gambar 1. Panen sebagian dilakukan dilaut

Gambar 2. Panen keseluruhan (Full Harvest)

3.2.

Keterampilan Dalam Memilih Metode Pemanenan

Keterampilan meliputi kemampuan dalam memilih metode panen baik untuk E. Cottoni maupun Gracilaria dengan mempertimbangkan aspekefektifitas dan efisiensi kerja.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB IV MENYIAPKAN PERALATAN PEMANENAN

4.1.

Pengetahuan Dalam Menyiapkan Peralatan Pemanenan

Sebelum melakukan tahapan proses pemanenan, terlebih dahulu perlu menyiapkan peralatan dan sarana yang akan digunakan untuk kegiatan pemanenan. Penyiapan alat dan sarana panen harus mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi, sehingga kegiatan pemanenan akan memenuhi capaian sebagaimana yang telah ditargetkan dalam rencana kerja kegiatan pemanenan. Peralatan pemanenan juga perlu mempertimbangkan bagaimana hasil produksi mampu dipertahankan dari sisi kualitas/mutu sesuai standar yang dikehendaki pihak industri. Persiapan peralatan dan sarana panen dilakukan dalam rangka menjaga kelancaran pemanenan dan menjaga kulaitas mutu hasil produksi panen. Kebutuhan peralatan dan sarana panen pada budidaya E. cottoni dan Gracilaria spp pada prinsipnya sama. Beberapa peralatan dan sarana panen yang perlu dipersiapkan, diantaranya sebagai berikut :  Keranjang berukuran sedang, digunakan sebagai tempat hasil panen rumput laut siap jemur dan untuk menampung hasil seleksi bibit yang akan ditanam kembali.  Perahu/sampan, digunakan untuk mempermudah proses pemanenan di laut dan digunakan untuk mengangkut hasil panen.  Pisau, digunakan untuk memotong tali raffia (pengikat rumput laut) serta digunakan untuk memotong thallus pada saat proses seleksi rumput laut siap jemur dengan rumput laut yang akan dibibitkan kembali.  Timbangan, digunakan untuk melakukan penimbangan hasil panen siap jemur maupun jumlah bibit yang akan ditanam  Karung, tempat rumput laut hasil panen  Terpal plastik, digunakan untuk alas pada saat proses seleksi panen serta digunakan untuk melindungi rumput laut dari pengaruh hujan.  Waring/jarring, digunakan untuk menampung bibit dilaut  Lahan penjemuran, digunakan sebagai sarana pengeringan Selain penyiapan peralatan dan sarana seperti di atas, penentuan jumlah tenaga kerja panen juga perlu mendapat perhatian. Pengalaman pada beberapa lokasi, bahwa untuk melakukan panen E. cottoni pada lahan budidaya seluas 1 (satu) hektar dibutuhkan tenaga

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

panen sebanyak ± 10 orang untuk . Sedangkan untuk panen Gracilaria spp di tambak pemanenan dengan jumlah luasan 1 hektar membutuhkan tenaga panen ± 5 orang. 4.2. Keterampilan Dalam Menyiapkan Peralatan Panen dalam melakukan menyiapkan peralatan pemanenan , mencakup

Keterampilan

kemampuan melakukan inventarisir peralatan dan sarana apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan kegiatan pemanenan serta mampu mengoperasikan alat dan sarana panen tersebut dengan benar.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB V MELAKSANAKAN PEMANENAN

5.1.

Pengetahuan Dalam Melakukan Pemanenan

Kegiatan pemanenan merupakan rangkaian terakhir pada kegiatan proses produksi sebelum melakukan proses pasca panen. Pemanenan rumput laut sangat tergantung dari tujuan dilakukan proses pemanenan tersebut. Tujuan pemanenan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu pemanenan untuk mendapatkan bibit dan panen untuk mendapatkan rumput laut basah siap jemur. Secara umum pihak industri menghendaki rumput laut mempunyai kandungan karaginan yang optimal. Untuk mendapatkan rumput laut yang memiliki kandungan karaginan optimal sesuai dengan kebutuhan industri, maka beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dan menjadi pertimbangan dalam menjamin kualitas hasil produksi rumput laut pada saat pemanenan, sebagai berikut :  Umur tanam Umur panen akan sangat menentukan mutu rumput laut yang dihasilkan. Untuk pembuatan bibit, panen dapat dilakukan pada umur 25 – 35 hari Jika karena rumput laut masih belum terlalu tua sehingga akan didapatkan laju pertumbuhan yang optimal.. Namun untuk produksi, agar diperoleh kandungan dan kekuatan gel karaginan yang tinggi, panen dilakukan pada umur 45 hari. Rumput laut yang dipanen pada umur 45 hari selain rendemen rumput laut kering yang diperoleh tinggi, kandungan karaginannya pun tinggi, selain itu kekuatan gel karaginan yang dihasilkan juga tinggi. Namun, jika panen dilakukan pada umur muda, kurang dari 45 hari, kandungan karaginan dan kekuatan gelnya rendah, dan rendemen yang diperoleh juga rendah. Oleh karena itu, panen sebaiknya dilakukan pada umur 45 hari. Untuk itu rumput laut sebagai bahan mentah dalam bentuk rumput laut kering dipanen setelah berumur tidak kurang dari 45 hari agar diperoleh rumput laut yang mengandung karaginan dengan kualitas yang baik dengan rendemen yang baik pula yaitu mencapai 1:8. Artinya, dari 8 kg rumput laut basah diperoleh 1 kg rumput laut kering. Apabila rumput laut dipanen kurang dari umur tersebut, maka akan diperoleh rumput laut dengan mutu yang rendah yaitu kandungan karaginannya sedikit dan kekuatan gelnya rendah. Rumput laut yang dipanen masih terlalu muda meskipun dengan ukuran thallus

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

yang sudah besar tidak baik untuk diekstrak karaginannya sebagai bahan pangan maupun non pangan dalam industri. Apabila umur panen tidak cukup maka akan ditandai pula dengan kadar Clean Anhydrous Weed (CAW) yang rendah padahal CAW ini dipakai sebagai standar untuk rumput laut kering.  Keadaan Cuaca Kondisi cuaca pada saat melakukan pemanenan harus menjadi pertimbangan penting. Jika pemanenan dan penjemuran dikaukan pada kondisi cuaca cerah, maka mutu rumput laut tersebut dapat terjamin. Sebaiknya jika pemanenan dan penjemuran dilakukan pada cuaca mendung atau bahkan hujan, maka akan terjadi proses fermentasi pada rumput laut yang akan menyebabkan kualitas/mutu rumput laut menurun. Apalagi jika pada kegiatan panen juga dilakukan seleksi untuk pembibitan, maka pengaruh air hujan harus dihindari untuk menghindari kematian pada rumput laut yang akan dijadikan bibit. Panen sebaiknya dilakukan pagi hari hal ini agar rumput laut yang dipanen bisa langsung dijemur sebelum disimpan, dengan tujuan untuk mengurangi penurunan kualitas sebelum dijemur keesokan harinya.  Cara Panen Cara panen sangat menentukan terhadap jaminan kualitas hasil produksi, sehingga pelaku perlu memperhatikan secara benar bagaimana melakukan proses pemanenan. Panen dilakukan secara hati-hati agar tidak menyebabkan kerusakan fisik pada thallus/cabang rumput laut, kondisi ini akan memberikan dampak kurang baik dimana pada luka tersebut akan mengakibatkan keluarnya gel yang terkandung dalam rumput laut sehingga kualitas rumput laut menurun. Seleksi hasil panen dilakukan dalam rangka memisahkan panen basah siap jemur dengan rumput laut untuk bibit yang selanjutnya akan dilakukan penanaman lagi, khususnya dilakukan pada saat melakukan panen dengan menggunakan metode panen keseluruhan (full harvest). Rumput laut untuk bibit mempunyai thallus/cabang yang masih muda ditandai dengan warna muda alami trnasparan, ujung thallus lancip, jika thallus dipatahkan akan dengan mudah patah, sebaliknya rumput laut siap jemur mempunyai tampilan thallus lebih gelap, berisi dan cukup tua, jika dipatahkan biasanya tidak langsung patah dengan mudah (sedikit elastis). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemanenan rumput laut E. cottoni, antara lain :

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

1. Rumput laut yang dipanen harus sudah memasuki umur panen sebagaimana yang dipersyaratkan industri, yaitu 45 hari dengan pencapaian berat rumput laut minimal 4 kali lipat dari bibit awal. Pada umur tersebut rumput laut mempunyai kualitas gel stength dan mengandung karaginan yang optimal. 2. Bersihkan rumput laut dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dilakukan pemanenan 3. Lepaskan tali ris yang penuh ikatan rumput laut dari tali utama 4. Angkat gulungan tali ris yang berisi rumpun rumput laut dan taruh ke dalam sampan atau perahu, untuk kemudian di bawa ke daratan. 5. Lepaskan rumput laut dari tali ris (panen keseluruhan) dan petik thallus muda untuk dijadikan bibit pada proses tanam selanjutnya. 6. Pemanenan dilakukan dengan jalan melepaskan rumpun rumput laut dari ikatan tali ris, atau dengan memotong bagian pangkal batang dengan menggunkanan pisau tajam agar mempertahankan rumput laut tetap utuh. Hal ini untuk menghindari penurunkan mutu rumput laut. Perlakuan panen dengan jalah diserut/dipatahkan pada bagian batang atau thallus akan menyebabkan keluarnya gel pada permukaan patahan, sehingga secara langsung akan menurunkan mutu rumput laut. Adapun perbedaan rumput laut E. Cottoni untuk bibit dengan siap panen disajikan pada gambar di bawah ini :

Gb.4. Rumput Laut siap panen

Gb.5. Rumput Laut Untuk bibit

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

5.2.

Keterampilan Dalam Melakukan Pemanenan

Keterampilan yang harus dikuasai dalam proses panen rumput laut adalah kemampuan dalam melakukan pemanenan sesuai dengan metode panen yang mempertimbangkan faktor efektifitas dan efisiensi kerja. Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa dalam melakukan panen rumput laut perlu mempertimbangkan aspek efisiensi, sehingga metode pemanenan yang dianjurkan adalah sebagai berikut:  Teknik panen keseluruhan (full harvest), dilakukan dengan mengangkat seluruh rumput laut berikut tali risnya untuk kemudian dilakukan pelepasan di darat, sambil melakukan seleksi thallus yang muda untuk ditanam kembali sebagai bibit. stength dan mengandung karaginan yang optimal.  Pemanenan dilakukan dengan jalan melepaskan rumpun rumput laut dari ikatan tali ris, atau dengan memotong bagian pangkal batang dengan menggunkanan pisau tajam agar mempertahankan rumput laut tetap utuh. Hal ini untuk menghindari penurunkan mutu rumput laut. Perlakuan panen dengan jalah diserut/dipatahkan pada bagian batang atau thallus akan menyebabkan keluarnya gel pada permukaan patahan, sehingga secara langsung akan menurunkan mutu rumput laut. Panen rumput laut dilakukan secara benar hal ini guna menjaga kualitas rumput laut yang akan diolah. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari panas matahari. Perlakuan panen memberikan pengaruh nyata terhadap mutu karaginan yang mencakup rendemen, viskositas (tingkat kekentalan), kekuatan gel (gel strength) dan kadar abu.

Gb.5. Cara panen yang benar dengan melepaskan ikatan tali pada rumput laut

Gb.6. Cara panen yang tidak benar dengan jalan dipurus/serut

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

MODUL KEDUA

MENGELOLA PASCA PANEN

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Rumput laut sebagai salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya mempunyai peluang untuk dikembangkan, mengingat Indonesia mempunyai potensi lahan pengembangan yang sangat besar. Sejalan dengan target pencapaian produksi rumput laut Indonesia sebagaimana yang dicanangkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan RI sampai dengan tahun 2014 sebesar 10.000.000 (sepuluh juta ) ton, maka perlu upaya serius dari semua stakeholders dalam melakukan pemanfaatan sumberdaya rumput laut secara optimal dan berkelanjutan. Peningkatan produksi rumput laut Indonesia saat ini pada kenyataannya belum diimbangi dengan peningkatan kualitas hasil produksi, dimana hasil produksi kering yang berasal dari pembudidaya belum sepenuhnya memenuhi standar kualitas yang diinginkan oleh industri pengolah. Ironisnya yang terjadi pihak Industri pengolah seringkali mengeluarkan biaya produksi tambahan untuk melakukan sortir ulang produk kering dari pembudidaya, sehingga sampai saat ini posisi tawar produk kering rumput laut dari pembudidaya masih belum mampu bersaing. Fenomena tersebut perlu segera menjadi perhatian bersama mulai dari pembudidaya maupun pelaku usaha. Salah satu langkah yang perlu segera dilakukan adalah memberikan pengetahuan dan membangun kesadaran tentang pentingnya pengelolaan pasca panen rumput laut dalam rangka menjamin mutu produk rumput laut yang pada akhirnya akan mendorong keberlanjutan Industri pengolah sudah barang tentu akan menjamin keberlangsungan kegiatan usaha budidaya masyarakat pembudidaya rumput laut. 1.2. Tujuan Adapun tujuan melakukan pengelolaan pasca panen rumput laut adalah sebagai berikut:

1. Menjamin mutu produk rumput laut kering agar sesuai dengan standar kualitas
sebagaimana yang diminta pelaku dunia usaha/industri pengolah

2. Meningkatkan posisi tawar (bargaining position) hasil produk rumput laut di tingkat
pembudidaya.

3. Menjamin keberlangsungan usaha pembudidaya dan pelaku usaha/mitra/industry
pengolah, dimana diharapkan ada hubungan berimbang antara stabailitas harga dan

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

jaminan penyerapan produksi di tingkat pelaku usaha dengan jaminan kualitas produksi di tingkat pembudidaya.

1.3. Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan pengelolaan pasca panen rumput laut dalam unit kompetensi ini antara lain kegiatan penyortiran rumput laut hasil panen yang mencakup , seleksi hasil panen rumput laut dan spesifikasi mutu rumput laut hasil panen basah; kegiatan penyiapan peralatan pengering yang mencakup inventarisasi jenis dan kebutuhan sarana pengeringan sesuai metode yang digunakan; kegiatan pengeringan rumput laut mencakup metode pengeringan, prosedur pengeringan dan kontrol kualitas selama proses pengeringan; kegiatan kontrol kualitas produk rumput laut kering mencakup kualitas rumput laut kering berdasarkan standar industri pengolah, kontrol kualitas produk kering rumput laut (sortasi dan uji mutu kualitas produk) ; dan kegiatan pengepakan dan penyimpanan rumput laut kering yang mencakup teknik pengepakan rumput laut, labeling, teknik/prosedur penyimpanan rumput laut kering dan transportasi/pengangkutan. 1.4. Pengertian/Istilah A. Gel Strength Tingkat kandungan jelly yang terdapat dalam rumput laut atau kekuatan membentuk gel pada karaginan B. Menyeleksi Melakukan pemilihan untuk mendapatkan produk terbaik sesuai kualifikasi C. Memurus/menyerut Melakukan perlakuan panen dengan jalan menarik rumpun rumput laut yang ada pada tali ris dari atas ke bawah sehingga menimbulkan patahan pada thallus rumput laut. D. Standar Mutu Ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan pada karakteristik suatu produk E. Menyortir Memilih produk yang dipilih dan mengeluarkan produk yang tidak diperlukan

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

F. Kappa Karaginan Tipe karaginan dengan kandungan jelly yang bersifat kaku dang etas serta keras. Biasanya terdapat pada jenis rumput laut Eucheuma cottoni, Eucheuma edule dan Hypnea G. Pengerjaan Ulang (re-work) Upaya untuk melakukan kembali proses dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas produk H. Kode Lot Tanda yang tertera dalam kemasan rumput laut yang mencakup identitas produk I. Viscositas Derajat/Tingkat kekentalan pada suatu rumput laut J. Prosedur Tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas tertentu K. Labelling Pemberian tanda pada kemasan suatu produk

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB II MELAKUKAN SORTIR RUMPUT LAUT HASIL PANEN BASAH

2.1.

Pengetahuan yang diperlukan dalam melakukan sortir rumput laut hasil panen basah.

Pembahasan mengenai pengelolaan pasca panen rumput dalam modul ini adalah berlaku untuk jenis rumput laut penghasil karaginofit dalam hal ini Eucheuma cottoni yang telah mampu dibudidayakan secara massal. Tipe karaginan ini dibagi menjadi 3 macam yaitu Iota karaginan, Kappa karaginan dan lamba karaginan. Iota karaginan dihasilkan oleh Eucheuma spinosum, kappa karaginan dihasilkan oleh Eucheuma cottoni atau Kappaphycus alvarezii sedangkan lamba karaginan dihasilkan oleh jenis Condrus crispus ketiga tipe karaginan tersebut dibedakan karena sifat jelly yang terbentuk. Perlu diketahui bahwa proses penyortiran pada pembahasan pada elemen komponen ini adalah bagi rumput laut hasil panen basah, yaitu perlakuan sesaat setelah melakukan pemanenan. Beberapa hal yang perlu diketahui dalam melakukan proses penyortiran antara lain sebagai berikut : A. Perlakuan Panen Panen rumput laut dilakukan secara benar hal ini guna menjaga kualitas rumput laut yang akan diolah. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari panas matahari. Perlakuan panen memberikan pengaruh nyata terhadap mutu karaginan yang mencakup rendemen, viskositas (tingkat kekentalan), kekuatan gel (gel strength) dan kadar abu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemanenan, antara lain :  Rumput laut yang dipanen harus sudah memasuki umur panen sebagaimana yang dipersyaratkan industri, yaitu 45 hari dengan pencapaian berat rumput laut minimal 4 kali lipat dari bibit awal. Pada umur tersebut rumput laut mempunyai kualitas gel stength dan mengandung karaginan yang optimal.  Pemanenan dilakukan dengan jalan melepaskan rumpun rumput laut dari ikatan tali ris, atau dengan memotong bagian pangkal batang dengan menggunkanan pisau tajam agar mempertahankan rumput laut tetap utuh. Hal ini untuk menghindari penurunkan mutu rumput laut. Perlakuan panen dengan jalah diserut/dipatahkan

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

pada bagian batang atau thallus akan menyebabkan keluarnya gel pada permukaan patahan, sehingga secara langsung akan menurunkan mutu rumput laut.

Gb.1. Cara panen yang benar dengan melepaskan ikatan tali pada rumput laut

Gb.2. Cara panen yang tidak benarbenar dengan jalan dipurus/serut

B. Seleksi Hasil Panen Rumput Laut Basah Jenis produk rumput laut secara umum dibedakan berupa rumput laut kering dan rumput laut segar. Perlu diketahui bahwa pada sebagian pembudidaya proses pemanenan ada yang dilakukan dengan pemanenan total, artinya setelah mencapai umur 45 hari rumput laut dipanen untuk kemudian dilakukan seleksi untuk memisahkan thallus muda yang kemudian akan dijadikan bibit untuk ditanam kembali. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan seleksi hasil panen basah antara lain : 1. Memisahkan antara rumput laut siap jemur/panen dengan thallus untuk dijadikan bibit rumput laut. Umur rumput laut siap panen dengan bibit dapat dilihat berdasarkan tampilan thallus rumput laut. Thallus yang muda cenderung mempunyai tampilan warna cerah/transparan serta bila dipatahkan akan langsung patah dengan mudah. 2. Memisahkan rumput laut dengan jenis rumput laut lain, biasanya tidak jarang pada saat proses budidaya rumput laut Eucheuma cottoni terdapat jenis lain yang menjadi competitor misalnya, Gracillaria, Spinosum sp maupun Sargassum yang menempel pada rumpun terutama pada budidaya dengan metode lepas dasar. 3. Memisahkan rumput laut dari kemungkinan menempelnya jenis ganggang/lumut, kotoran maupun jenis hewan air penempel lain 4. Hasil panen rumput laut basah harus dibersihkan dengan jalan dicuci sebelumnya dengan air laut sebelum dijemur.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

Di bawah ini merupakan contoh jenis rumput laut yang harus mampu dibedakan pada saat melakukan penyortiran rumput laut hasil panen basah.

Gb 3. Jenis rumput laut dari kiri ke kanan (Eucheuma cottoni, Gracillaria, Eucheuma spinosum, Sargassum

C.

Standar Mutu Hasil Panen Rumput Laut Basah

Seleksi hasil panen rumput laut basah dilakukan guna menjamin mutu rumput laut agar sesuai dengan standar yang diinginkan pihak industry pengolah. Secara umum standar hasil panen rumput laut basah yang perlu diperhatikan, meliputi : 1. Umur panen harus memenuhi yaitu antara 45-50 hari. Umur panen tersebut telah memenuhi standar mutu terutama gel strength dan kandungan karaginan pada rumput laut. 2. Rumput laut tidak terjadi patahan pada batang maupun thallus yang disebabkan oleh perlakuan panen yang kurang benar. Mematahkan secara langsung dengan tangan apalagi dengan cara diserut akan menyebabkan keluarnya gel secara berlebih melalui permukaan patahan, hal ini secara langsung akan berpengaruh tehadap gel strength rumput laut. 3. 4. Rumput laut bersih dari penempelan antara lain ganggang dan kotoran lain serta thallus dan batang normal. Mempunyai bau khas alamiah

2.2.

Keterampilan Dalam Melakukan Sortir Rumput Laut Hasil Panen Basah

Keterampilan yang perlu dilakukan dalam melakukan sortir rumput laut hasil panen basah yaitu mampu melakukan penyortiran rumput laut hasil panen basah sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya yaitu keterampilan dalam melakukan pemanenan, melakuan seleksi panen basah, serta keterampilan dalam menentukan spesifikasi mutu rumput laut hasil panen basah sesuai standar yang dipersyaratkan

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB III MENYIAPKAN PERALATAN PENGERING

3.1.

Pengetahuan Dalam Menyiapkan Peralatan Pengering

Pada dasarnya proses pengeringan/penjemuran rumput laut Eucheuma cottoni dapat dilakukan dengan tiga metoda, antara lain : 1. 2. 3. Penjemuran dengan alas di atas permukaan tanah Penjemuran dengan metode para-para jemur Penjemuran dengan metode gantung

Spesifikasi peralatan dan sarana yang dibutuhkan hendaknya disesuakan dengan metode yang akan digunakan. Langkah awal sebelum melakukan pengeringan rumput laut yaitu dengan membuat sarana pengeringan, sesuai metode yang akan digunakan. Beberapa kebutuhan peralatan yang harus dipersiapkan dalam membuat fasilitas pengeringan, antara lain :  Penjemuran dengan alas dipermukaan tanah. Yang perlu dipersiapkan antara lain : alas plastic/terpal atau lantai semen yang digunakan sebagai alas untuk penyebaran rumput laut, dengan ukuran disesuaikan dengan kapasitas produksi maupun kapasitas lahan.  Penjemuran dengan metode para-para jemur Kebutuhan antara lain : tiang bambu, alas dengan menggunakan bilahan bambu/anyaman bambu dengan lubang/rongga yang tidak terlalu besar, atau dapat pula dengan mengunakan jarring poli ethylene ukuran lubang 2 cm sebagai alas, paku, gergaji, golok, tali, dan tutup terpal. Ukuran para-para jemur disesuaikan dengan kapasitas lahan. Biasanya yang cukup ideal adalah dengan lebar 1-1,5 meter dan panjang 10-25 meter.  Penjemuran dengan metode gantung Kebutuhan yang perlu dipersiapkan antara lain : Bambu, kayu, dan tali Polyethlen. Jumlah dan panjang gantungan disesuaikan dengan kapasitas produksi dan kapasitas lahan. Bambu digunakan sebagai tempat untuk menggantung rumput laut bersama tali ris pada saat penjemuran, sedangkan kayu digunakan sebagai penyangga atau tiang gantungan, tali PE digunakan untuk mengikat kayu ataupun bambu.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

3.2.

Keterampilan Dalam Menyiapkan Peralatan Pengering

Keterampilan dalam menyiapkan peralatan pengering, mencakup bagaimana melakukan inventarisir terhadap kebutuhan sarana/peralatan pengering sesuai metoda yang akan digunakan, serta keterampilan dalam mendesaign area jemur berdasarkan metode yang sudah ditentukan. Pada dasarnya keterampilan ini tiidak terlalu sulit untuk dilakukan, beberapa acuan gambar yang bisa membantu dalam pembuatan sarana jemur berdasarkan metode yang akan dilakukan, sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB IV MELAKUKAN PENGERINGAN RUMPUT LAUT

4.1. Pengetahuan Dalam Melakukan Pengeringan Pengeringan yang baik pada saat cuaca cerah dengan intensitas cahaya matahari yang optimal, factor ini secara langsung akan menjamin kualitas produk rumput laut kering. Sedangkan proses pengeringan pada saat cuaca mendung atau hujan akan mengakibatkan fermentasi sehingga akan menurunkan mutu rumput laut kering. Perlakuan sebelum pengeringan hendakanya dapat mengikuti permintaan pasar, hal ini karena ada beberapa pembeli yang menginginkan dengan criteria tertentu, misalnya kering asin(kering asalan), kering tawar (dicuci dengan air tawar), dan hasil fermentasi (biasanya tampilan berwarna putih). Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menghasilkan criteria tersebut, antara lain :  Untuk mendapatkan kering asalan, rumput laut setelah dipanen dikeringkan sampai dengan kadar air 38-35% (kering karet), pengeringan yang bagus dilakukan pada parapara jemur maupun digantung. Untuk mencapai kering karet jika intensitas cahaya matahari normal biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 hari, tandanya jika rumput laut sudah ditempeli Kristal garam warna putih dan jika digenggam terasa seperti menggenggam karet.  Untuk menghasilkan kering tawar, setelah di panen rumput laut direndam dan dicuci dengan air tawar (biasanya sampai bau amis hilang) untuk kemudian dikeringkan dengan kadar air sesuai yang diminta.  Untuk mendapatkan rumput laut hasil fermentasi, biasanya rumput laut dijemur dan ditutup plastic transparan, sehingga akan membuat tampilan warna rumput laut putih. 4.1.1. Metode pengeringan rumput laut Seperti dijelaskan pada pembahasan awal, bahwa dalam melakukan pengeringan rumput laut ada 3 (tiga) metoda yang dapat digunakan, antara lain :    Pengeringan dengan alas, baik terpal plastic maupun lantai semen Pengeringan dengan menggunakan para-para jemur Pengeringan dengan metode gantung.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

Bervariasinya teknik pengeringan disebabkan oleh beberapa factor antara lain factor sumberdaya manusia terkait pemahaman mengenai mutu rumput laut, factor alam, kapasitas lahan dan efesiensi biaya. Berikut akan dibahas mengenai prosedur pada masingmasing metoda di atas. a). Pengeringan dengan alas Metode pengeringan ini dengan melakukan penjemuran rumput laut di atas alas langsung di atas permukaan tanah. Sebagai alas dapat digunakan terpal plastic maupun lantai jemur dari semen dengan luas disesuaikan dengan biaya, kapasitas hasil panen maupun luasan lahan untuk penjemuran Kelemahan teknik penjemuran dengan cara disebar dengan menggunakan alas plastic terpal/lantai jemur, antara lain : 1. Kemungkinan tercampurnya rumput laut oleh kotoran 2. Tingkat kekeringan yang tidak merata, hal ini disebabkan tidak ada nya sirkulasi udara, biasanya rumput laut akan berkeringat jika disebar di atas alas terpal plastik. Kondisi ini menyebabkan waktu pengeringan kurang efisien. b). Pengeringan dengan para-para jemur Metoda penjemuran ini rumput laut tidak disebar diatas alas langsung di permukaan

Gb.4. Pengeringan dengan alas

tanah, namun dengan menggunakan bilahan bambu yang diberi alas jaring polietylen atau anyaman bambu dengan rongga. Pada penjemuran dengan menggunakan para-para alas diletakan dengan menggunakan tiang bambu sehingga tidak langsung menyentuh permukaan tanah sebagaimana pada metode pertama yang sudah dijelaskan di atas. Jumlah dan ukuran unit para-para jemur disesuaikan dengan biaya, kapasitas hasil panen dan kapasitas lahan.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii Gb.5. Pengeringan dengan para-para jemur

Metode penjemuran ini juga dapat dipasang tidak hanya di darat namun bias dilakukan di laut, yaitu dengan menancapkan bamboo sebagai penyangga alas di dasar perairan. Biasanya pemasangan para-para jemur di laut dilakukan dekat rumah jaga. Walaupun dari aspek biaya penggunaan metode ini cukup mahal, namun metoda ini lebih baik dibanding metode penjemuran di atas alas terpal. Sehingga rata-rata para pembudidaya banyak yang memilih metoda dengan para-para jemur. Adapun Keuntungan metode pengeringan dengan menggunakan para-para jemur antara lain : 1. Tingkat kekeringan yang merata dengan kadar air yang diinginkan, hal ini karena memungkinkan adanya sirkulasi udara melewati rongga pada alas jemur. Kondisi ini memungkinkan waktu pengeringan lebih efisien. 2. Kemungkinan rumput laut tercampur kotoran minim

c). Pengeringan metode gantung Penjemuran dengan cara digantung dinilai lebih efektif dibanding ke dua metode di atas. Secara umum metode ini sudah biasa dilakukan oleh pembudidaya rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Teknik penjemuran dengan cara digantung dilakukan dengan menjemur rumput laut bersama tali ris pada tiang bambu yang dipasang secara horizontal. Cara ini dinilai baik karena rumput laut tidak banyak

Gb.7. Pengeringan metode gantung

mengalami benturan fisik apalagi pematahan thallus. Rumput laut yang diambil dari tali ris dengan cara dipatahkan bias menyebabkan luka fisik pada thallus dan disertai keluarnya getah/gel pada bagian tersebut, yang akan menyebabkan rendahnya kadar rumput laut kering. Keuntungan melakukan penjemuran dengan cara digantung antara lain sebagai berikut :  Selain lebih murah, juga cara ini dinilai lebih baik karena dianggap memiliki kadar kotor yang lebih rendah. Dengan cara digantung kadar garam yang menempel akan minim, hal ini karena air yang mengandung garam akan dengan cepat menetes ke bawah.  Tingkat kekeringan lebih merata dengan waktu pengeringan yang lebih efisien  Hasil rumput laut kering utuh Namun demikian karena penjemuran ini juga dilakukan bersama tali ris, pada umumnya pembudidaya harus mempunyai tali ris dobel sebagai ganti untuk penanaman lagi.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

4.1.2. Kontrol Kualitas selama Proses Pengeringan Kegiatan control kualitas selama proses pengeringan dilakukan dalam rangka

mempertahankan kualitas rumput laut kering agar sesuai standar terutama kadar air dan tingkat kekotoran. Pada beberapa kasus para pembudidaya kurang memperhatikan control kualitas pada saat penjemuran sehingga mutu rumput laut kering yang dihasilkan tidak sesuai standar yang diinginkan oleh industry. Kondisi inilah yang menyebabkan posisi tawar produk rumput laut kering menjadi menurun. Kontrol kualitas pada saat penjemuran dapat dilakukan melalui pembersiahan kotoran, pembalikan, dan melindungi rumput laut yang dijemur dari tingkat kelembaban yang tinggi dan kontaminasi yang mungkin terjadi. Untuk mendapatkan tingkat kadar air yang optimal biasanya membetuhkan waktu pengeringan antara 3-4 hari tergantung dari tingkat intensitas matahari. Ciri atau warna rumput laut yang sudah kering adalah ungu keputihan dilapisi Kristal garam. Sedangkan hal yang perlu dihindari terkait perlakuan pada saat melakukan pengeringan rumput laut, antara lain : 1. Menghindari menjemur rumput laut di jalan atau dibahu jalan yang langsung tercemar oleh debu dan asap kendaraan, hal ini akan menjadi penyebab rumput laut terkontaminasi oleh logam berat. 2. Menghindari penjemuran di atas pasir, rumput, tanah atau media lain yang dapat menurunkan tingkat kualitas hasil rumput laut kering. Pada beberapa kasus banyak pembudidaya yang masih melakukan penjemuran di atas pasir di pinggir pantai, hal ini akan menyebabkan kerugian pada pihak pasar/industry sehingga posisi tawar produk menjadi rendah. 3. Menghindari perlakuan pengeringan dengan penggaraman. Dampak penggaraman akan mempengaruhi perolehan ekstrak, mepergelap warna hasil panen sehingga menurunkan mutu rumput laut. Kondisi ini akan merugikan pihak industry pengolah. Sebagai informasi bahwa hasil rumput laut dengan penggaraman (dibacem) dapat dibedakan dengan yang tanpa dibacem. Biasanya rumput laut hasil penggaraman jika disimpan beberapa hari akan mengeluarkan air dan garam yang berlebihan (tingkat kekeringan tidak normal).

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

4.2. Keterampilan Dalam Melakukan Pengeringan Keterampilan dalam melakukan pengeringan antara lain sebagaimana yang telah dibahas pada materi pengetahuan sebelumnya. Pelaku harus terampil dalam melakukan pengeringan mulai dari penentuan metode penjemuran, prosedur pengeringan yang menjamin kualitas rumput laut kering, dan mampu mengontrol dan memperlakukan rumput laut pada saat penjemuran agar terjaga kualitasnya. Prosedur pengeringan berdasarkan metoda penjemuran antara lain : Pengeringan dengan alas terpal plastic atau alas lantai semen 1. Menyiapkan kebutuhan peralatan penjemuran yaitu alas jemur baik plastic maupun lantai semen 2. Membersihkan area jemur dari kemungkinan kotoran penempel 3. Rumput laut hasil panen terlebih dahulu dicuci untuk menghilangkan kotoran yang menempel. Pencucian dengan menggunakan air laut. laut agar tingkat kekeringan merata. Pengeringan di atas para-para jemur 1. Siapkan sarana para-para yang dibutuhkan dengan jumlah dan ukuran sesuai kapasitas hasil panen 2. Sebelumnya bersihkan para-para dari kotoran penempelan 3. Rumput laut hasil panen sebelumnya dicuci air laut untuk menghindari penempelan kotoran 4. Letakkan rumput laut diatas para-para dengan mengatur ketebalan secara rata Pengeringan dengan metode gantung 1. Menyiapkan sarana jemur gantung dengan jumlah dan ukuran/panjang unit disesuaikan dengan pertimbangan biaya, kapasitas hasil panen dan kapasitas lahan. Untuk menampung kapasitas hasil panen yang lebih banyak tempat penggantungan dapat dibuat lebih banyak dalam bentuk kontruksi rumah

Gb.8. Pengeringan pada lantai jemur semen

4. Menyebar rumput laut pada alas jemur dengan jalan mengatur ketebalan rumput

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

2. Setelah

pemanenan,

sebaiknya

mencuci

rumput laut dan tali ris dengan air laut untuk meminimalisir penempelan kotoran 3. Penjemuran dengan mengikat/menggantung rumput laut bersama tali ris pada tiang jemuran, atau menggantung tali ris dan rumput laut pada paku/pasak yang dipasang pada tiang bamboo/kayu horizontal kekeringan merata. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menjaga kualitas pada saat proses pengeringan, antara lain : 1. Melakukan pembersihan/sortasi dari kemungkinan penempelan kotoran pada saat proses pengeringan 2. Melakukan pembalikan secara kontinyu guna menjamin tingkat kekeringan merata sesuai tingkat kadar air yang diinginkan pihak industry. 3. Menjaga kelembaban agar tetap stabil, kelembaban tinggi terjadi pada saat musim hujan. Rumput laut pada saat malam hari ditutup plastic untuk menghindari pengaruh embun, atau simpan sementara pada gudang yang kelembabannya rendah sebelum dijemur ulang. 4. Melindungi rumput laut dari kontaminasi bahan kimia atau logam berat

Gb.9. Metode gantung kontruksi rumah gantung

4. Mengatur jarak antara ikatan rumput laut pada tiang jemuran agar tingkat

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB V MENGONTROL KUALITAS PRODUK RUMPUT LAUT KERING

5.1. Pengetahuan Dalam Melakukan Kontrol Kualitas Rumput Laut Kering 5.1.1. Spesifikasi Kualitas Rumput Laut Kering Perlakuan pasca panen hendaknya perlu menjadi perhatian yang serius dari semua pelaku usaha rumput laut. Pembudidaya harus mulai sadar akan pentingnya jaminan kualitas hasil produksi yang baik, dengan begitu akan terbangun hubungan timbal balik secara positif antara pembudidaya dengan pihak industry pengolah. Jika standar kualitas rumput laut yang dihasilkan baik, maka akan berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha industry pengolah, kondisi ini tentunya secara langsung akan menjamin kontinyuitas penyerapan produksi dari pembudidaya sehingga kegiatan usaha budidaya akan berjalan secara berkelanjutan. Rumput laut Eucheuma cottoni kering hendaknya memenuhi standar yang dipersyaratkan pihak industry pengolah. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan BSN yaitu SNI 01-2690-1992 tentang standar mutu rumput laut kering, mempersyaratkan beberapa spesifikasi mutu rumput laut kering yang harus dipenuhi meliputi kadar air, bau, benda asing, kadar karaginan dan kadar agar (rumput laut penghasil agar). Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada table 1 di bawah ini. Tabel 1. Spesifikasi syarat mutu rumput laut kering No 1 2 3 4 Jenis Uji Satuan Eucheuma Kadar air % Maks.35 Bau, b/b Khas Benda asing, b/b % Maks.5 Kadar % Min.25 karaginan*,b/b 5 Kadar agar*, b/b % Min. 25 Sumber : Standar Nasional Indonesia (01-2690-1992) Persyaratan Gelidium Gracillaria Maks.15 Maks. 25 Khas Khas Maks.5 Maks. 5 Min. 20 Hypnea Maks. 20 Khas Maks. 5 -

Selain spesifikasi syarat mutu yang tertera dalam table di atas, beberapa parameter mutu rumput laut yang perlu diperhatikan dan biasanya dipersyaratkan pihak industry pengolah, antara lain meliputi :  Gel strength, yaitu tingkat kandungan jelly yang terdapat di dalam rumput laut;  Viskositas, yaitu tingkat kekentalan yang terdapat dalam rumput laut;  Nilai pH, yaitu derajat keasaman sisa alkali yaitu antara 7 sampai dengan 9

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

 SFDM (Salt Free Dry Matter), yaitu rumput laut kering yang telah bersih dari garam. SFDM ini mempengaruhi kandungan kekuatan gel rumput laut, nilai SFDM yang baik adalah > 34%;  SS (salt and sand), merupakan jumlah garam dan pasir yang terdapat pada rumput laut kering, standar SS yang diuji sesuai SNI adalah < 28%; Parameter mutu di atas akan dibahas lebih lanjut. Berdasarkan tingkat kadar air, produk rumput laut kering dapat dibedakan menjadi dua, yaitu rumput laut kering kawat (kadar air 20-30%) dan rumput laut kering karet (kadar air 30-40%). Biasanya secara umum para pembudidaya menjual rumput laut dengan standar kering karet. Rumput laut yang terlalu kering dikhawatirkan mengalami kerusakan yang berdampak pada kualitas karaginan. Kondisi kadar air pada produk rumput laut kering dipengaruhi oleh factor lama penjemuran, intensitas cahaya matahari (musim) dan metode jemur. Rumput laut jenis Eucheuma cottoni merupakan penghasil karaginan yaitu untuk fraksi kappa karaginan. Kandungan karaginan dinyatakan dalam CAY (clean anhydrous carrageenan yield) dengan nilai standar 40%, kurang dari nilai tersebut berarti rumput laut mempunyai standar kualitas rendah. Kandungan karaginan pada rumput laut Eucheuma cottoni dipengaruhi oleh beberapa factor meliputi : biomassa awal, asal stek (thallus), umur panen, jarak tanam, system budidaya dan kualitas air. 5.1.2. Kontrol Kualitas Produk Rumput Laut Kering Untuk menjamin bahwa hasil penjemuran telah memenuhi standar mutu, maka langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan control ulang terhadap kualitas rumput laut. Kontrol tersebut, meliputi : A. Pengerjaan ulang (rework) Yaitu upaya untuk melakukan kembali proses dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas produk. Pengerjaan ulang ini mencakup proses pengeringan ulang dan sortasi. Kondisi rumput laut yang berasal dari pembudidaya tidak semuanya memenuhi standar mutu kadar air yang dipersyaratkan, kurangnya kesadaran dari pembudidaya kadangkala para pembeli harus mengeluarkan biaya operasiolnal lagi untuk melakukan kegiatan pengeringan ulang dan sortir. Produk rumput laut kering harus di lakukan control terutama dalam hal spesifikasi produk. Spesifikasi adalah persyaratan detil mengenai produk yang diminta oleh pembeli (industry

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

pengolah). Spesifikasi tentang mutu telah dibahas sebelumnya, pada proses pengerjaan ulang spesifikasi produk hendaknya dibuat secara tertulis. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengerjaan ulang antara lain : Cara pengeringan, pencegahan benda asing, pemberian nomor lot, dan pencatatan proses dan hasil re-work. B. Inspeksi penerimaan barang Kegiatan inspeksi penerimaan barang perlu dilakukan pelaku usaha dengan tujuan untuk memastikan rumput laut kering yang diterima telah memenuhi spesifikasi mutu yang dipersyaratkan sebelumnya. Pada saai infeksi penerimaan barang, hal-hal yang perlu diperiksa antara lain jumlah dan berat rumput laut yang diterima, kode lot, dan parameter mutu sesuai spesifikasi. Adapun cara pemeriksaan/control dilakukan dengan pengecekan secara menyeluruh maupun pengecekan dengan metode sampling. Setelah itu hasil pemeriksaan dicatat dengan baik. C. Uji mutu kualitas rumput laut kering Pengujian terhadap mutu rumput laut kering merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Pada pembahasan ini akan dibahas mengenai prosedur pengujian mutu rumput laut kering yang meliputi : Bau, Kadar air, SFDM (salt free dry matter), SS (salt and sand), Viskositas dan pH, Gel strength, dan kandungan karaginan. Dimana spesifikasi mutu di atas harus dipenuhi oleh produsen sebagai persyaratan yang bersifat baku di tingkat industry pengolah. Standar Industri Indonesia (SII) untuk karaginan belum dirumuskan. Standar mutu yang ditetapkan FCC (Food Chemical Codex), FDA, dan FAO (Food and Agriculture Organization) meliputi spesifikasi kadar logam berat Pb, sulfat, air, abu, abu tak larut asam, bahan tak larut asam, dan viscositas larutan). Standar mutu karaginan untuk ketiga versi di atas dicantumkan dalam table di bawah ini : Tabel 2. Standar Mutu Karaginan Parameter Kadar Air (%) Kadar Abu (%) Kekuatan gel (dyne/cm ) Titik Leleh (ºC)
2

Karaginan Komersial 14,34±0,25 18,60±0,22 685,50 ± 13,43 50,21±1,05

Karaginan Standar FAO Maks 12 15-40 -

Karaginan Standar FCC Maks 12 18-40 -

Karaginan Standar EEC Maks 12 15-40 -

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

Kekuatan gel (Gel Strength) merupakan sifat fisik karaginan yang terkandung dalam rumput laut, dimana menunjukkan kemampuan karaginan dalam pembentukan gel. Glicksman (1969) menyatakan bahwa salah satu sifat fisik yang penting pada karaginan adalah kekuatan untuk membentuk gel yang disebut kekuatan gel. Standar internasional kekuatan gel minimal 500 gram/cm2, dimana umumnya permintaan industry sekitar 600700 gram/cm2. Nilai ini tentunya harus dipenuhi dengan meningkatkan kualitas hasil panen yang mencakup standar umur panen, perlakuan panen dan pasca panen. Di bawah ini dijelaskan beberapa prosedur yang harus dikuasai, antara lain : A. Penyortiran rumput laut kering Kegiatan penyortiran rumput laut kering yang akan dikemas dilakukan untuk memastikan rumput laut telah memenuhi spesifikasi mutu rumput laut kering, beberapa langkah yang perlu dilakukan, antara lain : 1. Memeriksa kembali kondisi rumput laut, yaitu dengan memisahkan antara yang baik dengan yang tidak baik 2. Melakukan pembersihan ulang dari kemungkinan adanya penempelan material lain yang bukan hasil panenan misalnya tali, ganggang, lumpur, pasir, garam. Partikel tersebut akan menyebabkan terganggunya pemrosesan dan pencemaran produk. B. Prosedur Uji mutu rumput laut kering 1. Penentuan bau Penentuan bau dari rumput laut dilakukan secara organoleptik. Bau yang diharapkan pada rumput laut kering adalah bau yang alamiah, bukan bau asing atau bau menyengat. 2. Penentuan kadar air rumput laut kering Tujuan kegiatan ini antara lain :   Memberikan pedoman dalam pengujian di laboratorium terhadap mutu rumput laut kering Memberikan informasi tentang standar kadar air (% moisture content) rumput laut kering Persiapan peralatan, antara lain :   Pisau pemotong (gunting) Wadah plastic

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

     

Oven (alat pengering) Alumunium foil Cawan Timbangan analitik (akurat 0,01 gr) Kertas dan alat tulis Kemasan Plastik

Prosedur         Menyiapkan sampel rumput laut kering Memotong sampel sekitar 3-5 cm Menimbang berat alumunium foil, timbangan dinormalkan menjadi 0 (nol) Menempatkan sampel pada alumunium foil dan menimbang sampel sebanyak 25 gram (1 (satu) sampel dilakukan 2 (dua) kali ulangan) Memasukan sampel rumput laut ke dalam oven Menyetel suhu dan waktu pengeringan, 80oC selama 14 jam. Jangan mengeringkan sampel dengan kandungan kadar air yang berbeda Setelah pengeringan selesai tempatkan rumput laut dan cawan pada desikator (± 10 menit) Menimbang berat kering sampel dan berat cawan serta mencatat hasilnya

3. Penentuan SFDM dan SS Tujuan kegiatan ini, antara lain :   Mengetahui kandungan SFDM dan SS pada rumput laut kering Menentukan kandungan SFDM dan SS rumput laut kering

Persiapan peralatan, antara lain :  Pisau pemotong (gunting)  Gelas ukur 1 liter  Timbangan analitik  Toples kaca  Pengaduk  Alumunium foil  Saringan  Botol semprot  Wadah plastic  Oven (alat pengering)

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

Prosedur  Memotong rumput laut sekitar 5 cm  Menimbang berat alumunium foil yang telah disiapkan  Menimbang rumput laut sebanyak 60 gram  Mengisi toples kaca dengann air destilasi sebanyak 2 liter dengan menggunakan gelas ukur  Masukan rumput laut yang ditimbang ke dalam toples, diaduk selama 30 menit  Memindahkan rumput laut ke saringan dan ditempatkan di atas wadah yang telah diisi air bersih  Menyemprot rumput laut dengan air bersih dan membersihkan kotoran seperti lumut  Setelah itu rumput laut diletakkan ke dalam alumunium foil dan memasukannya ke dalam oven  Mengatur suhu oven sebesar 80oC selama 18 jam  Menimbang berat rumput laut setelah dioven dan mencatat beratnya Perhitungan kandungan SFDM dan SS  Berat akhir rumput laut (BA) = (berat alumunium foil + berat kering rumput laut )(berat kosong alumunium foil)  % SFDM = (BA:60) x 100%  % SS = 100 – (% kadar air + % SFDM) 4. Penentuan Mutu Gel Strength Tujuan kegiatan ini antara lain :   Memberikan pedoman dalam pengujian gel strength d laboratorium terhadap mutu rumput laut kering Memberikan informasi tentang nilai gel strength/tingkat jelly yang terkandung dalam rumput laut. Persiapan peralatan dan bahan, antara lain :         Kompor atau deep fryer Alat pengukur gel strength Gelas panic (stainless) Termometer alcohol Gelas ukur 1 liter Botol pyrex tutup Pipet volume 5 ml Gelas Kristal (70x50 mm)

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

    

Batang pengaduk Pipa (diameter 3,5 cm tinggi 5 cm) ATC Aquadest Bahan kimia : Calcium Chloride Dihydrate (CaCl2.2H2O), Potassium Chloride (KCl)

Prosedur  Pembuatan Larutan Garam  Membuat larutan dengan melarutkan 100 gr KCl dan 100 gr CaCl2.2H2O dalam gelas ukur dengan air destilasi secukupnya sambil diaduk  Menambahkan air destilasi sampai volume 1 liter, diaduk sampai larut  Simpan larutan dalam boto pyrex tertutup  Pengukuran Gel Strength  Timbang 2,7 gr/sampel ATC masukan ke dalam gelas panic dan tambahkan 3 ml larutan garam  Tambahkan air destilasi sampai berat 180 gr  Masak sampel pada suhu 80oC hingga semua sampel larut (2-3 jam)  Angkat gelas panic dari alat pemasak dan tambahkan air destilasi menjadi berat semula (180 gr) sambil diaduk  Tuangkan larutan pada 2 buah pipa dan letakkan pipa yang telah berisi sampel pada wadah plastic yang berisi air dingin selama 15 menit kemudian masukkan ke kulkas selama 2 jam  Setelah mencapai suhu 250C keluarkan gel dari pipa dan balikkan  Pindahkan gel pada plate dish dan ukur dengan menggunakan alat pengukur gel strength  Pengoperasian alat gel strength  Isi labu ukur 500 ml dengan air  Letakkan gelas ukur 1 liter di bawah labu ukur  Letakkan sampel pada bagian kanan flat form atas atau di bawah probe, atur probe hingga menyentuh permukaan sampel  Atur keseimbangan HARV ARD TRIP BALANCE dengan menggerakan small poise dan large poise hingga tercapai kondisi keseimbangan  Buka kran labu ukur, amati baik-baik jarum keseimbangan, jika jarum bergeser ke kiri penuh atau sampel yang diukur telah retak, maka segera tutup kran labu ukur  Timbang total air pada beacker dan catat

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

5. Penentuan Mutu viskositas dan pH Tujuan kegiatan ini, antara lain :   Mengetahui tingkat viskositas/kekentalan yang terdapat pada suatu rumput laut Mengetahui nila pH/sisa alkali pada rumput laut yang diuji.

Persiapan peralatan dan bahan, antara lain :  Kompor atau deep fryer (alat untuk memasak ATC)  Viscometer  pH meter  Gelas stainless steel (untuk pemasakan)  Timbangan analitik  Batang pengaduk  Thermometer  Gelas ukur 200 ml  ATC  Aquadest Prosedur  Tiimbang 3 gram ATC di dalam gelas stainless steel  Masukan air destilasi 180 ml dan diaduk  Tambahkan air destilasi hingga berat mencapai 200 gr  Panaskan dalam deep fryer pada suhu 80oC sampai larut (sekitar 2-3 jam)  Tambahkan air destilasi sehingga beratnya tetap 200 gr. Dinginkan pada suhu 76-77oC  Pasang sipindle viscometer, atur jarum spindle hingga tercelup ke dalam larutan yang akan dibaca sebatas tanda garis pada spindle  Ukur viskositas pada suhu 75oC dengan menggunakan spindle No.1 dengan kecepatan 60, 30 atau 12 rpm  Untuk membaca nilai viskositas pada alat, tekan tombol ON/OFF bersamaan dengan tombol penunjukan jarum  Hasil terbaca disesuaikan dengan nilai table spindle. Konvensi ke CPs, misalnya : Kecepatan 30 dan spindle yang digunakan no. 1 hasilnya terbaca pada viscometer adalah 10. Jadi berdasarkan table 10 dikali 2 (10x2)= 20 Jadi nilai viscositasnya adalah 20  Pengukuran pH diukur dengan menggunakan pH meter Masukan jarum (probe) temperature dan pH electrode ke dalam sampel yang akan diukur (sampel sudah dingin) Tekan Range untuk membaca pilihan pH atau temperature

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

-

Nilai suhu atau pH yang terbaca dapat dilihat pada layar

6. Penentuan Kadar Karaginan Tujuan kegiatan ini, antara lain :  Mengetahui Kadar karaginan yang terdapat dalam suatu rumput laut

Persiapan peralatan dan bahan, antara lain :  Timbangan analitik  Filter aid cellulose  Kertas saring  Alat pengering (oven)  Alat pemanas (kompor)  Blender  Aquadest  Alkhohol  Ca(OH)2 atau NaOH+H2O  Sampel rumput laut kering Prosedur  Rumput laut dicuci dengan air bersih kemudian dikeringkan dan diblender  Timbang contoh rumput laut seberat 1 gram  Ekstrak sampel dengan air panas (85-95oC) dalam suasana agak basa (pH 8-9) selama 14 jam dengan penambahan Ca(OH)2 atau NaOH+H2O.  Kemudian saring melalui filter aid cellulose dalam kertas saring berlipat  Bilas penyaring dengan aquadest panas ke dalam saringan dan pekatkan saringan menjadi 50mL.  Tambahkan alcohol untuk mengendapkan karaginan dan biarkan semalam.  Kemudian saring melalui filter aid cellulose dalam kertas saring berlipat yang telah ditimbang sebelumnya (M1)  Uji kesempurnaan pengendapan dengan penambahan alcohol ke dalam saringan, lalu cuci endapan dengan alcohol, keringkan pada suhu 100oC selama lebih kurang 1 jam.  Lalu dinginkan dan timbang kertas saring beserta isinya. Perhitungan kadar karaginan = M2 – M1 x 100% M0 Keterangan : - M0 = berat contoh yang diperiksa (g) - M1 = berat kertas saring kosong (g) - M2 = berat kertas saring setelah dikeringkan (g)

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

BAB VI MELAKUKAN PENGEPAKAN DAN PENYIMPANAN

6.1.

Pengetahuan Mengenai Pengepakan dan Penyimpanan

6.1.1. Teknik Pengepakan Rumput Laut Kering Pengepakan rumput laut dilakukan setelah melakukan rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelumnya. Pengepakan bertujuan untuk mempertahankan mutu rumput laut disamping itu proses pengepakan dilakukan untuk memudahkan proses penyimpanan, labeling dan transportasi. Pengepakan dapat dilakukan baik menggunakan alat bantu maupun manual. Penggunaan alat bantu (manual hydrolic press) memungkinkan proses lebih cepat dan proses pemadatan yang optimal. Proses pemadatan pada saat pengepakan dilakukan untuk mengurangi pemakaian ruangan baik selama penyimpanan digudang maupun pada saat pengangkutan. Dengan teknik pemadatan bobot rumput laut per karung akan bertambah 3-4 kali dibanding tanpa pemadatan, hal ini akan menguntungkan dari segi penghematan penggunaan ruang sebesar 3-4 kali. Perlu diperhatikan bahwa proses pemadatan akan efektif pada rumput laut dengan kadar air telah mencapai 30-37%. Jika melebihi 37% dapat menyebabkan kerusakan yang secara langsung akan menurunkan kualitas rumput laut yang disebabkan oleh pecahnya dinding sel yang mengandung selulosa akibat rumput laut belum kering sempurna. Kadar rumput laut dibawah standar ( MC >37%) menyebabkan mutu rumput laut kering menjadi cepat menurun selama proses pasca panen. Jika demikian maka proses pengerjaan ulang (rework) sebagaimana dijelaskan diawal perlu dilakukan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengepakan, antara lain sebagai berikut :  Pada saat melakukan pengemasan harus memperhatikan : kebersihan area pengemasan, kebersihan kemasan, kebersihan alat pengepakan/alat bantu pengepakan dan kebersihan orang yang menangani rumput laut.  Ukuran packing disesuaikan dengan permintaan dari pembeli (50 kg, 70 kg, atau 100 kg per bal)  Packing bal diberi identifikasi nomor bal dan lot, dimana satu lot merupakan jumlah 100 bal hasil packing dalam satu hari selama proses pengepakan

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

 Melakukan pencegahan terhadap benda asing, yaitu dengan memperhatikan : kebersihan tempat pengepakan, kebersihan kemasan (karung), alat pengepakan/alat bantu pengepakan dan orang yang menangani rumput laut. 6.1.2. Labelling (pemberian label) Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan tanda pada kemasan dalam rangka keperluan mampu telusur yang mencakup asal produk, spesifikasi mutu, dan identifikasi nomor lot. 6.1.3. Teknik Penyimpanan Secara umum rumput laut kering dengan kandungan kadar air ( MC 20-30%) mampu bertahan antara 2-3 tahun bergantung pada cara penyimpanan. Tempat penyimpanan yang baik adalah tidak lembab, kering dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Pada bagian dasar (di atas lantai) diberi alas dari papan penyangga untuk menghindari kelembaban. Penyimpanan yang tidak baik bisa menyebabkan kadar air rumput laut meningkat hingga 50-55%. Pada kondisi demikian, rumput laut bisa membusuk dan tidak mampu disimpan lama. Rumput laut yang mengalami peningkatan kadar air yang sebaiknya dilakukan penjemuran ulang dan dipadatkan kembali, kemudian disimpan pada tempat yang memenuhi syarat penyimpanan. 6.1.4. Transportasi (Pengangkutan) Kegiatan ini merupakan rangkaian terakhir proses penanganan pasca panen rumput laut kering . Untuk selanjutnya akan dilakukan proses pengolahan lebih lanjut pada industry pengolah. Kegiatan pengangkutan produk dilakukan dengan baik dalam rangka memastikan keutuhan produk (jumlah dan berat) dan memastikan kondisi produk tetap baik dan bebas kontaminasi pada saat berada di alat transportasi sampai ke tempat tujuan. Untuk menjamin kelancaran mulai dari proses pengepakan sampai dengan pengangkutan, maka pada gudang perlu dilengkapi peralatan/sara pendukung antara lain : Gerobak pengangkut, Ganco untuk menarik karung berisi rumput laut yang belum dipress atau dikemas ulang, timbangan duduk, dacin, alat bantu press dan pengepakan, peralatan tulis dan label.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii Gb.10. Peralatan pendukung gudang(gerobak, timbangan, dacin dan ganco

6.2. Keterampilan Melakukan Pengepakan dan Penyimpanan Keterampilan dalam pembahasn ini mencakup kemampuan dalam melakukan teknik pengepakan, teknik pemadatan, pemberian label, penyimpanan, dan transportai/pengangkutan. Beberapa hal yang harus dikuasai, antara lain sebagai berikut: A). Pemadatan dan pengepakan Teknik pemadatan pada saat pengepakan dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana. Alat berupa kontruksi beton berdiameter 15-20 mm, kontruksi ini berfungsi sebagai pegangan karung plastic ketika diisi rumput laut saat proses pemadatan. Rumput laut dimasukan ke dalam karung plastic dan di tahan oleh kontruksi beton. Pada saat mencapai ½ volume karung plastic, rumput laut dipadatkan dengan cara ditumbuk atau ditekan dengan menggunakan balok, demikian seterusnya pada saat isi karung mencapai ¾ sampai

Gb.11. Teknik Pemadatan pada saat pengepakan

penuh. Selanjutnya pada saat rumput laut dalam karung tidak dapat dipadatkan lagi maka proses pemadatan dihentikan dan mulut karung plastic yang telah penuh rumput laut yang padat ditutup dengan cara dijahit menggunakan jarum dan tali PE 1 mm.

Gb.12. Peralatan pengepakan (kerangka besi penyangga karung, balok kayu dan karung plastik
B). Pemberian label Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan proses labeling, antara lain :  Kemasan harus bisa diidentifikasi oleh pembeli untuk keperluan telusur, yang meliputi sumber produk, kode lot dan keutuhan kemasan  Kemasan harus dapat dipastikan keutuhannya dari mulai pengiriman sampai ke konsumen (industry)

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

 Pemberian kode/label harus jelas dan lengkap serta tulisan tidak mudah terhapus C). Penyimpanan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penyimpanan, antara lain :  Tempat/gudang penyimpanan harus mempuyai sirkulasi udara yang baik, tapi hindari lubang yang besar, gudang mudah dirawat dan dibersihkan dan jangan menimbulkan kotoran/benda asing yang dapat mengkontainasi produk    Produk harus disimpan dan ditata secara rapi (di atas palet kayu) dan diberi label (kode lot) Barang yang masuk dan keluar gudang harus tercatat dengan baik (jumlah dank ode lot-nya) Pengeluaran barang dari gudang harus mengikuti system FIFO (first in first out), yaitu barang yang masuk pertama kali harus keluar terlebih dahulu. Sedangkan barang yang masuk terakhir harus keluar belakangan.  Ketinggian susunan rumput laut yang telah dikemas maksimal 5 susun sedangkan jarak antar palet/papan (alas) 20 cm. Beberapa sarana yang perlu tersedia dalam gudang penyimpanan rumput laut antara lain : Papan/pallet, Gerobak untuk menangkut, Ganco untuk menarik karung berisi rumput laut yang belum dipress atau dikemas ulang, timbangan dan dacin besar yang digantung pada bambu.

Gb.13. Prosedur/cara penyimpanan yang baik (menggunakan alas papan/pallet)
D). Pengangkutan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengangkutan, antara lain :  Semua barang yang keluar dari gudang untuk dikirim ke konsumen (industry) harus dicatat baik jumlah maupun kode lot-nya  Dokumen pengiriman perlu dibuat

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

 Jumlah

dan

kondisi

produk

harus

dipastikan dalam keadaan baik pada saat dimasukan kea lat transportasi  Kondisi alat transportasi harus baik, tidak menimbulkan kerusakan pada produk, bersih dan bisa melindungi produk dari kemungkinan kontaminasi.

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja S Wanda, Kadi A., Sulistijo, S. Rahmaniar. Pengenalan Jenis-jenis Rumput Laut di Indonesia. Jakarta. 1996. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kumpulan SNI Perikanan Budidaya 2008. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 2008. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Profil Rumput Laut Indonesia, Jakarta, 2009 Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut, Sub Direktorat Budidaya laut-Direktorat Produksi. Jakarta, 2009 Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Pedoman Umum Kemitraan Usaha Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta, 2009. Fahrul, M.Si. Panen dan Pasca Panen Rumput Laut. Yayasan Mattirotasi. Makasar. 2006 Fuad Andhika Rahman. Perancangan Klaster Aquabisnis Rumput Laut Eucheuma cottoni. Thesis. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 2009. Kustantiny, A. 2007. Bisnis Produk Rumput Laut. Pengendalian Mutu Hasil Perikanan. Craby & Starky. Buletin Pengolahan dan Pemasaran Perikanan. Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil perikanan. DKP. SeaPlantNet. Pedoman Penanganan Rumput Laut yang Baik. Seaplant Network Foundation. Makasar. 2009 SeaPlantNet. Pelatihan Bisnis Rumput Laut untuk Usaha Kecil Menengah. Seaplant Network Foundation. Makassar. 2009 Sedayu, B.B., Basmal, J. dan Utomo, B.S.B., 2008b. Optimalisasi Penggunaan Air Pada Proses Pembuatan Semi-Refined Carrageenan (SRC). Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. 3(2): 183-191. Suryaningrum, T.D., Soekarto, S.T., dan Putro, S., 1991. Kajian Sifat-sifat Mutu Komoditi Rumput Laut Budidaya jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum. I. Pengaruh Perbedaan Warna Komoditi dan Umur Panen Terhadap Mutu Rumput Laut. J. Pen. Pasacapanen Perikanan. 68: 13-23. Winarno, F.G, 1990, Teknologi pengolahan Rumput laut. Pustaka Sinar harapan, Jakarta. Yasita, Dian dan Rachmawati, Dewi. Optimasi Proses Ekstraksi pada Pembuatan Karaginan Dari Rumput Laut Eucheuma cottoni untuk Food Grade. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Semarang

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

RIWAYAT HIDUP PENULIS
Penulis yang bernama lengkap Cocon, S.Pi ini lahir di Dayeuhluhur sebuah Kecamatan di pinggiran bagian barat Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah tepatnya tanggal 7 Mei 1981 (31 tahun). Menamatkan sekolah di SMU Negeri 1 Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap, dan sejak tahun 1999 tercatat sebagai mahasiswa jurusan Perikanan Fakultas Kelautan dan Ilmu Kelautan di Universitas Diponegoro Semarang. Tahu 2004 berhasil memperoleh gelar Sarjana Perikanan setelah menyelesaikan Skripsi dengan judul penelitian “Pengaruh Penambahan Ronozyme TM P ct dengan Dosis Berbeda Pada Pakan Buatan Terhadap Nilai Kecernaan Pakan Ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis)” Memulai awal karier sebagai Tenaga Pendamping Teknologi Perikanan Budidaya pada Ditjen Perikanan Budidaya, DKP sejak Tahun 2006 sampai dengan 2009 dengan tugas utama melakukan pendampingan teknologi pada program pengembangan kawasan budidaya rumput laut di Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Tercatat sebagai PNS pada Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yaitu sebagai Analis Budidaya Perikanan di Sub Direktorat Budidaya Air Payau dan Laut pada Satker Direktorat Produksi. Ketertarikan penulis pada rumput laut, membuat penulis seringkali berhubungan langsung dengan pelaku pembudidaya maupun pelaku usaha di hampir seluruh kawasan pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia. Bagi penulis, rumput laut merupakan komoditas yang paling efektif sebagai alternatif usaha bagi masyarakkat pesisir yang nota bene berada digaris kemiskinan, dan kenyataannya telah terbukti usaha budidaya rumput laut mampu mendorong peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Dalam menuangkan ide-ide khususnya tentang pengembangan rumput laut, penulis kerapkali menuangkannya dalam bentuk tulisan-tulisan baik di media surat khabar (Suara Merdeka), majalah (warta budidaya), dan internet (media website) dan telah banyak dijadikan rujukan oleh beberapa pembaca. Disamping itu penulis tercatat sebagai Tim Penyusun Modul Kompetensi Budidaya Rumput Laut pada Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan KKP dan Tim Penyusun Modul Interaktif Budidaya Rumput Laut pada Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan KKP. Penulis mengharapkan ada sharing informasi khususnya bagi kemajuan bisnis rumput laut, untuk penulis memberikan kesempatan untuk dapat berinteraksi langsung maupun lewat media website : www.infoaquaculture.com dan www.seaweedjpr81.blogspot.com.
Alamat Penulis Direktorat Produksi Ditjen Perikanan Budidaya Jl. Harsono RM No. 3 Gd. B Lt. 5 Ragunan Pasar Minggu – Jakarta Selatan Hp : 081326007379 Email : chocon_thea@yahoo.com

Modul Praktis Panen & Pasca Panen Rumput Laut Eucheuma cottonii

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->