Ergonomic Assesment Tempat Kerja Guna Meningkatkan Respons Fisiologis dan Produktivitas Kerja Operator Mesin Gesek di Industri

Baju Hangat di Denpasar
Made Yuda Dewantara Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Kedokteran Jl. Panglima Sudirman – Denpasar Bali Universitas Udayana Denpasar email : mydsoft69@yahoo.com Industri kecil baju hangat yang berkembang di Denpasar tumbuh seiring dengan berkembangnya industri pariwisata di Bali. Industri ini umumnya dirintis oleh usaha kecil menengah yang dapat diproduksi di rumah atau gudang kecil dengan mesin gesek yang dioperasikan secara manual. Rumah atau gudang yang difungsikan tempat produksi umumnya tidak dirancang dari awal sebagaimana sebuah pabrik yang memproduksi suatu barang. Ketika usaha kecil berkembang dan jumlah pesanan semakin besar, perusahaan mengalami masalah dalam meningkatkan kapasitas produksinya. Beberapa aspek ergonomi yang kurang memenuhi syarat menjadi masalah sehingga mempengaruhi respon fisiologis pekerja dan menghambat upaya perbaikan produktivitas kerja. Melalui pemecahan masalah-masalah ergonomi di tempat kerja diharapkan mampu memperbaiki respon fisiologis serta meningkatkan produktivitas kerja yang membantu perusahaan memenuhi jumlah pesanan. Kata kunci : tempat kerja, baju hangat , mesin gesek, respon fisiologis, produktivitas kerja A. Latar belakang Baju hangat merupakan salah satu jenis produk yang dihasilkan oleh industri garmen di Bali. Industri baju hangat memiliki kekhasan tersendiri karena dapat diproduksi oleh perusahaan yang termasuk dalam kategori Usaha Kecil-Menengah (UKM). Produksi baju hangat di UKM masih menggunakan mesin gesek manual yang sepenuhnya dioperasikan oleh tenaga manusia. Oleh karena itu kapasitas produksi baju hangat suatu perusahaan ditentukan oleh jumlah mesin gesek atau operator yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Di Denpasar dan sekitarnya terdapat kurang lebih 6 perusahaan baju hangat yang memiliki antara 8 – 19 mesin gesek sedang sisanya adalah usaha perorangan yang memiliki 1 atau 2 mesin gesek (Dewantara, 2008). Salah satu dari sekian perusahaan tersebut adalah PT SJK yang memiliki mesin gesek sebanyak 12 unit. Produksi baju hangat oleh UKM untuk memenuhi pesanan pembeli atau pelanggan yang akan dijual menjelang musim dingin baik di Eropa maupun Amerika. Jumlah pesanan di bulan April-Juni di PT SJK, tiap bulannya dapat mencapai 7000 potong baju hangat. Sedangkan kapasitas produksi di PT SJK untuk jam kerja normal sebesar 4392 potong baju hangat. Kekurangan jumlah produksi dipenuhi dari jam kerja lembur. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan produktivitas kerja guna memenuhi jumlah pesanan dan mengurangi jam kerja lembur. Karena jam kerja lembur akan menambah biaya produksi dan memiliki dampak fisiologis bagi pekerja jika tidak dilakukan organisasi kerja yang tepat. Salah satu karakteristik dari UKM adalah terbentuk karena ada peluang di pasar yang tidak sepenuhnya bisa dilayani oleh industri besar. Peluang yang ada dapat dipenuhi oleh usaha perseorangan atau usaha kecil dengan modal yang tidak besar. Kegiatan produksinya dapat dilakukan di rumah atau gudang kecil yang umumnya tidak disiapkan melalui perencanaan sebagaimana halnya industri besar. Ketika usaha kecil berkembang dan jumlah pesanan meningkat maka perusahaan akan mengalami kendala dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja. Salah satu faktor yang menghambat upaya tersebut adalah kondisi tempat kerja yang kurang mendukung bagi pekerja untuk kegiatan produksi.

Pada kondisi tersebut otot. daya tarik. 2003a. Peningkatan produktivitas kerja dapat dilakukan dengan pendekatan ergonomi yakni mengidentifikasi masalah-masalah ergonomi di tempat kerja guna mendapatkan bentuk intervensi ergonomi yang tepat sehingga perusahaan dan pekerja keduanya diuntungkan dengan solusi yang diberikan. alat bantu. Beban kerja dinilai berdasarkan rerata frekuensi denyut nadi kerja yang diukur setiap jam dengan metode palpasi 15 detik. 2003b). Waters (2008) menambahkan bahwa tempat kerja yang baik menguatkan kreativitas pekerja. MSD dapat meningkatkan biaya baik langsung maupun tidak langsung. ketidakhadiran kerja. Jika pekerjaan dilakukan dalam sikap tubuh paksa atau dengan usaha yang berlebihan akan mengakibatkan kelelehan dan ketidaknyamanan. 2008). 2007). Tempat kerja yang tidak nyaman mengakibatkan tuntutan energi meningkat. Tempat kerja telah mengalami perubahan konsep secara terus menerus yang memungkinkan pekerja melakukan pekerjaan dengan nyaman. ligamen. B. Intervensi ergonomi di tempat kerja berusaha memecahkan masalah beraspek psikologis dan sosial yang dimiliki pekerja dan pekerjaannya. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara. saraf dan pembuluh darah dapat menjadi rusak. suhu diukur dengan termometer ruangan merk Luxtron LM 800. tugas kerja yang tidak jelas. Cedera jenis ini dikenal dengan gangguan muskuloskeletal atau biasanya dikenal dengan istilah musculoskeletal disorder (MSD) (WHS. Disamping itu tempat kerja dengan perangkat kerja. Metodologi Penelitian dilakukan di PT SJK Denpasar yang memiliki jumlah mesin gesek 12 unit dan mesin sambung 2 unit. Biaya langsung termasuk di antaranya adalah biaya pengobatan dan kompensasi yang diberikan kepada pekerja menjadi lebih tinggi. cepat menimbulkan kelelahan. tendon. efektif dan efisien. Sedangkan kelelahan adalah persepsi subyektif pekerja yang dirasakan setelah melakukan aktivitas yang didata dengan 30 items of rating scales. 2004). Melalui intervensi ergonomi dilakukan perbaikan akan kesesuaian antara tuntutan fisik dari tempat kerja dengan para pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut. Guna mengurangi atau mencegah dampak yang ditimbulkan oleh MSD maka perlu intervensi ergonomi di tempat kerja. tekanan waktu. Hal ini . dan kursi yang tidak memenuhi kriteria ergonomi dapat menambah ketidaknyamanan yang dialami oleh para pekerja (Kelloway. Sedangkan biaya tak langsung berasal dari peningkatan biaya akibat keluar masuknya tenaga kerja. kecepatan angin diukur dengan anemometer merk Luxtron LM 800 dan intensits bunyi diukur Sound level meter merk Luxtron S1 4012 C. menurunkan kinerja pekerja dan meningkatkan cedera kerja (Konz dan Jhonson. motivasi dan retensi. Tinjauan Pustaka Tempat kerja merupakan ruang kerja fisik yang menyediakan fasilitas kerja bagi seorang pekerja atau sekelompok pekerja melakukan aktivitas untuk menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan (Thompson dan Jonas. maupun pelatihan ulang bagi pekerja baru.Menurut Amble (2005). sehat. pekerja bekerja secara efektif dan efisien. Intensitas pencahayaan diukur dengan luxmeter merk Luxtron LM 800. meja kerja. Sedangkan rancangan tempat kerja yang buruk berpengaruh pada kinerja bisnis yang rendah dan tingkat stress yang lebih tinggi dialami oleh para pekerja. Wawancara dilakukan untuk mengetahui penilaian keluhan muskuloskeletal secara subyektif didata dengan menggunakan Nordic Body Map yang dimodifikasi dengan skala Likert. seperti beban kerja yang terlalu berat atau rendah. latihan yang tidak memadai dan pendukung sosial yang lemah yang semuanya bisa memberikan akibat yang tidak baik bagi pekerja dan pekerjaannya (Manuaba. 2008). Sehingga perbaikan tempat kerja operator mesin gesek diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kerja pekerja di usaha kecil-menengah baju hangat. rancangan tempat kerja yang baik dapat memberi perbedaan yang besar pada kepuasan kerja. aman. kelembaban relatif diukur dengan higrometer merk Luxtron LM 800. kualitas produk dan moral kerja para pekerja. observasi dan pengukuran. Data antropometri subjek yang diukur dengan kursi antropometri dan meteran besi merk MC. Ketika bekerja para pekerja sering mengalami beberapa pergantian sikap kerja sesuai dengan tuntutan tugas. Hal ini berakibat dengan penurunan produktivitas .

lingkungan. dampak yang dirasakan akibat melaksanakan tugas / pekerjaan. 2003d) kriteria teknologi tepat guna harus memenuhi aspek teknis. kelemahan (weakness) dan ancaman (threats) dari beberapa permasalahan ergonomi di tempat kerja (Zoller dan Bruynis. kompetitif dan berkelanjutan (Manuaba. kondisi sosial. Dari masalah yang diprioritaskan untuk dipecahkan selanjutnya didekati dengan SHIP untuk mendapatkan solusi / perlakuan yang akan diberikan. (f) kondisi informasi. Selanjutnya dilakukan identifikasi pekerjaan yang perlu diintervensi ergonomi dan membuat daftar tugas-tugas kerja yang dilakukan oleh pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. implementasi ergonomi dalam konteks memperbaiki tempat kerja adalah bertujuan untuk menjadikan tempat kerja menjadi lebih manusiawi. 2004). kondisi. 2006) Berdasarkan hasil dari identifikasi faktor-faktor risiko tersebut kemudian disusun beberapa alternatif perbaikan tempat kerja. Agar tempat kerja menjadi tempat yang nyaman maka tempat kerja perlu dirancang dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah ergonomi. Identifikasi masalah tersebut dilakukan dengan melakukan pengamatan lingkungan kerja. maka dalam pemecahan masalah dimungkinkan untuk didukung dengan berbagai macam disiplin ilmu (Manuaba. Mengingat ilmu ergonomi merupakan ilmu multidisiplin. pemanfaatan tenaga otot. (c) penggunaan otot. Tujuan dan sasaran perancangan tempat kerja adalah memaksimalkan kinerja dan meminimalkan potensi bahaya yakni : (a) meminimalkan ketegangan dan kelelahan sikap kerja ( misalkan akibat pembebanan statis) yang menjadi faktor risiko dari cedera kerja. 2003a. (d) kondisi lingkungan. Melalui analisis SWOT terhadap 8 aspek . sehingga cara tersebut akan memberi perspektif tentang kerja ergonomis dengan apresiasi yang lebih luas. Menurut Manuaba (2003c. Identifikasi masalah didasarkan atas 8 aspek ergonomi di tempat kerja seperti yang dikemukakan oleh Manuaba (2003a. perancangan atau perbaikan perangkat kerja. hemat energi. Dalam perancangan tempat kerja. perangkat kerja dan wawancara langsung terhadap pekerja. seperti menyangkut kondisi fisik para pekerja. dampak yang dirasakan akibat melaksanakan tugas / pekerjaan. Dari tempat kerja yang lama dilakukan identifikasi masalah yang muncul di tempat kerja. mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi yang dialami. dan ramah lingkungan. Hasil dan Pembahasan Pendekatan ergonomi dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang dihadapi dengan melakukan wawancara. (g) kondisi sosial budaya. 2003b) ada 8 aspek ergonomi yang perlu diperhatikan yaitu gizi dan nutrisi. mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi yang dialami. sehingga dapat tercapai solusi yang optimal. Kemudian daftar pekerjaan yang berhasil diidentifikasi tersebut ditunjukkan kepada pekerja dan pemilik perusahaan untuk meminta masukan atau perbaikan. ekonomis. (b) memberikan kapabilitas jangkauan dengan memanfaatkan informasi antroprometri pekerja. D. 2007 . (e) kondisi waktu. gagasan yang dimiliki pekerja untuk memperbaiki produk dan efektifitas serta efisiensi tugas sehingga tuntutan kerja fisik dapat dikurangi. kondisi informasi dan interaksi manusia-mesin. kelemahan (opportunities). 2007). menurut (Manuaba. dan (h) interaksi manusia mesin. (d) meminimalkan waktu gerakan dan laju kesalahan melalui pengukuran kerja dan (e) memberikan kapabilitas kekuatan gaya dari sebuah gerakan atau sikap kerja berdasarka data dan model kekuatan (Konz dan Jhonson. 2005b. Manuaba. ergonomis. observasi dan pengukuran langsung terhadap pekerja. Alternatif perbaikan harus memenuhi kajian teknologi tepat guna yakni merupakan penerapan teknologi yang efektif dan berorientasi pada situasi dan kondisi masyarakat pekerja setempat. (b) sikap kerja. alat bantu. alat bantu. kondisi finansial dan sebagainya. sikap kerja. Analisis SWOT ini digunakan mengidentifikasi kekuatan (strength). tugas-tugas dalam pekerjaan serta lingkungan kerja. gagasan yang dimiliki pekerja untuk memperbaiki produk dan efektifitas serta efisiensi tugas sehingga tuntutan kerja fisik dapat dikurangi pada operator mesin gesek. 2003b) yakni (a) gizi. 2005a). sosial-budaya. Selain itu.berarti bahwa perlu mempertimbangkan keragaman dalam kemampuan manusia ketika melakukan pemilihan. Dari beberapa permasalahan pada tempat kerja dipilih beberapa masalah yang layak untuk dipecahkan dengan menggunakan analisis SWOT dan masukan dari para pekerja dan pemilik perusahaan.

Dalam kondisi lelah kewaspadaan pekerja cenderung menurun sehingga jumlah gesekan dapat terlewatkan atau gerakan menggesek terhenti ketika memeriksa hasil rajutan.5 m/det. Dengan melibatkan para karyawan lebih sering pada permasalahan yang dihadapi maka diharapkan keberlangsungan dari intervensi ergonomi yang akan diambil akan terus dijaga dan dipelihara oleh para . Jumlah jam lembur pada masa puncak pesanan cukup besar untuk memenuhi kekurangan produksi pada jam kerja normal sebesar sebesar 37. Dari kondisi interaksi manusia-mesin menunjukkan bahwa pekerja melakukan kontrol atas pekerjaannya dengan menggunakan otot tangan. Sikap kerja paksa ini dikarenakan ketinggian permukaan bidang kerja (105 cm) yang tidak sesuai dengan tinggi siku berdiri dari sebagian pekerja (persentil 5 tinggi siku berdiri 91. Kelemahan berikutnya yakni pekerja yang mengoperasikan mesin gesek harus mengerahkan tenaga ototnya yang cukup besar ketika menggeser horizontal ke kanan dan kiri pegangan pada kepala mesin secara berulang. (c) kondisi waktu dan (d) interaksi manusia-mesin. 1991. Menurut Sanders dan McCormick (1987). Di samping itu operator mesin gesek harus berdiri selama bekerja. Sedangkan suhu nyaman untuk orang Indonesia berada pada kisaran 22-28 oC. karyawan lain di tempat kerja untuk menyerap aspirasi dalam menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan tempat kerja. Di samping itu para pekerja juga terpapar oleh debu yang dihasilkan oleh bahan baku seperti benang bukley atau altea. Sedangkan untuk tingkat kebisingan 71. Sedangkan peluang yang bisa dikembangkan dari kondisi tempat kerja yang tidak nyaman adalah dengan meningkatkan jalinan komunikasi antara pemilik dan karyawan. Pada mesin gesek tidak tersedia display control untuk memonitor seberapa banyak gesekan yang telah dilakukan sehingga setiap saat operator mesin gesek harus mengingat berapa kali telah melakukan gesekan atau memeriksa hasil pekerjaannya yang berada di bawah meja kerja. temperatur udara 21 oC dan kelembaban relatif sebesar 21.3 lux yang masih lebih besar dari batas toleransi untuk ketelitian sedang yakni 250-300 lux. Dari aspek sikap kerja kelemahan yang dapat diamati adalah adanya sikap kerja paksa pada tugas memeriksa hasil rajutan dengan membungkuk. 1993. Ini berarti tingkat pencahayaan sudah mencukupi bagi pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Sehingga dapat disimpulkan klimat kerja kurang nyaman bagi pekerja. Pada aspek kondisi waktu.75 cm). Kondisi ini membentuk sikap kerja yang tidak alamiah karena memaksa badan melakukan penyesuaian seperti pada ketinggian bidang kerja atau pada saat jongkok di lantai. Kondisi lain di tempat kerja menunjukkan tidak tersedianya jendela / ventilasi yang cukup serta belum tersedia alat untuk mengalirkan udara panas keluar ruangan. beban kerja cukup berat dan sering ada keluhan muskuloskeletal bahkan jika dilakukan secara berulang-ulang dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan trauma kumulatif (Grandjean.3 %. 2003b).23 % dan temperatur udara 30.4%. Disamping itu hasil pengukuran nadi kerja para pekerja didapatkan rata-rata sebesar 115. dan jongkok ketika membuat pola di lantai. Manuaba. pemanfaatan tenaga otot dan proses angkat-angkut yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya keluhan otot bahkan dapat menyebabkan terjadinya cedera otot skeletal.3 db masih berada di bawah batas toleransi 80 dB sehingga tidak menyebabkan gangguan pendengaran. Chavalitsakulchai dan Shahnavaz. Hal ini menambah waktu kerja sehingga mengurangi produktivitas kerja dari pekerja. 2003a. Temperatur efektif terjadi oleh kombinasi dari kecepatan angin 0. bekerja di lingkungan kerja dengan suhu yang cukup tinggi akan mengakibatkan berkurangnya energi secara cepat dan menimbulkan kelelahan serta dapat menimbulkan efek-efek psikologis seperti tekanan pekerjaan (stress).ergonomi di tempat kerja operator mesin gesek dapat diidentifikasi kelemahan aspek ergonomi tempat kerja antara lain : (a) sikap kerja. karena tuntutan produksi yang melebihi kapasitas produksi yang dihasilkan dalam jam kerja normal maka perusahaan harus memberlakukan kerja lembur untuk memenuhi target produksi.2 denyut per menit dan pekerjaan ini termasuk kategori sedang sehingga perlu dirancang waktu istirahat untuk pemulihan atau relaksasi otot. Kondisi lingkungan kerja di tempat kerja operator mesin gesek menurut hasil pengukuran awal antara lain kecepatan angin 0. Menurut Grandjean (1993). (b) lingkungan kerja. Sikap kerja yang demikian kurang nyaman.55 meter/detik dengan kelembaban relatif sebesar 74. menjangkau benang di pengumpan.77 oC. Hasil pengukuran untuk tingkat pencahayaan didapatkan sebesar 386. mata dan ingatan yang memerlukan konsentrasi terus menerus.

b. kondisi lingkungan kerja kurang nyaman.pekerja. pergelangan kaki kiri (30%). betis kanan (40% ). keluhan muskuloskeletal dalam jangka waktu tertentu jika tidak mendapatkan penanganan dapat meningkat menjadi cummulative trauma disorders (CTD). Kesimpulan Berdasakan hasil ergonomic assesment tempat kerja operator mesin gesek baju hangat dapat disimpulkan antara lain : a. 2004. kelelahan yang dialami oleh pekerja.4% yang berarti pekerja cenderung merasakan pegal atau sakit pada anggota badannya terutama pada anggota badan yang tersebut di atas. 1993).5 atau sebesar 50. Kelelahan secara umum merupakan suatu keadaan yang tercermin dari gejala perubahan psikologis berupa kelambanan aktivitas motorik dan pernafasan. Pekerjaan merajut dengan mesin gesek termasuk beban kerja sedang yang mengakibatkan pekerja lebih cepat mengalami kelelahan. tangan kiri (40%). E. 2008). Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan perbaikan tempat kerja melalui pendekatan ergonomi SHIP dan pemecahan masalah berdasarkan kajian teknologi tepat guna (TTG) (Manuaba.mendesain pelindung pernafasan untuk mengurangi debu tekstil terhirup pekerja. Menurut Siegried (2002). menjangkau benang di pengumpan.3 dari total skor 120 (Dewantara. . dan sakit pada kaki kiri (90%) serta pada kaki kanan (90%). dan perlunya pengaturan waktu istirahat. lengan bawah kanan (60%). Secara keseluruhan keluhan muskuloskeletal memiliki skor 56. Dampak dari masalah ergonomi di tempat kerja operator mesin gesek dapat dilihat pada respon fisiologis pekerja yang ditunjukkan dengan adanya beban kerja sedang. menyesuaikan ketinggian meja kerja dengan pemakainya untuk mengurangi sikap paksa dengan meninggikan alas kaki. keluhan muskuloskeletal. Sedangkan beban kerja pada pekerja mesin gesek termasuk kategori pekerjaan sedang yang diindikasikan dengan denyut nadi kerja rata-rata sebesar 115. Keluhan lain adalah mata terasa kering dan sepat. pekerja merasakan aktivitas yang menurun (69%). Berdasarkan pendataan awal. motivasi menurun. motivasi yang melemah (67%) dan pelemahan fisik (40%) yang berarti pekerja mengalami cukup kelelahan selama bekerja yang secara keseluruhan dinyatakan dalam skor kelelahan sebesar 51. sebagian pekerja mempunyai keluhan muskuloskeletal yakni pegal-pegal pada pinggang (20%). mendesain pegangan kepala mesin untuk memperbaiki kekuatan genggaman dan mengurangi tenaga yang harus dikeluarkan untuk menggeser kepala mesin. tangan kanan (30%). Berdasarkan pendataan awal di PT SJK di bagian produksi. pergelangan kaki kanan ( 30%). pengerahan tenaga otot. pada hidung banyak debu menempel dan banyak mengeluarkan keringat. pergelangan tangan kiri (40%). menyediakan permadani (matting) yang nyaman guna mengurangi pegal di kedua kaki karena menahan beban tubuh. 2003c. . Perbaikan tempat kerja yang dilakukan di bagian rajutan antara lain memperbaiki sikap kerja dengan mendesain meja kerja untuk menghilangkan sikap jongkok. 2005b). Beban kerja sedang dapat mengakibatkan beban kerja pada otot jantung bertambah yang pada akhirnya akan meningkatkan pengaruh metabolisme khususnya akumulasi produk buangan metabolisme.2 denyut per menit. berat pada bola mata. adanya perasaan sakit. Adanya masalah ergonomi di tempat kerja antara lain adanya sikap kerja paksa pada tugas memeriksa hasil rajutan dengan membungkuk. aktivitas melemah yang akan mempengaruhi aktivitas fisik dan mental (Grandjean. lengan bawah kiri (80%). dan jongkok ketika membuat pola di lantai. 2005). misalnya asam laktat. Hal ini disebabkan para pekerja merasa dihargai dan ikut memiliki perusahaan dimana tempat mereka bekerja (Laing et al. mendesain alat display control berupa pencacah gesekan untuk mengurangi tugas mengingat jumlah gesekan. tidak tersedianya display control untuk memonitor banyaknya gesekan yang telah dilakukan. dan menambahkan ventilasi udara dan kipas angin untuk mengalirkan udara di dalam ruangan. betis kiri (40%).

2.asp. Study Of The Effectiveness Of A Participatory Ergonomics Intervention In Reducing Worker Pain Severity Through Physical Exposure Pathways Ergonomics.com/poor-workplace-design-damages-productivity. B. 2008. Denpasar : Lokakarya Pengkajian Kebutuhan Pelatihan Tenaga Kesehatan Propinsi Bali Tahun 2005 Di Uptd – Bpkkik Dinas Kesehatan Propinsi Bali. 48.management-issues.C.W. Yogyakarta. 2008. 2005. Musculoskeletal Discomfort and Feeling of Fatigue among Female Profesional Workers : The Need for Ergonomics Consideration.davislangdon.L. Cole. 10 February 2005. Fitting the Task to The Man . 2005b.-com/ANZ/ OurBusiness/News-and-Media-Centre/Media-Releases/worplace design.c.. Workplace design : Occupational Ergonomics. M. Perlu adanya intervensi ergonomi pada tempat kerja operator mesin gesek untuk memperbaiki respon fisiologis para pekerja dan meningkatkan produktivitas kerja operator mesin gesek.. Laing. D. Kompetitif dan Lestari.1. E. . 2005. M. Manuaba. A. d. Porceeding Seminar on Aplica-tion Research in Industral Technology. htm Chavalitsakulchai.. . December 16] Avalaible from http://www. Kompetitif dan Lestari. Poor workplace damages productivity.htm Konz. London : Taylor & Francis Kelloway. Vol. S. Dewantara.. Yogyakarta: Jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada 6. A. Kompetitif dan Berkelanjutan Me-rupakan Ragam Teknologi yang Paling Relevan dan Andal untuk Diaplikasikan di Sektor Industri Masa Kini dan Selanjutnya. 1:131-140. 2006. Manuaba. A. 20 : 257-264. 7th Edition. Respon fisiologis yang kurang baik akan berdampak pada produktivitas kerja operator mesin gesek baju hangat. DAFTAR PUSTAKA Amble. Pendekatan Total Perlu untuk adanya proses Produksi dan produk yang Manusiawi. Wells. A. 1991.. Norman. Pendekatan Ergonomi Total untuk Adanya Produksi dan Produk Manusiawi. 2007. Teknologi Yang Manusiawi.. Jhonson. and Shahnavaz.. Journal of Human Ergology.. 2004. [Cited 2008 May 12] Avalaible at URL : http://www.Y. Program Pasca Sarjana Universitas Udayana – Denpasar. Jurnal Sosial dan Humaniora Surabaya.. A. 1993. R. Manuaba.. P. S. 2004 . No. Makalah. R. [Cited 2008. 150 – 170 Manuaba. B.. Frazer. Kerr. 4th edition. Holcomb Hathway. P. R. Disampaikan pada: Seminar teknik Industri Universitas Atmajaya. Phoenix.. Pengembangan Sdm Dalam Menghadapi Tantangan Global. H. Workplace Design : Better workplace design increases productivity. M. Grandjean.C. AZ... Makalah : Penilaian Aspek Ergonomi Tempat Kerja Proses Produksi pada Usaha Kecil-Menengah Baju Hangat di Bali. S. 2005a. 12 Juli 2005.

Http://Www. July 2008 Waters. Bandung: The National Seminar on Product Design and Development. A. Workplace Design And Productivity: Are They Inextricably Linked? Property In The Economy. A. Manuaba. Sanders. 2008. Aplikasi Ergonomi Dengan Pendekatan Holistik Perlu. USA : McGraw-Hill Book Company. Manuaba. Design Dan Productivity : Surveys. 2008.V. 2004. Maine Employers’ Mutual Insurance Company (MEMIC).S. E. Portland. Jakarta. 2003b. A. Hotel Sahid Jakarta. Aplikasi Ergonomi dengan Pendekatan Holistik perlu. . Siegfried. Disampaikan pada: temu Ilmiah dan Musyawarah Nasional keselamatan dan Kesehatan kerja. ergonomi: Hotel sahid. and McCormick. Human Factors in Engineering and Design. demi Hasil yang lebih Lestari dan Mampu bersaing. Industrial Engi-neering UK Maranatha. Musculoskeletal Injuries — Part 4 : Workplace Risk Factors. Ergonomi. 2003c. 17-19 Juli 2003. 2002. Bruynis. Thompson. August 2000 Zoller. Jonas... B. Manuaba. Conducting A Swot Analysis Of Your Agricultural Business.. 1987.J. D.Creative-Class. A. Demi Hasil Yang Lebih Lestari Dan Mampu Bersaing. Makalah. C.. M. K.. Aplikasi Ergonomi Dalam Dunia Industri.Com /Workplace-Design. Temu Ilmiah Dan Musyawarah Nasional Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. . 17-19 Juli 2003. 5 April 2003. C. 2003d. 2003a. Makalah. Holistic Design is Must to attain Sustainable Product.Manuaba.... Ergonomics And Prevention Of Upper Extremity Cumulative Trauma Disorders. 2007.W. Yogyakarta : Aplikasi Ergonomi Dalam Dunia Industri Di Universitas Islam Indonesia.Htm WHS-Workplace Health And Safety . Ergonomics. Ohio: The Ohio State University.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful