P. 1
PERENCANAAN PLS FKIP UNIB

PERENCANAAN PLS FKIP UNIB

|Views: 308|Likes:
Published by Arie POetra

More info:

Published by: Arie POetra on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2014

pdf

text

original

1

PERENCANAAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

PROPOSAL PERENCANAAN KEGIATAN PENDIDIKAN NONFORMAL Disampaikan untuk memenuhi sebagian persyaratan Menempuh Mata Kuliah Perencanaan PLS Dosen Pengampuh : Drs. Asep Suratman, M.Pd Semester IV Tahun Ajaran 2011/2012 Oleh :

ARI PUTRA DULI SANTONO DEWI MARYANI SURATMI TRY OKTIYUS DEBI. S. FUADI

A1J010001 A1J010019 A1J010021 A1J010025 A1J010031 A1J010035

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN IMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU 2012

2

“Saatnya Wanita Berkarya”

KECAKAPAN HIDUP BERORIENTASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN MIE KERING PELANGI “

AULA KELURAHAN TANJUNG AGUNG, KOTA BENGKULU

3

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segalah puji bagi Allah swt, atas berkat rahmat hidayah dan inayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini berupa PROPOSAL PERENCANAAN KEGIATAN PLS. Tugas ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memenuhi mata kuliah Perencanaan PLS. Di samping itu, penulis juga berharap Proposal ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan. Mungkin dalam penulisan dan penyajian proposal ini terdapat kesalahan dan kekurangan tanpa sepengetahuan penulis, oleh karena itu kritik dan saran penulis harapkan untuk perbaikan dimasa-masa mendatang. Semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi pembaca atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.

Bengkulu, April 2012

Penulis

BAB I

4

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Propinsi Bengkulu dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa terdiri atas laki-laki sebanyak 875.663 orang dan perempuan 877.730 orang (Educational Statistics in Brief 2010) merupakan wilayah yang sangat potensial untuk berkembang lebih lanjut. Dari jumlah penduduk yang ada jumlah perempuan lebih besar daripada laki-laki, tepatnya jumlah penduduk itu terdiri dari 875.663 orang laki-laki dan 877.730 orang perempuan. Sementara itu persentase penduduk miskin pada tahun 2010 sesuai data BPS Bengkulu, baik yang tinggal di kota maupun pedesaan adalah 17,61% (dapat dilacak pada www.bps.go.id ). Dalam skala yang lebih kecil yaitu tingkat kondisinya tidak jauh berbeda dengan hal ini. Hasil identifikasi yang dilaksanakan di Kecamatan Sungai Serut menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan hanya melakukan kegiatan kerumahtanggaan, sebagian lagi menjadi pedagang kecil. Pada aspek keterampilan, sebagian besar perempuan Kecamatan Sungai Serut , Tanjung Agung tidak memiliki keterampilan yang berarti untuk mencari nafkah. Bagi mereka yang memiliki keterampilan, ternyata juga merasa bahwa keterampilan yang telah dimiliki masih belum cukup untuk dapat digunakan sebagai modal berusaha. Beberapa keterampilan yang pernah diterima antara lain pembuatan susu kedelai, pembuatan keripik singkong. Keterampilan yang telah diperoleh juga dipraktekkan, tetapi lebih banyak dipakai sendiri tidak untuk dijual. Sementara itu, keterampilan yang diinginkan lebih banyak keterampilan dagang. Dalam hubungan sosial, masyarakat Tanjung Agung Kecamatan Sungai Serut dan masyarakat ini pada umumnya menganut paham patrilineal yang menyebabkan laki-laki memiliki dominasi yang sangat kuat. Laki-laki lebih berperan dalam hubungan antara keluarga dengan kelembagaan masyarakat, sehingga sangat melemahkan peran dan aktivitas perempuan pada organisasi masyarakat. Perempuan adalah masyarakat “kelas dua” yang seringkali tidak

5

dapat memperoleh hak-haknya sebagaimana mestinya. Kondisi perempuan di daerah ini semakin terjepit dengan adanya persepsi yang salah dalam memahami ajaran agama khususnya tentang perkawinan dan perceraian. Masyarakat di daerah ini rata-rata memiliki keterampilan yang masih rendah khususnya yang berkaitan dengan pengolahan sumber daya alam yang ada. Keterampilan-keterampilan yang dimiliki belum tergarap dengan baik, sehingga perlu dilakukan Pemanfaatan terhadap pemanfaatan sumber daya yang ada guna meningkatkan keterampilan-keterampilan usaha ekonomi produktif. Selain itu upaya optimalisasi Kelompok Belajar Keaksaraan Fungsional Usaha Mandiri juga perlu dilakukan untuk mendukung peningkatan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini pengembangan home industry adalah solusi yang tepat Industri yang berkembang di Kota Bengkulu merupakan industri yang berbasis rumahan sangat sederhana ,dengan berkembangnya industri rumahan di Bengkulu, tetapi masih belum banyak ditemukan industri rumahan yang menghasilkan sebuah produk yang berbahan baku kimia dan bisa tahan lama atau bisa disimpan , dalam hal ini Mie Kering Pelangisebagai salah satu contohnya, yang memiliki prospek bagus kedepannya. Keberagaman industri rumahan di Kota Bengkulu sebenarnya sudah cukup baik karena masyarakat setempat sudah menjalankan industri tersebut selama beberapa dekade. Namun demikian, perlu adanya peningkatan, khususnya dalam hal meningkatkan pangsa pasar industrinya sendiri yang selama ini masih didominasi pasar domestik, dengan harapan agar kedepan industri tersebut bertambah luas pangsa pasarnya dengan menarik wisatawan mancanegara. 1. Peluang Pasar Masyarakat Kota Bengkulu banyak ditemukan membuat industri rumah tangga untuk Pembuatan Mie tetapi kebanyakan mie yang dibuat adalah mi bahsh dengan kualitas yang standar, tetapi kali ini adalah mie yang sangat berkualitas dan banyak gizi dikarekan bahan dasar mie adalah sayur-sayuran , maka dari itu

6

mie ini cocok seklai di konsumsi untuk anak-anak yang hoby makan mie. Maka dari itu peluang pasar Mie Kering Pelangi ini sangat besar.

2. Sasaran ( Ibu- Ibu PKK ) Ibu-Ibu PKK sasaran adalah kelompok masyarakat di Kelurahan Tanjung Agung Kecamatan Sungai Serut yang belum sempat mendapatkan binaan secara maksimal, baik oleh pihak pemerintah maupun olih pihak swasta. Kehidupan mereka sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga. Oleh karena itu perlu diberdayakan melalui program pendidikan kecakapan hidup (life skills).

B. DASAR PENYELENGGARAAN PROGRAM Adapun dasar penyelenggaraan program pendiddikan kecakapan hidup ini adalah: 1. Undang –undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Pedoman Kecakapan Hidup Pendidikan Non Formal (PKH – PNF)

7

C. TUJUAN PROGRAM 1. Tujuan Umum Tujuan umum penyelenggaraan program ini merupakan tujuan yang hendak dicapai bagi kepentingan peserta didik (warga belajar), masyarakat sekitar, lembaga penyelenggara dan pemerintah daerah. Tujuan umum tersebut adalah : (1) untuk meningkatkan kualitas peserta didik, (2) untuk turut berpartisipasi dalam upaya pengembangan sentra usaha dan penanggulangan pengangguran, (3) untuk memberikan motivasi bagi masyarakat sekitar, dan (4) untuk membantu pemerintah daerah menyukseskan program pembangunan khususnya dibidang pendidikan non formal.

2. Tujuan Khusus Tujuan khusus program ini adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan keterampilan tentang Pembuatan Mie Kering Pelangi mulai dari tehnik pembuatan, tehnik pengolahan, dan tehnik pegemasan b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pemasaran hasil produksi Mie Kering Pelangi secara ekonomis dan menguntungkan. c. Mendirikan unit usaha Mie Kering Pelangi yang dapat dimanfaatkan

untuk kebutuhan hidup diri dan keluarganya di masyarakat. d. Memberikan bekal pengetahuan kemasyarakatan dan ibu-ibu untuk meningkatkan perannya sebagai warga masyarakat yang produktif. e. Membina mental wirausaha mandiri melalui pelayanan komoditas Home Industry, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dimulai dari

pemahaman analisa usaha dan tehnik pengolahan

8

D. HASIL YANG AKAN DICAPAI Melalui program pendidikan kecakapan hidup pembuatan mie kering pelangi ini, diharapkan warga belajar memiliki pengetahuan dan keterampilan serta mengimplementasikannya sehingga mereka mempunyai pendapatan yang mewadahi dan dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Selanjutnya, setelah program ini selesai diharapkan warga belajar dapat menjadi kelompok ibu-ibu yang produktif, berkualitas, dan mandiri. Selain hasil yang diharapkan tersebut di atas, diharapkan juga warga belajar dalam hal ini ibu-ibu dapat menularkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya kepada para ibu-ibu yang lain terutama masyarakat sekitar.

E. INDIKATOR HASIL Untuk mengukur keberhasilan dari penyelenggara program bagi warga

belajar digunakan indicator sebagai berikut :

Tabel 1. Indikator Keberhasilan Penyelenggaraan Program

No
1 1.1 1.2 1.3

Kompetensi
KECAKAPAN HIDUP Kecakapan Personal Kecakapan Akademik Kecakapan Vokasional

Awal
40 - 59 40 - 59 40 - 59

Tengah
60 – 79 60 – 79 60 – 79

Akhir
80 - 100 80 - 100 80 - 100

2 2.1 2.2 2.3

KEWIRAUSAHAAN Prediksi Usaha Pengembangan Usaha Kemandirian Usaha 40 - 59 40 - 59 40 - 59 60 – 79 60 – 79 60 – 79 80 – 100 80 – 100 80 – 100

9

BAB II KEGIATAN PENYELENGGARAAN

A. ORGANISASI PENYELENGGARA Penanggung Jawab: 1. Drs. Asep Suratman, M.Pd Mitra Kerja : Outlet – outlet Distributor

Ketua Pelaksana: Ari Putra

Administrasi: 1. Try Oktiyus S 2. Duli Santono 3. Suratmi

Sekretaris: Dewi Maryani

Bendahara: Debi. S. fuadi

Tenaga Pendidik 1. Drs.Asep Suratman,M.Pd 2. Ari Putra 3. Dewi Maryani 4. Debi. S. Fuadi 5. Try Oktiyus 6. Suratmi

Warga Belajar : Masyarakat Tanjung Agung

10

URAIAN TUGAS 1. Penanggunganjawab, bertugas : a. Memimpin penyelenggaraan program b. Membagi tugas masing-masing pengelola c. Mengawasi pelaksanaan kegiatan d. Mempertanggungjawabkan penyenggaraan program kepada pihak-pihak pemberi pekerjaan. 2. Ketua Pelaksana, bertugas : a. memimpin pelaksanaan kegiatan b. Mengatur, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan c. Membuat laporan kegiatan secara berkala sesuai dengan perjanjian kerjasama. 3. Sekretaris, bertugas : a. Membantu pelaksanaan tugas ketua pelaksana b. Menyiapkan surat-menyurat, dokumentasi, dan kelengkapan administrasi yang diperlukan. 4. Bendahara, bertugas : a. Membuat daftar penggunaan dana secara rinci dan lengkap b. Membayar seluruh biaya yang diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku setelah disetujui oleh ketua pelaksana. c. Membuat atau menyelesaikan kelengkapan administrasi keuangan 5. Tenaga Administrasi, bertugas : a. Membantu sekretaris dalam menyiapkan surat menyurat, dokumentasi, dan kelengkapan administrasi. b. Mengarsipkan secara rapi surat menyurat, dokumentasi, bahan belajar, catatan – catatan dan lain sebagainya. c. Menbuat daftar hadir instruktur dan warga belajar serta catatan setiap kegiatan yang telah dilaksanakan.

11

6. Tenaga Pendidik, bertugas : a. Membuat persiapan pembelajaran b. Melaksanakan pembelajaran baik teori maupun praktik c. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil pembelajaran d. Memberikan bimbingan kepada warga belajar yang mengalami kesulitan belajar 7. Warga Belajar, bertugas : mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran, baik teori maupun praktik. PERSONALIA : 1.Penanggungjawab : 1. Drs. Asep Suratman , M.Pd

2. Ketua Pelaksana 3. Sekretaris 4. Bendahara 5. Tenaga Administrasi

: : :

Ari Putra Dewi Maryani Debi S. Fuadi

: 1. Try Oktiyus 2. Duli Santono 3. Suratmi

Tenaga Pendidik

: 1. Drs. Asep Suratman, M.Pd (Pakar PLS) 2. Ari Putra 3. Dewi Maryani 4 Debi S. Fuadi 5. Try Oktiyus 6. Suratmi

12

B. JADWAL KEGIATAN Pelaksanaan program ini terdiri dari persiapan, pelaksanaan pembelajaran, monitoring dan evaluasi serta pelaporan. Masing – masing komponen kegiatan tersebut terdiri dari beberapa kegiatan seperti pada table di bawah ini :

Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan NO
I

KEGIATAN PERSIAPAN
Menyusun Proposal

1

2

3

BULAN KE 4 5 6 7

8

1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8

-

II 2.1 2.2 III 3.1 3.2 IV 4.1 4.2 4.3

Menjalin Mitra Kerja Rapat Tim Pelaksana Rapat Koordinasi Dengan Mitra Kerja Merekruit calon warga belajar Merekruit tenaga Pendidik Menentukan jadwal Pembelajaran Menyiapkan sarana dan prasarana pembelajaran PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Pembelajaran teori Praktik MONITORING DAN EVALUASI Monitoring Evaluasi PELAPORAN Laporan Awal Laporan Tengah Laporan akhir Penyempurnaan Laporan Menyerahkan laporan akhir

13

C. REKRUITMEN PESERTA DIDIK ( WARGA BELAJAR) 1. Pendaftaran Warga Belajar Warga belajar yang akan diikutsertakan pelatihan diutamakan perempuan dan ibu-ibu rumah tangga. Adapun prosedur pendaftaran warga belajar sebagai berikut : a. Pendaftaran warga belajar dilakukan dengan mendaftar kepada ketua PKK b. Seleksi warga belajar dilakukan oleh tim pelaksana, ketua PKK

2. Kriteria peserta Didik (Warga belajar) Dalam penetapan warga belajar digunakan criteria sebagai berikut : a. Mengganggur/tidak memeliki pekerjaan tetap b. Usia 20 – 56 tahun dengan memprioritaskan usia 20 – 35 tahun c. Memiliki minat yang tinggi untuk mengikuti pendidikan kecakapan hidup yang akan dilaksanakan d. Memiliki waktu dan bersedia mengikuti kegiatan e. Memiliki minat untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh 3. Jumlah Peserta Didik (warga Belajar) Program ini akan diikuti oleh 20 warga belajar yang terdiri dari selurh ibuibu rumah tangga di sekitaran kelurahan Tanjung Agung

14

D. REKRUITMEN TENAGA PENDIDIK 1. Cara Rekruitmen Rekruitmen tenaga pendidik dilakukan dengan cara mendata sejumlah calon tenaga pendidik. Untuk maksud tersebut, pihak penyelenggara program menjalin mitra kerja dengan beberapa pihak yang beprengalaman dalam berbagai hal yang dibutuhkan dalam proses pembuatan pelembut pakaian ini, dalam hal ini tenaga pendidik dibutuhkan adalah tutor yang sudah memiliki pengalaman dalam mengerjakan kegiatan pembuatan pelembut pakaian beserta asisten untuk membantu kelancaran kegiatan serta beberapa tutor yang paham untuk melakakukan pengemasan dan pemasaran produk Untuk 1 orang tenaga pendidik yang akan mengajarkan kecakapan akadimik dan kecakapan personal akan diambil dari dosen Program Studi PLS FKIP Unib. 2. Kriteria Tenaga Pendidik Dalam pengrekruitan tenaga pendidik digunakan criteria sebagai berikut : a) Memiliki kompetensi tentang pembuatan dan penggunaan mie kering pelangi b) Memiliki kemampuan untuk mendidik orang dewasa. c) Dipandang cakap dan bertanggungjawab serta dapat dijadikan panutan bagi peserta didik (warga Belajar).

E. REKRUITMEN MITRA KERJA Dalam pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup (life skill) ini, pihak penyelenggara bermitra dengan : 1. Pihak Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Bengkulu (dalam hal ini Subdin PLS), yaitu dalam hal : (a) menentukan materi dan model pembelajaran, (b) penanganan pasca pendidikan kecakapan hidup. 2. Pihak Kelurahan yaitu dalam hal : (a) merekruit calon warga belajar, dan (b) menyediakan sarana pembelajaran (terutama tempat pembelajaran teori). 3. Pihak Praktisi, yaitu dalam hal praktik keterampilan : (a) Pempuatan Mie Kering Pelangidan (b) penanganan pasca pendidikan kecakapan hidup terutama dalam hal pemasaran hasil usaha.

15

F. SARANA DAN PRASARANA MANAJEMEN Dalam rangka pengelolahan program terdapat sejumlah sarana dan prasarana yang akan digunakan, yaitu : 1. Komputer/ Laptop 2. Kamera 3. Ruang tempat pelayanan administrasi 4. Ruang tamu : 1 unit : 1 unit : 1 ruangan : 1 ruangan

G. MANAJEMEN MUTU PENYELENGGARA Untuk menjamin mutu proses penyelenggaraan akan dilakukan langkahlangkah sebagai berikut : 1. Menyusun rencana operasional secara matang 2. Menyiapkan secara langsung sarana yang diperlukan 3. Memantau dan mengawasi seluruh rangkain kegiatan 4. Menegakkan disiplin belajar bagi warga belajar serta tenaga didik 5. Mengevaluasi proses dan hasil pelaksanaan kegiatan 6. Melakukan pengelolaan dana secara transfaransi akuntabilitas

16

H. RENCANA PENGGUNAAN DANA Secara garis besar, dana akan digunakan untuk lima kegiatan yaitu (1) pengelolaan program, (2) pengadaan alat praktik keterampilan hidup, (3) Penyelenggaraan proses pembelajaran, (4) pemberian dana bantuan bagi warga belajar, dan (5) biaya pendukung. Secara rinci dapat dilihat pada table di bawah ini : Tabel 3. Rencana Penggunaan Dana
No Uraian Indikator Volume Satuan (Rp) Jumlah (Rp)

1.

 ATK dan habis pakai Total

bahan Paket 1 50.000 50.000 50 .000

2.  Dana Pengadaan Alat dan Bahan Praktik :  Terigu protein tinggi  tepung sagu  butir telur bebek  Garam  Sayuran bayam dan Wortel  Pembuatan Plastik Kemasan mie Total Pelenggaraan 3  Dana Pembelajaran / Pelatihan (untuk menunjang kelancaran proses Pembelajaran)  Konsumsi 20 WB, selama kegiatan Total TOTAL 1 s/d 5 Kg Kg Unit Unit Ikat 5 2 2 1 10 7.000 6.000 3.000 1000 1000 35.000 12.000 6.000 1000 10000

lembar

50

1000

50000 114.000

Kotak

5

5000

100.000

100.000 264.000

17

BAB III KEGIATAN PEMBELAJARAN

A. MATERI PEMBELAJARAN Dilihat dari segi kebutuhan warga belajar, maka materi belajar yang akan dicapai adalah sebagai berikut :

Tabel 4. Materi Pelajaran
No Substansi Kecakapan Materi Pelajaran Alokasi waktu (60 menit = 1 Jam Pertemuan)

1.

Kecakapan Personal

Mengenal kelemahan pribadi

keunggulan pribadi, yang motivasi

dan 30menit / 1 hari potensi dapat dan

dikembangkan, minat berusaha. 2. Kecakapan Akademik

Pengenalan bahan baku, teknik pembuatan, proses pengemasan dan pemasaran

20 Menit

3.

Kecakapan Ketrampilan

a. Praktik pembuatan Mie Kering Pelangi b. Praktik

produk

40 menit

pengemasan Mie

dan

pemasaran Pelangi

Kering

18

B. STRATEGI PEMBELAJARAN   Lama pembelajaran melalui pendidikan perempuan ini dilaksanakan selama 1 hari. Persentase teori dan praktek pembelajaran 20 % materi teori yang disampaikan   oleh nara sumber dan 80 % praktek berupa

pendampingan. Lokasi pembelajaran dilaksanakan di Kelurahan Tanjung Agung Kec. Sungai Serut Kota Bengkulu Strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran meliputi ; 1. Advokasi Sosial, mengadung makna adanya pendampingan sosial berupa : memotivasi,memfalitasi,memberdayakan,perlindungan sosial dan upaya memberikan

pembelaan terhadap hak-hak dasar masyarakat miskin khususnya perempuan yang dilanggar oleh pihak lain agar dapat mendapatkan haknya kembali ,terutama akses terhadap pelayanan sosial

dasar,peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraanya.

Advokasi

dilaksakan karena,Posisi tawar masyarakat pra sejahtera untuk diekploitasi,diabaikan dan disalah gunakan dalam pelaksanaan pembangunan, Kebijakan program pembangunan yang belum berpihak kepada masyarakat masyarakat khususnya

perempuan,Perlindungan hukum yang belum memadai. Advokasi sosial akan dilaksanakan melalui pelibatan dalam perumusan berbagai kebijakan,audiensi,dialog publik,kampanye dan aksi sosial.

2.Partisipasi sosial, mengandung makna keterlibatan seluruh sasaran pemberdayaan masyarakat pra sejahtera dan masyarakat secara umum,partisipasi sosial dilaksanakan karena selama ini sasaran program menjadi obyek dalam penanganan kemiskinan. Partisipasi sosial dilakukan dengan menyediakan informasi

19

program,menumbuhkan

pemahaman

dan

kesadaran

terhadap

permasalahan kemiskinan,melakukan dialog,menemukan alternatif pemecahan masalah,melaksanakan aksi dan evaluasi bersama.

3.Pengembangan

budaya

kewirausahaan,

mengandung

makna

tumbuh dan berkembangnya sikap mental masyarakat pra sejahtera untuk mau belajar dan melakukan/mengembangkan usaha ekonomi produktif berdasarkan potensi dan kreatifitas yang dimiliki.

Pengembangan

budaya

kewirausahaan alternatif

dilaksanakan peningkatan taraf

karena,Kewirausahaan

merupakan

kesejahteraan sosial secara mandiri, Mengantisipasi ketergantungan masyarakat pra sejahtera dari program bantuan sosial dan memberikan persepsi bantuan yang diterima merupakan stimulan untuk modal usaha,Perlunya kesadaran bahwa perubahan nasib dan peningkatan taraf kesejahteraan tergantung dari dirinya sendiri.Pengembangan budaya kewirausahaan dilaksanakan melalui kegiatan bimbingan sosial, motifasi,pelatihan kewirausahaan,magang kerja,pendampingan usaha dan akses terhadap sumber-sumber kesejahteraan sosial.

Untuk mengetahui hasil belajar warga belajar akan dilakukan evaluasi. Pembelajaran teori yang bertujuan untuk memberikan langlah-langkah yang akan dipraktikkan. Setelah selesai proses pembelajaran akan dilaksanakan evaluasi bagi warga belajar untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka dapati. Yang akan mengevaluasi adalah instruktur.

C. SARANA DAN PRASARANA PEMBELAJARAN 1. Sarana dan prasarana pembelajaran teori yang meliputi : ruang belajar, white board, kursi yang dipinjam pakai dari kelurahan Tanjung Agung sebagai mitra kerja. 2. Sarana dan prasarana pembelajaran yang akan dibeli, meliputi : ATK, Hard Copy materi dan Leaflet,peralatan serta bahan Pembuatan Mie Kering Pelangi.

20

D. HASIL YANG AKAN DICAPAI Dari 20 orang warga belajar diharapkan dapat menyelasai kegiatan dengan baik dan betul-betul dapat memahami dengan sepenuhnya sekitar 15 orang atau 80% dari warga belajar. Setelah menyelasaikan kegiatan pembelajaran diharapkan warga belajar dapat memiliki kompetensi sebagai berikut: 1. Mampu mendeskripsikan cara Pembuatan Mie Kering Pelangi 2. Mampu mengemas dan memasarkan Produk pelembut pakaian 3. Mampu membuat kelompok industry rumahan Dengan memiliki kompetensi tersebut diharapkan mereka akan

mengaplikasikan secara mandiri, yang pada akhirnya

akan menjadi sumber

penghasilan keluarga. Sehingga diharapkan dapat lepas dari belenggu kemiskinan.

E. PEMBENTUKAN KELOMPOK BELAJAR USAHA (KBU) Setelah akhirnya program kecakapan hidup (life skills) ini, kepada warga belajar akan diberikan pembinaan lanjutan (Pendampingan pasca pelatihan) oleh Kelompok PKK bekerjasama dengan PLS UNIB untuk dijadikan bentuk usaha bersama yaitu kelompok Industry Rumah Tangga ( IRT) . Dari 20 orang warga belajar tersebut akan dibagikan ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok kecil direncanakan beranggotakan 10 orang. Melalui pendampingan pasca pelatihan tersebut diharapkan kemajuan yang dicapai oleh warga belajar senantiasa terpantau dan terkoordinir. Selanjutnya, agar warga belajar dapat melakukan usaha secara mandiri.

21

F. MANAJEMEN MUTU PEMBELAJARAN Guna menjamin mutu proses pembelajaran, akan dilakukan kegiatan penjaminan mutu dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Dalam proses pembelajaran akan digunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa, yaitu dengan karakteristik: a. Memberikan tanggungjawab kepada warga belajar. b. Memberikan kebebasan mengemukakan pendapat dan menghargai perbedaan pendapat. c. Memberikan proses pembelajaran yang konduksif (menyenangkan, nyaman, dan aman). d. Penyampaian materi pelajaran secara kontektual.

2. Kehadiran dan keaktifan warga belajar selama mengikuti proses pembelajaran akan diberi penilaian tersendiri. Hasil penilaian tersebut akan dijadikan salah satu dasar pertimbangan untuk memberikan reward kepada warga belajar terbaik.

3. Menumbuhkembangkan motivasi melakukan usaha mandiri bagi warga belajar

22

G. JADWAL PROSES PEMBELAJARAN Proses pembelajaran akan dilaksanakan selama 1 hari Satu hari pertemuan ini alokasi waktu untuk kegiatan 90 menit. Secara rinci dapat dilihat pada table berikut ini : No 1. Hari Ke 1 Alokasi waktu 30 menit Pokok Bahasan Kecakapan Personal Sub-Pokok Bahasan Mengenal keunggulan dan kelemahan pribadi, potensi pribadi yang dapat dikembangkan, motivasi dan minat berusaha Pengenalan bahan baku, teknik pembuatan, proses pengemasan dan pemasaran a. Praktik pembuatan produk cairan Pelembut pakaian b. Praktik pengemasan dan pemasaran pelembut pakaian Tempat Pembelajaran Ruang Pertemuan kelurahan Tanjung Agung

3

1

20 menit

Kecakapan Akademik

Ruang Pertemuan kelurahan Tanjung Agung Ruang Pertemuan kelurahan Tanjung Agung

4

1 40 menit 1

Kecakapan Ketrampilan

23

BAB V PENUTUP

Proposal ini disususun berdasarkan

hasil survey lapangan, asesmen

kebutuhan (needs assessment) masyarakat, potensi lingkungan dan potensi SDM (terutama calon warga belajar). Pendidikan kecakapan hidup yang mengarah ke pemberdayaan perempuan dengan program Pembuatan Mie Kering Pelangi tersebut direncanakan akan dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu meliputi pembelajaran teori dan praktik. Program ini akan diikuti oleh 20 peserta didik (warga belajar) yang berasal dari kalangan perempuan di Kelurahan Tanjung Agung Kecamatan Sungai Serut. Mereka akan diasuh oleh tenaga pendidik profeseonal yang berasal dari praktisi dan dosen program studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu. Kesimpulan  Akar persoalan kemiskinan adalah lunturnya nilai-nilai kemanusiaan yang melahirkan ketidakadilan,keserakahan, mementingkan diri sendiri atau golongan,ketidak pedulian dan sebagainya.Oleh karena itu musuh bersama kemiskinan adalah sifat-sifat buruk manusia, bukan organisasi atau lembaga. Keadilan, kesetaraan, kepedulian yang menjadi dasar bagi penyelesaian masalah kemiskinan akan bisa dilaksanakan oleh orang-orang berdaya yang berdaya,bukan orang-orang dari golongan tertentu Manusia yang bardaya sejati adalah manusia yang mampu mengunakan dan memberikan nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dirinya untuk kepentingan kejahteraan lingkungannya. Manusia pada dasarnya baik,akan tetapi kebaikannya tertutup oleh sistem serta tatanan kehidupan disekitarnya.Kebaikan-kebaikan manusialah yang merupakan perbedaan hakiki antara manusia dan makluk lain. Kemiskinan merupakan masalah bersama,sehingga hanya akan dipecahkan secara bersama.Oleh karena itu perlu keterlibatan semua pihak dalam proses pembangunan. Masyarakat miskin khususnya perempuan pada dasarnya mampu dan mempunyai potensi untuk memecahkan masalah dan menolong dirinya sendiri,sehingga mereka harus diberi kesempatan untuk terlibat dalam pembangunan. Seluruh lapisan masyarakat mempunyai hak yang sama untuk ikut terlibat dalam pembangunan.

  

 

24

A. Harapan Berhasilnya pelaksanaan penanganan program kecakapan hidup dan pemberdayaan ini akan sangat tergantung pada semangat dan kualitas kerja penyelenggara artinya proposal yang kami susun ini sebagai term of reference adalah bahan untuk pengambil kebijakan berkaitan dengan program pemberian bantuan social pendidikan perempuan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->