Hermeneutika dan Interpretasi Sastra

Putera Manuaba
Pengantar Kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas yakni interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra, pada awal dan akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus diinterpreatasi dan dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra--terutama dalam prosesnya--pasti melibatkan peranan konsep hermeneutika. Oleh karena itu, hermeneutika menjadi hal yang prinsip dan tidak mungkin diabaikan. Atas dasar itulah hermeneutika perlu diperbincangkan secara komprehensif guna memperleh pemahaman yang memadai. Dalam hubungan ini, mula-mula perlu disadari bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya menyentuh permukaan karya sastra, tetapi yang mampu "menembus kedalaman makna" yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, interpreter (si penafsir) mesti memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam. Berhasil-tidaknya interpreter untuk mencapai taraf interpretasi yang optimal, sangat bergantung pada kecermatan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain itu, tentu saja dibutuhkan metode pemahaman yang memadai; metode pemahaman yang mendukung merupakan satu syarat yang harus dimiliki interpreter. Dari beberapa alternatif yang ditawarkan para ahli sastra dalam memahami karya sastra, metode pemahaman hermeneutika dapat dipandang sebagai metode yang paling memadai. Pada mulanya hermeneutika adalah penafsiran terhadap kitab-kitab suci. Namun, dalam kurun berikutnya, lingkupnya berkembang dan mencakup masalah penafsiran secara menyeluruh (Eagleton, 1983: 66). Dalam perkembangan hermeneutika, berbagai pandangan terutama datang dari para filsuf yang menaruh perhatian pada soal hermeneutika. Ada beberapa tokoh yang dapat disebutkan di sini, di antaranya: F.D.E. Schleirmacher, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Husserl, Emilio Betti, Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, Paul Ricoeur, dan Jacques Derrida. Pada prinsipnya, di antara mereka ada beberapa kesamaan pemikiran yang dimiliki, terutama dalam hal bagimana hermeneutika jika dikaitkan dengan studi sastra khususnya dan ilmu-ilmu humaniora dan sosial pada umumnya. Di samping itu, terdapat pula perbedaan dalam cara pandang dan aplikasinya. Terjadinya perbedaan tersebut pada dasarnya karena mereka menitik-beratkan pada hal yang berbeda atau beranjak dari titik tolak yang berbeda. Dalam konteks itulah berbagai pemikiran dan cara aplikasi hermeneutika tersebut perlu dibahas secara khusus. Dalam hal ini ada berbagai pemikiran dari empat pemikir yang akan digunakan untuk mengkajinya. Beberapa pemikir termaksud adalah Andre Lefevere (1977), Terry Eagleton (1983), M.J. Valdes (1987), dan G.B. Madison (1988). Bertolak dari empat pemikir itulah pembahasan ini akan berupaya mengetengahkan kembali hasil pemahaman secara komprehensif tentang hermeneutika. Di samping

kemunculan hermeneutika dalam ilmu-ilmu sosial merupakan perkembangan yang menarik. juga diupayakan menjelaskan pembahasan apakah hermeneutika dalam interpretasi sastra sebagai konsep metodologis atau ontologis. namun kini muncul kembali sebagai sesuatu yang baru dan menarik. Sehubungan dengan itu. dan lebih umum lagi dalam sejarah permikiran teologis Yudio-Krisitiani. Konsekuensinya. dapatlah diungkapkan bahwa herme-neutika tidak lain adalah menafsirkan berdasarkan pemahaman yang sangat mendalam. Konsep Dasar Kemunculan Hermeneutika Hermeneutika sebenarnya merupakan topik lama. yang pada masa itu ilmu semakin menjadi positivisme yang mandul karena subjektivisme yang sulit dipertahankan. Valdes (1987: 56-57) dengan mengemukakan teori relasional tentang sastra dan menolak validitas dari semua klaim terhadap berbagai interpretasi yang definitif. Madison (1988: 40) juga mengatakan bahwa masalah status epistemologi ilmu-ilmu sosial atau kemanusiaan menjadi bahan pembahasan secara terus-menerus selama beberapa dekade. tidak cukup diinterpretasi sekali. perkembangan pemikiran tentang hermeneutika secara lambat laun merebak ke berbagai area disiplin lainnya. Mereka memandang pentingnya subjek dalam posisi respons. Goethe. dan sebagainya. Karya-karya klasik seperti karya Aristoteles. hermeneutika seakan-akan bangkit kembali dari masa lalu dan dianggap penting. Dua konsep ini kemudian dipertegas oleh M. Eagleton (1983: 60) melihat bahwa kemunculannya itu lebih dilatarbelakangi oleh adanya krisis ideologi di Eropa. Shakespeare. khususnya hermeneutika teks-teks. 1983: 60-61). Secara lebih umum. tetapi perlu diinterpretasi secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Sehubungan dengan itu. Eagleton. Dalam konteks ini. muncullah beberapa tokoh yang mencoba menawarkan alternatif.. seperti dogma dan kitab suci. di antaranya adalah Husserl. hermeneutika di masa lampau memiliki arti sebagai sejumlah pedoman untuk pemahaman teks-teks yang bersifat otoritatif. Dengan perkataan lain. Proust. apalagi dengan berkembangnya ilmu-ilmu sosial dan humaniora.p> Hermeneutika dikatakan Dilthey . Namun. Berbagai anggapan muncul mewarnai pertanyaan mengapa hermeneutika berkembang dalam ilmu-ilmu sosial. Untuk memahami substansi hermeneutika. Perlu diketahui.J. Selanjutnya. Sastra sebagai bagian ilmu humaniora merupakan salah satu bidang yang sangat membutuhkan konsep hermeneutika ini. pada awalnya tampak dalam sejarah teologi. termasuk juga pada disiplin sastra. Keats.itu. yakni yang bersandarkan pada penafsiran dan khotbah Bibel agama Protestan (bdk. Dengan demikian. sehingga karya sastra klasik tidak diinterpreasi secara definitif melainkan terus-menerus. menggunakan sesuatu yang "gelap" ke sesuatu yang "terang". Lefevere (1977: 46) menyebutnya sebagai sumber-sumber asli. Apabila ditelusuri perihal sejarah perkembangan hermeneutika. sebenarnya dapat dikembalikan kepada sejarah filsafat dan teologi. yang paling prinsip diungkapkannya di sini adalah bagaimana sumbangan Husserl tentang "penjelasan" dan "pemahaman" dalam hermeneutika. 1983: 66). Dante. karena hermeneutika tampak dikembangkan dalam kedua disiplin tersebut. Ia menolah sikap yang terlalu ilmiah (Eagleton.

di satu sisi. dialektik. sedangkan Dilthey menekankan pada "ekspresi kehidupan batin" atau makna peristiwa-peristiwa sejarah. selanjutnya perlu dijelaskan bagaimana ketiga varian hermeneutika itu dalam kerangka kajian sastra. yang menganjurkan metode khusus yaitu pemahaman (verstehen)(1). tentunya asumsi-sumsi itu tidak relevan dengan perma-inan kata. hermeneutika tradisional (romantik). Namun. ketiga varian hermeneutika itu berbeda dalam menginterpretasi verstehen-nya. 1997: 47).diterapkan pada objek geisteswissen-schaften (ilmu-ilmu budaya). sebagaimana pengalamaan pengobjektifan diri dalam dokumen. serta pandangan-pandangan dunia (welstancauunganen) (Madison. para pelaku tidak bertindak menurut pola hubungan subjek-objek. yakni penafsiran terhadap kitab-kitab suci. dan ini menjadi ciri khas berbagai tulisan hermeneutika. hermeneutika dialektik. Pada konteks ini dapat diketahui bahwa dalam menafsirkan teks. Dari ketiga varian tersebut. Kenyataan ini dapat mengaburkan substansi hermeneutika yang sesungguhnya sangat bernilai. kedua. gaya tulisan menjadi berbelit-belit dan hampir tidak pernah jelas. Apabila dicermati. tidak satu pun dapat melepaskan diri sepenuhnya dari sumber asalnya. teks (kenangan tertulis). Keseluruhan unsur tersebut bertindak dalam kerangka tindakan komunikatif. Perlu dikemukakan bahwa konsep "memahami" bukanlah menjelaskan secara kausal. dan visional manusia. merespons pesan dari pikiran yang lain dengan bentuk-bentuk yang berisikan makna tertentu (Lefevere. yang pada dasarnya bisa diamati. dan dipahami (verstehen). Ketiga varian yang dimaksudkan Lefevere adalah: pertama. Mereka berpandangan. hingga ontologis. dalam kehidupan akademik saat ini. dijelaskan. Permainan kata yang bertele-tele dan ungkapan khusus turut membuat hermeneutika membosankan. keduanya dapat dikatakan memahami hermeneutika sebagai penafsiran reproduktif. Di sisi lain. yaitu tindakan untuk mencapai pemahaman yang timbal balik. Hermeneutika Tradisional Refleksi kritis mengenai hermeneutika mula-mula dirintis oleh Friedrich Schleiermacher. mulai hermeneutika tradisional. 1988: 41). Untuk itu. Kendati demikian. Schleiermacher lebih menekankan pada "pemahaman pengalaman pengarang" atau bersifat psikologis. yang di dalamnya kita turut ambil bagian. Pandangan Lefevere tentang Hermeneutika dalam Interpretasi Sastra Lefevere (1977: 46-47) memandang bahwa ada tiga varian hermeneutika yang pokok. tetapi berbicara dalam language games (permainan bahasa) yang melibatkan unsur kognitif. Konsekuensinya. hermeneutika ontologis. orang akan sedikit memahami mengapa dialog nyata antar para penganut aliran hermeneutika dan positivis logis begitu sulit untuk diprakarsai. Jika orang menyadari bahwa tulisan yang hermeneutis kebanyakan dibuat dalam gaya seperti itu. dan ketiga. emotif. pandangan mereka ini diragukan oleh Lefevere (1977: 47) . proses versetehen mental melalui suatu pemikiran yang aktif. ketiga varian itu sepakat dengan pendefinisian sastra sebagai objektivisasi jiwa manusia. tetapi lebih pada membawa diri sendiri ke dalam suatu pengalaman hidup yang jauh. dan tapak-tapak kehidupan batin yang lain. Hermeneutika yang mereka kembangkan kemudian dikenal dengan "hermeneutika tradisional" atau "romantik". Dalam dunia kehidupan sosial-budaya. kemudian dilanjutkan Wilhelm Dilthey. Perlu dikemukakan.

1987: 57. teranglah di sini bahwa varian ini tidak mempertimbangkan audience (pembacanya). Varian ini agaknya cenderung mengabaikan kenyataan bahwa antara pengamat dan penafsir (pembaca) tidak akan terjadi penafsiran yang sama karena pengalaman atau latar belakang masing-masing tidak pernah sama. Keraguannya ini agaknya didukung oleh pandangan Valdes (1987: 58) yang menganggap proses seperti itu serupa dengan teori histori yang didasarkan pada penjelasan teks menurut konteks pada waktu teks tersebut disusun dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang definitif. Eagleton. Madison. Baginya. Hal ini menurut Lefevere merupakan soal penting yang harus dilakukan dalam penafsiran teks sastra. Maksudnya. penafsir dapat membawa aktualitas kehidupannya sendiri secara intim menurut pesan yang dmunculkan oleh objek tersebut kepadanya (Lefevere. 1977: 49). apalagi secara spesifik dalam karya sastra karena menurut Eagleton (1983) "dunia" karya sastra bukanlah suatu kenyataan yang objektif. Kelemaham yang ditampakkan dalam varian hermeneutika tradisional. . Peran subjek pembaca sebagai pemberi respon dan makna diabaikan (1977: 47-48). yakni kenyataan seperti yang sebenarnya tersusun dan dialami oleh seorang subjek. tetapi Lebenswelt (bahasa Jerman). Cara semacam itu tentu saja sangat sulit diterapkan pada ilmu-ilmu sosial dan humaniora (1977: 48). sebagaimana diungkapkan oleh Lefevere. Jika diapresisasi secara lebih jauh. ilmu-ilmu alam lebih mendekati objeknya dalam erklaren (2). Yang jelas. Menurut Lefevere. varian hermeneutika tradisional ini juga menganut pemahaman yang salah tentang penciptaan. Hermeneutika Dialektik Varian hermeneutika dialektik ini sebenarnya dirumuskan oleh Karl Otto Apel. Valdes. 1977: 49). karena berpegang pada cara berpikir kaum positivis yang menganggap hermeneutika (khususnya versetehen) hanya "menghidupkan kembali" (mereproduksi). 1983: 59. Apel mengatakan bahwa interpretasi tingkah laku harus dapat dipahami dan diverifikasi secara intersubjektif dalam konteks kehidupan yang merupakan permainan bahasa (Lefevere. 1988: 41). Dengan demikian. melainkan identik dengan rekonstruksi struktur-struktur yang sudah objektif. Lefevere membenarkan bahwa interpretasi tidak mungkin identik dengan penghidupan kembali. dan perbedaan interpretasi merupakan suatu hal yang dapat terjadi. Lefevere tampak juga ingin menyatakan adanya cara-cara pemahaman yang berbeda pada ilmu-ilmu alam (naturwissen schaften). Ia mendefinisikan versetehen tingkah laku manusia sebagai suatu yang dipertentangkan dengan penjelasan berbagai kejadian alam.karena dipandang sangat sulit dimengerti bagaimana proses ini dapat diuji secara inter-subjektif. dan ilmu-ilmu sosial serta humanistis (geisteswissenschaften) lebih mendekati objeknya dengan versetehen. varian ini terlalu berasumsi bahwa semua pembaca memiliki pengetahuan dan penafsiran yang sama terhadap apa yang diungkapkan. perlu dikatakan bahwa cara kerja ilmu-ilmu alam lebih banyak menggunakan positivisme logis dan kurang menggunakan hermeneutika. Sejalan dengan Betti. Selain itu.

Penjelasan lebih merupakan tatanan penting dan sah dalam pemahaman yang tujuan akhirnya adalah pemahaman diri (Madison. Begitu pun ketika dilakukan pemahaman terhadap teks. soal ini dipertimbangkan sebagai masalah dalam filsafat ilmu (filsafat pengetahuan). Pengalaman laboratorium pun turut mempengaruhi ilmuwan dalam memahami apa saja yang tengah ditelitinya. lebih jauh Lefevere (1977: 49) menilai bahwa secara keseluruhan hermeneutika dialektik yang dirumuskan Apel sebenarnya cenderung mengintegrasikan berbagai komponen yang tidak berhubungan dengan hermeneutika itu sendiri secara tradisional. formalis. Ia menyatakan bahwa suatu pemahaman yang hanya berdasar pada analogi-analogi dan metafor- . dalam sudut pandang hermeneutika. Di sisi lain. Dalam hubungan itu. Jika ilmuwan mencoba memahami fenomena tertentu. dan poststrukturalis atau dekonstruksi (1987: 57-59). Dia mengungkapkan bagaimana pandangan Apel dan sumbangan Husserl. Namun. Ia menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat memahami sesuatu (verstehen) tanpa pengetahuan faktual secara potensial. Inti varian hermeneutika dialektik tersebut-yang tidak mempertentangkan "penjelasan" dengan "pemahaman"-sejalan dengan pandangan Valdes. bagaimana ia menganggap penting "penjelasan" dan "pemahaman" untuk menjelaskan prinsip interpretasi dalam beberapa teori utamanya. sekaligus tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial tanpa pemahaman intersubjektif. Secara umum. Madison mengatakan bahwa penjelasan bukanlah suatu yang secara murni atau semata-mata berlawanan dengan pemahaman. dalam hal ini menarik jika mencermati pandangan Lefevere. Pada intinya. Dalam hal ini teranglah bahwa "penjelasan" dan pemahaman" dibutuhkan. hermeneutika filosofis. Madison menyatakan bahwa penjelasan bukanlah sesuatu yang berlawanan dengan pemahaman (1988: 47-48). 1988: 49). Apel tampakanya mencoba memadukan antara penjelasan (erklaren) dan pemahaman (verstehen). pandangan Apel tersebut sebenarnya mengandung dualitas. keduanya harus saling mengimplikasikan dan melengkapi satu sama lain. Dengan demikian. jelaslah bahwa verstehen pada dasarnya berfungsi untuk memahami objek kajiannya. 1977: 50) mengatakan bahwa semua yang mencirikan situasi penetapan dan pemahaman dalam suatu percakapan memerlukan hermeneutika. Dalam pandangannya. dan bukan pula merupakan suatu yang bisa menggantikan pemahaman secara keseluruhan. Dengan demikian. Gadamer (Lefevere.Sehubungan dengan hal itu. baik pada ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (geistewissenschaften) maupun ilmu-ilmu alam (naturwissen-shacften) (Lefevere. Pandangan Apel itu dapat dinilai sebagai pikiran modern. yakni teori historis. Dalam varian hermeneutika dialektik ini. ia akan menghubungkan dengan latar belakang aturan-atuaran yang diverifikasi secara intersubjektif sebagaimana yang dikodifikasi pada hukum-hukum dan teori-teori. Masalah inilah yang banyak dikupas secara panjang lebar oleh Madison. 1977: 49). karena dia mencoa mempertemukan kedua kutub tersebut sebagaimana yang juga diakui oleh Madison (1988: 40). Selanjutnya. definisi verstehen yang dikemukakan Apel mengimplikasikan pengertian bahwa tidak ada yang tidak dapat dilakukan ilmuwan. Di satu sisi. tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial.

Dalam hal ini Lefevere sepertinya menganggap perlu menentukan batas kritik dengan interpretasi. 1987: 61-62.metafor dapat menimbulkan kesenjangan. dia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis. yang bertitik tolak pada teks. masalah hermeneutika merupakan ma-salah aplikasi yang berhenti pada semua verstehen. Gadamer tidak lagi memandang konsep verstehen sebagai kosep metodologis. Dalam sudut pandang Gadamer. Lefevere (1977: 50) menganggap bahwa varian ketiga ini masih mencampuradukkan kritik dengan interpretasi. 1988: 45). tetapi sebagai jalan "produktif". mengingat dalam memahami sastra. Kendatipun memperlihatkan kemajuan pandang yang luar biasa. Hermeneutika Ontologis Varian yang terakhir adalah hermeneutika ontologis. Pandangannya ini dapat dimaklumi. Kendatipun menurutnya hermeneutika adalah pemahaman. Dalam hal ini. merupakan jalan keberadaan kehidupan manusia itu sendiri yang asli. Dengan demikian. yakni teks merupakan komunikasi dalam dan melalui jarak (Valdes. dalam varian ini Gadamer mengembalikan peran subjek pembaca selaku pemberi makna-yang hal ini dinaifkan dalam hermeneutika tradisional. Teks memainkan sebuah karakteristik yang fundamental dari satusatunya historisitas pengalaman manusia. Berbeda halnya dengan apresiasi Lefevere. menurut Gadamer. melainkan memandang verstehen sebagai pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis. Maksudnya. jauh melebihi sebuah kasus tertentu dari komunikasi intersubjektif. dan Ricoeur (1987: 59) Konsep hermeneutika ontologis Gadamer. tetapi seharusnya juga konteks dan subjek penganalisisnya. Atas dasar itulah Lefevere berpandangan bahwa verstehen tidak dapat dipakai sebagai metode untuk mendekati sastra secara tuntas. dalam varian ini tampak Gadamer lebih mementingkan "rekreasi". Dengan demikian. ia tidak memandang proses pemahaman makna terhadap teks itu sebagai jalan "reproduktif". Varian hermeneutika ini menganggap dirinya bebas dari hambatanhambatan konsep ilmiah yang bersifar ontologis (Lefevere. pandangan Gadamer juga masih tidak lepas dari kritikan yang diajukan Lefevere. 1977: 50). tampak di sini Gadamer mengikuti filsafat Heidegger yang berusaha mencari hubungan dengan fenomena. dapat dikatakan bahwa realitas teks adalah realitas yang sangat kompleks yang tidak cukup dipahami dalam dirinya sendiri. didukung sepenuhnya dalam kata-kata Ricoeur. pemahaman tidak dapat dilakukan hanya dengan berpijak pada teks semata. Ia menyatakan bahwa teks merupakan sesuatu yang bernilai. Habermas. agaknya Gadamer menolak konsep hemeneutika sebagi metode. Sebagai penulis kontemporer dalam bidang hermeneutika yang sangat terkemuka. Dialektika dari hermeneutika filosofis dipandang merupakan inti yang menyatukan semua kelompok teori yang dilontarkan oleh para pemikir yang berbeda-beda. Oleh karena itu. Valdes justru melihat bahwa apa yang dikembangkan Gadamer dalam Hermenetika filosofis itu dianggap menjadi basis kritik sastra yang lebih memuaskan. seperti Gadamer. Aliran hermeneutika ini digagas oleh Hans-Georg Gadamer. Dalam mengemukakan deskripsinya. ia bertolak dari pemikiran filosof Martin Heidegger. Bagi Lefevere. Madison. . Verstehen.

Hermeneutika dan Interpretasi Sastra Hermeneutika yang berkembang dalam interpretasi sastra sangat berkait dengan perkembangan pemikiran hermeneutika. dialektik. niscaya akan lebih memungkinkan adanya pemahaman yang memadai tentang hermeneutika dalam sastra. 1983: 59-60). Dalam perkembangan teoriteori sastra kontemporer juga terlihat bahwa ada kecenderungan yang kuat untuk meletakkan pentingnya peran subjek pembaca (audience) dalam menginterpretasi makna teks. mengingat objek studi sastra itu adalah karya estetik. Beranjak dari apa yang dikatakan Lefevere jelaslah bahwa sesungguhnya diperlukan pengkhususan jika hermeneutika mau diterapkan dalam sastra. 1987: 60). Untuk memahami hermeneutika dalam interpretasi sastra. Selama ini. Namun. memang diperlukan pemahaman sejarah hermeneutika. hermenetuika fenomenologis merupakan sebuah teori interpretasi reflektif yang didasarkan pada perkiraan filosofis fenomenologis. ia menyatakan bahwa setiap pertanyaan yang dipertanyakan yang berkenaan dengan teks yang akan diinterpretasi adalah sebuah pertanyaan tentang arti dan makna teks (Valdes. dengan pemahaman tiga varian hermeneutika tersebut. terutama megenai tiga varian hermeneutika seperti yang dikemukakan Lefevere (hermeneutika tradisional. Menariknya. Yang jelas. yang pemahamannya didasarkan pada basis filsafat fenomenologi Heidegger. Valdes (1987: 59-63) menyebut hal ini sebagai hermeneutika fenomenologi. dan Ricoeur. jika kita menerima hermeneutika sebagai sebuah teori interpretasi reflektif. sebagaimana dikemukakan. pengalaman membaca. karena hakikat studi sastra itu sendiri sebenarnya tidak dari interpretasi teks sastra berdasar pemahaman yang mendalam. Dasar dari hermeneutika fenomenologis adalah mempertanyakan hubungan subjek-objek dan dari pertanyaan inilah dapat diamati bahwa ide dari objektivitas perkiraan merupakan sebuah hubungan yang mencakup objek yang tersembunyi. Hubungan ini bersifat mendasar dan fundamental (being-in-the-world) (Eagleton. terutama dalam sejarah filsafat dan teologi karena pemikiran hermeneutika mula-mula muncul dalam dua bidang tersebut. Gadamer. Arti dan makna teks itu diperoleh dari upaya pencarian dalam teks berdasarkan bentuk. dan terkait dengan nama-nama tokoh Heidegger. dalam hermeneutika fenomenologis. hermeneutika merupakan salah satu model pamahaman yang paling representatif dalam studi sastra. Dalam hubungan tersebut. Kecenderungan itu sangat kuat tampak pada hermeneutika ontologis yang dikembangkan oleh Gadamer. sebagaimana dikatakan Lefevere (1977: 51). perlu pula disebut seorang tokoh bernama Paul Rocoeur. Ia dalah seorang tokoh setelah Gadamer yang dalam perkembangan mutakhir banyak mengembangkan hermeneutika dalam bidang sastra dan meneruskan pemikiran filosofi fenomenologis. sejarah. karena sastra merupakan objektivitas jiwa manusia. pernyataan Ricoeur tersebut tampak mengarah pada suatu pandangan bahwa interpretasi itu pada dasrnya untuk mengeksplikasi jenis being-in- . Untuk itu. Jika dicermati. hermeneutika tidak mempunyai status khusus dan bukan merupakan model pemahaman yang secara khusus begitu saja diterapkan dalam sastra. dan selfreflection dari pelaku interpretasi. dan ontologis).

untuk memahami suatu objek. Ia juga menegaskan bahwa pemahaman yang paling baik akan terjadi manakala interpreter berdiri pada self-understanding. gerak melingkar dari pemahaman ini amat penting karena gagasan ini menganggap bahwa untuk memahami objek dibatasi oleh konteks-konteks. melainkan perlu dilakukan terus-menerus. barangkali interpreter perlu menyadari bahwa sebuah pemahaman dan interpretasi teks pada dasarnya bersifat dinamis. dan ontologis). Tiga varian hermeneutika (tradisional. kemudian pra-paham itu perlu disadari lebih lanjut lewat makna objek yang diberikan. sebetulnya yang terpenting bagi interpreter adalah bagaimana hermeneutika itu dapat diterapkan secara kritis agar tidak ketinggalan zaman. Bagi Ricoeur. Dalam hubungan ini. membaca sastra melibatkan pembaca dalam aktivitas refigurasi dunia. ada satu hal prinsip lagi yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pemahaman-khususnya dalam pemahaman terhadap teks sastra-adalah gagasan "lingkaran hermeneutika" yang dicetuskan oleh Dilthey dan yang diterima oleh Gadamer. Pra-paham yang dimiliki untuk memahami objek tersebut bukanlah suatu penjelasan. dialektik. Selain itu. 1987: 64). pemahaman yang dicapai pada masa kini. Dengan demikian. untuk memahami bagian-bagian harus dalam konteks keseluruhan dan sebaliknya. setiap teks sastra senantiasa terbuka untuk diinterpretasi terus-menerus. berbagai pertanyaan moral. Dalam konteks ini. dan kualitas pembaca (interpreter). Proses pemahaman dan interpretasi teks bukanlah merupakan suatu upaya menghidupkan kembali atau reproduksi. Misalnya. karena interpretasi terhadap teks itu sebenarnya tidak pernah tuntas dan selesai. Dalam studi sastra. pembaca harus memiliki suatu prapaham. dan sebagai konsekuensi dari aktivitas ini. masing-masing memiliki kelemahan. Dikatakan demikian karena hermeneutika memberikan model pemahaman -dan cara pemaknaan-yang sangat mendalam dan memacu interpreter pada pemahaman yang substansial. Sebuah interpretasi dalam teks sastra bukanlah merupakan interpretasi yang bersifat definitif. Konsekuensinya. Lingkaran pemahaman ini merupakan "lingkaran produktif. . Dengan perkataan lain. pemahaman ini berbentuk lingkaran. Dengan demikian. dan estetis tentang dunia tindakan menjadi pertanyaan yang harus dijawab (Valdes." Maksudnya. melainkan upaya rekreatif dan produktif. di masa depan akan menjadi pra-paham baru pada taraf yang lebih tinggi karena adanya pengayaan proses kognitif. sebenarnya cukup beralasan karena dalam kenyataannya sastra membutuhkan pemahaman yang kompleks-yang berkaitan dengan teks. konteks. Oleh karena itulah penafsiran terhadap teks dalam studi sastra pada prinsipnya terjadi dalam prinsip yang berkesinambungan. Penutup Keberadaan konsep hermeneutika sangat signifikan dalam interpretasi sastra. filosofis. melainkan suatu syarat bagi kemungkinan pemahaman. dalam memahami keseluruhan harus memahami bagian per bagian.the-world (Dasein) yang terungkap dalam dan melalui teks. Pandangan Lefevere bahwa hermeneutika tidak dapat dipakai sebagai dasar ilmiah studi sastra atau sebagai metode pemahaman teks sastra yang utuh.

Istilah verstehen diajukan oleh Wilhelm Dilthey sebagai metode yang digunakan untuk mendekati produk-produk budaya. kiranya penting menyadari bahwa interpreter harus dapat membawa aktualitas kehidupannya sendiri secara intim menurut pesan yang dimunculkan oleh objek tersebut kepadanya. tetapi ia sudah mengikuti pemikiran hermeneutika mutakhir yang berada dalam kerangka ontologis. M. 2. A. Istilah erklaren ini mula-mula juga diajukan oleh Wilhelm Dilthey sebagai metode yang digunakan untuk mendekati objek ilmu-ilmu alam. London: Basil Blackwell. Madison. Secara keseluruhan. Amsterdam: Van Gorcum. 1988. yakni menjelaskan suatu kejadian menurut penyebabnya. Phenomenological Hermeneutical Hermeneutics and the Study of Literature. Literary Theory: An Introduction. Growth. . Dalam interpretasi sastra. Relevance and Transmition. G. Assen. Oleh karena itu. The Hermeneutics of Postmodernity: Figures and Themes. London: University of Toronto Press. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press.J. 1977. Lefevere. Daftar Pustaka Eagleton. 1987. 1983.B. hermeneutika tidak lagi hanya diletakkan dalam kerangka metodologis. T. Literary Knowledge: A Polemical and Programmatic Essay on Its Nature.maka peran subjek sangat menentukan dalam interpretasi teks sebagai pemberi makna. dapatlah dinyatakan bahwa hermeneutika memang dapat diterapkan dalam interpretasi sastra. Valdes. Catatan 1. yakni menemukan dan memahami makna di dalamnya yang dapat dilakukan dengan menempatkannya dalam konteks.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful