P. 1
Aliran Khawarij Dan Ajarannya

Aliran Khawarij Dan Ajarannya

|Views: 503|Likes:
Published by twin fitersya S.Ei

More info:

Published by: twin fitersya S.Ei on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

1

MAKALAH
ILMU KALAM
“Aliran Khawarij dan ajarannya”


Di susun oleh:
1. Abdul rab ar rasul
2. Riki Mardiansya

Dosen pembimbing
Drs. Suansar Khatib,SH.MAg

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Bengkulu (STAIN)
kota Bengkulu
Tahun ajaran 2011/2012
2

KHAWARIJ DAN AJARANNYA
A. Pengertian Khawarij
Secara bahasa kata khawarij berarti orang-orang yang telah keluar. Kata ini
dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar
dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya
yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu‟awiyyah yang
dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ).
Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih
suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang
menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah, sesuai dengan
firman Allah

¬;g`4Ò +EE4¯- }4` O@O;=EC
+O=O^¼4^ 47.4¯g-¯- ´V=¯¯O··
*.- ¯ +.-4Ò ´Ò+74O
g14:g¬^¯) ^g´_÷
. “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-
Nya”.(QS. Al-Baqarah : 207). Selain itu, ada juga istilah lain yang dipredikatkan
kepada mereka, seperti Haruriah, yang dinisbatkan pada nama desa di Kufah, yaitu
Harura, dan Muhakkimah, karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada
kalimat “la hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), atau “la hakama
illa Allah” (tidak ada pengantara selain Allah).
Secara historis Khawarij adalah Firqah Bathil yang pertama muncul dalam
Islam sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Fatawa,
“Bid‟ah yang pertama muncul dalam Islam adalah bid‟ah Khawarij.”
3

Kemudian hadits-hadits yang berkaitan dengan firaq dan sanadnya benar
adalah hadits-hadits yang berkaitan dengan Khawarij sedang yang berkaitan dcngan
Mu‟tazilah dan Syi‟ah atau yang lainnya hanya terdapat dalam Atsar Sahabat atau
hadits lemah, ini menunjukkan begitu besarnya tingkat bahaya Khawarij dan
fenomenanya yang sudah ada pada masa Rasulullah saw. Di samping itu Khawarij
masih ada sampai sekarang baik secara nama maupun sebutan (laqob), secara nama
masih terdapat di daerahOman dan Afrika Utara sedangkan secara laqob berada di
mana-mana. Hal seperti inilah yang membuat pembahasan tcntang firqah Khawarij
begitu sangat pentingnya apalagi buku-buku yang membahas masalah ini masih
sangat sedikit, apalagi Rasulullah saw. menyuruh kita agar berhati-hati terhadap
firqah ini.

B. Awal Mula Munculnya Dasar-Dasar Pemikiran Khawarij
Sebenarnya awal mula kemunculan pemikiran khawarij, bermula pada saat
masa Rasulullah SAW.
Ketika Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam membagi-bagikan harta
rampasan perang di desa Ju‟ronah -pasca perang Hunain- beliau memberikan seratus
ekor unta kepada Aqra‟ bin Habis dan Uyainah bin Harits. Beliau juga memberikan
kepada beberapa orang dari tokoh quraisy dan pemuka-pemuka arab lebih banyak
dari yang diberikan kepada yang lainnya. Melihat hal ini, seseorang (yang disebut
Dzul Khuwaisirah) dengan mata melotot dan urat lehernya menggelembung berkata:
“Demi Allah ini adalah pembagian yang tidak adil dan tidak mengharapkan wajah
Allah”. Atau dalam riwayat lain dia mengatakan kepada Rasulullah shalallahu „alaihi
wasallam: “Berbuat adillah, karena sesungguhnya engkau belum berbuat adil!”.
Sungguh, kalimat tersebut bagaikan petir di siang bolong. Pada masa generasi
terbaik dan di hadapan manusia terbaik pula, ada seorang yang berani berbuat lancang
dan menuduh bahwa Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam tidak berbuat adil.
Mendengar ucapan ini Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dengan wajah yang
memerah bersabda:
4

“Siapakah yang akan berbuat adil jika Allah dan rasul-Nya tidak berbuat
adil? Semoga Allah merahmati Musa. Dia disakiti lebih dari pada ini, namun dia
bersabar.” (HR. Bukhari Muslim)
Saat itu Umar bin Khathab radhiallahu „anhu meminta izin untuk
membunuhnya, namun Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam melarangnya. Beliau
menghabarkan akan munculnya dari turunan orang ini kaum reaksioner (khawarij)
sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikutnya:
“Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya, salah seorang di antara
kalian akan merasa kalah shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka; puasanya
dengan puasa mereka; mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari
buruannya.” (HR. al-Ajurri, Lihat asy-Syari‟ah, hal. 33)
Demikianlah Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam mensinyalir akan
munculnya generasi semisal Dzul Khuwaisirah -sang munafiq-. Yaitu suatu kaum
yang tidak pernah puas dengan penguasa manapun, menentang penguasanya
walaupun sebaik Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam.
Dikatakan oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bahwa mereka akan
keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Yaitu masuk dari
satu sisi dan keluar dari sisi yang lain dengan tidak terlihat bekas-bekas darah
maupun kotorannya, padahal ia telah melewati darah dan kotoran hewan buruan
tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bagus
bacaan al-Qur‟annya, namun ia tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca.
“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada dari kaumku, orang yang membaca
al-Qur‟an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka akan keluar dari Islam
ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Kemudian mereka tidak
akan kembali padanya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk.” (HR. Muslim)
Dari riwayat ini, kita mendapatkan ciri-ciri dari kaum khawarij, yakni mereka
dapat membaca al-Qur‟an dengan baik dan indah; tapi tidak memahaminya dengan
5

benar. Atau dapat memahaminya tapi tidak sampai ke dalam hatinya. Mereka berjalan
hanya dengan hawa nafsu dan emosinya.
Ciri khas mereka lainnya adalah: “Mereka membunuh kaum muslimin dan
membiarkan orang-orang kafir” sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
“Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini satu kaum; yang
membaca al-Qur‟an, namun tidak melewati kerongkongannya. Mereka membunuh
kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka akan keluar dari
Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Jika sekiranya aku
menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum „Aad.” (HR.
Bukhari Muslim)
1

Sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap seorang yang shalih dan
keluarganya yaitu Abdullah –anak dari shahabat Khabbab bin Art radhiallahu „anhu.
Mereka membantainya, merobek perut istrinya dan mengeluarkan janinnya. Setelah
itu dalam keadaan pedang masih berlumuran darah, mereka mendatangi kebun kurma
milik seorang Yahudi. Pemilik kebun ketakutan seraya berkata: “Ambillah
seluruhnya apa yang kalian mau!” Pimpinan khawarij itu menjawab dengan arif:
“Kami tidak akan mengambilnya kecuali dengan membayar harganya”. (Lihat al-
Milal wan Nihal)
Maka kelompok ini sungguh sangat membahayakan kaum muslimin, terlepas
dari niat mereka dan kesungguhan mereka dalam beribadah. Mereka menghalalkan
darah kaum muslimin dengan kebodohan. Untuk itu mereka tidak segan-segan
melakukan teror, pembunuhan, pembantaian dan sejenisnya terhadap kaum muslimin
sendiri.
Ciri berikutnya adalah: kebanyakan di antara mereka berusia muda, dan bodoh
pemikirannya karena kurangnya kedewasaan mereka. Mereka hanya mengandalkan
semangat dan emosinya, tanpa dilandasi oleh ilmu dan pertimbangan yang matang.

1
Rozak,Abdul. Ilmu kalam (untuk UIN,STAIN,PTAIS),Bandung
6

Sebagaimana yang terdapat dalam riwayat lainnya, ketika Rasulullah shalallahu
„alaihi wasallam bersabda:
“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda umurnya, bodoh
pemikirannya. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik.
Keimanan mereka tidak melewati kerongkongannya, mereka keluar dari agama ini
seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Di mana saja kalian temui mereka,
bunuhlah mereka. Sesungguhnya membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada
hari kiamat.” (HR. Muslim)
Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam menjuluki mereka dengan gelaran yang
sangat jelek yaitu “anjing-anjing neraka” sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abi
Aufa bahwa dia mendengar Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:
“ Khawarij adalah anjing-anjing neraka. “ (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah
dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Dlilalul Jannah)
C. Sejarah Kelahiran Khawarij
Seperti yang disinggung sebelumnya dalam pendahuluan bahwa Khawarij
lahir dari komponen paling berpangaruh dalam khilafah Ali ra. Yaitu dari tubuh
militer pimpinan Ali ra. sendiri. Pada saat kondisi politik yang makin tidak terkendali
dan dirasa sulit untuk mereda dengan prinsip masing-masing. Maka kubu Mu‟awiyah
ra. yang merasa akan dikalahkan dalam perang syiffin menawarkan untuk mengakhiri
perang saudara itu dengan “Tahkim dibawah Al-Qur‟an”.
Semula Ali ra. Tidak menyetujui tawaran ini, dengan prinsip bahwa kakuatan
hukum kekhilafahannya sudah jelas dan tidak dapat dipungkiri. Namun sebagian kecil
dari kelompok militer pimpinannya memaksa Ali ra. menerima ajakan kubu
Mu‟awiyah ra. Kelompok ini terbukti dapat mempengaruhi pendirian Ali ra. Bahkan
saat keputusan yang diambil Ali ra. Untuk mengutus Abdullah bin Abbas ra.
menghadapi utusan kubu lawannya Amar bin al-Ash dalam tahkim, Ali ra. malah
mengalah pada nama Abu Musa al-Asy‟ary yang diajukan kelompok itu
menggantikan Abdullah bin Abbas ra.
7

Anehnya, kelompok ini yang sebelumnya memaksa Ali ra. untuk menyetujui
tawaran kubu Mu‟awiyah ra. Untuk mengakhiri perseteruannya dengan jalan Tahkim.
Pada akhirnya setelah Tahkim berlalu dengan hasil pengangkatan Mu‟awiyah ra.
Sebagai khilafah menggantikan Ali ra. Mereka kemudian menilai dengan sepihak
bahwa genjatan senjata dengan cara Tahkim tidak dapat dibenarkan dan illegal dalam
hukum Islam.
Artinya menurut mereka, semua kelompok bahkan setiap individu yang telah
mengikuti proses itu telah melanggar ketentuan syara‟, karena telah melanggar
prinsip dasar bahwa setiap keputusan berada pada kekuasaan Tuhan (lâ hukma illa
lillâh). (Abu Zahrah: 60)
Dan sesuai dengan pokok-pokok pemikiran mereka bahwa setiap yang
berdosa maka ia telah kafir, maka mereka menilai bahwa setiap individu yang telah
melangar prinsip tersebut telah kafir, termasuk Ali ra. Sehingga Mereka memaksanya
untuk bertobat atas dosanya itu sebagaimana mereka telah bertobat karena ikut andil
dalam proses Tahkim. Demikian watak dasar kelompok ini, yaitu keras kepala dan
dikenal kelompok paling keras memegang teguh prinsipnya. Inilah yang sebenarnya
menjadi penyabab utama lahirnya kelompok ini. Khawarij adalah kelompok yang
didalamnya dibentuk oleh mayoritas orang-orang Arab pedalaman (a‟râbu al-
bâdiyah). Mereka cenderung primitive, tradisional dan kebanyakan dari golongan
ekonomi rendah, namun keadaan ekonomi yang dibawah standar tidak mendorong
mereka untuk meningkatkan pendapatan. Ada sifat lain yang sangat kontradiksi
dengan sifat sebelumnya, yaitu kesederhanaan dan keikhlasan dalam
memperjuangkan prinsip dasar kelompoknya.
Walaupun keikhlasan itu ditutupi keberpihakan dan fanatisme buta. Dengan
komposisi seperti itu, kelompok ini cenderung sempit wawasan dan keras pendirian.
Prinsip dasar bahwa “tidak ada hukum, kecuali hukum Tuhan” mereka tafsirkan
secara dzohir saja. Bukan hanya itu, sebenarnya ada “kepentingan lain” yang
mendorong dualisme sifat dari kelompok ini. Yaitu; kecemburuan atas kepemimpinan
golongan Quraisy. Dan pada saatnya kemudian Khawarij memilih Abdullâh bin
8

Wahab ar-Râsiby yang diluar golongan Quraisy sebagai khalifah. Bahkan al-
Yazidiyah salah satu sekte dalam Khawarij, menyatakan bahwa Allah sebenarnya
juga mengutus seorang Nabi dari golongan Ajam (diluar golongan Arab) yang
kemudian menghapus Syari‟at Nabi Muhammad SAW.
2

Nama khawarij diberikan pada kelompok ini karena mereka dengan sengaja
keluar dari barisan Ali ra. dan tidak mendukung barisan Mu‟awiyah ra. namun dari
mereka menganggap bahwa nama itu berasal dari kata dasar kharaja yang terdapat
pada. yang merujuk pada seseorang yang keluar dari rumahnya untuk hijrah di jalan
Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya mereka juga menyebut kelompoknya sebagai
Syurah yang berasal dari kata Yasyri (menjual), sebagaimana disebutkan dalam.
tentang seseorang yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridlo Allah Selain itu
mereka juga disebut “Haruriyah” yang merujuk pada “Harurah‟ sebuah tempat di
pinggiran sungai Furat dekat kota Riqqah. Ditempat ini mereka memisahkan diri dari
barisan pasukan Ali ra. saat pulang dari perang Syiffin.
Kelompok ini juga dikenal sebagai kelompok “Muhakkimah”. Sebagai kelompok
dengan prinsip dasar “lâ hukma illa lillâh”.
D. Latar Belakang Ekstremitas Khawarij
Seperti yang sudah diungkap di atas, Khawarij memiliki pemikiran dan sikap
yag ekstrem, keras, radikal dan cederung kejam. Misalnya mereka menilai „Ali ibn
Abi Thalib salah karena menyetujui dan kesalahan itu membuat „Ali menjadi kafir.
Mereka memaksa „Ali mengakui kesalahan dan kekufurannya untuk kemudian
bertaubat. Begitu „Ali menolak pandangan mereka walaupun dengan mengemukakan
argumentasi, mereka menyatakkan keluar dari pasukan „Ali dan kemudian melakukan
pemberontakan dan kekejaman-kekejaman. Yang menjadi sasaran pengkafiran tidak
hanya „Ali bi Abi Thalib sendiri, tapi juga Mu‟awiyah ibn Abi Sufyan, „Amru ibn
„Ash, Abu Musa al-Asy‟ari dan lain-lain yang mendukung mereka. Dalam
perkembangan selanjutnya mereka perdebatkan apakah „Ali hanya kafir atau musyrik.

2
W.montgomeryy Watt.Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam.Umar Besalim, Jakarta
9

Untuk mendukung pandangan mereka baik dalam aspek politik maupun
teologi, mereka menggunakan ayat-ayat Al-Qur‟an. Misalnya ; kelompok al-
Azariqah, tidak hanya menyatakan „Ali kafir, tapi juga mengatakan ayat; Wa min an-
nâsi man yu‟jibuka qauluhu fi al-hayâh ad-dunya wa yusyhidullah „ala mâ fi qalbihi
wa huwa aladdu al-khshâm) diturunkan Allah mengenai „Ali sedangkan tentang
„Abdurrahman ibn Muljam yang membunuh „Ali Allah menurunkan ayat (wa
minannâsi man yasyri nafsahu ibtighâa mardhâtillah). Mereka gampang sekali
menggunakan ayat-ayat Al Qur‟an untuk menguatkan pendapat-pendapat mereka.
Yang menarik kita teliti adalah, latar belakang apa yang menyebabkan mereka
memiliki pandangan seperti itu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu
melakukan analisis terhadap pengertian istilah Qurrâ‟ atau Ahl al– Qurrâ‟, sebutan
mereka sebelum menjadi Khawarij. Apakakah istilah itu berarti para penghafal Al-
Qur‟an atau orang orang kampung. Kalau sekiranya yang benar adalah yang pertama
maka persoalannya adalah persoalan teologis murni (persoalan intepretasi yang
sempit dan picik), tapi kalau yang benar adalah yang kedua persoalannya adalah
persoalan sosial politik. Penulis kira inilah kata kunci yang dapat membantu kita
memahami latar belakang ekstremitas Khawarij.
Melihat pemahaman Khawarij yang dangkal dan literer terhadap ayat-ayat Al-
Qur‟an yang mereka jadikan dalil membenarkan pandangan dan sikap politik mereka,
maka penulis lebih cenderung mengartikan istilah Qurrâ‟ bukan sebagai para
penghafal Al-Qur‟an, tetapi orang-orang desa. Nourouzzaman Shiddiqi, sejarawan
Muslim dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah menulis paper tenang
Khawarij waktu studi di McGill University, Canada menyatakan bahwa Ahlu al-
Qurrâ‟ lebih tepat diartikan sebagai „para penetap‟ walaupun Ahl al-Qurrâ‟ bisa juga
berarti para penghafal Al-Qur‟an.
Uraian yang panjang lebar dan agak memuaskan tentang pengertian istilah al-
Qurrâ‟ ditulis oleh Mahayadin Haji Yahaya dalam bukunya Sejarah Awal Perpecahan
Umat Islam (11-78 H/632-698 M) yang berasal dari disertasi doktor yang
bersangkutan di Exterter University, England dengan judul bahasa Inggris The
10

Origins of The Khawarij. Menurut Yahaya para sejarawan seperti Sayf, at-Thabary
dan Ibn „Atsam cenderung menafsirkan al-Qurrâ‟ sebagai para penghafal Al-Qur‟an.
Kekeliruan itu mungkin muncul terpegaruh dengan ucapan Sa‟idi ibn ‟Ash dalam
sebuah khutbah di Masjid besar di Kufah yang mengatakan; “Ahabbukum ilayya
akramukum li kitâbillah.
Istilah-istilah lain yang dipakai oleh para sejarawan menunjukkan kelompok
yang sama yang melakukan pemberontakan di Kufah waktu itu adalah asyrâf, wujûh,
sufahâ, rijâl min qurâ‟ ahli al-kufah, khyar ahli al-kufah, jama‟ah ahli al kufah dan
lain-lain yang tidak satu pun yang menunjukkan makna penghafal-penghafal Al-
Qur‟an. Tetapi yang jelas ialah bahwa al-Qurra‟ itu ialah golongan manusia di Kufah,
atau sebagian dari golongan asyrâf, orang-orang kenamaan dan pemimpin-pemimpin
Kufah yang tinggal atau menguasai kampung-kampung di Irak dan disifatkan sebagai
orang-orang yang bodoh. Sebagian dari mereka ini telah disingkirkan dari jabatan-
jabatan penting dalam masa pemerintahan Khalifah „Utsman.
Sejalan dengan itu Harun Nasution menulis bahwa kaum Khawarij pada
umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Hidup di padang pasir yang tandus
membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati
serta berani, dan bersikap merdeka, mereka tetap bersikap bengis, suka kekerasan dan
tak gentar mati. Sebagai orang Badawi mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan.
Ajaran-ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Al-Qur‟an dan Hadits, mereka
artikan menurut lafaznya dan haus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman
dan paham mereka merupakan iman dan paham orang sederhana dalam pemikiran
lagi sempit akal serta fanatik. Iman yang tebal, tetapi sempit, ditambah lagi dengan
sikap fanatik ini membuat mereka tidak bisa mentolelir penyimpangan terhadap
ajaran Islam menurut paham mereka, walau pun penyimpangan dalam bentuk kecil.
Di sinilah letak penjelasannya, bagaimana mudahnya kaum Khawarij terpecah belah
menjadi golongan-golongan kecil serta dapat pula dimengerti tentang sikap mereka
yang terus menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa Islam dan
umat Islam yang ada di zaman mereka.
11

Khawarij tidak hanya mengkafirkan „Ali bn Abi Thalib tapi juga Kalifah
„Utsman ibn „Affan mulai tahun ketujuh pemerintahannya. Pengkafiran terhadap
„Utsman (masalah teologis) juga berlatar belakang politik (kepentingan), tepatnya
masalah tanah-tanah Sawad yang luas di wilayah Sasaniyah yang ditinggalkan oleh
para pemiliknya. Di sekitar tanah yang ditinggalkannya itu, tulis Shaban, konflik itu
terpusatkan. Tanah-tanah itu tidak dibagi-bagi, tetapi dikelola oleh kelompok Qurrâ‟,
dan penghasilannya dibagi-bagi antara para veteran perang penaklukan terhadap
wilayah tersebut. Kelompok Qurrâ‟ itu menganggap diri mereka sendiri hampir-
hampir seperti pemilik sah atas kekayaan-kekayaan yang sangat besar ini. „Utsman
tidak berani menentang hak yang dirampas ini secara terbuka, tetapi menggunakan
pendekatan secara berangsur-angsur. Antara lain „Utsman menyatakan bahwa para
veteran yang telah kembali ke Mekah dan Madinah tidak lantas kehilangan hak-hakya
atas tanah-tanah Sawad ini. Kelompok Qurrâ‟ dalam jawabannya menegaskan bahwa
tanpa kehadiran mereka secara berkesinambungan di Iraqkekayaan-kekayaan ini
sama sekali tidak akan pernah terkumpulkan, dengan demikian membuktikan bahwa
para veteran Kufah tidak memiliki hak lebih besar atas tanah ini. Akibat dari
pelaksanaan kebijaksanaan „Utsman itu kelompok Qurrâ‟ belakangan mengetahui
bahwa landasan kekuatan ekonomi mereka sedang dihancurkan karena tanah-tanah
mereka dibagi-bagi, tanpa mempertimbangkan hak-hak mereka.
Sebagai manifestasi perlawanan mereka pada „Utsman kelompok ini
menghalang-halangi kedatangan Sa‟id ibn „Ash- Gubernur yang ditunjuk oleh
„Utsman–memasuki Kufah. Mereka memilih Abu Musa al-Asy‟ary sebagai Gubernur
dan memaksa „Utsman mengakui tindakan kekerasan ini.
3

E. Sifat-sifat Khawarij
1. Mencela dan Menyesatkan

3
Syalabi,Ahmad,”sejarah dan kebudayaan islam.jilid II”,Jakarta
12

Orang-orang Khawarij sangat mudah mencela dan menganggap sesat Muslim
lain, bahkan Rasul saw. sendiri dianggap tidak adil dalam pembagian ghanimah.
Kalau terhadap Rasul sebagai pemimpin umat berani berkata sekasar itu, apalagi
terhadap Muslim yang lainnya, tentu dengan mudahnya mereka menganggap kafir.
Mereka mengkafirkan Ali, Muawiyah, dan sahabat yang lain. Fenomena ini sekarang
banyak bermunculan. Efek dari mudahnya mereka saling mengkafirkan adalah
kelompok mereka mudah pecah disebabkan kesalahan kecil yang mereka perbuat.
2. Buruk Sangka
Fenomena sejarah membuktikan bahwa orang-orang Khawarij adalah kaum
yang paling mudah berburuk sangka. Mereka berburuk sangka kepada Rasulullah
saw. bahwa beliau tidak adil dalam pembagian ghanimah, bahkan menuduh
Rasulullah saw. tidak mencari ridha Allah. Mereka tidak cukup sabar menanyakan
cara dan tujuan Rasulullah saw. melebihkan pembesar-pembesar dibanding yang
lainnya. Padahal itu dilakukan Rasulullah saw. dalam rangka dakwah dan ta‟liful
qulub. Mereka juga menuduh Utsman sebagai nepotis dan menuduh Ali tidak
mempunyai visi kepemimpinan yang jelas.
3. Berlebih-lebihan dalam ibadah
Ini dibuktikan oleh kesaksian Ibnu Abbas. Mereka adalah orang yang sangat
sederhana, pakaian mereka sampai terlihat serat-seratnya karena cuma satu dan sering
dicuci, muka mereka pucat karena jarang tidur malam, jidat mereka hitam karena
lama dalam sujud, tangan dan kaki mereka „kapalan‟. Mereka disebutquro‟ karena
bacaan Al-Qur‟annya bagus dan lama. Bahkan Rasulullah saw. sendiri
membandingkan ibadah orang-orang Khawarij dengan sahabat yang lainnya,
termasuk Umar bin Khattab, masih tidak ada apa-apanya, apalagi kalau dibandingkan
dengan kita. Ini menunjukkan betapa sangat berlebih-lebihannya ibadah mereka.
Karena itu mereka menganggap ibadah kaum yang lain belum ada apa-apanya.
4. Keras terhadap sesama Muslim dan memudahkan yang lainnya
Hadits Rasulullah saw. menyebutkan bahwa mereka mudah membunuh orang
Islam, tetapi membiarkan penyembah berhala. Ibnu Abdil Bar meriwayatkan, “Ketika
13

Abdullah bin Habbab bin Al-Art berjalan dengan isterinya bertemu dengan orang
Khawarij dan mereka meminta kepada Abdullah untuk menyampaikan hadits-hadits
yang didengar dari Rasulullah saw., kemudian Abdullah menyampaikan hadits
tentang terjadinya fitnah,
“Yang duduk pada waktu itu lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik
dari yang berjalan….”
Mereka bertanya, “Apakah Anda mendengar ini dari Rasulullah?” “Ya,”
jawab Abdullah. Maka serta-merta mereka langsung memenggal Abdullah. Dan
isterinya dibunuh dengan mengeluarkan janin dari perutnya.
Di sisi lain tatkala mereka di kebun kurma dan ada satu biji kurma yang jatuh
kemudian salah seorang dari mereka memakannya, tetapi setelah yang lain
mengingatkan bahwa kurma itu bukan miliknya, langsung saja orang itu
memuntahkan kurma yang dimakannya. Dan ketika mereka di Kuffah melihat babi
langsung mereka bunuh, tapi setelah diingatkan bahwa babi itu milik orang kafir ahli
dzimmah, langsung saja yang membunuh babi tadi mencari orang yang mempunyai
babi tersebut, meminta maaf dan membayar tebusan.
5. Sedikit pengalamannya
Hal ini digambarkan dalam hadits bahwa orang-orang Khawarij umurnya
masih muda-muda yang hanya mempunyai bekal semangat.
6. Sedikit pemahamannya
Disebutkan dalam hadits dengan sebutan Sufahaa-ul ahlaam (orang bodoh),
berdakwah pada manusia untuk mengamalkan Al-Qur‟an dan kembali padanya, tetapi
mereka sendiri tidak mengamalkannya dan tidak memahaminya. Merasa bahwa
Al-Qur‟an akan menolongnya di akhirat, padahal sebaliknya akan
membahayakannya.
7. Nilai Khawarij
Orang-orang Khawarij keluar dari Islam sebagaimana yang disebutkan
Rasulullah saw., “Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari
busurnya.”
14

8. Fenomena Khawarij
Mereka akan senantiasa ada sampai hari kiamat. “Mereka akan senantiasa
keluar sampai yang terakhir keluar bersama Al-Masih Ad-Dajjal”
9. Kedudukan Khawarij
Kedudukan mereka sangat rendah. Di dunia disebut sebagai seburuk-buruk
makhluk dan di akhirat disebut sebagai anjing neraka.

10. Sikap terhadap Khawarij
Rasulullah saw. menyuruh kita untuk membunuh jika menjumpai
mereka. “Jika engkau bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka.”
4


F. Hadits-hadits tentang Khawarij
Dari Abi Said Al-Khudri berkata: Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan pada saat itu beliau sedang membagi beberapa bagian.
Datanglah kepada beliau Dzul Khuaishirah, orang dari Bani Tamim, dia berkata:
`Wahai Rasulullah, berlaku adil-lah`. Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam: `Celakalah engkau, siapakah yang akan berlaku adil jika aku tidak adil,
dosalah aku dan merugilah jika aku tidak berbuat adil`. Maka berkata Umar bin Al-
Khaththab : `Wahai Rasulullah ijinkanlah aku untuk memenggal lehernya`. Bersabda
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: `Biarkanlah dia, karena dia mempunyai
teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan diremehkan [merasa remah]
shalatnya jika dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasanya jika dibandingkan
dengan puasa mereka. Mereka membaca Alquran tidak melebihi kerongkongan
mereka, terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Setelah
perang Hunain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan bagian kepada
manusia. Beliau memberikan bagian kepada Al-Aqra` bin Habis 100 ekor onta,
memberikan kepada Uyainah semisal itu dan memberikan kepada orang-orang

4
Golziher,Agnas,”Pengantar Teologi dan Hukum Islam”,Jakarta
15

pemuka Arab, beliau lebihkan pada hari itu atas mereka bagiannya. Kemudian
berkata salah seorang: `Demi Allah, pembagian ini sungguh adil dan tidak dikendaki
di sana wajah AllahSesungguhnya akan keluar dari keturunan laki-laki ini, suatu
kaum yang membaca Alquran tidak melebihi kerongkongan mereka. membunuh
pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala. Terlepas dari Islam seperti
terlepasnya anak panah dari busurnya. Seandainya aku menemui mereka, sunggguh
akan aku bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum `Aad Akan keluar padda akhir
zaman suatu kaum, umumnya masih muda, rusak akalnya, mereka mengatakan dari
sebaik-baik perkataan makhluk. Membaca Alquran tidak melebihi kerongkongannya.
Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya Akan keluar suatu
kaum dari umatku yang membaca Alquran, mereka menyangka bahwasanya untuk
mereka padahal atas mereka. Shalat mereka tidak melampuai tenggorokannya.
Membaguskan perkataan tetapi buruk perbuatannya - mengajak kepada kitab
Allah, tetapi tidaklah mereka termasuk di dalamnya sedikitpun.
Dari Abi Barzah, ia ditanya: `Apakah engkau mendengar Rasulullah
menyebut tentang khawarij? Ia menjawab: `Ya, aku mendengar Rasulullah dengan
telingaku dan aku meliatnya dengan mataku.` Rasulullah datang dengan membawa
harta, lalu beliau membagikannya. Maka beliau memberi kepada orang-orang yang
berada di sebelah kanan dan kirinya dan tidak memberi kepada orang-orang yang di
belakang beliau sedikitpun. Berdirilah seseorang yang berada di belakang beliau
seraya berkata: `Wahai Muhammad, engkau tidak adil dalam pembagian.` Dia adalah
seorang laki-laki yang berkulit hitam dengan rambut yang dicukur gundul dan
memakai dua baju putih. Rasulullah marah dengan kemarahan yang besar, kemudian
bersabda: `Demi Allah, kalian tidak mendapati seseorang setelahku yang lebih adil
daripada aku.` Kemudian beliau bersabda lagi: `Akan muncul pada akhir zaman suatu
kaum, seolah-olah ia dari mereka. Mereka membaca Alquran tidak melebihi
tenggorokannya, terlepas dari Islam seperti terlepasnya anak panah dari busurnya,
16

ciri-ciri mereka adalah bercukur gundul, tidak henti-hentinya mereka keluar hingga
akan keluar orang-orang terakhir mereka bersama Al-Masih Ad-Dajjal. Jika kalian
menemuinya, bunuhlah mereka. mereka seburuk-buruk makhluk dan ciptaan.`

G. Nama dan Laqob-laqobnya
a. Khawarij
Nama ini adalah nama yang paling masyhur dan yang paling banyak dipakai dan
dalam nama ini terkandung pujian dan celaan.
Nama ini - menurut mereka [khawarij] - diambil dari firman Allah,:
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini
tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya
dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap
pahalanya disisi Allah..
E©^U¬±4ÒÒ¡ W-Ò÷³E_4N -4³;_4N
+ÞEO4:^^ ¬-C@O·· ª÷_u4g)` _ ¯4
¯ª¬-+O·4^Ò¡ ºº ¬]ON4g`u·NC ^¯´´÷
. Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan Setiap kali mereka mengikat
janji, segolongan mereka melemparkannya? bahkan sebagian besar dari mereka
tidak beriman.(QS Al-baqarah. :100) Maka penamaan ini adalah pujian, dan mereka
menamai diri mereka dengan nama tersebut didasarkan atas makna ini. Sebagaimana
perkataan Nuruddin As-Saalimy: Karena banyaknya mereka mengorbankan jiwanya
dalam keridhaaan Rabb mereka dan mereka telah keluar berjihad, maka mereka
dinamai khawarij, dan ia adalah jamak dari kharijah yaitu kelompok yang keluar
17

[berjihad] di jalan Allah. Dan berkata Muhammad bin Abdullah As-Saalimy: Dan
nama khawarij pada zaman permulaan adalah pujian karena dia adalah jamak dari
khaarijah yaitu kelompok yang keluar berperang di jalan Allah, Allah berfirman :
Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk
keberangkatan itu,
Sedangkan selain mereka dari para ulama dan intelektual Islam berpendapat bahwa
nama ini diambil dari makna penyempalan atau pemberontakan dari para pemimpin
atau manusia atau agama atau Ali bin Abi Thalib, dan ini tentu saja bermakna celaan
terhadap mereka, walaupun pada hakikatnya mereka tidak menolak hal ini karena
menurut mereka, pemberontakan terhadap para pemimpin tersebut adalah kebenaran,
dan hanyalah mereka menolak makna ini ditinjau dari anggapan bahwa hal itu adalah
penyimpang.
5



5
AbuZahra,Muhammad,”Aliran Politik dan Adidah dalam islam”,Jakarta
18

DAFTAR PUSTAKA


Rozak,Abdul. Ilmu kalam (untuk UIN,STAIN,PTAIS),Bandung:Pustaka Setia,2009
W.montgomeryy Watt.Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam.Umar Besalim, Jakarta:
penerbit P3M,1987
Syalabi,Ahmad,”sejarah dan kebudayaan islam.jilid II”,Jakarta:Pustaka Al-
Husna,1983
Golziher,Agnas,”Pengantar Teologi dan Hukum Islam”,Jakarta: INIS,1991
AbuZahra,Muhammad,”Aliran Politik dan Adidah dalam islam”,Jakarta: logos,1996

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->