P. 1
Harga Diri

Harga Diri

|Views: 43|Likes:

More info:

Published by: Ulliee Liocersh Bundaa Chaynkk on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2012

pdf

text

original

Harga Diri Rendah

6 Votes ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN GANGGUAN HALUSINASI DENGAR DI BANGSAL P.8 RSJ Prof. DR. SOEROYO MAGELANG Diajukan untuk menempuh tugas praktek Profesi Ners Disusun Oleh: IIP ARIF BUDIMAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CIREBON PROGRAM STUDI PROFESI NERS S 1 KEPERAWATAN CIREBON 2008 BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.1. Latar Belakang Kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabakan kematian secara langsung, namun gangguan tersebut dapat menimbulkan ketidakmampuan individu dalam berkarya serta ketidaktepatan individu dalam berprilaku yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta dapat menghambat pembangunan karena mereka tidak produktif (Hawari, 2000). Salah satu masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi dan menimbulkan hendaya yang cukup skizofrenia. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang saring ditunjukan oleh adanya gejala positif, diantaranya adalah halusinasi. Halusinasi merupakan persepsi klien terhadap lingkungan tanpa adanya stimulus yang nyata atau klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata

Soeroyo Magelang Jawa Tengah. Mampu melaksanakan pengkajian pada klien dengan halusinasi c.4. BAB II : LAPORAN PENDAHULUAN Yang terdiri dari masalah utama. pohon masalah. Tujuan Penulisan 1 Tujuan Umum Setelah melakukan praktek di RSJP Prof. Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari 5 Bab yaitu : BAB I : PENDAHULUAN Yang terdiri dari latar belakang.tanpa adanya stimulus atau rangsangan dari luar. 2 Tujuan Khusus a. tujuan penulisan.S dengan Halusinasi Auditori dan Visual di Ruang P8 RSJP Prof. ruang lingkup dan sistematika penulisan.Dr. Mampu menyusun tujuan dan intervensi keperawatan pada klien dengan halusinasi e. rentang respon. 1.3. akibat. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan halusinasi d. Ruang Lingkup Dalam laporan ini kelompok kami hanya membatasi penyelesaian masalah keperawatan pada Tn. Penanganan atau perawatan intensif perlu diberikan agar klien skizofrenia dengan halusinasi tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri. S dengan Perubahan Persepsi Sensori Halusinasi di Ruang P8 RSJP Prof. Dr.2. masalah dan data yang perlu dikaji. penyebab/etiologi. pengertian. Mampu memahai konsep dasar halusinasi b. metode penulisan. . orang lain dan lingkungan. Mampu melaksanakan intervensi keperawatan yang telah disusun pada klien dengan halusinasi f. Soeroyo Magelang yang dilakukan selama 6 hari dari tanggal 7 Januari s/d 12 Januari 2009 1. S dengan halusinasi Auditori dan visual di Ruang P8 RSJP Prof. Soeroyo Magelang Jawa Tengah. 1. Dengan pernyataan diatas maka kelompok kami tertarik untuk mengangkat kasus tersebut dengan askep pada klien Tn. tanda gejala. Dr. diagnosa keperawatan. Mampu mengevaluasi hasil pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan halusinasi. DR. Soeroyo Magelang Jawa Tengah diharapkan mahasiswa S1 Keperawatan STIKes Cirebon mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn.

BAB V : PENUTUP Yang terdiri dari kesimpulan dan saran. . 1998) Struart and Sunden. Halusinasi Pendengaran (Auditori)  Karakteristik. Halusinasi Penglihatan (Visual)  Karakteristik. masalah keperawatan.2 Pengertian Halusinasi adalah salah satu cara respon maladaktif individu yang berada dalam rentang neurobiologis (struart dan Araira. Perubahan persepsi sensorik adalah suatu keadaan individu yang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat disertai dengan pengurangan berlebih-lebihan. distorsi atau kelainan respon perubahan yang sering ditemukan pada klien gangguan orientasi realitas adalah halusinasi dan dipersonalisasi (Stuart and sunden.BAB III : TINJAUAN KASUS Pengkajian. Mendengar suara. Ini merupakan respon paling maladaktiv.1 Masalah Utama Gangguan Persepsi Sensorik : Halusinasi 2.  Perilaku Klien yang diamati • Melirikan mata kekiri dan kekanan mencari orang yang berbicara • Mendengarkan penuh perhatian pada benda mati. analisa data. paling sering suara orang yang membicara sesuatu. b. mampu mengidentifikasi dan menginterpretasika stimulus berdasarkan informasi yang diterimanya melalui panca indera. intervensi dan evaluasi. pohon masalah. tahap perencanaan. tahap pelaksanaan dan tahap evakuasi. tahap diagnosa. 2001). BAB IV : PEMBAHASAN Yang terdiri dari tahap pengkajian. Menurut Maramis (1998) : halusinasi adalah gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu sebenarnya yang tidak terjadi. Stimulus tersebut tidak ada pada pasien halusinasi. • Terlihat percakapan dengan benda mati. 1998 mengelompokan karakteristik halusinasi sebagai berikut : a. diagnosa keperawatan. DAFTAR PUSTAKA BAB II LAPORAN PENDAHULUAN 2. Jika orang sehat persepsinya akurat.

kada tercium bau harum atau kemenyan. e.J. Halusinasi Penghidu (Olfaktori)  Karakteristik. M. makanan dicerna. tanggap. 1998: 363. • Kinestetik menghidu bau udara. Halusinasi Pengacap (Gustatorik PK)  Karakteristik.  Perilaku Klien yang diamati • Meludahkan makanan atau minuman. ketakutan pada benda mati. Merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir.  Perilaku Klien yang diamati • Memperbalisasi atau obsesi terhadap proses tubuh. c. merasakan sensasi listrik dari tanah atau benda mati  Perilaku Klien yang diamati • Menampar diri sendiri. • Tiba-tiba lari keruang lain tanpa stimulus. Merasa sakit. 1998.  Perilaku Klien yang diamati • Tiba-tiba. api atau darah. • Menghidu bau busuk atau harum atau kemenyan.Stimulus penglihat dalam bentuk pancaran cahaya atau panorama yang luas dan komplek. Townsend. Bau busuk. 2. Stuart and Sunden 1998: 328-329): Data Subjektif . • Menolak makanan atau minum obat. amis. atau peces. tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. L.3 Tanda dan Gejala Klien dengan halusinasi sering menunjukan adanya (carpenito. • Melompat-lompat dilantai seperti sedang menghindari sesuatu f. • Melok untuk menyelesaikan tugas yang memerlukan tubuh klie yang diyakini tidak berfungsi. d.  Perilaku Klien yang diamati • Hidung dikerutkan. urin. seperti menghidu bau tidak sedap. Merasakan sesuatu yang bau busuk atua amis seperti bau darah. Halusinasi Kinestetik  Karakteristik.C. Halusinasi Peraba (Taktil)  Karakteristik.

Beberapa bahan kimia juga dikaitkan dapat menyebabkan respon neurbiologis misalnya: dopamine neurotransmiter yang berlebihan.4 Penyebab Stuart and Sunden (1998 : 305) mengemukakan faktor predisposisi dari timbulnya halusinasi. Apatis dan cenderung menarik diri c. Faktor biologis Gangguan dalam putaran balik otak yang memutar proses informasi dan abnormaltas pada mekanisme pintu masuk dalam otak mengakibatkan ketidakmampuan menghadapi rangsangan. Faktor Pikologis Penolakan dan kekerasan yang dialami klien dalam keluarga dapat menyebabkan timbulnya respon neurobiologis yang maladaftive Stuart and sunden (1998: 310) juga mengemukakan faktor pencetus terjadinya halusinasi antara lain: 1. ketidakseimbangan antara dopamine neurotransmiter lain dan masalah-masalah pada sistem receptor dopamine. 2. dapat menunjang terjadinya respon neurobiologis yang maladaftive. Gerakan mata yang cepat g. Menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai f. Abnormalitas otak seperti : lesi pada areo frontal. peperangan. Tampak gelisah. Kadang tampak ketakutan i. Tidak mampu mengenal waktu. Menggerakan bibirnya tanpa menimbulkan suara e. orang dan tempat b. Stres biologis ini dapat menyebabkan respon neurobiologis yang maladaftive. dan kerusuhan. Faktor Stres dan Lingkungan .a. temporal dan limbic dapat menyebabkan respon neurobiologis b. kemiskinan. Faktor sosial Budaya Stres yang menumpuk. 3. perubahan perilaku dan pola komunikasi kadang berhenti bicara seolah-olah mendengar sesuatu d. Tidak mampu memecahkan masalah halusinasi (misalnya: mendengar suara-suara atau melihat bayangan) c. Respon-respon yang tidak sesuai (tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang komplek) 2. 2. Mengeluh cemas dan khawatir Data Objektif a. Pikiran yang berubah-ubah dan konsentrasi rendah h. Mudah tersinggung b. antara lain: 1. Faktor Biologis a.

atau selalu dalam kegagalan. penolakan b. tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir.C. dan isolasi sosial menarik diri (Townsend. kurang tidur. tekanan pekerjaan. Gangguan persepsi sensori halusinasi sering disebabkan karena panik. M. 1998:381). Lingkungan Tekanan dalam penampilan (kehilangan kemandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari). Faktor Pemicu Gejala a. Tampak larut dalam pikiran dan ingatan sendiri . Mengungkapkan perasaan tidak berguna Data Objektif a.E (1998:423)isolasi sosial menarik diri adalah usaha untuk menghindar dengan orang lain. kurang tidur. Kesehatan Gizi yang buruk. Tidak komunikatif c.L. keletihan. P.J 1998:382) : Data Subjektif a.R. 3. Sedangakan menurut Rawlins. Melaporkan ketidaknyamanan kontak dengan situasi sosial c.Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan perilaku. Tidak tahan terhadap kontak yang lama b. perilaku amuk dan agresif. keterampilan sosial. yang kurang. dan kemiskinan. b. gangguan dalam hubungan interpersonal. dan gangguan proses informasi. Isolasi sosial merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan serta keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak. Isloasi sosial menarik diri sering menunjukan adanya perilaku (Carpenito. masalah perumahan.P dan Heacock. stress berat yang mengancam ego yang lemah. Menurut Carpenito. Klien berusaha menyesuaikan diri terhadap stressor lingkungan yang terjadi. kesepian (kurang dukungan sosial). berprestasi. berperasaan. Kontak mata buruk d. kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas. 1998:156). keputusasaan (kurang percaya diri).J. Sikap/ perilaku Konsep diri yang rendah. ansietas sedang sampai berat. individu merasa kehilangan hubungan akrab. L. c. rasa bermusuhan dan lingkungan yang selalu mengkritik. Mengungkapkan perasaan kesepian.

Mengungkapkan.6 Akibat Adanya gangguan persepsi sensori halusinasi dapat beresiko menciderai diri sendiri. Mengungkapkan persaan takut. Kegagalan berimteraksi dengan orang lain 2. M. emosi konsisten. merah . Seseorang yang dapat beresiko melakukan perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain dapat menunjukan perilaku: Data Subjektif a. Rentang respon dapat digambarkan sebagai berikut: Rentang Respon neurobiologis Respon adaptif Respon maladptif Pikiran logis pikiran kadang menyimpang kelaianan pikiran Persepsi akurat Ilusi Halusinasi Emosi konsisten Reaksi emosional berlebihan ketidakmampuan Perilaku sesuai Perilaku tidak lazim untuk mengalami Hubungan sosial Menarik diri emosi Ketidakteraturan Isolasi Sosial Rentang respon neurobiologis (Stuart and Sundeen. cemas. dan isolasi sosial. halusinasi. 1998: 27). Kurang aktivitas f. BA. mendengar atau melihat objek yang mengancam b. orang lain dan lingkungan (Kelliat.5 Rentang Respon Menurut Stuart and Sundeen (1998: 302) persepsi mengacu pada identifikasi dan interpretasi awal dari suatu stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera. dan perilaku sesuai sampai dengan respon maladaptif yang meliputi delusi. persepsi akurat. 1998: suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik diri sendiri dan orang lain. Respon neurobiologis sepanjang rentang sehat sakit berkisar dari adaptif pikiran logis. 1998: 302) 2. Wajah tegang. dan khawatir Data Objektif a.C. Menurut Townsend.e. Wajah tampak murung dan sedih g.

kurang aktivitas .kien mengatakan merasa kesepian .tidak ada kontak mata .tidak tahan terhadap kontak mata yang lama .klien mengatakan melihat atau mendengar sesuatu .tidak konsentrasi dan pikiran mudah beralih saat bicara .tidak komunikatif 2. Mondar-mandir c.ekspresi wajah murung. Mata melotot 2. orang lain dan lingkungan Cp Perubahan persepsi sensori: Halusinasi Auditori dan Visual Isolasi sosial : menarik diri .gerakan mata yang cepat .b.tampak bicara dan tertawa sendiri . rahang mengatup d. Tangan mengepal e.klien tidak mampu mengenal tempat.7 Masalah dan Data yang harus dikaji No Masalah Keperawatan Data Subjektif Data Objektif Masalah Utama: Gangguan persepsi sensori halusinasi Masalah Keperawatan: .berhenti berbicara seolah melihat dan mendengarkan sesuatu . Keluar keringat banyak f.mulut seperti bicara tetapi tidak keluar suara . sedih tampak larut dalam pikiran dan ingatannya sendiri. Mata melotot. waktu dan orang .klien mengatakan tidak berguna .8 Pohon Masalah Resiko Tinggi menciderai diri sendiri.

percobaan bunuh diri. CM : 23004 Bangsal : P8 Diangnosa medis : Halusinasi 2.00 WIB Tanggal pengkajiaan : 07 Desember 2009 / 10.9 Diagnosa Keperawatan 1. Dr.00 WIB No. alloanamnesa dan status dokumentasi dari ruangan P 8. . sulit tidur. . 1998: 6) 2. Soeroyo Magelang Data ini didapatkan berdasarkan autoanamnesa. Perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi auditori 2. Halusinasi berhubungan dengan kurangnya interaksi sosial 3. Alasan masuk Klien masuk Rumah Sakit jiwa diantar oleh keluarganya. Identitas klien Nama : Tn S Umur : 37 Tahun Jenis kelamin : Laki-laki Agama : Kristen Status : Kawin Suku banga : Jawa Pekerjaan : Buruh Pendidikan : SLTA Alamat : Purbalinga Tanggal masuk : 02 Desember 2009 / 12. S Dengan Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi Di Ruang P 8 RSJP Prof. menurut keluarga klien saat di rumah Klien sering mengamuk. 1. banyak melamun/menyendiri. merusak barang.(Pohon masalah Keliat. bicara sendiri. Harga diri rendah berhubungan dengan halusinasi BAB III TINJAUAN KASUS Asuhan Keperawatan Pada Tn.

3. 3. terakhir di rawat bulan November 2007. Konsep diri a. dalam keluarga klien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa. Dari keluarga juga ada yang mengalami gangguan jiwa (kakak) gejala tidak ada yang tahu pasti. Psikososial 1. sempat berusaha kabur. Genogram Klien merupakan anak terakhir dari 9 bersaudara. pengobatan sebelumnya kurang berhasil. Identitas diri . Klien sebelumnya pernah mengalami riwayat dirawat di RSSM dengan keluhan yang sama 2. dalam keluarga klien berperan sebagai kepala keluarga dan memiliki 1 orang anak. Klien sering berobat atau kontrol di Banyumas. Dari pihak keluarga tidak ada yang tahu pasti tentang penyebabnya 4. Fisik Keadaan Umum : Baik Tingkat Kesadaran : Composmentis Tanda Vital : Tekanan Darah : 120/90 mmHg Nadi : 82x /menit Suhu : 36 Respirasi : 23x /menit Ukur : Tinggi Badan : 161 cm Berat Badan : 65 kg Keluhan Fisik : Tidak mengalami keluhan fisik Pemeriksaan Fisik : Riwayat pengobatan penyakit fisik : Tidak pernah 5. 2. Faktor Predisposisi 1. 4. Gambaran diri Klien dapat menerima kondisi tubuhnya dan tidak ada keluhan b.melaksanakan pengobatan di puskesmas Masalah Keperawatan : Regiment Terapeutik Inefektif Masa pertumbuhan dan perkembangan • Masa sekolah : klien tidak pernah tinggaal kelas kecuali pada masa SMA Klien tidak lulus pada saat-saat tersebut klien mengalami gangguan jiwa karena klienn dikecewakan oleh kekasihnyasementara pada saat klien ada masalah tersebut klien merasa tidak ada yang perduli padanya. dan pengalama\n klien yang tidak menyenangkan adalah ketika klien diputuskan oleh pacarnya. klien bekerja sebagai buruh untuk menafkahi keluarganya.

d. baju setiap hari selalu diganti. Status Mental 1. Peran Klien mempunyai pekerjaan serabutan di rumahnya dan sebagi buruh. 2. 4. Alam perasaan Klien terkadang suka malu dan kadang menyendiri 5. Interaksi selama wawancara Selama interaksi klien kooperatif.. Ideal diri Klien berharap cepat sembuh dan dapat diterima kembali dilingkungan masyarakat. rambut rapi. suara tersebut datang ketika menjelang tidur malam dan lamanya suara itu datang sekitar 2 -3 menit 8. Hubungan sosial Pada saat di rumah klien mengatakan orang yang paling berarti dalam kehidupannya adalah keluarga dan saudara-saudaranya. Persepsi Klien mengatakan sering mendengar suara gemuruh air. gigi cukup bersih. Harga diri Klien merasa bangga dan senang diperhatikan oleh orang-orang terdekatnya. mandi tidak harus dimotivasi. Aktifitas Motorik Klien terlihat aktif mengikuti kegiatan. baju cukup bersih. Spiritual Nilai dan keyakinan : Klien beragama kristen dan klien mengetahui dan meyakini Tuhannya satu. ada kontak mata selama berkomunikasi.Sewaktu sekolah dulu klien senang dapat berkumpul dengan temannya dan bermain dan klien juga termasuk orang yang mudah bergaul. Proses pikir Klien selalu menjawab langsung pertanyaan perawat dengan tanggap dan cepat sesuai topik . 6. 3. 7. c. Di Rumah Sakit Jiwa klien mudah bergaul namun suka ada rasa malu dan terkadang suka menyendiri tapi suka ngobrol dan interaksi dengan temannya yang ada di P8 6. Penampilan Penampilan klien tampak rapi. klien juga yakin bahwa dirinya laki-laki normal. Pembicaraan Klien selalu bicara keras dan agitatif 3. gigi cukup bersih. e. 7. Saat kerja klien dapat melakukan dan mengertikan pekerjaannya dan merasa senang. Afek Afek klien normal terhadap rangsangan.

memilih. membersihkan dan merapikan pakaiannya sendiri.pertanyaan yang dilontarkan. klien dapat BAB dab BAK secara mandiri.00-04.30 setelah makan pagi. 12. mengenakan alas kaki secara mandiri. 6. Tingkat kesadaran Orientasi klien terhadap orang. 3. dan waktu sesuai 11.30 terkadang klien terbangun dimalam hari karena halusinasinya muncul. klien dapat BAB dan BAK secara mandiri Klien juga memakai. Makan Klien makan mandiri. Istirahat dan tidur Tidur siang klien setelah makan siang sekitar jam 13. dan mandi atau perawatan diri dikamar mandi. Daya Tilik diri Klien Klien menerima penyakit yang dideritanya. klien menggunting kuku setiap kuku klien dirasakan telah panjang. klien masih butuh pengobatan. Kemampuan Penilaian Penilaian untuk klien konsekwen dengan apa yang dijanjikan baik dari dirinya maupun dari perawat tentang waktu dan tugas. Tingkat konsentrasi dan berhitung Tingkat konsentrasi klien sudah menurun. 8. Memori Tidak ada gangguan memori. klien mengambil. Mandi Klien mandi 2 kali sehari. 14. 10. tempat. 4.00. dan pada malam hari klien selalu tidur setiap jam 21. 12. 9. cara makan klien cukup baik klien duduk dimeja makan diantara temantemannya 2. Penggunaan obat Klien minum obat 3 kali dalam 1 hari setiap 7.00-15. dalam satu hari klien biasanya BAK 4-5 kali sehari. Kebutuhan Persiapan Pulang 1. menyikat gigi dan klien selalu mencuci rambutnya setiap 2 hari 1 kali. sehingga kurang mampu dalam menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh perawat 13. BAB/BAK BAB Klien mandiri kadang setiap hari tetapi terkadang 2 hari 1 kali. Isi pikir Klien merasa takut apabila suara itu datang kadang sering melampiaskan pada objek yang ada di depannya. Berpakaian Klien dapat mengenakan pakaian yang telah disediakan Rumah Sakit. 5. BAB di WC. dan . memakai sabun.30 setelah makan siang.

Analisa Data No Data Fokus Masalah Keperawatan 1. Kegiatan didalam rumah Dirumah klien dapat menyiapkan makan sendiri.45. Kegiatan diluar rumah Klien mampu bersosialisasi dengan keluarga maupun lingkungannya 8. Klien juga merasa bahwa tetangganya membencinya dan klien tidak mengetahui mengapa tetangganya membencinya. menjaga kerapihan pakaian. 9. Pengetahuan Pengetahuan klien mengenai cara-cara menghindari halusinasinya masih kurang untuk proses penyembuhan. 11. 7. 12. banyak menghindar dan diam. orang tua sebagai tulang punggung keluarga yang membiayai keenam anaknya sehingga orang tuanya kurang memperhatikan klien terutama saat klien mempunyai masalah. Klien hanya mempunyai sistem pendukung kakaknya. cara klien meminum obatnya dengan cara obat dimasukkan kemudian klien meminum air.pada sore hari menjelang malam 17. Ds : • Klien menyatakan kadang-kadang sering mendengarkan suara-suara air yang tidak ada wujudnya. Aspek Medis Catatan medis klien :  Skizoprenia tak terinci Terapi yang diberikan kepada klien saat ini adalah :  THP (Trifluoperazine 2 X 1)  Clorpromazin (1 X 100 mg)  Trihexyphenidel (2 X 1)  Haloperidol (2×1) 13. Maladaptif bekerja berlebihan. kadang membantu mencuci pakaian dengan istrinya. . klien belum paham prinsip 5 benar dalam meminum obat. Mekanisme koping Dalam menyelesaikan masalah adaptif klien melakukan kegiatan di rumah sakit maupun di rumah. 10. Masalah Psikososial dan lingkungan Klien mempunyai masalah dengan dukungan dari keluarganya klien merasa kurang mendapat perhatian dari ibunya karena klien lebih dekat dengan kakaknya.

waktu.CM : 23004 DIAGNOSA KEPERAWATAN PERENCANAAN INTERVENSI Tujuan SP Perubahan persepsi sensori halusinasi berhubungan dengan menarik diri. Masalah Keperawatan 1. situasi yang menimbulkan halusinasi. • Klien tampak sering diam Gangguan perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar 14. Do : • Klien terlihat suka duduk menyendiri. • Klien sering mondar-mandir Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam diharapkan resiko perilaku kekerasan tidak terjadi dengan kriteria hasil : • Klien dapat mengetahui halusinasinya • Klien dapat mengontrol halusinasinya SP I SP II SP III SP IV • Validasi Halusinasi SP I (jenis. Perubahan persepsi sensori halusinasi dengar ASUHAN KEPERAWATAN PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI AUDITORI Rencana Keperawatan Nama Klien : Tn. frekuensi. isi. berhubungan dengan : Ds : • Klien menyatakan kadang-kadang sering mendengarkan suara-suara. Do : • Klien terlihat suka duduk menyendiri. respon terhadap halusinasi dan cara control dengan menghardik ) .• Klien menyatakan suara-suara tersebut kadang membuat klien takut. Pohon Masalah 5. S Diagnosa Medis : Skizofrenia tak terinci Ruang : P8 No. • Klien menyatakan suara-suara tersbut sering membuat klien takut.

berhubungan dengan : Ds : • Klien menyatakan kadang-kadang sering mendengarkan suara-suara.• Validasi Halisunasi SP II (cara control dengan bercakap-cakap dengan orang lain) • Evaluasi jadwal kegiatan harian klien • Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan ( Kegiatan yang biasa dilakukan pasien dirumah) • Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian • Evaluasi jadwal kegiatan harian klien • Berikan Penkes tentang penggunaan obat secara teratur (Prinsip 5 benar minum obat) • Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian IMPLEMENTASI KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN Diagnosa Keperawatan SP Implementasi Waktu/Tanggal Catatan Perkembangan Paraf Perubahan persepsi sensori halusinasi berhubungan dengan menarik diri. Do : • Klien terlihat suka duduk menyendiri. isi. nada bicara keras dan cepat. klien bisa melakukan cara menghardik. waktu. kooperatif. respon terhadap halusinasi dan cara control dengan menghardik ) • Memvalidasi Halisunasi SP II (cara control dengan bercakap-cakap dengan orang lain) Rabu 7-01-09 10. komunikasi dengan teman dibangsal baik. situasi yang menimbulkan halusinasi. A: Klien bisa melakukan cara kontrol dengan menghardik dan bercakap-cakap dengan teman lain P: . • Klien sering mondar-mandir SP I – II • Memvalidasi Halusinasi SP I (jenis. • Klien menyatakan suara-suara tersbut sering membuat klien takut.00 S : • Klien mengatakan dia suka mendengar suara-suara yang membuatnya takut tetapi sekarang jarang muncul lagi • Klien mengatakan ada 2 cara mengontrol halusinasinya (Menghardik dan Bercakap-cakap) O: Halusinasi tidak tampak. frekuensi.

TAK aktif. TAK aktif. kegiatan dibangsal dengan motivasi. masih tampak sering menyendiri.SP I dan II Tercapai Lanjutkan SP III SP III • Evaluasi jadwal kegiatan harian klien • Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (Kegiatan yang biasa dilakukan pasien dirumah) • Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian Kamis 08-01-09 S : Klien mengatakan senang setelah melakukan kegiatan TAK O: Klien kooperatif dalam komunikasi. kegiatan dibangsal dengan motivasi. A: Klien masih perlu dibimbing dalam kegiatan sebagai cara kontrol halusinasi P: Bimbing dan motivasi dalam kegiatan sebagai cara kontrol halusinasi Jum’at 09-01-09 S : Klien mengatakan senang dilibatkan dalam jadwal kegiatan harian diruangan O: Klien kooperatif. kontak mata dapat dipertahankan. A: Kontrol halusinasi dengan kegiatan diarahkan P: Ulangi dan optimalkan SP III Bimbing dan motivasi dalam kegiatan sebagai cara kontrol halusinasi Sabtu 10-01-09 S : Klien mengatakan akan mencoba melakukan kegiatan jika halusinasinya datang O: Klien kooperatif dalam komunikasi. melamun dan suka menyendiri. A: Klien belum mampu melakukan kegiatan secara mandiri sebagai cara kontrol halusinasi . kegiatan dibangsal aktif. TAK aktif.

setelah diaplikasikan pada klien S. Dalam teori tindakan halusinasi dengar harus dilakukan kontak yang sering dan singkat dengan tujuan untuk memutuskan stimulus interna. Klien menjadi lebih terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasi. sangat membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi klien. siang. yaitu dimulai dengan klien sering menyendiri. Didalam menyelesaikan masalah klien tentang tidak tahu cara mengungkapkan marah yang konstruktif. sore dan malam hari. dimana halusinasi memberikan kesenangan dan rasa aman sementara. Setelah diaplikasikan pada klien S ternyata teori tersebut dapat diterima oleh klien. Disamping melalui kontak yang sering dan singkat. Stimulasi internal dapat terputus dan klien tidak merasa kelelahan. dan ahhirnya halusinasi berubah menjadi mengancam. hal ini dapat membantu klien dalam mengekspresikan marah secara konstruktif. pemikiran internal menjadi lebih menonjol seperti gambaran suara dan sensasi. klien berada pada tingkat listening disusul dengan halusinasi lebih menonjol. Adapun tindakan keperawatan pada klien halusinasi dengar salah satunya adalah tidak menyangkal dan tidak mendukung. terutama pada masalah menarik diri dan halusinasi dengar. berdiskusi dengan klien tentang cara mengungkapkan marah yang destruktif dan konstruktif. sedangkan orang lain tidak mendengar. Klien juga dapat mengerti tanda- . Klien dapat menerima realita bahwa suara-suara tersebut hanya didengar oleh klien. Terapi aktifitas kelompok: sosialisasi dan gerak (senam dan bermain volley) yang telah dilakukan pada klien S. melamun. sekarang hanya didengar pada malam hari ketika menjelang tidur. ternyata kontak sering dan singkat setiap 20 menit selama 3-5 menit klien mengeluh merasa capek kemudian kami lakukan modifikasi dengan melakukan kontak setiap 1 jam selama 10 menit.P: Bimbing dan motivasi dalam kegiatan sebagai cara kontrol halusinasi BAB IV PEMBAHASAN Dalam bab pembahasan ini akan diuraikan sejauh mana keberhasilan tindakan keperawatan secara teoritis yang telah diaplikasikan terhadap klien S. Proses terjadinya halusinasi dengar pada klien S. sejalan dengan fase-fase atau tahap-tahap dalam teori halusinasi. cara-cara mengekspresikan marah yang dilakukan selama ini. Melalui kegiatan terapi aktifitas kelompok (TAK) tersebut klien mampu berhubungan dengan orang lain dan mampu memutuskan stimulus internal. Setelah tika kali pertemuan. kelompok menerapkan konsep cara mengungkapkan marah yang konstruktif yaitu mendorong klien untuk mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien marah. dan hasilnya lebih baik. didukung juga oleh kegiatan yang dilakukan secara rutin di ruangan dengan melibatkan klien dalam pembuatan jadwal kegiatan sehari-hari. Hasil akhir halusinasi dengar klien S yang semula didengar pada pagi.

3. . Dari kesimpulan di atas dapat kami memberikan beberapa saran sebagai berikut : 1. Dalam memberikan asuhan keperawatan klien dengan halusinasi dengar. Dengan melakukan kontak yang sering dan singkat disertai dengan tidak mendukung dan tidak menyangkal apa yang diungkapkan klien dapat membantu memutuskan siklus halusinasi klien dan mempercepat orientasi klien pada realita. Cara mengungkapkan marah yang kostruktif sangat diperlukan pada klien halusinasi dengar. 2. khususnya isi halusinasinya bersifat menyuruh. hendaknya dilakukan kontak yang sering dan singkat dengan memodifikasi berdasarkan kemampuan dan kebutuhan klien. Terapi akitifitas kelompok : sosialisasi dan gerak merupakan bentuk terapi kelompok yang dapat membantu menyelesaikan masalah halusinasi dengar dan menarik diri. Klien dengan halusinasi dengar hendaknya diajarkan cara-cara marah yang konstruktif. 3. terutama bila isi halusinasinya bersifat menyuruh. orang lain atau lingkungan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Setelah membandingkan teori dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien S dengan halusinasi dengar. Selain itu tidak mendukung dan tidak menyangkal isi halusinasinya. 2. (dapat memutuskan stimulus internal klien dengan memberikan stimulus eksternal). klien dapat mendemostrasikan cara mengungkapkan marah yang konstruktif. mengejek dan mengancam agar tidak membahayakan diri sendiri.tanda marah dalam dirinya. mengejek dan mengancah. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Terapi aktifitas kelompok (TAK) hendaknya dilakukan secara rutin dan teratur karena merupakan sustu terapi yang dapat mempercepat proses penyembuhan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->