P. 1
Trauma Kapitis

Trauma Kapitis

|Views: 238|Likes:
Published by Franky Pesoa

More info:

Published by: Franky Pesoa on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/22/2014

pdf

text

original

TRAUMA KAPITIS I.

PENGERTIAN Trauma kapitis adalah ganguan traumatik yang menyebabkan gangguan fungsi otak disertai atau tanpa disertai perdarahan intestiri dan tidak mengganggu jaringan otak. ( Brunner & Suddarth, 2000 ) Head injury (Trauma kepala) termasuk kejadian trauma pada kulit kepala, tengkorak atau otak. Batasan trauma kepala digunakan terutama untuk mengetahui trauma cranicerebral, termasuk gangguan kesadaran.( Iwan, S.Kp, 2007 ) Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala.( Suriadi & Rita Yuliani, 2001 ) 2. ANATOMI FISIOLOGI Otak merupakan satu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh. Otak terdapat dalam rongga tengkorak yang melindungi otak dari cedera. Berdasarkan daerah atau lobusnya otak terbagi menjadi 4 lobus yaitu : frontalis (untuk berpikir) temporalis (menerima sensasi yang datang dari telinga), parietalis (sensasi perabaan, perubahan temperatur) oksipitalis (menerima sensasi dari mata). Otak selain dilindungi oleh tengkorak juga dilindungi selaput yang disebut munigen berupa jaringan serabut penghubung yang melindungi, mendukung dan memelihara otak. Munigen terdiri dari 3 lapisan yaitu: 1. Durameter Membran luar yang liat, tebal, tidak elastis.Dura melekat erat dengan permukaan dalam tengkorak oleh karena bila dura robek dan tidak segera diperbaiki dengan sempurna maka akan timbul berbagai masalah. Dura mempunyai aliran darah yang kaya. Bagian tengah dan posterior di suplay oleh arteri munigen yang bercabang dari arteria karotis interna dan menyuplay fasa arterior arteria munigen yaitu cabang dari arteria oksipitalis menyuplay darah ke fasa posterior. 2. Araknoid Merupakan bagian membran tengah bersifat tipis, halus, elastis dan menyerupai sarang laba-laba. Membran ini berwarna putih karena tidak dialiri darah. Pada dinding araknoid terdapat pleksus khoroid yng bertanggung jawab memproduksi cairan serebrospinal (CSS). Terdapat juga membran araknoid villi yang mengabsorbsi CSS. Pada orang dewasa normal CSS yang diproduksi 500 ml perhari, tetapi 150 ml diabsorbsi oleh villi. 3. Piamater 4. Membran yang paling dalam, berupa dinding yang tipis, transparan yang menutupi otak dan meluas ke setiap lapisan daerah otak dan sangat kaya dengan pembuluh darah. Otak merupakan organ kompleks yang dominasi cerebrum. Otak merupakan struktur kembar yait lateral simetris dan terdiri dari 2 bagian yang disebut hemisferium. Belahan kiri dari cerebrum berkaitan dengan sisi kanan tubuh dan belahan kanan cerebrum berkaitan dengan sisi kiri tubuh. Otak terbagi menjadi 3 bagian besar : 1. Cerebrum (otak besar) Serebrum terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus. Substansia grisea terdapat pada bagian luar dinding serebrum dan substansia alba menutupi dinding serebrum bagian dalam. Pada prinsipnya komposisi substansia grisea yang terbentuk dari badan-badan sel saraf memenuhi kortex serebri, nukleus dan basal gangglia. Substansia alba terdiri dari sel-sel syaraf yang menghubungkan bagian– bagian otak yang lain. Sebagian besar hemisfer serebri (telesefalon) tensi jaringan SSP. Area inilah yang mengontrol fungsi motorik tertinggi yaitu terhadap fungsi individu dan intelegensia. 2. Batang otak (trunkus serebri), terdiri dari : • Diensefalon, bagian batang otak paling atas terdapat di antara serebelum dan mesensepalon.

Diensepalon berfungsi untuk vasokontruktor (mengecilkan pembuluh darah), respiratory (membantu proses pernapasan), mengontrol kegiatan reflek dan membantu pekerjaan jantung. • Mesensefalon, berfungsi sebagai membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata, memutar mata dan pusat pergerakan mata. • Pons varoli, sebagai penghubung antara kedua bagian serebellum dan juga medula oblongata dengan serebellum pusat saraf nervus trigeminus. • Medula oblongata, bagian batang otak yang paling bawah yang berfungsi untuk mengontrol pekerjaan jantung, mengecilkan pembuluh darah, pusat pernapasan dan mengontrol kegiatan refleks. • Serebelum Terletak dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentoreum yang memisahkan dari bagian posterior serebrum. Semua aktivitas serebrum berada dibawah kesadaran fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tenus-tenus kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh. • Diensefalon Istilah yang digunakan untuk menyatakan struktur-struktur disekitar vertikel dan membentuk inti bagian dalam serebrum. Diensefalon memproses rangsang sensorik dan membantu memulai atau memodifikasi reaksi tubuh terhadap rangsang-rangsang tersebut. Diensefalon dibagi menjadi 4 wilayah yaitu : a. Talamus Berfungsi sebagai pusat sensorik primitif (dapat merasakan nyeri, tekanan, rabaan getar dan suhu yang ekstrim secara samar-samar). Berperan penting dalam integrasi ekspresi motorik oleh karena hubungan fungsinya terhadap pusat motorik utama dalam korteks motorik serebri, serebelum dan gangglia basalis. b. Hipotalamus Letak dibawah talamus Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi. Berperan penting dalam pengaturan hormon (hormon anti diuretik dan okstoksin disintesis dalam nukleus yang terletak dalam hipotalamus). Pengaturan cairan tubuh dan susunan elektrolit, suhu tubuh, fungsi endokrin dari tingkah laku seksual dn reproduksi normal dan ekspresi ketenangan atau kemarahan, lapar dan haus. c. Subtalamus Merupakan nukleus ekstrapiramidal diensefalon yang penting fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus dapat menimbulkan diskinesia dramatis yang disebut hemibalismus. d. Epitalamus Berupa pita sempit jaringan saraf yang membentuk atap diensefalon. Epitalamus berhubungan dengan sistem limbik dan agaknya berperan pada beberapa dorongan emosi dasar dan ingarasi informasi olfaktorius.

JENIS TRAUMA OTAK 1. Trauma Primer Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung (akselerasi/deselerasi utuh). 2. Trauma Sekunder ~ Merupakan akibat dari trauma saraf (melalui akson) yang meluas, hipertensi, intrakranial, hipoksia, hiperapnea, atau hipotensi sistemik. ( Marlyn. E. Doengoes; 2000 )

Terbuka atau Tertutup Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai menembus kedalam lapisan otak. dengan tabula eksterna tetapi intak. liat dan kuat. Tabula Interna Serupa tabula eksterna tetapi hanya lebih tipis. merupakan lapisan fibrosa. Robekan Kulit Kepala Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Sederhana. Beberapa cara untuk menggambarkan fraktur tulang tengkorak : Garis patahan atau tekanan.. 3.. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan. anatomi fisiologi Tulang kepala terdiri dari 3 lapisan:  Tabula Eksterna Merupakan lapisan yang keras Diploe Merupakan lapisan tulang “cancellous” dan mengandung banyak cabang – cabang arteri / vena diploika yang berasal baik dati permukaan luar maupun dari durameter. sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. .   Meningen Membran jaringan ikat yang terdiri dari: 1.JENIS TRAUMA KEPALA 1.Durameter (Pachymeninx)   Lapisan paling luar. 2. Membagi ruang antara kranium dan otak menjadi: *Ruang Epidural : antara tulang dan durameter *Ruang Subdural : antara durameter dan otak  Terdiri dari 2 lapisan: *Lapisan luar : dikenal sebagai periosteum interna dan berhubungan dengan periosteum eksternamelaluiforamenmagnum. sehingga pada benturan tidak tertutup kemungkinan terjadi fraktur menekan pada tabula interna. Oleh karena kulit kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi. Fraktur Tulang Tengkorak Fraktur tulang tengkorak sering terjadi pada trauma kepala. Komplikasi utama robekan kepala ini adalah infeksi. remuk atau compound. trauma langsung atau tidak. momentum.

Lobus terdiri dari:  lobus frontal lobus terbesar. sehingga mengikuti bentuk sulkus-sulkus. Bersama dengan lapisan arakhnoid disebut Leptomeningen.kepribadian.Sisterna ambiens (sisterna superior) 3. Melekat pada parenkim otak / spinal. pada tosa anterior fungsi : mengontrol perilaku individu.Sisterna pontin : terletak di persimpangan pontomedularis Dibagian dorsal batang otak . terdiri dari 2 lapis. Piameter      Lapisan meningen paling dalam.Sisterna magna (sisterna cerebellomedullaris) . avaskuler terpisah dari durameter diatasnya hanya oleh sedikit cairan yang fungsinya sebagai pembasah. yaitu: *Falx Cerebri *Tentorium Cerebri *Difragma Sella *Falx Serebeli 2. Fungsi : sebagai pelindung masuknya bahan toksis atau mikroorganisme. tansparan.  Mempunyai 4 bangunan lipatan durameter. Mengandung pembuluh darah kecil yang memebri makan pada struktur otak dibawahnya. Di permukaan basal otak dan sekitar batang otak. bau dan pendengaran lobusparietal fungsi menginterpretasikan sensori lobus oksipital (posterior) fungsi menginterpretasikan penglihatan    .*Lapisan dalam : berjalan terus ke distal sebagai durameter spinal.Sisterna kiasmatik : terletak di daerah kiasma optika .Sisterna interpendukularis : terletak pada fossa interpedunkularis mesensefalon . piameter dan arakhnoid terpisah agak jauh sehingga terbentuk ruang sisterna subarakhnoid. membuat keputusan dan menahan diri lobus temporal (samping) fungsi menginterpretasikan sensori mengecap. Dibagian ventral baatang otak . tipis. Arakhnoid   Membran jaringan ikat. Dengan adanya struktur ini tidak terjadi komunikasi antara ruang epidural kepala dengan ruang epidural spinal.Hemisfer kanan dan hemisfer kiri . Pembagian otak ada 3 yaitu: -Serebrum (otak besar) Terdiri dari 2 hemisfer dan 4 lobus .

terdapat sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri karotis interna dan vertebral. melalui syarat sensori. 2. . disebut sirkulus wilisi yang dibentuk dari cabangcabang arteri carotis internal.-Serebelum (otak kecil) Terletak di bagian posterior dan terpisah dari hemister serebral Serebelum mempunyai fungsi merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus. pancreas. hati. ~ Sistem syaraf Otonom Susunan syaraf yang mempunyai peranan penting. Seperti: otot jantung. Menerima informasi (stimulus) internal maupun eksternal. 2 arteri yaitu arteri carotis interdan dan arteri vertebral adalah arteri yang menyuplai darah ke otak. 4. Mengolah informasi yang diterima di medula spinalis dan atau di otak. Sedangkan vena-vena pada serebri bersifat unik. yaitu menentukan respon. kelenjar. ke organ-organ tubuh sebagai kontrol / modifikasi tindakan. Kurangnya suplai darah ke otak dapat menyebabkan jaringan rusak ireversibel. -Batang Otak Terdiri dari bagian-bagian otak tengah. Vena-vena serebri tidak mempunyai katup untuk mencegah aliran darah balik. Fungsi Sistem Persyarafan 1. Mengatur jawaban (respon) secara cepat melalui syaraf motorik (efferent motorik palway). mempengaruhi pekerjaan otot tak sadar (otot polos). saluran pencernaan. karena tidak seperti vena-vena lain.sistem syaraf somatik . Sirkulasi darah pada Serebral Otak menerima sekitar 20% dari curah jantung. pons dan medula oblongata: *otak tengah menghubungkan pons dan serebelum dengan hemister serebrum *pons terletak di depan serebelum antara otak tengah dan medula *medula oblongata fungsi meneruskan serabut-serabut motorik dari otak medula spinalis ke otak Sistem Syaraf Perifer . Pada dasar otak disekitar kelenjar hipofisis. Mengkomunikasikan antara syarat pusat sampai syarat tepi 3.sistem syaraf otonom : * susunan syaraf simpatis * susunan syaraf parasimpatis ~ Sistem syaraf Somatik Susunan syaraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengetur aktivitas otot sadar / serat lintang. dll.

mengalami coma kurang dari 20 menit. d) Rinorrhea atau ottorhea 2) Trauma Kapitis Tertutup a) Concussion/commotio/memar Adalah banyak cedera yang mengakibatkan kerusakan fungsi neurologi tanpa terjadinya kerusakan struktur. defisit neurologis seperti hemiparesis. Akibat perdarahan dapat terjadi ketidaksadaran. yaitu fraktur basis kranii yang ditandai dengan : a) Echymosis disekitar Os mastoideus b) Hemotimpanum yaitu perdarahan yang keluar dari telinga. amnesia retrograde dan ketidakmampuan berkonsentrasi. twitching. Ada jenis fraktur kepala terbuka yang mengenai dasar tengkorak. Edema cerebri traumatic Apabila dalam pengamatan lanjut terdapat tanda-tanda penurunan keadaan umum klien. yang ditandai oleh kesadaran turun yang lebih lama. b. b) Contusio Adalah cedera kepala yang termasuk didalamnya luka memar. cerebral laceratio diklasifikasikan berdasarkan lokasi benturan yaitu : Coup. Fenomena ini memerlukan pengawasan dan orientasi secara bertahap. Gejala neurologis.Contusio cerebri (memar otak) Apabila terjadi laserasi cerebri. cacat otak tidak ada dan perawatan di rumah sakit kurang dari 48 jam. connorio ini biasanya dapat terlihat pada lobus frontalis jika dilakukan lumbal funksi maka liquor serebrospinal hemoragic. Dapat terjadi perdarahan. c) Echymosis periorbital (black eyes) walaupun trauma tidak ada pada mata. pusing. atau bulanan). lelah. . untuk sementara kehilangan kesadaran dalam beberapa menit atau 2-3 jam. delirium dan CSF berdarah serta EEG abnormal. tanpa adanya laserasi cerebri. 2002 ) 3. KLASIFIKASI TRAUMA KAPITIS Secara umum. hemiplegi dan dilatasi pupil. konvulsi.( Brunner and Sudarth. parese. Luka/lecet pada kulit kepala yang paling sering terjadi. karakteristik gejala commotio. Trauma Kapitis terdiri dari : 1) Trauma Kapitis Terbuka Adalah suatu keadaan dimana tengkorak sudah fraktur dan bagian duramaternya terbuka dan tergores. refleks abnormal. Comosio cerebri (gegar otak) Gangguan fungsi cerebral sementara berupa kesadaran menurun (pingsan/coma. amnesia retrograd singkat). trauma kapitis diklasifikasikan menjadi 2 bentuk. Dapat juga disertai dengan pusing dan sakit kepala. karena kulit kepala terdiri dari banyak pembuluh darah dengan kemampuan yang kurang. Amnesia retrograde lebih berat dan jelas. cedera. c. perdarahan dan edema. KLASIFIKASI TRAUMA CAPITIS a. hematoma dan edema cerebral. Pasien dapat tidak sadar dalam waktu yang tidak tentu (2-3 jam. Keadaan ini lebih serius daripada commotio serebri. b. kelumpuhan syaraf otak. sakit kepala. kebanyakan lukanya disertai dan bercampur dengan perdarahan komplikasi utama yang terjadi pada kulit kepala adalah infeksi. counter coup lesi tidak langsung terjadi pada tempat pukulan melainkan terlihat pada bagian belakangnya. yaitu : Trauma kepala tertutup Jenis-jenis trauma kepala tertutup antara lain : a. c) Laceratio Cerebri (trauma kapitis berat) Adanya sobekan pada jaringan otak karena tekanan atau fraktur dan luka tusukan.

luas permukaan luka. tekanan darah meningkat. bradikardia.Hematoma epidural (ektradural) Ditandai oleh adanya penurunan kesadaran yang mulainya lebih lambat (bukan pada detik trauma). d.misalnya kesadaran yang turun lambat atau tidak membaik dalam waktu antara 3-7 hari. dalamnya penetrasi kebagian proksimal.Hematoma intracerebri Terjadi bersamaan dengan contusio. Benda tumpul Dapat menyebabkan cidera seluruh kerusakan terjadi ketika energi/kekuatan diteruskan kepada otak. biasanya diklasifikasikan berdasarkan jenis lukanya. e. f. 4. Dorongan yang mengancam terjadinya herniasi otak oleh bekuan darah ditengah otak disertai edema lokal yang hebat. 25 ) Mekanisme cidera kepala . Perdarahan yang terjadi disebabkan oleh pecahnya berpuluh-puluh vena yang berjalan dari tepi duramater sampai piamater atau pecahnya sinus sagitalis superior yang lebih hebat yang menyebabkan hematoma subdural akut. sehingga secara umum lebih buruk baik dioperasi maupun tidak. anisokhor (penekanan batang otak dari jarak jauh oleh masa hemisfer sesisi). hal.Higroma Apabila hematoma diserbu oleh CSF.Hematoma subdural Lebih lambat dari hematoma epidural dan bedanya adalah timbulnya edema papil. disertai tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial berupa edema papil. sedang interval lusid lebih sulit ditemukan. g.  Penyebab lain:        kecelakaan lalulintas jatuh pukulan kejatuhan benda kecelakaan kerja / industri cidera lahir luka tembak ( Cholik dan Saiful. Nyeri kepala juga menonjol. derajat perdarahan yang terjadi. defisit neurologis lambat. Dapat terjadi pengumpulan cairan yang berprotein sangat tinggi (hingga 2000 mg%) yang kadang-kadang memerlukan terapi bedah atau aspirasi.Trauma kepada terbuka Untuk trauma kepala terbuka. ETIOLOGI Cidera kepala dapat disebabkan oleh dua hal antara lain :  Benda tajam Trauma benda tajam dapat menyebabkan cidera setempat. sehingga mengencer. 2007. muntah. 2. nyeri kepada makin berat.

Contoh : kepala membentur aspal. Contoh : akibat pukulan lemparan. Bagian otak yang paling keras mengalami kerusakan adalah bagian anterior dari lobus frontalis dan temporalis. kerusakan diperhebat bila ada rotasi tengkorak. sirkulasi otak dapat kehilangan kemampuannya untuk mengatur volume darah yang tersedia.jatuh dan terpeleset. ( Hoffman.Riwayat kerusakan yang disebabkan oleh beberapa hal tergantung pada kekuatan yang menimpa. Peningkatan suplay darah ke tempat cedera dan mobilisasi sel-sel untuk memperbaiki kerusakan sel.Kerusakan neurologis langsung disebabkan oleh suatu benda atau serpihan tulang yang menembus dan merobek jaringan otak. terutama di bagian frontal dan frontal temperol. oleh pengaruh suatu kekuatan atau energi yang diteruskan ke otak.dkk. PATOFISIOLOGI . jaringan otak.1996 ). Setiap kali jaringan mengalami cedera. bergerak.   Berdasarkan berat ringannya : 1) 2) 3) Cidera kepala ringan → Cidera kepala sedang → Cidera kepala berat → G C S : 13 – 15 G C S : 9 – 12 GCS:3–8 Penyebab terbesar cedera kepala adalah kecelakaan kendaraan bermotor. Sebagai akibat cedera.Trauma kapitis menyebabkan cedera pada kulit kepala. 5. Deselerasi Akibat kepala membentur benda yang tidak bergerak. bagian posterior lobus oksipitalis dan bagian atas mesencefalon. Kekuatan akselerasi dan deselerasi menyebabkan isi dalam tengkorak yang keras. . Ekselerasi Ketika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam. Neuron dan sel-sel fungsional dalam otak tergantung dari suplay nutrien yang konstan dalam bentuk glukosa dan O2 dan sangat peka terhadap cedera metabolik apabila suplay terhenti. Efek sekunder trauma yang menyebabkan perubahan neurologik berat disebabkan oleh reaksi jaringan terhadap cedera. . tulang kepala.coup.Biomekanika cedera kepala ringan yang utama adalah akibat efek ekselarasi/deselerasi atau rotasi dan putaran. Efek ekselerasi/deselerasi akan menyebabkan kontusi jaringan otak akibat benturan dengan tulang tengkorak. dengan demikian memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak pada tempat yang berlawanan (counter coup) karena ada benturan keras ke otak maka bagian ini dapat merobek dan mengoyak jaringan. . menyebabkan iskemia pada beberapa tempat tertentu dalam otak. Deforinitas Dihubungkan dengan perubahan bentuk atau gangguan integritas bagian tubuh yang dipengaruhi oleh kekuatan pada tengkorak. Gaya benturan yag menyebar dapat menyebabkan cedera aksonal difus (diffuse axonal injury) atau cedera coupcontra. responnya dapat mempengaruhi perubahan isi cairan intrasel dan ekstrasel. Cedera otak bisa berasal dari trauma langsung dan trauma tidak langsung pada kepala.

LP berdarah c. Laserasio Serebri . Tanda dan gejala emosional/kepribadian Kecemasan.Pingsan maupun tidak sadar selama berhari-hari/berbulan-bulan . 4.Jaringan robek akibat fragmen taham . 7. 2007.Mual dan muntah . 3.Tidak sadar lebih dari 10 menit .Gejala neurologi. TD menurun atau normal b. Commotio Cerebri .Kelumpuhan anggota gerak . Tanda dan gejala kognitif Gangguan memori. 6. jika klien sadar akan mengeluh sakit kepala berat muntah projektil papil edema kesadaran makin menurun perubahan tipe pernapasan anisokor tekanan darah turun. suhu.Penurunan tingkat kesadaran . 8. 2. iritabilitas. vomitus.6. dizziness. .Amnesia anterograde . seperti parese .Mual dan muntah . bradikardia suhu tubuh yang sulit dikendalikan ( Cholik dan Saiful. 1996) Gejala sbb: 1. nausea. Contosio Cerebri .Kelumpuhan saraf otak .Nyeri kepala (pusing) .Tidak sadar selama kurang atau sama dengan 10 menit. hal.   (Hoffman. 31 ) Tanda dan Gejala a. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala cidera kepala dapat dikelompokkan dalam 3 kategori utama:  Tanda dan gejala fisik/sumatik Nyeri kepala. dkk.Nadi. 5. gangguan perhatian dan berpikir kompleks.

GDA (Gas Darah Arteri) Mengetahui adanya masalah ventilasi oksigenasi yang dapat menimbulkan Kimia/Elektrolit Darah Mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam peningkatan TIK/perubahan          . Diabetes Insipidus Disebabkan oleh kerusakan traumatik pada rangkai hipofisis menyebabkan penghentian sekresi hormon antideuretik. PET (Positron Emission Tomografi) Menunjukkan aktiitas metabolisme pada otak. Angiografi Serebral Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK  Scan – CT Mengidentifikasi adanya SOL.7. MRI Sama dengan Scan –CT dengan atau tanpa kontras. Pungsi Lombal CSS Dapat menduga adanya perdarahan subarachnoi. Kejang Kejang pasca trauma dapat terjadi secara (dalam 24 jam pertama) dini (minggu pertama) atau lanjut (setelah satu minggu). KOMPLIKASI Komplikasi pada Trauma Kapitis :  Kebocoran cairan Serebrospinal Akibat fraktor pada Fossa anterior dekat sinus frontal atau dari fraktor tengkorak bagian petrous dari tulang temporol. BAER (Brain Auditory Evoked) Menentukan fungsi dari kortel dan batang otak .Hemorogi.   Hudak & Gallo ( 1996 ) 8. pergeseraan cairan otak. perdarahan dan trauma. EEG Memperlihatkan keberadaan atau perkembangan gelombang Sinar X Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (Fraktor) pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan) edema dan adanya frakmen tulang. menentukan Ukuran ventrikel.

adanya frakmen tulang. Analisa Gas Darah : untuk mendeteksi jumlah ventilasi dan oksigenisasi i. tekanan intrakranial yang tinggi. g. k. 2000 ) VII. syock hipovolemik. menentukan ukuran vertikel. gangguan kardiovaskuler. Cek elektrolit darah : untuk mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam peningkatan TIK. PET (Positron Emission Tomography) menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme otak. Perlu mendapat penanganan yang tepat. 9. Doengoes.  Medik 1. gangguan kesimbangan cairan dan elektrolit.25 g / kg BB) Hati-hati terhadap kerusakan ginjal Steroid Digunakan untuk mengurangi edema otak   Bikarbonas Natrikus Untuk mencegah terjadinya asidosis Antikonvulsan Masih bersifat kontroversial Tujuan : untuk profilaksis kejang Terapi Koma Merupakan langkah terakhir untuk mengendalikan TIK secara konservatif. Echoencephalograpi : melihat keberadaan dan berkembangnya gelombang patologis. e. Pemeriksaan Toksikolog Mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran. Fungsi lumbal/listernograpi : dapat menduga kemungkinan adanya perdarahan subarachnoid. d. Manitol IV Dosis awal 1 g / kg BB Evaluasi 15 – 20 menit (bila belum ada perbaikan tambahan dosis 0. Pneumoenchephalografi dengan memasukkan udara ke dalam ruangan otak apakah ada penyempitan. CT Scan (dengan atau tanpa kontras) Mengidentifikasi adanya perdarahan. Test Diagnostik a. Kaular Anti Konvulsan Darah Dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat yang cukup efektif untuk  ( Marlyn. MRI (Magnetik Resonance Imaging) Sama dengan CT Scan dengan atau tanpa kontral c. f. pergeseran struktur dari garis tengah. E. Darah lengkap untuk mengetahui kekuatan hemoglobin dalam mengikat O2. h. X-ray : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang. EEG : untuk melihat aktifitas dan hantaran listrik di otak j.   . kejang-kejang. PENATALAKSANAAN MEDIK dan NON-MEDIK Pasien dengan trauma kepala berat sering mengalami gangguan pernapasan. pergeseran jaringan otak b.

warna kulit. Sedasi Gaduh. Gangguan Mobilitas Fisik . Dosis : 1 mg/kg BB IV.Terapi ini menurunkan metabolisme otak. penyembuhan luka .  Antipiretik Demam akan memperburuk keadaan karena akan meningkatkan metabolisme dan dapat terjadi dehidrasi. kerusakan otak.berikan penenang diazepam. perawatan harus dilakukan dengan tujuan untuk menghentikan pola refleksif dan penurunan tonus otot abnormal.jika banyak ludah atau lendir atau sisa muntahan lakukan penghisapan. Antasida – AH2 Untuk mencegah perdarahan GIT : simetidin. dapat diulang tiap 6 – 12 jam. keluarkan gigi palsu bila ada. Furosemid adakalanya diberikan bersama dengan obat anti edema lain.posisikan tubuh pasien dengan posisi opistotonus. gelisah merupakan gejala yang sering ditemukan pada penderita cidera otak dan dapat meningkatkan TIK.memerlukan jumlah kalori 2 kali lipat dengan meningkatnya aktivitas system saraf ortosimpatik yang tampak pada hipertensi dan takikardi. . bunyi pernapasan dan ekspansi dada.bila kebutuhan kalori tidak terpenuhi maka jaringan tubuh dan lemak akan diurai. Nutrisi pada Trauma otak berat .hindari flexi leher yang berlebihan karena bias menyebabkan terganggunya jalan napas/peningkatan TIK.kegelisahan dan tonus otot yang meningkat menambah kebutuhan kalori.menghilangkan penekanan dan lakukan intervensi mobilitas. .KerusakanKulit . . famotidin. Lorazepam (ativan) 1 – 2 mg IV/IM dapat diberikan dan dapat diulang pemberiannya dalam 2 – 4 jam.pasien ditempatkan dalam posisi miring atau seperti posisi koma.Perawat mengkaji frekuensi dan upaya pernapasan pasien. Masalah Hidrasi . ranitidin. . 5. . . Pengelolaan Pernapasan: . . Kerugian : tidak dapat memantau kesadaran penderita.trakeostomi dilakukan bila lesi di daerah mulut atau faring parah. .pada cidera kepala terjadi kontriksi arteri-arteri renalis sehingga pembentukan urine berkurang dan garam ditahan didalam tubuh akibat peningkatan tonus ortosimpatik.   Non-Medik 1. 3.periksa mulut. 4. . Jika penyebab infeksi tambahkan antibiotik. 2. .perawat menghindarkan terjadinya kontraktur dengan melakukan ROM pasif dengan merenggangkan otot dan mempertahankan mobilitas fisik.mengurangi edema & menurunkan TIK Biasanya dilakukan 24 – 48 jam.posisi pasien selalu diubah setiap 3 jam dan lakukan fisioterapi dada 2x/sehari.

. 66 – 69 ) VIII. daya tahan menurun. gangguan fungsi pergerakan. 2. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah. terjadi pada edema cerebri dan hematoma dalam tulang tengkorak.Analgetik (mengurangi rasa takut). b. 2. ( Cholik dan Saiful. Bila kehilangan lebih dari 50% darah dapat mengakibatkan kematian. Peningkatan tekanan intrakranial. 7.Corticosteroid (mengurangi edema) .Monitor tanda-tanda vital 3. timbul dekubitus. 2007. 6. Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul pada pasien yang mengalami trauma kapitis yaitu: a.Bedrest total di RS . Meningitis. Tindakan operatif bila ada indikasi IX.Barbiturat (penenang) . d.Diuretik . Edema pulmonal akibat dari cedera pada otak yang menyebabkan adanya peningkatan tekanan darah sistemik sebagai respon dari sistem saraf simpatis pada peningkatan TIK. terjadi bila ada luka di daerah otak yang ada hubungannya dengan luar. Pengobatan konservatif . Nyeri berhubungan dengan trauma kepala. Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran. hal. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah: 1. Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala. Shock disebabkan karena banyaknya darah yang hilang atau rasa sakit hebat. c.Monitor tekanan intrakranial . Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial. Perubahan permeabilitas pembuluh darah paru berperan dalam proses memungkinkan cairan berpindah ke dalam alveolus.Observasi pernapasan . adanya sekresi. Therapi / Pengelolaan Medik Pengobatan yang diberikan pada pasien trauma kapitis : 1. 3. 5. dan meningkatnya tekanan intrakranial.Monitor cairan elektrolit . Infeksi/kejang.akan lebih lama.Antibiotik (mencegah infeksi) . 10. Peningkatan vasokontriksi tubuh ini menyebabkan lebih banyak darah dialirkan ke paru-paru.Antikonvulsan (anti kejang) . Tindakan observatif . terjadi bila disertai luka pada anggota badan atau adanya luka pada fraktur tulang tengkorak. e. 4. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.

2000 ) 11.d penumpukan sekresi. c. perubahan warna (tanda-tanda trauma) • Keluarnya cairan dari telinga dan hidung • Gangguan kesadaran • Demam.d penurunan tingkat kesadaran. kelemahanan. konsentrasi). Perubahan persepsi sensorik b. . muntah • Sulit menelan c. Kecemasan orang tua-anak berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala. • Kehilangan rasa. E.8. • Riwayat trauma saat ini dan benturan yang terjadi secara tidak sengaja. f. Gangguan gambaran tubuh dan perubahan peran b. 9. lekas marah. ( Marlyn.d peningkatan tekanan intrakranial. bau. Pola istirahat • Pasien mengatakan intensitas sakit kepala yang tidak tetap dan lokasi sakit kepala. Pola pemeliharaan kesehatan dan persepsi kesehatan. Pola persepsi dan konsep diri • Adanya perubahan tingkah laku (halus dan dramatik). tidak peka terhadap reflek cahaya. koma. f. • Kehilangan indra perasa pada bagian tubuh. rochi. • Perubahan status mental (perhatian. lesu. d. letih. reflek batuk yang kurang. emosional. d. g. • Kesulitan dalam memahami diri sendiri. ketidakmampuan fisik. Pola eliminasi • Inkontinensia atau retensi kandung kemih. • Gangguan penglihatan • Kulit luka kepala/abrasi. wheezing. Pola persepsi sensori kognitif • Kehilangan kesadaran sementara. Pola aktivitas • Keadaan aktivitas : lemah. • Kecemasan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. • Pusing. Doengoes. tingkah laku. kerusakan nervus olfakttorius. Perubahan perfusi jaringan otak b. perubahan pupil. kebingungan dan kelemahan fisik. ingatan. kelemahan koordinasi otototot kejang • Keadaan pernapasan: apnea. • Wajah tidak simetris • Tidak ada reflek tendon • Tidak mampu mengkoordinir otot-otot dan gerakan. kerusakan lobus pariental.d adanya kejang. hemiparase. gelisah. hemiparese. Diagnosa Keperawatan a. kesadaran berubah. Gangguan dalam pertukaran gas b. Pengkajian a. pendengaran dan selera • Perubahan dalam kesadaran. ketidakmampuan untuk melihat ke segala arah. pingsan • Mati rasa pada ekstremitas • Perubahan penglihatan: diplopia. e. hyperventilasi. bingung. • Fraktur atau terlepasnya persendian. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi. Pola nutrisi metabolik • Mual.d kurang berfungsinya proses berfikir.d hemiplegia. kelumpuhan pada salah satu anggota gerak otot. b. Kesulitan mobilitas fisik b. perubahan suhu tubuh b. Resiko tinggi injuri b. e. suara napas stridor. mengingau. 2.

kelelahan Hasil yang diharapkan: • Pasien dapat mempertahankan mobilitas fisik seperti yang tunjukkan dengan tidak adanya kontraktur. Kesulitan mobilitas fisik b. tanda-tanda vital (tekanan darah meningkat. Perubahan persepsi sensorik b.d peningkatan tekanan intrakranial. • Orientasikan pasien terhadap orang.d kesulitan dalam mobilitas fisik. l. • Monitor suhu tubuh R/: Panas tubuh yang tidak bisa diturunkan menunjukkan adanya kerusakan hipotalamus atau panas karena peningkatan metabolisme tubuh. R/: Untuk menentukan asuhan keperawatan yang diberikan. Gangguan kognitif kesulitan dalam komunikasi verbal b. c.d aphasia j. diamox R/: Membantu mengurangi edema otak b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d trauma dan sakit kepala. Perencanaan a. R/: Melatih kemampuan pasien dalam mengenal waktu.d penurunan tingkat kesadaran.d terganggunya saraf kontrol berkemih. • Kolaborasi medik untuk membatasi penggunaan sedativa R/: Sedativa mempengaruhi tingkat kesadaran pasien. kerusakan nervus olfaktorius. dan nadi) tiap 10-20 menit sesuai indikasi. misalnya: parfum R/: Melatih kepekaan nervus olfaktorius. • Berikan posisi antitrendelenberg atau dengan meninggikan kepala kurang lebih 30 derajat. Tidak mampu merawat diri b.d hemiplegia.d kesulitan dalam mobilitas fisik i. R/: Mendeteksi dini perubahan yang terjadi sehingga dapat mengantisipasinya. Hasil yang diharapkan: • Kesadaran pasien kembali normal • Tidak terjadi peningkatan TIK Intervensi: • Observasi keadaan umum serta TTV R/: Mengetahui keadaan umum pasien. suhu naik. Hasil yang diharapkan: • Pasien tidak menunjukkan peningkatan TIK • Terorientasi pada tempat. kerusakan lobus parientalis. • Temukan faktor penyebab utama adanya penurunan perfusi jaringan dan potensial terjadi peningkatan TIK. Kerusakan integritas kulit b. pernapasan sesak. Gangguan rasa nyaman : nyeri b. waktu dan respon • Tidak ada gangguan tingkat kesadaran Intervensi: • Kaji status neurologi. R/: Mencegah terjadinya peningkatan TIK • Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat diuretik seperti manitol. • Beri foodboard/penyangga kaki R/: Mempertahankan posisi ekstremitas . • Tidak terjadi peningkatan TIK Intervensi: • Lakukan latihan pasif sedini mungkin R/: Mempertahankan mobilitas sendi dan tonus otot.d kurang mampu menelan h. Perubahan perfusi jaringan otak b. k. Perubahan pola eliminasi urine inkontinential atau retensi urine b. 3. • Gunakan berbagai metode untuk menstimulasi indra. tempat dan lingkungan pasien.g. tempat dan waktu.

R/: Suara napas berkurang menunjukkan akumulasi sekret • Catat karakteristik sputum (warna. konsistensi) R/: Pengeluaran sekret akan sulit jika kental • Anjurkan minum 2500cc/hari. . R/: Mengurangi rasa keterasingan terhadap perubahan body image. • Dengarkan ungkapan pasien untuk menolak/menyangkal perubahan body image. Intervensi: • Kaji persamaan dan persepsi pasien tentang kurang berfungsinya proses berfikir dan ketidakmampuan mobilitas fisik.d adanya kejang. • Bantu pasien dalam mengekspresikan perasaan perubahan bod image R/: Meningkatkan proses penerimaan diri. • Pernapasan teratur. reflek batuk yang kurang. memelihara fungsi mental dan orientasi terhadap kenyataan. Hasil yang diharapkan: • Trauma fisik tidak terjadi • Terjaganya batas kesadaran fungsi motorik Intervensi: • Jangan tinggalkan pasien sendiri saat kejang R/: Secepatnya mengambil tindakan yang tepat dan menentukan asuhan keperawatan • Perhatikan lingkungan R/: Cegah terjadinya trauma • Longgarkan pakaian yang sempit terutama bagian leher. jumlag. Hasil yang diharapkan: • Tidak ada gangguan jalan napas • Lendir dapat batukkan/sekret dapat keluar. kecepatan irama. suara napas. R/: Melatih kemampuan berfikir. R/: Menentukan tindakan keperawatan yang tepat. kedalaman. R/: Mengencerkan lendir sehingga dapat dibatukkan • Beri posisi fowler R/: Memaksimalkam ekspansi paru dan memudahkan bernapas • Kolaborasi pemberian O2 dan pengobatan/therapi R/: Memenuhi kebutuhan O2 dan pengeluaran sekret f. R/: Memperlancar jalan napas. kebingungan.d penumpukan sekresi. Resiko tinggi injuri b. kaki dan tungkai R/: Posisi ekstremitas yang kurang tepat akan terjadi dislokasi • Kolaborasi fisioterapi R/: Tindakan fisioterapi dapat mencegah kontraktur d. e. lengan.• Pertahankan posisi tangan. penggunaan obat tambahan. Gangguan pertukaran gas b.d kurang berfugsinya proses berpikir Hasil yang diharapkan: • Membuat pernyataan tentang body image • Mengekspresikan penerimaan body image • Menggunakan sumber-sumber yang tersedia untuk mendapatkan informasi dan dukungan. R/: Mengurangi ketegangan • Beri posisi yang tepat (kepala dimiringkan) R/: Membantu pembukaan jalan napas. • Tidak boleh diikat selama kejang. Gangguan gambaran tubuh dan perubahan peran b. Intervensi: • Kaji pernapasan. • Gunakan bantal tipis di kepala R/: Membantu mengurangi tekanan intrakranial • Disorientasikan kembali keadaan pasien dan berikan istirahat pada pasien.

Intervensi: • Kaji kemampuan makan dan menelan. R/: Membantu dalam menentukan jenis makanan dan mencegah terjadinya aspirasi • Dengarkan suara peristaltik usus R/: Membantu menentukan respon dari pemberian makanan dan adanya hiperperistaltik kemungkinan adanya komplikasi ileus. eliminasi pasien terpenuhi.d aphasia Hasil yang diharapkan: • Kemampuan komunikasi verbal b.• Hargai pemecahan masalah yang konstruktif untuk meningkatkan rasa penerimaan diri. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. • Ajarkan pasien untuk berlatih bicara pendek dan singkat. Intervensi: • Bantu perawatan diri pasien sesuai dengan kebutuhan pasien. R/: Memberikan dukungan untuk meningkatkan body image. i. • Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri bila sudah sembuh.d kesulitan dalam mobilitas fisik dan gangguan kognitif. • Pasien dapat merawat diri sesuai dengan kemampuan pasien. Hasil yang diharapkan: • Kebutuhan hygiene. R/: Vitamin membantu meningkatkan nafsu makan dan mencegah malnutrisi h. R/: Menentukan intervensi yang tepat • Ajarkan teknik relaksasi tarik napas dalam R/: Ketegangan saraf yang mengendor akan mengurangi rasa nyeri. • Kaji kemampuan pasien dalam merawat diri. • Berikan rasa nyaman saat makan. Kesulitan dalam komunikasi verbal b. • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin. • Anjurkan pasien untuk mengungkapkan kebutuhannya dengan bahasa isyarat. R/: Menentukan asuhan keperawatan yang tepat.d trauma sakit kepala. Tidak mampu merawat diri b. Gangguan rasa nyaman : nyeri b. • Terbebas dari malnutrisi.d aphasia Intervensi: • Kaji kemampuan pasien dalam komunikasi verbal R/: Menentukan askep yang tepat • Beri kesempatan pada pasien untuk menngungkapkan kebutuhannya R/: Agar pasien terpenuhi kebutuhannya. R/: Meningkatkan nafsu makan. Hasil yang diharapkan: • Berat badan normal • Mengkonsumsi semua makanan yang disajikan. Hasil yang diharapkan: • Nyeri dapat berkurang sampai dengan hilang. seperti posisi semi fowler/fowler. R/: Kebutuhan pasien akan pemenuhan perawatan diri terpenuhi. intensitas dan keluhan pasien. • Beri posisi tidur dengan kepala tanpa bantal . nutrisi. R/: Mencegah adanya regurgitasi dan aspirasi • Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat. g.d kurang mampu menelan. Intervensi: • Kaji lokasi nyeri. R/: Kalimat pendek dan singkat tidak membuat pasien lelah dan bingung. j. R/: Kebutuhan pasien untuk berlatih bicara pendek dan singkat.

d terganggunya saraf kontrol. Lokasi yang terpengaruh: · Cedera kulit · Cedera jaringan tulang · Cedera jaringan otak 2. Kerusakan integritas kulit b. R/: Kain basah dan berlipat akan menimbulkan kerusakan pada kulit.R/: Tekanan intrakranial turun akan mengurangi rasa nyeri • Kolaborasi medik untuk pemberian analgetik R/: Analgetik meningkatkan ambang rasa nyeri. Discharge Planning a. Hasil yang diharapkan: • Pasien dapat mengontrol pengeluaran urine Intervensi: • Kaji pola berkemih R/: Menentukan tindakan • Catat intake dan output R/: Mengetahui balance cairan • Pasang kateter kondom R/: Mencegah infeksi 4. k. R/: Penekanan yang terlalu lama pada salah satu lokasi kulit akan menimbulkan nekrose • Lakukan massage pada lokasi kulit yang terjadi penekanan R/: Meningkatkan sirkulasi darah • Jaga alat tenun tempat tidur pasuen kering dan tidak terlipat. Keadaan kepala saat terjadi benturan Ø Masalah utama adalah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial ( TIK ) Ø TIK dipertahankan oleh 3 komponen: . s Prinsip – prinsip pada trauma kepala: Ø Tulang tengkorak sebagai pelindung jaringan otak. R/: Menentukan askep yang tepat. Ø Bila daya/toleransi elastisitas terlampau akan terjadi fraktur Ø Berat/ringannya cedera tergantung pada: 1. • Beri posisi tidur miring kiri-terlentang kanan tiap 2 jam. Libatkan keluarga dalam perawatan untuk cegah komplikasi. Jelaskan pentingnya istirahat b. Minum obat secara teratur sesuai program medik d. Perubahan pola eliminasi urine : inkontinensia atau retensi urine b. Segera bawa ke rumah sakit bila ada keluhan c.d kesulitan dalam mobilitas fisik Hasil yang diharapkan: • Tidak terjadi kerusakan kulit. l. dekubitus. Intervensi: • Kaji keadaan kulit pasien. mempunyai daya elatisitas untuk mengatasi adanya pukulan.

· Tanpa kerusakan otak permanen. · Hilang kesadaran sementara. muntah. · Disorientasi sementara. Volume LCS ( ± 75 – 150 ml ) Masalah yang timbul dari trauma kepala: b. Volume jaringan otak ( ± 1200 – 1400 ml ) 3. pusing. Volume darah / pembuluh darah ( ± 75 – 150 ml ) 2. · Muncul gejala nyeri kepala. Tipe Trauma Kepala Tipe/macam-macam trauma kepala antara lain: Trauma kepala terbuka Kerusakan otak dpat terjadi bila tulang tengkorak mauk ke dalam jaringan otak dan melukai: Ø Merobek durameter ® LCS merembes Ø Saraf otak Ø Jaringan otak Gejala fraktur basis: Ø Battle sign Ø Hemotympanum Ø Periorbital echymosis Ø Rhinorrhoe Ø Orthorrhoe Ø Brill hematom Trau a Komosio · Cidera kepala ringan.1. kepala tertutup . · Disfungsi neurologis sementara dan dapat pulih kembali. · Tidak ada gejala sisa. kurang dari 10 – 20 menit.

b Kontosio · Ada memar otak. reflek patologik positif.Kelainan neurologik positif. aktivitas sesuai.Amnesia retrograd lebih nyata c Hematom epidural · Perdarahan antara tulang tengkorak dan durameter. lumpuh. · Istirahat mutlak ® setelah keluhan hilang coba mobiliasi brtahap. · Akut : . · Setelah pulang ® kontrol. dekortisasi. · Perdarahan kecil lokal/difusi ® gangguan lokal ® perdarahan. · Lokasi terering temporal dan frontal. serebrasi. reflek patologik positif. nyeri kepala hebat.Gangguan kesadaran lebih lama . · Tidak ada terapi khusus. d. kronis. konvulsi.Sering brhubungan dengan cidera otak dan medulla oblongata. · Gejala : . · Biasanya pecah vena ® akut. .· MRS kurang 48 jam ® kontrol 24 jam pertama. subakut. Hematom subdural · Perdarahan antara durameter dan archnoid. duduk ® berdiri ® pulang. pupil dan isokor. · Kategori talk and die. diet cukup.Gejala TIK meningkat. observasi tanda-tanda vital. . istirahat cukup. · Sumber: pecahnya pembuluh darah meningen dan sinus venosus · Gejala: manifestasinya adanya desak ruang Penurunan kesadaran ringan saat kejadian ® periode Lucid (beberapa menit – beberapa jam ) ® penurunan kesadaran hebat ® koma.Gejala 24 – 48 jam . .

reflek pupil lambat. edema local. kacau mental. . edema paru. reflek melambat. 2 minggu 3-4 bulan . Karena adanya kompresi langsung pada batang otak → gejala pernapasan abnormal : Chyne Hiperventilasi Apneu 2.Gejala sakit kepala. disfgia. adanya bekuan darah. Sistem Metabolisme Trauma kepala → cenderung terjadi retensi Na. Dalam kedaan stress fisiologis. Perubahan saraf otonom pada fungsi ventrikel : Disritmia. kejang. Fibrilasi.PTIK meningkat . air. · Kronis : . Herniasi ancaman nyata. kantuk. · Sub akut Berkembang 7 – 10 hari. kontosio agak berat.Sakit kepala. dan hilangnya sejumlah Nitrogen. Sistem Kardiovaskuler stokes Trauma kepala → perubahn fungsi jantung : kontraksi. penetrasi peluru. gerakan akselerasi – deselerasi mendadak. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis → terjadi penurunan kontraktilitas ventrikel → curah jantung menurun → meningkatklan thanan ventrikel kiri → edema paru.Perdarahan kecil-kecil terkumpul pelan dan meluas.. adanya gejala TIK meningkat ® kesadaran menurun.Ringan. . e Hematom Intrakranial · Perdarahan intraserebral ± 25 cc atau lebih · Selalu diikuti oleh kontosio · Penyebab: Fraktur depresi. letargi. tekanan vaskuler. bingung. Takikardia. 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->