P. 1
ASKEP TIPOID

ASKEP TIPOID

|Views: 315|Likes:
Published by Ari Patia

More info:

Published by: Ari Patia on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

1. Pengertian Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.

Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).

2. Etiologi Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

3. Patofisiologi Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses.Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan

epitaksis. perasaan tidak enak di perut. penurunan kesadaran. batuk. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia. b. Minggu I pada umumnya demam berangsur naik. anorexia dan mual. pinggirnya hiperemi). 5. nyeri otot. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam. lidah yang khas (putih. Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid.. hepatomegali. usus halus dan kandung empedu.mencapai sel-sel retikuloendotelial. obstipasi / diare. nyeri kepala. 4. ManifestasiKlinik Masa tunas typhoid 10 – 14 hari a. karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus.Komplikasi intestinal . meteorismus. kotor. kuman selanjutnya masuk limpa. Minggu II pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam. bradikardi. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid. Komplikasi a.

Komplikasi extra intestinal 1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis). 7. hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi). 5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis. Pemeriksaan penunjang . pyelonepritis dan perinepritis. meningitis. meningiusmus. sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia. kolesistitis. hindari minum air mentah. empiema. polineuritis perifer. trobositopenia. dan syndroma uremia hemolitik. 7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium. Pencegahan Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan. 6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis. osteoporosis. dan pleuritis. 3) Komplikasi paru : pneumonia.1) Perdarahan usus 2) Perporasi usus 3) Ilius paralitik b. 2) Komplikasi darah : anemia hemolitik. spondilitis dan arthritis. 4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis. trombosis. tromboplebitis. miokarditis. rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas 8.

Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid. Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali. 2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit. Pemeriksaan leukosit Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. c. yang terdiri dari : a. Biakan darahBila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid. .Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium. b. jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid. Pada kebanyakan kasus demam typhoid. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dar beberapa faktor : 1) Teknik pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain.

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.3) Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien. 3) Aglutinin Vi. makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. 4) Pengobatan dengan obat anti mikroba. Faktor yang berhubungan dengan klien : 1. yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman) Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa. antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif. Uji Widal Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi. Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal : a. klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu : 1) Aglutinin O. . Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Akibat infeksi oleh salmonella thypi. yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman). 2) Aglutinin H. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. d. yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).

Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif. Dampak hospitalisas Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. 3. walaupun dengan hasil titer yang rendah. 5. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik. 6. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun. titer aglutinin O dan H dapat meningkat. 8. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial. leukemia dan karsinoma lanjut. sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Jumlah dan efek stress . Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa.2. 7. 4.

prosedur. Penyebab anak stress meliputi . Psikososial Berpisah dengan orang tua. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayany b. diri c. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri c. pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak b.tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan. imobilisasi dan tidak mengontrol d. Berusaha independen dan produktif Reaksi orang tua a. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit Penatalaksanaan Medis . Lingkungan asingKebiasaan sehari-hari berubah Fisiologis Kurang tidur. perasaan nyeri. a. anggota keluarga lain. Pemberian obat kimia Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun) a. Selalu ingin tahu alasan tindakan d. teman dan perubahan peran b. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit.

Akan tetapi mungkin pembentukkan zt anti kurang oleh karena basil terlalu cepat dimusnahkan. IV. yaitu : 1)   Perawatan Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian dan ekskreta. Dianjurkan pemberian klorampenikol dengan dosis yang tinggi yaitu 100 mg/kgbb/hari. kalori. IM. tiamfenikol. . diberikan 4 kali sehari peroral. Pemberian klorampenikol dosis tinggi tersebut memberikan manfaat yaitu waktu perawatan dipersingkat dan relaps tidak terjadi. berbaris terus di tempat tidur. dan tinggi protein. mengingat sakit yang lama. kartikosteroid. Perawatan yang baik untuk menghindarkan komplikasi.   Makanan mengandung cukup cairan. tidak boleh mengandung banyak serat. yaitu istirahat mutlak. 3)  Obat Kloramfenikol. Seminggu kemudian boleh duduk dan selanjutnya boleh berdiri dan berjalan.  Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali. Co-trimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan Sulkametoksazol).Terdiri dari 3 bagian.  Obat Symptomatik Antipiretik. Makanan harus menagndung cukup cairan. tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas. lemah dan anoreksia. TKTP. 2)  Diet Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula air-lunak-makanan biasa). diberikan pada pasien yang toksik. kecuali penderita tidak serasi dapat diberikan obat lain misalnya ampicillin.

Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit yang lainnya.Supportif vitamin-vitamin. apakah tidak pernah. nafsu makan menurun. no. Keluhan Utama pada pasien Thypoid. anorexia. diare. pekerjaan. alamat. pendidikan. 1. pucat (anemi). nyeri kepala pusing. biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung. mual. 1. apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya. jenis kelamin. nyeri otot. Riwayat Penyakit Dahulu Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid. dengan timbul gejala-gejala yang dalami. berat badan. umur. Registerasi. 1. Penenang : diberikan pada pasien dengan gejala neuroprikiatri Asuhan Keperawatan 1. 1. Pengkajian 1. agama. muntah. lidah tifoid (kotor). . 2. panas dan demam. gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma. tanggal MR. perasaan tidak enak di perut. Identitas Didalam identitas meliputi nama. Riwayat Penyakit Sekarang Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam. tinggi badan. apakah menderita penyakit lainnya. status perkawinan. Riwayat Psikososial Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien.

konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. 1. penurunan nafsu makan selama sakit. Pola tidur dan aktifitas Tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat. sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur. 1. 1. . Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum. 1. Pola-Pola Fungsi Kesehatan Pola pesepsi dan tatalaksana kesehatan Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya. Pola persepsi dan konsep diri Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.1. lidah kotor. 1. 1. dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah. 1. Pola penanggulangan stress Stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya. Pola persepsi dan pengetahuan Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri. 1. Pola reproduksi dan sexual Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah menikah akan terjadi perubahan. Pola nutrisi dan metabolism Adanya mual dan muntah. Pola aktifitas dan latihan Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya. Pola eliminasi Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi.

7) Sistem kardiovaskuler. kelopak mata normal. 5) 6) Sistem respirasi. lidah kotor. Dada normal. Kulit bersih. . pola nafas teratur. perut tidak enak. Apa ada pernafasan normal. anorexia. berkeringat banyak. pucat/bibir kering. mata cowong. puccat. fungsi pendengran normal leher simetris. ditepi dan ditengah merah. konjungtiva anemia. tidak ada suara tambahan. 8) Sistem integumen. Kepala tidak ada bernjolan. turgor kulit menurun. produk kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). 10) Sistem muskuloskolesal. dan tidak terdapat cuping hidung. bentuk simetris.2) Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah. panas. N ½ -1 cc/kg BB/jam. tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. muka tidak odema. rambut normal. Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi. 4) Dada dan abdomen. didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan. pucat. 9) Sistem eliminasi. 3) Kepala dan leher. akral hangat. mual. Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.

ternyata An. dalam penderita penyakit thypoid. B alergi terhadap antibiotik yang diberikan Analisa Data Data DS  Masalah Keperawatan Etiologi Hipertermi Mengeluh tinggi jika demam malam Infeksi Salmonella Typhii hari dan pagi hari . DS :     Mengeluh demam tinggi jika malam hari dan pagi hari suhu normal Mual (+) Lemah Nyeri abdomen DO :    Pemeriksaan widal (+) Titer terhadap antigen O 1/320 Pada pengkajian lebih lanjut. somnolen dan koma. Apakah kesadarn itu penuh atau apatis. 12) Sistem persyarafan.Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan. 11) Sistem endokrin. Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil.

lidah kotor. DO S : 38. kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan DO      Pucat. bibir kering. konjungtiva anemia. ditepi dan merah ditengah . mata cekung. anorexia.5OC Diraba hangat Takikardi Frekuensi napas meningkat DS     Kulit memerah Gangguan pemenuhan Anoreksia mual (+) lemah dan nyeri abdomen perut tidak enak.suhu normal.

pakaian tipis akan membantu . Agar klien dan keluarga mengetahui peningkatan membantu sebab suhu dari dan  Intervensi 1. Keperawatan 1 : Hipertermi berhubungan dengan infeksi salmonella thypi Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol. Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat mengurangi kecemasan yang timbul. 1. 2. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii.1. Berikan klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh 1. Untuk menjaga agar klien merasa nyaman. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia. Turgor kulit membaik Rasional penjelasan kepada 1. Mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu tubuh. Kriteria hasil :   Pasien melaporkan peningkatan suhu tubuh. 2. Diagnosa keperawatan 1. Intervensi Dx.

4. Antibiotik mengurangi antipiretik menurangi panas. Batasi pengunjung 1. Anjurkan pasien untuk banyak minum ±2. Untuk 7. Kolaborasi dalam dengan dokter terapi TTV tiap 4 jam mengurangi tubuh. penguapan 3. Tanda merupakan mengetahui umum pasien 5. Peningkatan penguapan suhu tubuh tubuh mengakibatkan meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak 6.1. infeksi membantu untuk dan untuk menurunkan suhu tubuh -tanda acuan vital untuk keadaan udara di dalam terasa ruangan tidak pemberian antibiotik dan antipiretik Dx. Tujuan : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat Kriteria hasil : . Agar klien merasa tenang dan panas. Memberikan kompres dingin 1. Observasi sekali 1.5 liter / 24 jam 1. Keperawatan 2 :Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.

Untuk untuk makanan/nutrisi. Untuk peningkatan 3. mengandung tentang nutrisi sehingga meningkat. 4. 2. Timbang berat badan klien setiap 2 hari. 3. banyak merangsang. Antasida Nutrisi kebutuhan mengurangi parenteral nutrisi per rasa mual dan muntah. mengetahui dan penurunan berat badan. Beri nutrisi tidak dengan serat. Jelaskan keluarga pada klien dan Rasional 1. dibutuhkan terutama jika oral sangat kurang. Kolaborasi dengan untuk pemberian antasida dan nutrisi parenteral. Beri makanan kecil dan frekuensi sering. Untuk menghindari mual dan muntah. dihidangkan hangat. 2. meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan 1. menimbulkan banyak gas dan Evaluasi Berdasarkan implementasi yang di lakukan. 1. Untuk meningkatkan klien makan tentang manfaat pengetahuan motivasi 2.  Nafsu makan meningkat Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan Intervensi 1. diet tidak maupun saat dalam masih porsi dokter lembek. maka evaluasi yang di harapkan untuk .

infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya. klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. kebutuhan nutrisi terpenuhi. tidak terjadi hipertermia. kebutuhan cairan terpenuhi.klien dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah : tanda-tanda vital stabil. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->