Wirawan Sumbodo dkk

TEKNIK PRODUKSI MESIN INDUSTRI
SMK JILID 3

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PRODUKSI MESIN INDUSTRI
Untuk SMK

JILID 3
Penulis Pendukung : Wirawan Sumbodo : Sigit Pujiono Agung Pambudi Komariyanto Samsudin Anis Widi Widayat : TIM : 17,6 x 25 cm

Perancang Kulit Ukuran Buku SUM t

SUMBODO, Wirawan Teknik Produksi Im esin Industri untuk SMK Jilid 3 /oleh Wirawan Sumbodo, Sigit Pujiono, Agung Pambudi, Komariyanto, Samsudin Anis, Widi Widayat ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xii, 250 hlm Daftar Pustaka : LAMPIRAN A. Glosarium : LAMPIRAN D. Indeks : LAMPIRAN E. ISBN : 978-979-060-139-0 ISBN : 978-979-060-142-0

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada d luar negeri untuk i mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan buku dengan judul “Teknik Produksi Industri Mesin” dengan baik. Teknik produksi industri mesin mempunyai peranan yang penting. Perkembangan dunia industri mendorong kemajuan yang pesat dalam teknik industri, mulai dari penggunaan perkakas tangan, mesin konvensional hingga mesin perkakas yang berbasis komputer dan yang otomatis. Buku ini disusun guna membantu peningkatan pengetahuan maupun skill dalam teknik produksi industri mesin baik di dunia pendidikan maupun non pendidikan. Bersama ini Penulis sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi baik material maupun spiritual dari persiapan hingga terbentuknya buku ini. Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk penyempurnaan buku ini, namun tentu masih terdapat kesalahan atau kekurang sempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga buku ini bermanfaat bagi perkembangan teknik produksi industri mesin pada khususnya dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya.

Penulis

iv

.

.................................................... 1 1............................................................................................ Beton............................ PETA KOMPETENSI ..................................................... 20 3............2 Mineral ....1 Poros .................................. 47 Rangkuman .................................................................................................2 Macam -Macam Energi ....................................................................................................................................... 25 BAB II MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN ........................................................................................................................................ 32 1.................. 29 1................................ 38 Mengenal Proses Pembentukan Logam ................................................. 20 3.............4 Pemurnian Mineral ....................................... 33 1....10 Die Casting....................... 39 Mengenal Proses Mesin Konversi Energi .......................... 35 1........... Mengenal Proses Pengecoran Logam ....................... 14 2................................................................................................................................................... 35 1.................................... Mengenal Material dan Mineral ................... 4. 30 1......3 Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral .................. 14 3.......... DAFTAR ISI .......2 Tegangan ........................4 Pengecoran Cetakan Ekspandable (Ekspandable Mold Casting) ...9 Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting).............8 Pengecoran dengan Gips...................... 22 4...............................................................1 Berbagai Macam Sifat Logam .................................11 Kecepatan Pendinginan................................ 29 1........ 44 3................................... 5............ 9 2..................................... 1 1.................... 3............................................................................................DAFTAR ISI Hal KATA SAMBUTAN ...... v ................................. 43 3....... 32 1...........................3 Pengolahan pasir Cetak ..... 21 3...... KATA PENGANTAR .... 51 2......... 51 Tes Formatif .......................................... Mengenal Komponen/Elemen Mesin .............. 33 1..... 39 2.................................................5 Pengecoran dengan Gips ........................................................................................................................ 36 1.......1 Pengertian ..........................6 Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting ) ........................................................................................3 Klasifikasi Mesin Konversi Energi ... 43 3............. iii iv v xii _________________________________________________ BAB I MEMAHAMI DASAR -DASAR KEJURUAN 1...................... Statika dan Tegangan ..................................................................... 34 1.. 22 3......................... 29 1.....................................................................................7 Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) ........... atau Plastik Resin...1 Pengertian Energi .......................................................................................1 Statika ....1 Pengolahan Logam (Metal Working ) ....... Rangkuman .....................................2 Pembuatan Cetakan Manual ..................

. 68 1.........................................................3 Tugas dan Tanggung Jawab Perusahaan ................... 61 4.. 67 1...................... 72 1..............2 Sasaran Undang-Undang ................................................... 55 1................ 79 3.......... 74 2...1 Pengertian ..................................................................130 Soal Latihan (tes formatif) ....................................................4 Langkah Kerja .................7 Bidang -Bidang Proyeksi............................1 Kertas Gambar ........................ 65 1............................... 60 3..........................................15 Toleransi ..5 Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja ..BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA.........................6 Penghapus dan alat Pelindung Penghapus .......................................................................... 57 2......................... 87 3.............................16 Suaian ............................ 92 3.....................3 Rapido .................................12 Ukuran pada Gambar Kerja.............................................. ALAT DAN LINGKUNGAN 1................3 Proyeksi Dimentris .............................................................................................11 Garis Arsiran ............. 66 1.................. 71 1....................................2 Proyeksi Isometris .................. 81 3................ 78 3.....................................................123 3........... 73 Lembar Kerja .....................................................................................................6 Macam -macam Pandangan........................................... Mengenal Alat Menggambar Teknik ...............9 Mesin Gambar ..10 Gambar Potongan..... Mengenal Regulasi K3 .. 3...........................102 3.....................1 Tanggungjawab Perusahaan pada Lingkungan Kerja.............................................................................13 Penulisan Angka Ukuran...................................................... 57 2............................................................................................................................................................................................ 74 2.................................................................................................. 5.......................2 Bahan ..............................................5 Gambar Perspektif ........................................................................................................................... 4.......1 Alat ..................................... 81 3...........14 Pengukuran Ketebalan..... 62 BAB IV GAMBAR TEKNIK 1........... 69 1..................................... 75 3.4 Proyeksi Miring (Sejajar) ........... vi ........ 70 1................................................................................ 74 2......................................................................................................................................................................................................................128 Rangkuman ................................. 65 1...............................................................8 Meja Gambar ... Menerapkan Prosedur K3 Secara Tepat dan Benar ............4 Penggaris ..113 3........................................................................................5 Jangka .............................................................2 Rehabilitasi................................................................................................................................................................................. 57 3.......................................................................................................................1 Simbol Keselamatan Kerja..............................2 Pensil Gambar .......... 74 2................3 Kesehatan d an Keselamatan Kerja................... 55 1................ 75 3.................................................................................................. 75 3................................ 74 Membaca Gambar Teknik ............... Rangkuman .....105 3..4 Tugas dan Tanggung Jawab Pegawai ...................1 Proyeksi Piktorial ...................................... Menguasai Prosedur Penerapan K3 .............. 79 3...108 3......................... 86 3....... 56 1.................7 Alat-alat Penunjang Lainnya .... 56 1.............8 Simbol Proyeksi dan Anak Panah .................... 60 3...........................................................135 2.9 Penentuan Pandangan................. 55 1................

.............................................................................2 Jenis -jenis Mesin Frais .......................................... 286 2.................... 190 1.............................................................................................. 216 3.......................................................................11 Cara Membubut..................................................................................................................................... 4............................................................................................................................................................................................218 3..................... 5.............. 179 1...... 137 1.....4 Bagian -bagian Utama Mesin Bubut Konvensional (Biasa) ...... 192 1..................................................9 Kecepatan Potong (Cutting Speed ) ...12 Tes Formatif.....6 Perbedaan Mesin Bubut Konvensional dengan CNC................................... 197 1.............................. 295 vii ..3 Alat-alat Potong (cutter) Mesin Frais .278 2..................................... 225 5.......................................................................10 Menggerinda ............................. Mesin Bubut Konvensional ..................................... 137 1...... 280 2...............................................................................247 1.............. 215 3.........................225 2........5 Perlengkapan Mesin Frais .............................1 Soal-soal .....220 Rangkuman .......................... 278 2...................1 Alas penindih kertas .....................3 Jenis -jenis Mesin Bubut Konvensional ......................................................................................................... 208 2................................................... 238 1...................................................................... 208 2...............................pahat tangan dan mata bor................................................... Mesin Frais Konvensional .............................4 Jenis -jenis Bahan Pisau.................. 227 1.........................7 Menyetempel ................................ 215 3..................................................................................177 1.......................260 1........................................................ 217 3.........1 Mengikir ....................................................................................................6 Memahat................... 227 1.............................................4 Mereamer ................ 199 Kerja Pelat ....................2 Kunci Jawaban ................... Kerja Bangku ............225 5.............................. 294 2............................................penggores.............. 150 1....................................................................BAB V PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN 1................................ dan menekuk................................7 Alat Kelengkapan Mesin Bubut....................9 Menyekerap ............... 169 1............219 3........................276 2..................................3 Mengebor .. 184 1.................................................................253 1..........3 Pengepasan Persegi ............... 211 Lembar Pekerjaan......................................8 Alat potong .....1 Pengertian .....247 1...................2 Mal mata bor............................................................ 3..........................5 Dimensi Utama Mesin Bubut ..................5 Menggergaji ............................................................2 Melukis ........................... 229 1........................................................................................4 Pengepasan Ekor Burung..................... 227 1...............................262 1.6 Pengasahan penitik..........2 Fungsi Mesin Bubut Konvensional .........................................................265 1.......8 Mengetap dan Menyenei ...........................246 1.........10 Waktu Pengerjaan .222 Tes Formatif ..................................1 Membengkok...5 Kotak .............................................................................. _________________________________________________ BAB VI PROSES PRODUKSI DENGAN MESIN KONVENSIONAL 1.........................2 Menyambung ..................1 Pengertian Mesin Bubut Konvensional ..................................................................................... melipat.......

..344 5........................ 303 2............................................................. 402 2...............3 Sistem Koordinat Absolut.........................1 Jenis Pengukuran .................................... 384 1.........................................337 4...................... 468 viii ................467 3.............................. Computer Aided Design (CAD) ..........................................................................6 Penggunaan Kepala Pembagi (Dividing Head) ......433 2......... 331 3.9 Membuat Benda Kerja Menggunakan mesin CNC...............10 Membuat Benda Kerja Berbasis Software AutoCAD ....344 5..... 466 3..................................................2......8 Kecepatan Potong (Cutting Speed ) .............................................1 Pengkodean Toleransi...........................434 2................................... Relatif..............................6 Membuat Gambar Solid 3D dengan AutoCAD ……………........337 5.....................10 Langkah-langkah pengoperasian Mesin Frais .....1 Peralatan Keselamatan Kerja pada Proses Produksi.......................................................................................................... 465 3..........................2 Dasar-dasar Pemrograman Mesin CNC ....8 Mengoperasikan mesin CNC EMCO TU 2A..............................1 Sejarah Mesin CNC...........421 2..............................................................386 2....................409 2...............428 2.............. Polar ...... Keselamatan Kerja Pada Saat Proses Produksi................... Computer Numerically Controlled (CNC) ...........................12 Pisau Roda Gigi (Gear Cutters)......................353 1...........................2 Pembuatan alat cetak logam (coinage de making) .........6 Menentukan titik koordinat benda Kerja ...............356 1.....11 Soal Formatif....................................... Pembacaan Toleransi pada Gambar Kerja .....................11 Jenis -jenis Pemotongan/pemakanan pada Mesin Frais .........................................................................345 6........................ Rangkuman ....7 Kecepatan Potong dan Kecepatan Asutan................... 305 2.... Rangkuman ............402 2.......3 Drilling EDM...........................4 Standarisasi Pemrograman Mesin Perkakas CNC..........................................1 Pengertian CAD ..........................................................................................................................1 EDM Konvensional ................2 Cara Kerja ............................................5 Tes Formatif …………………………………………….......................................462 2.......................................... 300 2...............................320 3..................................................................4 Kabel EDM (Wire Cut EDM) ......................................................................... 301 2....................354 1...............4 Perintah Menggambar Pada AutoCAD .............................3 Gerakan Sumbu Utama pada Mesin CNC..............405 2....................2 Resiko-resiko dalam mengoperasikan mesin perkakas dan cara menghindarinya ...............354 1......... EDM (Electrical Discharge Machining) ...........................467 4...... 301 2................................... Teknik Pengukuran pada Proses Produksi .... 353 1......................................... 331 3...................349 BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER 1..................................................................................................436 2.................................3 Alat Ukur Mistar Geser (Vernier Caliper) dan Mikrometer Luar (Outside Micrometer) .409 2............................................................................306 2...........................................................................................................7 Penggunaan Rotary Table ............... 466 3.... 332 4..........................5 Siklus Pemrograman ............463 3. 331 3.............................................2 Metode Pengukuran ........................9 Waktu Pengerjaan .........................

............................... 538 13............................................................1 Pengertia n Sistem Kontrol Pneumatik .. 469 Aplikasi Penggunaan Pneumatik ......... 3................. 516 10...... 485 7..................... 474 7................... System Hidrolik ................. Tes Formatif ............................................. Dasar Perhitungan Pneumatik ...........1 Pengendalian L angsung Silinder Sederhana ...................555 15............................1 Kompressor (Pembangkit Udara Kempa) ............ 2....................................................................................2 Analisa Aliran Fluida (V) ............................................................................ 513 9. 497 7...................... 537 12............ 510 9................. 471 5........................................ 520 11...................5 Udara yang Diperlukan ..............................................................8 Jenis -Jenis Katup Pneumatik ............... 487 7.... 535 11.................... 535 11................................................................9 Model Pengikat (Type if Mounting) ..... 509 8.............................. 484 7................................................................. 471 5.............. 521 11..2 Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Air Service Unit) ...........2 Kerugian/Kelemahan Pneumatik ............................... Pengendalian Hidrolik ......541 14..................................... Pengertian Pneumatik ............................................... 469 Efektifitas Pneumatik ........2 Pengendalian Tak Langsung Silinder Penggerak Ganda . 469 Karakteristik Udara Kempa ......3 Kecepatan Torak ................. 511 9............... 480 7....................... Peralatan Sistem Pneumatik .................................................................................4 Konduktor dan Konektor .......... 535 11..6 Perhitungan Daya Kompressor .........7 Air Motor ( Motor Pneumatik ) ............................................... 536 12.............555 15......................2 Penahan/Penjepit Benda (ragum)............ 474 7......................1 Soal-soal ..........................................7 Pengubahan Te kanan ............................................................. 517 10...........................................................556 ix ...........................3 Pemotong Plat ....3 Pemeriksaan Udara Kempa dan Peralatan .......1 Klasifikasi Pengendalian Hidrolik .........................................._________________________________________________ BAB VIII SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK 1...................................................................1 Keuntungan ........................ 518 10............................2 Katup Pengatur Tekanan .1 Cara Kerja ........ 515 9................... Analisis Kerja Sistem Pneumatik ....................................................................4 Membuat Profil Plat ........................................................................................ 538 14................. 496 7..... 5................ 514 9.................3 Pengendalian Gerak Otomatis Silinder Penggerak Ganda .................................................................................5 Katup-Katup Pneum atik ............................... Sistem Kontrol Pneumatik ............................................................................................................................................................. 514 9....................................................................................................................................................6 Unit Penggerak (Working Element = Aktuator) .... 4........................ 521 11.........1 Tekanan Udara ....................4 Gaya Torak (F) .........................1 Cairan Hidrolik.......................................... 515 9................................................ 510 8........................................... 516 9...................................2 Kunci Jawaban ....................................................................... 472 6... 470 Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Udara Kempa .............................................. 517 10. 538 13.....................................................................................................1 Pintu Bus . Pengangkat dan Penggeser Material Full Pneumatik . 493 7.................................. Aplikasi Pneum atik dalam Proses Produksi ............... Klasifikasi Sistim Pneumatik ..........................................................................................................................541 14.....................5 Pengangkat dan Penggeser Benda .... 473 7......551 15................537 13.......................................................................2 Komponen Hidrolik...........................................

........................................... Dasar-Dasar Perhitungan Hydrolik ........................ Pengenalan Robot ...................3 Pemeliharaan Cairan Hydrolik .............................................................................568 17........ 558 16.......................................................................... 591 3..........12 Hubungan Input/Output (I/O) dengan Perangkat Lunak ...................................18 Contoh Aplikasi dan Pembuatan Diagram Ladder Menggunakan Syswin ................. 556 16.........5 Pompa Roda Gigi dalam Tipe Geretor ...............2 Kunci jawaban ............. 578 3...................... 577 3....................... 593 3.................................................................................... Rangkuman ...... 585 3........................................................... 563 16...................................................................................... 556 16......................... 602 3.........................................................11 Ladder Logic ............................ 561 16........................................................16 Cara pengoperasian SYSWIN ...................................... 564 16.................................568 17............6 Device Masukan Program .............................................3 Ins truksi-instruksi Dasar PLC ..............................10 Pengetes an Efesiensi Pompa Hidrolik ............. 629 2. 621 1.................................................................... 573 Otomasi Teknik Produksi ........................................14 Data dan Memory PLC ..........................................................................1 Sistem Koordinat Lengan Robot (Arm Geometry) ....................... Soal Formatif .................2 Pengenalan Dasar PLC ...............................................................................................3 Gerakan Robot ............................... 596 3................9 Perangkat Lunak PLC ......1 Sejarah PLC ....................................................................................... Sejarah Perkembangan Otomasi Industri ......10 Perangkat Keras PLC ............ 619 1........ 577 3.............................................. 575 PLC (Progr ammable Logic Controller) .........................................................................................................9 Instalasi Pompa Hidrolik .................................2 Komponen Dasar .......... BAB X TEKNOLOGI ROBOT 1................................570 BAB IX PROSES PRODUKSI INDUST RI MODERN 1..................................4 Pompa Rod a Gigi dalam Tipe Crescent ......17 Penggunaan Fungsi Bit Kontrol ........................1 Soal-soal................7 Pompa Torak Radial (Radial Piston Pump) ........................................................................... 562 16.......... 590 3............2 Perhitungan Kecepatan Torak .......................................................................................... 561 16.........................616 4..........................6 Balanced Vane (Pompa Kipas Balanced) ...............15 Program m an Dasar PLC OMRON dengan Komputer...........................11 Unit Pengatur (Control Element) .................... 625 1..... 566 16.....1 Prinsip Hukum Pascal ......605 Rangkuman ..........590 3......... 629 2.8 Bent Axis Piston (Pompa Torak dengan Poros Tekuk) .............................5 Modul Masukan ........................ 563 16....... 587 3.......... 586 3................................................................................13 Processor ....................................................................................... 567 17.........................................................1 Istilah Robot ........................ 620 1............................................................................568 18............................................................................... 580 3. 589 3.............8 Modul Keluaran ....... 588 3.... 3.............................. 589 3................ 627 Operasi dan Fitur Manipulator ................................................. 589 3....................... 559 16......................................................................................... 2............................................................4 Device Masukan ........ x ....................................................16....................................... 596 3.......................................7 Device Keluaran ...........................4 Tingkatan Teknologi ..........

....................................... 634 2.............................................. 2......................................................................................12 Sensor Kimia ............................................... 637 3................. 651 4.......................................... 6..................3 Sistem Penggerak Manipulator ............................................................... 644 4....................................... Kesimpulan ......................................................................................... 643 4............ 634 2.................................................................... 658 4........................................................................................4 Motor Listrik .................................................2 Klasifikasi Gripper ...... 5................................2 Rotasi Wrist .................................................. 660 5.................................................................669 BAB XI PENUTUP 1..................................................................................................2 Katup ................. 661 5...3 Jenis Gripper ........... 7...................................................................................................................1 Penanganan Material .......... 648 4.................................................................6 Sensor Non -Kontak ............................................................. 640 3........ 661 5........4 Jangkauan Kerja ..............................4 Sensor dan Tranduser . 662 Tes Formatif ............................................ 659 Aktuator .... 4................................................................................................. 635 Aplikasi Robot ...... INDEX xi ......... 652 4...5 Sensor Kontak ...............................3 Pengecatan ............................. GLOSARIUM LAMPIRAN E............................. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN B..... 2.....11 Linear Position ...................................... 638 3.............. 674 LAMPIRAN A................................... 671 Saran ............................................ 644 4.......................................................................................2 Perakitan ....... 647 4................................. 657 4.........................4 Pengelasan .................................. 640 3..............7 Sensor Gaya dan Momen ..............666 Rangkuman ......................................... DAFTAR TABEL LAMPIRAN C.............................................10 Sensor Jarak dan Sudut ........................................................ DAFTAR GAMBAR LAMPIRAN D.....8 Sensor Temperatur ..3 Silinders .... 642 Efektor .....................................................................3...............1 Gripper ..................................... 648 4............................................................9 Sensor Cair dan Gas ..................... 643 4..... 660 5......................................................................................... 655 4....................................................................................1 Selenoids ....................................

.

PETA KOMPETENSI TEKNIK PRODUKSI INDUSTRI MESIN Proses Produksi Konvensional Proses Produksi Berbasis Komputer Otomatis Industri Peralatan Perkakas Tangan CNC / EDM Robotik Peralatan Kerja Bangku CAD PLC Memahami Dasar. Proses Kejuruan dan K3 Memahami Gambar Teknik Pneumatik/Hidraulik xii .

.

. Istilah pneumatik berasal dari bahasa Yunani. Istilah pneumatik selalu berhubungan dengan teknik penggunaan udara bertekanan.... Sehingga v pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari teknik pemakaian udara bertekanan (udara kempa).. seperti menggeser.. misalnya untuk melakukan gerakan mekanik yang selama ini dilakukan oleh tenaga manusia. Pengertian Pneumatik………………………………………….... dan sejenisnya.... dan 1 % gas lainnya seperti carbon dioksida.. antara lain menambah tekanan udara ban mobil/motor.. nitrogen. membersihkan kotoran. melepaskan ban mobil dari peleknya.. industri pengepakan barang maupun industri yang lain.. Aplikasi Penggunaan Pneumatik……………………………. Sifat-sifat udara senantiasa mengikuti hukum-hukum gas.. mendorong.... Karakteristik udara dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a) Udara mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.. yaitu ‘pneuma’ yang berarti napas atau udara.. Udara dipermukaan bumi ini terdiri atas campuran dari bermacam -macam gas.... d) Berat jenis udara 1. b) Volume udara tidak tetap. 2....BAB VIII SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK 1.. Sekarang.... krypton. rotasi maupun gabungan 469 .... industri obat-obatan.. helium....3 kg/m³. e) Udara tidak berwarna 3. mengangkat... sistem pneumatik memiliki apliaksi yang luas karena udara pneumatik bersih d mudah didapat.. Penggunaan udara bertekanan sebenarnya masih dapat dikembangkan untuk berbagai keperluan proses produksi.. Belajar pneumatik sangat bermanfaat mengingat hampir semua industri sekarang memanfaatkan sistem pneumatik. neon dan xenon. Komposisi dari macam-macam gas tersebut adalah sebagai berikut : 78 % vol.. Jaman dahulu kebanyakan orang sering menggunakan udara bertekanan untuk berbagai keperluan yang masih terbatas. Banyak industri an yang menggunakan sistem pneumatik dalam proses produksi seperti industri makanan. seperti silinder pneumatik. Dalam sistem pneumatik udara difungsikan sebagai media transfer dan sebagai penyimpan tenaga (daya) yaitu dengan cara dikempa atau dimampatkan.... robot pneumatik translasi. dan lain sebagainya. menekan. baik tekanan di atas 1 atmosfer maupun tekanan di bawah 1 atmosfer ( acum). Gerakan mekanik tersebut dapat dilakukan juga oleh komponen pneumatik. Karakteristik Udara Kempa. c) Udara dapat dikempa (dipadatkan). Udara termasuk golongan zat fluida karena sifatnya yang selalu mengalir dan bersifat compressible (dapat dikempa). argon. gas 21 % vol. motor pneumatik.

untuk keperluan pendidikan biasanya berkisar antara 4 sampai dengan 8 bar. karena pneumatik mempunyai beberapa keunggulan.keduanya. maupun motor pneumatik yang bergerak rotasi. Udara dapat diperoleh dimana saja kita berada. Pemilihan penggunaan udara bertekanan (pneumatik) sebagai sistim kontrol dalam proses otomasinya. antara lain: mudah diperoleh. Setelah melalui regulator udara dapat digunakan menggerakkan katub penggerak (aktuator). 4. Udara yang digunakan dalam pneumatik sangat mudah didapat/diperoleh di sekitar kita. akan disimpan dalam suatu tabung penampung. Efektifitas Pneumatik …………………………………………… Sistim gerak dalam pneumatik memiliki optimalisasi/efektifitas bila digunakan pada batas-batas tertentu. elektronika.000 mm. obat-obatan. aman dari bahaya ledakan dan hubungan singkat. dapat dibebani lebih. Selain itu udara yang terdapat di sekitar kita cenderung bersih dari kotoran dan zat kimia yang merugikan. terutama pada proses perakitan (manufacturing). dan berputar (rotasi) pada aktuator selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan gerakan yang selama ini dilakukan oleh manusia atau peralatan lain. Karena tahan terhadap perubahan suhu. maka penumatik banyak digunakan pula pada industri pengolahan logam dan sejenisnya. makanan. anjang langkah 1 s/d 2. bersih dari kotoran dan zat kimia yang merusak. Sebelum digunakan udara dari kompressor diolah agar menjadi kering. baik berupa silinder/stang torak yang bergerak translasi. Perpaduan dari gerakan mekanik oleh aktuator pneumatik dapat dipadu menjadi gerakan mekanik untuk keperluan proses produksi yang terus menerus (continue). serta tersedia dalam jumlah banyak. dan mengandung sedikit pelumas. tidak peka terhadap perubahan suhu dan sebagainya. misalnya untuk keperluan mengangkat plat baja dan sejenisnya melalui katup karet hisap flexibel. Adapun batas-batas ukuran yang dapat menimbulkan optimalisasi penggunaan pneumatik antara lain: diameter piston antara 6 s/d 320 mm. tenaga yang diperlukan 2 s/d 15 bar. Pemakaian pneumatik dibidang produksi telah mengalami kemajuan yang pesat. dapat juga bekerja pada tekanan udara di bawah 1 atmosfer (vacuum). Gerakan bolak balik (translasi). Udara juga dapat dibebani lebih tanpa menimbulkan bahaya yang fatal. mudah didistribusikan melalui saluran (selang) yang kecil. dan flexibel. kimia dan lainnya. Adapun efektifitas penggunaan udara bertekanan dapat dilihat pada grafik berikut: 470 . Secara umum udara yang dihisap oleh kompressor.

mengarahkan aliran material ke berbagai arah. mengisi material. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan udara Kempa . menumpuk/menyusun material. memutar benda kerja. 5. menggeser benda kerja. Penggunaan secara nyata pada industri antara lain untuk keperluan: membungkus (verpacken). Efektifitas udara bertekanan (Werner Rohrer.) 5. mengatur distribusi material.. memutar mengencangkan dan mengendorkan mur/baut.... menguji. menahan dan menekan benda kerja. pasah. • Mudah disalurkan. membuka dan menutup pada pintu. dll. penggerak poros.ltr/cm Tekanan Kerja/Pe 15 bar 10 bar 8 bar 6 bar 4 bar 2 bar mm Diameter Torak (D) Gambar 1. membentuk profil plat. udara tersedia di alam sekitar kita dalam jumlah yang tanpa batas sepanjang waktu dan tempat. udara mudah disalurkan/pindahkan dari satu tempat ke tempat lain melalui pipa yang kecil. melalui peralatan 471 .1990) Penggunaan silinder pneumatik biasanya untuk keperluan antara lain: mencekam benda kerja... Melalui gerakan rotasi pneumatik dapat digunakan untuk. • Fleksibilitas temperatur. proses finishing (gerinda. udara dapat fleksibel digunakan pada berbagai temperatur yang diperlukan. memposisikan benda kerja. mengebor. panjang dan berliku.1 Keuntungan Penggunaan udara kempa dalam sistim pneumatik memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat disebutkan berikut ini : • Ketersediaan yang tak terbatas. transportasi barang. memotong.

udara mudah dimanfaatkan baik secara langsung misal untuk membersihkan permukaan logam dan mesin-mesin. Dapat disimpan. tabung pelumas. memenuhi kriteria tertentu. dan minuman maupun tekstil Pemindahan daya dan Kecepatan sangat mudah diatur. bahkan dalam kondisi yang agak ekstrem udara masih dapat bekerja. seperti kompressor. makanan. udara dapat disimpan melalui tabung yang diberi pengaman terhadap kelebihan tekanan udara. Udara kempa harus dipersiapkan secara baik hingga memenuhi syarat. Oleh karena itu diperlukan seal agar udara tidak bocor. Peralatan pneumatik harus dilengkapi dengan peralatan kekedapan udara agar kebocoran pada sistim udara bertekanan dapat ditekan seminimal mungkin. Mudah dimanfaatkan. Kebocoran seal dapat menimbulkan kerugian energi. pneumatik juga memiliki beberapa kelemahan antara lain: • Memerlukan instalasi peralatan penghasil udara. penyaring udara.000 rpm. dll. Bila Aktuator menggunakan silinder pneumatik. • Mudah terjadi kebocoran. misalnya kering.2 Kerugian/Kelemahan Pneumatik Selain memiliki kelebihan seperti di atas. 5. maka kecepatan torak dapat mencapai 3 m/s. serta mengandung pelumas yang diperlukan untuk peralatan pneumatik. maupun tidak langsung. Oleh karena itu sistem pneumatik memerlukan instalasi peralatan yang relatif mahal. 472 . Bersih. sedangkan sistim motor turbin dapat mencapai 450. udara dapat dibebani lebih dengan aman selain itu tidak mudah terbakar dan tidak terjadi hubungan singkat (kotsleiting) atau meledak sehingga proteksi terhadap kedua hal ini cukup mudah. Aman. yaitu melalui peralatan pneumatik untuk menghasilkan gerakan tertentu. Bagi motor pneumatik putarannya dapat mencapai 30. bersih. pengeering.000 rpm. regulator. Selain itu dapat dipasang pembatas tekanan atau pengaman sehingga sistim menjadi aman. udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya dengan jumlah kandungan pelumas yang dapat diminimalkan sehingga sistem pneumatik aman digunakan untuk industri obat-obatan. berbeda dengan sistim elektrik yang dapat menimbulkan kostleting hingga kebakaran. udara dapat melaju dengan kecepatan yang dapat diatur dari rendah hingga tinggi atau sebaliknya. Salah satu sifat udara bertekanan adalah ingin selalu menempati ruang yang kosong dan tekanan udara susah dipertahankan dalam waktu bekerja.• • • • • yang dirancang untuk keadaan tertentu.

dll Sumber Energi Udara bertekanan = Kompressor Gambar 2. artinya udara yang telah digunakan akan dibuang ke luar sistim. NOR. Pneumatik menggunakan sistim terbuka. Sensor. Udara yang bertekanan mudah mengembun. dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekan pada katup-katup dan aktuator. dll Sinyal Input = Katup Tekan. Roll. Tuas. misal kering. • 6. Diharapkan setelah diketahuinya keuntungan dan kerugian penggunaan udara kempa ini kita dapat membuat antisipasi agar kerugian-kerugian ini dapat dihindari. • Mudah Mengembun.Menimbulkan suara bising. Cara mengatasinya adalah dengan memasang peredam suara pada setiap saluran buangnya. Secara garis besar sistim elemen pada pneumatik dapat digambarkan pada skema berikut : KLASIFIKASI CONTOH SIMBOL Out put = (Aktuator) Pengendali Sinyal = Katup Pengendali Sinyal Pemroses Sinyal/Prossesor = Katup kontrol AND. sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu. Klasifikasi Elemen Sistim Pneumatik (FESTO FluidSIM) 473 . Klasifikasi Sistim Pneumatik…………………………………. Sistim elemen pada pneumatik memiliki bagian-bagian yang mempunyai fungsi berbeda. memiliki tekanan yang cukup. udara yang keluar cukup keras dan berisik sehingga akan menimbulkan suara bising terutama pada saluran buang. OR.

1 Kompressor (Pembangkit Udara Kempa) Kompresor berfungsi untuk membangkitkan/menghasilkan udara bertekanan dengan cara menghisap dan memampatkan udara tersebut kemudian disimpan di dalam tangki udara kempa untuk disuplai kepada pemakai (sistem pneumatik). (turbo) terdiri dari Centrifugal. Kompressor dilengkapi dengan tabung untuk menyimpan udara bertekanan. secara lengkap dapat dilihat dari klasifikasi di bawah ini: KOMPRESSOR Positiv displacement Dynamic (Turbo) Reciprocating Rotary Centrifugal Axial Ejector Piston Lebyrinth Diaphragm Lobe (roots) Liquid (water) ring Sliding vane Mono screw Twin (screw) ring Gambar 3.7. Klasifikasi Kompresor (Majumdar. Secara garis besar kompressor dapat diklasifikasikan seperti di bawah ini.2001) 474 . bila tekanan udaranya melebihi ketentuan. Peralatan Sistem Pneumatik…………………………………. dan Dynamic kompressor.1 Klasifikasi Kompressor Secara garis besar kompressor dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. sehingga udara dapat mencapai jumlah dan tekanan yang diperlukan. Pemilihan jenis kompresor yang digunakan tergantung dari syarat-syarat pemakaian yang harus dipenuhi misalnya dengan tekanan kerja dan volume udara yang akan diperlukan dalam sistim peralatan (katup dan silinder pneumatik). sedangkan Dynamic kompressor. Positive Displacement kompressor. terdiri dari Reciprocating dan Rotary. maka katup pengaman akan terbuka secara otomatis. 7. axial dan ejector. Tabung udara bertekanan pada kompressor dilengkapi dengan katup pengaman. (Turbo). 7. yaitu Positive Displacement kompressor.1.

pada umumnya bila tekanan dalam tabung telah melebihi kapasitas. sehingga perlu mengalami proses pendinginan dengan memasang sistem pendingin. atau mesin penggerak akan mati secara otomatis. 475 . Pada saat gerak kompressi torak bergerak ke titik mati bawah ke titik mati atas. Gambar 4.1. selanjutnya di masukkan ke dalam tabung penyimpan udara.1 Kompresor Torak Resiprokal (reciprocating kompressor) Kompresor ini dikenal juga dengan kompresor torak.1. Metode pendinginan yang sering digunakan misalnya dengan sistem udara atau dengan sistem air bersirkulasi. Udara masuk akan dikompresi oleh torak pertama. temperatur udara akan naik selama terjadi kompresi. tekanan udara di dalam silinder mengecil. karena dilengkapi dengan torak yang bekerja bolak-balik atau gerak resiprokal.7. Proses tersebut berlangsung terus-menerus hingga diperoleh tekanan udara yang diperlukan. Kompresor Torak Resiprokal 7.2 Kompresor Torak Dua Tingkat Sistem Pendingin Udara Kompresor udara bertingkat digunakan untuk menghasilkan tekanan udara yang lebih tinggi. kemudian didinginkan. selanjutnya dimasukkan dalam silinder kedua untuk dikompresi oleh torak kedua sampai pada tekanan yang diinginkan. Pada saat terjadi pengisapan. Pemasukan udara diatur oleh katup masuk dan dihisap oleh torak yang gerakannya menjauhi katup. Tabung penyimpanan dilengkapi dengan katup satu arah.1. Gerakan mengisap dan mengkompressi ke tabung penampung ini berlangsung secara terus menerus. Pemampatan (pengompresian) udara tahap kedua lebih besar. sehingga udara luar akan masuk ke dalam silinder secara alami. sehingga udara di atas torak bertekanan tinggi. maka katup pengaman akan terbuka.1. sehingga udara yang ada dalam tangki tidak akan kembali ke silinder.

Torak pada kompresor diafragma tidak secara langsung menghisap dan menekan udara. Kompresor Diafragma 476 . untuk kompressor satu tingkat tekanan hingga 4 bar. sedangkan dua tingkat atau lebih tekanannya hingga 15 bar. farmasi. Oleh karena itu kompressor diafragma banyak digunakan pada industri bahan makanan. Prinsip kerjanya hampir sama dengan kompresor torak. Kompresor Torak dua Tingkat Sistem Pendinginan Udara Batas tekanan maksimum untuk jenis kompresor torak resiprokal antara lain. Udara yang masuk dan keluar tidak langsung berhubungan dengan bagian-bagian yang bergerak secara resiprokal. Adanya pemisahan ruangan ini udara akan lebih terjaga dan bebas dari uap air dan pelumas/oli.1. perbedaannya terdapat pada sistem kompresi udara yang akan masuk ke dalam tangki penyimpanan udara bertekanan. tetapi menggerakkan sebuah membran (diafragma) dulu. obat-obatan dan kimia. 7.3 Kompresor Diafragma (diaphragma compressor) Jenis Kompresor ini termasuk dalam kelompok kompresor torak.Gambar 5. Dari gerakan diafragma yang kembang kempis itulah yang akan menghisap dan menekan udara ke tabung penyimpan. Gambar 6..1. Namun letak torak dipisahkan melalui sebuah membran diafragma.

1. Jika roda-roda gigi tersebut berbentuk lurus. Karena bentuk dari rumah baling-baling itu sendiri yang tidak sepusat dengan rotornya maka ukuran ruangan dapat diperbesar atau diperkecil menurut arah masuknya (mengalirnya) udara.1 Kompressor Rotari Baling-baling Luncur Secara eksentrik rotor dipasang berputar dalam rumah yang berbentuk silindris.4. mempunyai lubang-lubang masuk dan keluar. Gambar 7.1. Bahkan suaranya tidak berisik dan halus dalam . sehingga dapat memindahkan udara secara aksial ke sisi lainnya. Roda-roda gigi kompressor sekrup harus diletakkan pada rumah-rumah roda gigi dengan benar sehingga betul-betul dapat menghisap dan menekan fluida.5 Kompresor Sekrup (Screw) Kompressor Sekrup memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan (engage).1. Keuntungan dari kompressor jenis ini adalah mempunyai bentuk yang pendek dan kecil.1.1. energi gaya sentrifugal baling-balingnya akan melawan dinding. maka kompressor ini dapat digunakan sebagai pompa hidrolik pada pesawat-pesawat hidrolik. Kompresor Rotari Baling-baling Luncur (FESTO Transparan) 7.4 Konpresor Putar (Rotary Compressor) 7. Ketika rotor mulai berputar. Balingbaling luncur dimasukkan ke dalam lubang yang tergabung dalam rotor dan ruangan dengan bentuk dinding silindris.7. yang satu mempunyai bentuk cekung.1. 477 . dapat menghantarkan dan menghasilkan udara secara terus menerus dengan mantap. sedangkan lainnya berbentuk cembung. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan. sehingga menghemat ruangan.

1.6 Kompressor Root Blower (Sayap Kupu-kupu) Kompressor jenis ini akan mengisap udara luar dari satu sisi ke sisi yang lain tanpa ada perubahan volume.1. sehingga dapat berputar tepat pada dinding. Sayap kupu-kupu di dalam rumah pompa digerakan oleh sepasang roda gigi yang saling bertautan juga. Kompressor Model Root Blower 7. Kebocoran terjadi karena antara baling-baling dan rumahnya tidak dapat saling rapat betul. Torak membuat penguncian pada bagian sisi yang bertekanan. Arah aliran udara dapat dirubah dalam satu roda turbin atau lebih untuk 478 . karena fluidanya adalah minyak pelumas maka film-film minyak sendiri sudah menjadi bahan perapat antara dinding rumah dan sayap-sayap kupu itu.1. Dilihat dari konstruksinya.Gambar 8. 1994) 7. Berbeda jika dibandingkan dengan pompa pelumas pada motor bakar. Gambar 9. Prinsip kompresor ini ternyata dapat disamakan dengan pompa pelumas model kupu-kupu pada sebuah motor bakar. Kompresor aliran udara ada yang dibuat dengan arah masuknya udara secara aksial dan ada yang secara radial. Kompresor Sekrup (Gottfried Nist. Beberapa kelemahannya adalah: tingkat kebocoran yang tinggi.1.7 Kompresor Aliran (turbo kompressor) Jenis kompresor ini cocok untuk menghasilkan volume udara yang besar.

Tetapi. Putaran cepat ini mutlak diperlukan untuk mendapatkan aliran udara yang mempunyai tekanan yang diinginkan. Prinsip kerja kompressor radial akan mengisap udara luar melalui sudu-sudu rotor. Pada lubang masuk pertama udara dilemparkan keluar menjauhi sumbu.9 Kompresor Aliran Aksial Pada kompresor aliran aksial. Bila kompressornya bertingkat. maka dari tingkat pertama udara akan dipantulkan kembali mendekati sumbu. jika pada turbin gas adalah menghasilkan mekanik putar pada porosnya.8 Kompressor Aliran Radial Percepatan yang ditimbulkan oleh kompressor aliran radial berasal dari ruangan ke ruangan berikutnya secara radial.1. 479 . pada kompresor ini tenaga mekanik dari mesin akan memutar rotor sehingga akan menghasilkan udara bertekanan. Semakin banyak tingkat dari susunan sudu-sudu tersebut maka akan semakin tinggi tekanan udara yang dihasilkan. Energi kinetik yang ditimbulkan menjadi energi bentuk tekanan.1. Jadi pengisapan dan penekanan udara terjadi saat rangkaian sudu-sudu pada rotor itu berputar secara cepat.1. udara akan mendapatkan percepatan oleh sudu yang terdapat pada rotor dan arah alirannya ke arah aksial yaitu searah (sejajar) dengan sumbu rotor. 7. udara akan terisap masuk ke dalam ruangan isap lalu dikompressi dan akan ditampung pada tangki penyimpanan udara bertekanan hingga tekanannya sesuai dengan kebutuhan. sampai beberapa tingkat sesuai yang dibutuhkan. Kompresor Aliran Radial (Gottfried Nist. 1994) 7. Gambar 10. Dari tingkat pertama masuk lagi ke tingkat berikutnya. Bedanya. Teringat pula alat semacam ini adalah seperti kompresor pada sistem turbin gas atau mesin-mesin pesawat terbang turbo propeller.1.menghasilkan kecepatan aliran udara yang diperlukan.

2 Penggerak Kompresor Penggerak kompressor berfungsi untuk memutar kompressor. b) mengandung kadar air rendah.1. Penggunaan mesin bensin atau diesel biasanya digunakan bilamana lokasi disekitarnya tidak terdapat aliran listrik atau cenderung non stasioner. sedangkan kompressor berdaya besar memerlukan motor listrik 3 phase atau mesin diesel. a) tidak mengandung banyak debu yang dapat merusak keausan komponen-komponen dalam sistem pneumatik. antara lain.2 Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Air Service Unit) Udara bertekanan (kempa) yang akan masuk dalam sistem pneumatik harus harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan.Gambar 11. Gambar 12. Kompressor berdaya rendah menggunakan motor listrik dua phase atau motor bensin. Penggerak kompressor yang sering digunakan biasanya berupa motor listrik dan motor bakar seperti gambar 12. kadar air yang tinggi dapat merimbulkan korosi dan kemacetan pada peralatan pneumatik. Kompresor Aliran Aksial 7. Kompresor yang digunakan di pabrik-pabrik kebanyakan digerakkan oleh motor listrik karena biasanya terdapat instalasi listrik dan cenderung stasionar (tidak berpindah-pindah). Kompressor Torak berpindah (Moveble) 7. 480 . sehingga kompressor dapat bekerja secara optiomal.

Filter berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel yang terbawa seperti debu. dsb. Distribusi Sistem Pengolahan Udara Bertekanan 7. Kompresor digerakkan oleh motor listrik atau mesin bensin/diesel tergantung kebutuhan. Regulator dan Lubrication/pelumasan agar lebih memenuhi syarat. Secara lengkap suplai udara bertekanan memiliki urutan sebagai berikut: Filter udara. pelumas sangat diperlukan untuk mengurangi gesekan antar komponen yang bergerak seperti pada katup-katup dan aktuator. Gambar 14. Tabung penampung udara bertekanan akan menyimpan udara dari kompresor. berfungsi sebagai alat penyaring udara yang diambil dari udara luar yang masih banyak mengandung kotoran. antara lain : • Filter Udara (air filter). Filter Udara 481 .c) mengandung pelumas. seperti tertera dalam bagan di bawah ini: Filter Udara Motor/mesin Tabung Penampung FR/L Unit Katup 3/2 Way Valve Gambar 13. selanjutnya melalui katup saru arah udara dimasukan ke FR/L unit. yang terdiri dari Filter. Setelah memenuhi syarat kemudian baru ke sistim rangkaian pneumatik.2. sebelum udara atmosfer dihisap kompresor.1 Peralatan Pengolahan Udara Bertekanan Pengolahan udara bertekanan agar memenuhi persyaratan diperlukan peralatan yang memadai. oli residu. terlebih dahulu disaring agar tidak ada partikel debu yang merusak kompresor.

kemudian dapat digunakan sewaktu-waktu diperlukan Gambar 15. Pengering Udara • Kompresor berfungsi untuk menghisap udara atmosfir kemudian dimampatkan ke tabung penyimpan hingga tekanan tertentu. Berfungsi untuk menyimpan udara bertekanan hingga pada tekanan tertentu hingga pengisian akan berhenti. Tangki Udara • Pengering udara (air dryer) Gambar 16.• Tangki udara . Kompressor Torak 482 . Gambar 17. Sebelum digunakan harus ada sistim pengolahan udara bertekanan untuk membersihkan dan mengeringkan sebelum digunakan.

alat-alat yang tidak dilindungi sehingga harus dikeringkan dengan cara memisahkan air melalui tabung pemisah air. Untuk mengatur besar kecilnya udara yang masuk. serta dapat mengurangi panas yang timbul akibat gesekan. selanjutnya akan disalurkan sesuai dengan kebutuhan. Udara Kering Udara Basah Air Kondensasi Gambar 18. Kelembaban dalam udara bertekanan dapat menyebabkan korosi pada semua saluran. katup. Oleh karena itu udara bertekanan/mampat harus mengandung kabut pelumas yang diperoleh dari tabung pelumas pada regulator. Tabung Pelumas • Regulator udara bertekanan Udara yang telah memenuhi persyaratan. Adapun unit pengolahan udara dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 483 . sambungan. Gambar 19. sehingga udara yang disuplai sesuai dengan kebutuhan kerjanya.• Pemisah air udara bertekanan yang keluar melalui filter masih mengandung uap air. Pemisah Air • Tabung pelumas Komponen sistim pneumatik memerlukan pelumasan (lubrication) agar tidak cepat aus. diperlukan keran udara yang terdapat pada regulator.

Prosedur pemantauan penggunaan udara kempa yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut: a) Frekuensi pemantauan.3 Pemeriksaan Udara Kempa dan Peralatan Sebelum mengaktifkan sistem pneumatik.Gambar 20. Untuk menjebaknya maka intalasi pipa diberi kemiringan. misalnya setiap akan memulai bekerja perlu memantau kebersihan udara. b) Tekanan udara perlu 484 . kandungan air embun.2% Menurun 7. Sedangkan udara kering diambil dari bagian atas instalasai agar memiliki kadar air yang rendah. Secara lengkap unit pengolahan udara bertekanan dapat dilihat dalam skema berikut : Penampung udara antara Tabung Penampung Udara Mampat Kompressor Penampung cairan kondensasai Udara Kempa siap pakai Pneumatik Gambar 21. air akan mengalir secara alami ke tabung penampung air. selanjutnya dibuang. kandungan oli pelumas dan sebagainya. udara kempa dan peralatannya perlu diperiksa terlebih dahulu. 1994) FR/L Unit 1 . Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Gottfried Nist. Air memiliki masa jenis (Rho) yang lebih tinggi sehingga cenderung berada di bagian bawah. Tabung Pelumas Unit pengolahan udara bertekanan memiliki jaringan instalasi perpipaan yang sudah dirancang agar air dapat terpisah dari udara.

d) Terjadi pencemaran (kontaminasi) pada silencers.1 s.4. c) Pengeluaran udara buang apakah tidak berisik/bising.dipantau apakah sesuai dengan ketentuan. silinder dan lain-lain umumnya dirancang untuk tekanan antara 8 -10 bar. d) Udara buang perlu dipantau pencampuranya. g) Setiap sambungan (konektor) perlu dipantau agar dipastikan cukup kuat dan rapat karena udara kempa cukup berbahaya. e) Katup pengaman/regulator tekanan udara perlu dipantau apakah bekerja dengan baik. b) Terjadi oiled-up pada valve. § Selang fleksible yang biasanya terbuat dari piastik dan biasa digunakan untuk instalasi yang frekuensi bongkar-pasangnya lebih tinggi.1 Konduktor (Penyaluran) Penginstalan sirkuit pneumatik hingga menjadi satu sistem yang dapat dioperasikan diperlukan konduktor.4 Konduktor dan Konektor 7.7 bar. Pipa ini juga disebut konduktor kaku (rigid) dan cocok untuk instalasi yang permanen.5 bar. sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi konduktor adalah untuk menyalurkan udara kempa yang akan membawa/mentransfer tenaga ke aktuator. § Tabung (tube) yang terbuat dari tembaga. Pengalaman praktik menunjukkan bahwa tekanan kerja pada umumnya sekitar 6 bar. Peralatan sistim pneumatik seperti valve.5 . galvanis atau stenlees steel. bocoran restriction dan gesekan pada pipa dapat menimbulkan kerugian tekanan yang diperkirakan antara 0. Apabila suplai udara kempa tidak sesuai dengan syaratsyarat tersebut di atas maka berakibat kerusakan seperti berikut : a) Terjadi cepat aus pada seal (perapat) dan bagian-bagian yang bergerak di dalam silinder atau valve (katup-katup). kuningan atau aluminium. baja. 485 . Dengan demikian kompressor harus membangkitkan tekanan 6. Ini termasuk konduktor yang semi fleksible dan untuk instalasi yang sesekali dibongkar-pasang. kuningan.d 0. Macam-macam konduktor : § Pipa yang terbuat dari tembaga. 7. Kehilangan tekanan dalam perjalanan udara kempa karena bengkokan (bending).

4. Macam-Macam Konektor 486 . Jenis-Jenis Konduktor 7. Gambar 23.2 Konektor Konektor berfungsi untuk menyambungkan atau menjepit konduktor (selang atau pipa) agar tersambung erat pada bodi komponen pneumatik. Adapun nacam-macam konektor dapat kita lihat pda gambar berikut.Gambar 22. Bentuk ataupun macamnya disesuaikan dengan konduktor yang digunakan.

Katup 3/2 knop.5 Katup-Katup Pneumatik Katup berfungsi untuk mengatur atau mengendalikan arah udara kempa yang akan bekerja menggerakan aktuator. dan d) Nama tambahan lain sesuai dengan karakteristik katup.3.5. maka tekanan udara tersebut akan menggeser katup ke kanan sehingga udara bertekanan akan mengalir melalui port 1 ke port 4 ditulis 14. Berdasarkan pada data-data di atas. penggerak knop dan pembalik pegas. d) Jenis penggerak katup.2.4 ) 1 3 Gambar 24. Katup-katup pneumatik diberi nama berdasarkan pada: a) Jumlah lubang/saluran kerja (port).3. Sisi 14 artinya bila disisi tersebut terdapat tekanan udara. b) Jumlah posisi kerja.b) 4 a a 2 b 14 12 b 5 Nomor Lubang/Port (1. Penggerak katup berupa udara bertekanan dari sisi 14 dan 12. maka katup tersebut diberi nama : Gambar 25. Detail Pembacaan Katup 5/2 Dari simbol katup di atas menunjukkan jumlah lubang/port bawah ada tiga (1.4). Demikian pula sisi 12 akan mengaktifkan ruang b sehingga port 1 akan terhubung dengan port 2 ditulis 12.7. Berikut ini contoh-contoh penamaan katup yang pada umumnya disimbolkan sebagai berikut : Ruang/Posisi (14.5) sedangkan di bagian output ada 2 port (2. dengan kata lain katup ini berfungsi untuk mengendalikan arah gerakan aktuator. maka katup di atas diberi nama : Contoh lain : KATUP 5/2 penggerak udara bertekanan Katup ini memiliki tiga port dan dua posisi/ruang.12) Ruang/Posisi (a. pembalik pegas 487 . Katup tersebut juga memiliki dua posisi/ruang yaitu a dan b.

§ Sinyal pengendalian akhir (final control element) yang akan mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element) dan ini merupakan hasil akhir dari sistem pneumatik. Gambar 26. Katup 3/2 Knop Pembalik Pegas 488 . termasuk jenis katup piringan (disc valves) normally closed (NC). Katup Poppet (Poppet Valves) § Katup Bola (Ball Seat Valves) § Katup Piringan (Disc Seat Valves) b. spring centered).5. Katup Geser (Slide valves) § Longitudinal Slide § Plate Slide Sedangkan menurut fungsinya katup-katup dikelompokkan sebagai berikut : a) Katup Pengarah (Directional Control Valves) b) Katup Satu Arah (Non Return Valves) c) Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves) d) Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves) e) Katup buka-tutup (Shut-off valves) Sedangkan susunan urutannya dalam sistem pneumatik dapat kita jelaskan sebagai berikut : § Sinyal masukan atau input element mendapat energi langsung dari sumber tenaga (udara kempa) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal. § Sinyal pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element. pembalik pegas (3/2 DCV plunger actuated.1 Katup Pengarah (Directional Control Valves) Katup 3/2 Way valve (WV) penggerak plunyer.Katup-katup pneumatik memiliki banyak jenis dan fungsinya. Komponen-komponen kontrol tersebut atau biasa disebut katup-katup (Valves) menurut desain kontruksinya dapat dikelompokan sebagai berikut : a. 7. Katup tersebut berperan sebagai pengatur/pengendali di dalam sistem pneumatik.

Katup 4/3 Plunyer Pembalik Pegas Katup 5/2. DCV-air port jenis longitudinal slide. Gambar 29. Gambar 28. termasuk jenis katup piringan ( disc seat valves) Gambar 27.Katup 4/2 penggerak plunyer. Katup 5/2 Plunyer Penggerak Udara Bertekanan 489 . Katup 4/2 Plunyer Pembalik Pegas Katup 4/3 manually jenis plate slide valves. spring centered). kembali pegas (4/2 DCV plunger actuated.

2 Katup Satu Arah (Non Return Valves) Katup ini berfungsi untuk mengatur arah aliran udara kempa hanya satu arah saja yaitu bila udara telah melewati katup tersebut maka udara tidak dapat berbalik arah.2. Gambar 31. Katup satu arah dalam sistem elektrik identitik dengan fungsi dioda yang hanya mengalirkan arus listrik dari satu arah saja.1 Katup Satu Arah Pembalik Pegas Katup satu arah hanya bisa mengalirkan udara hanya dari satu sisi saja. Sehingga katup ini juga digolongkan pada katup pengarah khusus. baik sisi kiri saja atau sisi kanan saja. Gambar 30. maka katup akan menutup.5. Udara dari arah kiri (lihat gambar 30) akan menekan pegas sehingga katup terbuka dan udara akan diteruskan ke kanan. Macam-macam katup searah : 7.2 Shuttle Valve Katup ini akan mengalirkan udara bertekanan dari salah satu sisi.5.5.5. maka katup akan menutup dan udara tidak bisa mengalir kearah kiri. Katup ini juga disebut katup “OR” (Logic OR function).7. dan saluran Y secara bersamasama (lihat gambar 32). Bila udara yang mengalir dari satu sisi saja. Shuttle Valve 7. Bila udara mengalir dari arah sebaliknya. yaitu saluran X. namun bila udara mengalir secara 490 .2.3 Katup DuaTekan Katup ini dapat bekerja apabila mendapat tekanan dari kedua saluran masuknya. Katup satu arah dan simbolnya 7.

maka katup akan membuka. Pressure Regulation Valve 491 .4 Katup Buang Cepat (Quick Exhoust Valve) Gambar 33.bersamaan dari kedua sisinya. Gambar 34.5.5 Katup Pengatur Tekanan Pressure Regulation Valve. Katup Dua Tekan 7. sehingga katup ini juga disebut “AND” (Logic AND function). Gambar 32. katub ini berfungsi untuk mengatur besar-kecilnya tekanan udara kempa yang akan keluar dari service unit dan bekerja pada sistim pneumatik (tekanan kerja).5. Katup Buang Cepat 7.

Udara akan mengalir dahulu ke tabung penyimpan. Katup penunda ini juga dikenal pula dengan timer. jadi tekanan udara yang mengalir ke sistem tetap aman. Apabila terjadi tekanan lebih maka katup out-let akan terbuka dan tekanan lebih dibuang.7 Sequence Valve Prinsip kerja katup ini hampir sama dengan relief valve. Squence Valve 7. bila suda penuh baru akan mengalir ke saluran lainnya. hanya fungsinya berbeda yaitu untuk membuat urutan kerja dari sistem. Gambar 36.6 Katup Pembatas Tekanan/Pengaman (Pressure Relief Valve) Katup ini berfungsi untuk membatasi tekanan kerja maksimum pada sistem.5. 7.7. Perhatikan gambar berikut : Gambar 35.8 Time Delay Valve (Katup Penunda) Katup ini berfungsi untuk menunda aliran udara hingga pada waktu yang telah ditentukan. Time Delay Valve 492 .5.5.

5.5. Hal ini diasumsikan bahwa besarnya aliran yaitu jumlah volume udara yang mengalir akan mempengaruhi besar daya dorong udara tersebut.7. Lihat gambar berikut : Gambar 38. Katup Pengatur Aliran Udara 7.6 Unit Pengerak (Working Element = Aktuator) Unit ini berfungsi untuk menghasilkan gerak atau usaha yang merupakan hasil akhir atau output dari sistim pneumatik. Macam-macam aktuator : a) Linear Motion Aktuator (Penggerak Lurus) Ø Single Acting Cylinder (Silinder Kerja Tunggal) 493 . Macam-macam flow control: a) Fix flow control yaitu besarnya lubang laluan tetap (tidak dapat disetel). b) Adjustable flow control yaitu lubang laluan dapat disetel dengan baut penyetel. karena akan mencekik aliran udara hingga akan menghambat aliran udara.10 Shut of Valve Katup ini berfungsi untuk membuka dan menutup aliran udara.. Shut of Valve 7. Adapun penampang dan simbol flow control valve adalah sebagai berikut: Gambar 37.9 Katup Pengatur Aliran (Flow Control Valve) Katup ini berfungsi untuk mengontrol/mengendalikan besarkecilnya aliran udara kempa atau dikenal pula dengan katup cekik. c) Adjustable flow control dengan check valve by pass.

yaitu torak. 7. Jenis Single Acting Cylinder (a) dan Simbolnya (b) Silinder Pneumatik sederhana terdiri dari beberapa bagian. Ø Air Motor (Motor Pneumatik) Ø Rotary Aktuator (Limited Rotary Aktuator) a) b) Gambar 39. pegas pembalik. Silinder kerja ganda ada yang memiliki batang torak ( piston road) pada satu sisi dan ada pada kedua pula yang pada kedua sisi.6. Silinder sederhana akan bekerja bila mendapat udara bertekanan pada sisi kiri. 7. selanjutnya akan kembali oleh gaya pegas yang ada di dalam silinder pneumatik. Keuntungannya adalah bahwa silinder ini dapat memberikan tenaga kepada dua belah sisinya. seal. Silinder kerja tunggal hanya dapat memberikan tenaga pada satu sisi saja. Konstruksinya hampir sama dengan silinder kerja tunggal. beban dan tujuan penggunaan sistim pneumatik. 494 . batang torak.6.Ø Double Acting Cylinder (Penggerak Putar) b) Rotary Motion Actuator (Limited Rotary Aktuator) Pemilihan jenis aktuator tentu saja disesuaikan dengan fungsi. dan silinder.1 Single Acting Cylinder Silinder ini mendapat suplai udara hanya dari satu sisi saja. Konstruksinya yang mana yang akan dipilih tentu saja harus disesuaikan dengan kebutuhan. Secara detail silinder pneumatik sederhana pembalik pegas dapat dilihat pada gambar 39a. Gambar berikut ini adalah gambar silinder kerja tunggal. Untuk mengembalikan keposisi semula biasanya digunakan pegas.2 Silinder Penggerak Ganda (Double Acting Cyinder) Silinder ini mendapat suplai udara kempa dari dua sisi.

atau melalaui katup sinyal ke katup pemroses sinyal (processor) kemudian baru ke katup kendali.Gambar 40. Cushioning Gambar 41. yaitu torak. Double Acting Cylinder with Cushioning 495 . Jadi dengan sistem cushion ini kita memberikan bantalan atau pegas pada akhir langkah. Double Acting Cylinder dan simbolnya Silinder pneumatik penggerak ganda akan maju atau mundur oleh karena adanya udara bertekanan yang disalurkan ke salah satu sisi dari dua saluran yang ada. Secara detail silinder pneumatik dapat dilihat seperti gambar 40. Silinder pneumatik penggerak ganda terdiri dari beberapa bagian. dan silinder. seal. Sumber energi silinder pneumatik penggerak ganda dapat berupa sinyal langsung melalui katup kendali.2.1 Double Acting Cylinder With Cushioning Cushion ini berfungsi untuk menghindari kontak yang keras pada akhir langkah. batang torak. Pengaturan ini tergantung pada banyak sedikitnya tuntutan yang harus dipenuhi pada gerakan aktuator yang diperlukan.6. 7.

Gambar 42. b) Motor baling-baling luncur. Cara kerja motor pneumatik berupa piston translasi kemudian dikonversi menjadi gerakan berputar/rotasi dimana udara bertekanan dialirkan melalui torak atau baling-baling yang terdapat pada porosnya. Rotari Vane Motor Menurut bentuk dan konstruksinya. motor pneumatik dibedakan menjadi : a) Motor torak. Motor pneumatik ini telah cukup berkembang dan penggunaanya telah cukup meluas. b) Sliding Vane Motor . antara lain: a) Piston Motor Pneumatik.7 Air Motor (Motor Pneumatik) Motor pneumatik mengubah energi pneumatik (udara kempa) menjadi gerakan putar mekanik yang kontinyu. Macam-macam motor pneumatik.7. Motor Piston Radial dan Motor Axial Gambar 43. c) Gear Motor. d) Motor aliran. c) Motor roda gigi. 496 . d) Turbines (High Flow). Berikut contoh-contoh motor pneumatik.

7.8 Jenis-jenis Katup Pneumatik Tabel 1. h) Arah putaran mudah dibolak-balik.Gambar 44. antara lain: a) Kecepatan putaran dan tenaga dapat diatur secara tak terbatas. c) Ukuran kecil sehingga ringan. b) Batas kecepatan cukup lebar. cairan. g) Mudah dalam pemeliharaan. d) Ada pengaman beban lebih. e) Tidak peka terhadap debu. Simbol dan Gambar Katup Sinyal Pneumatik LAMBANG PENAMPANG NAMA Katup tekan 3/2 dengan pegas pembalik Katup NOT 3/2 dengan pegas pembalik 497 . panas dan dingin. f) Tahan terhadap ledakan. Jenis dan Simbol Motor Pneumatik/Rotary Actuator Ada beberapa kelebihan penggunaan motor pneumatik.

tuas. Sesuai dengan standar Deutsch Institut fur Normung (DIN) dan ISO 1219. terdapat beberapa jenis penggerak katup. dan lain-lain.= Katup tuas 3/2 dengan penahan Katup Roll 3/2 Katup tuas 4/2 dengan penahan/tuas Simbol penekan katup sinyal memiliki beberapa jenis. antara lain penekan manual. antara lain: Tabel 2. Jenis-jenis penggerak katup SIMBOL KETERANGAN Penekan pada umumnya Penggerak katup oleh knop SIMBOL KETERANGAN Melalui sentuhan Penggerak katup oleh pegas 498 . roll.

Penggerak katup oleh tuas Penggerak katup oleh pedal kaki Penggerak katup oleh udara Penggerak katup magnet/ mekanik dua sisi Penggerak katup oleh roll Penggerak katup oleh roll tak langsung (berlengan) Penggerak katup oleh magnet Penggerak katup oleh magnet dua sisi 7. sedangkan saluran 3 menjadi tertutup. Gambar 45. Katup Sinyal Roll 3/2 499 . dan lubang 1 tertutup sehinggga tidak terjadi kerja apa-apa. Katup ini bekerja bila tombol roll pada katup tertekan secara manual melalui nok yang terdapat pada silinder Pneumatik atau karena adanya sistim mekanik lainnya.1.8. Saat rooler tertekan maka terlihat bahwa lubang 1 berhubungan dengan saluran 2. saluran 2 berhubungan dengan 3. Aplikasinya nanti adalah saluran 2 itu akan dihubungkan pada katup pemroses sinyal berikutnya. Saluran 2 akan berfungsi sebagai pemberi sinyal pada katup berikutnya. Hal ini akan berakibat bahwa udara bertekanan dari lubang 1 akan diteruskan ke saluran 2. Katup akan bekerja dan memberikan reaksi apabila ujung batang piston (batang penekan) sudah mendekat dan menyentuh pada roller-nya.1 Katup 3/2 dengan Penekan Roll Katup ini sering digunakan sebagai saklar pembatas yang dilengkapi dengan roll sebagai tombol. Saat posisi katup pneumatik belum tertekan yaitu saat katup tidak dioperasikan.

7. maka katup tersebut juga disebut saklar pembatas. maka hasil pengolahan sinyal akan dikirim ke katup kendali yang akan diteruskan ke aktuator agar menghasilkan gerakan yang sesuai dengan harapan.2 Katup Pemroses Sinyal (Prossesor) Output yang dihasilkan oleh katup sinyal akan diproses melalui katup pemroses sinyal (prosesor). seperti yang tampak dalam simbol dan gambar penampang berikut ini: Tabel 3. katup pembatas tekanan. Jenis dan Simbol Katup Pemroses Sinyal Pneumatik LAMBANG PENAMPANG NAMA Katup dua tekan (AND) Katup satu tekan (OR) Katup aliran satu arah dengan pembalik pegas 500 . Katup pemroses sinyal terletak antara katup sinyal dan katup pengendalian. saat maju atau mundur.Katup sinyal roll ini akan bekerja apabila ujung roller tertekan oleh nok aktuator atau lainnya.8. Katup semacam ini dapat berfungsi sebagai pembatas gerakan atau pencegah gerakan yang berlebihan. katup pengatur aliran udara (cekik) satu arah. katup NOT. Katup pemroses sinyal terdiri dari beberapa jenis. namun terbatas pada katup pengatur aliran/cekik yang mengatur kecepatan torak. katup satu tekan (OR). dan lain-lain. Beberapa katup pemroses sinyal dapat pula dipasang sebelum aktuator. Katup pneumatik pada dasarnya identik dengan saklar pada rangkaian listrik. Sebagai pengolah input/masukan dari katup sinyal. antara lain katup dua tekan (AND).

Katup pengatur tekanan udara akan bekerja pada batas-batas tekanan tertentu.Katup aliran satu arah tanpa pegas Katup pengatur aliran (Cekik) satu arah Katup OR dengan tekanan tertentu Cekik dua arah Katup Pengatur tekanan udara penyetel pegas Secara detail fungsi dan mekanisme kerja katup pemroses sinyal dapat dijelaskan sebagai berikut: 7. Katup 501 .3 Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valve) Katup pengatur tekanan digunakan untuk mengatur tekanan udara yang akan masuk ke dalam sistim pneumatik.8.

untuk membatasi daya yang bekerja. Apabila katup ini mendapat tekanan dari arah X (1. Secara simbolik dapat dituliskan sebagai berikut : 502 . serta untuk menyeimbangkan aliran yang mengalir pada cabang-cabang rangkaian pneumatik.pengatur tekanan udara berfungsi mengatur tekanan agar penggerak pneumatik dapat bekerja sesuai dengan tekanan yang diharapkan.4) secara bersama-sama maka katup ini akan dapat bekerja sesuai fungsinya. Sesuai fungsinya katup pengatur tekanan dapat disimbolkan sebagai berikut : Tabel 4. Tetapi apabila mendapat tekanan dari X (1. Biasanya dikenal juga dengan istilah cekik. 7.8.8.4. Fungsi dari pemasangan flow control valve pada rangkaian pneumatik antara lain untuk membatasi kecepatan maksimum gerakan piston/motor pneumatik. udara akan dikeluarkan.2) saja atau dari arah Y (1.4 Katup Pengatur Aliran (Flow Control Valve) Katup ini digunakan untuk mengatur volume aliran yang berarti mengatur kecepatan gerak piston (aktuator).4) saja maka katup tidak akan bekerja (udara tidak dapat keluar ke A). Jenis dan Simbol Katup Pembatas Tekanan Pressure regulator Pressure relief valve Pressure regulator with self relieving Sequence valve 7. hingga tekanan yang diperlukan tidak berlebihan. Bila telah melewati tekanan yang diperlukan maka katup ini akan membuka secara otomatis.2) dan Y (1.1 Katup AND (Two Pressure Valve) Katup dua tekan akan bekerja apabila mendapat tekanan dari dua sisi secara bersama-sama. Untuk mendapatkan tekanan yang sesuai dengan keperluan dapat dilakukan dengan cara mengatur putaran pegas yang ada.

Simbol dan Tabel Logika katup OR PENAMPANG SIMBOL SIMBOL LOGIKA 503 . Demikian pula pada pneumatik.2 Katup OR (One Pressure Valve) Katup OR akan bekerja bila dari salah satu sisi katup terdapat udara bertekenan. udara bertekanan dapat dialirkan pada salah satu sisi atau kedua sisinya secara bersamaan. Katup OR dapat digambarkan dan disimpulkan sebagai berikut: Tabel 6.X1 X2 TABEL LOGIKA X1 X2 A 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 7. Arus listrik dapat mengalir pada salah satu penghantar. baik dari sisi kiri X atau (X1) atau sisi kanan Y atau (Y2). Simbol dan Tabel Logika katup AND PENAMPANG SIMBOL SIMBOL LOGIKA RANG.4. Dalam sistim elektrik katup OR diidentikkan dengan rangkaian parallel.Tabel 5. atau kedua-duanya. PNUAMATIK ELEKTRIK .8.

demikian pula sebaliknya.X1 ELEKTRIK TABEL LOGIKA X1 X2 0 0 1 1 X2 0 1 0 1 A 0 1 1 1 7.3 Katup NOT (Negations Valve) Katup ini akan selalu bekerja berlawanan dengan sinyal yang masuk. namun sebaliknya udara bertekanan tidak dapat diteruskan bila katup NOT diberi aksi. bila sinyal dalam kondisi ON maka outputnya (A) akan OFF (mati).4 Katup NOR (Not OR) Katup ini akan bekerja selalu berlawanan dengan output katup OR.8.8.4. Dalam pneumatik katup NOT dapat diartikan bahwa udara bertekanan akan mengalir melalui katup NOT bila tidak diberi aksi. bila output OR adalah ON. Tabel 7.4. sedangkan pada posisi OFF maka outputnya akan ON. Logika katup NOR X2 A ( OR) A (NOR) 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 504 . Simbol dan Tabel Logika katup NOT Simbol Pneumatik Logik Kontrol Tabel Logika X 0 1 A 1 0 7. Katup ini biasanya dipakai untuk Emergency. Tabel Logika katup NOR dapat dijelaskan dalam tabel logika berikut: X1 0 0 1 1 Tabel 8.RANGKAIAN PNEUAMATIK . maka output NOR berupa OFF.

penggerak elektrik. maka output NAND berupa OFF. Katup ini akan secara langsung mengendalikan aktuator baik berupa silinder pneumatik maupun motor pneumatik. katup 5/2. dan sisi kanan ruang b.5 Katup Pengendali Sinyal Sinyal yang telah diolah atau diproses selanjutnya akan dikirim ke katup pengendali. Pada sisi kiri dan kanannya terdapat kode penggerak katup tersebut misalnya penggerak udara bertekanan. yaitu sisi kiri ruang a. dan akan berhenti bila inputnya AND.4. 4. dan lain-lain. yaitu mengaktifkan aktuator maju (setzen/S) atau mengembalikan aktuator ke posisi semula/mundur (rucksetzen/R).7. 3/2. penggerak hydrolik. Katup pengendali sinyal terdiri dari beberapa jenis. penggerak mekanik. yaitu saluran 1. 3. 5/3. udara bertekanan akan diteruskan ke sistim pneumatik bila outputnya tidak AND. antar lain. Letak katup pengendali biasanya sebelum aktuator. demikian pula sebaliknya. Katup Kendali 5/2 Katup di atas terdiri dari 2 ruang. 2. Dilihat 505 . 4/2. dan sebagainya. Katup pengendalian biasanya memiliki dua kemungkinan. dan 5. bila output katup AND adalah ON. Setiap ruang terdiri dari 5 saluran/port. Katup NAND dapat digambarkan sebagai berikut : Tabel 9.8. Salah satu contoh cara pembacaan katup pengendali adalah sebagai berikut: a b Gambar 46.5 Katup NAND (Not AND) Katup ini akan bekerja selalu berlawanan dengan output katup AND.8. logika katup NAND X1 0 0 1 1 X2 0 1 0 1 A (AND) 0 0 0 1 A (NAND) 1 1 1 0 7. Dalam pneumatik.

4. masing-masing diberi nomor.5. 3. Pada bagian bawah (input) terdapat saluran masuk udara kempa yang diberi kode nomor 3. Kedua ruang diaktifkan/digeser oleh udara bertekanan dari sisi 14. Selain itu terdapat dua ruang yang diberi nama ruang a dan ruang b. Perbedaannya dengan katup di atas adalah Kedua ruang dapat diaktifkan/digeser oleh tenaga mekanik dan oleh udara bertekanan. Pada umumnya sisi 14 akan mengaktifkan ruang a sehingga port 1 terhubung dengan port 4. 2.1 Katup Kendali 5/2 penggerak udara kempa Katup kenndali 5/2 penggerak udara kempa ini terdiri dari lima port. Selain itu terdapat dua ruang yang diberi nama ruang a dan ruang b. k atup pengendali sinyal terdiri dari beberapa jenis antara lain: 7. dan 5. sedangkan bagian atas (output) terdapat dua saluran (port) yang diberi kode nomor 2 dan 4. Biasanya penggerak mekanik difungsikan untuk melakukan cheking apakah katup dapat berfungsi dengan baik atau tidak.8. masing-masing diberi nomor 1.dari jenis penggerak katupnya.2 Katup Kendali 5/2 penggerak udara kempa dan Mekanik Katup kendali 5/2 penggerak udara kempa dan mekanik ini terdiri dari lima port. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Udara Kempa 7. dan dua saluran buang yang diberi kode 3.5. dan dua saluran buang yang diberi kode 3 dan 5. 506 . Sisi 12 untuk mengaktifkan ruangan b yang berdampak saluran 1 terhubung dengan saluran 2. Gambar 47. Pada bagian bawah (input) terdapat saluran masuk udara kempa yang diberi kode nomor 3.8.dan 5. dan sisi 12. sehingga aktuator bergerak mundur. Bagian atas (output) terdapat dua saluran (port) yang diberi kode nomor 2 dan 4 yang akan dihubungkan dengan aktuator. Kedua saluran genap tersebut akan dihubungkan dengan aktuator. aktuator bergerak maju.

8.5. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik dan Udara Kempa 7. yang berfungsi untuk mengembalikan katup ke posisi semula secara otomatis bila udara bertekanan penggerak katup tersebut terputus. Perbedaannya katup ini dilengkapi pegas. Bila kumparan dilalui arus.8.2 Katup Kendali 5/2 Penggerak Udara Kempa dan Pegas Katup kendali 5/2 penggerak udara kempa dan pembalik pegas ini prinsipnya sama dengan katup kendali sebelumnya.Gambar 48. Magnet ini akan mengeser ruangan katup sesuai dengan gerakan yang diinginkan. Biasanya pembalik pegas ini difungsikan untuk mempertahankan katup agar tetap ke posisi semula setelah bergeser. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik Udara Kempa dan Pembalik Pegas 7. 507 . Gambar 49. Biasanya katup ini digunakan untuk sistem elektropneumatik atau elektro hydrolik.3 Katup Kendali 5/2 penggerak Magnet Katup kendali 5/2 penggerak udara magnet ini prinsipnya sama dengan katup kendali sebelumnya.5. maka inti besi akan menjadi magnet. Perbedaannya katup ini dilengkapi kumparan/spull yang dililitkan ke inti besi.

Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Magnet Selain sistem penggerak katup. jenis dan simbol komponen pneumatik lainnya juga terdiri dari berbagai jenis seperti dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10. Jenis dan Simbol Komponen Sistim Pneumatik Lainnya (FESTO FluidSIM) Simbol Nama Sumber udara bertekanan Keterangan Sumber udara bertekanan berasal dari kompresor atau Saluran Kontrol Saluran tenaga/kerja Saluran berhubungan Saluran bersilangan Filter udara Tangki penampung udara Filter udara Saluran kontrol antar peralatan pneumatik Saluran kerja dari kompresor Dua. tiga atau lebih saluran udara yang saling berhubungan Dua.Gambar 50. tiga atau lebih saluran udara yang saling bersilangan Berfungsi sebagai peredam suara agar tidak bising Penampung udara bertekanan Dipasang sebelum masuk ke penampung 508 .

berfungsi untuk mengaktifkan aktuator setelah waktu tertentu 7. Regulator dan Lubrication Pemanas udara Pelumasan FR/L Unit Katup timer/tunda waktu.Pemisah air Berfungsi untuk memisahkan air dari udara Pengering udara sebelum masuk ke instalasi pneumatik Pencampuran udara dengan pelumas agar mengurangi keausan pada peralatan pneumatik FR/L unit merupakan Unit pelayanan udara bertekanan yang terdiri dari Filter.9 Model Pengikat (Types Of Mounting) Cara-cara pengikat silinder (aktuator) pada mesin atau pesawat dapat dilaksanakan/dirancang dengan pengikat permanen atau remanen tergantung keperluan. Berikut ini gambar-gambar cara pengikatan. 509 .

.. akan dijelaskan pula tentang Karnaught Diagram... Komponen yang ada dalam rangkaian sistim pneumatik harus dapat bekerja sama satu dengan lainnya agar menghasilkan gerakan output aktuator yang sesuai dengan kebutuhan. katup pemroses sinyal.. Adanya sistim kontrol pneumatik ini akan mengatur hasil kerja baik gerakan... Bagian ini akan mendiskripsikan tentang komponen-komponen sistim kontrol pneumatik.. arah 510 .... dan katup kendali.Gambar . Masukan (input) diperoleh dari katup sinyal. Tipe-Tipe Mounting 8..1 Pengertian Sistim Kontrol Pneumatik Sistim udara bertekanan tidak terlepas dari upaya mengendalikan aktuator baik berupa silinder maupun motor pneumatik..... kecepatan. agar dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan.. seperti katup sinyal... selanjutnya diproses melalui katup pemroses sinyal kemudian ke katup kendali sinyal......... Bagian kontrol akan mengatur gerakan aktuator (output) agar sesuai dengan kebutuhan............ Type Of Mounting Gambar 51. urutan gerak.. Sistim kontrol pneumatik merupakan bagian pokok sistim pengendalian yang menjadikan sistem pneumatik dapat bekerja secara otomatis. Selain itu untuk memudahkan secara teoritis. 8..... Bagian pemroses sinyal dan pengendali sinyal dikenal dengan bagian kontrol..... Sistim Kontrol Pneumatik.

menghentikan atau mengarahkan fluida yang melalui katup tersebut. kecepatan torak (V). bisa melalui penekan. 2. Katup sinyal adalah suatu alat yang menerima perintah dari luar untuk mengalirkan. Bentuk-bentuk dari sistim kontrol pneumatik ini berupa katup (valve) yang bermacam -macam. roll. Adapun konversi satuan tersebut antara lain : a) satuan panjang. dan c) Katup pengendalian. Dengan sistim kontrol pneumatik ini sistem pneumatik dapat didesain untuk berbagai tujuan otomasi dalam suatu mesin industri. Katup-katup tersebut akan mengendalikan gerakan aktuator agar menghasilkan sistim gerakan mekanik yang sesuai dengan kebutuhan. b. Bagian ini akan mendeskripsikan tentang perhitungan tekanan udara (P). Katup sinyal dilambangkan dengan katup yang terdiri dari beberapa ruangan (misal: ruang a. tuas. roll. misal saluran 1. c) satuan tekanan. b) Katup pemroses sinyal (processor). perhitungan debit aliran udara (Q). Sedangkan jenis penekannya (aksi) mempunyai beberapa pilihan missal..gerakan maupun kekuatannya. dan sebagainya. melalui penekan manual. d) satuan massa. Fungsi dari sistim kontrol pneumatik ini untuk mengatur atau mengendalikan jalannya tenaga fluida hingga menghasilkan bentuk kerja (usaha) yang berupa tenaga mekanik melalui silinder pneumatik maupun motor pneumatik. Unit katup sinyal merupakan gabungan dari berbagai katup yang berfungsi memberikan input (sinyal) pada suatu unit prosesor (pemroses sinyal) agar menghasilkan gerakan aktuator yang sesuai dengan kebutuhan. c) dan saluran udara yang dituliskan dalam bentuk angka. tuas. baik secara mekanik maupun elektrik yang akan menimbulkan reaksi pada sistim kontrol pneumatik. Sebelum melaksanakan perhitungan pneumatik terlebih dahulu harus mengetahui konversikonversi satuan yang sering dipakai dalam perhitungan dasar pneumatik. Perintah tersebut berupa aksi. b) satuan volume. Katup sinyal akan menghasilkan sinyal/sensor sebagai masukan (input) guna diproses ke katup pemroses sinyal. e) satuan energi. Gaya Torak (F) dan dasar perhitungan daya motor. f) satuan gaya dan g) satuan temperatur. Selengkapnya dapat dilihat di bawah ini : 511 . seperti contoh berikut ini: 9. 3. dan setersunya. Dasar Perhitungan Pneumatik………………………………… Dasar perhitungan pneumatik merupakan bagian yang akan membahas tentang perhitungan dasar dalam pneumatik. Menurut fungsinya katup-katup tersebut dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu: a) Katup Sinyal (sensor).

105 Pa 1 bar = 0.19 J 1W = 1 J/s Temperatur/suhu C=5 R=4 F=9 o R = 4/5 x oC o C = 5/4 x oR o F = (9/5 x oC) + 32o o C = 5/9 x (oF-32o) 1 °K = 1.317 liter = 16.15 = 10 -3 m 3 = 1 dm 3 = 3.3084 m 1liter 1 inch = 2.5939 kg = 444.Gaya 1 Ib (m) = 0.§ Satuan panjang .22481 Ib f § § § 512 .933 × 10 -2 psi 1 mm Hg = 0.6093 km 1 inch3 1 km = 1000 m 1m = 100 cm 1 cm = 0.3558 J 1dyne/cm 2 = 10 -1 N/m 2 1 ev = 1.8 °R °K = °C + 273.Volume 1 ft = 0.186 J 1 Btu = 252. 800 dyne Tekanan 1 kPa = I000 N/m 2 = 20.7854 liter = 28.45359237 kg 1Ibf = 7000 grain 1N 1 kg = 1000 g 1 ton 1 ton = 1000 kg 1 slug = 32.4805 gal Massa .174 Ib m = 14.01325 x 10 5 N/m 2 1 Pa = 1 N/m 2 1 bar = 1.3937 inch = 7. Hg = 0.01934 Ibf /in2 = 10 7 erg 1 erg = 1 dyne-cm 1 kalori = 4.491 Ibf /in 2 = 1.540 cm 1 gal 1 mile = 5280 ft 1ft3 = 1.387 cm 3 § = 4.16 kal 1 in.602 x 10 .886 Ibf /ft2 1 atm = 760 torr = 1.4482 N = 1 kg-m/s 2 = 0.05504 kJ 1 ft-lbf = 1.9869 atm Energi 1 torr = 1 mm Hg 1J = 1 kg-m 2 /s 2 = 1.

g.6 x10 3 xQ1. P atm + W.V. g.A. h .85 xL Pa d 5 xPabs Dimana : L = panjang salura (m) D = Diameter dalam saluran (m) Q = Debit aliran udara (m3/s) Pabs = Tekanan absolute dalam Pa (N/m 2) Catatan : 1 bar = 105 (N/m 2) = 105 Pa (Pascal) 513 .1 Tekanan Udara P atm Pe A. maka P1 = ?.1 = ?. h (kPa) Pe Gambar 52. Sistim Tekanan dalam Pneumatik Udara yang mengalir ke saluran sistem pneumatik akan mengalami penurunan tekanan (head losses) akibat adanya gesekan sepanjang saluran dan belokan.g = ?. h ? P = Pe – P atm = ?. g A = luas penampang P atm = tekanan atmosfer Pe = tekanan pengukuran Dengan mengeliminasi A. memiliki persamaan : ∆P = 1. Penurunan tekanan tersebut menurut Majumdar: 2001.9. Dimana : A h Pe W = berat benda = m.g = ?. g. Pe = A.h.

maka kecepatan torak saat maju akan lebih kecil dibandingkan dengan saat torak bergerak mundur. V (m/dtk) Bila melewati melalui saluran yang memiliki perbedaan luas penampang A.3 Kecepatan T orak (V) Suatu silinder pneumatik memiliki torak dengan luas dan memiliki luas penampang stang torak. sebandang dengan perubahan luas penampangnya Q1 = Q2 . maka debit udara akan tetap. Analisa Debit Udara V1 A2 = V2 A1 9. Vmaju = Q A Q An Vmundur = Dimana : V = kecepatan torak (m/s) Q = debit aliran udara (ltr/mnt) A = luas Penampang Torak (m2) An= A-Ak (m2) Gambar 54. maka akan memiliki debit aliran Q (m3/dtk) sebesar A (m2) x V (m/dtk).2 Analisa Aliran Fluida (V) Udara yang melewati saluran dengan luas penampang A (m2) dengan kecepatan udara mengalir V (m/dtk). namun kecepatannya akan berubah. Analisis Kecepatan Torak 514 . sehingga Gambar 53.9. Debit Aliran Udara (Q) Q (m3/dtk) = A (m2) .

. S..(N) n Ak Dimana: F = Gaya torak (N) Pe = Tekanan kerja/effektif (N/m 2) A = Luas Penampang (m2) An = A-Ak (m2) Ak = Luas batang torak (m2) 9. n .5 Udara yang Diperlukan (Q) Gambar 55. Analisis Gaya Torak n Ak Gambar 56..η …(N) Fmundur = Pe . (Pe + Patm) =.(ltr/mn) Patm (Pe + Patm) Patm (lt/mnt) Q mundur = An. n ..4 Gaya Torak (F) Fmaju = Pe .A.9. An .. Analisis Debit Udara Q maju = A.η . 515 . S.

Dimana: S = Langkah torak (m) Pe = Tekanan (N/m 2) A = Luas Penampang (m2) An = A-Ak (m2) Ak = Luas batang torak (m2) n = Banyaknya langkah (kali/menit) Kebutuhan udara bertekanan yang diperlukan (Q) juga dapat dicari melalui rumus: Q = 0. Analisis Tekanan pada Penampang Berbeda 516 . Pe 600 P1 = Gambar 57. Pe P2 = Q .6 Perhitungan Daya Kompresor P2 = Q . 2001) t 101.7 Pengubahan Tekanan (kW) Gambar 58. Analisis Daya Pompa P2 η P2 = Daya output pompa P1 = Daya Motor (kW) 9.3 x103 x10 −12 m3 /s (Majumdar.S P + 101.3 ( ) 9.7854 D 2 .

1 akan kembali dengan sendirinya akibat adanya gaya pegas di dalamnya. 517 .1 OF 1. sehingga bergerak ke kanan (ON).Pe2 = Pe1 . karena tanpa melalui katup pemroses sinyal.0 akan dikeluarkan melalui katup 1. maka udara bertekanan dari kompressor akan mengalir ke katup tekan 3/2 pembalik pegas (1. Rangkaian ini hanya dapat digunakan untuk menggeser/ mengangkat benda kerja paling sederhana. Rangkaian tersebut termasuk dalam kategori pengendalian langsung.η A2 10.1 Pengendalian Langsung Silinder Sederhana 1.1 di lepas. Bila katup 1.0). Pengendalian Silinder Sederhana Secara Langsung Cara Kerja : Bila katup sinyal/sensor ditekan secara manual.1 melalui saluran 2 ke saluran 3 selanjutnya dikembalikan ke udara luar (atmosfer). Dimana : Pe1 = Tekanan awal (N/m 2) Pe2 = Tekanan akhir (N/m 2) A 1 = Luas Penampang 1 A 2 = Luas Penampang 2 A1 . maka silinder 1. Udara bertekanan akan diteruskan ke silinder sederhana pembalik pegas (1. Udara sisa yang ada di dalam silinder 1. Analisis Kerja Sistim Pneumatik 10.1) melalui saluran 1 ke saluran 2.1 ON Gambar 59.

karena saat silinder harus kembali ke posisi semula memerlukan tenaga besar. Rangkaian ini dapat digunakan untuk menggeser benda kerja. rangkaian tersebut masih harus banyak mengalami penyempurnaan.0 (A) 0 0 1 1 Rangkaian ini dapat juga disebut identity. melainkan disalurkan ke katup kendali terlebih dahulu. silinder langsung bekerja. dan bila tidak diberi sinyal. Setelah katup bergeser.Tabel 11. Gambar 60. Adapun sistim kendali tak langsung dapat dilihat pada gambar 61 di bawah ini: 518 . Penggeser Benda Kerja 10. baru kemudian udara bertekanan akan mengalir menggerakan aktuator. Dimana tekanan udara yang ada dapat digunakan untuk gerak maju dan mundur silinder pneumatik secara sempurna. Penggunaan silinder pneumatik sederhana pembalik pegas pada mesin ini sangat rawan.1 (S1) Silinder 1.2 Pengendalian Tak Langsung Silinder Penggerak Ganda Pengendalian tak langsung pada sistim pneumatik karena udara bertekanan tidak langsung disalurkan untuk menggerakkan aktuator. silinder tidak bergerak. sehingga dengan gaya pegas pembalik yang ada dapat mengembalikan silinder ke posisi semula dengan mudah. Idealnya untuk mesin penggeser seperti di bawah ini menggunakan silinder penggerak ganda. namun agar dapat bekerja secara otomatis. Logika untuk sistim di atas adalah sebagai berikut: Katup 1. karena bila diberi sinyal. Rangkaian tersebut dapat digunakan bilamana bendanya ringan dan gesekan benda seminal mungkin.

0 Melalui Dua Katup Cara Kerja : Bila katup sinyal 1.OF 1.2 ON .0. Silinder 1.1.2 ditekan secara manual sesaat. Rangkaian dan Diagram Gerak Silinder 1.3 ON . maka udara bertekanan dari kompresor akan mengalir ke katup kendali 1.0 akan bergerak ke kanan secara perlahan-lahan sesuai dengan pengaturan cekik.3 ditekan/diaktifkan sesaat sehingga udara akan mengalir ke katup 519 .0 akan kembali bila katup sinyal 1.1 melalui sisi 14. Silinder 1.OF Gambar 61. Udara dari kompresor akan mengalir melalui saluran 1 ke 4 diteruskan ke pengatur aliran (cekik) kemudian ke Silinder 1. sehingga katup kendali 5/2 akan bergeser ke kanan.

1 yang menyebabkan katup 1.kendali 1. Tabel 12. kemudian silinder akan kembali secara otomatis.2 (S1) Katup 1.3.3 (S2) Silinder 1. bila katup 1. Pengendalian Otomatis Silinder Penggerak Ganda 520 . Silinder Penggerak Ganda akan bergerak maju dan mundur secara otomatis. Klasifikasi rangkaian ini dapat dituliskan sebagai berikut : AKTUATOR Pengendali Katup pengendali Katup pemroses sinyal Katup sinyal Sumber energi Gambar 62.2 diganti penekan roll kemudian dipasang bersama dengan katup roll 1.0 (A) 0 0 ? 0 1 0 1 0 1 1 1 * Keterangan : ? = tergantung posisi sebelumnya * = tak tentu 10.1 kembali ke kiri melalui sisi 12. Udara dari kompresor akan menglir ke silinder pneumatik melalui saluran 1 ke 2 diteruskan ke silinder dari sisi kanan.3 Pengendalian Gerak Otomatis Silinder Penggerak Ganda Aplikasi dari gerakan ini dapat digunakan untuk menekan atau menggeser benda kerja sampai titik tertentu hingga menekan katup roll 1.4. Logika untuk sistim di atas adalah sebagai berikut: Katup 1. Silinder akan kembali secara berlahan sesuai dengan pengaturan cekik.

.1 Pintu Bus dengan Kontrol Pneumatik Silinder pneumatik penggerak ganda diletakkan di sisi dalam salah satu daun pintu lipat bus. Bila katup 1..2 and 1.0 Penggerak Ganda Aplikasi dari sistim gerak ini dapat digunakan pada mesin penekuk plat otomatis seperti di bawah ini: 1. Aplikasi Pneumatik dalam Proses Produksi..4 akan aktif secara bersamaan atau dapat ditulis sebagai 1..2 dan 1.. silinder 1. demikian pula pada ujung batang torak silinder.4). A - 11... Aplikasi Gerak Silinder 1.2 1.3 1..4 (1.0 akan kembali secara otomatis bila telah menekan katup roll 1..0 di bawah ini.....3 START 1.2 ditekan maka katup 1..0 akan bergerak maju. Bagian pangkal silinder penggerak ganda diikatkan pada bodi mobil mekakui engsel.. maka silinder 1.3 1.4 Gambar 63..2 ? 1.... Diagram Gerak Silinder 1. 11.4 Gambar 64.2 ? 1.Sistim gerak silinder penggerak ganda dapat dilihat pada diagram gerak silinder 1. sehingga gerakan maju mundur stang torak akan memudahkan pintu bus membuka dan menutup dengan 521 ..4 aktif pada posisi awal dan knop katup 1..0 A+.

= Silinder kerja ganda 522 . Agar dapat bekerja seperti di atas. Pintu bus akan menutup bila batang torak silinder pneumatik penggerak ganda bergerak maju (A+). Diagram Rangkaian Kontrol Pintu Bus Otomatis. Simbol dan keterangan rangkaian kontrol pintu bus otomatis.fleksibel. sedangkan pintu bus akan membuka bila batang torak silinder pneumatik penggerak ganda tersebut bergerak mundur (A -). maka rangkaiannya adalah sebagai berikut: Diagram Rangkaian Kontrol Pintu Bus Otomatis Silinder 1 A 1S 1 1V 5 1V6 1.4 (Y) 4 2 1V 4 1.2 (X) 5 1 3 1V3 1V 2 1V 1 S1 1S 1 2 1 0Z 1 3 Pintu bus 1S2 S2 S3 2 1S 3 2 3 1 Sopir S4 1S 4 2 1 Sopir 1 3 3 Gambar 65. Tabel 13.

= Katup kontrol aliran satu arah = Katup 5/2 dengan kontrol full pneumatik = Katup tunda waktu = Katup balik fungsi “ATAU” = Katup batas 3/2 dengan pegas pembalik 523 .

= Katup tombol 3/2 dengan pegas pembalik = Katup tuas 3/2 dengan penahan = Unit pelayanan udara (FR/L Unit) = Sumber udara mampat = Saluran kontrol = Saluran kerja 524 .

Diagram Tahap Perpindahan 1S2 1S3 1S4 2 1 3=1 0 1S1 Gambar 66. Diagram Tahap Perpindahan 11. Simbol logika untuk gerakan pintu bus 525 .1 Simbol Logika 1S2 1S3 ≥1 ≥1 1V4 1.2 (X) 1S1 1 1V4 1.1.4 (Y) 1S4 (a) Gerakan pintu bus membuka (silinder mundur) (b) Gerakan pintu menutup (silinder maju) Gambar 67.

mundur (pintu membuka) 0 1 1 0 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 0 1 0 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 0 0 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 0 1 0 sil.4 (Y) * = ada tekanan udara pada kedua saluran 1.2 (X) 1.2 Untuk Saluran 1.4 (Y) 11. Tabel Logika Gerakan Pintu Bus 1S1 1S2 1S3 1S4 1V 4 1. mundur (pintu membuka) 0 0 1 1 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 1 1 0 sil.Table 11. mundur (pintu membuka) 1 0 0 0 1 sil.2 (X) dan 1. maju (pintu menutup) 1 0 0 1 * tidak tentu 1 0 1 0 * tidak tentu 1 0 1 1 * tidak tentu 1 1 0 0 * tidak tentu 1 1 0 1 * tidak tentu 1 1 1 0 * tidak tentu 1 1 1 1 * tidak tentu Keterangan : = tidak ada tekanan udara pada saluran 1.2 (X) dan saluran 1.1.4 (Y) 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 A KETERANGAN 0 0 0 0 tidak tentu 0 0 0 1 0 sil.2 (X) Persamaan matematisnya : X = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) X = ( S1Λ S 2 Λ S3 ΛS 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3Λ S 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3ΛS 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) 526 .

2 (X) Untuk saluran 1.3 Diagram Karnought : S2 X = S2 ∨ S3 ∨ S4 S1 0 S4 0 S3 Gambar 68.1.4 (Y) Persamaan matematisnya : Y = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 ΛS 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 ΛS 3ΛS 4 ) Y = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 ΛS 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 ΛS 3ΛS 4 ) 527 .11. Diagram Karnought untuk saluran 1.

4 (Y).2 (X) masih terdapat udara mampat sehingga kondisi ini 528 . aliran udara dari saluran 1 ke saluran 2 menuju saluran 1. saluran 3 tertutup. Dengan gerakan A.1. Aliran udara ini akan mengaktifkan katup V1 sehingga udara dari kompresor akan mengalir ke katup V4 melalui saluran 1. maka pintu dikondisikan terbuka terus. Udara mendorong silinder ke belakang (A-). akan mengaktifkan katup S1. Pada saat kondisi pintu bus terbuka maksimal. Diagram Karnought untuk saluran 1. Aliran udara pada katup V4 adalah udara masuk saluran 1 keluar saluran 2 menuju saluran silinder bagian depan melalui katup V6. Sehingga aliran udara pada katup S1 adalah saluran 1 terbuka.4 (Y) Cara Kerja Rangkaian Pintu Bus dengan Kontrol Pneumatik Pada saat bus sedang menunggu penumpang di terminal. pada saluran 1. halte ataupun tempat-tempat pemberhentian bus lainnya. udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 dan selanjutnya diteruskan ke katup V1.2 (X) pada katup V4 melalui katup V3. Udara dalam silinder bagian belakang didorong keluar menuju saluran 4 dan keluar saluran 5 pada katup V4 melalui katup V5. Ketika katup S4 dioperasikan. Hal ini dimungkinkan dengan mengoperasikan katup S4.11. saluran 3 tertutup. saluran 1 terbuka. Pada saat yang bersamaan.(silinder mundur) maka pintu bus akan terbuka.4 Diagram Karnought S2 S1 1 1 1 1 1 1 1 1 S4 Y = S1 S3 Gambar 69.

sopir/kondektur bus harus menutup pintu bus terlebih dahulu.tidak akan mempengaruhi posisi katup V4.2 (Y) 5 1 3 1V3 1V1 1S1 2 1S4 S1 3 S4 1 2 Sopir 1 3 Gambar 70.4 (Y) akan mendorong katup V4 sehingga aliran udara pada katup V4 adalah udara dari kompresor masuk saluran 1 diteruskan ke saluran 4 menuju katup V5 dan kemudian masuk ke saluran silinder bagian belakang. Udara mampat pada saluran 1.2 (X) akan mengalir ke katup V3 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup S4. (lihat gambar 70) Silinder 1 A 1 S1 1V5 1V6 1. Saluran 1 tertutup dan saluran 3 terbuka. Untuk itu maka katup S4 harus dikembalikan ke posisi semula. Posisi silinder masih dalam kondisi awal dan posisi pintu bus masih dalam keadaan terbuka terus. Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S4 Pada saat bus akan berangkat.4 (Y) 1 V4 4 2 1. Udara pada bagian depan akan didorong ke luar melewati katup V6 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup V4. pintu bus akan segera tertutup (lihat gambar 71) 529 . Dengan gerakan maju ini (A+). Akibatnya udara pada saluran 1.

Silinder 1 A 1S1 1V5 1V6 1. maka untuk membuka pintu. Udara mendorong silinder ke belakang. Silinder bergerak mundur (A-) dan pintu bus terbuka (lihat gambar 72). Selanjutnya diteruskan ke silinder melalui saluran bagian depan. penumpang tinggal menekan katup S2. 530 . kemudian menuju ke katup V4 melalui saluran 1.2 (X). Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S4 Apabila di tengah perjalanan ada penumpang yang akan turun. Aliran udara pada katup V4 udara masuk saluran 1 menuju saluran 2 kemudian diteruskan ke katup V6. Pada waktu katup S2 ditekan maka saluran 1 terbuka dan saluran 3 tertutup.2 (X) 3 1 1V3 1V1 1S1 2 1S4 2 Sopir S1 1 3 S4 1 3 Gambar 71. Udara pada bagian belakang silinder akan didorong ke luar melalui katup V5 menuju saluran 4 dan dibuang melalui saluran 5.4 (Y) 5 4 2 1V4 1. Aliran udara dari saluran 1 menuju saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan ke V2 dan V3.

Sehingga udara pada saluran 1.4 (Y). maka katup V1 akan mengalirkan udara dari kompresor menuju katup V4 melalui saluran 1. Akibatnya silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu bus akan segera menutup kembali (lihat gambar 73).2 (X) 3 5 1 1V 3 1V 2 1V1 1S 1 2 2 Pintu bus 1S2 S1 1 3 S2 1 3 Gambar 72. Dengan terbukanya katup S1.4 (Y) 4 2 1V4 1.2 (X) akan segera dibuang ke udara bebas melalui saluran 3 pada katup S2.2 (X) tidak ada udara mampat karena pada saat katup S2 dilepas maka posisi akan kembali ke posisi awal. Pada saat udara masuk ke saluran 1. pada saluran 1. 531 .Silinder 1 A 1S1 1V5 1V 6 1.4 (Y). Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S2 Pada waktu pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1.

Ketika katup ditekan. Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S2 Apabila akan menaikkan penumpang di tengah perjalanan. Aliran udara ini akan mengubah arah aliran pada katup V4 yaitu udara masuk dari saluran 1 ke saluran 2 menuju katup V6.2 (X) 3 1V3 1V 2 1V1 Pintu bus 2 1S1 2 1S 2 S1 1 3 S2 1 3 Gambar 74.Silinder 1 A 1S1 1V 5 1V 6 4 1. maka untuk membuka pintu bus.2 (X) pada katup V4 melalui katup V2 dan katup V3. Selanjutnya masuk ke silinder melalui saluran bagian depan. udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan ke saluran 1. Silinder bergerak mundur (A-) dan pintu bus akan terbuka (lihat gambar 75) 532 .4 (Y) 5 1 2 1V4 1. saluran 3 tertutup. maka saluran 1 terbuka. dilakukan oleh sopir atau kondektur bus tersebut yaitu dengan cara menekan katup S3.

Akibatnya udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke saluran 4 menuju katup V5 menuju silinder bagian belakang.2 (X) 5 1 3 1V3 1V2 1V1 1S 1 2 1 3 1S3 2 Sopir S1 S2 1 3 Gambar 75. Dengan terbukanya katup V1. Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S3 Pada saat pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1 sehingga udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 menuju katup V1. maka udara dari kompresor akan masuk ke katup V4 melalui saluran 1.4 (Y) 4 2 1.Silinder 1 A 1S 1 1V5 1V 6 1V4 1.4 (Y). Maka silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu akan tertutup kembali (lihat gambar 76). 533 .

dan lain-lain.2 (X) 3 1 1V2 1V3 1V1 2 1S1 1 S3 2 Sopir S1 1 3 S3 1 3 Gambar 76. Sedangkan katup V2 dan V3 merupakan katup balik fungsi “ATAU” yang memungkinkan pintu bus dapat dioperasikan dengan menggunakan beberapa jenis katup pneumatik menurut situasi dan kondisi pada saat pintu bus tersebut dioperasikan. seperti di bawah ini : 534 . Katup V1 merupakan katup tunda waktu. membuat profil pada plat. Katup ini berfungsi untuk memberikan selang waktu pintu bus menutup kembali setelah pintu bus terbuka. Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S3 Fungsi-fungsi katup V5 dan V6 adalah untuk mengatur kecepatan gerak pintu bus pada saat membuka dan menutup. Sistim pneumatik juga bisa digunakan untuk melakukan gerakan yang selama ini digerakan oleh tenaga manusia seperti menekan/ menyetempel benda kerja. memotong.4 (Y) 5 4 2 1V4 1.Silinder 1 A 1S 1 1V5 1 V6 1.

11.2 Penahan/penjepit benda (ragum) Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda pada ragum di bawah ini adalah : A+ (menekan/menahan), A- (melepaskan kembali ke posisi awal)

Gambar 77. Ragum pneumatik

11.3 Pemotong plat Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda: A+ (memotong), A- (kembali ke Posisi Awal). Ujung silinder pneumatik diberi slide untuk pengarahkan mata pisau gergaji

Gambar 78. Pemotong Material

11.4

Membuat profil plat Benda kerja berupa plat diletakan di atas landasan berupa profil sesuai bentuk yang diinginkan. Silinder pneumatik yang digunakan berupa silinder pneumatik penggerak ganda. Gerakan menekan benda kerja diawali dengan naiknya stang torak ke atas (A+) selanjutnya akan menekan tuas mekanik, yang dihubungkan dengan profil menekan plat. Setelah selesai dengan penekanan siolinder pneumatik kembali ke Posisi Awal (A-). Tombol penekan dibuat dua 535

buah, agar tidak terjadi kecelakaan pada lengan tangan saat penekanan, sedangkan untuk mengangkat dilakukan dengan, menekan satu buah tombol.

Gambar 79. Proses pembuatan profil plat

11.5 Pengangkat dan Penggeser Benda Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda mengangkat material ke posisi atas (lihat Gambar 80), silinder A naik/mengangkat (A+), ketika sampai di atas, silinder B mendorong material ke konveyor atas (B+). Silinder B kembali ke Posisi Awal (B-). selanjutnya silinder pneumatik A kembali turun ke posisi semula (A-), sehingga siklusnya dapat ditulis: A+, B+, B-, A-. Untuk membuat kontrol tersebut dapat menggunakan sistem Full Pneumatik, elektropneumatik, maupun PLC (Programmable Logic Kontrol)

Gambar 80. Pengangkat dan Penggeser Benda

536

12. Pengangkat dan Penggeser Material Full Pneumatik......

Silinder pneumatik penggerak ganda 1.0 terletak pada arah vertical. Pada ujung batang toraknya diletakan plat sebagai tempat dudukan silinder 2.0. Batang torak slinder 1.0 akan mengangkat material sampai ketinggian tertentu (A+). Selanjutnya stang torak silinder 2.0 akan menggeser material ke konveyor lainnya (B+). Silinder 1.0 akan kembali ke posisi awal (A-) selanjutnya silinder 2.0 juga akan kembali ke posisi awal (B-). Siklus A+,B+,A-,B- tersebut akan berlangsung secara terus menerus selama suplai u dara dari katup 3/2 penggerak tuas 0.2 dihentikan.

Gambar 81. Pengangkatan benda

12.1 Cara kerja Untuk mengaktifkan rangkaian harus menekan terlebih dahulu tuas katu 3/2 Way valve ke posisi ON. Tombol start 1.2 ditekan, udara akan mengalir dari kompresor ke katup 1.2 dan katup 1.4, sehingga katup AND akan mendapat suplai udara bertekanan dari dua sisi, yaitu sisi 10 dan 11. Udara bertekanan akan diteruskan keluar melalui saluran 16 menuju ke katup kontrol 1.1 (5/2 Way Valve) melalui sisi 14, sehingga mengakibatkan katup kontrol bergeser ke kanan sehingga saluran 1 akan terhubung dengan saluran 4. Udara bertekanan akan masuk ke sisi torak silinder bagian kiri, akibatnya silinder A akan bergerak ke kanan hingga ujung stang torak menekan katup 2.2. Tertekannya katup 2.2 mengakibatkan udara dari konpressor mengalir dari saluran 1 ke 2, ditersukan ke katup kontrol 2.1 (5/2 Way Valve), melalui sisi 14, sehingga saluran 1 akan terhubung dengan 4 diteruskan ke silinder bagian kiri. Silinder B menjadi bergerak ke kanan (B+) hingga menekan katup 1.3 (3/2 Way Valve). Aktifnya katup 1.3 mengakibatkan udara mengalir dari 537

kompresor menuju katup kontrol 1.1 dari sisi 12, sehingga katup 1.1 akan kembali bergeser ke kiri. Udara dari kompresor akan melalui saluran 1 ke 2 diteruskan ke sisi silinder sebelah kanan, sehingga silinder A akankembali ke posisi awal (A-), hingga menekan katup 2.3. Tertekannya katup 2.3 akan menyebabkan udara dari komporesor akan mengalir ke katup kontrol 2.1 dari sisi 12, sehingga katup 2.1 akab kembali ke posisi semula. Udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke 2 diteruskan ke ke sisi silinder sebelah kiri, sehingga silinder B akan kembali ke posisi awal (B-). Apabila tombol Strat 1.2 ditekan, maka siklus tersebut akan terus berlangsung seperti di atas, demikian seterusnya.

13. Tes Formatif……………………………………………
13.1 Soal-Soal a. Sebutkan kelebihan dan kekurangan sistem pneumatik dibandingkan dengan sistem yang lain? b. Gambarkan secara singkat cara kerja sistem pneumatik beserta dengan komponen-komponen yang digunakan? c. Sebutkan jenis-jenis katup beserta kegunaanya? d. Rumus? 13.2 Kunci Jawaban a. Sistem pneumatik memiliki keuntungan dan kelemahan sebagai berikut : 1) Keuntungan/kelebihan a) Ketersediaan yang tak terbatas, udara tersedia di alam sekitar kita dalam jumlah yang tanpa batas sepanjang waktu dan tempat. b) Mudah disalurkan, udara mudah disalurkan/pindahkan dari satu tempat ke tempat lain melalui pipa yang kecil, panjang dan berliku. c) Fleksibilitat Temperatur, udara dapat fleksibel digunakan pada b erbagai temperatur yang diperlukan, melalui peralatan yang dirancang untuk keadaan tertentu, bahkan dalam kondisi yang agak ekstrem udara masih dapat bekerja. d) Aman, udara dapat dibebani lebih dengan aman selain itu tidak mudah terbakar, hubungan singkat (kotsleiting) atau meledak sehingga proteksi terhadap kedua hal ini cukup mudah, berbeda dengan sistim elektrik yang dapat menimbulkan kostleting hingga kebakaran. e) Bersih, udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya, dengan jumlah kandungan pelumas yang dapat diminimalkan sisterm pneumatik aman digunakan untuk industri obat-obatan, makanan, dan minuman maupun tekstil
538

f) Pemindahan daya dan Kecepatan sangat mudah diatur., udara dapat melaju dengan kecepatan yang dapat diatur dari rendah hingga tinggi atau sebaliknya. Bila Aktuator menggunakan silinder pneumatik, maka kecepatan torak dapat mencapai 3 m/s. Bagi motor pneumatik putarannya dapat mencapai 30.000 rpm, sedangkan sistim motor turbin dapat mencapai 450.000 rpm. g) Dapat disimpan, udara dapat disimpan melalui tabung yang diberi pengaman terhadap kelebihan tekanan udara. Selain itu dapat dipasang pembatas tekanan atau pengaman sehingga sistim menjadi aman. h) Mudah dimanfaatkan, udara mudah dimanfaatkan baik secara langsung misal untuk membersihkan permukaan logam dan mesin-mesin, maupun tidak langsung, yaitu melalui peralatan pneumatik untuk menghasilkan gerakan tertentu. 2) Kerugian/Kelemahan Pneumatik a) Memerlukan instalasi peralatan penghasil udara. Udara kempa harus dipersiapkan secara baik hingga memenuhi syarat. memenuhi kriteria tertentu, misalnya kering, bersih, serta mengandung pelumas yang diperlukan untuk peralatan pneumatik, sehingga memerlukan instalasi peralatan yang relatif mahal, seperti kompressor, penyaring udara, tabung pelumas, pengeering, regulator, dll. b) Mudah terjadi kebocoran, Salah satu sifat udara bertekanan adalah ingin selalu menempati ruang yang kosong. Selain itu tekanan udara susah dipertahankan dalam waktu bekerja. Oleh karena itu diperlukan seal agar udara tidak bocor. Kebocoran seal dapat menimbulkan kerugian energi. Peralatan pneumatik harus dilengkapi dengan peralatan kekedapan udara agar kebocoran pada sistim udara bertekanan dapat ditekan seminimal mungkin. c) Menimbulkan suara bising, Pneumatik menggunakan sistim terbuka, artinya udara yang telah digunakan akan dibuang ke luar sistim, udara yang keluar cukup keras sehingga berisik sehingga akan menimbulkan suara bising terutama pada saluran buang. Cara mengatasinya adalah dengan memasang peredam suara pada setiap saluran buangnya. d) Mudah Mengembun, Udara yang bertekanan mudah mengembun, sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu, misal kering, memiliki tekanan 539

OR. Tuas. Contoh katup pemroses sinyal adalah katup cekik satu arah. dll Sumber Energi Udara bertekanan = Kompressor c. 2) Katup pemroses sinyal Katup pemroses sinyal berfungsi mengatur udara bertekanan dari katup sinyal ke katup kendali. dll Sinyal Input = Katup Tekan. tekan dan lain-lain. b. NOR. Secara garis besar sistim elemen pada pneumatik dapat digambarkan pada skema berikut : KLASIFIKASI CONTOH SIMBOL Out put = (Aktuator) Pengendali Sinyal = Katup Pengendali Sinyal Pemroses Sinyal/Prossesor = Katup kontrol AND. dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekat pada katup-katup dan aktuator. 540 . Contoh katup sinyal adalah katup 3/2 baik penggerak roll. Roll. Sensor. Katup sinyal dipasang antara kompresor dengan katup pemroses sinyal. Jenis-jenis katup pneumatik sebagai berikut : 1) Katup sinyal Katup yang berfungsi sebagai saklar udara bertekanan dari kompresor ke katup pemroses sinyal atau langsung ke katup kendali. katup cekik duah arah. tuas. Katup pemroses sinyal biasanya dipasang antara katup sinyal sengan katup kendali. tetapi ada yang dipasang antara katup kendali dengan aktuator. time delay dan lain-lain.yang cukup.

Demikian juga bila viskositas terlalu kental.. • Sebagai pengirim isyarat (signal) 14.....1. 14...........1.1 Kekentalan (Viskositas) yang cukup. Apabila viskositas terlalu rendah maka film oli yang terbentuk akan sangat tipis sehingga tidak mampu untuk menahan gesekan. Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi fungsinya sebagai pelumas......3) Katup kendali Katup kendali berfungsi mengalirkan udara bertekanan dari katup pemroses sinyal ke aktuator.... tenaga pompa akan semakin berat untuk melawan gaya viskositas cairan 14.....1 Syarat Cairan Hydrolik 14.. 14. • Sebagai pelumas untuk bagian-bagian yang bergerak. • Sebagai bantalan dari terjadinya hentakan tekanan pada akhir langkah.2 Indeks Viskositas yang baik Dengan viscosity index yang baik maka kekentalan cairan hydrolik akan stabil digunakan pada sistem dengan perubahan suhu kerja yang cukup fluktuatif. • Pencegah korosi.. • Penghanyut bram/chip yaitu partikel-partikel kecil yang mengelupas dari komponen........ Property cairan hydrolik merupakan hal-hal yang dimiliki oleh cairan hydrolik tersebut sehingga cairan hydrolik tersebut dapat melaksanakan tugas atau fungsingnya dengan baik.1..... • Sebagai pendingin komponen yang bergesekan.. Contoh katup kendali adalah katup 5/2 baik yang selenoid (elektrik) maupun yang full pneumatik..1 Cairan Hydrolik Cairan hydrolik yang digunakan pada sistem hydrolik harus memiliki ciri-ciri atau watak (propertiy) yang sesuai dengan kebutuhan.. 541 . Sistem Hydrolik...1.. Adapun fungsi/tugas cairan hydolik: pada sistem hydrolik antara lain: • Sebagai penerus tekanan atau penerus daya.....1. Katup kendali dipasang antara katup pemroses sinya dengan katuator..... Katup kendali juga yang mengendalikan/mengatur aktuator (silinder) akan bergerak maju atau mundur.

8 Minimal compressibility Secara teoritis cairan adalah uncomprtessible (tidak dapat dikempa). Tetapi sistem hydrolik memerlukan persyaratanpersyaratan tertentu seperti telah dibahas sebelumnya berhubung dengan konstruksi dan cara kerja sistem.4 Tidak berbusa (Foaming) Bila cairan hydrolik banyak berbusa akan berakibat banyak gelembung-gelembung udara yang terperangkap dlam cairan hydrolik sehingga akan terjadi compressable dan akan mengurangi daya transfer.2 Macam-macam cairan hydrolik Pada dasarnya setiap cairan dapat digunakan sebagai media transfer daya. 14. Tetapi kenyataannya cairan hydrolik dapat dikempa sampai dengan 0. 14.1.1. 14.1.5 % volume untuk setiap penekanan 80 bar oleh karena itu dipersyaratkan bahwa cairan hydrolik agar seminimal mungkin dpat dikempa.5 Tahan dingin Tahan dingin adalah bahwa cairan hydrolik tidak mudah membeku bila beroperasi pada suhu dingin.1.1.1.1 Oli hydrolik (Hydraulic oils) Oli hydrolik yang berbasis pada minyak mineral biasanya digunakan secara luas pada mesin-mesin perkakas atau juga mesinmesin industri.14. Titik beku atau titik cair yang dikehendaki oleh cairan hydrolik berkisar antara 10°-15° C dibawah suhu permulaan mesin dioperasikan (star-up).2. dengan adanya busa tadi kemungkinan terjilat api akan lebih besar. Disamping itu.7 Demulsibility (Water separable) Yang dimaksud dengan de-mulsibility adalah kemampuan cairan hydrolik.1.1. 14.1.1. Menurut standar DIN 51524 dan 512525 dan sesuai dengan karakteristik serta komposisinya oli hydrolik dibagi menjadi tiga (3) kelas : • Hydraulic oil HL • Hydraulic oil HLP 542 .1.6 Tahan korosi dan tahan aus Cairan hydrolik harus mampu mencegah terjadinya korosi karena dengan tidak terjadi korosi maka kontruksi akan tidak mudah aus dengan kata lain mesin akan awet.1.1. 14. 14. Hal ini untuk menantisipasi terjadinya block (penyumbatan) oleh cairan hydrolik yang membeku.3 Tahan api (tidak mudah terbakar) Sistem hydrolik sering juga beroperasi ditempat-tempat yang cenderung timbul a atau berdekatan dengan api. Oleh karena itu pi perlu cairan yang tahan api.1. karena air akan mengakibatkan terjadinya korosi bila berhubungan dengan logam. 14.

g : water glyco HFD 24317 Anhydrolis liquid. 35-55 e. Jenis-jenis cairan hidrolik tahan api No Pada Lembar Persentase (%) Kode Komposisi Standar VDMA kandungan Air HFA 24320 Oil-water emulsion 80-98 HFB 24317 Water-oil emulsion 40 HFC 24317 Hydrolis solusion. Cairan hydrolik semacam ini digunakan oleh sistem hydrolik pada tempat-tempat mesin-mesin yang resiko kebakarannya cukup tinggi seperti : • • • • • Die casting machines Forging presses Hard coal mining Control units untuk power station turbines Steel works dan rolling mills Pada dasarnya cairan hydrolik tahan api ini dibuat dari campuran oli dengan air dari oli sintetis.1 e.• Hydraulic oil HV Pemberian kode dengan huruf seperti di atas artinya adalah sebagai berikut : Misalnya oil hydrolik dengan kode : HLP 68 artinya : H = Oli hydrolik L = kode untuk bahan tambahan oli (additive) guna meningkatkan pencegahan korsi dan/atau peningkatan umur oli P = kode untuk additive yang meningkatkan kemampuan menerima beban.g : phosphate ether 543 .2.2 Cairan Hydroik tahan Api (Low flammability) Yang dimaksud cairan hydrolik tahan api ialah cairan hydrolik yang tidak mudah atau tidak dapat terbakar. 0-0.1. Tabel berikut ini menunjukan jenis-jenis cairan hydrolik tahan api tersebut : Tabel 14. 68 = tingkatan viskositas oli 14.

3 Viskositas (Kekentalan) Viskositas cairan hydrolik akan menunjukkan berapa besarnya tahanan di dalam cairan itu untuk mengalir. to oil P G G E 65 1 Water Glycol E E E Phosphor Ester G F F E Oil-in Water F Oil Synthetic F G G F-G 50 1. dimana: 1 cm²/s = 100 mm²/s . satuan viskositas juga diukur dalam sekon dan dengan simbol (SU) 544 . Dalam sistem standar internasional satuan viskositas ditetapkan sebagai viskositas kinematik (kinematic viscosity) dengan satuan ukuran mm²/s atau cm²/s. Satuan mm²/s disebut centi-Stokes (cSt). terdapat satuan yang lain yang juga digunakan dalam sistem hydrolik yaitu : • Redwood 1.5 F-G F E 65 4 F-G 50 4 65 8 14. satuan viskositas diukur dalam sekon dengan simbol (R1) • Saybolt Universal. Selain satuan centi-Stokes (cSt). Jadi semakin kental kondisi cairan dikatakan viskositasnya semakin tinggi.1 Satuan viskositas Besar atau kecilnya viskositas ditentukan oleh satuan satuan pengukuran. Apabila cairan itu mudah mengalir dapat dikatakan cairan tersebut memiliki viskositas rendah atau kondisinya encer.1. range (oC) above ideal Relative cost comp.Perbandingan antara macam-macam cairan hydrolik tersebut di atas dapat kita lihat pada tabel berikut : Tabel 15. 14. Satuan cm²/s dikenal dengan satuan Skotes (St).3.1. nama satuan viskositas ini disesuaikan dengan nama penemunya yaitu Sir Gabriel Stokes (1819-1903). Properties Seal compalibility Lubricating quality Temp. Jadi 1 St = 100 cSt. Perbandingan macam-macam cairan hidrolik Type of Fluid Petrol Oil Free resistance Viscosity lemp.

40 50.6 4.00 ISO VG 320 320 288. angka 22 diambil dari rata-rata antara 19.88 3.00 ISO VG 1500 1500 1350.52 ISO VG 5 4. Berikut ini adalah grading berdasarkan SAE dan konversinya dengan ISO-VG.12 7.2 2. 545 . seperti yang ditunjukan dalam Tabel berikut ini :Tabel 16.00 110.132 VK 33 Menurut standar ISO.20 74.00 Nomor VG dapat diperoleh melalui angka pembulatan dari pertengahan diantara viskositas min. ISO VG 2 2. Juga dijelaskan disini aplikasi penggunaan oli hydrolik ssesuai dengan nomor gradenya.20 ISO VG 32 32 28.20 ISO VG 46 46 41.10 VK • SU = 4.98 2. viskositas cairan hidolik diklasifikasikan menjadi beberapa viscosity Grade dan nomor gradenya yang diambil kira-kira pertengahan antara viskositas min.00 ISO VG 680 680 612.80 ISO VG 100 100 90.48 ISO VG 10 10 9. Secara faktual sering dijumpai bahwa pelumas gear box juga sering digunakan juga untuk instalasi hydrolik maka frade menurut SAE juga dibahas disini.00 1650.0oC Min.14 5.00 ISO VG 15 15 13.0oC Viscosity Grade cSt at 40.00 ISO VG 460 460 414.50 ISO VG 22 22 19. Misal : ISO VG 22 .635 VK VK = Viskositas Kinematik • E = 0.80 dan 24.00 352.2 1.• Engler. satuan viskositas diukur dengan derajat engler (E°) Untuk cairan hydrolik dengan viskositas tinggi dapat digunakan faktor berikut: • R1 = 4.50 16.8 6.60 ISO VG 68 68 61.20. ke viskositas max.80 24.06 ISO VG 7 6.00 748. Max.80 35.00 242.00 506. dan viskositas max.00 11.42 ISO VG 3 3.00 ISO VG 220 220 198.00 ISO VG 150 150 135.00 1100.00 ISO VG 1000 1000 900.00 165. Klasifikasi viskositas cairan hidrolik Kinematic Viscosity ISO Mid-Point Viscosity Limits cSt at 40.

Sedangkan apabila viskositas telalau tinggi juga akan meningkatkan gesekan dalam cairan sehingga memerlukan tekanan yang lebih tinggi. Berikut ini diberikan gambaran tentang batas viskositas yang iideal: Tabel 18.3. Karena untuk viskositas yang terlalu rendah akan mengakibatkan daya pelumas kecil. daya perapat kecil sehingga mudah bocor. Batas viskositas ideal Kinematic Viscosity Lower Ideal viscosity range For open air aplplicationsmobile hydraulic In colder areas ISO-VG Areas of application Stationary instalations in closed areas at high temperatures At normal temperatures mm 2 10 s 15 to 100 mm 2 s Upper limit 750 mm 2 s 546 .Tabel 17.2 Viscosity margins Maksud dari viscosity margins adalah batas-batas atas dan bawah yang perlu diketahui.1. Aplikasi penggunaan oli hirolik sesuai dengan gradenya SAE Classes 30 20-20W 10 W 5W 100 68 46 32 22 (15) 10 14.

2 106.4 187.1 40.12 1.0 21.23 3.5 133.61 1.3 270.5 16.44 1.96 4.5 293.50 2.83 2.5 17.0 11.0 6.39 1.1 53.0 23.0 223.6 47.84 1.90 7.18 2.65 2.46 4.7 316.59 3.22 1.4 36.2 246.8 71.3 168.8 251.1 119.95 8.7 228.08 2.69 7.3 85.0 22.04 8.71 2.71 3.6 34.26 6.4 106.28 2.82 7.85 8.5 6.77 6.5 3.56 10.4 64.8 115.0 26 27 28 29 30 Redwood1 Second saybolt 31 32 33 35 36 37 39 40 41 43 44 45 46 48 49 51 52 54 55 57 58 60 62 64 65 67 68 70 72 74 75 77 79 81 82 84 86 88 90 92 94 96 97 99 101 103 105 109 113 117 121 125 Universal Second 32.0 325.9 69. Kinematic Centisrokes 2.0 45.52 1.0 16.4 89.43 7.04 7.5 219.35 1.03 10.9 102.31 8.7 Enginer Degrees Kinematic Centisrokes 1.0 3.4 307.2 284.03 2.0 2.35 3.0 20.30 10.94 3.3 81.0 128.94 1.56 7.98 9.72 8.0 15.8 55.5 141.7 62.82 11.17 1.0 18.0 12.8 50.44 2.0 19.00 3.38 6.5 9.5 14.5 25.48 1.5 21.3 44.5 335 344 353 363 372 381 391 400 410 419 428 438 447 456 Enginer Degrees 4.5 195.00 6.47 3.2 159.31 1.3 178.13 6.0 137.8 99.4 52.22 5.5 10.88 2.24 9.7 112.2 48.33 2.5 22.9 67.2 66.0 311.64 6.5 15.7 279.7 302.55 2.45 8.5 93.08 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 62 64 65 66 67 68 69 70 72 74 76 78 80 82 84 86 88 90 92 94 96 98 Redwood1 Second saybolt 137 141 145 149 153 157 161 165 169 173 177 181 185 189 193 197 201 205 209 213 218 222 226 230 234 238 242 246 250 254 258 262 266 271 275 279 283 287 295 303 311 319 328 336 344 352 360 369 377 385 393 401 Universal Second 155.5 4.0 7.09 547 .5 297.18 8.9 60.48 5.7 265.75 1.0 274.39 2.58 4.26 1.41 3.06 3.3 233.0 10.61 5.0 5.51 9.0 13.4 79.5 12.5 23.80 1.3 321.87 6.29 3.0 9.0 237.8 214.11 3.98 2.74 5.84 4.17 3.83 3.0 4.35 5.56 1.0 288.77 10.7 164.6 95.5 13.7 97.8 173.10 5.3 83.13 2.65 1.11 9.0 117.0 24.5 5.0 182.0 14.23 2.71 1.5 19.Tabel 19.7 42.0 200.5 77.4 91.0 37.5 57.5 205.5 256.71 4.3 124.6 39.95 5.77 2.5 242.30 7.5 11.5 24.0 260.0 17.5 20.17 7.58 8.51 6.60 2.89 1.7 73.5 8.0 209.2 58.0 191.6 75.0 8.5 18.5 7.3 87.5 110.0 104. Kesetaran ke-empat sistem satuan viskositas.

Gambar 83. Cairan hydrolik yang akan diukur dituangkan melalui lubang A hinga ke kointener E yang suhunya diatur.33 100 102 410 418 465 475 14. Gambar 82.31 32 129 133 146. Melalui kapiler C zat cair dihisap hingga naik pada labu D sampai garis L1.4 Capillary viscometer Cara pengukurnya adalah sebagi berikut : (lihat gambar). B dan C dan hitung waktu yang digunakan oleh cairan untuk turun sampai se l2. Ada beberapa macam viskometer antara lain : .1.Ball Viscometer atau Falling sphere Viscometer.0 150.. Capillary viscometer 548 . Viskometer Besar viskositas kinematik adalah kecepatan bola jatuh setinggi h dibagi dengan berat jenis cairan yang sedang diukur.3. buka bersama-sama lubang A. (lihat gambar) 14.3 Viskometer VisKometer adalah alat untuk mengukur besar viskositas suatu cairan. Makin kental cairan hydrolik akan makin lama untuk turun dan berarti viskostis makin besar. Untuk mengukurnya.21 4. kemudian semua lubang ditutup.1. waktu tersebut menunukan viskostis cairan.7 4.3.

Mengenai viskositas indeks ditetapkan dalam DIN ISO 2909.1. Cairan hydrolik memiliki viscositas index tinggi apabila terjadinya perubahan viskositas kecil (stabil) dalam rentang perubahan suhu yang relatif besar. bahkan kebanyakan oli hydrolik diberi tambahan (additive) yang disebut “ VI improvers “ tinggi juga disebut multigrade oils.14. Cairan hirdrolik terutama oli hydrolik diharapkan memiliki viscosity index (VI) = 100. Untuk mengetahui perubahan viskositas ini perhatikan Ubbelohde’s viscosity-temperature diagram berikut ini 14.1.4 Indeks Viskositas (viscosity Index) Yang dimaksud dengan indeks viskositas atau viscosity index (VI) ialah angka yang menunjukan rentang perubahan viskositas dari suatu cairan hydrolik berhubungan dengan perubahan suhu. Gambar berikut ini menunjukan diagram viscosity pressure characteristic . 549 . Atau dapat dikatakan bahwa cairan hydrolik ini dapat digunakan dalam rentang perubahan suhu yang cukup besar.5 Viscosity-pressure characteristics Karakteristik kekentalan dan tekanan pada cairan hydrolik sangat penting untuk diketahui karena dengan meningkatnya tekanan hydrolik maka meningkat pula viscosity index. Sehingga viscosity index ini digunakan sebagai dasar dalam menentukan karakteristik kkentalan cairan hydrolik berhubungan dengan perubahan temperatur.

aus juga digunakan untuk sistem yang gesekanya tinggi Meningkatkan indek Seperti viskositas (VI) pemakaian HLP. Karakteristik atau sifat-sifat yang diperlukan antara lain adalah : Tabel 20. juga digunakan secara meluas untuk sistem yang fluktuasi perubahan temperatur cukup tinggi 550 .1. Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi persyaratan dalam menjalankan fungsinya.6 Karakteristik Cairan Hydrolik yang dikehendaki. Sifat-sifat cairan hidrolik Kode Sifat Khusus HL Meningkatkan kemapuan mencegah korosi dan kestabilan oli hydrolik Penggunaan HLP HV Digunakan pada sistem yang bekerja pada suhu tinggi dan untuk tempat yang mungkin tercelup air Meningkatkan Seperti pada ketahanan terhadap pemakaian HL.14.

oli hydrolik akan terhisap masuk. selanjutnya dikompresikan ke luar pompa hingga tekanan tertentu. maka akan mengalami penurunan tekanan.2 Pompa Sirip Burung Pompa ini bergerak terdiri dari dari banyak sirip yang dapat flexible bergerak di dalam rumah pompanya. Adapun komponen utama sistim hydrolik. antara lain: 14. Oli yang bertekanan akan dialirkan ke sistim hydrolik. Pompa H ydrolik Roda Gigi 14. karena fluida oli disirkuliskan ke rangkaian hydrolik selanjutnya akan dikembalikan ke tangki penyimpan oli.1.1 Pompa Hydrolik Pompa hydrolik berfungsi untuk mengisap fluida oli hydrolik yang akan disirkulasikan dalam sistim hydrolik. Tekanan pompa hydrolik dapat mencapai 100 bar.2. Sistim hydrolik merupakan siklus yang tertutup. Bentuk pompa hydrolik roda gigi dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 84. Perputaran roda gigi yang saling berlawanan arah akan mengakibatkan kevakuman pada sisi hisap. antara lain: 14.2.2 Komponen Hydrolik Komponen Hydrolik memiliki symbol dan komponen yang tidak jauh berbeda dengan Pneumatik. Bila volume pada ruang pompa membesar.14. Adapun jenis-jenis pompa hydrolik. 551 .1 Pompa Roda Gigi Pompa ini terdiri dari 2 buah roda gigi yang dipasang saling merapat.2.1. kemudian diteruskan ke ruang kompressi. akibatnya oli akan terisap masuk ke dalam ruang pumpa.

Gerakan torak ini akan berlangsung terus menerus. bila rotor berputar secara eksentrik. maka piston2 pada stator akan mengisap dan mengkompressi secara bergantian. Gambar 86. Pompa Hydrolik Sirip Burung 14.3 Pompa Torak Aksial Pompa hydrolik ini akan mengisap oli melalui pengisapan yang dilakukan oleh piston yang digerakkan oleh poros rotasi.1. Pompa Hydrolik Torak Aksial 14.2. kemudian terjadi langkah hisap dan kompressi secara bergantian. Sehingga aliran oli hydrolik menjadi kontinyu. Gerak putar dari poros pompa diubah menjadi gerakan torak translasi. sehingga menghasilkan alira oli /fluida yang kontinyu. 552 .1.Gambar 85.4 Pompa Torak Radial Pompa ini berupa piston-piston yang dipasang secara radial.2.

aktuator hydrolik dapat berupa silinder hydrolik. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan.2 Aktuator Hydrolik Seperti halnya pada sistim pneumatik.5 Pompa Sekrup Pompa ini memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan (engage).2.Gambar 87. Pompa Sekrup 14. sehingga dapat memindahkan fluida oli secara aksial ke sisi lainnya. 14.1. Dilihat dari daya yang dihasilkan aktuator hydrolik memiliki tenaga yang lebih besar (dapat mencapai 400 bar atau 4x107 Pa).2. Tekanan Fluida akan diteruskan melalaui torak selanjutnya menjadi gerakan mekanik melalaui stang torak.2. yang satu mempunyai bentuk cekung. sedangkan lainnya berbentuk cembung. 553 .3 Silinder Hydrolik Penggerak Ganda Silinder Hydrolik penggerak ganda akan melakukan gerakan maju dan mundur akibat adanya aliran fluida/oli hydrolik yang dimasukkan pada sisi kiri (maju) dan sisi kanan (mundur) seperti yang terlihat pada gambar 89. dibanding pneumatik. Pompa Torak Radial 14. maupun motor hydrolik. Gambar 88. Silinder Hydrolik bergerak secara translasi sedangkan motor hydrolik bergerak secara rotasi.

Buldozer. dll. bego. menekan.2.4 Aktuator Rotasi 14. Karena daya yang dihasilkan besar. dll.4. maka silinder ini banyak digunakan pada peralatan berat. Aliran Minyak hydrolik yang bertekanan tinggi akan diteruskan memutar roda gigi yang terdapat dalam ruangan pompa selanjutnya akan dirubah menjadi gerak rotasi untuk berbagai keperluan.2. Silinder Hydrolik Penggerak Ganda Gambar 90. seperti mengangkat. Aplikasi penggunaan sistim Hydrolik pada alat berat 14.1 Motor Hydrolik roda gigi Motor Hydrolik merupakan alat untuk mengubah tenaga aliran fluida menjadi gerak rotasi. Motor hydrolik ini prinsip kerjanya berlawanan dengan roda gigi hydrolik.Gerakan maju dan mundur dari gerakan stang torak ini dapat digunakan untuk berbeagai keperluan dalam proses produksi. Selanjutnya motor hydrolik dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 554 . Gambar 89. seperti. menggeser.

Gambar 91. Klasifikasi Hydrolik dalam Penampang dan Skema 555 . bagian tenaga (power pack) bagian sinyal.1 Kasifikasi Pengenalian Hydrolik Sistim hydrolik terdiri dari beberapa bagian. katup pengatur tekanan. dan katup satu arah. pemroses sinyal. dan pengendalian sinyal. Secara garis besar dapat dilihat dalam skema di bawah ini: Aktuator Pemroses sinyal Sinyal Sumber tenaga (Power Pack) Gambar 92. Motor Hydrolik Roda Gigi 15 Pengendalian Hydrolik 15. Bagian tenaga terdiri dari pompa hydrolik. antara lain.

15. Gambar 93. Dasar-Dasar Perhitungan Hydrolik 16. maka pegas akan membuka dan mengalirkan fluida ke saluran pembuangan. Bila tekanan hydrolik berlebihan. Macam-macam model katup pembatas tekanan 16. katup ini dilengkapi dengan pegas yang dapat diatur. 556 . antara lain: a) Katup pembatas tekanan.2 Katup Pengatur Tekanan Katup pengatur tekanan terdapat beberapa model.1 Prinsip Hukum Pascal Perhitungan gaya hydrolik Torak pada bejana berhubungan dengan luas penampang berbeda.

jadi S2 = 1 . berapa panjang langkah piston 2 (S2) ? Jawab: S1 A2 A 10cm 2 . S2 . Bila luas penampang A1 pada gambar di atas = 10 cm 2.F1 Torak F2 A 1 Pe A2 Gambar 94. Suatu mesin press memiliki gaya tersedia sebesar 150 N. S1 = A2 . d1 = 20 mm Ditanya : berapa d2 ? Jawab : d F1 = 12 F2 d2 d1. berapa diameter torak besar agar dapat menghasilkan gaya 4000 N ? Jawaban: Diketahui : F1 = 150 N. Prinsip Hukum Pascal P1 = P2 = Pe = F1 = A1 F2 atau A2 F1 A = 1 F2 A2 2 A1 4 = d1 . maka : A1 .F2 = F1 ( 20mm) 2. F2 = 4000 N. dan A2 = 50 cm2 = S1 = 25 mm. S1 = = 5 mm S2 A1 A2 50cm 2 557 . = A2 π .d12 Bila V1 = V2.4000 N = 103. jadi : S1 A2 = S2 A1 Contoh Soal : 1.3mm ≈ 100 mm 150 N 2 d2 = 2 2.d 22 d2 2 4 π .25mm = . bila diameter torak kecil = 20 mm.

2 Perhitungan Kecepatan Torak Contoh soal : Bila d1 = 100 cm2 dan d2 = 70 cm.083m/dtk Gambar 95. Perhitungan Kecepatan Torak Q= ∆V A. besarnya tekanan absolut dikalikan dengan volumenya sama dengan konstan.( d1 − d2 ) 4 = 5m / 60dtk = 0. berlaku : Pabs1 . hitung kecepatan torak saat maju dan mundur. V2 558 .V ∆t ∆t Gambar 96.∆L = = A.(10 − 7 ) cm 0. V1 = Pabs2 . Jawaban: Saat maju V maju = Q/A = 20 ltr/mnt / 20dm2 / mnt 20dm2 / mnt 20 dm2 / mnt Vmaju = = = = 50 dm2 / mnt 2 2 2 2 2 2 π . Tekanan absolute Tekanan di dalam silinder merupakan tekanan absolut.4dm π . Gas pada keadaan tertutup.16.

Suatu silinder tertutup memiliki tekanan absolut 100 bar.91 = = 13. bila tekanannya diturunkan menjadi 1 bar.A. Panduan pemeliharaan cairan hydrolik • Simpanlah cairan hydrolik (drum) pada tempat yang kering. Gunakan juga peralatan yang bersih untuk memasukkannya. V1 = Pabs2 . V P= W p. hitunglah diamter piston yang ideal. volumenya 20 ltr. berapa volumenya? Pabs1 . Jawaban: F1 .V = =P. 20 ltr = 1 . V2 Q = A1 .10 . V1 = A2 .L1 25. • Pastikan menggunakan cairan hydrolik yang benar-benar bersih untuk menambah atau mengganti cairan hydrolik kedalam sistem. 559 .˜ A= F2 3090. V2 W = F2 . A2 .3 Pemeliharaan Cairan Hydrolik Cairan hydrolik temasuk barang mahal. Bila gaya cekam seperti pada gambar memiliki gaya 4000 N. 20 dm 3 = 2000dm 3 5 2 1 x 10 N / m 2.105 N / m2. Perlakuan yang kurang atau bahkan tidak baik terhadap cairan hydrolik atau semakin menambah mahalnya harga sistem hydrolik sedangkan apabila kita mentaati aturan-aturan tentang perlakuan/pemeliharaan cairan hydrolik maka kerusakan cairan maupun kerusakan komponen sistem akan terhindar dan cairan hydrolik maupun sistem akan lebih awet.Q t t 16. Sebuah silinder Hydrolik digunakan untuk mencekam benda kerja dengan tekanan 25 bar. V1 = Pabs . V2 V2 = 100 x 105 N/m 2 . S2 = p . L2 F1.η 25.Contoh soal: 1. V2 100 .91N L2 110mm F2 = Pe. L1 = F2 .90 Pabs . dingin dan terlindungi (dari hujan.95mm F2 = = = 3090. panas dan angin). S2 = p .73cm 2 5 Pe.

Cegah terjadinya panas/pemanasan yang berlebihan. Bila akan mengganti cairan hydrolik (apa lagi bila cairan hydrolik yang berbeda).• • • • • • • • Pompakanlah cairan hydrolik dari drum ke tangki hydrolik melalui saringan (pre-filter). Pantaulah (monitor) dan periksalah secara berkala dan berkesinambungan kondisi cairan hydrolik. Pompa Hydrolik Jadi pemantauan atau monitoring cairan hydrolik perlu memperhatikan panduan tersebut di atas disamping harus memperhatikan lingkungan kerja maupun lingkungan penyimpanan cairan hydrolik. demikian pula seluruh sistem harus dibilas (flushed) secara baik dan benar-benar bersih. atau pasang unloading pump atau excessive resistence. Buatlah interval penggantian cairan hydrolik sedemikian rupa sehingga oksidasi dan kerusakan cairan dapat terhindar. Perbaikilah dengan segera bila terjadi kebocoran dan tugaskan seorang maitenanceman yang terlatih. Cegah jangan sampai terjadi kontamisnasi gunakan filter udara dan filter oli yang baik. 560 . pastikan bahwa komponen dan seal-sealnya cocok dengan cairan yang baru. Aturlah sedemikian rupa bahwa hanya titik pengisi tangki yang rapat-sambung sendiri yang ada pada saluran balik. (periksa dengan pemasok cairan hydrolik). Gambar 97. bila perlu pasang pendingin (cooling) atau bila terjadi periksalah penyebab terjadinya gangguan.

3. Saluran oli masuk (inlet) 2. Oli masuk ke sedotan roda gigi yang berputar. Saluran tekan (outlet) 16. pompa ini juga termasuk pressure umbalanced.4 Pompa Roda Gigi dalam Tipe Crescent Pompa ini cocok untuk tekanan tinggi dan untuk cairan hydrolik yang bervariasi. Inner rotor dan outer rotor berputar searah. Seperti external gear pump. 6. 561 . Di Titik No 5 ini oli didesak/ditekan oleh pasangan gigi. Pompa Roda Gigi Tipe Crescent Keterangan gambar: 1. Terjadinnya penyedotan di ruang NO : 4 ini. 5. Penyedotan terjadi karena adanya rongga antara gigi inner outer ring gear. Rotor ring atau outer rotor yang merupakan roda gigi dalam diputar oleh inner rotor yang mempunyai jumlah gigi satu lebih kecil dari jumlah gigi outer ring gear. Ini bertujuan untuk membentuk rongga pemompaan.16. Cara kerja pompa ini dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 98. 4.5 Pompa Roda Gigi Tipe Geretor Pompa ini terdiri atas inner rotor yang dipasak dengan poros penggerak dan rotor ring. Ukurannya lebih kecil dari external gear pump pada penghasilan pompa yang sama dan tingkat kebisinginnya lebih kecil.

Dibuat demikian agar tekanan radial dari cairan hydrolik saling meniadakan sehingga terjadilah keseimbangan (balanced) Vane (kipas) yang bentuknnya seperti gambar dipasang pada poros beralur (slots) karena adanya gaya sentrifugal selama rotor berputar maka vane selalu merapat pada rumah pompa sehingga terjadilah proses pemompaan. Pompa Roda Gigi Tipe Gerotor 16.6 Balanced Vane (Pompa Kipas Balanced) Pompa ini menggunakan rumah pompa yang bagian dalamnnya berbentuk elips dan terdapat dua buah lubang pemasukkan (inlet) serta dua buah lubang pengeluaran outlet yang posisinnya saling berlawanan arah. Balanced Vance 562 . Gambar 100.Gambar 99.

Besar langkah piston tergantung pada besar sudut tekuk Fixed displacement piston pump besar sudut (offset engle) berkisar 25°.8 Bent Axis Piston Pump (Pompa Torak dengan Poros Tekuk) Pada pompa ini blok silinder berputar pada satu sudut untuk dapat memutar poros. Radial Piston Pump 16. Gambar 102.16. Bent Axis Piston Pump 563 . Pada langkah pemompaan cairan ditekan dari setiap silinder melalui check valve ke saluran tekan. Penghisapan terjadi pada waktu piston terbuka sehingga oli hydrolik dari crankshaft masuk ke dalam silinder. Pompa ini dapat mencapai tekanan hingga 63 Mpa.7 Pompa Torak Radial (Radial Piston Pump) Pompa piston ini gerakan pemompaannya radial yaitu tegak lurus poros. Batang torak dipasang pada flens poros penggerak dengan menggunakan ball joint. Piston digerakan oleh sebuah poros engkol (eccentric crankshaft) sehingga besar langkah piston adalah sebesar jari-jari poros engkol. Gambar 101.

(a) (a) 564 . ada yang berbentuk silindris dan ada pula yang berbentuk kotak. Untuk memenuhi persyaratan tersebut di atas maka pada umumnya kopling dibuat dari bahan : • Karet (Rubber couplings) • Roda gigi payung (Spiral bevel gear cupling) • Clucth dengan perapat plastik (square tooth cluth with plastic inseres) 16.9. Kopling ini mentrasfer momen puntir dari motor ke pompa hydrolik.9 Instalasi Pompa Hydrolik 16. Contoh-contoh bahan kopling. Kopiling adalah komponen penyambung yang menghubungkan penggerak mula (motor listrik) dengan pompa hydrolik. Gambar berikut ini menunjukan salah satu konstruksi tangki hydrolik.1 Kopiling.16. Kopling merupakan bantalan diantara motor dan pompa yang akan mencegah terjadinnya hentakan/getaran selama motor mentrasfer daya ke pompa dan selama pompa mengalami hentakan tekanan yang juga akan sampai ke motor.9. Kopling juga menseimbangkan/mentolerir adanya error alignment (ketidak sentrisan) antara poros motor dengan poros pompa.2 Tangki hydrolik (Reservoir ) Tangki hydrolik (reservoir) merupakan bagian dari instalasi unit tenaga yang konstruksinya ada bermacam -macam.

5 Filter (Saringan) Filter berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran atau kontaminan yang berasal dari komponen sistem hydrolik seperti bagian-bagian kecil yang mengelupas.(b) Gambar 103. 565 .9. Ukuran tangki hydrolik berkisar antara 3 s/d 5 kali penghasilan pompa dalam liter/menit dan r uang udara di atas permukaan cairan maksimum berkisar antara 10 s/d 15 %. v Menghilangkan panas dengan menyebarkan panas ke seluruh badan tangki.9.4 Baffle Plate Baffle Plate berfungsi sebagai pemisah antara cairan hydrolik baru datang dari sirkulasi dan cairan hydrolik yang akan dihisap oleh pompa. udara dan pertikel-partikel padat yang hanyut dalam cairan hydrolik. dipasang pada saluran hisap dan kemungkinannya di dalam tangki. Juga berfungsi untuk memutar cairan yang baru datang sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk menyebarkan panas. 16. Tangki Hydrolik Reservoir (a) dan simbolnya (b) 16.3 Fungsi /tugas tangki hydrolik v Sebagai tempat atau tandon cairan hydrolik. 16. untuk mengendapkan kotoran dan juga memisahkan udara serta air sebelum dihisap kembali ke pompa.9. penggerak mula. katup-katup akumulator dan lain-lain. kontaminasi akibat oksidasi dan sebagainya. ada macam-macam filter yaitu : • Suction filter. v Tempat pemisahan air. Sesuai dengan tempat pemasangannya. v Tempat memasang komponen unit tenaga seperti pompa.

• Return line filter. Perbedaan antara output dan input dikarenakan adanya kerugian-kerugian diantaranya terjadinya kebocoran di dalam pompa sehingga akan mengurangi volume output. Gambar menunjukan proses penyaringan. Kebanyakan sistem hydrolik selalu memasang suction filter.10 Pengetesan Efisiensi Pompa Hydrolik Efiensi ialah perbandingan antara output dan input dinyatakan dalam persen (%). Suction Filter 16. Semakin besar tekanan penghasilan pompa (Q) akan semakin berkurang. aktuator dan setiap konektor. dipasang pada saluran tekan dan berfungsi untuk mengamankan komponen-komponen yang dianggap penting. Secara keseluruhan. katupkatup. kebocoran dapat terjadi pada pompa hydrolik.) Q = n.m) V = volume cairan yang dipindahkan tiap putaran (cm³) Penghasilan pompa tergantung pada besar tekanan kerja sistem hydrolik. Gambar 104.• Pressure line filter. Informasi kita temukan pada diagram karakteristik pompa : 566 .V n = putaran pompa (r. sehingga dalam hal ini perbandingan antara volume cairan hydrolik secara efisien menghasilkan daya sebanding dengan penghasilan pompa disebut efisiensi volumetrik.(?v ).p. dipasang pada saluran balik untuk menyaring agar kotoran jangan masuk ke dalam tangki. Penghasilan pompa (misal pompa roda gigi) secara teoritis dapat dihitung dengan rumus : Q = penghasilan pompa teoritis (liter/min.

penghasilan pompa Q penuh (Q teoristis) Apabila p > 0. penghasilan pompa berkurang karena adanya kebocoran dan secara logika semakin tinggi tekanan akan makin besar pula kebocoran. QL= 0. kebocoran 1.3 l/min Jadi efisiensi volumetrik (?v ) = 87 % 16. kebocoran 6 % pada p = 230 bar.6 l/min. 567 . § Isyarat Pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element. Susunan urutannya dapat kita jelaskan sebagai berikut : § Isyarat (Sinyal) masukan atau input element yang mendapat energi langsung dari pembangkit aliran fluida (pompa hydrolik) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal. Jadi efesiensi volumetrik (?v ) = 94 % Untuk pompa yang lama. Q(p=230)= 9. Q(p=0)= 10 l/min.11 Unit Pengatur (Control Element) Cara-cara pengaturan/pengendalian di dalam sistem hydrolik. QL= 1. Garis lengkung pada diagram menunjukan efisien volumetrik pompa (?v ) Diagram 105. Efisiensi Volumetrik Contoh : Ukuran pompa yang baru . Q(p=0)= 10 l/min.4 l/min.3 % pada p= 230 bar.7 l/min. Q(p=230) = 8.• • • Apabila p = 0.

Sinyal pengendali akhir (final control element) akan mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element) dan ini merupakan hasil akhir dari sitem hydrolik. Komponen-komponen kontrol tersebut di a tas biasa disebut katup-katup (Valves). Menurut desain konstruksinya katup-katup tersebut dikelompokan sebagai berikut : o Katup Poppet (Poppet Valves) yaitu apabila untuk menutup katup tersebut dengan cara menekan anak katup (bola atau kones atau piringan) mendapat dudukan . Menurut jenis katupnya, katup popet digolongkan menjadi : § Katup Bola (Ball Seat Valves) § Katup Kones (Cone Popet Valves) § Katup Piringan (Disc Seat Valves) o Katup Geser (Slide Valves) § Longitudinal Slide § Plate Slide (Rotary Slide Valves) Menurut fungsinya katup-katup dikelompokan sebagai berikut : a. Katup Pengarah (Directional Control Valves) b. Katup Satu Arah (Non Return Valves) c. Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves) d. Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves) e. Katup Buka-Tutup (Shut-Off Valves). § 17. Soal formatif..................................................................................... 17.1 Soal-Soal a. Sebutkan dan jelaskan syarat-syarat cairan hidrolik? b. Bagaiman cara pemeliharaan cairan hidrolik? 17.2 Kunci Jawaban a. Cairan hidrolik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut : 1) Kekentalan (Viskositas) yang cukup Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi fungsinya sebagai pelumas. Apabila viskositas terlalu rendah maka film oli yang terbentuk akan sangat tipis sehingga tidak mampu untuk menahan gesekan. Demikian juga bila viskositas terlalu kental, tenaga pompa akan semakin berat untuk melawan gaya viskositas cairan 2) Indeks Viskositas yang baik Dengan viscosity index yang baik maka kekentalan cairan hydrolik akan stabil digunakan padansistem dengan perubahan suhu kerja yang cukup fluktuatif. 3) Tahan api (tidak mudah terbakar) Sistem hydrolik sering juga beroperasi ditempat-tempat yang cenderung timbul api atau berdekatan dengan api. Oleh karena itu perlu cairan yang tahan api.

568

4) Tidak berbusa (Foaming) Bila cairan hydrolik banyak berbusa akan berakibat banyak gelembung-gelembung udara yang terperangkap dlam cairan hydrolik sehingga akan terjadi compressable dan akan mengurangi daya transfer. Disamping itu, dengan adanya busa tadi kemungkinan terjilat api akan lebih besar. 5) Tahan dingin Tahan dingin adalah bahwa cairan hydrolik tidak mudah membeku bila beroperasi pada suhu dingin. Titik beku atau titik cair yang dikehendaki oleh cairan hydrolik berkisar antara 10°-15° C dibawah suhu permulaan mesin dioperasikan (star-up). Hal ini untukk menantisipasi terjadinya block (penyumbatan) oleh cairan hydrolik yang membeku. 6) Tahan korosi dan tahan aus Cairan hydrolik harus mampu mencegah terjadinya korosi karena dengan tidak terjadi korosi maka kontruksi akan tidak mudah aus dengan kata lain mesin akan awet. 7) Demulsibility (Water separable) Yang dimaksud dengan de-mulsibility adalah kemampuan cairan hydrolik, karena air akan mengakibatkan terjadinya korosi bila berhubungan dengan llogam. 8) Minimal compressibility Secara teoritis cairan adalah uncomprtessible (tidak dapat dikempa). Tetapi kenyataannya cairan hydrolik dapat dikempa sampai dengan 0,5 % volume untuk setiap penekanan 80 bar oleh karena itu dipersyaratkan bahwa cairan hydrolik agar seminimal mungkin dpat dikempa. b. Pemeliharaan Cairan Hydrolik 1) Simpanlah cairan hydrolik (drum) pada tempat yang kering, dingin dan terlindungi (dari hujan, panas dan angin). 2) Pastikan menggunakan cairan hydrolik yang benar-benar bersih untuk menambah atau mengganti cairan hydrolik kedalam sistem. Gunakan juga peralatan yang bersih untuk memasukannya. 3) Pompakanlah cairan hydrolik dari drum ke tangki hydrolik melalui saringan (pre-filter). 4) Pantaulah (monitor) dan periksalah secara berkala dan berkesinambungan kondisi cairan hydrolik. 5) Aturlah sedemikian rupa bahwa hanya titik pengisi tangki yang rapat-sambung sendiri yang ada pada saluran balik. 6) Buatlah interval penggantian cairan hydrolik sedemikian rupa sehingga oksidasi dan kerusakan cairan dapat terhindar. (periksa dengan pemasok cairan hydrolik). 7) Cegah jangan sampai terjadi kontamisnasi gunakan filter udara dan filter oli yang baik. 569

8) Cegah terjadinya panas/pemanasan yang berlebihan, bila perlu pasang pendingin (cooling) atau bila terjadi periksalah penyebab terjadinya gangguan, atau pasang unloading pump atau excessive resistence. 9) Perbaikilah dengan segera bila terjadi kebocoran dan tugaskan seorang maitenanceman yang terlatih. 10) Bila akan mengganti cairan hydrolik (apa lagi bila cairan hydrolik yang berbeda), pastikan bahwa komponen dan seal-sealnya cocok dengan cairan yang baru, demikian pula seluruh sistem harus dibilas (flushed) secara baik dan benar-benar bersih.

18 Rangkuman BAB VIII................................................
1. Sistem Pneumatik Pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari tentang teknik pemakaian udara bertekanan (udara kempa). Sistem pneumatik memiliki aplikasi yang luas seperti menambah tekanan ban, melepas velg mobil, dongkrak, alat pemasang kampas rem tromol mobil, pembuka pintu otomatis, pengepakan industri makanan dan sebagainya. Sistem pneumatik memiliki keuntungan sebagai berikut : a. Fluida yang digunakan merupakan udara yang memiliki ketersediaan yang tak terbatas di alam. b. Udara mudah disalurkan dari suatu tempat ke tempat lain. c. Udara dapat fleksibel digunakan pada berbagai temperatur yang diperlukan. d. Aman. e. Udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya. f. Kecepatan dan daya dorong yang mudah diatur. g. Udara mudah disimpan di tabung. h. Udara memiliki banyak manfaat serta mudah dimanfaatkan. Selain keuntungan di atas, sistem pneumatik juga memiliki kekurangan diantaranya sebagai berikut : a. Memerlukan instalasi penghasil udara bertekanan (kompresor). b. Mudah terjadi kebocoran. c. Menimbulkan suara bising. d. Udara yang bertekanan mudah mengembun, sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu, misal kering, memiliki tekanan yang cukup, dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekan pada katup-katup dan aktuator. Secara garis besar urutan kerja sistem pneumatik dimulai dari sumber energi udara bertekanan (kompresor)sinyal input (katup tekan, katup roll dan sebagainya) pemroses sinyal
570

atau prosessor (katup kontrol, OR, NOR, dll) pengendali sinyal (katup pengendali sinyal) aktuator atau output (silinder penggerak tunggal, silinder ganda, rotari dll). Katup berfungsi untuk mengatur atau mengendalikan arah udara kempa yang akan bekerja menggerakan aktuator, dengan kata lain katup ini berfungsi untuk mengendalikan arah gerakan aktuator. Katup-katup pneumatik diberi nama berdasarkan pada: a) Jumlah lubang/saluran kerja ( port), b) Jumlah posisi kerja, d) Jenis penggerak katup, dan d) Nama tambahan lain sesuai dengan karakteristik katup. Disini akan dijelaskan cara penamaan katup pneumatik 5/2.

Ruang/Posisi (14,12)

4
a

2

Ruang/Posisi (a,b)

14 a

12 b 5 1
b

3

Nomor Lubang/Port (1,3,5,2,4 )

2. Sistem Hidrolik Fluida yang digunakan dalam sistem hidrolik adalah oli. Syarat-syarat cairan hidrolik yang digunakan harus memiliki kekentalan (viskositas) yang cukup, memiliki indek viskositas yang baik, tahan api, tidak berbusa, tahan dingin, tahan korosi dan tahan aus, minimla konpressibility. Sistem hidrolik juga memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahan sistem hidrolik sebagai berikut : a. Fluida yang digunakan (oli) harganya mahal. b. Apabila terjadi kebocoran akan mengotori sistem, sehingga sistem hidrolik jarang digunakan pada industri makanan maupun obat-obatan. Sedangkan kelebihan sistem hidrolik diantaranya adalah ;

571

a. Tenaga yang dihasilkan sistem hidrolik besar sehingga banyak diaplikasikan pada alat berat seperti crane, kerek hidrolik dll. b. Oli juga bersifat sebagai pelumas sehingga tingkat kebocoran lebih jarang dibandingkan dengan sistem pneumatik. c. Tidak berisik. Komponen-komponen sistem hidrolik sebagai berikut : a. Pompa hidrolik Pompa hidrolik berfungsi m engisap fluida oli hydrolik yang akan disirkulasikan dalam sistim hydrolik. Macam-macam pompa hidrolik diantaranya adalah pompa roda gigi, pompa sirip burung, pompa torak aksial, pompa torak radial dan pompa sekrup. b. Aktuator hidrolik Aktuator hydrolik dapat berupa silinder hydrolik, maupun motor hydrolik. Silinder hydrolik bergerak secara translasi sedangkan motor hydrolik bergerak secara rotasi. Urutan kerja sistem hidrolik dimulai dari sumber tenaga (pompa) sinyal (katup hidrolik) katup pemroses sinyal (katup cekik, katup satu arah dll) aktuator (silinder hidrolik atau rotari).

572

Nyquist mengembangkan suatu prosedur yang relatif sederhana untuk menentukan kestabilan sistem loop tertutup pada basis respon loop terbuka terhadap masukan tunak (Steady State) Sinusoida. Pada tahun 1934. Pada tahun 1932. Perkembangan selanjutnya telah semakin cepat setelah ditemukannya komponen mikroelektronik dalam bentuk IC (Integrated Circuit) pada awal tahun 1960–an. dan komponen elektronik seperti transistor. Hazien memperkenalkan istilah servo mekanisme untuk sistem kontrol posisi. membahas desain servo mekanisme relay yang mampu mengikuti dengan baik masukan yang berubah. baik yang secara khusus misalnya 573 . Sejarah Perkembangan Otomasi Industri …. Teknologi Otomasi semakin berkembang dengan pesat sejak munculnya mikroprosesor pada tahun 1973. Gambar 1. sejak itu teknolologi otomasi telah memasuki berbagai sektor kegiatan manusia. Teknologi Otomasi mulai ada sejak berabad-abad yang lalu. Penggunaan robot dalam sistem otomasi Industri Selanjutnya secara berangsur angsur mulai memanfaatkan komponen elektronik-mekanik seperti relay. terutama sejak ditemukannya komponen cam dan governor. mulai tahun 1960 dengan berkembangnya perangkat peralatan (plant) dengan multi masukan dan multi keluaran maka sistem kontrol menjadi semakin kompleks.BAB IX PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN 1. Pada dekade 1940-1950 pemakaian sistem kontrol otomatis telah berkembang.

yaitu fixed automation (otomasi tetap) dan flexible Automation (otomasi fleksibel). Mesin suci dan sebagianya. dewasa ini makin berkembang dengan dimasukkannya pengertian tentang kemampuan untuk mengatur pengolahan data secara mandiri. sehingga proses pencuciannya dapat diprogram seperti yang diharapkan. Meski dengan jumlah karyawan yang sedikit namun mampu menghasilkan produk yang banyak dan dengan kualitas yang sama baiknya. Sebagai contoh 574 . Sedangkan fleksibel automation sudah menggunakan sistem pengatur berbasis komputer. Pengertian teknologi otomasi yang didefisinikan sebagai penggunaan sistem pengatur yang mampu menggerakkan suatu manipulator atau kontruksi mekanik secara mandiri tanpa campur tangan manusia melahirkan suatu disiplin ilmu baru yang disebut sebagai mekatronika. Sistem pengatur berbasis komputer dirancang agar mudah dirubah sesuai dengan kebutuhan. Proses produksi industri manufaktur mobil maupun sepeda motor di Indonesia sudah semakin pesat. Kontruksi fixed automation biasanya masih menggunakan peralatan mekanik. Penggunaan robot dalam sistem otomasi Industri mobil Teknologi Otomasi yang pada awalnya banyak diartikan sebagai pemakaian suatu sistem pengatur yang mampu menggerakan suatu kontruksi mekanik (manipulator) secara mandiri tanpa campur tangan manusia. maupun secara umum dalam berbagai bentuk barang yang ada di sekeliling kita seperti Telefak. Dalam aplikasinya kegiatan proses produksi kedua cakupan pengertian di atas pada dasarnya sangat banyak digunakan. Mesin cuci modern biasanya menggunakan sistem otomasi loop tertutup. Pada dasarnya teknologi otomasi dibedakan menjadi dua.di dalam dunia manufaktur. Gambar 2.

Pengaturan yang akan dikembangkan berbasisi pada sistem kontrol pneumatik. dan juga mekanik. Fleksible Automation akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikroeletronika yang mendasar Pemanfaatan teknologi otomasi pada proses produksi meliputi bidang yang sangat luas. Inventory Control. gerakan robot dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan. Industrial Engineering banyak yang lebih berupa pengolahan secara otomatis data elektronis. Pemilihan yang salah merupakan cacat bawaan yang akan sukar untuk diperbaiki nantinya. sistem pengisian tandon otomatik. Jiq dan Fixtures. seperti mesin perkakas CNC robot industri. sedangkan teknolgi otomasi yang banyak di terapkan adalah dalam bidang produksi. …. dan sebagainya. hidrolik. pengering tangan otomatik. Rancangan konstruksi dari berbagai peralatan di atas ada yang dapat dibuat secara umum sehingga dapat diproduksi secara masal. Pemilihan peralatan yang sesuai dengan proses produksi yang hendak dilakukan merupakan tahap awal yang sangat menentukan tinggi rendahnya effisiensi proses produk tersebut. Meningkatnya kualitas hidup berdampak pada gaji tenaga kerja terampil yang semakin mahal. Pembahasan akan lebih diarahkan pada teknologi otomasi dalam bentuk pengaturan gerak manipolator atau konstruksi mekanik yang terdapat dalam berbagai bentuk peralatan pabrik. juga penggunaan mesin perkakas CNC. yang bertujuan mendapatkan keuntungan yang sebesarbesarnya dengan biaya yang serendah-rendahnya. namun ada pula yang harus dirancang secara khusus untuk jenis pemakian tertentu seperti mesin-mesin khusus. tanpa melakukan penggantian peralatan yang salah tersebut secara keseluruhan. Sales dan Marketing. termasuk biaya tenaga kerja.penggunaan robot industri. Proses otomasi yang dapat kita lihat sehari-hari antara lain: mesin cuci otomatik. 575 . akan dibahas lebih jauh teknologi otomasi yang diterapkan dalam industri pengolahan serta pemesinan logam. Teknologi modern ditandai dengan penggunaan fleksible automation yang semakin meluas. elektrik. Salah satu upaya yang dilakukan perusahaan antara lain dengan cara mengurangi biaya produksi. 2. Production Planning dan Control. berbagai jenis conveyor. Engineering. Otomasi Teknik Produksi Setiap perusahaan selalu berusaha untuk efisien dan efektif dalam melakukan proses produksinya. Sebagian besar aplikasinya dimanfaatkan secara luas dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi. dari kegiatan seperti pada bagian Product Design. AGV dsb nya. Pemanfaatan teknologi otomasi dalam proses produksi merupakan sebagian kecil saja dari penggunaan teknologi tersebut. Dalam pembahasan selanjutnya.

namun untuk menghasilkan udara bertekanan diperlukan peralatan mahal seperti kompresor dan katup-katup. bahkan kadang menuntut kenaikan gaji melalui demonstrasi yang dapat menghentikan aktivitas perusahaan. sakit. listrik. Gambar 3. Menurut Thomas Krist yang dikutip Dines Ginting (1993). dan lain-lain. Penggeser pneumatik dan robot industri yang siap menggantikan tenaga manusia 576 . Jadi otomasi menghemat tenaga manusia. Dewasa ini perusahaan selalu berupaya untuk mengganti pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh manusia untuk digantikan dengan mesin-mesin dalam rangka efisiensi dan peningkatan kualitis produksinya. dan lain-lain telah dapat digantikan oleh gerakan aktuator mekanik. bersih. Padahal tenaga kerja terampil sebagai manusia pada umumnya memiliki keterbatasan seperti kelelahan. hydrolik.Tenaga kerja terampil umumnya menuntut gaji yang besar. namun memiliki keterbatasan temperatur dan cenderung kotor. namun mudah terbakar bila dibebani lebih. misalnya lebih fleksibel dan bersih. Dengan kata lain banyak perusahaan melakukan otomasi produksinya. menempa. dan aman. Pemilihan aktuator tersebut akan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan. mengangkat. Terutama suatu penempatan yang menguntungkan dari unsur-unsur pelayanan adalah mengurangi banyaknya gerakan-gerakan tangan sampai seminimum mungkin. pneumatik. Pneumatik d apat dibebani lebih. Gerakan-gerakan yang biasa dilakukan manusia seperti menggeser. ``Otomasi`` adalah mengubah penggerakan atau pelayanan dengan tangan menjadi pelayanan otomatik pada penggerakan dan gerakan tersebut berturut-turut dilaksanakan oleh tenaga asing (tanpa perantaraan tenaga manusia). jenuh. Hidrolik mampu menghasilkan daya besar. Masing-masing aktuator memiliki kelebihan dan kelemahan. Istilah otomasi berasal dari otomatisasi. belakangan ini istilah otomatisasi tidak lagi banyak digunakan.

PLC (Programmable Logic Controllers) …. Pengalihan gerakan dari tenaga manusia ke mesin dapat dilakukan sebagian maupun keselurahan.1 Sejarah PLC Secara historis PLC (Programmable Logic Controllers) pertama kali dirancang oleh Perusahaan General Motor (GM) sekitar pada tahun tahun 1968. 3. Otomasi sebagian berarti sistem masih memerlukan tenaga kerja untuk mengoperasikan mesin. Kerja tersebut dilakukan karena adanya prosesor pada PLC yang memproses program sistem yang dinginkan. PLC awalnya merupakan sebuah kumpulan dari banyak relay yang pada proses sekuensial dirasakan tidak fleksibel dan berbiaya tinggi dalam proses otomatisai dalam suatu industri. industri kimia dan tungku pengecoran logam bertemperatur tinggi. Gambar 4.Penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin akan meningkatkan produktivitas dan efensiensi kerja. Faktor ini juga sangat menentukan kedayagunaan dan manfaat ekonomis dari produksi. sedangkan otomasi lengkap berarti semuanya dapat dikerjakan oleh mesin. tenaga manusia hanya bertindak sebagai programmer dari mesin tersebut. Pada saat itu PLC penggunaannya masih terbatas pada fungsi-fungsi kontrol relay saja. Penggantian ini sangat tepat terutama pada industri bahan dasar. Robot Industri dalam proses manufacturig 3. 577 . Dalam beberapa tahun ini perkembangan full otomasi telah berkembang pesat terutama pada industri manufaktur mobil maupun industri yang lain. Namun dalam perkembangannya PLC merupakan sistem yang dapat dikendalikan secara terprogram. dimana akan mengurangi resiko kecelakaan kerja dan meningkatkan kenyamanan peroduksi. Selanjutnya hasil rancangan PLC mulai berbasis pada bentuk komponen solid state yang memiliki fleksibelitas tinggi.

seperti jumlah input/output. 3. (g) Pemrograman relatif semakin mudah.2 Pengenalan Dasar PLC Pada dasarnya PLC (Programmable Logic Controllers) merupakan sistem relay yang dikendalikan secara terprogram. kepadatan komponen serta dari segi fungsinnya seiring perkembangan teknologi solid state. Perusahaan PLC saat ini sudah memulai memproduksi PLC dengan beberapa ukuran. (h) Beberapa jenis dan tipe PLC dilengkapi dengan modul-modul untuk tujuan kontrol kontinu. PID. Relay tunggal (a) dan Sistem relay pada mesin CNC (b) Saat ini PLC telah mengalami perkembangan yang luar biasa. instruksi dan kemampuan lainya yang beragam. (b) Jenis instruksi/fungsi semakin banyak dan lengkap. Hal ini terkait dengan perangkat lunak pemrograman yang semakin user friendly. Adanya masukan dan keluaran PLC secara modul akan lebih mempermudah proses 578 . misalnya modul ADC/DAC. (c) Memiliki kemampuan komunikasi dan sistem dokumentasi yang semakin baik. Sehingga mampu untuk menjawab permasalahan kebutuhan kontrol yang komplek dengan jumlah input/output mencapai ribuan. Kerja tersebut dilakukan karena adanya prosesor pada PLC yang memproses program yang dinginkan. Perkembangan dewasa ini pada dasarnya dilakukan agar memenuhi dan memberikan solusi bagi kebutuhan pasar yang sangat luas. modul Fuzzy dan lain-lain. PLC dilengkapi dengan port masukan (inputport) dan keluaran (outputport).(a) (b) Gambar 5. Beberapa perkembangan perangkat keras maupun perangkat lunak PLC antara lain: (a) Ukuran semakin kecil dan kompak. (f) Waktu eksekusi program yang semakin cepat. baik dari segi ukuran. (d) Jumlah input/output yang semakin banyak dan padat.

LG. seperti OMRON. Pada dasarnya PLC terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). PLC Omron type ZEN (a) dan Siemens (b) Agar lebih mengenal fungsi dan cara kerja PLC pada umumnya. Adapun jenis hardware dapat berupa unit PLC berbagai merek.pengawatan (wiring) sistem. dan lain lain. seperti contoh berikut berikut: (a) (b) Gambar 6. biasanya dibuat PLC Training Unit untuk keperluan pelatihan bagi siswa maupuin praktisi industri agar lebih mendalami dan memahaminya 579 . Siemens.

3. 3.2 AND dan NOT AND (NAND) Jika memasukkan logika AND maka harus ada rangkaian yang berada di depannya.1 LOAD (LD) dan LOAD NOT (LD NOT) LOAD adalah sambungan langsung dari line dengan logika pensakelarannya seperti sakelar NO.Gambar 7. Simbol logika LOAD dan LOAD NOT. Instruksi END tidak ditampilkan pada tombol operasional programming console. Simbol ladder diagram dari LD dan LD NOT seperti Gambar 8 di bawah ini: LD LD NOT Gambar 8. Instruksi tersebut dibutuhkan jika urutan kerja sistem kendali lebih dari 580 .3. akan tetapi berupa sebuah fungsi yaitu FUN (01). Logika pensaklaran AND seperti sakelar NO dan NOT AND seperti saklar NC. 3. Pada setiap akhir program harus di instruksikan kalimat END yang oleh PLC dianggap sebagai batas akhir dari program. sedangkan LOAD NOT logika pensakelarannya seperti sakelar NC. Instruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada sistem kendali hanya membutuhkan satu kondisi logic saja untuk satu output. Instruksi-instruksi dasar PLC Instruksi (perintah program) merupakan perintah agar PLC dapat bekerja seperti yang diharapkan.3. PLC Training Unit 3. karena penyambungannya seri.

instruksi tersebut dibutuhkan jika urutan kerja sistem kendali membutuhkan salah satu saja dari beberapa kondisi logic terpasang paralel untuk mengeluarkan satu output. Simbol logika AND dan NOT AND Tabel 1.3. Logika pensaklaran OR seperti saklar NO dan logika pensaklaran NOT OR seperti saklar NC. Logika AND dan NOT AND (NAND) S1 0 0 1 1 S2 0 1 0 1 AND 0 0 0 1 NAND 1 1 1 0 3. Simbol ladder diagram dari AND dan NOT AND seperti Gambar 9. Simbol ladder diagram dari OR dan OR NOT seperti gambar 11. di bawah ini: OR Gambar 10.satu kondisi logic yang terpenuhi semuanya untuk memperoleh satu output. di bawah ini: AND NOT AND Gambar 9.3 OR dan NOT OR OR dan NOT OR (NOR) dimasukkan seperti saklar posisinya paralel dengan rangkaian sebelumnya. Simbol logika OR dan NOT OR NOT OR 581 .

Tabel 2. Logika OR dan NOT OR (NOR) S1 0 0 1 1 S2 0 1 0 1 OR 0 1 1 1 NOR 1 0 0 0 Tabel 3. Aturan aljabar saklar AND 0n a=0 1n a=a 0 an a=a a 1 an a=0 a a a a a an b = bn a a b b a an bn c = c a (a n b) n c = a a n (b n c) a b b c b c 582 .

Logika pensaklaran OUT seperti sakelar NO dan logika pensaklaran OUT NOT seperti sakelar NC. Simbol ladder diagram dari OUT dan OUT NOT seperti Gambar 11. 583 . . di bawah ini OUT OUT NOT Gambar 11.3. Simbol logika OUT dan OUT NOT.4 OUT dan OUT NOT Digunakan untuk mengeluarkan Output jika semua kondisi logika ladder diagram sudah terpenuhi. Aturan aljabar saklar OR 0va=a 0 1va=1 1 a ava=a a a ava=a a a a avb a = bva b b a avbvc a b c = (a v b) v c a b c = a v (b v c) a b c 3.Tabel 4.

Nilai TIMER/COUNTER bersifat menghitung mundur dari nilai awal yang ditetapkan oleh program.3.5 AND LOAD (AND LD) Digunakan untuk kondisi logika ladder diagram yang khusus dimaksudkan untuk mengeluarkan satu keluaran tertentu.3.3.3.Jumlahnya bergantung dari masing-masing tipe PLC. Jika suatu nomor sudah dipergunakan sebagai TIMER/COUNTER. . Setelah hitungan tersebut mencapai angka nol. Simbol ladder diagram dari AND LD seperti gambar 12. 3. maka kontak NO TIMER/COUNTER akan bekerja.6 OR LOAD (OR LD) Digunakan untuk kondisi logika ladder diagram yang khusus dimaksudkan untuk mengeluarkan satu keluaran tertentu. di bawah ini: AND LD Gambar 12. Simbol logika OR LOAD. 3. Simbol ladder diagram dari OR LD seperti gambar 13 di bawah ini: OR LD Gambar 13. maka nomor tersebut tidak boleh lagi dipakai lagi sebagai TIMER/COUNTER yang lain.7 TIMER (TIM) dan COUNTER (CNT) . 584 . Simbol logika AND LOAD.

misalnya untuk menjalankan atau menghentikan motor. Dalam hal tersebut seperti misalnya device masukan yang digunakan adalah push button yang bekerja secara Normally Open (NO) ataupun Normally Close (NC). Sistem PLC memiliki jumlah device masukan sesuai dengan sistem yang diinginkan. Device Masukan Device masukan merupakan perangkat keras yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada modul masukan. flow switch.TIMER mempunyai batas hitungan antara 0000 sampai 9999 dalam bentuk BCD (binary Code Decimal) dan dalam orde sampai 100 ms.4. memperlihatkan macammacam sim bol masukan. 585 . Fungsi dari device masukan untuk memberikan perintah khusus sesuai dengan kinerja device masukan yang digunakan. Gambar15. Simbol logika TIMER dan COUNTER. 3. Simbol ladder diagramnya seperti Gambar 14 di bawah ini: N SV CP R TIMER Keterangan : N : Nomor T/C SV : Set Value COUNTER Keterangan : CP : Pulsa R : Reset Gambar 14. proximity sensors dan lain-lain. foot switch. level switch. Ada bermacam -macam device masukan yang dapat digunakan dalam pembentukan suatu sistem kendali seperti misalnya: selector switch.. Sedangkan COUNTER mempunyai orde angka BCD dan mempunyai batas antara 0000 sampai dengan 9999.

Modul Masukan Modul masukan adalah bagian dari sistem PLC yang berfungsi memproses sinyal dari device masukan kemudian memberikan sinyal tersebut ke prosesor.5. Sistem PLC dapat memiliki beberapa modul masukan. NC Pushbutton c. NO Limit Switch d. 586 . Gambar 16 memperlihatkan modul masukan atau keluaran yang penempatannya menggunakan rak. Pada umumnya modul masukan ditempatkan pada sebuah rak.Keterangan : a. yang berarti modul tersebut dapat melayani beberapa device masukan. Contoh simbol device masukan 3. Masing-masing modul mempunyai jumlah terminal tertentu. Pada jenis PLC tertentu terdapat modul masukan yang ditempatkan langsung satu unit dengan prosesor ataupun catu daya dan tidak ditempatkan dengan sistem rak. NO Pushbutton b. NO Flow Switch Gambar 15.

Gambar 17. Hal ini sangat membantu untuk keperluan perawatan ketika timbul masalah terhadap sistem. memperlihatkan contoh gambar device programmer. Device programmer memperbolehkan pemakai untuk melakukan pengubahan program kendali baru (modifikasi) atau memeriksa benar atau tidaknya program yang telah diisikan ke dalam memori. Desktop. Program Loader sering disebut sebagai device programmer yaitu alat yang digunakan untuk melakukan pengisian program ke CPU. 587 . Slot Modul masukan atau keluaran PLC 3. Gambar 17 dan Gambar 18. Jenisjenis device programmeran yang sering digunakan adalah desktop. handled programmer dan device programmer yang memang khusus dibuat oleh pembuat PLC. Device programmer membuat program PLC menjadi lebih fleksibel.Gambar 16.6. Device Masukan Program Device masukan program berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan atau mengisikan program ke dalam prosesor PLC yang disebut dengan pengisi program (program loader).

Handled Programmer.Gambar 18. sirine. Sistem PLC mempunyai beberapa device keluaran seperti motor listrik. lampu indikator. Gambar 19. memperlihatkan contoh simbol dari device keluaran yang sering digunakan. (OMRON) 3. (a) Simbol lampu indicator (b) Motor listrik dan simbolnya 588 . Device Keluaran Device keluaran adalah komponen-komponen yang memerlukan sinyal untuk mengaktifkan komponen tersebut.7.

Device keluaran disambungkan ke modul keluaran dan akan aktif pada saat sinyal diterima oleh modul keluaran dari prosesor sesuai dengan program sistem kendali yang telah diisikan ke memorinya. Diagram kerja tiga komponen utama di atas. Modul Keluaran PLC dapat mempunyai beberapa modul keluaran tergantung dari ukuran dan aplikasi sistem kendali.9. 3. Contoh device keluaran dan simbolnya 3. Perangkat Lunak PLC Pemrogramman PLC terdiri dari instruksi-instruksi dasar PLC yang berbentuk logika pengendalian sistem kendali yang diinginkan.10.(c) Katup penggerak Solenoid Gambar 19. akan dijelaskan lebih rinci dengan gambar diagram blok sistem PLC seperti terdapat pada Gambar 20. dikurangi ataupun dirancang ulang untuk mendapatkan sistem yang lebih fleksibel. Sinyal tersebut diteruskan ke prosesor dan akan diolah sesuai dengan 589 . sehingga modul keluaran sebagai sakelar yang menyalurkan catu daya dari catu daya luar ke device keluaran. seperti komponen-komponennya dapat ditambah. Perangkat Keras PLC Sistem PLC menggunakan prinsip pemodulan yang memiliki beberapa keuntungan. dan device pemrograman. Urutan kerja dari gambar diagram blok di atas dimulai dari device masukan yang akan memberikan sinyal pada modul masukan. 3. Dalam hal ini setiap pembuat PLC memberikan aturan-aturan tertentu yang sudah disesuaikan dengan programmeran CPU yang digunakan PLC. bagian masukan/keluaran.8. Catu daya yang digunakan untuk mengaktifkan device keluaran tidak langsung dari modul keluaran tetapi berasal dari catu daya dari luar. Bahasa programmeran biasanya telah disesuaikan dengan ketentuan dari pembuat PLC itu sendiri. Sistem PLC memiliki tiga komponen utama yaitu unit prosesor.

Untuk memudahkan pemahamannya. titik masukan modul masukan dapat dianggap sebagai koil relay yang masingmasing memiliki alamat tertentu. Sinyal dari prosesor kemudian diberikan ke modul keluaran untuk mengaktifkan device keluaran. koil relay masukan berada di luar perangkat sehingga tidak dapat tergambar di perangkat lunak dan hanya memiliki kontak-kontak pada perangkat lunak. Diagram ini menyerupai diagram dasar yang digunakan logika kendali sistem kontrol panel dimana ketentuan instruksi terdiri dari koil-koil.11. Simbol-simbol tersebut tidak dapat dipresentasikan sebagai komponen. Diagram Blok PLC 3. programmer harus mengerti hubungan I/O dengan perangkat lunak.12. Programmeran tersebut akan memudahkan programmer dalam mentransisikan logika pengendalian khususnya bagi programmer yang memahami logika pengendalian sistem kontrol panel. Untuk lebih mempermudah pemahaman mengenai hubungan I/O dengan perangkat lunak 590 . NO. 3. Banyaknya titiktitik keluaran terletak di modul keluaran. Hubungan Input/Output (I/O) dengan Perangkat Lunak Pada saat pemrogram (programmer) bekerja dengan bahasa ladder logic. NC dan dalam bentuk penyimbolan. Gambar 20. tetapi d alam programmerannya simbol-simbol tersebut dipresentasikan sebagai fungsi komponen sebenarnya. Ladder Logic Ladder logic adalah bahasa programmeran dengan bahasa grafik atau bahasa yang digambar secara grafik.program yang dibuat.

Gambar 21 memperlihatkan bahwa apabila push button 1 ditekan maka unit input X1 menjadi ON. Processor Prosesor adalah bagian pemroses sistem PLC yang membuat keputusan logika. Gambar 21. kejadian tersebut mengakibatkan lampu menyala. Hal 591 .13. Di dalam CPU PLC dapat dibayangkan seperti sekumpulan ribuan relay. Prosesor adalah bagian dari Central Processing Unit (CPU) dari PLC yang menerima.Gambar 21 memperlihatkan gambar hubungan antara I/O dengan perangkat lunak. Sesuai dengan prinsip pemahaman bahwa titik masukan sebagai koil relay yang mempunyai kontak di perangkat lunak. Peristiwa itu tersebut mengakibatkan koil keluaran perangkat lunak menerima sinyal tersebut sehingga unit output sebagai kontak koil akan bekerja. Sinyal selanjutnya mengalir melalui holding relay tersebut dan lampu akan menyala terus dan akan mati apabila pushbutton 2 ditekan karena terputusnya tegangan dalam hal ini karena pushbutton 2 sebagai NC. menganalisa. sehingga jika keadaan ON maka sinyal mengalir menuju modul masukan (dengan anggapan pemahaman bahwa terdapat koil) hal tersebut mengakibatkan kontak dari unit input di dalam perangkat lunak akan bekerja. Hubungan antara I/O dengan perangkat lunak. Keputusan yang telah dibuat berdasarkan program tersimpan dalam memori. Apabila lampu indikator sebagai device keluaran. 3. memproses dan memberikan informasi ke modul keluaran. Karena sebagai device masukan berupa push button 1 ON saat ditekan saja (NO) maka untuk membuat lampu itu menyala terus. koil keluaran perangkat lunak memiliki internal relay yang dapat digunakan sebagai pengunci (holding).

tersebut bukan berarti di dalamnya terdapat banyak relay dalam ukuran yang sangat kecil tetapi berisi rangkaian elektronika digital yang dapat sebagai kontak NO dan NC relay. Apabila data dapat diubah. Memori berfungsi sebagai tempat dimana informasi tersebut disimpan. Read Only Memory (ROM) adalah jenis memori yang semi permanen dan tidak dapat diubah dengan pengubah program. karena RAM dapat dibaca dan ditulis data untuk disimpan di RAM. dengan satu pengecualian yaitu bisa di program. PROM di rancang untuk diisi dengan program yang terprogram. maka dapat diadakan programmeran. Salah satu jenis memori yang digunakan dalam CPU PLC adalah Random Access Memory (RAM). Memori tersebut hanya digunakan untuk membaca saja dan jenis memori tersebut tidak memerlukan catu daya cadangan karena isi memori tidak akan hilang meskipun catu daya terputus Programmable Read Only Memory (PROM) adalah jenis lain dari memori yang bekerja hampir menyerupai ROM. Gambar 22. Pada aplikasi PLC diperlukan catu daya cadangan yang digunakan untuk menjaga agar isi dari memori tidak hilang apabila tiba-tiba catu daya hilang. CPU PLC (OMRON) 592 . Masing-masing jenis memori memiliki keuntungan dan kerugian dan dipilih untuk spesifikasi yang terbaik untuk aplikasinya. memperlihatkan contoh CPU PLC yang menggunakan sistem RAM. RAM digunakan untuk keperluan memori karena RAM mudah diubah dengan cepat ketika dibandingkan dengan jenis memori yang lain. Gambar 22. Programmeran ulang dari PROM membutuhkan perlengkapan khusus yaitu PROM Programmer dimana PLC sendiri tidak dapat melakukannya. RAM disebut juga sebagai memori baca/tulis. Ada bermacam-macam jenis serpih memori dalam bentuk Integrated Circuit (IC). Kerugian jenis memori tersebut adalah diperlukannya catu daya untuk menjaga agar memory tetap bekerja.

IR input dan IR output adalah IR yang berhubungan dengan terminal input dan output pada PLC. kondisi special I/O. Dapat menunjukkan kondisi PLC yang disebabkan oleh kegagalan sumber tegangan. ditulis XXX . 3. 3. ditulis XXXXXX.14. kondisi input/output unit.4 Holding Relay Holding relay (HR) dapat difungsikan untuk menyimpan data (bit-bit penting) karena tidak hilang walaupun sumber tegangan PLC mati.3 Auxiliary Relay (AR) Auxiliary relay terdiri dari flags dan bit untuk tujuan khusus. kontrol bit PLC.14.2.2.Word atau channel yang terdiri dari 16 bit. IR output dan juga IR work area (untuk pengolahan data pada program).2. dan Group 2 High density I/O unit area.2. Optical I/O unit area.14.14. 3. Sedangkan IR work area tidak dihubungkan ke terminal PLC. dua angka yang paling belakang menunjukkan nomor contact dan sisa angka yang depan menunjukkan nomer channel.14. dan system clock (pulsa). informasi kondisi PLC.3.14.14. 3. Terdapat juga IR yang fungsinya untuk SYSMAC BUS area. Link system digunakan untuk tukar-menukar informasi antar dua PLC atau lebih dalam satu sistem kendali yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan PLC minimum dua unit. kondisi CPU PLC.2 Special Relay Special relay (SR) merupakan relay yang menghubungkan fungsi-fungsi khusus seperti flag (misalnya: instruksi penjumlahan terdapat kelebihan digit pada hasilnya [carry flag].2 Memori PLC 3.Bit atau contact yang terdiri dari 1 bit.14 Data dan Memory PLC 3. akan tetapi berada dalam internal memory PLC dan fungsinya untuk pengolahan logika program. Special I/O Unit area. 593 .1 Internal Relay Internal relay (IR) mempunyai pembagian fungsi seperti IR input.5 Link Relay Link relay (LR) digunakan untuk data link pada PLC link system .1 Aturan dasar penulisan memori PLC adalah : .2. memori PLC dan lain-lain. 3.

> DM history Log • Pada DM history log disimpan informasi-informasi penting pada saat PLC terjadi kegagalan sistem operasionalnya. Kapasitas tergantung dari pada masingmasing tipe PLC yang dipakai. Untuk timer mempunyai orde 100 ms.14. 3.9 Upper Memory Upper memory (UM) berfungsi untuk menyimpan dan menjalankan program. 3. > DM setup DM setup berfungsi untuk kondisi default (kondisi kerja saat PLC aktif). Tentu saja setup PLC tersebut disesuaikan dengan sistem kontrol yang bersangkutan.8 Data Memory Data memory (DM) berfungsi untuk menyimpan data-data program karena isi DM tidak akan hilang (reset) walaupun sumber tegangan PLC mati. mengatur dan mendefinisikan sistem kerja special I/O unit. sehingga sangat berguna untuk manipulasi data program. Untuk TIM 000 sampai dengan TIM 015 dapat dioperasikan secara interrupt untuk mendapatkan waktu yang lebih presisi.2. Pesan-pesan kesalahan system PLC yang di simpan berupa kode-kode angka tertentu.7 Timer/Counter Timer/counter (T/C) untuk mendefinisikan suatu waktu tunda /time delay (timer) ataupun untuk menghitung ( counter). > DM link test area • DM link test area berfungsi untuk menyimpan informasiinformasi yang menunjukan status dari system link PLC. 594 .6 Temporary Relay Temporary relay (TR) berfungsi untuk menyimpan sementara kondisi logika program pada ladder diagram yang mempunyai titik percabangan khusus. 3.2. ada yang mempunyai orde 10 ms yaitu TIMH(15).14.2. > DM special I/O unit • DM special I/O berfungsi untuk menyimpan dan mengolah hasil dari special I/O unit. Pada DM inilah kemampuan kerja suatu PLC didefinisikan untuk pertama kalinya sebelum PLC tersebut diprogram dan dioperasikan pada suatu sistem kontrol.14.14.3.2. Macam-macam DM adalah sebagai berikut: > DM read/write • Pada DM read/write data-data program dapat dihapus dan ditulis oleh program yang dibuat.

Besarnya tegangan catu daya yang dipakai disesuaikan dengan karakteristik PLC. ⇒ Memori yang sifatnya dapat menyimpan data program jika listrik mati adalah DM dan HR.⇒ Semua memori (selain DM dan UM) dapat dibayangkan sebagai relay yang mempunyai koil. kontak NO dan NC. atau bisa juga langsung digambar ladder diagram pada layar monitor. Catu Daya. DM dapat difungsikan untuk menyimpan data-data penting yang tidak boleh hilang waktu sumber tegangan mati a memanipulasi tau program. Timer dan Counter juga dapat dibayangkan seperti pada umumnya dan mempunyai kontak NO dan NC. Catu daya dalam merupakan bagian dari unit PLC itu sendiri sedangkan catu daya luar yang memberikan catu daya kepada seluruh bagian dari sistem termasuk didalamnya untuk memberikan catu daya pada catu daya dalam dari PLC.2.14. Gambar 23. ⇒ DM tidak mempunyai kontak. 3. Bagian catu daya dalam PLC sama dengan bagian-bagian yang lain di mana terdapat langsung pada satu unit PLC atau terpisah dengan bagian yang lain dari atau sistem rak. ⇒ Programmeran PLC ada dua macam yaitu dengan diagram ladder dan bahasa mnemonic. Programmeran biasanya membuat diagram ladder terlebih dahulu dan kemudian baru menterjemahkannya dalam bahasa mnemonic. Catu daya dalam mengaktifkan proses kerja PLC. Gambar catu daya yang sering digunakan dengan sistem rak diperlihatkan pada gambar 23. sedangkan memori yang lainnya akan hilang.10 Catu Daya (Power Supply) Sistem PLC memiliki dua macam catu daya dibedakan berdasarkan fungsi dan operasinya yaitu catu daya dalam dan catu daya luar. hanya ada channel/word saja. 595 .

> Upload Program Merupakan perintah untuk melihat isi program dalam PLC > Down Load Program Merupakan perintah untuk mentransfer program yang telah dibuat ke dalam PLC > Run Perintah untuk menjalankan program yang telah di tranfer ke PLC > Stop Perintah untuk menghentikan program yang sedang dijalankan di PLC > Monitoring Perintah untuk melihat kondisi pada saat PLC bekerja 3.15. Tampilan menu utama dari program SYSWIN dapat dilihat pada gambar berikut.16 Cara pengoperasian SYSWIN 3.3. Programman PLC dasar Omron Dengan Komputer Programman PLC dasar merk OMRON menggunakan bahasa program dari OMRON juga yaitu SYSWIN. Tampilan menu utama program SYSWIN (OMRON) Beberapa perintah program yang penting dan perlu dipahami adalah sebagai berikut: > Connect Connect merupankan perintah program untuk penyambungan antara komputer dengan PLC.16. Gambar 24.1 Pembuatan diagram ladder (diagram tangga) Pembuatan diagram ladder dapat dilakukan dengan cara klik kiri mouse pada menu perintah sesuai dengan yang dikehendaki 596 .

Sebagai contoh membuat diagram ladder berikut: Gambar 25. Ketikan alamat 1001 lalu enter 2. Klik simbol ini 3. Klik simbol ini 4. Pembuatan diagram ladder 1. Untuk membuat ladder baru lagi di bawahnya maka posisikan mouse pad End of blok kemudian klik dua kali maka posisi End of blok akan turun dan kita dapat menggunakannya baris kosong tersebut untuk membuat diagram ladder baru. 597 . Ketikan alamat 0001 lalu enter Gambar 26. Langkah selanjutnya memberikan alamat yang dikehendaki pada perintah tersebut. Tampilan Ladder Diagram Langkah sbb: 1.kemudian memindahkan mouse ke layar tampilan yang dituju.

2. Pastikan PLC sudah tersambung dan ter-conect dengan PLC 2. Click simbol FUN 2. Pilih perintah Download Program lalu enter 4. Akhir dari diagram tangga menggunakan END Setelah sebuah program diagram ladder dibuat kemudian untuk menjalankannya atau memasukkannya ke dalam PLC harus melewati langkah sebagai berikut: 1. Pada menu Online pilih Mode 598 . Untuk mengakhiri prongram maka harus diakhiri dengan perintah END sebelum program tersebut dijalankan caranya sebagai berikut: 1. Ketikan END lalu enter Gambar 27. Sorot menu Online 3.

Jika input saklar ditekan maka output berupa lampu akan menyala 2. Penyambungan perangkat Input. RUN untuk menjalankan program dalam PLC 6. Akhir dari diagram tangga menggunakan END 5. STOP untuk menghentikan program 7.2 Cara Penyambungan Dan Logika Laddernya Gambar 29. PLC.16. Ladder diagram Maka kerja dari rangkaian tersebut adalah: 1.Gambar 28. Tetapi jika sakelar dilepas maka lampu juga akan mati 599 .Catu daya Pada gambar di atas apabila dibuat program dengan menggunakan diagram ladder sebagai berikut : Gambar 30. Untuk keperluan monitoring jalannya program dapat dipilih pada menu Online yaitu Monitoring 3. Output.

Ladder diagram kebalikan dari kerja rangkaian di atas Maka kerja dari rangkaian tersebut adalah: 1. Kebalikan dari kerja rangkaian di atas (Gambar 31) apabila dibuat program dengan menggunakan diagram ladder sebagai berikut : Gambar 32. Ladder diagram dengan pengunci.01 Gambar 31.Apabila dikehendaki lampu tetap menyala meskipun sakelar hanya sekali tekan maka perlu ditambahi dengan pengunci sebagai berikut: 010. Jika input saklar tidak ditekan maka output berupa lampu akan menyala 2. Jika input saklar ditekan maka output berupa lampu akan mati Untuk penyambungan yang lebih dari satu channel maka cara penyambungan adalah sebagai berikut: 600 .

Gambar 33. Tegangan yang disambungkan ke relay ataupun Magnetic Contactor disesuaikan dengan tegangan dari relay atau Magnetic Contactor tersebut. Penambahan relay untuk memperbesar kemampuan arus . Untuk arus dan tegangan yang lebih besar dapat mengguankan Magnetic Contactor. Gambar 34. Oleh karena keterbatasan PLC dimana spesifikasi dari masukannya dan keluarannya adalah dengan tegangan dan arus yang kecil maka cara penyambungan dari pelaratan keluarannya jika menggunakan lampu untuk tegangan dan arus tinggi adalah menggunakan peralatan relay seperti gambar di bawah ini. Cara penyambungan perangkat Input dan Output lebih dari satu channel. 601 .

17 Penggunaan Fungsi Bit Kontrol 3. Rangkaian latching 602 .Rangkaian Input dan Output di dalam Unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR dapat dilihat pada Gambar 35 dan Gambar 36 di bawah ini.1 LATCHING / SELF HOLDING Fungsi ini berfungsi sebagai penahan dirinya sendiri pada suatau rangkaian ladder PLC. Rangkaian Input Unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR Gambar 36. A B B Gambar 37. (351352 modul pelatihan PLC OMRON) 3.17. Rangkaian Output dalam Unit CPU PLC OMRON CPM1A -XXCDR. Gambar 35.

17. 603 . Diagram ladder latching 3. antar output B baris pertama dengan input B pada baris kedua memiliki alamat yang sama yaitu B. Sehingga cara mematikannya (OFF) yaitu dengan memberikan input berupa ladder NC (normally close). yang berarti bahwa bila ada tegangan sekejap dari rangkaian di atas maka output akan tetap ON. Gambar 40.00 Gambar 39. R sebagai reset yaitu untuk mengembalikan ke keadaan semula dan B atau bit yaitu memberikan output berupa latching atau mempertahankan dirinya sendiri.2 KEEP Fungsi keep sama seperi pada fungsi lacthing hanya saja lebih sederhana dalam pembuatan ladernya karena telah memiliki tanda sendiri pada pemrogramannya seperti pada SYSWIN atau pun SYSMAC. A KEEP B 200. Aturan KEEP Dengan S sebagai set.Pada gambar diagram ladder di atas bisa kita lihat. Tanda KEEP Secara umum fungsi keep memiliki aturan seperi gambar dibawah ini. yang berfungsi sebagai pemicu adanya KEEP. seperti pada gambar di bawah ini A NC B B Gambar 38.

17. Gambar 42.3 DIFU dan DIFD Gambar 41. Berbeda dengan Reset. 3. DIFU dan DIFD DIFU atau Differentia Up dan DIFD (Differentia Down)digunakan untukmenciptakan bit ON pada satu siklus. SET dan RESET Fungsi set memerintahkan agar output selalu dalam keadaan ON. memerintahkan agar output dalam keadaan OFF.17.3. Perbedaannya terletak pada aktif tinggi (up) dan aktif rendah (down).4 SET dan RESET Penggunaan set dan reset hampir mirip dengan latching tetapi biasanya digunakan pada aplikasi yang panjang sehingga akan memudahkan dalam pembuatan program. 604 .

Gambar 44. Keterangan : SW1 = Switch 1 SW2 = Switch 2 Gambar 43. Rangkaian switch relay Pada gambar sirkuit di atas. Kita dapat mensimulasikan atau mentransfer ke dalam diagram ladder.3. Diagram ladder aplikasi koil 605 . koil akan menjadi aktif bila terminal + (positif) dan terminal – (negative) pada baterai terhubung. Input terdiri dari dua switch yaitu switch 1 dan switch 2 sedangkan output adalah koil.18. Pada gambar di atas terdiri dari dua input dan satu output.18 Contoh Aplikasi Dan Pembuatan Diagram Ladder Menggunakan Syswin 3.1 Aktivasi Koil Sekarang akan kita bandingkan diagram ladder di atas dengan menggunakan aplikasi sirkuit di bawah ini.

dan akan muncul form dialog bok 9. Tempatkan pada area kerja.01. klik kembali pada toolbar symbol dan masukan alamat / addres yang berbeda dengan address switch 1 (missal 000. kemudian muncul form dialog untuk pengisian addres / alamat 3. Isikan alamat output. 2. Ok 606 . klik gambar open contact atau pada sisi kiri yaitu toolbar simbol. tempatkan pada work area. Klik symbol atau open output pada toolbar symbol 6. missal 000.Pembuatan diagram ladder pada software Syswin 1. dan tekan OK 8. isikan alamat untuk switch 1 (missal : 000. sehingga akan muncul dialog form 7. Klik Menu à Block à Insert Block. Pilih BELOW Current Network.02) 5.01) 4.

Pilih END(01) dan tekan Ok Hasil program seperti dibawah ini 3. Klik Menu à Function à Basic instruction à Program Control Instruction. Aplikasi PLC 607 . Gambar 45.2 Minyak Pelumas Aplikasi di bawah ini adalah mengontrol minyak pelumas yang dikeluarkan dalam sebuah tangki.18.10. Dengan menggunakan dua sensor yaitu sensor bagian atas dan sensor bagian bawah. 11. Masing masing sensor bertugas untuk mengontrol posisi ketinggian minyak pelumas. akan muncul dialog.

Pada saat volume minyak pelumas menyentuh sensor bawah motor akan memompa minyak pelumas menuju tangki dan berhenti ketika minyak pelumas menyentuh sensor bagian atas.00 000. Gambar 46. Tempatkan pada work area. Pengalamatan peralatan input dan output Input Sensor Bawah Sensor Atas Addres 000.01 Output Motor Addres 010. 2. Diagram ladder Pembuatan diagram ladder pada Software Syswin 3. Sistem ini disebut dengan NC (Normally closed) Tabel 5. Apabila sensor tidak tercelup dalam minyak pelumas maka sensor akan ON dan menghidupkan motor dan memompa minyak pelumas ke dalam tangki. Sensor dapat berupa sensor optik apabila tercelup dalam cairan atau minyak pelumas maka akan OFF disini motor akan OFF sehingga tidak memompa minyak.00 Setelah membagi alamat-alamat. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.4 sebagai berikut 1. kemudian kita membuatnya dalam diagram ladder. input dan output maupun internal relay.00 Internal Relay 010. 2 berupa input dan 1 berupa output. Maka dibutuhkan 3 input dan output. kemudian muncul form d ialog bok untuk pengisian addres / alamat 608 .

3. 6. missal 000. kemudian muncul form dialog bok untuk pengisian addres / alamat 609 . Tempatkan pada work area. 11. 5. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol. Isikan alamat output. 4. Isikan alamat untuk sensor atas (missal : 000. dan tekan OK (disini bukan sebagai output tetapi internal relay) Klik Menu à Block à Insert Block. 7.01) Klik symbol atau open output pada toolbar symbol Tempatkan pada area kerja. dan akan muncul form dialog bok 9. sehingga akan muncul dialog form dialog. 8.00) Klik kembali pada toolbar symbol dan Klik pada work area kemudian masukan alamat / addres yang berbeda dengan address sensor atas (missal 000.05. Pilih BELOW Current Network. Ok 10.

kemudian masukan alamat / addres yang sama dengan internal relay. Isikan alamat yang sama dengna internal relay diatas untuk sensor atas yaitu 000. kemudian Klik pada blok pertama yang kita buat (alamat 000. Klik kembali pada toolbar symbol dan Klik pada work area baris ketiga blok pertama.00 .00 15.12.05 13. 001. setelah terlihat gelap klik pada vertical line dan klik pada blok kedua baris pertama sehingga akan timbul garis penghubung ke bawah.00). 14. 001. Klik symbol atau open output pada toolbar symbol pada work area pada baris ketiga blok ketiga. 16. dan berikan alamat 610 . Klik pada selection tools. kemudian masukan alamat / addres yang sama dengan internal relay. Klik pada toolbar symbol dan Klik pada work area baris kedua blok pertama.

masukan Function END pada bris terakhir. Ketika sensor 1 tercelup oleh air pompa berhenti sehingga volume air secara perlahan turun. Saat air menyentuh sensor 2 pompa air masih hidup dan pengisian air terus berlanjut sampai sensor 1 . sehingga akan muncul dialog form dialog. 19. Sistem kerja pengisian air otomatis 611 . Tempatkan pada area kerja. Hubungkan blok pertama dan ketiga pada baris ketiga dengan garis horizontal pada toolbar symbol.18. Awalnya tangki dalam keadaan kosong. 3. 18.17. Beberapa saat kemudian sensor air volume air terus menurun sehingga kini sensor 1 dalam keadaan bebas atau tidak tercelup air dan pompa masih terus hidup.3 Pengisian tangki air otomatis Sistem pengisian tangki air secara otomatis dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini. pompa air hidup sehingga mulai mengisi air dari keadaan awal kosong. Sensor 2 Sensor 1 Pompa air Gambar 47. Sampai ketinggian air menyentuh sensor 2 pompa kembali menyala dan terus berulang.

Perlu diperhatikan bahwa sistem di atas memiliki input dan output (i/o) sebanyak tiga bagian dengan dua input dan satu output. 00000 00001 10000 10000 END Gambar 48.Langkah selanjutnya adalah membagi alamat input dan output pada Programmable Logic Control (PLC). Tabel 6. 2.00 Setelah dibuat alamat pada input dan output PLC selanjutnaya adalah membuat diagram ladder. Input terdiri dari sensor 1 dan sensor 2. Isikan alamat untuk sensor atas 612 . Daftar alamat pada input dan output Addres Output Addres 000. Tempatkan pada work area.00 000. Pada kasus di atas menggunakan alamat-alamat PLC jenis OMRON. sedangkan output berupa pompa air. kemudian muncul form dialog box untuk pengisian addres / alamat 3.01 Pompa air 001. Klik gambar closed contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.00 Input Sensor 1 Sensor 2 Internal relay 010.4 1. Diagram ladder Contoh pembuatan diagram ladder pada progam computer jenis syswin 3.

5. setelah terlihat gelap klik pada vertical line dan klik pada blok kedua baris pertama sehingga akan timbul garis penghubung ke bawah.01). Klik kembali closed contact pada toolbar simbol dan Klik pada work area samping ladder pertama. Klik pada selection tools. Tempatkan pada work area baris kedua blok pertama kemudian muncul form dialog bok untuk pengisian addres / alamat 613 . Klik symbol atau open output pada toolbar symbol sebelah ladder kedua. Isikan alamat output. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.Tempatkan pada area kerja.4. kemudian Klik pada blok kedua yang kita buat (alamat 000.00 7. sehingga akan muncul form dialog. 9. 6. sesuai dengna ladder yang telah kita tentukan yaitu 010. 8. kemudian masukan alamat / addres yang berbeda dengan address sensor .

03 010.4 Alarm dan sistem penyalan lampu Suatu pabrik tiap pukul 07. 614 .00 010.02 Lampu ruang kerja 000. Alamat input dan output PLC Alamat Output 000.10.30 Jam 11. Kemudian pada pukul 11. Lampu lingkungan perusahaan akan menyala pukul 17.00 Alarm 000.01 Lampu ruang kantor 000. Input Jam 07. 11.30 sebagai tanda jam bekerja telah berakhir.02 010.04 Pada tabel di atas kita menjadi mengerti alamat masing masing input dan output PLC.01 010.30 Jam 16.00.30. 3.30 Jam 12.4 dapat disesuaikan dengan contoh program syswin di atas.30 alarm berbunyi untuk waktu istirahat dan pukul 12.03 Lampu lingkungan 000.30 membunyikan alarm yang menandakan karyawan untuk masuk bekerja bersaman dengan alarm yang berbunyi lampu dalam kantor dan lampu ruang kerja secara otomatis akan menyala dan lampu llingkungan perusahaan akan padam.18. masukan Function END pada bris terakhir. Isikan alamat yang sama dengan output yaitu 01. open contact disini berfungsi sebagai internal relay sebagai proses latching atau self holding. Alamat input di tentukan dengan waktu dan alamat output di hubungkan dengan lampu dan alarm.30 Table 7.04 Alamat 010. Alarm akan berbunyi lagi pada pukup 16.30 Jam 17. Pengaplikasian pada program syswin 3.30 alarm berbunyi tanda masuk kembali.

01 001.05 T000 #50 010.03 000.04 000.01 000.02 000.00 000.00 000.02 000.01 000.03 000.03 END Gambar 49.03 010.00 000.00 000.000.05 000.04 000. Diagram Ladder aplikasi sistem alarm 615 .

Device masukan merupakan perangkat keras yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada modul masukan.. Programmable Logic Controllers (PLC) Pada dasarnya PLC (Programmable Logic Controllers) merupakan sistem relay yang dikendalikan secara terprogram. and load. Device masukan program berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan atau mengisikan program ke dalam prosesor PLC yang disebut dengan pengisi program (program leader). 1. Instruksi-instruksi dasar PLC adalah load dan load not. Cara kerja PLC dapat dilihat pada diagram berikut : . PLC terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). jadi otomasi menghemat tenaga manusia. timer dan counter. Ladder logic adalah bahasa program dengan bahasa grafik atau bahasa yang digambar 616 ... out dan out not. Rangkuman IX Otomasi adalah mengubah penggerakan atau pelayanan dengan tangan menjadi penggerakan oleh tenaga asing (tanpa perantaraan tenaga manusia) secara otomatik. and dan not and. Dalam sebuah program tentunya mempunyai cara atau perintah-perintah khusus. or dan not or.. Modul masukan adalah bagian dari sistem PLC yang berfungsi memproses sinyal dari device masukan kemudian memberikan sinyal tersebut ke prosesor. PLC dilengkapi dengan port masukan (inputport) dan keluaran (outputport). or load.4.

Device keluaran adalah komponen-komponen yang memerlukan sinyal untuk mengaktifkan suatu komponen. Sebutkan dan jelaskan instruksi-instruksi dasar pada PLC ! b. modul keluaran sebagai sakelar yang menyalurkan catu daya dari catu daya luar ke device keluaran. Sebutkan perangkat-perangkat keras PLC dan jenis-jenis PLC berdasarkan IO yang dimiliki? c. Gambar diagram leadernya dan jelaskan cara kerja sistem tersebut? 617 . 5.secara grafik. Berikan contoh penggunaan sistem PLC selain contoh-contoh di atas. Soal Formatif a.

618 .

enuh. Robot siap menggantikan tenaga manusia Fenomena tersebut semakin dirasakan oleh dunia industri yang mengandalkan pada tenaga kerja masal. Kenyataan dilapangan menunjukan bahwa penggunaan tenaga kerja masal memiliki beberapa kelemahan. demonstras i. Dahulu orang bepergian dengan berjalan kaki. dan menuntut upah besar. kesehatan. Awalnya industri tertarik pada ongkos tenaga kerja yang murah. maka orang cukup dengan duduk dan mengendarai susuai dengan keinginannnya. selain tenaga kerja manusia tersedia dalam jumlah banyak juga industri tidak perlu membeli mesinmesin yang harganya sangat mahal. tidak menunutut gaji tinggi dan tidak akan demo menunutut kenaikan gaji/upah buruh. Tenaga kerja menjadi andalan bagi kelangsungan proses produksinya. lelah. tidak mengenal jenuh. Meningkatnya kebutuhan manusia telah berupaya berfikir bagaimana agar pekerjaan yang selama ini dikerjakan oleh manusia dapat digantikan oleh mesin yang dapat bekerja 24 jam.BAB X TEKNOLOGI ROBOT 1. seperti. emosi yang labil. Gambar 1. dengan diciptakannya mobil. antara lain: a) memiliki keterbatasan yang manusiawi. dan j sebagainya. selanjutnya menggunakan hewan. Teknologi yang dapat berkembang biasanya teknologi yang dapat mempermudah kehidupan manusia. Tenaga kerja juga memiliki keterbatasan yang bersifat manusiawi seperti 619 . Penggunaan tenaga kerja manusia juga memiliki resiko pemogokan masal. Pengenalan Robot Kemajuan sains dan teknologi dewasa ini telah dirasakan membuat kualitas hidup manusia semakin baik.

Robot dapat digunakan secara rutin terus menerus tanpa merasakah kebosan atau digunakan pada lingkungan yang sangat berbahaya. Karel Capek (1890-1938) memperkenalkan istilah robot dengan membuat seperangkat mesin yang diberi nama Rosum’s Universal Robots (RUR). Peralatan tersebut berkembang secara pesat. Kemudian diawal abad ke 20 ilmuwan Cekoslowakia. Belajar dari kelemahan-kelemahan di atas maka manusia terpacu untuk membuat mesin yang dapat menggantikan fungsi tenaga kerja manusia. elektrik. Kelemahan tersebut akan berdampak pada kualitas dan kuantitas produk terganggu. Istilah robot berasal dari rusia. mengelas dan lain-lain. yaitu dari k ata robota yang berarti tenaga kerja/buruh. peleburan. pneumatik hingga berkembang menjadi robot-robot industri. Penggunaan robot pada sebuah laboratorium 1. Sehingga untuk mempelajari bagian selanjutnya kita tidak akan menemukan kesuilitan untuk mendefinisikan. Adapun beberapa istilah yang dimaksud antara lain: 620 . bidang kedokteran sebagai peralatan operasi otomatis. Sebagai contoh dalam industri nuklir.1 Istilah Robot Sebagai pemahaman awal maka perlu diketahui beberapa istilah dasar dari robot. robot harus digunakan karena radiasi nuklir sangat berbahaya bagi manusia. Di bidang sosial robot banyak membantu sebagai pengganti bagian tubuh yang mengalami kecacatan fisik. pengecatan dan telah digunakan pada bidang militer sebagai peralatan penjinak bom.istirahat yang cukup. menggeser. pergi ke Toilet dan berbagai keperluan yang bersifat pribadi. Menurut National bureu of Standar robot adalah Aplikasi robot sebagian besar pada bidang industri bertujuan untuk meningkatkan produktivitas produksi. seperti mengangkat. Gambar 2. pengelasan. baik secara mekanik. Robot digunakan pada industri perakitan.

Apendage Apendage Base Gambar 3. Kontroler membentuk sistem kontrol yang akan menentukan input dan output suatu robot. memilki banyak fungsi yang didesain untuk memindahkan material.Robot : Kontroler : Manipulator : Joint Open loop : : Peralatan yang dapat diprogram ulang. menjangkau objek. yaitu bagian dasar dan bagian tambahan. Lengan yang memberikan gerakan robot untuk memutar. tetapi sifatnya tidak harus ada. sehingga suatu peralatan tidak dapat mengenali kesalahan sebagai pembanding kerja selanjutnya. dan Power (daya). Efektor sering ditemukan pada beberapa sistem robot.2. melipat. Komponen dasar manipulator robot 621 . yaitu : Manipulator. 1. Gerakan ini di sebut dengan derajat kebebasan robot atau jumlah sumbu yang ada pada robot. manipulator terdiri dari beberapa segmen dan sambungan (joint). peralatan atau peralatan khusus Suatu peralatan yang bertugas sebagai penendali dari gerakan robot. kontroler. Feedback digunakan pada close loop (lup tertutup) 1.1 Manipulator Manipulator memiliki dua bagian.2 Komponen Dasar Sistem robot memiliki tiga komponen dasar. Gambar 3 memberikan gambaran tentang bagian dasar dan bagian tambahan. suku cadang (part). Joint atau sambungan merupakan hubungan antara lengan (arm) dengan lengan yang lain sehinga dipisahkan oleh sumbu (axis) Lup terbuka adalah suatu sistem kontrol yang tidak memiliki feedback atau umpan balik.

hidrolik ataupun pneumatik. Bagian tambahan merupakan perluasan dari bagian dasar. Rel berfungsi sebagai path atau alur sehinga memungkinkan robot untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam satu area kerja. memberikan gambaran sebuah kontroler dan manipulator robot. dalam hal ini data gerakan robot yang telah diprogram sebelumnya. Manipuator digerakkan oleh actuator atau disebut sistem drive. Gambar 4 .2 Kontroler Kontroler merupakan jantung dari sistem robot sehingga keberadaanya sangat penting. dan sangat sederhana. Dahulu kontroler dibuat dari drum mekanik yang bekerja step by step secara sequential. Kontroler menyimpan informasi yang berkaitan dengan data-data robot. Gambar 4. Dimasa sekarang kontroler menggunakan PLC (programmable logic kontrol) yang dapat bekerja dengan pergerakan yang sangat kompek dari sistem robot. bisa disebut juga lengan/arm. Kontroler berfungsi untuk mengontrol pergerakan dari manipulator.2. Bagian actuator ini akan dijelaskan pada selanjutnya. Data dalam memori dapat di keluarkan atau di edit sesuai dengan yang dibutuhkan.Bagian dasar manipulator bisa kaku terpasang pada lantai area kerja ataupun terpasang pada rel. Actuator bisa menggunakan elektrik. Informasi tersebut kemudian disimpan didalam memori. Kontroler sendiri diatur oleh sebuah informasi atau program yang diisikan dengan menggunakan bahasa pemgrograman tertentu. Actuatuator atau sistem drive menyebabkan gerakan yang bervariasi dari manipulator. 1. Robot dan kontroler 622 . Bagian ujungnya terpasang efektor yang berfungsi untuk mengambil/mencekam material.

2. Catu daya pneumatik Gambar 5b. pneumatik.1. hidrolik ataupun ketiganya. Bagian kontroler menggunakan elektrik sedangkan bagian manipulator bisa menggunakan elektrik.3 Power Suply (Catu Daya) Power supply adalah sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat bekerja. 5b dan 5c memberikan keterangan tentang power supply. Catu daya listrik 623 . Gambar 5a. Catu daya hidrolik Gambar 5c. yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. Gambar 5a.

dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan. penyemprot cat ataupun hanya berupa penjempit objek. Efektor robot Efektor jika disamakan dengan manusia seperti jari-jari tangan yang dapat digerakan untuk memindah/mengangkat materilal ataupun peralatan yang dapat digunakan untuk mengelas. elektrik. 624 . mengecat. Gambar 6. menempa. walaupun keadaannya bukan merupakan komponen dasar dari sistem robot. pneumataik (grifer). mengisi botol.2. Sebagai contoh efektor dapat berupa peralatan las. maupun hydrolik. Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot.4 Efektor Efektor dapat ditemukan hampir semua aplikasi robot. Kerja efektor dapat berupa mekanik.1.

. Base manipulator jenis kaku 1. Axes kontrol menggunakan feedback sehingga gerakannya tergantung dari gerakan terakhir dan umpan balik sistem.1. Gambar 7. Sumbu ini akan menentukan derajat kebebasan atau kebebasan bergerak dari robot. Sumbu (axes) Karakteristik pertama dari teknologi robot adalah seberapa banyak sumbu yang dapat ditemukan dalam sebuah robot. yaitu a.4 Tingkatan Teknologi Robot memiliki tiga tingkatan/level teknologi. yaitu: Rendah (low) teknologi. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri yang sangat unik sehingga sangat jelas perbedaan antara ketiga level tersebut. b. Payload (muatan) Payload adalah kapasitas beban yang dapat dikerjakan oleh manipulator. Semakin berat beban yang dapat dikerjakan oleh manipulator maka semakin tinggi teknologi robot. Secara sistem kontrol. yaitu gerakan base travel dan gerakan axes kontrol.3 Gerakan Robot Gerakan robot dapat diklasifikasikan menjadi dua. medium teknologi dan teknologi tinggi (high technology). Kapasitas berat diukur dari batas antara efektor dan manipulator. Tingkatan teknologi robot dapat dibedakan dengan mengetahui karakteristik masing-masing robot. 625 . Gerakan base travel dapat di aplikasikan ke dalam base manipulator yang kaku pada lantai ataupun bebas dalam alur (path). base travel dapat dikategorikan kedalam lup terbuka sehingga tidak ada feedback dalam sistem.

Apabila suatu robot melakukan kerja pertama dengan posisi pada bidang kartesian x.1 Low Teknologi Robot teknologi rendah (low technology) digunakan dalam lingkungan industri untuk pekerjaan yang tidak memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. semakin pengggerak (drive) memiliki payload yang besar maka semakin tinggi teknologinya. Kontroler Dua hal yang penting dari kontroler adalah memori dan sistem kontrol.4. § Akurasi Berkisar antara 0. y dan z yang sama pula. yaitu x-0.001. Sumbu gerakanya bisaanya naik dan turun.05 sampai 0.c. seperti pada material handling (penanganan material). § Axes Robot hanya memiliki maksimal 4 sumbu gerakan dan bisaanya gerakan akhir dikontrol oleh mekanik bukan sensor yaitu bisa berupa limit switch. f. y dan z. e. Aktuasi Aktuasi dibedakan menurut jenis penggerak yang digunakan oleh robot. Kerja selanjutnya robot melakukan kerja dengan bidang kartesian x. operasi tekan. § Payload Robot teknologi rendah memiliki kapasitas beban diantara 3 – 13 kg. Aktuasi berkaitan dengan payload.001 mm pada bidang kartesian x. Siklus waktu akan mempengaruhi kecepatan dari proses produksi suatu industri. Siklus waktu tergantung pada payload dan panjang dari lengan manipulator. Semakin tinggi siklus waktu yang dimiliki robot maka semakin tinggi tingkat teknologi. d.025 mm. 626 . Bisa berupa pneumatik. § Aktuasi dapat menggunakan 3 dari penggerak (pneumatik. Masing masing tergantung dari payload yang di kerjakan pada robot. hydrolik dan elektrik). Cycle time (siklus waktu ) Siklus waktu adalah waktu yang dibutuhkan oleh robot untuk bergerak dari lokasi satu ke lokasi lainnya. Semakin besar informasi yang dapat disimpan dalam memori maka semakin tinggi teknologi robot. Robot ini memiliki hanya satu pekerjaan khusus secara terus menerus. hidrolik atau elektrik. Sedangkan sistem kontrol dapat dibedakan antara loop terbuka dan loop tertutup yang masing masing akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. dan operasi perakitan. Akurasi (ketelitian) Akurasi adalah posisi robot dalam melakukan kerja secara berulang kali. 1. y dan z secara berulang kali. Sampai pada kerja yang ke 1000 robot mulai kehilangan akurasi 0.

2 Teknologi Medium Robot dari jenis ini memiliki fitur yang lebih canggih dari jenis sebelumnya. Open loop tidak bisa mengendalikan kesalahan yang terjadi dalam lingkungan karena tidak memiliki umpan balik (feedback). Robot jenis ini memiliki tugas yang lebih komplek dan adanya wrist dapat meningkatkan Cycle time operasi robot.4. Wrist adalah suatu peralatan sebagai dudukan dari efektor. Robot dapat menangani beban melalui wrist sampai 150 kilogram. Robot jenis medium teknologi memiliki sumbu yang lebih 627 . Didalam wrist bisa diletakkan bermacam macam efektor.0 detik dengan pencapain gerakan manipulator 25 sampai 65 centimeter.§ Kontroler Menggunakan sistem kontrol terbuka (open loop) dan memiliki kapasitas memori yang kecil. Dilengkapi dengan wrist pada ujung lengannya. press (tekan) dan sebagainya. § Cycle Time Cycle time 1. Robot low technology 1. cat. Pada gerakan berputar dapat mencapai 150 centimeter / detik. Hubungan antara akurasi dengan kerja yang komplek menimbulkan tingkat akurasi yang menurun. § Payload Robot memiliki memiliki kapasitas maksimal beban yang lebih tinggi dari low teknologi. efektor las. sebagai contoh. § Sumbu Robot memiliki 4 sampai 6 sumbu sehingga derajat kekebasan robot lebih tinggi. Payload Sumbu Kontroler Gambar 8. Memiliki lebih banyak sumbu pada manipulatornya dan memiliki area kerja yang luas sehingga jangkauan gerakannya menjadi lebih besar.

Robot las pada jalur perakitan Gambar 10.2 milimeter hingga mencapai 1. Memiliki memori yang cukup besar dan sistem kontrol menggunakan loop tertutup. Akurasi robot jenis medium teknologi berkisar 0. Robot dalam proses manufactur 628 . sehingga apabila ada kesalahan pada lingkungan maka robot dapat membandingkan antara input dan output untukmenentukan kerja selanjutnya Gambar 9.§ Aktuasi § Kontroler banyak karena tugasnya yang semakin komplek sehingga akurasi dan pengulangan pergerakan bernilai lebih rendah dari jenis robot teknologi rendah yang memiliki sumbu sedikit.3 milimeter. Hal tersebut disebabkan beban yang dikerjakan lebih berat. Robot memiliki 2 jenis penggerak yaitu hidrolik dan elektrik.

manipulator. Tipe aktuasi dengan menggunakan penggerak elekrik dan hidrolik.0 2. lup tertutup Sumbu Payload Cycle time Akurasi Aktuasi Kontroler 2. Masingan ….4. Gerakan tersebut diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian. Manipulator bergerak dalam jangkauan area tertentu yang disebut dengan kerja jangkauan. Operasi dan Fitur Manipulator Bagian sebelumnya telah kita definisikan tentang komponen dasar robot. Memiliki payload sampai 150 kilogram dan cycle time dan akurasinya hampir sama dengan robot jenis medium. penggerak. dan sumber power . Robot jenis ini memiliki sumbu hingga mencapai 16 atau bisa melebihi. Masing masing penggerak (drive) memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing. press transferring. Elektrik dimaksudkan mudah dalam menentukan posisi sedangkan hidrolik dimaksudkan untuk tugas yang sangat berat. wrist. Bagian ini akan menjelaskan tentang operasi dan fitur dasar dari manipulator yaitu gerakan sumbu lengan. bisa berupa pneumatik. pengelasan. Manipulator digerakan oleh penggerak. 629 . jangkauan area dan penghubung Geometri lengan manipulator dibagi menjadi empat sistem koordinat yaitu: kartesian koordinat.05 – 0025 2 – 1.3 Pneumatik. silindrikal koordinat dan artikulasi koordinat. yaitu : kontroler. polar d artikulasi koordinat. hidrolik dan elektrik. 2. Memori open loop sedang. Secara ringkas data dari jenis teknologi robot dapat di rangkum dalam table berikut dibawah ini : Tabel 1.1 Sistem Koordinat Lengan Robot (Arm Geometry) Sumbu robot bergerak dalam rangka untuk menyelesaiakan suatu kerja.4 Hidrolik dan elektrik Memori besar. Properties teknologi robot Rendah Medium 2–4 5–6 3 – 13 14 – 150 5 .10 1. – 0. Kerja jangkauran manipulator dihitung dengan kebebasan mutlak atau tidak adanya penghalang. Masing-masing komponen harus ada pada sebuah sistem robot agar robot dapat bekerja dengan baik. silindrikal.1. lup tertutup Tinggi 7 – 16 150 lebih 1. polar koordinat. pengecatan.0 0.3 Robot Teknologi Tinggi Robot dengan teknologi tinggi dapat kita temui pada material handling. Hidrolik dan Elektrik elektrik Memori rendah. hidrolik.

antara lain:. translasi. robot ini dalam setiapgerakannya selalu melakukan rotasi pada lengan-lengannya (lihat gambar 11. c) gerakan lengan robot full rotasi (FR). dan 14). b) gerak rotasi. semua gerakan lengan dalam bentuk lurus (lihat gambar 12). diawali dengan rotasi selanjutnya lengan robot bergerak translasi dan translasi (lihat gambar 13).masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator. a) translasiara lain: gerak full translasi (FT). Gerak Robot Total Translasi (TT) 630 . Sistem Persumbuan Robot Gambar 12. translasi (RTT). Pergerakan ini disebut dengan geometri lengan (arm geometry). Gambar 11. Sitem pergerakan lengan robot dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian.

X. Manipulator bergerak melalui ruang hanya melalui bidang X. Y dan bidang Z di identifikasi sebagai gerakan manipulator. masing-masing bidang tersebut dihubungkan dengan gerakan lengan manipulator dari titik awal sehingga akan membentuk suatu titik tertentu dengan gerakan lurus vertical maupun horizontal. Gambar 15. Gerak Robot Full Rotasii. 631 . bidang X bidang Y dan bidang Z. Translasi (RTT) Gambar 14. koordinat kartesian di kenal dengan tiga sumbu dasar. Y dan Z sebagai sarana untuk mencapai target.Gambar 13. Gerak Robot Rotasi. .Translasi. menjelaskan tentang tiga sumbu dasar pada sistem koordinat kartesian.1.1 Koordinat Kartesian Sesuai dengan sudut pandang matematika. Translasi (RTT) 2.

sedangkan R membentuk gerakan horizontal atau maju dan mundur.2 Silindrikal Koordinat Koordinat silinder membentuk tiga derajat kebebasan atau tiga sumbu yaitu ? (theta) atau sumbu rotasi. Aplikasi koordinat kartesian 2. Daerah ini berfungsi sebagai operasi keamanan robot apabila terjadi kesalahan gerakan. ? (theta) atau gerakan rotasi biasanya memiliki sudut 3000. Bidang R dan bidang Z membentuk gerakan horizontal (maju. turun). mundur) dan vertica l(naik. sehingga tidak menimbulkan kerusakan akibat benturan. 632 . Pada sebagian aplikasi koordinat silindrikal yang diterapkan pada sistem robot. Gerakan tersebut disesuaikan dengan kerja robot. Masing masing gerakan tersebut membentuk volume silinder sehingga disebut koordinat silinder. sisa sudut 600 disebut dead zone atau daerah mati. Bidang Z membentuk gerakan naik dan turun atau vertical.Gambar 15.1.

3 Koordinat Polar Koordinat polar memiliki tiga sumbu yaitu ? (theta) atau gerakan rotasi. Apabila antara theta dan beta dibalik posisi.Gambar 16.1. Prinsip Koordinat silindrikal dan aplikasinya 2. Gambar 17 menunjukan gerakan sumbu polar. yaitu sumbu beta diletakan berbatasan dengan base manipulator dan maka sumbu R akan menjadi sumbu Z atau bergerak secara vertical Gambar 17. Sumbu ? (theta) dan sumbu R memiliki persamaan sumbu ? ( theta) dan sumbu R pada koordinat silindrikal. Sistem koordinat ini juga disebut sebagai sistem spherical atau sistem bola karena jangkauan area dari robot membentuk volume bola. Prinsip koordinat polar dan aplikasinya 633 . gerakan ß (beta) atau gerakan melingkar dan sumbu R gerakan horizontal.

hidrolik dan elektrik. perbedaanya terletak pada fluida yang digunakan. Koordinat artikulasi yang memiliki gerakan rotasi yang dihasilkan dari sumbu ? (theta).3 Sistem Pengerak Manipulator Untuk bisa beroperasi / bergerak maka manipulator membutuhkan sistem penggerak. pada sistem robot terdapat tiga jenis sistem penggerak.2 Penggerak Hidrolik Penggerak hidrolik digunakan 45 % dalam industri robot. Pada hidrolik menggunakan 634 . Pneumatik digunakan untuk menggerakan sumbu dengan mengalirkan udara bertekanan. yaitu : pneumatik. Koordinat ini memiliki 2 sumbu yang dapat melipat yaitu pada sumbu W dan sumbu U.3.1. penggerak ini tidak dapat digunakan. 2. Masing-masing gerakan memiliki keterbatasan. terdapat 30% penggunaan sistem penggerak pneumatik. 2. Udara tersebut masuk ke dalam silinder pneumatik dan menggerakan mekaniknya.2 Rotasi Wrist Dari keempat koordinat sistem yang telah kita pelajari menjelaskan tentang gerakan manipulator dalam sistem robot. Sumbu U berputar vertikan seperti sumbu W. Penambahan dari sumbu pada wrist ini memberikan pergerakan yang sangat fleksibel untuk robot. 2. sehingga untuk sistem robot yang membutuhkan muatan yang besar. Masing-masing sumbu bisa dibuat ganda. Penambahan wrist juga meningkatkan luar area jangkauan robot. Sumbu W memberikan pergerakan seperti sumbu ß (beta) yang terdapat pada koordinat polar.3. sehingga koordinat ini menjadi lebih fleksibel dan banyak digunakan dalam industri. Dalam mendesain wrist tergantung pada kebutuhan aplikasi robot.4 Koordinat Artikulasi Koordinat artikulasi adalah koordinat yang terdiri dari tiga sumbu yaitu : ? (theta). Penggerak ini bekerja hampir sama dengan pneumatik. Pada bagian atasnya terdapat sumbu W yang bergerak rotasi vertical. sebagai contoh desain wrist dengan dua roll dan tidak memiliki pitch atau dua pitch dan satu dua roll dan dua yaw. sehingga apabila gerak rotasi antara sumbu U dan sumbu W digabungkan akan membentuk gerakan yang sangat fleksibel. Kelemahan dari sistem penggerak ini adalah terbatasnya jumlah muatan / payload yang dapat diterima.1 Penggerak Pneumatik Dalam industri robot. Maka penambahan wrist (pergelangan tangan) pada ujung lengan memberikan tambahan mobilitas untuk gerakan robot. Sistem pneumatik ini lebih murah dibandingkan dengan sistem penggerak hidrolik maupun elektrik. 2.2. sumbu W (lengan atas) dan sumbu U (siku).

sistem ini memiliki harga yang sangat mahal. Penggunaan sistem penggerak hidrolik memiliki dua kerugian. Jangkauan kerja membentuk cabikan seperti bulan sabit. pengecoran dan pengecatan. sehingga dapat meningkatkan jumlah beban.4 Jangkauan Kerja Hal yang paling penting untuk diketahui adalah seberapa jauh robot dapat menjangkau objek. apabila terjadi kebocoran pada sistem. Gigi reduksi juga berfungsi untuk meningkatkan tenaga putaran yang dibutuhkan robot. Gambar di bawah ini menunjukan jangkauan kerja dari sistem koordinat artikulasi pandangan samping.karena menggunakan sistem derajat pada putarannya. Pencapaian robot dalam menjangkau objek disebut dengan jangkauan kerja.3. Manipulator penggerak hidrolik digunakan pada aplikasi las. Penggunaan motor stepper atau motor langkah dapat memberikan akurasi kerja robot. jangkauan kerja koordinat silindrikal adalah silindrikal.3 Penggerak Elektrik Penggerak elektrik menggunakan motor AC maupun DC. 2. Kedua. Koordinat kartesian memiliki jangkauan empat persegi pangjan (rectangular). hal ini terjadi karena desain robot memiliki fungsi yang komplek pada bagian bawah dibandingkan dengan baign atas. maka fluida/cairan akan mengotori lantai dan dapat menyebabkan kondisi yang tidak aman. Silinder terhubung dengan sumbu manipulator sehinnga timbul gerakan pada actuator. jangkaun kerja koordinat polar adalah bola (spherical). Pertama. Motor ini dihubungkan ke sumbu manipulator dengan memakai gigi reduksi untuk mengurangi jumlah putaran. 2. 635 . Penggerak elektrik dapat bekerja dengan beban dengan berat sekitar 3 sampai 80 kilogram. Penggerak hidrolik mempunyai kemampuan lebih besar dari muatan yang dapat diterima oleh penggerak pneumatik. sedangkan jangkauan kerja koordinat artikulasi adalah bentuk cabikan (tearshape). Masing masing jangkauan kerja berbeda tergantung dari koordinat geometri yang pernah kita pelajari terdahulu.cairan (minyak) untuk menggerakan silinder hidrolik.

Jangkaun kerja koordinat silindrikal Gambar di bawah menunjukkan jangkauan kerja sistem koordinat melalui pandangan atas. Daerah mati atau 636 . sehingga jangkauan kerja antara kanan dan kiri membentuk sudut 142. Jangkauan kerja koordinat silindrikal pandangan atas Gambar di bawah menunjukkan jangkauan kerja dari sistem koordinat silindrikal pandangan samping.50. Dapat kita lihat deadzone (daerah mati) terletak pada bagian belakang robot dan membentuk sudut 750. Gambar 19. Robot pada contoh tersebut memiliki titik awal pada ketinggian 700 milimeter di atas lantai dan memiliki jangkauan kerja atas setinggi 500 milimeter.Gambar 18. Jangkauan kerja membentuk sudut 2850 dengan titik awal pada 00.

637 . ke arah depan sepanjang 500 milimeter. Mulai …. daerah mati sebesar 600. Gambar 20. jangkauan kerja sumbu R. Jangkauan kerja robot sisi samping Gambar di bawah memperlihatkan jangakaun kerja robot sisi atas. Jangkauan kerja sisi atas 3. Robot memiliki jangkauan kerja sebesar ±1500. Aplikasi Robot Terdapat banyak aplikasi robot kita temukan di dunia industri.dead zone merupakan daerah yang tidak bisa dikerjakan oleh operasi robot. bahkan sebagian besar industri sudah menerapkan teknologi ini. Gambar 21.

Material handling/penanganan material sering dilakukan pada semua jenis industri. Contoh aplikasi material handling adalah ketika sebuah material yang berjalan pada konveyor setiap beberapa detik harus dikeluarkan dan ditempatkan pada lokasi yang berbeda. Material tersebut harus berpindah dengan posisi yang tepat dan dalam waktu yang tepat pula.1 Penanganan Material Salah satu aplikasi yang paling banyak digunakan dalam indsutri adalah proses dimana material-material harus dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainya. 3.dari industri perakitan. Penerapan robot pada proses material handling sangat menguntungkan dari segi waktu dan akurasi. robot digunakan sebagai perubah batang uranium sehingga tidak menimbulkan radiasi pada manusia. Beberapa robot yang dilengkapapi dengan sensor. Aplikasi di atas sebelum ditemukannya sistem robot. Robot berfungsi memindahkan material tersebut dengan waktu yang akurat pada lokasi yang tepat. Robot material handling Pada gambar diatas menunjukan operasi material handling pada sebuah area kerja. Pada reaktor nuklir. menggunakan tenaga manusia sehingga kurang efektif dan efisien. Bila terjadi keterlambatan waktu dalam pemindahan material maka material yang lain akan menumbuk dibelakang material sebelumnya. Proses tersebut dinamakan material handling atau penanganan material. Proses ini memindahkan material dari satu lokasi ke lokasi lainya. Area kerja Gambar 22. robot digunakan sebagai peralatan yang berfungsi untuk bekerja secara terus menerus dan berulang dengan model yang sama. Robot las pada industri kendaraan bermotor melakukan pengelasan pada t tik-titik tertentu secara terus-menerus i tanpa rasa kebosanan dan sakit seperti halnya manusia. Robot seperti ini memberikan manfaat pada tempat yang memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi. Konveyor memindahkan material dari lokasi 638 . robot akan mendeteksi setiap material yang melewati ataupun menyentuh sensor.

area kerja lain menuju area kerja sebuah robot material handling. Line Tracking 639 . Robot memindahkan lokasi material dari lokasi konveyor lama menuju konveyor baru yang akan diproses pada area kerja yang lain. Robot palletizing 3.1 Palletizing Palletizing yaitu apabila suatu robot dalam industri melakukan kerja dengan memindahkan material dari satu lokasi ke lokasi lainnya tanpa robot melakukan gerakan berpindah tempat.1. tertanam pada lantai ataupun pada posisi yang tidak dapat berubah posisi. 3.1. Pergerakan manipulator tersebut bisa menggunakan mekanisme rel atapun roda. Pada gambar tersebut juga diperlihatkan tentang jangkauan robot pada material. Manipulator robot harus bisa menjangkau material dari konveyor untuk di pindahkan pada konveyor yang lain.2 Line Tracking Berbeda dengan palletizing. Pada palletizing. palletizing dan line tracking. Aplikasi robot material handling di bagi menjadi dua. posisi base manipulator kaku. Gambar 24. Gambar 23 menunjukkan proses palletizing Gambar 23. robot material handling dengan tipe line tracking memiliki base manipulator yang dapat bergerak.

Robot telah mengetahui kemana akan pergi dan mengambil komponen. Proses perakitan menggunakan baut. Gambar 25. • Komponen dilokasikan pada posisi yang diketahui oleh robot. sekrup ataupun keling. Teknologi untuk melakukan pengecatan ini dapat secara manual maupun secara otomatis. Untuk melokasikan komponen tersebut.3. Robot perakitan dengan pelangkap kamera 3. Sistem visi dari robot digunakan sebagai sensor input untuk tujuan mengambil komponen. robot menggunakan sensor untuk memberi petunjuk tentang lokasi komponen dan mengambilnya untuk diletakan pada lokasi baru. yaitu : • Uap dan kabut pada udara.3 Pengecatan Sebagian besar produk industri dari material besi sebelum dikirim ke bagian penjualan harus terlebih dahulu dilakukan pengecatan sebagai akhir dari proses produksi. yaitu dengan menggunakan robot. ada beberapa cara yang dilakukan robot untuk melakukan proses tersebut. Cara ini mirip dengan cara kedua perbedaan terletak pada orientasi robot. mur. • Komponen dilokasikan pada posisi dan orientasi yang jelas. 640 . Fungsi ini sangat bermanfaat bagi industri karena lebih efektif dan efisien untuk mempercepat produksi. Penggunaan proses ini secara manual dapat menimbulkan keadaan berbahaya. komponen yang akan dirakit harus lokasikan pada sekitar robot. Cara ini. Dalam rangka melaksankan tugas perakitan. • Komponen dilokasikan dengan area tertentu.2 Perakitan Robot assembly menggabungkan beberapa komponen untuk menjadi komponen baru atau menggabungkan komponen sub assembly menjadi komponen sub assembly yang lebih kompleks.

Robot ini banyak digunakan pada produk industri seperti bodi mesin. Pada penggunaan robot ini. Gambar 26. Melakukan proses pengecatan secara manual memberikan dampak negative berupa kebakaran. Hal tersebut dikarenakan tenaga manusia memiliki beberapa aspek yang dapat menyebabkan pekerjaan menjadi tidak konsisten seperti : kebosanan dan sebagainya. perbandingan kualitas dari hasil pengecatan antara tenaga manusia dengan robot sangat kontras. produk porselin dan berbagai macam produk dalam industri. Pada proses pengecatan manual. sehingga pertukaran udara menjadi lebih baik. alat penyemprot menghasilkan suara yang gaduh yang keluar dari nosel. bodi kendaraan dan komponen lain pada bidang otomotif. kabut hasil pengecatan akan mudah terhirup sehingga akan menimpulkan potensi kanker dari pekerja. keracuanan dan sebagainya. • Mengurangi pemakaian material cat. produk kayu olahan seperti mebel. Jenis robot aplikasi dalam pengecatan 641 . Suara tersebut dapat menimbulkan gangguan pendengaran bagi telinga manusia • Resiko kebakaran. Keutungan dari penggunaan robot pengecat adalah : • Mengganti operator dari lingkungan yang berbahaya. kabut yang dihasilkan dari proses pengecatan merupakan materi yang mudah terbakar sehingga potensi untuk terjadinya kebakaran. • Konsisten dalam menyelesaikan pekerjaan. maka penggunaan robot sebagai peralatan untuk prooses pengecatan merupakan alternative yang sangat bermanfaat bagi industri. ventilasi lingkungan harus dijaga dalam keadaan yang segar. • Pemakaian energi yang rendah. Energy dibutuhkan untuk mengontrol proses ini sehingga dengan robot ini akan mengurangi penggunaan energi. Oleh karena berbahayanya sistem pengecatan secara manual. • Potensi resiko kanker.• Bunyi dari nosel. penggunaan bahan dasar proses pengecatan menjadi lebih efektif.

Kontroler menggunakan memori yang cukup tinggi. penggunaan robot akan menghilangkan rasa ketidaknyamanan.Sebagian besar robot menggunakan manipulator dengan koordinat artikulasi yang memiliki enam sumbu sampai sepuluh sumbu. apalagi bila prosesnya terjadi secara terus menerus dengan proses yang sama. Peningkatan ini disebabkan oleh factor kelelahan. Berbeda dengan penggerak elektrik yang dapat menimbulkan hubungan singkat pada rangkaiannya sehingga motor listrik dapat mengalami kerusakan. Robot ini menggunakan koordinat artikulasi yang memiliki 6 sumbu. Aplikasi pada robot pengelasan Keuntungan dari robot las adalah : • Produktifitas tinggi. kelelahan dan lingkungan yang berbahaya. dengan menggunakan aplikasi robot maka produktifitas akan meningkat. hal ini dimaksudkan uap racun yang keluar dari cat tidak akan menimbulkan kerusakan pada penggerak sistem ini. Sistem penggerak robot ini sebagian besar menggunakan penggerak hidrolik. 642 . peningkatan kualitas produk dihubungkan dengan akurasi y ang tinggi dan kerja yang tepat. Gambar 27. pengelasan menggunakan las secara manual memiliki produktifitas yang rendah.4 Pengelasan Robot pengelasan secara luas telah digunakan dalam industri. • Tingkat keamanan yang tinggi. Dengan menghilangkan sebab di atas yang sering terjadi pada proses las manual maka lingkungan pengelasan dengan menggunakan robot menjadi sangat aman. • Kualitas yang sangat baik. robot dapat menjangkau berbagai area objek. hal ini dimaksudkan untuk menampung program kerja yang dapat dikerjakan pada berbagai macam produk. Dengan memiliki sumbu banyak. Robot ini dibagi menjadi jenis yaitu las busur dan las titik. 3. Robot tidak akan mengalami kelelahan seperti halnya pada manusia.

Pada pekerjaan pengelasan busur secara manual dengan tenaga manusia tidak bisa dijaga akurasi dan konsistennya.1 Gripprer Gripper adalah sebuah efektor yang berfungsi untuk menggenggam dan menahan objek. …. bahan mentah dan peralatan-peralatan lain. Sehingga dalam menerapkan efektor pada sistem robot. Efektor ini dipasang pada ujung manipulator atau pada wrist. sehingga penggunaan aplikasi robot akan meningkatkan kualitas hasil pengelasan. Efektor dapat juga diadaptasi dengan membeli secara komersil yang telah tersedia di pasaran untuk diterapkan secara langsung. perlu pertimbangan khusus. Efisiensi kerja penggunaan robot pada aplikasi pengecatan 4. Penggunaan efektor yang bervariasi dalam industri dapat di bedakan menjadi dua bagian. Kerja ini dilakukan oleh sebuah manipulator yang dilengkapi oleh efektor. Bisaanya efektor yang didesain secara khusus oleh industri sesuai dengan tujuan industri tersebut. 643 . sebagai fungsi dari robot. Objek ini merupakan sebuah komponen yang akan dipindahkan o leh robot dapat berupa kertas. Efektor merupakan peralatan khusus untuk tujuan khusus. Gambar 28. botol. Efektor Tujuan utama dari sistem robot adalah untuk melakukan kerja tertentu dalam industri. yaitu : 4.

yaitu : gripper tunggal dan gripper ganda.Gambar 29.1 Gripper Mekanik Mekanikal gripper didesain untuk menggenggam dan menahan objek dengan memberikan kontak pada objek. 4. masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai dengan tujuan dari sistem robot. hidrolik dan elektrik. Jenis gripper menggunakan penggerak pneumatik. Finger ini dapat dilepas dan dipasang sehingga sangat fleksibel pemakaiannya.2 Klasifikasi gripper Menurut jumlah peralatan penggenggam dan penahan. Aplikasi tangan menggunakan gripper mekanik 644 . 4. Gambar 30. Sumber tenaga yang berikan pada gripper ini bisa berupa pneumatik.3. gripper dapat diklasifikasikan menjadi dua. Bisaanya menggunakan finger/jari mekanik yang disebut dengan jaws.3 Jenis Gripper 4. Gripper ganda diartikan bahwa ada dua peralatan yang berfungsi sebagai penggenggam dan penahan objek yang dipasang pada wrist. Gripper tunggal diartikan bahwa hanya ada satu peralatan untuk menggenggam dan menahan yang dipasang pada wrist.

dibagi menjadi dua.3. Sistem vakum menghasilkan hisapan pada mangkok. Contoh sistem vakum Keterangan gambar 28 : 1. Penyaring 5.2 Gripper Ruang Hampa / Mangkok Vakum Gambar 31. dan halus. Gambar 32. yaitu pompa vakum dan 645 . yaitu : mangkok dan sistem ruang hampa. Udara terkompresi 2. Persyaratan ini harus dipenuhi sehingga gripper ini dapat bekerja dengan baik. Aliran 4. mangkok Gripper jenis ini memiliki dua komponen. Mangkok terbuat dari karet. Pembangkit kevakuman 3. Objek yang ditangani oleh jenis gripper ini adalah objek rata. bersih. dan membuat tekanan negatif atau menghisap sehingga objek akan menempel pada mangkok.4. Mangkuk berbatasan dengan objek dan berfungsi untuk menggenggam dan menahan objek. Aplikasi griper vakum Mangkok vakum disebut juga mngkok hisap digunakan sebagai gripper yang berfungsi untuk mengangkat dan menahan objek.

Kelemahan sistem ini adalah kesulitan pada pengontrolan. yaitu menggunakan electromagnet dan menggunakan maget permanen.3 Gripper Magnetik Gripper magnet bekerja karena efek bidang magnet. Pada gripper magnet menggunakan electromagnet saat menghisap dan melepas komponen yang akan ditangani menggunakan metode on dan off arus yang mengalir pada electromagnet. sehingga menimbulkan kevakuman. Berbeda dengan pompa vakum sistem venturi menggunakan sebuah nosel yang dilewati oleh udara. Permanen magnet sering digunakan pada penanganan material yang berada pada lingkungan berbahaya seperti ledakan. 646 .3. kemungkinan tertariknya material lain berasal dari besi. Pompa ini memberikan kehampaan yang tinggi dengan biaya yang murah dibandingkan dengan sistem venturi. 4. Gambar 33. sehingga menimbulkan hisapan atau tarikan pada komponen yang akan di handel. Saat gripper mendekat pada komponen atau objek untuk menangkat. Lingkungan yang mempunyai daya ledak tinggi akan membahayakan arus listrik yang mengalir pada elektromagnet. Gripper magnetic dapat dibagi menjadi dua kategori. Electromagnet menggunakan sumber arus dan lebih mudah untuk dikontrol dibandingkan dengan menggunakan magnet permanen. maka kemungkinan besar akan tertarik. Pompa vakum menggunakan piston (dengan menggunakan motor listrik) untuk membuat hampa udara. Aplikasi gripper magnet Keuntungan permanen magnet adalah tidak dibutuhkannya arus tambahan yang berarti akan menghemat energi pada sistem robot. dari kecil hingga komponen yang besar.sistem venturi. Keuntungan menggunakan gripper magnetic adalah : • Ukuran komponen yang bisa bervariasi.

3. sehingga akan timbul kerja akibat dari informasi tersebut. Seperti halnya pada manusia.• • Mempunyai kemampuan untuk menangani logam yang berlubang. tergantung dari jumlah gripper yang dipasangkan pada wrist. Sensor dan transduncer diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut bentuk sinyal yang dikonversi. sensor adalah sebuah transducer yang digunakan untuk mengkonversi besaran fisik di atas menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa dengan rangkaian listrik tertentu. yaitu : sinyal analog dan sinyak digital. Sistem kerja griper menggunakan magnet 4. temperatur. Dapat menangani beberapa komponen. Sensor tersebut akan menghitung dan menganalisis informasi yang diterima oleh robot.4 Sensor Robot Dalam melakukan kerja robot membutuhkan kemampuan untuk merasakan objek. Kalibrasi adalah suatu prosedur yang berhubungan antara variabel yang diukur dan sinyal output yang dirubah/ konversi sehingga hasil dari pengukuran sensor sesuai dengan keadaan yang nyata.4 Sensor Dan Transducer Transducer adalah peralatan yang merubah variabel fisik seperti gaya. maka robot memerlukan sensor sebagai peralatan untuk mengukur. tekanan. Pada griper vakum tidak bisa menangani hal tersebut. Gambar 34. Setiap sensor harus dilakukan kalibrasi sebelum digunakan. yang memiliki panca indra. Sedangkan. kecepatan menjadi bentuk variabel yang lain. 647 . 4.

Sinyal ini dapat di artikan nilai variabel fisik yang diukur. Berbagai macam tipe limit switch 4. karena dapat digunakan bersama komputer digital dan sensor analog.6 Sensor Non-Kontak Berbeda dengan sensor kontak. sehingga akan mengaktifkan/menonaktifkan sensor. Sejajar dengan LED dipasang alat penerima atau receiver cahaya. perubahan tekanan dan perubahan elektromagetik yang disebabkan karena adanya objek yang bersinggungan dengan sensor.§ § Sensor analog yaitu suatu sensor yang memberikan sinyal analog seperti tegangan dan arus. melainkan menggunakan radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh sensor. 4. peralatan optik seperti LED (Light Emitting Diode) yang dipasang pada manipulator robot. Komponen yang berjalan pada sensor pertama kali akan menyentuh sensor. Ketika 648 . Sensor digital adalah seuatu sensor yang memberikan output sinyal digital sensor digital ini lebih banyak digunakan dalam industri. Contoh sederhana sensor ini dalam aplikasi robot dapat ditunjukan pada sebuah konveyor berjalan tegak lurus di depan robot dan sensor (limit switch). Sensor non-kontak mengukur perubahan temperatur. Sensor non-kontak dapat berupa. sensor non-kontak bekerja tidak d engan sentuhan objek ada. Gambar 35.5 Sensor Kontak Kontak sensor adalah sensor yang bekerja dengan sentuhan. Sensor akan mengirimkan sinyal elektrik menuju kontroler dan kontroler akan mengukur dan menghitung data informasi kemudian akan mengirimkan perintah kepada robot untuk melakukan kerja tertentu.

Apabila pancaran terhalang oleh material maka sinyal akan dikirimkan ke kontroler sehingga kontroller akan memberikan reaksi pada sistem. transmitter dan emitter. Transmiter memancarkan cahaya yang akan diterima emitter. hasil proses ini akan dikerjakan oleh manipulator robot untuk melakukan tindakan tertentu. Gambar 37.komponen atau objek yang melewati sensor tersebut akan sehingga cahaya yang keluar dari LED tidak bisa diterima oleh receiver. Sensor telah memiliki warna tujuan yang tersimpan di dalam memori sensor. Gambar 36. Photoelectric Gambar di atas merupakan aplikasi dari sensor non-contact jenis photoelektrik. maka ada perubahan sinyal dari 0 (off) ke 1 (on). Terdapat dua bagian sensor. Sensor non-kontak aplikasi warna Pada gambar di atas sebuah konveyor berjalan membawa material dengan berbagai macam warna. Data tersebut dikirim ke kontroler dan akan diproses. 649 . Apabila warna tujuan dikenali oleh sensor maka sensor mengirimkan sinyal kontroler sehingga tindakan segera dilakukan oleh manipulator. Akibat dari proses tersebut.

Saat material menerima pancaran tersebut maka material akan memancarkan kembali ke transmitter. Transmitter menerima pancaran suara kembali dan menghitung jarak antara transmitter dengan material.Gambar 38. 650 . Transmitter data Sebuah manipulator dilengkapi dengan infra merah dan mendeteksi material untuk dilakukan penanganan. Gambar 39. Sensor jarak Sebuah transmitter suara dipancarkan pada sebuah material atau objek. Sebuah kontroler/komputer melakukan tindakan pengambilan material ketika ketika sinyal dari sensor telah mendapatkan data.

keteganan dapat dicari dengan perubahan tahanan ini. apakah objek tersebut merupakan objek yang menjadi harapan kontroler atau tidak. dan lebar w. Ketika komponen atau objek yang berada tepat di bawah kamera. 4. Kawat akan menjadi lebih panjang dan menurun luasannya. Perubahan bentuk tersebut akan menyebabkan perubahan pada tahanan R. Apabila kawat memiliki panjang l. maka kamera akan mengirimkan data-data objek menuju kontroler. Tahanan/ resistance dicari dengan menggunakan dimensi dari sebuah kawat. Aplikasi sensor non-contact menggunakan kamera dan laser Contoh lain dari sensor non-kontak adalah sensor kamera. Selanjutnya keputusan kontroler akan dikirim ke manipulator untuk menentukan langkar kerja dari robot.Gambar 40. Strain gages 651 . tinggi t. memiliki tahanan R terdeformasi atau berubah bentuk.1 Strain Gages Sensor ini mengukur ketegangan pada material dengan menggunakan perubahan tahanan pada sebuah kawat. Gambar 41.7.7 Sensor Gaya Dan Momen 4. Data informasi tersebut akan diproses.

7. sehingga temperatur dapat diukur menggunakan perubahan tahanan ini.8 Sensor Temperatur 4. Sensor ini digunakan sebagai kontrol kualitas. dan proses kontrol serta proses lainnya dalam industri.1 Resistive Temperature Detectors (Rtd) Ketika kawat dipanaskan maka tahanannya akan meningkat. Kejadian ini disebut piezoelectric. Perubahan ini akan menyebabkan perubahan kapasitas pada kristal.8. percepatan dan tegangan dengan merubah kedalam sinyal listrik. Strain gages uniaxial Kawat susunan rossete disusun dengan horizontal. Susunan ini menyebabkan kurang sensitive. Gambar 43. Resistive Temperature Detectors (RTD) menggunakan kawat yang 652 . Kawat susunan rosette pada strain gages 4. Sensor piezoelectric merupakan peralatan yang sangat bermanfaat untuk pengukuran dalam berbagai proses. 4.Pada strain gages terdapat dua bentuk susunan kawat. Gambar 42 . yaitu uniaxial dan rosette. Pada susunan uniaxial. Kristal ini berfungsi sebagai sensor gaya. kawat disusun searah dengan arah teganan. juga digunakan sebagai sensor tekanan. Ketika kristal mengalami ketegangan jarak atom-atomnya pada kristal akan berubah.2 Piezoelectric Sensor piezoelectric merupakan peralatan yang menggunakan prinsip efek piezoelektric untuk mengukur tekanan.

RTD membutuhkan waktu relatif lama untuk respon balik 4. RTD memiliki kepekaan yang kurang. 653 . ketia dua logam yang berbeda bersentuhan satu sama lain maka akan timbul perbedaan potensial atau biasa disebut tegangan.260 Tahanan (ohm) 100 120 10 Gambar 44. Tegangan inilah yang akan digunakan sebagai penentuan temperatur.2 Termokopel Setiap logam memiliki potensial alami.dibungkus menggunakan bahan isolator (penghantar panas yang buruk) sebagai pelindung. Berbagai macam aplikasi RTD Keuntungan resistive temperature detector (RTD). nikel. variasi temperature dan tahanan bahan Material Platina Nikel Tembaga Variasi Temperatur(oC) -200 – 850 -80 – 300 -200 . Material. Termokopel menggunakan dua metal yang berbeda untuk membangkitkan tegangan. atau paduan antara logam dan nikel. adalah : • • • • Tingkat akurasi yang tinggi Cocok untuk aplikasi dengan ketelitian yang tinggi Operasi kerja yang luas Penyimpangan kecil Keterbatasan RTD • • Dibandingkan dengan thermistor. Tabel 2.8. Kawat sensor ini bisa dibuat menggunakan tembaga. sehingga untuk perubahan temperatur yang kecil kurang sensitif.

97 – 50. Ketika tahanan menurun maka maka temepratur akan meningkat.63 Platina-rhodium / 0 – 1450 0 – 16. sehingga temperatur dan resistan saling bertolak belakang. Jangkauan temperatue dan jangkauan tegangan Material Jangkauan Jangkauan temperature (oF) tegangan (mV) Tembaga / -200 – 400 -5. 654 . Ini terjadi karena panas akan mengurangi gerak elektron pada semikonduktor. Aplikasi thermokopel Tabel dibawah ini menunjukan jenis logam dan jangkaun temperatur dan jangkauan tegangan dari bermacam jenis logam Tabel 3.37.60 – 17. Gambar 45.78 konstantan Chromel / aluminium -200 – 1250 -5.28 Chromel / -200 – 900 -8.3 Thermistors Thermistor adalah sebuah peralatan yang memakai resistan/ tahanan untuk mengukur perubahan temperatur.74 Platina Tungsten0-2670 0 . Thermistor merupakan peralatan yang murah dan terbuat dari manik-manik atau permukaan logam..82 konstantan Besi / konstantan 0 – 870 0 – 42.82 – 68.07 rhodium/platina 4. Peralatan ini memiliki respon yang cepat terhadap perubahan temperatur.8.

4. Gambar (a) menunjukan gambar pipa bourden.9.9 Sensor Cair dan Gas Carian dan gas merupakan fluida yang di dalamnya bisa diukur dengan beberapa parameter. kepadatan. Tabung tekanan b) baffle Gambar di atas menunjukan aplikasi sensor tekanan. antara lain kecepatan aliran.1 Pressure Tube tekana n senso r tekana n tekanan tekanan a) pipa bourden Gambar 47.Gambar 46. Thermistor 4. kekentalan dan tekanan. dan sensor terpasang kaku. Saat tekanan di dalam pipa lebih tinggi dari pada tekanan lingkungan maka pipa akan meluruskan posisi sensor yang terpasang pada ujung 655 .

3 Pitot tubes Kecepatan aliran gas dapat diukur menggunakan apa yang dinamakan tabung pitot. sehingga bida diperoleh data perbedaan tekanan tersebut. Sensor tekanan Aliran fluida Gambar 48. Tabung dengan diameter kecil ini dihubungkan dengan pipa ukuran lebih besar dan dihubungkan dengan tekanan. pada bagian tengah terdapat penyempitan. terletak horizontal. Terdapat perbedaan tekanan antara bidang penyempitan dengan bidang sebelum penyempitan. 4.2 Katup Venturi Gambar di bawah ini menunjukan alat venturi. Tabung pitot untuk mengukur aliran gas 656 .9. Venturi 4. Aliran gas Tabung pitot penghubun g sensor Gambar 49.pipa dan akan menjadi panjang ketika tekanan naik.9. Ketika aliran fluida mengalir melewati sebuah pipa. Pada bagian tengah terdapat bagian pipa yang dipersempit dan dihubungkan dengan pipa dengan diameter lebih kecil dan dipasang sebuah sensor atau tranducer yang akan mengetahui informasi tekanan. Sedangkan pada jenis baffle posisi sensor.

Prinsip kerja tachometer dengan pulsa listrik yang dihasilkan. Cahaya akan diterima detektor bila cakram berada pada posisi lubang. Dua bagian sisi yaitu sisi bagian atas dan sisi bagian bawah.4. Setiap magnet berputar sekali maka akan timbul pulsa listrik pada koil. Gambar 51.2 Encoders Encoder adalah sebuah peralatan menggunakaan sebuah cakram yang berlubang dan berputar. Ketika magnet bergerak mengikuti putaran poros di bawah koil maka akan timbul induksi listrik.1 Tachometer Tachometer adalah sebuah peralatan yang mengukur kecepatan putaran. Cahaya yang keluar dari emitter akan diterima oleh detektor dengan melewati cakram. 657 .10. Porost Vout t magnet Gambar 50. magnet dan sebuah koil.10. Dengan sebuah poros. Aplikasi tachometer 4. Sisi bagian atas terdapat emitters yang mengeluarkan sinyal dan bagian bawah sebagai detektor sinyal.10 Sensor Jarak dan Sudut 4.

Gambar 53. Pada inkrimental encoder memiliki dua pulsa output yang berfungsi untuk menentukan jarak dan menentukan kecepatan. Absolute encoder akan menghitung posisi dari poros untuk menentukan sudut poros.11.11 Linear Position 4.light emitters light detectors Shaftotates r Note: this type of encoder is commonly used in com puter mice with a r oller ball. inti magnetik bagian dalam.1 Linear Variable Differential Transformers (Lvdt) LVDT mengukur jarak linear dengan area yang terbatas. Cakram encoder Encoder memiliki dua jenis yaitu : absolute encoder dan inkrimental encoder. Aplikasi encoder 4. koil bagian kiri dank oil bagian kanan. LVDT terdiri dari koil bagian tengan. Gambar 52. inti magnet bagian luar. Arus AC dialirkan 658 .

1 PH Sensor ini dapat mengukur pH dalam jangkauan 0 sampai 14. Batang Penggerak AC Gambar 54. Sinyal keluar ini menunjukan posisi dari inti. Banyak digunakan dalam indsutri seperti mengukur dimensi sebuah komponen. Rangkaian LVDT Pada LVDT terjadi tarikan ke arah bidang magnet.12. LVDT juga digunakan untuk mengukur tekanan dengan menggunakan pipa Bourden. Sehingga akan menginduksi koil bagian kiri. Kelemahan sensor ini adalah harga yang sangat mahal 4. Saat koil bagian tengah tidak menerima induksi maka tidak ada tegangan yang keluar (sinyal keluar).pada koil luar . sensor ini menggunakan elektroda yang bersentuhan dengan fluida. Aplikasi LVDT Peralatan LVDT sangat akurat sebagai peralatan untuk menghitung jarak lurus. 659 . sehingga menimbulkan kemagnetan inti. Gambar 55.12 Sensor Kimia 4.

12. Cara kerja solenoid ini hampir sama dengan motor (AC/DC). katup pneumatik. Aktuator adalah sebuah peralatan yang menghasilkan gaya sebagai gerakan dari robot.1 Solenoids Solenoid merupakan aktuator yang terdiri dari koil atau gulungan kawat. Prinsip kerja solenoid Solenoid banyak diterapkan pada industri seperti solenoid elektro-mekanik (AC/DC) . . dan pegas sebagai pemegang inti besi. tegangan off tegangan on Gambar 56. Sumber energi aktuator dapat dibagi menjadi listrik dan fluida (udara dan minyak). Pada gambar di bawah ini merupakan contoh aplikasi solenoid elektromekanik.4. Saat tegangan dimatikan makan posisi inti besi akan kembali seperti semula karena tarikan dari pegas. Ketika tegangan masuk pada koil sehingga terjadi aliran arus maka koil akan berubah menjadi bidang magnet sehigga akan menarik inti besi ke dalam koil sampai menuju titik tengah koil. 5 Aktuator …. Conductivity banyak diaplikasikan di bidang induksi frekuensi tinggi sebagai alternative. 5. perbedaannya terletak pada gerakan yang dihasilkan yaitu linear dan rotasi. 660 . inti besi sebagai piston gerak linier. katup hidrolik.2 Conductivity Pemgukuran conductivity dikakukan secara langsung dengan menggunakan tegangan dua pelat yang digabungkan di dalam cairan dan sekaligus mengukur arus. Masing-masing sumber energi disalurkan menuju aktuator sehingga menghasilkan kerja untuk sistem robot.

dll). Katup memiliki berbagai macam jenis antara lain: Katup 3⁄4. Gambar 58.3 Silinders Silinder merupakan jenis aktuator yang digerakan oleh fluida. Katup 5. katup 5/2 dsb. 661 . Gerak yang dihasilkan silinder akibat dari gerakan linear atau maju dan mundur dari sebuah piston. Selenoid elektro-mekanik 5.Gambar 57. Pemilihan jenis silinder tergantung dari kerja yang dibebankan.2 Katup Katup adalah peralatan yang berfungsi untuk mengatur aliran fluida sebagai penggerak aktuator. penggerak magnet/solenoid. antara lain: Penggerak manual (tuas. bisa berupa udara (pneumatik) ataupun minyak (hidrolik). Pembahasan tentang katup dapat dilihat pada pembahasan tentang Pneumatik/Hydrolik. Penggerak katup memiliki berbagai jenis. knop. Katup banyak digunakan pada industri ataupun transportasi. pedal. udara. dll). silinder jenis hidrolik memiliki kemampuan kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan silinder jenis pneumatik.

5. Silinder penggerak ganda 5. Silinder gerak tunggal 5. Motor DC terdiri dari armature yang berputar dan bagian magnet sebagai stator (bagian yang diam). 662 .1 Silinder Penggerak Tunggal Silinder jenis ini menghasilkan kerja dalam satu arah saja. sedangkan pata stator terdapat koil yang berfungsi sebagai magnet listik apabila dialirkan arus. Arus yang datang melalui sikat sehingga akan menyebabkan motor berputar.4.2 Silinder Penggerak Ganda Pada silinder penggerak ganda terdapat dua lubang inlet dan outlet.3.apabila fluida masuk dari sisi satunya maka akan mendorong piston bergerak pada titik A+ Gambar 60. stator (bagian yang diam). fluida masuk melalui sisi depan sehingga mendorong piston bergerak mundur A. Pada stator terdapat inti magnet.1 Motor DC Motor DC merupakan salah satu jenis aktuator yang paling banyak digunakan dalam industri ataupun sistem robot. Apabila fluida masuk ke dalam tabung akibatnya piston akan bergerak mendorong pegas sampai pada titik tertentu.3. 5. Motor diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu AC (arus searah) dan DC (arus bolak balik). Prinsip kerja motor ini menggunakan magnet untuk menghasilkan kerja yaitu putaran. Gambar 59. Bagian magnet pada stator bisa menggunakan electromagnet dan magnet permanent.4 Motor Listrik Motor listrik terdiri dari rotor (bagian yang bergerak).

Kemudian komutator membalik arus yang menuju armature sehingga bidang magnet pada armature berubah. Saat koil atau lilitan dalam armature dialiri arus listrik maka armature akan menjadi magnet. § Jenis motor shunt antara armature dan electromagnet terhubung secara parallel. Pengaturan pada motor ini lebih mudah dibandingkan dengan motor seri. Motor jenis ini memiliki karakteristik torque yang tinggi pada putaran awal. § Pada motor compound memiliki kombinasi seri dan parallel pada armature dan electromagnet. § Motor seri memiliki artmature yang dihubungkan dengan electromagnet secara seri. Gambar 61. motor shunt dan motor compound. Armature bergerak sampai pada posisi kutub yang berpasangan (kutub utara armature dengan kutub utara stator dan kutub selatan armature dengan kutub selatan stator). Gambar 61b. Akibatnya kutub utara armature bertemu dengan kutub utara stator dan kutub selatan armature bertemu kutub selatan stator sehingga saling bertolak belakang dan menyebabkan armature (rotor) berputar kembali seperti pada posisi gambar 27b. yaitu motor seri. Akibatnya magnet stator dan magnet rotor (armature)akan saling bertolak belakang sehingga armature akan berputar. sehingga sisi armature sebelah kiri menjadi magnet kutub utara dan sisi armature sebelah kanan menjadi magnet kutub selatan. Prinsip kerja motor DC Gambar di atas dapat di jelaskan sebagai berikut : Gambar 61a. Armature masih bergerak dan sampai pada posisi vertical tegak lurus tepat pada bidang non-magnet sehingga armature akan terus bergerak. Gambar 61c.Motor DC dengan stator electromagnet dibagi menjadi 3 jenis. 663 .

seperti kipas. Gambar 62. Efisiensi tinggi b.2 Motor Ac Motor AC merupakan jenis motor yang banyak digunakan pada dunia modern sekarang ini. mixer dan peralatan rumah tangga lainnya. Walaupun motor AC sebagian besar digunakan untuk memutarkan peralatan yang membutuhkan kecepatan konstan tetapi penggunaan dengan kontrol kecepatan mulai sering dilakukan dalam berbagai aplikasi industri. Prinsip kerja motor AC Kelebihan dari motor AC adalah sebagai berikut : a. tetapi aplikasi motor yang tidak membutuhkan variasi kecepatan banyak ditemukan dindustri. 664 . Walaupun motor AC memiliki kelemahan terebut di atas. Harga yang murah dibandingkan dengan motor DC dikarenakan motor AC tidak menggunakan sikat sebagaimana sikat yang digunakan pada motor DC.4. Kehandalan yang tinggi c. Motor AC tidak menggunakan rectifier seperti pada motor DC. Harga yang relativ murah.5. Perawatan yang mudah Perawatan menjadi mudah karena motor AC tidak menggunakan sikat yang secara periodic harus diganti. Pada motor DC sistem control dibuat dengan mengatur tegangan sedangkan pada motor AC untuk menghasilkan kecepatan yang bervariasi dengan mengatur tegangan dan frekuensi. d. Disamping kelebihan diatas motor AC memiliki kelemahan pada pengontrolannya. pompa. Motor AC dibuat untuk menghasilkan kecepatan yang konstan (tetap) sehingga untuk menghasilkan putaran yang bervariasi memerlukan sistem control yang cukup rumit.

Gerak putaran rotor langkah demi langkah berputar menuju sesuai dengan kemagnetan stator. Aplikasi motor AC 5. Langkah menggunakan derajat putaran.3 Motor Steper Motor stepper atau bisa disebut motor langkah merupakan salah satu jenis dari motor DC.4. Apabila semua stator telah menjadi magnet maka rotor dapat menyelesaikan satu putaran. Gambar 64.Gambar 63. Perbedaan dengan motor DC biasa adalah motor stepper memiliki langkah putaran tergantung pada jumlah stator. Rotor akan bergerak bila masing masing stator menjadi magnet dengan dialiri arus listrik. Motor stepper/motor langkah 665 . mulai dari 0 0 sampai 90 0. Bagian motor steper. rotor merupakan magnet yang permanent sedangkan pada bagian stator menggunakan electromagnet.

. 2b dan kembali ke 1a. Sebutkan dan jelaskan tiga komponen utama sistem robot? b. 1b. motor steper variable relucatance dan jenis motor steper hybrid.1 Soal-Soal a.Motor steper banyak digunakan dalam berbagai aplikasi peralatan yang memiliki ketapatan putaran yang tinggi seperti dalam bidang robot sehingga tidak memerlukan sensor untuk menentukan posisi. 6. 6. Putaran tersebut menghasilkan gerakan dan sudut beberapa derajat. sebutkan dan jelaskan koordinat tersebut? 666 . Besarnya langkah tergantung pada jumlah stator sehingga tidak ada peningkatan galat (error) dari posisi putaran motor. 2a. 2b dan kembali ke 1a maka semua stator akan menjadi magnet secara bergantian. 2a. Robot bergerak dalam empat sumbu koordinat. 1b. Motor steper dibagi menjadi tiga jenis yaitu motor steper magnet permanent. rotor yang berupa magnet permanen (tetap) akan bergerak dari stator 2b kearah stator 1a. Masing masing memiliki perbedaan dalam penggunaannya. Gambar 65. Dengan menjumlahkan sudut maka akan didapat berapa posisi yang dikehendaki dari peralatan. Prinsip kerja motor stepper Pada gambar di atas. Apabila rotor diberikan tegangan secara bergilir ke stator 1a. akibatnya rotor akan bergerak satu putaran penuh dari 1a. Tes Formatif…………………………………………….

Sistem robot memiliki memiliki tiga komponen dasar. Actuatuator atau sistem drive menyebabkan gerakan yang bervariasi dari manipulator.6. 1) Manipulator Manipulator memiliki dua bagian. Bagian tambahan merupakan perluasan dari bagian dasar. dalam hal ini data gerakan robot yang telah deprogram sebelumnya. Kontroler sendiri diatur oleh sebuah informasi atau program yang diisikan dengan menggunakan bahasa pemgrograman tertentu. Gambar 1 memberikan gambaran tentang bagian dasar dan bagian tambahan. 2) Kontroler Kontroler menyimpan informasi yang berkaitan dengan data data robot. Actuator bisa menggunakan elektrik. Kontroler berfungsi untuk mengontrol pergerakan dari manipulator. yaitu : Manipulator. Bagian actuator ini akan dijelaskan pada selanjutnya. 3) Power Suply (Catu Daya) Power supply adalah sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat 667 . hidrolik ataupun pneumatik. kontroler. dan Power (daya). Manipuator digerakan oleh actuator atau disebut sistem drive. yaitu bagian dasar dan bagian tambahan. bisa disebut juga lengan /arm. Apendage Apendage Base Bagian dasar manipulator bisa kaku terpasang pada lantai area kerja ataupun terpasang pada rel.2 Kunci Jawaban a. Data dalam memori dapat di keluarkan atau di edit sesuai dengan yang dibutuhkan. Bagian ujungnya terpasang efektor yang berfungsi untuk mengambil/mencekam material. Rel berfungsi sebagai path atau alur sehinga memungkinkan robot untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam satu area kerja. Informasi tersebut kemudian disimpan didalam memori.

bidang X. Y dan Z sebagai sarana untuk mencapai target. polar dan artikulasi koordinat. 1) Koordinat Kartesian Sesuai dengan sudut pandang matematika. bidang Y dan bidang Z. Masing masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator. Pergerakan ini diebut dengan geometri lengan (arm geometry). Bidang Z membentuk gerakan naik dan turun atau vertical. sumbu W (lengan atas) dan sumbu U (siku). 4) Efektor Efektor dapat ditemukan hampir semua aplikasi robot. masing masing bidang tersebut dihubungkan dengan gerakan lengan manipulator dari titik awal sehingga akan membentuk suatu titik tertentu dengan gerakan lurus vertical maupun horizontal. sedangkan R membentuk gerakan horizontal atau maju dan mundur. 4) Koordinat Artikulasi Koordinat artikulasi adalah koordinat yang terdiri dari tiga sumbu yaitu : ? (theta). hidrolik ataupun ketiganya. penyemprot cat ataupun hanya berupa penjempit objek. Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot.bekerja. Masing masing gerakan tersebut membentuk volume silinder sehingga disebut koordinat silinder. 3) Koordinat Polar Koordinat polar memiliki tiga sumbu yaitu ? (theta) atau gerakan rotasi. Bagian kontroler menggunakan elektrik sedangkan bagian manipulator bisa menggunakan elektrik. pneumatik. Y dan bidang Z di identifikasi sebagai gerakan manipulator. Gerakan sumbu robot diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian silindrikal. Sebagai contoh efektor dapat berupa peralatan las. X. Koordinat ini memiliki 2 sumbu yang dapat 668 . Manipulator bergerak melalui ruang hanya melalui bidang X. yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. 2) Silindrikal Koordinat Koordinat silinder membentu tiga derajat kebebasan atau tiga sumbu yaitu ? (theta) atau sumbu rotasi. b. Sistem koordinat ini juga disebut sebagai sistem spherical atau sistem bola karena jangkauan area dari robot membentuk volume bola. walaupun keadaannya bukan merupakan komponen dasar dari sistem robot. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. gerakan ß (beta) atau gerakan melingkar dan sumbu R gerakan horizontal. koordinat kartesian di kenali dengan tiga sumbu dasar.

sedangkan jangkauan kerja koordinat artikulasi adalah bentuk cabikan (tear-shape). manipulator terdiri dari beberapa segmen dan sambungan (joint). suku cadang (part). 7. siklus waktu (cycle time). Power supply : Sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat bekerja. Hal yang paling penting lain dari sebuah robot adalah jangkauan kerja (seberapa jauh robot dapat menjangkau objek). sehingga koordinat ini menjadi lebih fleksibel dan banyak digunakan dalam industri. keteletian (akurasi). Masing masing jangkauan kerja berbeda tergantung dari koordinat geometri yang digunakan. tetapi sifatnya tidak harus ada. yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. Hal-hal yang digunakan dalam penentuan tingkatan robot adalah sumbu (axes). Kontroler membentuk sistem kontrol yang akan menentukan input dan output suatu robot. yaitu: Rendah (low) teknologi. Kontroler : Suatu peralatan yang bertugas sebagai penendali dari gerakan robot. Robot memiliki tiga tingkatan/level teknologi. muatan (payload).melipat yaitu pada sumbu W dan sumbu U. menjangkau objek. silindrikal. memilki banyak fungsi yang didesain untuk memindahkan material. Koordinat kartesian memiliki jangkauan empat persegi pangjan (rectangular). Robot merupakan peralatan yang dapat diprogram ulang. Efektor : Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot. medium teknologi dan teknologi tinggi (high technology). jangkaun kerja koordinat polar adalah bola (spherical). peralatan atau peralatan khusus. Efektor sering ditemukan pada beberapa sistem robot. 669 . aktuasi dan sistem kontrol yang digunakan. polar d artikulasi koordinat. dan Power (daya). Gerakan tersebut diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian. Masingan masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator (arm geometry). kontroler. jangkauan kerja koordinat silindrikal adalah silindrikal. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. yaitu : Manipulator. Gerakan ini di sebut dengan derajat kebebasan robot atau jumlah sumbu yang ada pada robot. Sumbu robot bergerak dalam rangka untuk menyelesaiakan suatu kerja. Manipulator : Lengan yang memberikan gerakan robot untuk memutar. Rangkuman BAB X……………………………………. melipat. Sistem robot memiliki memiliki tiga komponen dasar.

perakitan.Robot sekarang telah banyak diaplikasikan dalam dunia industri seperti pengecatan. 670 . silinder dan motor listrik. line tracking. katup. pengelasan dan lain sebagainya. Aktuator (output) yang digunakan dapat berupa selenoid. Dengan adanya robot diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.

3. membaca gambar teknik dan rangkumanya. Perkembangan tuntutan konsumen yang memerlukan kualitas tinggi telah mendorong para ahli untuk menciptakan mesin-mesin yang lebih presisi dan modern yang masih terus berkembang hingga sekarang. Terutama untuk mengerjakan benda kerja dengan bentuk spesifik dan berdimensi khusus seperti penggantian komponen yang sudah tidak beredar di pasaran. mengenal proses pembentukan logam. sistem pneumatik hidrolik. biasanya u ntuk keperluan perawatan dan perbaikan mesin dan komponen. proses produksi berbasis komputer. menguasai prosedur penerapan K3. dan mesin konvensional hingga saat ini masih diperlukan.BAB XI PENUTUP 1. maupun komponen baru namun berdimensi tidak standar. 2. 1. proses produksi dengan mesin konvensional. 5. memahami proses -proses dasar kejuruan dan merealisasikan kerja aman bagi manusia. Sedangkan materi tentang kompetensi kejuruan akan membahas tentang gambar teknik. dan teknologi robot. proses produksi industri modern. alat. Simpulan Secara garis besar buku ini terdiri dari materi kompetensi dasar kejuruan dan kompotensi kejuruan. 4. mengenal material dan mineral serta rangkuman dari materi tersebut. menerapkan prosedur K3 secara tepat dan benar serta rangkumannya. Dengan adanya pembahasan tersebut diharapkan buku ini memberikan gambaran 671 . Namun selain kelebihan di atas mesin perkakas tangan memiliki kelemahan yaitu kurang memiliki daya saing bila harus melakukan produk masal. Bagian merealisasikan kerja aman bagi manusia alat dan lingkungan membahas tentang mengenal regulasi K3. Kompetensi dasar kejuruan terdiri dari tiga pembahasan utama antara lain memahami dasar-dasar kejuruan. Teknik produksi industri mesin dari alat-alat perkakas tangan. lembar kerja. dan lingkungan. Bagian keempat memnahas tentang g ambar teknik mesin yang terdiri dari mengenal alat menggambar teknik. proses produksi dengan perkakas tangan. Materi tentang memahami dasar-dasar kejuruan membahas tentang statika dan tegangan. mengenal komponen elemen mesin. mengenal mesin konversi energi serta rangkuman dari materi tersebut. Materi tantang memahami prose-proses dasar kejuruan terdiri dari mengenal proses pengerjaan logam. Keterbatasan tersebut antara lain pada kesulitan untuk mendapatkan kualitas yang sama persis antara produk yang satu dengan lainya.

menyambung. melukis. c) alat potong d) perhitungan pemakanan benda kerja Adanya tuntutan konsumen yang semakin presisi menuntut proses produksi yang lebih akurat dengan bantuan komputer. pengepasan ekor burung. Lebih mudah karena programmer tidak perlu menghitung letak koordinat suatu titik. mal mata bor. Bagian ini telah memaparkan bagaimana memproduk suatu benda kerja dengan menggunakan mesin perkakas. menggergaji. mesin bubut berat. menyetempel. mengetap dan menyenei. keran pendingin. mereamer. roda pemutar. mesin bubut sedang. kepala lepas. seperti mesin bubut. Keuntungan dari software ini adalah programmer tidak perlu menghitung setiap titik koordinat dalam suatu benda kerja. kotak dan pengasahan penitik. Buku ini akan mengupas teknik produksi industri mesin yang menggunakan peralatan mesin konvensional seperti teknik menggunakan mesin biubut. dengan mesin frais. mesin bubut standar. bagian ini membahas tentang: pengertian mesin bubut konvensional. menekuk. 7. jenis-jenis mesin bubut konvensional. mata bor. namun cukup membuat gambar/design benda kerja secara bebas pada Software AutoCAD. penggores. Adapun pembahasan teknik produksi industri rmesin perkakas tangan meliputi berbagai bidang antara lain: a) kerja bangku yang terdiri dari mengikir. (tail stock) . transporter. dan frais. b) bagian utama mesin bubut konvensional. alas mesin (bed).pengikat kepala lepas. dan menggerinda. mengebor. sumbu utama (mesin spindle). Oleh karena itu b agian ketiga telah memaparkan tentang teknik produksi industri mesin berbasis pada komputer seperti: Computer Aided Design (CAD). menyekerap.6. mesin bubut ringan. Bagian selanjutnya teknik mentransfer data dari gambar AutoCAD ke program mesin perkakas CNC. c) lembar pekerjaan yang meliputi alas penindih kertas. fungsi mesin bubut konvensional. Produk benda kerja yang memerlukan penyelesaian lebih presisi dari pekerjaan perkakas tangan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin konvensional. sumbu pembawa. Gambar tersebut selanjutnya dapat ditransfer ke bentuk (N/G code) kalimat-demi kalimat yang dapat digunakan oleh mesin perkakas CNC untuk dikerjakan (dieksikusi). memahat. setelah itu dibahas tentang pembuatan benda kerja dengan menggunakan mesin perkakas CNC. pahat tangan. pengepasan persegi. Adapun bagian yang telah dibahas antara lain: a) mesin bubut konvebsional. eretan (carrage). melainkan dengan 672 . tuas-tuas pengatur kecepatan sumbu utama. yang lengkap tentang teknik produksi industri mesin secara keseluruhan. Teknik ini akan sangat membantu industri maupun siswa agar dapat membuat benda kerja dengan presisi meskipun memiliki design rumit namun menjadi mudah dikerjakan. b) kerja pelat yang meliputi membengkok. melipat.

bagian ini akan membahas tentang: istilah Robot. peralatan sistem pneumatik. diagram karnaught. dasar-dasar perhitungan hydrolik. 8.menggunakan osnap dan fungsi lain dalam AutoCAD. pengendalian tak langsung. klasifikasi sistim pneumatik. kode G. kecepatan torak. Gerakan Robot. aplikasi sistem kerja pneumatik pengendalian langsung silinder sederhana. simbol logika. instruksi dasar sampai diagram ladder dan aplikasinya dan sebgainya. PLC (progammable Logic Controller). komponen hydrolik. karakteristik udara kempa. pemeriksaan udara kempa dan peralatan. type of mounting (cara-cara pengikat). pompa roda gigi dalam tipe crescent. keuntungan dan kerugian penggunaan udara kempa. 9. pengendalian hydrolik. Dari software ini data gambar akan dirubah ke bahasa pemrogramman mesin CNC seperti kode N. Oleh karena itu bagian ini telah membahas tentang system control pnuematik dan hydrolik. instalasi pompa hidrolik. kompressor (pembangkit udara kempa). pompa torak radial (radial piston pump). unit penggerak (working element = aktuator). dasar perhitungan pneumatik. komponen Dasar. efektifitas pneumatik. air motor (motor pneumatik). b) Operasi dan Fitur Manipulator. Pada bagian kesepuluh penulis membahas tentang TEKNOLOGI ROBOT yang meliputi: a) Pengenalan Robot. pompa dan aktuator hydrolik. prinsip hukum pascal. Gambar bebas benda kerja tersebut akan diterjemahkan oleh mesin CNC melalui software CNC Keller Q Plus. pengertian sistem kontrol pneumatik. tekanan udara. perhitungan tekanan. untuk saluran 1. materi tersebut meliputi pembahasan tentang: a) pengertian pneumatik. otomasi teknik produksi. Tingkatan Teknologi. konduktor dan konektor. Proses produksi berbasis pada sistem kontrol pneumatic/hydrolik merupakan bagian yang sedang berkembang. pengetesan efesiensi pompa hidrolik. Bagian kesembilan akan membahas tentang proses industri teknologi modern yang meliputi sejarah perkembangan otomasi industri. 10. gaya torak (f) udara yang diperlukan. pompa roda gigi dalam tipe geretor. perhitungan daya kompressor. dan lainnya. pneumatik. katup-katup pneumatik. Pada PLC dijelaskan mulai dari sejarah perkembangan. perhitungan kecepatan. aplikasi pneumatik dalam proses produksi penggeser benda/pintu. balanced vane (pompa kipas balanced). aplikasi penggunaan pneumatik. katup pneumatik. sistem kontrol pneumatik. perangkat keras. Sistem 673 .2 (x). tekuk). perangkat lunak. Rotasi Wrist. analisa aliran fluida (v). unit pengatur (control element). unit pengolahan udara bertekanan (air serviceunit). keuntungan kerugian/kelemahan pneumatik. meliputi: Manipulator Arm Geometry. pemeliharaan cairan hydrolik. bent axis piston (pompa torak dengan poros.

Jangkauan Kerja. Sensor NonKontak. 2. c) Efektor meliputi: Gripper. sensor Temperaptur 11. 674 . 2. Saran Pada kesempatan ini penulis mengajukan beberapa saran demi kemajuan sains dan teknologi di Indonesia. Jenis Gripper. Buku ini sebaiknya digunakan untuk pedoman pengajaran mata diklat teknik permesinan dan tenik otomasi industri untuk kalangan sekolah menengah kejuruan bidang teknik mesin dan praktisi industri mesin. Masukan dan saran dari pembaca yang budiman sangat kami harapkan demi kesempurnaan buku ini di masa yang akan datang. 3.Penggerak Manipulator. Bagi kalangan praktisi industri buku ini dapat dijadikan pegangan dalam mengatasi permasalahan yang ada di industri. Sensor Kontak. yang berisi simpulan dan saran. Aplikasi Robot. Sensor dan Tranduser. Perakitan dan Pengencangan. Penanganan Material. Pada bagian terakhir berupa bagian penutup. pengelasan. Sensor Gaya dan Momen. antara lain: 1. Klasifikasi Gripper.

Lilih Dwi P. Solingen. 1983 Sachur Rheinhard. Wuppertal. Esslingen Daryanto. Stamford 1999 Depdikbud. Yogyakarta Richard C. Pelayanan EMCO 2A. Groover: Automation Production systems. Wuppertal. Menggambar Mesin Menurut Standar ISO. Gehlen Setiawan. 2001. 1985 Pudjananta dan Narsuhud. Dorf : Sistem Pengaturan . Siegfried Keller. 2001. Verlag. Hollebrandse. Jakarta Sugihartono. Jugendlexikan der Tecknik. Austria. Mechanical Engineering Handbook. Yogyakarta : Penerbit Andi Siegfried K eller. EMCO Maier dan Co. Laboratorium CNC – BLPT Surabaya. Gramedia. Depdikbud. Programmable Logic Controller (PLC) dan Perancangan Sistem Kontrol. Pengetahuan Dasar Mesin CNC. J. Majumdar. Maier dan Co. Buku CNC Milling – TU 3A (Mesin Freis Dasar) . CNC Technik. Koln Delman kilian. Lilih Dwi P. 1999 Keller. 1990. Sudibyo dan Djumarso. 1992. 1986 Harapan Utama. Pneumatic Systems Principles and Maintenance. 2000.1 DAFTAR PUSTAKA Aris Munandar. Penerbit Erlangga . Penerbit Erlangga . Mannheim. Esslingen Croser P.P. Europah Lehrmittel Groover M. Q Plus Frasen CNC Qualifizierung. Laboratorium CNC – BLPT Surabaya. Festo Didaktik. and Aplication. Instandhalttungsmanagement. Bandung: Pusat Pengembangan Penataran Guru Teknologi Bandung. 1991. Materi Pengajaran AutoCAD 2000. Industrial Robotics Technology. Keller Didaktik and Technik. Mcgraww-Hill Book Co. Menggambar Teknik Mesin. Deutschdtiflng fur Internationale Entwikcklung. Penerbit tarsito. Soedjono. Jakarta. Jakarta. 1984 Peter Patient. 1995. 1998. Dasar Dasar Kontrol Pneumatik. Jakarta. Bandung Cliffs. Croser P. dkk. Jakarta: PT Rosda Jayaputra. Jakarta. Modern Control Technology Component And Stystem Handbook. EMCO Mikell P. Bandung.. 1997. Steurn und Regeln im Maschinenbau. Katsuhiko Ogata : Teknik Kontrol Automatik (Sistem Pengaturan Jilid 1) . 2006.J. dkk. CNC Didaktik. New york.M. EMCO Meier (1992). Mesin Konversi Energi. 1985 . Penggerak Mula Turbin. Jakarta Dieter. Programming. 1990. Schulungsunterlagen CNC Maho 432. Pneumatik. Solo: ATMI ST Mikael Sugiharto. Petunjuk Penggunaan Mesin CNC EMCO TU-3A. 1988. 1988. 1977. 2001 Pakpahan : Kontrol Otomatik . Festo Didaktik. 2001. Keller Didaktik and Technik. Jakarta Keith Frank. Hallem. Semarang: Lembaga Keterampilan Komputer Harapan Utama. Mesin Bubut CNC Dasar. Hydrolik.. Teknik Pemrograman Dan Aplikasi CNC. 1992. Pelayanan EMCO 3A. ITB.Tata McGrawHill. 1988. Singapore. Inc. Omega Engineering. 1991. Pradya Paramitha. Toleransi. Haan-Gruiten. Pengantar Ilmu Teknik Pneumatika. Q Plus Drehen CNC Qualifizierung. CRC Press LLC. 1987.Karl. Gottfried Nist(1994). 1998. and Computer-Integrated Manufacturing : Pearson Education . dkk. 1988. Soewito. Hadi. 2006. Homburg. Singapore.LAMPIRAN A. New Delhi. PT. Hallem. Buku CNC Milling – TU 2A (Mesin Bubut Dasar) . 1994. Iwan. Andi Offset. Penerbit Erlangga .

LAMPIRAN A.2
Sumbodo, Wirawan, 2004, Dasar-dasar Sistem Pneuamtik/Hydrolik, Semarang, Unnes Sumbodo, Wirawan, 1998, Dasar-dasar Sistem Pemrogramman mesin CNC, Semarang, Unnes Supriyono dan Almeriany. 1983. Gambar Teknik. Solo: ATMI ST Mikael Umaryadi, 2006, PDTM Teknologi dan Industri, Yudhistira, Jakarta Wahana Komputer. 2002. Menguasai AutoCAD 2002. Jakarta: Salemba Infotek. www.Wikipedia.com/id/search/automation system www.en.wikipedia.com www. cnc-keller.de www.hondacompany.com www. Q Plus Frasen.com www.omron.com/index3.html www.zen.omron.co.jp/eng/index.html - 22k www.plcs.net/ - 20k www.automation.com world.honda.com/ASIMO/ www.compserv.sabah.gov.my www.roboticsonline.com www.fanucrobotics.com embedded-system.net www.playrobot.com/comp%20robot_ind.htm embedded-system.net/kuka-kr-1000-titan-6-axis. www.webstergriffin.com/images/robot_arm01.jpg

LAMPIRAN B.1

DAFTAR TABEL
BAB I MEMAHAMI DASAR -DASAR KEJURUAN
Tidak ada tabel

BAB II MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN
Tidak ada tabel

BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA, ALAT DAN LINGKUNGAN
Tidak ada tabel

BAB IV GAMBAR TEKNIK
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4.

Kertas gambar berdasarkan ukuranya ............................................ Pensil berdasarkan kekerasan .......................................................... Macam-macam ketebalan garis ........................................................ Perbandingan ketebalan garis bantu dengan garis gambar ........................................................................................

62 64 99 103

BAB V PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12.

Pengelom pokan kikir berdasarkan kekerasan gigi dan kegunaanya........................................................................................... Pengelompokan kikir berdasarkan penampang dan penggunaanya ..................................................................................... Pemegangan kikir untuk berbagai kebutuhan pengerjaan ........... Cutting speed untuk mata bor ........................................................... Kecepatan pemakanan (feeding)....................................................... Langkah pengeboran berbagai jenis pekerjaan ............................. Jenis bukaan gigi gergaji dan fungsinya ......................................... Jumlah gigi tiap panjang 1 inchi berikut fungsinya ........................ Jenis daun gergaji berikut fungsinya ................................................ Tingkat kekerasan batu gerinda dan penggunaanya .................... Tingkat kehalusan dan penggunaanya ............................................ Kecepatan keliling yang disarankan .................................................

138 139 141 173 174 175 178 178 179 200 200 204

BAB VI PROSES PRODUKSI MESIN KONVENSIONAL
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4 Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12. Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16.

Perbedaan mesin bubut konvensional dengan CNC .................... Penggunaan sudut tatal dan sudut bebas pahat bubut................. Kecepatan potong pahat HSS (High Speed Steel) ........................ Daftar kecepatan potong pembubutan............................................. Kecepatan pemakanan untuk pahat HSS ....................................... Kecepatan potong untuk beberapa jenis bahan.............................. Daftar kecepatan potong mesin frais ................................................ Kecepatan pemakanan pergigi untuk HSS...................................... Ukuran utama roda gigi sistem module............................................ Ukuran utama roda gigi diameteral pitch.......................................... Pemilihan nomor pisau sistem module............................................. Satu set cutter dengan 15 nomir........................................................ Satu set cutter midul sistem diameter pitch..................................... Hubungan cutting speed dengan bahan ......................................... Kecepatan potong untuk HSS dalam m/menit................................. Tingkatan suaian basis lubang ......................................................... Tingkatan suaian basis poros ...........................................................

246 254 261 262 263 302 303 304 319 320 321 322 322 323 323 338 338

LAMPIRAN B.2
Tabel 17. Tabel 18a Tanel 18b Tabel 19a Tabel 19b Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Harga tingkatan suaian menurut ISO ............................................... Nilai penyimpangan lubang untuk tujuan umum ............................. Nilai penyimpangan lubang untuk tujuan umum ............................. Nilai penyimpangan poros untuk tujuan umum ............................... Nilai penyimpangan poros untuk tujuan umum ............................... Arti kode M pada mesin CNC ............................................................ Arti kode lainya .................................................................................... Siklus pemrograman dengan EMCO TU 2A ................................... Siklus pembuatan ulir G 33 ................................................................ Koordinat hasil perhitungan titik ........................................................ Siklus program pembuatan pion catur dengan CNC EMCO TU 2A ....................................................................................... Siklus pemrograman pembuatan asbak rokok dengan.................. CNC EMCO TU 2A ............................................................................. 339 340 341 342 343 410 420 422 428 430 437 441 497 498 500 502 503 503 504 504 505 508 518 520 522 523 544 545 546 546 547 550 581 582 582 583 608 612 614

BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER

BAB VIII
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10.

SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK

Tabel 11. Tabel 12. Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16. Tabel 17. Tabel 18. Tabel 19. Tabel 20.

Jenis dan simbol katup sinyal pneumatik ........................................ Jenis penggerak katup........................................................................ Jenis dan simbol katup pemroses sinyal.......................................... Jenis dan simbol katup pembatas tekanan...................................... Simbol logika katup AND .................................................................... Simbol logika katup OR....................................................................... Simbol dan logika katup NOT............................................................. Logika katup NOR................................................................................ Logika katup NAND.............................................................................. Jenis dan Simbol Komponen Sistim Pneumatik Lainnya (FESTO FluidSIM)............................................. Logika pengendalian sistem sederhana langsung.......................... Logika sistem diagram gerak silinder melalui dua katup ............... Simbol dan keterangan rangkaian kontrol pint bus otomatis ......................................................................................... Jenis -jenis cairan hidrolik tahan api.................................................. Perbandingan macam -macam cairan hidrolik ................................ Klasifikasi viskositas cairan hidrolik................................................... Aplikasi penggunaan hidrolik dengan tingkatanya.......................... Batas viskositas ideal.......................................................................... Kesetaraan dari berbagai satuan viscositas oli hidrolik................. Karakteristik cairan hidrolik yang dikehendaki ...............................

BAB IX
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3.

PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN

Logika AND dan NOT AND ................................................................ Logika OR dan NOT OR ..................................................................... Aturan aljabar saklar AND .................................................................. Aturan aljabar saklar OR..................................................................... Pengalamatan input dan output ........................................................ Daftar alamat pada input dan output ................................................ Alamat input dan output PLC ............................................................

BAB X TEKNOLOGI ROBOT

Propertis teknologi robot .................................................................... 629 Material variasi temperature dan tahanan bahan .......................... 653 Jangkauan temperature dan jangkauan tegangan ........................ 654

LAMPIRAN C.1

DAFTAR GAMBAR _________________________________________________
BAB I MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN
Perpindahan benda dari A ke B akibat gaya F ............................... 1 Gaya gesek pada roda mobil........................................................... 2 Titik tangkap gaya (A) pada garis kerja gaya .................................. 2 Menyusun dua buah gaya menjadi gaya Resultan (F) .................... 3 Menyusun Gaya lebih dari dua buah secara grafis ......................... 3 Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon ....................... 4 Menyusun gaya lebih dari dua buah secara Analitis ....................... 4 Menguraikan gaya (proyeksi) sumbu X dan Y................................. 5 Jarak (L) garis gaya (F) terhadap titik perputaran (o) ...................... 5 Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon ....................... 6 Dua buah gaya sama sejajar berlawanan arah dan berjarak L ....... 6 Gaya F1 dan F2 yang mebentuk sudut α ........................................ 8 Dua gaya pada batang membentuk kesetimbagan ......................... 8 Kesetimbagan benda pada bidang miring ....................................... 9 Tegangan yang timbul pada penampang A-A ............................... 10 Tegangan Normal.......................................................................... 10 Tegangan tarik pada batang penampang luas A........................... 11 Tegangan tekan ............................................................................ 12 Tegangan Geser ........................................................................... 12 Tegangan lengkung pada batang rocker arm................................ 13 Tegangan puntir ............................................................................ 14 Kontruksi poros kereta api............................................................. 15 Kontruksi poros kereta api............................................................. 16 Kontruksi poros transmisi .............................................................. 16 Poros transmisi dengan beban puntir ............................................ 16 Beban lentur murni pada lengan robot .......................................... 17 Beban puntir dan lentur pada arbor saat pemakanan ................... 18 Bantalan luncur dilengkapi alur pelumas ....................................... 19 Bantalan radial .............................................................................. 19 Bantalan aksia............................................................................... 19 Bantalan gelinding khusus............................................................. 20 Dapur pengolahan bijih besi menjadi besi ..................................... 23 Gambar 1. Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32.

BAB II
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3, Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12.

MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN
Logam cair sedang dituangkan ke dalam cetakan ........................ 29 Proses Pengecoran logam ............................................................ 30 Diemensi benda kerja yang akan dibuat (a), menutupi permukaan pola dalam rangka cetak dengan pasir, (c) cetakan siap, preses penuangan (d), dan produk pengecoran ...................................... 31 Pengecoran logam pada cetakan pasir ......................................... 34 Turbin air produk hasil pengecoran logam ................................... 35 Turbin air produk hasil pengecoran logam.................................... 36 Die Casting .................................................................................... 36 Salah satu produk Die Casting ...................................................... 38 Pengolahan Logam Manual ........................................................... 40 Pengerjaan Logam dengan mesin bubut ....................................... 41 Produk pengolahan logam dengan mesin CNC............................. 42 Mesin pengerollan (rolling)............................................................. 43

LAMPIRAN C.2
Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16, Gambar 17, Gambar 18, Gambar 19, Gambar 20 PLTA, konversi energi dari energi potensial, energi mekanik, dan energi listrik ................................................................................... 44 Accu sebagai bentuk energi kimia ................................................. 45 Salah satu reaktor nuklir ............................................................... 46 Mesin konversi dari panas ke uap ................................................. 46 Pemanfaatan energi angin ........................................................... 47 siklus motor bensin 4 langkah ....................................................... 48 Turbin Air....................................................................................... 50 Sebuah sistem turbin gas .............................................................. 50

BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA, ALAT, DAN LINGKUNGAN
Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24, Gambar 25, Gambar 24, Tanda harus mengenakan kacamata ............................................ 58 Tanda harus mengenakan penutup telinga ................................... 58 Tanda harus mengenakan sarung tangan..................................... 58 Pekerja menggunakan kacamata dan masker .............................. 59 Mengisap serbuk fiber menggunakan vacum ................................ 59 Menekuk plat/selang fiber menggunakan sarung tangan ........................................................................................... 59

BAB IV GAMBAR TEKNIK
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik ................................................................................. 65 Pensil batang................................................................................. 66 Pensil mekanik .............................................................................. 66 Cara menarik garis ........................................................................ 67 Rapido ........................................................................................... 67 Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga.............................. 68 Cara menggunakan penggaris-T ................................................... 68 Cara menggunakan penggaris segitiga ......................................... 69 Jenis jangka .................................................................................. 69 Kedudukan pena tarik saat menarik garis ..................................... 70 Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung.................................................................................. 70 Plat pelindung penghapus ............................................................. 71 Busur derajat ................................................................................. 71 Mal lengkung ................................................................................. 72 Contoh penggunaan mal lengkung................................................ 72 Mal bentuk geometri ...................................................................... 72 Meja gambar ................................................................................. 73 Mesin gambar lengan .................................................................... 73 Mesin gambar rol........................................................................... 73 Proyeksi piktorial ........................................................................... 75 Proyeksi isometris ......................................................................... 76 Penyajian proyeksi isometris ......................................................... 77 Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik ............................. 77 Proyeksi isometris kedudukan horisontal ...................................... 78 Proyeksi dimetris ........................................................................... 78 Kubus dengan proyeksi dimetris.................................................... 79 Proyeksi miring .............................................................................. 79 Perspektif dengan satu titik hilang ................................................. 80 Perspektif dengan dua titik hilang.................................................. 80 Perspektif dengan tiga titik hilang .................................................. 80 Macam-macam pandangan ........................................................... 81 Bidang proyeksi ............................................................................. 81

........................... 85 Pandangan proyeksi Amerika ........................................................ Gambar 41... 104 Angka ukuran dan arsiran.. Gambar 58a Gambar 58b Gambar 58c........... Gambar 63b............................ Gambar 55.............................................. Gambar 36.................................................................................... Gambar 43............................ 83 o Potongan garis yang bersudut 45 .............. Gambar 37...... Gambar 49. 110 Pengukuran ketirusan .......................... 88 Gambar pandangan .............. Gambar 72................ Gambar 54......... 88 Gambar satu pandangan ........................... Gambar 68.................................... 112 Pengukuran jari-jari.................................................................................. 110 Penunjukan ukuran pengerjaan khusus................................ Gambar 77.......................... Gambar 59.................... 90 Penentuan pandangan depan............................. Gambar 62a.. 93 ................................................... Gambar 57.......... 86 Proyeksi Eropa ........................................................... Gambar 38....... Gambar 35......LAMPIRAN C...................... Gambar 48........ 91 Penggunaan tiga pandangan................ Gambar 52.... Gambar 81.............. 111 Penunjukan ukuran pada bagian yang simetris ...................................................... Gambar 62b... 105 Cara penarikan garis dan ketebalanya ...................................................................... Gambar 50.............................. Gambar 78................................. Gambar 46.............. 104 Macam-macam arsiran ..................................................... 113 Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran ......................................... 98 Potongan penuh ................... 113 ..................... 95 Penempatan gambar potongan ...................................... 101 Potongan putar .. 84 Pandangan proyeksi Eropa .......... Gambar 39................................... Gambar 82.................................... Gambar 44.......................... Gambar 47........................................................................................ 102 Sudut ketebalan garis arsiran ........ Gambar 66.............................................. Gambar 67............................................ 92 .......... 87 Penerapan Proyeksi Amerika .................................................................... 90 Pandangan utama ........................... 103 Arsiran pada bidang luas dan bidang berdampingan.................... Gambar 84.......................... Gambar 80......................... 90 Penggunaan dua pandangan..... 87 Penerapan Proyeksi Eropa ............................................. Gambar 56............................ Gambar 45......... Gambar 71.................................................................................................................... 111 Pencantuman simbol-simbol ukuran ................................. 87 Contoh penggambaran anak panah .... Gambar 64........ 89 Pembedaan bentuk benda dengan satu pandangan ........................... 86 Anak panah ..... 93 ......................................................... Gambar 83.................................... 97 Penempatan potongan dengan diputar dan dipindah ......................................................................................................... 100 Potongan sebagian ................. 101 Potongan bercabang atau meloncat ................ Proyeksi di kuadran I .. 101 Contoh penggunaan arsiran ................ Gambar 40........................................................................ 98 Potongan dudukan poros............... 85 Contoh pandangan proyeksi Amerika ....................................................... Gambar 51....... 93 Tanda pemotongan........ 103 Arsiran benda tipis ............. Gambar 69.................. 82 Pembukaan objek gambar di kuadran I .... 108 Ukuran tambahan ........ 94 Tanda pemotongan dengan gelombang dan zigzag .................... Gambar 79....... 97 Potongan jari-jari pejal ........... Gambar 75............................................. 83 Pemutaran dengan jangka ........ Gambar 63a....................... 91 Bentuk benda dari hasil pandangan ............................................... Gambar 70................................................ Gambar 73............................... 84 Garis sumbu terpisah dengan gambar............................................ 99 Potongan separuh ................................................ Gambar 74..................................................... Gambar 61.......................................................................... 107 Penulisan angka ukuran .... Gambar 42................................. 86 Proyeksi Amerika ................................ 89 Pemilihan pandangan utama ................ 84 Garis sumbu berimpit dengan gambar......3 Gambar 34................ Gambar 60.............. Gambar 65...................................................................................................................................... 106 Jarak antara garis ukur ...... 96 Penempatan potongan dengan diputar.......................................... Gambar 76....................................... Gambar 53.....................................................................................

LAMPIRAN C.4
Gambar 85. Gambar 86. Gambar 87. Gambar 88. Gambar 89. Gambar 90. Gambar 91. Gambar 92. Gambar 93. Gambar 94. Gambar 95. Gambar 96. Gambar 97. Gambar 98. Gambar 99. Gambar 100. Gambar 101. Gambar 102. Gambar 103. Gambar 108. Gambar 107. Gambar 106. Gambar 105. Gambar 104. Gambar 111. Gambar 110. Gambar 109. Gambar 112. Gambar 113. Gambar 115. Gambar 114. Gambar 116. Gambar 117. Gambar 118. Gambar 119. Gambar 120. Gambar 121. Gambar 122. Gambar 123. Gambar 124. Gambar 125. Gambar 126. Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran...................................................................................... 113 Penunjukan ukuran...................................................................... 114 Ukuran berantai ........................................................................... 114 Ukuran sejajar ............................................................................. 115 Ukuran kombinasi........................................................................ 115 Ukuran berimpit ........................................................................... 116 Pengukuran berimpit ................................................................... 117 Pengukuran koordinat ................................................................. 118 Pengukuran berjarak sama ......................................................... 118 Pengukuran berjarak sama ......................................................... 119 Pengukuran alur pasak................................................................ 119 Pengukuran pada lubang ............................................................ 120 Pengukuran profil ........................................................................ 120 Pembuatan gambar mur.............................................................. 121 Pengukuran mur .......................................................................... 121 Pembuatan gambar baut ............................................................. 122 Pembuatan gambar mur dan baut ............................................... 122 Batas atas dan batas bawah toleransi......................................... 123 berbagai macam ukuran dan penyimpangan .............................. 123 Penulisan toleransi simetris ......................................................... 124 Penulisan toleransi dan nilai penyimpangan nol.......................... 124 Penulisan toleransi dan nilai penyimpangan ............................... 124 Penulisan toleransi suaian dan nilai penyampangan................... 124 Penulisan suaian standar ISO ..................................................... 124 jenis-jenis penulisan toleransi pada gambar susunan ................. 125 Penulisan batas-batas ukuran dalam satu arah .......................... 125 Penulisan batas-batas ukuran ..................................................... 125 Jenis-jenis penulisan yoleransio pada ukuran sudut ................... 126 Penulisan ukuran dan toleransi pada gambar kerja..................... 126 kelonggaran dan kesesakan antara poros dan lubang ................ 128 Penandaan Kualitas Permukaan ................................................ 128 Suaian Longgar ........................................................................... 129 Suaian paksa............................................................................... 129 Suaian tramsisi ............................................................................ 129 Proyeksi piktorial ......................................................................... 131 Proyeksi isometris ....................................................................... 131 Proyeksi dimetris ......................................................................... 132 Proyeksi miring ............................................................................ 132 Potongan A-A .............................................................................. 133 Potongan B-B .............................................................................. 133 Macam-macam arsiran................................................................ 134 Gambar Benda Kerja .................................................................. 135

BAB V
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10.

PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN
Ketinggian ragum untuk pengerjaan umum kerja bangku ........................................................................................ 138 Ragum ...................................................................................... 138 Pencekaman benda kerja ......................................................... 139 Bagian bagian utama kikir ......................................................... 140 Spesifikasi kikir ......................................................................... 140 Spesifikasi kikir berdasarkan penampangnya ........................... 140 Kikir single cut dan kikir double cut ........................................... 141 Gerakan badan dan mulut ......................................................... 145 Posisi kaki terhadap sumbu ...................................................... 145 Kikir gigi tunggal arah pemakanan lurus dengan

LAMPIRAN C.5
sumbu kikir ................................................................................ Kikir gigi tunggal arah pemakanan tidak satu sumbu dengan sumbu kikir ................................................................... Kikir gigi ganda degan arah pemakanan lurus dengan sumbu kikir ................................................................... Menghilangkan kulit yang keras dengan ujung .......................... Pemeriksaan kerataan hasil pengikiran dengan pisau perata ............................................................................... Bidang dasar 1, 2 dan 3 ............................................................ Pemeriksaan hasil pegikiran miring ........................................... Pengikiran radius dalam ............................................................ Pengikiran radius luar ................................................................ Pemeriksaan hasil pengikiran radius ......................................... Bidang dasar sebagai dasar ukuran, kesikuan dan kesejajaran dalam penggambaran ............................................ Mistar baja ................................................................................. Penggunaan mistar baja ............................................................ Busur derajat ............................................................................. Penggunaan busur derajat ........................................................ Set mal radius dalam satu tangkai ........................................... Set mal radius dalam ikatan cincin ............................................. Memeriksa dengan mal radius .................................................. Satu set mal ulir ......................................................................... Memeriksa ulir baut dan mal ulir ................................................ Pita ukur .................................................................................... Jangka sorong ........................................................................... Penggunaan mistar sorong ....................................................... Penggores ................................................................................. Pemakaian penggores ............................................................... Siku-siku .................................................................................... Siku-siku geser .......................................................................... Penggunaan siku-siku ............................................................... Siku-siku kombinasi ................................................................... o Pengukuran 45 ......................................................................... o Pengukuran kesikuan 90 ........................................................... Jangka tusuk (spring divider ) .................................................... Pengukuran dengan jangka tusuk ............................................. Jangka tongkat .......................................................................... Penggunaan jangka tongkat ...................................................... Jangka garis .............................................................................. Penggunaan jangka garis .......................................................... Jangka bengkok ........................................................................ Mengukur tebal dan kesejajaran ............................................... Jangka kaki ............................................................................... Memeriksa diameter dalam ....................................................... Balok gores ............................................................................... Penggunaan balok gores ........................................................... Pengukur tinggi ......................................................................... Menggaris sebuah bidang ......................................................... Mengukur tinggi / tebal .............................................................. Penitik pusat .............................................................................. Pengunaan penitik pusat ........................................................... Penitik garis ............................................................................... Penggunaan penitik garis .......................................................... Palu ........................................................................................... Tangkai palu............................................................................... 145 145 147 147 148 148 149 149 150 150 151 151 152 152 152 153 153 153 154 155 155 155 156 156 157 158 158 158 158 159 159 159 160 160 160 161 161 161 161 162 162 163 163 164 164 164 165 165 165 165 166 166

Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25a Gambar 25b Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Gambar 34. Gambar 35. Gambar 36. Gambar 37. Gambar 38. Gambar 39. Gambar 40. Gambar 41. Gambar 42. Gambar 43. Gambar 44. Gambar 45. Gambar 46. Gambar 47. Gambar 48. Gambar 49. Gambar 50. Gambar 51. Gambar 52. Gambar 53. Gambar 54. Gambar 55. Gambar 56. Gambar 57. Gambar 58. Gambar 59. Gambar 60.

LAMPIRAN C.6
Gambar 61. Gambar 62. Gambar 63. Gambar 64. Gambar 65. Gambar 66. Gambar 67. Gambar 68. Gambar 69. Gambar 70. Gambar 71. Gambar 72. Gambar 73. Gambar 74. Gambar 75. Gambar 76. Gambar 77. Gambar 78. Gambar 79. Gambar 80. Gambar 81. Gambar 82. Gambar 83. Gambar 84. Gambar 85. Gambar 86. Gambar 87. Gambar 88. Gambar 89. Gambar 90. Gambar 91. Gambar 92. Gambar 93. Gambar 94. Gambar 95. Gambar 96. Gambar 97. Gambar 98. Gambar 99. Gambar 100. Gambar 101. Gambar 102. Gambar 103. Gambar 104. Gambar 105. Gambar 106. Gambar 107. Gambar 108. Gambar 109. Gambar 110. Gambar 111. Gambar 112. Gambar 113. Gambar 114. Palu lunak ................................................................................. 167 Penggunaan palu ...................................................................... 167 Meja perata ............................................................................... 167 Penggunaan meja ..................................................................... 167 Balok vee .................................................................................. 168 Penggunaan balok vee ............................................................. 168 Bagian-bagian mata bor ............................................................. 169 Mata bor pilin kisar sedang ....................................................... 169 Bor pilin spiral kecil ................................................................... 170 Bor pilin kisar besar ................................................................... 170 Bor pilin kisar besar sudut sayat kecil ....................................... 170 Bor pilin kisar besar sudut sayat lancip ..................................... 170 Bor pembenam ......................................................................... 171 Mata bor pembenam kapala baut ............................................. 171 Bentuk kepala mata bor ............................................................ 171 Kaliber mata bor ........................................................................ 172 Sudut mata bor ......................................................................... 172 Penjepit bor .............................................................................. 173 Sarung pengurang .................................................................... 173 Mesin bor bangku....................................................................... 173 Mesin bor tiang ......................................................................... 174 Bor pistol ................................................................................... 174 Bor dada mekanik terbuka ........................................................ 174 Bor dada mekanik tertutup ........................................................ 174 Reamer (Peluas) ........................................................................ 178 Peluas tirus ............................................................................... 178 Peluas yang dapat distel ........................................................... 179 Penggunaan reamer ................................................................. 179 Gergaji tangan .......................................................................... 180 Pemasangan daun gergaji pada sengkang ............................... 180 Pemegangan sengkang gergaji ................................................ 182 Membuat alur (permulaan menggergaji) ................................... 182 Sudut awal penggergajian ......................................................... 183 Pemotongan benda kerja .......................................................... 183 Posisi daun gergaji tagal lurus terhadap sengkang Gergaji ...................................................................................... 183 Pahat ......................................................................................... 184 Pahat ......................................................................................... 185 Pahat alur .................................................................................. 185 Pahat dam ................................................................................. 185 Pahat alur minyak ..................................................................... 186 Pahat kuku ................................................................................ 186 Pahat diamon ............................................................................ 186 Cara menggenggam pahat ....................................................... 187 Memperhatikan mata pahat ...................................................... 187 Memahat baja pelat ................................................................... 188 Memahat benda yang lebar ...................................................... 188 Memahat benda kerja yang tidak dijepit dengan Catok ragum ............................................................................. 189 Posisi pahat pada waktu memahat ........................................... 189 Posisi pahat pada saat akhir pemahatan .................................. 189 Garis bantu stempel .................................................................. 190 Susunan stempel ...................................................................... 191 Posisi stempel ........................................................................... 191 Tap ............................................................................................ 192 Sney .......................................................................................... 193

LAMPIRAN C.7
Gambar 115. Gambar 116. Gambar 117. Gambar 118. Gambar 119. Gambar 120. Gambar 121. Gambar 122. Gambar 123. Gambar 124. Gambar 125. Gambar 126. Gambar 127. Gambar 128. Gambar 129. Gambar 130. Gambar 131. Gambar 132. Gambar 133. Gambar 134. Gambar 135. Gambar 136. Gambar 137. Gambar 138. Gambar 139. Gambar 140. Gambar 141. Gambar 142. Gambar 143. Gambar 144. Gambar 145. Gambar 146. Gambar 147. Gambar 148. Gambar 149. Gambar 150. Gambar 151. Gambar 152. Gambar 153. Gambar 154. Gambar 155. Gambar 156. Gambar 157. Gambar 158. Gambar 159. Gambar 160. Gambar 161. Gambar 162. Gambar 163. Gambar 164. Gambar 165. Gambar 166. Gambar 167. Gambar 168. Tangkai pemutar ....................................................................... 193 Dimensi ulir ................................................................................ 193 Proses mengetap ...................................................................... 195 Mengecek ketegakan lurus mengetap ....................................... 195 Posisi tangan pada awal menyenei ........................................... 195 Pemegangan penuh pada posisi jauh dari rumah Snei ........................................................................................... 196 Penggunaan snei ...................................................................... 196 Sekerap tangan ......................................................................... 197 Sekerap mata bulat ................................................................... 197 Sekerap keruk ........................................................................... 197 Sekerap setengah bundar ......................................................... 198 Sekerap segi tiga ....................................................................... 198 Sekerap bulat hidung sapi ......................................................... 198 Menyekerap ............................................................................... 199 Mesin gerinda tiang ................................................................... 199 Proses pelepasan butiran pemotong ......................................... 200 Roda gerinda lunak ................................................................... 201 Roda gerinda keras ................................................................... 201 Roda gerinda struktur terbuka .................................................... 203 Roda gerinda struktur padat ...................................................... 203 Roda gerinda struktur pori-pori .................................................. 203 Roda gerinda lurus .................................................................... 204 Penandaan roda gerinda ........................................................... 204 pemeriksaan roda gerinda ......................................................... 206 Pengikatan roda gerinda pada mesin spindel mesin ......................................................................................... 207 Mengasah / mendreser roda gerinda ........................................ 207 Keselamatan kerja menggerinda ............................................... 208 Melipat tepi ................................................................................ 208 Mesin lipat ................................................................................. 209 Mesin roll ................................................................................... 209 Landasan rata ........................................................................... 209 Landasan pipa ........................................................................... 209 Landasan tepi lurus ................................................................... 210 Landasan tepi bundar ................................................................ 210 Landasan ½ bola ....................................................................... 210 Landasan alur ............................................................................ 210 Sambungan sekerup ................................................................. 211 Sambungan lipatan ................................................................... 212 Sambungan keling ..................................................................... 212 Memasang baut pemanas ......................................................... 212 Proses mematri ......................................................................... 213 Jenis penguatan ........................................................................ 213 Pengutan tepi ............................................................................ 214 Penguatan tepi dengan kawat ................................................... 214 Mesin putar kombinasi ............................................................... 215 Alas penindih kertas .................................................................. 215 Mal mata bor ............................................................................. 216 Dimensi mal mata bor ................................................................ 217 Pengepasan persegi .................................................................. 217 Dimensi pengepasan persegi .................................................... 218 Sambungan ekor burung ........................................................... 218 Dimensi sambungan ekor burung .............................................. 219 Bukaan kotak ............................................................................. 219 Penitik, pahat tangan, penggores dan mata bor ........................ 221

LAMPIRAN C.8

_________________________________________________
BAB VI PROSES PRODUKSI MESIN KONVENSIONAL
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Gambar 34. Gambar 35. Gambar 36. Gambar 37. Gambar 38. Gambar 39. Gambar 40. Gambar 41. Gambar 42. Gambar 43. Gambar 44. Gambar 45. Gambar 46. Gambar 47. Gambar 48 Gambar 49. Gambar 50. Gambar 51. Poros lurus ................................................................................ 228 Poros bertingkat (step shaft) ..................................................... 228 Poros tirus (cone shaft) ............................................................. 228 Poros beralur dan berulir (screw thread) ................................... 228 Mesin bubut ringan .................................................................... 229 Mesin bubut sedang .................................................................. 230 Mesin bubut standar .................................................................. 230 Mesin bubut beralas panjang .................................................... 231 Mesin bubut lantai ..................................................................... 232 Mesin bubut dengan pengendali ............................................... 233 Mesin bubut tegak ..................................................................... 233 Mesin bubut dengan enam spindel mendatar ........................... 234 Mesin bubut tegak dengan delapan spindel .............................. 235 Mesin bubut tegak dengan spindel sistem rotari ....................... 235 Mesin bubut khusus untuk memotong ....................................... 236 Mesin bubut khusus ulir ............................................................ 236 Mesin bubut khusus pembuat ulir swiss .................................... 237 Mesin bubut turret ..................................................................... 237 Sumbu utama ............................................................................ 239 Meja mesin bubut ...................................................................... 239 Eretan (carriage) ........................................................................ 240 Kepala lepas ............................................................................. 241 Tuas pengatur kecepatan ......................................................... 241 Tuas pembalik putaran (C) ........................................................ 242 Plat tabel kecepatan sumbu utama ........................................... 242 Tuas pengatur kecepatan sumbu utama .................................... 243 Penjepit pahat ........................................................................... 243 Eretan atas ................................................................................ 244 Keran pendingin ........................................................................ 244 Poros transporter dan sumbu pembawa .................................... 245 Dimensi utama mesin bubut ..................................................... 246 Cekam rahang tiga sepusat (selft centering chuck) ................... 247 Cekam rahang tiga dan empat tidak sepusat (independent chuck)................................................................... 248 Plat pembawa ........................................................................... 248 Pembawa .................................................................................. 249 Penyangga ................................................................................ 249 Penggunaan penyangga ........................................................... 250 Kolet .......................................................................................... 250 Kelengkapan kolet ..................................................................... 251 Contoh penggunaan kolet ......................................................... 251 Senter ....................................................................................... 252 Taper attachment ...................................................................... 252 Geometris pahat bubut .............................................................. 253 Pahat bubut rata kanan ............................................................. 255 Pahat bubut rata kiri .................................................................. 255 Pahat bubut muka ..................................................................... 256 Pahat bubut ulir metrik ............................................................... 256 Jenis-jenis pahat bubut dan kegunaanya................................... 257 Pahat bubut dalam .................................................................... 258 Contoh pembubutan dalam ....................................................... 258 Pahat potong ............................................................................. 258

....................................... Gambar 58................................................................. 267 Pembubutan tirus dengan menggeser eretan atas...................................................... 282 Mesin frais duplex ............................. Gambar 102................. Gambar 95............... 286 Gear cutter .......... Gambar 67....... Gambar 83..................... Gambar 74.......................................... Gambar 65.............. 260 Jarak tempuh pahat bubut ....................................................................................... Gambar 64........................................... Gambar 94.......................................... 264 Membubut permukaan........... Gambar 72............................................... Gambar 80.......................................... Gambar 68....................................................................................... Gambar 84...................................... Gambar 55....................................... Gambar 92... 265 Pembubutan lurus benda yang panjang . 292 Pemotongan searah benda kerja .... Gambar 86............................... 288 Cutter endmill .... 289 Pisau pengasaran ......................................................................................... Gambar 71............ Gambar 107..................... 275 Prinsip pemotongan pada mesin frais ....... 283 Bagian-bagian utama mesin frais horisontal ...................................... 259 Bor senter ................. 265 Arah gerakan pahat dan benda kerja ................... 268 Membubut tirus diantara dua senter ....... 281 Mesin frais universal ..................................................... 287 Cutter alur “T” .. 290 Posisi cutter pada arbor .......... Gambar 60....................................... Gambar 97........... 279 Mesin frais horizontal ...................... Gambar 104................... Gambar 69.. 273 Ulir segitiga kiri ................................................... Gambar 89........................ 273 Standar kedalaman ulir metrik............. 282 Mesin frais roda gigi (gear hobbing machine) ........................... Gambar 90............................. Gambar 100............................. 272 Ulir segitiga dalam .......................... 289 Pisau frais gergaji ............... 272 Ulir segitiga kanan . Gambar 66................. Gambar 61................................ Gambar 105................................. Gambar 101........... Gambar 77..................................................................................................................................................... 282 Mesin frais planer .............................................. Gambar 79................... Gambar 53................... Gambar 73........................................ Gambar 82........ Gambar 56................. Gambar 91.................... 287 Cutter radius cekung ................. 289 Shell endmill cutter ........................................... 271 Membubut alur ........................................ Gambar 70................................ 292 Pengikatan cutter batang lurus . 269 Membubut bentuk .. Gambar 57............................................... Gambar 76........................................9 Gambar 52............................ Gambar 103............................. Gambar 85................. 293 ............................................................... Gambar 106..... 290 Cara pemasangan pisau frais................................................... Gambar 98........................... 285 Cutter mantel ................... Gambar 81............................ Gambar 62. 292 Adaptor .................................................. Gambar 99......... Gambar 59................................... 269 Perlengkapan tirus .................................................................................. 287 Cutter radius cembung ....... Gambar 96.. 274 Pengeboran lubang senter ...................................................................... 274 Membubut dalam tirus .............................................................................. 281 Mesin frais universal .............................. 283 Mesin frais tegak ................ Gambar 54...................................... Gambar 75........ 285 Mesin frais universal ............................... 271 Ulir segitiga luar .................... Gambar 88....................................................................................... 288 Pisau sudut dan penggunaanya ......................... 281 Mesin frais bed ............................................. Gambar 78................................................................... 278 Pemotongan alur ................................................................ 265 Pembubutan lurus benda yang pendek .............................. 269 Gambar kerja membubut tirus diantara dua senter ..............LAMPIRAN C....................... 284 Komponen-konponen mesin frais tegak ......................... 259 Pahat keras ..................................... Gambar 63......................................... Gambar 93. 260 Kartel ................................................... 273 Standar profil ulir jenis metrik ........................................ 286 Pisau alur dan penggunaanya........................ 273 Ulir segitiga dua jalan . Pahat bentuk ................................................................................... 280 Mesin frais vertical .. 291 Stub arbor ............. 266 Pembubutan lurus untuk batang panjang .................... Gambar 87............................

.......... 315 Pengefraisan persegi empat dengan shell endmill Cutter .............................................. 323 Pemasangan benda kerja dengan meja putar ............ Gambar 127................ Gambar 139............................... Gambar 118............................................ Gambar 128a................... 300 Kepala pembagi ................. 329 Perlengkapan pembagi batang bergigi.................................... 310 Proses pemotongan benda kerja ................ Gambar 131........................................... 312 Pengefraisan bidang permukaan miring. 314 Pengefraisan alur pasak pada mesin frais tegak ......................... 329 Roda gigi lurus ................................ 293 Pemotongan netral......... Gambar 148...................................................... Gambar 146........................................ 299 Arbor ........ 296 Kepala pembagi .......................... 307 Pemasangan cutter dan kollar (ring bor) .. 328 Pengefraisan gigi batang pendek........ 324 Mengukur dengan siku dan mikrometer kedalaman ...................................................... Gambar 111........... Gambar 114........................ 321 Gear stocking cutter (pisau gigi tipe stocking)........... Gambar 122............. Gambar 112............ Gambar 151........ Gambar 152................................................. Gambar 113.......................... 325 Pemotongan gigi lurus ...................................... 333 ............ Gambar 136.10 Gambar 108...... 308 Pemasangan pendukung arbor........................ 315 Pengefraisan segi empat dengan endmill cutter ................................................... 307 Mengikat arbor .................... Gambar 149............................................. 327 Ukuran gigi rack ... Gambar 121........ 311 Pemutaran handel pemakanan ..................................... Gambar 154.............................. Gambar 137........... Gambar 142.............................................................. 321 Pemasangan benda kerja dengan mandiri... 313 Pemotongan shoulder ..... Gambar 132.............................. Gambar 140................................................ 310 Penandaan kedalaman pemakanan.................................... 295 Ragum putar .... Gambar 109............. Gambar 156.................................................................................... 309 Pemasangan benda kerja pada ragum ................ Gambar 134.......................... 298 Kepala lepas ... Gambar 135.................................................. Gambar 128b............................................. 330 Bagian dari mistar ingsut nonius ......... 313 Pengefraisan blok V ...................... 308 Pengecekan kesejajaran ragum......... Gambar 141................................................................. 328 Ragum dan perlengkapan frais batang bergigi (rack milling attachment and vice)....................................................................... 311 Proses pengefraisan bidang rata dengan shell Endmill cutter .................................................................... Gambar 116..... 294 Sudut-sudut alat potong/pisau frais/cutter ................ Gambar 144............................... 313 Model alur dan shoulder ....... 313 Pembuatan alur.......................... 318 Gear plain cutter (pisau gigi tipe plain)............................. Gambar 157............................. 312 Pengefraisan bidang miring yang kasar ............................................... 312 Blok V........................... Gambar 123.......................................... 313 Pembuatan alur pasak pada mesin frais horisontal ............. Gambar 125................................ 299 Rotary table .......... Gambar 138............. Gambar 147........................... 299 Adaptor ........... Gambar 126........LAMPIRAN C........... 315 Istilah pada roda gigi .......... Gambar 143................ 300 Jarak tempuh pada pengefraisan vertical ............................................... Gambar 150.................................................................................. 305 Pemasangan arbor............................................................ 295 Ragum biasa ............................................. 307 Membersihkan bagian tirus ................. Gambar 145............................................... Gambar 133............ Gambar 124................................. Gambar 110......................... 296 Ragum universal ......... Gambar 115................................................ Gambar 119......................................................................... 324 Roda gigi lurus ... Gambar 153....................... Pemotongan berlawanan arah benda kerja ............ Gambar 120.......................................... Gambar 129................................ 314 Pembuatan alur pasak dengan pisau terpasang pada spindel mendatar ................................................................... Gambar 117................................ 309 Setting nol di atas permukaan kerja dengan kertas ................. Gambar 130................................... Gambar 155................................................................................

............................................................... Gambar 27.................. Gambar 7...... 412 Pembubutan lurus dan tirus pada mesin bubut CNC .................... Gambar 26. Gambar 28............. 333 334 334 335 336 336 336 337 345 346 346 347 348 348 349 BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER Gambar 1. 356 Jenis simbol bekerja dengan block ................ 409 Posisi TNB............ TNM. 392 Benda kerja stang torak .... Gambar 32..................................................................... 388 Benda kerja berupa CONE ........................... Gambar 29... Penunjukkan jarak ukur ..................................... 410 Cairan pendingin disemprotkan untuk mendinginkan alat potong dan benda kerja ..... Mikrometer luar dengan nama bagianya .. Penggunaan pakaian kerja pada mesin frais..................... Prinsip skala metrik .. Gambar 30.......................................... Menarik lilitan tatal dengan batang penarik ... Gambar 164........... Gambar 33................................. 402 Mesin bubut CNC production unit (PU2A) ....... Gambar 172........................................... Gambar 18.......................................................... Gambar 11.................... TNM......................................................................... 390 Benda kerja berupa bola ... Gambar 160........................................ 408 Posisi TNB................................................................................... 400 Benda kerja klem batang torak ..... Gambar 162........... Gambar 20.... Gambar 17.... Gambar 171...................... 413 Pemakanan lurus pada mesin CNC frais.............................................. 383 Benda kerja berupa box ................................... 398 Benda kerja torak dan dimensinya ............LAMPIRAN C..................11 Gambar 158........................................................ 409 Alat potong berputar searah jarum jam (M03) .......... 401 Benda kerja batang torak ..... Gambar 167......................... Gambar 2.............. Gambar 24.................................. Tabung ukur dan tabung garis ...................................................... 411 Gerakan cepat alat potong di atas benda kerja ........................................... Penggunaan sepatu kerja .. Gambar 8.................................. Gambar 31........................................................................................................................... Contoh penggunaan mistar geser ............................ 414 Arah pemakanan melingkar G 02 pada mesin ............................................................................................................................................................. Gambar 3................. Gambar 10............................................... 392 Bagian benda kerja stang torak ......... Gambar 22..... 407 Pengukuran metode inkremental ........... Gambar 5....... Contoh pembacaan mikrometer .................. 392 Benda kerja potongan A-B ............................................. Gambar 6.......... Gambar 4........................... Gambar 23.... Gambar 13. 394 Benda kerja stang torak ..................................... Gambar 163.............................. Gambar 12.......................... Gambar 25. TR pada mesin CNC frais ..................... Gambar 19............... 413 Arah pemakanan melingkar G 02 pada mesin CNC bubut .......................................................................... Gambar 169..... Gambar 14...... 406 Pengukuran metode inkrimental .... Gambar 159........... 353 Menentukan kooordinat benda 2D .................. Gambar 21.................................... 403 Mesin frais CNC ...................................5 mm . Contoh pengukuran 9.... Gambar 170.. Gambar 15....... Gambar 161............................................... 400 Benda kerja torak ..... 390 Benda kerja berupa torus .......... Membersihkan chip/beram pada saat putaran mesin harus berhenti . Gambar 9........... Produk gambar CAD 2D dan gambar 3D ........................ Penunjukan garis ukur................................................................. 389 Benda kerja berupa silinder . Gambar 165................ TR pada mesin CNC bubut ......................................... Gambar 168........................ 391 Benda kerja berupa poros bertingkat ..................... 407 Gerakan sumbu utama menganut kaidah tangan kanan ..... Gambar 16......................................... Gambar 166........ Penggunaan pakaian kerja pada mesin bubut ................................... Membersihkan mesin dengan kuas... Penggunaan kaca mata.. 404 Pengukuran metode absolut .. 410 Arah putaran spindle berlawanan arah dengan jarum jam (M04) ........................

................................... Benda kerja pion yang akan dibuat ............... 477 Kompresor sekrup (Gottfried Nist................... K absolute .............................. Gambar 48....................................................... Titik nol benda kerja ............................................. Menteri catur ............................................. Gambar 39........ 1994)................................... Gambar 51.. Perhitungan koordinat titik 1 .......... Gambar 65........................................... Gambar 46........... 475 Kompresor torak dua tingkat sistem pendingin Udara ............................................... Benda kerja asbak rokok ........................ 416 Arah pembubutan melingkar G 03 pada mesin CNC frais ................................................ K inkremental ... Penentuan titik koordinat paron bola ......... Gambar 63.......... Siklus pembubutan melintang dengan finishing G 37 G 82 ....................................... Produk mesin benda kerja mesin EDM ......... Sistem persumbuan pada mesin bubut ................... Dimensi paron bola dan dimensinya ......................... 474 Kompresor torak resiprokal ... Gambar 66............................................. 2001) .................................................... Gerak alat potong bergeser ke kiri lintasanya .......... Dimensi handel ..... 471 Klasifikasi elemen pneumatik (FESTO fluidSIM)................... Mesin CNC TU 2A EMCO......................................................................................... J..................1990)................ Menentukan titik nol benda kerja pada mesin CNC frais ...... Gambar 43............................................................................................................................................. Gambar 2................. Gambar 55..................... Gambar 64.................... Sumbu simetri mesin frais CNC TU 3A EMCO ........ Gambar 8... Gambar 4.......... 476 Kompresor rotair baling-baling luncur (FESTO transparan)........................................... Gambar 42........... Gambar 59............ Gambar 52.....................................12 CNC frais ................... Nilai I.................................. Gambar 3...................................... Gambar 61..................... Gambar 57........... Gambar 6.................... 473 Klasifikasi kompresor (Majumdar... Detail perhitungan kontur paron bola ...................... Gambar 45.......... Gambar 53................ Gambar 5....................... Gambar 58........................................................... Nilai I...................................................... Siklus pembuatan ulir G 33 ...................... Gambar 35................................................... Perhitungan koordinat titik 2 .................. Gambar 67................................................. Pemrograman inkremental G 91 ............. Gambar 36....................... Siklus pembubutan melintang G 36 G 82 ..... Gambar 47..... Gambar 40.................................................. Gambar 41............................................. Gambar 50............................................................... SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK Efekfitifitas udara bertekanan (werner Rohrer.. Gambar 9.......... Gambar 7..... Siklus pengeboran . Siklus pemakanan memanjang G 81 mesin Gildmeister ............................... Gambar 37......................... Gambar 62........................ 415 Arah pembubutan melingkar G 03 pada mesin CNC bubut ......... Gambar 44... Siklus pemakanan memanjang G 84 ................................................ Mesin frais CNC TU 2A EMCO .................. Control panel mesin EDM .. Gambar 56....... 478 Kompresor model Root Blower ................................ _________________________________________________ BAB VIII Gambar 1........................ Siklus pembuatan kantong ............... Gambar 54.............................................. 478 ..LAMPIRAN C.......... Gerak alat potong sesuai lintasan G 40 ...... 476 Kompresor diafragma ........................................... Mesin EDM (Electrical discharge Machining) ........... Perhitungan koordinat titik 3 dan titik 5 ........ 416 417 417 418 418 419 420 422 423 424 424 425 426 426 427 428 429 429 430 432 432 433 434 435 436 437 439 439 440 443 465 466 467 Gambar 34........................................... Gambar 38... Siklus kantong lingkaran ............................... Gambar 49... J. Gambar 60.............................

...... Gambar 30................... Gambar 13............ Gambar 24................ Gambar 21.. 490 Katup dua tekan .................. 480 Kompresor torak berpindah (Moveble) ........................ 480 Distribusi sistem pengolahan udara bertekanan .......................................... Gambar 34.................... Gambar 36........................ Gambar 29. Gambar 58...................... Gambar 25.13 Gambar 10................................................................... 490 Shuttle valve .................................................. 489 Katup satu arah dan simbolnya ................................ Sistem tekanan dalam pneumatik ................... 487 Katup 3/2 knop pembalik pegas .......................................... Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Magnet .................. Gambar 19.......................................................................................................... Gambar 46................................ Gambar 42. Katup kendali 5/2......................................................................................................................... 495 Double acting cylinder with cushioning .......................... 481 Tangki udara .......................................... Katup sinyal roll 3/2 ........................ Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Udara Kempa .............. 491 Squence valve ........................ Gambar 38....... Gambar 18....... Gambar 20........................................................................................ Gambar 43................................................................................... Gambar 41............................................... Gambar 27.................. 494 Double Acting Cylinder dan simbolnya .. 495 Motor piston radial dan motor axial motor ....... Gambar 53............... Gambar 17........... Gambar 48 Gambar 49 Gambar 50....................... 491 Pressure regulator valve ........................................................... 492 Katup pengatur aliran ....................................... Analisis tekanan pada penampang berbeda .......... 483 Tabung Pelumas ............................................ 492 Time Delay Valve . 487 Katup 3/2 knop pembalik pegas ...................... Analisis debit udara .... 486 Detail pembacaan katup 5/2 ............ 482 Pemisah air ..... 488 Katup 4/2 plunyer pembalik pegas .............................. 496 Jenis dan simbol motor pneumatik / rotary Actuator (FESTO fluidSIM) .............................. Gambar 45......... Gambar 23............................. Gambar 55......... 483 Tabung pelumas. Gambar 44................... Gambar 33................................ 481 Filter udara ................ Gambar 32............................................... Gambar 54....... 482 Pengering udara ...............................................LAMPIRAN C....................... 491 Katup buang cepat ..... Analisis kecepatan torak .... Gambar 14................... 479 Kompresor aliran aksial ........... 493 Shut of valve ............................... Pengendalian silinder sederhana secara langsung .. Gambar 12................................................... Analisis gaya torak ................... 1994) .. Gambar 52................................................................................... Gambar 39................ Gambar 35... Analisis debit udara ....................... Gambar 57....................... Gambar 16..... Gambar 15.... Kompresor aliran radial (Gottfried Nist.............. 482 Kompresor torak ................................... Gambar 28.................... Gambar 59................................. 489 Katup 5/2 plunyer pembalik udara bertekanan ......................... 496 Rotari vane motor ......................... Gambar 26............ Gambar 22.............. Gambar 47.................................................................................. 493 Jenis-jenis single acting cylinder dan Simbolnya......... Gambar 31................ Gambar 40.............................................. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik Udara Kempa dan Pembalik Pegas .................................... Tipe-tipe mounting ............................... Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik dan Udara Kempa........................................................................ 484 Unit pengolahan udara bertekanan ................ 486 Macam-macam konektor ..................................................................................................................................... Gambar 56................ Gambar 37.................................................................................................................. Gambar 11............................................ 489 Katup 4/3 plunyer pembalik pegas ............... 484 Jenis-jenis konduktor .................... Gambar 51.. Analisis daya pompa ....................... 497 499 505 506 507 507 508 510 513 514 514 515 515 516 516 517 .....................................................................

........................................................ Gambar 97. 560 Pompa roda gigi tipe cresent ................................ Gambar 61.......... Gambar 80................................................................. 557 Perhitungan kecepatan torak .................... Gambar 101........................................................................................ 534 Penahan / penjepit benda .................. 558 Pompa hidrolik .........................0 penggerak ganda ............. Gambar 86... 548 Pompa hidrolik roda gigi ............... 551 Pompa hidrolik sirip burung ................ Penggunaan robot dalam sistem otomasi industri ..................................................... Gambar 87................. 552 Pompa hidrolik torak aksial ............... 536 Pengangkatan benda ......................................... Gambar 85...... 556 Prinsip hukum pascal ...... 553 Silinder hidrolik penggerak ganda ......... Gambar 77................................ 522 Diagram tahap perpindahan ........ Gambar 64. 536 Pengangkat benda ............... Penggeser benda kerja ........................................ 528 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S 4 ........ 562 Radial piston pump ................. Gambar 69............. Gambar 103......... 537 Viscometer ..... 562 Balanced vance ....... 519 Pengendalian otomatis silinder penggerak ganda ..................................... Gambar 96.......2(X) .......................... Gambar 95... 567 BAB IX PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN Gambar 1.......................... Gambar 105........................................................ Gambar 70........ Gambar 104...... Gambar 74........................... Gambar 93...... 552 Pompa torak radial ..............0 A+................................... Gambar 90........................................................................................... Gambar 92.......... Gambar 89.. Gambar 71..................................................... Gambar 78.................... 532 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S3 ..................LAMPIRAN C......... 520 Diagram gerak silinder 1..... 555 Macam-macam model katup pembatas tekanan ................... 533 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S3 ............................... Gambar 65.................................. 525 Diagram karbought untuk saluran 1........ Gambar 102..................................................................................... Gambar 72.................... 553 Pompa sekrup .................... Gambar 63....... 527 Diagram Karnought untuk saluran 1.............................. 521 Aplikasi gerak silinder 1....................................................... 530 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S2 .............................................................................. Gambar 99.... Gambar 94..4 (Y) ............................................................................................ Gambar 66.......... Gambar 81....... Gambar 88.................................... Gambar 79.........................14 Gambar 60.............................................................. 563 Bent axis piston pump . 535 Pembuatan profil plat .... 566 Efisiensi Volumetrik............................... Gambar 84.......... 555 Klasifikasi hidrolik dalam penampang dan skema.................................................................................................................................................. 518 Rangkaian dan diagram gerak silinder melalui Dua katup ....................... Gambar 68.......... Gambar 98................... 525 Simbol logika untuk gerakan pintu bus ..................... 554 Motor hidrolik roda gigi ................................. Gambar 75................. 531 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S2.......... Gambar 83................................. A.................................................................................................... 548 Cappilary viscometer .................................................... 558 Tekanan absolute ............... Gambar 76... 529 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S4.................................... 554 Aplikasi penggunaan sistem hidrolik pada alat Berat ........ Gambar 91................. Gambar 62....................... 535 Pemotong material .......................................... 569+4 ........................... 563 Tangki hidrolik reservoir dan simbolnya ............................................................ 561 Pompa roda gigi tipe gerotor .............................................................................................................................. Gambar 67................................. 565 Suction filter ............................................................. Gambar 82............................... 521 Diagram rangkaian kontrol pintu bus otomatis .................................... Gambar 100....

..... Gambar 48................. Gambar 32..... 598 Akhir dari diagram tangga menggunakan END ............................................................... 607 Diagram ladder ............. Gambar 17........... Gambar 20........................................ Gambar 46............................................................................................................. Gambar 10.................... 587 Desktop ... 581 Simbol logika OR dan OR NOT ............................... 597 Akhir dari diagram tangga menggunakan END ................ 612 .............................. 591 CPU PLC (OMRON) ............................................ Gambar 23........... Gambar 11........................................................... 576 Robot industri dalam proses manufacturing ...... Gambar 31.................................................................................................... Gambar 30......... Gambar 26.... Gambar 41...... Gambar 18............................................ 592 Catu daya ........................ 602 Rangkaian input dalam unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR (351352 pelatihan PLC OMRON) .......................... Gambar 29............................................... Gambar 25..............15 Gambar 2.......................... 600 Ladder diagram kebalikan diagram dengan Pengunci ................................... 604 SET dan RESET ........................................... ouput......................................... 603 DIFU dan DIFD ............................ 574 Penggeser pneumatik dan robot industri yang siap Menggantikan tenaga manusia .... Gambar 39.......................................................................................................... 588 Contoh device keluaran dan simbolnya .................. Gambar 28... Gambar 33.... 583 Simbol logika AND LOAD .................................. 584 Simbol logika TIMER dan COUNTER ... Gambar 47....................... Gambar 42......... Gambar 45..................... 604 Rangkaian switch relay ............................ 586 Slot modul masukan atau keluaran PLC .................. 611 Diagram ladder ..... Gambar 14............. 601 Penambahan relay untuk memperbesar Kemapuan arus ................. Gambar 22................... Gambar 8. 585 Contoh simbol device masukan ................................................. 601 Rangkaian input unit CPU PLC OMRON CPM1AXXCDR........................... Gambar 7....................................................................... 600 Cara penyambungan perangakat input dan output Lebih dari satu channel ......................... 578 PLC OMRON tipe ZEN dan PLC LG ..... Gambar 36................... Gambar 19............................ 587 Handled programmer (OMRON) ...................... Gambar 24............................................ 608 Sistem kerja pengisian air otomatis ...................................... 584 Simbol logika OR LOAD ................................ 580 Simbol logika AND dan AND NOT ................... 595 Tampilan menu utama program SYSWIN OMRON ............ 577 Relay tunggal dan sistem relay pada mesin CNC ... Gambar 5.......................................... Gambar 40............ Gambar 6...... 599 Ladder diagram ............................................ 605 Diagram ladder aplikasi koil ............................................................................. Gambar 15........ Gambar 13...................................................................... 603 Aturan KEEP ........................................... 602 Diagram ladder latching ........................... PLC................. 589 Diagram blok PLC ........................................................... 597 Pembuatan diagram ladder ..................... 581 Simbol logika OUT dan OUT NOT ..................................................................................... 603 Tanda KEEP ........... 579 PLC training unit .. Gambar 34..................... Gambar 35....................... 598 Penyambungan perangkat input.............. 596 Tampilan ladder diagram ......... Gambar 38.................. Gambar 4.................... Gambar 21................................................................................ Gambar 16........................................................ 580 Simbol logika LOAD dan LOAD NOT ................ Gambar 3............... Gambar 12........ Gambar 43.................................................. Catu daya ... Gambar 27.... Gambar 37.......... Gambar 9.......................................... Penggunaan robot dalam sistem otomasi industri.......................... 599 Ladder diagram dengan pengunci .........................LAMPIRAN C............... 602 Rangkaian latching ....... 605 Aplikasi PLC ...................... 590 Hubungan antara I/O dengan perangkat lumak ............... Gambar 44.................................................................

........................................ Gambar 2...................................................................... 639 Line tracking ... Gambar 7....................... 637 Jangkauan kerja sisi atas ............... 652 Kawat susunan rosette pada strain gages ..... 645 Aplikasi gripper magnet ........................................... Gambar 37................................................................... Gambar 45........16 Gambar 49............................................................................................................................... 623 Catu daya listrik .................................................................... 633 Prinsip koordinat polar dan aplikasinya .................................... 649 Transmisi data ....... 645 Contoh sistem vakum .................... Gambar 31... 620 Komponen dasar manipulator robot .................. 625 Robot low technology ..... 653 Aplikasi thermokopel ......................................LAMPIRAN C.......................................................................... Gambar 25.. 622 Catu daya pneumatik .............. Gambar 24.................................................. Gambar 9................. Gambar 33. Diagram ladder aplikasi sistem alarm ............................. 644 Aplikasi gripper vakum ........................... Gambar 19..... 649 Photoelectric ...................... Gambar 34..................................... 631 Gerak robot full rotasi................................. 651 Strain gages uniaxial ....... Gambar 15............ 649 Aplikasi sensor non-contact menggunakan kemera Dan laser ........................... translasi............... Gambar 28.................................................. 631 Aplikasi koordinat kartesian ..................................... Gambar 17........................................................... Gambar 3.. 628 Robot dalam proses manufactur .............................. Gambar 14.................................................................................... Gambar 43.......... translasi............................................. 627 Robot las pada jalur perakitan ................... Gambar 4....... Gambar 5b......................... 619 Penggunaan robot pada sebuah laboratorium ....... 655 ............ Gambar 6............ 646 Sistem kerja griper menggunakan magnet .......................................... Gambar 5c..... Gambar 39................. Robot siap menggantikan tenaga manusia ....... Gambar 22...................... 642 Efisiensi kerja penggunaan robot pada aplikasi Pengecatan .............. 615 BAB X TEKNOLOGI ROBOT Gambar 1................. Gambar 27....... Gambar 21............... 630 Gerak robot rotasi................... 623 Catu daya hidrolik .................................................. 651 Strain gages .................... Gambar 20........................... 652 Berbagai macam aplikasi RTD . 649 Sensor jarak ............. Gambar 35............... 647 Berbagai macam tipe limit switch .... Gambar 11............. Gambar 30....... 630 Gerak robot total translasi ................................... Gambar 23.......... 639 Robot perakitan dengan pelengkap kamera ....... 643 Jenis gripper menggunakan penggerak Pneumatik ......... 654 Thermistor ........................................................ 633 Jangkauan kerja koordinat silindrikal ................................................................................ 628 Sistem Persumbuan robot ............ 624 Base manipulator jenis kaku ......................................... Gambar 38..... 637 Robot material handling ................................................................... Gambar 44.............. Gambar 36............................................................... 623 Efektor robot ........... Gambar 40.................................... Gambar 18. Gambar 5a.................................. Gambar 16................ Gambar 8............................ 638 Robot palletizing ...................................................... Gambar 41............ Gambar 29.... Gambar 13.......................................................................................... 636 Jangkauan kerja koordinat silindrikal padangan atas ............. Gambar 46............................. 632 Prinsip koordinat silindrikal dan aplikasinya ...... Gambar 42............................................................ 640 Jenis robot aplikasi dalam pengecatan ............................................................................... 621 Robot dan kontroller ......................................... 644 Aplikasi tangan menggunakan gripper mekanik ................ Gambar 12.... 641 Aplikasi pada robot pengelasan ..................... Gambar 10............................................................................................. Gambar 47... 648 Sensor non-kontak aplikasi warna .......... 636 Jangkauan kerja robot sisi samping .................... translasi .................................................................... Gambar 32............................... 655 Tabung tekanan .............................. Gambar 26...

................................................................. Gambar 50........................................... 658 Aplikasi ecendor .............................................. Gambar 53............................................. 661 Silinder gerak tunggal ............................ Gambar 55................................ Gambar 51.. Venturi ...........LAMPIRAN C.................................... 661 Katup ....... Gambar 62.................... 658 Rangkaian LVDT .................. Gambar 49......................................... Gambar 60................... 656 Tabung pitot untuk mengukur aliran gas ............................................................... 657 Aplikasi tachometer .... 662 Silinder penggerak ganda ....................................................... Gambar 57............... Gambar 61..................................................... Gambar 59.. 664 Aplikasi motor AC ................................ Gambar 65................... 659 Aplikasi LVDT ............................. Gambar 56..................... 666 .... Gambar 63.... Gambar 64..................................................................................................................................... 665 Salah satu contoh stepper / motor langkah ................. 660 Solenoid electro-mekanik .... 657 Cakram ecendor ... 656 Prinsip kerja tachometer dengan pulsa listrik yang dihasilkan .................................... Gambar 58............... 663 Prinsip kerja motor AC.. 662 Prinsip kerja motor DC ......................................................................... 659 Prinsip kerja solenoid ............................................................................................................................ 665 Prinsip kerja motor stepper ... Gambar 54...............17 Gambar 48................................ Gambar 52.....................

18 .LAMPIRAN C.

.

Pisau penyayat benda kerja. Catu daya Diagram tangga yang digunakan dalam PLC. tekanan maupun kecepatan fluida dari sistem. Tempat dudukan alat potong mesin frais. Tempat untuk menjepit benda kerja pada mesin bubut. Penyimpan data dalam computer. Alat pengatur arah. .LAMPIRAN D. Kumparan kawat yang dapat dialiri listrik.1 GLOSARY PLC CNC Pneumatik Hydrolik Sensor N Code G Code Griffer Inkremental Absolute Polar Feeding Actuator Katup Compressor Arbor Cekam Cutter Air Service Unit Balamced Vane Bent Axis Piston Processor Power Supply Ladder Logic Selenoida Memory : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Programmable Logic Controlled Computer Numerically Controolled Ilmu tentang pemanfaatan udara bertekanan Fluida untuk meneruskan tenaga Masukan ke dalam sistem atau sinyal Kode kalim at dalam pemrograman mesin CNC Kode instruksi dalam pemrograman mesin CNC Lengan robot untuk mengambil material Pengukuran berdasarkan pada perubahan panjang lintasan Pengukuran berdasarkan pada perubahan panjang lintasan Pengukuran berdasarkan pada perubahan besar sudut lintasan Kecepatan asutan dalam pemakanan benda kerja Penggerak benda kerja atau output dari suatu sistem. Pompa kipas balanced. Pusat pengolah semua masukan dari sesnsor untuk disalurkan pada output. Pompa torak dengan poros tekuk. pemberi pelumas pengatur tekanan fluida sistem. Komponen pembersih (filter). Alat pembangkit tekanan fluida.

.

LAMPIRAN E.1 INDEX A Air Service Unit 472 Aktuator 485 Aktuator 651 Anak Panah84 Aplikasi 461 Arm Geometry620 Asutan 425 AutoCAD 348 B Balanced Vane554 Bent Axis Piston 555 Bit 594 Bubut 220 Bus 513 C Centrifugal Casting34 Cetakan 29 CNC 239 coinage de making 458 Computer Aided Design (CAD) 345 Computer Numerically Controlled (CNC) 394 Crescent 553 Cutter 279 Cutting Speed 253 D Device 577 Die Casting 35 Dividing Head 293 Drilling 459 E EDM (Electrical Discharge Machining) 457 Efektifitas 462 Efektor 634 Ekor 212 Ekspandable Mold Casting 31 Elemen 14 EMCO 426 F Frais 271 G Gambar Perspektif 77 Gambar Potongan90 Garis Arsiran100 Gear Cutters 313 Geretor 553 Gips 32 Gripper 634 H Hidrolik 533 J Jangka 66 K K3 53 Katup 652 Katup 479 Kempa 461 Kerja Bangku 130 Kertas 62 Kimia 650 Klasifikasi 465 Komite 55 Kompressor 466 Konduktor 477 Koordinat 420 Kotak 213 L Ladder597 Linear 649 Logam 20 M Mal 210 Manipulator 620 Meja Gambar 70 Melukis 143 Memahat 178 Membengkok 202 Mengebor 163 Mengetap 186 Menggam bar 62 Menggergaji 173 Menggerinda 193 Mengikir 130 Menyambung 205 Menyekerap 191 Menyenei 186 Menyetempel 184 Mereamer171 Mesin Gambar 70 Metal Working 38 Mineral 20 Modul 578 Momen 642 Mounting 501 O OMRON 588 Otomasi 565 P Pascal 548 Pasir 31 Pelat 202 Pendinginan 37 Pengecatan 631 Pengecoran 28 Pengelasan 633 Penggaris 65 Penghapus 68 Penindih 209 Pensil 63 1 .

2 Perakitan 631 Plaster Casting33 Plat 527 PLC 569 Pneumatik 461 Polar 346 Poros 14 Processor 583 Profil 527 Prosedur 58 Proyeksi 79 Proyeksi Dimentris 76 Proyeksi Isometris 73 Proyeksi Miring (Sejajar) 77 Proyeksi Piktorial 72 R Radial Piston Pump 555 Ragum 527 Rapido 65 Rehabilitasi 59 Resin 34 ROBOT 610 Rotary Table 294 S Sand Casting 32 Selenoids 651 Sensor 639 Silinders 652 Simbol 55 Software 434 Solid 378 Statika 1 SYSWIN 588 T Tegangan 1 Temperatur 643 Tranduser 638 V Vernier Caliper 325 W Wire Cut 459 Wrist 625 2 .LAMPIRAN E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful