P. 1
133 Teknik Produksi Mesin Industri_Jilid_3

133 Teknik Produksi Mesin Industri_Jilid_3

|Views: 191|Likes:
Published by Hanif Ardani

More info:

Published by: Hanif Ardani on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2014

pdf

text

original

Wirawan Sumbodo dkk

TEKNIK PRODUKSI MESIN INDUSTRI
SMK JILID 3

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PRODUKSI MESIN INDUSTRI
Untuk SMK

JILID 3
Penulis Pendukung : Wirawan Sumbodo : Sigit Pujiono Agung Pambudi Komariyanto Samsudin Anis Widi Widayat : TIM : 17,6 x 25 cm

Perancang Kulit Ukuran Buku SUM t

SUMBODO, Wirawan Teknik Produksi Im esin Industri untuk SMK Jilid 3 /oleh Wirawan Sumbodo, Sigit Pujiono, Agung Pambudi, Komariyanto, Samsudin Anis, Widi Widayat ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xii, 250 hlm Daftar Pustaka : LAMPIRAN A. Glosarium : LAMPIRAN D. Indeks : LAMPIRAN E. ISBN : 978-979-060-139-0 ISBN : 978-979-060-142-0

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada d luar negeri untuk i mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan buku dengan judul “Teknik Produksi Industri Mesin” dengan baik. Teknik produksi industri mesin mempunyai peranan yang penting. Perkembangan dunia industri mendorong kemajuan yang pesat dalam teknik industri, mulai dari penggunaan perkakas tangan, mesin konvensional hingga mesin perkakas yang berbasis komputer dan yang otomatis. Buku ini disusun guna membantu peningkatan pengetahuan maupun skill dalam teknik produksi industri mesin baik di dunia pendidikan maupun non pendidikan. Bersama ini Penulis sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi baik material maupun spiritual dari persiapan hingga terbentuknya buku ini. Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk penyempurnaan buku ini, namun tentu masih terdapat kesalahan atau kekurang sempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga buku ini bermanfaat bagi perkembangan teknik produksi industri mesin pada khususnya dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya.

Penulis

iv

.

....9 Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting)........5 Pengecoran dengan Gips .3 Klasifikasi Mesin Konversi Energi .... 35 1.............................................................................. 9 2................................... DAFTAR ISI .... 35 1......... 33 1.1 Pengolahan Logam (Metal Working ) ................................................................................................................... 1 1.............. 4......... 22 4................ 29 1.................................................. 44 3............... 21 3...................3 Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral .............. 38 Mengenal Proses Pembentukan Logam ..................................................... 36 1...........................................1 Poros .................. 14 3....................................................................................7 Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) .................................. 20 3...................... 25 BAB II MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN ...... 32 1............ 5............................ 51 2..2 Mineral .......................... 51 Tes Formatif .............................. Mengenal Komponen/Elemen Mesin ..............1 Pengertian Energi ..... Mengenal Material dan Mineral ............................................. iii iv v xii _________________________________________________ BAB I MEMAHAMI DASAR -DASAR KEJURUAN 1............................................... Mengenal Proses Pengecoran Logam ................................. v . Beton.............................................................................................................................6 Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting ) .....DAFTAR ISI Hal KATA SAMBUTAN ............................2 Pembuatan Cetakan Manual .................................................................................. 3........................................................................4 Pengecoran Cetakan Ekspandable (Ekspandable Mold Casting) .............................................................................2 Macam -Macam Energi ......... Rangkuman .. 1 1....... 32 1............................................... 39 Mengenal Proses Mesin Konversi Energi ..... 14 2.........................................1 Berbagai Macam Sifat Logam .............. 39 2....1 Statika ......................................................................... 29 1................ Statika dan Tegangan ........... 20 3............ 30 1.................................................................................................1 Pengertian ..............................................3 Pengolahan pasir Cetak ............................................................................................................................................................... 22 3................................ 47 Rangkuman .................. PETA KOMPETENSI ............. 29 1.......................................4 Pemurnian Mineral ... 33 1.....2 Tegangan ............................................................. 34 1.11 Kecepatan Pendinginan............................................................................................................. 43 3........................... 43 3......... atau Plastik Resin............................................................................................................................................................... KATA PENGANTAR .............................8 Pengecoran dengan Gips........10 Die Casting.........

...16 Suaian ........... Mengenal Regulasi K3 ..............................11 Garis Arsiran ..................................... vi ......5 Gambar Perspektif ... 62 BAB IV GAMBAR TEKNIK 1................................ Rangkuman ............................................... 5....................2 Bahan ......................................................... 69 1.............3 Tugas dan Tanggung Jawab Perusahaan ...................................................................................4 Penggaris ........................................................... 3.......................1 Alat .................102 3..................................................................130 Soal Latihan (tes formatif) ......6 Macam -macam Pandangan.....1 Simbol Keselamatan Kerja.... 60 3................................... 92 3....................................................................................................................................108 3.......................................1 Proyeksi Piktorial ...............................7 Alat-alat Penunjang Lainnya ..... 78 3.................................... 61 4.............................................................................. 57 2........................................................................................... 57 3...... 70 1..................................................2 Pensil Gambar ....................2 Rehabilitasi....................................5 Jangka .......................................................2 Proyeksi Isometris ......................................1 Kertas Gambar ...........................................................................5 Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja ............ 73 Lembar Kerja ......................... 75 3.................................3 Kesehatan d an Keselamatan Kerja.............................................4 Langkah Kerja .........113 3........ 56 1..............................8 Meja Gambar .............. 74 2.......................................................................................................................................................12 Ukuran pada Gambar Kerja........ 81 3............................13 Penulisan Angka Ukuran.................. 74 2...................................................................... 67 1........... Menguasai Prosedur Penerapan K3 ............. 55 1... 75 3..................... 65 1................................10 Gambar Potongan.............. 60 3...........................1 Tanggungjawab Perusahaan pada Lingkungan Kerja.................................... 57 2............................................................8 Simbol Proyeksi dan Anak Panah .......................................4 Proyeksi Miring (Sejajar) ................... 87 3. 79 3............ ALAT DAN LINGKUNGAN 1..........................................................6 Penghapus dan alat Pelindung Penghapus ...................................... 66 1.......................... 79 3..........135 2............................................................................................1 Pengertian ........................................................................9 Penentuan Pandangan.................................... Menerapkan Prosedur K3 Secara Tepat dan Benar ....................... 55 1........ 72 1.......... 81 3..........15 Toleransi ........................................ 75 3..............................................................................................123 3...................................................................... 86 3.....................................................9 Mesin Gambar ..................... 65 1............105 3.............................................................................14 Pengukuran Ketebalan......................................3 Proyeksi Dimentris ........................................... 55 1...............2 Sasaran Undang-Undang .. 68 1....................4 Tugas dan Tanggung Jawab Pegawai ................................................................... 71 1......................... 4....128 Rangkuman ......................... 74 Membaca Gambar Teknik .................................................................... 74 2............... 56 1....7 Bidang -Bidang Proyeksi...................................................................BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA......................................................................................3 Rapido ......................................... Mengenal Alat Menggambar Teknik ............................................. 74 2............

...........5 Kotak ....... 295 vii ....................................253 1. 216 3........................................................................................................................................................................2 Jenis -jenis Mesin Frais ... 137 1..... Kerja Bangku ....................................................... 208 2.9 Menyekerap ............. 286 2...........................1 Membengkok.............................. 190 1.... 280 2. 217 3........260 1...............................................6 Pengasahan penitik..................................................................................................... 238 1.....247 1....... 4.........................................7 Menyetempel ...............1 Soal-soal .......................................... 5.................10 Waktu Pengerjaan ........................3 Jenis -jenis Mesin Bubut Konvensional .. melipat......................................4 Mereamer ....................... 208 2..10 Menggerinda ........................9 Kecepatan Potong (Cutting Speed ) ..............................................276 2...11 Cara Membubut....................................................................................................................... 197 1.4 Bagian -bagian Utama Mesin Bubut Konvensional (Biasa) ..................................................................................................4 Jenis -jenis Bahan Pisau................8 Alat potong .................................................................. _________________________________________________ BAB VI PROSES PRODUKSI DENGAN MESIN KONVENSIONAL 1..............246 1..............................5 Perlengkapan Mesin Frais ............................................................... 227 1.......................... 184 1..................2 Menyambung .................................................................... 227 1.............................................1 Alas penindih kertas ................ 179 1..........1 Pengertian Mesin Bubut Konvensional ....................12 Tes Formatif.......... 3......................................................218 3.. 294 2................................................pahat tangan dan mata bor..........................1 Mengikir .............. 137 1....................................5 Dimensi Utama Mesin Bubut ...................................................................265 1.......... Mesin Frais Konvensional ....................... 215 3..........3 Alat-alat Potong (cutter) Mesin Frais .........................................................................penggores...................BAB V PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN 1...............................2 Fungsi Mesin Bubut Konvensional ............................220 Rangkuman .......................................................................................8 Mengetap dan Menyenei ............................... 278 2........................................ 215 3........... 211 Lembar Pekerjaan..............................................................3 Pengepasan Persegi .....................225 5................................5 Menggergaji ..............................................278 2...................................... 225 5.177 1.............................4 Pengepasan Ekor Burung..............................................................................................2 Melukis .............. 199 Kerja Pelat ..........................................6 Perbedaan Mesin Bubut Konvensional dengan CNC.................................................. 169 1................................................................. 150 1.................................................................................................................................................262 1....... dan menekuk.1 Pengertian ........3 Mengebor ...............................................................219 3................................................... 227 1......2 Kunci Jawaban .............. Mesin Bubut Konvensional .................6 Memahat..247 1...225 2....222 Tes Formatif ............................... 229 1..........................2 Mal mata bor........................................7 Alat Kelengkapan Mesin Bubut.................................................................................................. 192 1........................................................................................................................................................

......................306 2............. 331 3...............................................................................................386 2.. 402 2...............................7 Kecepatan Potong dan Kecepatan Asutan....1 Pengertian CAD ........3 Gerakan Sumbu Utama pada Mesin CNC............................4 Standarisasi Pemrograman Mesin Perkakas CNC................................6 Membuat Gambar Solid 3D dengan AutoCAD ……………..................................320 3...........................................................................1 Pengkodean Toleransi.................463 3..2 Dasar-dasar Pemrograman Mesin CNC ...........................................................337 5..............2 Pembuatan alat cetak logam (coinage de making) ................2................................ Keselamatan Kerja Pada Saat Proses Produksi.......................7 Penggunaan Rotary Table ...........11 Soal Formatif.................. Rangkuman .......349 BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER 1...........................353 1.......................................... Polar ..... 331 3.................................................................................................8 Mengoperasikan mesin CNC EMCO TU 2A....462 2............................................344 5.........................................................409 2.................................. 303 2................................436 2...................................................................... 305 2........................ 300 2....................433 2........ Pembacaan Toleransi pada Gambar Kerja .......................................... 301 2..........421 2......................................337 4.....................................................434 2...........................405 2.......2 Metode Pengukuran ...........................5 Siklus Pemrograman ...................................1 Jenis Pengukuran ...........9 Waktu Pengerjaan ........................... 301 2...................5 Tes Formatif ……………………………………………...............402 2..................................... 465 3.......................................................................................................................9 Membuat Benda Kerja Menggunakan mesin CNC............... 353 1...............467 4.................................4 Perintah Menggambar Pada AutoCAD ....1 Sejarah Mesin CNC............................. 331 3..8 Kecepatan Potong (Cutting Speed ) ...........409 2................. Rangkuman .......................................356 1.................... Computer Numerically Controlled (CNC) ........................................................3 Drilling EDM......................344 5....10 Membuat Benda Kerja Berbasis Software AutoCAD ...............3 Alat Ukur Mistar Geser (Vernier Caliper) dan Mikrometer Luar (Outside Micrometer) ............. Teknik Pengukuran pada Proses Produksi .............11 Jenis -jenis Pemotongan/pemakanan pada Mesin Frais ..............................................2 Resiko-resiko dalam mengoperasikan mesin perkakas dan cara menghindarinya ....467 3.10 Langkah-langkah pengoperasian Mesin Frais ............................1 Peralatan Keselamatan Kerja pada Proses Produksi........................................12 Pisau Roda Gigi (Gear Cutters)............ 466 3.............................................................................. Computer Aided Design (CAD) ......................................................................................................1 EDM Konvensional ................................................ EDM (Electrical Discharge Machining) ..345 6.... 466 3. 384 1.............2 Cara Kerja ... 332 4......................................................................................................6 Penggunaan Kepala Pembagi (Dividing Head) .....4 Kabel EDM (Wire Cut EDM) ...354 1................3 Sistem Koordinat Absolut..............................6 Menentukan titik koordinat benda Kerja ................................................................ 468 viii ..................354 1........428 2. Relatif..............................................

..... 538 13.....7 Air Motor ( Motor Pneumatik ) ......................1 Pintu Bus .......................................................... 517 10........................3 Pemeriksaan Udara Kempa dan Peralatan ............. 538 14.................. 480 7............................. 497 7............. 487 7........................................................................................4 Konduktor dan Konektor .................................. 474 7........................................ 496 7.................................................... Pengendalian Hidrolik ......................... 5...2 Analisa Aliran Fluida (V) ................................................ 518 10................ 485 7......... 469 Efektifitas Pneumatik ........................8 Jenis -Jenis Katup Pneumatik ....9 Model Pengikat (Type if Mounting) ....................................556 ix .1 Pengendalian L angsung Silinder Sederhana ................................................................... Analisis Kerja Sistem Pneumatik .............................................................. 516 10..........2 Komponen Hidrolik.... 510 8.................................................................5 Udara yang Diperlukan .......................... 474 7..........................................1 Kompressor (Pembangkit Udara Kempa) .. 472 6............... 4............................ 514 9.. 521 11........... 509 8................ Pengangkat dan Penggeser Material Full Pneumatik ..........................................................7 Pengubahan Te kanan ..................... 537 12.............................6 Unit Penggerak (Working Element = Aktuator) ...............................1 Keuntungan ..2 Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Air Service Unit) ................................. 517 10............................................... 3... 510 9...........................537 13..................................................6 Perhitungan Daya Kompressor ................. System Hidrolik . Sistem Kontrol Pneumatik .............................................................1 Klasifikasi Pengendalian Hidrolik ............... 513 9.........2 Penahan/Penjepit Benda (ragum).....................................................541 14.....................2 Kerugian/Kelemahan Pneumatik ......................................................... 471 5....2 Pengendalian Tak Langsung Silinder Penggerak Ganda .......................................................................................................... 2..............................1 Pengertia n Sistem Kontrol Pneumatik ............................................................3 Kecepatan Torak ................. 515 9.............. Dasar Perhitungan Pneumatik .............. 520 11.................................................. Klasifikasi Sistim Pneumatik ............................................................................. 469 Karakteristik Udara Kempa .........................................1 Tekanan Udara ....2 Kunci Jawaban ..................................................................................................................................................................... 515 9...................................... 484 7...... 469 Aplikasi Penggunaan Pneumatik .................................................... Pengertian Pneumatik ........................... 511 9................................................................ 521 11.................... 473 7........1 Cara Kerja ...............................555 15............555 15.........................5 Katup-Katup Pneum atik ...... 514 9............................................................ 471 5.........1 Soal-soal ...........5 Pengangkat dan Penggeser Benda ................................................................................................................_________________________________________________ BAB VIII SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK 1..............................................1 Cairan Hidrolik.................... Tes Formatif ............................... 538 13.................................3 Pengendalian Gerak Otomatis Silinder Penggerak Ganda ...3 Pemotong Plat ...................541 14......................................... 535 11..........551 15.... 470 Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Udara Kempa ..................................... Peralatan Sistem Pneumatik ......................................................... 536 12............... 535 11......................2 Katup Pengatur Tekanan .................................................. 493 7...............................................................................................4 Membuat Profil Plat ................ 535 11........................ Aplikasi Pneum atik dalam Proses Produksi ........4 Gaya Torak (F) ............ 516 9..................................

...................14 Data dan Memory PLC ........................................................................................... x .......13 Processor ................... 629 2..................... 619 1.......... 561 16.................................... BAB X TEKNOLOGI ROBOT 1......... 558 16...........................12 Hubungan Input/Output (I/O) dengan Perangkat Lunak .......... 556 16.1 Istilah Robot ............ 593 3..................1 Sistem Koordinat Lengan Robot (Arm Geometry) ............ 559 16............... 563 16... 602 3..................10 Perangkat Keras PLC .............3 Gerakan Robot ......................... 562 16.........2 Perhitungan Kecepatan Torak ...5 Pompa Roda Gigi dalam Tipe Geretor ...........................9 Perangkat Lunak PLC ................................ 586 3... 590 3.............. 561 16............................. 577 3.........15 Program m an Dasar PLC OMRON dengan Komputer.............................. Pengenalan Robot .....................3 Pemeliharaan Cairan Hydrolik .....7 Device Keluaran ......................................................................................................................................6 Device Masukan Program ......................................8 Modul Keluaran ..............................................................................................................10 Pengetes an Efesiensi Pompa Hidrolik .............................................2 Pengenalan Dasar PLC ............................................570 BAB IX PROSES PRODUKSI INDUST RI MODERN 1...............................................................................................................................................1 Sejarah PLC ........8 Bent Axis Piston (Pompa Torak dengan Poros Tekuk) ............590 3.............................17 Penggunaan Fungsi Bit Kontrol .............. 620 1................ Soal Formatif ........................................................................................................................................................7 Pompa Torak Radial (Radial Piston Pump) ..............................................1 Soal-soal..............................................16 Cara pengoperasian SYSWIN ...............................................................2 Komponen Dasar ............................................ 596 3......... 587 3............... 575 PLC (Progr ammable Logic Controller) ......................................4 Device Masukan ..................... 573 Otomasi Teknik Produksi .........2 Kunci jawaban .............................3 Ins truksi-instruksi Dasar PLC ................................5 Modul Masukan ............................................ 588 3............................................................................ 627 Operasi dan Fitur Manipulator .....568 18....................................... 589 3..........................................................................................................................................18 Contoh Aplikasi dan Pembuatan Diagram Ladder Menggunakan Syswin ............................11 Ladder Logic ............................. 2............616 4...................... 625 1.................................................568 17......................................... Sejarah Perkembangan Otomasi Industri ........................................................................................ Dasar-Dasar Perhitungan Hydrolik ........ 580 3............................................568 17............................... 563 16...........................4 Pompa Rod a Gigi dalam Tipe Crescent .................................................. 596 3..... 585 3.................................... 577 3......................................... 589 3........ 564 16......................9 Instalasi Pompa Hidrolik ...............................16....6 Balanced Vane (Pompa Kipas Balanced) ....................................................................................................11 Unit Pengatur (Control Element) ...... 629 2...................................................4 Tingkatan Teknologi ...... 567 17......................................................... 578 3............ 566 16................ Rangkuman . 556 16.. 3.............. 621 1.............................................. 589 3...................1 Prinsip Hukum Pascal ............. 591 3...................................................................................................................................605 Rangkuman ..............................

.................. 671 Saran ................................................................2 Klasifikasi Gripper ... 635 Aplikasi Robot .....2 Katup .....................................1 Penanganan Material .........................................................................9 Sensor Cair dan Gas ............................................2 Rotasi Wrist .. 640 3.....................................7 Sensor Gaya dan Momen .....10 Sensor Jarak dan Sudut ....................................................666 Rangkuman .......4 Jangkauan Kerja ..............................4 Motor Listrik ............3....................... 647 4............................................................................................................. 652 4................................................3 Silinders ..................................................... 642 Efektor ......................................................12 Sensor Kimia .......8 Sensor Temperatur ................. 7............................... 637 3............................. 662 Tes Formatif .......................... 2......................................................................... 651 4..................................................................... 643 4............................. 644 4....................................... 659 Aktuator ...................................................5 Sensor Kontak ............................669 BAB XI PENUTUP 1........ 644 4............ 634 2................... GLOSARIUM LAMPIRAN E......................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN B................................11 Linear Position .................................3 Jenis Gripper .................................... 648 4.............................................. 660 5.......... DAFTAR TABEL LAMPIRAN C........................................................................................ 2........4 Sensor dan Tranduser .3 Pengecatan ....................................................................................................................................................................................1 Gripper .................. 634 2..............................6 Sensor Non -Kontak ... 648 4.................... 661 5................................... 638 3............. INDEX xi .... 658 4........... 4............2 Perakitan ..................... 643 4...............................4 Pengelasan ................. 655 4..................................................... 657 4............................................................................... DAFTAR GAMBAR LAMPIRAN D............................................. 660 5........................................................................ Kesimpulan .................... 5.........................................................................3 Sistem Penggerak Manipulator .............1 Selenoids .............................. 674 LAMPIRAN A......................................................................................... 661 5.. 6........................................................................................................................................................... 640 3........................................

.

Proses Kejuruan dan K3 Memahami Gambar Teknik Pneumatik/Hidraulik xii .PETA KOMPETENSI TEKNIK PRODUKSI INDUSTRI MESIN Proses Produksi Konvensional Proses Produksi Berbasis Komputer Otomatis Industri Peralatan Perkakas Tangan CNC / EDM Robotik Peralatan Kerja Bangku CAD PLC Memahami Dasar.

.

. industri pengepakan barang maupun industri yang lain... helium... membersihkan kotoran. mengangkat.. Istilah pneumatik selalu berhubungan dengan teknik penggunaan udara bertekanan. misalnya untuk melakukan gerakan mekanik yang selama ini dilakukan oleh tenaga manusia. sistem pneumatik memiliki apliaksi yang luas karena udara pneumatik bersih d mudah didapat. robot pneumatik translasi....... seperti menggeser.. Banyak industri an yang menggunakan sistem pneumatik dalam proses produksi seperti industri makanan. seperti silinder pneumatik. industri obat-obatan.... baik tekanan di atas 1 atmosfer maupun tekanan di bawah 1 atmosfer ( acum).. dan sejenisnya. motor pneumatik. Sifat-sifat udara senantiasa mengikuti hukum-hukum gas.... Istilah pneumatik berasal dari bahasa Yunani. Penggunaan udara bertekanan sebenarnya masih dapat dikembangkan untuk berbagai keperluan proses produksi. e) Udara tidak berwarna 3.BAB VIII SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK 1. Sekarang. mendorong. Jaman dahulu kebanyakan orang sering menggunakan udara bertekanan untuk berbagai keperluan yang masih terbatas... Belajar pneumatik sangat bermanfaat mengingat hampir semua industri sekarang memanfaatkan sistem pneumatik..3 kg/m³.. nitrogen.. Dalam sistem pneumatik udara difungsikan sebagai media transfer dan sebagai penyimpan tenaga (daya) yaitu dengan cara dikempa atau dimampatkan.. Udara dipermukaan bumi ini terdiri atas campuran dari bermacam -macam gas. neon dan xenon. Udara termasuk golongan zat fluida karena sifatnya yang selalu mengalir dan bersifat compressible (dapat dikempa).... Pengertian Pneumatik………………………………………….. gas 21 % vol.. antara lain menambah tekanan udara ban mobil/motor.. dan 1 % gas lainnya seperti carbon dioksida. melepaskan ban mobil dari peleknya...... d) Berat jenis udara 1. Karakteristik Udara Kempa. 2. rotasi maupun gabungan 469 . dan lain sebagainya. krypton. b) Volume udara tidak tetap. Sehingga v pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari teknik pemakaian udara bertekanan (udara kempa). menekan. argon.. Komposisi dari macam-macam gas tersebut adalah sebagai berikut : 78 % vol. Gerakan mekanik tersebut dapat dilakukan juga oleh komponen pneumatik. Karakteristik udara dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a) Udara mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.. yaitu ‘pneuma’ yang berarti napas atau udara....... Aplikasi Penggunaan Pneumatik……………………………. c) Udara dapat dikempa (dipadatkan)...

terutama pada proses perakitan (manufacturing). antara lain: mudah diperoleh. maupun motor pneumatik yang bergerak rotasi. bersih dari kotoran dan zat kimia yang merusak. Pemilihan penggunaan udara bertekanan (pneumatik) sebagai sistim kontrol dalam proses otomasinya. dan mengandung sedikit pelumas. misalnya untuk keperluan mengangkat plat baja dan sejenisnya melalui katup karet hisap flexibel. serta tersedia dalam jumlah banyak.keduanya. Setelah melalui regulator udara dapat digunakan menggerakkan katub penggerak (aktuator). Adapun batas-batas ukuran yang dapat menimbulkan optimalisasi penggunaan pneumatik antara lain: diameter piston antara 6 s/d 320 mm. kimia dan lainnya. untuk keperluan pendidikan biasanya berkisar antara 4 sampai dengan 8 bar. akan disimpan dalam suatu tabung penampung. Perpaduan dari gerakan mekanik oleh aktuator pneumatik dapat dipadu menjadi gerakan mekanik untuk keperluan proses produksi yang terus menerus (continue). Selain itu udara yang terdapat di sekitar kita cenderung bersih dari kotoran dan zat kimia yang merugikan. Udara dapat diperoleh dimana saja kita berada. Efektifitas Pneumatik …………………………………………… Sistim gerak dalam pneumatik memiliki optimalisasi/efektifitas bila digunakan pada batas-batas tertentu. Sebelum digunakan udara dari kompressor diolah agar menjadi kering. dapat juga bekerja pada tekanan udara di bawah 1 atmosfer (vacuum). Udara yang digunakan dalam pneumatik sangat mudah didapat/diperoleh di sekitar kita. karena pneumatik mempunyai beberapa keunggulan. maka penumatik banyak digunakan pula pada industri pengolahan logam dan sejenisnya. Karena tahan terhadap perubahan suhu. obat-obatan. mudah didistribusikan melalui saluran (selang) yang kecil. makanan.000 mm. Pemakaian pneumatik dibidang produksi telah mengalami kemajuan yang pesat. tenaga yang diperlukan 2 s/d 15 bar. Gerakan bolak balik (translasi). baik berupa silinder/stang torak yang bergerak translasi. Secara umum udara yang dihisap oleh kompressor. Adapun efektifitas penggunaan udara bertekanan dapat dilihat pada grafik berikut: 470 . Udara juga dapat dibebani lebih tanpa menimbulkan bahaya yang fatal. anjang langkah 1 s/d 2. aman dari bahaya ledakan dan hubungan singkat. dan berputar (rotasi) pada aktuator selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan gerakan yang selama ini dilakukan oleh manusia atau peralatan lain. dan flexibel. elektronika. dapat dibebani lebih. 4. tidak peka terhadap perubahan suhu dan sebagainya.

udara mudah disalurkan/pindahkan dari satu tempat ke tempat lain melalui pipa yang kecil.. menumpuk/menyusun material. proses finishing (gerinda. dll. membuka dan menutup pada pintu. memutar benda kerja. udara tersedia di alam sekitar kita dalam jumlah yang tanpa batas sepanjang waktu dan tempat. mengarahkan aliran material ke berbagai arah. 5.. menahan dan menekan benda kerja.) 5. memutar mengencangkan dan mengendorkan mur/baut.. Efektifitas udara bertekanan (Werner Rohrer. memotong.ltr/cm Tekanan Kerja/Pe 15 bar 10 bar 8 bar 6 bar 4 bar 2 bar mm Diameter Torak (D) Gambar 1. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan udara Kempa . Penggunaan secara nyata pada industri antara lain untuk keperluan: membungkus (verpacken). mengisi material. memposisikan benda kerja. penggerak poros. Melalui gerakan rotasi pneumatik dapat digunakan untuk.1 Keuntungan Penggunaan udara kempa dalam sistim pneumatik memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat disebutkan berikut ini : • Ketersediaan yang tak terbatas. pasah. • Mudah disalurkan. membentuk profil plat. mengebor. melalui peralatan 471 .. • Fleksibilitas temperatur. menguji. mengatur distribusi material.1990) Penggunaan silinder pneumatik biasanya untuk keperluan antara lain: mencekam benda kerja.. menggeser benda kerja.. transportasi barang. udara dapat fleksibel digunakan pada berbagai temperatur yang diperlukan. panjang dan berliku.

berbeda dengan sistim elektrik yang dapat menimbulkan kostleting hingga kebakaran. dll. udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya dengan jumlah kandungan pelumas yang dapat diminimalkan sehingga sistem pneumatik aman digunakan untuk industri obat-obatan. bersih. Bersih.• • • • • yang dirancang untuk keadaan tertentu.000 rpm. Bagi motor pneumatik putarannya dapat mencapai 30. maupun tidak langsung. Selain itu dapat dipasang pembatas tekanan atau pengaman sehingga sistim menjadi aman. Oleh karena itu diperlukan seal agar udara tidak bocor. memenuhi kriteria tertentu. Dapat disimpan. regulator. pengeering. penyaring udara. Mudah dimanfaatkan. Kebocoran seal dapat menimbulkan kerugian energi. yaitu melalui peralatan pneumatik untuk menghasilkan gerakan tertentu. seperti kompressor. udara dapat melaju dengan kecepatan yang dapat diatur dari rendah hingga tinggi atau sebaliknya. 5.000 rpm. Peralatan pneumatik harus dilengkapi dengan peralatan kekedapan udara agar kebocoran pada sistim udara bertekanan dapat ditekan seminimal mungkin. Aman. bahkan dalam kondisi yang agak ekstrem udara masih dapat bekerja. pneumatik juga memiliki beberapa kelemahan antara lain: • Memerlukan instalasi peralatan penghasil udara. Salah satu sifat udara bertekanan adalah ingin selalu menempati ruang yang kosong dan tekanan udara susah dipertahankan dalam waktu bekerja. sedangkan sistim motor turbin dapat mencapai 450.2 Kerugian/Kelemahan Pneumatik Selain memiliki kelebihan seperti di atas. Oleh karena itu sistem pneumatik memerlukan instalasi peralatan yang relatif mahal. udara dapat disimpan melalui tabung yang diberi pengaman terhadap kelebihan tekanan udara. dan minuman maupun tekstil Pemindahan daya dan Kecepatan sangat mudah diatur. Bila Aktuator menggunakan silinder pneumatik. maka kecepatan torak dapat mencapai 3 m/s. makanan. Udara kempa harus dipersiapkan secara baik hingga memenuhi syarat. tabung pelumas. misalnya kering. udara dapat dibebani lebih dengan aman selain itu tidak mudah terbakar dan tidak terjadi hubungan singkat (kotsleiting) atau meledak sehingga proteksi terhadap kedua hal ini cukup mudah. serta mengandung pelumas yang diperlukan untuk peralatan pneumatik. • Mudah terjadi kebocoran. 472 . udara mudah dimanfaatkan baik secara langsung misal untuk membersihkan permukaan logam dan mesin-mesin.

sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu. memiliki tekanan yang cukup. • 6. artinya udara yang telah digunakan akan dibuang ke luar sistim. Klasifikasi Sistim Pneumatik…………………………………. Sensor. Klasifikasi Elemen Sistim Pneumatik (FESTO FluidSIM) 473 . NOR. Pneumatik menggunakan sistim terbuka. Sistim elemen pada pneumatik memiliki bagian-bagian yang mempunyai fungsi berbeda. Secara garis besar sistim elemen pada pneumatik dapat digambarkan pada skema berikut : KLASIFIKASI CONTOH SIMBOL Out put = (Aktuator) Pengendali Sinyal = Katup Pengendali Sinyal Pemroses Sinyal/Prossesor = Katup kontrol AND. Diharapkan setelah diketahuinya keuntungan dan kerugian penggunaan udara kempa ini kita dapat membuat antisipasi agar kerugian-kerugian ini dapat dihindari. Udara yang bertekanan mudah mengembun.Menimbulkan suara bising. • Mudah Mengembun. Tuas. misal kering. Roll. dll Sinyal Input = Katup Tekan. Cara mengatasinya adalah dengan memasang peredam suara pada setiap saluran buangnya. dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekan pada katup-katup dan aktuator. OR. dll Sumber Energi Udara bertekanan = Kompressor Gambar 2. udara yang keluar cukup keras dan berisik sehingga akan menimbulkan suara bising terutama pada saluran buang.

(turbo) terdiri dari Centrifugal. 7. maka katup pengaman akan terbuka secara otomatis. Positive Displacement kompressor. Peralatan Sistem Pneumatik…………………………………. bila tekanan udaranya melebihi ketentuan. Secara garis besar kompressor dapat diklasifikasikan seperti di bawah ini. (Turbo). axial dan ejector.1 Kompressor (Pembangkit Udara Kempa) Kompresor berfungsi untuk membangkitkan/menghasilkan udara bertekanan dengan cara menghisap dan memampatkan udara tersebut kemudian disimpan di dalam tangki udara kempa untuk disuplai kepada pemakai (sistem pneumatik).1. sehingga udara dapat mencapai jumlah dan tekanan yang diperlukan.2001) 474 . Kompressor dilengkapi dengan tabung untuk menyimpan udara bertekanan. terdiri dari Reciprocating dan Rotary. dan Dynamic kompressor. Tabung udara bertekanan pada kompressor dilengkapi dengan katup pengaman. Klasifikasi Kompresor (Majumdar. 7.7. yaitu Positive Displacement kompressor. Pemilihan jenis kompresor yang digunakan tergantung dari syarat-syarat pemakaian yang harus dipenuhi misalnya dengan tekanan kerja dan volume udara yang akan diperlukan dalam sistim peralatan (katup dan silinder pneumatik). sedangkan Dynamic kompressor.1 Klasifikasi Kompressor Secara garis besar kompressor dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. secara lengkap dapat dilihat dari klasifikasi di bawah ini: KOMPRESSOR Positiv displacement Dynamic (Turbo) Reciprocating Rotary Centrifugal Axial Ejector Piston Lebyrinth Diaphragm Lobe (roots) Liquid (water) ring Sliding vane Mono screw Twin (screw) ring Gambar 3.

Pada saat terjadi pengisapan. selanjutnya di masukkan ke dalam tabung penyimpan udara. maka katup pengaman akan terbuka. sehingga perlu mengalami proses pendinginan dengan memasang sistem pendingin. Pemasukan udara diatur oleh katup masuk dan dihisap oleh torak yang gerakannya menjauhi katup. tekanan udara di dalam silinder mengecil.1. Gerakan mengisap dan mengkompressi ke tabung penampung ini berlangsung secara terus menerus. pada umumnya bila tekanan dalam tabung telah melebihi kapasitas. atau mesin penggerak akan mati secara otomatis.1. selanjutnya dimasukkan dalam silinder kedua untuk dikompresi oleh torak kedua sampai pada tekanan yang diinginkan. sehingga udara luar akan masuk ke dalam silinder secara alami. sehingga udara yang ada dalam tangki tidak akan kembali ke silinder. Kompresor Torak Resiprokal 7.1.1. karena dilengkapi dengan torak yang bekerja bolak-balik atau gerak resiprokal. Pemampatan (pengompresian) udara tahap kedua lebih besar.2 Kompresor Torak Dua Tingkat Sistem Pendingin Udara Kompresor udara bertingkat digunakan untuk menghasilkan tekanan udara yang lebih tinggi. Udara masuk akan dikompresi oleh torak pertama. Pada saat gerak kompressi torak bergerak ke titik mati bawah ke titik mati atas. 475 . sehingga udara di atas torak bertekanan tinggi.1 Kompresor Torak Resiprokal (reciprocating kompressor) Kompresor ini dikenal juga dengan kompresor torak.7. Gambar 4. Proses tersebut berlangsung terus-menerus hingga diperoleh tekanan udara yang diperlukan. kemudian didinginkan. Metode pendinginan yang sering digunakan misalnya dengan sistem udara atau dengan sistem air bersirkulasi. Tabung penyimpanan dilengkapi dengan katup satu arah. temperatur udara akan naik selama terjadi kompresi.

Oleh karena itu kompressor diafragma banyak digunakan pada industri bahan makanan. Torak pada kompresor diafragma tidak secara langsung menghisap dan menekan udara. Prinsip kerjanya hampir sama dengan kompresor torak. obat-obatan dan kimia. Udara yang masuk dan keluar tidak langsung berhubungan dengan bagian-bagian yang bergerak secara resiprokal. Dari gerakan diafragma yang kembang kempis itulah yang akan menghisap dan menekan udara ke tabung penyimpan. Adanya pemisahan ruangan ini udara akan lebih terjaga dan bebas dari uap air dan pelumas/oli. farmasi. Kompresor Torak dua Tingkat Sistem Pendinginan Udara Batas tekanan maksimum untuk jenis kompresor torak resiprokal antara lain. perbedaannya terdapat pada sistem kompresi udara yang akan masuk ke dalam tangki penyimpanan udara bertekanan. sedangkan dua tingkat atau lebih tekanannya hingga 15 bar.3 Kompresor Diafragma (diaphragma compressor) Jenis Kompresor ini termasuk dalam kelompok kompresor torak. Gambar 6. tetapi menggerakkan sebuah membran (diafragma) dulu. untuk kompressor satu tingkat tekanan hingga 4 bar.. 7.1. Namun letak torak dipisahkan melalui sebuah membran diafragma. Kompresor Diafragma 476 .Gambar 5.1.

7.4. sedangkan lainnya berbentuk cembung. dapat menghantarkan dan menghasilkan udara secara terus menerus dengan mantap. maka kompressor ini dapat digunakan sebagai pompa hidrolik pada pesawat-pesawat hidrolik. yang satu mempunyai bentuk cekung.1. Kompresor Rotari Baling-baling Luncur (FESTO Transparan) 7. Karena bentuk dari rumah baling-baling itu sendiri yang tidak sepusat dengan rotornya maka ukuran ruangan dapat diperbesar atau diperkecil menurut arah masuknya (mengalirnya) udara. Jika roda-roda gigi tersebut berbentuk lurus. Gambar 7.1. mempunyai lubang-lubang masuk dan keluar. sehingga dapat memindahkan udara secara aksial ke sisi lainnya.4 Konpresor Putar (Rotary Compressor) 7.1. sehingga menghemat ruangan. energi gaya sentrifugal baling-balingnya akan melawan dinding. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan.1. Balingbaling luncur dimasukkan ke dalam lubang yang tergabung dalam rotor dan ruangan dengan bentuk dinding silindris. Bahkan suaranya tidak berisik dan halus dalam . 477 .1 Kompressor Rotari Baling-baling Luncur Secara eksentrik rotor dipasang berputar dalam rumah yang berbentuk silindris.5 Kompresor Sekrup (Screw) Kompressor Sekrup memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan (engage). Keuntungan dari kompressor jenis ini adalah mempunyai bentuk yang pendek dan kecil.1.1. Roda-roda gigi kompressor sekrup harus diletakkan pada rumah-rumah roda gigi dengan benar sehingga betul-betul dapat menghisap dan menekan fluida. Ketika rotor mulai berputar.

1.1. Kebocoran terjadi karena antara baling-baling dan rumahnya tidak dapat saling rapat betul. Gambar 9. Sayap kupu-kupu di dalam rumah pompa digerakan oleh sepasang roda gigi yang saling bertautan juga. Dilihat dari konstruksinya.1. Kompresor Sekrup (Gottfried Nist. Berbeda jika dibandingkan dengan pompa pelumas pada motor bakar. Beberapa kelemahannya adalah: tingkat kebocoran yang tinggi. sehingga dapat berputar tepat pada dinding. Kompressor Model Root Blower 7. Prinsip kompresor ini ternyata dapat disamakan dengan pompa pelumas model kupu-kupu pada sebuah motor bakar. Torak membuat penguncian pada bagian sisi yang bertekanan.1.7 Kompresor Aliran (turbo kompressor) Jenis kompresor ini cocok untuk menghasilkan volume udara yang besar. 1994) 7. Kompresor aliran udara ada yang dibuat dengan arah masuknya udara secara aksial dan ada yang secara radial.Gambar 8. karena fluidanya adalah minyak pelumas maka film-film minyak sendiri sudah menjadi bahan perapat antara dinding rumah dan sayap-sayap kupu itu.6 Kompressor Root Blower (Sayap Kupu-kupu) Kompressor jenis ini akan mengisap udara luar dari satu sisi ke sisi yang lain tanpa ada perubahan volume. Arah aliran udara dapat dirubah dalam satu roda turbin atau lebih untuk 478 .

Teringat pula alat semacam ini adalah seperti kompresor pada sistem turbin gas atau mesin-mesin pesawat terbang turbo propeller. Bedanya. Jadi pengisapan dan penekanan udara terjadi saat rangkaian sudu-sudu pada rotor itu berputar secara cepat.1.1.menghasilkan kecepatan aliran udara yang diperlukan. Kompresor Aliran Radial (Gottfried Nist. udara akan mendapatkan percepatan oleh sudu yang terdapat pada rotor dan arah alirannya ke arah aksial yaitu searah (sejajar) dengan sumbu rotor.1. Semakin banyak tingkat dari susunan sudu-sudu tersebut maka akan semakin tinggi tekanan udara yang dihasilkan. Pada lubang masuk pertama udara dilemparkan keluar menjauhi sumbu.9 Kompresor Aliran Aksial Pada kompresor aliran aksial. Putaran cepat ini mutlak diperlukan untuk mendapatkan aliran udara yang mempunyai tekanan yang diinginkan. sampai beberapa tingkat sesuai yang dibutuhkan. Tetapi. jika pada turbin gas adalah menghasilkan mekanik putar pada porosnya. pada kompresor ini tenaga mekanik dari mesin akan memutar rotor sehingga akan menghasilkan udara bertekanan. 1994) 7. 479 . Gambar 10.8 Kompressor Aliran Radial Percepatan yang ditimbulkan oleh kompressor aliran radial berasal dari ruangan ke ruangan berikutnya secara radial. udara akan terisap masuk ke dalam ruangan isap lalu dikompressi dan akan ditampung pada tangki penyimpanan udara bertekanan hingga tekanannya sesuai dengan kebutuhan. Prinsip kerja kompressor radial akan mengisap udara luar melalui sudu-sudu rotor. maka dari tingkat pertama udara akan dipantulkan kembali mendekati sumbu. Dari tingkat pertama masuk lagi ke tingkat berikutnya. 7. Energi kinetik yang ditimbulkan menjadi energi bentuk tekanan.1. Bila kompressornya bertingkat.

antara lain. Kompressor berdaya rendah menggunakan motor listrik dua phase atau motor bensin.Gambar 11. kadar air yang tinggi dapat merimbulkan korosi dan kemacetan pada peralatan pneumatik. Kompresor Aliran Aksial 7. Gambar 12. 480 . Kompressor Torak berpindah (Moveble) 7.1. Penggunaan mesin bensin atau diesel biasanya digunakan bilamana lokasi disekitarnya tidak terdapat aliran listrik atau cenderung non stasioner. sedangkan kompressor berdaya besar memerlukan motor listrik 3 phase atau mesin diesel. Penggerak kompressor yang sering digunakan biasanya berupa motor listrik dan motor bakar seperti gambar 12. a) tidak mengandung banyak debu yang dapat merusak keausan komponen-komponen dalam sistem pneumatik. sehingga kompressor dapat bekerja secara optiomal. Kompresor yang digunakan di pabrik-pabrik kebanyakan digerakkan oleh motor listrik karena biasanya terdapat instalasi listrik dan cenderung stasionar (tidak berpindah-pindah).2 Penggerak Kompresor Penggerak kompressor berfungsi untuk memutar kompressor. b) mengandung kadar air rendah.2 Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Air Service Unit) Udara bertekanan (kempa) yang akan masuk dalam sistem pneumatik harus harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan.

Secara lengkap suplai udara bertekanan memiliki urutan sebagai berikut: Filter udara. selanjutnya melalui katup saru arah udara dimasukan ke FR/L unit. Distribusi Sistem Pengolahan Udara Bertekanan 7. Filter Udara 481 . Tabung penampung udara bertekanan akan menyimpan udara dari kompresor. sebelum udara atmosfer dihisap kompresor. terlebih dahulu disaring agar tidak ada partikel debu yang merusak kompresor. yang terdiri dari Filter. Kompresor digerakkan oleh motor listrik atau mesin bensin/diesel tergantung kebutuhan. dsb. berfungsi sebagai alat penyaring udara yang diambil dari udara luar yang masih banyak mengandung kotoran.2.c) mengandung pelumas.1 Peralatan Pengolahan Udara Bertekanan Pengolahan udara bertekanan agar memenuhi persyaratan diperlukan peralatan yang memadai. Filter berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel yang terbawa seperti debu. Setelah memenuhi syarat kemudian baru ke sistim rangkaian pneumatik. Gambar 14. pelumas sangat diperlukan untuk mengurangi gesekan antar komponen yang bergerak seperti pada katup-katup dan aktuator. oli residu. antara lain : • Filter Udara (air filter). seperti tertera dalam bagan di bawah ini: Filter Udara Motor/mesin Tabung Penampung FR/L Unit Katup 3/2 Way Valve Gambar 13. Regulator dan Lubrication/pelumasan agar lebih memenuhi syarat.

Gambar 17. Berfungsi untuk menyimpan udara bertekanan hingga pada tekanan tertentu hingga pengisian akan berhenti. Kompressor Torak 482 . Tangki Udara • Pengering udara (air dryer) Gambar 16.• Tangki udara . kemudian dapat digunakan sewaktu-waktu diperlukan Gambar 15. Pengering Udara • Kompresor berfungsi untuk menghisap udara atmosfir kemudian dimampatkan ke tabung penyimpan hingga tekanan tertentu. Sebelum digunakan harus ada sistim pengolahan udara bertekanan untuk membersihkan dan mengeringkan sebelum digunakan.

selanjutnya akan disalurkan sesuai dengan kebutuhan. serta dapat mengurangi panas yang timbul akibat gesekan. Untuk mengatur besar kecilnya udara yang masuk. Tabung Pelumas • Regulator udara bertekanan Udara yang telah memenuhi persyaratan. sambungan. Adapun unit pengolahan udara dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 483 .• Pemisah air udara bertekanan yang keluar melalui filter masih mengandung uap air. Udara Kering Udara Basah Air Kondensasi Gambar 18. Gambar 19. diperlukan keran udara yang terdapat pada regulator. Pemisah Air • Tabung pelumas Komponen sistim pneumatik memerlukan pelumasan (lubrication) agar tidak cepat aus. katup. sehingga udara yang disuplai sesuai dengan kebutuhan kerjanya. Oleh karena itu udara bertekanan/mampat harus mengandung kabut pelumas yang diperoleh dari tabung pelumas pada regulator. Kelembaban dalam udara bertekanan dapat menyebabkan korosi pada semua saluran. alat-alat yang tidak dilindungi sehingga harus dikeringkan dengan cara memisahkan air melalui tabung pemisah air.

1994) FR/L Unit 1 . misalnya setiap akan memulai bekerja perlu memantau kebersihan udara. Sedangkan udara kering diambil dari bagian atas instalasai agar memiliki kadar air yang rendah. kandungan oli pelumas dan sebagainya. kandungan air embun. Secara lengkap unit pengolahan udara bertekanan dapat dilihat dalam skema berikut : Penampung udara antara Tabung Penampung Udara Mampat Kompressor Penampung cairan kondensasai Udara Kempa siap pakai Pneumatik Gambar 21. Untuk menjebaknya maka intalasi pipa diberi kemiringan. Air memiliki masa jenis (Rho) yang lebih tinggi sehingga cenderung berada di bagian bawah. Prosedur pemantauan penggunaan udara kempa yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut: a) Frekuensi pemantauan. Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Gottfried Nist. selanjutnya dibuang.3 Pemeriksaan Udara Kempa dan Peralatan Sebelum mengaktifkan sistem pneumatik. udara kempa dan peralatannya perlu diperiksa terlebih dahulu. air akan mengalir secara alami ke tabung penampung air.Gambar 20. b) Tekanan udara perlu 484 . Tabung Pelumas Unit pengolahan udara bertekanan memiliki jaringan instalasi perpipaan yang sudah dirancang agar air dapat terpisah dari udara.2% Menurun 7.

4 Konduktor dan Konektor 7. kuningan atau aluminium. e) Katup pengaman/regulator tekanan udara perlu dipantau apakah bekerja dengan baik. kuningan.dipantau apakah sesuai dengan ketentuan.5 bar. 485 . Pipa ini juga disebut konduktor kaku (rigid) dan cocok untuk instalasi yang permanen. c) Pengeluaran udara buang apakah tidak berisik/bising. baja. d) Udara buang perlu dipantau pencampuranya.d 0. Pengalaman praktik menunjukkan bahwa tekanan kerja pada umumnya sekitar 6 bar.5 . Ini termasuk konduktor yang semi fleksible dan untuk instalasi yang sesekali dibongkar-pasang. silinder dan lain-lain umumnya dirancang untuk tekanan antara 8 -10 bar. 7. § Tabung (tube) yang terbuat dari tembaga. Peralatan sistim pneumatik seperti valve.1 Konduktor (Penyaluran) Penginstalan sirkuit pneumatik hingga menjadi satu sistem yang dapat dioperasikan diperlukan konduktor.4. § Selang fleksible yang biasanya terbuat dari piastik dan biasa digunakan untuk instalasi yang frekuensi bongkar-pasangnya lebih tinggi. Kehilangan tekanan dalam perjalanan udara kempa karena bengkokan (bending).7 bar. Dengan demikian kompressor harus membangkitkan tekanan 6. b) Terjadi oiled-up pada valve. sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi konduktor adalah untuk menyalurkan udara kempa yang akan membawa/mentransfer tenaga ke aktuator.1 s. Apabila suplai udara kempa tidak sesuai dengan syaratsyarat tersebut di atas maka berakibat kerusakan seperti berikut : a) Terjadi cepat aus pada seal (perapat) dan bagian-bagian yang bergerak di dalam silinder atau valve (katup-katup). Macam-macam konduktor : § Pipa yang terbuat dari tembaga. bocoran restriction dan gesekan pada pipa dapat menimbulkan kerugian tekanan yang diperkirakan antara 0. g) Setiap sambungan (konektor) perlu dipantau agar dipastikan cukup kuat dan rapat karena udara kempa cukup berbahaya. d) Terjadi pencemaran (kontaminasi) pada silencers. galvanis atau stenlees steel.

4. Bentuk ataupun macamnya disesuaikan dengan konduktor yang digunakan.2 Konektor Konektor berfungsi untuk menyambungkan atau menjepit konduktor (selang atau pipa) agar tersambung erat pada bodi komponen pneumatik. Adapun nacam-macam konektor dapat kita lihat pda gambar berikut. Gambar 23.Gambar 22. Macam-Macam Konektor 486 . Jenis-Jenis Konduktor 7.

b) Jumlah posisi kerja.12) Ruang/Posisi (a.3. penggerak knop dan pembalik pegas.4). Berikut ini contoh-contoh penamaan katup yang pada umumnya disimbolkan sebagai berikut : Ruang/Posisi (14. maka tekanan udara tersebut akan menggeser katup ke kanan sehingga udara bertekanan akan mengalir melalui port 1 ke port 4 ditulis 14. dengan kata lain katup ini berfungsi untuk mengendalikan arah gerakan aktuator.5. Katup-katup pneumatik diberi nama berdasarkan pada: a) Jumlah lubang/saluran kerja (port).7.2. Berdasarkan pada data-data di atas. Sisi 14 artinya bila disisi tersebut terdapat tekanan udara.5) sedangkan di bagian output ada 2 port (2. dan d) Nama tambahan lain sesuai dengan karakteristik katup. Penggerak katup berupa udara bertekanan dari sisi 14 dan 12. Katup 3/2 knop. d) Jenis penggerak katup. maka katup tersebut diberi nama : Gambar 25.5 Katup-Katup Pneumatik Katup berfungsi untuk mengatur atau mengendalikan arah udara kempa yang akan bekerja menggerakan aktuator. Katup tersebut juga memiliki dua posisi/ruang yaitu a dan b. Detail Pembacaan Katup 5/2 Dari simbol katup di atas menunjukkan jumlah lubang/port bawah ada tiga (1.3.b) 4 a a 2 b 14 12 b 5 Nomor Lubang/Port (1. pembalik pegas 487 . Demikian pula sisi 12 akan mengaktifkan ruang b sehingga port 1 akan terhubung dengan port 2 ditulis 12. maka katup di atas diberi nama : Contoh lain : KATUP 5/2 penggerak udara bertekanan Katup ini memiliki tiga port dan dua posisi/ruang.4 ) 1 3 Gambar 24.

spring centered). Komponen-komponen kontrol tersebut atau biasa disebut katup-katup (Valves) menurut desain kontruksinya dapat dikelompokan sebagai berikut : a. 7. pembalik pegas (3/2 DCV plunger actuated.Katup-katup pneumatik memiliki banyak jenis dan fungsinya. Katup Poppet (Poppet Valves) § Katup Bola (Ball Seat Valves) § Katup Piringan (Disc Seat Valves) b.1 Katup Pengarah (Directional Control Valves) Katup 3/2 Way valve (WV) penggerak plunyer. § Sinyal pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element. termasuk jenis katup piringan (disc valves) normally closed (NC).5. Gambar 26. Katup Geser (Slide valves) § Longitudinal Slide § Plate Slide Sedangkan menurut fungsinya katup-katup dikelompokkan sebagai berikut : a) Katup Pengarah (Directional Control Valves) b) Katup Satu Arah (Non Return Valves) c) Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves) d) Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves) e) Katup buka-tutup (Shut-off valves) Sedangkan susunan urutannya dalam sistem pneumatik dapat kita jelaskan sebagai berikut : § Sinyal masukan atau input element mendapat energi langsung dari sumber tenaga (udara kempa) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal. Katup 3/2 Knop Pembalik Pegas 488 . § Sinyal pengendalian akhir (final control element) yang akan mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element) dan ini merupakan hasil akhir dari sistem pneumatik. Katup tersebut berperan sebagai pengatur/pengendali di dalam sistem pneumatik.

Gambar 28. Katup 5/2 Plunyer Penggerak Udara Bertekanan 489 . Katup 4/2 Plunyer Pembalik Pegas Katup 4/3 manually jenis plate slide valves.Katup 4/2 penggerak plunyer. kembali pegas (4/2 DCV plunger actuated. spring centered). DCV-air port jenis longitudinal slide. termasuk jenis katup piringan ( disc seat valves) Gambar 27. Katup 4/3 Plunyer Pembalik Pegas Katup 5/2. Gambar 29.

5.2 Shuttle Valve Katup ini akan mengalirkan udara bertekanan dari salah satu sisi. Katup satu arah dan simbolnya 7. Gambar 31.3 Katup DuaTekan Katup ini dapat bekerja apabila mendapat tekanan dari kedua saluran masuknya. Bila udara yang mengalir dari satu sisi saja.7. Udara dari arah kiri (lihat gambar 30) akan menekan pegas sehingga katup terbuka dan udara akan diteruskan ke kanan. Macam-macam katup searah : 7.2. maka katup akan menutup dan udara tidak bisa mengalir kearah kiri.5. Shuttle Valve 7. namun bila udara mengalir secara 490 .2. baik sisi kiri saja atau sisi kanan saja. yaitu saluran X.2 Katup Satu Arah (Non Return Valves) Katup ini berfungsi untuk mengatur arah aliran udara kempa hanya satu arah saja yaitu bila udara telah melewati katup tersebut maka udara tidak dapat berbalik arah. Sehingga katup ini juga digolongkan pada katup pengarah khusus. Gambar 30.5.1 Katup Satu Arah Pembalik Pegas Katup satu arah hanya bisa mengalirkan udara hanya dari satu sisi saja.5. maka katup akan menutup. dan saluran Y secara bersamasama (lihat gambar 32). Katup ini juga disebut katup “OR” (Logic OR function). Bila udara mengalir dari arah sebaliknya. Katup satu arah dalam sistem elektrik identitik dengan fungsi dioda yang hanya mengalirkan arus listrik dari satu arah saja.

5.5 Katup Pengatur Tekanan Pressure Regulation Valve.4 Katup Buang Cepat (Quick Exhoust Valve) Gambar 33. Gambar 32. maka katup akan membuka. Gambar 34. Katup Buang Cepat 7. Pressure Regulation Valve 491 .5.bersamaan dari kedua sisinya. katub ini berfungsi untuk mengatur besar-kecilnya tekanan udara kempa yang akan keluar dari service unit dan bekerja pada sistim pneumatik (tekanan kerja). sehingga katup ini juga disebut “AND” (Logic AND function). Katup Dua Tekan 7.

Gambar 36.5.8 Time Delay Valve (Katup Penunda) Katup ini berfungsi untuk menunda aliran udara hingga pada waktu yang telah ditentukan. 7. bila suda penuh baru akan mengalir ke saluran lainnya.7.5. Apabila terjadi tekanan lebih maka katup out-let akan terbuka dan tekanan lebih dibuang. Squence Valve 7. Time Delay Valve 492 . jadi tekanan udara yang mengalir ke sistem tetap aman.6 Katup Pembatas Tekanan/Pengaman (Pressure Relief Valve) Katup ini berfungsi untuk membatasi tekanan kerja maksimum pada sistem. hanya fungsinya berbeda yaitu untuk membuat urutan kerja dari sistem. Katup penunda ini juga dikenal pula dengan timer. Perhatikan gambar berikut : Gambar 35.7 Sequence Valve Prinsip kerja katup ini hampir sama dengan relief valve.5. Udara akan mengalir dahulu ke tabung penyimpan.

7.. Katup Pengatur Aliran Udara 7. Lihat gambar berikut : Gambar 38. Shut of Valve 7. b) Adjustable flow control yaitu lubang laluan dapat disetel dengan baut penyetel. c) Adjustable flow control dengan check valve by pass. Adapun penampang dan simbol flow control valve adalah sebagai berikut: Gambar 37. Macam-macam aktuator : a) Linear Motion Aktuator (Penggerak Lurus) Ø Single Acting Cylinder (Silinder Kerja Tunggal) 493 .5.5. karena akan mencekik aliran udara hingga akan menghambat aliran udara.10 Shut of Valve Katup ini berfungsi untuk membuka dan menutup aliran udara. Hal ini diasumsikan bahwa besarnya aliran yaitu jumlah volume udara yang mengalir akan mempengaruhi besar daya dorong udara tersebut.9 Katup Pengatur Aliran (Flow Control Valve) Katup ini berfungsi untuk mengontrol/mengendalikan besarkecilnya aliran udara kempa atau dikenal pula dengan katup cekik. Macam-macam flow control: a) Fix flow control yaitu besarnya lubang laluan tetap (tidak dapat disetel).6 Unit Pengerak (Working Element = Aktuator) Unit ini berfungsi untuk menghasilkan gerak atau usaha yang merupakan hasil akhir atau output dari sistim pneumatik.

pegas pembalik. 494 . Silinder sederhana akan bekerja bila mendapat udara bertekanan pada sisi kiri. Konstruksinya hampir sama dengan silinder kerja tunggal. 7. Ø Air Motor (Motor Pneumatik) Ø Rotary Aktuator (Limited Rotary Aktuator) a) b) Gambar 39.6. 7. dan silinder.1 Single Acting Cylinder Silinder ini mendapat suplai udara hanya dari satu sisi saja. beban dan tujuan penggunaan sistim pneumatik. Untuk mengembalikan keposisi semula biasanya digunakan pegas. Keuntungannya adalah bahwa silinder ini dapat memberikan tenaga kepada dua belah sisinya. seal. Konstruksinya yang mana yang akan dipilih tentu saja harus disesuaikan dengan kebutuhan. Gambar berikut ini adalah gambar silinder kerja tunggal. yaitu torak. Secara detail silinder pneumatik sederhana pembalik pegas dapat dilihat pada gambar 39a. Silinder kerja ganda ada yang memiliki batang torak ( piston road) pada satu sisi dan ada pada kedua pula yang pada kedua sisi. selanjutnya akan kembali oleh gaya pegas yang ada di dalam silinder pneumatik. Silinder kerja tunggal hanya dapat memberikan tenaga pada satu sisi saja.6. Jenis Single Acting Cylinder (a) dan Simbolnya (b) Silinder Pneumatik sederhana terdiri dari beberapa bagian.Ø Double Acting Cylinder (Penggerak Putar) b) Rotary Motion Actuator (Limited Rotary Aktuator) Pemilihan jenis aktuator tentu saja disesuaikan dengan fungsi. batang torak.2 Silinder Penggerak Ganda (Double Acting Cyinder) Silinder ini mendapat suplai udara kempa dari dua sisi.

Gambar 40. yaitu torak.2. Pengaturan ini tergantung pada banyak sedikitnya tuntutan yang harus dipenuhi pada gerakan aktuator yang diperlukan. Secara detail silinder pneumatik dapat dilihat seperti gambar 40. dan silinder.6. Silinder pneumatik penggerak ganda terdiri dari beberapa bagian. 7. Sumber energi silinder pneumatik penggerak ganda dapat berupa sinyal langsung melalui katup kendali. batang torak.1 Double Acting Cylinder With Cushioning Cushion ini berfungsi untuk menghindari kontak yang keras pada akhir langkah. Double Acting Cylinder dan simbolnya Silinder pneumatik penggerak ganda akan maju atau mundur oleh karena adanya udara bertekanan yang disalurkan ke salah satu sisi dari dua saluran yang ada. Double Acting Cylinder with Cushioning 495 . Jadi dengan sistem cushion ini kita memberikan bantalan atau pegas pada akhir langkah. atau melalaui katup sinyal ke katup pemroses sinyal (processor) kemudian baru ke katup kendali. seal. Cushioning Gambar 41.

7 Air Motor (Motor Pneumatik) Motor pneumatik mengubah energi pneumatik (udara kempa) menjadi gerakan putar mekanik yang kontinyu. Motor Piston Radial dan Motor Axial Gambar 43. c) Motor roda gigi. Cara kerja motor pneumatik berupa piston translasi kemudian dikonversi menjadi gerakan berputar/rotasi dimana udara bertekanan dialirkan melalui torak atau baling-baling yang terdapat pada porosnya. d) Motor aliran. Macam-macam motor pneumatik. Rotari Vane Motor Menurut bentuk dan konstruksinya. Gambar 42. motor pneumatik dibedakan menjadi : a) Motor torak. b) Sliding Vane Motor . d) Turbines (High Flow).7. Berikut contoh-contoh motor pneumatik. Motor pneumatik ini telah cukup berkembang dan penggunaanya telah cukup meluas. b) Motor baling-baling luncur. 496 . c) Gear Motor. antara lain: a) Piston Motor Pneumatik.

cairan. e) Tidak peka terhadap debu.Gambar 44. panas dan dingin. h) Arah putaran mudah dibolak-balik. f) Tahan terhadap ledakan. g) Mudah dalam pemeliharaan.8 Jenis-jenis Katup Pneumatik Tabel 1. antara lain: a) Kecepatan putaran dan tenaga dapat diatur secara tak terbatas. 7. Jenis dan Simbol Motor Pneumatik/Rotary Actuator Ada beberapa kelebihan penggunaan motor pneumatik. d) Ada pengaman beban lebih. Simbol dan Gambar Katup Sinyal Pneumatik LAMBANG PENAMPANG NAMA Katup tekan 3/2 dengan pegas pembalik Katup NOT 3/2 dengan pegas pembalik 497 . c) Ukuran kecil sehingga ringan. b) Batas kecepatan cukup lebar.

antara lain: Tabel 2.= Katup tuas 3/2 dengan penahan Katup Roll 3/2 Katup tuas 4/2 dengan penahan/tuas Simbol penekan katup sinyal memiliki beberapa jenis. antara lain penekan manual. roll. Sesuai dengan standar Deutsch Institut fur Normung (DIN) dan ISO 1219. terdapat beberapa jenis penggerak katup. tuas. dan lain-lain. Jenis-jenis penggerak katup SIMBOL KETERANGAN Penekan pada umumnya Penggerak katup oleh knop SIMBOL KETERANGAN Melalui sentuhan Penggerak katup oleh pegas 498 .

Katup akan bekerja dan memberikan reaksi apabila ujung batang piston (batang penekan) sudah mendekat dan menyentuh pada roller-nya. sedangkan saluran 3 menjadi tertutup. Hal ini akan berakibat bahwa udara bertekanan dari lubang 1 akan diteruskan ke saluran 2. Saat posisi katup pneumatik belum tertekan yaitu saat katup tidak dioperasikan. Aplikasinya nanti adalah saluran 2 itu akan dihubungkan pada katup pemroses sinyal berikutnya. Gambar 45. Saat rooler tertekan maka terlihat bahwa lubang 1 berhubungan dengan saluran 2. Katup Sinyal Roll 3/2 499 .8. Katup ini bekerja bila tombol roll pada katup tertekan secara manual melalui nok yang terdapat pada silinder Pneumatik atau karena adanya sistim mekanik lainnya. dan lubang 1 tertutup sehinggga tidak terjadi kerja apa-apa. Saluran 2 akan berfungsi sebagai pemberi sinyal pada katup berikutnya. saluran 2 berhubungan dengan 3.1 Katup 3/2 dengan Penekan Roll Katup ini sering digunakan sebagai saklar pembatas yang dilengkapi dengan roll sebagai tombol.Penggerak katup oleh tuas Penggerak katup oleh pedal kaki Penggerak katup oleh udara Penggerak katup magnet/ mekanik dua sisi Penggerak katup oleh roll Penggerak katup oleh roll tak langsung (berlengan) Penggerak katup oleh magnet Penggerak katup oleh magnet dua sisi 7.1.

8. katup NOT. Katup pemroses sinyal terletak antara katup sinyal dan katup pengendalian.Katup sinyal roll ini akan bekerja apabila ujung roller tertekan oleh nok aktuator atau lainnya. Katup pneumatik pada dasarnya identik dengan saklar pada rangkaian listrik. maka hasil pengolahan sinyal akan dikirim ke katup kendali yang akan diteruskan ke aktuator agar menghasilkan gerakan yang sesuai dengan harapan. Jenis dan Simbol Katup Pemroses Sinyal Pneumatik LAMBANG PENAMPANG NAMA Katup dua tekan (AND) Katup satu tekan (OR) Katup aliran satu arah dengan pembalik pegas 500 . katup pembatas tekanan. dan lain-lain. Katup pemroses sinyal terdiri dari beberapa jenis. antara lain katup dua tekan (AND). Sebagai pengolah input/masukan dari katup sinyal. namun terbatas pada katup pengatur aliran/cekik yang mengatur kecepatan torak. seperti yang tampak dalam simbol dan gambar penampang berikut ini: Tabel 3. katup satu tekan (OR).2 Katup Pemroses Sinyal (Prossesor) Output yang dihasilkan oleh katup sinyal akan diproses melalui katup pemroses sinyal (prosesor). saat maju atau mundur. 7. Beberapa katup pemroses sinyal dapat pula dipasang sebelum aktuator. katup pengatur aliran udara (cekik) satu arah. maka katup tersebut juga disebut saklar pembatas. Katup semacam ini dapat berfungsi sebagai pembatas gerakan atau pencegah gerakan yang berlebihan.

Katup 501 .8.3 Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valve) Katup pengatur tekanan digunakan untuk mengatur tekanan udara yang akan masuk ke dalam sistim pneumatik.Katup aliran satu arah tanpa pegas Katup pengatur aliran (Cekik) satu arah Katup OR dengan tekanan tertentu Cekik dua arah Katup Pengatur tekanan udara penyetel pegas Secara detail fungsi dan mekanisme kerja katup pemroses sinyal dapat dijelaskan sebagai berikut: 7. Katup pengatur tekanan udara akan bekerja pada batas-batas tekanan tertentu.

Fungsi dari pemasangan flow control valve pada rangkaian pneumatik antara lain untuk membatasi kecepatan maksimum gerakan piston/motor pneumatik.2) dan Y (1. serta untuk menyeimbangkan aliran yang mengalir pada cabang-cabang rangkaian pneumatik. hingga tekanan yang diperlukan tidak berlebihan.2) saja atau dari arah Y (1.4 Katup Pengatur Aliran (Flow Control Valve) Katup ini digunakan untuk mengatur volume aliran yang berarti mengatur kecepatan gerak piston (aktuator). Jenis dan Simbol Katup Pembatas Tekanan Pressure regulator Pressure relief valve Pressure regulator with self relieving Sequence valve 7. Bila telah melewati tekanan yang diperlukan maka katup ini akan membuka secara otomatis. untuk membatasi daya yang bekerja. Apabila katup ini mendapat tekanan dari arah X (1.8.4) saja maka katup tidak akan bekerja (udara tidak dapat keluar ke A).pengatur tekanan udara berfungsi mengatur tekanan agar penggerak pneumatik dapat bekerja sesuai dengan tekanan yang diharapkan. 7. Untuk mendapatkan tekanan yang sesuai dengan keperluan dapat dilakukan dengan cara mengatur putaran pegas yang ada. udara akan dikeluarkan. Sesuai fungsinya katup pengatur tekanan dapat disimbolkan sebagai berikut : Tabel 4.8.1 Katup AND (Two Pressure Valve) Katup dua tekan akan bekerja apabila mendapat tekanan dari dua sisi secara bersama-sama. Secara simbolik dapat dituliskan sebagai berikut : 502 . Tetapi apabila mendapat tekanan dari X (1. Biasanya dikenal juga dengan istilah cekik.4) secara bersama-sama maka katup ini akan dapat bekerja sesuai fungsinya.4.

4. Demikian pula pada pneumatik. Simbol dan Tabel Logika katup OR PENAMPANG SIMBOL SIMBOL LOGIKA 503 . Dalam sistim elektrik katup OR diidentikkan dengan rangkaian parallel.2 Katup OR (One Pressure Valve) Katup OR akan bekerja bila dari salah satu sisi katup terdapat udara bertekenan. udara bertekanan dapat dialirkan pada salah satu sisi atau kedua sisinya secara bersamaan.X1 X2 TABEL LOGIKA X1 X2 A 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 7. atau kedua-duanya. Arus listrik dapat mengalir pada salah satu penghantar.8. Katup OR dapat digambarkan dan disimpulkan sebagai berikut: Tabel 6. Simbol dan Tabel Logika katup AND PENAMPANG SIMBOL SIMBOL LOGIKA RANG. baik dari sisi kiri X atau (X1) atau sisi kanan Y atau (Y2). PNUAMATIK ELEKTRIK .Tabel 5.

Simbol dan Tabel Logika katup NOT Simbol Pneumatik Logik Kontrol Tabel Logika X 0 1 A 1 0 7. Logika katup NOR X2 A ( OR) A (NOR) 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 504 .4. Dalam pneumatik katup NOT dapat diartikan bahwa udara bertekanan akan mengalir melalui katup NOT bila tidak diberi aksi. sedangkan pada posisi OFF maka outputnya akan ON.3 Katup NOT (Negations Valve) Katup ini akan selalu bekerja berlawanan dengan sinyal yang masuk.8. maka output NOR berupa OFF. demikian pula sebaliknya.4 Katup NOR (Not OR) Katup ini akan bekerja selalu berlawanan dengan output katup OR.X1 ELEKTRIK TABEL LOGIKA X1 X2 0 0 1 1 X2 0 1 0 1 A 0 1 1 1 7. Katup ini biasanya dipakai untuk Emergency.4. namun sebaliknya udara bertekanan tidak dapat diteruskan bila katup NOT diberi aksi. Tabel Logika katup NOR dapat dijelaskan dalam tabel logika berikut: X1 0 0 1 1 Tabel 8. Tabel 7.RANGKAIAN PNEUAMATIK .8. bila sinyal dalam kondisi ON maka outputnya (A) akan OFF (mati). bila output OR adalah ON.

4. Katup pengendalian biasanya memiliki dua kemungkinan. 4/2.8. dan 5. penggerak elektrik. Setiap ruang terdiri dari 5 saluran/port. logika katup NAND X1 0 0 1 1 X2 0 1 0 1 A (AND) 0 0 0 1 A (NAND) 1 1 1 0 7. 3. Pada sisi kiri dan kanannya terdapat kode penggerak katup tersebut misalnya penggerak udara bertekanan.8.5 Katup Pengendali Sinyal Sinyal yang telah diolah atau diproses selanjutnya akan dikirim ke katup pengendali. Katup ini akan secara langsung mengendalikan aktuator baik berupa silinder pneumatik maupun motor pneumatik. dan lain-lain. katup 5/2. 5/3. Katup Kendali 5/2 Katup di atas terdiri dari 2 ruang. dan sebagainya. demikian pula sebaliknya. 3/2. antar lain. penggerak hydrolik. Katup pengendali sinyal terdiri dari beberapa jenis. yaitu mengaktifkan aktuator maju (setzen/S) atau mengembalikan aktuator ke posisi semula/mundur (rucksetzen/R). 2. yaitu sisi kiri ruang a. Letak katup pengendali biasanya sebelum aktuator. maka output NAND berupa OFF. penggerak mekanik. Dilihat 505 . Katup NAND dapat digambarkan sebagai berikut : Tabel 9. dan akan berhenti bila inputnya AND. bila output katup AND adalah ON.5 Katup NAND (Not AND) Katup ini akan bekerja selalu berlawanan dengan output katup AND. Dalam pneumatik. yaitu saluran 1. dan sisi kanan ruang b.7. Salah satu contoh cara pembacaan katup pengendali adalah sebagai berikut: a b Gambar 46. udara bertekanan akan diteruskan ke sistim pneumatik bila outputnya tidak AND.4.

aktuator bergerak maju. Perbedaannya dengan katup di atas adalah Kedua ruang dapat diaktifkan/digeser oleh tenaga mekanik dan oleh udara bertekanan.8.5. dan dua saluran buang yang diberi kode 3 dan 5. dan sisi 12.1 Katup Kendali 5/2 penggerak udara kempa Katup kenndali 5/2 penggerak udara kempa ini terdiri dari lima port. 506 . dan dua saluran buang yang diberi kode 3. Pada bagian bawah (input) terdapat saluran masuk udara kempa yang diberi kode nomor 3. Selain itu terdapat dua ruang yang diberi nama ruang a dan ruang b. Kedua ruang diaktifkan/digeser oleh udara bertekanan dari sisi 14. sehingga aktuator bergerak mundur. sedangkan bagian atas (output) terdapat dua saluran (port) yang diberi kode nomor 2 dan 4. Kedua saluran genap tersebut akan dihubungkan dengan aktuator. Bagian atas (output) terdapat dua saluran (port) yang diberi kode nomor 2 dan 4 yang akan dihubungkan dengan aktuator.dari jenis penggerak katupnya. Sisi 12 untuk mengaktifkan ruangan b yang berdampak saluran 1 terhubung dengan saluran 2. masing-masing diberi nomor 1. Gambar 47.2 Katup Kendali 5/2 penggerak udara kempa dan Mekanik Katup kendali 5/2 penggerak udara kempa dan mekanik ini terdiri dari lima port. dan 5. masing-masing diberi nomor. Biasanya penggerak mekanik difungsikan untuk melakukan cheking apakah katup dapat berfungsi dengan baik atau tidak. Selain itu terdapat dua ruang yang diberi nama ruang a dan ruang b. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Udara Kempa 7. Pada bagian bawah (input) terdapat saluran masuk udara kempa yang diberi kode nomor 3.8. k atup pengendali sinyal terdiri dari beberapa jenis antara lain: 7. 3.dan 5.5. 4. 2. Pada umumnya sisi 14 akan mengaktifkan ruang a sehingga port 1 terhubung dengan port 4.

Biasanya katup ini digunakan untuk sistem elektropneumatik atau elektro hydrolik.3 Katup Kendali 5/2 penggerak Magnet Katup kendali 5/2 penggerak udara magnet ini prinsipnya sama dengan katup kendali sebelumnya.5. Biasanya pembalik pegas ini difungsikan untuk mempertahankan katup agar tetap ke posisi semula setelah bergeser. Perbedaannya katup ini dilengkapi kumparan/spull yang dililitkan ke inti besi. Perbedaannya katup ini dilengkapi pegas. yang berfungsi untuk mengembalikan katup ke posisi semula secara otomatis bila udara bertekanan penggerak katup tersebut terputus. maka inti besi akan menjadi magnet.8. Gambar 49.Gambar 48. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik dan Udara Kempa 7. Magnet ini akan mengeser ruangan katup sesuai dengan gerakan yang diinginkan. Bila kumparan dilalui arus.8.5.2 Katup Kendali 5/2 Penggerak Udara Kempa dan Pegas Katup kendali 5/2 penggerak udara kempa dan pembalik pegas ini prinsipnya sama dengan katup kendali sebelumnya. 507 . Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik Udara Kempa dan Pembalik Pegas 7.

tiga atau lebih saluran udara yang saling bersilangan Berfungsi sebagai peredam suara agar tidak bising Penampung udara bertekanan Dipasang sebelum masuk ke penampung 508 . Jenis dan Simbol Komponen Sistim Pneumatik Lainnya (FESTO FluidSIM) Simbol Nama Sumber udara bertekanan Keterangan Sumber udara bertekanan berasal dari kompresor atau Saluran Kontrol Saluran tenaga/kerja Saluran berhubungan Saluran bersilangan Filter udara Tangki penampung udara Filter udara Saluran kontrol antar peralatan pneumatik Saluran kerja dari kompresor Dua. jenis dan simbol komponen pneumatik lainnya juga terdiri dari berbagai jenis seperti dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10.Gambar 50. Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Magnet Selain sistem penggerak katup. tiga atau lebih saluran udara yang saling berhubungan Dua.

Regulator dan Lubrication Pemanas udara Pelumasan FR/L Unit Katup timer/tunda waktu. 509 . Berikut ini gambar-gambar cara pengikatan.Pemisah air Berfungsi untuk memisahkan air dari udara Pengering udara sebelum masuk ke instalasi pneumatik Pencampuran udara dengan pelumas agar mengurangi keausan pada peralatan pneumatik FR/L unit merupakan Unit pelayanan udara bertekanan yang terdiri dari Filter.9 Model Pengikat (Types Of Mounting) Cara-cara pengikat silinder (aktuator) pada mesin atau pesawat dapat dilaksanakan/dirancang dengan pengikat permanen atau remanen tergantung keperluan. berfungsi untuk mengaktifkan aktuator setelah waktu tertentu 7.

... dan katup kendali.. agar dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan... Bagian kontrol akan mengatur gerakan aktuator (output) agar sesuai dengan kebutuhan.. Bagian pemroses sinyal dan pengendali sinyal dikenal dengan bagian kontrol... Masukan (input) diperoleh dari katup sinyal... Sistim Kontrol Pneumatik....... Bagian ini akan mendiskripsikan tentang komponen-komponen sistim kontrol pneumatik.. akan dijelaskan pula tentang Karnaught Diagram.. arah 510 .. Type Of Mounting Gambar 51.... Tipe-Tipe Mounting 8...... katup pemroses sinyal. urutan gerak... kecepatan.. Adanya sistim kontrol pneumatik ini akan mengatur hasil kerja baik gerakan... seperti katup sinyal. Komponen yang ada dalam rangkaian sistim pneumatik harus dapat bekerja sama satu dengan lainnya agar menghasilkan gerakan output aktuator yang sesuai dengan kebutuhan. 8. selanjutnya diproses melalui katup pemroses sinyal kemudian ke katup kendali sinyal.... Selain itu untuk memudahkan secara teoritis...Gambar .....1 Pengertian Sistim Kontrol Pneumatik Sistim udara bertekanan tidak terlepas dari upaya mengendalikan aktuator baik berupa silinder maupun motor pneumatik...... Sistim kontrol pneumatik merupakan bagian pokok sistim pengendalian yang menjadikan sistem pneumatik dapat bekerja secara otomatis.

Unit katup sinyal merupakan gabungan dari berbagai katup yang berfungsi memberikan input (sinyal) pada suatu unit prosesor (pemroses sinyal) agar menghasilkan gerakan aktuator yang sesuai dengan kebutuhan. dan c) Katup pengendalian. dan setersunya. misal saluran 1. Dengan sistim kontrol pneumatik ini sistem pneumatik dapat didesain untuk berbagai tujuan otomasi dalam suatu mesin industri. tuas. Katup sinyal dilambangkan dengan katup yang terdiri dari beberapa ruangan (misal: ruang a. Katup sinyal adalah suatu alat yang menerima perintah dari luar untuk mengalirkan. Menurut fungsinya katup-katup tersebut dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu: a) Katup Sinyal (sensor). menghentikan atau mengarahkan fluida yang melalui katup tersebut. dan sebagainya. c) satuan tekanan.. Katup sinyal akan menghasilkan sinyal/sensor sebagai masukan (input) guna diproses ke katup pemroses sinyal. b) satuan volume. roll. perhitungan debit aliran udara (Q). Adapun konversi satuan tersebut antara lain : a) satuan panjang. Gaya Torak (F) dan dasar perhitungan daya motor. Bagian ini akan mendeskripsikan tentang perhitungan tekanan udara (P). 2. bisa melalui penekan. Fungsi dari sistim kontrol pneumatik ini untuk mengatur atau mengendalikan jalannya tenaga fluida hingga menghasilkan bentuk kerja (usaha) yang berupa tenaga mekanik melalui silinder pneumatik maupun motor pneumatik. melalui penekan manual. Katup-katup tersebut akan mengendalikan gerakan aktuator agar menghasilkan sistim gerakan mekanik yang sesuai dengan kebutuhan. Bentuk-bentuk dari sistim kontrol pneumatik ini berupa katup (valve) yang bermacam -macam. tuas. d) satuan massa. Selengkapnya dapat dilihat di bawah ini : 511 . Perintah tersebut berupa aksi. b) Katup pemroses sinyal (processor). 3. f) satuan gaya dan g) satuan temperatur. Sedangkan jenis penekannya (aksi) mempunyai beberapa pilihan missal. Dasar Perhitungan Pneumatik………………………………… Dasar perhitungan pneumatik merupakan bagian yang akan membahas tentang perhitungan dasar dalam pneumatik. baik secara mekanik maupun elektrik yang akan menimbulkan reaksi pada sistim kontrol pneumatik. b. Sebelum melaksanakan perhitungan pneumatik terlebih dahulu harus mengetahui konversikonversi satuan yang sering dipakai dalam perhitungan dasar pneumatik. seperti contoh berikut ini: 9. kecepatan torak (V). c) dan saluran udara yang dituliskan dalam bentuk angka.gerakan maupun kekuatannya. e) satuan energi. roll.

15 = 10 -3 m 3 = 1 dm 3 = 3.§ Satuan panjang .05504 kJ 1 ft-lbf = 1.01934 Ibf /in2 = 10 7 erg 1 erg = 1 dyne-cm 1 kalori = 4.5939 kg = 444. 800 dyne Tekanan 1 kPa = I000 N/m 2 = 20.933 × 10 -2 psi 1 mm Hg = 0.602 x 10 .174 Ib m = 14.540 cm 1 gal 1 mile = 5280 ft 1ft3 = 1.491 Ibf /in 2 = 1.Volume 1 ft = 0.01325 x 10 5 N/m 2 1 Pa = 1 N/m 2 1 bar = 1.886 Ibf /ft2 1 atm = 760 torr = 1.105 Pa 1 bar = 0.8 °R °K = °C + 273.3558 J 1dyne/cm 2 = 10 -1 N/m 2 1 ev = 1.4805 gal Massa . Hg = 0.19 J 1W = 1 J/s Temperatur/suhu C=5 R=4 F=9 o R = 4/5 x oC o C = 5/4 x oR o F = (9/5 x oC) + 32o o C = 5/9 x (oF-32o) 1 °K = 1.3084 m 1liter 1 inch = 2.317 liter = 16.16 kal 1 in.7854 liter = 28.Gaya 1 Ib (m) = 0.3937 inch = 7.22481 Ib f § § § 512 .4482 N = 1 kg-m/s 2 = 0.9869 atm Energi 1 torr = 1 mm Hg 1J = 1 kg-m 2 /s 2 = 1.387 cm 3 § = 4.6093 km 1 inch3 1 km = 1000 m 1m = 100 cm 1 cm = 0.45359237 kg 1Ibf = 7000 grain 1N 1 kg = 1000 g 1 ton 1 ton = 1000 kg 1 slug = 32.186 J 1 Btu = 252.

g = ?. memiliki persamaan : ∆P = 1.9.A. P atm + W.1 = ?. Dimana : A h Pe W = berat benda = m. g A = luas penampang P atm = tekanan atmosfer Pe = tekanan pengukuran Dengan mengeliminasi A. maka P1 = ?.V. h .6 x10 3 xQ1. h (kPa) Pe Gambar 52. g.1 Tekanan Udara P atm Pe A. g.h. Sistim Tekanan dalam Pneumatik Udara yang mengalir ke saluran sistem pneumatik akan mengalami penurunan tekanan (head losses) akibat adanya gesekan sepanjang saluran dan belokan.g = ?.85 xL Pa d 5 xPabs Dimana : L = panjang salura (m) D = Diameter dalam saluran (m) Q = Debit aliran udara (m3/s) Pabs = Tekanan absolute dalam Pa (N/m 2) Catatan : 1 bar = 105 (N/m 2) = 105 Pa (Pascal) 513 . h ? P = Pe – P atm = ?. g. Pe = A. Penurunan tekanan tersebut menurut Majumdar: 2001.

2 Analisa Aliran Fluida (V) Udara yang melewati saluran dengan luas penampang A (m2) dengan kecepatan udara mengalir V (m/dtk). sebandang dengan perubahan luas penampangnya Q1 = Q2 . Vmaju = Q A Q An Vmundur = Dimana : V = kecepatan torak (m/s) Q = debit aliran udara (ltr/mnt) A = luas Penampang Torak (m2) An= A-Ak (m2) Gambar 54. maka akan memiliki debit aliran Q (m3/dtk) sebesar A (m2) x V (m/dtk). Analisis Kecepatan Torak 514 .9. maka kecepatan torak saat maju akan lebih kecil dibandingkan dengan saat torak bergerak mundur. maka debit udara akan tetap. V (m/dtk) Bila melewati melalui saluran yang memiliki perbedaan luas penampang A. sehingga Gambar 53. Debit Aliran Udara (Q) Q (m3/dtk) = A (m2) . Analisa Debit Udara V1 A2 = V2 A1 9. namun kecepatannya akan berubah.3 Kecepatan T orak (V) Suatu silinder pneumatik memiliki torak dengan luas dan memiliki luas penampang stang torak.

(ltr/mn) Patm (Pe + Patm) Patm (lt/mnt) Q mundur = An.A. 515 . (Pe + Patm) =... S.η . n .(N) n Ak Dimana: F = Gaya torak (N) Pe = Tekanan kerja/effektif (N/m 2) A = Luas Penampang (m2) An = A-Ak (m2) Ak = Luas batang torak (m2) 9.9.. Analisis Gaya Torak n Ak Gambar 56.. n . Analisis Debit Udara Q maju = A. S. An .η …(N) Fmundur = Pe .4 Gaya Torak (F) Fmaju = Pe ..5 Udara yang Diperlukan (Q) Gambar 55.

Pe 600 P1 = Gambar 57. Analisis Daya Pompa P2 η P2 = Daya output pompa P1 = Daya Motor (kW) 9. Pe P2 = Q .7854 D 2 .3 x103 x10 −12 m3 /s (Majumdar.7 Pengubahan Tekanan (kW) Gambar 58.3 ( ) 9.Dimana: S = Langkah torak (m) Pe = Tekanan (N/m 2) A = Luas Penampang (m2) An = A-Ak (m2) Ak = Luas batang torak (m2) n = Banyaknya langkah (kali/menit) Kebutuhan udara bertekanan yang diperlukan (Q) juga dapat dicari melalui rumus: Q = 0.S P + 101. Analisis Tekanan pada Penampang Berbeda 516 .6 Perhitungan Daya Kompresor P2 = Q . 2001) t 101.

sehingga bergerak ke kanan (ON).1 di lepas. maka udara bertekanan dari kompressor akan mengalir ke katup tekan 3/2 pembalik pegas (1. 517 . Analisis Kerja Sistim Pneumatik 10.1) melalui saluran 1 ke saluran 2.η A2 10.0 akan dikeluarkan melalui katup 1.1 ON Gambar 59.1 OF 1. Bila katup 1.1 akan kembali dengan sendirinya akibat adanya gaya pegas di dalamnya. Rangkaian tersebut termasuk dalam kategori pengendalian langsung. Pengendalian Silinder Sederhana Secara Langsung Cara Kerja : Bila katup sinyal/sensor ditekan secara manual. karena tanpa melalui katup pemroses sinyal. Rangkaian ini hanya dapat digunakan untuk menggeser/ mengangkat benda kerja paling sederhana.1 Pengendalian Langsung Silinder Sederhana 1. Udara sisa yang ada di dalam silinder 1.Pe2 = Pe1 . Dimana : Pe1 = Tekanan awal (N/m 2) Pe2 = Tekanan akhir (N/m 2) A 1 = Luas Penampang 1 A 2 = Luas Penampang 2 A1 .0). maka silinder 1.1 melalui saluran 2 ke saluran 3 selanjutnya dikembalikan ke udara luar (atmosfer). Udara bertekanan akan diteruskan ke silinder sederhana pembalik pegas (1.

dan bila tidak diberi sinyal. Setelah katup bergeser.0 (A) 0 0 1 1 Rangkaian ini dapat juga disebut identity. sehingga dengan gaya pegas pembalik yang ada dapat mengembalikan silinder ke posisi semula dengan mudah.Tabel 11. silinder tidak bergerak. Dimana tekanan udara yang ada dapat digunakan untuk gerak maju dan mundur silinder pneumatik secara sempurna. Logika untuk sistim di atas adalah sebagai berikut: Katup 1. rangkaian tersebut masih harus banyak mengalami penyempurnaan. Gambar 60. silinder langsung bekerja. namun agar dapat bekerja secara otomatis. melainkan disalurkan ke katup kendali terlebih dahulu. Penggunaan silinder pneumatik sederhana pembalik pegas pada mesin ini sangat rawan. Rangkaian ini dapat digunakan untuk menggeser benda kerja. karena saat silinder harus kembali ke posisi semula memerlukan tenaga besar. karena bila diberi sinyal. Idealnya untuk mesin penggeser seperti di bawah ini menggunakan silinder penggerak ganda. Penggeser Benda Kerja 10. Adapun sistim kendali tak langsung dapat dilihat pada gambar 61 di bawah ini: 518 . Rangkaian tersebut dapat digunakan bilamana bendanya ringan dan gesekan benda seminal mungkin.1 (S1) Silinder 1. baru kemudian udara bertekanan akan mengalir menggerakan aktuator.2 Pengendalian Tak Langsung Silinder Penggerak Ganda Pengendalian tak langsung pada sistim pneumatik karena udara bertekanan tidak langsung disalurkan untuk menggerakkan aktuator.

2 ON .1. Silinder 1. Silinder 1.0 akan bergerak ke kanan secara perlahan-lahan sesuai dengan pengaturan cekik.3 ditekan/diaktifkan sesaat sehingga udara akan mengalir ke katup 519 . maka udara bertekanan dari kompresor akan mengalir ke katup kendali 1.0 Melalui Dua Katup Cara Kerja : Bila katup sinyal 1.OF Gambar 61.2 ditekan secara manual sesaat. sehingga katup kendali 5/2 akan bergeser ke kanan.OF 1.0 akan kembali bila katup sinyal 1. Rangkaian dan Diagram Gerak Silinder 1.0.3 ON .1 melalui sisi 14. Udara dari kompresor akan mengalir melalui saluran 1 ke 4 diteruskan ke pengatur aliran (cekik) kemudian ke Silinder 1.

3. Klasifikasi rangkaian ini dapat dituliskan sebagai berikut : AKTUATOR Pengendali Katup pengendali Katup pemroses sinyal Katup sinyal Sumber energi Gambar 62. Logika untuk sistim di atas adalah sebagai berikut: Katup 1. Silinder akan kembali secara berlahan sesuai dengan pengaturan cekik. Silinder Penggerak Ganda akan bergerak maju dan mundur secara otomatis.1 yang menyebabkan katup 1.0 (A) 0 0 ? 0 1 0 1 0 1 1 1 * Keterangan : ? = tergantung posisi sebelumnya * = tak tentu 10.2 (S1) Katup 1.4. bila katup 1.3 (S2) Silinder 1.3 Pengendalian Gerak Otomatis Silinder Penggerak Ganda Aplikasi dari gerakan ini dapat digunakan untuk menekan atau menggeser benda kerja sampai titik tertentu hingga menekan katup roll 1.1 kembali ke kiri melalui sisi 12. kemudian silinder akan kembali secara otomatis. Tabel 12.2 diganti penekan roll kemudian dipasang bersama dengan katup roll 1. Udara dari kompresor akan menglir ke silinder pneumatik melalui saluran 1 ke 2 diteruskan ke silinder dari sisi kanan. Pengendalian Otomatis Silinder Penggerak Ganda 520 .kendali 1.

4 (1.2 ditekan maka katup 1. Bila katup 1.. Aplikasi Gerak Silinder 1.2 and 1..0 akan bergerak maju.0 akan kembali secara otomatis bila telah menekan katup roll 1. maka silinder 1. Aplikasi Pneumatik dalam Proses Produksi. 11....2 ? 1....0 A+.3 1. silinder 1.... Diagram Gerak Silinder 1....1 Pintu Bus dengan Kontrol Pneumatik Silinder pneumatik penggerak ganda diletakkan di sisi dalam salah satu daun pintu lipat bus.2 dan 1.3 START 1.4 aktif pada posisi awal dan knop katup 1.Sistim gerak silinder penggerak ganda dapat dilihat pada diagram gerak silinder 1.4 Gambar 64. demikian pula pada ujung batang torak silinder..4 akan aktif secara bersamaan atau dapat ditulis sebagai 1.. A - 11..2 ? 1.0 Penggerak Ganda Aplikasi dari sistim gerak ini dapat digunakan pada mesin penekuk plat otomatis seperti di bawah ini: 1...4). Bagian pangkal silinder penggerak ganda diikatkan pada bodi mobil mekakui engsel. sehingga gerakan maju mundur stang torak akan memudahkan pintu bus membuka dan menutup dengan 521 .0 di bawah ini.4 Gambar 63.3 1..2 1..

Diagram Rangkaian Kontrol Pintu Bus Otomatis.4 (Y) 4 2 1V 4 1. Tabel 13. Agar dapat bekerja seperti di atas. Pintu bus akan menutup bila batang torak silinder pneumatik penggerak ganda bergerak maju (A+). sedangkan pintu bus akan membuka bila batang torak silinder pneumatik penggerak ganda tersebut bergerak mundur (A -).2 (X) 5 1 3 1V3 1V 2 1V 1 S1 1S 1 2 1 0Z 1 3 Pintu bus 1S2 S2 S3 2 1S 3 2 3 1 Sopir S4 1S 4 2 1 Sopir 1 3 3 Gambar 65. = Silinder kerja ganda 522 . maka rangkaiannya adalah sebagai berikut: Diagram Rangkaian Kontrol Pintu Bus Otomatis Silinder 1 A 1S 1 1V 5 1V6 1.fleksibel. Simbol dan keterangan rangkaian kontrol pintu bus otomatis.

= Katup kontrol aliran satu arah = Katup 5/2 dengan kontrol full pneumatik = Katup tunda waktu = Katup balik fungsi “ATAU” = Katup batas 3/2 dengan pegas pembalik 523 .

= Katup tombol 3/2 dengan pegas pembalik = Katup tuas 3/2 dengan penahan = Unit pelayanan udara (FR/L Unit) = Sumber udara mampat = Saluran kontrol = Saluran kerja 524 .

1.1 Simbol Logika 1S2 1S3 ≥1 ≥1 1V4 1.2 (X) 1S1 1 1V4 1. Diagram Tahap Perpindahan 11. Simbol logika untuk gerakan pintu bus 525 .Diagram Tahap Perpindahan 1S2 1S3 1S4 2 1 3=1 0 1S1 Gambar 66.4 (Y) 1S4 (a) Gerakan pintu bus membuka (silinder mundur) (b) Gerakan pintu menutup (silinder maju) Gambar 67.

1.2 (X) dan 1.2 (X) dan saluran 1. Tabel Logika Gerakan Pintu Bus 1S1 1S2 1S3 1S4 1V 4 1.4 (Y) 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 A KETERANGAN 0 0 0 0 tidak tentu 0 0 0 1 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 1 0 0 sil.Table 11.2 (X) Persamaan matematisnya : X = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) X = ( S1Λ S 2 Λ S3 ΛS 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3Λ S 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3ΛS 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) 526 . mundur (pintu membuka) 1 0 0 0 1 sil. mundur (pintu membuka) 0 0 1 1 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 1 1 0 sil. maju (pintu menutup) 1 0 0 1 * tidak tentu 1 0 1 0 * tidak tentu 1 0 1 1 * tidak tentu 1 1 0 0 * tidak tentu 1 1 0 1 * tidak tentu 1 1 1 0 * tidak tentu 1 1 1 1 * tidak tentu Keterangan : = tidak ada tekanan udara pada saluran 1. mundur (pintu membuka) 0 0 1 0 0 sil.2 Untuk Saluran 1. mundur (pintu membuka) 0 1 0 0 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 0 1 0 sil.4 (Y) * = ada tekanan udara pada kedua saluran 1.4 (Y) 11.2 (X) 1.

3 Diagram Karnought : S2 X = S2 ∨ S3 ∨ S4 S1 0 S4 0 S3 Gambar 68.11.4 (Y) Persamaan matematisnya : Y = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 ΛS 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 ΛS 3ΛS 4 ) Y = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 ΛS 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 ΛS 3ΛS 4 ) 527 .2 (X) Untuk saluran 1.1. Diagram Karnought untuk saluran 1.

saluran 3 tertutup. Ketika katup S4 dioperasikan. Pada saat yang bersamaan. saluran 3 tertutup. Hal ini dimungkinkan dengan mengoperasikan katup S4. maka pintu dikondisikan terbuka terus. udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 dan selanjutnya diteruskan ke katup V1. Sehingga aliran udara pada katup S1 adalah saluran 1 terbuka. Aliran udara pada katup V4 adalah udara masuk saluran 1 keluar saluran 2 menuju saluran silinder bagian depan melalui katup V6. saluran 1 terbuka. Diagram Karnought untuk saluran 1. Udara dalam silinder bagian belakang didorong keluar menuju saluran 4 dan keluar saluran 5 pada katup V4 melalui katup V5. Pada saat kondisi pintu bus terbuka maksimal. Udara mendorong silinder ke belakang (A-).4 Diagram Karnought S2 S1 1 1 1 1 1 1 1 1 S4 Y = S1 S3 Gambar 69. aliran udara dari saluran 1 ke saluran 2 menuju saluran 1.1. halte ataupun tempat-tempat pemberhentian bus lainnya. pada saluran 1. akan mengaktifkan katup S1.4 (Y) Cara Kerja Rangkaian Pintu Bus dengan Kontrol Pneumatik Pada saat bus sedang menunggu penumpang di terminal.11.(silinder mundur) maka pintu bus akan terbuka.2 (X) pada katup V4 melalui katup V3. Dengan gerakan A.2 (X) masih terdapat udara mampat sehingga kondisi ini 528 .4 (Y). Aliran udara ini akan mengaktifkan katup V1 sehingga udara dari kompresor akan mengalir ke katup V4 melalui saluran 1.

Udara mampat pada saluran 1. Akibatnya udara pada saluran 1. Dengan gerakan maju ini (A+). sopir/kondektur bus harus menutup pintu bus terlebih dahulu. Untuk itu maka katup S4 harus dikembalikan ke posisi semula.2 (Y) 5 1 3 1V3 1V1 1S1 2 1S4 S1 3 S4 1 2 Sopir 1 3 Gambar 70.4 (Y) akan mendorong katup V4 sehingga aliran udara pada katup V4 adalah udara dari kompresor masuk saluran 1 diteruskan ke saluran 4 menuju katup V5 dan kemudian masuk ke saluran silinder bagian belakang.tidak akan mempengaruhi posisi katup V4. Posisi silinder masih dalam kondisi awal dan posisi pintu bus masih dalam keadaan terbuka terus. (lihat gambar 70) Silinder 1 A 1 S1 1V5 1V6 1. Saluran 1 tertutup dan saluran 3 terbuka.2 (X) akan mengalir ke katup V3 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup S4. Udara pada bagian depan akan didorong ke luar melewati katup V6 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup V4. pintu bus akan segera tertutup (lihat gambar 71) 529 .4 (Y) 1 V4 4 2 1. Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S4 Pada saat bus akan berangkat.

Silinder bergerak mundur (A-) dan pintu bus terbuka (lihat gambar 72).Silinder 1 A 1S1 1V5 1V6 1. kemudian menuju ke katup V4 melalui saluran 1. Aliran udara pada katup V4 udara masuk saluran 1 menuju saluran 2 kemudian diteruskan ke katup V6. Aliran udara dari saluran 1 menuju saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan ke V2 dan V3.2 (X). Udara mendorong silinder ke belakang. Udara pada bagian belakang silinder akan didorong ke luar melalui katup V5 menuju saluran 4 dan dibuang melalui saluran 5. penumpang tinggal menekan katup S2.2 (X) 3 1 1V3 1V1 1S1 2 1S4 2 Sopir S1 1 3 S4 1 3 Gambar 71. Pada waktu katup S2 ditekan maka saluran 1 terbuka dan saluran 3 tertutup. Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S4 Apabila di tengah perjalanan ada penumpang yang akan turun. 530 . maka untuk membuka pintu.4 (Y) 5 4 2 1V4 1. Selanjutnya diteruskan ke silinder melalui saluran bagian depan.

Silinder 1 A 1S1 1V5 1V 6 1.4 (Y) 4 2 1V4 1.2 (X) 3 5 1 1V 3 1V 2 1V1 1S 1 2 2 Pintu bus 1S2 S1 1 3 S2 1 3 Gambar 72. Akibatnya silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu bus akan segera menutup kembali (lihat gambar 73). pada saluran 1. Sehingga udara pada saluran 1. Dengan terbukanya katup S1.4 (Y). maka katup V1 akan mengalirkan udara dari kompresor menuju katup V4 melalui saluran 1.2 (X) tidak ada udara mampat karena pada saat katup S2 dilepas maka posisi akan kembali ke posisi awal. Pada saat udara masuk ke saluran 1.2 (X) akan segera dibuang ke udara bebas melalui saluran 3 pada katup S2. 531 . Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S2 Pada waktu pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1.4 (Y).

2 (X) pada katup V4 melalui katup V2 dan katup V3. Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S2 Apabila akan menaikkan penumpang di tengah perjalanan. udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan ke saluran 1. saluran 3 tertutup.4 (Y) 5 1 2 1V4 1. Aliran udara ini akan mengubah arah aliran pada katup V4 yaitu udara masuk dari saluran 1 ke saluran 2 menuju katup V6.2 (X) 3 1V3 1V 2 1V1 Pintu bus 2 1S1 2 1S 2 S1 1 3 S2 1 3 Gambar 74.Silinder 1 A 1S1 1V 5 1V 6 4 1. maka untuk membuka pintu bus. maka saluran 1 terbuka. Silinder bergerak mundur (A-) dan pintu bus akan terbuka (lihat gambar 75) 532 . Selanjutnya masuk ke silinder melalui saluran bagian depan. Ketika katup ditekan. dilakukan oleh sopir atau kondektur bus tersebut yaitu dengan cara menekan katup S3.

2 (X) 5 1 3 1V3 1V2 1V1 1S 1 2 1 3 1S3 2 Sopir S1 S2 1 3 Gambar 75. Dengan terbukanya katup V1.Silinder 1 A 1S 1 1V5 1V 6 1V4 1.4 (Y). Akibatnya udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke saluran 4 menuju katup V5 menuju silinder bagian belakang. maka udara dari kompresor akan masuk ke katup V4 melalui saluran 1. 533 . Maka silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu akan tertutup kembali (lihat gambar 76). Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S3 Pada saat pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1 sehingga udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 menuju katup V1.4 (Y) 4 2 1.

memotong. Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S3 Fungsi-fungsi katup V5 dan V6 adalah untuk mengatur kecepatan gerak pintu bus pada saat membuka dan menutup.2 (X) 3 1 1V2 1V3 1V1 2 1S1 1 S3 2 Sopir S1 1 3 S3 1 3 Gambar 76. membuat profil pada plat.Silinder 1 A 1S 1 1V5 1 V6 1. Sistim pneumatik juga bisa digunakan untuk melakukan gerakan yang selama ini digerakan oleh tenaga manusia seperti menekan/ menyetempel benda kerja.4 (Y) 5 4 2 1V4 1. Katup V1 merupakan katup tunda waktu. dan lain-lain. seperti di bawah ini : 534 . Sedangkan katup V2 dan V3 merupakan katup balik fungsi “ATAU” yang memungkinkan pintu bus dapat dioperasikan dengan menggunakan beberapa jenis katup pneumatik menurut situasi dan kondisi pada saat pintu bus tersebut dioperasikan. Katup ini berfungsi untuk memberikan selang waktu pintu bus menutup kembali setelah pintu bus terbuka.

11.2 Penahan/penjepit benda (ragum) Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda pada ragum di bawah ini adalah : A+ (menekan/menahan), A- (melepaskan kembali ke posisi awal)

Gambar 77. Ragum pneumatik

11.3 Pemotong plat Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda: A+ (memotong), A- (kembali ke Posisi Awal). Ujung silinder pneumatik diberi slide untuk pengarahkan mata pisau gergaji

Gambar 78. Pemotong Material

11.4

Membuat profil plat Benda kerja berupa plat diletakan di atas landasan berupa profil sesuai bentuk yang diinginkan. Silinder pneumatik yang digunakan berupa silinder pneumatik penggerak ganda. Gerakan menekan benda kerja diawali dengan naiknya stang torak ke atas (A+) selanjutnya akan menekan tuas mekanik, yang dihubungkan dengan profil menekan plat. Setelah selesai dengan penekanan siolinder pneumatik kembali ke Posisi Awal (A-). Tombol penekan dibuat dua 535

buah, agar tidak terjadi kecelakaan pada lengan tangan saat penekanan, sedangkan untuk mengangkat dilakukan dengan, menekan satu buah tombol.

Gambar 79. Proses pembuatan profil plat

11.5 Pengangkat dan Penggeser Benda Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda mengangkat material ke posisi atas (lihat Gambar 80), silinder A naik/mengangkat (A+), ketika sampai di atas, silinder B mendorong material ke konveyor atas (B+). Silinder B kembali ke Posisi Awal (B-). selanjutnya silinder pneumatik A kembali turun ke posisi semula (A-), sehingga siklusnya dapat ditulis: A+, B+, B-, A-. Untuk membuat kontrol tersebut dapat menggunakan sistem Full Pneumatik, elektropneumatik, maupun PLC (Programmable Logic Kontrol)

Gambar 80. Pengangkat dan Penggeser Benda

536

12. Pengangkat dan Penggeser Material Full Pneumatik......

Silinder pneumatik penggerak ganda 1.0 terletak pada arah vertical. Pada ujung batang toraknya diletakan plat sebagai tempat dudukan silinder 2.0. Batang torak slinder 1.0 akan mengangkat material sampai ketinggian tertentu (A+). Selanjutnya stang torak silinder 2.0 akan menggeser material ke konveyor lainnya (B+). Silinder 1.0 akan kembali ke posisi awal (A-) selanjutnya silinder 2.0 juga akan kembali ke posisi awal (B-). Siklus A+,B+,A-,B- tersebut akan berlangsung secara terus menerus selama suplai u dara dari katup 3/2 penggerak tuas 0.2 dihentikan.

Gambar 81. Pengangkatan benda

12.1 Cara kerja Untuk mengaktifkan rangkaian harus menekan terlebih dahulu tuas katu 3/2 Way valve ke posisi ON. Tombol start 1.2 ditekan, udara akan mengalir dari kompresor ke katup 1.2 dan katup 1.4, sehingga katup AND akan mendapat suplai udara bertekanan dari dua sisi, yaitu sisi 10 dan 11. Udara bertekanan akan diteruskan keluar melalui saluran 16 menuju ke katup kontrol 1.1 (5/2 Way Valve) melalui sisi 14, sehingga mengakibatkan katup kontrol bergeser ke kanan sehingga saluran 1 akan terhubung dengan saluran 4. Udara bertekanan akan masuk ke sisi torak silinder bagian kiri, akibatnya silinder A akan bergerak ke kanan hingga ujung stang torak menekan katup 2.2. Tertekannya katup 2.2 mengakibatkan udara dari konpressor mengalir dari saluran 1 ke 2, ditersukan ke katup kontrol 2.1 (5/2 Way Valve), melalui sisi 14, sehingga saluran 1 akan terhubung dengan 4 diteruskan ke silinder bagian kiri. Silinder B menjadi bergerak ke kanan (B+) hingga menekan katup 1.3 (3/2 Way Valve). Aktifnya katup 1.3 mengakibatkan udara mengalir dari 537

kompresor menuju katup kontrol 1.1 dari sisi 12, sehingga katup 1.1 akan kembali bergeser ke kiri. Udara dari kompresor akan melalui saluran 1 ke 2 diteruskan ke sisi silinder sebelah kanan, sehingga silinder A akankembali ke posisi awal (A-), hingga menekan katup 2.3. Tertekannya katup 2.3 akan menyebabkan udara dari komporesor akan mengalir ke katup kontrol 2.1 dari sisi 12, sehingga katup 2.1 akab kembali ke posisi semula. Udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke 2 diteruskan ke ke sisi silinder sebelah kiri, sehingga silinder B akan kembali ke posisi awal (B-). Apabila tombol Strat 1.2 ditekan, maka siklus tersebut akan terus berlangsung seperti di atas, demikian seterusnya.

13. Tes Formatif……………………………………………
13.1 Soal-Soal a. Sebutkan kelebihan dan kekurangan sistem pneumatik dibandingkan dengan sistem yang lain? b. Gambarkan secara singkat cara kerja sistem pneumatik beserta dengan komponen-komponen yang digunakan? c. Sebutkan jenis-jenis katup beserta kegunaanya? d. Rumus? 13.2 Kunci Jawaban a. Sistem pneumatik memiliki keuntungan dan kelemahan sebagai berikut : 1) Keuntungan/kelebihan a) Ketersediaan yang tak terbatas, udara tersedia di alam sekitar kita dalam jumlah yang tanpa batas sepanjang waktu dan tempat. b) Mudah disalurkan, udara mudah disalurkan/pindahkan dari satu tempat ke tempat lain melalui pipa yang kecil, panjang dan berliku. c) Fleksibilitat Temperatur, udara dapat fleksibel digunakan pada b erbagai temperatur yang diperlukan, melalui peralatan yang dirancang untuk keadaan tertentu, bahkan dalam kondisi yang agak ekstrem udara masih dapat bekerja. d) Aman, udara dapat dibebani lebih dengan aman selain itu tidak mudah terbakar, hubungan singkat (kotsleiting) atau meledak sehingga proteksi terhadap kedua hal ini cukup mudah, berbeda dengan sistim elektrik yang dapat menimbulkan kostleting hingga kebakaran. e) Bersih, udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya, dengan jumlah kandungan pelumas yang dapat diminimalkan sisterm pneumatik aman digunakan untuk industri obat-obatan, makanan, dan minuman maupun tekstil
538

f) Pemindahan daya dan Kecepatan sangat mudah diatur., udara dapat melaju dengan kecepatan yang dapat diatur dari rendah hingga tinggi atau sebaliknya. Bila Aktuator menggunakan silinder pneumatik, maka kecepatan torak dapat mencapai 3 m/s. Bagi motor pneumatik putarannya dapat mencapai 30.000 rpm, sedangkan sistim motor turbin dapat mencapai 450.000 rpm. g) Dapat disimpan, udara dapat disimpan melalui tabung yang diberi pengaman terhadap kelebihan tekanan udara. Selain itu dapat dipasang pembatas tekanan atau pengaman sehingga sistim menjadi aman. h) Mudah dimanfaatkan, udara mudah dimanfaatkan baik secara langsung misal untuk membersihkan permukaan logam dan mesin-mesin, maupun tidak langsung, yaitu melalui peralatan pneumatik untuk menghasilkan gerakan tertentu. 2) Kerugian/Kelemahan Pneumatik a) Memerlukan instalasi peralatan penghasil udara. Udara kempa harus dipersiapkan secara baik hingga memenuhi syarat. memenuhi kriteria tertentu, misalnya kering, bersih, serta mengandung pelumas yang diperlukan untuk peralatan pneumatik, sehingga memerlukan instalasi peralatan yang relatif mahal, seperti kompressor, penyaring udara, tabung pelumas, pengeering, regulator, dll. b) Mudah terjadi kebocoran, Salah satu sifat udara bertekanan adalah ingin selalu menempati ruang yang kosong. Selain itu tekanan udara susah dipertahankan dalam waktu bekerja. Oleh karena itu diperlukan seal agar udara tidak bocor. Kebocoran seal dapat menimbulkan kerugian energi. Peralatan pneumatik harus dilengkapi dengan peralatan kekedapan udara agar kebocoran pada sistim udara bertekanan dapat ditekan seminimal mungkin. c) Menimbulkan suara bising, Pneumatik menggunakan sistim terbuka, artinya udara yang telah digunakan akan dibuang ke luar sistim, udara yang keluar cukup keras sehingga berisik sehingga akan menimbulkan suara bising terutama pada saluran buang. Cara mengatasinya adalah dengan memasang peredam suara pada setiap saluran buangnya. d) Mudah Mengembun, Udara yang bertekanan mudah mengembun, sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu, misal kering, memiliki tekanan 539

Jenis-jenis katup pneumatik sebagai berikut : 1) Katup sinyal Katup yang berfungsi sebagai saklar udara bertekanan dari kompresor ke katup pemroses sinyal atau langsung ke katup kendali. tetapi ada yang dipasang antara katup kendali dengan aktuator. OR. dll Sinyal Input = Katup Tekan. time delay dan lain-lain. 2) Katup pemroses sinyal Katup pemroses sinyal berfungsi mengatur udara bertekanan dari katup sinyal ke katup kendali. Katup sinyal dipasang antara kompresor dengan katup pemroses sinyal. NOR. tekan dan lain-lain. b. tuas. katup cekik duah arah. Secara garis besar sistim elemen pada pneumatik dapat digambarkan pada skema berikut : KLASIFIKASI CONTOH SIMBOL Out put = (Aktuator) Pengendali Sinyal = Katup Pengendali Sinyal Pemroses Sinyal/Prossesor = Katup kontrol AND. dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekat pada katup-katup dan aktuator.yang cukup. Contoh katup sinyal adalah katup 3/2 baik penggerak roll. Katup pemroses sinyal biasanya dipasang antara katup sinyal sengan katup kendali. 540 . dll Sumber Energi Udara bertekanan = Kompressor c. Roll. Sensor. Tuas. Contoh katup pemroses sinyal adalah katup cekik satu arah.

. • Sebagai pendingin komponen yang bergesekan. Demikian juga bila viskositas terlalu kental... Adapun fungsi/tugas cairan hydolik: pada sistem hydrolik antara lain: • Sebagai penerus tekanan atau penerus daya......... • Pencegah korosi. Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi fungsinya sebagai pelumas.....1 Kekentalan (Viskositas) yang cukup... • Sebagai pengirim isyarat (signal) 14..2 Indeks Viskositas yang baik Dengan viscosity index yang baik maka kekentalan cairan hydrolik akan stabil digunakan pada sistem dengan perubahan suhu kerja yang cukup fluktuatif...... Contoh katup kendali adalah katup 5/2 baik yang selenoid (elektrik) maupun yang full pneumatik. tenaga pompa akan semakin berat untuk melawan gaya viskositas cairan 14. • Sebagai pelumas untuk bagian-bagian yang bergerak..1.....1.. Sistem Hydrolik. 14... 541 .....1.....1 Syarat Cairan Hydrolik 14. 14.. • Penghanyut bram/chip yaitu partikel-partikel kecil yang mengelupas dari komponen.. Katup kendali dipasang antara katup pemroses sinya dengan katuator. Property cairan hydrolik merupakan hal-hal yang dimiliki oleh cairan hydrolik tersebut sehingga cairan hydrolik tersebut dapat melaksanakan tugas atau fungsingnya dengan baik..3) Katup kendali Katup kendali berfungsi mengalirkan udara bertekanan dari katup pemroses sinyal ke aktuator.. • Sebagai bantalan dari terjadinya hentakan tekanan pada akhir langkah......... Katup kendali juga yang mengendalikan/mengatur aktuator (silinder) akan bergerak maju atau mundur.1. Apabila viskositas terlalu rendah maka film oli yang terbentuk akan sangat tipis sehingga tidak mampu untuk menahan gesekan..1 Cairan Hydrolik Cairan hydrolik yang digunakan pada sistem hydrolik harus memiliki ciri-ciri atau watak (propertiy) yang sesuai dengan kebutuhan.1...

1 Oli hydrolik (Hydraulic oils) Oli hydrolik yang berbasis pada minyak mineral biasanya digunakan secara luas pada mesin-mesin perkakas atau juga mesinmesin industri. 14.1.1.2 Macam-macam cairan hydrolik Pada dasarnya setiap cairan dapat digunakan sebagai media transfer daya. Disamping itu.6 Tahan korosi dan tahan aus Cairan hydrolik harus mampu mencegah terjadinya korosi karena dengan tidak terjadi korosi maka kontruksi akan tidak mudah aus dengan kata lain mesin akan awet.1.1. Hal ini untuk menantisipasi terjadinya block (penyumbatan) oleh cairan hydrolik yang membeku. Tetapi kenyataannya cairan hydrolik dapat dikempa sampai dengan 0.1.1. 14.1.3 Tahan api (tidak mudah terbakar) Sistem hydrolik sering juga beroperasi ditempat-tempat yang cenderung timbul a atau berdekatan dengan api. 14.1.1.1.5 Tahan dingin Tahan dingin adalah bahwa cairan hydrolik tidak mudah membeku bila beroperasi pada suhu dingin.1. dengan adanya busa tadi kemungkinan terjilat api akan lebih besar. Menurut standar DIN 51524 dan 512525 dan sesuai dengan karakteristik serta komposisinya oli hydrolik dibagi menjadi tiga (3) kelas : • Hydraulic oil HL • Hydraulic oil HLP 542 .14.4 Tidak berbusa (Foaming) Bila cairan hydrolik banyak berbusa akan berakibat banyak gelembung-gelembung udara yang terperangkap dlam cairan hydrolik sehingga akan terjadi compressable dan akan mengurangi daya transfer. 14.8 Minimal compressibility Secara teoritis cairan adalah uncomprtessible (tidak dapat dikempa).1. karena air akan mengakibatkan terjadinya korosi bila berhubungan dengan logam. Tetapi sistem hydrolik memerlukan persyaratanpersyaratan tertentu seperti telah dibahas sebelumnya berhubung dengan konstruksi dan cara kerja sistem.1. Titik beku atau titik cair yang dikehendaki oleh cairan hydrolik berkisar antara 10°-15° C dibawah suhu permulaan mesin dioperasikan (star-up). 14.7 Demulsibility (Water separable) Yang dimaksud dengan de-mulsibility adalah kemampuan cairan hydrolik.1.5 % volume untuk setiap penekanan 80 bar oleh karena itu dipersyaratkan bahwa cairan hydrolik agar seminimal mungkin dpat dikempa. Oleh karena itu pi perlu cairan yang tahan api.2. 14. 14.

2.1. Tabel berikut ini menunjukan jenis-jenis cairan hydrolik tahan api tersebut : Tabel 14. Jenis-jenis cairan hidrolik tahan api No Pada Lembar Persentase (%) Kode Komposisi Standar VDMA kandungan Air HFA 24320 Oil-water emulsion 80-98 HFB 24317 Water-oil emulsion 40 HFC 24317 Hydrolis solusion. 35-55 e.2 Cairan Hydroik tahan Api (Low flammability) Yang dimaksud cairan hydrolik tahan api ialah cairan hydrolik yang tidak mudah atau tidak dapat terbakar. Cairan hydrolik semacam ini digunakan oleh sistem hydrolik pada tempat-tempat mesin-mesin yang resiko kebakarannya cukup tinggi seperti : • • • • • Die casting machines Forging presses Hard coal mining Control units untuk power station turbines Steel works dan rolling mills Pada dasarnya cairan hydrolik tahan api ini dibuat dari campuran oli dengan air dari oli sintetis. 0-0.g : phosphate ether 543 .• Hydraulic oil HV Pemberian kode dengan huruf seperti di atas artinya adalah sebagai berikut : Misalnya oil hydrolik dengan kode : HLP 68 artinya : H = Oli hydrolik L = kode untuk bahan tambahan oli (additive) guna meningkatkan pencegahan korsi dan/atau peningkatan umur oli P = kode untuk additive yang meningkatkan kemampuan menerima beban.1 e. 68 = tingkatan viskositas oli 14.g : water glyco HFD 24317 Anhydrolis liquid.

Properties Seal compalibility Lubricating quality Temp. range (oC) above ideal Relative cost comp. 14. to oil P G G E 65 1 Water Glycol E E E Phosphor Ester G F F E Oil-in Water F Oil Synthetic F G G F-G 50 1.1 Satuan viskositas Besar atau kecilnya viskositas ditentukan oleh satuan satuan pengukuran. Selain satuan centi-Stokes (cSt). dimana: 1 cm²/s = 100 mm²/s . Jadi semakin kental kondisi cairan dikatakan viskositasnya semakin tinggi. nama satuan viskositas ini disesuaikan dengan nama penemunya yaitu Sir Gabriel Stokes (1819-1903). satuan viskositas diukur dalam sekon dengan simbol (R1) • Saybolt Universal. Satuan cm²/s dikenal dengan satuan Skotes (St). Apabila cairan itu mudah mengalir dapat dikatakan cairan tersebut memiliki viskositas rendah atau kondisinya encer. terdapat satuan yang lain yang juga digunakan dalam sistem hydrolik yaitu : • Redwood 1.Perbandingan antara macam-macam cairan hydrolik tersebut di atas dapat kita lihat pada tabel berikut : Tabel 15.3.1. Jadi 1 St = 100 cSt. Dalam sistem standar internasional satuan viskositas ditetapkan sebagai viskositas kinematik (kinematic viscosity) dengan satuan ukuran mm²/s atau cm²/s. satuan viskositas juga diukur dalam sekon dan dengan simbol (SU) 544 .5 F-G F E 65 4 F-G 50 4 65 8 14.1. Satuan mm²/s disebut centi-Stokes (cSt). Perbandingan macam-macam cairan hidrolik Type of Fluid Petrol Oil Free resistance Viscosity lemp.3 Viskositas (Kekentalan) Viskositas cairan hydrolik akan menunjukkan berapa besarnya tahanan di dalam cairan itu untuk mengalir.

0oC Min.00 ISO VG 680 680 612.06 ISO VG 7 6. Klasifikasi viskositas cairan hidrolik Kinematic Viscosity ISO Mid-Point Viscosity Limits cSt at 40.00 ISO VG 15 15 13.00 352.50 16.2 2.80 dan 24.0oC Viscosity Grade cSt at 40.12 7.8 6.40 50.00 ISO VG 150 150 135.20 74. Secara faktual sering dijumpai bahwa pelumas gear box juga sering digunakan juga untuk instalasi hydrolik maka frade menurut SAE juga dibahas disini.20 ISO VG 46 46 41.• Engler.50 ISO VG 22 22 19.00 Nomor VG dapat diperoleh melalui angka pembulatan dari pertengahan diantara viskositas min. viskositas cairan hidolik diklasifikasikan menjadi beberapa viscosity Grade dan nomor gradenya yang diambil kira-kira pertengahan antara viskositas min.98 2. ke viskositas max.60 ISO VG 68 68 61.48 ISO VG 10 10 9.20 ISO VG 32 32 28. Berikut ini adalah grading berdasarkan SAE dan konversinya dengan ISO-VG. Juga dijelaskan disini aplikasi penggunaan oli hydrolik ssesuai dengan nomor gradenya.00 242.80 35.00 1100.00 ISO VG 1500 1500 1350. ISO VG 2 2.132 VK 33 Menurut standar ISO. 545 . dan viskositas max.00 1650.00 ISO VG 460 460 414.00 165.80 24. Max.00 ISO VG 320 320 288.00 506.00 ISO VG 1000 1000 900.00 ISO VG 220 220 198.00 110.14 5.10 VK • SU = 4.20.635 VK VK = Viskositas Kinematik • E = 0. angka 22 diambil dari rata-rata antara 19.00 748.52 ISO VG 5 4.00 11.6 4. satuan viskositas diukur dengan derajat engler (E°) Untuk cairan hydrolik dengan viskositas tinggi dapat digunakan faktor berikut: • R1 = 4.42 ISO VG 3 3. Misal : ISO VG 22 .88 3. seperti yang ditunjukan dalam Tabel berikut ini :Tabel 16.80 ISO VG 100 100 90.2 1.

Aplikasi penggunaan oli hirolik sesuai dengan gradenya SAE Classes 30 20-20W 10 W 5W 100 68 46 32 22 (15) 10 14.3. Karena untuk viskositas yang terlalu rendah akan mengakibatkan daya pelumas kecil. Sedangkan apabila viskositas telalau tinggi juga akan meningkatkan gesekan dalam cairan sehingga memerlukan tekanan yang lebih tinggi. Berikut ini diberikan gambaran tentang batas viskositas yang iideal: Tabel 18. daya perapat kecil sehingga mudah bocor.Tabel 17.1.2 Viscosity margins Maksud dari viscosity margins adalah batas-batas atas dan bawah yang perlu diketahui. Batas viskositas ideal Kinematic Viscosity Lower Ideal viscosity range For open air aplplicationsmobile hydraulic In colder areas ISO-VG Areas of application Stationary instalations in closed areas at high temperatures At normal temperatures mm 2 10 s 15 to 100 mm 2 s Upper limit 750 mm 2 s 546 .

Tabel 19.2 159.0 10.7 228.2 246.2 58.6 47.11 3.7 265.75 1.0 2.4 187.5 14.96 4.77 2.3 83.98 2.3 233.5 18.59 3.04 7.77 10.0 274.0 3.3 178.04 8.47 3.09 547 .71 4.28 2.39 2.4 36.5 8.71 3.8 173.7 Enginer Degrees Kinematic Centisrokes 1.5 93.98 9.5 297.90 7.61 1.8 214.0 237.03 10.5 10.0 223.5 4.2 66.3 85.17 3.83 2.5 219.30 10.39 1.0 137.31 8.48 5.5 293.8 115.46 4.13 2.5 141.13 6.4 91.0 104.72 8.50 2.65 1.5 23.9 69.2 48.3 270.3 124.0 209.5 24.7 279.44 1.7 97.94 3.51 9.9 67.83 3.5 5.22 5.5 7.26 1.7 316.23 3.48 1.85 8.7 62.0 7.3 321.5 77.56 7.22 1.0 21.89 1.03 2.7 112.0 325.31 1.00 3.58 8.1 119.9 102.1 53.0 24.5 19.29 3.5 6.0 23.5 195.08 2.80 1.4 52.0 13.0 191.95 8.84 1.0 11.0 5.0 26 27 28 29 30 Redwood1 Second saybolt 31 32 33 35 36 37 39 40 41 43 44 45 46 48 49 51 52 54 55 57 58 60 62 64 65 67 68 70 72 74 75 77 79 81 82 84 86 88 90 92 94 96 97 99 101 103 105 109 113 117 121 125 Universal Second 32.4 79.6 39.95 5.4 106.06 3.56 1.0 15.0 12.7 42.17 7.3 81.5 22.10 5.64 6.5 21.3 44.3 168.0 14.24 9.6 75.4 89. Kinematic Centisrokes 2.0 22.0 17.5 205.38 6.0 260.5 17.23 2.26 6.77 6.71 1.8 50.82 11.0 18.35 3.87 6.8 71.5 110.5 9.2 106.5 242.12 1.7 73.35 1.88 2.0 45.7 302.4 307.8 55.8 99.7 164.56 10.8 251.0 19.9 60.55 2.5 12.5 11.6 34.43 7.0 6.5 3.61 5.00 6.08 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 62 64 65 66 67 68 69 70 72 74 76 78 80 82 84 86 88 90 92 94 96 98 Redwood1 Second saybolt 137 141 145 149 153 157 161 165 169 173 177 181 185 189 193 197 201 205 209 213 218 222 226 230 234 238 242 246 250 254 258 262 266 271 275 279 283 287 295 303 311 319 328 336 344 352 360 369 377 385 393 401 Universal Second 155.35 5.33 2.5 335 344 353 363 372 381 391 400 410 419 428 438 447 456 Enginer Degrees 4.5 15.0 182.5 20.17 1.0 4.18 8.44 2.52 1.5 57.6 95.5 25.82 7.65 2.3 87.4 64.41 3. Kesetaran ke-empat sistem satuan viskositas.30 7.0 9.69 7.74 5.5 13.0 128.0 311.84 4.0 8.45 8.1 40.0 20.71 2.60 2.0 16.11 9.2 284.5 16.58 4.0 288.51 6.18 2.0 200.5 133.0 117.0 37.5 256.94 1.

Viskometer Besar viskositas kinematik adalah kecepatan bola jatuh setinggi h dibagi dengan berat jenis cairan yang sedang diukur.3. buka bersama-sama lubang A.0 150. B dan C dan hitung waktu yang digunakan oleh cairan untuk turun sampai se l2. Capillary viscometer 548 . (lihat gambar) 14. waktu tersebut menunukan viskostis cairan. Cairan hydrolik yang akan diukur dituangkan melalui lubang A hinga ke kointener E yang suhunya diatur. Melalui kapiler C zat cair dihisap hingga naik pada labu D sampai garis L1.33 100 102 410 418 465 475 14. Gambar 82. Ada beberapa macam viskometer antara lain : .3. kemudian semua lubang ditutup.Ball Viscometer atau Falling sphere Viscometer.1.3 Viskometer VisKometer adalah alat untuk mengukur besar viskositas suatu cairan..4 Capillary viscometer Cara pengukurnya adalah sebagi berikut : (lihat gambar).1.31 32 129 133 146. Makin kental cairan hydrolik akan makin lama untuk turun dan berarti viskostis makin besar.7 4. Untuk mengukurnya.21 4. Gambar 83.

5 Viscosity-pressure characteristics Karakteristik kekentalan dan tekanan pada cairan hydrolik sangat penting untuk diketahui karena dengan meningkatnya tekanan hydrolik maka meningkat pula viscosity index. 549 . Cairan hirdrolik terutama oli hydrolik diharapkan memiliki viscosity index (VI) = 100. Atau dapat dikatakan bahwa cairan hydrolik ini dapat digunakan dalam rentang perubahan suhu yang cukup besar. Cairan hydrolik memiliki viscositas index tinggi apabila terjadinya perubahan viskositas kecil (stabil) dalam rentang perubahan suhu yang relatif besar.14. Sehingga viscosity index ini digunakan sebagai dasar dalam menentukan karakteristik kkentalan cairan hydrolik berhubungan dengan perubahan temperatur. Untuk mengetahui perubahan viskositas ini perhatikan Ubbelohde’s viscosity-temperature diagram berikut ini 14.1.1. bahkan kebanyakan oli hydrolik diberi tambahan (additive) yang disebut “ VI improvers “ tinggi juga disebut multigrade oils. Mengenai viskositas indeks ditetapkan dalam DIN ISO 2909. Gambar berikut ini menunjukan diagram viscosity pressure characteristic .4 Indeks Viskositas (viscosity Index) Yang dimaksud dengan indeks viskositas atau viscosity index (VI) ialah angka yang menunjukan rentang perubahan viskositas dari suatu cairan hydrolik berhubungan dengan perubahan suhu.

Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi persyaratan dalam menjalankan fungsinya.6 Karakteristik Cairan Hydrolik yang dikehendaki. Sifat-sifat cairan hidrolik Kode Sifat Khusus HL Meningkatkan kemapuan mencegah korosi dan kestabilan oli hydrolik Penggunaan HLP HV Digunakan pada sistem yang bekerja pada suhu tinggi dan untuk tempat yang mungkin tercelup air Meningkatkan Seperti pada ketahanan terhadap pemakaian HL. Karakteristik atau sifat-sifat yang diperlukan antara lain adalah : Tabel 20. aus juga digunakan untuk sistem yang gesekanya tinggi Meningkatkan indek Seperti viskositas (VI) pemakaian HLP.14. juga digunakan secara meluas untuk sistem yang fluktuasi perubahan temperatur cukup tinggi 550 .1.

Oli yang bertekanan akan dialirkan ke sistim hydrolik.1 Pompa Roda Gigi Pompa ini terdiri dari 2 buah roda gigi yang dipasang saling merapat. maka akan mengalami penurunan tekanan. akibatnya oli akan terisap masuk ke dalam ruang pumpa.2. Perputaran roda gigi yang saling berlawanan arah akan mengakibatkan kevakuman pada sisi hisap.2. selanjutnya dikompresikan ke luar pompa hingga tekanan tertentu. Sistim hydrolik merupakan siklus yang tertutup.1. Bila volume pada ruang pompa membesar.2. antara lain: 14. Tekanan pompa hydrolik dapat mencapai 100 bar. karena fluida oli disirkuliskan ke rangkaian hydrolik selanjutnya akan dikembalikan ke tangki penyimpan oli. kemudian diteruskan ke ruang kompressi. Pompa H ydrolik Roda Gigi 14.2 Pompa Sirip Burung Pompa ini bergerak terdiri dari dari banyak sirip yang dapat flexible bergerak di dalam rumah pompanya.14. antara lain: 14.2 Komponen Hydrolik Komponen Hydrolik memiliki symbol dan komponen yang tidak jauh berbeda dengan Pneumatik. 551 .1 Pompa Hydrolik Pompa hydrolik berfungsi untuk mengisap fluida oli hydrolik yang akan disirkulasikan dalam sistim hydrolik.1. Gambar 84. Bentuk pompa hydrolik roda gigi dapat dilihat pada gambar berikut. oli hydrolik akan terhisap masuk. Adapun jenis-jenis pompa hydrolik. Adapun komponen utama sistim hydrolik.

kemudian terjadi langkah hisap dan kompressi secara bergantian. Gambar 86.4 Pompa Torak Radial Pompa ini berupa piston-piston yang dipasang secara radial. bila rotor berputar secara eksentrik.1.1. sehingga menghasilkan alira oli /fluida yang kontinyu. 552 . maka piston2 pada stator akan mengisap dan mengkompressi secara bergantian. Gerakan torak ini akan berlangsung terus menerus.3 Pompa Torak Aksial Pompa hydrolik ini akan mengisap oli melalui pengisapan yang dilakukan oleh piston yang digerakkan oleh poros rotasi.Gambar 85. Pompa Hydrolik Torak Aksial 14. Gerak putar dari poros pompa diubah menjadi gerakan torak translasi.2.2. Pompa Hydrolik Sirip Burung 14. Sehingga aliran oli hydrolik menjadi kontinyu.

dibanding pneumatik. 14. Pompa Torak Radial 14.2. 553 . Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan. sehingga dapat memindahkan fluida oli secara aksial ke sisi lainnya.3 Silinder Hydrolik Penggerak Ganda Silinder Hydrolik penggerak ganda akan melakukan gerakan maju dan mundur akibat adanya aliran fluida/oli hydrolik yang dimasukkan pada sisi kiri (maju) dan sisi kanan (mundur) seperti yang terlihat pada gambar 89.2. maupun motor hydrolik. aktuator hydrolik dapat berupa silinder hydrolik. Silinder Hydrolik bergerak secara translasi sedangkan motor hydrolik bergerak secara rotasi.Gambar 87. sedangkan lainnya berbentuk cembung. Tekanan Fluida akan diteruskan melalaui torak selanjutnya menjadi gerakan mekanik melalaui stang torak.5 Pompa Sekrup Pompa ini memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan (engage). Dilihat dari daya yang dihasilkan aktuator hydrolik memiliki tenaga yang lebih besar (dapat mencapai 400 bar atau 4x107 Pa). yang satu mempunyai bentuk cekung.2 Aktuator Hydrolik Seperti halnya pada sistim pneumatik.1.2. Pompa Sekrup 14. Gambar 88.

menggeser. Karena daya yang dihasilkan besar.4 Aktuator Rotasi 14. Buldozer.4. seperti mengangkat. Selanjutnya motor hydrolik dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 554 . dll. menekan. Aplikasi penggunaan sistim Hydrolik pada alat berat 14. dll.2. bego. Gambar 89.Gerakan maju dan mundur dari gerakan stang torak ini dapat digunakan untuk berbeagai keperluan dalam proses produksi. maka silinder ini banyak digunakan pada peralatan berat. Silinder Hydrolik Penggerak Ganda Gambar 90.1 Motor Hydrolik roda gigi Motor Hydrolik merupakan alat untuk mengubah tenaga aliran fluida menjadi gerak rotasi. seperti. Aliran Minyak hydrolik yang bertekanan tinggi akan diteruskan memutar roda gigi yang terdapat dalam ruangan pompa selanjutnya akan dirubah menjadi gerak rotasi untuk berbagai keperluan. Motor hydrolik ini prinsip kerjanya berlawanan dengan roda gigi hydrolik.2.

Bagian tenaga terdiri dari pompa hydrolik.Gambar 91. katup pengatur tekanan. pemroses sinyal. Klasifikasi Hydrolik dalam Penampang dan Skema 555 . dan pengendalian sinyal. dan katup satu arah.1 Kasifikasi Pengenalian Hydrolik Sistim hydrolik terdiri dari beberapa bagian. Secara garis besar dapat dilihat dalam skema di bawah ini: Aktuator Pemroses sinyal Sinyal Sumber tenaga (Power Pack) Gambar 92. Motor Hydrolik Roda Gigi 15 Pengendalian Hydrolik 15. bagian tenaga (power pack) bagian sinyal. antara lain.

Macam-macam model katup pembatas tekanan 16. katup ini dilengkapi dengan pegas yang dapat diatur.15. 556 . Bila tekanan hydrolik berlebihan. maka pegas akan membuka dan mengalirkan fluida ke saluran pembuangan. antara lain: a) Katup pembatas tekanan.1 Prinsip Hukum Pascal Perhitungan gaya hydrolik Torak pada bejana berhubungan dengan luas penampang berbeda. Dasar-Dasar Perhitungan Hydrolik 16. Gambar 93.2 Katup Pengatur Tekanan Katup pengatur tekanan terdapat beberapa model.

berapa panjang langkah piston 2 (S2) ? Jawab: S1 A2 A 10cm 2 . S1 = = 5 mm S2 A1 A2 50cm 2 557 . dan A2 = 50 cm2 = S1 = 25 mm. jadi : S1 A2 = S2 A1 Contoh Soal : 1.3mm ≈ 100 mm 150 N 2 d2 = 2 2.4000 N = 103. S1 = A2 .25mm = . = A2 π . F2 = 4000 N.d 22 d2 2 4 π . S2 . d1 = 20 mm Ditanya : berapa d2 ? Jawab : d F1 = 12 F2 d2 d1. bila diameter torak kecil = 20 mm.F1 Torak F2 A 1 Pe A2 Gambar 94. jadi S2 = 1 . Prinsip Hukum Pascal P1 = P2 = Pe = F1 = A1 F2 atau A2 F1 A = 1 F2 A2 2 A1 4 = d1 .F2 = F1 ( 20mm) 2. Suatu mesin press memiliki gaya tersedia sebesar 150 N. Bila luas penampang A1 pada gambar di atas = 10 cm 2. maka : A1 .d12 Bila V1 = V2. berapa diameter torak besar agar dapat menghasilkan gaya 4000 N ? Jawaban: Diketahui : F1 = 150 N.

4dm π .( d1 − d2 ) 4 = 5m / 60dtk = 0. Tekanan absolute Tekanan di dalam silinder merupakan tekanan absolut.(10 − 7 ) cm 0. V1 = Pabs2 .2 Perhitungan Kecepatan Torak Contoh soal : Bila d1 = 100 cm2 dan d2 = 70 cm. Jawaban: Saat maju V maju = Q/A = 20 ltr/mnt / 20dm2 / mnt 20dm2 / mnt 20 dm2 / mnt Vmaju = = = = 50 dm2 / mnt 2 2 2 2 2 2 π . Gas pada keadaan tertutup.16. hitung kecepatan torak saat maju dan mundur. Perhitungan Kecepatan Torak Q= ∆V A. besarnya tekanan absolut dikalikan dengan volumenya sama dengan konstan.083m/dtk Gambar 95. berlaku : Pabs1 .V ∆t ∆t Gambar 96.∆L = = A. V2 558 .

Contoh soal: 1.L1 25. hitunglah diamter piston yang ideal.3 Pemeliharaan Cairan Hydrolik Cairan hydrolik temasuk barang mahal. V2 W = F2 . L2 F1. Gunakan juga peralatan yang bersih untuk memasukkannya. Perlakuan yang kurang atau bahkan tidak baik terhadap cairan hydrolik atau semakin menambah mahalnya harga sistem hydrolik sedangkan apabila kita mentaati aturan-aturan tentang perlakuan/pemeliharaan cairan hydrolik maka kerusakan cairan maupun kerusakan komponen sistem akan terhindar dan cairan hydrolik maupun sistem akan lebih awet. • Pastikan menggunakan cairan hydrolik yang benar-benar bersih untuk menambah atau mengganti cairan hydrolik kedalam sistem.η 25.73cm 2 5 Pe. V1 = A2 .105 N / m2. V2 100 .V = =P. Jawaban: F1 . bila tekanannya diturunkan menjadi 1 bar. volumenya 20 ltr. 559 .95mm F2 = = = 3090. V2 Q = A1 .91 = = 13. Panduan pemeliharaan cairan hydrolik • Simpanlah cairan hydrolik (drum) pada tempat yang kering. Suatu silinder tertutup memiliki tekanan absolut 100 bar. dingin dan terlindungi (dari hujan. Sebuah silinder Hydrolik digunakan untuk mencekam benda kerja dengan tekanan 25 bar. L1 = F2 . 20 ltr = 1 .91N L2 110mm F2 = Pe.10 . 20 dm 3 = 2000dm 3 5 2 1 x 10 N / m 2. Bila gaya cekam seperti pada gambar memiliki gaya 4000 N. S2 = p . A2 . V P= W p.˜ A= F2 3090.A.90 Pabs . S2 = p . V1 = Pabs .Q t t 16. panas dan angin). V2 V2 = 100 x 105 N/m 2 . V1 = Pabs2 . berapa volumenya? Pabs1 .

bila perlu pasang pendingin (cooling) atau bila terjadi periksalah penyebab terjadinya gangguan. Cegah jangan sampai terjadi kontamisnasi gunakan filter udara dan filter oli yang baik. Perbaikilah dengan segera bila terjadi kebocoran dan tugaskan seorang maitenanceman yang terlatih. 560 . Bila akan mengganti cairan hydrolik (apa lagi bila cairan hydrolik yang berbeda). demikian pula seluruh sistem harus dibilas (flushed) secara baik dan benar-benar bersih. (periksa dengan pemasok cairan hydrolik).• • • • • • • • Pompakanlah cairan hydrolik dari drum ke tangki hydrolik melalui saringan (pre-filter). atau pasang unloading pump atau excessive resistence. Gambar 97. pastikan bahwa komponen dan seal-sealnya cocok dengan cairan yang baru. Aturlah sedemikian rupa bahwa hanya titik pengisi tangki yang rapat-sambung sendiri yang ada pada saluran balik. Pompa Hydrolik Jadi pemantauan atau monitoring cairan hydrolik perlu memperhatikan panduan tersebut di atas disamping harus memperhatikan lingkungan kerja maupun lingkungan penyimpanan cairan hydrolik. Pantaulah (monitor) dan periksalah secara berkala dan berkesinambungan kondisi cairan hydrolik. Buatlah interval penggantian cairan hydrolik sedemikian rupa sehingga oksidasi dan kerusakan cairan dapat terhindar. Cegah terjadinya panas/pemanasan yang berlebihan.

Ukurannya lebih kecil dari external gear pump pada penghasilan pompa yang sama dan tingkat kebisinginnya lebih kecil. 561 . Di Titik No 5 ini oli didesak/ditekan oleh pasangan gigi.16. Seperti external gear pump. Saluran oli masuk (inlet) 2. Terjadinnya penyedotan di ruang NO : 4 ini. 6. Penyedotan terjadi karena adanya rongga antara gigi inner outer ring gear. Pompa Roda Gigi Tipe Crescent Keterangan gambar: 1. 3. Ini bertujuan untuk membentuk rongga pemompaan. Cara kerja pompa ini dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 98. 4. Oli masuk ke sedotan roda gigi yang berputar. Rotor ring atau outer rotor yang merupakan roda gigi dalam diputar oleh inner rotor yang mempunyai jumlah gigi satu lebih kecil dari jumlah gigi outer ring gear. Saluran tekan (outlet) 16. 5. Inner rotor dan outer rotor berputar searah.5 Pompa Roda Gigi Tipe Geretor Pompa ini terdiri atas inner rotor yang dipasak dengan poros penggerak dan rotor ring. pompa ini juga termasuk pressure umbalanced.4 Pompa Roda Gigi dalam Tipe Crescent Pompa ini cocok untuk tekanan tinggi dan untuk cairan hydrolik yang bervariasi.

Gambar 100. Pompa Roda Gigi Tipe Gerotor 16.Gambar 99.6 Balanced Vane (Pompa Kipas Balanced) Pompa ini menggunakan rumah pompa yang bagian dalamnnya berbentuk elips dan terdapat dua buah lubang pemasukkan (inlet) serta dua buah lubang pengeluaran outlet yang posisinnya saling berlawanan arah. Dibuat demikian agar tekanan radial dari cairan hydrolik saling meniadakan sehingga terjadilah keseimbangan (balanced) Vane (kipas) yang bentuknnya seperti gambar dipasang pada poros beralur (slots) karena adanya gaya sentrifugal selama rotor berputar maka vane selalu merapat pada rumah pompa sehingga terjadilah proses pemompaan. Balanced Vance 562 .

Piston digerakan oleh sebuah poros engkol (eccentric crankshaft) sehingga besar langkah piston adalah sebesar jari-jari poros engkol. Pompa ini dapat mencapai tekanan hingga 63 Mpa.7 Pompa Torak Radial (Radial Piston Pump) Pompa piston ini gerakan pemompaannya radial yaitu tegak lurus poros. Gambar 101.8 Bent Axis Piston Pump (Pompa Torak dengan Poros Tekuk) Pada pompa ini blok silinder berputar pada satu sudut untuk dapat memutar poros. Batang torak dipasang pada flens poros penggerak dengan menggunakan ball joint. Pada langkah pemompaan cairan ditekan dari setiap silinder melalui check valve ke saluran tekan.16. Radial Piston Pump 16. Gambar 102. Besar langkah piston tergantung pada besar sudut tekuk Fixed displacement piston pump besar sudut (offset engle) berkisar 25°. Penghisapan terjadi pada waktu piston terbuka sehingga oli hydrolik dari crankshaft masuk ke dalam silinder. Bent Axis Piston Pump 563 .

Kopling merupakan bantalan diantara motor dan pompa yang akan mencegah terjadinnya hentakan/getaran selama motor mentrasfer daya ke pompa dan selama pompa mengalami hentakan tekanan yang juga akan sampai ke motor. Kopiling adalah komponen penyambung yang menghubungkan penggerak mula (motor listrik) dengan pompa hydrolik. (a) (a) 564 .9 Instalasi Pompa Hydrolik 16.9. Kopling juga menseimbangkan/mentolerir adanya error alignment (ketidak sentrisan) antara poros motor dengan poros pompa.2 Tangki hydrolik (Reservoir ) Tangki hydrolik (reservoir) merupakan bagian dari instalasi unit tenaga yang konstruksinya ada bermacam -macam.1 Kopiling.9. Kopling ini mentrasfer momen puntir dari motor ke pompa hydrolik.16. Gambar berikut ini menunjukan salah satu konstruksi tangki hydrolik. Untuk memenuhi persyaratan tersebut di atas maka pada umumnya kopling dibuat dari bahan : • Karet (Rubber couplings) • Roda gigi payung (Spiral bevel gear cupling) • Clucth dengan perapat plastik (square tooth cluth with plastic inseres) 16. Contoh-contoh bahan kopling. ada yang berbentuk silindris dan ada pula yang berbentuk kotak.

565 . penggerak mula. Tangki Hydrolik Reservoir (a) dan simbolnya (b) 16. Ukuran tangki hydrolik berkisar antara 3 s/d 5 kali penghasilan pompa dalam liter/menit dan r uang udara di atas permukaan cairan maksimum berkisar antara 10 s/d 15 %. untuk mengendapkan kotoran dan juga memisahkan udara serta air sebelum dihisap kembali ke pompa.3 Fungsi /tugas tangki hydrolik v Sebagai tempat atau tandon cairan hydrolik. dipasang pada saluran hisap dan kemungkinannya di dalam tangki. 16.(b) Gambar 103. ada macam-macam filter yaitu : • Suction filter. Juga berfungsi untuk memutar cairan yang baru datang sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk menyebarkan panas. Sesuai dengan tempat pemasangannya.5 Filter (Saringan) Filter berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran atau kontaminan yang berasal dari komponen sistem hydrolik seperti bagian-bagian kecil yang mengelupas.9. katup-katup akumulator dan lain-lain. v Tempat memasang komponen unit tenaga seperti pompa. 16. udara dan pertikel-partikel padat yang hanyut dalam cairan hydrolik. v Menghilangkan panas dengan menyebarkan panas ke seluruh badan tangki. kontaminasi akibat oksidasi dan sebagainya.9.4 Baffle Plate Baffle Plate berfungsi sebagai pemisah antara cairan hydrolik baru datang dari sirkulasi dan cairan hydrolik yang akan dihisap oleh pompa.9. v Tempat pemisahan air.

Gambar 104. Secara keseluruhan. Semakin besar tekanan penghasilan pompa (Q) akan semakin berkurang. sehingga dalam hal ini perbandingan antara volume cairan hydrolik secara efisien menghasilkan daya sebanding dengan penghasilan pompa disebut efisiensi volumetrik. dipasang pada saluran tekan dan berfungsi untuk mengamankan komponen-komponen yang dianggap penting. Penghasilan pompa (misal pompa roda gigi) secara teoritis dapat dihitung dengan rumus : Q = penghasilan pompa teoritis (liter/min.p.V n = putaran pompa (r.• Pressure line filter.10 Pengetesan Efisiensi Pompa Hydrolik Efiensi ialah perbandingan antara output dan input dinyatakan dalam persen (%). Gambar menunjukan proses penyaringan. Kebanyakan sistem hydrolik selalu memasang suction filter. dipasang pada saluran balik untuk menyaring agar kotoran jangan masuk ke dalam tangki.) Q = n. Suction Filter 16. • Return line filter.m) V = volume cairan yang dipindahkan tiap putaran (cm³) Penghasilan pompa tergantung pada besar tekanan kerja sistem hydrolik. aktuator dan setiap konektor. katupkatup. kebocoran dapat terjadi pada pompa hydrolik.(?v ). Informasi kita temukan pada diagram karakteristik pompa : 566 . Perbedaan antara output dan input dikarenakan adanya kerugian-kerugian diantaranya terjadinya kebocoran di dalam pompa sehingga akan mengurangi volume output.

penghasilan pompa berkurang karena adanya kebocoran dan secara logika semakin tinggi tekanan akan makin besar pula kebocoran. § Isyarat Pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element. kebocoran 1.4 l/min. Efisiensi Volumetrik Contoh : Ukuran pompa yang baru .3 l/min Jadi efisiensi volumetrik (?v ) = 87 % 16.• • • Apabila p = 0. Susunan urutannya dapat kita jelaskan sebagai berikut : § Isyarat (Sinyal) masukan atau input element yang mendapat energi langsung dari pembangkit aliran fluida (pompa hydrolik) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal.11 Unit Pengatur (Control Element) Cara-cara pengaturan/pengendalian di dalam sistem hydrolik. 567 . Q(p=0)= 10 l/min. Garis lengkung pada diagram menunjukan efisien volumetrik pompa (?v ) Diagram 105. penghasilan pompa Q penuh (Q teoristis) Apabila p > 0. Q(p=0)= 10 l/min. Q(p=230) = 8. QL= 1.3 % pada p= 230 bar. Jadi efesiensi volumetrik (?v ) = 94 % Untuk pompa yang lama. QL= 0.6 l/min. kebocoran 6 % pada p = 230 bar.7 l/min. Q(p=230)= 9.

Sinyal pengendali akhir (final control element) akan mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element) dan ini merupakan hasil akhir dari sitem hydrolik. Komponen-komponen kontrol tersebut di a tas biasa disebut katup-katup (Valves). Menurut desain konstruksinya katup-katup tersebut dikelompokan sebagai berikut : o Katup Poppet (Poppet Valves) yaitu apabila untuk menutup katup tersebut dengan cara menekan anak katup (bola atau kones atau piringan) mendapat dudukan . Menurut jenis katupnya, katup popet digolongkan menjadi : § Katup Bola (Ball Seat Valves) § Katup Kones (Cone Popet Valves) § Katup Piringan (Disc Seat Valves) o Katup Geser (Slide Valves) § Longitudinal Slide § Plate Slide (Rotary Slide Valves) Menurut fungsinya katup-katup dikelompokan sebagai berikut : a. Katup Pengarah (Directional Control Valves) b. Katup Satu Arah (Non Return Valves) c. Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves) d. Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves) e. Katup Buka-Tutup (Shut-Off Valves). § 17. Soal formatif..................................................................................... 17.1 Soal-Soal a. Sebutkan dan jelaskan syarat-syarat cairan hidrolik? b. Bagaiman cara pemeliharaan cairan hidrolik? 17.2 Kunci Jawaban a. Cairan hidrolik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut : 1) Kekentalan (Viskositas) yang cukup Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi fungsinya sebagai pelumas. Apabila viskositas terlalu rendah maka film oli yang terbentuk akan sangat tipis sehingga tidak mampu untuk menahan gesekan. Demikian juga bila viskositas terlalu kental, tenaga pompa akan semakin berat untuk melawan gaya viskositas cairan 2) Indeks Viskositas yang baik Dengan viscosity index yang baik maka kekentalan cairan hydrolik akan stabil digunakan padansistem dengan perubahan suhu kerja yang cukup fluktuatif. 3) Tahan api (tidak mudah terbakar) Sistem hydrolik sering juga beroperasi ditempat-tempat yang cenderung timbul api atau berdekatan dengan api. Oleh karena itu perlu cairan yang tahan api.

568

4) Tidak berbusa (Foaming) Bila cairan hydrolik banyak berbusa akan berakibat banyak gelembung-gelembung udara yang terperangkap dlam cairan hydrolik sehingga akan terjadi compressable dan akan mengurangi daya transfer. Disamping itu, dengan adanya busa tadi kemungkinan terjilat api akan lebih besar. 5) Tahan dingin Tahan dingin adalah bahwa cairan hydrolik tidak mudah membeku bila beroperasi pada suhu dingin. Titik beku atau titik cair yang dikehendaki oleh cairan hydrolik berkisar antara 10°-15° C dibawah suhu permulaan mesin dioperasikan (star-up). Hal ini untukk menantisipasi terjadinya block (penyumbatan) oleh cairan hydrolik yang membeku. 6) Tahan korosi dan tahan aus Cairan hydrolik harus mampu mencegah terjadinya korosi karena dengan tidak terjadi korosi maka kontruksi akan tidak mudah aus dengan kata lain mesin akan awet. 7) Demulsibility (Water separable) Yang dimaksud dengan de-mulsibility adalah kemampuan cairan hydrolik, karena air akan mengakibatkan terjadinya korosi bila berhubungan dengan llogam. 8) Minimal compressibility Secara teoritis cairan adalah uncomprtessible (tidak dapat dikempa). Tetapi kenyataannya cairan hydrolik dapat dikempa sampai dengan 0,5 % volume untuk setiap penekanan 80 bar oleh karena itu dipersyaratkan bahwa cairan hydrolik agar seminimal mungkin dpat dikempa. b. Pemeliharaan Cairan Hydrolik 1) Simpanlah cairan hydrolik (drum) pada tempat yang kering, dingin dan terlindungi (dari hujan, panas dan angin). 2) Pastikan menggunakan cairan hydrolik yang benar-benar bersih untuk menambah atau mengganti cairan hydrolik kedalam sistem. Gunakan juga peralatan yang bersih untuk memasukannya. 3) Pompakanlah cairan hydrolik dari drum ke tangki hydrolik melalui saringan (pre-filter). 4) Pantaulah (monitor) dan periksalah secara berkala dan berkesinambungan kondisi cairan hydrolik. 5) Aturlah sedemikian rupa bahwa hanya titik pengisi tangki yang rapat-sambung sendiri yang ada pada saluran balik. 6) Buatlah interval penggantian cairan hydrolik sedemikian rupa sehingga oksidasi dan kerusakan cairan dapat terhindar. (periksa dengan pemasok cairan hydrolik). 7) Cegah jangan sampai terjadi kontamisnasi gunakan filter udara dan filter oli yang baik. 569

8) Cegah terjadinya panas/pemanasan yang berlebihan, bila perlu pasang pendingin (cooling) atau bila terjadi periksalah penyebab terjadinya gangguan, atau pasang unloading pump atau excessive resistence. 9) Perbaikilah dengan segera bila terjadi kebocoran dan tugaskan seorang maitenanceman yang terlatih. 10) Bila akan mengganti cairan hydrolik (apa lagi bila cairan hydrolik yang berbeda), pastikan bahwa komponen dan seal-sealnya cocok dengan cairan yang baru, demikian pula seluruh sistem harus dibilas (flushed) secara baik dan benar-benar bersih.

18 Rangkuman BAB VIII................................................
1. Sistem Pneumatik Pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari tentang teknik pemakaian udara bertekanan (udara kempa). Sistem pneumatik memiliki aplikasi yang luas seperti menambah tekanan ban, melepas velg mobil, dongkrak, alat pemasang kampas rem tromol mobil, pembuka pintu otomatis, pengepakan industri makanan dan sebagainya. Sistem pneumatik memiliki keuntungan sebagai berikut : a. Fluida yang digunakan merupakan udara yang memiliki ketersediaan yang tak terbatas di alam. b. Udara mudah disalurkan dari suatu tempat ke tempat lain. c. Udara dapat fleksibel digunakan pada berbagai temperatur yang diperlukan. d. Aman. e. Udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya. f. Kecepatan dan daya dorong yang mudah diatur. g. Udara mudah disimpan di tabung. h. Udara memiliki banyak manfaat serta mudah dimanfaatkan. Selain keuntungan di atas, sistem pneumatik juga memiliki kekurangan diantaranya sebagai berikut : a. Memerlukan instalasi penghasil udara bertekanan (kompresor). b. Mudah terjadi kebocoran. c. Menimbulkan suara bising. d. Udara yang bertekanan mudah mengembun, sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu, misal kering, memiliki tekanan yang cukup, dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekan pada katup-katup dan aktuator. Secara garis besar urutan kerja sistem pneumatik dimulai dari sumber energi udara bertekanan (kompresor)sinyal input (katup tekan, katup roll dan sebagainya) pemroses sinyal
570

atau prosessor (katup kontrol, OR, NOR, dll) pengendali sinyal (katup pengendali sinyal) aktuator atau output (silinder penggerak tunggal, silinder ganda, rotari dll). Katup berfungsi untuk mengatur atau mengendalikan arah udara kempa yang akan bekerja menggerakan aktuator, dengan kata lain katup ini berfungsi untuk mengendalikan arah gerakan aktuator. Katup-katup pneumatik diberi nama berdasarkan pada: a) Jumlah lubang/saluran kerja ( port), b) Jumlah posisi kerja, d) Jenis penggerak katup, dan d) Nama tambahan lain sesuai dengan karakteristik katup. Disini akan dijelaskan cara penamaan katup pneumatik 5/2.

Ruang/Posisi (14,12)

4
a

2

Ruang/Posisi (a,b)

14 a

12 b 5 1
b

3

Nomor Lubang/Port (1,3,5,2,4 )

2. Sistem Hidrolik Fluida yang digunakan dalam sistem hidrolik adalah oli. Syarat-syarat cairan hidrolik yang digunakan harus memiliki kekentalan (viskositas) yang cukup, memiliki indek viskositas yang baik, tahan api, tidak berbusa, tahan dingin, tahan korosi dan tahan aus, minimla konpressibility. Sistem hidrolik juga memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahan sistem hidrolik sebagai berikut : a. Fluida yang digunakan (oli) harganya mahal. b. Apabila terjadi kebocoran akan mengotori sistem, sehingga sistem hidrolik jarang digunakan pada industri makanan maupun obat-obatan. Sedangkan kelebihan sistem hidrolik diantaranya adalah ;

571

a. Tenaga yang dihasilkan sistem hidrolik besar sehingga banyak diaplikasikan pada alat berat seperti crane, kerek hidrolik dll. b. Oli juga bersifat sebagai pelumas sehingga tingkat kebocoran lebih jarang dibandingkan dengan sistem pneumatik. c. Tidak berisik. Komponen-komponen sistem hidrolik sebagai berikut : a. Pompa hidrolik Pompa hidrolik berfungsi m engisap fluida oli hydrolik yang akan disirkulasikan dalam sistim hydrolik. Macam-macam pompa hidrolik diantaranya adalah pompa roda gigi, pompa sirip burung, pompa torak aksial, pompa torak radial dan pompa sekrup. b. Aktuator hidrolik Aktuator hydrolik dapat berupa silinder hydrolik, maupun motor hydrolik. Silinder hydrolik bergerak secara translasi sedangkan motor hydrolik bergerak secara rotasi. Urutan kerja sistem hidrolik dimulai dari sumber tenaga (pompa) sinyal (katup hidrolik) katup pemroses sinyal (katup cekik, katup satu arah dll) aktuator (silinder hidrolik atau rotari).

572

Pada dekade 1940-1950 pemakaian sistem kontrol otomatis telah berkembang.BAB IX PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN 1. Hazien memperkenalkan istilah servo mekanisme untuk sistem kontrol posisi. mulai tahun 1960 dengan berkembangnya perangkat peralatan (plant) dengan multi masukan dan multi keluaran maka sistem kontrol menjadi semakin kompleks. Gambar 1. Pada tahun 1934. Nyquist mengembangkan suatu prosedur yang relatif sederhana untuk menentukan kestabilan sistem loop tertutup pada basis respon loop terbuka terhadap masukan tunak (Steady State) Sinusoida. Pada tahun 1932. sejak itu teknolologi otomasi telah memasuki berbagai sektor kegiatan manusia. terutama sejak ditemukannya komponen cam dan governor. Teknologi Otomasi semakin berkembang dengan pesat sejak munculnya mikroprosesor pada tahun 1973. Sejarah Perkembangan Otomasi Industri …. membahas desain servo mekanisme relay yang mampu mengikuti dengan baik masukan yang berubah. Penggunaan robot dalam sistem otomasi Industri Selanjutnya secara berangsur angsur mulai memanfaatkan komponen elektronik-mekanik seperti relay. Perkembangan selanjutnya telah semakin cepat setelah ditemukannya komponen mikroelektronik dalam bentuk IC (Integrated Circuit) pada awal tahun 1960–an. Teknologi Otomasi mulai ada sejak berabad-abad yang lalu. dan komponen elektronik seperti transistor. baik yang secara khusus misalnya 573 .

Penggunaan robot dalam sistem otomasi Industri mobil Teknologi Otomasi yang pada awalnya banyak diartikan sebagai pemakaian suatu sistem pengatur yang mampu menggerakan suatu kontruksi mekanik (manipulator) secara mandiri tanpa campur tangan manusia. Gambar 2. Pada dasarnya teknologi otomasi dibedakan menjadi dua. Mesin suci dan sebagianya. Kontruksi fixed automation biasanya masih menggunakan peralatan mekanik. Mesin cuci modern biasanya menggunakan sistem otomasi loop tertutup. maupun secara umum dalam berbagai bentuk barang yang ada di sekeliling kita seperti Telefak. Pengertian teknologi otomasi yang didefisinikan sebagai penggunaan sistem pengatur yang mampu menggerakkan suatu manipulator atau kontruksi mekanik secara mandiri tanpa campur tangan manusia melahirkan suatu disiplin ilmu baru yang disebut sebagai mekatronika.di dalam dunia manufaktur. Meski dengan jumlah karyawan yang sedikit namun mampu menghasilkan produk yang banyak dan dengan kualitas yang sama baiknya. Sedangkan fleksibel automation sudah menggunakan sistem pengatur berbasis komputer. dewasa ini makin berkembang dengan dimasukkannya pengertian tentang kemampuan untuk mengatur pengolahan data secara mandiri. sehingga proses pencuciannya dapat diprogram seperti yang diharapkan. Sebagai contoh 574 . Dalam aplikasinya kegiatan proses produksi kedua cakupan pengertian di atas pada dasarnya sangat banyak digunakan. Proses produksi industri manufaktur mobil maupun sepeda motor di Indonesia sudah semakin pesat. yaitu fixed automation (otomasi tetap) dan flexible Automation (otomasi fleksibel). Sistem pengatur berbasis komputer dirancang agar mudah dirubah sesuai dengan kebutuhan.

dari kegiatan seperti pada bagian Product Design. akan dibahas lebih jauh teknologi otomasi yang diterapkan dalam industri pengolahan serta pemesinan logam. Sebagian besar aplikasinya dimanfaatkan secara luas dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Industrial Engineering banyak yang lebih berupa pengolahan secara otomatis data elektronis. …. tanpa melakukan penggantian peralatan yang salah tersebut secara keseluruhan. Pengaturan yang akan dikembangkan berbasisi pada sistem kontrol pneumatik. Pemilihan yang salah merupakan cacat bawaan yang akan sukar untuk diperbaiki nantinya. Pemanfaatan teknologi otomasi dalam proses produksi merupakan sebagian kecil saja dari penggunaan teknologi tersebut. Dalam pembahasan selanjutnya. sedangkan teknolgi otomasi yang banyak di terapkan adalah dalam bidang produksi. Sales dan Marketing. namun ada pula yang harus dirancang secara khusus untuk jenis pemakian tertentu seperti mesin-mesin khusus. berbagai jenis conveyor. Teknologi modern ditandai dengan penggunaan fleksible automation yang semakin meluas. dan sebagainya. Production Planning dan Control. Otomasi Teknik Produksi Setiap perusahaan selalu berusaha untuk efisien dan efektif dalam melakukan proses produksinya. hidrolik. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi. yang bertujuan mendapatkan keuntungan yang sebesarbesarnya dengan biaya yang serendah-rendahnya. Proses otomasi yang dapat kita lihat sehari-hari antara lain: mesin cuci otomatik. dan juga mekanik. Salah satu upaya yang dilakukan perusahaan antara lain dengan cara mengurangi biaya produksi. termasuk biaya tenaga kerja. pengering tangan otomatik. seperti mesin perkakas CNC robot industri. elektrik. 2. Pemilihan peralatan yang sesuai dengan proses produksi yang hendak dilakukan merupakan tahap awal yang sangat menentukan tinggi rendahnya effisiensi proses produk tersebut. Fleksible Automation akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikroeletronika yang mendasar Pemanfaatan teknologi otomasi pada proses produksi meliputi bidang yang sangat luas. Inventory Control. 575 . AGV dsb nya. Jiq dan Fixtures. juga penggunaan mesin perkakas CNC. Rancangan konstruksi dari berbagai peralatan di atas ada yang dapat dibuat secara umum sehingga dapat diproduksi secara masal. Pembahasan akan lebih diarahkan pada teknologi otomasi dalam bentuk pengaturan gerak manipolator atau konstruksi mekanik yang terdapat dalam berbagai bentuk peralatan pabrik. Meningkatnya kualitas hidup berdampak pada gaji tenaga kerja terampil yang semakin mahal.penggunaan robot industri. gerakan robot dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan. sistem pengisian tandon otomatik. Engineering.

jenuh. ``Otomasi`` adalah mengubah penggerakan atau pelayanan dengan tangan menjadi pelayanan otomatik pada penggerakan dan gerakan tersebut berturut-turut dilaksanakan oleh tenaga asing (tanpa perantaraan tenaga manusia). hydrolik. misalnya lebih fleksibel dan bersih. listrik. dan aman. menempa. Masing-masing aktuator memiliki kelebihan dan kelemahan. namun untuk menghasilkan udara bertekanan diperlukan peralatan mahal seperti kompresor dan katup-katup. Menurut Thomas Krist yang dikutip Dines Ginting (1993). Pemilihan aktuator tersebut akan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan. namun memiliki keterbatasan temperatur dan cenderung kotor. Penggeser pneumatik dan robot industri yang siap menggantikan tenaga manusia 576 . Dengan kata lain banyak perusahaan melakukan otomasi produksinya. Dewasa ini perusahaan selalu berupaya untuk mengganti pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh manusia untuk digantikan dengan mesin-mesin dalam rangka efisiensi dan peningkatan kualitis produksinya. belakangan ini istilah otomatisasi tidak lagi banyak digunakan. mengangkat. dan lain-lain. Gambar 3. Istilah otomasi berasal dari otomatisasi. sakit. bersih. Hidrolik mampu menghasilkan daya besar. Jadi otomasi menghemat tenaga manusia. namun mudah terbakar bila dibebani lebih. dan lain-lain telah dapat digantikan oleh gerakan aktuator mekanik. Gerakan-gerakan yang biasa dilakukan manusia seperti menggeser. bahkan kadang menuntut kenaikan gaji melalui demonstrasi yang dapat menghentikan aktivitas perusahaan.Tenaga kerja terampil umumnya menuntut gaji yang besar. Padahal tenaga kerja terampil sebagai manusia pada umumnya memiliki keterbatasan seperti kelelahan. Pneumatik d apat dibebani lebih. pneumatik. Terutama suatu penempatan yang menguntungkan dari unsur-unsur pelayanan adalah mengurangi banyaknya gerakan-gerakan tangan sampai seminimum mungkin.

Namun dalam perkembangannya PLC merupakan sistem yang dapat dikendalikan secara terprogram. dimana akan mengurangi resiko kecelakaan kerja dan meningkatkan kenyamanan peroduksi. Pengalihan gerakan dari tenaga manusia ke mesin dapat dilakukan sebagian maupun keselurahan. PLC awalnya merupakan sebuah kumpulan dari banyak relay yang pada proses sekuensial dirasakan tidak fleksibel dan berbiaya tinggi dalam proses otomatisai dalam suatu industri. Selanjutnya hasil rancangan PLC mulai berbasis pada bentuk komponen solid state yang memiliki fleksibelitas tinggi. sedangkan otomasi lengkap berarti semuanya dapat dikerjakan oleh mesin.Penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin akan meningkatkan produktivitas dan efensiensi kerja. Faktor ini juga sangat menentukan kedayagunaan dan manfaat ekonomis dari produksi. 3. Kerja tersebut dilakukan karena adanya prosesor pada PLC yang memproses program sistem yang dinginkan. PLC (Programmable Logic Controllers) …. industri kimia dan tungku pengecoran logam bertemperatur tinggi. tenaga manusia hanya bertindak sebagai programmer dari mesin tersebut. Dalam beberapa tahun ini perkembangan full otomasi telah berkembang pesat terutama pada industri manufaktur mobil maupun industri yang lain. Penggantian ini sangat tepat terutama pada industri bahan dasar. Gambar 4. Pada saat itu PLC penggunaannya masih terbatas pada fungsi-fungsi kontrol relay saja. Otomasi sebagian berarti sistem masih memerlukan tenaga kerja untuk mengoperasikan mesin.1 Sejarah PLC Secara historis PLC (Programmable Logic Controllers) pertama kali dirancang oleh Perusahaan General Motor (GM) sekitar pada tahun tahun 1968. Robot Industri dalam proses manufacturig 3. 577 .

kepadatan komponen serta dari segi fungsinnya seiring perkembangan teknologi solid state. Sehingga mampu untuk menjawab permasalahan kebutuhan kontrol yang komplek dengan jumlah input/output mencapai ribuan. (d) Jumlah input/output yang semakin banyak dan padat. (b) Jenis instruksi/fungsi semakin banyak dan lengkap.(a) (b) Gambar 5. misalnya modul ADC/DAC. Relay tunggal (a) dan Sistem relay pada mesin CNC (b) Saat ini PLC telah mengalami perkembangan yang luar biasa. 3. Perusahaan PLC saat ini sudah memulai memproduksi PLC dengan beberapa ukuran. instruksi dan kemampuan lainya yang beragam.2 Pengenalan Dasar PLC Pada dasarnya PLC (Programmable Logic Controllers) merupakan sistem relay yang dikendalikan secara terprogram. baik dari segi ukuran. Beberapa perkembangan perangkat keras maupun perangkat lunak PLC antara lain: (a) Ukuran semakin kecil dan kompak. Adanya masukan dan keluaran PLC secara modul akan lebih mempermudah proses 578 . PID. PLC dilengkapi dengan port masukan (inputport) dan keluaran (outputport). seperti jumlah input/output. Kerja tersebut dilakukan karena adanya prosesor pada PLC yang memproses program yang dinginkan. (g) Pemrograman relatif semakin mudah. (c) Memiliki kemampuan komunikasi dan sistem dokumentasi yang semakin baik. (f) Waktu eksekusi program yang semakin cepat. Perkembangan dewasa ini pada dasarnya dilakukan agar memenuhi dan memberikan solusi bagi kebutuhan pasar yang sangat luas. modul Fuzzy dan lain-lain. (h) Beberapa jenis dan tipe PLC dilengkapi dengan modul-modul untuk tujuan kontrol kontinu. Hal ini terkait dengan perangkat lunak pemrograman yang semakin user friendly.

seperti contoh berikut berikut: (a) (b) Gambar 6. biasanya dibuat PLC Training Unit untuk keperluan pelatihan bagi siswa maupuin praktisi industri agar lebih mendalami dan memahaminya 579 . Siemens. seperti OMRON. Adapun jenis hardware dapat berupa unit PLC berbagai merek. dan lain lain. LG. PLC Omron type ZEN (a) dan Siemens (b) Agar lebih mengenal fungsi dan cara kerja PLC pada umumnya. Pada dasarnya PLC terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).pengawatan (wiring) sistem.

Instruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada sistem kendali hanya membutuhkan satu kondisi logic saja untuk satu output. karena penyambungannya seri. Simbol logika LOAD dan LOAD NOT. Instruksi tersebut dibutuhkan jika urutan kerja sistem kendali lebih dari 580 . akan tetapi berupa sebuah fungsi yaitu FUN (01).1 LOAD (LD) dan LOAD NOT (LD NOT) LOAD adalah sambungan langsung dari line dengan logika pensakelarannya seperti sakelar NO.3. 3. PLC Training Unit 3. Logika pensaklaran AND seperti sakelar NO dan NOT AND seperti saklar NC. sedangkan LOAD NOT logika pensakelarannya seperti sakelar NC.3. Instruksi-instruksi dasar PLC Instruksi (perintah program) merupakan perintah agar PLC dapat bekerja seperti yang diharapkan.3. Instruksi END tidak ditampilkan pada tombol operasional programming console.2 AND dan NOT AND (NAND) Jika memasukkan logika AND maka harus ada rangkaian yang berada di depannya. Pada setiap akhir program harus di instruksikan kalimat END yang oleh PLC dianggap sebagai batas akhir dari program. Simbol ladder diagram dari LD dan LD NOT seperti Gambar 8 di bawah ini: LD LD NOT Gambar 8. 3.Gambar 7.

Simbol logika AND dan NOT AND Tabel 1. instruksi tersebut dibutuhkan jika urutan kerja sistem kendali membutuhkan salah satu saja dari beberapa kondisi logic terpasang paralel untuk mengeluarkan satu output. di bawah ini: AND NOT AND Gambar 9. Logika AND dan NOT AND (NAND) S1 0 0 1 1 S2 0 1 0 1 AND 0 0 0 1 NAND 1 1 1 0 3. Simbol ladder diagram dari OR dan OR NOT seperti gambar 11. di bawah ini: OR Gambar 10.3.3 OR dan NOT OR OR dan NOT OR (NOR) dimasukkan seperti saklar posisinya paralel dengan rangkaian sebelumnya. Simbol ladder diagram dari AND dan NOT AND seperti Gambar 9.satu kondisi logic yang terpenuhi semuanya untuk memperoleh satu output. Logika pensaklaran OR seperti saklar NO dan logika pensaklaran NOT OR seperti saklar NC. Simbol logika OR dan NOT OR NOT OR 581 .

Tabel 2. Logika OR dan NOT OR (NOR) S1 0 0 1 1 S2 0 1 0 1 OR 0 1 1 1 NOR 1 0 0 0 Tabel 3. Aturan aljabar saklar AND 0n a=0 1n a=a 0 an a=a a 1 an a=0 a a a a a an b = bn a a b b a an bn c = c a (a n b) n c = a a n (b n c) a b b c b c 582 .

Aturan aljabar saklar OR 0va=a 0 1va=1 1 a ava=a a a ava=a a a a avb a = bva b b a avbvc a b c = (a v b) v c a b c = a v (b v c) a b c 3. di bawah ini OUT OUT NOT Gambar 11.Tabel 4. 583 . Logika pensaklaran OUT seperti sakelar NO dan logika pensaklaran OUT NOT seperti sakelar NC.3. Simbol logika OUT dan OUT NOT. Simbol ladder diagram dari OUT dan OUT NOT seperti Gambar 11. .4 OUT dan OUT NOT Digunakan untuk mengeluarkan Output jika semua kondisi logika ladder diagram sudah terpenuhi.

3.3. Simbol ladder diagram dari AND LD seperti gambar 12. .3.7 TIMER (TIM) dan COUNTER (CNT) . di bawah ini: AND LD Gambar 12. 3.5 AND LOAD (AND LD) Digunakan untuk kondisi logika ladder diagram yang khusus dimaksudkan untuk mengeluarkan satu keluaran tertentu. Jika suatu nomor sudah dipergunakan sebagai TIMER/COUNTER. Simbol logika AND LOAD. Simbol ladder diagram dari OR LD seperti gambar 13 di bawah ini: OR LD Gambar 13.Jumlahnya bergantung dari masing-masing tipe PLC.3. 584 . 3.Nilai TIMER/COUNTER bersifat menghitung mundur dari nilai awal yang ditetapkan oleh program. maka kontak NO TIMER/COUNTER akan bekerja. Simbol logika OR LOAD.6 OR LOAD (OR LD) Digunakan untuk kondisi logika ladder diagram yang khusus dimaksudkan untuk mengeluarkan satu keluaran tertentu. Setelah hitungan tersebut mencapai angka nol. maka nomor tersebut tidak boleh lagi dipakai lagi sebagai TIMER/COUNTER yang lain.

4.. memperlihatkan macammacam sim bol masukan. Sedangkan COUNTER mempunyai orde angka BCD dan mempunyai batas antara 0000 sampai dengan 9999. Simbol ladder diagramnya seperti Gambar 14 di bawah ini: N SV CP R TIMER Keterangan : N : Nomor T/C SV : Set Value COUNTER Keterangan : CP : Pulsa R : Reset Gambar 14. 585 . Ada bermacam -macam device masukan yang dapat digunakan dalam pembentukan suatu sistem kendali seperti misalnya: selector switch. Gambar15. Simbol logika TIMER dan COUNTER. flow switch. Dalam hal tersebut seperti misalnya device masukan yang digunakan adalah push button yang bekerja secara Normally Open (NO) ataupun Normally Close (NC). proximity sensors dan lain-lain. foot switch. Device Masukan Device masukan merupakan perangkat keras yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada modul masukan. level switch. misalnya untuk menjalankan atau menghentikan motor. Fungsi dari device masukan untuk memberikan perintah khusus sesuai dengan kinerja device masukan yang digunakan. 3.TIMER mempunyai batas hitungan antara 0000 sampai 9999 dalam bentuk BCD (binary Code Decimal) dan dalam orde sampai 100 ms. Sistem PLC memiliki jumlah device masukan sesuai dengan sistem yang diinginkan.

yang berarti modul tersebut dapat melayani beberapa device masukan. NC Pushbutton c. Modul Masukan Modul masukan adalah bagian dari sistem PLC yang berfungsi memproses sinyal dari device masukan kemudian memberikan sinyal tersebut ke prosesor. NO Pushbutton b.5. NO Limit Switch d. Contoh simbol device masukan 3. 586 . Pada umumnya modul masukan ditempatkan pada sebuah rak. Pada jenis PLC tertentu terdapat modul masukan yang ditempatkan langsung satu unit dengan prosesor ataupun catu daya dan tidak ditempatkan dengan sistem rak. NO Flow Switch Gambar 15. Sistem PLC dapat memiliki beberapa modul masukan. Masing-masing modul mempunyai jumlah terminal tertentu. Gambar 16 memperlihatkan modul masukan atau keluaran yang penempatannya menggunakan rak.Keterangan : a.

Desktop. Device programmer memperbolehkan pemakai untuk melakukan pengubahan program kendali baru (modifikasi) atau memeriksa benar atau tidaknya program yang telah diisikan ke dalam memori. Program Loader sering disebut sebagai device programmer yaitu alat yang digunakan untuk melakukan pengisian program ke CPU. Gambar 17. handled programmer dan device programmer yang memang khusus dibuat oleh pembuat PLC. 587 .Gambar 16. Hal ini sangat membantu untuk keperluan perawatan ketika timbul masalah terhadap sistem. Gambar 17 dan Gambar 18. Slot Modul masukan atau keluaran PLC 3. Jenisjenis device programmeran yang sering digunakan adalah desktop. Device programmer membuat program PLC menjadi lebih fleksibel. memperlihatkan contoh gambar device programmer.6. Device Masukan Program Device masukan program berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan atau mengisikan program ke dalam prosesor PLC yang disebut dengan pengisi program (program loader).

7. (OMRON) 3. Device Keluaran Device keluaran adalah komponen-komponen yang memerlukan sinyal untuk mengaktifkan komponen tersebut. Gambar 19. memperlihatkan contoh simbol dari device keluaran yang sering digunakan. (a) Simbol lampu indicator (b) Motor listrik dan simbolnya 588 . sirine.Gambar 18. Sistem PLC mempunyai beberapa device keluaran seperti motor listrik. Handled Programmer. lampu indikator.

bagian masukan/keluaran. 3. Perangkat Lunak PLC Pemrogramman PLC terdiri dari instruksi-instruksi dasar PLC yang berbentuk logika pengendalian sistem kendali yang diinginkan. Catu daya yang digunakan untuk mengaktifkan device keluaran tidak langsung dari modul keluaran tetapi berasal dari catu daya dari luar.10. dan device pemrograman. seperti komponen-komponennya dapat ditambah.9. Sinyal tersebut diteruskan ke prosesor dan akan diolah sesuai dengan 589 . Contoh device keluaran dan simbolnya 3. Diagram kerja tiga komponen utama di atas. 3. Dalam hal ini setiap pembuat PLC memberikan aturan-aturan tertentu yang sudah disesuaikan dengan programmeran CPU yang digunakan PLC.(c) Katup penggerak Solenoid Gambar 19. Perangkat Keras PLC Sistem PLC menggunakan prinsip pemodulan yang memiliki beberapa keuntungan. Modul Keluaran PLC dapat mempunyai beberapa modul keluaran tergantung dari ukuran dan aplikasi sistem kendali. dikurangi ataupun dirancang ulang untuk mendapatkan sistem yang lebih fleksibel. Urutan kerja dari gambar diagram blok di atas dimulai dari device masukan yang akan memberikan sinyal pada modul masukan. Device keluaran disambungkan ke modul keluaran dan akan aktif pada saat sinyal diterima oleh modul keluaran dari prosesor sesuai dengan program sistem kendali yang telah diisikan ke memorinya. akan dijelaskan lebih rinci dengan gambar diagram blok sistem PLC seperti terdapat pada Gambar 20. Bahasa programmeran biasanya telah disesuaikan dengan ketentuan dari pembuat PLC itu sendiri. sehingga modul keluaran sebagai sakelar yang menyalurkan catu daya dari catu daya luar ke device keluaran. Sistem PLC memiliki tiga komponen utama yaitu unit prosesor.8.

tetapi d alam programmerannya simbol-simbol tersebut dipresentasikan sebagai fungsi komponen sebenarnya. 3. Untuk memudahkan pemahamannya. Hubungan Input/Output (I/O) dengan Perangkat Lunak Pada saat pemrogram (programmer) bekerja dengan bahasa ladder logic.11. Sinyal dari prosesor kemudian diberikan ke modul keluaran untuk mengaktifkan device keluaran. Simbol-simbol tersebut tidak dapat dipresentasikan sebagai komponen. NC dan dalam bentuk penyimbolan. Banyaknya titiktitik keluaran terletak di modul keluaran. Diagram Blok PLC 3. Programmeran tersebut akan memudahkan programmer dalam mentransisikan logika pengendalian khususnya bagi programmer yang memahami logika pengendalian sistem kontrol panel. koil relay masukan berada di luar perangkat sehingga tidak dapat tergambar di perangkat lunak dan hanya memiliki kontak-kontak pada perangkat lunak.program yang dibuat.12. programmer harus mengerti hubungan I/O dengan perangkat lunak. titik masukan modul masukan dapat dianggap sebagai koil relay yang masingmasing memiliki alamat tertentu. Ladder Logic Ladder logic adalah bahasa programmeran dengan bahasa grafik atau bahasa yang digambar secara grafik. NO. Untuk lebih mempermudah pemahaman mengenai hubungan I/O dengan perangkat lunak 590 . Diagram ini menyerupai diagram dasar yang digunakan logika kendali sistem kontrol panel dimana ketentuan instruksi terdiri dari koil-koil. Gambar 20.

Keputusan yang telah dibuat berdasarkan program tersimpan dalam memori. Prosesor adalah bagian dari Central Processing Unit (CPU) dari PLC yang menerima.Gambar 21 memperlihatkan gambar hubungan antara I/O dengan perangkat lunak. Hal 591 . 3. Processor Prosesor adalah bagian pemroses sistem PLC yang membuat keputusan logika. Gambar 21. Karena sebagai device masukan berupa push button 1 ON saat ditekan saja (NO) maka untuk membuat lampu itu menyala terus. Gambar 21 memperlihatkan bahwa apabila push button 1 ditekan maka unit input X1 menjadi ON. Di dalam CPU PLC dapat dibayangkan seperti sekumpulan ribuan relay. Peristiwa itu tersebut mengakibatkan koil keluaran perangkat lunak menerima sinyal tersebut sehingga unit output sebagai kontak koil akan bekerja. sehingga jika keadaan ON maka sinyal mengalir menuju modul masukan (dengan anggapan pemahaman bahwa terdapat koil) hal tersebut mengakibatkan kontak dari unit input di dalam perangkat lunak akan bekerja. memproses dan memberikan informasi ke modul keluaran. Hubungan antara I/O dengan perangkat lunak. kejadian tersebut mengakibatkan lampu menyala. Apabila lampu indikator sebagai device keluaran.13. menganalisa. Sinyal selanjutnya mengalir melalui holding relay tersebut dan lampu akan menyala terus dan akan mati apabila pushbutton 2 ditekan karena terputusnya tegangan dalam hal ini karena pushbutton 2 sebagai NC. Sesuai dengan prinsip pemahaman bahwa titik masukan sebagai koil relay yang mempunyai kontak di perangkat lunak. koil keluaran perangkat lunak memiliki internal relay yang dapat digunakan sebagai pengunci (holding).

Apabila data dapat diubah. Gambar 22. Read Only Memory (ROM) adalah jenis memori yang semi permanen dan tidak dapat diubah dengan pengubah program. memperlihatkan contoh CPU PLC yang menggunakan sistem RAM. dengan satu pengecualian yaitu bisa di program. Masing-masing jenis memori memiliki keuntungan dan kerugian dan dipilih untuk spesifikasi yang terbaik untuk aplikasinya. Kerugian jenis memori tersebut adalah diperlukannya catu daya untuk menjaga agar memory tetap bekerja. karena RAM dapat dibaca dan ditulis data untuk disimpan di RAM.tersebut bukan berarti di dalamnya terdapat banyak relay dalam ukuran yang sangat kecil tetapi berisi rangkaian elektronika digital yang dapat sebagai kontak NO dan NC relay. Memori tersebut hanya digunakan untuk membaca saja dan jenis memori tersebut tidak memerlukan catu daya cadangan karena isi memori tidak akan hilang meskipun catu daya terputus Programmable Read Only Memory (PROM) adalah jenis lain dari memori yang bekerja hampir menyerupai ROM. RAM disebut juga sebagai memori baca/tulis. Memori berfungsi sebagai tempat dimana informasi tersebut disimpan. Programmeran ulang dari PROM membutuhkan perlengkapan khusus yaitu PROM Programmer dimana PLC sendiri tidak dapat melakukannya. Pada aplikasi PLC diperlukan catu daya cadangan yang digunakan untuk menjaga agar isi dari memori tidak hilang apabila tiba-tiba catu daya hilang. CPU PLC (OMRON) 592 . Salah satu jenis memori yang digunakan dalam CPU PLC adalah Random Access Memory (RAM). PROM di rancang untuk diisi dengan program yang terprogram. Gambar 22. RAM digunakan untuk keperluan memori karena RAM mudah diubah dengan cepat ketika dibandingkan dengan jenis memori yang lain. Ada bermacam-macam jenis serpih memori dalam bentuk Integrated Circuit (IC). maka dapat diadakan programmeran.

kondisi input/output unit. Dapat menunjukkan kondisi PLC yang disebabkan oleh kegagalan sumber tegangan.14. 3. IR input dan IR output adalah IR yang berhubungan dengan terminal input dan output pada PLC. Terdapat juga IR yang fungsinya untuk SYSMAC BUS area. Sedangkan IR work area tidak dihubungkan ke terminal PLC. Link system digunakan untuk tukar-menukar informasi antar dua PLC atau lebih dalam satu sistem kendali yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan PLC minimum dua unit.14. dua angka yang paling belakang menunjukkan nomor contact dan sisa angka yang depan menunjukkan nomer channel.2 Special Relay Special relay (SR) merupakan relay yang menghubungkan fungsi-fungsi khusus seperti flag (misalnya: instruksi penjumlahan terdapat kelebihan digit pada hasilnya [carry flag].14.2.14. dan Group 2 High density I/O unit area.2.14. informasi kondisi PLC. akan tetapi berada dalam internal memory PLC dan fungsinya untuk pengolahan logika program.2 Memori PLC 3.5 Link Relay Link relay (LR) digunakan untuk data link pada PLC link system .Bit atau contact yang terdiri dari 1 bit.14 Data dan Memory PLC 3. kondisi special I/O. dan system clock (pulsa). 3. kontrol bit PLC. IR output dan juga IR work area (untuk pengolahan data pada program).14. 3.Word atau channel yang terdiri dari 16 bit. Optical I/O unit area. 593 .14. 3. 3.2. memori PLC dan lain-lain.2.4 Holding Relay Holding relay (HR) dapat difungsikan untuk menyimpan data (bit-bit penting) karena tidak hilang walaupun sumber tegangan PLC mati. ditulis XXXXXX. kondisi CPU PLC.1 Internal Relay Internal relay (IR) mempunyai pembagian fungsi seperti IR input.3.1 Aturan dasar penulisan memori PLC adalah : .3 Auxiliary Relay (AR) Auxiliary relay terdiri dari flags dan bit untuk tujuan khusus. Special I/O Unit area.2. ditulis XXX .

> DM setup DM setup berfungsi untuk kondisi default (kondisi kerja saat PLC aktif). > DM special I/O unit • DM special I/O berfungsi untuk menyimpan dan mengolah hasil dari special I/O unit. 3. 3. > DM link test area • DM link test area berfungsi untuk menyimpan informasiinformasi yang menunjukan status dari system link PLC.14.2. sehingga sangat berguna untuk manipulasi data program.14.3.14.9 Upper Memory Upper memory (UM) berfungsi untuk menyimpan dan menjalankan program. Pesan-pesan kesalahan system PLC yang di simpan berupa kode-kode angka tertentu. Tentu saja setup PLC tersebut disesuaikan dengan sistem kontrol yang bersangkutan. 3. Pada DM inilah kemampuan kerja suatu PLC didefinisikan untuk pertama kalinya sebelum PLC tersebut diprogram dan dioperasikan pada suatu sistem kontrol.2. Untuk timer mempunyai orde 100 ms. Untuk TIM 000 sampai dengan TIM 015 dapat dioperasikan secara interrupt untuk mendapatkan waktu yang lebih presisi. ada yang mempunyai orde 10 ms yaitu TIMH(15).2.2. mengatur dan mendefinisikan sistem kerja special I/O unit.7 Timer/Counter Timer/counter (T/C) untuk mendefinisikan suatu waktu tunda /time delay (timer) ataupun untuk menghitung ( counter).8 Data Memory Data memory (DM) berfungsi untuk menyimpan data-data program karena isi DM tidak akan hilang (reset) walaupun sumber tegangan PLC mati.6 Temporary Relay Temporary relay (TR) berfungsi untuk menyimpan sementara kondisi logika program pada ladder diagram yang mempunyai titik percabangan khusus. 594 . Macam-macam DM adalah sebagai berikut: > DM read/write • Pada DM read/write data-data program dapat dihapus dan ditulis oleh program yang dibuat. Kapasitas tergantung dari pada masingmasing tipe PLC yang dipakai. > DM history Log • Pada DM history log disimpan informasi-informasi penting pada saat PLC terjadi kegagalan sistem operasionalnya.14.

Bagian catu daya dalam PLC sama dengan bagian-bagian yang lain di mana terdapat langsung pada satu unit PLC atau terpisah dengan bagian yang lain dari atau sistem rak. ⇒ Programmeran PLC ada dua macam yaitu dengan diagram ladder dan bahasa mnemonic. sedangkan memori yang lainnya akan hilang. 3. atau bisa juga langsung digambar ladder diagram pada layar monitor. DM dapat difungsikan untuk menyimpan data-data penting yang tidak boleh hilang waktu sumber tegangan mati a memanipulasi tau program. kontak NO dan NC. 595 .2. ⇒ Memori yang sifatnya dapat menyimpan data program jika listrik mati adalah DM dan HR. Catu daya dalam merupakan bagian dari unit PLC itu sendiri sedangkan catu daya luar yang memberikan catu daya kepada seluruh bagian dari sistem termasuk didalamnya untuk memberikan catu daya pada catu daya dalam dari PLC. Besarnya tegangan catu daya yang dipakai disesuaikan dengan karakteristik PLC. hanya ada channel/word saja. Programmeran biasanya membuat diagram ladder terlebih dahulu dan kemudian baru menterjemahkannya dalam bahasa mnemonic. Catu daya dalam mengaktifkan proses kerja PLC.14. Catu Daya. Gambar 23. ⇒ DM tidak mempunyai kontak. Gambar catu daya yang sering digunakan dengan sistem rak diperlihatkan pada gambar 23. Timer dan Counter juga dapat dibayangkan seperti pada umumnya dan mempunyai kontak NO dan NC.⇒ Semua memori (selain DM dan UM) dapat dibayangkan sebagai relay yang mempunyai koil.10 Catu Daya (Power Supply) Sistem PLC memiliki dua macam catu daya dibedakan berdasarkan fungsi dan operasinya yaitu catu daya dalam dan catu daya luar.

16. Tampilan menu utama dari program SYSWIN dapat dilihat pada gambar berikut. > Upload Program Merupakan perintah untuk melihat isi program dalam PLC > Down Load Program Merupakan perintah untuk mentransfer program yang telah dibuat ke dalam PLC > Run Perintah untuk menjalankan program yang telah di tranfer ke PLC > Stop Perintah untuk menghentikan program yang sedang dijalankan di PLC > Monitoring Perintah untuk melihat kondisi pada saat PLC bekerja 3.15. Tampilan menu utama program SYSWIN (OMRON) Beberapa perintah program yang penting dan perlu dipahami adalah sebagai berikut: > Connect Connect merupankan perintah program untuk penyambungan antara komputer dengan PLC.3. Programman PLC dasar Omron Dengan Komputer Programman PLC dasar merk OMRON menggunakan bahasa program dari OMRON juga yaitu SYSWIN.16 Cara pengoperasian SYSWIN 3. Gambar 24.1 Pembuatan diagram ladder (diagram tangga) Pembuatan diagram ladder dapat dilakukan dengan cara klik kiri mouse pada menu perintah sesuai dengan yang dikehendaki 596 .

Langkah selanjutnya memberikan alamat yang dikehendaki pada perintah tersebut.kemudian memindahkan mouse ke layar tampilan yang dituju. Pembuatan diagram ladder 1. Ketikan alamat 0001 lalu enter Gambar 26. Tampilan Ladder Diagram Langkah sbb: 1. Sebagai contoh membuat diagram ladder berikut: Gambar 25. Ketikan alamat 1001 lalu enter 2. 597 . Klik simbol ini 3. Untuk membuat ladder baru lagi di bawahnya maka posisikan mouse pad End of blok kemudian klik dua kali maka posisi End of blok akan turun dan kita dapat menggunakannya baris kosong tersebut untuk membuat diagram ladder baru. Klik simbol ini 4.

Pastikan PLC sudah tersambung dan ter-conect dengan PLC 2. Untuk mengakhiri prongram maka harus diakhiri dengan perintah END sebelum program tersebut dijalankan caranya sebagai berikut: 1. Sorot menu Online 3. Ketikan END lalu enter Gambar 27. Pilih perintah Download Program lalu enter 4. Akhir dari diagram tangga menggunakan END Setelah sebuah program diagram ladder dibuat kemudian untuk menjalankannya atau memasukkannya ke dalam PLC harus melewati langkah sebagai berikut: 1. Pada menu Online pilih Mode 598 . Click simbol FUN 2.2.

Jika input saklar ditekan maka output berupa lampu akan menyala 2. Penyambungan perangkat Input. RUN untuk menjalankan program dalam PLC 6. Untuk keperluan monitoring jalannya program dapat dipilih pada menu Online yaitu Monitoring 3.2 Cara Penyambungan Dan Logika Laddernya Gambar 29. Tetapi jika sakelar dilepas maka lampu juga akan mati 599 . Akhir dari diagram tangga menggunakan END 5.Catu daya Pada gambar di atas apabila dibuat program dengan menggunakan diagram ladder sebagai berikut : Gambar 30. STOP untuk menghentikan program 7. PLC. Output.Gambar 28. Ladder diagram Maka kerja dari rangkaian tersebut adalah: 1.16.

Apabila dikehendaki lampu tetap menyala meskipun sakelar hanya sekali tekan maka perlu ditambahi dengan pengunci sebagai berikut: 010. Kebalikan dari kerja rangkaian di atas (Gambar 31) apabila dibuat program dengan menggunakan diagram ladder sebagai berikut : Gambar 32.01 Gambar 31. Jika input saklar tidak ditekan maka output berupa lampu akan menyala 2. Jika input saklar ditekan maka output berupa lampu akan mati Untuk penyambungan yang lebih dari satu channel maka cara penyambungan adalah sebagai berikut: 600 . Ladder diagram kebalikan dari kerja rangkaian di atas Maka kerja dari rangkaian tersebut adalah: 1. Ladder diagram dengan pengunci.

Tegangan yang disambungkan ke relay ataupun Magnetic Contactor disesuaikan dengan tegangan dari relay atau Magnetic Contactor tersebut. Untuk arus dan tegangan yang lebih besar dapat mengguankan Magnetic Contactor. Penambahan relay untuk memperbesar kemampuan arus . Gambar 34. 601 . Oleh karena keterbatasan PLC dimana spesifikasi dari masukannya dan keluarannya adalah dengan tegangan dan arus yang kecil maka cara penyambungan dari pelaratan keluarannya jika menggunakan lampu untuk tegangan dan arus tinggi adalah menggunakan peralatan relay seperti gambar di bawah ini. Cara penyambungan perangkat Input dan Output lebih dari satu channel.Gambar 33.

1 LATCHING / SELF HOLDING Fungsi ini berfungsi sebagai penahan dirinya sendiri pada suatau rangkaian ladder PLC. Rangkaian Input Unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR Gambar 36.Rangkaian Input dan Output di dalam Unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR dapat dilihat pada Gambar 35 dan Gambar 36 di bawah ini. A B B Gambar 37. (351352 modul pelatihan PLC OMRON) 3. Rangkaian Output dalam Unit CPU PLC OMRON CPM1A -XXCDR. Gambar 35. Rangkaian latching 602 .17.17 Penggunaan Fungsi Bit Kontrol 3.

seperti pada gambar di bawah ini A NC B B Gambar 38. R sebagai reset yaitu untuk mengembalikan ke keadaan semula dan B atau bit yaitu memberikan output berupa latching atau mempertahankan dirinya sendiri.2 KEEP Fungsi keep sama seperi pada fungsi lacthing hanya saja lebih sederhana dalam pembuatan ladernya karena telah memiliki tanda sendiri pada pemrogramannya seperti pada SYSWIN atau pun SYSMAC. Diagram ladder latching 3. Sehingga cara mematikannya (OFF) yaitu dengan memberikan input berupa ladder NC (normally close).17. yang berarti bahwa bila ada tegangan sekejap dari rangkaian di atas maka output akan tetap ON. A KEEP B 200. Gambar 40.00 Gambar 39. 603 . antar output B baris pertama dengan input B pada baris kedua memiliki alamat yang sama yaitu B.Pada gambar diagram ladder di atas bisa kita lihat. Tanda KEEP Secara umum fungsi keep memiliki aturan seperi gambar dibawah ini. Aturan KEEP Dengan S sebagai set. yang berfungsi sebagai pemicu adanya KEEP.

17.3 DIFU dan DIFD Gambar 41. Perbedaannya terletak pada aktif tinggi (up) dan aktif rendah (down). 604 .17. Gambar 42.3. SET dan RESET Fungsi set memerintahkan agar output selalu dalam keadaan ON. DIFU dan DIFD DIFU atau Differentia Up dan DIFD (Differentia Down)digunakan untukmenciptakan bit ON pada satu siklus.4 SET dan RESET Penggunaan set dan reset hampir mirip dengan latching tetapi biasanya digunakan pada aplikasi yang panjang sehingga akan memudahkan dalam pembuatan program. Berbeda dengan Reset. memerintahkan agar output dalam keadaan OFF. 3.

1 Aktivasi Koil Sekarang akan kita bandingkan diagram ladder di atas dengan menggunakan aplikasi sirkuit di bawah ini. Gambar 44. Pada gambar di atas terdiri dari dua input dan satu output. Kita dapat mensimulasikan atau mentransfer ke dalam diagram ladder. Input terdiri dari dua switch yaitu switch 1 dan switch 2 sedangkan output adalah koil.18.18 Contoh Aplikasi Dan Pembuatan Diagram Ladder Menggunakan Syswin 3. Diagram ladder aplikasi koil 605 .3. koil akan menjadi aktif bila terminal + (positif) dan terminal – (negative) pada baterai terhubung. Keterangan : SW1 = Switch 1 SW2 = Switch 2 Gambar 43. Rangkaian switch relay Pada gambar sirkuit di atas.

klik kembali pada toolbar symbol dan masukan alamat / addres yang berbeda dengan address switch 1 (missal 000.01. Pilih BELOW Current Network. dan akan muncul form dialog bok 9. tempatkan pada work area. dan tekan OK 8.01) 4. isikan alamat untuk switch 1 (missal : 000. sehingga akan muncul dialog form 7. Ok 606 .02) 5. Klik symbol atau open output pada toolbar symbol 6. klik gambar open contact atau pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.Pembuatan diagram ladder pada software Syswin 1. kemudian muncul form dialog untuk pengisian addres / alamat 3. 2. Tempatkan pada area kerja. Isikan alamat output. missal 000. Klik Menu à Block à Insert Block.

Pilih END(01) dan tekan Ok Hasil program seperti dibawah ini 3. Masing masing sensor bertugas untuk mengontrol posisi ketinggian minyak pelumas. akan muncul dialog. Aplikasi PLC 607 . 11. Dengan menggunakan dua sensor yaitu sensor bagian atas dan sensor bagian bawah. Klik Menu à Function à Basic instruction à Program Control Instruction.18.10.2 Minyak Pelumas Aplikasi di bawah ini adalah mengontrol minyak pelumas yang dikeluarkan dalam sebuah tangki. Gambar 45.

Sensor dapat berupa sensor optik apabila tercelup dalam cairan atau minyak pelumas maka akan OFF disini motor akan OFF sehingga tidak memompa minyak. Apabila sensor tidak tercelup dalam minyak pelumas maka sensor akan ON dan menghidupkan motor dan memompa minyak pelumas ke dalam tangki. input dan output maupun internal relay.00 Setelah membagi alamat-alamat. Gambar 46.Pada saat volume minyak pelumas menyentuh sensor bawah motor akan memompa minyak pelumas menuju tangki dan berhenti ketika minyak pelumas menyentuh sensor bagian atas. kemudian muncul form d ialog bok untuk pengisian addres / alamat 608 . Tempatkan pada work area.00 000. Diagram ladder Pembuatan diagram ladder pada Software Syswin 3. kemudian kita membuatnya dalam diagram ladder. Sistem ini disebut dengan NC (Normally closed) Tabel 5. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol. Maka dibutuhkan 3 input dan output.4 sebagai berikut 1. 2 berupa input dan 1 berupa output.01 Output Motor Addres 010.00 Internal Relay 010. Pengalamatan peralatan input dan output Input Sensor Bawah Sensor Atas Addres 000. 2.

3. 11. Ok 10. 7. Tempatkan pada work area. Pilih BELOW Current Network. 4. Isikan alamat untuk sensor atas (missal : 000. dan akan muncul form dialog bok 9. dan tekan OK (disini bukan sebagai output tetapi internal relay) Klik Menu à Block à Insert Block. 8. sehingga akan muncul dialog form dialog.05.00) Klik kembali pada toolbar symbol dan Klik pada work area kemudian masukan alamat / addres yang berbeda dengan address sensor atas (missal 000. 6.01) Klik symbol atau open output pada toolbar symbol Tempatkan pada area kerja. missal 000. 5. Isikan alamat output. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol. kemudian muncul form dialog bok untuk pengisian addres / alamat 609 .

Isikan alamat yang sama dengna internal relay diatas untuk sensor atas yaitu 000. Klik pada toolbar symbol dan Klik pada work area baris kedua blok pertama. 14. kemudian masukan alamat / addres yang sama dengan internal relay. 001. Klik symbol atau open output pada toolbar symbol pada work area pada baris ketiga blok ketiga. 001. Klik kembali pada toolbar symbol dan Klik pada work area baris ketiga blok pertama. Klik pada selection tools. setelah terlihat gelap klik pada vertical line dan klik pada blok kedua baris pertama sehingga akan timbul garis penghubung ke bawah. dan berikan alamat 610 . kemudian masukan alamat / addres yang sama dengan internal relay.05 13. 16.00 15.00 . kemudian Klik pada blok pertama yang kita buat (alamat 000.00).12.

18. Awalnya tangki dalam keadaan kosong. Hubungkan blok pertama dan ketiga pada baris ketiga dengan garis horizontal pada toolbar symbol. 19. Sensor 2 Sensor 1 Pompa air Gambar 47. 3. Tempatkan pada area kerja. Saat air menyentuh sensor 2 pompa air masih hidup dan pengisian air terus berlanjut sampai sensor 1 .3 Pengisian tangki air otomatis Sistem pengisian tangki air secara otomatis dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini.17. pompa air hidup sehingga mulai mengisi air dari keadaan awal kosong. sehingga akan muncul dialog form dialog. 18. Beberapa saat kemudian sensor air volume air terus menurun sehingga kini sensor 1 dalam keadaan bebas atau tidak tercelup air dan pompa masih terus hidup. Ketika sensor 1 tercelup oleh air pompa berhenti sehingga volume air secara perlahan turun. Sampai ketinggian air menyentuh sensor 2 pompa kembali menyala dan terus berulang. Sistem kerja pengisian air otomatis 611 . masukan Function END pada bris terakhir.

kemudian muncul form dialog box untuk pengisian addres / alamat 3. 00000 00001 10000 10000 END Gambar 48.Langkah selanjutnya adalah membagi alamat input dan output pada Programmable Logic Control (PLC). Isikan alamat untuk sensor atas 612 .00 Setelah dibuat alamat pada input dan output PLC selanjutnaya adalah membuat diagram ladder. Tabel 6. Daftar alamat pada input dan output Addres Output Addres 000. Pada kasus di atas menggunakan alamat-alamat PLC jenis OMRON. Klik gambar closed contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.4 1. Perlu diperhatikan bahwa sistem di atas memiliki input dan output (i/o) sebanyak tiga bagian dengan dua input dan satu output. 2.00 000. sedangkan output berupa pompa air. Diagram ladder Contoh pembuatan diagram ladder pada progam computer jenis syswin 3.01 Pompa air 001. Input terdiri dari sensor 1 dan sensor 2. Tempatkan pada work area.00 Input Sensor 1 Sensor 2 Internal relay 010.

01). 6. sehingga akan muncul form dialog.00 7. 5. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol. Tempatkan pada work area baris kedua blok pertama kemudian muncul form dialog bok untuk pengisian addres / alamat 613 . 8. sesuai dengna ladder yang telah kita tentukan yaitu 010. kemudian Klik pada blok kedua yang kita buat (alamat 000.Tempatkan pada area kerja. kemudian masukan alamat / addres yang berbeda dengan address sensor .4. setelah terlihat gelap klik pada vertical line dan klik pada blok kedua baris pertama sehingga akan timbul garis penghubung ke bawah. Klik pada selection tools. Klik symbol atau open output pada toolbar symbol sebelah ladder kedua. Isikan alamat output. 9. Klik kembali closed contact pada toolbar simbol dan Klik pada work area samping ladder pertama.

4 dapat disesuaikan dengan contoh program syswin di atas.30 membunyikan alarm yang menandakan karyawan untuk masuk bekerja bersaman dengan alarm yang berbunyi lampu dalam kantor dan lampu ruang kerja secara otomatis akan menyala dan lampu llingkungan perusahaan akan padam.01 Lampu ruang kantor 000. 11. open contact disini berfungsi sebagai internal relay sebagai proses latching atau self holding.30 Table 7.30 Jam 16.02 Lampu ruang kerja 000. Kemudian pada pukul 11. Isikan alamat yang sama dengan output yaitu 01.30 Jam 17. 3. Alamat input dan output PLC Alamat Output 000.4 Alarm dan sistem penyalan lampu Suatu pabrik tiap pukul 07.30 sebagai tanda jam bekerja telah berakhir.30 alarm berbunyi untuk waktu istirahat dan pukul 12.00.03 010.30 Jam 11. Alamat input di tentukan dengan waktu dan alamat output di hubungkan dengan lampu dan alarm. Alarm akan berbunyi lagi pada pukup 16. Input Jam 07.00 Alarm 000.10.02 010.03 Lampu lingkungan 000.30.01 010.30 alarm berbunyi tanda masuk kembali. Pengaplikasian pada program syswin 3.18. masukan Function END pada bris terakhir.04 Pada tabel di atas kita menjadi mengerti alamat masing masing input dan output PLC.30 Jam 12. 614 . Lampu lingkungan perusahaan akan menyala pukul 17.00 010.04 Alamat 010.

00 000.03 END Gambar 49. Diagram Ladder aplikasi sistem alarm 615 .04 000.02 000.03 000.01 000.02 000.01 000.00 000.05 000.03 000.01 001.00 000.00 000.000.03 010.05 T000 #50 010.04 000.

Programmable Logic Controllers (PLC) Pada dasarnya PLC (Programmable Logic Controllers) merupakan sistem relay yang dikendalikan secara terprogram.. Dalam sebuah program tentunya mempunyai cara atau perintah-perintah khusus. Device masukan program berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan atau mengisikan program ke dalam prosesor PLC yang disebut dengan pengisi program (program leader).. PLC dilengkapi dengan port masukan (inputport) dan keluaran (outputport). PLC terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). jadi otomasi menghemat tenaga manusia. Device masukan merupakan perangkat keras yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada modul masukan. or dan not or. out dan out not. Cara kerja PLC dapat dilihat pada diagram berikut : . and dan not and. Modul masukan adalah bagian dari sistem PLC yang berfungsi memproses sinyal dari device masukan kemudian memberikan sinyal tersebut ke prosesor. or load.. Rangkuman IX Otomasi adalah mengubah penggerakan atau pelayanan dengan tangan menjadi penggerakan oleh tenaga asing (tanpa perantaraan tenaga manusia) secara otomatik. timer dan counter.4.. Instruksi-instruksi dasar PLC adalah load dan load not. 1. and load. Ladder logic adalah bahasa program dengan bahasa grafik atau bahasa yang digambar 616 .

Berikan contoh penggunaan sistem PLC selain contoh-contoh di atas. modul keluaran sebagai sakelar yang menyalurkan catu daya dari catu daya luar ke device keluaran. 5. Device keluaran adalah komponen-komponen yang memerlukan sinyal untuk mengaktifkan suatu komponen. Sebutkan perangkat-perangkat keras PLC dan jenis-jenis PLC berdasarkan IO yang dimiliki? c. Soal Formatif a. Gambar diagram leadernya dan jelaskan cara kerja sistem tersebut? 617 . Sebutkan dan jelaskan instruksi-instruksi dasar pada PLC ! b.secara grafik.

618 .

Robot siap menggantikan tenaga manusia Fenomena tersebut semakin dirasakan oleh dunia industri yang mengandalkan pada tenaga kerja masal. emosi yang labil. dengan diciptakannya mobil. Kenyataan dilapangan menunjukan bahwa penggunaan tenaga kerja masal memiliki beberapa kelemahan.BAB X TEKNOLOGI ROBOT 1. selanjutnya menggunakan hewan. tidak menunutut gaji tinggi dan tidak akan demo menunutut kenaikan gaji/upah buruh. demonstras i. seperti. lelah. kesehatan. Pengenalan Robot Kemajuan sains dan teknologi dewasa ini telah dirasakan membuat kualitas hidup manusia semakin baik. maka orang cukup dengan duduk dan mengendarai susuai dengan keinginannnya. dan menuntut upah besar. dan j sebagainya. Awalnya industri tertarik pada ongkos tenaga kerja yang murah. antara lain: a) memiliki keterbatasan yang manusiawi. Dahulu orang bepergian dengan berjalan kaki. Meningkatnya kebutuhan manusia telah berupaya berfikir bagaimana agar pekerjaan yang selama ini dikerjakan oleh manusia dapat digantikan oleh mesin yang dapat bekerja 24 jam. enuh. Teknologi yang dapat berkembang biasanya teknologi yang dapat mempermudah kehidupan manusia. Tenaga kerja menjadi andalan bagi kelangsungan proses produksinya. selain tenaga kerja manusia tersedia dalam jumlah banyak juga industri tidak perlu membeli mesinmesin yang harganya sangat mahal. tidak mengenal jenuh. Penggunaan tenaga kerja manusia juga memiliki resiko pemogokan masal. Tenaga kerja juga memiliki keterbatasan yang bersifat manusiawi seperti 619 . Gambar 1.

pengelasan. Kemudian diawal abad ke 20 ilmuwan Cekoslowakia.istirahat yang cukup. Adapun beberapa istilah yang dimaksud antara lain: 620 . Di bidang sosial robot banyak membantu sebagai pengganti bagian tubuh yang mengalami kecacatan fisik. elektrik. Belajar dari kelemahan-kelemahan di atas maka manusia terpacu untuk membuat mesin yang dapat menggantikan fungsi tenaga kerja manusia. peleburan. baik secara mekanik. Sebagai contoh dalam industri nuklir. Robot dapat digunakan secara rutin terus menerus tanpa merasakah kebosan atau digunakan pada lingkungan yang sangat berbahaya. pneumatik hingga berkembang menjadi robot-robot industri. menggeser. Menurut National bureu of Standar robot adalah Aplikasi robot sebagian besar pada bidang industri bertujuan untuk meningkatkan produktivitas produksi. robot harus digunakan karena radiasi nuklir sangat berbahaya bagi manusia. Kelemahan tersebut akan berdampak pada kualitas dan kuantitas produk terganggu. yaitu dari k ata robota yang berarti tenaga kerja/buruh. Sehingga untuk mempelajari bagian selanjutnya kita tidak akan menemukan kesuilitan untuk mendefinisikan. seperti mengangkat. pergi ke Toilet dan berbagai keperluan yang bersifat pribadi. bidang kedokteran sebagai peralatan operasi otomatis. Gambar 2. pengecatan dan telah digunakan pada bidang militer sebagai peralatan penjinak bom. mengelas dan lain-lain. Penggunaan robot pada sebuah laboratorium 1. Istilah robot berasal dari rusia. Robot digunakan pada industri perakitan. Karel Capek (1890-1938) memperkenalkan istilah robot dengan membuat seperangkat mesin yang diberi nama Rosum’s Universal Robots (RUR). Peralatan tersebut berkembang secara pesat.1 Istilah Robot Sebagai pemahaman awal maka perlu diketahui beberapa istilah dasar dari robot.

dan Power (daya). suku cadang (part). Kontroler membentuk sistem kontrol yang akan menentukan input dan output suatu robot. sehingga suatu peralatan tidak dapat mengenali kesalahan sebagai pembanding kerja selanjutnya.Robot : Kontroler : Manipulator : Joint Open loop : : Peralatan yang dapat diprogram ulang. tetapi sifatnya tidak harus ada. peralatan atau peralatan khusus Suatu peralatan yang bertugas sebagai penendali dari gerakan robot.1 Manipulator Manipulator memiliki dua bagian. melipat. Feedback digunakan pada close loop (lup tertutup) 1. Komponen dasar manipulator robot 621 . memilki banyak fungsi yang didesain untuk memindahkan material.2 Komponen Dasar Sistem robot memiliki tiga komponen dasar. manipulator terdiri dari beberapa segmen dan sambungan (joint). Apendage Apendage Base Gambar 3. Joint atau sambungan merupakan hubungan antara lengan (arm) dengan lengan yang lain sehinga dipisahkan oleh sumbu (axis) Lup terbuka adalah suatu sistem kontrol yang tidak memiliki feedback atau umpan balik. yaitu : Manipulator. yaitu bagian dasar dan bagian tambahan. kontroler. Lengan yang memberikan gerakan robot untuk memutar. Gambar 3 memberikan gambaran tentang bagian dasar dan bagian tambahan. Gerakan ini di sebut dengan derajat kebebasan robot atau jumlah sumbu yang ada pada robot. 1. menjangkau objek.2. Efektor sering ditemukan pada beberapa sistem robot.

Dahulu kontroler dibuat dari drum mekanik yang bekerja step by step secara sequential. Kontroler menyimpan informasi yang berkaitan dengan data-data robot. Actuator bisa menggunakan elektrik.2 Kontroler Kontroler merupakan jantung dari sistem robot sehingga keberadaanya sangat penting. dan sangat sederhana. hidrolik ataupun pneumatik. Kontroler sendiri diatur oleh sebuah informasi atau program yang diisikan dengan menggunakan bahasa pemgrograman tertentu.2. dalam hal ini data gerakan robot yang telah diprogram sebelumnya. Manipuator digerakkan oleh actuator atau disebut sistem drive. 1. Bagian actuator ini akan dijelaskan pada selanjutnya. memberikan gambaran sebuah kontroler dan manipulator robot. Bagian tambahan merupakan perluasan dari bagian dasar. bisa disebut juga lengan/arm.Bagian dasar manipulator bisa kaku terpasang pada lantai area kerja ataupun terpasang pada rel. Robot dan kontroler 622 . Informasi tersebut kemudian disimpan didalam memori. Rel berfungsi sebagai path atau alur sehinga memungkinkan robot untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam satu area kerja. Gambar 4. Gambar 4 . Kontroler berfungsi untuk mengontrol pergerakan dari manipulator. Dimasa sekarang kontroler menggunakan PLC (programmable logic kontrol) yang dapat bekerja dengan pergerakan yang sangat kompek dari sistem robot. Data dalam memori dapat di keluarkan atau di edit sesuai dengan yang dibutuhkan. Actuatuator atau sistem drive menyebabkan gerakan yang bervariasi dari manipulator. Bagian ujungnya terpasang efektor yang berfungsi untuk mengambil/mencekam material.

yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. Catu daya pneumatik Gambar 5b. 5b dan 5c memberikan keterangan tentang power supply. Catu daya listrik 623 .1.2. pneumatik.3 Power Suply (Catu Daya) Power supply adalah sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat bekerja. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. Gambar 5a. Catu daya hidrolik Gambar 5c. hidrolik ataupun ketiganya. Gambar 5a. Bagian kontroler menggunakan elektrik sedangkan bagian manipulator bisa menggunakan elektrik.

maupun hydrolik. dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan. 624 . mengisi botol. Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot. penyemprot cat ataupun hanya berupa penjempit objek.4 Efektor Efektor dapat ditemukan hampir semua aplikasi robot. elektrik.2. walaupun keadaannya bukan merupakan komponen dasar dari sistem robot. pneumataik (grifer). Efektor robot Efektor jika disamakan dengan manusia seperti jari-jari tangan yang dapat digerakan untuk memindah/mengangkat materilal ataupun peralatan yang dapat digunakan untuk mengelas. Sebagai contoh efektor dapat berupa peralatan las. Kerja efektor dapat berupa mekanik. Gambar 6. menempa. mengecat.1.

3 Gerakan Robot Gerakan robot dapat diklasifikasikan menjadi dua.1. Gambar 7. 625 .4 Tingkatan Teknologi Robot memiliki tiga tingkatan/level teknologi. base travel dapat dikategorikan kedalam lup terbuka sehingga tidak ada feedback dalam sistem. Secara sistem kontrol. b. Base manipulator jenis kaku 1. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri yang sangat unik sehingga sangat jelas perbedaan antara ketiga level tersebut. yaitu a. Sumbu (axes) Karakteristik pertama dari teknologi robot adalah seberapa banyak sumbu yang dapat ditemukan dalam sebuah robot. yaitu gerakan base travel dan gerakan axes kontrol. Gerakan base travel dapat di aplikasikan ke dalam base manipulator yang kaku pada lantai ataupun bebas dalam alur (path). Sumbu ini akan menentukan derajat kebebasan atau kebebasan bergerak dari robot. medium teknologi dan teknologi tinggi (high technology). Axes kontrol menggunakan feedback sehingga gerakannya tergantung dari gerakan terakhir dan umpan balik sistem.. yaitu: Rendah (low) teknologi. Tingkatan teknologi robot dapat dibedakan dengan mengetahui karakteristik masing-masing robot. Payload (muatan) Payload adalah kapasitas beban yang dapat dikerjakan oleh manipulator. Semakin berat beban yang dapat dikerjakan oleh manipulator maka semakin tinggi teknologi robot. Kapasitas berat diukur dari batas antara efektor dan manipulator.

e. Aktuasi Aktuasi dibedakan menurut jenis penggerak yang digunakan oleh robot.1 Low Teknologi Robot teknologi rendah (low technology) digunakan dalam lingkungan industri untuk pekerjaan yang tidak memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. yaitu x-0. Sumbu gerakanya bisaanya naik dan turun. Sampai pada kerja yang ke 1000 robot mulai kehilangan akurasi 0.001. hydrolik dan elektrik). y dan z yang sama pula. f. Masing masing tergantung dari payload yang di kerjakan pada robot. y dan z. Siklus waktu akan mempengaruhi kecepatan dari proses produksi suatu industri. dan operasi perakitan. operasi tekan. Apabila suatu robot melakukan kerja pertama dengan posisi pada bidang kartesian x. d.025 mm. Sedangkan sistem kontrol dapat dibedakan antara loop terbuka dan loop tertutup yang masing masing akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Bisa berupa pneumatik. Semakin besar informasi yang dapat disimpan dalam memori maka semakin tinggi teknologi robot. Siklus waktu tergantung pada payload dan panjang dari lengan manipulator. § Axes Robot hanya memiliki maksimal 4 sumbu gerakan dan bisaanya gerakan akhir dikontrol oleh mekanik bukan sensor yaitu bisa berupa limit switch. hidrolik atau elektrik. Robot ini memiliki hanya satu pekerjaan khusus secara terus menerus.4. § Akurasi Berkisar antara 0. § Payload Robot teknologi rendah memiliki kapasitas beban diantara 3 – 13 kg. Akurasi (ketelitian) Akurasi adalah posisi robot dalam melakukan kerja secara berulang kali. semakin pengggerak (drive) memiliki payload yang besar maka semakin tinggi teknologinya. Cycle time (siklus waktu ) Siklus waktu adalah waktu yang dibutuhkan oleh robot untuk bergerak dari lokasi satu ke lokasi lainnya.001 mm pada bidang kartesian x. Aktuasi berkaitan dengan payload. y dan z secara berulang kali. Kerja selanjutnya robot melakukan kerja dengan bidang kartesian x. Kontroler Dua hal yang penting dari kontroler adalah memori dan sistem kontrol. § Aktuasi dapat menggunakan 3 dari penggerak (pneumatik. Semakin tinggi siklus waktu yang dimiliki robot maka semakin tinggi tingkat teknologi. 626 .c. seperti pada material handling (penanganan material). 1.05 sampai 0.

Didalam wrist bisa diletakkan bermacam macam efektor.4. Robot dapat menangani beban melalui wrist sampai 150 kilogram. Robot jenis medium teknologi memiliki sumbu yang lebih 627 . Pada gerakan berputar dapat mencapai 150 centimeter / detik. press (tekan) dan sebagainya.2 Teknologi Medium Robot dari jenis ini memiliki fitur yang lebih canggih dari jenis sebelumnya. Robot low technology 1. sebagai contoh. efektor las. § Payload Robot memiliki memiliki kapasitas maksimal beban yang lebih tinggi dari low teknologi.0 detik dengan pencapain gerakan manipulator 25 sampai 65 centimeter. Hubungan antara akurasi dengan kerja yang komplek menimbulkan tingkat akurasi yang menurun. Memiliki lebih banyak sumbu pada manipulatornya dan memiliki area kerja yang luas sehingga jangkauan gerakannya menjadi lebih besar. Open loop tidak bisa mengendalikan kesalahan yang terjadi dalam lingkungan karena tidak memiliki umpan balik (feedback).§ Kontroler Menggunakan sistem kontrol terbuka (open loop) dan memiliki kapasitas memori yang kecil. Dilengkapi dengan wrist pada ujung lengannya. Payload Sumbu Kontroler Gambar 8. Robot jenis ini memiliki tugas yang lebih komplek dan adanya wrist dapat meningkatkan Cycle time operasi robot. § Sumbu Robot memiliki 4 sampai 6 sumbu sehingga derajat kekebasan robot lebih tinggi. cat. Wrist adalah suatu peralatan sebagai dudukan dari efektor. § Cycle Time Cycle time 1.

3 milimeter. Robot dalam proses manufactur 628 . Robot las pada jalur perakitan Gambar 10.2 milimeter hingga mencapai 1. Memiliki memori yang cukup besar dan sistem kontrol menggunakan loop tertutup. Akurasi robot jenis medium teknologi berkisar 0. sehingga apabila ada kesalahan pada lingkungan maka robot dapat membandingkan antara input dan output untukmenentukan kerja selanjutnya Gambar 9. Hal tersebut disebabkan beban yang dikerjakan lebih berat.§ Aktuasi § Kontroler banyak karena tugasnya yang semakin komplek sehingga akurasi dan pengulangan pergerakan bernilai lebih rendah dari jenis robot teknologi rendah yang memiliki sumbu sedikit. Robot memiliki 2 jenis penggerak yaitu hidrolik dan elektrik.

Manipulator bergerak dalam jangkauan area tertentu yang disebut dengan kerja jangkauan. Hidrolik dan Elektrik elektrik Memori rendah. Secara ringkas data dari jenis teknologi robot dapat di rangkum dalam table berikut dibawah ini : Tabel 1. Bagian ini akan menjelaskan tentang operasi dan fitur dasar dari manipulator yaitu gerakan sumbu lengan.3 Robot Teknologi Tinggi Robot dengan teknologi tinggi dapat kita temui pada material handling. Operasi dan Fitur Manipulator Bagian sebelumnya telah kita definisikan tentang komponen dasar robot. Elektrik dimaksudkan mudah dalam menentukan posisi sedangkan hidrolik dimaksudkan untuk tugas yang sangat berat. bisa berupa pneumatik.4 Hidrolik dan elektrik Memori besar. silindrikal. Properties teknologi robot Rendah Medium 2–4 5–6 3 – 13 14 – 150 5 . hidrolik.0 2. – 0. Masing-masing komponen harus ada pada sebuah sistem robot agar robot dapat bekerja dengan baik. manipulator. dan sumber power .0 0. jangkauan area dan penghubung Geometri lengan manipulator dibagi menjadi empat sistem koordinat yaitu: kartesian koordinat. Masing masing penggerak (drive) memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing. 629 .1. silindrikal koordinat dan artikulasi koordinat. polar koordinat. wrist.4.3 Pneumatik. Memori open loop sedang. lup tertutup Tinggi 7 – 16 150 lebih 1. press transferring. penggerak. Robot jenis ini memiliki sumbu hingga mencapai 16 atau bisa melebihi. Kerja jangkauran manipulator dihitung dengan kebebasan mutlak atau tidak adanya penghalang.05 – 0025 2 – 1. Masingan …. Gerakan tersebut diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian. lup tertutup Sumbu Payload Cycle time Akurasi Aktuasi Kontroler 2. Memiliki payload sampai 150 kilogram dan cycle time dan akurasinya hampir sama dengan robot jenis medium. hidrolik dan elektrik. polar d artikulasi koordinat. Manipulator digerakan oleh penggerak.10 1. Tipe aktuasi dengan menggunakan penggerak elekrik dan hidrolik. pengecatan. 2. yaitu : kontroler.1 Sistem Koordinat Lengan Robot (Arm Geometry) Sumbu robot bergerak dalam rangka untuk menyelesaiakan suatu kerja. pengelasan.

diawali dengan rotasi selanjutnya lengan robot bergerak translasi dan translasi (lihat gambar 13). Sitem pergerakan lengan robot dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian. translasi (RTT). Sistem Persumbuan Robot Gambar 12. Gambar 11. b) gerak rotasi. semua gerakan lengan dalam bentuk lurus (lihat gambar 12). dan 14). Gerak Robot Total Translasi (TT) 630 . robot ini dalam setiapgerakannya selalu melakukan rotasi pada lengan-lengannya (lihat gambar 11. a) translasiara lain: gerak full translasi (FT). translasi.masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator. Pergerakan ini disebut dengan geometri lengan (arm geometry). c) gerakan lengan robot full rotasi (FR). antara lain:.

Gerak Robot Rotasi. 631 .Translasi. Gambar 15. menjelaskan tentang tiga sumbu dasar pada sistem koordinat kartesian.1. Translasi (RTT) Gambar 14.Gambar 13. masing-masing bidang tersebut dihubungkan dengan gerakan lengan manipulator dari titik awal sehingga akan membentuk suatu titik tertentu dengan gerakan lurus vertical maupun horizontal. Y dan bidang Z di identifikasi sebagai gerakan manipulator.1 Koordinat Kartesian Sesuai dengan sudut pandang matematika. Manipulator bergerak melalui ruang hanya melalui bidang X. X. . koordinat kartesian di kenal dengan tiga sumbu dasar. Translasi (RTT) 2. bidang X bidang Y dan bidang Z. Y dan Z sebagai sarana untuk mencapai target. Gerak Robot Full Rotasii.

Gerakan tersebut disesuaikan dengan kerja robot. mundur) dan vertica l(naik. Aplikasi koordinat kartesian 2. ? (theta) atau gerakan rotasi biasanya memiliki sudut 3000. Bidang Z membentuk gerakan naik dan turun atau vertical.2 Silindrikal Koordinat Koordinat silinder membentuk tiga derajat kebebasan atau tiga sumbu yaitu ? (theta) atau sumbu rotasi.1.Gambar 15. Daerah ini berfungsi sebagai operasi keamanan robot apabila terjadi kesalahan gerakan. sehingga tidak menimbulkan kerusakan akibat benturan. turun). 632 . sisa sudut 600 disebut dead zone atau daerah mati. Masing masing gerakan tersebut membentuk volume silinder sehingga disebut koordinat silinder. sedangkan R membentuk gerakan horizontal atau maju dan mundur. Pada sebagian aplikasi koordinat silindrikal yang diterapkan pada sistem robot. Bidang R dan bidang Z membentuk gerakan horizontal (maju.

3 Koordinat Polar Koordinat polar memiliki tiga sumbu yaitu ? (theta) atau gerakan rotasi. Prinsip Koordinat silindrikal dan aplikasinya 2. Gambar 17 menunjukan gerakan sumbu polar. Apabila antara theta dan beta dibalik posisi. yaitu sumbu beta diletakan berbatasan dengan base manipulator dan maka sumbu R akan menjadi sumbu Z atau bergerak secara vertical Gambar 17. Sumbu ? (theta) dan sumbu R memiliki persamaan sumbu ? ( theta) dan sumbu R pada koordinat silindrikal. gerakan ß (beta) atau gerakan melingkar dan sumbu R gerakan horizontal. Prinsip koordinat polar dan aplikasinya 633 . Sistem koordinat ini juga disebut sebagai sistem spherical atau sistem bola karena jangkauan area dari robot membentuk volume bola.1.Gambar 16.

2. sehingga untuk sistem robot yang membutuhkan muatan yang besar. hidrolik dan elektrik. Pada hidrolik menggunakan 634 .1. Penggerak ini bekerja hampir sama dengan pneumatik.2 Penggerak Hidrolik Penggerak hidrolik digunakan 45 % dalam industri robot. Penambahan dari sumbu pada wrist ini memberikan pergerakan yang sangat fleksibel untuk robot. terdapat 30% penggunaan sistem penggerak pneumatik.4 Koordinat Artikulasi Koordinat artikulasi adalah koordinat yang terdiri dari tiga sumbu yaitu : ? (theta).1 Penggerak Pneumatik Dalam industri robot. sehingga apabila gerak rotasi antara sumbu U dan sumbu W digabungkan akan membentuk gerakan yang sangat fleksibel. penggerak ini tidak dapat digunakan. Masing-masing gerakan memiliki keterbatasan.3. sumbu W (lengan atas) dan sumbu U (siku). Penambahan wrist juga meningkatkan luar area jangkauan robot. 2. Pada bagian atasnya terdapat sumbu W yang bergerak rotasi vertical. Maka penambahan wrist (pergelangan tangan) pada ujung lengan memberikan tambahan mobilitas untuk gerakan robot. Masing-masing sumbu bisa dibuat ganda. Sumbu U berputar vertikan seperti sumbu W. Kelemahan dari sistem penggerak ini adalah terbatasnya jumlah muatan / payload yang dapat diterima. 2. perbedaanya terletak pada fluida yang digunakan. Pneumatik digunakan untuk menggerakan sumbu dengan mengalirkan udara bertekanan. sehingga koordinat ini menjadi lebih fleksibel dan banyak digunakan dalam industri.3 Sistem Pengerak Manipulator Untuk bisa beroperasi / bergerak maka manipulator membutuhkan sistem penggerak. Koordinat ini memiliki 2 sumbu yang dapat melipat yaitu pada sumbu W dan sumbu U. Sumbu W memberikan pergerakan seperti sumbu ß (beta) yang terdapat pada koordinat polar. yaitu : pneumatik.2. Sistem pneumatik ini lebih murah dibandingkan dengan sistem penggerak hidrolik maupun elektrik. Dalam mendesain wrist tergantung pada kebutuhan aplikasi robot. pada sistem robot terdapat tiga jenis sistem penggerak.3. Koordinat artikulasi yang memiliki gerakan rotasi yang dihasilkan dari sumbu ? (theta).2 Rotasi Wrist Dari keempat koordinat sistem yang telah kita pelajari menjelaskan tentang gerakan manipulator dalam sistem robot. Udara tersebut masuk ke dalam silinder pneumatik dan menggerakan mekaniknya. sebagai contoh desain wrist dengan dua roll dan tidak memiliki pitch atau dua pitch dan satu dua roll dan dua yaw. 2.

maka fluida/cairan akan mengotori lantai dan dapat menyebabkan kondisi yang tidak aman. jangkauan kerja koordinat silindrikal adalah silindrikal. Penggunaan motor stepper atau motor langkah dapat memberikan akurasi kerja robot. Motor ini dihubungkan ke sumbu manipulator dengan memakai gigi reduksi untuk mengurangi jumlah putaran. 2. apabila terjadi kebocoran pada sistem. sedangkan jangkauan kerja koordinat artikulasi adalah bentuk cabikan (tearshape).4 Jangkauan Kerja Hal yang paling penting untuk diketahui adalah seberapa jauh robot dapat menjangkau objek. Manipulator penggerak hidrolik digunakan pada aplikasi las. jangkaun kerja koordinat polar adalah bola (spherical).cairan (minyak) untuk menggerakan silinder hidrolik.karena menggunakan sistem derajat pada putarannya. 635 . sehingga dapat meningkatkan jumlah beban. 2. Kedua. Gigi reduksi juga berfungsi untuk meningkatkan tenaga putaran yang dibutuhkan robot.3 Penggerak Elektrik Penggerak elektrik menggunakan motor AC maupun DC. Silinder terhubung dengan sumbu manipulator sehinnga timbul gerakan pada actuator. Masing masing jangkauan kerja berbeda tergantung dari koordinat geometri yang pernah kita pelajari terdahulu. Gambar di bawah ini menunjukan jangkauan kerja dari sistem koordinat artikulasi pandangan samping. Koordinat kartesian memiliki jangkauan empat persegi pangjan (rectangular). Penggunaan sistem penggerak hidrolik memiliki dua kerugian. pengecoran dan pengecatan. Jangkauan kerja membentuk cabikan seperti bulan sabit. Penggerak elektrik dapat bekerja dengan beban dengan berat sekitar 3 sampai 80 kilogram.3. Pertama. hal ini terjadi karena desain robot memiliki fungsi yang komplek pada bagian bawah dibandingkan dengan baign atas. Pencapaian robot dalam menjangkau objek disebut dengan jangkauan kerja. sistem ini memiliki harga yang sangat mahal. Penggerak hidrolik mempunyai kemampuan lebih besar dari muatan yang dapat diterima oleh penggerak pneumatik.

Jangkaun kerja koordinat silindrikal Gambar di bawah menunjukkan jangkauan kerja sistem koordinat melalui pandangan atas. Daerah mati atau 636 . sehingga jangkauan kerja antara kanan dan kiri membentuk sudut 142.50. Robot pada contoh tersebut memiliki titik awal pada ketinggian 700 milimeter di atas lantai dan memiliki jangkauan kerja atas setinggi 500 milimeter. Jangkauan kerja membentuk sudut 2850 dengan titik awal pada 00. Jangkauan kerja koordinat silindrikal pandangan atas Gambar di bawah menunjukkan jangkauan kerja dari sistem koordinat silindrikal pandangan samping.Gambar 18. Gambar 19. Dapat kita lihat deadzone (daerah mati) terletak pada bagian belakang robot dan membentuk sudut 750.

dead zone merupakan daerah yang tidak bisa dikerjakan oleh operasi robot. daerah mati sebesar 600. Gambar 20. Jangkauan kerja sisi atas 3. Aplikasi Robot Terdapat banyak aplikasi robot kita temukan di dunia industri. Robot memiliki jangkauan kerja sebesar ±1500. Mulai …. Gambar 21. Jangkauan kerja robot sisi samping Gambar di bawah memperlihatkan jangakaun kerja robot sisi atas. bahkan sebagian besar industri sudah menerapkan teknologi ini. 637 . jangkauan kerja sumbu R. ke arah depan sepanjang 500 milimeter.

robot akan mendeteksi setiap material yang melewati ataupun menyentuh sensor. robot digunakan sebagai peralatan yang berfungsi untuk bekerja secara terus menerus dan berulang dengan model yang sama. Penerapan robot pada proses material handling sangat menguntungkan dari segi waktu dan akurasi. Material tersebut harus berpindah dengan posisi yang tepat dan dalam waktu yang tepat pula. Proses ini memindahkan material dari satu lokasi ke lokasi lainya. Aplikasi di atas sebelum ditemukannya sistem robot. Robot las pada industri kendaraan bermotor melakukan pengelasan pada t tik-titik tertentu secara terus-menerus i tanpa rasa kebosanan dan sakit seperti halnya manusia. Beberapa robot yang dilengkapapi dengan sensor. Bila terjadi keterlambatan waktu dalam pemindahan material maka material yang lain akan menumbuk dibelakang material sebelumnya. Contoh aplikasi material handling adalah ketika sebuah material yang berjalan pada konveyor setiap beberapa detik harus dikeluarkan dan ditempatkan pada lokasi yang berbeda. Material handling/penanganan material sering dilakukan pada semua jenis industri. Robot material handling Pada gambar diatas menunjukan operasi material handling pada sebuah area kerja. Robot seperti ini memberikan manfaat pada tempat yang memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi. Konveyor memindahkan material dari lokasi 638 . 3. robot digunakan sebagai perubah batang uranium sehingga tidak menimbulkan radiasi pada manusia. Area kerja Gambar 22. menggunakan tenaga manusia sehingga kurang efektif dan efisien.dari industri perakitan.1 Penanganan Material Salah satu aplikasi yang paling banyak digunakan dalam indsutri adalah proses dimana material-material harus dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainya. Pada reaktor nuklir. Proses tersebut dinamakan material handling atau penanganan material. Robot berfungsi memindahkan material tersebut dengan waktu yang akurat pada lokasi yang tepat.

Robot memindahkan lokasi material dari lokasi konveyor lama menuju konveyor baru yang akan diproses pada area kerja yang lain. Gambar 23 menunjukkan proses palletizing Gambar 23. Pada palletizing. Pada gambar tersebut juga diperlihatkan tentang jangkauan robot pada material. 3.2 Line Tracking Berbeda dengan palletizing. posisi base manipulator kaku.area kerja lain menuju area kerja sebuah robot material handling. robot material handling dengan tipe line tracking memiliki base manipulator yang dapat bergerak. Aplikasi robot material handling di bagi menjadi dua.1 Palletizing Palletizing yaitu apabila suatu robot dalam industri melakukan kerja dengan memindahkan material dari satu lokasi ke lokasi lainnya tanpa robot melakukan gerakan berpindah tempat. Gambar 24. Pergerakan manipulator tersebut bisa menggunakan mekanisme rel atapun roda. Robot palletizing 3. palletizing dan line tracking. tertanam pada lantai ataupun pada posisi yang tidak dapat berubah posisi.1. Manipulator robot harus bisa menjangkau material dari konveyor untuk di pindahkan pada konveyor yang lain.1. Line Tracking 639 .

komponen yang akan dirakit harus lokasikan pada sekitar robot. Untuk melokasikan komponen tersebut. Robot telah mengetahui kemana akan pergi dan mengambil komponen. • Komponen dilokasikan dengan area tertentu. ada beberapa cara yang dilakukan robot untuk melakukan proses tersebut. Sistem visi dari robot digunakan sebagai sensor input untuk tujuan mengambil komponen. • Komponen dilokasikan pada posisi dan orientasi yang jelas. Gambar 25. yaitu dengan menggunakan robot. Fungsi ini sangat bermanfaat bagi industri karena lebih efektif dan efisien untuk mempercepat produksi. • Komponen dilokasikan pada posisi yang diketahui oleh robot. Dalam rangka melaksankan tugas perakitan. mur. Penggunaan proses ini secara manual dapat menimbulkan keadaan berbahaya. sekrup ataupun keling. yaitu : • Uap dan kabut pada udara. Robot perakitan dengan pelangkap kamera 3. Proses perakitan menggunakan baut. Cara ini.2 Perakitan Robot assembly menggabungkan beberapa komponen untuk menjadi komponen baru atau menggabungkan komponen sub assembly menjadi komponen sub assembly yang lebih kompleks.3. 640 .3 Pengecatan Sebagian besar produk industri dari material besi sebelum dikirim ke bagian penjualan harus terlebih dahulu dilakukan pengecatan sebagai akhir dari proses produksi. Cara ini mirip dengan cara kedua perbedaan terletak pada orientasi robot. robot menggunakan sensor untuk memberi petunjuk tentang lokasi komponen dan mengambilnya untuk diletakan pada lokasi baru. Teknologi untuk melakukan pengecatan ini dapat secara manual maupun secara otomatis.

penggunaan bahan dasar proses pengecatan menjadi lebih efektif. Oleh karena berbahayanya sistem pengecatan secara manual. produk porselin dan berbagai macam produk dalam industri. keracuanan dan sebagainya. maka penggunaan robot sebagai peralatan untuk prooses pengecatan merupakan alternative yang sangat bermanfaat bagi industri. Energy dibutuhkan untuk mengontrol proses ini sehingga dengan robot ini akan mengurangi penggunaan energi.• Bunyi dari nosel. • Konsisten dalam menyelesaikan pekerjaan. kabut hasil pengecatan akan mudah terhirup sehingga akan menimpulkan potensi kanker dari pekerja. kabut yang dihasilkan dari proses pengecatan merupakan materi yang mudah terbakar sehingga potensi untuk terjadinya kebakaran. alat penyemprot menghasilkan suara yang gaduh yang keluar dari nosel. Pada proses pengecatan manual. Hal tersebut dikarenakan tenaga manusia memiliki beberapa aspek yang dapat menyebabkan pekerjaan menjadi tidak konsisten seperti : kebosanan dan sebagainya. • Pemakaian energi yang rendah. Keutungan dari penggunaan robot pengecat adalah : • Mengganti operator dari lingkungan yang berbahaya. sehingga pertukaran udara menjadi lebih baik. Gambar 26. • Mengurangi pemakaian material cat. bodi kendaraan dan komponen lain pada bidang otomotif. • Potensi resiko kanker. Robot ini banyak digunakan pada produk industri seperti bodi mesin. Pada penggunaan robot ini. Jenis robot aplikasi dalam pengecatan 641 . Melakukan proses pengecatan secara manual memberikan dampak negative berupa kebakaran. ventilasi lingkungan harus dijaga dalam keadaan yang segar. Suara tersebut dapat menimbulkan gangguan pendengaran bagi telinga manusia • Resiko kebakaran. produk kayu olahan seperti mebel. perbandingan kualitas dari hasil pengecatan antara tenaga manusia dengan robot sangat kontras.

apalagi bila prosesnya terjadi secara terus menerus dengan proses yang sama. 642 .4 Pengelasan Robot pengelasan secara luas telah digunakan dalam industri. Robot ini dibagi menjadi jenis yaitu las busur dan las titik. hal ini dimaksudkan untuk menampung program kerja yang dapat dikerjakan pada berbagai macam produk. Gambar 27. Aplikasi pada robot pengelasan Keuntungan dari robot las adalah : • Produktifitas tinggi. • Kualitas yang sangat baik.Sebagian besar robot menggunakan manipulator dengan koordinat artikulasi yang memiliki enam sumbu sampai sepuluh sumbu. Robot ini menggunakan koordinat artikulasi yang memiliki 6 sumbu. Robot tidak akan mengalami kelelahan seperti halnya pada manusia. Berbeda dengan penggerak elektrik yang dapat menimbulkan hubungan singkat pada rangkaiannya sehingga motor listrik dapat mengalami kerusakan. pengelasan menggunakan las secara manual memiliki produktifitas yang rendah. dengan menggunakan aplikasi robot maka produktifitas akan meningkat. Sistem penggerak robot ini sebagian besar menggunakan penggerak hidrolik. Dengan memiliki sumbu banyak. peningkatan kualitas produk dihubungkan dengan akurasi y ang tinggi dan kerja yang tepat. hal ini dimaksudkan uap racun yang keluar dari cat tidak akan menimbulkan kerusakan pada penggerak sistem ini. penggunaan robot akan menghilangkan rasa ketidaknyamanan. robot dapat menjangkau berbagai area objek. 3. • Tingkat keamanan yang tinggi. Peningkatan ini disebabkan oleh factor kelelahan. Kontroler menggunakan memori yang cukup tinggi. Dengan menghilangkan sebab di atas yang sering terjadi pada proses las manual maka lingkungan pengelasan dengan menggunakan robot menjadi sangat aman. kelelahan dan lingkungan yang berbahaya.

643 . Efisiensi kerja penggunaan robot pada aplikasi pengecatan 4. …. sehingga penggunaan aplikasi robot akan meningkatkan kualitas hasil pengelasan. Efektor ini dipasang pada ujung manipulator atau pada wrist. Bisaanya efektor yang didesain secara khusus oleh industri sesuai dengan tujuan industri tersebut. yaitu : 4. Sehingga dalam menerapkan efektor pada sistem robot. sebagai fungsi dari robot. botol. Efektor Tujuan utama dari sistem robot adalah untuk melakukan kerja tertentu dalam industri. Penggunaan efektor yang bervariasi dalam industri dapat di bedakan menjadi dua bagian. Objek ini merupakan sebuah komponen yang akan dipindahkan o leh robot dapat berupa kertas. Efektor merupakan peralatan khusus untuk tujuan khusus. perlu pertimbangan khusus.Pada pekerjaan pengelasan busur secara manual dengan tenaga manusia tidak bisa dijaga akurasi dan konsistennya. bahan mentah dan peralatan-peralatan lain. Gambar 28. Efektor dapat juga diadaptasi dengan membeli secara komersil yang telah tersedia di pasaran untuk diterapkan secara langsung.1 Gripprer Gripper adalah sebuah efektor yang berfungsi untuk menggenggam dan menahan objek. Kerja ini dilakukan oleh sebuah manipulator yang dilengkapi oleh efektor.

yaitu : gripper tunggal dan gripper ganda. Bisaanya menggunakan finger/jari mekanik yang disebut dengan jaws. 4. gripper dapat diklasifikasikan menjadi dua. hidrolik dan elektrik. Jenis gripper menggunakan penggerak pneumatik.3. 4.2 Klasifikasi gripper Menurut jumlah peralatan penggenggam dan penahan.1 Gripper Mekanik Mekanikal gripper didesain untuk menggenggam dan menahan objek dengan memberikan kontak pada objek.Gambar 29. Sumber tenaga yang berikan pada gripper ini bisa berupa pneumatik. Aplikasi tangan menggunakan gripper mekanik 644 .3 Jenis Gripper 4. Gambar 30. masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai dengan tujuan dari sistem robot. Gripper tunggal diartikan bahwa hanya ada satu peralatan untuk menggenggam dan menahan yang dipasang pada wrist. Finger ini dapat dilepas dan dipasang sehingga sangat fleksibel pemakaiannya. Gripper ganda diartikan bahwa ada dua peralatan yang berfungsi sebagai penggenggam dan penahan objek yang dipasang pada wrist.

dan membuat tekanan negatif atau menghisap sehingga objek akan menempel pada mangkok. Persyaratan ini harus dipenuhi sehingga gripper ini dapat bekerja dengan baik. dibagi menjadi dua.4. Objek yang ditangani oleh jenis gripper ini adalah objek rata. bersih. Pembangkit kevakuman 3. Sistem vakum menghasilkan hisapan pada mangkok. Udara terkompresi 2. Mangkuk berbatasan dengan objek dan berfungsi untuk menggenggam dan menahan objek. yaitu pompa vakum dan 645 . Aliran 4. yaitu : mangkok dan sistem ruang hampa. Aplikasi griper vakum Mangkok vakum disebut juga mngkok hisap digunakan sebagai gripper yang berfungsi untuk mengangkat dan menahan objek. Mangkok terbuat dari karet. Contoh sistem vakum Keterangan gambar 28 : 1.3. dan halus.2 Gripper Ruang Hampa / Mangkok Vakum Gambar 31. mangkok Gripper jenis ini memiliki dua komponen. Gambar 32. Penyaring 5.

dari kecil hingga komponen yang besar. Gambar 33. 646 . maka kemungkinan besar akan tertarik. yaitu menggunakan electromagnet dan menggunakan maget permanen.sistem venturi. Lingkungan yang mempunyai daya ledak tinggi akan membahayakan arus listrik yang mengalir pada elektromagnet. sehingga menimbulkan kevakuman. Keuntungan menggunakan gripper magnetic adalah : • Ukuran komponen yang bisa bervariasi. Aplikasi gripper magnet Keuntungan permanen magnet adalah tidak dibutuhkannya arus tambahan yang berarti akan menghemat energi pada sistem robot. Permanen magnet sering digunakan pada penanganan material yang berada pada lingkungan berbahaya seperti ledakan. sehingga menimbulkan hisapan atau tarikan pada komponen yang akan di handel. Electromagnet menggunakan sumber arus dan lebih mudah untuk dikontrol dibandingkan dengan menggunakan magnet permanen. kemungkinan tertariknya material lain berasal dari besi. Pada gripper magnet menggunakan electromagnet saat menghisap dan melepas komponen yang akan ditangani menggunakan metode on dan off arus yang mengalir pada electromagnet. Pompa ini memberikan kehampaan yang tinggi dengan biaya yang murah dibandingkan dengan sistem venturi. Gripper magnetic dapat dibagi menjadi dua kategori.3 Gripper Magnetik Gripper magnet bekerja karena efek bidang magnet. Pompa vakum menggunakan piston (dengan menggunakan motor listrik) untuk membuat hampa udara. Berbeda dengan pompa vakum sistem venturi menggunakan sebuah nosel yang dilewati oleh udara. Kelemahan sistem ini adalah kesulitan pada pengontrolan. 4. Saat gripper mendekat pada komponen atau objek untuk menangkat.3.

Sedangkan. 647 .4 Sensor Robot Dalam melakukan kerja robot membutuhkan kemampuan untuk merasakan objek. Kalibrasi adalah suatu prosedur yang berhubungan antara variabel yang diukur dan sinyal output yang dirubah/ konversi sehingga hasil dari pengukuran sensor sesuai dengan keadaan yang nyata. Pada griper vakum tidak bisa menangani hal tersebut. yaitu : sinyal analog dan sinyak digital. yang memiliki panca indra. Sistem kerja griper menggunakan magnet 4. sehingga akan timbul kerja akibat dari informasi tersebut. Gambar 34. Sensor dan transduncer diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut bentuk sinyal yang dikonversi.3. tergantung dari jumlah gripper yang dipasangkan pada wrist.4 Sensor Dan Transducer Transducer adalah peralatan yang merubah variabel fisik seperti gaya. tekanan. Sensor tersebut akan menghitung dan menganalisis informasi yang diterima oleh robot. Setiap sensor harus dilakukan kalibrasi sebelum digunakan. Dapat menangani beberapa komponen. Seperti halnya pada manusia. temperatur.• • Mempunyai kemampuan untuk menangani logam yang berlubang. 4. kecepatan menjadi bentuk variabel yang lain. maka robot memerlukan sensor sebagai peralatan untuk mengukur. sensor adalah sebuah transducer yang digunakan untuk mengkonversi besaran fisik di atas menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa dengan rangkaian listrik tertentu.

Ketika 648 . Gambar 35. 4. Sensor non-kontak dapat berupa. Berbagai macam tipe limit switch 4.6 Sensor Non-Kontak Berbeda dengan sensor kontak. peralatan optik seperti LED (Light Emitting Diode) yang dipasang pada manipulator robot. sehingga akan mengaktifkan/menonaktifkan sensor. Contoh sederhana sensor ini dalam aplikasi robot dapat ditunjukan pada sebuah konveyor berjalan tegak lurus di depan robot dan sensor (limit switch). Sejajar dengan LED dipasang alat penerima atau receiver cahaya. perubahan tekanan dan perubahan elektromagetik yang disebabkan karena adanya objek yang bersinggungan dengan sensor. Sensor non-kontak mengukur perubahan temperatur. karena dapat digunakan bersama komputer digital dan sensor analog. Sensor digital adalah seuatu sensor yang memberikan output sinyal digital sensor digital ini lebih banyak digunakan dalam industri. Sensor akan mengirimkan sinyal elektrik menuju kontroler dan kontroler akan mengukur dan menghitung data informasi kemudian akan mengirimkan perintah kepada robot untuk melakukan kerja tertentu.5 Sensor Kontak Kontak sensor adalah sensor yang bekerja dengan sentuhan. Sinyal ini dapat di artikan nilai variabel fisik yang diukur. sensor non-kontak bekerja tidak d engan sentuhan objek ada.§ § Sensor analog yaitu suatu sensor yang memberikan sinyal analog seperti tegangan dan arus. Komponen yang berjalan pada sensor pertama kali akan menyentuh sensor. melainkan menggunakan radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh sensor.

Sensor non-kontak aplikasi warna Pada gambar di atas sebuah konveyor berjalan membawa material dengan berbagai macam warna. Gambar 37. Sensor telah memiliki warna tujuan yang tersimpan di dalam memori sensor. Apabila pancaran terhalang oleh material maka sinyal akan dikirimkan ke kontroler sehingga kontroller akan memberikan reaksi pada sistem. Apabila warna tujuan dikenali oleh sensor maka sensor mengirimkan sinyal kontroler sehingga tindakan segera dilakukan oleh manipulator. Akibat dari proses tersebut. Photoelectric Gambar di atas merupakan aplikasi dari sensor non-contact jenis photoelektrik. Data tersebut dikirim ke kontroler dan akan diproses.komponen atau objek yang melewati sensor tersebut akan sehingga cahaya yang keluar dari LED tidak bisa diterima oleh receiver. 649 . maka ada perubahan sinyal dari 0 (off) ke 1 (on). transmitter dan emitter. Transmiter memancarkan cahaya yang akan diterima emitter. Gambar 36. hasil proses ini akan dikerjakan oleh manipulator robot untuk melakukan tindakan tertentu. Terdapat dua bagian sensor.

Gambar 39. Transmitter menerima pancaran suara kembali dan menghitung jarak antara transmitter dengan material. Saat material menerima pancaran tersebut maka material akan memancarkan kembali ke transmitter. Sebuah kontroler/komputer melakukan tindakan pengambilan material ketika ketika sinyal dari sensor telah mendapatkan data.Gambar 38. Transmitter data Sebuah manipulator dilengkapi dengan infra merah dan mendeteksi material untuk dilakukan penanganan. 650 . Sensor jarak Sebuah transmitter suara dipancarkan pada sebuah material atau objek.

Aplikasi sensor non-contact menggunakan kamera dan laser Contoh lain dari sensor non-kontak adalah sensor kamera. apakah objek tersebut merupakan objek yang menjadi harapan kontroler atau tidak. memiliki tahanan R terdeformasi atau berubah bentuk. maka kamera akan mengirimkan data-data objek menuju kontroler. keteganan dapat dicari dengan perubahan tahanan ini. Ketika komponen atau objek yang berada tepat di bawah kamera. Selanjutnya keputusan kontroler akan dikirim ke manipulator untuk menentukan langkar kerja dari robot.Gambar 40. Tahanan/ resistance dicari dengan menggunakan dimensi dari sebuah kawat.7. Kawat akan menjadi lebih panjang dan menurun luasannya. Perubahan bentuk tersebut akan menyebabkan perubahan pada tahanan R. dan lebar w.1 Strain Gages Sensor ini mengukur ketegangan pada material dengan menggunakan perubahan tahanan pada sebuah kawat. Gambar 41. Apabila kawat memiliki panjang l. Data informasi tersebut akan diproses. Strain gages 651 . 4. tinggi t.7 Sensor Gaya Dan Momen 4.

8 Sensor Temperatur 4. Ketika kristal mengalami ketegangan jarak atom-atomnya pada kristal akan berubah.Pada strain gages terdapat dua bentuk susunan kawat.8. 4. Strain gages uniaxial Kawat susunan rossete disusun dengan horizontal. juga digunakan sebagai sensor tekanan. Kawat susunan rosette pada strain gages 4. Kristal ini berfungsi sebagai sensor gaya. dan proses kontrol serta proses lainnya dalam industri.2 Piezoelectric Sensor piezoelectric merupakan peralatan yang menggunakan prinsip efek piezoelektric untuk mengukur tekanan. kawat disusun searah dengan arah teganan. Resistive Temperature Detectors (RTD) menggunakan kawat yang 652 . sehingga temperatur dapat diukur menggunakan perubahan tahanan ini. Susunan ini menyebabkan kurang sensitive. Kejadian ini disebut piezoelectric. Perubahan ini akan menyebabkan perubahan kapasitas pada kristal.1 Resistive Temperature Detectors (Rtd) Ketika kawat dipanaskan maka tahanannya akan meningkat. Gambar 43. yaitu uniaxial dan rosette. Sensor ini digunakan sebagai kontrol kualitas. Pada susunan uniaxial. percepatan dan tegangan dengan merubah kedalam sinyal listrik. Sensor piezoelectric merupakan peralatan yang sangat bermanfaat untuk pengukuran dalam berbagai proses.7. Gambar 42 .

Tabel 2. Berbagai macam aplikasi RTD Keuntungan resistive temperature detector (RTD).dibungkus menggunakan bahan isolator (penghantar panas yang buruk) sebagai pelindung. Termokopel menggunakan dua metal yang berbeda untuk membangkitkan tegangan.8. sehingga untuk perubahan temperatur yang kecil kurang sensitif. RTD membutuhkan waktu relatif lama untuk respon balik 4. adalah : • • • • Tingkat akurasi yang tinggi Cocok untuk aplikasi dengan ketelitian yang tinggi Operasi kerja yang luas Penyimpangan kecil Keterbatasan RTD • • Dibandingkan dengan thermistor. 653 .2 Termokopel Setiap logam memiliki potensial alami. variasi temperature dan tahanan bahan Material Platina Nikel Tembaga Variasi Temperatur(oC) -200 – 850 -80 – 300 -200 . ketia dua logam yang berbeda bersentuhan satu sama lain maka akan timbul perbedaan potensial atau biasa disebut tegangan. nikel. Kawat sensor ini bisa dibuat menggunakan tembaga. Material.260 Tahanan (ohm) 100 120 10 Gambar 44. Tegangan inilah yang akan digunakan sebagai penentuan temperatur. RTD memiliki kepekaan yang kurang. atau paduan antara logam dan nikel.

Ini terjadi karena panas akan mengurangi gerak elektron pada semikonduktor.97 – 50. Ketika tahanan menurun maka maka temepratur akan meningkat.07 rhodium/platina 4..82 – 68.37. Jangkauan temperatue dan jangkauan tegangan Material Jangkauan Jangkauan temperature (oF) tegangan (mV) Tembaga / -200 – 400 -5. 654 .63 Platina-rhodium / 0 – 1450 0 – 16.74 Platina Tungsten0-2670 0 . Thermistor merupakan peralatan yang murah dan terbuat dari manik-manik atau permukaan logam.3 Thermistors Thermistor adalah sebuah peralatan yang memakai resistan/ tahanan untuk mengukur perubahan temperatur. Gambar 45. Peralatan ini memiliki respon yang cepat terhadap perubahan temperatur.28 Chromel / -200 – 900 -8.82 konstantan Besi / konstantan 0 – 870 0 – 42.78 konstantan Chromel / aluminium -200 – 1250 -5.60 – 17.8. sehingga temperatur dan resistan saling bertolak belakang. Aplikasi thermokopel Tabel dibawah ini menunjukan jenis logam dan jangkaun temperatur dan jangkauan tegangan dari bermacam jenis logam Tabel 3.

4.1 Pressure Tube tekana n senso r tekana n tekanan tekanan a) pipa bourden Gambar 47. kepadatan. Saat tekanan di dalam pipa lebih tinggi dari pada tekanan lingkungan maka pipa akan meluruskan posisi sensor yang terpasang pada ujung 655 . Thermistor 4.Gambar 46. dan sensor terpasang kaku. Tabung tekanan b) baffle Gambar di atas menunjukan aplikasi sensor tekanan. antara lain kecepatan aliran.9. Gambar (a) menunjukan gambar pipa bourden. kekentalan dan tekanan.9 Sensor Cair dan Gas Carian dan gas merupakan fluida yang di dalamnya bisa diukur dengan beberapa parameter.

Tabung pitot untuk mengukur aliran gas 656 . Sedangkan pada jenis baffle posisi sensor.9. Sensor tekanan Aliran fluida Gambar 48. Venturi 4. Aliran gas Tabung pitot penghubun g sensor Gambar 49. Pada bagian tengah terdapat bagian pipa yang dipersempit dan dihubungkan dengan pipa dengan diameter lebih kecil dan dipasang sebuah sensor atau tranducer yang akan mengetahui informasi tekanan.3 Pitot tubes Kecepatan aliran gas dapat diukur menggunakan apa yang dinamakan tabung pitot. Terdapat perbedaan tekanan antara bidang penyempitan dengan bidang sebelum penyempitan. 4. Tabung dengan diameter kecil ini dihubungkan dengan pipa ukuran lebih besar dan dihubungkan dengan tekanan. sehingga bida diperoleh data perbedaan tekanan tersebut.2 Katup Venturi Gambar di bawah ini menunjukan alat venturi.pipa dan akan menjadi panjang ketika tekanan naik. Ketika aliran fluida mengalir melewati sebuah pipa. terletak horizontal. pada bagian tengah terdapat penyempitan.9.

Dua bagian sisi yaitu sisi bagian atas dan sisi bagian bawah. Gambar 51.2 Encoders Encoder adalah sebuah peralatan menggunakaan sebuah cakram yang berlubang dan berputar. Cahaya akan diterima detektor bila cakram berada pada posisi lubang. Aplikasi tachometer 4. Porost Vout t magnet Gambar 50. Cahaya yang keluar dari emitter akan diterima oleh detektor dengan melewati cakram. Dengan sebuah poros. Prinsip kerja tachometer dengan pulsa listrik yang dihasilkan. 657 .4.1 Tachometer Tachometer adalah sebuah peralatan yang mengukur kecepatan putaran.10. Sisi bagian atas terdapat emitters yang mengeluarkan sinyal dan bagian bawah sebagai detektor sinyal.10 Sensor Jarak dan Sudut 4.10. Ketika magnet bergerak mengikuti putaran poros di bawah koil maka akan timbul induksi listrik. magnet dan sebuah koil. Setiap magnet berputar sekali maka akan timbul pulsa listrik pada koil.

Aplikasi encoder 4. Pada inkrimental encoder memiliki dua pulsa output yang berfungsi untuk menentukan jarak dan menentukan kecepatan. Arus AC dialirkan 658 . LVDT terdiri dari koil bagian tengan.light emitters light detectors Shaftotates r Note: this type of encoder is commonly used in com puter mice with a r oller ball.11.1 Linear Variable Differential Transformers (Lvdt) LVDT mengukur jarak linear dengan area yang terbatas. koil bagian kiri dank oil bagian kanan. Gambar 53. inti magnetik bagian dalam.11 Linear Position 4. Gambar 52. inti magnet bagian luar. Absolute encoder akan menghitung posisi dari poros untuk menentukan sudut poros. Cakram encoder Encoder memiliki dua jenis yaitu : absolute encoder dan inkrimental encoder.

12 Sensor Kimia 4. Rangkaian LVDT Pada LVDT terjadi tarikan ke arah bidang magnet.pada koil luar . Sehingga akan menginduksi koil bagian kiri. Sinyal keluar ini menunjukan posisi dari inti. LVDT juga digunakan untuk mengukur tekanan dengan menggunakan pipa Bourden. Batang Penggerak AC Gambar 54. 659 . Gambar 55. Kelemahan sensor ini adalah harga yang sangat mahal 4. sehingga menimbulkan kemagnetan inti. sensor ini menggunakan elektroda yang bersentuhan dengan fluida.1 PH Sensor ini dapat mengukur pH dalam jangkauan 0 sampai 14.12. Aplikasi LVDT Peralatan LVDT sangat akurat sebagai peralatan untuk menghitung jarak lurus. Saat koil bagian tengah tidak menerima induksi maka tidak ada tegangan yang keluar (sinyal keluar). Banyak digunakan dalam indsutri seperti mengukur dimensi sebuah komponen.

.1 Solenoids Solenoid merupakan aktuator yang terdiri dari koil atau gulungan kawat. Aktuator adalah sebuah peralatan yang menghasilkan gaya sebagai gerakan dari robot. perbedaannya terletak pada gerakan yang dihasilkan yaitu linear dan rotasi. Cara kerja solenoid ini hampir sama dengan motor (AC/DC).2 Conductivity Pemgukuran conductivity dikakukan secara langsung dengan menggunakan tegangan dua pelat yang digabungkan di dalam cairan dan sekaligus mengukur arus. katup hidrolik.12. katup pneumatik. 5.4. Prinsip kerja solenoid Solenoid banyak diterapkan pada industri seperti solenoid elektro-mekanik (AC/DC) . Saat tegangan dimatikan makan posisi inti besi akan kembali seperti semula karena tarikan dari pegas. inti besi sebagai piston gerak linier. Masing-masing sumber energi disalurkan menuju aktuator sehingga menghasilkan kerja untuk sistem robot. Pada gambar di bawah ini merupakan contoh aplikasi solenoid elektromekanik. 660 . Conductivity banyak diaplikasikan di bidang induksi frekuensi tinggi sebagai alternative. tegangan off tegangan on Gambar 56. Ketika tegangan masuk pada koil sehingga terjadi aliran arus maka koil akan berubah menjadi bidang magnet sehigga akan menarik inti besi ke dalam koil sampai menuju titik tengah koil. Sumber energi aktuator dapat dibagi menjadi listrik dan fluida (udara dan minyak). dan pegas sebagai pemegang inti besi. 5 Aktuator ….

Penggerak katup memiliki berbagai jenis. udara. knop. katup 5/2 dsb. Selenoid elektro-mekanik 5. Pembahasan tentang katup dapat dilihat pada pembahasan tentang Pneumatik/Hydrolik.2 Katup Katup adalah peralatan yang berfungsi untuk mengatur aliran fluida sebagai penggerak aktuator. Gerak yang dihasilkan silinder akibat dari gerakan linear atau maju dan mundur dari sebuah piston. Katup banyak digunakan pada industri ataupun transportasi. 661 .Gambar 57. pedal. silinder jenis hidrolik memiliki kemampuan kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan silinder jenis pneumatik. Pemilihan jenis silinder tergantung dari kerja yang dibebankan. dll). penggerak magnet/solenoid.3 Silinders Silinder merupakan jenis aktuator yang digerakan oleh fluida. Gambar 58. antara lain: Penggerak manual (tuas. Katup memiliki berbagai macam jenis antara lain: Katup 3⁄4. dll). Katup 5. bisa berupa udara (pneumatik) ataupun minyak (hidrolik).

Gambar 59. Motor diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu AC (arus searah) dan DC (arus bolak balik). Prinsip kerja motor ini menggunakan magnet untuk menghasilkan kerja yaitu putaran. Silinder gerak tunggal 5.3.2 Silinder Penggerak Ganda Pada silinder penggerak ganda terdapat dua lubang inlet dan outlet.4. 5. sedangkan pata stator terdapat koil yang berfungsi sebagai magnet listik apabila dialirkan arus. fluida masuk melalui sisi depan sehingga mendorong piston bergerak mundur A.5.1 Motor DC Motor DC merupakan salah satu jenis aktuator yang paling banyak digunakan dalam industri ataupun sistem robot. Bagian magnet pada stator bisa menggunakan electromagnet dan magnet permanent. Pada stator terdapat inti magnet.4 Motor Listrik Motor listrik terdiri dari rotor (bagian yang bergerak). Motor DC terdiri dari armature yang berputar dan bagian magnet sebagai stator (bagian yang diam).3.1 Silinder Penggerak Tunggal Silinder jenis ini menghasilkan kerja dalam satu arah saja. Arus yang datang melalui sikat sehingga akan menyebabkan motor berputar.apabila fluida masuk dari sisi satunya maka akan mendorong piston bergerak pada titik A+ Gambar 60. Apabila fluida masuk ke dalam tabung akibatnya piston akan bergerak mendorong pegas sampai pada titik tertentu. stator (bagian yang diam). 662 . Silinder penggerak ganda 5.

Akibatnya magnet stator dan magnet rotor (armature)akan saling bertolak belakang sehingga armature akan berputar. Saat koil atau lilitan dalam armature dialiri arus listrik maka armature akan menjadi magnet. Gambar 61. Kemudian komutator membalik arus yang menuju armature sehingga bidang magnet pada armature berubah. motor shunt dan motor compound. 663 . § Motor seri memiliki artmature yang dihubungkan dengan electromagnet secara seri. yaitu motor seri. Pengaturan pada motor ini lebih mudah dibandingkan dengan motor seri. Gambar 61c. Prinsip kerja motor DC Gambar di atas dapat di jelaskan sebagai berikut : Gambar 61a. sehingga sisi armature sebelah kiri menjadi magnet kutub utara dan sisi armature sebelah kanan menjadi magnet kutub selatan. § Pada motor compound memiliki kombinasi seri dan parallel pada armature dan electromagnet. Akibatnya kutub utara armature bertemu dengan kutub utara stator dan kutub selatan armature bertemu kutub selatan stator sehingga saling bertolak belakang dan menyebabkan armature (rotor) berputar kembali seperti pada posisi gambar 27b.Motor DC dengan stator electromagnet dibagi menjadi 3 jenis. Gambar 61b. Armature masih bergerak dan sampai pada posisi vertical tegak lurus tepat pada bidang non-magnet sehingga armature akan terus bergerak. § Jenis motor shunt antara armature dan electromagnet terhubung secara parallel. Armature bergerak sampai pada posisi kutub yang berpasangan (kutub utara armature dengan kutub utara stator dan kutub selatan armature dengan kutub selatan stator). Motor jenis ini memiliki karakteristik torque yang tinggi pada putaran awal.

Walaupun motor AC memiliki kelemahan terebut di atas. Harga yang relativ murah. Pada motor DC sistem control dibuat dengan mengatur tegangan sedangkan pada motor AC untuk menghasilkan kecepatan yang bervariasi dengan mengatur tegangan dan frekuensi. Disamping kelebihan diatas motor AC memiliki kelemahan pada pengontrolannya. mixer dan peralatan rumah tangga lainnya.4. Prinsip kerja motor AC Kelebihan dari motor AC adalah sebagai berikut : a. Gambar 62. Efisiensi tinggi b. d. tetapi aplikasi motor yang tidak membutuhkan variasi kecepatan banyak ditemukan dindustri. Walaupun motor AC sebagian besar digunakan untuk memutarkan peralatan yang membutuhkan kecepatan konstan tetapi penggunaan dengan kontrol kecepatan mulai sering dilakukan dalam berbagai aplikasi industri. 664 .5.seperti kipas. Kehandalan yang tinggi c. Harga yang murah dibandingkan dengan motor DC dikarenakan motor AC tidak menggunakan sikat sebagaimana sikat yang digunakan pada motor DC. Motor AC dibuat untuk menghasilkan kecepatan yang konstan (tetap) sehingga untuk menghasilkan putaran yang bervariasi memerlukan sistem control yang cukup rumit. Motor AC tidak menggunakan rectifier seperti pada motor DC. Perawatan yang mudah Perawatan menjadi mudah karena motor AC tidak menggunakan sikat yang secara periodic harus diganti. pompa.2 Motor Ac Motor AC merupakan jenis motor yang banyak digunakan pada dunia modern sekarang ini.

Bagian motor steper.Gambar 63. Langkah menggunakan derajat putaran. rotor merupakan magnet yang permanent sedangkan pada bagian stator menggunakan electromagnet. Gerak putaran rotor langkah demi langkah berputar menuju sesuai dengan kemagnetan stator. Perbedaan dengan motor DC biasa adalah motor stepper memiliki langkah putaran tergantung pada jumlah stator. Aplikasi motor AC 5.4. Motor stepper/motor langkah 665 . Gambar 64. Apabila semua stator telah menjadi magnet maka rotor dapat menyelesaikan satu putaran. Rotor akan bergerak bila masing masing stator menjadi magnet dengan dialiri arus listrik. mulai dari 0 0 sampai 90 0.3 Motor Steper Motor stepper atau bisa disebut motor langkah merupakan salah satu jenis dari motor DC.

Robot bergerak dalam empat sumbu koordinat. Prinsip kerja motor stepper Pada gambar di atas. Dengan menjumlahkan sudut maka akan didapat berapa posisi yang dikehendaki dari peralatan. 2b dan kembali ke 1a maka semua stator akan menjadi magnet secara bergantian. 6. 1b.. Putaran tersebut menghasilkan gerakan dan sudut beberapa derajat.1 Soal-Soal a. 2b dan kembali ke 1a.Motor steper banyak digunakan dalam berbagai aplikasi peralatan yang memiliki ketapatan putaran yang tinggi seperti dalam bidang robot sehingga tidak memerlukan sensor untuk menentukan posisi. Tes Formatif……………………………………………. Masing masing memiliki perbedaan dalam penggunaannya. 2a. rotor yang berupa magnet permanen (tetap) akan bergerak dari stator 2b kearah stator 1a. sebutkan dan jelaskan koordinat tersebut? 666 . 2a. Sebutkan dan jelaskan tiga komponen utama sistem robot? b. motor steper variable relucatance dan jenis motor steper hybrid. 6. 1b. Gambar 65. akibatnya rotor akan bergerak satu putaran penuh dari 1a. Besarnya langkah tergantung pada jumlah stator sehingga tidak ada peningkatan galat (error) dari posisi putaran motor. Motor steper dibagi menjadi tiga jenis yaitu motor steper magnet permanent. Apabila rotor diberikan tegangan secara bergilir ke stator 1a.

2 Kunci Jawaban a. Gambar 1 memberikan gambaran tentang bagian dasar dan bagian tambahan. Informasi tersebut kemudian disimpan didalam memori. Bagian actuator ini akan dijelaskan pada selanjutnya. Manipuator digerakan oleh actuator atau disebut sistem drive. hidrolik ataupun pneumatik. yaitu bagian dasar dan bagian tambahan. Kontroler berfungsi untuk mengontrol pergerakan dari manipulator. Bagian ujungnya terpasang efektor yang berfungsi untuk mengambil/mencekam material. yaitu : Manipulator. dalam hal ini data gerakan robot yang telah deprogram sebelumnya. Bagian tambahan merupakan perluasan dari bagian dasar. Apendage Apendage Base Bagian dasar manipulator bisa kaku terpasang pada lantai area kerja ataupun terpasang pada rel. Rel berfungsi sebagai path atau alur sehinga memungkinkan robot untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam satu area kerja. 2) Kontroler Kontroler menyimpan informasi yang berkaitan dengan data data robot. Actuatuator atau sistem drive menyebabkan gerakan yang bervariasi dari manipulator. Actuator bisa menggunakan elektrik. 1) Manipulator Manipulator memiliki dua bagian. Data dalam memori dapat di keluarkan atau di edit sesuai dengan yang dibutuhkan. Sistem robot memiliki memiliki tiga komponen dasar. dan Power (daya). Kontroler sendiri diatur oleh sebuah informasi atau program yang diisikan dengan menggunakan bahasa pemgrograman tertentu. bisa disebut juga lengan /arm. kontroler. 3) Power Suply (Catu Daya) Power supply adalah sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat 667 .6.

4) Koordinat Artikulasi Koordinat artikulasi adalah koordinat yang terdiri dari tiga sumbu yaitu : ? (theta). b. Y dan bidang Z di identifikasi sebagai gerakan manipulator. pneumatik. Manipulator bergerak melalui ruang hanya melalui bidang X. Sistem koordinat ini juga disebut sebagai sistem spherical atau sistem bola karena jangkauan area dari robot membentuk volume bola. hidrolik ataupun ketiganya. Bagian kontroler menggunakan elektrik sedangkan bagian manipulator bisa menggunakan elektrik. Bidang Z membentuk gerakan naik dan turun atau vertical. 1) Koordinat Kartesian Sesuai dengan sudut pandang matematika. polar dan artikulasi koordinat. Masing masing gerakan tersebut membentuk volume silinder sehingga disebut koordinat silinder. penyemprot cat ataupun hanya berupa penjempit objek. masing masing bidang tersebut dihubungkan dengan gerakan lengan manipulator dari titik awal sehingga akan membentuk suatu titik tertentu dengan gerakan lurus vertical maupun horizontal. 2) Silindrikal Koordinat Koordinat silinder membentu tiga derajat kebebasan atau tiga sumbu yaitu ? (theta) atau sumbu rotasi. yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. Masing masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator. walaupun keadaannya bukan merupakan komponen dasar dari sistem robot. Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot. koordinat kartesian di kenali dengan tiga sumbu dasar. Pergerakan ini diebut dengan geometri lengan (arm geometry). gerakan ß (beta) atau gerakan melingkar dan sumbu R gerakan horizontal. Koordinat ini memiliki 2 sumbu yang dapat 668 . Sebagai contoh efektor dapat berupa peralatan las. sumbu W (lengan atas) dan sumbu U (siku). bidang Y dan bidang Z. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. 4) Efektor Efektor dapat ditemukan hampir semua aplikasi robot.bekerja. Y dan Z sebagai sarana untuk mencapai target. X. Gerakan sumbu robot diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian silindrikal. 3) Koordinat Polar Koordinat polar memiliki tiga sumbu yaitu ? (theta) atau gerakan rotasi. bidang X. sedangkan R membentuk gerakan horizontal atau maju dan mundur.

Hal-hal yang digunakan dalam penentuan tingkatan robot adalah sumbu (axes). medium teknologi dan teknologi tinggi (high technology). keteletian (akurasi). manipulator terdiri dari beberapa segmen dan sambungan (joint). Manipulator : Lengan yang memberikan gerakan robot untuk memutar. siklus waktu (cycle time). tetapi sifatnya tidak harus ada. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. melipat. yaitu: Rendah (low) teknologi. aktuasi dan sistem kontrol yang digunakan. Efektor : Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot. 7. Kontroler membentuk sistem kontrol yang akan menentukan input dan output suatu robot. Rangkuman BAB X……………………………………. muatan (payload). silindrikal. sedangkan jangkauan kerja koordinat artikulasi adalah bentuk cabikan (tear-shape). kontroler. Efektor sering ditemukan pada beberapa sistem robot. Robot merupakan peralatan yang dapat diprogram ulang. Power supply : Sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat bekerja. memilki banyak fungsi yang didesain untuk memindahkan material. Masingan masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator (arm geometry).melipat yaitu pada sumbu W dan sumbu U. Koordinat kartesian memiliki jangkauan empat persegi pangjan (rectangular). Sumbu robot bergerak dalam rangka untuk menyelesaiakan suatu kerja. Sistem robot memiliki memiliki tiga komponen dasar. jangkaun kerja koordinat polar adalah bola (spherical). dan Power (daya). peralatan atau peralatan khusus. yaitu : Manipulator. polar d artikulasi koordinat. 669 . Kontroler : Suatu peralatan yang bertugas sebagai penendali dari gerakan robot. jangkauan kerja koordinat silindrikal adalah silindrikal. suku cadang (part). Gerakan tersebut diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian. Hal yang paling penting lain dari sebuah robot adalah jangkauan kerja (seberapa jauh robot dapat menjangkau objek). sehingga koordinat ini menjadi lebih fleksibel dan banyak digunakan dalam industri. Gerakan ini di sebut dengan derajat kebebasan robot atau jumlah sumbu yang ada pada robot. yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. Masing masing jangkauan kerja berbeda tergantung dari koordinat geometri yang digunakan. menjangkau objek. Robot memiliki tiga tingkatan/level teknologi.

670 . perakitan. Aktuator (output) yang digunakan dapat berupa selenoid. silinder dan motor listrik. katup.Robot sekarang telah banyak diaplikasikan dalam dunia industri seperti pengecatan. line tracking. Dengan adanya robot diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. pengelasan dan lain sebagainya.

proses produksi industri modern. Sedangkan materi tentang kompetensi kejuruan akan membahas tentang gambar teknik. 1. dan teknologi robot. Terutama untuk mengerjakan benda kerja dengan bentuk spesifik dan berdimensi khusus seperti penggantian komponen yang sudah tidak beredar di pasaran. menguasai prosedur penerapan K3. Teknik produksi industri mesin dari alat-alat perkakas tangan. proses produksi dengan mesin konvensional. Bagian merealisasikan kerja aman bagi manusia alat dan lingkungan membahas tentang mengenal regulasi K3.BAB XI PENUTUP 1. Dengan adanya pembahasan tersebut diharapkan buku ini memberikan gambaran 671 . 4. sistem pneumatik hidrolik. mengenal komponen elemen mesin. lembar kerja. Keterbatasan tersebut antara lain pada kesulitan untuk mendapatkan kualitas yang sama persis antara produk yang satu dengan lainya. dan mesin konvensional hingga saat ini masih diperlukan. 5. mengenal mesin konversi energi serta rangkuman dari materi tersebut. Materi tentang memahami dasar-dasar kejuruan membahas tentang statika dan tegangan. biasanya u ntuk keperluan perawatan dan perbaikan mesin dan komponen. mengenal material dan mineral serta rangkuman dari materi tersebut. menerapkan prosedur K3 secara tepat dan benar serta rangkumannya. proses produksi berbasis komputer. maupun komponen baru namun berdimensi tidak standar. membaca gambar teknik dan rangkumanya. Kompetensi dasar kejuruan terdiri dari tiga pembahasan utama antara lain memahami dasar-dasar kejuruan. memahami proses -proses dasar kejuruan dan merealisasikan kerja aman bagi manusia. Simpulan Secara garis besar buku ini terdiri dari materi kompetensi dasar kejuruan dan kompotensi kejuruan. dan lingkungan. Namun selain kelebihan di atas mesin perkakas tangan memiliki kelemahan yaitu kurang memiliki daya saing bila harus melakukan produk masal. 3. 2. alat. mengenal proses pembentukan logam. Materi tantang memahami prose-proses dasar kejuruan terdiri dari mengenal proses pengerjaan logam. Bagian keempat memnahas tentang g ambar teknik mesin yang terdiri dari mengenal alat menggambar teknik. Perkembangan tuntutan konsumen yang memerlukan kualitas tinggi telah mendorong para ahli untuk menciptakan mesin-mesin yang lebih presisi dan modern yang masih terus berkembang hingga sekarang. proses produksi dengan perkakas tangan.

7. memahat. namun cukup membuat gambar/design benda kerja secara bebas pada Software AutoCAD. dengan mesin frais. menyetempel. melainkan dengan 672 . menggergaji. menyekerap. mesin bubut sedang. b) kerja pelat yang meliputi membengkok. Teknik ini akan sangat membantu industri maupun siswa agar dapat membuat benda kerja dengan presisi meskipun memiliki design rumit namun menjadi mudah dikerjakan. mengetap dan menyenei. roda pemutar. Lebih mudah karena programmer tidak perlu menghitung letak koordinat suatu titik. Bagian selanjutnya teknik mentransfer data dari gambar AutoCAD ke program mesin perkakas CNC. c) alat potong d) perhitungan pemakanan benda kerja Adanya tuntutan konsumen yang semakin presisi menuntut proses produksi yang lebih akurat dengan bantuan komputer. mal mata bor. b) bagian utama mesin bubut konvensional. kepala lepas. Produk benda kerja yang memerlukan penyelesaian lebih presisi dari pekerjaan perkakas tangan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin konvensional. Adapun pembahasan teknik produksi industri rmesin perkakas tangan meliputi berbagai bidang antara lain: a) kerja bangku yang terdiri dari mengikir. Oleh karena itu b agian ketiga telah memaparkan tentang teknik produksi industri mesin berbasis pada komputer seperti: Computer Aided Design (CAD). mesin bubut berat. fungsi mesin bubut konvensional. pengepasan ekor burung. Keuntungan dari software ini adalah programmer tidak perlu menghitung setiap titik koordinat dalam suatu benda kerja. Gambar tersebut selanjutnya dapat ditransfer ke bentuk (N/G code) kalimat-demi kalimat yang dapat digunakan oleh mesin perkakas CNC untuk dikerjakan (dieksikusi). mereamer. mata bor. melukis. keran pendingin. mesin bubut ringan. bagian ini membahas tentang: pengertian mesin bubut konvensional.pengikat kepala lepas. sumbu pembawa. eretan (carrage). tuas-tuas pengatur kecepatan sumbu utama. yang lengkap tentang teknik produksi industri mesin secara keseluruhan. pengepasan persegi.6. dan menggerinda. Adapun bagian yang telah dibahas antara lain: a) mesin bubut konvebsional. setelah itu dibahas tentang pembuatan benda kerja dengan menggunakan mesin perkakas CNC. penggores. transporter. (tail stock) . mesin bubut standar. sumbu utama (mesin spindle). dan frais. c) lembar pekerjaan yang meliputi alas penindih kertas. alas mesin (bed). jenis-jenis mesin bubut konvensional. menyambung. Bagian ini telah memaparkan bagaimana memproduk suatu benda kerja dengan menggunakan mesin perkakas. seperti mesin bubut. menekuk. Buku ini akan mengupas teknik produksi industri mesin yang menggunakan peralatan mesin konvensional seperti teknik menggunakan mesin biubut. pahat tangan. mengebor. kotak dan pengasahan penitik. melipat.

pompa roda gigi dalam tipe geretor. instruksi dasar sampai diagram ladder dan aplikasinya dan sebgainya. konduktor dan konektor. prinsip hukum pascal. dasar-dasar perhitungan hydrolik. pompa torak radial (radial piston pump). meliputi: Manipulator Arm Geometry. karakteristik udara kempa. perangkat keras. Gerakan Robot. otomasi teknik produksi. keuntungan dan kerugian penggunaan udara kempa. air motor (motor pneumatik). dasar perhitungan pneumatik. aplikasi pneumatik dalam proses produksi penggeser benda/pintu. unit pengolahan udara bertekanan (air serviceunit). simbol logika. kode G. perhitungan tekanan. Pada PLC dijelaskan mulai dari sejarah perkembangan. Rotasi Wrist. Sistem 673 . unit pengatur (control element). gaya torak (f) udara yang diperlukan. Oleh karena itu bagian ini telah membahas tentang system control pnuematik dan hydrolik. keuntungan kerugian/kelemahan pneumatik. aplikasi penggunaan pneumatik. Pada bagian kesepuluh penulis membahas tentang TEKNOLOGI ROBOT yang meliputi: a) Pengenalan Robot. unit penggerak (working element = aktuator). pemeriksaan udara kempa dan peralatan. perhitungan daya kompressor. type of mounting (cara-cara pengikat). aplikasi sistem kerja pneumatik pengendalian langsung silinder sederhana. 9. materi tersebut meliputi pembahasan tentang: a) pengertian pneumatik. Dari software ini data gambar akan dirubah ke bahasa pemrogramman mesin CNC seperti kode N. pemeliharaan cairan hydrolik. dan lainnya. pengendalian hydrolik. klasifikasi sistim pneumatik. 8.2 (x). Tingkatan Teknologi. komponen Dasar. tekuk). pneumatik. komponen hydrolik. efektifitas pneumatik. instalasi pompa hidrolik. kompressor (pembangkit udara kempa). pengetesan efesiensi pompa hidrolik. kecepatan torak. peralatan sistem pneumatik. PLC (progammable Logic Controller). 10. b) Operasi dan Fitur Manipulator. perhitungan kecepatan. perangkat lunak. balanced vane (pompa kipas balanced). katup pneumatik. Proses produksi berbasis pada sistem kontrol pneumatic/hydrolik merupakan bagian yang sedang berkembang. pompa roda gigi dalam tipe crescent. tekanan udara. sistem kontrol pneumatik. Bagian kesembilan akan membahas tentang proses industri teknologi modern yang meliputi sejarah perkembangan otomasi industri. bent axis piston (pompa torak dengan poros. pengertian sistem kontrol pneumatik. analisa aliran fluida (v). pengendalian tak langsung. pompa dan aktuator hydrolik.menggunakan osnap dan fungsi lain dalam AutoCAD. diagram karnaught. Gambar bebas benda kerja tersebut akan diterjemahkan oleh mesin CNC melalui software CNC Keller Q Plus. bagian ini akan membahas tentang: istilah Robot. untuk saluran 1. katup-katup pneumatik.

c) Efektor meliputi: Gripper. Sensor Gaya dan Momen. Bagi kalangan praktisi industri buku ini dapat dijadikan pegangan dalam mengatasi permasalahan yang ada di industri. sensor Temperaptur 11.Penggerak Manipulator. Buku ini sebaiknya digunakan untuk pedoman pengajaran mata diklat teknik permesinan dan tenik otomasi industri untuk kalangan sekolah menengah kejuruan bidang teknik mesin dan praktisi industri mesin. Jenis Gripper. 2. Penanganan Material. Sensor NonKontak. Saran Pada kesempatan ini penulis mengajukan beberapa saran demi kemajuan sains dan teknologi di Indonesia. 3. Jangkauan Kerja. Pada bagian terakhir berupa bagian penutup. Sensor Kontak. 674 . antara lain: 1. Sensor dan Tranduser. yang berisi simpulan dan saran. 2. Aplikasi Robot. Perakitan dan Pengencangan. Masukan dan saran dari pembaca yang budiman sangat kami harapkan demi kesempurnaan buku ini di masa yang akan datang. Klasifikasi Gripper. pengelasan.

1987. Andi Offset. Buku CNC Milling – TU 2A (Mesin Bubut Dasar) . Pelayanan EMCO 2A. Q Plus Drehen CNC Qualifizierung. 1984 Peter Patient. Esslingen Daryanto. 1998. Pelayanan EMCO 3A. Sudibyo dan Djumarso. Omega Engineering.P. Jakarta: PT Rosda Jayaputra. Jakarta Sugihartono. 1994. Katsuhiko Ogata : Teknik Kontrol Automatik (Sistem Pengaturan Jilid 1) . Inc. Mannheim. 1988. Wuppertal. Pradya Paramitha. Mesin Bubut CNC Dasar. Q Plus Frasen CNC Qualifizierung. Austria. Semarang: Lembaga Keterampilan Komputer Harapan Utama. 2001. Lilih Dwi P. 2006. Pneumatic Systems Principles and Maintenance. Singapore. Dasar Dasar Kontrol Pneumatik. Bandung: Pusat Pengembangan Penataran Guru Teknologi Bandung. 1992. Maier dan Co. Soewito. Hollebrandse. dkk. Programmable Logic Controller (PLC) dan Perancangan Sistem Kontrol. Yogyakarta : Penerbit Andi Siegfried K eller. Gehlen Setiawan. Jugendlexikan der Tecknik. Bandung Cliffs. Penerbit Erlangga . Haan-Gruiten. Singapore. New york. Groover: Automation Production systems. 1991..LAMPIRAN A. Yogyakarta Richard C. 1988. Teknik Pemrograman Dan Aplikasi CNC. Jakarta Keith Frank. Penerbit Erlangga . Koln Delman kilian. 2001. ITB. Hallem. 1988. Wuppertal. Dorf : Sistem Pengaturan . Pneumatik. Modern Control Technology Component And Stystem Handbook. Laboratorium CNC – BLPT Surabaya. Lilih Dwi P. Penggerak Mula Turbin. 1999 Keller. Keller Didaktik and Technik.M. CNC Technik. Soedjono. New Delhi. Pengetahuan Dasar Mesin CNC. dkk. Keller Didaktik and Technik. EMCO Mikell P. Materi Pengajaran AutoCAD 2000. Pengantar Ilmu Teknik Pneumatika. J. 1977.Tata McGrawHill.1 DAFTAR PUSTAKA Aris Munandar. Steurn und Regeln im Maschinenbau. Toleransi. Iwan. Hydrolik. 1990. 1991. 1997. EMCO Meier (1992). Industrial Robotics Technology. Jakarta. Gramedia. and Computer-Integrated Manufacturing : Pearson Education . Mcgraww-Hill Book Co. Jakarta. Solo: ATMI ST Mikael Sugiharto. 1995. 2006. Siegfried Keller. Mesin Konversi Energi. Homburg. Laboratorium CNC – BLPT Surabaya. Majumdar. Esslingen Croser P.Karl. 1988. Buku CNC Milling – TU 3A (Mesin Freis Dasar) . Depdikbud.J. Penerbit tarsito. 1985 . Europah Lehrmittel Groover M. Deutschdtiflng fur Internationale Entwikcklung. CNC Didaktik. Petunjuk Penggunaan Mesin CNC EMCO TU-3A. 2000. and Aplication. Hadi. EMCO Maier dan Co. 1998. dkk. Hallem. Jakarta. Jakarta Dieter. 1992. Mechanical Engineering Handbook. Verlag. 1986 Harapan Utama.. Menggambar Teknik Mesin. 1985 Pudjananta dan Narsuhud. Schulungsunterlagen CNC Maho 432. 2001 Pakpahan : Kontrol Otomatik . 2001. 1990. Festo Didaktik. Jakarta. Croser P. 1983 Sachur Rheinhard. Gottfried Nist(1994). Menggambar Mesin Menurut Standar ISO. Bandung. Festo Didaktik. Programming. CRC Press LLC. Penerbit Erlangga . Stamford 1999 Depdikbud. PT. Solingen. Instandhalttungsmanagement.

LAMPIRAN A.2
Sumbodo, Wirawan, 2004, Dasar-dasar Sistem Pneuamtik/Hydrolik, Semarang, Unnes Sumbodo, Wirawan, 1998, Dasar-dasar Sistem Pemrogramman mesin CNC, Semarang, Unnes Supriyono dan Almeriany. 1983. Gambar Teknik. Solo: ATMI ST Mikael Umaryadi, 2006, PDTM Teknologi dan Industri, Yudhistira, Jakarta Wahana Komputer. 2002. Menguasai AutoCAD 2002. Jakarta: Salemba Infotek. www.Wikipedia.com/id/search/automation system www.en.wikipedia.com www. cnc-keller.de www.hondacompany.com www. Q Plus Frasen.com www.omron.com/index3.html www.zen.omron.co.jp/eng/index.html - 22k www.plcs.net/ - 20k www.automation.com world.honda.com/ASIMO/ www.compserv.sabah.gov.my www.roboticsonline.com www.fanucrobotics.com embedded-system.net www.playrobot.com/comp%20robot_ind.htm embedded-system.net/kuka-kr-1000-titan-6-axis. www.webstergriffin.com/images/robot_arm01.jpg

LAMPIRAN B.1

DAFTAR TABEL
BAB I MEMAHAMI DASAR -DASAR KEJURUAN
Tidak ada tabel

BAB II MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN
Tidak ada tabel

BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA, ALAT DAN LINGKUNGAN
Tidak ada tabel

BAB IV GAMBAR TEKNIK
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4.

Kertas gambar berdasarkan ukuranya ............................................ Pensil berdasarkan kekerasan .......................................................... Macam-macam ketebalan garis ........................................................ Perbandingan ketebalan garis bantu dengan garis gambar ........................................................................................

62 64 99 103

BAB V PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12.

Pengelom pokan kikir berdasarkan kekerasan gigi dan kegunaanya........................................................................................... Pengelompokan kikir berdasarkan penampang dan penggunaanya ..................................................................................... Pemegangan kikir untuk berbagai kebutuhan pengerjaan ........... Cutting speed untuk mata bor ........................................................... Kecepatan pemakanan (feeding)....................................................... Langkah pengeboran berbagai jenis pekerjaan ............................. Jenis bukaan gigi gergaji dan fungsinya ......................................... Jumlah gigi tiap panjang 1 inchi berikut fungsinya ........................ Jenis daun gergaji berikut fungsinya ................................................ Tingkat kekerasan batu gerinda dan penggunaanya .................... Tingkat kehalusan dan penggunaanya ............................................ Kecepatan keliling yang disarankan .................................................

138 139 141 173 174 175 178 178 179 200 200 204

BAB VI PROSES PRODUKSI MESIN KONVENSIONAL
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4 Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12. Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16.

Perbedaan mesin bubut konvensional dengan CNC .................... Penggunaan sudut tatal dan sudut bebas pahat bubut................. Kecepatan potong pahat HSS (High Speed Steel) ........................ Daftar kecepatan potong pembubutan............................................. Kecepatan pemakanan untuk pahat HSS ....................................... Kecepatan potong untuk beberapa jenis bahan.............................. Daftar kecepatan potong mesin frais ................................................ Kecepatan pemakanan pergigi untuk HSS...................................... Ukuran utama roda gigi sistem module............................................ Ukuran utama roda gigi diameteral pitch.......................................... Pemilihan nomor pisau sistem module............................................. Satu set cutter dengan 15 nomir........................................................ Satu set cutter midul sistem diameter pitch..................................... Hubungan cutting speed dengan bahan ......................................... Kecepatan potong untuk HSS dalam m/menit................................. Tingkatan suaian basis lubang ......................................................... Tingkatan suaian basis poros ...........................................................

246 254 261 262 263 302 303 304 319 320 321 322 322 323 323 338 338

LAMPIRAN B.2
Tabel 17. Tabel 18a Tanel 18b Tabel 19a Tabel 19b Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Harga tingkatan suaian menurut ISO ............................................... Nilai penyimpangan lubang untuk tujuan umum ............................. Nilai penyimpangan lubang untuk tujuan umum ............................. Nilai penyimpangan poros untuk tujuan umum ............................... Nilai penyimpangan poros untuk tujuan umum ............................... Arti kode M pada mesin CNC ............................................................ Arti kode lainya .................................................................................... Siklus pemrograman dengan EMCO TU 2A ................................... Siklus pembuatan ulir G 33 ................................................................ Koordinat hasil perhitungan titik ........................................................ Siklus program pembuatan pion catur dengan CNC EMCO TU 2A ....................................................................................... Siklus pemrograman pembuatan asbak rokok dengan.................. CNC EMCO TU 2A ............................................................................. 339 340 341 342 343 410 420 422 428 430 437 441 497 498 500 502 503 503 504 504 505 508 518 520 522 523 544 545 546 546 547 550 581 582 582 583 608 612 614

BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER

BAB VIII
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10.

SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK

Tabel 11. Tabel 12. Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16. Tabel 17. Tabel 18. Tabel 19. Tabel 20.

Jenis dan simbol katup sinyal pneumatik ........................................ Jenis penggerak katup........................................................................ Jenis dan simbol katup pemroses sinyal.......................................... Jenis dan simbol katup pembatas tekanan...................................... Simbol logika katup AND .................................................................... Simbol logika katup OR....................................................................... Simbol dan logika katup NOT............................................................. Logika katup NOR................................................................................ Logika katup NAND.............................................................................. Jenis dan Simbol Komponen Sistim Pneumatik Lainnya (FESTO FluidSIM)............................................. Logika pengendalian sistem sederhana langsung.......................... Logika sistem diagram gerak silinder melalui dua katup ............... Simbol dan keterangan rangkaian kontrol pint bus otomatis ......................................................................................... Jenis -jenis cairan hidrolik tahan api.................................................. Perbandingan macam -macam cairan hidrolik ................................ Klasifikasi viskositas cairan hidrolik................................................... Aplikasi penggunaan hidrolik dengan tingkatanya.......................... Batas viskositas ideal.......................................................................... Kesetaraan dari berbagai satuan viscositas oli hidrolik................. Karakteristik cairan hidrolik yang dikehendaki ...............................

BAB IX
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3.

PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN

Logika AND dan NOT AND ................................................................ Logika OR dan NOT OR ..................................................................... Aturan aljabar saklar AND .................................................................. Aturan aljabar saklar OR..................................................................... Pengalamatan input dan output ........................................................ Daftar alamat pada input dan output ................................................ Alamat input dan output PLC ............................................................

BAB X TEKNOLOGI ROBOT

Propertis teknologi robot .................................................................... 629 Material variasi temperature dan tahanan bahan .......................... 653 Jangkauan temperature dan jangkauan tegangan ........................ 654

LAMPIRAN C.1

DAFTAR GAMBAR _________________________________________________
BAB I MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN
Perpindahan benda dari A ke B akibat gaya F ............................... 1 Gaya gesek pada roda mobil........................................................... 2 Titik tangkap gaya (A) pada garis kerja gaya .................................. 2 Menyusun dua buah gaya menjadi gaya Resultan (F) .................... 3 Menyusun Gaya lebih dari dua buah secara grafis ......................... 3 Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon ....................... 4 Menyusun gaya lebih dari dua buah secara Analitis ....................... 4 Menguraikan gaya (proyeksi) sumbu X dan Y................................. 5 Jarak (L) garis gaya (F) terhadap titik perputaran (o) ...................... 5 Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon ....................... 6 Dua buah gaya sama sejajar berlawanan arah dan berjarak L ....... 6 Gaya F1 dan F2 yang mebentuk sudut α ........................................ 8 Dua gaya pada batang membentuk kesetimbagan ......................... 8 Kesetimbagan benda pada bidang miring ....................................... 9 Tegangan yang timbul pada penampang A-A ............................... 10 Tegangan Normal.......................................................................... 10 Tegangan tarik pada batang penampang luas A........................... 11 Tegangan tekan ............................................................................ 12 Tegangan Geser ........................................................................... 12 Tegangan lengkung pada batang rocker arm................................ 13 Tegangan puntir ............................................................................ 14 Kontruksi poros kereta api............................................................. 15 Kontruksi poros kereta api............................................................. 16 Kontruksi poros transmisi .............................................................. 16 Poros transmisi dengan beban puntir ............................................ 16 Beban lentur murni pada lengan robot .......................................... 17 Beban puntir dan lentur pada arbor saat pemakanan ................... 18 Bantalan luncur dilengkapi alur pelumas ....................................... 19 Bantalan radial .............................................................................. 19 Bantalan aksia............................................................................... 19 Bantalan gelinding khusus............................................................. 20 Dapur pengolahan bijih besi menjadi besi ..................................... 23 Gambar 1. Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32.

BAB II
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3, Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12.

MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN
Logam cair sedang dituangkan ke dalam cetakan ........................ 29 Proses Pengecoran logam ............................................................ 30 Diemensi benda kerja yang akan dibuat (a), menutupi permukaan pola dalam rangka cetak dengan pasir, (c) cetakan siap, preses penuangan (d), dan produk pengecoran ...................................... 31 Pengecoran logam pada cetakan pasir ......................................... 34 Turbin air produk hasil pengecoran logam ................................... 35 Turbin air produk hasil pengecoran logam.................................... 36 Die Casting .................................................................................... 36 Salah satu produk Die Casting ...................................................... 38 Pengolahan Logam Manual ........................................................... 40 Pengerjaan Logam dengan mesin bubut ....................................... 41 Produk pengolahan logam dengan mesin CNC............................. 42 Mesin pengerollan (rolling)............................................................. 43

LAMPIRAN C.2
Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16, Gambar 17, Gambar 18, Gambar 19, Gambar 20 PLTA, konversi energi dari energi potensial, energi mekanik, dan energi listrik ................................................................................... 44 Accu sebagai bentuk energi kimia ................................................. 45 Salah satu reaktor nuklir ............................................................... 46 Mesin konversi dari panas ke uap ................................................. 46 Pemanfaatan energi angin ........................................................... 47 siklus motor bensin 4 langkah ....................................................... 48 Turbin Air....................................................................................... 50 Sebuah sistem turbin gas .............................................................. 50

BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA, ALAT, DAN LINGKUNGAN
Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24, Gambar 25, Gambar 24, Tanda harus mengenakan kacamata ............................................ 58 Tanda harus mengenakan penutup telinga ................................... 58 Tanda harus mengenakan sarung tangan..................................... 58 Pekerja menggunakan kacamata dan masker .............................. 59 Mengisap serbuk fiber menggunakan vacum ................................ 59 Menekuk plat/selang fiber menggunakan sarung tangan ........................................................................................... 59

BAB IV GAMBAR TEKNIK
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik ................................................................................. 65 Pensil batang................................................................................. 66 Pensil mekanik .............................................................................. 66 Cara menarik garis ........................................................................ 67 Rapido ........................................................................................... 67 Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga.............................. 68 Cara menggunakan penggaris-T ................................................... 68 Cara menggunakan penggaris segitiga ......................................... 69 Jenis jangka .................................................................................. 69 Kedudukan pena tarik saat menarik garis ..................................... 70 Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung.................................................................................. 70 Plat pelindung penghapus ............................................................. 71 Busur derajat ................................................................................. 71 Mal lengkung ................................................................................. 72 Contoh penggunaan mal lengkung................................................ 72 Mal bentuk geometri ...................................................................... 72 Meja gambar ................................................................................. 73 Mesin gambar lengan .................................................................... 73 Mesin gambar rol........................................................................... 73 Proyeksi piktorial ........................................................................... 75 Proyeksi isometris ......................................................................... 76 Penyajian proyeksi isometris ......................................................... 77 Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik ............................. 77 Proyeksi isometris kedudukan horisontal ...................................... 78 Proyeksi dimetris ........................................................................... 78 Kubus dengan proyeksi dimetris.................................................... 79 Proyeksi miring .............................................................................. 79 Perspektif dengan satu titik hilang ................................................. 80 Perspektif dengan dua titik hilang.................................................. 80 Perspektif dengan tiga titik hilang .................................................. 80 Macam-macam pandangan ........................................................... 81 Bidang proyeksi ............................................................................. 81

.................................................... 82 Pembukaan objek gambar di kuadran I ........................................................................................................... Gambar 36............... 96 Penempatan potongan dengan diputar............................... Gambar 81.... Gambar 74.................................................... 102 Sudut ketebalan garis arsiran ........... Gambar 80.. Gambar 72....................................... Gambar 65........................ 98 Potongan penuh ......................................... 110 Pengukuran ketirusan ...................... 86 Proyeksi Amerika . Gambar 78....................... Gambar 71................................. 103 Arsiran benda tipis ... 87 Contoh penggambaran anak panah ....... Gambar 39........... Gambar 61.............. Gambar 55................... 87 Penerapan Proyeksi Amerika ............................. Gambar 50................ Gambar 63b.................... Gambar 70....... Gambar 82........................................................... 84 Garis sumbu terpisah dengan gambar................................................................................ 101 Contoh penggunaan arsiran ............................ Gambar 53....... 93 Tanda pemotongan................. 111 Pencantuman simbol-simbol ukuran ....................................... 106 Jarak antara garis ukur ........... Gambar 68.................................. 95 Penempatan gambar potongan .......................... Gambar 62a......... Gambar 57........................................................ 93 ........... 89 Pemilihan pandangan utama ................... 86 Anak panah ........................................ 98 Potongan dudukan poros...................................................................... 83 Pemutaran dengan jangka .. Gambar 62b................................................. Gambar 45................. 112 Pengukuran jari-jari......... Gambar 63a............................................................... 104 Macam-macam arsiran .. 110 Penunjukan ukuran pengerjaan khusus.............................................................. 88 Gambar pandangan ..................................................................................... Gambar 38............ Gambar 64................... Gambar 56.................................................................... 104 Angka ukuran dan arsiran...................................................................................... Gambar 77.... 101 Potongan bercabang atau meloncat .. Gambar 69.......................... 111 Penunjukan ukuran pada bagian yang simetris ........ Gambar 67............................................................................................................................... 101 Potongan putar ............................................... Gambar 79................... 88 Gambar satu pandangan ................. 89 Pembedaan bentuk benda dengan satu pandangan ................................................................................................. Gambar 47..................... Gambar 48....................... Gambar 44...................................................................................................................................................... Gambar 60...... Gambar 35........... 97 Potongan jari-jari pejal .. Gambar 51... Gambar 75.. Gambar 83........................... 84 Pandangan proyeksi Eropa ........................................ 91 Bentuk benda dari hasil pandangan . Gambar 73...........3 Gambar 34..................... Gambar 43.................................................................... Gambar 66.......................................................................... Gambar 84................................................................................................ 90 Penentuan pandangan depan.................................................... Gambar 42........................... 93 ................... 100 Potongan sebagian ........... 92 ....................................... 105 Cara penarikan garis dan ketebalanya ................ 87 Penerapan Proyeksi Eropa ................................... 90 Pandangan utama .......................... 84 Garis sumbu berimpit dengan gambar......................................................................................... 90 Penggunaan dua pandangan............... Gambar 41................. 86 Proyeksi Eropa .... Gambar 59...... Gambar 46...... 108 Ukuran tambahan .......... 83 o Potongan garis yang bersudut 45 ......... 113 Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran .................................... 94 Tanda pemotongan dengan gelombang dan zigzag ........................................ 107 Penulisan angka ukuran ........ 85 Pandangan proyeksi Amerika ....... Gambar 52.................................................. 91 Penggunaan tiga pandangan..... Gambar 37....... 103 Arsiran pada bidang luas dan bidang berdampingan.............. 99 Potongan separuh . 85 Contoh pandangan proyeksi Amerika . Gambar 49..................................LAMPIRAN C... Gambar 76............................................................................................................................ Gambar 58a Gambar 58b Gambar 58c........................................... Gambar 54..... 113 ................ Proyeksi di kuadran I .......... 97 Penempatan potongan dengan diputar dan dipindah ..... Gambar 40............................

LAMPIRAN C.4
Gambar 85. Gambar 86. Gambar 87. Gambar 88. Gambar 89. Gambar 90. Gambar 91. Gambar 92. Gambar 93. Gambar 94. Gambar 95. Gambar 96. Gambar 97. Gambar 98. Gambar 99. Gambar 100. Gambar 101. Gambar 102. Gambar 103. Gambar 108. Gambar 107. Gambar 106. Gambar 105. Gambar 104. Gambar 111. Gambar 110. Gambar 109. Gambar 112. Gambar 113. Gambar 115. Gambar 114. Gambar 116. Gambar 117. Gambar 118. Gambar 119. Gambar 120. Gambar 121. Gambar 122. Gambar 123. Gambar 124. Gambar 125. Gambar 126. Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran...................................................................................... 113 Penunjukan ukuran...................................................................... 114 Ukuran berantai ........................................................................... 114 Ukuran sejajar ............................................................................. 115 Ukuran kombinasi........................................................................ 115 Ukuran berimpit ........................................................................... 116 Pengukuran berimpit ................................................................... 117 Pengukuran koordinat ................................................................. 118 Pengukuran berjarak sama ......................................................... 118 Pengukuran berjarak sama ......................................................... 119 Pengukuran alur pasak................................................................ 119 Pengukuran pada lubang ............................................................ 120 Pengukuran profil ........................................................................ 120 Pembuatan gambar mur.............................................................. 121 Pengukuran mur .......................................................................... 121 Pembuatan gambar baut ............................................................. 122 Pembuatan gambar mur dan baut ............................................... 122 Batas atas dan batas bawah toleransi......................................... 123 berbagai macam ukuran dan penyimpangan .............................. 123 Penulisan toleransi simetris ......................................................... 124 Penulisan toleransi dan nilai penyimpangan nol.......................... 124 Penulisan toleransi dan nilai penyimpangan ............................... 124 Penulisan toleransi suaian dan nilai penyampangan................... 124 Penulisan suaian standar ISO ..................................................... 124 jenis-jenis penulisan toleransi pada gambar susunan ................. 125 Penulisan batas-batas ukuran dalam satu arah .......................... 125 Penulisan batas-batas ukuran ..................................................... 125 Jenis-jenis penulisan yoleransio pada ukuran sudut ................... 126 Penulisan ukuran dan toleransi pada gambar kerja..................... 126 kelonggaran dan kesesakan antara poros dan lubang ................ 128 Penandaan Kualitas Permukaan ................................................ 128 Suaian Longgar ........................................................................... 129 Suaian paksa............................................................................... 129 Suaian tramsisi ............................................................................ 129 Proyeksi piktorial ......................................................................... 131 Proyeksi isometris ....................................................................... 131 Proyeksi dimetris ......................................................................... 132 Proyeksi miring ............................................................................ 132 Potongan A-A .............................................................................. 133 Potongan B-B .............................................................................. 133 Macam-macam arsiran................................................................ 134 Gambar Benda Kerja .................................................................. 135

BAB V
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10.

PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN
Ketinggian ragum untuk pengerjaan umum kerja bangku ........................................................................................ 138 Ragum ...................................................................................... 138 Pencekaman benda kerja ......................................................... 139 Bagian bagian utama kikir ......................................................... 140 Spesifikasi kikir ......................................................................... 140 Spesifikasi kikir berdasarkan penampangnya ........................... 140 Kikir single cut dan kikir double cut ........................................... 141 Gerakan badan dan mulut ......................................................... 145 Posisi kaki terhadap sumbu ...................................................... 145 Kikir gigi tunggal arah pemakanan lurus dengan

LAMPIRAN C.5
sumbu kikir ................................................................................ Kikir gigi tunggal arah pemakanan tidak satu sumbu dengan sumbu kikir ................................................................... Kikir gigi ganda degan arah pemakanan lurus dengan sumbu kikir ................................................................... Menghilangkan kulit yang keras dengan ujung .......................... Pemeriksaan kerataan hasil pengikiran dengan pisau perata ............................................................................... Bidang dasar 1, 2 dan 3 ............................................................ Pemeriksaan hasil pegikiran miring ........................................... Pengikiran radius dalam ............................................................ Pengikiran radius luar ................................................................ Pemeriksaan hasil pengikiran radius ......................................... Bidang dasar sebagai dasar ukuran, kesikuan dan kesejajaran dalam penggambaran ............................................ Mistar baja ................................................................................. Penggunaan mistar baja ............................................................ Busur derajat ............................................................................. Penggunaan busur derajat ........................................................ Set mal radius dalam satu tangkai ........................................... Set mal radius dalam ikatan cincin ............................................. Memeriksa dengan mal radius .................................................. Satu set mal ulir ......................................................................... Memeriksa ulir baut dan mal ulir ................................................ Pita ukur .................................................................................... Jangka sorong ........................................................................... Penggunaan mistar sorong ....................................................... Penggores ................................................................................. Pemakaian penggores ............................................................... Siku-siku .................................................................................... Siku-siku geser .......................................................................... Penggunaan siku-siku ............................................................... Siku-siku kombinasi ................................................................... o Pengukuran 45 ......................................................................... o Pengukuran kesikuan 90 ........................................................... Jangka tusuk (spring divider ) .................................................... Pengukuran dengan jangka tusuk ............................................. Jangka tongkat .......................................................................... Penggunaan jangka tongkat ...................................................... Jangka garis .............................................................................. Penggunaan jangka garis .......................................................... Jangka bengkok ........................................................................ Mengukur tebal dan kesejajaran ............................................... Jangka kaki ............................................................................... Memeriksa diameter dalam ....................................................... Balok gores ............................................................................... Penggunaan balok gores ........................................................... Pengukur tinggi ......................................................................... Menggaris sebuah bidang ......................................................... Mengukur tinggi / tebal .............................................................. Penitik pusat .............................................................................. Pengunaan penitik pusat ........................................................... Penitik garis ............................................................................... Penggunaan penitik garis .......................................................... Palu ........................................................................................... Tangkai palu............................................................................... 145 145 147 147 148 148 149 149 150 150 151 151 152 152 152 153 153 153 154 155 155 155 156 156 157 158 158 158 158 159 159 159 160 160 160 161 161 161 161 162 162 163 163 164 164 164 165 165 165 165 166 166

Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25a Gambar 25b Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Gambar 34. Gambar 35. Gambar 36. Gambar 37. Gambar 38. Gambar 39. Gambar 40. Gambar 41. Gambar 42. Gambar 43. Gambar 44. Gambar 45. Gambar 46. Gambar 47. Gambar 48. Gambar 49. Gambar 50. Gambar 51. Gambar 52. Gambar 53. Gambar 54. Gambar 55. Gambar 56. Gambar 57. Gambar 58. Gambar 59. Gambar 60.

LAMPIRAN C.6
Gambar 61. Gambar 62. Gambar 63. Gambar 64. Gambar 65. Gambar 66. Gambar 67. Gambar 68. Gambar 69. Gambar 70. Gambar 71. Gambar 72. Gambar 73. Gambar 74. Gambar 75. Gambar 76. Gambar 77. Gambar 78. Gambar 79. Gambar 80. Gambar 81. Gambar 82. Gambar 83. Gambar 84. Gambar 85. Gambar 86. Gambar 87. Gambar 88. Gambar 89. Gambar 90. Gambar 91. Gambar 92. Gambar 93. Gambar 94. Gambar 95. Gambar 96. Gambar 97. Gambar 98. Gambar 99. Gambar 100. Gambar 101. Gambar 102. Gambar 103. Gambar 104. Gambar 105. Gambar 106. Gambar 107. Gambar 108. Gambar 109. Gambar 110. Gambar 111. Gambar 112. Gambar 113. Gambar 114. Palu lunak ................................................................................. 167 Penggunaan palu ...................................................................... 167 Meja perata ............................................................................... 167 Penggunaan meja ..................................................................... 167 Balok vee .................................................................................. 168 Penggunaan balok vee ............................................................. 168 Bagian-bagian mata bor ............................................................. 169 Mata bor pilin kisar sedang ....................................................... 169 Bor pilin spiral kecil ................................................................... 170 Bor pilin kisar besar ................................................................... 170 Bor pilin kisar besar sudut sayat kecil ....................................... 170 Bor pilin kisar besar sudut sayat lancip ..................................... 170 Bor pembenam ......................................................................... 171 Mata bor pembenam kapala baut ............................................. 171 Bentuk kepala mata bor ............................................................ 171 Kaliber mata bor ........................................................................ 172 Sudut mata bor ......................................................................... 172 Penjepit bor .............................................................................. 173 Sarung pengurang .................................................................... 173 Mesin bor bangku....................................................................... 173 Mesin bor tiang ......................................................................... 174 Bor pistol ................................................................................... 174 Bor dada mekanik terbuka ........................................................ 174 Bor dada mekanik tertutup ........................................................ 174 Reamer (Peluas) ........................................................................ 178 Peluas tirus ............................................................................... 178 Peluas yang dapat distel ........................................................... 179 Penggunaan reamer ................................................................. 179 Gergaji tangan .......................................................................... 180 Pemasangan daun gergaji pada sengkang ............................... 180 Pemegangan sengkang gergaji ................................................ 182 Membuat alur (permulaan menggergaji) ................................... 182 Sudut awal penggergajian ......................................................... 183 Pemotongan benda kerja .......................................................... 183 Posisi daun gergaji tagal lurus terhadap sengkang Gergaji ...................................................................................... 183 Pahat ......................................................................................... 184 Pahat ......................................................................................... 185 Pahat alur .................................................................................. 185 Pahat dam ................................................................................. 185 Pahat alur minyak ..................................................................... 186 Pahat kuku ................................................................................ 186 Pahat diamon ............................................................................ 186 Cara menggenggam pahat ....................................................... 187 Memperhatikan mata pahat ...................................................... 187 Memahat baja pelat ................................................................... 188 Memahat benda yang lebar ...................................................... 188 Memahat benda kerja yang tidak dijepit dengan Catok ragum ............................................................................. 189 Posisi pahat pada waktu memahat ........................................... 189 Posisi pahat pada saat akhir pemahatan .................................. 189 Garis bantu stempel .................................................................. 190 Susunan stempel ...................................................................... 191 Posisi stempel ........................................................................... 191 Tap ............................................................................................ 192 Sney .......................................................................................... 193

LAMPIRAN C.7
Gambar 115. Gambar 116. Gambar 117. Gambar 118. Gambar 119. Gambar 120. Gambar 121. Gambar 122. Gambar 123. Gambar 124. Gambar 125. Gambar 126. Gambar 127. Gambar 128. Gambar 129. Gambar 130. Gambar 131. Gambar 132. Gambar 133. Gambar 134. Gambar 135. Gambar 136. Gambar 137. Gambar 138. Gambar 139. Gambar 140. Gambar 141. Gambar 142. Gambar 143. Gambar 144. Gambar 145. Gambar 146. Gambar 147. Gambar 148. Gambar 149. Gambar 150. Gambar 151. Gambar 152. Gambar 153. Gambar 154. Gambar 155. Gambar 156. Gambar 157. Gambar 158. Gambar 159. Gambar 160. Gambar 161. Gambar 162. Gambar 163. Gambar 164. Gambar 165. Gambar 166. Gambar 167. Gambar 168. Tangkai pemutar ....................................................................... 193 Dimensi ulir ................................................................................ 193 Proses mengetap ...................................................................... 195 Mengecek ketegakan lurus mengetap ....................................... 195 Posisi tangan pada awal menyenei ........................................... 195 Pemegangan penuh pada posisi jauh dari rumah Snei ........................................................................................... 196 Penggunaan snei ...................................................................... 196 Sekerap tangan ......................................................................... 197 Sekerap mata bulat ................................................................... 197 Sekerap keruk ........................................................................... 197 Sekerap setengah bundar ......................................................... 198 Sekerap segi tiga ....................................................................... 198 Sekerap bulat hidung sapi ......................................................... 198 Menyekerap ............................................................................... 199 Mesin gerinda tiang ................................................................... 199 Proses pelepasan butiran pemotong ......................................... 200 Roda gerinda lunak ................................................................... 201 Roda gerinda keras ................................................................... 201 Roda gerinda struktur terbuka .................................................... 203 Roda gerinda struktur padat ...................................................... 203 Roda gerinda struktur pori-pori .................................................. 203 Roda gerinda lurus .................................................................... 204 Penandaan roda gerinda ........................................................... 204 pemeriksaan roda gerinda ......................................................... 206 Pengikatan roda gerinda pada mesin spindel mesin ......................................................................................... 207 Mengasah / mendreser roda gerinda ........................................ 207 Keselamatan kerja menggerinda ............................................... 208 Melipat tepi ................................................................................ 208 Mesin lipat ................................................................................. 209 Mesin roll ................................................................................... 209 Landasan rata ........................................................................... 209 Landasan pipa ........................................................................... 209 Landasan tepi lurus ................................................................... 210 Landasan tepi bundar ................................................................ 210 Landasan ½ bola ....................................................................... 210 Landasan alur ............................................................................ 210 Sambungan sekerup ................................................................. 211 Sambungan lipatan ................................................................... 212 Sambungan keling ..................................................................... 212 Memasang baut pemanas ......................................................... 212 Proses mematri ......................................................................... 213 Jenis penguatan ........................................................................ 213 Pengutan tepi ............................................................................ 214 Penguatan tepi dengan kawat ................................................... 214 Mesin putar kombinasi ............................................................... 215 Alas penindih kertas .................................................................. 215 Mal mata bor ............................................................................. 216 Dimensi mal mata bor ................................................................ 217 Pengepasan persegi .................................................................. 217 Dimensi pengepasan persegi .................................................... 218 Sambungan ekor burung ........................................................... 218 Dimensi sambungan ekor burung .............................................. 219 Bukaan kotak ............................................................................. 219 Penitik, pahat tangan, penggores dan mata bor ........................ 221

LAMPIRAN C.8

_________________________________________________
BAB VI PROSES PRODUKSI MESIN KONVENSIONAL
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Gambar 34. Gambar 35. Gambar 36. Gambar 37. Gambar 38. Gambar 39. Gambar 40. Gambar 41. Gambar 42. Gambar 43. Gambar 44. Gambar 45. Gambar 46. Gambar 47. Gambar 48 Gambar 49. Gambar 50. Gambar 51. Poros lurus ................................................................................ 228 Poros bertingkat (step shaft) ..................................................... 228 Poros tirus (cone shaft) ............................................................. 228 Poros beralur dan berulir (screw thread) ................................... 228 Mesin bubut ringan .................................................................... 229 Mesin bubut sedang .................................................................. 230 Mesin bubut standar .................................................................. 230 Mesin bubut beralas panjang .................................................... 231 Mesin bubut lantai ..................................................................... 232 Mesin bubut dengan pengendali ............................................... 233 Mesin bubut tegak ..................................................................... 233 Mesin bubut dengan enam spindel mendatar ........................... 234 Mesin bubut tegak dengan delapan spindel .............................. 235 Mesin bubut tegak dengan spindel sistem rotari ....................... 235 Mesin bubut khusus untuk memotong ....................................... 236 Mesin bubut khusus ulir ............................................................ 236 Mesin bubut khusus pembuat ulir swiss .................................... 237 Mesin bubut turret ..................................................................... 237 Sumbu utama ............................................................................ 239 Meja mesin bubut ...................................................................... 239 Eretan (carriage) ........................................................................ 240 Kepala lepas ............................................................................. 241 Tuas pengatur kecepatan ......................................................... 241 Tuas pembalik putaran (C) ........................................................ 242 Plat tabel kecepatan sumbu utama ........................................... 242 Tuas pengatur kecepatan sumbu utama .................................... 243 Penjepit pahat ........................................................................... 243 Eretan atas ................................................................................ 244 Keran pendingin ........................................................................ 244 Poros transporter dan sumbu pembawa .................................... 245 Dimensi utama mesin bubut ..................................................... 246 Cekam rahang tiga sepusat (selft centering chuck) ................... 247 Cekam rahang tiga dan empat tidak sepusat (independent chuck)................................................................... 248 Plat pembawa ........................................................................... 248 Pembawa .................................................................................. 249 Penyangga ................................................................................ 249 Penggunaan penyangga ........................................................... 250 Kolet .......................................................................................... 250 Kelengkapan kolet ..................................................................... 251 Contoh penggunaan kolet ......................................................... 251 Senter ....................................................................................... 252 Taper attachment ...................................................................... 252 Geometris pahat bubut .............................................................. 253 Pahat bubut rata kanan ............................................................. 255 Pahat bubut rata kiri .................................................................. 255 Pahat bubut muka ..................................................................... 256 Pahat bubut ulir metrik ............................................................... 256 Jenis-jenis pahat bubut dan kegunaanya................................... 257 Pahat bubut dalam .................................................................... 258 Contoh pembubutan dalam ....................................................... 258 Pahat potong ............................................................................. 258

..... 283 Bagian-bagian utama mesin frais horisontal .............................. Gambar 57....... Gambar 84..................................................................................... Gambar 92..... 287 Cutter radius cembung ..................................................................................................................................................................................................................... Gambar 72...................... 266 Pembubutan lurus untuk batang panjang ....................................... Gambar 77.. 287 Cutter radius cekung ............................... 272 Ulir segitiga kanan ......................................................................... Gambar 86..... Gambar 104......... 286 Pisau alur dan penggunaanya........ 289 Pisau frais gergaji ......... 285 Cutter mantel . 273 Standar profil ulir jenis metrik .. 269 Perlengkapan tirus ............................................................................9 Gambar 52.......................................................... 271 Membubut alur ........... 259 Bor senter .. 265 Arah gerakan pahat dan benda kerja ....................... 288 Pisau sudut dan penggunaanya ..... Gambar 76............................................................................ Gambar 102............................................................................ 273 Ulir segitiga kiri .................... 259 Pahat keras ........................................... 289 Shell endmill cutter ........................... 272 Ulir segitiga dalam ... Gambar 99.................. 282 Mesin frais planer ........................................................... 260 Jarak tempuh pahat bubut ............. Gambar 98......... Gambar 69........................................................................... 288 Cutter endmill ..................................................... Gambar 61.. Gambar 100.................. Gambar 65................. 286 Gear cutter .. 269 Membubut bentuk ......................... 274 Membubut dalam tirus ........................................................................................ 292 Adaptor .............. 267 Pembubutan tirus dengan menggeser eretan atas.. 274 Pengeboran lubang senter ................................ 268 Membubut tirus diantara dua senter ............ 287 Cutter alur “T” ........................................................... Gambar 60.................... Gambar 68............................ Gambar 66.................. 281 Mesin frais universal . Gambar 67...... Gambar 83....... 264 Membubut permukaan.......................................... 271 Ulir segitiga luar ................................ 275 Prinsip pemotongan pada mesin frais .... Gambar 54.....................LAMPIRAN C.... Gambar 85... Gambar 73.................................................................................... 280 Mesin frais vertical ........................... Gambar 74.................................. 289 Pisau pengasaran .......... 282 Mesin frais roda gigi (gear hobbing machine) ............... 282 Mesin frais duplex ..................................................................... Gambar 81..... 281 Mesin frais universal ......... 260 Kartel ... Gambar 96......................... Gambar 93............................................... Gambar 105....................... Gambar 58....... Pahat bentuk ................................................. 281 Mesin frais bed ...................................................................... Gambar 88.................... Gambar 59........ Gambar 82......................... 293 ............................................................. Gambar 94............... 285 Mesin frais universal ............................ Gambar 75................................................................................. 283 Mesin frais tegak .................................................. Gambar 62...... 273 Standar kedalaman ulir metrik.... 265 Pembubutan lurus benda yang pendek ...... Gambar 89....................... 269 Gambar kerja membubut tirus diantara dua senter .................... Gambar 64.................. Gambar 78................................................................... Gambar 53.................................... 292 Pemotongan searah benda kerja .......................... 291 Stub arbor ....... 292 Pengikatan cutter batang lurus ................................................................................... Gambar 63..................... Gambar 55........................ Gambar 106.... Gambar 80.......... Gambar 97....... 278 Pemotongan alur ...................................... Gambar 71......................................... Gambar 70................................................................................... 265 Pembubutan lurus benda yang panjang ..... 290 Posisi cutter pada arbor .................................................................................................................................................................. 284 Komponen-konponen mesin frais tegak .............................................. Gambar 90...... Gambar 56.............................. 290 Cara pemasangan pisau frais... Gambar 107......................................................................................... Gambar 103...................... 273 Ulir segitiga dua jalan . 279 Mesin frais horizontal ........................................................................ Gambar 91............... Gambar 87................ Gambar 79..................................... Gambar 95............... Gambar 101...............

.... 315 Pengefraisan persegi empat dengan shell endmill Cutter ........................................... Gambar 148. 305 Pemasangan arbor.............. 328 Ragum dan perlengkapan frais batang bergigi (rack milling attachment and vice)....................................... 328 Pengefraisan gigi batang pendek..... 299 Rotary table ... Gambar 143.................. 308 Pemasangan pendukung arbor................. Gambar 152.......................................................................................................................................................... 313 Pemotongan shoulder ................................. 310 Penandaan kedalaman pemakanan............................................. Pemotongan berlawanan arah benda kerja ........ 293 Pemotongan netral................. 312 Pengefraisan bidang miring yang kasar ..................................................... 313 Pembuatan alur pasak pada mesin frais horisontal ...................................... Gambar 110......................................... Gambar 140................................ Gambar 144.................. 321 Gear stocking cutter (pisau gigi tipe stocking).. 333 .................................................................... 307 Membersihkan bagian tirus ......................10 Gambar 108....................................................... Gambar 124..................... Gambar 133.... 300 Kepala pembagi ......... 312 Blok V....... 312 Pengefraisan bidang permukaan miring..................... 324 Roda gigi lurus ...................................................................................................................... 296 Kepala pembagi .... 325 Pemotongan gigi lurus .............................. Gambar 117.................. 313 Model alur dan shoulder ...................................... Gambar 127..................................... 321 Pemasangan benda kerja dengan mandiri... Gambar 149......................... Gambar 130.................................. 308 Pengecekan kesejajaran ragum................... 314 Pengefraisan alur pasak pada mesin frais tegak ......................................................................... Gambar 122........................ 296 Ragum universal ............... Gambar 113..... Gambar 128b....................................................................................................................................... Gambar 150................... 313 Pembuatan alur......... Gambar 147.................... 299 Adaptor . Gambar 132........... 318 Gear plain cutter (pisau gigi tipe plain).... 307 Pemasangan cutter dan kollar (ring bor) ................. 310 Proses pemotongan benda kerja ............ Gambar 155....................................................................................... Gambar 128a...................... 295 Ragum putar ........ Gambar 116.... 294 Sudut-sudut alat potong/pisau frais/cutter ................................................................. 324 Mengukur dengan siku dan mikrometer kedalaman ....... Gambar 138...... Gambar 137............... 295 Ragum biasa ............ Gambar 131...... Gambar 153. 309 Setting nol di atas permukaan kerja dengan kertas ............................................................................................................................................................ Gambar 156............................................................................... Gambar 114...................... Gambar 136... Gambar 146..................................................... Gambar 139. 313 Pengefraisan blok V ........... Gambar 125........ Gambar 126....... 329 Perlengkapan pembagi batang bergigi... Gambar 134.................... Gambar 141...... Gambar 109............. Gambar 157. 300 Jarak tempuh pada pengefraisan vertical ....... 327 Ukuran gigi rack .......... Gambar 118...... 329 Roda gigi lurus ................................... 298 Kepala lepas .. 311 Pemutaran handel pemakanan .......... 314 Pembuatan alur pasak dengan pisau terpasang pada spindel mendatar ............................................................ Gambar 154............................. 330 Bagian dari mistar ingsut nonius ......... Gambar 123................... Gambar 129......................................................................................................................... 311 Proses pengefraisan bidang rata dengan shell Endmill cutter ................................................................ 315 Pengefraisan segi empat dengan endmill cutter ....... 307 Mengikat arbor .......................................... 315 Istilah pada roda gigi .................................................................................................................................................. Gambar 121. Gambar 135....... 323 Pemasangan benda kerja dengan meja putar .... Gambar 151..................................................................... Gambar 145............. Gambar 119.................. 309 Pemasangan benda kerja pada ragum ....... 299 Arbor . Gambar 111.......................LAMPIRAN C................. Gambar 120........................................................ Gambar 142.... Gambar 115........................... Gambar 112................

............................................................................................................................................ 408 Posisi TNB............................. Penggunaan pakaian kerja pada mesin frais........ Gambar 165...... 398 Benda kerja torak dan dimensinya .................................... Gambar 29....... Gambar 9.................................................. Penunjukkan jarak ukur . 400 Benda kerja klem batang torak . 413 Pemakanan lurus pada mesin CNC frais.............................. Gambar 23.......................................................... 392 Bagian benda kerja stang torak ................... Gambar 25............ TR pada mesin CNC bubut .................................. 410 Arah putaran spindle berlawanan arah dengan jarum jam (M04) . 391 Benda kerja berupa poros bertingkat ....... Gambar 170...... 409 Posisi TNB.. Penunjukan garis ukur.. Gambar 11.... Gambar 18................... Gambar 7................................... 392 Benda kerja potongan A-B ...................................................................... 353 Menentukan kooordinat benda 2D ............................................................................................................................... 410 Cairan pendingin disemprotkan untuk mendinginkan alat potong dan benda kerja .... 400 Benda kerja torak ........11 Gambar 158................................ Gambar 17.......................... Gambar 21. Penggunaan pakaian kerja pada mesin bubut ... 356 Jenis simbol bekerja dengan block ........ Gambar 6................................................................... Gambar 27......................................... Gambar 20............................................ Penggunaan kaca mata............... 406 Pengukuran metode inkrimental ................... Gambar 164............................................................... 333 334 334 335 336 336 336 337 345 346 346 347 348 348 349 BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER Gambar 1.................. 390 Benda kerja berupa bola ........ 401 Benda kerja batang torak .................................................... Gambar 31............. 407 Gerakan sumbu utama menganut kaidah tangan kanan ............................ 413 Arah pemakanan melingkar G 02 pada mesin CNC bubut ....................................... 411 Gerakan cepat alat potong di atas benda kerja .. Contoh pembacaan mikrometer ...... Gambar 163... Tabung ukur dan tabung garis ................ Gambar 33....................................... 389 Benda kerja berupa silinder ...............................5 mm .............................. Gambar 2... Gambar 5.... Gambar 15..... Gambar 16....................................................... Mikrometer luar dengan nama bagianya ................................................................................... 403 Mesin frais CNC .. Produk gambar CAD 2D dan gambar 3D ........... 404 Pengukuran metode absolut ..................................................................................... Gambar 4.............. Gambar 171.............. Gambar 160...... Prinsip skala metrik .................................. 407 Pengukuran metode inkremental .............. Gambar 167.... 402 Mesin bubut CNC production unit (PU2A) ............................................. 409 Alat potong berputar searah jarum jam (M03) ............. Gambar 28....... Gambar 26........ TNM......... Membersihkan chip/beram pada saat putaran mesin harus berhenti . Contoh penggunaan mistar geser .. TNM........... Gambar 172.... Gambar 169......... Gambar 10....... 388 Benda kerja berupa CONE .............. Gambar 13................................................................ 392 Benda kerja stang torak ............................................................ Gambar 24................................ Penggunaan sepatu kerja ..............................LAMPIRAN C.............. Gambar 8............................ Gambar 12..... 383 Benda kerja berupa box ............................................................................ Gambar 168...................................................................................... Gambar 14.................... Gambar 159........... Gambar 22. Gambar 162............. 414 Arah pemakanan melingkar G 02 pada mesin ..... Membersihkan mesin dengan kuas. Gambar 166...... TR pada mesin CNC frais ....... Gambar 32....................................... 394 Benda kerja stang torak .... 390 Benda kerja berupa torus ....................................... Menarik lilitan tatal dengan batang penarik .............................. 412 Pembubutan lurus dan tirus pada mesin bubut CNC .... Gambar 3......... Gambar 30... Contoh pengukuran 9.... Gambar 19.............. Gambar 161..........

.. Siklus pemakanan memanjang G 81 mesin Gildmeister ................. 475 Kompresor torak dua tingkat sistem pendingin Udara .......................................... Siklus pengeboran ................. 478 ............................ Gambar 52. Gambar 47..... Gambar 7......... Gambar 53............... 416 417 417 418 418 419 420 422 423 424 424 425 426 426 427 428 429 429 430 432 432 433 434 435 436 437 439 439 440 443 465 466 467 Gambar 34................................. Perhitungan koordinat titik 3 dan titik 5 ........... Sumbu simetri mesin frais CNC TU 3A EMCO . Pemrograman inkremental G 91 ............................... Gambar 58.... Siklus pembubutan melintang G 36 G 82 ..................................... Menentukan titik nol benda kerja pada mesin CNC frais ...................................... Gambar 59.......................... Mesin EDM (Electrical discharge Machining) ............. 477 Kompresor sekrup (Gottfried Nist. Perhitungan koordinat titik 2 ...................................................................... Gambar 42.................................... K inkremental .......... Gambar 2...............................................1990)......................................... Nilai I............................................................. Gambar 44........... Gambar 61....................................... Mesin CNC TU 2A EMCO... Gambar 38...................... Gambar 36................. Gambar 60................... Gambar 65.............. Gerak alat potong bergeser ke kiri lintasanya ............................................... Gambar 35....... 1994).. 473 Klasifikasi kompresor (Majumdar........................................................................................12 CNC frais ..... Siklus pemakanan memanjang G 84 ......................................................................................................................................................... 474 Kompresor torak resiprokal ................................................ Gambar 45......... Gambar 66........ Detail perhitungan kontur paron bola ....... Siklus pembuatan ulir G 33 .. 476 Kompresor rotair baling-baling luncur (FESTO transparan).... Mesin frais CNC TU 2A EMCO .................... Dimensi handel ............................................................................. Gambar 55................ J..... Gambar 5. Siklus kantong lingkaran .... Gambar 6........................... Titik nol benda kerja ... Gambar 64..... Gambar 4...................................... Gambar 50.... 415 Arah pembubutan melingkar G 03 pada mesin CNC bubut ............................................................... Gambar 57..... Gambar 37............................... Gambar 43..... Produk mesin benda kerja mesin EDM ...... Gambar 41......................... SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK Efekfitifitas udara bertekanan (werner Rohrer.. Control panel mesin EDM ....... Gambar 48..... Penentuan titik koordinat paron bola ......................... Gambar 3....................................................................................................................... Benda kerja pion yang akan dibuat ... Gambar 9...... Sistem persumbuan pada mesin bubut ..................................................................... 416 Arah pembubutan melingkar G 03 pada mesin CNC frais ....................................................... Gambar 56. Menteri catur ............ 471 Klasifikasi elemen pneumatik (FESTO fluidSIM)....................... Gerak alat potong sesuai lintasan G 40 .................. Gambar 63..... Benda kerja asbak rokok ........................................................ Gambar 46................... Nilai I....................................................................... Perhitungan koordinat titik 1 ..................................... Siklus pembubutan melintang dengan finishing G 37 G 82 ....................... Gambar 39.......................... Gambar 67............................. J....... 476 Kompresor diafragma ................................ 2001) ................... Gambar 40............. Dimensi paron bola dan dimensinya ......... K absolute ........................... _________________________________________________ BAB VIII Gambar 1. 478 Kompresor model Root Blower ................... Gambar 51. Gambar 49........................ Gambar 8................. Gambar 62...........................LAMPIRAN C...................................................... Siklus pembuatan kantong ..................................... Gambar 54....

.......... Sistem tekanan dalam pneumatik .... 482 Pengering udara ....................................... Gambar 36.................................... Gambar 29............ Gambar 40......................................... 495 Motor piston radial dan motor axial motor ........................................... Gambar 32........... Gambar 55.................................................................................. Analisis tekanan pada penampang berbeda ................................................ 483 Tabung Pelumas ...... Gambar 43...................................... 481 Tangki udara .................................................................................. 494 Double Acting Cylinder dan simbolnya ............. Katup sinyal roll 3/2 ................ Analisis gaya torak .................................. 497 499 505 506 507 507 508 510 513 514 514 515 515 516 516 517 .................................................................... 486 Detail pembacaan katup 5/2 ............................................. 487 Katup 3/2 knop pembalik pegas .................................................................................... Katup kendali 5/2..................................................... 484 Jenis-jenis konduktor .............. 479 Kompresor aliran aksial ............................................................... Gambar 12......................... Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik dan Udara Kempa... Analisis daya pompa .................. Gambar 11... Gambar 31....................... Gambar 17........................................................................................................13 Gambar 10.................................... Gambar 57........... Pengendalian silinder sederhana secara langsung . 489 Katup satu arah dan simbolnya ...................................................... 486 Macam-macam konektor ................................................ Gambar 34. Gambar 59................................. Gambar 41......... Gambar 33.............................. 489 Katup 4/3 plunyer pembalik pegas ............... Gambar 44........... Gambar 58............ 491 Pressure regulator valve . 491 Squence valve ......... 491 Katup buang cepat ........... Gambar 24............ Gambar 39................. 493 Jenis-jenis single acting cylinder dan Simbolnya........................................ Gambar 56...... Gambar 14..................... 483 Tabung pelumas........................................... 1994) ............... Gambar 21....... Gambar 19........................................ 482 Kompresor torak ............... Gambar 16....................... Analisis debit udara .................................................................................................. Gambar 30. 496 Rotari vane motor .... Gambar 52.................................. 490 Katup dua tekan .......................... 493 Shut of valve ..... 495 Double acting cylinder with cushioning ........................... Gambar 23.......... Gambar 35.... 492 Katup pengatur aliran ................................ Gambar 45............................... 489 Katup 5/2 plunyer pembalik udara bertekanan ... Gambar 15.............................................................. 480 Kompresor torak berpindah (Moveble) ......................................... 480 Distribusi sistem pengolahan udara bertekanan .................................................. Gambar 51................................................................................... Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik Udara Kempa dan Pembalik Pegas ........................... Gambar 25........................................................................................................ Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Udara Kempa ............................ 492 Time Delay Valve ...... 490 Shuttle valve .......... 488 Katup 4/2 plunyer pembalik pegas .... Gambar 18............................................... Analisis kecepatan torak .. Tipe-tipe mounting .... 496 Jenis dan simbol motor pneumatik / rotary Actuator (FESTO fluidSIM) ............................................... Gambar 54.................. Gambar 27................. Gambar 38.... Gambar 42...................................................... Gambar 13..................... Kompresor aliran radial (Gottfried Nist............................................... 481 Filter udara ....................................... Gambar 37............................................................................. Gambar 46........... Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Magnet ..LAMPIRAN C....... Gambar 28...................................................................................... Analisis debit udara ..... Gambar 22.. Gambar 20....... Gambar 53................... 482 Pemisah air ............... Gambar 26.................... 484 Unit pengolahan udara bertekanan ............... 487 Katup 3/2 knop pembalik pegas ....... Gambar 47.......... Gambar 48 Gambar 49 Gambar 50.......................................

............................................................. Gambar 89.......................................................................................... 532 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S3 .............................................. Gambar 103...................... 521 Diagram rangkaian kontrol pintu bus otomatis ................................................... 553 Pompa sekrup ................. 525 Simbol logika untuk gerakan pintu bus .................................................................. 520 Diagram gerak silinder 1........................ 530 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S2 ..........................0 A+.... 557 Perhitungan kecepatan torak ................... Gambar 95.. Gambar 68........ Gambar 84..... 552 Pompa torak radial ........................ Gambar 77.................. Gambar 86................ Penggunaan robot dalam sistem otomasi industri ........................................................................ 519 Pengendalian otomatis silinder penggerak ganda ........................ 529 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S4................................. 562 Radial piston pump ..................................................................................................... 548 Cappilary viscometer .......... 563 Tangki hidrolik reservoir dan simbolnya ............. Gambar 81........................................ Gambar 80............. Gambar 94.............................. 535 Pembuatan profil plat .................... 561 Pompa roda gigi tipe gerotor . 566 Efisiensi Volumetrik. 551 Pompa hidrolik sirip burung ........................................... 558 Tekanan absolute .......... 535 Pemotong material .......... Gambar 104................................. Gambar 74.............................. 528 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S 4 .............................. 531 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S2... 518 Rangkaian dan diagram gerak silinder melalui Dua katup ................. Gambar 70......2(X) .......... Gambar 71................ Gambar 87. 521 Aplikasi gerak silinder 1...................... 536 Pengangkat benda .........LAMPIRAN C...................................... 562 Balanced vance ........... 534 Penahan / penjepit benda ........... 522 Diagram tahap perpindahan ................................................................... Gambar 64....14 Gambar 60....... Gambar 79....... 555 Klasifikasi hidrolik dalam penampang dan skema... Gambar 82. 536 Pengangkatan benda .................................. 537 Viscometer .......................................... A....... Gambar 61. 552 Pompa hidrolik torak aksial ................ Gambar 99.................................................. 554 Motor hidrolik roda gigi ................................................ Gambar 96............................................ Gambar 85.......... Gambar 66..... 556 Prinsip hukum pascal .................... 554 Aplikasi penggunaan sistem hidrolik pada alat Berat .............................................................................................. 533 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S3 ............................................................................... 525 Diagram karbought untuk saluran 1.... Gambar 65. 567 BAB IX PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN Gambar 1....................................................... Gambar 67...... 527 Diagram Karnought untuk saluran 1..... Gambar 83.... Gambar 102................................................. 555 Macam-macam model katup pembatas tekanan .... Gambar 78............................................. Gambar 75.... Gambar 90...................... Gambar 101..................... Gambar 91............................................................................................................. 553 Silinder hidrolik penggerak ganda .. 548 Pompa hidrolik roda gigi ..........0 penggerak ganda ....... Gambar 100.......................................... Gambar 69.......... Gambar 62................... 563 Bent axis piston pump ... Gambar 88........................................................................... Gambar 93....... Gambar 63...4 (Y) .................................................................................................................................................. 560 Pompa roda gigi tipe cresent ................ 558 Pompa hidrolik ........................................................... Gambar 76............................................................................................... Gambar 97.............................. Penggeser benda kerja ................ Gambar 105........................ Gambar 92...................................... 565 Suction filter ....................... Gambar 98............................................................................. Gambar 72................ 569+4 .....................................

... 595 Tampilan menu utama program SYSWIN OMRON .. Gambar 22............. Gambar 5......................... Gambar 36............ 583 Simbol logika AND LOAD ............. 602 Rangkaian latching ................................................ 590 Hubungan antara I/O dengan perangkat lumak ................................................ 591 CPU PLC (OMRON) ........................ Gambar 31.................................................................... 597 Pembuatan diagram ladder .... ouput........... Gambar 27........................................ 589 Diagram blok PLC ............. Gambar 16..................................................... 596 Tampilan ladder diagram ....................... 586 Slot modul masukan atau keluaran PLC ................................................................................................................................................................................... PLC....... 599 Ladder diagram dengan pengunci ............................................................ 611 Diagram ladder .................... 603 Aturan KEEP ................... 581 Simbol logika OUT dan OUT NOT ....... Gambar 26...... 574 Penggeser pneumatik dan robot industri yang siap Menggantikan tenaga manusia ................ Gambar 30.... Gambar 21...................................................................................... Gambar 41....................................................... 599 Ladder diagram .... Gambar 37..... Gambar 7......... 604 SET dan RESET ........LAMPIRAN C.......... Gambar 29...... 578 PLC OMRON tipe ZEN dan PLC LG ........................................................................ Gambar 47................ Gambar 40........................................ Gambar 4......................................................... 601 Penambahan relay untuk memperbesar Kemapuan arus . 601 Rangkaian input unit CPU PLC OMRON CPM1AXXCDR............ Gambar 14.............. 580 Simbol logika LOAD dan LOAD NOT .............................. Gambar 44..................................... 588 Contoh device keluaran dan simbolnya ........................................ 605 Aplikasi PLC .................. Gambar 15..................................... 592 Catu daya ....15 Gambar 2.................. Gambar 33.................... 603 DIFU dan DIFD ............................................ 598 Akhir dari diagram tangga menggunakan END .... Gambar 17....................................... Penggunaan robot dalam sistem otomasi industri.......... 600 Cara penyambungan perangakat input dan output Lebih dari satu channel . Gambar 12.......... Gambar 10................ Gambar 42............. 579 PLC training unit ............. Gambar 8...................... 580 Simbol logika AND dan AND NOT .................................................................................................................................... 600 Ladder diagram kebalikan diagram dengan Pengunci .. Gambar 45...................... Catu daya ............................................................. 602 Diagram ladder latching .................. Gambar 43........................................... Gambar 3.................... 612 ............................... Gambar 19...... Gambar 11...... Gambar 13...... Gambar 20........... Gambar 38............................................................. Gambar 28............... Gambar 35.............................................. 577 Relay tunggal dan sistem relay pada mesin CNC ................ Gambar 25............ Gambar 48....................................... Gambar 32... 581 Simbol logika OR dan OR NOT .......... 597 Akhir dari diagram tangga menggunakan END ... 598 Penyambungan perangkat input................... 584 Simbol logika TIMER dan COUNTER ......................................................................... Gambar 6................................ 602 Rangkaian input dalam unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR (351352 pelatihan PLC OMRON) ............................................................ Gambar 9.............................................. Gambar 24...................................................... 587 Handled programmer (OMRON) .............................. 585 Contoh simbol device masukan ............................ 604 Rangkaian switch relay ............................................... 587 Desktop .............. Gambar 39... Gambar 46..................................................... Gambar 23................. 576 Robot industri dalam proses manufacturing ............. 608 Sistem kerja pengisian air otomatis ................. 605 Diagram ladder aplikasi koil ................. Gambar 18............................. 607 Diagram ladder ................. 603 Tanda KEEP .......................................................................... Gambar 34. 584 Simbol logika OR LOAD ..........................................

......................... 646 Sistem kerja griper menggunakan magnet .... Gambar 25........................................................................................................ 655 .......................................... Gambar 31.. Gambar 44................................................................................................................ 644 Aplikasi tangan menggunakan gripper mekanik .............. 632 Prinsip koordinat silindrikal dan aplikasinya .................. 651 Strain gages uniaxial ............................ 644 Aplikasi gripper vakum ..... 636 Jangkauan kerja koordinat silindrikal padangan atas ................................................ 622 Catu daya pneumatik .................................. 649 Photoelectric ................................ 640 Jenis robot aplikasi dalam pengecatan ................... Gambar 29.................................16 Gambar 49............. Gambar 24.... 637 Robot material handling .................. Gambar 38........ 631 Gerak robot full rotasi........... Gambar 34.............................................. Gambar 9............... 615 BAB X TEKNOLOGI ROBOT Gambar 1......................................................................... Gambar 20.......................... 645 Aplikasi gripper magnet ............................................... 620 Komponen dasar manipulator robot ................ Gambar 7. 623 Catu daya hidrolik ...... translasi..... 642 Efisiensi kerja penggunaan robot pada aplikasi Pengecatan .......................................................... 639 Line tracking ............ Gambar 5c................................ 649 Sensor jarak ................ Gambar 46................................................................. 628 Sistem Persumbuan robot ......... 636 Jangkauan kerja robot sisi samping ............. translasi.................................. 649 Transmisi data ....... 649 Aplikasi sensor non-contact menggunakan kemera Dan laser ..... 623 Efektor robot ...................... 625 Robot low technology ................. 654 Thermistor ............................................ 653 Aplikasi thermokopel .......................... 638 Robot palletizing ... 645 Contoh sistem vakum ....... Gambar 5b................. 647 Berbagai macam tipe limit switch ........ Gambar 43..................... Robot siap menggantikan tenaga manusia . Gambar 28.......................................................... Gambar 5a.................................................................................................... 652 Berbagai macam aplikasi RTD ................................................................. 641 Aplikasi pada robot pengelasan .............. Gambar 40................... 648 Sensor non-kontak aplikasi warna ............ Gambar 35....................................................... Gambar 4........... Gambar 41.......................... Gambar 8.................................................... Gambar 18........................................................................................ Gambar 14.................... 633 Prinsip koordinat polar dan aplikasinya ................. Gambar 2............................................................................ Gambar 32................ Gambar 17.................... 637 Jangkauan kerja sisi atas ................... 655 Tabung tekanan ......................................LAMPIRAN C.... 628 Robot dalam proses manufactur ..... Gambar 6. Gambar 27....... 627 Robot las pada jalur perakitan ................................ Gambar 39............................. 633 Jangkauan kerja koordinat silindrikal ................. Gambar 11..... Gambar 21................... Gambar 47............ translasi ........................ 630 Gerak robot rotasi............................................................................... Gambar 22.................... 621 Robot dan kontroller ............... Gambar 3...................... 651 Strain gages ....... Gambar 33........... Gambar 37.......................................................................................................... 652 Kawat susunan rosette pada strain gages ................................... Gambar 19................ Gambar 15......................................................................... Diagram ladder aplikasi sistem alarm ........................ 623 Catu daya listrik ............................................................................... Gambar 45......... Gambar 42................ 619 Penggunaan robot pada sebuah laboratorium ................................ Gambar 13.............. Gambar 12.... Gambar 10........................................................ Gambar 16............... 624 Base manipulator jenis kaku .... Gambar 23.......... Gambar 30.......................... Gambar 26.................................. 639 Robot perakitan dengan pelengkap kamera ..... 630 Gerak robot total translasi ........................ 631 Aplikasi koordinat kartesian .. 643 Jenis gripper menggunakan penggerak Pneumatik ..... Gambar 36................................................................

........ 657 Cakram ecendor ..................................................................................................... Gambar 64........................................................... Gambar 55............................ Gambar 54................... Gambar 51.............................................................LAMPIRAN C................ Gambar 50.................. 660 Solenoid electro-mekanik ........................... 665 Salah satu contoh stepper / motor langkah ........... 666 ........................... Gambar 65............................................................... 661 Katup .... 663 Prinsip kerja motor AC..................... 658 Rangkaian LVDT ................................................ 659 Prinsip kerja solenoid ...... 662 Prinsip kerja motor DC ........................................... Gambar 53..... Venturi ............... 657 Aplikasi tachometer ........................................ 661 Silinder gerak tunggal ................................................ 662 Silinder penggerak ganda ................................ 658 Aplikasi ecendor .................17 Gambar 48................................. 656 Prinsip kerja tachometer dengan pulsa listrik yang dihasilkan ................. 659 Aplikasi LVDT ............... 664 Aplikasi motor AC ................... Gambar 52............................................. 665 Prinsip kerja motor stepper ................. Gambar 62...................................................... Gambar 60............................................................. Gambar 49...... Gambar 57..................................... Gambar 56.......... Gambar 63............ Gambar 61............................................................. Gambar 59......................... Gambar 58............................................... 656 Tabung pitot untuk mengukur aliran gas ................

18 .LAMPIRAN C.

.

. Alat pengatur arah. Penyimpan data dalam computer.1 GLOSARY PLC CNC Pneumatik Hydrolik Sensor N Code G Code Griffer Inkremental Absolute Polar Feeding Actuator Katup Compressor Arbor Cekam Cutter Air Service Unit Balamced Vane Bent Axis Piston Processor Power Supply Ladder Logic Selenoida Memory : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Programmable Logic Controlled Computer Numerically Controolled Ilmu tentang pemanfaatan udara bertekanan Fluida untuk meneruskan tenaga Masukan ke dalam sistem atau sinyal Kode kalim at dalam pemrograman mesin CNC Kode instruksi dalam pemrograman mesin CNC Lengan robot untuk mengambil material Pengukuran berdasarkan pada perubahan panjang lintasan Pengukuran berdasarkan pada perubahan panjang lintasan Pengukuran berdasarkan pada perubahan besar sudut lintasan Kecepatan asutan dalam pemakanan benda kerja Penggerak benda kerja atau output dari suatu sistem. tekanan maupun kecepatan fluida dari sistem. Pusat pengolah semua masukan dari sesnsor untuk disalurkan pada output.LAMPIRAN D. Komponen pembersih (filter). Tempat dudukan alat potong mesin frais. pemberi pelumas pengatur tekanan fluida sistem. Pisau penyayat benda kerja. Kumparan kawat yang dapat dialiri listrik. Catu daya Diagram tangga yang digunakan dalam PLC. Pompa torak dengan poros tekuk. Pompa kipas balanced. Tempat untuk menjepit benda kerja pada mesin bubut. Alat pembangkit tekanan fluida.

.

1 INDEX A Air Service Unit 472 Aktuator 485 Aktuator 651 Anak Panah84 Aplikasi 461 Arm Geometry620 Asutan 425 AutoCAD 348 B Balanced Vane554 Bent Axis Piston 555 Bit 594 Bubut 220 Bus 513 C Centrifugal Casting34 Cetakan 29 CNC 239 coinage de making 458 Computer Aided Design (CAD) 345 Computer Numerically Controlled (CNC) 394 Crescent 553 Cutter 279 Cutting Speed 253 D Device 577 Die Casting 35 Dividing Head 293 Drilling 459 E EDM (Electrical Discharge Machining) 457 Efektifitas 462 Efektor 634 Ekor 212 Ekspandable Mold Casting 31 Elemen 14 EMCO 426 F Frais 271 G Gambar Perspektif 77 Gambar Potongan90 Garis Arsiran100 Gear Cutters 313 Geretor 553 Gips 32 Gripper 634 H Hidrolik 533 J Jangka 66 K K3 53 Katup 652 Katup 479 Kempa 461 Kerja Bangku 130 Kertas 62 Kimia 650 Klasifikasi 465 Komite 55 Kompressor 466 Konduktor 477 Koordinat 420 Kotak 213 L Ladder597 Linear 649 Logam 20 M Mal 210 Manipulator 620 Meja Gambar 70 Melukis 143 Memahat 178 Membengkok 202 Mengebor 163 Mengetap 186 Menggam bar 62 Menggergaji 173 Menggerinda 193 Mengikir 130 Menyambung 205 Menyekerap 191 Menyenei 186 Menyetempel 184 Mereamer171 Mesin Gambar 70 Metal Working 38 Mineral 20 Modul 578 Momen 642 Mounting 501 O OMRON 588 Otomasi 565 P Pascal 548 Pasir 31 Pelat 202 Pendinginan 37 Pengecatan 631 Pengecoran 28 Pengelasan 633 Penggaris 65 Penghapus 68 Penindih 209 Pensil 63 1 .LAMPIRAN E.

2 Perakitan 631 Plaster Casting33 Plat 527 PLC 569 Pneumatik 461 Polar 346 Poros 14 Processor 583 Profil 527 Prosedur 58 Proyeksi 79 Proyeksi Dimentris 76 Proyeksi Isometris 73 Proyeksi Miring (Sejajar) 77 Proyeksi Piktorial 72 R Radial Piston Pump 555 Ragum 527 Rapido 65 Rehabilitasi 59 Resin 34 ROBOT 610 Rotary Table 294 S Sand Casting 32 Selenoids 651 Sensor 639 Silinders 652 Simbol 55 Software 434 Solid 378 Statika 1 SYSWIN 588 T Tegangan 1 Temperatur 643 Tranduser 638 V Vernier Caliper 325 W Wire Cut 459 Wrist 625 2 .LAMPIRAN E.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->