Wirawan Sumbodo dkk

TEKNIK PRODUKSI MESIN INDUSTRI
SMK JILID 3

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

TEKNIK PRODUKSI MESIN INDUSTRI
Untuk SMK

JILID 3
Penulis Pendukung : Wirawan Sumbodo : Sigit Pujiono Agung Pambudi Komariyanto Samsudin Anis Widi Widayat : TIM : 17,6 x 25 cm

Perancang Kulit Ukuran Buku SUM t

SUMBODO, Wirawan Teknik Produksi Im esin Industri untuk SMK Jilid 3 /oleh Wirawan Sumbodo, Sigit Pujiono, Agung Pambudi, Komariyanto, Samsudin Anis, Widi Widayat ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xii, 250 hlm Daftar Pustaka : LAMPIRAN A. Glosarium : LAMPIRAN D. Indeks : LAMPIRAN E. ISBN : 978-979-060-139-0 ISBN : 978-979-060-142-0

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, telah melaksanakan kegiatan penulisan buku kejuruan sebagai bentuk dari kegiatan pembelian hak cipta buku teks pelajaran kejuruan bagi siswa SMK. Karena buku-buku pelajaran kejuruan sangat sulit di dapatkan di pasaran. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK dan telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2008 tanggal 15 Agustus 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional ini, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkan soft copy ini diharapkan akan lebih memudahkan bagi masyarakat khsusnya para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada d luar negeri untuk i mengakses dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, 17 Agustus 2008 Direktur Pembinaan SMK

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan buku dengan judul “Teknik Produksi Industri Mesin” dengan baik. Teknik produksi industri mesin mempunyai peranan yang penting. Perkembangan dunia industri mendorong kemajuan yang pesat dalam teknik industri, mulai dari penggunaan perkakas tangan, mesin konvensional hingga mesin perkakas yang berbasis komputer dan yang otomatis. Buku ini disusun guna membantu peningkatan pengetahuan maupun skill dalam teknik produksi industri mesin baik di dunia pendidikan maupun non pendidikan. Bersama ini Penulis sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi baik material maupun spiritual dari persiapan hingga terbentuknya buku ini. Meskipun penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk penyempurnaan buku ini, namun tentu masih terdapat kesalahan atau kekurang sempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga buku ini bermanfaat bagi perkembangan teknik produksi industri mesin pada khususnya dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya.

Penulis

iv

.

................. 34 1..............................................1 Berbagai Macam Sifat Logam ............................................................................................................... 4.....6 Pengecoran dengan Pasir (Sand Casting ) ......................... 35 1.......................... 1 1........................... 14 3......................................... 1 1..................3 Klasifikasi Mesin Konversi Energi ........................................ 29 1............ Rangkuman ........................................................... 3........................................... 43 3.....................................................7 Pengecoran dengan Gips (Plaster Casting) ...................................................... KATA PENGANTAR ............ 43 3................ 35 1...................................................................................10 Die Casting...................................1 Pengertian Energi ......... 47 Rangkuman .. 32 1....................................................................................2 Pembuatan Cetakan Manual .............4 Pemurnian Mineral .................................................................................................. 29 1....................................................... 9 2.. 20 3..... 5..........3 Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral ......................................................................................................................................... 39 2..... 25 BAB II MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN ......................... v ..... 51 Tes Formatif ...... Mengenal Proses Pengecoran Logam ........ atau Plastik Resin........................................................................................ 30 1...4 Pengecoran Cetakan Ekspandable (Ekspandable Mold Casting) ...............................................3 Pengolahan pasir Cetak .. 22 3..DAFTAR ISI Hal KATA SAMBUTAN ..........5 Pengecoran dengan Gips .................................. Mengenal Material dan Mineral .......................................... 32 1............................................... 22 4............................................................................................ 51 2....................... 21 3.............................. PETA KOMPETENSI ...............................9 Pengecoran Sentrifugal (Centrifugal Casting).......... 44 3...... iii iv v xii _________________________________________________ BAB I MEMAHAMI DASAR -DASAR KEJURUAN 1.........................................1 Poros ....................................................................2 Macam -Macam Energi .........2 Mineral ... Mengenal Komponen/Elemen Mesin ...... 36 1....1 Pengolahan Logam (Metal Working ) ............................. Statika dan Tegangan .......... 14 2...........................2 Tegangan .................................................11 Kecepatan Pendinginan..................................1 Statika .................................................................................. 20 3.......................... 29 1....................................... Beton.......... 33 1............. DAFTAR ISI ..................1 Pengertian ................................................................................ 33 1........ 38 Mengenal Proses Pembentukan Logam ...8 Pengecoran dengan Gips...................................................................................... 39 Mengenal Proses Mesin Konversi Energi ......................................................

.......................................................................................7 Bidang -Bidang Proyeksi.....................................................................2 Bahan .......................BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA..9 Mesin Gambar ..............................13 Penulisan Angka Ukuran...............6 Macam -macam Pandangan........................................................................................... 67 1..................... 60 3.. 57 2.................................................123 3........................................ Menerapkan Prosedur K3 Secara Tepat dan Benar ............................ 78 3...................................2 Proyeksi Isometris ............................. 75 3........... 68 1.............................................................. Mengenal Regulasi K3 .............................................................................. 69 1................................... 75 3............................... 57 3.......................11 Garis Arsiran .............................................1 Pengertian ............................130 Soal Latihan (tes formatif) ...3 Tugas dan Tanggung Jawab Perusahaan ........................................................................ 56 1........ 61 4................... 62 BAB IV GAMBAR TEKNIK 1................. 86 3....................... 81 3........1 Tanggungjawab Perusahaan pada Lingkungan Kerja.................... 65 1.......................................... 65 1.............................................................. 55 1........................................................................................................108 3.....16 Suaian ... 73 Lembar Kerja ................................ 55 1..........1 Kertas Gambar ................................10 Gambar Potongan............................................5 Gambar Perspektif .........6 Penghapus dan alat Pelindung Penghapus .....................................................8 Meja Gambar ................. vi ..................... 81 3........5 Jangka ......... 57 2. 4.........................................................................................................................................................................3 Proyeksi Dimentris .....................5 Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja ................. 74 2.............................................................8 Simbol Proyeksi dan Anak Panah ......................................................2 Pensil Gambar ........ Rangkuman ..................4 Penggaris .....................3 Rapido .... 74 2..................................................................................................................................................................................................... 92 3................................................................ 74 Membaca Gambar Teknik ..........................................2 Sasaran Undang-Undang ........... 55 1...................................... 75 3.....14 Pengukuran Ketebalan........... 72 1.................................7 Alat-alat Penunjang Lainnya ...105 3............135 2...................4 Proyeksi Miring (Sejajar) .... 60 3................................................ 74 2............4 Langkah Kerja ...........................................3 Kesehatan d an Keselamatan Kerja..9 Penentuan Pandangan..............1 Alat ................................................... 5...................................... Menguasai Prosedur Penerapan K3 ...... 56 1..........................................................................................1 Simbol Keselamatan Kerja............................................ ALAT DAN LINGKUNGAN 1.................................................................................................................................... 71 1.............2 Rehabilitasi.... 87 3.....................................................................128 Rangkuman ..................4 Tugas dan Tanggung Jawab Pegawai ............................................................................................ 74 2............................... 66 1..............113 3.............102 3.............15 Toleransi ............................................................1 Proyeksi Piktorial ......... 3...................................12 Ukuran pada Gambar Kerja............ 79 3............ Mengenal Alat Menggambar Teknik ......................................................... 70 1.............................................................................................. 79 3.....................

..11 Cara Membubut.........................................pahat tangan dan mata bor...........................3 Jenis -jenis Mesin Bubut Konvensional ........................................................6 Perbedaan Mesin Bubut Konvensional dengan CNC.......................1 Alas penindih kertas ...........................................................................................................247 1..278 2........................................................... 227 1.............................................9 Kecepatan Potong (Cutting Speed ) ......................... 294 2.......4 Bagian -bagian Utama Mesin Bubut Konvensional (Biasa) .....262 1........................... Mesin Frais Konvensional .......................... 3.......................... dan menekuk............................260 1.............................................3 Mengebor ..........................3 Pengepasan Persegi .................... 208 2.....................................247 1.....222 Tes Formatif .......................... 215 3.........................225 2......................................................................................... 192 1....... 215 3.................... 5.......4 Jenis -jenis Bahan Pisau..... 208 2........... 278 2......2 Mal mata bor..................................................................................................................12 Tes Formatif............................ 169 1.............................................................................................................. 4................................................................................1 Pengertian .......8 Mengetap dan Menyenei .... 216 3.................... 217 3................. 184 1..219 3....... 295 vii ........BAB V PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN 1.......................220 Rangkuman ........... _________________________________________________ BAB VI PROSES PRODUKSI DENGAN MESIN KONVENSIONAL 1..................................1 Membengkok....................................................4 Pengepasan Ekor Burung......................................................................................................................................246 1........................9 Menyekerap .....................................................................................................................................................8 Alat potong ........................................... 190 1.............................................................................................................................. 238 1.............................. 229 1............................5 Dimensi Utama Mesin Bubut ............................................... melipat............................2 Kunci Jawaban .............. 280 2.....................177 1...................................................................................6 Memahat................................. 286 2. 199 Kerja Pelat ....................................................2 Menyambung ............................5 Kotak ............................................265 1................ 137 1...276 2.............................................. Mesin Bubut Konvensional ..................7 Alat Kelengkapan Mesin Bubut.......... 225 5...............................1 Soal-soal ..................253 1............................................ 150 1.............4 Mereamer ........................225 5........................................................3 Alat-alat Potong (cutter) Mesin Frais ....6 Pengasahan penitik.................10 Menggerinda .... 227 1..... 179 1.........................................................................penggores............2 Fungsi Mesin Bubut Konvensional ..................................................... 211 Lembar Pekerjaan...............................................................1 Mengikir .............................................................................................. Kerja Bangku ...2 Melukis .....................218 3....................2 Jenis -jenis Mesin Frais ......................................7 Menyetempel ......................5 Perlengkapan Mesin Frais .. 197 1.................................................................5 Menggergaji ..........10 Waktu Pengerjaan ........................................................................ 227 1.....1 Pengertian Mesin Bubut Konvensional ................................ 137 1....................................................................

...........................3 Drilling EDM.....................3 Sistem Koordinat Absolut.....................................................320 3...................353 1.....................................................................2...... 465 3...8 Kecepatan Potong (Cutting Speed ) ........... Rangkuman ................................................. Pembacaan Toleransi pada Gambar Kerja .................... 303 2...1 Sejarah Mesin CNC......................................................................................................7 Kecepatan Potong dan Kecepatan Asutan...............................4 Standarisasi Pemrograman Mesin Perkakas CNC.......6 Membuat Gambar Solid 3D dengan AutoCAD …………….....................3 Gerakan Sumbu Utama pada Mesin CNC..................11 Jenis -jenis Pemotongan/pemakanan pada Mesin Frais .............................................................467 3.............6 Menentukan titik koordinat benda Kerja ....... 332 4.................................................................................. 466 3.... 331 3.. Rangkuman ........... 384 1.....................................................10 Membuat Benda Kerja Berbasis Software AutoCAD ..................5 Siklus Pemrograman .............................................................................344 5.............462 2.............................349 BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER 1........................... EDM (Electrical Discharge Machining) ........................... 466 3.............................................................................467 4...........11 Soal Formatif........................................ 402 2.....2 Dasar-dasar Pemrograman Mesin CNC ................405 2.......................................................... 305 2..................1 Pengertian CAD .....................344 5...............4 Kabel EDM (Wire Cut EDM) ............................................................................................................................................8 Mengoperasikan mesin CNC EMCO TU 2A.........386 2........................421 2...409 2......................................433 2.........................9 Membuat Benda Kerja Menggunakan mesin CNC.......................... 331 3............................................10 Langkah-langkah pengoperasian Mesin Frais ... Computer Aided Design (CAD) .....1 EDM Konvensional .............2 Metode Pengukuran ..............................356 1................................................... 331 3.......... 468 viii ....3 Alat Ukur Mistar Geser (Vernier Caliper) dan Mikrometer Luar (Outside Micrometer) .........................................434 2.....................................2 Pembuatan alat cetak logam (coinage de making) .....4 Perintah Menggambar Pada AutoCAD ..............2 Resiko-resiko dalam mengoperasikan mesin perkakas dan cara menghindarinya .......................337 5........354 1..................... Relatif.....7 Penggunaan Rotary Table ...436 2.. Keselamatan Kerja Pada Saat Proses Produksi................................................................1 Jenis Pengukuran ....................................................................................9 Waktu Pengerjaan ..................................................463 3.......................... Polar .................... 353 1..................337 4....................................... Computer Numerically Controlled (CNC) ......................................................409 2........................................................ Teknik Pengukuran pada Proses Produksi ....402 2...................5 Tes Formatif …………………………………………….........1 Peralatan Keselamatan Kerja pada Proses Produksi...........12 Pisau Roda Gigi (Gear Cutters).........................................................................2 Cara Kerja ................................. 301 2............354 1.......... 300 2...............345 6....................................6 Penggunaan Kepala Pembagi (Dividing Head) ..........428 2.. 301 2....................306 2......................1 Pengkodean Toleransi.........................................

.... 471 5........... 520 11...541 14.................................................................... 538 14................... 510 9.........................................................................................................................................4 Membuat Profil Plat .1 Soal-soal ..... 480 7..............1 Kompressor (Pembangkit Udara Kempa) ...........4 Konduktor dan Konektor ................................................. 470 Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Udara Kempa ......................... 469 Karakteristik Udara Kempa ........................... 537 12........................3 Pemeriksaan Udara Kempa dan Peralatan .2 Kerugian/Kelemahan Pneumatik .............................. Pengertian Pneumatik ........................................................ 3.............................................1 Cairan Hidrolik.............................. 496 7............................................................................................................. Dasar Perhitungan Pneumatik .1 Keuntungan .......... 538 13..................................................556 ix ............................................................................... Sistem Kontrol Pneumatik ........1 Pengendalian L angsung Silinder Sederhana ........5 Katup-Katup Pneum atik ............................................................... 514 9.....................3 Pengendalian Gerak Otomatis Silinder Penggerak Ganda ...........6 Perhitungan Daya Kompressor ....... 536 12...................................................... 472 6..............................................................................................................................._________________________________________________ BAB VIII SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK 1............. 535 11.............................................................1 Cara Kerja ....................... System Hidrolik ................2 Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Air Service Unit) .................................. 514 9........... 515 9...... Pengangkat dan Penggeser Material Full Pneumatik ......551 15..............7 Air Motor ( Motor Pneumatik ) ...........541 14........................................................................................... 485 7.....................2 Kunci Jawaban ................................ Pengendalian Hidrolik ...................................................................................................................9 Model Pengikat (Type if Mounting) .............. Peralatan Sistem Pneumatik .. 510 8.......5 Pengangkat dan Penggeser Benda .................. 487 7... 473 7..... 509 8............2 Analisa Aliran Fluida (V) ...........................................555 15............3 Pemotong Plat ...........................................4 Gaya Torak (F) . 535 11............... 515 9.......................................... 518 10................... Tes Formatif .............................................. Aplikasi Pneum atik dalam Proses Produksi .................. 516 10....... 516 9.....1 Pengertia n Sistem Kontrol Pneumatik ........................................... 521 11.................................................... 535 11..................................................2 Pengendalian Tak Langsung Silinder Penggerak Ganda .. 469 Aplikasi Penggunaan Pneumatik ................537 13........................................................ 497 7.........................................................1 Pintu Bus ..... Analisis Kerja Sistem Pneumatik .........3 Kecepatan Torak .......... 493 7.............555 15.....................................2 Komponen Hidrolik....................... 5....................................2 Katup Pengatur Tekanan ..........................8 Jenis -Jenis Katup Pneumatik ............ 517 10............................................................................. 538 13.................. 513 9................................................................................................... 511 9......... Klasifikasi Sistim Pneumatik .......................6 Unit Penggerak (Working Element = Aktuator) ... 521 11........................................................... 471 5....................................................................................... 474 7....... 484 7................................................................. 469 Efektifitas Pneumatik ........ 2..................................................... 517 10..............................................................................................1 Klasifikasi Pengendalian Hidrolik ...................................... 4............... 474 7............................5 Udara yang Diperlukan ..............................1 Tekanan Udara ..........2 Penahan/Penjepit Benda (ragum)..........7 Pengubahan Te kanan ......................................

.................... 558 16......................................... 561 16............. 596 3.............................. x ... 3..................10 Perangkat Keras PLC ..................... 586 3....5 Modul Masukan ...................................................................................... 573 Otomasi Teknik Produksi ............... Sejarah Perkembangan Otomasi Industri ...... 566 16................................. Rangkuman ..............................................................................................................................................1 Soal-soal.....................15 Program m an Dasar PLC OMRON dengan Komputer...............................................................................................................6 Device Masukan Program ..................... 556 16............. 589 3.................................................................................... 564 16..................................................................................................................... 559 16.......5 Pompa Roda Gigi dalam Tipe Geretor ............................................................ 562 16............................................6 Balanced Vane (Pompa Kipas Balanced) ..................................... 563 16..................................3 Ins truksi-instruksi Dasar PLC .............. Soal Formatif ..............................................3 Gerakan Robot .... 590 3... 587 3......4 Tingkatan Teknologi ......................................................570 BAB IX PROSES PRODUKSI INDUST RI MODERN 1.... 621 1..............9 Instalasi Pompa Hidrolik ......18 Contoh Aplikasi dan Pembuatan Diagram Ladder Menggunakan Syswin ........... 589 3........ 577 3..................1 Prinsip Hukum Pascal .........................16 Cara pengoperasian SYSWIN ..... Pengenalan Robot ..................................568 17............... 629 2.................................................. 580 3............... 585 3.......4 Pompa Rod a Gigi dalam Tipe Crescent ...........16...........................................................................................................590 3........................................................................... 577 3................................................................................................................................................8 Bent Axis Piston (Pompa Torak dengan Poros Tekuk) ..... 561 16..... 588 3.....................2 Komponen Dasar .............. 620 1.616 4.....7 Device Keluaran ...8 Modul Keluaran ......... Dasar-Dasar Perhitungan Hydrolik . 619 1.......................... 567 17........................... BAB X TEKNOLOGI ROBOT 1............................................................................................ 563 16.............................2 Pengenalan Dasar PLC .....................568 18..............................................................................................1 Sejarah PLC ....................................................13 Processor ...................................................................................... 2.................................10 Pengetes an Efesiensi Pompa Hidrolik ..............11 Unit Pengatur (Control Element) ...1 Sistem Koordinat Lengan Robot (Arm Geometry) ...9 Perangkat Lunak PLC .......................................568 17................605 Rangkuman .......................... 556 16............14 Data dan Memory PLC .11 Ladder Logic ............................................................................................................................... 575 PLC (Progr ammable Logic Controller) ............................................3 Pemeliharaan Cairan Hydrolik ...............2 Kunci jawaban ..........2 Perhitungan Kecepatan Torak ...1 Istilah Robot .................... 627 Operasi dan Fitur Manipulator ........ 602 3............................12 Hubungan Input/Output (I/O) dengan Perangkat Lunak ...................................................................................................................... 625 1......... 589 3................................. 578 3............................................................. 593 3..........................................................................................................................7 Pompa Torak Radial (Radial Piston Pump) ..............................4 Device Masukan ................ 629 2........... 596 3.....................17 Penggunaan Fungsi Bit Kontrol ................................................ 591 3........

..................................... 7........................................................... 6...... 648 4....................................................................5 Sensor Kontak ......................................................4 Pengelasan ................................................................................. 660 5.. 643 4.............................................................. 644 4... 661 5....9 Sensor Cair dan Gas ......... 634 2............................................ 5........................................ INDEX xi .......................2 Rotasi Wrist .......................................................... DAFTAR TABEL LAMPIRAN C....................................................4 Jangkauan Kerja ....3....................................666 Rangkuman ................... 638 3................................... 648 4.................................... 652 4.................................................................................... 671 Saran ..........1 Selenoids ........... 643 4................................... 640 3........ 642 Efektor .................................................................................................1 Penanganan Material ....................................................... 647 4........ 644 4................ 661 5.....8 Sensor Temperatur .........................4 Motor Listrik ........................669 BAB XI PENUTUP 1............. DAFTAR GAMBAR LAMPIRAN D........ 659 Aktuator ........................................................................................................2 Klasifikasi Gripper .............................................................................................................................................3 Silinders ........ 2...................................3 Sistem Penggerak Manipulator ............................................3 Pengecatan ...6 Sensor Non -Kontak ........................ 662 Tes Formatif ................. 2..................................................... Kesimpulan ..............2 Katup ............................... 660 5......... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN B.................................... 635 Aplikasi Robot ..............11 Linear Position .................................... 651 4.............. 4............................................................. 674 LAMPIRAN A........................ 657 4................................4 Sensor dan Tranduser ...................................................10 Sensor Jarak dan Sudut ........................1 Gripper ...................12 Sensor Kimia .......................... 658 4............................................................... GLOSARIUM LAMPIRAN E..2 Perakitan ............................................................................ 634 2........................................................................ 655 4............. 637 3............7 Sensor Gaya dan Momen ................................................3 Jenis Gripper .................................................................................................................................................................................................... 640 3..........................

.

PETA KOMPETENSI TEKNIK PRODUKSI INDUSTRI MESIN Proses Produksi Konvensional Proses Produksi Berbasis Komputer Otomatis Industri Peralatan Perkakas Tangan CNC / EDM Robotik Peralatan Kerja Bangku CAD PLC Memahami Dasar. Proses Kejuruan dan K3 Memahami Gambar Teknik Pneumatik/Hidraulik xii .

.

. Jaman dahulu kebanyakan orang sering menggunakan udara bertekanan untuk berbagai keperluan yang masih terbatas.. Karakteristik Udara Kempa....... sistem pneumatik memiliki apliaksi yang luas karena udara pneumatik bersih d mudah didapat. yaitu ‘pneuma’ yang berarti napas atau udara... Karakteristik udara dapat diidentifikasikan sebagai berikut : a) Udara mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.... mendorong. motor pneumatik. e) Udara tidak berwarna 3. industri pengepakan barang maupun industri yang lain.. gas 21 % vol. krypton. Penggunaan udara bertekanan sebenarnya masih dapat dikembangkan untuk berbagai keperluan proses produksi..... melepaskan ban mobil dari peleknya. industri obat-obatan.... Belajar pneumatik sangat bermanfaat mengingat hampir semua industri sekarang memanfaatkan sistem pneumatik.. antara lain menambah tekanan udara ban mobil/motor. Sifat-sifat udara senantiasa mengikuti hukum-hukum gas.... Pengertian Pneumatik…………………………………………. Istilah pneumatik selalu berhubungan dengan teknik penggunaan udara bertekanan. rotasi maupun gabungan 469 .. membersihkan kotoran.... d) Berat jenis udara 1. Udara dipermukaan bumi ini terdiri atas campuran dari bermacam -macam gas.3 kg/m³. robot pneumatik translasi. nitrogen. baik tekanan di atas 1 atmosfer maupun tekanan di bawah 1 atmosfer ( acum). dan sejenisnya. c) Udara dapat dikempa (dipadatkan). dan lain sebagainya.. Istilah pneumatik berasal dari bahasa Yunani. Aplikasi Penggunaan Pneumatik……………………………. dan 1 % gas lainnya seperti carbon dioksida. b) Volume udara tidak tetap. menekan... Gerakan mekanik tersebut dapat dilakukan juga oleh komponen pneumatik. Komposisi dari macam-macam gas tersebut adalah sebagai berikut : 78 % vol.BAB VIII SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK 1. neon dan xenon.. mengangkat.. seperti silinder pneumatik. argon... Sekarang........ misalnya untuk melakukan gerakan mekanik yang selama ini dilakukan oleh tenaga manusia. Dalam sistem pneumatik udara difungsikan sebagai media transfer dan sebagai penyimpan tenaga (daya) yaitu dengan cara dikempa atau dimampatkan.... Udara termasuk golongan zat fluida karena sifatnya yang selalu mengalir dan bersifat compressible (dapat dikempa). Sehingga v pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari teknik pemakaian udara bertekanan (udara kempa).. helium. Banyak industri an yang menggunakan sistem pneumatik dalam proses produksi seperti industri makanan. seperti menggeser. 2.

aman dari bahaya ledakan dan hubungan singkat. Adapun batas-batas ukuran yang dapat menimbulkan optimalisasi penggunaan pneumatik antara lain: diameter piston antara 6 s/d 320 mm. Udara yang digunakan dalam pneumatik sangat mudah didapat/diperoleh di sekitar kita. dapat dibebani lebih.keduanya. Setelah melalui regulator udara dapat digunakan menggerakkan katub penggerak (aktuator). Secara umum udara yang dihisap oleh kompressor. Selain itu udara yang terdapat di sekitar kita cenderung bersih dari kotoran dan zat kimia yang merugikan. Efektifitas Pneumatik …………………………………………… Sistim gerak dalam pneumatik memiliki optimalisasi/efektifitas bila digunakan pada batas-batas tertentu. akan disimpan dalam suatu tabung penampung. Pemilihan penggunaan udara bertekanan (pneumatik) sebagai sistim kontrol dalam proses otomasinya. Pemakaian pneumatik dibidang produksi telah mengalami kemajuan yang pesat. 4. misalnya untuk keperluan mengangkat plat baja dan sejenisnya melalui katup karet hisap flexibel. terutama pada proses perakitan (manufacturing). kimia dan lainnya.000 mm. anjang langkah 1 s/d 2. dapat juga bekerja pada tekanan udara di bawah 1 atmosfer (vacuum). obat-obatan. elektronika. dan mengandung sedikit pelumas. antara lain: mudah diperoleh. dan flexibel. maupun motor pneumatik yang bergerak rotasi. dan berputar (rotasi) pada aktuator selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan gerakan yang selama ini dilakukan oleh manusia atau peralatan lain. Adapun efektifitas penggunaan udara bertekanan dapat dilihat pada grafik berikut: 470 . mudah didistribusikan melalui saluran (selang) yang kecil. Karena tahan terhadap perubahan suhu. Gerakan bolak balik (translasi). maka penumatik banyak digunakan pula pada industri pengolahan logam dan sejenisnya. tenaga yang diperlukan 2 s/d 15 bar. makanan. tidak peka terhadap perubahan suhu dan sebagainya. Sebelum digunakan udara dari kompressor diolah agar menjadi kering. baik berupa silinder/stang torak yang bergerak translasi. Perpaduan dari gerakan mekanik oleh aktuator pneumatik dapat dipadu menjadi gerakan mekanik untuk keperluan proses produksi yang terus menerus (continue). untuk keperluan pendidikan biasanya berkisar antara 4 sampai dengan 8 bar. Udara dapat diperoleh dimana saja kita berada. bersih dari kotoran dan zat kimia yang merusak. Udara juga dapat dibebani lebih tanpa menimbulkan bahaya yang fatal. serta tersedia dalam jumlah banyak. karena pneumatik mempunyai beberapa keunggulan.

udara tersedia di alam sekitar kita dalam jumlah yang tanpa batas sepanjang waktu dan tempat.. memutar mengencangkan dan mengendorkan mur/baut.1 Keuntungan Penggunaan udara kempa dalam sistim pneumatik memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat disebutkan berikut ini : • Ketersediaan yang tak terbatas.. menguji. melalui peralatan 471 . 5. memotong. proses finishing (gerinda.. mengebor. menggeser benda kerja. udara mudah disalurkan/pindahkan dari satu tempat ke tempat lain melalui pipa yang kecil. • Mudah disalurkan. memposisikan benda kerja.. pasah. mengatur distribusi material. penggerak poros. menumpuk/menyusun material. memutar benda kerja. Efektifitas udara bertekanan (Werner Rohrer. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan udara Kempa . mengarahkan aliran material ke berbagai arah.ltr/cm Tekanan Kerja/Pe 15 bar 10 bar 8 bar 6 bar 4 bar 2 bar mm Diameter Torak (D) Gambar 1.. mengisi material. Melalui gerakan rotasi pneumatik dapat digunakan untuk.. transportasi barang. membentuk profil plat. membuka dan menutup pada pintu. menahan dan menekan benda kerja.) 5. panjang dan berliku.1990) Penggunaan silinder pneumatik biasanya untuk keperluan antara lain: mencekam benda kerja. dll. Penggunaan secara nyata pada industri antara lain untuk keperluan: membungkus (verpacken). udara dapat fleksibel digunakan pada berbagai temperatur yang diperlukan. • Fleksibilitas temperatur.

Kebocoran seal dapat menimbulkan kerugian energi. Dapat disimpan. misalnya kering. makanan. Selain itu dapat dipasang pembatas tekanan atau pengaman sehingga sistim menjadi aman.000 rpm. regulator. Salah satu sifat udara bertekanan adalah ingin selalu menempati ruang yang kosong dan tekanan udara susah dipertahankan dalam waktu bekerja. Oleh karena itu diperlukan seal agar udara tidak bocor. • Mudah terjadi kebocoran. berbeda dengan sistim elektrik yang dapat menimbulkan kostleting hingga kebakaran. seperti kompressor. udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya dengan jumlah kandungan pelumas yang dapat diminimalkan sehingga sistem pneumatik aman digunakan untuk industri obat-obatan. serta mengandung pelumas yang diperlukan untuk peralatan pneumatik. maupun tidak langsung. udara dapat disimpan melalui tabung yang diberi pengaman terhadap kelebihan tekanan udara. maka kecepatan torak dapat mencapai 3 m/s.000 rpm. dll. pengeering. 5. udara mudah dimanfaatkan baik secara langsung misal untuk membersihkan permukaan logam dan mesin-mesin. memenuhi kriteria tertentu. Bagi motor pneumatik putarannya dapat mencapai 30. Aman. Udara kempa harus dipersiapkan secara baik hingga memenuhi syarat. pneumatik juga memiliki beberapa kelemahan antara lain: • Memerlukan instalasi peralatan penghasil udara.• • • • • yang dirancang untuk keadaan tertentu. tabung pelumas. dan minuman maupun tekstil Pemindahan daya dan Kecepatan sangat mudah diatur. Peralatan pneumatik harus dilengkapi dengan peralatan kekedapan udara agar kebocoran pada sistim udara bertekanan dapat ditekan seminimal mungkin. udara dapat dibebani lebih dengan aman selain itu tidak mudah terbakar dan tidak terjadi hubungan singkat (kotsleiting) atau meledak sehingga proteksi terhadap kedua hal ini cukup mudah. yaitu melalui peralatan pneumatik untuk menghasilkan gerakan tertentu. Mudah dimanfaatkan.2 Kerugian/Kelemahan Pneumatik Selain memiliki kelebihan seperti di atas. penyaring udara. bahkan dalam kondisi yang agak ekstrem udara masih dapat bekerja. udara dapat melaju dengan kecepatan yang dapat diatur dari rendah hingga tinggi atau sebaliknya. Oleh karena itu sistem pneumatik memerlukan instalasi peralatan yang relatif mahal. 472 . Bila Aktuator menggunakan silinder pneumatik. sedangkan sistim motor turbin dapat mencapai 450. Bersih. bersih.

dll Sumber Energi Udara bertekanan = Kompressor Gambar 2. Udara yang bertekanan mudah mengembun. Klasifikasi Sistim Pneumatik…………………………………. • 6. Secara garis besar sistim elemen pada pneumatik dapat digambarkan pada skema berikut : KLASIFIKASI CONTOH SIMBOL Out put = (Aktuator) Pengendali Sinyal = Katup Pengendali Sinyal Pemroses Sinyal/Prossesor = Katup kontrol AND.Menimbulkan suara bising. Cara mengatasinya adalah dengan memasang peredam suara pada setiap saluran buangnya. Sistim elemen pada pneumatik memiliki bagian-bagian yang mempunyai fungsi berbeda. misal kering. dll Sinyal Input = Katup Tekan. Klasifikasi Elemen Sistim Pneumatik (FESTO FluidSIM) 473 . Diharapkan setelah diketahuinya keuntungan dan kerugian penggunaan udara kempa ini kita dapat membuat antisipasi agar kerugian-kerugian ini dapat dihindari. • Mudah Mengembun. Sensor. artinya udara yang telah digunakan akan dibuang ke luar sistim. OR. Roll. NOR. memiliki tekanan yang cukup. udara yang keluar cukup keras dan berisik sehingga akan menimbulkan suara bising terutama pada saluran buang. dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekan pada katup-katup dan aktuator. Tuas. sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu. Pneumatik menggunakan sistim terbuka.

1 Kompressor (Pembangkit Udara Kempa) Kompresor berfungsi untuk membangkitkan/menghasilkan udara bertekanan dengan cara menghisap dan memampatkan udara tersebut kemudian disimpan di dalam tangki udara kempa untuk disuplai kepada pemakai (sistem pneumatik). Klasifikasi Kompresor (Majumdar. maka katup pengaman akan terbuka secara otomatis. Peralatan Sistem Pneumatik…………………………………. Kompressor dilengkapi dengan tabung untuk menyimpan udara bertekanan. (Turbo). axial dan ejector. bila tekanan udaranya melebihi ketentuan. 7. yaitu Positive Displacement kompressor. sehingga udara dapat mencapai jumlah dan tekanan yang diperlukan. Pemilihan jenis kompresor yang digunakan tergantung dari syarat-syarat pemakaian yang harus dipenuhi misalnya dengan tekanan kerja dan volume udara yang akan diperlukan dalam sistim peralatan (katup dan silinder pneumatik).7. secara lengkap dapat dilihat dari klasifikasi di bawah ini: KOMPRESSOR Positiv displacement Dynamic (Turbo) Reciprocating Rotary Centrifugal Axial Ejector Piston Lebyrinth Diaphragm Lobe (roots) Liquid (water) ring Sliding vane Mono screw Twin (screw) ring Gambar 3. (turbo) terdiri dari Centrifugal. terdiri dari Reciprocating dan Rotary. Secara garis besar kompressor dapat diklasifikasikan seperti di bawah ini.1 Klasifikasi Kompressor Secara garis besar kompressor dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. 7. sedangkan Dynamic kompressor.1. dan Dynamic kompressor. Tabung udara bertekanan pada kompressor dilengkapi dengan katup pengaman.2001) 474 . Positive Displacement kompressor.

475 . Gerakan mengisap dan mengkompressi ke tabung penampung ini berlangsung secara terus menerus.1 Kompresor Torak Resiprokal (reciprocating kompressor) Kompresor ini dikenal juga dengan kompresor torak. Pemampatan (pengompresian) udara tahap kedua lebih besar.2 Kompresor Torak Dua Tingkat Sistem Pendingin Udara Kompresor udara bertingkat digunakan untuk menghasilkan tekanan udara yang lebih tinggi. Metode pendinginan yang sering digunakan misalnya dengan sistem udara atau dengan sistem air bersirkulasi.1. selanjutnya dimasukkan dalam silinder kedua untuk dikompresi oleh torak kedua sampai pada tekanan yang diinginkan. pada umumnya bila tekanan dalam tabung telah melebihi kapasitas. karena dilengkapi dengan torak yang bekerja bolak-balik atau gerak resiprokal. Tabung penyimpanan dilengkapi dengan katup satu arah. Gambar 4. Pada saat gerak kompressi torak bergerak ke titik mati bawah ke titik mati atas. atau mesin penggerak akan mati secara otomatis. temperatur udara akan naik selama terjadi kompresi. Proses tersebut berlangsung terus-menerus hingga diperoleh tekanan udara yang diperlukan.1. Pemasukan udara diatur oleh katup masuk dan dihisap oleh torak yang gerakannya menjauhi katup. sehingga udara di atas torak bertekanan tinggi.1. sehingga udara yang ada dalam tangki tidak akan kembali ke silinder.7. Udara masuk akan dikompresi oleh torak pertama. sehingga perlu mengalami proses pendinginan dengan memasang sistem pendingin. Pada saat terjadi pengisapan. tekanan udara di dalam silinder mengecil. maka katup pengaman akan terbuka.1. kemudian didinginkan. selanjutnya di masukkan ke dalam tabung penyimpan udara. Kompresor Torak Resiprokal 7. sehingga udara luar akan masuk ke dalam silinder secara alami.

untuk kompressor satu tingkat tekanan hingga 4 bar. sedangkan dua tingkat atau lebih tekanannya hingga 15 bar. obat-obatan dan kimia.3 Kompresor Diafragma (diaphragma compressor) Jenis Kompresor ini termasuk dalam kelompok kompresor torak. Oleh karena itu kompressor diafragma banyak digunakan pada industri bahan makanan. Udara yang masuk dan keluar tidak langsung berhubungan dengan bagian-bagian yang bergerak secara resiprokal. Prinsip kerjanya hampir sama dengan kompresor torak. Torak pada kompresor diafragma tidak secara langsung menghisap dan menekan udara. Kompresor Torak dua Tingkat Sistem Pendinginan Udara Batas tekanan maksimum untuk jenis kompresor torak resiprokal antara lain. Namun letak torak dipisahkan melalui sebuah membran diafragma.Gambar 5. Kompresor Diafragma 476 . tetapi menggerakkan sebuah membran (diafragma) dulu. Dari gerakan diafragma yang kembang kempis itulah yang akan menghisap dan menekan udara ke tabung penyimpan. Gambar 6.1. perbedaannya terdapat pada sistem kompresi udara yang akan masuk ke dalam tangki penyimpanan udara bertekanan. farmasi. 7. Adanya pemisahan ruangan ini udara akan lebih terjaga dan bebas dari uap air dan pelumas/oli..1.

7.1 Kompressor Rotari Baling-baling Luncur Secara eksentrik rotor dipasang berputar dalam rumah yang berbentuk silindris. Ketika rotor mulai berputar.4 Konpresor Putar (Rotary Compressor) 7. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan. Balingbaling luncur dimasukkan ke dalam lubang yang tergabung dalam rotor dan ruangan dengan bentuk dinding silindris. energi gaya sentrifugal baling-balingnya akan melawan dinding. Keuntungan dari kompressor jenis ini adalah mempunyai bentuk yang pendek dan kecil. sehingga dapat memindahkan udara secara aksial ke sisi lainnya. Gambar 7. Karena bentuk dari rumah baling-baling itu sendiri yang tidak sepusat dengan rotornya maka ukuran ruangan dapat diperbesar atau diperkecil menurut arah masuknya (mengalirnya) udara. sedangkan lainnya berbentuk cembung.1.4. 477 . sehingga menghemat ruangan. Kompresor Rotari Baling-baling Luncur (FESTO Transparan) 7.1. Jika roda-roda gigi tersebut berbentuk lurus. Bahkan suaranya tidak berisik dan halus dalam . yang satu mempunyai bentuk cekung. mempunyai lubang-lubang masuk dan keluar.1.5 Kompresor Sekrup (Screw) Kompressor Sekrup memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan (engage).1. Roda-roda gigi kompressor sekrup harus diletakkan pada rumah-rumah roda gigi dengan benar sehingga betul-betul dapat menghisap dan menekan fluida.1.1. dapat menghantarkan dan menghasilkan udara secara terus menerus dengan mantap. maka kompressor ini dapat digunakan sebagai pompa hidrolik pada pesawat-pesawat hidrolik.

1. Kompresor aliran udara ada yang dibuat dengan arah masuknya udara secara aksial dan ada yang secara radial. Dilihat dari konstruksinya. karena fluidanya adalah minyak pelumas maka film-film minyak sendiri sudah menjadi bahan perapat antara dinding rumah dan sayap-sayap kupu itu. Arah aliran udara dapat dirubah dalam satu roda turbin atau lebih untuk 478 . Beberapa kelemahannya adalah: tingkat kebocoran yang tinggi.1.7 Kompresor Aliran (turbo kompressor) Jenis kompresor ini cocok untuk menghasilkan volume udara yang besar. Kompressor Model Root Blower 7.1. Prinsip kompresor ini ternyata dapat disamakan dengan pompa pelumas model kupu-kupu pada sebuah motor bakar.6 Kompressor Root Blower (Sayap Kupu-kupu) Kompressor jenis ini akan mengisap udara luar dari satu sisi ke sisi yang lain tanpa ada perubahan volume.Gambar 8. Kompresor Sekrup (Gottfried Nist. Gambar 9. Berbeda jika dibandingkan dengan pompa pelumas pada motor bakar.1. 1994) 7. Torak membuat penguncian pada bagian sisi yang bertekanan. Sayap kupu-kupu di dalam rumah pompa digerakan oleh sepasang roda gigi yang saling bertautan juga. Kebocoran terjadi karena antara baling-baling dan rumahnya tidak dapat saling rapat betul. sehingga dapat berputar tepat pada dinding.

menghasilkan kecepatan aliran udara yang diperlukan. Tetapi. 1994) 7. Teringat pula alat semacam ini adalah seperti kompresor pada sistem turbin gas atau mesin-mesin pesawat terbang turbo propeller.8 Kompressor Aliran Radial Percepatan yang ditimbulkan oleh kompressor aliran radial berasal dari ruangan ke ruangan berikutnya secara radial.1. pada kompresor ini tenaga mekanik dari mesin akan memutar rotor sehingga akan menghasilkan udara bertekanan.1. jika pada turbin gas adalah menghasilkan mekanik putar pada porosnya.1. 479 .1. 7. Dari tingkat pertama masuk lagi ke tingkat berikutnya. udara akan terisap masuk ke dalam ruangan isap lalu dikompressi dan akan ditampung pada tangki penyimpanan udara bertekanan hingga tekanannya sesuai dengan kebutuhan. Bedanya. maka dari tingkat pertama udara akan dipantulkan kembali mendekati sumbu. Energi kinetik yang ditimbulkan menjadi energi bentuk tekanan. Semakin banyak tingkat dari susunan sudu-sudu tersebut maka akan semakin tinggi tekanan udara yang dihasilkan. Prinsip kerja kompressor radial akan mengisap udara luar melalui sudu-sudu rotor.9 Kompresor Aliran Aksial Pada kompresor aliran aksial. Putaran cepat ini mutlak diperlukan untuk mendapatkan aliran udara yang mempunyai tekanan yang diinginkan. Bila kompressornya bertingkat. udara akan mendapatkan percepatan oleh sudu yang terdapat pada rotor dan arah alirannya ke arah aksial yaitu searah (sejajar) dengan sumbu rotor. Pada lubang masuk pertama udara dilemparkan keluar menjauhi sumbu. Kompresor Aliran Radial (Gottfried Nist. sampai beberapa tingkat sesuai yang dibutuhkan. Gambar 10. Jadi pengisapan dan penekanan udara terjadi saat rangkaian sudu-sudu pada rotor itu berputar secara cepat.

b) mengandung kadar air rendah. Kompresor yang digunakan di pabrik-pabrik kebanyakan digerakkan oleh motor listrik karena biasanya terdapat instalasi listrik dan cenderung stasionar (tidak berpindah-pindah). antara lain. Penggunaan mesin bensin atau diesel biasanya digunakan bilamana lokasi disekitarnya tidak terdapat aliran listrik atau cenderung non stasioner.2 Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Air Service Unit) Udara bertekanan (kempa) yang akan masuk dalam sistem pneumatik harus harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan.2 Penggerak Kompresor Penggerak kompressor berfungsi untuk memutar kompressor.1. sehingga kompressor dapat bekerja secara optiomal. Penggerak kompressor yang sering digunakan biasanya berupa motor listrik dan motor bakar seperti gambar 12.Gambar 11. Kompressor berdaya rendah menggunakan motor listrik dua phase atau motor bensin. a) tidak mengandung banyak debu yang dapat merusak keausan komponen-komponen dalam sistem pneumatik. Gambar 12. kadar air yang tinggi dapat merimbulkan korosi dan kemacetan pada peralatan pneumatik. sedangkan kompressor berdaya besar memerlukan motor listrik 3 phase atau mesin diesel. Kompressor Torak berpindah (Moveble) 7. Kompresor Aliran Aksial 7. 480 .

Secara lengkap suplai udara bertekanan memiliki urutan sebagai berikut: Filter udara. sebelum udara atmosfer dihisap kompresor. Tabung penampung udara bertekanan akan menyimpan udara dari kompresor. Setelah memenuhi syarat kemudian baru ke sistim rangkaian pneumatik. Filter berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel yang terbawa seperti debu. Filter Udara 481 . berfungsi sebagai alat penyaring udara yang diambil dari udara luar yang masih banyak mengandung kotoran.c) mengandung pelumas. Regulator dan Lubrication/pelumasan agar lebih memenuhi syarat.1 Peralatan Pengolahan Udara Bertekanan Pengolahan udara bertekanan agar memenuhi persyaratan diperlukan peralatan yang memadai. seperti tertera dalam bagan di bawah ini: Filter Udara Motor/mesin Tabung Penampung FR/L Unit Katup 3/2 Way Valve Gambar 13. yang terdiri dari Filter. oli residu. dsb. Gambar 14. Kompresor digerakkan oleh motor listrik atau mesin bensin/diesel tergantung kebutuhan.2. selanjutnya melalui katup saru arah udara dimasukan ke FR/L unit. pelumas sangat diperlukan untuk mengurangi gesekan antar komponen yang bergerak seperti pada katup-katup dan aktuator. Distribusi Sistem Pengolahan Udara Bertekanan 7. antara lain : • Filter Udara (air filter). terlebih dahulu disaring agar tidak ada partikel debu yang merusak kompresor.

Pengering Udara • Kompresor berfungsi untuk menghisap udara atmosfir kemudian dimampatkan ke tabung penyimpan hingga tekanan tertentu. kemudian dapat digunakan sewaktu-waktu diperlukan Gambar 15.• Tangki udara . Gambar 17. Tangki Udara • Pengering udara (air dryer) Gambar 16. Sebelum digunakan harus ada sistim pengolahan udara bertekanan untuk membersihkan dan mengeringkan sebelum digunakan. Kompressor Torak 482 . Berfungsi untuk menyimpan udara bertekanan hingga pada tekanan tertentu hingga pengisian akan berhenti.

Pemisah Air • Tabung pelumas Komponen sistim pneumatik memerlukan pelumasan (lubrication) agar tidak cepat aus. Oleh karena itu udara bertekanan/mampat harus mengandung kabut pelumas yang diperoleh dari tabung pelumas pada regulator. selanjutnya akan disalurkan sesuai dengan kebutuhan. alat-alat yang tidak dilindungi sehingga harus dikeringkan dengan cara memisahkan air melalui tabung pemisah air. Udara Kering Udara Basah Air Kondensasi Gambar 18. katup. diperlukan keran udara yang terdapat pada regulator. Untuk mengatur besar kecilnya udara yang masuk. serta dapat mengurangi panas yang timbul akibat gesekan. sehingga udara yang disuplai sesuai dengan kebutuhan kerjanya. Gambar 19. Kelembaban dalam udara bertekanan dapat menyebabkan korosi pada semua saluran. Tabung Pelumas • Regulator udara bertekanan Udara yang telah memenuhi persyaratan.• Pemisah air udara bertekanan yang keluar melalui filter masih mengandung uap air. Adapun unit pengolahan udara dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 483 . sambungan.

Prosedur pemantauan penggunaan udara kempa yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut: a) Frekuensi pemantauan. udara kempa dan peralatannya perlu diperiksa terlebih dahulu. kandungan oli pelumas dan sebagainya. kandungan air embun.Gambar 20. b) Tekanan udara perlu 484 . Tabung Pelumas Unit pengolahan udara bertekanan memiliki jaringan instalasi perpipaan yang sudah dirancang agar air dapat terpisah dari udara. Air memiliki masa jenis (Rho) yang lebih tinggi sehingga cenderung berada di bagian bawah.3 Pemeriksaan Udara Kempa dan Peralatan Sebelum mengaktifkan sistem pneumatik. Untuk menjebaknya maka intalasi pipa diberi kemiringan. selanjutnya dibuang. misalnya setiap akan memulai bekerja perlu memantau kebersihan udara. Unit Pengolahan Udara Bertekanan (Gottfried Nist. Secara lengkap unit pengolahan udara bertekanan dapat dilihat dalam skema berikut : Penampung udara antara Tabung Penampung Udara Mampat Kompressor Penampung cairan kondensasai Udara Kempa siap pakai Pneumatik Gambar 21. air akan mengalir secara alami ke tabung penampung air. Sedangkan udara kering diambil dari bagian atas instalasai agar memiliki kadar air yang rendah. 1994) FR/L Unit 1 .2% Menurun 7.

7. Pipa ini juga disebut konduktor kaku (rigid) dan cocok untuk instalasi yang permanen.1 Konduktor (Penyaluran) Penginstalan sirkuit pneumatik hingga menjadi satu sistem yang dapat dioperasikan diperlukan konduktor. Ini termasuk konduktor yang semi fleksible dan untuk instalasi yang sesekali dibongkar-pasang. Kehilangan tekanan dalam perjalanan udara kempa karena bengkokan (bending). Dengan demikian kompressor harus membangkitkan tekanan 6. Pengalaman praktik menunjukkan bahwa tekanan kerja pada umumnya sekitar 6 bar. e) Katup pengaman/regulator tekanan udara perlu dipantau apakah bekerja dengan baik. silinder dan lain-lain umumnya dirancang untuk tekanan antara 8 -10 bar.d 0. Apabila suplai udara kempa tidak sesuai dengan syaratsyarat tersebut di atas maka berakibat kerusakan seperti berikut : a) Terjadi cepat aus pada seal (perapat) dan bagian-bagian yang bergerak di dalam silinder atau valve (katup-katup).dipantau apakah sesuai dengan ketentuan. sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi konduktor adalah untuk menyalurkan udara kempa yang akan membawa/mentransfer tenaga ke aktuator. kuningan atau aluminium.5 . § Selang fleksible yang biasanya terbuat dari piastik dan biasa digunakan untuk instalasi yang frekuensi bongkar-pasangnya lebih tinggi. d) Udara buang perlu dipantau pencampuranya. Macam-macam konduktor : § Pipa yang terbuat dari tembaga. 485 .7 bar.4. galvanis atau stenlees steel. kuningan.1 s.5 bar.4 Konduktor dan Konektor 7. baja. g) Setiap sambungan (konektor) perlu dipantau agar dipastikan cukup kuat dan rapat karena udara kempa cukup berbahaya. Peralatan sistim pneumatik seperti valve. c) Pengeluaran udara buang apakah tidak berisik/bising. § Tabung (tube) yang terbuat dari tembaga. b) Terjadi oiled-up pada valve. bocoran restriction dan gesekan pada pipa dapat menimbulkan kerugian tekanan yang diperkirakan antara 0. d) Terjadi pencemaran (kontaminasi) pada silencers.

Macam-Macam Konektor 486 .Gambar 22.4.2 Konektor Konektor berfungsi untuk menyambungkan atau menjepit konduktor (selang atau pipa) agar tersambung erat pada bodi komponen pneumatik. Adapun nacam-macam konektor dapat kita lihat pda gambar berikut. Jenis-Jenis Konduktor 7. Bentuk ataupun macamnya disesuaikan dengan konduktor yang digunakan. Gambar 23.

12) Ruang/Posisi (a. Berdasarkan pada data-data di atas. Katup 3/2 knop. maka tekanan udara tersebut akan menggeser katup ke kanan sehingga udara bertekanan akan mengalir melalui port 1 ke port 4 ditulis 14. Penggerak katup berupa udara bertekanan dari sisi 14 dan 12. Detail Pembacaan Katup 5/2 Dari simbol katup di atas menunjukkan jumlah lubang/port bawah ada tiga (1. Demikian pula sisi 12 akan mengaktifkan ruang b sehingga port 1 akan terhubung dengan port 2 ditulis 12.5.7. pembalik pegas 487 . Katup-katup pneumatik diberi nama berdasarkan pada: a) Jumlah lubang/saluran kerja (port). dan d) Nama tambahan lain sesuai dengan karakteristik katup.4 ) 1 3 Gambar 24. d) Jenis penggerak katup. dengan kata lain katup ini berfungsi untuk mengendalikan arah gerakan aktuator. Katup tersebut juga memiliki dua posisi/ruang yaitu a dan b.2. maka katup tersebut diberi nama : Gambar 25.4). Sisi 14 artinya bila disisi tersebut terdapat tekanan udara.5 Katup-Katup Pneumatik Katup berfungsi untuk mengatur atau mengendalikan arah udara kempa yang akan bekerja menggerakan aktuator.3. Berikut ini contoh-contoh penamaan katup yang pada umumnya disimbolkan sebagai berikut : Ruang/Posisi (14.3.5) sedangkan di bagian output ada 2 port (2. b) Jumlah posisi kerja. penggerak knop dan pembalik pegas.b) 4 a a 2 b 14 12 b 5 Nomor Lubang/Port (1. maka katup di atas diberi nama : Contoh lain : KATUP 5/2 penggerak udara bertekanan Katup ini memiliki tiga port dan dua posisi/ruang.

§ Sinyal pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element. spring centered). pembalik pegas (3/2 DCV plunger actuated. 7.1 Katup Pengarah (Directional Control Valves) Katup 3/2 Way valve (WV) penggerak plunyer. Katup 3/2 Knop Pembalik Pegas 488 . Katup tersebut berperan sebagai pengatur/pengendali di dalam sistem pneumatik. § Sinyal pengendalian akhir (final control element) yang akan mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element) dan ini merupakan hasil akhir dari sistem pneumatik.5. Komponen-komponen kontrol tersebut atau biasa disebut katup-katup (Valves) menurut desain kontruksinya dapat dikelompokan sebagai berikut : a.Katup-katup pneumatik memiliki banyak jenis dan fungsinya. Gambar 26. termasuk jenis katup piringan (disc valves) normally closed (NC). Katup Poppet (Poppet Valves) § Katup Bola (Ball Seat Valves) § Katup Piringan (Disc Seat Valves) b. Katup Geser (Slide valves) § Longitudinal Slide § Plate Slide Sedangkan menurut fungsinya katup-katup dikelompokkan sebagai berikut : a) Katup Pengarah (Directional Control Valves) b) Katup Satu Arah (Non Return Valves) c) Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves) d) Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves) e) Katup buka-tutup (Shut-off valves) Sedangkan susunan urutannya dalam sistem pneumatik dapat kita jelaskan sebagai berikut : § Sinyal masukan atau input element mendapat energi langsung dari sumber tenaga (udara kempa) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal.

Katup 5/2 Plunyer Penggerak Udara Bertekanan 489 . termasuk jenis katup piringan ( disc seat valves) Gambar 27. spring centered). Gambar 29. DCV-air port jenis longitudinal slide. kembali pegas (4/2 DCV plunger actuated. Katup 4/3 Plunyer Pembalik Pegas Katup 5/2. Katup 4/2 Plunyer Pembalik Pegas Katup 4/3 manually jenis plate slide valves.Katup 4/2 penggerak plunyer. Gambar 28.

Katup satu arah dalam sistem elektrik identitik dengan fungsi dioda yang hanya mengalirkan arus listrik dari satu arah saja.5.2.5. Bila udara yang mengalir dari satu sisi saja.3 Katup DuaTekan Katup ini dapat bekerja apabila mendapat tekanan dari kedua saluran masuknya. Katup ini juga disebut katup “OR” (Logic OR function). Shuttle Valve 7. Katup satu arah dan simbolnya 7.1 Katup Satu Arah Pembalik Pegas Katup satu arah hanya bisa mengalirkan udara hanya dari satu sisi saja. baik sisi kiri saja atau sisi kanan saja. Udara dari arah kiri (lihat gambar 30) akan menekan pegas sehingga katup terbuka dan udara akan diteruskan ke kanan.2 Shuttle Valve Katup ini akan mengalirkan udara bertekanan dari salah satu sisi.5. Gambar 31.5. yaitu saluran X. Gambar 30. maka katup akan menutup dan udara tidak bisa mengalir kearah kiri. maka katup akan menutup.2 Katup Satu Arah (Non Return Valves) Katup ini berfungsi untuk mengatur arah aliran udara kempa hanya satu arah saja yaitu bila udara telah melewati katup tersebut maka udara tidak dapat berbalik arah. Macam-macam katup searah : 7. namun bila udara mengalir secara 490 . dan saluran Y secara bersamasama (lihat gambar 32). Bila udara mengalir dari arah sebaliknya.2.7. Sehingga katup ini juga digolongkan pada katup pengarah khusus.

Pressure Regulation Valve 491 .5. sehingga katup ini juga disebut “AND” (Logic AND function). Gambar 34. Katup Dua Tekan 7.5 Katup Pengatur Tekanan Pressure Regulation Valve. katub ini berfungsi untuk mengatur besar-kecilnya tekanan udara kempa yang akan keluar dari service unit dan bekerja pada sistim pneumatik (tekanan kerja). Gambar 32.4 Katup Buang Cepat (Quick Exhoust Valve) Gambar 33. maka katup akan membuka.5. Katup Buang Cepat 7.bersamaan dari kedua sisinya.

7. Udara akan mengalir dahulu ke tabung penyimpan. Katup penunda ini juga dikenal pula dengan timer.5.5. hanya fungsinya berbeda yaitu untuk membuat urutan kerja dari sistem. Perhatikan gambar berikut : Gambar 35. jadi tekanan udara yang mengalir ke sistem tetap aman. bila suda penuh baru akan mengalir ke saluran lainnya. Gambar 36. Apabila terjadi tekanan lebih maka katup out-let akan terbuka dan tekanan lebih dibuang. Squence Valve 7.6 Katup Pembatas Tekanan/Pengaman (Pressure Relief Valve) Katup ini berfungsi untuk membatasi tekanan kerja maksimum pada sistem.5.7 Sequence Valve Prinsip kerja katup ini hampir sama dengan relief valve.8 Time Delay Valve (Katup Penunda) Katup ini berfungsi untuk menunda aliran udara hingga pada waktu yang telah ditentukan. Time Delay Valve 492 . 7.

Adapun penampang dan simbol flow control valve adalah sebagai berikut: Gambar 37.9 Katup Pengatur Aliran (Flow Control Valve) Katup ini berfungsi untuk mengontrol/mengendalikan besarkecilnya aliran udara kempa atau dikenal pula dengan katup cekik. c) Adjustable flow control dengan check valve by pass.10 Shut of Valve Katup ini berfungsi untuk membuka dan menutup aliran udara. Macam-macam aktuator : a) Linear Motion Aktuator (Penggerak Lurus) Ø Single Acting Cylinder (Silinder Kerja Tunggal) 493 .6 Unit Pengerak (Working Element = Aktuator) Unit ini berfungsi untuk menghasilkan gerak atau usaha yang merupakan hasil akhir atau output dari sistim pneumatik. Katup Pengatur Aliran Udara 7. b) Adjustable flow control yaitu lubang laluan dapat disetel dengan baut penyetel. Shut of Valve 7.7..5. Lihat gambar berikut : Gambar 38. karena akan mencekik aliran udara hingga akan menghambat aliran udara.5. Hal ini diasumsikan bahwa besarnya aliran yaitu jumlah volume udara yang mengalir akan mempengaruhi besar daya dorong udara tersebut. Macam-macam flow control: a) Fix flow control yaitu besarnya lubang laluan tetap (tidak dapat disetel).

beban dan tujuan penggunaan sistim pneumatik. 7.6.1 Single Acting Cylinder Silinder ini mendapat suplai udara hanya dari satu sisi saja. pegas pembalik. dan silinder. 494 . Untuk mengembalikan keposisi semula biasanya digunakan pegas. Konstruksinya hampir sama dengan silinder kerja tunggal. Silinder kerja ganda ada yang memiliki batang torak ( piston road) pada satu sisi dan ada pada kedua pula yang pada kedua sisi. Secara detail silinder pneumatik sederhana pembalik pegas dapat dilihat pada gambar 39a. Silinder kerja tunggal hanya dapat memberikan tenaga pada satu sisi saja. Keuntungannya adalah bahwa silinder ini dapat memberikan tenaga kepada dua belah sisinya. seal. 7. Silinder sederhana akan bekerja bila mendapat udara bertekanan pada sisi kiri. Konstruksinya yang mana yang akan dipilih tentu saja harus disesuaikan dengan kebutuhan.Ø Double Acting Cylinder (Penggerak Putar) b) Rotary Motion Actuator (Limited Rotary Aktuator) Pemilihan jenis aktuator tentu saja disesuaikan dengan fungsi.6. Jenis Single Acting Cylinder (a) dan Simbolnya (b) Silinder Pneumatik sederhana terdiri dari beberapa bagian. Ø Air Motor (Motor Pneumatik) Ø Rotary Aktuator (Limited Rotary Aktuator) a) b) Gambar 39.2 Silinder Penggerak Ganda (Double Acting Cyinder) Silinder ini mendapat suplai udara kempa dari dua sisi. yaitu torak. Gambar berikut ini adalah gambar silinder kerja tunggal. batang torak. selanjutnya akan kembali oleh gaya pegas yang ada di dalam silinder pneumatik.

Cushioning Gambar 41. Sumber energi silinder pneumatik penggerak ganda dapat berupa sinyal langsung melalui katup kendali.6.2. yaitu torak. Jadi dengan sistem cushion ini kita memberikan bantalan atau pegas pada akhir langkah.1 Double Acting Cylinder With Cushioning Cushion ini berfungsi untuk menghindari kontak yang keras pada akhir langkah.Gambar 40. seal. Pengaturan ini tergantung pada banyak sedikitnya tuntutan yang harus dipenuhi pada gerakan aktuator yang diperlukan. atau melalaui katup sinyal ke katup pemroses sinyal (processor) kemudian baru ke katup kendali. dan silinder. 7. Double Acting Cylinder dan simbolnya Silinder pneumatik penggerak ganda akan maju atau mundur oleh karena adanya udara bertekanan yang disalurkan ke salah satu sisi dari dua saluran yang ada. Silinder pneumatik penggerak ganda terdiri dari beberapa bagian. batang torak. Secara detail silinder pneumatik dapat dilihat seperti gambar 40. Double Acting Cylinder with Cushioning 495 .

Gambar 42. c) Motor roda gigi. Motor pneumatik ini telah cukup berkembang dan penggunaanya telah cukup meluas. Motor Piston Radial dan Motor Axial Gambar 43. 496 . c) Gear Motor. antara lain: a) Piston Motor Pneumatik. motor pneumatik dibedakan menjadi : a) Motor torak. d) Turbines (High Flow). d) Motor aliran.7. Rotari Vane Motor Menurut bentuk dan konstruksinya. b) Motor baling-baling luncur. b) Sliding Vane Motor . Cara kerja motor pneumatik berupa piston translasi kemudian dikonversi menjadi gerakan berputar/rotasi dimana udara bertekanan dialirkan melalui torak atau baling-baling yang terdapat pada porosnya. Berikut contoh-contoh motor pneumatik.7 Air Motor (Motor Pneumatik) Motor pneumatik mengubah energi pneumatik (udara kempa) menjadi gerakan putar mekanik yang kontinyu. Macam-macam motor pneumatik.

g) Mudah dalam pemeliharaan. 7. antara lain: a) Kecepatan putaran dan tenaga dapat diatur secara tak terbatas. Simbol dan Gambar Katup Sinyal Pneumatik LAMBANG PENAMPANG NAMA Katup tekan 3/2 dengan pegas pembalik Katup NOT 3/2 dengan pegas pembalik 497 . c) Ukuran kecil sehingga ringan. d) Ada pengaman beban lebih. Jenis dan Simbol Motor Pneumatik/Rotary Actuator Ada beberapa kelebihan penggunaan motor pneumatik. b) Batas kecepatan cukup lebar. e) Tidak peka terhadap debu.8 Jenis-jenis Katup Pneumatik Tabel 1. panas dan dingin. h) Arah putaran mudah dibolak-balik.Gambar 44. f) Tahan terhadap ledakan. cairan.

= Katup tuas 3/2 dengan penahan Katup Roll 3/2 Katup tuas 4/2 dengan penahan/tuas Simbol penekan katup sinyal memiliki beberapa jenis. Jenis-jenis penggerak katup SIMBOL KETERANGAN Penekan pada umumnya Penggerak katup oleh knop SIMBOL KETERANGAN Melalui sentuhan Penggerak katup oleh pegas 498 . Sesuai dengan standar Deutsch Institut fur Normung (DIN) dan ISO 1219. tuas. dan lain-lain. antara lain: Tabel 2. antara lain penekan manual. roll. terdapat beberapa jenis penggerak katup.

saluran 2 berhubungan dengan 3. Saat rooler tertekan maka terlihat bahwa lubang 1 berhubungan dengan saluran 2. Aplikasinya nanti adalah saluran 2 itu akan dihubungkan pada katup pemroses sinyal berikutnya. Saat posisi katup pneumatik belum tertekan yaitu saat katup tidak dioperasikan. Katup Sinyal Roll 3/2 499 . Gambar 45. Hal ini akan berakibat bahwa udara bertekanan dari lubang 1 akan diteruskan ke saluran 2. Katup ini bekerja bila tombol roll pada katup tertekan secara manual melalui nok yang terdapat pada silinder Pneumatik atau karena adanya sistim mekanik lainnya. dan lubang 1 tertutup sehinggga tidak terjadi kerja apa-apa.Penggerak katup oleh tuas Penggerak katup oleh pedal kaki Penggerak katup oleh udara Penggerak katup magnet/ mekanik dua sisi Penggerak katup oleh roll Penggerak katup oleh roll tak langsung (berlengan) Penggerak katup oleh magnet Penggerak katup oleh magnet dua sisi 7.1 Katup 3/2 dengan Penekan Roll Katup ini sering digunakan sebagai saklar pembatas yang dilengkapi dengan roll sebagai tombol. Saluran 2 akan berfungsi sebagai pemberi sinyal pada katup berikutnya.1. Katup akan bekerja dan memberikan reaksi apabila ujung batang piston (batang penekan) sudah mendekat dan menyentuh pada roller-nya. sedangkan saluran 3 menjadi tertutup.8.

katup NOT. maka katup tersebut juga disebut saklar pembatas. maka hasil pengolahan sinyal akan dikirim ke katup kendali yang akan diteruskan ke aktuator agar menghasilkan gerakan yang sesuai dengan harapan.8. Sebagai pengolah input/masukan dari katup sinyal.Katup sinyal roll ini akan bekerja apabila ujung roller tertekan oleh nok aktuator atau lainnya. 7. Katup pneumatik pada dasarnya identik dengan saklar pada rangkaian listrik. katup satu tekan (OR). Katup pemroses sinyal terdiri dari beberapa jenis. Jenis dan Simbol Katup Pemroses Sinyal Pneumatik LAMBANG PENAMPANG NAMA Katup dua tekan (AND) Katup satu tekan (OR) Katup aliran satu arah dengan pembalik pegas 500 . Katup pemroses sinyal terletak antara katup sinyal dan katup pengendalian.2 Katup Pemroses Sinyal (Prossesor) Output yang dihasilkan oleh katup sinyal akan diproses melalui katup pemroses sinyal (prosesor). antara lain katup dua tekan (AND). seperti yang tampak dalam simbol dan gambar penampang berikut ini: Tabel 3. saat maju atau mundur. dan lain-lain. Beberapa katup pemroses sinyal dapat pula dipasang sebelum aktuator. Katup semacam ini dapat berfungsi sebagai pembatas gerakan atau pencegah gerakan yang berlebihan. katup pembatas tekanan. namun terbatas pada katup pengatur aliran/cekik yang mengatur kecepatan torak. katup pengatur aliran udara (cekik) satu arah.

Katup pengatur tekanan udara akan bekerja pada batas-batas tekanan tertentu.8.Katup aliran satu arah tanpa pegas Katup pengatur aliran (Cekik) satu arah Katup OR dengan tekanan tertentu Cekik dua arah Katup Pengatur tekanan udara penyetel pegas Secara detail fungsi dan mekanisme kerja katup pemroses sinyal dapat dijelaskan sebagai berikut: 7. Katup 501 .3 Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valve) Katup pengatur tekanan digunakan untuk mengatur tekanan udara yang akan masuk ke dalam sistim pneumatik.

4 Katup Pengatur Aliran (Flow Control Valve) Katup ini digunakan untuk mengatur volume aliran yang berarti mengatur kecepatan gerak piston (aktuator). Tetapi apabila mendapat tekanan dari X (1. 7.4) saja maka katup tidak akan bekerja (udara tidak dapat keluar ke A). Untuk mendapatkan tekanan yang sesuai dengan keperluan dapat dilakukan dengan cara mengatur putaran pegas yang ada.8. udara akan dikeluarkan. Fungsi dari pemasangan flow control valve pada rangkaian pneumatik antara lain untuk membatasi kecepatan maksimum gerakan piston/motor pneumatik.1 Katup AND (Two Pressure Valve) Katup dua tekan akan bekerja apabila mendapat tekanan dari dua sisi secara bersama-sama. untuk membatasi daya yang bekerja. Sesuai fungsinya katup pengatur tekanan dapat disimbolkan sebagai berikut : Tabel 4.2) saja atau dari arah Y (1. Apabila katup ini mendapat tekanan dari arah X (1.pengatur tekanan udara berfungsi mengatur tekanan agar penggerak pneumatik dapat bekerja sesuai dengan tekanan yang diharapkan. Jenis dan Simbol Katup Pembatas Tekanan Pressure regulator Pressure relief valve Pressure regulator with self relieving Sequence valve 7. serta untuk menyeimbangkan aliran yang mengalir pada cabang-cabang rangkaian pneumatik.8. Biasanya dikenal juga dengan istilah cekik.2) dan Y (1.4) secara bersama-sama maka katup ini akan dapat bekerja sesuai fungsinya. Secara simbolik dapat dituliskan sebagai berikut : 502 . hingga tekanan yang diperlukan tidak berlebihan. Bila telah melewati tekanan yang diperlukan maka katup ini akan membuka secara otomatis.4.

Arus listrik dapat mengalir pada salah satu penghantar. atau kedua-duanya. udara bertekanan dapat dialirkan pada salah satu sisi atau kedua sisinya secara bersamaan. PNUAMATIK ELEKTRIK . Demikian pula pada pneumatik. Simbol dan Tabel Logika katup AND PENAMPANG SIMBOL SIMBOL LOGIKA RANG.2 Katup OR (One Pressure Valve) Katup OR akan bekerja bila dari salah satu sisi katup terdapat udara bertekenan. Simbol dan Tabel Logika katup OR PENAMPANG SIMBOL SIMBOL LOGIKA 503 . Katup OR dapat digambarkan dan disimpulkan sebagai berikut: Tabel 6.4. Dalam sistim elektrik katup OR diidentikkan dengan rangkaian parallel. baik dari sisi kiri X atau (X1) atau sisi kanan Y atau (Y2).X1 X2 TABEL LOGIKA X1 X2 A 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 7.8.Tabel 5.

8. maka output NOR berupa OFF. Dalam pneumatik katup NOT dapat diartikan bahwa udara bertekanan akan mengalir melalui katup NOT bila tidak diberi aksi. sedangkan pada posisi OFF maka outputnya akan ON. Simbol dan Tabel Logika katup NOT Simbol Pneumatik Logik Kontrol Tabel Logika X 0 1 A 1 0 7.X1 ELEKTRIK TABEL LOGIKA X1 X2 0 0 1 1 X2 0 1 0 1 A 0 1 1 1 7.4 Katup NOR (Not OR) Katup ini akan bekerja selalu berlawanan dengan output katup OR.8.3 Katup NOT (Negations Valve) Katup ini akan selalu bekerja berlawanan dengan sinyal yang masuk. Tabel Logika katup NOR dapat dijelaskan dalam tabel logika berikut: X1 0 0 1 1 Tabel 8.4. bila output OR adalah ON.RANGKAIAN PNEUAMATIK . namun sebaliknya udara bertekanan tidak dapat diteruskan bila katup NOT diberi aksi. Katup ini biasanya dipakai untuk Emergency. Tabel 7. demikian pula sebaliknya.4. Logika katup NOR X2 A ( OR) A (NOR) 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 504 . bila sinyal dalam kondisi ON maka outputnya (A) akan OFF (mati).

5 Katup NAND (Not AND) Katup ini akan bekerja selalu berlawanan dengan output katup AND.4. dan sisi kanan ruang b. yaitu sisi kiri ruang a. dan sebagainya. 3/2.7.5 Katup Pengendali Sinyal Sinyal yang telah diolah atau diproses selanjutnya akan dikirim ke katup pengendali. demikian pula sebaliknya. 3. Pada sisi kiri dan kanannya terdapat kode penggerak katup tersebut misalnya penggerak udara bertekanan. Katup pengendalian biasanya memiliki dua kemungkinan. penggerak mekanik. penggerak elektrik. dan akan berhenti bila inputnya AND. Katup NAND dapat digambarkan sebagai berikut : Tabel 9. katup 5/2. yaitu mengaktifkan aktuator maju (setzen/S) atau mengembalikan aktuator ke posisi semula/mundur (rucksetzen/R). 5/3. yaitu saluran 1. Dilihat 505 . antar lain. 4. maka output NAND berupa OFF. penggerak hydrolik. udara bertekanan akan diteruskan ke sistim pneumatik bila outputnya tidak AND. Katup Kendali 5/2 Katup di atas terdiri dari 2 ruang.8.8. Katup pengendali sinyal terdiri dari beberapa jenis. Katup ini akan secara langsung mengendalikan aktuator baik berupa silinder pneumatik maupun motor pneumatik. logika katup NAND X1 0 0 1 1 X2 0 1 0 1 A (AND) 0 0 0 1 A (NAND) 1 1 1 0 7. Dalam pneumatik. 2. dan lain-lain. Salah satu contoh cara pembacaan katup pengendali adalah sebagai berikut: a b Gambar 46. Setiap ruang terdiri dari 5 saluran/port. dan 5. bila output katup AND adalah ON. Letak katup pengendali biasanya sebelum aktuator. 4/2.

k atup pengendali sinyal terdiri dari beberapa jenis antara lain: 7. Selain itu terdapat dua ruang yang diberi nama ruang a dan ruang b. Pada bagian bawah (input) terdapat saluran masuk udara kempa yang diberi kode nomor 3. Perbedaannya dengan katup di atas adalah Kedua ruang dapat diaktifkan/digeser oleh tenaga mekanik dan oleh udara bertekanan. dan sisi 12. Gambar 47. aktuator bergerak maju.5. dan dua saluran buang yang diberi kode 3 dan 5. Pada bagian bawah (input) terdapat saluran masuk udara kempa yang diberi kode nomor 3.dan 5.2 Katup Kendali 5/2 penggerak udara kempa dan Mekanik Katup kendali 5/2 penggerak udara kempa dan mekanik ini terdiri dari lima port. Kedua saluran genap tersebut akan dihubungkan dengan aktuator. 3. Pada umumnya sisi 14 akan mengaktifkan ruang a sehingga port 1 terhubung dengan port 4. 4.dari jenis penggerak katupnya.1 Katup Kendali 5/2 penggerak udara kempa Katup kenndali 5/2 penggerak udara kempa ini terdiri dari lima port. dan 5. dan dua saluran buang yang diberi kode 3. Sisi 12 untuk mengaktifkan ruangan b yang berdampak saluran 1 terhubung dengan saluran 2. 506 . sedangkan bagian atas (output) terdapat dua saluran (port) yang diberi kode nomor 2 dan 4. Selain itu terdapat dua ruang yang diberi nama ruang a dan ruang b. masing-masing diberi nomor.8. Kedua ruang diaktifkan/digeser oleh udara bertekanan dari sisi 14. Biasanya penggerak mekanik difungsikan untuk melakukan cheking apakah katup dapat berfungsi dengan baik atau tidak.8.5. Bagian atas (output) terdapat dua saluran (port) yang diberi kode nomor 2 dan 4 yang akan dihubungkan dengan aktuator. masing-masing diberi nomor 1. 2. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Udara Kempa 7. sehingga aktuator bergerak mundur.

8. yang berfungsi untuk mengembalikan katup ke posisi semula secara otomatis bila udara bertekanan penggerak katup tersebut terputus. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik Udara Kempa dan Pembalik Pegas 7. Biasanya pembalik pegas ini difungsikan untuk mempertahankan katup agar tetap ke posisi semula setelah bergeser.3 Katup Kendali 5/2 penggerak Magnet Katup kendali 5/2 penggerak udara magnet ini prinsipnya sama dengan katup kendali sebelumnya. Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik dan Udara Kempa 7.2 Katup Kendali 5/2 Penggerak Udara Kempa dan Pegas Katup kendali 5/2 penggerak udara kempa dan pembalik pegas ini prinsipnya sama dengan katup kendali sebelumnya. Gambar 49. 507 . maka inti besi akan menjadi magnet. Perbedaannya katup ini dilengkapi pegas. Bila kumparan dilalui arus. Magnet ini akan mengeser ruangan katup sesuai dengan gerakan yang diinginkan.5.5.Gambar 48. Biasanya katup ini digunakan untuk sistem elektropneumatik atau elektro hydrolik. Perbedaannya katup ini dilengkapi kumparan/spull yang dililitkan ke inti besi.8.

Jenis dan Simbol Komponen Sistim Pneumatik Lainnya (FESTO FluidSIM) Simbol Nama Sumber udara bertekanan Keterangan Sumber udara bertekanan berasal dari kompresor atau Saluran Kontrol Saluran tenaga/kerja Saluran berhubungan Saluran bersilangan Filter udara Tangki penampung udara Filter udara Saluran kontrol antar peralatan pneumatik Saluran kerja dari kompresor Dua. jenis dan simbol komponen pneumatik lainnya juga terdiri dari berbagai jenis seperti dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10.Gambar 50. tiga atau lebih saluran udara yang saling berhubungan Dua. Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Magnet Selain sistem penggerak katup. tiga atau lebih saluran udara yang saling bersilangan Berfungsi sebagai peredam suara agar tidak bising Penampung udara bertekanan Dipasang sebelum masuk ke penampung 508 .

Berikut ini gambar-gambar cara pengikatan. berfungsi untuk mengaktifkan aktuator setelah waktu tertentu 7.9 Model Pengikat (Types Of Mounting) Cara-cara pengikat silinder (aktuator) pada mesin atau pesawat dapat dilaksanakan/dirancang dengan pengikat permanen atau remanen tergantung keperluan.Pemisah air Berfungsi untuk memisahkan air dari udara Pengering udara sebelum masuk ke instalasi pneumatik Pencampuran udara dengan pelumas agar mengurangi keausan pada peralatan pneumatik FR/L unit merupakan Unit pelayanan udara bertekanan yang terdiri dari Filter. Regulator dan Lubrication Pemanas udara Pelumasan FR/L Unit Katup timer/tunda waktu. 509 .

arah 510 .. Selain itu untuk memudahkan secara teoritis.... akan dijelaskan pula tentang Karnaught Diagram.... Sistim kontrol pneumatik merupakan bagian pokok sistim pengendalian yang menjadikan sistem pneumatik dapat bekerja secara otomatis.. Sistim Kontrol Pneumatik.. Type Of Mounting Gambar 51...... Bagian ini akan mendiskripsikan tentang komponen-komponen sistim kontrol pneumatik. Komponen yang ada dalam rangkaian sistim pneumatik harus dapat bekerja sama satu dengan lainnya agar menghasilkan gerakan output aktuator yang sesuai dengan kebutuhan. katup pemroses sinyal..Gambar . Masukan (input) diperoleh dari katup sinyal. Tipe-Tipe Mounting 8...... Bagian pemroses sinyal dan pengendali sinyal dikenal dengan bagian kontrol... selanjutnya diproses melalui katup pemroses sinyal kemudian ke katup kendali sinyal... Bagian kontrol akan mengatur gerakan aktuator (output) agar sesuai dengan kebutuhan... seperti katup sinyal..... agar dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan. urutan gerak. 8. kecepatan..........1 Pengertian Sistim Kontrol Pneumatik Sistim udara bertekanan tidak terlepas dari upaya mengendalikan aktuator baik berupa silinder maupun motor pneumatik. Adanya sistim kontrol pneumatik ini akan mengatur hasil kerja baik gerakan......... dan katup kendali.

b) Katup pemroses sinyal (processor).gerakan maupun kekuatannya. Katup sinyal akan menghasilkan sinyal/sensor sebagai masukan (input) guna diproses ke katup pemroses sinyal. Bagian ini akan mendeskripsikan tentang perhitungan tekanan udara (P). f) satuan gaya dan g) satuan temperatur. Fungsi dari sistim kontrol pneumatik ini untuk mengatur atau mengendalikan jalannya tenaga fluida hingga menghasilkan bentuk kerja (usaha) yang berupa tenaga mekanik melalui silinder pneumatik maupun motor pneumatik. tuas. tuas. Dasar Perhitungan Pneumatik………………………………… Dasar perhitungan pneumatik merupakan bagian yang akan membahas tentang perhitungan dasar dalam pneumatik. Katup-katup tersebut akan mengendalikan gerakan aktuator agar menghasilkan sistim gerakan mekanik yang sesuai dengan kebutuhan. Katup sinyal adalah suatu alat yang menerima perintah dari luar untuk mengalirkan. d) satuan massa. dan sebagainya. Unit katup sinyal merupakan gabungan dari berbagai katup yang berfungsi memberikan input (sinyal) pada suatu unit prosesor (pemroses sinyal) agar menghasilkan gerakan aktuator yang sesuai dengan kebutuhan. 2. Dengan sistim kontrol pneumatik ini sistem pneumatik dapat didesain untuk berbagai tujuan otomasi dalam suatu mesin industri. dan setersunya. Perintah tersebut berupa aksi. c) satuan tekanan. e) satuan energi. roll. Gaya Torak (F) dan dasar perhitungan daya motor. Selengkapnya dapat dilihat di bawah ini : 511 . Adapun konversi satuan tersebut antara lain : a) satuan panjang. 3. bisa melalui penekan. dan c) Katup pengendalian. roll. seperti contoh berikut ini: 9. baik secara mekanik maupun elektrik yang akan menimbulkan reaksi pada sistim kontrol pneumatik. melalui penekan manual. Sedangkan jenis penekannya (aksi) mempunyai beberapa pilihan missal.. perhitungan debit aliran udara (Q). kecepatan torak (V). Katup sinyal dilambangkan dengan katup yang terdiri dari beberapa ruangan (misal: ruang a. Sebelum melaksanakan perhitungan pneumatik terlebih dahulu harus mengetahui konversikonversi satuan yang sering dipakai dalam perhitungan dasar pneumatik. c) dan saluran udara yang dituliskan dalam bentuk angka. misal saluran 1. menghentikan atau mengarahkan fluida yang melalui katup tersebut. b. Menurut fungsinya katup-katup tersebut dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu: a) Katup Sinyal (sensor). b) satuan volume. Bentuk-bentuk dari sistim kontrol pneumatik ini berupa katup (valve) yang bermacam -macam.

Volume 1 ft = 0.540 cm 1 gal 1 mile = 5280 ft 1ft3 = 1.05504 kJ 1 ft-lbf = 1. 800 dyne Tekanan 1 kPa = I000 N/m 2 = 20.317 liter = 16.5939 kg = 444.933 × 10 -2 psi 1 mm Hg = 0.8 °R °K = °C + 273.4805 gal Massa .22481 Ib f § § § 512 .6093 km 1 inch3 1 km = 1000 m 1m = 100 cm 1 cm = 0.174 Ib m = 14.15 = 10 -3 m 3 = 1 dm 3 = 3.45359237 kg 1Ibf = 7000 grain 1N 1 kg = 1000 g 1 ton 1 ton = 1000 kg 1 slug = 32.§ Satuan panjang .3558 J 1dyne/cm 2 = 10 -1 N/m 2 1 ev = 1.491 Ibf /in 2 = 1.19 J 1W = 1 J/s Temperatur/suhu C=5 R=4 F=9 o R = 4/5 x oC o C = 5/4 x oR o F = (9/5 x oC) + 32o o C = 5/9 x (oF-32o) 1 °K = 1.16 kal 1 in.886 Ibf /ft2 1 atm = 760 torr = 1.01934 Ibf /in2 = 10 7 erg 1 erg = 1 dyne-cm 1 kalori = 4.7854 liter = 28.Gaya 1 Ib (m) = 0.01325 x 10 5 N/m 2 1 Pa = 1 N/m 2 1 bar = 1.9869 atm Energi 1 torr = 1 mm Hg 1J = 1 kg-m 2 /s 2 = 1. Hg = 0.3084 m 1liter 1 inch = 2.602 x 10 .105 Pa 1 bar = 0.186 J 1 Btu = 252.4482 N = 1 kg-m/s 2 = 0.3937 inch = 7.387 cm 3 § = 4.

memiliki persamaan : ∆P = 1. P atm + W.g = ?.V. h ? P = Pe – P atm = ?.h.85 xL Pa d 5 xPabs Dimana : L = panjang salura (m) D = Diameter dalam saluran (m) Q = Debit aliran udara (m3/s) Pabs = Tekanan absolute dalam Pa (N/m 2) Catatan : 1 bar = 105 (N/m 2) = 105 Pa (Pascal) 513 . Penurunan tekanan tersebut menurut Majumdar: 2001.6 x10 3 xQ1. h (kPa) Pe Gambar 52.1 Tekanan Udara P atm Pe A.1 = ?. Dimana : A h Pe W = berat benda = m. g.g = ?. Pe = A. g.A. g A = luas penampang P atm = tekanan atmosfer Pe = tekanan pengukuran Dengan mengeliminasi A. Sistim Tekanan dalam Pneumatik Udara yang mengalir ke saluran sistem pneumatik akan mengalami penurunan tekanan (head losses) akibat adanya gesekan sepanjang saluran dan belokan. g. h .9. maka P1 = ?.

3 Kecepatan T orak (V) Suatu silinder pneumatik memiliki torak dengan luas dan memiliki luas penampang stang torak.2 Analisa Aliran Fluida (V) Udara yang melewati saluran dengan luas penampang A (m2) dengan kecepatan udara mengalir V (m/dtk). maka debit udara akan tetap. Debit Aliran Udara (Q) Q (m3/dtk) = A (m2) . Vmaju = Q A Q An Vmundur = Dimana : V = kecepatan torak (m/s) Q = debit aliran udara (ltr/mnt) A = luas Penampang Torak (m2) An= A-Ak (m2) Gambar 54. namun kecepatannya akan berubah. sebandang dengan perubahan luas penampangnya Q1 = Q2 .9. maka kecepatan torak saat maju akan lebih kecil dibandingkan dengan saat torak bergerak mundur. V (m/dtk) Bila melewati melalui saluran yang memiliki perbedaan luas penampang A. maka akan memiliki debit aliran Q (m3/dtk) sebesar A (m2) x V (m/dtk). sehingga Gambar 53. Analisa Debit Udara V1 A2 = V2 A1 9. Analisis Kecepatan Torak 514 .

A.η …(N) Fmundur = Pe .4 Gaya Torak (F) Fmaju = Pe . 515 . n . S.. n . (Pe + Patm) =. Analisis Gaya Torak n Ak Gambar 56.(ltr/mn) Patm (Pe + Patm) Patm (lt/mnt) Q mundur = An.η .. Analisis Debit Udara Q maju = A.9. S....(N) n Ak Dimana: F = Gaya torak (N) Pe = Tekanan kerja/effektif (N/m 2) A = Luas Penampang (m2) An = A-Ak (m2) Ak = Luas batang torak (m2) 9.5 Udara yang Diperlukan (Q) Gambar 55. An .

Analisis Tekanan pada Penampang Berbeda 516 .6 Perhitungan Daya Kompresor P2 = Q . 2001) t 101.7854 D 2 . Pe P2 = Q . Pe 600 P1 = Gambar 57.S P + 101.3 ( ) 9. Analisis Daya Pompa P2 η P2 = Daya output pompa P1 = Daya Motor (kW) 9.Dimana: S = Langkah torak (m) Pe = Tekanan (N/m 2) A = Luas Penampang (m2) An = A-Ak (m2) Ak = Luas batang torak (m2) n = Banyaknya langkah (kali/menit) Kebutuhan udara bertekanan yang diperlukan (Q) juga dapat dicari melalui rumus: Q = 0.3 x103 x10 −12 m3 /s (Majumdar.7 Pengubahan Tekanan (kW) Gambar 58.

1 Pengendalian Langsung Silinder Sederhana 1.1 di lepas. Rangkaian tersebut termasuk dalam kategori pengendalian langsung. maka udara bertekanan dari kompressor akan mengalir ke katup tekan 3/2 pembalik pegas (1.0). Dimana : Pe1 = Tekanan awal (N/m 2) Pe2 = Tekanan akhir (N/m 2) A 1 = Luas Penampang 1 A 2 = Luas Penampang 2 A1 .η A2 10.Pe2 = Pe1 .1 akan kembali dengan sendirinya akibat adanya gaya pegas di dalamnya. Analisis Kerja Sistim Pneumatik 10. Rangkaian ini hanya dapat digunakan untuk menggeser/ mengangkat benda kerja paling sederhana. 517 . Udara sisa yang ada di dalam silinder 1. maka silinder 1. Udara bertekanan akan diteruskan ke silinder sederhana pembalik pegas (1. sehingga bergerak ke kanan (ON).1) melalui saluran 1 ke saluran 2.1 ON Gambar 59.1 OF 1. karena tanpa melalui katup pemroses sinyal.1 melalui saluran 2 ke saluran 3 selanjutnya dikembalikan ke udara luar (atmosfer). Pengendalian Silinder Sederhana Secara Langsung Cara Kerja : Bila katup sinyal/sensor ditekan secara manual. Bila katup 1.0 akan dikeluarkan melalui katup 1.

1 (S1) Silinder 1. silinder tidak bergerak. Penggunaan silinder pneumatik sederhana pembalik pegas pada mesin ini sangat rawan. Adapun sistim kendali tak langsung dapat dilihat pada gambar 61 di bawah ini: 518 . Setelah katup bergeser.Tabel 11. Rangkaian ini dapat digunakan untuk menggeser benda kerja. melainkan disalurkan ke katup kendali terlebih dahulu. karena saat silinder harus kembali ke posisi semula memerlukan tenaga besar. rangkaian tersebut masih harus banyak mengalami penyempurnaan. Idealnya untuk mesin penggeser seperti di bawah ini menggunakan silinder penggerak ganda. Dimana tekanan udara yang ada dapat digunakan untuk gerak maju dan mundur silinder pneumatik secara sempurna.0 (A) 0 0 1 1 Rangkaian ini dapat juga disebut identity. dan bila tidak diberi sinyal. sehingga dengan gaya pegas pembalik yang ada dapat mengembalikan silinder ke posisi semula dengan mudah. baru kemudian udara bertekanan akan mengalir menggerakan aktuator. Penggeser Benda Kerja 10. silinder langsung bekerja.2 Pengendalian Tak Langsung Silinder Penggerak Ganda Pengendalian tak langsung pada sistim pneumatik karena udara bertekanan tidak langsung disalurkan untuk menggerakkan aktuator. karena bila diberi sinyal. Rangkaian tersebut dapat digunakan bilamana bendanya ringan dan gesekan benda seminal mungkin. namun agar dapat bekerja secara otomatis. Logika untuk sistim di atas adalah sebagai berikut: Katup 1. Gambar 60.

3 ditekan/diaktifkan sesaat sehingga udara akan mengalir ke katup 519 . Rangkaian dan Diagram Gerak Silinder 1.0 Melalui Dua Katup Cara Kerja : Bila katup sinyal 1. maka udara bertekanan dari kompresor akan mengalir ke katup kendali 1.OF Gambar 61.2 ditekan secara manual sesaat.2 ON .3 ON . Silinder 1.0 akan bergerak ke kanan secara perlahan-lahan sesuai dengan pengaturan cekik.0 akan kembali bila katup sinyal 1. sehingga katup kendali 5/2 akan bergeser ke kanan.1. Udara dari kompresor akan mengalir melalui saluran 1 ke 4 diteruskan ke pengatur aliran (cekik) kemudian ke Silinder 1.1 melalui sisi 14.0.OF 1. Silinder 1.

Udara dari kompresor akan menglir ke silinder pneumatik melalui saluran 1 ke 2 diteruskan ke silinder dari sisi kanan.kendali 1.2 diganti penekan roll kemudian dipasang bersama dengan katup roll 1. kemudian silinder akan kembali secara otomatis. Pengendalian Otomatis Silinder Penggerak Ganda 520 .3.1 yang menyebabkan katup 1.3 Pengendalian Gerak Otomatis Silinder Penggerak Ganda Aplikasi dari gerakan ini dapat digunakan untuk menekan atau menggeser benda kerja sampai titik tertentu hingga menekan katup roll 1.4. Klasifikasi rangkaian ini dapat dituliskan sebagai berikut : AKTUATOR Pengendali Katup pengendali Katup pemroses sinyal Katup sinyal Sumber energi Gambar 62. Silinder Penggerak Ganda akan bergerak maju dan mundur secara otomatis. Silinder akan kembali secara berlahan sesuai dengan pengaturan cekik.0 (A) 0 0 ? 0 1 0 1 0 1 1 1 * Keterangan : ? = tergantung posisi sebelumnya * = tak tentu 10.2 (S1) Katup 1. Logika untuk sistim di atas adalah sebagai berikut: Katup 1. bila katup 1. Tabel 12.3 (S2) Silinder 1.1 kembali ke kiri melalui sisi 12.

. sehingga gerakan maju mundur stang torak akan memudahkan pintu bus membuka dan menutup dengan 521 .4 aktif pada posisi awal dan knop katup 1..0 akan kembali secara otomatis bila telah menekan katup roll 1.2 dan 1.1 Pintu Bus dengan Kontrol Pneumatik Silinder pneumatik penggerak ganda diletakkan di sisi dalam salah satu daun pintu lipat bus.... Bagian pangkal silinder penggerak ganda diikatkan pada bodi mobil mekakui engsel. Bila katup 1.3 1..3 START 1.2 ? 1. maka silinder 1. 11. silinder 1..0 akan bergerak maju. Aplikasi Gerak Silinder 1...Sistim gerak silinder penggerak ganda dapat dilihat pada diagram gerak silinder 1.. A - 11...0 di bawah ini..0 Penggerak Ganda Aplikasi dari sistim gerak ini dapat digunakan pada mesin penekuk plat otomatis seperti di bawah ini: 1.4 Gambar 64.4 (1..2 1.2 ditekan maka katup 1. demikian pula pada ujung batang torak silinder...3 1..0 A+. Diagram Gerak Silinder 1.4 akan aktif secara bersamaan atau dapat ditulis sebagai 1.. Aplikasi Pneumatik dalam Proses Produksi..4 Gambar 63.2 and 1...4).2 ? 1.

= Silinder kerja ganda 522 . Diagram Rangkaian Kontrol Pintu Bus Otomatis. maka rangkaiannya adalah sebagai berikut: Diagram Rangkaian Kontrol Pintu Bus Otomatis Silinder 1 A 1S 1 1V 5 1V6 1.4 (Y) 4 2 1V 4 1. Agar dapat bekerja seperti di atas. Pintu bus akan menutup bila batang torak silinder pneumatik penggerak ganda bergerak maju (A+). Tabel 13.fleksibel.2 (X) 5 1 3 1V3 1V 2 1V 1 S1 1S 1 2 1 0Z 1 3 Pintu bus 1S2 S2 S3 2 1S 3 2 3 1 Sopir S4 1S 4 2 1 Sopir 1 3 3 Gambar 65. Simbol dan keterangan rangkaian kontrol pintu bus otomatis. sedangkan pintu bus akan membuka bila batang torak silinder pneumatik penggerak ganda tersebut bergerak mundur (A -).

= Katup kontrol aliran satu arah = Katup 5/2 dengan kontrol full pneumatik = Katup tunda waktu = Katup balik fungsi “ATAU” = Katup batas 3/2 dengan pegas pembalik 523 .

= Katup tombol 3/2 dengan pegas pembalik = Katup tuas 3/2 dengan penahan = Unit pelayanan udara (FR/L Unit) = Sumber udara mampat = Saluran kontrol = Saluran kerja 524 .

4 (Y) 1S4 (a) Gerakan pintu bus membuka (silinder mundur) (b) Gerakan pintu menutup (silinder maju) Gambar 67.2 (X) 1S1 1 1V4 1. Simbol logika untuk gerakan pintu bus 525 .Diagram Tahap Perpindahan 1S2 1S3 1S4 2 1 3=1 0 1S1 Gambar 66.1 Simbol Logika 1S2 1S3 ≥1 ≥1 1V4 1.1. Diagram Tahap Perpindahan 11.

mundur (pintu membuka) 0 1 1 0 0 sil.2 (X) dan 1. mundur (pintu membuka) 0 0 1 0 0 sil.2 (X) Persamaan matematisnya : X = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) X = ( S1Λ S 2 Λ S3 ΛS 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3Λ S 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3ΛS 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1 ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) 526 . Tabel Logika Gerakan Pintu Bus 1S1 1S2 1S3 1S4 1V 4 1.2 (X) dan saluran 1.Table 11.4 (Y) * = ada tekanan udara pada kedua saluran 1. maju (pintu menutup) 1 0 0 1 * tidak tentu 1 0 1 0 * tidak tentu 1 0 1 1 * tidak tentu 1 1 0 0 * tidak tentu 1 1 0 1 * tidak tentu 1 1 1 0 * tidak tentu 1 1 1 1 * tidak tentu Keterangan : = tidak ada tekanan udara pada saluran 1.4 (Y) 11.4 (Y) 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 A KETERANGAN 0 0 0 0 tidak tentu 0 0 0 1 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 0 1 1 0 sil.1. mundur (pintu membuka) 1 0 0 0 1 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 1 1 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 0 1 0 sil. mundur (pintu membuka) 0 1 0 0 0 sil.2 (X) 1.2 Untuk Saluran 1.

3 Diagram Karnought : S2 X = S2 ∨ S3 ∨ S4 S1 0 S4 0 S3 Gambar 68. Diagram Karnought untuk saluran 1.11.4 (Y) Persamaan matematisnya : Y = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 ΛS 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 ΛS 3ΛS 4 ) Y = ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1 Λ S 2 Λ S 3 Λ S 4 ) ∨ ( S1Λ S 2 ΛS 3 ΛS 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 Λ S 3Λ S 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 Λ S 3 ΛS 4 ) ∨ ( S1ΛS 2 ΛS 3 Λ S 4 ) ∨ ( S 1ΛS 2 ΛS 3ΛS 4 ) 527 .2 (X) Untuk saluran 1.1.

11. Pada saat kondisi pintu bus terbuka maksimal.2 (X) pada katup V4 melalui katup V3. akan mengaktifkan katup S1. Dengan gerakan A. maka pintu dikondisikan terbuka terus. Aliran udara pada katup V4 adalah udara masuk saluran 1 keluar saluran 2 menuju saluran silinder bagian depan melalui katup V6.1. Hal ini dimungkinkan dengan mengoperasikan katup S4.4 (Y) Cara Kerja Rangkaian Pintu Bus dengan Kontrol Pneumatik Pada saat bus sedang menunggu penumpang di terminal. Ketika katup S4 dioperasikan. aliran udara dari saluran 1 ke saluran 2 menuju saluran 1. saluran 1 terbuka. udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 dan selanjutnya diteruskan ke katup V1. pada saluran 1.4 Diagram Karnought S2 S1 1 1 1 1 1 1 1 1 S4 Y = S1 S3 Gambar 69. Diagram Karnought untuk saluran 1.(silinder mundur) maka pintu bus akan terbuka. saluran 3 tertutup. Pada saat yang bersamaan. saluran 3 tertutup.2 (X) masih terdapat udara mampat sehingga kondisi ini 528 . halte ataupun tempat-tempat pemberhentian bus lainnya. Udara mendorong silinder ke belakang (A-). Sehingga aliran udara pada katup S1 adalah saluran 1 terbuka. Aliran udara ini akan mengaktifkan katup V1 sehingga udara dari kompresor akan mengalir ke katup V4 melalui saluran 1. Udara dalam silinder bagian belakang didorong keluar menuju saluran 4 dan keluar saluran 5 pada katup V4 melalui katup V5.4 (Y).

2 (Y) 5 1 3 1V3 1V1 1S1 2 1S4 S1 3 S4 1 2 Sopir 1 3 Gambar 70.2 (X) akan mengalir ke katup V3 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup S4. Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S4 Pada saat bus akan berangkat. Dengan gerakan maju ini (A+). Posisi silinder masih dalam kondisi awal dan posisi pintu bus masih dalam keadaan terbuka terus.4 (Y) akan mendorong katup V4 sehingga aliran udara pada katup V4 adalah udara dari kompresor masuk saluran 1 diteruskan ke saluran 4 menuju katup V5 dan kemudian masuk ke saluran silinder bagian belakang. sopir/kondektur bus harus menutup pintu bus terlebih dahulu. Saluran 1 tertutup dan saluran 3 terbuka. Akibatnya udara pada saluran 1. pintu bus akan segera tertutup (lihat gambar 71) 529 . Untuk itu maka katup S4 harus dikembalikan ke posisi semula.4 (Y) 1 V4 4 2 1. (lihat gambar 70) Silinder 1 A 1 S1 1V5 1V6 1. Udara mampat pada saluran 1. Udara pada bagian depan akan didorong ke luar melewati katup V6 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup V4.tidak akan mempengaruhi posisi katup V4.

Silinder 1 A 1S1 1V5 1V6 1. Pada waktu katup S2 ditekan maka saluran 1 terbuka dan saluran 3 tertutup. Udara pada bagian belakang silinder akan didorong ke luar melalui katup V5 menuju saluran 4 dan dibuang melalui saluran 5.4 (Y) 5 4 2 1V4 1.2 (X). Selanjutnya diteruskan ke silinder melalui saluran bagian depan. Silinder bergerak mundur (A-) dan pintu bus terbuka (lihat gambar 72). 530 . kemudian menuju ke katup V4 melalui saluran 1. Aliran udara dari saluran 1 menuju saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan ke V2 dan V3. Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S4 Apabila di tengah perjalanan ada penumpang yang akan turun. Aliran udara pada katup V4 udara masuk saluran 1 menuju saluran 2 kemudian diteruskan ke katup V6. penumpang tinggal menekan katup S2. maka untuk membuka pintu.2 (X) 3 1 1V3 1V1 1S1 2 1S4 2 Sopir S1 1 3 S4 1 3 Gambar 71. Udara mendorong silinder ke belakang.

531 .2 (X) 3 5 1 1V 3 1V 2 1V1 1S 1 2 2 Pintu bus 1S2 S1 1 3 S2 1 3 Gambar 72.2 (X) akan segera dibuang ke udara bebas melalui saluran 3 pada katup S2.Silinder 1 A 1S1 1V5 1V 6 1.4 (Y).4 (Y) 4 2 1V4 1. Sehingga udara pada saluran 1. Akibatnya silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu bus akan segera menutup kembali (lihat gambar 73). pada saluran 1. Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S2 Pada waktu pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1.2 (X) tidak ada udara mampat karena pada saat katup S2 dilepas maka posisi akan kembali ke posisi awal.4 (Y). Pada saat udara masuk ke saluran 1. Dengan terbukanya katup S1. maka katup V1 akan mengalirkan udara dari kompresor menuju katup V4 melalui saluran 1.

4 (Y) 5 1 2 1V4 1. dilakukan oleh sopir atau kondektur bus tersebut yaitu dengan cara menekan katup S3. maka untuk membuka pintu bus. Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S2 Apabila akan menaikkan penumpang di tengah perjalanan.Silinder 1 A 1S1 1V 5 1V 6 4 1. Selanjutnya masuk ke silinder melalui saluran bagian depan. saluran 3 tertutup. Ketika katup ditekan. Silinder bergerak mundur (A-) dan pintu bus akan terbuka (lihat gambar 75) 532 . Aliran udara ini akan mengubah arah aliran pada katup V4 yaitu udara masuk dari saluran 1 ke saluran 2 menuju katup V6. udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan ke saluran 1. maka saluran 1 terbuka.2 (X) pada katup V4 melalui katup V2 dan katup V3.2 (X) 3 1V3 1V 2 1V1 Pintu bus 2 1S1 2 1S 2 S1 1 3 S2 1 3 Gambar 74.

Akibatnya udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke saluran 4 menuju katup V5 menuju silinder bagian belakang. Dengan terbukanya katup V1. 533 . Membuka pintu bus dengan menggunakan katup S3 Pada saat pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1 sehingga udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 menuju katup V1.Silinder 1 A 1S 1 1V5 1V 6 1V4 1.4 (Y) 4 2 1. Maka silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu akan tertutup kembali (lihat gambar 76). maka udara dari kompresor akan masuk ke katup V4 melalui saluran 1.4 (Y).2 (X) 5 1 3 1V3 1V2 1V1 1S 1 2 1 3 1S3 2 Sopir S1 S2 1 3 Gambar 75.

Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S3 Fungsi-fungsi katup V5 dan V6 adalah untuk mengatur kecepatan gerak pintu bus pada saat membuka dan menutup. Sedangkan katup V2 dan V3 merupakan katup balik fungsi “ATAU” yang memungkinkan pintu bus dapat dioperasikan dengan menggunakan beberapa jenis katup pneumatik menurut situasi dan kondisi pada saat pintu bus tersebut dioperasikan. dan lain-lain. seperti di bawah ini : 534 . Katup V1 merupakan katup tunda waktu.2 (X) 3 1 1V2 1V3 1V1 2 1S1 1 S3 2 Sopir S1 1 3 S3 1 3 Gambar 76. Sistim pneumatik juga bisa digunakan untuk melakukan gerakan yang selama ini digerakan oleh tenaga manusia seperti menekan/ menyetempel benda kerja. memotong. membuat profil pada plat.Silinder 1 A 1S 1 1V5 1 V6 1. Katup ini berfungsi untuk memberikan selang waktu pintu bus menutup kembali setelah pintu bus terbuka.4 (Y) 5 4 2 1V4 1.

11.2 Penahan/penjepit benda (ragum) Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda pada ragum di bawah ini adalah : A+ (menekan/menahan), A- (melepaskan kembali ke posisi awal)

Gambar 77. Ragum pneumatik

11.3 Pemotong plat Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda: A+ (memotong), A- (kembali ke Posisi Awal). Ujung silinder pneumatik diberi slide untuk pengarahkan mata pisau gergaji

Gambar 78. Pemotong Material

11.4

Membuat profil plat Benda kerja berupa plat diletakan di atas landasan berupa profil sesuai bentuk yang diinginkan. Silinder pneumatik yang digunakan berupa silinder pneumatik penggerak ganda. Gerakan menekan benda kerja diawali dengan naiknya stang torak ke atas (A+) selanjutnya akan menekan tuas mekanik, yang dihubungkan dengan profil menekan plat. Setelah selesai dengan penekanan siolinder pneumatik kembali ke Posisi Awal (A-). Tombol penekan dibuat dua 535

buah, agar tidak terjadi kecelakaan pada lengan tangan saat penekanan, sedangkan untuk mengangkat dilakukan dengan, menekan satu buah tombol.

Gambar 79. Proses pembuatan profil plat

11.5 Pengangkat dan Penggeser Benda Arah gerakan silinder pneumatik penggerak ganda mengangkat material ke posisi atas (lihat Gambar 80), silinder A naik/mengangkat (A+), ketika sampai di atas, silinder B mendorong material ke konveyor atas (B+). Silinder B kembali ke Posisi Awal (B-). selanjutnya silinder pneumatik A kembali turun ke posisi semula (A-), sehingga siklusnya dapat ditulis: A+, B+, B-, A-. Untuk membuat kontrol tersebut dapat menggunakan sistem Full Pneumatik, elektropneumatik, maupun PLC (Programmable Logic Kontrol)

Gambar 80. Pengangkat dan Penggeser Benda

536

12. Pengangkat dan Penggeser Material Full Pneumatik......

Silinder pneumatik penggerak ganda 1.0 terletak pada arah vertical. Pada ujung batang toraknya diletakan plat sebagai tempat dudukan silinder 2.0. Batang torak slinder 1.0 akan mengangkat material sampai ketinggian tertentu (A+). Selanjutnya stang torak silinder 2.0 akan menggeser material ke konveyor lainnya (B+). Silinder 1.0 akan kembali ke posisi awal (A-) selanjutnya silinder 2.0 juga akan kembali ke posisi awal (B-). Siklus A+,B+,A-,B- tersebut akan berlangsung secara terus menerus selama suplai u dara dari katup 3/2 penggerak tuas 0.2 dihentikan.

Gambar 81. Pengangkatan benda

12.1 Cara kerja Untuk mengaktifkan rangkaian harus menekan terlebih dahulu tuas katu 3/2 Way valve ke posisi ON. Tombol start 1.2 ditekan, udara akan mengalir dari kompresor ke katup 1.2 dan katup 1.4, sehingga katup AND akan mendapat suplai udara bertekanan dari dua sisi, yaitu sisi 10 dan 11. Udara bertekanan akan diteruskan keluar melalui saluran 16 menuju ke katup kontrol 1.1 (5/2 Way Valve) melalui sisi 14, sehingga mengakibatkan katup kontrol bergeser ke kanan sehingga saluran 1 akan terhubung dengan saluran 4. Udara bertekanan akan masuk ke sisi torak silinder bagian kiri, akibatnya silinder A akan bergerak ke kanan hingga ujung stang torak menekan katup 2.2. Tertekannya katup 2.2 mengakibatkan udara dari konpressor mengalir dari saluran 1 ke 2, ditersukan ke katup kontrol 2.1 (5/2 Way Valve), melalui sisi 14, sehingga saluran 1 akan terhubung dengan 4 diteruskan ke silinder bagian kiri. Silinder B menjadi bergerak ke kanan (B+) hingga menekan katup 1.3 (3/2 Way Valve). Aktifnya katup 1.3 mengakibatkan udara mengalir dari 537

kompresor menuju katup kontrol 1.1 dari sisi 12, sehingga katup 1.1 akan kembali bergeser ke kiri. Udara dari kompresor akan melalui saluran 1 ke 2 diteruskan ke sisi silinder sebelah kanan, sehingga silinder A akankembali ke posisi awal (A-), hingga menekan katup 2.3. Tertekannya katup 2.3 akan menyebabkan udara dari komporesor akan mengalir ke katup kontrol 2.1 dari sisi 12, sehingga katup 2.1 akab kembali ke posisi semula. Udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke 2 diteruskan ke ke sisi silinder sebelah kiri, sehingga silinder B akan kembali ke posisi awal (B-). Apabila tombol Strat 1.2 ditekan, maka siklus tersebut akan terus berlangsung seperti di atas, demikian seterusnya.

13. Tes Formatif……………………………………………
13.1 Soal-Soal a. Sebutkan kelebihan dan kekurangan sistem pneumatik dibandingkan dengan sistem yang lain? b. Gambarkan secara singkat cara kerja sistem pneumatik beserta dengan komponen-komponen yang digunakan? c. Sebutkan jenis-jenis katup beserta kegunaanya? d. Rumus? 13.2 Kunci Jawaban a. Sistem pneumatik memiliki keuntungan dan kelemahan sebagai berikut : 1) Keuntungan/kelebihan a) Ketersediaan yang tak terbatas, udara tersedia di alam sekitar kita dalam jumlah yang tanpa batas sepanjang waktu dan tempat. b) Mudah disalurkan, udara mudah disalurkan/pindahkan dari satu tempat ke tempat lain melalui pipa yang kecil, panjang dan berliku. c) Fleksibilitat Temperatur, udara dapat fleksibel digunakan pada b erbagai temperatur yang diperlukan, melalui peralatan yang dirancang untuk keadaan tertentu, bahkan dalam kondisi yang agak ekstrem udara masih dapat bekerja. d) Aman, udara dapat dibebani lebih dengan aman selain itu tidak mudah terbakar, hubungan singkat (kotsleiting) atau meledak sehingga proteksi terhadap kedua hal ini cukup mudah, berbeda dengan sistim elektrik yang dapat menimbulkan kostleting hingga kebakaran. e) Bersih, udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya, dengan jumlah kandungan pelumas yang dapat diminimalkan sisterm pneumatik aman digunakan untuk industri obat-obatan, makanan, dan minuman maupun tekstil
538

f) Pemindahan daya dan Kecepatan sangat mudah diatur., udara dapat melaju dengan kecepatan yang dapat diatur dari rendah hingga tinggi atau sebaliknya. Bila Aktuator menggunakan silinder pneumatik, maka kecepatan torak dapat mencapai 3 m/s. Bagi motor pneumatik putarannya dapat mencapai 30.000 rpm, sedangkan sistim motor turbin dapat mencapai 450.000 rpm. g) Dapat disimpan, udara dapat disimpan melalui tabung yang diberi pengaman terhadap kelebihan tekanan udara. Selain itu dapat dipasang pembatas tekanan atau pengaman sehingga sistim menjadi aman. h) Mudah dimanfaatkan, udara mudah dimanfaatkan baik secara langsung misal untuk membersihkan permukaan logam dan mesin-mesin, maupun tidak langsung, yaitu melalui peralatan pneumatik untuk menghasilkan gerakan tertentu. 2) Kerugian/Kelemahan Pneumatik a) Memerlukan instalasi peralatan penghasil udara. Udara kempa harus dipersiapkan secara baik hingga memenuhi syarat. memenuhi kriteria tertentu, misalnya kering, bersih, serta mengandung pelumas yang diperlukan untuk peralatan pneumatik, sehingga memerlukan instalasi peralatan yang relatif mahal, seperti kompressor, penyaring udara, tabung pelumas, pengeering, regulator, dll. b) Mudah terjadi kebocoran, Salah satu sifat udara bertekanan adalah ingin selalu menempati ruang yang kosong. Selain itu tekanan udara susah dipertahankan dalam waktu bekerja. Oleh karena itu diperlukan seal agar udara tidak bocor. Kebocoran seal dapat menimbulkan kerugian energi. Peralatan pneumatik harus dilengkapi dengan peralatan kekedapan udara agar kebocoran pada sistim udara bertekanan dapat ditekan seminimal mungkin. c) Menimbulkan suara bising, Pneumatik menggunakan sistim terbuka, artinya udara yang telah digunakan akan dibuang ke luar sistim, udara yang keluar cukup keras sehingga berisik sehingga akan menimbulkan suara bising terutama pada saluran buang. Cara mengatasinya adalah dengan memasang peredam suara pada setiap saluran buangnya. d) Mudah Mengembun, Udara yang bertekanan mudah mengembun, sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu, misal kering, memiliki tekanan 539

Contoh katup sinyal adalah katup 3/2 baik penggerak roll. dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekat pada katup-katup dan aktuator. Contoh katup pemroses sinyal adalah katup cekik satu arah. tuas. Tuas. katup cekik duah arah. NOR. 540 . dll Sinyal Input = Katup Tekan. tekan dan lain-lain. Roll. Katup pemroses sinyal biasanya dipasang antara katup sinyal sengan katup kendali. OR.yang cukup. Sensor. time delay dan lain-lain. Katup sinyal dipasang antara kompresor dengan katup pemroses sinyal. dll Sumber Energi Udara bertekanan = Kompressor c. Secara garis besar sistim elemen pada pneumatik dapat digambarkan pada skema berikut : KLASIFIKASI CONTOH SIMBOL Out put = (Aktuator) Pengendali Sinyal = Katup Pengendali Sinyal Pemroses Sinyal/Prossesor = Katup kontrol AND. 2) Katup pemroses sinyal Katup pemroses sinyal berfungsi mengatur udara bertekanan dari katup sinyal ke katup kendali. tetapi ada yang dipasang antara katup kendali dengan aktuator. Jenis-jenis katup pneumatik sebagai berikut : 1) Katup sinyal Katup yang berfungsi sebagai saklar udara bertekanan dari kompresor ke katup pemroses sinyal atau langsung ke katup kendali. b.

........... Apabila viskositas terlalu rendah maka film oli yang terbentuk akan sangat tipis sehingga tidak mampu untuk menahan gesekan.. Katup kendali juga yang mengendalikan/mengatur aktuator (silinder) akan bergerak maju atau mundur.. • Pencegah korosi... tenaga pompa akan semakin berat untuk melawan gaya viskositas cairan 14.. Katup kendali dipasang antara katup pemroses sinya dengan katuator........ Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi fungsinya sebagai pelumas.......... Demikian juga bila viskositas terlalu kental. • Sebagai pendingin komponen yang bergesekan..2 Indeks Viskositas yang baik Dengan viscosity index yang baik maka kekentalan cairan hydrolik akan stabil digunakan pada sistem dengan perubahan suhu kerja yang cukup fluktuatif.. Sistem Hydrolik. Property cairan hydrolik merupakan hal-hal yang dimiliki oleh cairan hydrolik tersebut sehingga cairan hydrolik tersebut dapat melaksanakan tugas atau fungsingnya dengan baik.1..... Adapun fungsi/tugas cairan hydolik: pada sistem hydrolik antara lain: • Sebagai penerus tekanan atau penerus daya.... • Penghanyut bram/chip yaitu partikel-partikel kecil yang mengelupas dari komponen... • Sebagai bantalan dari terjadinya hentakan tekanan pada akhir langkah.. • Sebagai pelumas untuk bagian-bagian yang bergerak..1 Cairan Hydrolik Cairan hydrolik yang digunakan pada sistem hydrolik harus memiliki ciri-ciri atau watak (propertiy) yang sesuai dengan kebutuhan..1.... 14.1 Kekentalan (Viskositas) yang cukup.1. 541 . • Sebagai pengirim isyarat (signal) 14.. 14.3) Katup kendali Katup kendali berfungsi mengalirkan udara bertekanan dari katup pemroses sinyal ke aktuator... Contoh katup kendali adalah katup 5/2 baik yang selenoid (elektrik) maupun yang full pneumatik.1...1.1 Syarat Cairan Hydrolik 14.

14. 14.1.1.1.4 Tidak berbusa (Foaming) Bila cairan hydrolik banyak berbusa akan berakibat banyak gelembung-gelembung udara yang terperangkap dlam cairan hydrolik sehingga akan terjadi compressable dan akan mengurangi daya transfer. 14.1. dengan adanya busa tadi kemungkinan terjilat api akan lebih besar.1.1. Titik beku atau titik cair yang dikehendaki oleh cairan hydrolik berkisar antara 10°-15° C dibawah suhu permulaan mesin dioperasikan (star-up).1.5 % volume untuk setiap penekanan 80 bar oleh karena itu dipersyaratkan bahwa cairan hydrolik agar seminimal mungkin dpat dikempa. Tetapi sistem hydrolik memerlukan persyaratanpersyaratan tertentu seperti telah dibahas sebelumnya berhubung dengan konstruksi dan cara kerja sistem. 14.1.1. 14.1.1. Menurut standar DIN 51524 dan 512525 dan sesuai dengan karakteristik serta komposisinya oli hydrolik dibagi menjadi tiga (3) kelas : • Hydraulic oil HL • Hydraulic oil HLP 542 .5 Tahan dingin Tahan dingin adalah bahwa cairan hydrolik tidak mudah membeku bila beroperasi pada suhu dingin. 14.1.2 Macam-macam cairan hydrolik Pada dasarnya setiap cairan dapat digunakan sebagai media transfer daya.2. karena air akan mengakibatkan terjadinya korosi bila berhubungan dengan logam.1 Oli hydrolik (Hydraulic oils) Oli hydrolik yang berbasis pada minyak mineral biasanya digunakan secara luas pada mesin-mesin perkakas atau juga mesinmesin industri. Disamping itu.3 Tahan api (tidak mudah terbakar) Sistem hydrolik sering juga beroperasi ditempat-tempat yang cenderung timbul a atau berdekatan dengan api.8 Minimal compressibility Secara teoritis cairan adalah uncomprtessible (tidak dapat dikempa).1.14.6 Tahan korosi dan tahan aus Cairan hydrolik harus mampu mencegah terjadinya korosi karena dengan tidak terjadi korosi maka kontruksi akan tidak mudah aus dengan kata lain mesin akan awet.1. 14. Hal ini untuk menantisipasi terjadinya block (penyumbatan) oleh cairan hydrolik yang membeku. Tetapi kenyataannya cairan hydrolik dapat dikempa sampai dengan 0.7 Demulsibility (Water separable) Yang dimaksud dengan de-mulsibility adalah kemampuan cairan hydrolik. Oleh karena itu pi perlu cairan yang tahan api.

g : water glyco HFD 24317 Anhydrolis liquid. 68 = tingkatan viskositas oli 14.• Hydraulic oil HV Pemberian kode dengan huruf seperti di atas artinya adalah sebagai berikut : Misalnya oil hydrolik dengan kode : HLP 68 artinya : H = Oli hydrolik L = kode untuk bahan tambahan oli (additive) guna meningkatkan pencegahan korsi dan/atau peningkatan umur oli P = kode untuk additive yang meningkatkan kemampuan menerima beban. Tabel berikut ini menunjukan jenis-jenis cairan hydrolik tahan api tersebut : Tabel 14. 0-0.g : phosphate ether 543 . Jenis-jenis cairan hidrolik tahan api No Pada Lembar Persentase (%) Kode Komposisi Standar VDMA kandungan Air HFA 24320 Oil-water emulsion 80-98 HFB 24317 Water-oil emulsion 40 HFC 24317 Hydrolis solusion.1.2 Cairan Hydroik tahan Api (Low flammability) Yang dimaksud cairan hydrolik tahan api ialah cairan hydrolik yang tidak mudah atau tidak dapat terbakar. 35-55 e. Cairan hydrolik semacam ini digunakan oleh sistem hydrolik pada tempat-tempat mesin-mesin yang resiko kebakarannya cukup tinggi seperti : • • • • • Die casting machines Forging presses Hard coal mining Control units untuk power station turbines Steel works dan rolling mills Pada dasarnya cairan hydrolik tahan api ini dibuat dari campuran oli dengan air dari oli sintetis.2.1 e.

1. satuan viskositas diukur dalam sekon dengan simbol (R1) • Saybolt Universal. dimana: 1 cm²/s = 100 mm²/s . Satuan cm²/s dikenal dengan satuan Skotes (St). Dalam sistem standar internasional satuan viskositas ditetapkan sebagai viskositas kinematik (kinematic viscosity) dengan satuan ukuran mm²/s atau cm²/s. Apabila cairan itu mudah mengalir dapat dikatakan cairan tersebut memiliki viskositas rendah atau kondisinya encer. 14. Selain satuan centi-Stokes (cSt).3 Viskositas (Kekentalan) Viskositas cairan hydrolik akan menunjukkan berapa besarnya tahanan di dalam cairan itu untuk mengalir. terdapat satuan yang lain yang juga digunakan dalam sistem hydrolik yaitu : • Redwood 1. Properties Seal compalibility Lubricating quality Temp. satuan viskositas juga diukur dalam sekon dan dengan simbol (SU) 544 .1 Satuan viskositas Besar atau kecilnya viskositas ditentukan oleh satuan satuan pengukuran.1.5 F-G F E 65 4 F-G 50 4 65 8 14. Jadi 1 St = 100 cSt. Satuan mm²/s disebut centi-Stokes (cSt). range (oC) above ideal Relative cost comp. to oil P G G E 65 1 Water Glycol E E E Phosphor Ester G F F E Oil-in Water F Oil Synthetic F G G F-G 50 1.Perbandingan antara macam-macam cairan hydrolik tersebut di atas dapat kita lihat pada tabel berikut : Tabel 15. nama satuan viskositas ini disesuaikan dengan nama penemunya yaitu Sir Gabriel Stokes (1819-1903). Perbandingan macam-macam cairan hidrolik Type of Fluid Petrol Oil Free resistance Viscosity lemp.3. Jadi semakin kental kondisi cairan dikatakan viskositasnya semakin tinggi.

00 1100.48 ISO VG 10 10 9. satuan viskositas diukur dengan derajat engler (E°) Untuk cairan hydrolik dengan viskositas tinggi dapat digunakan faktor berikut: • R1 = 4.2 1.00 748.00 Nomor VG dapat diperoleh melalui angka pembulatan dari pertengahan diantara viskositas min.06 ISO VG 7 6.00 110.132 VK 33 Menurut standar ISO.2 2.00 ISO VG 1500 1500 1350.00 11. Max.52 ISO VG 5 4.40 50.0oC Min.60 ISO VG 68 68 61.00 ISO VG 460 460 414.80 ISO VG 100 100 90.00 ISO VG 1000 1000 900. 545 .50 ISO VG 22 22 19.14 5. Klasifikasi viskositas cairan hidrolik Kinematic Viscosity ISO Mid-Point Viscosity Limits cSt at 40. dan viskositas max.20 ISO VG 46 46 41.6 4. Misal : ISO VG 22 .20 ISO VG 32 32 28. Berikut ini adalah grading berdasarkan SAE dan konversinya dengan ISO-VG.88 3.20 74.00 165.00 242.• Engler.20. seperti yang ditunjukan dalam Tabel berikut ini :Tabel 16.0oC Viscosity Grade cSt at 40.50 16.00 1650.80 35.635 VK VK = Viskositas Kinematik • E = 0.12 7.10 VK • SU = 4.42 ISO VG 3 3. viskositas cairan hidolik diklasifikasikan menjadi beberapa viscosity Grade dan nomor gradenya yang diambil kira-kira pertengahan antara viskositas min.00 506. ke viskositas max. ISO VG 2 2. angka 22 diambil dari rata-rata antara 19.00 ISO VG 15 15 13.00 ISO VG 680 680 612.00 ISO VG 150 150 135.80 24.8 6. Secara faktual sering dijumpai bahwa pelumas gear box juga sering digunakan juga untuk instalasi hydrolik maka frade menurut SAE juga dibahas disini. Juga dijelaskan disini aplikasi penggunaan oli hydrolik ssesuai dengan nomor gradenya.00 352.00 ISO VG 220 220 198.98 2.00 ISO VG 320 320 288.80 dan 24.

Karena untuk viskositas yang terlalu rendah akan mengakibatkan daya pelumas kecil. Batas viskositas ideal Kinematic Viscosity Lower Ideal viscosity range For open air aplplicationsmobile hydraulic In colder areas ISO-VG Areas of application Stationary instalations in closed areas at high temperatures At normal temperatures mm 2 10 s 15 to 100 mm 2 s Upper limit 750 mm 2 s 546 .3. daya perapat kecil sehingga mudah bocor.1. Aplikasi penggunaan oli hirolik sesuai dengan gradenya SAE Classes 30 20-20W 10 W 5W 100 68 46 32 22 (15) 10 14. Sedangkan apabila viskositas telalau tinggi juga akan meningkatkan gesekan dalam cairan sehingga memerlukan tekanan yang lebih tinggi.Tabel 17.2 Viscosity margins Maksud dari viscosity margins adalah batas-batas atas dan bawah yang perlu diketahui. Berikut ini diberikan gambaran tentang batas viskositas yang iideal: Tabel 18.

71 4.35 1.96 4.0 12.0 16.82 7.2 48.1 53.0 11.22 5.3 270.2 159.5 12.59 3.41 3.5 9.56 1.0 5.77 6.51 6.0 2.5 5.5 8.5 293.0 18.8 50.71 2.0 21.7 112.31 1.06 3.04 8.17 7.0 325.6 95.3 83.2 106.7 316.10 5.6 39.95 5.8 99.0 15.08 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 62 64 65 66 67 68 69 70 72 74 76 78 80 82 84 86 88 90 92 94 96 98 Redwood1 Second saybolt 137 141 145 149 153 157 161 165 169 173 177 181 185 189 193 197 201 205 209 213 218 222 226 230 234 238 242 246 250 254 258 262 266 271 275 279 283 287 295 303 311 319 328 336 344 352 360 369 377 385 393 401 Universal Second 155.1 40.0 24.Tabel 19.0 191.09 547 .11 9.44 1.5 21.65 1.98 2.1 119.43 7.72 8.4 89.0 137.95 8.5 17.5 256.35 3.5 15.46 4.31 8.6 75.7 228.29 3.84 4.7 164.64 6.9 69.33 2.0 237.55 2.69 7.4 106.24 9.2 66.28 2.5 93.7 Enginer Degrees Kinematic Centisrokes 1.9 67.5 195.0 26 27 28 29 30 Redwood1 Second saybolt 31 32 33 35 36 37 39 40 41 43 44 45 46 48 49 51 52 54 55 57 58 60 62 64 65 67 68 70 72 74 75 77 79 81 82 84 86 88 90 92 94 96 97 99 101 103 105 109 113 117 121 125 Universal Second 32.5 242.74 5.26 1.4 52.8 55.77 2.4 79.13 2.61 5.77 10.17 3.0 45.5 6.18 8.5 7.4 36.56 10.58 4.26 6.84 1.0 117.8 71.04 7.5 25.5 219.3 321.7 97.35 5.39 2.5 16.0 13.0 3.11 3.82 11.7 73.22 1.08 2.0 200.52 1.0 22.7 279.9 102.0 10.0 19.75 1.0 37.47 3.80 1.3 168.61 1.0 104.9 60.83 3.51 9.8 173.71 3.94 1.50 2.5 4. Kinematic Centisrokes 2.48 1.0 9.2 246.30 10.4 64.2 284.85 8.5 205.0 260.0 23.5 18.8 251.0 8.4 307. Kesetaran ke-empat sistem satuan viskositas.0 274.17 1.3 124.23 2.6 34.00 6.3 178.38 6.0 182.03 10.0 6.5 77.56 7.7 62.4 91.98 9.2 58.12 1.5 133.5 110.5 19.5 14.5 141.94 3.5 22.13 6.3 81.03 2.45 8.00 3.39 1.5 20.8 214.58 8.5 57.0 4.0 17.71 1.0 223.30 7.0 20.8 115.65 2.5 23.89 1.5 13.0 288.5 297.4 187.48 5.7 265.6 47.5 24.5 10.90 7.18 2.88 2.3 87.0 311.7 302.87 6.3 233.5 11.7 42.44 2.83 2.0 14.23 3.5 335 344 353 363 372 381 391 400 410 419 428 438 447 456 Enginer Degrees 4.0 7.3 85.0 209.0 128.60 2.3 44.5 3.

Ball Viscometer atau Falling sphere Viscometer.7 4. (lihat gambar) 14. Viskometer Besar viskositas kinematik adalah kecepatan bola jatuh setinggi h dibagi dengan berat jenis cairan yang sedang diukur.4 Capillary viscometer Cara pengukurnya adalah sebagi berikut : (lihat gambar). Ada beberapa macam viskometer antara lain : ..33 100 102 410 418 465 475 14. buka bersama-sama lubang A.3.1. Cairan hydrolik yang akan diukur dituangkan melalui lubang A hinga ke kointener E yang suhunya diatur.31 32 129 133 146. Melalui kapiler C zat cair dihisap hingga naik pada labu D sampai garis L1. waktu tersebut menunukan viskostis cairan.3.0 150. kemudian semua lubang ditutup. Capillary viscometer 548 . B dan C dan hitung waktu yang digunakan oleh cairan untuk turun sampai se l2.21 4. Gambar 82. Untuk mengukurnya. Makin kental cairan hydrolik akan makin lama untuk turun dan berarti viskostis makin besar.1. Gambar 83.3 Viskometer VisKometer adalah alat untuk mengukur besar viskositas suatu cairan.

Sehingga viscosity index ini digunakan sebagai dasar dalam menentukan karakteristik kkentalan cairan hydrolik berhubungan dengan perubahan temperatur. Untuk mengetahui perubahan viskositas ini perhatikan Ubbelohde’s viscosity-temperature diagram berikut ini 14.5 Viscosity-pressure characteristics Karakteristik kekentalan dan tekanan pada cairan hydrolik sangat penting untuk diketahui karena dengan meningkatnya tekanan hydrolik maka meningkat pula viscosity index. bahkan kebanyakan oli hydrolik diberi tambahan (additive) yang disebut “ VI improvers “ tinggi juga disebut multigrade oils. 549 . Cairan hydrolik memiliki viscositas index tinggi apabila terjadinya perubahan viskositas kecil (stabil) dalam rentang perubahan suhu yang relatif besar.14. Cairan hirdrolik terutama oli hydrolik diharapkan memiliki viscosity index (VI) = 100. Gambar berikut ini menunjukan diagram viscosity pressure characteristic . Mengenai viskositas indeks ditetapkan dalam DIN ISO 2909.1.4 Indeks Viskositas (viscosity Index) Yang dimaksud dengan indeks viskositas atau viscosity index (VI) ialah angka yang menunjukan rentang perubahan viskositas dari suatu cairan hydrolik berhubungan dengan perubahan suhu. Atau dapat dikatakan bahwa cairan hydrolik ini dapat digunakan dalam rentang perubahan suhu yang cukup besar.1.

Sifat-sifat cairan hidrolik Kode Sifat Khusus HL Meningkatkan kemapuan mencegah korosi dan kestabilan oli hydrolik Penggunaan HLP HV Digunakan pada sistem yang bekerja pada suhu tinggi dan untuk tempat yang mungkin tercelup air Meningkatkan Seperti pada ketahanan terhadap pemakaian HL. aus juga digunakan untuk sistem yang gesekanya tinggi Meningkatkan indek Seperti viskositas (VI) pemakaian HLP.14.6 Karakteristik Cairan Hydrolik yang dikehendaki.1. Karakteristik atau sifat-sifat yang diperlukan antara lain adalah : Tabel 20. juga digunakan secara meluas untuk sistem yang fluktuasi perubahan temperatur cukup tinggi 550 . Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi persyaratan dalam menjalankan fungsinya.

selanjutnya dikompresikan ke luar pompa hingga tekanan tertentu.14. antara lain: 14. Bila volume pada ruang pompa membesar. 551 .1.2. Sistim hydrolik merupakan siklus yang tertutup.2.2 Komponen Hydrolik Komponen Hydrolik memiliki symbol dan komponen yang tidak jauh berbeda dengan Pneumatik. Gambar 84. Pompa H ydrolik Roda Gigi 14.1 Pompa Hydrolik Pompa hydrolik berfungsi untuk mengisap fluida oli hydrolik yang akan disirkulasikan dalam sistim hydrolik. Adapun komponen utama sistim hydrolik.1 Pompa Roda Gigi Pompa ini terdiri dari 2 buah roda gigi yang dipasang saling merapat.2. antara lain: 14.2 Pompa Sirip Burung Pompa ini bergerak terdiri dari dari banyak sirip yang dapat flexible bergerak di dalam rumah pompanya. Adapun jenis-jenis pompa hydrolik. karena fluida oli disirkuliskan ke rangkaian hydrolik selanjutnya akan dikembalikan ke tangki penyimpan oli. akibatnya oli akan terisap masuk ke dalam ruang pumpa. oli hydrolik akan terhisap masuk. Perputaran roda gigi yang saling berlawanan arah akan mengakibatkan kevakuman pada sisi hisap. Tekanan pompa hydrolik dapat mencapai 100 bar. maka akan mengalami penurunan tekanan. Oli yang bertekanan akan dialirkan ke sistim hydrolik. Bentuk pompa hydrolik roda gigi dapat dilihat pada gambar berikut.1. kemudian diteruskan ke ruang kompressi.

Sehingga aliran oli hydrolik menjadi kontinyu. bila rotor berputar secara eksentrik.3 Pompa Torak Aksial Pompa hydrolik ini akan mengisap oli melalui pengisapan yang dilakukan oleh piston yang digerakkan oleh poros rotasi.2. 552 . maka piston2 pada stator akan mengisap dan mengkompressi secara bergantian. kemudian terjadi langkah hisap dan kompressi secara bergantian.Gambar 85.4 Pompa Torak Radial Pompa ini berupa piston-piston yang dipasang secara radial. Gambar 86. sehingga menghasilkan alira oli /fluida yang kontinyu.1.1. Pompa Hydrolik Sirip Burung 14. Gerak putar dari poros pompa diubah menjadi gerakan torak translasi.2. Gerakan torak ini akan berlangsung terus menerus. Pompa Hydrolik Torak Aksial 14.

yang satu mempunyai bentuk cekung. maupun motor hydrolik. Dilihat dari daya yang dihasilkan aktuator hydrolik memiliki tenaga yang lebih besar (dapat mencapai 400 bar atau 4x107 Pa).2. Gambar 88.3 Silinder Hydrolik Penggerak Ganda Silinder Hydrolik penggerak ganda akan melakukan gerakan maju dan mundur akibat adanya aliran fluida/oli hydrolik yang dimasukkan pada sisi kiri (maju) dan sisi kanan (mundur) seperti yang terlihat pada gambar 89. Kedua rotor itu identik dengan sepasang roda gigi helix yang saling bertautan. Pompa Torak Radial 14.2. 14. dibanding pneumatik.2. Pompa Sekrup 14.5 Pompa Sekrup Pompa ini memiliki dua rotor yang saling berpasangan atau bertautan (engage).1. Tekanan Fluida akan diteruskan melalaui torak selanjutnya menjadi gerakan mekanik melalaui stang torak. 553 . aktuator hydrolik dapat berupa silinder hydrolik. Silinder Hydrolik bergerak secara translasi sedangkan motor hydrolik bergerak secara rotasi. sehingga dapat memindahkan fluida oli secara aksial ke sisi lainnya. sedangkan lainnya berbentuk cembung.Gambar 87.2 Aktuator Hydrolik Seperti halnya pada sistim pneumatik.

2. bego. seperti. Selanjutnya motor hydrolik dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 554 .4. maka silinder ini banyak digunakan pada peralatan berat. Aliran Minyak hydrolik yang bertekanan tinggi akan diteruskan memutar roda gigi yang terdapat dalam ruangan pompa selanjutnya akan dirubah menjadi gerak rotasi untuk berbagai keperluan. Silinder Hydrolik Penggerak Ganda Gambar 90. menekan. dll.1 Motor Hydrolik roda gigi Motor Hydrolik merupakan alat untuk mengubah tenaga aliran fluida menjadi gerak rotasi.4 Aktuator Rotasi 14.Gerakan maju dan mundur dari gerakan stang torak ini dapat digunakan untuk berbeagai keperluan dalam proses produksi. Karena daya yang dihasilkan besar. Motor hydrolik ini prinsip kerjanya berlawanan dengan roda gigi hydrolik. menggeser. seperti mengangkat. Buldozer. Gambar 89. dll.2. Aplikasi penggunaan sistim Hydrolik pada alat berat 14.

Bagian tenaga terdiri dari pompa hydrolik. antara lain.1 Kasifikasi Pengenalian Hydrolik Sistim hydrolik terdiri dari beberapa bagian.Gambar 91. katup pengatur tekanan. dan pengendalian sinyal. pemroses sinyal. Secara garis besar dapat dilihat dalam skema di bawah ini: Aktuator Pemroses sinyal Sinyal Sumber tenaga (Power Pack) Gambar 92. dan katup satu arah. Motor Hydrolik Roda Gigi 15 Pengendalian Hydrolik 15. Klasifikasi Hydrolik dalam Penampang dan Skema 555 . bagian tenaga (power pack) bagian sinyal.

15. katup ini dilengkapi dengan pegas yang dapat diatur. Dasar-Dasar Perhitungan Hydrolik 16. 556 .1 Prinsip Hukum Pascal Perhitungan gaya hydrolik Torak pada bejana berhubungan dengan luas penampang berbeda. Macam-macam model katup pembatas tekanan 16. Bila tekanan hydrolik berlebihan. maka pegas akan membuka dan mengalirkan fluida ke saluran pembuangan. antara lain: a) Katup pembatas tekanan. Gambar 93.2 Katup Pengatur Tekanan Katup pengatur tekanan terdapat beberapa model.

S1 = A2 .d 22 d2 2 4 π . berapa diameter torak besar agar dapat menghasilkan gaya 4000 N ? Jawaban: Diketahui : F1 = 150 N. maka : A1 .4000 N = 103. S1 = = 5 mm S2 A1 A2 50cm 2 557 .F2 = F1 ( 20mm) 2. berapa panjang langkah piston 2 (S2) ? Jawab: S1 A2 A 10cm 2 . jadi S2 = 1 . Suatu mesin press memiliki gaya tersedia sebesar 150 N.F1 Torak F2 A 1 Pe A2 Gambar 94. F2 = 4000 N.3mm ≈ 100 mm 150 N 2 d2 = 2 2. d1 = 20 mm Ditanya : berapa d2 ? Jawab : d F1 = 12 F2 d2 d1. bila diameter torak kecil = 20 mm. dan A2 = 50 cm2 = S1 = 25 mm.25mm = . Bila luas penampang A1 pada gambar di atas = 10 cm 2. Prinsip Hukum Pascal P1 = P2 = Pe = F1 = A1 F2 atau A2 F1 A = 1 F2 A2 2 A1 4 = d1 .d12 Bila V1 = V2. jadi : S1 A2 = S2 A1 Contoh Soal : 1. S2 . = A2 π .

∆L = = A. Tekanan absolute Tekanan di dalam silinder merupakan tekanan absolut. Jawaban: Saat maju V maju = Q/A = 20 ltr/mnt / 20dm2 / mnt 20dm2 / mnt 20 dm2 / mnt Vmaju = = = = 50 dm2 / mnt 2 2 2 2 2 2 π . besarnya tekanan absolut dikalikan dengan volumenya sama dengan konstan.2 Perhitungan Kecepatan Torak Contoh soal : Bila d1 = 100 cm2 dan d2 = 70 cm.4dm π . hitung kecepatan torak saat maju dan mundur. berlaku : Pabs1 . Perhitungan Kecepatan Torak Q= ∆V A. V2 558 . V1 = Pabs2 . Gas pada keadaan tertutup.V ∆t ∆t Gambar 96.( d1 − d2 ) 4 = 5m / 60dtk = 0.(10 − 7 ) cm 0.083m/dtk Gambar 95.16.

V2 100 . V2 Q = A1 . S2 = p . Bila gaya cekam seperti pada gambar memiliki gaya 4000 N. L1 = F2 . volumenya 20 ltr. V1 = A2 .Q t t 16. V2 W = F2 . S2 = p . Sebuah silinder Hydrolik digunakan untuk mencekam benda kerja dengan tekanan 25 bar. 559 .η 25.91 = = 13. hitunglah diamter piston yang ideal. • Pastikan menggunakan cairan hydrolik yang benar-benar bersih untuk menambah atau mengganti cairan hydrolik kedalam sistem.3 Pemeliharaan Cairan Hydrolik Cairan hydrolik temasuk barang mahal. V2 V2 = 100 x 105 N/m 2 .˜ A= F2 3090. 20 dm 3 = 2000dm 3 5 2 1 x 10 N / m 2.A. Suatu silinder tertutup memiliki tekanan absolut 100 bar.Contoh soal: 1.10 . Jawaban: F1 . V P= W p. L2 F1. Perlakuan yang kurang atau bahkan tidak baik terhadap cairan hydrolik atau semakin menambah mahalnya harga sistem hydrolik sedangkan apabila kita mentaati aturan-aturan tentang perlakuan/pemeliharaan cairan hydrolik maka kerusakan cairan maupun kerusakan komponen sistem akan terhindar dan cairan hydrolik maupun sistem akan lebih awet.73cm 2 5 Pe. panas dan angin).90 Pabs .V = =P.91N L2 110mm F2 = Pe. V1 = Pabs2 . A2 .95mm F2 = = = 3090.105 N / m2. V1 = Pabs . berapa volumenya? Pabs1 . 20 ltr = 1 . Panduan pemeliharaan cairan hydrolik • Simpanlah cairan hydrolik (drum) pada tempat yang kering. bila tekanannya diturunkan menjadi 1 bar. dingin dan terlindungi (dari hujan.L1 25. Gunakan juga peralatan yang bersih untuk memasukkannya.

(periksa dengan pemasok cairan hydrolik). 560 . Cegah terjadinya panas/pemanasan yang berlebihan.• • • • • • • • Pompakanlah cairan hydrolik dari drum ke tangki hydrolik melalui saringan (pre-filter). Pompa Hydrolik Jadi pemantauan atau monitoring cairan hydrolik perlu memperhatikan panduan tersebut di atas disamping harus memperhatikan lingkungan kerja maupun lingkungan penyimpanan cairan hydrolik. demikian pula seluruh sistem harus dibilas (flushed) secara baik dan benar-benar bersih. Pantaulah (monitor) dan periksalah secara berkala dan berkesinambungan kondisi cairan hydrolik. Aturlah sedemikian rupa bahwa hanya titik pengisi tangki yang rapat-sambung sendiri yang ada pada saluran balik. Cegah jangan sampai terjadi kontamisnasi gunakan filter udara dan filter oli yang baik. Gambar 97. Buatlah interval penggantian cairan hydrolik sedemikian rupa sehingga oksidasi dan kerusakan cairan dapat terhindar. bila perlu pasang pendingin (cooling) atau bila terjadi periksalah penyebab terjadinya gangguan. atau pasang unloading pump atau excessive resistence. pastikan bahwa komponen dan seal-sealnya cocok dengan cairan yang baru. Bila akan mengganti cairan hydrolik (apa lagi bila cairan hydrolik yang berbeda). Perbaikilah dengan segera bila terjadi kebocoran dan tugaskan seorang maitenanceman yang terlatih.

6. pompa ini juga termasuk pressure umbalanced. Di Titik No 5 ini oli didesak/ditekan oleh pasangan gigi. Inner rotor dan outer rotor berputar searah. Saluran tekan (outlet) 16. Pompa Roda Gigi Tipe Crescent Keterangan gambar: 1. 5. Rotor ring atau outer rotor yang merupakan roda gigi dalam diputar oleh inner rotor yang mempunyai jumlah gigi satu lebih kecil dari jumlah gigi outer ring gear. Ukurannya lebih kecil dari external gear pump pada penghasilan pompa yang sama dan tingkat kebisinginnya lebih kecil. Oli masuk ke sedotan roda gigi yang berputar. Saluran oli masuk (inlet) 2. Terjadinnya penyedotan di ruang NO : 4 ini.5 Pompa Roda Gigi Tipe Geretor Pompa ini terdiri atas inner rotor yang dipasak dengan poros penggerak dan rotor ring. Cara kerja pompa ini dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 98. Seperti external gear pump.4 Pompa Roda Gigi dalam Tipe Crescent Pompa ini cocok untuk tekanan tinggi dan untuk cairan hydrolik yang bervariasi. 4. Ini bertujuan untuk membentuk rongga pemompaan.16. 3. Penyedotan terjadi karena adanya rongga antara gigi inner outer ring gear. 561 .

Pompa Roda Gigi Tipe Gerotor 16. Gambar 100. Dibuat demikian agar tekanan radial dari cairan hydrolik saling meniadakan sehingga terjadilah keseimbangan (balanced) Vane (kipas) yang bentuknnya seperti gambar dipasang pada poros beralur (slots) karena adanya gaya sentrifugal selama rotor berputar maka vane selalu merapat pada rumah pompa sehingga terjadilah proses pemompaan. Balanced Vance 562 .6 Balanced Vane (Pompa Kipas Balanced) Pompa ini menggunakan rumah pompa yang bagian dalamnnya berbentuk elips dan terdapat dua buah lubang pemasukkan (inlet) serta dua buah lubang pengeluaran outlet yang posisinnya saling berlawanan arah.Gambar 99.

Pada langkah pemompaan cairan ditekan dari setiap silinder melalui check valve ke saluran tekan.7 Pompa Torak Radial (Radial Piston Pump) Pompa piston ini gerakan pemompaannya radial yaitu tegak lurus poros. Bent Axis Piston Pump 563 . Piston digerakan oleh sebuah poros engkol (eccentric crankshaft) sehingga besar langkah piston adalah sebesar jari-jari poros engkol. Penghisapan terjadi pada waktu piston terbuka sehingga oli hydrolik dari crankshaft masuk ke dalam silinder. Pompa ini dapat mencapai tekanan hingga 63 Mpa. Gambar 102. Gambar 101.8 Bent Axis Piston Pump (Pompa Torak dengan Poros Tekuk) Pada pompa ini blok silinder berputar pada satu sudut untuk dapat memutar poros. Besar langkah piston tergantung pada besar sudut tekuk Fixed displacement piston pump besar sudut (offset engle) berkisar 25°. Radial Piston Pump 16.16. Batang torak dipasang pada flens poros penggerak dengan menggunakan ball joint.

16. Kopling ini mentrasfer momen puntir dari motor ke pompa hydrolik. Kopling merupakan bantalan diantara motor dan pompa yang akan mencegah terjadinnya hentakan/getaran selama motor mentrasfer daya ke pompa dan selama pompa mengalami hentakan tekanan yang juga akan sampai ke motor.1 Kopiling. Gambar berikut ini menunjukan salah satu konstruksi tangki hydrolik.9 Instalasi Pompa Hydrolik 16. Contoh-contoh bahan kopling. Kopling juga menseimbangkan/mentolerir adanya error alignment (ketidak sentrisan) antara poros motor dengan poros pompa.9. Kopiling adalah komponen penyambung yang menghubungkan penggerak mula (motor listrik) dengan pompa hydrolik. Untuk memenuhi persyaratan tersebut di atas maka pada umumnya kopling dibuat dari bahan : • Karet (Rubber couplings) • Roda gigi payung (Spiral bevel gear cupling) • Clucth dengan perapat plastik (square tooth cluth with plastic inseres) 16. ada yang berbentuk silindris dan ada pula yang berbentuk kotak.2 Tangki hydrolik (Reservoir ) Tangki hydrolik (reservoir) merupakan bagian dari instalasi unit tenaga yang konstruksinya ada bermacam -macam.9. (a) (a) 564 .

3 Fungsi /tugas tangki hydrolik v Sebagai tempat atau tandon cairan hydrolik.5 Filter (Saringan) Filter berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran atau kontaminan yang berasal dari komponen sistem hydrolik seperti bagian-bagian kecil yang mengelupas.9. v Menghilangkan panas dengan menyebarkan panas ke seluruh badan tangki.4 Baffle Plate Baffle Plate berfungsi sebagai pemisah antara cairan hydrolik baru datang dari sirkulasi dan cairan hydrolik yang akan dihisap oleh pompa. v Tempat memasang komponen unit tenaga seperti pompa. 16. penggerak mula. dipasang pada saluran hisap dan kemungkinannya di dalam tangki. v Tempat pemisahan air. udara dan pertikel-partikel padat yang hanyut dalam cairan hydrolik. Tangki Hydrolik Reservoir (a) dan simbolnya (b) 16. Ukuran tangki hydrolik berkisar antara 3 s/d 5 kali penghasilan pompa dalam liter/menit dan r uang udara di atas permukaan cairan maksimum berkisar antara 10 s/d 15 %. katup-katup akumulator dan lain-lain. Sesuai dengan tempat pemasangannya. ada macam-macam filter yaitu : • Suction filter. untuk mengendapkan kotoran dan juga memisahkan udara serta air sebelum dihisap kembali ke pompa. kontaminasi akibat oksidasi dan sebagainya. Juga berfungsi untuk memutar cairan yang baru datang sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk menyebarkan panas.9.(b) Gambar 103.9. 565 . 16.

sehingga dalam hal ini perbandingan antara volume cairan hydrolik secara efisien menghasilkan daya sebanding dengan penghasilan pompa disebut efisiensi volumetrik. aktuator dan setiap konektor.10 Pengetesan Efisiensi Pompa Hydrolik Efiensi ialah perbandingan antara output dan input dinyatakan dalam persen (%). Informasi kita temukan pada diagram karakteristik pompa : 566 . Perbedaan antara output dan input dikarenakan adanya kerugian-kerugian diantaranya terjadinya kebocoran di dalam pompa sehingga akan mengurangi volume output.p. dipasang pada saluran tekan dan berfungsi untuk mengamankan komponen-komponen yang dianggap penting. Gambar 104.) Q = n. Suction Filter 16.V n = putaran pompa (r. Semakin besar tekanan penghasilan pompa (Q) akan semakin berkurang.• Pressure line filter. Penghasilan pompa (misal pompa roda gigi) secara teoritis dapat dihitung dengan rumus : Q = penghasilan pompa teoritis (liter/min. Gambar menunjukan proses penyaringan.m) V = volume cairan yang dipindahkan tiap putaran (cm³) Penghasilan pompa tergantung pada besar tekanan kerja sistem hydrolik. dipasang pada saluran balik untuk menyaring agar kotoran jangan masuk ke dalam tangki. • Return line filter.(?v ). katupkatup. kebocoran dapat terjadi pada pompa hydrolik. Secara keseluruhan. Kebanyakan sistem hydrolik selalu memasang suction filter.

6 l/min.3 l/min Jadi efisiensi volumetrik (?v ) = 87 % 16. Garis lengkung pada diagram menunjukan efisien volumetrik pompa (?v ) Diagram 105. Q(p=0)= 10 l/min.11 Unit Pengatur (Control Element) Cara-cara pengaturan/pengendalian di dalam sistem hydrolik. 567 . Susunan urutannya dapat kita jelaskan sebagai berikut : § Isyarat (Sinyal) masukan atau input element yang mendapat energi langsung dari pembangkit aliran fluida (pompa hydrolik) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal. kebocoran 1. penghasilan pompa berkurang karena adanya kebocoran dan secara logika semakin tinggi tekanan akan makin besar pula kebocoran. Jadi efesiensi volumetrik (?v ) = 94 % Untuk pompa yang lama. Efisiensi Volumetrik Contoh : Ukuran pompa yang baru . § Isyarat Pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element. Q(p=230)= 9. Q(p=0)= 10 l/min. QL= 0.• • • Apabila p = 0. Q(p=230) = 8.3 % pada p= 230 bar.7 l/min. penghasilan pompa Q penuh (Q teoristis) Apabila p > 0. QL= 1. kebocoran 6 % pada p = 230 bar.4 l/min.

Sinyal pengendali akhir (final control element) akan mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element) dan ini merupakan hasil akhir dari sitem hydrolik. Komponen-komponen kontrol tersebut di a tas biasa disebut katup-katup (Valves). Menurut desain konstruksinya katup-katup tersebut dikelompokan sebagai berikut : o Katup Poppet (Poppet Valves) yaitu apabila untuk menutup katup tersebut dengan cara menekan anak katup (bola atau kones atau piringan) mendapat dudukan . Menurut jenis katupnya, katup popet digolongkan menjadi : § Katup Bola (Ball Seat Valves) § Katup Kones (Cone Popet Valves) § Katup Piringan (Disc Seat Valves) o Katup Geser (Slide Valves) § Longitudinal Slide § Plate Slide (Rotary Slide Valves) Menurut fungsinya katup-katup dikelompokan sebagai berikut : a. Katup Pengarah (Directional Control Valves) b. Katup Satu Arah (Non Return Valves) c. Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves) d. Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves) e. Katup Buka-Tutup (Shut-Off Valves). § 17. Soal formatif..................................................................................... 17.1 Soal-Soal a. Sebutkan dan jelaskan syarat-syarat cairan hidrolik? b. Bagaiman cara pemeliharaan cairan hidrolik? 17.2 Kunci Jawaban a. Cairan hidrolik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut : 1) Kekentalan (Viskositas) yang cukup Cairan hydrolik harus memiliki kekentalan yang cukup agar dapat memenuhi fungsinya sebagai pelumas. Apabila viskositas terlalu rendah maka film oli yang terbentuk akan sangat tipis sehingga tidak mampu untuk menahan gesekan. Demikian juga bila viskositas terlalu kental, tenaga pompa akan semakin berat untuk melawan gaya viskositas cairan 2) Indeks Viskositas yang baik Dengan viscosity index yang baik maka kekentalan cairan hydrolik akan stabil digunakan padansistem dengan perubahan suhu kerja yang cukup fluktuatif. 3) Tahan api (tidak mudah terbakar) Sistem hydrolik sering juga beroperasi ditempat-tempat yang cenderung timbul api atau berdekatan dengan api. Oleh karena itu perlu cairan yang tahan api.

568

4) Tidak berbusa (Foaming) Bila cairan hydrolik banyak berbusa akan berakibat banyak gelembung-gelembung udara yang terperangkap dlam cairan hydrolik sehingga akan terjadi compressable dan akan mengurangi daya transfer. Disamping itu, dengan adanya busa tadi kemungkinan terjilat api akan lebih besar. 5) Tahan dingin Tahan dingin adalah bahwa cairan hydrolik tidak mudah membeku bila beroperasi pada suhu dingin. Titik beku atau titik cair yang dikehendaki oleh cairan hydrolik berkisar antara 10°-15° C dibawah suhu permulaan mesin dioperasikan (star-up). Hal ini untukk menantisipasi terjadinya block (penyumbatan) oleh cairan hydrolik yang membeku. 6) Tahan korosi dan tahan aus Cairan hydrolik harus mampu mencegah terjadinya korosi karena dengan tidak terjadi korosi maka kontruksi akan tidak mudah aus dengan kata lain mesin akan awet. 7) Demulsibility (Water separable) Yang dimaksud dengan de-mulsibility adalah kemampuan cairan hydrolik, karena air akan mengakibatkan terjadinya korosi bila berhubungan dengan llogam. 8) Minimal compressibility Secara teoritis cairan adalah uncomprtessible (tidak dapat dikempa). Tetapi kenyataannya cairan hydrolik dapat dikempa sampai dengan 0,5 % volume untuk setiap penekanan 80 bar oleh karena itu dipersyaratkan bahwa cairan hydrolik agar seminimal mungkin dpat dikempa. b. Pemeliharaan Cairan Hydrolik 1) Simpanlah cairan hydrolik (drum) pada tempat yang kering, dingin dan terlindungi (dari hujan, panas dan angin). 2) Pastikan menggunakan cairan hydrolik yang benar-benar bersih untuk menambah atau mengganti cairan hydrolik kedalam sistem. Gunakan juga peralatan yang bersih untuk memasukannya. 3) Pompakanlah cairan hydrolik dari drum ke tangki hydrolik melalui saringan (pre-filter). 4) Pantaulah (monitor) dan periksalah secara berkala dan berkesinambungan kondisi cairan hydrolik. 5) Aturlah sedemikian rupa bahwa hanya titik pengisi tangki yang rapat-sambung sendiri yang ada pada saluran balik. 6) Buatlah interval penggantian cairan hydrolik sedemikian rupa sehingga oksidasi dan kerusakan cairan dapat terhindar. (periksa dengan pemasok cairan hydrolik). 7) Cegah jangan sampai terjadi kontamisnasi gunakan filter udara dan filter oli yang baik. 569

8) Cegah terjadinya panas/pemanasan yang berlebihan, bila perlu pasang pendingin (cooling) atau bila terjadi periksalah penyebab terjadinya gangguan, atau pasang unloading pump atau excessive resistence. 9) Perbaikilah dengan segera bila terjadi kebocoran dan tugaskan seorang maitenanceman yang terlatih. 10) Bila akan mengganti cairan hydrolik (apa lagi bila cairan hydrolik yang berbeda), pastikan bahwa komponen dan seal-sealnya cocok dengan cairan yang baru, demikian pula seluruh sistem harus dibilas (flushed) secara baik dan benar-benar bersih.

18 Rangkuman BAB VIII................................................
1. Sistem Pneumatik Pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari tentang teknik pemakaian udara bertekanan (udara kempa). Sistem pneumatik memiliki aplikasi yang luas seperti menambah tekanan ban, melepas velg mobil, dongkrak, alat pemasang kampas rem tromol mobil, pembuka pintu otomatis, pengepakan industri makanan dan sebagainya. Sistem pneumatik memiliki keuntungan sebagai berikut : a. Fluida yang digunakan merupakan udara yang memiliki ketersediaan yang tak terbatas di alam. b. Udara mudah disalurkan dari suatu tempat ke tempat lain. c. Udara dapat fleksibel digunakan pada berbagai temperatur yang diperlukan. d. Aman. e. Udara yang ada di sekitar kita cenderung bersih tanpa zat kimia yang berbahaya. f. Kecepatan dan daya dorong yang mudah diatur. g. Udara mudah disimpan di tabung. h. Udara memiliki banyak manfaat serta mudah dimanfaatkan. Selain keuntungan di atas, sistem pneumatik juga memiliki kekurangan diantaranya sebagai berikut : a. Memerlukan instalasi penghasil udara bertekanan (kompresor). b. Mudah terjadi kebocoran. c. Menimbulkan suara bising. d. Udara yang bertekanan mudah mengembun, sehingga sebelum memasuki sistem harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan tertentu, misal kering, memiliki tekanan yang cukup, dan mengandung sedikit pelumas agar mengurangi gesekan pada katup-katup dan aktuator. Secara garis besar urutan kerja sistem pneumatik dimulai dari sumber energi udara bertekanan (kompresor)sinyal input (katup tekan, katup roll dan sebagainya) pemroses sinyal
570

atau prosessor (katup kontrol, OR, NOR, dll) pengendali sinyal (katup pengendali sinyal) aktuator atau output (silinder penggerak tunggal, silinder ganda, rotari dll). Katup berfungsi untuk mengatur atau mengendalikan arah udara kempa yang akan bekerja menggerakan aktuator, dengan kata lain katup ini berfungsi untuk mengendalikan arah gerakan aktuator. Katup-katup pneumatik diberi nama berdasarkan pada: a) Jumlah lubang/saluran kerja ( port), b) Jumlah posisi kerja, d) Jenis penggerak katup, dan d) Nama tambahan lain sesuai dengan karakteristik katup. Disini akan dijelaskan cara penamaan katup pneumatik 5/2.

Ruang/Posisi (14,12)

4
a

2

Ruang/Posisi (a,b)

14 a

12 b 5 1
b

3

Nomor Lubang/Port (1,3,5,2,4 )

2. Sistem Hidrolik Fluida yang digunakan dalam sistem hidrolik adalah oli. Syarat-syarat cairan hidrolik yang digunakan harus memiliki kekentalan (viskositas) yang cukup, memiliki indek viskositas yang baik, tahan api, tidak berbusa, tahan dingin, tahan korosi dan tahan aus, minimla konpressibility. Sistem hidrolik juga memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahan sistem hidrolik sebagai berikut : a. Fluida yang digunakan (oli) harganya mahal. b. Apabila terjadi kebocoran akan mengotori sistem, sehingga sistem hidrolik jarang digunakan pada industri makanan maupun obat-obatan. Sedangkan kelebihan sistem hidrolik diantaranya adalah ;

571

a. Tenaga yang dihasilkan sistem hidrolik besar sehingga banyak diaplikasikan pada alat berat seperti crane, kerek hidrolik dll. b. Oli juga bersifat sebagai pelumas sehingga tingkat kebocoran lebih jarang dibandingkan dengan sistem pneumatik. c. Tidak berisik. Komponen-komponen sistem hidrolik sebagai berikut : a. Pompa hidrolik Pompa hidrolik berfungsi m engisap fluida oli hydrolik yang akan disirkulasikan dalam sistim hydrolik. Macam-macam pompa hidrolik diantaranya adalah pompa roda gigi, pompa sirip burung, pompa torak aksial, pompa torak radial dan pompa sekrup. b. Aktuator hidrolik Aktuator hydrolik dapat berupa silinder hydrolik, maupun motor hydrolik. Silinder hydrolik bergerak secara translasi sedangkan motor hydrolik bergerak secara rotasi. Urutan kerja sistem hidrolik dimulai dari sumber tenaga (pompa) sinyal (katup hidrolik) katup pemroses sinyal (katup cekik, katup satu arah dll) aktuator (silinder hidrolik atau rotari).

572

sejak itu teknolologi otomasi telah memasuki berbagai sektor kegiatan manusia. Teknologi Otomasi semakin berkembang dengan pesat sejak munculnya mikroprosesor pada tahun 1973. Teknologi Otomasi mulai ada sejak berabad-abad yang lalu. Pada tahun 1934. Nyquist mengembangkan suatu prosedur yang relatif sederhana untuk menentukan kestabilan sistem loop tertutup pada basis respon loop terbuka terhadap masukan tunak (Steady State) Sinusoida. mulai tahun 1960 dengan berkembangnya perangkat peralatan (plant) dengan multi masukan dan multi keluaran maka sistem kontrol menjadi semakin kompleks. dan komponen elektronik seperti transistor. Pada tahun 1932. Hazien memperkenalkan istilah servo mekanisme untuk sistem kontrol posisi. Perkembangan selanjutnya telah semakin cepat setelah ditemukannya komponen mikroelektronik dalam bentuk IC (Integrated Circuit) pada awal tahun 1960–an. baik yang secara khusus misalnya 573 . Pada dekade 1940-1950 pemakaian sistem kontrol otomatis telah berkembang. membahas desain servo mekanisme relay yang mampu mengikuti dengan baik masukan yang berubah. Gambar 1. Penggunaan robot dalam sistem otomasi Industri Selanjutnya secara berangsur angsur mulai memanfaatkan komponen elektronik-mekanik seperti relay. terutama sejak ditemukannya komponen cam dan governor. Sejarah Perkembangan Otomasi Industri ….BAB IX PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN 1.

Sebagai contoh 574 . yaitu fixed automation (otomasi tetap) dan flexible Automation (otomasi fleksibel).di dalam dunia manufaktur. Mesin cuci modern biasanya menggunakan sistem otomasi loop tertutup. Pengertian teknologi otomasi yang didefisinikan sebagai penggunaan sistem pengatur yang mampu menggerakkan suatu manipulator atau kontruksi mekanik secara mandiri tanpa campur tangan manusia melahirkan suatu disiplin ilmu baru yang disebut sebagai mekatronika. dewasa ini makin berkembang dengan dimasukkannya pengertian tentang kemampuan untuk mengatur pengolahan data secara mandiri. Mesin suci dan sebagianya. Dalam aplikasinya kegiatan proses produksi kedua cakupan pengertian di atas pada dasarnya sangat banyak digunakan. sehingga proses pencuciannya dapat diprogram seperti yang diharapkan. Sistem pengatur berbasis komputer dirancang agar mudah dirubah sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan fleksibel automation sudah menggunakan sistem pengatur berbasis komputer. Penggunaan robot dalam sistem otomasi Industri mobil Teknologi Otomasi yang pada awalnya banyak diartikan sebagai pemakaian suatu sistem pengatur yang mampu menggerakan suatu kontruksi mekanik (manipulator) secara mandiri tanpa campur tangan manusia. Meski dengan jumlah karyawan yang sedikit namun mampu menghasilkan produk yang banyak dan dengan kualitas yang sama baiknya. Pada dasarnya teknologi otomasi dibedakan menjadi dua. Gambar 2. Proses produksi industri manufaktur mobil maupun sepeda motor di Indonesia sudah semakin pesat. maupun secara umum dalam berbagai bentuk barang yang ada di sekeliling kita seperti Telefak. Kontruksi fixed automation biasanya masih menggunakan peralatan mekanik.

seperti mesin perkakas CNC robot industri. Inventory Control. AGV dsb nya. Pemilihan peralatan yang sesuai dengan proses produksi yang hendak dilakukan merupakan tahap awal yang sangat menentukan tinggi rendahnya effisiensi proses produk tersebut. …. pengering tangan otomatik. namun ada pula yang harus dirancang secara khusus untuk jenis pemakian tertentu seperti mesin-mesin khusus. Otomasi Teknik Produksi Setiap perusahaan selalu berusaha untuk efisien dan efektif dalam melakukan proses produksinya. Jiq dan Fixtures. Salah satu upaya yang dilakukan perusahaan antara lain dengan cara mengurangi biaya produksi. termasuk biaya tenaga kerja. 575 . Pemilihan yang salah merupakan cacat bawaan yang akan sukar untuk diperbaiki nantinya. gerakan robot dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan. Industrial Engineering banyak yang lebih berupa pengolahan secara otomatis data elektronis. Rancangan konstruksi dari berbagai peralatan di atas ada yang dapat dibuat secara umum sehingga dapat diproduksi secara masal. dari kegiatan seperti pada bagian Product Design. tanpa melakukan penggantian peralatan yang salah tersebut secara keseluruhan. berbagai jenis conveyor. Pemanfaatan teknologi otomasi dalam proses produksi merupakan sebagian kecil saja dari penggunaan teknologi tersebut. Pengaturan yang akan dikembangkan berbasisi pada sistem kontrol pneumatik. sedangkan teknolgi otomasi yang banyak di terapkan adalah dalam bidang produksi. Proses otomasi yang dapat kita lihat sehari-hari antara lain: mesin cuci otomatik. Sales dan Marketing.penggunaan robot industri. Dalam pembahasan selanjutnya. hidrolik. Sebagian besar aplikasinya dimanfaatkan secara luas dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Fleksible Automation akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikroeletronika yang mendasar Pemanfaatan teknologi otomasi pada proses produksi meliputi bidang yang sangat luas. Pembahasan akan lebih diarahkan pada teknologi otomasi dalam bentuk pengaturan gerak manipolator atau konstruksi mekanik yang terdapat dalam berbagai bentuk peralatan pabrik. Meningkatnya kualitas hidup berdampak pada gaji tenaga kerja terampil yang semakin mahal. juga penggunaan mesin perkakas CNC. akan dibahas lebih jauh teknologi otomasi yang diterapkan dalam industri pengolahan serta pemesinan logam. dan juga mekanik. sistem pengisian tandon otomatik. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi. dan sebagainya. Engineering. elektrik. 2. yang bertujuan mendapatkan keuntungan yang sebesarbesarnya dengan biaya yang serendah-rendahnya. Teknologi modern ditandai dengan penggunaan fleksible automation yang semakin meluas. Production Planning dan Control.

``Otomasi`` adalah mengubah penggerakan atau pelayanan dengan tangan menjadi pelayanan otomatik pada penggerakan dan gerakan tersebut berturut-turut dilaksanakan oleh tenaga asing (tanpa perantaraan tenaga manusia). belakangan ini istilah otomatisasi tidak lagi banyak digunakan. dan lain-lain. misalnya lebih fleksibel dan bersih. Terutama suatu penempatan yang menguntungkan dari unsur-unsur pelayanan adalah mengurangi banyaknya gerakan-gerakan tangan sampai seminimum mungkin. bahkan kadang menuntut kenaikan gaji melalui demonstrasi yang dapat menghentikan aktivitas perusahaan. mengangkat. Padahal tenaga kerja terampil sebagai manusia pada umumnya memiliki keterbatasan seperti kelelahan. namun memiliki keterbatasan temperatur dan cenderung kotor. sakit. hydrolik. Menurut Thomas Krist yang dikutip Dines Ginting (1993). dan aman. namun untuk menghasilkan udara bertekanan diperlukan peralatan mahal seperti kompresor dan katup-katup. Dengan kata lain banyak perusahaan melakukan otomasi produksinya. Dewasa ini perusahaan selalu berupaya untuk mengganti pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh manusia untuk digantikan dengan mesin-mesin dalam rangka efisiensi dan peningkatan kualitis produksinya. Pemilihan aktuator tersebut akan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan. Istilah otomasi berasal dari otomatisasi. bersih. namun mudah terbakar bila dibebani lebih. Hidrolik mampu menghasilkan daya besar. Gambar 3. Jadi otomasi menghemat tenaga manusia. jenuh. dan lain-lain telah dapat digantikan oleh gerakan aktuator mekanik. listrik. Pneumatik d apat dibebani lebih. Penggeser pneumatik dan robot industri yang siap menggantikan tenaga manusia 576 . Gerakan-gerakan yang biasa dilakukan manusia seperti menggeser. pneumatik. menempa.Tenaga kerja terampil umumnya menuntut gaji yang besar. Masing-masing aktuator memiliki kelebihan dan kelemahan.

Otomasi sebagian berarti sistem masih memerlukan tenaga kerja untuk mengoperasikan mesin. Selanjutnya hasil rancangan PLC mulai berbasis pada bentuk komponen solid state yang memiliki fleksibelitas tinggi.Penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin akan meningkatkan produktivitas dan efensiensi kerja. 577 . sedangkan otomasi lengkap berarti semuanya dapat dikerjakan oleh mesin. industri kimia dan tungku pengecoran logam bertemperatur tinggi. Faktor ini juga sangat menentukan kedayagunaan dan manfaat ekonomis dari produksi. Namun dalam perkembangannya PLC merupakan sistem yang dapat dikendalikan secara terprogram. Dalam beberapa tahun ini perkembangan full otomasi telah berkembang pesat terutama pada industri manufaktur mobil maupun industri yang lain. PLC (Programmable Logic Controllers) …. Pengalihan gerakan dari tenaga manusia ke mesin dapat dilakukan sebagian maupun keselurahan. Kerja tersebut dilakukan karena adanya prosesor pada PLC yang memproses program sistem yang dinginkan. Penggantian ini sangat tepat terutama pada industri bahan dasar. 3. PLC awalnya merupakan sebuah kumpulan dari banyak relay yang pada proses sekuensial dirasakan tidak fleksibel dan berbiaya tinggi dalam proses otomatisai dalam suatu industri. Robot Industri dalam proses manufacturig 3.1 Sejarah PLC Secara historis PLC (Programmable Logic Controllers) pertama kali dirancang oleh Perusahaan General Motor (GM) sekitar pada tahun tahun 1968. Pada saat itu PLC penggunaannya masih terbatas pada fungsi-fungsi kontrol relay saja. tenaga manusia hanya bertindak sebagai programmer dari mesin tersebut. Gambar 4. dimana akan mengurangi resiko kecelakaan kerja dan meningkatkan kenyamanan peroduksi.

instruksi dan kemampuan lainya yang beragam. Perusahaan PLC saat ini sudah memulai memproduksi PLC dengan beberapa ukuran. Adanya masukan dan keluaran PLC secara modul akan lebih mempermudah proses 578 . Beberapa perkembangan perangkat keras maupun perangkat lunak PLC antara lain: (a) Ukuran semakin kecil dan kompak. PLC dilengkapi dengan port masukan (inputport) dan keluaran (outputport). (f) Waktu eksekusi program yang semakin cepat. (d) Jumlah input/output yang semakin banyak dan padat. (c) Memiliki kemampuan komunikasi dan sistem dokumentasi yang semakin baik. modul Fuzzy dan lain-lain. 3. Hal ini terkait dengan perangkat lunak pemrograman yang semakin user friendly. Perkembangan dewasa ini pada dasarnya dilakukan agar memenuhi dan memberikan solusi bagi kebutuhan pasar yang sangat luas. (h) Beberapa jenis dan tipe PLC dilengkapi dengan modul-modul untuk tujuan kontrol kontinu. Sehingga mampu untuk menjawab permasalahan kebutuhan kontrol yang komplek dengan jumlah input/output mencapai ribuan. kepadatan komponen serta dari segi fungsinnya seiring perkembangan teknologi solid state. Kerja tersebut dilakukan karena adanya prosesor pada PLC yang memproses program yang dinginkan. seperti jumlah input/output.(a) (b) Gambar 5. Relay tunggal (a) dan Sistem relay pada mesin CNC (b) Saat ini PLC telah mengalami perkembangan yang luar biasa. PID.2 Pengenalan Dasar PLC Pada dasarnya PLC (Programmable Logic Controllers) merupakan sistem relay yang dikendalikan secara terprogram. (b) Jenis instruksi/fungsi semakin banyak dan lengkap. baik dari segi ukuran. misalnya modul ADC/DAC. (g) Pemrograman relatif semakin mudah.

seperti OMRON. dan lain lain. seperti contoh berikut berikut: (a) (b) Gambar 6.pengawatan (wiring) sistem. Adapun jenis hardware dapat berupa unit PLC berbagai merek. PLC Omron type ZEN (a) dan Siemens (b) Agar lebih mengenal fungsi dan cara kerja PLC pada umumnya. LG. biasanya dibuat PLC Training Unit untuk keperluan pelatihan bagi siswa maupuin praktisi industri agar lebih mendalami dan memahaminya 579 . Siemens. Pada dasarnya PLC terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).

3. Instruksi ini dibutuhkan jika urutan kerja pada sistem kendali hanya membutuhkan satu kondisi logic saja untuk satu output. Simbol ladder diagram dari LD dan LD NOT seperti Gambar 8 di bawah ini: LD LD NOT Gambar 8. Simbol logika LOAD dan LOAD NOT. PLC Training Unit 3.2 AND dan NOT AND (NAND) Jika memasukkan logika AND maka harus ada rangkaian yang berada di depannya. karena penyambungannya seri. akan tetapi berupa sebuah fungsi yaitu FUN (01).3.1 LOAD (LD) dan LOAD NOT (LD NOT) LOAD adalah sambungan langsung dari line dengan logika pensakelarannya seperti sakelar NO.3. Instruksi-instruksi dasar PLC Instruksi (perintah program) merupakan perintah agar PLC dapat bekerja seperti yang diharapkan. Pada setiap akhir program harus di instruksikan kalimat END yang oleh PLC dianggap sebagai batas akhir dari program. sedangkan LOAD NOT logika pensakelarannya seperti sakelar NC. Instruksi END tidak ditampilkan pada tombol operasional programming console. Logika pensaklaran AND seperti sakelar NO dan NOT AND seperti saklar NC.Gambar 7. Instruksi tersebut dibutuhkan jika urutan kerja sistem kendali lebih dari 580 .3. 3.

instruksi tersebut dibutuhkan jika urutan kerja sistem kendali membutuhkan salah satu saja dari beberapa kondisi logic terpasang paralel untuk mengeluarkan satu output. Simbol ladder diagram dari OR dan OR NOT seperti gambar 11.3.3 OR dan NOT OR OR dan NOT OR (NOR) dimasukkan seperti saklar posisinya paralel dengan rangkaian sebelumnya. Simbol logika AND dan NOT AND Tabel 1. Simbol logika OR dan NOT OR NOT OR 581 .satu kondisi logic yang terpenuhi semuanya untuk memperoleh satu output. Logika AND dan NOT AND (NAND) S1 0 0 1 1 S2 0 1 0 1 AND 0 0 0 1 NAND 1 1 1 0 3. Logika pensaklaran OR seperti saklar NO dan logika pensaklaran NOT OR seperti saklar NC. di bawah ini: AND NOT AND Gambar 9. Simbol ladder diagram dari AND dan NOT AND seperti Gambar 9. di bawah ini: OR Gambar 10.

Aturan aljabar saklar AND 0n a=0 1n a=a 0 an a=a a 1 an a=0 a a a a a an b = bn a a b b a an bn c = c a (a n b) n c = a a n (b n c) a b b c b c 582 . Logika OR dan NOT OR (NOR) S1 0 0 1 1 S2 0 1 0 1 OR 0 1 1 1 NOR 1 0 0 0 Tabel 3.Tabel 2.

Aturan aljabar saklar OR 0va=a 0 1va=1 1 a ava=a a a ava=a a a a avb a = bva b b a avbvc a b c = (a v b) v c a b c = a v (b v c) a b c 3. Logika pensaklaran OUT seperti sakelar NO dan logika pensaklaran OUT NOT seperti sakelar NC. Simbol logika OUT dan OUT NOT. di bawah ini OUT OUT NOT Gambar 11. 583 . .Tabel 4.4 OUT dan OUT NOT Digunakan untuk mengeluarkan Output jika semua kondisi logika ladder diagram sudah terpenuhi. Simbol ladder diagram dari OUT dan OUT NOT seperti Gambar 11.3.

3. Simbol logika AND LOAD.3. Jika suatu nomor sudah dipergunakan sebagai TIMER/COUNTER. Simbol ladder diagram dari OR LD seperti gambar 13 di bawah ini: OR LD Gambar 13. Simbol logika OR LOAD.Nilai TIMER/COUNTER bersifat menghitung mundur dari nilai awal yang ditetapkan oleh program. 584 .7 TIMER (TIM) dan COUNTER (CNT) . . Setelah hitungan tersebut mencapai angka nol. Simbol ladder diagram dari AND LD seperti gambar 12. 3. di bawah ini: AND LD Gambar 12. maka kontak NO TIMER/COUNTER akan bekerja.3.Jumlahnya bergantung dari masing-masing tipe PLC. maka nomor tersebut tidak boleh lagi dipakai lagi sebagai TIMER/COUNTER yang lain.5 AND LOAD (AND LD) Digunakan untuk kondisi logika ladder diagram yang khusus dimaksudkan untuk mengeluarkan satu keluaran tertentu.3.6 OR LOAD (OR LD) Digunakan untuk kondisi logika ladder diagram yang khusus dimaksudkan untuk mengeluarkan satu keluaran tertentu.3.

Fungsi dari device masukan untuk memberikan perintah khusus sesuai dengan kinerja device masukan yang digunakan. Gambar15. Device Masukan Device masukan merupakan perangkat keras yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada modul masukan. 3.4. proximity sensors dan lain-lain. 585 .TIMER mempunyai batas hitungan antara 0000 sampai 9999 dalam bentuk BCD (binary Code Decimal) dan dalam orde sampai 100 ms. Ada bermacam -macam device masukan yang dapat digunakan dalam pembentukan suatu sistem kendali seperti misalnya: selector switch. Sedangkan COUNTER mempunyai orde angka BCD dan mempunyai batas antara 0000 sampai dengan 9999. Dalam hal tersebut seperti misalnya device masukan yang digunakan adalah push button yang bekerja secara Normally Open (NO) ataupun Normally Close (NC). Simbol logika TIMER dan COUNTER. level switch.. Simbol ladder diagramnya seperti Gambar 14 di bawah ini: N SV CP R TIMER Keterangan : N : Nomor T/C SV : Set Value COUNTER Keterangan : CP : Pulsa R : Reset Gambar 14. flow switch. foot switch. misalnya untuk menjalankan atau menghentikan motor. memperlihatkan macammacam sim bol masukan. Sistem PLC memiliki jumlah device masukan sesuai dengan sistem yang diinginkan.

5. yang berarti modul tersebut dapat melayani beberapa device masukan. NO Flow Switch Gambar 15. 586 . Pada jenis PLC tertentu terdapat modul masukan yang ditempatkan langsung satu unit dengan prosesor ataupun catu daya dan tidak ditempatkan dengan sistem rak.Keterangan : a. Contoh simbol device masukan 3. Pada umumnya modul masukan ditempatkan pada sebuah rak. NO Limit Switch d. NC Pushbutton c. Gambar 16 memperlihatkan modul masukan atau keluaran yang penempatannya menggunakan rak. Masing-masing modul mempunyai jumlah terminal tertentu. NO Pushbutton b. Sistem PLC dapat memiliki beberapa modul masukan. Modul Masukan Modul masukan adalah bagian dari sistem PLC yang berfungsi memproses sinyal dari device masukan kemudian memberikan sinyal tersebut ke prosesor.

Program Loader sering disebut sebagai device programmer yaitu alat yang digunakan untuk melakukan pengisian program ke CPU. Hal ini sangat membantu untuk keperluan perawatan ketika timbul masalah terhadap sistem. Jenisjenis device programmeran yang sering digunakan adalah desktop. memperlihatkan contoh gambar device programmer. Device programmer memperbolehkan pemakai untuk melakukan pengubahan program kendali baru (modifikasi) atau memeriksa benar atau tidaknya program yang telah diisikan ke dalam memori. Slot Modul masukan atau keluaran PLC 3. 587 . Desktop. Device Masukan Program Device masukan program berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan atau mengisikan program ke dalam prosesor PLC yang disebut dengan pengisi program (program loader). Device programmer membuat program PLC menjadi lebih fleksibel.Gambar 16. Gambar 17 dan Gambar 18. handled programmer dan device programmer yang memang khusus dibuat oleh pembuat PLC. Gambar 17.6.

Device Keluaran Device keluaran adalah komponen-komponen yang memerlukan sinyal untuk mengaktifkan komponen tersebut. Sistem PLC mempunyai beberapa device keluaran seperti motor listrik. (a) Simbol lampu indicator (b) Motor listrik dan simbolnya 588 . Handled Programmer. lampu indikator. (OMRON) 3. sirine.7.Gambar 18. memperlihatkan contoh simbol dari device keluaran yang sering digunakan. Gambar 19.

Sinyal tersebut diteruskan ke prosesor dan akan diolah sesuai dengan 589 .8. Dalam hal ini setiap pembuat PLC memberikan aturan-aturan tertentu yang sudah disesuaikan dengan programmeran CPU yang digunakan PLC. sehingga modul keluaran sebagai sakelar yang menyalurkan catu daya dari catu daya luar ke device keluaran. Diagram kerja tiga komponen utama di atas. Contoh device keluaran dan simbolnya 3.9. dikurangi ataupun dirancang ulang untuk mendapatkan sistem yang lebih fleksibel. akan dijelaskan lebih rinci dengan gambar diagram blok sistem PLC seperti terdapat pada Gambar 20. dan device pemrograman. Bahasa programmeran biasanya telah disesuaikan dengan ketentuan dari pembuat PLC itu sendiri. seperti komponen-komponennya dapat ditambah. 3. Sistem PLC memiliki tiga komponen utama yaitu unit prosesor. Device keluaran disambungkan ke modul keluaran dan akan aktif pada saat sinyal diterima oleh modul keluaran dari prosesor sesuai dengan program sistem kendali yang telah diisikan ke memorinya. 3. bagian masukan/keluaran. Perangkat Keras PLC Sistem PLC menggunakan prinsip pemodulan yang memiliki beberapa keuntungan. Urutan kerja dari gambar diagram blok di atas dimulai dari device masukan yang akan memberikan sinyal pada modul masukan. Perangkat Lunak PLC Pemrogramman PLC terdiri dari instruksi-instruksi dasar PLC yang berbentuk logika pengendalian sistem kendali yang diinginkan.(c) Katup penggerak Solenoid Gambar 19. Modul Keluaran PLC dapat mempunyai beberapa modul keluaran tergantung dari ukuran dan aplikasi sistem kendali. Catu daya yang digunakan untuk mengaktifkan device keluaran tidak langsung dari modul keluaran tetapi berasal dari catu daya dari luar.10.

Programmeran tersebut akan memudahkan programmer dalam mentransisikan logika pengendalian khususnya bagi programmer yang memahami logika pengendalian sistem kontrol panel. Diagram Blok PLC 3. Banyaknya titiktitik keluaran terletak di modul keluaran. titik masukan modul masukan dapat dianggap sebagai koil relay yang masingmasing memiliki alamat tertentu. Untuk lebih mempermudah pemahaman mengenai hubungan I/O dengan perangkat lunak 590 . NO.11. Ladder Logic Ladder logic adalah bahasa programmeran dengan bahasa grafik atau bahasa yang digambar secara grafik. Untuk memudahkan pemahamannya. NC dan dalam bentuk penyimbolan. koil relay masukan berada di luar perangkat sehingga tidak dapat tergambar di perangkat lunak dan hanya memiliki kontak-kontak pada perangkat lunak. Diagram ini menyerupai diagram dasar yang digunakan logika kendali sistem kontrol panel dimana ketentuan instruksi terdiri dari koil-koil.12. Gambar 20. Sinyal dari prosesor kemudian diberikan ke modul keluaran untuk mengaktifkan device keluaran. 3. programmer harus mengerti hubungan I/O dengan perangkat lunak.program yang dibuat. tetapi d alam programmerannya simbol-simbol tersebut dipresentasikan sebagai fungsi komponen sebenarnya. Hubungan Input/Output (I/O) dengan Perangkat Lunak Pada saat pemrogram (programmer) bekerja dengan bahasa ladder logic. Simbol-simbol tersebut tidak dapat dipresentasikan sebagai komponen.

Apabila lampu indikator sebagai device keluaran. 3. Hubungan antara I/O dengan perangkat lunak. sehingga jika keadaan ON maka sinyal mengalir menuju modul masukan (dengan anggapan pemahaman bahwa terdapat koil) hal tersebut mengakibatkan kontak dari unit input di dalam perangkat lunak akan bekerja. Processor Prosesor adalah bagian pemroses sistem PLC yang membuat keputusan logika. Sesuai dengan prinsip pemahaman bahwa titik masukan sebagai koil relay yang mempunyai kontak di perangkat lunak. Prosesor adalah bagian dari Central Processing Unit (CPU) dari PLC yang menerima.13. kejadian tersebut mengakibatkan lampu menyala. Hal 591 . koil keluaran perangkat lunak memiliki internal relay yang dapat digunakan sebagai pengunci (holding). Gambar 21. Sinyal selanjutnya mengalir melalui holding relay tersebut dan lampu akan menyala terus dan akan mati apabila pushbutton 2 ditekan karena terputusnya tegangan dalam hal ini karena pushbutton 2 sebagai NC.Gambar 21 memperlihatkan gambar hubungan antara I/O dengan perangkat lunak. Peristiwa itu tersebut mengakibatkan koil keluaran perangkat lunak menerima sinyal tersebut sehingga unit output sebagai kontak koil akan bekerja. Di dalam CPU PLC dapat dibayangkan seperti sekumpulan ribuan relay. memproses dan memberikan informasi ke modul keluaran. Karena sebagai device masukan berupa push button 1 ON saat ditekan saja (NO) maka untuk membuat lampu itu menyala terus. menganalisa. Gambar 21 memperlihatkan bahwa apabila push button 1 ditekan maka unit input X1 menjadi ON. Keputusan yang telah dibuat berdasarkan program tersimpan dalam memori.

Memori berfungsi sebagai tempat dimana informasi tersebut disimpan. Read Only Memory (ROM) adalah jenis memori yang semi permanen dan tidak dapat diubah dengan pengubah program. Programmeran ulang dari PROM membutuhkan perlengkapan khusus yaitu PROM Programmer dimana PLC sendiri tidak dapat melakukannya. Gambar 22. Memori tersebut hanya digunakan untuk membaca saja dan jenis memori tersebut tidak memerlukan catu daya cadangan karena isi memori tidak akan hilang meskipun catu daya terputus Programmable Read Only Memory (PROM) adalah jenis lain dari memori yang bekerja hampir menyerupai ROM. Pada aplikasi PLC diperlukan catu daya cadangan yang digunakan untuk menjaga agar isi dari memori tidak hilang apabila tiba-tiba catu daya hilang. karena RAM dapat dibaca dan ditulis data untuk disimpan di RAM. RAM disebut juga sebagai memori baca/tulis. Kerugian jenis memori tersebut adalah diperlukannya catu daya untuk menjaga agar memory tetap bekerja. dengan satu pengecualian yaitu bisa di program. RAM digunakan untuk keperluan memori karena RAM mudah diubah dengan cepat ketika dibandingkan dengan jenis memori yang lain. Ada bermacam-macam jenis serpih memori dalam bentuk Integrated Circuit (IC). maka dapat diadakan programmeran. memperlihatkan contoh CPU PLC yang menggunakan sistem RAM. PROM di rancang untuk diisi dengan program yang terprogram. Salah satu jenis memori yang digunakan dalam CPU PLC adalah Random Access Memory (RAM). Masing-masing jenis memori memiliki keuntungan dan kerugian dan dipilih untuk spesifikasi yang terbaik untuk aplikasinya. CPU PLC (OMRON) 592 .tersebut bukan berarti di dalamnya terdapat banyak relay dalam ukuran yang sangat kecil tetapi berisi rangkaian elektronika digital yang dapat sebagai kontak NO dan NC relay. Apabila data dapat diubah. Gambar 22.

14 Data dan Memory PLC 3. Dapat menunjukkan kondisi PLC yang disebabkan oleh kegagalan sumber tegangan.3. kontrol bit PLC.14.5 Link Relay Link relay (LR) digunakan untuk data link pada PLC link system .2 Special Relay Special relay (SR) merupakan relay yang menghubungkan fungsi-fungsi khusus seperti flag (misalnya: instruksi penjumlahan terdapat kelebihan digit pada hasilnya [carry flag].14. 3. 3.14.2.14. memori PLC dan lain-lain. kondisi CPU PLC.2. informasi kondisi PLC.14. kondisi special I/O. dan system clock (pulsa).1 Aturan dasar penulisan memori PLC adalah : .2. ditulis XXXXXX.1 Internal Relay Internal relay (IR) mempunyai pembagian fungsi seperti IR input.Bit atau contact yang terdiri dari 1 bit. Link system digunakan untuk tukar-menukar informasi antar dua PLC atau lebih dalam satu sistem kendali yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan PLC minimum dua unit.Word atau channel yang terdiri dari 16 bit. Terdapat juga IR yang fungsinya untuk SYSMAC BUS area.2. Optical I/O unit area. 593 . IR output dan juga IR work area (untuk pengolahan data pada program). ditulis XXX .2 Memori PLC 3. akan tetapi berada dalam internal memory PLC dan fungsinya untuk pengolahan logika program.3 Auxiliary Relay (AR) Auxiliary relay terdiri dari flags dan bit untuk tujuan khusus. 3.2. dua angka yang paling belakang menunjukkan nomor contact dan sisa angka yang depan menunjukkan nomer channel.4 Holding Relay Holding relay (HR) dapat difungsikan untuk menyimpan data (bit-bit penting) karena tidak hilang walaupun sumber tegangan PLC mati. 3. Sedangkan IR work area tidak dihubungkan ke terminal PLC. IR input dan IR output adalah IR yang berhubungan dengan terminal input dan output pada PLC.14. dan Group 2 High density I/O unit area. 3.14. Special I/O Unit area. kondisi input/output unit.

14.2.14. Kapasitas tergantung dari pada masingmasing tipe PLC yang dipakai. Pada DM inilah kemampuan kerja suatu PLC didefinisikan untuk pertama kalinya sebelum PLC tersebut diprogram dan dioperasikan pada suatu sistem kontrol. > DM setup DM setup berfungsi untuk kondisi default (kondisi kerja saat PLC aktif). 3.8 Data Memory Data memory (DM) berfungsi untuk menyimpan data-data program karena isi DM tidak akan hilang (reset) walaupun sumber tegangan PLC mati.6 Temporary Relay Temporary relay (TR) berfungsi untuk menyimpan sementara kondisi logika program pada ladder diagram yang mempunyai titik percabangan khusus. mengatur dan mendefinisikan sistem kerja special I/O unit.14. Macam-macam DM adalah sebagai berikut: > DM read/write • Pada DM read/write data-data program dapat dihapus dan ditulis oleh program yang dibuat. Untuk timer mempunyai orde 100 ms.9 Upper Memory Upper memory (UM) berfungsi untuk menyimpan dan menjalankan program. Tentu saja setup PLC tersebut disesuaikan dengan sistem kontrol yang bersangkutan. ada yang mempunyai orde 10 ms yaitu TIMH(15).14.2.2. sehingga sangat berguna untuk manipulasi data program.3. 3.2. > DM special I/O unit • DM special I/O berfungsi untuk menyimpan dan mengolah hasil dari special I/O unit. Untuk TIM 000 sampai dengan TIM 015 dapat dioperasikan secara interrupt untuk mendapatkan waktu yang lebih presisi. > DM history Log • Pada DM history log disimpan informasi-informasi penting pada saat PLC terjadi kegagalan sistem operasionalnya. 3. > DM link test area • DM link test area berfungsi untuk menyimpan informasiinformasi yang menunjukan status dari system link PLC.7 Timer/Counter Timer/counter (T/C) untuk mendefinisikan suatu waktu tunda /time delay (timer) ataupun untuk menghitung ( counter). 594 . Pesan-pesan kesalahan system PLC yang di simpan berupa kode-kode angka tertentu.

Bagian catu daya dalam PLC sama dengan bagian-bagian yang lain di mana terdapat langsung pada satu unit PLC atau terpisah dengan bagian yang lain dari atau sistem rak. DM dapat difungsikan untuk menyimpan data-data penting yang tidak boleh hilang waktu sumber tegangan mati a memanipulasi tau program.2. Catu daya dalam merupakan bagian dari unit PLC itu sendiri sedangkan catu daya luar yang memberikan catu daya kepada seluruh bagian dari sistem termasuk didalamnya untuk memberikan catu daya pada catu daya dalam dari PLC. 595 . Gambar catu daya yang sering digunakan dengan sistem rak diperlihatkan pada gambar 23.⇒ Semua memori (selain DM dan UM) dapat dibayangkan sebagai relay yang mempunyai koil. hanya ada channel/word saja. ⇒ DM tidak mempunyai kontak. ⇒ Memori yang sifatnya dapat menyimpan data program jika listrik mati adalah DM dan HR. atau bisa juga langsung digambar ladder diagram pada layar monitor. Catu daya dalam mengaktifkan proses kerja PLC. kontak NO dan NC. sedangkan memori yang lainnya akan hilang. Programmeran biasanya membuat diagram ladder terlebih dahulu dan kemudian baru menterjemahkannya dalam bahasa mnemonic. 3. Catu Daya. Besarnya tegangan catu daya yang dipakai disesuaikan dengan karakteristik PLC. Timer dan Counter juga dapat dibayangkan seperti pada umumnya dan mempunyai kontak NO dan NC. ⇒ Programmeran PLC ada dua macam yaitu dengan diagram ladder dan bahasa mnemonic. Gambar 23.14.10 Catu Daya (Power Supply) Sistem PLC memiliki dua macam catu daya dibedakan berdasarkan fungsi dan operasinya yaitu catu daya dalam dan catu daya luar.

16.1 Pembuatan diagram ladder (diagram tangga) Pembuatan diagram ladder dapat dilakukan dengan cara klik kiri mouse pada menu perintah sesuai dengan yang dikehendaki 596 . Programman PLC dasar Omron Dengan Komputer Programman PLC dasar merk OMRON menggunakan bahasa program dari OMRON juga yaitu SYSWIN. Tampilan menu utama program SYSWIN (OMRON) Beberapa perintah program yang penting dan perlu dipahami adalah sebagai berikut: > Connect Connect merupankan perintah program untuk penyambungan antara komputer dengan PLC.3.16 Cara pengoperasian SYSWIN 3. > Upload Program Merupakan perintah untuk melihat isi program dalam PLC > Down Load Program Merupakan perintah untuk mentransfer program yang telah dibuat ke dalam PLC > Run Perintah untuk menjalankan program yang telah di tranfer ke PLC > Stop Perintah untuk menghentikan program yang sedang dijalankan di PLC > Monitoring Perintah untuk melihat kondisi pada saat PLC bekerja 3. Gambar 24.15. Tampilan menu utama dari program SYSWIN dapat dilihat pada gambar berikut.

Tampilan Ladder Diagram Langkah sbb: 1. Langkah selanjutnya memberikan alamat yang dikehendaki pada perintah tersebut. Sebagai contoh membuat diagram ladder berikut: Gambar 25. Pembuatan diagram ladder 1. Ketikan alamat 0001 lalu enter Gambar 26. Klik simbol ini 3. Ketikan alamat 1001 lalu enter 2. 597 . Untuk membuat ladder baru lagi di bawahnya maka posisikan mouse pad End of blok kemudian klik dua kali maka posisi End of blok akan turun dan kita dapat menggunakannya baris kosong tersebut untuk membuat diagram ladder baru. Klik simbol ini 4.kemudian memindahkan mouse ke layar tampilan yang dituju.

Ketikan END lalu enter Gambar 27. Pastikan PLC sudah tersambung dan ter-conect dengan PLC 2. Click simbol FUN 2.2. Pilih perintah Download Program lalu enter 4. Akhir dari diagram tangga menggunakan END Setelah sebuah program diagram ladder dibuat kemudian untuk menjalankannya atau memasukkannya ke dalam PLC harus melewati langkah sebagai berikut: 1. Untuk mengakhiri prongram maka harus diakhiri dengan perintah END sebelum program tersebut dijalankan caranya sebagai berikut: 1. Pada menu Online pilih Mode 598 . Sorot menu Online 3.

PLC.Catu daya Pada gambar di atas apabila dibuat program dengan menggunakan diagram ladder sebagai berikut : Gambar 30.Gambar 28. RUN untuk menjalankan program dalam PLC 6. Untuk keperluan monitoring jalannya program dapat dipilih pada menu Online yaitu Monitoring 3. Akhir dari diagram tangga menggunakan END 5. STOP untuk menghentikan program 7. Jika input saklar ditekan maka output berupa lampu akan menyala 2. Penyambungan perangkat Input. Ladder diagram Maka kerja dari rangkaian tersebut adalah: 1.16.2 Cara Penyambungan Dan Logika Laddernya Gambar 29. Tetapi jika sakelar dilepas maka lampu juga akan mati 599 . Output.

Ladder diagram dengan pengunci.01 Gambar 31. Kebalikan dari kerja rangkaian di atas (Gambar 31) apabila dibuat program dengan menggunakan diagram ladder sebagai berikut : Gambar 32. Jika input saklar tidak ditekan maka output berupa lampu akan menyala 2. Ladder diagram kebalikan dari kerja rangkaian di atas Maka kerja dari rangkaian tersebut adalah: 1. Jika input saklar ditekan maka output berupa lampu akan mati Untuk penyambungan yang lebih dari satu channel maka cara penyambungan adalah sebagai berikut: 600 .Apabila dikehendaki lampu tetap menyala meskipun sakelar hanya sekali tekan maka perlu ditambahi dengan pengunci sebagai berikut: 010.

Tegangan yang disambungkan ke relay ataupun Magnetic Contactor disesuaikan dengan tegangan dari relay atau Magnetic Contactor tersebut. Cara penyambungan perangkat Input dan Output lebih dari satu channel. Oleh karena keterbatasan PLC dimana spesifikasi dari masukannya dan keluarannya adalah dengan tegangan dan arus yang kecil maka cara penyambungan dari pelaratan keluarannya jika menggunakan lampu untuk tegangan dan arus tinggi adalah menggunakan peralatan relay seperti gambar di bawah ini. Penambahan relay untuk memperbesar kemampuan arus .Gambar 33. Gambar 34. 601 . Untuk arus dan tegangan yang lebih besar dapat mengguankan Magnetic Contactor.

Rangkaian Input dan Output di dalam Unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR dapat dilihat pada Gambar 35 dan Gambar 36 di bawah ini.17 Penggunaan Fungsi Bit Kontrol 3. Rangkaian Output dalam Unit CPU PLC OMRON CPM1A -XXCDR.17. A B B Gambar 37. Rangkaian latching 602 .1 LATCHING / SELF HOLDING Fungsi ini berfungsi sebagai penahan dirinya sendiri pada suatau rangkaian ladder PLC. (351352 modul pelatihan PLC OMRON) 3. Rangkaian Input Unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR Gambar 36. Gambar 35.

Sehingga cara mematikannya (OFF) yaitu dengan memberikan input berupa ladder NC (normally close).Pada gambar diagram ladder di atas bisa kita lihat. Aturan KEEP Dengan S sebagai set. 603 . yang berfungsi sebagai pemicu adanya KEEP. Diagram ladder latching 3.00 Gambar 39. Tanda KEEP Secara umum fungsi keep memiliki aturan seperi gambar dibawah ini. R sebagai reset yaitu untuk mengembalikan ke keadaan semula dan B atau bit yaitu memberikan output berupa latching atau mempertahankan dirinya sendiri. Gambar 40. A KEEP B 200. seperti pada gambar di bawah ini A NC B B Gambar 38. yang berarti bahwa bila ada tegangan sekejap dari rangkaian di atas maka output akan tetap ON.2 KEEP Fungsi keep sama seperi pada fungsi lacthing hanya saja lebih sederhana dalam pembuatan ladernya karena telah memiliki tanda sendiri pada pemrogramannya seperti pada SYSWIN atau pun SYSMAC.17. antar output B baris pertama dengan input B pada baris kedua memiliki alamat yang sama yaitu B.

4 SET dan RESET Penggunaan set dan reset hampir mirip dengan latching tetapi biasanya digunakan pada aplikasi yang panjang sehingga akan memudahkan dalam pembuatan program. Gambar 42. 604 . Berbeda dengan Reset.3.17. Perbedaannya terletak pada aktif tinggi (up) dan aktif rendah (down). memerintahkan agar output dalam keadaan OFF. 3. DIFU dan DIFD DIFU atau Differentia Up dan DIFD (Differentia Down)digunakan untukmenciptakan bit ON pada satu siklus. SET dan RESET Fungsi set memerintahkan agar output selalu dalam keadaan ON.3 DIFU dan DIFD Gambar 41.17.

18. Diagram ladder aplikasi koil 605 . Kita dapat mensimulasikan atau mentransfer ke dalam diagram ladder. Gambar 44.1 Aktivasi Koil Sekarang akan kita bandingkan diagram ladder di atas dengan menggunakan aplikasi sirkuit di bawah ini. Keterangan : SW1 = Switch 1 SW2 = Switch 2 Gambar 43. Input terdiri dari dua switch yaitu switch 1 dan switch 2 sedangkan output adalah koil. Pada gambar di atas terdiri dari dua input dan satu output.3. Rangkaian switch relay Pada gambar sirkuit di atas.18 Contoh Aplikasi Dan Pembuatan Diagram Ladder Menggunakan Syswin 3. koil akan menjadi aktif bila terminal + (positif) dan terminal – (negative) pada baterai terhubung.

01. klik kembali pada toolbar symbol dan masukan alamat / addres yang berbeda dengan address switch 1 (missal 000. missal 000. kemudian muncul form dialog untuk pengisian addres / alamat 3. Pilih BELOW Current Network. klik gambar open contact atau pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.01) 4. tempatkan pada work area. Tempatkan pada area kerja. Isikan alamat output. dan tekan OK 8.Pembuatan diagram ladder pada software Syswin 1.02) 5. isikan alamat untuk switch 1 (missal : 000. dan akan muncul form dialog bok 9. Ok 606 . Klik symbol atau open output pada toolbar symbol 6. sehingga akan muncul dialog form 7. Klik Menu à Block à Insert Block. 2.

Gambar 45. akan muncul dialog. Aplikasi PLC 607 .10. 11.2 Minyak Pelumas Aplikasi di bawah ini adalah mengontrol minyak pelumas yang dikeluarkan dalam sebuah tangki.18. Klik Menu à Function à Basic instruction à Program Control Instruction. Pilih END(01) dan tekan Ok Hasil program seperti dibawah ini 3. Dengan menggunakan dua sensor yaitu sensor bagian atas dan sensor bagian bawah. Masing masing sensor bertugas untuk mengontrol posisi ketinggian minyak pelumas.

Sensor dapat berupa sensor optik apabila tercelup dalam cairan atau minyak pelumas maka akan OFF disini motor akan OFF sehingga tidak memompa minyak.Pada saat volume minyak pelumas menyentuh sensor bawah motor akan memompa minyak pelumas menuju tangki dan berhenti ketika minyak pelumas menyentuh sensor bagian atas. Sistem ini disebut dengan NC (Normally closed) Tabel 5. Apabila sensor tidak tercelup dalam minyak pelumas maka sensor akan ON dan menghidupkan motor dan memompa minyak pelumas ke dalam tangki.00 Setelah membagi alamat-alamat. kemudian muncul form d ialog bok untuk pengisian addres / alamat 608 .00 Internal Relay 010. input dan output maupun internal relay. 2. Gambar 46. kemudian kita membuatnya dalam diagram ladder. Tempatkan pada work area.00 000. 2 berupa input dan 1 berupa output. Maka dibutuhkan 3 input dan output.01 Output Motor Addres 010. Diagram ladder Pembuatan diagram ladder pada Software Syswin 3. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.4 sebagai berikut 1. Pengalamatan peralatan input dan output Input Sensor Bawah Sensor Atas Addres 000.

Isikan alamat output. kemudian muncul form dialog bok untuk pengisian addres / alamat 609 . 7. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol. 8.00) Klik kembali pada toolbar symbol dan Klik pada work area kemudian masukan alamat / addres yang berbeda dengan address sensor atas (missal 000. sehingga akan muncul dialog form dialog. 6.01) Klik symbol atau open output pada toolbar symbol Tempatkan pada area kerja. missal 000. 4. 5. 11. Isikan alamat untuk sensor atas (missal : 000.05. Ok 10. Tempatkan pada work area. Pilih BELOW Current Network.3. dan tekan OK (disini bukan sebagai output tetapi internal relay) Klik Menu à Block à Insert Block. dan akan muncul form dialog bok 9.

00 .00 15. 001. 001. Klik pada selection tools. Klik kembali pada toolbar symbol dan Klik pada work area baris ketiga blok pertama. kemudian Klik pada blok pertama yang kita buat (alamat 000. dan berikan alamat 610 . 14.12. Klik pada toolbar symbol dan Klik pada work area baris kedua blok pertama. setelah terlihat gelap klik pada vertical line dan klik pada blok kedua baris pertama sehingga akan timbul garis penghubung ke bawah.00). 16. kemudian masukan alamat / addres yang sama dengan internal relay.05 13. Isikan alamat yang sama dengna internal relay diatas untuk sensor atas yaitu 000. kemudian masukan alamat / addres yang sama dengan internal relay. Klik symbol atau open output pada toolbar symbol pada work area pada baris ketiga blok ketiga.

3. Sensor 2 Sensor 1 Pompa air Gambar 47. 19. 18. pompa air hidup sehingga mulai mengisi air dari keadaan awal kosong. Sistem kerja pengisian air otomatis 611 . Tempatkan pada area kerja. Beberapa saat kemudian sensor air volume air terus menurun sehingga kini sensor 1 dalam keadaan bebas atau tidak tercelup air dan pompa masih terus hidup. Awalnya tangki dalam keadaan kosong.3 Pengisian tangki air otomatis Sistem pengisian tangki air secara otomatis dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini. Ketika sensor 1 tercelup oleh air pompa berhenti sehingga volume air secara perlahan turun. Sampai ketinggian air menyentuh sensor 2 pompa kembali menyala dan terus berulang. sehingga akan muncul dialog form dialog. Saat air menyentuh sensor 2 pompa air masih hidup dan pengisian air terus berlanjut sampai sensor 1 . Hubungkan blok pertama dan ketiga pada baris ketiga dengan garis horizontal pada toolbar symbol.17.18. masukan Function END pada bris terakhir.

Klik gambar closed contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.4 1.01 Pompa air 001. 00000 00001 10000 10000 END Gambar 48. sedangkan output berupa pompa air. Isikan alamat untuk sensor atas 612 . Input terdiri dari sensor 1 dan sensor 2. Tempatkan pada work area.00 000. kemudian muncul form dialog box untuk pengisian addres / alamat 3. Pada kasus di atas menggunakan alamat-alamat PLC jenis OMRON. Tabel 6. Perlu diperhatikan bahwa sistem di atas memiliki input dan output (i/o) sebanyak tiga bagian dengan dua input dan satu output. 2.00 Input Sensor 1 Sensor 2 Internal relay 010. Daftar alamat pada input dan output Addres Output Addres 000. Diagram ladder Contoh pembuatan diagram ladder pada progam computer jenis syswin 3.Langkah selanjutnya adalah membagi alamat input dan output pada Programmable Logic Control (PLC).00 Setelah dibuat alamat pada input dan output PLC selanjutnaya adalah membuat diagram ladder.

Tempatkan pada work area baris kedua blok pertama kemudian muncul form dialog bok untuk pengisian addres / alamat 613 .Tempatkan pada area kerja. sehingga akan muncul form dialog. 9.00 7.01). sesuai dengna ladder yang telah kita tentukan yaitu 010. Klik kembali closed contact pada toolbar simbol dan Klik pada work area samping ladder pertama. 6. Klik symbol atau open output pada toolbar symbol sebelah ladder kedua. Klik pada selection tools. setelah terlihat gelap klik pada vertical line dan klik pada blok kedua baris pertama sehingga akan timbul garis penghubung ke bawah. Klik gambar open contact pada sisi kiri yaitu toolbar simbol.4. 8. kemudian masukan alamat / addres yang berbeda dengan address sensor . Isikan alamat output. 5. kemudian Klik pada blok kedua yang kita buat (alamat 000.

Kemudian pada pukul 11. Alamat input dan output PLC Alamat Output 000.30 Jam 11.30 sebagai tanda jam bekerja telah berakhir.02 Lampu ruang kerja 000. 11.10.30 Jam 17. open contact disini berfungsi sebagai internal relay sebagai proses latching atau self holding.01 Lampu ruang kantor 000. Isikan alamat yang sama dengan output yaitu 01.30 Jam 12.18.00 Alarm 000. 614 .30 Table 7.03 Lampu lingkungan 000.30 alarm berbunyi tanda masuk kembali.00.30 alarm berbunyi untuk waktu istirahat dan pukul 12. masukan Function END pada bris terakhir. 3.04 Pada tabel di atas kita menjadi mengerti alamat masing masing input dan output PLC. Input Jam 07.02 010. Pengaplikasian pada program syswin 3. Lampu lingkungan perusahaan akan menyala pukul 17.30.4 dapat disesuaikan dengan contoh program syswin di atas.4 Alarm dan sistem penyalan lampu Suatu pabrik tiap pukul 07.30 membunyikan alarm yang menandakan karyawan untuk masuk bekerja bersaman dengan alarm yang berbunyi lampu dalam kantor dan lampu ruang kerja secara otomatis akan menyala dan lampu llingkungan perusahaan akan padam.01 010. Alamat input di tentukan dengan waktu dan alamat output di hubungkan dengan lampu dan alarm.30 Jam 16. Alarm akan berbunyi lagi pada pukup 16.03 010.04 Alamat 010.00 010.

01 000.04 000.03 END Gambar 49.01 001.03 000.00 000. Diagram Ladder aplikasi sistem alarm 615 .02 000.03 000.05 000.00 000.05 T000 #50 010.00 000.04 000.03 010.000.01 000.00 000.02 000.

and load. PLC terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). timer dan counter.4.. Device masukan program berfungsi sebagai sarana untuk memasukkan atau mengisikan program ke dalam prosesor PLC yang disebut dengan pengisi program (program leader). Ladder logic adalah bahasa program dengan bahasa grafik atau bahasa yang digambar 616 . jadi otomasi menghemat tenaga manusia. and dan not and.. 1. Cara kerja PLC dapat dilihat pada diagram berikut : . out dan out not. Programmable Logic Controllers (PLC) Pada dasarnya PLC (Programmable Logic Controllers) merupakan sistem relay yang dikendalikan secara terprogram. Instruksi-instruksi dasar PLC adalah load dan load not. PLC dilengkapi dengan port masukan (inputport) dan keluaran (outputport). or dan not or... or load. Device masukan merupakan perangkat keras yang digunakan untuk memberikan sinyal kepada modul masukan. Rangkuman IX Otomasi adalah mengubah penggerakan atau pelayanan dengan tangan menjadi penggerakan oleh tenaga asing (tanpa perantaraan tenaga manusia) secara otomatik. Dalam sebuah program tentunya mempunyai cara atau perintah-perintah khusus. Modul masukan adalah bagian dari sistem PLC yang berfungsi memproses sinyal dari device masukan kemudian memberikan sinyal tersebut ke prosesor.

Gambar diagram leadernya dan jelaskan cara kerja sistem tersebut? 617 . 5. Sebutkan dan jelaskan instruksi-instruksi dasar pada PLC ! b.secara grafik. Berikan contoh penggunaan sistem PLC selain contoh-contoh di atas. Sebutkan perangkat-perangkat keras PLC dan jenis-jenis PLC berdasarkan IO yang dimiliki? c. Device keluaran adalah komponen-komponen yang memerlukan sinyal untuk mengaktifkan suatu komponen. Soal Formatif a. modul keluaran sebagai sakelar yang menyalurkan catu daya dari catu daya luar ke device keluaran.

618 .

Penggunaan tenaga kerja manusia juga memiliki resiko pemogokan masal. selanjutnya menggunakan hewan. Meningkatnya kebutuhan manusia telah berupaya berfikir bagaimana agar pekerjaan yang selama ini dikerjakan oleh manusia dapat digantikan oleh mesin yang dapat bekerja 24 jam. dan j sebagainya. emosi yang labil. Tenaga kerja menjadi andalan bagi kelangsungan proses produksinya. Pengenalan Robot Kemajuan sains dan teknologi dewasa ini telah dirasakan membuat kualitas hidup manusia semakin baik. Gambar 1. Dahulu orang bepergian dengan berjalan kaki. Tenaga kerja juga memiliki keterbatasan yang bersifat manusiawi seperti 619 . enuh. dan menuntut upah besar. tidak menunutut gaji tinggi dan tidak akan demo menunutut kenaikan gaji/upah buruh. Teknologi yang dapat berkembang biasanya teknologi yang dapat mempermudah kehidupan manusia. tidak mengenal jenuh. Awalnya industri tertarik pada ongkos tenaga kerja yang murah. lelah. antara lain: a) memiliki keterbatasan yang manusiawi. Kenyataan dilapangan menunjukan bahwa penggunaan tenaga kerja masal memiliki beberapa kelemahan. kesehatan.BAB X TEKNOLOGI ROBOT 1. Robot siap menggantikan tenaga manusia Fenomena tersebut semakin dirasakan oleh dunia industri yang mengandalkan pada tenaga kerja masal. maka orang cukup dengan duduk dan mengendarai susuai dengan keinginannnya. demonstras i. dengan diciptakannya mobil. selain tenaga kerja manusia tersedia dalam jumlah banyak juga industri tidak perlu membeli mesinmesin yang harganya sangat mahal. seperti.

robot harus digunakan karena radiasi nuklir sangat berbahaya bagi manusia. Kelemahan tersebut akan berdampak pada kualitas dan kuantitas produk terganggu. elektrik. Belajar dari kelemahan-kelemahan di atas maka manusia terpacu untuk membuat mesin yang dapat menggantikan fungsi tenaga kerja manusia. yaitu dari k ata robota yang berarti tenaga kerja/buruh. Penggunaan robot pada sebuah laboratorium 1. Robot digunakan pada industri perakitan. seperti mengangkat. pneumatik hingga berkembang menjadi robot-robot industri. pengecatan dan telah digunakan pada bidang militer sebagai peralatan penjinak bom. bidang kedokteran sebagai peralatan operasi otomatis. Sebagai contoh dalam industri nuklir. Menurut National bureu of Standar robot adalah Aplikasi robot sebagian besar pada bidang industri bertujuan untuk meningkatkan produktivitas produksi. Sehingga untuk mempelajari bagian selanjutnya kita tidak akan menemukan kesuilitan untuk mendefinisikan.istirahat yang cukup. Istilah robot berasal dari rusia. menggeser. mengelas dan lain-lain.1 Istilah Robot Sebagai pemahaman awal maka perlu diketahui beberapa istilah dasar dari robot. Robot dapat digunakan secara rutin terus menerus tanpa merasakah kebosan atau digunakan pada lingkungan yang sangat berbahaya. Adapun beberapa istilah yang dimaksud antara lain: 620 . Kemudian diawal abad ke 20 ilmuwan Cekoslowakia. pengelasan. Peralatan tersebut berkembang secara pesat. Karel Capek (1890-1938) memperkenalkan istilah robot dengan membuat seperangkat mesin yang diberi nama Rosum’s Universal Robots (RUR). Gambar 2. baik secara mekanik. Di bidang sosial robot banyak membantu sebagai pengganti bagian tubuh yang mengalami kecacatan fisik. peleburan. pergi ke Toilet dan berbagai keperluan yang bersifat pribadi.

Kontroler membentuk sistem kontrol yang akan menentukan input dan output suatu robot. manipulator terdiri dari beberapa segmen dan sambungan (joint). Joint atau sambungan merupakan hubungan antara lengan (arm) dengan lengan yang lain sehinga dipisahkan oleh sumbu (axis) Lup terbuka adalah suatu sistem kontrol yang tidak memiliki feedback atau umpan balik. Komponen dasar manipulator robot 621 .1 Manipulator Manipulator memiliki dua bagian.2.2 Komponen Dasar Sistem robot memiliki tiga komponen dasar. yaitu bagian dasar dan bagian tambahan. Lengan yang memberikan gerakan robot untuk memutar. dan Power (daya). tetapi sifatnya tidak harus ada. melipat. Feedback digunakan pada close loop (lup tertutup) 1. menjangkau objek. Efektor sering ditemukan pada beberapa sistem robot. kontroler. yaitu : Manipulator. Gambar 3 memberikan gambaran tentang bagian dasar dan bagian tambahan. peralatan atau peralatan khusus Suatu peralatan yang bertugas sebagai penendali dari gerakan robot. memilki banyak fungsi yang didesain untuk memindahkan material. 1. Gerakan ini di sebut dengan derajat kebebasan robot atau jumlah sumbu yang ada pada robot. sehingga suatu peralatan tidak dapat mengenali kesalahan sebagai pembanding kerja selanjutnya.Robot : Kontroler : Manipulator : Joint Open loop : : Peralatan yang dapat diprogram ulang. suku cadang (part). Apendage Apendage Base Gambar 3.

dan sangat sederhana. bisa disebut juga lengan/arm.2 Kontroler Kontroler merupakan jantung dari sistem robot sehingga keberadaanya sangat penting. Kontroler menyimpan informasi yang berkaitan dengan data-data robot. Gambar 4 . 1. dalam hal ini data gerakan robot yang telah diprogram sebelumnya. Actuator bisa menggunakan elektrik. Bagian ujungnya terpasang efektor yang berfungsi untuk mengambil/mencekam material. Dahulu kontroler dibuat dari drum mekanik yang bekerja step by step secara sequential. Kontroler berfungsi untuk mengontrol pergerakan dari manipulator. Bagian tambahan merupakan perluasan dari bagian dasar. Dimasa sekarang kontroler menggunakan PLC (programmable logic kontrol) yang dapat bekerja dengan pergerakan yang sangat kompek dari sistem robot. Robot dan kontroler 622 . memberikan gambaran sebuah kontroler dan manipulator robot. Kontroler sendiri diatur oleh sebuah informasi atau program yang diisikan dengan menggunakan bahasa pemgrograman tertentu. Bagian actuator ini akan dijelaskan pada selanjutnya. Data dalam memori dapat di keluarkan atau di edit sesuai dengan yang dibutuhkan. Manipuator digerakkan oleh actuator atau disebut sistem drive.Bagian dasar manipulator bisa kaku terpasang pada lantai area kerja ataupun terpasang pada rel. Rel berfungsi sebagai path atau alur sehinga memungkinkan robot untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam satu area kerja. Gambar 4. hidrolik ataupun pneumatik.2. Informasi tersebut kemudian disimpan didalam memori. Actuatuator atau sistem drive menyebabkan gerakan yang bervariasi dari manipulator.

Bagian kontroler menggunakan elektrik sedangkan bagian manipulator bisa menggunakan elektrik. Catu daya hidrolik Gambar 5c. Gambar 5a.2. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. Catu daya listrik 623 . yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator.3 Power Suply (Catu Daya) Power supply adalah sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat bekerja. Gambar 5a. pneumatik. Catu daya pneumatik Gambar 5b. hidrolik ataupun ketiganya.1. 5b dan 5c memberikan keterangan tentang power supply.

menempa. Kerja efektor dapat berupa mekanik. Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot.4 Efektor Efektor dapat ditemukan hampir semua aplikasi robot. elektrik.1. Gambar 6. 624 . Efektor robot Efektor jika disamakan dengan manusia seperti jari-jari tangan yang dapat digerakan untuk memindah/mengangkat materilal ataupun peralatan yang dapat digunakan untuk mengelas. dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan. maupun hydrolik. Sebagai contoh efektor dapat berupa peralatan las. walaupun keadaannya bukan merupakan komponen dasar dari sistem robot. pneumataik (grifer). mengecat.2. mengisi botol. penyemprot cat ataupun hanya berupa penjempit objek.

yaitu gerakan base travel dan gerakan axes kontrol. Gerakan base travel dapat di aplikasikan ke dalam base manipulator yang kaku pada lantai ataupun bebas dalam alur (path). Sumbu (axes) Karakteristik pertama dari teknologi robot adalah seberapa banyak sumbu yang dapat ditemukan dalam sebuah robot.. Gambar 7.1. yaitu: Rendah (low) teknologi. Base manipulator jenis kaku 1. Payload (muatan) Payload adalah kapasitas beban yang dapat dikerjakan oleh manipulator. Semakin berat beban yang dapat dikerjakan oleh manipulator maka semakin tinggi teknologi robot. 625 . yaitu a. Kapasitas berat diukur dari batas antara efektor dan manipulator. Axes kontrol menggunakan feedback sehingga gerakannya tergantung dari gerakan terakhir dan umpan balik sistem. Sumbu ini akan menentukan derajat kebebasan atau kebebasan bergerak dari robot. Secara sistem kontrol. b. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri yang sangat unik sehingga sangat jelas perbedaan antara ketiga level tersebut. medium teknologi dan teknologi tinggi (high technology).4 Tingkatan Teknologi Robot memiliki tiga tingkatan/level teknologi.3 Gerakan Robot Gerakan robot dapat diklasifikasikan menjadi dua. Tingkatan teknologi robot dapat dibedakan dengan mengetahui karakteristik masing-masing robot. base travel dapat dikategorikan kedalam lup terbuka sehingga tidak ada feedback dalam sistem.

1 Low Teknologi Robot teknologi rendah (low technology) digunakan dalam lingkungan industri untuk pekerjaan yang tidak memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. y dan z.025 mm. Cycle time (siklus waktu ) Siklus waktu adalah waktu yang dibutuhkan oleh robot untuk bergerak dari lokasi satu ke lokasi lainnya. Akurasi (ketelitian) Akurasi adalah posisi robot dalam melakukan kerja secara berulang kali. d. seperti pada material handling (penanganan material). y dan z yang sama pula. Sedangkan sistem kontrol dapat dibedakan antara loop terbuka dan loop tertutup yang masing masing akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. yaitu x-0. e. Semakin besar informasi yang dapat disimpan dalam memori maka semakin tinggi teknologi robot. Masing masing tergantung dari payload yang di kerjakan pada robot. Kerja selanjutnya robot melakukan kerja dengan bidang kartesian x. y dan z secara berulang kali. operasi tekan. hidrolik atau elektrik. § Aktuasi dapat menggunakan 3 dari penggerak (pneumatik.05 sampai 0. Siklus waktu tergantung pada payload dan panjang dari lengan manipulator. Sumbu gerakanya bisaanya naik dan turun. § Axes Robot hanya memiliki maksimal 4 sumbu gerakan dan bisaanya gerakan akhir dikontrol oleh mekanik bukan sensor yaitu bisa berupa limit switch. semakin pengggerak (drive) memiliki payload yang besar maka semakin tinggi teknologinya. § Akurasi Berkisar antara 0. 1. Sampai pada kerja yang ke 1000 robot mulai kehilangan akurasi 0. f. Aktuasi berkaitan dengan payload.001.c. § Payload Robot teknologi rendah memiliki kapasitas beban diantara 3 – 13 kg. Apabila suatu robot melakukan kerja pertama dengan posisi pada bidang kartesian x. Aktuasi Aktuasi dibedakan menurut jenis penggerak yang digunakan oleh robot. Bisa berupa pneumatik.4. dan operasi perakitan.001 mm pada bidang kartesian x. Siklus waktu akan mempengaruhi kecepatan dari proses produksi suatu industri. Semakin tinggi siklus waktu yang dimiliki robot maka semakin tinggi tingkat teknologi. Kontroler Dua hal yang penting dari kontroler adalah memori dan sistem kontrol. Robot ini memiliki hanya satu pekerjaan khusus secara terus menerus. 626 . hydrolik dan elektrik).

press (tekan) dan sebagainya. cat. Robot jenis ini memiliki tugas yang lebih komplek dan adanya wrist dapat meningkatkan Cycle time operasi robot. Robot dapat menangani beban melalui wrist sampai 150 kilogram. Open loop tidak bisa mengendalikan kesalahan yang terjadi dalam lingkungan karena tidak memiliki umpan balik (feedback). § Cycle Time Cycle time 1. Memiliki lebih banyak sumbu pada manipulatornya dan memiliki area kerja yang luas sehingga jangkauan gerakannya menjadi lebih besar. Didalam wrist bisa diletakkan bermacam macam efektor. sebagai contoh.§ Kontroler Menggunakan sistem kontrol terbuka (open loop) dan memiliki kapasitas memori yang kecil. Pada gerakan berputar dapat mencapai 150 centimeter / detik. § Payload Robot memiliki memiliki kapasitas maksimal beban yang lebih tinggi dari low teknologi.0 detik dengan pencapain gerakan manipulator 25 sampai 65 centimeter. § Sumbu Robot memiliki 4 sampai 6 sumbu sehingga derajat kekebasan robot lebih tinggi. efektor las. Payload Sumbu Kontroler Gambar 8.4. Wrist adalah suatu peralatan sebagai dudukan dari efektor.2 Teknologi Medium Robot dari jenis ini memiliki fitur yang lebih canggih dari jenis sebelumnya. Hubungan antara akurasi dengan kerja yang komplek menimbulkan tingkat akurasi yang menurun. Robot jenis medium teknologi memiliki sumbu yang lebih 627 . Dilengkapi dengan wrist pada ujung lengannya. Robot low technology 1.

§ Aktuasi § Kontroler banyak karena tugasnya yang semakin komplek sehingga akurasi dan pengulangan pergerakan bernilai lebih rendah dari jenis robot teknologi rendah yang memiliki sumbu sedikit. Memiliki memori yang cukup besar dan sistem kontrol menggunakan loop tertutup. Akurasi robot jenis medium teknologi berkisar 0.3 milimeter. sehingga apabila ada kesalahan pada lingkungan maka robot dapat membandingkan antara input dan output untukmenentukan kerja selanjutnya Gambar 9. Robot dalam proses manufactur 628 . Robot memiliki 2 jenis penggerak yaitu hidrolik dan elektrik. Hal tersebut disebabkan beban yang dikerjakan lebih berat. Robot las pada jalur perakitan Gambar 10.2 milimeter hingga mencapai 1.

3 Robot Teknologi Tinggi Robot dengan teknologi tinggi dapat kita temui pada material handling. polar d artikulasi koordinat. 2. Memiliki payload sampai 150 kilogram dan cycle time dan akurasinya hampir sama dengan robot jenis medium. Operasi dan Fitur Manipulator Bagian sebelumnya telah kita definisikan tentang komponen dasar robot. manipulator. yaitu : kontroler. Manipulator bergerak dalam jangkauan area tertentu yang disebut dengan kerja jangkauan. Masing-masing komponen harus ada pada sebuah sistem robot agar robot dapat bekerja dengan baik. bisa berupa pneumatik. jangkauan area dan penghubung Geometri lengan manipulator dibagi menjadi empat sistem koordinat yaitu: kartesian koordinat. pengecatan. Bagian ini akan menjelaskan tentang operasi dan fitur dasar dari manipulator yaitu gerakan sumbu lengan. Masing masing penggerak (drive) memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing. hidrolik dan elektrik. press transferring. Kerja jangkauran manipulator dihitung dengan kebebasan mutlak atau tidak adanya penghalang. pengelasan. wrist.0 0. 629 . hidrolik.0 2.05 – 0025 2 – 1. silindrikal. silindrikal koordinat dan artikulasi koordinat.1. Robot jenis ini memiliki sumbu hingga mencapai 16 atau bisa melebihi. Hidrolik dan Elektrik elektrik Memori rendah. Gerakan tersebut diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian.10 1. lup tertutup Tinggi 7 – 16 150 lebih 1.4. polar koordinat. Memori open loop sedang. Manipulator digerakan oleh penggerak.1 Sistem Koordinat Lengan Robot (Arm Geometry) Sumbu robot bergerak dalam rangka untuk menyelesaiakan suatu kerja. Properties teknologi robot Rendah Medium 2–4 5–6 3 – 13 14 – 150 5 . Secara ringkas data dari jenis teknologi robot dapat di rangkum dalam table berikut dibawah ini : Tabel 1. Elektrik dimaksudkan mudah dalam menentukan posisi sedangkan hidrolik dimaksudkan untuk tugas yang sangat berat. penggerak.3 Pneumatik.4 Hidrolik dan elektrik Memori besar. Masingan …. – 0. dan sumber power . Tipe aktuasi dengan menggunakan penggerak elekrik dan hidrolik. lup tertutup Sumbu Payload Cycle time Akurasi Aktuasi Kontroler 2.

robot ini dalam setiapgerakannya selalu melakukan rotasi pada lengan-lengannya (lihat gambar 11. a) translasiara lain: gerak full translasi (FT). Sistem Persumbuan Robot Gambar 12. semua gerakan lengan dalam bentuk lurus (lihat gambar 12). antara lain:. diawali dengan rotasi selanjutnya lengan robot bergerak translasi dan translasi (lihat gambar 13). c) gerakan lengan robot full rotasi (FR). Gerak Robot Total Translasi (TT) 630 .masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator. dan 14). translasi (RTT). Gambar 11. Pergerakan ini disebut dengan geometri lengan (arm geometry). Sitem pergerakan lengan robot dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian. b) gerak rotasi. translasi.

Gerak Robot Full Rotasii.1 Koordinat Kartesian Sesuai dengan sudut pandang matematika. Gambar 15. Manipulator bergerak melalui ruang hanya melalui bidang X. 631 . Translasi (RTT) 2.Gambar 13. . bidang X bidang Y dan bidang Z. masing-masing bidang tersebut dihubungkan dengan gerakan lengan manipulator dari titik awal sehingga akan membentuk suatu titik tertentu dengan gerakan lurus vertical maupun horizontal. X. Translasi (RTT) Gambar 14. koordinat kartesian di kenal dengan tiga sumbu dasar.1. Gerak Robot Rotasi. Y dan bidang Z di identifikasi sebagai gerakan manipulator. Y dan Z sebagai sarana untuk mencapai target.Translasi. menjelaskan tentang tiga sumbu dasar pada sistem koordinat kartesian.

2 Silindrikal Koordinat Koordinat silinder membentuk tiga derajat kebebasan atau tiga sumbu yaitu ? (theta) atau sumbu rotasi. 632 . sisa sudut 600 disebut dead zone atau daerah mati. sehingga tidak menimbulkan kerusakan akibat benturan. Aplikasi koordinat kartesian 2. turun).1. sedangkan R membentuk gerakan horizontal atau maju dan mundur.Gambar 15. Masing masing gerakan tersebut membentuk volume silinder sehingga disebut koordinat silinder. Daerah ini berfungsi sebagai operasi keamanan robot apabila terjadi kesalahan gerakan. mundur) dan vertica l(naik. ? (theta) atau gerakan rotasi biasanya memiliki sudut 3000. Bidang R dan bidang Z membentuk gerakan horizontal (maju. Gerakan tersebut disesuaikan dengan kerja robot. Pada sebagian aplikasi koordinat silindrikal yang diterapkan pada sistem robot. Bidang Z membentuk gerakan naik dan turun atau vertical.

Apabila antara theta dan beta dibalik posisi. gerakan ß (beta) atau gerakan melingkar dan sumbu R gerakan horizontal. Prinsip koordinat polar dan aplikasinya 633 . Gambar 17 menunjukan gerakan sumbu polar.Gambar 16.1. yaitu sumbu beta diletakan berbatasan dengan base manipulator dan maka sumbu R akan menjadi sumbu Z atau bergerak secara vertical Gambar 17. Sistem koordinat ini juga disebut sebagai sistem spherical atau sistem bola karena jangkauan area dari robot membentuk volume bola.3 Koordinat Polar Koordinat polar memiliki tiga sumbu yaitu ? (theta) atau gerakan rotasi. Prinsip Koordinat silindrikal dan aplikasinya 2. Sumbu ? (theta) dan sumbu R memiliki persamaan sumbu ? ( theta) dan sumbu R pada koordinat silindrikal.

1 Penggerak Pneumatik Dalam industri robot.2 Rotasi Wrist Dari keempat koordinat sistem yang telah kita pelajari menjelaskan tentang gerakan manipulator dalam sistem robot.2. 2. terdapat 30% penggunaan sistem penggerak pneumatik. pada sistem robot terdapat tiga jenis sistem penggerak. Penambahan wrist juga meningkatkan luar area jangkauan robot. Sumbu W memberikan pergerakan seperti sumbu ß (beta) yang terdapat pada koordinat polar. Sumbu U berputar vertikan seperti sumbu W. Pneumatik digunakan untuk menggerakan sumbu dengan mengalirkan udara bertekanan.3. Penambahan dari sumbu pada wrist ini memberikan pergerakan yang sangat fleksibel untuk robot. Masing-masing sumbu bisa dibuat ganda. Sistem pneumatik ini lebih murah dibandingkan dengan sistem penggerak hidrolik maupun elektrik.3. Koordinat artikulasi yang memiliki gerakan rotasi yang dihasilkan dari sumbu ? (theta). Maka penambahan wrist (pergelangan tangan) pada ujung lengan memberikan tambahan mobilitas untuk gerakan robot. Koordinat ini memiliki 2 sumbu yang dapat melipat yaitu pada sumbu W dan sumbu U. Penggerak ini bekerja hampir sama dengan pneumatik. sehingga untuk sistem robot yang membutuhkan muatan yang besar. Dalam mendesain wrist tergantung pada kebutuhan aplikasi robot.2 Penggerak Hidrolik Penggerak hidrolik digunakan 45 % dalam industri robot. sehingga apabila gerak rotasi antara sumbu U dan sumbu W digabungkan akan membentuk gerakan yang sangat fleksibel.4 Koordinat Artikulasi Koordinat artikulasi adalah koordinat yang terdiri dari tiga sumbu yaitu : ? (theta). Kelemahan dari sistem penggerak ini adalah terbatasnya jumlah muatan / payload yang dapat diterima. hidrolik dan elektrik. Pada bagian atasnya terdapat sumbu W yang bergerak rotasi vertical. sehingga koordinat ini menjadi lebih fleksibel dan banyak digunakan dalam industri. 2. perbedaanya terletak pada fluida yang digunakan.3 Sistem Pengerak Manipulator Untuk bisa beroperasi / bergerak maka manipulator membutuhkan sistem penggerak. Masing-masing gerakan memiliki keterbatasan. Pada hidrolik menggunakan 634 . 2. 2. Udara tersebut masuk ke dalam silinder pneumatik dan menggerakan mekaniknya. yaitu : pneumatik.1. sumbu W (lengan atas) dan sumbu U (siku). sebagai contoh desain wrist dengan dua roll dan tidak memiliki pitch atau dua pitch dan satu dua roll dan dua yaw. penggerak ini tidak dapat digunakan.

4 Jangkauan Kerja Hal yang paling penting untuk diketahui adalah seberapa jauh robot dapat menjangkau objek.cairan (minyak) untuk menggerakan silinder hidrolik. 2. sedangkan jangkauan kerja koordinat artikulasi adalah bentuk cabikan (tearshape).karena menggunakan sistem derajat pada putarannya. maka fluida/cairan akan mengotori lantai dan dapat menyebabkan kondisi yang tidak aman. Penggerak hidrolik mempunyai kemampuan lebih besar dari muatan yang dapat diterima oleh penggerak pneumatik. Koordinat kartesian memiliki jangkauan empat persegi pangjan (rectangular). Silinder terhubung dengan sumbu manipulator sehinnga timbul gerakan pada actuator. 635 . jangkauan kerja koordinat silindrikal adalah silindrikal. Gambar di bawah ini menunjukan jangkauan kerja dari sistem koordinat artikulasi pandangan samping. sehingga dapat meningkatkan jumlah beban. Kedua. pengecoran dan pengecatan. Pencapaian robot dalam menjangkau objek disebut dengan jangkauan kerja. hal ini terjadi karena desain robot memiliki fungsi yang komplek pada bagian bawah dibandingkan dengan baign atas. jangkaun kerja koordinat polar adalah bola (spherical). Pertama. Jangkauan kerja membentuk cabikan seperti bulan sabit. Manipulator penggerak hidrolik digunakan pada aplikasi las. Gigi reduksi juga berfungsi untuk meningkatkan tenaga putaran yang dibutuhkan robot. sistem ini memiliki harga yang sangat mahal. apabila terjadi kebocoran pada sistem. Penggerak elektrik dapat bekerja dengan beban dengan berat sekitar 3 sampai 80 kilogram.3 Penggerak Elektrik Penggerak elektrik menggunakan motor AC maupun DC. Masing masing jangkauan kerja berbeda tergantung dari koordinat geometri yang pernah kita pelajari terdahulu. 2. Penggunaan sistem penggerak hidrolik memiliki dua kerugian. Motor ini dihubungkan ke sumbu manipulator dengan memakai gigi reduksi untuk mengurangi jumlah putaran. Penggunaan motor stepper atau motor langkah dapat memberikan akurasi kerja robot.3.

Jangkauan kerja koordinat silindrikal pandangan atas Gambar di bawah menunjukkan jangkauan kerja dari sistem koordinat silindrikal pandangan samping. sehingga jangkauan kerja antara kanan dan kiri membentuk sudut 142. Jangkauan kerja membentuk sudut 2850 dengan titik awal pada 00. Jangkaun kerja koordinat silindrikal Gambar di bawah menunjukkan jangkauan kerja sistem koordinat melalui pandangan atas.50. Daerah mati atau 636 . Gambar 19. Dapat kita lihat deadzone (daerah mati) terletak pada bagian belakang robot dan membentuk sudut 750.Gambar 18. Robot pada contoh tersebut memiliki titik awal pada ketinggian 700 milimeter di atas lantai dan memiliki jangkauan kerja atas setinggi 500 milimeter.

Robot memiliki jangkauan kerja sebesar ±1500.dead zone merupakan daerah yang tidak bisa dikerjakan oleh operasi robot. 637 . ke arah depan sepanjang 500 milimeter. Mulai …. Gambar 21. Aplikasi Robot Terdapat banyak aplikasi robot kita temukan di dunia industri. Jangkauan kerja robot sisi samping Gambar di bawah memperlihatkan jangakaun kerja robot sisi atas. Gambar 20. Jangkauan kerja sisi atas 3. jangkauan kerja sumbu R. daerah mati sebesar 600. bahkan sebagian besar industri sudah menerapkan teknologi ini.

Material tersebut harus berpindah dengan posisi yang tepat dan dalam waktu yang tepat pula. Proses ini memindahkan material dari satu lokasi ke lokasi lainya. Bila terjadi keterlambatan waktu dalam pemindahan material maka material yang lain akan menumbuk dibelakang material sebelumnya. robot digunakan sebagai perubah batang uranium sehingga tidak menimbulkan radiasi pada manusia. menggunakan tenaga manusia sehingga kurang efektif dan efisien. Konveyor memindahkan material dari lokasi 638 . robot akan mendeteksi setiap material yang melewati ataupun menyentuh sensor. Robot berfungsi memindahkan material tersebut dengan waktu yang akurat pada lokasi yang tepat. Area kerja Gambar 22.dari industri perakitan. Aplikasi di atas sebelum ditemukannya sistem robot.1 Penanganan Material Salah satu aplikasi yang paling banyak digunakan dalam indsutri adalah proses dimana material-material harus dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainya. Robot material handling Pada gambar diatas menunjukan operasi material handling pada sebuah area kerja. Proses tersebut dinamakan material handling atau penanganan material. Beberapa robot yang dilengkapapi dengan sensor. Robot seperti ini memberikan manfaat pada tempat yang memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi. Material handling/penanganan material sering dilakukan pada semua jenis industri. Robot las pada industri kendaraan bermotor melakukan pengelasan pada t tik-titik tertentu secara terus-menerus i tanpa rasa kebosanan dan sakit seperti halnya manusia. robot digunakan sebagai peralatan yang berfungsi untuk bekerja secara terus menerus dan berulang dengan model yang sama. 3. Penerapan robot pada proses material handling sangat menguntungkan dari segi waktu dan akurasi. Pada reaktor nuklir. Contoh aplikasi material handling adalah ketika sebuah material yang berjalan pada konveyor setiap beberapa detik harus dikeluarkan dan ditempatkan pada lokasi yang berbeda.

palletizing dan line tracking. Pergerakan manipulator tersebut bisa menggunakan mekanisme rel atapun roda. Robot palletizing 3. Line Tracking 639 . Robot memindahkan lokasi material dari lokasi konveyor lama menuju konveyor baru yang akan diproses pada area kerja yang lain. Pada palletizing. Gambar 23 menunjukkan proses palletizing Gambar 23.1 Palletizing Palletizing yaitu apabila suatu robot dalam industri melakukan kerja dengan memindahkan material dari satu lokasi ke lokasi lainnya tanpa robot melakukan gerakan berpindah tempat.2 Line Tracking Berbeda dengan palletizing. Manipulator robot harus bisa menjangkau material dari konveyor untuk di pindahkan pada konveyor yang lain. 3. tertanam pada lantai ataupun pada posisi yang tidak dapat berubah posisi. posisi base manipulator kaku. Gambar 24. Pada gambar tersebut juga diperlihatkan tentang jangkauan robot pada material.1.area kerja lain menuju area kerja sebuah robot material handling.1. robot material handling dengan tipe line tracking memiliki base manipulator yang dapat bergerak. Aplikasi robot material handling di bagi menjadi dua.

Robot perakitan dengan pelangkap kamera 3. • Komponen dilokasikan dengan area tertentu. Teknologi untuk melakukan pengecatan ini dapat secara manual maupun secara otomatis. Untuk melokasikan komponen tersebut. komponen yang akan dirakit harus lokasikan pada sekitar robot. yaitu : • Uap dan kabut pada udara. Cara ini. 640 . mur.3 Pengecatan Sebagian besar produk industri dari material besi sebelum dikirim ke bagian penjualan harus terlebih dahulu dilakukan pengecatan sebagai akhir dari proses produksi. Penggunaan proses ini secara manual dapat menimbulkan keadaan berbahaya. Gambar 25. • Komponen dilokasikan pada posisi yang diketahui oleh robot. Robot telah mengetahui kemana akan pergi dan mengambil komponen. Sistem visi dari robot digunakan sebagai sensor input untuk tujuan mengambil komponen. Proses perakitan menggunakan baut. sekrup ataupun keling. Fungsi ini sangat bermanfaat bagi industri karena lebih efektif dan efisien untuk mempercepat produksi. Dalam rangka melaksankan tugas perakitan.2 Perakitan Robot assembly menggabungkan beberapa komponen untuk menjadi komponen baru atau menggabungkan komponen sub assembly menjadi komponen sub assembly yang lebih kompleks.3. ada beberapa cara yang dilakukan robot untuk melakukan proses tersebut. yaitu dengan menggunakan robot. robot menggunakan sensor untuk memberi petunjuk tentang lokasi komponen dan mengambilnya untuk diletakan pada lokasi baru. Cara ini mirip dengan cara kedua perbedaan terletak pada orientasi robot. • Komponen dilokasikan pada posisi dan orientasi yang jelas.

Melakukan proses pengecatan secara manual memberikan dampak negative berupa kebakaran. bodi kendaraan dan komponen lain pada bidang otomotif. perbandingan kualitas dari hasil pengecatan antara tenaga manusia dengan robot sangat kontras. Jenis robot aplikasi dalam pengecatan 641 . Gambar 26. Energy dibutuhkan untuk mengontrol proses ini sehingga dengan robot ini akan mengurangi penggunaan energi. Pada proses pengecatan manual. Suara tersebut dapat menimbulkan gangguan pendengaran bagi telinga manusia • Resiko kebakaran. kabut yang dihasilkan dari proses pengecatan merupakan materi yang mudah terbakar sehingga potensi untuk terjadinya kebakaran.• Bunyi dari nosel. • Konsisten dalam menyelesaikan pekerjaan. alat penyemprot menghasilkan suara yang gaduh yang keluar dari nosel. sehingga pertukaran udara menjadi lebih baik. Keutungan dari penggunaan robot pengecat adalah : • Mengganti operator dari lingkungan yang berbahaya. • Pemakaian energi yang rendah. produk porselin dan berbagai macam produk dalam industri. Hal tersebut dikarenakan tenaga manusia memiliki beberapa aspek yang dapat menyebabkan pekerjaan menjadi tidak konsisten seperti : kebosanan dan sebagainya. Pada penggunaan robot ini. produk kayu olahan seperti mebel. Robot ini banyak digunakan pada produk industri seperti bodi mesin. kabut hasil pengecatan akan mudah terhirup sehingga akan menimpulkan potensi kanker dari pekerja. penggunaan bahan dasar proses pengecatan menjadi lebih efektif. keracuanan dan sebagainya. maka penggunaan robot sebagai peralatan untuk prooses pengecatan merupakan alternative yang sangat bermanfaat bagi industri. Oleh karena berbahayanya sistem pengecatan secara manual. • Mengurangi pemakaian material cat. • Potensi resiko kanker. ventilasi lingkungan harus dijaga dalam keadaan yang segar.

Sebagian besar robot menggunakan manipulator dengan koordinat artikulasi yang memiliki enam sumbu sampai sepuluh sumbu. Robot ini menggunakan koordinat artikulasi yang memiliki 6 sumbu. Peningkatan ini disebabkan oleh factor kelelahan. • Kualitas yang sangat baik. hal ini dimaksudkan untuk menampung program kerja yang dapat dikerjakan pada berbagai macam produk. penggunaan robot akan menghilangkan rasa ketidaknyamanan. Robot ini dibagi menjadi jenis yaitu las busur dan las titik. pengelasan menggunakan las secara manual memiliki produktifitas yang rendah. kelelahan dan lingkungan yang berbahaya. Sistem penggerak robot ini sebagian besar menggunakan penggerak hidrolik.4 Pengelasan Robot pengelasan secara luas telah digunakan dalam industri. peningkatan kualitas produk dihubungkan dengan akurasi y ang tinggi dan kerja yang tepat. Dengan memiliki sumbu banyak. Robot tidak akan mengalami kelelahan seperti halnya pada manusia. hal ini dimaksudkan uap racun yang keluar dari cat tidak akan menimbulkan kerusakan pada penggerak sistem ini. 3. • Tingkat keamanan yang tinggi. Berbeda dengan penggerak elektrik yang dapat menimbulkan hubungan singkat pada rangkaiannya sehingga motor listrik dapat mengalami kerusakan. Aplikasi pada robot pengelasan Keuntungan dari robot las adalah : • Produktifitas tinggi. dengan menggunakan aplikasi robot maka produktifitas akan meningkat. 642 . Dengan menghilangkan sebab di atas yang sering terjadi pada proses las manual maka lingkungan pengelasan dengan menggunakan robot menjadi sangat aman. apalagi bila prosesnya terjadi secara terus menerus dengan proses yang sama. Kontroler menggunakan memori yang cukup tinggi. Gambar 27. robot dapat menjangkau berbagai area objek.

…. bahan mentah dan peralatan-peralatan lain. Objek ini merupakan sebuah komponen yang akan dipindahkan o leh robot dapat berupa kertas. Kerja ini dilakukan oleh sebuah manipulator yang dilengkapi oleh efektor. Penggunaan efektor yang bervariasi dalam industri dapat di bedakan menjadi dua bagian. yaitu : 4. sebagai fungsi dari robot. Gambar 28. Sehingga dalam menerapkan efektor pada sistem robot. Efektor dapat juga diadaptasi dengan membeli secara komersil yang telah tersedia di pasaran untuk diterapkan secara langsung. botol. Efisiensi kerja penggunaan robot pada aplikasi pengecatan 4. Efektor merupakan peralatan khusus untuk tujuan khusus.Pada pekerjaan pengelasan busur secara manual dengan tenaga manusia tidak bisa dijaga akurasi dan konsistennya. perlu pertimbangan khusus. Bisaanya efektor yang didesain secara khusus oleh industri sesuai dengan tujuan industri tersebut. Efektor ini dipasang pada ujung manipulator atau pada wrist. 643 .1 Gripprer Gripper adalah sebuah efektor yang berfungsi untuk menggenggam dan menahan objek. sehingga penggunaan aplikasi robot akan meningkatkan kualitas hasil pengelasan. Efektor Tujuan utama dari sistem robot adalah untuk melakukan kerja tertentu dalam industri.

masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai dengan tujuan dari sistem robot. yaitu : gripper tunggal dan gripper ganda. 4.Gambar 29. Aplikasi tangan menggunakan gripper mekanik 644 . Gripper tunggal diartikan bahwa hanya ada satu peralatan untuk menggenggam dan menahan yang dipasang pada wrist. Jenis gripper menggunakan penggerak pneumatik. hidrolik dan elektrik.3 Jenis Gripper 4. gripper dapat diklasifikasikan menjadi dua. Finger ini dapat dilepas dan dipasang sehingga sangat fleksibel pemakaiannya. Gambar 30. Sumber tenaga yang berikan pada gripper ini bisa berupa pneumatik.2 Klasifikasi gripper Menurut jumlah peralatan penggenggam dan penahan. 4.1 Gripper Mekanik Mekanikal gripper didesain untuk menggenggam dan menahan objek dengan memberikan kontak pada objek. Bisaanya menggunakan finger/jari mekanik yang disebut dengan jaws.3. Gripper ganda diartikan bahwa ada dua peralatan yang berfungsi sebagai penggenggam dan penahan objek yang dipasang pada wrist.

Aliran 4. Sistem vakum menghasilkan hisapan pada mangkok.2 Gripper Ruang Hampa / Mangkok Vakum Gambar 31. Persyaratan ini harus dipenuhi sehingga gripper ini dapat bekerja dengan baik. bersih. yaitu : mangkok dan sistem ruang hampa. Pembangkit kevakuman 3. Aplikasi griper vakum Mangkok vakum disebut juga mngkok hisap digunakan sebagai gripper yang berfungsi untuk mengangkat dan menahan objek.4. Gambar 32.3. dan membuat tekanan negatif atau menghisap sehingga objek akan menempel pada mangkok. Contoh sistem vakum Keterangan gambar 28 : 1. Mangkuk berbatasan dengan objek dan berfungsi untuk menggenggam dan menahan objek. Objek yang ditangani oleh jenis gripper ini adalah objek rata. yaitu pompa vakum dan 645 . Udara terkompresi 2. Penyaring 5. mangkok Gripper jenis ini memiliki dua komponen. Mangkok terbuat dari karet. dibagi menjadi dua. dan halus.

sehingga menimbulkan kevakuman. Berbeda dengan pompa vakum sistem venturi menggunakan sebuah nosel yang dilewati oleh udara. dari kecil hingga komponen yang besar. Lingkungan yang mempunyai daya ledak tinggi akan membahayakan arus listrik yang mengalir pada elektromagnet.3 Gripper Magnetik Gripper magnet bekerja karena efek bidang magnet. maka kemungkinan besar akan tertarik. Electromagnet menggunakan sumber arus dan lebih mudah untuk dikontrol dibandingkan dengan menggunakan magnet permanen.sistem venturi. Pada gripper magnet menggunakan electromagnet saat menghisap dan melepas komponen yang akan ditangani menggunakan metode on dan off arus yang mengalir pada electromagnet. Pompa ini memberikan kehampaan yang tinggi dengan biaya yang murah dibandingkan dengan sistem venturi. 646 . Aplikasi gripper magnet Keuntungan permanen magnet adalah tidak dibutuhkannya arus tambahan yang berarti akan menghemat energi pada sistem robot. sehingga menimbulkan hisapan atau tarikan pada komponen yang akan di handel. Gambar 33.3. yaitu menggunakan electromagnet dan menggunakan maget permanen. Permanen magnet sering digunakan pada penanganan material yang berada pada lingkungan berbahaya seperti ledakan. kemungkinan tertariknya material lain berasal dari besi. Kelemahan sistem ini adalah kesulitan pada pengontrolan. 4. Pompa vakum menggunakan piston (dengan menggunakan motor listrik) untuk membuat hampa udara. Keuntungan menggunakan gripper magnetic adalah : • Ukuran komponen yang bisa bervariasi. Gripper magnetic dapat dibagi menjadi dua kategori. Saat gripper mendekat pada komponen atau objek untuk menangkat.

• • Mempunyai kemampuan untuk menangani logam yang berlubang. kecepatan menjadi bentuk variabel yang lain. 4. temperatur. Sensor tersebut akan menghitung dan menganalisis informasi yang diterima oleh robot. Setiap sensor harus dilakukan kalibrasi sebelum digunakan. tergantung dari jumlah gripper yang dipasangkan pada wrist.4 Sensor Robot Dalam melakukan kerja robot membutuhkan kemampuan untuk merasakan objek. tekanan. maka robot memerlukan sensor sebagai peralatan untuk mengukur. sensor adalah sebuah transducer yang digunakan untuk mengkonversi besaran fisik di atas menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa dengan rangkaian listrik tertentu. 647 . yaitu : sinyal analog dan sinyak digital.3. Kalibrasi adalah suatu prosedur yang berhubungan antara variabel yang diukur dan sinyal output yang dirubah/ konversi sehingga hasil dari pengukuran sensor sesuai dengan keadaan yang nyata. Pada griper vakum tidak bisa menangani hal tersebut. Dapat menangani beberapa komponen. Sistem kerja griper menggunakan magnet 4.4 Sensor Dan Transducer Transducer adalah peralatan yang merubah variabel fisik seperti gaya. Sensor dan transduncer diklasifikasikan menjadi dua jenis menurut bentuk sinyal yang dikonversi. Gambar 34. Seperti halnya pada manusia. yang memiliki panca indra. sehingga akan timbul kerja akibat dari informasi tersebut. Sedangkan.

Contoh sederhana sensor ini dalam aplikasi robot dapat ditunjukan pada sebuah konveyor berjalan tegak lurus di depan robot dan sensor (limit switch). perubahan tekanan dan perubahan elektromagetik yang disebabkan karena adanya objek yang bersinggungan dengan sensor. Ketika 648 . Sensor non-kontak dapat berupa. Sensor digital adalah seuatu sensor yang memberikan output sinyal digital sensor digital ini lebih banyak digunakan dalam industri.§ § Sensor analog yaitu suatu sensor yang memberikan sinyal analog seperti tegangan dan arus. peralatan optik seperti LED (Light Emitting Diode) yang dipasang pada manipulator robot. sensor non-kontak bekerja tidak d engan sentuhan objek ada. karena dapat digunakan bersama komputer digital dan sensor analog. sehingga akan mengaktifkan/menonaktifkan sensor. Komponen yang berjalan pada sensor pertama kali akan menyentuh sensor. melainkan menggunakan radiasi elektromagnetik yang ditimbulkan oleh sensor. Berbagai macam tipe limit switch 4. 4.5 Sensor Kontak Kontak sensor adalah sensor yang bekerja dengan sentuhan.6 Sensor Non-Kontak Berbeda dengan sensor kontak. Sensor akan mengirimkan sinyal elektrik menuju kontroler dan kontroler akan mengukur dan menghitung data informasi kemudian akan mengirimkan perintah kepada robot untuk melakukan kerja tertentu. Sensor non-kontak mengukur perubahan temperatur. Sinyal ini dapat di artikan nilai variabel fisik yang diukur. Sejajar dengan LED dipasang alat penerima atau receiver cahaya. Gambar 35.

Data tersebut dikirim ke kontroler dan akan diproses. Sensor non-kontak aplikasi warna Pada gambar di atas sebuah konveyor berjalan membawa material dengan berbagai macam warna. Photoelectric Gambar di atas merupakan aplikasi dari sensor non-contact jenis photoelektrik. Apabila pancaran terhalang oleh material maka sinyal akan dikirimkan ke kontroler sehingga kontroller akan memberikan reaksi pada sistem. Gambar 37. Terdapat dua bagian sensor. Transmiter memancarkan cahaya yang akan diterima emitter. maka ada perubahan sinyal dari 0 (off) ke 1 (on). Akibat dari proses tersebut. Gambar 36.komponen atau objek yang melewati sensor tersebut akan sehingga cahaya yang keluar dari LED tidak bisa diterima oleh receiver. transmitter dan emitter. Sensor telah memiliki warna tujuan yang tersimpan di dalam memori sensor. 649 . hasil proses ini akan dikerjakan oleh manipulator robot untuk melakukan tindakan tertentu. Apabila warna tujuan dikenali oleh sensor maka sensor mengirimkan sinyal kontroler sehingga tindakan segera dilakukan oleh manipulator.

Transmitter data Sebuah manipulator dilengkapi dengan infra merah dan mendeteksi material untuk dilakukan penanganan.Gambar 38. Saat material menerima pancaran tersebut maka material akan memancarkan kembali ke transmitter. Sebuah kontroler/komputer melakukan tindakan pengambilan material ketika ketika sinyal dari sensor telah mendapatkan data. Transmitter menerima pancaran suara kembali dan menghitung jarak antara transmitter dengan material. Sensor jarak Sebuah transmitter suara dipancarkan pada sebuah material atau objek. Gambar 39. 650 .

apakah objek tersebut merupakan objek yang menjadi harapan kontroler atau tidak. Strain gages 651 .Gambar 40. tinggi t. Ketika komponen atau objek yang berada tepat di bawah kamera.7 Sensor Gaya Dan Momen 4.1 Strain Gages Sensor ini mengukur ketegangan pada material dengan menggunakan perubahan tahanan pada sebuah kawat. keteganan dapat dicari dengan perubahan tahanan ini. dan lebar w. Gambar 41. memiliki tahanan R terdeformasi atau berubah bentuk. Tahanan/ resistance dicari dengan menggunakan dimensi dari sebuah kawat. Data informasi tersebut akan diproses. Aplikasi sensor non-contact menggunakan kamera dan laser Contoh lain dari sensor non-kontak adalah sensor kamera.7. Kawat akan menjadi lebih panjang dan menurun luasannya. maka kamera akan mengirimkan data-data objek menuju kontroler. Perubahan bentuk tersebut akan menyebabkan perubahan pada tahanan R. Selanjutnya keputusan kontroler akan dikirim ke manipulator untuk menentukan langkar kerja dari robot. 4. Apabila kawat memiliki panjang l.

Strain gages uniaxial Kawat susunan rossete disusun dengan horizontal. Pada susunan uniaxial. Susunan ini menyebabkan kurang sensitive.8 Sensor Temperatur 4. Gambar 42 .7. Ketika kristal mengalami ketegangan jarak atom-atomnya pada kristal akan berubah.1 Resistive Temperature Detectors (Rtd) Ketika kawat dipanaskan maka tahanannya akan meningkat. percepatan dan tegangan dengan merubah kedalam sinyal listrik. sehingga temperatur dapat diukur menggunakan perubahan tahanan ini.8. Kristal ini berfungsi sebagai sensor gaya. Perubahan ini akan menyebabkan perubahan kapasitas pada kristal. Kawat susunan rosette pada strain gages 4.2 Piezoelectric Sensor piezoelectric merupakan peralatan yang menggunakan prinsip efek piezoelektric untuk mengukur tekanan. kawat disusun searah dengan arah teganan.Pada strain gages terdapat dua bentuk susunan kawat. juga digunakan sebagai sensor tekanan. Kejadian ini disebut piezoelectric. Gambar 43. yaitu uniaxial dan rosette. 4. Sensor piezoelectric merupakan peralatan yang sangat bermanfaat untuk pengukuran dalam berbagai proses. Sensor ini digunakan sebagai kontrol kualitas. dan proses kontrol serta proses lainnya dalam industri. Resistive Temperature Detectors (RTD) menggunakan kawat yang 652 .

variasi temperature dan tahanan bahan Material Platina Nikel Tembaga Variasi Temperatur(oC) -200 – 850 -80 – 300 -200 . 653 . Tegangan inilah yang akan digunakan sebagai penentuan temperatur. Termokopel menggunakan dua metal yang berbeda untuk membangkitkan tegangan. nikel. adalah : • • • • Tingkat akurasi yang tinggi Cocok untuk aplikasi dengan ketelitian yang tinggi Operasi kerja yang luas Penyimpangan kecil Keterbatasan RTD • • Dibandingkan dengan thermistor. ketia dua logam yang berbeda bersentuhan satu sama lain maka akan timbul perbedaan potensial atau biasa disebut tegangan.8.260 Tahanan (ohm) 100 120 10 Gambar 44. sehingga untuk perubahan temperatur yang kecil kurang sensitif. Material. RTD membutuhkan waktu relatif lama untuk respon balik 4.dibungkus menggunakan bahan isolator (penghantar panas yang buruk) sebagai pelindung. Kawat sensor ini bisa dibuat menggunakan tembaga. RTD memiliki kepekaan yang kurang.2 Termokopel Setiap logam memiliki potensial alami. atau paduan antara logam dan nikel. Berbagai macam aplikasi RTD Keuntungan resistive temperature detector (RTD). Tabel 2.

3 Thermistors Thermistor adalah sebuah peralatan yang memakai resistan/ tahanan untuk mengukur perubahan temperatur. Peralatan ini memiliki respon yang cepat terhadap perubahan temperatur.37.8.60 – 17. Thermistor merupakan peralatan yang murah dan terbuat dari manik-manik atau permukaan logam. Gambar 45.28 Chromel / -200 – 900 -8.78 konstantan Chromel / aluminium -200 – 1250 -5. sehingga temperatur dan resistan saling bertolak belakang. Ini terjadi karena panas akan mengurangi gerak elektron pada semikonduktor.74 Platina Tungsten0-2670 0 .97 – 50.63 Platina-rhodium / 0 – 1450 0 – 16. Ketika tahanan menurun maka maka temepratur akan meningkat. Jangkauan temperatue dan jangkauan tegangan Material Jangkauan Jangkauan temperature (oF) tegangan (mV) Tembaga / -200 – 400 -5.82 – 68. 654 ..07 rhodium/platina 4. Aplikasi thermokopel Tabel dibawah ini menunjukan jenis logam dan jangkaun temperatur dan jangkauan tegangan dari bermacam jenis logam Tabel 3.82 konstantan Besi / konstantan 0 – 870 0 – 42.

kekentalan dan tekanan.9. antara lain kecepatan aliran.1 Pressure Tube tekana n senso r tekana n tekanan tekanan a) pipa bourden Gambar 47. Saat tekanan di dalam pipa lebih tinggi dari pada tekanan lingkungan maka pipa akan meluruskan posisi sensor yang terpasang pada ujung 655 . kepadatan.9 Sensor Cair dan Gas Carian dan gas merupakan fluida yang di dalamnya bisa diukur dengan beberapa parameter. dan sensor terpasang kaku. Thermistor 4. Tabung tekanan b) baffle Gambar di atas menunjukan aplikasi sensor tekanan. Gambar (a) menunjukan gambar pipa bourden. 4.Gambar 46.

3 Pitot tubes Kecepatan aliran gas dapat diukur menggunakan apa yang dinamakan tabung pitot.9. Sedangkan pada jenis baffle posisi sensor. sehingga bida diperoleh data perbedaan tekanan tersebut. Sensor tekanan Aliran fluida Gambar 48. Aliran gas Tabung pitot penghubun g sensor Gambar 49. Tabung dengan diameter kecil ini dihubungkan dengan pipa ukuran lebih besar dan dihubungkan dengan tekanan. pada bagian tengah terdapat penyempitan.pipa dan akan menjadi panjang ketika tekanan naik.9.2 Katup Venturi Gambar di bawah ini menunjukan alat venturi. Pada bagian tengah terdapat bagian pipa yang dipersempit dan dihubungkan dengan pipa dengan diameter lebih kecil dan dipasang sebuah sensor atau tranducer yang akan mengetahui informasi tekanan. Ketika aliran fluida mengalir melewati sebuah pipa. terletak horizontal. Terdapat perbedaan tekanan antara bidang penyempitan dengan bidang sebelum penyempitan. Venturi 4. Tabung pitot untuk mengukur aliran gas 656 . 4.

Prinsip kerja tachometer dengan pulsa listrik yang dihasilkan. Ketika magnet bergerak mengikuti putaran poros di bawah koil maka akan timbul induksi listrik. Setiap magnet berputar sekali maka akan timbul pulsa listrik pada koil.4.10. Sisi bagian atas terdapat emitters yang mengeluarkan sinyal dan bagian bawah sebagai detektor sinyal. Gambar 51. 657 . magnet dan sebuah koil. Cahaya akan diterima detektor bila cakram berada pada posisi lubang. Dua bagian sisi yaitu sisi bagian atas dan sisi bagian bawah.1 Tachometer Tachometer adalah sebuah peralatan yang mengukur kecepatan putaran.10.10 Sensor Jarak dan Sudut 4. Cahaya yang keluar dari emitter akan diterima oleh detektor dengan melewati cakram. Aplikasi tachometer 4. Porost Vout t magnet Gambar 50. Dengan sebuah poros.2 Encoders Encoder adalah sebuah peralatan menggunakaan sebuah cakram yang berlubang dan berputar.

Gambar 52. Cakram encoder Encoder memiliki dua jenis yaitu : absolute encoder dan inkrimental encoder. Arus AC dialirkan 658 . Pada inkrimental encoder memiliki dua pulsa output yang berfungsi untuk menentukan jarak dan menentukan kecepatan.11 Linear Position 4. LVDT terdiri dari koil bagian tengan.11. inti magnetik bagian dalam.1 Linear Variable Differential Transformers (Lvdt) LVDT mengukur jarak linear dengan area yang terbatas.light emitters light detectors Shaftotates r Note: this type of encoder is commonly used in com puter mice with a r oller ball. Absolute encoder akan menghitung posisi dari poros untuk menentukan sudut poros. Gambar 53. Aplikasi encoder 4. inti magnet bagian luar. koil bagian kiri dank oil bagian kanan.

Saat koil bagian tengah tidak menerima induksi maka tidak ada tegangan yang keluar (sinyal keluar). LVDT juga digunakan untuk mengukur tekanan dengan menggunakan pipa Bourden. Sinyal keluar ini menunjukan posisi dari inti.12. Aplikasi LVDT Peralatan LVDT sangat akurat sebagai peralatan untuk menghitung jarak lurus.pada koil luar . 659 .1 PH Sensor ini dapat mengukur pH dalam jangkauan 0 sampai 14. Banyak digunakan dalam indsutri seperti mengukur dimensi sebuah komponen. Batang Penggerak AC Gambar 54. sehingga menimbulkan kemagnetan inti. Rangkaian LVDT Pada LVDT terjadi tarikan ke arah bidang magnet.12 Sensor Kimia 4. Sehingga akan menginduksi koil bagian kiri. Gambar 55. Kelemahan sensor ini adalah harga yang sangat mahal 4. sensor ini menggunakan elektroda yang bersentuhan dengan fluida.

1 Solenoids Solenoid merupakan aktuator yang terdiri dari koil atau gulungan kawat. 660 . Sumber energi aktuator dapat dibagi menjadi listrik dan fluida (udara dan minyak). perbedaannya terletak pada gerakan yang dihasilkan yaitu linear dan rotasi.2 Conductivity Pemgukuran conductivity dikakukan secara langsung dengan menggunakan tegangan dua pelat yang digabungkan di dalam cairan dan sekaligus mengukur arus. Cara kerja solenoid ini hampir sama dengan motor (AC/DC). tegangan off tegangan on Gambar 56. dan pegas sebagai pemegang inti besi. Masing-masing sumber energi disalurkan menuju aktuator sehingga menghasilkan kerja untuk sistem robot. Prinsip kerja solenoid Solenoid banyak diterapkan pada industri seperti solenoid elektro-mekanik (AC/DC) . Aktuator adalah sebuah peralatan yang menghasilkan gaya sebagai gerakan dari robot. 5.4. katup hidrolik. Pada gambar di bawah ini merupakan contoh aplikasi solenoid elektromekanik. Saat tegangan dimatikan makan posisi inti besi akan kembali seperti semula karena tarikan dari pegas. katup pneumatik. . 5 Aktuator …. inti besi sebagai piston gerak linier.12. Ketika tegangan masuk pada koil sehingga terjadi aliran arus maka koil akan berubah menjadi bidang magnet sehigga akan menarik inti besi ke dalam koil sampai menuju titik tengah koil. Conductivity banyak diaplikasikan di bidang induksi frekuensi tinggi sebagai alternative.

3 Silinders Silinder merupakan jenis aktuator yang digerakan oleh fluida. Gerak yang dihasilkan silinder akibat dari gerakan linear atau maju dan mundur dari sebuah piston. knop. Katup banyak digunakan pada industri ataupun transportasi. udara. penggerak magnet/solenoid. 661 . Pemilihan jenis silinder tergantung dari kerja yang dibebankan. Penggerak katup memiliki berbagai jenis. Katup memiliki berbagai macam jenis antara lain: Katup 3⁄4. Gambar 58. dll). silinder jenis hidrolik memiliki kemampuan kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan silinder jenis pneumatik. Katup 5. bisa berupa udara (pneumatik) ataupun minyak (hidrolik).Gambar 57. pedal. antara lain: Penggerak manual (tuas.2 Katup Katup adalah peralatan yang berfungsi untuk mengatur aliran fluida sebagai penggerak aktuator. Selenoid elektro-mekanik 5. Pembahasan tentang katup dapat dilihat pada pembahasan tentang Pneumatik/Hydrolik. dll). katup 5/2 dsb.

Motor DC terdiri dari armature yang berputar dan bagian magnet sebagai stator (bagian yang diam).3. 662 . Apabila fluida masuk ke dalam tabung akibatnya piston akan bergerak mendorong pegas sampai pada titik tertentu.5.1 Silinder Penggerak Tunggal Silinder jenis ini menghasilkan kerja dalam satu arah saja. fluida masuk melalui sisi depan sehingga mendorong piston bergerak mundur A. Prinsip kerja motor ini menggunakan magnet untuk menghasilkan kerja yaitu putaran. stator (bagian yang diam).3. Silinder penggerak ganda 5. 5. Pada stator terdapat inti magnet. Bagian magnet pada stator bisa menggunakan electromagnet dan magnet permanent. Arus yang datang melalui sikat sehingga akan menyebabkan motor berputar.2 Silinder Penggerak Ganda Pada silinder penggerak ganda terdapat dua lubang inlet dan outlet. Motor diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu AC (arus searah) dan DC (arus bolak balik). Silinder gerak tunggal 5.4 Motor Listrik Motor listrik terdiri dari rotor (bagian yang bergerak). Gambar 59.apabila fluida masuk dari sisi satunya maka akan mendorong piston bergerak pada titik A+ Gambar 60.4.1 Motor DC Motor DC merupakan salah satu jenis aktuator yang paling banyak digunakan dalam industri ataupun sistem robot. sedangkan pata stator terdapat koil yang berfungsi sebagai magnet listik apabila dialirkan arus.

Motor jenis ini memiliki karakteristik torque yang tinggi pada putaran awal. 663 . yaitu motor seri. motor shunt dan motor compound. § Pada motor compound memiliki kombinasi seri dan parallel pada armature dan electromagnet.Motor DC dengan stator electromagnet dibagi menjadi 3 jenis. sehingga sisi armature sebelah kiri menjadi magnet kutub utara dan sisi armature sebelah kanan menjadi magnet kutub selatan. Gambar 61c. Armature masih bergerak dan sampai pada posisi vertical tegak lurus tepat pada bidang non-magnet sehingga armature akan terus bergerak. § Motor seri memiliki artmature yang dihubungkan dengan electromagnet secara seri. Kemudian komutator membalik arus yang menuju armature sehingga bidang magnet pada armature berubah. § Jenis motor shunt antara armature dan electromagnet terhubung secara parallel. Pengaturan pada motor ini lebih mudah dibandingkan dengan motor seri. Armature bergerak sampai pada posisi kutub yang berpasangan (kutub utara armature dengan kutub utara stator dan kutub selatan armature dengan kutub selatan stator). Akibatnya kutub utara armature bertemu dengan kutub utara stator dan kutub selatan armature bertemu kutub selatan stator sehingga saling bertolak belakang dan menyebabkan armature (rotor) berputar kembali seperti pada posisi gambar 27b. Akibatnya magnet stator dan magnet rotor (armature)akan saling bertolak belakang sehingga armature akan berputar. Gambar 61b. Gambar 61. Prinsip kerja motor DC Gambar di atas dapat di jelaskan sebagai berikut : Gambar 61a. Saat koil atau lilitan dalam armature dialiri arus listrik maka armature akan menjadi magnet.

664 . Prinsip kerja motor AC Kelebihan dari motor AC adalah sebagai berikut : a. pompa. Gambar 62. Perawatan yang mudah Perawatan menjadi mudah karena motor AC tidak menggunakan sikat yang secara periodic harus diganti. Walaupun motor AC sebagian besar digunakan untuk memutarkan peralatan yang membutuhkan kecepatan konstan tetapi penggunaan dengan kontrol kecepatan mulai sering dilakukan dalam berbagai aplikasi industri. Efisiensi tinggi b. d. Motor AC dibuat untuk menghasilkan kecepatan yang konstan (tetap) sehingga untuk menghasilkan putaran yang bervariasi memerlukan sistem control yang cukup rumit. Walaupun motor AC memiliki kelemahan terebut di atas. tetapi aplikasi motor yang tidak membutuhkan variasi kecepatan banyak ditemukan dindustri.5. Harga yang murah dibandingkan dengan motor DC dikarenakan motor AC tidak menggunakan sikat sebagaimana sikat yang digunakan pada motor DC.4. Pada motor DC sistem control dibuat dengan mengatur tegangan sedangkan pada motor AC untuk menghasilkan kecepatan yang bervariasi dengan mengatur tegangan dan frekuensi.seperti kipas. Motor AC tidak menggunakan rectifier seperti pada motor DC. Kehandalan yang tinggi c.2 Motor Ac Motor AC merupakan jenis motor yang banyak digunakan pada dunia modern sekarang ini. Harga yang relativ murah. Disamping kelebihan diatas motor AC memiliki kelemahan pada pengontrolannya. mixer dan peralatan rumah tangga lainnya.

4. Perbedaan dengan motor DC biasa adalah motor stepper memiliki langkah putaran tergantung pada jumlah stator. Bagian motor steper. Gambar 64. mulai dari 0 0 sampai 90 0. Aplikasi motor AC 5. Gerak putaran rotor langkah demi langkah berputar menuju sesuai dengan kemagnetan stator. Apabila semua stator telah menjadi magnet maka rotor dapat menyelesaikan satu putaran.Gambar 63. Langkah menggunakan derajat putaran. Rotor akan bergerak bila masing masing stator menjadi magnet dengan dialiri arus listrik. rotor merupakan magnet yang permanent sedangkan pada bagian stator menggunakan electromagnet. Motor stepper/motor langkah 665 .3 Motor Steper Motor stepper atau bisa disebut motor langkah merupakan salah satu jenis dari motor DC.

motor steper variable relucatance dan jenis motor steper hybrid. rotor yang berupa magnet permanen (tetap) akan bergerak dari stator 2b kearah stator 1a.. 2b dan kembali ke 1a. 1b. Tes Formatif……………………………………………. Dengan menjumlahkan sudut maka akan didapat berapa posisi yang dikehendaki dari peralatan. 6. Besarnya langkah tergantung pada jumlah stator sehingga tidak ada peningkatan galat (error) dari posisi putaran motor. Apabila rotor diberikan tegangan secara bergilir ke stator 1a. Sebutkan dan jelaskan tiga komponen utama sistem robot? b. 2a. Gambar 65. 2b dan kembali ke 1a maka semua stator akan menjadi magnet secara bergantian. sebutkan dan jelaskan koordinat tersebut? 666 .Motor steper banyak digunakan dalam berbagai aplikasi peralatan yang memiliki ketapatan putaran yang tinggi seperti dalam bidang robot sehingga tidak memerlukan sensor untuk menentukan posisi.1 Soal-Soal a. akibatnya rotor akan bergerak satu putaran penuh dari 1a. 1b. Prinsip kerja motor stepper Pada gambar di atas. Robot bergerak dalam empat sumbu koordinat. Masing masing memiliki perbedaan dalam penggunaannya. 2a. Motor steper dibagi menjadi tiga jenis yaitu motor steper magnet permanent. Putaran tersebut menghasilkan gerakan dan sudut beberapa derajat. 6.

Bagian actuator ini akan dijelaskan pada selanjutnya. Bagian ujungnya terpasang efektor yang berfungsi untuk mengambil/mencekam material. Gambar 1 memberikan gambaran tentang bagian dasar dan bagian tambahan. hidrolik ataupun pneumatik. Apendage Apendage Base Bagian dasar manipulator bisa kaku terpasang pada lantai area kerja ataupun terpasang pada rel. 2) Kontroler Kontroler menyimpan informasi yang berkaitan dengan data data robot. Bagian tambahan merupakan perluasan dari bagian dasar. Actuator bisa menggunakan elektrik. Informasi tersebut kemudian disimpan didalam memori. yaitu bagian dasar dan bagian tambahan. Sistem robot memiliki memiliki tiga komponen dasar. 1) Manipulator Manipulator memiliki dua bagian.2 Kunci Jawaban a. Actuatuator atau sistem drive menyebabkan gerakan yang bervariasi dari manipulator. Manipuator digerakan oleh actuator atau disebut sistem drive. Kontroler berfungsi untuk mengontrol pergerakan dari manipulator.6. 3) Power Suply (Catu Daya) Power supply adalah sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat 667 . kontroler. dan Power (daya). Kontroler sendiri diatur oleh sebuah informasi atau program yang diisikan dengan menggunakan bahasa pemgrograman tertentu. Data dalam memori dapat di keluarkan atau di edit sesuai dengan yang dibutuhkan. Rel berfungsi sebagai path atau alur sehinga memungkinkan robot untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam satu area kerja. dalam hal ini data gerakan robot yang telah deprogram sebelumnya. yaitu : Manipulator. bisa disebut juga lengan /arm.

Pergerakan ini diebut dengan geometri lengan (arm geometry). 1) Koordinat Kartesian Sesuai dengan sudut pandang matematika. Y dan Z sebagai sarana untuk mencapai target. 4) Efektor Efektor dapat ditemukan hampir semua aplikasi robot. sedangkan R membentuk gerakan horizontal atau maju dan mundur. bidang X. penyemprot cat ataupun hanya berupa penjempit objek. koordinat kartesian di kenali dengan tiga sumbu dasar. b. hidrolik ataupun ketiganya. Gerakan sumbu robot diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian silindrikal. Sistem koordinat ini juga disebut sebagai sistem spherical atau sistem bola karena jangkauan area dari robot membentuk volume bola. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot. Sebagai contoh efektor dapat berupa peralatan las.bekerja. Koordinat ini memiliki 2 sumbu yang dapat 668 . yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. polar dan artikulasi koordinat. walaupun keadaannya bukan merupakan komponen dasar dari sistem robot. gerakan ß (beta) atau gerakan melingkar dan sumbu R gerakan horizontal. Bagian kontroler menggunakan elektrik sedangkan bagian manipulator bisa menggunakan elektrik. Bidang Z membentuk gerakan naik dan turun atau vertical. pneumatik. X. 4) Koordinat Artikulasi Koordinat artikulasi adalah koordinat yang terdiri dari tiga sumbu yaitu : ? (theta). Y dan bidang Z di identifikasi sebagai gerakan manipulator. 3) Koordinat Polar Koordinat polar memiliki tiga sumbu yaitu ? (theta) atau gerakan rotasi. masing masing bidang tersebut dihubungkan dengan gerakan lengan manipulator dari titik awal sehingga akan membentuk suatu titik tertentu dengan gerakan lurus vertical maupun horizontal. sumbu W (lengan atas) dan sumbu U (siku). Masing masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator. Masing masing gerakan tersebut membentuk volume silinder sehingga disebut koordinat silinder. bidang Y dan bidang Z. 2) Silindrikal Koordinat Koordinat silinder membentu tiga derajat kebebasan atau tiga sumbu yaitu ? (theta) atau sumbu rotasi. Manipulator bergerak melalui ruang hanya melalui bidang X.

tetapi sifatnya tidak harus ada. jangkauan kerja koordinat silindrikal adalah silindrikal. sehingga koordinat ini menjadi lebih fleksibel dan banyak digunakan dalam industri. 7. Gerakan tersebut diklasifikasikan menjadi 4 koordinat yaitu : kartesian. Hal yang paling penting lain dari sebuah robot adalah jangkauan kerja (seberapa jauh robot dapat menjangkau objek). yaitu: Rendah (low) teknologi. Efektor sering ditemukan pada beberapa sistem robot. Kontroler membentuk sistem kontrol yang akan menentukan input dan output suatu robot. Masingan masing koordinat sistem menyebabkan gerakan dari lengan manipulator (arm geometry). Rangkuman BAB X……………………………………. Power supply : Sebuah unit yang menyediakan tenaga pada kontroler dan manipulator sehingga dapat bekerja. Hal-hal yang digunakan dalam penentuan tingkatan robot adalah sumbu (axes). Kontroler : Suatu peralatan yang bertugas sebagai penendali dari gerakan robot. memilki banyak fungsi yang didesain untuk memindahkan material. jangkaun kerja koordinat polar adalah bola (spherical). Koordinat kartesian memiliki jangkauan empat persegi pangjan (rectangular). muatan (payload). keteletian (akurasi). polar d artikulasi koordinat. aktuasi dan sistem kontrol yang digunakan. yaitu : Manipulator. 669 .melipat yaitu pada sumbu W dan sumbu U. kontroler. Robot memiliki tiga tingkatan/level teknologi. silindrikal. menjangkau objek. sedangkan jangkauan kerja koordinat artikulasi adalah bentuk cabikan (tear-shape). Manipulator : Lengan yang memberikan gerakan robot untuk memutar. Masing masing jangkauan kerja berbeda tergantung dari koordinat geometri yang digunakan. manipulator terdiri dari beberapa segmen dan sambungan (joint). Efektor : Efektor berfungsi sebagai bagian terakhir yang menghubungkan antara manipulator dengan objek yang akan dijadikan kerja dari robot. Sistem robot memiliki memiliki tiga komponen dasar. melipat. yaitu bagian untuk kontroler dan bagian untuk manipulator. Power supply dalam suatu sistem robot dibagi menjadi dua bagian. siklus waktu (cycle time). Robot merupakan peralatan yang dapat diprogram ulang. Gerakan ini di sebut dengan derajat kebebasan robot atau jumlah sumbu yang ada pada robot. Sumbu robot bergerak dalam rangka untuk menyelesaiakan suatu kerja. suku cadang (part). peralatan atau peralatan khusus. dan Power (daya). medium teknologi dan teknologi tinggi (high technology).

pengelasan dan lain sebagainya. 670 . Dengan adanya robot diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. silinder dan motor listrik. perakitan. katup. Aktuator (output) yang digunakan dapat berupa selenoid.Robot sekarang telah banyak diaplikasikan dalam dunia industri seperti pengecatan. line tracking.

maupun komponen baru namun berdimensi tidak standar. Keterbatasan tersebut antara lain pada kesulitan untuk mendapatkan kualitas yang sama persis antara produk yang satu dengan lainya. dan teknologi robot. Sedangkan materi tentang kompetensi kejuruan akan membahas tentang gambar teknik. proses produksi dengan mesin konvensional. Bagian merealisasikan kerja aman bagi manusia alat dan lingkungan membahas tentang mengenal regulasi K3. 2. mengenal proses pembentukan logam. Kompetensi dasar kejuruan terdiri dari tiga pembahasan utama antara lain memahami dasar-dasar kejuruan. biasanya u ntuk keperluan perawatan dan perbaikan mesin dan komponen. sistem pneumatik hidrolik. mengenal material dan mineral serta rangkuman dari materi tersebut. proses produksi dengan perkakas tangan. alat. 5. menguasai prosedur penerapan K3. 1. Perkembangan tuntutan konsumen yang memerlukan kualitas tinggi telah mendorong para ahli untuk menciptakan mesin-mesin yang lebih presisi dan modern yang masih terus berkembang hingga sekarang. Simpulan Secara garis besar buku ini terdiri dari materi kompetensi dasar kejuruan dan kompotensi kejuruan. lembar kerja. mengenal mesin konversi energi serta rangkuman dari materi tersebut. Materi tentang memahami dasar-dasar kejuruan membahas tentang statika dan tegangan. menerapkan prosedur K3 secara tepat dan benar serta rangkumannya. dan mesin konvensional hingga saat ini masih diperlukan. Terutama untuk mengerjakan benda kerja dengan bentuk spesifik dan berdimensi khusus seperti penggantian komponen yang sudah tidak beredar di pasaran. Dengan adanya pembahasan tersebut diharapkan buku ini memberikan gambaran 671 . proses produksi industri modern. memahami proses -proses dasar kejuruan dan merealisasikan kerja aman bagi manusia. Namun selain kelebihan di atas mesin perkakas tangan memiliki kelemahan yaitu kurang memiliki daya saing bila harus melakukan produk masal. 3.BAB XI PENUTUP 1. 4. Teknik produksi industri mesin dari alat-alat perkakas tangan. proses produksi berbasis komputer. Bagian keempat memnahas tentang g ambar teknik mesin yang terdiri dari mengenal alat menggambar teknik. dan lingkungan. membaca gambar teknik dan rangkumanya. mengenal komponen elemen mesin. Materi tantang memahami prose-proses dasar kejuruan terdiri dari mengenal proses pengerjaan logam.

sumbu utama (mesin spindle). dengan mesin frais. mesin bubut standar. Bagian ini telah memaparkan bagaimana memproduk suatu benda kerja dengan menggunakan mesin perkakas. penggores. dan frais. sumbu pembawa. b) bagian utama mesin bubut konvensional. melukis. kepala lepas. mereamer. c) lembar pekerjaan yang meliputi alas penindih kertas. tuas-tuas pengatur kecepatan sumbu utama. mengebor. pahat tangan. pengepasan ekor burung. melainkan dengan 672 . menyambung. mengetap dan menyenei. menggergaji. mesin bubut sedang. Gambar tersebut selanjutnya dapat ditransfer ke bentuk (N/G code) kalimat-demi kalimat yang dapat digunakan oleh mesin perkakas CNC untuk dikerjakan (dieksikusi). kotak dan pengasahan penitik. yang lengkap tentang teknik produksi industri mesin secara keseluruhan. namun cukup membuat gambar/design benda kerja secara bebas pada Software AutoCAD. Produk benda kerja yang memerlukan penyelesaian lebih presisi dari pekerjaan perkakas tangan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin konvensional. Adapun pembahasan teknik produksi industri rmesin perkakas tangan meliputi berbagai bidang antara lain: a) kerja bangku yang terdiri dari mengikir. Adapun bagian yang telah dibahas antara lain: a) mesin bubut konvebsional.6. setelah itu dibahas tentang pembuatan benda kerja dengan menggunakan mesin perkakas CNC. eretan (carrage). (tail stock) . mesin bubut ringan. menekuk. seperti mesin bubut. b) kerja pelat yang meliputi membengkok. dan menggerinda. 7. mal mata bor. Oleh karena itu b agian ketiga telah memaparkan tentang teknik produksi industri mesin berbasis pada komputer seperti: Computer Aided Design (CAD). alas mesin (bed). menyekerap. mesin bubut berat. Lebih mudah karena programmer tidak perlu menghitung letak koordinat suatu titik. fungsi mesin bubut konvensional. Buku ini akan mengupas teknik produksi industri mesin yang menggunakan peralatan mesin konvensional seperti teknik menggunakan mesin biubut. transporter. keran pendingin. mata bor. Keuntungan dari software ini adalah programmer tidak perlu menghitung setiap titik koordinat dalam suatu benda kerja. bagian ini membahas tentang: pengertian mesin bubut konvensional. Teknik ini akan sangat membantu industri maupun siswa agar dapat membuat benda kerja dengan presisi meskipun memiliki design rumit namun menjadi mudah dikerjakan. Bagian selanjutnya teknik mentransfer data dari gambar AutoCAD ke program mesin perkakas CNC. roda pemutar. memahat. menyetempel.pengikat kepala lepas. melipat. c) alat potong d) perhitungan pemakanan benda kerja Adanya tuntutan konsumen yang semakin presisi menuntut proses produksi yang lebih akurat dengan bantuan komputer. jenis-jenis mesin bubut konvensional. pengepasan persegi.

perhitungan daya kompressor. unit pengolahan udara bertekanan (air serviceunit). Tingkatan Teknologi. untuk saluran 1. konduktor dan konektor. pengendalian tak langsung. diagram karnaught. peralatan sistem pneumatik. pemeliharaan cairan hydrolik. dan lainnya. komponen Dasar. aplikasi pneumatik dalam proses produksi penggeser benda/pintu. air motor (motor pneumatik). Bagian kesembilan akan membahas tentang proses industri teknologi modern yang meliputi sejarah perkembangan otomasi industri. Sistem 673 . komponen hydrolik. gaya torak (f) udara yang diperlukan. keuntungan kerugian/kelemahan pneumatik. sistem kontrol pneumatik. balanced vane (pompa kipas balanced).2 (x). katup pneumatik. kecepatan torak. perhitungan tekanan. kode G. 8. unit pengatur (control element). dasar perhitungan pneumatik. bent axis piston (pompa torak dengan poros.menggunakan osnap dan fungsi lain dalam AutoCAD. pompa torak radial (radial piston pump). analisa aliran fluida (v). pengetesan efesiensi pompa hidrolik. meliputi: Manipulator Arm Geometry. Gerakan Robot. perhitungan kecepatan. materi tersebut meliputi pembahasan tentang: a) pengertian pneumatik. perangkat keras. b) Operasi dan Fitur Manipulator. Pada PLC dijelaskan mulai dari sejarah perkembangan. Gambar bebas benda kerja tersebut akan diterjemahkan oleh mesin CNC melalui software CNC Keller Q Plus. Pada bagian kesepuluh penulis membahas tentang TEKNOLOGI ROBOT yang meliputi: a) Pengenalan Robot. PLC (progammable Logic Controller). pengendalian hydrolik. pompa dan aktuator hydrolik. pemeriksaan udara kempa dan peralatan. perangkat lunak. pompa roda gigi dalam tipe geretor. tekuk). aplikasi penggunaan pneumatik. 9. prinsip hukum pascal. 10. efektifitas pneumatik. bagian ini akan membahas tentang: istilah Robot. instalasi pompa hidrolik. aplikasi sistem kerja pneumatik pengendalian langsung silinder sederhana. Proses produksi berbasis pada sistem kontrol pneumatic/hydrolik merupakan bagian yang sedang berkembang. tekanan udara. type of mounting (cara-cara pengikat). karakteristik udara kempa. otomasi teknik produksi. unit penggerak (working element = aktuator). simbol logika. dasar-dasar perhitungan hydrolik. instruksi dasar sampai diagram ladder dan aplikasinya dan sebgainya. Rotasi Wrist. pengertian sistem kontrol pneumatik. keuntungan dan kerugian penggunaan udara kempa. kompressor (pembangkit udara kempa). Dari software ini data gambar akan dirubah ke bahasa pemrogramman mesin CNC seperti kode N. pneumatik. klasifikasi sistim pneumatik. pompa roda gigi dalam tipe crescent. Oleh karena itu bagian ini telah membahas tentang system control pnuematik dan hydrolik. katup-katup pneumatik.

Penggerak Manipulator. Saran Pada kesempatan ini penulis mengajukan beberapa saran demi kemajuan sains dan teknologi di Indonesia. 3. sensor Temperaptur 11. c) Efektor meliputi: Gripper. 2. Jenis Gripper. antara lain: 1. pengelasan. Penanganan Material. Klasifikasi Gripper. Perakitan dan Pengencangan. yang berisi simpulan dan saran. Pada bagian terakhir berupa bagian penutup. 2. 674 . Jangkauan Kerja. Buku ini sebaiknya digunakan untuk pedoman pengajaran mata diklat teknik permesinan dan tenik otomasi industri untuk kalangan sekolah menengah kejuruan bidang teknik mesin dan praktisi industri mesin. Sensor Kontak. Masukan dan saran dari pembaca yang budiman sangat kami harapkan demi kesempurnaan buku ini di masa yang akan datang. Sensor Gaya dan Momen. Sensor dan Tranduser. Sensor NonKontak. Aplikasi Robot. Bagi kalangan praktisi industri buku ini dapat dijadikan pegangan dalam mengatasi permasalahan yang ada di industri.

Jakarta. Wuppertal. Mesin Bubut CNC Dasar. 1985 . dkk. 1992. ITB. Mcgraww-Hill Book Co. Schulungsunterlagen CNC Maho 432. CNC Technik. and Computer-Integrated Manufacturing : Pearson Education .J. Croser P. 1990. Hollebrandse. Gramedia. and Aplication. J. Esslingen Daryanto. 2001. 1985 Pudjananta dan Narsuhud. Solingen.. Mesin Konversi Energi. 1988. 1991. Steurn und Regeln im Maschinenbau. 1984 Peter Patient. Bandung. Pneumatic Systems Principles and Maintenance. Gottfried Nist(1994). Austria. Pradya Paramitha.. Verlag. Inc. 1986 Harapan Utama. Dorf : Sistem Pengaturan . Hadi. Omega Engineering. Modern Control Technology Component And Stystem Handbook. 2006. EMCO Mikell P. Koln Delman kilian. 1994. EMCO Maier dan Co. Q Plus Drehen CNC Qualifizierung. Majumdar. Stamford 1999 Depdikbud. Deutschdtiflng fur Internationale Entwikcklung. Pengetahuan Dasar Mesin CNC. Penerbit Erlangga . Jakarta Dieter. Pneumatik. 1995. Laboratorium CNC – BLPT Surabaya. EMCO Meier (1992). Homburg. Menggambar Teknik Mesin. Jakarta. Hydrolik. 2001. Buku CNC Milling – TU 3A (Mesin Freis Dasar) . Yogyakarta : Penerbit Andi Siegfried K eller. Jakarta: PT Rosda Jayaputra. Penerbit tarsito. Petunjuk Penggunaan Mesin CNC EMCO TU-3A.Tata McGrawHill. 1988. CNC Didaktik. Jakarta. Lilih Dwi P.P. Wuppertal. 1988. Industrial Robotics Technology. Groover: Automation Production systems.M. Solo: ATMI ST Mikael Sugiharto. 1977. Jugendlexikan der Tecknik. Siegfried Keller. Yogyakarta Richard C. Pelayanan EMCO 3A. 2000. Lilih Dwi P. Teknik Pemrograman Dan Aplikasi CNC. Dasar Dasar Kontrol Pneumatik. New york. Buku CNC Milling – TU 2A (Mesin Bubut Dasar) .LAMPIRAN A. Jakarta Keith Frank. 1998. New Delhi. Toleransi. Bandung: Pusat Pengembangan Penataran Guru Teknologi Bandung. CRC Press LLC. Singapore. Pelayanan EMCO 2A. 1999 Keller. Laboratorium CNC – BLPT Surabaya. dkk. 2001 Pakpahan : Kontrol Otomatik . Jakarta. Keller Didaktik and Technik. Sudibyo dan Djumarso. Depdikbud. Europah Lehrmittel Groover M. 1983 Sachur Rheinhard. Singapore. 1990. Menggambar Mesin Menurut Standar ISO. 1988. Andi Offset. Materi Pengajaran AutoCAD 2000. Keller Didaktik and Technik. 1992. 1998. PT. 2001. Penerbit Erlangga . Programmable Logic Controller (PLC) dan Perancangan Sistem Kontrol.Karl. Soedjono. 1987. Jakarta Sugihartono. Penggerak Mula Turbin. Festo Didaktik. Maier dan Co. dkk. Esslingen Croser P. Mechanical Engineering Handbook. 2006. Q Plus Frasen CNC Qualifizierung. Pengantar Ilmu Teknik Pneumatika. Festo Didaktik. Penerbit Erlangga . 1997. Haan-Gruiten. Gehlen Setiawan.1 DAFTAR PUSTAKA Aris Munandar. Bandung Cliffs. Soewito. Hallem. Mannheim. Katsuhiko Ogata : Teknik Kontrol Automatik (Sistem Pengaturan Jilid 1) . Instandhalttungsmanagement. Programming. Hallem. Semarang: Lembaga Keterampilan Komputer Harapan Utama. Iwan. 1991.

LAMPIRAN A.2
Sumbodo, Wirawan, 2004, Dasar-dasar Sistem Pneuamtik/Hydrolik, Semarang, Unnes Sumbodo, Wirawan, 1998, Dasar-dasar Sistem Pemrogramman mesin CNC, Semarang, Unnes Supriyono dan Almeriany. 1983. Gambar Teknik. Solo: ATMI ST Mikael Umaryadi, 2006, PDTM Teknologi dan Industri, Yudhistira, Jakarta Wahana Komputer. 2002. Menguasai AutoCAD 2002. Jakarta: Salemba Infotek. www.Wikipedia.com/id/search/automation system www.en.wikipedia.com www. cnc-keller.de www.hondacompany.com www. Q Plus Frasen.com www.omron.com/index3.html www.zen.omron.co.jp/eng/index.html - 22k www.plcs.net/ - 20k www.automation.com world.honda.com/ASIMO/ www.compserv.sabah.gov.my www.roboticsonline.com www.fanucrobotics.com embedded-system.net www.playrobot.com/comp%20robot_ind.htm embedded-system.net/kuka-kr-1000-titan-6-axis. www.webstergriffin.com/images/robot_arm01.jpg

LAMPIRAN B.1

DAFTAR TABEL
BAB I MEMAHAMI DASAR -DASAR KEJURUAN
Tidak ada tabel

BAB II MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN
Tidak ada tabel

BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA, ALAT DAN LINGKUNGAN
Tidak ada tabel

BAB IV GAMBAR TEKNIK
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4.

Kertas gambar berdasarkan ukuranya ............................................ Pensil berdasarkan kekerasan .......................................................... Macam-macam ketebalan garis ........................................................ Perbandingan ketebalan garis bantu dengan garis gambar ........................................................................................

62 64 99 103

BAB V PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12.

Pengelom pokan kikir berdasarkan kekerasan gigi dan kegunaanya........................................................................................... Pengelompokan kikir berdasarkan penampang dan penggunaanya ..................................................................................... Pemegangan kikir untuk berbagai kebutuhan pengerjaan ........... Cutting speed untuk mata bor ........................................................... Kecepatan pemakanan (feeding)....................................................... Langkah pengeboran berbagai jenis pekerjaan ............................. Jenis bukaan gigi gergaji dan fungsinya ......................................... Jumlah gigi tiap panjang 1 inchi berikut fungsinya ........................ Jenis daun gergaji berikut fungsinya ................................................ Tingkat kekerasan batu gerinda dan penggunaanya .................... Tingkat kehalusan dan penggunaanya ............................................ Kecepatan keliling yang disarankan .................................................

138 139 141 173 174 175 178 178 179 200 200 204

BAB VI PROSES PRODUKSI MESIN KONVENSIONAL
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4 Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12. Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16.

Perbedaan mesin bubut konvensional dengan CNC .................... Penggunaan sudut tatal dan sudut bebas pahat bubut................. Kecepatan potong pahat HSS (High Speed Steel) ........................ Daftar kecepatan potong pembubutan............................................. Kecepatan pemakanan untuk pahat HSS ....................................... Kecepatan potong untuk beberapa jenis bahan.............................. Daftar kecepatan potong mesin frais ................................................ Kecepatan pemakanan pergigi untuk HSS...................................... Ukuran utama roda gigi sistem module............................................ Ukuran utama roda gigi diameteral pitch.......................................... Pemilihan nomor pisau sistem module............................................. Satu set cutter dengan 15 nomir........................................................ Satu set cutter midul sistem diameter pitch..................................... Hubungan cutting speed dengan bahan ......................................... Kecepatan potong untuk HSS dalam m/menit................................. Tingkatan suaian basis lubang ......................................................... Tingkatan suaian basis poros ...........................................................

246 254 261 262 263 302 303 304 319 320 321 322 322 323 323 338 338

LAMPIRAN B.2
Tabel 17. Tabel 18a Tanel 18b Tabel 19a Tabel 19b Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Harga tingkatan suaian menurut ISO ............................................... Nilai penyimpangan lubang untuk tujuan umum ............................. Nilai penyimpangan lubang untuk tujuan umum ............................. Nilai penyimpangan poros untuk tujuan umum ............................... Nilai penyimpangan poros untuk tujuan umum ............................... Arti kode M pada mesin CNC ............................................................ Arti kode lainya .................................................................................... Siklus pemrograman dengan EMCO TU 2A ................................... Siklus pembuatan ulir G 33 ................................................................ Koordinat hasil perhitungan titik ........................................................ Siklus program pembuatan pion catur dengan CNC EMCO TU 2A ....................................................................................... Siklus pemrograman pembuatan asbak rokok dengan.................. CNC EMCO TU 2A ............................................................................. 339 340 341 342 343 410 420 422 428 430 437 441 497 498 500 502 503 503 504 504 505 508 518 520 522 523 544 545 546 546 547 550 581 582 582 583 608 612 614

BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER

BAB VIII
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10.

SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK

Tabel 11. Tabel 12. Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16. Tabel 17. Tabel 18. Tabel 19. Tabel 20.

Jenis dan simbol katup sinyal pneumatik ........................................ Jenis penggerak katup........................................................................ Jenis dan simbol katup pemroses sinyal.......................................... Jenis dan simbol katup pembatas tekanan...................................... Simbol logika katup AND .................................................................... Simbol logika katup OR....................................................................... Simbol dan logika katup NOT............................................................. Logika katup NOR................................................................................ Logika katup NAND.............................................................................. Jenis dan Simbol Komponen Sistim Pneumatik Lainnya (FESTO FluidSIM)............................................. Logika pengendalian sistem sederhana langsung.......................... Logika sistem diagram gerak silinder melalui dua katup ............... Simbol dan keterangan rangkaian kontrol pint bus otomatis ......................................................................................... Jenis -jenis cairan hidrolik tahan api.................................................. Perbandingan macam -macam cairan hidrolik ................................ Klasifikasi viskositas cairan hidrolik................................................... Aplikasi penggunaan hidrolik dengan tingkatanya.......................... Batas viskositas ideal.......................................................................... Kesetaraan dari berbagai satuan viscositas oli hidrolik................. Karakteristik cairan hidrolik yang dikehendaki ...............................

BAB IX
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3.

PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN

Logika AND dan NOT AND ................................................................ Logika OR dan NOT OR ..................................................................... Aturan aljabar saklar AND .................................................................. Aturan aljabar saklar OR..................................................................... Pengalamatan input dan output ........................................................ Daftar alamat pada input dan output ................................................ Alamat input dan output PLC ............................................................

BAB X TEKNOLOGI ROBOT

Propertis teknologi robot .................................................................... 629 Material variasi temperature dan tahanan bahan .......................... 653 Jangkauan temperature dan jangkauan tegangan ........................ 654

LAMPIRAN C.1

DAFTAR GAMBAR _________________________________________________
BAB I MEMAHAMI DASAR-DASAR KEJURUAN
Perpindahan benda dari A ke B akibat gaya F ............................... 1 Gaya gesek pada roda mobil........................................................... 2 Titik tangkap gaya (A) pada garis kerja gaya .................................. 2 Menyusun dua buah gaya menjadi gaya Resultan (F) .................... 3 Menyusun Gaya lebih dari dua buah secara grafis ......................... 3 Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon ....................... 4 Menyusun gaya lebih dari dua buah secara Analitis ....................... 4 Menguraikan gaya (proyeksi) sumbu X dan Y................................. 5 Jarak (L) garis gaya (F) terhadap titik perputaran (o) ...................... 5 Menyusun lebih dari dua buah gaya secara poligon ....................... 6 Dua buah gaya sama sejajar berlawanan arah dan berjarak L ....... 6 Gaya F1 dan F2 yang mebentuk sudut α ........................................ 8 Dua gaya pada batang membentuk kesetimbagan ......................... 8 Kesetimbagan benda pada bidang miring ....................................... 9 Tegangan yang timbul pada penampang A-A ............................... 10 Tegangan Normal.......................................................................... 10 Tegangan tarik pada batang penampang luas A........................... 11 Tegangan tekan ............................................................................ 12 Tegangan Geser ........................................................................... 12 Tegangan lengkung pada batang rocker arm................................ 13 Tegangan puntir ............................................................................ 14 Kontruksi poros kereta api............................................................. 15 Kontruksi poros kereta api............................................................. 16 Kontruksi poros transmisi .............................................................. 16 Poros transmisi dengan beban puntir ............................................ 16 Beban lentur murni pada lengan robot .......................................... 17 Beban puntir dan lentur pada arbor saat pemakanan ................... 18 Bantalan luncur dilengkapi alur pelumas ....................................... 19 Bantalan radial .............................................................................. 19 Bantalan aksia............................................................................... 19 Bantalan gelinding khusus............................................................. 20 Dapur pengolahan bijih besi menjadi besi ..................................... 23 Gambar 1. Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32.

BAB II
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3, Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12.

MEMAHAMI PROSES-PROSES DASAR KEJURUAN
Logam cair sedang dituangkan ke dalam cetakan ........................ 29 Proses Pengecoran logam ............................................................ 30 Diemensi benda kerja yang akan dibuat (a), menutupi permukaan pola dalam rangka cetak dengan pasir, (c) cetakan siap, preses penuangan (d), dan produk pengecoran ...................................... 31 Pengecoran logam pada cetakan pasir ......................................... 34 Turbin air produk hasil pengecoran logam ................................... 35 Turbin air produk hasil pengecoran logam.................................... 36 Die Casting .................................................................................... 36 Salah satu produk Die Casting ...................................................... 38 Pengolahan Logam Manual ........................................................... 40 Pengerjaan Logam dengan mesin bubut ....................................... 41 Produk pengolahan logam dengan mesin CNC............................. 42 Mesin pengerollan (rolling)............................................................. 43

LAMPIRAN C.2
Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16, Gambar 17, Gambar 18, Gambar 19, Gambar 20 PLTA, konversi energi dari energi potensial, energi mekanik, dan energi listrik ................................................................................... 44 Accu sebagai bentuk energi kimia ................................................. 45 Salah satu reaktor nuklir ............................................................... 46 Mesin konversi dari panas ke uap ................................................. 46 Pemanfaatan energi angin ........................................................... 47 siklus motor bensin 4 langkah ....................................................... 48 Turbin Air....................................................................................... 50 Sebuah sistem turbin gas .............................................................. 50

BAB III MEREALISASIKAN KERJA AMAN BAGI MANUSIA, ALAT, DAN LINGKUNGAN
Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24, Gambar 25, Gambar 24, Tanda harus mengenakan kacamata ............................................ 58 Tanda harus mengenakan penutup telinga ................................... 58 Tanda harus mengenakan sarung tangan..................................... 58 Pekerja menggunakan kacamata dan masker .............................. 59 Mengisap serbuk fiber menggunakan vacum ................................ 59 Menekuk plat/selang fiber menggunakan sarung tangan ........................................................................................... 59

BAB IV GAMBAR TEKNIK
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik ................................................................................. 65 Pensil batang................................................................................. 66 Pensil mekanik .............................................................................. 66 Cara menarik garis ........................................................................ 67 Rapido ........................................................................................... 67 Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga.............................. 68 Cara menggunakan penggaris-T ................................................... 68 Cara menggunakan penggaris segitiga ......................................... 69 Jenis jangka .................................................................................. 69 Kedudukan pena tarik saat menarik garis ..................................... 70 Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung.................................................................................. 70 Plat pelindung penghapus ............................................................. 71 Busur derajat ................................................................................. 71 Mal lengkung ................................................................................. 72 Contoh penggunaan mal lengkung................................................ 72 Mal bentuk geometri ...................................................................... 72 Meja gambar ................................................................................. 73 Mesin gambar lengan .................................................................... 73 Mesin gambar rol........................................................................... 73 Proyeksi piktorial ........................................................................... 75 Proyeksi isometris ......................................................................... 76 Penyajian proyeksi isometris ......................................................... 77 Proyeksi isometris dengan kedudukan terbalik ............................. 77 Proyeksi isometris kedudukan horisontal ...................................... 78 Proyeksi dimetris ........................................................................... 78 Kubus dengan proyeksi dimetris.................................................... 79 Proyeksi miring .............................................................................. 79 Perspektif dengan satu titik hilang ................................................. 80 Perspektif dengan dua titik hilang.................................................. 80 Perspektif dengan tiga titik hilang .................................................. 80 Macam-macam pandangan ........................................................... 81 Bidang proyeksi ............................................................................. 81

........ 112 Pengukuran jari-jari..... 90 Penggunaan dua pandangan........................................ Gambar 83................. Gambar 60.... Gambar 63a................ 87 Contoh penggambaran anak panah ......... 93 ........................... Gambar 71.................. Gambar 57...................... Gambar 62a........................... Gambar 82............ Gambar 64.......................... Gambar 79................. 84 Garis sumbu berimpit dengan gambar. Gambar 73..... Gambar 47....... 84 Pandangan proyeksi Eropa ............... Gambar 61......................................... 89 Pembedaan bentuk benda dengan satu pandangan ....... Gambar 66............ 85 Pandangan proyeksi Amerika .................. Gambar 39............................... Gambar 43...................................... Gambar 45.......................................................................................... 93 Tanda pemotongan.............................. Gambar 40......... 87 Penerapan Proyeksi Amerika ......................... 102 Sudut ketebalan garis arsiran ........................ 113 Penempatan anak panah dan ukuran di dalam lingkaran .............................. 99 Potongan separuh .......................................... Gambar 59...... 86 Proyeksi Eropa .................... Gambar 37............ Gambar 74... 91 Penggunaan tiga pandangan.. 101 Potongan bercabang atau meloncat ................................... Gambar 50..... Gambar 44................................................... 104 Angka ukuran dan arsiran............................................................................................................................................. 103 Arsiran pada bidang luas dan bidang berdampingan....................... 97 Potongan jari-jari pejal .................................... 113 .......................... Gambar 48....................................................................... 98 Potongan penuh ............................. Gambar 53........................................ 85 Contoh pandangan proyeksi Amerika ................................................................................................................................................................................................................. 103 Arsiran benda tipis ......................... Gambar 55...... 111 Pencantuman simbol-simbol ukuran .... Gambar 69........................... Gambar 70............... Gambar 65..................................................................................... Proyeksi di kuadran I ............................. Gambar 42...... 101 Contoh penggunaan arsiran ................. Gambar 35.................... 106 Jarak antara garis ukur ..... 105 Cara penarikan garis dan ketebalanya ................LAMPIRAN C......................................................................................... Gambar 81.......................... Gambar 75....................................................................................................... Gambar 67...... 92 ........................ Gambar 62b............................................................. 104 Macam-macam arsiran ......................... Gambar 80............................................ 88 Gambar pandangan ........... 83 o Potongan garis yang bersudut 45 ................ 93 .......... Gambar 56....................................................................... 95 Penempatan gambar potongan .. Gambar 41... Gambar 77................................. Gambar 78....................... 97 Penempatan potongan dengan diputar dan dipindah ....................... 96 Penempatan potongan dengan diputar.......................................................... Gambar 49................ Gambar 76........................... 88 Gambar satu pandangan ...................................... 108 Ukuran tambahan ................ Gambar 51...................................................... 98 Potongan dudukan poros........................ Gambar 36.......................................3 Gambar 34.......................................... Gambar 38.......... 91 Bentuk benda dari hasil pandangan ........................................................................................................................... 86 Anak panah .................. 100 Potongan sebagian ...... 86 Proyeksi Amerika ....................... Gambar 52........................................ Gambar 58a Gambar 58b Gambar 58c......... 82 Pembukaan objek gambar di kuadran I .................... 90 Penentuan pandangan depan.................................................................................................................... Gambar 68............................................................. 110 Penunjukan ukuran pengerjaan khusus............................. Gambar 63b................... 84 Garis sumbu terpisah dengan gambar........... 83 Pemutaran dengan jangka ....................... 89 Pemilihan pandangan utama ....................... 94 Tanda pemotongan dengan gelombang dan zigzag ..................................... 111 Penunjukan ukuran pada bagian yang simetris . 87 Penerapan Proyeksi Eropa ............................................... Gambar 46............................................................. 90 Pandangan utama ............ 107 Penulisan angka ukuran .... 101 Potongan putar ............ Gambar 54. Gambar 84............ 110 Pengukuran ketirusan ........................... Gambar 72..................

LAMPIRAN C.4
Gambar 85. Gambar 86. Gambar 87. Gambar 88. Gambar 89. Gambar 90. Gambar 91. Gambar 92. Gambar 93. Gambar 94. Gambar 95. Gambar 96. Gambar 97. Gambar 98. Gambar 99. Gambar 100. Gambar 101. Gambar 102. Gambar 103. Gambar 108. Gambar 107. Gambar 106. Gambar 105. Gambar 104. Gambar 111. Gambar 110. Gambar 109. Gambar 112. Gambar 113. Gambar 115. Gambar 114. Gambar 116. Gambar 117. Gambar 118. Gambar 119. Gambar 120. Gambar 121. Gambar 122. Gambar 123. Gambar 124. Gambar 125. Gambar 126. Penempatan anak panah dan ukuran di luar lingkaran...................................................................................... 113 Penunjukan ukuran...................................................................... 114 Ukuran berantai ........................................................................... 114 Ukuran sejajar ............................................................................. 115 Ukuran kombinasi........................................................................ 115 Ukuran berimpit ........................................................................... 116 Pengukuran berimpit ................................................................... 117 Pengukuran koordinat ................................................................. 118 Pengukuran berjarak sama ......................................................... 118 Pengukuran berjarak sama ......................................................... 119 Pengukuran alur pasak................................................................ 119 Pengukuran pada lubang ............................................................ 120 Pengukuran profil ........................................................................ 120 Pembuatan gambar mur.............................................................. 121 Pengukuran mur .......................................................................... 121 Pembuatan gambar baut ............................................................. 122 Pembuatan gambar mur dan baut ............................................... 122 Batas atas dan batas bawah toleransi......................................... 123 berbagai macam ukuran dan penyimpangan .............................. 123 Penulisan toleransi simetris ......................................................... 124 Penulisan toleransi dan nilai penyimpangan nol.......................... 124 Penulisan toleransi dan nilai penyimpangan ............................... 124 Penulisan toleransi suaian dan nilai penyampangan................... 124 Penulisan suaian standar ISO ..................................................... 124 jenis-jenis penulisan toleransi pada gambar susunan ................. 125 Penulisan batas-batas ukuran dalam satu arah .......................... 125 Penulisan batas-batas ukuran ..................................................... 125 Jenis-jenis penulisan yoleransio pada ukuran sudut ................... 126 Penulisan ukuran dan toleransi pada gambar kerja..................... 126 kelonggaran dan kesesakan antara poros dan lubang ................ 128 Penandaan Kualitas Permukaan ................................................ 128 Suaian Longgar ........................................................................... 129 Suaian paksa............................................................................... 129 Suaian tramsisi ............................................................................ 129 Proyeksi piktorial ......................................................................... 131 Proyeksi isometris ....................................................................... 131 Proyeksi dimetris ......................................................................... 132 Proyeksi miring ............................................................................ 132 Potongan A-A .............................................................................. 133 Potongan B-B .............................................................................. 133 Macam-macam arsiran................................................................ 134 Gambar Benda Kerja .................................................................. 135

BAB V
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10.

PROSES PRODUKSI DENGAN PERKAKAS TANGAN
Ketinggian ragum untuk pengerjaan umum kerja bangku ........................................................................................ 138 Ragum ...................................................................................... 138 Pencekaman benda kerja ......................................................... 139 Bagian bagian utama kikir ......................................................... 140 Spesifikasi kikir ......................................................................... 140 Spesifikasi kikir berdasarkan penampangnya ........................... 140 Kikir single cut dan kikir double cut ........................................... 141 Gerakan badan dan mulut ......................................................... 145 Posisi kaki terhadap sumbu ...................................................... 145 Kikir gigi tunggal arah pemakanan lurus dengan

LAMPIRAN C.5
sumbu kikir ................................................................................ Kikir gigi tunggal arah pemakanan tidak satu sumbu dengan sumbu kikir ................................................................... Kikir gigi ganda degan arah pemakanan lurus dengan sumbu kikir ................................................................... Menghilangkan kulit yang keras dengan ujung .......................... Pemeriksaan kerataan hasil pengikiran dengan pisau perata ............................................................................... Bidang dasar 1, 2 dan 3 ............................................................ Pemeriksaan hasil pegikiran miring ........................................... Pengikiran radius dalam ............................................................ Pengikiran radius luar ................................................................ Pemeriksaan hasil pengikiran radius ......................................... Bidang dasar sebagai dasar ukuran, kesikuan dan kesejajaran dalam penggambaran ............................................ Mistar baja ................................................................................. Penggunaan mistar baja ............................................................ Busur derajat ............................................................................. Penggunaan busur derajat ........................................................ Set mal radius dalam satu tangkai ........................................... Set mal radius dalam ikatan cincin ............................................. Memeriksa dengan mal radius .................................................. Satu set mal ulir ......................................................................... Memeriksa ulir baut dan mal ulir ................................................ Pita ukur .................................................................................... Jangka sorong ........................................................................... Penggunaan mistar sorong ....................................................... Penggores ................................................................................. Pemakaian penggores ............................................................... Siku-siku .................................................................................... Siku-siku geser .......................................................................... Penggunaan siku-siku ............................................................... Siku-siku kombinasi ................................................................... o Pengukuran 45 ......................................................................... o Pengukuran kesikuan 90 ........................................................... Jangka tusuk (spring divider ) .................................................... Pengukuran dengan jangka tusuk ............................................. Jangka tongkat .......................................................................... Penggunaan jangka tongkat ...................................................... Jangka garis .............................................................................. Penggunaan jangka garis .......................................................... Jangka bengkok ........................................................................ Mengukur tebal dan kesejajaran ............................................... Jangka kaki ............................................................................... Memeriksa diameter dalam ....................................................... Balok gores ............................................................................... Penggunaan balok gores ........................................................... Pengukur tinggi ......................................................................... Menggaris sebuah bidang ......................................................... Mengukur tinggi / tebal .............................................................. Penitik pusat .............................................................................. Pengunaan penitik pusat ........................................................... Penitik garis ............................................................................... Penggunaan penitik garis .......................................................... Palu ........................................................................................... Tangkai palu............................................................................... 145 145 147 147 148 148 149 149 150 150 151 151 152 152 152 153 153 153 154 155 155 155 156 156 157 158 158 158 158 159 159 159 160 160 160 161 161 161 161 162 162 163 163 164 164 164 165 165 165 165 166 166

Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25a Gambar 25b Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Gambar 34. Gambar 35. Gambar 36. Gambar 37. Gambar 38. Gambar 39. Gambar 40. Gambar 41. Gambar 42. Gambar 43. Gambar 44. Gambar 45. Gambar 46. Gambar 47. Gambar 48. Gambar 49. Gambar 50. Gambar 51. Gambar 52. Gambar 53. Gambar 54. Gambar 55. Gambar 56. Gambar 57. Gambar 58. Gambar 59. Gambar 60.

LAMPIRAN C.6
Gambar 61. Gambar 62. Gambar 63. Gambar 64. Gambar 65. Gambar 66. Gambar 67. Gambar 68. Gambar 69. Gambar 70. Gambar 71. Gambar 72. Gambar 73. Gambar 74. Gambar 75. Gambar 76. Gambar 77. Gambar 78. Gambar 79. Gambar 80. Gambar 81. Gambar 82. Gambar 83. Gambar 84. Gambar 85. Gambar 86. Gambar 87. Gambar 88. Gambar 89. Gambar 90. Gambar 91. Gambar 92. Gambar 93. Gambar 94. Gambar 95. Gambar 96. Gambar 97. Gambar 98. Gambar 99. Gambar 100. Gambar 101. Gambar 102. Gambar 103. Gambar 104. Gambar 105. Gambar 106. Gambar 107. Gambar 108. Gambar 109. Gambar 110. Gambar 111. Gambar 112. Gambar 113. Gambar 114. Palu lunak ................................................................................. 167 Penggunaan palu ...................................................................... 167 Meja perata ............................................................................... 167 Penggunaan meja ..................................................................... 167 Balok vee .................................................................................. 168 Penggunaan balok vee ............................................................. 168 Bagian-bagian mata bor ............................................................. 169 Mata bor pilin kisar sedang ....................................................... 169 Bor pilin spiral kecil ................................................................... 170 Bor pilin kisar besar ................................................................... 170 Bor pilin kisar besar sudut sayat kecil ....................................... 170 Bor pilin kisar besar sudut sayat lancip ..................................... 170 Bor pembenam ......................................................................... 171 Mata bor pembenam kapala baut ............................................. 171 Bentuk kepala mata bor ............................................................ 171 Kaliber mata bor ........................................................................ 172 Sudut mata bor ......................................................................... 172 Penjepit bor .............................................................................. 173 Sarung pengurang .................................................................... 173 Mesin bor bangku....................................................................... 173 Mesin bor tiang ......................................................................... 174 Bor pistol ................................................................................... 174 Bor dada mekanik terbuka ........................................................ 174 Bor dada mekanik tertutup ........................................................ 174 Reamer (Peluas) ........................................................................ 178 Peluas tirus ............................................................................... 178 Peluas yang dapat distel ........................................................... 179 Penggunaan reamer ................................................................. 179 Gergaji tangan .......................................................................... 180 Pemasangan daun gergaji pada sengkang ............................... 180 Pemegangan sengkang gergaji ................................................ 182 Membuat alur (permulaan menggergaji) ................................... 182 Sudut awal penggergajian ......................................................... 183 Pemotongan benda kerja .......................................................... 183 Posisi daun gergaji tagal lurus terhadap sengkang Gergaji ...................................................................................... 183 Pahat ......................................................................................... 184 Pahat ......................................................................................... 185 Pahat alur .................................................................................. 185 Pahat dam ................................................................................. 185 Pahat alur minyak ..................................................................... 186 Pahat kuku ................................................................................ 186 Pahat diamon ............................................................................ 186 Cara menggenggam pahat ....................................................... 187 Memperhatikan mata pahat ...................................................... 187 Memahat baja pelat ................................................................... 188 Memahat benda yang lebar ...................................................... 188 Memahat benda kerja yang tidak dijepit dengan Catok ragum ............................................................................. 189 Posisi pahat pada waktu memahat ........................................... 189 Posisi pahat pada saat akhir pemahatan .................................. 189 Garis bantu stempel .................................................................. 190 Susunan stempel ...................................................................... 191 Posisi stempel ........................................................................... 191 Tap ............................................................................................ 192 Sney .......................................................................................... 193

LAMPIRAN C.7
Gambar 115. Gambar 116. Gambar 117. Gambar 118. Gambar 119. Gambar 120. Gambar 121. Gambar 122. Gambar 123. Gambar 124. Gambar 125. Gambar 126. Gambar 127. Gambar 128. Gambar 129. Gambar 130. Gambar 131. Gambar 132. Gambar 133. Gambar 134. Gambar 135. Gambar 136. Gambar 137. Gambar 138. Gambar 139. Gambar 140. Gambar 141. Gambar 142. Gambar 143. Gambar 144. Gambar 145. Gambar 146. Gambar 147. Gambar 148. Gambar 149. Gambar 150. Gambar 151. Gambar 152. Gambar 153. Gambar 154. Gambar 155. Gambar 156. Gambar 157. Gambar 158. Gambar 159. Gambar 160. Gambar 161. Gambar 162. Gambar 163. Gambar 164. Gambar 165. Gambar 166. Gambar 167. Gambar 168. Tangkai pemutar ....................................................................... 193 Dimensi ulir ................................................................................ 193 Proses mengetap ...................................................................... 195 Mengecek ketegakan lurus mengetap ....................................... 195 Posisi tangan pada awal menyenei ........................................... 195 Pemegangan penuh pada posisi jauh dari rumah Snei ........................................................................................... 196 Penggunaan snei ...................................................................... 196 Sekerap tangan ......................................................................... 197 Sekerap mata bulat ................................................................... 197 Sekerap keruk ........................................................................... 197 Sekerap setengah bundar ......................................................... 198 Sekerap segi tiga ....................................................................... 198 Sekerap bulat hidung sapi ......................................................... 198 Menyekerap ............................................................................... 199 Mesin gerinda tiang ................................................................... 199 Proses pelepasan butiran pemotong ......................................... 200 Roda gerinda lunak ................................................................... 201 Roda gerinda keras ................................................................... 201 Roda gerinda struktur terbuka .................................................... 203 Roda gerinda struktur padat ...................................................... 203 Roda gerinda struktur pori-pori .................................................. 203 Roda gerinda lurus .................................................................... 204 Penandaan roda gerinda ........................................................... 204 pemeriksaan roda gerinda ......................................................... 206 Pengikatan roda gerinda pada mesin spindel mesin ......................................................................................... 207 Mengasah / mendreser roda gerinda ........................................ 207 Keselamatan kerja menggerinda ............................................... 208 Melipat tepi ................................................................................ 208 Mesin lipat ................................................................................. 209 Mesin roll ................................................................................... 209 Landasan rata ........................................................................... 209 Landasan pipa ........................................................................... 209 Landasan tepi lurus ................................................................... 210 Landasan tepi bundar ................................................................ 210 Landasan ½ bola ....................................................................... 210 Landasan alur ............................................................................ 210 Sambungan sekerup ................................................................. 211 Sambungan lipatan ................................................................... 212 Sambungan keling ..................................................................... 212 Memasang baut pemanas ......................................................... 212 Proses mematri ......................................................................... 213 Jenis penguatan ........................................................................ 213 Pengutan tepi ............................................................................ 214 Penguatan tepi dengan kawat ................................................... 214 Mesin putar kombinasi ............................................................... 215 Alas penindih kertas .................................................................. 215 Mal mata bor ............................................................................. 216 Dimensi mal mata bor ................................................................ 217 Pengepasan persegi .................................................................. 217 Dimensi pengepasan persegi .................................................... 218 Sambungan ekor burung ........................................................... 218 Dimensi sambungan ekor burung .............................................. 219 Bukaan kotak ............................................................................. 219 Penitik, pahat tangan, penggores dan mata bor ........................ 221

LAMPIRAN C.8

_________________________________________________
BAB VI PROSES PRODUKSI MESIN KONVENSIONAL
Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. Gambar 24. Gambar 25. Gambar 26. Gambar 27. Gambar 28. Gambar 29. Gambar 30. Gambar 31. Gambar 32. Gambar 33. Gambar 34. Gambar 35. Gambar 36. Gambar 37. Gambar 38. Gambar 39. Gambar 40. Gambar 41. Gambar 42. Gambar 43. Gambar 44. Gambar 45. Gambar 46. Gambar 47. Gambar 48 Gambar 49. Gambar 50. Gambar 51. Poros lurus ................................................................................ 228 Poros bertingkat (step shaft) ..................................................... 228 Poros tirus (cone shaft) ............................................................. 228 Poros beralur dan berulir (screw thread) ................................... 228 Mesin bubut ringan .................................................................... 229 Mesin bubut sedang .................................................................. 230 Mesin bubut standar .................................................................. 230 Mesin bubut beralas panjang .................................................... 231 Mesin bubut lantai ..................................................................... 232 Mesin bubut dengan pengendali ............................................... 233 Mesin bubut tegak ..................................................................... 233 Mesin bubut dengan enam spindel mendatar ........................... 234 Mesin bubut tegak dengan delapan spindel .............................. 235 Mesin bubut tegak dengan spindel sistem rotari ....................... 235 Mesin bubut khusus untuk memotong ....................................... 236 Mesin bubut khusus ulir ............................................................ 236 Mesin bubut khusus pembuat ulir swiss .................................... 237 Mesin bubut turret ..................................................................... 237 Sumbu utama ............................................................................ 239 Meja mesin bubut ...................................................................... 239 Eretan (carriage) ........................................................................ 240 Kepala lepas ............................................................................. 241 Tuas pengatur kecepatan ......................................................... 241 Tuas pembalik putaran (C) ........................................................ 242 Plat tabel kecepatan sumbu utama ........................................... 242 Tuas pengatur kecepatan sumbu utama .................................... 243 Penjepit pahat ........................................................................... 243 Eretan atas ................................................................................ 244 Keran pendingin ........................................................................ 244 Poros transporter dan sumbu pembawa .................................... 245 Dimensi utama mesin bubut ..................................................... 246 Cekam rahang tiga sepusat (selft centering chuck) ................... 247 Cekam rahang tiga dan empat tidak sepusat (independent chuck)................................................................... 248 Plat pembawa ........................................................................... 248 Pembawa .................................................................................. 249 Penyangga ................................................................................ 249 Penggunaan penyangga ........................................................... 250 Kolet .......................................................................................... 250 Kelengkapan kolet ..................................................................... 251 Contoh penggunaan kolet ......................................................... 251 Senter ....................................................................................... 252 Taper attachment ...................................................................... 252 Geometris pahat bubut .............................................................. 253 Pahat bubut rata kanan ............................................................. 255 Pahat bubut rata kiri .................................................................. 255 Pahat bubut muka ..................................................................... 256 Pahat bubut ulir metrik ............................................................... 256 Jenis-jenis pahat bubut dan kegunaanya................................... 257 Pahat bubut dalam .................................................................... 258 Contoh pembubutan dalam ....................................................... 258 Pahat potong ............................................................................. 258

........................................................................... Gambar 93........... Gambar 106.................................. Gambar 61................ 272 Ulir segitiga dalam ............................ 283 Mesin frais tegak ................................... Gambar 71.................................... Gambar 78........................................................................... 274 Pengeboran lubang senter ....................................... Gambar 58................................... Gambar 97............ 287 Cutter radius cekung ................................................................. 292 Pengikatan cutter batang lurus ....... 265 Pembubutan lurus benda yang panjang ........................ Gambar 101......... 259 Pahat keras ....................... Gambar 87.................... Gambar 85. 282 Mesin frais roda gigi (gear hobbing machine) ...................................... 268 Membubut tirus diantara dua senter ............................................................................................... Gambar 68........................................... 282 Mesin frais duplex .......................................................................................................... 273 Ulir segitiga dua jalan .......................... 274 Membubut dalam tirus ............................. Gambar 72............. Gambar 105........ 267 Pembubutan tirus dengan menggeser eretan atas... 278 Pemotongan alur ...................9 Gambar 52... Gambar 81..... Gambar 63.......................... Gambar 70.......................................................................................................... 269 Membubut bentuk ............................................................................................................ Gambar 92..................................... 286 Gear cutter ................ Gambar 59....... 292 Adaptor ......................................................................................... 282 Mesin frais planer ....................... Gambar 98........ Gambar 76.................................................. Gambar 66..... 287 Cutter radius cembung ........... 284 Komponen-konponen mesin frais tegak ................... Gambar 60.................................................... 260 Kartel ................................................................ Gambar 74...... Gambar 79..................................................................... Gambar 84............ Gambar 104. 275 Prinsip pemotongan pada mesin frais ............................................................................. 281 Mesin frais bed .............................................. 264 Membubut permukaan...................................... 285 Cutter mantel .............................................. Gambar 90....................... 269 Gambar kerja membubut tirus diantara dua senter .......................... 290 Posisi cutter pada arbor ........ Gambar 99.............................................................................................................................................. 281 Mesin frais universal ..... Gambar 107.... Gambar 55........ 283 Bagian-bagian utama mesin frais horisontal ............................... Gambar 62........ Gambar 77................................................... Gambar 64........ 289 Shell endmill cutter ................ Gambar 102............ 292 Pemotongan searah benda kerja ......... Pahat bentuk ............ Gambar 75...................................................................................... Gambar 94.............. 281 Mesin frais universal ......................................................... 259 Bor senter .....................................LAMPIRAN C...... Gambar 96............................................................................................... 279 Mesin frais horizontal .......................... Gambar 54... Gambar 89....................................... 273 Standar kedalaman ulir metrik............. 265 Arah gerakan pahat dan benda kerja ...................................................................................................................................................................................................................... Gambar 73... Gambar 56.................................... Gambar 91. Gambar 69............................................ Gambar 57............. Gambar 80................. 285 Mesin frais universal ....................................... 265 Pembubutan lurus benda yang pendek ... Gambar 83... 273 Ulir segitiga kiri .. Gambar 65... 289 Pisau frais gergaji ...... 266 Pembubutan lurus untuk batang panjang ..... 290 Cara pemasangan pisau frais.............. 272 Ulir segitiga kanan ..................... 293 ..................... Gambar 82...... 271 Membubut alur ..... 288 Cutter endmill ............................................. 287 Cutter alur “T” ......... 289 Pisau pengasaran .................................................... 271 Ulir segitiga luar .. Gambar 53................. 269 Perlengkapan tirus .................. 280 Mesin frais vertical ..................................... 286 Pisau alur dan penggunaanya........................... 291 Stub arbor .............................. Gambar 88. Gambar 103..................... 260 Jarak tempuh pahat bubut ......................................... 288 Pisau sudut dan penggunaanya ......................... Gambar 100.................. Gambar 86........... Gambar 67........... 273 Standar profil ulir jenis metrik ...................................................... Gambar 95..........

... 311 Pemutaran handel pemakanan ....................................... 313 Pembuatan alur pasak pada mesin frais horisontal .... 313 Pengefraisan blok V ........ Gambar 117........................ Gambar 124................................... 293 Pemotongan netral..... 298 Kepala lepas ............ Gambar 147........... 307 Pemasangan cutter dan kollar (ring bor) .................................................................................. Gambar 149............................. 310 Penandaan kedalaman pemakanan... Gambar 144........... 310 Proses pemotongan benda kerja ............................................................................................ Gambar 109........................................ Gambar 151........................................ Gambar 143........................................................................ 299 Adaptor ................................................................................. 318 Gear plain cutter (pisau gigi tipe plain)............................... Gambar 141....... 307 Membersihkan bagian tirus ................................. 309 Setting nol di atas permukaan kerja dengan kertas ................................................. Gambar 142....................................... Gambar 132............. Gambar 112.. 324 Mengukur dengan siku dan mikrometer kedalaman ............ 308 Pemasangan pendukung arbor......................... 327 Ukuran gigi rack .................................. Gambar 114........................... Gambar 133.. 330 Bagian dari mistar ingsut nonius ............... 309 Pemasangan benda kerja pada ragum .......................... 333 ........ 295 Ragum putar ......................... Gambar 113............ Gambar 128a........... 300 Jarak tempuh pada pengefraisan vertical ................ Gambar 135...................................................... Gambar 139................................ 328 Pengefraisan gigi batang pendek........... Gambar 156............................................................. 308 Pengecekan kesejajaran ragum. 300 Kepala pembagi ........... Gambar 121.............. 313 Pemotongan shoulder ........................................ Gambar 119.............................. 295 Ragum biasa ................................................................................ 313 Model alur dan shoulder .......................................................................................... Gambar 137....... 314 Pembuatan alur pasak dengan pisau terpasang pada spindel mendatar ...................................... Gambar 129....................................... 299 Arbor ..... Gambar 146.......................................................................................................... 329 Perlengkapan pembagi batang bergigi... Gambar 111.................. 325 Pemotongan gigi lurus ..................... Gambar 134..... 329 Roda gigi lurus ......................................................... 328 Ragum dan perlengkapan frais batang bergigi (rack milling attachment and vice).......................... Gambar 127............................................. Gambar 138......................................................................... Gambar 155.. Gambar 110........... Gambar 120............... 299 Rotary table ............ Gambar 116...........................................LAMPIRAN C.... 312 Pengefraisan bidang miring yang kasar ... Gambar 148..................... 305 Pemasangan arbor.................. Gambar 136......................... 324 Roda gigi lurus ......... 296 Kepala pembagi ... Gambar 157......................... Gambar 126....... Pemotongan berlawanan arah benda kerja ......................................................................... 313 Pembuatan alur.............................................. 323 Pemasangan benda kerja dengan meja putar .......... Gambar 128b............ Gambar 118......................... 312 Blok V......................... Gambar 123..................... 315 Pengefraisan segi empat dengan endmill cutter ............................. 312 Pengefraisan bidang permukaan miring..... 321 Gear stocking cutter (pisau gigi tipe stocking)......... Gambar 115.......................................................... Gambar 153....................... 315 Istilah pada roda gigi ........... Gambar 131.......10 Gambar 108......................................................................................................... Gambar 140.......................................................................................... Gambar 122........................ 311 Proses pengefraisan bidang rata dengan shell Endmill cutter ............. Gambar 125.............. Gambar 154.................................................... 296 Ragum universal ....................... Gambar 150................................................................... 294 Sudut-sudut alat potong/pisau frais/cutter .... 321 Pemasangan benda kerja dengan mandiri............ Gambar 145........................ 307 Mengikat arbor ..... Gambar 152............. 314 Pengefraisan alur pasak pada mesin frais tegak ................................... Gambar 130................ 315 Pengefraisan persegi empat dengan shell endmill Cutter ...............

........................... TNM.. Gambar 12...... Gambar 170........ 402 Mesin bubut CNC production unit (PU2A) ........... Contoh pengukuran 9................... Gambar 11......................5 mm ............................ Gambar 4.. Penggunaan kaca mata............................................................................. 409 Alat potong berputar searah jarum jam (M03) ................ Gambar 17.... Gambar 28......... 394 Benda kerja stang torak ..... 333 334 334 335 336 336 336 337 345 346 346 347 348 348 349 BAB VII PROSES PRODUKSI BERBASIS KOMPUTER Gambar 1......... Menarik lilitan tatal dengan batang penarik ............... TR pada mesin CNC bubut . Gambar 21.............. Gambar 6............. 400 Benda kerja torak ............ Gambar 32....................................................... Gambar 19.............................................................. Mikrometer luar dengan nama bagianya ....... 390 Benda kerja berupa bola ....... Gambar 25.... Gambar 33....... 407 Gerakan sumbu utama menganut kaidah tangan kanan ............................................................................ Contoh pembacaan mikrometer .............. Gambar 22............................... Gambar 159................... Gambar 15.......... Penunjukkan jarak ukur ............................. Gambar 169................................ Penggunaan pakaian kerja pada mesin frais............... Produk gambar CAD 2D dan gambar 3D ........ Contoh penggunaan mistar geser ............... TR pada mesin CNC frais ..................... 401 Benda kerja batang torak ....................... 398 Benda kerja torak dan dimensinya ........... Gambar 165....... 383 Benda kerja berupa box .................... 353 Menentukan kooordinat benda 2D ................................. 406 Pengukuran metode inkrimental ........ 391 Benda kerja berupa poros bertingkat ............................. 392 Benda kerja potongan A-B ...... 390 Benda kerja berupa torus .................................................. 412 Pembubutan lurus dan tirus pada mesin bubut CNC ........................................... Gambar 29. Penunjukan garis ukur...................................... Gambar 23................... 410 Cairan pendingin disemprotkan untuk mendinginkan alat potong dan benda kerja ......................... 408 Posisi TNB.. Gambar 172..................................................................................................................... Gambar 18.................................. 389 Benda kerja berupa silinder ................ 403 Mesin frais CNC ................................................11 Gambar 158..................... Gambar 167. Gambar 163............. 388 Benda kerja berupa CONE ............... 414 Arah pemakanan melingkar G 02 pada mesin ... Gambar 26................. Gambar 171.............. Gambar 8.......................................................................................... Gambar 30........................... 356 Jenis simbol bekerja dengan block ........... Penggunaan pakaian kerja pada mesin bubut ....................................................... Gambar 16........... Gambar 7.................................................... Gambar 166.................. 404 Pengukuran metode absolut ............ Penggunaan sepatu kerja ............................ 413 Arah pemakanan melingkar G 02 pada mesin CNC bubut ........................................................ Gambar 162................... Gambar 27........................................................................ Gambar 31............................ 413 Pemakanan lurus pada mesin CNC frais...................... 410 Arah putaran spindle berlawanan arah dengan jarum jam (M04) ... Gambar 2. 392 Bagian benda kerja stang torak ............................................................................ Gambar 3... Gambar 10......................................... Gambar 5.................... 407 Pengukuran metode inkremental ...... Gambar 14.......... Gambar 24........ Membersihkan mesin dengan kuas...................... Gambar 20.......... Gambar 13................................................ Prinsip skala metrik ............... 409 Posisi TNB........................... TNM............................................................. 411 Gerakan cepat alat potong di atas benda kerja ............................................ Gambar 164.......... Gambar 161........................ Tabung ukur dan tabung garis ............. Membersihkan chip/beram pada saat putaran mesin harus berhenti .. Gambar 9................................................... Gambar 160.LAMPIRAN C.......................................... Gambar 168..................... 392 Benda kerja stang torak .... 400 Benda kerja klem batang torak .........

......................... Gambar 47................................................................. Perhitungan koordinat titik 1 ............ Gambar 67......................................................... Siklus pemakanan memanjang G 84 .. Siklus pemakanan memanjang G 81 mesin Gildmeister ......... Gambar 8............. Nilai I...... 415 Arah pembubutan melingkar G 03 pada mesin CNC bubut .............................. J........... Control panel mesin EDM ................. Gambar 9... Dimensi paron bola dan dimensinya ............. Siklus pembubutan melintang dengan finishing G 37 G 82 .. Gambar 62.............. Titik nol benda kerja ... Gambar 42...................... Dimensi handel .. Gambar 46..... Gambar 50....... Gambar 51................1990)..... Gambar 5........ Gerak alat potong bergeser ke kiri lintasanya ......... Gambar 49.................................................................. _________________________________________________ BAB VIII Gambar 1........ Gambar 61......... K inkremental .. Mesin CNC TU 2A EMCO........................................................ Gambar 7........ Benda kerja asbak rokok ............................................................................................. Siklus kantong lingkaran .....................LAMPIRAN C......................... Menteri catur ................................................................................................................................. Gambar 40........... Gambar 56....... Perhitungan koordinat titik 3 dan titik 5 ..... 476 Kompresor diafragma ............................. Benda kerja pion yang akan dibuat ....... Gerak alat potong sesuai lintasan G 40 .................................................. Gambar 52............... Gambar 37.... K absolute ...... 474 Kompresor torak resiprokal ............ SISTEM PNEUMATIK DAN HYDROLIK Efekfitifitas udara bertekanan (werner Rohrer. 1994)......... Siklus pembuatan kantong .............. Mesin frais CNC TU 2A EMCO . Gambar 63................... Gambar 41............................................. Gambar 58.... Menentukan titik nol benda kerja pada mesin CNC frais ................................................................................................ Pemrograman inkremental G 91 ............... Sumbu simetri mesin frais CNC TU 3A EMCO ........................................................................................................ Mesin EDM (Electrical discharge Machining) . J........................ Gambar 36............................ Gambar 48....................... Gambar 39.................... Gambar 43..................................................... Gambar 35........ Penentuan titik koordinat paron bola ..... 416 Arah pembubutan melingkar G 03 pada mesin CNC frais ............ 416 417 417 418 418 419 420 422 423 424 424 425 426 426 427 428 429 429 430 432 432 433 434 435 436 437 439 439 440 443 465 466 467 Gambar 34. 2001) .................. 476 Kompresor rotair baling-baling luncur (FESTO transparan).......... Siklus pembuatan ulir G 33 ........................ Gambar 64................ Gambar 44......... Sistem persumbuan pada mesin bubut ....................................... Gambar 54....................................................... Produk mesin benda kerja mesin EDM .. Gambar 3...................................... Gambar 65............................................. Gambar 60............................................................................................................. Nilai I...... Perhitungan koordinat titik 2 ........ Gambar 4.............. Gambar 38.................................................. 471 Klasifikasi elemen pneumatik (FESTO fluidSIM)....................... 473 Klasifikasi kompresor (Majumdar.................. Gambar 59.................................... Gambar 53. 478 .... Gambar 6..12 CNC frais .... 478 Kompresor model Root Blower ...................................................................................................................... Gambar 45... Gambar 55................. Siklus pengeboran ............................................... Gambar 66.... Detail perhitungan kontur paron bola ................. Siklus pembubutan melintang G 36 G 82 ........ 477 Kompresor sekrup (Gottfried Nist..................................... Gambar 57. 475 Kompresor torak dua tingkat sistem pendingin Udara ................................ Gambar 2.........................................................................................................................

............... Kompresor aliran radial (Gottfried Nist........... 482 Pengering udara ............... Gambar 47.................... 496 Jenis dan simbol motor pneumatik / rotary Actuator (FESTO fluidSIM) ........................... Analisis kecepatan torak ................. 486 Detail pembacaan katup 5/2 . 483 Tabung Pelumas ........................................................................ Gambar 34......... 483 Tabung pelumas... Gambar 37................................ Gambar 14.. 492 Katup pengatur aliran ........................................ Gambar 55................ 486 Macam-macam konektor ..................................................... Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Udara Kempa .................................... Gambar 27.. Gambar 26................................................... 482 Pemisah air ................ 490 Katup dua tekan ............................................................................... Gambar 41.............. Gambar 23................................................................................................................................ Gambar 15... 489 Katup 4/3 plunyer pembalik pegas ................. 480 Kompresor torak berpindah (Moveble) . Analisis tekanan pada penampang berbeda ........................... Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik dan Udara Kempa..... Gambar 48 Gambar 49 Gambar 50.................. Gambar 53........................... Gambar 25........................................................ Gambar 59...... Katup sinyal roll 3/2 . Gambar 36........................................................ 494 Double Acting Cylinder dan simbolnya ......................... Gambar 21.................................................... Gambar 57.................. Analisis gaya torak ............................. Gambar 44........................... 495 Double acting cylinder with cushioning ............................. 487 Katup 3/2 knop pembalik pegas ............................... 484 Unit pengolahan udara bertekanan ....... 484 Jenis-jenis konduktor .. 481 Filter udara ........................................................... Gambar 58.................................................................. Katup kendali 5/2............. Gambar 12..... Gambar 33.... Gambar 11.............. Gambar 24.......................... Gambar 18...................... Gambar 51......................... Gambar 31............. Gambar 22.................................................................................. 480 Distribusi sistem pengolahan udara bertekanan .. Gambar 54....... Gambar 30... 482 Kompresor torak .......................................... Gambar 52. 489 Katup 5/2 plunyer pembalik udara bertekanan ..... Sistem tekanan dalam pneumatik ..... Gambar 38............................... 487 Katup 3/2 knop pembalik pegas .................................................. 496 Rotari vane motor ......... 489 Katup satu arah dan simbolnya .................. Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Magnet ........................................................................... 495 Motor piston radial dan motor axial motor ..................................................................... 491 Pressure regulator valve .............. 479 Kompresor aliran aksial .......... Gambar 40......................... 490 Shuttle valve .......................... Pengendalian silinder sederhana secara langsung .LAMPIRAN C....................... Penampang dan Simbol Katup Kendali 5/2 Pengggerak Mekanik Udara Kempa dan Pembalik Pegas ........................ Gambar 35................................................................................... 491 Katup buang cepat .................... 481 Tangki udara . Gambar 45....................... 493 Shut of valve ....................... 1994) ........................................................................................................................................... Gambar 46....................... Analisis debit udara .... Tipe-tipe mounting .............................................. Gambar 20............................. Gambar 32.................................... 492 Time Delay Valve ................................................................................................ 497 499 505 506 507 507 508 510 513 514 514 515 515 516 516 517 ................................... Gambar 16.. Gambar 19........................13 Gambar 10........... Analisis debit udara ......... 493 Jenis-jenis single acting cylinder dan Simbolnya................................................... Analisis daya pompa ........................................ Gambar 42................................ Gambar 56. Gambar 17...................................................... Gambar 39.............................. Gambar 43..................................................... 488 Katup 4/2 plunyer pembalik pegas ....................... 491 Squence valve ...... Gambar 29.. Gambar 28........... Gambar 13...............................................................................

560 Pompa roda gigi tipe cresent ...0 penggerak ganda ....... Gambar 95... Gambar 74... 553 Silinder hidrolik penggerak ganda ............................. 566 Efisiensi Volumetrik................................ 558 Pompa hidrolik .................... Gambar 63............... 552 Pompa torak radial ........................................................................................................................ 557 Perhitungan kecepatan torak ............................................... Gambar 101............ Gambar 96........... Penggunaan robot dalam sistem otomasi industri ............... Gambar 65......................0 A+. Gambar 77................................... 556 Prinsip hukum pascal ................................................................... Gambar 104....................4 (Y) ......................... 518 Rangkaian dan diagram gerak silinder melalui Dua katup .................... Gambar 71............................................... Gambar 81.. 519 Pengendalian otomatis silinder penggerak ganda ............................................................................ 536 Pengangkat benda .................. 567 BAB IX PROSES PRODUKSI INDUSTRI MODERN Gambar 1... Gambar 100..... Gambar 91.............................. Gambar 103.......................................................... Gambar 88............ 532 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S3 ............ Gambar 66.......................................... Gambar 62..2(X) ......................................................................................... Gambar 75............ 525 Diagram karbought untuk saluran 1.......... Gambar 80................................................................................... 527 Diagram Karnought untuk saluran 1....................................................... Gambar 67....................................................... 563 Bent axis piston pump ................ 521 Aplikasi gerak silinder 1................ Gambar 82.............. 548 Cappilary viscometer ...LAMPIRAN C. 521 Diagram rangkaian kontrol pintu bus otomatis .................. 533 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S3 ........ 554 Aplikasi penggunaan sistem hidrolik pada alat Berat ............. Gambar 70................................. Gambar 102....... 520 Diagram gerak silinder 1.................. Gambar 93....................................... Gambar 99............... Gambar 64............... Gambar 92...................................................... Gambar 79..... 551 Pompa hidrolik sirip burung ................................................................................................. Gambar 72............................ 531 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S2.... Gambar 76........ Gambar 84......................................... 535 Pembuatan profil plat .. 534 Penahan / penjepit benda .......................... Gambar 98... Gambar 94.......................... Gambar 87................ 537 Viscometer ............................................. Gambar 97................................................................... Gambar 85......................... Gambar 86........................................... 536 Pengangkatan benda ....................................... 563 Tangki hidrolik reservoir dan simbolnya ............................................................................................ 528 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S 4 ................................. 558 Tekanan absolute ............. 522 Diagram tahap perpindahan ........... A................................................. Gambar 68. 554 Motor hidrolik roda gigi ...................... Gambar 78....................................................................... 562 Radial piston pump ....... 553 Pompa sekrup ............................................................... 530 Membuka pintu bus dengan menggunakan Katup S2 .......................... Gambar 89.............................................................................................. Penggeser benda kerja ......................................... Gambar 90............................................ 535 Pemotong material ............ 525 Simbol logika untuk gerakan pintu bus .................. 529 Menutup pintu bus dengan menggunakan katup S4................ 565 Suction filter ........................................................... 555 Klasifikasi hidrolik dalam penampang dan skema............................................... Gambar 61...................... 561 Pompa roda gigi tipe gerotor . 569+4 ............ 552 Pompa hidrolik torak aksial ............ 555 Macam-macam model katup pembatas tekanan ............ Gambar 69............................. Gambar 105......... 548 Pompa hidrolik roda gigi ....................... Gambar 83.........................................14 Gambar 60........ 562 Balanced vance .............................

..... 585 Contoh simbol device masukan .......................................... Gambar 11.................................................................... 577 Relay tunggal dan sistem relay pada mesin CNC ......................................................................................... 599 Ladder diagram dengan pengunci ........ Gambar 25........................ 579 PLC training unit .................................................................................................................. Gambar 44............................. 597 Pembuatan diagram ladder ........... Gambar 10....... 601 Penambahan relay untuk memperbesar Kemapuan arus ...... 578 PLC OMRON tipe ZEN dan PLC LG ... Gambar 47............................................. Gambar 31........................................... Gambar 9........................ Gambar 43.............................. Gambar 23................................................................. ouput................. Gambar 22................ 599 Ladder diagram ............................................. Gambar 45....... Gambar 34.............................................................................. Gambar 6...................... 586 Slot modul masukan atau keluaran PLC .... 603 DIFU dan DIFD ................... Gambar 20.... Gambar 13....................................................................... Gambar 36...................................................................................... Gambar 48... Gambar 17........................................................................................ Gambar 27............... 588 Contoh device keluaran dan simbolnya .......................... Gambar 30.... Gambar 14............................................. Gambar 28.................................................................................................................................................................... Gambar 15............................. 591 CPU PLC (OMRON) ................ Gambar 5........................ Gambar 3.... Gambar 37............ Gambar 35............................................ 600 Ladder diagram kebalikan diagram dengan Pengunci ................................................................... 584 Simbol logika TIMER dan COUNTER .................. 581 Simbol logika OUT dan OUT NOT .......................... 602 Rangkaian latching ....... 604 SET dan RESET .. 574 Penggeser pneumatik dan robot industri yang siap Menggantikan tenaga manusia ............... 603 Aturan KEEP ............ Gambar 7.. 589 Diagram blok PLC ...........15 Gambar 2.................................... 612 ...... Gambar 46............ 611 Diagram ladder ............ Gambar 41. 602 Diagram ladder latching ............. 584 Simbol logika OR LOAD ........................... 600 Cara penyambungan perangakat input dan output Lebih dari satu channel ...... Gambar 40.................................................................... 598 Akhir dari diagram tangga menggunakan END .............. Gambar 12...... Penggunaan robot dalam sistem otomasi industri..... 608 Sistem kerja pengisian air otomatis ................. 592 Catu daya ..... 604 Rangkaian switch relay ......... Gambar 16............................ 601 Rangkaian input unit CPU PLC OMRON CPM1AXXCDR................................ Catu daya ........ 598 Penyambungan perangkat input............................................................................. 603 Tanda KEEP ............................................................... 590 Hubungan antara I/O dengan perangkat lumak ............................... 581 Simbol logika OR dan OR NOT ....................... Gambar 4........ Gambar 42........................................ Gambar 19....... Gambar 18.......... 580 Simbol logika AND dan AND NOT ........................................................................................................ Gambar 24.................... Gambar 39......... Gambar 8.................. 597 Akhir dari diagram tangga menggunakan END ....................................................... Gambar 21...... 580 Simbol logika LOAD dan LOAD NOT ................................................. Gambar 29.... Gambar 32............. Gambar 33.......... 595 Tampilan menu utama program SYSWIN OMRON ..... 607 Diagram ladder .......... 576 Robot industri dalam proses manufacturing ......... 602 Rangkaian input dalam unit CPU PLC OMRON CPM1A-XXCDR (351352 pelatihan PLC OMRON) .... 596 Tampilan ladder diagram .... 583 Simbol logika AND LOAD ..................................... 587 Handled programmer (OMRON) .................... PLC. 605 Aplikasi PLC ........... Gambar 38... 587 Desktop ................................................... Gambar 26.................. 605 Diagram ladder aplikasi koil ......................................................LAMPIRAN C...........................................

.................................. Gambar 21.............................. Gambar 2........ 651 Strain gages uniaxial ... Gambar 10.... 649 Aplikasi sensor non-contact menggunakan kemera Dan laser ......................... translasi ........................ 630 Gerak robot rotasi........ Gambar 36...... Gambar 25............................................................... Gambar 5a... 623 Efektor robot .... Gambar 45. 647 Berbagai macam tipe limit switch ................................................................ Gambar 39..... 649 Sensor jarak ... 651 Strain gages ............... Gambar 7............ 630 Gerak robot total translasi ................. 649 Transmisi data ............................. 625 Robot low technology .... Gambar 41............................................... Gambar 33............................. 637 Jangkauan kerja sisi atas ......... Gambar 47........... translasi................... 628 Robot dalam proses manufactur ........... Gambar 22............ 652 Kawat susunan rosette pada strain gages ............... Gambar 29. 645 Contoh sistem vakum ................................... Gambar 34................... Gambar 19........................................................ 654 Thermistor ........................... Gambar 6.................... 615 BAB X TEKNOLOGI ROBOT Gambar 1.. 636 Jangkauan kerja koordinat silindrikal padangan atas .................................................................................. 622 Catu daya pneumatik .......................... 638 Robot palletizing ............. Diagram ladder aplikasi sistem alarm .......................................... 624 Base manipulator jenis kaku ................................................................... Gambar 44................ Gambar 11... Gambar 20............................................. 627 Robot las pada jalur perakitan ........ 620 Komponen dasar manipulator robot ....................... Gambar 27.......... Gambar 17...................................... 643 Jenis gripper menggunakan penggerak Pneumatik ................................................. Gambar 16................... 619 Penggunaan robot pada sebuah laboratorium ......................................................................... 639 Robot perakitan dengan pelengkap kamera ..... 637 Robot material handling ............................................................................................................................................................ 631 Aplikasi koordinat kartesian .................... 623 Catu daya hidrolik ..................................... 642 Efisiensi kerja penggunaan robot pada aplikasi Pengecatan ...................... 644 Aplikasi gripper vakum ..................................... 636 Jangkauan kerja robot sisi samping ................................. Gambar 4........... 633 Prinsip koordinat polar dan aplikasinya ...................................................................................................... Gambar 13............. 641 Aplikasi pada robot pengelasan ......16 Gambar 49...... Gambar 8............................................................. 648 Sensor non-kontak aplikasi warna ............. Gambar 35....... 633 Jangkauan kerja koordinat silindrikal ............... 646 Sistem kerja griper menggunakan magnet ........... Gambar 12................... Gambar 37... 639 Line tracking .............................................. Gambar 15... 632 Prinsip koordinat silindrikal dan aplikasinya ..................................................... 623 Catu daya listrik .................................................................... Gambar 31............................................................. Gambar 40........... 649 Photoelectric ................................................................... Gambar 46....................................... 644 Aplikasi tangan menggunakan gripper mekanik ........................................... Gambar 23.........................................LAMPIRAN C...................................................................... Gambar 32.................................. Gambar 38.................................... Gambar 3...... Gambar 28........................ 653 Aplikasi thermokopel . Gambar 43.................................. 631 Gerak robot full rotasi.................................................. Gambar 30....................................................................................... Gambar 24....... 652 Berbagai macam aplikasi RTD .............................. 640 Jenis robot aplikasi dalam pengecatan ........................ Gambar 5b.... 655 ............ Gambar 5c.......................... Gambar 42............... 621 Robot dan kontroller ................................................................... Gambar 9...................................... Gambar 14...... 655 Tabung tekanan .............................. translasi... Gambar 18... 628 Sistem Persumbuan robot ......... Robot siap menggantikan tenaga manusia .................... 645 Aplikasi gripper magnet ........................................ Gambar 26....................

.... 664 Aplikasi motor AC ........... 663 Prinsip kerja motor AC................................................................................................................................. 661 Katup ................... Gambar 65........ Gambar 54............. Gambar 64................................ Gambar 49........................................................................................................................................................ Gambar 63............... Gambar 58....... 659 Prinsip kerja solenoid ................ 662 Prinsip kerja motor DC ... Gambar 55..................................LAMPIRAN C............. 657 Cakram ecendor ............. Gambar 61................ 657 Aplikasi tachometer ....................... Gambar 52.................................................................. Gambar 59... Gambar 51............................................................................... Gambar 60............. 665 Salah satu contoh stepper / motor langkah ............................... 658 Rangkaian LVDT .............................. 662 Silinder penggerak ganda ........... 659 Aplikasi LVDT ................................................... 658 Aplikasi ecendor .................. Gambar 62. Gambar 57.... Venturi .....17 Gambar 48...................... Gambar 56........ 660 Solenoid electro-mekanik ................................................. Gambar 50.............................................. Gambar 53........ 656 Tabung pitot untuk mengukur aliran gas ............................................................................ 666 ...................................................... 665 Prinsip kerja motor stepper ................ 656 Prinsip kerja tachometer dengan pulsa listrik yang dihasilkan ................... 661 Silinder gerak tunggal ..........................................................................

18 .LAMPIRAN C.

.

Penyimpan data dalam computer. pemberi pelumas pengatur tekanan fluida sistem. Tempat dudukan alat potong mesin frais. Catu daya Diagram tangga yang digunakan dalam PLC. . Alat pembangkit tekanan fluida. Alat pengatur arah.LAMPIRAN D. Kumparan kawat yang dapat dialiri listrik. Tempat untuk menjepit benda kerja pada mesin bubut.1 GLOSARY PLC CNC Pneumatik Hydrolik Sensor N Code G Code Griffer Inkremental Absolute Polar Feeding Actuator Katup Compressor Arbor Cekam Cutter Air Service Unit Balamced Vane Bent Axis Piston Processor Power Supply Ladder Logic Selenoida Memory : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Programmable Logic Controlled Computer Numerically Controolled Ilmu tentang pemanfaatan udara bertekanan Fluida untuk meneruskan tenaga Masukan ke dalam sistem atau sinyal Kode kalim at dalam pemrograman mesin CNC Kode instruksi dalam pemrograman mesin CNC Lengan robot untuk mengambil material Pengukuran berdasarkan pada perubahan panjang lintasan Pengukuran berdasarkan pada perubahan panjang lintasan Pengukuran berdasarkan pada perubahan besar sudut lintasan Kecepatan asutan dalam pemakanan benda kerja Penggerak benda kerja atau output dari suatu sistem. Komponen pembersih (filter). Pompa kipas balanced. tekanan maupun kecepatan fluida dari sistem. Pisau penyayat benda kerja. Pompa torak dengan poros tekuk. Pusat pengolah semua masukan dari sesnsor untuk disalurkan pada output.

.

1 INDEX A Air Service Unit 472 Aktuator 485 Aktuator 651 Anak Panah84 Aplikasi 461 Arm Geometry620 Asutan 425 AutoCAD 348 B Balanced Vane554 Bent Axis Piston 555 Bit 594 Bubut 220 Bus 513 C Centrifugal Casting34 Cetakan 29 CNC 239 coinage de making 458 Computer Aided Design (CAD) 345 Computer Numerically Controlled (CNC) 394 Crescent 553 Cutter 279 Cutting Speed 253 D Device 577 Die Casting 35 Dividing Head 293 Drilling 459 E EDM (Electrical Discharge Machining) 457 Efektifitas 462 Efektor 634 Ekor 212 Ekspandable Mold Casting 31 Elemen 14 EMCO 426 F Frais 271 G Gambar Perspektif 77 Gambar Potongan90 Garis Arsiran100 Gear Cutters 313 Geretor 553 Gips 32 Gripper 634 H Hidrolik 533 J Jangka 66 K K3 53 Katup 652 Katup 479 Kempa 461 Kerja Bangku 130 Kertas 62 Kimia 650 Klasifikasi 465 Komite 55 Kompressor 466 Konduktor 477 Koordinat 420 Kotak 213 L Ladder597 Linear 649 Logam 20 M Mal 210 Manipulator 620 Meja Gambar 70 Melukis 143 Memahat 178 Membengkok 202 Mengebor 163 Mengetap 186 Menggam bar 62 Menggergaji 173 Menggerinda 193 Mengikir 130 Menyambung 205 Menyekerap 191 Menyenei 186 Menyetempel 184 Mereamer171 Mesin Gambar 70 Metal Working 38 Mineral 20 Modul 578 Momen 642 Mounting 501 O OMRON 588 Otomasi 565 P Pascal 548 Pasir 31 Pelat 202 Pendinginan 37 Pengecatan 631 Pengecoran 28 Pengelasan 633 Penggaris 65 Penghapus 68 Penindih 209 Pensil 63 1 .LAMPIRAN E.

LAMPIRAN E.2 Perakitan 631 Plaster Casting33 Plat 527 PLC 569 Pneumatik 461 Polar 346 Poros 14 Processor 583 Profil 527 Prosedur 58 Proyeksi 79 Proyeksi Dimentris 76 Proyeksi Isometris 73 Proyeksi Miring (Sejajar) 77 Proyeksi Piktorial 72 R Radial Piston Pump 555 Ragum 527 Rapido 65 Rehabilitasi 59 Resin 34 ROBOT 610 Rotary Table 294 S Sand Casting 32 Selenoids 651 Sensor 639 Silinders 652 Simbol 55 Software 434 Solid 378 Statika 1 SYSWIN 588 T Tegangan 1 Temperatur 643 Tranduser 638 V Vernier Caliper 325 W Wire Cut 459 Wrist 625 2 .