PSIKOLOGI ABNORMAL

Drs. Kuntjojo, M.Pd

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2009

2

Kata Pengantar
Where there is a will, there is a way. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Hambatan untuk membuat diktat baik hal itu menyangkut waktu, tenaga, dan juga referensi penulis hadapi. Namun dengan kemauan yang tinggi dan atas bimbingan Yang Maha Kuasa, akhirnya diktat Psikologi Abnormal ini selesai juga. Apa yang disajikan dalam diktat ini hanya berupa garis besar materi kuliah. Penulis berharap agar mahasiswa membaca referensi yang relevan terutama referensi yang penulis pakai dalam menyusun diktat ini. Disadari oleh penulis bahwa terdapat kekurangan dalam penulisan diktat ini, baik itu menyangkut isi maupun penyajian materi. Untuk itu penulis berharap adanya saran serta kritik yang konstruktif.

Kediri, November 2009 Penulis

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

3

Daftar Isi
Halaman Judul ................................................................................................... Kata Pengantar .................................................................................................. Daftar Isi ............................................................................................................ Daftar Tabel, Bagan, dan Gambar .................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. A. Pengertian Psikologi Abnormal ..................................................... B. Manfaat Mempelajari Psikologi Abnormal ..................................... C. Ilmu-ilmu yang Berhubungan dengan Psikologi Abnormal ........... 1 2 3 5 6 6 7 7

BAB 2 KONSEPSI-KONSEPSI TENTANG ABNORMALITAS ........................ 9 A. Tinjauan Berdasarkan Sudut Pandang Tertentu ........................... 9 B. Tinjauan Secara Eklektis .............................................................. 11 BAB 3 KLASIFIKASI DAN GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA .................... 13 A. Klasifikasi Kelainan Jiwa ............................................................... 13 B. Gejala-gejala Kelainan Jiwa ......................................................... 14 NEUROSIS.......................................................................................... 16 A. Pengertian Neurosis ..................................................................... 16 B. Jenis-jenis Neurosis ...................................................................... 17

BAB 4

BAB 5 PSIKOSIS ............................................................................................ 25 A. Pengertian Psikosis ...................................................................... 25 B. Perbedaan Psikosis dengan Neurosis .......................................... 26 C. Jenis-jenis Psikosis ....................................................................... 2 BAB 6 PSIKOPAT ......................................................................................... 32 A. Pengertian Psikopat....................................................................... 32 B. Faktor-faktor Penyebab Psikopat .................................................. 33

BAB 7

RETARDASI MENTAL ........................................................................ 34 A. Pengertian Retardasi Mental ........................................................ 34 B. Faktor Penyebab Retardasi Mental ............................................... 34
Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

4

C. Tingkatan Retardasi Mental .......................................................... 36 D. Pencegahan Retardasi Mental....................................................... 38 E. Penanganan Retardasi Mental ..................................................... 39

BAB 8

STRES ................................................................................................ 41 A. Konsepsi-konsepsi Mengenai Stres .............................................. 41 B. Stres Dapat Terjadi Pada Setiap Fase Perkembvangan .............. 47 C. Usaha-usaha Mengatasi Stres ...................................................... 47

Referensi ........................................................................................................... 50

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

5

Daftar Tabel, Gambar dan Bagan
TABEL Tabel 5.1 Perbedaan antara Psikosis dengan Neurosis .................................... 27

GAMBAR Gambar 2.1. Kurva Normal ................................................................................ 9

BAGAN Bagan 8.1 Stres sebagai Stimulus .................................................................. 41 Bagan 8.2 Stres sebagai Respon ..................................................................... 42 Bagan 8.3 Reaksi Individu terhadap Stresor yang Sama, Waktu Berbeda ...... 45 Bagan 8.4 Reaksi Beberapa Individu terhadap Stresor yang sama pada waktu Yang Sama ..................................................................................... 45 Bagan 8.5 Stres sebagai Hubungan antara Individu dengan Stresor .............. 47

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

6 Bab 1 PENDAHULUAN A. Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster OnLine (2009). Menurut Kartini Kartono (2000: 25). psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”. yang menyangkut proses dan isi kejiwaan. dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses. and mental retardation) and with certain incompletely understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)” Dari empat definisi yang dinyatakan dengan kalimat yang berbeda tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian psikologi abnormal sebagai berikut. psychoses. M.Pd. psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa. pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009). Psikologi Abnormal/Drs. Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : : a branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as neuroses. Dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology. Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal. . Apa yang dimaksud dengan psikologi abnormal? Berikut dikemukakan beberapa definisi. Kuntjojo. Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian. PENGERTIAN PSIKOLOGI ABNORMAL Psikologi abnormal kadang-kadang disebut juga psikopatologi.

Psikiatri Psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa adalah cabang dari ilmu kedokteran. ILMU-ILMU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PSIKOLOGI ABNORMAL Usaha untuk mendapatkan pengertian yang luas dan mendalam tentang kelainan jiwa antara lain dilakukan dengan mengkaitkan psikologi abnormal dengan ilmu-ilmu lainnya. cara mencegah dan menanganinya. Khusus untuk konselor. Pengetahuan dan pemahaman mengenai hal tersebut diperlukan bimbingan dan konseling. Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo. pengobatan. dan pencegahan serta juga dalam hal pembinaan dan peningkatan kesehatan jiwa (Maramis. 2005: 22). dan akibat dari gangguan tersebut). MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI ABNORMAL Psikologi abnormal dipelajari dengan harapan dapat diperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang seluk beluk kelainan jiwa (jenis. dst. manifestasi. 1. Beberapa ilmu yang berhubungan dengan psikologi abnormal adalah antara lain sebagai berikut. Keterkaitan tersebut menyangkut bidang keilmuan dan juga bidang profesi. yaitu dalam hal pengenalan. dalam bidang psikiatri dan C.7 1. 2. yang mempelajari segala hal yang berhubungan dengan gangguan jiwa. penyebab. gejala. Psikologi abnormal merupakan salah satu cabang dari psikologi atau psikologi khusus.Pd. M. dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai seluk beluk kelainan jiwa diharapkan dapat bermanfaat bagi upaya pencegahan dan penanganan gangguan jiwa yang mungkin terjadi pada peserta didik. Yang dibahas dalam psikologi abnormal adalah segala bentuk gangguan atau kelainan jiwa baik yang menyangkut isi (mengenai apa saja yang mengalami kelainan) maupun proses (mengenai faKtor penyebab. B. rehabilitasi. .).

Sebagai aliran psikologi.Pd. serta diagnosis dan Neurologi diperlukan psikologi abnormal karena terjadinya kelainan jiwa dapat disebabkan oleh kelainan pada system syaraf. terlebih lagi bagi penderita psikosis. Psikologi Abnormal/Drs. Dan sebagai teknik terapi. yaitu sebagai aliran psikologi dan teknik terapi. .8 Psikologi abnormal berhubungan dengan psikiatri karena keduanya mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan gangguan dan juga penyakit jiwa. M. yaitu yang bersumber dari faktor-faktor psikologis penderita. 3. Neurologi Neurologi adalah cabang dari ilmu kedokteran yang khusus mempelajari penyembuhan struktur dan gangguan fungsi system syaraf. Kuntjojo. psikoanalisis banyak membahas kepribadian manusia beserta dinamikanya. psikoanalisis bertolak dari anggapan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi karena faktor organis dan terutama faktor psikologis oleh karena itu untuk menyembuhkan gangguan jiwa maka harus diawali dengan mengungkap akar permasalahannya. Namun pada psikologi abnormal usaha tersebut tidak sampai pada penyembuhan dan rehabilitasi. Psikoanalisis Psikoanalisis memiliki dua dimensi. syaraf. 2.

Manusia merupakan makhluk biologis.KONSEPSI TENTANG ABNORMALITAS A. seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur. Dengan demikian seorang yang jenius samasama abnormalnya dengan seorang idiot. . Berikut ini dikemukakan beberapa konsepsi mengenai abnormalitas menurut tinjauan tertentu (Maramis. Abnormalitas menurut Konsepsi Statistik Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Kuntjojo. Yang normal itu yang bagaimana? Bilamana gejala jiwa atau perilaku dinyatakan normal ? Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dijawab sebab manusia merupakan makhluk multi dimensional. sehingga perilaku manusia dapat dijelaskan dari dimensi-dimensi tersebut. Gambar 2. M. dst.1: KURVA NORMAL Psikologi Abnormal/Drs. begitu juga bila berbicara mengenai abnormalitas jiwa. 1.9 Bab 2 KONSEPSI . makhluk individu. Kartini Kartono.. makhluk sosial.Pd. 1999 : 1-10). makhluk etis. 2005 : 94-100. TINJAUAN BERDASARKAN SUDUT PANDANG TERTENTU Abnormal artinya menyimpang dari yang normal.

sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal. Abnormal menurut Konsepsi Patologis Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom klinis tertentu. Individu sebagai anggota masyarakat dituntut untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial dan susila di mana dia berada. Kuntjojo. misalnya ilusi. . kesedihan. Tetapi bila dalam menghadapi maslah dirinya menunjukkan kecemasan. fobia.dst. Abnormalitas menurut Konsepsi Kematangan Pribadi Menurut konsepsi kematangan pribadi.Pd. M. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. obsesi. 4. seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya. halusinasi. 5. Abnormalitas menurut Konsepsi Sosio-kultural Setiap masyarakat pasti memiliki seperangkat norma yang berfungsi sebagai pengatur tingkah laku para anggotanya. yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan. ketakutan. maka dirinya dinyatakan sebagai individu yang tidak normal. Abnormal menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Bila individu tingkah lakunya menyimpang dari norma-norma tersebut. dst. Psikologi Abnormal/Drs. yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya. maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik. 3.10 2. Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal.

. k. 1989 : 6-9). tujuan hidup yang realistis.11 B. 2. Memiliki spontanitas dan emosional yang tepat. Menurut Maramis (1980 : 97). 1. Menurut Maslow dan Mittelmann Maslow dan Mittelmann (kartini Kartono. i. Kriteria Pribadi yang normal menurut W. a. Ada sikap emansipasi yang sehat pada kelompoknya. terdapat enam kelompok sifat yang dapat dipakai untuk menentukan abnormalitas. e.Pd. Memiliki rasa aman yang tepat (sense of security) b. Keenam sifat dimaksud adalah sebagai berikut. c. Kuntjojo. Sanggup untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya. Mampu belajar dari pengalaman hidupnya. menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut. d. h. Memiliki tujuan hidup yang adekuat. g. TINJAUAN SECARA EKLEKTIS Tinjauan eklektis adalah tinjauan yang tidak hanya berpegang pada satu sudut pandang saja. Oleh karena itu dengan menggunakan berbagai sudut pandang diharapkan dapat diidentifikasi dengan tepat apakah perilaku itu normal atau tidak. Kepribadiannya terintegrasi. Memiliki pengetahuan mengenai dirinya secara objektif.F. M. Maramis. yang didukung oleh potensi. Pembahasan mengenai abnormalitas dari satu sudut pandang atau konsepsi tertentu ternyata memiliki kelemahan. Psikologi Abnormal/Drs. Dan berikut ini dikemukakan dua pandangan mengenai abnormalitas secara eklektis. f. Memiliki kontak dengan realitas secara efisien. Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan wawasan (insight) yang rasional. j.

Pd. Integrasi: kesatuan kepribadian. Otonomi : memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang memadai. Kuntjojo. Sikap terhadap diri sendiri : menerima dirinya sendiri. dan sosial sehingga mampu mengatasi berbagai masalah. mampu mengarahkan dirinya pada tujuan hidup. Cerapan (persepsi) terhadap kenyataan : mempunyai pandangan yang realistis tentang diri sendiri dan lingkungannya. intelektual. c. b. e. Perkembangan dan perwujudan dirinya : kecenderungan pada kematangan yang makin tinggi.12 a. bertanggung jawab. serta penilaian yang realistis terhadap kemampuannya. Kemampuan : memiliki kemampuan dasar secara fisik. . identitas diri yang memadai. f. Psikologi Abnormal/Drs. bebas dari konflik pribadi yang melumpuhkan dan memiliki daya tahan yang baik terhadap stres. d. M. emosional.

Untuk keperluan kemudahan dalam komunikasi. Psikosis tak tergolongkan II. Psikosis berhubungan dengan kondisi serebral lain 5. Psikosis Fungsional 1. Psikosis afektif 3. Neurosis Fobik Psikologi Abnormal/Drs.13 Bab 3 KLASIFIKASI DAN GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA A. baik itu menyangkut faktor penyebab. Neurosis Histerik C. Neurosis Cemas B. Psikosis berhubungan dengan kondisi fisik lain B. dan membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut maka para ahli kemudian membuat klasifikasi gangguan jiwa. Gangguan Kepribadian dan Gangguan Non Psikosis Lainnya. Kuntjojo. Secara garis besar gangguan jiwa menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) (Maramis. Psikosis A.Pd. 2005: 150-155) adalah sebagai berikut: I. gejala-gejala yang paling menonjol. Skizofrenia 2. KLASIFIKASI KELAINAN JIWA Kelainan atau gangguan jiwa beraneka ragam. Psikosis alkoholik 3. A. kemudahan pendidikan. Dementia senilis dan presenilis 2. M. Psikosis lain 5. Psikosis paranoid 4. Psikosis berhubungan dengan infeksi intracranial 4. . Psikosis Berhubungan denan Sindroma Otak Organik 1. dan berat-ringannya gangguan tersebut. Neurosis.

yaitu: 1. B. missal: gejala apa yang muncul kapan terjadinya.. . V. Retardasi Mental IV. Neurosis Tak Tergolongkan III. bagaimana prosesnya. Keadaan Tanpa Gangguan Psikiatrik yang Nyata dan Kondisi (Keadaan) Non-spesifik. dst. Neurosis Obsesif-kompulsif E. Gangguan Kesadaran a. 2005: 57). dan social-budaya. Gejala gangguan atau kelainan jiwa pada umumnya dapat dipahami dari dua dimensi (Baihaqi dkk. Sindroma Depersonalisasi H. GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA Gejala kelainan jiwa pada umumnya bersifat kompleks dan merupakan hasil interkasi antara faktor somatik (jasmani). M. Kuntjojo. hanya melukiskan bagaimana gejala itu terjadi tanpa menerangkan makna dan dinamikanya. Neurosis Depresif F. 1. Dimensi deskripstif. Dimensi psikodinamik. tidak hanya menerangkan tentang bagaimana gejala itu terjadi tetapi juga dinamikanya. psikologis. reaksi yang timbul kemudian apa. Misal: terjadi halusinasi pada pagi hari tanpa dijelaskan halusinasi tentang apa.14 D. reaksi yang terjadi kemudian. 2. dst. Neurasthenia G. Adapun jenis-jenis gejala kelainan jiwa menurut Maramis (2005: 122-128) adalah sebagai berikut. Kesadaran yang meninggi Psikologi Abnormal/Drs. Istilah Bukan-diagnosis untuk Penggunaan Administrasi. Neurosis Hipokondrik I. bagaimana hal itu terjadi. Penurunan kesadaran b.Pd. Neurosis Lain J.

Gangguan tidur d. Kuntjojo. Gangguan Inteligensi 9. Gangguan Psikomotor 6.Pd. Gangguan Pikiran a. Gangguan Kepribadian 11. Gangguan bentuk pikiran b. Gangguan arus pikiran c. Gangguan Orientasi 4. Gangguan Ingatan 3. Gangguan isi pikiran 7. Gangguan Pola Hidup Psikologi Abnormal/Drs.15 c. Hipnosis e. Gangguan Afek dan Emosi 5. Kesadaran yang berubah g. . Gangguan perhatian 2. M. Gangguan Kepribadian 10. Gangguan Persepsi 8. Disasosiasi f.

dan kurang memiliki energi fisik. . sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar. berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan mental. Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan. sebutan atau nama Psikologi Abnormal/Drs. M. hambatan emosi. lebih ringan dari psikosis. Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan melakukan aktivitas sehari-hari. 2. PENGERTIAN NEUROSIS NEUROSIS Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa. neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol. dst.Pd. Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut. 3. 1.16 Bab 4 A. Menurut Singgih Dirgagunarsa (1978 : 143). hanya memberi pengaruh pada sebagaian kepribadian. JENIS-JENIS NEUROSIS Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam gejala. Nurosis. Neurosis dapat dikenali gejala-gejala yang menyertainya dengan ciri khas kecemasan. Kuntjojo. Maramis (1980 : 97).F. B. menurut W. kurang perhatian terhadap lingkungan. gangguan-gangguan pada indera dan motorik. Dali Gulo (1982 : 179). adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar. dan seringkali ditandai dengan : keadaan cemas yang kronis. dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit. 4. Neurosis terjadi pada sebagian aspek kepribadian.

Mudah tidaknya upaya ini pada umumnya dipengaruhi oleh kepribadian Psikologi Abnormal/Drs. Maramis. Kuntjojo. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state) a. Adapun gejala-gejala neurosis cemas adalah Gejala-gejala neurosis cemas : 1) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas. Gejala-gejala neurosis cemas Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan. Faktor penyeban neurosis cemas Menurut Maramis (1980 : 261).F. dst. 2) Gejala psikologis berupa kecemasan. c. 1980 : 257-258). ketegangan. M. panik. .Pd. kepala ringan seperti mengambang.17 untuk jenis neurosis diberikan. apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. lekas lelah. faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktorfaktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam. 1980 : 258). tetapi bersifat mengambang bebas. dst. Maramis. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri dari jenis neurosis yang lain. Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang paling menjonjol atau paling kuat. keringat dingan. dada tertekan. b. bahkan kadang-kadang ada pasien yang menunjukkan begitu banyak gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W.F. perasaan tidak mampu. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan jenis-jenis neurosis sebagai berikut (W. 1. Bila kecamasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan. depresi. Terapi untuk penderita neurosis cemas Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap permasalahan.

Jenis-jenis histeria Histeria digolongkan menjadi 2. b. yaitu : psikoterapi individual psikoterapi kelompok psikoterapi analitik sosioterapi terapi seni kreatif terapi kerja terapi perilaku farmakoterapi 2. Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Histeria a. Psikologi Abnormal/Drs. . Gejala-gejala histeria Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsangrangsang emosional. yaitu reaksi konversi atau histeria minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor. teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat. M.18 penderita.Pd. Gejalagejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba. Kuntjojo. 1) Histeria minor atau reaksi konversi Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik.

Pd. d. kejang-kejang. buta. c. fugue. Psikologi Abnormal/Drs. somnabulisme. Psikoterapi suportif. sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom. 2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat. sehingga timbul gejala-gejala : amnesia.19 dengan gejala : lumpuh. . Joseph Breuer). tuli. Farmakoterapi. dan kepribadian ganda. mati raba. Faktor penyebab histeria Menurut Sigmund Freud. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja. M. Kuntjojo. melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gannguan jiwa. dst. Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud). histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. Terapi terhadap penderita histeria Ada beberapa teknik terapi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan hysteria yaitu : Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut.

panik. misalnya : Hematophobia : takut melihat darah Hydrophobia Pyrophibia Acrophobia : takut pada air : takut pada api : takut berada di tempat yang tinggi b. neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa. c. Neurosis fobik a. Kuntjojo. dst. Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut. . Terapi untuk penderita neurosis fobik Menurut Maramis. Teknik terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah: Psikologi Abnormal/Drs. M. berkeringat. Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidak sadarannya). mual. Namun bila gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah.Pd. yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional. Fobia dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan. yang disertai perasaan malu dan bersalah. rasa lelah. Gejala-gejala neurosis fobik Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia.20 3. Faktor penyebab neurosis fobik Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda tertentu. terhadap suatu benda atau keadaan.

Gejala-gejala neurosis obsesif-kompulsif Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan. Manipulasi lingkungan. Kuntjojo. yaitu setiap kali penderita merasa takut dia diberi rangsang yang tidak menyenagkan. Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan. apa upaya untuk mengajar dia alami penderita beserta yang sebenarnya psikodinamikanya.. . meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan. 2000 : 116-117). Terapi perilaku dengan deconditioning. Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D. 4. b. Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu. Neurosis obsesif-kompulsif a. Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian. M. Contoh obsesif-kompulsif antara lain .Pd. Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang ia curi. Psikologi Abnormal/Drs. Terapi kelompok. Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus.21 Psikoterapi memahami suportif.

Neurosis depresif a. ingin mengakhiri hidupnya. terutama perasaan yang negatif pula. yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil). Terapi untuk penderita neurosis obsesif-kompulsif psikoterapi suportif. melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran yang negatif. Burns (1988 : 6). yang kemudian menciptakan suasana jiwa.Pd. insomnia. rasa harga diri rendah.Faktor penyebab neurosis depresif Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D. penjelasan dan pendidikan. Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu bersifat objektif. dan cenderung menyalahkan diri sendiri. d. 5. cepat lupa. Dan penafsiran ini bisa keliru bahkan Psikologi Abnormal/Drs. melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan. terapi perilaku. b. Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah : gejala jasmaniah : senantiasa lelah. gejala psikologis : sedih.22 Trauma mental emosional. anoreksia. Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas tersebut. bahwa depresi bukanlah suatu gangguan emosional sama sekali. bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan. Gejala-gejala neurosis depresif Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat. putus asa. . dst. Kuntjojo. M. tetapi merupakan produk “keterpelesetan’ mental.

M. Terapi kognitif dilakukan dengan cara membetulkan pikiran yang salah.1: PROSES TERJADINYA DEPRESI c. Psikologi Abnormal/Drs. yang telah menyebabkan terjadinya kekacauan emosional. Konsepsi tersebut kemudian oleh Burns dijelaskan dengan visualisasi sebagai berikut (1988 : 21). Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan emosional. yang dilakukan dengan prinsip sebagai berikut. . Terapi untuk penderita neurosis depresif Untukmenyembukan depresi.Pd. DIALOG INTERNAL Realitas yang dihadapi ditafsirkan dengan pikiran-pikiran yang mengalir terus. • Semua pengalaman diproses melalui otak dan diberi makna secara sadar sebelum terjadi respon emosional. Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran atau pemikiran ang bersangkutan. Jika depresi sedang terjadi maka berarti pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam. Burns (1988 : 5) telah mengembang-kan teknik terapi dengan prinsip yang disebut terapi kognitif.23 bertentangan dengan realitas sebenarnya. Kuntjojo. INDIVIDU Bagan 4. REALITAS Sederetan peristiwa yang : • Positif • Netral • negatif MOOD • Perasaan diciptakan oleh pikiran.

dst. kecemasan. Gejala utama gangguan ini adalah tidak bersemangat. Psikologi Abnormal/Drs. emosi labil. Kuntjojo. . yaitu sebagai berikut. sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit. 6. Terapi untuk penderita neurasthenia Upaya membantu penyembuahn penderita neurasthenia dapat dilakukan dengan teknik terapi sebagai berikut. Di samping gejala-gejala utama tersebut juga terdapat gejalagejala tambahan. cepat lelah meskipun hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit. Faktor penyebab neurasthenia Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Daradjat. Terapi olah raga. Gejala-gejala neurasthenia Neurasthenia disebutjuga penyakit payah. Terlalu lama menekan perasaan. M. b. kepala pusing. bisa pula pendrita depresi mendapatkan farmakoterapi.Pd.24 Selain terapi kognitif. Farmakoterapi. 1983 : 34). dan kemampuan berpikir menurun. yaitu insomnia. Psikoterapi supportif. Terhalanginya keinginan-keinginan. Neurasthenia a. pertentangan batin. Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan c.

lebih unggul. Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan. sebaliknya ia menganggap dirinya normal saja. usually including false ideas about what is taking place or who one is (delusions) and seeing or hearing things that aren't there (hallucinations)”. dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar. 200) rumusannya sebagai berikut: “Psychosis is a loss of contact with reality. bahkan lebih baik. Psikosis. dan tidak sanggup memahami problemnya. Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal. Seringkali orang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit. . pikiran.25 Bab 5 A. PENGERTIAN PSIKOSIS PSIKOSIS Menurut Singgih D. dan lebih penting dari orang lain. sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. menurut Medline Plus adalah kelainan jiwa yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan realitas. biasanya mencakup ide-ide yang salah tentang apa yang Psikologi Abnormal/Drs.Pd. psikosis ialah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian. kemauan. sehingga orang awam menyebut penderita sebagai orang gila. Berbicara mengenai psikosis. menyatakan bahwa psikosis adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). kepribadiannya terganggu. W. Zakiah Daradjat (1993 : 56). menyatakan sebagai berikut. sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. M. Seorang yang diserang penyakit jiwa (psychosis). Kuntjojo. Definisi berikutnya tentang psikosis (Medline Plus. Maramis (2005 : 180). dst. Gunarsa (1998 : 140).F. motorik.

F. Kuntjojo. psikosis disebut dengan istilah gila. tidak menyadari bahwa dirinya sakit. 4. 1. orientasi. yang terjadi pada semua aspek kepribadian. delusi. atau melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada (halusinasi). Perbedaan psikosis dengan neurosis menurut Coleman adalah sebagaimana disajikan dalam table berikut. Coleman (W. Psikologi Abnormal/Drs. Pemahaman (insight).Pd. 3.resiko social.C. 2005 : 251) telah menemukan 6 perbedaan antara psikosis dengan neurosis atas dasar : 1. 5.26 sebenarnya terjadi. 2. Maramis. 4. Penderita B. 2. Bahwa penderita psikosis tidak dapat lagi berhubungan dengan realitas. Psikosis merupakan gangguan jiwa yang berat. Dalam bahasa sehari-hari. dan 6. Psikosis tidak dirasakan keberadaannya oleh penderita. M. Dari empat pendapat tersebut dapat diperoleh gambaran tentang psikosis yang intinya sebagai berikut. Penyembuhan. 5. penderita hidup dalam dunianya sendiri. 3. atau tepatnya penyakit jiwa. gejala-gejala. . PERBEDAAN PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS Untuk memperjelas pemahaman mengenai psikosis ada baiknya membandingkan kelainan jiwa ini dengan neurosis sebagaimana telah diidentifikasi oleh J. Usaha menyembuhkan psikosis tak bias dilakukan sendiri oleh penderita tetapi hanya bisa dilakukan oleh pihak lain.perilaku umum.

Kesembuhan seperti semula dan permanen sangat mungkin untuk dicapai. 4. membahayakan orang lain dan diri sendiri. 5. gejala-gejala Gejala psikologis dan somatik bisa bervariasi. kontak dengan realitas masih ada. Penderita sering mengalami disorientasi (waktu. Kesembuhan seperti keadaan semula dan permanen sulit dicapai. Penderita tidak emahami bahwa dirinya sakit. . Gejalan bervariasi luas dengan waham. 2. yaitu psikosis organik.1 PERBEDAAN ANTARA PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS NO. Kuntjojo. 6. NEUROSIS Gangguan terjadi pada sebagian kepribadian. dst. M. resiko sosial Perilaku penderita dpt. tidak ada kontak dengan realitas. 1. halusinasi. yang terjadi secara terus-menerus. pemahaman (insight) Penderita memahami bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa Perilaku penderita jarang atau tidak membahayakan orang lain dan diri sendiri Tidak begitu memerlukan perawatan di rumah sakit.27 TABEL 5.Pd. penyembuhan C. FAKTOR perilaku umum PSIKOSIS Gangguan terjadi pada seluruh aspek kepribadian. JENIS-JENIS PSIKOSIS Secara umum. tetapi bersifat temporer dan ringan 3. psikosis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan faktor penyebabnya. kedangkalan emosi. dan orang-orang). orientasi Penderita tidak atau jarang mengalami disorientasi . yang disebabkan oleh faktor Psikologi Abnormal/Drs. tempat. Penderita memerlukan perawatan di rumah sakit..

tidak mampu bertanggung jawab. M. dst.Pd. Alcoholic psychosis. . Traumatic psychosis. a. Drug psychose atau psikosis akibat obat-obat terlarang (mariyuana. 1993 : 106). dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas. Psikosis jenis inidibedakan menjadi beberapa . Jenis psikosis yang tergolong psikosis organik adalah sebagai berikut. c. 1. yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan ketidak mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial. Kedua jenis psikosis dan yang termasuk di dalamnya diuraikan berikut ini. sehingga penderita mengalamai inkompeten secara sosial. yaitu adanya jiwa Psikologi Abnormal/Drs. sabu-sabu. Dementia paralytica. yaitu psikosis yang terjadi akibat luka atau trauma pada kepala karena kena pukul. yaitu pada fungsi jaringan otak.. kecelakaan. terjadi karena fungsi jaringan otak terganggu atau rusak akibat terlalu banyak minum minuman keras.28 oganik dan psikosis fungsional. yang terjadi karena faktor kejiwaan. Psikosis organis dibedakan menjadi beberapa jenis dengan sebutan atau nama mengacu pada faktor penyabab terjadinya. Psikosis organik Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktorfaktor fisik atau organik. d. tertembak. LSD. yaitu psikosis yang terjadi akibat infeksi syphilis yang kemudian menyebabkan kerusakan sel-sel otak. kokain. yaitu : schizophrenia. dan psiukosis paranoid (Kartini Kartono. Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling menonjol dari penyakit ini. b. psikosis maniadepresif. Schizophrenia Arti sebenarnya dari Schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah (split of personality). dst. Kuntjojo. 2.). Psikosis fungsional Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang bersifat nonorganik. a.

dan berbicara serta bertingkah laku sesuai dengan khayalannya. ketiga aspek kejiwaan ini pada penderita schizophrenia dapat berjalan sendiri-sendiri. sehingga tidak sesuai dengan kenyataan. tekanan jiwa. 1) Gejala-gejala schizophrenia (Singgih Dirgagunarsa. ucapan. M. dan perbuatannya tidak sejalan.Pd. 2) Faktor penyebab terjadinya schizophrenia Pendapat para ahlimengenai factor penyebab schizophrenia ada bermacam-macam. Pikiran. antara lain keturunan. Sehubungan dengan pikiran yang sangat berorientasi pada khayalannya sendiri. Psikologi Abnormal/Drs. timbul delusi ata waham pada penderita schizophrenia (bisa waham kejaran dan kebesaran). dan perbuatan terjadi disharmoni. 1998 : 141142) Kontak dengan realitas tidak ada lagi. perasaan. Ada yang menyatakan bahwa penyakit ini merupakan keturunan. Karena tidak ada kontak dengan realitas. Kuntjojo. maladaptasi. sehingga ia dapat menceritakan kejadian yang menyedihkan sambil tertawa. pola asuh yang salah. Sedangkan pendapat yang berkembang dewasa ini adalah bahwa penyakit jiwa ini disebabkan oleh beberapa factor. Ada pula yang menyatakan bahwa schizophrenia terjadi gangguan endokrin dan metabolisme. Halusinasi sering dialami pula oleh penderita schizophrenia. Antara pikiran. . maka logikanya tidak berfungsi sehingga isi pembeicaraan penderita sukar untuk diikuti karena meloncat-loncat aneh (inkoheren) dan dapat seringkali muncul kata-kata yang hanya dimengerti oleh penderita sendiri.29 yang terpecah belah. penderita lebih banyak hidup dalam dunia khayal sendiri.

Psikosis mania-depresif Psikosis mania-depresif merupakan kekalutan mental yang berat. Sedangkan aspek depresinya terjadi karena adanya penyesalan yang berlebihan. insomnia. Maramis. pikiran melayang. 1) Gejala-gejala psikosis mania-depresif a) Gejala-gejala mania antara lain: euphoria (kegembiraan secara berlebihan0. b) Gejala-gejala depresif antara lain : kecemasan. . b. 2005 : 216-217). Psikologi Abnormal/Drs. hipoaktivitas. 2) Faktor penyebab psikosis mania-depresif Psikosis mania-depresif disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengandua gejala utama penyakit ini. yang berbentuk gangguan emosi yang ekstrim.Pd.30 dan penyakit lain yang belum diketahui (W. hiperaktivitas. waham kebesaran. pesimis. yaitu mania dan depresi.F. Aspek mania terjadi akibat dari usaha untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hidup dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang sangat berlebihan. yaitu berubah-ubahnya kegembiraan yang berlebihan (mania) menjadi kesedihan yang sangat mendalam (depresi) dan sebaliknya dan seterusnya. M. anorexia. Kuntjojo.

31 c. Istilah paranoid dipergunakan pertama kali oleh Kahlbaum pada tahun 1863.Pd. Kuntjojo. kukuh dan sistematis. paksaan. Psikologi Abnormal/Drs. Mudah timbul rasa curiga . Adanya rasa percaya diri yang berlebihan (over confidence). 2) Faktor penyebab psikosis paranoid Faktor-faktor yangdapat menyebabkan psikosis paranoid kaku. untuk menunjukkan suatu kecurigaan dan kebesaran yang berlebihan (W.F. M.. terutama waham kejaran dan kebesaran baik sendiri-sendiri maupun bercampur aduk Pikirannya dikuasai ole hide-ide yang salah. 2005 : 241). Psikosis paranoid Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide yang salah yang bersifat menetap. Adanya kompensasi terhadap kegagalan dan kompleks inferioritas. Terlalu sensitif dan seringkali dihinggapi rasa curiga. dan (Kartini Kartono. antara lain : Kebiasaan berpikir yang salah. Maramis. 1999 : 176). .. 1) Gejala-gejala psikosis paranoid Sistem waham yang kaku.

Penderita psikopat cenderung bersikap aneh. tidak memiliki kesadaran social dan inteligensi sosial. Bahwa psikopat merupakan kelainan atau gangguan jiwa dengan 2.Pd. Penderita psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar.32 Bab 6 A. 4. PENGERTIAN PSIKOPAT PSIKOPAT Singgih Dirgagunarsa (1998 : 145) menyatakan bahwa psikopat merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. Selanjutnya Kartini Kartono menyebutkan gejala-gejala psikopat antara lain sebagai berikut. 1. Menurut Kartini Kartono (1999 : 95). Tingkah laku dan realasi social penederita selalu asosial. 1. psikopat adalah bentul kekalutan mental (mental disorder) yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi sehingga penderita tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu konflik dengan norma-norma sosial dan hukum. seolah-olah patokan untuk semua perbuatan dirinya sendiri saja. Bersadarkan pendapat yang dikemukakan oleh Singgih Dirgagunarsa dan Kartini Kartono tersebut dapat disimpulkan pengertian mengenai psikopat sebagai berikut. M. sering berbuat kasar bahkan ganas terhadap siapapun. 2. Kuntjojo. ciri utamanya ketidak mampuan penderita dalam menyesuaikan Psikologi Abnormal/Drs. eksentrik dan kronis patologis. penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan emosi yang tidak matang. 3. Sikap penderita psikopat selalu tidak menyenangkan orang lain. .

Bila dia hidup akan suasana aman. Bila dia hidup dalam kebijaksanaan. 4. M. terutama keluarga. emosi yang tidak matang. Kuntjojo. B. Dalam Hal ini Elizabeth Hurlock (1997 : 257) mengutip pendapat penulis yang tidak bernama antara lain sebagai berikut. Bila dia hidup dalam permusuhan.Pd. dia belajar bersabar.33 3. 1990 : 75). Bahwa penderita psikopat tidak memiliki tanggung jawab moral 5. dia belajar percaya akan dirinya dan orang lain. dia belajarberkelahi. dia belajar mengharga keadilan. Bahwa terjadinya psikopat tidak terlepas bahkan ditentukan oleh lingkungan keluarga tidak dapat dipungkiri. Bahwa penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan 9. 8. kemesraan. Bila seorang anak hidup dalam kecaman. dan sosial. diri dengan norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. 6. Selama lima tahun pertama dalam hidupnya dia tidak pernah merasakan kelebutan. . dia belajar mengutuk. sehingga individu yang bersangkutan gagal dalam mengembangkan kemampuan untuk menerima dan memberikan perhatian dan kasih saying pada orang lain (Kartini Kartono. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PSIKOPAT Seseorang dapat menderita psikopat karena kurang atau tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungannya. Bila dia hidup dalam toleransi. dan kasih sayang. Psikologi Abnormal/Drs. Egonya. Bahwa perbuatan penderita psikopat dilakukan dengan acuan 7.

Mental. tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. dll. Kuntjojo. toksoplasma. M. Infeksi dan atau intoksinasi Infeksi yang terjadi pada masa prenatal dapat berakibat buruk pada perkembangan janin. dan kemauannya berada pada tingkat rendah. sifilis.F. jaringan otak juga dapat rusak yang pada akhirnya menimbulkan retardasi mental. Maramis. PENGERTIAN RETARDASI MENTAL Retardasi mental adalah kelainan ataua kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak).Pd. Begitu pula halnya dengan intoksinasi. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RETARDASI MENTAL Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Ke-1 (W. Psikologi Abnormal/Drs. inteligensi. . 2005: 386). Retardasi mental merupakan kelemahan yang terjadi pada fungsi intelek. Begitu juga dengan terjadinya intoksinasi. Infeksi dapat terjadi karena masuknya rubella. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W. 2005: 386-388) factor-faktor penyebab retardasi mental adalah sebagai berikut. Maramis. perasaan.F. B. a. ke dalam tubuah ibu yang sedang mengandung. Kemampuan jiwa retardasi mental gagal berkembang secara wajar. yaitu rusaknya jaringan otak. Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan. karena masuknya “racun” atau obat yang semestinya dibutuhkan. sehingga yang bersangkutan mengalami hambatan dalam penyesuaian diri.34 Bab 7 RETARDASI MENTAL A.

Pd. pertumbuhan atau gizi Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolism karbohidrat dan protein).35 b. M. Kuntjojo. Psikologi Abnormal/Drs. seperti hiper radiasi. Gangguan metabolisme. Penyakit otak yang terjadi sejak lahir atau bayi dapat menyebabkan penderita mengalamai keterbelakangan mental. radang. Gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum anak berusia 4 tahun sangat mempengaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. sesudah itu biarpun anak tersebut dibanjiri dengan makanan yang bergizi. yang dapat bersifat degeneratif. dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan berupa retardasi mental. . Pada waktu proses kelahiran (perinatal) kepala bayi dapat mengalami tekanan sehingga timbul pendarahan di dalam otak. Keadaan seperti itu dapat diperbaiki dengan memberikan gizi yang mencukupi sebelum anak berusia 6 tahun. Mungkin juga karena terjadi kekurangan oksigen yang kemudian menyebabkan terjadinya degenerasi sel-sel korteks otak yang kelak mengakibatkan retardasi mental. c. Penyakit otak yang nyata Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata. alat kontrasepsi. Terjadinya rudapaksa dan / atau sebab fisik lain Rudapaksa sebelum lahir serta trauma lainnya. inteligensi yang rendah tersebut sangat sukar untuk ditingkatkan. dan gizi buruk termasuk dalam kelompok ini. dst. d. gangguan pertumbuhan.

Prematuritas Retardasi mental yang termasuk ini termasuk retrdasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi yang pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa kehamilan kurang dari 38 minggu. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikososial awal-awal perkembangan ternyata juga dapat menyebabkan terjadinya retardasi mental pada anak. Deprivasi psikososial Devripasi artinya tidak terpenuhinya kebutuhan. f. kriteria yang dipakai adalah: 1.Pd. Kemampuan anak untuk dididik dan dilatih. h. Kelainan kromosom Kelainan kromosom mungkin terjadi pada aspek jumlah maupun bentuknya.36 e. 2. . Berdasarkan kriteria Psikologi Abnormal/Drs. Akibat gangguan jiwa yang berat Retardasi mental juga dapat terjadi karena adanya gangguan jiwa yang berat pada masa kanak-kanak. g. tetapi tidak diketahui etiologinya. M. termasuk anomaly cranial primer dan defek congenital yang tak diketahui sebabnya. C. TINGKATAN RETARDASI MENTAL Untuk menentukan berat-ringannya retardasi mental. Kuntjojo. Kemampuan sosial dan bekerja (vokasional). Penyakit atau pengaruh prenatal Keadaan ini dapat diketahui sudah ada sejak dalam kandungan. dan 3. i. . Intelligence Quotient (IQ). Kelainan pada jumlah kromosom menyebabkan sindroma down yang dulu sering disebut mongoloid.

1 (W.). 1. Retardasi Mental Ringan Karakteristik retardasi mental ringan adalah: a. Maramis. Retardasi Mental Berat Karakteristik retardasi mental berat adalah: a. Patokan pendidikan : Tidak dapat bersaing dalam mencari nafkah : Beberapa kali tak naik kelas di SD 2. Retardasi Mental Sedang Karakteristik retardasi mental sedang adalah: a. dst.F. Dapat melakukan perbuatan untuk keperluan dirinya (mandi. Intelligence Quotient : 20 – 35 Psikologi Abnormal/Drs. Patokan sosial : Tidak dapat mencari nafkah sendiri. Patokan sosial : Dapat mencari nafnah sendiri dengan mengerjakan sesuatu yang sederhana dan mekanistis. Intelligence Quotient : 68 .Pd. c. Retardasi Mental Taraf Perbatasan Karakteristik retardasi mental taraf perbatasan adalah : a. hanya dapat dilatih. 4.85 (keadaan bodoh/bebal) b. M. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididih. Intelligence Quotient : 36 – 51 (taraf embisil/keadaan dungu) b. makan.37 tersebut kemudian dapat diklasifikasikan berat-ringannya retardasi mental yang menurut GPPDGJ . Patokan social c. berpakaian. Intelligence Quotient : 52 – 67 (debil/moron/keadaan tolol) b. 2005: 390-392) adalah sebagai berikut. Kuntjojo. Patokan pendidikan : Dapat dididik dan dilatih tetapi pada sekolah khusus (SLB) 3. c. .

Tindakan kedokteran. Pencegahan Primer Usaha pencegahan primer terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan dengan: a. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididik dan dilatih. Retardasi Mental Sangat Berat Karakteristik retardasi mental sangat berat adalah: a. PENCEGAHAN RETARDASI MENTAL Terjadinya retardasi mental dapat dicegah. Kurang mampu melakukan perbuatan untuk keperluan dirinya. Patokan sosial : Tidak dapat mencari nafkah sendiri. d.38 b. c. c. 1. Psikologi Abnormal/Drs. Pendidikan kesehatan pada masyarakat. antara lain: 1) Perawatan prenatal dengan baik. Patokan social : Tidak dapat mengurus diri sendiri dan tidak dapat mengenal bahaya. Dapat mengenal bahaya. dapat dilatih untuk hal-hal yang sangat sederhana. 3) Pencegahan kehamilan usia sangat muda (usia ibu kurang dari 20 tahun) dan terlalu tua (usia ibu lebih dari 46 tahun). Intelligence Quotient : Kurang dari 20 (idiot/keadaan pander) b. Kuntjojo. Pencegahan retardasi mental dapat dibedakan menjadi dua: pencegahan primer dan pencegahan sekunder. D. . b. M. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididik. 5.Pd. c. Selama hidup tergantung dari pihak lain. Konseling genetik. 2) Pertolongan persalinan yang baik. Perbaikan keadaan social-ekonomi.

sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang. Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi mental Psikologi Abnormal/Drs. PENANGANAN RETARDASI MENTAL Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja. M. Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu. Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling. Kuntjojo. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. perlu diambil anamnesis dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan.Pd. b. Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat. apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan dengan diagnosis dan pengobatan dini peradangan otak dan gangguan lainnya. c. melainkan juga pada orang tuanya. Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah. Mengapa demikian? Siapapun orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental. . dan pertumbuhan serta perkembangan anak. Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. persalinan. 1. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental a.39 2. E. Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang.

Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi mental. d. membersihkan badan dan berpakaian sendiri.40 mudah terinterupsi. Kuntjojo. Latihan di rumah: belajar makan sendiri. Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin penderita. . Latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal yang baik dan buruk secara moral. Untuk mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera. yaitu: a. Psikologi Abnormal/Drs. b. M.Pd. 2. dst. c. Latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap social.

Kuntjojo. Dalam konsep ini stres merupakan variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat. ataupun kalangan akademisi. dan stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan (Bart Smet. berikut dikemukakan konsep-konsep mengenai stress. . yaitu : stres merupakan stimulus. 1.Pd. 1994 : 108-111). psikiater. Apakah sebenarnya stres itu ? Samakah stres dengan psikosis ? Faktorfaktor apakah yang dapat menyebabkan stres ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Secara garis besar ada tiga pandangan mengenai stres. Stres Sebagai Stimulus Menurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang ada dalam lingkungan (environment). tetapi juga diucapkan oleh anak-anak maupun orang dewasa dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan. KONSEPSI-KONSEPSI MENGENAI STRES STRES Dewasa ini istilah stress merupakan istilah sehari-hari. stres dianggap sama dengan psikosis. Tetapi mereka yang mengucapkan kata tersebut belum tentu mengerti apa sebenarnya stres itu.41 Bab 8 A. yaitu stress sebagai hubungan antara individu dengan stressor.1: STRES SEBAGAI STIMULUS Psikologi Abnormal/Drs. yang bukan saja diucapkan oleh para psikolog. Dan penulis menambahkan satu pandangan lagi. Secara visual konsepsi ini dapat digambarkan sebagai berikut. Bagi kebanyakan orang. stres merupakan respon. M. Individu mengalami stres bila dirinya menjadi bagian dari lingkungan tersebut. stress ENVIRONMENT INDIVIDU ENVIRONMENT stress stress Bagan 8.

dst. Bart Smet (1994 : 110) menyajikan konsepsi stres sebagai respon sebagai berikut. misalnya banjir. Mereka yang ada di lingkungan tersebut. Dalam konteks ini stress merupakan variable tergantung (dependen variable) sedangkan stressor merupakan variable bebas atau independent variable.42 Stress sebagai stimulus dapat dicontohkan : lingkungan sekitar yang penuh persaingan. .Pd.. misalnya di terminal dan stasiun kereta api menjelang lebaran. dst. 2. sulit untuk menghindar dari situasi yang menegangkan (stressor) tersebut. Stres Sebagai Respon Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress merupakan respon atau reaksi individu terhadap stressor. M. LINGKUNGAN PSYCHOLOGICAL STRESSOR AGENT INDIVIDU STRESS RESPONSE PHYSIOLOGICAL BEHAVIORAL LINGKUNGAN Bagan 11 : STRES SEBAGAI RESPON Bagan 8. gunung meletus. Hal serupa juga dapat diamati pada lingkungan di mana terjadi bencana alam atau musibah lainnya. para petugas. Kuntjojo.2 : STRES SEBAGAI RESPONSE Psikologi Abnormal/Drs. baik itu calon penumpang. ledakan bom di tengah keramaian. Berdasarkan pandangan dari Sutherland dan Cooper. awak bus atau kereta api.

banyak keluar keringat dst. Suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis. Tergangguangan mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang bersifat fisik.P. stres ialah reaksi tubuh manusia kepada setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam hal sebagai berikut. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional. Keletihan dan kelelahan akibat kehidupan. (Bart Smet. 1994 : 111). mulut kering. Kuntjojo. misalnya terkejut. Respon individu terhadap stressor memiliki dua konponen. nerveus. Stres Sebagai Interaksi antara Individu dengan Lingkungan Menurut pandangan ketiga. cemas. . stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. respon-repons psikologis dan fisiologis terhadap stressor disebut strain atau ketegangan. dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang. yaitu : komponen psikologis. Gintings. 3. perut mual. Menurut Gintings (1999 : 5-6). Mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman. panik. Psikologi Abnormal/Drs. Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian. beban berat. sosial. Mengecilnya potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan. mental. dan komponen fisiologis. dst.Pd. M.43 Pengertian stres yang mengacu pada konsepsi stres merupakan respon diantaranya dikemukakan oleh E. malu. misalnya denyut nadi menjadi lebih cepat. dan spiritual oleh karena perubahan mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan maupun menyenangkan.

dst. Konsep stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan dapat digambarkan sebagai berikut. dst. Faktor apa saja yang menyebabkan gejala demikian ? Menurut Bart Smet (1994 : 130-131). seperti : introvert atau ekstrovert. yang lainnya mengalami stres ringan. dst. Strategi coping. Misalnya saja stressor yang sama ditanggapi berbeda-beda oleh beberapa individu. dst. dan bagan menggambarkan reaksi beberapa individu terhadap stressor yang sama .44 Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan. . Variabel sosial-kognitif. d. Individu yang satu mungkin mengalami stres berat. Kuntjojo. ketabahan. jenis kelamin. reaksi terhadap stres bervariasi antara orang satudengan yang lain dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama. a. integrasi dalam jaringan sosial. locus of control. tetapi juga suatu proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif.Pd. seperti . stabilitas emosi secara umum. karena pengaruh variabel-varibel sebagai berikut. stres tidak dipandang sebagai stimulus maupun sebagai respon saja. tahap perkembangan. Bisa juga terjadi individu memberikan reaksi yang berbeda pada stressor yang sama. dan yang lain lagi mungkin tidak mengalami stres. inteligensi. temperamen. tingkat pendidikan. yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional. ternyata juga bisa berbeda-beda. Psikologi Abnormal/Drs. menggambarkan reaksi individu 14 ternyata bisa berbeda. dukungan sosial yang diterima. seperti : umur. Hubungan dengan lingkungan sosial. Kondisi individu. kondisi fisik. Karakteristik kepribadian. M. dukungan sosial yang dirasakan. Konsepsi di atas dapat diperjelas berdasarkan kenyataan yang ada. Bagan 13 terhadap stressor yang sama. e. b. jaringan sosial. c.

Bahwa stressor juga bisa berupa faktor-faktor yang ada dalam diri Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo.3: REAKSI INDIVIDU TERHADAP STRESOR YANG SAMA PADA WAKTU YANG BERBEDA LINGKUNGAN INDIVIDU 1 TIDAK STRES STRESOR INDIVIDU 2 STRES LINGKUNGAN INDIVIDU 3 TIDAK STRES Bagan 8. Stres Sebagai Hubungan antara Individu dengan Stressor Stres bukan hanya dapat terjadi karena faktor-faktor yang ada di lingkungan.4: REAKSI BEBERAPA INDIVIDU TERHADAP STRESOR YANG SAMA PADA WAKTU YANG SAMA 4. .45 LINGKUNGAN STRES SOMATO PSIKO SOSIAL SPIRITUAL STRESSOR INDIVIDU TIDAK TRES Bagan 8. M.Pd.

F. Konsep tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh W.46 individu.5: STRES SBG HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU DGN STRESOR Psikologi Abnormal/Drs. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang sebagai hubungan antara individu dengan stressor.Pd. Tekanan merupakan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan oleh individu. LINGKUNGAN stresor LINGKUNGAN stresor stresor INDIVIDU stresor stresor LINGKUNGAN stresor LINGKUNGAN Bagan 8. a. M. c. stress dapat terjadi karena frustrasi. . tekanan. konflik internal. misalnya keinginan yang sangat kuat untuk meraih sesuatu. dan krisis. Tekanan juga bisa datang dari lingkungan. Frustrasi merupakan terganngunya keseimbangan psikis karena tujuan gagal dicapai. d. misalnya penyakit jasmani yang dideritanya. Tekanan bisa datang dari diri sendiri. Maramis (1980 : 65-69). baik stressor internal maupun eksternal. Krisis merupakan situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan. konflik adalah terganggunya keseimbangan karena individu bingung menghadapi beberapa kebutuhan atau tujuan yang harus dipilih salah satu. Kuntjojo. konflik. b. Menurut Maramis. mengenai sumber stress. Konsep yang menyatakan bahwa stress merupakan hubungan antara individu dengan stressor dapat diperjelas dengan visualisasi dengan bagan berikut ini. dst.

Yulia Singgih D. Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. M. dts. kecemasan.47 B. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan untuk mendapatkan makanan. lingkungan. . USAHA-USAHA MENGATASI STRES 1. 1994 : 143). lelah. rasa sakit. C. Oleh karena itu setiapindividu yang mengalaminya pasti berusaha mengatsi masalah ini. STRES DAPAT TERJADI PADA SETIAP FASE PERKEMBANGAN Stres dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Berkenaan dengan pembahasan ini. Sehingga bila suatu saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha mengembalikannya pada keadaan seimbang. Begitu juga halnya dengan terjadinya ketegangan. dirinya akan senantiasa berhadapan masalah. Selama individu masih hidup. yaitu prinsip homeostatis. merupakan contoh keadaan tidak seimbang. Hal demikian sesuai dengan prinsipyang berlaku pada organisme. Lapar. tuntutan. haus.. dst. khususnya manusia. mdondorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi ketidak seimbangan ini. Kuntjojo. Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. Prinsip Homeostatis Stres merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan cnderung bersifat merugikan. (2000 : 142) menyatakan bahwa stress dapat terjadi pada semua umur. Sebab keberaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup organisme. yang pada saat tertentu hal-hal tersebut dapat menjadi stressor.Pd. Lazarus dan Folkman (Bart Smet. Proses Coping terhadap Stres Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal dengan proses coping terhadap stress. dan untuk beristirahat. minuman. 2. dst. menggambarkan coping sebagai : Psikologi Abnormal/Drs.

yaitu (1) cara yang berorientasi pada tugas atau task oriented dan (2) cara yang berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence mechanism. dan rasional. fight response. penarikan diri. sublimasi. Maramis (2005 : 71-72) berpendapat bahwa ada bermacam-macam tindakan yangdapat dilakukan untuk itu. Ada deksripsi lainnya tentang coping thd stress. bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan. dan kompromi. yaitu : (1) Emotional-focused coping dan (2) Problem-focused coping. proyeksi. coping mempunyai dua macam fungsi. penyusunan reaksi (reaction formation). Menurut Maramis cara ini dapat dilakukan dengan “serangan”. tidak realistis. rasionalisasi. yaitu dengan flight response. Kuntjojo. regresi. Sedangkan cara yang berorientasi pada pembelaan ego dilakuakn secara tidak sadar (bahwa itu keliru). Psikologi Abnormal/Drs. M. realistis. Sedangkan problem-focused coping dilakukan dengan mepelajari keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stress. dan tidak rasional.. represi.48 “ ….Suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan asng berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful…” Menurut Bart Smet. 2000: 140141). individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya yakin dapat merubah situasi. Menurut Bart Smet. Mengatasi stres dengan cara berorientasi pada tugas berarti upaya mengatasi masalah tersebut secara sadar. identifikasi. kompensasi. dst. Gunarsa. Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan minuman keras. salah pindah (displacement). dan metoda ini sering dipergunakan oleh orang dewasa.Pd. Emotionalfocused coping dipergunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stress. . Berbicara mengenai uapaya mengatasi Stres. yang secara garis besar dibedakan menjadi dua. dan freeze response (Yulia D. Cara kedua ini dapat dilakukan dengan : fantasi.

49 Flight response: upaya menghadapi stress dengan tindakan menghindar dari masalah atau situasi penyebab stress. M. Psikologi Abnormal/Drs. Fight response: usaha menghadapi stress dengan cara menghadapi dan menyelesaikan masalah atau stressor. melakukan kegiatan-kegitan yang positif dan kreatif. membicarakan hal itu dengan orang yang tepat. . Freeze response: tindakan menghadapi stress dengan berdiam diri. tertawa. pasrah dan menyerah terhadap apa yang terjadi pada dirinya.Pd. santai. Aktivitas-aktivitas menghilangkan yang dapat dilakukan lain: untuk meredakan atau stress antara menarik nafas dalam-dalam. Kuntjojo.

Wiramihardja. Terdapat pada: http://www. (2000) Azas-azas Psikologi Keluarga Idaman. (2008) Ilmu Kedokteran Jiwa. (2009) “Psychosis”.P. En. (1994) Psikologi Kesehatan.org/wiki/Psychosis. Sutardjo A. Bandung: Mandar Maju.com/. (1999) Mengantisipasi Stres dan Penaggulangannya.. Dirgagunarsa. (2005) Pengantar Psikologi Abnormal. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.F.aolsvc. Ann M. Bandung: PT Refika Aditama. Bart.wikipedia. Kartini Kartono. Maramis. Gerald C. Merriem-Webster OnLine. Jakarta: Mutiara. Bandung: PT Refika Aditama. Neale John M. Diakses pada 10 November 2009. Terdapat pada: http://www. Diakses pada 10 November 2009. Surabaya : Airlangga University. the Free Encyclopedia.50 Referensi Baihaqi MIF (et al) (2005) Psikiatri: Konsep Dasar dan Gangguan-gangguan. Singgih. M. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Yulia Singgih D. E. Smet. Jakarta: Rajawali Pers. (1999) Pengantar Psikologi. . dan Kring. (2009) “Abnormal Psychology”. (2000) Psikologi Abnormal.merriem-webster. (2006) Psikologi Abnormal (Penterjemah: Noermalasari Fajar). Yogyakarta: Andi.Pd. Davison. Wikipedia.aol.. Psikologi Abnormal/Drs. Gintings. W. Kuntjojo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful