P. 1
Psikologi Abnormal

Psikologi Abnormal

|Views: 206|Likes:
Published by Leo Chandra Wisnu P

More info:

Published by: Leo Chandra Wisnu P on May 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2014

pdf

text

original

PSIKOLOGI ABNORMAL

Drs. Kuntjojo, M.Pd

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2009

2

Kata Pengantar
Where there is a will, there is a way. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Hambatan untuk membuat diktat baik hal itu menyangkut waktu, tenaga, dan juga referensi penulis hadapi. Namun dengan kemauan yang tinggi dan atas bimbingan Yang Maha Kuasa, akhirnya diktat Psikologi Abnormal ini selesai juga. Apa yang disajikan dalam diktat ini hanya berupa garis besar materi kuliah. Penulis berharap agar mahasiswa membaca referensi yang relevan terutama referensi yang penulis pakai dalam menyusun diktat ini. Disadari oleh penulis bahwa terdapat kekurangan dalam penulisan diktat ini, baik itu menyangkut isi maupun penyajian materi. Untuk itu penulis berharap adanya saran serta kritik yang konstruktif.

Kediri, November 2009 Penulis

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

3

Daftar Isi
Halaman Judul ................................................................................................... Kata Pengantar .................................................................................................. Daftar Isi ............................................................................................................ Daftar Tabel, Bagan, dan Gambar .................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. A. Pengertian Psikologi Abnormal ..................................................... B. Manfaat Mempelajari Psikologi Abnormal ..................................... C. Ilmu-ilmu yang Berhubungan dengan Psikologi Abnormal ........... 1 2 3 5 6 6 7 7

BAB 2 KONSEPSI-KONSEPSI TENTANG ABNORMALITAS ........................ 9 A. Tinjauan Berdasarkan Sudut Pandang Tertentu ........................... 9 B. Tinjauan Secara Eklektis .............................................................. 11 BAB 3 KLASIFIKASI DAN GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA .................... 13 A. Klasifikasi Kelainan Jiwa ............................................................... 13 B. Gejala-gejala Kelainan Jiwa ......................................................... 14 NEUROSIS.......................................................................................... 16 A. Pengertian Neurosis ..................................................................... 16 B. Jenis-jenis Neurosis ...................................................................... 17

BAB 4

BAB 5 PSIKOSIS ............................................................................................ 25 A. Pengertian Psikosis ...................................................................... 25 B. Perbedaan Psikosis dengan Neurosis .......................................... 26 C. Jenis-jenis Psikosis ....................................................................... 2 BAB 6 PSIKOPAT ......................................................................................... 32 A. Pengertian Psikopat....................................................................... 32 B. Faktor-faktor Penyebab Psikopat .................................................. 33

BAB 7

RETARDASI MENTAL ........................................................................ 34 A. Pengertian Retardasi Mental ........................................................ 34 B. Faktor Penyebab Retardasi Mental ............................................... 34
Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

4

C. Tingkatan Retardasi Mental .......................................................... 36 D. Pencegahan Retardasi Mental....................................................... 38 E. Penanganan Retardasi Mental ..................................................... 39

BAB 8

STRES ................................................................................................ 41 A. Konsepsi-konsepsi Mengenai Stres .............................................. 41 B. Stres Dapat Terjadi Pada Setiap Fase Perkembvangan .............. 47 C. Usaha-usaha Mengatasi Stres ...................................................... 47

Referensi ........................................................................................................... 50

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

5

Daftar Tabel, Gambar dan Bagan
TABEL Tabel 5.1 Perbedaan antara Psikosis dengan Neurosis .................................... 27

GAMBAR Gambar 2.1. Kurva Normal ................................................................................ 9

BAGAN Bagan 8.1 Stres sebagai Stimulus .................................................................. 41 Bagan 8.2 Stres sebagai Respon ..................................................................... 42 Bagan 8.3 Reaksi Individu terhadap Stresor yang Sama, Waktu Berbeda ...... 45 Bagan 8.4 Reaksi Beberapa Individu terhadap Stresor yang sama pada waktu Yang Sama ..................................................................................... 45 Bagan 8.5 Stres sebagai Hubungan antara Individu dengan Stresor .............. 47

Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo, M.Pd.

Pd. Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : : a branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as neuroses. M. Dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan istilah Abnormal Psychology. Psikologi Abnormal/Drs. Apa yang dimaksud dengan psikologi abnormal? Berikut dikemukakan beberapa definisi. dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses. psychoses. . PENGERTIAN PSIKOLOGI ABNORMAL Psikologi abnormal kadang-kadang disebut juga psikopatologi. and mental retardation) and with certain incompletely understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)” Dari empat definisi yang dinyatakan dengan kalimat yang berbeda tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian psikologi abnormal sebagai berikut. psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa. Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster OnLine (2009). Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian. yang menyangkut proses dan isi kejiwaan. Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal. pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009). psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”. Menurut Kartini Kartono (2000: 25). Kuntjojo.6 Bab 1 PENDAHULUAN A.

cara mencegah dan menanganinya. penyebab. Kuntjojo. Khusus untuk konselor. Yang dibahas dalam psikologi abnormal adalah segala bentuk gangguan atau kelainan jiwa baik yang menyangkut isi (mengenai apa saja yang mengalami kelainan) maupun proses (mengenai faKtor penyebab.). dan akibat dari gangguan tersebut). Keterkaitan tersebut menyangkut bidang keilmuan dan juga bidang profesi. dst. ILMU-ILMU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PSIKOLOGI ABNORMAL Usaha untuk mendapatkan pengertian yang luas dan mendalam tentang kelainan jiwa antara lain dilakukan dengan mengkaitkan psikologi abnormal dengan ilmu-ilmu lainnya. Psikologi Abnormal/Drs. 2. Pengetahuan dan pemahaman mengenai hal tersebut diperlukan bimbingan dan konseling. yang mempelajari segala hal yang berhubungan dengan gangguan jiwa. M. pengobatan. Psikologi abnormal merupakan salah satu cabang dari psikologi atau psikologi khusus. rehabilitasi. dalam bidang psikiatri dan C. MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI ABNORMAL Psikologi abnormal dipelajari dengan harapan dapat diperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang seluk beluk kelainan jiwa (jenis. 2005: 22).7 1. dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai seluk beluk kelainan jiwa diharapkan dapat bermanfaat bagi upaya pencegahan dan penanganan gangguan jiwa yang mungkin terjadi pada peserta didik. . gejala. Beberapa ilmu yang berhubungan dengan psikologi abnormal adalah antara lain sebagai berikut.Pd. 1. manifestasi. dan pencegahan serta juga dalam hal pembinaan dan peningkatan kesehatan jiwa (Maramis. yaitu dalam hal pengenalan. B. Psikiatri Psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa adalah cabang dari ilmu kedokteran.

terlebih lagi bagi penderita psikosis. syaraf. 3. 2.8 Psikologi abnormal berhubungan dengan psikiatri karena keduanya mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan gangguan dan juga penyakit jiwa. yaitu yang bersumber dari faktor-faktor psikologis penderita. psikoanalisis bertolak dari anggapan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi karena faktor organis dan terutama faktor psikologis oleh karena itu untuk menyembuhkan gangguan jiwa maka harus diawali dengan mengungkap akar permasalahannya. Psikoanalisis Psikoanalisis memiliki dua dimensi. yaitu sebagai aliran psikologi dan teknik terapi. Psikologi Abnormal/Drs. Sebagai aliran psikologi. Kuntjojo. Neurologi Neurologi adalah cabang dari ilmu kedokteran yang khusus mempelajari penyembuhan struktur dan gangguan fungsi system syaraf. psikoanalisis banyak membahas kepribadian manusia beserta dinamikanya. Dan sebagai teknik terapi. serta diagnosis dan Neurologi diperlukan psikologi abnormal karena terjadinya kelainan jiwa dapat disebabkan oleh kelainan pada system syaraf. . Namun pada psikologi abnormal usaha tersebut tidak sampai pada penyembuhan dan rehabilitasi. M.Pd.

Kartini Kartono. Dengan demikian seorang yang jenius samasama abnormalnya dengan seorang idiot. 1. . TINJAUAN BERDASARKAN SUDUT PANDANG TERTENTU Abnormal artinya menyimpang dari yang normal. begitu juga bila berbicara mengenai abnormalitas jiwa. makhluk etis.Pd.1: KURVA NORMAL Psikologi Abnormal/Drs. makhluk individu. 2005 : 94-100. Manusia merupakan makhluk biologis. M. Yang normal itu yang bagaimana? Bilamana gejala jiwa atau perilaku dinyatakan normal ? Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dijawab sebab manusia merupakan makhluk multi dimensional. dst. Gambar 2.9 Bab 2 KONSEPSI . Abnormalitas menurut Konsepsi Statistik Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Berikut ini dikemukakan beberapa konsepsi mengenai abnormalitas menurut tinjauan tertentu (Maramis. 1999 : 1-10). sehingga perilaku manusia dapat dijelaskan dari dimensi-dimensi tersebut..KONSEPSI TENTANG ABNORMALITAS A. Kuntjojo. makhluk sosial. seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur.

yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan. Abnormal menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Kuntjojo. halusinasi. ketakutan.10 2. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal.dst. seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya. kesedihan. M. Individu sebagai anggota masyarakat dituntut untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial dan susila di mana dia berada. misalnya ilusi. . Abnormalitas menurut Konsepsi Kematangan Pribadi Menurut konsepsi kematangan pribadi. maka dirinya dinyatakan sebagai individu yang tidak normal. dst. obsesi. Abnormalitas menurut Konsepsi Sosio-kultural Setiap masyarakat pasti memiliki seperangkat norma yang berfungsi sebagai pengatur tingkah laku para anggotanya. sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal. maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik. yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya. 3. Tetapi bila dalam menghadapi maslah dirinya menunjukkan kecemasan. fobia. Psikologi Abnormal/Drs. Abnormal menurut Konsepsi Patologis Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom klinis tertentu.Pd. 4. 5. Bila individu tingkah lakunya menyimpang dari norma-norma tersebut.

terdapat enam kelompok sifat yang dapat dipakai untuk menentukan abnormalitas. d. Memiliki spontanitas dan emosional yang tepat. Memiliki rasa aman yang tepat (sense of security) b. Psikologi Abnormal/Drs. k.11 B. Mampu belajar dari pengalaman hidupnya. Memiliki pengetahuan mengenai dirinya secara objektif. Menurut Maslow dan Mittelmann Maslow dan Mittelmann (kartini Kartono. c. Kepribadiannya terintegrasi. 2. f.F. Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat. menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut. Oleh karena itu dengan menggunakan berbagai sudut pandang diharapkan dapat diidentifikasi dengan tepat apakah perilaku itu normal atau tidak. yang didukung oleh potensi. Menurut Maramis (1980 : 97). i. Kriteria Pribadi yang normal menurut W. Maramis. Dan berikut ini dikemukakan dua pandangan mengenai abnormalitas secara eklektis. Sanggup untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya. tujuan hidup yang realistis. 1. e. Memiliki tujuan hidup yang adekuat. Pembahasan mengenai abnormalitas dari satu sudut pandang atau konsepsi tertentu ternyata memiliki kelemahan. . Memiliki kontak dengan realitas secara efisien. M. Ada sikap emansipasi yang sehat pada kelompoknya. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan wawasan (insight) yang rasional. Kuntjojo.Pd. h. a. j. Keenam sifat dimaksud adalah sebagai berikut. 1989 : 6-9). g. TINJAUAN SECARA EKLEKTIS Tinjauan eklektis adalah tinjauan yang tidak hanya berpegang pada satu sudut pandang saja.

bertanggung jawab. emosional. d. Cerapan (persepsi) terhadap kenyataan : mempunyai pandangan yang realistis tentang diri sendiri dan lingkungannya. Kuntjojo.Pd. Perkembangan dan perwujudan dirinya : kecenderungan pada kematangan yang makin tinggi. intelektual. M. dan sosial sehingga mampu mengatasi berbagai masalah. c. identitas diri yang memadai. mampu mengarahkan dirinya pada tujuan hidup. Kemampuan : memiliki kemampuan dasar secara fisik. bebas dari konflik pribadi yang melumpuhkan dan memiliki daya tahan yang baik terhadap stres. serta penilaian yang realistis terhadap kemampuannya. Psikologi Abnormal/Drs. b. Integrasi: kesatuan kepribadian. . f. Otonomi : memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang memadai.12 a. Sikap terhadap diri sendiri : menerima dirinya sendiri. e.

Psikosis berhubungan dengan infeksi intracranial 4. Skizofrenia 2. Neurosis. baik itu menyangkut faktor penyebab. Psikosis afektif 3. Psikosis berhubungan dengan kondisi fisik lain B. M. gejala-gejala yang paling menonjol. Psikosis paranoid 4. 2005: 150-155) adalah sebagai berikut: I.Pd. Untuk keperluan kemudahan dalam komunikasi.13 Bab 3 KLASIFIKASI DAN GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA A. Neurosis Histerik C. Neurosis Cemas B. Psikosis A. Psikosis Berhubungan denan Sindroma Otak Organik 1. Neurosis Fobik Psikologi Abnormal/Drs. Dementia senilis dan presenilis 2. Psikosis alkoholik 3. Psikosis tak tergolongkan II. Psikosis lain 5. Kuntjojo. Psikosis Fungsional 1. dan membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut maka para ahli kemudian membuat klasifikasi gangguan jiwa. A. . Gangguan Kepribadian dan Gangguan Non Psikosis Lainnya. dan berat-ringannya gangguan tersebut. Psikosis berhubungan dengan kondisi serebral lain 5. KLASIFIKASI KELAINAN JIWA Kelainan atau gangguan jiwa beraneka ragam. Secara garis besar gangguan jiwa menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) (Maramis. kemudahan pendidikan.

Dimensi psikodinamik. M. hanya melukiskan bagaimana gejala itu terjadi tanpa menerangkan makna dan dinamikanya. 1. Kesadaran yang meninggi Psikologi Abnormal/Drs. Kuntjojo. bagaimana prosesnya. Misal: terjadi halusinasi pada pagi hari tanpa dijelaskan halusinasi tentang apa. Neurosis Hipokondrik I. Istilah Bukan-diagnosis untuk Penggunaan Administrasi. . dst. Dimensi deskripstif. Penurunan kesadaran b. bagaimana hal itu terjadi. V. reaksi yang timbul kemudian apa. Neurosis Lain J. Neurosis Depresif F. 2005: 57). dst. Gejala gangguan atau kelainan jiwa pada umumnya dapat dipahami dari dua dimensi (Baihaqi dkk. missal: gejala apa yang muncul kapan terjadinya. Neurosis Tak Tergolongkan III.14 D. psikologis. Neurosis Obsesif-kompulsif E. Keadaan Tanpa Gangguan Psikiatrik yang Nyata dan Kondisi (Keadaan) Non-spesifik.. reaksi yang terjadi kemudian. tidak hanya menerangkan tentang bagaimana gejala itu terjadi tetapi juga dinamikanya. 2. B. Neurasthenia G. Retardasi Mental IV. dan social-budaya. Gangguan Kesadaran a. Adapun jenis-jenis gejala kelainan jiwa menurut Maramis (2005: 122-128) adalah sebagai berikut. yaitu: 1. Sindroma Depersonalisasi H. GEJALA-GEJALA KELAINAN JIWA Gejala kelainan jiwa pada umumnya bersifat kompleks dan merupakan hasil interkasi antara faktor somatik (jasmani).Pd.

Gangguan perhatian 2. Gangguan Pola Hidup Psikologi Abnormal/Drs. M. Kesadaran yang berubah g. Gangguan Ingatan 3. Gangguan Psikomotor 6. Hipnosis e. Gangguan Orientasi 4. Gangguan arus pikiran c.Pd. Gangguan Kepribadian 11. Gangguan Afek dan Emosi 5. Gangguan Pikiran a.15 c. Gangguan Persepsi 8. Gangguan Inteligensi 9. Kuntjojo. Gangguan tidur d. Gangguan bentuk pikiran b. Gangguan Kepribadian 10. . Gangguan isi pikiran 7. Disasosiasi f.

Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut. dst. dan seringkali ditandai dengan : keadaan cemas yang kronis.16 Bab 4 A. PENGERTIAN NEUROSIS NEUROSIS Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa. Menurut Singgih Dirgagunarsa (1978 : 143). hanya memberi pengaruh pada sebagaian kepribadian. 4. Neurosis terjadi pada sebagian aspek kepribadian. sebutan atau nama Psikologi Abnormal/Drs.F. hambatan emosi. gangguan-gangguan pada indera dan motorik. 3. Maramis (1980 : 97). dan kurang memiliki energi fisik. JENIS-JENIS NEUROSIS Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam gejala. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol. 1. neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian. 2. adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar. Neurosis dapat dikenali gejala-gejala yang menyertainya dengan ciri khas kecemasan. sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar. Nurosis. lebih ringan dari psikosis. M. Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan melakukan aktivitas sehari-hari. B. kurang perhatian terhadap lingkungan. dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.Pd. Kuntjojo. . Dali Gulo (1982 : 179). Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan. menurut W. berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan mental.

1. 1980 : 257-258). Maramis.F. apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. tetapi bersifat mengambang bebas.Pd. Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang paling menjonjol atau paling kuat.F.17 untuk jenis neurosis diberikan. 2) Gejala psikologis berupa kecemasan. Adapun gejala-gejala neurosis cemas adalah Gejala-gejala neurosis cemas : 1) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas. faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktorfaktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam. dst. Kuntjojo. Terapi untuk penderita neurosis cemas Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap permasalahan. dst. Bila kecamasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan. bahkan kadang-kadang ada pasien yang menunjukkan begitu banyak gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan jenis-jenis neurosis sebagai berikut (W. kepala ringan seperti mengambang. ketegangan. Maramis. b. lekas lelah. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri dari jenis neurosis yang lain. panik. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state) a. depresi. Faktor penyeban neurosis cemas Menurut Maramis (1980 : 261). Gejala-gejala neurosis cemas Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan. c. Mudah tidaknya upaya ini pada umumnya dipengaruhi oleh kepribadian Psikologi Abnormal/Drs. 1980 : 258). keringat dingan. dada tertekan. . perasaan tidak mampu. M.

1) Histeria minor atau reaksi konversi Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik. Jenis-jenis histeria Histeria digolongkan menjadi 2. M. yaitu : psikoterapi individual psikoterapi kelompok psikoterapi analitik sosioterapi terapi seni kreatif terapi kerja terapi perilaku farmakoterapi 2. yaitu reaksi konversi atau histeria minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Histeria a.Pd. teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat. Gejala-gejala histeria Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsangrangsang emosional. Gejalagejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba. . Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas. Kuntjojo.18 penderita. Psikologi Abnormal/Drs. b.

tuli. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. somnabulisme. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja. M.Pd. Psikologi Abnormal/Drs. Teknik asosiasi bebas (dikembangkan oleh Sigmund Freud). Faktor penyebab histeria Menurut Sigmund Freud. fugue. d. Psikoterapi suportif. c. histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. dst. kejang-kejang. dan kepribadian ganda. Joseph Breuer). . buta. mati raba. 2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat.19 dengan gejala : lumpuh. Farmakoterapi. melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gannguan jiwa. Kuntjojo. sehingga timbul gejala-gejala : amnesia. sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom. Terapi terhadap penderita histeria Ada beberapa teknik terapi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan hysteria yaitu : Teknik hipnosis (pernah diterapkan oleh dr.

Gejala-gejala neurosis fobik Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia. panik. misalnya : Hematophobia : takut melihat darah Hydrophobia Pyrophibia Acrophobia : takut pada air : takut pada api : takut berada di tempat yang tinggi b. yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional. Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidak sadarannya). M. terhadap suatu benda atau keadaan. dst. Fobia dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan. yang disertai perasaan malu dan bersalah. Faktor penyebab neurosis fobik Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda tertentu. Teknik terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah: Psikologi Abnormal/Drs. rasa lelah. Namun bila gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah. Kuntjojo. berkeringat. c. neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak.20 3. . Neurosis fobik a.Pd. mual. Terapi untuk penderita neurosis fobik Menurut Maramis. Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut. Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa.

M. Kuntjojo. Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu. b. 2000 : 116-117). 4. Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan. Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus. Terapi kelompok. apa upaya untuk mengajar dia alami penderita beserta yang sebenarnya psikodinamikanya.Pd.. Contoh obsesif-kompulsif antara lain . Psikologi Abnormal/Drs. Manipulasi lingkungan. Gejala-gejala neurosis obsesif-kompulsif Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan. meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan. Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian. Terapi perilaku dengan deconditioning. Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D. Neurosis obsesif-kompulsif a. Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang ia curi. yaitu setiap kali penderita merasa takut dia diberi rangsang yang tidak menyenagkan.21 Psikoterapi memahami suportif. .

dan cenderung menyalahkan diri sendiri. anoreksia. Kuntjojo. yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil).Faktor penyebab neurosis depresif Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D.22 Trauma mental emosional. gejala psikologis : sedih. insomnia. Terapi untuk penderita neurosis obsesif-kompulsif psikoterapi suportif. Neurosis depresif a. melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran yang negatif. bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan. putus asa. Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah : gejala jasmaniah : senantiasa lelah. rasa harga diri rendah. penjelasan dan pendidikan.Pd. Dan penafsiran ini bisa keliru bahkan Psikologi Abnormal/Drs. Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu bersifat objektif. bahwa depresi bukanlah suatu gangguan emosional sama sekali. terutama perasaan yang negatif pula. Burns (1988 : 6). terapi perilaku. dst. M. Gejala-gejala neurosis depresif Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat. ingin mengakhiri hidupnya. yang kemudian menciptakan suasana jiwa. d. tetapi merupakan produk “keterpelesetan’ mental. melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan. . Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas tersebut. 5. cepat lupa. b.

Terapi kognitif dilakukan dengan cara membetulkan pikiran yang salah. REALITAS Sederetan peristiwa yang : • Positif • Netral • negatif MOOD • Perasaan diciptakan oleh pikiran. • Semua pengalaman diproses melalui otak dan diberi makna secara sadar sebelum terjadi respon emosional. M.Pd. Burns (1988 : 5) telah mengembang-kan teknik terapi dengan prinsip yang disebut terapi kognitif. Psikologi Abnormal/Drs. Konsepsi tersebut kemudian oleh Burns dijelaskan dengan visualisasi sebagai berikut (1988 : 21). Terapi untuk penderita neurosis depresif Untukmenyembukan depresi. . Bahwa semua rasa murung disebabkan oleh kesadaran atau pemikiran ang bersangkutan.23 bertentangan dengan realitas sebenarnya. yang telah menyebabkan terjadinya kekacauan emosional.1: PROSES TERJADINYA DEPRESI c. Kuntjojo. INDIVIDU Bagan 4. DIALOG INTERNAL Realitas yang dihadapi ditafsirkan dengan pikiran-pikiran yang mengalir terus. Jika depresi sedang terjadi maka berarti pemikiran telah dikuasai oleh kekeliruan yang mendalam. yang dilakukan dengan prinsip sebagai berikut. Bahwa pemikiran negative menyebabkan kekacauan emosional.

b. yaitu insomnia. Di samping gejala-gejala utama tersebut juga terdapat gejalagejala tambahan. Psikologi Abnormal/Drs.24 Selain terapi kognitif. sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit. bisa pula pendrita depresi mendapatkan farmakoterapi. Gejala-gejala neurasthenia Neurasthenia disebutjuga penyakit payah. Psikoterapi supportif. Faktor penyebab neurasthenia Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Daradjat. kepala pusing. yaitu sebagai berikut. 6. Terapi untuk penderita neurasthenia Upaya membantu penyembuahn penderita neurasthenia dapat dilakukan dengan teknik terapi sebagai berikut. M. pertentangan batin. 1983 : 34). Terhalanginya keinginan-keinginan. Kuntjojo. dst. Gejala utama gangguan ini adalah tidak bersemangat. .Pd. emosi labil. Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan c. Farmakoterapi. kecemasan. dan kemampuan berpikir menurun. Terlalu lama menekan perasaan. cepat lelah meskipun hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit. Terapi olah raga. Neurasthenia a.

lebih unggul. Maramis (2005 : 180). dst. dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar. motorik. kemauan. sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. psikosis ialah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian. Gunarsa (1998 : 140). sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. sebaliknya ia menganggap dirinya normal saja. Definisi berikutnya tentang psikosis (Medline Plus.F. sehingga orang awam menyebut penderita sebagai orang gila. Psikosis. bahkan lebih baik. . menyatakan sebagai berikut. PENGERTIAN PSIKOSIS PSIKOSIS Menurut Singgih D. W. Kuntjojo. kepribadiannya terganggu. dan lebih penting dari orang lain. usually including false ideas about what is taking place or who one is (delusions) and seeing or hearing things that aren't there (hallucinations)”.25 Bab 5 A. 200) rumusannya sebagai berikut: “Psychosis is a loss of contact with reality. biasanya mencakup ide-ide yang salah tentang apa yang Psikologi Abnormal/Drs. Berbicara mengenai psikosis. Seringkali orang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit. menurut Medline Plus adalah kelainan jiwa yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan realitas. Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal. M. menyatakan bahwa psikosis adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). dan tidak sanggup memahami problemnya. Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan. Seorang yang diserang penyakit jiwa (psychosis). pikiran. Zakiah Daradjat (1993 : 56).Pd.

2005 : 251) telah menemukan 6 perbedaan antara psikosis dengan neurosis atas dasar : 1. 1. . delusi. 4.26 sebenarnya terjadi. Psikosis merupakan gangguan jiwa yang berat.resiko social. tidak menyadari bahwa dirinya sakit. psikosis disebut dengan istilah gila. Dari empat pendapat tersebut dapat diperoleh gambaran tentang psikosis yang intinya sebagai berikut. 4. Bahwa penderita psikosis tidak dapat lagi berhubungan dengan realitas. Psikosis tidak dirasakan keberadaannya oleh penderita. Pemahaman (insight). M.perilaku umum. Coleman (W. penderita hidup dalam dunianya sendiri. 2. 5. PERBEDAAN PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS Untuk memperjelas pemahaman mengenai psikosis ada baiknya membandingkan kelainan jiwa ini dengan neurosis sebagaimana telah diidentifikasi oleh J. 3.C. 5. Usaha menyembuhkan psikosis tak bias dilakukan sendiri oleh penderita tetapi hanya bisa dilakukan oleh pihak lain. atau tepatnya penyakit jiwa. Maramis. gejala-gejala. atau melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada (halusinasi). dan 6. Perbedaan psikosis dengan neurosis menurut Coleman adalah sebagaimana disajikan dalam table berikut. orientasi. 3. Penyembuhan.F. yang terjadi pada semua aspek kepribadian. Penderita B. Kuntjojo.Pd. Psikologi Abnormal/Drs. Dalam bahasa sehari-hari. 2.

resiko sosial Perilaku penderita dpt. penyembuhan C. gejala-gejala Gejala psikologis dan somatik bisa bervariasi. 1. tempat. 2. tidak ada kontak dengan realitas. yang terjadi secara terus-menerus. JENIS-JENIS PSIKOSIS Secara umum. FAKTOR perilaku umum PSIKOSIS Gangguan terjadi pada seluruh aspek kepribadian. NEUROSIS Gangguan terjadi pada sebagian kepribadian.27 TABEL 5. tetapi bersifat temporer dan ringan 3. halusinasi. kedangkalan emosi. Penderita tidak emahami bahwa dirinya sakit. .1 PERBEDAAN ANTARA PSIKOSIS DENGAN NEUROSIS NO. Kesembuhan seperti semula dan permanen sangat mungkin untuk dicapai. psikosis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan faktor penyebabnya. pemahaman (insight) Penderita memahami bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa Perilaku penderita jarang atau tidak membahayakan orang lain dan diri sendiri Tidak begitu memerlukan perawatan di rumah sakit. yaitu psikosis organik. yang disebabkan oleh faktor Psikologi Abnormal/Drs. Kesembuhan seperti keadaan semula dan permanen sulit dicapai. dan orang-orang). 4. Gejalan bervariasi luas dengan waham. 5. Penderita sering mengalami disorientasi (waktu.. membahayakan orang lain dan diri sendiri. orientasi Penderita tidak atau jarang mengalami disorientasi . M. 6. dst. Kuntjojo. Penderita memerlukan perawatan di rumah sakit. kontak dengan realitas masih ada.Pd.

tertembak. . b. 2. Kedua jenis psikosis dan yang termasuk di dalamnya diuraikan berikut ini. Alcoholic psychosis. Psikosis fungsional Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang bersifat nonorganik. Dementia paralytica. sabu-sabu. Psikosis organis dibedakan menjadi beberapa jenis dengan sebutan atau nama mengacu pada faktor penyabab terjadinya. sehingga penderita mengalamai inkompeten secara sosial. Kuntjojo. Jenis psikosis yang tergolong psikosis organik adalah sebagai berikut.. M. dan psiukosis paranoid (Kartini Kartono. dst. 1. dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas. kokain. 1993 : 106). yaitu : schizophrenia. dst. a. yang terjadi karena faktor kejiwaan. Traumatic psychosis.28 oganik dan psikosis fungsional. yaitu psikosis yang terjadi akibat infeksi syphilis yang kemudian menyebabkan kerusakan sel-sel otak. a. d. Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling menonjol dari penyakit ini. Drug psychose atau psikosis akibat obat-obat terlarang (mariyuana. Psikosis jenis inidibedakan menjadi beberapa . yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan ketidak mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial. Psikosis organik Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktorfaktor fisik atau organik. Schizophrenia Arti sebenarnya dari Schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah (split of personality). kecelakaan. c. yaitu adanya jiwa Psikologi Abnormal/Drs. terjadi karena fungsi jaringan otak terganggu atau rusak akibat terlalu banyak minum minuman keras. yaitu pada fungsi jaringan otak. tidak mampu bertanggung jawab. LSD.Pd. yaitu psikosis yang terjadi akibat luka atau trauma pada kepala karena kena pukul. psikosis maniadepresif.).

Antara pikiran.29 yang terpecah belah. timbul delusi ata waham pada penderita schizophrenia (bisa waham kejaran dan kebesaran). M. sehingga tidak sesuai dengan kenyataan. 2) Faktor penyebab terjadinya schizophrenia Pendapat para ahlimengenai factor penyebab schizophrenia ada bermacam-macam. maladaptasi. Pikiran. Halusinasi sering dialami pula oleh penderita schizophrenia. maka logikanya tidak berfungsi sehingga isi pembeicaraan penderita sukar untuk diikuti karena meloncat-loncat aneh (inkoheren) dan dapat seringkali muncul kata-kata yang hanya dimengerti oleh penderita sendiri.Pd. pola asuh yang salah. Psikologi Abnormal/Drs. Ada pula yang menyatakan bahwa schizophrenia terjadi gangguan endokrin dan metabolisme. dan perbuatannya tidak sejalan. ucapan. tekanan jiwa. dan perbuatan terjadi disharmoni. antara lain keturunan. 1998 : 141142) Kontak dengan realitas tidak ada lagi. Sedangkan pendapat yang berkembang dewasa ini adalah bahwa penyakit jiwa ini disebabkan oleh beberapa factor. penderita lebih banyak hidup dalam dunia khayal sendiri. sehingga ia dapat menceritakan kejadian yang menyedihkan sambil tertawa. Sehubungan dengan pikiran yang sangat berorientasi pada khayalannya sendiri. Ada yang menyatakan bahwa penyakit ini merupakan keturunan. . perasaan. Kuntjojo. dan berbicara serta bertingkah laku sesuai dengan khayalannya. Karena tidak ada kontak dengan realitas. ketiga aspek kejiwaan ini pada penderita schizophrenia dapat berjalan sendiri-sendiri. 1) Gejala-gejala schizophrenia (Singgih Dirgagunarsa.

hipoaktivitas. 1) Gejala-gejala psikosis mania-depresif a) Gejala-gejala mania antara lain: euphoria (kegembiraan secara berlebihan0. b. yaitu berubah-ubahnya kegembiraan yang berlebihan (mania) menjadi kesedihan yang sangat mendalam (depresi) dan sebaliknya dan seterusnya. M. waham kebesaran. Maramis.F. 2) Faktor penyebab psikosis mania-depresif Psikosis mania-depresif disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengandua gejala utama penyakit ini. pesimis. . b) Gejala-gejala depresif antara lain : kecemasan. Sedangkan aspek depresinya terjadi karena adanya penyesalan yang berlebihan. yaitu mania dan depresi. Psikologi Abnormal/Drs. pikiran melayang. insomnia.Pd. hiperaktivitas. Psikosis mania-depresif Psikosis mania-depresif merupakan kekalutan mental yang berat. Aspek mania terjadi akibat dari usaha untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hidup dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang sangat berlebihan. yang berbentuk gangguan emosi yang ekstrim. anorexia. 2005 : 216-217). Kuntjojo.30 dan penyakit lain yang belum diketahui (W.

untuk menunjukkan suatu kecurigaan dan kebesaran yang berlebihan (W. Istilah paranoid dipergunakan pertama kali oleh Kahlbaum pada tahun 1863.31 c. antara lain : Kebiasaan berpikir yang salah.. paksaan. dan (Kartini Kartono. Adanya rasa percaya diri yang berlebihan (over confidence). M.Pd. Kuntjojo. 2005 : 241). Adanya kompensasi terhadap kegagalan dan kompleks inferioritas. Psikologi Abnormal/Drs. 1999 : 176).. Maramis. Terlalu sensitif dan seringkali dihinggapi rasa curiga. terutama waham kejaran dan kebesaran baik sendiri-sendiri maupun bercampur aduk Pikirannya dikuasai ole hide-ide yang salah. 2) Faktor penyebab psikosis paranoid Faktor-faktor yangdapat menyebabkan psikosis paranoid kaku. . Mudah timbul rasa curiga . 1) Gejala-gejala psikosis paranoid Sistem waham yang kaku. Psikosis paranoid Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide yang salah yang bersifat menetap. kukuh dan sistematis.F.

Bahwa psikopat merupakan kelainan atau gangguan jiwa dengan 2. PENGERTIAN PSIKOPAT PSIKOPAT Singgih Dirgagunarsa (1998 : 145) menyatakan bahwa psikopat merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. . Selanjutnya Kartini Kartono menyebutkan gejala-gejala psikopat antara lain sebagai berikut. Kuntjojo. sering berbuat kasar bahkan ganas terhadap siapapun.32 Bab 6 A. Tingkah laku dan realasi social penederita selalu asosial. 2. 1. 4. 3. tidak memiliki kesadaran social dan inteligensi sosial. Penderita psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar. Menurut Kartini Kartono (1999 : 95). penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan emosi yang tidak matang. eksentrik dan kronis patologis. Bersadarkan pendapat yang dikemukakan oleh Singgih Dirgagunarsa dan Kartini Kartono tersebut dapat disimpulkan pengertian mengenai psikopat sebagai berikut. psikopat adalah bentul kekalutan mental (mental disorder) yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi sehingga penderita tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu konflik dengan norma-norma sosial dan hukum. seolah-olah patokan untuk semua perbuatan dirinya sendiri saja. Penderita psikopat cenderung bersikap aneh. ciri utamanya ketidak mampuan penderita dalam menyesuaikan Psikologi Abnormal/Drs. Sikap penderita psikopat selalu tidak menyenangkan orang lain.Pd. 1. M.

kemesraan. sehingga individu yang bersangkutan gagal dalam mengembangkan kemampuan untuk menerima dan memberikan perhatian dan kasih saying pada orang lain (Kartini Kartono. Bahwa terjadinya psikopat tidak terlepas bahkan ditentukan oleh lingkungan keluarga tidak dapat dipungkiri. 1990 : 75). Selama lima tahun pertama dalam hidupnya dia tidak pernah merasakan kelebutan. 8. Bahwa penderita psikopat tidak memiliki tanggung jawab moral 5. dia belajar percaya akan dirinya dan orang lain. Bila seorang anak hidup dalam kecaman. Psikologi Abnormal/Drs. terutama keluarga. . Dalam Hal ini Elizabeth Hurlock (1997 : 257) mengutip pendapat penulis yang tidak bernama antara lain sebagai berikut. dia belajar mengharga keadilan. 4. dan sosial. dia belajarberkelahi.Pd. dan kasih sayang. Bila dia hidup dalam kebijaksanaan.33 3. Egonya. B. 6. dia belajar bersabar. dia belajar mengutuk. emosi yang tidak matang. Bila dia hidup akan suasana aman. Bila dia hidup dalam toleransi. M. Bahwa penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan 9. Bila dia hidup dalam permusuhan. Bahwa perbuatan penderita psikopat dilakukan dengan acuan 7. diri dengan norma yang berlaku di lingkungan sosialnya. Kuntjojo. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PSIKOPAT Seseorang dapat menderita psikopat karena kurang atau tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungannya.

ke dalam tubuah ibu yang sedang mengandung. sehingga yang bersangkutan mengalami hambatan dalam penyesuaian diri.Pd. sifilis.F. a.34 Bab 7 RETARDASI MENTAL A. dan kemauannya berada pada tingkat rendah. PENGERTIAN RETARDASI MENTAL Retardasi mental adalah kelainan ataua kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Mental. Maramis. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W. Infeksi dan atau intoksinasi Infeksi yang terjadi pada masa prenatal dapat berakibat buruk pada perkembangan janin. Begitu pula halnya dengan intoksinasi. Psikologi Abnormal/Drs. tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. perasaan. M. Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan. . Kuntjojo. Kemampuan jiwa retardasi mental gagal berkembang secara wajar. inteligensi. toksoplasma. Infeksi dapat terjadi karena masuknya rubella. Begitu juga dengan terjadinya intoksinasi. karena masuknya “racun” atau obat yang semestinya dibutuhkan. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RETARDASI MENTAL Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Ke-1 (W. 2005: 386-388) factor-faktor penyebab retardasi mental adalah sebagai berikut. Maramis. B. yaitu rusaknya jaringan otak. jaringan otak juga dapat rusak yang pada akhirnya menimbulkan retardasi mental. Retardasi mental merupakan kelemahan yang terjadi pada fungsi intelek.F. 2005: 386). dll.

Penyakit otak yang nyata Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata.Pd. Terjadinya rudapaksa dan / atau sebab fisik lain Rudapaksa sebelum lahir serta trauma lainnya. dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan berupa retardasi mental. Kuntjojo. c. yang dapat bersifat degeneratif. Pada waktu proses kelahiran (perinatal) kepala bayi dapat mengalami tekanan sehingga timbul pendarahan di dalam otak. seperti hiper radiasi. dst. M. Gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum anak berusia 4 tahun sangat mempengaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Penyakit otak yang terjadi sejak lahir atau bayi dapat menyebabkan penderita mengalamai keterbelakangan mental. Keadaan seperti itu dapat diperbaiki dengan memberikan gizi yang mencukupi sebelum anak berusia 6 tahun. inteligensi yang rendah tersebut sangat sukar untuk ditingkatkan. Psikologi Abnormal/Drs. dan gizi buruk termasuk dalam kelompok ini. radang. gangguan pertumbuhan. Mungkin juga karena terjadi kekurangan oksigen yang kemudian menyebabkan terjadinya degenerasi sel-sel korteks otak yang kelak mengakibatkan retardasi mental. sesudah itu biarpun anak tersebut dibanjiri dengan makanan yang bergizi. Gangguan metabolisme. . alat kontrasepsi. pertumbuhan atau gizi Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolism karbohidrat dan protein). d.35 b.

Deprivasi psikososial Devripasi artinya tidak terpenuhinya kebutuhan. . kriteria yang dipakai adalah: 1. Kemampuan sosial dan bekerja (vokasional). Berdasarkan kriteria Psikologi Abnormal/Drs. TINGKATAN RETARDASI MENTAL Untuk menentukan berat-ringannya retardasi mental. i. Prematuritas Retardasi mental yang termasuk ini termasuk retrdasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi yang pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa kehamilan kurang dari 38 minggu. M. h. Kemampuan anak untuk dididik dan dilatih. C. dan 3. termasuk anomaly cranial primer dan defek congenital yang tak diketahui sebabnya. Intelligence Quotient (IQ). . Akibat gangguan jiwa yang berat Retardasi mental juga dapat terjadi karena adanya gangguan jiwa yang berat pada masa kanak-kanak. 2. Kelainan pada jumlah kromosom menyebabkan sindroma down yang dulu sering disebut mongoloid.Pd. g. Kelainan kromosom Kelainan kromosom mungkin terjadi pada aspek jumlah maupun bentuknya. Kuntjojo. f. Penyakit atau pengaruh prenatal Keadaan ini dapat diketahui sudah ada sejak dalam kandungan. tetapi tidak diketahui etiologinya. Tidak terpenuhinya kebutuhan psikososial awal-awal perkembangan ternyata juga dapat menyebabkan terjadinya retardasi mental pada anak.36 e.

Pd. Patokan sosial : Dapat mencari nafnah sendiri dengan mengerjakan sesuatu yang sederhana dan mekanistis. 1. Retardasi Mental Berat Karakteristik retardasi mental berat adalah: a. M. Retardasi Mental Ringan Karakteristik retardasi mental ringan adalah: a. 2005: 390-392) adalah sebagai berikut. Intelligence Quotient : 68 . Patokan sosial : Tidak dapat mencari nafkah sendiri.85 (keadaan bodoh/bebal) b. berpakaian. dst.37 tersebut kemudian dapat diklasifikasikan berat-ringannya retardasi mental yang menurut GPPDGJ . Patokan pendidikan : Tidak dapat bersaing dalam mencari nafkah : Beberapa kali tak naik kelas di SD 2.F. hanya dapat dilatih. makan. Maramis. c. Intelligence Quotient : 52 – 67 (debil/moron/keadaan tolol) b. Retardasi Mental Taraf Perbatasan Karakteristik retardasi mental taraf perbatasan adalah : a. . Dapat melakukan perbuatan untuk keperluan dirinya (mandi. Kuntjojo. Retardasi Mental Sedang Karakteristik retardasi mental sedang adalah: a.1 (W. Patokan social c. Patokan pendidikan : Dapat dididik dan dilatih tetapi pada sekolah khusus (SLB) 3. Intelligence Quotient : 20 – 35 Psikologi Abnormal/Drs. 4. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididih.). c. Intelligence Quotient : 36 – 51 (taraf embisil/keadaan dungu) b.

D. antara lain: 1) Perawatan prenatal dengan baik. Pendidikan kesehatan pada masyarakat. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididik. 1. . Konseling genetik. Tindakan kedokteran. 3) Pencegahan kehamilan usia sangat muda (usia ibu kurang dari 20 tahun) dan terlalu tua (usia ibu lebih dari 46 tahun). c. PENCEGAHAN RETARDASI MENTAL Terjadinya retardasi mental dapat dicegah. Perbaikan keadaan social-ekonomi. Pencegahan retardasi mental dapat dibedakan menjadi dua: pencegahan primer dan pencegahan sekunder. c. Patokan pendidikan : Tidak dapat dididik dan dilatih. b. Psikologi Abnormal/Drs.38 b. dapat dilatih untuk hal-hal yang sangat sederhana. M. Intelligence Quotient : Kurang dari 20 (idiot/keadaan pander) b. 5.Pd. Patokan social : Tidak dapat mengurus diri sendiri dan tidak dapat mengenal bahaya. Kuntjojo. Dapat mengenal bahaya. Retardasi Mental Sangat Berat Karakteristik retardasi mental sangat berat adalah: a. 2) Pertolongan persalinan yang baik. Patokan sosial : Tidak dapat mencari nafkah sendiri. c. Selama hidup tergantung dari pihak lain. Pencegahan Primer Usaha pencegahan primer terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan dengan: a. d. Kurang mampu melakukan perbuatan untuk keperluan dirinya.

Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder terhadap terjadinya retardasi mental dapat dilakukan dengan diagnosis dan pengobatan dini peradangan otak dan gangguan lainnya. M. dan pertumbuhan serta perkembangan anak. Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental a. E. Kuntjojo.39 2. perlu diambil anamnesis dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan. 1. Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu.Pd. Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang salah. sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang. Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi mental Psikologi Abnormal/Drs. persalinan. Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Mengapa demikian? Siapapun orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. b. melainkan juga pada orang tuanya. PENANGANAN RETARDASI MENTAL Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja. Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling. c. apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat. Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat. .

. M. d. 2. Kuntjojo. Untuk mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera. c. dst. yaitu: a.40 mudah terinterupsi. Psikologi Abnormal/Drs. Latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal yang baik dan buruk secara moral. Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin penderita. b.Pd. Latihan di rumah: belajar makan sendiri. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi mental. Latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap social. membersihkan badan dan berpakaian sendiri.

1. Dan penulis menambahkan satu pandangan lagi. yaitu stress sebagai hubungan antara individu dengan stressor. Secara visual konsepsi ini dapat digambarkan sebagai berikut.41 Bab 8 A. Secara garis besar ada tiga pandangan mengenai stres.1: STRES SEBAGAI STIMULUS Psikologi Abnormal/Drs. Tetapi mereka yang mengucapkan kata tersebut belum tentu mengerti apa sebenarnya stres itu. yang bukan saja diucapkan oleh para psikolog. stres merupakan respon.Pd. KONSEPSI-KONSEPSI MENGENAI STRES STRES Dewasa ini istilah stress merupakan istilah sehari-hari. stress ENVIRONMENT INDIVIDU ENVIRONMENT stress stress Bagan 8. psikiater. M. 1994 : 108-111). Bagi kebanyakan orang. Apakah sebenarnya stres itu ? Samakah stres dengan psikosis ? Faktorfaktor apakah yang dapat menyebabkan stres ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. ataupun kalangan akademisi. stres dianggap sama dengan psikosis. Individu mengalami stres bila dirinya menjadi bagian dari lingkungan tersebut. tetapi juga diucapkan oleh anak-anak maupun orang dewasa dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan. dan stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan (Bart Smet. Stres Sebagai Stimulus Menurut konsepsi ini stres merupakan stimulus yang ada dalam lingkungan (environment). Dalam konsep ini stres merupakan variable bebas sedangkan individu merupakan variabel terikat. berikut dikemukakan konsep-konsep mengenai stress. yaitu : stres merupakan stimulus. . Kuntjojo.

Kuntjojo. 2.Pd. Bart Smet (1994 : 110) menyajikan konsepsi stres sebagai respon sebagai berikut. Mereka yang ada di lingkungan tersebut.. ledakan bom di tengah keramaian. Dalam konteks ini stress merupakan variable tergantung (dependen variable) sedangkan stressor merupakan variable bebas atau independent variable. Berdasarkan pandangan dari Sutherland dan Cooper. dst. awak bus atau kereta api. para petugas.42 Stress sebagai stimulus dapat dicontohkan : lingkungan sekitar yang penuh persaingan. LINGKUNGAN PSYCHOLOGICAL STRESSOR AGENT INDIVIDU STRESS RESPONSE PHYSIOLOGICAL BEHAVIORAL LINGKUNGAN Bagan 11 : STRES SEBAGAI RESPON Bagan 8. gunung meletus. Hal serupa juga dapat diamati pada lingkungan di mana terjadi bencana alam atau musibah lainnya. misalnya banjir. misalnya di terminal dan stasiun kereta api menjelang lebaran. sulit untuk menghindar dari situasi yang menegangkan (stressor) tersebut. . M.2 : STRES SEBAGAI RESPONSE Psikologi Abnormal/Drs. baik itu calon penumpang. dst. Stres Sebagai Respon Konsepsi kedua mengenai stres menyatakan bahwa stress merupakan respon atau reaksi individu terhadap stressor.

cemas. 1994 : 111). perut mual. mental. dan komponen fisiologis. beban berat.P. Stres Sebagai Interaksi antara Individu dengan Lingkungan Menurut pandangan ketiga. M. Keletihan dan kelelahan akibat kehidupan. sosial. 3. Tergangguangan mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang bersifat fisik. . banyak keluar keringat dst. stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. panik. dst.Pd. misalnya denyut nadi menjadi lebih cepat. dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang. Respon individu terhadap stressor memiliki dua konponen.43 Pengertian stres yang mengacu pada konsepsi stres merupakan respon diantaranya dikemukakan oleh E. mulut kering. Gintings. malu. stres ialah reaksi tubuh manusia kepada setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam hal sebagai berikut. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional. (Bart Smet. Menurut Gintings (1999 : 5-6). yaitu : komponen psikologis. Mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman. nerveus. Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian. Psikologi Abnormal/Drs. respon-repons psikologis dan fisiologis terhadap stressor disebut strain atau ketegangan. Mengecilnya potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan. misalnya terkejut. Kuntjojo. Suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis. dan spiritual oleh karena perubahan mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan maupun menyenangkan.

dst. Kondisi individu. dukungan sosial yang diterima. ternyata juga bisa berbeda-beda. stres tidak dipandang sebagai stimulus maupun sebagai respon saja. seperti : introvert atau ekstrovert. reaksi terhadap stres bervariasi antara orang satudengan yang lain dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama. Strategi coping. seperti : umur. integrasi dalam jaringan sosial. e. tingkat pendidikan. M.Pd. Faktor apa saja yang menyebabkan gejala demikian ? Menurut Bart Smet (1994 : 130-131). stabilitas emosi secara umum. dukungan sosial yang dirasakan.44 Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan. Bisa juga terjadi individu memberikan reaksi yang berbeda pada stressor yang sama. dan yang lain lagi mungkin tidak mengalami stres. seperti . a. . Hubungan dengan lingkungan sosial. Kuntjojo. Psikologi Abnormal/Drs. jaringan sosial. b. dst. Individu yang satu mungkin mengalami stres berat. temperamen. inteligensi. yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional. d. Karakteristik kepribadian. locus of control. Konsepsi di atas dapat diperjelas berdasarkan kenyataan yang ada. c. Bagan 13 terhadap stressor yang sama. ketabahan. dan bagan menggambarkan reaksi beberapa individu terhadap stressor yang sama . karena pengaruh variabel-varibel sebagai berikut. yang lainnya mengalami stres ringan. dst. Variabel sosial-kognitif. dst. Misalnya saja stressor yang sama ditanggapi berbeda-beda oleh beberapa individu. tahap perkembangan. jenis kelamin. kondisi fisik. tetapi juga suatu proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif. menggambarkan reaksi individu 14 ternyata bisa berbeda. Konsep stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan dapat digambarkan sebagai berikut.

45 LINGKUNGAN STRES SOMATO PSIKO SOSIAL SPIRITUAL STRESSOR INDIVIDU TIDAK TRES Bagan 8.3: REAKSI INDIVIDU TERHADAP STRESOR YANG SAMA PADA WAKTU YANG BERBEDA LINGKUNGAN INDIVIDU 1 TIDAK STRES STRESOR INDIVIDU 2 STRES LINGKUNGAN INDIVIDU 3 TIDAK STRES Bagan 8. Stres Sebagai Hubungan antara Individu dengan Stressor Stres bukan hanya dapat terjadi karena faktor-faktor yang ada di lingkungan. M. Kuntjojo.4: REAKSI BEBERAPA INDIVIDU TERHADAP STRESOR YANG SAMA PADA WAKTU YANG SAMA 4. .Pd. Bahwa stressor juga bisa berupa faktor-faktor yang ada dalam diri Psikologi Abnormal/Drs.

dst. . Kuntjojo. Konsep tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh W. Konsep yang menyatakan bahwa stress merupakan hubungan antara individu dengan stressor dapat diperjelas dengan visualisasi dengan bagan berikut ini. Oleh sebab itu lebih tepat bila stres dipandang sebagai hubungan antara individu dengan stressor. konflik adalah terganggunya keseimbangan karena individu bingung menghadapi beberapa kebutuhan atau tujuan yang harus dipilih salah satu.Pd. konflik. b. Tekanan bisa datang dari diri sendiri. Menurut Maramis.46 individu. baik stressor internal maupun eksternal. konflik internal. dan krisis. tekanan.F. a. Frustrasi merupakan terganngunya keseimbangan psikis karena tujuan gagal dicapai. mengenai sumber stress. stress dapat terjadi karena frustrasi. d. misalnya penyakit jasmani yang dideritanya. M. Tekanan merupakan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan oleh individu. Tekanan juga bisa datang dari lingkungan. Maramis (1980 : 65-69). misalnya keinginan yang sangat kuat untuk meraih sesuatu. Krisis merupakan situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan.5: STRES SBG HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU DGN STRESOR Psikologi Abnormal/Drs. LINGKUNGAN stresor LINGKUNGAN stresor stresor INDIVIDU stresor stresor LINGKUNGAN stresor LINGKUNGAN Bagan 8. c.

Sehingga bila suatu saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha mengembalikannya pada keadaan seimbang. mdondorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi ketidak seimbangan ini. Berkenaan dengan pembahasan ini. . 1994 : 143). Sebab keberaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup organisme. M. rasa sakit. dirinya akan senantiasa berhadapan masalah. 2. yaitu prinsip homeostatis. Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. Lapar. menggambarkan coping sebagai : Psikologi Abnormal/Drs. Begitu juga halnya dengan terjadinya ketegangan. Prinsip Homeostatis Stres merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan cnderung bersifat merugikan. lelah. dts. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan untuk mendapatkan makanan.. Lazarus dan Folkman (Bart Smet. Hal demikian sesuai dengan prinsipyang berlaku pada organisme. Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. dst. yang pada saat tertentu hal-hal tersebut dapat menjadi stressor. Oleh karena itu setiapindividu yang mengalaminya pasti berusaha mengatsi masalah ini. dan untuk beristirahat. (2000 : 142) menyatakan bahwa stress dapat terjadi pada semua umur.47 B. tuntutan. C. khususnya manusia. Kuntjojo. kecemasan. merupakan contoh keadaan tidak seimbang. dst. Selama individu masih hidup. minuman.Pd. STRES DAPAT TERJADI PADA SETIAP FASE PERKEMBANGAN Stres dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja. haus. USAHA-USAHA MENGATASI STRES 1. Proses Coping terhadap Stres Upaya mengatasi atau mengelola stress dewasa ini dikenal dengan proses coping terhadap stress. Yulia Singgih D. lingkungan.

Pengaturan ini dilakukan melalui perilaku individu seperti penggunaan minuman keras. tidak realistis. 2000: 140141). Maramis (2005 : 71-72) berpendapat bahwa ada bermacam-macam tindakan yangdapat dilakukan untuk itu. Kuntjojo. Ada deksripsi lainnya tentang coping thd stress. penyusunan reaksi (reaction formation). coping mempunyai dua macam fungsi.Suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan asng berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stressful…” Menurut Bart Smet. Sedangkan cara yang berorientasi pada pembelaan ego dilakuakn secara tidak sadar (bahwa itu keliru).Pd. penarikan diri.48 “ …. . dst. fight response. salah pindah (displacement). represi. dan rasional. Sedangkan problem-focused coping dilakukan dengan mepelajari keterampilan-keterampilan atau cara-cara baru mengatsi stress. Menurut Maramis cara ini dapat dilakukan dengan “serangan”. proyeksi. regresi. dan metoda ini sering dipergunakan oleh orang dewasa. individu akan cenderung menggunakan cara ini bila dirinya yakin dapat merubah situasi. realistis. Gunarsa.. yang secara garis besar dibedakan menjadi dua. sublimasi. dan freeze response (Yulia D. rasionalisasi. Emotionalfocused coping dipergunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stress. yaitu (1) cara yang berorientasi pada tugas atau task oriented dan (2) cara yang berorientasi pada pembelaan ego atau ego defence mechanism. kompensasi. Menurut Bart Smet. bagaimana meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan. Cara kedua ini dapat dilakukan dengan : fantasi. dan kompromi. identifikasi. Mengatasi stres dengan cara berorientasi pada tugas berarti upaya mengatasi masalah tersebut secara sadar. dan tidak rasional. M. Psikologi Abnormal/Drs. yaitu dengan flight response. yaitu : (1) Emotional-focused coping dan (2) Problem-focused coping. Berbicara mengenai uapaya mengatasi Stres.

. pasrah dan menyerah terhadap apa yang terjadi pada dirinya. melakukan kegiatan-kegitan yang positif dan kreatif. Freeze response: tindakan menghadapi stress dengan berdiam diri. santai.49 Flight response: upaya menghadapi stress dengan tindakan menghindar dari masalah atau situasi penyebab stress. M. Psikologi Abnormal/Drs. Aktivitas-aktivitas menghilangkan yang dapat dilakukan lain: untuk meredakan atau stress antara menarik nafas dalam-dalam. membicarakan hal itu dengan orang yang tepat. Fight response: usaha menghadapi stress dengan cara menghadapi dan menyelesaikan masalah atau stressor. tertawa.Pd. Kuntjojo.

the Free Encyclopedia. (1999) Mengantisipasi Stres dan Penaggulangannya. (2000) Psikologi Abnormal. (2005) Pengantar Psikologi Abnormal. . E. (1994) Psikologi Kesehatan. (2009) “Abnormal Psychology”. dan Kring. Bandung: PT Refika Aditama.merriem-webster.org/wiki/Psychosis. Dirgagunarsa. Bandung: PT Refika Aditama. (2006) Psikologi Abnormal (Penterjemah: Noermalasari Fajar). Jakarta: Mutiara. En. Ann M. Terdapat pada: http://www. Terdapat pada: http://www. Diakses pada 10 November 2009.Pd. W. Gintings.wikipedia.aol. Bart. Diakses pada 10 November 2009. Kuntjojo.F. Maramis. Gerald C. Wiramihardja. Yogyakarta: Andi.. (2000) Azas-azas Psikologi Keluarga Idaman. Surabaya : Airlangga University. Neale John M.com/.50 Referensi Baihaqi MIF (et al) (2005) Psikiatri: Konsep Dasar dan Gangguan-gangguan. Jakarta : BPK Gunung Mulia.aolsvc. Singgih. Merriem-Webster OnLine. Bandung: Mandar Maju. Yulia Singgih D. Sutardjo A. (2008) Ilmu Kedokteran Jiwa. Kartini Kartono. Davison. (1999) Pengantar Psikologi. Wikipedia. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.P. Psikologi Abnormal/Drs. M. Smet.. (2009) “Psychosis”.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->