ECENG GONDOK http://rosianaindrawati.blogspot.

com/ 27 Juni 2011

Rabu, 02 Februari 2011
BaB I Prposal Tesis Natrium alginatku
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri batik di Indonesia khususnya Kota Surakarta maupun Kabupaten Sukoharjo kebanyakan merupakan industri rumah tangga dengan rata-rata produksinya 400 m/hari/ perajin dan air limbah rata-rata sekitar 100 m3 /hari yang langsung dibuang ke sungai Premulung dan Bengawan Solo. Pada proses industri batik cetak dari persiapan kain putih, pengkanjian dan penghilangan kanji, pewarnaan (deying), pencetakan (printing), pencelupan, pengeringan, pencucian sampai penyempurnaan menghasilkan pencemar limbah cair dengan parameter BOD, COD dan bahan lain dari zat pewarna yang dipakai mengandung seperti zat organik, dan logam berat.(Muljadi, 2005) Menurut Muljadi (2005), karakteristik limbah batik cetak adalah meliputi karakteristik fisika yaitu warna, bau, zat padat tersuspensi , temperatur, sedangkan karakteristik kimia yaitu bahan organik, anorganik, fenol, sulfur, pH, logam berat senyawa racun (nitrit), maupun gas. Limbah cair industri batik cetak tersebut diatas adalah karakteristik berwarna keruh, berbusa, pH tinggi, konsentrasi BOD tinggi, kandungan lemak alkali dan zat warna dimana didalamnya terdapat kandungan logam berat. Senyawa logam berat yang bersifat toksis yang terdapat pada buangan industri batik cetak, diduga krom(Cr), Timbal (Pb), Nikel (Ni), tembaga (Cu), dan mangan (Mn). Logam berat adalah unsur logam dengan berat jenis lebih besar dari 5 gram/cm3 dan bersifat toksik (Sutamihardja dkk, 1982). Dikatakan toksik karena sulit terdegradasi sehingga dalam perairan dapat terakumulasi dalam organisme seperti ikan, karang dan lain-lain. Logam berat ini banyak dihasilkan dari limbah industri seperti industri pelapisan logam dan industri tekstil. Limbah yang mengandung logam berat perlu mendapat perhatian khusus, mengingat dalam konsentrasi tertentu dapat memberikan efek toksik (racun) yang berbahaya bagi kehidupan manusia dan ekosistem di sekitarnya. Banyak metode yang telah dikembangkan untuk menurukan kadar logam berat dari badan perairan, misalnya dengan teknik presipitasi, evaporasi, elektrokimia dan pemakaian resin (Lailun, 2007). Metode tersebut dianggap kurang efektif karena membutuhkan biaya yang cukup tinggi dalam pengoperasiannya. Eceng gondok, tanaman asal Brasil yang didatangkan Kebun Raya Bogor pada tahun 1894, dahulu merupakan tanaman hias yang digandrungi karena bunganya yang berwarna ungu sangat menarik sebagai penghias kolam seperti Teratai. Eceng Gondok yang pada mulanya hanya dikenal sebagai tanaman gulma air, karena pertumbuhannya yang begitu cepat sehingga menutupi permukaan air, dan menimbulkan dampak pada menurunnya produksi di

Namun. Enkapsulasi dilakukan dengan berbagai tujuan. 2000). sebagai bahan baku kertas. masalah yang dirumuskan adalah sebagai berikut : 1) Berapa kondisi optimum adsorpsi eceng gondok terenkapsulasi natrium alginat terhadap ion logam Cu2+ dengan variasi pH dan konsentrasi awal Cu2+ dengan menggunakan metode batch? 2) Seberapa besar kapasitas adsorpsi eceng gondok terenkapsulasi terhadap ion logam Cu terenkapsulasi natrium alginat terhadap ion logam Cu2+ dan dan menghitung konstanta isotherm Langmuir dan Freundlich pada limbah industri batik cetak surakarta. maka keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. kolom tidak sanggup lagi dilewati cairan. maka serbuk eceng gondok memerlukan penanganan lebih lanjut untuk bisa dijadikan sebagai media adsorben agar mudah digunakan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengeluaran eceng gondok dari dalam kolom. . Dengan kolom yang sekarang tersedia. antara lain sebagai bahan baku kerajinan tangan yang akhir-akhir ini sedang marak pembuatan tas. sebagai pupuk dan makanan unggas. serbuk eceng gondok digunakan untuk pengolahan limbah sebagai adsorben di dalam kolom adsorpsi. Jika diaplikasikan di dalam pengolahan limbah. Sementara. khususnya limbah cair. sewaktu dilakukan variasi ukuran serbuk dengan ukuran yang sangat halus. disamping sebagai tanaman yang merugikan.3 Tujuan Penelitian 1) Mengetahui kondisi optimum adsorpsi oleh eceng gondok terenkapsulasi natrium alginat terhadap ion logam Cu2+ dengan variasi pH dan konsentrasi awal Cu2+ dengan menggunakan metode batch. Kendala yang dihadapi adalah serbuk eceng gondok akan sulit untuk dikeluarkan dalam kolom. seperti cepatnya penguapan perairan. Misalnya. Berdasarkan hal tersebut. sel makhluk hidup. atau untuk mengurangi rasa dan bau dari suatu zat. baik yang langsung menggunakan tanaman eceng gondok hidup. hormon.2 Perumusan Masalah Dalam penelitian ini. dompet. obat-obatan. Penggunaan eceng gondok hidup memerlukan areal yang cukup luas untuk pembuatan kolam penampungan limbah sebagai media berkembangnya tanaman. Untuk itu. dalam penelitian ini digunakan metode pembuatan kapsul eceng gondok. eceng gondok terbukti cukup efesien dalam menurunkan kadar ion logam berat yang terdapat dalam air tecemar (Baroroh. Metode yang digunakan juga bervariasi. maupun menggunakan eceng gondok dalam bentuk serbuk. dalam bidang farmasi untuk membungkus vitamin yang dapat rusak karena kontak dengan oksigen. aksesoris dari eceng gondok kering. 3) Bagaimana hubungan variasi laju alir dan waktu kontak terhadap kemampuan jerap ion Cu2+ oleh Serbuk Eceng Gondok (SEG) terenkapsulasi natrium alginat dengan menggunakan metode kolom adsorpsi pada limbah cair industri batik cetak di Surakarta. dan sebagai adsorben logam berat pada beberapa limbah industri. 1. 1. untuk menghambat penguapan zat yang bersifat mudah menguap.sektor perikanan juga menimbulkan permasalahan lingkungan lainnya. karena packingnya tertutup oleh serbuk-serbuk halus arang aktif (Subiarto. ternyata eceng gondok juga mempunyai beberapa manfaat. Enkapsulasi merupakan teknik pembuatan kapsul terhadap suatu bahan aktif untuk keperluan tertentu. 2008). Enzim. Penelitian tentang adsorpsi ion logam berat oleh biomassa eceng gondok telah banyak dilakukan. dan memerlukan bantuan pompa pendorong untuk mengalirkan air limbah karena packing kolom yang sangat rapat. Dari hasil kajian tersebut. adsorben dan material bioaktif dapat dienkapsulasi.

1. 3) Mengetahui hubungan variasi laju alir dan waktu kontak terhadap kemampuan jerap ion logam Cu2+ oleh kapsul SEG terenkapsulasi natrium alginat dengan menggunakan metode kolom adsorpsi pada limbah cair industri batik cetak di Surakarta. 2) Logam berat yang dijerap adalah ion logam Cu2+. 1. Cu(II) dan Cd(II) terhadap pengaruh waktu dan konsentrasi pada biomassa Nannochloropsis sp. Kurva breakthrough diperoleh dari percobaan adsorpsi secara kontinyu . Adapun penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini antara lain : 1. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi laju alirnya. 96. digunakan model Thomas untuk menentukan kapasitas adsorpsinya.5 cm dan tinggi adsorben 4 cm. Sedangkan penelitian secara kontinyu bertujuan mencari hubungan kurva breakthrough dengan variasi bulk density untuk BFA non aktivasi dan BFA teraktivasi.792 mg/g . ini sangat rentan terhadap degradasi oleh mikroorganisme sehingga diterapkan teknik enkapsulasi untuk mengatasinya serta proses adsorpsi dilakukan dengan menggunakan kolom adsorpsi yang dikendalikan secara elektronik (metode kontinyu) agar proses berjalan lebih cepat. Murniyarti. Nannochloropsis sp.4 Batasan Masalah Dalam penelitian ini. Yang terenkapsulasi aqua-gel silika dengan metode kontinyu. 2. Widiastuti (2010). 3 mL/menit dan 4 mL/menit. Yunita (2009) melakukan penelitian tentang Aktivasi Bagasse Fly Ash (BFA) untuk Adsorpsi Cu (II) secara Batch dan Kontinyu: Eksperimen dan Pemodelan. Dkk (2008) melakukan penelitian tentang Studi proses adsorpsi-desorpsi ion logam Pb(II).752 mg/g. hanya dibatasi pada : 1) Penelitian bersifat eksperimental laboratorium. Setiaka. 4) Limbah yang digunakan adalah limbah cair industri batik cetak di Surakarta 1. 3) Pengujian terhadap serbuk eceng gondok (SEG) terenkapsulasi natrium alginat dilakukan terhadap ion logam Cu2+ melalui metode batch dan metode kontinyu menggunakan kolom adsorpsi.pH dan konsentrasi belum ada. 3) Memberikan ide dan bahan masukan dan perbaikan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian sejenis tetapi dengan teknik lain.5 mL/menit. tinggi 13.507 mg/g .6 Keaslian Penelitian Penelitian tentang adsorpsi logam berat Cu menggunakan eceng gondok telah banyak dilakukan sebelumnya. laju alir pada system kolom divariasikan pada 1. Kolom yang digunakan memiliki diameter 1 cm.2) Mengetahui seberapa besar kapasitas adsorpsi dari eceng gondok terenkapsulasi natrium alginat terhadap ion logam Cu2+ dan menghitung tetapan isotherm Langmuir dan Freundlich pada limbah industri batik cetak surakarta. Pada penelitian kali ini dilakukan dua metode adsorpsi Cu (II) oleh BFA yaitu batch dan kontinyu Percobaan secara batch bertujuan untuk mencari kesetimbangan adsorpsi pada berbagai pH untuk BFA non aktivasi dan BFA teraktivasi. Masingmasing memiliki kapasitas adsorpsi 79. 3. diantaranya : 1) Memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk pengolahan limbah tekstil 2) Memberikan inovasi pengolahan limbah tekstil dengan eceng gondok yang dienkapsulasi.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Adsorpsi Ion Logam Cu(II) Dalam Larutan Pada Abu Dasar Batubara Menggunakan Metode Kolom. 89. akan tetapi penelitian mengenai pembuatan kapsul serbuk eceng gondok dengan natrium alginat sebagai penjerap ion logam Cu2+ penggunaannya dengan metode batch dan kolom adsorpsi menggunakan variasi laju alir. maka kapasitas adsorpsi ion logam Cu(II) pada abu dasar semakin meningkat.

[5] Kelebihan teknik imobilisasi adalah penggunaan kembali biokatalis.5 cm. 1992 dalam Jatmiko. Pengelolaan sampah anorganiok . Zorlu N. Diposkan oleh Oci_Monz di 05:18 1 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz tentang kapsul eceng gondok Kelebihan alginate Selain aplikasi alginat dalam industri di atas. Mengapa dibuat kapsul?? Dengan metoda kolom ini. (Goksungur Y. Barangkali dalam penelitian berikutnya. 2001. yaitu mengenai penyerapan logam berat oleh biomassa hidup maupun kering tidak dilakukan pada kondisi pH larutan dibawah 3 karena pada pH ini kemungkinan terjadi kompetisi antara Cu2+ dengan proton (ion hidronium) sehingga terjadi tolakan yang menghalangi kation logam berdekatan ke sisi biosorben (Fourest. 06 Desember 2010 tugas mesin PENDAHULUAN Sampah terbagi dua jenis. Kondisi pH lingkungan sangat berpengaruh pada ionisasi gugus-gugus fungsi asam amino penyusun protein yang akan menyediakan tempat untuk berikatan dengan logam berat (Wirahadikusumah. yaitu organik dan anorganik. karena packingnya tertutup oleh serbuk-serbuk halus arang aktif. 2005).menggunakan kolom yang berisi BFA sebagai adsorben.[5] Dari penelitian yang telah dilakukan. Selain itu berpengaruh juga pada kelarutan dari ion logam dalam larutan. 1992 dalam Volesky. hal ini bisa dilakukan dengan kolom yang lebih bagus. Diposkan oleh Oci_Monz di 05:14 0 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz Senin. sebenarnya dapat juga diteliti waktu penggantian arang aktif karena sudah jenuh menyerap Sr-90. sehingga pH merupakan parameter yang penting dalam biosorpsi ion logam dalam larutan (Fourest. Production of ethanol from beet molasses by ca-alginate immobilized yeast cell in a packedbed bioreactor. dapat dimodifikasi. 2001). produktivitas yang tinggi.5 cm dengan diameter kolom 3. Turk J Biol 25:265-275) Pengaruh pH Alasan kenapa dilakukan optimasi pH larutan tembaga adalah karena pH dapat mempengaruhi gugus-gugus fungsional dari dinding biomassa yang berperan aktif dalam proses penyerapan logam berat. alginat merupakan matriks imobilisasi yang paling baik karena efisien. Hal ini akan dicoba diatasi dengan menambahkan glass-wool diatas packing. Dengan kolom yang sekarang tersedia. Pemilihan pH ini didasarkan pada penelitian–penelitian sebelumnya. 1990). dan pengurangan kontaminasi. dan tidak bersifat toksik. atau kalau belum bisa terpaksa dengan mengganti kolom dengan kolom buatan Fischer sesuai katalog. salah satu aplikasi alginat yang dimanfaatkan dalam sering dimanfaatkan adalah teknik imobilisasi dengan alginat dalam fermentasi gula oleh yeast. sewaktu dilakukan variasi ukuran serbuk dengan ukuran yang sangat halus. mudah digunakan. kolom tidak sanggup lagi dilewati cairan. Ketinggian bed yang digunakan adalah 19.

Mengidentifikasi karakteristik bahan pisau. Menganalisa ulang hasil uji coba untuk penyempurnaan Bahan Pisau Crusher (K460 AMUTIT S) Amutit S merupakan baja paduan .25 % Manggan (Mn) : 1. Serta data karakteristik bahan pemotong dan system pemotongannya.10 % Chrom ( Cr) : 0.10% . dan Bandar sampah plastik. Pengolahan sampah plastik sementara ini hanya bisa dilakukan oleh industry menengah ke atas. Menentukan proses heat treatment. Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah anorganik. pengepul/agen. Mengidentifikasi karakteristik bahan plastic. 2. Sehingga biaya operasional harus membengkak untuk penggantian pisau ini. Merancang mesin crusher melalui analisa kekuatasn komponen mesin dan konstruksi 5.300Kg/jam. kapasitas tersebut terlalu besar untuk agen dan pengumpul. Limbah yang sudah terkumpulkan dijual oleh bandar ke industri pengolahan. Data yang telah terkumpul akan dianalisa untuk menghasilkan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. mahalnya pisau ini dikarenakan adanya biaya proses hardening pada saat pembuatan pisau METODA RANCANG BANGUN Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data karakteristik limbah botol plastik dan dan macammacam cara pengolahannya. Mesin Crusher merupakan salah satu jenis mesin pengolah plastik yang mengolah sampah plastic botolan menjadi cacahan/serpihan kecil untuk selanjutnya melalui proses pencucian. yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dengan cara didaur-ulang menjadi barang bermanfaat lainnya. Pemanfaatan sampah plastic sekarang ini sudah mulai dilakukan. Masalah lainnya yang timbul yaitu sering rusaknya pisau Crusher karena penggunakan bahan yang kurang tepat (memiliki kekerasan yang kurang dari Shear Strength plastik). termasuk kelompok Cold work Tool Steel.85% Silicon (Si) : 0. banyak industri atau perorangan yang memanfaatkan sampah plastik ini. sementara industri kecil dan perorangan hanya terbatas pada penyediaan sampah plastiknya saja. Menurut estimasi ekonomis kapasitas yang cocok untuk mereka berkisar 50Kg/jam. 4. Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui studi literatur untuk mendapatkan karakteristik bahan logam dan studi dokumentasi untuk mengumpulkan data plastik. Dengan nilai keuntungan ekonomis terbalik. Agen dan bandar sebenarnya bias meningkatkan pendapatannya jika dapat mengolah sendiri sampah tersebut.sering menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat kita. Kapasitas menjadi penting karena berhubungan dengan biaya pembelian mesin dan operasional sehari-hari. terutapa masyarakat yang daerahnya akan dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. namun terkendala dengan pengadaan mesin pengolah sampah.55 % Vanadium (V) : 0. pengeringan dan pembuatan pelet plastik. Bagi perorangan dikenal dengan istilah pemulung. Mesin Crusher yang tersedia di pasaran berkapasitas besar antara 150. yang diproduksi oleh perusahan Bohler Jerman. 3. Komposisi kimia yang terkandung di dalam Amutit S sbb: Carbon (C) : 0. artinya industri mendapatkan nilai terbesar dan yang terkecil pemulung.

Pisau Crusher Sedangkan mesin hasil rancangan adalah sebagai berikut: . Setelah melalui proses pengerasan mampu mencapai 65 HRC dengan variasi temperatur temper rendah. makin tinggi temperatur tempering akan menyebabkan semakin turun kekerasan akhir yang dihasilkan. Pemilihan temperatur tempering disesuaikan dengan kekerasan akhir yang dibutuhkan. sedang dan tinggi.55% Standar bahan yang sesuai dengan bahan Amutit S sbb: • DIN : 1. selanjutnya diteruskan proses temper warna (tempering dengan control panas dari spectrum warna logam yang dipanaslkan).2510100MnCrW4 • AISI : 01 • BS : BO1 • JIS : SKS 3 Amutit mempunyai sifat mampu mesin yang baik sehinga banyak dipilih sebagai bahan untuk Tools. Tabel berikut meperlihatkan hubungan temperatur dengan spectrum warna yang muncul pada saat baja dipanaskan.kemudian segera didinginkan kejut pada media pendingin yang sesuai. Proses : Logam (baja) dipanaskan sampai temperatur austenit (warna merah ceri/merah terang). menunjukan proses Heat Treatment AMUTIT. Adapun alur proses flame hardening heat treatment adalah: Spesifikasi mesin Crusher hasil perancangan adalah sebagai berikut: Gambar 1.Wolfram (W) : 0. Kekerasan akhir yang dipertimbangkan berdasarkan pemakaian dan kondisi pembebanan.

adapun bentuk dari cacahan tidak seragam berkisar antara diameter 6mm Gambar 3. Hasil Cacahan Flame hardening adalah proses pengerasan baja dengan memakai nyala api asitelin dan diikuti paling sederhana tetapi paling sulit dikarenakan kontrol temperature mengandalkan tampilan spectrum warna logam yang dipanaskan. Pengantar Tujuan dari dilakukannya suatu pengujian mekanis adalah untuk menentukan respon material dari suatu konstruksi. Efesiensi yang terjadi = 77 %. keuletan. Dengan biaya Rp. Mesin yang dihasilkan sesuai dengan perancangan mampu menghasilkan lebih dari 50 kg/jam cacahan plastic. Prinsip Pengujian Data-data penting yang diharapkan didapat dari pengujian tarik ini adalah: perilaku mekanik material dan karakteristik perpatahan. Menggunakan motor dengan rpm 1500 rpm. 10. Gambaran singkat mengenai uji tarik adalah 3.Ukuran cacahan plastik output mesin crusher ini adalah 4 Mesh atau 10mm. Tujuan Mahasiswa mampu menganalisis hasil uji tarik beberapa jenis logam sebagai respon mekanis terhadap deformasi dari luar dan mampu menganalisis karakteristik perpatahan yang dihasilkan. komponen atau rakitan fabrikasi pada saat dikenakan beban atau deformasi dari luar. pengujian tarik merupakan jenis pengujian yang paling banyak dilakukan karena mampu memberika informasi representatif dari perilaku mekanis material. batas elastic. Diameter 10mm. titik luluh dan kekuatan luluh. Di antara semua pengujian mekanis tersebut. 2. Perilaku Mekanik Material Pengujian tarik yang dilakukan pada suatu material padatan (logam dan nonlogam) dapat memberikan keterangan yang relatif lengkap mengenai perilaku material tersebut terhadap pembebanan mekanis.000. Ukuran ini didapatkan dari pemasangan saringan dengan dia.000. modulus elastisitas. Dalam hal ini akan ditentukan seberapa jauh perilaku inheren (sifat yang lebih merupakan ketergantungan atas fenomena atomik maupun mikroskopis dan bukan dipengaruhi bentuk atau ukuran benda uji) dari material terhadap pembebanan tersebut. disertai perubahan warna yang ce percobaan diperoleh tingkat keberhasilan mencapai kekerasan minimum 58HRC adalah 70%. a. Informasi penting yang bisa didapat adalah: batas proporsionalitas. . UJI TARIK 1. Output plastik yang dihasilkan dari mesin crusher dengan bentuk yang tidak seragam dengan ukuran 4 Mesh atau Diposkan oleh Oci_Monz di 15:17 0 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz laporan praktikum mesin LAPORAN PRAKTIKUM UJI MEKANIS MATERIAL A.

91 N/mm2 250.52 N/mm2 Panjang Ukur Setelah Patah 74.44 mm 74.78 N/mm2 Tegangan Patah 503. Kesimpulan B. Prinsip Pengujian Dari uraian singkat di atas maka kekerasan suatu material dapat didefinisikan sebagai ketahanan material tersebut terhadap gaya penekanan dari material lain yang lebih keras.41 mm 74.96 N/mm2 390. dan untuk para mekanik work-shop lebih bermakna kepada ketahanan material terhadap pemotongan dari alat potong.87 mm Tegangan Luluh 397. Hasil Pengamatan Parameter yang diukur Hasil Pengamatan Baja (Raw) Baja Quenching Baja Tempering Panjang Spesimen 84 mm 83 mm 75 mm Panjang Ukur 60 mm 60 mm 60 mm Jarak Titik Sebelum Diuji 60 mm 60 mm 60 mm Diameter/Lebar Ukur 8. 3. tetapi masih sering dipakai dalam dunia mineralogi. Pengantar Makna nilai kekerasan suatu material berbeda untuk kelompok bidang ilmu yang berbeda. Metode Gores Metode ini tidak banyak lagi digunakan dalam dunia metalurgi dan material lanjut. pantulan ataupun indentasi dari material keras terhadap suatu permukaan benda uji. Berdasarkan mechanism penekanan tersebut. UJI KEKERASAN 1.b.04 mm 5.92 N/mm2 Tegangan Maksimum 584.77 mm 7. Metode ini dikenalkan oleh Friedrich Mohs yang membagi kekerasan material di dunia ini berdasarkan skala (yang kemudian dikenal . Tujuan Mahasiswa mampu menguasai beberapa metode pengujian yang umum dilakukan untuk mengetahui nilai kekerasan logam.04 mm 7. Begitu banyak konsep kekerasan material yang dipahami oleh kelompok ilmu.94 N/mm2 308.67 mm Diameter/Lebar Setelah Patah 5.48 N/mm2 436.63 N/mm2 603. walaupun demikian konsep-konsep tersebut dapat dihubungkan pada satu mekanisme yaitu tegangan alir plastis dari material yang diuji. dikenal 3 metode uji kekerasan: a. Perpatahan ulet umumnya lebih disukai karena bahan ulet umumnya lebih tangguh dan memberikan peringatan lebih dahulu sebelum terjadinya kerusakan 4.75 mm 4. untuk para insinyur mineralogi nilai itu adalah ketahanan terhadap goresan. Bagi insinyur metalurgi nilai kekerasan adalah ketahanan material terhadap penetrasi sementara untuk para insinyur disain nilai tersebut adalah ukuran dari tegangan alir. 2. Penekanan tersebut dapat berupa mekanisme penggoresan (scratching). Karakteristik Perpatahan Perpatahan ulet memberikan karakteristk berserabut (fibrous) dan gelap (dull) sementara perpatahan getas ditandai dengan permukaan patahan yang berbutir (granular) dan terang.48 N/mm2 364. untuk insinyur lubrikasi kekerasan berarti ketahanan terhadap mekanisme keausan.87 mm 3.

UJI IMPACK 1. Skala ini bervariasi dari nilai 1 untuk kekerasan yang paling rendah.2 Hasil indentasi Brinellberupa jejak berbentuk lingkaran dengan ukuran diameter dalam skala mm. Tinggi pantulan (rebound) yang dihasilkan mewakili kekerasan benda uji. c. yang ditunjukkan oleh dial pada alat pengukur. Metode Elastis / Pantul kekerasan suatu material ditentukan oleh alat Scleroscope yang mengukur tinggi pantulan suatu pemukul (hammer) dengan berat tertentu yang dijatuhkan dari suatu ketinggian terhadap permukaan benda uji. Panjang diagonaldiukur dengan skala pada mikroskop pengujur jejak Gambar 2.3 Skematis prinsip indentasi dengan metode Vickers 4. yang harus dihitung diameternya di bawah mikroskop khusus pengukur jejak. maka kekerasan benda uji dinilai semakin tinggi. Hasil penekanan adalah jejak berbentu lingkaran bulat. Prinsip pengujian adalah sama dengan metode Brinell. Tujuan . • Metode Vickers Pada metode ini digunakan indentor intan berbentuk piramida dengan sudut 1360.2 Gambar 2. Metode Indentasi • Metode Brinnel Pengujian kekerasan dilakukan dengan memakai bola baja yang diperkeras (hardened steel ball) dengan beban dan waktu indentasi tertentu sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2.1.sebagai skala Mohs). hingga skala 10 sebagai nilai kekerasan tertinggi. walaupun jejak yang dihasilkan berbentuk bujur sangkar berdiagonal. Semakin tinggi pantulan tersebut.1 Skematis prinsip indentasi dengan metode Brinell Gambar 2. Hasil Pengamatan C. sebagaimana dimiliki oleh material talk. Contoh pengukuran hasil penjejakan diberikan oleh Gambar 2. seperti diperlihatkan oleh Gambar 2. sebagaimana dimiliki oleh intan b.3.

dengan jari-jari dasar 0.25 mm dan kedalaman 2 mm. Bila bahan tersebut tangguh yaitu makin mampu menyerap energi lebih besar maka makin rendah posisi h‟. sebagaimana telah ditunjukkan oleh Gambar 3. bandul pendulum melanjutkan ayunannya hingga posisi h‟.2. energi yang diserap oleh benda uji biasanya dinyatakan dalam satuan Joule dan dibaca langsung pada skala (dial) penunjuk yang telah dikalibrasi yang terdapat pada mesin penguji. Harga impak (HI) suatu bahan yang diuji dengan metode Charpy diberikan oleh : dimana E adalah energi yang diserap dalam satuan Joule dan A luas penampang di bawah takik dalam satuan mm2 Secara umum benda uji impak dikelompokkan ke dalam dua golongan sampel standar yaitu : batang uji Charpy sebagaimana telah ditunjukkan pada Gambar 1. Prinsip Pengujian Dasar pengujian impak ini adalah penyerapan energi potensial dari pendulum beban yang berayun dari suatu ketinggian tertentu dan menumbuk benda uji sehingga benda uji mengalami deformasi.1 di ata dapat dilihat bahwa setelah benda uji patah akibat deformasi. Suatu material dikatakan tangguh bila memiliki kemampuan menyerap beban kejut yang besar tanpa terjadinya retak atau terdeformasi dengan mudah. banyak digunakan di Amerika Serikat dan batang uji Izod yang lazim digunakan di Inggris dan Eropa. Pengujian impak merupakan suatu upaya untuk mensimulasikan kondisi operasi material yang sering ditemui dalam perlengkapan transportasi atau konstruksi dimana beban tidak selamanya terjadi secara perlahan-lahan melainkan datang secara tiba-tiba. Sementara uji impak dengan metode Izod umumnya dilakukan hanya pada temperatur ruang dan ditujukan untuk material-material yang didisain untuk berfungsi sebagai cantilever.2 di bawah ini: Gambar 3. Ilustrasi skematik pembebanan impak pada benda uji Charpy dan Izod Serangkaian uji Charpy pada satu material umumnya dilakukan pada berbagai temperatur sebagai upaya untuk mengetahui temperatur transisi (akan diterangkan pada paragraphparagraph selanjutnya). Benda uji Charpy memiliki luas penampang lintang bujur sangkar (10 x 10 mm) dan memiliki takik (notch) berbentuk V dengan sudut 45o.1. Gambar 3. Pengantar Pengujian impak merupakan suatu pengujian yang mengukur ketahanan bahan terhadap beban kejut. contoh deformasi pada bumper mobil pada saat terjadinya tumbukan kecelakaan. Inilah yang membedakan pengujian impak dengan pengujian tarik dan kekerasan dimana pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan.Mahasiswa diharapkan mampu menganalisis hasil uji impak beberapa jenis logam sebagaisebagai fungsi temperatur dan karakteristik perpatahan yang dihasilkan.1 Ilustrasi skematis pengujian impak dengan benda uji Charpy Pada pengujian impak ini banyaknya energi yang diserap oleh bahan untuk terjadinya perpatahan merupakan ukuran ketahanan impak atau ketangguhan bahan tersebut. 2. Perbedaan cara pembebanan antara metode Charpy dan Izod ditunjukkan oleh Gambar 3. Takik (notch) dalam benda uji standar ditujukan sebagai suatu konsentrasi .1 di bawah ini memberikan ilustrasi suatu pengujian impak dengan metode Charpy: Gambar 3. Benda uji diletakkan pada tumpuan dalam posisi mendatar dan bagian yang bertakik diberi beban impak dari ayunan bandul. Pada pengujian impak. Pada Gambar 3. Benda uji Izod mempunyai penampang lintang bujur sangkar atau lingkaran dengan takik V di dekat ujung yang dijepit. 3.

4. lihat Gambar 3. Tahapan dari proses Anneling ini dimulai dengan memanaskan logam (paduan) sampai temperature tertentu. Sehingga kita akan mengenal 5. tergantung pada jenis atau kondisi benda kerja. Kesimpulan Diposkan oleh Oci_Monz di 15:13 0 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz Sabtu.6 Harga keuletan 149. Hasil Pengamatan Sket benda yang utuh Sket benda yang utuh Sket benda yang utuh Sket penampang patah Bahan : Raw Sket penampang patah Bahan : Analy Sket penampang patah Bahan : Analy Sudut α tanpa benda 1560 Sudut α tanpa benda 1560 Sudut α tanpa benda 1560 Sudut β dengan benda 40 Sudut β dengan benda 60 Sudut β dengan benda 8.50 Harga keuletan 149.5 di bagian akhir bab ini. temperature pemanasan. Selain berbentuk V dengan sudut 450.05 Anneling ialah suatu proses laku panas (heat treatment) yang sering dilakukan terhadap logam atau paduan dalam proses pembuatan suatu produk. dll.3 Harga keuletan 149. lamanya waktu penahanan. Jenis Anneling itu beraneka ragam. menahan pada temperature tertentu tadi selama beberapa waktu tertentu agar tercapai perubahan yang diinginkan lalu mendinginkan logam atau paduan tadi dengan laju pendinginan yang cukup lambat. 07 Agustus 2010 Enviro Engineer: sludge biomass incenerator . Pengukuran lain yang biasa dilakukan dalam pengujian impak Charpy adalah penelaahan permukaan perpatahan untuk menentukan jenis perpatahan (fracografi) yang terjadi. laju pendinginan (cooling rate). takik dapat pula dibuat dengan bentuk lubang kunci (key hole).tegangan sehingga perpatahan diharapkan akan terjadi di bagian tersebut.

eceng gondok terbukti cukup efesien dalam menurunkan kadar ion logam berat yang terdapat dalam air tecemar1. Enkapsulasi dilakukan dengan berbagai tujuan. maupun menggunakan eceng gondok dalam bentuk serbuk. adsorben dan material bioaktif dapat dienkapsulasi. sel makhluk hidup. hanya dibatasi pada : 1. 3. low calof.3 Batasan Masalah Dalam penelitian ini..1 Latar Belakang Penelitian tentang adsorpsi ion logam berat oleh biomassa eceng gondok telah banyak dilakukan. untuk menghambat penguapan zat yang bersifat mudah menguap. dalam bidang farmasi untuk membungkus vitamin yang dapat rusak karena kontak dengan oksigen. serbuk eceng gondok digunakan untuk pengolahan limbah sebagai adsorben di dalam kolom adsorpsi. Enkapsulasi merupakan teknik pembuatan kapsul terhadap suatu bahan aktif untuk keperluan tertentu. Metode yang digunakan juga bervariasi. Misalnya. atau untuk mengurangi rasa dan bau dari suatu zat. maka serbuk eceng gondok memerlukan penanganan lebih lanjut untuk bisa dijadikan sebagai media adsorben agar mudah digunakan. Variasi yang diberikan adalah pH. hormon. Sementara. baik yang langsung menggunakan tanaman eceng gondok hidup. Meliputi pengaruh terhadap pH. Jika diaplikasikan di dalam pengolahan limbah. pengaruh konsentrasi awal ion logam Cu2+ dan penentuan kapasitas adsorpsi I. Berdasarkan hal tersebut. konsentrasi awal Cu2+ dan waktu kontak . Kendala yang dihadapi adalah serbuk eceng gondok akan sulit untuk dikeluarkan dalam kolom. Enzim. Penggunaan eceng gondok hidup memerlukan areal yang cukup luas untuk pembuatan kolam penampungan limbah sebagai media berkembangnya tanaman. dan memerlukan bantuan pompa pendorong untuk mengalirkan air limbah karena packing kolom yang sangat rapat. Its seasonal availability.2 Perumusan Masalah Dalam penelitian ini. maka keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Logam berat yang disisihkan adalah Tembaga(II) 2. masalah yang dirumuskan adalah kajian terhadap karakteristik retensi dari serbuk eceng gondok terenkapsulasi terhadap ion logam Cu2+. khususnya limbah cair. I.. Introduction Biomass has always been used as a localized energy source.Enviro Engineer: sludge biomass incenerator: "SLUDGE BIOMASS INCINERATOR I. Pengujian terhadap serbuk eceng gondok terenkapsulasi dilakukan terhadap ion logam Cu2+ melalui sistem batch. pengaruh waktu kontak. Dari hasil kajian tersebut. obat-obatan." Diposkan oleh Oci_Monz di 04:48 0 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz enkapsulasi eceng gondok BAB I PENDAHULUAN I.

pada dasarnya proses enkapsulasi terbagi menjadi tiga tahap.I. rumput laut. Menurut Poncelet. bakteri. konsentrasi awal ion logam Cu2+ terhadap bioadsorpsi melalui enkapsulasi enceng gondok I. bagian kapsul terdiri dari inti (core) dan kulit (shell). khususnya air limbah dengan menggunakan biomassa dari serbuk eceng gondok terenkapsulasi BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI II. tergantung pada komposisi dan jenis bahan yang digunakan. Jika air limbah yang tidak memenuhi standar baku mutu dibuang ke sistem perairan. Salah satu upaya untuk menurunkan kadar air limbah tembaga adalah dengan metoda bioadsorpsi. II. Jika inti kapsul berbentuk cairan. Secara umum. dapat ditempa. 1 Logam tembaga dan keberadaannya Tembaga adalah salah satu unsur kimia dengan simbol Cu dan memiliki nomor atom 29. Metode enkapsulasi menghasilkan kapsul dengan berbagai jenis ukuran.3 Dalam penelitian ini. Tahap penggabungan bagian “aktif” yang akan menjadi inti dalam kapsul. 2 Pemanfaatan tembaga dapat menghasilkan limbah. biomassa yang dimanfaatkan untuk proses bioadsorpsi adalah serbuk eceng gondok yang dienkapsulasi menggunakan suatu polimer dari alam yaitu alginat. Tembaga merupakan logam yang berwarna merah muda.4 Bagian inti mengandung bagian “aktif”. bagian “aktif” dapat terlarut. Jika kapsul yang dihasilkan berukuran mikron. maka akan membahayakan kesehatan manusia serta biota disekitarnya. liat dan melebur pada suhu 10380C. waktu kontak. Bioadsorpsi logam oleh material biologi telah berhasil dilakukan menggunakan mikroalga. jamur dan residu hasil pertanian. sementara kulit melindungi inti secara permanen atau sementara. terdispersi atau teremulsi dalam cairan . bersifat lunak.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari pH.2 Tahapan enkapsulasi Enkapsulasi didefinisikan sebagai suatu proses untuk membungkus material tertentu dengan suatu lapisan atau dinding luar.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah dapat menambah khasanah pengetahuan mengenai pengolahan air. industri pelapisan logam dan industri tekstil. Limbah tembaga dihasilkan dari aktivitas manusia terutama dari hasil pertambangan. yaitu : 1. maka teknik tersebut disebut mikroenkapsulasi dan kapsul yang dihasilkan disebut mikrokapsul.

Selulosa merupakan senyawa organik yang terdapat pada dinding sel bersama dengan lignin berperan untuk mengokohkan struktur tumbuhan.8 meter. 50 g Kalsium klorida p. Melalui proses ekstraksi dengan asam. Asam alginat merupakan komponen utama ganggang laut. shaker.3 Natrium alginat dan Kalsium alginat Natrium alginat (Na-alg) diperoleh dari asam alginat. neraca analitik. Adapun klasifikasi tanaman eceng gondok sebagai berikut: 8 Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Suku : Pontederiaceae Marga : Eichhornia Jenis : Eichhornia crassipes Solms Serat eceng gondok sebagian besar tersusun dari selulosa. III. BAB III METODOLOGI PENELITIAN III. bagian “aktif” dapat bergabung melalui absorpsi pada saat terbentuk inti atau setelah terbentuk inti. dan alat-alat gelas yang umum digunakan di laboratorium.7 II. pengeringan atau proses enkapsulasi yang lainnya.2 Bahan Bahan-bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adelah serbuk natrium alginat berukuran 200 mesh sebanyak 50 g.a dari Merck. Contoh ganggang laut dengan komposisi alginat yang cukup melimpah adalah jenis ganggang coklat (brown algae). 3 Metodologi .4-β-glukosida Ditinjau dari strukturnya. 5 Tanaman eceng Gondok Eceng gondok merupakan tanaman yang hidup mengapung di air dan terkadang berakar dalam tanah. bagian inti distabilkan oleh suatu permukaan luar (membran) melalui proses solidifikasi. alginat dapat dengan mudah diperoleh. Jika inti berbentuk padat.0. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. pH meter. FTIR tipe simadzu. pengendapan. Ujung dan pangkalnya meruncing. pangkal tangkai daun menggelembung. tanaman eceng gondok yang diambil dari kolam di daerah Rawa Pening. 1 g natrium hidroksida p. Tahap stabilisasi kapsul. Struktur selulosa terdiri atas rantai panjang dari unit-unit glukosa yang terikat dengan ikatan 1. 2. 6. kertas saring biasa dan aquadest.4 . 5 II. diperoleh dari reaksi substitusi ion Na+ oleh ion Ca2+. magnetic stirrer. 3.1 Alat Peralatan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Spectrofometer Serapan Atom (AAS) tipe Avaya. pompa peristaltik tipe ismatex.a dihidrat (CaCl2.a dari Merck. 2H2O) dari Merck. struktur Ca-alg disebut sebagai egg-box model. Kalsium alginat (Ca-alg) memiliki rumus kimia (C6H7Ca1/2O6)n. Berdasarkan literatur. 1 mL larutan asam klorida pekat p. Tahap penyebaran inti. Memiliki tinggi sekitar 0. selulosa memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan sebagai media menjerap karena kaya akan gugus –OH yang dapat berinteraksi dengan komponen adsorbat.tersebut. polimerisasi. III.

waktu kontak. Selanjutnya tiap jenis kapsul ditimbang sebanyak 5 g lalu dikontakkan dengan sistem batch pada 20 mL larutan tembaga(II) konsentrasi 5 ppm selama 24 jam. Campuran dipisahkan dengan penyaringan.5.1 Penyiapan serbuk eceng gondok (SEG) Batang eceng gondok dikeringkan. 360. logam Cu2+ III. dan 600 menit kapsul dipisahkan dengan cara penyaringan. 480. konsentrasi awal Cu2+. 45. disaring menggunakan saringan berukuran 200 mesh untuk ukuran homogen. Selanjutnya dibuat perbandingan komposisi antara SEG dan Na-alg. III.3 Penentuan komposisi Na-alg dan SEG Komposisi yang menghasilkan bentuk sperik diperoleh pada perbandingan Na-alg : CaCl2 = 3% : 3 %.7 Pengaruh konsentrasi awal Cu2+ terhadap bioadsorpsi kapsul SEG dan pengukuran kadar kalsium dalam larutan Ke dalam 12 buah labu Erlenmeyer masing-masing dimasukkan 5 gram kapsul serbuk eceng gondok. Campuran dipisahkan dengan penyaringan kemudian kadar Cu2+ yang tersisa diukur menggunakan SSA.5 Pengaruh pH terhadap bioadsorpsi kapsul SEG terhadap ion Cu2+ Kapsul SEG 2:1 menghasilkan daya serap yang lebih baik. Kemudian. III.III.8 Retensi ion logam Cu2+ dalam kolom dengan metoda sirkulasi . III. yaitu pH 4. kapsul dikontakkan dengan sistem batch pada larutan Cu2+ 5 ppm pH 6 sebanyak 20 mL. 30.4 Variabel Penelitian Variable bebas : pH.5. di shaker selama 24 jam dengan kecepatan 100 rpm. 6.3. Untuk memperoleh bentuk kapsul yang sperik. Setiap waktu (t) 15.4 Pengujian bioadsorpsi kapsul SEG terhadap ion Cu2+ Kapsul yang berhasil dibuat adalah kapsul dengan perbandingan 2:1 dan 3:2. kemudian dihaluskan menggunakan blender.5. dan kadar Cu2+ yang tersisa diukur menggunakan SSA. III.5. dan kadar Cu2+ dan Ca2+ diukur menggunakan SSA. 8. 5. 60. dimasukkan 5 gram kapsul serbuk eceng gondok. Variable terikat : ukuran saringan. Selanjutnya. dibuat larutan yang mengandung ion Cu2+ konsentrasi 5 ppm pada pH bervariasi.5 Cara Analisis Data III. III. Perbandingan yang digunakan untuk pembuatan serbuk eceng gondok terenkapsulasi yaitu 2:1 dan 3:2. Kemudian. Campuran dipisahkan dengan penyaringan kemudian kadar Cu2+ yang tersisa diukur menggunakan SSA. 240. dikontakkan dengan larutan Cu2+ pH 6 sebanyak 20 mL dengan rentang konsentrasi 1-75 ppm.5. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap kemampuan adsorpsinya. 7. lalu dikontakkan dengan 20 mL larutan dengan sistem batch selama 24 jam. III.6 Penentuan waktu kontak Ke dalam masing-masing 8 buah labu Erlenmeyer yang telah diberi label waktu.5. maka dilakukan proses enkapsulasi dari beberapa komposisi natrium alginat dan kalsium klorida III. air limbah industry logam.2 Penentuan komposisi Na-alg dan Kalsium klorida pembentuk kapsul Dari beberapa metode enkapsulasi yang paling umum dan paling mudah dilakukan adalah metode enkapsulasi dengan menggunakan larutan natrium alginat dan larutan kalsium klorida.5. Proses enkapsulasi tersebut dilakukan dengan cara mengalirkan laruntan natrium klorida dengan bantuan pompa ke dalam larutan kalsium klorida.

Diposkan oleh Oci_Monz di 01:25 2 komentar Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz pemanfaatan limbah pakan sapi BAB I PENDAHULUAN 1. Biomacromolecules. (1990): Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Makro dan Semimikro. Fakultas Sains dan Teknologi. G.D. with X-ray Diffraction. Kalman Media Pustaka. Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. No. Zinc Biosorption by Seaweed Illustrated by the Zincon Colorimetric Method and the Langmuir Isotherm. WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. (2006): Functional Coatings and Microencapsulation: A General Perspective. 2 Svehla. kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia yang telah diisi dengan aquadest. Istilah-istilah seperti Pencegaha Pencemaran (Pollution Prevention). 6. Journal of Chemical Education. Yapeng Fang. Jurusan Kimia.. . Vol. Pengurangan pada sumber (Source Reduction). ESmart School. 84. 5 Ghosh. 2February 2007. 3 Lawrence Wilson. Kolom dialirkan dan eluen ditampung dalam botol lalu diukur kadar Cu2+ nya menggunakan instrumen SSA untuk mengetahui kadar Cu2+ yang tersisa dalam efluen. dan Minimasi Limbah (Waste Minimization) sering disertakan dengan istilah Produksi Bersih (Cleaner Production). Ke dalam kolom dialirkan larutan Cu2+ 10 ppm pH 6 dengan sistem sirkulasi III.S. The Center For Development. (2005): Biomacromolecules. tumbuhan pengganggu yang bermanfaat. 4. 6 Huguet. Kemudian kapsul sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam kolom. Gramacom. dan Erika Valdman. ACS Publications. Rob Vreeker. Jakarta.9 Regenerasi kapsul SEG Kapsul dalam kolom dicuci menggunakan aquadest. 7 Liangbin Li.5. edisi ke lima.1 M sebanyak 10 mL selama 30 menit.al. DAFTAR PUSTAKA 1 Himmatul Barroroh. (2008): Adsorpsi Biomassa Eceng Gondok.1 gram kapsul serbuk eceng gondok ditimbang.1 Latar Belakang Produksi Bersih (Cleaner Production) merupakan suatu strategi untuk menghindari timbulnya pencemaran industri melalui pengurangan timbulan limbah (waste generation) pada setiap tahap dari proses produksi untuk meminimalkan atau mengeliminasi limbah sebelum segala jenis potensi pencemaran terbentuk. (2007): Reexamining the Egg-Box Model in Calcium−Alginate Gels.. (2008): Copper Toxicity Sindrome. Vol. No. M. Diana C. Maria dos Santos Afonso. . dalam Cao et al. 8 Bangun Satya Wacana. L et.(2000):Eceng Gondok. dan Ingrid AppelqvistEduardo Mendes. Campuran di biarkan selama 10 menit. MD. 4 Maria Mar Areco. M. PT. (2007). Chalid Al Ayubi.. 8 (2). kemudian kapsul direndam dengan asam klorida 0.K. 464-468.

2. karena itu usaha pencegahan tersebut harus dilakukan mulai dari awal (Waste avoidance). 2. Peralatan yang digunakan berupa alat steam dan alat penggiling. bahkan bahan baku makanan seperti permen. BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI . pelapis vitamin. 3. Membuat mesin pembuat tepung kulit sapi.4 Keaslian Penelitian Berdasarkan penelusuran berbagai pustaka dan pencarian di internet menunjukkan bahwa sudah banyak penelitian tentang pemanfaatan kulit sapi sebagai bahan kerupuk atau sebagai bahan baku chitosan namun pemanfaatan kulit sapi sebagai bahan baku pakan belum ada satupun yang melakukan penelitian. pengurangan terbentuknya limbah (waste reduction) dan pemanfaatan limbah yang terbentuk melalui daur ulang (recycle). Mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah kulit sapi yang selama ini tidak mengalami pengolahan dan langsung dibuang begitu saja. susu olahan. 3. 14 Mei 2009) 1. Keberhasilan upaya ini akan menghasilkan penghematan (saving) yang luar biasa karena penurunan biaya produksi yang signifikan sehingga pendekatan ini menjadi sumber pendapatan (revenue generator) (Direktorat Jenderal IKM. Gelatin digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapsul.5 Manfaat Penelitian 1. 1. 2007). Memanfaatkan bahan-bahan yang terkandung dalam kulit sapi apabila memungkinkan dapat diolah menjadi bahan baku bagi produk-produk dalam industri kosmetik ataupun farmasi.3 Batasan Masalah 1. Produk yang dihasilkan berupa tepung kulit sapi sebagai bahan baku pakan. Bahan penelitian adalah limbah potongan kulit sapi yang sudah tidak dimanfaatkan berupa potongan-potongan kulit sapi yang cacat (tergores/bekas luka). 1. karamel. 1. dan tablet.4 Tujuan Penelitian 1. 3. Variabel yang dikaji adalah kelayakan nilai gizi yang terkandung dalam kulit sapi apakah memenuhi syarat sebagai bahan baku pakan alternatif. dan potongan kulit sapi yang tidak mememnuhi standar untuk diolah/disamak.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan diteliti yaitu bagaimana memanfaatkan limbah padat hasil industri penyamakan kulit yang selama ini belum dimanfaatkan dan cenderung mencemari lingkungan untuk dijadikan sebagai bahan baku pakan. yoghurt. selai. 4.Cleaner Production berfokus pada usaha pencegahan terbentuknya limbah. Dimana limbah merupakan salah satu indikator inefisiensi. Memanfaatkan limbah kulit sapi pada industri penyamakan kulit untuk dijadikan bahan baku pakan alternatif. potongan kulit sapi yang masih mengandung lemak. (Republika On Line. krim. 1. dan sosis. Mengetahui kelayakan kandungan gizi dalam kulit sapi sebagai bahan baku pakan alternatif. 2. Membuka lapangan kerja di bidang penyediaan bahan baku pakan alternatif.

4. D. Air Air digunakan untuk mengukus kulit sapi 8. Excell Program ini digunakan untuk melakukan olah data dan analisis hasil pengujian 6.1 di bawah ini: . 2.2 Tata Laksana Penelitian Tata laksana penelitian dapat disajikan pada skema Gambar 3. Neraca Neraca digunakan untuk mengukur massa kulit sapi yang akan dijadikan tepung. 2007). Panci Steamer Panci Steamer merupakan produk penelitian ini. Bahan Baku Pakan (feed ingredients) Bahan-bahan hasil pertanian. aflatoxin. Software Ms. Pakan (feed) Pakan adalah campuran dari beberapa bahan baku pakan. II.1 Tinjauan Pustaka Kebutuhan akan pakan ternak yang cenderung meningkat tanpa diimbangi penyediaan bahan baku pakan yang memadai membuat industri pembuatan pakan mengalami kesulitan dalam proses produksi. 1997). baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi. III. perlu dilakukan inventarisasi ketersediaan bahan baku sepanjang setahun.1 Alat dan Bahan Penelitian Alat dan Bahan yang dipakai pada penelitian ini adalah: 1. dan bentuk fisik (Joelal Ahmadi.II. kandungan zat anti nutrisi. sesuai klas bahan pakan. salmonella (tepung ikan). perikanan.2 Landasan Teori A. 3. kandungan racun. Mesin Giling Digunakan untuk menggiling kulit sapi kering menjadi tepung 9. dan aktivitas urease pada bungkil kedele (Raghavan. Kandungan Kulit Sapi BAB III METODOLOGI PENELITIAN III. Kontinyuitas ketersediaan bahan baku sebaiknya dapat dijaga sepanjang tahun. Limbah Kulit Sapi Limbah kulit sapi yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah limbah segar yang baru saja diambil dari tempat pengolahan kulit sapi. Industri pakan unggas di Asia Tenggara masih bergantung pada 60 – 70% bahan baku pakan impor. yang harus diperhatikan kadar air. Kompor listrik Kompor listrik digunakan untuk memanaskan/mengukus (steam) bahan penelitian. 5. yang disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya (SNI 01-3910-2006). C. Termometer Termometer digunakan untuk mengukur suhu selama proses pengukusan. Keragaman bahan baku yang digunakan akan menyebabkan mutu pakan yang selalu berubah. Kulit Sapi B. Oleh karena itu. Ayakan atau saringan Digunakan untuk menyaring tepung hasil penggilingan agar ukuran butir menjadi seragam. peternakan dan hasil industri yang mengandung zat gizi dan layak dipergunakan sebagai pakan baik yang telah maupun yang belum diolah (SNI 01-3910-2006). 7.

com/journal/item/12/Penyamakan_Kulit Pengolahan Limbah Penyamakan Kulit. Penyamakan Kulit. http://leatherindonesiablognews.com/profil/47lingkungan-hidup/4659-limbah-dibuang-ke-cimanuk.multiplycontent.co.ouwchit.com/2009/08/limbah-industri-kulit-garut-cemari.wordpress.http://mindgreen. http://keslingmks. http://www.com/2008/08/18/industri-penyamakan-kulit-dan-dampaknyaterhadap-lingkungan/ mindgreen .blogspot.google.suarapembaruan.net/detail/list.rtf%3Fnmid%3D2 46412019&rct=j&q=limbah+industri+penyamakan+kulit&ei=jF6sS6KuDogkQW9i_2WDQ&usg=AFQjCNF9SU0YDIvJmMUkJz81WMSv0hlpeg http://digilibampl.multiply.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=33&ved=0CAoQFjACOB4&url =http%3A%2F%2Fimages.php?row=3&tp=pustaka&ktg=petunjuk&kd_link=&tp=pustaka&kd_link= &ktg=petunjuk .com/News/2004/01/11/Iptek/ipt2.Tahap Kegiatan Bulan Okt „10 Nov „10 Des „10 Jan „11 1234123412341234 Seminar Proposal Fabrikasi Prototype alat steamer Uji eksperimen Melakukan pengolahan data dari hasil uji eksperimen Penulisan hasil sementara & Seminar kemajuan Melakukan analisis teoritis Penulisan hasil & Seminar Hasil Penyelesaian laporan akhir & Seminar pendadaran DAFTAR PUSTAKA Zaenab. http://www.htm Limbah industry kulit garut cemari lingkungan sejak 1920.pdf Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)Industri Penyamakan ulit.ahmadheryawan.com%2Fattachment%2F0%2FS hkraQoKCGQAAE5FsBQ1%2FRencana%2520Kelola%2520Lingkungan.multiply. http://www.html LIMBAH DIBUANG KE CIMANUK. Industri Penyamakan Kulit dan Dampaknya terhadap Lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful