STRUKTUR SPASIAL WILAYAH PHERI URBAN SEBAGAI SISTEM DARI TATA RUANG KOTA

Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Abstrak Penulisan ini mengangkat judul tentang “ Struktur Spasial Wilayah Pheri Urban sebagai sub sistem dari suatu tata ruang kota. Dan akan mengulas lebih mendalam mengenai struktur keruangan wilayah pheri urban menyangkut tentang dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan, dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan. Daerah pinggiran kota adalah suatu daerah yang juga dikenal sebagai daerah ”urban-fringe” atau daerah ”peri-urban” atau nama lain yang muncul kemudian merupakan daerah yang memerlukan perhatian yang serius karena begitu pentingnya daerah tersebut terhadap peri kehidupan baik desa maupun di kota dimasa yang akan datang. Berbagai dimensi kehidupan dikemukakan secara sistematik agar memudahkan pembaca merasa mudah mengikuti alur pemikiran yang dibangun.Dalam wilayah pheri urban secara fisik morfologis inilah sifat-sifat baik kedesaan dan kekotaan non fisikal menunjukkan intensitas yang jelas, sehingga secara akademik, para peneliti dapat menggunakannya sebagai dasar identifiksi wilayah. Karena wilayah ini bersifat multidimensional sehingga sangat menarik berbagai disiplin ilmu. Ciri khas wilayah ini sangat istimewa yang tidak dimiliki oleh wilayah lain yaitu dalam hal keterkaitan yang begitu besar dengan aspek kehidupan kota maupun desa yang tercipta secara simultan. Dalam beberapa hal ini sifat kekotaan terlihat lebih menonjol. Perpaduan sifat kedesaan dan kekotaan inilah yang menarik untuk dibahas, dan hal ini menjadi sedemikian penting untuk dikemukakan, karena pemahaman struktur keruangan wilayah pheri urban akan memfasilitasi dalam pemahaman kekuatan – kekuatan yang berperan mengubah performa dari berbagai perspektif. Dan bagian ini akan dikemukakan mengenai latar belakang permasalahan yang dihadapi wilayah pheri urban dan pentingnya studi wilayah pheri urban secara umum dan khusus di Indonesia. A. Pendahuluan Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory. Wilayah Pheri Urban yang disinggung adalah pola pemanfaatan lahan yang terbentuk berkaitan dengan pertimbangan biaya transportasi, jarak dan sifat komoditas. Oleh karena fakta empiris membuktikan bahwa keberadaan kota dan wilayah pheri urban sangat bervariasi adanya ditinjau dari segi fisikal, maka untuk membahas teorinya. Pada prinsipnya, wilayah pheri urban didominasi oleh lahan pertanian dimana jenis komoditas yang diusahakan oleh petani membentuk pola keruangan yang khas. Perkembangan kotanya didominasi oleh bentuk perkembangan konsentris dan terjadi sangat lambat dan bahkan terkadang stagnan karena kotanya dibatasi oleh benteng yang dibangun pada

masa sebelumnya untuk masa maksud pertahanan dan pada kasus ini perkembangan kotanya bersifat sentripental dalam wujud pemadatan bangunan (densifikasi) bangunan. Fakta empiris menunjukkan bahwa perkembangan fisik kota yang substansial terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi transportasi dan telekomunikasi. Pada perkembangan selanjutnya, muncul ide – ide baru dan berkembang sebagai teori – teori baru . Walaupun belum secara khusus atau eksplisit mengemukakan mengenai wilayah pheri urban, namun sudah membahas kondisi wilayah pheri urban sendiri. Pada saat itu belum muncul istilah khusus yang mengacu pada wilayah pheri urban. Baru pada dekade abad 20, muncul istilah yang diperkenalkan oleh Gaplin (1915) mengenai wilayah pheri urban yaitu istilah urban. Istilah tersebut merupakan akronim dari kata rural dan urban yang pada awalnya digunakan untuk menunjukkan suatu wilayah kedesaan yang mengalami perubahan menuju sifat kekotaan. Kemunculan istilah baru tersebut sangat menarik perhatian para pemerhati wilayah perkotaan dan wilayah, sehingga mengundang munculnya studi baru dan memunculkan konsep-konsep baru pula. Beberapa tahun setelah itu bermunculan teori-teori baru mengenai kota dan sekitarnya (Yunus, 2008 : 42). B. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah: ü Menjelaskan faktor – faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dimensi pembentuk pemanfaatan lahan dalam stuktur spasial wilayah urban. ü Menjelaskan teori-teori yang menyangkut struktur spasial wilayah pheri urban.

2. Kegunaan Kegunaan penyusunan ini adalah untuk mengetahui sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban, mengetahui metoda pendekatan sistem yang dimanfaatkan untuk delimitas sub zona wilayah pheri urban serta untuk mengetahui dimensi bentuk pemanfaatan lahan di dalam struktur spasial wilayah pheri urban sebagai sub sistem suatu tata ruang kota. C. Pembahasan Seperti telah dikemukakan oleh banyak pakar mengenai studi kota, bahwa pada masa yang akan datang kebanyakan penduduk di dunia ini akan bertempat tinggal di kota. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa jumlah penduduk kota – kota di dunia mempunyai kecendrungan makin besar. Sebagian besar penduuk kota yang baru tersebut akan menempati lahan–lahan yang berada di sekitar lahan terbangun, karena keberadaan lahan – lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di bagian dalam kota sudah sangat terbatas adanya atau bahkan sudah hilang sama sekali. Makin banyaknya jumlah penduduk yang menempati wilayah pheri urban ini dengan sendirinya akan membawa komsekuensi keruangan, sosial, ekonomi, kultural dan biofisikal di

wilayah pheri urban. Oleh karena latar belakang kondisi wilayah phei urban yang sangat bervariasi dari satu kota ke kota yang lain, maupun dari negara yang satu dengan negara lain, maka dapat dipastikan bahwa kondisi spasial, ekonomi, sosial, kultural dan lingkungan biofisikal yang terpengaruh oleh adanya perkembangan kota akan bervarisasi pula. Bertambahnya penduduk akan selalu diikuti oleh bertambahnya bangunan – bangunan pemukiman maupun bukan permukiman. Bangunan – bangunan non permukiman merupakan bangunan yang mengakomodasikan kegiatan – kegiatan baru yang menyartai, seperti kegiatan ekonomi, sosial, kultural dan politik. Terlepas dari sudut kepentingan mana sebuah negara memandang, baik antagonis maupun protogonis mengenai hilangnya lahan pertanian di WPU tersebut, ternyata ada kesamaan pandangan bahwa sebaiknya perlu ada pengelolaan yang mengatur hal tersebut agar WPU sebagai wilayah pra- urban mampu menciptakan suasana kehidupan kekotaan yang ada pada saat ini. Dinamika wilayah pheri urban yang menyangkut proses perubahan berbagai elemen kehidupan ternyata telah menciptakan struktur spasial yang khas di WPU sendiri. Pengenalan struktur spasial WPU merupakan tahap awal mengenali berbagai permasalahan yang muncul di wilayah pheri urban. Pemahaman mengenai hal tersebut dapat dijadikan landasan untuk merumuskan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi kecendrungan perkembangannya di masa yang akan datang (Yunus, 2008 : 91). 1. Pendekatan Sistem Secara garis besar, terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu : a. Pendekatan Administratif Teknik ini adalah suatu cara untuk mendelitimasi subzona spasial wilayah pheri urban yang mendasarkan pada eksistensi unit administrasi sebagai unit analisis (analitical units) dan data mengenai bentuk pemanfaatan lahan. Secara teoritis, makin kecil unit analisisnya makin akurat identifikasi subzona yang dilakukan dan makin luas unit administrasi yang digunakan makin kurang akurat hasilnya. Sebagai contoh aplikasi pendekatan ini adalah zonifikasi sebagian wilayah pheri urban di daerah pinggiran kota Yogyakarta. Oleh karena penelitiannya dibatasi pada desa-desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta secara administratif maka hasil yang diperoleh adalah jalur membingkai kota Yogyakarta. Walaupun secara administratif, desa-desa penelitian berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta ternyata status spasial yang diperoleh menunjukkan variasi yang cukup besar. Pendekatan administratif ternyata tidak hanya dapat digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi luasan bentuk pemanfaatan lahan semata, namun dapat pula digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi jumlah penduduk atas dasar mata pencahariannya (Yunus, 2008 : 34). b. Pendekatan Fisikal Teknik ini merupakan cara identifikasi subzona wilayah pheri urban atas dasar unit-unit fisikal sebagai unit analisis. Cara ini dilaksanakan dengan cara mengenali unit analisis atas dasar batas-

Memang dari pendekatan ini dimungkinkan mampu menggambarkan kota-kota secara lebih detail. ”True Bounded City”. 2000 : 238) 2. 4. karena seluruh areal kekotaan berada pada batas-batas administrasi kota. dalam perencanaan tata ruang kota akan memudahkan pemerintah kota. Faktor telekomunikasi. 2008 : 40). Batas terluar wilayah pheri urban di setiap sisi tidak selalu mempunyai jarak yang sama ke/dari lahan perkotaan terbangun dan hal ini sangat tergantung dari kondisi keruangan masing-masing bagian. namun cara ini dengan metode-metode induktifnya belum tentu menjamin generalisasi pola struktur sosial dan keruangan kota yang lebih baik (Yunus. Di dalam masing-masing blok kemudian dihitung mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahannya. Memang. 3. Untuk kota yang bersifat ‖True Bounded‖ analisis urbanisasi tidak mengalami kesulitan karena semua nampak kekotaan sesuai dengan batas administrasi kota (Yunus. Pendekatan Sel/Sistem Grid Pendekatan ini menekankan pada eksistensi unit analisis yang dibentuk berdasarkan garis-garis konseptual yang dibuat secara vertikal dan horizontal pada suatu peta yang menggambarkan sebaran bentuk pemanfaatan lahan. 5. Istilah pendekatan sel mengandung pengertian bahwa cara ini akan menghasilkan sel/kotak-kotak sebagai unit analisis dengan luasan tertentu yang dihasilkan oleh garis-garis vertikal maupun horizontal yang dibuat (Yunus. d. Faktor topografis. Faktor aksesibilitas fisikal mempunyai pengaruh substansial terhadap penjalaran nilai-nilai kekotaan ke arah daerah perdesaan. c. Faktor politis. Masing-masing unit analisis akan menampilkan proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan maupun lahan kekotaan. Aksesibilitas fisikal yang . Faktor jaringan kelistrikan dan 6. maka kerja sama/koordinasi kerja dengan pemerintah daerah dalam mengsinkronkan perencanaan tata ruang kota. Pendekatan Ekologi Faktorial Istilah ‖factorial ecology‖ sendiri termasuk baru di dalam studi kota yang digunakan untuk menganalisis struktur keruangan kota (urban spatial structure) dengan menggunakan analisis faktor sebagai tekniknya. 2. Batas fisikal kota koinsiden dengan batas administrasi kota. Faktor kendala alami.batas fisikal yang ada seperti kenampakan linear (jalan. 2008 : 39). Permasalahan hubungan antara batas kota secara administratif dan batas kota secara fisikal ini juga mempunyai dampak dalam analisis urbanisasi. Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan. saluran air) sehingga tergambarkan blokblok unit analisis. Konsdisi seperti ini disebut sebagai. yaitu : 1. Faktor aksesibilitas. Mengingat bahwa pada masa mendatang kota yang bersangkutan selalu akan bertambah luas arealnya. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain : a. Dengan demikian ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dekat jauhnya jarak batas terluar WPU dari lahan terbangun.

maka proporsi lahan kedesaan yang menjadi indikator batas antara keduanya adalah 50% lahan kedesaan. dan beberapa kebijakan keruangan lainnya (Yunus. Bentuk pemanfaatan lahan kedesaan dalam hal ini diekspresikan sebagai bentuk pemanfaatan agraris dan selebihnya itu merupakan bentuk pemanfaatan lahan nonkedesaan atau dikenal sebagai bentuk pemanfaatan kekotaan. Hal ini berarti bahwa apabila proporsi lahan kedesaan yang ada di atas 50% berarti bagian ini termasuk ke dalam rural fringe dan apabila proporsinya tercatat kurang dari 50% maka bagian tersebut akan dikategorikan sebagai urban fringe (Yunus. Seperti diketahui bahwa intensitas bangunan-bangunan atau bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian/bentuk pemanfaatan lahan urban di wilayah peri urban tidak akan sama di seluruh bagian. maka makin jauh pula jarak pengaruh kota terhadap daerah di sekitarnya. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi ini mengungkapkan proporsi bentuk pemanfaatan kedesaan yang ada dibandingkan dengan bentuk pemanfaatan lahan kekotaan.oleh karena wilayah peri urban meliputi daerah yang sangat luas. green belt policies. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan Bentuk pemanfaatan lahan perkotaan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah lahan nonagraris dalam arti luas. Oleh karena wilayah peri urban terdiri dari rural fringe dan urban fringe. namun ada bagian yang lain yang tidak . Faktor jaringan listrik mempunyai imbas yang besar di dalam berbagai aspek kehidupan. intensitas penjalaran nilai-nilai kekotaan melalui media elektronik sangat erat terkait dengan masuknya jaringan kelistrikan ke daerah perdesaan. Faktor telekomunikasi dalam beberapa hal dapat mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam penjalaran ide/nilai-nilai kekotaan dari kota ke desa. 2008 : 115).ditentukan oleh keadaan prasarana dan sarana transportasi. Faktor politis berkaitan erat dengan kebijakankebijakan pemerintah dalam pemanfaatan lahan. b. c. 2008 : 121). Ada bagian tertentu yang sangat intensif. khususnya di daerah perdesaan. maka penghitungan proporsi lahan kedesaan tersebut memerlukan metode tertentu. maka bagian wilayah-wilayah yang terpencil secara fisikal sekalipun akan mampu terjangkau selama alat telekomunikasinya tersedia. Pada umumnya faktor topografis juga terkait dengan aksesibilitas fisikal sehingga pada bagian-bagian wilayah pheri urban yang ditandai oleh kondisi topografis yang terjal akan berbeda dengan bagian yang mempunyai kondisi topografis yang datar. konsisten dan konsekuen penentuan batas terluar wilayah peri urban dapat ditentukan dengan cara antara lain moratorial. Sebenarnya. Untuk negara-negara maju dengan formulasi dan aplikasi tata ruang yang mapan. Munculnya berbagai bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian akan sangat mempengaruhi penentuan batas terluar dari wilayah peri urban. zoning regulation. Bagian terluar dari wilayah peri urban ditandai oleh proporsi lahan kedesaan 100% yang kearah luar merupakan wilayah kedesaan sebenarnya dan kearah dalam merupakan wilayah peri urban. Makin baik kondisi prasarana transportasi dan sarana transportasi dari daerah perkotaan ke daerah perdesaan dapat dikatakan makin tinggi aksesibilitasnya dan akibatnya. Faktor topografis juga mempunyai peranan yang besar terhadap jarak batas terluar wilayah pheri urban. Oleh karena telekomunikasi mampu menghubungkan daerah satu ke daerah lain tanpa terkendala oleh halangan fisikal.

Kondisi ini mengakibatkan terjadinya gradasi ongkos transport yang teratur proporsional ke dan dari pusat kota dan hal inilah yang mirip dengan apa yang dikemukakan oleh von thunen mengenai homoginitas kondisi lingkungan fisik di bagian wilayah pheri urban dalam kaitannya dengan . Secara umum akan terlihat bahwa makin mendekati lahan kekotaan terbangun. 2008 : 122). Sebagaimana upaya untuk mengidentifikasi wilayah peri urban dari sisi persentase proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan. demi terbentuknya komunitas urban yang heterogen secara etnis-religius tetapi homogen secara urban kultural. Model yang dikemukakan didasarkan pada asumsi seperti yang telah dikemukakan oleh Von Thunen. Jika dikaitkan dengan konsep wilayah pheri urban maka ada keterkaitan pada konsep kota modern. maka akan semakin intensif pembangunan dan makin besar proporsi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitu pula sebaliknya. Kepentingan komunitas urban scara keseluruhan harus diberi prioritas utama dan dimenangkan terhadap kepentingan spesifik kelompok manapun. 2006 : 84) 3. Secara diskrit memang sangat sulit untuk menemukenali batas antara urban fringe dan rural fringe. Teori Trade – off (clark) Menurut Clark (1982) pembahasan terjadinya concentric rings jenis-jenis tata guna lahan di wilayah pheri urban adalah wacana ekonomi dan pada masa selanjutnya model pembahasan tersebut dikenal dengan trade– off. Oleh karena kondisi urban fringe dan rural fringe sebenarnya tidak semata dicirikhasi oleh bentuk pemanfaatan lahan dan suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa makin banyak faktor determinan maka makin kuat suatu bagian wilayah peri urban menjadi magnet bagi fungsi-fungsi kekotaan (Yunus. tanpa harus menginjak-injak hak kelompok atau individu lain. Kota modern adalah tempat para penghuninya mengaktualisasikan diri mereka secara berkelompok. Gambaran seperti ini akan tampak jelas pada kota-kota yang perkembangan fisikalnya didominasi oleh apa yang disebut sebagai perkembangan konsentris (concentric development). Setiap kelompok harus mampu menekankan sebagian kepeningan kelompok mereka sendiri. Sebuah masyarakat urban seperti hanya dapat terbentuk bila setiap kelompok sosial-religius atau etnis melepaskan klaim mereka akan sifat absolut sistem nilai yang mereka anut. Bentuk perkembangan ini merupakan bentuk perkembangan yang paling lambat dibandingkan dengan bentuk-bentuk perkembangan yang lain. tapi terutama secara individual. Munculnya bangunan sebagai ekspresi bentuk pemanfaatan lahan non agraris sejalan dengan akselerasi konversi bentuk pemanfaatan lahan agraris ke bentuk pemanfaatan non agraris. 2) Bahwa di daerah di sekitar kota merupakan daerah yang datar homogen. Perkembangan fisikalnya terjadi secara gradual sentrifugal di semua sisi-sisi lahan terbangun yang sudah ada. Teori–teori yang menjadi landasan dalam studi wilayah pheri urban a.intensif. termasuk kelompok mayoritas (Santoso. upaya untuk mengidentifikasi proporsi bentuk pemanfataan lahan kekotaan. sebagai berikut : 1) Bahwa kota yang bersangkutan hanya mempunyai satu pusat kegiatan saja atau satu CBD dan semua kesempatan kerja hanya berada di bagian ini dan semua transaksi jual beli barang hanya berlangsung di bagian pusat ini.

merupakan daerah yang paling tinggi aksesibilitasnya dan kondisi ini paling dibutuhkan oleh fungsi komersial. namun dalam uraiannya dapat diketahui bahwa cincin kedua dan ketiga sebagian atau seluruhnya merupakan fungsi yang telah dan atau sedang berkembang di wilayah pheri urban. didominasi oleh fungsi residensial. serta tidak ada kebijakan – kebijakan tertentu yang mampu mengubah performa lahan. maka faktor tingginya aksesibilitas menjadi suatu hal yang sangat menentukan terhadap perkembangan fungsi ini. mempunyai opsi yang lebih luas. Disinilah pemaknaan trade-off berada untuk golongan berstatus sosial tinggi berada. Sementara itu pada cincin pertama yang terbentuk melingkari zona inti. sehingga fungsi ini mau memberikan penawaran tertinggi terhadap lokasi yang dianggap paling ideal dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi residensial dan industrial. Homoginitas tanah dalam hal kegiatan pertanian yang homogin memungkinkan petani tidak mempunyai pilihan lain. maka gradien grafik yang terbentuk juga sedikit mendatar namun dalam luasan yang agak besar. (2) zona berikutnya merupakan cincin yang melingkari zona paling dalam dan merupakan zona yang ditempati oleh fungsi residensial. Secara berturut-turut. 5) Bahwa pemerintah tidak mengadakan intervensi dalam hal persaingan bebas pemasaran lahan. yang bukan termasuk ke dalam wilayah pheri urban.usaha pertanian. Berdasarkan beberapa penelitian memang ada kecendrungan bahwa golongan ini memilih bertempat tinggal di daerah pinggiran kota/peripheral locations atau bagian dari wilayah pheri urban yang fasilitasnya kurang. Oleh karena perkembangan fungsi ini sangat tergantung dari banyaknya custemors yang dapat menjangkau daerahnya. 4) Bahwa keberadaan lahan akan dijual kepada pihak – pihak yang mempunyai penawaran yang paling tinggi yang berarti bahwa semua pihak yang ada di kota mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan lokasi yang dianggap menguntungkan dan tidak ada persaingan yang bersifat monopolistik. Di bagian pusat kota atau zona inti . (3) zona paling luar merupakan cincin dengan fungsi utama industrial. Untuk golongan yang berstatus ekonomi tinggi. Oleh karena kemampuan membayar sewa lahannya juga lebih rendah. karena para penghuni memprioritaskan bertempat tinggal dekat dengan tempet dimana mereka bekerja / dekat pusat kota dimana kesempatan kerja berada. seperti zoning regulation dan lain sejenisnya. namun memberikan tawaran kepuasan dalam hal kenyamanan bertempat tinggal. Zona paling luar merupakan zona . Hal inilah yang menyebabkan terciptanya gradien yang sangat curam dalam kaitannya dengan jarak dari pusat kota. karena dimana-mana mempunyai kemampuan yang sama. 3) Bahwa ongkos transport ke dan dari pusat kota menunjukkan gradasi yang proporsional ke segala arah dan bagian pusat kota merupakan tempat dimana derajad kemudahan untuk menjangkaunya (aksesibilitas) yang paling tinggi. Pada subzona cincin pertama didominasi oleh fungsi residensial dihuni oleh golongan berstatus ekonomi rendah sampai menengah bawah. zona cincin konsentris yang tercipta adalah (1) zona paling dalam merupakan inti dari cincin-cincin yang terbentuk dan merupakan bagian pusat kota yang merupakan daerah dengan fungsi komersial. Apakah mereka akan bertempat tinggal di dekat pusat kota yang fasilitas kehidupannya paling lengkap dengan konsekuensi sewa lahan yang mahal. Walaupun secara eksplisit tidak dikemukakan mengenai fungsi-fungsi mana sebenarnya yang berkembang di wilayah pheri urban.

Kenampakan wilayah dalam hal ini diartikan sebagai kenampakan fisikal lahan (land scape) yang diaktualisasikan dalam bentuk pemanfaatan lahan. adalah pembahasan yang mengaitkan antara fungsi-fungsi Bid-rent dengan tahapan-tahapan siklus keluarga di kota. makin ke arah lahan kekotaan terbangun. kemudahan untuk mengangkut bahan mentah (raw material) dan hasil produksi dalam jumlah besar menjadi pertimbangan utamanya. 2008 : 99) Gambar 1. Berdasarkan fakta empiris. Dua hal menarik untuk dikemukakan terkait dengan teori trade-off ini adalah pertama memberikan dasar penalaran bagi teori konsentirs yang dikemukakan oleh Burgess mengenai struktur internal kota yang terkenal dengan teori konsentris merupakan pionir pembahasan struktur tata ruang internal kota yang mampu memicu munculnya teori-teori baru. yaitu mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahan. menurut rasional yang dikemukakan membutuhkan lahan yang luas serta faktor aksesibilitas juga menjadi bahan pertimbangannya. kultural. Zona yang ditempati oleh fungsi industrial. kemudian mendasari penalaran yang dikemukakan dalam teori yang dikenal dengan sosial area analysis (Yunus. belum pernah ada konsep yang jelas mengenai keberadaan wilayah pheri urban itu sendiri serta bagaimana karakteristik soasial yang dapat diamati di lapangan. Berdasarkan fakta empiris yang dikemukakan oleh para peneliti terdahulu. Oleh karena itulah.yang didominasi oleh fungsi industrial. sosial. Kemajaun teknologi transportasi dan informasi telah mengakibatkan penjalaran ide-ide. Pada masa sebelumnya. Di kebanyakan negara. Oleh karena bangunan – bangunannya relatif berskala besar. Hal kedua ini. ekonomi dan sosial. maka daerah dimana masih tersedia lahan yang dapat mengakomodasikan bangunan – bangunan besar adalah pilihannya. Teori Land Use Triangle : Discrete (Robin Pryor) Pryor (1971) mengemukakan tesisnya tentang wilayah pheri urban atas dasar parameter yang terukur. Menurut Pryor struktur spasial wilayah pheri urban dibedakan dalam 2 kategori yaitu urban fringe di satu sisi dan rural fringe di sisi yang lain yang didasari oleh kenyataan bahwa WPU merupakan wilayah yang berada diantara wilayah yang berkenampakan kekotaan seratus persen dan wilayah berkenampakan kedesaan seratus persen. Disamping itu. Hal menarik kedua terkait dengan dasar penalaran perubahan kekotaan yang terjadi di dalam struktur internalnya. Berdasarkan proporsi keberadan lahan kekotaan dan lahan kedesaan dapat diketahui mengenai struktur spasial wilayah pheri urban. Model sebaran spasial (trade of model) di WPU ( Clark) b. Bentuk pemanfaatan lahan adalah kenampakan fisikal sebagai cerminan kegiatan manusia diatasnya dan hal adalah langkah awal dalam mengenali berbagai atribut wilayah yang berasosiasi dengan kenampakan fisikal bentuk pemanfaatan lahan seperti karakteristik demografis. makin intensif perubahan bentuk pemanfaatan lahan dari bentuk . kultural dan spasial. nilai-nilai. norma-norma kekotaan mampu menjangkau daerah yang relatif terisolir dalam artian fisikal dan dalam beberapa hal telah mampu mengubah sifat kedesaan menjadi sifat semi kekotaan atau bahkan kekotaan sepenuhnya. dapat disimpulkan bahwa karakteristik wilayah pheri urban yang merupakan perpaduan antara karakteristik kekotaan dan karakteristik kedesaan muncul dalam ekspresi ekonomi. maka fungsi industrial menempati ring terluar. perkembangan fungsi ini mendominasi bangunan – bangunan di daerah pinggiran kota yang berselang seling dengan fungsi-fungsi residensial.

Walaupun esensi yang dikemukakan tidak menampilkan perbedaan yang signifikan. Dengan mendasarkan zonifikasi yang ada. apalagi apabila kacamata yang digunakan adalah kondisi WPU di Negara berkembang. Oleh karena model diagramatik yang dikemukakan berujud segitiga bentuk pemanfaatan lahan. 4. keruangan dalam rangka pengendalian perkembangan kota sehingga sejak dini dapat diketahui . Hal ini sangat penting dipahami para pemerhati masalah perkotaan. Studi Kasus Perkembangan wilayah pheri urban di Yogyakarta Pemahaman mengenai wilayah pheri urban di Negara – Negara maju menghasilkan keragaman teori yang berbeda-beda serta istilah yang berbeda-beda pula. Tiga dimensi penilaian tersebut adalah (1) presentase jarak dari/ ke batas 100% kenampakan kekotaan atau ke batas 100% kenampakan kedesaan. 2008 : 111) Gambar 2. maka didalamnya memuat tiga dimensi penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi batas terluar dari masing-masing subzona. namun beberapa diantaranya terkadang memunculkan pemahaman yang sedikit menimbulkan kerancuan. Salah satu contoh kasus perkembangan WPU yaitu di kota Jogjakarta dengan mengambil kasus beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta sebagai bagian paling dinamis dari WPU nya. Model Zonifikasi WPU Negara Maju atas dasar Bentuk pemenfaatan lahan Legenda A : percentage Distance Urban to Rural land B : Percentage Urban land Use C : Percentage Rural Land Use D : Boundari Of Built-Up Urban Area E : Boundari Of Built-Up Rural Land F : Rural Urban Fringe G : Urban Fringe H : Rural Fringe 1. ternyata kecendrungan perkembangan kota baik ditilik dari segi fisikal maupun dari segi demografis dapat diketahui dengan jelas. khususnya penentu kebijakan. (2) presentase proporsi lahan kedesaan dan (3) presentase proporsi lahan kekotaan (Yunus.pemanfaatan lahan kedesaan menjadi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitupula sebaliknya.

dari semula bersifat zobikodes di bagian utara pada tahun 1988 menjadi bersifat zobikot pada tahun 1998 yang berarti sifat kekotaan semakin tampak dengan jelas dari segi kpmposisi demografisnya. . ekonomi dan kultura. Oleh karena formulasi kebijakan pengendalian kota tidak hanya mendasarkan pada satu dimensi saja. Demikian pula halnya di bagian utara juga terlihat perubahan yang sangat sgnifikan. baik ke arah timur laut maupun kearah barat laut walaupun insentitas perkembangannya berbeda-beda. ditilik dari sisi lain. karena densifikasi yang tidk terkontrol merupakan biang keladi terciptanya kekumuhan dalam pemukiman dan deteriorisasi lingkungan. namun hal ini hanya dapat mengungkapkan perkembangan fisikal kekotaannya dan bukan kecendrungan perkembangan sosio – demografinya. Sebagai contoh yang dapat dikemukakan disini adalah kasus kota Yogyakarta. Hal ini mengindikasikan bahwa kea rah itu pula terjadi konversi lahan-lahan pertanian paling banyak terjadi. Sementara itu.kemungkinan timbulnya dampak negative terhadap lingkungan dan sejak dini pula dapat melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasinya Gambar 3. Kecendrungan perkembangan fisikal tidak selalu konsiden dengan perkembangan sosio demografis sehingga dengan mengetahui kecedrungan perkembangan kota dari dimensi yang berbeda-beda dharapkan dapat menjadi dasar yang menjadi kukuh untuk penyusunan kebijakan antisipasi baik dari segi spasial. Apabila hal ini tidak diikuti oleh adanya konversilahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang signifikan dapat dipastikan bahwa di bagian ini telah terjadi densifikasi pemukuman yang substansial da hal ini sangat perlu di monitor. sosial. khususnya mengenai mata pencahariannya. Di bagian barat laut diidentifikasi peralihan status dari zobidekot menjadi zobikodes sedangkan dari bagian timur laut teridentifikasi perubahan dari zobikodes menjadi zobidekot. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan struktual sosio demografis yang signifikan di bagian barat daya. Sementara itu di bagian-bagian lain seperti di bagian barat tampak belum menunjukkan perubahan yang berarti dan signifikan. Perkembangan spasial fisikal yang terjadi yaitu kearah utara. fisikal. kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Gambar 4. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar komposisi mata pencaharian kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Memang dalam tataran praktik dan kemajuan teknologi seseorang dapat memantau kecendrunagn kota dengan menggunakan alat bantu foto udara atau remote sensing imageries lainnya. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar bentuk pemanfaatan lahan. di bagian tenggara tidak menunukkan perubahan status sifat kkotaan yang berarti. Namun demikian. yaitu sosio demografis ternyata ke arah barat daya menunjukkan perubahan sosio demografis yang sangat signifikan dari status zobides ke status zobikot dan hal ini tidak terdeteksi dari kecendrungan perkembangan fisikal.

KPG dan Centropolis : Jakarta Yunus. 2008. 2000. terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu :     Pendekatan administratif Pendekatan fisikal Pendekatan sel/sistem grid Pendekatan ekologi faktorial 3. Struktur Tata Ruang Kota. 2006. Pendekatan Sistem Secara garis besar. 2005. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. (Yunus. Pustaka Pelajar : Yogyakarta Comments: Be the first to comment TATA GUNA LAHAN-SISTEM TRANSPORTASI SEBAGAI SUBSISTEM DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN . H. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain :    Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi persentase bentukpemanfaatan lahan perkotaan E. Jo. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory 2. Manajemen Kota Prespektif Spasial. 2008 : 153).S. Menyiasati kota tanpa warga. D. Kesimpulan 1.maka keberadaan media yang dapat membantu mengenali kecendrunga perkembanagan kota dari berbagai dimensi akan lebih bermanfaat. Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Daftar Pustaka Santoso. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. Dinamika Wilayah Peri-Urban Determinan Masa Depan Kota.

Transportasi yang aman dan lancar. karena sector ini sangat berperan dalam menentukan kegiatan dan aktivitas pergerakan yang terjadi. Daerah – daerah tersebut saat ini menjadi pusat-pusat kegiatan financial dan peluang-peluang bisnis yang ekstensif yang kompleksitas dan diversitasnya mengalami siklus perubahan akibat beragam pengaruh social dan ekonomi. sehingga masalah ini akan selalu membayangi perkembangan suatu wilayah perkotaan. . juga mencerminkan kelancaran kegiatan perekonomian kota. A.Permasalahan ini berkailan Brat dengan poles testes guna Lahan. polusi udara. adalah sebagai berikut.Penulisan ini menguraikan berbagai system pendekatan yang tepat juga mencakup seluruh aspek yang terkait untuk memberikan alternative pemecahan masalah yang tepat. Kota yang baik dapat ditandai. Kemacetan (congestion). dimana terdapat kecenderungan bahwa berkembangnya suatu kota bersamaan pula dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. keterlambatan (delay). Pendahuluan Kota dikenal dengan banyaknya permasalahan yang kompleks yang terdapat didalamnya. (Sujarto. sehingga dalam pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. Bahwa karena dinamika masyarakat yang menyebabkan perubahan yang cepat di dalam system nilai dan kebutuhan masyarakat sering proses penyusunan terdahului oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Wilayah perkotaan dari tahun ke tahun telah berubah sebagai akibat terjadinya pergeseran yang dramatis dari lahan pertanian menjadi daerah bisnis ―terjadi perubahan fungsi guna lahan‖.Posted December 28. selain mencerminkan keteraturan kota. 1. dengan melihat kondisi transportasinya. Dengan terjadinya perubahan fungsi lahan yang sering kita temui di suatu kota dimana tata guna lahan yang ada tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah dibuat. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Penulisan ini berjudul tentang “Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi sebagai sub system dalam Perencanaan Pembangunan yang berkelanjutan” yang membahas mengenai keterkaitan antara sistem guna lahan dengan system transportasi dalam melakukan pembangunan yang berkelanjutan. 2001:139) Ada beberapa hal yang menjadi faktor utama dari timbulnya masalah tersebut. dan pemborosan energy merupakan sebagian dari sekian hanyak permasalahan yang dihadapi suatu kola berkaitan dengan masalah transportasi. Akan tetapi terdapat kecenderungan dengan berkembangnya suatu kota bersamaan pules dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. Hal ini menyebakan tidak sesuainya rencana dan kenyataan nyata manakala suatu rencana selesai disusun.Transportasi merupakan salah satu kunci perkembangan bagi wilayah perkotaan. antara lain. polusi suara.

Tujuan dan Kegunaan 1.1. 2003: 74). B. Penulisan ini mencoba melihat permasalahan dalam system transportasi secara komprehensif yang di dasarkan pada pendekatan system. Permasalahan ini bukan saja menyangkut pada kenyamanan system transportasi yang terganggu (kepadatan. Salah satu tujuan utama perencanaan setiap tata guna lahan atau system transportasi adalah untuk menjamin adanya keseimbangan yang efisien antara aktivitas guna lahan dengan kemampuan transportasi (Blunden dan Black. Kelanggenang suatu rencana kota dalam arti konsekuen dan konsistennya pembangunan kota dengan rencana kota sangat ditentukan juga oleh konsekwenan dan kekonsistenan pengelola kota dan masyarakat dalam memegang arahan pembangunan yang ditetapkan. Kegiatan transportasi yang terwujud pada hakikatnya adalah kegiatan yang menghubungkan dua lokasi guna lahan . Permasalahan di sektor ini tidaklah sederhana. Adanya saling ketergantungan antara tata guna lahan dan system transportasi. ASCE. pihak dari system yang terkait sehingga pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. sehingga pola guna lahan dan system transportasi tidak dapat dipisahkan. kemacetan. Kegunaan Berdasarkan tujuan penyusunan penulisan di atas. Tujuan Tujuan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Mengidentifikasi system transportasi sebagai suatu system ü Mengidentifikasi keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan 2. keterlambatan. system jaringan. maka adapun kegunaan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Untuk mengetahui bagaimana system transportasi sebagai suatu system . Berbagai aspek/ pendekatan sistem yang mempengaruhi system tersebut yaitu system kegiatan. parkir dll). 1984. Permasalahan transportasi ini merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak aspek. dan lingkungan. system pergerakan. namun juga dapat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui gas buangan dari kendaraan bermotor serta merupakan suatu bentuk pemborosan energy yang sia-sia. 1986 dalam Khisty dan Lall.

tranportasi yang tidak melayani suatu tata guna lahan akan menjadi sia-sia. Pendekatan system (system approach) adalah suatu cara yang sistematik dan menyeluruh untuk memecahkan masalah yang melibatkan suatu system. 2003: 7). . Sebaliknya. sehingga biasanya dianggap membentuk satu landuse transport system. Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik maka kebutuhan transportasinya harus terpenuhi dengan baik.co. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1 seperti berikut : Gambar 1. 1. Gambar 1. yang menjalankan fungsinya demi mencapai tujuan.(Mohammadi. Pembahasan Transportasi dan tata guna lahan berhubungan sangat erat.2001 dalam Khisty dan Lall. Suatu rencana kota juga tak pernah lepas dari rencana tata guna lahan serta rencana transportasi.google. Sistem transportasi yang macet tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq . C. Rencana Tata Guna Lahan dan Rencana Transportasi sumber : (http://www. lingkungan dan energi. Pendekatan Sistem System adalah suatu perangkat yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Pendekatan Sistem Transportasi berkaitan dengan tata guna lahan.ü Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. tidak termanfaatkan.

lembaga. Bina Marga c. System ini terdiri dari individu. Pemda b. 2.go ogle. Sistem tersebut dapat merupakan suatu gabungan dari berbagai system pola kegiatan tata guna lahan (land use) seperti kegiatan social. kelompok. Di Indonesia system kelembagaan yang berkaitan dengan transportasi adalah: a. Pergerakan tersebut membutuhkan moda transportasi (sarana) dan media (prasarana) tempat moda tersebut bergerak. Dari ketiga sub system tersebut. System kegiatan:Bappenas.sumber: (http:// www. System ini berkaitan erat dengan pengaturan pola tata guna lahan sebagai unsur terpenting dalam pembentukan pola kegiatan kota atau daerah. dll. Swasta dan Masyarakat harus ikut berperan dalam mengatasi masalah transportasi. masih diperlukan system kelembagaan. instansi pemerintah serta swasta yang terlibat. Karena hal ini merupakan masalah bersama yang memerlukan penanganan dan keterlibatan semua pihak.Polantas. Selain dari semua sub system diatas terdapat suatu aspek yang harus selalu diperhatikan dalam pengadaan system transportasi yaitu aspek lingkungan. bahwa Pemerintah. budaya dsb. Seluruh kebijaksanaan yang diambil oleh masing-masing kelembagaan harus terkait dan terkoordinasi dengan baik.Interaksi antara system kegiatan dan system jaringan akan menghasilkan suatu pergerakan. ekonomi. Secara umum dapat disebutkan. Pendekatan Sistem Kegiatan . System jaringan: Dep.co. System pergerakan LLAJR. Prasarana yang diperlukan merupakan bagian dari system jaringan meliputi jaringan jalan raya. besarnya pergerakan yang ditimbulkan tersebut sangat berkaitan dengan jenis dan intensitas kegiatan yang dilakukan. terminal. Kegiatan yang timbul dalam system ini membutuhkan pergerakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang perlu dilakukan setiap hari. Perhubungan. id/searc h?hl=id &q=KE TERKA ITAN+ TATA+ GUNA +LAHA N+DEN GAN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Sub system kegiatan merupakan system kegiatan tertentu yang membangkitkan pergerakan dan dapat menarik pergerakan.

Keterkaitan guna lahan dengan arus lalu lintas (Menhein. penting untuk mengetahui perencanaan tata guna lahan dalam merencanakan system angkutan. Faktor determinan yang mempengaruhi Guna lahan : a. namun pada pembahasan ini ditekankan pada aspek pola tata guna lahan dalam suatu kota.Pendekatan terhadap system kegiatan ini sebenarnya sangat banyak macam dan faktornya. atau meningkatnya daerah lain akibat dari aktifitas yang berbeda dalam sebuah kota sehingga pergerakan penduduk di dasari kebutuhan akan pekerjaan. fasilitas. kawasan tempat rekreasi dst. umumnya terbentuk polarisasi yaitu munculnya kutub-kutub pertumbuhan.     Tingginya aktifitas perkotaan sangat dipengaruhi oleh perkembangan jumlah penduduk. 1984 dalam Khisty dan Lall. kegiatan-kegiatan penduduk seperti ekonomi. Dari hal tersebut maka kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat kebutuhan akan jasa transportasi yang merupakkan masukan yang berguna untuk merencanakan sampai tingkat mana fasilitas-fasilitas transportasi akan disediakan. Pola penggunaan lahan di kawasan perkotaan. Pola distribusi kegiatan guna lahan pada saat sekarang sangat tidak teratur diakibatkan banyaknya rencana kota yang diabaikan karena alasan ekonomi. Tata guna tanah/lahan perkotaan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian dalam ruang dari peran kota. Oleh sebab itu. kawasan tempat tinggal. Faktor kegiatan penduduk. Perkembangan jumlah penduduk tidak saja dipengaruhi oleh natural growth. kawasan tempat kerja. 1979 dalam Miro. perkantoran yang esensinya menggunakan lahan sangatlah mempengaruhi tata guna lahan. Jika manfaat lahan di setiap daerah untuk suatu kota telah diketahui. . dll. b. Faktor kependudukan. maka ini memungkinkan kita untuk memperkirakan lalu lintas yang dihasilkan (Blunden dan Black. 2004: 45) adalah sebagai berikut: Arus lalu lintas ditentukan menurut pola tata guna lahannya dan tingkat pelayanan system transportasinya. industry. 2003: 74). akan tetapi arus masuk (pergerakan penduduk) in migration Pertumbuhan penduduk yang tinggi sangat berpengaruh pada spasial perkotaan. Keterkaitan antara system kegiatan (model tata guna lahan) dengan system transportasi dapat dilihat bahwa perencanaan transportasi untuk masa yang akan datang selalu dimulai dari perubahan dan perkembangan tata guna lahan. tempat tinggal.

Pendekatan Sistem Pergerakan Transportasi yang baik yaitu transportasi yang dapat memberikan kenyamanan. menjalankan dua fungsi. Pendekatan Sistem Jaringan Jaringan transportasi adalah jaringan prasarana trasnportasi (lintasan jalan. Dalam hubungan ini transportasi khususnya transportasi jalan raya. bandara). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki flow/jaringan transportasi untuk mengurangi masalah yang muncul yaitu dengan melakukan intervensi pada sarana transportasi. System jaringan jalan dengan peranan pelayanan. dan mobilitas penduduk yang tumbuh mengikuti maupun mendorong perkembangan yang terjadi pada berbagai sector dan bidang kehidupan tersebut. yaitu sebagai unsur penting yang melayani kegiatan-kegiatan yang sudah/sedang berjalan (the servicing function) dan sebagai unsur penggerak penting dalam proses pembangunan (the promoting function). sistem jaringan (prasarana) meliputi jalan dan terminal. Dalam hal ini akan dibahas mengenai system transportasi darat. system jaringan jalan dan kendaraan bermotor tidak dapat dipisahkan. Jaringan jalan merupakan suatu kesatuan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki. 3. jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah ditingkat nasional dengan simpul jasa distribusi disebut jaringan jalan primer. lintasan rel) dan simpul sarana transportasi (terminal. pelabuhan. Pengaturan tata guna lahan di kota-kota saat ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. Dimana dalam pembangunan jaringan jalan harus memperhatikan jumlah kendaraan yang akan melewatinya. Dalam angkutan jalan raya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberlakukan system angkutan . 4. social. (Kamaluddin. lintasan transportasi laut. hampir pasti bahwa pola tata guna lahan dan tingkat pelayanan transportasinya mengalami perubahan.Kalau arus lalu lintas dalam jangka waktu yang lebih lama (panjang) semakin bertambah. Salah satu contoh dari permasalahan yang ditimbulkannya yaitu dapat menimbulkan kemacetan diakibatkan kapasitas jaringan jalan tidak sesuai dengan kendaraan yang ada. lintasan penyeberangan. biaya murah dan efesiensi waktu. dan system jaringan jalan dengan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota membentuk system jaringan jalan sekunder. Transport jalan raya seringkali dikatakan sebagai urat nadi bagi kehidupan dan perkembangan ekonomi. kondisi system transportasi yang memburuk akibat meningkatnya motorisasi yang diperparah akibat lebih tingginya kenaikan jumlah kendaraan bermotor dibanding kecepatan pembangunan jalan. Hal ini menggambarkan bahwa system penyediaan dan system permintaan terdapat ketimpangan sehingga system transportasi tidak berjalan dengan efektif dan efisien. 2003: 53). Permasalahan yang muncul.

dimana dengan hal tersebut kita dapat mengurangi system pergerakan pada jalan raya. Dalam hal ini perlunya dalam rencana tata guna lahan memperhatikan zona-zona pembagian berdasarkan aktivitas penduduk yang saling berkaitan juga dalam rencana kota distribusi penduduk juga harus diperhatikan agar distribsi ruang dan distribusi . batuk. penyakit paru-paru. Kemacetan lalu lintas tidak hanya mengurangi efisiensi pengoperasian transportasi. Sebaran geografis antara tata guna tanah (sistem kegiatan) serta kapasitas dan lokasi dari fasilitas transportasi (sistem jaringan) digabung untuk mendapatkan volume dan pola lalu lintas (sistem pergerakan).Konsentrasi Karbon monoksida yang tinggi pada jalan yang padat akan menghalangi aliran oksigen untuk para pengemudi. Beberapa tipe antara lain :    Tipe land use yang menghasilkan lalu lintas yang berbeda dengan land use lainnya Land use yang berbeda menghasilkan tipe lalu lintas yang berbeda (pejalan kaki. Tingkah laku agresif dan reaksi psikologis juga berhubungan dengan kondisi kemacetan lalu lintas (GAO dalam http://www. maka dapat dilihat kontribusi yang sangat besar dari masalah transportasi terhadap kenyamanan dan kelestarian . Bangkitan lalu lintas tergantung dari land use sebuah daerah (permukiman. Kemacetan lalu lintas juga dapat membahayakan kesehatan. Ada 2 masalah dalam meminimalkan pergerakan akibat land use yaitu a. sehingga alih fungsi ini akan menimbulkan masalah baru.massal.id/search?hl= id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGAN+TRANSPORTASI&btnG=Telus uri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Dari tinjauan masalah transportasi dan dampaknya pada lingkungan. industry.google.co. menimbulkan polusi yang berlebihan. juga sebagai suatu langkah antisipasi dalam peningkatan kepadatan lalu lintas. dll) mempunyai karakteristik bangkitan lalu lintas maupun pergerakan yang berbeda-beda. polusi. konservasi energy dan penurunan kesehatan masyarakat adalah beberapa dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pergerakan kendaraan bermotor. Transportasi dan Dampak Lingkungan Kemacetan. b. perdagangan. perkantoran. penyakit jantung. sehingga akan mempengaruhi kinerja pengemudi. 5. mobil) Land use yang berbeda menghasilkan lalu lintas pada waktu yang berbeda.dan kanker. tetapi juga membuang waktu dan energy. sakit kepala. Volume dan pola lalu lintas pada jaringan transportasi akan mempunyai efek feedback atau timbal balik terhadap lokasi tata guna tanah yang baru dan perlunya peningkatan prasarana. truk. Hal ini akan berakibat pada menipisnya lapisan ozon yang selanjutnya mengakibatkan sesak napas. membahayakan kesehatan masyarakat dan mempengaruhi ekonomi masyarakat. Jarak yang terlalu jauh yang mengakibatkan land use yang jauh jaraknya bakal ditinggalkan dan akan beralih fungsi. Bangkitan lalulintas.

Dengan kondisi ini maka kebijaksanaan tata guna lahan di kawasan ini dirumuskan kembali dengan konsep superblock system dan high rise building. Pengaturan ini sudah diarahkan. (World Comission on Environment and Development/WCED (1987) dalam Yunus. Tidak salah. sedangkan berdasarkan perkiraan. sehingga dapat menjadi alternative terbaik bagi masyarakat dan dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi. tetapi pelayanan transportasi tidak cukup baik. Sebagai contoh adalah kasus di Kuningan. posisi Jakarta memegang posisi sangat penting dalam hal.706. politik. dengan sebagian besar untuk pemukiman kelas atas yang disediakan untuk para diplomat serta perkantoran. ekonomi. dengan kata lain maka kebutuhan akan lahan pun semakin meningkat. penduduk Jakarta bisa mencapai 12 juta jiwa. Tetapi sekarang kawasan ini tumbuh menjadi kawasan perkantoran kelas satu termasuk kantor-kantor komersial. Untuk mengatasi permasalahan ini sedikitnya terdapat tiga konsep yang dapat diberikan. Konsep yang pertama adalah usaha untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang ada. Pengaturan tata guna lahan di Jakarta ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. pada awalnya wilayah ini dalam Jakarta Struktur Plan 2005 diarahkan untuk pengembangan kawasan campuran. maupun Jakarta 1985-2005 Structure Plan. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah suatu pola pembangunan yang bertujuan untuk mencukupi /memenuhi kebutuhan generasi penduduk masa kini tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan dating untuk mencukupi /memenuhi kebutuhannya. Studi Kasus Permasalahan Transportasi akibat perubahan guna lahan di Jakarta Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia. berdasarkan catatan resmi catatan sipil. Dari aspek accessibility kawasan ini mudah dicapai dari segala arah. perawatan maupun pemakaian bahan bakar yang seminimal mungkin dapat memberikan pencemaran terhadap lingkungan. Jalur lalu lintas sangat padat terutama pada jam-jamsibuk. Yang menjadi persoalan dimana lahan yang tersedia tidak bertambah akan tetapi jumlah penduduknya semakin hari semakin meningkat. Hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. baik dari segi desain. akibatnya kemacetan dan kepadatan lalu lintas tidak dapat dihindarkan. namun implementasi-nya masih seringkali berubah dan tidak sesuai karena adanya berbagai kebutuhan dan kendala. sebagai ibukota Negara. pada siang hari. kalau akhirnya Jakarta diserbu oleh pendatang (urban) yang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. jumlah penduduk Jakarta adalah 7. hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan sarana transportasi massal yang nyaman. 6. dan perdagangan. . Konsep kedua adalah perbaikan mutu gas buangan dari kendaraan bermotor. 2005:141). Konsep yang ke tiga adalah usaha mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan sehingga pemborosan energy dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Hal ini terjadi karena lokasi tersebut yang sangat strategis dibandingkan lokasi lain.392 jiwa. baik dalam Jakarta 1965-1985 Master Plan. tahun 2007. Sebagai dampaknya kebutuhan transportasi meningkat pesat sedangkan sarananya sangat terbatas.lingkungan.

Meningkatkan pelayanan system transportasi bagi masyarakat.Dengan luas area 325 ha dan lebih dari setengah juta pekerja. 2003. yang jelas-jelas sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perkembangan yang ada. Penutup 1. sehingga meminimalisir permasalahan yang muncul. Namun dalam realitanya. permasalahan system transportasi tersebut merupakan masalah yang kompleks yang melibatkan banyak aspek. maka kawasan ini sangat memerlukan alat dan sarana transportasi baru. Ghalia Indonesia: Jakarta Khisty.co.Kent. 2003.google. walau terjadi perubahan fungsi kegiatan (tata guna lahan). Interaksi tata guna lahan dan system transportasi merupakan indicator yang mesti diperhatikan dalam melakukan perencanaan system jaringan transportasi guna terciptanya pembangunan yang berkelanjutan tanpa merusak ekologi yang ada. Ekonomi Transportasi. Saran    Melakukan intervensi pada system transportasi baik pada aspek prasarana.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&o D. 2. (http://www.co. kebijaksanaan transportasi masih mengacu pada Jakarta Struktur Plan 2005. Kebijaksanaan penggunaan lahan seharusnya didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. E.    System transportasi merupakan suatu system dalam pengembangan suatu perkotaan. Erlangga : Jakarta . Karena masih ditentukan oleh implementasinya yang banyak dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang dianggap lebih penting dan mendesak dari penataan guna lahan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan penggunaan lahan belum didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. B. Dasar-dasar Rekayasa Transportasi. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kebijaksanaan tata guna lahan yang baik belum tentu dapat mendukung pemecahan masalah transportasi. sarana dan manajemen secara tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul.Jotin dan Lall. Kesimpulan Berdasarkan uraian pembahasan sebelumnya maka dapat kami simpulkan bahwa :. pihak dan system yang terkait maka diperlukan pendekatan system yang tepat pula yang mencakup aspek yang terkait. Rustian. Daftar Pustaka http://www.google.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGA N+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq Kamaluddin. C.

1. Dalam makalah ini juga terdapat contoh kasus yang meperlihatkan kondisi pembangunan yang tidak berkelanjutan di Kacamatan Tambora kotamadya Jakarta Barat. Contoh kasus ini menunjukkan tingkat kemiskinan yang signifikan yang berakibat pada banyaknya muncul permukiman kumuh yang dapat mengganggu keindahan kota serta mengakibatkan pencemaran lingkungan. Erlangga : Jakarta Sudjarto. Comments: Be the first to comment HAMBATAN DALAM SISTEM PEMBANGUNAN PERKOTAAN YANG BERKELANJUTAN Posted December 28. Sehinnga dibutuhkan keahlian dari perencana kota yang dapat membuat perencanaan yang disatu pihak dapat memecahkan masalah urbanisai dan dilain pihak memperkaya fungsi kota dengan menata ruang perkotaan yang berdaya guna memenuhi segala macam aktivitas perkotaan. Pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan memanfaatkan tekhnologi. dan Praktisi. dimana terwujudnya pembangunan berkelanjutan merupakan dambaan tiap kawasan atau kota dalam melaksanakan pembangunannya sebab dengan terwujudnya pembangunan bekelanjutan berarti telah menjamin kesejahteraan kehidupan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan dating dalam segala dimensi kehidupan.Miro. Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa. Fidel. perlu memperhatikan fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia. 2001. Dalam pola pembangunan tersebut. Djoko. 2005. Dalam makalah ini juga dibahas mengenai berbagai macam masalah perkotaan yang menghambat pembangunan yang berkelanjutan yang sangat terlihat jelas yaitu masalah urbanisasi yang tidak terkendali yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan sehingga mempengaruhi secara langsung kondisi lingkungan dan kondisi keamanan perkotaan. Perencana. Manajemen Kota Perspektif Spasial. dimana ketersediaan lahan semakin terbatas maka dibutuhkan para perencana kota yang dapat mengatasi masalah kompleks perkotaan yang menghambat terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. 2004. ITB : Bandung Yunus. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Oleh: Syahriar Tato Abstrak Dalam makalah ini dipaparkan mengenai pembangunan yang berkelanjutan. A. Dengan melihat kondisi seperti sekarang ini. Pendahuluan Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan di segala bidang. agar dapat terus- . Hadi Sabari. Pengantar Planologi.

Bagi manusia. Lingkungan sehat. Model pembangunan yang merakyat berarti berangkat dari masyarakat. dan masalah. hal itu adalah masalah. bersih. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah . perencanaan dan proses pembelajaran sosial yang terpadu. Menurut Brundtland Report dari PBB 1987. Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan. sosial dan budaya didalam pembangunan disebut dengan Pembangunan Berkelanjutan. Artinya. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris. ekonomi. dalam konteks tersebut selain keberlanjutan dari sisi ekonomi dan sosial. lestari. akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi dan sosial dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat. pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan. pembangunan tidak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi tetapi juga haruslah melihat aspek keadilan terhadap lingkungan. Proses pembangunan terutama bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat baik secara spiritual maupun material. Dengan demikian pembangunan mempunyai hubungan yang erat dengan masalah. kota. kelembagaan sosialnya. Pembangunan yang tidak bertitik tolak dari masalah berarti ada indikasi kesalahan konsep dan model pembangunan tersebut berorientasi pada penyelesaian masalah sebagai penyebab akar masalah bukan akar masalahnya. dan kegiatan dunia usahanya. Definisi ini menunjukan bahwa adanya suatu pembangunan karena suatu kebutuhan. Sedangkan jika harapan tersebut tidak tercapai berarti. Pembangunan berkelanjutan adalah satu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan. bisnis. viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya. Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. maka diperlukan juga keberlanjutan pada sisi ekologis. secara tidak langsung akan mempengaruhi keberlanjutan produktifitas manusia di masa yang akan datang. Karena titik tolak pembangunan dimulai dari tindakan mengurangi masalah tersebut dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan meningkatkan untuk mencapai suatu tingkatan yang layak. sustainable development. dan sebagainya) yang berprinsip ―memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan‖. Hal ini menyebabkan peningkatan laju pembangunan lama untuk mencapai suatu pertumbuhan pembangunan yang merakyat. masyarakat. Pengertian pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial dimana masyarakat bergantung padanya. kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memafaatkannya. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja. Sinergi tiga aspek tersebut yaitu.menerus menunjang kegiatan atau proses pembangunan yang berkelanjutan. Adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah suatu harapan. Lingkungan bagi ummat manusia adalah salah satu modal dasar dalam pembangunan.

Bagaimana masalah kemiskinan di perkotaan. Untuk mengidentifikasi kemiskinan di perkotaan .wikipedia. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. C. Untik mengidentifikasi masalah internal perkotaan 2. Rumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Hambatan dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan diantaranya diantaranya masalah internal dan eksternal perkotaan. 1. 4. (http://id.bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Bagaimana masalah keamanan dan ketertiban kota. Dalam pembahasan/penulisan ini dibahas mengenai hambatan dalam pembangunan berkelanjutan khususnya masalah internal perkotaan sebagai sistemnya dan sebagai subsistemnya dibatasi pada pada 3 masalah yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. (http://muhlissuhaeri. 1.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-.blogspot. Namun.) Pembangunan berkelanjutan juga mensyaratkan adanya pemeliharaan keanekaragaman. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban kota. Apa yang menjadi masalah internal perkotaan. Pemeliharaan keanekaragaman hayati untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan) Ada dua makna gagasan yang terkandung didalam cara pandang pembangunan berkelanjutan yaitu : gagasan kebutuhan. Yang tak kalah pentingnya adalah pengakuan dan perawatan keanekaragaman budaya yang akan mendorong perlakuan yang merata terhadap tradisi berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti oleh masyarakat. tentunya masih saja ada hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan itu sendiri. Bagaimana masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan. Tujuan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. Tujuan dan Kegunaan 1. 1. maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan penulisan ini adalah : 1. yaitu kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia dan gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan oerganiasi social terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan. 3. 2 . B.

bioregionalisme.3. perlu perencanaan dan perancangan yang bersifat ekologis dan berlandaskan etika non-antroposentris. 3. sistem ekonomi dan sistem sosial. dalam menjelaskan konsep pembangunan berkelanjutan ini. Permasalahan pembangunan berkelanjutan juga tak dapat diabaikan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan dan tekonologi. (Arif Budimanta Dalam Bunga Rampai. Kegunaan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. Singapura. Konsep pembangunan yang berkelanjutan ini terus berkembang. 5. adalah untuk mencapai proses pembangunan yang berkelanjutan. Untuk mengidentifikasi kualitas lingkungan hidup perkotaan 4. yang bergelut di bidang pembangunan. 2. seperti juga semua mahluk hidup lainnya. berpendapat bahwa untuk mencapai proses pembangunan berkelanjutan. Perencanaan kota bertujuan menyelesaikan atau mengatasi permasalahan kota melalui penyediaan ruang untuk semua kegiatan masyarakat yang kompleks. Barbier mengusulkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai interaksi antara tiga system : sistem biologis dan sumber daya. Sejak paruh abad ke-20. Untuk mengetahui keamanan dan ketertiban kota. Untuk mengidentifikasi keamanan dan ketertiban kota 5. . maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. Edward B. Tokyo yang memiliki kualitas pembangunan yang berkelanjutan yaitu cara berpikir yang integrative. perspektif jangka panjang mempertimbangkan keanekaragaman dan distribusi keadilan social ekonomi. sadar atau tidak sadar. 4. Ini berarti tujuan kegiatan perencanaan kota. seperti juga mahluk hidup lainnya. Etika lingkungan non-antroposentris itu terbagi atas beberapa aliran. Salah satu cara adalah evaluasi berdasarkan criteria pembangunan berkelanjutan. Untuk mengetahui kemiskinan di perkotaan. 2005: 375-377) Beberapa pemikir dibidang perencanaan dan perancangan kota. berkembang etika lingkungan non-antroposentris sebagai salah satu akibat terjadinya krisis-krisis lingkungan. yaitu Bangkok. 2. D. proses-proses yang terjadi di dalam masyarakat dan antara masyarakat dan lingkungannya. baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. ekofeminisme dan sebagainya Proses pembangunan berkelanjutan di perkotaan dapat diketahui dengan melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan-kawasan di kota tersebut. Etika lingkungan non-antroposentris memandang manusia sebagai anggota komunitas hidup di dunia. Evaluasi itu dapat dilakukan dengan beberapa cara. Budimanta membandingkan perkembangan kota Jakarta dengan kota-kota lain di Asia. yang menghasilkan kebijakan rencana kota. Untuk mengetahui masalah internal perkotaan. termasuk ilmu perencanaan kota. Pada tahun 1987. serta lingkungan buatan di perkotaan. Selain itu. Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan sebagai hasil debat antara pendukung pembangunan dan pendukung lingkungan. seperti biosentris. Untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup perkotaan. yaitu kebijakan yang menjadi pedoman utama pembangunan kota. Pembahasan Permasalahan pembangunan berkelanjutan sekarang telah merupakan komitmen setiap orang.

Kerusakan lingkungan. ketidakamanan. dan terdapat di mana-mana. baik di Negara maju maupun di Negaranegara yang sedang berkembang. Ketidakadilan itu menyebabkan masyarakat miskin tetap miskin dan mengancam proses pembangunan yang berkelanjutan. Daya tarik kota sebagai pusat mata pencaharian yang membengkak ini sering dibarengi dan diperbesar oleh kemunduran ekonomi diluar kota. 2005: 405) Berikut dibahas mengenai tiga sub sistem masalah internal perkotaan yang merupakan hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. kondisi permukiman buruk atau kumuh dalam suatu kawasan memperlihatkan bahwa kawasan tersebut sedang dalam proses tidak berkelanjutan. air bersih. dan lain-lain. sebagai pengangguran. poltik. Ketidakadilan juga terlihat dari tidak adanya akses kepemilikan hak atas tanah yang mereka huni.(Soefaat. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban perkotaan. pengelolaan sampah ) rumah sehat. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. kekurangan gizi dan nutrisi. Masalah Kemiskinan di Perkotaan Kemiskinan merupakan salah satu contoh ketidakadilan yang dialami suatu kelompok (masyarakat pra sejahtera). sulit bagi mereka untuk mendapat akses ke pekerjaan yang baik dan stabil. dan pemahaman bahwa kemiskinan dan kerusakan lingkungan adalah ancaman utama pembangunan berkelanjutan. kurangnya penghargaan social. 1999: 43) . Di Indonesia perkembangan ini cepat sekali sejak tahun 70-an. 1. dan lingkungan yang bermuara pada kondisi kemiskinan. menyebabkan mereka para pendatang yang tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bersaing di perkotaan memaksa mereka untuk terpinggirkan sehingga menjadi warga miskin di perkotaan. Urbanisasi hampr terjadi dimanapun diseluruh dunia disebabkan oleh perkembangan ekonomi dan daya tarik perkotaan yang kadang menjebak bagi mereka yang tidak mampu bersaing sehingga menjadi terpinggirkan. Kondisi kekumuhan ini menunjukkan seriusnya permasalahan sosial ekonomi. tidak layaknya tempat tinggal. adanya urbanisasi. 2005: 410) Saat ini masalah kemiskinan perkotaan merupakan masalah mendesak yang banyak dihadapi kota-kota di Indonesia. Kemiskinan serta kerusakan lingkungan hidup merupakan ancaman utama bagi proses pembangunan berkelanjutan dengan melihat tujuan dari pembangunan berkelanjutan yaitu mencapai masyarakat sejahtera (masyarakat berkelanjutan) dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan. RTH. Masalah lain yaitu. Sebagai akibat itu semua. sulitnya mendapat akses ke pelayanan publik (sanitasi sehat. pelayanan pendidikan dan sebagainya. sebelum itu urbanisasi juga sudah berjalan tapi lebih lambat dan terbatas. Yang paling mudah dan terlihat jelas dari wajah kemiskinan perkotaan ini adalah kondisi jutaan penduduk yang tinggal di permukiman kumuh dan liar. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. 1.kriteria pembangunan berkelanjutan di perkotaan dirumuskan berdasarkan pemikiran-pemikiran yang berkembang seperti diuraiakan diatas. Pengertian kemiskinan sendiri bermakna multi-dimensi dari mulai rendahnya pendapatan. Ketidakadilan itu terlihat dari tidak terpenuhinya kebutuhankebutuhan mereka untuk bertahan hidup dalam kesehatan yang baik.

Padahal. Hal tersebut mengakibatkan petani sangat tergantung pada indutri pupuk dan pestisida. Swasembada bahan pokok seharusnya dapat kita lakukan. kebutuhan kita akan barang-barang. termasuk harga-harga kebutuhan pokok yang dampaknya menyentuh segenap lapisan masyarakat. Deputi perdana menteri Malaysia. Bersamaan dengan itu. Sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin melakukannya. dalam pengadaan beras. mengingat produk-produk bahan poko tersebut berasal atau bersumber dari sumber daya hayati. Apalagi. harganya pun ikut naik. Hanya saja hingga ssat ini pengelolaan sumberdaya tersebut belum optimal. Upaya praktis ini tentu saja tidak dapat secara makro memperbaiki kondisi ekonomi kita. yang awalnya yang diperoleh dari IRRI (Iinternasional Rice Research Institut). melalui pancausaha tani pemerintah mengharuskan petani menggunakan varietas benih unggul padi. dalam menetapkan strategi jangka pendeknya. Kebutuhan masyarakat. tampaknya dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang ini. Penduduk perkotaan yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat secara signifikan sejak terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997. semuanya merupakan produk olahan yang menggunakan bahan dasar sumber daya hayati. Kebutuhan bahan pokok sebenarnya mampu kita penuhi. padahal tidak ada satu pun industri yang bahan bakunya tidak tergantung impor. (Gita Chandrika Dalam Bunga Rampai. telah menginstruksikan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian untuk menghentikan import sayur-sayuran dan buah-buahan. Sebagai contoh. khususnya yang berdasar sumber daya hayati. baik pangan. Datuk Anwar Ibrahim. Yang menjadi kunci permasalahan adalah mengapa pasokan hulu dan hilir tidak dikembangkan secara mandiri di tingkat lokal dan nasional. kemiskinan masih tetap merupakan masalah penting sehingga perlu ditangani secara bersama-sama terutama dikawasan perkotaan. paling tidak untuk mencukupi kebutuhan sendiri. baik hulu maupun hilir dapat dilepaskan. Mereka diberikan peluang untuk membudidayakan bibit-bibit . beliau menginstruksikan agar masyarakat mau memberdayakan sumber daya lahan yang tersedia untuk menanam sayur-sayuran. mengingat bangsa Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. dibutuhkan kebijakan yang tegas dari pemerintah Indonesia dalam melihat masalah ini. Selain itu. seringnya nilai tukar rupiah merosot terhadap nila dollar AS menimbulkan kenaikan harag berbagai jenis barang.Krisis ekonomi meningkatkan angka kemiskinan absolut di daerah perkotaan. Sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk mengentaskan atau mengurangi kemiskinan dengan berbagai programnya. tetapi ketergantungan terhadap agro-industri. Kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki hingga saat ini bellum dimnafaatkan secara optimal. dapat kita penuhi sendiri. Sehingga begitu dollar AS naik. dan dampak sampai kepada sektor pertanian. namun paling tidak sejumlah devisa dapat dihemay dan lapangan kerja pertanian dapat digairahkan kembali. maupun papan. baik hayati maupun nonhayati. Ketergantungan petani terhadap bibit tersebut menyebabkan petani tidak menjadi orang bebas. seperti kita ketahui pada jenis tersebut tidak dapat tumbuh tanpa dipupuk dan diberi pestisida. Dalam kondisi seperti ini kita dapat belajar pada Negara tetangga kita Malaysia. untuk kembali memperdayakan petani. Swasembada bahan pangan yang kita lakukan masih mengalami hambatan sebab meskipun Negara kita hidup dalam pola agraris. 2005 : 7). Oleh karena itu. sandang. maka kekuasaan atas bibit harus dikembalikan kepada mereka. Seharusnya dengan kekayaan hayati tersebut. Namun demikian. Pada dasarnya hal ini tidak akan terjadi apabila semua kebutuhan pokok tersebut dapat dicukupi oleh kita sendiri.

Tempe. Kerusuhan ini bahkan telah menembus sampai kawasan pedesaan atau kawasan pinggiran kota. Dementara industry yang diharapkan mampu menopang sektor pertanian. karena ada pandangan bahwa pola pertanian yang ada selama ini tidak memberikan nilai tambah. sangatlah naif. Hal ini disebabkan desa telah kehilangan daya tahan menghadapi krisis. Krisis ekonomi yang menyebabkan naiknya harga kebutuhan bahan pokok telah menimbulkan berbagai kerusuhan. Untuk itu. tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak lainnya. Kelangsungan hidup individu dalam situasi seringkali tergantung pada keluarga yang secara bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan pemberian bantuan keuangan. sebagai ajang konversi. Sistem yang dapat melindungi warganya menghadapi kondisi-kondisi yang memburuk yang mampu ditangani oleh dirinya sendiri. dalam rangka peningkatan ketahanan akan kebutuhan bahan pokok. karena investasi yang ada selama ini bukan untuk pembangunan industri yang berbasis sumber daya alam hayati (agroindustry). Kultur agraris yang menjadi basis pertahanan ekonomi desa telah hilang maupun ditinggalkan. ternyata kita belum mampu menjadi produsen bahan baku kedelainya hingga kini. Ia adalah manajer seperangkat asset yang ada di seputar diri dan lingkungannya. serta bagaimana struktur rumah tangga. Nilai tambah yang dimaksud dalam konteks tersebut adalah yang bisa memberikan konstribusi devisa. Bila hal ini dilakukan. menjadi kawasan industri dan kawasan permukiman perkotaan. bukan dalam pengertian mampu memberikan daya hidup pada komunitas desa. Paradigma baru lebih menekankan pada ―apa yang dimiliki si miskin ‖ ketimbang ‖ apa yang tidak dimiliki si miskin ‖. diperlukan upaya pembangunan daerah yang berbasis keanekaragaman hayati setempat. ketergantungan petani dari jaringan internasional industri bibit akan hilang dan memunculkan kekuatan lokal. Rebounding atau pelurusan kembali makna keberfungsian sosial ini akan lebih memperjelas analisis mengenai bagaimana orang miskin mengatasi kemiskinannya. diganti dengan pola modern yang tergantung pada industri. Ketahanan kita akan kebutuhan bahan pokok sangatlah kurang. tetapi menuju ke langit. Kebijakan tegas untuk meninggalkan kultur agraris. karena ketergantungannya pada bahan baku impor. 2005 : 148) . Semuanya itu disebabkan kita belum pernah mengadakan penelitian bioteknologi. Orang miskin bukanlah orang yang pasif. Kedelai hingga kini masih harus diimpor. yang merupakan makanan Indonesia sejak dahulu kala. dan jaringan sosial mempengaruhi kehidupan orang miskin. keluarga kekerabatan.(Sugandi. Bahkan kecenderungannya adalah mengubah kawasan pedesaan yang mampu mandiri berbasis pertanian keanekaragaman hayati. Pendekatan kemiskinan yang berkembang selama ini perlu dilengkapi dengan konsep keberfungsian sosial yang lebih bermatra demorasi-sosial ketimbang neo-liberalisme. yang dapat mendukung pola agraris yang kita miliki agar efisien. 2007: 46-50) Penelitian – penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemiskinan tidaklah statis. (Suharto. Penelitian yang ada selama ini bukan membumi. Keadaan ini terjadi pada orang yang miskin yang hidup di Negara yang tidak menerapkan sistem Negara kesejahteraan (welfare state).lokal yang sudah ada. kondisinya sangat rentang dan keropos.

Ilmu pengetahuan modern antroposentris sebagai dasar perencanaan kebijakan publik untuk mengelola kehidupan masyarakat dan lingkungan perlu diganti dengan ilmu pengetahuan yang bersifat non-antroposentris. (Madrim Djody Gondokusumo Dalam Bunga Rampai. yaitu pemerintah dan para pakar menganggap dirinya yang paling mengetehaui tentang proses-proses yang terjadi dimasyarakat. Karena itu melestarikan keserasian bertentangan dengan hakekat hidup yang menginginkan perubahan. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari pembangunan manusia itu sendiri. Keberlanjutan pembangunan harus memadukan lingkungan hidup. sehingga apa yang menjadi tujuan pembangunan akan sia-sia. berupa resiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. termasuk sumber daya alam. melainkan berubah-ubah menurut umur orang atau golongan. tempat dan waktu. Perubahan hutan menjadi sawah merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan untuk produksi bahan makanan dibawah kondisi curah hujan yang tinggi dan juga untuk mengurangi resiko erosi di daerah pegunungan. Dengan perubahan hutan atau tata guna lahan lain menjadi sawah berubahlah pula keseimbangan lingkungan.Pada akhirnya kebijakan pengurangan kemiskinan yang selama ini yaitu pendekatan top-down dalam perencanaan kebijakan yang sekarang dilakukan. Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan manusia. yang mengakibatkan rusaknya struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. dan menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan. sehingga menuntut tanggung jawab dan perannya untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Kerusakan ini pada akhirnya akan menjadi beban yang malah menurunkan mutu hidup manusia. menghargai perbedaan-perbedaan. Karena itu akan berarti menurunkan mutu lingkungan dan dengan itu mutu hidup. serta menjadi jaminan bagi kesejahteraan serta mutu hidup generasi masa kini dan generasi mendatang. yaitu mengurangi resiko lingkungan atau dan memperbesar manfaat lingkungan. Hingga sekarang pencetakan sawah masih berjalan terus. . Sejak berabad tahun yang lalu nenek moyang kita telah merubah hutan menjadi daerah pemukiman dan pertanian. diperlukan pendekatan pembangunan yang menitikberatkan pada segi manusia. 2005 : 418) 1. Masalah Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Pembangunan pada hakikatnya adalah perubahan lingkungan. 2. Di lain pihak. Jadi jelaslah keserasian bukanlah suatu hal yang kekal. menghargai etika dan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan di lingkungan alam. Melestarikan keserasian akan berarti meniadakan kebutuhan dasar untuk dapat memilih. perlu diganti dengan pendeketan bottom-up. Manusia berada pada posisi sentral sahingga pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilya tidak boleh mengabaikan dimensi manusianya. serta pengembangan sumber daya buatan. pembangunan yang makin meningkat akan memberikan dampak negatif. yaitu melibatkan partisipasi masyarakat melalui dialog-dialog yang demokratis. sumber daya manusia. Pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup manusia. keadilan dan kesetaraan jender. Manusia merupakan subjek sekaligus objek pembangunan. Untuk dapat melakukan hal tersebut.

Permasalahan ketersediaan tanah di perkotaan sebagai lahan hijau sangat terbatas. Selain harga tanah yang mahal, juga kurangnya penghargaan bagi pemilik tanah terlantar untuk dimanfaatka sebagai lahan terbuka hijau. Penggunaan ruang terbuka hijau mulanya diawali dengan tumbuhnya perumhana liar yang semakin luas dan sulit dikendalikan, yang selanjutnya menimbulkan terbentuknya kawasan kumuh. Apalagi para penghuni tersebut dikenakan pajak tidak resmi sehingga mereka merasakan seolah mendapatkan legalitas untuk tinggal di tempat tersebut. Begitu juga, disisi lain factor urbanisasi, khususnya golongan berpendapat rendah dan kurangnya tingkat pendidikan, mendorong mereka untuk menduduki lahan ruang terbuka hijau. Seperti pemanfaatan tepian tepian bantaran sungai dan tepian jalur kereta api sebagai tempat tinggal. (Soemarwoto, 1983 : 60-61) Secara sistem, ruang terbuka hijau kota pada dasarnya adalah bagian dari kota yang tidak terbangun, yang berfungsi menunjang kenyamanan, kesejahteraan, penigkatan kualitas lingkungan, dan pelestarian alam, umumnya terdiri dari ruang pergerakan linear atau koridor dan ruang pulau atau oasis (Spreigen 1965). Perencanaan ruang terbuka hijau secara tepat mampu mampu berperan dalam menigkatkan kualitas atmosfer kota, penyegaran udara, menurunkan suhu kota, menyapu debu permukaan kota, menurunkan kadar polusi udara dan meredam kebisingan. Penelitian Embleton (1963) menyatakan bahwa 1 hektar ruang terbuka hijau dapat meredam suara pada 7 db per 30 meter jarak dari sumber suara pada frekuensi kurang dari 1000 CPS , atau penelitian Carpenter (1975) dapat meredam kebisingan 25-80 %. Kualitas udara bersih merupakan factor luar yang sangat berpengaruh. Karena itu, keberadaan ruang terbuka hijau kota merupakan eksternalitas ekonomis, bukan disekonomis. Artinya, ruang terbuka hijau akan menyebabkan seseorang atau beberap individu menjadi lebih sehat dan baik. Dengan demikian, ada kemauan untuk menerima ruang terbuka hijau dari penigkatan aktivitas lain yang menguntungkan. Oleh karena itu, perencanaan ruang terbuka hijau kota merupakan manfaat sosial yang terdiri dari surplus konsumen sekaligus juga merupakan surplus produsen, sehingga umumnya kesejahteraan (kesehatan) penduduk kota meningkat akibat lingkungan yang sehat. Pelaku-pelaku yang terlibat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau kota terdiri atas sebagai berikut : 1. a. Pemerintah Kewajiban pemerintah kota, dalam hal ini instansi/lembaga dinas pertamanan, dan dinas kehutanan adalah mengadakan dan menyelenggrakan pembangunan secara adil untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kota, termasuk di dalamnya bidang keamanan, kenyaman, dan keserasian. Apabila hal ini dikaitkan dengan jenis ruang terbuka hijau yang ada maka ruang terbuka hijau yang harus disediakan oleh pemerintah adalah ruang terbuka hijau korodor yang meliputi: jalur hijau kota dan jalur hijau jalan; ruang terbuka hijau produktif yang meliputi kawasan pertanian kota, perairan/tambak; ruang terbuka hijau konservasi yang meliputi kawasan cagar alam dan hutan kota; ruang terbuka hijau lingkungan yang meliputi kawasan taman lingkungan dan bangunan, serta permakaman, perkantoran dan kebun binatang 1. b. Swasta

Peranan swasta sebagai pelaku ekonomi kota, yang bergerak di sektor formal maupun informal, tidak secara mutlak berkewajiban untuk melaksanakan pengadaan ruang terbuka hijua kota. Melalui pertimbangan-pertimbangna tertentu serta pengkajian dari sudut pandang swasta, dapat disediakan ruang terbuka hijau yag memungkinkan untuk dikelolah oleh swasta, yaitu ruang terbuka hijau untuk keindahan/estetika; ruang terbuka hijau untuk rekreasi; ruang terbuka hijau lainnya yang dapat dikomersialkan. 1. c. Masyarakat Kota Peran serta masyarakat, baik secrara individual maupun kelembagaan terhadap ruang terbuka hijau lebih terbatas pada pemanfaatan dan pemeliharaan. Dari segi perencanaan maupun pengadaannya, peran serta masyarakat sangat kecil sekali. Hal ini disebabkan keberadaan ruang hijau kota biasanya terbentuk oleh adanya tanah kosong yang belum/tidak dimanfaatkan. Kelangsungan keberadaannya tidak dapat dijamin, sehubungan dengan sifat penguasaan tanahnya yang lebih banyak bersifat individu (bukan tanah negara). 1. d. Media Massa Media massa, baik media elektronik maupun media cetak, ikut berperan sebagai pelaku dalam pengelolaan ruang terbuka hijau, khususnya dalam menciptakan opini publik terhadap pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan. Disamping hal tersebut, fungsi media massa juga bermanfaat untuk ikut mengawasi perkembangan ruang terbuka hijau. (Sugandy, 2007 : 103-105 ) Indonesia sudah mulai menyadari bahwa untuk mencapai masyarakat perkotaan masyarakat kehidupan perkotaan yang sejahtera, kualitas lingkungan hidupnya harus baik, karena akan beperngaruh pada kualitas hidupnya (Quality Of Life). Masalah yang terkait dengan kualitas lingkungan hidup dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat kota, meliputi aspek fisik seperti kualitas udara, air, tanah; kondisi lingkungan perumahannya seperti kekumuhan, kepadatan yang tinggi, lokasi yang tidak memadai serta kulaitas dan keselamatan bangunannya; ketersediaan saran dan prasarana serta pelayanan kota lainnya; aspek sosial budaya dan ekonomi seperti kesenjangan dan ketimpangan kondisi antar golongan atau antar warga, tidak tersedianya wahana atau tempat untuk menyalurkan kebutuhankrbutuhan sosial budaya, seperti untuk berinteraksi dan mengejawantahkan aspirasi-aspirasi sosial budayanya; serta jaminan perlindungan hukum dan keamanan dalam melaksanakan kehidupannya. Kohesi sosial dan kesetaraan (Equity) merupakan faktor penting dalam kualitas hidup di perkotaan. Kekumuhan kota disebabkan karena sumber daya yang ada di kota tidak mampu melayani kebutuhan penduduk kota. Kekemuhan kota bersumber dari kemiskinan kota yang desebabkan karena kemiskinan warganya dan ketidakmampuan pemerintah kota dalam memberikan pelayanan yang memadai kepada warga masyarakatnya. Kemiskinan warga disebabkan karena tidak memiliki akses kepada mata pencaharian yang memadai untuk hidup layak, serta akses pada modal dan informasi yang terbatas. Kemiskinan ini akan berdampak pada kemampuan

warga untuk membayar pajak yang diperlukan untuk membangun fasilitas dan infrastruktur di kawasannya. Permasalahan utama prasarana dan saran perkotaan (PSP) termasuk perumahan adalah tidak memadainya suplay dibandingkan dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan terbatasnya kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pelayan PSP yang layak. Akibat dari keterbatasan suplay dibandingkan dengan kebutuhan, maka masyarakat yang berpenghasilan rendah justru harus membayar harga mahal untuk memperoleh pelayanan PSP tersebut. Berkaitan dengan perumahannya, mereka terpaksa menggunaka lahan-lahan secara liar dengan kualitas perumahan yang jauh dibawah standar. (Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 7-8 ) 1. 3. Masalah Keamanan dan Ketertiban Perkotaan Beberapa teror bom yang terjadi di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini, sperti di Bali, Jakarta dan lain-lain telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat perkotaan dan mengganggu jalannya perekonomian kota. Selain itu, beberapa kota di Indonesia juga mengalami penurunan kualitas kehidupan dengan banyaknya terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar kelompok masyarakat, seperti di Poso, Palu, Ambon, Banda Aceh dan sebagainya. Permasalahan ini diperberat dengan masalah ketertiban di perkotaan Karena tidak disiplinnya masyarakat perkotaan. Hal ini tercermin dengan jelas antara lain dalam disiplain berlalu lintas. Saat ini juga semakin sering terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah, terutama di kota-kota besar. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal seperti tidak adanya sosialisasi dari pemerintah, kurangnya pelibatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, kurangnya pemamhaman akan hak-hak dan tanggung jawab masyarakta dalm pembanguna kota dan lain sebagainaya. Semua hal tersebut diatas sangat berpengaruh pada kinerja kotanya.( Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 9-10) Kemampuan untuk membuat perencanaan yang di satu pihak memecahkan masalah urbanisasi dan dilain pihak memperkaya fungsi kota merupakan keahlian yang sangat diharapkan dari para perencana kota pada masa akan datang. Setiap kota, selain berusaha untuk meningkatkan fungsifungsi perkotaan yang bersifat standar, sebaiknya juga mengembangkan fungsi-fungsi khusus yang kompetitif secara global. Tetapi kedua hal di atas hanyalah suatu strategi umum dalam menyiasati permasalahan pengembangan kota, dan sebenarnya baru bisa terlaksana bila beberapa permaslahan pokok dari kota-kota di Indonesia telah diperbaiki secara substansial. (Santoso, 2006 : 61) 1. 4. Contoh Kasus Contoh dari hambatan pembangunan yang berkelanjutan akibat kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup, yaitu yang terjadi di Kacamata Tambora, kotamadya Jakarta Barat (melalui penelitian yang dilakukan pada tahun 2002-2003). Kecamatan Tambora adalah kecamatan yang berkepadatan penduduk tertinggi di DKI Jakarta, yaitu lebih dari 500 orang per hektar, memiliki permukiman kumuh atau buruk yang sangat luas dan kemiskinan yang sangat signifikan. Evaluasi yang dilakukan berdasarkan Perhitungan criteria pembangunan yang berkelanjutan di

dapat dilihat pada kondisi air. tikus. Kerusakan lingkungan. maka adapun saran bagi pemerintah agar dapat menerapkan sistem pembangunan yang berkelanjutan seperti di negara-negara maju lainnya dengan jalan menanggulangi kemiskinan serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta keamanan dan ketertiban di perkotaan guna menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya di Indonesia sehingga dapat dirasakan bukan hanya untuk di masa sekarang melainkanjuga untuk generasi yang akan datang. dapat dikelompokkan dalam tiga dimensi yang saling berinteraksi terus menerus. dan udara yang telah tercemar. E. tercemar. serta sebagai akibat tidak berfungsinya pengelolaan sampah dan limbah air kota. tercemar. Tumpukan sampah di TPS juga merupakan sumber berkembangnya vektor-vektor penyakit. Hal itu tentunya juga mengancam subsistem-subsistem lain dalam system kota Jakarta.wikipedia. 3. kerusakan lingkungan hidup. seperti kecoa. dan sebagainya. tetapi juga akan mempengaruhi subsistem-subsistem lain yang membentuk kota Jakarta. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. karena komponen-komponen pembentukan yang membentuk jaringan. subsistem Kecamatan Tambora tersebut diatas. 1.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan http://muhlissuhaeri. yaitu dimensi social ekonomi dan lingkungan. dalam kasus Kecamatan Tambora. yang merupakan faktor ekologis sebuah kota. Bahwa masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadidi suatu kawasan tertentu memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses tidak berkelanjutan. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. keamanan dan ketertiban kota. Ancaman itu tidak hanya terjadi di dalam kawasan atau subsistem Kecamatan Tambora saja. Kesimpulan dan Saran Dari hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan: 1. tanah.perkotaan (3 PRO) terhadap kecamatan itu memperlihatkan bahwa proses tidak berkelanjutan sedang berlangsung. lalat.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-harus . nyamuk.blogspot. Pencemaran itu disebabkan oleh berbagai sumber didalam dan luar Kota Jakarta. 2. dll. Daftar Pustaka http://id. 1. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. Ancaman tersebut tidak hanya terjadi di kawasan itu saja. Kondisi lingkungan pemukiman buruk atau kumuh seperti diuraikan diatas memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses yang tidak berkelanjutan. Bahwa hambatan dalam pencapaian pembangunan yang berkelanjutan adalah kemiskinan. tetapi juga akan mempengs\aruhi sub-sub sistem lain yang membentuk kawasan itu Berdasarkan kesimpulan diatas. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. F.

Bunga, Rampai. 2005. Pembangunan Kota Indonesia Dalam Abad 21, Konsep dan Pedekatan Pembangunan Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI Santoso, Jo. 2006. Menyiasati Kota Tanpa Warga. Gramedia :Jakarta Soefaat. 1999. Hubungan Fungsional Teknik Sipil dengan Tata Ruang Kota dan Daerah Jilid 1. PT. Mediatama Saptakarya : Bandung Soemarwoto, Otto. 1983. Ekologi Lingkungan hidup dan Pembangunan. Djambatan : Jakarta Sugandhy, Aca dan Hakim, Rustam. 2007. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Bumi Aksara Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. PT. Refika Aditama: Bandung. Comments: Be the first to comment

ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA PERMUKIMAN DI KAWASAN TANJUNG BUNGA MAKASSAR
Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Oleh: Syahriar Tato ABSTRAK Pada suatu lingkungan permukiman keberadaan sarana dan prasarana merupakan ukuran standar kelayakan dalam artian lingkungan permukiman yang dilengkapi sarana dan prasarana (utilitas) yang memadai cenderung akan mengalami peningkatan taraf kesejahteraan. Hal ini cukup beralasan seperti keberadaan jalan-jalan penghubung ke daerah sekitar maupun ke pusat kota akan terjadi kemudahan akses interaksi dengan lingkungan permukiman sekitarnya maupun ke kawasan-kawasan utama pada daerah perkotaan. Disisi lain keberadaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan permukiman akan memacu pula peningkatan aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi. Seperti keberadaan sarana jasa dan perdagangan akan memacu kelancaran distribusi barang dan jasa dari dalam ke luar, keberadaan sarana kesehatan akan terjadi peningkatan mutu kesehatan masyarakat, dan keberadaan sarana pendidikan yang memacu perubahan pola pikir dalam menumbuhkan kemandirian.

1. A. PENDAHULUAN Perkembangan jumlah penduduk pada daerah perkotaan yang disertai dengan peningkatan arus urbanisasi membawa perubahan besar pada kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan

papan beserta fasilitas penunjangnya. Kebutuhan dasar tersebut terus meningkat secara alamiah seiring kompleksitasnya kebutuhan hidup bermasyarakat, seperti kebutuhan untuk aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, dan aktivitas pelayanan umum. Dari fenomena tersebut menuntut pula pembangunan sarana dan prasarana di daerah perkotaan sebagai pengejewantahan menjaga kelangsungan hidup masyarakat di daerah perkotaan dalam rangka menuju kota berkelanjutan (sustainable cityes). Menurut Jayadinata J.T, (1999:31) mengatakan bahwa dalam meningkatkan perkembangan kegiatan sosial dan ekonomi, sarana dan prasarana merupakan hal yang penting. Untuk itu perhatian sejak dini dalam hal pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi pembangunannya baik dari segi pembangunan kuantitas sarana dan prasarana yang ada maupun kualitas pelayanannya. Namun upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di daerah perkotaan bukanlah hal semudah membalikkan telapak tangan. Kendala dan sejumlah permasalahan dalam hal pemenuhan dan distribusinya menuntut tanggung jawab bersama ketiga komponen pembangunan yaitu pemerintah (penentu kebijakan), masyarakat (pengguna) dan pihak swasta (developer). Dari segi pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana fenomena-fenomena umum yang menjadi kendala utama yaitu harga lahan di perkotaan semakin tinggi, kurangnya ketersediaan lahan, kurangnya partisipasi masyarakat baik dalam bentuk swadaya maupun pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada, dan lain sebagainya, sedangkan ditinjau dari segi distribusi yaitu pemerataan sarana dan prasarana yang menimbulkan kesenjangan sosial antara kawasan pusat kota dan kawasan pinggiran kota. Kota Makassar sebagai salah satu kota dengan pelayanan jasa, sosial, ekonomi terbesar pada Kawasan Timur Indonesia (KTI) memberikan andil yang cukup besar dalam memicu perkembangan kota-kota lain yang berada di wilayah timur Indonesia umumnya dan bagi daerah hinterlandnya. Kota Makassar dalam Rencana Umum Tata Ruang terdiri atas bagian wilayah kota (BWK) yang membentuk fungsi kawasan-kawasan dan tersebar di seluruh Kota Makassar. Antaranya kawasan pendidikan, kawasan jasa dan perdagangan, kawasan industri, kawasan perkantoran, kawasan permukiman dan kawasan rekerasi/hiburan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Di era globalisasi pembangunan perumahan di Kota Makassar terjadi perkembangan yang cukup pesat seiring dengan permintaan kebutuhan akan papan sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk. Implikasi dari pembangunan perumahan tersebut menuntut pula ketersediaan sarana dan prasarana perumahan. Kawasan Tanjung Bunga secara geografis terletak di sekitar ± 5 km sebelah barat daya dari jantung Kota Makassar yang merupakan daerah pesisir pantai Selat Makassar yang membentang sepanjang ± 8 km, yang pengembangannya di mulai sejak tahun 1997 secara fisik maupun non fisik. Ditinjau dari topografi Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah yang berdataran rendah dan juga termasuk daerah perairan karena merupakan daerah hilir aliran Sungai Jeneberang. Pembangunan pada Kawasan Tanjung Bunga perpaduan antara pariwisata, olah raga, bisnis, dan permukiman di atas lahan seluas ± 1000 ha, sedangkan tahap awal pembangunannya di mulai dari pembangunan pusat kawasan yaitu pada Kelurahan Tanjung Merdeka, dimana pembangunan

itu berupa pembangunan perumahan yang terdiri dari beberapa kompleks perumahan seluas 340 Ha, pembangunan ruko sebagai fasilitas perdagangan, pembangunan jalan akses dari dan ke Kota Makassar dan Kabupaten Gowa (PT. GMTD, Tbk, 2005). Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah pengembangan wilayah kota (BWK) C Kota Makassar yang memiliki fungsi utama sebagai rekreasi pantai dan jasa pariwisata, pusat perdagangan dan jasa sosial dengan fungsi penunjang pemerintahan Kota, perdagangan, permukiman, pendidikan, dan transportasi (revisi RUTRK Kota Makassar, 2001). 1. B. TUJUAN DAN KEGUNAAN 2. 1. TUJUAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui ketersediaan sarana saat ini dan yang akan datang di Kawasan Tanjung Bunga 1. 2. KEGUNAAN
  

Sebagai bahan masukan bagi swasta (developer) yaitu PT. GMTD, Tbk dalam hal penyediaan kebutuhan sarana di Kawasan Tanjung Bunga . Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya khususnya bagi pengembangan disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota

1. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada ketersediaan dan banyaknya Kebutuhan akan 1. D. METODE PENULISAN 1. a. Dalam melakukan penelitian diperlukan penetapan lokasi sebagai upaya pemecahan masalah sesuai dengan tujuan penlitian dan ditetapkan Lokasi GMTDC TANJUNG BUNGA. 2. b. Melakukan proses pendataan baik berupa data primer maupun data sekunder dengan melakukan teknik observasi, kuisoner maupun kunjungan lembaga atau instansis. 3. c. Dalam melakukan proses analisa digunakan analisis bunga berganda dalam memproyeksi tingkat kebutuhan sarana. 1. E. ANALISIS 2. a. Analisis Aspek Kependudukan Dari hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode bunga berganda, maka perkembangan jumlah penduduk di Kawasan Tanjung Bunga dapat diasumsikan yaitu jumlah penduduk 10 (sepuluh) tahun kedepan 2005 – 2010 dengan menggunakan metode bunga berganda, maka akan diperoleh jumlah penduduk sebesar 32.737 jiwa. 1. b. Analsisis Ketersediaan Sarana Dan Prasarana

Analisis kebutuhan akan sarana pendidikan diadasarkan pada kondisi real dimana hal tersebut belum memadai yang perhitungannya didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh Ditjen. yang mana pendidikan informal dapat ditempuh melalui kursus. . pelatihan dan pembinaan. diperlukan ketersediaan fasilitas peribadatan berupa tempat ibadah bagi masing-masing pemeluk agama. PU. Komputer dan IPA.5 ha. Untuk dapat melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut. Cipta Karya Dep. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan sekolah yang dikelola oleh pihak swasta dan memiliki sejumlah fasilitas yang ada di dalamnya yang berupa Laboratorium Bahasa Inggris. Sehubungan dengan hal tersebut. maka masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga yang hendak beribadah harus ke luar untuk mencari tempat beribadah. Analisis Sarana Peribadatan Dalam melaksanakan ritual keagamaan berupa ibadah menurut agama dan kepercayaan yang dianut. Sekolah Dasar. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) pada saat ini kurang memadai sedangkan Perguruan Tinggi (PT) tidak perlu mengalami penambahan. Sedangkan untuk pendidikan formal pemerintah telah menyediakan jenjang pendidikan yang di mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak. merupakan wujud kepercayaan terhadap Tuhan YME. PU. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Cipta Karya Dep. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) perlu penambahan sebanyak 5 (lima) unit dengan kebutuhan lahan 50 ha serta Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) penambahan sebanyak 5 (lima) dengan kebutuhan lahan 100 ha. 1. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas serta Perguruan Tinggi. Hasil analisis evaluasi ketersediaan sarana pendidikan di atas berdasarkan standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan satu kompleks. Analisis Sarana Pendidikan Ketersediaan fasilitas pendidikan. Kebutuhan sarana pendidikan 10 (sepuluh) tahun ke depan untuk sarana pendidikan berupa : Taman Kanak-Kanak (TK) perlu adanya penambahan sebanyak 30 (tiga puluh) unit dengan kebutuhan lahan 36 ha. Sekolah Dasar (SD) penambahan sebanyak 19 (sembilan belas) unit dengan kebutuhan lahan 28. Tahun 1979 dapat dilihat bahwa untuk kebutuhan Taman kanak-kanak (TK) yang ada saat ini perlu adanya penambahan begitu pula dengan Sekolah Dasar (SD) sedangkan untuk sarana pendidikan lainnya yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). pemerintah mengupayakan program pendidikan bagi masyarakat baik secara formal maupun informal. merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat pendidikan di daerah/kawasan tertentu. Dengan kondisi yang ada maka untuk ketersediaan sarana peribadatan yang ada saat ini masih belum memadai yaitu berupa sarana langgar serta belum adanya mesjid di Kawasan Tanjung sehingga dalam melaksanakan kewajiban yang berupa Shalat Jumat. 2. 1. Tahun 1979. 1.

diperlukan peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Poliklinik. Poliklinik sebanyak 9 (sembilan) dengan kebutuhan lahan 2. GMTD. Analisis Sarana Perdagangan dan Jasa Sedangkan untuk ketersediaan sarana perdagangan pada tahun proyeksi yaitu tahun 2015 masih membutuhkan pengadaan jenis sarana seperti pusat perbelanjaan lingkungan yang berupa minimarket yaitu sebanyak 1 (satu) unit yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga sedangkan untuk jenis sarana perdagangan yang berupa toko/warung perlu adanya penambahan yang mana sarana tersebut bergabung dengan permukiman Berdasarkan jumlah penduduk yang ada saat ini dengan memperhatikan standar perencanaan yang baku yang dikeluarkan oleh Ditjen Cipta Karya Dep. Praktek Dokter sebanyak 5 (lima).3 ha sedangkan untuk sarana Masjid untuk tahun 2015 perlu adanya pengadaan dengan melihat kondisi yang akan datang. Apotek.7 ha. Apotek sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 0. dan nantinya di Kawasan Tanjung Bunga akan dilengkapi dengan Rumah Sakit type A yang sesuai dari perencanaan PT. Selain itu juga nantinya akan diadakan pembangunan Masjid dan Gereja yang berskala kawasan yang melayani. 3. 1. sarana Langgar/Surau mengalami penambahan 11 (sebelas) unit dengan kebutuhan lahan 3. Apotek. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA : Ketersediaan sarana kesehatan yang ada saat ini yang berupa. Tbk sebagai pengelola kawasan terpadu ini. maka beberapa jenis sarana kesehatan masih memerlukan beberapa penambahan yakni diantaranya. 1. Maka yang tidak memadai yaitu Toko/Warung dan untuk sarana perbelanjaan yang berskala lingkungan seperti minimarket saat ini belum ada. Poliklinik tidak memadai dengan melihat jumlah penduduk yang ada saat ini. Disamping itu Pusat Perbelanjaan & Niaga (Mall) yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan Pusat Perbelanjaan dan Niaga (Mall) yang berskala regional yang melayani kebutuhan warga masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya dan di Kota Makassar pada umumnya yang dikenal dengan nama Grade Trade Center (GTC). Rumah Sakit Bersalin/BKIA sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 1. sedangkan Praktek Dokter. Analisis Sarana Kesehatan Untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat.35 ha. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA yang ada saat ini masih memadai dengan melihat kondisi kependudukan serta standar perencanaan. Tahun 1979. dan pertokoan (ruko). PU. . kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga dan di daerah sekitarnya. Selain penambahan dan pengadaan unitnya diperlukan juga pemeliharaan dan peningkatan pelayanannya terhadap masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga maupun di daerah sekitarnya. sedangkan untuk sarana yang lainnya sudah memadai seperti pusat perbelanjaan dan niaga.Untuk ketersediaan 10 (sepuluh) tahun ke depan mengenai fasilitas peribadatan diperkirakan masih membutuhkan penambahan jumlah maupun pengadaan unit yaitu.6 ha. Dengan kondisi yang mana berdasarkan standar perencanaan dan hasil proyeksi jumlah penduduk. yang indikator pentingnya yaitu tersedianya sarana kesehatan yang berupa . Praktek Dokter. 4.

Cipta Karya Dep.Ketersediaan sarana perdagangan dan jasa merupakan aspek yang cukup esensial dalam perkembangan suatu kota atau wilayah. Tbk. dan Kantor Kelurahan Tanjung Merdeka yang pelayanannya berskala lokal sebagai fungsi sekunder. Baruga dan Stadion Dayung tidak mengalami penambahan melainkan butuh adanya peningkatan kondisi dari pada sarana tersebut sedangkan untuk sarana rekreasi juga tidak mengalami penambahan tetapi memperbaiki kondisi serta . Sehingga sarana olah raga dan rekreasi sangat penting untuk menunjang suatu kawasan. sedangkan swasta yang berupa Kantor Manajemen PT. 6.GMTD. Analisis Sarana Olah Raga Dan Rekreasi Untuk sarana olah raga dan rekreasi merupakan sarana yang cukup penting dalam menciptakan manusia yang sehat jasmani maupun rohani. 1. Selain itu terdapat baruga atau balai pertemuan yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga untuk kegiatan atau pertemuan antar warga yang terletak di salah satu kawasan hunian yaitu perumahan taman Toraja. Untuk mengetahui kebutuhan sarana olahraga dan rekreasi untuk tahun 2015 adalah sebagai berikut sarana olahraga Lapangan Bulutangkis. selain itu mungkin perlu adanya peningkatan di segi pelayanannya utamanya perkantoran yang bersifat memberikan pelayanan ke publik. dan Stadion Dayung yang merupakan sarana olah raga yang bersifat nasional karena ditempat tersebut sering diadakan kegiatan yang bersifat nasional. PU. Kebutuhan sarana olah raga dan rekreasi untuk ketersediaan saat ini di Kawasan Tanjung Bunga sudah memadai yang berupa sarana olah raga yang meliputi: Lapangan Bulutangkis. fasilitas perdagangan dan jasa juga merupakan suatu indikator dalam menentukan perkembangan tingkat perekonomian suatu wilayah. sedangkan untuk sarana rekreasi yang berupa rekreasi pantai yang dikenal dengan Akkarena dengan skala pelayanan yang bersifat regional pada umumnya dan Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya serta taman bermain yang terletak dilingkungan hunian yang ada di Kawasan tanjung Bunga. Tahun 1979. Maka segala kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini sudah memadai. Analisis Sarana Perkantoran Sarana perkantoran merupakan sarana sosial yang menunjang aktivitas di Kawasan Tanjung Bunga dengan melihat fungsi pelayanan dari pada sarana tersebut seperti Kantor Pemerintah yang berupa Kantor Kecamatan Tamalate yang berskala kawasan sebagai fungsi primer. dimana ketersediaan sarana perdagangan dan jasa sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk melihat kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini dengan menggunakan jumlah penduduk yang ada saat ini serta melihat standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. 5. Untuk sarana perkantoran yang telah ada saat ini tidak perlu mengalami penambahan melainkan perlu adanya peningkatan dari segi tingkat pelayanannya 1. karena sesuai dengan fungsi sarana tersebut merupakan tempat untuk melakukan aktivitas yang memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita sehari-hari dan sebagai sarana untuk melepas lelah di dalam aktivitas kita seharian.

d. c. Dari tabel hasil over lay di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa sarana yang ada saat ini tidak sesuai dengan peruntukkannya yaitu tidak berdasarkan dengan master plan yang dikeluarkan oleh PT. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari hasil peta over lay tinjauan eksisting sarana dengan master plan Kawasan Tanjung Bunga berikut. sarana kesehatan yang berupa BKIA (Rumah Sakit Bersalin).mengembangkan yang telah ada sesuai dengan perkembangan kedepan nantinya. Analisis Aspek Sarana di Tinjau dari Master Plan Kawasan Tanjung Bunga Analisis aspek sarana ditinjau dari master plan dimaksud untuk melihat apakah peruntukkan sarana yang terbangun sesuai dengan fungsi peruntukkannya. kurang memadai (kurang baik) dalam artian kurang memiliki tingkat ketersediaan. Sedangkan untuk sarana lainnya sudah sesuai dengan peruntukkannya yang sudah mengacu pada master plan di Kawasan Tanjung Bunga. Adapun pemboboton disini didasarkan pada variabel yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam sub variabel sesuai dengan klasifikasi untuk masing-masing eksisting sarana yang ada di Kawasan Tanjung Bunga. Sarana Pendidikan Tabel 01 Hasil Pembobotan Sarana Pendidikan Indikator Tingkat Pelayanan yang Skori Bob Standar Nil Sesuai Nil Nil ng ot Perencana Master Plan ai Persepsi/Masyarakat/Resp ai ai an onden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 1 unit tidak 3 1  Tingkat pencapaian sesuai Pendidikan. Analisis Sarana Dengan Menggunakan Metode Pembobotan Untuk Meninjau Ketersediaan Sarana yang Ada Saat ini di Kawasan Tanjung Bunga Analisis sarana dengan metode pembobotan disini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai. Tbk yaitu sarana pendidikan yang berupa Taman Kanak-Kanak (TK). selain sarana tersebut sarana yang berupa taman yang merupakan sarana daripada kawasan hunian yang ada di Kawasan Tanjung Bunga perlu adanya penambahan sebanyak 10 (sepuluh). 1. 1. dimana dari nilai bobot inidiidentifikasi terdapat tiga kategori yaitu memadai (baik) dalam artian memiliki tingkat ketersediaan. 1. serta sarana perkantoran swasta yang berupa Kantor Manajemen PT. Tbk. dimana hal ini mempunyai sasaran terwujudnya tingkat pencapaian sesuai dengan kawasan perencanaan dan untuk mengantisipasi impak dari pergerakan sebagai bangkitan yang berpengaruh terhadap permasalahan transportasi kedepannya serta permasalahan lingkungan lainnya. GMTD. penduduk N Variabel o . GMTD. hal ini di karenakan kawasan ini merupakan kawasan yang berbasis daerah pariwisata sesuai dengan peruntukannya dalam RUTR Kota Makassar. 1. dan tidak memadai (tidak baik) dalam artian belum memiliki tingkat ketersediaan.

 TK pendukung minimum  Kondisi 4 5 dengan fungsi peruntukkan ya dan 1 unit sudah sesuai dengan fungsi peruntukkan nya 8. Asumsi pembobotan yaitu.6 3 6  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 3 fungsi peruntukann 5 ya 4.66 12.33 4.66 Jumlah  1 SD Jumlah 1 penduduk pendukung minimum 1 3 Jumlah  SLTP Jumlah penduduk pendukun g minimum Jumlah  3 SMU Jumlah 3 penduduk pendukun g minimum Jumlah 3 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .33 Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. Sarana Peribadatan Tabel 02 .11 13 4. 2.3 5 3  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11 3.66 2.    4.

Hasil Pembobotan Sarana Peribadatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1  Tingkat pencapaian Peribadatan. Sarana Kesehatan Tabel 03 Hasil Pembobotan Sarana Kesehatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1 penduduk  Tingkat pencapaian Kesehatan. 3. Asumsi pembobotan yaitu. pendukun  Kondisi  Poliklini g minimum k N Variabel o Jumlah  Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya 5 5 11 3. penduduk pendukun  Kondisi  Musholla g minimum h N Variabel o Jumlah 1 Nil Master ai Plan 1 1 1 1 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukan nya 5 7 2.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .66 Praktek Jumlah penduduk 1 5   5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Sesuai dengan .    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.

33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .3 5 3 Tingkat kebutuhan 1 Tidak sesuai 1 Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 14.33 4.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.33 Jumlah  Apotek Jumlah penduduk pendukun g minimum    Jumlah  5 BKIA/ Rumah sakit bersalin Jumlah 5 penduduk pendukun g minimum 5    Jumlah 5 4. Asumsi pembobotan yaitu. 4.  Pst. Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 penduduk  Tingkat pencapaian pendukun  Kondisi g minimum Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya .77 7 2. Sarana Perdagangan dan Jasa Tabel 04 Hasil Pembobotan Sarana Perdagangan Dan Jasa Indikator N Variabel o 1 Sarana Perdagangan dan Jasa.dokter pendukun g minimum 5 5  Kondisi 3 3 3 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.

33 3. Asumsi pembobotan yaitu.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .Perbelan jaan & Jasa (mall) Jumlah  Pertokoa Jumlah n (ruko) penduduk pendukun g minimum · Jumlah Toko/war penduduk ung pendukun g minimum 5 5    5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 4.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. penduduk pendukung  Kondisi  Kantor minimum N Variabel o Nil ai Master Plan 3 1 Nil Skori Bob ai ng ot Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan .3 3 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 15 5 Jumlah  5 1    5 5 15 5 Jumlah 1 5 10. 5. Sarana Perkantoran Tabel 05 Hasil Pembobotan Sarana Perkantoran Indikator Nil Tingkat Pelayanan yang Standar ai Sesuai Perencana Persepsi/Masyarakat/Res an ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5  Tingkat pencapaian Perkantoran.

Jumlah 5 Manaje penduduk men pendukun PT.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. Sarana Olahraga & Rekreasi Tabel 06 Hasil Pembobotan Sarana Olahraga & Rekreasi Indikator N Variabel o 1 Sarana Olahraga & Rekreasi. Asumsi pembobotan yaitu. g GMTD minimum .6 6 Tingkat kebutuhan 5 Tidak sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11. 6. Nil Tingkat Pelayanan yang Nil Standar ai Sesuai ai Master Perencan Persepsi/Masyarakat/Res Plan aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 3 Sesuai 5 penduduk  Tingkat pencapaian dengan pendukung fungsi Nil Skori Bob ai ng ot 5 .66 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .88 Jumlah 5 1 11 3.66 3.66 3. Tbk 5       Jumlah  1.6 6 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1.88 5 1 11.Kecam atan Jumlah  1 nya 5 Kantor Jumlah 5 Lurah penduduk pendukung minimum 5 Ktr.

Bulutan gkis 5 5 peruntukkan nya Jumlah  Dayung Jumlah penduduk pendukung minimum    3 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 13 4. Asumsi pembobotan yaitu.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 Tabel 07 Nilai Bobot Aspek Sarana Ditinjau Dari Standar Indeks Bobot Kualitatif Dan Kuantitatif .minimum   Kondisi 1 5 Lap.33 Jumlah  Baruga Jumlah penduduk pendukung minimum 5 5    5 5 15 5 Jumlah  5 Pantai Jumlah 5 Akkare penduduk na pendukung minimum 5 5     Taman Jumlah penduduk pendukung minimum    Jumlah 5 5 3.6 6 Tingkat kebutuhan 5 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 5 5 13.66 4.55 5 5 15 5 5 15 5 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .

33 Indeks Bobot Kuantitatif >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Indeks Bobot Kualitatif Kurang Memadai Memadai Memadai Memadai Kurang Memadai TK SD SLTP SMU 1    Sarana Peribadatan.     3.33 5 5 3.  4   Pusat perbelanjaan dan niaga (Mall) Pertokoan (ruko) Toko/Warung Sarana Perkantoran.66 4.55 . 4. Bulutangkis Dayung Baruga Pantai Akkarena 5 4.88 3.No Variabel Sarana Pendidikan. GMTD.  Nilai Bobot 2. Tbk Sarana Olahraga Dan Rekreasi.33 7     Memadai Memadai Memadai Lap.33 4. 2  Musholla Sarana Kesehatan.11 4.33 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai Kurang memadai Memadai Memadai Memadai 3 Poliklinik Praktek dokter Apotek BKIA/rumah sakit bersalin Sarana Perdagangan dan Jasa.88 3.77 2.33 2.66 3.66 4.66 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai 5 Kantor kecamatan Kantor lurah o Kantor manajemen PT.   3.

J. Penataan Ruang Untuk Pembangunan Wilayah Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin Bratakusumah S. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Comments: Be the first to comment STUDI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH . Kamus Tata Ruang. Badan Perencanaan Daerah. DAFTAR PUSTAKA Amien. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. 2004. Comments: Be the first to comment pengelolaan sampah Posted December 24. Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota. et al (ed. 1985. 1999. T. dan Riyadi.). M. 2001. R. R. Budihardjo. Revisi Rencana Umum Tata Ruang Kota Makassar. 2001. 1979. 1996.S. Poerwadarminta. Taman 5 4. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan & Wilayah. ———— H. Gramedia Pustaka Utama. Perspektif Lingkungan Desa – Kota. 1997.55 Memadai Memadai Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 F. Bandung: Penerbit Alumni. Jakarta PN Balai Pustaka. Dimensi Keruangan Kota. Eko.J. Perencanaan Pembangunan Daerah. Bandung: Penerbit ITB Bandung. D. 1997. Koestoer H. Departemen PU Direktorat Jenderal Cipta Karya. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. 1998. Jakarta : Penerbit PT. Tata Ruang Perkotaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta Jayadinata. Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum W.

but at samples S15-S24. and E. Based on BOD5 and content of E. This condition indicates that the E. Coli Bacteria around the location is not only affected by the existence of the dumping site.77 m3/hari ( meningkat rata-rata sebesar 3. it tends to increase significantly.31 m3/hari. produksi sampah Tahun 1997 di Kota Enrekang sebesar 29. The land use condition is relatively heterogeneous around the dumping site and there is no relationship between the components of space function. The variables studied were topographical. Latar Belakang Kota Enrekang mengalami perkembangan yang pesat. Coli Bacteria. land use around it. Coli Bacteria on the distance (S1S14) of the dumping site indicates that the decrease tends to be linear. The study was descriptive. The results of the study indicate that the physical characteristics of the final dumping site support the permeation of leaches toward the river and settlement area in the western part of the location. jenis dan karakteristik sampah. The effect of E. and physical conditions of the town spatial arrangement. and geological conditions have an effect on water pollution in the dumping site and its vicinity. Kebijakan pemerintah Kabupaten Enrekang dalam pengolahan TPA sampah yaitu menggunakan metode Lahan Urug Terkendali (Controlled Landfill). Prinsip pengolahan metode Lahan Urug Terkendali adalah secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah kemudian dilakukan perataan dan pemadatan sampah. I. Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang. it is apparent that the distance.72 %/tahun). PENDAHULUAN 1. BOD5. but also by other factors such as the activities of the community around the location. geological.Posted December 24. Efektifitas penggunaan metode tersebut harus mempertimbangkan aspek kondisi fisik TPA. The dumping site is not suitable viewed from the aspect of spatial arrangement. dan prasarana pendukungnya . yang berpengaruh terhadap meningkatnya produksi sampah di kota tersebut. hydrological. kemudian pada Tahun 2002 menjadi 34. accecibility. kemampuan pendanaan. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstract The aim of the study was to find out the physical characteristics of the final dumping site and its suitability with the concept of spatial arrangement and its impact on the quality of water around it. Coli Bacteria. A. topographical.

A. 1. Untuk mengetahui dan menjelaskan kesesuaian penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang di tinjau dari aspek penataan ruang kota. 1997). seperti terbentuknya rembesan lindi yang dapat mencemari air permukaan dan air tanah dangkal. Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek tersebut akan menimbulkan pencemaran lingkungan di sekitarnya.(Notoatmodjo. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh TPA Sampah Kabupaten Enrekang terhadap pencemaran air lingkungan di sekitarnya. Juga disimpulkan bahwa penyakit diare dan kudis yang menjadi keluhan masyarakat sejak pertengahan Tahun 2000 disebabkan oleh pencemaran air akibat rembesan air lindi dari TPA tersebut. II. Indikasi tersebut lebih dipertegas dari penelitian terdahulu yang dilakukan di TPA Tamangapa oleh (Arifin 2001) yang menyimpulkan bahwa rembesan lindi yang keluar dari timbunan sampah membentuk alur yang mencemari air permukaan dan air tanah dangkal sekitar TPA. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Sampah . 2. dan kabupaten lainnya secara umum. 1. serta polusi udara. Sebagai salah satu masukan dalam pengolahan TPA sampah di Kabupaten Enrekang. 3. Untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Lebih lanjut Yuliana menyimpulkan bahwa kondisi kualitas air sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang relatif berbau dan berubah warna terutama sumur-sumur yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi TPA. serta pencemaran tanah. B. Apakah TPA sampah Kabupaten Enrekang mencemari air lingkungan di sekitarnya ? C. Perumusan Masalah 1. Sebagai salah satu masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya di bidang persampahan. Tujuan Penelitian 1. D. penelitian yang dilakukan oleh (Yuliana 2001) menunjukan bahwa beberapa sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang kondisi airnya berbau. 3. maka di dalam penelitian tersebut disarankan pengolahan sampah dilakukan dengan pengomposan. Apakah penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang sesuai dengan konsep penataan ruang? 3. Kegunaan Penelitian 1. S. Mempertimbangkan jenis sampah di Kota Enrekang. Sebagai salah satu masukan dalam penentuan lokasi TPA di Kabupaten Enrekang. Bagaimana karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Desa Batu Mila Kabupaten Enrekang ? 2. 2. 2. Sejalan dengan itu.

barang rusak atau bercacat dalam pembikinan atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. maka sampah didefinisikan sebagai suatu zat atau benda-benda yang tidak terpakai lagi yang bersumber dari aktivitas manusia dan proses alam baik yang bersifat zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan. . 4. 3. 1. 6. sebagai berikut. 1. 7. 5. berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Menurut Mustofa (2000) sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian. Composting: cara pengolahan sampah untuk kebutuhan pupuk tanaman. Individual Inceneration. Timbulan Sampah (Waste Generation) Pewadahan (Onside Storange) pengumpulan (Collection) Pemindahan dan Pengangkutan (Transfer dan Transport) Pemanfaatan Kembali (Procesing dan Recovery) Pembuangan Sampah (Disposal) C. merupakan cara pembuangan sederhana di mana sampah hanya dibuang pada suatu lokasi. tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang. 2. Open Dumping atau pembuangan terbuka. 2. 4. cara ini dilakukan dengan cara membakar sampah. Sanitary Landfill: metode ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan kemudian ditutup dengan tanah. dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh. Pengolahan TPA Sampah Menurut Ryadi (1986). Menurut Madelan (1997). setiap orang atau rumah tangga membakar sendiri sampahnya. Inceneration. Pekerjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi. terdapat enam aktifitas yang terorganisir di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah upaya yang sering dilakukan dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi operasional. 5. 3. 6. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. cara pembuangan akhir sampah merupakan salah satu aspek strategis dalam sistem pengolahan sampah. Beberapa metode pengolahan sampah dalam penerapannya adalah sebagai berikut. yang dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. sampah (waste) diartikan sebagai suatu yang tidak digunakan. Controlled Landfill: Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk menghindari potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. tidak dipakai. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut. B.Menurut American Public Health Association. 1.

tersedia tanah penutup yang cukup. 2. yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak-tidaknya penempatan TPA. Kondisi hidrogeologi. 9. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %. 4. Memiliki zona penyangga yang cukup. kertas. sehingga TPA ikut semakin meluas. berdasarkan pedoman penyusunan tata ruang wilayah dan kota Tahun 1997. 8. Tidak pada daerah lindung dan daerah banjir periodik ( 25 thn). plastik. namun karena sampah yang dihasilkan terus bertambah. tersedia lebih lengkap. 4. 1. 7.000 mtr. Kepadatan penduduk rendah. D. 5. Pemilihan Lokasi TPA Sampah Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 125/KPTS/1991 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah. Kriteria Regional. yaitu tidak berlokasi pada daerah besar yang aktif dan bukan pada zona bahaya geologi. Sejalan dengan itu. 3. kaca/botol dan lain-lain. Lingkungan biologis meliputi: daya dukung kurang menunjang flora dan fauna. 6. 6. tangkapan air. Jarak dari bandara harus lebih besar dari 3. 1. Hog Feeding: cara pengolahan dengan sengaja mengumpulkan jenis sampah basah (gerbage) untuk digunakan sebagai makanan ternak.7. Iklim yang meliputi: intensitas hujan kecil. dijelaskan kriteria pemilihan lokasi TPA sebagai berikut. Wardhana (1995) menjelaskan bahwa walaupun sudah disediakan TPA. Utilitas. Masih dalam wilayah administrasi Kabupaten berangkutan. 1. sbb. yaitu tidak memiliki muka air tanah kurang dari 3 meter. kapasitas besar. 5. Di luar kawasan lindung (cagar alam. arah angin dominan tidak menuju kepermukiman. Kondisi geologi. Oleh karena itu. Sejalan dengan itu. status tanah tidak bervariasi. faktor pertimbangan penentuan lokasi TPA sebagai berikut. Kriteria penyisih yaitu kriteria untuk memilih lokasi terbaik yaitu dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut. seperti kaleng. untuk bau dan kebisingan. habitat kurang bervariasi. tidak boleh kandungan tanah lebih 10-6 cm/det. 1. 1. jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter dari hilir aliran. . Estetika lingkungan (tidak terlihat dari keramaian dan jalan umum). Biaya pengelolaan dan pengolahan yang murah. perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah limbah padat (sampah) sampai ke TPA dengan memanfaatkan kembali limbah padat tersebut melalui daur ulang dan sistem pengomposan. Kondisi tanah meliputi: produktifitas tanah rendah. 8. 3. Recycling: cara ini memanfaatkan dan mengolah kembali sebagian sampah. hutan lindung). 2.

tidak berasa. (iv) timbulnya endapan. dapat dilihat tabel berikut. (iii) adanya perubahan warna. tetapi didasarkan pada keadaan normalnya.2. Apabila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 20×102 Bakteri E. suhu di bawah suhu udara di luarnya.E. Syarat kimia air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah tertrentu pula. Lebih jelasnya baku mutu air. syarat-syarat air yang sehat sebagai berikut. 3. 1. tetapi memiliki akses pencapaian yang baik. bahan tersuspensi. Berorientasi pada pemanfaatan jangka panjang. 2. Sejalan dengan itu. 4. (ii) perubahan pH. Mempertimbangkan kecenderungan perkembangan kota. Tanda-tanda atau indikator air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan yang dapat diamati melalui. air yang bersih tidak hanya ditetapkan pada kemurniannya saja. 6. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Domestik (KepGub. :14 Thn 2003) Paramater Satuan pH BOD5 COD TSS B. Coli Kadar Maksiman* A B C 6-9 6-9 6-9 25 40 75 80 100 125 20 35 50 mg/l mg/l mg/l MPN/ 2500 5000 100 ml Keterangan: . Tidak harus dibatasi oleh wilayah administrasi. Di luar aktifitas perkotaan. 7. koloidal. E. Tabel 1. 5. maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan. (vi) meningkatnya BOD5 air lingkungan. Syarat bakteriologis air minum harus bebas dari segala bakteri terutama bakteri patogen. Berlokasi pada lahan-lahan non produktif. 1. Coli. menurut Notoadmodjo (1997). (i) perubahan suhu air. 3. (v) adanya mikroorganisme. Jadi air tercemar apabila air tersebut telah menyimpang dari keadaan normalnya. Syarat fisik air minum adalah bening (tidak berwarna). Jauh dari sumber air bersih dan daerah rawan bencana. Pencemaran Air Lingkungan Menurut Wardana (1995). Sulsel No. bau. dan rasa.

1. air sumur dangkal dan air Sungai Mila dengan jumlah sampel sebanyak 24 titik. Pengambilan sampel didasarkan pada kondisi topografi (arah pergerakan lindi) dan jarak. METODE PENELITIAN A. pada sumur-sumur di sekitar lokasi TPA (8 sampel) dan di sungai Mila (2 sampel). perniagaan dan apartemen dengan ukuran 5.000-50.Perkantoran. perniagaan dan apartemen ukuran > 50.Restourant [rumah makan] ukuran 1. pada daerah rembesan air lindi di lokasi TPA (2 sampel).* = Kecuali pH Kategori A : .000 m2.300 m2 .Kaw. pada rembesan air lindi/air genangan sekitar lokasi TPA (12 sampel).000 m2. permukiman (real estat) ukuran 16-200 Ha.000-10. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data disesuaikan dengan data yang akan diambil.300 m2 . . Pengukuran.400-2. Metode penarikan sampel ini dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling). melakukan pengukuran terhadap indikator kualitas air yang meliputi BOD5 dan Bakteri E. Kategori B . perniagaan dan apartemen ukuran 10. Coli. Kategori C .Perkantoran.Restourant [rumah makan] ukuran > 2. B. 1.000 m2. meliputi.400 m2 .Perkantoran.Kawasan permukiman (real estat) ukuran > 200 Ha . III. Populasi dan Sampel Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah air lingkungan yang terdapat di sekitar lokasi TPA yang terdiri atas rembesan air lindi (air genangan).Restourant [rmh makan] ukuran 500-1. .

1. 4. Penggunaan Lahan sekitar TPA 2. Perkembangan Fisik Ruang Kota Enrekang 3.2. sbb. C. Untuk menjawab rumusan masalah pertama. (i) Teknik wawancara non struktur. Variabel Penelitian Dari uraian rumusan masalah dan tujuan penelitian. yaitu wawancara kepada kelompok masyarakat tentang TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Kondisi Hidrologi 3. ditentukan variabel sbb. meliputi. yaitu melakukan wawancara kepada Aparat Pemda Enrekang berkaitan dengan lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Observasi. 1. Wawancara. Teknik ini digunakan untuk mendiskripsikan secara terperinci karakteristik fisik di sekitar TPA. 3. D. Bapedalda. dengan melakukan sketsa dan pemetaan tematik lokasi. Pencapaian (Aksesibilitas) 3. Dokumentasi. Untuk menjawab rumusan masalah ketiga. maka dapat dirumuskan variabel penelitian sebagai berikut. Coli. Merupakan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait seperti BPS. BOD5 dan Bakteri E. Kondisi Geologi 2. ditentukan variabel –variabelnya. Pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap kondisi fisik alamiah TPA sampah dan guna lahan daerah sekitarnya. serta penelitian terdahulu yang relevan. 1. Metode Analisis . ditentukan variabel. Untuk menjawab rumusan masalah kedua. dan (ii) Focus Group Discussion. BPN. Bappeda. Kondisi Topografi 2.

dianalisis dengan menggunakan analisis statistik diskriptif. 1. 1. 1. Tingkat . dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. sehingga harus mempertimbangkan alternatif lahan-lahan kosong pada daerah sekitarnya yang potensi untuk kegiatan perkotaan. sbb. Rumusan masalah butir (a) dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. Kecenderungan Perkemb. 2. Rumusan masalah butir (c). Sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Enrekang belum menunjukan hasil yang optimal baik ditinjau dari aspek pewadahan/ pengumpulan maupun dari aspek pengangkutan ke TPA. Hal ini dapat dilihat dari beberapa permukiman masyarakat yang telah merambah sampai ke kawasan lindung yang terdapat di arah timur dan utara kota ini. Pengembangan ruang fisik secara ekstensif di Kota Enrekang tidak memungkinkan lagi. Fisik Kota IV. 1. sedangkan fungsi penunjang adalah permukiman dan fasilitas pendukung lainnya. Perkembangan fisik kota saat ini menunjukan fenomena penggunaan ruang yang tidak mempertimbangkan pelestarian lingkungan. telah mengarahkan penggunaan ruang Kabupaten Enrekang sedemikian rupa sebagai pengejawantahan dari visi Kabupaten Enrekang. Rumusan masalah butir (b). Secara alamiah kecenderungan perkembangan fisik kota saat ini adalah mengikuti jalur jalan poros ke selatan Kota Enrekang dan sebagian kecil berkembang ke arah timur. Sementara itu. Kebijakan Penataan Ruang Kota Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2001-2010 sebagai salah satu instrumen yang berkekuatan hukum dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Enrekang. lokasi TPA yang ada saat ini juga terdapat di Kecamatan Maiwa. HASIL DAN PEMBAHASAN A.Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Jarak Kota Enrekang ke lokasi TPA yang relatif jauh yaitu sekitar 23 km serta sistem pewadahan/pengumpulan yang masih didominasi oleh metoda individual merupakan kendala yang dalam rangka teknik operasional pengelolaan sampah di Kabupaten Enrekang. 3. menjadi kendala dalam pengembangan ruang Kabupaten Enrekang termasuk pengelolaan persampahan. Pola permukiman yang terpencar serta kondisi geografi relatif bergelombang/pegunungan. Aksesibilitas Secara umum sistem transportasi darat di Kabupaten Enrekang sangat dipengaruhi pola persebaran permukiman dan kondisi geografis wilayahnya. Tinjauan Lokasi TPA terhadap Tata Ruang Kota Arah perkembangan Kota Enrekang dihambat oleh keadaan alam berupa gunung yang ada di sekelilingnya. Salah satu arahan pengembangan fisik Kota Enrekang menurut RTRW tersebut adalah wilayah Kecamatan Maiwa. dimana arahan fungsi pengikat wilayah Kecamatan Maiwa tersebut adalah industri dan perkebunan.

Persepsi Masyarakat responden Jumlah % 1 Reatif Jauh dari Kota 45 75. sehingga jumlah rata rata pengangkutan setiap hari sebanyak empat kali kendaraan atau sebanyak 24 m3. Lokasi TPA sampah relatif jauh dari Kota Enrekang.0 Enrekang Tidak setuju karena 41 63. sbb.77 m3/hari. 1. Jumlah armada angkutan sampah yang dioperasikan tiap hari sebanyak 2 unit dengan kapasitas 6 m3/unit. Sehingga tiap kendaraan masing-masing hanya bisa mengangkut sampah 2 kali / hari. dengan pertimbangan.3 ekses rendah 2 Mencemari 57 95. Menciptakan pembiayaan operasional yang tinggi.0 kawasan permukiman dan Bumi Perkemahan . dipertimbangkan alternatif lokasi baru TPA Kota Enrekang yang mudah dijangkau. Aspirasi Masyarakat Hasil wawancara dengan 60 responden di Kota Enrekang yang terdiri masyarakat sekitar TPA (15 responden) dan masyarakat Kota Enrekang (40 responden) serta Pemda Kabupaten Enrekang dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang (5 responden). Oleh karena itu. sementara volume produksi sampah tiap hari di Kota Enrekang adalah kurang lebih 34. secara umum menjawab pertanyaan bahwa tidak sepakat penempatan lokasi TPA di Desa batu Mila. Bergabung dengan kawasan permukiman dan lokasi bumi perkemahan pramuka. Tabel 2 Matriks Hasil Wawancara dengan Masyarakat Kabupaten Enrekang Jawaban No. Mencemari lingkungan sekitarnya terutama Sungai Bila dan permukiman sekitarnya. Matriks hasil wawancara dengan masyarakat di Kota Enrekang.pencapaian armada angkutan sampah ke TPA ditempuh selama 6 jam tiap kali pengangkutan.0 Lingkungan Sekitarnya 3 Berdekatan dengan 39 65. Tingkat pencapaian yang relatif sulit ke lokasi TPA. namun tetap mempertimbangkan aspek lingkungan hidup.

50 242. Karakteristik Sampel Air di Kawasan TPA Kabupaten Enrekang Jarak No. maka diketahui kondisi air lingkungan di TPA sampah Kabupaten Enrekang dan sekitarnya.80 112. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kode S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 (m) 0 0 5 10 22 24 30 55 67 60 80 94 88 (mg/l) 327. (i) Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD5) dan (ii) Kandungan Bakteri E. sebagai berikut. Lebih jelasnya titik-titik pengambilan sampel.3 B. Tabel 3.50 52. dapat diuraikan kondisi dan kualitas air di TPA sampah dan sekitarnya. geologi dan jarak. sebagaimana pada tabel berikut.20 137. dapat dilihat pada gambar berikut. Dalam penilaian kualitas air di kawasan TPA sampah dan sekitarnya di Kabupaten Enrekang ini.20 98. diambil 24 sampel pada titik-titik sampel yang dianggap sebagai tempat-tempat rembesan air lindi dengan pertimbangan kondisi topografi.30 96. Tinjauan TPA Terhadap Kualitas Air Lingkungan Untuk menilai air yang bersih.00 96. Coli. Dalam pengamatan tersebut.20 47.00 48.30 112. Keadaan normal tersebut tergantung dari kegunaan & asal sumber air.60 323. beberapa indikator air lingkungan yang diamati perubahan-perubahannya meliputi. tetapi juga didasarkan pada keadaan normalnya. Berdasarkan tabel tersebut.4 Pramuka Menciptakan Biaya Operasional Yg Tinggi 32 53. Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan normal berarti air tersebut telah mengalami pencemaran. Berdasarkan hasil pengujian sampel air pada 24 titik sampel yang dilakukan di Laburatorium Kimia Fakultas Teknik Universitas ―45‖ Makassar. tidak hanya ditetapkan pada kemurnian saja.00 (MPN/100 ml 77 X 102 78 X 102 62 X 102 59 X 102 59 X 102 61 X 102 57 X 102 51 X 102 46 X 102 47 X 102 42 X 102 42 X 102 27 X 102 BOD5 Bakteri E-Coli .70 110.

Pengambil sampel tersebut dilakukan dalam lokasi TPA sampah.80 mg/l) sampai pada S24 (kandungan BOD5 = 18.30 mg/l pada S9.80 19. Selanjutnya pada S10 kembali terjadi kenaikan BOD5 dari 52.50 mg/l pada S8 turun menjadi 52. ―45‖ Makassar 1. tetapi masih dalam kategori cukup tinggi yaitu di atas 100 Mg/L.50 18. Diagram hubungan kandungan BOD5 terhadap jarak diperlihatkan pada gambar berikut. Penurunan kandungan BOD5 yang cukup drastis pada sampel S9 disebabkan oleh kondisi lahan pada daerah tersebut merupakan lokasi pembuatan batu cipping yang telah dilengkapi saluran drainase di sekelilingnya serta sudah mengalami pemadatan yang maksimal. sampel S11 sampai pada sampel terakhir 24 (S24) terus mengalami penurunan. Grs. 1. pada sampel S3 sampai dengan S7 cenderung menurun. bahkan pada sampel S9 terjadi penurunan yang cukup signifikan yaitu dari 98.80 38.00 mg/l pada S 10.30 mg/l pada S9 menjadi 96.10 27. Selanjut dari titik sampel S8 sampai dengan S13 kandungan BOD5 masih pada ambang batas yang tidak diperbolehkan.30 19. sehingga sulit terjadi perembesan air lindih pada lokasi tersebut. Kemudian dari sampel 10.10 20. tetapi menunjukan penurunan yang relatif linier.60 mg/l dan 323. Penurunan kandungan BOD5 sampai mencapai titik di bawah ambang batas terjadi pada sampel S14 (kandungan BOD5 =38.50 33.50 mg/l. Sementara itu.90 21 X 102 77 X 102 81 X 102 82 X 102 81 X 102 95 X 102 41 X 102 96 X 102 75 X 102 99 X 102 97 X 102 Keterangan: Hasil Analisis Laboratorium Fakultas Teknik Univ. ambang batas diperbolehkan . Penilaian BOD5 Hasil pengujian kandungan BOD5 dalam air pada lokasi TPA sampah dan sekitarnya pada jarak antara 0-150 m menunjukkan bahwa kandungan BOD5 pada titik pengambilan sampel S1dan S13 menunjukan kandungan BOD5 berada di atas ambang batas.80 38.40 19. Kandungan BOD5 yang relatif cukup tinggi terutama terjadi pada sampel S1 dan S2 yaitu masing-masing 327.10 36.90 mg/l).14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 S23 S24 86 90 105 120 125 100 200 200 165 126 150 38.

Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi serta Baku Mutu Tingkat Gangguan Kegiatan yang Beroperasi di Propinsi Sulawesi Selatan. Pola sebaran Bakteri E. pada sampel S15 (jarak 90 meter) – S24 (jarak 150 m) terjadi peningkatan kandungan Bakteri E. Pada titik sampel antara S1 (dalam lokasi TPA) – S18 (jarak 86 meter ke arah utara) kandungan Bakteri E. misalnya tidak adanya drainase dan kolam oksidasi yang memadai pada kawasan tersebut. Coli. sehingga terbentuk genangan-genangan air lindih dan selanjutnya meresap ke dalam tanah.Gambar 2. Coli dalam air. Penilaian Bakteri E-Coli Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 14 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan. Coli tersebut di atas. Coli bersumber dari TPA sampah tersebut. kondisi topografi dan geologi lokasi penelitian turut berpengaruh terhadap sebaran Bakteri E. menunjukan bahwa lokasi TPA berpengaruh terhadap kandungan bakteri E. kandungan Bakteri E. Coli cenderung berfluktuasi. Peningkatan terutama terjadi pada sampel air di daerah permukiman khususnya pada sumur-sumur penduduk. Gambar diagram tersebut di atas menunjukkan sebaran pencemaran air yang cenderung linier pada kawasan TPA kecuali pada titik sampel 9 (S9) mengalami penurunan kandungan BOD5 yang relatif drastik. sehingga pemadatan tanah oleh jalan menyulitkan perembesan ke titik sampel tersebut. 2. Penetapan Baku Mutu Limbah Cair. Semakin jauh air dari lokasi TPA semakin kecil kandungan Bakteri E. Coli dalam air di lokasi tersebut. Diantara sampel tersebut. Coli relatif menurun secara linier. Berdasarkan pola sebaran BOD5 dalam air di sekitar TPA. Diagram Hubungan kandungan BOD5 air terhadap jarak. Coli di atas ambang batas terjadi pada sampel S1 sampai dengan sampel S8. 1. dalam penelitian ini akan digunakan parameter kualitas air kategori A yaitu parameter kualitas air pada kawasan permukiman dengan ukuran 16-200 Ha dengan kadar maksimal BOD5 adalah 50×102 mg/l. Coli dalam air tersebut. Hasil pengujian kandungan Bakteri E. Selain dari pengaruh jarak terhadap kandungan Bakteri E. Coli pada lokasi TPA pada jarak 0-150 m menunjukan pola sebaran relatif berfluktuasi. sedangkan sampel S9 sampai dengan sampel S14 kandungan Bakteri E. Demikian pula kondisi topografi yang relatif bergelombang menjadikan pola sebaran Bakteri E. Udara. menunjukan bahwa kondisi topografi dan jarak turut mempengaruhi sebaran pencemaran air di sekitar lokasi TPA. Sedangkan penurunan secara drastis terjadi pada sampel S20 disebabkan karena lokasi pengambilan sampel yang dilakukan di seberang jalan (jalan tersebut membatasi titik sampel dengan perumahan dan TPA). Jenis batuan konglomerat yang terdapat pada lokasi penelitian memiliki porositas yang tinggi dalam menyebarkan cairan lindi yang mengandung Bakteri E. Coli yang cukup signifikan kecuali pada sampel S20 terjadi penurunan di bawah ambang batas. Namun demikian. pengendalian Pencemaran Air. Coli Berada di bawah ambang batas. . Tingginya kandungan BOD5 di sekitar lokasi TPA tersebut merupakan konsekwensi dari belum adanya pengolahan sampah yang baik di TPA tersebut.

Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA . diketahui karakteristik fisik lokasi TPA sampah Kabupaten Enrekang. 3. memudahkan rembesan lindih ke arah barat kawasan permukiman. 2.Sementara itu. disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang bermukiman di sekitar TPA tersebut seperti kondisi saluran air kotor rumah tangga dan jamban keluarga yang belum di desain dengan baik sehingga dengan mudah terjadi rembesan ke sumur-sumur penduduk dan air lingkungan di kawasan tersebut. Kesimpulan 1. B. Diagram hub. Agar Masyarakat dan Pemda Kabupaten Enrekang memulai program pengomposan sampah organik dalam mendukung dan menciptakan program Sistem Pertanian Organik (Organic Farming) baik dalam skala individual maupun dalam skala Komunal (kelompok). 5. Grs. Kondisi topografi pada lokasi TPA relatif bervariasi membentuk kemiringan yang relatif terjal ke arah barat sampai ke Sungai Mila. Coli dalam air terhadap jarak. Coli yang cenderungan meningkat pada sampel S15 sampai S24 (kecuali sampel S20). sebagai berikut. Berdasarkan hasil penelitian. menunjukan bahwa TPA sampah Kabupaten Enrekang telah mencemari air lingkungan di sekitarnya dampai radius 150 meter 4. 6. Berdasarkan indikator BOD dan Bakteri E. Diagram sebaran Bakteri E. mempercepat rembesan air lindih sampai kawasan permukiman sekitar Sungai Bila. V. tetapi terdistribusi berdasarkan kondisi geografis dan tipologi kota di Kabupaten Enrekang . Sebaiknya lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang tidak terpusat pada satu kawasan saja. PENUTUP A. Berdasarkan hasil penelitian. Coli. Struktur geologi TPA sampah Kabupaten Enrekang merupakan batuan konglomerat searah dengan kemiringan lahan. ambang batas diperbolehkan Gambar 3. Agar dilakukan studi lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. 2. kandungan Bakteri E. lokasi TPA sampah yang ada di Batu Mila tidak sesuai ditinjau dari aspek penataan ruang. Coli diperlihatkan pada gambar berikut. 1. kandungan Bakteri E.

Azikin. Budihardjo. Bandung. Direktorat Penyehatan Lingkungan Permukiman. Notoatmodjo. London and Tokyo. 1988. A Warld Health Organitation Expert Committee. J. Kamus Lingkungan. Instalasi Penerbitan PAM-SKL. Kogakhusa Company. Mutiara Sumber Widya. 1989. Lahee. Proc.Anonim. Semarang. 1986. Satya Wacana. E. Djambatan. Azwar. Sixth Edition. Jakarta. 1997. New York. 1990. Nashville. Mustofa. Bandung. (1989). Solo. Bappeda Kabupaten Enrekang. 1989. Enviromental Sanitary.L. Tarsito Edisi ke-6. W. Ltd.R. Alswar. Tenn. Pedoman Teknis Pengelolaan Persampahan. Bandung. 1984. S. Rineka Cipta.P. Departemen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. 1992. Alumni. 2000. 1999. Vanderbilt University Press. 2001. . Ekologi Lingkungan Pencemaran. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Metode Statistika. Poll. Arifin F. Madelan. Karya Anda. Toronto. Pemetaan Geomorfologi Sistematis Untuk Studi Geologi. S. A. Hidartan dan Handayana. Bandung. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Sym Therm. 1994. O. Jakarta. Tinjauan Geohidrologi Sebagai Salah Satu Pertimbangan Dalam Pemilihan Lokasi TPA Sampah (Studi Kasus TPA Sampah Tamangapa Makassar). Ruslan H. Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. Bandung. Sistem Pengelolaan Sampah. Nat. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang. Kota Berkelanjutan. Damanhuri E. Pengantar Ilmu Gunungapi. Makassar. Penelitian Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah dan Pengelolaan Sampah Tepat Guna. Proceding Volume II.H. F. Bandung. Bandung. Slamet R. Nova.H. Ryadi. 1980. Prorgam Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Soemarwoto. 1990. Rineka Cipta. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Pencemaran Air. Field Geology.A. Dasar-Dasar Geologi Struktur. McGraw-Hill Book Company Inc. Surabaya. 1997. Jakarta. Pertemuan Ilmiah Tahunan XXIII Ikatan Ahli Geologi Indonesia. (1988). Ujungpandang. Sudjana. Tesis tidak diterbitkan.. 1997.

Vehoef. Gadjah Mada University Press. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta.Sulawesi II Urban Development Project Pekerjaan Umum. 2000. Bandung.S. Comments: Be the first to comment STUDI ARAHAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN Posted December 24. Studi Pengelolaan Sampah di Kabupaten Enrekang Ditinjau Dari Aspek Pewadahan dan Pengangkutan. Jakarta. Disisi lain dengan terbukanya lahan disekitar bantara sungai akan menyebabkan mudahnya terjadi penurunan (degradasi tanah) dan semakin tingginya tingkat erosi yang dapat ditimbulkan. Erlangga. Tanah. 1999/2000. Yuliana. Unaradjan. Perubahan status sosial ekonomi masyarakat dan kekurangmampuan sebagian warga diduga dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan intensitas untuk bermukim disekitar bantara sungai dengan harapan dapat membuka lahan perkebunan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Kerusakan sungai umumnya disebabkan oleh hilangnya hutan di daerah hulu sebagai akibat dari penebangan pohon yang tidak diikuti oleh peremajaan kembali. A. 1995. Tri C. Untuk menjaga DAS Lawo. Departemen Pekerjaan Umum. Andi Offset. Departemen Pekerjaan Umum.2001. PT. .. peladangan yang berlokasi di daerah pinggiran sungai serta terjadinya sedimentasi yang diakibatkan oleh erosi berkepanjangan tanpa adanya pengendalian dan dapat berakibat terjadinya luapan banjir yang pada akhirnya menggenangi daerah perumahan dan permukiman penduduk. Grasindo. Penelitian Secara Cepat Pencemaran Air. Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. dan Udara. Geologi Untuk Teknik Sipil. Yayasan LPMB. Yogyakarta.W. Wardhana W. Jakarta. Prosedur Pengoperasian Standar TPA Sampah. 1989. Dampak Pencemaran Lingkungan. Pengantar Metode Penelitian Ilmu Sosial. Ujungpadang. P. Permasalahan utama yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sungai sebagai akibat adanya permukiman di sekitar bantaran sungai tanpa memperdulikan aturan sempadan sungai. Makassar.N. Jurusan Planologi Universitas 45. 1991. 1998. maka diperlukan arahan pengelolaan dan pemanfaatannya. U.

kelestarian fungsi sungai dan yang terpenting adalah tuntutan hidup masyarakat dapat berjalan sesuai dengan koridor untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Pendahuluan Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang dibatasi oleh pemisahan topografi yang menampung. A. Daerah hulu yang merupakan pengatur lingkungan (condition environment). B. dengan luas kawasan DAS ± 17. Kondisi demikian diperparah oleh adanya penambangan Galian C didaerah aliran sungai bahkan dibadan sungai. sepeti: perambahan hutan lindung. kerusakan ekosistem sungai. Proses Pengendalian DAS Lawo bertujuan untuk mewujudkan rasa aman dikalangan masyarakat yang hidup di daerah sekitar aliran sungai dan melestarikan ekosistem. terutama pada bagian hulu. Disamping untuk mendapatkan hasil ekonomis yang optimal dari hasil kegiatan budidaya tanpa merusak ekosistem lingkungan DAS Lawo. yang merupakan salah satu sektor andalan kabupaten soppeng. 1. Dengan demikian pengendalian daerah aliran sungai pada prinsipnya ditujukan untuk meminimalkan ancaman banjir. perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi kebun campuran. Kondisi ini kalau di biarkan terus berlangsun akan berdampak terhadap menurunnya produksi terutama sektor pertanian. yang berakibat terhadap tingginya aliran permukaan (run-off). Ganra dan Kecamatan Lilirilau. menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya kedalam suatu sistem pengaliran sungai atau tempat tertentu sesuai dengan kepentingan.1. Donri-Donri. Salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Soppeng adalah Sungai Lawo yang melintasi di empat Kecamatan yaitu Kecamatan Lalabata. dari kebun menjadi lahan pemukiman. Untuk meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan di DAS Lawo. dimana sebagian besar mengalir di permukaan yang menuju kesungai sebagai badan air. jauh dari bahaya yang dapat diakibatkan oleh luapan air sungai yang sewaktu-waktu dapat terjadi. air hujan yang jatuh hanya sebagian kecil yang meresap kedalam tanah. maka perlu di lakukan suatu kajian guna menyusun rencana pengelolaan kaitannya dengan alokasi berbagai kegiatan budidaya dan non budidaya yang dapat di lakukan dalam a DAS Lawo.104. telah terjadi kerusakan lingkungan. Dampak air yang ditimbulkan adalah rendahnya debit air yang masuk di daerah irigasi pada musim kemarau. sehingga membuat ekosistem sungai rusak. dengan tujuan kondisi debit air pada musim kemarau dan musim penghujan tidak terlalu jauh berbedah dan pada saat musim hujan DAS tersebut tidak menimbulkan banjir yang dapat merugikan. flora dan fauna serta jenis-jenis biota yang hidup didalam sungai. Tujuan dan Sasaran Penelitian . yang mengakibatkan berkurangnya luas lahan budidaya dari tahun ketahun.45 Ha. Salah satu usaha pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kaitannya dengan pengendlian aliran sungai adalah untuk memenuhi keselamatan penduduk dari bahaya ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Kondisi demikian disebabkan oleh rusaknya system tata lingkungan pada daerah aliran sungai.

yaitu sumberdaya tanah dan sumberdaya air. dan (4) meningkatkan perilaku masyarakat ke arah kegiatan konservasi. Sasaran Pekerjaan Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan studi arahan pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut : (1) meningkatkan stabilitas tata air. DAS juga merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat. (3) meningkatkan pendapatan petani. Pengelolaan DAS. Tujuan Tujuan pelaksanaan penelitian pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut: Untuk menentukan konsep pengelolaan DAS Lawo.. Sumberdaya yang menjadi unsur suatu DAS ialah iklim. akan tetapi secara keseluruhan air tidak akan habis selama faktorfaktor pembentuknya tetap ada dan tetap berfungsi. menyalurkan air tersebut dari suatu aliran ke seperangkat aliran tertentu dari hulu ke hilir dan berakhir di suatu tubuh/badan air bumi seperti danau atau laut. vegetasi. tetapi sebagai suatu ―dynamic resources‖. iklim. manusia. tanah.1. (2) meningkatkan stabilitas tanah. sedemikian rupa sehingga DAS dapat dikatakan merupakan suatu sumberdaya yang bergatra ganda dan terdiri atas berbagai macam sumberdaya tunggal. dilihat dari kemampuannya untuk memugar diri (self restoring capability). Pengelolaan DAS biasanya ditujukan kepada pengelolaan dua unsurnya yang dianggap penting. air. DAS dapat dibagi menjadi dua satuan pengelolaan yakni satuan pengelolaan DAS hulu mencakup seluruh daerah tadahan atau . Pada dasarnya DAS merupakan suatu wilayah yang menampung air. Air adalah salah satu sumberdaya alam yang memiliki sifat yang unik. Air dapat disebut sebagai sumberdaya yang mengalir (flowing resources). C. Unsur-unsur lain seperti. Ditinjau secara setempat air dapat menyusut atau habis. 3. 1. flora dan fauna. Tinjauan Teoritis. dan berbagai sumberdaya budaya. kelakuan dan kegunaan masing-masing. Karakteristik DAS. Tiap sumberdaya pembentuk DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai suatu ―static resources‖. sehingga terjadi kesimbangan antara daerah budidaya dan non-budidaya dan untuk mempertahankan dan memperbaiki lingkungan sistem hidrologis Sungai Lawo. geologi atau sumberdaya mineral. 1. 1. 2. dan manusia diperlakukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan.

a) b) Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha pengendalian banjir. Seperti telah diuraikan sebelumnya. Tabel: 1. Keadaan Sistem Hidrologi DAS Komponen Banyaknya Komponen Input Output Transfer ke Komponen (1) Transfer dari komponen (2) (3) (1) (2) X1 X2 a1 a2 Z1 Z2 (1) (2) . dan satuan pengelolaan DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. model matematik yang mewakili suatu sistem selalu meliliki unsur-unsur sebagai berikut (Mize and Cox. Dengan kata lain. jumlah air didalam tiap komponen input. pengelolaan daerah hilir bertujuan meningkatkan daerah tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu.daerah kepala sungai. Pada prinsipnya DAS hulu perlu dikelola dengan penekanan utama sebagai fungsi konservasi. d) Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimumkan produksi Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS karena hal itu akan menentukan manfaat-manfaat besar yang dapat diperoleh atau peluang yang terbuka dalam pengelolaan DAS hilir. dan laju transfer dapat dapat digambarkan dalam tabel 1. atau lingkungan pengendali (conditioning environment) dan daerah hilir sebagai daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumen. c) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. 1968): Berdasarkan hal tersebut diatas. Memperlancar infiltrasi air ke dalam tanah. Pengolahan DAS hulu ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut. Menurut pandangan ekologis.F12 F21 0 F32 (3) X3 a3 Z3 (3) 0 F23 - . output. Pengelolaan DAS hilir dengan demikian mempunyai peranan melipatgandakan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Perlakuan terhadap daerah hilir akan menentukan seberapa besar manfaat yang secara potensial dapat diperoleh dari pengelolaan daerah hulu akan benar-benar terwujud. maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang.

meningkatkan aliran dasar (base flow). c) Tutupan kanopi pepohonan yang rapat dapat mengurangi debit banjir dengan periode ulang pendek. a) Tata guna lahan memberikan dampak terhadap curah hujan. b) Peredaran Air. d) Pengolahan yang tidak tepat dapat meningkatkan erosi dan pengendapan sedimen. 1. 4. 3. Pohon-pohon yang tinggi pada lapisan teratas akan mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah. Lapisan-lapisan tajuk ini terbentuk sebagai akibat dari persaingan dimana pada akhirnya jenis-jenis tertentu akan lebih dominan dari pada jenis yang lain. akibatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir menjadi berlipat ganda dan umur reservoir menjadi lebih pendek. Hal ini berarti bahwa untuk curah hujan yang kecil. Air hujan yang ditahan oleh tumbuhan selain diuapkan kembali dari permukaan tanah. Sebaliknya apabila jumlah dan . Tata Guna lahan dan Perilaku DAS. Lahan yang penuh ditutupi kanopi pepohonan akan dapat meningkatkan curah hujan sekitar 5 – 6 %. Lahan yang tertutup dengan pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin dipermukaan tanah. a) Hutan dan Pengaruhnya bagi Air. Tata guna lahan memiliki keterkaitan dengan sumberdaya air DAS dalam beberapa aspek sebagai berikut. Upaya penghijauan dan konservasi lahan lebih efektif untuk pengurangan sidementasi dan debit air/banjir. dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. persentase yang diintersepsi akan besar. juga dalam jumlah yang kecil mungkin di absorbsi melalui daun ke dalam jaringan tanaman (Jeffrey. serta meningkatkan pengisian air tanah. Ekosistem Hutan Alam Struktur hutan yang masih utuh terdiri dari pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi sampai kepada pohon-pohon Perdu dan tumbuhan yang merambat yang semuanya tersusun dalam lapisan tujuk yang rapat. Hutan yang masih utuh terdiri dari strata-strata atau lapisan-lapisan tajuk. 1. sehingga tanah menjadi lebih lembab. e) Tata guna lahan juga memberikan dampak terhadap kualitas air.1. Apabila jumlah dan intensitas curah hujan rendah. maka sebagian besar dari air hujan akan ditahan oleh tajuk dan langsung diluapkan kembali ke udara. Intersepsi. 1964). Intersepsi merupakan suatu proses dimana sebagian dari curah hujan tertahan leh tajuk pohon dan sebagian besar diuapkan kembali ke udara. b) Tata guna lahan berdampak besar terhadap kelembaban tanah.

Dengan demikian kecepatan dan besarnya butir-butir hujan yang mencapai tanah sudah sedemikian kecil sehingga tidak lagi merupakan bahaya bagi kerusakan tanah.000 . ternyata dapat mengintersepsi lebih dari 68% curah hujan yang tidak lebat. mulai dari lapisan pohon-pohon yang dominan sampai pada lapisan semak belukar dan serasah.29 2. Hubungan ketinggian dan evapotranspirasi telah diukur seperti tabel di bawah ini : Tabel 2. Perakaran yang dalam dari jenis-jenis pohon menyebabkan evapotranpirasi lebih besar dibandingkan dengan jenis-jenis herbal yang mempunyai perakaran dangkal. kecepatan angin.85 2. 1. Pengukuran stemflow pada suatu hutan selalu hijau yang rapat di Balnco (Huttel. kelembaban.79 3.85 mm/hr Evapotransp 1. struktur tegakan (stratifikasi). Dikemukakan selanjutnya bahwa terdapat korelasi antara evatranspirasi total dengan kedalaman akar. Sebelum mencapai permukaan tanah. Penguapan (Evapotranspiration) Penguapan merupakan proses perubahan face cair menjadi uap. air ini telah melalui suatu struktur lapisan tanah yang rapat.90 6. tekanan udara di atmosfir dan jumlah air yang tersedia untuk diuapkan.36 3.80 500 1. Aliran batang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terpenting adalah architektur pohon. Laju penguapan sangat dipengaruhi oleh radiasi. Evapotranspirasi pada berbagai ketingggian Ketinggian 0 (m. Air Lolos (Throughfall) Air lolos adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui lapisan tajuk. Hal ini sangat penting diperhatikan dalam menentukan luas hutan lindung didaerah-daerah dengan ketinggian yang tinggi. 1.10 7. dpl) Evapotransp.16 1.000 2. Dalam penelitian Malchanov (1963) pada tegakan spurce (Picea sp) yang lebat daunnya. tanah tanaman untuk kemudian terlepas ke atas atmosfir sebagai uap air.500 2.500 3. kulit batang dan letak serta posisi daun.40 9.000 1. 1962) pada petak seluas 300 meter persegi dengan 16 pohon yang masing-masing dipasangi saluran plastik berbentuk spiral pada dasar batang menunjukkaan bahwa aliran batang kurang dari 1% air lolos (UNESCO.590 1. 4. 1.49 2. 1978).380 1.intensitas curah hujan besar maka persentase yang diintersepsi akan menjadi kecil. suhu. Aliran Batang (Stemflow) Aliran batang adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui batang pohon.200 10. Proses ini berlangsung pada berbagai permukaan air.

D. mediterian coklat. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0% hingga lereng > 45%. 1. Geologi dan Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. Keadaan angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. dan litosol yang tersebar dari hulu – hilir. sedangkan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. priodik. dan panjang lereng > 50 m.6 hari dan terendah bulan Agustus dan Okotober yakni 0 (tidak hujan). yaitu: Lereng 0 – 7%. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. Lereng 15 – 25%. Gambaran DAS Sungai Lawo Topografi Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. gromosol. Bagian hulu DAS tekstur tanah antara lain: lempung berpasir dan liat berpasir. D. Wilayah DAS Sungai Lawo. (ed). Hidrologi dan Klimatologi Kondisi hidrologi DAS lawo berdasarkan data dari Dinas PSDA Kabupaten Soppeng debit sungai rata-rata per 15 Agustus 2007 adalah 427. dan temporer.. sedang rata-rata hari hujan di Kabupaten Soppeng tertinggi bulan April 19. Untuk kemudahanya lereng dikelompokkan menjadi 5 kelas. 3. 1.mm/tahun Sumber : Ramsay. 1. Sedangkan tekstur tanah berfariasi dari hulu – hilir DAS. Erosi dan Sedimentasi Aktifitas penduduk didaerah sekitar DAS secara tidak terkendali akan memberikan dampak terhadap perubahan kondisi fisik sungai terutama dalam bentuk erosi dan transpor sedimentasi dan akan berlanjut dengan proses pendangkalan dibagian dasar sungai sehingga akan . lereng 26 – 45% dan Lereng > 45%. 1976. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain: lempung berpasir. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. 4. 1. Lereng 8 – 15%. lempung berliat.M. 2. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS lawo berupa genangan permanen. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada sekitar ± 24 0 sampai 30 0 .54 mm dan 9. Curah hujan Kabupaten Soppeng pada tahun 2005 berada pada intensitas 90. 2. 1. Tengah DAS antara lain: liat berpasir dan lempung berpasir. dan liat. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S).9 hari hujan/bulan. Kondisi ini menyebar merata keseluruh wilayah Kabupaten Soppeng. 64 (L/det). Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 295 mm dan yang terendah yakni bulan Agustus dan Oktober yakni 0 (tidak hujan). termasuk wilayah DAS Lawo. mediterian coklat regosol.

namun di beberapa bagian sungai terutama kondisi fisik sungai telah mengalami perubahan alur sungai yang dapat mempengaruhi pola aliran air sungai yang tidak mengikuti alur sungai yang sebenarnya di mana aliran air mengalir dibagian kiri kanan sungai dan membentuk delta di bagian tengah sungai. dan hilir DAS dalam menjalankan fungsi hidrologinya. kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). Analisis Wilayah DAS Lawo 1. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0 – 7% hingga lereng > 45%. dimana bagian hulu DAS ditemukan beberapa bagian sungai yang sudah mengalami perubahan fisik dalam bentuk erosi. sehingga dalam proses penanganannya perlu diperhatikan pula guna menjaga keberlangsungan hubungan antara hulu.  Daerah Tengah DAS Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. Analisis geomorfologis Ketinggian merupakan salah satu faktor fisik yang berpengaruh terhadap suhu udara. tengah. dan panjang lereng > 50 m.Wilayah DAS Sungai Lawo. maupun di bagian hilir DAS. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. E. Tabel: 3. Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. Kondisi DAS sungai lawo terutama dalam bentuk erosi dan sedimentasi. 1. sebagaimana pada tabel 3.mempengaruhi pola aliran air sungai baik di bagian hulu. kondisi ini dibiarkan berlanjut terus menerus maka akan berlanjut dengan proses pendangkalan di bagian tengah sungai dan akan mengganggu keberlangsungan ekosistem pada hilir DAS itu sendiri. Kondisi fisik bagian tengah DAS.  Daerah Hilir Das Kondisi bagian hilir DAS Lawo dari segi fisik sungai umumnya sudah mengalami degradasi terutama dalam bentuk sedimentasi. 5.  Struktur dan Tipologi DAS Daerah Hulu DAS Karakteristik hulu DAS Lawo secara umum merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki kerapatan hutannya baik dan sampai saat ini masih tetap dipertahankan fungsi hutannya terutama penduduk yang bermukim disekitar hulu DAS sebagai kawasan yang dapat memberikan perlindungan dibagian hulu hingga hilir DAS. bahkan terjadi kering di bagian tengah sungai. tengah. dibeberapa tempat telah mengalami perubahan dalam bentuk alur air sehingga air tidak mengalir di bagian tengah sungai. .

karena berfungsi sebagai kawasan penyangga.863. Lereng 25 – 45% vegetasinya tetap dipertahankan selain itu juga dapat di manfaatkan sebagai budidaya tanaman tahunan yang berbasis pada huta rakyat. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS Lawo berupa genangan permanen. Lereng 8 – 15% sebaiknya diperuntukan sebagai budidaya lahan kering atau lahan basah. sehingga untuk pemanfaatan lahannya dapat diperuntukan sebagai budidaya lahan kering ataupun lahan basa dan permukiman. dan temporer. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. Geohidrologis dimaksudkan untuk mengetahui kondisi berupa kerapatan drainase.92 486. Analisis ini sebagai dasar indikator dalam mengetahui kondisi hidrologis wilayah DAS Lawo.46 1.104. Analisis geohidrologis.502.Klasifikasi dan Luas Lereng di Wilayah DAS Lawo Luas No Klasifikasi 1 0–7 2 8 – 15 3 16 – 25 4 25 – 45 5 >45 Jumlah (Ha) 11. dan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. Lereng 16 – 25% pemanfaatannya sebaikknya sebagai budidaya tanaman tahunan/tanaman semusim jenis vegetasi berupa cengkeh. cokelat. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. dan lainnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai jalur hijau juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. priodik.34 2. pengaturan tata air. guna merumuskan strategi penanganan dan arahan pemanfaatannya. dan kawasan lindung. kopi. 45 % 69 3 15 8 5 100 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007 Apabila dianalisis lebih lanjut maka kondisi lereng 0 – 7% sebagian besar penutupan lahannya adalah sawah dan rawa. selain itu juga kondisi lereng ini dapat terjadi tanah longsor sehingga kelestariannya tetap dijaga. agrovorestri dan hutan kemasyarakatan. 1. Kerapatan drainase adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS seperti tercantum dalam rumus di bawah ini: Dd = L/A Dd= Kerapatan Drainase (km/km) .19 860.391. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe.54 17. debit air sungai. dan genangan. Sedangkan lereng >45% vegetasinya tetap dipertahankan dan dilestarikan.

Sedangkan dari data yang diperoleh maka Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (Vperm dalam m/dt) dapat dihitung dengan rumus: Vperm = L/t L = Jarak Antara dua Titik Pengamatan (m) t = Waktu Perjalanan Benda Apung (detik) Dari hasil perhitungan diatas maka diperoleh kecepatan permukaan aliran sungai rata-rata adalah 1.386 km/km. serta pengaturan kembali pola penggunaan lahan di wilayah DAS lawo guna menghindari kemungkinan dampak negatif yang akan terjadi.L = Panjang Aliran Sungai (km) A = Luas DAS (km2) Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh kerapatan drainase wilayah DAS Lawo adalah 0. artinya jumlah air larian total semakin besar. Tabel: 4. sehingga tingkat infiltrasi yang terjadi di wilayah DAS Lawo akan semakin kecil. Kondisi ini perlu adanya upaya-upaya penanganan yang harus dilakukan seperti pemantapan fungsi kawasan lindung terutama penghijauan kembali pada daerah-daerah yang kategori vegetasinya sudah dalam kondisi yang tidak diharapkan. Berdasarkan data di atas dan hasil perhitungan kecepatan permukaan aliran rata-rata maka besarnya debit air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Bernoulli atau sering juga dikenal sebagai the continuity equation. Pada persamaan ini nilai Q diperoleh dari perkalian antara kecepatan aliran V (m/dt) dan luas penampang melintang A (m2) atau secara matematis: Q=AV Q = Debit (m3/dt) A = Kecepatan Aliran (m/dt) V = Luas Penampang Melintang (m2) Dari hasil analisis yang dilakukan maka diperoleh debit air rata-rata DAS Lawo adalah 9.328 m3/dt. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pengaliran (drainase) DAS Lawo dalam kondisi sudah terganggu (tidak normal). .06 m/dt.

dan liat.13 15. Sedangkan tekstur tanah bervariasi. Hal ini perlu adanya upaya penanganan berupa pemilihan jenis vegetasi yang akan dibudidayakan harus memiliki sistem perakaran yang dapat mendukung struktur geologi yang ada. yang sesuai untuk lahan/kegiatan budidaya lahan basah. Bagian hulu DAS terdapat jenis tanah mediterian coklat regosol dan litosol. jenis tanah ini mudah tererosi karena teksturnya berupa pasir berlempung sehingga penutupan lahannya harus tetap di jaga untuk menjaga agar tidak terjadi erosi/tanah longsor. 1. dan litosol yang tersebar dari hulu hingga hilir.875. Di mana jenis tanah ini adalah jenis tanah subur. Analisis Geologi Berdasarkan pengamatan tim dilapangan ditemukan beberapa titik yang terdapat erosi dan longsor terutama di bagian hulu DAS yang mempunyai kelerengan kisaran 25 sampai >40. lempung berliat. disebabkan . Bagian hulu dan tengah DAS tekstur tanah berupa lempung berpasir dan liat berpasir. sehingga sifatnya relatif subur.53 845. Sedangkan jenis tanah yang terdapat di bagian hilir DAS adalah alluvial kelabu tua. Analisis Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain lempung berpasir. sehingga kedepan kawasan hutan tersebut tetap dijaga dan dilestarikan. kondisi ini diduga sebagai akibat lemahnya struktur geologi. mediterian coklat regosol. karena kawasan ini merupakan daerah resapan dan penyimpanan air.33 17. 1. gromosol. Analisis SDA Kehutanan Pada kawasan hulu DAS status hutan sebagian besar adalah hutan lindung. disisi lain kerapatan pohon sudah mulai berkurang. karena mempunyai lapisan atas/soluin tanah yang dalam ± 100 cm. sehingga memungkinkan untuk budidaya tanaman jangka panjang. mediterian coklat. Analisis Potensi SDA a.104. dan keberadaan vegetasi kurang mengimbangi kondisi struktur geologi yang ada sehingga mudah terjadinya erosi dan longsor.46 307.45 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007. Bagian tengah DAS terdapat jenis tanah gromosol dan mediterian cokelat. 3. Jenis tanah ini merupakan hasil dari proses endapan lumpur dari hasil sedimentasi yang terjadi. 5.Jenis dan Luas Genangan di Wilayah DAS Lawo No 1 2 3 4 Jenis Genangan Permanen Periodik Temporer Non Genangan Jumlah Luas (Ha) 76.

Pertanian lahan basah memerlukan kedalaman efektif tanah minimal 60 cm. perikanan. bukan daerah banjir. Analisis Sumberdaya Air Potensi Sungai Lawo sebagai sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan perlu dikelola dengan baik terutam dalam hal pengaturan berbagai pemanfaatan lahan yang ada disekitar Sungai Lawo agar dampaknya tidak mengganggu kondisi hidrologi sungai baik dari segi fisik sungai. Tanah yang berkuarsa sangat tidak sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan kuarsanya sedang. kuantitas. Dari hasil analisis yang dilakukan di wilayah DAS Lawo. sampai berlempung halus. c. terutama dalam hal tekstur tanah dan kedalaman efektif tanah. dan berbagai kebutuhan lainnya. maupun kualitas air. Sedangkan tekstur tanah yang terbaik bagi jenis pertanian lahan basah adalah tanah yang berliat. dengan komoditas utamanya adalah padi sawah (wetland rice). sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan seperti sumber air bersih. jenis vegetasi adalah tegakan hutan.karena terjadinya penebangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan belum sadar akan pentingnya pelestarian hutan. merupakan daerah konservasi. Kegiatan pertanian lahan basah adalah kegiatan pertanian yang memerlukan air terus menerus sepanjang tahun. Kondisi hulu DAS Lawo umumnya didominasi oleh kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam mendukun proses hidrologi DAS masih tetap terjaga. sehingga pemanfaatan lahan di daerah tersebut harus memperhatikan kaidah-kaidah konservasi agar pemanfaatannya tidak merusak lingkungan ekosistem wilayah DAS. b. Analisis Aliran Sungai Lawo a. dan harus dipertegas dengan aturan yang ada. dan meningkatnya laju sedimentasi. sehingga masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang fungsi pelestarian lingkungan disekitarnya. kelerengan diatas 15 %. Analisis SDA Pertanian Pembukaan lahan pertanian di wilayah daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan sehingga tidak akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti erosi. batas ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30 cm. dimana bagi oknum masyarakat yang merusak kawasan hutan tanpa memiliki dasar yang jelas harus diberikan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. terdapat penyebaran lahan yang sesuai bagi pengembangan budidaya pertanian lahan basah. peternakan. pencemaran air. Produktifitas dan kualitas mutu panen cenderung menurun bila kedalaman efektif tanah menurun. 6. berdebu halus. perubahan siklus hidrologi. Pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dan sumber daya lahan berupa perambahan hutan dan perladangan di suatu wilayah DAS yang cenderung meningkat tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi akan memberikan dampak positif terhadap DAS dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat penyediyaan sumber air dapat terganggu. pertanian. mempunyai kerapatan drainase tinggi. Analisis DAS Hulu Bagian hulu DAS biasanya memiliki karakteristik antara lain. namun kenyataannya terdapat adanya . Sedangkan pada kawasan DAS tengah dan hilir DAS seluruh kawasan bukan hutan lagi melainkan kawasan budidaya.

perambahan hutan yang kemudian dijadikan sebagai perladangan masih tetap terjadi. 1. bendungan. dimana pada musim hujan banjir dapat merusak areal persawahan bahkan sampai ke pemukiman penduduk. a. waduk. Untuk itu perlu adanya tindakan berupa sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat agar masyarakat menyadari pentingnya fungsi hutan dan bahaya terjadinya kerusakan lingkungan berupa erosi dan tanah longsor. saluran-saluran irigasi. kelerengan dibawah 8 %. Berdasarkan kondisi di atas maka perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan seperti pengaturan berbagai aktifitas terutama di wilayah hulu DAS agar tidak mengganggu fungsi kawasan hutan lindung. Analisis DAS Tengah. Pengembangan Wisata Air. b. Banjir yang terjadi di wilayah DAS lawo umumnya terdapat di bagian hilir DAS. akan menimbulkan berbagai problem lingkungan seperti erosi yang dapat mempengaruhi produktifitas lahan. Aktifitas penduduk di sekitar bantaran sungai yang cenderung meningkat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konserfasi tanah dan air. tinggi banjir yang terjadi ± 1 m. dan muara-muara sungai karena adanya sedimentasi ditempat tersebut. Analisis Pengemb. pemakaian air diatur oleh bangunan irigasi. Sedimentasi sebagai hasil dari proses erosi yang terjadi di DAS dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pada sungai. dan memberikan dampak terutama di daerah hilir DAS dalam bentuk transpor sedimentasi yang akan mengganggu sistem hidrologi DAS. jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian. c. Bagian hilir DAS disamping sebagai daerah pemanfaatan juga sebagai daerah penadah tentunya akan menanggung berbagai resiko yang terjadi di suatu wilayah DAS. 7. Analisis DAS hilir. dan peningkatan fungsi sistem irigasi yang ada. merupakan daerah pemanfaatan. serta pengaturan penggunaan air irigasi agar dapat mengairi semua sawah yang ada di wilayah DAS Lawo secara umum dan khususnya wilayah hilir DAS sebagai daerah pemanfaatan berbagai aktifitas. dibeberapa daerah merupakan daerah banjir. Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan seperti perladangan tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi tanah dan air misalnya penggunaan input (pupuk dan pestisida) yang berlebihan akan berimplikasi langsung terhadap kandungan unsur pada tanah dan akan berpengaruh kepada daya dukung tanah sehingga tanah mudah tererosi dan juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas air tanah. Wisata. . Karakteristik hilir DAS memiliki ciri antara lain. kerapatan drainase kecil. juga penebangan vegetas di daerah pinggiran sungai untuk perluasan areal perladangan dapat memberikan tingkat erosi yang terjadi di wilayah DAS.

Pengembangan Ekowisata. Aktifitas penduduk di wilayah DAS lawo yang pada umumnya adalah petani. DAS Lawo terutama di bagian hulu DAS. 22 tahun 1982 tentang tata pengaturan air. Hal ini di tandai dengan adanya berbagai keunggulan-keunggulan yang dimiliki berupa keindahan alam pegunungan. Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan DAS Lawo 1. Mengacu pada PP No. serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) berdasarkan daya dukung kawasan. potensi ini dapat dilakukan melalui upaya pembangunan waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. 1. c. dan (ii) Pemilihan berdasarkan potensi wilayah. keberadaan satwa. F. Strategi Penanganan DAS Hulu Berdasarkan aspek ekologi daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) atau sebagai lingkungan pengendali (conditiong environment). Memperlancara infiltrasi air ke dalam tanah. yang akan banyak dipengaruhi oleh kondisi vegetasi pada setiap bagian dari daerah alirsan sungai tersebut.    Meningkatkan kemampuan fungsi retensi DAS hulu terhadap aliran permukaan melalui pemantapan fungsi kawasan lindung. seperti. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata. DAS sendiri merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah yang mengalir dari permukaan tanah ke sungai dari hulu hingga hilir. dinyatakan bahwa pendekatan dalam pengembangan.DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha mengendalikan banjir. salah satunya adalah monyet yang tersebar khususnya di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan lingkungan ekologis di DAS Lawo agar lebih lestari. perlindungan dan penggunaan sumberdaya air didasarkan atas pendekatan wilayah sungai. b. . (i) pemilihan berdasarkan Karakteristik alam. a. dengan memanfaatkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan kebiasaan (massangki) dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. Arahan Strategi Penanganan DAS. Pengembangan Agrowisata Pengembangan agrowisata pada suatu lokasi perlu dilakukan kajian lokasi secara matang. proses penanganan ini berupa. DAS hulu merupakan seluruh daerah tadahan/kepala sungai.

Menentukan dan menyesuaikan jenis budidaya yang dapat dikembangkan pada setiap unit lahan. Proses penanganannya berupa. Arahan Pemanfaatan Lahan. Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimalkan produksi. c. Rencana Kawasan Lindung. Mempertahankan dan melestarikan hutan lindung yang terdapat di satuan pengelolaan DAS Hulu. Meliorasi tanah dan kalau perlu dilakukan reklamasi tanah. Strategi Penanganan DAS Hilir Berdasarkan tinjauan aspek ekologi. serta menjaga keberadaan vegetasi sekitarnya dalam membantu kemampuan retensi terhadap aliran permukaan. kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. dengan strategi berupa. DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan. Meminimalisir tingkat erosi dan longsor yang terjadi melalui pendekatan EkoEnggineering dengan memanfaatkan vegetasi setempat. Menentukan sistem budidaya yang dapat dilakukan pada setiap permukaan lahan. a.     Mencegah atau mengendalikan banjir dan sidementasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan.     Meningkatkan fungsi retensi DAS tengah melalui pengembangan prasarana pengairan berupa waduk tangkap dalam menahan air yang mengalir dari arah hulu DAS. Strategi Penanganan DAS Tengah Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. 2. b. Memperbaiki pengaturan pemanfaatan lahan untuk meningkatkan kemampuan lahan. DAS hilir merupakan daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumsi.    Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. . Meningkatkan daya guna air dari sumber-sumber air tersedia.

rencana pengembangannya diarahkan pada daerah perbatasan antara hulu dan tengah DAS. Luas kawasan lindung yang merupakan kawasan DAS hulu seluas 860. bambu. Berdasarkan pola penyebaran jenis tanah terutama dalam hal tekstur dan kedalaman efektif tanah. kemiri. namun dalam rencana ini diupayakan agar waduk tersebut selain berfungsi untuk menunjang kegiatan seperti pertanian dan berbagai pemanfaatan lainnya juga berfungsi sebagai tempat wisata yang berskala lokal.  Budidaya Lahan Kering. Pengembangannya diarahkan di daerah DAS tengah. Kawasan Perlindungan setempat meliputi garis sempadan sungai. Rencana Pemanfaatan Budidaya. namun harus memperhatikan keberadaan kawasan hutan lindung yang ada sehingga tidak terganggu fungsi lindungnya. Berdasarkan potensi yang terdapat di wilayah DAS Lawo terutama potensi pertanian yang dominan. waduk tangkap. lada. Sedangkan prasarana irigasi. kakao. Rencana Irigasi. Prasarana lingkungan berupa waduk tangkap. jambu mente. Arahan Prasarana Lingkungan. dimana proses pengaturannya dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir DAS Lawo. maka jenis budidaya pertanian lahan basah (padi sawah) pengembangannya terutama diarahkan di daerah hilir dan di daerah tengah DAS. terdapat dibagian hulu DAS yaitu berupa kawasan hutan lindung. Dengan tujuan disamping bernilai lingkungan juga bernilai ekonomis. maka dilakukan rencana pemanfaatan kawasan budidaya yang meliputi budidaya lahan kering dan lahan basah.Sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.56 hektar dengan vegetasi adalah hutan. merupakan jenis tanaman yang dapat dibudidayakan seperti kelapa dalam. maka harus dihutankan kembali dengan vegetasi tanaman yang sesuai seperti kemiri dan sukun. sedangkan di daerah hulu DAS bisa dikembangkan jenis budidaya berupa kemiri. diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi dominan berupa jenis pertanian lahan basah terutama di daerah hilir dan tengah DAS. b. dan tembakau. dan kawasan sekitar mata air. 3.  Budidaya Lahan Basah. a. dan lainnya. Arahan pemanfaatan lahan dengan kegiatan budidaya lahan kering. dimana lokasi ini sebelumnya masuk dalam rencana pembangunan waduk tangkap. sedangkan DAS hulu yang merupakan daerah lindung namun vegetasinya bukan hutan. kopi. dengan . Rencana Pengembangan Waduk. b.

Pengembangan ekowisata DAS Lawo diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan. terutama di bagian hulu DAS. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata yang meliputi keindahan alam pegunungan. Aktifitas penduduk di wilayah DAS Lawo yang pada umumnya adalah petani. Dengan demikian pengembangan agro wisata diarahkan di daerah tengah dan hilir DAS. a. 4. a. nilai dan fungsi ekologi sebagai obyek dan tujuan kepariwisataan. b. . dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan ‖massangki‖ dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. Pengembangan wisata ini diarahkan pada daerah yang memiliki potensi untuk dibangun prasarana air berupa waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu.mempertimbangan kapasitas sistem irigasi yang ada sehingga dapat mengaliri semua areal sawah. salah satunya adalah monyet yang tersebar di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat dan lingkungan ekologis di wilayah DAS Lawo agar lebih lestari. Pengembangan Wisata Air. Pengembangan Agrowisata. Areal Permukiman di Daerah Hulu. Pengembangan Ekowisata. serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. c. Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata atau wisata terbatas yang memanfaatkan tatanan. cenderung terdapat di daerah tengah dan hilir. Prospek pengembangan agrowisata di wilayah DAS Lawo mempunyai peluang yang baik mengingat potensi yang ada sangat beragam dan khas. Konsep ini lahir akibat keprihatinan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang terancam oleh pembangunan. Arahan Sistem Permukiman. Perpaduan antara kekayaan komoditas agraris dengan bentuk keindahan alam dan budaya masyarakat setempat merupakan kekayaan obyek wisata yang amat bernilai. DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. keberadaan satwa liar. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) dengan berdasarkan kepada daya dukung kawasan. Arahan Prasarana Wisata. serta ekowisata menjadi alat bagi penyadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan yang tidak mungkin mengorbankan masyarakat yang tinggal dan hidup didalam atau sekitar kawasan lingkungan. 5.

harus memperhatikan kepemilikan lahan yang termasuk dalam areal rencana waduk. C. 5) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus menjadi komitmen bersama seluruh stakeholder. 4) Untuk dapat mempercepat implementasi. Biophysical relationships needed to perform economic evaluation of watershed management program. 1990. 1. sebagai berikut. C. 1) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus dilakukan secara terpadu. sehingga dapat lebih berkelanjutan. Padjajaran University Press. maka terdapat beberapa rekomendasi yang harus dilakukan untuk dapat mengelola dan melindungi DAS Lawo. b.Keberadaan pemukiman di daerah hulu DAS perlu diperhatikan agar tidak mengganggu fungsi kawasan lindung. Areal Permukiman di Daerah Hilir.. maka sebaiknya dilakukan sosialisasi. maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Penanganan pemukiman di luar daerah hulu diarahkan terutama pada daerah tengah dan hilir DAS. Berdasarkan hasil kajian DAS Lawo. 3) Masyarakat yang bermukim dalam kawasan lindung. seharusnya direlokasi pada suatu tempat dalam bentuk transmigarasi lokal. larangan pembuangan sampah ke dalam sungai serta pengaturan fungsi kawasan lainnya yang dapat dilakukan agar penduduk dapat terhindar dari berbagai resiko lingkungan berupa banjir dan erosi agar lingkungan wilayah DAS dapat terjaga dalam mendukung berbagai pemanfaatan. DAFTAR PUSTAKA Asdak. 2) Diprediksi DAS Lawo sepuluh tahun kedepan. 6) Pembangunan Waduk tangkap. 2004. Agar tidak mengganggu fungsi kawasan dan wilayah DAS secara keseluruhan. sehingga dapat dilakukan lebih manusiawi. dimana proses penanganannya berupa pengaturan garis sempadan sungai. Bandung. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gajah Mada University Press. . Rekomendasi. G. Yogyakarta. maka diperlukan upaya-upaya penanganan pelarangan perluasan kawasan pemukiman serta penyiapan lokasi pemukiman yang layak dalam berbagai aspek agar penduduk setempat dapat direlokasi ke tempat yang disiapkan. karena berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 kawasan DAS merupakan kawasan strategis lingkungan yang senantiasa harus dilindungi. terutama kepada masyarakat yang bermukim dalam wilayah DAS Lawo.. Asdak. apabila tidak dilakukan perbaikan dan perlindungan DAS Lawo.

2009 by syahriartato Categories: Uncategorized ABSTRAK Besarnya kerugian akibat kekeringan di beberapa daerah sangat memprihatinkan. Fenomena ini sudah kita sadari. Usaha pengendalian banjir tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan. terbatasnya penyediaan air bersih. EastWest center Worshop report. peternakan dan terganggunya transportasi air. Pendahuluan Indonesia merupakan negara beriklim tropika humida (humid tropic) yang pada musim hujan mempunyai curah hujan tinggi. A. New Jersey. New York.E. P. Integrated watershed management research for developing countries.. Prentice Hall. Untuk mengurangi kerugian tersebut telah banyak usaha penanggulangan banjir yang dilakukan seperti pembuatan tanggul banjir. Sungai X3 Vegetasi X1 Comments: Be the first to comment PENANGANAN BANJIR DAN KEKERINGAN Posted December 24. K.. tampungan banjir sementara.M. Policies for sustanaibel Development. 1970. 1991.. karena nilainya cukup besar. berkurangnya air untuk prtanian. dll. 1985.. The environment and natural resources policy adn training project. 1994. karena proses . Watershed Hydrology.F.N. K. karena kejadian banjir terus meningkat dari waktu ke waktu. D.I. The role of watershed management. H. kabu asap. Folliott. Berdasarkan beberapa kejadian kekeringan diperoleh informasi bahwa kekeringan dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. Honolulu H. P. perikanan.W. Easter. National Research Council of Canada. Handbook on the principles of hydrology.. Gray. pompanisasai air banjir. sudetan sungai. Black.M. Kerugian ini akan semakin besar kalau terjadi di kota-kota besar yang padat penduduknya.Brooks. Akibatnya di beberapa tempat terjadi banjir yang banyak menimbulkan kerugian baik nyawa maupun harta benda. Englewood Cliffs.

dan sumberdaya air secara keseluruhan. pembangkit tenaga listrik. Pada kondisi tersebut nilai debit puncak ditentukan oleh sebagian luas DAS. Uraian di atas menunjukkan bahwa peristiwa banjir dan kekeringan sangat merugikan kehidupan manusia. karena hujan diseluruh DAS belum teratus. Dalam konteks ini air menimbulkan gangguan akibat pengalirannya atau genangannya pada tempat-tempat yang tidak disediakan untuknya. Hal ini dapat difahami. Di Indonesia ada beberapa factor penting penyebab terjadinya banjir : a. Pengaruh kelengasan tanah awal pada debit banjir sudah difahami. usaha pengendalian banjir yang dilakukan sekaligus dapat mengurangi kerugian akibat kekeringan. yaitu pada kondisi durasi hujan yang lebih pendek dari waktu konsentrasinya. Oleh karena itu menarik untuk dikaji pengaruh kelengasan tanah awal pada kejadian banjir. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang telah dibasahi hujan sebelumnya menurunkan kemampuan menginfiltrasi air. namun nampaknya masih dilakukan secara terpisah. Banjir 1. Oleh karena itu penanggulangan banjir tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan DAS. Semakin tinggi intensitas hujan maka semakin tinggi pula debit banjirnya. B. walaupun intensitas hujannya tidak terlalu besar. Pengendalian banjir dan pananganan kekeringan secara terpadu nampaknya akan memberikan hasil lebih baik. Apabila air banjir pada musim hujan dapat ditampung dan disimpan. . maka pada saat kekeringan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia dan keperluan lain seperti irigasi. Faktor Hujan Intensitas hujan sangat berpengaruh pada besarnya debit puncak banjir. Pada kondisi tanah dengan kelengasan tinggi atau jenuh air. justru dapat menimbulkan banjir. baik itu proses di lahan maupun di jaringan sungainya. sehingga hampir seluruh hujan menjadi aliran dan dapat menimbulkan banjir. Hujan deras yang terjadi pada suatu hari dimana hari-hari sebelumnya tidak hujan sering tidak menimbulkan bnajir. Pembahasan 1. Di sisi lain banjir merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup besar potensinya. Banjir adalah peristiwa keberadaan air mengalir melampaui kapasitas perangkat pengaliran yang disediakan/tersedia dan mengalir di luar kemampuan perangkat itu. Kejadian hujan dalam beberapa hari berturut-turut. Penanggulangan kedua bencana tersebut terus diupayakan dengan berbagai cara. Perlu mendapat perhatian pada penggunaan rumus Rasional. Dengan demikian. namun nilainya cukup kecil. infiltrasi memang masih berjalan. sehingga dapat menurunkan debit banjir. terutama jika telah banyak melakukan analisis banjir dengan model-model yang tersedia. perikanan dan pariwisata.kejadian banjir memang sangat komplek. namun belum dirumuskan dengan baik.

) adalah akibat penggundulan hutan di sekitarnya.8 milyar rupiah. Data yang digunakan dapat berupa data hujan maupun aliran yang terekam pada kondisi DAS saat itu. Semakin banyak lahan terbuka. Adanya pendangkalan alur sungai. Oleh karena itu. saluran drinasi. tampang sungai menjadi berkurang sehingga daya tampung alirannya menurun pula. Apabila kondisi DAS di Indonesia dapat digolongkan stabil.antara. Daerah Aliran Sungai yang ada memiliki tataguna lahan yang tidak stabil. sudetan. mengakibatkan banjir yang terjadi meningkat. Pada umumnya. Hal ini terjadi jika Daerah Aliran Sungainya mempunyai luas area terbuka yang meningkat. Perubahan fisik yng terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan retensi DAS terhadap banjir. c. sedang sistem drainasi 2 sampai 10 tahun.w. Banjir ini diestimasikan akibat pemotongan bukit-bukit di sekitar Bandung selatan untuk permukiman dan kawasan industri. Faktor Alur Sungai Upaya pengendalian banjir yang selama ini dilakukan berupa kegiatan fisik/struktur yang berada di sungai (in stream) dengan tujuan untuk melindungi dataran banjir yang telah berkembang. atau terbangun semakin kecil kemampuan retensinya. tampungan air (waduk). Tingkat kerusakan DAS bervariasi mulai dari kecil. Peningkatan debit banjir mengakibatkan prasarana dan sarana yang ada tidak mampu menampung aliran yang terjadi. polder. industri dll. Aspek pendangkalan yang terjadi di alur sungai juga merupakan salah satu sebab terjadinya banjir.kompas. prasarana dan sarana pengendali banjir direncanakan untuk 10 sampai 100 th. dll.. Genangan air mencapai 50 cm – 80 cm.com.). Namun kenyataannya. sedang sampai besar/kritis yaitu pada tingkat yang sudah mengkhawatirkan. prediksi nilai debit dengan kala ulang tertentu yang diperoleh pada saat perencanaan sudah tidak relevan lagi pada saat ini. Faktor DAS Daerah Aliran Sungai adalah daerah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan.id.co. kejadian banjir diperparah dengan adanya peningkatan elevasi muka air laut. bahkan cenderung mengalami kerusakan. Kerugian banjir diperkirakan sebesar 2. sehingga jalur jalan Majalaya – Bandung terputus. Kejadian banjir di Sorong tanggal 18 Juli 2003 (www. Berubahnya kawasan retensi banjir untuk Jakarta menjadi permukiman. Pengendalian banjir tersebut dengan membangun prasarana dan sarana seperti pembuatan tanggul. Bandung selatan mengalami banjir pada 27 Mei 2004 (w. Pada th 2003. normalisasi alur sungai. Hal tersebut diperparah dengan pola penyebaran permukiman yang menyebar. Persoalan banjir menjadi semakin rumit jika di alur sungai terdapat rintangan-rintangan arus baik oleh alam maupun buatan manusia seperti : . prediksi debit dengan kala ulang tersebut tentu saja tidak akan menjadi masalah. sehingga daya rusak terhadap ekologis dan lingkungannya lebih tinggi.b. Proses pendangkalan ini dapat terjadi akibat erosi tebing dan dasar sungai maupun akibat erosi lahan di Daerah Aliran Sungai. daerah terbuka (jika ada tanaman. hanya perdu).

a. Selanjutnya indeks kekeringan dapat digunakan sebagai indikator dalam menetapkan klasifikasi tingkat kekeringan suatu wilayah. Kekeringan Kekeringan merupakan salah satu bentuk kondisi ekstrim dan kejadian alam yang kejadiannya tidak dapat dihindari serta karakteristiknya masih menyimpan ruang yang luas untuk dipelajari dan dikaji lebih mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan merupakan kejadian yang spesifik pada suatu wilayah.Penampang pengaliran sempit karena formasi geologi yang keras Adanya ambang alam yang keras Belokan tajam pada sungai akan menimbulkan arus menyilang yang berbahaya Bangunan silang sengan sungai dengan rongga terlalu sempit Pertemuan antara dua sungai atau lebih dengan arus saling merintangi Faktor-faktor di atas perlu mendapatkan perhatian cukup serius dalam penanganan masalah banjir. . Batasan atau kriteria kekeringan sampai sekarang belum disepakati secara luas. Suatu wilayah dapat dikatakan mengalami kekeringan meteorologis apabila hujan tahunan rerata yang terjadi tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk evapotranspirasinya atau dapat juga dibandingkan dengan temperaturnya. ada beberapa tipe kekeringan yang akan ditunjukkan untuk dapat digunakan sebagai acuan. Kekeringan meteorologis didasarkan pada kriteria kuantitatif berupa indeks kekeringan. 2. Kekeringan seringkali ditanggapi dengan pemahaman yang berbedabeda. sehingga dapat memberikan hasil yang baik. Namun demikian. a = indeks kekeringan. Kekeringan Meteorologis Tipe kekeringan ini paling mudah untuk diidentifikasi dan difahami. Tidak ada batasan mengenai berapa lama hari/bulan tanpa hujan atau berapa banyak kekurangan air. T = temperatur tahunan rerata. Indeks Kekeringan Menurut De Martonne dengan : P = curah hujan tahunan rerata (mm).

kapasitas lapang. Respon tanaman terhadap kondisi lengas tanah sangat bervariasi. Indeks Kekeringan Menurut Thornthwaite (1948) Metode ini mengukur kekeringan suatu wilayah berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto). wilayah kering wilayah semi kering . Kadangkala ada daerah yang mengalami kekeringan meteorologi tetapi kalau dipandang dari sisi hidrologi sebenarnya tidak mengalami kekeringan. Kekeringan Hidrologi Kekeringan tipe ini merefleksikan kondisi sistem air dalam suatu wilayah baik untuk air permukaan maupun air bawah permukaan. Sebagian tanaman mampu bertahan hidup dan tumbuh dalam kondisi lengas tanah yang rendah.20 0.03 Wilayah Super Kering 0. Nilai ini dibandingkan dengan tinggi curah hujan tahunan rerata (P). Kekeringan hidrologis dapat dilihat dari debit aliran rendah (lowflow). tetapi ada juga tanaman yang membutuhkan lengas tanah tinggi untuk bertahan hidup. c.20 < < 0. Evapotranspirasi potensial ini dihitung berdasarkan rumus Thornthwaite sebagai fungsi emperatur rerata bulanan. didefinisikan sebagai jumlah penguapan dari suatu wilayah yang tertutup tumbuhan dengan kecukupan air untuk terjadinya penguapan maksimum menurut kondisi klimatologi. Beberapa batasan kondisi lengas tanah untuk tanaman yaitu kondisi jenuh. tampungan air di danau/waduk. suatu wilayah yang memiliki nilai a < 15 dikategorikan sebagai wilayah kering. Metode ini dianggap masih mengandung kelemahan karena mengabaikan pengaruh variasi musiman dan amplitudo harian dari temperatur di wilayah kering.03 < < 0. Tetapi pada umumnya. Kondisi lengas tanah ini berdampak langsung pada produktifitas tanaman. Kondisi kekerinan hidrologi tidak selalu terjadi secara bersamaan dengan kekeringan meteorologis. tampungan dalam tanah dsb.50 b. Kekeringan Pertanian Kekeringan pertanian merefleksikan kekurangan lengas tanah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk hidup (evapotranspirasi). maka wilayah tersebut merupakan daerah semi kering. Indeks kekeringan menurut UNESCO (1979) Menurut UNESCO tingkat kekeringan diukur berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial Eto yang dihitung menurut rumus Penman. titik layu awal dan titik layu permanen. < 0.Menurut De Martonne. Apabila jumlah hujan tahunan rerata lebih kecil dari Eto tahunan. apabila terjadi kekeringan hidrologi maka secara meteorologi juga mengalami kekeringan.

Kekeringan yang melanda Pulau Jawa terutama disebabkan oleh berkurangnya luas hutan dan meningkatnya penggunaan lahan non hutan. sementara kekeringan adalah persoalan kekurangan air. Tanah diharapkan dapat menjadi tampungan air sementara dan secara perlahan-lahan air dialirkan ke sungai sehingga tidak menimbulkan banjir di hilir. Untuk mengatasi kesulitan air bersih . Penanganan Banjir dan Kekeringan Secara Terpadu Banjir. Contoh daerah yang mengalami kekeringan yaitu di Jawa Barat pada Juni 2003.net). Kesimpulan ini dipeoleh Aris Poniman dari hasil penyusunan neraca sumberdaya hutan dan lahan (www. Peningkatan lahan non hutan dapat mengakibatkan kekeringan karena keseimbangan ekosistem dalam suatu DAS terganggu.802 ha mengalami kekurangan air dengan status berat dan ringan. pemeliharaan reservoirreservoir alamiah dan pembuatan resapan-resapan yang dapat memasukkan air hujan sebanyakbanyaknya ke dalam tanah. Fenomena bahwa banjir semakin meningkat dari waktu ke waktu. daerah pantai tersebut kesulitan mendapatkan air bersih. Manfaat langsung peningkatan retensi ini adalah terjaganya konservasi air di DAS. Salah satu contoh kodisi tersebut ditunjukkan pada kejadian aliran di sungai Cidanau dari tahun 1998 – 2000 sebagai berikut : Gambar 1.pikiran_rakyat. tanah longsor dan tentu saja kekeringan. sumber air terpelihara. Disisi lain pada musim kemarau. Penanganan banjir melalui peningkatan retensi banjir dapat dilakukan dengan cara program penghijauan yang menyeluruh baik di perkotaan maupun perdesaan. Jawa Barat yang bermuara di Selat Sunda. muka air tanah dapat diharapkan stabil. Namun secara umum dapat dirangkum bahwa kekeringan adalah peristiwa terjadinya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhannya di masing-masing wilayah dan untuk tiap-tiap penggunaan. sementara debit musim kemarau semakin menurun sudah difahami bersama. alangkah baiknya jika penanganan kedua persoalan tersebut dapat dilakukan secara terpadu. Fluktuasi debit rata-rata bulanan Sungai Cidanau Mengingat fenomena di atas. adalah persoalan kelebihan air. sebagaimana diketahui. kebutuhan air untuk berbagai keperluan terpenuhi. sedang 345 ha puso (www.Nampak bahwa kekeringan yang terjadi dapat merupakan interaksi berbagai tipe kekeringan yang menambah kesulitan pengertian tentang kekeringan.swara. Contoh penanganan banjir dan kekeringan secara terpadu dapat diuraikan sebagai berikut. Aris mengingatkan perlunya masyarakat lebih waspada akan kemungkinan sering terjadinya banjir. Sungai ini sering membanjiri daerah Industri Cilegon dan sekitarnya.com). Daerah Industri Cilegon Sungai Cidanau terletak di Daerah Cilegon. Sawah seluas 24. 3.

Karanganyar.000 ha. Pengendalian Banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dan Penyediaan Air Irigasi Pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dilakukan dengan pembuatan waduk Wonogiri yang terletak ± 2 km sebelah selatan kota Wonogiri.200 ha. Dari waduk air dialirkan ke Water Treatment Plant Krenceng dengan kapasitas pengolahan 2000 lt/dt.Kreuceng Air baku untuk kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Cidanau dengan lokasi intake 700 m dari Selat Sunda di Kecamatan Cinangka. Oleh karena itu PDAM Surakarta akan memanfaatkan air Bengawan Solo untuk air baku dalam penyediaan air bersih bagi Kodya Surakarta. PT Krakatau Tirta Industri membuat waduk Krenceng yang letaknya 27. dan yang paling utama adalah pembebasan daerah Surakarta yang padat penduduk. Kapasitas waduk tersebut yaitu 2. Daerah Aliran Sungai ini terletak pada 7°39¢32² – 7°45¢ 08² LS dan 110°59¢02² – 111°2¢15² yang ditunjukkan pada Gambar 3. Daerah Irigasi yang mendapatkan air dari waduk Wonogiri meliputi wilayah Kabupaten Sukoharjo.5 juta m3. Namun dengan berjalannya waktu. 1978). Permasalahan yang ada di DAS Goseng yaitu dibukanya lahan dengan kemiringan yang terjal sebagai tegal oleh masyarakat setempat. Sragen dan Klaten dengan luas 23. Selain untuk pengendalian banjir waduk juga dimanfaatkan untuk irigasi. Terbangunnya sistem pengadaan air bersih di daerah Cilegon tersebut dapat mengatasi kesulitan air bersih dan sekaligus dapat mengurangi besarnya debit banjir. Ltd. Daerah Aliran Sungai Goseng Daerah Aliran Sungai Goseng merupakan ordo pertama sungai Samin yang bermuara di Sungai Bengawan Solo. areal irigasi di Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan atau industri. Sketsa tata letak waduk Krenceng U WTP Wd.. Daerah banjir yang dapat dibebaskan seluas ± 11. Gambar 2. Waduk ini mulai beroperasi pada th 1982. Dari intake air dipompa menuju waduk Krenceng yang merupakan penyimpanan cadangan air baku. Waduk ini direncanakan untuk mengurangi debit banjir sebesar 4000 m3/detik menjadi 400 m3/detik (Nippon Koei Co. sehingga genangan yang sering terjadi dapat menurun. Sehingga nilai koefisien aliran dan erosi lahan .2 km dari Sungai Cidanau. Luas area DAS Goseng = 5. Catchment areanya sebesar 1350 km2 dan kapasitas tampungan 650 juta m3.dan mengurangi besarnya debit banjir.96 km2.

Prediksi penambahan volume air akibat penghutanan kembali DAS C. Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Untuk Industri Cilegon dan Sekitarnya serta Kualitas dan Kuantitas Sungai Cidanau. 2002. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. Rachmad Jayadi. Kursus Singkat Sistem Sumberdaya Air Dalam Otonomi Daerah II. 2002. 2009 by syahriartato Categories: SENI DAN BUDAYA . 20 % luas DAS menjadi hutan atau tanpa reboisasi tetapi seluruh tegal dengan kemiringan tersebut di buat teras. Informasi yang dapat diperoleh dari analisis ini bahwa adanya penghutanan kembali DAS memberikan harapan bahwa besarnya cadangan air tanah untuk berbagai kebutuhan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. HMS UAJY dan HATHI. Harapan ini tentunya akan lebih mudah terwujud jika dapat dilakukan reboisasi secara serempak. Banjir Terus Menerus di Indonesia dan Tinjauan Eko-Hidrolis. Penurunan debit puncak dengan adanya skenario reboisasi Gambar 5. Mampukah Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dan Sistem Drainasi Membebaskan Dataran Banjir dari Ancaman Banjir dan Genangan. dengan harapan dapat memberikan tambahan air ke dalam tanah dan mengurangi erosi lahan. 2000. Yogyakarta Sudjarwadi dan Fuad Bustomi. Yogyakarta Comments: Be the first to comment ARSITEKTUR TRADISIONAL SULAWESI SELATAN PUSAKA WARISAN BUDAYA LOKAL INDONESIA Posted October 9.. PT. Teknik Sipik UGM. Kejadian hujan yang digunakan dalam analisis yaitu kejadian pada tanggal 14 Januari 1997. Gambar 3. Jur.meningkat. 2002. yang berarti ada penambahan volume air ke dalam tanah sebagai ditunjukkan pada Gambar. 10. Cilegon. HMS UAJY dan HATHI. 2001. Prinsip Dasar Pengelolaan Kekeringan. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. Yogyakarta Krakatau Tirta Industri. yang ditandai dengan meningkatnya nilai debit puncak dan kekeruhan air sungai Samin. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan debit puncak. Perencanaan Pengembangan dan managemen Sumberdaya Air untuk Mengantisipasi Kekeringan DAS Mahakam. Daftar Pustaka Agus Maryono. Usaha penambahan luas hutan diaplikasikan pada DAS Goseng. Lahan tegal dengan kemiringan 25 – 65% dicoba untuk di hutankan kembali dengan skenario 5. Kalimantan Timur Siswoko. Seminar Pengendalian Kekeringan DPS Mahakam. 15.

etis dan manusiawi untuk membangun kesepahaman. Semakin tinggi intensitas interaksi sosial budaya yang dikembangkan oleh suatu komunitas lokal dalam pergaulannya dengan komunitas diluarnya. Bila tidak ada filterisasi dan proteksi secara dini. kian diperparah karena anutan . Masyarakat semakin terbuka. hingga pergaulannya kemudian semakian luas hingga menembus batas antar personal. pengalaman. berisi ungkapan makna yang digunakan ketika berkomunikasi menyampaikan pesan. Kemampuan berfikir secara “metaforik‖ itu terwujud dalam kreativitas penciptaan berbagai ―symbol‖. maka semakin besar pula peluang masyarakat tersebut untuk mengembangkan ―kebudayaan‖-nya. Di Indonesia. manusia dapat saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak. etnis. atau semakin mereka menutup diri dari pergaulan dengan luar komunitasnya. regional maupun global. maka semakin kuat pula hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan ―budaya‖nya. Komunikasi secara simbolik itu dilakukan dengan efektif. Perkembangan positif yang telah terjadi adalah berkembangnya keterbukaan. Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya. Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa ―kebudayaannya‖ masih asli. transparansi. harapan. Ketika interaksi sosial budaya suatu masyarakat semakin luas maka kian beragam dan kompleks jaringan yang dilakoninya. penegakan hukum dan hak azasi. Sebaliknya. Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. dimana masyarakat semakin mengabaikan batas geografis. negara bahkan bangsa. keterbukaan dapat mengakibatkan infiltrasi kebudayaan yang membawa nilai-nilai baru yang tidak semuanya baik dan sesuai dengan nilai luhur yang dimiliki hingga dapat menimbulkan dekadensi kebudayaan. Suka tidak suka. karena meningkatnya transportasi dan informasi yang mengantarkan ―budaya‖ baru. nasion bahkan generasi pada suatu skala ―interaksi‖ sosial budaya. perkembangan semangat demokrasi dan reformasi menjadi fenomena umum yang turut mendorong terjadinya pola interaksi sosial budaya baru. perkembangan demokrasi dan reformasi tersebut telah mendorong pengaruh yang memberi dampak positif sekaligus negatif. mengarahkan mereka menuju suatu keadaan imajiner. Dengan menggunakan simbol-simbol yang diciptakannya. bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya. etnografis. dampak negatif juga pasti terjadi. dimasa interaksi sosial budaya masyarakat semakin luas dan terbuka. berbekal kemampuan berfikir secara ‖metaforik‖ serta memanfaatkan seluruh indranya. Manusia beraktifitas mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan dimuka bumi ini. komunitas. Kondisi ini. kesan. Kini. memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan pergaulan dan kehidupan kemasyarakatan. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan ―setempat‖ biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak ―budaya‖ dengan pihak luar. Kebudayaan lokal akan cenderung semakin terpuruk dan akhirnya porak poranda kehilangan identitas. baik di tingkat lokal.Kebudayaan dan Arsitektur Tradisional.

Keberadaannya telah secara cepat menjadi katalisator yang sangat cepat. Sebaliknya perbuatan manusia yang menyimpang dari tatanan dan aturan itu. akan menjadi ―dosa‖. ukuran kemuliaan dan kebahagiaan manusia. Kepercayaan dan pemahaman akan tatanan dan acuan yang mengatur itu kemudian mengendap. serta mempengaruhi sendi kehidupan secara keseluruhan. Dalam masyarakat kapitalistis. Dampak berbagai dari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Keluhuran budaya lokal yang adiluhung dan bersahaja itu. penyimpangan yang bisa berakibat terjadinya sangsi. menjadi sumber segala anutan. niscaya hidup manusia akan tenang dan damai. sementara yang dikejar adalah bagaimana cara memperoleh selembar ijazah. Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada pencapaian prestasi sesaat. acuan tetap. atau bagaimana memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. telah menjadikan batas-batas antar bangsa sudah semakin tidak jelas. Sementara nilai-nilai moral. Sementara disisi lain nilainilai non ekonomi. menarik dan mentransformasi masuknya kebudayaan mancanegara. Sesungguhnya. menjadi landasan nilai ―budaya‖. nilai kewibawaan. Orang-orang ingin serba bergegas cepat. Kebudayaan rasa berintikan pada proses. nilai ekonomis cenderung menjadi tujuan utama yang sangat kuat menonjol. bahkan nilai-nilai itu seolah menjadikan semacam komoditas eceran. Tatanan atau acuan itu bersifat ―Stabil‖. penghayatan. Teknologi komunikasi dan teknologi informasi sudah semakin canggih. Tak heran jika yang nampak pesat berkembang kemudian adalah budaya opportunis dan hedonis yang lebih mengunggulkan rasio―kebudayaan otak‖. bercampur. penguasaan power kekuasaan sebesar-besarnya tetapi mengabaikan bagaimana cara atau proses mencapainya. Kenyataannya terlihat pada apa yang terjadi didunia pendidikan. berbanding terbalik dengan sensitifitas ―kebudayaan rasa‖ yang cenderung pelan karena segala sesuatu perlu proses dan pengendapan. kian tercemari nilai-nilai kebendaan dan pragmatisme. masyarakat tradisional Indonesia sesungguhnya sangat percaya akan pentingnya suatu proses yang membentuk tatanan. mereka sudah sangat sulit untuk hanya mempertahankan ciri khas ―budaya‖ lokalnya sebagai unggulan warisan leluhur mereka saja. sementara masih lebih bertumpu pada prioritas pembangunan ekonomi yang kapitalistis. hukuman pembawa malapetaka. Suatu yang sesungguhnya memiliki tempat terhormat dalam kepribadian bangsa Indonesia sebagai wujud dari ―nilai warisan‖ nenek moyang bangsa. . nilai-nilai batin dan nilai-nilai ―spiritual‖ terus tergerogoti hingga keberadaannya merosot tajam. hampir semua aspek kehidupan bangsa sudah saling berinteraksi secara bebas. Padahal. Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan kekurangsiapan sebagian besar masyarakat Indonesia mengantisipasi kemajuan yang sangat pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. apapun yang dilakukan manusia haruslah sesuai atau selaras dalam harmoni tatanan kehidupan alam sekitarnya. nilainilai batin dan spiritual. solidaritas dan empati bagi sesama. Bila tidak bertentangan dengan keselarasan dan harmoni alam. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai dalam pencapaian skala materialistis -―ekonomi kebendaan‖ semata. Komunitas etnis atau masyarakat tradisional perlahan memudar.―model‖ pembangunan di Indonesia. ―Selaras‖ dan ―kekal‘‖ karena lahir dari proses yang panjang. keadilan dan nilai-nilai ―kearifan budaya leluhur‖ terabaikan. mengkristal. banyak orang yang mengabaikan mutu. yang mengatur segala apa yang terjadi secara harmonis.

Arsitektur adalah alat komunikasi manusia secara ―non verbal” yang mempunyai nuansa sastrawi. 1999 . Arsitektur sebagai hasil karya seni budaya diakui sebagai salah satu wujud kebudayaan yang dapat dijadikan cerminan dari kehidupan manusianya. Suatu tatanan yang selalu ―teratur”. Tidak jauh berbeda dengan sastra verbal yang metaforik.Pada masyarakat tradisional Indonesia. Telaahan ―kebudayaan” selalu berpijak pada unsur-unsur buah pikiran ―idea”. Dalam naskah kuno sastra jawa dan kitab sastra “lontara” Bugis Makassar secara jelas dapat ditemukan relevansi antara lingkungan dan kehidupan budaya manusia. hal tersebut terwujud pada penggambaran bentuk ―rumah adat” yang diciptakannya.. yaitu ―mistik‖ dan ―simbolik‖. Kemudian manusia mengembangkan diri melalui dorongan naluri dan nalarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. menjadi pola pengendali hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Kedua : ―Ritual” berupa upacara atau perlakuan simbolis yang berfungsi atau dimaksudkan untuk memulihkan harmoni tatanan alam agar tetap selaras dengan manusia. ―Egocentrum‖. agar manusia dapat terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan serta kesejahteraan dalam kehidupan. Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Kekhususan itu ditandai dari cara mereka mempertahankan suasana hidup selaras. Arsitektur itu sendiri dapat dipahami melalui wacana metafor keindahan. Ketika bicara tentang ―kebudayaan” secara komprehensif. kehidupan manusia hanya terbatas dan berpusat pada kehidupan dirinya sendiri. Telaah arsitektur pada umumnya berpijak pada unsur – unsur ‖konsep”. Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya ―kosmologi‖ yang menyeluruh. atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. yang diatur dalam sebuah tatanan ―budaya‖ atau ―kebudayaan‖. Keterkaitan hubungan antara kebudayaan suatu bangsa dengan arsitektur. Ada dua macam tanda penting. Awalnya. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup. dari sudut pandang itu akan dikenali karakteristiknya. sikap dan prilaku ―behavior” serta hasil karya seni ―artefak”. perbuatan. laksana salah satu bentuk bahasa ―non-verbal‖ manusia yang bernuansa simbolik. maka ―arsitektur” adalah salah satu wujud hasil karya seni budaya. Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hanya hidup dalam suasana kepercayaan leluhur semata yang di pengaruhi oleh ―ethos budaya‖ lokal yang ekslusif serta mempunyai sifat-sifat khusus. harmonis dan seimbang dengan kehidupan ―habitat‖ sekitarnya. dari masa ke masa. Sumber : Tjahjono. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya itu didasarkan pada anggapan bahwa eksistensi hidup ada dalam rangkuman makrokosmos alam raya. tergambar pada telaahan masing –masing unsurnya. cara ―membangun” dan ―wujud nyata” dari ―bangunan‖ sebagai suatu lingkungan buatan dalam rekayasa lingkungan sekitarnya. Ed. maka kehidupan ‖egocentrum‖ kemudian berubah menjadi bagian integral dari kehidupan habitat sekitarnya. Arsitektur sebagai unsur kebudayaan. ―tersusun” dan ―berulang” secara ―hirarkis” otomatis dalam sebuah ―tatanan budaya” yang terjaga. perbuatan manusia itu selalu berdimensi dua atau ―dwimatra‖. manusia menggunakan tanda – tanda atau “simbol”. Itulah dasar-dasar filosofi yang mewarnai ―Budaya‖ masyarakat tradisional Indonesia. pertama : ―mitos asal‖.

Benua bawah disebut “Uriliyu” (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. segala sesuatu yang menyangkut kehidupan masyarakat selalu dilakukan bersendikan adat istiadat. Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut “Dewata Seuwae” (dewa tunggal). bentuk arsitektur. termasuk perlakuan dalam tata cara membangun rumah di dalam lingkungan alam sekitarnya. yaitu : tanah. Rumah Tradisional Nusantara “Konsep Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan ” Dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan. “alam tengah”. Filosofi hidup masyarakat tradisional Bugis Makassar yang disebut “Sulapa Appa”. hingga penyelenggaraan upacara ritual ketika proses membangunnya.Gambar 1. Konsep Bugis Makassar Konsep arsitektur masyarakat tradisional Bugis-Makassar bermula dari suatu pandangan hidup ontologis. Adat istiadat dan kepercayaan adalah warisan nenek moyang yang mengisi inti kebudayaan. Oleh sebab itu berbagai upacara. Bagi masyarakat tradisional Bugis-Makassar yang berfikir secara totalitas. yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. yaitu alam atas atau “banua atas”. merujuk pada pesan atau wasiat yang bersumber dari kepercayaan dan adat istiadat yang dianut masyarakat Sulawesi Selatan. Abu Hamid (1978:30-31) dalam ―Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan‖ menuliskan bahwa rumah tradisional orang Bugis tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk ―segi empat‖. Adat istiadat menjadi semacam pedoman dalam berpikir dan bertindak sesuai pola kehidupan masyarakatnya. dan “alam bawah”. cara berinteraksi. Hal tersebut dipercaya sebagai warisan yang diterima langsung dari sang pengatur tata tertib kosmos untuk menjadi pengarah jalannya lembaga-lembaga sosial. alam tengah “banua tengah” dan alam bawah ―banua bawah” . menunjukkan upaya untuk “menyempurnakan diri”. dan angin. Tata cara pembuatan rumah menurut konsep arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. Termasuk tata cara atau prosesi pembuatan rumah. pesta dan upacara kemasyarakatan yang berdasarkan pada adat istiadat. Filosofi yang bersumber dari “mitos” asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur. anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan. Semua pranata-pranata yang berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus berdasarkan kosmologis yang diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis. penentuan arah peletakan rumah. Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos. air. bagaimana memahami alam semesta secara ―universal”. bersemayam di “Botting-Langik” (langit tertinggi). api. dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka. mulai dari pemilihan tempat.. . Terwujud baik dalam tingkah laku. tetap diadakan untuk menjaga kesinambungan dan pelestarikan prosesi budaya bangsa. maka rumah tradisional Bugis Makassar dipengaruhi oleh pemahaman: “Struktur kosmos” dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu “alam atas” . Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk “Segi Empat”.

Termasuk pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah hingga akhirnya merekostruksi rumah yang diinginkan serta perlengkapannya. . tetapi terutama demi kelangsungan hidup secara kosmis. Beberapa hal yang penting diketahui bahwa dalam proses mendirikan rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar. Untuk rumah ―Tosama‖ atau orang kebanyakan/masyarakat umum terdiri dari 4 buah tiang kesamping dan kebelakang.Menurut Mangunwijaya (1992:95-96). menunjukkan arah yang dianggap cocok dan baik. menghitung berapa tiang (aliri). puncak sambulayang/timpalaja hanya dua susun. Beberapa wasiat yang menjadi perhatian dalam hal menentukan arah rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar misalnya: sebaiknya menghadap kearah terbitnya matahari. . menyusul pemasangan tiang tiang yang lain. rumah Bugis Makassar juga dipengaruhi oleh adanya strata sosial penghuninya. biasanya ditentukan atas bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dalam hal memilih waktu. Adapun hari ataupun bulan yang baik.Rumah Orang Kebanyakan ―Tosama‖.Rumah Hamba sahaya ―Ata” atau “Suro”. biasanya didahului oleh serangkaian upacara-ritual. . berapa pasak (pattolo) yang akan dipakai. Artinya selaku bagian integral dari seluruh ―kosmos‖ atau ―semesta raya‖ yang keramat dan gaib. Pada tahap selanjutnya secara berurutan mulailah mendirikan rumah dengan mengerjakan pemancangan tiang pusat rumah yang disebut ‖posi’bola” terlebih dahulu. kepercayaan tentang adanya pengaruh kosmologis sudah sangat dimaklumi masyarakat BugisMakassar.Rumah Kaum Bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng”. tata wilayah dan tata bangunan alias arsitektur tidak diarahkan pertama kali demi penikmatan rasa estetika bangunan. Dalam hal ini peranan seorang Panrita Bola sangat menentukan melalui nasehat-nasehat mereka yang akan menjadi pegangan bagi penghuni rumah. Untuk rumah bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng” yang memegang jabatan. Rumah tradisional Bugis-Makassar pada dasarnya terwujud dalam beberapa macam yaitu : . bahwa bagi orang-orang dahulu. dimulai dari pemilihan jenis kayu. Panre Bola menguasai ilmu pengetahuan tentang tata cara pengerjaan rumah. Tiang kesamping dan kebelakang berjumlah 5 hingga 6 batang. pada puncak rumah induk terdiri dari tiga atau lebih sambulayang /timpalaja. menghadap kedataran tinggi. atau menghadap ke salah satu arah mata angin. sedang untuk bangsawan biasa jumlah tiang kesamping dan kebelakang 4 hingga 5 tiang. Selain itu salah satu faktor pertimbangan lain yang selalu diperhitungkan adalah pemilihan waktu saat mendirikan rumah. mereka selalu meminta pertimbangan dari “Panrita Bola‖ atau Panre bola untuk pencarian tempat. Untuk pendirian rumah. Seperti kebanyakan rumah tradisional di indonesia. hingga pekerjaan selesai dikerjakan secara keseluruhan.

alat bertukang. Berdirinya tiang ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut: “Pattoddo” (Makassar).hamba sahaya berukuran yang lebih kecil. letaknya diruang bahagian depan. Pada rumah bangsawan jumlahnya biasanya 5 hingga 6 batang (sesuai petak rumah). dan lain lain. berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah. “Palangga” (Makassar). . terletak diruang bahagian tengah. Pondasi/ ―Umpak‖. biasanya hanya terdiri dari tiga petak. terletak pada bagian bawah rumah. Dibagian ini ada sebuah tiang yang lebih ditonjolkan diantara tiang tiang lainnya. Fungsinya yaitu: Penahan berdirinya tiang-tiang rumah.Bentuk rumah ―Ata” atau “Suro”. lontar.Rakkeang / Pammakkang.“Lontang ri tengnga/padaserang tangnga”. “Arateng‖ (Bugis).Makassar. .Ale bola / kale balla. dan ruang samping yang memanjang pada bagian samping yang disebut “tamping”.ruang dapur. serta ruang kecil di depan rumah yang disebut “lego-lego” atau “paladang”tempat berbincang atau bercengkerama. Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa.untuk rakyat biasa 4 batang. Sebagaimana diketahui dalam konsep arsitektur tradisional Bugis. Pada umumnya rumah tradisional Bugis-Makassar berbentuk panggung dengan penyangga dari tiang yang secara vertikal terdiri atas tiga bagian yaitu : . maka secara struktural rumah tradisional Bugis Makassar terbagi atas : Struktur bagian bawah. “Pattolo” (Bugis). bambu dan lain-lain. . Biasanya ruang ini menjadi tempat pusat aktivitas interaksi penghuni rumah. terletak pada bagian tengah. terletak diruang bahagian belakang. Disini melekat plafond tempat atap bertumpu dan menaungi. dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe sebagai dasar tumpuan lantai. Bagian ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan alat cocok tanam. batang kelapa. Ruangannya terbagi atas beberapa petak dengan masing – masing fungsinya.“Lontang ri laleng / padaserang riboko”. Selain ruang ruang tersebut. Selain itu dimanfaatkan menjadi tempat penyimpanan atribut adat kebesaran. terletak pada bagian atas. pengandangan ternak. Bahan biasanya dari kayu jati.Awaso / siring. masih ada lagi tambahan dibagian belakang ―Annasuang‖ atau “Appalluang”. . memandang kosmos terbagi atas tiga bagian.“Lontang ri saliweng/padaserang dallekang”. dengan sambulayang/ timpalaja yang polos. juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan padi sebagai lambang kehidupan/kesejahteraan pemiliknya. Sedang secara horisontal ruangan dalam rumah terbagi atas tiga bagian yaitu : . tempat meletakkan tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. . terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari panjang rumah. dan lain-lain.

Dinding untuk bahan penutup digunakan gamacca. Balok bangunan ―Coppo‖. berdasarkan status penghuninya maka lantai rumah tradisional terdiri dari . Berfungsi sebagai tempat kedudukan balok-balok gording dan sebagai penahan bidang atap sistem konstruksinya menggunakan sistem ikat.Struktur badan rumah. jepit dan ikat. Balok pasolla berbentuk pipih ± 3/12 cm. komponen komponen utama bagian ini adalah : 1. kemudian diikat. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dari tiap baris arah lebar rumah. Sistem konstruksinya. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa ―Tosama‖ umumnya rata tanpa tamping. Struktur dan konstruksi bagian atas rumah terdiri dari konstruksi kap/atap yang merupakan suatu kesatuan yang kokoh dan stabil untuk menahan gaya. takik. Sistem konstruksinya. 2. dan paku pen. dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. Golongan ―Tosama‖ = ½ lebar rumah + 1 telapak tangan. Jumlahnya ganjil dengan jarak rata-rata 20 hingga 50 cm. Golongan ―Ata‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + tinggi kepala + kepalan tangan pemilik. sebagai tempat memakukan / mengikat papan lantai ―Rakkeang‖ atau ―Pammakkang‖. balok bubungan diletakkan diatas balok makelar yang ditakik kemudian diperkuat dengan paku pen. dimensi 4 x 12. dengan sistem konstruksi ikat dan jepit. Sistem konstruksinya. bertumpu pada balok nok. Bahan biasanya batang lontar. ―Sambulayang” atau ―Timpalaja‖. Bila segi empat. Sistem konstruksinya. kelapa. tempat memasang timpalaja dan tempat meletakkan balok rakkeang. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dalam arah memanjang.5 x 14. dan lain-lain. Lantai. Balok pengerat ―Pattoddo riase‖ atau ―Pannoddo‖. Kaki Kuda – kuda ―Pasolle‖. Fungsinya adalah sebagai ring balok. pada kedua ujung bagian bawah terletak pada balok ―Pattikkeng‖. Sistem konstruksinya dengan sistem ikat/takik pen. lantai rumah biasanya tidak rata karena adanya ―tamping‖ yang berfungsi sebagai sirkulasi. papan. Sistem konstruksinya biasanya menggunakan pen. sebagai tempat penyimpan barang dan lain-lain. bila tiang dari bahan bambu maka tiang dan balok pengerat ditakik ± 1/3 dari diameter. ikat. pendukung kaso. Panjangnya lebih sedikit dari lebar rumah. Konstruksi balok anak. merupakan penahan lantai. ―Barakapu‖. jati. Terletak ditengah antara balok pengerat dan balok skor. merupakan bagian konstruksi atas yang berupa bidang segitiga dan dibuat berlapis. berfungsi sebagai tempat kedudukan balok bubungan dan kaki kudakuda. rangka utama berpegang. bahan lantai dari papan. ―Arung‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + 1 jengkal telunjuk + 3 jari pemilik. . dan bahan atap. bahannya dapat berupa bambu atau papan. dimensi balok ± 4/12 cm. kaso. dan diperkuat dengan pasak. Untuk golongan bangsawan ―Arung‖. Golongan hamba sahaja ―Ata‖ umumnya dari bambu. Balok blander ―Bare‖ atau ―Panjakkala”. atau 6 x 15 cm. dengan ketinggian disesuaikan dengan status penghuninya. Rakkeang/Pammakkang. berfungsi sebagai tempat bertumpunya balok ―suddu‖. Komponennya terdiri atas : Balok makelar ―soddu‖ atau ―suddu‖. tiang dilubangi setebal penampang balok pengerat kemudian padongko di tusuk pada setiap lubang dari tiang.

Ragam hias umumnya memiliki pola dasar yang bersumber dari corak alam. Umumnya bentuk yang sering ditemukan adalah : Kepala kerbau yang disimbolkan sebagai bumi yang subur. Atap. Gambar 2. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ pada rumah tradisional Bugis-Makassar merupakan salah satu bagian tersendiri dari bentuk dan corak rumah tradisional Bugis-Makassar. atau daun lontar. disamping motif yang lainnya. tangga tidak bersusun. daun yang memiliki arti rejeki yang tidak putus putusnya. seperti menjalarnya bunga itu. agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan baik dan membawa keberuntungan. Pada ”boyang adaq” diberi penanda sebagai simbolik identitas tertentu sesuai tingkat status sosial penghuninya. juga dapat berfungsi sebagai simbol status pemilik rumah. Umumnya bermotifkan kaligrafi dari kebudayaan islam. Rumah tradisional Mandar berbentuk panggung yang terdiri atas tiga bahagian. anjong. Simbolik lain dapat dilihat pada struktur tangga. Sedangkan pada boyang beasa. Pada boyang adaq. bintang tunggangan dan status sosial. susunan pertama yang terdiri atas tiga anak tangga. Bentuk naga yang diartikan simbol wanita yang sifatnya lemah lembut. sama ”Ethos Kosmos” yang berlaku pada etnis Bugis Makassar. penunjuk jalan. semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang. sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. Selain berfungsi sebagai hiasan. Umumnya bermotifkan bunga/ kembang. Penempatan ragam hias ornamen tersebut utamanya pada sambulayang/timpalaja. Fungsinya sebagai penahan angin yang berpegang pada balok gording dengan sistem sambungan pen dan lubang. sedangkan boyang beasa. Rumah Tradisional Bugis Makassar Konsep Mandar Identitas Arsitektur Tradisional Mandar tergambar dalam bentuk rumah tradisional yang disebut ”boyang” . Ornamen flora corak tumbuhan . Simbolik tersebut. rumbia. ”Boyang adaq” ditempati oleh keturunan bangsawan. alang alang. Ornamen fauna corak binatang. Kedua susunan anak tangga tersebut diantarai oleh pararang. sedangkan ”boyang beasa” ditempati oleh orang biasa. Penggunaan ragam hias tersebut menandakan bahwa derajat penghuninya tinggi.Les plank ―Ciring‖. flora dan fauna. Bentuk ayam jantan yang diartikan sebagai keuletan dan keberanian. tangganya terdiri atas dua susun. bahan dari nipa. kekuatan yang dahsyat. misalnya ”tumbaq layar” yang bersusun antara 3 sampai 7 susun. ujungnya kadang diberi hiasan ―Ornamen‖. Ornamen corak alam. berupa papan yang dipasang pada ujung sisi depan dan belakang atap. dikenal adanya dua jenis boyang. yaitu : ”boyang adaq” dan ”boyang beasa”. dan lain-lain. jendela. Bentuk pelana dengan sudut antara 30 hingga 40°. Bagian pertama disebut ”tapang” yang . ”tumbag layar‖ nya tidak bersusun.

tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna pada filosofi orang Mandar yang berbunyi : ”da’dua tassasara. sedangkan tiga saling membutuhkan adalah aspek ekonomi. Pada bagian atas penutup bubungan. tapang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan sebelum dihidangkan atau didistribusikan. Ruang tersebut diberi nama ”tapang”. dan persatuan. ‖Bui‘ boyang‖. Lantai tapang tidak menutupi seluruh bagian loteng. Ia ditempatkan pada kamar tersebut sebagai tindakan preventif untuk menjaga ”siriq” (harga diri). Bila ada hajatan dirumah tersebut. keadilan. Di ujung bawah atap. Tangga tersebut dirancang untuk tidak dipasang secara permanen. Adapun ketiga ‖lotang‖ ruangan tersebut adalah : ”Samboyang”. petak paling belakang. Pada umumnya hanya separuh bagian loteng yang letaknya di atas ruang tamu dan ruang keluarga. Ruangan tersebut terletak di bawah tapang yang menggunakan lantai yang terbuat dari papan atau bilah bambu. baik boyang adaq maupun boyang beasa mengenal tiga petak ruangan yang disebut lotang. Petak ini berfungsi sebagai ruang keluarga. terdapat tangga yang terbuat dari balok kayu atau bambu. Pada bagian depan atap terdapat ”tumbaq layar” yang memberi ”identitas” tentang status penghuninya. petak kedua disebut ”tangnga boyang” (petak bagian tengah) dan petak ketiga disebut ”bui’ lotang” (petak belakang). yaitu ”ate” (atap). Ornamen itu disebut ”teppang”. Bagian kedua disebut ”roang boyang” .letaknya paling atas. Ketiga petak di dalam roang boyang tersebut memiliki ukuran lebar yang berbeda. Atap rumah berbentuk prisma yang memanjang ke belakang menutupi seluruh bagian atas rumah. petak bagian tengah rumah. Rumah orang Mandar. Pada masa lalu. di mana aktivitas keluarga dan hubungan sosial antara sesama anggota rumah tangga. rumah-rumah penduduk. Pada ”tumbaq layar” tersebut dipasang ornamen ukiran bunga melati. Sedangkan petak yang paling depan lebih lebar dibanding dengan petak yang paling belakang. Tatanan dan aturan rumah adat. Struktur bangunan rumah orang mandar. Petak ini sering ditempatkan ”songi” (kamar) untuk anak gadis atau para orang tua seperti nenek dan kakek. baik pada bagian kanan maupun kiri diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. terdiri atas ”tallu lotang” (tiga petak). Petak yang di tengah biasanya lebih lebar dibanding dengan petak-petak yang lainnya. Penempatan songi untuk anak gadis lebih menekankan pada fungsi pengamanan dan perlindungan untuk menjaga harkat dan martabat keluarga. . Demikian pula bentuk pola lantainya yang segi empat. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. ”tapang” tersebut sebagai tempat atau kamar calon pengantin wanita. meliputi atap dan loteng. Tapang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpang barang-barang. yaitu ruang yang ditempati manusia. Petak pertama disebut ”samboyang” (petak bagian depan). terdiri dari bagian paling atas. baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. tiga saling membutuhkan). ‖Tangnga boyang‖. Pada masa lalu. Sesuai kodratnya anak gadis memerlukan perlindungan yang lebih baik dan terjamin. Untuk naik ke tapang. yaitu petak paling depan. dan bagian ketiga disebut ”naong boyang” yang letaknya paling bawah. baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. tallu tammallaesang” (dua tak terpisah. Di bawah atap terdapat ruang yang diberi lantai menyerupai lantai rumah. Adapun dua yang tak terpisahkan itu adalah aspek hukum dan demokrasi. hanya dipasang pada saat akan digunakan.

sehingga mempunyai banyak fungsi. membangun ”boyang” dan hasil kegiatan berupa ‖bangunan‖ atau rumah tradisional. bangunan tersebut tampak lebih indah dihiasi berbagai ornamen. Pada boyang adaq. Dinding rumah terbuat dari kayu (papan) dan bambu (taqta dan alisi ). tempat istirahat pada sore hari dan tempat duduk sebelum masuk rumah. seperti debuh. juga ada yang berdinding taqta dan alisi. tangga depannya bersusun dua dilengkapi dengan pasangan. Bagian yang lain pada rumah adalah rinding (dinding). Fungsi bangunan ini adalah sebagai tempat sandaran tangga depan. yaitu berkisar 11 sampai 13 buah. Bangunan tambahan yang ada di depan rumah yang disebut dengan ”lego-lego” (teras). yaitu tangga depan dan tangga belakang. Kendati demikian. Panjangnya minimal sama dengan lebar bangunan induk. Pada umumnya. pasir. kolong rumah hanya berlantai tanah. baik yang berbentuk ukiran maupun yang berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal. demikian pula untuk membukanya jika rumah tersebut akan dibongkar atau dipindahkan. Setiap tangga mempunyai anak tangga yang jumlahnya selalu ganjil. pemasangan lantai yang terbuat dari papan agak dijarangkan agar berbagai kotoran. Ruangan ini merupakan tempat lalu lalang anggota keluarga. Pada umumnya. boyang adaq memiliki anak tangga yang lebih banyak. ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu dari kalangan masyarakat biasa dan ata (budak). dan lebarnya minimal sama dengan satu petak bangunan induk. Terdapat ruang di bawah lantai yang disebut ”naong boyang” (kolong rumah). penghuninya berasal dari golongan ata (beasa). Pada masa lalu.Khusus pada boyang adaq. Hal itu dibuat secara utuh sebelum dipasang atau dilengketkan pada tiang rumah. Pada ”paceko” juga tersedia tempat buang air kecil yang disebut ”pattetemeangang”. Bangunan tambahan yang diletakkan di belakang bangunan induk disebut ”paceko” (dapur). Selain itu. Ada kalanya sebagai tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita. Mendirikan rumah ”boyang” melalui suatu tahapan kegiatan yang meliputi persiapan. Dinding rumah dirancang dan dibuat sedemikian rupa sesuai tinggi dan panjang setiap sisi rumah dan dilengkapi jendela pada setiap antara tiang. Bangunan ini disertai ruang yang lapang. Sedangkan ‖boyang beasa”. Sedangkan boyang beasa selain berdinding papan. Dalam . Jumlah anak tangga pada setiap tangga berkisar 7 sampai 13 buah. Olehnya itu. Sedangkan ‖boyang beasa” sekitar 7 sampai 9 buah. Pembuatan dinding seperti itu dimaksudkan untuk lebih memudahkan pasangannya. di dalam roang boyang terdapat ruangan atau petak yang lantainya lebih rendah ”tambing” atau ”pelleteang”. rumah yang berdinding taqta dan alisi. Letaknya selalu dipinggir dengan deretan tiang yang kedua dari pinggir. Bangunan ini biasanya lebih sempit dibanding dengan bangunan tambahan bagian belakang. dan sebagainya dapat lebih mudah jatuh ke tanah. Rumah tradisional Mandar. Ditempat itu sering dibuatkan ”rambang” sebagai kandang ternak. Jumlah tersebut disesuaikan dengan tinggi rumah. Bangunan tersebut biasanya dibuat secara menyilang dengan bangunan induk. boyang adaq mempunyai dinding yang terbuat dari papan. mulai dari pintu depan ke belakang. tangganya tidak bersusun dan tidak dilengkapi pegangan. baik ‖boyang adaq” maupun boyang beasa pada umumnya mempunyai dua tangga.

tidak lembek. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan ”bala”. setiap akan membangun rumah ”boyang” senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. dan Dzulkaiddah. Gambar 5. maka jenis rumah yang akan dibangun adalah ”boyang adaq”. seperti Muharram. Musyawarah lebih diutamakan pada penilaian status sosial yang akan menempati rumah tersebut. kamis. karena terkait dengan kepercayaan masyarakat tradisionalnya. Pemilihan waktu. menyiapkan ‖pappapia buyang” (tukang dan ahli) sesuai latar belakang sosial budaya penghuninya. Menurut mereka. Boyang Adaq Mandar Suatu bangunan rumah ”boyang” tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Pemilihan tempat mendirikan ”boyang” sangat terkait dengan kepercayaan tradisi masyarakat tentang adanya tanah yang baik dan kurang baik untuk dibanguni ”boyang”. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam pelaksanaan musyawarah dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). hari-hari baik adalah senin. lantai. pemilihan lokasi atau tempat mendirikan rumah. Tanah yang baik adalah tanah yang agak keras. Syafar. bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa. dan pengadaan bahan baku untuk tiang. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan ”keberuntungan” dan ”keselamatan”. Membangun rumah tradisional mandar memerlukan beberapa rangkaian kegiatan seperti musyawarah antar sesama keluarga atau kerabat. Bagi orang Mandar. yaitu bahan baku yang tersedia dari lingkungan alam sekitar (lokal) maupun dari luar (dari daerah lain). suatu rumah tradisional memiliki ciri khas terutama pada tipologi. Pemilihan waktu mendirikan ”boyang” juga sangat penting. yaitu arah timur tempat matahari terbit. Arah pergerakan matahari yang menanjak . Gaya arsitektur tradisional banyak dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang tersedia disekitar lingkungan alam setempat. Selain itu. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah.proses persiapan ada beberapa hal yang patut diperhitungkan. maka rumah yang akan dibangun adalah ”boyang beasa”. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan. dan ornamen yang ada didalamnya. yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan banyak tahu tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat tradisionalnya. tetapi memiliki nilai dan makna tersendiri sesuai dengan adat istiadat masyarakat tradisional Mandar. tanah tersebut sebaiknya ‖berbau wangi‖. keharmonisan dalam rumah tangga. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik. ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. dan jumat. agar keluarga mereka kelak dapat memperoleh kebahagiaan. karena itu kegiatan awal dalam memulai mengerjakan rumah senantiasa berpedoman pada waktu-waktu baik. atap dan sebagainya. Biasanya berada pada daerah yang relatif sedikit tinggi atau bukit. Sebab dari status sosial yang akan menempati rumah tersebut. bencana dan ketidak mujuran. Tanah seperti ini memberi makna keharuman. Dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. Orientasi rumah ”boyang” yang paling baik adalah berorientasi pada arah yang mengandung makna positif. Jumadil Awal. Olehnya itu. Dalam musyawarah tersebut penilaian dan penentuan susunan tumbaq layar juga dibicarakan. interior/eksterior.

tidak boleh terbalik. Jadi. Setiap jejeran ke samping biasanya terdiri atas lima batang. Penebangan kayu untuk ”possi arriang” harus dilakukan oleh ”sando boyang”. Jenis kayu yang diperuntukkan untuk possi arring tidaklah sembarang. Kelima tiang yang berjejer ke samping diupayakan memiliki lekukan dan bengkok yang sama. Penebangan kayu dilakukan pada pagi hari sekitar jam 09. maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik.00. jumlah pasak yang dibutuhkan sebanyak 18 buah. Waktu penebangan diupayakan pada hari-hari baik. Jenis kayu tersebut pada umumnya digunakan untuk ‖possi arriang” rumah biasa. bahwa diharapkan kelak rumah yang akan dibangun itu senantiasa dalam kondisi yang terang bercahaya. Ada hal yang penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan pada saat menebangan kayu. Tiang tersebut diatur dan disusun berjejer kesamping dan kebelakang. Pekerjaan seluruh tiang tersebut harus diperhatikan ujung-pangkalnya. Penebangan ayu (kayu) dan bambu biasanya disesuaikan dengan waktu baik. dimulai dari pembuatan tiang ”arriang”. yang pertama harus ditebang adalah bahan untuk membuat possi arring (tiang pusat). Adapun hari baik menebangan kayu untuk ”possi arriang” adalah hari ke 14 terbitnya bulan. Dalam pembuatan ”arriang”. maka dilanjutkanlah pekerjaan pada seluruh tiang rumah lainnya. Setiap rumah memiliki tiang minimal 20 batang. Pembangunan rumah tradisional ”boyang”. pekerjaan pertama yang harus dibuat adalah ”possi arriang” (tiang pusat). terutama rezki dan amal kebijakan. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar. maka harus menggunakan minimal lima tiang tambahan untuk Paceko dan dua atau empat tiang untuk lego lego.naik mengandung makna kebaikan. Hal ini dimaksudkan agar penghuninya kelak senangtiasa bersemangat atau bergairah dalam mengarungi kehidupan dunia. ”sando boyang” melakukan upacara ritual yang dilakukan sendiri dirumahnya. Sebelum melakukan penebangan. biasanya kayu ”sumaguri” dan ”cawecawe” . yang diharapkan selalu bertambah adalah nasib baik. Semua tiang pangkalnya harus berada di bawah. hal ini dimaksudkan agar cahaya matahari senantiasa menerangi rumah yang akan dibangun. Bagi rumah tradisional yang mempunyai paceko dan lego-lego. yaitu kayu tersebut harus tumbang dan jatuh kearah matahari terbit. Untuk jenis sumaguri mengandung makna ‖empati kepada seluruh masyarakat‖. kedua jenis kayu tersebut mengandung makna simbolis. Setelah ”possi arriang” usai dikerjakan. Sedangkan jejeran ke belakang biasanya empat batang (tidak termasuk tiang paceko). Rumah tradisional Mandar yang terdiri atas tallu lontang. lima . Pasak tersebut terdiri atas empat untuk passolor. dalam pengertian ini. orang Mandar menyebutnya ”tarrang bulan” (terang bulan). Dengan arah rumah ketimur. Sedangkan bahan bangunan diusahakan dan diambil dari lingkungan alam sekitar. empat untuk baeq. Dalam pengertian ini terdapat makna simbolis. cahaya matahari pagi dapat menyinari ruang lego-lego hingga kedalam rumah. jenis kayu tersebut banyak digunakan pada possi arriang rumah adaq. yaitu selalu bertambah ”naik” . Waktu-waktu baik adalah sama halnya pada saat memulai membangun rumah ”boyang”. tetapi pekerjaannya harus dimulai oleh sando boyang. atau pada hari ke delapan sebelum tenggelamnya bulan. Sedangkan jenis kayu cawe-cawe mengandung makna ‖semangat atau mengairahkan‖. Pada saat menebang kayu. Penebangan kayu dapat dilakukan oleh beberapa orang. Arah barat dianggap menghadap ke kiblat.

yaitu lego-lego. segala bahan kelengkapan upacara mattoddoq boyang. kelapa juga digantung pada ”possi arriang” . Kedua jiwa tersebut harus menyatu di dalam ”possi arriang” kemudian tiang ”possi arriang” disiram dengan air dari dalam cerek.araiang diaya dan aratang naong. maka harus ditambah lagi passollor dan baeq sebanyak lima buah. dilanjutkan pula pada pendirian tiang lego-lego. Lantai rumah tradisional Mandar terbuat dari papan (kayu) dan lattang. seperti paceko dan lego-lego. Prosesi ritual menurut kepercayaan masyarakat tradisional Mandar biasanya dimulai dari ”possi arriang”. Pada ”possi arriang” diikat lipaq (sarung) dan mukena atau kebaya. paceko dan lego-lego. biasanya dilengkapi tiga ”pepattuang” (jendela) dan satu ”ba’ba” (pintu). Pemasangan ornamen seperti itu hanya tampak pada jendela yang ada di bagian depan dan sisi kiri kanan rumah. Sedangkan secara horisontal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Setelah tiang berdiri. pepattuang ini biasanya diberi ornamen berupa ukiran dan terali dari kayu yang jumlahnya selalu ganjil. Untuk memperindah. . Seluruh tiang paceko juga diberi batu arriang. Pada dinding sisi kanan dan kiri rumah biasanya juga dilengkapi dengan pepattuang sebanyak dua atau tiga buah. Dinding sisi depan ini biasanya dilengkapi ornamen pada bagian luar di bawah jendela. bilamana rumah tersebut mempunyai tambing. Bila rumah tersebut ditambah paceko. Untuk boyang adaq. pisang. Pepattuang berbentuk segi empat yang rata-rata terdiri atas dua daun jendela yang berukuran sekitar 100 x 40 cm. Dinding rumah tradisional Mandar pada umumnya terbuat dari papan. paling diatas tempatnya). jumlah tiang lego legonya sebanyak empat batang. Pemasangan ornamen berupa ukiran dan terali-terali juga dapat dilihat pada bangunan tambahan di depan rumah. Jumlahnya tiga buah. Pada dinding sisi depan rumah. Letak pepattuang biasanya berada antara dua buah tiang rumah. maka setelah bangunan induk berdiri tegak dilanjutkan pendirian tiang paceko. Kayu ini disebut pambalimbungan (tulang punggung. Sarung melambangkan jiwa laki-laki dan kebaya atau mukena sebagai jiwa perempuan. Selain itu. Tambahan untuk Paceko biasanya terdiri atas satu deretan tiang yang jumlahnya enam batang ditambah satu batang di dekat tangga belakang. seperti tebu. dilanjutkan pemasangan aratang naong dan aratang diaya yang dikuatkan dengan passanna. maka harus ditambah lagi aratang diaya dan aratang naong masing-masing satu buah. Selain pasak. Terali-terali tersebut ada yang dipasang secara vertikal dan ada yang horisontal. alisi dan taqta. Sedangkan boyang beasa jumlah tiang lego legonya sebanyak dua batang. Sedangkan aratang diaya dan aratang naong masing-masing dua buah. Air yang tersisa di dalam cerek tadi dimasukkan dalam botol kemudian digantung pada ”possi arriang” . terdapat pula balok kayu yang bentuknya pipih menyerupai pasak. ”Lattang” biasanya dipilih tarring (bambu) yang besar dan sudah tua. Bahan kelengkapan upacara biasanya digantung setelah rumah berdiri. masingmasing satu buah untuk rumah induk. Bilamana rumah ”boyang” akan diberi tambahan bangunan. Setelah pendirian tiang paceko. Lattang ini biasanya dipakai pada lantai paceko. Daun jendela itu dapat dibuka ke kiri dan ke kanan. Secara vertikal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan Tuhannya.

lantai dan dindingnya dari kayu yang tebal. baik rumah bangsawan maupun rumah orang biasa di tana Mandar. Temperatur udara kawasan permukiman masyarakat Toraja berkisar pada 150 hingga 300C. Hal ini yang tercermin pada konsep arsitektur rumah mereka dengan ruang-ruang agak tertutup dengan “bukaan” yang sempit. bagian dari lingkungan makrokosmos. dinding. banyak dipengaruhi oleh ethos budaya “simuane tallang” atau filosofi “harmonisasi” dua belahan bambu yang saling terselungkup sebagaimana cara pemasangan belahan bambu pada atap rumah adat dan lumbung. Konsep Toraja Etnis Toraja mendiami dataran tinggi di kawasan utara Sulawesi Selatan. dan kepercayaan Aluktodolo yang menjiwai kehidupan masyarakatnya. memakai ”ragam hias ornamen”. musik. Harmonisasi didapati . Wujud konstruksi ini sangat diperlukan untuk menghangatkan temperatur udara interior rumah. budayanya unik. Ukuran atap rumah tradisional Toraja yang terbuat dari susunan bambu sangat tebal. rumah bagi masyarakat Toraja merupakan mikrokosmos. “Egocentrum”. kehidupan alam leluhur ―Todolo‖. pocci balla di Makassar dimana tiang menyatu dengan mother earth Pada masyarakat tradisional Toraja. dan makna-makna budaya dalam masyarakat. Masyarakat Tradisional Tana Toraja didalam membangun rumah tradisional mengacu pada kearifan budaya lokal–Kosmologi mereka yaitu :     Konsep ‗pusar‘ atau ‗pusat rumah‘ sebagai paduan antara kosmologi dan simbolisme Dalam perspektif kosmologi. Keunikan itu terlihat juga pada pola permukiman dan arsitektur tradisional rumah mereka. Pada umumnya wilayah permukiman masyarakat Toraja terletak di pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 2800m di atas permukaan laut. plafon dan sebagainya. ”Ornamen” selain berfungsi sebagai hiasan atau ornamen. dalam kehidupannya juga mengenal filosofi “Aluk A’pa Oto’na” yaitu empat dasar pandangan hidup : Kehidupan Manusia. Pada bagian atap. gambaran alam. kemuliaan Tuhan. upacara pengantin serta ritual upacara penguburannya. Pusat rumah meraga sebagai perapian di tengah rumah. fauna dan sebagainya dapat dijadikan corak ―ornamen”. tang dipegunungan dan berhawa dingin diduga mendasari ukuran pintu dan jendela yang relatif kecil. ataupun atap menjulang menaungi ruang tengah rumah dimana atap menyatu dengan asap-father sky Pusat rumah juga meraga sebagai tiang utama. seperti a’riri possi di Toraja.Ragam Hias dan Ornamen Pada umumnya rumah tradisional. baik dalam taritarian. Corak ―ornamen” umumnya bersumber dari alam sekitar manusia seperti flora. Keempat filosofi ini menjadi dasar terbentuknya denah rumah Toraja empat persegi panjang dengan dibatasi dinding yang melambangkan “badan” atau “Kekuasaan”. agama dan kepercayaan namun tidak semua flora. bahasa. Kondisi Tana Toraja. possi bola di Bugis. makanan. Dalam kehidupan masyarakat toraja lebih percaya akan kekuatan sendiri. fauna. adat dan kebudayaan. Selain itu konsep arsitektur tradisional toraja. juga berfungsi sebagai identitas sosial. Daerah ini tidak berpantai.

Kesemuanya ini diterjemahkan menjadi satu kata sederhana yaitu “keseimbangan” dan secara arsitektural “keseimbangan” selalu diaplikasikan kedalam bentuk “simetris” pada bangunan. kedudukannya sebagai rumah tempat membuat peraturan adat istiadat.. dan arah Barat adalah tempat bersemayam “To Membali Puang” atau tempat para leluhur ―Todolo”. dimana rumah dianggap sebagai “mikrokosmos”. yaitu tongkonan yang tidak mempunyai peranan dan fungsi sebagai tempat persatuan dan pembinaan keluarga dari keturunan pertama tongkonan itu.‖ Tongkonan Pokamberan/Pokaindoran‖. ―Tongkonan Pa’rapuan‖. . lumbung. 1999 Gambar 4. keterikatan dan berorientasi. Sedangkan fungsi dan kegunaan penataan lantai bangunan tradisional rumah adat Toraja. Atau selalu ada keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. didalam satu sistem kehidupan dan penghidupan orang toraja didalam area tongkonan. Rumah Adat Tradisional Tongkonan. Rumah tradisional Tongkonan Toraja Tata letak rumah tongkonan berorientasi Utara – Selatan. Gambar 3. kombong. bagian depan rumah harus berorientasi Utara atau arah Puang Matua ―Ulunna langi’” dan bagian belakang Rumah ke Selatan atau arah tempat roh-roh ―Pollo’na Langi’‖. Selain itu. makro dan mikro kosmos tetap terpelihara didalam tatanan kehidupan masyarakat tradisional toraja.dalam konsep arsitektur “Tongkonan” yang menginteraksikan secara keseluruhan komponen “tongkonan” seperti : Rumah. . rante dan liang. sawah. serta tempat pembinaan warisan. fungsinya sama dengan Tongkonan Batu A‘riri tetapi tidak boleh diukir seperti tiga tongkonan diatas dan tidak memakai Longa. jadi mempunyai arti sebagai tiang batu keluarga. karena peranannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Toraja.―Tongkonan Batu A’riri‖. Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip dasar Arsitektur Tradisional Toraja adalah simetris. Sedangkan kedua arah mata angin lainnya mempunyai arti kehidupan dan pemeliharaan. Ed. rumah adat Toraja adalah merupakan bangunan yang sangat besar artinya. pada arah Timur dimana para Dea ―Dewata‖ memelihara dunia beserta isinya ciptaan “Puang Mutua” untuk memberi kehidupan bagi manusia. yaitu rumah adat yang merupakan tempat melaksanakan aturan dan perintah adat dalam suatu masalah daerah.―Tongkonan Layuk‖. ―Tongkonan‖. ―Tongkonan‖ dalam fungsinya terbagi menjadi 4 macam tingkatan yaitu : . Kosmologi dalam arsitektur Toraja Sumber : Tjahjono. dibedakan atas : .

yaitu bangunan tongkonan tertua dari penguasa adat yang memegang fungsi adat ‖Togkonan Pasio’ aluk‖. . pada jaman sekarang ini banyak didapati di kebun kebun. melalui tahap-tahap sebagai berikut : .‖Tahap Mangraruk‖. Ruang ruang itu adalah Sumbung. yaitu bangunan pemerintahan adat Toraja yang mempunyai tiga ruang.‖Banua Dang Lanta’’‖. . dimana semua bahan bangunan diolah diukur untuk persiapan pendirian bangunan tersebut. . . Pada rumah ini hanya terdapat satu tiang untuk melaksanakan kegiatan sehari hari. . yaitu membangun suatu tempat untuk menyimpan bahan bangunan yang dinamakan ―Barung‖ atau ‖Loko Pa’ Tambenan‖. yaitu pekerjaan memasang dinding pengosokan berjejer keliling bangunan dan kayu Sangkinan Rindingan ini sama besar dan tingginya begitu pula pada jarak pemasangannya kecuali pada bagian sudut bangunan. adalah bangunan yang tidak mempunyai peranan adat seperti ‖Tongkonan Batu A’riri‖ yang terdiri dari dua ruang yaitu Sumbung sebagai tempat tidur dan Sali sebagai dapur. . yaitu mendirikan tiang tiang bangunan utama diatas batu parandangan yang sudah diatur dalam ukuran persegi panjang.‖Tahap Ma’ A’riri Posi’”. dilanjutkan dengan pengerjaan ‖Ma’ Pabendan‖.‖Tahap Pabenden Leke’”. adalah rumah untuk para Pengabdi kepada Penguasa Adat. yaitu sebagai pekerjaan permulaan untuk mengumpulkan seluruh bahan bahan bangunan yang diperlukan . Jadi bangunan rumah adat Toraja selama didirikan seolah olah tidak terkena sinar matahari dan hujan.‖Banua Patang Lanta’’‖.‖Banua Tallung Lanta’’‖.‖Tahap Ma’ Pabendan’”. Pekerjaan ini adalah pekerjaan permulaan dari pembangunan karena semua bahan bangunan sudah disiapkan. . yaitu mendirikan satu tiang tengah bangunan yang merupakan salah satu tiang yang mempunyai arti dalam pembangunan rumah adat Toraja. . Dalam proses pembangunan bangunan tradisional Toraja ini pengerjaannya dibagi menjadi 2 tahap yaitu : .‖Tahap No’ton Parandangan’”.‖Tahap Ma’ Sangkinan Rindingan‖..‖Banua Sang Borong‖ atau ‖Banua Sang Lanta‖. Sali dan Tangdo‘ yang berfungsi sebagai tempat upacara pengucapan syukur dan tempat istirahat tamu tamu. yaitu tempat membuat bangunan yang merupakan tempat mendirikan bangunan sampai selesai.‖Tahap Ma’ Tamben‖ atau ‖Ma’ Pabendan‖. yaitu mengatur dan menanam batu pondasi yang dipahat atau asli yang sudah cukup baik untuk menjadi batu pondasi. . Setelah semua pekerjaan tersebut diatas sudah selesai.

yaitu merupakan bagian depan agak miring dari bagian atap bangunan. yaitu pemasangan semua dinding yang dimasukkan dari atas ke dalam Sangkinan Rinding melalui semacam jaluran rel sebagai bingkai yang terpasang mati. ‖Tahap Ma’ Paleke’ Indo Tekeran”.‖Tahap Ma’ Papa”. rumah adat Toraja dibagi atas 2 bagian besar yaitu dengan menarik garis besar dari utara ke selatan yang dibedakan dengan nama Kale Banua Matallo dan Kale Banua Matumpu‘ yaitu bagian rumah sebelah timur dan bagian rumah sebelah barat.‖Tahap Ma’ Kayu Beke’i‖. Faktor inilah yang menyebabkan konstruksi dan arsitektur bangunan tetap sebagai dasar perancangan Tongkonan. . Sedangkan bagian luar dan dalam dibagi sebagai berikut : Interior rumah adat Toraja.‖Tahap Ma’ Rampani”.5 m. yaitu semua kayu yang panjangnya 3.‖Tahap Ma’ Pabendan Tulak Somba”.‖Tahap Ma’ Kamun Rinding‖. . .‖Tahap Ma’ Palaka Indo’ Para‖. yaitu merupakan pekerjaan yang sangat berat karena pemasangan Tarampak sampai ke bubungan tidak boleh berhenti. yaitu pemasangan kayu diatas kayu Ma‘ Petuo sebagai tempat mengatur kayu kayu membentuk segitiga dengan badan rumah. . dengan persilangan pada ujung atasnya dan ujung bawahnya disambung pada kayu Rampanan Papa‘ sebagai tempat mengatur kayu kecil kecil yang bernama Tarampak.. yaitu pemasangan kayu pamiring yang membentuk longa dan berpangkal pada kayu Rampanga Papa Longa.‖Tahap Ma’ Petuo”.‖Tahap Ma’ Paringgi”. Semua bangunan rumah adat Toraja mempunyai peranan dan fungsi tertentu. yaitu tangga pembantu pemasangan semua bagian dari Longa dan bila telah selesai maka Ma‘ Benglo Longa dibongkar. Jadi bagian bagian dari rumah adat Toraja pulalah yang menentukan struktur arsitekturnya antara lain . . . fungsi fungsi tersebut tidak akan berubah sepanjang letak dari bangunan itu tidak berubah yaitu atap menghadap keutara sebagai orientasi bangunan. yaitu tempat menumpunya kayu Rampanan yang fungsinya mengikat dan mengatr atap. yaitu pemasangan 4 buah kayu Ma‘ Petuo sebagai tumpuan bagi kayu bubungan. karena adanya hubungan pandangan keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan dari bangunan.‖Tahap Ma’ Benglo Longa‖. . . yaitu pemasangan kayu Tulak Somba menopang bagian depan dan bagian belakang Longa. .

‖Tingayo Banua‖ atau ‖Lindo Banua‖. . yaitu jendela yang terletak disebelah barat bangunan. Lobang ini berjumlah 3 buah dan tidak tertutup dengan ukuran 10 x 15 cm.‖Suluk Banua‖. .‖Pentiroan‖. ‖Pentiroan Matallo‖.‖Kale Banua‖.‖Longa‖ bagian menjulang dari atap bangunan di sebelah utara dan selatan. yaitu bagian muka bangunan yang digunakan sebagai tempat melakukan upacara pengucapan syukur dan pemujaan. Peranannya sebagai tempat mengurung hewan hewan ternak pada malam hari untuk menjaga tuannya diatas rumah. Berfungsi untuk menyimpan peralatan dan pakaian upacara adat. pemasangannya pada tengah bangunan pada ruang tengah. .. yaitu jendela yang terletak disebelah timur bangunan. Jendela ini dibuka pada waktu ada upacara pemakaman orang mati. yaitu kolong dari bangunan rumah yang dibentuk oleh tiang tiang yang dihubungkan oleh sulur yang dinamakan roroan. Exterior rumah adat Toraja. yaitu jendela jendela pada seluruh badan rumah yang kelihatan pada 4 sisi. Jendela jedela itu adalah :     ‖Pentiroan Tingayo‖. yaitu bagian badan dari bangunan yang terdiri dari ruang/petak mulai utara ke selatan. ‖Pentiroan Pollo’ Banua‖. Jendela ini terbuka terus pada waktu upacara kematian atau bila didalamnya ada orang yang sakit. yaitu jendela yang terletak dibelakang rumah menghadap ke selatan. yaitu 2 buah jendela yang terletak dibagian muka rumah menghadap ke utara. ‖Pentiroan Mampu’ ‖.‖Rattiang‖ atau disebut juga loteng yaitu bagian atas dari rumah yang sebagian ditutupi atap. Jendela ini dapat terbuka dan tertutup setiap saat. Jendela ini dibuka pada pagi hari dan dibuka terus pada waktu upacara pengucapan syukur. . .

ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. pengaruh budaya luar. yaitu kayu yang dibentuk seperti kepala kerbau dengan tanduk asli tanduk kerbau yang mengartikan bahwa Tongkonan ini adalah Tongkonan pemimpin masyarakat dengan kata lain tempat melaksanakan peranan dan kekuasaan adat Toraja. Perkembangan arsitektur tradisional dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : waktu. Masa arsitektur klassik. . bangunan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal ataupun sebagai tempat bermukim keluarga. Dari Masa Kemasa”. . Dari masa lampau hingga masa kini ada 4 masa perkembangannya yang dapat ditelusuri yaitu : Masa arsitektur tradisional. pola hidup.‖Matallo Banua‖.‖Pollo Banua‖.‖Matampu Banua‖. . Secara tradisi. Fungsinya sebagai tiang penopang sekaligus tempat melekatnya tanduk karbau hasil pesta mendirikan rumah. Terutama pengaruh iklim.―Tulak Somba‖ yaitu tiang tinggi penopang ujung depan dan belakang bangunan adat Toraja yang dinamakan Longa. . Masa arsitektur modern serta Masa arsitektur post modern. . curah hujan.―A’riri Posi’‖ yaitu tiang tengah pada bangunan rumah adat Toraja yang hampir kelihatan berdiri sendiri diantara ruang selatan dan ruang tengah.―Katik‖ adalah bentuk kepala aya jantan yang berkokok. tetapi melambangkan sesuatu hal atau kegiatan serta problem kehidupan masyarakat. Arsitektur tradisional Toraja misalnya. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ rumah adat Toraja adalah sebagai berikut : . Arsitektur tradisional sangat dipengaruhi oleh keadaan dan potensi alam sekitarnya yang sering diambil menjadi motif utama pemberi corak.‖Kabongo‖. yaitu bagian bangunan sebelah barat. tumbuhtumbuhan yang dipakai sebagai bahan bangunan dan batu-batuan. “Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan. arsitektur tradisional merupakan pilihan satu-satunya. Masa arsitektur tradisional : pada masa ini budaya asli dan pola hidup masyarakat tradisional berkembang didalam masyarakat tanpa ada pengaruh luar.―Passura‖ yaitu ukiran tradisional pada bangunan adat Toraja yang bukan hanya sebagai hiasan. mempunyai sudut kemiringan atap yang tajam karena curah hujan di daerah ini besar. Perletakan Katik ini adalah diatas kuduk dari Kabongo yang mengartikan pimpinan yang menjalankan pemerintahan pada masyarakat tertentu. yaitu bagian sebelah timur atau kanan bangunan sebagai tempat acara pemujaan kepada Deata. . . yaitu bagian belakang bangunan sebagai tempat pelepasan orang mati.

ruangan yang sangat luas dan plafond tinggi dan berorientasi keatas. Gaya gaya klasik ini terlihat pada Gereja yang lebih menekankan pada konsep sakral yaitu : Manusia itu kecil dihadapan Tuhan. Karena semen. Masa Arsitektur Klassik adalah masa berkembangnya arsitektur klassik dari Eropa yang masuk ke Indonesia. Perihal ragam hias ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan yang sering ditemukan dan banyak memberi warna. Ghotic dan Barouq. Gaya arsitektur klassik terus tumbuh. Cara penyelesaian arsitektur seperti ini dikenal sebagai cara untuk memperoleh wibawa dan menekankan perasaan manusia yang berada di dekatnya atau didalamnya sehingga merasa lebih kecil dan tidak berarti didekat bangunan atau kolom yang besar. ruangan atau komponen bangunan yang berskala mega atau melampaui skala manusia. Masa Arsitektur Modern : Konsep arsitektur modern menekankan faktor “fungsionalisme” dan “efesiensi” . Disini peran proporsi dan skala dari bangunan. Bahan bangunan lokasi seperti . Dimasa arsitektur klassik ini. beton dan besi jauh lebih menjamin kekuatan dan keawetan bangunan. mereka juga membawa gaya arsitektur Cina. Ornamen dipakai sebagai ungkapan arti simbol simbol suatu benda yang dianggap mempunyai arti khas dalam penghidupan dan kehidupan masyarakat tradisional etnis bersangkutan. batu merah. kolom yang besar. atau didalam ruangan yang luas dengan plafond yang tinggi itu. ruang dan komponen sangat penting. Arsitektur tradisional yang lebih mengutamakan penggunaan bahan bangunan alamiah mulai dilupakan. dipakai menghiasi dinding dan tiang sesuai tradisi masing masing etnis. masuk ke Indonesia. bentuk bangunan. arsitektur tradisional mulai tersisihkan. dan rerumputan untuk bahan atap mulai kurang dipakai. berkembang dan mewarnai karakter berbagai bangunan penting. Sejak masa ini. prinsip dasar. misalnya desain dan teknologi bahan bangunan. tata ruang. struktur dan konstruksi. struktur dan konstruksi menjadi lain. penggunaan bahan bangunan. Begitupun ketika pedagang Cina. Gaya arsitektur ini lebih dikenal melalui rancangan Istana Raja dan Gereja di Eropa. bangunan besar dengan lantai atau permukaan tanah yang ditinggikan. Model arsitektur klasik sangat berbeda dengan arsitektur tradisional. kayu. bambu.Bambu dipakai sebagai atap dan plafound karena banyak hutan bambu di Tana Toraja. seperti terlihat pada rumah ibadah “Klenteng” dan perumahan didalam “Kampung Cina” yang masih dapat dilihat di beberapa kota besar di Indonesia. bentuk tata ruang. bahan bangunan. Demikian pula halnya bahan kayu yang dipakai sebagai tiang dan dinding. Ilmu pengetahuan dan teknologi arsitektur modern memberi warna lain bagi perkembangan kearsitekturan. Perbedaan itu terlihat dalam hal konsep. tidak hanya pada Gereja tetapi juga bangunan Pemerintah Kolonial dan perumahan mereka. Arsitektur Klassik disebut pula ―Arsitektur Kolonial‖ karena gaya ini hadir pada zaman kolonial. Arsitektur Klasik mencakup gaya Renaissance. Konsep arsitektur modern pada dasarnya lebih menekankan fungsionalisme dan efesiensi yang mengutamakan . Misalnya. yang kemudian menyebar keseluruh dunia seiring penyebaran agama Katolik dan Protestan. Para arsitektur menerjemahkannya kedalam bahasa non verbal dengan menampilkan bangunan.

Temperatur udara sekitar 26. karakter dan ciri khas sangat penting untuk dihadirkan kembali. Beberapa arsitektur modern masa kini. Gaya arsitektur Post-Modern yang sedang melanda dunia kearsitekturan juga merambah masuk ke Indonesia melalui kota-kota besar. ornamen. funsionalisme dan efisiensi menjadi tidak mengikat lagi. Bahkan kedua unsur ini dapat ditemukan pada seluruh gaya arsitektur tradisional di Indonesia. Ternyata arsitektur modern sebagai suatu konsep yang mengutamakan fungsionalisme dan efisiensi itu lebih mampu mewadahi aktifitas manusia moderen sampai sekarang.90C. Konsepsi Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Sebagai Reinkarnasi “Karakter” Pengembangan Kawasan Budaya Dan Pariwisata Lokal. atau kombinasi lainnya. Pemakaian bahan bangunan pun menjadi lebih bebas dan beragam. Pada arsitektur masa kini dimana modernitas dan tradisional muncul bersamaan. yaitu antara 22. Gaya arsitektur tradisional yang beranekaragam di Indonesia menjadi sumber inspirasi utama dalam pengayaan gaya post-modern ini selanjutnya. Masa Arsitektur Post-Modern adalah model arsitektur masa kini. mulai tidak dipersoalkan. warna-warni dan bentuk yang unik. Sulawesi Selatan secara geografis terletak pada 0012‘~80 Lintang Selatan dan 116048‘~122036‘ Bujur Timur. Meskipun demikian arsitektur tradisional masih memiliki dan menampilkan persamaan yaitu : unsur vertikal dan horisontal. Dalam perkembangan selanjutnya. Ini juga menjadi suatu pertanda bahwa arsitektur di Indonesia sedang mencari bentuk lain seiring dengan kecenderungan masyarakat dan para arsitek memanfaatkan warisan budaya masa lampau untuk menemukan identitas baru yang dapat dipakai sebagai simbol dalam era globaliasi ini. Arsitektur Post –Modern ini memunculkan kembali arsitektur tradisional. Identitas. Masalah lain akan timbul bila dua macam atau lebih arsitektur tradisional yang berbeda disatukan di dalam satu gubahan arsitektur. Gaya post-modern ini lebih menonjolkan simbolisme. Kemudian muncullah masalah-masalah akibat benturan antara tradisional dengan modernitas. beridentitas etnis dan menyatakan status sosial melalui arsitektur tradisional sebagai simbol agar mempunyai “nilai Aktualisasi” . Daerah ini merupakan Jazirah Barat Daya Pulau Sulawesi. Unsur tradisional memang hadir tetapi lepas dari prinsip dasar dan norma norma khasnya. klasik. Nampaknya gaya ini menoleh dan menggali dan memanfaatkan keunikan arsitekturan tradisional dan seni masa lampau untuk berimajinasi ke masa depan.50C. . seperti Toraja dengan Bugis. Cara pernyataan diri ini menjadi lebih menarik karena tradisionalisme ditarik hadir dalam pola hidup modern. nampaknya ada kecenderungan untuk menjawab keinginan masyarakat tampil lebih eksis. menjadi rancu akibat dari perbedaan prinsip dasar. arsitektur modern ini mendominasi karya-karya arsitektur di Indonesia. Pada masa ini. Toraja dengan Bali. filosofi dan konsepnya.30C ~ 34. dengan daerah dataran. dirancang dan dibangun dengan mengawinkannya dengan unsur-unsur arsitektur tradisional tetapi terkadang bauran dengan unsur tradisional itu sendiri. pegunungan dan lautan. Toraja dengan Jawa.kenikmatan penghuni dan keleluasaan ruang gerak manusia.

ukiran yang cantik dan warna yang alami. seni ukir. menikmati berbagai pengalaman pada keunikan budayanya. seni tradisional. Sumatera. Dalam hal arsitektur rumah tradisional Bugis-Makassar secara umum sejenis. upacara adat. Pola ruang. Benteng ini menjadi salah satu contoh terbaik dari arsitektur bangunan peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. pakaian. prasejarah dan sejarah Sulawesi Selatan telah melahirkan kekayaan budaya yang menarik. Bahkan sampai kebagian utara Australia. Malaka kepulauan Maluku di Kawasan Timur Indonesia. beberapa pulau di samudera Pasifik sampai kepantai Afrika. Bugis dan Mandar terkenal sebagai pusat kelahiran pelaut berjiwa patriotik.Bahan bangunan untuk atapnya adalah bambu. pola ruang. Kelompok etnis yang paling besar di Sulawesi Selalatan adalah Bugis dan Makassar. Dipelabuhan ini terlihat kapal-kapal layar Phinisi khas Bugis-Makassar yang terkenal itu berlabuh. Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial yang paling terawat di Indonesia. Dengan perahu layar tradisionalnya mereka mengarungi lautan kepulauan Indonesia. musik dan tari-tarian. Arsitektur rumah tradisional Toraja juga berupa rumah panggung.Letaknya berada di daerah katulistiwa hingga masyarakatnya berpeluang hampir sepanjang tahun bisa bercocok-tanam. Seseorang dapat mengamati. Mereka berlayar untuk berniaga ke berbagai bandar niaga di Pulau Jawa. bahkan sampai ke Madagaskar (Mattulada 1998:3). Suku Makassar. Latar belakang geografis. Makassar. struktur dan konstruksinya sangat berbeda dibanding rumah arsitektur tradisional Bugis-Makassar. dan besaran rumah tradisional Bugis-Makassar mempunyai korelasi positif dengan tingkat strata sosial pemiliknya. tenun benang kapas dan sutra serta arsitektur tradisionalnya.Makassar dan Mandar yang menghuni kawasan pantai mempunyai pelaut-pelaut ulung. Makassar merupakan salah satu kota bandar niaga terbesar di Indonesia bagian timur. itu masih dapat ditemukan di beberapa daerah misalnya pada upacara religius. Pada abad XVI Etnis Bugis. baik dimasa perang maupun dimasa damai. ornamen. Rumah tradisional Toraja atapnya melengkung. Masing-masing yang berbeda dalam bahasa dan sebagian budayanya. Benteng peninggalan kolonial Fort Rotterdam dan sejumlah bangunan peninggalan kolonial lainnya seperti rumah kediaman Gubernur menjadi bukti sejarah keberadaan Belanda di kota Makassar. . Pelabuhan Paotere yang berada di utara Ujung Pandang merupakan kawasan pelabuhan kapal tradisional. Dalam sistem sosial masyarakat Bugis dan Makassar ada strata sosial masyarakat yang menentukan arsitektur rumah tinggal mereka. yaitu rumah panggung dengan atap pelana yang sebagian besar bahan bangunannya dari kayu. Daerah Sulawesi selatan dihuni oleh tiga etnis utama yaitu Bugis. Mandar dan Toraja. pintu dan jendela rumah Bugis-Makassar relatif besar. Makassar dan daerah sekitarnya juga terkenal memiliki pelaut ulung yaitu orang orang yang ahli membuat kapal laut sekaligus mumpuni berlayar. tetapi. Kemungkinan kondisi ini diwujudkan untuk mengeliminir temperatur udara panas terutama yang lokasinya di daerah hilir dan pantai. Perbedaan itu terlihat juga pada jenis makanan. Ukuran ruang.

Selain itu bangunan Vihara yang bergaya arsitektur Cina juga banyak terdapat di kota ini. instrument musik dan berbagai macam kostum pakaian adat. Istana ini berupa bangunan rumah kayu dengan gaya arsitektur Bugis-Makassar. restoran.ciri kota Makassar. Ada beberapa bangunan peritirahatan khas Eropah yang sayangnya kini tidak ditemukan lagi Maros merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke pulau ini wisatawan dapat menumpangi perahu motor milik pengelola atau menyewa speed boat. Lokasi wisata ini dilengkapi fasilitas antara lain pondokan. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani pada tahun 1667. Sultan Hasanuddin dan Pangeran Diponegoro yang di asingkan Belanda dari Jawa ke kota ini. karena masyarakat keturunan Cina banyak bermukim di jalan itu dan sekitarnya. Monumen Mandala di jalan. Dimasa lalu pulau ini menjadi tempat peristirahatan dan wisata petinggi kolonial Belanda. Makam Diponegoro dan sebuah monumen untuk mengenang jasa pahlawan yang gagah berani ini terdapat di jalan Diponegoro.Sebelum Fort Rotterdam dibangun. Di luar kompleks makam Pahlawan nasional ini terdapat Batu Pelantikan yang disebut “palantikang‖ merupakan tempat dimana dulu Raja-raja Gowa dilantik sebagai pemangku kerajaan dan dianugerahi mahkota kerajaan. di tenggara kota Makassar. Kegiatan yang banyak dilakukan wisatawan di pulau ini selain memancing adalah snorkling. Pulau Kayangan terletak sekitar empat mil laut atau sekitar 15 menit dengan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Laut dekat pelabuhan Soekarno-Hatta. panggung hiburan. gedung serba guna dan anjungan untuk memancing beragam jenis ikan laut. salah seorang raja Gowa yang sangat terkenal. Dimasa lalu bagunan ini adalah istana Sultan Gowa. Di kawasan ini terdapat Makam Sultan Hasanuddin. Pada Museum tersimpan koleksi yang hampir sama dengan museum yang terdapat di Benteng Fort Rotterdam. Di pulau ini tersedia beberapa penginapan kecil yang juga menyediakan fasilitas makan. termasuk tetangga yang berbatasan langsung dengan kota Makassar atau dikenal Kabupaten penyangga kota . Makassar juga merupakan kota tempat peristrahatan terakhir dua pahlawan besar Indonesia. Sisa-sisa arsitektur kerajaan Gowa masih dapat ditemui di kawasan pinggiran. Makassar. di tempat ini terdapat benteng yang disebut Benteng Pannyua milik kerajaan Gowa yang dibangun pada sekitar tahun 1545. Pulau kecil yang terletak di lepas pantai kota Makassar ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur. Beberapa kilometer ke arah selatan kota Sungguminasa terdapat Museum “Balla Lompoa”. Kemudian Benteng ini dikuasai Belanda ketika sukses menyerang dan menduduki daerah ini. Pahlawan nasional Pangeran Dipenogoro menjalani penahanan masa pengasingan selama 26 tahun di Fort Rotterdam. hidup antara tahun 1629 – 1670. Jendral Sudirman merupakan tugu berbentuk menara yang menjadi salah satu ikon arsitektur. Tidak jauh dari kompleks pemakaman Sultan Hasanuddin terdapat Mesjid Katangka yang juga memiliki kompleks makam di mana di dalamnya terdapat beberapa kuburan dengan arsitektur khas. Pulau Kayangan adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas satu hektar. Belanda kemudian memodifikasi ulang benteng itu yang selanjutnya dikenal dengan nama Fort Rotterdam. khususnya di jalan Sulawesi. Dalam bangunan benteng ini terdapat Museum Negeri La Galigo yang memiliki koleksi antara lain peralatan makanan dan memasak dari Tana Toraja. Makassar.

Dekat dari Bantimurung terdapat gua Leang Leang. Di lokasi ini terdapat Air Terjung Bantimurung yang berada di lokasi perbukitan kapur yang subur dengan aneka tumbuhan. sehingga selain akan memberi kenyamanan tersendiri juga terhindar dari kemacetan arus lalu lintas jalan raya. juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut. Menurut cerita rakyat bahwa pada zaman dahulu. di lokasi wisata ini terdapat Museum kupu-kupu. terlebih dengan suasana matahari terbenamnya yang indah. juga memiliki panorama alam sekitarnya sangat menawan dan indah.000 tahun yang lalu. Untuk menuju Kota Makassar melalui pantai Kuri dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan menelusuri pesisir pantai. Obyek wisata Alam Gua Pattunuang di Kabupaten Maros selain kaya akan akan stalagtit dan stalagmit yang menakjubkan. Keberadaannya menjadikan kawasan yang pertama dapat dikunjungi setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Pada kawasan ini terdapat batu besar yang berbentuk perahu yang menyimpan legenda menarik.Makassar. Terdapat lukisan tua yang dilukis pada dinding gua yang diperkirakan berusia 5000 tahun SM. Batu tersebut kemudian dikenal masyarakat sekitar dengan julukan “Biseang Labboro” yaitu perahu terdampar. terdapat pula sebuah gua dengan stalagtit dan stalagmitnya yang menakjubkan. Malino di Kabupaten Gowa adalah kawasan resort pegunungan yang terkenal sejak awal kemerdekaan Indonesia. Letaknya sangat strategis yaitu antara kota Maros dan Kota Makassar. Obyek wisata andalan ini cocok untuk kegiatan wisata alam di lembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu. Obyek-obyek wisata di Kabupaten Maros yang banyak dikunjungi wisatawan antara lain Bantimurung. namun karena lamarannya ditolak akhirnya saudagar tersebut malu dan mengkaramkan perahunya yang kemudian menjelma menjadi batu. Di kawasan Bantimurung ini pernah dibangun rumah-rumah peristirahatan dengan arsitektur khas Bugis-Makassar. Di kawasan ini terlihat aneka ornamen yang indah. burung dan serangga yang langka. Selain air terjun dan kupu-kupunya. Berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai di tempat ini. Prasejarah berupa gambar babi rusa serta puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding – dinding gua. Sayangnya Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang megah itu kurang menyerap ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. pernah ada saudagar dari Cina yang datang untuk melamar guna mempersunting gadis Samangki. Kawasan ini pernah menjadi tempat pertemuan antara para pemimpin Kalimantan dan pemimpin daerah Indonesia timur lainnya ketika mereka membentuk negara federasi Indonesia sebagai hasil perundingan dengan pemerintah belanda. Gua ini diperkirakan menjadi tempat kediaman manusia purba yang hidup di daerah ini pada masa 8000 hingga 30. Selain lukisan prasejarah. Diperkaya lagi dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing. Bantimurung terkenal karena menjadi habitat aneka jenis kupu-kupu yang cantik. namun sayangnya tempat itu musnah terbakar. Tempat yang disebut juga Taman Prasejarah Leang-Leang ini terletak pada deretan bukit kapur yang curam dan para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat disekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia yang ditandai dengan lukisan. Kawasan ini merupakan salah satu pantai yang sangat ideal untuk dinikmati. Di kawasan Malino . Sejumlah obyek wisata pantai juga dapat dijumpai di Maros seperti Pantai Kuri dengan pasir putihnya.

Kuburan ini memiliki ciri khas ornamen yang indah. Kabupaten Jeneponto meski dikenal sebagai wilayah yang kering. Kecamatan Kelara. Di desa Kampala. . Konon. ujung – ujung panah. Kecamatan Bissappu terdapat Gua Batu Ejaya. Puisi – puisi lama pada abad ke–14 pernah memuji kualitas kapal buatan daerah ini. Salah satu obyek pantainya yang terkenal adalah Birtaria Kassi di Kecamatan Tamalatea dengan pantai yang landai dan sudah tertata baik. wisatawan dapat menyaksikan rumah panggung berjejer di antara areal persawahan.terdapat tempat-tempat peristirahatan bergaya arsitektur kolonial yang masih terjaga keberadaannya. sekitar 300 meter dari jalan raya. Ia melakukan penggalian arkeologi dan menemukan alat – alat batu jenis calsedon berupa serpihan yang digunakan sebagai pencerut. Masyarakat setempat menggunakan buah pohon kapuk itu sebagai bahan baku untuk membuat kasur. Daerah ini kaya akan sejarah maritimnya. Di utara Bantaeng terdapat sebuah air terjun yang cukup mengesankan. Di sekitar gua itu terdapat banyak pohon kapuk. Bangunan induknya terdiri dari penampil dan tubuh masjid. Pemandangannya indah dengan pegunungan yang berada di kanan – kiri air terjun yang tingginya mencapai 20 meter. Di kawasan ini juga terdapat kolam pancing dan berbagai restoran. Di sini. Di sekitar permandian ini udaranya sejuk dengan pemandangan alam berupa perbukitan yang ditumbuhi pohon dan tanaman berwarna hijau. Air Terjun Boro. Di kawasan ini rumah-rumah dibangun berarsitektur khas Bugis –Makassar. Selatan dan Barat terbuat dari tembok yang mempunyai ventilasi udara dari roster porselin berwarna hijau. Bantaeng adalah pusat pembuatan kapal orang Bugis dengan reputasi yang terkenal selama ratusan tahun. ilmuwan dari Belanda. Pada masa lalu. Dinding masjid bagian timur terdiri dari empat pilar bergaya arsitektur Eropa. Kecamatan Eremerasa. Letaknya di atas bukit yang datar. Di kota Bantaeng terdapat juga bangunan-bangunan khas gaya arsitektur kolonial. mandi atau berendam di laut atau berlayar dengan perahu. penginapan dengan bagunan berarsitektur Bugis-Makassar. Bantaeng merupakan daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Masjid Tua Tompong juga menjadi salah satu obyek yang dikunjungi wisatawan. berlokasi di Desa Tompobulu. masjid ini dibangun pada tahun 1887 atas prakarsa Raja Bantaeng Karaeng Panawang pada abad 12. ditunjang berbagai fasilitas kolam renang. Di sepanjang jalan. toko souvenir dan arena hiburan anak – anak. Kuburan Raja – Raja Binamu merupakan kuburan para Raja – Raja Binamu yang pernah memerintah di Butta Turatea Jeneponto. Derajat yang di makamkan disana dapat dilihat dari patung yang berada di atas kuburan. Dinding masjid di bagian Utara. wisatawan dapat melakukan kegiatan olahraga pantai. Gua Batu Ejaya pernah diteliti tahun 1937 oleh Van Stein Callonfols. Tidak terlalu sulit menemukan pantainya yang landai dengan udara yang nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas olahraga pantai. Karena daerah ini pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan kolonial Belanda. Di Kelurahan Bontojaya. terdapat Permandian Alam Emmerasa. ternayata memiliki juga panorama alam yang indah dan asri dengan pepohonan yang rindang. Masjid kuno ini memiliki atap bentuk tumpang tiga.

Kecamatan Bantaeng. Pantai Mandala Ria di Desa Ara Kecamatan Bontobahari terdapat rumah-rumah khas Bugis Makassar. Pulau Selayar terletak di arah tenggara dari daratan semenanjung Sulawesi Selatan ini memiliki pantai berpasir dengan panorama yang indah.Makam Raja – Raja La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam yang terletak di tengah kota Bantaeng. tempat pembuatan perahu tradisional dan di sekitar pesisir dijadikan kawasan cagar alam dengan aneka satwa liar yang dilindungi. Panorama alam yang indah. Pantai di tempat ini memiliki pasir yang putih. terletak di Kecamatan Bonto Bahari.617 meter persegi. snorkeling dan menyelam. Pantai lemo-lemo. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan pantai barat Pulau Selayar atau di Benteng yang merupakan kota utama di pulau ini. Pantai dengan hamparan pasir putih ini menjadi tempat yang asyik untuk menikmati sunrise dan sunset yang amat mempesona. Kelurahan Pallantikang. Untuk bermalam telah dibangun beberapa cottage ala arsitektur Bugis-Makassar yang dipadukan dengan pendekatan konsep arsitektur modern. La Tenri Ruwa adalah Raja Bone ke 11 yang pertama menerima ajakan dari Raja Gowa XIV Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin untuk memeluk agama Islam. Di arah selatan ibukota kabupaten Bulukumba terdapat desa tempat pembuatan kapal juga sejumlah obyek wisata yang dikenal dengan nama Pantai Bira. tepatnya di Lingkungan Lembang Cina. Bulukumba merupakan salah satu tempat keberangkatan kapal yang menuju ke Pulau Selayar. Mereka hidup dalam kesederhanaan dengan pakaian serba hitam dan bangunan rumah mereka dominan berwarna hitam dan mereka hidup dengan melestarikan hutan sebagai warisan leluhur. Pada hari biasa. Pantai bira memiliki keragaman biota laut yang sangat indah. Selain pesona pantai berpasir putih yang indah. juga tersedia sumber air tawar di laut disaat surut. Kajang adalah kampung adat yang menjadi pemukiman dengan rumah-rumah adat khas Kajang. Bangunannya terdiri dari rumah induk dan pendopo. Di kompleks ini terlihat kuburan dan nisan dengan ornamen yang khas. Di kawasan pantai ini. tempat ini bagus untuk bersantai namun pada hari libur selalu ramai dengan pengunjung. Di kabupaten ini terdapat desa-desa orang Bugis -Makassar yang bermukim di sekitar pantai Bulukumba. Luas tanahnya sekitar 1. wisatan dapat berenang. Di kota Bantaeng terdapat Balla Lompoa-rumah adat khas Bugis Makassar yang dulu menjadi tempat bermukimnya raja – raja Bantaeng. selebihnya batu cadas. Kerajinan masyarakat berupa sulaman dan miniatur perahu phinisi dapat dijadikan souvenir menarik dari lokasi ini. Pulau yang berbentuk memanjang tapi sempit ini dihuni oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Beberapa kilometer di . Oleh sebab itu dalam kompleks bangunan ini terdapat sekitar 159 buah bangunan makam yang menyerap gaya arsitektur Islam. batu bata dan batu kapur yang memakai bahan perekat. Di sekitarnya terdapat rumah – rumah penduduk berarsitektur tradisional. Bahan baku bangunan makam itu terbuat dari batu karang. Masyarakatnya masih sangat terikat dengan adat istiadat yang bersumber dari ajaran pasang/wasiat yang disebut ”Pasangnga Ri Kajang” yang dikomunikasikan lewat ”Ammatoa” sebagai pemangku adat. Berbagai jenis ikan hias dan terumbu karang beraneka warna. Rumah-rumah mereka berarsitektur Bugis Makassar.

Pulau Kodingare. Pulau Kambuno. tebal dinding siwali reppa -setengah depa. Suka dan Bala Suka). Untuk wisata bahari daerah potensi pengembangan untuk wisata bahari adalah Pulau – pulau Sembilan di Kecamatan Sinjai Utara. Pulau Kanalo 2 dan Pulau Larearea yang merupakan daerah potensial untuk dijadikan obyek wisata bahari. Manipi. Terasa. direnovasi dengan model arsitektur Eropa dan selesai tahun 1868. Kabupaten Sinjai merupakan daerah yang terletak di pantai timur bagian selatan jazirah Sulawesi Selatan dan berada di kaki Gunung Bawakaraeng. Di museum ini tersimpan peninggalan Kerajaan Bone dan benda-benda peninggalan Arung Palakka seperti keris. keberadaan rumah panggung ini menunjukkan bahwa sejak masa lalu masyarakat Bone telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil yang cukup tinggi. Selanjutnya pada zaman penjajahan Belanda tahun 1864. Wisata budaya dan sejarahnya sangat kaya. pakaian kerajaan. patung. Bone adalah ibukota kabupaten Bone. Manimpahoi. Pao. Rumah tersebut dibangun akhir abad ke 19 atau tahun 1890. Museum Lapawawoi di pusat kota Watampone. Pulau Liang Liang. Rumah adat bugis yang terletak di pusat Kota Watampone ini adalah bekas istana Panglima Perang Kerajaan Bone Andi Baso Pagiling Putra Mahkota Raja Bone XXXX Lapawawoi Karaeng Sigeri. Taka Bone Rate merupakan pulau karang atol yang terletak di tenggara Pulau Selayar atau di utara Pulau Bone Rate. Di dekat Pulau Selayar terdapat Pulau Pasi di mana wisatawan dapat melakukan kegiatan air snorkeling. Hal ini merupakan potensi wisata budaya yang tiada nilainya. sebagai daerah bekas wilayah gabungan antara Kerajaan Tellulimpoe (Tondong. tentunya menyimpan benda – benda peninggalan sebagai tanda kejayaan kedua kerajaan tersebut di masa lalu. menyimpan potensi wisata bahari maupun wisata alam berpemandangan yang tidak kalah menariknya dengan daerah lainnya. Pada awal dibangunnya tahun 1560. Antara lain rumah adat Bola Soba di Kelurahan Manurungnge. Bulo Bulo dan Lamatti) dengan Kerajaan Pitulimpoe (Turungeng. bajubaju adat dan foto-foto keturunan Raja-raja Bone juga sarat dengan sejarah. Untuk kegiatan wisata alam. yang memiliki stalagtit dan stalagmit menyerupai bentuk makhluk sehingga muncul legenda Alleborenge Ri Mampu atau kutukan Kerajaan Mampu. Kecamatan Tanete Raittang. Pulau Kanalo 1. Benteng Balangnipa berjarak 2 km dari pusat kota Sinjai. Pulau atol Taka Bone Rate adalah yang terbesar ketiga di dunia dengan luas sekitar 2220 km2. Bone banyak memiliki gua-gua alam seperti Gua Mampu di Desa Labbeng. Adalah salah satu daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan. benteng ini merupakan dasar yang bahannya berupa batu gunung yang diikat oleh lumpur Sungai Tangka. Pulau Katingdoang. Selain itu. Di Selayar terdapat juga rumah adat yang berarsitektur khas.selatan Benteng terdapat Benteng Bontobangun. berbentuk segi empat dan memiliki empat buah pertahanan yang disebut bastion. Pulau Batanglampe. Kecamatan Sinjai Utara. Legenda tentang kerajaan yang . terletak di Kelurahan Balangnipa. Pernak-pernik itu sangat indah dalam bentuk dan warnanya. Pulau – pulau Sembilan terdiri dari 9 buah pulau yakni Pulau Burungloe. Pantai Lasia di Kecamatan Sinjai Timur dan Desa Pattongko Kecamatan Tellulimpoe.

Kecamatan Bungoro sekitar 3 km dari kota Pangkajene yang berada pada poros Makassar – Pangkep. A. Wisatawan dapat menyewa perahu jika berminat melihat ‖desa terapung‖ di dekat Bajoe. Di Soppeng masih banyak ditemukan bagunan bergaya arsitektur kolonial. Pulau ini disebut juga Citra Mustika Langka atau Pulau Wisata Bahari Muslim karena pengunjung menghadapi sejumlah ketentuan misalnya harus berbusana muslim. Di kelurahan Balloci Baru terdapat Taman Laut Pulau Kapoposan di Desa Mattiro Ujung Kecamatan Liukang Tupabiring. bertengger di pohon – pohon taman kota dengan suara berisik yang khas. Bajoe yang terletak 7 km di sebelah timur Bone merupakan kota pelabuhan dan penyeberangan menuju ke Kolaka di Sulawesi Tenggara. ada sekian mitos yang berkembang bahwa keberadaan kalong ini yang jumlahnya ratusan hingga ribuan ini. Di bagian timur pantai yang landai dan berpasir putih sudah dilengkapi dengan fasilitas akomodasi dengan bangunan rumah khas berarsitektur Bugis Makassar. perahu yang diperkirakan berusia 5000 tahun. sekitar 25 menit dengan speed boat dari Pelabuhan Bining Kassi. laki – laki dan perempuan yang bukan muhrimnya tidak diperkenankan serumah dan tidak diperbolehkan ada judi. Di beberapa gua. kompleks makam Labalata dan Kalokkoe serta makam Lapatau Matanna Tikka di Desa Nagauleng. Ibukotanya Watansoppeng atau disebut juga kota kalong atau kelelawar. Sejumlah makam menjadi obbyek wisata ziarah seperti komplek pemakaman Raja Kalokkoe (Laleng Bata) sekitar 3 km dari kota Watampone dan makam Raja-raja Watang Lamuru di Desa Labalata. babi. Konstruksi dan . rusa. Di pemandian ini juga terdapat Gua Mattampa dan taman rekreasinya yang dilengkapi fasilitas olahraga dan pertanian terpadu dan pusat percontohan pengembangan kolam air tawar dan tempat memancing. Kecamatan Cenrana. Makam-makam ditempat ini dibuat dengan bentuk yang khas. Rumah-rumah masyarakat di kawasan itu dibangun dengan khas arsitektur Bugis-Makassar. Pangkajene. dibangun oleh C. Soppeng merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan.dikutuk menjadi batu ini disampaikan secara turun temurun di tengah masyarakat setempat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam. jet sky dan fasilitas olahraga lainnya. Keberadaan kalong di jantung kota Watansoppeng semakin menambah pesona kota ini karena ibukota Watansoppeng dijuluki sebagai kota kalong. Salah satu diantaranya yang cukup terkenal diberi julukan ‖Rumah Tinggi” Villa Yuliana merupakan salah satu bangunan arsitektur peninggalan Belanda di Kabupaten Soppeng. Uniknya kalong ini hanya mau berdiam dan bergelantungan di pepohonan sepanjang kota Watansoppeng. Sejumlah fasilitas tersedia mulai dari akomodasi. Krosen tahun 1905 selaku Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi. Kepulauan ini memiliki gugusan terumbu karang yang padat dan indah yang di sela – selanya berenang ikan – ikan hias aneka warna dari berbagai spesies. terdapat peninggalan purbakala berupa gambar telapak tangan. bangunan ini terletak di jantung kota Watansoppeng. Obyek pantai lainnya adalah Pulau Langkadea. Pemandian alam Mattampa merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Pangkep yang terletak di Kelurahan Samalewa.

sayangnya pusat penenunan sutera milik rakyat umumnya terletak di . Di obyek ini pengunjung dapat berenang dan menikmati keindahan panorama alam. Luwu dan Sidenreng dari abad XVII. Dalam kompleks tersebut terdapat bangunan. pembangunan villa ini merupakan wujud kecintaan terhadap Ratu Yuliana. Kecamatan Lalabata ini dikenal dengan airnya yang jernih. Rumah Adat Sao Mario terletak di Kelurahan Manorang Salo. Itu terlihat pada ornamen-ornamennya. Pada obyek wisata Ompo ini terdapat areal yang luas untuk perkemahan dan Motor Cross dan juga terdapat sebuah danau buatan yang cukup luas sebagai areal bermain perahu dan memancing ikan air tawar. Sengkang merupakan kota yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Villa ini merupakan bangunan kembar. Namun. antara lain : Bola Ridie -Rumah Kuning yang berfungsi untuk menyimpan berbagai jenis atribut kerajaan. satu di antaranya ada di Nederland. senjata tajam dan berbagai macam batu permata. Salah satu daya tarik kota Sengkang adalah produk kain sutera. Makam Jera Lompoe adalah makam Datu/Raja-Raja Soppeng. Kecamatan Marioriawa. terdapat berbagai jenis rumah adat yang bergaya Arsitektur Bugis. meja. Pemandian yang terletak di Kelurahan Ompo. sejuk. Pemandian Alam Ompo merupakan salah satu tujuan wisata andalan pula. Menhir Latammapole sebagai tempat menjalani hukuman bgi orang yang melanggar adat dengan cara mengelilingin 7ya kali. dilihat dari bentuk nisannya terdapat pengaruh kebudayaan Hindu. Pemandian Alam Citta terletak di Jantung Desa Citta. SalassaE berfungsi sebagai Istana Datu Soppeng. Kecamatan Liliriaja. berhadapan dengan Villa Yuliana yang dibangun sekitar tahun 1261 pada masa Pemerintahan Raja Soppeng I Latemmalala yang bergelar Petta Bekkae. Di tempat ini terdapat fasilitas peristirahatan yang dibangun dengan gaya campuran tradisional dan modern. Kain sutera banyak dijual di pasar Sengkang seperti selendang sutera. Minangkabau dan Batak. Di dalam kompleks Rumah Adat Sao Mario ini. Makassar. Pemandian ini berada dalam kawasan hutan lindung yang berbukit dengan panorama alam yang indah. nyaman di Desa Bulue. Mandar. Kota Sengkang terletak di pinggir Danau Tempe yang memiliki panorama indah. Kompleks Istana Datu Soppeng terletak di jantung kota Watansoppeng. Hasil industri tenun milik rakyat. Melihat bentuk. type orintasi dan data historis makam ini dapat dikatakan bahwa Islam masuk sekitar abad XVII. Toraja.arsitektur bangunan ini merupakan perpaduan gaya Eropa dan gaya Bugis. Makam ini terletak di Kelurahan Bila Kecamatan Lalabata sekitar 1 km sebelah utara kota Watansoppeng. tempat tidur. perkampungannya masih banyak yang khas berarsitektur Bugis-Makassar dan berbagai aktivitas masyarakat sekitarnya seperti pengolahan tembakau secara tradisionil. Rumah adat ini juga berfungsi sebagai museum dengan koleksi berbagai jenis barang antik yang bernilai tinggi dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri seperti : kursi. Sengkang memang dikenal sebagai pusat industri sutera. Pemandian Air Panas Lejja merupakan salah satu objek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Namun. Kecamatan Marioriawa.

Pada bagian tengah pulau terdapat pohon – pohon tua yang digelantungi oleh ratusan kelelawar. Pemandian Air Panas Lemosusu ini memiliki panorama alam yang meski failitasnya masih sederhana untuk mandi maupun berendam. Pemandian air panas lainnya terdapat di Kelurahan yang sama menuju arah PLTU Bakaru. Di lokasi ini telah dibangun kolam renang yang sumber airnya dari kedua mata air tersebut. Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke Sungai Walanae. Kawasan air terjun dengan ketinggian 60 meter ini di bawahnya terdapat kolam – kolam alami dan bebatuan untuk beristirahat. Sementara pada bagian Timur terdapat pantai berbatu keras yang tahan hantaman ombak. Tak heran bila hari libur banyak dikunjungi wisatawan lokal setempat. Gugusan pulau yang menyembul dari laut ini mempunyai luas 7 hektar didominasi oleh vegetasi hutan pantai termasuk hutan bakau yang mengitari pulau – pulau bagian Barat dan Utara. kemiri dan kelapa. Anda harus menyewa angkutan umum. Pemandian air panas terdapat di Kelurahan Maminasse pada jalan poros Pinrang-Sidrap. Terdapat sebuah villa berarsitektur modern di pulau ini yang digunakan wisatawan untuk beristirahat. Sebagai daerah pertanian yang memiliki sumber daya alam yang cukup. Pinrang dikenal sebagai salah satu ‖Lumbung Pangan‖ di Sulawesi Selatan sekaligus penghasil udang. ikan bandeng. Pemandian Air Panas Sulili ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas lainnya termasuk pondok wisata sehingga banyak dikunjungi wisatawan domestik. kakao. Pulau Kamarrang di Kelurahan Ujung Labuang dapat ditempuh dari Ujung Lero sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu motor. Berada di kawasan seluas 2 hektar dan mempunyai empat sumber air. . Panorama alam pegunungannya membuat tempat ini terasa sejuk dan nyaman sehingga menjadi tempat memadu kasih dan diyakini mereka yang datang berpasangan bisa berjodoh. Terdapat sebuah makam tua di pulau ini dan dikeramatkan oleh para peziarah untuk menyatakan dan melepas nazar bila keinginannya dikabulkan. Pinrang juga memiliki kekayaan laut yang membentang sekitar 93 km dari kota Parepare sampai ke Polewali Mamasa. Untuk dapat menuju ke desa-desa ini. Ada dua sumber air yang mendukung tempat ini yaitu sumber air panas dan sumber air dingin. Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang menjadi habitat satwa burung. mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu Batu yang berada di tengah danau. air mengalir melalui batu – batu gunung dan menciptakan air terjun kecil sehingga seolah bersusun – susun. Air terjun lainnya masih di kelurahan yang sama sekitar 20 km dari kota Pinrang disebut Air Terjun Kalijodoh. Dua buah air terjun terdapat pula di Kabupaten Pinrang yaitu Air Terjun Karawa di Kelurahan Betteng. sekitar 12 km dari Pinrang.desa-desa di sekitar Sengkang yang tidak memiliki akses angkutan umum. Dari kolam alami ini. kopi. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat.

Istana yang berfungsi sebagai museum Batara Guru ini menyimpan benda – benda pribadi dan peralatan yang pernah digunakan Rja – Raja Luwu. Masyarakat Toraja secara etnografis dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu Toraja Barat. pengunjung harus melalui sekitar 480 anak tangga dan di dalam gua terdapat makam leluhur To Tana Lalong terdiri dari Liang Kabongian dan Liang Sugi Sakalikuku. Wisatawan yang mengunjungi Toraja umumnya berkumpul di Rantepao. Secara geografis Tana Toraja berada di pegunungan pada pangkal semenanjung Sulawesi Selatan. Danau ini menjadi habitat aneka flora dan satwa burung.100 hektar yang merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba. peralatan dan perlengkapan upacara adat dan benda pusaka. Untuk mencapai gua. Di Kabupaten Luwu terdapat Istana Kerajaan Luwu atau disebut juga Museum Batara Guru. Makam Raja – Raja Luwu ‖Lokkoe‖ yang artinya gua tempat peristirahatan. . Rantepao adalah kota hujan karena hujan hampir selalu turun sepanjang tahun dengan udara yang dingin pada malam hari. Istana ini didirikan pada tahun 1922 – 1924 oleh seorang arsitek Belanda bernama Obsenter Noble pada masa penjajahan Belanda di Luwu dengan bangunan bergaya Eropa. Tana Toraja merupakan daerah tujuan wisata internasional yang paling menarik dan paling terkenal di Sulawesi. Kecamatan Lamasi memiliki ragam stalaktit dan stalagmit dengan warna – warna yang indah. Timur dan Selatan. Kota ini terletak di daerah pegungungan yang memiliki banyak danau. Danau-danau di wilayah ini saling berhubungan melalui banyak sekali sungai-sungai kecil. Dari kota ini bisa dilakukan perjalanan kekota pertambangan Soroako. Pada umumnya mereka bermukim di sekitar Rantepao dan Makale. namun yang banyak dikenal orang luar khususnya wisatawan asing adalah Toraja Selatan yang dikenal juga dengan nama Toraja Sa‘adan atau Saqdan. misalnya. Kota terletak di dekat Danau Matano seluas 16. Terletak di pusat kota Palopo dan bentuknya unik seperti bentuk piramida. Di sini juga terdapat benda – benda antik seperti keramik. ibukota administrasi Tana Toraja. Rantepao merupakan kota terbesar di Tana Toraja dan juga pusat perdagangan di wilayah ini.400 hektar dan merupakan danau terdalam di Sulawesi. terletak di pusat kota Palopo. Di kawasan yang indah permai ini masih bisa ditemui desa-desa tradisional dengan sawah yang membentang luas. Kota kecil yang cantik ini dikelilingi perbukitan yang puncaknya sering ditutupi kabut dan di dekat kota terdapat sebuah danau buatan. Rumah adat ini sering dimanfaatkan untuk berbagai upacara baik upacara adat ataupun upacara Pemerintah Daerah. bangunan rumah tradisional Tongkonan dengan arsitektur yang unik khas kebudayaan Toraja yang sangat menarik. Di tempat ini dimakamkan para Raja Luwu yang pernah berkuasa. Kota ini menjadi titik awal bagi wisatawan yang ingin megeksplorasi segala keunikan dan keindahan Toraja. Gua Liang Andulan di Desa Siteba. Di sebelah selatan Danau Matano terdapat Danau Towuti seluas 56. Di Kota Palopo telah dibangun rumah adat yang cukup besar berarsitektur Bugis.Kota Palopo adalah ibukota kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan. Di kota ini masih banyak terdapat rumah-rumah yang dibangun dengan arsitektur khas Toraja.

Ini perlu segera direvitalisasi. Kalau pun ada upaya-upaya menyerap model arsitektur rumah tradisional. Pada banyak kasus. jika saja hal tersebut terus dilakukan dalam kesadaran tinggi. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Dalam Konteks Ketahanan Budaya Lokal. Hasil penelusuran. Itu salah satunya yang menyebabkan rumah berarsitektur tradisional yang mengandung berbagai kearifan itu dinilai kuno. Pemanfaatan model arsitektur tradisional pada bangunan masa kini. ditinggalkan atau bahkan cenderung dilupakan itu. Agar dapat terlihat secara jelas bagaimana esensi kearifan budaya lokal yang diterapkan itu ternyata masih bisa sangat fungsional. Semakin cepat dilakukan transformasi akan semakin besar dan efektif manfaatnya bagi masyarakat. pentingnya berbagi kesadaran untuk sama-sama berusaha menggali dan memahami kembali kearifan dan keunggulan yang terkandung dalam ranah arsitektur rumah tradisional. ketinggalan zaman hingga pelan-pelan mulai ditinggalkan pemangku kepentingan. tidak mau mengadopsi potensi arsitektur rumah tradisional. Mencari wujud arsitektur tradisional untuk rumah yang baru dengan penerapan secara bijak dan mematuhi kaidah-kaidah dengan tepat. ternyata sering dianggap tidak lagi mampu sepenuhnya mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat. serta bagi kelestarian alam dan lingkungan. seharusnya terus menerus dilakukan secara konsepsional. ultra modern atau pasca modern yang sepenuhnya mencerminkan kekinian terbaru. untuk generasi sekarang dan generasi penerus. Konsep arsitektur tradisional yang diterapkan pada kawasan wisata . Upacara penguburan ini. karena penerapan model arsitektur tradisional yang salah. pengkajian dan pelestarian kearifan lokal dalam yang masih dimiliki. Alasan inilah yang mendasari pemikiran. tidak mengabaikan kaidah-kaidah sebagaimana mestinya mengakibatkan bangunan atau rumah itu bermasalah. arwah orang yang mati akan memberikan kemalangan bagi keluarga yang ditinggalkan. tradisional diidentikkan dengan masa lalu yang kuno dibanding dengan modern.Salah satu upacara adat yang paling mengesankan di Toraja adalah upacara penguburan mayat yang sudah terkenal ke seluruh dunia. dengan dinamika tuntutan kehidupan moderen yang selalu cepat berubah dengan variasi-variasinya. Ada pula paradigma yang menilai bahwa dalam konteks waktu. Padahal. perlu ditransformasikan untuk menjadi bekal pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu arsitektur. Seringkali dianggap terjadi ketidakserasian antara keberadaan model arsitektur tradisional yang boleh dikatakan cenderung stagnan. Penerapan wujud identitas dan karakter budaya lokal pada arsitektur rumah tradisional diberbagai kawasan wisata. menjadi ajang ditampilkannya ornamen-ornamen khas Toraja yang sangat indah. bukan karena pertimbangan aktualisasi kekayaan arsitektur tradisional. maka proses adopsi itu secara umum masih belum cukup memuaskan karena hadir hanya sebagai tempelan artistik pemanis. Pemahaman seperti itulah yang mendasari pertimbangan hingga penerapan model baru pada arsitektur rumah atau bangunan masa kini dengan corak kekinian pula. sebatas ornamen ringan semata. Kearifan dan keunggulan yang mulai tak diabaikan. sangat penting disadari bahwa transformasi model arsitektur tradisional ke arsitektur moderen sebenarnya dapat terproses secara baik dalam penataan ruang dan lingkungan dari waktu ke waktu. Orang Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini.

Perlu pula selalu diperhitungkan. namun perubahan lingkungan strategis etnis yang mengadopsi kearifan-kearifan lokal perlu pula terus ikut diperhitungkan dan dipertahankan guna menjadi roh bagi pengembangan sekaligus dan meningkatkan ketahanan arsitektur berciri tradisional. Untuk mewujudkan ketahanan budaya dan konteks pelestarian ―Esensi” dan pengembangan ―Substansi” arsitektur tradisional Sulawesi Selatan maka.budaya lokal. maka itu merupakan ‗arsitektur tradisional‘. bergantung dari sudut pandang yang menilainya: Jika Rumah Tradisional Bugis Makassar seperti : Balla Lompoa. . Keberadaan model Tongkonan bisa dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan sekaligus dipadukan dengan konsep arsitektur modern. Bahwa mempertahankan jatidiri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi. dalam kenyataannya bahwa dibangun oleh masyarakat tradisional Bugis-Makassar berdasarkan kaidah budaya Bugis-Makassar. tentunya mereka datang karena ingin menikmati keunikan budaya Toraja. Misalnya dengan penataan secara menyeluruh atas bangunan dan lingkungan diseputar Bola Soba dan juga Balla Lompoa – rumah khas Bugis Makassar. dengan menanam pohon lontara atau pohon pandan di tamannya sebagai salah satu cara mempertahankan aura masa lalu. demikian pula bila mengingat ―Balla Lompoa” tercipta berdasarkan kaidah dari bakuan teknik arsitektur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hal tersebut dapat ikut ditransformasikan melalui kesadaran akan keunggulan budaya yang dimiliki. perlu dengan sengaja ditata suatu lanskap yang berorientasi pada arsitektur etnis Bugis-Makassar nan harmonis. Hidup dan kehidupan memang berhak terus berkembang seiring zamannya.     Perlu upaya memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan sebagai warisan budaya. Suatu obyek arsitektur memang dapat menyandang lebih dari satu atribut kategorisasi. Di kawasan itu. salah satunya adalah melihat bentuk serta mengapresiasi arsitektur Tongkonan yang unik itu. seiring dengan perubahan waktu dan kemajuan teknologi yang bergerak ke masa depan. maka itu merupakan ―Arsitektur etnis Bugis Makassar‖. misalnya. sekaligus merupakan ―arsitektur tradisional”. apalagi mengingat Tana Toraja sebagai dareah tujuan wisata Sulawesi Selatan yang wisatawannya datang dari manca negara. Jika ditilik dari strata masyarakat bangsawan yang membangun dan menggunakannya maka Balla Lompoa masuk dalam kategori ―arsitektur klasik‖. Bola Soba. bisa berperan menjadi transformator atas nilai yang ingin diwariskan untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal sekaligus nasional. Perlu upaya memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian. bagaimana penataan suatu kawasan wisata budaya dan sekitarnya yang menyatu dalam konsep arsitektur rumah tradisional setempat. Begitu pula dengan Tongkonan ma’dandan atau batu a’riri yang merupakan ―arsitektur etnis” Toraja.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali nilai dari kearifan arsitektur tradisional lokal dampaknya akan semakin baik, termasuk upaya-upaya transformasi, pewarisan nilai dan teknologi arsitektur tradisional dari para sesepuh, cerdik cendekia bidang budaya, sosiologi dan arsitek rumah tradisional akan sangat baik sebelum mereka terlanjur berpulang. Diharapkan dengan terwujudnya kelestarian arsitektur tradisional lokal Sulawesi Selatan dapat merajut kembali kejayaan masa lalu yang bermanfaat menjadi kebanggan masa kini. Warisan itu diwujudkan dalam explicit knowledge, yang sangat kita perlukan dalam memantapkan konsepsi ketahanan budaya lokal etnis oleh generasi masa kini dan generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa mendatang. BAHAN BACAAN
          

           

Abbas, Ibrahim (1999), Pendekatan Budaya Mandar. Hamid, Abu (1986). Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Makassar : Antropologi Unhas. Budi Santoso (1997), Pembangunan Nasional Indonesia dengan Berbagai Persoalan Budaya dalam Masyarakat Majemuk. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (2005), Informasi dan Potensi Investasi Pariwisata Sulawesi Selatan Djauhari Sumintardja (1998), Kompendium Sejarah Arsitektur Djauhari Sumintardja (1988), The House in Tana Toraja (Traditional Housing in Indonesia). Faisal (2007), Arsitetur Tradisional Mandar Provinsi Sulawesi Barat Josef Prijotomo (1988), Pasang surut arsitektur di Indonesia Koentjaraningrat (1993), Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan Kostof, S. (1991), A History of Architecture. Rituals and Settings. Mangunwijaya,YB, (1992) Wastu Citra, Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Mattulada (1982), Geografi Budaya Daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Depdikbud Nasrul Baddu (1990), Rumah tradisional Bugis Makassar Ronald Arya (2005), Nilai-nilai Arsitektur Tradisional Jawa Rudofsky, B. 1964. Architecture Without Architects. Sampebulu, DR, Ir, M.Eng, (1990), Tradisionalisme dalam arsitektur masa kini Saliya Yuswadi, Ir, M.Arch, (1992), Ragam Hias dalam arsitektur Tradisional Toraja Sachary, A. (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Desain, Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya. Tangdilintin, LT, (1979), Tongkonan (Rumah adat Toraja) dengan struktur seng dan konstruksinya. Tjahjono, G. Editor. (2001). Indonesian Heritage. Vol. 6. Architecture. Tuan, Y.F. (1974).Topophilia. A Study of Environmental Perception, Attitudes, and Values. Tang, Mahmud (1998), Reaktualisasi Nilai-nilai budaya Bugis Makassar dalam Kehidupan Sosial Pada Era Revormasi. Rinwar Karim, Muktahim, Adnin Sakti, (1992), Arsitektur tradisional Bugis Makassar.

Yudono Ananto, Prof, DR, Ir, MSc, (2008) Kearifan arsitektur tradisional rumah panggung dalam hunian modern.

Wikantari Ria, DR, Ir, M.Arch, (2008), Kearifan arsitektur lokal Kawasan Timur Indonesia : Tinjauan Ragam Lintas Etnik Comments: Be the first to comment

ESTE DE LACOSTE
Posted October 9, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAN IDENTITAS DOSEN Nama NIK/NIDN : : DR.Ir.Drs. Syahriar Tato, SH, MS 110018518/NIDN. 09.2102.5101

Tempat/tanggal lahir Agama/Jenis kelamin Pangkat/Golongan/Terhitung mulai tanggal Alamat rumah dan No.Tel/Faks/ e-mail Tlp : 0811417696 / 081524058227 email : ariegagahdeh@gmail.com

: :

Pinrang 21-2-1951 Islam/Laki-laki

:

( IV/C (01-04-06), Kep. No.25/KTH. 2006)

:

Jln.Bau Mangga III no. 3, Makassar

1. Pendidikan yang pernah diikuti :

JENJANG

BIDANG Administrasi Negara

PERGURUAN TINGGI STIA – LAN RI. Makassar Universitas Muslim Indonesia Universitas Satria Makassar UNHAS UNHAS Akademi Teknologi Negeri Makassar

TAHUN MASUK /LULUS 1980/1984 1984/1990 2006/2009 1990/1992 1994/2004 1970/1975

S1

Teknik Sipil Hukum Pidana PLH Perencanaan dan Penyehatan Lingkungan Program Ilmu-Ilmu Teknik Arsitektur

S2 S3 Profesi Spesialis Lain-lain D3

1. a. Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman Pada Kawasan Pantai Kotamadya Ujung Pandang Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III : : : DR.Ir. Yulianto Sumalyo, M.Sc Prof.DR.H. Rahardjo Adisasmita, M,Ec DR.Ir. Sampe Paembonan, MS Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair Rumah

b. Judul Disertasi : Tangga Dengan Filter Biogeokimia

1. Pembimbing I 2. : Prof.DR.Ir.H. Muh.Arief, Dipl.Ing Pembimbing II Pembimbing III Pembimbing IV : : : Prof.DR.H. Syahrul, M.Agr DR.Ir.H. Muh. Saleh Pallu, M.Eng DR.Ir. Mary Selintung, Msc

1. Judul penelitian terakhir dan tahunnya : :

1. Karya terpenting dan tahunnya 1. Penghargaan dalam bidang ilmu/

Perencanaan wilayah dan Kota Univ.profesi/pendidikan beserta tahunnya : 1. NAMA MATA KULIAH Pembangunan Daerah Methode Penulisan Ilmiah Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Program Dan Proyek Prasarana Wilayah Dan Kota I Prasarana Wilayah dan Kota II Perencanaan Pariwisata Konsep dan Struktur Tata Ruang Manajemen Proyek dan Program Pembangunan Daerah JENJANG S-2 S-2 S-2 S-2 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 SKS 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 PERGURUAN TINGGI STIA-LANRI STIK Tamalate STIK Tamalate STIA LANRI PWK UIN PWK UIN PWK UIN PWK UIN STIA – PARIS STIA – PARIS 1. 9. 6. . Mata kuliah yang diberikan di luar perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO 1. Daftar karya ilmiah yang ditulis dalam 3 tahun terakhir NO 1. Pengalaman mengajar 2. Prasarana Wilayah dan Kota I JENJANG S-2 SKS 2 1. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI 3. 7. 3. 4. Satya Karya 1985 Mentri PU 2. Sistem Perumahan Dan Pemikiman 1. JUDUL TULISAN Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan TAHUN 2005 DITERBITKAN SEBAGAI : *) Jurnal SPASIAL. 8. 5. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI 1. 10. Mata kuliah dalam program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH 1. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI 4. Mata kuliah di luar program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH JENJANG S-1 SKS 2 PROGRAM STUDI PWK 1. 2. 45.

45. Ir. Mei 2006 Jurnal SPASIAL. sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan 2006 3.Tata Guna lahan – system transportasi sebagai 2. SH. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem 2008 5. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Daftar Artikel Dosen (Dr. 45. Air Sumber kehidupan. 45. 2004 . 45. Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia 2003 4. Drs. Oktober 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 2 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah 1. 45. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. April 2009 1. Manajemen Strategik organisasi seni budaya Filter Biogeokimia. 2007 4. Mengolah limbah cair perkotaan 2003 5. masihkah lestari 2003 2. Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban 2009 Mei 2005 Jurnal SPASIAL. Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota 2008 6. April 2008 Jurnal SPASIAL. April 2007 Jurnal SPASIAL. Juni 2008 Jurnal SPASIAL. Syahriar Tato. Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. MS) selama 10 tahun terakhir NO JUDUL ARTIKEL TAHUN DITERBITKAN SEBAGAI : *) Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no6 Tahun I. masihka memukau? 2003 3.

Edisi Maret 2008 Buku Ilmiah. 2004 9. JUDUL TESIS STUDI Efektifitas Media Filter. Januari 2004 Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no3 Tahun. Penerbit Cipta Letera 2009 Buku Ilmiah. Mengolah Limbah Cair Rumah Tangga dengan Filter Biogeokimia 2009 13. Building Information Center. Zaenab . Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan 2009 1. Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim Mungkinkah membangun seni budaya‖Beraura‖ tradisi di Sulawesi Selatan 2004 8. S2 Aerob dan Waktu Tinggal TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR Unhas 2006 NO 1. Tahun I. Pengalaman membimbing mahasiswa S2 dalam 5 tahun terakhir NAMA MAHASISWA P. Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian lokal 2004 Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata 10. Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata) 2005 11. Penerbit warisan Budaya Indonesia 7.6 1 Milyard Orang Dambakan Air 2004 ― Sinergi‖ no1. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan sebagai warisan ―Pusaka‖ budaya local Indonesia 2008 12. II Maret 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 3 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 5 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 6 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―Mimbar Aspirasi‖Edisi 44 Februari 2005 Artikel dalam Majallah BIC.

5.BOD. Gowa Strategi Pengembangan Rosmini Satria Kawasan Wisata Pantai lemo di Desa Mabonta Studi Pengembangan Ilham Objek Wisata Pantai Beraue Kab. 4. Muh. Dan MBAS di limbah cair rumah sakit Labuangbaji Makassar Penataan Lingkungan 2. Takalar 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2009 Pengalaman membimbing mahasiswa S1 dalam 5 tahun teakhir NAMA MAHASISWA P. 2. 7. 6. Rahmawati Asis Objek Wisata Sanrobengi S2 Kab. Optimalisasi Pemamfaatan lahan Irma Febriani Pemukiman Kota Tanah Grigot Kab. 3.Terhadap Penurunan Kadar SS. Edi Syahrir Pemukiman Kumuh Di S2 Kota makassar Studi Pengembangan 3. Pasir Pengaruh Implementasi Konsep Agropolitan Ramlan Riza TerhadapPerkembangan Kota Barru Rahmudi Laode Perubahan Fungsi Lahan Hua Kota Bilibili Kab. JUDUL TESIS STUDI S1 TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR 2008 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2008 2008 S1 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2007 2007 2009 2008 2008 2008 NO 1.COD. Setiawan Objek Wisata Alam S2 Lumpue Pare-pare Strategi Pengembangan 4. Luwu Timur Studi Pemamfaatan Laode Ali Kasim Kawasan Pesisir Kota Raha Pengaruh Pengembangan Pulau Maitara Sebagai Kawasan Ekowisata Afriani Tompo dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pulau S1 Univ 45 2008 .

Majene Analisis Pengembangan Objek Wisata Pantai Haerun Amrus Tanjung Tababu Kec. Minahasa Analisis Pengembangan Pantai Dato Pangale M. Terbuka Hijau Kota S1 Rusman Baubau Revitalisasi Kawasan Wisata Sejarah dan Jawa Lukman Hakim S1 M. Kab. 9. Gowa Evaluasi Lokasi Perumahan Swadaya Mas Herfina Simabur S1 Kel. Manggala Kota Makassar Analisis Sistem Pegelolaan Persampahan Citra Ariesta S1 Ibu Kota Kec. Kadafi Lakufu Tondano. 2005 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2006 16. Kota Tarakan Analisis Pengembangan Kota Belopa Utara Arjan Ibrahim S1 sebagai Ibukota Kab Luwu Identifikasi Ruang Laode M. 10. 11. 2005 Univ 45 2005 15. Kab. 13. S1 Lasusua. Masruri D dalam Peningkatan Sosial S1 Ekonomi masyarakat di Kab. . 17. Batua Kec. Prospek Pengembangan Kota Ternate sebagai S1 tujuan wisata Partisipasi Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Heru kualitas dilingkungan S1 Soemarjono Permukiman Kota Makassar Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Risdawati S1 Awal Baru Kec. Kolaka Utara Analisis Pengembangan Kota Malino Sebagai Ansarullah S1 Kawasan Wisata Kab. 12.8. Beto Ambari Kota Baubau 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2009 2009 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2005 Univ 45 2005 2009 2009 2009 2009 14. Tarakan Timut. 18.

org Meta . SH. You can use a service like Bloglines to get notified when there are new posts to this weblog.Ir. Enrekang 2008 S1 Univ 45 2009 Makassar. 18 Agustus 2009 DR. Archives     February 2010 January 2010 December 2009 October 2009 Categories      opini di majalah dan koran (12) SENI DAN BUDAYA (102) TULISAN ILMIAH POPULER (2) Uncategorized (25) Blogroll o o WordPress. Syahriar Tato. Nur Rezki Studi Pengembangan Kawasan Objek Wisata Benteng Alla Kab.MS Comments: Be the first to comment « Older Entries Newer Entries »   Home About Subscribe Syahriartato's Blog syndicates its weblog posts and Comments using a technology called RSS (Real Simple Syndication).Drs.19.com WordPress.

Follow Follow “Syahriartato's Blog” Get every new post delivered to your Inbox. Theme: Sapphire by Michael Martine.com. Enter your Powered by WordPress.    Register Log in XFN WordPress.com .com Blog at WordPress.