STRUKTUR SPASIAL WILAYAH PHERI URBAN SEBAGAI SISTEM DARI TATA RUANG KOTA

Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Abstrak Penulisan ini mengangkat judul tentang “ Struktur Spasial Wilayah Pheri Urban sebagai sub sistem dari suatu tata ruang kota. Dan akan mengulas lebih mendalam mengenai struktur keruangan wilayah pheri urban menyangkut tentang dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan, dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan. Daerah pinggiran kota adalah suatu daerah yang juga dikenal sebagai daerah ”urban-fringe” atau daerah ”peri-urban” atau nama lain yang muncul kemudian merupakan daerah yang memerlukan perhatian yang serius karena begitu pentingnya daerah tersebut terhadap peri kehidupan baik desa maupun di kota dimasa yang akan datang. Berbagai dimensi kehidupan dikemukakan secara sistematik agar memudahkan pembaca merasa mudah mengikuti alur pemikiran yang dibangun.Dalam wilayah pheri urban secara fisik morfologis inilah sifat-sifat baik kedesaan dan kekotaan non fisikal menunjukkan intensitas yang jelas, sehingga secara akademik, para peneliti dapat menggunakannya sebagai dasar identifiksi wilayah. Karena wilayah ini bersifat multidimensional sehingga sangat menarik berbagai disiplin ilmu. Ciri khas wilayah ini sangat istimewa yang tidak dimiliki oleh wilayah lain yaitu dalam hal keterkaitan yang begitu besar dengan aspek kehidupan kota maupun desa yang tercipta secara simultan. Dalam beberapa hal ini sifat kekotaan terlihat lebih menonjol. Perpaduan sifat kedesaan dan kekotaan inilah yang menarik untuk dibahas, dan hal ini menjadi sedemikian penting untuk dikemukakan, karena pemahaman struktur keruangan wilayah pheri urban akan memfasilitasi dalam pemahaman kekuatan – kekuatan yang berperan mengubah performa dari berbagai perspektif. Dan bagian ini akan dikemukakan mengenai latar belakang permasalahan yang dihadapi wilayah pheri urban dan pentingnya studi wilayah pheri urban secara umum dan khusus di Indonesia. A. Pendahuluan Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory. Wilayah Pheri Urban yang disinggung adalah pola pemanfaatan lahan yang terbentuk berkaitan dengan pertimbangan biaya transportasi, jarak dan sifat komoditas. Oleh karena fakta empiris membuktikan bahwa keberadaan kota dan wilayah pheri urban sangat bervariasi adanya ditinjau dari segi fisikal, maka untuk membahas teorinya. Pada prinsipnya, wilayah pheri urban didominasi oleh lahan pertanian dimana jenis komoditas yang diusahakan oleh petani membentuk pola keruangan yang khas. Perkembangan kotanya didominasi oleh bentuk perkembangan konsentris dan terjadi sangat lambat dan bahkan terkadang stagnan karena kotanya dibatasi oleh benteng yang dibangun pada

masa sebelumnya untuk masa maksud pertahanan dan pada kasus ini perkembangan kotanya bersifat sentripental dalam wujud pemadatan bangunan (densifikasi) bangunan. Fakta empiris menunjukkan bahwa perkembangan fisik kota yang substansial terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi transportasi dan telekomunikasi. Pada perkembangan selanjutnya, muncul ide – ide baru dan berkembang sebagai teori – teori baru . Walaupun belum secara khusus atau eksplisit mengemukakan mengenai wilayah pheri urban, namun sudah membahas kondisi wilayah pheri urban sendiri. Pada saat itu belum muncul istilah khusus yang mengacu pada wilayah pheri urban. Baru pada dekade abad 20, muncul istilah yang diperkenalkan oleh Gaplin (1915) mengenai wilayah pheri urban yaitu istilah urban. Istilah tersebut merupakan akronim dari kata rural dan urban yang pada awalnya digunakan untuk menunjukkan suatu wilayah kedesaan yang mengalami perubahan menuju sifat kekotaan. Kemunculan istilah baru tersebut sangat menarik perhatian para pemerhati wilayah perkotaan dan wilayah, sehingga mengundang munculnya studi baru dan memunculkan konsep-konsep baru pula. Beberapa tahun setelah itu bermunculan teori-teori baru mengenai kota dan sekitarnya (Yunus, 2008 : 42). B. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah: ü Menjelaskan faktor – faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dimensi pembentuk pemanfaatan lahan dalam stuktur spasial wilayah urban. ü Menjelaskan teori-teori yang menyangkut struktur spasial wilayah pheri urban.

2. Kegunaan Kegunaan penyusunan ini adalah untuk mengetahui sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban, mengetahui metoda pendekatan sistem yang dimanfaatkan untuk delimitas sub zona wilayah pheri urban serta untuk mengetahui dimensi bentuk pemanfaatan lahan di dalam struktur spasial wilayah pheri urban sebagai sub sistem suatu tata ruang kota. C. Pembahasan Seperti telah dikemukakan oleh banyak pakar mengenai studi kota, bahwa pada masa yang akan datang kebanyakan penduduk di dunia ini akan bertempat tinggal di kota. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa jumlah penduduk kota – kota di dunia mempunyai kecendrungan makin besar. Sebagian besar penduuk kota yang baru tersebut akan menempati lahan–lahan yang berada di sekitar lahan terbangun, karena keberadaan lahan – lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di bagian dalam kota sudah sangat terbatas adanya atau bahkan sudah hilang sama sekali. Makin banyaknya jumlah penduduk yang menempati wilayah pheri urban ini dengan sendirinya akan membawa komsekuensi keruangan, sosial, ekonomi, kultural dan biofisikal di

wilayah pheri urban. Oleh karena latar belakang kondisi wilayah phei urban yang sangat bervariasi dari satu kota ke kota yang lain, maupun dari negara yang satu dengan negara lain, maka dapat dipastikan bahwa kondisi spasial, ekonomi, sosial, kultural dan lingkungan biofisikal yang terpengaruh oleh adanya perkembangan kota akan bervarisasi pula. Bertambahnya penduduk akan selalu diikuti oleh bertambahnya bangunan – bangunan pemukiman maupun bukan permukiman. Bangunan – bangunan non permukiman merupakan bangunan yang mengakomodasikan kegiatan – kegiatan baru yang menyartai, seperti kegiatan ekonomi, sosial, kultural dan politik. Terlepas dari sudut kepentingan mana sebuah negara memandang, baik antagonis maupun protogonis mengenai hilangnya lahan pertanian di WPU tersebut, ternyata ada kesamaan pandangan bahwa sebaiknya perlu ada pengelolaan yang mengatur hal tersebut agar WPU sebagai wilayah pra- urban mampu menciptakan suasana kehidupan kekotaan yang ada pada saat ini. Dinamika wilayah pheri urban yang menyangkut proses perubahan berbagai elemen kehidupan ternyata telah menciptakan struktur spasial yang khas di WPU sendiri. Pengenalan struktur spasial WPU merupakan tahap awal mengenali berbagai permasalahan yang muncul di wilayah pheri urban. Pemahaman mengenai hal tersebut dapat dijadikan landasan untuk merumuskan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi kecendrungan perkembangannya di masa yang akan datang (Yunus, 2008 : 91). 1. Pendekatan Sistem Secara garis besar, terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu : a. Pendekatan Administratif Teknik ini adalah suatu cara untuk mendelitimasi subzona spasial wilayah pheri urban yang mendasarkan pada eksistensi unit administrasi sebagai unit analisis (analitical units) dan data mengenai bentuk pemanfaatan lahan. Secara teoritis, makin kecil unit analisisnya makin akurat identifikasi subzona yang dilakukan dan makin luas unit administrasi yang digunakan makin kurang akurat hasilnya. Sebagai contoh aplikasi pendekatan ini adalah zonifikasi sebagian wilayah pheri urban di daerah pinggiran kota Yogyakarta. Oleh karena penelitiannya dibatasi pada desa-desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta secara administratif maka hasil yang diperoleh adalah jalur membingkai kota Yogyakarta. Walaupun secara administratif, desa-desa penelitian berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta ternyata status spasial yang diperoleh menunjukkan variasi yang cukup besar. Pendekatan administratif ternyata tidak hanya dapat digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi luasan bentuk pemanfaatan lahan semata, namun dapat pula digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi jumlah penduduk atas dasar mata pencahariannya (Yunus, 2008 : 34). b. Pendekatan Fisikal Teknik ini merupakan cara identifikasi subzona wilayah pheri urban atas dasar unit-unit fisikal sebagai unit analisis. Cara ini dilaksanakan dengan cara mengenali unit analisis atas dasar batas-

Istilah pendekatan sel mengandung pengertian bahwa cara ini akan menghasilkan sel/kotak-kotak sebagai unit analisis dengan luasan tertentu yang dihasilkan oleh garis-garis vertikal maupun horizontal yang dibuat (Yunus. Konsdisi seperti ini disebut sebagai. Faktor telekomunikasi. namun cara ini dengan metode-metode induktifnya belum tentu menjamin generalisasi pola struktur sosial dan keruangan kota yang lebih baik (Yunus. 3. Batas terluar wilayah pheri urban di setiap sisi tidak selalu mempunyai jarak yang sama ke/dari lahan perkotaan terbangun dan hal ini sangat tergantung dari kondisi keruangan masing-masing bagian. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain : a. Pendekatan Ekologi Faktorial Istilah ‖factorial ecology‖ sendiri termasuk baru di dalam studi kota yang digunakan untuk menganalisis struktur keruangan kota (urban spatial structure) dengan menggunakan analisis faktor sebagai tekniknya. maka kerja sama/koordinasi kerja dengan pemerintah daerah dalam mengsinkronkan perencanaan tata ruang kota. Memang dari pendekatan ini dimungkinkan mampu menggambarkan kota-kota secara lebih detail. Faktor aksesibilitas fisikal mempunyai pengaruh substansial terhadap penjalaran nilai-nilai kekotaan ke arah daerah perdesaan. 2008 : 39). Untuk kota yang bersifat ‖True Bounded‖ analisis urbanisasi tidak mengalami kesulitan karena semua nampak kekotaan sesuai dengan batas administrasi kota (Yunus. 2000 : 238) 2. Permasalahan hubungan antara batas kota secara administratif dan batas kota secara fisikal ini juga mempunyai dampak dalam analisis urbanisasi. Faktor topografis. saluran air) sehingga tergambarkan blokblok unit analisis. Faktor jaringan kelistrikan dan 6. d. ”True Bounded City”. Faktor kendala alami. 4. dalam perencanaan tata ruang kota akan memudahkan pemerintah kota. Faktor politis. Mengingat bahwa pada masa mendatang kota yang bersangkutan selalu akan bertambah luas arealnya.batas fisikal yang ada seperti kenampakan linear (jalan. Batas fisikal kota koinsiden dengan batas administrasi kota. Memang. Dengan demikian ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dekat jauhnya jarak batas terluar WPU dari lahan terbangun. Aksesibilitas fisikal yang . c. Di dalam masing-masing blok kemudian dihitung mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahannya. Faktor aksesibilitas. yaitu : 1. 2008 : 40). 5. 2. Pendekatan Sel/Sistem Grid Pendekatan ini menekankan pada eksistensi unit analisis yang dibentuk berdasarkan garis-garis konseptual yang dibuat secara vertikal dan horizontal pada suatu peta yang menggambarkan sebaran bentuk pemanfaatan lahan. Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan. Masing-masing unit analisis akan menampilkan proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan maupun lahan kekotaan. karena seluruh areal kekotaan berada pada batas-batas administrasi kota.

Bentuk pemanfaatan lahan kedesaan dalam hal ini diekspresikan sebagai bentuk pemanfaatan agraris dan selebihnya itu merupakan bentuk pemanfaatan lahan nonkedesaan atau dikenal sebagai bentuk pemanfaatan kekotaan. khususnya di daerah perdesaan. green belt policies. Faktor jaringan listrik mempunyai imbas yang besar di dalam berbagai aspek kehidupan.oleh karena wilayah peri urban meliputi daerah yang sangat luas. Hal ini berarti bahwa apabila proporsi lahan kedesaan yang ada di atas 50% berarti bagian ini termasuk ke dalam rural fringe dan apabila proporsinya tercatat kurang dari 50% maka bagian tersebut akan dikategorikan sebagai urban fringe (Yunus. Ada bagian tertentu yang sangat intensif. Untuk negara-negara maju dengan formulasi dan aplikasi tata ruang yang mapan. Sebenarnya.ditentukan oleh keadaan prasarana dan sarana transportasi. maka penghitungan proporsi lahan kedesaan tersebut memerlukan metode tertentu. Makin baik kondisi prasarana transportasi dan sarana transportasi dari daerah perkotaan ke daerah perdesaan dapat dikatakan makin tinggi aksesibilitasnya dan akibatnya. intensitas penjalaran nilai-nilai kekotaan melalui media elektronik sangat erat terkait dengan masuknya jaringan kelistrikan ke daerah perdesaan. c. maka proporsi lahan kedesaan yang menjadi indikator batas antara keduanya adalah 50% lahan kedesaan. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi ini mengungkapkan proporsi bentuk pemanfaatan kedesaan yang ada dibandingkan dengan bentuk pemanfaatan lahan kekotaan. konsisten dan konsekuen penentuan batas terluar wilayah peri urban dapat ditentukan dengan cara antara lain moratorial. zoning regulation. Faktor topografis juga mempunyai peranan yang besar terhadap jarak batas terluar wilayah pheri urban. 2008 : 121). Bagian terluar dari wilayah peri urban ditandai oleh proporsi lahan kedesaan 100% yang kearah luar merupakan wilayah kedesaan sebenarnya dan kearah dalam merupakan wilayah peri urban. namun ada bagian yang lain yang tidak . Oleh karena telekomunikasi mampu menghubungkan daerah satu ke daerah lain tanpa terkendala oleh halangan fisikal. Faktor politis berkaitan erat dengan kebijakankebijakan pemerintah dalam pemanfaatan lahan. b. Faktor telekomunikasi dalam beberapa hal dapat mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam penjalaran ide/nilai-nilai kekotaan dari kota ke desa. Seperti diketahui bahwa intensitas bangunan-bangunan atau bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian/bentuk pemanfaatan lahan urban di wilayah peri urban tidak akan sama di seluruh bagian. Oleh karena wilayah peri urban terdiri dari rural fringe dan urban fringe. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan Bentuk pemanfaatan lahan perkotaan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah lahan nonagraris dalam arti luas. Pada umumnya faktor topografis juga terkait dengan aksesibilitas fisikal sehingga pada bagian-bagian wilayah pheri urban yang ditandai oleh kondisi topografis yang terjal akan berbeda dengan bagian yang mempunyai kondisi topografis yang datar. maka makin jauh pula jarak pengaruh kota terhadap daerah di sekitarnya. dan beberapa kebijakan keruangan lainnya (Yunus. 2008 : 115). Munculnya berbagai bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian akan sangat mempengaruhi penentuan batas terluar dari wilayah peri urban. maka bagian wilayah-wilayah yang terpencil secara fisikal sekalipun akan mampu terjangkau selama alat telekomunikasinya tersedia.

Kondisi ini mengakibatkan terjadinya gradasi ongkos transport yang teratur proporsional ke dan dari pusat kota dan hal inilah yang mirip dengan apa yang dikemukakan oleh von thunen mengenai homoginitas kondisi lingkungan fisik di bagian wilayah pheri urban dalam kaitannya dengan . Kepentingan komunitas urban scara keseluruhan harus diberi prioritas utama dan dimenangkan terhadap kepentingan spesifik kelompok manapun. Setiap kelompok harus mampu menekankan sebagian kepeningan kelompok mereka sendiri. 2008 : 122). tapi terutama secara individual. Teori–teori yang menjadi landasan dalam studi wilayah pheri urban a. Oleh karena kondisi urban fringe dan rural fringe sebenarnya tidak semata dicirikhasi oleh bentuk pemanfaatan lahan dan suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa makin banyak faktor determinan maka makin kuat suatu bagian wilayah peri urban menjadi magnet bagi fungsi-fungsi kekotaan (Yunus. sebagai berikut : 1) Bahwa kota yang bersangkutan hanya mempunyai satu pusat kegiatan saja atau satu CBD dan semua kesempatan kerja hanya berada di bagian ini dan semua transaksi jual beli barang hanya berlangsung di bagian pusat ini. Perkembangan fisikalnya terjadi secara gradual sentrifugal di semua sisi-sisi lahan terbangun yang sudah ada. tanpa harus menginjak-injak hak kelompok atau individu lain. Sebagaimana upaya untuk mengidentifikasi wilayah peri urban dari sisi persentase proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan. Munculnya bangunan sebagai ekspresi bentuk pemanfaatan lahan non agraris sejalan dengan akselerasi konversi bentuk pemanfaatan lahan agraris ke bentuk pemanfaatan non agraris. upaya untuk mengidentifikasi proporsi bentuk pemanfataan lahan kekotaan. 2006 : 84) 3. 2) Bahwa di daerah di sekitar kota merupakan daerah yang datar homogen. Gambaran seperti ini akan tampak jelas pada kota-kota yang perkembangan fisikalnya didominasi oleh apa yang disebut sebagai perkembangan konsentris (concentric development). Sebuah masyarakat urban seperti hanya dapat terbentuk bila setiap kelompok sosial-religius atau etnis melepaskan klaim mereka akan sifat absolut sistem nilai yang mereka anut. Kota modern adalah tempat para penghuninya mengaktualisasikan diri mereka secara berkelompok.intensif. Model yang dikemukakan didasarkan pada asumsi seperti yang telah dikemukakan oleh Von Thunen. demi terbentuknya komunitas urban yang heterogen secara etnis-religius tetapi homogen secara urban kultural. termasuk kelompok mayoritas (Santoso. Jika dikaitkan dengan konsep wilayah pheri urban maka ada keterkaitan pada konsep kota modern. Secara umum akan terlihat bahwa makin mendekati lahan kekotaan terbangun. Secara diskrit memang sangat sulit untuk menemukenali batas antara urban fringe dan rural fringe. Bentuk perkembangan ini merupakan bentuk perkembangan yang paling lambat dibandingkan dengan bentuk-bentuk perkembangan yang lain. maka akan semakin intensif pembangunan dan makin besar proporsi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitu pula sebaliknya. Teori Trade – off (clark) Menurut Clark (1982) pembahasan terjadinya concentric rings jenis-jenis tata guna lahan di wilayah pheri urban adalah wacana ekonomi dan pada masa selanjutnya model pembahasan tersebut dikenal dengan trade– off.

5) Bahwa pemerintah tidak mengadakan intervensi dalam hal persaingan bebas pemasaran lahan.usaha pertanian. Secara berturut-turut. (2) zona berikutnya merupakan cincin yang melingkari zona paling dalam dan merupakan zona yang ditempati oleh fungsi residensial. maka faktor tingginya aksesibilitas menjadi suatu hal yang sangat menentukan terhadap perkembangan fungsi ini. sehingga fungsi ini mau memberikan penawaran tertinggi terhadap lokasi yang dianggap paling ideal dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi residensial dan industrial. Sementara itu pada cincin pertama yang terbentuk melingkari zona inti. serta tidak ada kebijakan – kebijakan tertentu yang mampu mengubah performa lahan. mempunyai opsi yang lebih luas. 4) Bahwa keberadaan lahan akan dijual kepada pihak – pihak yang mempunyai penawaran yang paling tinggi yang berarti bahwa semua pihak yang ada di kota mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan lokasi yang dianggap menguntungkan dan tidak ada persaingan yang bersifat monopolistik. seperti zoning regulation dan lain sejenisnya. didominasi oleh fungsi residensial. Untuk golongan yang berstatus ekonomi tinggi. Berdasarkan beberapa penelitian memang ada kecendrungan bahwa golongan ini memilih bertempat tinggal di daerah pinggiran kota/peripheral locations atau bagian dari wilayah pheri urban yang fasilitasnya kurang. karena para penghuni memprioritaskan bertempat tinggal dekat dengan tempet dimana mereka bekerja / dekat pusat kota dimana kesempatan kerja berada. karena dimana-mana mempunyai kemampuan yang sama. Oleh karena kemampuan membayar sewa lahannya juga lebih rendah. Apakah mereka akan bertempat tinggal di dekat pusat kota yang fasilitas kehidupannya paling lengkap dengan konsekuensi sewa lahan yang mahal. Pada subzona cincin pertama didominasi oleh fungsi residensial dihuni oleh golongan berstatus ekonomi rendah sampai menengah bawah. Hal inilah yang menyebabkan terciptanya gradien yang sangat curam dalam kaitannya dengan jarak dari pusat kota. Zona paling luar merupakan zona . Homoginitas tanah dalam hal kegiatan pertanian yang homogin memungkinkan petani tidak mempunyai pilihan lain. namun memberikan tawaran kepuasan dalam hal kenyamanan bertempat tinggal. 3) Bahwa ongkos transport ke dan dari pusat kota menunjukkan gradasi yang proporsional ke segala arah dan bagian pusat kota merupakan tempat dimana derajad kemudahan untuk menjangkaunya (aksesibilitas) yang paling tinggi. maka gradien grafik yang terbentuk juga sedikit mendatar namun dalam luasan yang agak besar. Disinilah pemaknaan trade-off berada untuk golongan berstatus sosial tinggi berada. namun dalam uraiannya dapat diketahui bahwa cincin kedua dan ketiga sebagian atau seluruhnya merupakan fungsi yang telah dan atau sedang berkembang di wilayah pheri urban. Di bagian pusat kota atau zona inti . yang bukan termasuk ke dalam wilayah pheri urban. Oleh karena perkembangan fungsi ini sangat tergantung dari banyaknya custemors yang dapat menjangkau daerahnya. zona cincin konsentris yang tercipta adalah (1) zona paling dalam merupakan inti dari cincin-cincin yang terbentuk dan merupakan bagian pusat kota yang merupakan daerah dengan fungsi komersial. (3) zona paling luar merupakan cincin dengan fungsi utama industrial. merupakan daerah yang paling tinggi aksesibilitasnya dan kondisi ini paling dibutuhkan oleh fungsi komersial. Walaupun secara eksplisit tidak dikemukakan mengenai fungsi-fungsi mana sebenarnya yang berkembang di wilayah pheri urban.

makin intensif perubahan bentuk pemanfaatan lahan dari bentuk . maka fungsi industrial menempati ring terluar. Model sebaran spasial (trade of model) di WPU ( Clark) b. Oleh karena itulah. norma-norma kekotaan mampu menjangkau daerah yang relatif terisolir dalam artian fisikal dan dalam beberapa hal telah mampu mengubah sifat kedesaan menjadi sifat semi kekotaan atau bahkan kekotaan sepenuhnya. kultural dan spasial. sosial. ekonomi dan sosial. Di kebanyakan negara. Teori Land Use Triangle : Discrete (Robin Pryor) Pryor (1971) mengemukakan tesisnya tentang wilayah pheri urban atas dasar parameter yang terukur. Kemajaun teknologi transportasi dan informasi telah mengakibatkan penjalaran ide-ide. Berdasarkan fakta empiris. yaitu mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahan. Pada masa sebelumnya. perkembangan fungsi ini mendominasi bangunan – bangunan di daerah pinggiran kota yang berselang seling dengan fungsi-fungsi residensial. Berdasarkan proporsi keberadan lahan kekotaan dan lahan kedesaan dapat diketahui mengenai struktur spasial wilayah pheri urban.yang didominasi oleh fungsi industrial. Disamping itu. Zona yang ditempati oleh fungsi industrial. makin ke arah lahan kekotaan terbangun. kemudian mendasari penalaran yang dikemukakan dalam teori yang dikenal dengan sosial area analysis (Yunus. kultural. Bentuk pemanfaatan lahan adalah kenampakan fisikal sebagai cerminan kegiatan manusia diatasnya dan hal adalah langkah awal dalam mengenali berbagai atribut wilayah yang berasosiasi dengan kenampakan fisikal bentuk pemanfaatan lahan seperti karakteristik demografis. Menurut Pryor struktur spasial wilayah pheri urban dibedakan dalam 2 kategori yaitu urban fringe di satu sisi dan rural fringe di sisi yang lain yang didasari oleh kenyataan bahwa WPU merupakan wilayah yang berada diantara wilayah yang berkenampakan kekotaan seratus persen dan wilayah berkenampakan kedesaan seratus persen. Dua hal menarik untuk dikemukakan terkait dengan teori trade-off ini adalah pertama memberikan dasar penalaran bagi teori konsentirs yang dikemukakan oleh Burgess mengenai struktur internal kota yang terkenal dengan teori konsentris merupakan pionir pembahasan struktur tata ruang internal kota yang mampu memicu munculnya teori-teori baru. maka daerah dimana masih tersedia lahan yang dapat mengakomodasikan bangunan – bangunan besar adalah pilihannya. Hal kedua ini. Hal menarik kedua terkait dengan dasar penalaran perubahan kekotaan yang terjadi di dalam struktur internalnya. dapat disimpulkan bahwa karakteristik wilayah pheri urban yang merupakan perpaduan antara karakteristik kekotaan dan karakteristik kedesaan muncul dalam ekspresi ekonomi. 2008 : 99) Gambar 1. nilai-nilai. Oleh karena bangunan – bangunannya relatif berskala besar. Kenampakan wilayah dalam hal ini diartikan sebagai kenampakan fisikal lahan (land scape) yang diaktualisasikan dalam bentuk pemanfaatan lahan. Berdasarkan fakta empiris yang dikemukakan oleh para peneliti terdahulu. kemudahan untuk mengangkut bahan mentah (raw material) dan hasil produksi dalam jumlah besar menjadi pertimbangan utamanya. belum pernah ada konsep yang jelas mengenai keberadaan wilayah pheri urban itu sendiri serta bagaimana karakteristik soasial yang dapat diamati di lapangan. menurut rasional yang dikemukakan membutuhkan lahan yang luas serta faktor aksesibilitas juga menjadi bahan pertimbangannya. adalah pembahasan yang mengaitkan antara fungsi-fungsi Bid-rent dengan tahapan-tahapan siklus keluarga di kota.

Studi Kasus Perkembangan wilayah pheri urban di Yogyakarta Pemahaman mengenai wilayah pheri urban di Negara – Negara maju menghasilkan keragaman teori yang berbeda-beda serta istilah yang berbeda-beda pula. Walaupun esensi yang dikemukakan tidak menampilkan perbedaan yang signifikan.pemanfaatan lahan kedesaan menjadi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitupula sebaliknya. Hal ini sangat penting dipahami para pemerhati masalah perkotaan. 2008 : 111) Gambar 2. ternyata kecendrungan perkembangan kota baik ditilik dari segi fisikal maupun dari segi demografis dapat diketahui dengan jelas. Tiga dimensi penilaian tersebut adalah (1) presentase jarak dari/ ke batas 100% kenampakan kekotaan atau ke batas 100% kenampakan kedesaan. Oleh karena model diagramatik yang dikemukakan berujud segitiga bentuk pemanfaatan lahan. namun beberapa diantaranya terkadang memunculkan pemahaman yang sedikit menimbulkan kerancuan. Model Zonifikasi WPU Negara Maju atas dasar Bentuk pemenfaatan lahan Legenda A : percentage Distance Urban to Rural land B : Percentage Urban land Use C : Percentage Rural Land Use D : Boundari Of Built-Up Urban Area E : Boundari Of Built-Up Rural Land F : Rural Urban Fringe G : Urban Fringe H : Rural Fringe 1. keruangan dalam rangka pengendalian perkembangan kota sehingga sejak dini dapat diketahui . Salah satu contoh kasus perkembangan WPU yaitu di kota Jogjakarta dengan mengambil kasus beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta sebagai bagian paling dinamis dari WPU nya. (2) presentase proporsi lahan kedesaan dan (3) presentase proporsi lahan kekotaan (Yunus. 4. maka didalamnya memuat tiga dimensi penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi batas terluar dari masing-masing subzona. apalagi apabila kacamata yang digunakan adalah kondisi WPU di Negara berkembang. Dengan mendasarkan zonifikasi yang ada. khususnya penentu kebijakan.

Apabila hal ini tidak diikuti oleh adanya konversilahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang signifikan dapat dipastikan bahwa di bagian ini telah terjadi densifikasi pemukuman yang substansial da hal ini sangat perlu di monitor. Sementara itu di bagian-bagian lain seperti di bagian barat tampak belum menunjukkan perubahan yang berarti dan signifikan. karena densifikasi yang tidk terkontrol merupakan biang keladi terciptanya kekumuhan dalam pemukiman dan deteriorisasi lingkungan. yaitu sosio demografis ternyata ke arah barat daya menunjukkan perubahan sosio demografis yang sangat signifikan dari status zobides ke status zobikot dan hal ini tidak terdeteksi dari kecendrungan perkembangan fisikal. Sementara itu. ditilik dari sisi lain. Perkembangan spasial fisikal yang terjadi yaitu kearah utara. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar bentuk pemanfaatan lahan. fisikal. Demikian pula halnya di bagian utara juga terlihat perubahan yang sangat sgnifikan. Di bagian barat laut diidentifikasi peralihan status dari zobidekot menjadi zobikodes sedangkan dari bagian timur laut teridentifikasi perubahan dari zobikodes menjadi zobidekot. sosial. baik ke arah timur laut maupun kearah barat laut walaupun insentitas perkembangannya berbeda-beda. namun hal ini hanya dapat mengungkapkan perkembangan fisikal kekotaannya dan bukan kecendrungan perkembangan sosio – demografinya. ekonomi dan kultura. Kecendrungan perkembangan fisikal tidak selalu konsiden dengan perkembangan sosio demografis sehingga dengan mengetahui kecedrungan perkembangan kota dari dimensi yang berbeda-beda dharapkan dapat menjadi dasar yang menjadi kukuh untuk penyusunan kebijakan antisipasi baik dari segi spasial. khususnya mengenai mata pencahariannya. . Hal ini mengindikasikan bahwa kea rah itu pula terjadi konversi lahan-lahan pertanian paling banyak terjadi. di bagian tenggara tidak menunukkan perubahan status sifat kkotaan yang berarti. kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Gambar 4. Sebagai contoh yang dapat dikemukakan disini adalah kasus kota Yogyakarta. Oleh karena formulasi kebijakan pengendalian kota tidak hanya mendasarkan pada satu dimensi saja. Namun demikian. dari semula bersifat zobikodes di bagian utara pada tahun 1988 menjadi bersifat zobikot pada tahun 1998 yang berarti sifat kekotaan semakin tampak dengan jelas dari segi kpmposisi demografisnya.kemungkinan timbulnya dampak negative terhadap lingkungan dan sejak dini pula dapat melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasinya Gambar 3. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan struktual sosio demografis yang signifikan di bagian barat daya. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar komposisi mata pencaharian kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Memang dalam tataran praktik dan kemajuan teknologi seseorang dapat memantau kecendrunagn kota dengan menggunakan alat bantu foto udara atau remote sensing imageries lainnya.

Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. H. Struktur Tata Ruang Kota. 2005. terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu :     Pendekatan administratif Pendekatan fisikal Pendekatan sel/sistem grid Pendekatan ekologi faktorial 3. Jo. D. 2000. Pustaka Pelajar : Yogyakarta Comments: Be the first to comment TATA GUNA LAHAN-SISTEM TRANSPORTASI SEBAGAI SUBSISTEM DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN . (Yunus. Pendekatan Sistem Secara garis besar. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain :    Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi persentase bentukpemanfaatan lahan perkotaan E. Daftar Pustaka Santoso. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Dinamika Wilayah Peri-Urban Determinan Masa Depan Kota. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory 2. 2008 : 153). 2006. Manajemen Kota Prespektif Spasial.S. Menyiasati kota tanpa warga. KPG dan Centropolis : Jakarta Yunus.maka keberadaan media yang dapat membantu mengenali kecendrunga perkembanagan kota dari berbagai dimensi akan lebih bermanfaat. Kesimpulan 1. 2008.

sehingga dalam pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. dengan melihat kondisi transportasinya. selain mencerminkan keteraturan kota. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Penulisan ini berjudul tentang “Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi sebagai sub system dalam Perencanaan Pembangunan yang berkelanjutan” yang membahas mengenai keterkaitan antara sistem guna lahan dengan system transportasi dalam melakukan pembangunan yang berkelanjutan. 1. 2001:139) Ada beberapa hal yang menjadi faktor utama dari timbulnya masalah tersebut. keterlambatan (delay). Kota yang baik dapat ditandai. polusi suara. Bahwa karena dinamika masyarakat yang menyebabkan perubahan yang cepat di dalam system nilai dan kebutuhan masyarakat sering proses penyusunan terdahului oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. adalah sebagai berikut.Transportasi merupakan salah satu kunci perkembangan bagi wilayah perkotaan. Hal ini menyebakan tidak sesuainya rencana dan kenyataan nyata manakala suatu rencana selesai disusun.Posted December 28. (Sujarto.Penulisan ini menguraikan berbagai system pendekatan yang tepat juga mencakup seluruh aspek yang terkait untuk memberikan alternative pemecahan masalah yang tepat. A. Dengan terjadinya perubahan fungsi lahan yang sering kita temui di suatu kota dimana tata guna lahan yang ada tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah dibuat. Akan tetapi terdapat kecenderungan dengan berkembangnya suatu kota bersamaan pules dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. Kemacetan (congestion). Pendahuluan Kota dikenal dengan banyaknya permasalahan yang kompleks yang terdapat didalamnya. sehingga masalah ini akan selalu membayangi perkembangan suatu wilayah perkotaan. . Wilayah perkotaan dari tahun ke tahun telah berubah sebagai akibat terjadinya pergeseran yang dramatis dari lahan pertanian menjadi daerah bisnis ―terjadi perubahan fungsi guna lahan‖. dimana terdapat kecenderungan bahwa berkembangnya suatu kota bersamaan pula dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi.Permasalahan ini berkailan Brat dengan poles testes guna Lahan. karena sector ini sangat berperan dalam menentukan kegiatan dan aktivitas pergerakan yang terjadi. antara lain. Daerah – daerah tersebut saat ini menjadi pusat-pusat kegiatan financial dan peluang-peluang bisnis yang ekstensif yang kompleksitas dan diversitasnya mengalami siklus perubahan akibat beragam pengaruh social dan ekonomi. Transportasi yang aman dan lancar. polusi udara. dan pemborosan energy merupakan sebagian dari sekian hanyak permasalahan yang dihadapi suatu kola berkaitan dengan masalah transportasi. juga mencerminkan kelancaran kegiatan perekonomian kota.

Berbagai aspek/ pendekatan sistem yang mempengaruhi system tersebut yaitu system kegiatan. Kelanggenang suatu rencana kota dalam arti konsekuen dan konsistennya pembangunan kota dengan rencana kota sangat ditentukan juga oleh konsekwenan dan kekonsistenan pengelola kota dan masyarakat dalam memegang arahan pembangunan yang ditetapkan. B. 1984. Kegunaan Berdasarkan tujuan penyusunan penulisan di atas. Adanya saling ketergantungan antara tata guna lahan dan system transportasi. pihak dari system yang terkait sehingga pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. maka adapun kegunaan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Untuk mengetahui bagaimana system transportasi sebagai suatu system . kemacetan. keterlambatan. parkir dll). Salah satu tujuan utama perencanaan setiap tata guna lahan atau system transportasi adalah untuk menjamin adanya keseimbangan yang efisien antara aktivitas guna lahan dengan kemampuan transportasi (Blunden dan Black. 2003: 74). ASCE. Penulisan ini mencoba melihat permasalahan dalam system transportasi secara komprehensif yang di dasarkan pada pendekatan system. Tujuan Tujuan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Mengidentifikasi system transportasi sebagai suatu system ü Mengidentifikasi keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan 2. Permasalahan di sektor ini tidaklah sederhana. system jaringan. dan lingkungan. namun juga dapat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui gas buangan dari kendaraan bermotor serta merupakan suatu bentuk pemborosan energy yang sia-sia. Permasalahan ini bukan saja menyangkut pada kenyamanan system transportasi yang terganggu (kepadatan. 1986 dalam Khisty dan Lall. Kegiatan transportasi yang terwujud pada hakikatnya adalah kegiatan yang menghubungkan dua lokasi guna lahan . Permasalahan transportasi ini merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak aspek. sehingga pola guna lahan dan system transportasi tidak dapat dipisahkan. Tujuan dan Kegunaan 1.1. system pergerakan.

id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq . lingkungan dan energi.google. sehingga biasanya dianggap membentuk satu landuse transport system. Gambar 1. C. Pendekatan Sistem System adalah suatu perangkat yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Suatu rencana kota juga tak pernah lepas dari rencana tata guna lahan serta rencana transportasi. Sebaliknya. . Pendekatan system (system approach) adalah suatu cara yang sistematik dan menyeluruh untuk memecahkan masalah yang melibatkan suatu system. yang menjalankan fungsinya demi mencapai tujuan. tidak termanfaatkan.2001 dalam Khisty dan Lall. Rencana Tata Guna Lahan dan Rencana Transportasi sumber : (http://www.co. tranportasi yang tidak melayani suatu tata guna lahan akan menjadi sia-sia. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1 seperti berikut : Gambar 1.ü Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. 1.(Mohammadi. 2003: 7). Sistem transportasi yang macet tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya. Pembahasan Transportasi dan tata guna lahan berhubungan sangat erat. Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik maka kebutuhan transportasinya harus terpenuhi dengan baik. Pendekatan Sistem Transportasi berkaitan dengan tata guna lahan.

System jaringan: Dep. instansi pemerintah serta swasta yang terlibat. System ini terdiri dari individu.Interaksi antara system kegiatan dan system jaringan akan menghasilkan suatu pergerakan. lembaga. Pergerakan tersebut membutuhkan moda transportasi (sarana) dan media (prasarana) tempat moda tersebut bergerak. Di Indonesia system kelembagaan yang berkaitan dengan transportasi adalah: a. Kegiatan yang timbul dalam system ini membutuhkan pergerakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang perlu dilakukan setiap hari. Selain dari semua sub system diatas terdapat suatu aspek yang harus selalu diperhatikan dalam pengadaan system transportasi yaitu aspek lingkungan. Bina Marga c.sumber: (http:// www. Secara umum dapat disebutkan. 2. Prasarana yang diperlukan merupakan bagian dari system jaringan meliputi jaringan jalan raya. Karena hal ini merupakan masalah bersama yang memerlukan penanganan dan keterlibatan semua pihak. kelompok. Pemda b. Swasta dan Masyarakat harus ikut berperan dalam mengatasi masalah transportasi. Perhubungan.co. bahwa Pemerintah. Pendekatan Sistem Kegiatan . System ini berkaitan erat dengan pengaturan pola tata guna lahan sebagai unsur terpenting dalam pembentukan pola kegiatan kota atau daerah. System pergerakan LLAJR.Polantas. Sistem tersebut dapat merupakan suatu gabungan dari berbagai system pola kegiatan tata guna lahan (land use) seperti kegiatan social. masih diperlukan system kelembagaan.go ogle. budaya dsb. Dari ketiga sub system tersebut. System kegiatan:Bappenas. terminal. dll. id/searc h?hl=id &q=KE TERKA ITAN+ TATA+ GUNA +LAHA N+DEN GAN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Sub system kegiatan merupakan system kegiatan tertentu yang membangkitkan pergerakan dan dapat menarik pergerakan. Seluruh kebijaksanaan yang diambil oleh masing-masing kelembagaan harus terkait dan terkoordinasi dengan baik. besarnya pergerakan yang ditimbulkan tersebut sangat berkaitan dengan jenis dan intensitas kegiatan yang dilakukan. ekonomi.

Keterkaitan guna lahan dengan arus lalu lintas (Menhein. . Dari hal tersebut maka kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat kebutuhan akan jasa transportasi yang merupakkan masukan yang berguna untuk merencanakan sampai tingkat mana fasilitas-fasilitas transportasi akan disediakan. umumnya terbentuk polarisasi yaitu munculnya kutub-kutub pertumbuhan. atau meningkatnya daerah lain akibat dari aktifitas yang berbeda dalam sebuah kota sehingga pergerakan penduduk di dasari kebutuhan akan pekerjaan. Tata guna tanah/lahan perkotaan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian dalam ruang dari peran kota. kegiatan-kegiatan penduduk seperti ekonomi. Keterkaitan antara system kegiatan (model tata guna lahan) dengan system transportasi dapat dilihat bahwa perencanaan transportasi untuk masa yang akan datang selalu dimulai dari perubahan dan perkembangan tata guna lahan. perkantoran yang esensinya menggunakan lahan sangatlah mempengaruhi tata guna lahan. kawasan tempat rekreasi dst. fasilitas. Oleh sebab itu. Perkembangan jumlah penduduk tidak saja dipengaruhi oleh natural growth. penting untuk mengetahui perencanaan tata guna lahan dalam merencanakan system angkutan.Pendekatan terhadap system kegiatan ini sebenarnya sangat banyak macam dan faktornya. namun pada pembahasan ini ditekankan pada aspek pola tata guna lahan dalam suatu kota. 2004: 45) adalah sebagai berikut: Arus lalu lintas ditentukan menurut pola tata guna lahannya dan tingkat pelayanan system transportasinya. Faktor kegiatan penduduk. 1979 dalam Miro. Faktor determinan yang mempengaruhi Guna lahan : a. b. dll.     Tingginya aktifitas perkotaan sangat dipengaruhi oleh perkembangan jumlah penduduk. Pola penggunaan lahan di kawasan perkotaan. kawasan tempat tinggal. Pola distribusi kegiatan guna lahan pada saat sekarang sangat tidak teratur diakibatkan banyaknya rencana kota yang diabaikan karena alasan ekonomi. Jika manfaat lahan di setiap daerah untuk suatu kota telah diketahui. tempat tinggal. kawasan tempat kerja. maka ini memungkinkan kita untuk memperkirakan lalu lintas yang dihasilkan (Blunden dan Black. 1984 dalam Khisty dan Lall. akan tetapi arus masuk (pergerakan penduduk) in migration Pertumbuhan penduduk yang tinggi sangat berpengaruh pada spasial perkotaan. Faktor kependudukan. industry. 2003: 74).

Dimana dalam pembangunan jaringan jalan harus memperhatikan jumlah kendaraan yang akan melewatinya. Pendekatan Sistem Pergerakan Transportasi yang baik yaitu transportasi yang dapat memberikan kenyamanan. Permasalahan yang muncul. social. 2003: 53). Jaringan jalan merupakan suatu kesatuan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki. biaya murah dan efesiensi waktu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberlakukan system angkutan .Kalau arus lalu lintas dalam jangka waktu yang lebih lama (panjang) semakin bertambah. hampir pasti bahwa pola tata guna lahan dan tingkat pelayanan transportasinya mengalami perubahan. kondisi system transportasi yang memburuk akibat meningkatnya motorisasi yang diperparah akibat lebih tingginya kenaikan jumlah kendaraan bermotor dibanding kecepatan pembangunan jalan. Dalam hal ini akan dibahas mengenai system transportasi darat. Dalam hubungan ini transportasi khususnya transportasi jalan raya. (Kamaluddin. 4. Salah satu contoh dari permasalahan yang ditimbulkannya yaitu dapat menimbulkan kemacetan diakibatkan kapasitas jaringan jalan tidak sesuai dengan kendaraan yang ada. pelabuhan. lintasan penyeberangan. lintasan rel) dan simpul sarana transportasi (terminal. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki flow/jaringan transportasi untuk mengurangi masalah yang muncul yaitu dengan melakukan intervensi pada sarana transportasi. 3. System jaringan jalan dengan peranan pelayanan. dan mobilitas penduduk yang tumbuh mengikuti maupun mendorong perkembangan yang terjadi pada berbagai sector dan bidang kehidupan tersebut. yaitu sebagai unsur penting yang melayani kegiatan-kegiatan yang sudah/sedang berjalan (the servicing function) dan sebagai unsur penggerak penting dalam proses pembangunan (the promoting function). system jaringan jalan dan kendaraan bermotor tidak dapat dipisahkan. Hal ini menggambarkan bahwa system penyediaan dan system permintaan terdapat ketimpangan sehingga system transportasi tidak berjalan dengan efektif dan efisien. Pengaturan tata guna lahan di kota-kota saat ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. dan system jaringan jalan dengan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota membentuk system jaringan jalan sekunder. jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah ditingkat nasional dengan simpul jasa distribusi disebut jaringan jalan primer. lintasan transportasi laut. Dalam angkutan jalan raya. Pendekatan Sistem Jaringan Jaringan transportasi adalah jaringan prasarana trasnportasi (lintasan jalan. sistem jaringan (prasarana) meliputi jalan dan terminal. Transport jalan raya seringkali dikatakan sebagai urat nadi bagi kehidupan dan perkembangan ekonomi. bandara). menjalankan dua fungsi.

dll) mempunyai karakteristik bangkitan lalu lintas maupun pergerakan yang berbeda-beda. Sebaran geografis antara tata guna tanah (sistem kegiatan) serta kapasitas dan lokasi dari fasilitas transportasi (sistem jaringan) digabung untuk mendapatkan volume dan pola lalu lintas (sistem pergerakan). Bangkitan lalu lintas tergantung dari land use sebuah daerah (permukiman. juga sebagai suatu langkah antisipasi dalam peningkatan kepadatan lalu lintas.co.dan kanker. tetapi juga membuang waktu dan energy.Konsentrasi Karbon monoksida yang tinggi pada jalan yang padat akan menghalangi aliran oksigen untuk para pengemudi. Volume dan pola lalu lintas pada jaringan transportasi akan mempunyai efek feedback atau timbal balik terhadap lokasi tata guna tanah yang baru dan perlunya peningkatan prasarana. polusi. Hal ini akan berakibat pada menipisnya lapisan ozon yang selanjutnya mengakibatkan sesak napas. sehingga akan mempengaruhi kinerja pengemudi. sehingga alih fungsi ini akan menimbulkan masalah baru. b. perkantoran.google. Dalam hal ini perlunya dalam rencana tata guna lahan memperhatikan zona-zona pembagian berdasarkan aktivitas penduduk yang saling berkaitan juga dalam rencana kota distribusi penduduk juga harus diperhatikan agar distribsi ruang dan distribusi . truk.massal. Kemacetan lalu lintas tidak hanya mengurangi efisiensi pengoperasian transportasi. sakit kepala. mobil) Land use yang berbeda menghasilkan lalu lintas pada waktu yang berbeda. Kemacetan lalu lintas juga dapat membahayakan kesehatan. penyakit jantung. Tingkah laku agresif dan reaksi psikologis juga berhubungan dengan kondisi kemacetan lalu lintas (GAO dalam http://www. dimana dengan hal tersebut kita dapat mengurangi system pergerakan pada jalan raya. Beberapa tipe antara lain :    Tipe land use yang menghasilkan lalu lintas yang berbeda dengan land use lainnya Land use yang berbeda menghasilkan tipe lalu lintas yang berbeda (pejalan kaki. konservasi energy dan penurunan kesehatan masyarakat adalah beberapa dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pergerakan kendaraan bermotor. batuk. membahayakan kesehatan masyarakat dan mempengaruhi ekonomi masyarakat. Transportasi dan Dampak Lingkungan Kemacetan. Ada 2 masalah dalam meminimalkan pergerakan akibat land use yaitu a. maka dapat dilihat kontribusi yang sangat besar dari masalah transportasi terhadap kenyamanan dan kelestarian . Bangkitan lalulintas. penyakit paru-paru. Jarak yang terlalu jauh yang mengakibatkan land use yang jauh jaraknya bakal ditinggalkan dan akan beralih fungsi. perdagangan. menimbulkan polusi yang berlebihan.id/search?hl= id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGAN+TRANSPORTASI&btnG=Telus uri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Dari tinjauan masalah transportasi dan dampaknya pada lingkungan. industry. 5.

2005:141). tetapi pelayanan transportasi tidak cukup baik. baik dari segi desain. dan perdagangan.lingkungan. posisi Jakarta memegang posisi sangat penting dalam hal. Pengaturan ini sudah diarahkan. Jalur lalu lintas sangat padat terutama pada jam-jamsibuk. dengan kata lain maka kebutuhan akan lahan pun semakin meningkat. maupun Jakarta 1985-2005 Structure Plan. sebagai ibukota Negara. Sebagai contoh adalah kasus di Kuningan. kalau akhirnya Jakarta diserbu oleh pendatang (urban) yang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. Hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. namun implementasi-nya masih seringkali berubah dan tidak sesuai karena adanya berbagai kebutuhan dan kendala. Tetapi sekarang kawasan ini tumbuh menjadi kawasan perkantoran kelas satu termasuk kantor-kantor komersial. Konsep yang ke tiga adalah usaha mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan sehingga pemborosan energy dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi. ekonomi. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah suatu pola pembangunan yang bertujuan untuk mencukupi /memenuhi kebutuhan generasi penduduk masa kini tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan dating untuk mencukupi /memenuhi kebutuhannya. Dengan kondisi ini maka kebijaksanaan tata guna lahan di kawasan ini dirumuskan kembali dengan konsep superblock system dan high rise building. Konsep yang pertama adalah usaha untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang ada. Tidak salah. akibatnya kemacetan dan kepadatan lalu lintas tidak dapat dihindarkan. politik. perawatan maupun pemakaian bahan bakar yang seminimal mungkin dapat memberikan pencemaran terhadap lingkungan.392 jiwa. Yang menjadi persoalan dimana lahan yang tersedia tidak bertambah akan tetapi jumlah penduduknya semakin hari semakin meningkat. tahun 2007. Konsep kedua adalah perbaikan mutu gas buangan dari kendaraan bermotor. sedangkan berdasarkan perkiraan. Untuk mengatasi permasalahan ini sedikitnya terdapat tiga konsep yang dapat diberikan. pada awalnya wilayah ini dalam Jakarta Struktur Plan 2005 diarahkan untuk pengembangan kawasan campuran. berdasarkan catatan resmi catatan sipil. baik dalam Jakarta 1965-1985 Master Plan. Hal ini terjadi karena lokasi tersebut yang sangat strategis dibandingkan lokasi lain. . Dari aspek accessibility kawasan ini mudah dicapai dari segala arah. penduduk Jakarta bisa mencapai 12 juta jiwa. hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan sarana transportasi massal yang nyaman. Studi Kasus Permasalahan Transportasi akibat perubahan guna lahan di Jakarta Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia. Sebagai dampaknya kebutuhan transportasi meningkat pesat sedangkan sarananya sangat terbatas. dengan sebagian besar untuk pemukiman kelas atas yang disediakan untuk para diplomat serta perkantoran. 6. sehingga dapat menjadi alternative terbaik bagi masyarakat dan dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi. jumlah penduduk Jakarta adalah 7. pada siang hari.706. (World Comission on Environment and Development/WCED (1987) dalam Yunus. Pengaturan tata guna lahan di Jakarta ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula.

Interaksi tata guna lahan dan system transportasi merupakan indicator yang mesti diperhatikan dalam melakukan perencanaan system jaringan transportasi guna terciptanya pembangunan yang berkelanjutan tanpa merusak ekologi yang ada. Karena masih ditentukan oleh implementasinya yang banyak dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang dianggap lebih penting dan mendesak dari penataan guna lahan itu sendiri. yang jelas-jelas sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perkembangan yang ada. Namun dalam realitanya. Daftar Pustaka http://www.Dengan luas area 325 ha dan lebih dari setengah juta pekerja. Kebijaksanaan penggunaan lahan seharusnya didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. 2003. kebijaksanaan transportasi masih mengacu pada Jakarta Struktur Plan 2005. sehingga meminimalisir permasalahan yang muncul. Meningkatkan pelayanan system transportasi bagi masyarakat. Kesimpulan Berdasarkan uraian pembahasan sebelumnya maka dapat kami simpulkan bahwa :. (http://www.Jotin dan Lall. B. E. Penutup 1.co.Kent. 2003. sarana dan manajemen secara tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul. Ekonomi Transportasi. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kebijaksanaan tata guna lahan yang baik belum tentu dapat mendukung pemecahan masalah transportasi. Ghalia Indonesia: Jakarta Khisty. Rustian. C. 2. maka kawasan ini sangat memerlukan alat dan sarana transportasi baru. pihak dan system yang terkait maka diperlukan pendekatan system yang tepat pula yang mencakup aspek yang terkait. Saran    Melakukan intervensi pada system transportasi baik pada aspek prasarana. permasalahan system transportasi tersebut merupakan masalah yang kompleks yang melibatkan banyak aspek. walau terjadi perubahan fungsi kegiatan (tata guna lahan).id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&o D. Dasar-dasar Rekayasa Transportasi.google. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan penggunaan lahan belum didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. Erlangga : Jakarta .google.    System transportasi merupakan suatu system dalam pengembangan suatu perkotaan.co.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGA N+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq Kamaluddin.

2005. 2004. Djoko. Comments: Be the first to comment HAMBATAN DALAM SISTEM PEMBANGUNAN PERKOTAAN YANG BERKELANJUTAN Posted December 28. Fidel. Pengantar Planologi. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. Sehinnga dibutuhkan keahlian dari perencana kota yang dapat membuat perencanaan yang disatu pihak dapat memecahkan masalah urbanisai dan dilain pihak memperkaya fungsi kota dengan menata ruang perkotaan yang berdaya guna memenuhi segala macam aktivitas perkotaan. dan Praktisi. Erlangga : Jakarta Sudjarto. ITB : Bandung Yunus. 1. dimana ketersediaan lahan semakin terbatas maka dibutuhkan para perencana kota yang dapat mengatasi masalah kompleks perkotaan yang menghambat terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Perencana. dimana terwujudnya pembangunan berkelanjutan merupakan dambaan tiap kawasan atau kota dalam melaksanakan pembangunannya sebab dengan terwujudnya pembangunan bekelanjutan berarti telah menjamin kesejahteraan kehidupan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan dating dalam segala dimensi kehidupan. agar dapat terus- .Miro. 2001. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Oleh: Syahriar Tato Abstrak Dalam makalah ini dipaparkan mengenai pembangunan yang berkelanjutan. perlu memperhatikan fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan memanfaatkan tekhnologi. Dalam makalah ini juga dibahas mengenai berbagai macam masalah perkotaan yang menghambat pembangunan yang berkelanjutan yang sangat terlihat jelas yaitu masalah urbanisasi yang tidak terkendali yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan sehingga mempengaruhi secara langsung kondisi lingkungan dan kondisi keamanan perkotaan. Dalam pola pembangunan tersebut. Manajemen Kota Perspektif Spasial. Dengan melihat kondisi seperti sekarang ini. Pendahuluan Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan di segala bidang. A. Hadi Sabari. Dalam makalah ini juga terdapat contoh kasus yang meperlihatkan kondisi pembangunan yang tidak berkelanjutan di Kacamatan Tambora kotamadya Jakarta Barat. Contoh kasus ini menunjukkan tingkat kemiskinan yang signifikan yang berakibat pada banyaknya muncul permukiman kumuh yang dapat mengganggu keindahan kota serta mengakibatkan pencemaran lingkungan. Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa.

Bagi manusia. secara tidak langsung akan mempengaruhi keberlanjutan produktifitas manusia di masa yang akan datang. Model pembangunan yang merakyat berarti berangkat dari masyarakat. kelembagaan sosialnya. Pengertian pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial dimana masyarakat bergantung padanya. dalam konteks tersebut selain keberlanjutan dari sisi ekonomi dan sosial. masyarakat. pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan.menerus menunjang kegiatan atau proses pembangunan yang berkelanjutan. pembangunan tidak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi tetapi juga haruslah melihat aspek keadilan terhadap lingkungan. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja. Pembangunan yang tidak bertitik tolak dari masalah berarti ada indikasi kesalahan konsep dan model pembangunan tersebut berorientasi pada penyelesaian masalah sebagai penyebab akar masalah bukan akar masalahnya. maka diperlukan juga keberlanjutan pada sisi ekologis. sustainable development. Proses pembangunan terutama bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat baik secara spiritual maupun material. Lingkungan bagi ummat manusia adalah salah satu modal dasar dalam pembangunan. Adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah suatu harapan. akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi dan sosial dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat. Sinergi tiga aspek tersebut yaitu. Lingkungan sehat. Dengan demikian pembangunan mempunyai hubungan yang erat dengan masalah. bersih. perencanaan dan proses pembelajaran sosial yang terpadu. lestari. kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memafaatkannya. Hal ini menyebabkan peningkatan laju pembangunan lama untuk mencapai suatu pertumbuhan pembangunan yang merakyat. Sedangkan jika harapan tersebut tidak tercapai berarti. Artinya. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris. sosial dan budaya didalam pembangunan disebut dengan Pembangunan Berkelanjutan. Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan. Karena titik tolak pembangunan dimulai dari tindakan mengurangi masalah tersebut dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan meningkatkan untuk mencapai suatu tingkatan yang layak. ekonomi. kota. dan sebagainya) yang berprinsip ―memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan‖. dan kegiatan dunia usahanya. bisnis. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah . Definisi ini menunjukan bahwa adanya suatu pembangunan karena suatu kebutuhan. hal itu adalah masalah. dan masalah. Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. Menurut Brundtland Report dari PBB 1987. Pembangunan berkelanjutan adalah satu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan. viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya.

Dalam pembahasan/penulisan ini dibahas mengenai hambatan dalam pembangunan berkelanjutan khususnya masalah internal perkotaan sebagai sistemnya dan sebagai subsistemnya dibatasi pada pada 3 masalah yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. 3. 1.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-. (http://id. Namun. (http://muhlissuhaeri. Untik mengidentifikasi masalah internal perkotaan 2. Apa yang menjadi masalah internal perkotaan. tentunya masih saja ada hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan itu sendiri.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan) Ada dua makna gagasan yang terkandung didalam cara pandang pembangunan berkelanjutan yaitu : gagasan kebutuhan. 4. Yang tak kalah pentingnya adalah pengakuan dan perawatan keanekaragaman budaya yang akan mendorong perlakuan yang merata terhadap tradisi berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti oleh masyarakat. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1.bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan penulisan ini adalah : 1. Tujuan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. 1. Bagaimana masalah kemiskinan di perkotaan. B. C. Pemeliharaan keanekaragaman hayati untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang.) Pembangunan berkelanjutan juga mensyaratkan adanya pemeliharaan keanekaragaman. 2 .wikipedia. Untuk mengidentifikasi kemiskinan di perkotaan . Hambatan dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan diantaranya diantaranya masalah internal dan eksternal perkotaan. 1. Bagaimana masalah keamanan dan ketertiban kota. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban kota. Bagaimana masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan. yaitu kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia dan gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan oerganiasi social terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan. Rumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Tujuan dan Kegunaan 1.blogspot.

Etika lingkungan non-antroposentris memandang manusia sebagai anggota komunitas hidup di dunia. Edward B. Untuk mengidentifikasi keamanan dan ketertiban kota 5. serta lingkungan buatan di perkotaan. Evaluasi itu dapat dilakukan dengan beberapa cara. (Arif Budimanta Dalam Bunga Rampai. Tokyo yang memiliki kualitas pembangunan yang berkelanjutan yaitu cara berpikir yang integrative. Untuk mengidentifikasi kualitas lingkungan hidup perkotaan 4. Kegunaan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. Permasalahan pembangunan berkelanjutan juga tak dapat diabaikan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan dan tekonologi. 3. 2. seperti juga mahluk hidup lainnya. 2. . dalam menjelaskan konsep pembangunan berkelanjutan ini. Perencanaan kota bertujuan menyelesaikan atau mengatasi permasalahan kota melalui penyediaan ruang untuk semua kegiatan masyarakat yang kompleks. Untuk mengetahui keamanan dan ketertiban kota.3. Pembahasan Permasalahan pembangunan berkelanjutan sekarang telah merupakan komitmen setiap orang. seperti biosentris. proses-proses yang terjadi di dalam masyarakat dan antara masyarakat dan lingkungannya. bioregionalisme. ekofeminisme dan sebagainya Proses pembangunan berkelanjutan di perkotaan dapat diketahui dengan melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan-kawasan di kota tersebut. Ini berarti tujuan kegiatan perencanaan kota. 2005: 375-377) Beberapa pemikir dibidang perencanaan dan perancangan kota. Barbier mengusulkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai interaksi antara tiga system : sistem biologis dan sumber daya. 4. perspektif jangka panjang mempertimbangkan keanekaragaman dan distribusi keadilan social ekonomi. yang menghasilkan kebijakan rencana kota. Sejak paruh abad ke-20. yang bergelut di bidang pembangunan. Singapura. baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. termasuk ilmu perencanaan kota. Untuk mengetahui kemiskinan di perkotaan. yaitu Bangkok. sadar atau tidak sadar. Budimanta membandingkan perkembangan kota Jakarta dengan kota-kota lain di Asia. Etika lingkungan non-antroposentris itu terbagi atas beberapa aliran. adalah untuk mencapai proses pembangunan yang berkelanjutan. berpendapat bahwa untuk mencapai proses pembangunan berkelanjutan. Konsep pembangunan yang berkelanjutan ini terus berkembang. 5. Untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup perkotaan. perlu perencanaan dan perancangan yang bersifat ekologis dan berlandaskan etika non-antroposentris. sistem ekonomi dan sistem sosial. yaitu kebijakan yang menjadi pedoman utama pembangunan kota. Selain itu. Untuk mengetahui masalah internal perkotaan. Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan sebagai hasil debat antara pendukung pembangunan dan pendukung lingkungan. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. D. berkembang etika lingkungan non-antroposentris sebagai salah satu akibat terjadinya krisis-krisis lingkungan. seperti juga semua mahluk hidup lainnya. Pada tahun 1987. Salah satu cara adalah evaluasi berdasarkan criteria pembangunan berkelanjutan.

dan pemahaman bahwa kemiskinan dan kerusakan lingkungan adalah ancaman utama pembangunan berkelanjutan. kurangnya penghargaan social. air bersih. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban perkotaan. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. kekurangan gizi dan nutrisi. adanya urbanisasi. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. Ketidakadilan itu terlihat dari tidak terpenuhinya kebutuhankebutuhan mereka untuk bertahan hidup dalam kesehatan yang baik. sulitnya mendapat akses ke pelayanan publik (sanitasi sehat. pelayanan pendidikan dan sebagainya. dan lingkungan yang bermuara pada kondisi kemiskinan. Ketidakadilan juga terlihat dari tidak adanya akses kepemilikan hak atas tanah yang mereka huni. Masalah Kemiskinan di Perkotaan Kemiskinan merupakan salah satu contoh ketidakadilan yang dialami suatu kelompok (masyarakat pra sejahtera). tidak layaknya tempat tinggal. Urbanisasi hampr terjadi dimanapun diseluruh dunia disebabkan oleh perkembangan ekonomi dan daya tarik perkotaan yang kadang menjebak bagi mereka yang tidak mampu bersaing sehingga menjadi terpinggirkan. sulit bagi mereka untuk mendapat akses ke pekerjaan yang baik dan stabil.(Soefaat. Ketidakadilan itu menyebabkan masyarakat miskin tetap miskin dan mengancam proses pembangunan yang berkelanjutan. pengelolaan sampah ) rumah sehat. dan terdapat di mana-mana. Sebagai akibat itu semua. dan lain-lain. Yang paling mudah dan terlihat jelas dari wajah kemiskinan perkotaan ini adalah kondisi jutaan penduduk yang tinggal di permukiman kumuh dan liar. Daya tarik kota sebagai pusat mata pencaharian yang membengkak ini sering dibarengi dan diperbesar oleh kemunduran ekonomi diluar kota. Kerusakan lingkungan.kriteria pembangunan berkelanjutan di perkotaan dirumuskan berdasarkan pemikiran-pemikiran yang berkembang seperti diuraiakan diatas. Di Indonesia perkembangan ini cepat sekali sejak tahun 70-an. poltik. 1. 1999: 43) . 1. 2005: 410) Saat ini masalah kemiskinan perkotaan merupakan masalah mendesak yang banyak dihadapi kota-kota di Indonesia. kondisi permukiman buruk atau kumuh dalam suatu kawasan memperlihatkan bahwa kawasan tersebut sedang dalam proses tidak berkelanjutan. Kemiskinan serta kerusakan lingkungan hidup merupakan ancaman utama bagi proses pembangunan berkelanjutan dengan melihat tujuan dari pembangunan berkelanjutan yaitu mencapai masyarakat sejahtera (masyarakat berkelanjutan) dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan. sebagai pengangguran. sebelum itu urbanisasi juga sudah berjalan tapi lebih lambat dan terbatas. 2005: 405) Berikut dibahas mengenai tiga sub sistem masalah internal perkotaan yang merupakan hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. RTH. baik di Negara maju maupun di Negaranegara yang sedang berkembang. ketidakamanan. menyebabkan mereka para pendatang yang tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bersaing di perkotaan memaksa mereka untuk terpinggirkan sehingga menjadi warga miskin di perkotaan. Kondisi kekumuhan ini menunjukkan seriusnya permasalahan sosial ekonomi. Pengertian kemiskinan sendiri bermakna multi-dimensi dari mulai rendahnya pendapatan. Masalah lain yaitu.

untuk kembali memperdayakan petani. Hanya saja hingga ssat ini pengelolaan sumberdaya tersebut belum optimal.Krisis ekonomi meningkatkan angka kemiskinan absolut di daerah perkotaan. 2005 : 7). paling tidak untuk mencukupi kebutuhan sendiri. dan dampak sampai kepada sektor pertanian. maka kekuasaan atas bibit harus dikembalikan kepada mereka. khususnya yang berdasar sumber daya hayati. Kebutuhan bahan pokok sebenarnya mampu kita penuhi. Sehingga begitu dollar AS naik. seperti kita ketahui pada jenis tersebut tidak dapat tumbuh tanpa dipupuk dan diberi pestisida. tampaknya dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang ini. melalui pancausaha tani pemerintah mengharuskan petani menggunakan varietas benih unggul padi. mengingat produk-produk bahan poko tersebut berasal atau bersumber dari sumber daya hayati. Mereka diberikan peluang untuk membudidayakan bibit-bibit . Swasembada bahan pokok seharusnya dapat kita lakukan. Swasembada bahan pangan yang kita lakukan masih mengalami hambatan sebab meskipun Negara kita hidup dalam pola agraris. Sebagai contoh. namun paling tidak sejumlah devisa dapat dihemay dan lapangan kerja pertanian dapat digairahkan kembali. Oleh karena itu. baik hayati maupun nonhayati. kemiskinan masih tetap merupakan masalah penting sehingga perlu ditangani secara bersama-sama terutama dikawasan perkotaan. maupun papan. Upaya praktis ini tentu saja tidak dapat secara makro memperbaiki kondisi ekonomi kita. Bersamaan dengan itu. harganya pun ikut naik. dalam menetapkan strategi jangka pendeknya. Selain itu. Namun demikian. padahal tidak ada satu pun industri yang bahan bakunya tidak tergantung impor. termasuk harga-harga kebutuhan pokok yang dampaknya menyentuh segenap lapisan masyarakat. kebutuhan kita akan barang-barang. seringnya nilai tukar rupiah merosot terhadap nila dollar AS menimbulkan kenaikan harag berbagai jenis barang. Kebutuhan masyarakat. dibutuhkan kebijakan yang tegas dari pemerintah Indonesia dalam melihat masalah ini. telah menginstruksikan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian untuk menghentikan import sayur-sayuran dan buah-buahan. (Gita Chandrika Dalam Bunga Rampai. dalam pengadaan beras. tetapi ketergantungan terhadap agro-industri. Hal tersebut mengakibatkan petani sangat tergantung pada indutri pupuk dan pestisida. Penduduk perkotaan yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat secara signifikan sejak terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997. Padahal. Dalam kondisi seperti ini kita dapat belajar pada Negara tetangga kita Malaysia. dapat kita penuhi sendiri. baik hulu maupun hilir dapat dilepaskan. Sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk mengentaskan atau mengurangi kemiskinan dengan berbagai programnya. Datuk Anwar Ibrahim. semuanya merupakan produk olahan yang menggunakan bahan dasar sumber daya hayati. Ketergantungan petani terhadap bibit tersebut menyebabkan petani tidak menjadi orang bebas. yang awalnya yang diperoleh dari IRRI (Iinternasional Rice Research Institut). Pada dasarnya hal ini tidak akan terjadi apabila semua kebutuhan pokok tersebut dapat dicukupi oleh kita sendiri. sandang. Seharusnya dengan kekayaan hayati tersebut. mengingat bangsa Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Deputi perdana menteri Malaysia. Yang menjadi kunci permasalahan adalah mengapa pasokan hulu dan hilir tidak dikembangkan secara mandiri di tingkat lokal dan nasional. Apalagi. Sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin melakukannya. baik pangan. beliau menginstruksikan agar masyarakat mau memberdayakan sumber daya lahan yang tersedia untuk menanam sayur-sayuran. Kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki hingga saat ini bellum dimnafaatkan secara optimal.

Sistem yang dapat melindungi warganya menghadapi kondisi-kondisi yang memburuk yang mampu ditangani oleh dirinya sendiri. Pendekatan kemiskinan yang berkembang selama ini perlu dilengkapi dengan konsep keberfungsian sosial yang lebih bermatra demorasi-sosial ketimbang neo-liberalisme. kondisinya sangat rentang dan keropos. Paradigma baru lebih menekankan pada ―apa yang dimiliki si miskin ‖ ketimbang ‖ apa yang tidak dimiliki si miskin ‖. diganti dengan pola modern yang tergantung pada industri. Kerusuhan ini bahkan telah menembus sampai kawasan pedesaan atau kawasan pinggiran kota. Rebounding atau pelurusan kembali makna keberfungsian sosial ini akan lebih memperjelas analisis mengenai bagaimana orang miskin mengatasi kemiskinannya. karena ketergantungannya pada bahan baku impor. dan jaringan sosial mempengaruhi kehidupan orang miskin. yang dapat mendukung pola agraris yang kita miliki agar efisien. ternyata kita belum mampu menjadi produsen bahan baku kedelainya hingga kini. tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak lainnya. Nilai tambah yang dimaksud dalam konteks tersebut adalah yang bisa memberikan konstribusi devisa. Keadaan ini terjadi pada orang yang miskin yang hidup di Negara yang tidak menerapkan sistem Negara kesejahteraan (welfare state). yang merupakan makanan Indonesia sejak dahulu kala. Kelangsungan hidup individu dalam situasi seringkali tergantung pada keluarga yang secara bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan pemberian bantuan keuangan. Tempe. tetapi menuju ke langit. ketergantungan petani dari jaringan internasional industri bibit akan hilang dan memunculkan kekuatan lokal. (Suharto. Kultur agraris yang menjadi basis pertahanan ekonomi desa telah hilang maupun ditinggalkan. diperlukan upaya pembangunan daerah yang berbasis keanekaragaman hayati setempat. Kedelai hingga kini masih harus diimpor. Bahkan kecenderungannya adalah mengubah kawasan pedesaan yang mampu mandiri berbasis pertanian keanekaragaman hayati. Untuk itu.lokal yang sudah ada. Kebijakan tegas untuk meninggalkan kultur agraris. Ia adalah manajer seperangkat asset yang ada di seputar diri dan lingkungannya. Orang miskin bukanlah orang yang pasif. karena ada pandangan bahwa pola pertanian yang ada selama ini tidak memberikan nilai tambah.(Sugandi. keluarga kekerabatan. Semuanya itu disebabkan kita belum pernah mengadakan penelitian bioteknologi. serta bagaimana struktur rumah tangga. karena investasi yang ada selama ini bukan untuk pembangunan industri yang berbasis sumber daya alam hayati (agroindustry). Dementara industry yang diharapkan mampu menopang sektor pertanian. sangatlah naif. 2005 : 148) . Ketahanan kita akan kebutuhan bahan pokok sangatlah kurang. bukan dalam pengertian mampu memberikan daya hidup pada komunitas desa. menjadi kawasan industri dan kawasan permukiman perkotaan. Bila hal ini dilakukan. dalam rangka peningkatan ketahanan akan kebutuhan bahan pokok. 2007: 46-50) Penelitian – penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemiskinan tidaklah statis. Penelitian yang ada selama ini bukan membumi. Hal ini disebabkan desa telah kehilangan daya tahan menghadapi krisis. sebagai ajang konversi. Krisis ekonomi yang menyebabkan naiknya harga kebutuhan bahan pokok telah menimbulkan berbagai kerusuhan.

2. yaitu melibatkan partisipasi masyarakat melalui dialog-dialog yang demokratis. Karena itu melestarikan keserasian bertentangan dengan hakekat hidup yang menginginkan perubahan. dan menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan. serta pengembangan sumber daya buatan. Sejak berabad tahun yang lalu nenek moyang kita telah merubah hutan menjadi daerah pemukiman dan pertanian. Pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup manusia. menghargai etika dan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan di lingkungan alam. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari pembangunan manusia itu sendiri. menghargai perbedaan-perbedaan. yang mengakibatkan rusaknya struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. tempat dan waktu. Di lain pihak. .Pada akhirnya kebijakan pengurangan kemiskinan yang selama ini yaitu pendekatan top-down dalam perencanaan kebijakan yang sekarang dilakukan. Manusia merupakan subjek sekaligus objek pembangunan. Manusia berada pada posisi sentral sahingga pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilya tidak boleh mengabaikan dimensi manusianya. melainkan berubah-ubah menurut umur orang atau golongan. perlu diganti dengan pendeketan bottom-up. Perubahan hutan menjadi sawah merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan untuk produksi bahan makanan dibawah kondisi curah hujan yang tinggi dan juga untuk mengurangi resiko erosi di daerah pegunungan. berupa resiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Hingga sekarang pencetakan sawah masih berjalan terus. Jadi jelaslah keserasian bukanlah suatu hal yang kekal. Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan manusia. Karena itu akan berarti menurunkan mutu lingkungan dan dengan itu mutu hidup. keadilan dan kesetaraan jender. (Madrim Djody Gondokusumo Dalam Bunga Rampai. Melestarikan keserasian akan berarti meniadakan kebutuhan dasar untuk dapat memilih. Untuk dapat melakukan hal tersebut. Keberlanjutan pembangunan harus memadukan lingkungan hidup. yaitu pemerintah dan para pakar menganggap dirinya yang paling mengetehaui tentang proses-proses yang terjadi dimasyarakat. diperlukan pendekatan pembangunan yang menitikberatkan pada segi manusia. yaitu mengurangi resiko lingkungan atau dan memperbesar manfaat lingkungan. sumber daya manusia. sehingga menuntut tanggung jawab dan perannya untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. 2005 : 418) 1. pembangunan yang makin meningkat akan memberikan dampak negatif. Kerusakan ini pada akhirnya akan menjadi beban yang malah menurunkan mutu hidup manusia. Dengan perubahan hutan atau tata guna lahan lain menjadi sawah berubahlah pula keseimbangan lingkungan. Masalah Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Pembangunan pada hakikatnya adalah perubahan lingkungan. Ilmu pengetahuan modern antroposentris sebagai dasar perencanaan kebijakan publik untuk mengelola kehidupan masyarakat dan lingkungan perlu diganti dengan ilmu pengetahuan yang bersifat non-antroposentris. sehingga apa yang menjadi tujuan pembangunan akan sia-sia. serta menjadi jaminan bagi kesejahteraan serta mutu hidup generasi masa kini dan generasi mendatang. termasuk sumber daya alam.

Permasalahan ketersediaan tanah di perkotaan sebagai lahan hijau sangat terbatas. Selain harga tanah yang mahal, juga kurangnya penghargaan bagi pemilik tanah terlantar untuk dimanfaatka sebagai lahan terbuka hijau. Penggunaan ruang terbuka hijau mulanya diawali dengan tumbuhnya perumhana liar yang semakin luas dan sulit dikendalikan, yang selanjutnya menimbulkan terbentuknya kawasan kumuh. Apalagi para penghuni tersebut dikenakan pajak tidak resmi sehingga mereka merasakan seolah mendapatkan legalitas untuk tinggal di tempat tersebut. Begitu juga, disisi lain factor urbanisasi, khususnya golongan berpendapat rendah dan kurangnya tingkat pendidikan, mendorong mereka untuk menduduki lahan ruang terbuka hijau. Seperti pemanfaatan tepian tepian bantaran sungai dan tepian jalur kereta api sebagai tempat tinggal. (Soemarwoto, 1983 : 60-61) Secara sistem, ruang terbuka hijau kota pada dasarnya adalah bagian dari kota yang tidak terbangun, yang berfungsi menunjang kenyamanan, kesejahteraan, penigkatan kualitas lingkungan, dan pelestarian alam, umumnya terdiri dari ruang pergerakan linear atau koridor dan ruang pulau atau oasis (Spreigen 1965). Perencanaan ruang terbuka hijau secara tepat mampu mampu berperan dalam menigkatkan kualitas atmosfer kota, penyegaran udara, menurunkan suhu kota, menyapu debu permukaan kota, menurunkan kadar polusi udara dan meredam kebisingan. Penelitian Embleton (1963) menyatakan bahwa 1 hektar ruang terbuka hijau dapat meredam suara pada 7 db per 30 meter jarak dari sumber suara pada frekuensi kurang dari 1000 CPS , atau penelitian Carpenter (1975) dapat meredam kebisingan 25-80 %. Kualitas udara bersih merupakan factor luar yang sangat berpengaruh. Karena itu, keberadaan ruang terbuka hijau kota merupakan eksternalitas ekonomis, bukan disekonomis. Artinya, ruang terbuka hijau akan menyebabkan seseorang atau beberap individu menjadi lebih sehat dan baik. Dengan demikian, ada kemauan untuk menerima ruang terbuka hijau dari penigkatan aktivitas lain yang menguntungkan. Oleh karena itu, perencanaan ruang terbuka hijau kota merupakan manfaat sosial yang terdiri dari surplus konsumen sekaligus juga merupakan surplus produsen, sehingga umumnya kesejahteraan (kesehatan) penduduk kota meningkat akibat lingkungan yang sehat. Pelaku-pelaku yang terlibat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau kota terdiri atas sebagai berikut : 1. a. Pemerintah Kewajiban pemerintah kota, dalam hal ini instansi/lembaga dinas pertamanan, dan dinas kehutanan adalah mengadakan dan menyelenggrakan pembangunan secara adil untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kota, termasuk di dalamnya bidang keamanan, kenyaman, dan keserasian. Apabila hal ini dikaitkan dengan jenis ruang terbuka hijau yang ada maka ruang terbuka hijau yang harus disediakan oleh pemerintah adalah ruang terbuka hijau korodor yang meliputi: jalur hijau kota dan jalur hijau jalan; ruang terbuka hijau produktif yang meliputi kawasan pertanian kota, perairan/tambak; ruang terbuka hijau konservasi yang meliputi kawasan cagar alam dan hutan kota; ruang terbuka hijau lingkungan yang meliputi kawasan taman lingkungan dan bangunan, serta permakaman, perkantoran dan kebun binatang 1. b. Swasta

Peranan swasta sebagai pelaku ekonomi kota, yang bergerak di sektor formal maupun informal, tidak secara mutlak berkewajiban untuk melaksanakan pengadaan ruang terbuka hijua kota. Melalui pertimbangan-pertimbangna tertentu serta pengkajian dari sudut pandang swasta, dapat disediakan ruang terbuka hijau yag memungkinkan untuk dikelolah oleh swasta, yaitu ruang terbuka hijau untuk keindahan/estetika; ruang terbuka hijau untuk rekreasi; ruang terbuka hijau lainnya yang dapat dikomersialkan. 1. c. Masyarakat Kota Peran serta masyarakat, baik secrara individual maupun kelembagaan terhadap ruang terbuka hijau lebih terbatas pada pemanfaatan dan pemeliharaan. Dari segi perencanaan maupun pengadaannya, peran serta masyarakat sangat kecil sekali. Hal ini disebabkan keberadaan ruang hijau kota biasanya terbentuk oleh adanya tanah kosong yang belum/tidak dimanfaatkan. Kelangsungan keberadaannya tidak dapat dijamin, sehubungan dengan sifat penguasaan tanahnya yang lebih banyak bersifat individu (bukan tanah negara). 1. d. Media Massa Media massa, baik media elektronik maupun media cetak, ikut berperan sebagai pelaku dalam pengelolaan ruang terbuka hijau, khususnya dalam menciptakan opini publik terhadap pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan. Disamping hal tersebut, fungsi media massa juga bermanfaat untuk ikut mengawasi perkembangan ruang terbuka hijau. (Sugandy, 2007 : 103-105 ) Indonesia sudah mulai menyadari bahwa untuk mencapai masyarakat perkotaan masyarakat kehidupan perkotaan yang sejahtera, kualitas lingkungan hidupnya harus baik, karena akan beperngaruh pada kualitas hidupnya (Quality Of Life). Masalah yang terkait dengan kualitas lingkungan hidup dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat kota, meliputi aspek fisik seperti kualitas udara, air, tanah; kondisi lingkungan perumahannya seperti kekumuhan, kepadatan yang tinggi, lokasi yang tidak memadai serta kulaitas dan keselamatan bangunannya; ketersediaan saran dan prasarana serta pelayanan kota lainnya; aspek sosial budaya dan ekonomi seperti kesenjangan dan ketimpangan kondisi antar golongan atau antar warga, tidak tersedianya wahana atau tempat untuk menyalurkan kebutuhankrbutuhan sosial budaya, seperti untuk berinteraksi dan mengejawantahkan aspirasi-aspirasi sosial budayanya; serta jaminan perlindungan hukum dan keamanan dalam melaksanakan kehidupannya. Kohesi sosial dan kesetaraan (Equity) merupakan faktor penting dalam kualitas hidup di perkotaan. Kekumuhan kota disebabkan karena sumber daya yang ada di kota tidak mampu melayani kebutuhan penduduk kota. Kekemuhan kota bersumber dari kemiskinan kota yang desebabkan karena kemiskinan warganya dan ketidakmampuan pemerintah kota dalam memberikan pelayanan yang memadai kepada warga masyarakatnya. Kemiskinan warga disebabkan karena tidak memiliki akses kepada mata pencaharian yang memadai untuk hidup layak, serta akses pada modal dan informasi yang terbatas. Kemiskinan ini akan berdampak pada kemampuan

warga untuk membayar pajak yang diperlukan untuk membangun fasilitas dan infrastruktur di kawasannya. Permasalahan utama prasarana dan saran perkotaan (PSP) termasuk perumahan adalah tidak memadainya suplay dibandingkan dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan terbatasnya kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pelayan PSP yang layak. Akibat dari keterbatasan suplay dibandingkan dengan kebutuhan, maka masyarakat yang berpenghasilan rendah justru harus membayar harga mahal untuk memperoleh pelayanan PSP tersebut. Berkaitan dengan perumahannya, mereka terpaksa menggunaka lahan-lahan secara liar dengan kualitas perumahan yang jauh dibawah standar. (Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 7-8 ) 1. 3. Masalah Keamanan dan Ketertiban Perkotaan Beberapa teror bom yang terjadi di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini, sperti di Bali, Jakarta dan lain-lain telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat perkotaan dan mengganggu jalannya perekonomian kota. Selain itu, beberapa kota di Indonesia juga mengalami penurunan kualitas kehidupan dengan banyaknya terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar kelompok masyarakat, seperti di Poso, Palu, Ambon, Banda Aceh dan sebagainya. Permasalahan ini diperberat dengan masalah ketertiban di perkotaan Karena tidak disiplinnya masyarakat perkotaan. Hal ini tercermin dengan jelas antara lain dalam disiplain berlalu lintas. Saat ini juga semakin sering terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah, terutama di kota-kota besar. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal seperti tidak adanya sosialisasi dari pemerintah, kurangnya pelibatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, kurangnya pemamhaman akan hak-hak dan tanggung jawab masyarakta dalm pembanguna kota dan lain sebagainaya. Semua hal tersebut diatas sangat berpengaruh pada kinerja kotanya.( Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 9-10) Kemampuan untuk membuat perencanaan yang di satu pihak memecahkan masalah urbanisasi dan dilain pihak memperkaya fungsi kota merupakan keahlian yang sangat diharapkan dari para perencana kota pada masa akan datang. Setiap kota, selain berusaha untuk meningkatkan fungsifungsi perkotaan yang bersifat standar, sebaiknya juga mengembangkan fungsi-fungsi khusus yang kompetitif secara global. Tetapi kedua hal di atas hanyalah suatu strategi umum dalam menyiasati permasalahan pengembangan kota, dan sebenarnya baru bisa terlaksana bila beberapa permaslahan pokok dari kota-kota di Indonesia telah diperbaiki secara substansial. (Santoso, 2006 : 61) 1. 4. Contoh Kasus Contoh dari hambatan pembangunan yang berkelanjutan akibat kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup, yaitu yang terjadi di Kacamata Tambora, kotamadya Jakarta Barat (melalui penelitian yang dilakukan pada tahun 2002-2003). Kecamatan Tambora adalah kecamatan yang berkepadatan penduduk tertinggi di DKI Jakarta, yaitu lebih dari 500 orang per hektar, memiliki permukiman kumuh atau buruk yang sangat luas dan kemiskinan yang sangat signifikan. Evaluasi yang dilakukan berdasarkan Perhitungan criteria pembangunan yang berkelanjutan di

org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan http://muhlissuhaeri. karena komponen-komponen pembentukan yang membentuk jaringan. subsistem Kecamatan Tambora tersebut diatas.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-harus . Tumpukan sampah di TPS juga merupakan sumber berkembangnya vektor-vektor penyakit. seperti kecoa. tikus. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. Hal itu tentunya juga mengancam subsistem-subsistem lain dalam system kota Jakarta. tetapi juga akan mempengs\aruhi sub-sub sistem lain yang membentuk kawasan itu Berdasarkan kesimpulan diatas. tetapi juga akan mempengaruhi subsistem-subsistem lain yang membentuk kota Jakarta. Kesimpulan dan Saran Dari hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan: 1. dan udara yang telah tercemar. yang merupakan faktor ekologis sebuah kota. nyamuk. dalam kasus Kecamatan Tambora. Ancaman itu tidak hanya terjadi di dalam kawasan atau subsistem Kecamatan Tambora saja. keamanan dan ketertiban kota. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. Pencemaran itu disebabkan oleh berbagai sumber didalam dan luar Kota Jakarta. dan sebagainya. tercemar. E. 3. lalat.wikipedia. 2. F. serta sebagai akibat tidak berfungsinya pengelolaan sampah dan limbah air kota. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan.blogspot. Daftar Pustaka http://id. 1. tanah. dapat dikelompokkan dalam tiga dimensi yang saling berinteraksi terus menerus. Kondisi lingkungan pemukiman buruk atau kumuh seperti diuraikan diatas memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses yang tidak berkelanjutan. dapat dilihat pada kondisi air. kerusakan lingkungan hidup. Bahwa hambatan dalam pencapaian pembangunan yang berkelanjutan adalah kemiskinan. yaitu dimensi social ekonomi dan lingkungan.perkotaan (3 PRO) terhadap kecamatan itu memperlihatkan bahwa proses tidak berkelanjutan sedang berlangsung. Kerusakan lingkungan. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. tercemar. Ancaman tersebut tidak hanya terjadi di kawasan itu saja. Bahwa masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadidi suatu kawasan tertentu memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses tidak berkelanjutan. maka adapun saran bagi pemerintah agar dapat menerapkan sistem pembangunan yang berkelanjutan seperti di negara-negara maju lainnya dengan jalan menanggulangi kemiskinan serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta keamanan dan ketertiban di perkotaan guna menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya di Indonesia sehingga dapat dirasakan bukan hanya untuk di masa sekarang melainkanjuga untuk generasi yang akan datang. dll. 1.

Bunga, Rampai. 2005. Pembangunan Kota Indonesia Dalam Abad 21, Konsep dan Pedekatan Pembangunan Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI Santoso, Jo. 2006. Menyiasati Kota Tanpa Warga. Gramedia :Jakarta Soefaat. 1999. Hubungan Fungsional Teknik Sipil dengan Tata Ruang Kota dan Daerah Jilid 1. PT. Mediatama Saptakarya : Bandung Soemarwoto, Otto. 1983. Ekologi Lingkungan hidup dan Pembangunan. Djambatan : Jakarta Sugandhy, Aca dan Hakim, Rustam. 2007. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Bumi Aksara Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. PT. Refika Aditama: Bandung. Comments: Be the first to comment

ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA PERMUKIMAN DI KAWASAN TANJUNG BUNGA MAKASSAR
Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Oleh: Syahriar Tato ABSTRAK Pada suatu lingkungan permukiman keberadaan sarana dan prasarana merupakan ukuran standar kelayakan dalam artian lingkungan permukiman yang dilengkapi sarana dan prasarana (utilitas) yang memadai cenderung akan mengalami peningkatan taraf kesejahteraan. Hal ini cukup beralasan seperti keberadaan jalan-jalan penghubung ke daerah sekitar maupun ke pusat kota akan terjadi kemudahan akses interaksi dengan lingkungan permukiman sekitarnya maupun ke kawasan-kawasan utama pada daerah perkotaan. Disisi lain keberadaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan permukiman akan memacu pula peningkatan aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi. Seperti keberadaan sarana jasa dan perdagangan akan memacu kelancaran distribusi barang dan jasa dari dalam ke luar, keberadaan sarana kesehatan akan terjadi peningkatan mutu kesehatan masyarakat, dan keberadaan sarana pendidikan yang memacu perubahan pola pikir dalam menumbuhkan kemandirian.

1. A. PENDAHULUAN Perkembangan jumlah penduduk pada daerah perkotaan yang disertai dengan peningkatan arus urbanisasi membawa perubahan besar pada kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan

papan beserta fasilitas penunjangnya. Kebutuhan dasar tersebut terus meningkat secara alamiah seiring kompleksitasnya kebutuhan hidup bermasyarakat, seperti kebutuhan untuk aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, dan aktivitas pelayanan umum. Dari fenomena tersebut menuntut pula pembangunan sarana dan prasarana di daerah perkotaan sebagai pengejewantahan menjaga kelangsungan hidup masyarakat di daerah perkotaan dalam rangka menuju kota berkelanjutan (sustainable cityes). Menurut Jayadinata J.T, (1999:31) mengatakan bahwa dalam meningkatkan perkembangan kegiatan sosial dan ekonomi, sarana dan prasarana merupakan hal yang penting. Untuk itu perhatian sejak dini dalam hal pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi pembangunannya baik dari segi pembangunan kuantitas sarana dan prasarana yang ada maupun kualitas pelayanannya. Namun upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di daerah perkotaan bukanlah hal semudah membalikkan telapak tangan. Kendala dan sejumlah permasalahan dalam hal pemenuhan dan distribusinya menuntut tanggung jawab bersama ketiga komponen pembangunan yaitu pemerintah (penentu kebijakan), masyarakat (pengguna) dan pihak swasta (developer). Dari segi pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana fenomena-fenomena umum yang menjadi kendala utama yaitu harga lahan di perkotaan semakin tinggi, kurangnya ketersediaan lahan, kurangnya partisipasi masyarakat baik dalam bentuk swadaya maupun pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada, dan lain sebagainya, sedangkan ditinjau dari segi distribusi yaitu pemerataan sarana dan prasarana yang menimbulkan kesenjangan sosial antara kawasan pusat kota dan kawasan pinggiran kota. Kota Makassar sebagai salah satu kota dengan pelayanan jasa, sosial, ekonomi terbesar pada Kawasan Timur Indonesia (KTI) memberikan andil yang cukup besar dalam memicu perkembangan kota-kota lain yang berada di wilayah timur Indonesia umumnya dan bagi daerah hinterlandnya. Kota Makassar dalam Rencana Umum Tata Ruang terdiri atas bagian wilayah kota (BWK) yang membentuk fungsi kawasan-kawasan dan tersebar di seluruh Kota Makassar. Antaranya kawasan pendidikan, kawasan jasa dan perdagangan, kawasan industri, kawasan perkantoran, kawasan permukiman dan kawasan rekerasi/hiburan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Di era globalisasi pembangunan perumahan di Kota Makassar terjadi perkembangan yang cukup pesat seiring dengan permintaan kebutuhan akan papan sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk. Implikasi dari pembangunan perumahan tersebut menuntut pula ketersediaan sarana dan prasarana perumahan. Kawasan Tanjung Bunga secara geografis terletak di sekitar ± 5 km sebelah barat daya dari jantung Kota Makassar yang merupakan daerah pesisir pantai Selat Makassar yang membentang sepanjang ± 8 km, yang pengembangannya di mulai sejak tahun 1997 secara fisik maupun non fisik. Ditinjau dari topografi Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah yang berdataran rendah dan juga termasuk daerah perairan karena merupakan daerah hilir aliran Sungai Jeneberang. Pembangunan pada Kawasan Tanjung Bunga perpaduan antara pariwisata, olah raga, bisnis, dan permukiman di atas lahan seluas ± 1000 ha, sedangkan tahap awal pembangunannya di mulai dari pembangunan pusat kawasan yaitu pada Kelurahan Tanjung Merdeka, dimana pembangunan

itu berupa pembangunan perumahan yang terdiri dari beberapa kompleks perumahan seluas 340 Ha, pembangunan ruko sebagai fasilitas perdagangan, pembangunan jalan akses dari dan ke Kota Makassar dan Kabupaten Gowa (PT. GMTD, Tbk, 2005). Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah pengembangan wilayah kota (BWK) C Kota Makassar yang memiliki fungsi utama sebagai rekreasi pantai dan jasa pariwisata, pusat perdagangan dan jasa sosial dengan fungsi penunjang pemerintahan Kota, perdagangan, permukiman, pendidikan, dan transportasi (revisi RUTRK Kota Makassar, 2001). 1. B. TUJUAN DAN KEGUNAAN 2. 1. TUJUAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui ketersediaan sarana saat ini dan yang akan datang di Kawasan Tanjung Bunga 1. 2. KEGUNAAN
  

Sebagai bahan masukan bagi swasta (developer) yaitu PT. GMTD, Tbk dalam hal penyediaan kebutuhan sarana di Kawasan Tanjung Bunga . Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya khususnya bagi pengembangan disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota

1. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada ketersediaan dan banyaknya Kebutuhan akan 1. D. METODE PENULISAN 1. a. Dalam melakukan penelitian diperlukan penetapan lokasi sebagai upaya pemecahan masalah sesuai dengan tujuan penlitian dan ditetapkan Lokasi GMTDC TANJUNG BUNGA. 2. b. Melakukan proses pendataan baik berupa data primer maupun data sekunder dengan melakukan teknik observasi, kuisoner maupun kunjungan lembaga atau instansis. 3. c. Dalam melakukan proses analisa digunakan analisis bunga berganda dalam memproyeksi tingkat kebutuhan sarana. 1. E. ANALISIS 2. a. Analisis Aspek Kependudukan Dari hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode bunga berganda, maka perkembangan jumlah penduduk di Kawasan Tanjung Bunga dapat diasumsikan yaitu jumlah penduduk 10 (sepuluh) tahun kedepan 2005 – 2010 dengan menggunakan metode bunga berganda, maka akan diperoleh jumlah penduduk sebesar 32.737 jiwa. 1. b. Analsisis Ketersediaan Sarana Dan Prasarana

1. Tahun 1979 dapat dilihat bahwa untuk kebutuhan Taman kanak-kanak (TK) yang ada saat ini perlu adanya penambahan begitu pula dengan Sekolah Dasar (SD) sedangkan untuk sarana pendidikan lainnya yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). 1. merupakan wujud kepercayaan terhadap Tuhan YME. Sekolah Dasar. Analisis Sarana Peribadatan Dalam melaksanakan ritual keagamaan berupa ibadah menurut agama dan kepercayaan yang dianut. 1. Analisis Sarana Pendidikan Ketersediaan fasilitas pendidikan. Komputer dan IPA. yang mana pendidikan informal dapat ditempuh melalui kursus. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) pada saat ini kurang memadai sedangkan Perguruan Tinggi (PT) tidak perlu mengalami penambahan. Tahun 1979. Cipta Karya Dep. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) perlu penambahan sebanyak 5 (lima) unit dengan kebutuhan lahan 50 ha serta Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) penambahan sebanyak 5 (lima) dengan kebutuhan lahan 100 ha. merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat pendidikan di daerah/kawasan tertentu. PU. Kebutuhan sarana pendidikan 10 (sepuluh) tahun ke depan untuk sarana pendidikan berupa : Taman Kanak-Kanak (TK) perlu adanya penambahan sebanyak 30 (tiga puluh) unit dengan kebutuhan lahan 36 ha. Cipta Karya Dep. pelatihan dan pembinaan. 2.Analisis kebutuhan akan sarana pendidikan diadasarkan pada kondisi real dimana hal tersebut belum memadai yang perhitungannya didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh Ditjen. Untuk dapat melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan sekolah yang dikelola oleh pihak swasta dan memiliki sejumlah fasilitas yang ada di dalamnya yang berupa Laboratorium Bahasa Inggris. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Hasil analisis evaluasi ketersediaan sarana pendidikan di atas berdasarkan standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. .5 ha. Dengan kondisi yang ada maka untuk ketersediaan sarana peribadatan yang ada saat ini masih belum memadai yaitu berupa sarana langgar serta belum adanya mesjid di Kawasan Tanjung sehingga dalam melaksanakan kewajiban yang berupa Shalat Jumat. PU. maka masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga yang hendak beribadah harus ke luar untuk mencari tempat beribadah. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan satu kompleks. pemerintah mengupayakan program pendidikan bagi masyarakat baik secara formal maupun informal. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas serta Perguruan Tinggi. Sehubungan dengan hal tersebut. Sekolah Dasar (SD) penambahan sebanyak 19 (sembilan belas) unit dengan kebutuhan lahan 28. Sedangkan untuk pendidikan formal pemerintah telah menyediakan jenjang pendidikan yang di mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak. diperlukan ketersediaan fasilitas peribadatan berupa tempat ibadah bagi masing-masing pemeluk agama.

dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA : Ketersediaan sarana kesehatan yang ada saat ini yang berupa. Disamping itu Pusat Perbelanjaan & Niaga (Mall) yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan Pusat Perbelanjaan dan Niaga (Mall) yang berskala regional yang melayani kebutuhan warga masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya dan di Kota Makassar pada umumnya yang dikenal dengan nama Grade Trade Center (GTC). GMTD. 4. Selain penambahan dan pengadaan unitnya diperlukan juga pemeliharaan dan peningkatan pelayanannya terhadap masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga maupun di daerah sekitarnya. sarana Langgar/Surau mengalami penambahan 11 (sebelas) unit dengan kebutuhan lahan 3. Dengan kondisi yang mana berdasarkan standar perencanaan dan hasil proyeksi jumlah penduduk. Poliklinik. dan nantinya di Kawasan Tanjung Bunga akan dilengkapi dengan Rumah Sakit type A yang sesuai dari perencanaan PT. dan pertokoan (ruko). sedangkan Praktek Dokter. kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga dan di daerah sekitarnya. 3. Tahun 1979. maka beberapa jenis sarana kesehatan masih memerlukan beberapa penambahan yakni diantaranya. Apotek. diperlukan peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. yang indikator pentingnya yaitu tersedianya sarana kesehatan yang berupa . PU. Tbk sebagai pengelola kawasan terpadu ini. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA yang ada saat ini masih memadai dengan melihat kondisi kependudukan serta standar perencanaan.6 ha. sedangkan untuk sarana yang lainnya sudah memadai seperti pusat perbelanjaan dan niaga.3 ha sedangkan untuk sarana Masjid untuk tahun 2015 perlu adanya pengadaan dengan melihat kondisi yang akan datang. 1. Analisis Sarana Kesehatan Untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat. Rumah Sakit Bersalin/BKIA sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 1. Praktek Dokter sebanyak 5 (lima). 1. Poliklinik tidak memadai dengan melihat jumlah penduduk yang ada saat ini. Poliklinik sebanyak 9 (sembilan) dengan kebutuhan lahan 2. Apotek sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 0. Selain itu juga nantinya akan diadakan pembangunan Masjid dan Gereja yang berskala kawasan yang melayani. Analisis Sarana Perdagangan dan Jasa Sedangkan untuk ketersediaan sarana perdagangan pada tahun proyeksi yaitu tahun 2015 masih membutuhkan pengadaan jenis sarana seperti pusat perbelanjaan lingkungan yang berupa minimarket yaitu sebanyak 1 (satu) unit yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga sedangkan untuk jenis sarana perdagangan yang berupa toko/warung perlu adanya penambahan yang mana sarana tersebut bergabung dengan permukiman Berdasarkan jumlah penduduk yang ada saat ini dengan memperhatikan standar perencanaan yang baku yang dikeluarkan oleh Ditjen Cipta Karya Dep.Untuk ketersediaan 10 (sepuluh) tahun ke depan mengenai fasilitas peribadatan diperkirakan masih membutuhkan penambahan jumlah maupun pengadaan unit yaitu. Praktek Dokter.35 ha. . Apotek. Maka yang tidak memadai yaitu Toko/Warung dan untuk sarana perbelanjaan yang berskala lingkungan seperti minimarket saat ini belum ada.7 ha.

dan Kantor Kelurahan Tanjung Merdeka yang pelayanannya berskala lokal sebagai fungsi sekunder. PU. dan Stadion Dayung yang merupakan sarana olah raga yang bersifat nasional karena ditempat tersebut sering diadakan kegiatan yang bersifat nasional. 5. Cipta Karya Dep. Untuk sarana perkantoran yang telah ada saat ini tidak perlu mengalami penambahan melainkan perlu adanya peningkatan dari segi tingkat pelayanannya 1. karena sesuai dengan fungsi sarana tersebut merupakan tempat untuk melakukan aktivitas yang memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita sehari-hari dan sebagai sarana untuk melepas lelah di dalam aktivitas kita seharian. dimana ketersediaan sarana perdagangan dan jasa sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Tahun 1979. sedangkan untuk sarana rekreasi yang berupa rekreasi pantai yang dikenal dengan Akkarena dengan skala pelayanan yang bersifat regional pada umumnya dan Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya serta taman bermain yang terletak dilingkungan hunian yang ada di Kawasan tanjung Bunga. Maka segala kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini sudah memadai. 1. Sehingga sarana olah raga dan rekreasi sangat penting untuk menunjang suatu kawasan. sedangkan swasta yang berupa Kantor Manajemen PT.Ketersediaan sarana perdagangan dan jasa merupakan aspek yang cukup esensial dalam perkembangan suatu kota atau wilayah. selain itu mungkin perlu adanya peningkatan di segi pelayanannya utamanya perkantoran yang bersifat memberikan pelayanan ke publik. Kebutuhan sarana olah raga dan rekreasi untuk ketersediaan saat ini di Kawasan Tanjung Bunga sudah memadai yang berupa sarana olah raga yang meliputi: Lapangan Bulutangkis. Tbk. Analisis Sarana Olah Raga Dan Rekreasi Untuk sarana olah raga dan rekreasi merupakan sarana yang cukup penting dalam menciptakan manusia yang sehat jasmani maupun rohani. Analisis Sarana Perkantoran Sarana perkantoran merupakan sarana sosial yang menunjang aktivitas di Kawasan Tanjung Bunga dengan melihat fungsi pelayanan dari pada sarana tersebut seperti Kantor Pemerintah yang berupa Kantor Kecamatan Tamalate yang berskala kawasan sebagai fungsi primer. 6. Untuk melihat kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini dengan menggunakan jumlah penduduk yang ada saat ini serta melihat standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen.GMTD. Selain itu terdapat baruga atau balai pertemuan yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga untuk kegiatan atau pertemuan antar warga yang terletak di salah satu kawasan hunian yaitu perumahan taman Toraja. Untuk mengetahui kebutuhan sarana olahraga dan rekreasi untuk tahun 2015 adalah sebagai berikut sarana olahraga Lapangan Bulutangkis. fasilitas perdagangan dan jasa juga merupakan suatu indikator dalam menentukan perkembangan tingkat perekonomian suatu wilayah. Baruga dan Stadion Dayung tidak mengalami penambahan melainkan butuh adanya peningkatan kondisi dari pada sarana tersebut sedangkan untuk sarana rekreasi juga tidak mengalami penambahan tetapi memperbaiki kondisi serta .

Dari tabel hasil over lay di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa sarana yang ada saat ini tidak sesuai dengan peruntukkannya yaitu tidak berdasarkan dengan master plan yang dikeluarkan oleh PT. Tbk. 1. selain sarana tersebut sarana yang berupa taman yang merupakan sarana daripada kawasan hunian yang ada di Kawasan Tanjung Bunga perlu adanya penambahan sebanyak 10 (sepuluh). 1. hal ini di karenakan kawasan ini merupakan kawasan yang berbasis daerah pariwisata sesuai dengan peruntukannya dalam RUTR Kota Makassar. GMTD. Tbk yaitu sarana pendidikan yang berupa Taman Kanak-Kanak (TK). Adapun pemboboton disini didasarkan pada variabel yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam sub variabel sesuai dengan klasifikasi untuk masing-masing eksisting sarana yang ada di Kawasan Tanjung Bunga. 1. dimana dari nilai bobot inidiidentifikasi terdapat tiga kategori yaitu memadai (baik) dalam artian memiliki tingkat ketersediaan. Analisis Sarana Dengan Menggunakan Metode Pembobotan Untuk Meninjau Ketersediaan Sarana yang Ada Saat ini di Kawasan Tanjung Bunga Analisis sarana dengan metode pembobotan disini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari hasil peta over lay tinjauan eksisting sarana dengan master plan Kawasan Tanjung Bunga berikut. dimana hal ini mempunyai sasaran terwujudnya tingkat pencapaian sesuai dengan kawasan perencanaan dan untuk mengantisipasi impak dari pergerakan sebagai bangkitan yang berpengaruh terhadap permasalahan transportasi kedepannya serta permasalahan lingkungan lainnya. c. 1. Analisis Aspek Sarana di Tinjau dari Master Plan Kawasan Tanjung Bunga Analisis aspek sarana ditinjau dari master plan dimaksud untuk melihat apakah peruntukkan sarana yang terbangun sesuai dengan fungsi peruntukkannya. sarana kesehatan yang berupa BKIA (Rumah Sakit Bersalin). Sedangkan untuk sarana lainnya sudah sesuai dengan peruntukkannya yang sudah mengacu pada master plan di Kawasan Tanjung Bunga. d. Sarana Pendidikan Tabel 01 Hasil Pembobotan Sarana Pendidikan Indikator Tingkat Pelayanan yang Skori Bob Standar Nil Sesuai Nil Nil ng ot Perencana Master Plan ai Persepsi/Masyarakat/Resp ai ai an onden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 1 unit tidak 3 1  Tingkat pencapaian sesuai Pendidikan. penduduk N Variabel o .mengembangkan yang telah ada sesuai dengan perkembangan kedepan nantinya. serta sarana perkantoran swasta yang berupa Kantor Manajemen PT. GMTD. kurang memadai (kurang baik) dalam artian kurang memiliki tingkat ketersediaan. dan tidak memadai (tidak baik) dalam artian belum memiliki tingkat ketersediaan.

Sarana Peribadatan Tabel 02 . TK pendukung minimum  Kondisi 4 5 dengan fungsi peruntukkan ya dan 1 unit sudah sesuai dengan fungsi peruntukkan nya 8.66 12.3 5 3  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11 3.33 4. 2.    4. Asumsi pembobotan yaitu.66 2.11 13 4.66 Jumlah  1 SD Jumlah 1 penduduk pendukung minimum 1 3 Jumlah  SLTP Jumlah penduduk pendukun g minimum Jumlah  3 SMU Jumlah 3 penduduk pendukun g minimum Jumlah 3 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .33 Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.6 3 6  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 3 fungsi peruntukann 5 ya 4.

penduduk pendukun  Kondisi  Musholla g minimum h N Variabel o Jumlah 1 Nil Master ai Plan 1 1 1 1 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukan nya 5 7 2.66 Praktek Jumlah penduduk 1 5   5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Sesuai dengan . 3.Hasil Pembobotan Sarana Peribadatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1  Tingkat pencapaian Peribadatan. pendukun  Kondisi  Poliklini g minimum k N Variabel o Jumlah  Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya 5 5 11 3. Sarana Kesehatan Tabel 03 Hasil Pembobotan Sarana Kesehatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1 penduduk  Tingkat pencapaian Kesehatan. Asumsi pembobotan yaitu.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .

Asumsi pembobotan yaitu.  Pst.33 4. Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 penduduk  Tingkat pencapaian pendukun  Kondisi g minimum Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya . Sarana Perdagangan dan Jasa Tabel 04 Hasil Pembobotan Sarana Perdagangan Dan Jasa Indikator N Variabel o 1 Sarana Perdagangan dan Jasa.77 7 2.dokter pendukun g minimum 5 5  Kondisi 3 3 3 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.33 Jumlah  Apotek Jumlah penduduk pendukun g minimum    Jumlah  5 BKIA/ Rumah sakit bersalin Jumlah 5 penduduk pendukun g minimum 5    Jumlah 5 4.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .3 5 3 Tingkat kebutuhan 1 Tidak sesuai 1 Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 14.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. 4.

3 3 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 15 5 Jumlah  5 1    5 5 15 5 Jumlah 1 5 10. Sarana Perkantoran Tabel 05 Hasil Pembobotan Sarana Perkantoran Indikator Nil Tingkat Pelayanan yang Standar ai Sesuai Perencana Persepsi/Masyarakat/Res an ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5  Tingkat pencapaian Perkantoran. 5.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .Perbelan jaan & Jasa (mall) Jumlah  Pertokoa Jumlah n (ruko) penduduk pendukun g minimum · Jumlah Toko/war penduduk ung pendukun g minimum 5 5    5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 4. Asumsi pembobotan yaitu. penduduk pendukung  Kondisi  Kantor minimum N Variabel o Nil ai Master Plan 3 1 Nil Skori Bob ai ng ot Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan .33 3.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.

88 5 1 11. 6.6 6 Tingkat kebutuhan 5 Tidak sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11. Asumsi pembobotan yaitu. Sarana Olahraga & Rekreasi Tabel 06 Hasil Pembobotan Sarana Olahraga & Rekreasi Indikator N Variabel o 1 Sarana Olahraga & Rekreasi. Tbk 5       Jumlah  1.66 3.66 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Jumlah 5 Manaje penduduk men pendukun PT.6 6 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1. g GMTD minimum . Nil Tingkat Pelayanan yang Nil Standar ai Sesuai ai Master Perencan Persepsi/Masyarakat/Res Plan aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 3 Sesuai 5 penduduk  Tingkat pencapaian dengan pendukung fungsi Nil Skori Bob ai ng ot 5 .    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.66 3.Kecam atan Jumlah  1 nya 5 Kantor Jumlah 5 Lurah penduduk pendukung minimum 5 Ktr.88 Jumlah 5 1 11 3.

6 6 Tingkat kebutuhan 5 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 5 5 13. Asumsi pembobotan yaitu.66 4.55 5 5 15 5 5 15 5 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Bulutan gkis 5 5 peruntukkan nya Jumlah  Dayung Jumlah penduduk pendukung minimum    3 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 Tabel 07 Nilai Bobot Aspek Sarana Ditinjau Dari Standar Indeks Bobot Kualitatif Dan Kuantitatif .33 Jumlah  Baruga Jumlah penduduk pendukung minimum 5 5    5 5 15 5 Jumlah  5 Pantai Jumlah 5 Akkare penduduk na pendukung minimum 5 5     Taman Jumlah penduduk pendukung minimum    Jumlah 5 5 3.minimum   Kondisi 1 5 Lap.

2  Musholla Sarana Kesehatan.33 Indeks Bobot Kuantitatif >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Indeks Bobot Kualitatif Kurang Memadai Memadai Memadai Memadai Kurang Memadai TK SD SLTP SMU 1    Sarana Peribadatan.   3.88 3.     3.33 7     Memadai Memadai Memadai Lap.  Nilai Bobot 2.66 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai 5 Kantor kecamatan Kantor lurah o Kantor manajemen PT. Bulutangkis Dayung Baruga Pantai Akkarena 5 4.11 4.  4   Pusat perbelanjaan dan niaga (Mall) Pertokoan (ruko) Toko/Warung Sarana Perkantoran.33 4.No Variabel Sarana Pendidikan. Tbk Sarana Olahraga Dan Rekreasi.55 .66 4.66 4. 4.77 2.66 3.33 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai Kurang memadai Memadai Memadai Memadai 3 Poliklinik Praktek dokter Apotek BKIA/rumah sakit bersalin Sarana Perdagangan dan Jasa.88 3.33 5 5 3. GMTD.33 2.

Jakarta : Penerbit PT. 1999. Tata Ruang Perkotaan. Revisi Rencana Umum Tata Ruang Kota Makassar. D. Comments: Be the first to comment pengelolaan sampah Posted December 24. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. Kamus Tata Ruang. Badan Perencanaan Daerah.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Poerwadarminta. 1985. Taman 5 4. ———— H. R. Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota. Budihardjo. 1997.). 1979. Jakarta Jayadinata. Penataan Ruang Untuk Pembangunan Wilayah Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin Bratakusumah S. 1998. 1996. Perspektif Lingkungan Desa – Kota. 2004. Bandung: Penerbit ITB Bandung. 2001. 1997. J. T.J. Perencanaan Pembangunan Daerah.55 Memadai Memadai Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 F. Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum W. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan & Wilayah. Koestoer H. Eko. R. 2001. Jakarta PN Balai Pustaka. Dimensi Keruangan Kota. DAFTAR PUSTAKA Amien. dan Riyadi. Gramedia Pustaka Utama. M. Departemen PU Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Comments: Be the first to comment STUDI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH . et al (ed. Bandung: Penerbit Alumni. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia.

and geological conditions have an effect on water pollution in the dumping site and its vicinity. kemudian pada Tahun 2002 menjadi 34. Latar Belakang Kota Enrekang mengalami perkembangan yang pesat. This condition indicates that the E. land use around it. yang berpengaruh terhadap meningkatnya produksi sampah di kota tersebut.31 m3/hari. The results of the study indicate that the physical characteristics of the final dumping site support the permeation of leaches toward the river and settlement area in the western part of the location.77 m3/hari ( meningkat rata-rata sebesar 3. The land use condition is relatively heterogeneous around the dumping site and there is no relationship between the components of space function. hydrological. The study was descriptive. Kebijakan pemerintah Kabupaten Enrekang dalam pengolahan TPA sampah yaitu menggunakan metode Lahan Urug Terkendali (Controlled Landfill). but also by other factors such as the activities of the community around the location. Efektifitas penggunaan metode tersebut harus mempertimbangkan aspek kondisi fisik TPA.72 %/tahun). A. Coli Bacteria. accecibility. The dumping site is not suitable viewed from the aspect of spatial arrangement. and E. geological. Coli Bacteria around the location is not only affected by the existence of the dumping site. kemampuan pendanaan. topographical. but at samples S15-S24.Posted December 24. Coli Bacteria on the distance (S1S14) of the dumping site indicates that the decrease tends to be linear. produksi sampah Tahun 1997 di Kota Enrekang sebesar 29. BOD5. I. The effect of E. it tends to increase significantly. Based on BOD5 and content of E. jenis dan karakteristik sampah. dan prasarana pendukungnya . Prinsip pengolahan metode Lahan Urug Terkendali adalah secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah kemudian dilakukan perataan dan pemadatan sampah. The variables studied were topographical. and physical conditions of the town spatial arrangement. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstract The aim of the study was to find out the physical characteristics of the final dumping site and its suitability with the concept of spatial arrangement and its impact on the quality of water around it. Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang. it is apparent that the distance. PENDAHULUAN 1. Coli Bacteria.

Mempertimbangkan jenis sampah di Kota Enrekang. D. dan kabupaten lainnya secara umum. Sejalan dengan itu. serta polusi udara. serta pencemaran tanah. 2. Kegunaan Penelitian 1. Apakah penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang sesuai dengan konsep penataan ruang? 3. seperti terbentuknya rembesan lindi yang dapat mencemari air permukaan dan air tanah dangkal. S. Indikasi tersebut lebih dipertegas dari penelitian terdahulu yang dilakukan di TPA Tamangapa oleh (Arifin 2001) yang menyimpulkan bahwa rembesan lindi yang keluar dari timbunan sampah membentuk alur yang mencemari air permukaan dan air tanah dangkal sekitar TPA. 1. Sebagai salah satu masukan dalam penentuan lokasi TPA di Kabupaten Enrekang. 3. Sebagai salah satu masukan dalam pengolahan TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Apakah TPA sampah Kabupaten Enrekang mencemari air lingkungan di sekitarnya ? C. Juga disimpulkan bahwa penyakit diare dan kudis yang menjadi keluhan masyarakat sejak pertengahan Tahun 2000 disebabkan oleh pencemaran air akibat rembesan air lindi dari TPA tersebut. Tujuan Penelitian 1. maka di dalam penelitian tersebut disarankan pengolahan sampah dilakukan dengan pengomposan. 3. Bagaimana karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Desa Batu Mila Kabupaten Enrekang ? 2. B. A. Untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. penelitian yang dilakukan oleh (Yuliana 2001) menunjukan bahwa beberapa sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang kondisi airnya berbau. Sebagai salah satu masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya di bidang persampahan.(Notoatmodjo. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Sampah . II. 1. 2. Untuk mengetahui dan menjelaskan kesesuaian penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang di tinjau dari aspek penataan ruang kota. 2. 1997). Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek tersebut akan menimbulkan pencemaran lingkungan di sekitarnya. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh TPA Sampah Kabupaten Enrekang terhadap pencemaran air lingkungan di sekitarnya. Perumusan Masalah 1. Lebih lanjut Yuliana menyimpulkan bahwa kondisi kualitas air sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang relatif berbau dan berubah warna terutama sumur-sumur yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi TPA.

Composting: cara pengolahan sampah untuk kebutuhan pupuk tanaman. maka sampah didefinisikan sebagai suatu zat atau benda-benda yang tidak terpakai lagi yang bersumber dari aktivitas manusia dan proses alam baik yang bersifat zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan. Menurut Mustofa (2000) sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian. Individual Inceneration. 2. 2. Controlled Landfill: Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk menghindari potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. setiap orang atau rumah tangga membakar sendiri sampahnya. . Timbulan Sampah (Waste Generation) Pewadahan (Onside Storange) pengumpulan (Collection) Pemindahan dan Pengangkutan (Transfer dan Transport) Pemanfaatan Kembali (Procesing dan Recovery) Pembuangan Sampah (Disposal) C. 7. tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang. Sanitary Landfill: metode ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan kemudian ditutup dengan tanah. 4. Open Dumping atau pembuangan terbuka. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. cara ini dilakukan dengan cara membakar sampah. B. cara pembuangan akhir sampah merupakan salah satu aspek strategis dalam sistem pengolahan sampah. sebagai berikut. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah upaya yang sering dilakukan dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi operasional. 1. 1. 3. 4. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut. 3. Menurut Madelan (1997). 6. 5. 6. dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh. Beberapa metode pengolahan sampah dalam penerapannya adalah sebagai berikut. berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. 1. yang dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pekerjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi. tidak dipakai. 5. Pengolahan TPA Sampah Menurut Ryadi (1986). sampah (waste) diartikan sebagai suatu yang tidak digunakan. barang rusak atau bercacat dalam pembikinan atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. terdapat enam aktifitas yang terorganisir di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah. merupakan cara pembuangan sederhana di mana sampah hanya dibuang pada suatu lokasi.Menurut American Public Health Association. Inceneration.

5. 1. 1.000 mtr. 5. Kondisi tanah meliputi: produktifitas tanah rendah. Masih dalam wilayah administrasi Kabupaten berangkutan. 3. perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah limbah padat (sampah) sampai ke TPA dengan memanfaatkan kembali limbah padat tersebut melalui daur ulang dan sistem pengomposan. Hog Feeding: cara pengolahan dengan sengaja mengumpulkan jenis sampah basah (gerbage) untuk digunakan sebagai makanan ternak. Biaya pengelolaan dan pengolahan yang murah. Lingkungan biologis meliputi: daya dukung kurang menunjang flora dan fauna. Estetika lingkungan (tidak terlihat dari keramaian dan jalan umum). namun karena sampah yang dihasilkan terus bertambah. status tanah tidak bervariasi. tidak boleh kandungan tanah lebih 10-6 cm/det. Sejalan dengan itu. kapasitas besar. plastik. 7. yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak-tidaknya penempatan TPA. Di luar kawasan lindung (cagar alam.7. Kriteria penyisih yaitu kriteria untuk memilih lokasi terbaik yaitu dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut. 6. Jarak dari bandara harus lebih besar dari 3. arah angin dominan tidak menuju kepermukiman. 1. hutan lindung). Recycling: cara ini memanfaatkan dan mengolah kembali sebagian sampah. Oleh karena itu. kertas. 1. 4. faktor pertimbangan penentuan lokasi TPA sebagai berikut. 4. dijelaskan kriteria pemilihan lokasi TPA sebagai berikut. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %. Tidak pada daerah lindung dan daerah banjir periodik ( 25 thn). Memiliki zona penyangga yang cukup. kaca/botol dan lain-lain. 9. 1. untuk bau dan kebisingan. 2. tersedia lebih lengkap. habitat kurang bervariasi. jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter dari hilir aliran. 8. . 2. Kepadatan penduduk rendah. Kondisi hidrogeologi. yaitu tidak berlokasi pada daerah besar yang aktif dan bukan pada zona bahaya geologi. Wardhana (1995) menjelaskan bahwa walaupun sudah disediakan TPA. sehingga TPA ikut semakin meluas. Kondisi geologi. tersedia tanah penutup yang cukup. yaitu tidak memiliki muka air tanah kurang dari 3 meter. Iklim yang meliputi: intensitas hujan kecil. Pemilihan Lokasi TPA Sampah Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 125/KPTS/1991 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah. Sejalan dengan itu. sbb. tangkapan air. D. berdasarkan pedoman penyusunan tata ruang wilayah dan kota Tahun 1997. 8. 3. seperti kaleng. 6. Kriteria Regional. Utilitas.

E. Syarat fisik air minum adalah bening (tidak berwarna). :14 Thn 2003) Paramater Satuan pH BOD5 COD TSS B. 4. Lebih jelasnya baku mutu air. (iii) adanya perubahan warna. 6. 1. Apabila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 20×102 Bakteri E. syarat-syarat air yang sehat sebagai berikut. (v) adanya mikroorganisme. suhu di bawah suhu udara di luarnya. 1. bahan tersuspensi. Tidak harus dibatasi oleh wilayah administrasi. tidak berasa. 7. 2. maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan. Tabel 1. Pencemaran Air Lingkungan Menurut Wardana (1995). Jauh dari sumber air bersih dan daerah rawan bencana. Syarat bakteriologis air minum harus bebas dari segala bakteri terutama bakteri patogen. (i) perubahan suhu air. Berorientasi pada pemanfaatan jangka panjang. tetapi didasarkan pada keadaan normalnya. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Domestik (KepGub. Mempertimbangkan kecenderungan perkembangan kota. Sejalan dengan itu. menurut Notoadmodjo (1997).2. Tanda-tanda atau indikator air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan yang dapat diamati melalui.E. (vi) meningkatnya BOD5 air lingkungan. Sulsel No. 3. bau. Di luar aktifitas perkotaan. koloidal. tetapi memiliki akses pencapaian yang baik. 5. Coli Kadar Maksiman* A B C 6-9 6-9 6-9 25 40 75 80 100 125 20 35 50 mg/l mg/l mg/l MPN/ 2500 5000 100 ml Keterangan: . dan rasa. Jadi air tercemar apabila air tersebut telah menyimpang dari keadaan normalnya. (iv) timbulnya endapan. Coli. 3. (ii) perubahan pH. Syarat kimia air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah tertrentu pula. air yang bersih tidak hanya ditetapkan pada kemurniannya saja. Berlokasi pada lahan-lahan non produktif. dapat dilihat tabel berikut.

. METODE PENELITIAN A.Restourant [rumah makan] ukuran > 2. Pengambilan sampel didasarkan pada kondisi topografi (arah pergerakan lindi) dan jarak. air sumur dangkal dan air Sungai Mila dengan jumlah sampel sebanyak 24 titik.Restourant [rumah makan] ukuran 1.Restourant [rmh makan] ukuran 500-1. Kategori B . pada rembesan air lindi/air genangan sekitar lokasi TPA (12 sampel). melakukan pengukuran terhadap indikator kualitas air yang meliputi BOD5 dan Bakteri E. 1.Kawasan permukiman (real estat) ukuran > 200 Ha .300 m2 . Metode penarikan sampel ini dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling). permukiman (real estat) ukuran 16-200 Ha.Perkantoran. pada sumur-sumur di sekitar lokasi TPA (8 sampel) dan di sungai Mila (2 sampel). Populasi dan Sampel Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah air lingkungan yang terdapat di sekitar lokasi TPA yang terdiri atas rembesan air lindi (air genangan).000-10. 1.Kaw.000 m2.000 m2.400 m2 . pada daerah rembesan air lindi di lokasi TPA (2 sampel). perniagaan dan apartemen ukuran > 50. Pengukuran.000 m2.400-2.300 m2 . .* = Kecuali pH Kategori A : . B. meliputi. III. Coli.000-50. perniagaan dan apartemen dengan ukuran 5.Perkantoran. Kategori C . perniagaan dan apartemen ukuran 10.Perkantoran. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data disesuaikan dengan data yang akan diambil.

C. Untuk menjawab rumusan masalah kedua. Pencapaian (Aksesibilitas) 3. Perkembangan Fisik Ruang Kota Enrekang 3. Pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap kondisi fisik alamiah TPA sampah dan guna lahan daerah sekitarnya. Metode Analisis . BOD5 dan Bakteri E. 4. Kondisi Hidrologi 3. ditentukan variabel. Coli. Penggunaan Lahan sekitar TPA 2. D. Untuk menjawab rumusan masalah ketiga. yaitu melakukan wawancara kepada Aparat Pemda Enrekang berkaitan dengan lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. sbb. BPN. Variabel Penelitian Dari uraian rumusan masalah dan tujuan penelitian.2. Dokumentasi. ditentukan variabel sbb. Observasi. 3. Wawancara. 1. Teknik ini digunakan untuk mendiskripsikan secara terperinci karakteristik fisik di sekitar TPA. dengan melakukan sketsa dan pemetaan tematik lokasi. serta penelitian terdahulu yang relevan. Untuk menjawab rumusan masalah pertama. yaitu wawancara kepada kelompok masyarakat tentang TPA sampah di Kabupaten Enrekang. meliputi. Merupakan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait seperti BPS. dan (ii) Focus Group Discussion. 1. Bappeda. (i) Teknik wawancara non struktur. Kondisi Geologi 2. 1. Kondisi Topografi 2. ditentukan variabel –variabelnya. maka dapat dirumuskan variabel penelitian sebagai berikut. Bapedalda.

1. dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. 2. Tinjauan Lokasi TPA terhadap Tata Ruang Kota Arah perkembangan Kota Enrekang dihambat oleh keadaan alam berupa gunung yang ada di sekelilingnya. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Rumusan masalah butir (c). menjadi kendala dalam pengembangan ruang Kabupaten Enrekang termasuk pengelolaan persampahan. Kecenderungan Perkemb. sedangkan fungsi penunjang adalah permukiman dan fasilitas pendukung lainnya. Salah satu arahan pengembangan fisik Kota Enrekang menurut RTRW tersebut adalah wilayah Kecamatan Maiwa. Pengembangan ruang fisik secara ekstensif di Kota Enrekang tidak memungkinkan lagi. dianalisis dengan menggunakan analisis statistik diskriptif. Sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Enrekang belum menunjukan hasil yang optimal baik ditinjau dari aspek pewadahan/ pengumpulan maupun dari aspek pengangkutan ke TPA. Rumusan masalah butir (a) dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. 1. Kebijakan Penataan Ruang Kota Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2001-2010 sebagai salah satu instrumen yang berkekuatan hukum dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Enrekang. Aksesibilitas Secara umum sistem transportasi darat di Kabupaten Enrekang sangat dipengaruhi pola persebaran permukiman dan kondisi geografis wilayahnya.Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Tingkat . Fisik Kota IV. Hal ini dapat dilihat dari beberapa permukiman masyarakat yang telah merambah sampai ke kawasan lindung yang terdapat di arah timur dan utara kota ini. Secara alamiah kecenderungan perkembangan fisik kota saat ini adalah mengikuti jalur jalan poros ke selatan Kota Enrekang dan sebagian kecil berkembang ke arah timur. telah mengarahkan penggunaan ruang Kabupaten Enrekang sedemikian rupa sebagai pengejawantahan dari visi Kabupaten Enrekang. 1. Pola permukiman yang terpencar serta kondisi geografi relatif bergelombang/pegunungan. Jarak Kota Enrekang ke lokasi TPA yang relatif jauh yaitu sekitar 23 km serta sistem pewadahan/pengumpulan yang masih didominasi oleh metoda individual merupakan kendala yang dalam rangka teknik operasional pengelolaan sampah di Kabupaten Enrekang. dimana arahan fungsi pengikat wilayah Kecamatan Maiwa tersebut adalah industri dan perkebunan. sehingga harus mempertimbangkan alternatif lahan-lahan kosong pada daerah sekitarnya yang potensi untuk kegiatan perkotaan. lokasi TPA yang ada saat ini juga terdapat di Kecamatan Maiwa. 1. sbb. Sementara itu. Rumusan masalah butir (b). 3. Perkembangan fisik kota saat ini menunjukan fenomena penggunaan ruang yang tidak mempertimbangkan pelestarian lingkungan.

sehingga jumlah rata rata pengangkutan setiap hari sebanyak empat kali kendaraan atau sebanyak 24 m3. Tabel 2 Matriks Hasil Wawancara dengan Masyarakat Kabupaten Enrekang Jawaban No.pencapaian armada angkutan sampah ke TPA ditempuh selama 6 jam tiap kali pengangkutan. Persepsi Masyarakat responden Jumlah % 1 Reatif Jauh dari Kota 45 75. Bergabung dengan kawasan permukiman dan lokasi bumi perkemahan pramuka. Tingkat pencapaian yang relatif sulit ke lokasi TPA. Mencemari lingkungan sekitarnya terutama Sungai Bila dan permukiman sekitarnya.0 Lingkungan Sekitarnya 3 Berdekatan dengan 39 65. 1. Menciptakan pembiayaan operasional yang tinggi.0 Enrekang Tidak setuju karena 41 63. Lokasi TPA sampah relatif jauh dari Kota Enrekang. sbb. Jumlah armada angkutan sampah yang dioperasikan tiap hari sebanyak 2 unit dengan kapasitas 6 m3/unit.77 m3/hari. Matriks hasil wawancara dengan masyarakat di Kota Enrekang. Oleh karena itu. dengan pertimbangan. namun tetap mempertimbangkan aspek lingkungan hidup. secara umum menjawab pertanyaan bahwa tidak sepakat penempatan lokasi TPA di Desa batu Mila.3 ekses rendah 2 Mencemari 57 95. Aspirasi Masyarakat Hasil wawancara dengan 60 responden di Kota Enrekang yang terdiri masyarakat sekitar TPA (15 responden) dan masyarakat Kota Enrekang (40 responden) serta Pemda Kabupaten Enrekang dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang (5 responden). sementara volume produksi sampah tiap hari di Kota Enrekang adalah kurang lebih 34. Sehingga tiap kendaraan masing-masing hanya bisa mengangkut sampah 2 kali / hari.0 kawasan permukiman dan Bumi Perkemahan . dipertimbangkan alternatif lokasi baru TPA Kota Enrekang yang mudah dijangkau.

Tinjauan TPA Terhadap Kualitas Air Lingkungan Untuk menilai air yang bersih. Berdasarkan hasil pengujian sampel air pada 24 titik sampel yang dilakukan di Laburatorium Kimia Fakultas Teknik Universitas ―45‖ Makassar.20 47. dapat diuraikan kondisi dan kualitas air di TPA sampah dan sekitarnya.4 Pramuka Menciptakan Biaya Operasional Yg Tinggi 32 53.30 96. tidak hanya ditetapkan pada kemurnian saja.30 112.20 137. Dalam penilaian kualitas air di kawasan TPA sampah dan sekitarnya di Kabupaten Enrekang ini. beberapa indikator air lingkungan yang diamati perubahan-perubahannya meliputi. (i) Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD5) dan (ii) Kandungan Bakteri E. maka diketahui kondisi air lingkungan di TPA sampah Kabupaten Enrekang dan sekitarnya. Tabel 3. dapat dilihat pada gambar berikut.00 (MPN/100 ml 77 X 102 78 X 102 62 X 102 59 X 102 59 X 102 61 X 102 57 X 102 51 X 102 46 X 102 47 X 102 42 X 102 42 X 102 27 X 102 BOD5 Bakteri E-Coli . Keadaan normal tersebut tergantung dari kegunaan & asal sumber air. diambil 24 sampel pada titik-titik sampel yang dianggap sebagai tempat-tempat rembesan air lindi dengan pertimbangan kondisi topografi.00 96.00 48.80 112. Dalam pengamatan tersebut.3 B. Coli. tetapi juga didasarkan pada keadaan normalnya. sebagaimana pada tabel berikut. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kode S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 (m) 0 0 5 10 22 24 30 55 67 60 80 94 88 (mg/l) 327. Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan normal berarti air tersebut telah mengalami pencemaran. sebagai berikut.50 52. geologi dan jarak.60 323. Lebih jelasnya titik-titik pengambilan sampel.50 242.70 110.20 98. Karakteristik Sampel Air di Kawasan TPA Kabupaten Enrekang Jarak No. Berdasarkan tabel tersebut.

pada sampel S3 sampai dengan S7 cenderung menurun. Kemudian dari sampel 10.90 mg/l).80 19. Diagram hubungan kandungan BOD5 terhadap jarak diperlihatkan pada gambar berikut.80 38. Pengambil sampel tersebut dilakukan dalam lokasi TPA sampah.10 36. Penurunan kandungan BOD5 sampai mencapai titik di bawah ambang batas terjadi pada sampel S14 (kandungan BOD5 =38.30 mg/l pada S9.90 21 X 102 77 X 102 81 X 102 82 X 102 81 X 102 95 X 102 41 X 102 96 X 102 75 X 102 99 X 102 97 X 102 Keterangan: Hasil Analisis Laboratorium Fakultas Teknik Univ. Penilaian BOD5 Hasil pengujian kandungan BOD5 dalam air pada lokasi TPA sampah dan sekitarnya pada jarak antara 0-150 m menunjukkan bahwa kandungan BOD5 pada titik pengambilan sampel S1dan S13 menunjukan kandungan BOD5 berada di atas ambang batas.80 mg/l) sampai pada S24 (kandungan BOD5 = 18. sehingga sulit terjadi perembesan air lindih pada lokasi tersebut.40 19.10 20.50 mg/l. ―45‖ Makassar 1.00 mg/l pada S 10.50 33.60 mg/l dan 323. Selanjutnya pada S10 kembali terjadi kenaikan BOD5 dari 52.30 mg/l pada S9 menjadi 96.10 27. Grs.50 18. bahkan pada sampel S9 terjadi penurunan yang cukup signifikan yaitu dari 98. ambang batas diperbolehkan .30 19. Sementara itu. tetapi masih dalam kategori cukup tinggi yaitu di atas 100 Mg/L. Kandungan BOD5 yang relatif cukup tinggi terutama terjadi pada sampel S1 dan S2 yaitu masing-masing 327. tetapi menunjukan penurunan yang relatif linier. sampel S11 sampai pada sampel terakhir 24 (S24) terus mengalami penurunan.80 38. 1.14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 S23 S24 86 90 105 120 125 100 200 200 165 126 150 38. Penurunan kandungan BOD5 yang cukup drastis pada sampel S9 disebabkan oleh kondisi lahan pada daerah tersebut merupakan lokasi pembuatan batu cipping yang telah dilengkapi saluran drainase di sekelilingnya serta sudah mengalami pemadatan yang maksimal.50 mg/l pada S8 turun menjadi 52. Selanjut dari titik sampel S8 sampai dengan S13 kandungan BOD5 masih pada ambang batas yang tidak diperbolehkan.

2. Pada titik sampel antara S1 (dalam lokasi TPA) – S18 (jarak 86 meter ke arah utara) kandungan Bakteri E. Coli bersumber dari TPA sampah tersebut. Coli dalam air di lokasi tersebut. Diagram Hubungan kandungan BOD5 air terhadap jarak. Demikian pula kondisi topografi yang relatif bergelombang menjadikan pola sebaran Bakteri E. Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi serta Baku Mutu Tingkat Gangguan Kegiatan yang Beroperasi di Propinsi Sulawesi Selatan. Coli dalam air. Tingginya kandungan BOD5 di sekitar lokasi TPA tersebut merupakan konsekwensi dari belum adanya pengolahan sampah yang baik di TPA tersebut. sedangkan sampel S9 sampai dengan sampel S14 kandungan Bakteri E. Coli. Coli pada lokasi TPA pada jarak 0-150 m menunjukan pola sebaran relatif berfluktuasi. Jenis batuan konglomerat yang terdapat pada lokasi penelitian memiliki porositas yang tinggi dalam menyebarkan cairan lindi yang mengandung Bakteri E. pada sampel S15 (jarak 90 meter) – S24 (jarak 150 m) terjadi peningkatan kandungan Bakteri E.Gambar 2. Berdasarkan pola sebaran BOD5 dalam air di sekitar TPA. pengendalian Pencemaran Air. kondisi topografi dan geologi lokasi penelitian turut berpengaruh terhadap sebaran Bakteri E. Coli dalam air tersebut. menunjukan bahwa lokasi TPA berpengaruh terhadap kandungan bakteri E. Pola sebaran Bakteri E. Hasil pengujian kandungan Bakteri E. Sedangkan penurunan secara drastis terjadi pada sampel S20 disebabkan karena lokasi pengambilan sampel yang dilakukan di seberang jalan (jalan tersebut membatasi titik sampel dengan perumahan dan TPA). sehingga terbentuk genangan-genangan air lindih dan selanjutnya meresap ke dalam tanah. Diantara sampel tersebut. Gambar diagram tersebut di atas menunjukkan sebaran pencemaran air yang cenderung linier pada kawasan TPA kecuali pada titik sampel 9 (S9) mengalami penurunan kandungan BOD5 yang relatif drastik. Coli yang cukup signifikan kecuali pada sampel S20 terjadi penurunan di bawah ambang batas. dalam penelitian ini akan digunakan parameter kualitas air kategori A yaitu parameter kualitas air pada kawasan permukiman dengan ukuran 16-200 Ha dengan kadar maksimal BOD5 adalah 50×102 mg/l. Coli di atas ambang batas terjadi pada sampel S1 sampai dengan sampel S8. Udara. Peningkatan terutama terjadi pada sampel air di daerah permukiman khususnya pada sumur-sumur penduduk. Penilaian Bakteri E-Coli Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 14 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan. 1. Selain dari pengaruh jarak terhadap kandungan Bakteri E. Penetapan Baku Mutu Limbah Cair. . sehingga pemadatan tanah oleh jalan menyulitkan perembesan ke titik sampel tersebut. menunjukan bahwa kondisi topografi dan jarak turut mempengaruhi sebaran pencemaran air di sekitar lokasi TPA. kandungan Bakteri E. misalnya tidak adanya drainase dan kolam oksidasi yang memadai pada kawasan tersebut. Namun demikian. Coli tersebut di atas. Coli cenderung berfluktuasi. Semakin jauh air dari lokasi TPA semakin kecil kandungan Bakteri E. Coli relatif menurun secara linier. Coli Berada di bawah ambang batas.

6. Diagram hub. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA . Coli yang cenderungan meningkat pada sampel S15 sampai S24 (kecuali sampel S20).Sementara itu. 5. 3. diketahui karakteristik fisik lokasi TPA sampah Kabupaten Enrekang. Struktur geologi TPA sampah Kabupaten Enrekang merupakan batuan konglomerat searah dengan kemiringan lahan. Diagram sebaran Bakteri E. Agar dilakukan studi lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. memudahkan rembesan lindih ke arah barat kawasan permukiman. disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang bermukiman di sekitar TPA tersebut seperti kondisi saluran air kotor rumah tangga dan jamban keluarga yang belum di desain dengan baik sehingga dengan mudah terjadi rembesan ke sumur-sumur penduduk dan air lingkungan di kawasan tersebut. Kesimpulan 1. lokasi TPA sampah yang ada di Batu Mila tidak sesuai ditinjau dari aspek penataan ruang. Agar Masyarakat dan Pemda Kabupaten Enrekang memulai program pengomposan sampah organik dalam mendukung dan menciptakan program Sistem Pertanian Organik (Organic Farming) baik dalam skala individual maupun dalam skala Komunal (kelompok). Berdasarkan hasil penelitian. PENUTUP A. kandungan Bakteri E. 1. mempercepat rembesan air lindih sampai kawasan permukiman sekitar Sungai Bila. Sebaiknya lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang tidak terpusat pada satu kawasan saja. Berdasarkan hasil penelitian. B. 2. 2. Grs. tetapi terdistribusi berdasarkan kondisi geografis dan tipologi kota di Kabupaten Enrekang . sebagai berikut. Kondisi topografi pada lokasi TPA relatif bervariasi membentuk kemiringan yang relatif terjal ke arah barat sampai ke Sungai Mila. V. Coli diperlihatkan pada gambar berikut. Berdasarkan indikator BOD dan Bakteri E. ambang batas diperbolehkan Gambar 3. Coli dalam air terhadap jarak. Coli. kandungan Bakteri E. menunjukan bahwa TPA sampah Kabupaten Enrekang telah mencemari air lingkungan di sekitarnya dampai radius 150 meter 4.

Karya Anda. J.L.P. Mutiara Sumber Widya. Ujungpandang. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Solo. Toronto. Alumni. Arifin F. Ltd. Makassar. Bandung. Sym Therm.R. Bandung. 1997. Madelan. Nat. 2000. Poll.H. 1989. E. Tinjauan Geohidrologi Sebagai Salah Satu Pertimbangan Dalam Pemilihan Lokasi TPA Sampah (Studi Kasus TPA Sampah Tamangapa Makassar). Jakarta. 1989.A. Bandung. Jakarta. W. Alswar. 1992. Field Geology. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Pencemaran Air.Anonim. Sistem Pengelolaan Sampah. Kota Berkelanjutan. Tesis tidak diterbitkan. Ryadi. Prorgam Pascasarjana Universitas Hasanuddin. A. Dasar-Dasar Geologi Struktur. 1986. Tarsito Edisi ke-6.H. Surabaya. Jakarta. Slamet R. Bandung. Soemarwoto. Azwar. Bandung. Bandung. Budihardjo. 1994. Kogakhusa Company. Nashville. Djambatan. S. Kamus Lingkungan. McGraw-Hill Book Company Inc. Vanderbilt University Press. Departemen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. Bandung. 1999. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Bappeda Kabupaten Enrekang. Metode Statistika. (1989). S. 1988. Tenn. Pertemuan Ilmiah Tahunan XXIII Ikatan Ahli Geologi Indonesia. (1988). Semarang. Sudjana. Azikin. New York.. Ilmu Kesehatan Masyarakat. A Warld Health Organitation Expert Committee. Mustofa. Proceding Volume II. 2001. Rineka Cipta. 1980. Sixth Edition. O. Satya Wacana. Pengantar Ilmu Gunungapi. Lahee. Penelitian Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah dan Pengelolaan Sampah Tepat Guna. Proc. Instalasi Penerbitan PAM-SKL. 1984. F. Damanhuri E. Hidartan dan Handayana. Nova. Enviromental Sanitary. Notoatmodjo. 1990. 1997. Direktorat Penyehatan Lingkungan Permukiman. Pemetaan Geomorfologi Sistematis Untuk Studi Geologi. Rineka Cipta. Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. 1990. Pedoman Teknis Pengelolaan Persampahan. 1997. Ruslan H. . London and Tokyo.

W. Permasalahan utama yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sungai sebagai akibat adanya permukiman di sekitar bantaran sungai tanpa memperdulikan aturan sempadan sungai. 2000. 1989. Ujungpadang. PT. Andi Offset. Jurusan Planologi Universitas 45.. Prosedur Pengoperasian Standar TPA Sampah. Yogyakarta.N. dan Udara. Studi Pengelolaan Sampah di Kabupaten Enrekang Ditinjau Dari Aspek Pewadahan dan Pengangkutan. Bandung. Dampak Pencemaran Lingkungan. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Kerusakan sungai umumnya disebabkan oleh hilangnya hutan di daerah hulu sebagai akibat dari penebangan pohon yang tidak diikuti oleh peremajaan kembali. Tri C. 1998.S. Departemen Pekerjaan Umum.2001. U.Sulawesi II Urban Development Project Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum. . Tanah. Untuk menjaga DAS Lawo. peladangan yang berlokasi di daerah pinggiran sungai serta terjadinya sedimentasi yang diakibatkan oleh erosi berkepanjangan tanpa adanya pengendalian dan dapat berakibat terjadinya luapan banjir yang pada akhirnya menggenangi daerah perumahan dan permukiman penduduk. Yuliana. P. Penelitian Secara Cepat Pencemaran Air. Yogyakarta. Wardhana W. Yayasan LPMB. Perubahan status sosial ekonomi masyarakat dan kekurangmampuan sebagian warga diduga dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan intensitas untuk bermukim disekitar bantara sungai dengan harapan dapat membuka lahan perkebunan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jakarta. Unaradjan. Pengantar Metode Penelitian Ilmu Sosial. Disisi lain dengan terbukanya lahan disekitar bantara sungai akan menyebabkan mudahnya terjadi penurunan (degradasi tanah) dan semakin tingginya tingkat erosi yang dapat ditimbulkan. Jakarta. Vehoef. A. Comments: Be the first to comment STUDI ARAHAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN Posted December 24. Erlangga. 1991. 1999/2000. Geologi Untuk Teknik Sipil. 1995. Skripsi tidak diterbitkan. Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. maka diperlukan arahan pengelolaan dan pemanfaatannya. Makassar. Gadjah Mada University Press. Grasindo.

Salah satu usaha pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kaitannya dengan pengendlian aliran sungai adalah untuk memenuhi keselamatan penduduk dari bahaya ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi.1. B. dengan tujuan kondisi debit air pada musim kemarau dan musim penghujan tidak terlalu jauh berbedah dan pada saat musim hujan DAS tersebut tidak menimbulkan banjir yang dapat merugikan. dari kebun menjadi lahan pemukiman. perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi kebun campuran. sepeti: perambahan hutan lindung. Dengan demikian pengendalian daerah aliran sungai pada prinsipnya ditujukan untuk meminimalkan ancaman banjir. Pendahuluan Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang dibatasi oleh pemisahan topografi yang menampung. Salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Soppeng adalah Sungai Lawo yang melintasi di empat Kecamatan yaitu Kecamatan Lalabata. Daerah hulu yang merupakan pengatur lingkungan (condition environment).104. dimana sebagian besar mengalir di permukaan yang menuju kesungai sebagai badan air. yang mengakibatkan berkurangnya luas lahan budidaya dari tahun ketahun. yang merupakan salah satu sektor andalan kabupaten soppeng. Kondisi ini kalau di biarkan terus berlangsun akan berdampak terhadap menurunnya produksi terutama sektor pertanian. Dampak air yang ditimbulkan adalah rendahnya debit air yang masuk di daerah irigasi pada musim kemarau. air hujan yang jatuh hanya sebagian kecil yang meresap kedalam tanah. flora dan fauna serta jenis-jenis biota yang hidup didalam sungai. Donri-Donri. kerusakan ekosistem sungai. Kondisi demikian diperparah oleh adanya penambangan Galian C didaerah aliran sungai bahkan dibadan sungai. yang berakibat terhadap tingginya aliran permukaan (run-off). Kondisi demikian disebabkan oleh rusaknya system tata lingkungan pada daerah aliran sungai. Ganra dan Kecamatan Lilirilau. Tujuan dan Sasaran Penelitian . Untuk meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan di DAS Lawo. sehingga membuat ekosistem sungai rusak. 1.45 Ha. maka perlu di lakukan suatu kajian guna menyusun rencana pengelolaan kaitannya dengan alokasi berbagai kegiatan budidaya dan non budidaya yang dapat di lakukan dalam a DAS Lawo. A. terutama pada bagian hulu. kelestarian fungsi sungai dan yang terpenting adalah tuntutan hidup masyarakat dapat berjalan sesuai dengan koridor untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya kedalam suatu sistem pengaliran sungai atau tempat tertentu sesuai dengan kepentingan. telah terjadi kerusakan lingkungan. Proses Pengendalian DAS Lawo bertujuan untuk mewujudkan rasa aman dikalangan masyarakat yang hidup di daerah sekitar aliran sungai dan melestarikan ekosistem. jauh dari bahaya yang dapat diakibatkan oleh luapan air sungai yang sewaktu-waktu dapat terjadi. dengan luas kawasan DAS ± 17. Disamping untuk mendapatkan hasil ekonomis yang optimal dari hasil kegiatan budidaya tanpa merusak ekosistem lingkungan DAS Lawo.

air. dan (4) meningkatkan perilaku masyarakat ke arah kegiatan konservasi. dan berbagai sumberdaya budaya.1. C. DAS dapat dibagi menjadi dua satuan pengelolaan yakni satuan pengelolaan DAS hulu mencakup seluruh daerah tadahan atau . tanah. (3) meningkatkan pendapatan petani. Air adalah salah satu sumberdaya alam yang memiliki sifat yang unik. yaitu sumberdaya tanah dan sumberdaya air.. Sasaran Pekerjaan Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan studi arahan pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut : (1) meningkatkan stabilitas tata air. tetapi sebagai suatu ―dynamic resources‖. Pada dasarnya DAS merupakan suatu wilayah yang menampung air. akan tetapi secara keseluruhan air tidak akan habis selama faktorfaktor pembentuknya tetap ada dan tetap berfungsi. kelakuan dan kegunaan masing-masing. Tinjauan Teoritis. sedemikian rupa sehingga DAS dapat dikatakan merupakan suatu sumberdaya yang bergatra ganda dan terdiri atas berbagai macam sumberdaya tunggal. 1. Pengelolaan DAS biasanya ditujukan kepada pengelolaan dua unsurnya yang dianggap penting. Ditinjau secara setempat air dapat menyusut atau habis. Unsur-unsur lain seperti. Pengelolaan DAS. menyalurkan air tersebut dari suatu aliran ke seperangkat aliran tertentu dari hulu ke hilir dan berakhir di suatu tubuh/badan air bumi seperti danau atau laut. (2) meningkatkan stabilitas tanah. 3. manusia. Air dapat disebut sebagai sumberdaya yang mengalir (flowing resources). sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai suatu ―static resources‖. dilihat dari kemampuannya untuk memugar diri (self restoring capability). Tujuan Tujuan pelaksanaan penelitian pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut: Untuk menentukan konsep pengelolaan DAS Lawo. sehingga terjadi kesimbangan antara daerah budidaya dan non-budidaya dan untuk mempertahankan dan memperbaiki lingkungan sistem hidrologis Sungai Lawo. 1. vegetasi. 1. DAS juga merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat. 2. dan manusia diperlakukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. iklim. Karakteristik DAS. Tiap sumberdaya pembentuk DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. flora dan fauna. Sumberdaya yang menjadi unsur suatu DAS ialah iklim. geologi atau sumberdaya mineral.

1968): Berdasarkan hal tersebut diatas. c) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia.daerah kepala sungai. Pengelolaan DAS hilir dengan demikian mempunyai peranan melipatgandakan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. model matematik yang mewakili suatu sistem selalu meliliki unsur-unsur sebagai berikut (Mize and Cox. maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang. Perlakuan terhadap daerah hilir akan menentukan seberapa besar manfaat yang secara potensial dapat diperoleh dari pengelolaan daerah hulu akan benar-benar terwujud. dan laju transfer dapat dapat digambarkan dalam tabel 1. Keadaan Sistem Hidrologi DAS Komponen Banyaknya Komponen Input Output Transfer ke Komponen (1) Transfer dari komponen (2) (3) (1) (2) X1 X2 a1 a2 Z1 Z2 (1) (2) . Pada prinsipnya DAS hulu perlu dikelola dengan penekanan utama sebagai fungsi konservasi. Menurut pandangan ekologis.F12 F21 0 F32 (3) X3 a3 Z3 (3) 0 F23 - . atau lingkungan pengendali (conditioning environment) dan daerah hilir sebagai daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumen. Memperlancar infiltrasi air ke dalam tanah. dan satuan pengelolaan DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Dengan kata lain. d) Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimumkan produksi Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS karena hal itu akan menentukan manfaat-manfaat besar yang dapat diperoleh atau peluang yang terbuka dalam pengelolaan DAS hilir. output. Seperti telah diuraikan sebelumnya. Pengolahan DAS hulu ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut. Tabel: 1. pengelolaan daerah hilir bertujuan meningkatkan daerah tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. a) b) Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha pengendalian banjir. jumlah air didalam tiap komponen input.

serta meningkatkan pengisian air tanah. Hutan yang masih utuh terdiri dari strata-strata atau lapisan-lapisan tajuk. Ekosistem Hutan Alam Struktur hutan yang masih utuh terdiri dari pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi sampai kepada pohon-pohon Perdu dan tumbuhan yang merambat yang semuanya tersusun dalam lapisan tujuk yang rapat. sehingga tanah menjadi lebih lembab. Tata guna lahan memiliki keterkaitan dengan sumberdaya air DAS dalam beberapa aspek sebagai berikut. 4. dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. juga dalam jumlah yang kecil mungkin di absorbsi melalui daun ke dalam jaringan tanaman (Jeffrey. persentase yang diintersepsi akan besar.1. e) Tata guna lahan juga memberikan dampak terhadap kualitas air. akibatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir menjadi berlipat ganda dan umur reservoir menjadi lebih pendek. 1. meningkatkan aliran dasar (base flow). a) Hutan dan Pengaruhnya bagi Air. c) Tutupan kanopi pepohonan yang rapat dapat mengurangi debit banjir dengan periode ulang pendek. Air hujan yang ditahan oleh tumbuhan selain diuapkan kembali dari permukaan tanah. Lahan yang tertutup dengan pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin dipermukaan tanah. Lahan yang penuh ditutupi kanopi pepohonan akan dapat meningkatkan curah hujan sekitar 5 – 6 %. b) Peredaran Air. Pohon-pohon yang tinggi pada lapisan teratas akan mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah. Intersepsi merupakan suatu proses dimana sebagian dari curah hujan tertahan leh tajuk pohon dan sebagian besar diuapkan kembali ke udara. Intersepsi. 1964). a) Tata guna lahan memberikan dampak terhadap curah hujan. Hal ini berarti bahwa untuk curah hujan yang kecil. Upaya penghijauan dan konservasi lahan lebih efektif untuk pengurangan sidementasi dan debit air/banjir. d) Pengolahan yang tidak tepat dapat meningkatkan erosi dan pengendapan sedimen. Apabila jumlah dan intensitas curah hujan rendah. Tata Guna lahan dan Perilaku DAS. maka sebagian besar dari air hujan akan ditahan oleh tajuk dan langsung diluapkan kembali ke udara. b) Tata guna lahan berdampak besar terhadap kelembaban tanah. Sebaliknya apabila jumlah dan . 3. Lapisan-lapisan tajuk ini terbentuk sebagai akibat dari persaingan dimana pada akhirnya jenis-jenis tertentu akan lebih dominan dari pada jenis yang lain. 1.

Evapotranspirasi pada berbagai ketingggian Ketinggian 0 (m. air ini telah melalui suatu struktur lapisan tanah yang rapat. tekanan udara di atmosfir dan jumlah air yang tersedia untuk diuapkan.29 2. 1.500 2. Pengukuran stemflow pada suatu hutan selalu hijau yang rapat di Balnco (Huttel. dpl) Evapotransp. Aliran Batang (Stemflow) Aliran batang adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui batang pohon. kecepatan angin.000 1. Aliran batang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terpenting adalah architektur pohon.10 7.80 500 1.380 1.intensitas curah hujan besar maka persentase yang diintersepsi akan menjadi kecil. 4.000 2.16 1.79 3. suhu. struktur tegakan (stratifikasi). Air Lolos (Throughfall) Air lolos adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui lapisan tajuk.40 9. Laju penguapan sangat dipengaruhi oleh radiasi.85 2. tanah tanaman untuk kemudian terlepas ke atas atmosfir sebagai uap air. 1978). Penguapan (Evapotranspiration) Penguapan merupakan proses perubahan face cair menjadi uap. Hal ini sangat penting diperhatikan dalam menentukan luas hutan lindung didaerah-daerah dengan ketinggian yang tinggi. Dikemukakan selanjutnya bahwa terdapat korelasi antara evatranspirasi total dengan kedalaman akar. ternyata dapat mengintersepsi lebih dari 68% curah hujan yang tidak lebat. mulai dari lapisan pohon-pohon yang dominan sampai pada lapisan semak belukar dan serasah.000 .200 10. 1.36 3.85 mm/hr Evapotransp 1. Proses ini berlangsung pada berbagai permukaan air.500 3. 1. kelembaban. Sebelum mencapai permukaan tanah.49 2. kulit batang dan letak serta posisi daun. Dalam penelitian Malchanov (1963) pada tegakan spurce (Picea sp) yang lebat daunnya. 1962) pada petak seluas 300 meter persegi dengan 16 pohon yang masing-masing dipasangi saluran plastik berbentuk spiral pada dasar batang menunjukkaan bahwa aliran batang kurang dari 1% air lolos (UNESCO. Perakaran yang dalam dari jenis-jenis pohon menyebabkan evapotranpirasi lebih besar dibandingkan dengan jenis-jenis herbal yang mempunyai perakaran dangkal. Dengan demikian kecepatan dan besarnya butir-butir hujan yang mencapai tanah sudah sedemikian kecil sehingga tidak lagi merupakan bahaya bagi kerusakan tanah.590 1.90 6. Hubungan ketinggian dan evapotranspirasi telah diukur seperti tabel di bawah ini : Tabel 2.

1. Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada sekitar ± 24 0 sampai 30 0 .9 hari hujan/bulan. D. Sedangkan tekstur tanah berfariasi dari hulu – hilir DAS. dan litosol yang tersebar dari hulu – hilir. Lereng 15 – 25%. termasuk wilayah DAS Lawo. mediterian coklat regosol. Geologi dan Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua.54 mm dan 9. 1. 3. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. sedangkan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. lereng 26 – 45% dan Lereng > 45%. 4. 2. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS lawo berupa genangan permanen. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl.mm/tahun Sumber : Ramsay. Erosi dan Sedimentasi Aktifitas penduduk didaerah sekitar DAS secara tidak terkendali akan memberikan dampak terhadap perubahan kondisi fisik sungai terutama dalam bentuk erosi dan transpor sedimentasi dan akan berlanjut dengan proses pendangkalan dibagian dasar sungai sehingga akan . 2. (ed).6 hari dan terendah bulan Agustus dan Okotober yakni 0 (tidak hujan). Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain: lempung berpasir.. Kondisi ini menyebar merata keseluruh wilayah Kabupaten Soppeng. sedang rata-rata hari hujan di Kabupaten Soppeng tertinggi bulan April 19. Wilayah DAS Sungai Lawo. dan panjang lereng > 50 m. mediterian coklat. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). 64 (L/det). Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe. D. lempung berliat.M. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. Curah hujan Kabupaten Soppeng pada tahun 2005 berada pada intensitas 90. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0% hingga lereng > 45%. 1. gromosol. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. Tengah DAS antara lain: liat berpasir dan lempung berpasir. priodik. dan temporer. 1976. Gambaran DAS Sungai Lawo Topografi Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. 1. Lereng 8 – 15%. Hidrologi dan Klimatologi Kondisi hidrologi DAS lawo berdasarkan data dari Dinas PSDA Kabupaten Soppeng debit sungai rata-rata per 15 Agustus 2007 adalah 427. yaitu: Lereng 0 – 7%. Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 295 mm dan yang terendah yakni bulan Agustus dan Oktober yakni 0 (tidak hujan). 1. dan liat. Keadaan angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. Bagian hulu DAS tekstur tanah antara lain: lempung berpasir dan liat berpasir. Untuk kemudahanya lereng dikelompokkan menjadi 5 kelas.

kondisi ini dibiarkan berlanjut terus menerus maka akan berlanjut dengan proses pendangkalan di bagian tengah sungai dan akan mengganggu keberlangsungan ekosistem pada hilir DAS itu sendiri.Wilayah DAS Sungai Lawo. tengah. Kondisi fisik bagian tengah DAS. Analisis geomorfologis Ketinggian merupakan salah satu faktor fisik yang berpengaruh terhadap suhu udara. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl.mempengaruhi pola aliran air sungai baik di bagian hulu. Kondisi DAS sungai lawo terutama dalam bentuk erosi dan sedimentasi. kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS.  Daerah Tengah DAS Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. sehingga dalam proses penanganannya perlu diperhatikan pula guna menjaga keberlangsungan hubungan antara hulu. 5. Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. dibeberapa tempat telah mengalami perubahan dalam bentuk alur air sehingga air tidak mengalir di bagian tengah sungai.  Daerah Hilir Das Kondisi bagian hilir DAS Lawo dari segi fisik sungai umumnya sudah mengalami degradasi terutama dalam bentuk sedimentasi. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). namun di beberapa bagian sungai terutama kondisi fisik sungai telah mengalami perubahan alur sungai yang dapat mempengaruhi pola aliran air sungai yang tidak mengikuti alur sungai yang sebenarnya di mana aliran air mengalir dibagian kiri kanan sungai dan membentuk delta di bagian tengah sungai. dan hilir DAS dalam menjalankan fungsi hidrologinya. bahkan terjadi kering di bagian tengah sungai. sebagaimana pada tabel 3. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0 – 7% hingga lereng > 45%. maupun di bagian hilir DAS. Tabel: 3. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. 1. Analisis Wilayah DAS Lawo 1. dan panjang lereng > 50 m. E. tengah. .  Struktur dan Tipologi DAS Daerah Hulu DAS Karakteristik hulu DAS Lawo secara umum merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki kerapatan hutannya baik dan sampai saat ini masih tetap dipertahankan fungsi hutannya terutama penduduk yang bermukim disekitar hulu DAS sebagai kawasan yang dapat memberikan perlindungan dibagian hulu hingga hilir DAS. dimana bagian hulu DAS ditemukan beberapa bagian sungai yang sudah mengalami perubahan fisik dalam bentuk erosi.

debit air sungai. agrovorestri dan hutan kemasyarakatan. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. guna merumuskan strategi penanganan dan arahan pemanfaatannya. Lereng 16 – 25% pemanfaatannya sebaikknya sebagai budidaya tanaman tahunan/tanaman semusim jenis vegetasi berupa cengkeh. Kerapatan drainase adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS seperti tercantum dalam rumus di bawah ini: Dd = L/A Dd= Kerapatan Drainase (km/km) . 45 % 69 3 15 8 5 100 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007 Apabila dianalisis lebih lanjut maka kondisi lereng 0 – 7% sebagian besar penutupan lahannya adalah sawah dan rawa. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS Lawo berupa genangan permanen. priodik. selain itu juga kondisi lereng ini dapat terjadi tanah longsor sehingga kelestariannya tetap dijaga.104.46 1. cokelat.92 486. Sedangkan lereng >45% vegetasinya tetap dipertahankan dan dilestarikan. Lereng 25 – 45% vegetasinya tetap dipertahankan selain itu juga dapat di manfaatkan sebagai budidaya tanaman tahunan yang berbasis pada huta rakyat. pengaturan tata air. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe.863. dan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. sehingga untuk pemanfaatan lahannya dapat diperuntukan sebagai budidaya lahan kering ataupun lahan basa dan permukiman.19 860. karena berfungsi sebagai kawasan penyangga. Analisis ini sebagai dasar indikator dalam mengetahui kondisi hidrologis wilayah DAS Lawo. dan lainnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai jalur hijau juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Lereng 8 – 15% sebaiknya diperuntukan sebagai budidaya lahan kering atau lahan basah. Analisis geohidrologis. kopi. dan kawasan lindung.391. 1. dan genangan. dan temporer. Geohidrologis dimaksudkan untuk mengetahui kondisi berupa kerapatan drainase. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik.Klasifikasi dan Luas Lereng di Wilayah DAS Lawo Luas No Klasifikasi 1 0–7 2 8 – 15 3 16 – 25 4 25 – 45 5 >45 Jumlah (Ha) 11.502.34 2. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan.54 17.

serta pengaturan kembali pola penggunaan lahan di wilayah DAS lawo guna menghindari kemungkinan dampak negatif yang akan terjadi. Sedangkan dari data yang diperoleh maka Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (Vperm dalam m/dt) dapat dihitung dengan rumus: Vperm = L/t L = Jarak Antara dua Titik Pengamatan (m) t = Waktu Perjalanan Benda Apung (detik) Dari hasil perhitungan diatas maka diperoleh kecepatan permukaan aliran sungai rata-rata adalah 1. Berdasarkan data di atas dan hasil perhitungan kecepatan permukaan aliran rata-rata maka besarnya debit air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Bernoulli atau sering juga dikenal sebagai the continuity equation.386 km/km.L = Panjang Aliran Sungai (km) A = Luas DAS (km2) Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh kerapatan drainase wilayah DAS Lawo adalah 0. Kondisi ini perlu adanya upaya-upaya penanganan yang harus dilakukan seperti pemantapan fungsi kawasan lindung terutama penghijauan kembali pada daerah-daerah yang kategori vegetasinya sudah dalam kondisi yang tidak diharapkan. Tabel: 4.06 m/dt. artinya jumlah air larian total semakin besar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pengaliran (drainase) DAS Lawo dalam kondisi sudah terganggu (tidak normal).328 m3/dt. Pada persamaan ini nilai Q diperoleh dari perkalian antara kecepatan aliran V (m/dt) dan luas penampang melintang A (m2) atau secara matematis: Q=AV Q = Debit (m3/dt) A = Kecepatan Aliran (m/dt) V = Luas Penampang Melintang (m2) Dari hasil analisis yang dilakukan maka diperoleh debit air rata-rata DAS Lawo adalah 9. . sehingga tingkat infiltrasi yang terjadi di wilayah DAS Lawo akan semakin kecil.

Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain lempung berpasir. disebabkan . gromosol.13 15. 1.104. Bagian hulu DAS terdapat jenis tanah mediterian coklat regosol dan litosol.875. dan liat. karena mempunyai lapisan atas/soluin tanah yang dalam ± 100 cm. Analisis SDA Kehutanan Pada kawasan hulu DAS status hutan sebagian besar adalah hutan lindung. disisi lain kerapatan pohon sudah mulai berkurang. karena kawasan ini merupakan daerah resapan dan penyimpanan air.33 17. sehingga memungkinkan untuk budidaya tanaman jangka panjang. Bagian tengah DAS terdapat jenis tanah gromosol dan mediterian cokelat. kondisi ini diduga sebagai akibat lemahnya struktur geologi.46 307. Jenis tanah ini merupakan hasil dari proses endapan lumpur dari hasil sedimentasi yang terjadi. dan litosol yang tersebar dari hulu hingga hilir. dan keberadaan vegetasi kurang mengimbangi kondisi struktur geologi yang ada sehingga mudah terjadinya erosi dan longsor. mediterian coklat regosol. yang sesuai untuk lahan/kegiatan budidaya lahan basah. mediterian coklat. 1. Analisis Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. sehingga sifatnya relatif subur. Analisis Potensi SDA a. lempung berliat.53 845. Hal ini perlu adanya upaya penanganan berupa pemilihan jenis vegetasi yang akan dibudidayakan harus memiliki sistem perakaran yang dapat mendukung struktur geologi yang ada. sehingga kedepan kawasan hutan tersebut tetap dijaga dan dilestarikan. Sedangkan tekstur tanah bervariasi. Sedangkan jenis tanah yang terdapat di bagian hilir DAS adalah alluvial kelabu tua. 5. 3. Analisis Geologi Berdasarkan pengamatan tim dilapangan ditemukan beberapa titik yang terdapat erosi dan longsor terutama di bagian hulu DAS yang mempunyai kelerengan kisaran 25 sampai >40. jenis tanah ini mudah tererosi karena teksturnya berupa pasir berlempung sehingga penutupan lahannya harus tetap di jaga untuk menjaga agar tidak terjadi erosi/tanah longsor.45 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007. Bagian hulu dan tengah DAS tekstur tanah berupa lempung berpasir dan liat berpasir.Jenis dan Luas Genangan di Wilayah DAS Lawo No 1 2 3 4 Jenis Genangan Permanen Periodik Temporer Non Genangan Jumlah Luas (Ha) 76. Di mana jenis tanah ini adalah jenis tanah subur.

Kondisi hulu DAS Lawo umumnya didominasi oleh kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam mendukun proses hidrologi DAS masih tetap terjaga. Tanah yang berkuarsa sangat tidak sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan kuarsanya sedang. dan meningkatnya laju sedimentasi. merupakan daerah konservasi. jenis vegetasi adalah tegakan hutan. Kegiatan pertanian lahan basah adalah kegiatan pertanian yang memerlukan air terus menerus sepanjang tahun. maupun kualitas air. terdapat penyebaran lahan yang sesuai bagi pengembangan budidaya pertanian lahan basah. sehingga masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang fungsi pelestarian lingkungan disekitarnya. Pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dan sumber daya lahan berupa perambahan hutan dan perladangan di suatu wilayah DAS yang cenderung meningkat tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi akan memberikan dampak positif terhadap DAS dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat penyediyaan sumber air dapat terganggu. Sedangkan tekstur tanah yang terbaik bagi jenis pertanian lahan basah adalah tanah yang berliat. b. namun kenyataannya terdapat adanya . Dari hasil analisis yang dilakukan di wilayah DAS Lawo. kelerengan diatas 15 %. Produktifitas dan kualitas mutu panen cenderung menurun bila kedalaman efektif tanah menurun. sampai berlempung halus. Analisis Sumberdaya Air Potensi Sungai Lawo sebagai sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan perlu dikelola dengan baik terutam dalam hal pengaturan berbagai pemanfaatan lahan yang ada disekitar Sungai Lawo agar dampaknya tidak mengganggu kondisi hidrologi sungai baik dari segi fisik sungai. batas ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30 cm. kuantitas. perubahan siklus hidrologi. dengan komoditas utamanya adalah padi sawah (wetland rice). Pertanian lahan basah memerlukan kedalaman efektif tanah minimal 60 cm. Analisis DAS Hulu Bagian hulu DAS biasanya memiliki karakteristik antara lain. peternakan. pertanian. pencemaran air. dan harus dipertegas dengan aturan yang ada. mempunyai kerapatan drainase tinggi. dan berbagai kebutuhan lainnya. 6. sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan seperti sumber air bersih.karena terjadinya penebangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan belum sadar akan pentingnya pelestarian hutan. Sedangkan pada kawasan DAS tengah dan hilir DAS seluruh kawasan bukan hutan lagi melainkan kawasan budidaya. perikanan. Analisis Aliran Sungai Lawo a. berdebu halus. c. dimana bagi oknum masyarakat yang merusak kawasan hutan tanpa memiliki dasar yang jelas harus diberikan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. terutama dalam hal tekstur tanah dan kedalaman efektif tanah. Analisis SDA Pertanian Pembukaan lahan pertanian di wilayah daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan sehingga tidak akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti erosi. sehingga pemanfaatan lahan di daerah tersebut harus memperhatikan kaidah-kaidah konservasi agar pemanfaatannya tidak merusak lingkungan ekosistem wilayah DAS. bukan daerah banjir.

waduk. Wisata. merupakan daerah pemanfaatan. b. dan muara-muara sungai karena adanya sedimentasi ditempat tersebut. Analisis Pengemb. juga penebangan vegetas di daerah pinggiran sungai untuk perluasan areal perladangan dapat memberikan tingkat erosi yang terjadi di wilayah DAS. Berdasarkan kondisi di atas maka perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan seperti pengaturan berbagai aktifitas terutama di wilayah hulu DAS agar tidak mengganggu fungsi kawasan hutan lindung. Karakteristik hilir DAS memiliki ciri antara lain. Untuk itu perlu adanya tindakan berupa sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat agar masyarakat menyadari pentingnya fungsi hutan dan bahaya terjadinya kerusakan lingkungan berupa erosi dan tanah longsor. Sedimentasi sebagai hasil dari proses erosi yang terjadi di DAS dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pada sungai. . kerapatan drainase kecil. Aktifitas penduduk di sekitar bantaran sungai yang cenderung meningkat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konserfasi tanah dan air. 7. Analisis DAS hilir. a. Bagian hilir DAS disamping sebagai daerah pemanfaatan juga sebagai daerah penadah tentunya akan menanggung berbagai resiko yang terjadi di suatu wilayah DAS.perambahan hutan yang kemudian dijadikan sebagai perladangan masih tetap terjadi. dibeberapa daerah merupakan daerah banjir. akan menimbulkan berbagai problem lingkungan seperti erosi yang dapat mempengaruhi produktifitas lahan. c. Banjir yang terjadi di wilayah DAS lawo umumnya terdapat di bagian hilir DAS. bendungan. saluran-saluran irigasi. tinggi banjir yang terjadi ± 1 m. pemakaian air diatur oleh bangunan irigasi. dan memberikan dampak terutama di daerah hilir DAS dalam bentuk transpor sedimentasi yang akan mengganggu sistem hidrologi DAS. dan peningkatan fungsi sistem irigasi yang ada. jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian. dimana pada musim hujan banjir dapat merusak areal persawahan bahkan sampai ke pemukiman penduduk. Pengembangan Wisata Air. 1. Analisis DAS Tengah. Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan seperti perladangan tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi tanah dan air misalnya penggunaan input (pupuk dan pestisida) yang berlebihan akan berimplikasi langsung terhadap kandungan unsur pada tanah dan akan berpengaruh kepada daya dukung tanah sehingga tanah mudah tererosi dan juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas air tanah. serta pengaturan penggunaan air irigasi agar dapat mengairi semua sawah yang ada di wilayah DAS Lawo secara umum dan khususnya wilayah hilir DAS sebagai daerah pemanfaatan berbagai aktifitas. kelerengan dibawah 8 %.

dengan memanfaatkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan kebiasaan (massangki) dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. Hal ini di tandai dengan adanya berbagai keunggulan-keunggulan yang dimiliki berupa keindahan alam pegunungan.    Meningkatkan kemampuan fungsi retensi DAS hulu terhadap aliran permukaan melalui pemantapan fungsi kawasan lindung. keberadaan satwa. F. Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha mengendalikan banjir. 22 tahun 1982 tentang tata pengaturan air. 1. . Aktifitas penduduk di wilayah DAS lawo yang pada umumnya adalah petani. Strategi Penanganan DAS Hulu Berdasarkan aspek ekologi daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) atau sebagai lingkungan pengendali (conditiong environment). Mengacu pada PP No. potensi ini dapat dilakukan melalui upaya pembangunan waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. dinyatakan bahwa pendekatan dalam pengembangan. serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. b. Pengembangan Agrowisata Pengembangan agrowisata pada suatu lokasi perlu dilakukan kajian lokasi secara matang. perlindungan dan penggunaan sumberdaya air didasarkan atas pendekatan wilayah sungai. yang akan banyak dipengaruhi oleh kondisi vegetasi pada setiap bagian dari daerah alirsan sungai tersebut. Pengembangan Ekowisata.DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. DAS sendiri merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah yang mengalir dari permukaan tanah ke sungai dari hulu hingga hilir. a. seperti. Memperlancara infiltrasi air ke dalam tanah. dan (ii) Pemilihan berdasarkan potensi wilayah. DAS Lawo terutama di bagian hulu DAS. Arahan Strategi Penanganan DAS. salah satunya adalah monyet yang tersebar khususnya di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan lingkungan ekologis di DAS Lawo agar lebih lestari. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) berdasarkan daya dukung kawasan. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata. (i) pemilihan berdasarkan Karakteristik alam. c. DAS hulu merupakan seluruh daerah tadahan/kepala sungai. proses penanganan ini berupa. Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan DAS Lawo 1.

Arahan Pemanfaatan Lahan. dengan strategi berupa. b. kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. c. Menentukan dan menyesuaikan jenis budidaya yang dapat dikembangkan pada setiap unit lahan. a. Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan. .     Meningkatkan fungsi retensi DAS tengah melalui pengembangan prasarana pengairan berupa waduk tangkap dalam menahan air yang mengalir dari arah hulu DAS.    Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. serta menjaga keberadaan vegetasi sekitarnya dalam membantu kemampuan retensi terhadap aliran permukaan. Meminimalisir tingkat erosi dan longsor yang terjadi melalui pendekatan EkoEnggineering dengan memanfaatkan vegetasi setempat. Mempertahankan dan melestarikan hutan lindung yang terdapat di satuan pengelolaan DAS Hulu. Memperbaiki pengaturan pemanfaatan lahan untuk meningkatkan kemampuan lahan. DAS hilir merupakan daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumsi. Strategi Penanganan DAS Hilir Berdasarkan tinjauan aspek ekologi. Meliorasi tanah dan kalau perlu dilakukan reklamasi tanah. Rencana Kawasan Lindung. Strategi Penanganan DAS Tengah Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. Meningkatkan daya guna air dari sumber-sumber air tersedia. Menentukan sistem budidaya yang dapat dilakukan pada setiap permukaan lahan.     Mencegah atau mengendalikan banjir dan sidementasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan. Proses penanganannya berupa. Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimalkan produksi. 2. DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan.

namun dalam rencana ini diupayakan agar waduk tersebut selain berfungsi untuk menunjang kegiatan seperti pertanian dan berbagai pemanfaatan lainnya juga berfungsi sebagai tempat wisata yang berskala lokal. jambu mente. Prasarana lingkungan berupa waduk tangkap. Rencana Pemanfaatan Budidaya. maka harus dihutankan kembali dengan vegetasi tanaman yang sesuai seperti kemiri dan sukun. dimana lokasi ini sebelumnya masuk dalam rencana pembangunan waduk tangkap. sedangkan DAS hulu yang merupakan daerah lindung namun vegetasinya bukan hutan. merupakan jenis tanaman yang dapat dibudidayakan seperti kelapa dalam. kemiri. dan lainnya. Berdasarkan potensi yang terdapat di wilayah DAS Lawo terutama potensi pertanian yang dominan. dimana proses pengaturannya dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir DAS Lawo. sedangkan di daerah hulu DAS bisa dikembangkan jenis budidaya berupa kemiri. diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi dominan berupa jenis pertanian lahan basah terutama di daerah hilir dan tengah DAS. b. namun harus memperhatikan keberadaan kawasan hutan lindung yang ada sehingga tidak terganggu fungsi lindungnya. Rencana Irigasi. Pengembangannya diarahkan di daerah DAS tengah. kakao. lada.56 hektar dengan vegetasi adalah hutan. dan kawasan sekitar mata air. Kawasan Perlindungan setempat meliputi garis sempadan sungai.  Budidaya Lahan Basah. maka dilakukan rencana pemanfaatan kawasan budidaya yang meliputi budidaya lahan kering dan lahan basah. Berdasarkan pola penyebaran jenis tanah terutama dalam hal tekstur dan kedalaman efektif tanah.Sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Sedangkan prasarana irigasi. maka jenis budidaya pertanian lahan basah (padi sawah) pengembangannya terutama diarahkan di daerah hilir dan di daerah tengah DAS. dengan . bambu. Arahan Prasarana Lingkungan. 3. kopi. Rencana Pengembangan Waduk. Luas kawasan lindung yang merupakan kawasan DAS hulu seluas 860. Dengan tujuan disamping bernilai lingkungan juga bernilai ekonomis. terdapat dibagian hulu DAS yaitu berupa kawasan hutan lindung. Arahan pemanfaatan lahan dengan kegiatan budidaya lahan kering. waduk tangkap. b. rencana pengembangannya diarahkan pada daerah perbatasan antara hulu dan tengah DAS. dan tembakau. a.  Budidaya Lahan Kering.

serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. Arahan Sistem Permukiman. Dengan demikian pengembangan agro wisata diarahkan di daerah tengah dan hilir DAS. Perpaduan antara kekayaan komoditas agraris dengan bentuk keindahan alam dan budaya masyarakat setempat merupakan kekayaan obyek wisata yang amat bernilai. cenderung terdapat di daerah tengah dan hilir.mempertimbangan kapasitas sistem irigasi yang ada sehingga dapat mengaliri semua areal sawah. a. 4. dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan ‖massangki‖ dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. a. Areal Permukiman di Daerah Hulu. Pengembangan wisata ini diarahkan pada daerah yang memiliki potensi untuk dibangun prasarana air berupa waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. Pengembangan Agrowisata. Pengembangan Ekowisata. c. Aktifitas penduduk di wilayah DAS Lawo yang pada umumnya adalah petani. serta ekowisata menjadi alat bagi penyadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan yang tidak mungkin mengorbankan masyarakat yang tinggal dan hidup didalam atau sekitar kawasan lingkungan. . Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata atau wisata terbatas yang memanfaatkan tatanan. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata yang meliputi keindahan alam pegunungan. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) dengan berdasarkan kepada daya dukung kawasan. terutama di bagian hulu DAS. Pengembangan Wisata Air. keberadaan satwa liar. Pengembangan ekowisata DAS Lawo diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan. Konsep ini lahir akibat keprihatinan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang terancam oleh pembangunan. salah satunya adalah monyet yang tersebar di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat dan lingkungan ekologis di wilayah DAS Lawo agar lebih lestari. 5. nilai dan fungsi ekologi sebagai obyek dan tujuan kepariwisataan. DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. b. Arahan Prasarana Wisata. Prospek pengembangan agrowisata di wilayah DAS Lawo mempunyai peluang yang baik mengingat potensi yang ada sangat beragam dan khas.

1. Rekomendasi. dimana proses penanganannya berupa pengaturan garis sempadan sungai. Areal Permukiman di Daerah Hilir. harus memperhatikan kepemilikan lahan yang termasuk dalam areal rencana waduk. 4) Untuk dapat mempercepat implementasi.. DAFTAR PUSTAKA Asdak. Agar tidak mengganggu fungsi kawasan dan wilayah DAS secara keseluruhan. . apabila tidak dilakukan perbaikan dan perlindungan DAS Lawo. 1) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus dilakukan secara terpadu. sebagai berikut. karena berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 kawasan DAS merupakan kawasan strategis lingkungan yang senantiasa harus dilindungi. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah.. larangan pembuangan sampah ke dalam sungai serta pengaturan fungsi kawasan lainnya yang dapat dilakukan agar penduduk dapat terhindar dari berbagai resiko lingkungan berupa banjir dan erosi agar lingkungan wilayah DAS dapat terjaga dalam mendukung berbagai pemanfaatan. Padjajaran University Press. 6) Pembangunan Waduk tangkap. C.Keberadaan pemukiman di daerah hulu DAS perlu diperhatikan agar tidak mengganggu fungsi kawasan lindung. 2004. Berdasarkan hasil kajian DAS Lawo. maka sebaiknya dilakukan sosialisasi. Asdak. b. Gajah Mada University Press. G. 2) Diprediksi DAS Lawo sepuluh tahun kedepan. 1990. maka diperlukan upaya-upaya penanganan pelarangan perluasan kawasan pemukiman serta penyiapan lokasi pemukiman yang layak dalam berbagai aspek agar penduduk setempat dapat direlokasi ke tempat yang disiapkan. sehingga dapat lebih berkelanjutan. sehingga dapat dilakukan lebih manusiawi. terutama kepada masyarakat yang bermukim dalam wilayah DAS Lawo. Penanganan pemukiman di luar daerah hulu diarahkan terutama pada daerah tengah dan hilir DAS. 3) Masyarakat yang bermukim dalam kawasan lindung. maka terdapat beberapa rekomendasi yang harus dilakukan untuk dapat mengelola dan melindungi DAS Lawo. seharusnya direlokasi pada suatu tempat dalam bentuk transmigarasi lokal. Bandung. Biophysical relationships needed to perform economic evaluation of watershed management program. 5) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus menjadi komitmen bersama seluruh stakeholder. C. Yogyakarta.

Folliott.Brooks. pompanisasai air banjir. H.. Integrated watershed management research for developing countries. Easter. Untuk mengurangi kerugian tersebut telah banyak usaha penanggulangan banjir yang dilakukan seperti pembuatan tanggul banjir.I. D. Gray. A.E.N. sudetan sungai. 1970. Pendahuluan Indonesia merupakan negara beriklim tropika humida (humid tropic) yang pada musim hujan mempunyai curah hujan tinggi.F. 1994. kabu asap.M. Watershed Hydrology. Akibatnya di beberapa tempat terjadi banjir yang banyak menimbulkan kerugian baik nyawa maupun harta benda. Berdasarkan beberapa kejadian kekeringan diperoleh informasi bahwa kekeringan dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. berkurangnya air untuk prtanian. karena kejadian banjir terus meningkat dari waktu ke waktu. peternakan dan terganggunya transportasi air. K. Sungai X3 Vegetasi X1 Comments: Be the first to comment PENANGANAN BANJIR DAN KEKERINGAN Posted December 24.. The environment and natural resources policy adn training project. New York. K.. tampungan banjir sementara. Policies for sustanaibel Development. EastWest center Worshop report. National Research Council of Canada. Black. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized ABSTRAK Besarnya kerugian akibat kekeringan di beberapa daerah sangat memprihatinkan. perikanan. karena nilainya cukup besar. 1985. terbatasnya penyediaan air bersih. Honolulu H. karena proses . 1991. New Jersey.M. Usaha pengendalian banjir tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan. Handbook on the principles of hydrology. Prentice Hall. The role of watershed management. P. Fenomena ini sudah kita sadari.W. P. dll... Kerugian ini akan semakin besar kalau terjadi di kota-kota besar yang padat penduduknya. Englewood Cliffs.

terutama jika telah banyak melakukan analisis banjir dengan model-model yang tersedia. Di Indonesia ada beberapa factor penting penyebab terjadinya banjir : a. Pada kondisi tanah dengan kelengasan tinggi atau jenuh air. perikanan dan pariwisata. B. justru dapat menimbulkan banjir. walaupun intensitas hujannya tidak terlalu besar. Pengaruh kelengasan tanah awal pada debit banjir sudah difahami. Apabila air banjir pada musim hujan dapat ditampung dan disimpan. pembangkit tenaga listrik. Perlu mendapat perhatian pada penggunaan rumus Rasional. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang telah dibasahi hujan sebelumnya menurunkan kemampuan menginfiltrasi air. Semakin tinggi intensitas hujan maka semakin tinggi pula debit banjirnya. . Kejadian hujan dalam beberapa hari berturut-turut. yaitu pada kondisi durasi hujan yang lebih pendek dari waktu konsentrasinya. infiltrasi memang masih berjalan. Pengendalian banjir dan pananganan kekeringan secara terpadu nampaknya akan memberikan hasil lebih baik. Pada kondisi tersebut nilai debit puncak ditentukan oleh sebagian luas DAS. dan sumberdaya air secara keseluruhan.kejadian banjir memang sangat komplek. karena hujan diseluruh DAS belum teratus. Faktor Hujan Intensitas hujan sangat berpengaruh pada besarnya debit puncak banjir. sehingga hampir seluruh hujan menjadi aliran dan dapat menimbulkan banjir. baik itu proses di lahan maupun di jaringan sungainya. sehingga dapat menurunkan debit banjir. Oleh karena itu penanggulangan banjir tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan DAS. namun belum dirumuskan dengan baik. Hal ini dapat difahami. Oleh karena itu menarik untuk dikaji pengaruh kelengasan tanah awal pada kejadian banjir. Banjir 1. Penanggulangan kedua bencana tersebut terus diupayakan dengan berbagai cara. Uraian di atas menunjukkan bahwa peristiwa banjir dan kekeringan sangat merugikan kehidupan manusia. Banjir adalah peristiwa keberadaan air mengalir melampaui kapasitas perangkat pengaliran yang disediakan/tersedia dan mengalir di luar kemampuan perangkat itu. Pembahasan 1. maka pada saat kekeringan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia dan keperluan lain seperti irigasi. Hujan deras yang terjadi pada suatu hari dimana hari-hari sebelumnya tidak hujan sering tidak menimbulkan bnajir. usaha pengendalian banjir yang dilakukan sekaligus dapat mengurangi kerugian akibat kekeringan. Dengan demikian. Di sisi lain banjir merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup besar potensinya. Dalam konteks ini air menimbulkan gangguan akibat pengalirannya atau genangannya pada tempat-tempat yang tidak disediakan untuknya. namun nilainya cukup kecil. namun nampaknya masih dilakukan secara terpisah.

Hal ini terjadi jika Daerah Aliran Sungainya mempunyai luas area terbuka yang meningkat. daerah terbuka (jika ada tanaman.antara. tampang sungai menjadi berkurang sehingga daya tampung alirannya menurun pula. Adanya pendangkalan alur sungai. Pengendalian banjir tersebut dengan membangun prasarana dan sarana seperti pembuatan tanggul.). c. Data yang digunakan dapat berupa data hujan maupun aliran yang terekam pada kondisi DAS saat itu. polder. mengakibatkan banjir yang terjadi meningkat.. prasarana dan sarana pengendali banjir direncanakan untuk 10 sampai 100 th.8 milyar rupiah. Tingkat kerusakan DAS bervariasi mulai dari kecil. Banjir ini diestimasikan akibat pemotongan bukit-bukit di sekitar Bandung selatan untuk permukiman dan kawasan industri. Persoalan banjir menjadi semakin rumit jika di alur sungai terdapat rintangan-rintangan arus baik oleh alam maupun buatan manusia seperti : .com.co. Genangan air mencapai 50 cm – 80 cm.) adalah akibat penggundulan hutan di sekitarnya. sedang sistem drainasi 2 sampai 10 tahun. Oleh karena itu.id. Hal tersebut diperparah dengan pola penyebaran permukiman yang menyebar. Berubahnya kawasan retensi banjir untuk Jakarta menjadi permukiman. hanya perdu). Aspek pendangkalan yang terjadi di alur sungai juga merupakan salah satu sebab terjadinya banjir. sehingga daya rusak terhadap ekologis dan lingkungannya lebih tinggi. Kerugian banjir diperkirakan sebesar 2. Kejadian banjir di Sorong tanggal 18 Juli 2003 (www. sedang sampai besar/kritis yaitu pada tingkat yang sudah mengkhawatirkan.kompas. atau terbangun semakin kecil kemampuan retensinya. Peningkatan debit banjir mengakibatkan prasarana dan sarana yang ada tidak mampu menampung aliran yang terjadi. prediksi nilai debit dengan kala ulang tertentu yang diperoleh pada saat perencanaan sudah tidak relevan lagi pada saat ini. bahkan cenderung mengalami kerusakan. dll. sudetan. sehingga jalur jalan Majalaya – Bandung terputus.w. normalisasi alur sungai. Faktor Alur Sungai Upaya pengendalian banjir yang selama ini dilakukan berupa kegiatan fisik/struktur yang berada di sungai (in stream) dengan tujuan untuk melindungi dataran banjir yang telah berkembang. Apabila kondisi DAS di Indonesia dapat digolongkan stabil. Bandung selatan mengalami banjir pada 27 Mei 2004 (w. Faktor DAS Daerah Aliran Sungai adalah daerah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. Semakin banyak lahan terbuka. prediksi debit dengan kala ulang tersebut tentu saja tidak akan menjadi masalah.b. kejadian banjir diperparah dengan adanya peningkatan elevasi muka air laut. tampungan air (waduk). Proses pendangkalan ini dapat terjadi akibat erosi tebing dan dasar sungai maupun akibat erosi lahan di Daerah Aliran Sungai. Namun kenyataannya. Pada umumnya. Perubahan fisik yng terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan retensi DAS terhadap banjir. industri dll. Pada th 2003. saluran drinasi. Daerah Aliran Sungai yang ada memiliki tataguna lahan yang tidak stabil.

a. Batasan atau kriteria kekeringan sampai sekarang belum disepakati secara luas. Namun demikian. Suatu wilayah dapat dikatakan mengalami kekeringan meteorologis apabila hujan tahunan rerata yang terjadi tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk evapotranspirasinya atau dapat juga dibandingkan dengan temperaturnya. Kekeringan seringkali ditanggapi dengan pemahaman yang berbedabeda. a = indeks kekeringan. 2. Kekeringan Meteorologis Tipe kekeringan ini paling mudah untuk diidentifikasi dan difahami. sehingga dapat memberikan hasil yang baik. Tidak ada batasan mengenai berapa lama hari/bulan tanpa hujan atau berapa banyak kekurangan air. T = temperatur tahunan rerata. Kekeringan Kekeringan merupakan salah satu bentuk kondisi ekstrim dan kejadian alam yang kejadiannya tidak dapat dihindari serta karakteristiknya masih menyimpan ruang yang luas untuk dipelajari dan dikaji lebih mendalam.Penampang pengaliran sempit karena formasi geologi yang keras Adanya ambang alam yang keras Belokan tajam pada sungai akan menimbulkan arus menyilang yang berbahaya Bangunan silang sengan sungai dengan rongga terlalu sempit Pertemuan antara dua sungai atau lebih dengan arus saling merintangi Faktor-faktor di atas perlu mendapatkan perhatian cukup serius dalam penanganan masalah banjir. Selanjutnya indeks kekeringan dapat digunakan sebagai indikator dalam menetapkan klasifikasi tingkat kekeringan suatu wilayah. Indeks Kekeringan Menurut De Martonne dengan : P = curah hujan tahunan rerata (mm). Kekeringan meteorologis didasarkan pada kriteria kuantitatif berupa indeks kekeringan. ada beberapa tipe kekeringan yang akan ditunjukkan untuk dapat digunakan sebagai acuan. Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan merupakan kejadian yang spesifik pada suatu wilayah. .

03 Wilayah Super Kering 0. apabila terjadi kekeringan hidrologi maka secara meteorologi juga mengalami kekeringan. Kadangkala ada daerah yang mengalami kekeringan meteorologi tetapi kalau dipandang dari sisi hidrologi sebenarnya tidak mengalami kekeringan. tampungan air di danau/waduk. Respon tanaman terhadap kondisi lengas tanah sangat bervariasi.20 < < 0. Indeks kekeringan menurut UNESCO (1979) Menurut UNESCO tingkat kekeringan diukur berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial Eto yang dihitung menurut rumus Penman. Tetapi pada umumnya. titik layu awal dan titik layu permanen. Apabila jumlah hujan tahunan rerata lebih kecil dari Eto tahunan.20 0.50 b. Beberapa batasan kondisi lengas tanah untuk tanaman yaitu kondisi jenuh. Sebagian tanaman mampu bertahan hidup dan tumbuh dalam kondisi lengas tanah yang rendah. < 0. Kekeringan hidrologis dapat dilihat dari debit aliran rendah (lowflow). c. tampungan dalam tanah dsb. didefinisikan sebagai jumlah penguapan dari suatu wilayah yang tertutup tumbuhan dengan kecukupan air untuk terjadinya penguapan maksimum menurut kondisi klimatologi. kapasitas lapang. Kekeringan Hidrologi Kekeringan tipe ini merefleksikan kondisi sistem air dalam suatu wilayah baik untuk air permukaan maupun air bawah permukaan. Metode ini dianggap masih mengandung kelemahan karena mengabaikan pengaruh variasi musiman dan amplitudo harian dari temperatur di wilayah kering. Kondisi kekerinan hidrologi tidak selalu terjadi secara bersamaan dengan kekeringan meteorologis. maka wilayah tersebut merupakan daerah semi kering. wilayah kering wilayah semi kering . Nilai ini dibandingkan dengan tinggi curah hujan tahunan rerata (P). suatu wilayah yang memiliki nilai a < 15 dikategorikan sebagai wilayah kering. Kondisi lengas tanah ini berdampak langsung pada produktifitas tanaman. Evapotranspirasi potensial ini dihitung berdasarkan rumus Thornthwaite sebagai fungsi emperatur rerata bulanan.Menurut De Martonne. tetapi ada juga tanaman yang membutuhkan lengas tanah tinggi untuk bertahan hidup. Indeks Kekeringan Menurut Thornthwaite (1948) Metode ini mengukur kekeringan suatu wilayah berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto).03 < < 0. Kekeringan Pertanian Kekeringan pertanian merefleksikan kekurangan lengas tanah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk hidup (evapotranspirasi).

Penanganan Banjir dan Kekeringan Secara Terpadu Banjir. sedang 345 ha puso (www. Contoh daerah yang mengalami kekeringan yaitu di Jawa Barat pada Juni 2003. Contoh penanganan banjir dan kekeringan secara terpadu dapat diuraikan sebagai berikut. Untuk mengatasi kesulitan air bersih . Disisi lain pada musim kemarau. Salah satu contoh kodisi tersebut ditunjukkan pada kejadian aliran di sungai Cidanau dari tahun 1998 – 2000 sebagai berikut : Gambar 1. Sawah seluas 24. kebutuhan air untuk berbagai keperluan terpenuhi. Tanah diharapkan dapat menjadi tampungan air sementara dan secara perlahan-lahan air dialirkan ke sungai sehingga tidak menimbulkan banjir di hilir.com).swara. adalah persoalan kelebihan air.net). daerah pantai tersebut kesulitan mendapatkan air bersih. sementara kekeringan adalah persoalan kekurangan air. Sungai ini sering membanjiri daerah Industri Cilegon dan sekitarnya. Manfaat langsung peningkatan retensi ini adalah terjaganya konservasi air di DAS.pikiran_rakyat. sementara debit musim kemarau semakin menurun sudah difahami bersama. 3. Kekeringan yang melanda Pulau Jawa terutama disebabkan oleh berkurangnya luas hutan dan meningkatnya penggunaan lahan non hutan. alangkah baiknya jika penanganan kedua persoalan tersebut dapat dilakukan secara terpadu. Kesimpulan ini dipeoleh Aris Poniman dari hasil penyusunan neraca sumberdaya hutan dan lahan (www. Aris mengingatkan perlunya masyarakat lebih waspada akan kemungkinan sering terjadinya banjir. muka air tanah dapat diharapkan stabil. sumber air terpelihara. tanah longsor dan tentu saja kekeringan. sebagaimana diketahui. Fenomena bahwa banjir semakin meningkat dari waktu ke waktu. Namun secara umum dapat dirangkum bahwa kekeringan adalah peristiwa terjadinya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhannya di masing-masing wilayah dan untuk tiap-tiap penggunaan.802 ha mengalami kekurangan air dengan status berat dan ringan. Peningkatan lahan non hutan dapat mengakibatkan kekeringan karena keseimbangan ekosistem dalam suatu DAS terganggu. Penanganan banjir melalui peningkatan retensi banjir dapat dilakukan dengan cara program penghijauan yang menyeluruh baik di perkotaan maupun perdesaan. Daerah Industri Cilegon Sungai Cidanau terletak di Daerah Cilegon. pemeliharaan reservoirreservoir alamiah dan pembuatan resapan-resapan yang dapat memasukkan air hujan sebanyakbanyaknya ke dalam tanah. Fluktuasi debit rata-rata bulanan Sungai Cidanau Mengingat fenomena di atas. Jawa Barat yang bermuara di Selat Sunda.Nampak bahwa kekeringan yang terjadi dapat merupakan interaksi berbagai tipe kekeringan yang menambah kesulitan pengertian tentang kekeringan.

Pengendalian Banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dan Penyediaan Air Irigasi Pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dilakukan dengan pembuatan waduk Wonogiri yang terletak ± 2 km sebelah selatan kota Wonogiri.5 juta m3. Luas area DAS Goseng = 5.Kreuceng Air baku untuk kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Cidanau dengan lokasi intake 700 m dari Selat Sunda di Kecamatan Cinangka. dan yang paling utama adalah pembebasan daerah Surakarta yang padat penduduk. Daerah Aliran Sungai ini terletak pada 7°39¢32² – 7°45¢ 08² LS dan 110°59¢02² – 111°2¢15² yang ditunjukkan pada Gambar 3. Permasalahan yang ada di DAS Goseng yaitu dibukanya lahan dengan kemiringan yang terjal sebagai tegal oleh masyarakat setempat. Waduk ini direncanakan untuk mengurangi debit banjir sebesar 4000 m3/detik menjadi 400 m3/detik (Nippon Koei Co. Sketsa tata letak waduk Krenceng U WTP Wd. Daerah banjir yang dapat dibebaskan seluas ± 11.200 ha. PT Krakatau Tirta Industri membuat waduk Krenceng yang letaknya 27. Waduk ini mulai beroperasi pada th 1982.000 ha. Kapasitas waduk tersebut yaitu 2.2 km dari Sungai Cidanau. Dari intake air dipompa menuju waduk Krenceng yang merupakan penyimpanan cadangan air baku. Daerah Aliran Sungai Goseng Daerah Aliran Sungai Goseng merupakan ordo pertama sungai Samin yang bermuara di Sungai Bengawan Solo.96 km2. Namun dengan berjalannya waktu. Catchment areanya sebesar 1350 km2 dan kapasitas tampungan 650 juta m3. Ltd. Daerah Irigasi yang mendapatkan air dari waduk Wonogiri meliputi wilayah Kabupaten Sukoharjo.dan mengurangi besarnya debit banjir. Terbangunnya sistem pengadaan air bersih di daerah Cilegon tersebut dapat mengatasi kesulitan air bersih dan sekaligus dapat mengurangi besarnya debit banjir. Selain untuk pengendalian banjir waduk juga dimanfaatkan untuk irigasi. Dari waduk air dialirkan ke Water Treatment Plant Krenceng dengan kapasitas pengolahan 2000 lt/dt. sehingga genangan yang sering terjadi dapat menurun.. Gambar 2. 1978). Sehingga nilai koefisien aliran dan erosi lahan . Oleh karena itu PDAM Surakarta akan memanfaatkan air Bengawan Solo untuk air baku dalam penyediaan air bersih bagi Kodya Surakarta. Karanganyar. areal irigasi di Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan atau industri. Sragen dan Klaten dengan luas 23.

Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. Yogyakarta Krakatau Tirta Industri. Yogyakarta Sudjarwadi dan Fuad Bustomi.. HMS UAJY dan HATHI. Kursus Singkat Sistem Sumberdaya Air Dalam Otonomi Daerah II. Penurunan debit puncak dengan adanya skenario reboisasi Gambar 5. 2000. Seminar Pengendalian Kekeringan DPS Mahakam. Banjir Terus Menerus di Indonesia dan Tinjauan Eko-Hidrolis. 2002. Cilegon. Kejadian hujan yang digunakan dalam analisis yaitu kejadian pada tanggal 14 Januari 1997. Rachmad Jayadi. HMS UAJY dan HATHI. dengan harapan dapat memberikan tambahan air ke dalam tanah dan mengurangi erosi lahan. Gambar 3. Lahan tegal dengan kemiringan 25 – 65% dicoba untuk di hutankan kembali dengan skenario 5. PT. Teknik Sipik UGM. Informasi yang dapat diperoleh dari analisis ini bahwa adanya penghutanan kembali DAS memberikan harapan bahwa besarnya cadangan air tanah untuk berbagai kebutuhan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Daftar Pustaka Agus Maryono. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan debit puncak. 2001. Yogyakarta Comments: Be the first to comment ARSITEKTUR TRADISIONAL SULAWESI SELATAN PUSAKA WARISAN BUDAYA LOKAL INDONESIA Posted October 9. Prinsip Dasar Pengelolaan Kekeringan. 15. 20 % luas DAS menjadi hutan atau tanpa reboisasi tetapi seluruh tegal dengan kemiringan tersebut di buat teras. Kalimantan Timur Siswoko. yang ditandai dengan meningkatnya nilai debit puncak dan kekeruhan air sungai Samin. Prediksi penambahan volume air akibat penghutanan kembali DAS C.meningkat. Harapan ini tentunya akan lebih mudah terwujud jika dapat dilakukan reboisasi secara serempak. Mampukah Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dan Sistem Drainasi Membebaskan Dataran Banjir dari Ancaman Banjir dan Genangan. Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Untuk Industri Cilegon dan Sekitarnya serta Kualitas dan Kuantitas Sungai Cidanau. 10. Jur. yang berarti ada penambahan volume air ke dalam tanah sebagai ditunjukkan pada Gambar. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. 2002. Perencanaan Pengembangan dan managemen Sumberdaya Air untuk Mengantisipasi Kekeringan DAS Mahakam. 2002. Usaha penambahan luas hutan diaplikasikan pada DAS Goseng. 2009 by syahriartato Categories: SENI DAN BUDAYA .

Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa ―kebudayaannya‖ masih asli. memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan pergaulan dan kehidupan kemasyarakatan. dimasa interaksi sosial budaya masyarakat semakin luas dan terbuka. Di Indonesia. etis dan manusiawi untuk membangun kesepahaman. Dengan menggunakan simbol-simbol yang diciptakannya. bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya. kian diperparah karena anutan . dampak negatif juga pasti terjadi. Komunikasi secara simbolik itu dilakukan dengan efektif. mengarahkan mereka menuju suatu keadaan imajiner. Perkembangan positif yang telah terjadi adalah berkembangnya keterbukaan. etnis. kesan. maka semakin besar pula peluang masyarakat tersebut untuk mengembangkan ―kebudayaan‖-nya. karena meningkatnya transportasi dan informasi yang mengantarkan ―budaya‖ baru. Bila tidak ada filterisasi dan proteksi secara dini. Kemampuan berfikir secara “metaforik‖ itu terwujud dalam kreativitas penciptaan berbagai ―symbol‖. Suka tidak suka. Kondisi ini. harapan. Ketika interaksi sosial budaya suatu masyarakat semakin luas maka kian beragam dan kompleks jaringan yang dilakoninya. perkembangan semangat demokrasi dan reformasi menjadi fenomena umum yang turut mendorong terjadinya pola interaksi sosial budaya baru. Manusia beraktifitas mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan dimuka bumi ini. Semakin tinggi intensitas interaksi sosial budaya yang dikembangkan oleh suatu komunitas lokal dalam pergaulannya dengan komunitas diluarnya. Masyarakat semakin terbuka. baik di tingkat lokal. atau semakin mereka menutup diri dari pergaulan dengan luar komunitasnya. maka semakin kuat pula hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan ―budaya‖nya. perkembangan demokrasi dan reformasi tersebut telah mendorong pengaruh yang memberi dampak positif sekaligus negatif. hingga pergaulannya kemudian semakian luas hingga menembus batas antar personal. nasion bahkan generasi pada suatu skala ―interaksi‖ sosial budaya.Kebudayaan dan Arsitektur Tradisional. pengalaman. manusia dapat saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan ―setempat‖ biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak ―budaya‖ dengan pihak luar. keterbukaan dapat mengakibatkan infiltrasi kebudayaan yang membawa nilai-nilai baru yang tidak semuanya baik dan sesuai dengan nilai luhur yang dimiliki hingga dapat menimbulkan dekadensi kebudayaan. transparansi. Kebudayaan lokal akan cenderung semakin terpuruk dan akhirnya porak poranda kehilangan identitas. dimana masyarakat semakin mengabaikan batas geografis. berisi ungkapan makna yang digunakan ketika berkomunikasi menyampaikan pesan. negara bahkan bangsa. etnografis. Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. komunitas. regional maupun global. Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya. penegakan hukum dan hak azasi. Sebaliknya. Kini. berbekal kemampuan berfikir secara ‖metaforik‖ serta memanfaatkan seluruh indranya.

sementara masih lebih bertumpu pada prioritas pembangunan ekonomi yang kapitalistis. Sebaliknya perbuatan manusia yang menyimpang dari tatanan dan aturan itu. banyak orang yang mengabaikan mutu. Keluhuran budaya lokal yang adiluhung dan bersahaja itu. menjadi sumber segala anutan. telah menjadikan batas-batas antar bangsa sudah semakin tidak jelas. penguasaan power kekuasaan sebesar-besarnya tetapi mengabaikan bagaimana cara atau proses mencapainya. Orang-orang ingin serba bergegas cepat. niscaya hidup manusia akan tenang dan damai. Sementara nilai-nilai moral. ―Selaras‖ dan ―kekal‘‖ karena lahir dari proses yang panjang. masyarakat tradisional Indonesia sesungguhnya sangat percaya akan pentingnya suatu proses yang membentuk tatanan. keadilan dan nilai-nilai ―kearifan budaya leluhur‖ terabaikan. Bila tidak bertentangan dengan keselarasan dan harmoni alam. Tak heran jika yang nampak pesat berkembang kemudian adalah budaya opportunis dan hedonis yang lebih mengunggulkan rasio―kebudayaan otak‖. Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada pencapaian prestasi sesaat. nilai-nilai batin dan nilai-nilai ―spiritual‖ terus tergerogoti hingga keberadaannya merosot tajam. Komunitas etnis atau masyarakat tradisional perlahan memudar. atau bagaimana memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. ukuran kemuliaan dan kebahagiaan manusia. yang mengatur segala apa yang terjadi secara harmonis. menarik dan mentransformasi masuknya kebudayaan mancanegara. berbanding terbalik dengan sensitifitas ―kebudayaan rasa‖ yang cenderung pelan karena segala sesuatu perlu proses dan pengendapan. Dampak berbagai dari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Suatu yang sesungguhnya memiliki tempat terhormat dalam kepribadian bangsa Indonesia sebagai wujud dari ―nilai warisan‖ nenek moyang bangsa. akan menjadi ―dosa‖. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai dalam pencapaian skala materialistis -―ekonomi kebendaan‖ semata. Kepercayaan dan pemahaman akan tatanan dan acuan yang mengatur itu kemudian mengendap. Kebudayaan rasa berintikan pada proses. Dalam masyarakat kapitalistis. . Keberadaannya telah secara cepat menjadi katalisator yang sangat cepat. Kenyataannya terlihat pada apa yang terjadi didunia pendidikan. hukuman pembawa malapetaka.―model‖ pembangunan di Indonesia. Teknologi komunikasi dan teknologi informasi sudah semakin canggih. kian tercemari nilai-nilai kebendaan dan pragmatisme. hampir semua aspek kehidupan bangsa sudah saling berinteraksi secara bebas. Tatanan atau acuan itu bersifat ―Stabil‖. nilai ekonomis cenderung menjadi tujuan utama yang sangat kuat menonjol. Sementara disisi lain nilainilai non ekonomi. menjadi landasan nilai ―budaya‖. apapun yang dilakukan manusia haruslah sesuai atau selaras dalam harmoni tatanan kehidupan alam sekitarnya. Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan kekurangsiapan sebagian besar masyarakat Indonesia mengantisipasi kemajuan yang sangat pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. bahkan nilai-nilai itu seolah menjadikan semacam komoditas eceran. Padahal. solidaritas dan empati bagi sesama. serta mempengaruhi sendi kehidupan secara keseluruhan. mereka sudah sangat sulit untuk hanya mempertahankan ciri khas ―budaya‖ lokalnya sebagai unggulan warisan leluhur mereka saja. nilai kewibawaan. penyimpangan yang bisa berakibat terjadinya sangsi. sementara yang dikejar adalah bagaimana cara memperoleh selembar ijazah. bercampur. mengkristal. nilainilai batin dan spiritual. penghayatan. acuan tetap. Sesungguhnya.

hal tersebut terwujud pada penggambaran bentuk ―rumah adat” yang diciptakannya. Arsitektur adalah alat komunikasi manusia secara ―non verbal” yang mempunyai nuansa sastrawi. menjadi pola pengendali hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. perbuatan manusia itu selalu berdimensi dua atau ―dwimatra‖. Sumber : Tjahjono. Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. yang diatur dalam sebuah tatanan ―budaya‖ atau ―kebudayaan‖. maka kehidupan ‖egocentrum‖ kemudian berubah menjadi bagian integral dari kehidupan habitat sekitarnya. tergambar pada telaahan masing –masing unsurnya. Kemudian manusia mengembangkan diri melalui dorongan naluri dan nalarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.. Arsitektur sebagai unsur kebudayaan. sikap dan prilaku ―behavior” serta hasil karya seni ―artefak”. Telaahan ―kebudayaan” selalu berpijak pada unsur-unsur buah pikiran ―idea”. laksana salah satu bentuk bahasa ―non-verbal‖ manusia yang bernuansa simbolik. cara ―membangun” dan ―wujud nyata” dari ―bangunan‖ sebagai suatu lingkungan buatan dalam rekayasa lingkungan sekitarnya. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya itu didasarkan pada anggapan bahwa eksistensi hidup ada dalam rangkuman makrokosmos alam raya. Ed. Ada dua macam tanda penting. atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. harmonis dan seimbang dengan kehidupan ―habitat‖ sekitarnya. Arsitektur sebagai hasil karya seni budaya diakui sebagai salah satu wujud kebudayaan yang dapat dijadikan cerminan dari kehidupan manusianya. Dalam naskah kuno sastra jawa dan kitab sastra “lontara” Bugis Makassar secara jelas dapat ditemukan relevansi antara lingkungan dan kehidupan budaya manusia. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup. Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hanya hidup dalam suasana kepercayaan leluhur semata yang di pengaruhi oleh ―ethos budaya‖ lokal yang ekslusif serta mempunyai sifat-sifat khusus. Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya ―kosmologi‖ yang menyeluruh. dari masa ke masa. ―Egocentrum‖.Pada masyarakat tradisional Indonesia. ―tersusun” dan ―berulang” secara ―hirarkis” otomatis dalam sebuah ―tatanan budaya” yang terjaga. Awalnya. Arsitektur itu sendiri dapat dipahami melalui wacana metafor keindahan. perbuatan. Telaah arsitektur pada umumnya berpijak pada unsur – unsur ‖konsep”. Suatu tatanan yang selalu ―teratur”. 1999 . Itulah dasar-dasar filosofi yang mewarnai ―Budaya‖ masyarakat tradisional Indonesia. Ketika bicara tentang ―kebudayaan” secara komprehensif. pertama : ―mitos asal‖. kehidupan manusia hanya terbatas dan berpusat pada kehidupan dirinya sendiri. Tidak jauh berbeda dengan sastra verbal yang metaforik. manusia menggunakan tanda – tanda atau “simbol”. dari sudut pandang itu akan dikenali karakteristiknya. yaitu ―mistik‖ dan ―simbolik‖. Kekhususan itu ditandai dari cara mereka mempertahankan suasana hidup selaras. agar manusia dapat terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan serta kesejahteraan dalam kehidupan. Kedua : ―Ritual” berupa upacara atau perlakuan simbolis yang berfungsi atau dimaksudkan untuk memulihkan harmoni tatanan alam agar tetap selaras dengan manusia. maka ―arsitektur” adalah salah satu wujud hasil karya seni budaya. Keterkaitan hubungan antara kebudayaan suatu bangsa dengan arsitektur.

Bagi masyarakat tradisional Bugis-Makassar yang berfikir secara totalitas.Gambar 1. Termasuk tata cara atau prosesi pembuatan rumah. api. segala sesuatu yang menyangkut kehidupan masyarakat selalu dilakukan bersendikan adat istiadat. bagaimana memahami alam semesta secara ―universal”. bersemayam di “Botting-Langik” (langit tertinggi). pesta dan upacara kemasyarakatan yang berdasarkan pada adat istiadat. Filosofi yang bersumber dari “mitos” asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur. air. termasuk perlakuan dalam tata cara membangun rumah di dalam lingkungan alam sekitarnya. Tata cara pembuatan rumah menurut konsep arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. Konsep Bugis Makassar Konsep arsitektur masyarakat tradisional Bugis-Makassar bermula dari suatu pandangan hidup ontologis. Benua bawah disebut “Uriliyu” (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk “Segi Empat”. merujuk pada pesan atau wasiat yang bersumber dari kepercayaan dan adat istiadat yang dianut masyarakat Sulawesi Selatan. Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos.. Terwujud baik dalam tingkah laku. Abu Hamid (1978:30-31) dalam ―Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan‖ menuliskan bahwa rumah tradisional orang Bugis tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk ―segi empat‖. bentuk arsitektur. Rumah Tradisional Nusantara “Konsep Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan ” Dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan. tetap diadakan untuk menjaga kesinambungan dan pelestarikan prosesi budaya bangsa. hingga penyelenggaraan upacara ritual ketika proses membangunnya. maka rumah tradisional Bugis Makassar dipengaruhi oleh pemahaman: “Struktur kosmos” dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu “alam atas” . menunjukkan upaya untuk “menyempurnakan diri”. dan angin. yaitu : tanah. . yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka. mulai dari pemilihan tempat. anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan. Oleh sebab itu berbagai upacara. alam tengah “banua tengah” dan alam bawah ―banua bawah” . Filosofi hidup masyarakat tradisional Bugis Makassar yang disebut “Sulapa Appa”. penentuan arah peletakan rumah. “alam tengah”. Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut “Dewata Seuwae” (dewa tunggal). yaitu alam atas atau “banua atas”. Hal tersebut dipercaya sebagai warisan yang diterima langsung dari sang pengatur tata tertib kosmos untuk menjadi pengarah jalannya lembaga-lembaga sosial. Adat istiadat dan kepercayaan adalah warisan nenek moyang yang mengisi inti kebudayaan. Adat istiadat menjadi semacam pedoman dalam berpikir dan bertindak sesuai pola kehidupan masyarakatnya. Semua pranata-pranata yang berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus berdasarkan kosmologis yang diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis. cara berinteraksi. dan “alam bawah”.

kepercayaan tentang adanya pengaruh kosmologis sudah sangat dimaklumi masyarakat BugisMakassar. pada puncak rumah induk terdiri dari tiga atau lebih sambulayang /timpalaja. Seperti kebanyakan rumah tradisional di indonesia. menghitung berapa tiang (aliri). . tetapi terutama demi kelangsungan hidup secara kosmis. biasanya didahului oleh serangkaian upacara-ritual. Rumah tradisional Bugis-Makassar pada dasarnya terwujud dalam beberapa macam yaitu : . mereka selalu meminta pertimbangan dari “Panrita Bola‖ atau Panre bola untuk pencarian tempat. Panre Bola menguasai ilmu pengetahuan tentang tata cara pengerjaan rumah. Artinya selaku bagian integral dari seluruh ―kosmos‖ atau ―semesta raya‖ yang keramat dan gaib. biasanya ditentukan atas bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dalam hal memilih waktu. Untuk rumah ―Tosama‖ atau orang kebanyakan/masyarakat umum terdiri dari 4 buah tiang kesamping dan kebelakang. tata wilayah dan tata bangunan alias arsitektur tidak diarahkan pertama kali demi penikmatan rasa estetika bangunan. puncak sambulayang/timpalaja hanya dua susun.Rumah Orang Kebanyakan ―Tosama‖. .Menurut Mangunwijaya (1992:95-96). sedang untuk bangsawan biasa jumlah tiang kesamping dan kebelakang 4 hingga 5 tiang. Pada tahap selanjutnya secara berurutan mulailah mendirikan rumah dengan mengerjakan pemancangan tiang pusat rumah yang disebut ‖posi’bola” terlebih dahulu. . dimulai dari pemilihan jenis kayu. Untuk pendirian rumah.Rumah Hamba sahaya ―Ata” atau “Suro”. Untuk rumah bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng” yang memegang jabatan. Beberapa wasiat yang menjadi perhatian dalam hal menentukan arah rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar misalnya: sebaiknya menghadap kearah terbitnya matahari. Tiang kesamping dan kebelakang berjumlah 5 hingga 6 batang. bahwa bagi orang-orang dahulu. Adapun hari ataupun bulan yang baik. Termasuk pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah hingga akhirnya merekostruksi rumah yang diinginkan serta perlengkapannya.Rumah Kaum Bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng”. hingga pekerjaan selesai dikerjakan secara keseluruhan. menghadap kedataran tinggi. berapa pasak (pattolo) yang akan dipakai. rumah Bugis Makassar juga dipengaruhi oleh adanya strata sosial penghuninya. Dalam hal ini peranan seorang Panrita Bola sangat menentukan melalui nasehat-nasehat mereka yang akan menjadi pegangan bagi penghuni rumah. Beberapa hal yang penting diketahui bahwa dalam proses mendirikan rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar. menunjukkan arah yang dianggap cocok dan baik. menyusul pemasangan tiang tiang yang lain. atau menghadap ke salah satu arah mata angin. Selain itu salah satu faktor pertimbangan lain yang selalu diperhitungkan adalah pemilihan waktu saat mendirikan rumah.

. Sebagaimana diketahui dalam konsep arsitektur tradisional Bugis. Pada rumah bangsawan jumlahnya biasanya 5 hingga 6 batang (sesuai petak rumah). terletak pada bagian atas. . tempat meletakkan tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. dan lain-lain. . lontar. “Arateng‖ (Bugis). .Rakkeang / Pammakkang. alat bertukang. .Ale bola / kale balla.“Lontang ri tengnga/padaserang tangnga”. Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa. berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah. Bahan biasanya dari kayu jati. dan lain lain. Fungsinya yaitu: Penahan berdirinya tiang-tiang rumah. Sedang secara horisontal ruangan dalam rumah terbagi atas tiga bagian yaitu : . Selain ruang ruang tersebut. Biasanya ruang ini menjadi tempat pusat aktivitas interaksi penghuni rumah.untuk rakyat biasa 4 batang. Berdirinya tiang ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut: “Pattoddo” (Makassar). terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari panjang rumah. Dibagian ini ada sebuah tiang yang lebih ditonjolkan diantara tiang tiang lainnya.ruang dapur. memandang kosmos terbagi atas tiga bagian. masih ada lagi tambahan dibagian belakang ―Annasuang‖ atau “Appalluang”. terletak diruang bahagian belakang. Selain itu dimanfaatkan menjadi tempat penyimpanan atribut adat kebesaran. pengandangan ternak. Pondasi/ ―Umpak‖.hamba sahaya berukuran yang lebih kecil.“Lontang ri laleng / padaserang riboko”.Awaso / siring.“Lontang ri saliweng/padaserang dallekang”. terletak pada bagian bawah rumah. Bagian ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan alat cocok tanam. juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan padi sebagai lambang kehidupan/kesejahteraan pemiliknya. Ruangannya terbagi atas beberapa petak dengan masing – masing fungsinya. bambu dan lain-lain. “Pattolo” (Bugis). biasanya hanya terdiri dari tiga petak. terletak diruang bahagian tengah. terletak pada bagian tengah. dan ruang samping yang memanjang pada bagian samping yang disebut “tamping”. dengan sambulayang/ timpalaja yang polos. dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe sebagai dasar tumpuan lantai. serta ruang kecil di depan rumah yang disebut “lego-lego” atau “paladang”tempat berbincang atau bercengkerama. Disini melekat plafond tempat atap bertumpu dan menaungi. batang kelapa.Bentuk rumah ―Ata” atau “Suro”. “Palangga” (Makassar). Pada umumnya rumah tradisional Bugis-Makassar berbentuk panggung dengan penyangga dari tiang yang secara vertikal terdiri atas tiga bagian yaitu : . maka secara struktural rumah tradisional Bugis Makassar terbagi atas : Struktur bagian bawah. letaknya diruang bahagian depan.Makassar.

Balok blander ―Bare‖ atau ―Panjakkala”. jati. dimensi balok ± 4/12 cm. dengan sistem konstruksi ikat dan jepit. Struktur dan konstruksi bagian atas rumah terdiri dari konstruksi kap/atap yang merupakan suatu kesatuan yang kokoh dan stabil untuk menahan gaya. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dalam arah memanjang. Sistem konstruksinya. berdasarkan status penghuninya maka lantai rumah tradisional terdiri dari . Balok pasolla berbentuk pipih ± 3/12 cm. Komponennya terdiri atas : Balok makelar ―soddu‖ atau ―suddu‖. merupakan bagian konstruksi atas yang berupa bidang segitiga dan dibuat berlapis. ―Barakapu‖. Golongan ―Ata‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + tinggi kepala + kepalan tangan pemilik. Balok pengerat ―Pattoddo riase‖ atau ―Pannoddo‖. Kaki Kuda – kuda ―Pasolle‖. Untuk golongan bangsawan ―Arung‖. ―Arung‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + 1 jengkal telunjuk + 3 jari pemilik. Sistem konstruksinya. merupakan penahan lantai. Panjangnya lebih sedikit dari lebar rumah. berfungsi sebagai tempat kedudukan balok bubungan dan kaki kudakuda. tiang dilubangi setebal penampang balok pengerat kemudian padongko di tusuk pada setiap lubang dari tiang. pada kedua ujung bagian bawah terletak pada balok ―Pattikkeng‖. Sistem konstruksinya. 2. Sistem konstruksinya.5 x 14. dan paku pen. kaso. Lantai. lantai rumah biasanya tidak rata karena adanya ―tamping‖ yang berfungsi sebagai sirkulasi. ikat. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dari tiap baris arah lebar rumah. Jumlahnya ganjil dengan jarak rata-rata 20 hingga 50 cm. atau 6 x 15 cm. Balok bangunan ―Coppo‖. Sistem konstruksinya biasanya menggunakan pen. pendukung kaso. bila tiang dari bahan bambu maka tiang dan balok pengerat ditakik ± 1/3 dari diameter. sebagai tempat memakukan / mengikat papan lantai ―Rakkeang‖ atau ―Pammakkang‖. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa ―Tosama‖ umumnya rata tanpa tamping. jepit dan ikat. Rakkeang/Pammakkang. . Fungsinya adalah sebagai ring balok. dan bahan atap. dimensi 4 x 12. Dinding untuk bahan penutup digunakan gamacca. bertumpu pada balok nok. balok bubungan diletakkan diatas balok makelar yang ditakik kemudian diperkuat dengan paku pen. dengan ketinggian disesuaikan dengan status penghuninya. dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. berfungsi sebagai tempat bertumpunya balok ―suddu‖. Golongan hamba sahaja ―Ata‖ umumnya dari bambu. takik. papan. Berfungsi sebagai tempat kedudukan balok-balok gording dan sebagai penahan bidang atap sistem konstruksinya menggunakan sistem ikat. Bila segi empat. Bahan biasanya batang lontar. kemudian diikat. Terletak ditengah antara balok pengerat dan balok skor. ―Sambulayang” atau ―Timpalaja‖. rangka utama berpegang. dan lain-lain. sebagai tempat penyimpan barang dan lain-lain. Golongan ―Tosama‖ = ½ lebar rumah + 1 telapak tangan. kelapa. Konstruksi balok anak.Struktur badan rumah. tempat memasang timpalaja dan tempat meletakkan balok rakkeang. komponen komponen utama bagian ini adalah : 1. bahan lantai dari papan. dan diperkuat dengan pasak. Sistem konstruksinya dengan sistem ikat/takik pen. bahannya dapat berupa bambu atau papan.

sedangkan ”boyang beasa” ditempati oleh orang biasa. Umumnya bentuk yang sering ditemukan adalah : Kepala kerbau yang disimbolkan sebagai bumi yang subur. bahan dari nipa. jendela. Pada boyang adaq. Penempatan ragam hias ornamen tersebut utamanya pada sambulayang/timpalaja. Umumnya bermotifkan kaligrafi dari kebudayaan islam. anjong. sedangkan boyang beasa. Ragam hias umumnya memiliki pola dasar yang bersumber dari corak alam. Kedua susunan anak tangga tersebut diantarai oleh pararang. rumbia. kekuatan yang dahsyat. Sedangkan pada boyang beasa. Selain berfungsi sebagai hiasan. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ pada rumah tradisional Bugis-Makassar merupakan salah satu bagian tersendiri dari bentuk dan corak rumah tradisional Bugis-Makassar. Gambar 2. ”Boyang adaq” ditempati oleh keturunan bangsawan. Fungsinya sebagai penahan angin yang berpegang pada balok gording dengan sistem sambungan pen dan lubang. susunan pertama yang terdiri atas tiga anak tangga. sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. Simbolik lain dapat dilihat pada struktur tangga. Ornamen fauna corak binatang. dan lain-lain. flora dan fauna. seperti menjalarnya bunga itu. Simbolik tersebut. penunjuk jalan. Ornamen flora corak tumbuhan . Bentuk pelana dengan sudut antara 30 hingga 40°. Penggunaan ragam hias tersebut menandakan bahwa derajat penghuninya tinggi. semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang. agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan baik dan membawa keberuntungan. Bentuk ayam jantan yang diartikan sebagai keuletan dan keberanian. tangga tidak bersusun. Rumah tradisional Mandar berbentuk panggung yang terdiri atas tiga bahagian. Bagian pertama disebut ”tapang” yang . Ornamen corak alam. berupa papan yang dipasang pada ujung sisi depan dan belakang atap. bintang tunggangan dan status sosial. Umumnya bermotifkan bunga/ kembang. misalnya ”tumbaq layar” yang bersusun antara 3 sampai 7 susun. yaitu : ”boyang adaq” dan ”boyang beasa”. juga dapat berfungsi sebagai simbol status pemilik rumah. Atap. disamping motif yang lainnya. tangganya terdiri atas dua susun. daun yang memiliki arti rejeki yang tidak putus putusnya. sama ”Ethos Kosmos” yang berlaku pada etnis Bugis Makassar. Pada ”boyang adaq” diberi penanda sebagai simbolik identitas tertentu sesuai tingkat status sosial penghuninya.Les plank ―Ciring‖. dikenal adanya dua jenis boyang. alang alang. Bentuk naga yang diartikan simbol wanita yang sifatnya lemah lembut. atau daun lontar. ujungnya kadang diberi hiasan ―Ornamen‖. Rumah Tradisional Bugis Makassar Konsep Mandar Identitas Arsitektur Tradisional Mandar tergambar dalam bentuk rumah tradisional yang disebut ”boyang” . ”tumbag layar‖ nya tidak bersusun.

Pada masa lalu. Adapun dua yang tak terpisahkan itu adalah aspek hukum dan demokrasi. Tatanan dan aturan rumah adat. Lantai tapang tidak menutupi seluruh bagian loteng. Petak yang di tengah biasanya lebih lebar dibanding dengan petak-petak yang lainnya. Pada bagian depan atap terdapat ”tumbaq layar” yang memberi ”identitas” tentang status penghuninya. hanya dipasang pada saat akan digunakan. Adapun ketiga ‖lotang‖ ruangan tersebut adalah : ”Samboyang”. Pada masa lalu. Demikian pula bentuk pola lantainya yang segi empat. Sedangkan petak yang paling depan lebih lebar dibanding dengan petak yang paling belakang. tallu tammallaesang” (dua tak terpisah. petak bagian tengah rumah. baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. rumah-rumah penduduk. Ketiga petak di dalam roang boyang tersebut memiliki ukuran lebar yang berbeda. Di bawah atap terdapat ruang yang diberi lantai menyerupai lantai rumah. di mana aktivitas keluarga dan hubungan sosial antara sesama anggota rumah tangga. Pada bagian atas penutup bubungan. terdiri dari bagian paling atas. Tapang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpang barang-barang. Bagian kedua disebut ”roang boyang” . Struktur bangunan rumah orang mandar. Atap rumah berbentuk prisma yang memanjang ke belakang menutupi seluruh bagian atas rumah. ‖Tangnga boyang‖. petak paling belakang. Ruang tersebut diberi nama ”tapang”. tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna pada filosofi orang Mandar yang berbunyi : ”da’dua tassasara. Penempatan songi untuk anak gadis lebih menekankan pada fungsi pengamanan dan perlindungan untuk menjaga harkat dan martabat keluarga. terdapat tangga yang terbuat dari balok kayu atau bambu. Ruangan tersebut terletak di bawah tapang yang menggunakan lantai yang terbuat dari papan atau bilah bambu. yaitu petak paling depan. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. yaitu ruang yang ditempati manusia. baik pada bagian kanan maupun kiri diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. keadilan. . baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. ‖Bui‘ boyang‖. Ia ditempatkan pada kamar tersebut sebagai tindakan preventif untuk menjaga ”siriq” (harga diri). Tangga tersebut dirancang untuk tidak dipasang secara permanen. ”tapang” tersebut sebagai tempat atau kamar calon pengantin wanita. Ornamen itu disebut ”teppang”. yaitu ”ate” (atap). Pada ”tumbaq layar” tersebut dipasang ornamen ukiran bunga melati. Sesuai kodratnya anak gadis memerlukan perlindungan yang lebih baik dan terjamin. Pada umumnya hanya separuh bagian loteng yang letaknya di atas ruang tamu dan ruang keluarga. terdiri atas ”tallu lotang” (tiga petak). dan bagian ketiga disebut ”naong boyang” yang letaknya paling bawah.letaknya paling atas. dan persatuan. tapang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan sebelum dihidangkan atau didistribusikan. tiga saling membutuhkan). Rumah orang Mandar. meliputi atap dan loteng. Petak pertama disebut ”samboyang” (petak bagian depan). petak kedua disebut ”tangnga boyang” (petak bagian tengah) dan petak ketiga disebut ”bui’ lotang” (petak belakang). Di ujung bawah atap. Petak ini berfungsi sebagai ruang keluarga. Bila ada hajatan dirumah tersebut. baik boyang adaq maupun boyang beasa mengenal tiga petak ruangan yang disebut lotang. Petak ini sering ditempatkan ”songi” (kamar) untuk anak gadis atau para orang tua seperti nenek dan kakek. Untuk naik ke tapang. sedangkan tiga saling membutuhkan adalah aspek ekonomi.

Terdapat ruang di bawah lantai yang disebut ”naong boyang” (kolong rumah). Ditempat itu sering dibuatkan ”rambang” sebagai kandang ternak. Hal itu dibuat secara utuh sebelum dipasang atau dilengketkan pada tiang rumah. Jumlah anak tangga pada setiap tangga berkisar 7 sampai 13 buah. tangga depannya bersusun dua dilengkapi dengan pasangan. bangunan tersebut tampak lebih indah dihiasi berbagai ornamen. Rumah tradisional Mandar. pasir. Bangunan tambahan yang diletakkan di belakang bangunan induk disebut ”paceko” (dapur). dan lebarnya minimal sama dengan satu petak bangunan induk. Sedangkan ‖boyang beasa”. tempat istirahat pada sore hari dan tempat duduk sebelum masuk rumah. Bangunan ini disertai ruang yang lapang. kolong rumah hanya berlantai tanah. ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu dari kalangan masyarakat biasa dan ata (budak). rumah yang berdinding taqta dan alisi. Setiap tangga mempunyai anak tangga yang jumlahnya selalu ganjil. Bagian yang lain pada rumah adalah rinding (dinding). Sedangkan ‖boyang beasa” sekitar 7 sampai 9 buah. seperti debuh. Kendati demikian. tangganya tidak bersusun dan tidak dilengkapi pegangan. boyang adaq memiliki anak tangga yang lebih banyak. juga ada yang berdinding taqta dan alisi. yaitu berkisar 11 sampai 13 buah. Dalam . Pada boyang adaq. Dinding rumah terbuat dari kayu (papan) dan bambu (taqta dan alisi ). Bangunan tambahan yang ada di depan rumah yang disebut dengan ”lego-lego” (teras). sehingga mempunyai banyak fungsi. di dalam roang boyang terdapat ruangan atau petak yang lantainya lebih rendah ”tambing” atau ”pelleteang”. baik ‖boyang adaq” maupun boyang beasa pada umumnya mempunyai dua tangga. boyang adaq mempunyai dinding yang terbuat dari papan. Letaknya selalu dipinggir dengan deretan tiang yang kedua dari pinggir. Dinding rumah dirancang dan dibuat sedemikian rupa sesuai tinggi dan panjang setiap sisi rumah dan dilengkapi jendela pada setiap antara tiang. yaitu tangga depan dan tangga belakang. Pada umumnya. demikian pula untuk membukanya jika rumah tersebut akan dibongkar atau dipindahkan. Pada masa lalu. baik yang berbentuk ukiran maupun yang berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal.Khusus pada boyang adaq. Bangunan ini biasanya lebih sempit dibanding dengan bangunan tambahan bagian belakang. Jumlah tersebut disesuaikan dengan tinggi rumah. penghuninya berasal dari golongan ata (beasa). dan sebagainya dapat lebih mudah jatuh ke tanah. Panjangnya minimal sama dengan lebar bangunan induk. Mendirikan rumah ”boyang” melalui suatu tahapan kegiatan yang meliputi persiapan. pemasangan lantai yang terbuat dari papan agak dijarangkan agar berbagai kotoran. Bangunan tersebut biasanya dibuat secara menyilang dengan bangunan induk. Ruangan ini merupakan tempat lalu lalang anggota keluarga. Sedangkan boyang beasa selain berdinding papan. Pembuatan dinding seperti itu dimaksudkan untuk lebih memudahkan pasangannya. Selain itu. Pada umumnya. Ada kalanya sebagai tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita. Olehnya itu. membangun ”boyang” dan hasil kegiatan berupa ‖bangunan‖ atau rumah tradisional. mulai dari pintu depan ke belakang. Pada ”paceko” juga tersedia tempat buang air kecil yang disebut ”pattetemeangang”. Fungsi bangunan ini adalah sebagai tempat sandaran tangga depan.

Dalam musyawarah tersebut penilaian dan penentuan susunan tumbaq layar juga dibicarakan. Gaya arsitektur tradisional banyak dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang tersedia disekitar lingkungan alam setempat. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan ”bala”. atap dan sebagainya. tidak lembek. Musyawarah lebih diutamakan pada penilaian status sosial yang akan menempati rumah tersebut. Gambar 5. Sebab dari status sosial yang akan menempati rumah tersebut. hari-hari baik adalah senin. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan. yaitu arah timur tempat matahari terbit. Pemilihan waktu mendirikan ”boyang” juga sangat penting. Tanah yang baik adalah tanah yang agak keras. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik. keharmonisan dalam rumah tangga. dan pengadaan bahan baku untuk tiang. Arah pergerakan matahari yang menanjak . maka rumah yang akan dibangun adalah ”boyang beasa”. yaitu bahan baku yang tersedia dari lingkungan alam sekitar (lokal) maupun dari luar (dari daerah lain). tetapi memiliki nilai dan makna tersendiri sesuai dengan adat istiadat masyarakat tradisional Mandar. Orientasi rumah ”boyang” yang paling baik adalah berorientasi pada arah yang mengandung makna positif. lantai. dan jumat. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam pelaksanaan musyawarah dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). karena itu kegiatan awal dalam memulai mengerjakan rumah senantiasa berpedoman pada waktu-waktu baik. kamis. setiap akan membangun rumah ”boyang” senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. maka jenis rumah yang akan dibangun adalah ”boyang adaq”. Tanah seperti ini memberi makna keharuman. ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. dan Dzulkaiddah. Biasanya berada pada daerah yang relatif sedikit tinggi atau bukit. seperti Muharram. Membangun rumah tradisional mandar memerlukan beberapa rangkaian kegiatan seperti musyawarah antar sesama keluarga atau kerabat. yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan banyak tahu tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat tradisionalnya. Boyang Adaq Mandar Suatu bangunan rumah ”boyang” tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Olehnya itu. agar keluarga mereka kelak dapat memperoleh kebahagiaan. dan ornamen yang ada didalamnya. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah. Bagi orang Mandar. Dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. tanah tersebut sebaiknya ‖berbau wangi‖. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan ”keberuntungan” dan ”keselamatan”. menyiapkan ‖pappapia buyang” (tukang dan ahli) sesuai latar belakang sosial budaya penghuninya. suatu rumah tradisional memiliki ciri khas terutama pada tipologi. Syafar. Pemilihan waktu. bencana dan ketidak mujuran. karena terkait dengan kepercayaan masyarakat tradisionalnya. pemilihan lokasi atau tempat mendirikan rumah. Menurut mereka. interior/eksterior. Selain itu. Pemilihan tempat mendirikan ”boyang” sangat terkait dengan kepercayaan tradisi masyarakat tentang adanya tanah yang baik dan kurang baik untuk dibanguni ”boyang”. bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa. Jumadil Awal.proses persiapan ada beberapa hal yang patut diperhitungkan.

hal ini dimaksudkan agar cahaya matahari senantiasa menerangi rumah yang akan dibangun. ”sando boyang” melakukan upacara ritual yang dilakukan sendiri dirumahnya. Pekerjaan seluruh tiang tersebut harus diperhatikan ujung-pangkalnya. Sedangkan jejeran ke belakang biasanya empat batang (tidak termasuk tiang paceko). Setiap rumah memiliki tiang minimal 20 batang. yang diharapkan selalu bertambah adalah nasib baik. Jenis kayu tersebut pada umumnya digunakan untuk ‖possi arriang” rumah biasa. Jadi. Untuk jenis sumaguri mengandung makna ‖empati kepada seluruh masyarakat‖. Penebangan kayu dilakukan pada pagi hari sekitar jam 09. Pada saat menebang kayu. biasanya kayu ”sumaguri” dan ”cawecawe” . Arah barat dianggap menghadap ke kiblat. Pembangunan rumah tradisional ”boyang”. Penebangan kayu untuk ”possi arriang” harus dilakukan oleh ”sando boyang”. tidak boleh terbalik.00. Waktu penebangan diupayakan pada hari-hari baik. pekerjaan pertama yang harus dibuat adalah ”possi arriang” (tiang pusat). Dengan arah rumah ketimur. tetapi pekerjaannya harus dimulai oleh sando boyang. Jenis kayu yang diperuntukkan untuk possi arring tidaklah sembarang. maka dilanjutkanlah pekerjaan pada seluruh tiang rumah lainnya. maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik. Ada hal yang penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan pada saat menebangan kayu. Dalam pembuatan ”arriang”. Sebelum melakukan penebangan. jenis kayu tersebut banyak digunakan pada possi arriang rumah adaq. orang Mandar menyebutnya ”tarrang bulan” (terang bulan).naik mengandung makna kebaikan. lima . yaitu selalu bertambah ”naik” . Dalam pengertian ini terdapat makna simbolis. terutama rezki dan amal kebijakan. Pasak tersebut terdiri atas empat untuk passolor. Sedangkan jenis kayu cawe-cawe mengandung makna ‖semangat atau mengairahkan‖. Penebangan kayu dapat dilakukan oleh beberapa orang. atau pada hari ke delapan sebelum tenggelamnya bulan. cahaya matahari pagi dapat menyinari ruang lego-lego hingga kedalam rumah. Setiap jejeran ke samping biasanya terdiri atas lima batang. Hal ini dimaksudkan agar penghuninya kelak senangtiasa bersemangat atau bergairah dalam mengarungi kehidupan dunia. Sedangkan bahan bangunan diusahakan dan diambil dari lingkungan alam sekitar. Rumah tradisional Mandar yang terdiri atas tallu lontang. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar. Bagi rumah tradisional yang mempunyai paceko dan lego-lego. Kelima tiang yang berjejer ke samping diupayakan memiliki lekukan dan bengkok yang sama. Setelah ”possi arriang” usai dikerjakan. Waktu-waktu baik adalah sama halnya pada saat memulai membangun rumah ”boyang”. maka harus menggunakan minimal lima tiang tambahan untuk Paceko dan dua atau empat tiang untuk lego lego. Tiang tersebut diatur dan disusun berjejer kesamping dan kebelakang. dimulai dari pembuatan tiang ”arriang”. empat untuk baeq. Adapun hari baik menebangan kayu untuk ”possi arriang” adalah hari ke 14 terbitnya bulan. yang pertama harus ditebang adalah bahan untuk membuat possi arring (tiang pusat). dalam pengertian ini. yaitu kayu tersebut harus tumbang dan jatuh kearah matahari terbit. kedua jenis kayu tersebut mengandung makna simbolis. jumlah pasak yang dibutuhkan sebanyak 18 buah. Semua tiang pangkalnya harus berada di bawah. bahwa diharapkan kelak rumah yang akan dibangun itu senantiasa dalam kondisi yang terang bercahaya. Penebangan ayu (kayu) dan bambu biasanya disesuaikan dengan waktu baik.

Daun jendela itu dapat dibuka ke kiri dan ke kanan. Terali-terali tersebut ada yang dipasang secara vertikal dan ada yang horisontal. seperti tebu. Pemasangan ornamen berupa ukiran dan terali-terali juga dapat dilihat pada bangunan tambahan di depan rumah. segala bahan kelengkapan upacara mattoddoq boyang. Bila rumah tersebut ditambah paceko. Air yang tersisa di dalam cerek tadi dimasukkan dalam botol kemudian digantung pada ”possi arriang” . Pada dinding sisi kanan dan kiri rumah biasanya juga dilengkapi dengan pepattuang sebanyak dua atau tiga buah. Selain itu. seperti paceko dan lego-lego. Jumlahnya tiga buah. dilanjutkan pula pada pendirian tiang lego-lego. Prosesi ritual menurut kepercayaan masyarakat tradisional Mandar biasanya dimulai dari ”possi arriang”. pepattuang ini biasanya diberi ornamen berupa ukiran dan terali dari kayu yang jumlahnya selalu ganjil. Untuk boyang adaq. alisi dan taqta. Seluruh tiang paceko juga diberi batu arriang. Sedangkan secara horisontal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Pada ”possi arriang” diikat lipaq (sarung) dan mukena atau kebaya. Bilamana rumah ”boyang” akan diberi tambahan bangunan. Bahan kelengkapan upacara biasanya digantung setelah rumah berdiri. Setelah tiang berdiri. maka harus ditambah lagi aratang diaya dan aratang naong masing-masing satu buah. bilamana rumah tersebut mempunyai tambing. pisang. Untuk memperindah. Sarung melambangkan jiwa laki-laki dan kebaya atau mukena sebagai jiwa perempuan. paceko dan lego-lego. jumlah tiang lego legonya sebanyak empat batang. Sedangkan boyang beasa jumlah tiang lego legonya sebanyak dua batang. masingmasing satu buah untuk rumah induk. Kayu ini disebut pambalimbungan (tulang punggung. Pada dinding sisi depan rumah. . maka setelah bangunan induk berdiri tegak dilanjutkan pendirian tiang paceko. paling diatas tempatnya). Sedangkan aratang diaya dan aratang naong masing-masing dua buah. Selain pasak. Lattang ini biasanya dipakai pada lantai paceko. Kedua jiwa tersebut harus menyatu di dalam ”possi arriang” kemudian tiang ”possi arriang” disiram dengan air dari dalam cerek. Secara vertikal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan Tuhannya. yaitu lego-lego. ”Lattang” biasanya dipilih tarring (bambu) yang besar dan sudah tua.araiang diaya dan aratang naong. Letak pepattuang biasanya berada antara dua buah tiang rumah. Pemasangan ornamen seperti itu hanya tampak pada jendela yang ada di bagian depan dan sisi kiri kanan rumah. Pepattuang berbentuk segi empat yang rata-rata terdiri atas dua daun jendela yang berukuran sekitar 100 x 40 cm. Tambahan untuk Paceko biasanya terdiri atas satu deretan tiang yang jumlahnya enam batang ditambah satu batang di dekat tangga belakang. Setelah pendirian tiang paceko. biasanya dilengkapi tiga ”pepattuang” (jendela) dan satu ”ba’ba” (pintu). kelapa juga digantung pada ”possi arriang” . Lantai rumah tradisional Mandar terbuat dari papan (kayu) dan lattang. maka harus ditambah lagi passollor dan baeq sebanyak lima buah. Dinding sisi depan ini biasanya dilengkapi ornamen pada bagian luar di bawah jendela. dilanjutkan pemasangan aratang naong dan aratang diaya yang dikuatkan dengan passanna. terdapat pula balok kayu yang bentuknya pipih menyerupai pasak. Dinding rumah tradisional Mandar pada umumnya terbuat dari papan.

bahasa. makanan. Ukuran atap rumah tradisional Toraja yang terbuat dari susunan bambu sangat tebal. Pada umumnya wilayah permukiman masyarakat Toraja terletak di pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 2800m di atas permukaan laut. memakai ”ragam hias ornamen”. seperti a’riri possi di Toraja. Pusat rumah meraga sebagai perapian di tengah rumah. Harmonisasi didapati . Wujud konstruksi ini sangat diperlukan untuk menghangatkan temperatur udara interior rumah. budayanya unik. Selain itu konsep arsitektur tradisional toraja. “Egocentrum”. agama dan kepercayaan namun tidak semua flora. plafon dan sebagainya. bagian dari lingkungan makrokosmos. Keempat filosofi ini menjadi dasar terbentuknya denah rumah Toraja empat persegi panjang dengan dibatasi dinding yang melambangkan “badan” atau “Kekuasaan”. dan kepercayaan Aluktodolo yang menjiwai kehidupan masyarakatnya. Temperatur udara kawasan permukiman masyarakat Toraja berkisar pada 150 hingga 300C. upacara pengantin serta ritual upacara penguburannya. adat dan kebudayaan. ”Ornamen” selain berfungsi sebagai hiasan atau ornamen. musik. Keunikan itu terlihat juga pada pola permukiman dan arsitektur tradisional rumah mereka. baik dalam taritarian. banyak dipengaruhi oleh ethos budaya “simuane tallang” atau filosofi “harmonisasi” dua belahan bambu yang saling terselungkup sebagaimana cara pemasangan belahan bambu pada atap rumah adat dan lumbung. gambaran alam. Kondisi Tana Toraja. fauna. ataupun atap menjulang menaungi ruang tengah rumah dimana atap menyatu dengan asap-father sky Pusat rumah juga meraga sebagai tiang utama. Dalam kehidupan masyarakat toraja lebih percaya akan kekuatan sendiri. possi bola di Bugis.Ragam Hias dan Ornamen Pada umumnya rumah tradisional. dan makna-makna budaya dalam masyarakat. baik rumah bangsawan maupun rumah orang biasa di tana Mandar. Masyarakat Tradisional Tana Toraja didalam membangun rumah tradisional mengacu pada kearifan budaya lokal–Kosmologi mereka yaitu :     Konsep ‗pusar‘ atau ‗pusat rumah‘ sebagai paduan antara kosmologi dan simbolisme Dalam perspektif kosmologi. rumah bagi masyarakat Toraja merupakan mikrokosmos. pocci balla di Makassar dimana tiang menyatu dengan mother earth Pada masyarakat tradisional Toraja. Konsep Toraja Etnis Toraja mendiami dataran tinggi di kawasan utara Sulawesi Selatan. Pada bagian atap. kehidupan alam leluhur ―Todolo‖. dinding. tang dipegunungan dan berhawa dingin diduga mendasari ukuran pintu dan jendela yang relatif kecil. fauna dan sebagainya dapat dijadikan corak ―ornamen”. lantai dan dindingnya dari kayu yang tebal. Daerah ini tidak berpantai. juga berfungsi sebagai identitas sosial. dalam kehidupannya juga mengenal filosofi “Aluk A’pa Oto’na” yaitu empat dasar pandangan hidup : Kehidupan Manusia. Corak ―ornamen” umumnya bersumber dari alam sekitar manusia seperti flora. kemuliaan Tuhan. Hal ini yang tercermin pada konsep arsitektur rumah mereka dengan ruang-ruang agak tertutup dengan “bukaan” yang sempit.

―Tongkonan Layuk‖. karena peranannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Toraja. kombong. Sedangkan kedua arah mata angin lainnya mempunyai arti kehidupan dan pemeliharaan.―Tongkonan Batu A’riri‖. ―Tongkonan Pa’rapuan‖.dalam konsep arsitektur “Tongkonan” yang menginteraksikan secara keseluruhan komponen “tongkonan” seperti : Rumah. rumah adat Toraja adalah merupakan bangunan yang sangat besar artinya. makro dan mikro kosmos tetap terpelihara didalam tatanan kehidupan masyarakat tradisional toraja. fungsinya sama dengan Tongkonan Batu A‘riri tetapi tidak boleh diukir seperti tiga tongkonan diatas dan tidak memakai Longa. Atau selalu ada keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. bagian depan rumah harus berorientasi Utara atau arah Puang Matua ―Ulunna langi’” dan bagian belakang Rumah ke Selatan atau arah tempat roh-roh ―Pollo’na Langi’‖. didalam satu sistem kehidupan dan penghidupan orang toraja didalam area tongkonan. Kesemuanya ini diterjemahkan menjadi satu kata sederhana yaitu “keseimbangan” dan secara arsitektural “keseimbangan” selalu diaplikasikan kedalam bentuk “simetris” pada bangunan. serta tempat pembinaan warisan. Selain itu. 1999 Gambar 4. . yaitu tongkonan yang tidak mempunyai peranan dan fungsi sebagai tempat persatuan dan pembinaan keluarga dari keturunan pertama tongkonan itu. Rumah Adat Tradisional Tongkonan. ―Tongkonan‖ dalam fungsinya terbagi menjadi 4 macam tingkatan yaitu : . sawah. dibedakan atas : . Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip dasar Arsitektur Tradisional Toraja adalah simetris. rante dan liang. pada arah Timur dimana para Dea ―Dewata‖ memelihara dunia beserta isinya ciptaan “Puang Mutua” untuk memberi kehidupan bagi manusia. jadi mempunyai arti sebagai tiang batu keluarga. dan arah Barat adalah tempat bersemayam “To Membali Puang” atau tempat para leluhur ―Todolo”. kedudukannya sebagai rumah tempat membuat peraturan adat istiadat. dimana rumah dianggap sebagai “mikrokosmos”. . ―Tongkonan‖.. Kosmologi dalam arsitektur Toraja Sumber : Tjahjono. lumbung. Gambar 3. yaitu rumah adat yang merupakan tempat melaksanakan aturan dan perintah adat dalam suatu masalah daerah. Ed. keterikatan dan berorientasi.‖ Tongkonan Pokamberan/Pokaindoran‖. Sedangkan fungsi dan kegunaan penataan lantai bangunan tradisional rumah adat Toraja. Rumah tradisional Tongkonan Toraja Tata letak rumah tongkonan berorientasi Utara – Selatan.

yaitu membangun suatu tempat untuk menyimpan bahan bangunan yang dinamakan ―Barung‖ atau ‖Loko Pa’ Tambenan‖. yaitu mengatur dan menanam batu pondasi yang dipahat atau asli yang sudah cukup baik untuk menjadi batu pondasi. pada jaman sekarang ini banyak didapati di kebun kebun. .‖Banua Dang Lanta’’‖. Jadi bangunan rumah adat Toraja selama didirikan seolah olah tidak terkena sinar matahari dan hujan.‖Tahap Pabenden Leke’”. . melalui tahap-tahap sebagai berikut : .‖Tahap Ma’ Sangkinan Rindingan‖. yaitu bangunan tongkonan tertua dari penguasa adat yang memegang fungsi adat ‖Togkonan Pasio’ aluk‖. . . yaitu sebagai pekerjaan permulaan untuk mengumpulkan seluruh bahan bahan bangunan yang diperlukan ..‖Tahap No’ton Parandangan’”.‖Tahap Ma’ A’riri Posi’”. . yaitu pekerjaan memasang dinding pengosokan berjejer keliling bangunan dan kayu Sangkinan Rindingan ini sama besar dan tingginya begitu pula pada jarak pemasangannya kecuali pada bagian sudut bangunan. adalah rumah untuk para Pengabdi kepada Penguasa Adat. Setelah semua pekerjaan tersebut diatas sudah selesai. Pada rumah ini hanya terdapat satu tiang untuk melaksanakan kegiatan sehari hari. Pekerjaan ini adalah pekerjaan permulaan dari pembangunan karena semua bahan bangunan sudah disiapkan. yaitu bangunan pemerintahan adat Toraja yang mempunyai tiga ruang. dimana semua bahan bangunan diolah diukur untuk persiapan pendirian bangunan tersebut. .‖Tahap Ma’ Pabendan’”. . yaitu tempat membuat bangunan yang merupakan tempat mendirikan bangunan sampai selesai. yaitu mendirikan tiang tiang bangunan utama diatas batu parandangan yang sudah diatur dalam ukuran persegi panjang.‖Tahap Ma’ Tamben‖ atau ‖Ma’ Pabendan‖. yaitu mendirikan satu tiang tengah bangunan yang merupakan salah satu tiang yang mempunyai arti dalam pembangunan rumah adat Toraja. Dalam proses pembangunan bangunan tradisional Toraja ini pengerjaannya dibagi menjadi 2 tahap yaitu : .‖Banua Sang Borong‖ atau ‖Banua Sang Lanta‖. . adalah bangunan yang tidak mempunyai peranan adat seperti ‖Tongkonan Batu A’riri‖ yang terdiri dari dua ruang yaitu Sumbung sebagai tempat tidur dan Sali sebagai dapur.‖Banua Tallung Lanta’’‖. Ruang ruang itu adalah Sumbung. dilanjutkan dengan pengerjaan ‖Ma’ Pabendan‖.‖Banua Patang Lanta’’‖. . Sali dan Tangdo‘ yang berfungsi sebagai tempat upacara pengucapan syukur dan tempat istirahat tamu tamu.‖Tahap Mangraruk‖.

5 m.‖Tahap Ma’ Kayu Beke’i‖. . yaitu pemasangan kayu pamiring yang membentuk longa dan berpangkal pada kayu Rampanga Papa Longa. yaitu merupakan bagian depan agak miring dari bagian atap bangunan. Sedangkan bagian luar dan dalam dibagi sebagai berikut : Interior rumah adat Toraja. . yaitu pemasangan 4 buah kayu Ma‘ Petuo sebagai tumpuan bagi kayu bubungan. yaitu merupakan pekerjaan yang sangat berat karena pemasangan Tarampak sampai ke bubungan tidak boleh berhenti.‖Tahap Ma’ Paringgi”. .‖Tahap Ma’ Palaka Indo’ Para‖.‖Tahap Ma’ Benglo Longa‖. ‖Tahap Ma’ Paleke’ Indo Tekeran”. yaitu pemasangan semua dinding yang dimasukkan dari atas ke dalam Sangkinan Rinding melalui semacam jaluran rel sebagai bingkai yang terpasang mati. Semua bangunan rumah adat Toraja mempunyai peranan dan fungsi tertentu. yaitu semua kayu yang panjangnya 3. Faktor inilah yang menyebabkan konstruksi dan arsitektur bangunan tetap sebagai dasar perancangan Tongkonan. fungsi fungsi tersebut tidak akan berubah sepanjang letak dari bangunan itu tidak berubah yaitu atap menghadap keutara sebagai orientasi bangunan. Jadi bagian bagian dari rumah adat Toraja pulalah yang menentukan struktur arsitekturnya antara lain . . yaitu tangga pembantu pemasangan semua bagian dari Longa dan bila telah selesai maka Ma‘ Benglo Longa dibongkar. . dengan persilangan pada ujung atasnya dan ujung bawahnya disambung pada kayu Rampanan Papa‘ sebagai tempat mengatur kayu kecil kecil yang bernama Tarampak. . .‖Tahap Ma’ Rampani”.‖Tahap Ma’ Pabendan Tulak Somba”. karena adanya hubungan pandangan keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan dari bangunan.‖Tahap Ma’ Kamun Rinding‖. . yaitu tempat menumpunya kayu Rampanan yang fungsinya mengikat dan mengatr atap. rumah adat Toraja dibagi atas 2 bagian besar yaitu dengan menarik garis besar dari utara ke selatan yang dibedakan dengan nama Kale Banua Matallo dan Kale Banua Matumpu‘ yaitu bagian rumah sebelah timur dan bagian rumah sebelah barat. yaitu pemasangan kayu Tulak Somba menopang bagian depan dan bagian belakang Longa. yaitu pemasangan kayu diatas kayu Ma‘ Petuo sebagai tempat mengatur kayu kayu membentuk segitiga dengan badan rumah. ..‖Tahap Ma’ Papa”.‖Tahap Ma’ Petuo”.

Peranannya sebagai tempat mengurung hewan hewan ternak pada malam hari untuk menjaga tuannya diatas rumah. Jendela ini dibuka pada pagi hari dan dibuka terus pada waktu upacara pengucapan syukur. Jendela jedela itu adalah :     ‖Pentiroan Tingayo‖.‖Pentiroan‖. yaitu jendela yang terletak disebelah barat bangunan. yaitu 2 buah jendela yang terletak dibagian muka rumah menghadap ke utara.‖Kale Banua‖. . Lobang ini berjumlah 3 buah dan tidak tertutup dengan ukuran 10 x 15 cm. . yaitu jendela yang terletak disebelah timur bangunan. Jendela ini terbuka terus pada waktu upacara kematian atau bila didalamnya ada orang yang sakit. yaitu jendela jendela pada seluruh badan rumah yang kelihatan pada 4 sisi. ‖Pentiroan Pollo’ Banua‖. . ‖Tingayo Banua‖ atau ‖Lindo Banua‖. ‖Pentiroan Mampu’ ‖.‖Suluk Banua‖. yaitu bagian muka bangunan yang digunakan sebagai tempat melakukan upacara pengucapan syukur dan pemujaan. ‖Pentiroan Matallo‖. yaitu kolong dari bangunan rumah yang dibentuk oleh tiang tiang yang dihubungkan oleh sulur yang dinamakan roroan. pemasangannya pada tengah bangunan pada ruang tengah.‖Longa‖ bagian menjulang dari atap bangunan di sebelah utara dan selatan.‖Rattiang‖ atau disebut juga loteng yaitu bagian atas dari rumah yang sebagian ditutupi atap. . Jendela ini dibuka pada waktu ada upacara pemakaman orang mati. Exterior rumah adat Toraja. Berfungsi untuk menyimpan peralatan dan pakaian upacara adat. yaitu bagian badan dari bangunan yang terdiri dari ruang/petak mulai utara ke selatan. yaitu jendela yang terletak dibelakang rumah menghadap ke selatan. . Jendela ini dapat terbuka dan tertutup setiap saat..

Arsitektur tradisional Toraja misalnya. Masa arsitektur modern serta Masa arsitektur post modern. Fungsinya sebagai tiang penopang sekaligus tempat melekatnya tanduk karbau hasil pesta mendirikan rumah. Perkembangan arsitektur tradisional dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : waktu.‖Matallo Banua‖.―Passura‖ yaitu ukiran tradisional pada bangunan adat Toraja yang bukan hanya sebagai hiasan. curah hujan. .―A’riri Posi’‖ yaitu tiang tengah pada bangunan rumah adat Toraja yang hampir kelihatan berdiri sendiri diantara ruang selatan dan ruang tengah. pola hidup. Masa arsitektur tradisional : pada masa ini budaya asli dan pola hidup masyarakat tradisional berkembang didalam masyarakat tanpa ada pengaruh luar.―Katik‖ adalah bentuk kepala aya jantan yang berkokok.‖Matampu Banua‖. . ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. pengaruh budaya luar. Arsitektur tradisional sangat dipengaruhi oleh keadaan dan potensi alam sekitarnya yang sering diambil menjadi motif utama pemberi corak. Dari masa lampau hingga masa kini ada 4 masa perkembangannya yang dapat ditelusuri yaitu : Masa arsitektur tradisional. Masa arsitektur klassik.‖Pollo Banua‖. “Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan.‖Kabongo‖. . Terutama pengaruh iklim. . Dari Masa Kemasa”.―Tulak Somba‖ yaitu tiang tinggi penopang ujung depan dan belakang bangunan adat Toraja yang dinamakan Longa. . Secara tradisi. yaitu bagian belakang bangunan sebagai tempat pelepasan orang mati. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ rumah adat Toraja adalah sebagai berikut : . arsitektur tradisional merupakan pilihan satu-satunya. mempunyai sudut kemiringan atap yang tajam karena curah hujan di daerah ini besar. yaitu kayu yang dibentuk seperti kepala kerbau dengan tanduk asli tanduk kerbau yang mengartikan bahwa Tongkonan ini adalah Tongkonan pemimpin masyarakat dengan kata lain tempat melaksanakan peranan dan kekuasaan adat Toraja. tetapi melambangkan sesuatu hal atau kegiatan serta problem kehidupan masyarakat. Perletakan Katik ini adalah diatas kuduk dari Kabongo yang mengartikan pimpinan yang menjalankan pemerintahan pada masyarakat tertentu. . . yaitu bagian bangunan sebelah barat. yaitu bagian sebelah timur atau kanan bangunan sebagai tempat acara pemujaan kepada Deata. bangunan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal ataupun sebagai tempat bermukim keluarga. tumbuhtumbuhan yang dipakai sebagai bahan bangunan dan batu-batuan.

Masa Arsitektur Klassik adalah masa berkembangnya arsitektur klassik dari Eropa yang masuk ke Indonesia. atau didalam ruangan yang luas dengan plafond yang tinggi itu. seperti terlihat pada rumah ibadah “Klenteng” dan perumahan didalam “Kampung Cina” yang masih dapat dilihat di beberapa kota besar di Indonesia. dan rerumputan untuk bahan atap mulai kurang dipakai. yang kemudian menyebar keseluruh dunia seiring penyebaran agama Katolik dan Protestan. struktur dan konstruksi. ruangan atau komponen bangunan yang berskala mega atau melampaui skala manusia. berkembang dan mewarnai karakter berbagai bangunan penting. bahan bangunan. kolom yang besar. Ilmu pengetahuan dan teknologi arsitektur modern memberi warna lain bagi perkembangan kearsitekturan. Perbedaan itu terlihat dalam hal konsep. tata ruang. ruang dan komponen sangat penting. Perihal ragam hias ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan yang sering ditemukan dan banyak memberi warna. Cara penyelesaian arsitektur seperti ini dikenal sebagai cara untuk memperoleh wibawa dan menekankan perasaan manusia yang berada di dekatnya atau didalamnya sehingga merasa lebih kecil dan tidak berarti didekat bangunan atau kolom yang besar. Gaya arsitektur ini lebih dikenal melalui rancangan Istana Raja dan Gereja di Eropa. beton dan besi jauh lebih menjamin kekuatan dan keawetan bangunan. misalnya desain dan teknologi bahan bangunan. Sejak masa ini. penggunaan bahan bangunan. Karena semen. Arsitektur Klassik disebut pula ―Arsitektur Kolonial‖ karena gaya ini hadir pada zaman kolonial. Arsitektur Klasik mencakup gaya Renaissance. bambu. prinsip dasar. dipakai menghiasi dinding dan tiang sesuai tradisi masing masing etnis. Ghotic dan Barouq. Gaya arsitektur klassik terus tumbuh. Masa Arsitektur Modern : Konsep arsitektur modern menekankan faktor “fungsionalisme” dan “efesiensi” . Demikian pula halnya bahan kayu yang dipakai sebagai tiang dan dinding. Gaya gaya klasik ini terlihat pada Gereja yang lebih menekankan pada konsep sakral yaitu : Manusia itu kecil dihadapan Tuhan. masuk ke Indonesia. Konsep arsitektur modern pada dasarnya lebih menekankan fungsionalisme dan efesiensi yang mengutamakan . Disini peran proporsi dan skala dari bangunan. arsitektur tradisional mulai tersisihkan. batu merah. tidak hanya pada Gereja tetapi juga bangunan Pemerintah Kolonial dan perumahan mereka. Model arsitektur klasik sangat berbeda dengan arsitektur tradisional. Dimasa arsitektur klassik ini. Ornamen dipakai sebagai ungkapan arti simbol simbol suatu benda yang dianggap mempunyai arti khas dalam penghidupan dan kehidupan masyarakat tradisional etnis bersangkutan. Para arsitektur menerjemahkannya kedalam bahasa non verbal dengan menampilkan bangunan. ruangan yang sangat luas dan plafond tinggi dan berorientasi keatas.Bambu dipakai sebagai atap dan plafound karena banyak hutan bambu di Tana Toraja. bentuk bangunan. Arsitektur tradisional yang lebih mengutamakan penggunaan bahan bangunan alamiah mulai dilupakan. Begitupun ketika pedagang Cina. Misalnya. struktur dan konstruksi menjadi lain. Bahan bangunan lokasi seperti . bangunan besar dengan lantai atau permukaan tanah yang ditinggikan. mereka juga membawa gaya arsitektur Cina. kayu. bentuk tata ruang.

Ternyata arsitektur modern sebagai suatu konsep yang mengutamakan fungsionalisme dan efisiensi itu lebih mampu mewadahi aktifitas manusia moderen sampai sekarang. Masalah lain akan timbul bila dua macam atau lebih arsitektur tradisional yang berbeda disatukan di dalam satu gubahan arsitektur. filosofi dan konsepnya. Sulawesi Selatan secara geografis terletak pada 0012‘~80 Lintang Selatan dan 116048‘~122036‘ Bujur Timur. nampaknya ada kecenderungan untuk menjawab keinginan masyarakat tampil lebih eksis. Ini juga menjadi suatu pertanda bahwa arsitektur di Indonesia sedang mencari bentuk lain seiring dengan kecenderungan masyarakat dan para arsitek memanfaatkan warisan budaya masa lampau untuk menemukan identitas baru yang dapat dipakai sebagai simbol dalam era globaliasi ini. Arsitektur Post –Modern ini memunculkan kembali arsitektur tradisional. Bahkan kedua unsur ini dapat ditemukan pada seluruh gaya arsitektur tradisional di Indonesia. dengan daerah dataran. dirancang dan dibangun dengan mengawinkannya dengan unsur-unsur arsitektur tradisional tetapi terkadang bauran dengan unsur tradisional itu sendiri. ornamen. Gaya post-modern ini lebih menonjolkan simbolisme. yaitu antara 22. menjadi rancu akibat dari perbedaan prinsip dasar. Nampaknya gaya ini menoleh dan menggali dan memanfaatkan keunikan arsitekturan tradisional dan seni masa lampau untuk berimajinasi ke masa depan. Dalam perkembangan selanjutnya. warna-warni dan bentuk yang unik. .30C ~ 34.50C. Meskipun demikian arsitektur tradisional masih memiliki dan menampilkan persamaan yaitu : unsur vertikal dan horisontal. Toraja dengan Jawa. atau kombinasi lainnya. Masa Arsitektur Post-Modern adalah model arsitektur masa kini. Toraja dengan Bali.kenikmatan penghuni dan keleluasaan ruang gerak manusia. karakter dan ciri khas sangat penting untuk dihadirkan kembali. Pada arsitektur masa kini dimana modernitas dan tradisional muncul bersamaan. Unsur tradisional memang hadir tetapi lepas dari prinsip dasar dan norma norma khasnya.90C. Cara pernyataan diri ini menjadi lebih menarik karena tradisionalisme ditarik hadir dalam pola hidup modern. Temperatur udara sekitar 26. Gaya arsitektur tradisional yang beranekaragam di Indonesia menjadi sumber inspirasi utama dalam pengayaan gaya post-modern ini selanjutnya. seperti Toraja dengan Bugis. Daerah ini merupakan Jazirah Barat Daya Pulau Sulawesi. Kemudian muncullah masalah-masalah akibat benturan antara tradisional dengan modernitas. beridentitas etnis dan menyatakan status sosial melalui arsitektur tradisional sebagai simbol agar mempunyai “nilai Aktualisasi” . arsitektur modern ini mendominasi karya-karya arsitektur di Indonesia. klasik. mulai tidak dipersoalkan. Beberapa arsitektur modern masa kini. Pada masa ini. Gaya arsitektur Post-Modern yang sedang melanda dunia kearsitekturan juga merambah masuk ke Indonesia melalui kota-kota besar. Pemakaian bahan bangunan pun menjadi lebih bebas dan beragam. Identitas. funsionalisme dan efisiensi menjadi tidak mengikat lagi. Konsepsi Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Sebagai Reinkarnasi “Karakter” Pengembangan Kawasan Budaya Dan Pariwisata Lokal. pegunungan dan lautan.

Dalam hal arsitektur rumah tradisional Bugis-Makassar secara umum sejenis. Perbedaan itu terlihat juga pada jenis makanan. baik dimasa perang maupun dimasa damai. pakaian. dan besaran rumah tradisional Bugis-Makassar mempunyai korelasi positif dengan tingkat strata sosial pemiliknya. Bugis dan Mandar terkenal sebagai pusat kelahiran pelaut berjiwa patriotik. Malaka kepulauan Maluku di Kawasan Timur Indonesia. Suku Makassar. Dalam sistem sosial masyarakat Bugis dan Makassar ada strata sosial masyarakat yang menentukan arsitektur rumah tinggal mereka. prasejarah dan sejarah Sulawesi Selatan telah melahirkan kekayaan budaya yang menarik. tetapi. itu masih dapat ditemukan di beberapa daerah misalnya pada upacara religius. Makassar merupakan salah satu kota bandar niaga terbesar di Indonesia bagian timur. Makassar. Pelabuhan Paotere yang berada di utara Ujung Pandang merupakan kawasan pelabuhan kapal tradisional. pola ruang. Arsitektur rumah tradisional Toraja juga berupa rumah panggung. struktur dan konstruksinya sangat berbeda dibanding rumah arsitektur tradisional Bugis-Makassar. beberapa pulau di samudera Pasifik sampai kepantai Afrika. upacara adat. Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial yang paling terawat di Indonesia. Dengan perahu layar tradisionalnya mereka mengarungi lautan kepulauan Indonesia. seni ukir. ukiran yang cantik dan warna yang alami. . Benteng peninggalan kolonial Fort Rotterdam dan sejumlah bangunan peninggalan kolonial lainnya seperti rumah kediaman Gubernur menjadi bukti sejarah keberadaan Belanda di kota Makassar. pintu dan jendela rumah Bugis-Makassar relatif besar. bahkan sampai ke Madagaskar (Mattulada 1998:3). Mandar dan Toraja. Dipelabuhan ini terlihat kapal-kapal layar Phinisi khas Bugis-Makassar yang terkenal itu berlabuh. Kelompok etnis yang paling besar di Sulawesi Selalatan adalah Bugis dan Makassar. Pola ruang. ornamen. menikmati berbagai pengalaman pada keunikan budayanya. Seseorang dapat mengamati. Makassar dan daerah sekitarnya juga terkenal memiliki pelaut ulung yaitu orang orang yang ahli membuat kapal laut sekaligus mumpuni berlayar.Makassar dan Mandar yang menghuni kawasan pantai mempunyai pelaut-pelaut ulung. Ukuran ruang. tenun benang kapas dan sutra serta arsitektur tradisionalnya.Bahan bangunan untuk atapnya adalah bambu. Pada abad XVI Etnis Bugis. Benteng ini menjadi salah satu contoh terbaik dari arsitektur bangunan peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. yaitu rumah panggung dengan atap pelana yang sebagian besar bahan bangunannya dari kayu. Rumah tradisional Toraja atapnya melengkung. Kemungkinan kondisi ini diwujudkan untuk mengeliminir temperatur udara panas terutama yang lokasinya di daerah hilir dan pantai. Mereka berlayar untuk berniaga ke berbagai bandar niaga di Pulau Jawa.Letaknya berada di daerah katulistiwa hingga masyarakatnya berpeluang hampir sepanjang tahun bisa bercocok-tanam. Daerah Sulawesi selatan dihuni oleh tiga etnis utama yaitu Bugis. musik dan tari-tarian. Latar belakang geografis. seni tradisional. Bahkan sampai kebagian utara Australia. Sumatera. Masing-masing yang berbeda dalam bahasa dan sebagian budayanya.

instrument musik dan berbagai macam kostum pakaian adat. Makam Diponegoro dan sebuah monumen untuk mengenang jasa pahlawan yang gagah berani ini terdapat di jalan Diponegoro. Makassar. Makassar. Tidak jauh dari kompleks pemakaman Sultan Hasanuddin terdapat Mesjid Katangka yang juga memiliki kompleks makam di mana di dalamnya terdapat beberapa kuburan dengan arsitektur khas. Sultan Hasanuddin dan Pangeran Diponegoro yang di asingkan Belanda dari Jawa ke kota ini. panggung hiburan. Pahlawan nasional Pangeran Dipenogoro menjalani penahanan masa pengasingan selama 26 tahun di Fort Rotterdam. karena masyarakat keturunan Cina banyak bermukim di jalan itu dan sekitarnya. Istana ini berupa bangunan rumah kayu dengan gaya arsitektur Bugis-Makassar. Selain itu bangunan Vihara yang bergaya arsitektur Cina juga banyak terdapat di kota ini. Di pulau ini tersedia beberapa penginapan kecil yang juga menyediakan fasilitas makan. Belanda kemudian memodifikasi ulang benteng itu yang selanjutnya dikenal dengan nama Fort Rotterdam. restoran. Di luar kompleks makam Pahlawan nasional ini terdapat Batu Pelantikan yang disebut “palantikang‖ merupakan tempat dimana dulu Raja-raja Gowa dilantik sebagai pemangku kerajaan dan dianugerahi mahkota kerajaan. salah seorang raja Gowa yang sangat terkenal. termasuk tetangga yang berbatasan langsung dengan kota Makassar atau dikenal Kabupaten penyangga kota . khususnya di jalan Sulawesi. Dalam bangunan benteng ini terdapat Museum Negeri La Galigo yang memiliki koleksi antara lain peralatan makanan dan memasak dari Tana Toraja. Kegiatan yang banyak dilakukan wisatawan di pulau ini selain memancing adalah snorkling.Sebelum Fort Rotterdam dibangun. Makassar juga merupakan kota tempat peristrahatan terakhir dua pahlawan besar Indonesia. Beberapa kilometer ke arah selatan kota Sungguminasa terdapat Museum “Balla Lompoa”. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani pada tahun 1667. Pulau Kayangan terletak sekitar empat mil laut atau sekitar 15 menit dengan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Laut dekat pelabuhan Soekarno-Hatta. gedung serba guna dan anjungan untuk memancing beragam jenis ikan laut.ciri kota Makassar. Sisa-sisa arsitektur kerajaan Gowa masih dapat ditemui di kawasan pinggiran. Dimasa lalu pulau ini menjadi tempat peristirahatan dan wisata petinggi kolonial Belanda. Di kawasan ini terdapat Makam Sultan Hasanuddin. Pulau Kayangan adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas satu hektar. hidup antara tahun 1629 – 1670. Dimasa lalu bagunan ini adalah istana Sultan Gowa. Pada Museum tersimpan koleksi yang hampir sama dengan museum yang terdapat di Benteng Fort Rotterdam. Lokasi wisata ini dilengkapi fasilitas antara lain pondokan. Ada beberapa bangunan peritirahatan khas Eropah yang sayangnya kini tidak ditemukan lagi Maros merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan. di tenggara kota Makassar. Pulau kecil yang terletak di lepas pantai kota Makassar ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur. Untuk menuju ke pulau ini wisatawan dapat menumpangi perahu motor milik pengelola atau menyewa speed boat. di tempat ini terdapat benteng yang disebut Benteng Pannyua milik kerajaan Gowa yang dibangun pada sekitar tahun 1545. Kemudian Benteng ini dikuasai Belanda ketika sukses menyerang dan menduduki daerah ini. Monumen Mandala di jalan. Jendral Sudirman merupakan tugu berbentuk menara yang menjadi salah satu ikon arsitektur.

Terdapat lukisan tua yang dilukis pada dinding gua yang diperkirakan berusia 5000 tahun SM.Makassar. Letaknya sangat strategis yaitu antara kota Maros dan Kota Makassar. Pada kawasan ini terdapat batu besar yang berbentuk perahu yang menyimpan legenda menarik. Kawasan ini pernah menjadi tempat pertemuan antara para pemimpin Kalimantan dan pemimpin daerah Indonesia timur lainnya ketika mereka membentuk negara federasi Indonesia sebagai hasil perundingan dengan pemerintah belanda. sehingga selain akan memberi kenyamanan tersendiri juga terhindar dari kemacetan arus lalu lintas jalan raya. Sayangnya Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang megah itu kurang menyerap ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. Prasejarah berupa gambar babi rusa serta puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding – dinding gua. juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut. Di kawasan Malino . Obyek wisata Alam Gua Pattunuang di Kabupaten Maros selain kaya akan akan stalagtit dan stalagmit yang menakjubkan. Malino di Kabupaten Gowa adalah kawasan resort pegunungan yang terkenal sejak awal kemerdekaan Indonesia. Selain air terjun dan kupu-kupunya. Obyek-obyek wisata di Kabupaten Maros yang banyak dikunjungi wisatawan antara lain Bantimurung. Tempat yang disebut juga Taman Prasejarah Leang-Leang ini terletak pada deretan bukit kapur yang curam dan para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat disekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia yang ditandai dengan lukisan. terlebih dengan suasana matahari terbenamnya yang indah. Gua ini diperkirakan menjadi tempat kediaman manusia purba yang hidup di daerah ini pada masa 8000 hingga 30. Bantimurung terkenal karena menjadi habitat aneka jenis kupu-kupu yang cantik. Di kawasan ini terlihat aneka ornamen yang indah. Batu tersebut kemudian dikenal masyarakat sekitar dengan julukan “Biseang Labboro” yaitu perahu terdampar. Di kawasan Bantimurung ini pernah dibangun rumah-rumah peristirahatan dengan arsitektur khas Bugis-Makassar. Diperkaya lagi dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing. juga memiliki panorama alam sekitarnya sangat menawan dan indah. Berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai di tempat ini. burung dan serangga yang langka. terdapat pula sebuah gua dengan stalagtit dan stalagmitnya yang menakjubkan. Di lokasi ini terdapat Air Terjung Bantimurung yang berada di lokasi perbukitan kapur yang subur dengan aneka tumbuhan. Obyek wisata andalan ini cocok untuk kegiatan wisata alam di lembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu. Kawasan ini merupakan salah satu pantai yang sangat ideal untuk dinikmati. pernah ada saudagar dari Cina yang datang untuk melamar guna mempersunting gadis Samangki. Sejumlah obyek wisata pantai juga dapat dijumpai di Maros seperti Pantai Kuri dengan pasir putihnya.000 tahun yang lalu. Keberadaannya menjadikan kawasan yang pertama dapat dikunjungi setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. namun karena lamarannya ditolak akhirnya saudagar tersebut malu dan mengkaramkan perahunya yang kemudian menjelma menjadi batu. Untuk menuju Kota Makassar melalui pantai Kuri dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan menelusuri pesisir pantai. namun sayangnya tempat itu musnah terbakar. Menurut cerita rakyat bahwa pada zaman dahulu. di lokasi wisata ini terdapat Museum kupu-kupu. Dekat dari Bantimurung terdapat gua Leang Leang. Selain lukisan prasejarah.

Letaknya di atas bukit yang datar. Kecamatan Eremerasa. ternayata memiliki juga panorama alam yang indah dan asri dengan pepohonan yang rindang. Daerah ini kaya akan sejarah maritimnya. terdapat Permandian Alam Emmerasa. Pemandangannya indah dengan pegunungan yang berada di kanan – kiri air terjun yang tingginya mencapai 20 meter. Karena daerah ini pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan kolonial Belanda. . Kuburan Raja – Raja Binamu merupakan kuburan para Raja – Raja Binamu yang pernah memerintah di Butta Turatea Jeneponto. masjid ini dibangun pada tahun 1887 atas prakarsa Raja Bantaeng Karaeng Panawang pada abad 12. Kecamatan Bissappu terdapat Gua Batu Ejaya. Tidak terlalu sulit menemukan pantainya yang landai dengan udara yang nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas olahraga pantai. ditunjang berbagai fasilitas kolam renang. Di utara Bantaeng terdapat sebuah air terjun yang cukup mengesankan. Di kawasan ini juga terdapat kolam pancing dan berbagai restoran. Kuburan ini memiliki ciri khas ornamen yang indah. mandi atau berendam di laut atau berlayar dengan perahu. toko souvenir dan arena hiburan anak – anak. Bantaeng merupakan daerah taklukan Kerajaan Majapahit. penginapan dengan bagunan berarsitektur Bugis-Makassar. Masyarakat setempat menggunakan buah pohon kapuk itu sebagai bahan baku untuk membuat kasur. Selatan dan Barat terbuat dari tembok yang mempunyai ventilasi udara dari roster porselin berwarna hijau. sekitar 300 meter dari jalan raya. Di desa Kampala. Salah satu obyek pantainya yang terkenal adalah Birtaria Kassi di Kecamatan Tamalatea dengan pantai yang landai dan sudah tertata baik. Pada masa lalu. Kecamatan Kelara. ilmuwan dari Belanda. wisatawan dapat menyaksikan rumah panggung berjejer di antara areal persawahan. Bangunan induknya terdiri dari penampil dan tubuh masjid. Di kota Bantaeng terdapat juga bangunan-bangunan khas gaya arsitektur kolonial. Dinding masjid bagian timur terdiri dari empat pilar bergaya arsitektur Eropa. Puisi – puisi lama pada abad ke–14 pernah memuji kualitas kapal buatan daerah ini. Air Terjun Boro. berlokasi di Desa Tompobulu. Masjid Tua Tompong juga menjadi salah satu obyek yang dikunjungi wisatawan. ujung – ujung panah. Derajat yang di makamkan disana dapat dilihat dari patung yang berada di atas kuburan. Di kawasan ini rumah-rumah dibangun berarsitektur khas Bugis –Makassar. Di sepanjang jalan. Ia melakukan penggalian arkeologi dan menemukan alat – alat batu jenis calsedon berupa serpihan yang digunakan sebagai pencerut. Di sekitar gua itu terdapat banyak pohon kapuk. Di sekitar permandian ini udaranya sejuk dengan pemandangan alam berupa perbukitan yang ditumbuhi pohon dan tanaman berwarna hijau. Di Kelurahan Bontojaya. Dinding masjid di bagian Utara. Gua Batu Ejaya pernah diteliti tahun 1937 oleh Van Stein Callonfols. Bantaeng adalah pusat pembuatan kapal orang Bugis dengan reputasi yang terkenal selama ratusan tahun. Kabupaten Jeneponto meski dikenal sebagai wilayah yang kering.terdapat tempat-tempat peristirahatan bergaya arsitektur kolonial yang masih terjaga keberadaannya. wisatawan dapat melakukan kegiatan olahraga pantai. Konon. Di sini. Masjid kuno ini memiliki atap bentuk tumpang tiga.

Pantai bira memiliki keragaman biota laut yang sangat indah. Panorama alam yang indah. Kelurahan Pallantikang. Rumah-rumah mereka berarsitektur Bugis Makassar. Bahan baku bangunan makam itu terbuat dari batu karang. Untuk bermalam telah dibangun beberapa cottage ala arsitektur Bugis-Makassar yang dipadukan dengan pendekatan konsep arsitektur modern. Pantai lemo-lemo.617 meter persegi. Di kompleks ini terlihat kuburan dan nisan dengan ornamen yang khas. Pantai Mandala Ria di Desa Ara Kecamatan Bontobahari terdapat rumah-rumah khas Bugis Makassar. Pantai di tempat ini memiliki pasir yang putih. tempat ini bagus untuk bersantai namun pada hari libur selalu ramai dengan pengunjung. Di kabupaten ini terdapat desa-desa orang Bugis -Makassar yang bermukim di sekitar pantai Bulukumba. tepatnya di Lingkungan Lembang Cina. Di kawasan pantai ini. terletak di Kecamatan Bonto Bahari. Pantai dengan hamparan pasir putih ini menjadi tempat yang asyik untuk menikmati sunrise dan sunset yang amat mempesona. Oleh sebab itu dalam kompleks bangunan ini terdapat sekitar 159 buah bangunan makam yang menyerap gaya arsitektur Islam. juga tersedia sumber air tawar di laut disaat surut. wisatan dapat berenang. Kecamatan Bantaeng. Bangunannya terdiri dari rumah induk dan pendopo. tempat pembuatan perahu tradisional dan di sekitar pesisir dijadikan kawasan cagar alam dengan aneka satwa liar yang dilindungi. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan pantai barat Pulau Selayar atau di Benteng yang merupakan kota utama di pulau ini. batu bata dan batu kapur yang memakai bahan perekat. Pulau Selayar terletak di arah tenggara dari daratan semenanjung Sulawesi Selatan ini memiliki pantai berpasir dengan panorama yang indah. selebihnya batu cadas. La Tenri Ruwa adalah Raja Bone ke 11 yang pertama menerima ajakan dari Raja Gowa XIV Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin untuk memeluk agama Islam. Pada hari biasa. Pulau yang berbentuk memanjang tapi sempit ini dihuni oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Bulukumba merupakan salah satu tempat keberangkatan kapal yang menuju ke Pulau Selayar. Luas tanahnya sekitar 1. Di arah selatan ibukota kabupaten Bulukumba terdapat desa tempat pembuatan kapal juga sejumlah obyek wisata yang dikenal dengan nama Pantai Bira. Mereka hidup dalam kesederhanaan dengan pakaian serba hitam dan bangunan rumah mereka dominan berwarna hitam dan mereka hidup dengan melestarikan hutan sebagai warisan leluhur.Makam Raja – Raja La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam yang terletak di tengah kota Bantaeng. Di kota Bantaeng terdapat Balla Lompoa-rumah adat khas Bugis Makassar yang dulu menjadi tempat bermukimnya raja – raja Bantaeng. Kerajinan masyarakat berupa sulaman dan miniatur perahu phinisi dapat dijadikan souvenir menarik dari lokasi ini. Selain pesona pantai berpasir putih yang indah. Berbagai jenis ikan hias dan terumbu karang beraneka warna. Di sekitarnya terdapat rumah – rumah penduduk berarsitektur tradisional. snorkeling dan menyelam. Beberapa kilometer di . Kajang adalah kampung adat yang menjadi pemukiman dengan rumah-rumah adat khas Kajang. Masyarakatnya masih sangat terikat dengan adat istiadat yang bersumber dari ajaran pasang/wasiat yang disebut ”Pasangnga Ri Kajang” yang dikomunikasikan lewat ”Ammatoa” sebagai pemangku adat.

selatan Benteng terdapat Benteng Bontobangun. Kecamatan Tanete Raittang. Benteng Balangnipa berjarak 2 km dari pusat kota Sinjai. Pulau Katingdoang. Di museum ini tersimpan peninggalan Kerajaan Bone dan benda-benda peninggalan Arung Palakka seperti keris. Manipi. Kecamatan Sinjai Utara. Rumah tersebut dibangun akhir abad ke 19 atau tahun 1890. Selain itu. Pada awal dibangunnya tahun 1560. tebal dinding siwali reppa -setengah depa. Pulau Liang Liang. Di Selayar terdapat juga rumah adat yang berarsitektur khas. Rumah adat bugis yang terletak di pusat Kota Watampone ini adalah bekas istana Panglima Perang Kerajaan Bone Andi Baso Pagiling Putra Mahkota Raja Bone XXXX Lapawawoi Karaeng Sigeri. pakaian kerajaan. terletak di Kelurahan Balangnipa. keberadaan rumah panggung ini menunjukkan bahwa sejak masa lalu masyarakat Bone telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil yang cukup tinggi. Manimpahoi. Di dekat Pulau Selayar terdapat Pulau Pasi di mana wisatawan dapat melakukan kegiatan air snorkeling. Pao. Pulau – pulau Sembilan terdiri dari 9 buah pulau yakni Pulau Burungloe. berbentuk segi empat dan memiliki empat buah pertahanan yang disebut bastion. Hal ini merupakan potensi wisata budaya yang tiada nilainya. Untuk wisata bahari daerah potensi pengembangan untuk wisata bahari adalah Pulau – pulau Sembilan di Kecamatan Sinjai Utara. benteng ini merupakan dasar yang bahannya berupa batu gunung yang diikat oleh lumpur Sungai Tangka. Bone banyak memiliki gua-gua alam seperti Gua Mampu di Desa Labbeng. Antara lain rumah adat Bola Soba di Kelurahan Manurungnge. patung. Museum Lapawawoi di pusat kota Watampone. Untuk kegiatan wisata alam. Pulau Kambuno. Pulau Kanalo 2 dan Pulau Larearea yang merupakan daerah potensial untuk dijadikan obyek wisata bahari. sebagai daerah bekas wilayah gabungan antara Kerajaan Tellulimpoe (Tondong. bajubaju adat dan foto-foto keturunan Raja-raja Bone juga sarat dengan sejarah. Pulau Kodingare. direnovasi dengan model arsitektur Eropa dan selesai tahun 1868. Selanjutnya pada zaman penjajahan Belanda tahun 1864. yang memiliki stalagtit dan stalagmit menyerupai bentuk makhluk sehingga muncul legenda Alleborenge Ri Mampu atau kutukan Kerajaan Mampu. Adalah salah satu daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan. tentunya menyimpan benda – benda peninggalan sebagai tanda kejayaan kedua kerajaan tersebut di masa lalu. Pantai Lasia di Kecamatan Sinjai Timur dan Desa Pattongko Kecamatan Tellulimpoe. Suka dan Bala Suka). Pulau Kanalo 1. Terasa. Pulau atol Taka Bone Rate adalah yang terbesar ketiga di dunia dengan luas sekitar 2220 km2. Kabupaten Sinjai merupakan daerah yang terletak di pantai timur bagian selatan jazirah Sulawesi Selatan dan berada di kaki Gunung Bawakaraeng. Pernak-pernik itu sangat indah dalam bentuk dan warnanya. menyimpan potensi wisata bahari maupun wisata alam berpemandangan yang tidak kalah menariknya dengan daerah lainnya. Taka Bone Rate merupakan pulau karang atol yang terletak di tenggara Pulau Selayar atau di utara Pulau Bone Rate. Pulau Batanglampe. Wisata budaya dan sejarahnya sangat kaya. Legenda tentang kerajaan yang . Bulo Bulo dan Lamatti) dengan Kerajaan Pitulimpoe (Turungeng. Bone adalah ibukota kabupaten Bone.

Kepulauan ini memiliki gugusan terumbu karang yang padat dan indah yang di sela – selanya berenang ikan – ikan hias aneka warna dari berbagai spesies. Makam-makam ditempat ini dibuat dengan bentuk yang khas. Kecamatan Cenrana. jet sky dan fasilitas olahraga lainnya. Uniknya kalong ini hanya mau berdiam dan bergelantungan di pepohonan sepanjang kota Watansoppeng. terdapat peninggalan purbakala berupa gambar telapak tangan. A. ada sekian mitos yang berkembang bahwa keberadaan kalong ini yang jumlahnya ratusan hingga ribuan ini. perahu yang diperkirakan berusia 5000 tahun. bangunan ini terletak di jantung kota Watansoppeng. Pemandian alam Mattampa merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Pangkep yang terletak di Kelurahan Samalewa. kompleks makam Labalata dan Kalokkoe serta makam Lapatau Matanna Tikka di Desa Nagauleng. Obyek pantai lainnya adalah Pulau Langkadea. Wisatawan dapat menyewa perahu jika berminat melihat ‖desa terapung‖ di dekat Bajoe. Di kelurahan Balloci Baru terdapat Taman Laut Pulau Kapoposan di Desa Mattiro Ujung Kecamatan Liukang Tupabiring.dikutuk menjadi batu ini disampaikan secara turun temurun di tengah masyarakat setempat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam. Rumah-rumah masyarakat di kawasan itu dibangun dengan khas arsitektur Bugis-Makassar. Salah satu diantaranya yang cukup terkenal diberi julukan ‖Rumah Tinggi” Villa Yuliana merupakan salah satu bangunan arsitektur peninggalan Belanda di Kabupaten Soppeng. Krosen tahun 1905 selaku Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi. Di pemandian ini juga terdapat Gua Mattampa dan taman rekreasinya yang dilengkapi fasilitas olahraga dan pertanian terpadu dan pusat percontohan pengembangan kolam air tawar dan tempat memancing. Keberadaan kalong di jantung kota Watansoppeng semakin menambah pesona kota ini karena ibukota Watansoppeng dijuluki sebagai kota kalong. Soppeng merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan. Pangkajene. Sejumlah fasilitas tersedia mulai dari akomodasi. Di beberapa gua. Konstruksi dan . dibangun oleh C. Sejumlah makam menjadi obbyek wisata ziarah seperti komplek pemakaman Raja Kalokkoe (Laleng Bata) sekitar 3 km dari kota Watampone dan makam Raja-raja Watang Lamuru di Desa Labalata. bertengger di pohon – pohon taman kota dengan suara berisik yang khas. laki – laki dan perempuan yang bukan muhrimnya tidak diperkenankan serumah dan tidak diperbolehkan ada judi. rusa. Di bagian timur pantai yang landai dan berpasir putih sudah dilengkapi dengan fasilitas akomodasi dengan bangunan rumah khas berarsitektur Bugis Makassar. Kecamatan Bungoro sekitar 3 km dari kota Pangkajene yang berada pada poros Makassar – Pangkep. Ibukotanya Watansoppeng atau disebut juga kota kalong atau kelelawar. Di Soppeng masih banyak ditemukan bagunan bergaya arsitektur kolonial. babi. sekitar 25 menit dengan speed boat dari Pelabuhan Bining Kassi. Bajoe yang terletak 7 km di sebelah timur Bone merupakan kota pelabuhan dan penyeberangan menuju ke Kolaka di Sulawesi Tenggara. Pulau ini disebut juga Citra Mustika Langka atau Pulau Wisata Bahari Muslim karena pengunjung menghadapi sejumlah ketentuan misalnya harus berbusana muslim.

Di obyek ini pengunjung dapat berenang dan menikmati keindahan panorama alam. perkampungannya masih banyak yang khas berarsitektur Bugis-Makassar dan berbagai aktivitas masyarakat sekitarnya seperti pengolahan tembakau secara tradisionil. tempat tidur. Namun. Rumah adat ini juga berfungsi sebagai museum dengan koleksi berbagai jenis barang antik yang bernilai tinggi dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri seperti : kursi. Sengkang merupakan kota yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Makam Jera Lompoe adalah makam Datu/Raja-Raja Soppeng. Villa ini merupakan bangunan kembar. Pemandian ini berada dalam kawasan hutan lindung yang berbukit dengan panorama alam yang indah. nyaman di Desa Bulue. Pemandian yang terletak di Kelurahan Ompo. SalassaE berfungsi sebagai Istana Datu Soppeng. Luwu dan Sidenreng dari abad XVII. Kecamatan Marioriawa. sejuk. Melihat bentuk. meja. Kecamatan Lalabata ini dikenal dengan airnya yang jernih. Salah satu daya tarik kota Sengkang adalah produk kain sutera. pembangunan villa ini merupakan wujud kecintaan terhadap Ratu Yuliana. Kompleks Istana Datu Soppeng terletak di jantung kota Watansoppeng. terdapat berbagai jenis rumah adat yang bergaya Arsitektur Bugis. Pada obyek wisata Ompo ini terdapat areal yang luas untuk perkemahan dan Motor Cross dan juga terdapat sebuah danau buatan yang cukup luas sebagai areal bermain perahu dan memancing ikan air tawar. Minangkabau dan Batak. Kecamatan Marioriawa. Kain sutera banyak dijual di pasar Sengkang seperti selendang sutera. Makam ini terletak di Kelurahan Bila Kecamatan Lalabata sekitar 1 km sebelah utara kota Watansoppeng. Namun. Toraja.arsitektur bangunan ini merupakan perpaduan gaya Eropa dan gaya Bugis. Di dalam kompleks Rumah Adat Sao Mario ini. Sengkang memang dikenal sebagai pusat industri sutera. Hasil industri tenun milik rakyat. Pemandian Alam Citta terletak di Jantung Desa Citta. berhadapan dengan Villa Yuliana yang dibangun sekitar tahun 1261 pada masa Pemerintahan Raja Soppeng I Latemmalala yang bergelar Petta Bekkae. Dalam kompleks tersebut terdapat bangunan. Pemandian Alam Ompo merupakan salah satu tujuan wisata andalan pula. Itu terlihat pada ornamen-ornamennya. sayangnya pusat penenunan sutera milik rakyat umumnya terletak di . Di tempat ini terdapat fasilitas peristirahatan yang dibangun dengan gaya campuran tradisional dan modern. antara lain : Bola Ridie -Rumah Kuning yang berfungsi untuk menyimpan berbagai jenis atribut kerajaan. type orintasi dan data historis makam ini dapat dikatakan bahwa Islam masuk sekitar abad XVII. satu di antaranya ada di Nederland. Kecamatan Liliriaja. Menhir Latammapole sebagai tempat menjalani hukuman bgi orang yang melanggar adat dengan cara mengelilingin 7ya kali. senjata tajam dan berbagai macam batu permata. Kota Sengkang terletak di pinggir Danau Tempe yang memiliki panorama indah. Mandar. dilihat dari bentuk nisannya terdapat pengaruh kebudayaan Hindu. Pemandian Air Panas Lejja merupakan salah satu objek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Rumah Adat Sao Mario terletak di Kelurahan Manorang Salo. Makassar.

Dari kolam alami ini. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat. Kawasan air terjun dengan ketinggian 60 meter ini di bawahnya terdapat kolam – kolam alami dan bebatuan untuk beristirahat. Sementara pada bagian Timur terdapat pantai berbatu keras yang tahan hantaman ombak. Pinrang dikenal sebagai salah satu ‖Lumbung Pangan‖ di Sulawesi Selatan sekaligus penghasil udang. Tak heran bila hari libur banyak dikunjungi wisatawan lokal setempat. Ada dua sumber air yang mendukung tempat ini yaitu sumber air panas dan sumber air dingin. kakao. . Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke Sungai Walanae.desa-desa di sekitar Sengkang yang tidak memiliki akses angkutan umum. Terdapat sebuah villa berarsitektur modern di pulau ini yang digunakan wisatawan untuk beristirahat. Panorama alam pegunungannya membuat tempat ini terasa sejuk dan nyaman sehingga menjadi tempat memadu kasih dan diyakini mereka yang datang berpasangan bisa berjodoh. Terdapat sebuah makam tua di pulau ini dan dikeramatkan oleh para peziarah untuk menyatakan dan melepas nazar bila keinginannya dikabulkan. Untuk dapat menuju ke desa-desa ini. Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang menjadi habitat satwa burung. ikan bandeng. Pinrang juga memiliki kekayaan laut yang membentang sekitar 93 km dari kota Parepare sampai ke Polewali Mamasa. Di lokasi ini telah dibangun kolam renang yang sumber airnya dari kedua mata air tersebut. Anda harus menyewa angkutan umum. air mengalir melalui batu – batu gunung dan menciptakan air terjun kecil sehingga seolah bersusun – susun. Sebagai daerah pertanian yang memiliki sumber daya alam yang cukup. Pemandian Air Panas Lemosusu ini memiliki panorama alam yang meski failitasnya masih sederhana untuk mandi maupun berendam. Pemandian Air Panas Sulili ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas lainnya termasuk pondok wisata sehingga banyak dikunjungi wisatawan domestik. kemiri dan kelapa. mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu Batu yang berada di tengah danau. Pemandian air panas terdapat di Kelurahan Maminasse pada jalan poros Pinrang-Sidrap. kopi. Dua buah air terjun terdapat pula di Kabupaten Pinrang yaitu Air Terjun Karawa di Kelurahan Betteng. Pulau Kamarrang di Kelurahan Ujung Labuang dapat ditempuh dari Ujung Lero sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu motor. Air terjun lainnya masih di kelurahan yang sama sekitar 20 km dari kota Pinrang disebut Air Terjun Kalijodoh. Gugusan pulau yang menyembul dari laut ini mempunyai luas 7 hektar didominasi oleh vegetasi hutan pantai termasuk hutan bakau yang mengitari pulau – pulau bagian Barat dan Utara. sekitar 12 km dari Pinrang. Pemandian air panas lainnya terdapat di Kelurahan yang sama menuju arah PLTU Bakaru. Berada di kawasan seluas 2 hektar dan mempunyai empat sumber air. Pada bagian tengah pulau terdapat pohon – pohon tua yang digelantungi oleh ratusan kelelawar.

. Istana ini didirikan pada tahun 1922 – 1924 oleh seorang arsitek Belanda bernama Obsenter Noble pada masa penjajahan Belanda di Luwu dengan bangunan bergaya Eropa. Di kota ini masih banyak terdapat rumah-rumah yang dibangun dengan arsitektur khas Toraja. Dari kota ini bisa dilakukan perjalanan kekota pertambangan Soroako. Kota ini menjadi titik awal bagi wisatawan yang ingin megeksplorasi segala keunikan dan keindahan Toraja. Rantepao adalah kota hujan karena hujan hampir selalu turun sepanjang tahun dengan udara yang dingin pada malam hari. Di kawasan yang indah permai ini masih bisa ditemui desa-desa tradisional dengan sawah yang membentang luas.400 hektar dan merupakan danau terdalam di Sulawesi.100 hektar yang merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Istana yang berfungsi sebagai museum Batara Guru ini menyimpan benda – benda pribadi dan peralatan yang pernah digunakan Rja – Raja Luwu. Masyarakat Toraja secara etnografis dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu Toraja Barat. Di sini juga terdapat benda – benda antik seperti keramik. Di Kota Palopo telah dibangun rumah adat yang cukup besar berarsitektur Bugis. Terletak di pusat kota Palopo dan bentuknya unik seperti bentuk piramida. Rantepao merupakan kota terbesar di Tana Toraja dan juga pusat perdagangan di wilayah ini. Makam Raja – Raja Luwu ‖Lokkoe‖ yang artinya gua tempat peristirahatan. Di sebelah selatan Danau Matano terdapat Danau Towuti seluas 56. Timur dan Selatan. misalnya. Di tempat ini dimakamkan para Raja Luwu yang pernah berkuasa. Untuk mencapai gua. Gua Liang Andulan di Desa Siteba. ibukota administrasi Tana Toraja. Danau ini menjadi habitat aneka flora dan satwa burung. Kota terletak di dekat Danau Matano seluas 16. pengunjung harus melalui sekitar 480 anak tangga dan di dalam gua terdapat makam leluhur To Tana Lalong terdiri dari Liang Kabongian dan Liang Sugi Sakalikuku. terletak di pusat kota Palopo. Secara geografis Tana Toraja berada di pegunungan pada pangkal semenanjung Sulawesi Selatan. Rumah adat ini sering dimanfaatkan untuk berbagai upacara baik upacara adat ataupun upacara Pemerintah Daerah.Kota Palopo adalah ibukota kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan. Di Kabupaten Luwu terdapat Istana Kerajaan Luwu atau disebut juga Museum Batara Guru. bangunan rumah tradisional Tongkonan dengan arsitektur yang unik khas kebudayaan Toraja yang sangat menarik. Kecamatan Lamasi memiliki ragam stalaktit dan stalagmit dengan warna – warna yang indah. peralatan dan perlengkapan upacara adat dan benda pusaka. Kota ini terletak di daerah pegungungan yang memiliki banyak danau. namun yang banyak dikenal orang luar khususnya wisatawan asing adalah Toraja Selatan yang dikenal juga dengan nama Toraja Sa‘adan atau Saqdan. Danau-danau di wilayah ini saling berhubungan melalui banyak sekali sungai-sungai kecil. Kota kecil yang cantik ini dikelilingi perbukitan yang puncaknya sering ditutupi kabut dan di dekat kota terdapat sebuah danau buatan. Pada umumnya mereka bermukim di sekitar Rantepao dan Makale. Tana Toraja merupakan daerah tujuan wisata internasional yang paling menarik dan paling terkenal di Sulawesi. Wisatawan yang mengunjungi Toraja umumnya berkumpul di Rantepao.

jika saja hal tersebut terus dilakukan dalam kesadaran tinggi. sangat penting disadari bahwa transformasi model arsitektur tradisional ke arsitektur moderen sebenarnya dapat terproses secara baik dalam penataan ruang dan lingkungan dari waktu ke waktu. ternyata sering dianggap tidak lagi mampu sepenuhnya mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat. karena penerapan model arsitektur tradisional yang salah. perlu ditransformasikan untuk menjadi bekal pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu arsitektur. Kalau pun ada upaya-upaya menyerap model arsitektur rumah tradisional. tradisional diidentikkan dengan masa lalu yang kuno dibanding dengan modern. Hasil penelusuran. Penerapan wujud identitas dan karakter budaya lokal pada arsitektur rumah tradisional diberbagai kawasan wisata. bukan karena pertimbangan aktualisasi kekayaan arsitektur tradisional. tidak mau mengadopsi potensi arsitektur rumah tradisional. maka proses adopsi itu secara umum masih belum cukup memuaskan karena hadir hanya sebagai tempelan artistik pemanis. Pemanfaatan model arsitektur tradisional pada bangunan masa kini.Salah satu upacara adat yang paling mengesankan di Toraja adalah upacara penguburan mayat yang sudah terkenal ke seluruh dunia. Ini perlu segera direvitalisasi. Alasan inilah yang mendasari pemikiran. Padahal. pengkajian dan pelestarian kearifan lokal dalam yang masih dimiliki. ultra modern atau pasca modern yang sepenuhnya mencerminkan kekinian terbaru. Itu salah satunya yang menyebabkan rumah berarsitektur tradisional yang mengandung berbagai kearifan itu dinilai kuno. serta bagi kelestarian alam dan lingkungan. Semakin cepat dilakukan transformasi akan semakin besar dan efektif manfaatnya bagi masyarakat. seharusnya terus menerus dilakukan secara konsepsional. Pada banyak kasus. Ada pula paradigma yang menilai bahwa dalam konteks waktu. Seringkali dianggap terjadi ketidakserasian antara keberadaan model arsitektur tradisional yang boleh dikatakan cenderung stagnan. Orang Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini. pentingnya berbagi kesadaran untuk sama-sama berusaha menggali dan memahami kembali kearifan dan keunggulan yang terkandung dalam ranah arsitektur rumah tradisional. ketinggalan zaman hingga pelan-pelan mulai ditinggalkan pemangku kepentingan. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Dalam Konteks Ketahanan Budaya Lokal. Kearifan dan keunggulan yang mulai tak diabaikan. sebatas ornamen ringan semata. ditinggalkan atau bahkan cenderung dilupakan itu. Pemahaman seperti itulah yang mendasari pertimbangan hingga penerapan model baru pada arsitektur rumah atau bangunan masa kini dengan corak kekinian pula. Konsep arsitektur tradisional yang diterapkan pada kawasan wisata . arwah orang yang mati akan memberikan kemalangan bagi keluarga yang ditinggalkan. menjadi ajang ditampilkannya ornamen-ornamen khas Toraja yang sangat indah. dengan dinamika tuntutan kehidupan moderen yang selalu cepat berubah dengan variasi-variasinya. tidak mengabaikan kaidah-kaidah sebagaimana mestinya mengakibatkan bangunan atau rumah itu bermasalah. untuk generasi sekarang dan generasi penerus. Agar dapat terlihat secara jelas bagaimana esensi kearifan budaya lokal yang diterapkan itu ternyata masih bisa sangat fungsional. Mencari wujud arsitektur tradisional untuk rumah yang baru dengan penerapan secara bijak dan mematuhi kaidah-kaidah dengan tepat. Upacara penguburan ini.

maka itu merupakan ‗arsitektur tradisional‘. dengan menanam pohon lontara atau pohon pandan di tamannya sebagai salah satu cara mempertahankan aura masa lalu. Untuk mewujudkan ketahanan budaya dan konteks pelestarian ―Esensi” dan pengembangan ―Substansi” arsitektur tradisional Sulawesi Selatan maka. bagaimana penataan suatu kawasan wisata budaya dan sekitarnya yang menyatu dalam konsep arsitektur rumah tradisional setempat.budaya lokal. tentunya mereka datang karena ingin menikmati keunikan budaya Toraja. salah satunya adalah melihat bentuk serta mengapresiasi arsitektur Tongkonan yang unik itu. Di kawasan itu. maka itu merupakan ―Arsitektur etnis Bugis Makassar‖. Misalnya dengan penataan secara menyeluruh atas bangunan dan lingkungan diseputar Bola Soba dan juga Balla Lompoa – rumah khas Bugis Makassar. Hal tersebut dapat ikut ditransformasikan melalui kesadaran akan keunggulan budaya yang dimiliki. bisa berperan menjadi transformator atas nilai yang ingin diwariskan untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal sekaligus nasional. misalnya. demikian pula bila mengingat ―Balla Lompoa” tercipta berdasarkan kaidah dari bakuan teknik arsitektur yang telah diwariskan secara turun-temurun. bergantung dari sudut pandang yang menilainya: Jika Rumah Tradisional Bugis Makassar seperti : Balla Lompoa. seiring dengan perubahan waktu dan kemajuan teknologi yang bergerak ke masa depan. perlu dengan sengaja ditata suatu lanskap yang berorientasi pada arsitektur etnis Bugis-Makassar nan harmonis. dalam kenyataannya bahwa dibangun oleh masyarakat tradisional Bugis-Makassar berdasarkan kaidah budaya Bugis-Makassar. Bahwa mempertahankan jatidiri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi. Begitu pula dengan Tongkonan ma’dandan atau batu a’riri yang merupakan ―arsitektur etnis” Toraja. Perlu pula selalu diperhitungkan. Bola Soba. Suatu obyek arsitektur memang dapat menyandang lebih dari satu atribut kategorisasi. sekaligus merupakan ―arsitektur tradisional”.     Perlu upaya memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan sebagai warisan budaya. Keberadaan model Tongkonan bisa dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan sekaligus dipadukan dengan konsep arsitektur modern. Jika ditilik dari strata masyarakat bangsawan yang membangun dan menggunakannya maka Balla Lompoa masuk dalam kategori ―arsitektur klasik‖. namun perubahan lingkungan strategis etnis yang mengadopsi kearifan-kearifan lokal perlu pula terus ikut diperhitungkan dan dipertahankan guna menjadi roh bagi pengembangan sekaligus dan meningkatkan ketahanan arsitektur berciri tradisional. apalagi mengingat Tana Toraja sebagai dareah tujuan wisata Sulawesi Selatan yang wisatawannya datang dari manca negara. . Perlu upaya memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian. Hidup dan kehidupan memang berhak terus berkembang seiring zamannya.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali nilai dari kearifan arsitektur tradisional lokal dampaknya akan semakin baik, termasuk upaya-upaya transformasi, pewarisan nilai dan teknologi arsitektur tradisional dari para sesepuh, cerdik cendekia bidang budaya, sosiologi dan arsitek rumah tradisional akan sangat baik sebelum mereka terlanjur berpulang. Diharapkan dengan terwujudnya kelestarian arsitektur tradisional lokal Sulawesi Selatan dapat merajut kembali kejayaan masa lalu yang bermanfaat menjadi kebanggan masa kini. Warisan itu diwujudkan dalam explicit knowledge, yang sangat kita perlukan dalam memantapkan konsepsi ketahanan budaya lokal etnis oleh generasi masa kini dan generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa mendatang. BAHAN BACAAN
          

           

Abbas, Ibrahim (1999), Pendekatan Budaya Mandar. Hamid, Abu (1986). Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Makassar : Antropologi Unhas. Budi Santoso (1997), Pembangunan Nasional Indonesia dengan Berbagai Persoalan Budaya dalam Masyarakat Majemuk. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (2005), Informasi dan Potensi Investasi Pariwisata Sulawesi Selatan Djauhari Sumintardja (1998), Kompendium Sejarah Arsitektur Djauhari Sumintardja (1988), The House in Tana Toraja (Traditional Housing in Indonesia). Faisal (2007), Arsitetur Tradisional Mandar Provinsi Sulawesi Barat Josef Prijotomo (1988), Pasang surut arsitektur di Indonesia Koentjaraningrat (1993), Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan Kostof, S. (1991), A History of Architecture. Rituals and Settings. Mangunwijaya,YB, (1992) Wastu Citra, Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Mattulada (1982), Geografi Budaya Daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Depdikbud Nasrul Baddu (1990), Rumah tradisional Bugis Makassar Ronald Arya (2005), Nilai-nilai Arsitektur Tradisional Jawa Rudofsky, B. 1964. Architecture Without Architects. Sampebulu, DR, Ir, M.Eng, (1990), Tradisionalisme dalam arsitektur masa kini Saliya Yuswadi, Ir, M.Arch, (1992), Ragam Hias dalam arsitektur Tradisional Toraja Sachary, A. (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Desain, Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya. Tangdilintin, LT, (1979), Tongkonan (Rumah adat Toraja) dengan struktur seng dan konstruksinya. Tjahjono, G. Editor. (2001). Indonesian Heritage. Vol. 6. Architecture. Tuan, Y.F. (1974).Topophilia. A Study of Environmental Perception, Attitudes, and Values. Tang, Mahmud (1998), Reaktualisasi Nilai-nilai budaya Bugis Makassar dalam Kehidupan Sosial Pada Era Revormasi. Rinwar Karim, Muktahim, Adnin Sakti, (1992), Arsitektur tradisional Bugis Makassar.

Yudono Ananto, Prof, DR, Ir, MSc, (2008) Kearifan arsitektur tradisional rumah panggung dalam hunian modern.

Wikantari Ria, DR, Ir, M.Arch, (2008), Kearifan arsitektur lokal Kawasan Timur Indonesia : Tinjauan Ragam Lintas Etnik Comments: Be the first to comment

ESTE DE LACOSTE
Posted October 9, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAN IDENTITAS DOSEN Nama NIK/NIDN : : DR.Ir.Drs. Syahriar Tato, SH, MS 110018518/NIDN. 09.2102.5101

Tempat/tanggal lahir Agama/Jenis kelamin Pangkat/Golongan/Terhitung mulai tanggal Alamat rumah dan No.Tel/Faks/ e-mail Tlp : 0811417696 / 081524058227 email : ariegagahdeh@gmail.com

: :

Pinrang 21-2-1951 Islam/Laki-laki

:

( IV/C (01-04-06), Kep. No.25/KTH. 2006)

:

Jln.Bau Mangga III no. 3, Makassar

1. Pendidikan yang pernah diikuti :

JENJANG

BIDANG Administrasi Negara

PERGURUAN TINGGI STIA – LAN RI. Makassar Universitas Muslim Indonesia Universitas Satria Makassar UNHAS UNHAS Akademi Teknologi Negeri Makassar

TAHUN MASUK /LULUS 1980/1984 1984/1990 2006/2009 1990/1992 1994/2004 1970/1975

S1

Teknik Sipil Hukum Pidana PLH Perencanaan dan Penyehatan Lingkungan Program Ilmu-Ilmu Teknik Arsitektur

S2 S3 Profesi Spesialis Lain-lain D3

1. a. Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman Pada Kawasan Pantai Kotamadya Ujung Pandang Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III : : : DR.Ir. Yulianto Sumalyo, M.Sc Prof.DR.H. Rahardjo Adisasmita, M,Ec DR.Ir. Sampe Paembonan, MS Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair Rumah

b. Judul Disertasi : Tangga Dengan Filter Biogeokimia

1. Pembimbing I 2. : Prof.DR.Ir.H. Muh.Arief, Dipl.Ing Pembimbing II Pembimbing III Pembimbing IV : : : Prof.DR.H. Syahrul, M.Agr DR.Ir.H. Muh. Saleh Pallu, M.Eng DR.Ir. Mary Selintung, Msc

1. Judul penelitian terakhir dan tahunnya : :

1. Karya terpenting dan tahunnya 1. Penghargaan dalam bidang ilmu/

Prasarana Wilayah dan Kota I JENJANG S-2 SKS 2 1. NAMA MATA KULIAH Pembangunan Daerah Methode Penulisan Ilmiah Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Program Dan Proyek Prasarana Wilayah Dan Kota I Prasarana Wilayah dan Kota II Perencanaan Pariwisata Konsep dan Struktur Tata Ruang Manajemen Proyek dan Program Pembangunan Daerah JENJANG S-2 S-2 S-2 S-2 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 SKS 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 PERGURUAN TINGGI STIA-LANRI STIK Tamalate STIK Tamalate STIA LANRI PWK UIN PWK UIN PWK UIN PWK UIN STIA – PARIS STIA – PARIS 1. Daftar karya ilmiah yang ditulis dalam 3 tahun terakhir NO 1. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI 1. Satya Karya 1985 Mentri PU 2. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI 4. Mata kuliah dalam program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH 1.profesi/pendidikan beserta tahunnya : 1. Sistem Perumahan Dan Pemikiman 1. 10. 4. 3. 45. 7. . 2. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI 3. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Mata kuliah yang diberikan di luar perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO 1. JUDUL TULISAN Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan TAHUN 2005 DITERBITKAN SEBAGAI : *) Jurnal SPASIAL. 9. 6. 5. 8. Pengalaman mengajar 2. Mata kuliah di luar program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH JENJANG S-1 SKS 2 PROGRAM STUDI PWK 1.

Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Syahriar Tato. Ir. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45. 45. 45. 45. April 2008 Jurnal SPASIAL. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Mengolah limbah cair perkotaan 2003 5. April 2009 1. Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota 2008 6. Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban 2009 Mei 2005 Jurnal SPASIAL. 2007 4. MS) selama 10 tahun terakhir NO JUDUL ARTIKEL TAHUN DITERBITKAN SEBAGAI : *) Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no6 Tahun I. Drs. SH. Manajemen Strategik organisasi seni budaya Filter Biogeokimia. Juni 2008 Jurnal SPASIAL. masihkah lestari 2003 2. Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar. Daftar Artikel Dosen (Dr. Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia 2003 4.Tata Guna lahan – system transportasi sebagai 2. Mei 2006 Jurnal SPASIAL. April 2007 Jurnal SPASIAL. 45. 2004 . Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem 2008 5. Oktober 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 2 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah 1. Air Sumber kehidupan. masihka memukau? 2003 3. sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan 2006 3.

JUDUL TESIS STUDI Efektifitas Media Filter. Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian lokal 2004 Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata 10. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan sebagai warisan ―Pusaka‖ budaya local Indonesia 2008 12. Tahun I. 2004 9. Penerbit Cipta Letera 2009 Buku Ilmiah.6 1 Milyard Orang Dambakan Air 2004 ― Sinergi‖ no1. Mengolah Limbah Cair Rumah Tangga dengan Filter Biogeokimia 2009 13. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan 2009 1. Januari 2004 Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no3 Tahun. II Maret 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 3 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 5 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 6 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―Mimbar Aspirasi‖Edisi 44 Februari 2005 Artikel dalam Majallah BIC. Edisi Maret 2008 Buku Ilmiah. Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata) 2005 11. Zaenab . Penerbit warisan Budaya Indonesia 7. S2 Aerob dan Waktu Tinggal TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR Unhas 2006 NO 1. Pengalaman membimbing mahasiswa S2 dalam 5 tahun terakhir NAMA MAHASISWA P. Building Information Center. Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim Mungkinkah membangun seni budaya‖Beraura‖ tradisi di Sulawesi Selatan 2004 8.

Luwu Timur Studi Pemamfaatan Laode Ali Kasim Kawasan Pesisir Kota Raha Pengaruh Pengembangan Pulau Maitara Sebagai Kawasan Ekowisata Afriani Tompo dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pulau S1 Univ 45 2008 . Gowa Strategi Pengembangan Rosmini Satria Kawasan Wisata Pantai lemo di Desa Mabonta Studi Pengembangan Ilham Objek Wisata Pantai Beraue Kab. Takalar 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2009 Pengalaman membimbing mahasiswa S1 dalam 5 tahun teakhir NAMA MAHASISWA P. JUDUL TESIS STUDI S1 TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR 2008 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2008 2008 S1 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2007 2007 2009 2008 2008 2008 NO 1. Setiawan Objek Wisata Alam S2 Lumpue Pare-pare Strategi Pengembangan 4. Muh. 5. Edi Syahrir Pemukiman Kumuh Di S2 Kota makassar Studi Pengembangan 3.BOD. 4. 3. Rahmawati Asis Objek Wisata Sanrobengi S2 Kab. 6.COD. 2. Optimalisasi Pemamfaatan lahan Irma Febriani Pemukiman Kota Tanah Grigot Kab. 7.Terhadap Penurunan Kadar SS. Pasir Pengaruh Implementasi Konsep Agropolitan Ramlan Riza TerhadapPerkembangan Kota Barru Rahmudi Laode Perubahan Fungsi Lahan Hua Kota Bilibili Kab. Dan MBAS di limbah cair rumah sakit Labuangbaji Makassar Penataan Lingkungan 2.

Majene Analisis Pengembangan Objek Wisata Pantai Haerun Amrus Tanjung Tababu Kec. Gowa Evaluasi Lokasi Perumahan Swadaya Mas Herfina Simabur S1 Kel.8. Prospek Pengembangan Kota Ternate sebagai S1 tujuan wisata Partisipasi Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Heru kualitas dilingkungan S1 Soemarjono Permukiman Kota Makassar Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Risdawati S1 Awal Baru Kec. 2005 Univ 45 2005 15. Kadafi Lakufu Tondano. . 17. 11. Masruri D dalam Peningkatan Sosial S1 Ekonomi masyarakat di Kab. 13. 12. Tarakan Timut. Kab. Kolaka Utara Analisis Pengembangan Kota Malino Sebagai Ansarullah S1 Kawasan Wisata Kab. 9. S1 Lasusua. 18. Batua Kec. Kota Tarakan Analisis Pengembangan Kota Belopa Utara Arjan Ibrahim S1 sebagai Ibukota Kab Luwu Identifikasi Ruang Laode M. 2005 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2006 16. Manggala Kota Makassar Analisis Sistem Pegelolaan Persampahan Citra Ariesta S1 Ibu Kota Kec. 10. Minahasa Analisis Pengembangan Pantai Dato Pangale M. Terbuka Hijau Kota S1 Rusman Baubau Revitalisasi Kawasan Wisata Sejarah dan Jawa Lukman Hakim S1 M. Kab. Beto Ambari Kota Baubau 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2009 2009 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2005 Univ 45 2005 2009 2009 2009 2009 14.

Syahriar Tato. You can use a service like Bloglines to get notified when there are new posts to this weblog. Archives     February 2010 January 2010 December 2009 October 2009 Categories      opini di majalah dan koran (12) SENI DAN BUDAYA (102) TULISAN ILMIAH POPULER (2) Uncategorized (25) Blogroll o o WordPress.com WordPress. Nur Rezki Studi Pengembangan Kawasan Objek Wisata Benteng Alla Kab. Enrekang 2008 S1 Univ 45 2009 Makassar.Drs. SH. 18 Agustus 2009 DR.MS Comments: Be the first to comment « Older Entries Newer Entries »   Home About Subscribe Syahriartato's Blog syndicates its weblog posts and Comments using a technology called RSS (Real Simple Syndication).19.org Meta .Ir.

Theme: Sapphire by Michael Martine.com.com Blog at WordPress.    Register Log in XFN WordPress. Enter your Powered by WordPress. Follow Follow “Syahriartato's Blog” Get every new post delivered to your Inbox.com .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful