STRUKTUR SPASIAL WILAYAH PHERI URBAN SEBAGAI SISTEM DARI TATA RUANG KOTA

Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Abstrak Penulisan ini mengangkat judul tentang “ Struktur Spasial Wilayah Pheri Urban sebagai sub sistem dari suatu tata ruang kota. Dan akan mengulas lebih mendalam mengenai struktur keruangan wilayah pheri urban menyangkut tentang dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan, dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan. Daerah pinggiran kota adalah suatu daerah yang juga dikenal sebagai daerah ”urban-fringe” atau daerah ”peri-urban” atau nama lain yang muncul kemudian merupakan daerah yang memerlukan perhatian yang serius karena begitu pentingnya daerah tersebut terhadap peri kehidupan baik desa maupun di kota dimasa yang akan datang. Berbagai dimensi kehidupan dikemukakan secara sistematik agar memudahkan pembaca merasa mudah mengikuti alur pemikiran yang dibangun.Dalam wilayah pheri urban secara fisik morfologis inilah sifat-sifat baik kedesaan dan kekotaan non fisikal menunjukkan intensitas yang jelas, sehingga secara akademik, para peneliti dapat menggunakannya sebagai dasar identifiksi wilayah. Karena wilayah ini bersifat multidimensional sehingga sangat menarik berbagai disiplin ilmu. Ciri khas wilayah ini sangat istimewa yang tidak dimiliki oleh wilayah lain yaitu dalam hal keterkaitan yang begitu besar dengan aspek kehidupan kota maupun desa yang tercipta secara simultan. Dalam beberapa hal ini sifat kekotaan terlihat lebih menonjol. Perpaduan sifat kedesaan dan kekotaan inilah yang menarik untuk dibahas, dan hal ini menjadi sedemikian penting untuk dikemukakan, karena pemahaman struktur keruangan wilayah pheri urban akan memfasilitasi dalam pemahaman kekuatan – kekuatan yang berperan mengubah performa dari berbagai perspektif. Dan bagian ini akan dikemukakan mengenai latar belakang permasalahan yang dihadapi wilayah pheri urban dan pentingnya studi wilayah pheri urban secara umum dan khusus di Indonesia. A. Pendahuluan Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory. Wilayah Pheri Urban yang disinggung adalah pola pemanfaatan lahan yang terbentuk berkaitan dengan pertimbangan biaya transportasi, jarak dan sifat komoditas. Oleh karena fakta empiris membuktikan bahwa keberadaan kota dan wilayah pheri urban sangat bervariasi adanya ditinjau dari segi fisikal, maka untuk membahas teorinya. Pada prinsipnya, wilayah pheri urban didominasi oleh lahan pertanian dimana jenis komoditas yang diusahakan oleh petani membentuk pola keruangan yang khas. Perkembangan kotanya didominasi oleh bentuk perkembangan konsentris dan terjadi sangat lambat dan bahkan terkadang stagnan karena kotanya dibatasi oleh benteng yang dibangun pada

masa sebelumnya untuk masa maksud pertahanan dan pada kasus ini perkembangan kotanya bersifat sentripental dalam wujud pemadatan bangunan (densifikasi) bangunan. Fakta empiris menunjukkan bahwa perkembangan fisik kota yang substansial terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi transportasi dan telekomunikasi. Pada perkembangan selanjutnya, muncul ide – ide baru dan berkembang sebagai teori – teori baru . Walaupun belum secara khusus atau eksplisit mengemukakan mengenai wilayah pheri urban, namun sudah membahas kondisi wilayah pheri urban sendiri. Pada saat itu belum muncul istilah khusus yang mengacu pada wilayah pheri urban. Baru pada dekade abad 20, muncul istilah yang diperkenalkan oleh Gaplin (1915) mengenai wilayah pheri urban yaitu istilah urban. Istilah tersebut merupakan akronim dari kata rural dan urban yang pada awalnya digunakan untuk menunjukkan suatu wilayah kedesaan yang mengalami perubahan menuju sifat kekotaan. Kemunculan istilah baru tersebut sangat menarik perhatian para pemerhati wilayah perkotaan dan wilayah, sehingga mengundang munculnya studi baru dan memunculkan konsep-konsep baru pula. Beberapa tahun setelah itu bermunculan teori-teori baru mengenai kota dan sekitarnya (Yunus, 2008 : 42). B. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah: ü Menjelaskan faktor – faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dimensi pembentuk pemanfaatan lahan dalam stuktur spasial wilayah urban. ü Menjelaskan teori-teori yang menyangkut struktur spasial wilayah pheri urban.

2. Kegunaan Kegunaan penyusunan ini adalah untuk mengetahui sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban, mengetahui metoda pendekatan sistem yang dimanfaatkan untuk delimitas sub zona wilayah pheri urban serta untuk mengetahui dimensi bentuk pemanfaatan lahan di dalam struktur spasial wilayah pheri urban sebagai sub sistem suatu tata ruang kota. C. Pembahasan Seperti telah dikemukakan oleh banyak pakar mengenai studi kota, bahwa pada masa yang akan datang kebanyakan penduduk di dunia ini akan bertempat tinggal di kota. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa jumlah penduduk kota – kota di dunia mempunyai kecendrungan makin besar. Sebagian besar penduuk kota yang baru tersebut akan menempati lahan–lahan yang berada di sekitar lahan terbangun, karena keberadaan lahan – lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di bagian dalam kota sudah sangat terbatas adanya atau bahkan sudah hilang sama sekali. Makin banyaknya jumlah penduduk yang menempati wilayah pheri urban ini dengan sendirinya akan membawa komsekuensi keruangan, sosial, ekonomi, kultural dan biofisikal di

wilayah pheri urban. Oleh karena latar belakang kondisi wilayah phei urban yang sangat bervariasi dari satu kota ke kota yang lain, maupun dari negara yang satu dengan negara lain, maka dapat dipastikan bahwa kondisi spasial, ekonomi, sosial, kultural dan lingkungan biofisikal yang terpengaruh oleh adanya perkembangan kota akan bervarisasi pula. Bertambahnya penduduk akan selalu diikuti oleh bertambahnya bangunan – bangunan pemukiman maupun bukan permukiman. Bangunan – bangunan non permukiman merupakan bangunan yang mengakomodasikan kegiatan – kegiatan baru yang menyartai, seperti kegiatan ekonomi, sosial, kultural dan politik. Terlepas dari sudut kepentingan mana sebuah negara memandang, baik antagonis maupun protogonis mengenai hilangnya lahan pertanian di WPU tersebut, ternyata ada kesamaan pandangan bahwa sebaiknya perlu ada pengelolaan yang mengatur hal tersebut agar WPU sebagai wilayah pra- urban mampu menciptakan suasana kehidupan kekotaan yang ada pada saat ini. Dinamika wilayah pheri urban yang menyangkut proses perubahan berbagai elemen kehidupan ternyata telah menciptakan struktur spasial yang khas di WPU sendiri. Pengenalan struktur spasial WPU merupakan tahap awal mengenali berbagai permasalahan yang muncul di wilayah pheri urban. Pemahaman mengenai hal tersebut dapat dijadikan landasan untuk merumuskan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi kecendrungan perkembangannya di masa yang akan datang (Yunus, 2008 : 91). 1. Pendekatan Sistem Secara garis besar, terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu : a. Pendekatan Administratif Teknik ini adalah suatu cara untuk mendelitimasi subzona spasial wilayah pheri urban yang mendasarkan pada eksistensi unit administrasi sebagai unit analisis (analitical units) dan data mengenai bentuk pemanfaatan lahan. Secara teoritis, makin kecil unit analisisnya makin akurat identifikasi subzona yang dilakukan dan makin luas unit administrasi yang digunakan makin kurang akurat hasilnya. Sebagai contoh aplikasi pendekatan ini adalah zonifikasi sebagian wilayah pheri urban di daerah pinggiran kota Yogyakarta. Oleh karena penelitiannya dibatasi pada desa-desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta secara administratif maka hasil yang diperoleh adalah jalur membingkai kota Yogyakarta. Walaupun secara administratif, desa-desa penelitian berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta ternyata status spasial yang diperoleh menunjukkan variasi yang cukup besar. Pendekatan administratif ternyata tidak hanya dapat digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi luasan bentuk pemanfaatan lahan semata, namun dapat pula digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi jumlah penduduk atas dasar mata pencahariannya (Yunus, 2008 : 34). b. Pendekatan Fisikal Teknik ini merupakan cara identifikasi subzona wilayah pheri urban atas dasar unit-unit fisikal sebagai unit analisis. Cara ini dilaksanakan dengan cara mengenali unit analisis atas dasar batas-

5. Batas fisikal kota koinsiden dengan batas administrasi kota. Faktor jaringan kelistrikan dan 6. dalam perencanaan tata ruang kota akan memudahkan pemerintah kota. c. Mengingat bahwa pada masa mendatang kota yang bersangkutan selalu akan bertambah luas arealnya. 2008 : 39). Memang dari pendekatan ini dimungkinkan mampu menggambarkan kota-kota secara lebih detail. Batas terluar wilayah pheri urban di setiap sisi tidak selalu mempunyai jarak yang sama ke/dari lahan perkotaan terbangun dan hal ini sangat tergantung dari kondisi keruangan masing-masing bagian. Di dalam masing-masing blok kemudian dihitung mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahannya. Istilah pendekatan sel mengandung pengertian bahwa cara ini akan menghasilkan sel/kotak-kotak sebagai unit analisis dengan luasan tertentu yang dihasilkan oleh garis-garis vertikal maupun horizontal yang dibuat (Yunus. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain : a. Faktor aksesibilitas fisikal mempunyai pengaruh substansial terhadap penjalaran nilai-nilai kekotaan ke arah daerah perdesaan. Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan. saluran air) sehingga tergambarkan blokblok unit analisis. namun cara ini dengan metode-metode induktifnya belum tentu menjamin generalisasi pola struktur sosial dan keruangan kota yang lebih baik (Yunus. Masing-masing unit analisis akan menampilkan proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan maupun lahan kekotaan.batas fisikal yang ada seperti kenampakan linear (jalan. Dengan demikian ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dekat jauhnya jarak batas terluar WPU dari lahan terbangun. Konsdisi seperti ini disebut sebagai. 2. yaitu : 1. Untuk kota yang bersifat ‖True Bounded‖ analisis urbanisasi tidak mengalami kesulitan karena semua nampak kekotaan sesuai dengan batas administrasi kota (Yunus. karena seluruh areal kekotaan berada pada batas-batas administrasi kota. Permasalahan hubungan antara batas kota secara administratif dan batas kota secara fisikal ini juga mempunyai dampak dalam analisis urbanisasi. Faktor politis. Faktor aksesibilitas. maka kerja sama/koordinasi kerja dengan pemerintah daerah dalam mengsinkronkan perencanaan tata ruang kota. ”True Bounded City”. 3. Memang. Faktor topografis. Pendekatan Ekologi Faktorial Istilah ‖factorial ecology‖ sendiri termasuk baru di dalam studi kota yang digunakan untuk menganalisis struktur keruangan kota (urban spatial structure) dengan menggunakan analisis faktor sebagai tekniknya. Faktor kendala alami. d. 2008 : 40). Pendekatan Sel/Sistem Grid Pendekatan ini menekankan pada eksistensi unit analisis yang dibentuk berdasarkan garis-garis konseptual yang dibuat secara vertikal dan horizontal pada suatu peta yang menggambarkan sebaran bentuk pemanfaatan lahan. Aksesibilitas fisikal yang . Faktor telekomunikasi. 4. 2000 : 238) 2.

maka makin jauh pula jarak pengaruh kota terhadap daerah di sekitarnya. maka bagian wilayah-wilayah yang terpencil secara fisikal sekalipun akan mampu terjangkau selama alat telekomunikasinya tersedia. Munculnya berbagai bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian akan sangat mempengaruhi penentuan batas terluar dari wilayah peri urban. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan Bentuk pemanfaatan lahan perkotaan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah lahan nonagraris dalam arti luas. Faktor politis berkaitan erat dengan kebijakankebijakan pemerintah dalam pemanfaatan lahan. Makin baik kondisi prasarana transportasi dan sarana transportasi dari daerah perkotaan ke daerah perdesaan dapat dikatakan makin tinggi aksesibilitasnya dan akibatnya. Hal ini berarti bahwa apabila proporsi lahan kedesaan yang ada di atas 50% berarti bagian ini termasuk ke dalam rural fringe dan apabila proporsinya tercatat kurang dari 50% maka bagian tersebut akan dikategorikan sebagai urban fringe (Yunus. Faktor telekomunikasi dalam beberapa hal dapat mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam penjalaran ide/nilai-nilai kekotaan dari kota ke desa. maka penghitungan proporsi lahan kedesaan tersebut memerlukan metode tertentu. maka proporsi lahan kedesaan yang menjadi indikator batas antara keduanya adalah 50% lahan kedesaan. khususnya di daerah perdesaan. green belt policies. Faktor jaringan listrik mempunyai imbas yang besar di dalam berbagai aspek kehidupan. Sebenarnya. Seperti diketahui bahwa intensitas bangunan-bangunan atau bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian/bentuk pemanfaatan lahan urban di wilayah peri urban tidak akan sama di seluruh bagian. Untuk negara-negara maju dengan formulasi dan aplikasi tata ruang yang mapan. 2008 : 115). c. b. Ada bagian tertentu yang sangat intensif. Bagian terluar dari wilayah peri urban ditandai oleh proporsi lahan kedesaan 100% yang kearah luar merupakan wilayah kedesaan sebenarnya dan kearah dalam merupakan wilayah peri urban.ditentukan oleh keadaan prasarana dan sarana transportasi. Faktor topografis juga mempunyai peranan yang besar terhadap jarak batas terluar wilayah pheri urban. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi ini mengungkapkan proporsi bentuk pemanfaatan kedesaan yang ada dibandingkan dengan bentuk pemanfaatan lahan kekotaan.oleh karena wilayah peri urban meliputi daerah yang sangat luas. Pada umumnya faktor topografis juga terkait dengan aksesibilitas fisikal sehingga pada bagian-bagian wilayah pheri urban yang ditandai oleh kondisi topografis yang terjal akan berbeda dengan bagian yang mempunyai kondisi topografis yang datar. Oleh karena telekomunikasi mampu menghubungkan daerah satu ke daerah lain tanpa terkendala oleh halangan fisikal. konsisten dan konsekuen penentuan batas terluar wilayah peri urban dapat ditentukan dengan cara antara lain moratorial. zoning regulation. 2008 : 121). Bentuk pemanfaatan lahan kedesaan dalam hal ini diekspresikan sebagai bentuk pemanfaatan agraris dan selebihnya itu merupakan bentuk pemanfaatan lahan nonkedesaan atau dikenal sebagai bentuk pemanfaatan kekotaan. namun ada bagian yang lain yang tidak . dan beberapa kebijakan keruangan lainnya (Yunus. intensitas penjalaran nilai-nilai kekotaan melalui media elektronik sangat erat terkait dengan masuknya jaringan kelistrikan ke daerah perdesaan. Oleh karena wilayah peri urban terdiri dari rural fringe dan urban fringe.

Teori Trade – off (clark) Menurut Clark (1982) pembahasan terjadinya concentric rings jenis-jenis tata guna lahan di wilayah pheri urban adalah wacana ekonomi dan pada masa selanjutnya model pembahasan tersebut dikenal dengan trade– off. Jika dikaitkan dengan konsep wilayah pheri urban maka ada keterkaitan pada konsep kota modern. tapi terutama secara individual. Secara diskrit memang sangat sulit untuk menemukenali batas antara urban fringe dan rural fringe. Perkembangan fisikalnya terjadi secara gradual sentrifugal di semua sisi-sisi lahan terbangun yang sudah ada. Kota modern adalah tempat para penghuninya mengaktualisasikan diri mereka secara berkelompok. Setiap kelompok harus mampu menekankan sebagian kepeningan kelompok mereka sendiri. 2) Bahwa di daerah di sekitar kota merupakan daerah yang datar homogen. termasuk kelompok mayoritas (Santoso. 2008 : 122). Sebuah masyarakat urban seperti hanya dapat terbentuk bila setiap kelompok sosial-religius atau etnis melepaskan klaim mereka akan sifat absolut sistem nilai yang mereka anut. Munculnya bangunan sebagai ekspresi bentuk pemanfaatan lahan non agraris sejalan dengan akselerasi konversi bentuk pemanfaatan lahan agraris ke bentuk pemanfaatan non agraris. tanpa harus menginjak-injak hak kelompok atau individu lain. sebagai berikut : 1) Bahwa kota yang bersangkutan hanya mempunyai satu pusat kegiatan saja atau satu CBD dan semua kesempatan kerja hanya berada di bagian ini dan semua transaksi jual beli barang hanya berlangsung di bagian pusat ini. Teori–teori yang menjadi landasan dalam studi wilayah pheri urban a. 2006 : 84) 3. Sebagaimana upaya untuk mengidentifikasi wilayah peri urban dari sisi persentase proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan. demi terbentuknya komunitas urban yang heterogen secara etnis-religius tetapi homogen secara urban kultural. Model yang dikemukakan didasarkan pada asumsi seperti yang telah dikemukakan oleh Von Thunen.intensif. Secara umum akan terlihat bahwa makin mendekati lahan kekotaan terbangun. Bentuk perkembangan ini merupakan bentuk perkembangan yang paling lambat dibandingkan dengan bentuk-bentuk perkembangan yang lain. Oleh karena kondisi urban fringe dan rural fringe sebenarnya tidak semata dicirikhasi oleh bentuk pemanfaatan lahan dan suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa makin banyak faktor determinan maka makin kuat suatu bagian wilayah peri urban menjadi magnet bagi fungsi-fungsi kekotaan (Yunus. upaya untuk mengidentifikasi proporsi bentuk pemanfataan lahan kekotaan. Kepentingan komunitas urban scara keseluruhan harus diberi prioritas utama dan dimenangkan terhadap kepentingan spesifik kelompok manapun. Gambaran seperti ini akan tampak jelas pada kota-kota yang perkembangan fisikalnya didominasi oleh apa yang disebut sebagai perkembangan konsentris (concentric development). Kondisi ini mengakibatkan terjadinya gradasi ongkos transport yang teratur proporsional ke dan dari pusat kota dan hal inilah yang mirip dengan apa yang dikemukakan oleh von thunen mengenai homoginitas kondisi lingkungan fisik di bagian wilayah pheri urban dalam kaitannya dengan . maka akan semakin intensif pembangunan dan makin besar proporsi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitu pula sebaliknya.

Apakah mereka akan bertempat tinggal di dekat pusat kota yang fasilitas kehidupannya paling lengkap dengan konsekuensi sewa lahan yang mahal. Disinilah pemaknaan trade-off berada untuk golongan berstatus sosial tinggi berada. Pada subzona cincin pertama didominasi oleh fungsi residensial dihuni oleh golongan berstatus ekonomi rendah sampai menengah bawah. sehingga fungsi ini mau memberikan penawaran tertinggi terhadap lokasi yang dianggap paling ideal dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi residensial dan industrial. namun memberikan tawaran kepuasan dalam hal kenyamanan bertempat tinggal. Oleh karena kemampuan membayar sewa lahannya juga lebih rendah. 5) Bahwa pemerintah tidak mengadakan intervensi dalam hal persaingan bebas pemasaran lahan. maka faktor tingginya aksesibilitas menjadi suatu hal yang sangat menentukan terhadap perkembangan fungsi ini. 4) Bahwa keberadaan lahan akan dijual kepada pihak – pihak yang mempunyai penawaran yang paling tinggi yang berarti bahwa semua pihak yang ada di kota mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan lokasi yang dianggap menguntungkan dan tidak ada persaingan yang bersifat monopolistik. mempunyai opsi yang lebih luas. 3) Bahwa ongkos transport ke dan dari pusat kota menunjukkan gradasi yang proporsional ke segala arah dan bagian pusat kota merupakan tempat dimana derajad kemudahan untuk menjangkaunya (aksesibilitas) yang paling tinggi. Oleh karena perkembangan fungsi ini sangat tergantung dari banyaknya custemors yang dapat menjangkau daerahnya. yang bukan termasuk ke dalam wilayah pheri urban. namun dalam uraiannya dapat diketahui bahwa cincin kedua dan ketiga sebagian atau seluruhnya merupakan fungsi yang telah dan atau sedang berkembang di wilayah pheri urban. (2) zona berikutnya merupakan cincin yang melingkari zona paling dalam dan merupakan zona yang ditempati oleh fungsi residensial. maka gradien grafik yang terbentuk juga sedikit mendatar namun dalam luasan yang agak besar. karena para penghuni memprioritaskan bertempat tinggal dekat dengan tempet dimana mereka bekerja / dekat pusat kota dimana kesempatan kerja berada. didominasi oleh fungsi residensial. (3) zona paling luar merupakan cincin dengan fungsi utama industrial. seperti zoning regulation dan lain sejenisnya. Berdasarkan beberapa penelitian memang ada kecendrungan bahwa golongan ini memilih bertempat tinggal di daerah pinggiran kota/peripheral locations atau bagian dari wilayah pheri urban yang fasilitasnya kurang. Secara berturut-turut. merupakan daerah yang paling tinggi aksesibilitasnya dan kondisi ini paling dibutuhkan oleh fungsi komersial. Homoginitas tanah dalam hal kegiatan pertanian yang homogin memungkinkan petani tidak mempunyai pilihan lain. Di bagian pusat kota atau zona inti . Walaupun secara eksplisit tidak dikemukakan mengenai fungsi-fungsi mana sebenarnya yang berkembang di wilayah pheri urban. Untuk golongan yang berstatus ekonomi tinggi. Sementara itu pada cincin pertama yang terbentuk melingkari zona inti. Zona paling luar merupakan zona .usaha pertanian. serta tidak ada kebijakan – kebijakan tertentu yang mampu mengubah performa lahan. karena dimana-mana mempunyai kemampuan yang sama. Hal inilah yang menyebabkan terciptanya gradien yang sangat curam dalam kaitannya dengan jarak dari pusat kota. zona cincin konsentris yang tercipta adalah (1) zona paling dalam merupakan inti dari cincin-cincin yang terbentuk dan merupakan bagian pusat kota yang merupakan daerah dengan fungsi komersial.

dapat disimpulkan bahwa karakteristik wilayah pheri urban yang merupakan perpaduan antara karakteristik kekotaan dan karakteristik kedesaan muncul dalam ekspresi ekonomi. perkembangan fungsi ini mendominasi bangunan – bangunan di daerah pinggiran kota yang berselang seling dengan fungsi-fungsi residensial. Bentuk pemanfaatan lahan adalah kenampakan fisikal sebagai cerminan kegiatan manusia diatasnya dan hal adalah langkah awal dalam mengenali berbagai atribut wilayah yang berasosiasi dengan kenampakan fisikal bentuk pemanfaatan lahan seperti karakteristik demografis. Dua hal menarik untuk dikemukakan terkait dengan teori trade-off ini adalah pertama memberikan dasar penalaran bagi teori konsentirs yang dikemukakan oleh Burgess mengenai struktur internal kota yang terkenal dengan teori konsentris merupakan pionir pembahasan struktur tata ruang internal kota yang mampu memicu munculnya teori-teori baru.yang didominasi oleh fungsi industrial. adalah pembahasan yang mengaitkan antara fungsi-fungsi Bid-rent dengan tahapan-tahapan siklus keluarga di kota. Kemajaun teknologi transportasi dan informasi telah mengakibatkan penjalaran ide-ide. Di kebanyakan negara. 2008 : 99) Gambar 1. menurut rasional yang dikemukakan membutuhkan lahan yang luas serta faktor aksesibilitas juga menjadi bahan pertimbangannya. kultural dan spasial. Berdasarkan fakta empiris. Zona yang ditempati oleh fungsi industrial. kultural. makin ke arah lahan kekotaan terbangun. Teori Land Use Triangle : Discrete (Robin Pryor) Pryor (1971) mengemukakan tesisnya tentang wilayah pheri urban atas dasar parameter yang terukur. kemudahan untuk mengangkut bahan mentah (raw material) dan hasil produksi dalam jumlah besar menjadi pertimbangan utamanya. kemudian mendasari penalaran yang dikemukakan dalam teori yang dikenal dengan sosial area analysis (Yunus. makin intensif perubahan bentuk pemanfaatan lahan dari bentuk . Pada masa sebelumnya. Oleh karena itulah. nilai-nilai. norma-norma kekotaan mampu menjangkau daerah yang relatif terisolir dalam artian fisikal dan dalam beberapa hal telah mampu mengubah sifat kedesaan menjadi sifat semi kekotaan atau bahkan kekotaan sepenuhnya. Kenampakan wilayah dalam hal ini diartikan sebagai kenampakan fisikal lahan (land scape) yang diaktualisasikan dalam bentuk pemanfaatan lahan. maka daerah dimana masih tersedia lahan yang dapat mengakomodasikan bangunan – bangunan besar adalah pilihannya. Hal kedua ini. Berdasarkan proporsi keberadan lahan kekotaan dan lahan kedesaan dapat diketahui mengenai struktur spasial wilayah pheri urban. ekonomi dan sosial. yaitu mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahan. sosial. Hal menarik kedua terkait dengan dasar penalaran perubahan kekotaan yang terjadi di dalam struktur internalnya. Berdasarkan fakta empiris yang dikemukakan oleh para peneliti terdahulu. Oleh karena bangunan – bangunannya relatif berskala besar. maka fungsi industrial menempati ring terluar. Menurut Pryor struktur spasial wilayah pheri urban dibedakan dalam 2 kategori yaitu urban fringe di satu sisi dan rural fringe di sisi yang lain yang didasari oleh kenyataan bahwa WPU merupakan wilayah yang berada diantara wilayah yang berkenampakan kekotaan seratus persen dan wilayah berkenampakan kedesaan seratus persen. belum pernah ada konsep yang jelas mengenai keberadaan wilayah pheri urban itu sendiri serta bagaimana karakteristik soasial yang dapat diamati di lapangan. Model sebaran spasial (trade of model) di WPU ( Clark) b. Disamping itu.

4. khususnya penentu kebijakan. Studi Kasus Perkembangan wilayah pheri urban di Yogyakarta Pemahaman mengenai wilayah pheri urban di Negara – Negara maju menghasilkan keragaman teori yang berbeda-beda serta istilah yang berbeda-beda pula. Model Zonifikasi WPU Negara Maju atas dasar Bentuk pemenfaatan lahan Legenda A : percentage Distance Urban to Rural land B : Percentage Urban land Use C : Percentage Rural Land Use D : Boundari Of Built-Up Urban Area E : Boundari Of Built-Up Rural Land F : Rural Urban Fringe G : Urban Fringe H : Rural Fringe 1. (2) presentase proporsi lahan kedesaan dan (3) presentase proporsi lahan kekotaan (Yunus. keruangan dalam rangka pengendalian perkembangan kota sehingga sejak dini dapat diketahui . Hal ini sangat penting dipahami para pemerhati masalah perkotaan. apalagi apabila kacamata yang digunakan adalah kondisi WPU di Negara berkembang. Salah satu contoh kasus perkembangan WPU yaitu di kota Jogjakarta dengan mengambil kasus beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta sebagai bagian paling dinamis dari WPU nya. Walaupun esensi yang dikemukakan tidak menampilkan perbedaan yang signifikan. Oleh karena model diagramatik yang dikemukakan berujud segitiga bentuk pemanfaatan lahan.pemanfaatan lahan kedesaan menjadi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitupula sebaliknya. Tiga dimensi penilaian tersebut adalah (1) presentase jarak dari/ ke batas 100% kenampakan kekotaan atau ke batas 100% kenampakan kedesaan. Dengan mendasarkan zonifikasi yang ada. namun beberapa diantaranya terkadang memunculkan pemahaman yang sedikit menimbulkan kerancuan. 2008 : 111) Gambar 2. ternyata kecendrungan perkembangan kota baik ditilik dari segi fisikal maupun dari segi demografis dapat diketahui dengan jelas. maka didalamnya memuat tiga dimensi penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi batas terluar dari masing-masing subzona.

Apabila hal ini tidak diikuti oleh adanya konversilahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang signifikan dapat dipastikan bahwa di bagian ini telah terjadi densifikasi pemukuman yang substansial da hal ini sangat perlu di monitor. Sementara itu. sosial. di bagian tenggara tidak menunukkan perubahan status sifat kkotaan yang berarti. Kecendrungan perkembangan fisikal tidak selalu konsiden dengan perkembangan sosio demografis sehingga dengan mengetahui kecedrungan perkembangan kota dari dimensi yang berbeda-beda dharapkan dapat menjadi dasar yang menjadi kukuh untuk penyusunan kebijakan antisipasi baik dari segi spasial. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan struktual sosio demografis yang signifikan di bagian barat daya. khususnya mengenai mata pencahariannya. ditilik dari sisi lain. kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Gambar 4. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar bentuk pemanfaatan lahan. Oleh karena formulasi kebijakan pengendalian kota tidak hanya mendasarkan pada satu dimensi saja. namun hal ini hanya dapat mengungkapkan perkembangan fisikal kekotaannya dan bukan kecendrungan perkembangan sosio – demografinya. Hal ini mengindikasikan bahwa kea rah itu pula terjadi konversi lahan-lahan pertanian paling banyak terjadi. yaitu sosio demografis ternyata ke arah barat daya menunjukkan perubahan sosio demografis yang sangat signifikan dari status zobides ke status zobikot dan hal ini tidak terdeteksi dari kecendrungan perkembangan fisikal. baik ke arah timur laut maupun kearah barat laut walaupun insentitas perkembangannya berbeda-beda. Perkembangan spasial fisikal yang terjadi yaitu kearah utara. ekonomi dan kultura. fisikal. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar komposisi mata pencaharian kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Memang dalam tataran praktik dan kemajuan teknologi seseorang dapat memantau kecendrunagn kota dengan menggunakan alat bantu foto udara atau remote sensing imageries lainnya. Di bagian barat laut diidentifikasi peralihan status dari zobidekot menjadi zobikodes sedangkan dari bagian timur laut teridentifikasi perubahan dari zobikodes menjadi zobidekot. . Sebagai contoh yang dapat dikemukakan disini adalah kasus kota Yogyakarta. Demikian pula halnya di bagian utara juga terlihat perubahan yang sangat sgnifikan. dari semula bersifat zobikodes di bagian utara pada tahun 1988 menjadi bersifat zobikot pada tahun 1998 yang berarti sifat kekotaan semakin tampak dengan jelas dari segi kpmposisi demografisnya.kemungkinan timbulnya dampak negative terhadap lingkungan dan sejak dini pula dapat melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasinya Gambar 3. Sementara itu di bagian-bagian lain seperti di bagian barat tampak belum menunjukkan perubahan yang berarti dan signifikan. Namun demikian. karena densifikasi yang tidk terkontrol merupakan biang keladi terciptanya kekumuhan dalam pemukiman dan deteriorisasi lingkungan.

Daftar Pustaka Santoso. KPG dan Centropolis : Jakarta Yunus. Kesimpulan 1. Struktur Tata Ruang Kota. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory 2. terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu :     Pendekatan administratif Pendekatan fisikal Pendekatan sel/sistem grid Pendekatan ekologi faktorial 3. 2006. 2005. 2008 : 153). Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. H. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain :    Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi persentase bentukpemanfaatan lahan perkotaan E.maka keberadaan media yang dapat membantu mengenali kecendrunga perkembanagan kota dari berbagai dimensi akan lebih bermanfaat. Menyiasati kota tanpa warga. (Yunus.S. Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. 2000. Pendekatan Sistem Secara garis besar. D. 2008. Dinamika Wilayah Peri-Urban Determinan Masa Depan Kota. Jo. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. Pustaka Pelajar : Yogyakarta Comments: Be the first to comment TATA GUNA LAHAN-SISTEM TRANSPORTASI SEBAGAI SUBSISTEM DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN . Manajemen Kota Prespektif Spasial.

Akan tetapi terdapat kecenderungan dengan berkembangnya suatu kota bersamaan pules dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. . selain mencerminkan keteraturan kota. polusi suara. Kemacetan (congestion). keterlambatan (delay). Transportasi yang aman dan lancar. Pendahuluan Kota dikenal dengan banyaknya permasalahan yang kompleks yang terdapat didalamnya.Penulisan ini menguraikan berbagai system pendekatan yang tepat juga mencakup seluruh aspek yang terkait untuk memberikan alternative pemecahan masalah yang tepat. sehingga masalah ini akan selalu membayangi perkembangan suatu wilayah perkotaan. Dengan terjadinya perubahan fungsi lahan yang sering kita temui di suatu kota dimana tata guna lahan yang ada tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah dibuat.Transportasi merupakan salah satu kunci perkembangan bagi wilayah perkotaan. Wilayah perkotaan dari tahun ke tahun telah berubah sebagai akibat terjadinya pergeseran yang dramatis dari lahan pertanian menjadi daerah bisnis ―terjadi perubahan fungsi guna lahan‖.Posted December 28. sehingga dalam pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota.Permasalahan ini berkailan Brat dengan poles testes guna Lahan. Daerah – daerah tersebut saat ini menjadi pusat-pusat kegiatan financial dan peluang-peluang bisnis yang ekstensif yang kompleksitas dan diversitasnya mengalami siklus perubahan akibat beragam pengaruh social dan ekonomi. (Sujarto. karena sector ini sangat berperan dalam menentukan kegiatan dan aktivitas pergerakan yang terjadi. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Penulisan ini berjudul tentang “Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi sebagai sub system dalam Perencanaan Pembangunan yang berkelanjutan” yang membahas mengenai keterkaitan antara sistem guna lahan dengan system transportasi dalam melakukan pembangunan yang berkelanjutan. juga mencerminkan kelancaran kegiatan perekonomian kota. dimana terdapat kecenderungan bahwa berkembangnya suatu kota bersamaan pula dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. polusi udara. Kota yang baik dapat ditandai. A. Hal ini menyebakan tidak sesuainya rencana dan kenyataan nyata manakala suatu rencana selesai disusun. dengan melihat kondisi transportasinya. Bahwa karena dinamika masyarakat yang menyebabkan perubahan yang cepat di dalam system nilai dan kebutuhan masyarakat sering proses penyusunan terdahului oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. antara lain. 1. dan pemborosan energy merupakan sebagian dari sekian hanyak permasalahan yang dihadapi suatu kola berkaitan dengan masalah transportasi. 2001:139) Ada beberapa hal yang menjadi faktor utama dari timbulnya masalah tersebut. adalah sebagai berikut.

Tujuan dan Kegunaan 1. Permasalahan di sektor ini tidaklah sederhana. system pergerakan. 1986 dalam Khisty dan Lall. namun juga dapat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui gas buangan dari kendaraan bermotor serta merupakan suatu bentuk pemborosan energy yang sia-sia. Tujuan Tujuan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Mengidentifikasi system transportasi sebagai suatu system ü Mengidentifikasi keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan 2. Kelanggenang suatu rencana kota dalam arti konsekuen dan konsistennya pembangunan kota dengan rencana kota sangat ditentukan juga oleh konsekwenan dan kekonsistenan pengelola kota dan masyarakat dalam memegang arahan pembangunan yang ditetapkan. 1984. kemacetan. parkir dll). Permasalahan ini bukan saja menyangkut pada kenyamanan system transportasi yang terganggu (kepadatan. sehingga pola guna lahan dan system transportasi tidak dapat dipisahkan. ASCE. Adanya saling ketergantungan antara tata guna lahan dan system transportasi. Berbagai aspek/ pendekatan sistem yang mempengaruhi system tersebut yaitu system kegiatan. system jaringan. Kegunaan Berdasarkan tujuan penyusunan penulisan di atas.1. Permasalahan transportasi ini merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak aspek. 2003: 74). maka adapun kegunaan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Untuk mengetahui bagaimana system transportasi sebagai suatu system . B. pihak dari system yang terkait sehingga pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. keterlambatan. Salah satu tujuan utama perencanaan setiap tata guna lahan atau system transportasi adalah untuk menjamin adanya keseimbangan yang efisien antara aktivitas guna lahan dengan kemampuan transportasi (Blunden dan Black. dan lingkungan. Kegiatan transportasi yang terwujud pada hakikatnya adalah kegiatan yang menghubungkan dua lokasi guna lahan . Penulisan ini mencoba melihat permasalahan dalam system transportasi secara komprehensif yang di dasarkan pada pendekatan system.

1. 2003: 7).co. Pendekatan Sistem Transportasi berkaitan dengan tata guna lahan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1 seperti berikut : Gambar 1. Pendekatan system (system approach) adalah suatu cara yang sistematik dan menyeluruh untuk memecahkan masalah yang melibatkan suatu system.google. tranportasi yang tidak melayani suatu tata guna lahan akan menjadi sia-sia. Sistem transportasi yang macet tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya. tidak termanfaatkan. Gambar 1. Suatu rencana kota juga tak pernah lepas dari rencana tata guna lahan serta rencana transportasi.(Mohammadi. Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik maka kebutuhan transportasinya harus terpenuhi dengan baik.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq . sehingga biasanya dianggap membentuk satu landuse transport system. C. . Pendekatan Sistem System adalah suatu perangkat yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan.2001 dalam Khisty dan Lall. yang menjalankan fungsinya demi mencapai tujuan. Rencana Tata Guna Lahan dan Rencana Transportasi sumber : (http://www. Pembahasan Transportasi dan tata guna lahan berhubungan sangat erat. lingkungan dan energi.ü Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Sebaliknya.

budaya dsb. lembaga. System ini berkaitan erat dengan pengaturan pola tata guna lahan sebagai unsur terpenting dalam pembentukan pola kegiatan kota atau daerah. Di Indonesia system kelembagaan yang berkaitan dengan transportasi adalah: a. Seluruh kebijaksanaan yang diambil oleh masing-masing kelembagaan harus terkait dan terkoordinasi dengan baik. Selain dari semua sub system diatas terdapat suatu aspek yang harus selalu diperhatikan dalam pengadaan system transportasi yaitu aspek lingkungan. bahwa Pemerintah. ekonomi. masih diperlukan system kelembagaan. Secara umum dapat disebutkan. 2. terminal.co. Perhubungan. System ini terdiri dari individu. Pemda b. System jaringan: Dep. dll.go ogle. Kegiatan yang timbul dalam system ini membutuhkan pergerakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang perlu dilakukan setiap hari. Swasta dan Masyarakat harus ikut berperan dalam mengatasi masalah transportasi.Polantas. System pergerakan LLAJR. Karena hal ini merupakan masalah bersama yang memerlukan penanganan dan keterlibatan semua pihak. Sistem tersebut dapat merupakan suatu gabungan dari berbagai system pola kegiatan tata guna lahan (land use) seperti kegiatan social. Pergerakan tersebut membutuhkan moda transportasi (sarana) dan media (prasarana) tempat moda tersebut bergerak. besarnya pergerakan yang ditimbulkan tersebut sangat berkaitan dengan jenis dan intensitas kegiatan yang dilakukan. Dari ketiga sub system tersebut.sumber: (http:// www. System kegiatan:Bappenas. id/searc h?hl=id &q=KE TERKA ITAN+ TATA+ GUNA +LAHA N+DEN GAN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Sub system kegiatan merupakan system kegiatan tertentu yang membangkitkan pergerakan dan dapat menarik pergerakan.Interaksi antara system kegiatan dan system jaringan akan menghasilkan suatu pergerakan. Pendekatan Sistem Kegiatan . kelompok. instansi pemerintah serta swasta yang terlibat. Prasarana yang diperlukan merupakan bagian dari system jaringan meliputi jaringan jalan raya. Bina Marga c.

Perkembangan jumlah penduduk tidak saja dipengaruhi oleh natural growth.Pendekatan terhadap system kegiatan ini sebenarnya sangat banyak macam dan faktornya. 2003: 74). Dari hal tersebut maka kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat kebutuhan akan jasa transportasi yang merupakkan masukan yang berguna untuk merencanakan sampai tingkat mana fasilitas-fasilitas transportasi akan disediakan. kawasan tempat kerja. kawasan tempat rekreasi dst. tempat tinggal. Keterkaitan antara system kegiatan (model tata guna lahan) dengan system transportasi dapat dilihat bahwa perencanaan transportasi untuk masa yang akan datang selalu dimulai dari perubahan dan perkembangan tata guna lahan. 1984 dalam Khisty dan Lall. fasilitas. 2004: 45) adalah sebagai berikut: Arus lalu lintas ditentukan menurut pola tata guna lahannya dan tingkat pelayanan system transportasinya. akan tetapi arus masuk (pergerakan penduduk) in migration Pertumbuhan penduduk yang tinggi sangat berpengaruh pada spasial perkotaan. Keterkaitan guna lahan dengan arus lalu lintas (Menhein. kegiatan-kegiatan penduduk seperti ekonomi. Pola distribusi kegiatan guna lahan pada saat sekarang sangat tidak teratur diakibatkan banyaknya rencana kota yang diabaikan karena alasan ekonomi. atau meningkatnya daerah lain akibat dari aktifitas yang berbeda dalam sebuah kota sehingga pergerakan penduduk di dasari kebutuhan akan pekerjaan. maka ini memungkinkan kita untuk memperkirakan lalu lintas yang dihasilkan (Blunden dan Black. Oleh sebab itu. industry.     Tingginya aktifitas perkotaan sangat dipengaruhi oleh perkembangan jumlah penduduk. umumnya terbentuk polarisasi yaitu munculnya kutub-kutub pertumbuhan. perkantoran yang esensinya menggunakan lahan sangatlah mempengaruhi tata guna lahan. 1979 dalam Miro. Faktor kegiatan penduduk. Faktor kependudukan. Faktor determinan yang mempengaruhi Guna lahan : a. Jika manfaat lahan di setiap daerah untuk suatu kota telah diketahui. Tata guna tanah/lahan perkotaan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian dalam ruang dari peran kota. b. dll. penting untuk mengetahui perencanaan tata guna lahan dalam merencanakan system angkutan. namun pada pembahasan ini ditekankan pada aspek pola tata guna lahan dalam suatu kota. kawasan tempat tinggal. Pola penggunaan lahan di kawasan perkotaan. .

Hal ini menggambarkan bahwa system penyediaan dan system permintaan terdapat ketimpangan sehingga system transportasi tidak berjalan dengan efektif dan efisien. dan mobilitas penduduk yang tumbuh mengikuti maupun mendorong perkembangan yang terjadi pada berbagai sector dan bidang kehidupan tersebut. 4. (Kamaluddin. yaitu sebagai unsur penting yang melayani kegiatan-kegiatan yang sudah/sedang berjalan (the servicing function) dan sebagai unsur penggerak penting dalam proses pembangunan (the promoting function). Dalam hubungan ini transportasi khususnya transportasi jalan raya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki flow/jaringan transportasi untuk mengurangi masalah yang muncul yaitu dengan melakukan intervensi pada sarana transportasi. Pengaturan tata guna lahan di kota-kota saat ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. Permasalahan yang muncul. social. Dalam hal ini akan dibahas mengenai system transportasi darat. menjalankan dua fungsi. Pendekatan Sistem Pergerakan Transportasi yang baik yaitu transportasi yang dapat memberikan kenyamanan. lintasan penyeberangan. Transport jalan raya seringkali dikatakan sebagai urat nadi bagi kehidupan dan perkembangan ekonomi. 3.Kalau arus lalu lintas dalam jangka waktu yang lebih lama (panjang) semakin bertambah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberlakukan system angkutan . Dalam angkutan jalan raya. kondisi system transportasi yang memburuk akibat meningkatnya motorisasi yang diperparah akibat lebih tingginya kenaikan jumlah kendaraan bermotor dibanding kecepatan pembangunan jalan. lintasan transportasi laut. biaya murah dan efesiensi waktu. System jaringan jalan dengan peranan pelayanan. dan system jaringan jalan dengan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota membentuk system jaringan jalan sekunder. lintasan rel) dan simpul sarana transportasi (terminal. Jaringan jalan merupakan suatu kesatuan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki. Pendekatan Sistem Jaringan Jaringan transportasi adalah jaringan prasarana trasnportasi (lintasan jalan. pelabuhan. sistem jaringan (prasarana) meliputi jalan dan terminal. system jaringan jalan dan kendaraan bermotor tidak dapat dipisahkan. Dimana dalam pembangunan jaringan jalan harus memperhatikan jumlah kendaraan yang akan melewatinya. Salah satu contoh dari permasalahan yang ditimbulkannya yaitu dapat menimbulkan kemacetan diakibatkan kapasitas jaringan jalan tidak sesuai dengan kendaraan yang ada. 2003: 53). jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah ditingkat nasional dengan simpul jasa distribusi disebut jaringan jalan primer. bandara). hampir pasti bahwa pola tata guna lahan dan tingkat pelayanan transportasinya mengalami perubahan.

dimana dengan hal tersebut kita dapat mengurangi system pergerakan pada jalan raya. Beberapa tipe antara lain :    Tipe land use yang menghasilkan lalu lintas yang berbeda dengan land use lainnya Land use yang berbeda menghasilkan tipe lalu lintas yang berbeda (pejalan kaki. Ada 2 masalah dalam meminimalkan pergerakan akibat land use yaitu a. polusi.google. sehingga alih fungsi ini akan menimbulkan masalah baru. Tingkah laku agresif dan reaksi psikologis juga berhubungan dengan kondisi kemacetan lalu lintas (GAO dalam http://www. Bangkitan lalulintas. b. perkantoran. mobil) Land use yang berbeda menghasilkan lalu lintas pada waktu yang berbeda. penyakit paru-paru. perdagangan. Volume dan pola lalu lintas pada jaringan transportasi akan mempunyai efek feedback atau timbal balik terhadap lokasi tata guna tanah yang baru dan perlunya peningkatan prasarana. sehingga akan mempengaruhi kinerja pengemudi. Dalam hal ini perlunya dalam rencana tata guna lahan memperhatikan zona-zona pembagian berdasarkan aktivitas penduduk yang saling berkaitan juga dalam rencana kota distribusi penduduk juga harus diperhatikan agar distribsi ruang dan distribusi . Jarak yang terlalu jauh yang mengakibatkan land use yang jauh jaraknya bakal ditinggalkan dan akan beralih fungsi.Konsentrasi Karbon monoksida yang tinggi pada jalan yang padat akan menghalangi aliran oksigen untuk para pengemudi. Kemacetan lalu lintas tidak hanya mengurangi efisiensi pengoperasian transportasi. industry. Sebaran geografis antara tata guna tanah (sistem kegiatan) serta kapasitas dan lokasi dari fasilitas transportasi (sistem jaringan) digabung untuk mendapatkan volume dan pola lalu lintas (sistem pergerakan).dan kanker. Hal ini akan berakibat pada menipisnya lapisan ozon yang selanjutnya mengakibatkan sesak napas.co. membahayakan kesehatan masyarakat dan mempengaruhi ekonomi masyarakat. sakit kepala. dll) mempunyai karakteristik bangkitan lalu lintas maupun pergerakan yang berbeda-beda. batuk. menimbulkan polusi yang berlebihan.massal. 5. konservasi energy dan penurunan kesehatan masyarakat adalah beberapa dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pergerakan kendaraan bermotor. truk. Bangkitan lalu lintas tergantung dari land use sebuah daerah (permukiman. tetapi juga membuang waktu dan energy. juga sebagai suatu langkah antisipasi dalam peningkatan kepadatan lalu lintas. Transportasi dan Dampak Lingkungan Kemacetan. Kemacetan lalu lintas juga dapat membahayakan kesehatan. maka dapat dilihat kontribusi yang sangat besar dari masalah transportasi terhadap kenyamanan dan kelestarian . penyakit jantung.id/search?hl= id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGAN+TRANSPORTASI&btnG=Telus uri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Dari tinjauan masalah transportasi dan dampaknya pada lingkungan.

. Pengaturan tata guna lahan di Jakarta ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. posisi Jakarta memegang posisi sangat penting dalam hal. Dari aspek accessibility kawasan ini mudah dicapai dari segala arah. jumlah penduduk Jakarta adalah 7. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah suatu pola pembangunan yang bertujuan untuk mencukupi /memenuhi kebutuhan generasi penduduk masa kini tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan dating untuk mencukupi /memenuhi kebutuhannya. baik dari segi desain. 6. tetapi pelayanan transportasi tidak cukup baik. hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan sarana transportasi massal yang nyaman. penduduk Jakarta bisa mencapai 12 juta jiwa. kalau akhirnya Jakarta diserbu oleh pendatang (urban) yang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. Dengan kondisi ini maka kebijaksanaan tata guna lahan di kawasan ini dirumuskan kembali dengan konsep superblock system dan high rise building. Konsep kedua adalah perbaikan mutu gas buangan dari kendaraan bermotor. Pengaturan ini sudah diarahkan. sedangkan berdasarkan perkiraan. politik.706. pada awalnya wilayah ini dalam Jakarta Struktur Plan 2005 diarahkan untuk pengembangan kawasan campuran. sehingga dapat menjadi alternative terbaik bagi masyarakat dan dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi. Untuk mengatasi permasalahan ini sedikitnya terdapat tiga konsep yang dapat diberikan.392 jiwa. dan perdagangan. Hal ini terjadi karena lokasi tersebut yang sangat strategis dibandingkan lokasi lain. dengan kata lain maka kebutuhan akan lahan pun semakin meningkat. Konsep yang ke tiga adalah usaha mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan sehingga pemborosan energy dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Studi Kasus Permasalahan Transportasi akibat perubahan guna lahan di Jakarta Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia. Hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Tetapi sekarang kawasan ini tumbuh menjadi kawasan perkantoran kelas satu termasuk kantor-kantor komersial. (World Comission on Environment and Development/WCED (1987) dalam Yunus.lingkungan. ekonomi. tahun 2007. Jalur lalu lintas sangat padat terutama pada jam-jamsibuk. namun implementasi-nya masih seringkali berubah dan tidak sesuai karena adanya berbagai kebutuhan dan kendala. sebagai ibukota Negara. pada siang hari. Sebagai contoh adalah kasus di Kuningan. Yang menjadi persoalan dimana lahan yang tersedia tidak bertambah akan tetapi jumlah penduduknya semakin hari semakin meningkat. Tidak salah. perawatan maupun pemakaian bahan bakar yang seminimal mungkin dapat memberikan pencemaran terhadap lingkungan. akibatnya kemacetan dan kepadatan lalu lintas tidak dapat dihindarkan. Sebagai dampaknya kebutuhan transportasi meningkat pesat sedangkan sarananya sangat terbatas. 2005:141). baik dalam Jakarta 1965-1985 Master Plan. maupun Jakarta 1985-2005 Structure Plan. dengan sebagian besar untuk pemukiman kelas atas yang disediakan untuk para diplomat serta perkantoran. Konsep yang pertama adalah usaha untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang ada. berdasarkan catatan resmi catatan sipil.

Kesimpulan Berdasarkan uraian pembahasan sebelumnya maka dapat kami simpulkan bahwa :. E. Karena masih ditentukan oleh implementasinya yang banyak dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang dianggap lebih penting dan mendesak dari penataan guna lahan itu sendiri. sehingga meminimalisir permasalahan yang muncul. Namun dalam realitanya.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGA N+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq Kamaluddin. kebijaksanaan transportasi masih mengacu pada Jakarta Struktur Plan 2005. Interaksi tata guna lahan dan system transportasi merupakan indicator yang mesti diperhatikan dalam melakukan perencanaan system jaringan transportasi guna terciptanya pembangunan yang berkelanjutan tanpa merusak ekologi yang ada. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kebijaksanaan tata guna lahan yang baik belum tentu dapat mendukung pemecahan masalah transportasi. pihak dan system yang terkait maka diperlukan pendekatan system yang tepat pula yang mencakup aspek yang terkait. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan penggunaan lahan belum didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. walau terjadi perubahan fungsi kegiatan (tata guna lahan). B. Ghalia Indonesia: Jakarta Khisty. Saran    Melakukan intervensi pada system transportasi baik pada aspek prasarana. Meningkatkan pelayanan system transportasi bagi masyarakat. Rustian. yang jelas-jelas sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perkembangan yang ada.    System transportasi merupakan suatu system dalam pengembangan suatu perkotaan. Dasar-dasar Rekayasa Transportasi. Kebijaksanaan penggunaan lahan seharusnya didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi.google. maka kawasan ini sangat memerlukan alat dan sarana transportasi baru.co.google.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&o D.Jotin dan Lall. 2003. 2. Penutup 1. Erlangga : Jakarta . (http://www.co.Dengan luas area 325 ha dan lebih dari setengah juta pekerja. Daftar Pustaka http://www. 2003. C.Kent. sarana dan manajemen secara tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul. Ekonomi Transportasi. permasalahan system transportasi tersebut merupakan masalah yang kompleks yang melibatkan banyak aspek.

1. agar dapat terus- . dimana ketersediaan lahan semakin terbatas maka dibutuhkan para perencana kota yang dapat mengatasi masalah kompleks perkotaan yang menghambat terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. 2001. dan Praktisi. Manajemen Kota Perspektif Spasial. Pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan memanfaatkan tekhnologi. Dengan melihat kondisi seperti sekarang ini. A. ITB : Bandung Yunus. Sehinnga dibutuhkan keahlian dari perencana kota yang dapat membuat perencanaan yang disatu pihak dapat memecahkan masalah urbanisai dan dilain pihak memperkaya fungsi kota dengan menata ruang perkotaan yang berdaya guna memenuhi segala macam aktivitas perkotaan. Dalam makalah ini juga dibahas mengenai berbagai macam masalah perkotaan yang menghambat pembangunan yang berkelanjutan yang sangat terlihat jelas yaitu masalah urbanisasi yang tidak terkendali yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan sehingga mempengaruhi secara langsung kondisi lingkungan dan kondisi keamanan perkotaan. Hadi Sabari. Djoko. dimana terwujudnya pembangunan berkelanjutan merupakan dambaan tiap kawasan atau kota dalam melaksanakan pembangunannya sebab dengan terwujudnya pembangunan bekelanjutan berarti telah menjamin kesejahteraan kehidupan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan dating dalam segala dimensi kehidupan. perlu memperhatikan fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa. Pendahuluan Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan di segala bidang. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. 2005. 2004.Miro. Comments: Be the first to comment HAMBATAN DALAM SISTEM PEMBANGUNAN PERKOTAAN YANG BERKELANJUTAN Posted December 28. Erlangga : Jakarta Sudjarto. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Oleh: Syahriar Tato Abstrak Dalam makalah ini dipaparkan mengenai pembangunan yang berkelanjutan. Pengantar Planologi. Contoh kasus ini menunjukkan tingkat kemiskinan yang signifikan yang berakibat pada banyaknya muncul permukiman kumuh yang dapat mengganggu keindahan kota serta mengakibatkan pencemaran lingkungan. Dalam makalah ini juga terdapat contoh kasus yang meperlihatkan kondisi pembangunan yang tidak berkelanjutan di Kacamatan Tambora kotamadya Jakarta Barat. Perencana. Fidel. Dalam pola pembangunan tersebut.

dan masalah. sustainable development. hal itu adalah masalah. Pengertian pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial dimana masyarakat bergantung padanya. bersih. Lingkungan bagi ummat manusia adalah salah satu modal dasar dalam pembangunan. Menurut Brundtland Report dari PBB 1987. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris. kelembagaan sosialnya. Sinergi tiga aspek tersebut yaitu. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja. Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan. ekonomi. Dengan demikian pembangunan mempunyai hubungan yang erat dengan masalah. Bagi manusia. Artinya. Karena titik tolak pembangunan dimulai dari tindakan mengurangi masalah tersebut dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan meningkatkan untuk mencapai suatu tingkatan yang layak. bisnis. Lingkungan sehat. Model pembangunan yang merakyat berarti berangkat dari masyarakat. Sedangkan jika harapan tersebut tidak tercapai berarti. akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi dan sosial dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat. kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memafaatkannya. lestari. pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan. secara tidak langsung akan mempengaruhi keberlanjutan produktifitas manusia di masa yang akan datang. pembangunan tidak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi tetapi juga haruslah melihat aspek keadilan terhadap lingkungan. maka diperlukan juga keberlanjutan pada sisi ekologis. masyarakat. Hal ini menyebabkan peningkatan laju pembangunan lama untuk mencapai suatu pertumbuhan pembangunan yang merakyat. Pembangunan berkelanjutan adalah satu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan. dan sebagainya) yang berprinsip ―memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan‖.menerus menunjang kegiatan atau proses pembangunan yang berkelanjutan. dan kegiatan dunia usahanya. kota. Proses pembangunan terutama bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat baik secara spiritual maupun material. dalam konteks tersebut selain keberlanjutan dari sisi ekonomi dan sosial. sosial dan budaya didalam pembangunan disebut dengan Pembangunan Berkelanjutan. Adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah suatu harapan. perencanaan dan proses pembelajaran sosial yang terpadu. Definisi ini menunjukan bahwa adanya suatu pembangunan karena suatu kebutuhan. Pembangunan yang tidak bertitik tolak dari masalah berarti ada indikasi kesalahan konsep dan model pembangunan tersebut berorientasi pada penyelesaian masalah sebagai penyebab akar masalah bukan akar masalahnya. viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya. Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah .

Dalam pembahasan/penulisan ini dibahas mengenai hambatan dalam pembangunan berkelanjutan khususnya masalah internal perkotaan sebagai sistemnya dan sebagai subsistemnya dibatasi pada pada 3 masalah yaitu masalah kemiskinan di perkotaan.blogspot. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. 4. Untuk mengidentifikasi kemiskinan di perkotaan . C. 2 . Pemeliharaan keanekaragaman hayati untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang. Hambatan dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan diantaranya diantaranya masalah internal dan eksternal perkotaan.) Pembangunan berkelanjutan juga mensyaratkan adanya pemeliharaan keanekaragaman. 3. Apa yang menjadi masalah internal perkotaan. maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan penulisan ini adalah : 1. Yang tak kalah pentingnya adalah pengakuan dan perawatan keanekaragaman budaya yang akan mendorong perlakuan yang merata terhadap tradisi berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti oleh masyarakat. Untik mengidentifikasi masalah internal perkotaan 2. (http://id. Tujuan dan Kegunaan 1.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan) Ada dua makna gagasan yang terkandung didalam cara pandang pembangunan berkelanjutan yaitu : gagasan kebutuhan. Tujuan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. 1. 1. (http://muhlissuhaeri.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-. tentunya masih saja ada hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan itu sendiri. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban kota. Namun. B. Bagaimana masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan. Bagaimana masalah kemiskinan di perkotaan. Rumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Bagaimana masalah keamanan dan ketertiban kota. yaitu kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia dan gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan oerganiasi social terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan. 1.bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.wikipedia.

Ini berarti tujuan kegiatan perencanaan kota. D. Tokyo yang memiliki kualitas pembangunan yang berkelanjutan yaitu cara berpikir yang integrative. Barbier mengusulkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai interaksi antara tiga system : sistem biologis dan sumber daya. Evaluasi itu dapat dilakukan dengan beberapa cara. perspektif jangka panjang mempertimbangkan keanekaragaman dan distribusi keadilan social ekonomi. Perencanaan kota bertujuan menyelesaikan atau mengatasi permasalahan kota melalui penyediaan ruang untuk semua kegiatan masyarakat yang kompleks. bioregionalisme. Selain itu. Untuk mengidentifikasi keamanan dan ketertiban kota 5.3. adalah untuk mencapai proses pembangunan yang berkelanjutan. 3. 2. baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Permasalahan pembangunan berkelanjutan juga tak dapat diabaikan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan dan tekonologi. Singapura. perlu perencanaan dan perancangan yang bersifat ekologis dan berlandaskan etika non-antroposentris. proses-proses yang terjadi di dalam masyarakat dan antara masyarakat dan lingkungannya. . 5. sistem ekonomi dan sistem sosial. Untuk mengetahui masalah internal perkotaan. ekofeminisme dan sebagainya Proses pembangunan berkelanjutan di perkotaan dapat diketahui dengan melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan-kawasan di kota tersebut. termasuk ilmu perencanaan kota. Edward B. sadar atau tidak sadar. serta lingkungan buatan di perkotaan. 2005: 375-377) Beberapa pemikir dibidang perencanaan dan perancangan kota. Etika lingkungan non-antroposentris itu terbagi atas beberapa aliran. Untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup perkotaan. (Arif Budimanta Dalam Bunga Rampai. seperti juga semua mahluk hidup lainnya. yang menghasilkan kebijakan rencana kota. berkembang etika lingkungan non-antroposentris sebagai salah satu akibat terjadinya krisis-krisis lingkungan. Untuk mengidentifikasi kualitas lingkungan hidup perkotaan 4. dalam menjelaskan konsep pembangunan berkelanjutan ini. Budimanta membandingkan perkembangan kota Jakarta dengan kota-kota lain di Asia. Konsep pembangunan yang berkelanjutan ini terus berkembang. Sejak paruh abad ke-20. Pada tahun 1987. yang bergelut di bidang pembangunan. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. seperti juga mahluk hidup lainnya. Kegunaan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. Salah satu cara adalah evaluasi berdasarkan criteria pembangunan berkelanjutan. berpendapat bahwa untuk mencapai proses pembangunan berkelanjutan. seperti biosentris. Untuk mengetahui kemiskinan di perkotaan. 2. 4. yaitu Bangkok. Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan sebagai hasil debat antara pendukung pembangunan dan pendukung lingkungan. yaitu kebijakan yang menjadi pedoman utama pembangunan kota. Etika lingkungan non-antroposentris memandang manusia sebagai anggota komunitas hidup di dunia. Pembahasan Permasalahan pembangunan berkelanjutan sekarang telah merupakan komitmen setiap orang. Untuk mengetahui keamanan dan ketertiban kota.

pengelolaan sampah ) rumah sehat. Ketidakadilan juga terlihat dari tidak adanya akses kepemilikan hak atas tanah yang mereka huni. pelayanan pendidikan dan sebagainya. sulit bagi mereka untuk mendapat akses ke pekerjaan yang baik dan stabil.(Soefaat. sebelum itu urbanisasi juga sudah berjalan tapi lebih lambat dan terbatas. Daya tarik kota sebagai pusat mata pencaharian yang membengkak ini sering dibarengi dan diperbesar oleh kemunduran ekonomi diluar kota. Masalah Kemiskinan di Perkotaan Kemiskinan merupakan salah satu contoh ketidakadilan yang dialami suatu kelompok (masyarakat pra sejahtera). dan lingkungan yang bermuara pada kondisi kemiskinan. kurangnya penghargaan social. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban perkotaan. Ketidakadilan itu menyebabkan masyarakat miskin tetap miskin dan mengancam proses pembangunan yang berkelanjutan. baik di Negara maju maupun di Negaranegara yang sedang berkembang. RTH.kriteria pembangunan berkelanjutan di perkotaan dirumuskan berdasarkan pemikiran-pemikiran yang berkembang seperti diuraiakan diatas. menyebabkan mereka para pendatang yang tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bersaing di perkotaan memaksa mereka untuk terpinggirkan sehingga menjadi warga miskin di perkotaan. Di Indonesia perkembangan ini cepat sekali sejak tahun 70-an. dan pemahaman bahwa kemiskinan dan kerusakan lingkungan adalah ancaman utama pembangunan berkelanjutan. adanya urbanisasi. tidak layaknya tempat tinggal. Urbanisasi hampr terjadi dimanapun diseluruh dunia disebabkan oleh perkembangan ekonomi dan daya tarik perkotaan yang kadang menjebak bagi mereka yang tidak mampu bersaing sehingga menjadi terpinggirkan. poltik. Kondisi kekumuhan ini menunjukkan seriusnya permasalahan sosial ekonomi. sebagai pengangguran. dan lain-lain. 2005: 405) Berikut dibahas mengenai tiga sub sistem masalah internal perkotaan yang merupakan hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. Kerusakan lingkungan. 1. Kemiskinan serta kerusakan lingkungan hidup merupakan ancaman utama bagi proses pembangunan berkelanjutan dengan melihat tujuan dari pembangunan berkelanjutan yaitu mencapai masyarakat sejahtera (masyarakat berkelanjutan) dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan. kekurangan gizi dan nutrisi. 1. Masalah lain yaitu. dan terdapat di mana-mana. Pengertian kemiskinan sendiri bermakna multi-dimensi dari mulai rendahnya pendapatan. 1999: 43) . 2005: 410) Saat ini masalah kemiskinan perkotaan merupakan masalah mendesak yang banyak dihadapi kota-kota di Indonesia. air bersih. Yang paling mudah dan terlihat jelas dari wajah kemiskinan perkotaan ini adalah kondisi jutaan penduduk yang tinggal di permukiman kumuh dan liar. ketidakamanan. sulitnya mendapat akses ke pelayanan publik (sanitasi sehat. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. Ketidakadilan itu terlihat dari tidak terpenuhinya kebutuhankebutuhan mereka untuk bertahan hidup dalam kesehatan yang baik. Sebagai akibat itu semua. kondisi permukiman buruk atau kumuh dalam suatu kawasan memperlihatkan bahwa kawasan tersebut sedang dalam proses tidak berkelanjutan. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai.

untuk kembali memperdayakan petani. kebutuhan kita akan barang-barang. dalam pengadaan beras. Yang menjadi kunci permasalahan adalah mengapa pasokan hulu dan hilir tidak dikembangkan secara mandiri di tingkat lokal dan nasional. Sehingga begitu dollar AS naik. melalui pancausaha tani pemerintah mengharuskan petani menggunakan varietas benih unggul padi. Deputi perdana menteri Malaysia. Datuk Anwar Ibrahim. baik hayati maupun nonhayati. semuanya merupakan produk olahan yang menggunakan bahan dasar sumber daya hayati. paling tidak untuk mencukupi kebutuhan sendiri. sandang. baik hulu maupun hilir dapat dilepaskan. namun paling tidak sejumlah devisa dapat dihemay dan lapangan kerja pertanian dapat digairahkan kembali. termasuk harga-harga kebutuhan pokok yang dampaknya menyentuh segenap lapisan masyarakat. Mereka diberikan peluang untuk membudidayakan bibit-bibit . Hal tersebut mengakibatkan petani sangat tergantung pada indutri pupuk dan pestisida. seringnya nilai tukar rupiah merosot terhadap nila dollar AS menimbulkan kenaikan harag berbagai jenis barang. Sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk mengentaskan atau mengurangi kemiskinan dengan berbagai programnya. Swasembada bahan pokok seharusnya dapat kita lakukan. Oleh karena itu. Ketergantungan petani terhadap bibit tersebut menyebabkan petani tidak menjadi orang bebas. Dalam kondisi seperti ini kita dapat belajar pada Negara tetangga kita Malaysia. tetapi ketergantungan terhadap agro-industri. dan dampak sampai kepada sektor pertanian. yang awalnya yang diperoleh dari IRRI (Iinternasional Rice Research Institut). dibutuhkan kebijakan yang tegas dari pemerintah Indonesia dalam melihat masalah ini. kemiskinan masih tetap merupakan masalah penting sehingga perlu ditangani secara bersama-sama terutama dikawasan perkotaan. khususnya yang berdasar sumber daya hayati. Apalagi. mengingat produk-produk bahan poko tersebut berasal atau bersumber dari sumber daya hayati. beliau menginstruksikan agar masyarakat mau memberdayakan sumber daya lahan yang tersedia untuk menanam sayur-sayuran. harganya pun ikut naik. seperti kita ketahui pada jenis tersebut tidak dapat tumbuh tanpa dipupuk dan diberi pestisida. Hanya saja hingga ssat ini pengelolaan sumberdaya tersebut belum optimal. Padahal. dalam menetapkan strategi jangka pendeknya. Pada dasarnya hal ini tidak akan terjadi apabila semua kebutuhan pokok tersebut dapat dicukupi oleh kita sendiri. Bersamaan dengan itu. Sebagai contoh. Penduduk perkotaan yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat secara signifikan sejak terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997. padahal tidak ada satu pun industri yang bahan bakunya tidak tergantung impor. Swasembada bahan pangan yang kita lakukan masih mengalami hambatan sebab meskipun Negara kita hidup dalam pola agraris. baik pangan. Selain itu.Krisis ekonomi meningkatkan angka kemiskinan absolut di daerah perkotaan. Upaya praktis ini tentu saja tidak dapat secara makro memperbaiki kondisi ekonomi kita. Kebutuhan masyarakat. Seharusnya dengan kekayaan hayati tersebut. 2005 : 7). Sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin melakukannya. (Gita Chandrika Dalam Bunga Rampai. dapat kita penuhi sendiri. mengingat bangsa Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Namun demikian. maupun papan. maka kekuasaan atas bibit harus dikembalikan kepada mereka. telah menginstruksikan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian untuk menghentikan import sayur-sayuran dan buah-buahan. tampaknya dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang ini. Kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki hingga saat ini bellum dimnafaatkan secara optimal. Kebutuhan bahan pokok sebenarnya mampu kita penuhi.

menjadi kawasan industri dan kawasan permukiman perkotaan. kondisinya sangat rentang dan keropos. Orang miskin bukanlah orang yang pasif. dan jaringan sosial mempengaruhi kehidupan orang miskin. Ketahanan kita akan kebutuhan bahan pokok sangatlah kurang. Penelitian yang ada selama ini bukan membumi. karena ketergantungannya pada bahan baku impor. Rebounding atau pelurusan kembali makna keberfungsian sosial ini akan lebih memperjelas analisis mengenai bagaimana orang miskin mengatasi kemiskinannya.lokal yang sudah ada. Kerusuhan ini bahkan telah menembus sampai kawasan pedesaan atau kawasan pinggiran kota. sangatlah naif. Dementara industry yang diharapkan mampu menopang sektor pertanian. ternyata kita belum mampu menjadi produsen bahan baku kedelainya hingga kini. Sistem yang dapat melindungi warganya menghadapi kondisi-kondisi yang memburuk yang mampu ditangani oleh dirinya sendiri. yang dapat mendukung pola agraris yang kita miliki agar efisien. tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak lainnya. Krisis ekonomi yang menyebabkan naiknya harga kebutuhan bahan pokok telah menimbulkan berbagai kerusuhan. Kedelai hingga kini masih harus diimpor. karena ada pandangan bahwa pola pertanian yang ada selama ini tidak memberikan nilai tambah. Bila hal ini dilakukan. Tempe. Keadaan ini terjadi pada orang yang miskin yang hidup di Negara yang tidak menerapkan sistem Negara kesejahteraan (welfare state). diperlukan upaya pembangunan daerah yang berbasis keanekaragaman hayati setempat. diganti dengan pola modern yang tergantung pada industri. tetapi menuju ke langit.(Sugandi. karena investasi yang ada selama ini bukan untuk pembangunan industri yang berbasis sumber daya alam hayati (agroindustry). keluarga kekerabatan. serta bagaimana struktur rumah tangga. Pendekatan kemiskinan yang berkembang selama ini perlu dilengkapi dengan konsep keberfungsian sosial yang lebih bermatra demorasi-sosial ketimbang neo-liberalisme. Bahkan kecenderungannya adalah mengubah kawasan pedesaan yang mampu mandiri berbasis pertanian keanekaragaman hayati. Hal ini disebabkan desa telah kehilangan daya tahan menghadapi krisis. Paradigma baru lebih menekankan pada ―apa yang dimiliki si miskin ‖ ketimbang ‖ apa yang tidak dimiliki si miskin ‖. yang merupakan makanan Indonesia sejak dahulu kala. 2007: 46-50) Penelitian – penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemiskinan tidaklah statis. Nilai tambah yang dimaksud dalam konteks tersebut adalah yang bisa memberikan konstribusi devisa. dalam rangka peningkatan ketahanan akan kebutuhan bahan pokok. ketergantungan petani dari jaringan internasional industri bibit akan hilang dan memunculkan kekuatan lokal. Untuk itu. Semuanya itu disebabkan kita belum pernah mengadakan penelitian bioteknologi. (Suharto. sebagai ajang konversi. bukan dalam pengertian mampu memberikan daya hidup pada komunitas desa. Ia adalah manajer seperangkat asset yang ada di seputar diri dan lingkungannya. Kebijakan tegas untuk meninggalkan kultur agraris. Kelangsungan hidup individu dalam situasi seringkali tergantung pada keluarga yang secara bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan pemberian bantuan keuangan. 2005 : 148) . Kultur agraris yang menjadi basis pertahanan ekonomi desa telah hilang maupun ditinggalkan.

Perubahan hutan menjadi sawah merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan untuk produksi bahan makanan dibawah kondisi curah hujan yang tinggi dan juga untuk mengurangi resiko erosi di daerah pegunungan. Manusia merupakan subjek sekaligus objek pembangunan. serta menjadi jaminan bagi kesejahteraan serta mutu hidup generasi masa kini dan generasi mendatang. Kerusakan ini pada akhirnya akan menjadi beban yang malah menurunkan mutu hidup manusia. pembangunan yang makin meningkat akan memberikan dampak negatif. Untuk dapat melakukan hal tersebut. keadilan dan kesetaraan jender. diperlukan pendekatan pembangunan yang menitikberatkan pada segi manusia. Pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup manusia. menghargai perbedaan-perbedaan. 2005 : 418) 1. perlu diganti dengan pendeketan bottom-up. 2. Melestarikan keserasian akan berarti meniadakan kebutuhan dasar untuk dapat memilih. sehingga apa yang menjadi tujuan pembangunan akan sia-sia. tempat dan waktu. dan menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari pembangunan manusia itu sendiri. Dengan perubahan hutan atau tata guna lahan lain menjadi sawah berubahlah pula keseimbangan lingkungan. Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan manusia. Sejak berabad tahun yang lalu nenek moyang kita telah merubah hutan menjadi daerah pemukiman dan pertanian. Di lain pihak. Jadi jelaslah keserasian bukanlah suatu hal yang kekal. menghargai etika dan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan di lingkungan alam. Masalah Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Pembangunan pada hakikatnya adalah perubahan lingkungan. Manusia berada pada posisi sentral sahingga pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilya tidak boleh mengabaikan dimensi manusianya. (Madrim Djody Gondokusumo Dalam Bunga Rampai. berupa resiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. yaitu melibatkan partisipasi masyarakat melalui dialog-dialog yang demokratis. yaitu mengurangi resiko lingkungan atau dan memperbesar manfaat lingkungan.Pada akhirnya kebijakan pengurangan kemiskinan yang selama ini yaitu pendekatan top-down dalam perencanaan kebijakan yang sekarang dilakukan. . Karena itu akan berarti menurunkan mutu lingkungan dan dengan itu mutu hidup. Hingga sekarang pencetakan sawah masih berjalan terus. termasuk sumber daya alam. Keberlanjutan pembangunan harus memadukan lingkungan hidup. Karena itu melestarikan keserasian bertentangan dengan hakekat hidup yang menginginkan perubahan. yang mengakibatkan rusaknya struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. sumber daya manusia. yaitu pemerintah dan para pakar menganggap dirinya yang paling mengetehaui tentang proses-proses yang terjadi dimasyarakat. melainkan berubah-ubah menurut umur orang atau golongan. sehingga menuntut tanggung jawab dan perannya untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. serta pengembangan sumber daya buatan. Ilmu pengetahuan modern antroposentris sebagai dasar perencanaan kebijakan publik untuk mengelola kehidupan masyarakat dan lingkungan perlu diganti dengan ilmu pengetahuan yang bersifat non-antroposentris.

Permasalahan ketersediaan tanah di perkotaan sebagai lahan hijau sangat terbatas. Selain harga tanah yang mahal, juga kurangnya penghargaan bagi pemilik tanah terlantar untuk dimanfaatka sebagai lahan terbuka hijau. Penggunaan ruang terbuka hijau mulanya diawali dengan tumbuhnya perumhana liar yang semakin luas dan sulit dikendalikan, yang selanjutnya menimbulkan terbentuknya kawasan kumuh. Apalagi para penghuni tersebut dikenakan pajak tidak resmi sehingga mereka merasakan seolah mendapatkan legalitas untuk tinggal di tempat tersebut. Begitu juga, disisi lain factor urbanisasi, khususnya golongan berpendapat rendah dan kurangnya tingkat pendidikan, mendorong mereka untuk menduduki lahan ruang terbuka hijau. Seperti pemanfaatan tepian tepian bantaran sungai dan tepian jalur kereta api sebagai tempat tinggal. (Soemarwoto, 1983 : 60-61) Secara sistem, ruang terbuka hijau kota pada dasarnya adalah bagian dari kota yang tidak terbangun, yang berfungsi menunjang kenyamanan, kesejahteraan, penigkatan kualitas lingkungan, dan pelestarian alam, umumnya terdiri dari ruang pergerakan linear atau koridor dan ruang pulau atau oasis (Spreigen 1965). Perencanaan ruang terbuka hijau secara tepat mampu mampu berperan dalam menigkatkan kualitas atmosfer kota, penyegaran udara, menurunkan suhu kota, menyapu debu permukaan kota, menurunkan kadar polusi udara dan meredam kebisingan. Penelitian Embleton (1963) menyatakan bahwa 1 hektar ruang terbuka hijau dapat meredam suara pada 7 db per 30 meter jarak dari sumber suara pada frekuensi kurang dari 1000 CPS , atau penelitian Carpenter (1975) dapat meredam kebisingan 25-80 %. Kualitas udara bersih merupakan factor luar yang sangat berpengaruh. Karena itu, keberadaan ruang terbuka hijau kota merupakan eksternalitas ekonomis, bukan disekonomis. Artinya, ruang terbuka hijau akan menyebabkan seseorang atau beberap individu menjadi lebih sehat dan baik. Dengan demikian, ada kemauan untuk menerima ruang terbuka hijau dari penigkatan aktivitas lain yang menguntungkan. Oleh karena itu, perencanaan ruang terbuka hijau kota merupakan manfaat sosial yang terdiri dari surplus konsumen sekaligus juga merupakan surplus produsen, sehingga umumnya kesejahteraan (kesehatan) penduduk kota meningkat akibat lingkungan yang sehat. Pelaku-pelaku yang terlibat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau kota terdiri atas sebagai berikut : 1. a. Pemerintah Kewajiban pemerintah kota, dalam hal ini instansi/lembaga dinas pertamanan, dan dinas kehutanan adalah mengadakan dan menyelenggrakan pembangunan secara adil untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kota, termasuk di dalamnya bidang keamanan, kenyaman, dan keserasian. Apabila hal ini dikaitkan dengan jenis ruang terbuka hijau yang ada maka ruang terbuka hijau yang harus disediakan oleh pemerintah adalah ruang terbuka hijau korodor yang meliputi: jalur hijau kota dan jalur hijau jalan; ruang terbuka hijau produktif yang meliputi kawasan pertanian kota, perairan/tambak; ruang terbuka hijau konservasi yang meliputi kawasan cagar alam dan hutan kota; ruang terbuka hijau lingkungan yang meliputi kawasan taman lingkungan dan bangunan, serta permakaman, perkantoran dan kebun binatang 1. b. Swasta

Peranan swasta sebagai pelaku ekonomi kota, yang bergerak di sektor formal maupun informal, tidak secara mutlak berkewajiban untuk melaksanakan pengadaan ruang terbuka hijua kota. Melalui pertimbangan-pertimbangna tertentu serta pengkajian dari sudut pandang swasta, dapat disediakan ruang terbuka hijau yag memungkinkan untuk dikelolah oleh swasta, yaitu ruang terbuka hijau untuk keindahan/estetika; ruang terbuka hijau untuk rekreasi; ruang terbuka hijau lainnya yang dapat dikomersialkan. 1. c. Masyarakat Kota Peran serta masyarakat, baik secrara individual maupun kelembagaan terhadap ruang terbuka hijau lebih terbatas pada pemanfaatan dan pemeliharaan. Dari segi perencanaan maupun pengadaannya, peran serta masyarakat sangat kecil sekali. Hal ini disebabkan keberadaan ruang hijau kota biasanya terbentuk oleh adanya tanah kosong yang belum/tidak dimanfaatkan. Kelangsungan keberadaannya tidak dapat dijamin, sehubungan dengan sifat penguasaan tanahnya yang lebih banyak bersifat individu (bukan tanah negara). 1. d. Media Massa Media massa, baik media elektronik maupun media cetak, ikut berperan sebagai pelaku dalam pengelolaan ruang terbuka hijau, khususnya dalam menciptakan opini publik terhadap pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan. Disamping hal tersebut, fungsi media massa juga bermanfaat untuk ikut mengawasi perkembangan ruang terbuka hijau. (Sugandy, 2007 : 103-105 ) Indonesia sudah mulai menyadari bahwa untuk mencapai masyarakat perkotaan masyarakat kehidupan perkotaan yang sejahtera, kualitas lingkungan hidupnya harus baik, karena akan beperngaruh pada kualitas hidupnya (Quality Of Life). Masalah yang terkait dengan kualitas lingkungan hidup dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat kota, meliputi aspek fisik seperti kualitas udara, air, tanah; kondisi lingkungan perumahannya seperti kekumuhan, kepadatan yang tinggi, lokasi yang tidak memadai serta kulaitas dan keselamatan bangunannya; ketersediaan saran dan prasarana serta pelayanan kota lainnya; aspek sosial budaya dan ekonomi seperti kesenjangan dan ketimpangan kondisi antar golongan atau antar warga, tidak tersedianya wahana atau tempat untuk menyalurkan kebutuhankrbutuhan sosial budaya, seperti untuk berinteraksi dan mengejawantahkan aspirasi-aspirasi sosial budayanya; serta jaminan perlindungan hukum dan keamanan dalam melaksanakan kehidupannya. Kohesi sosial dan kesetaraan (Equity) merupakan faktor penting dalam kualitas hidup di perkotaan. Kekumuhan kota disebabkan karena sumber daya yang ada di kota tidak mampu melayani kebutuhan penduduk kota. Kekemuhan kota bersumber dari kemiskinan kota yang desebabkan karena kemiskinan warganya dan ketidakmampuan pemerintah kota dalam memberikan pelayanan yang memadai kepada warga masyarakatnya. Kemiskinan warga disebabkan karena tidak memiliki akses kepada mata pencaharian yang memadai untuk hidup layak, serta akses pada modal dan informasi yang terbatas. Kemiskinan ini akan berdampak pada kemampuan

warga untuk membayar pajak yang diperlukan untuk membangun fasilitas dan infrastruktur di kawasannya. Permasalahan utama prasarana dan saran perkotaan (PSP) termasuk perumahan adalah tidak memadainya suplay dibandingkan dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan terbatasnya kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pelayan PSP yang layak. Akibat dari keterbatasan suplay dibandingkan dengan kebutuhan, maka masyarakat yang berpenghasilan rendah justru harus membayar harga mahal untuk memperoleh pelayanan PSP tersebut. Berkaitan dengan perumahannya, mereka terpaksa menggunaka lahan-lahan secara liar dengan kualitas perumahan yang jauh dibawah standar. (Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 7-8 ) 1. 3. Masalah Keamanan dan Ketertiban Perkotaan Beberapa teror bom yang terjadi di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini, sperti di Bali, Jakarta dan lain-lain telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat perkotaan dan mengganggu jalannya perekonomian kota. Selain itu, beberapa kota di Indonesia juga mengalami penurunan kualitas kehidupan dengan banyaknya terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar kelompok masyarakat, seperti di Poso, Palu, Ambon, Banda Aceh dan sebagainya. Permasalahan ini diperberat dengan masalah ketertiban di perkotaan Karena tidak disiplinnya masyarakat perkotaan. Hal ini tercermin dengan jelas antara lain dalam disiplain berlalu lintas. Saat ini juga semakin sering terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah, terutama di kota-kota besar. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal seperti tidak adanya sosialisasi dari pemerintah, kurangnya pelibatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, kurangnya pemamhaman akan hak-hak dan tanggung jawab masyarakta dalm pembanguna kota dan lain sebagainaya. Semua hal tersebut diatas sangat berpengaruh pada kinerja kotanya.( Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 9-10) Kemampuan untuk membuat perencanaan yang di satu pihak memecahkan masalah urbanisasi dan dilain pihak memperkaya fungsi kota merupakan keahlian yang sangat diharapkan dari para perencana kota pada masa akan datang. Setiap kota, selain berusaha untuk meningkatkan fungsifungsi perkotaan yang bersifat standar, sebaiknya juga mengembangkan fungsi-fungsi khusus yang kompetitif secara global. Tetapi kedua hal di atas hanyalah suatu strategi umum dalam menyiasati permasalahan pengembangan kota, dan sebenarnya baru bisa terlaksana bila beberapa permaslahan pokok dari kota-kota di Indonesia telah diperbaiki secara substansial. (Santoso, 2006 : 61) 1. 4. Contoh Kasus Contoh dari hambatan pembangunan yang berkelanjutan akibat kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup, yaitu yang terjadi di Kacamata Tambora, kotamadya Jakarta Barat (melalui penelitian yang dilakukan pada tahun 2002-2003). Kecamatan Tambora adalah kecamatan yang berkepadatan penduduk tertinggi di DKI Jakarta, yaitu lebih dari 500 orang per hektar, memiliki permukiman kumuh atau buruk yang sangat luas dan kemiskinan yang sangat signifikan. Evaluasi yang dilakukan berdasarkan Perhitungan criteria pembangunan yang berkelanjutan di

tercemar. tikus. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. Pencemaran itu disebabkan oleh berbagai sumber didalam dan luar Kota Jakarta. nyamuk. F. dalam kasus Kecamatan Tambora. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-harus . Kerusakan lingkungan. dan sebagainya. tercemar. Ancaman tersebut tidak hanya terjadi di kawasan itu saja. tanah. tetapi juga akan mempengs\aruhi sub-sub sistem lain yang membentuk kawasan itu Berdasarkan kesimpulan diatas. yaitu dimensi social ekonomi dan lingkungan. yang merupakan faktor ekologis sebuah kota. 1. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. Bahwa masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadidi suatu kawasan tertentu memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses tidak berkelanjutan. 2.perkotaan (3 PRO) terhadap kecamatan itu memperlihatkan bahwa proses tidak berkelanjutan sedang berlangsung.blogspot.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan http://muhlissuhaeri. E. dll. serta sebagai akibat tidak berfungsinya pengelolaan sampah dan limbah air kota. Daftar Pustaka http://id. Kondisi lingkungan pemukiman buruk atau kumuh seperti diuraikan diatas memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses yang tidak berkelanjutan. dapat dilihat pada kondisi air. tetapi juga akan mempengaruhi subsistem-subsistem lain yang membentuk kota Jakarta. karena komponen-komponen pembentukan yang membentuk jaringan. 1. Ancaman itu tidak hanya terjadi di dalam kawasan atau subsistem Kecamatan Tambora saja. Hal itu tentunya juga mengancam subsistem-subsistem lain dalam system kota Jakarta. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. Tumpukan sampah di TPS juga merupakan sumber berkembangnya vektor-vektor penyakit. Bahwa hambatan dalam pencapaian pembangunan yang berkelanjutan adalah kemiskinan. subsistem Kecamatan Tambora tersebut diatas. lalat. seperti kecoa.wikipedia. dan udara yang telah tercemar. Kesimpulan dan Saran Dari hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan: 1. keamanan dan ketertiban kota. dapat dikelompokkan dalam tiga dimensi yang saling berinteraksi terus menerus. 3. kerusakan lingkungan hidup. maka adapun saran bagi pemerintah agar dapat menerapkan sistem pembangunan yang berkelanjutan seperti di negara-negara maju lainnya dengan jalan menanggulangi kemiskinan serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta keamanan dan ketertiban di perkotaan guna menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya di Indonesia sehingga dapat dirasakan bukan hanya untuk di masa sekarang melainkanjuga untuk generasi yang akan datang.

Bunga, Rampai. 2005. Pembangunan Kota Indonesia Dalam Abad 21, Konsep dan Pedekatan Pembangunan Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI Santoso, Jo. 2006. Menyiasati Kota Tanpa Warga. Gramedia :Jakarta Soefaat. 1999. Hubungan Fungsional Teknik Sipil dengan Tata Ruang Kota dan Daerah Jilid 1. PT. Mediatama Saptakarya : Bandung Soemarwoto, Otto. 1983. Ekologi Lingkungan hidup dan Pembangunan. Djambatan : Jakarta Sugandhy, Aca dan Hakim, Rustam. 2007. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Bumi Aksara Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. PT. Refika Aditama: Bandung. Comments: Be the first to comment

ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA PERMUKIMAN DI KAWASAN TANJUNG BUNGA MAKASSAR
Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Oleh: Syahriar Tato ABSTRAK Pada suatu lingkungan permukiman keberadaan sarana dan prasarana merupakan ukuran standar kelayakan dalam artian lingkungan permukiman yang dilengkapi sarana dan prasarana (utilitas) yang memadai cenderung akan mengalami peningkatan taraf kesejahteraan. Hal ini cukup beralasan seperti keberadaan jalan-jalan penghubung ke daerah sekitar maupun ke pusat kota akan terjadi kemudahan akses interaksi dengan lingkungan permukiman sekitarnya maupun ke kawasan-kawasan utama pada daerah perkotaan. Disisi lain keberadaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan permukiman akan memacu pula peningkatan aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi. Seperti keberadaan sarana jasa dan perdagangan akan memacu kelancaran distribusi barang dan jasa dari dalam ke luar, keberadaan sarana kesehatan akan terjadi peningkatan mutu kesehatan masyarakat, dan keberadaan sarana pendidikan yang memacu perubahan pola pikir dalam menumbuhkan kemandirian.

1. A. PENDAHULUAN Perkembangan jumlah penduduk pada daerah perkotaan yang disertai dengan peningkatan arus urbanisasi membawa perubahan besar pada kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan

papan beserta fasilitas penunjangnya. Kebutuhan dasar tersebut terus meningkat secara alamiah seiring kompleksitasnya kebutuhan hidup bermasyarakat, seperti kebutuhan untuk aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, dan aktivitas pelayanan umum. Dari fenomena tersebut menuntut pula pembangunan sarana dan prasarana di daerah perkotaan sebagai pengejewantahan menjaga kelangsungan hidup masyarakat di daerah perkotaan dalam rangka menuju kota berkelanjutan (sustainable cityes). Menurut Jayadinata J.T, (1999:31) mengatakan bahwa dalam meningkatkan perkembangan kegiatan sosial dan ekonomi, sarana dan prasarana merupakan hal yang penting. Untuk itu perhatian sejak dini dalam hal pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi pembangunannya baik dari segi pembangunan kuantitas sarana dan prasarana yang ada maupun kualitas pelayanannya. Namun upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di daerah perkotaan bukanlah hal semudah membalikkan telapak tangan. Kendala dan sejumlah permasalahan dalam hal pemenuhan dan distribusinya menuntut tanggung jawab bersama ketiga komponen pembangunan yaitu pemerintah (penentu kebijakan), masyarakat (pengguna) dan pihak swasta (developer). Dari segi pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana fenomena-fenomena umum yang menjadi kendala utama yaitu harga lahan di perkotaan semakin tinggi, kurangnya ketersediaan lahan, kurangnya partisipasi masyarakat baik dalam bentuk swadaya maupun pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada, dan lain sebagainya, sedangkan ditinjau dari segi distribusi yaitu pemerataan sarana dan prasarana yang menimbulkan kesenjangan sosial antara kawasan pusat kota dan kawasan pinggiran kota. Kota Makassar sebagai salah satu kota dengan pelayanan jasa, sosial, ekonomi terbesar pada Kawasan Timur Indonesia (KTI) memberikan andil yang cukup besar dalam memicu perkembangan kota-kota lain yang berada di wilayah timur Indonesia umumnya dan bagi daerah hinterlandnya. Kota Makassar dalam Rencana Umum Tata Ruang terdiri atas bagian wilayah kota (BWK) yang membentuk fungsi kawasan-kawasan dan tersebar di seluruh Kota Makassar. Antaranya kawasan pendidikan, kawasan jasa dan perdagangan, kawasan industri, kawasan perkantoran, kawasan permukiman dan kawasan rekerasi/hiburan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Di era globalisasi pembangunan perumahan di Kota Makassar terjadi perkembangan yang cukup pesat seiring dengan permintaan kebutuhan akan papan sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk. Implikasi dari pembangunan perumahan tersebut menuntut pula ketersediaan sarana dan prasarana perumahan. Kawasan Tanjung Bunga secara geografis terletak di sekitar ± 5 km sebelah barat daya dari jantung Kota Makassar yang merupakan daerah pesisir pantai Selat Makassar yang membentang sepanjang ± 8 km, yang pengembangannya di mulai sejak tahun 1997 secara fisik maupun non fisik. Ditinjau dari topografi Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah yang berdataran rendah dan juga termasuk daerah perairan karena merupakan daerah hilir aliran Sungai Jeneberang. Pembangunan pada Kawasan Tanjung Bunga perpaduan antara pariwisata, olah raga, bisnis, dan permukiman di atas lahan seluas ± 1000 ha, sedangkan tahap awal pembangunannya di mulai dari pembangunan pusat kawasan yaitu pada Kelurahan Tanjung Merdeka, dimana pembangunan

itu berupa pembangunan perumahan yang terdiri dari beberapa kompleks perumahan seluas 340 Ha, pembangunan ruko sebagai fasilitas perdagangan, pembangunan jalan akses dari dan ke Kota Makassar dan Kabupaten Gowa (PT. GMTD, Tbk, 2005). Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah pengembangan wilayah kota (BWK) C Kota Makassar yang memiliki fungsi utama sebagai rekreasi pantai dan jasa pariwisata, pusat perdagangan dan jasa sosial dengan fungsi penunjang pemerintahan Kota, perdagangan, permukiman, pendidikan, dan transportasi (revisi RUTRK Kota Makassar, 2001). 1. B. TUJUAN DAN KEGUNAAN 2. 1. TUJUAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui ketersediaan sarana saat ini dan yang akan datang di Kawasan Tanjung Bunga 1. 2. KEGUNAAN
  

Sebagai bahan masukan bagi swasta (developer) yaitu PT. GMTD, Tbk dalam hal penyediaan kebutuhan sarana di Kawasan Tanjung Bunga . Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya khususnya bagi pengembangan disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota

1. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada ketersediaan dan banyaknya Kebutuhan akan 1. D. METODE PENULISAN 1. a. Dalam melakukan penelitian diperlukan penetapan lokasi sebagai upaya pemecahan masalah sesuai dengan tujuan penlitian dan ditetapkan Lokasi GMTDC TANJUNG BUNGA. 2. b. Melakukan proses pendataan baik berupa data primer maupun data sekunder dengan melakukan teknik observasi, kuisoner maupun kunjungan lembaga atau instansis. 3. c. Dalam melakukan proses analisa digunakan analisis bunga berganda dalam memproyeksi tingkat kebutuhan sarana. 1. E. ANALISIS 2. a. Analisis Aspek Kependudukan Dari hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode bunga berganda, maka perkembangan jumlah penduduk di Kawasan Tanjung Bunga dapat diasumsikan yaitu jumlah penduduk 10 (sepuluh) tahun kedepan 2005 – 2010 dengan menggunakan metode bunga berganda, maka akan diperoleh jumlah penduduk sebesar 32.737 jiwa. 1. b. Analsisis Ketersediaan Sarana Dan Prasarana

1. PU. Kebutuhan sarana pendidikan 10 (sepuluh) tahun ke depan untuk sarana pendidikan berupa : Taman Kanak-Kanak (TK) perlu adanya penambahan sebanyak 30 (tiga puluh) unit dengan kebutuhan lahan 36 ha. Sekolah Dasar. diperlukan ketersediaan fasilitas peribadatan berupa tempat ibadah bagi masing-masing pemeluk agama. 1. PU. maka masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga yang hendak beribadah harus ke luar untuk mencari tempat beribadah. Analisis Sarana Peribadatan Dalam melaksanakan ritual keagamaan berupa ibadah menurut agama dan kepercayaan yang dianut. Cipta Karya Dep.Analisis kebutuhan akan sarana pendidikan diadasarkan pada kondisi real dimana hal tersebut belum memadai yang perhitungannya didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh Ditjen. Sehubungan dengan hal tersebut. Dengan kondisi yang ada maka untuk ketersediaan sarana peribadatan yang ada saat ini masih belum memadai yaitu berupa sarana langgar serta belum adanya mesjid di Kawasan Tanjung sehingga dalam melaksanakan kewajiban yang berupa Shalat Jumat. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan sekolah yang dikelola oleh pihak swasta dan memiliki sejumlah fasilitas yang ada di dalamnya yang berupa Laboratorium Bahasa Inggris. Tahun 1979. Tahun 1979 dapat dilihat bahwa untuk kebutuhan Taman kanak-kanak (TK) yang ada saat ini perlu adanya penambahan begitu pula dengan Sekolah Dasar (SD) sedangkan untuk sarana pendidikan lainnya yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Komputer dan IPA. .5 ha. pelatihan dan pembinaan. Hasil analisis evaluasi ketersediaan sarana pendidikan di atas berdasarkan standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) perlu penambahan sebanyak 5 (lima) unit dengan kebutuhan lahan 50 ha serta Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) penambahan sebanyak 5 (lima) dengan kebutuhan lahan 100 ha. 1. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan satu kompleks. 2. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas serta Perguruan Tinggi. pemerintah mengupayakan program pendidikan bagi masyarakat baik secara formal maupun informal. Untuk dapat melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut. Analisis Sarana Pendidikan Ketersediaan fasilitas pendidikan. yang mana pendidikan informal dapat ditempuh melalui kursus. merupakan wujud kepercayaan terhadap Tuhan YME. Sekolah Dasar (SD) penambahan sebanyak 19 (sembilan belas) unit dengan kebutuhan lahan 28. Cipta Karya Dep. merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat pendidikan di daerah/kawasan tertentu. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) pada saat ini kurang memadai sedangkan Perguruan Tinggi (PT) tidak perlu mengalami penambahan. Sedangkan untuk pendidikan formal pemerintah telah menyediakan jenjang pendidikan yang di mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak.

Poliklinik. Selain itu juga nantinya akan diadakan pembangunan Masjid dan Gereja yang berskala kawasan yang melayani.35 ha. sedangkan untuk sarana yang lainnya sudah memadai seperti pusat perbelanjaan dan niaga. Apotek.6 ha. Analisis Sarana Kesehatan Untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA : Ketersediaan sarana kesehatan yang ada saat ini yang berupa. Praktek Dokter. Apotek. Analisis Sarana Perdagangan dan Jasa Sedangkan untuk ketersediaan sarana perdagangan pada tahun proyeksi yaitu tahun 2015 masih membutuhkan pengadaan jenis sarana seperti pusat perbelanjaan lingkungan yang berupa minimarket yaitu sebanyak 1 (satu) unit yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga sedangkan untuk jenis sarana perdagangan yang berupa toko/warung perlu adanya penambahan yang mana sarana tersebut bergabung dengan permukiman Berdasarkan jumlah penduduk yang ada saat ini dengan memperhatikan standar perencanaan yang baku yang dikeluarkan oleh Ditjen Cipta Karya Dep. 1. sarana Langgar/Surau mengalami penambahan 11 (sebelas) unit dengan kebutuhan lahan 3. 1. 4. Disamping itu Pusat Perbelanjaan & Niaga (Mall) yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan Pusat Perbelanjaan dan Niaga (Mall) yang berskala regional yang melayani kebutuhan warga masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya dan di Kota Makassar pada umumnya yang dikenal dengan nama Grade Trade Center (GTC). Dengan kondisi yang mana berdasarkan standar perencanaan dan hasil proyeksi jumlah penduduk. Praktek Dokter sebanyak 5 (lima).7 ha. . PU. Poliklinik tidak memadai dengan melihat jumlah penduduk yang ada saat ini. Rumah Sakit Bersalin/BKIA sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 1. 3. Maka yang tidak memadai yaitu Toko/Warung dan untuk sarana perbelanjaan yang berskala lingkungan seperti minimarket saat ini belum ada. diperlukan peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.Untuk ketersediaan 10 (sepuluh) tahun ke depan mengenai fasilitas peribadatan diperkirakan masih membutuhkan penambahan jumlah maupun pengadaan unit yaitu. Apotek sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 0. yang indikator pentingnya yaitu tersedianya sarana kesehatan yang berupa . Selain penambahan dan pengadaan unitnya diperlukan juga pemeliharaan dan peningkatan pelayanannya terhadap masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga maupun di daerah sekitarnya.3 ha sedangkan untuk sarana Masjid untuk tahun 2015 perlu adanya pengadaan dengan melihat kondisi yang akan datang. sedangkan Praktek Dokter. dan nantinya di Kawasan Tanjung Bunga akan dilengkapi dengan Rumah Sakit type A yang sesuai dari perencanaan PT. maka beberapa jenis sarana kesehatan masih memerlukan beberapa penambahan yakni diantaranya. GMTD. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA yang ada saat ini masih memadai dengan melihat kondisi kependudukan serta standar perencanaan. Tahun 1979. kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga dan di daerah sekitarnya. Poliklinik sebanyak 9 (sembilan) dengan kebutuhan lahan 2. dan pertokoan (ruko). Tbk sebagai pengelola kawasan terpadu ini.

Cipta Karya Dep.GMTD. Untuk melihat kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini dengan menggunakan jumlah penduduk yang ada saat ini serta melihat standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. Sehingga sarana olah raga dan rekreasi sangat penting untuk menunjang suatu kawasan. fasilitas perdagangan dan jasa juga merupakan suatu indikator dalam menentukan perkembangan tingkat perekonomian suatu wilayah. sedangkan swasta yang berupa Kantor Manajemen PT.Ketersediaan sarana perdagangan dan jasa merupakan aspek yang cukup esensial dalam perkembangan suatu kota atau wilayah. Baruga dan Stadion Dayung tidak mengalami penambahan melainkan butuh adanya peningkatan kondisi dari pada sarana tersebut sedangkan untuk sarana rekreasi juga tidak mengalami penambahan tetapi memperbaiki kondisi serta . 5. sedangkan untuk sarana rekreasi yang berupa rekreasi pantai yang dikenal dengan Akkarena dengan skala pelayanan yang bersifat regional pada umumnya dan Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya serta taman bermain yang terletak dilingkungan hunian yang ada di Kawasan tanjung Bunga. Kebutuhan sarana olah raga dan rekreasi untuk ketersediaan saat ini di Kawasan Tanjung Bunga sudah memadai yang berupa sarana olah raga yang meliputi: Lapangan Bulutangkis. Analisis Sarana Olah Raga Dan Rekreasi Untuk sarana olah raga dan rekreasi merupakan sarana yang cukup penting dalam menciptakan manusia yang sehat jasmani maupun rohani. Selain itu terdapat baruga atau balai pertemuan yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga untuk kegiatan atau pertemuan antar warga yang terletak di salah satu kawasan hunian yaitu perumahan taman Toraja. dimana ketersediaan sarana perdagangan dan jasa sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. 1. dan Kantor Kelurahan Tanjung Merdeka yang pelayanannya berskala lokal sebagai fungsi sekunder. Analisis Sarana Perkantoran Sarana perkantoran merupakan sarana sosial yang menunjang aktivitas di Kawasan Tanjung Bunga dengan melihat fungsi pelayanan dari pada sarana tersebut seperti Kantor Pemerintah yang berupa Kantor Kecamatan Tamalate yang berskala kawasan sebagai fungsi primer. dan Stadion Dayung yang merupakan sarana olah raga yang bersifat nasional karena ditempat tersebut sering diadakan kegiatan yang bersifat nasional. Untuk sarana perkantoran yang telah ada saat ini tidak perlu mengalami penambahan melainkan perlu adanya peningkatan dari segi tingkat pelayanannya 1. Tahun 1979. Tbk. PU. Maka segala kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini sudah memadai. karena sesuai dengan fungsi sarana tersebut merupakan tempat untuk melakukan aktivitas yang memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita sehari-hari dan sebagai sarana untuk melepas lelah di dalam aktivitas kita seharian. selain itu mungkin perlu adanya peningkatan di segi pelayanannya utamanya perkantoran yang bersifat memberikan pelayanan ke publik. 6. Untuk mengetahui kebutuhan sarana olahraga dan rekreasi untuk tahun 2015 adalah sebagai berikut sarana olahraga Lapangan Bulutangkis.

1. penduduk N Variabel o . Tbk yaitu sarana pendidikan yang berupa Taman Kanak-Kanak (TK). GMTD. c. dimana dari nilai bobot inidiidentifikasi terdapat tiga kategori yaitu memadai (baik) dalam artian memiliki tingkat ketersediaan. selain sarana tersebut sarana yang berupa taman yang merupakan sarana daripada kawasan hunian yang ada di Kawasan Tanjung Bunga perlu adanya penambahan sebanyak 10 (sepuluh). 1. Sarana Pendidikan Tabel 01 Hasil Pembobotan Sarana Pendidikan Indikator Tingkat Pelayanan yang Skori Bob Standar Nil Sesuai Nil Nil ng ot Perencana Master Plan ai Persepsi/Masyarakat/Resp ai ai an onden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 1 unit tidak 3 1  Tingkat pencapaian sesuai Pendidikan. sarana kesehatan yang berupa BKIA (Rumah Sakit Bersalin). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari hasil peta over lay tinjauan eksisting sarana dengan master plan Kawasan Tanjung Bunga berikut. Analisis Aspek Sarana di Tinjau dari Master Plan Kawasan Tanjung Bunga Analisis aspek sarana ditinjau dari master plan dimaksud untuk melihat apakah peruntukkan sarana yang terbangun sesuai dengan fungsi peruntukkannya. GMTD. Tbk. serta sarana perkantoran swasta yang berupa Kantor Manajemen PT. 1. d. 1.mengembangkan yang telah ada sesuai dengan perkembangan kedepan nantinya. Analisis Sarana Dengan Menggunakan Metode Pembobotan Untuk Meninjau Ketersediaan Sarana yang Ada Saat ini di Kawasan Tanjung Bunga Analisis sarana dengan metode pembobotan disini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai. hal ini di karenakan kawasan ini merupakan kawasan yang berbasis daerah pariwisata sesuai dengan peruntukannya dalam RUTR Kota Makassar. Dari tabel hasil over lay di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa sarana yang ada saat ini tidak sesuai dengan peruntukkannya yaitu tidak berdasarkan dengan master plan yang dikeluarkan oleh PT. Sedangkan untuk sarana lainnya sudah sesuai dengan peruntukkannya yang sudah mengacu pada master plan di Kawasan Tanjung Bunga. Adapun pemboboton disini didasarkan pada variabel yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam sub variabel sesuai dengan klasifikasi untuk masing-masing eksisting sarana yang ada di Kawasan Tanjung Bunga. dan tidak memadai (tidak baik) dalam artian belum memiliki tingkat ketersediaan. kurang memadai (kurang baik) dalam artian kurang memiliki tingkat ketersediaan. dimana hal ini mempunyai sasaran terwujudnya tingkat pencapaian sesuai dengan kawasan perencanaan dan untuk mengantisipasi impak dari pergerakan sebagai bangkitan yang berpengaruh terhadap permasalahan transportasi kedepannya serta permasalahan lingkungan lainnya.

33 Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.6 3 6  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 3 fungsi peruntukann 5 ya 4.3 5 3  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11 3. Asumsi pembobotan yaitu.33 4. TK pendukung minimum  Kondisi 4 5 dengan fungsi peruntukkan ya dan 1 unit sudah sesuai dengan fungsi peruntukkan nya 8.66 Jumlah  1 SD Jumlah 1 penduduk pendukung minimum 1 3 Jumlah  SLTP Jumlah penduduk pendukun g minimum Jumlah  3 SMU Jumlah 3 penduduk pendukun g minimum Jumlah 3 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Sarana Peribadatan Tabel 02 . 2.    4.66 2.11 13 4.66 12.

Sarana Kesehatan Tabel 03 Hasil Pembobotan Sarana Kesehatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1 penduduk  Tingkat pencapaian Kesehatan. penduduk pendukun  Kondisi  Musholla g minimum h N Variabel o Jumlah 1 Nil Master ai Plan 1 1 1 1 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukan nya 5 7 2. Asumsi pembobotan yaitu.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. 3.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .66 Praktek Jumlah penduduk 1 5   5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Sesuai dengan .Hasil Pembobotan Sarana Peribadatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1  Tingkat pencapaian Peribadatan. pendukun  Kondisi  Poliklini g minimum k N Variabel o Jumlah  Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya 5 5 11 3.

3 5 3 Tingkat kebutuhan 1 Tidak sesuai 1 Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 14.dokter pendukun g minimum 5 5  Kondisi 3 3 3 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.77 7 2. Sarana Perdagangan dan Jasa Tabel 04 Hasil Pembobotan Sarana Perdagangan Dan Jasa Indikator N Variabel o 1 Sarana Perdagangan dan Jasa. Asumsi pembobotan yaitu. Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 penduduk  Tingkat pencapaian pendukun  Kondisi g minimum Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya .    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .  Pst. 4.33 4.33 Jumlah  Apotek Jumlah penduduk pendukun g minimum    Jumlah  5 BKIA/ Rumah sakit bersalin Jumlah 5 penduduk pendukun g minimum 5    Jumlah 5 4.

Sarana Perkantoran Tabel 05 Hasil Pembobotan Sarana Perkantoran Indikator Nil Tingkat Pelayanan yang Standar ai Sesuai Perencana Persepsi/Masyarakat/Res an ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5  Tingkat pencapaian Perkantoran.3 3 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 15 5 Jumlah  5 1    5 5 15 5 Jumlah 1 5 10.Perbelan jaan & Jasa (mall) Jumlah  Pertokoa Jumlah n (ruko) penduduk pendukun g minimum · Jumlah Toko/war penduduk ung pendukun g minimum 5 5    5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 4. penduduk pendukung  Kondisi  Kantor minimum N Variabel o Nil ai Master Plan 3 1 Nil Skori Bob ai ng ot Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan .33 3. 5. Asumsi pembobotan yaitu.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.

Kecam atan Jumlah  1 nya 5 Kantor Jumlah 5 Lurah penduduk pendukung minimum 5 Ktr. g GMTD minimum . Nil Tingkat Pelayanan yang Nil Standar ai Sesuai ai Master Perencan Persepsi/Masyarakat/Res Plan aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 3 Sesuai 5 penduduk  Tingkat pencapaian dengan pendukung fungsi Nil Skori Bob ai ng ot 5 . Tbk 5       Jumlah  1. 6.88 Jumlah 5 1 11 3. Asumsi pembobotan yaitu.66 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Sarana Olahraga & Rekreasi Tabel 06 Hasil Pembobotan Sarana Olahraga & Rekreasi Indikator N Variabel o 1 Sarana Olahraga & Rekreasi.66 3.66 3. Jumlah 5 Manaje penduduk men pendukun PT.88 5 1 11.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.6 6 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1.6 6 Tingkat kebutuhan 5 Tidak sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11.

66 4.minimum   Kondisi 1 5 Lap.6 6 Tingkat kebutuhan 5 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 5 5 13.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 Tabel 07 Nilai Bobot Aspek Sarana Ditinjau Dari Standar Indeks Bobot Kualitatif Dan Kuantitatif .55 5 5 15 5 5 15 5 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Bulutan gkis 5 5 peruntukkan nya Jumlah  Dayung Jumlah penduduk pendukung minimum    3 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.33 Jumlah  Baruga Jumlah penduduk pendukung minimum 5 5    5 5 15 5 Jumlah  5 Pantai Jumlah 5 Akkare penduduk na pendukung minimum 5 5     Taman Jumlah penduduk pendukung minimum    Jumlah 5 5 3. Asumsi pembobotan yaitu.

88 3. 2  Musholla Sarana Kesehatan.55 . Bulutangkis Dayung Baruga Pantai Akkarena 5 4.No Variabel Sarana Pendidikan.  4   Pusat perbelanjaan dan niaga (Mall) Pertokoan (ruko) Toko/Warung Sarana Perkantoran.33 7     Memadai Memadai Memadai Lap. Tbk Sarana Olahraga Dan Rekreasi.33 5 5 3.66 4.66 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai 5 Kantor kecamatan Kantor lurah o Kantor manajemen PT.77 2.66 3.33 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai Kurang memadai Memadai Memadai Memadai 3 Poliklinik Praktek dokter Apotek BKIA/rumah sakit bersalin Sarana Perdagangan dan Jasa.33 Indeks Bobot Kuantitatif >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Indeks Bobot Kualitatif Kurang Memadai Memadai Memadai Memadai Kurang Memadai TK SD SLTP SMU 1    Sarana Peribadatan.  Nilai Bobot 2.33 2.66 4.   3. 4.     3. GMTD.33 4.88 3.11 4.

Bandung: Penerbit ITB Bandung.). Budihardjo. Jakarta Jayadinata. Departemen PU Direktorat Jenderal Cipta Karya. 1999. et al (ed. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Comments: Be the first to comment STUDI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH . Jakarta : Penerbit PT. D. 2004. J.J.S. Perspektif Lingkungan Desa – Kota.55 Memadai Memadai Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 F. 2001. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. Penataan Ruang Untuk Pembangunan Wilayah Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin Bratakusumah S. 1985. Eko. 1998. 2001. 1997. Badan Perencanaan Daerah. Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum W. 1996. Comments: Be the first to comment pengelolaan sampah Posted December 24. Jakarta PN Balai Pustaka. Tata Ruang Perkotaan. M. R. 1997. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan & Wilayah. Poerwadarminta. dan Riyadi. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bandung: Penerbit Alumni. Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota. ———— H. T. Kamus Tata Ruang. Taman 5 4. Revisi Rencana Umum Tata Ruang Kota Makassar. Koestoer H. Gramedia Pustaka Utama. Dimensi Keruangan Kota. 1979. Perencanaan Pembangunan Daerah. DAFTAR PUSTAKA Amien. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. R.

The land use condition is relatively heterogeneous around the dumping site and there is no relationship between the components of space function.Posted December 24. produksi sampah Tahun 1997 di Kota Enrekang sebesar 29. kemudian pada Tahun 2002 menjadi 34. Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang. it tends to increase significantly. Efektifitas penggunaan metode tersebut harus mempertimbangkan aspek kondisi fisik TPA. BOD5. dan prasarana pendukungnya .31 m3/hari. accecibility. Coli Bacteria on the distance (S1S14) of the dumping site indicates that the decrease tends to be linear. This condition indicates that the E. I. and physical conditions of the town spatial arrangement. but at samples S15-S24. Coli Bacteria around the location is not only affected by the existence of the dumping site. kemampuan pendanaan. it is apparent that the distance. yang berpengaruh terhadap meningkatnya produksi sampah di kota tersebut. The effect of E. Coli Bacteria. but also by other factors such as the activities of the community around the location. Kebijakan pemerintah Kabupaten Enrekang dalam pengolahan TPA sampah yaitu menggunakan metode Lahan Urug Terkendali (Controlled Landfill). and geological conditions have an effect on water pollution in the dumping site and its vicinity. The results of the study indicate that the physical characteristics of the final dumping site support the permeation of leaches toward the river and settlement area in the western part of the location. and E. Latar Belakang Kota Enrekang mengalami perkembangan yang pesat. geological. hydrological. The study was descriptive. The dumping site is not suitable viewed from the aspect of spatial arrangement. Prinsip pengolahan metode Lahan Urug Terkendali adalah secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah kemudian dilakukan perataan dan pemadatan sampah. topographical.77 m3/hari ( meningkat rata-rata sebesar 3. A. PENDAHULUAN 1. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstract The aim of the study was to find out the physical characteristics of the final dumping site and its suitability with the concept of spatial arrangement and its impact on the quality of water around it. Coli Bacteria.72 %/tahun). Based on BOD5 and content of E. The variables studied were topographical. jenis dan karakteristik sampah. land use around it.

Bagaimana karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Desa Batu Mila Kabupaten Enrekang ? 2. Untuk mengetahui dan menjelaskan kesesuaian penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang di tinjau dari aspek penataan ruang kota. Apakah TPA sampah Kabupaten Enrekang mencemari air lingkungan di sekitarnya ? C. Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek tersebut akan menimbulkan pencemaran lingkungan di sekitarnya. Untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Sebagai salah satu masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya di bidang persampahan. seperti terbentuknya rembesan lindi yang dapat mencemari air permukaan dan air tanah dangkal. Mempertimbangkan jenis sampah di Kota Enrekang. 3. Perumusan Masalah 1. Sejalan dengan itu. serta polusi udara. 2. Sebagai salah satu masukan dalam penentuan lokasi TPA di Kabupaten Enrekang. maka di dalam penelitian tersebut disarankan pengolahan sampah dilakukan dengan pengomposan. 1997). Apakah penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang sesuai dengan konsep penataan ruang? 3. Tujuan Penelitian 1. Sebagai salah satu masukan dalam pengolahan TPA sampah di Kabupaten Enrekang.(Notoatmodjo. dan kabupaten lainnya secara umum. Lebih lanjut Yuliana menyimpulkan bahwa kondisi kualitas air sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang relatif berbau dan berubah warna terutama sumur-sumur yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi TPA. serta pencemaran tanah. B. 3. 2. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Sampah . penelitian yang dilakukan oleh (Yuliana 2001) menunjukan bahwa beberapa sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang kondisi airnya berbau. A. 2. S. Indikasi tersebut lebih dipertegas dari penelitian terdahulu yang dilakukan di TPA Tamangapa oleh (Arifin 2001) yang menyimpulkan bahwa rembesan lindi yang keluar dari timbunan sampah membentuk alur yang mencemari air permukaan dan air tanah dangkal sekitar TPA. D. 1. II. 1. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh TPA Sampah Kabupaten Enrekang terhadap pencemaran air lingkungan di sekitarnya. Juga disimpulkan bahwa penyakit diare dan kudis yang menjadi keluhan masyarakat sejak pertengahan Tahun 2000 disebabkan oleh pencemaran air akibat rembesan air lindi dari TPA tersebut. Kegunaan Penelitian 1.

sampah (waste) diartikan sebagai suatu yang tidak digunakan. terdapat enam aktifitas yang terorganisir di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah. 4. Open Dumping atau pembuangan terbuka. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah upaya yang sering dilakukan dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi operasional. berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. 5. cara pembuangan akhir sampah merupakan salah satu aspek strategis dalam sistem pengolahan sampah. 7. cara ini dilakukan dengan cara membakar sampah. Individual Inceneration. sebagai berikut. Controlled Landfill: Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk menghindari potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang. Beberapa metode pengolahan sampah dalam penerapannya adalah sebagai berikut. Menurut Madelan (1997). Berdasarkan berbagai pengertian tersebut.Menurut American Public Health Association. tidak dipakai. Pengolahan TPA Sampah Menurut Ryadi (1986). 1. merupakan cara pembuangan sederhana di mana sampah hanya dibuang pada suatu lokasi. . dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh. 1. barang rusak atau bercacat dalam pembikinan atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. setiap orang atau rumah tangga membakar sendiri sampahnya. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. yang dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. maka sampah didefinisikan sebagai suatu zat atau benda-benda yang tidak terpakai lagi yang bersumber dari aktivitas manusia dan proses alam baik yang bersifat zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan. Inceneration. Pekerjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi. 6. 6. Composting: cara pengolahan sampah untuk kebutuhan pupuk tanaman. Menurut Mustofa (2000) sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian. 5. 1. Sanitary Landfill: metode ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan kemudian ditutup dengan tanah. 4. 2. B. 3. Timbulan Sampah (Waste Generation) Pewadahan (Onside Storange) pengumpulan (Collection) Pemindahan dan Pengangkutan (Transfer dan Transport) Pemanfaatan Kembali (Procesing dan Recovery) Pembuangan Sampah (Disposal) C. 3. 2.

kertas. status tanah tidak bervariasi. Pemilihan Lokasi TPA Sampah Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 125/KPTS/1991 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah. Kondisi geologi. Kriteria Regional. Iklim yang meliputi: intensitas hujan kecil. tersedia lebih lengkap. Sejalan dengan itu. Kepadatan penduduk rendah. 2. Oleh karena itu. jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter dari hilir aliran. 8. sbb. kapasitas besar. Biaya pengelolaan dan pengolahan yang murah. tangkapan air. namun karena sampah yang dihasilkan terus bertambah. hutan lindung). 3. Utilitas. habitat kurang bervariasi. plastik. Hog Feeding: cara pengolahan dengan sengaja mengumpulkan jenis sampah basah (gerbage) untuk digunakan sebagai makanan ternak. Wardhana (1995) menjelaskan bahwa walaupun sudah disediakan TPA. 9.000 mtr. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %. Lingkungan biologis meliputi: daya dukung kurang menunjang flora dan fauna. seperti kaleng. Estetika lingkungan (tidak terlihat dari keramaian dan jalan umum). Recycling: cara ini memanfaatkan dan mengolah kembali sebagian sampah. 7. faktor pertimbangan penentuan lokasi TPA sebagai berikut. yaitu tidak memiliki muka air tanah kurang dari 3 meter. D. 4. untuk bau dan kebisingan. Masih dalam wilayah administrasi Kabupaten berangkutan. 1. 1. tidak boleh kandungan tanah lebih 10-6 cm/det. Kriteria penyisih yaitu kriteria untuk memilih lokasi terbaik yaitu dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut. perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah limbah padat (sampah) sampai ke TPA dengan memanfaatkan kembali limbah padat tersebut melalui daur ulang dan sistem pengomposan. 2. 5. 1. Sejalan dengan itu. 8. 1. 6. Di luar kawasan lindung (cagar alam. dijelaskan kriteria pemilihan lokasi TPA sebagai berikut. Kondisi tanah meliputi: produktifitas tanah rendah. Jarak dari bandara harus lebih besar dari 3. tersedia tanah penutup yang cukup. sehingga TPA ikut semakin meluas. . Memiliki zona penyangga yang cukup. arah angin dominan tidak menuju kepermukiman. 4.7. Kondisi hidrogeologi. 5. kaca/botol dan lain-lain. 6. yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak-tidaknya penempatan TPA. yaitu tidak berlokasi pada daerah besar yang aktif dan bukan pada zona bahaya geologi. Tidak pada daerah lindung dan daerah banjir periodik ( 25 thn). 3. 1. berdasarkan pedoman penyusunan tata ruang wilayah dan kota Tahun 1997.

Apabila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 20×102 Bakteri E. Jadi air tercemar apabila air tersebut telah menyimpang dari keadaan normalnya. Coli. Tanda-tanda atau indikator air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan yang dapat diamati melalui. air yang bersih tidak hanya ditetapkan pada kemurniannya saja. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Domestik (KepGub. 1. (v) adanya mikroorganisme. Tidak harus dibatasi oleh wilayah administrasi. menurut Notoadmodjo (1997). Syarat kimia air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah tertrentu pula. 7. (vi) meningkatnya BOD5 air lingkungan.2. Mempertimbangkan kecenderungan perkembangan kota. bahan tersuspensi. Sejalan dengan itu. tidak berasa. tetapi didasarkan pada keadaan normalnya. 1. E. :14 Thn 2003) Paramater Satuan pH BOD5 COD TSS B. 3. Lebih jelasnya baku mutu air. dan rasa.E. 6. Berorientasi pada pemanfaatan jangka panjang. syarat-syarat air yang sehat sebagai berikut. Di luar aktifitas perkotaan. (ii) perubahan pH. Pencemaran Air Lingkungan Menurut Wardana (1995). Tabel 1. Syarat bakteriologis air minum harus bebas dari segala bakteri terutama bakteri patogen. 3. Berlokasi pada lahan-lahan non produktif. (i) perubahan suhu air. 5. 2. (iii) adanya perubahan warna. Syarat fisik air minum adalah bening (tidak berwarna). bau. Jauh dari sumber air bersih dan daerah rawan bencana. koloidal. (iv) timbulnya endapan. Sulsel No. Coli Kadar Maksiman* A B C 6-9 6-9 6-9 25 40 75 80 100 125 20 35 50 mg/l mg/l mg/l MPN/ 2500 5000 100 ml Keterangan: . tetapi memiliki akses pencapaian yang baik. dapat dilihat tabel berikut. maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan. suhu di bawah suhu udara di luarnya. 4.

300 m2 .000-50.Restourant [rumah makan] ukuran > 2. permukiman (real estat) ukuran 16-200 Ha. pada sumur-sumur di sekitar lokasi TPA (8 sampel) dan di sungai Mila (2 sampel).000 m2. Kategori B . Metode penarikan sampel ini dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling). 1.Restourant [rmh makan] ukuran 500-1. .Perkantoran. Pengukuran. Pengambilan sampel didasarkan pada kondisi topografi (arah pergerakan lindi) dan jarak.Perkantoran.000 m2. Coli. air sumur dangkal dan air Sungai Mila dengan jumlah sampel sebanyak 24 titik.000-10. METODE PENELITIAN A.Restourant [rumah makan] ukuran 1.400-2. perniagaan dan apartemen ukuran > 50. . pada rembesan air lindi/air genangan sekitar lokasi TPA (12 sampel). melakukan pengukuran terhadap indikator kualitas air yang meliputi BOD5 dan Bakteri E. meliputi. 1.Kawasan permukiman (real estat) ukuran > 200 Ha . Kategori C . Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data disesuaikan dengan data yang akan diambil. pada daerah rembesan air lindi di lokasi TPA (2 sampel).400 m2 .300 m2 .Kaw. III. perniagaan dan apartemen ukuran 10.Perkantoran. perniagaan dan apartemen dengan ukuran 5.000 m2. Populasi dan Sampel Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah air lingkungan yang terdapat di sekitar lokasi TPA yang terdiri atas rembesan air lindi (air genangan). B.* = Kecuali pH Kategori A : .

Perkembangan Fisik Ruang Kota Enrekang 3. C. BOD5 dan Bakteri E. Kondisi Hidrologi 3. Teknik ini digunakan untuk mendiskripsikan secara terperinci karakteristik fisik di sekitar TPA. Kondisi Geologi 2. Wawancara. Kondisi Topografi 2. Coli. dengan melakukan sketsa dan pemetaan tematik lokasi. 4. Pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap kondisi fisik alamiah TPA sampah dan guna lahan daerah sekitarnya. Penggunaan Lahan sekitar TPA 2. maka dapat dirumuskan variabel penelitian sebagai berikut. yaitu wawancara kepada kelompok masyarakat tentang TPA sampah di Kabupaten Enrekang. sbb. Bapedalda. Untuk menjawab rumusan masalah pertama. (i) Teknik wawancara non struktur. serta penelitian terdahulu yang relevan. 1. meliputi. 1. Pencapaian (Aksesibilitas) 3. ditentukan variabel –variabelnya. BPN. Merupakan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait seperti BPS. ditentukan variabel. D.2. Metode Analisis . Variabel Penelitian Dari uraian rumusan masalah dan tujuan penelitian. Dokumentasi. Untuk menjawab rumusan masalah kedua. ditentukan variabel sbb. 1. dan (ii) Focus Group Discussion. Observasi. yaitu melakukan wawancara kepada Aparat Pemda Enrekang berkaitan dengan lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Untuk menjawab rumusan masalah ketiga. Bappeda. 3.

Kecenderungan Perkemb. Salah satu arahan pengembangan fisik Kota Enrekang menurut RTRW tersebut adalah wilayah Kecamatan Maiwa. lokasi TPA yang ada saat ini juga terdapat di Kecamatan Maiwa. 1. 1. Tingkat . dianalisis dengan menggunakan analisis statistik diskriptif. 2. Rumusan masalah butir (b). Rumusan masalah butir (a) dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. sbb. Tinjauan Lokasi TPA terhadap Tata Ruang Kota Arah perkembangan Kota Enrekang dihambat oleh keadaan alam berupa gunung yang ada di sekelilingnya. dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. Fisik Kota IV.Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah. 1. Pola permukiman yang terpencar serta kondisi geografi relatif bergelombang/pegunungan. Jarak Kota Enrekang ke lokasi TPA yang relatif jauh yaitu sekitar 23 km serta sistem pewadahan/pengumpulan yang masih didominasi oleh metoda individual merupakan kendala yang dalam rangka teknik operasional pengelolaan sampah di Kabupaten Enrekang. Pengembangan ruang fisik secara ekstensif di Kota Enrekang tidak memungkinkan lagi. menjadi kendala dalam pengembangan ruang Kabupaten Enrekang termasuk pengelolaan persampahan. Rumusan masalah butir (c). HASIL DAN PEMBAHASAN A. sedangkan fungsi penunjang adalah permukiman dan fasilitas pendukung lainnya. 1. Kebijakan Penataan Ruang Kota Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2001-2010 sebagai salah satu instrumen yang berkekuatan hukum dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Enrekang. Sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Enrekang belum menunjukan hasil yang optimal baik ditinjau dari aspek pewadahan/ pengumpulan maupun dari aspek pengangkutan ke TPA. dimana arahan fungsi pengikat wilayah Kecamatan Maiwa tersebut adalah industri dan perkebunan. telah mengarahkan penggunaan ruang Kabupaten Enrekang sedemikian rupa sebagai pengejawantahan dari visi Kabupaten Enrekang. Sementara itu. 3. sehingga harus mempertimbangkan alternatif lahan-lahan kosong pada daerah sekitarnya yang potensi untuk kegiatan perkotaan. Secara alamiah kecenderungan perkembangan fisik kota saat ini adalah mengikuti jalur jalan poros ke selatan Kota Enrekang dan sebagian kecil berkembang ke arah timur. Hal ini dapat dilihat dari beberapa permukiman masyarakat yang telah merambah sampai ke kawasan lindung yang terdapat di arah timur dan utara kota ini. Aksesibilitas Secara umum sistem transportasi darat di Kabupaten Enrekang sangat dipengaruhi pola persebaran permukiman dan kondisi geografis wilayahnya. Perkembangan fisik kota saat ini menunjukan fenomena penggunaan ruang yang tidak mempertimbangkan pelestarian lingkungan.

Oleh karena itu.pencapaian armada angkutan sampah ke TPA ditempuh selama 6 jam tiap kali pengangkutan. Aspirasi Masyarakat Hasil wawancara dengan 60 responden di Kota Enrekang yang terdiri masyarakat sekitar TPA (15 responden) dan masyarakat Kota Enrekang (40 responden) serta Pemda Kabupaten Enrekang dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang (5 responden). Tabel 2 Matriks Hasil Wawancara dengan Masyarakat Kabupaten Enrekang Jawaban No. sementara volume produksi sampah tiap hari di Kota Enrekang adalah kurang lebih 34. dengan pertimbangan.0 Enrekang Tidak setuju karena 41 63. sehingga jumlah rata rata pengangkutan setiap hari sebanyak empat kali kendaraan atau sebanyak 24 m3. Matriks hasil wawancara dengan masyarakat di Kota Enrekang. Menciptakan pembiayaan operasional yang tinggi. dipertimbangkan alternatif lokasi baru TPA Kota Enrekang yang mudah dijangkau.77 m3/hari. Sehingga tiap kendaraan masing-masing hanya bisa mengangkut sampah 2 kali / hari. secara umum menjawab pertanyaan bahwa tidak sepakat penempatan lokasi TPA di Desa batu Mila. Bergabung dengan kawasan permukiman dan lokasi bumi perkemahan pramuka. Jumlah armada angkutan sampah yang dioperasikan tiap hari sebanyak 2 unit dengan kapasitas 6 m3/unit. Persepsi Masyarakat responden Jumlah % 1 Reatif Jauh dari Kota 45 75. Lokasi TPA sampah relatif jauh dari Kota Enrekang. 1.0 Lingkungan Sekitarnya 3 Berdekatan dengan 39 65. namun tetap mempertimbangkan aspek lingkungan hidup.0 kawasan permukiman dan Bumi Perkemahan . Tingkat pencapaian yang relatif sulit ke lokasi TPA.3 ekses rendah 2 Mencemari 57 95. Mencemari lingkungan sekitarnya terutama Sungai Bila dan permukiman sekitarnya. sbb.

Tabel 3.20 98.00 96.00 (MPN/100 ml 77 X 102 78 X 102 62 X 102 59 X 102 59 X 102 61 X 102 57 X 102 51 X 102 46 X 102 47 X 102 42 X 102 42 X 102 27 X 102 BOD5 Bakteri E-Coli . Karakteristik Sampel Air di Kawasan TPA Kabupaten Enrekang Jarak No. Dalam pengamatan tersebut. dapat dilihat pada gambar berikut. sebagai berikut.20 137.80 112.50 242. Tinjauan TPA Terhadap Kualitas Air Lingkungan Untuk menilai air yang bersih. Keadaan normal tersebut tergantung dari kegunaan & asal sumber air. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kode S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 (m) 0 0 5 10 22 24 30 55 67 60 80 94 88 (mg/l) 327. Dalam penilaian kualitas air di kawasan TPA sampah dan sekitarnya di Kabupaten Enrekang ini.70 110.30 112. Berdasarkan tabel tersebut. Coli. (i) Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD5) dan (ii) Kandungan Bakteri E. diambil 24 sampel pada titik-titik sampel yang dianggap sebagai tempat-tempat rembesan air lindi dengan pertimbangan kondisi topografi.30 96.00 48.20 47. Lebih jelasnya titik-titik pengambilan sampel. tetapi juga didasarkan pada keadaan normalnya. beberapa indikator air lingkungan yang diamati perubahan-perubahannya meliputi. sebagaimana pada tabel berikut. tidak hanya ditetapkan pada kemurnian saja.50 52. dapat diuraikan kondisi dan kualitas air di TPA sampah dan sekitarnya.3 B. geologi dan jarak. Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan normal berarti air tersebut telah mengalami pencemaran.60 323. maka diketahui kondisi air lingkungan di TPA sampah Kabupaten Enrekang dan sekitarnya.4 Pramuka Menciptakan Biaya Operasional Yg Tinggi 32 53. Berdasarkan hasil pengujian sampel air pada 24 titik sampel yang dilakukan di Laburatorium Kimia Fakultas Teknik Universitas ―45‖ Makassar.

bahkan pada sampel S9 terjadi penurunan yang cukup signifikan yaitu dari 98.60 mg/l dan 323. Penurunan kandungan BOD5 sampai mencapai titik di bawah ambang batas terjadi pada sampel S14 (kandungan BOD5 =38.50 mg/l pada S8 turun menjadi 52. Kemudian dari sampel 10. ambang batas diperbolehkan .40 19.30 19. sehingga sulit terjadi perembesan air lindih pada lokasi tersebut.00 mg/l pada S 10. ―45‖ Makassar 1.10 27. Selanjutnya pada S10 kembali terjadi kenaikan BOD5 dari 52.30 mg/l pada S9. tetapi menunjukan penurunan yang relatif linier. Kandungan BOD5 yang relatif cukup tinggi terutama terjadi pada sampel S1 dan S2 yaitu masing-masing 327.90 mg/l).14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 S23 S24 86 90 105 120 125 100 200 200 165 126 150 38.30 mg/l pada S9 menjadi 96.10 36.80 19. Diagram hubungan kandungan BOD5 terhadap jarak diperlihatkan pada gambar berikut. 1.90 21 X 102 77 X 102 81 X 102 82 X 102 81 X 102 95 X 102 41 X 102 96 X 102 75 X 102 99 X 102 97 X 102 Keterangan: Hasil Analisis Laboratorium Fakultas Teknik Univ. Sementara itu.80 38.50 mg/l. sampel S11 sampai pada sampel terakhir 24 (S24) terus mengalami penurunan. Grs. tetapi masih dalam kategori cukup tinggi yaitu di atas 100 Mg/L.50 18. Selanjut dari titik sampel S8 sampai dengan S13 kandungan BOD5 masih pada ambang batas yang tidak diperbolehkan.50 33.80 38. Penilaian BOD5 Hasil pengujian kandungan BOD5 dalam air pada lokasi TPA sampah dan sekitarnya pada jarak antara 0-150 m menunjukkan bahwa kandungan BOD5 pada titik pengambilan sampel S1dan S13 menunjukan kandungan BOD5 berada di atas ambang batas.80 mg/l) sampai pada S24 (kandungan BOD5 = 18. pada sampel S3 sampai dengan S7 cenderung menurun. Penurunan kandungan BOD5 yang cukup drastis pada sampel S9 disebabkan oleh kondisi lahan pada daerah tersebut merupakan lokasi pembuatan batu cipping yang telah dilengkapi saluran drainase di sekelilingnya serta sudah mengalami pemadatan yang maksimal.10 20. Pengambil sampel tersebut dilakukan dalam lokasi TPA sampah.

pada sampel S15 (jarak 90 meter) – S24 (jarak 150 m) terjadi peningkatan kandungan Bakteri E. Coli dalam air tersebut. Coli di atas ambang batas terjadi pada sampel S1 sampai dengan sampel S8. Demikian pula kondisi topografi yang relatif bergelombang menjadikan pola sebaran Bakteri E. Diantara sampel tersebut. 1. misalnya tidak adanya drainase dan kolam oksidasi yang memadai pada kawasan tersebut. Pada titik sampel antara S1 (dalam lokasi TPA) – S18 (jarak 86 meter ke arah utara) kandungan Bakteri E. Coli dalam air. Coli relatif menurun secara linier. pengendalian Pencemaran Air. menunjukan bahwa kondisi topografi dan jarak turut mempengaruhi sebaran pencemaran air di sekitar lokasi TPA. sehingga pemadatan tanah oleh jalan menyulitkan perembesan ke titik sampel tersebut. Selain dari pengaruh jarak terhadap kandungan Bakteri E. sedangkan sampel S9 sampai dengan sampel S14 kandungan Bakteri E. kondisi topografi dan geologi lokasi penelitian turut berpengaruh terhadap sebaran Bakteri E. Coli. Tingginya kandungan BOD5 di sekitar lokasi TPA tersebut merupakan konsekwensi dari belum adanya pengolahan sampah yang baik di TPA tersebut. Coli cenderung berfluktuasi. Penilaian Bakteri E-Coli Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 14 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan. Gambar diagram tersebut di atas menunjukkan sebaran pencemaran air yang cenderung linier pada kawasan TPA kecuali pada titik sampel 9 (S9) mengalami penurunan kandungan BOD5 yang relatif drastik. Berdasarkan pola sebaran BOD5 dalam air di sekitar TPA. Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi serta Baku Mutu Tingkat Gangguan Kegiatan yang Beroperasi di Propinsi Sulawesi Selatan. Coli pada lokasi TPA pada jarak 0-150 m menunjukan pola sebaran relatif berfluktuasi. Sedangkan penurunan secara drastis terjadi pada sampel S20 disebabkan karena lokasi pengambilan sampel yang dilakukan di seberang jalan (jalan tersebut membatasi titik sampel dengan perumahan dan TPA). Semakin jauh air dari lokasi TPA semakin kecil kandungan Bakteri E. Pola sebaran Bakteri E. dalam penelitian ini akan digunakan parameter kualitas air kategori A yaitu parameter kualitas air pada kawasan permukiman dengan ukuran 16-200 Ha dengan kadar maksimal BOD5 adalah 50×102 mg/l. menunjukan bahwa lokasi TPA berpengaruh terhadap kandungan bakteri E. Coli Berada di bawah ambang batas. Coli bersumber dari TPA sampah tersebut. Diagram Hubungan kandungan BOD5 air terhadap jarak. Coli tersebut di atas. kandungan Bakteri E. Udara. . Coli dalam air di lokasi tersebut. Jenis batuan konglomerat yang terdapat pada lokasi penelitian memiliki porositas yang tinggi dalam menyebarkan cairan lindi yang mengandung Bakteri E. Coli yang cukup signifikan kecuali pada sampel S20 terjadi penurunan di bawah ambang batas.Gambar 2. Penetapan Baku Mutu Limbah Cair. 2. Peningkatan terutama terjadi pada sampel air di daerah permukiman khususnya pada sumur-sumur penduduk. Hasil pengujian kandungan Bakteri E. Namun demikian. sehingga terbentuk genangan-genangan air lindih dan selanjutnya meresap ke dalam tanah.

2. Agar dilakukan studi lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Kondisi topografi pada lokasi TPA relatif bervariasi membentuk kemiringan yang relatif terjal ke arah barat sampai ke Sungai Mila. Coli diperlihatkan pada gambar berikut. mempercepat rembesan air lindih sampai kawasan permukiman sekitar Sungai Bila. Berdasarkan indikator BOD dan Bakteri E. 5. kandungan Bakteri E. Coli yang cenderungan meningkat pada sampel S15 sampai S24 (kecuali sampel S20). V.Sementara itu. Struktur geologi TPA sampah Kabupaten Enrekang merupakan batuan konglomerat searah dengan kemiringan lahan. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA . Berdasarkan hasil penelitian. Kesimpulan 1. memudahkan rembesan lindih ke arah barat kawasan permukiman. lokasi TPA sampah yang ada di Batu Mila tidak sesuai ditinjau dari aspek penataan ruang. B. menunjukan bahwa TPA sampah Kabupaten Enrekang telah mencemari air lingkungan di sekitarnya dampai radius 150 meter 4. diketahui karakteristik fisik lokasi TPA sampah Kabupaten Enrekang. 2. tetapi terdistribusi berdasarkan kondisi geografis dan tipologi kota di Kabupaten Enrekang . disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang bermukiman di sekitar TPA tersebut seperti kondisi saluran air kotor rumah tangga dan jamban keluarga yang belum di desain dengan baik sehingga dengan mudah terjadi rembesan ke sumur-sumur penduduk dan air lingkungan di kawasan tersebut. Sebaiknya lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang tidak terpusat pada satu kawasan saja. Coli dalam air terhadap jarak. Diagram hub. Coli. sebagai berikut. ambang batas diperbolehkan Gambar 3. Agar Masyarakat dan Pemda Kabupaten Enrekang memulai program pengomposan sampah organik dalam mendukung dan menciptakan program Sistem Pertanian Organik (Organic Farming) baik dalam skala individual maupun dalam skala Komunal (kelompok). Grs. kandungan Bakteri E. 6. Berdasarkan hasil penelitian. PENUTUP A. 1. Diagram sebaran Bakteri E. 3.

2000. Solo.H. Ujungpandang. Azikin. Arifin F. 1984. Tesis tidak diterbitkan. 1989. 1986. 1999. Alswar. Vanderbilt University Press. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. A. F.R. 1990.H. Kamus Lingkungan. Semarang. (1989). Sym Therm. Surabaya. Bappeda Kabupaten Enrekang. A Warld Health Organitation Expert Committee. Nat. Pemetaan Geomorfologi Sistematis Untuk Studi Geologi.P. Sudjana. E. 1997. Ryadi. McGraw-Hill Book Company Inc. Mutiara Sumber Widya. Mustofa. Toronto.A. Proceding Volume II. Sistem Pengelolaan Sampah.. Tinjauan Geohidrologi Sebagai Salah Satu Pertimbangan Dalam Pemilihan Lokasi TPA Sampah (Studi Kasus TPA Sampah Tamangapa Makassar). 1992. Alumni. Pengantar Ilmu Gunungapi. Sixth Edition. Rineka Cipta. 1988. Kogakhusa Company. Bandung. Pedoman Teknis Pengelolaan Persampahan. Departemen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. Bandung. Poll. 1980. Prorgam Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. . Bandung. Tenn. Nashville. New York. Bandung. Enviromental Sanitary. Djambatan. 1997. Lahee. W. Ruslan H. Tarsito Edisi ke-6. Field Geology. Direktorat Penyehatan Lingkungan Permukiman. Pertemuan Ilmiah Tahunan XXIII Ikatan Ahli Geologi Indonesia. Damanhuri E. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang. Jakarta. O. (1988). 1990. Jakarta.L. Bandung. London and Tokyo. Kota Berkelanjutan. Makassar. Karya Anda. Proc. Pencemaran Air. S. Bandung. Nova. Budihardjo. 1997. Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. Satya Wacana. Rineka Cipta. S. Penelitian Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah dan Pengelolaan Sampah Tepat Guna. 2001. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Azwar. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Notoatmodjo. Jakarta. Ltd. J. 1989. Soemarwoto. 1994. Instalasi Penerbitan PAM-SKL. Slamet R. Dasar-Dasar Geologi Struktur. Bandung.Anonim. Metode Statistika. Hidartan dan Handayana. Madelan.

Dampak Pencemaran Lingkungan. Departemen Pekerjaan Umum. P. Jurusan Planologi Universitas 45. Yuliana. Permasalahan utama yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sungai sebagai akibat adanya permukiman di sekitar bantaran sungai tanpa memperdulikan aturan sempadan sungai. A.W. Untuk menjaga DAS Lawo. Wardhana W. Grasindo. Unaradjan. Tri C. Pengantar Metode Penelitian Ilmu Sosial. Skripsi tidak diterbitkan. Studi Pengelolaan Sampah di Kabupaten Enrekang Ditinjau Dari Aspek Pewadahan dan Pengangkutan. peladangan yang berlokasi di daerah pinggiran sungai serta terjadinya sedimentasi yang diakibatkan oleh erosi berkepanjangan tanpa adanya pengendalian dan dapat berakibat terjadinya luapan banjir yang pada akhirnya menggenangi daerah perumahan dan permukiman penduduk. 2000. . 1989. 1998. U. maka diperlukan arahan pengelolaan dan pemanfaatannya.S. PT. Comments: Be the first to comment STUDI ARAHAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN Posted December 24. Gadjah Mada University Press.2001. Andi Offset. dan Udara. Ujungpadang.. 1999/2000. Perubahan status sosial ekonomi masyarakat dan kekurangmampuan sebagian warga diduga dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan intensitas untuk bermukim disekitar bantara sungai dengan harapan dapat membuka lahan perkebunan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 1995. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Kerusakan sungai umumnya disebabkan oleh hilangnya hutan di daerah hulu sebagai akibat dari penebangan pohon yang tidak diikuti oleh peremajaan kembali. Tanah. 1991.Sulawesi II Urban Development Project Pekerjaan Umum. Jakarta. Yogyakarta. Prosedur Pengoperasian Standar TPA Sampah. Penelitian Secara Cepat Pencemaran Air.N. Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Yogyakarta. Vehoef. Disisi lain dengan terbukanya lahan disekitar bantara sungai akan menyebabkan mudahnya terjadi penurunan (degradasi tanah) dan semakin tingginya tingkat erosi yang dapat ditimbulkan. Bandung. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta. Makassar. Geologi Untuk Teknik Sipil. Erlangga. Yayasan LPMB.

Dampak air yang ditimbulkan adalah rendahnya debit air yang masuk di daerah irigasi pada musim kemarau.45 Ha. Kondisi ini kalau di biarkan terus berlangsun akan berdampak terhadap menurunnya produksi terutama sektor pertanian. Untuk meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan di DAS Lawo. Tujuan dan Sasaran Penelitian . jauh dari bahaya yang dapat diakibatkan oleh luapan air sungai yang sewaktu-waktu dapat terjadi. yang mengakibatkan berkurangnya luas lahan budidaya dari tahun ketahun. perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi kebun campuran. Dengan demikian pengendalian daerah aliran sungai pada prinsipnya ditujukan untuk meminimalkan ancaman banjir. dengan luas kawasan DAS ± 17. dari kebun menjadi lahan pemukiman.104. kelestarian fungsi sungai dan yang terpenting adalah tuntutan hidup masyarakat dapat berjalan sesuai dengan koridor untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. kerusakan ekosistem sungai. Daerah hulu yang merupakan pengatur lingkungan (condition environment). telah terjadi kerusakan lingkungan. air hujan yang jatuh hanya sebagian kecil yang meresap kedalam tanah. menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya kedalam suatu sistem pengaliran sungai atau tempat tertentu sesuai dengan kepentingan. Salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Soppeng adalah Sungai Lawo yang melintasi di empat Kecamatan yaitu Kecamatan Lalabata. Ganra dan Kecamatan Lilirilau. dengan tujuan kondisi debit air pada musim kemarau dan musim penghujan tidak terlalu jauh berbedah dan pada saat musim hujan DAS tersebut tidak menimbulkan banjir yang dapat merugikan. A. Donri-Donri. 1. Salah satu usaha pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kaitannya dengan pengendlian aliran sungai adalah untuk memenuhi keselamatan penduduk dari bahaya ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. dimana sebagian besar mengalir di permukaan yang menuju kesungai sebagai badan air. Kondisi demikian diperparah oleh adanya penambangan Galian C didaerah aliran sungai bahkan dibadan sungai. yang merupakan salah satu sektor andalan kabupaten soppeng. yang berakibat terhadap tingginya aliran permukaan (run-off). sepeti: perambahan hutan lindung. Disamping untuk mendapatkan hasil ekonomis yang optimal dari hasil kegiatan budidaya tanpa merusak ekosistem lingkungan DAS Lawo. terutama pada bagian hulu. Kondisi demikian disebabkan oleh rusaknya system tata lingkungan pada daerah aliran sungai. Pendahuluan Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang dibatasi oleh pemisahan topografi yang menampung.1. Proses Pengendalian DAS Lawo bertujuan untuk mewujudkan rasa aman dikalangan masyarakat yang hidup di daerah sekitar aliran sungai dan melestarikan ekosistem. flora dan fauna serta jenis-jenis biota yang hidup didalam sungai. sehingga membuat ekosistem sungai rusak. B. maka perlu di lakukan suatu kajian guna menyusun rencana pengelolaan kaitannya dengan alokasi berbagai kegiatan budidaya dan non budidaya yang dapat di lakukan dalam a DAS Lawo.

tanah. manusia. dan manusia diperlakukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. 3. sehingga terjadi kesimbangan antara daerah budidaya dan non-budidaya dan untuk mempertahankan dan memperbaiki lingkungan sistem hidrologis Sungai Lawo. Pengelolaan DAS. iklim. akan tetapi secara keseluruhan air tidak akan habis selama faktorfaktor pembentuknya tetap ada dan tetap berfungsi. air. vegetasi. DAS dapat dibagi menjadi dua satuan pengelolaan yakni satuan pengelolaan DAS hulu mencakup seluruh daerah tadahan atau . dan berbagai sumberdaya budaya. dilihat dari kemampuannya untuk memugar diri (self restoring capability). Unsur-unsur lain seperti. Tinjauan Teoritis. (3) meningkatkan pendapatan petani. sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai suatu ―static resources‖. dan (4) meningkatkan perilaku masyarakat ke arah kegiatan konservasi. geologi atau sumberdaya mineral. flora dan fauna. Sumberdaya yang menjadi unsur suatu DAS ialah iklim. Pengelolaan DAS biasanya ditujukan kepada pengelolaan dua unsurnya yang dianggap penting. 1. Air adalah salah satu sumberdaya alam yang memiliki sifat yang unik. sedemikian rupa sehingga DAS dapat dikatakan merupakan suatu sumberdaya yang bergatra ganda dan terdiri atas berbagai macam sumberdaya tunggal. Pada dasarnya DAS merupakan suatu wilayah yang menampung air. Ditinjau secara setempat air dapat menyusut atau habis. Sasaran Pekerjaan Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan studi arahan pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut : (1) meningkatkan stabilitas tata air.. C. yaitu sumberdaya tanah dan sumberdaya air. 2. menyalurkan air tersebut dari suatu aliran ke seperangkat aliran tertentu dari hulu ke hilir dan berakhir di suatu tubuh/badan air bumi seperti danau atau laut.1. DAS juga merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat. Tiap sumberdaya pembentuk DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. 1. Tujuan Tujuan pelaksanaan penelitian pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut: Untuk menentukan konsep pengelolaan DAS Lawo. Air dapat disebut sebagai sumberdaya yang mengalir (flowing resources). 1. (2) meningkatkan stabilitas tanah. kelakuan dan kegunaan masing-masing. Karakteristik DAS. tetapi sebagai suatu ―dynamic resources‖.

F12 F21 0 F32 (3) X3 a3 Z3 (3) 0 F23 - . Dengan kata lain. Pada prinsipnya DAS hulu perlu dikelola dengan penekanan utama sebagai fungsi konservasi. Pengelolaan DAS hilir dengan demikian mempunyai peranan melipatgandakan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. atau lingkungan pengendali (conditioning environment) dan daerah hilir sebagai daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumen. Keadaan Sistem Hidrologi DAS Komponen Banyaknya Komponen Input Output Transfer ke Komponen (1) Transfer dari komponen (2) (3) (1) (2) X1 X2 a1 a2 Z1 Z2 (1) (2) . model matematik yang mewakili suatu sistem selalu meliliki unsur-unsur sebagai berikut (Mize and Cox. 1968): Berdasarkan hal tersebut diatas. Memperlancar infiltrasi air ke dalam tanah. Perlakuan terhadap daerah hilir akan menentukan seberapa besar manfaat yang secara potensial dapat diperoleh dari pengelolaan daerah hulu akan benar-benar terwujud. output. c) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. Menurut pandangan ekologis. Seperti telah diuraikan sebelumnya. a) b) Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha pengendalian banjir. pengelolaan daerah hilir bertujuan meningkatkan daerah tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. Pengolahan DAS hulu ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut. dan satuan pengelolaan DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. dan laju transfer dapat dapat digambarkan dalam tabel 1. d) Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimumkan produksi Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS karena hal itu akan menentukan manfaat-manfaat besar yang dapat diperoleh atau peluang yang terbuka dalam pengelolaan DAS hilir.daerah kepala sungai. jumlah air didalam tiap komponen input. maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang. Tabel: 1.

Tata guna lahan memiliki keterkaitan dengan sumberdaya air DAS dalam beberapa aspek sebagai berikut.1. akibatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir menjadi berlipat ganda dan umur reservoir menjadi lebih pendek. Air hujan yang ditahan oleh tumbuhan selain diuapkan kembali dari permukaan tanah. 1. dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. 1. Lahan yang penuh ditutupi kanopi pepohonan akan dapat meningkatkan curah hujan sekitar 5 – 6 %. e) Tata guna lahan juga memberikan dampak terhadap kualitas air. sehingga tanah menjadi lebih lembab. Pohon-pohon yang tinggi pada lapisan teratas akan mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah. Tata Guna lahan dan Perilaku DAS. Intersepsi merupakan suatu proses dimana sebagian dari curah hujan tertahan leh tajuk pohon dan sebagian besar diuapkan kembali ke udara. Apabila jumlah dan intensitas curah hujan rendah. Lapisan-lapisan tajuk ini terbentuk sebagai akibat dari persaingan dimana pada akhirnya jenis-jenis tertentu akan lebih dominan dari pada jenis yang lain. a) Hutan dan Pengaruhnya bagi Air. juga dalam jumlah yang kecil mungkin di absorbsi melalui daun ke dalam jaringan tanaman (Jeffrey. maka sebagian besar dari air hujan akan ditahan oleh tajuk dan langsung diluapkan kembali ke udara. 3. 4. Hal ini berarti bahwa untuk curah hujan yang kecil. Sebaliknya apabila jumlah dan . 1964). a) Tata guna lahan memberikan dampak terhadap curah hujan. meningkatkan aliran dasar (base flow). Ekosistem Hutan Alam Struktur hutan yang masih utuh terdiri dari pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi sampai kepada pohon-pohon Perdu dan tumbuhan yang merambat yang semuanya tersusun dalam lapisan tujuk yang rapat. Upaya penghijauan dan konservasi lahan lebih efektif untuk pengurangan sidementasi dan debit air/banjir. Lahan yang tertutup dengan pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin dipermukaan tanah. d) Pengolahan yang tidak tepat dapat meningkatkan erosi dan pengendapan sedimen. Intersepsi. persentase yang diintersepsi akan besar. b) Tata guna lahan berdampak besar terhadap kelembaban tanah. serta meningkatkan pengisian air tanah. c) Tutupan kanopi pepohonan yang rapat dapat mengurangi debit banjir dengan periode ulang pendek. b) Peredaran Air. Hutan yang masih utuh terdiri dari strata-strata atau lapisan-lapisan tajuk.

air ini telah melalui suatu struktur lapisan tanah yang rapat.16 1. struktur tegakan (stratifikasi).380 1. Penguapan (Evapotranspiration) Penguapan merupakan proses perubahan face cair menjadi uap. 4. tanah tanaman untuk kemudian terlepas ke atas atmosfir sebagai uap air. Sebelum mencapai permukaan tanah. Perakaran yang dalam dari jenis-jenis pohon menyebabkan evapotranpirasi lebih besar dibandingkan dengan jenis-jenis herbal yang mempunyai perakaran dangkal.10 7.000 1. Evapotranspirasi pada berbagai ketingggian Ketinggian 0 (m. 1. 1962) pada petak seluas 300 meter persegi dengan 16 pohon yang masing-masing dipasangi saluran plastik berbentuk spiral pada dasar batang menunjukkaan bahwa aliran batang kurang dari 1% air lolos (UNESCO.intensitas curah hujan besar maka persentase yang diintersepsi akan menjadi kecil.500 2.79 3. Proses ini berlangsung pada berbagai permukaan air. Hal ini sangat penting diperhatikan dalam menentukan luas hutan lindung didaerah-daerah dengan ketinggian yang tinggi.000 .590 1. Hubungan ketinggian dan evapotranspirasi telah diukur seperti tabel di bawah ini : Tabel 2. Laju penguapan sangat dipengaruhi oleh radiasi.29 2. suhu.200 10. Dengan demikian kecepatan dan besarnya butir-butir hujan yang mencapai tanah sudah sedemikian kecil sehingga tidak lagi merupakan bahaya bagi kerusakan tanah. kelembaban. ternyata dapat mengintersepsi lebih dari 68% curah hujan yang tidak lebat. Dikemukakan selanjutnya bahwa terdapat korelasi antara evatranspirasi total dengan kedalaman akar.85 2.36 3. Pengukuran stemflow pada suatu hutan selalu hijau yang rapat di Balnco (Huttel.500 3. kecepatan angin. dpl) Evapotransp. Dalam penelitian Malchanov (1963) pada tegakan spurce (Picea sp) yang lebat daunnya.49 2.40 9. 1978). Aliran Batang (Stemflow) Aliran batang adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui batang pohon.85 mm/hr Evapotransp 1.90 6. mulai dari lapisan pohon-pohon yang dominan sampai pada lapisan semak belukar dan serasah.80 500 1. tekanan udara di atmosfir dan jumlah air yang tersedia untuk diuapkan. Aliran batang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terpenting adalah architektur pohon.000 2. 1. 1. kulit batang dan letak serta posisi daun. Air Lolos (Throughfall) Air lolos adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui lapisan tajuk.

9 hari hujan/bulan.6 hari dan terendah bulan Agustus dan Okotober yakni 0 (tidak hujan). Curah hujan Kabupaten Soppeng pada tahun 2005 berada pada intensitas 90. Tengah DAS antara lain: liat berpasir dan lempung berpasir. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe. Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada sekitar ± 24 0 sampai 30 0 . Keadaan angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. Hidrologi dan Klimatologi Kondisi hidrologi DAS lawo berdasarkan data dari Dinas PSDA Kabupaten Soppeng debit sungai rata-rata per 15 Agustus 2007 adalah 427. mediterian coklat regosol. dan litosol yang tersebar dari hulu – hilir. sedang rata-rata hari hujan di Kabupaten Soppeng tertinggi bulan April 19. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. gromosol. Wilayah DAS Sungai Lawo. 1.mm/tahun Sumber : Ramsay. Lereng 8 – 15%. D. Gambaran DAS Sungai Lawo Topografi Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. lempung berliat. sedangkan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. D. 1.M. 1976.. priodik. Sedangkan tekstur tanah berfariasi dari hulu – hilir DAS. Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 295 mm dan yang terendah yakni bulan Agustus dan Oktober yakni 0 (tidak hujan). 1. Untuk kemudahanya lereng dikelompokkan menjadi 5 kelas. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m.54 mm dan 9. 1. termasuk wilayah DAS Lawo. yaitu: Lereng 0 – 7%. Lereng 15 – 25%. 4. 64 (L/det). Bagian hulu DAS tekstur tanah antara lain: lempung berpasir dan liat berpasir. 3. Erosi dan Sedimentasi Aktifitas penduduk didaerah sekitar DAS secara tidak terkendali akan memberikan dampak terhadap perubahan kondisi fisik sungai terutama dalam bentuk erosi dan transpor sedimentasi dan akan berlanjut dengan proses pendangkalan dibagian dasar sungai sehingga akan . lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0% hingga lereng > 45%. mediterian coklat. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS lawo berupa genangan permanen. 1. dan temporer. 2. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain: lempung berpasir. (ed). Geologi dan Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. dan panjang lereng > 50 m. dan liat. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. Kondisi ini menyebar merata keseluruh wilayah Kabupaten Soppeng. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. lereng 26 – 45% dan Lereng > 45%. 2.

Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. sehingga dalam proses penanganannya perlu diperhatikan pula guna menjaga keberlangsungan hubungan antara hulu. sebagaimana pada tabel 3. Kondisi fisik bagian tengah DAS. Analisis Wilayah DAS Lawo 1. tengah. dimana bagian hulu DAS ditemukan beberapa bagian sungai yang sudah mengalami perubahan fisik dalam bentuk erosi. dan panjang lereng > 50 m. tengah. kondisi ini dibiarkan berlanjut terus menerus maka akan berlanjut dengan proses pendangkalan di bagian tengah sungai dan akan mengganggu keberlangsungan ekosistem pada hilir DAS itu sendiri. Kondisi DAS sungai lawo terutama dalam bentuk erosi dan sedimentasi. namun di beberapa bagian sungai terutama kondisi fisik sungai telah mengalami perubahan alur sungai yang dapat mempengaruhi pola aliran air sungai yang tidak mengikuti alur sungai yang sebenarnya di mana aliran air mengalir dibagian kiri kanan sungai dan membentuk delta di bagian tengah sungai. dan hilir DAS dalam menjalankan fungsi hidrologinya. maupun di bagian hilir DAS. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0 – 7% hingga lereng > 45%. bahkan terjadi kering di bagian tengah sungai. .  Daerah Hilir Das Kondisi bagian hilir DAS Lawo dari segi fisik sungai umumnya sudah mengalami degradasi terutama dalam bentuk sedimentasi. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. Analisis geomorfologis Ketinggian merupakan salah satu faktor fisik yang berpengaruh terhadap suhu udara. 5.Wilayah DAS Sungai Lawo.  Daerah Tengah DAS Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. 1. dibeberapa tempat telah mengalami perubahan dalam bentuk alur air sehingga air tidak mengalir di bagian tengah sungai. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl.mempengaruhi pola aliran air sungai baik di bagian hulu. E.  Struktur dan Tipologi DAS Daerah Hulu DAS Karakteristik hulu DAS Lawo secara umum merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki kerapatan hutannya baik dan sampai saat ini masih tetap dipertahankan fungsi hutannya terutama penduduk yang bermukim disekitar hulu DAS sebagai kawasan yang dapat memberikan perlindungan dibagian hulu hingga hilir DAS. Tabel: 3.

pengaturan tata air. debit air sungai. dan temporer. guna merumuskan strategi penanganan dan arahan pemanfaatannya. Lereng 25 – 45% vegetasinya tetap dipertahankan selain itu juga dapat di manfaatkan sebagai budidaya tanaman tahunan yang berbasis pada huta rakyat. Lereng 16 – 25% pemanfaatannya sebaikknya sebagai budidaya tanaman tahunan/tanaman semusim jenis vegetasi berupa cengkeh. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. 45 % 69 3 15 8 5 100 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007 Apabila dianalisis lebih lanjut maka kondisi lereng 0 – 7% sebagian besar penutupan lahannya adalah sawah dan rawa. dan lainnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai jalur hijau juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe. priodik. Analisis geohidrologis. dan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS Lawo berupa genangan permanen. agrovorestri dan hutan kemasyarakatan.391. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. karena berfungsi sebagai kawasan penyangga. dan genangan. Sedangkan lereng >45% vegetasinya tetap dipertahankan dan dilestarikan.19 860. Geohidrologis dimaksudkan untuk mengetahui kondisi berupa kerapatan drainase. kopi. Kerapatan drainase adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS seperti tercantum dalam rumus di bawah ini: Dd = L/A Dd= Kerapatan Drainase (km/km) . dan kawasan lindung.104.46 1. Lereng 8 – 15% sebaiknya diperuntukan sebagai budidaya lahan kering atau lahan basah. sehingga untuk pemanfaatan lahannya dapat diperuntukan sebagai budidaya lahan kering ataupun lahan basa dan permukiman.92 486. selain itu juga kondisi lereng ini dapat terjadi tanah longsor sehingga kelestariannya tetap dijaga. 1.Klasifikasi dan Luas Lereng di Wilayah DAS Lawo Luas No Klasifikasi 1 0–7 2 8 – 15 3 16 – 25 4 25 – 45 5 >45 Jumlah (Ha) 11. Analisis ini sebagai dasar indikator dalam mengetahui kondisi hidrologis wilayah DAS Lawo.34 2.54 17. cokelat. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik.863.502.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pengaliran (drainase) DAS Lawo dalam kondisi sudah terganggu (tidak normal). Kondisi ini perlu adanya upaya-upaya penanganan yang harus dilakukan seperti pemantapan fungsi kawasan lindung terutama penghijauan kembali pada daerah-daerah yang kategori vegetasinya sudah dalam kondisi yang tidak diharapkan.328 m3/dt. Pada persamaan ini nilai Q diperoleh dari perkalian antara kecepatan aliran V (m/dt) dan luas penampang melintang A (m2) atau secara matematis: Q=AV Q = Debit (m3/dt) A = Kecepatan Aliran (m/dt) V = Luas Penampang Melintang (m2) Dari hasil analisis yang dilakukan maka diperoleh debit air rata-rata DAS Lawo adalah 9. Berdasarkan data di atas dan hasil perhitungan kecepatan permukaan aliran rata-rata maka besarnya debit air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Bernoulli atau sering juga dikenal sebagai the continuity equation. . Tabel: 4. Sedangkan dari data yang diperoleh maka Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (Vperm dalam m/dt) dapat dihitung dengan rumus: Vperm = L/t L = Jarak Antara dua Titik Pengamatan (m) t = Waktu Perjalanan Benda Apung (detik) Dari hasil perhitungan diatas maka diperoleh kecepatan permukaan aliran sungai rata-rata adalah 1.L = Panjang Aliran Sungai (km) A = Luas DAS (km2) Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh kerapatan drainase wilayah DAS Lawo adalah 0.06 m/dt. sehingga tingkat infiltrasi yang terjadi di wilayah DAS Lawo akan semakin kecil. serta pengaturan kembali pola penggunaan lahan di wilayah DAS lawo guna menghindari kemungkinan dampak negatif yang akan terjadi.386 km/km. artinya jumlah air larian total semakin besar.

33 17. Analisis SDA Kehutanan Pada kawasan hulu DAS status hutan sebagian besar adalah hutan lindung. Sedangkan jenis tanah yang terdapat di bagian hilir DAS adalah alluvial kelabu tua.46 307. dan keberadaan vegetasi kurang mengimbangi kondisi struktur geologi yang ada sehingga mudah terjadinya erosi dan longsor. Bagian hulu DAS terdapat jenis tanah mediterian coklat regosol dan litosol.104. 1. Di mana jenis tanah ini adalah jenis tanah subur. mediterian coklat regosol. gromosol.Jenis dan Luas Genangan di Wilayah DAS Lawo No 1 2 3 4 Jenis Genangan Permanen Periodik Temporer Non Genangan Jumlah Luas (Ha) 76. jenis tanah ini mudah tererosi karena teksturnya berupa pasir berlempung sehingga penutupan lahannya harus tetap di jaga untuk menjaga agar tidak terjadi erosi/tanah longsor. 1. kondisi ini diduga sebagai akibat lemahnya struktur geologi.875. Analisis Potensi SDA a. Bagian hulu dan tengah DAS tekstur tanah berupa lempung berpasir dan liat berpasir. mediterian coklat. karena mempunyai lapisan atas/soluin tanah yang dalam ± 100 cm. Analisis Geologi Berdasarkan pengamatan tim dilapangan ditemukan beberapa titik yang terdapat erosi dan longsor terutama di bagian hulu DAS yang mempunyai kelerengan kisaran 25 sampai >40. karena kawasan ini merupakan daerah resapan dan penyimpanan air. 5. 3. yang sesuai untuk lahan/kegiatan budidaya lahan basah. dan liat. Hal ini perlu adanya upaya penanganan berupa pemilihan jenis vegetasi yang akan dibudidayakan harus memiliki sistem perakaran yang dapat mendukung struktur geologi yang ada. sehingga sifatnya relatif subur. Bagian tengah DAS terdapat jenis tanah gromosol dan mediterian cokelat. sehingga memungkinkan untuk budidaya tanaman jangka panjang. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain lempung berpasir. disisi lain kerapatan pohon sudah mulai berkurang. sehingga kedepan kawasan hutan tersebut tetap dijaga dan dilestarikan.53 845. disebabkan . lempung berliat.45 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007. Analisis Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. Jenis tanah ini merupakan hasil dari proses endapan lumpur dari hasil sedimentasi yang terjadi. Sedangkan tekstur tanah bervariasi.13 15. dan litosol yang tersebar dari hulu hingga hilir.

Analisis Aliran Sungai Lawo a. sampai berlempung halus. namun kenyataannya terdapat adanya . 6. pertanian. kelerengan diatas 15 %. dan meningkatnya laju sedimentasi. Pertanian lahan basah memerlukan kedalaman efektif tanah minimal 60 cm. sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan seperti sumber air bersih. batas ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30 cm. Analisis DAS Hulu Bagian hulu DAS biasanya memiliki karakteristik antara lain. perikanan. Kondisi hulu DAS Lawo umumnya didominasi oleh kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam mendukun proses hidrologi DAS masih tetap terjaga. pencemaran air. dengan komoditas utamanya adalah padi sawah (wetland rice). dan harus dipertegas dengan aturan yang ada. perubahan siklus hidrologi. terdapat penyebaran lahan yang sesuai bagi pengembangan budidaya pertanian lahan basah. bukan daerah banjir. Pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dan sumber daya lahan berupa perambahan hutan dan perladangan di suatu wilayah DAS yang cenderung meningkat tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi akan memberikan dampak positif terhadap DAS dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat penyediyaan sumber air dapat terganggu. Sedangkan pada kawasan DAS tengah dan hilir DAS seluruh kawasan bukan hutan lagi melainkan kawasan budidaya. Analisis SDA Pertanian Pembukaan lahan pertanian di wilayah daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan sehingga tidak akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti erosi. kuantitas. Analisis Sumberdaya Air Potensi Sungai Lawo sebagai sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan perlu dikelola dengan baik terutam dalam hal pengaturan berbagai pemanfaatan lahan yang ada disekitar Sungai Lawo agar dampaknya tidak mengganggu kondisi hidrologi sungai baik dari segi fisik sungai. berdebu halus. Produktifitas dan kualitas mutu panen cenderung menurun bila kedalaman efektif tanah menurun. dimana bagi oknum masyarakat yang merusak kawasan hutan tanpa memiliki dasar yang jelas harus diberikan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. b. peternakan. jenis vegetasi adalah tegakan hutan. Tanah yang berkuarsa sangat tidak sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan kuarsanya sedang. Sedangkan tekstur tanah yang terbaik bagi jenis pertanian lahan basah adalah tanah yang berliat. dan berbagai kebutuhan lainnya. mempunyai kerapatan drainase tinggi.karena terjadinya penebangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan belum sadar akan pentingnya pelestarian hutan. terutama dalam hal tekstur tanah dan kedalaman efektif tanah. c. Dari hasil analisis yang dilakukan di wilayah DAS Lawo. Kegiatan pertanian lahan basah adalah kegiatan pertanian yang memerlukan air terus menerus sepanjang tahun. sehingga masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang fungsi pelestarian lingkungan disekitarnya. maupun kualitas air. merupakan daerah konservasi. sehingga pemanfaatan lahan di daerah tersebut harus memperhatikan kaidah-kaidah konservasi agar pemanfaatannya tidak merusak lingkungan ekosistem wilayah DAS.

Pengembangan Wisata Air. juga penebangan vegetas di daerah pinggiran sungai untuk perluasan areal perladangan dapat memberikan tingkat erosi yang terjadi di wilayah DAS. Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan seperti perladangan tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi tanah dan air misalnya penggunaan input (pupuk dan pestisida) yang berlebihan akan berimplikasi langsung terhadap kandungan unsur pada tanah dan akan berpengaruh kepada daya dukung tanah sehingga tanah mudah tererosi dan juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas air tanah.perambahan hutan yang kemudian dijadikan sebagai perladangan masih tetap terjadi. serta pengaturan penggunaan air irigasi agar dapat mengairi semua sawah yang ada di wilayah DAS Lawo secara umum dan khususnya wilayah hilir DAS sebagai daerah pemanfaatan berbagai aktifitas. Berdasarkan kondisi di atas maka perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan seperti pengaturan berbagai aktifitas terutama di wilayah hulu DAS agar tidak mengganggu fungsi kawasan hutan lindung. merupakan daerah pemanfaatan. kelerengan dibawah 8 %. dan memberikan dampak terutama di daerah hilir DAS dalam bentuk transpor sedimentasi yang akan mengganggu sistem hidrologi DAS. Banjir yang terjadi di wilayah DAS lawo umumnya terdapat di bagian hilir DAS. Analisis Pengemb. bendungan. Analisis DAS hilir. dan muara-muara sungai karena adanya sedimentasi ditempat tersebut. saluran-saluran irigasi. pemakaian air diatur oleh bangunan irigasi. Aktifitas penduduk di sekitar bantaran sungai yang cenderung meningkat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konserfasi tanah dan air. dimana pada musim hujan banjir dapat merusak areal persawahan bahkan sampai ke pemukiman penduduk. waduk. Karakteristik hilir DAS memiliki ciri antara lain. Sedimentasi sebagai hasil dari proses erosi yang terjadi di DAS dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pada sungai. Analisis DAS Tengah. dan peningkatan fungsi sistem irigasi yang ada. 1. dibeberapa daerah merupakan daerah banjir. b. Untuk itu perlu adanya tindakan berupa sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat agar masyarakat menyadari pentingnya fungsi hutan dan bahaya terjadinya kerusakan lingkungan berupa erosi dan tanah longsor. Wisata. kerapatan drainase kecil. . c. tinggi banjir yang terjadi ± 1 m. Bagian hilir DAS disamping sebagai daerah pemanfaatan juga sebagai daerah penadah tentunya akan menanggung berbagai resiko yang terjadi di suatu wilayah DAS. 7. akan menimbulkan berbagai problem lingkungan seperti erosi yang dapat mempengaruhi produktifitas lahan. jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian. a.

disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) berdasarkan daya dukung kawasan. Memperlancara infiltrasi air ke dalam tanah. . (i) pemilihan berdasarkan Karakteristik alam.DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. Hal ini di tandai dengan adanya berbagai keunggulan-keunggulan yang dimiliki berupa keindahan alam pegunungan. seperti. perlindungan dan penggunaan sumberdaya air didasarkan atas pendekatan wilayah sungai. F. dan (ii) Pemilihan berdasarkan potensi wilayah. proses penanganan ini berupa. DAS Lawo terutama di bagian hulu DAS. Arahan Strategi Penanganan DAS. potensi ini dapat dilakukan melalui upaya pembangunan waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. Pengembangan Ekowisata. DAS sendiri merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah yang mengalir dari permukaan tanah ke sungai dari hulu hingga hilir. salah satunya adalah monyet yang tersebar khususnya di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan lingkungan ekologis di DAS Lawo agar lebih lestari. dinyatakan bahwa pendekatan dalam pengembangan. DAS hulu merupakan seluruh daerah tadahan/kepala sungai. 1. Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha mengendalikan banjir. a. Mengacu pada PP No. Pengembangan Agrowisata Pengembangan agrowisata pada suatu lokasi perlu dilakukan kajian lokasi secara matang. b.    Meningkatkan kemampuan fungsi retensi DAS hulu terhadap aliran permukaan melalui pemantapan fungsi kawasan lindung. dengan memanfaatkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan kebiasaan (massangki) dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. keberadaan satwa. Strategi Penanganan DAS Hulu Berdasarkan aspek ekologi daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) atau sebagai lingkungan pengendali (conditiong environment). 22 tahun 1982 tentang tata pengaturan air. yang akan banyak dipengaruhi oleh kondisi vegetasi pada setiap bagian dari daerah alirsan sungai tersebut. Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan DAS Lawo 1. serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. c. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata. Aktifitas penduduk di wilayah DAS lawo yang pada umumnya adalah petani.

kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. Meningkatkan daya guna air dari sumber-sumber air tersedia. dengan strategi berupa.    Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. Mempertahankan dan melestarikan hutan lindung yang terdapat di satuan pengelolaan DAS Hulu. Menentukan dan menyesuaikan jenis budidaya yang dapat dikembangkan pada setiap unit lahan. Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimalkan produksi. Memperbaiki pengaturan pemanfaatan lahan untuk meningkatkan kemampuan lahan. Proses penanganannya berupa. Meminimalisir tingkat erosi dan longsor yang terjadi melalui pendekatan EkoEnggineering dengan memanfaatkan vegetasi setempat. Meliorasi tanah dan kalau perlu dilakukan reklamasi tanah. Arahan Pemanfaatan Lahan. Menentukan sistem budidaya yang dapat dilakukan pada setiap permukaan lahan. . Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan. Strategi Penanganan DAS Hilir Berdasarkan tinjauan aspek ekologi. DAS hilir merupakan daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumsi. 2. DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan.     Meningkatkan fungsi retensi DAS tengah melalui pengembangan prasarana pengairan berupa waduk tangkap dalam menahan air yang mengalir dari arah hulu DAS.     Mencegah atau mengendalikan banjir dan sidementasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan. b. Rencana Kawasan Lindung. Strategi Penanganan DAS Tengah Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. serta menjaga keberadaan vegetasi sekitarnya dalam membantu kemampuan retensi terhadap aliran permukaan. c. a.

Arahan pemanfaatan lahan dengan kegiatan budidaya lahan kering. b. 3. jambu mente. Luas kawasan lindung yang merupakan kawasan DAS hulu seluas 860. maka dilakukan rencana pemanfaatan kawasan budidaya yang meliputi budidaya lahan kering dan lahan basah. Rencana Pengembangan Waduk.56 hektar dengan vegetasi adalah hutan. merupakan jenis tanaman yang dapat dibudidayakan seperti kelapa dalam. b. lada. Rencana Pemanfaatan Budidaya. a. kakao. maka harus dihutankan kembali dengan vegetasi tanaman yang sesuai seperti kemiri dan sukun. dimana proses pengaturannya dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir DAS Lawo. sedangkan DAS hulu yang merupakan daerah lindung namun vegetasinya bukan hutan. kemiri. Sedangkan prasarana irigasi. Arahan Prasarana Lingkungan. Pengembangannya diarahkan di daerah DAS tengah. Berdasarkan potensi yang terdapat di wilayah DAS Lawo terutama potensi pertanian yang dominan. dan tembakau. Berdasarkan pola penyebaran jenis tanah terutama dalam hal tekstur dan kedalaman efektif tanah. diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi dominan berupa jenis pertanian lahan basah terutama di daerah hilir dan tengah DAS. waduk tangkap. dengan . bambu.  Budidaya Lahan Basah. dan kawasan sekitar mata air. terdapat dibagian hulu DAS yaitu berupa kawasan hutan lindung. maka jenis budidaya pertanian lahan basah (padi sawah) pengembangannya terutama diarahkan di daerah hilir dan di daerah tengah DAS.Sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Kawasan Perlindungan setempat meliputi garis sempadan sungai. Dengan tujuan disamping bernilai lingkungan juga bernilai ekonomis. namun harus memperhatikan keberadaan kawasan hutan lindung yang ada sehingga tidak terganggu fungsi lindungnya. namun dalam rencana ini diupayakan agar waduk tersebut selain berfungsi untuk menunjang kegiatan seperti pertanian dan berbagai pemanfaatan lainnya juga berfungsi sebagai tempat wisata yang berskala lokal. sedangkan di daerah hulu DAS bisa dikembangkan jenis budidaya berupa kemiri. kopi. dimana lokasi ini sebelumnya masuk dalam rencana pembangunan waduk tangkap. Rencana Irigasi. rencana pengembangannya diarahkan pada daerah perbatasan antara hulu dan tengah DAS.  Budidaya Lahan Kering. dan lainnya. Prasarana lingkungan berupa waduk tangkap.

Prospek pengembangan agrowisata di wilayah DAS Lawo mempunyai peluang yang baik mengingat potensi yang ada sangat beragam dan khas. Pengembangan Agrowisata. Pengembangan wisata ini diarahkan pada daerah yang memiliki potensi untuk dibangun prasarana air berupa waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. Pengembangan Ekowisata. keberadaan satwa liar. Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata atau wisata terbatas yang memanfaatkan tatanan. Pengembangan ekowisata DAS Lawo diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan. DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. Konsep ini lahir akibat keprihatinan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang terancam oleh pembangunan. Aktifitas penduduk di wilayah DAS Lawo yang pada umumnya adalah petani. Arahan Sistem Permukiman. nilai dan fungsi ekologi sebagai obyek dan tujuan kepariwisataan.mempertimbangan kapasitas sistem irigasi yang ada sehingga dapat mengaliri semua areal sawah. . dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan ‖massangki‖ dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. a. Dengan demikian pengembangan agro wisata diarahkan di daerah tengah dan hilir DAS. terutama di bagian hulu DAS. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata yang meliputi keindahan alam pegunungan. c. a. 5. 4. Perpaduan antara kekayaan komoditas agraris dengan bentuk keindahan alam dan budaya masyarakat setempat merupakan kekayaan obyek wisata yang amat bernilai. serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. cenderung terdapat di daerah tengah dan hilir. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) dengan berdasarkan kepada daya dukung kawasan. Pengembangan Wisata Air. Areal Permukiman di Daerah Hulu. serta ekowisata menjadi alat bagi penyadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan yang tidak mungkin mengorbankan masyarakat yang tinggal dan hidup didalam atau sekitar kawasan lingkungan. b. salah satunya adalah monyet yang tersebar di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat dan lingkungan ekologis di wilayah DAS Lawo agar lebih lestari. Arahan Prasarana Wisata.

DAFTAR PUSTAKA Asdak. harus memperhatikan kepemilikan lahan yang termasuk dalam areal rencana waduk. karena berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 kawasan DAS merupakan kawasan strategis lingkungan yang senantiasa harus dilindungi. Areal Permukiman di Daerah Hilir. 5) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus menjadi komitmen bersama seluruh stakeholder. 6) Pembangunan Waduk tangkap. C.. Berdasarkan hasil kajian DAS Lawo. Padjajaran University Press. maka terdapat beberapa rekomendasi yang harus dilakukan untuk dapat mengelola dan melindungi DAS Lawo. seharusnya direlokasi pada suatu tempat dalam bentuk transmigarasi lokal. 1) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus dilakukan secara terpadu. Gajah Mada University Press. b.. maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Yogyakarta. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. sehingga dapat dilakukan lebih manusiawi. terutama kepada masyarakat yang bermukim dalam wilayah DAS Lawo. maka sebaiknya dilakukan sosialisasi. sehingga dapat lebih berkelanjutan. Bandung. 1990. dimana proses penanganannya berupa pengaturan garis sempadan sungai. . 2) Diprediksi DAS Lawo sepuluh tahun kedepan. larangan pembuangan sampah ke dalam sungai serta pengaturan fungsi kawasan lainnya yang dapat dilakukan agar penduduk dapat terhindar dari berbagai resiko lingkungan berupa banjir dan erosi agar lingkungan wilayah DAS dapat terjaga dalam mendukung berbagai pemanfaatan. 3) Masyarakat yang bermukim dalam kawasan lindung. 4) Untuk dapat mempercepat implementasi. Asdak. maka diperlukan upaya-upaya penanganan pelarangan perluasan kawasan pemukiman serta penyiapan lokasi pemukiman yang layak dalam berbagai aspek agar penduduk setempat dapat direlokasi ke tempat yang disiapkan. 1.Keberadaan pemukiman di daerah hulu DAS perlu diperhatikan agar tidak mengganggu fungsi kawasan lindung. C. apabila tidak dilakukan perbaikan dan perlindungan DAS Lawo. Rekomendasi. 2004. sebagai berikut. Agar tidak mengganggu fungsi kawasan dan wilayah DAS secara keseluruhan. Biophysical relationships needed to perform economic evaluation of watershed management program. G. Penanganan pemukiman di luar daerah hulu diarahkan terutama pada daerah tengah dan hilir DAS.

perikanan. Sungai X3 Vegetasi X1 Comments: Be the first to comment PENANGANAN BANJIR DAN KEKERINGAN Posted December 24.. Easter. Usaha pengendalian banjir tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan. terbatasnya penyediaan air bersih. K. karena kejadian banjir terus meningkat dari waktu ke waktu. karena nilainya cukup besar... 1970.Brooks. peternakan dan terganggunya transportasi air.. dll. Policies for sustanaibel Development. karena proses . Prentice Hall. H. 1994.E. Watershed Hydrology. sudetan sungai. Kerugian ini akan semakin besar kalau terjadi di kota-kota besar yang padat penduduknya. berkurangnya air untuk prtanian. Black. Folliott. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized ABSTRAK Besarnya kerugian akibat kekeringan di beberapa daerah sangat memprihatinkan.M.I. pompanisasai air banjir. EastWest center Worshop report. P. Fenomena ini sudah kita sadari. Akibatnya di beberapa tempat terjadi banjir yang banyak menimbulkan kerugian baik nyawa maupun harta benda. kabu asap. Berdasarkan beberapa kejadian kekeringan diperoleh informasi bahwa kekeringan dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan.. New York. 1991. A. tampungan banjir sementara. Gray. Handbook on the principles of hydrology. 1985. Untuk mengurangi kerugian tersebut telah banyak usaha penanggulangan banjir yang dilakukan seperti pembuatan tanggul banjir.W. Pendahuluan Indonesia merupakan negara beriklim tropika humida (humid tropic) yang pada musim hujan mempunyai curah hujan tinggi. K. Integrated watershed management research for developing countries. D. National Research Council of Canada. Englewood Cliffs. P.M.F.N. The role of watershed management. The environment and natural resources policy adn training project. Honolulu H. New Jersey.

Di sisi lain banjir merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup besar potensinya. Pengendalian banjir dan pananganan kekeringan secara terpadu nampaknya akan memberikan hasil lebih baik. Banjir 1. baik itu proses di lahan maupun di jaringan sungainya. walaupun intensitas hujannya tidak terlalu besar. infiltrasi memang masih berjalan. dan sumberdaya air secara keseluruhan. Pengaruh kelengasan tanah awal pada debit banjir sudah difahami. usaha pengendalian banjir yang dilakukan sekaligus dapat mengurangi kerugian akibat kekeringan. Apabila air banjir pada musim hujan dapat ditampung dan disimpan. Pada kondisi tersebut nilai debit puncak ditentukan oleh sebagian luas DAS. namun nilainya cukup kecil.kejadian banjir memang sangat komplek. Pada kondisi tanah dengan kelengasan tinggi atau jenuh air. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang telah dibasahi hujan sebelumnya menurunkan kemampuan menginfiltrasi air. . Dalam konteks ini air menimbulkan gangguan akibat pengalirannya atau genangannya pada tempat-tempat yang tidak disediakan untuknya. Perlu mendapat perhatian pada penggunaan rumus Rasional. Kejadian hujan dalam beberapa hari berturut-turut. Dengan demikian. Di Indonesia ada beberapa factor penting penyebab terjadinya banjir : a. justru dapat menimbulkan banjir. sehingga hampir seluruh hujan menjadi aliran dan dapat menimbulkan banjir. Pembahasan 1. yaitu pada kondisi durasi hujan yang lebih pendek dari waktu konsentrasinya. perikanan dan pariwisata. Faktor Hujan Intensitas hujan sangat berpengaruh pada besarnya debit puncak banjir. Oleh karena itu penanggulangan banjir tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan DAS. Semakin tinggi intensitas hujan maka semakin tinggi pula debit banjirnya. Banjir adalah peristiwa keberadaan air mengalir melampaui kapasitas perangkat pengaliran yang disediakan/tersedia dan mengalir di luar kemampuan perangkat itu. sehingga dapat menurunkan debit banjir. pembangkit tenaga listrik. B. karena hujan diseluruh DAS belum teratus. Hujan deras yang terjadi pada suatu hari dimana hari-hari sebelumnya tidak hujan sering tidak menimbulkan bnajir. Oleh karena itu menarik untuk dikaji pengaruh kelengasan tanah awal pada kejadian banjir. Penanggulangan kedua bencana tersebut terus diupayakan dengan berbagai cara. Hal ini dapat difahami. namun belum dirumuskan dengan baik. Uraian di atas menunjukkan bahwa peristiwa banjir dan kekeringan sangat merugikan kehidupan manusia. terutama jika telah banyak melakukan analisis banjir dengan model-model yang tersedia. namun nampaknya masih dilakukan secara terpisah. maka pada saat kekeringan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia dan keperluan lain seperti irigasi.

w. Adanya pendangkalan alur sungai. Faktor DAS Daerah Aliran Sungai adalah daerah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. mengakibatkan banjir yang terjadi meningkat. tampang sungai menjadi berkurang sehingga daya tampung alirannya menurun pula. kejadian banjir diperparah dengan adanya peningkatan elevasi muka air laut. Banjir ini diestimasikan akibat pemotongan bukit-bukit di sekitar Bandung selatan untuk permukiman dan kawasan industri. daerah terbuka (jika ada tanaman. Pada th 2003. Daerah Aliran Sungai yang ada memiliki tataguna lahan yang tidak stabil. sehingga daya rusak terhadap ekologis dan lingkungannya lebih tinggi. Perubahan fisik yng terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan retensi DAS terhadap banjir.com.) adalah akibat penggundulan hutan di sekitarnya. tampungan air (waduk). sehingga jalur jalan Majalaya – Bandung terputus.b. sudetan. Persoalan banjir menjadi semakin rumit jika di alur sungai terdapat rintangan-rintangan arus baik oleh alam maupun buatan manusia seperti : .antara. bahkan cenderung mengalami kerusakan. Hal ini terjadi jika Daerah Aliran Sungainya mempunyai luas area terbuka yang meningkat. prediksi nilai debit dengan kala ulang tertentu yang diperoleh pada saat perencanaan sudah tidak relevan lagi pada saat ini. polder. hanya perdu). dll. Proses pendangkalan ini dapat terjadi akibat erosi tebing dan dasar sungai maupun akibat erosi lahan di Daerah Aliran Sungai. Data yang digunakan dapat berupa data hujan maupun aliran yang terekam pada kondisi DAS saat itu.8 milyar rupiah. normalisasi alur sungai. Kejadian banjir di Sorong tanggal 18 Juli 2003 (www. prediksi debit dengan kala ulang tersebut tentu saja tidak akan menjadi masalah. atau terbangun semakin kecil kemampuan retensinya. Aspek pendangkalan yang terjadi di alur sungai juga merupakan salah satu sebab terjadinya banjir. Apabila kondisi DAS di Indonesia dapat digolongkan stabil. Oleh karena itu. Berubahnya kawasan retensi banjir untuk Jakarta menjadi permukiman. Genangan air mencapai 50 cm – 80 cm.id. Hal tersebut diperparah dengan pola penyebaran permukiman yang menyebar. Kerugian banjir diperkirakan sebesar 2.).co. Semakin banyak lahan terbuka. prasarana dan sarana pengendali banjir direncanakan untuk 10 sampai 100 th. saluran drinasi. sedang sistem drainasi 2 sampai 10 tahun.kompas. Faktor Alur Sungai Upaya pengendalian banjir yang selama ini dilakukan berupa kegiatan fisik/struktur yang berada di sungai (in stream) dengan tujuan untuk melindungi dataran banjir yang telah berkembang. Bandung selatan mengalami banjir pada 27 Mei 2004 (w. Pada umumnya. Peningkatan debit banjir mengakibatkan prasarana dan sarana yang ada tidak mampu menampung aliran yang terjadi. Namun kenyataannya. sedang sampai besar/kritis yaitu pada tingkat yang sudah mengkhawatirkan. Pengendalian banjir tersebut dengan membangun prasarana dan sarana seperti pembuatan tanggul.. c. industri dll. Tingkat kerusakan DAS bervariasi mulai dari kecil.

Selanjutnya indeks kekeringan dapat digunakan sebagai indikator dalam menetapkan klasifikasi tingkat kekeringan suatu wilayah. sehingga dapat memberikan hasil yang baik. Kekeringan Kekeringan merupakan salah satu bentuk kondisi ekstrim dan kejadian alam yang kejadiannya tidak dapat dihindari serta karakteristiknya masih menyimpan ruang yang luas untuk dipelajari dan dikaji lebih mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan merupakan kejadian yang spesifik pada suatu wilayah. ada beberapa tipe kekeringan yang akan ditunjukkan untuk dapat digunakan sebagai acuan. Tidak ada batasan mengenai berapa lama hari/bulan tanpa hujan atau berapa banyak kekurangan air.Penampang pengaliran sempit karena formasi geologi yang keras Adanya ambang alam yang keras Belokan tajam pada sungai akan menimbulkan arus menyilang yang berbahaya Bangunan silang sengan sungai dengan rongga terlalu sempit Pertemuan antara dua sungai atau lebih dengan arus saling merintangi Faktor-faktor di atas perlu mendapatkan perhatian cukup serius dalam penanganan masalah banjir. a. Kekeringan Meteorologis Tipe kekeringan ini paling mudah untuk diidentifikasi dan difahami. T = temperatur tahunan rerata. Batasan atau kriteria kekeringan sampai sekarang belum disepakati secara luas. . Kekeringan meteorologis didasarkan pada kriteria kuantitatif berupa indeks kekeringan. 2. a = indeks kekeringan. Namun demikian. Kekeringan seringkali ditanggapi dengan pemahaman yang berbedabeda. Indeks Kekeringan Menurut De Martonne dengan : P = curah hujan tahunan rerata (mm). Suatu wilayah dapat dikatakan mengalami kekeringan meteorologis apabila hujan tahunan rerata yang terjadi tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk evapotranspirasinya atau dapat juga dibandingkan dengan temperaturnya.

Beberapa batasan kondisi lengas tanah untuk tanaman yaitu kondisi jenuh. Indeks kekeringan menurut UNESCO (1979) Menurut UNESCO tingkat kekeringan diukur berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial Eto yang dihitung menurut rumus Penman. Kondisi kekerinan hidrologi tidak selalu terjadi secara bersamaan dengan kekeringan meteorologis. tampungan air di danau/waduk.03 Wilayah Super Kering 0. c. Kekeringan Hidrologi Kekeringan tipe ini merefleksikan kondisi sistem air dalam suatu wilayah baik untuk air permukaan maupun air bawah permukaan. Indeks Kekeringan Menurut Thornthwaite (1948) Metode ini mengukur kekeringan suatu wilayah berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto). Metode ini dianggap masih mengandung kelemahan karena mengabaikan pengaruh variasi musiman dan amplitudo harian dari temperatur di wilayah kering. Tetapi pada umumnya. Apabila jumlah hujan tahunan rerata lebih kecil dari Eto tahunan. Respon tanaman terhadap kondisi lengas tanah sangat bervariasi. tetapi ada juga tanaman yang membutuhkan lengas tanah tinggi untuk bertahan hidup. Kekeringan Pertanian Kekeringan pertanian merefleksikan kekurangan lengas tanah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk hidup (evapotranspirasi). maka wilayah tersebut merupakan daerah semi kering. Kondisi lengas tanah ini berdampak langsung pada produktifitas tanaman. kapasitas lapang. Sebagian tanaman mampu bertahan hidup dan tumbuh dalam kondisi lengas tanah yang rendah. Kekeringan hidrologis dapat dilihat dari debit aliran rendah (lowflow). Evapotranspirasi potensial ini dihitung berdasarkan rumus Thornthwaite sebagai fungsi emperatur rerata bulanan.50 b. suatu wilayah yang memiliki nilai a < 15 dikategorikan sebagai wilayah kering. Kadangkala ada daerah yang mengalami kekeringan meteorologi tetapi kalau dipandang dari sisi hidrologi sebenarnya tidak mengalami kekeringan.Menurut De Martonne. Nilai ini dibandingkan dengan tinggi curah hujan tahunan rerata (P). wilayah kering wilayah semi kering .03 < < 0.20 < < 0. titik layu awal dan titik layu permanen. tampungan dalam tanah dsb. apabila terjadi kekeringan hidrologi maka secara meteorologi juga mengalami kekeringan. < 0. didefinisikan sebagai jumlah penguapan dari suatu wilayah yang tertutup tumbuhan dengan kecukupan air untuk terjadinya penguapan maksimum menurut kondisi klimatologi.20 0.

3. Aris mengingatkan perlunya masyarakat lebih waspada akan kemungkinan sering terjadinya banjir. Penanganan banjir melalui peningkatan retensi banjir dapat dilakukan dengan cara program penghijauan yang menyeluruh baik di perkotaan maupun perdesaan. kebutuhan air untuk berbagai keperluan terpenuhi. daerah pantai tersebut kesulitan mendapatkan air bersih. alangkah baiknya jika penanganan kedua persoalan tersebut dapat dilakukan secara terpadu.com). muka air tanah dapat diharapkan stabil. Daerah Industri Cilegon Sungai Cidanau terletak di Daerah Cilegon. Kesimpulan ini dipeoleh Aris Poniman dari hasil penyusunan neraca sumberdaya hutan dan lahan (www. Sawah seluas 24. Sungai ini sering membanjiri daerah Industri Cilegon dan sekitarnya. Penanganan Banjir dan Kekeringan Secara Terpadu Banjir. Fenomena bahwa banjir semakin meningkat dari waktu ke waktu. tanah longsor dan tentu saja kekeringan. sementara kekeringan adalah persoalan kekurangan air. Untuk mengatasi kesulitan air bersih . Jawa Barat yang bermuara di Selat Sunda. Kekeringan yang melanda Pulau Jawa terutama disebabkan oleh berkurangnya luas hutan dan meningkatnya penggunaan lahan non hutan. Tanah diharapkan dapat menjadi tampungan air sementara dan secara perlahan-lahan air dialirkan ke sungai sehingga tidak menimbulkan banjir di hilir.802 ha mengalami kekurangan air dengan status berat dan ringan. Contoh penanganan banjir dan kekeringan secara terpadu dapat diuraikan sebagai berikut. Peningkatan lahan non hutan dapat mengakibatkan kekeringan karena keseimbangan ekosistem dalam suatu DAS terganggu. sebagaimana diketahui. Manfaat langsung peningkatan retensi ini adalah terjaganya konservasi air di DAS. adalah persoalan kelebihan air. sumber air terpelihara. Disisi lain pada musim kemarau.swara. pemeliharaan reservoirreservoir alamiah dan pembuatan resapan-resapan yang dapat memasukkan air hujan sebanyakbanyaknya ke dalam tanah. sedang 345 ha puso (www.pikiran_rakyat. sementara debit musim kemarau semakin menurun sudah difahami bersama. Contoh daerah yang mengalami kekeringan yaitu di Jawa Barat pada Juni 2003. Namun secara umum dapat dirangkum bahwa kekeringan adalah peristiwa terjadinya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhannya di masing-masing wilayah dan untuk tiap-tiap penggunaan. Fluktuasi debit rata-rata bulanan Sungai Cidanau Mengingat fenomena di atas.net).Nampak bahwa kekeringan yang terjadi dapat merupakan interaksi berbagai tipe kekeringan yang menambah kesulitan pengertian tentang kekeringan. Salah satu contoh kodisi tersebut ditunjukkan pada kejadian aliran di sungai Cidanau dari tahun 1998 – 2000 sebagai berikut : Gambar 1.

dan mengurangi besarnya debit banjir. Kapasitas waduk tersebut yaitu 2. sehingga genangan yang sering terjadi dapat menurun. Permasalahan yang ada di DAS Goseng yaitu dibukanya lahan dengan kemiringan yang terjal sebagai tegal oleh masyarakat setempat. Gambar 2. Ltd. PT Krakatau Tirta Industri membuat waduk Krenceng yang letaknya 27. Luas area DAS Goseng = 5. Daerah banjir yang dapat dibebaskan seluas ± 11. Sragen dan Klaten dengan luas 23. Sketsa tata letak waduk Krenceng U WTP Wd. Pengendalian Banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dan Penyediaan Air Irigasi Pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dilakukan dengan pembuatan waduk Wonogiri yang terletak ± 2 km sebelah selatan kota Wonogiri.000 ha. Dari intake air dipompa menuju waduk Krenceng yang merupakan penyimpanan cadangan air baku. Daerah Aliran Sungai Goseng Daerah Aliran Sungai Goseng merupakan ordo pertama sungai Samin yang bermuara di Sungai Bengawan Solo. Sehingga nilai koefisien aliran dan erosi lahan . Waduk ini mulai beroperasi pada th 1982.200 ha. dan yang paling utama adalah pembebasan daerah Surakarta yang padat penduduk.. Namun dengan berjalannya waktu.96 km2. 1978). Karanganyar. Selain untuk pengendalian banjir waduk juga dimanfaatkan untuk irigasi.2 km dari Sungai Cidanau.Kreuceng Air baku untuk kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Cidanau dengan lokasi intake 700 m dari Selat Sunda di Kecamatan Cinangka. Terbangunnya sistem pengadaan air bersih di daerah Cilegon tersebut dapat mengatasi kesulitan air bersih dan sekaligus dapat mengurangi besarnya debit banjir. Oleh karena itu PDAM Surakarta akan memanfaatkan air Bengawan Solo untuk air baku dalam penyediaan air bersih bagi Kodya Surakarta. Catchment areanya sebesar 1350 km2 dan kapasitas tampungan 650 juta m3. Daerah Irigasi yang mendapatkan air dari waduk Wonogiri meliputi wilayah Kabupaten Sukoharjo.5 juta m3. Waduk ini direncanakan untuk mengurangi debit banjir sebesar 4000 m3/detik menjadi 400 m3/detik (Nippon Koei Co. Daerah Aliran Sungai ini terletak pada 7°39¢32² – 7°45¢ 08² LS dan 110°59¢02² – 111°2¢15² yang ditunjukkan pada Gambar 3. areal irigasi di Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan atau industri. Dari waduk air dialirkan ke Water Treatment Plant Krenceng dengan kapasitas pengolahan 2000 lt/dt.

Prinsip Dasar Pengelolaan Kekeringan. 2000. Usaha penambahan luas hutan diaplikasikan pada DAS Goseng. Harapan ini tentunya akan lebih mudah terwujud jika dapat dilakukan reboisasi secara serempak. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. Prediksi penambahan volume air akibat penghutanan kembali DAS C. Informasi yang dapat diperoleh dari analisis ini bahwa adanya penghutanan kembali DAS memberikan harapan bahwa besarnya cadangan air tanah untuk berbagai kebutuhan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Yogyakarta Krakatau Tirta Industri. Seminar Pengendalian Kekeringan DPS Mahakam. PT. Lahan tegal dengan kemiringan 25 – 65% dicoba untuk di hutankan kembali dengan skenario 5.. Penurunan debit puncak dengan adanya skenario reboisasi Gambar 5. Teknik Sipik UGM. 2002. HMS UAJY dan HATHI. Banjir Terus Menerus di Indonesia dan Tinjauan Eko-Hidrolis. yang ditandai dengan meningkatnya nilai debit puncak dan kekeruhan air sungai Samin. Kalimantan Timur Siswoko. Jur. 15. HMS UAJY dan HATHI. Perencanaan Pengembangan dan managemen Sumberdaya Air untuk Mengantisipasi Kekeringan DAS Mahakam.meningkat. Yogyakarta Sudjarwadi dan Fuad Bustomi. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan debit puncak. dengan harapan dapat memberikan tambahan air ke dalam tanah dan mengurangi erosi lahan. Rachmad Jayadi. 2009 by syahriartato Categories: SENI DAN BUDAYA . 2002. Yogyakarta Comments: Be the first to comment ARSITEKTUR TRADISIONAL SULAWESI SELATAN PUSAKA WARISAN BUDAYA LOKAL INDONESIA Posted October 9. Mampukah Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dan Sistem Drainasi Membebaskan Dataran Banjir dari Ancaman Banjir dan Genangan. Kejadian hujan yang digunakan dalam analisis yaitu kejadian pada tanggal 14 Januari 1997. Daftar Pustaka Agus Maryono. Gambar 3. Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Untuk Industri Cilegon dan Sekitarnya serta Kualitas dan Kuantitas Sungai Cidanau. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. 2002. 2001. 10. 20 % luas DAS menjadi hutan atau tanpa reboisasi tetapi seluruh tegal dengan kemiringan tersebut di buat teras. Kursus Singkat Sistem Sumberdaya Air Dalam Otonomi Daerah II. Cilegon. yang berarti ada penambahan volume air ke dalam tanah sebagai ditunjukkan pada Gambar.

Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa ―kebudayaannya‖ masih asli. keterbukaan dapat mengakibatkan infiltrasi kebudayaan yang membawa nilai-nilai baru yang tidak semuanya baik dan sesuai dengan nilai luhur yang dimiliki hingga dapat menimbulkan dekadensi kebudayaan. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan ―setempat‖ biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak ―budaya‖ dengan pihak luar. baik di tingkat lokal. berbekal kemampuan berfikir secara ‖metaforik‖ serta memanfaatkan seluruh indranya.Kebudayaan dan Arsitektur Tradisional. Komunikasi secara simbolik itu dilakukan dengan efektif. transparansi. dimana masyarakat semakin mengabaikan batas geografis. maka semakin kuat pula hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan ―budaya‖nya. dimasa interaksi sosial budaya masyarakat semakin luas dan terbuka. memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan pergaulan dan kehidupan kemasyarakatan. bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya. etnis. Bila tidak ada filterisasi dan proteksi secara dini. Sebaliknya. komunitas. negara bahkan bangsa. etnografis. Kemampuan berfikir secara “metaforik‖ itu terwujud dalam kreativitas penciptaan berbagai ―symbol‖. Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya. Masyarakat semakin terbuka. Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. maka semakin besar pula peluang masyarakat tersebut untuk mengembangkan ―kebudayaan‖-nya. Kini. Perkembangan positif yang telah terjadi adalah berkembangnya keterbukaan. manusia dapat saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak. perkembangan semangat demokrasi dan reformasi menjadi fenomena umum yang turut mendorong terjadinya pola interaksi sosial budaya baru. dampak negatif juga pasti terjadi. Kondisi ini. Suka tidak suka. Di Indonesia. hingga pergaulannya kemudian semakian luas hingga menembus batas antar personal. penegakan hukum dan hak azasi. regional maupun global. berisi ungkapan makna yang digunakan ketika berkomunikasi menyampaikan pesan. pengalaman. Ketika interaksi sosial budaya suatu masyarakat semakin luas maka kian beragam dan kompleks jaringan yang dilakoninya. mengarahkan mereka menuju suatu keadaan imajiner. etis dan manusiawi untuk membangun kesepahaman. perkembangan demokrasi dan reformasi tersebut telah mendorong pengaruh yang memberi dampak positif sekaligus negatif. kesan. karena meningkatnya transportasi dan informasi yang mengantarkan ―budaya‖ baru. harapan. Semakin tinggi intensitas interaksi sosial budaya yang dikembangkan oleh suatu komunitas lokal dalam pergaulannya dengan komunitas diluarnya. kian diperparah karena anutan . nasion bahkan generasi pada suatu skala ―interaksi‖ sosial budaya. Dengan menggunakan simbol-simbol yang diciptakannya. Manusia beraktifitas mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan dimuka bumi ini. atau semakin mereka menutup diri dari pergaulan dengan luar komunitasnya. Kebudayaan lokal akan cenderung semakin terpuruk dan akhirnya porak poranda kehilangan identitas.

Sementara nilai-nilai moral. . Teknologi komunikasi dan teknologi informasi sudah semakin canggih. menjadi landasan nilai ―budaya‖. nilai kewibawaan. ―Selaras‖ dan ―kekal‘‖ karena lahir dari proses yang panjang. Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada pencapaian prestasi sesaat. nilai ekonomis cenderung menjadi tujuan utama yang sangat kuat menonjol. nilainilai batin dan spiritual. berbanding terbalik dengan sensitifitas ―kebudayaan rasa‖ yang cenderung pelan karena segala sesuatu perlu proses dan pengendapan. akan menjadi ―dosa‖. Orang-orang ingin serba bergegas cepat. kian tercemari nilai-nilai kebendaan dan pragmatisme. apapun yang dilakukan manusia haruslah sesuai atau selaras dalam harmoni tatanan kehidupan alam sekitarnya. masyarakat tradisional Indonesia sesungguhnya sangat percaya akan pentingnya suatu proses yang membentuk tatanan. Tatanan atau acuan itu bersifat ―Stabil‖. Bila tidak bertentangan dengan keselarasan dan harmoni alam. ukuran kemuliaan dan kebahagiaan manusia. solidaritas dan empati bagi sesama. mereka sudah sangat sulit untuk hanya mempertahankan ciri khas ―budaya‖ lokalnya sebagai unggulan warisan leluhur mereka saja. hukuman pembawa malapetaka. serta mempengaruhi sendi kehidupan secara keseluruhan. hampir semua aspek kehidupan bangsa sudah saling berinteraksi secara bebas. atau bagaimana memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. nilai-nilai batin dan nilai-nilai ―spiritual‖ terus tergerogoti hingga keberadaannya merosot tajam. Dalam masyarakat kapitalistis. penguasaan power kekuasaan sebesar-besarnya tetapi mengabaikan bagaimana cara atau proses mencapainya. Kepercayaan dan pemahaman akan tatanan dan acuan yang mengatur itu kemudian mengendap. penghayatan. menarik dan mentransformasi masuknya kebudayaan mancanegara. Padahal. Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan kekurangsiapan sebagian besar masyarakat Indonesia mengantisipasi kemajuan yang sangat pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. sementara masih lebih bertumpu pada prioritas pembangunan ekonomi yang kapitalistis. Kebudayaan rasa berintikan pada proses. mengkristal. Dampak berbagai dari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. acuan tetap. sementara yang dikejar adalah bagaimana cara memperoleh selembar ijazah. menjadi sumber segala anutan. Kenyataannya terlihat pada apa yang terjadi didunia pendidikan. Sementara disisi lain nilainilai non ekonomi. bahkan nilai-nilai itu seolah menjadikan semacam komoditas eceran. Keberadaannya telah secara cepat menjadi katalisator yang sangat cepat. Sebaliknya perbuatan manusia yang menyimpang dari tatanan dan aturan itu. Suatu yang sesungguhnya memiliki tempat terhormat dalam kepribadian bangsa Indonesia sebagai wujud dari ―nilai warisan‖ nenek moyang bangsa. bercampur. penyimpangan yang bisa berakibat terjadinya sangsi. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai dalam pencapaian skala materialistis -―ekonomi kebendaan‖ semata. niscaya hidup manusia akan tenang dan damai. telah menjadikan batas-batas antar bangsa sudah semakin tidak jelas. banyak orang yang mengabaikan mutu. Komunitas etnis atau masyarakat tradisional perlahan memudar. yang mengatur segala apa yang terjadi secara harmonis. Sesungguhnya. Tak heran jika yang nampak pesat berkembang kemudian adalah budaya opportunis dan hedonis yang lebih mengunggulkan rasio―kebudayaan otak‖.―model‖ pembangunan di Indonesia. keadilan dan nilai-nilai ―kearifan budaya leluhur‖ terabaikan. Keluhuran budaya lokal yang adiluhung dan bersahaja itu.

Arsitektur sebagai hasil karya seni budaya diakui sebagai salah satu wujud kebudayaan yang dapat dijadikan cerminan dari kehidupan manusianya. perbuatan. ―tersusun” dan ―berulang” secara ―hirarkis” otomatis dalam sebuah ―tatanan budaya” yang terjaga. laksana salah satu bentuk bahasa ―non-verbal‖ manusia yang bernuansa simbolik. dari masa ke masa.. Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Arsitektur itu sendiri dapat dipahami melalui wacana metafor keindahan. Suatu tatanan yang selalu ―teratur”. kehidupan manusia hanya terbatas dan berpusat pada kehidupan dirinya sendiri. Telaahan ―kebudayaan” selalu berpijak pada unsur-unsur buah pikiran ―idea”. Keterkaitan hubungan antara kebudayaan suatu bangsa dengan arsitektur. Tidak jauh berbeda dengan sastra verbal yang metaforik. Ada dua macam tanda penting. Kemudian manusia mengembangkan diri melalui dorongan naluri dan nalarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya ―kosmologi‖ yang menyeluruh. tergambar pada telaahan masing –masing unsurnya. Sumber : Tjahjono. maka ―arsitektur” adalah salah satu wujud hasil karya seni budaya. Arsitektur adalah alat komunikasi manusia secara ―non verbal” yang mempunyai nuansa sastrawi. dari sudut pandang itu akan dikenali karakteristiknya. atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. Awalnya. harmonis dan seimbang dengan kehidupan ―habitat‖ sekitarnya. Ketika bicara tentang ―kebudayaan” secara komprehensif. hal tersebut terwujud pada penggambaran bentuk ―rumah adat” yang diciptakannya. Arsitektur sebagai unsur kebudayaan. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya itu didasarkan pada anggapan bahwa eksistensi hidup ada dalam rangkuman makrokosmos alam raya. Itulah dasar-dasar filosofi yang mewarnai ―Budaya‖ masyarakat tradisional Indonesia. pertama : ―mitos asal‖. menjadi pola pengendali hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Dalam naskah kuno sastra jawa dan kitab sastra “lontara” Bugis Makassar secara jelas dapat ditemukan relevansi antara lingkungan dan kehidupan budaya manusia. manusia menggunakan tanda – tanda atau “simbol”. cara ―membangun” dan ―wujud nyata” dari ―bangunan‖ sebagai suatu lingkungan buatan dalam rekayasa lingkungan sekitarnya. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup. Ed. yang diatur dalam sebuah tatanan ―budaya‖ atau ―kebudayaan‖. maka kehidupan ‖egocentrum‖ kemudian berubah menjadi bagian integral dari kehidupan habitat sekitarnya. agar manusia dapat terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan serta kesejahteraan dalam kehidupan. Telaah arsitektur pada umumnya berpijak pada unsur – unsur ‖konsep”.Pada masyarakat tradisional Indonesia. Kedua : ―Ritual” berupa upacara atau perlakuan simbolis yang berfungsi atau dimaksudkan untuk memulihkan harmoni tatanan alam agar tetap selaras dengan manusia. sikap dan prilaku ―behavior” serta hasil karya seni ―artefak”. yaitu ―mistik‖ dan ―simbolik‖. 1999 . ―Egocentrum‖. Kekhususan itu ditandai dari cara mereka mempertahankan suasana hidup selaras. perbuatan manusia itu selalu berdimensi dua atau ―dwimatra‖. Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hanya hidup dalam suasana kepercayaan leluhur semata yang di pengaruhi oleh ―ethos budaya‖ lokal yang ekslusif serta mempunyai sifat-sifat khusus.

“alam tengah”. Oleh sebab itu berbagai upacara. bentuk arsitektur. . Konsep Bugis Makassar Konsep arsitektur masyarakat tradisional Bugis-Makassar bermula dari suatu pandangan hidup ontologis. Hal tersebut dipercaya sebagai warisan yang diterima langsung dari sang pengatur tata tertib kosmos untuk menjadi pengarah jalannya lembaga-lembaga sosial. yaitu alam atas atau “banua atas”. alam tengah “banua tengah” dan alam bawah ―banua bawah” . air. Abu Hamid (1978:30-31) dalam ―Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan‖ menuliskan bahwa rumah tradisional orang Bugis tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk ―segi empat‖. Bagi masyarakat tradisional Bugis-Makassar yang berfikir secara totalitas. Benua bawah disebut “Uriliyu” (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. Filosofi hidup masyarakat tradisional Bugis Makassar yang disebut “Sulapa Appa”.Gambar 1. Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk “Segi Empat”. dan “alam bawah”. dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka.. maka rumah tradisional Bugis Makassar dipengaruhi oleh pemahaman: “Struktur kosmos” dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu “alam atas” . anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan. penentuan arah peletakan rumah. Filosofi yang bersumber dari “mitos” asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur. yaitu : tanah. mulai dari pemilihan tempat. Adat istiadat dan kepercayaan adalah warisan nenek moyang yang mengisi inti kebudayaan. pesta dan upacara kemasyarakatan yang berdasarkan pada adat istiadat. Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut “Dewata Seuwae” (dewa tunggal). hingga penyelenggaraan upacara ritual ketika proses membangunnya. dan angin. Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos. merujuk pada pesan atau wasiat yang bersumber dari kepercayaan dan adat istiadat yang dianut masyarakat Sulawesi Selatan. termasuk perlakuan dalam tata cara membangun rumah di dalam lingkungan alam sekitarnya. tetap diadakan untuk menjaga kesinambungan dan pelestarikan prosesi budaya bangsa. api. Termasuk tata cara atau prosesi pembuatan rumah. bersemayam di “Botting-Langik” (langit tertinggi). yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. menunjukkan upaya untuk “menyempurnakan diri”. Semua pranata-pranata yang berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus berdasarkan kosmologis yang diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis. Rumah Tradisional Nusantara “Konsep Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan ” Dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan. Adat istiadat menjadi semacam pedoman dalam berpikir dan bertindak sesuai pola kehidupan masyarakatnya. Tata cara pembuatan rumah menurut konsep arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. Terwujud baik dalam tingkah laku. bagaimana memahami alam semesta secara ―universal”. segala sesuatu yang menyangkut kehidupan masyarakat selalu dilakukan bersendikan adat istiadat. cara berinteraksi.

Rumah Orang Kebanyakan ―Tosama‖. puncak sambulayang/timpalaja hanya dua susun. berapa pasak (pattolo) yang akan dipakai. menghadap kedataran tinggi. biasanya ditentukan atas bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dalam hal memilih waktu. kepercayaan tentang adanya pengaruh kosmologis sudah sangat dimaklumi masyarakat BugisMakassar. . Adapun hari ataupun bulan yang baik. Untuk pendirian rumah. hingga pekerjaan selesai dikerjakan secara keseluruhan. Beberapa wasiat yang menjadi perhatian dalam hal menentukan arah rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar misalnya: sebaiknya menghadap kearah terbitnya matahari.Rumah Hamba sahaya ―Ata” atau “Suro”. mereka selalu meminta pertimbangan dari “Panrita Bola‖ atau Panre bola untuk pencarian tempat. Untuk rumah bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng” yang memegang jabatan. Pada tahap selanjutnya secara berurutan mulailah mendirikan rumah dengan mengerjakan pemancangan tiang pusat rumah yang disebut ‖posi’bola” terlebih dahulu. Selain itu salah satu faktor pertimbangan lain yang selalu diperhitungkan adalah pemilihan waktu saat mendirikan rumah. Beberapa hal yang penting diketahui bahwa dalam proses mendirikan rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar. .Menurut Mangunwijaya (1992:95-96). tata wilayah dan tata bangunan alias arsitektur tidak diarahkan pertama kali demi penikmatan rasa estetika bangunan. .Rumah Kaum Bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng”. Tiang kesamping dan kebelakang berjumlah 5 hingga 6 batang. Termasuk pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah hingga akhirnya merekostruksi rumah yang diinginkan serta perlengkapannya. atau menghadap ke salah satu arah mata angin. menunjukkan arah yang dianggap cocok dan baik. Artinya selaku bagian integral dari seluruh ―kosmos‖ atau ―semesta raya‖ yang keramat dan gaib. Seperti kebanyakan rumah tradisional di indonesia. dimulai dari pemilihan jenis kayu. pada puncak rumah induk terdiri dari tiga atau lebih sambulayang /timpalaja. sedang untuk bangsawan biasa jumlah tiang kesamping dan kebelakang 4 hingga 5 tiang. Panre Bola menguasai ilmu pengetahuan tentang tata cara pengerjaan rumah. bahwa bagi orang-orang dahulu. biasanya didahului oleh serangkaian upacara-ritual. menghitung berapa tiang (aliri). rumah Bugis Makassar juga dipengaruhi oleh adanya strata sosial penghuninya. tetapi terutama demi kelangsungan hidup secara kosmis. Dalam hal ini peranan seorang Panrita Bola sangat menentukan melalui nasehat-nasehat mereka yang akan menjadi pegangan bagi penghuni rumah. Rumah tradisional Bugis-Makassar pada dasarnya terwujud dalam beberapa macam yaitu : . Untuk rumah ―Tosama‖ atau orang kebanyakan/masyarakat umum terdiri dari 4 buah tiang kesamping dan kebelakang. menyusul pemasangan tiang tiang yang lain.

hamba sahaya berukuran yang lebih kecil. Pada rumah bangsawan jumlahnya biasanya 5 hingga 6 batang (sesuai petak rumah). “Palangga” (Makassar).Rakkeang / Pammakkang. .ruang dapur. tempat meletakkan tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. memandang kosmos terbagi atas tiga bagian. Fungsinya yaitu: Penahan berdirinya tiang-tiang rumah. pengandangan ternak. biasanya hanya terdiri dari tiga petak. juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan padi sebagai lambang kehidupan/kesejahteraan pemiliknya. berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah.Awaso / siring. Disini melekat plafond tempat atap bertumpu dan menaungi.Bentuk rumah ―Ata” atau “Suro”. Selain ruang ruang tersebut. Pada umumnya rumah tradisional Bugis-Makassar berbentuk panggung dengan penyangga dari tiang yang secara vertikal terdiri atas tiga bagian yaitu : .“Lontang ri saliweng/padaserang dallekang”. dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe sebagai dasar tumpuan lantai. . Berdirinya tiang ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut: “Pattoddo” (Makassar). Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa. .Ale bola / kale balla. Bahan biasanya dari kayu jati.“Lontang ri laleng / padaserang riboko”.untuk rakyat biasa 4 batang. Pondasi/ ―Umpak‖. Bagian ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan alat cocok tanam. Dibagian ini ada sebuah tiang yang lebih ditonjolkan diantara tiang tiang lainnya. masih ada lagi tambahan dibagian belakang ―Annasuang‖ atau “Appalluang”. . dengan sambulayang/ timpalaja yang polos. serta ruang kecil di depan rumah yang disebut “lego-lego” atau “paladang”tempat berbincang atau bercengkerama. letaknya diruang bahagian depan. alat bertukang. Biasanya ruang ini menjadi tempat pusat aktivitas interaksi penghuni rumah. terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari panjang rumah. “Pattolo” (Bugis). dan ruang samping yang memanjang pada bagian samping yang disebut “tamping”. Ruangannya terbagi atas beberapa petak dengan masing – masing fungsinya. batang kelapa.Makassar. “Arateng‖ (Bugis). bambu dan lain-lain. Sebagaimana diketahui dalam konsep arsitektur tradisional Bugis. dan lain-lain. terletak pada bagian tengah. terletak diruang bahagian belakang. . terletak pada bagian atas. Selain itu dimanfaatkan menjadi tempat penyimpanan atribut adat kebesaran. lontar. terletak diruang bahagian tengah. maka secara struktural rumah tradisional Bugis Makassar terbagi atas : Struktur bagian bawah. terletak pada bagian bawah rumah. Sedang secara horisontal ruangan dalam rumah terbagi atas tiga bagian yaitu : . dan lain lain.“Lontang ri tengnga/padaserang tangnga”.

5 x 14. dan lain-lain. 2. bahannya dapat berupa bambu atau papan. Dinding untuk bahan penutup digunakan gamacca. Lantai. bila tiang dari bahan bambu maka tiang dan balok pengerat ditakik ± 1/3 dari diameter. Balok pasolla berbentuk pipih ± 3/12 cm. Sistem konstruksinya dengan sistem ikat/takik pen. Komponennya terdiri atas : Balok makelar ―soddu‖ atau ―suddu‖. tempat memasang timpalaja dan tempat meletakkan balok rakkeang. dan bahan atap. Jumlahnya ganjil dengan jarak rata-rata 20 hingga 50 cm. Berfungsi sebagai tempat kedudukan balok-balok gording dan sebagai penahan bidang atap sistem konstruksinya menggunakan sistem ikat. Terletak ditengah antara balok pengerat dan balok skor. berfungsi sebagai tempat kedudukan balok bubungan dan kaki kudakuda. atau 6 x 15 cm. Sistem konstruksinya. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dalam arah memanjang. tiang dilubangi setebal penampang balok pengerat kemudian padongko di tusuk pada setiap lubang dari tiang. Sistem konstruksinya. ikat. Balok blander ―Bare‖ atau ―Panjakkala”. dan paku pen. Struktur dan konstruksi bagian atas rumah terdiri dari konstruksi kap/atap yang merupakan suatu kesatuan yang kokoh dan stabil untuk menahan gaya. . berfungsi sebagai tempat bertumpunya balok ―suddu‖. papan. sebagai tempat memakukan / mengikat papan lantai ―Rakkeang‖ atau ―Pammakkang‖. rangka utama berpegang. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dari tiap baris arah lebar rumah. Balok pengerat ―Pattoddo riase‖ atau ―Pannoddo‖. takik. Untuk golongan bangsawan ―Arung‖. dan diperkuat dengan pasak. Kaki Kuda – kuda ―Pasolle‖. bertumpu pada balok nok. Sistem konstruksinya. jati. Golongan hamba sahaja ―Ata‖ umumnya dari bambu. Bahan biasanya batang lontar. kelapa. dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. Fungsinya adalah sebagai ring balok. ―Sambulayang” atau ―Timpalaja‖. Balok bangunan ―Coppo‖. bahan lantai dari papan. Sistem konstruksinya biasanya menggunakan pen. sebagai tempat penyimpan barang dan lain-lain. merupakan bagian konstruksi atas yang berupa bidang segitiga dan dibuat berlapis. Sistem konstruksinya.Struktur badan rumah. Bila segi empat. ―Barakapu‖. balok bubungan diletakkan diatas balok makelar yang ditakik kemudian diperkuat dengan paku pen. lantai rumah biasanya tidak rata karena adanya ―tamping‖ yang berfungsi sebagai sirkulasi. pada kedua ujung bagian bawah terletak pada balok ―Pattikkeng‖. Konstruksi balok anak. Golongan ―Tosama‖ = ½ lebar rumah + 1 telapak tangan. Panjangnya lebih sedikit dari lebar rumah. ―Arung‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + 1 jengkal telunjuk + 3 jari pemilik. jepit dan ikat. dimensi balok ± 4/12 cm. dimensi 4 x 12. pendukung kaso. kaso. Golongan ―Ata‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + tinggi kepala + kepalan tangan pemilik. berdasarkan status penghuninya maka lantai rumah tradisional terdiri dari . Rakkeang/Pammakkang. dengan sistem konstruksi ikat dan jepit. dengan ketinggian disesuaikan dengan status penghuninya. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa ―Tosama‖ umumnya rata tanpa tamping. komponen komponen utama bagian ini adalah : 1. merupakan penahan lantai. kemudian diikat.

ujungnya kadang diberi hiasan ―Ornamen‖. disamping motif yang lainnya. Selain berfungsi sebagai hiasan. Umumnya bermotifkan bunga/ kembang. bintang tunggangan dan status sosial. seperti menjalarnya bunga itu.Les plank ―Ciring‖. Rumah tradisional Mandar berbentuk panggung yang terdiri atas tiga bahagian. sedangkan boyang beasa. daun yang memiliki arti rejeki yang tidak putus putusnya. Penggunaan ragam hias tersebut menandakan bahwa derajat penghuninya tinggi. yaitu : ”boyang adaq” dan ”boyang beasa”. misalnya ”tumbaq layar” yang bersusun antara 3 sampai 7 susun. sedangkan ”boyang beasa” ditempati oleh orang biasa. semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang. Pada ”boyang adaq” diberi penanda sebagai simbolik identitas tertentu sesuai tingkat status sosial penghuninya. Umumnya bermotifkan kaligrafi dari kebudayaan islam. Simbolik tersebut. Bentuk pelana dengan sudut antara 30 hingga 40°. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ pada rumah tradisional Bugis-Makassar merupakan salah satu bagian tersendiri dari bentuk dan corak rumah tradisional Bugis-Makassar. juga dapat berfungsi sebagai simbol status pemilik rumah. Ornamen flora corak tumbuhan . atau daun lontar. anjong. Umumnya bentuk yang sering ditemukan adalah : Kepala kerbau yang disimbolkan sebagai bumi yang subur. berupa papan yang dipasang pada ujung sisi depan dan belakang atap. tangganya terdiri atas dua susun. agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan baik dan membawa keberuntungan. Bentuk ayam jantan yang diartikan sebagai keuletan dan keberanian. flora dan fauna. tangga tidak bersusun. dan lain-lain. Ornamen corak alam. alang alang. Ornamen fauna corak binatang. jendela. Atap. Simbolik lain dapat dilihat pada struktur tangga. ”tumbag layar‖ nya tidak bersusun. rumbia. Pada boyang adaq. dikenal adanya dua jenis boyang. Bentuk naga yang diartikan simbol wanita yang sifatnya lemah lembut. Kedua susunan anak tangga tersebut diantarai oleh pararang. ”Boyang adaq” ditempati oleh keturunan bangsawan. kekuatan yang dahsyat. Penempatan ragam hias ornamen tersebut utamanya pada sambulayang/timpalaja. sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. Fungsinya sebagai penahan angin yang berpegang pada balok gording dengan sistem sambungan pen dan lubang. bahan dari nipa. Rumah Tradisional Bugis Makassar Konsep Mandar Identitas Arsitektur Tradisional Mandar tergambar dalam bentuk rumah tradisional yang disebut ”boyang” . Bagian pertama disebut ”tapang” yang . susunan pertama yang terdiri atas tiga anak tangga. Sedangkan pada boyang beasa. Gambar 2. Ragam hias umumnya memiliki pola dasar yang bersumber dari corak alam. sama ”Ethos Kosmos” yang berlaku pada etnis Bugis Makassar. penunjuk jalan.

Bila ada hajatan dirumah tersebut.letaknya paling atas. dan bagian ketiga disebut ”naong boyang” yang letaknya paling bawah. petak bagian tengah rumah. Ruang tersebut diberi nama ”tapang”. Petak yang di tengah biasanya lebih lebar dibanding dengan petak-petak yang lainnya. Untuk naik ke tapang. Ruangan tersebut terletak di bawah tapang yang menggunakan lantai yang terbuat dari papan atau bilah bambu. petak paling belakang. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. ‖Tangnga boyang‖. Petak ini berfungsi sebagai ruang keluarga. tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna pada filosofi orang Mandar yang berbunyi : ”da’dua tassasara. Di bawah atap terdapat ruang yang diberi lantai menyerupai lantai rumah. tallu tammallaesang” (dua tak terpisah. . yaitu petak paling depan. Rumah orang Mandar. Ornamen itu disebut ”teppang”. Ia ditempatkan pada kamar tersebut sebagai tindakan preventif untuk menjaga ”siriq” (harga diri). Pada bagian atas penutup bubungan. Ketiga petak di dalam roang boyang tersebut memiliki ukuran lebar yang berbeda. baik boyang adaq maupun boyang beasa mengenal tiga petak ruangan yang disebut lotang. di mana aktivitas keluarga dan hubungan sosial antara sesama anggota rumah tangga. Sedangkan petak yang paling depan lebih lebar dibanding dengan petak yang paling belakang. keadilan. hanya dipasang pada saat akan digunakan. petak kedua disebut ”tangnga boyang” (petak bagian tengah) dan petak ketiga disebut ”bui’ lotang” (petak belakang). meliputi atap dan loteng. Pada ”tumbaq layar” tersebut dipasang ornamen ukiran bunga melati. baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. dan persatuan. Petak ini sering ditempatkan ”songi” (kamar) untuk anak gadis atau para orang tua seperti nenek dan kakek. Demikian pula bentuk pola lantainya yang segi empat. Tatanan dan aturan rumah adat. terdiri atas ”tallu lotang” (tiga petak). terdiri dari bagian paling atas. Bagian kedua disebut ”roang boyang” . Pada masa lalu. terdapat tangga yang terbuat dari balok kayu atau bambu. tiga saling membutuhkan). Pada umumnya hanya separuh bagian loteng yang letaknya di atas ruang tamu dan ruang keluarga. Atap rumah berbentuk prisma yang memanjang ke belakang menutupi seluruh bagian atas rumah. yaitu ruang yang ditempati manusia. baik pada bagian kanan maupun kiri diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Pada masa lalu. tapang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan sebelum dihidangkan atau didistribusikan. yaitu ”ate” (atap). Adapun dua yang tak terpisahkan itu adalah aspek hukum dan demokrasi. sedangkan tiga saling membutuhkan adalah aspek ekonomi. ‖Bui‘ boyang‖. Penempatan songi untuk anak gadis lebih menekankan pada fungsi pengamanan dan perlindungan untuk menjaga harkat dan martabat keluarga. Tapang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpang barang-barang. baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. Sesuai kodratnya anak gadis memerlukan perlindungan yang lebih baik dan terjamin. Petak pertama disebut ”samboyang” (petak bagian depan). ”tapang” tersebut sebagai tempat atau kamar calon pengantin wanita. Di ujung bawah atap. Adapun ketiga ‖lotang‖ ruangan tersebut adalah : ”Samboyang”. Pada bagian depan atap terdapat ”tumbaq layar” yang memberi ”identitas” tentang status penghuninya. rumah-rumah penduduk. Struktur bangunan rumah orang mandar. Tangga tersebut dirancang untuk tidak dipasang secara permanen. Lantai tapang tidak menutupi seluruh bagian loteng.

di dalam roang boyang terdapat ruangan atau petak yang lantainya lebih rendah ”tambing” atau ”pelleteang”. Ada kalanya sebagai tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita. Selain itu. sehingga mempunyai banyak fungsi. Letaknya selalu dipinggir dengan deretan tiang yang kedua dari pinggir. Fungsi bangunan ini adalah sebagai tempat sandaran tangga depan. Olehnya itu. Dinding rumah terbuat dari kayu (papan) dan bambu (taqta dan alisi ). Jumlah anak tangga pada setiap tangga berkisar 7 sampai 13 buah. juga ada yang berdinding taqta dan alisi. Setiap tangga mempunyai anak tangga yang jumlahnya selalu ganjil. seperti debuh. boyang adaq mempunyai dinding yang terbuat dari papan. Bangunan tambahan yang diletakkan di belakang bangunan induk disebut ”paceko” (dapur). Bangunan tersebut biasanya dibuat secara menyilang dengan bangunan induk. bangunan tersebut tampak lebih indah dihiasi berbagai ornamen. pasir. Mendirikan rumah ”boyang” melalui suatu tahapan kegiatan yang meliputi persiapan. Kendati demikian. Pada boyang adaq. Panjangnya minimal sama dengan lebar bangunan induk. Ruangan ini merupakan tempat lalu lalang anggota keluarga. baik ‖boyang adaq” maupun boyang beasa pada umumnya mempunyai dua tangga. penghuninya berasal dari golongan ata (beasa). Hal itu dibuat secara utuh sebelum dipasang atau dilengketkan pada tiang rumah. tangganya tidak bersusun dan tidak dilengkapi pegangan. Pada umumnya.Khusus pada boyang adaq. tempat istirahat pada sore hari dan tempat duduk sebelum masuk rumah. Sedangkan ‖boyang beasa”. Dalam . Rumah tradisional Mandar. Ditempat itu sering dibuatkan ”rambang” sebagai kandang ternak. Bangunan ini biasanya lebih sempit dibanding dengan bangunan tambahan bagian belakang. Jumlah tersebut disesuaikan dengan tinggi rumah. dan sebagainya dapat lebih mudah jatuh ke tanah. Dinding rumah dirancang dan dibuat sedemikian rupa sesuai tinggi dan panjang setiap sisi rumah dan dilengkapi jendela pada setiap antara tiang. yaitu tangga depan dan tangga belakang. demikian pula untuk membukanya jika rumah tersebut akan dibongkar atau dipindahkan. Pada masa lalu. boyang adaq memiliki anak tangga yang lebih banyak. Sedangkan ‖boyang beasa” sekitar 7 sampai 9 buah. Terdapat ruang di bawah lantai yang disebut ”naong boyang” (kolong rumah). mulai dari pintu depan ke belakang. Pembuatan dinding seperti itu dimaksudkan untuk lebih memudahkan pasangannya. yaitu berkisar 11 sampai 13 buah. dan lebarnya minimal sama dengan satu petak bangunan induk. rumah yang berdinding taqta dan alisi. baik yang berbentuk ukiran maupun yang berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal. pemasangan lantai yang terbuat dari papan agak dijarangkan agar berbagai kotoran. membangun ”boyang” dan hasil kegiatan berupa ‖bangunan‖ atau rumah tradisional. Bagian yang lain pada rumah adalah rinding (dinding). Pada umumnya. Sedangkan boyang beasa selain berdinding papan. tangga depannya bersusun dua dilengkapi dengan pasangan. Bangunan tambahan yang ada di depan rumah yang disebut dengan ”lego-lego” (teras). ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu dari kalangan masyarakat biasa dan ata (budak). Bangunan ini disertai ruang yang lapang. Pada ”paceko” juga tersedia tempat buang air kecil yang disebut ”pattetemeangang”. kolong rumah hanya berlantai tanah.

Bagi orang Mandar. tidak lembek. dan Dzulkaiddah. ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. Biasanya berada pada daerah yang relatif sedikit tinggi atau bukit. maka jenis rumah yang akan dibangun adalah ”boyang adaq”. keharmonisan dalam rumah tangga. Arah pergerakan matahari yang menanjak . Musyawarah lebih diutamakan pada penilaian status sosial yang akan menempati rumah tersebut. kamis. setiap akan membangun rumah ”boyang” senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. Gaya arsitektur tradisional banyak dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang tersedia disekitar lingkungan alam setempat. Boyang Adaq Mandar Suatu bangunan rumah ”boyang” tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Pemilihan waktu. menyiapkan ‖pappapia buyang” (tukang dan ahli) sesuai latar belakang sosial budaya penghuninya. Tanah yang baik adalah tanah yang agak keras. dan ornamen yang ada didalamnya. seperti Muharram. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam pelaksanaan musyawarah dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). Olehnya itu. yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan banyak tahu tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat tradisionalnya. Orientasi rumah ”boyang” yang paling baik adalah berorientasi pada arah yang mengandung makna positif. Jumadil Awal. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah. Syafar. pemilihan lokasi atau tempat mendirikan rumah. maka rumah yang akan dibangun adalah ”boyang beasa”. Pemilihan tempat mendirikan ”boyang” sangat terkait dengan kepercayaan tradisi masyarakat tentang adanya tanah yang baik dan kurang baik untuk dibanguni ”boyang”. interior/eksterior. bencana dan ketidak mujuran. lantai. dan jumat. Tanah seperti ini memberi makna keharuman. Menurut mereka. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan ”keberuntungan” dan ”keselamatan”. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik. bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa. dan pengadaan bahan baku untuk tiang. Gambar 5. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan ”bala”.proses persiapan ada beberapa hal yang patut diperhitungkan. Sebab dari status sosial yang akan menempati rumah tersebut. hari-hari baik adalah senin. tanah tersebut sebaiknya ‖berbau wangi‖. Dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. karena itu kegiatan awal dalam memulai mengerjakan rumah senantiasa berpedoman pada waktu-waktu baik. tetapi memiliki nilai dan makna tersendiri sesuai dengan adat istiadat masyarakat tradisional Mandar. suatu rumah tradisional memiliki ciri khas terutama pada tipologi. atap dan sebagainya. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan. Pemilihan waktu mendirikan ”boyang” juga sangat penting. yaitu arah timur tempat matahari terbit. agar keluarga mereka kelak dapat memperoleh kebahagiaan. Dalam musyawarah tersebut penilaian dan penentuan susunan tumbaq layar juga dibicarakan. karena terkait dengan kepercayaan masyarakat tradisionalnya. Selain itu. Membangun rumah tradisional mandar memerlukan beberapa rangkaian kegiatan seperti musyawarah antar sesama keluarga atau kerabat. yaitu bahan baku yang tersedia dari lingkungan alam sekitar (lokal) maupun dari luar (dari daerah lain).

Penebangan kayu untuk ”possi arriang” harus dilakukan oleh ”sando boyang”. tetapi pekerjaannya harus dimulai oleh sando boyang. Setiap jejeran ke samping biasanya terdiri atas lima batang. biasanya kayu ”sumaguri” dan ”cawecawe” . kedua jenis kayu tersebut mengandung makna simbolis. Waktu-waktu baik adalah sama halnya pada saat memulai membangun rumah ”boyang”. Pekerjaan seluruh tiang tersebut harus diperhatikan ujung-pangkalnya. jumlah pasak yang dibutuhkan sebanyak 18 buah. jenis kayu tersebut banyak digunakan pada possi arriang rumah adaq. hal ini dimaksudkan agar cahaya matahari senantiasa menerangi rumah yang akan dibangun. Bagi rumah tradisional yang mempunyai paceko dan lego-lego. cahaya matahari pagi dapat menyinari ruang lego-lego hingga kedalam rumah. Penebangan kayu dapat dilakukan oleh beberapa orang. Arah barat dianggap menghadap ke kiblat. Hal ini dimaksudkan agar penghuninya kelak senangtiasa bersemangat atau bergairah dalam mengarungi kehidupan dunia. Dalam pembuatan ”arriang”. Penebangan ayu (kayu) dan bambu biasanya disesuaikan dengan waktu baik. Pada saat menebang kayu. Penebangan kayu dilakukan pada pagi hari sekitar jam 09. Jadi. maka harus menggunakan minimal lima tiang tambahan untuk Paceko dan dua atau empat tiang untuk lego lego. dalam pengertian ini.naik mengandung makna kebaikan. empat untuk baeq. Tiang tersebut diatur dan disusun berjejer kesamping dan kebelakang. Jenis kayu tersebut pada umumnya digunakan untuk ‖possi arriang” rumah biasa. Pasak tersebut terdiri atas empat untuk passolor. Rumah tradisional Mandar yang terdiri atas tallu lontang. Pembangunan rumah tradisional ”boyang”. maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik. yang diharapkan selalu bertambah adalah nasib baik. tidak boleh terbalik. Sedangkan jenis kayu cawe-cawe mengandung makna ‖semangat atau mengairahkan‖. pekerjaan pertama yang harus dibuat adalah ”possi arriang” (tiang pusat). Sebelum melakukan penebangan.00. Waktu penebangan diupayakan pada hari-hari baik. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar. Setelah ”possi arriang” usai dikerjakan. Dengan arah rumah ketimur. atau pada hari ke delapan sebelum tenggelamnya bulan. Sedangkan jejeran ke belakang biasanya empat batang (tidak termasuk tiang paceko). maka dilanjutkanlah pekerjaan pada seluruh tiang rumah lainnya. terutama rezki dan amal kebijakan. yaitu selalu bertambah ”naik” . Setiap rumah memiliki tiang minimal 20 batang. Kelima tiang yang berjejer ke samping diupayakan memiliki lekukan dan bengkok yang sama. Jenis kayu yang diperuntukkan untuk possi arring tidaklah sembarang. orang Mandar menyebutnya ”tarrang bulan” (terang bulan). Adapun hari baik menebangan kayu untuk ”possi arriang” adalah hari ke 14 terbitnya bulan. Sedangkan bahan bangunan diusahakan dan diambil dari lingkungan alam sekitar. Untuk jenis sumaguri mengandung makna ‖empati kepada seluruh masyarakat‖. Dalam pengertian ini terdapat makna simbolis. yaitu kayu tersebut harus tumbang dan jatuh kearah matahari terbit. Semua tiang pangkalnya harus berada di bawah. Ada hal yang penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan pada saat menebangan kayu. lima . yang pertama harus ditebang adalah bahan untuk membuat possi arring (tiang pusat). ”sando boyang” melakukan upacara ritual yang dilakukan sendiri dirumahnya. bahwa diharapkan kelak rumah yang akan dibangun itu senantiasa dalam kondisi yang terang bercahaya. dimulai dari pembuatan tiang ”arriang”.

pisang. Pada dinding sisi depan rumah. . terdapat pula balok kayu yang bentuknya pipih menyerupai pasak. Sarung melambangkan jiwa laki-laki dan kebaya atau mukena sebagai jiwa perempuan. dilanjutkan pula pada pendirian tiang lego-lego. biasanya dilengkapi tiga ”pepattuang” (jendela) dan satu ”ba’ba” (pintu). seperti paceko dan lego-lego. Air yang tersisa di dalam cerek tadi dimasukkan dalam botol kemudian digantung pada ”possi arriang” . Jumlahnya tiga buah. Bahan kelengkapan upacara biasanya digantung setelah rumah berdiri. Selain itu. Terali-terali tersebut ada yang dipasang secara vertikal dan ada yang horisontal. paceko dan lego-lego. Setelah pendirian tiang paceko. Prosesi ritual menurut kepercayaan masyarakat tradisional Mandar biasanya dimulai dari ”possi arriang”. bilamana rumah tersebut mempunyai tambing. Kayu ini disebut pambalimbungan (tulang punggung. Lantai rumah tradisional Mandar terbuat dari papan (kayu) dan lattang. maka setelah bangunan induk berdiri tegak dilanjutkan pendirian tiang paceko. Secara vertikal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan Tuhannya. Untuk memperindah. Pada dinding sisi kanan dan kiri rumah biasanya juga dilengkapi dengan pepattuang sebanyak dua atau tiga buah. Pada ”possi arriang” diikat lipaq (sarung) dan mukena atau kebaya. masingmasing satu buah untuk rumah induk. Lattang ini biasanya dipakai pada lantai paceko. Bila rumah tersebut ditambah paceko. Tambahan untuk Paceko biasanya terdiri atas satu deretan tiang yang jumlahnya enam batang ditambah satu batang di dekat tangga belakang.araiang diaya dan aratang naong. Daun jendela itu dapat dibuka ke kiri dan ke kanan. maka harus ditambah lagi aratang diaya dan aratang naong masing-masing satu buah. Dinding rumah tradisional Mandar pada umumnya terbuat dari papan. Letak pepattuang biasanya berada antara dua buah tiang rumah. maka harus ditambah lagi passollor dan baeq sebanyak lima buah. dilanjutkan pemasangan aratang naong dan aratang diaya yang dikuatkan dengan passanna. Pepattuang berbentuk segi empat yang rata-rata terdiri atas dua daun jendela yang berukuran sekitar 100 x 40 cm. Sedangkan aratang diaya dan aratang naong masing-masing dua buah. Selain pasak. alisi dan taqta. paling diatas tempatnya). kelapa juga digantung pada ”possi arriang” . yaitu lego-lego. Bilamana rumah ”boyang” akan diberi tambahan bangunan. segala bahan kelengkapan upacara mattoddoq boyang. jumlah tiang lego legonya sebanyak empat batang. Pemasangan ornamen seperti itu hanya tampak pada jendela yang ada di bagian depan dan sisi kiri kanan rumah. seperti tebu. Dinding sisi depan ini biasanya dilengkapi ornamen pada bagian luar di bawah jendela. Sedangkan boyang beasa jumlah tiang lego legonya sebanyak dua batang. Seluruh tiang paceko juga diberi batu arriang. Setelah tiang berdiri. Sedangkan secara horisontal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. pepattuang ini biasanya diberi ornamen berupa ukiran dan terali dari kayu yang jumlahnya selalu ganjil. Untuk boyang adaq. Pemasangan ornamen berupa ukiran dan terali-terali juga dapat dilihat pada bangunan tambahan di depan rumah. Kedua jiwa tersebut harus menyatu di dalam ”possi arriang” kemudian tiang ”possi arriang” disiram dengan air dari dalam cerek. ”Lattang” biasanya dipilih tarring (bambu) yang besar dan sudah tua.

Keempat filosofi ini menjadi dasar terbentuknya denah rumah Toraja empat persegi panjang dengan dibatasi dinding yang melambangkan “badan” atau “Kekuasaan”. pocci balla di Makassar dimana tiang menyatu dengan mother earth Pada masyarakat tradisional Toraja. banyak dipengaruhi oleh ethos budaya “simuane tallang” atau filosofi “harmonisasi” dua belahan bambu yang saling terselungkup sebagaimana cara pemasangan belahan bambu pada atap rumah adat dan lumbung. fauna. Pusat rumah meraga sebagai perapian di tengah rumah. Temperatur udara kawasan permukiman masyarakat Toraja berkisar pada 150 hingga 300C. Harmonisasi didapati . dinding. Daerah ini tidak berpantai. tang dipegunungan dan berhawa dingin diduga mendasari ukuran pintu dan jendela yang relatif kecil. ”Ornamen” selain berfungsi sebagai hiasan atau ornamen. baik dalam taritarian. fauna dan sebagainya dapat dijadikan corak ―ornamen”. Kondisi Tana Toraja. lantai dan dindingnya dari kayu yang tebal. plafon dan sebagainya. dalam kehidupannya juga mengenal filosofi “Aluk A’pa Oto’na” yaitu empat dasar pandangan hidup : Kehidupan Manusia. gambaran alam. Masyarakat Tradisional Tana Toraja didalam membangun rumah tradisional mengacu pada kearifan budaya lokal–Kosmologi mereka yaitu :     Konsep ‗pusar‘ atau ‗pusat rumah‘ sebagai paduan antara kosmologi dan simbolisme Dalam perspektif kosmologi. kemuliaan Tuhan. ataupun atap menjulang menaungi ruang tengah rumah dimana atap menyatu dengan asap-father sky Pusat rumah juga meraga sebagai tiang utama. upacara pengantin serta ritual upacara penguburannya. dan makna-makna budaya dalam masyarakat. bagian dari lingkungan makrokosmos. Dalam kehidupan masyarakat toraja lebih percaya akan kekuatan sendiri. juga berfungsi sebagai identitas sosial. budayanya unik. agama dan kepercayaan namun tidak semua flora.Ragam Hias dan Ornamen Pada umumnya rumah tradisional. musik. dan kepercayaan Aluktodolo yang menjiwai kehidupan masyarakatnya. baik rumah bangsawan maupun rumah orang biasa di tana Mandar. kehidupan alam leluhur ―Todolo‖. Ukuran atap rumah tradisional Toraja yang terbuat dari susunan bambu sangat tebal. Corak ―ornamen” umumnya bersumber dari alam sekitar manusia seperti flora. “Egocentrum”. memakai ”ragam hias ornamen”. Hal ini yang tercermin pada konsep arsitektur rumah mereka dengan ruang-ruang agak tertutup dengan “bukaan” yang sempit. Pada bagian atap. Wujud konstruksi ini sangat diperlukan untuk menghangatkan temperatur udara interior rumah. makanan. rumah bagi masyarakat Toraja merupakan mikrokosmos. Keunikan itu terlihat juga pada pola permukiman dan arsitektur tradisional rumah mereka. Konsep Toraja Etnis Toraja mendiami dataran tinggi di kawasan utara Sulawesi Selatan. seperti a’riri possi di Toraja. bahasa. Selain itu konsep arsitektur tradisional toraja. possi bola di Bugis. Pada umumnya wilayah permukiman masyarakat Toraja terletak di pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 2800m di atas permukaan laut. adat dan kebudayaan.

Rumah Adat Tradisional Tongkonan. Gambar 3. . dan arah Barat adalah tempat bersemayam “To Membali Puang” atau tempat para leluhur ―Todolo”. fungsinya sama dengan Tongkonan Batu A‘riri tetapi tidak boleh diukir seperti tiga tongkonan diatas dan tidak memakai Longa. kombong. dimana rumah dianggap sebagai “mikrokosmos”. karena peranannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Toraja. Kosmologi dalam arsitektur Toraja Sumber : Tjahjono. ―Tongkonan‖ dalam fungsinya terbagi menjadi 4 macam tingkatan yaitu : . Selain itu. Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip dasar Arsitektur Tradisional Toraja adalah simetris. yaitu tongkonan yang tidak mempunyai peranan dan fungsi sebagai tempat persatuan dan pembinaan keluarga dari keturunan pertama tongkonan itu.―Tongkonan Layuk‖. Kesemuanya ini diterjemahkan menjadi satu kata sederhana yaitu “keseimbangan” dan secara arsitektural “keseimbangan” selalu diaplikasikan kedalam bentuk “simetris” pada bangunan. 1999 Gambar 4.. lumbung. bagian depan rumah harus berorientasi Utara atau arah Puang Matua ―Ulunna langi’” dan bagian belakang Rumah ke Selatan atau arah tempat roh-roh ―Pollo’na Langi’‖. Sedangkan kedua arah mata angin lainnya mempunyai arti kehidupan dan pemeliharaan. sawah. rumah adat Toraja adalah merupakan bangunan yang sangat besar artinya. dibedakan atas : . Atau selalu ada keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. jadi mempunyai arti sebagai tiang batu keluarga.dalam konsep arsitektur “Tongkonan” yang menginteraksikan secara keseluruhan komponen “tongkonan” seperti : Rumah. Sedangkan fungsi dan kegunaan penataan lantai bangunan tradisional rumah adat Toraja. Ed. makro dan mikro kosmos tetap terpelihara didalam tatanan kehidupan masyarakat tradisional toraja. kedudukannya sebagai rumah tempat membuat peraturan adat istiadat. pada arah Timur dimana para Dea ―Dewata‖ memelihara dunia beserta isinya ciptaan “Puang Mutua” untuk memberi kehidupan bagi manusia.‖ Tongkonan Pokamberan/Pokaindoran‖. serta tempat pembinaan warisan. yaitu rumah adat yang merupakan tempat melaksanakan aturan dan perintah adat dalam suatu masalah daerah. keterikatan dan berorientasi. Rumah tradisional Tongkonan Toraja Tata letak rumah tongkonan berorientasi Utara – Selatan. ―Tongkonan Pa’rapuan‖. didalam satu sistem kehidupan dan penghidupan orang toraja didalam area tongkonan. ―Tongkonan‖. rante dan liang.―Tongkonan Batu A’riri‖. .

. Jadi bangunan rumah adat Toraja selama didirikan seolah olah tidak terkena sinar matahari dan hujan. yaitu mengatur dan menanam batu pondasi yang dipahat atau asli yang sudah cukup baik untuk menjadi batu pondasi.‖Tahap Ma’ Tamben‖ atau ‖Ma’ Pabendan‖. . yaitu membangun suatu tempat untuk menyimpan bahan bangunan yang dinamakan ―Barung‖ atau ‖Loko Pa’ Tambenan‖.‖Tahap No’ton Parandangan’”. yaitu sebagai pekerjaan permulaan untuk mengumpulkan seluruh bahan bahan bangunan yang diperlukan . . . yaitu bangunan tongkonan tertua dari penguasa adat yang memegang fungsi adat ‖Togkonan Pasio’ aluk‖. .‖Tahap Ma’ A’riri Posi’”. Ruang ruang itu adalah Sumbung. Pekerjaan ini adalah pekerjaan permulaan dari pembangunan karena semua bahan bangunan sudah disiapkan.‖Tahap Ma’ Sangkinan Rindingan‖. adalah rumah untuk para Pengabdi kepada Penguasa Adat.‖Tahap Pabenden Leke’”. . Sali dan Tangdo‘ yang berfungsi sebagai tempat upacara pengucapan syukur dan tempat istirahat tamu tamu. . .‖Banua Patang Lanta’’‖.‖Banua Dang Lanta’’‖. yaitu mendirikan tiang tiang bangunan utama diatas batu parandangan yang sudah diatur dalam ukuran persegi panjang. yaitu bangunan pemerintahan adat Toraja yang mempunyai tiga ruang.‖Banua Tallung Lanta’’‖. adalah bangunan yang tidak mempunyai peranan adat seperti ‖Tongkonan Batu A’riri‖ yang terdiri dari dua ruang yaitu Sumbung sebagai tempat tidur dan Sali sebagai dapur. Pada rumah ini hanya terdapat satu tiang untuk melaksanakan kegiatan sehari hari. melalui tahap-tahap sebagai berikut : . Setelah semua pekerjaan tersebut diatas sudah selesai. ..‖Banua Sang Borong‖ atau ‖Banua Sang Lanta‖.‖Tahap Mangraruk‖.‖Tahap Ma’ Pabendan’”. dilanjutkan dengan pengerjaan ‖Ma’ Pabendan‖. yaitu pekerjaan memasang dinding pengosokan berjejer keliling bangunan dan kayu Sangkinan Rindingan ini sama besar dan tingginya begitu pula pada jarak pemasangannya kecuali pada bagian sudut bangunan. yaitu mendirikan satu tiang tengah bangunan yang merupakan salah satu tiang yang mempunyai arti dalam pembangunan rumah adat Toraja. yaitu tempat membuat bangunan yang merupakan tempat mendirikan bangunan sampai selesai. Dalam proses pembangunan bangunan tradisional Toraja ini pengerjaannya dibagi menjadi 2 tahap yaitu : . dimana semua bahan bangunan diolah diukur untuk persiapan pendirian bangunan tersebut. pada jaman sekarang ini banyak didapati di kebun kebun.

‖Tahap Ma’ Palaka Indo’ Para‖. Faktor inilah yang menyebabkan konstruksi dan arsitektur bangunan tetap sebagai dasar perancangan Tongkonan.‖Tahap Ma’ Papa”. dengan persilangan pada ujung atasnya dan ujung bawahnya disambung pada kayu Rampanan Papa‘ sebagai tempat mengatur kayu kecil kecil yang bernama Tarampak.‖Tahap Ma’ Kamun Rinding‖.‖Tahap Ma’ Kayu Beke’i‖. . yaitu merupakan pekerjaan yang sangat berat karena pemasangan Tarampak sampai ke bubungan tidak boleh berhenti. . Semua bangunan rumah adat Toraja mempunyai peranan dan fungsi tertentu. yaitu tangga pembantu pemasangan semua bagian dari Longa dan bila telah selesai maka Ma‘ Benglo Longa dibongkar. yaitu pemasangan kayu pamiring yang membentuk longa dan berpangkal pada kayu Rampanga Papa Longa. .5 m. yaitu pemasangan kayu diatas kayu Ma‘ Petuo sebagai tempat mengatur kayu kayu membentuk segitiga dengan badan rumah. karena adanya hubungan pandangan keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan dari bangunan.‖Tahap Ma’ Paringgi”. . . .‖Tahap Ma’ Petuo”. yaitu tempat menumpunya kayu Rampanan yang fungsinya mengikat dan mengatr atap. Jadi bagian bagian dari rumah adat Toraja pulalah yang menentukan struktur arsitekturnya antara lain . yaitu pemasangan 4 buah kayu Ma‘ Petuo sebagai tumpuan bagi kayu bubungan.‖Tahap Ma’ Rampani”. . yaitu semua kayu yang panjangnya 3. . yaitu merupakan bagian depan agak miring dari bagian atap bangunan.. Sedangkan bagian luar dan dalam dibagi sebagai berikut : Interior rumah adat Toraja. yaitu pemasangan semua dinding yang dimasukkan dari atas ke dalam Sangkinan Rinding melalui semacam jaluran rel sebagai bingkai yang terpasang mati. yaitu pemasangan kayu Tulak Somba menopang bagian depan dan bagian belakang Longa. fungsi fungsi tersebut tidak akan berubah sepanjang letak dari bangunan itu tidak berubah yaitu atap menghadap keutara sebagai orientasi bangunan.‖Tahap Ma’ Benglo Longa‖.‖Tahap Ma’ Pabendan Tulak Somba”. . rumah adat Toraja dibagi atas 2 bagian besar yaitu dengan menarik garis besar dari utara ke selatan yang dibedakan dengan nama Kale Banua Matallo dan Kale Banua Matumpu‘ yaitu bagian rumah sebelah timur dan bagian rumah sebelah barat. ‖Tahap Ma’ Paleke’ Indo Tekeran”.

yaitu 2 buah jendela yang terletak dibagian muka rumah menghadap ke utara. Berfungsi untuk menyimpan peralatan dan pakaian upacara adat. yaitu jendela yang terletak disebelah barat bangunan.‖Pentiroan‖. Exterior rumah adat Toraja. . Peranannya sebagai tempat mengurung hewan hewan ternak pada malam hari untuk menjaga tuannya diatas rumah. . . Jendela ini terbuka terus pada waktu upacara kematian atau bila didalamnya ada orang yang sakit. yaitu jendela yang terletak dibelakang rumah menghadap ke selatan. yaitu kolong dari bangunan rumah yang dibentuk oleh tiang tiang yang dihubungkan oleh sulur yang dinamakan roroan.. yaitu jendela yang terletak disebelah timur bangunan.‖Longa‖ bagian menjulang dari atap bangunan di sebelah utara dan selatan. ‖Pentiroan Pollo’ Banua‖.‖Kale Banua‖. Jendela ini dibuka pada pagi hari dan dibuka terus pada waktu upacara pengucapan syukur. Jendela ini dibuka pada waktu ada upacara pemakaman orang mati. Lobang ini berjumlah 3 buah dan tidak tertutup dengan ukuran 10 x 15 cm. Jendela ini dapat terbuka dan tertutup setiap saat. pemasangannya pada tengah bangunan pada ruang tengah. .‖Rattiang‖ atau disebut juga loteng yaitu bagian atas dari rumah yang sebagian ditutupi atap. yaitu jendela jendela pada seluruh badan rumah yang kelihatan pada 4 sisi.‖Suluk Banua‖. yaitu bagian muka bangunan yang digunakan sebagai tempat melakukan upacara pengucapan syukur dan pemujaan. . ‖Pentiroan Matallo‖. yaitu bagian badan dari bangunan yang terdiri dari ruang/petak mulai utara ke selatan. ‖Tingayo Banua‖ atau ‖Lindo Banua‖. Jendela jedela itu adalah :     ‖Pentiroan Tingayo‖. ‖Pentiroan Mampu’ ‖.

. yaitu bagian sebelah timur atau kanan bangunan sebagai tempat acara pemujaan kepada Deata. Perletakan Katik ini adalah diatas kuduk dari Kabongo yang mengartikan pimpinan yang menjalankan pemerintahan pada masyarakat tertentu.‖Matallo Banua‖. pola hidup.―Passura‖ yaitu ukiran tradisional pada bangunan adat Toraja yang bukan hanya sebagai hiasan. .‖Matampu Banua‖. Masa arsitektur tradisional : pada masa ini budaya asli dan pola hidup masyarakat tradisional berkembang didalam masyarakat tanpa ada pengaruh luar.‖Pollo Banua‖.―Tulak Somba‖ yaitu tiang tinggi penopang ujung depan dan belakang bangunan adat Toraja yang dinamakan Longa. . “Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan. yaitu bagian belakang bangunan sebagai tempat pelepasan orang mati. Arsitektur tradisional Toraja misalnya. . yaitu bagian bangunan sebelah barat.‖Kabongo‖. Perkembangan arsitektur tradisional dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : waktu. Dari masa lampau hingga masa kini ada 4 masa perkembangannya yang dapat ditelusuri yaitu : Masa arsitektur tradisional. yaitu kayu yang dibentuk seperti kepala kerbau dengan tanduk asli tanduk kerbau yang mengartikan bahwa Tongkonan ini adalah Tongkonan pemimpin masyarakat dengan kata lain tempat melaksanakan peranan dan kekuasaan adat Toraja. arsitektur tradisional merupakan pilihan satu-satunya. Arsitektur tradisional sangat dipengaruhi oleh keadaan dan potensi alam sekitarnya yang sering diambil menjadi motif utama pemberi corak. Secara tradisi. . . curah hujan. Fungsinya sebagai tiang penopang sekaligus tempat melekatnya tanduk karbau hasil pesta mendirikan rumah. tumbuhtumbuhan yang dipakai sebagai bahan bangunan dan batu-batuan. bangunan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal ataupun sebagai tempat bermukim keluarga. pengaruh budaya luar.―A’riri Posi’‖ yaitu tiang tengah pada bangunan rumah adat Toraja yang hampir kelihatan berdiri sendiri diantara ruang selatan dan ruang tengah.―Katik‖ adalah bentuk kepala aya jantan yang berkokok. ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. . tetapi melambangkan sesuatu hal atau kegiatan serta problem kehidupan masyarakat. mempunyai sudut kemiringan atap yang tajam karena curah hujan di daerah ini besar. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ rumah adat Toraja adalah sebagai berikut : . Masa arsitektur klassik. Terutama pengaruh iklim. Masa arsitektur modern serta Masa arsitektur post modern. Dari Masa Kemasa”.

kayu. Model arsitektur klasik sangat berbeda dengan arsitektur tradisional. yang kemudian menyebar keseluruh dunia seiring penyebaran agama Katolik dan Protestan. Ilmu pengetahuan dan teknologi arsitektur modern memberi warna lain bagi perkembangan kearsitekturan. Bahan bangunan lokasi seperti . Para arsitektur menerjemahkannya kedalam bahasa non verbal dengan menampilkan bangunan. Ghotic dan Barouq. ruangan atau komponen bangunan yang berskala mega atau melampaui skala manusia. Sejak masa ini. Gaya gaya klasik ini terlihat pada Gereja yang lebih menekankan pada konsep sakral yaitu : Manusia itu kecil dihadapan Tuhan. Cara penyelesaian arsitektur seperti ini dikenal sebagai cara untuk memperoleh wibawa dan menekankan perasaan manusia yang berada di dekatnya atau didalamnya sehingga merasa lebih kecil dan tidak berarti didekat bangunan atau kolom yang besar. bentuk tata ruang. atau didalam ruangan yang luas dengan plafond yang tinggi itu. Disini peran proporsi dan skala dari bangunan. kolom yang besar. Ornamen dipakai sebagai ungkapan arti simbol simbol suatu benda yang dianggap mempunyai arti khas dalam penghidupan dan kehidupan masyarakat tradisional etnis bersangkutan. dipakai menghiasi dinding dan tiang sesuai tradisi masing masing etnis. mereka juga membawa gaya arsitektur Cina. bangunan besar dengan lantai atau permukaan tanah yang ditinggikan. arsitektur tradisional mulai tersisihkan. Perbedaan itu terlihat dalam hal konsep. Begitupun ketika pedagang Cina. ruang dan komponen sangat penting. Arsitektur Klasik mencakup gaya Renaissance. ruangan yang sangat luas dan plafond tinggi dan berorientasi keatas. bahan bangunan. bambu. struktur dan konstruksi menjadi lain. Konsep arsitektur modern pada dasarnya lebih menekankan fungsionalisme dan efesiensi yang mengutamakan .Bambu dipakai sebagai atap dan plafound karena banyak hutan bambu di Tana Toraja. Dimasa arsitektur klassik ini. Arsitektur tradisional yang lebih mengutamakan penggunaan bahan bangunan alamiah mulai dilupakan. masuk ke Indonesia. penggunaan bahan bangunan. berkembang dan mewarnai karakter berbagai bangunan penting. tidak hanya pada Gereja tetapi juga bangunan Pemerintah Kolonial dan perumahan mereka. Gaya arsitektur ini lebih dikenal melalui rancangan Istana Raja dan Gereja di Eropa. bentuk bangunan. struktur dan konstruksi. Perihal ragam hias ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan yang sering ditemukan dan banyak memberi warna. Misalnya. Masa Arsitektur Klassik adalah masa berkembangnya arsitektur klassik dari Eropa yang masuk ke Indonesia. Gaya arsitektur klassik terus tumbuh. Karena semen. tata ruang. batu merah. misalnya desain dan teknologi bahan bangunan. dan rerumputan untuk bahan atap mulai kurang dipakai. beton dan besi jauh lebih menjamin kekuatan dan keawetan bangunan. prinsip dasar. Arsitektur Klassik disebut pula ―Arsitektur Kolonial‖ karena gaya ini hadir pada zaman kolonial. Masa Arsitektur Modern : Konsep arsitektur modern menekankan faktor “fungsionalisme” dan “efesiensi” . Demikian pula halnya bahan kayu yang dipakai sebagai tiang dan dinding. seperti terlihat pada rumah ibadah “Klenteng” dan perumahan didalam “Kampung Cina” yang masih dapat dilihat di beberapa kota besar di Indonesia.

Bahkan kedua unsur ini dapat ditemukan pada seluruh gaya arsitektur tradisional di Indonesia.50C. dirancang dan dibangun dengan mengawinkannya dengan unsur-unsur arsitektur tradisional tetapi terkadang bauran dengan unsur tradisional itu sendiri. Masa Arsitektur Post-Modern adalah model arsitektur masa kini. Sulawesi Selatan secara geografis terletak pada 0012‘~80 Lintang Selatan dan 116048‘~122036‘ Bujur Timur. Ini juga menjadi suatu pertanda bahwa arsitektur di Indonesia sedang mencari bentuk lain seiring dengan kecenderungan masyarakat dan para arsitek memanfaatkan warisan budaya masa lampau untuk menemukan identitas baru yang dapat dipakai sebagai simbol dalam era globaliasi ini. Unsur tradisional memang hadir tetapi lepas dari prinsip dasar dan norma norma khasnya.30C ~ 34. Pemakaian bahan bangunan pun menjadi lebih bebas dan beragam. yaitu antara 22. Gaya post-modern ini lebih menonjolkan simbolisme. Cara pernyataan diri ini menjadi lebih menarik karena tradisionalisme ditarik hadir dalam pola hidup modern. Toraja dengan Bali. Nampaknya gaya ini menoleh dan menggali dan memanfaatkan keunikan arsitekturan tradisional dan seni masa lampau untuk berimajinasi ke masa depan. Gaya arsitektur Post-Modern yang sedang melanda dunia kearsitekturan juga merambah masuk ke Indonesia melalui kota-kota besar. Konsepsi Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Sebagai Reinkarnasi “Karakter” Pengembangan Kawasan Budaya Dan Pariwisata Lokal. Identitas. Meskipun demikian arsitektur tradisional masih memiliki dan menampilkan persamaan yaitu : unsur vertikal dan horisontal. pegunungan dan lautan. Ternyata arsitektur modern sebagai suatu konsep yang mengutamakan fungsionalisme dan efisiensi itu lebih mampu mewadahi aktifitas manusia moderen sampai sekarang. Toraja dengan Jawa. dengan daerah dataran. ornamen. Dalam perkembangan selanjutnya. arsitektur modern ini mendominasi karya-karya arsitektur di Indonesia. funsionalisme dan efisiensi menjadi tidak mengikat lagi.kenikmatan penghuni dan keleluasaan ruang gerak manusia. Kemudian muncullah masalah-masalah akibat benturan antara tradisional dengan modernitas. nampaknya ada kecenderungan untuk menjawab keinginan masyarakat tampil lebih eksis. Pada masa ini. Temperatur udara sekitar 26. mulai tidak dipersoalkan. klasik. Gaya arsitektur tradisional yang beranekaragam di Indonesia menjadi sumber inspirasi utama dalam pengayaan gaya post-modern ini selanjutnya. Daerah ini merupakan Jazirah Barat Daya Pulau Sulawesi. filosofi dan konsepnya. beridentitas etnis dan menyatakan status sosial melalui arsitektur tradisional sebagai simbol agar mempunyai “nilai Aktualisasi” . warna-warni dan bentuk yang unik. Masalah lain akan timbul bila dua macam atau lebih arsitektur tradisional yang berbeda disatukan di dalam satu gubahan arsitektur. Beberapa arsitektur modern masa kini. seperti Toraja dengan Bugis. menjadi rancu akibat dari perbedaan prinsip dasar. karakter dan ciri khas sangat penting untuk dihadirkan kembali. atau kombinasi lainnya. Arsitektur Post –Modern ini memunculkan kembali arsitektur tradisional. . Pada arsitektur masa kini dimana modernitas dan tradisional muncul bersamaan.90C.

Benteng ini menjadi salah satu contoh terbaik dari arsitektur bangunan peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. musik dan tari-tarian. Pada abad XVI Etnis Bugis. pola ruang. Perbedaan itu terlihat juga pada jenis makanan. ornamen. seni ukir. Seseorang dapat mengamati. struktur dan konstruksinya sangat berbeda dibanding rumah arsitektur tradisional Bugis-Makassar. Benteng peninggalan kolonial Fort Rotterdam dan sejumlah bangunan peninggalan kolonial lainnya seperti rumah kediaman Gubernur menjadi bukti sejarah keberadaan Belanda di kota Makassar. Makassar. tenun benang kapas dan sutra serta arsitektur tradisionalnya. pakaian. beberapa pulau di samudera Pasifik sampai kepantai Afrika.Makassar dan Mandar yang menghuni kawasan pantai mempunyai pelaut-pelaut ulung. Makassar merupakan salah satu kota bandar niaga terbesar di Indonesia bagian timur. Dengan perahu layar tradisionalnya mereka mengarungi lautan kepulauan Indonesia. Dalam sistem sosial masyarakat Bugis dan Makassar ada strata sosial masyarakat yang menentukan arsitektur rumah tinggal mereka. bahkan sampai ke Madagaskar (Mattulada 1998:3). itu masih dapat ditemukan di beberapa daerah misalnya pada upacara religius. . menikmati berbagai pengalaman pada keunikan budayanya. Kelompok etnis yang paling besar di Sulawesi Selalatan adalah Bugis dan Makassar. dan besaran rumah tradisional Bugis-Makassar mempunyai korelasi positif dengan tingkat strata sosial pemiliknya. seni tradisional. Kemungkinan kondisi ini diwujudkan untuk mengeliminir temperatur udara panas terutama yang lokasinya di daerah hilir dan pantai. prasejarah dan sejarah Sulawesi Selatan telah melahirkan kekayaan budaya yang menarik. Dalam hal arsitektur rumah tradisional Bugis-Makassar secara umum sejenis. upacara adat. Suku Makassar. yaitu rumah panggung dengan atap pelana yang sebagian besar bahan bangunannya dari kayu. Sumatera. Mandar dan Toraja. Makassar dan daerah sekitarnya juga terkenal memiliki pelaut ulung yaitu orang orang yang ahli membuat kapal laut sekaligus mumpuni berlayar. Pelabuhan Paotere yang berada di utara Ujung Pandang merupakan kawasan pelabuhan kapal tradisional. pintu dan jendela rumah Bugis-Makassar relatif besar. ukiran yang cantik dan warna yang alami. Ukuran ruang. Latar belakang geografis. Bugis dan Mandar terkenal sebagai pusat kelahiran pelaut berjiwa patriotik. tetapi. Masing-masing yang berbeda dalam bahasa dan sebagian budayanya. baik dimasa perang maupun dimasa damai. Malaka kepulauan Maluku di Kawasan Timur Indonesia. Arsitektur rumah tradisional Toraja juga berupa rumah panggung. Pola ruang.Bahan bangunan untuk atapnya adalah bambu. Mereka berlayar untuk berniaga ke berbagai bandar niaga di Pulau Jawa. Bahkan sampai kebagian utara Australia. Dipelabuhan ini terlihat kapal-kapal layar Phinisi khas Bugis-Makassar yang terkenal itu berlabuh. Daerah Sulawesi selatan dihuni oleh tiga etnis utama yaitu Bugis. Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial yang paling terawat di Indonesia. Rumah tradisional Toraja atapnya melengkung.Letaknya berada di daerah katulistiwa hingga masyarakatnya berpeluang hampir sepanjang tahun bisa bercocok-tanam.

Makassar. panggung hiburan. Untuk menuju ke pulau ini wisatawan dapat menumpangi perahu motor milik pengelola atau menyewa speed boat. Pulau kecil yang terletak di lepas pantai kota Makassar ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur. Belanda kemudian memodifikasi ulang benteng itu yang selanjutnya dikenal dengan nama Fort Rotterdam. Beberapa kilometer ke arah selatan kota Sungguminasa terdapat Museum “Balla Lompoa”. Dimasa lalu pulau ini menjadi tempat peristirahatan dan wisata petinggi kolonial Belanda. Di pulau ini tersedia beberapa penginapan kecil yang juga menyediakan fasilitas makan.Sebelum Fort Rotterdam dibangun.ciri kota Makassar. Dimasa lalu bagunan ini adalah istana Sultan Gowa. restoran. Makam Diponegoro dan sebuah monumen untuk mengenang jasa pahlawan yang gagah berani ini terdapat di jalan Diponegoro. Dalam bangunan benteng ini terdapat Museum Negeri La Galigo yang memiliki koleksi antara lain peralatan makanan dan memasak dari Tana Toraja. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani pada tahun 1667. Di kawasan ini terdapat Makam Sultan Hasanuddin. Makassar juga merupakan kota tempat peristrahatan terakhir dua pahlawan besar Indonesia. Selain itu bangunan Vihara yang bergaya arsitektur Cina juga banyak terdapat di kota ini. di tenggara kota Makassar. termasuk tetangga yang berbatasan langsung dengan kota Makassar atau dikenal Kabupaten penyangga kota . instrument musik dan berbagai macam kostum pakaian adat. Monumen Mandala di jalan. Makassar. Istana ini berupa bangunan rumah kayu dengan gaya arsitektur Bugis-Makassar. Sultan Hasanuddin dan Pangeran Diponegoro yang di asingkan Belanda dari Jawa ke kota ini. Pada Museum tersimpan koleksi yang hampir sama dengan museum yang terdapat di Benteng Fort Rotterdam. Pulau Kayangan terletak sekitar empat mil laut atau sekitar 15 menit dengan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Laut dekat pelabuhan Soekarno-Hatta. gedung serba guna dan anjungan untuk memancing beragam jenis ikan laut. karena masyarakat keturunan Cina banyak bermukim di jalan itu dan sekitarnya. Tidak jauh dari kompleks pemakaman Sultan Hasanuddin terdapat Mesjid Katangka yang juga memiliki kompleks makam di mana di dalamnya terdapat beberapa kuburan dengan arsitektur khas. khususnya di jalan Sulawesi. Jendral Sudirman merupakan tugu berbentuk menara yang menjadi salah satu ikon arsitektur. Pahlawan nasional Pangeran Dipenogoro menjalani penahanan masa pengasingan selama 26 tahun di Fort Rotterdam. salah seorang raja Gowa yang sangat terkenal. Sisa-sisa arsitektur kerajaan Gowa masih dapat ditemui di kawasan pinggiran. di tempat ini terdapat benteng yang disebut Benteng Pannyua milik kerajaan Gowa yang dibangun pada sekitar tahun 1545. Di luar kompleks makam Pahlawan nasional ini terdapat Batu Pelantikan yang disebut “palantikang‖ merupakan tempat dimana dulu Raja-raja Gowa dilantik sebagai pemangku kerajaan dan dianugerahi mahkota kerajaan. hidup antara tahun 1629 – 1670. Ada beberapa bangunan peritirahatan khas Eropah yang sayangnya kini tidak ditemukan lagi Maros merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan. Kemudian Benteng ini dikuasai Belanda ketika sukses menyerang dan menduduki daerah ini. Pulau Kayangan adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas satu hektar. Lokasi wisata ini dilengkapi fasilitas antara lain pondokan. Kegiatan yang banyak dilakukan wisatawan di pulau ini selain memancing adalah snorkling.

Menurut cerita rakyat bahwa pada zaman dahulu. burung dan serangga yang langka. Di lokasi ini terdapat Air Terjung Bantimurung yang berada di lokasi perbukitan kapur yang subur dengan aneka tumbuhan. Gua ini diperkirakan menjadi tempat kediaman manusia purba yang hidup di daerah ini pada masa 8000 hingga 30. Obyek-obyek wisata di Kabupaten Maros yang banyak dikunjungi wisatawan antara lain Bantimurung. Di kawasan Malino . Prasejarah berupa gambar babi rusa serta puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding – dinding gua. Sayangnya Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang megah itu kurang menyerap ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. pernah ada saudagar dari Cina yang datang untuk melamar guna mempersunting gadis Samangki. sehingga selain akan memberi kenyamanan tersendiri juga terhindar dari kemacetan arus lalu lintas jalan raya. terdapat pula sebuah gua dengan stalagtit dan stalagmitnya yang menakjubkan. Di kawasan Bantimurung ini pernah dibangun rumah-rumah peristirahatan dengan arsitektur khas Bugis-Makassar. Di kawasan ini terlihat aneka ornamen yang indah. Diperkaya lagi dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing. Dekat dari Bantimurung terdapat gua Leang Leang.000 tahun yang lalu. juga memiliki panorama alam sekitarnya sangat menawan dan indah. Terdapat lukisan tua yang dilukis pada dinding gua yang diperkirakan berusia 5000 tahun SM. Selain air terjun dan kupu-kupunya. Keberadaannya menjadikan kawasan yang pertama dapat dikunjungi setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Tempat yang disebut juga Taman Prasejarah Leang-Leang ini terletak pada deretan bukit kapur yang curam dan para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat disekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia yang ditandai dengan lukisan. Malino di Kabupaten Gowa adalah kawasan resort pegunungan yang terkenal sejak awal kemerdekaan Indonesia. terlebih dengan suasana matahari terbenamnya yang indah. namun karena lamarannya ditolak akhirnya saudagar tersebut malu dan mengkaramkan perahunya yang kemudian menjelma menjadi batu. Kawasan ini pernah menjadi tempat pertemuan antara para pemimpin Kalimantan dan pemimpin daerah Indonesia timur lainnya ketika mereka membentuk negara federasi Indonesia sebagai hasil perundingan dengan pemerintah belanda. Letaknya sangat strategis yaitu antara kota Maros dan Kota Makassar. Berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai di tempat ini. Obyek wisata andalan ini cocok untuk kegiatan wisata alam di lembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu. di lokasi wisata ini terdapat Museum kupu-kupu. Untuk menuju Kota Makassar melalui pantai Kuri dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan menelusuri pesisir pantai. Batu tersebut kemudian dikenal masyarakat sekitar dengan julukan “Biseang Labboro” yaitu perahu terdampar. Obyek wisata Alam Gua Pattunuang di Kabupaten Maros selain kaya akan akan stalagtit dan stalagmit yang menakjubkan. juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut. Kawasan ini merupakan salah satu pantai yang sangat ideal untuk dinikmati.Makassar. namun sayangnya tempat itu musnah terbakar. Selain lukisan prasejarah. Sejumlah obyek wisata pantai juga dapat dijumpai di Maros seperti Pantai Kuri dengan pasir putihnya. Pada kawasan ini terdapat batu besar yang berbentuk perahu yang menyimpan legenda menarik. Bantimurung terkenal karena menjadi habitat aneka jenis kupu-kupu yang cantik.

wisatawan dapat melakukan kegiatan olahraga pantai. ilmuwan dari Belanda. mandi atau berendam di laut atau berlayar dengan perahu. Di sekitar permandian ini udaranya sejuk dengan pemandangan alam berupa perbukitan yang ditumbuhi pohon dan tanaman berwarna hijau. Derajat yang di makamkan disana dapat dilihat dari patung yang berada di atas kuburan. Daerah ini kaya akan sejarah maritimnya. Kecamatan Kelara. Puisi – puisi lama pada abad ke–14 pernah memuji kualitas kapal buatan daerah ini. Letaknya di atas bukit yang datar. Dinding masjid di bagian Utara. Dinding masjid bagian timur terdiri dari empat pilar bergaya arsitektur Eropa. Kabupaten Jeneponto meski dikenal sebagai wilayah yang kering. Masyarakat setempat menggunakan buah pohon kapuk itu sebagai bahan baku untuk membuat kasur. . Karena daerah ini pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan kolonial Belanda. Bangunan induknya terdiri dari penampil dan tubuh masjid. terdapat Permandian Alam Emmerasa. toko souvenir dan arena hiburan anak – anak. Di Kelurahan Bontojaya. Di kawasan ini juga terdapat kolam pancing dan berbagai restoran. ditunjang berbagai fasilitas kolam renang. Kuburan ini memiliki ciri khas ornamen yang indah. Salah satu obyek pantainya yang terkenal adalah Birtaria Kassi di Kecamatan Tamalatea dengan pantai yang landai dan sudah tertata baik. Kuburan Raja – Raja Binamu merupakan kuburan para Raja – Raja Binamu yang pernah memerintah di Butta Turatea Jeneponto. Bantaeng adalah pusat pembuatan kapal orang Bugis dengan reputasi yang terkenal selama ratusan tahun. ujung – ujung panah. sekitar 300 meter dari jalan raya. Masjid Tua Tompong juga menjadi salah satu obyek yang dikunjungi wisatawan. Air Terjun Boro. berlokasi di Desa Tompobulu. Di sepanjang jalan. Selatan dan Barat terbuat dari tembok yang mempunyai ventilasi udara dari roster porselin berwarna hijau. Di desa Kampala. Di sekitar gua itu terdapat banyak pohon kapuk. Kecamatan Eremerasa. ternayata memiliki juga panorama alam yang indah dan asri dengan pepohonan yang rindang. Pada masa lalu. Di sini.terdapat tempat-tempat peristirahatan bergaya arsitektur kolonial yang masih terjaga keberadaannya. Di utara Bantaeng terdapat sebuah air terjun yang cukup mengesankan. Ia melakukan penggalian arkeologi dan menemukan alat – alat batu jenis calsedon berupa serpihan yang digunakan sebagai pencerut. Kecamatan Bissappu terdapat Gua Batu Ejaya. Bantaeng merupakan daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Konon. Di kota Bantaeng terdapat juga bangunan-bangunan khas gaya arsitektur kolonial. wisatawan dapat menyaksikan rumah panggung berjejer di antara areal persawahan. Masjid kuno ini memiliki atap bentuk tumpang tiga. Pemandangannya indah dengan pegunungan yang berada di kanan – kiri air terjun yang tingginya mencapai 20 meter. masjid ini dibangun pada tahun 1887 atas prakarsa Raja Bantaeng Karaeng Panawang pada abad 12. Di kawasan ini rumah-rumah dibangun berarsitektur khas Bugis –Makassar. Gua Batu Ejaya pernah diteliti tahun 1937 oleh Van Stein Callonfols. Tidak terlalu sulit menemukan pantainya yang landai dengan udara yang nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas olahraga pantai. penginapan dengan bagunan berarsitektur Bugis-Makassar.

617 meter persegi. Pantai Mandala Ria di Desa Ara Kecamatan Bontobahari terdapat rumah-rumah khas Bugis Makassar. selebihnya batu cadas. snorkeling dan menyelam. Untuk bermalam telah dibangun beberapa cottage ala arsitektur Bugis-Makassar yang dipadukan dengan pendekatan konsep arsitektur modern. Di kompleks ini terlihat kuburan dan nisan dengan ornamen yang khas. Bahan baku bangunan makam itu terbuat dari batu karang. tempat pembuatan perahu tradisional dan di sekitar pesisir dijadikan kawasan cagar alam dengan aneka satwa liar yang dilindungi. tepatnya di Lingkungan Lembang Cina. terletak di Kecamatan Bonto Bahari. Pulau Selayar terletak di arah tenggara dari daratan semenanjung Sulawesi Selatan ini memiliki pantai berpasir dengan panorama yang indah. Mereka hidup dalam kesederhanaan dengan pakaian serba hitam dan bangunan rumah mereka dominan berwarna hitam dan mereka hidup dengan melestarikan hutan sebagai warisan leluhur. Di sekitarnya terdapat rumah – rumah penduduk berarsitektur tradisional. Rumah-rumah mereka berarsitektur Bugis Makassar. Selain pesona pantai berpasir putih yang indah. Panorama alam yang indah. tempat ini bagus untuk bersantai namun pada hari libur selalu ramai dengan pengunjung. Kajang adalah kampung adat yang menjadi pemukiman dengan rumah-rumah adat khas Kajang. Kerajinan masyarakat berupa sulaman dan miniatur perahu phinisi dapat dijadikan souvenir menarik dari lokasi ini. Pada hari biasa. Beberapa kilometer di . batu bata dan batu kapur yang memakai bahan perekat. Di kabupaten ini terdapat desa-desa orang Bugis -Makassar yang bermukim di sekitar pantai Bulukumba. Berbagai jenis ikan hias dan terumbu karang beraneka warna. Luas tanahnya sekitar 1. wisatan dapat berenang. juga tersedia sumber air tawar di laut disaat surut. Pantai dengan hamparan pasir putih ini menjadi tempat yang asyik untuk menikmati sunrise dan sunset yang amat mempesona. Masyarakatnya masih sangat terikat dengan adat istiadat yang bersumber dari ajaran pasang/wasiat yang disebut ”Pasangnga Ri Kajang” yang dikomunikasikan lewat ”Ammatoa” sebagai pemangku adat.Makam Raja – Raja La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam yang terletak di tengah kota Bantaeng. Oleh sebab itu dalam kompleks bangunan ini terdapat sekitar 159 buah bangunan makam yang menyerap gaya arsitektur Islam. Pulau yang berbentuk memanjang tapi sempit ini dihuni oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan pantai barat Pulau Selayar atau di Benteng yang merupakan kota utama di pulau ini. Bulukumba merupakan salah satu tempat keberangkatan kapal yang menuju ke Pulau Selayar. Bangunannya terdiri dari rumah induk dan pendopo. Pantai bira memiliki keragaman biota laut yang sangat indah. Pantai di tempat ini memiliki pasir yang putih. Di kawasan pantai ini. Kecamatan Bantaeng. Kelurahan Pallantikang. Pantai lemo-lemo. La Tenri Ruwa adalah Raja Bone ke 11 yang pertama menerima ajakan dari Raja Gowa XIV Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin untuk memeluk agama Islam. Di kota Bantaeng terdapat Balla Lompoa-rumah adat khas Bugis Makassar yang dulu menjadi tempat bermukimnya raja – raja Bantaeng. Di arah selatan ibukota kabupaten Bulukumba terdapat desa tempat pembuatan kapal juga sejumlah obyek wisata yang dikenal dengan nama Pantai Bira.

Terasa. Pao. Antara lain rumah adat Bola Soba di Kelurahan Manurungnge. Kecamatan Sinjai Utara. Selanjutnya pada zaman penjajahan Belanda tahun 1864. Kecamatan Tanete Raittang. benteng ini merupakan dasar yang bahannya berupa batu gunung yang diikat oleh lumpur Sungai Tangka. menyimpan potensi wisata bahari maupun wisata alam berpemandangan yang tidak kalah menariknya dengan daerah lainnya. terletak di Kelurahan Balangnipa. Pulau atol Taka Bone Rate adalah yang terbesar ketiga di dunia dengan luas sekitar 2220 km2. Pulau – pulau Sembilan terdiri dari 9 buah pulau yakni Pulau Burungloe. Bone banyak memiliki gua-gua alam seperti Gua Mampu di Desa Labbeng. tentunya menyimpan benda – benda peninggalan sebagai tanda kejayaan kedua kerajaan tersebut di masa lalu. Pulau Kanalo 2 dan Pulau Larearea yang merupakan daerah potensial untuk dijadikan obyek wisata bahari. Di dekat Pulau Selayar terdapat Pulau Pasi di mana wisatawan dapat melakukan kegiatan air snorkeling. Selain itu. tebal dinding siwali reppa -setengah depa. Untuk kegiatan wisata alam. Pulau Katingdoang. Pada awal dibangunnya tahun 1560. Pernak-pernik itu sangat indah dalam bentuk dan warnanya. Adalah salah satu daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan. Bone adalah ibukota kabupaten Bone. Suka dan Bala Suka). Pantai Lasia di Kecamatan Sinjai Timur dan Desa Pattongko Kecamatan Tellulimpoe. Benteng Balangnipa berjarak 2 km dari pusat kota Sinjai. Untuk wisata bahari daerah potensi pengembangan untuk wisata bahari adalah Pulau – pulau Sembilan di Kecamatan Sinjai Utara. Wisata budaya dan sejarahnya sangat kaya. Museum Lapawawoi di pusat kota Watampone. Di Selayar terdapat juga rumah adat yang berarsitektur khas. keberadaan rumah panggung ini menunjukkan bahwa sejak masa lalu masyarakat Bone telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil yang cukup tinggi. Manimpahoi. Bulo Bulo dan Lamatti) dengan Kerajaan Pitulimpoe (Turungeng. Kabupaten Sinjai merupakan daerah yang terletak di pantai timur bagian selatan jazirah Sulawesi Selatan dan berada di kaki Gunung Bawakaraeng. Pulau Batanglampe. patung. Rumah adat bugis yang terletak di pusat Kota Watampone ini adalah bekas istana Panglima Perang Kerajaan Bone Andi Baso Pagiling Putra Mahkota Raja Bone XXXX Lapawawoi Karaeng Sigeri. sebagai daerah bekas wilayah gabungan antara Kerajaan Tellulimpoe (Tondong. Pulau Kodingare. berbentuk segi empat dan memiliki empat buah pertahanan yang disebut bastion. Pulau Kanalo 1. Pulau Kambuno. Legenda tentang kerajaan yang . yang memiliki stalagtit dan stalagmit menyerupai bentuk makhluk sehingga muncul legenda Alleborenge Ri Mampu atau kutukan Kerajaan Mampu.selatan Benteng terdapat Benteng Bontobangun. Manipi. Hal ini merupakan potensi wisata budaya yang tiada nilainya. pakaian kerajaan. Pulau Liang Liang. direnovasi dengan model arsitektur Eropa dan selesai tahun 1868. Di museum ini tersimpan peninggalan Kerajaan Bone dan benda-benda peninggalan Arung Palakka seperti keris. bajubaju adat dan foto-foto keturunan Raja-raja Bone juga sarat dengan sejarah. Taka Bone Rate merupakan pulau karang atol yang terletak di tenggara Pulau Selayar atau di utara Pulau Bone Rate. Rumah tersebut dibangun akhir abad ke 19 atau tahun 1890.

Krosen tahun 1905 selaku Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi. Obyek pantai lainnya adalah Pulau Langkadea. dibangun oleh C.dikutuk menjadi batu ini disampaikan secara turun temurun di tengah masyarakat setempat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam. Ibukotanya Watansoppeng atau disebut juga kota kalong atau kelelawar. bertengger di pohon – pohon taman kota dengan suara berisik yang khas. Di bagian timur pantai yang landai dan berpasir putih sudah dilengkapi dengan fasilitas akomodasi dengan bangunan rumah khas berarsitektur Bugis Makassar. Bajoe yang terletak 7 km di sebelah timur Bone merupakan kota pelabuhan dan penyeberangan menuju ke Kolaka di Sulawesi Tenggara. Sejumlah makam menjadi obbyek wisata ziarah seperti komplek pemakaman Raja Kalokkoe (Laleng Bata) sekitar 3 km dari kota Watampone dan makam Raja-raja Watang Lamuru di Desa Labalata. Uniknya kalong ini hanya mau berdiam dan bergelantungan di pepohonan sepanjang kota Watansoppeng. Rumah-rumah masyarakat di kawasan itu dibangun dengan khas arsitektur Bugis-Makassar. bangunan ini terletak di jantung kota Watansoppeng. Salah satu diantaranya yang cukup terkenal diberi julukan ‖Rumah Tinggi” Villa Yuliana merupakan salah satu bangunan arsitektur peninggalan Belanda di Kabupaten Soppeng. Di kelurahan Balloci Baru terdapat Taman Laut Pulau Kapoposan di Desa Mattiro Ujung Kecamatan Liukang Tupabiring. Di pemandian ini juga terdapat Gua Mattampa dan taman rekreasinya yang dilengkapi fasilitas olahraga dan pertanian terpadu dan pusat percontohan pengembangan kolam air tawar dan tempat memancing. Di beberapa gua. Sejumlah fasilitas tersedia mulai dari akomodasi. Konstruksi dan . jet sky dan fasilitas olahraga lainnya. Kecamatan Bungoro sekitar 3 km dari kota Pangkajene yang berada pada poros Makassar – Pangkep. Soppeng merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan. Pangkajene. kompleks makam Labalata dan Kalokkoe serta makam Lapatau Matanna Tikka di Desa Nagauleng. Keberadaan kalong di jantung kota Watansoppeng semakin menambah pesona kota ini karena ibukota Watansoppeng dijuluki sebagai kota kalong. Kepulauan ini memiliki gugusan terumbu karang yang padat dan indah yang di sela – selanya berenang ikan – ikan hias aneka warna dari berbagai spesies. A. Wisatawan dapat menyewa perahu jika berminat melihat ‖desa terapung‖ di dekat Bajoe. Makam-makam ditempat ini dibuat dengan bentuk yang khas. ada sekian mitos yang berkembang bahwa keberadaan kalong ini yang jumlahnya ratusan hingga ribuan ini. Pulau ini disebut juga Citra Mustika Langka atau Pulau Wisata Bahari Muslim karena pengunjung menghadapi sejumlah ketentuan misalnya harus berbusana muslim. laki – laki dan perempuan yang bukan muhrimnya tidak diperkenankan serumah dan tidak diperbolehkan ada judi. terdapat peninggalan purbakala berupa gambar telapak tangan. babi. rusa. Kecamatan Cenrana. sekitar 25 menit dengan speed boat dari Pelabuhan Bining Kassi. perahu yang diperkirakan berusia 5000 tahun. Di Soppeng masih banyak ditemukan bagunan bergaya arsitektur kolonial. Pemandian alam Mattampa merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Pangkep yang terletak di Kelurahan Samalewa.

Salah satu daya tarik kota Sengkang adalah produk kain sutera. sejuk. Hasil industri tenun milik rakyat. Villa ini merupakan bangunan kembar. Melihat bentuk. Makassar. SalassaE berfungsi sebagai Istana Datu Soppeng. Rumah Adat Sao Mario terletak di Kelurahan Manorang Salo. Rumah adat ini juga berfungsi sebagai museum dengan koleksi berbagai jenis barang antik yang bernilai tinggi dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri seperti : kursi. Luwu dan Sidenreng dari abad XVII. Mandar. Toraja. Kompleks Istana Datu Soppeng terletak di jantung kota Watansoppeng. Pemandian Alam Citta terletak di Jantung Desa Citta. tempat tidur. Menhir Latammapole sebagai tempat menjalani hukuman bgi orang yang melanggar adat dengan cara mengelilingin 7ya kali. meja. Di obyek ini pengunjung dapat berenang dan menikmati keindahan panorama alam. type orintasi dan data historis makam ini dapat dikatakan bahwa Islam masuk sekitar abad XVII. Namun. Pada obyek wisata Ompo ini terdapat areal yang luas untuk perkemahan dan Motor Cross dan juga terdapat sebuah danau buatan yang cukup luas sebagai areal bermain perahu dan memancing ikan air tawar. antara lain : Bola Ridie -Rumah Kuning yang berfungsi untuk menyimpan berbagai jenis atribut kerajaan. perkampungannya masih banyak yang khas berarsitektur Bugis-Makassar dan berbagai aktivitas masyarakat sekitarnya seperti pengolahan tembakau secara tradisionil.arsitektur bangunan ini merupakan perpaduan gaya Eropa dan gaya Bugis. dilihat dari bentuk nisannya terdapat pengaruh kebudayaan Hindu. Di tempat ini terdapat fasilitas peristirahatan yang dibangun dengan gaya campuran tradisional dan modern. Pemandian yang terletak di Kelurahan Ompo. Kota Sengkang terletak di pinggir Danau Tempe yang memiliki panorama indah. Kain sutera banyak dijual di pasar Sengkang seperti selendang sutera. Namun. senjata tajam dan berbagai macam batu permata. Itu terlihat pada ornamen-ornamennya. Kecamatan Liliriaja. Pemandian Air Panas Lejja merupakan salah satu objek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. satu di antaranya ada di Nederland. Minangkabau dan Batak. nyaman di Desa Bulue. berhadapan dengan Villa Yuliana yang dibangun sekitar tahun 1261 pada masa Pemerintahan Raja Soppeng I Latemmalala yang bergelar Petta Bekkae. sayangnya pusat penenunan sutera milik rakyat umumnya terletak di . Kecamatan Marioriawa. Makam ini terletak di Kelurahan Bila Kecamatan Lalabata sekitar 1 km sebelah utara kota Watansoppeng. Dalam kompleks tersebut terdapat bangunan. Kecamatan Lalabata ini dikenal dengan airnya yang jernih. Sengkang merupakan kota yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Makam Jera Lompoe adalah makam Datu/Raja-Raja Soppeng. Pemandian ini berada dalam kawasan hutan lindung yang berbukit dengan panorama alam yang indah. pembangunan villa ini merupakan wujud kecintaan terhadap Ratu Yuliana. Pemandian Alam Ompo merupakan salah satu tujuan wisata andalan pula. Di dalam kompleks Rumah Adat Sao Mario ini. Kecamatan Marioriawa. Sengkang memang dikenal sebagai pusat industri sutera. terdapat berbagai jenis rumah adat yang bergaya Arsitektur Bugis.

. Pada bagian tengah pulau terdapat pohon – pohon tua yang digelantungi oleh ratusan kelelawar. Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke Sungai Walanae. kakao. Pemandian Air Panas Sulili ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas lainnya termasuk pondok wisata sehingga banyak dikunjungi wisatawan domestik. Gugusan pulau yang menyembul dari laut ini mempunyai luas 7 hektar didominasi oleh vegetasi hutan pantai termasuk hutan bakau yang mengitari pulau – pulau bagian Barat dan Utara. Tak heran bila hari libur banyak dikunjungi wisatawan lokal setempat. Pemandian air panas terdapat di Kelurahan Maminasse pada jalan poros Pinrang-Sidrap. Dari kolam alami ini. mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu Batu yang berada di tengah danau. Pulau Kamarrang di Kelurahan Ujung Labuang dapat ditempuh dari Ujung Lero sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu motor. kopi. kemiri dan kelapa. Anda harus menyewa angkutan umum. Sebagai daerah pertanian yang memiliki sumber daya alam yang cukup. Di lokasi ini telah dibangun kolam renang yang sumber airnya dari kedua mata air tersebut. Pemandian Air Panas Lemosusu ini memiliki panorama alam yang meski failitasnya masih sederhana untuk mandi maupun berendam. Terdapat sebuah villa berarsitektur modern di pulau ini yang digunakan wisatawan untuk beristirahat. Pinrang dikenal sebagai salah satu ‖Lumbung Pangan‖ di Sulawesi Selatan sekaligus penghasil udang. Berada di kawasan seluas 2 hektar dan mempunyai empat sumber air. Untuk dapat menuju ke desa-desa ini. Kawasan air terjun dengan ketinggian 60 meter ini di bawahnya terdapat kolam – kolam alami dan bebatuan untuk beristirahat. Terdapat sebuah makam tua di pulau ini dan dikeramatkan oleh para peziarah untuk menyatakan dan melepas nazar bila keinginannya dikabulkan. Pemandian air panas lainnya terdapat di Kelurahan yang sama menuju arah PLTU Bakaru. Ada dua sumber air yang mendukung tempat ini yaitu sumber air panas dan sumber air dingin. Air terjun lainnya masih di kelurahan yang sama sekitar 20 km dari kota Pinrang disebut Air Terjun Kalijodoh. Pinrang juga memiliki kekayaan laut yang membentang sekitar 93 km dari kota Parepare sampai ke Polewali Mamasa.desa-desa di sekitar Sengkang yang tidak memiliki akses angkutan umum. ikan bandeng. Panorama alam pegunungannya membuat tempat ini terasa sejuk dan nyaman sehingga menjadi tempat memadu kasih dan diyakini mereka yang datang berpasangan bisa berjodoh. Sementara pada bagian Timur terdapat pantai berbatu keras yang tahan hantaman ombak. Dua buah air terjun terdapat pula di Kabupaten Pinrang yaitu Air Terjun Karawa di Kelurahan Betteng. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat. air mengalir melalui batu – batu gunung dan menciptakan air terjun kecil sehingga seolah bersusun – susun. Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang menjadi habitat satwa burung. sekitar 12 km dari Pinrang.

Istana yang berfungsi sebagai museum Batara Guru ini menyimpan benda – benda pribadi dan peralatan yang pernah digunakan Rja – Raja Luwu. Rantepao adalah kota hujan karena hujan hampir selalu turun sepanjang tahun dengan udara yang dingin pada malam hari. Danau ini menjadi habitat aneka flora dan satwa burung. Tana Toraja merupakan daerah tujuan wisata internasional yang paling menarik dan paling terkenal di Sulawesi. Kota ini menjadi titik awal bagi wisatawan yang ingin megeksplorasi segala keunikan dan keindahan Toraja. Rantepao merupakan kota terbesar di Tana Toraja dan juga pusat perdagangan di wilayah ini. Di kota ini masih banyak terdapat rumah-rumah yang dibangun dengan arsitektur khas Toraja. Dari kota ini bisa dilakukan perjalanan kekota pertambangan Soroako. bangunan rumah tradisional Tongkonan dengan arsitektur yang unik khas kebudayaan Toraja yang sangat menarik.400 hektar dan merupakan danau terdalam di Sulawesi. Pada umumnya mereka bermukim di sekitar Rantepao dan Makale. . Untuk mencapai gua. Makam Raja – Raja Luwu ‖Lokkoe‖ yang artinya gua tempat peristirahatan. Di Kabupaten Luwu terdapat Istana Kerajaan Luwu atau disebut juga Museum Batara Guru.100 hektar yang merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Kota kecil yang cantik ini dikelilingi perbukitan yang puncaknya sering ditutupi kabut dan di dekat kota terdapat sebuah danau buatan. ibukota administrasi Tana Toraja. Istana ini didirikan pada tahun 1922 – 1924 oleh seorang arsitek Belanda bernama Obsenter Noble pada masa penjajahan Belanda di Luwu dengan bangunan bergaya Eropa. Di sini juga terdapat benda – benda antik seperti keramik. pengunjung harus melalui sekitar 480 anak tangga dan di dalam gua terdapat makam leluhur To Tana Lalong terdiri dari Liang Kabongian dan Liang Sugi Sakalikuku. Di Kota Palopo telah dibangun rumah adat yang cukup besar berarsitektur Bugis. Gua Liang Andulan di Desa Siteba. Kecamatan Lamasi memiliki ragam stalaktit dan stalagmit dengan warna – warna yang indah. Wisatawan yang mengunjungi Toraja umumnya berkumpul di Rantepao. Kota terletak di dekat Danau Matano seluas 16. terletak di pusat kota Palopo. Timur dan Selatan. misalnya. Rumah adat ini sering dimanfaatkan untuk berbagai upacara baik upacara adat ataupun upacara Pemerintah Daerah. peralatan dan perlengkapan upacara adat dan benda pusaka. Terletak di pusat kota Palopo dan bentuknya unik seperti bentuk piramida. namun yang banyak dikenal orang luar khususnya wisatawan asing adalah Toraja Selatan yang dikenal juga dengan nama Toraja Sa‘adan atau Saqdan. Kota ini terletak di daerah pegungungan yang memiliki banyak danau. Di tempat ini dimakamkan para Raja Luwu yang pernah berkuasa. Masyarakat Toraja secara etnografis dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu Toraja Barat. Di kawasan yang indah permai ini masih bisa ditemui desa-desa tradisional dengan sawah yang membentang luas.Kota Palopo adalah ibukota kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan. Di sebelah selatan Danau Matano terdapat Danau Towuti seluas 56. Secara geografis Tana Toraja berada di pegunungan pada pangkal semenanjung Sulawesi Selatan. Danau-danau di wilayah ini saling berhubungan melalui banyak sekali sungai-sungai kecil.

Padahal. untuk generasi sekarang dan generasi penerus. ketinggalan zaman hingga pelan-pelan mulai ditinggalkan pemangku kepentingan. ternyata sering dianggap tidak lagi mampu sepenuhnya mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat. tidak mengabaikan kaidah-kaidah sebagaimana mestinya mengakibatkan bangunan atau rumah itu bermasalah. Ada pula paradigma yang menilai bahwa dalam konteks waktu. sebatas ornamen ringan semata. pengkajian dan pelestarian kearifan lokal dalam yang masih dimiliki. ultra modern atau pasca modern yang sepenuhnya mencerminkan kekinian terbaru. Kearifan dan keunggulan yang mulai tak diabaikan. Agar dapat terlihat secara jelas bagaimana esensi kearifan budaya lokal yang diterapkan itu ternyata masih bisa sangat fungsional. tradisional diidentikkan dengan masa lalu yang kuno dibanding dengan modern. dengan dinamika tuntutan kehidupan moderen yang selalu cepat berubah dengan variasi-variasinya. Pada banyak kasus. Pemanfaatan model arsitektur tradisional pada bangunan masa kini. sangat penting disadari bahwa transformasi model arsitektur tradisional ke arsitektur moderen sebenarnya dapat terproses secara baik dalam penataan ruang dan lingkungan dari waktu ke waktu. tidak mau mengadopsi potensi arsitektur rumah tradisional. Upacara penguburan ini. Konsep arsitektur tradisional yang diterapkan pada kawasan wisata . Ini perlu segera direvitalisasi. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Dalam Konteks Ketahanan Budaya Lokal. Orang Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini. Seringkali dianggap terjadi ketidakserasian antara keberadaan model arsitektur tradisional yang boleh dikatakan cenderung stagnan. menjadi ajang ditampilkannya ornamen-ornamen khas Toraja yang sangat indah. pentingnya berbagi kesadaran untuk sama-sama berusaha menggali dan memahami kembali kearifan dan keunggulan yang terkandung dalam ranah arsitektur rumah tradisional. seharusnya terus menerus dilakukan secara konsepsional. karena penerapan model arsitektur tradisional yang salah. Kalau pun ada upaya-upaya menyerap model arsitektur rumah tradisional. maka proses adopsi itu secara umum masih belum cukup memuaskan karena hadir hanya sebagai tempelan artistik pemanis. Penerapan wujud identitas dan karakter budaya lokal pada arsitektur rumah tradisional diberbagai kawasan wisata. bukan karena pertimbangan aktualisasi kekayaan arsitektur tradisional. Semakin cepat dilakukan transformasi akan semakin besar dan efektif manfaatnya bagi masyarakat. Alasan inilah yang mendasari pemikiran.Salah satu upacara adat yang paling mengesankan di Toraja adalah upacara penguburan mayat yang sudah terkenal ke seluruh dunia. serta bagi kelestarian alam dan lingkungan. Hasil penelusuran. Pemahaman seperti itulah yang mendasari pertimbangan hingga penerapan model baru pada arsitektur rumah atau bangunan masa kini dengan corak kekinian pula. jika saja hal tersebut terus dilakukan dalam kesadaran tinggi. perlu ditransformasikan untuk menjadi bekal pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu arsitektur. Mencari wujud arsitektur tradisional untuk rumah yang baru dengan penerapan secara bijak dan mematuhi kaidah-kaidah dengan tepat. arwah orang yang mati akan memberikan kemalangan bagi keluarga yang ditinggalkan. ditinggalkan atau bahkan cenderung dilupakan itu. Itu salah satunya yang menyebabkan rumah berarsitektur tradisional yang mengandung berbagai kearifan itu dinilai kuno.

apalagi mengingat Tana Toraja sebagai dareah tujuan wisata Sulawesi Selatan yang wisatawannya datang dari manca negara. perlu dengan sengaja ditata suatu lanskap yang berorientasi pada arsitektur etnis Bugis-Makassar nan harmonis. Begitu pula dengan Tongkonan ma’dandan atau batu a’riri yang merupakan ―arsitektur etnis” Toraja. seiring dengan perubahan waktu dan kemajuan teknologi yang bergerak ke masa depan. misalnya. Di kawasan itu. Untuk mewujudkan ketahanan budaya dan konteks pelestarian ―Esensi” dan pengembangan ―Substansi” arsitektur tradisional Sulawesi Selatan maka. maka itu merupakan ‗arsitektur tradisional‘.budaya lokal. salah satunya adalah melihat bentuk serta mengapresiasi arsitektur Tongkonan yang unik itu. maka itu merupakan ―Arsitektur etnis Bugis Makassar‖. bagaimana penataan suatu kawasan wisata budaya dan sekitarnya yang menyatu dalam konsep arsitektur rumah tradisional setempat. Suatu obyek arsitektur memang dapat menyandang lebih dari satu atribut kategorisasi. dalam kenyataannya bahwa dibangun oleh masyarakat tradisional Bugis-Makassar berdasarkan kaidah budaya Bugis-Makassar. . Keberadaan model Tongkonan bisa dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan sekaligus dipadukan dengan konsep arsitektur modern. tentunya mereka datang karena ingin menikmati keunikan budaya Toraja.     Perlu upaya memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan sebagai warisan budaya. bisa berperan menjadi transformator atas nilai yang ingin diwariskan untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal sekaligus nasional. dengan menanam pohon lontara atau pohon pandan di tamannya sebagai salah satu cara mempertahankan aura masa lalu. demikian pula bila mengingat ―Balla Lompoa” tercipta berdasarkan kaidah dari bakuan teknik arsitektur yang telah diwariskan secara turun-temurun. sekaligus merupakan ―arsitektur tradisional”. Misalnya dengan penataan secara menyeluruh atas bangunan dan lingkungan diseputar Bola Soba dan juga Balla Lompoa – rumah khas Bugis Makassar. Bahwa mempertahankan jatidiri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi. Jika ditilik dari strata masyarakat bangsawan yang membangun dan menggunakannya maka Balla Lompoa masuk dalam kategori ―arsitektur klasik‖. Hidup dan kehidupan memang berhak terus berkembang seiring zamannya. Perlu upaya memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian. Bola Soba. bergantung dari sudut pandang yang menilainya: Jika Rumah Tradisional Bugis Makassar seperti : Balla Lompoa. Hal tersebut dapat ikut ditransformasikan melalui kesadaran akan keunggulan budaya yang dimiliki. Perlu pula selalu diperhitungkan. namun perubahan lingkungan strategis etnis yang mengadopsi kearifan-kearifan lokal perlu pula terus ikut diperhitungkan dan dipertahankan guna menjadi roh bagi pengembangan sekaligus dan meningkatkan ketahanan arsitektur berciri tradisional.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali nilai dari kearifan arsitektur tradisional lokal dampaknya akan semakin baik, termasuk upaya-upaya transformasi, pewarisan nilai dan teknologi arsitektur tradisional dari para sesepuh, cerdik cendekia bidang budaya, sosiologi dan arsitek rumah tradisional akan sangat baik sebelum mereka terlanjur berpulang. Diharapkan dengan terwujudnya kelestarian arsitektur tradisional lokal Sulawesi Selatan dapat merajut kembali kejayaan masa lalu yang bermanfaat menjadi kebanggan masa kini. Warisan itu diwujudkan dalam explicit knowledge, yang sangat kita perlukan dalam memantapkan konsepsi ketahanan budaya lokal etnis oleh generasi masa kini dan generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa mendatang. BAHAN BACAAN
          

           

Abbas, Ibrahim (1999), Pendekatan Budaya Mandar. Hamid, Abu (1986). Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Makassar : Antropologi Unhas. Budi Santoso (1997), Pembangunan Nasional Indonesia dengan Berbagai Persoalan Budaya dalam Masyarakat Majemuk. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (2005), Informasi dan Potensi Investasi Pariwisata Sulawesi Selatan Djauhari Sumintardja (1998), Kompendium Sejarah Arsitektur Djauhari Sumintardja (1988), The House in Tana Toraja (Traditional Housing in Indonesia). Faisal (2007), Arsitetur Tradisional Mandar Provinsi Sulawesi Barat Josef Prijotomo (1988), Pasang surut arsitektur di Indonesia Koentjaraningrat (1993), Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan Kostof, S. (1991), A History of Architecture. Rituals and Settings. Mangunwijaya,YB, (1992) Wastu Citra, Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Mattulada (1982), Geografi Budaya Daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Depdikbud Nasrul Baddu (1990), Rumah tradisional Bugis Makassar Ronald Arya (2005), Nilai-nilai Arsitektur Tradisional Jawa Rudofsky, B. 1964. Architecture Without Architects. Sampebulu, DR, Ir, M.Eng, (1990), Tradisionalisme dalam arsitektur masa kini Saliya Yuswadi, Ir, M.Arch, (1992), Ragam Hias dalam arsitektur Tradisional Toraja Sachary, A. (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Desain, Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya. Tangdilintin, LT, (1979), Tongkonan (Rumah adat Toraja) dengan struktur seng dan konstruksinya. Tjahjono, G. Editor. (2001). Indonesian Heritage. Vol. 6. Architecture. Tuan, Y.F. (1974).Topophilia. A Study of Environmental Perception, Attitudes, and Values. Tang, Mahmud (1998), Reaktualisasi Nilai-nilai budaya Bugis Makassar dalam Kehidupan Sosial Pada Era Revormasi. Rinwar Karim, Muktahim, Adnin Sakti, (1992), Arsitektur tradisional Bugis Makassar.

Yudono Ananto, Prof, DR, Ir, MSc, (2008) Kearifan arsitektur tradisional rumah panggung dalam hunian modern.

Wikantari Ria, DR, Ir, M.Arch, (2008), Kearifan arsitektur lokal Kawasan Timur Indonesia : Tinjauan Ragam Lintas Etnik Comments: Be the first to comment

ESTE DE LACOSTE
Posted October 9, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAN IDENTITAS DOSEN Nama NIK/NIDN : : DR.Ir.Drs. Syahriar Tato, SH, MS 110018518/NIDN. 09.2102.5101

Tempat/tanggal lahir Agama/Jenis kelamin Pangkat/Golongan/Terhitung mulai tanggal Alamat rumah dan No.Tel/Faks/ e-mail Tlp : 0811417696 / 081524058227 email : ariegagahdeh@gmail.com

: :

Pinrang 21-2-1951 Islam/Laki-laki

:

( IV/C (01-04-06), Kep. No.25/KTH. 2006)

:

Jln.Bau Mangga III no. 3, Makassar

1. Pendidikan yang pernah diikuti :

JENJANG

BIDANG Administrasi Negara

PERGURUAN TINGGI STIA – LAN RI. Makassar Universitas Muslim Indonesia Universitas Satria Makassar UNHAS UNHAS Akademi Teknologi Negeri Makassar

TAHUN MASUK /LULUS 1980/1984 1984/1990 2006/2009 1990/1992 1994/2004 1970/1975

S1

Teknik Sipil Hukum Pidana PLH Perencanaan dan Penyehatan Lingkungan Program Ilmu-Ilmu Teknik Arsitektur

S2 S3 Profesi Spesialis Lain-lain D3

1. a. Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman Pada Kawasan Pantai Kotamadya Ujung Pandang Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III : : : DR.Ir. Yulianto Sumalyo, M.Sc Prof.DR.H. Rahardjo Adisasmita, M,Ec DR.Ir. Sampe Paembonan, MS Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair Rumah

b. Judul Disertasi : Tangga Dengan Filter Biogeokimia

1. Pembimbing I 2. : Prof.DR.Ir.H. Muh.Arief, Dipl.Ing Pembimbing II Pembimbing III Pembimbing IV : : : Prof.DR.H. Syahrul, M.Agr DR.Ir.H. Muh. Saleh Pallu, M.Eng DR.Ir. Mary Selintung, Msc

1. Judul penelitian terakhir dan tahunnya : :

1. Karya terpenting dan tahunnya 1. Penghargaan dalam bidang ilmu/

Satya Karya 1985 Mentri PU 2. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI 1.profesi/pendidikan beserta tahunnya : 1. 5. 7. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI 4. 6. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45. 9. 10. . 2. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI 3. NAMA MATA KULIAH Pembangunan Daerah Methode Penulisan Ilmiah Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Program Dan Proyek Prasarana Wilayah Dan Kota I Prasarana Wilayah dan Kota II Perencanaan Pariwisata Konsep dan Struktur Tata Ruang Manajemen Proyek dan Program Pembangunan Daerah JENJANG S-2 S-2 S-2 S-2 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 SKS 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 PERGURUAN TINGGI STIA-LANRI STIK Tamalate STIK Tamalate STIA LANRI PWK UIN PWK UIN PWK UIN PWK UIN STIA – PARIS STIA – PARIS 1. Mata kuliah dalam program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH 1. Daftar karya ilmiah yang ditulis dalam 3 tahun terakhir NO 1. JUDUL TULISAN Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan TAHUN 2005 DITERBITKAN SEBAGAI : *) Jurnal SPASIAL. 8. Sistem Perumahan Dan Pemikiman 1. Mata kuliah yang diberikan di luar perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO 1. 3. Mata kuliah di luar program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH JENJANG S-1 SKS 2 PROGRAM STUDI PWK 1. Pengalaman mengajar 2. Prasarana Wilayah dan Kota I JENJANG S-2 SKS 2 1. 4.

Tata Guna lahan – system transportasi sebagai 2. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia 2003 4. 45. MS) selama 10 tahun terakhir NO JUDUL ARTIKEL TAHUN DITERBITKAN SEBAGAI : *) Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no6 Tahun I. masihka memukau? 2003 3. sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan 2006 3. 2004 . Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Drs. Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota 2008 6. April 2009 1. Daftar Artikel Dosen (Dr. Mengolah limbah cair perkotaan 2003 5. Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem 2008 5. Air Sumber kehidupan. 45. Manajemen Strategik organisasi seni budaya Filter Biogeokimia. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Ir. 2007 4. Syahriar Tato. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Mei 2006 Jurnal SPASIAL. 45. Juni 2008 Jurnal SPASIAL. April 2007 Jurnal SPASIAL. 45. SH. Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar. Oktober 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 2 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah 1. 45. April 2008 Jurnal SPASIAL. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. masihkah lestari 2003 2. Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban 2009 Mei 2005 Jurnal SPASIAL.

Januari 2004 Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no3 Tahun. Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim Mungkinkah membangun seni budaya‖Beraura‖ tradisi di Sulawesi Selatan 2004 8. Penerbit warisan Budaya Indonesia 7. Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata) 2005 11. S2 Aerob dan Waktu Tinggal TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR Unhas 2006 NO 1. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan 2009 1. Building Information Center. Tahun I. 2004 9. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan sebagai warisan ―Pusaka‖ budaya local Indonesia 2008 12. Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian lokal 2004 Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata 10. Pengalaman membimbing mahasiswa S2 dalam 5 tahun terakhir NAMA MAHASISWA P. II Maret 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 3 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 5 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 6 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―Mimbar Aspirasi‖Edisi 44 Februari 2005 Artikel dalam Majallah BIC. JUDUL TESIS STUDI Efektifitas Media Filter. Penerbit Cipta Letera 2009 Buku Ilmiah. Mengolah Limbah Cair Rumah Tangga dengan Filter Biogeokimia 2009 13.6 1 Milyard Orang Dambakan Air 2004 ― Sinergi‖ no1. Edisi Maret 2008 Buku Ilmiah. Zaenab .

Muh. Luwu Timur Studi Pemamfaatan Laode Ali Kasim Kawasan Pesisir Kota Raha Pengaruh Pengembangan Pulau Maitara Sebagai Kawasan Ekowisata Afriani Tompo dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pulau S1 Univ 45 2008 . Takalar 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2009 Pengalaman membimbing mahasiswa S1 dalam 5 tahun teakhir NAMA MAHASISWA P.BOD. JUDUL TESIS STUDI S1 TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR 2008 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2008 2008 S1 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2007 2007 2009 2008 2008 2008 NO 1. 5.COD. Dan MBAS di limbah cair rumah sakit Labuangbaji Makassar Penataan Lingkungan 2. Rahmawati Asis Objek Wisata Sanrobengi S2 Kab.Terhadap Penurunan Kadar SS. 2. Optimalisasi Pemamfaatan lahan Irma Febriani Pemukiman Kota Tanah Grigot Kab. Gowa Strategi Pengembangan Rosmini Satria Kawasan Wisata Pantai lemo di Desa Mabonta Studi Pengembangan Ilham Objek Wisata Pantai Beraue Kab. 7. Setiawan Objek Wisata Alam S2 Lumpue Pare-pare Strategi Pengembangan 4. Edi Syahrir Pemukiman Kumuh Di S2 Kota makassar Studi Pengembangan 3. 4. 6. Pasir Pengaruh Implementasi Konsep Agropolitan Ramlan Riza TerhadapPerkembangan Kota Barru Rahmudi Laode Perubahan Fungsi Lahan Hua Kota Bilibili Kab. 3.

Masruri D dalam Peningkatan Sosial S1 Ekonomi masyarakat di Kab. Kadafi Lakufu Tondano. 12. Kab. Minahasa Analisis Pengembangan Pantai Dato Pangale M. Kab. S1 Lasusua. Kolaka Utara Analisis Pengembangan Kota Malino Sebagai Ansarullah S1 Kawasan Wisata Kab. 13. 2005 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2006 16. 9. 18. Terbuka Hijau Kota S1 Rusman Baubau Revitalisasi Kawasan Wisata Sejarah dan Jawa Lukman Hakim S1 M. Kota Tarakan Analisis Pengembangan Kota Belopa Utara Arjan Ibrahim S1 sebagai Ibukota Kab Luwu Identifikasi Ruang Laode M. 17. Prospek Pengembangan Kota Ternate sebagai S1 tujuan wisata Partisipasi Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Heru kualitas dilingkungan S1 Soemarjono Permukiman Kota Makassar Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Risdawati S1 Awal Baru Kec. Gowa Evaluasi Lokasi Perumahan Swadaya Mas Herfina Simabur S1 Kel. Majene Analisis Pengembangan Objek Wisata Pantai Haerun Amrus Tanjung Tababu Kec. . Manggala Kota Makassar Analisis Sistem Pegelolaan Persampahan Citra Ariesta S1 Ibu Kota Kec. Tarakan Timut. 2005 Univ 45 2005 15. Beto Ambari Kota Baubau 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2009 2009 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2005 Univ 45 2005 2009 2009 2009 2009 14. Batua Kec. 11. 10.8.

Ir. Enrekang 2008 S1 Univ 45 2009 Makassar.MS Comments: Be the first to comment « Older Entries Newer Entries »   Home About Subscribe Syahriartato's Blog syndicates its weblog posts and Comments using a technology called RSS (Real Simple Syndication). 18 Agustus 2009 DR.Drs. Archives     February 2010 January 2010 December 2009 October 2009 Categories      opini di majalah dan koran (12) SENI DAN BUDAYA (102) TULISAN ILMIAH POPULER (2) Uncategorized (25) Blogroll o o WordPress. Nur Rezki Studi Pengembangan Kawasan Objek Wisata Benteng Alla Kab.com WordPress. Syahriar Tato. You can use a service like Bloglines to get notified when there are new posts to this weblog.org Meta .19. SH.

com Blog at WordPress. Enter your Powered by WordPress.    Register Log in XFN WordPress. Follow Follow “Syahriartato's Blog” Get every new post delivered to your Inbox. Theme: Sapphire by Michael Martine.com .com.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful