STRUKTUR SPASIAL WILAYAH PHERI URBAN SEBAGAI SISTEM DARI TATA RUANG KOTA

Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Abstrak Penulisan ini mengangkat judul tentang “ Struktur Spasial Wilayah Pheri Urban sebagai sub sistem dari suatu tata ruang kota. Dan akan mengulas lebih mendalam mengenai struktur keruangan wilayah pheri urban menyangkut tentang dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan, dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan. Daerah pinggiran kota adalah suatu daerah yang juga dikenal sebagai daerah ”urban-fringe” atau daerah ”peri-urban” atau nama lain yang muncul kemudian merupakan daerah yang memerlukan perhatian yang serius karena begitu pentingnya daerah tersebut terhadap peri kehidupan baik desa maupun di kota dimasa yang akan datang. Berbagai dimensi kehidupan dikemukakan secara sistematik agar memudahkan pembaca merasa mudah mengikuti alur pemikiran yang dibangun.Dalam wilayah pheri urban secara fisik morfologis inilah sifat-sifat baik kedesaan dan kekotaan non fisikal menunjukkan intensitas yang jelas, sehingga secara akademik, para peneliti dapat menggunakannya sebagai dasar identifiksi wilayah. Karena wilayah ini bersifat multidimensional sehingga sangat menarik berbagai disiplin ilmu. Ciri khas wilayah ini sangat istimewa yang tidak dimiliki oleh wilayah lain yaitu dalam hal keterkaitan yang begitu besar dengan aspek kehidupan kota maupun desa yang tercipta secara simultan. Dalam beberapa hal ini sifat kekotaan terlihat lebih menonjol. Perpaduan sifat kedesaan dan kekotaan inilah yang menarik untuk dibahas, dan hal ini menjadi sedemikian penting untuk dikemukakan, karena pemahaman struktur keruangan wilayah pheri urban akan memfasilitasi dalam pemahaman kekuatan – kekuatan yang berperan mengubah performa dari berbagai perspektif. Dan bagian ini akan dikemukakan mengenai latar belakang permasalahan yang dihadapi wilayah pheri urban dan pentingnya studi wilayah pheri urban secara umum dan khusus di Indonesia. A. Pendahuluan Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory. Wilayah Pheri Urban yang disinggung adalah pola pemanfaatan lahan yang terbentuk berkaitan dengan pertimbangan biaya transportasi, jarak dan sifat komoditas. Oleh karena fakta empiris membuktikan bahwa keberadaan kota dan wilayah pheri urban sangat bervariasi adanya ditinjau dari segi fisikal, maka untuk membahas teorinya. Pada prinsipnya, wilayah pheri urban didominasi oleh lahan pertanian dimana jenis komoditas yang diusahakan oleh petani membentuk pola keruangan yang khas. Perkembangan kotanya didominasi oleh bentuk perkembangan konsentris dan terjadi sangat lambat dan bahkan terkadang stagnan karena kotanya dibatasi oleh benteng yang dibangun pada

masa sebelumnya untuk masa maksud pertahanan dan pada kasus ini perkembangan kotanya bersifat sentripental dalam wujud pemadatan bangunan (densifikasi) bangunan. Fakta empiris menunjukkan bahwa perkembangan fisik kota yang substansial terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi transportasi dan telekomunikasi. Pada perkembangan selanjutnya, muncul ide – ide baru dan berkembang sebagai teori – teori baru . Walaupun belum secara khusus atau eksplisit mengemukakan mengenai wilayah pheri urban, namun sudah membahas kondisi wilayah pheri urban sendiri. Pada saat itu belum muncul istilah khusus yang mengacu pada wilayah pheri urban. Baru pada dekade abad 20, muncul istilah yang diperkenalkan oleh Gaplin (1915) mengenai wilayah pheri urban yaitu istilah urban. Istilah tersebut merupakan akronim dari kata rural dan urban yang pada awalnya digunakan untuk menunjukkan suatu wilayah kedesaan yang mengalami perubahan menuju sifat kekotaan. Kemunculan istilah baru tersebut sangat menarik perhatian para pemerhati wilayah perkotaan dan wilayah, sehingga mengundang munculnya studi baru dan memunculkan konsep-konsep baru pula. Beberapa tahun setelah itu bermunculan teori-teori baru mengenai kota dan sekitarnya (Yunus, 2008 : 42). B. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah: ü Menjelaskan faktor – faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dimensi pembentuk pemanfaatan lahan dalam stuktur spasial wilayah urban. ü Menjelaskan teori-teori yang menyangkut struktur spasial wilayah pheri urban.

2. Kegunaan Kegunaan penyusunan ini adalah untuk mengetahui sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban, mengetahui metoda pendekatan sistem yang dimanfaatkan untuk delimitas sub zona wilayah pheri urban serta untuk mengetahui dimensi bentuk pemanfaatan lahan di dalam struktur spasial wilayah pheri urban sebagai sub sistem suatu tata ruang kota. C. Pembahasan Seperti telah dikemukakan oleh banyak pakar mengenai studi kota, bahwa pada masa yang akan datang kebanyakan penduduk di dunia ini akan bertempat tinggal di kota. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa jumlah penduduk kota – kota di dunia mempunyai kecendrungan makin besar. Sebagian besar penduuk kota yang baru tersebut akan menempati lahan–lahan yang berada di sekitar lahan terbangun, karena keberadaan lahan – lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di bagian dalam kota sudah sangat terbatas adanya atau bahkan sudah hilang sama sekali. Makin banyaknya jumlah penduduk yang menempati wilayah pheri urban ini dengan sendirinya akan membawa komsekuensi keruangan, sosial, ekonomi, kultural dan biofisikal di

wilayah pheri urban. Oleh karena latar belakang kondisi wilayah phei urban yang sangat bervariasi dari satu kota ke kota yang lain, maupun dari negara yang satu dengan negara lain, maka dapat dipastikan bahwa kondisi spasial, ekonomi, sosial, kultural dan lingkungan biofisikal yang terpengaruh oleh adanya perkembangan kota akan bervarisasi pula. Bertambahnya penduduk akan selalu diikuti oleh bertambahnya bangunan – bangunan pemukiman maupun bukan permukiman. Bangunan – bangunan non permukiman merupakan bangunan yang mengakomodasikan kegiatan – kegiatan baru yang menyartai, seperti kegiatan ekonomi, sosial, kultural dan politik. Terlepas dari sudut kepentingan mana sebuah negara memandang, baik antagonis maupun protogonis mengenai hilangnya lahan pertanian di WPU tersebut, ternyata ada kesamaan pandangan bahwa sebaiknya perlu ada pengelolaan yang mengatur hal tersebut agar WPU sebagai wilayah pra- urban mampu menciptakan suasana kehidupan kekotaan yang ada pada saat ini. Dinamika wilayah pheri urban yang menyangkut proses perubahan berbagai elemen kehidupan ternyata telah menciptakan struktur spasial yang khas di WPU sendiri. Pengenalan struktur spasial WPU merupakan tahap awal mengenali berbagai permasalahan yang muncul di wilayah pheri urban. Pemahaman mengenai hal tersebut dapat dijadikan landasan untuk merumuskan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi kecendrungan perkembangannya di masa yang akan datang (Yunus, 2008 : 91). 1. Pendekatan Sistem Secara garis besar, terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu : a. Pendekatan Administratif Teknik ini adalah suatu cara untuk mendelitimasi subzona spasial wilayah pheri urban yang mendasarkan pada eksistensi unit administrasi sebagai unit analisis (analitical units) dan data mengenai bentuk pemanfaatan lahan. Secara teoritis, makin kecil unit analisisnya makin akurat identifikasi subzona yang dilakukan dan makin luas unit administrasi yang digunakan makin kurang akurat hasilnya. Sebagai contoh aplikasi pendekatan ini adalah zonifikasi sebagian wilayah pheri urban di daerah pinggiran kota Yogyakarta. Oleh karena penelitiannya dibatasi pada desa-desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta secara administratif maka hasil yang diperoleh adalah jalur membingkai kota Yogyakarta. Walaupun secara administratif, desa-desa penelitian berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta ternyata status spasial yang diperoleh menunjukkan variasi yang cukup besar. Pendekatan administratif ternyata tidak hanya dapat digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi luasan bentuk pemanfaatan lahan semata, namun dapat pula digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi jumlah penduduk atas dasar mata pencahariannya (Yunus, 2008 : 34). b. Pendekatan Fisikal Teknik ini merupakan cara identifikasi subzona wilayah pheri urban atas dasar unit-unit fisikal sebagai unit analisis. Cara ini dilaksanakan dengan cara mengenali unit analisis atas dasar batas-

Faktor politis. 5. Batas terluar wilayah pheri urban di setiap sisi tidak selalu mempunyai jarak yang sama ke/dari lahan perkotaan terbangun dan hal ini sangat tergantung dari kondisi keruangan masing-masing bagian. maka kerja sama/koordinasi kerja dengan pemerintah daerah dalam mengsinkronkan perencanaan tata ruang kota. Faktor aksesibilitas. Untuk kota yang bersifat ‖True Bounded‖ analisis urbanisasi tidak mengalami kesulitan karena semua nampak kekotaan sesuai dengan batas administrasi kota (Yunus. saluran air) sehingga tergambarkan blokblok unit analisis. dalam perencanaan tata ruang kota akan memudahkan pemerintah kota. ”True Bounded City”. 2008 : 39). Dengan demikian ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dekat jauhnya jarak batas terluar WPU dari lahan terbangun. Masing-masing unit analisis akan menampilkan proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan maupun lahan kekotaan. 4.batas fisikal yang ada seperti kenampakan linear (jalan. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain : a. Faktor topografis. Aksesibilitas fisikal yang . Faktor jaringan kelistrikan dan 6. Faktor aksesibilitas fisikal mempunyai pengaruh substansial terhadap penjalaran nilai-nilai kekotaan ke arah daerah perdesaan. Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan. Mengingat bahwa pada masa mendatang kota yang bersangkutan selalu akan bertambah luas arealnya. c. Pendekatan Sel/Sistem Grid Pendekatan ini menekankan pada eksistensi unit analisis yang dibentuk berdasarkan garis-garis konseptual yang dibuat secara vertikal dan horizontal pada suatu peta yang menggambarkan sebaran bentuk pemanfaatan lahan. yaitu : 1. Memang dari pendekatan ini dimungkinkan mampu menggambarkan kota-kota secara lebih detail. 3. Permasalahan hubungan antara batas kota secara administratif dan batas kota secara fisikal ini juga mempunyai dampak dalam analisis urbanisasi. Faktor kendala alami. namun cara ini dengan metode-metode induktifnya belum tentu menjamin generalisasi pola struktur sosial dan keruangan kota yang lebih baik (Yunus. Batas fisikal kota koinsiden dengan batas administrasi kota. Konsdisi seperti ini disebut sebagai. Istilah pendekatan sel mengandung pengertian bahwa cara ini akan menghasilkan sel/kotak-kotak sebagai unit analisis dengan luasan tertentu yang dihasilkan oleh garis-garis vertikal maupun horizontal yang dibuat (Yunus. 2. karena seluruh areal kekotaan berada pada batas-batas administrasi kota. Faktor telekomunikasi. Memang. Pendekatan Ekologi Faktorial Istilah ‖factorial ecology‖ sendiri termasuk baru di dalam studi kota yang digunakan untuk menganalisis struktur keruangan kota (urban spatial structure) dengan menggunakan analisis faktor sebagai tekniknya. d. 2008 : 40). Di dalam masing-masing blok kemudian dihitung mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahannya. 2000 : 238) 2.

Ada bagian tertentu yang sangat intensif. maka makin jauh pula jarak pengaruh kota terhadap daerah di sekitarnya. zoning regulation. khususnya di daerah perdesaan.oleh karena wilayah peri urban meliputi daerah yang sangat luas. Oleh karena telekomunikasi mampu menghubungkan daerah satu ke daerah lain tanpa terkendala oleh halangan fisikal. Faktor topografis juga mempunyai peranan yang besar terhadap jarak batas terluar wilayah pheri urban. b. Bentuk pemanfaatan lahan kedesaan dalam hal ini diekspresikan sebagai bentuk pemanfaatan agraris dan selebihnya itu merupakan bentuk pemanfaatan lahan nonkedesaan atau dikenal sebagai bentuk pemanfaatan kekotaan. 2008 : 115). Faktor telekomunikasi dalam beberapa hal dapat mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam penjalaran ide/nilai-nilai kekotaan dari kota ke desa. Makin baik kondisi prasarana transportasi dan sarana transportasi dari daerah perkotaan ke daerah perdesaan dapat dikatakan makin tinggi aksesibilitasnya dan akibatnya.ditentukan oleh keadaan prasarana dan sarana transportasi. maka proporsi lahan kedesaan yang menjadi indikator batas antara keduanya adalah 50% lahan kedesaan. Pada umumnya faktor topografis juga terkait dengan aksesibilitas fisikal sehingga pada bagian-bagian wilayah pheri urban yang ditandai oleh kondisi topografis yang terjal akan berbeda dengan bagian yang mempunyai kondisi topografis yang datar. maka penghitungan proporsi lahan kedesaan tersebut memerlukan metode tertentu. 2008 : 121). maka bagian wilayah-wilayah yang terpencil secara fisikal sekalipun akan mampu terjangkau selama alat telekomunikasinya tersedia. Hal ini berarti bahwa apabila proporsi lahan kedesaan yang ada di atas 50% berarti bagian ini termasuk ke dalam rural fringe dan apabila proporsinya tercatat kurang dari 50% maka bagian tersebut akan dikategorikan sebagai urban fringe (Yunus. Faktor jaringan listrik mempunyai imbas yang besar di dalam berbagai aspek kehidupan. intensitas penjalaran nilai-nilai kekotaan melalui media elektronik sangat erat terkait dengan masuknya jaringan kelistrikan ke daerah perdesaan. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan Bentuk pemanfaatan lahan perkotaan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah lahan nonagraris dalam arti luas. Sebenarnya. namun ada bagian yang lain yang tidak . Seperti diketahui bahwa intensitas bangunan-bangunan atau bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian/bentuk pemanfaatan lahan urban di wilayah peri urban tidak akan sama di seluruh bagian. c. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi ini mengungkapkan proporsi bentuk pemanfaatan kedesaan yang ada dibandingkan dengan bentuk pemanfaatan lahan kekotaan. Faktor politis berkaitan erat dengan kebijakankebijakan pemerintah dalam pemanfaatan lahan. Untuk negara-negara maju dengan formulasi dan aplikasi tata ruang yang mapan. dan beberapa kebijakan keruangan lainnya (Yunus. green belt policies. Munculnya berbagai bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian akan sangat mempengaruhi penentuan batas terluar dari wilayah peri urban. Oleh karena wilayah peri urban terdiri dari rural fringe dan urban fringe. konsisten dan konsekuen penentuan batas terluar wilayah peri urban dapat ditentukan dengan cara antara lain moratorial. Bagian terluar dari wilayah peri urban ditandai oleh proporsi lahan kedesaan 100% yang kearah luar merupakan wilayah kedesaan sebenarnya dan kearah dalam merupakan wilayah peri urban.

Munculnya bangunan sebagai ekspresi bentuk pemanfaatan lahan non agraris sejalan dengan akselerasi konversi bentuk pemanfaatan lahan agraris ke bentuk pemanfaatan non agraris. 2006 : 84) 3. tapi terutama secara individual. Bentuk perkembangan ini merupakan bentuk perkembangan yang paling lambat dibandingkan dengan bentuk-bentuk perkembangan yang lain. demi terbentuknya komunitas urban yang heterogen secara etnis-religius tetapi homogen secara urban kultural. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya gradasi ongkos transport yang teratur proporsional ke dan dari pusat kota dan hal inilah yang mirip dengan apa yang dikemukakan oleh von thunen mengenai homoginitas kondisi lingkungan fisik di bagian wilayah pheri urban dalam kaitannya dengan .intensif. tanpa harus menginjak-injak hak kelompok atau individu lain. Model yang dikemukakan didasarkan pada asumsi seperti yang telah dikemukakan oleh Von Thunen. Jika dikaitkan dengan konsep wilayah pheri urban maka ada keterkaitan pada konsep kota modern. Setiap kelompok harus mampu menekankan sebagian kepeningan kelompok mereka sendiri. Sebuah masyarakat urban seperti hanya dapat terbentuk bila setiap kelompok sosial-religius atau etnis melepaskan klaim mereka akan sifat absolut sistem nilai yang mereka anut. Teori Trade – off (clark) Menurut Clark (1982) pembahasan terjadinya concentric rings jenis-jenis tata guna lahan di wilayah pheri urban adalah wacana ekonomi dan pada masa selanjutnya model pembahasan tersebut dikenal dengan trade– off. 2) Bahwa di daerah di sekitar kota merupakan daerah yang datar homogen. Kota modern adalah tempat para penghuninya mengaktualisasikan diri mereka secara berkelompok. Kepentingan komunitas urban scara keseluruhan harus diberi prioritas utama dan dimenangkan terhadap kepentingan spesifik kelompok manapun. Teori–teori yang menjadi landasan dalam studi wilayah pheri urban a. Oleh karena kondisi urban fringe dan rural fringe sebenarnya tidak semata dicirikhasi oleh bentuk pemanfaatan lahan dan suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa makin banyak faktor determinan maka makin kuat suatu bagian wilayah peri urban menjadi magnet bagi fungsi-fungsi kekotaan (Yunus. sebagai berikut : 1) Bahwa kota yang bersangkutan hanya mempunyai satu pusat kegiatan saja atau satu CBD dan semua kesempatan kerja hanya berada di bagian ini dan semua transaksi jual beli barang hanya berlangsung di bagian pusat ini. Secara diskrit memang sangat sulit untuk menemukenali batas antara urban fringe dan rural fringe. 2008 : 122). maka akan semakin intensif pembangunan dan makin besar proporsi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitu pula sebaliknya. Sebagaimana upaya untuk mengidentifikasi wilayah peri urban dari sisi persentase proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan. Gambaran seperti ini akan tampak jelas pada kota-kota yang perkembangan fisikalnya didominasi oleh apa yang disebut sebagai perkembangan konsentris (concentric development). Perkembangan fisikalnya terjadi secara gradual sentrifugal di semua sisi-sisi lahan terbangun yang sudah ada. termasuk kelompok mayoritas (Santoso. Secara umum akan terlihat bahwa makin mendekati lahan kekotaan terbangun. upaya untuk mengidentifikasi proporsi bentuk pemanfataan lahan kekotaan.

didominasi oleh fungsi residensial. Pada subzona cincin pertama didominasi oleh fungsi residensial dihuni oleh golongan berstatus ekonomi rendah sampai menengah bawah. Di bagian pusat kota atau zona inti . maka gradien grafik yang terbentuk juga sedikit mendatar namun dalam luasan yang agak besar. serta tidak ada kebijakan – kebijakan tertentu yang mampu mengubah performa lahan. Oleh karena kemampuan membayar sewa lahannya juga lebih rendah. mempunyai opsi yang lebih luas. Sementara itu pada cincin pertama yang terbentuk melingkari zona inti. merupakan daerah yang paling tinggi aksesibilitasnya dan kondisi ini paling dibutuhkan oleh fungsi komersial. (3) zona paling luar merupakan cincin dengan fungsi utama industrial. maka faktor tingginya aksesibilitas menjadi suatu hal yang sangat menentukan terhadap perkembangan fungsi ini. 3) Bahwa ongkos transport ke dan dari pusat kota menunjukkan gradasi yang proporsional ke segala arah dan bagian pusat kota merupakan tempat dimana derajad kemudahan untuk menjangkaunya (aksesibilitas) yang paling tinggi. namun memberikan tawaran kepuasan dalam hal kenyamanan bertempat tinggal. Disinilah pemaknaan trade-off berada untuk golongan berstatus sosial tinggi berada. yang bukan termasuk ke dalam wilayah pheri urban. karena para penghuni memprioritaskan bertempat tinggal dekat dengan tempet dimana mereka bekerja / dekat pusat kota dimana kesempatan kerja berada. zona cincin konsentris yang tercipta adalah (1) zona paling dalam merupakan inti dari cincin-cincin yang terbentuk dan merupakan bagian pusat kota yang merupakan daerah dengan fungsi komersial. Walaupun secara eksplisit tidak dikemukakan mengenai fungsi-fungsi mana sebenarnya yang berkembang di wilayah pheri urban.usaha pertanian. Apakah mereka akan bertempat tinggal di dekat pusat kota yang fasilitas kehidupannya paling lengkap dengan konsekuensi sewa lahan yang mahal. 4) Bahwa keberadaan lahan akan dijual kepada pihak – pihak yang mempunyai penawaran yang paling tinggi yang berarti bahwa semua pihak yang ada di kota mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan lokasi yang dianggap menguntungkan dan tidak ada persaingan yang bersifat monopolistik. namun dalam uraiannya dapat diketahui bahwa cincin kedua dan ketiga sebagian atau seluruhnya merupakan fungsi yang telah dan atau sedang berkembang di wilayah pheri urban. Secara berturut-turut. sehingga fungsi ini mau memberikan penawaran tertinggi terhadap lokasi yang dianggap paling ideal dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi residensial dan industrial. 5) Bahwa pemerintah tidak mengadakan intervensi dalam hal persaingan bebas pemasaran lahan. Untuk golongan yang berstatus ekonomi tinggi. Homoginitas tanah dalam hal kegiatan pertanian yang homogin memungkinkan petani tidak mempunyai pilihan lain. Berdasarkan beberapa penelitian memang ada kecendrungan bahwa golongan ini memilih bertempat tinggal di daerah pinggiran kota/peripheral locations atau bagian dari wilayah pheri urban yang fasilitasnya kurang. seperti zoning regulation dan lain sejenisnya. Hal inilah yang menyebabkan terciptanya gradien yang sangat curam dalam kaitannya dengan jarak dari pusat kota. Oleh karena perkembangan fungsi ini sangat tergantung dari banyaknya custemors yang dapat menjangkau daerahnya. karena dimana-mana mempunyai kemampuan yang sama. (2) zona berikutnya merupakan cincin yang melingkari zona paling dalam dan merupakan zona yang ditempati oleh fungsi residensial. Zona paling luar merupakan zona .

menurut rasional yang dikemukakan membutuhkan lahan yang luas serta faktor aksesibilitas juga menjadi bahan pertimbangannya. kultural dan spasial. makin intensif perubahan bentuk pemanfaatan lahan dari bentuk . yaitu mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahan. Di kebanyakan negara. norma-norma kekotaan mampu menjangkau daerah yang relatif terisolir dalam artian fisikal dan dalam beberapa hal telah mampu mengubah sifat kedesaan menjadi sifat semi kekotaan atau bahkan kekotaan sepenuhnya. Zona yang ditempati oleh fungsi industrial. makin ke arah lahan kekotaan terbangun. Dua hal menarik untuk dikemukakan terkait dengan teori trade-off ini adalah pertama memberikan dasar penalaran bagi teori konsentirs yang dikemukakan oleh Burgess mengenai struktur internal kota yang terkenal dengan teori konsentris merupakan pionir pembahasan struktur tata ruang internal kota yang mampu memicu munculnya teori-teori baru. Kemajaun teknologi transportasi dan informasi telah mengakibatkan penjalaran ide-ide. perkembangan fungsi ini mendominasi bangunan – bangunan di daerah pinggiran kota yang berselang seling dengan fungsi-fungsi residensial. kemudahan untuk mengangkut bahan mentah (raw material) dan hasil produksi dalam jumlah besar menjadi pertimbangan utamanya. maka daerah dimana masih tersedia lahan yang dapat mengakomodasikan bangunan – bangunan besar adalah pilihannya. Model sebaran spasial (trade of model) di WPU ( Clark) b. Oleh karena itulah. 2008 : 99) Gambar 1. Kenampakan wilayah dalam hal ini diartikan sebagai kenampakan fisikal lahan (land scape) yang diaktualisasikan dalam bentuk pemanfaatan lahan. Berdasarkan fakta empiris yang dikemukakan oleh para peneliti terdahulu. Hal kedua ini. sosial. maka fungsi industrial menempati ring terluar. nilai-nilai. Teori Land Use Triangle : Discrete (Robin Pryor) Pryor (1971) mengemukakan tesisnya tentang wilayah pheri urban atas dasar parameter yang terukur. belum pernah ada konsep yang jelas mengenai keberadaan wilayah pheri urban itu sendiri serta bagaimana karakteristik soasial yang dapat diamati di lapangan. Disamping itu. Berdasarkan fakta empiris. Bentuk pemanfaatan lahan adalah kenampakan fisikal sebagai cerminan kegiatan manusia diatasnya dan hal adalah langkah awal dalam mengenali berbagai atribut wilayah yang berasosiasi dengan kenampakan fisikal bentuk pemanfaatan lahan seperti karakteristik demografis. Oleh karena bangunan – bangunannya relatif berskala besar.yang didominasi oleh fungsi industrial. Berdasarkan proporsi keberadan lahan kekotaan dan lahan kedesaan dapat diketahui mengenai struktur spasial wilayah pheri urban. dapat disimpulkan bahwa karakteristik wilayah pheri urban yang merupakan perpaduan antara karakteristik kekotaan dan karakteristik kedesaan muncul dalam ekspresi ekonomi. ekonomi dan sosial. Hal menarik kedua terkait dengan dasar penalaran perubahan kekotaan yang terjadi di dalam struktur internalnya. kultural. adalah pembahasan yang mengaitkan antara fungsi-fungsi Bid-rent dengan tahapan-tahapan siklus keluarga di kota. Menurut Pryor struktur spasial wilayah pheri urban dibedakan dalam 2 kategori yaitu urban fringe di satu sisi dan rural fringe di sisi yang lain yang didasari oleh kenyataan bahwa WPU merupakan wilayah yang berada diantara wilayah yang berkenampakan kekotaan seratus persen dan wilayah berkenampakan kedesaan seratus persen. kemudian mendasari penalaran yang dikemukakan dalam teori yang dikenal dengan sosial area analysis (Yunus. Pada masa sebelumnya.

Hal ini sangat penting dipahami para pemerhati masalah perkotaan. Model Zonifikasi WPU Negara Maju atas dasar Bentuk pemenfaatan lahan Legenda A : percentage Distance Urban to Rural land B : Percentage Urban land Use C : Percentage Rural Land Use D : Boundari Of Built-Up Urban Area E : Boundari Of Built-Up Rural Land F : Rural Urban Fringe G : Urban Fringe H : Rural Fringe 1. Studi Kasus Perkembangan wilayah pheri urban di Yogyakarta Pemahaman mengenai wilayah pheri urban di Negara – Negara maju menghasilkan keragaman teori yang berbeda-beda serta istilah yang berbeda-beda pula. namun beberapa diantaranya terkadang memunculkan pemahaman yang sedikit menimbulkan kerancuan. khususnya penentu kebijakan. ternyata kecendrungan perkembangan kota baik ditilik dari segi fisikal maupun dari segi demografis dapat diketahui dengan jelas. (2) presentase proporsi lahan kedesaan dan (3) presentase proporsi lahan kekotaan (Yunus. 4. maka didalamnya memuat tiga dimensi penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi batas terluar dari masing-masing subzona. Dengan mendasarkan zonifikasi yang ada. keruangan dalam rangka pengendalian perkembangan kota sehingga sejak dini dapat diketahui . Tiga dimensi penilaian tersebut adalah (1) presentase jarak dari/ ke batas 100% kenampakan kekotaan atau ke batas 100% kenampakan kedesaan. Salah satu contoh kasus perkembangan WPU yaitu di kota Jogjakarta dengan mengambil kasus beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta sebagai bagian paling dinamis dari WPU nya. apalagi apabila kacamata yang digunakan adalah kondisi WPU di Negara berkembang. Walaupun esensi yang dikemukakan tidak menampilkan perbedaan yang signifikan. Oleh karena model diagramatik yang dikemukakan berujud segitiga bentuk pemanfaatan lahan. 2008 : 111) Gambar 2.pemanfaatan lahan kedesaan menjadi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitupula sebaliknya.

Perkembangan spasial fisikal yang terjadi yaitu kearah utara. Sebagai contoh yang dapat dikemukakan disini adalah kasus kota Yogyakarta. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar bentuk pemanfaatan lahan. Sementara itu di bagian-bagian lain seperti di bagian barat tampak belum menunjukkan perubahan yang berarti dan signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa kea rah itu pula terjadi konversi lahan-lahan pertanian paling banyak terjadi.kemungkinan timbulnya dampak negative terhadap lingkungan dan sejak dini pula dapat melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasinya Gambar 3. . Hal ini mengindikasikan adanya perubahan struktual sosio demografis yang signifikan di bagian barat daya. yaitu sosio demografis ternyata ke arah barat daya menunjukkan perubahan sosio demografis yang sangat signifikan dari status zobides ke status zobikot dan hal ini tidak terdeteksi dari kecendrungan perkembangan fisikal. fisikal. Oleh karena formulasi kebijakan pengendalian kota tidak hanya mendasarkan pada satu dimensi saja. sosial. khususnya mengenai mata pencahariannya. Sementara itu. Namun demikian. Kecendrungan perkembangan fisikal tidak selalu konsiden dengan perkembangan sosio demografis sehingga dengan mengetahui kecedrungan perkembangan kota dari dimensi yang berbeda-beda dharapkan dapat menjadi dasar yang menjadi kukuh untuk penyusunan kebijakan antisipasi baik dari segi spasial. Demikian pula halnya di bagian utara juga terlihat perubahan yang sangat sgnifikan. baik ke arah timur laut maupun kearah barat laut walaupun insentitas perkembangannya berbeda-beda. ekonomi dan kultura. dari semula bersifat zobikodes di bagian utara pada tahun 1988 menjadi bersifat zobikot pada tahun 1998 yang berarti sifat kekotaan semakin tampak dengan jelas dari segi kpmposisi demografisnya. namun hal ini hanya dapat mengungkapkan perkembangan fisikal kekotaannya dan bukan kecendrungan perkembangan sosio – demografinya. karena densifikasi yang tidk terkontrol merupakan biang keladi terciptanya kekumuhan dalam pemukiman dan deteriorisasi lingkungan. Di bagian barat laut diidentifikasi peralihan status dari zobidekot menjadi zobikodes sedangkan dari bagian timur laut teridentifikasi perubahan dari zobikodes menjadi zobidekot. kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Gambar 4. Apabila hal ini tidak diikuti oleh adanya konversilahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang signifikan dapat dipastikan bahwa di bagian ini telah terjadi densifikasi pemukuman yang substansial da hal ini sangat perlu di monitor. di bagian tenggara tidak menunukkan perubahan status sifat kkotaan yang berarti. ditilik dari sisi lain. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar komposisi mata pencaharian kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Memang dalam tataran praktik dan kemajuan teknologi seseorang dapat memantau kecendrunagn kota dengan menggunakan alat bantu foto udara atau remote sensing imageries lainnya.

2000. Pendekatan Sistem Secara garis besar.maka keberadaan media yang dapat membantu mengenali kecendrunga perkembanagan kota dari berbagai dimensi akan lebih bermanfaat. Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu :     Pendekatan administratif Pendekatan fisikal Pendekatan sel/sistem grid Pendekatan ekologi faktorial 3. 2006. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain :    Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi persentase bentukpemanfaatan lahan perkotaan E. Menyiasati kota tanpa warga. KPG dan Centropolis : Jakarta Yunus. (Yunus. 2008. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory 2. Struktur Tata Ruang Kota. 2008 : 153). Jo. H. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. Kesimpulan 1. Pustaka Pelajar : Yogyakarta Comments: Be the first to comment TATA GUNA LAHAN-SISTEM TRANSPORTASI SEBAGAI SUBSISTEM DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN . D. Manajemen Kota Prespektif Spasial.S. Daftar Pustaka Santoso. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. Dinamika Wilayah Peri-Urban Determinan Masa Depan Kota. 2005.

Kota yang baik dapat ditandai.Penulisan ini menguraikan berbagai system pendekatan yang tepat juga mencakup seluruh aspek yang terkait untuk memberikan alternative pemecahan masalah yang tepat. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Penulisan ini berjudul tentang “Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi sebagai sub system dalam Perencanaan Pembangunan yang berkelanjutan” yang membahas mengenai keterkaitan antara sistem guna lahan dengan system transportasi dalam melakukan pembangunan yang berkelanjutan. Kemacetan (congestion). Hal ini menyebakan tidak sesuainya rencana dan kenyataan nyata manakala suatu rencana selesai disusun. dimana terdapat kecenderungan bahwa berkembangnya suatu kota bersamaan pula dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. A.Posted December 28. Daerah – daerah tersebut saat ini menjadi pusat-pusat kegiatan financial dan peluang-peluang bisnis yang ekstensif yang kompleksitas dan diversitasnya mengalami siklus perubahan akibat beragam pengaruh social dan ekonomi. Dengan terjadinya perubahan fungsi lahan yang sering kita temui di suatu kota dimana tata guna lahan yang ada tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah dibuat. dan pemborosan energy merupakan sebagian dari sekian hanyak permasalahan yang dihadapi suatu kola berkaitan dengan masalah transportasi. sehingga dalam pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. selain mencerminkan keteraturan kota. sehingga masalah ini akan selalu membayangi perkembangan suatu wilayah perkotaan. 2001:139) Ada beberapa hal yang menjadi faktor utama dari timbulnya masalah tersebut. Wilayah perkotaan dari tahun ke tahun telah berubah sebagai akibat terjadinya pergeseran yang dramatis dari lahan pertanian menjadi daerah bisnis ―terjadi perubahan fungsi guna lahan‖. adalah sebagai berikut. . dengan melihat kondisi transportasinya.Transportasi merupakan salah satu kunci perkembangan bagi wilayah perkotaan. polusi udara. Transportasi yang aman dan lancar.Permasalahan ini berkailan Brat dengan poles testes guna Lahan. Akan tetapi terdapat kecenderungan dengan berkembangnya suatu kota bersamaan pules dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. juga mencerminkan kelancaran kegiatan perekonomian kota. antara lain. Bahwa karena dinamika masyarakat yang menyebabkan perubahan yang cepat di dalam system nilai dan kebutuhan masyarakat sering proses penyusunan terdahului oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. karena sector ini sangat berperan dalam menentukan kegiatan dan aktivitas pergerakan yang terjadi. Pendahuluan Kota dikenal dengan banyaknya permasalahan yang kompleks yang terdapat didalamnya. 1. keterlambatan (delay). polusi suara. (Sujarto.

keterlambatan. Kegunaan Berdasarkan tujuan penyusunan penulisan di atas. Adanya saling ketergantungan antara tata guna lahan dan system transportasi. system pergerakan. dan lingkungan.1. pihak dari system yang terkait sehingga pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. Berbagai aspek/ pendekatan sistem yang mempengaruhi system tersebut yaitu system kegiatan. 2003: 74). 1984. Kelanggenang suatu rencana kota dalam arti konsekuen dan konsistennya pembangunan kota dengan rencana kota sangat ditentukan juga oleh konsekwenan dan kekonsistenan pengelola kota dan masyarakat dalam memegang arahan pembangunan yang ditetapkan. Kegiatan transportasi yang terwujud pada hakikatnya adalah kegiatan yang menghubungkan dua lokasi guna lahan . ASCE. 1986 dalam Khisty dan Lall. namun juga dapat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui gas buangan dari kendaraan bermotor serta merupakan suatu bentuk pemborosan energy yang sia-sia. Salah satu tujuan utama perencanaan setiap tata guna lahan atau system transportasi adalah untuk menjamin adanya keseimbangan yang efisien antara aktivitas guna lahan dengan kemampuan transportasi (Blunden dan Black. B. system jaringan. maka adapun kegunaan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Untuk mengetahui bagaimana system transportasi sebagai suatu system . Permasalahan di sektor ini tidaklah sederhana. parkir dll). Tujuan Tujuan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Mengidentifikasi system transportasi sebagai suatu system ü Mengidentifikasi keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan 2. Tujuan dan Kegunaan 1. Permasalahan transportasi ini merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak aspek. Permasalahan ini bukan saja menyangkut pada kenyamanan system transportasi yang terganggu (kepadatan. kemacetan. Penulisan ini mencoba melihat permasalahan dalam system transportasi secara komprehensif yang di dasarkan pada pendekatan system. sehingga pola guna lahan dan system transportasi tidak dapat dipisahkan.

sehingga biasanya dianggap membentuk satu landuse transport system. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1 seperti berikut : Gambar 1. Sistem transportasi yang macet tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya.(Mohammadi.co. 2003: 7). .ü Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. yang menjalankan fungsinya demi mencapai tujuan. C. Pendekatan Sistem System adalah suatu perangkat yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. 1. Gambar 1.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq . Pembahasan Transportasi dan tata guna lahan berhubungan sangat erat. Pendekatan system (system approach) adalah suatu cara yang sistematik dan menyeluruh untuk memecahkan masalah yang melibatkan suatu system. Sebaliknya. Pendekatan Sistem Transportasi berkaitan dengan tata guna lahan. tranportasi yang tidak melayani suatu tata guna lahan akan menjadi sia-sia. lingkungan dan energi. Rencana Tata Guna Lahan dan Rencana Transportasi sumber : (http://www. Suatu rencana kota juga tak pernah lepas dari rencana tata guna lahan serta rencana transportasi. Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik maka kebutuhan transportasinya harus terpenuhi dengan baik. tidak termanfaatkan.2001 dalam Khisty dan Lall.google.

Swasta dan Masyarakat harus ikut berperan dalam mengatasi masalah transportasi. budaya dsb. Secara umum dapat disebutkan. Pemda b. besarnya pergerakan yang ditimbulkan tersebut sangat berkaitan dengan jenis dan intensitas kegiatan yang dilakukan.Interaksi antara system kegiatan dan system jaringan akan menghasilkan suatu pergerakan. Di Indonesia system kelembagaan yang berkaitan dengan transportasi adalah: a. Bina Marga c. Selain dari semua sub system diatas terdapat suatu aspek yang harus selalu diperhatikan dalam pengadaan system transportasi yaitu aspek lingkungan.co. lembaga.sumber: (http:// www. instansi pemerintah serta swasta yang terlibat. System jaringan: Dep. Seluruh kebijaksanaan yang diambil oleh masing-masing kelembagaan harus terkait dan terkoordinasi dengan baik. bahwa Pemerintah. Sistem tersebut dapat merupakan suatu gabungan dari berbagai system pola kegiatan tata guna lahan (land use) seperti kegiatan social. System pergerakan LLAJR. Karena hal ini merupakan masalah bersama yang memerlukan penanganan dan keterlibatan semua pihak. Prasarana yang diperlukan merupakan bagian dari system jaringan meliputi jaringan jalan raya. terminal.go ogle. Dari ketiga sub system tersebut. System ini berkaitan erat dengan pengaturan pola tata guna lahan sebagai unsur terpenting dalam pembentukan pola kegiatan kota atau daerah.Polantas. ekonomi. kelompok. Pergerakan tersebut membutuhkan moda transportasi (sarana) dan media (prasarana) tempat moda tersebut bergerak. id/searc h?hl=id &q=KE TERKA ITAN+ TATA+ GUNA +LAHA N+DEN GAN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Sub system kegiatan merupakan system kegiatan tertentu yang membangkitkan pergerakan dan dapat menarik pergerakan. Pendekatan Sistem Kegiatan . System kegiatan:Bappenas. Perhubungan. masih diperlukan system kelembagaan. Kegiatan yang timbul dalam system ini membutuhkan pergerakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang perlu dilakukan setiap hari. dll. System ini terdiri dari individu. 2.

maka ini memungkinkan kita untuk memperkirakan lalu lintas yang dihasilkan (Blunden dan Black.Pendekatan terhadap system kegiatan ini sebenarnya sangat banyak macam dan faktornya.     Tingginya aktifitas perkotaan sangat dipengaruhi oleh perkembangan jumlah penduduk. 2003: 74). Faktor kegiatan penduduk. Oleh sebab itu. kawasan tempat rekreasi dst. kawasan tempat kerja. Keterkaitan antara system kegiatan (model tata guna lahan) dengan system transportasi dapat dilihat bahwa perencanaan transportasi untuk masa yang akan datang selalu dimulai dari perubahan dan perkembangan tata guna lahan. 1979 dalam Miro. kegiatan-kegiatan penduduk seperti ekonomi. b. 1984 dalam Khisty dan Lall. Keterkaitan guna lahan dengan arus lalu lintas (Menhein. tempat tinggal. namun pada pembahasan ini ditekankan pada aspek pola tata guna lahan dalam suatu kota. Perkembangan jumlah penduduk tidak saja dipengaruhi oleh natural growth. Tata guna tanah/lahan perkotaan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian dalam ruang dari peran kota. Pola penggunaan lahan di kawasan perkotaan. kawasan tempat tinggal. akan tetapi arus masuk (pergerakan penduduk) in migration Pertumbuhan penduduk yang tinggi sangat berpengaruh pada spasial perkotaan. dll. industry. 2004: 45) adalah sebagai berikut: Arus lalu lintas ditentukan menurut pola tata guna lahannya dan tingkat pelayanan system transportasinya. Faktor determinan yang mempengaruhi Guna lahan : a. . Jika manfaat lahan di setiap daerah untuk suatu kota telah diketahui. perkantoran yang esensinya menggunakan lahan sangatlah mempengaruhi tata guna lahan. atau meningkatnya daerah lain akibat dari aktifitas yang berbeda dalam sebuah kota sehingga pergerakan penduduk di dasari kebutuhan akan pekerjaan. Pola distribusi kegiatan guna lahan pada saat sekarang sangat tidak teratur diakibatkan banyaknya rencana kota yang diabaikan karena alasan ekonomi. penting untuk mengetahui perencanaan tata guna lahan dalam merencanakan system angkutan. fasilitas. Faktor kependudukan. umumnya terbentuk polarisasi yaitu munculnya kutub-kutub pertumbuhan. Dari hal tersebut maka kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat kebutuhan akan jasa transportasi yang merupakkan masukan yang berguna untuk merencanakan sampai tingkat mana fasilitas-fasilitas transportasi akan disediakan.

Permasalahan yang muncul. Jaringan jalan merupakan suatu kesatuan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki. Pendekatan Sistem Jaringan Jaringan transportasi adalah jaringan prasarana trasnportasi (lintasan jalan. Pendekatan Sistem Pergerakan Transportasi yang baik yaitu transportasi yang dapat memberikan kenyamanan. (Kamaluddin. menjalankan dua fungsi. Dalam hal ini akan dibahas mengenai system transportasi darat. dan mobilitas penduduk yang tumbuh mengikuti maupun mendorong perkembangan yang terjadi pada berbagai sector dan bidang kehidupan tersebut. 3. bandara). 2003: 53). lintasan transportasi laut.Kalau arus lalu lintas dalam jangka waktu yang lebih lama (panjang) semakin bertambah. lintasan rel) dan simpul sarana transportasi (terminal. dan system jaringan jalan dengan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota membentuk system jaringan jalan sekunder. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberlakukan system angkutan . Dimana dalam pembangunan jaringan jalan harus memperhatikan jumlah kendaraan yang akan melewatinya. Dalam hubungan ini transportasi khususnya transportasi jalan raya. Transport jalan raya seringkali dikatakan sebagai urat nadi bagi kehidupan dan perkembangan ekonomi. kondisi system transportasi yang memburuk akibat meningkatnya motorisasi yang diperparah akibat lebih tingginya kenaikan jumlah kendaraan bermotor dibanding kecepatan pembangunan jalan. pelabuhan. System jaringan jalan dengan peranan pelayanan. jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah ditingkat nasional dengan simpul jasa distribusi disebut jaringan jalan primer. social. yaitu sebagai unsur penting yang melayani kegiatan-kegiatan yang sudah/sedang berjalan (the servicing function) dan sebagai unsur penggerak penting dalam proses pembangunan (the promoting function). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki flow/jaringan transportasi untuk mengurangi masalah yang muncul yaitu dengan melakukan intervensi pada sarana transportasi. Hal ini menggambarkan bahwa system penyediaan dan system permintaan terdapat ketimpangan sehingga system transportasi tidak berjalan dengan efektif dan efisien. biaya murah dan efesiensi waktu. sistem jaringan (prasarana) meliputi jalan dan terminal. system jaringan jalan dan kendaraan bermotor tidak dapat dipisahkan. hampir pasti bahwa pola tata guna lahan dan tingkat pelayanan transportasinya mengalami perubahan. Pengaturan tata guna lahan di kota-kota saat ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. 4. lintasan penyeberangan. Salah satu contoh dari permasalahan yang ditimbulkannya yaitu dapat menimbulkan kemacetan diakibatkan kapasitas jaringan jalan tidak sesuai dengan kendaraan yang ada. Dalam angkutan jalan raya.

dll) mempunyai karakteristik bangkitan lalu lintas maupun pergerakan yang berbeda-beda. perdagangan. polusi. konservasi energy dan penurunan kesehatan masyarakat adalah beberapa dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pergerakan kendaraan bermotor. Jarak yang terlalu jauh yang mengakibatkan land use yang jauh jaraknya bakal ditinggalkan dan akan beralih fungsi. 5. juga sebagai suatu langkah antisipasi dalam peningkatan kepadatan lalu lintas. Hal ini akan berakibat pada menipisnya lapisan ozon yang selanjutnya mengakibatkan sesak napas. Volume dan pola lalu lintas pada jaringan transportasi akan mempunyai efek feedback atau timbal balik terhadap lokasi tata guna tanah yang baru dan perlunya peningkatan prasarana. Sebaran geografis antara tata guna tanah (sistem kegiatan) serta kapasitas dan lokasi dari fasilitas transportasi (sistem jaringan) digabung untuk mendapatkan volume dan pola lalu lintas (sistem pergerakan).id/search?hl= id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGAN+TRANSPORTASI&btnG=Telus uri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Dari tinjauan masalah transportasi dan dampaknya pada lingkungan. sehingga alih fungsi ini akan menimbulkan masalah baru.dan kanker. batuk. mobil) Land use yang berbeda menghasilkan lalu lintas pada waktu yang berbeda.massal. penyakit paru-paru.Konsentrasi Karbon monoksida yang tinggi pada jalan yang padat akan menghalangi aliran oksigen untuk para pengemudi. Transportasi dan Dampak Lingkungan Kemacetan. sakit kepala. Kemacetan lalu lintas juga dapat membahayakan kesehatan.google. Bangkitan lalulintas. Tingkah laku agresif dan reaksi psikologis juga berhubungan dengan kondisi kemacetan lalu lintas (GAO dalam http://www. maka dapat dilihat kontribusi yang sangat besar dari masalah transportasi terhadap kenyamanan dan kelestarian . Beberapa tipe antara lain :    Tipe land use yang menghasilkan lalu lintas yang berbeda dengan land use lainnya Land use yang berbeda menghasilkan tipe lalu lintas yang berbeda (pejalan kaki. menimbulkan polusi yang berlebihan. Ada 2 masalah dalam meminimalkan pergerakan akibat land use yaitu a. Kemacetan lalu lintas tidak hanya mengurangi efisiensi pengoperasian transportasi. b. perkantoran. penyakit jantung.co. sehingga akan mempengaruhi kinerja pengemudi. Bangkitan lalu lintas tergantung dari land use sebuah daerah (permukiman. tetapi juga membuang waktu dan energy. industry. dimana dengan hal tersebut kita dapat mengurangi system pergerakan pada jalan raya. membahayakan kesehatan masyarakat dan mempengaruhi ekonomi masyarakat. truk. Dalam hal ini perlunya dalam rencana tata guna lahan memperhatikan zona-zona pembagian berdasarkan aktivitas penduduk yang saling berkaitan juga dalam rencana kota distribusi penduduk juga harus diperhatikan agar distribsi ruang dan distribusi .

dengan kata lain maka kebutuhan akan lahan pun semakin meningkat. Sebagai dampaknya kebutuhan transportasi meningkat pesat sedangkan sarananya sangat terbatas. perawatan maupun pemakaian bahan bakar yang seminimal mungkin dapat memberikan pencemaran terhadap lingkungan. Tetapi sekarang kawasan ini tumbuh menjadi kawasan perkantoran kelas satu termasuk kantor-kantor komersial. ekonomi. akibatnya kemacetan dan kepadatan lalu lintas tidak dapat dihindarkan. kalau akhirnya Jakarta diserbu oleh pendatang (urban) yang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. maupun Jakarta 1985-2005 Structure Plan. Pengaturan tata guna lahan di Jakarta ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. pada siang hari. sehingga dapat menjadi alternative terbaik bagi masyarakat dan dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi. Tidak salah. 2005:141). sedangkan berdasarkan perkiraan. Studi Kasus Permasalahan Transportasi akibat perubahan guna lahan di Jakarta Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia. dan perdagangan. Jalur lalu lintas sangat padat terutama pada jam-jamsibuk. Yang menjadi persoalan dimana lahan yang tersedia tidak bertambah akan tetapi jumlah penduduknya semakin hari semakin meningkat. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah suatu pola pembangunan yang bertujuan untuk mencukupi /memenuhi kebutuhan generasi penduduk masa kini tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan dating untuk mencukupi /memenuhi kebutuhannya. Dari aspek accessibility kawasan ini mudah dicapai dari segala arah. politik. namun implementasi-nya masih seringkali berubah dan tidak sesuai karena adanya berbagai kebutuhan dan kendala. penduduk Jakarta bisa mencapai 12 juta jiwa. 6. (World Comission on Environment and Development/WCED (1987) dalam Yunus.392 jiwa. tahun 2007. Konsep kedua adalah perbaikan mutu gas buangan dari kendaraan bermotor. tetapi pelayanan transportasi tidak cukup baik. Hal ini terjadi karena lokasi tersebut yang sangat strategis dibandingkan lokasi lain.lingkungan. Pengaturan ini sudah diarahkan. dengan sebagian besar untuk pemukiman kelas atas yang disediakan untuk para diplomat serta perkantoran. baik dalam Jakarta 1965-1985 Master Plan. Konsep yang pertama adalah usaha untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang ada.706. Hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. sebagai ibukota Negara. Untuk mengatasi permasalahan ini sedikitnya terdapat tiga konsep yang dapat diberikan. baik dari segi desain. pada awalnya wilayah ini dalam Jakarta Struktur Plan 2005 diarahkan untuk pengembangan kawasan campuran. Konsep yang ke tiga adalah usaha mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan sehingga pemborosan energy dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi. posisi Jakarta memegang posisi sangat penting dalam hal. . jumlah penduduk Jakarta adalah 7. hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan sarana transportasi massal yang nyaman. berdasarkan catatan resmi catatan sipil. Sebagai contoh adalah kasus di Kuningan. Dengan kondisi ini maka kebijaksanaan tata guna lahan di kawasan ini dirumuskan kembali dengan konsep superblock system dan high rise building.

Meningkatkan pelayanan system transportasi bagi masyarakat. Namun dalam realitanya. E. Rustian. sehingga meminimalisir permasalahan yang muncul. Penutup 1. Ekonomi Transportasi. Saran    Melakukan intervensi pada system transportasi baik pada aspek prasarana. kebijaksanaan transportasi masih mengacu pada Jakarta Struktur Plan 2005. 2003. permasalahan system transportasi tersebut merupakan masalah yang kompleks yang melibatkan banyak aspek.co.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&o D. Dasar-dasar Rekayasa Transportasi. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kebijaksanaan tata guna lahan yang baik belum tentu dapat mendukung pemecahan masalah transportasi.google.Jotin dan Lall.    System transportasi merupakan suatu system dalam pengembangan suatu perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan penggunaan lahan belum didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. Kesimpulan Berdasarkan uraian pembahasan sebelumnya maka dapat kami simpulkan bahwa :. Karena masih ditentukan oleh implementasinya yang banyak dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang dianggap lebih penting dan mendesak dari penataan guna lahan itu sendiri. yang jelas-jelas sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perkembangan yang ada. Erlangga : Jakarta . walau terjadi perubahan fungsi kegiatan (tata guna lahan).google.Kent. B. maka kawasan ini sangat memerlukan alat dan sarana transportasi baru. sarana dan manajemen secara tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul.Dengan luas area 325 ha dan lebih dari setengah juta pekerja.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGA N+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq Kamaluddin. Interaksi tata guna lahan dan system transportasi merupakan indicator yang mesti diperhatikan dalam melakukan perencanaan system jaringan transportasi guna terciptanya pembangunan yang berkelanjutan tanpa merusak ekologi yang ada. C.co. Daftar Pustaka http://www. 2. Kebijaksanaan penggunaan lahan seharusnya didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. pihak dan system yang terkait maka diperlukan pendekatan system yang tepat pula yang mencakup aspek yang terkait. Ghalia Indonesia: Jakarta Khisty. (http://www. 2003.

Pengantar Planologi. Erlangga : Jakarta Sudjarto. 2001. Pendahuluan Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan di segala bidang. Dalam makalah ini juga dibahas mengenai berbagai macam masalah perkotaan yang menghambat pembangunan yang berkelanjutan yang sangat terlihat jelas yaitu masalah urbanisasi yang tidak terkendali yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan sehingga mempengaruhi secara langsung kondisi lingkungan dan kondisi keamanan perkotaan. Perencana. Hadi Sabari. A. Dengan melihat kondisi seperti sekarang ini. agar dapat terus- . perlu memperhatikan fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sehinnga dibutuhkan keahlian dari perencana kota yang dapat membuat perencanaan yang disatu pihak dapat memecahkan masalah urbanisai dan dilain pihak memperkaya fungsi kota dengan menata ruang perkotaan yang berdaya guna memenuhi segala macam aktivitas perkotaan. Djoko.Miro. 2004. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. dimana terwujudnya pembangunan berkelanjutan merupakan dambaan tiap kawasan atau kota dalam melaksanakan pembangunannya sebab dengan terwujudnya pembangunan bekelanjutan berarti telah menjamin kesejahteraan kehidupan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan dating dalam segala dimensi kehidupan. 2005. Contoh kasus ini menunjukkan tingkat kemiskinan yang signifikan yang berakibat pada banyaknya muncul permukiman kumuh yang dapat mengganggu keindahan kota serta mengakibatkan pencemaran lingkungan. Manajemen Kota Perspektif Spasial. Dalam makalah ini juga terdapat contoh kasus yang meperlihatkan kondisi pembangunan yang tidak berkelanjutan di Kacamatan Tambora kotamadya Jakarta Barat. Fidel. dimana ketersediaan lahan semakin terbatas maka dibutuhkan para perencana kota yang dapat mengatasi masalah kompleks perkotaan yang menghambat terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Comments: Be the first to comment HAMBATAN DALAM SISTEM PEMBANGUNAN PERKOTAAN YANG BERKELANJUTAN Posted December 28. ITB : Bandung Yunus. Pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan memanfaatkan tekhnologi. Dalam pola pembangunan tersebut. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Oleh: Syahriar Tato Abstrak Dalam makalah ini dipaparkan mengenai pembangunan yang berkelanjutan. dan Praktisi. Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa. 1.

Sedangkan jika harapan tersebut tidak tercapai berarti. kelembagaan sosialnya. Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan. pembangunan tidak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi tetapi juga haruslah melihat aspek keadilan terhadap lingkungan. perencanaan dan proses pembelajaran sosial yang terpadu. Model pembangunan yang merakyat berarti berangkat dari masyarakat. sustainable development. Definisi ini menunjukan bahwa adanya suatu pembangunan karena suatu kebutuhan. Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. Sinergi tiga aspek tersebut yaitu. masyarakat. maka diperlukan juga keberlanjutan pada sisi ekologis. bisnis. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah . Dengan demikian pembangunan mempunyai hubungan yang erat dengan masalah. viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya. akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi dan sosial dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat. ekonomi. dan sebagainya) yang berprinsip ―memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan‖. kota. Lingkungan bagi ummat manusia adalah salah satu modal dasar dalam pembangunan. pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan. secara tidak langsung akan mempengaruhi keberlanjutan produktifitas manusia di masa yang akan datang. Pengertian pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial dimana masyarakat bergantung padanya. Lingkungan sehat. lestari. hal itu adalah masalah. Adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah suatu harapan. sosial dan budaya didalam pembangunan disebut dengan Pembangunan Berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja. Hal ini menyebabkan peningkatan laju pembangunan lama untuk mencapai suatu pertumbuhan pembangunan yang merakyat. kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memafaatkannya. Menurut Brundtland Report dari PBB 1987. dan kegiatan dunia usahanya. Proses pembangunan terutama bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat baik secara spiritual maupun material. Bagi manusia. dalam konteks tersebut selain keberlanjutan dari sisi ekonomi dan sosial. bersih. dan masalah. Pembangunan yang tidak bertitik tolak dari masalah berarti ada indikasi kesalahan konsep dan model pembangunan tersebut berorientasi pada penyelesaian masalah sebagai penyebab akar masalah bukan akar masalahnya. Karena titik tolak pembangunan dimulai dari tindakan mengurangi masalah tersebut dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan meningkatkan untuk mencapai suatu tingkatan yang layak. Pembangunan berkelanjutan adalah satu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan.menerus menunjang kegiatan atau proses pembangunan yang berkelanjutan. Artinya.

Apa yang menjadi masalah internal perkotaan.bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. B. C. Bagaimana masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan. Untuk mengidentifikasi kemiskinan di perkotaan .wikipedia. Dalam pembahasan/penulisan ini dibahas mengenai hambatan dalam pembangunan berkelanjutan khususnya masalah internal perkotaan sebagai sistemnya dan sebagai subsistemnya dibatasi pada pada 3 masalah yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. (http://id. Rumusan Masalah Dari pembahasan diatas. tentunya masih saja ada hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan itu sendiri. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. Namun. (http://muhlissuhaeri. 1. 4.blogspot.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan) Ada dua makna gagasan yang terkandung didalam cara pandang pembangunan berkelanjutan yaitu : gagasan kebutuhan. yaitu kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia dan gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan oerganiasi social terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan. Yang tak kalah pentingnya adalah pengakuan dan perawatan keanekaragaman budaya yang akan mendorong perlakuan yang merata terhadap tradisi berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti oleh masyarakat. Tujuan dan Kegunaan 1.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-. 1. Bagaimana masalah kemiskinan di perkotaan. Hambatan dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan diantaranya diantaranya masalah internal dan eksternal perkotaan. Bagaimana masalah keamanan dan ketertiban kota. Untik mengidentifikasi masalah internal perkotaan 2. Tujuan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban kota. 1.) Pembangunan berkelanjutan juga mensyaratkan adanya pemeliharaan keanekaragaman. 2 . 3. Pemeliharaan keanekaragaman hayati untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang. maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan penulisan ini adalah : 1.

2. Untuk mengidentifikasi keamanan dan ketertiban kota 5. proses-proses yang terjadi di dalam masyarakat dan antara masyarakat dan lingkungannya. Untuk mengetahui masalah internal perkotaan. Untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup perkotaan. Pada tahun 1987. Permasalahan pembangunan berkelanjutan juga tak dapat diabaikan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan dan tekonologi. Untuk mengetahui kemiskinan di perkotaan. D. seperti juga mahluk hidup lainnya. dalam menjelaskan konsep pembangunan berkelanjutan ini. Perencanaan kota bertujuan menyelesaikan atau mengatasi permasalahan kota melalui penyediaan ruang untuk semua kegiatan masyarakat yang kompleks. Untuk mengetahui keamanan dan ketertiban kota. . Untuk mengidentifikasi kualitas lingkungan hidup perkotaan 4. Tokyo yang memiliki kualitas pembangunan yang berkelanjutan yaitu cara berpikir yang integrative. yang bergelut di bidang pembangunan. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. Evaluasi itu dapat dilakukan dengan beberapa cara.3. Selain itu. Salah satu cara adalah evaluasi berdasarkan criteria pembangunan berkelanjutan. termasuk ilmu perencanaan kota. Barbier mengusulkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai interaksi antara tiga system : sistem biologis dan sumber daya. 2005: 375-377) Beberapa pemikir dibidang perencanaan dan perancangan kota. ekofeminisme dan sebagainya Proses pembangunan berkelanjutan di perkotaan dapat diketahui dengan melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan-kawasan di kota tersebut. berkembang etika lingkungan non-antroposentris sebagai salah satu akibat terjadinya krisis-krisis lingkungan. 4. Konsep pembangunan yang berkelanjutan ini terus berkembang. seperti juga semua mahluk hidup lainnya. perlu perencanaan dan perancangan yang bersifat ekologis dan berlandaskan etika non-antroposentris. yang menghasilkan kebijakan rencana kota. serta lingkungan buatan di perkotaan. adalah untuk mencapai proses pembangunan yang berkelanjutan. Singapura. perspektif jangka panjang mempertimbangkan keanekaragaman dan distribusi keadilan social ekonomi. baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. sadar atau tidak sadar. Etika lingkungan non-antroposentris itu terbagi atas beberapa aliran. Etika lingkungan non-antroposentris memandang manusia sebagai anggota komunitas hidup di dunia. Pembahasan Permasalahan pembangunan berkelanjutan sekarang telah merupakan komitmen setiap orang. bioregionalisme. Budimanta membandingkan perkembangan kota Jakarta dengan kota-kota lain di Asia. sistem ekonomi dan sistem sosial. Sejak paruh abad ke-20. Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan sebagai hasil debat antara pendukung pembangunan dan pendukung lingkungan. 3. seperti biosentris. 5. 2. Kegunaan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. (Arif Budimanta Dalam Bunga Rampai. Ini berarti tujuan kegiatan perencanaan kota. yaitu kebijakan yang menjadi pedoman utama pembangunan kota. Edward B. berpendapat bahwa untuk mencapai proses pembangunan berkelanjutan. yaitu Bangkok.

menyebabkan mereka para pendatang yang tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bersaing di perkotaan memaksa mereka untuk terpinggirkan sehingga menjadi warga miskin di perkotaan. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban perkotaan. sebelum itu urbanisasi juga sudah berjalan tapi lebih lambat dan terbatas. Ketidakadilan itu menyebabkan masyarakat miskin tetap miskin dan mengancam proses pembangunan yang berkelanjutan. Pengertian kemiskinan sendiri bermakna multi-dimensi dari mulai rendahnya pendapatan. kurangnya penghargaan social. Kondisi kekumuhan ini menunjukkan seriusnya permasalahan sosial ekonomi. dan lingkungan yang bermuara pada kondisi kemiskinan. 1. poltik. 2005: 405) Berikut dibahas mengenai tiga sub sistem masalah internal perkotaan yang merupakan hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. Ketidakadilan itu terlihat dari tidak terpenuhinya kebutuhankebutuhan mereka untuk bertahan hidup dalam kesehatan yang baik.(Soefaat. 1. Sebagai akibat itu semua. baik di Negara maju maupun di Negaranegara yang sedang berkembang. pelayanan pendidikan dan sebagainya. kekurangan gizi dan nutrisi. Ketidakadilan juga terlihat dari tidak adanya akses kepemilikan hak atas tanah yang mereka huni. adanya urbanisasi. Masalah lain yaitu. 1999: 43) . Yang paling mudah dan terlihat jelas dari wajah kemiskinan perkotaan ini adalah kondisi jutaan penduduk yang tinggal di permukiman kumuh dan liar.kriteria pembangunan berkelanjutan di perkotaan dirumuskan berdasarkan pemikiran-pemikiran yang berkembang seperti diuraiakan diatas. Di Indonesia perkembangan ini cepat sekali sejak tahun 70-an. sulitnya mendapat akses ke pelayanan publik (sanitasi sehat. sulit bagi mereka untuk mendapat akses ke pekerjaan yang baik dan stabil. air bersih. RTH. pengelolaan sampah ) rumah sehat. Urbanisasi hampr terjadi dimanapun diseluruh dunia disebabkan oleh perkembangan ekonomi dan daya tarik perkotaan yang kadang menjebak bagi mereka yang tidak mampu bersaing sehingga menjadi terpinggirkan. tidak layaknya tempat tinggal. Masalah Kemiskinan di Perkotaan Kemiskinan merupakan salah satu contoh ketidakadilan yang dialami suatu kelompok (masyarakat pra sejahtera). dan terdapat di mana-mana. ketidakamanan. kondisi permukiman buruk atau kumuh dalam suatu kawasan memperlihatkan bahwa kawasan tersebut sedang dalam proses tidak berkelanjutan. dan pemahaman bahwa kemiskinan dan kerusakan lingkungan adalah ancaman utama pembangunan berkelanjutan. Kemiskinan serta kerusakan lingkungan hidup merupakan ancaman utama bagi proses pembangunan berkelanjutan dengan melihat tujuan dari pembangunan berkelanjutan yaitu mencapai masyarakat sejahtera (masyarakat berkelanjutan) dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan. 2005: 410) Saat ini masalah kemiskinan perkotaan merupakan masalah mendesak yang banyak dihadapi kota-kota di Indonesia. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. sebagai pengangguran. Kerusakan lingkungan. Daya tarik kota sebagai pusat mata pencaharian yang membengkak ini sering dibarengi dan diperbesar oleh kemunduran ekonomi diluar kota. dan lain-lain.

Yang menjadi kunci permasalahan adalah mengapa pasokan hulu dan hilir tidak dikembangkan secara mandiri di tingkat lokal dan nasional. Apalagi. dan dampak sampai kepada sektor pertanian. Hanya saja hingga ssat ini pengelolaan sumberdaya tersebut belum optimal. Deputi perdana menteri Malaysia. seperti kita ketahui pada jenis tersebut tidak dapat tumbuh tanpa dipupuk dan diberi pestisida.Krisis ekonomi meningkatkan angka kemiskinan absolut di daerah perkotaan. Sehingga begitu dollar AS naik. baik hayati maupun nonhayati. dalam menetapkan strategi jangka pendeknya. Bersamaan dengan itu. Swasembada bahan pangan yang kita lakukan masih mengalami hambatan sebab meskipun Negara kita hidup dalam pola agraris. 2005 : 7). telah menginstruksikan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian untuk menghentikan import sayur-sayuran dan buah-buahan. Kebutuhan masyarakat. Padahal. baik hulu maupun hilir dapat dilepaskan. melalui pancausaha tani pemerintah mengharuskan petani menggunakan varietas benih unggul padi. kebutuhan kita akan barang-barang. Dalam kondisi seperti ini kita dapat belajar pada Negara tetangga kita Malaysia. Kebutuhan bahan pokok sebenarnya mampu kita penuhi. harganya pun ikut naik. Sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin melakukannya. Namun demikian. Oleh karena itu. termasuk harga-harga kebutuhan pokok yang dampaknya menyentuh segenap lapisan masyarakat. mengingat bangsa Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Penduduk perkotaan yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat secara signifikan sejak terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997. padahal tidak ada satu pun industri yang bahan bakunya tidak tergantung impor. baik pangan. tetapi ketergantungan terhadap agro-industri. Ketergantungan petani terhadap bibit tersebut menyebabkan petani tidak menjadi orang bebas. Datuk Anwar Ibrahim. Sebagai contoh. Seharusnya dengan kekayaan hayati tersebut. seringnya nilai tukar rupiah merosot terhadap nila dollar AS menimbulkan kenaikan harag berbagai jenis barang. semuanya merupakan produk olahan yang menggunakan bahan dasar sumber daya hayati. Selain itu. dalam pengadaan beras. Sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk mengentaskan atau mengurangi kemiskinan dengan berbagai programnya. yang awalnya yang diperoleh dari IRRI (Iinternasional Rice Research Institut). Kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki hingga saat ini bellum dimnafaatkan secara optimal. Swasembada bahan pokok seharusnya dapat kita lakukan. khususnya yang berdasar sumber daya hayati. paling tidak untuk mencukupi kebutuhan sendiri. sandang. Upaya praktis ini tentu saja tidak dapat secara makro memperbaiki kondisi ekonomi kita. Pada dasarnya hal ini tidak akan terjadi apabila semua kebutuhan pokok tersebut dapat dicukupi oleh kita sendiri. namun paling tidak sejumlah devisa dapat dihemay dan lapangan kerja pertanian dapat digairahkan kembali. dapat kita penuhi sendiri. dibutuhkan kebijakan yang tegas dari pemerintah Indonesia dalam melihat masalah ini. untuk kembali memperdayakan petani. maupun papan. Mereka diberikan peluang untuk membudidayakan bibit-bibit . mengingat produk-produk bahan poko tersebut berasal atau bersumber dari sumber daya hayati. beliau menginstruksikan agar masyarakat mau memberdayakan sumber daya lahan yang tersedia untuk menanam sayur-sayuran. tampaknya dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang ini. Hal tersebut mengakibatkan petani sangat tergantung pada indutri pupuk dan pestisida. (Gita Chandrika Dalam Bunga Rampai. kemiskinan masih tetap merupakan masalah penting sehingga perlu ditangani secara bersama-sama terutama dikawasan perkotaan. maka kekuasaan atas bibit harus dikembalikan kepada mereka.

lokal yang sudah ada. kondisinya sangat rentang dan keropos. bukan dalam pengertian mampu memberikan daya hidup pada komunitas desa. Semuanya itu disebabkan kita belum pernah mengadakan penelitian bioteknologi. keluarga kekerabatan. tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak lainnya. karena ada pandangan bahwa pola pertanian yang ada selama ini tidak memberikan nilai tambah. Nilai tambah yang dimaksud dalam konteks tersebut adalah yang bisa memberikan konstribusi devisa. serta bagaimana struktur rumah tangga. Kedelai hingga kini masih harus diimpor. menjadi kawasan industri dan kawasan permukiman perkotaan. Paradigma baru lebih menekankan pada ―apa yang dimiliki si miskin ‖ ketimbang ‖ apa yang tidak dimiliki si miskin ‖. sebagai ajang konversi. 2007: 46-50) Penelitian – penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemiskinan tidaklah statis. diganti dengan pola modern yang tergantung pada industri. Dementara industry yang diharapkan mampu menopang sektor pertanian. Tempe. dalam rangka peningkatan ketahanan akan kebutuhan bahan pokok. Kultur agraris yang menjadi basis pertahanan ekonomi desa telah hilang maupun ditinggalkan. yang dapat mendukung pola agraris yang kita miliki agar efisien. karena ketergantungannya pada bahan baku impor. Untuk itu. Rebounding atau pelurusan kembali makna keberfungsian sosial ini akan lebih memperjelas analisis mengenai bagaimana orang miskin mengatasi kemiskinannya. karena investasi yang ada selama ini bukan untuk pembangunan industri yang berbasis sumber daya alam hayati (agroindustry). ketergantungan petani dari jaringan internasional industri bibit akan hilang dan memunculkan kekuatan lokal.(Sugandi. Ketahanan kita akan kebutuhan bahan pokok sangatlah kurang. sangatlah naif. tetapi menuju ke langit. dan jaringan sosial mempengaruhi kehidupan orang miskin. Pendekatan kemiskinan yang berkembang selama ini perlu dilengkapi dengan konsep keberfungsian sosial yang lebih bermatra demorasi-sosial ketimbang neo-liberalisme. Orang miskin bukanlah orang yang pasif. Krisis ekonomi yang menyebabkan naiknya harga kebutuhan bahan pokok telah menimbulkan berbagai kerusuhan. Kerusuhan ini bahkan telah menembus sampai kawasan pedesaan atau kawasan pinggiran kota. Kebijakan tegas untuk meninggalkan kultur agraris. Kelangsungan hidup individu dalam situasi seringkali tergantung pada keluarga yang secara bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan pemberian bantuan keuangan. Penelitian yang ada selama ini bukan membumi. yang merupakan makanan Indonesia sejak dahulu kala. Ia adalah manajer seperangkat asset yang ada di seputar diri dan lingkungannya. (Suharto. Bahkan kecenderungannya adalah mengubah kawasan pedesaan yang mampu mandiri berbasis pertanian keanekaragaman hayati. Bila hal ini dilakukan. 2005 : 148) . Keadaan ini terjadi pada orang yang miskin yang hidup di Negara yang tidak menerapkan sistem Negara kesejahteraan (welfare state). diperlukan upaya pembangunan daerah yang berbasis keanekaragaman hayati setempat. Sistem yang dapat melindungi warganya menghadapi kondisi-kondisi yang memburuk yang mampu ditangani oleh dirinya sendiri. Hal ini disebabkan desa telah kehilangan daya tahan menghadapi krisis. ternyata kita belum mampu menjadi produsen bahan baku kedelainya hingga kini.

menghargai etika dan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan di lingkungan alam. melainkan berubah-ubah menurut umur orang atau golongan. Pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup manusia. yang mengakibatkan rusaknya struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. tempat dan waktu. yaitu mengurangi resiko lingkungan atau dan memperbesar manfaat lingkungan. Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan manusia. 2. Perubahan hutan menjadi sawah merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan untuk produksi bahan makanan dibawah kondisi curah hujan yang tinggi dan juga untuk mengurangi resiko erosi di daerah pegunungan. yaitu melibatkan partisipasi masyarakat melalui dialog-dialog yang demokratis. perlu diganti dengan pendeketan bottom-up. Masalah Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Pembangunan pada hakikatnya adalah perubahan lingkungan. keadilan dan kesetaraan jender. Manusia merupakan subjek sekaligus objek pembangunan. Keberlanjutan pembangunan harus memadukan lingkungan hidup. pembangunan yang makin meningkat akan memberikan dampak negatif. berupa resiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Dengan perubahan hutan atau tata guna lahan lain menjadi sawah berubahlah pula keseimbangan lingkungan. Ilmu pengetahuan modern antroposentris sebagai dasar perencanaan kebijakan publik untuk mengelola kehidupan masyarakat dan lingkungan perlu diganti dengan ilmu pengetahuan yang bersifat non-antroposentris. . 2005 : 418) 1. termasuk sumber daya alam. sehingga apa yang menjadi tujuan pembangunan akan sia-sia. sehingga menuntut tanggung jawab dan perannya untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. diperlukan pendekatan pembangunan yang menitikberatkan pada segi manusia. Manusia berada pada posisi sentral sahingga pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilya tidak boleh mengabaikan dimensi manusianya. Karena itu melestarikan keserasian bertentangan dengan hakekat hidup yang menginginkan perubahan. Untuk dapat melakukan hal tersebut. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari pembangunan manusia itu sendiri. Jadi jelaslah keserasian bukanlah suatu hal yang kekal. Hingga sekarang pencetakan sawah masih berjalan terus. serta pengembangan sumber daya buatan. yaitu pemerintah dan para pakar menganggap dirinya yang paling mengetehaui tentang proses-proses yang terjadi dimasyarakat.Pada akhirnya kebijakan pengurangan kemiskinan yang selama ini yaitu pendekatan top-down dalam perencanaan kebijakan yang sekarang dilakukan. Karena itu akan berarti menurunkan mutu lingkungan dan dengan itu mutu hidup. Di lain pihak. Sejak berabad tahun yang lalu nenek moyang kita telah merubah hutan menjadi daerah pemukiman dan pertanian. serta menjadi jaminan bagi kesejahteraan serta mutu hidup generasi masa kini dan generasi mendatang. Kerusakan ini pada akhirnya akan menjadi beban yang malah menurunkan mutu hidup manusia. menghargai perbedaan-perbedaan. sumber daya manusia. Melestarikan keserasian akan berarti meniadakan kebutuhan dasar untuk dapat memilih. dan menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan. (Madrim Djody Gondokusumo Dalam Bunga Rampai.

Permasalahan ketersediaan tanah di perkotaan sebagai lahan hijau sangat terbatas. Selain harga tanah yang mahal, juga kurangnya penghargaan bagi pemilik tanah terlantar untuk dimanfaatka sebagai lahan terbuka hijau. Penggunaan ruang terbuka hijau mulanya diawali dengan tumbuhnya perumhana liar yang semakin luas dan sulit dikendalikan, yang selanjutnya menimbulkan terbentuknya kawasan kumuh. Apalagi para penghuni tersebut dikenakan pajak tidak resmi sehingga mereka merasakan seolah mendapatkan legalitas untuk tinggal di tempat tersebut. Begitu juga, disisi lain factor urbanisasi, khususnya golongan berpendapat rendah dan kurangnya tingkat pendidikan, mendorong mereka untuk menduduki lahan ruang terbuka hijau. Seperti pemanfaatan tepian tepian bantaran sungai dan tepian jalur kereta api sebagai tempat tinggal. (Soemarwoto, 1983 : 60-61) Secara sistem, ruang terbuka hijau kota pada dasarnya adalah bagian dari kota yang tidak terbangun, yang berfungsi menunjang kenyamanan, kesejahteraan, penigkatan kualitas lingkungan, dan pelestarian alam, umumnya terdiri dari ruang pergerakan linear atau koridor dan ruang pulau atau oasis (Spreigen 1965). Perencanaan ruang terbuka hijau secara tepat mampu mampu berperan dalam menigkatkan kualitas atmosfer kota, penyegaran udara, menurunkan suhu kota, menyapu debu permukaan kota, menurunkan kadar polusi udara dan meredam kebisingan. Penelitian Embleton (1963) menyatakan bahwa 1 hektar ruang terbuka hijau dapat meredam suara pada 7 db per 30 meter jarak dari sumber suara pada frekuensi kurang dari 1000 CPS , atau penelitian Carpenter (1975) dapat meredam kebisingan 25-80 %. Kualitas udara bersih merupakan factor luar yang sangat berpengaruh. Karena itu, keberadaan ruang terbuka hijau kota merupakan eksternalitas ekonomis, bukan disekonomis. Artinya, ruang terbuka hijau akan menyebabkan seseorang atau beberap individu menjadi lebih sehat dan baik. Dengan demikian, ada kemauan untuk menerima ruang terbuka hijau dari penigkatan aktivitas lain yang menguntungkan. Oleh karena itu, perencanaan ruang terbuka hijau kota merupakan manfaat sosial yang terdiri dari surplus konsumen sekaligus juga merupakan surplus produsen, sehingga umumnya kesejahteraan (kesehatan) penduduk kota meningkat akibat lingkungan yang sehat. Pelaku-pelaku yang terlibat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau kota terdiri atas sebagai berikut : 1. a. Pemerintah Kewajiban pemerintah kota, dalam hal ini instansi/lembaga dinas pertamanan, dan dinas kehutanan adalah mengadakan dan menyelenggrakan pembangunan secara adil untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kota, termasuk di dalamnya bidang keamanan, kenyaman, dan keserasian. Apabila hal ini dikaitkan dengan jenis ruang terbuka hijau yang ada maka ruang terbuka hijau yang harus disediakan oleh pemerintah adalah ruang terbuka hijau korodor yang meliputi: jalur hijau kota dan jalur hijau jalan; ruang terbuka hijau produktif yang meliputi kawasan pertanian kota, perairan/tambak; ruang terbuka hijau konservasi yang meliputi kawasan cagar alam dan hutan kota; ruang terbuka hijau lingkungan yang meliputi kawasan taman lingkungan dan bangunan, serta permakaman, perkantoran dan kebun binatang 1. b. Swasta

Peranan swasta sebagai pelaku ekonomi kota, yang bergerak di sektor formal maupun informal, tidak secara mutlak berkewajiban untuk melaksanakan pengadaan ruang terbuka hijua kota. Melalui pertimbangan-pertimbangna tertentu serta pengkajian dari sudut pandang swasta, dapat disediakan ruang terbuka hijau yag memungkinkan untuk dikelolah oleh swasta, yaitu ruang terbuka hijau untuk keindahan/estetika; ruang terbuka hijau untuk rekreasi; ruang terbuka hijau lainnya yang dapat dikomersialkan. 1. c. Masyarakat Kota Peran serta masyarakat, baik secrara individual maupun kelembagaan terhadap ruang terbuka hijau lebih terbatas pada pemanfaatan dan pemeliharaan. Dari segi perencanaan maupun pengadaannya, peran serta masyarakat sangat kecil sekali. Hal ini disebabkan keberadaan ruang hijau kota biasanya terbentuk oleh adanya tanah kosong yang belum/tidak dimanfaatkan. Kelangsungan keberadaannya tidak dapat dijamin, sehubungan dengan sifat penguasaan tanahnya yang lebih banyak bersifat individu (bukan tanah negara). 1. d. Media Massa Media massa, baik media elektronik maupun media cetak, ikut berperan sebagai pelaku dalam pengelolaan ruang terbuka hijau, khususnya dalam menciptakan opini publik terhadap pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan. Disamping hal tersebut, fungsi media massa juga bermanfaat untuk ikut mengawasi perkembangan ruang terbuka hijau. (Sugandy, 2007 : 103-105 ) Indonesia sudah mulai menyadari bahwa untuk mencapai masyarakat perkotaan masyarakat kehidupan perkotaan yang sejahtera, kualitas lingkungan hidupnya harus baik, karena akan beperngaruh pada kualitas hidupnya (Quality Of Life). Masalah yang terkait dengan kualitas lingkungan hidup dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat kota, meliputi aspek fisik seperti kualitas udara, air, tanah; kondisi lingkungan perumahannya seperti kekumuhan, kepadatan yang tinggi, lokasi yang tidak memadai serta kulaitas dan keselamatan bangunannya; ketersediaan saran dan prasarana serta pelayanan kota lainnya; aspek sosial budaya dan ekonomi seperti kesenjangan dan ketimpangan kondisi antar golongan atau antar warga, tidak tersedianya wahana atau tempat untuk menyalurkan kebutuhankrbutuhan sosial budaya, seperti untuk berinteraksi dan mengejawantahkan aspirasi-aspirasi sosial budayanya; serta jaminan perlindungan hukum dan keamanan dalam melaksanakan kehidupannya. Kohesi sosial dan kesetaraan (Equity) merupakan faktor penting dalam kualitas hidup di perkotaan. Kekumuhan kota disebabkan karena sumber daya yang ada di kota tidak mampu melayani kebutuhan penduduk kota. Kekemuhan kota bersumber dari kemiskinan kota yang desebabkan karena kemiskinan warganya dan ketidakmampuan pemerintah kota dalam memberikan pelayanan yang memadai kepada warga masyarakatnya. Kemiskinan warga disebabkan karena tidak memiliki akses kepada mata pencaharian yang memadai untuk hidup layak, serta akses pada modal dan informasi yang terbatas. Kemiskinan ini akan berdampak pada kemampuan

warga untuk membayar pajak yang diperlukan untuk membangun fasilitas dan infrastruktur di kawasannya. Permasalahan utama prasarana dan saran perkotaan (PSP) termasuk perumahan adalah tidak memadainya suplay dibandingkan dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan terbatasnya kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pelayan PSP yang layak. Akibat dari keterbatasan suplay dibandingkan dengan kebutuhan, maka masyarakat yang berpenghasilan rendah justru harus membayar harga mahal untuk memperoleh pelayanan PSP tersebut. Berkaitan dengan perumahannya, mereka terpaksa menggunaka lahan-lahan secara liar dengan kualitas perumahan yang jauh dibawah standar. (Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 7-8 ) 1. 3. Masalah Keamanan dan Ketertiban Perkotaan Beberapa teror bom yang terjadi di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini, sperti di Bali, Jakarta dan lain-lain telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat perkotaan dan mengganggu jalannya perekonomian kota. Selain itu, beberapa kota di Indonesia juga mengalami penurunan kualitas kehidupan dengan banyaknya terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar kelompok masyarakat, seperti di Poso, Palu, Ambon, Banda Aceh dan sebagainya. Permasalahan ini diperberat dengan masalah ketertiban di perkotaan Karena tidak disiplinnya masyarakat perkotaan. Hal ini tercermin dengan jelas antara lain dalam disiplain berlalu lintas. Saat ini juga semakin sering terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah, terutama di kota-kota besar. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal seperti tidak adanya sosialisasi dari pemerintah, kurangnya pelibatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, kurangnya pemamhaman akan hak-hak dan tanggung jawab masyarakta dalm pembanguna kota dan lain sebagainaya. Semua hal tersebut diatas sangat berpengaruh pada kinerja kotanya.( Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 9-10) Kemampuan untuk membuat perencanaan yang di satu pihak memecahkan masalah urbanisasi dan dilain pihak memperkaya fungsi kota merupakan keahlian yang sangat diharapkan dari para perencana kota pada masa akan datang. Setiap kota, selain berusaha untuk meningkatkan fungsifungsi perkotaan yang bersifat standar, sebaiknya juga mengembangkan fungsi-fungsi khusus yang kompetitif secara global. Tetapi kedua hal di atas hanyalah suatu strategi umum dalam menyiasati permasalahan pengembangan kota, dan sebenarnya baru bisa terlaksana bila beberapa permaslahan pokok dari kota-kota di Indonesia telah diperbaiki secara substansial. (Santoso, 2006 : 61) 1. 4. Contoh Kasus Contoh dari hambatan pembangunan yang berkelanjutan akibat kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup, yaitu yang terjadi di Kacamata Tambora, kotamadya Jakarta Barat (melalui penelitian yang dilakukan pada tahun 2002-2003). Kecamatan Tambora adalah kecamatan yang berkepadatan penduduk tertinggi di DKI Jakarta, yaitu lebih dari 500 orang per hektar, memiliki permukiman kumuh atau buruk yang sangat luas dan kemiskinan yang sangat signifikan. Evaluasi yang dilakukan berdasarkan Perhitungan criteria pembangunan yang berkelanjutan di

Pencemaran itu disebabkan oleh berbagai sumber didalam dan luar Kota Jakarta. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-harus . lalat. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. subsistem Kecamatan Tambora tersebut diatas. nyamuk. seperti kecoa.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan http://muhlissuhaeri. serta sebagai akibat tidak berfungsinya pengelolaan sampah dan limbah air kota. dan sebagainya.wikipedia. yang merupakan faktor ekologis sebuah kota. Kerusakan lingkungan. dapat dilihat pada kondisi air. Bahwa hambatan dalam pencapaian pembangunan yang berkelanjutan adalah kemiskinan. 1. F. dapat dikelompokkan dalam tiga dimensi yang saling berinteraksi terus menerus. Bahwa masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadidi suatu kawasan tertentu memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses tidak berkelanjutan. dalam kasus Kecamatan Tambora. tetapi juga akan mempengs\aruhi sub-sub sistem lain yang membentuk kawasan itu Berdasarkan kesimpulan diatas. 1. Kesimpulan dan Saran Dari hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan: 1. Ancaman tersebut tidak hanya terjadi di kawasan itu saja. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. Hal itu tentunya juga mengancam subsistem-subsistem lain dalam system kota Jakarta. tanah. 3. tikus. keamanan dan ketertiban kota. dan udara yang telah tercemar. tetapi juga akan mempengaruhi subsistem-subsistem lain yang membentuk kota Jakarta. tercemar. Daftar Pustaka http://id. dll. E. Kondisi lingkungan pemukiman buruk atau kumuh seperti diuraikan diatas memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses yang tidak berkelanjutan.blogspot. yaitu dimensi social ekonomi dan lingkungan. maka adapun saran bagi pemerintah agar dapat menerapkan sistem pembangunan yang berkelanjutan seperti di negara-negara maju lainnya dengan jalan menanggulangi kemiskinan serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta keamanan dan ketertiban di perkotaan guna menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya di Indonesia sehingga dapat dirasakan bukan hanya untuk di masa sekarang melainkanjuga untuk generasi yang akan datang. tercemar.perkotaan (3 PRO) terhadap kecamatan itu memperlihatkan bahwa proses tidak berkelanjutan sedang berlangsung. Ancaman itu tidak hanya terjadi di dalam kawasan atau subsistem Kecamatan Tambora saja. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. 2. Tumpukan sampah di TPS juga merupakan sumber berkembangnya vektor-vektor penyakit. kerusakan lingkungan hidup. karena komponen-komponen pembentukan yang membentuk jaringan.

Bunga, Rampai. 2005. Pembangunan Kota Indonesia Dalam Abad 21, Konsep dan Pedekatan Pembangunan Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI Santoso, Jo. 2006. Menyiasati Kota Tanpa Warga. Gramedia :Jakarta Soefaat. 1999. Hubungan Fungsional Teknik Sipil dengan Tata Ruang Kota dan Daerah Jilid 1. PT. Mediatama Saptakarya : Bandung Soemarwoto, Otto. 1983. Ekologi Lingkungan hidup dan Pembangunan. Djambatan : Jakarta Sugandhy, Aca dan Hakim, Rustam. 2007. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Bumi Aksara Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. PT. Refika Aditama: Bandung. Comments: Be the first to comment

ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA PERMUKIMAN DI KAWASAN TANJUNG BUNGA MAKASSAR
Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Oleh: Syahriar Tato ABSTRAK Pada suatu lingkungan permukiman keberadaan sarana dan prasarana merupakan ukuran standar kelayakan dalam artian lingkungan permukiman yang dilengkapi sarana dan prasarana (utilitas) yang memadai cenderung akan mengalami peningkatan taraf kesejahteraan. Hal ini cukup beralasan seperti keberadaan jalan-jalan penghubung ke daerah sekitar maupun ke pusat kota akan terjadi kemudahan akses interaksi dengan lingkungan permukiman sekitarnya maupun ke kawasan-kawasan utama pada daerah perkotaan. Disisi lain keberadaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan permukiman akan memacu pula peningkatan aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi. Seperti keberadaan sarana jasa dan perdagangan akan memacu kelancaran distribusi barang dan jasa dari dalam ke luar, keberadaan sarana kesehatan akan terjadi peningkatan mutu kesehatan masyarakat, dan keberadaan sarana pendidikan yang memacu perubahan pola pikir dalam menumbuhkan kemandirian.

1. A. PENDAHULUAN Perkembangan jumlah penduduk pada daerah perkotaan yang disertai dengan peningkatan arus urbanisasi membawa perubahan besar pada kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan

papan beserta fasilitas penunjangnya. Kebutuhan dasar tersebut terus meningkat secara alamiah seiring kompleksitasnya kebutuhan hidup bermasyarakat, seperti kebutuhan untuk aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, dan aktivitas pelayanan umum. Dari fenomena tersebut menuntut pula pembangunan sarana dan prasarana di daerah perkotaan sebagai pengejewantahan menjaga kelangsungan hidup masyarakat di daerah perkotaan dalam rangka menuju kota berkelanjutan (sustainable cityes). Menurut Jayadinata J.T, (1999:31) mengatakan bahwa dalam meningkatkan perkembangan kegiatan sosial dan ekonomi, sarana dan prasarana merupakan hal yang penting. Untuk itu perhatian sejak dini dalam hal pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi pembangunannya baik dari segi pembangunan kuantitas sarana dan prasarana yang ada maupun kualitas pelayanannya. Namun upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di daerah perkotaan bukanlah hal semudah membalikkan telapak tangan. Kendala dan sejumlah permasalahan dalam hal pemenuhan dan distribusinya menuntut tanggung jawab bersama ketiga komponen pembangunan yaitu pemerintah (penentu kebijakan), masyarakat (pengguna) dan pihak swasta (developer). Dari segi pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana fenomena-fenomena umum yang menjadi kendala utama yaitu harga lahan di perkotaan semakin tinggi, kurangnya ketersediaan lahan, kurangnya partisipasi masyarakat baik dalam bentuk swadaya maupun pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada, dan lain sebagainya, sedangkan ditinjau dari segi distribusi yaitu pemerataan sarana dan prasarana yang menimbulkan kesenjangan sosial antara kawasan pusat kota dan kawasan pinggiran kota. Kota Makassar sebagai salah satu kota dengan pelayanan jasa, sosial, ekonomi terbesar pada Kawasan Timur Indonesia (KTI) memberikan andil yang cukup besar dalam memicu perkembangan kota-kota lain yang berada di wilayah timur Indonesia umumnya dan bagi daerah hinterlandnya. Kota Makassar dalam Rencana Umum Tata Ruang terdiri atas bagian wilayah kota (BWK) yang membentuk fungsi kawasan-kawasan dan tersebar di seluruh Kota Makassar. Antaranya kawasan pendidikan, kawasan jasa dan perdagangan, kawasan industri, kawasan perkantoran, kawasan permukiman dan kawasan rekerasi/hiburan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Di era globalisasi pembangunan perumahan di Kota Makassar terjadi perkembangan yang cukup pesat seiring dengan permintaan kebutuhan akan papan sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk. Implikasi dari pembangunan perumahan tersebut menuntut pula ketersediaan sarana dan prasarana perumahan. Kawasan Tanjung Bunga secara geografis terletak di sekitar ± 5 km sebelah barat daya dari jantung Kota Makassar yang merupakan daerah pesisir pantai Selat Makassar yang membentang sepanjang ± 8 km, yang pengembangannya di mulai sejak tahun 1997 secara fisik maupun non fisik. Ditinjau dari topografi Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah yang berdataran rendah dan juga termasuk daerah perairan karena merupakan daerah hilir aliran Sungai Jeneberang. Pembangunan pada Kawasan Tanjung Bunga perpaduan antara pariwisata, olah raga, bisnis, dan permukiman di atas lahan seluas ± 1000 ha, sedangkan tahap awal pembangunannya di mulai dari pembangunan pusat kawasan yaitu pada Kelurahan Tanjung Merdeka, dimana pembangunan

itu berupa pembangunan perumahan yang terdiri dari beberapa kompleks perumahan seluas 340 Ha, pembangunan ruko sebagai fasilitas perdagangan, pembangunan jalan akses dari dan ke Kota Makassar dan Kabupaten Gowa (PT. GMTD, Tbk, 2005). Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah pengembangan wilayah kota (BWK) C Kota Makassar yang memiliki fungsi utama sebagai rekreasi pantai dan jasa pariwisata, pusat perdagangan dan jasa sosial dengan fungsi penunjang pemerintahan Kota, perdagangan, permukiman, pendidikan, dan transportasi (revisi RUTRK Kota Makassar, 2001). 1. B. TUJUAN DAN KEGUNAAN 2. 1. TUJUAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui ketersediaan sarana saat ini dan yang akan datang di Kawasan Tanjung Bunga 1. 2. KEGUNAAN
  

Sebagai bahan masukan bagi swasta (developer) yaitu PT. GMTD, Tbk dalam hal penyediaan kebutuhan sarana di Kawasan Tanjung Bunga . Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya khususnya bagi pengembangan disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota

1. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada ketersediaan dan banyaknya Kebutuhan akan 1. D. METODE PENULISAN 1. a. Dalam melakukan penelitian diperlukan penetapan lokasi sebagai upaya pemecahan masalah sesuai dengan tujuan penlitian dan ditetapkan Lokasi GMTDC TANJUNG BUNGA. 2. b. Melakukan proses pendataan baik berupa data primer maupun data sekunder dengan melakukan teknik observasi, kuisoner maupun kunjungan lembaga atau instansis. 3. c. Dalam melakukan proses analisa digunakan analisis bunga berganda dalam memproyeksi tingkat kebutuhan sarana. 1. E. ANALISIS 2. a. Analisis Aspek Kependudukan Dari hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode bunga berganda, maka perkembangan jumlah penduduk di Kawasan Tanjung Bunga dapat diasumsikan yaitu jumlah penduduk 10 (sepuluh) tahun kedepan 2005 – 2010 dengan menggunakan metode bunga berganda, maka akan diperoleh jumlah penduduk sebesar 32.737 jiwa. 1. b. Analsisis Ketersediaan Sarana Dan Prasarana

Dengan kondisi yang ada maka untuk ketersediaan sarana peribadatan yang ada saat ini masih belum memadai yaitu berupa sarana langgar serta belum adanya mesjid di Kawasan Tanjung sehingga dalam melaksanakan kewajiban yang berupa Shalat Jumat. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan satu kompleks. Untuk dapat melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut. 1. PU. Kebutuhan sarana pendidikan 10 (sepuluh) tahun ke depan untuk sarana pendidikan berupa : Taman Kanak-Kanak (TK) perlu adanya penambahan sebanyak 30 (tiga puluh) unit dengan kebutuhan lahan 36 ha. merupakan wujud kepercayaan terhadap Tuhan YME. Cipta Karya Dep. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas serta Perguruan Tinggi.Analisis kebutuhan akan sarana pendidikan diadasarkan pada kondisi real dimana hal tersebut belum memadai yang perhitungannya didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh Ditjen. . Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan sekolah yang dikelola oleh pihak swasta dan memiliki sejumlah fasilitas yang ada di dalamnya yang berupa Laboratorium Bahasa Inggris. 1. 2. Komputer dan IPA. Analisis Sarana Peribadatan Dalam melaksanakan ritual keagamaan berupa ibadah menurut agama dan kepercayaan yang dianut. Sedangkan untuk pendidikan formal pemerintah telah menyediakan jenjang pendidikan yang di mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) pada saat ini kurang memadai sedangkan Perguruan Tinggi (PT) tidak perlu mengalami penambahan.5 ha. Sekolah Dasar. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) perlu penambahan sebanyak 5 (lima) unit dengan kebutuhan lahan 50 ha serta Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) penambahan sebanyak 5 (lima) dengan kebutuhan lahan 100 ha. Cipta Karya Dep. Tahun 1979. yang mana pendidikan informal dapat ditempuh melalui kursus. Analisis Sarana Pendidikan Ketersediaan fasilitas pendidikan. Sekolah Dasar (SD) penambahan sebanyak 19 (sembilan belas) unit dengan kebutuhan lahan 28. diperlukan ketersediaan fasilitas peribadatan berupa tempat ibadah bagi masing-masing pemeluk agama. Hasil analisis evaluasi ketersediaan sarana pendidikan di atas berdasarkan standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. pemerintah mengupayakan program pendidikan bagi masyarakat baik secara formal maupun informal. PU. Tahun 1979 dapat dilihat bahwa untuk kebutuhan Taman kanak-kanak (TK) yang ada saat ini perlu adanya penambahan begitu pula dengan Sekolah Dasar (SD) sedangkan untuk sarana pendidikan lainnya yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat pendidikan di daerah/kawasan tertentu. pelatihan dan pembinaan. Sehubungan dengan hal tersebut. 1. maka masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga yang hendak beribadah harus ke luar untuk mencari tempat beribadah.

Maka yang tidak memadai yaitu Toko/Warung dan untuk sarana perbelanjaan yang berskala lingkungan seperti minimarket saat ini belum ada. Analisis Sarana Kesehatan Untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat. 4. Rumah Sakit Bersalin/BKIA sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 1.Untuk ketersediaan 10 (sepuluh) tahun ke depan mengenai fasilitas peribadatan diperkirakan masih membutuhkan penambahan jumlah maupun pengadaan unit yaitu. 1. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA : Ketersediaan sarana kesehatan yang ada saat ini yang berupa. Praktek Dokter. Apotek sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 0. Poliklinik sebanyak 9 (sembilan) dengan kebutuhan lahan 2. Tbk sebagai pengelola kawasan terpadu ini. dan pertokoan (ruko).35 ha. Praktek Dokter sebanyak 5 (lima). PU. Poliklinik. 3. sedangkan untuk sarana yang lainnya sudah memadai seperti pusat perbelanjaan dan niaga. diperlukan peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Analisis Sarana Perdagangan dan Jasa Sedangkan untuk ketersediaan sarana perdagangan pada tahun proyeksi yaitu tahun 2015 masih membutuhkan pengadaan jenis sarana seperti pusat perbelanjaan lingkungan yang berupa minimarket yaitu sebanyak 1 (satu) unit yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga sedangkan untuk jenis sarana perdagangan yang berupa toko/warung perlu adanya penambahan yang mana sarana tersebut bergabung dengan permukiman Berdasarkan jumlah penduduk yang ada saat ini dengan memperhatikan standar perencanaan yang baku yang dikeluarkan oleh Ditjen Cipta Karya Dep. Selain penambahan dan pengadaan unitnya diperlukan juga pemeliharaan dan peningkatan pelayanannya terhadap masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga maupun di daerah sekitarnya. sedangkan Praktek Dokter. Disamping itu Pusat Perbelanjaan & Niaga (Mall) yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan Pusat Perbelanjaan dan Niaga (Mall) yang berskala regional yang melayani kebutuhan warga masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya dan di Kota Makassar pada umumnya yang dikenal dengan nama Grade Trade Center (GTC). Poliklinik tidak memadai dengan melihat jumlah penduduk yang ada saat ini. dan nantinya di Kawasan Tanjung Bunga akan dilengkapi dengan Rumah Sakit type A yang sesuai dari perencanaan PT.6 ha. Apotek. Dengan kondisi yang mana berdasarkan standar perencanaan dan hasil proyeksi jumlah penduduk. yang indikator pentingnya yaitu tersedianya sarana kesehatan yang berupa . dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA yang ada saat ini masih memadai dengan melihat kondisi kependudukan serta standar perencanaan. maka beberapa jenis sarana kesehatan masih memerlukan beberapa penambahan yakni diantaranya. 1. Tahun 1979.7 ha. .3 ha sedangkan untuk sarana Masjid untuk tahun 2015 perlu adanya pengadaan dengan melihat kondisi yang akan datang. GMTD. kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga dan di daerah sekitarnya. sarana Langgar/Surau mengalami penambahan 11 (sebelas) unit dengan kebutuhan lahan 3. Apotek. Selain itu juga nantinya akan diadakan pembangunan Masjid dan Gereja yang berskala kawasan yang melayani.

karena sesuai dengan fungsi sarana tersebut merupakan tempat untuk melakukan aktivitas yang memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita sehari-hari dan sebagai sarana untuk melepas lelah di dalam aktivitas kita seharian. Untuk mengetahui kebutuhan sarana olahraga dan rekreasi untuk tahun 2015 adalah sebagai berikut sarana olahraga Lapangan Bulutangkis. Sehingga sarana olah raga dan rekreasi sangat penting untuk menunjang suatu kawasan. Kebutuhan sarana olah raga dan rekreasi untuk ketersediaan saat ini di Kawasan Tanjung Bunga sudah memadai yang berupa sarana olah raga yang meliputi: Lapangan Bulutangkis. 6. selain itu mungkin perlu adanya peningkatan di segi pelayanannya utamanya perkantoran yang bersifat memberikan pelayanan ke publik. dan Kantor Kelurahan Tanjung Merdeka yang pelayanannya berskala lokal sebagai fungsi sekunder. fasilitas perdagangan dan jasa juga merupakan suatu indikator dalam menentukan perkembangan tingkat perekonomian suatu wilayah. Selain itu terdapat baruga atau balai pertemuan yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga untuk kegiatan atau pertemuan antar warga yang terletak di salah satu kawasan hunian yaitu perumahan taman Toraja.GMTD.Ketersediaan sarana perdagangan dan jasa merupakan aspek yang cukup esensial dalam perkembangan suatu kota atau wilayah. dan Stadion Dayung yang merupakan sarana olah raga yang bersifat nasional karena ditempat tersebut sering diadakan kegiatan yang bersifat nasional. sedangkan untuk sarana rekreasi yang berupa rekreasi pantai yang dikenal dengan Akkarena dengan skala pelayanan yang bersifat regional pada umumnya dan Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya serta taman bermain yang terletak dilingkungan hunian yang ada di Kawasan tanjung Bunga. Untuk sarana perkantoran yang telah ada saat ini tidak perlu mengalami penambahan melainkan perlu adanya peningkatan dari segi tingkat pelayanannya 1. Baruga dan Stadion Dayung tidak mengalami penambahan melainkan butuh adanya peningkatan kondisi dari pada sarana tersebut sedangkan untuk sarana rekreasi juga tidak mengalami penambahan tetapi memperbaiki kondisi serta . Untuk melihat kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini dengan menggunakan jumlah penduduk yang ada saat ini serta melihat standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. Tahun 1979. Analisis Sarana Olah Raga Dan Rekreasi Untuk sarana olah raga dan rekreasi merupakan sarana yang cukup penting dalam menciptakan manusia yang sehat jasmani maupun rohani. Tbk. Cipta Karya Dep. 5. PU. Analisis Sarana Perkantoran Sarana perkantoran merupakan sarana sosial yang menunjang aktivitas di Kawasan Tanjung Bunga dengan melihat fungsi pelayanan dari pada sarana tersebut seperti Kantor Pemerintah yang berupa Kantor Kecamatan Tamalate yang berskala kawasan sebagai fungsi primer. dimana ketersediaan sarana perdagangan dan jasa sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. sedangkan swasta yang berupa Kantor Manajemen PT. 1. Maka segala kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini sudah memadai.

dan tidak memadai (tidak baik) dalam artian belum memiliki tingkat ketersediaan. dimana hal ini mempunyai sasaran terwujudnya tingkat pencapaian sesuai dengan kawasan perencanaan dan untuk mengantisipasi impak dari pergerakan sebagai bangkitan yang berpengaruh terhadap permasalahan transportasi kedepannya serta permasalahan lingkungan lainnya. GMTD. GMTD. 1. d.mengembangkan yang telah ada sesuai dengan perkembangan kedepan nantinya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari hasil peta over lay tinjauan eksisting sarana dengan master plan Kawasan Tanjung Bunga berikut. Analisis Aspek Sarana di Tinjau dari Master Plan Kawasan Tanjung Bunga Analisis aspek sarana ditinjau dari master plan dimaksud untuk melihat apakah peruntukkan sarana yang terbangun sesuai dengan fungsi peruntukkannya. 1. sarana kesehatan yang berupa BKIA (Rumah Sakit Bersalin). 1. hal ini di karenakan kawasan ini merupakan kawasan yang berbasis daerah pariwisata sesuai dengan peruntukannya dalam RUTR Kota Makassar. serta sarana perkantoran swasta yang berupa Kantor Manajemen PT. Tbk yaitu sarana pendidikan yang berupa Taman Kanak-Kanak (TK). penduduk N Variabel o . Analisis Sarana Dengan Menggunakan Metode Pembobotan Untuk Meninjau Ketersediaan Sarana yang Ada Saat ini di Kawasan Tanjung Bunga Analisis sarana dengan metode pembobotan disini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai. dimana dari nilai bobot inidiidentifikasi terdapat tiga kategori yaitu memadai (baik) dalam artian memiliki tingkat ketersediaan. Sarana Pendidikan Tabel 01 Hasil Pembobotan Sarana Pendidikan Indikator Tingkat Pelayanan yang Skori Bob Standar Nil Sesuai Nil Nil ng ot Perencana Master Plan ai Persepsi/Masyarakat/Resp ai ai an onden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 1 unit tidak 3 1  Tingkat pencapaian sesuai Pendidikan. c. Adapun pemboboton disini didasarkan pada variabel yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam sub variabel sesuai dengan klasifikasi untuk masing-masing eksisting sarana yang ada di Kawasan Tanjung Bunga. selain sarana tersebut sarana yang berupa taman yang merupakan sarana daripada kawasan hunian yang ada di Kawasan Tanjung Bunga perlu adanya penambahan sebanyak 10 (sepuluh). 1. Dari tabel hasil over lay di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa sarana yang ada saat ini tidak sesuai dengan peruntukkannya yaitu tidak berdasarkan dengan master plan yang dikeluarkan oleh PT. Tbk. kurang memadai (kurang baik) dalam artian kurang memiliki tingkat ketersediaan. Sedangkan untuk sarana lainnya sudah sesuai dengan peruntukkannya yang sudah mengacu pada master plan di Kawasan Tanjung Bunga.

Sarana Peribadatan Tabel 02 . TK pendukung minimum  Kondisi 4 5 dengan fungsi peruntukkan ya dan 1 unit sudah sesuai dengan fungsi peruntukkan nya 8.6 3 6  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 3 fungsi peruntukann 5 ya 4. Asumsi pembobotan yaitu.66 2.33 4. 2.66 Jumlah  1 SD Jumlah 1 penduduk pendukung minimum 1 3 Jumlah  SLTP Jumlah penduduk pendukun g minimum Jumlah  3 SMU Jumlah 3 penduduk pendukun g minimum Jumlah 3 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .33 Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.3 5 3  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11 3.11 13 4.66 12.    4.

pendukun  Kondisi  Poliklini g minimum k N Variabel o Jumlah  Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya 5 5 11 3. 3.66 Praktek Jumlah penduduk 1 5   5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Sesuai dengan .33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. penduduk pendukun  Kondisi  Musholla g minimum h N Variabel o Jumlah 1 Nil Master ai Plan 1 1 1 1 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukan nya 5 7 2. Asumsi pembobotan yaitu.Hasil Pembobotan Sarana Peribadatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1  Tingkat pencapaian Peribadatan. Sarana Kesehatan Tabel 03 Hasil Pembobotan Sarana Kesehatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1 penduduk  Tingkat pencapaian Kesehatan.

dokter pendukun g minimum 5 5  Kondisi 3 3 3 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.33 Jumlah  Apotek Jumlah penduduk pendukun g minimum    Jumlah  5 BKIA/ Rumah sakit bersalin Jumlah 5 penduduk pendukun g minimum 5    Jumlah 5 4.77 7 2.33 4. Asumsi pembobotan yaitu.  Pst.3 5 3 Tingkat kebutuhan 1 Tidak sesuai 1 Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 14. 4.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 penduduk  Tingkat pencapaian pendukun  Kondisi g minimum Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya .    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. Sarana Perdagangan dan Jasa Tabel 04 Hasil Pembobotan Sarana Perdagangan Dan Jasa Indikator N Variabel o 1 Sarana Perdagangan dan Jasa.

Asumsi pembobotan yaitu.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .33 3. 5. penduduk pendukung  Kondisi  Kantor minimum N Variabel o Nil ai Master Plan 3 1 Nil Skori Bob ai ng ot Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan .Perbelan jaan & Jasa (mall) Jumlah  Pertokoa Jumlah n (ruko) penduduk pendukun g minimum · Jumlah Toko/war penduduk ung pendukun g minimum 5 5    5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 4. Sarana Perkantoran Tabel 05 Hasil Pembobotan Sarana Perkantoran Indikator Nil Tingkat Pelayanan yang Standar ai Sesuai Perencana Persepsi/Masyarakat/Res an ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5  Tingkat pencapaian Perkantoran.3 3 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 15 5 Jumlah  5 1    5 5 15 5 Jumlah 1 5 10.

Asumsi pembobotan yaitu.6 6 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1.88 5 1 11.6 6 Tingkat kebutuhan 5 Tidak sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11. 6.66 3. Tbk 5       Jumlah  1. Jumlah 5 Manaje penduduk men pendukun PT.Kecam atan Jumlah  1 nya 5 Kantor Jumlah 5 Lurah penduduk pendukung minimum 5 Ktr. Sarana Olahraga & Rekreasi Tabel 06 Hasil Pembobotan Sarana Olahraga & Rekreasi Indikator N Variabel o 1 Sarana Olahraga & Rekreasi. Nil Tingkat Pelayanan yang Nil Standar ai Sesuai ai Master Perencan Persepsi/Masyarakat/Res Plan aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 3 Sesuai 5 penduduk  Tingkat pencapaian dengan pendukung fungsi Nil Skori Bob ai ng ot 5 .66 3.66 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .88 Jumlah 5 1 11 3.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. g GMTD minimum .

55 5 5 15 5 5 15 5 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Asumsi pembobotan yaitu.6 6 Tingkat kebutuhan 5 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 5 5 13.minimum   Kondisi 1 5 Lap. Bulutan gkis 5 5 peruntukkan nya Jumlah  Dayung Jumlah penduduk pendukung minimum    3 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.33 Jumlah  Baruga Jumlah penduduk pendukung minimum 5 5    5 5 15 5 Jumlah  5 Pantai Jumlah 5 Akkare penduduk na pendukung minimum 5 5     Taman Jumlah penduduk pendukung minimum    Jumlah 5 5 3.66 4.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 Tabel 07 Nilai Bobot Aspek Sarana Ditinjau Dari Standar Indeks Bobot Kualitatif Dan Kuantitatif .

33 Indeks Bobot Kuantitatif >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Indeks Bobot Kualitatif Kurang Memadai Memadai Memadai Memadai Kurang Memadai TK SD SLTP SMU 1    Sarana Peribadatan.33 7     Memadai Memadai Memadai Lap. 4.66 3.33 2. Tbk Sarana Olahraga Dan Rekreasi.  4   Pusat perbelanjaan dan niaga (Mall) Pertokoan (ruko) Toko/Warung Sarana Perkantoran.     3. 2  Musholla Sarana Kesehatan.66 4. GMTD.77 2.  Nilai Bobot 2.11 4.33 4.66 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai 5 Kantor kecamatan Kantor lurah o Kantor manajemen PT.33 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai Kurang memadai Memadai Memadai Memadai 3 Poliklinik Praktek dokter Apotek BKIA/rumah sakit bersalin Sarana Perdagangan dan Jasa.88 3.88 3.No Variabel Sarana Pendidikan.   3. Bulutangkis Dayung Baruga Pantai Akkarena 5 4.33 5 5 3.55 .66 4.

et al (ed. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Comments: Be the first to comment STUDI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH . 2001. Perspektif Lingkungan Desa – Kota. Bandung: Penerbit Alumni. 1996. R. Perencanaan Pembangunan Daerah. 2001.J. 1997. Tata Ruang Perkotaan. dan Riyadi. Taman 5 4. Jakarta Jayadinata. Koestoer H. 1998. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan & Wilayah. R. D.). Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. Poerwadarminta. T. 2004.55 Memadai Memadai Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 F. Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum W. 1999. J. 1985. Eko. Penataan Ruang Untuk Pembangunan Wilayah Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin Bratakusumah S. Kamus Tata Ruang. Kamus Umum Bahasa Indonesia. ———— H. 1997. Revisi Rencana Umum Tata Ruang Kota Makassar. DAFTAR PUSTAKA Amien. M. Budihardjo. Badan Perencanaan Daerah. Dimensi Keruangan Kota. Comments: Be the first to comment pengelolaan sampah Posted December 24. Gramedia Pustaka Utama. Departemen PU Direktorat Jenderal Cipta Karya. 1979. Jakarta : Penerbit PT. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. Bandung: Penerbit ITB Bandung. Jakarta PN Balai Pustaka.S. Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota.

Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang. This condition indicates that the E. The land use condition is relatively heterogeneous around the dumping site and there is no relationship between the components of space function. The effect of E. it is apparent that the distance. but also by other factors such as the activities of the community around the location. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstract The aim of the study was to find out the physical characteristics of the final dumping site and its suitability with the concept of spatial arrangement and its impact on the quality of water around it.72 %/tahun). Kebijakan pemerintah Kabupaten Enrekang dalam pengolahan TPA sampah yaitu menggunakan metode Lahan Urug Terkendali (Controlled Landfill). PENDAHULUAN 1. it tends to increase significantly. and E. Coli Bacteria. Coli Bacteria on the distance (S1S14) of the dumping site indicates that the decrease tends to be linear. topographical. The variables studied were topographical. kemudian pada Tahun 2002 menjadi 34.Posted December 24. The study was descriptive. Efektifitas penggunaan metode tersebut harus mempertimbangkan aspek kondisi fisik TPA. but at samples S15-S24. land use around it. Coli Bacteria. yang berpengaruh terhadap meningkatnya produksi sampah di kota tersebut. BOD5. accecibility. geological. Coli Bacteria around the location is not only affected by the existence of the dumping site. I. Based on BOD5 and content of E. and geological conditions have an effect on water pollution in the dumping site and its vicinity. A. and physical conditions of the town spatial arrangement. dan prasarana pendukungnya .77 m3/hari ( meningkat rata-rata sebesar 3. Prinsip pengolahan metode Lahan Urug Terkendali adalah secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah kemudian dilakukan perataan dan pemadatan sampah. produksi sampah Tahun 1997 di Kota Enrekang sebesar 29. jenis dan karakteristik sampah. Latar Belakang Kota Enrekang mengalami perkembangan yang pesat.31 m3/hari. The dumping site is not suitable viewed from the aspect of spatial arrangement. The results of the study indicate that the physical characteristics of the final dumping site support the permeation of leaches toward the river and settlement area in the western part of the location. kemampuan pendanaan. hydrological.

1.(Notoatmodjo. II. seperti terbentuknya rembesan lindi yang dapat mencemari air permukaan dan air tanah dangkal. Tujuan Penelitian 1. Sebagai salah satu masukan dalam penentuan lokasi TPA di Kabupaten Enrekang. Indikasi tersebut lebih dipertegas dari penelitian terdahulu yang dilakukan di TPA Tamangapa oleh (Arifin 2001) yang menyimpulkan bahwa rembesan lindi yang keluar dari timbunan sampah membentuk alur yang mencemari air permukaan dan air tanah dangkal sekitar TPA. maka di dalam penelitian tersebut disarankan pengolahan sampah dilakukan dengan pengomposan. Perumusan Masalah 1. Apakah penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang sesuai dengan konsep penataan ruang? 3. serta pencemaran tanah. 3. Mempertimbangkan jenis sampah di Kota Enrekang. serta polusi udara. Bagaimana karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Desa Batu Mila Kabupaten Enrekang ? 2. Juga disimpulkan bahwa penyakit diare dan kudis yang menjadi keluhan masyarakat sejak pertengahan Tahun 2000 disebabkan oleh pencemaran air akibat rembesan air lindi dari TPA tersebut. 1997). S. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh TPA Sampah Kabupaten Enrekang terhadap pencemaran air lingkungan di sekitarnya. Kegunaan Penelitian 1. Sejalan dengan itu. Untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. 2. Lebih lanjut Yuliana menyimpulkan bahwa kondisi kualitas air sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang relatif berbau dan berubah warna terutama sumur-sumur yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi TPA. Sebagai salah satu masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya di bidang persampahan. Apakah TPA sampah Kabupaten Enrekang mencemari air lingkungan di sekitarnya ? C. B. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Sampah . 1. 3. D. A. dan kabupaten lainnya secara umum. Sebagai salah satu masukan dalam pengolahan TPA sampah di Kabupaten Enrekang. 2. Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek tersebut akan menimbulkan pencemaran lingkungan di sekitarnya. Untuk mengetahui dan menjelaskan kesesuaian penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang di tinjau dari aspek penataan ruang kota. penelitian yang dilakukan oleh (Yuliana 2001) menunjukan bahwa beberapa sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang kondisi airnya berbau. 2.

Pekerjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi. merupakan cara pembuangan sederhana di mana sampah hanya dibuang pada suatu lokasi. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. Sanitary Landfill: metode ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan kemudian ditutup dengan tanah. 1. Inceneration. 3. cara pembuangan akhir sampah merupakan salah satu aspek strategis dalam sistem pengolahan sampah.Menurut American Public Health Association. maka sampah didefinisikan sebagai suatu zat atau benda-benda yang tidak terpakai lagi yang bersumber dari aktivitas manusia dan proses alam baik yang bersifat zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan. Pengolahan TPA Sampah Menurut Ryadi (1986). Open Dumping atau pembuangan terbuka. berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut. sampah (waste) diartikan sebagai suatu yang tidak digunakan. terdapat enam aktifitas yang terorganisir di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah. . 1. Composting: cara pengolahan sampah untuk kebutuhan pupuk tanaman. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah upaya yang sering dilakukan dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi operasional. 6. dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh. tidak dipakai. B. barang rusak atau bercacat dalam pembikinan atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang. Timbulan Sampah (Waste Generation) Pewadahan (Onside Storange) pengumpulan (Collection) Pemindahan dan Pengangkutan (Transfer dan Transport) Pemanfaatan Kembali (Procesing dan Recovery) Pembuangan Sampah (Disposal) C. 7. setiap orang atau rumah tangga membakar sendiri sampahnya. 2. Controlled Landfill: Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk menghindari potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. cara ini dilakukan dengan cara membakar sampah. 1. 4. Menurut Madelan (1997). Individual Inceneration. 5. 2. 3. sebagai berikut. yang dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Beberapa metode pengolahan sampah dalam penerapannya adalah sebagai berikut. 5. Menurut Mustofa (2000) sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian. 4. 6.

Sejalan dengan itu. 2. yaitu tidak memiliki muka air tanah kurang dari 3 meter. kapasitas besar. Kondisi tanah meliputi: produktifitas tanah rendah. dijelaskan kriteria pemilihan lokasi TPA sebagai berikut. 1. habitat kurang bervariasi. 1. kertas. Sejalan dengan itu. Utilitas. . Recycling: cara ini memanfaatkan dan mengolah kembali sebagian sampah. yaitu tidak berlokasi pada daerah besar yang aktif dan bukan pada zona bahaya geologi.000 mtr. 3. 6. Tidak pada daerah lindung dan daerah banjir periodik ( 25 thn). tidak boleh kandungan tanah lebih 10-6 cm/det. jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter dari hilir aliran. Kriteria Regional. 4. Iklim yang meliputi: intensitas hujan kecil. Pemilihan Lokasi TPA Sampah Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 125/KPTS/1991 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah. berdasarkan pedoman penyusunan tata ruang wilayah dan kota Tahun 1997. 3. Kriteria penyisih yaitu kriteria untuk memilih lokasi terbaik yaitu dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut. 1. yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak-tidaknya penempatan TPA. arah angin dominan tidak menuju kepermukiman. 6. 4. hutan lindung). Jarak dari bandara harus lebih besar dari 3. Kondisi hidrogeologi. 7. 2. Biaya pengelolaan dan pengolahan yang murah. 5. Wardhana (1995) menjelaskan bahwa walaupun sudah disediakan TPA. tersedia lebih lengkap.7. faktor pertimbangan penentuan lokasi TPA sebagai berikut. namun karena sampah yang dihasilkan terus bertambah. tersedia tanah penutup yang cukup. tangkapan air. Lingkungan biologis meliputi: daya dukung kurang menunjang flora dan fauna. Hog Feeding: cara pengolahan dengan sengaja mengumpulkan jenis sampah basah (gerbage) untuk digunakan sebagai makanan ternak. status tanah tidak bervariasi. 1. 5. Masih dalam wilayah administrasi Kabupaten berangkutan. sbb. 9. Oleh karena itu. untuk bau dan kebisingan. Estetika lingkungan (tidak terlihat dari keramaian dan jalan umum). 8. kaca/botol dan lain-lain. Kondisi geologi. Memiliki zona penyangga yang cukup. seperti kaleng. 8. Kepadatan penduduk rendah. Di luar kawasan lindung (cagar alam. perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah limbah padat (sampah) sampai ke TPA dengan memanfaatkan kembali limbah padat tersebut melalui daur ulang dan sistem pengomposan. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %. plastik. 1. D. sehingga TPA ikut semakin meluas.

(vi) meningkatnya BOD5 air lingkungan. syarat-syarat air yang sehat sebagai berikut. maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan. 1. suhu di bawah suhu udara di luarnya. Syarat bakteriologis air minum harus bebas dari segala bakteri terutama bakteri patogen. bahan tersuspensi. 5. Syarat kimia air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah tertrentu pula. 4. Tabel 1. (iv) timbulnya endapan. 2. E. Tidak harus dibatasi oleh wilayah administrasi. Di luar aktifitas perkotaan. tidak berasa. bau.E. menurut Notoadmodjo (1997). tetapi memiliki akses pencapaian yang baik. Pencemaran Air Lingkungan Menurut Wardana (1995). Coli Kadar Maksiman* A B C 6-9 6-9 6-9 25 40 75 80 100 125 20 35 50 mg/l mg/l mg/l MPN/ 2500 5000 100 ml Keterangan: . 6. (ii) perubahan pH. Apabila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 20×102 Bakteri E. Mempertimbangkan kecenderungan perkembangan kota. Sejalan dengan itu. 3. Jauh dari sumber air bersih dan daerah rawan bencana. :14 Thn 2003) Paramater Satuan pH BOD5 COD TSS B. dan rasa. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Domestik (KepGub. 7. 1. dapat dilihat tabel berikut. koloidal. Coli. tetapi didasarkan pada keadaan normalnya. Lebih jelasnya baku mutu air. Tanda-tanda atau indikator air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan yang dapat diamati melalui. (iii) adanya perubahan warna. air yang bersih tidak hanya ditetapkan pada kemurniannya saja. Berlokasi pada lahan-lahan non produktif. 3. Jadi air tercemar apabila air tersebut telah menyimpang dari keadaan normalnya. Berorientasi pada pemanfaatan jangka panjang. Syarat fisik air minum adalah bening (tidak berwarna). (v) adanya mikroorganisme.2. Sulsel No. (i) perubahan suhu air.

air sumur dangkal dan air Sungai Mila dengan jumlah sampel sebanyak 24 titik.000-10. . Kategori B . pada sumur-sumur di sekitar lokasi TPA (8 sampel) dan di sungai Mila (2 sampel).000 m2. Pengukuran. Coli.* = Kecuali pH Kategori A : . perniagaan dan apartemen ukuran > 50.000 m2. permukiman (real estat) ukuran 16-200 Ha. melakukan pengukuran terhadap indikator kualitas air yang meliputi BOD5 dan Bakteri E.Restourant [rumah makan] ukuran 1. 1. B. perniagaan dan apartemen ukuran 10.Restourant [rumah makan] ukuran > 2. METODE PENELITIAN A. Metode penarikan sampel ini dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling).300 m2 .000-50. pada rembesan air lindi/air genangan sekitar lokasi TPA (12 sampel).300 m2 . . 1. Kategori C . pada daerah rembesan air lindi di lokasi TPA (2 sampel).Kaw.400 m2 . meliputi.000 m2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data disesuaikan dengan data yang akan diambil.Perkantoran.400-2.Perkantoran.Kawasan permukiman (real estat) ukuran > 200 Ha . Pengambilan sampel didasarkan pada kondisi topografi (arah pergerakan lindi) dan jarak. III. perniagaan dan apartemen dengan ukuran 5.Perkantoran. Populasi dan Sampel Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah air lingkungan yang terdapat di sekitar lokasi TPA yang terdiri atas rembesan air lindi (air genangan).Restourant [rmh makan] ukuran 500-1.

2. maka dapat dirumuskan variabel penelitian sebagai berikut. Observasi. Untuk menjawab rumusan masalah pertama. sbb. Bapedalda. Pencapaian (Aksesibilitas) 3. Untuk menjawab rumusan masalah kedua. Untuk menjawab rumusan masalah ketiga. ditentukan variabel sbb. 4. Metode Analisis . Kondisi Hidrologi 3. Dokumentasi. (i) Teknik wawancara non struktur. Teknik ini digunakan untuk mendiskripsikan secara terperinci karakteristik fisik di sekitar TPA. Coli. dan (ii) Focus Group Discussion. 3. D. Pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap kondisi fisik alamiah TPA sampah dan guna lahan daerah sekitarnya. 1. Variabel Penelitian Dari uraian rumusan masalah dan tujuan penelitian. BOD5 dan Bakteri E. Wawancara. yaitu wawancara kepada kelompok masyarakat tentang TPA sampah di Kabupaten Enrekang. C. Kondisi Geologi 2. Merupakan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait seperti BPS. ditentukan variabel. dengan melakukan sketsa dan pemetaan tematik lokasi. ditentukan variabel –variabelnya. Bappeda. Perkembangan Fisik Ruang Kota Enrekang 3. BPN. Penggunaan Lahan sekitar TPA 2. 1. yaitu melakukan wawancara kepada Aparat Pemda Enrekang berkaitan dengan lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Kondisi Topografi 2. serta penelitian terdahulu yang relevan. 1. meliputi.

sbb.Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Rumusan masalah butir (a) dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. Salah satu arahan pengembangan fisik Kota Enrekang menurut RTRW tersebut adalah wilayah Kecamatan Maiwa. Rumusan masalah butir (c). menjadi kendala dalam pengembangan ruang Kabupaten Enrekang termasuk pengelolaan persampahan. Tinjauan Lokasi TPA terhadap Tata Ruang Kota Arah perkembangan Kota Enrekang dihambat oleh keadaan alam berupa gunung yang ada di sekelilingnya. Sementara itu. 2. dimana arahan fungsi pengikat wilayah Kecamatan Maiwa tersebut adalah industri dan perkebunan. Perkembangan fisik kota saat ini menunjukan fenomena penggunaan ruang yang tidak mempertimbangkan pelestarian lingkungan. Kecenderungan Perkemb. Fisik Kota IV. Pola permukiman yang terpencar serta kondisi geografi relatif bergelombang/pegunungan. 1. lokasi TPA yang ada saat ini juga terdapat di Kecamatan Maiwa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa permukiman masyarakat yang telah merambah sampai ke kawasan lindung yang terdapat di arah timur dan utara kota ini. Rumusan masalah butir (b). sehingga harus mempertimbangkan alternatif lahan-lahan kosong pada daerah sekitarnya yang potensi untuk kegiatan perkotaan. Jarak Kota Enrekang ke lokasi TPA yang relatif jauh yaitu sekitar 23 km serta sistem pewadahan/pengumpulan yang masih didominasi oleh metoda individual merupakan kendala yang dalam rangka teknik operasional pengelolaan sampah di Kabupaten Enrekang. dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. dianalisis dengan menggunakan analisis statistik diskriptif. Pengembangan ruang fisik secara ekstensif di Kota Enrekang tidak memungkinkan lagi. 3. telah mengarahkan penggunaan ruang Kabupaten Enrekang sedemikian rupa sebagai pengejawantahan dari visi Kabupaten Enrekang. Secara alamiah kecenderungan perkembangan fisik kota saat ini adalah mengikuti jalur jalan poros ke selatan Kota Enrekang dan sebagian kecil berkembang ke arah timur. 1. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Enrekang belum menunjukan hasil yang optimal baik ditinjau dari aspek pewadahan/ pengumpulan maupun dari aspek pengangkutan ke TPA. 1. Tingkat . 1. Kebijakan Penataan Ruang Kota Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2001-2010 sebagai salah satu instrumen yang berkekuatan hukum dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Enrekang. Aksesibilitas Secara umum sistem transportasi darat di Kabupaten Enrekang sangat dipengaruhi pola persebaran permukiman dan kondisi geografis wilayahnya. sedangkan fungsi penunjang adalah permukiman dan fasilitas pendukung lainnya.

Oleh karena itu.77 m3/hari.0 Lingkungan Sekitarnya 3 Berdekatan dengan 39 65. Sehingga tiap kendaraan masing-masing hanya bisa mengangkut sampah 2 kali / hari. sementara volume produksi sampah tiap hari di Kota Enrekang adalah kurang lebih 34. Matriks hasil wawancara dengan masyarakat di Kota Enrekang. Menciptakan pembiayaan operasional yang tinggi.3 ekses rendah 2 Mencemari 57 95. Persepsi Masyarakat responden Jumlah % 1 Reatif Jauh dari Kota 45 75. Mencemari lingkungan sekitarnya terutama Sungai Bila dan permukiman sekitarnya. Bergabung dengan kawasan permukiman dan lokasi bumi perkemahan pramuka. 1. Tabel 2 Matriks Hasil Wawancara dengan Masyarakat Kabupaten Enrekang Jawaban No. Jumlah armada angkutan sampah yang dioperasikan tiap hari sebanyak 2 unit dengan kapasitas 6 m3/unit. Aspirasi Masyarakat Hasil wawancara dengan 60 responden di Kota Enrekang yang terdiri masyarakat sekitar TPA (15 responden) dan masyarakat Kota Enrekang (40 responden) serta Pemda Kabupaten Enrekang dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang (5 responden). dipertimbangkan alternatif lokasi baru TPA Kota Enrekang yang mudah dijangkau. secara umum menjawab pertanyaan bahwa tidak sepakat penempatan lokasi TPA di Desa batu Mila.pencapaian armada angkutan sampah ke TPA ditempuh selama 6 jam tiap kali pengangkutan. sehingga jumlah rata rata pengangkutan setiap hari sebanyak empat kali kendaraan atau sebanyak 24 m3.0 kawasan permukiman dan Bumi Perkemahan .0 Enrekang Tidak setuju karena 41 63. sbb. dengan pertimbangan. Lokasi TPA sampah relatif jauh dari Kota Enrekang. Tingkat pencapaian yang relatif sulit ke lokasi TPA. namun tetap mempertimbangkan aspek lingkungan hidup.

Coli. geologi dan jarak.00 96. Dalam penilaian kualitas air di kawasan TPA sampah dan sekitarnya di Kabupaten Enrekang ini. Keadaan normal tersebut tergantung dari kegunaan & asal sumber air.00 48. dapat dilihat pada gambar berikut. Berdasarkan hasil pengujian sampel air pada 24 titik sampel yang dilakukan di Laburatorium Kimia Fakultas Teknik Universitas ―45‖ Makassar.20 137. tetapi juga didasarkan pada keadaan normalnya. maka diketahui kondisi air lingkungan di TPA sampah Kabupaten Enrekang dan sekitarnya. Lebih jelasnya titik-titik pengambilan sampel. Dalam pengamatan tersebut. Tinjauan TPA Terhadap Kualitas Air Lingkungan Untuk menilai air yang bersih.60 323.30 96.80 112. (i) Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD5) dan (ii) Kandungan Bakteri E. sebagai berikut.70 110.3 B.00 (MPN/100 ml 77 X 102 78 X 102 62 X 102 59 X 102 59 X 102 61 X 102 57 X 102 51 X 102 46 X 102 47 X 102 42 X 102 42 X 102 27 X 102 BOD5 Bakteri E-Coli . Karakteristik Sampel Air di Kawasan TPA Kabupaten Enrekang Jarak No.20 47. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kode S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 (m) 0 0 5 10 22 24 30 55 67 60 80 94 88 (mg/l) 327. dapat diuraikan kondisi dan kualitas air di TPA sampah dan sekitarnya.20 98.4 Pramuka Menciptakan Biaya Operasional Yg Tinggi 32 53.50 52.50 242. tidak hanya ditetapkan pada kemurnian saja. beberapa indikator air lingkungan yang diamati perubahan-perubahannya meliputi.30 112. Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan normal berarti air tersebut telah mengalami pencemaran. Berdasarkan tabel tersebut. diambil 24 sampel pada titik-titik sampel yang dianggap sebagai tempat-tempat rembesan air lindi dengan pertimbangan kondisi topografi. sebagaimana pada tabel berikut. Tabel 3.

50 mg/l. Penurunan kandungan BOD5 yang cukup drastis pada sampel S9 disebabkan oleh kondisi lahan pada daerah tersebut merupakan lokasi pembuatan batu cipping yang telah dilengkapi saluran drainase di sekelilingnya serta sudah mengalami pemadatan yang maksimal.90 mg/l). Kandungan BOD5 yang relatif cukup tinggi terutama terjadi pada sampel S1 dan S2 yaitu masing-masing 327. Diagram hubungan kandungan BOD5 terhadap jarak diperlihatkan pada gambar berikut. bahkan pada sampel S9 terjadi penurunan yang cukup signifikan yaitu dari 98. Selanjutnya pada S10 kembali terjadi kenaikan BOD5 dari 52. sampel S11 sampai pada sampel terakhir 24 (S24) terus mengalami penurunan. Penurunan kandungan BOD5 sampai mencapai titik di bawah ambang batas terjadi pada sampel S14 (kandungan BOD5 =38.10 27. Penilaian BOD5 Hasil pengujian kandungan BOD5 dalam air pada lokasi TPA sampah dan sekitarnya pada jarak antara 0-150 m menunjukkan bahwa kandungan BOD5 pada titik pengambilan sampel S1dan S13 menunjukan kandungan BOD5 berada di atas ambang batas. tetapi masih dalam kategori cukup tinggi yaitu di atas 100 Mg/L.80 19.80 mg/l) sampai pada S24 (kandungan BOD5 = 18. tetapi menunjukan penurunan yang relatif linier. Grs.10 36.40 19. ―45‖ Makassar 1. 1. sehingga sulit terjadi perembesan air lindih pada lokasi tersebut. Kemudian dari sampel 10.30 mg/l pada S9 menjadi 96.80 38.30 mg/l pada S9.14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 S23 S24 86 90 105 120 125 100 200 200 165 126 150 38.80 38. Selanjut dari titik sampel S8 sampai dengan S13 kandungan BOD5 masih pada ambang batas yang tidak diperbolehkan.00 mg/l pada S 10.60 mg/l dan 323.30 19.10 20.50 33. ambang batas diperbolehkan . pada sampel S3 sampai dengan S7 cenderung menurun.50 18.90 21 X 102 77 X 102 81 X 102 82 X 102 81 X 102 95 X 102 41 X 102 96 X 102 75 X 102 99 X 102 97 X 102 Keterangan: Hasil Analisis Laboratorium Fakultas Teknik Univ. Sementara itu. Pengambil sampel tersebut dilakukan dalam lokasi TPA sampah.50 mg/l pada S8 turun menjadi 52.

Hasil pengujian kandungan Bakteri E. Coli dalam air. Diagram Hubungan kandungan BOD5 air terhadap jarak. Coli dalam air tersebut. Pada titik sampel antara S1 (dalam lokasi TPA) – S18 (jarak 86 meter ke arah utara) kandungan Bakteri E. kandungan Bakteri E. Berdasarkan pola sebaran BOD5 dalam air di sekitar TPA. 1.Gambar 2. Namun demikian. Demikian pula kondisi topografi yang relatif bergelombang menjadikan pola sebaran Bakteri E. Tingginya kandungan BOD5 di sekitar lokasi TPA tersebut merupakan konsekwensi dari belum adanya pengolahan sampah yang baik di TPA tersebut. menunjukan bahwa lokasi TPA berpengaruh terhadap kandungan bakteri E. pengendalian Pencemaran Air. . Sedangkan penurunan secara drastis terjadi pada sampel S20 disebabkan karena lokasi pengambilan sampel yang dilakukan di seberang jalan (jalan tersebut membatasi titik sampel dengan perumahan dan TPA). Coli tersebut di atas. Coli di atas ambang batas terjadi pada sampel S1 sampai dengan sampel S8. dalam penelitian ini akan digunakan parameter kualitas air kategori A yaitu parameter kualitas air pada kawasan permukiman dengan ukuran 16-200 Ha dengan kadar maksimal BOD5 adalah 50×102 mg/l. Jenis batuan konglomerat yang terdapat pada lokasi penelitian memiliki porositas yang tinggi dalam menyebarkan cairan lindi yang mengandung Bakteri E. misalnya tidak adanya drainase dan kolam oksidasi yang memadai pada kawasan tersebut. sehingga pemadatan tanah oleh jalan menyulitkan perembesan ke titik sampel tersebut. Coli bersumber dari TPA sampah tersebut. pada sampel S15 (jarak 90 meter) – S24 (jarak 150 m) terjadi peningkatan kandungan Bakteri E. Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi serta Baku Mutu Tingkat Gangguan Kegiatan yang Beroperasi di Propinsi Sulawesi Selatan. Coli dalam air di lokasi tersebut. Peningkatan terutama terjadi pada sampel air di daerah permukiman khususnya pada sumur-sumur penduduk. 2. Coli Berada di bawah ambang batas. Pola sebaran Bakteri E. Coli cenderung berfluktuasi. Selain dari pengaruh jarak terhadap kandungan Bakteri E. Penetapan Baku Mutu Limbah Cair. kondisi topografi dan geologi lokasi penelitian turut berpengaruh terhadap sebaran Bakteri E. Coli pada lokasi TPA pada jarak 0-150 m menunjukan pola sebaran relatif berfluktuasi. Penilaian Bakteri E-Coli Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 14 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan. menunjukan bahwa kondisi topografi dan jarak turut mempengaruhi sebaran pencemaran air di sekitar lokasi TPA. Udara. sehingga terbentuk genangan-genangan air lindih dan selanjutnya meresap ke dalam tanah. Semakin jauh air dari lokasi TPA semakin kecil kandungan Bakteri E. Coli yang cukup signifikan kecuali pada sampel S20 terjadi penurunan di bawah ambang batas. Coli. Gambar diagram tersebut di atas menunjukkan sebaran pencemaran air yang cenderung linier pada kawasan TPA kecuali pada titik sampel 9 (S9) mengalami penurunan kandungan BOD5 yang relatif drastik. Diantara sampel tersebut. Coli relatif menurun secara linier. sedangkan sampel S9 sampai dengan sampel S14 kandungan Bakteri E.

B. Kesimpulan 1. Agar Masyarakat dan Pemda Kabupaten Enrekang memulai program pengomposan sampah organik dalam mendukung dan menciptakan program Sistem Pertanian Organik (Organic Farming) baik dalam skala individual maupun dalam skala Komunal (kelompok). Coli yang cenderungan meningkat pada sampel S15 sampai S24 (kecuali sampel S20). Berdasarkan indikator BOD dan Bakteri E. sebagai berikut. Diagram sebaran Bakteri E.Sementara itu. 5. memudahkan rembesan lindih ke arah barat kawasan permukiman. kandungan Bakteri E. mempercepat rembesan air lindih sampai kawasan permukiman sekitar Sungai Bila. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA . PENUTUP A. Coli dalam air terhadap jarak. disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang bermukiman di sekitar TPA tersebut seperti kondisi saluran air kotor rumah tangga dan jamban keluarga yang belum di desain dengan baik sehingga dengan mudah terjadi rembesan ke sumur-sumur penduduk dan air lingkungan di kawasan tersebut. kandungan Bakteri E. Agar dilakukan studi lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Kondisi topografi pada lokasi TPA relatif bervariasi membentuk kemiringan yang relatif terjal ke arah barat sampai ke Sungai Mila. Coli diperlihatkan pada gambar berikut. V. 2. Coli. menunjukan bahwa TPA sampah Kabupaten Enrekang telah mencemari air lingkungan di sekitarnya dampai radius 150 meter 4. Sebaiknya lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang tidak terpusat pada satu kawasan saja. diketahui karakteristik fisik lokasi TPA sampah Kabupaten Enrekang. Struktur geologi TPA sampah Kabupaten Enrekang merupakan batuan konglomerat searah dengan kemiringan lahan. Berdasarkan hasil penelitian. Diagram hub. 2. tetapi terdistribusi berdasarkan kondisi geografis dan tipologi kota di Kabupaten Enrekang . 1. Berdasarkan hasil penelitian. Grs. lokasi TPA sampah yang ada di Batu Mila tidak sesuai ditinjau dari aspek penataan ruang. 6. 3. ambang batas diperbolehkan Gambar 3.

Pencemaran Air. Tinjauan Geohidrologi Sebagai Salah Satu Pertimbangan Dalam Pemilihan Lokasi TPA Sampah (Studi Kasus TPA Sampah Tamangapa Makassar). Sistem Pengelolaan Sampah. Bappeda Kabupaten Enrekang. 1990. . Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. Ltd. Pemetaan Geomorfologi Sistematis Untuk Studi Geologi. J. Prorgam Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Alumni. Kamus Lingkungan. 2000. 1989. Solo. Bandung. Tenn. Nat. Sudjana. Field Geology.A. Notoatmodjo. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Enviromental Sanitary. 1980. Madelan. A. Bandung.P. Mustofa. Jakarta. 1990. Alswar. S. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang. (1989). Rineka Cipta. Proceding Volume II. Bandung. O. Toronto. Bandung. Satya Wacana. Direktorat Penyehatan Lingkungan Permukiman. Metode Statistika. Dasar-Dasar Geologi Struktur. Makassar. Rineka Cipta. Bandung. Ilmu Kesehatan Masyarakat.H. Ryadi. 1986. F. Nashville. Slamet R. Vanderbilt University Press. 1997. Jakarta. (1988). Poll. Pertemuan Ilmiah Tahunan XXIII Ikatan Ahli Geologi Indonesia. 1992. Penelitian Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah dan Pengelolaan Sampah Tepat Guna. Azikin. Departemen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. 1997. 1999. Budihardjo. Kogakhusa Company. Sixth Edition. Nova. McGraw-Hill Book Company Inc. E. Karya Anda. Jakarta. Sym Therm. Bandung.L. Djambatan. 1994. Bandung. Instalasi Penerbitan PAM-SKL. 1984. London and Tokyo. Damanhuri E. Surabaya. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. 1989. New York.H. Ruslan H. A Warld Health Organitation Expert Committee. S. Tesis tidak diterbitkan.. Tarsito Edisi ke-6. 2001. Pedoman Teknis Pengelolaan Persampahan. Soemarwoto.R. Mutiara Sumber Widya. Pengantar Ilmu Gunungapi. Azwar. Semarang. Ujungpandang. Proc. W. 1988. Arifin F.Anonim. Hidartan dan Handayana. Kota Berkelanjutan. Lahee. 1997.

Unaradjan. Disisi lain dengan terbukanya lahan disekitar bantara sungai akan menyebabkan mudahnya terjadi penurunan (degradasi tanah) dan semakin tingginya tingkat erosi yang dapat ditimbulkan. Gadjah Mada University Press. PT. Perubahan status sosial ekonomi masyarakat dan kekurangmampuan sebagian warga diduga dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan intensitas untuk bermukim disekitar bantara sungai dengan harapan dapat membuka lahan perkebunan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tanah. Bandung. Comments: Be the first to comment STUDI ARAHAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN Posted December 24.. A. Vehoef. 1995. Penelitian Secara Cepat Pencemaran Air. Pengantar Metode Penelitian Ilmu Sosial. Prosedur Pengoperasian Standar TPA Sampah. Permasalahan utama yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sungai sebagai akibat adanya permukiman di sekitar bantaran sungai tanpa memperdulikan aturan sempadan sungai. U. P. Geologi Untuk Teknik Sipil. Makassar. Wardhana W.S. Departemen Pekerjaan Umum. maka diperlukan arahan pengelolaan dan pemanfaatannya. peladangan yang berlokasi di daerah pinggiran sungai serta terjadinya sedimentasi yang diakibatkan oleh erosi berkepanjangan tanpa adanya pengendalian dan dapat berakibat terjadinya luapan banjir yang pada akhirnya menggenangi daerah perumahan dan permukiman penduduk. Departemen Pekerjaan Umum. Jurusan Planologi Universitas 45. Untuk menjaga DAS Lawo. 1999/2000.Sulawesi II Urban Development Project Pekerjaan Umum.W. Jakarta. Ujungpadang. 2000. 1998. Grasindo. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Kerusakan sungai umumnya disebabkan oleh hilangnya hutan di daerah hulu sebagai akibat dari penebangan pohon yang tidak diikuti oleh peremajaan kembali. 1989.N. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yuliana. Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Andi Offset. Tri C. dan Udara. Yogyakarta. Yogyakarta. . Erlangga.2001. Jakarta. Yayasan LPMB. 1991. Skripsi tidak diterbitkan. Studi Pengelolaan Sampah di Kabupaten Enrekang Ditinjau Dari Aspek Pewadahan dan Pengangkutan.

Donri-Donri.45 Ha. terutama pada bagian hulu. B. Tujuan dan Sasaran Penelitian . Pendahuluan Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang dibatasi oleh pemisahan topografi yang menampung. sehingga membuat ekosistem sungai rusak. yang merupakan salah satu sektor andalan kabupaten soppeng. Kondisi demikian diperparah oleh adanya penambangan Galian C didaerah aliran sungai bahkan dibadan sungai. perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi kebun campuran. kelestarian fungsi sungai dan yang terpenting adalah tuntutan hidup masyarakat dapat berjalan sesuai dengan koridor untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Soppeng adalah Sungai Lawo yang melintasi di empat Kecamatan yaitu Kecamatan Lalabata. 1. Untuk meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan di DAS Lawo. Salah satu usaha pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kaitannya dengan pengendlian aliran sungai adalah untuk memenuhi keselamatan penduduk dari bahaya ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Dengan demikian pengendalian daerah aliran sungai pada prinsipnya ditujukan untuk meminimalkan ancaman banjir. telah terjadi kerusakan lingkungan. menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya kedalam suatu sistem pengaliran sungai atau tempat tertentu sesuai dengan kepentingan. yang berakibat terhadap tingginya aliran permukaan (run-off). Daerah hulu yang merupakan pengatur lingkungan (condition environment). Dampak air yang ditimbulkan adalah rendahnya debit air yang masuk di daerah irigasi pada musim kemarau. maka perlu di lakukan suatu kajian guna menyusun rencana pengelolaan kaitannya dengan alokasi berbagai kegiatan budidaya dan non budidaya yang dapat di lakukan dalam a DAS Lawo. dimana sebagian besar mengalir di permukaan yang menuju kesungai sebagai badan air. Disamping untuk mendapatkan hasil ekonomis yang optimal dari hasil kegiatan budidaya tanpa merusak ekosistem lingkungan DAS Lawo. Proses Pengendalian DAS Lawo bertujuan untuk mewujudkan rasa aman dikalangan masyarakat yang hidup di daerah sekitar aliran sungai dan melestarikan ekosistem. kerusakan ekosistem sungai.1. Kondisi ini kalau di biarkan terus berlangsun akan berdampak terhadap menurunnya produksi terutama sektor pertanian. Ganra dan Kecamatan Lilirilau. sepeti: perambahan hutan lindung.104. dengan luas kawasan DAS ± 17. yang mengakibatkan berkurangnya luas lahan budidaya dari tahun ketahun. Kondisi demikian disebabkan oleh rusaknya system tata lingkungan pada daerah aliran sungai. jauh dari bahaya yang dapat diakibatkan oleh luapan air sungai yang sewaktu-waktu dapat terjadi. air hujan yang jatuh hanya sebagian kecil yang meresap kedalam tanah. dari kebun menjadi lahan pemukiman. flora dan fauna serta jenis-jenis biota yang hidup didalam sungai. A. dengan tujuan kondisi debit air pada musim kemarau dan musim penghujan tidak terlalu jauh berbedah dan pada saat musim hujan DAS tersebut tidak menimbulkan banjir yang dapat merugikan.

Tinjauan Teoritis. flora dan fauna. dilihat dari kemampuannya untuk memugar diri (self restoring capability). dan berbagai sumberdaya budaya. dan (4) meningkatkan perilaku masyarakat ke arah kegiatan konservasi. 1. yaitu sumberdaya tanah dan sumberdaya air. 2. (2) meningkatkan stabilitas tanah. Pengelolaan DAS. Air adalah salah satu sumberdaya alam yang memiliki sifat yang unik. dan manusia diperlakukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. Pengelolaan DAS biasanya ditujukan kepada pengelolaan dua unsurnya yang dianggap penting. C. tanah. sedemikian rupa sehingga DAS dapat dikatakan merupakan suatu sumberdaya yang bergatra ganda dan terdiri atas berbagai macam sumberdaya tunggal. Karakteristik DAS. tetapi sebagai suatu ―dynamic resources‖. menyalurkan air tersebut dari suatu aliran ke seperangkat aliran tertentu dari hulu ke hilir dan berakhir di suatu tubuh/badan air bumi seperti danau atau laut. (3) meningkatkan pendapatan petani. DAS dapat dibagi menjadi dua satuan pengelolaan yakni satuan pengelolaan DAS hulu mencakup seluruh daerah tadahan atau . vegetasi. iklim. akan tetapi secara keseluruhan air tidak akan habis selama faktorfaktor pembentuknya tetap ada dan tetap berfungsi. kelakuan dan kegunaan masing-masing. 1. DAS juga merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat. Sasaran Pekerjaan Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan studi arahan pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut : (1) meningkatkan stabilitas tata air.. 1. Tiap sumberdaya pembentuk DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. Unsur-unsur lain seperti. sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai suatu ―static resources‖. Pada dasarnya DAS merupakan suatu wilayah yang menampung air. Ditinjau secara setempat air dapat menyusut atau habis. Tujuan Tujuan pelaksanaan penelitian pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut: Untuk menentukan konsep pengelolaan DAS Lawo. sehingga terjadi kesimbangan antara daerah budidaya dan non-budidaya dan untuk mempertahankan dan memperbaiki lingkungan sistem hidrologis Sungai Lawo. Air dapat disebut sebagai sumberdaya yang mengalir (flowing resources). 3. geologi atau sumberdaya mineral. manusia.1. Sumberdaya yang menjadi unsur suatu DAS ialah iklim. air.

jumlah air didalam tiap komponen input. output. 1968): Berdasarkan hal tersebut diatas. Pada prinsipnya DAS hulu perlu dikelola dengan penekanan utama sebagai fungsi konservasi. Seperti telah diuraikan sebelumnya. Menurut pandangan ekologis. c) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia.F12 F21 0 F32 (3) X3 a3 Z3 (3) 0 F23 - . Perlakuan terhadap daerah hilir akan menentukan seberapa besar manfaat yang secara potensial dapat diperoleh dari pengelolaan daerah hulu akan benar-benar terwujud. atau lingkungan pengendali (conditioning environment) dan daerah hilir sebagai daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumen. Tabel: 1. dan laju transfer dapat dapat digambarkan dalam tabel 1. Dengan kata lain. maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang. d) Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimumkan produksi Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS karena hal itu akan menentukan manfaat-manfaat besar yang dapat diperoleh atau peluang yang terbuka dalam pengelolaan DAS hilir. Memperlancar infiltrasi air ke dalam tanah. pengelolaan daerah hilir bertujuan meningkatkan daerah tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. model matematik yang mewakili suatu sistem selalu meliliki unsur-unsur sebagai berikut (Mize and Cox. Keadaan Sistem Hidrologi DAS Komponen Banyaknya Komponen Input Output Transfer ke Komponen (1) Transfer dari komponen (2) (3) (1) (2) X1 X2 a1 a2 Z1 Z2 (1) (2) .daerah kepala sungai. Pengelolaan DAS hilir dengan demikian mempunyai peranan melipatgandakan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Pengolahan DAS hulu ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut. a) b) Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha pengendalian banjir. dan satuan pengelolaan DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan.

1. Lahan yang penuh ditutupi kanopi pepohonan akan dapat meningkatkan curah hujan sekitar 5 – 6 %. Intersepsi merupakan suatu proses dimana sebagian dari curah hujan tertahan leh tajuk pohon dan sebagian besar diuapkan kembali ke udara. sehingga tanah menjadi lebih lembab. d) Pengolahan yang tidak tepat dapat meningkatkan erosi dan pengendapan sedimen. Apabila jumlah dan intensitas curah hujan rendah. dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. Air hujan yang ditahan oleh tumbuhan selain diuapkan kembali dari permukaan tanah. Lahan yang tertutup dengan pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin dipermukaan tanah. Pohon-pohon yang tinggi pada lapisan teratas akan mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah. Tata Guna lahan dan Perilaku DAS. e) Tata guna lahan juga memberikan dampak terhadap kualitas air. serta meningkatkan pengisian air tanah. Sebaliknya apabila jumlah dan . b) Tata guna lahan berdampak besar terhadap kelembaban tanah. b) Peredaran Air. meningkatkan aliran dasar (base flow). 1. Lapisan-lapisan tajuk ini terbentuk sebagai akibat dari persaingan dimana pada akhirnya jenis-jenis tertentu akan lebih dominan dari pada jenis yang lain. Tata guna lahan memiliki keterkaitan dengan sumberdaya air DAS dalam beberapa aspek sebagai berikut. a) Hutan dan Pengaruhnya bagi Air. akibatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir menjadi berlipat ganda dan umur reservoir menjadi lebih pendek. c) Tutupan kanopi pepohonan yang rapat dapat mengurangi debit banjir dengan periode ulang pendek. Hutan yang masih utuh terdiri dari strata-strata atau lapisan-lapisan tajuk. 3. 4. maka sebagian besar dari air hujan akan ditahan oleh tajuk dan langsung diluapkan kembali ke udara. Hal ini berarti bahwa untuk curah hujan yang kecil. 1. Intersepsi. Upaya penghijauan dan konservasi lahan lebih efektif untuk pengurangan sidementasi dan debit air/banjir. Ekosistem Hutan Alam Struktur hutan yang masih utuh terdiri dari pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi sampai kepada pohon-pohon Perdu dan tumbuhan yang merambat yang semuanya tersusun dalam lapisan tujuk yang rapat. 1964). a) Tata guna lahan memberikan dampak terhadap curah hujan. persentase yang diintersepsi akan besar. juga dalam jumlah yang kecil mungkin di absorbsi melalui daun ke dalam jaringan tanaman (Jeffrey.

49 2.000 2. Air Lolos (Throughfall) Air lolos adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui lapisan tajuk. 1.79 3. suhu.000 . Perakaran yang dalam dari jenis-jenis pohon menyebabkan evapotranpirasi lebih besar dibandingkan dengan jenis-jenis herbal yang mempunyai perakaran dangkal.85 2. air ini telah melalui suatu struktur lapisan tanah yang rapat. Hal ini sangat penting diperhatikan dalam menentukan luas hutan lindung didaerah-daerah dengan ketinggian yang tinggi. Penguapan (Evapotranspiration) Penguapan merupakan proses perubahan face cair menjadi uap.40 9. tanah tanaman untuk kemudian terlepas ke atas atmosfir sebagai uap air.36 3.intensitas curah hujan besar maka persentase yang diintersepsi akan menjadi kecil. 1. Aliran batang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terpenting adalah architektur pohon. struktur tegakan (stratifikasi). Aliran Batang (Stemflow) Aliran batang adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui batang pohon. mulai dari lapisan pohon-pohon yang dominan sampai pada lapisan semak belukar dan serasah. Proses ini berlangsung pada berbagai permukaan air. Hubungan ketinggian dan evapotranspirasi telah diukur seperti tabel di bawah ini : Tabel 2. 1978). 1. 1962) pada petak seluas 300 meter persegi dengan 16 pohon yang masing-masing dipasangi saluran plastik berbentuk spiral pada dasar batang menunjukkaan bahwa aliran batang kurang dari 1% air lolos (UNESCO.000 1.80 500 1. tekanan udara di atmosfir dan jumlah air yang tersedia untuk diuapkan. Evapotranspirasi pada berbagai ketingggian Ketinggian 0 (m.29 2.90 6. Dengan demikian kecepatan dan besarnya butir-butir hujan yang mencapai tanah sudah sedemikian kecil sehingga tidak lagi merupakan bahaya bagi kerusakan tanah. Sebelum mencapai permukaan tanah. ternyata dapat mengintersepsi lebih dari 68% curah hujan yang tidak lebat.500 2. Laju penguapan sangat dipengaruhi oleh radiasi. kelembaban. 4.500 3. Dikemukakan selanjutnya bahwa terdapat korelasi antara evatranspirasi total dengan kedalaman akar.380 1. kulit batang dan letak serta posisi daun. Dalam penelitian Malchanov (1963) pada tegakan spurce (Picea sp) yang lebat daunnya.16 1.85 mm/hr Evapotransp 1. kecepatan angin.590 1. Pengukuran stemflow pada suatu hutan selalu hijau yang rapat di Balnco (Huttel. dpl) Evapotransp.10 7.200 10.

Erosi dan Sedimentasi Aktifitas penduduk didaerah sekitar DAS secara tidak terkendali akan memberikan dampak terhadap perubahan kondisi fisik sungai terutama dalam bentuk erosi dan transpor sedimentasi dan akan berlanjut dengan proses pendangkalan dibagian dasar sungai sehingga akan . priodik.mm/tahun Sumber : Ramsay. dan litosol yang tersebar dari hulu – hilir. Untuk kemudahanya lereng dikelompokkan menjadi 5 kelas. Hidrologi dan Klimatologi Kondisi hidrologi DAS lawo berdasarkan data dari Dinas PSDA Kabupaten Soppeng debit sungai rata-rata per 15 Agustus 2007 adalah 427. sedangkan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada sekitar ± 24 0 sampai 30 0 . Geologi dan Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. mediterian coklat regosol. termasuk wilayah DAS Lawo. Keadaan angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. gromosol. dan liat. 1. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). Gambaran DAS Sungai Lawo Topografi Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. Kondisi ini menyebar merata keseluruh wilayah Kabupaten Soppeng. Lereng 15 – 25%. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. sedang rata-rata hari hujan di Kabupaten Soppeng tertinggi bulan April 19.54 mm dan 9. D. Wilayah DAS Sungai Lawo. D. Curah hujan Kabupaten Soppeng pada tahun 2005 berada pada intensitas 90. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0% hingga lereng > 45%. 2. yaitu: Lereng 0 – 7%. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. lempung berliat. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. 1. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain: lempung berpasir.. Sedangkan tekstur tanah berfariasi dari hulu – hilir DAS. 64 (L/det).9 hari hujan/bulan. Tengah DAS antara lain: liat berpasir dan lempung berpasir. lereng 26 – 45% dan Lereng > 45%. dan panjang lereng > 50 m. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. Lereng 8 – 15%. Bagian hulu DAS tekstur tanah antara lain: lempung berpasir dan liat berpasir. dan temporer. 3. 1.6 hari dan terendah bulan Agustus dan Okotober yakni 0 (tidak hujan).M. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe. (ed). mediterian coklat. 1. 2. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS lawo berupa genangan permanen. 1976. 4. Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 295 mm dan yang terendah yakni bulan Agustus dan Oktober yakni 0 (tidak hujan). 1.

kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). E. tengah. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0 – 7% hingga lereng > 45%. maupun di bagian hilir DAS. sehingga dalam proses penanganannya perlu diperhatikan pula guna menjaga keberlangsungan hubungan antara hulu. kondisi ini dibiarkan berlanjut terus menerus maka akan berlanjut dengan proses pendangkalan di bagian tengah sungai dan akan mengganggu keberlangsungan ekosistem pada hilir DAS itu sendiri. Kondisi DAS sungai lawo terutama dalam bentuk erosi dan sedimentasi. sebagaimana pada tabel 3. Tabel: 3. bahkan terjadi kering di bagian tengah sungai.  Struktur dan Tipologi DAS Daerah Hulu DAS Karakteristik hulu DAS Lawo secara umum merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki kerapatan hutannya baik dan sampai saat ini masih tetap dipertahankan fungsi hutannya terutama penduduk yang bermukim disekitar hulu DAS sebagai kawasan yang dapat memberikan perlindungan dibagian hulu hingga hilir DAS. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. dimana bagian hulu DAS ditemukan beberapa bagian sungai yang sudah mengalami perubahan fisik dalam bentuk erosi. Analisis geomorfologis Ketinggian merupakan salah satu faktor fisik yang berpengaruh terhadap suhu udara. dan panjang lereng > 50 m.  Daerah Hilir Das Kondisi bagian hilir DAS Lawo dari segi fisik sungai umumnya sudah mengalami degradasi terutama dalam bentuk sedimentasi. . dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. Kondisi fisik bagian tengah DAS. 5.Wilayah DAS Sungai Lawo. Analisis Wilayah DAS Lawo 1.  Daerah Tengah DAS Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. dibeberapa tempat telah mengalami perubahan dalam bentuk alur air sehingga air tidak mengalir di bagian tengah sungai. dan hilir DAS dalam menjalankan fungsi hidrologinya.mempengaruhi pola aliran air sungai baik di bagian hulu. namun di beberapa bagian sungai terutama kondisi fisik sungai telah mengalami perubahan alur sungai yang dapat mempengaruhi pola aliran air sungai yang tidak mengikuti alur sungai yang sebenarnya di mana aliran air mengalir dibagian kiri kanan sungai dan membentuk delta di bagian tengah sungai. tengah. 1.

Lereng 8 – 15% sebaiknya diperuntukan sebagai budidaya lahan kering atau lahan basah. Analisis ini sebagai dasar indikator dalam mengetahui kondisi hidrologis wilayah DAS Lawo. dan genangan. dan temporer. Kerapatan drainase adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS seperti tercantum dalam rumus di bawah ini: Dd = L/A Dd= Kerapatan Drainase (km/km) .34 2. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. Geohidrologis dimaksudkan untuk mengetahui kondisi berupa kerapatan drainase.104.54 17.Klasifikasi dan Luas Lereng di Wilayah DAS Lawo Luas No Klasifikasi 1 0–7 2 8 – 15 3 16 – 25 4 25 – 45 5 >45 Jumlah (Ha) 11. guna merumuskan strategi penanganan dan arahan pemanfaatannya. debit air sungai. kopi. karena berfungsi sebagai kawasan penyangga. dan lainnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai jalur hijau juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. 45 % 69 3 15 8 5 100 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007 Apabila dianalisis lebih lanjut maka kondisi lereng 0 – 7% sebagian besar penutupan lahannya adalah sawah dan rawa. sehingga untuk pemanfaatan lahannya dapat diperuntukan sebagai budidaya lahan kering ataupun lahan basa dan permukiman. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS Lawo berupa genangan permanen. priodik. pengaturan tata air.92 486. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. 1. Analisis geohidrologis.863.19 860. dan kawasan lindung. selain itu juga kondisi lereng ini dapat terjadi tanah longsor sehingga kelestariannya tetap dijaga. dan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. agrovorestri dan hutan kemasyarakatan. Lereng 16 – 25% pemanfaatannya sebaikknya sebagai budidaya tanaman tahunan/tanaman semusim jenis vegetasi berupa cengkeh.46 1. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe. Lereng 25 – 45% vegetasinya tetap dipertahankan selain itu juga dapat di manfaatkan sebagai budidaya tanaman tahunan yang berbasis pada huta rakyat.502. Sedangkan lereng >45% vegetasinya tetap dipertahankan dan dilestarikan. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. cokelat.391.

Tabel: 4. artinya jumlah air larian total semakin besar.06 m/dt.386 km/km. Berdasarkan data di atas dan hasil perhitungan kecepatan permukaan aliran rata-rata maka besarnya debit air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Bernoulli atau sering juga dikenal sebagai the continuity equation. Sedangkan dari data yang diperoleh maka Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (Vperm dalam m/dt) dapat dihitung dengan rumus: Vperm = L/t L = Jarak Antara dua Titik Pengamatan (m) t = Waktu Perjalanan Benda Apung (detik) Dari hasil perhitungan diatas maka diperoleh kecepatan permukaan aliran sungai rata-rata adalah 1. Kondisi ini perlu adanya upaya-upaya penanganan yang harus dilakukan seperti pemantapan fungsi kawasan lindung terutama penghijauan kembali pada daerah-daerah yang kategori vegetasinya sudah dalam kondisi yang tidak diharapkan. serta pengaturan kembali pola penggunaan lahan di wilayah DAS lawo guna menghindari kemungkinan dampak negatif yang akan terjadi.328 m3/dt. Pada persamaan ini nilai Q diperoleh dari perkalian antara kecepatan aliran V (m/dt) dan luas penampang melintang A (m2) atau secara matematis: Q=AV Q = Debit (m3/dt) A = Kecepatan Aliran (m/dt) V = Luas Penampang Melintang (m2) Dari hasil analisis yang dilakukan maka diperoleh debit air rata-rata DAS Lawo adalah 9. . Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pengaliran (drainase) DAS Lawo dalam kondisi sudah terganggu (tidak normal).L = Panjang Aliran Sungai (km) A = Luas DAS (km2) Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh kerapatan drainase wilayah DAS Lawo adalah 0. sehingga tingkat infiltrasi yang terjadi di wilayah DAS Lawo akan semakin kecil.

disebabkan . 5. 3. kondisi ini diduga sebagai akibat lemahnya struktur geologi. mediterian coklat regosol. sehingga memungkinkan untuk budidaya tanaman jangka panjang. disisi lain kerapatan pohon sudah mulai berkurang. Bagian tengah DAS terdapat jenis tanah gromosol dan mediterian cokelat.53 845. 1. sehingga kedepan kawasan hutan tersebut tetap dijaga dan dilestarikan. Bagian hulu DAS terdapat jenis tanah mediterian coklat regosol dan litosol. dan litosol yang tersebar dari hulu hingga hilir. 1.Jenis dan Luas Genangan di Wilayah DAS Lawo No 1 2 3 4 Jenis Genangan Permanen Periodik Temporer Non Genangan Jumlah Luas (Ha) 76.104. yang sesuai untuk lahan/kegiatan budidaya lahan basah. dan liat. dan keberadaan vegetasi kurang mengimbangi kondisi struktur geologi yang ada sehingga mudah terjadinya erosi dan longsor.45 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007. Bagian hulu dan tengah DAS tekstur tanah berupa lempung berpasir dan liat berpasir. Analisis Potensi SDA a. Jenis tanah ini merupakan hasil dari proses endapan lumpur dari hasil sedimentasi yang terjadi. lempung berliat. Sedangkan tekstur tanah bervariasi. Hal ini perlu adanya upaya penanganan berupa pemilihan jenis vegetasi yang akan dibudidayakan harus memiliki sistem perakaran yang dapat mendukung struktur geologi yang ada. karena mempunyai lapisan atas/soluin tanah yang dalam ± 100 cm.13 15. Di mana jenis tanah ini adalah jenis tanah subur. mediterian coklat. karena kawasan ini merupakan daerah resapan dan penyimpanan air. Analisis Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. gromosol. Sedangkan jenis tanah yang terdapat di bagian hilir DAS adalah alluvial kelabu tua.46 307.875. Analisis Geologi Berdasarkan pengamatan tim dilapangan ditemukan beberapa titik yang terdapat erosi dan longsor terutama di bagian hulu DAS yang mempunyai kelerengan kisaran 25 sampai >40.33 17. jenis tanah ini mudah tererosi karena teksturnya berupa pasir berlempung sehingga penutupan lahannya harus tetap di jaga untuk menjaga agar tidak terjadi erosi/tanah longsor. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain lempung berpasir. sehingga sifatnya relatif subur. Analisis SDA Kehutanan Pada kawasan hulu DAS status hutan sebagian besar adalah hutan lindung.

Sedangkan pada kawasan DAS tengah dan hilir DAS seluruh kawasan bukan hutan lagi melainkan kawasan budidaya. sehingga pemanfaatan lahan di daerah tersebut harus memperhatikan kaidah-kaidah konservasi agar pemanfaatannya tidak merusak lingkungan ekosistem wilayah DAS. Analisis Aliran Sungai Lawo a.karena terjadinya penebangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan belum sadar akan pentingnya pelestarian hutan. Analisis SDA Pertanian Pembukaan lahan pertanian di wilayah daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan sehingga tidak akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti erosi. terutama dalam hal tekstur tanah dan kedalaman efektif tanah. Analisis Sumberdaya Air Potensi Sungai Lawo sebagai sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan perlu dikelola dengan baik terutam dalam hal pengaturan berbagai pemanfaatan lahan yang ada disekitar Sungai Lawo agar dampaknya tidak mengganggu kondisi hidrologi sungai baik dari segi fisik sungai. Kegiatan pertanian lahan basah adalah kegiatan pertanian yang memerlukan air terus menerus sepanjang tahun. jenis vegetasi adalah tegakan hutan. maupun kualitas air. Produktifitas dan kualitas mutu panen cenderung menurun bila kedalaman efektif tanah menurun. merupakan daerah konservasi. Pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dan sumber daya lahan berupa perambahan hutan dan perladangan di suatu wilayah DAS yang cenderung meningkat tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi akan memberikan dampak positif terhadap DAS dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat penyediyaan sumber air dapat terganggu. Pertanian lahan basah memerlukan kedalaman efektif tanah minimal 60 cm. bukan daerah banjir. pertanian. Sedangkan tekstur tanah yang terbaik bagi jenis pertanian lahan basah adalah tanah yang berliat. berdebu halus. dan meningkatnya laju sedimentasi. Tanah yang berkuarsa sangat tidak sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan kuarsanya sedang. Dari hasil analisis yang dilakukan di wilayah DAS Lawo. dan harus dipertegas dengan aturan yang ada. c. pencemaran air. dengan komoditas utamanya adalah padi sawah (wetland rice). 6. Kondisi hulu DAS Lawo umumnya didominasi oleh kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam mendukun proses hidrologi DAS masih tetap terjaga. mempunyai kerapatan drainase tinggi. dimana bagi oknum masyarakat yang merusak kawasan hutan tanpa memiliki dasar yang jelas harus diberikan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. batas ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30 cm. perubahan siklus hidrologi. sampai berlempung halus. sehingga masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang fungsi pelestarian lingkungan disekitarnya. terdapat penyebaran lahan yang sesuai bagi pengembangan budidaya pertanian lahan basah. perikanan. Analisis DAS Hulu Bagian hulu DAS biasanya memiliki karakteristik antara lain. peternakan. dan berbagai kebutuhan lainnya. kelerengan diatas 15 %. kuantitas. sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan seperti sumber air bersih. b. namun kenyataannya terdapat adanya .

dan muara-muara sungai karena adanya sedimentasi ditempat tersebut. 1. dan peningkatan fungsi sistem irigasi yang ada. Pengembangan Wisata Air. Berdasarkan kondisi di atas maka perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan seperti pengaturan berbagai aktifitas terutama di wilayah hulu DAS agar tidak mengganggu fungsi kawasan hutan lindung. Analisis DAS Tengah. c. merupakan daerah pemanfaatan. pemakaian air diatur oleh bangunan irigasi. . dan memberikan dampak terutama di daerah hilir DAS dalam bentuk transpor sedimentasi yang akan mengganggu sistem hidrologi DAS. Karakteristik hilir DAS memiliki ciri antara lain. akan menimbulkan berbagai problem lingkungan seperti erosi yang dapat mempengaruhi produktifitas lahan. Banjir yang terjadi di wilayah DAS lawo umumnya terdapat di bagian hilir DAS. dimana pada musim hujan banjir dapat merusak areal persawahan bahkan sampai ke pemukiman penduduk. Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan seperti perladangan tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi tanah dan air misalnya penggunaan input (pupuk dan pestisida) yang berlebihan akan berimplikasi langsung terhadap kandungan unsur pada tanah dan akan berpengaruh kepada daya dukung tanah sehingga tanah mudah tererosi dan juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas air tanah. serta pengaturan penggunaan air irigasi agar dapat mengairi semua sawah yang ada di wilayah DAS Lawo secara umum dan khususnya wilayah hilir DAS sebagai daerah pemanfaatan berbagai aktifitas. kerapatan drainase kecil. Analisis Pengemb. 7. Aktifitas penduduk di sekitar bantaran sungai yang cenderung meningkat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konserfasi tanah dan air. jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian. kelerengan dibawah 8 %. Untuk itu perlu adanya tindakan berupa sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat agar masyarakat menyadari pentingnya fungsi hutan dan bahaya terjadinya kerusakan lingkungan berupa erosi dan tanah longsor. saluran-saluran irigasi. Sedimentasi sebagai hasil dari proses erosi yang terjadi di DAS dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pada sungai. a. Wisata. bendungan.perambahan hutan yang kemudian dijadikan sebagai perladangan masih tetap terjadi. juga penebangan vegetas di daerah pinggiran sungai untuk perluasan areal perladangan dapat memberikan tingkat erosi yang terjadi di wilayah DAS. Bagian hilir DAS disamping sebagai daerah pemanfaatan juga sebagai daerah penadah tentunya akan menanggung berbagai resiko yang terjadi di suatu wilayah DAS. b. tinggi banjir yang terjadi ± 1 m. Analisis DAS hilir. dibeberapa daerah merupakan daerah banjir. waduk.

DAS Lawo terutama di bagian hulu DAS. potensi ini dapat dilakukan melalui upaya pembangunan waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata. dinyatakan bahwa pendekatan dalam pengembangan.DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. Aktifitas penduduk di wilayah DAS lawo yang pada umumnya adalah petani. keberadaan satwa. seperti.    Meningkatkan kemampuan fungsi retensi DAS hulu terhadap aliran permukaan melalui pemantapan fungsi kawasan lindung. DAS sendiri merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah yang mengalir dari permukaan tanah ke sungai dari hulu hingga hilir. proses penanganan ini berupa. Arahan Strategi Penanganan DAS. Mengacu pada PP No. Memperlancara infiltrasi air ke dalam tanah. a. c. Hal ini di tandai dengan adanya berbagai keunggulan-keunggulan yang dimiliki berupa keindahan alam pegunungan. . Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha mengendalikan banjir. Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan DAS Lawo 1. DAS hulu merupakan seluruh daerah tadahan/kepala sungai. Pengembangan Agrowisata Pengembangan agrowisata pada suatu lokasi perlu dilakukan kajian lokasi secara matang. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) berdasarkan daya dukung kawasan. Pengembangan Ekowisata. 1. perlindungan dan penggunaan sumberdaya air didasarkan atas pendekatan wilayah sungai. Strategi Penanganan DAS Hulu Berdasarkan aspek ekologi daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) atau sebagai lingkungan pengendali (conditiong environment). yang akan banyak dipengaruhi oleh kondisi vegetasi pada setiap bagian dari daerah alirsan sungai tersebut. dengan memanfaatkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan kebiasaan (massangki) dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. 22 tahun 1982 tentang tata pengaturan air. salah satunya adalah monyet yang tersebar khususnya di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan lingkungan ekologis di DAS Lawo agar lebih lestari. F. (i) pemilihan berdasarkan Karakteristik alam. dan (ii) Pemilihan berdasarkan potensi wilayah. b.

Rencana Kawasan Lindung. Menentukan sistem budidaya yang dapat dilakukan pada setiap permukaan lahan. dengan strategi berupa. Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimalkan produksi. Meminimalisir tingkat erosi dan longsor yang terjadi melalui pendekatan EkoEnggineering dengan memanfaatkan vegetasi setempat. DAS hilir merupakan daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumsi. serta menjaga keberadaan vegetasi sekitarnya dalam membantu kemampuan retensi terhadap aliran permukaan. . Proses penanganannya berupa. Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan.     Mencegah atau mengendalikan banjir dan sidementasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan. Arahan Pemanfaatan Lahan. Memperbaiki pengaturan pemanfaatan lahan untuk meningkatkan kemampuan lahan. Meliorasi tanah dan kalau perlu dilakukan reklamasi tanah.    Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. Meningkatkan daya guna air dari sumber-sumber air tersedia. Menentukan dan menyesuaikan jenis budidaya yang dapat dikembangkan pada setiap unit lahan.     Meningkatkan fungsi retensi DAS tengah melalui pengembangan prasarana pengairan berupa waduk tangkap dalam menahan air yang mengalir dari arah hulu DAS. kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. c. Strategi Penanganan DAS Hilir Berdasarkan tinjauan aspek ekologi. a. Mempertahankan dan melestarikan hutan lindung yang terdapat di satuan pengelolaan DAS Hulu. DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. 2. Strategi Penanganan DAS Tengah Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. b.

a. Prasarana lingkungan berupa waduk tangkap. maka jenis budidaya pertanian lahan basah (padi sawah) pengembangannya terutama diarahkan di daerah hilir dan di daerah tengah DAS. Arahan Prasarana Lingkungan. Rencana Irigasi. rencana pengembangannya diarahkan pada daerah perbatasan antara hulu dan tengah DAS. Sedangkan prasarana irigasi. sedangkan di daerah hulu DAS bisa dikembangkan jenis budidaya berupa kemiri. Kawasan Perlindungan setempat meliputi garis sempadan sungai. kopi. maka dilakukan rencana pemanfaatan kawasan budidaya yang meliputi budidaya lahan kering dan lahan basah. sedangkan DAS hulu yang merupakan daerah lindung namun vegetasinya bukan hutan. b. Arahan pemanfaatan lahan dengan kegiatan budidaya lahan kering. merupakan jenis tanaman yang dapat dibudidayakan seperti kelapa dalam. Luas kawasan lindung yang merupakan kawasan DAS hulu seluas 860. kemiri. Rencana Pengembangan Waduk. namun dalam rencana ini diupayakan agar waduk tersebut selain berfungsi untuk menunjang kegiatan seperti pertanian dan berbagai pemanfaatan lainnya juga berfungsi sebagai tempat wisata yang berskala lokal. dan kawasan sekitar mata air. b.56 hektar dengan vegetasi adalah hutan. Rencana Pemanfaatan Budidaya. kakao. Berdasarkan potensi yang terdapat di wilayah DAS Lawo terutama potensi pertanian yang dominan. 3. bambu. maka harus dihutankan kembali dengan vegetasi tanaman yang sesuai seperti kemiri dan sukun. dimana proses pengaturannya dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir DAS Lawo. Berdasarkan pola penyebaran jenis tanah terutama dalam hal tekstur dan kedalaman efektif tanah. Pengembangannya diarahkan di daerah DAS tengah. Dengan tujuan disamping bernilai lingkungan juga bernilai ekonomis. jambu mente. diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi dominan berupa jenis pertanian lahan basah terutama di daerah hilir dan tengah DAS.Sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. dengan . lada. dan lainnya. terdapat dibagian hulu DAS yaitu berupa kawasan hutan lindung.  Budidaya Lahan Basah. dimana lokasi ini sebelumnya masuk dalam rencana pembangunan waduk tangkap. namun harus memperhatikan keberadaan kawasan hutan lindung yang ada sehingga tidak terganggu fungsi lindungnya.  Budidaya Lahan Kering. waduk tangkap. dan tembakau.

serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. 5. Aktifitas penduduk di wilayah DAS Lawo yang pada umumnya adalah petani. Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata atau wisata terbatas yang memanfaatkan tatanan. Konsep ini lahir akibat keprihatinan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang terancam oleh pembangunan. Prospek pengembangan agrowisata di wilayah DAS Lawo mempunyai peluang yang baik mengingat potensi yang ada sangat beragam dan khas. Arahan Prasarana Wisata.mempertimbangan kapasitas sistem irigasi yang ada sehingga dapat mengaliri semua areal sawah. Pengembangan ekowisata DAS Lawo diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan. Pengembangan Wisata Air. b. Pengembangan Ekowisata. Areal Permukiman di Daerah Hulu. serta ekowisata menjadi alat bagi penyadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan yang tidak mungkin mengorbankan masyarakat yang tinggal dan hidup didalam atau sekitar kawasan lingkungan. Pengembangan wisata ini diarahkan pada daerah yang memiliki potensi untuk dibangun prasarana air berupa waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. cenderung terdapat di daerah tengah dan hilir. a. nilai dan fungsi ekologi sebagai obyek dan tujuan kepariwisataan. Perpaduan antara kekayaan komoditas agraris dengan bentuk keindahan alam dan budaya masyarakat setempat merupakan kekayaan obyek wisata yang amat bernilai. dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan ‖massangki‖ dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. . terutama di bagian hulu DAS. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) dengan berdasarkan kepada daya dukung kawasan. salah satunya adalah monyet yang tersebar di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat dan lingkungan ekologis di wilayah DAS Lawo agar lebih lestari. a. Dengan demikian pengembangan agro wisata diarahkan di daerah tengah dan hilir DAS. 4. Arahan Sistem Permukiman. c. keberadaan satwa liar. DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. Pengembangan Agrowisata. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata yang meliputi keindahan alam pegunungan.

. terutama kepada masyarakat yang bermukim dalam wilayah DAS Lawo. 2) Diprediksi DAS Lawo sepuluh tahun kedepan. 5) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus menjadi komitmen bersama seluruh stakeholder. Gajah Mada University Press.. 3) Masyarakat yang bermukim dalam kawasan lindung. maka sebaiknya dilakukan sosialisasi. DAFTAR PUSTAKA Asdak.Keberadaan pemukiman di daerah hulu DAS perlu diperhatikan agar tidak mengganggu fungsi kawasan lindung. 2004. dimana proses penanganannya berupa pengaturan garis sempadan sungai. 4) Untuk dapat mempercepat implementasi. Bandung. larangan pembuangan sampah ke dalam sungai serta pengaturan fungsi kawasan lainnya yang dapat dilakukan agar penduduk dapat terhindar dari berbagai resiko lingkungan berupa banjir dan erosi agar lingkungan wilayah DAS dapat terjaga dalam mendukung berbagai pemanfaatan. Penanganan pemukiman di luar daerah hulu diarahkan terutama pada daerah tengah dan hilir DAS. maka diperlukan upaya-upaya penanganan pelarangan perluasan kawasan pemukiman serta penyiapan lokasi pemukiman yang layak dalam berbagai aspek agar penduduk setempat dapat direlokasi ke tempat yang disiapkan. maka terdapat beberapa rekomendasi yang harus dilakukan untuk dapat mengelola dan melindungi DAS Lawo. Padjajaran University Press. Asdak. C. 6) Pembangunan Waduk tangkap. seharusnya direlokasi pada suatu tempat dalam bentuk transmigarasi lokal. sebagai berikut. Areal Permukiman di Daerah Hilir. maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. 1990. sehingga dapat lebih berkelanjutan. Rekomendasi. sehingga dapat dilakukan lebih manusiawi. Yogyakarta. Agar tidak mengganggu fungsi kawasan dan wilayah DAS secara keseluruhan. b. . Berdasarkan hasil kajian DAS Lawo. 1) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus dilakukan secara terpadu. 1. apabila tidak dilakukan perbaikan dan perlindungan DAS Lawo. Biophysical relationships needed to perform economic evaluation of watershed management program. karena berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 kawasan DAS merupakan kawasan strategis lingkungan yang senantiasa harus dilindungi. harus memperhatikan kepemilikan lahan yang termasuk dalam areal rencana waduk. C. G. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.

Kerugian ini akan semakin besar kalau terjadi di kota-kota besar yang padat penduduknya. dll. Usaha pengendalian banjir tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan. Pendahuluan Indonesia merupakan negara beriklim tropika humida (humid tropic) yang pada musim hujan mempunyai curah hujan tinggi. Policies for sustanaibel Development. pompanisasai air banjir.. Gray. Easter. H. Fenomena ini sudah kita sadari. terbatasnya penyediaan air bersih. karena proses . Untuk mengurangi kerugian tersebut telah banyak usaha penanggulangan banjir yang dilakukan seperti pembuatan tanggul banjir. karena kejadian banjir terus meningkat dari waktu ke waktu. 1970..I. kabu asap. Integrated watershed management research for developing countries. The role of watershed management. 1991. K. sudetan sungai. 1994. karena nilainya cukup besar. 1985.W.. The environment and natural resources policy adn training project. Berdasarkan beberapa kejadian kekeringan diperoleh informasi bahwa kekeringan dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan.E. Black.M.. Prentice Hall. Handbook on the principles of hydrology. National Research Council of Canada. Honolulu H. Watershed Hydrology. EastWest center Worshop report. Akibatnya di beberapa tempat terjadi banjir yang banyak menimbulkan kerugian baik nyawa maupun harta benda. P. Folliott. Englewood Cliffs. tampungan banjir sementara.. A.M. perikanan. peternakan dan terganggunya transportasi air. K. New Jersey.Brooks. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized ABSTRAK Besarnya kerugian akibat kekeringan di beberapa daerah sangat memprihatinkan. D. berkurangnya air untuk prtanian.F. Sungai X3 Vegetasi X1 Comments: Be the first to comment PENANGANAN BANJIR DAN KEKERINGAN Posted December 24. P. New York.N.

dan sumberdaya air secara keseluruhan. Penanggulangan kedua bencana tersebut terus diupayakan dengan berbagai cara. Di sisi lain banjir merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup besar potensinya. Pada kondisi tanah dengan kelengasan tinggi atau jenuh air. Oleh karena itu penanggulangan banjir tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan DAS. Faktor Hujan Intensitas hujan sangat berpengaruh pada besarnya debit puncak banjir. Banjir adalah peristiwa keberadaan air mengalir melampaui kapasitas perangkat pengaliran yang disediakan/tersedia dan mengalir di luar kemampuan perangkat itu. namun nampaknya masih dilakukan secara terpisah. sehingga hampir seluruh hujan menjadi aliran dan dapat menimbulkan banjir. namun belum dirumuskan dengan baik. Dalam konteks ini air menimbulkan gangguan akibat pengalirannya atau genangannya pada tempat-tempat yang tidak disediakan untuknya. justru dapat menimbulkan banjir. karena hujan diseluruh DAS belum teratus. namun nilainya cukup kecil. Pengendalian banjir dan pananganan kekeringan secara terpadu nampaknya akan memberikan hasil lebih baik. Apabila air banjir pada musim hujan dapat ditampung dan disimpan. walaupun intensitas hujannya tidak terlalu besar. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang telah dibasahi hujan sebelumnya menurunkan kemampuan menginfiltrasi air. sehingga dapat menurunkan debit banjir. perikanan dan pariwisata. infiltrasi memang masih berjalan. yaitu pada kondisi durasi hujan yang lebih pendek dari waktu konsentrasinya. Pada kondisi tersebut nilai debit puncak ditentukan oleh sebagian luas DAS. Kejadian hujan dalam beberapa hari berturut-turut. Uraian di atas menunjukkan bahwa peristiwa banjir dan kekeringan sangat merugikan kehidupan manusia. maka pada saat kekeringan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia dan keperluan lain seperti irigasi. usaha pengendalian banjir yang dilakukan sekaligus dapat mengurangi kerugian akibat kekeringan. . Di Indonesia ada beberapa factor penting penyebab terjadinya banjir : a. Perlu mendapat perhatian pada penggunaan rumus Rasional. Hal ini dapat difahami. Oleh karena itu menarik untuk dikaji pengaruh kelengasan tanah awal pada kejadian banjir. Dengan demikian.kejadian banjir memang sangat komplek. B. pembangkit tenaga listrik. baik itu proses di lahan maupun di jaringan sungainya. terutama jika telah banyak melakukan analisis banjir dengan model-model yang tersedia. Semakin tinggi intensitas hujan maka semakin tinggi pula debit banjirnya. Pengaruh kelengasan tanah awal pada debit banjir sudah difahami. Banjir 1. Hujan deras yang terjadi pada suatu hari dimana hari-hari sebelumnya tidak hujan sering tidak menimbulkan bnajir. Pembahasan 1.

b. prediksi debit dengan kala ulang tersebut tentu saja tidak akan menjadi masalah. normalisasi alur sungai. sedang sistem drainasi 2 sampai 10 tahun.kompas. hanya perdu). Peningkatan debit banjir mengakibatkan prasarana dan sarana yang ada tidak mampu menampung aliran yang terjadi.co. Pada th 2003. Semakin banyak lahan terbuka. tampungan air (waduk). Tingkat kerusakan DAS bervariasi mulai dari kecil. Faktor Alur Sungai Upaya pengendalian banjir yang selama ini dilakukan berupa kegiatan fisik/struktur yang berada di sungai (in stream) dengan tujuan untuk melindungi dataran banjir yang telah berkembang. prasarana dan sarana pengendali banjir direncanakan untuk 10 sampai 100 th. sedang sampai besar/kritis yaitu pada tingkat yang sudah mengkhawatirkan. prediksi nilai debit dengan kala ulang tertentu yang diperoleh pada saat perencanaan sudah tidak relevan lagi pada saat ini. dll. Berubahnya kawasan retensi banjir untuk Jakarta menjadi permukiman. Genangan air mencapai 50 cm – 80 cm. sehingga jalur jalan Majalaya – Bandung terputus.com.w. Apabila kondisi DAS di Indonesia dapat digolongkan stabil. industri dll.. Bandung selatan mengalami banjir pada 27 Mei 2004 (w. polder. Hal tersebut diperparah dengan pola penyebaran permukiman yang menyebar. Daerah Aliran Sungai yang ada memiliki tataguna lahan yang tidak stabil. Data yang digunakan dapat berupa data hujan maupun aliran yang terekam pada kondisi DAS saat itu. Proses pendangkalan ini dapat terjadi akibat erosi tebing dan dasar sungai maupun akibat erosi lahan di Daerah Aliran Sungai. Faktor DAS Daerah Aliran Sungai adalah daerah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. atau terbangun semakin kecil kemampuan retensinya. Banjir ini diestimasikan akibat pemotongan bukit-bukit di sekitar Bandung selatan untuk permukiman dan kawasan industri. Persoalan banjir menjadi semakin rumit jika di alur sungai terdapat rintangan-rintangan arus baik oleh alam maupun buatan manusia seperti : . sehingga daya rusak terhadap ekologis dan lingkungannya lebih tinggi. bahkan cenderung mengalami kerusakan. kejadian banjir diperparah dengan adanya peningkatan elevasi muka air laut.) adalah akibat penggundulan hutan di sekitarnya. Perubahan fisik yng terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan retensi DAS terhadap banjir. Pengendalian banjir tersebut dengan membangun prasarana dan sarana seperti pembuatan tanggul. Pada umumnya. mengakibatkan banjir yang terjadi meningkat. tampang sungai menjadi berkurang sehingga daya tampung alirannya menurun pula. Hal ini terjadi jika Daerah Aliran Sungainya mempunyai luas area terbuka yang meningkat.antara. Kerugian banjir diperkirakan sebesar 2. daerah terbuka (jika ada tanaman. c.).8 milyar rupiah. Aspek pendangkalan yang terjadi di alur sungai juga merupakan salah satu sebab terjadinya banjir. Kejadian banjir di Sorong tanggal 18 Juli 2003 (www.id. Adanya pendangkalan alur sungai. Oleh karena itu. sudetan. saluran drinasi. Namun kenyataannya.

sehingga dapat memberikan hasil yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan merupakan kejadian yang spesifik pada suatu wilayah. Namun demikian. Suatu wilayah dapat dikatakan mengalami kekeringan meteorologis apabila hujan tahunan rerata yang terjadi tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk evapotranspirasinya atau dapat juga dibandingkan dengan temperaturnya. . a = indeks kekeringan.Penampang pengaliran sempit karena formasi geologi yang keras Adanya ambang alam yang keras Belokan tajam pada sungai akan menimbulkan arus menyilang yang berbahaya Bangunan silang sengan sungai dengan rongga terlalu sempit Pertemuan antara dua sungai atau lebih dengan arus saling merintangi Faktor-faktor di atas perlu mendapatkan perhatian cukup serius dalam penanganan masalah banjir. Kekeringan seringkali ditanggapi dengan pemahaman yang berbedabeda. Indeks Kekeringan Menurut De Martonne dengan : P = curah hujan tahunan rerata (mm). Tidak ada batasan mengenai berapa lama hari/bulan tanpa hujan atau berapa banyak kekurangan air. Kekeringan Kekeringan merupakan salah satu bentuk kondisi ekstrim dan kejadian alam yang kejadiannya tidak dapat dihindari serta karakteristiknya masih menyimpan ruang yang luas untuk dipelajari dan dikaji lebih mendalam. T = temperatur tahunan rerata. Kekeringan meteorologis didasarkan pada kriteria kuantitatif berupa indeks kekeringan. Batasan atau kriteria kekeringan sampai sekarang belum disepakati secara luas. 2. Selanjutnya indeks kekeringan dapat digunakan sebagai indikator dalam menetapkan klasifikasi tingkat kekeringan suatu wilayah. ada beberapa tipe kekeringan yang akan ditunjukkan untuk dapat digunakan sebagai acuan. a. Kekeringan Meteorologis Tipe kekeringan ini paling mudah untuk diidentifikasi dan difahami.

Evapotranspirasi potensial ini dihitung berdasarkan rumus Thornthwaite sebagai fungsi emperatur rerata bulanan.50 b.20 0. Kekeringan Hidrologi Kekeringan tipe ini merefleksikan kondisi sistem air dalam suatu wilayah baik untuk air permukaan maupun air bawah permukaan. Sebagian tanaman mampu bertahan hidup dan tumbuh dalam kondisi lengas tanah yang rendah. c. Respon tanaman terhadap kondisi lengas tanah sangat bervariasi. wilayah kering wilayah semi kering . suatu wilayah yang memiliki nilai a < 15 dikategorikan sebagai wilayah kering. tampungan dalam tanah dsb.20 < < 0. Kondisi kekerinan hidrologi tidak selalu terjadi secara bersamaan dengan kekeringan meteorologis. Apabila jumlah hujan tahunan rerata lebih kecil dari Eto tahunan. Tetapi pada umumnya. apabila terjadi kekeringan hidrologi maka secara meteorologi juga mengalami kekeringan. kapasitas lapang.Menurut De Martonne. Kadangkala ada daerah yang mengalami kekeringan meteorologi tetapi kalau dipandang dari sisi hidrologi sebenarnya tidak mengalami kekeringan. Kekeringan hidrologis dapat dilihat dari debit aliran rendah (lowflow). Beberapa batasan kondisi lengas tanah untuk tanaman yaitu kondisi jenuh. Nilai ini dibandingkan dengan tinggi curah hujan tahunan rerata (P). < 0. tampungan air di danau/waduk. Indeks kekeringan menurut UNESCO (1979) Menurut UNESCO tingkat kekeringan diukur berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial Eto yang dihitung menurut rumus Penman. tetapi ada juga tanaman yang membutuhkan lengas tanah tinggi untuk bertahan hidup. Kondisi lengas tanah ini berdampak langsung pada produktifitas tanaman. Kekeringan Pertanian Kekeringan pertanian merefleksikan kekurangan lengas tanah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk hidup (evapotranspirasi). didefinisikan sebagai jumlah penguapan dari suatu wilayah yang tertutup tumbuhan dengan kecukupan air untuk terjadinya penguapan maksimum menurut kondisi klimatologi.03 < < 0. Indeks Kekeringan Menurut Thornthwaite (1948) Metode ini mengukur kekeringan suatu wilayah berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto). maka wilayah tersebut merupakan daerah semi kering. titik layu awal dan titik layu permanen. Metode ini dianggap masih mengandung kelemahan karena mengabaikan pengaruh variasi musiman dan amplitudo harian dari temperatur di wilayah kering.03 Wilayah Super Kering 0.

sementara kekeringan adalah persoalan kekurangan air. Penanganan Banjir dan Kekeringan Secara Terpadu Banjir. Sungai ini sering membanjiri daerah Industri Cilegon dan sekitarnya.802 ha mengalami kekurangan air dengan status berat dan ringan. Fluktuasi debit rata-rata bulanan Sungai Cidanau Mengingat fenomena di atas. Salah satu contoh kodisi tersebut ditunjukkan pada kejadian aliran di sungai Cidanau dari tahun 1998 – 2000 sebagai berikut : Gambar 1.pikiran_rakyat. 3.swara. Sawah seluas 24. Kekeringan yang melanda Pulau Jawa terutama disebabkan oleh berkurangnya luas hutan dan meningkatnya penggunaan lahan non hutan. Manfaat langsung peningkatan retensi ini adalah terjaganya konservasi air di DAS. Fenomena bahwa banjir semakin meningkat dari waktu ke waktu.com). daerah pantai tersebut kesulitan mendapatkan air bersih. alangkah baiknya jika penanganan kedua persoalan tersebut dapat dilakukan secara terpadu. Namun secara umum dapat dirangkum bahwa kekeringan adalah peristiwa terjadinya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhannya di masing-masing wilayah dan untuk tiap-tiap penggunaan. sementara debit musim kemarau semakin menurun sudah difahami bersama. Contoh penanganan banjir dan kekeringan secara terpadu dapat diuraikan sebagai berikut. tanah longsor dan tentu saja kekeringan. sumber air terpelihara. muka air tanah dapat diharapkan stabil.Nampak bahwa kekeringan yang terjadi dapat merupakan interaksi berbagai tipe kekeringan yang menambah kesulitan pengertian tentang kekeringan. Disisi lain pada musim kemarau. Contoh daerah yang mengalami kekeringan yaitu di Jawa Barat pada Juni 2003. Jawa Barat yang bermuara di Selat Sunda. sedang 345 ha puso (www. sebagaimana diketahui. Peningkatan lahan non hutan dapat mengakibatkan kekeringan karena keseimbangan ekosistem dalam suatu DAS terganggu. Untuk mengatasi kesulitan air bersih . Kesimpulan ini dipeoleh Aris Poniman dari hasil penyusunan neraca sumberdaya hutan dan lahan (www. Aris mengingatkan perlunya masyarakat lebih waspada akan kemungkinan sering terjadinya banjir. adalah persoalan kelebihan air. pemeliharaan reservoirreservoir alamiah dan pembuatan resapan-resapan yang dapat memasukkan air hujan sebanyakbanyaknya ke dalam tanah. Daerah Industri Cilegon Sungai Cidanau terletak di Daerah Cilegon. Penanganan banjir melalui peningkatan retensi banjir dapat dilakukan dengan cara program penghijauan yang menyeluruh baik di perkotaan maupun perdesaan.net). Tanah diharapkan dapat menjadi tampungan air sementara dan secara perlahan-lahan air dialirkan ke sungai sehingga tidak menimbulkan banjir di hilir. kebutuhan air untuk berbagai keperluan terpenuhi.

Dari intake air dipompa menuju waduk Krenceng yang merupakan penyimpanan cadangan air baku. Daerah Aliran Sungai Goseng Daerah Aliran Sungai Goseng merupakan ordo pertama sungai Samin yang bermuara di Sungai Bengawan Solo. sehingga genangan yang sering terjadi dapat menurun. Catchment areanya sebesar 1350 km2 dan kapasitas tampungan 650 juta m3. Sehingga nilai koefisien aliran dan erosi lahan . 1978). PT Krakatau Tirta Industri membuat waduk Krenceng yang letaknya 27.96 km2. dan yang paling utama adalah pembebasan daerah Surakarta yang padat penduduk. Terbangunnya sistem pengadaan air bersih di daerah Cilegon tersebut dapat mengatasi kesulitan air bersih dan sekaligus dapat mengurangi besarnya debit banjir. Sragen dan Klaten dengan luas 23.Kreuceng Air baku untuk kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Cidanau dengan lokasi intake 700 m dari Selat Sunda di Kecamatan Cinangka.000 ha.5 juta m3. Waduk ini direncanakan untuk mengurangi debit banjir sebesar 4000 m3/detik menjadi 400 m3/detik (Nippon Koei Co. Daerah Irigasi yang mendapatkan air dari waduk Wonogiri meliputi wilayah Kabupaten Sukoharjo. Kapasitas waduk tersebut yaitu 2. Permasalahan yang ada di DAS Goseng yaitu dibukanya lahan dengan kemiringan yang terjal sebagai tegal oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu PDAM Surakarta akan memanfaatkan air Bengawan Solo untuk air baku dalam penyediaan air bersih bagi Kodya Surakarta. Namun dengan berjalannya waktu. Karanganyar.. Daerah banjir yang dapat dibebaskan seluas ± 11. Waduk ini mulai beroperasi pada th 1982. Dari waduk air dialirkan ke Water Treatment Plant Krenceng dengan kapasitas pengolahan 2000 lt/dt. Selain untuk pengendalian banjir waduk juga dimanfaatkan untuk irigasi. Gambar 2. Sketsa tata letak waduk Krenceng U WTP Wd. areal irigasi di Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan atau industri.dan mengurangi besarnya debit banjir.200 ha. Luas area DAS Goseng = 5. Pengendalian Banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dan Penyediaan Air Irigasi Pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dilakukan dengan pembuatan waduk Wonogiri yang terletak ± 2 km sebelah selatan kota Wonogiri.2 km dari Sungai Cidanau. Ltd. Daerah Aliran Sungai ini terletak pada 7°39¢32² – 7°45¢ 08² LS dan 110°59¢02² – 111°2¢15² yang ditunjukkan pada Gambar 3.

Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan debit puncak. 2001. Mampukah Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dan Sistem Drainasi Membebaskan Dataran Banjir dari Ancaman Banjir dan Genangan. Harapan ini tentunya akan lebih mudah terwujud jika dapat dilakukan reboisasi secara serempak. yang berarti ada penambahan volume air ke dalam tanah sebagai ditunjukkan pada Gambar. Banjir Terus Menerus di Indonesia dan Tinjauan Eko-Hidrolis. Perencanaan Pengembangan dan managemen Sumberdaya Air untuk Mengantisipasi Kekeringan DAS Mahakam. HMS UAJY dan HATHI. 2002. 15. Daftar Pustaka Agus Maryono. Teknik Sipik UGM. Gambar 3. Prinsip Dasar Pengelolaan Kekeringan. Kalimantan Timur Siswoko. Kejadian hujan yang digunakan dalam analisis yaitu kejadian pada tanggal 14 Januari 1997. 2002. dengan harapan dapat memberikan tambahan air ke dalam tanah dan mengurangi erosi lahan. Yogyakarta Comments: Be the first to comment ARSITEKTUR TRADISIONAL SULAWESI SELATAN PUSAKA WARISAN BUDAYA LOKAL INDONESIA Posted October 9. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. Usaha penambahan luas hutan diaplikasikan pada DAS Goseng. Seminar Pengendalian Kekeringan DPS Mahakam.. Prediksi penambahan volume air akibat penghutanan kembali DAS C. 10. Kursus Singkat Sistem Sumberdaya Air Dalam Otonomi Daerah II. Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Untuk Industri Cilegon dan Sekitarnya serta Kualitas dan Kuantitas Sungai Cidanau. 2002. Lahan tegal dengan kemiringan 25 – 65% dicoba untuk di hutankan kembali dengan skenario 5. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. HMS UAJY dan HATHI. 2009 by syahriartato Categories: SENI DAN BUDAYA . Cilegon. Jur. PT. yang ditandai dengan meningkatnya nilai debit puncak dan kekeruhan air sungai Samin. 2000. Yogyakarta Sudjarwadi dan Fuad Bustomi. Informasi yang dapat diperoleh dari analisis ini bahwa adanya penghutanan kembali DAS memberikan harapan bahwa besarnya cadangan air tanah untuk berbagai kebutuhan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Yogyakarta Krakatau Tirta Industri. Penurunan debit puncak dengan adanya skenario reboisasi Gambar 5. 20 % luas DAS menjadi hutan atau tanpa reboisasi tetapi seluruh tegal dengan kemiringan tersebut di buat teras. Rachmad Jayadi.meningkat.

etnis. Kini. dimana masyarakat semakin mengabaikan batas geografis. baik di tingkat lokal. maka semakin kuat pula hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan ―budaya‖nya. penegakan hukum dan hak azasi. atau semakin mereka menutup diri dari pergaulan dengan luar komunitasnya. Perkembangan positif yang telah terjadi adalah berkembangnya keterbukaan. Manusia beraktifitas mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan dimuka bumi ini. Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa ―kebudayaannya‖ masih asli. etis dan manusiawi untuk membangun kesepahaman. komunitas. Kemampuan berfikir secara “metaforik‖ itu terwujud dalam kreativitas penciptaan berbagai ―symbol‖. Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya. hingga pergaulannya kemudian semakian luas hingga menembus batas antar personal.Kebudayaan dan Arsitektur Tradisional. kesan. Di Indonesia. pengalaman. nasion bahkan generasi pada suatu skala ―interaksi‖ sosial budaya. berisi ungkapan makna yang digunakan ketika berkomunikasi menyampaikan pesan. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan ―setempat‖ biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak ―budaya‖ dengan pihak luar. Semakin tinggi intensitas interaksi sosial budaya yang dikembangkan oleh suatu komunitas lokal dalam pergaulannya dengan komunitas diluarnya. Ketika interaksi sosial budaya suatu masyarakat semakin luas maka kian beragam dan kompleks jaringan yang dilakoninya. karena meningkatnya transportasi dan informasi yang mengantarkan ―budaya‖ baru. bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya. Sebaliknya. dampak negatif juga pasti terjadi. kian diperparah karena anutan . harapan. keterbukaan dapat mengakibatkan infiltrasi kebudayaan yang membawa nilai-nilai baru yang tidak semuanya baik dan sesuai dengan nilai luhur yang dimiliki hingga dapat menimbulkan dekadensi kebudayaan. dimasa interaksi sosial budaya masyarakat semakin luas dan terbuka. Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. perkembangan semangat demokrasi dan reformasi menjadi fenomena umum yang turut mendorong terjadinya pola interaksi sosial budaya baru. memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan pergaulan dan kehidupan kemasyarakatan. Komunikasi secara simbolik itu dilakukan dengan efektif. berbekal kemampuan berfikir secara ‖metaforik‖ serta memanfaatkan seluruh indranya. etnografis. transparansi. negara bahkan bangsa. manusia dapat saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak. maka semakin besar pula peluang masyarakat tersebut untuk mengembangkan ―kebudayaan‖-nya. mengarahkan mereka menuju suatu keadaan imajiner. perkembangan demokrasi dan reformasi tersebut telah mendorong pengaruh yang memberi dampak positif sekaligus negatif. Kebudayaan lokal akan cenderung semakin terpuruk dan akhirnya porak poranda kehilangan identitas. Bila tidak ada filterisasi dan proteksi secara dini. regional maupun global. Kondisi ini. Masyarakat semakin terbuka. Suka tidak suka. Dengan menggunakan simbol-simbol yang diciptakannya.

penguasaan power kekuasaan sebesar-besarnya tetapi mengabaikan bagaimana cara atau proses mencapainya. acuan tetap. Padahal. Sesungguhnya. hampir semua aspek kehidupan bangsa sudah saling berinteraksi secara bebas. Tak heran jika yang nampak pesat berkembang kemudian adalah budaya opportunis dan hedonis yang lebih mengunggulkan rasio―kebudayaan otak‖. apapun yang dilakukan manusia haruslah sesuai atau selaras dalam harmoni tatanan kehidupan alam sekitarnya. Bila tidak bertentangan dengan keselarasan dan harmoni alam. Dampak berbagai dari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada pencapaian prestasi sesaat. nilai ekonomis cenderung menjadi tujuan utama yang sangat kuat menonjol. Keluhuran budaya lokal yang adiluhung dan bersahaja itu. niscaya hidup manusia akan tenang dan damai. penghayatan. Kepercayaan dan pemahaman akan tatanan dan acuan yang mengatur itu kemudian mengendap. Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan kekurangsiapan sebagian besar masyarakat Indonesia mengantisipasi kemajuan yang sangat pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi komunikasi dan teknologi informasi sudah semakin canggih. mereka sudah sangat sulit untuk hanya mempertahankan ciri khas ―budaya‖ lokalnya sebagai unggulan warisan leluhur mereka saja. keadilan dan nilai-nilai ―kearifan budaya leluhur‖ terabaikan. Dalam masyarakat kapitalistis. berbanding terbalik dengan sensitifitas ―kebudayaan rasa‖ yang cenderung pelan karena segala sesuatu perlu proses dan pengendapan. sementara masih lebih bertumpu pada prioritas pembangunan ekonomi yang kapitalistis. atau bagaimana memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. ―Selaras‖ dan ―kekal‘‖ karena lahir dari proses yang panjang. kian tercemari nilai-nilai kebendaan dan pragmatisme. menjadi sumber segala anutan. Sementara disisi lain nilainilai non ekonomi. hukuman pembawa malapetaka. serta mempengaruhi sendi kehidupan secara keseluruhan. yang mengatur segala apa yang terjadi secara harmonis. bercampur. . Kebudayaan rasa berintikan pada proses. Komunitas etnis atau masyarakat tradisional perlahan memudar. bahkan nilai-nilai itu seolah menjadikan semacam komoditas eceran. nilainilai batin dan spiritual. mengkristal. Kenyataannya terlihat pada apa yang terjadi didunia pendidikan. Orang-orang ingin serba bergegas cepat. sementara yang dikejar adalah bagaimana cara memperoleh selembar ijazah. Tatanan atau acuan itu bersifat ―Stabil‖. ukuran kemuliaan dan kebahagiaan manusia. banyak orang yang mengabaikan mutu. Keberadaannya telah secara cepat menjadi katalisator yang sangat cepat. penyimpangan yang bisa berakibat terjadinya sangsi. akan menjadi ―dosa‖. Sementara nilai-nilai moral. Sebaliknya perbuatan manusia yang menyimpang dari tatanan dan aturan itu. nilai-nilai batin dan nilai-nilai ―spiritual‖ terus tergerogoti hingga keberadaannya merosot tajam. telah menjadikan batas-batas antar bangsa sudah semakin tidak jelas.―model‖ pembangunan di Indonesia. Suatu yang sesungguhnya memiliki tempat terhormat dalam kepribadian bangsa Indonesia sebagai wujud dari ―nilai warisan‖ nenek moyang bangsa. nilai kewibawaan. menjadi landasan nilai ―budaya‖. solidaritas dan empati bagi sesama. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai dalam pencapaian skala materialistis -―ekonomi kebendaan‖ semata. menarik dan mentransformasi masuknya kebudayaan mancanegara. masyarakat tradisional Indonesia sesungguhnya sangat percaya akan pentingnya suatu proses yang membentuk tatanan.

Pada masyarakat tradisional Indonesia. Arsitektur itu sendiri dapat dipahami melalui wacana metafor keindahan. tergambar pada telaahan masing –masing unsurnya. Arsitektur sebagai hasil karya seni budaya diakui sebagai salah satu wujud kebudayaan yang dapat dijadikan cerminan dari kehidupan manusianya. Awalnya. cara ―membangun” dan ―wujud nyata” dari ―bangunan‖ sebagai suatu lingkungan buatan dalam rekayasa lingkungan sekitarnya. Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Telaah arsitektur pada umumnya berpijak pada unsur – unsur ‖konsep”. ―Egocentrum‖. yang diatur dalam sebuah tatanan ―budaya‖ atau ―kebudayaan‖. harmonis dan seimbang dengan kehidupan ―habitat‖ sekitarnya. 1999 . Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya ―kosmologi‖ yang menyeluruh. Kemudian manusia mengembangkan diri melalui dorongan naluri dan nalarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. agar manusia dapat terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan serta kesejahteraan dalam kehidupan. maka ―arsitektur” adalah salah satu wujud hasil karya seni budaya. perbuatan. maka kehidupan ‖egocentrum‖ kemudian berubah menjadi bagian integral dari kehidupan habitat sekitarnya. pertama : ―mitos asal‖. kehidupan manusia hanya terbatas dan berpusat pada kehidupan dirinya sendiri. Arsitektur adalah alat komunikasi manusia secara ―non verbal” yang mempunyai nuansa sastrawi. yaitu ―mistik‖ dan ―simbolik‖. Ketika bicara tentang ―kebudayaan” secara komprehensif. hal tersebut terwujud pada penggambaran bentuk ―rumah adat” yang diciptakannya. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya itu didasarkan pada anggapan bahwa eksistensi hidup ada dalam rangkuman makrokosmos alam raya. dari sudut pandang itu akan dikenali karakteristiknya. sikap dan prilaku ―behavior” serta hasil karya seni ―artefak”. Ed. Kedua : ―Ritual” berupa upacara atau perlakuan simbolis yang berfungsi atau dimaksudkan untuk memulihkan harmoni tatanan alam agar tetap selaras dengan manusia. laksana salah satu bentuk bahasa ―non-verbal‖ manusia yang bernuansa simbolik.. Arsitektur sebagai unsur kebudayaan. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup. ―tersusun” dan ―berulang” secara ―hirarkis” otomatis dalam sebuah ―tatanan budaya” yang terjaga. manusia menggunakan tanda – tanda atau “simbol”. Sumber : Tjahjono. Dalam naskah kuno sastra jawa dan kitab sastra “lontara” Bugis Makassar secara jelas dapat ditemukan relevansi antara lingkungan dan kehidupan budaya manusia. Telaahan ―kebudayaan” selalu berpijak pada unsur-unsur buah pikiran ―idea”. perbuatan manusia itu selalu berdimensi dua atau ―dwimatra‖. dari masa ke masa. Keterkaitan hubungan antara kebudayaan suatu bangsa dengan arsitektur. Kekhususan itu ditandai dari cara mereka mempertahankan suasana hidup selaras. Ada dua macam tanda penting. Suatu tatanan yang selalu ―teratur”. Tidak jauh berbeda dengan sastra verbal yang metaforik. Itulah dasar-dasar filosofi yang mewarnai ―Budaya‖ masyarakat tradisional Indonesia. Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hanya hidup dalam suasana kepercayaan leluhur semata yang di pengaruhi oleh ―ethos budaya‖ lokal yang ekslusif serta mempunyai sifat-sifat khusus. menjadi pola pengendali hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam.

Semua pranata-pranata yang berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus berdasarkan kosmologis yang diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis. anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan. tetap diadakan untuk menjaga kesinambungan dan pelestarikan prosesi budaya bangsa. Filosofi yang bersumber dari “mitos” asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur. Terwujud baik dalam tingkah laku. bentuk arsitektur. Oleh sebab itu berbagai upacara. cara berinteraksi. penentuan arah peletakan rumah. .. air. api. Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos. bagaimana memahami alam semesta secara ―universal”. dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka. Adat istiadat menjadi semacam pedoman dalam berpikir dan bertindak sesuai pola kehidupan masyarakatnya. Rumah Tradisional Nusantara “Konsep Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan ” Dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan. dan angin. segala sesuatu yang menyangkut kehidupan masyarakat selalu dilakukan bersendikan adat istiadat. Bagi masyarakat tradisional Bugis-Makassar yang berfikir secara totalitas. Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk “Segi Empat”. Konsep Bugis Makassar Konsep arsitektur masyarakat tradisional Bugis-Makassar bermula dari suatu pandangan hidup ontologis. “alam tengah”. pesta dan upacara kemasyarakatan yang berdasarkan pada adat istiadat. bersemayam di “Botting-Langik” (langit tertinggi). menunjukkan upaya untuk “menyempurnakan diri”. maka rumah tradisional Bugis Makassar dipengaruhi oleh pemahaman: “Struktur kosmos” dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu “alam atas” . yaitu alam atas atau “banua atas”. termasuk perlakuan dalam tata cara membangun rumah di dalam lingkungan alam sekitarnya. Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut “Dewata Seuwae” (dewa tunggal). Benua bawah disebut “Uriliyu” (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. Termasuk tata cara atau prosesi pembuatan rumah. yaitu : tanah. alam tengah “banua tengah” dan alam bawah ―banua bawah” . dan “alam bawah”. Tata cara pembuatan rumah menurut konsep arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. hingga penyelenggaraan upacara ritual ketika proses membangunnya. yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. Adat istiadat dan kepercayaan adalah warisan nenek moyang yang mengisi inti kebudayaan. Filosofi hidup masyarakat tradisional Bugis Makassar yang disebut “Sulapa Appa”. merujuk pada pesan atau wasiat yang bersumber dari kepercayaan dan adat istiadat yang dianut masyarakat Sulawesi Selatan.Gambar 1. mulai dari pemilihan tempat. Abu Hamid (1978:30-31) dalam ―Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan‖ menuliskan bahwa rumah tradisional orang Bugis tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk ―segi empat‖. Hal tersebut dipercaya sebagai warisan yang diterima langsung dari sang pengatur tata tertib kosmos untuk menjadi pengarah jalannya lembaga-lembaga sosial.

atau menghadap ke salah satu arah mata angin. hingga pekerjaan selesai dikerjakan secara keseluruhan. rumah Bugis Makassar juga dipengaruhi oleh adanya strata sosial penghuninya. menyusul pemasangan tiang tiang yang lain. Seperti kebanyakan rumah tradisional di indonesia. Untuk rumah bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng” yang memegang jabatan. tetapi terutama demi kelangsungan hidup secara kosmis.Rumah Hamba sahaya ―Ata” atau “Suro”. Termasuk pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah hingga akhirnya merekostruksi rumah yang diinginkan serta perlengkapannya. kepercayaan tentang adanya pengaruh kosmologis sudah sangat dimaklumi masyarakat BugisMakassar. . Panre Bola menguasai ilmu pengetahuan tentang tata cara pengerjaan rumah. Adapun hari ataupun bulan yang baik. Beberapa wasiat yang menjadi perhatian dalam hal menentukan arah rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar misalnya: sebaiknya menghadap kearah terbitnya matahari. Dalam hal ini peranan seorang Panrita Bola sangat menentukan melalui nasehat-nasehat mereka yang akan menjadi pegangan bagi penghuni rumah. tata wilayah dan tata bangunan alias arsitektur tidak diarahkan pertama kali demi penikmatan rasa estetika bangunan. berapa pasak (pattolo) yang akan dipakai. Selain itu salah satu faktor pertimbangan lain yang selalu diperhitungkan adalah pemilihan waktu saat mendirikan rumah. bahwa bagi orang-orang dahulu.Rumah Orang Kebanyakan ―Tosama‖. menunjukkan arah yang dianggap cocok dan baik. dimulai dari pemilihan jenis kayu. sedang untuk bangsawan biasa jumlah tiang kesamping dan kebelakang 4 hingga 5 tiang. Artinya selaku bagian integral dari seluruh ―kosmos‖ atau ―semesta raya‖ yang keramat dan gaib. Untuk pendirian rumah. pada puncak rumah induk terdiri dari tiga atau lebih sambulayang /timpalaja. mereka selalu meminta pertimbangan dari “Panrita Bola‖ atau Panre bola untuk pencarian tempat. biasanya ditentukan atas bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dalam hal memilih waktu. Untuk rumah ―Tosama‖ atau orang kebanyakan/masyarakat umum terdiri dari 4 buah tiang kesamping dan kebelakang. biasanya didahului oleh serangkaian upacara-ritual. Beberapa hal yang penting diketahui bahwa dalam proses mendirikan rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar. menghadap kedataran tinggi.Rumah Kaum Bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng”. Tiang kesamping dan kebelakang berjumlah 5 hingga 6 batang. . menghitung berapa tiang (aliri). puncak sambulayang/timpalaja hanya dua susun. . Pada tahap selanjutnya secara berurutan mulailah mendirikan rumah dengan mengerjakan pemancangan tiang pusat rumah yang disebut ‖posi’bola” terlebih dahulu. Rumah tradisional Bugis-Makassar pada dasarnya terwujud dalam beberapa macam yaitu : .Menurut Mangunwijaya (1992:95-96).

Sebagaimana diketahui dalam konsep arsitektur tradisional Bugis. berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah. Disini melekat plafond tempat atap bertumpu dan menaungi. . dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe sebagai dasar tumpuan lantai. Biasanya ruang ini menjadi tempat pusat aktivitas interaksi penghuni rumah. letaknya diruang bahagian depan.“Lontang ri tengnga/padaserang tangnga”. terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari panjang rumah.“Lontang ri laleng / padaserang riboko”. Dibagian ini ada sebuah tiang yang lebih ditonjolkan diantara tiang tiang lainnya. Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa.Awaso / siring. Pondasi/ ―Umpak‖. . “Arateng‖ (Bugis). “Palangga” (Makassar). Pada rumah bangsawan jumlahnya biasanya 5 hingga 6 batang (sesuai petak rumah). . terletak diruang bahagian belakang.“Lontang ri saliweng/padaserang dallekang”.Ale bola / kale balla. dengan sambulayang/ timpalaja yang polos.Bentuk rumah ―Ata” atau “Suro”. Selain itu dimanfaatkan menjadi tempat penyimpanan atribut adat kebesaran.hamba sahaya berukuran yang lebih kecil. terletak pada bagian bawah rumah. lontar. batang kelapa. dan lain-lain. dan lain lain.Rakkeang / Pammakkang. bambu dan lain-lain. . alat bertukang. pengandangan ternak. . maka secara struktural rumah tradisional Bugis Makassar terbagi atas : Struktur bagian bawah.Makassar. juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan padi sebagai lambang kehidupan/kesejahteraan pemiliknya. terletak pada bagian tengah. Ruangannya terbagi atas beberapa petak dengan masing – masing fungsinya. biasanya hanya terdiri dari tiga petak. Fungsinya yaitu: Penahan berdirinya tiang-tiang rumah. terletak diruang bahagian tengah. “Pattolo” (Bugis).ruang dapur. Bahan biasanya dari kayu jati. masih ada lagi tambahan dibagian belakang ―Annasuang‖ atau “Appalluang”. Selain ruang ruang tersebut. dan ruang samping yang memanjang pada bagian samping yang disebut “tamping”.untuk rakyat biasa 4 batang. memandang kosmos terbagi atas tiga bagian. Berdirinya tiang ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut: “Pattoddo” (Makassar). tempat meletakkan tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Pada umumnya rumah tradisional Bugis-Makassar berbentuk panggung dengan penyangga dari tiang yang secara vertikal terdiri atas tiga bagian yaitu : . terletak pada bagian atas. Bagian ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan alat cocok tanam. serta ruang kecil di depan rumah yang disebut “lego-lego” atau “paladang”tempat berbincang atau bercengkerama. Sedang secara horisontal ruangan dalam rumah terbagi atas tiga bagian yaitu : .

dimensi balok ± 4/12 cm. dan lain-lain. komponen komponen utama bagian ini adalah : 1. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dalam arah memanjang. atau 6 x 15 cm. Lantai. 2. takik. lantai rumah biasanya tidak rata karena adanya ―tamping‖ yang berfungsi sebagai sirkulasi. berdasarkan status penghuninya maka lantai rumah tradisional terdiri dari . Balok blander ―Bare‖ atau ―Panjakkala”. Jumlahnya ganjil dengan jarak rata-rata 20 hingga 50 cm. Berfungsi sebagai tempat kedudukan balok-balok gording dan sebagai penahan bidang atap sistem konstruksinya menggunakan sistem ikat. dan bahan atap. Bila segi empat. sebagai tempat memakukan / mengikat papan lantai ―Rakkeang‖ atau ―Pammakkang‖. bertumpu pada balok nok. kelapa. merupakan penahan lantai. dengan ketinggian disesuaikan dengan status penghuninya. Sistem konstruksinya dengan sistem ikat/takik pen. dan diperkuat dengan pasak. ikat. bahannya dapat berupa bambu atau papan. papan. Dinding untuk bahan penutup digunakan gamacca. Golongan ―Tosama‖ = ½ lebar rumah + 1 telapak tangan. dimensi 4 x 12. Balok pasolla berbentuk pipih ± 3/12 cm. dengan sistem konstruksi ikat dan jepit. merupakan bagian konstruksi atas yang berupa bidang segitiga dan dibuat berlapis. Balok bangunan ―Coppo‖. balok bubungan diletakkan diatas balok makelar yang ditakik kemudian diperkuat dengan paku pen. dan paku pen. . ―Barakapu‖. Kaki Kuda – kuda ―Pasolle‖. jepit dan ikat. Bahan biasanya batang lontar. Struktur dan konstruksi bagian atas rumah terdiri dari konstruksi kap/atap yang merupakan suatu kesatuan yang kokoh dan stabil untuk menahan gaya. pada kedua ujung bagian bawah terletak pada balok ―Pattikkeng‖. Rakkeang/Pammakkang. Terletak ditengah antara balok pengerat dan balok skor.Struktur badan rumah. Sistem konstruksinya biasanya menggunakan pen. Fungsinya adalah sebagai ring balok. rangka utama berpegang. Sistem konstruksinya. Balok pengerat ―Pattoddo riase‖ atau ―Pannoddo‖. Komponennya terdiri atas : Balok makelar ―soddu‖ atau ―suddu‖. Sistem konstruksinya. tiang dilubangi setebal penampang balok pengerat kemudian padongko di tusuk pada setiap lubang dari tiang. ―Sambulayang” atau ―Timpalaja‖. Sistem konstruksinya. berfungsi sebagai tempat kedudukan balok bubungan dan kaki kudakuda. Golongan hamba sahaja ―Ata‖ umumnya dari bambu. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa ―Tosama‖ umumnya rata tanpa tamping. pendukung kaso. ―Arung‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + 1 jengkal telunjuk + 3 jari pemilik. kaso. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dari tiap baris arah lebar rumah. dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. Golongan ―Ata‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + tinggi kepala + kepalan tangan pemilik. sebagai tempat penyimpan barang dan lain-lain. Untuk golongan bangsawan ―Arung‖. Konstruksi balok anak. tempat memasang timpalaja dan tempat meletakkan balok rakkeang. Panjangnya lebih sedikit dari lebar rumah. jati. bila tiang dari bahan bambu maka tiang dan balok pengerat ditakik ± 1/3 dari diameter. kemudian diikat. bahan lantai dari papan. berfungsi sebagai tempat bertumpunya balok ―suddu‖. Sistem konstruksinya.5 x 14.

sedangkan boyang beasa. Pada ”boyang adaq” diberi penanda sebagai simbolik identitas tertentu sesuai tingkat status sosial penghuninya. anjong. dikenal adanya dua jenis boyang. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ pada rumah tradisional Bugis-Makassar merupakan salah satu bagian tersendiri dari bentuk dan corak rumah tradisional Bugis-Makassar. seperti menjalarnya bunga itu. Selain berfungsi sebagai hiasan. Sedangkan pada boyang beasa. Ornamen corak alam. Rumah tradisional Mandar berbentuk panggung yang terdiri atas tiga bahagian.Les plank ―Ciring‖. ”tumbag layar‖ nya tidak bersusun. Bentuk ayam jantan yang diartikan sebagai keuletan dan keberanian. penunjuk jalan. Pada boyang adaq. Penggunaan ragam hias tersebut menandakan bahwa derajat penghuninya tinggi. kekuatan yang dahsyat. tangganya terdiri atas dua susun. Ragam hias umumnya memiliki pola dasar yang bersumber dari corak alam. ”Boyang adaq” ditempati oleh keturunan bangsawan. dan lain-lain. Kedua susunan anak tangga tersebut diantarai oleh pararang. Ornamen fauna corak binatang. disamping motif yang lainnya. Ornamen flora corak tumbuhan . yaitu : ”boyang adaq” dan ”boyang beasa”. atau daun lontar. agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan baik dan membawa keberuntungan. juga dapat berfungsi sebagai simbol status pemilik rumah. Bentuk pelana dengan sudut antara 30 hingga 40°. flora dan fauna. Umumnya bermotifkan kaligrafi dari kebudayaan islam. Simbolik tersebut. Atap. sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. sedangkan ”boyang beasa” ditempati oleh orang biasa. rumbia. bintang tunggangan dan status sosial. daun yang memiliki arti rejeki yang tidak putus putusnya. Simbolik lain dapat dilihat pada struktur tangga. Umumnya bermotifkan bunga/ kembang. Gambar 2. berupa papan yang dipasang pada ujung sisi depan dan belakang atap. Umumnya bentuk yang sering ditemukan adalah : Kepala kerbau yang disimbolkan sebagai bumi yang subur. Penempatan ragam hias ornamen tersebut utamanya pada sambulayang/timpalaja. bahan dari nipa. Fungsinya sebagai penahan angin yang berpegang pada balok gording dengan sistem sambungan pen dan lubang. susunan pertama yang terdiri atas tiga anak tangga. misalnya ”tumbaq layar” yang bersusun antara 3 sampai 7 susun. ujungnya kadang diberi hiasan ―Ornamen‖. Rumah Tradisional Bugis Makassar Konsep Mandar Identitas Arsitektur Tradisional Mandar tergambar dalam bentuk rumah tradisional yang disebut ”boyang” . alang alang. Bagian pertama disebut ”tapang” yang . semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang. jendela. tangga tidak bersusun. sama ”Ethos Kosmos” yang berlaku pada etnis Bugis Makassar. Bentuk naga yang diartikan simbol wanita yang sifatnya lemah lembut.

. di mana aktivitas keluarga dan hubungan sosial antara sesama anggota rumah tangga. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. terdapat tangga yang terbuat dari balok kayu atau bambu. Petak yang di tengah biasanya lebih lebar dibanding dengan petak-petak yang lainnya. Lantai tapang tidak menutupi seluruh bagian loteng. yaitu petak paling depan. Tapang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpang barang-barang. tapang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan sebelum dihidangkan atau didistribusikan. Bila ada hajatan dirumah tersebut. Demikian pula bentuk pola lantainya yang segi empat. Pada ”tumbaq layar” tersebut dipasang ornamen ukiran bunga melati. baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. ‖Tangnga boyang‖. Pada masa lalu. tiga saling membutuhkan). petak kedua disebut ”tangnga boyang” (petak bagian tengah) dan petak ketiga disebut ”bui’ lotang” (petak belakang). Adapun dua yang tak terpisahkan itu adalah aspek hukum dan demokrasi. Pada masa lalu. yaitu ruang yang ditempati manusia. baik boyang adaq maupun boyang beasa mengenal tiga petak ruangan yang disebut lotang. yaitu ”ate” (atap). Sedangkan petak yang paling depan lebih lebar dibanding dengan petak yang paling belakang. Pada bagian depan atap terdapat ”tumbaq layar” yang memberi ”identitas” tentang status penghuninya. Untuk naik ke tapang. terdiri atas ”tallu lotang” (tiga petak). hanya dipasang pada saat akan digunakan. keadilan. Petak ini sering ditempatkan ”songi” (kamar) untuk anak gadis atau para orang tua seperti nenek dan kakek. Pada bagian atas penutup bubungan. meliputi atap dan loteng. terdiri dari bagian paling atas. rumah-rumah penduduk. Atap rumah berbentuk prisma yang memanjang ke belakang menutupi seluruh bagian atas rumah. Ruangan tersebut terletak di bawah tapang yang menggunakan lantai yang terbuat dari papan atau bilah bambu. Di bawah atap terdapat ruang yang diberi lantai menyerupai lantai rumah.letaknya paling atas. Rumah orang Mandar. Sesuai kodratnya anak gadis memerlukan perlindungan yang lebih baik dan terjamin. Adapun ketiga ‖lotang‖ ruangan tersebut adalah : ”Samboyang”. Ornamen itu disebut ”teppang”. ‖Bui‘ boyang‖. Ia ditempatkan pada kamar tersebut sebagai tindakan preventif untuk menjaga ”siriq” (harga diri). petak paling belakang. Tangga tersebut dirancang untuk tidak dipasang secara permanen. tallu tammallaesang” (dua tak terpisah. dan persatuan. ”tapang” tersebut sebagai tempat atau kamar calon pengantin wanita. baik pada bagian kanan maupun kiri diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Ketiga petak di dalam roang boyang tersebut memiliki ukuran lebar yang berbeda. baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. Di ujung bawah atap. Bagian kedua disebut ”roang boyang” . Pada umumnya hanya separuh bagian loteng yang letaknya di atas ruang tamu dan ruang keluarga. Tatanan dan aturan rumah adat. dan bagian ketiga disebut ”naong boyang” yang letaknya paling bawah. Petak pertama disebut ”samboyang” (petak bagian depan). Penempatan songi untuk anak gadis lebih menekankan pada fungsi pengamanan dan perlindungan untuk menjaga harkat dan martabat keluarga. Ruang tersebut diberi nama ”tapang”. sedangkan tiga saling membutuhkan adalah aspek ekonomi. petak bagian tengah rumah. Petak ini berfungsi sebagai ruang keluarga. tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna pada filosofi orang Mandar yang berbunyi : ”da’dua tassasara. Struktur bangunan rumah orang mandar.

Sedangkan ‖boyang beasa” sekitar 7 sampai 9 buah. yaitu berkisar 11 sampai 13 buah. baik yang berbentuk ukiran maupun yang berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal. Mendirikan rumah ”boyang” melalui suatu tahapan kegiatan yang meliputi persiapan. pasir. Pada ”paceko” juga tersedia tempat buang air kecil yang disebut ”pattetemeangang”. yaitu tangga depan dan tangga belakang. Bangunan ini biasanya lebih sempit dibanding dengan bangunan tambahan bagian belakang. Olehnya itu. Sedangkan boyang beasa selain berdinding papan. kolong rumah hanya berlantai tanah. Ada kalanya sebagai tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita. Bangunan tersebut biasanya dibuat secara menyilang dengan bangunan induk. Rumah tradisional Mandar. membangun ”boyang” dan hasil kegiatan berupa ‖bangunan‖ atau rumah tradisional. sehingga mempunyai banyak fungsi. Bangunan tambahan yang diletakkan di belakang bangunan induk disebut ”paceko” (dapur). Sedangkan ‖boyang beasa”. pemasangan lantai yang terbuat dari papan agak dijarangkan agar berbagai kotoran. Dalam . Jumlah anak tangga pada setiap tangga berkisar 7 sampai 13 buah. tangganya tidak bersusun dan tidak dilengkapi pegangan. Letaknya selalu dipinggir dengan deretan tiang yang kedua dari pinggir. Dinding rumah dirancang dan dibuat sedemikian rupa sesuai tinggi dan panjang setiap sisi rumah dan dilengkapi jendela pada setiap antara tiang. Bangunan tambahan yang ada di depan rumah yang disebut dengan ”lego-lego” (teras). dan lebarnya minimal sama dengan satu petak bangunan induk. Selain itu. Bangunan ini disertai ruang yang lapang. Terdapat ruang di bawah lantai yang disebut ”naong boyang” (kolong rumah). bangunan tersebut tampak lebih indah dihiasi berbagai ornamen. tempat istirahat pada sore hari dan tempat duduk sebelum masuk rumah. Setiap tangga mempunyai anak tangga yang jumlahnya selalu ganjil. tangga depannya bersusun dua dilengkapi dengan pasangan. rumah yang berdinding taqta dan alisi. juga ada yang berdinding taqta dan alisi. demikian pula untuk membukanya jika rumah tersebut akan dibongkar atau dipindahkan. Kendati demikian. Ditempat itu sering dibuatkan ”rambang” sebagai kandang ternak. Bagian yang lain pada rumah adalah rinding (dinding). boyang adaq memiliki anak tangga yang lebih banyak. seperti debuh. ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu dari kalangan masyarakat biasa dan ata (budak). penghuninya berasal dari golongan ata (beasa). Pada boyang adaq. boyang adaq mempunyai dinding yang terbuat dari papan. di dalam roang boyang terdapat ruangan atau petak yang lantainya lebih rendah ”tambing” atau ”pelleteang”. mulai dari pintu depan ke belakang. Pada umumnya. Jumlah tersebut disesuaikan dengan tinggi rumah. dan sebagainya dapat lebih mudah jatuh ke tanah. baik ‖boyang adaq” maupun boyang beasa pada umumnya mempunyai dua tangga. Fungsi bangunan ini adalah sebagai tempat sandaran tangga depan. Dinding rumah terbuat dari kayu (papan) dan bambu (taqta dan alisi ). Pada umumnya. Panjangnya minimal sama dengan lebar bangunan induk. Pada masa lalu.Khusus pada boyang adaq. Ruangan ini merupakan tempat lalu lalang anggota keluarga. Hal itu dibuat secara utuh sebelum dipasang atau dilengketkan pada tiang rumah. Pembuatan dinding seperti itu dimaksudkan untuk lebih memudahkan pasangannya.

dan jumat. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah. Gaya arsitektur tradisional banyak dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang tersedia disekitar lingkungan alam setempat. seperti Muharram. Tanah seperti ini memberi makna keharuman. Bagi orang Mandar. Syafar. dan pengadaan bahan baku untuk tiang. Membangun rumah tradisional mandar memerlukan beberapa rangkaian kegiatan seperti musyawarah antar sesama keluarga atau kerabat. lantai. karena terkait dengan kepercayaan masyarakat tradisionalnya. Menurut mereka. bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan ”bala”. karena itu kegiatan awal dalam memulai mengerjakan rumah senantiasa berpedoman pada waktu-waktu baik. Olehnya itu. pemilihan lokasi atau tempat mendirikan rumah. Pemilihan waktu mendirikan ”boyang” juga sangat penting. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik. yaitu arah timur tempat matahari terbit. setiap akan membangun rumah ”boyang” senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. dan Dzulkaiddah. Musyawarah lebih diutamakan pada penilaian status sosial yang akan menempati rumah tersebut. Tanah yang baik adalah tanah yang agak keras. Pemilihan tempat mendirikan ”boyang” sangat terkait dengan kepercayaan tradisi masyarakat tentang adanya tanah yang baik dan kurang baik untuk dibanguni ”boyang”. menyiapkan ‖pappapia buyang” (tukang dan ahli) sesuai latar belakang sosial budaya penghuninya. Gambar 5. Jumadil Awal. bencana dan ketidak mujuran. suatu rumah tradisional memiliki ciri khas terutama pada tipologi. yaitu bahan baku yang tersedia dari lingkungan alam sekitar (lokal) maupun dari luar (dari daerah lain). keharmonisan dalam rumah tangga. maka jenis rumah yang akan dibangun adalah ”boyang adaq”. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan. Sebab dari status sosial yang akan menempati rumah tersebut. Orientasi rumah ”boyang” yang paling baik adalah berorientasi pada arah yang mengandung makna positif. Selain itu. tetapi memiliki nilai dan makna tersendiri sesuai dengan adat istiadat masyarakat tradisional Mandar. atap dan sebagainya. dan ornamen yang ada didalamnya. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan ”keberuntungan” dan ”keselamatan”. ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan banyak tahu tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat tradisionalnya.proses persiapan ada beberapa hal yang patut diperhitungkan. Dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. tidak lembek. Arah pergerakan matahari yang menanjak . Biasanya berada pada daerah yang relatif sedikit tinggi atau bukit. kamis. Dalam musyawarah tersebut penilaian dan penentuan susunan tumbaq layar juga dibicarakan. Pemilihan waktu. interior/eksterior. hari-hari baik adalah senin. Boyang Adaq Mandar Suatu bangunan rumah ”boyang” tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam pelaksanaan musyawarah dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). agar keluarga mereka kelak dapat memperoleh kebahagiaan. maka rumah yang akan dibangun adalah ”boyang beasa”. tanah tersebut sebaiknya ‖berbau wangi‖.

Ada hal yang penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan pada saat menebangan kayu. Hal ini dimaksudkan agar penghuninya kelak senangtiasa bersemangat atau bergairah dalam mengarungi kehidupan dunia. Untuk jenis sumaguri mengandung makna ‖empati kepada seluruh masyarakat‖. Penebangan ayu (kayu) dan bambu biasanya disesuaikan dengan waktu baik. kedua jenis kayu tersebut mengandung makna simbolis. cahaya matahari pagi dapat menyinari ruang lego-lego hingga kedalam rumah. biasanya kayu ”sumaguri” dan ”cawecawe” . terutama rezki dan amal kebijakan. Pembangunan rumah tradisional ”boyang”. Rumah tradisional Mandar yang terdiri atas tallu lontang. Jenis kayu yang diperuntukkan untuk possi arring tidaklah sembarang. Setelah ”possi arriang” usai dikerjakan. Adapun hari baik menebangan kayu untuk ”possi arriang” adalah hari ke 14 terbitnya bulan. atau pada hari ke delapan sebelum tenggelamnya bulan. maka dilanjutkanlah pekerjaan pada seluruh tiang rumah lainnya. orang Mandar menyebutnya ”tarrang bulan” (terang bulan). Sedangkan jejeran ke belakang biasanya empat batang (tidak termasuk tiang paceko). Dengan arah rumah ketimur. Arah barat dianggap menghadap ke kiblat. Sebelum melakukan penebangan. Pasak tersebut terdiri atas empat untuk passolor. Bagi rumah tradisional yang mempunyai paceko dan lego-lego. hal ini dimaksudkan agar cahaya matahari senantiasa menerangi rumah yang akan dibangun.00. Tiang tersebut diatur dan disusun berjejer kesamping dan kebelakang. dalam pengertian ini. yaitu selalu bertambah ”naik” . dimulai dari pembuatan tiang ”arriang”. Penebangan kayu dapat dilakukan oleh beberapa orang. jumlah pasak yang dibutuhkan sebanyak 18 buah. Sedangkan jenis kayu cawe-cawe mengandung makna ‖semangat atau mengairahkan‖. yang diharapkan selalu bertambah adalah nasib baik. Penebangan kayu untuk ”possi arriang” harus dilakukan oleh ”sando boyang”. tetapi pekerjaannya harus dimulai oleh sando boyang. maka harus menggunakan minimal lima tiang tambahan untuk Paceko dan dua atau empat tiang untuk lego lego. Pekerjaan seluruh tiang tersebut harus diperhatikan ujung-pangkalnya. Jenis kayu tersebut pada umumnya digunakan untuk ‖possi arriang” rumah biasa. empat untuk baeq. ”sando boyang” melakukan upacara ritual yang dilakukan sendiri dirumahnya. yaitu kayu tersebut harus tumbang dan jatuh kearah matahari terbit. Semua tiang pangkalnya harus berada di bawah. yang pertama harus ditebang adalah bahan untuk membuat possi arring (tiang pusat). Dalam pembuatan ”arriang”. Setiap jejeran ke samping biasanya terdiri atas lima batang. Pada saat menebang kayu. Sedangkan bahan bangunan diusahakan dan diambil dari lingkungan alam sekitar. lima . jenis kayu tersebut banyak digunakan pada possi arriang rumah adaq. Penebangan kayu dilakukan pada pagi hari sekitar jam 09. bahwa diharapkan kelak rumah yang akan dibangun itu senantiasa dalam kondisi yang terang bercahaya.naik mengandung makna kebaikan. Waktu-waktu baik adalah sama halnya pada saat memulai membangun rumah ”boyang”. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar. Dalam pengertian ini terdapat makna simbolis. Setiap rumah memiliki tiang minimal 20 batang. tidak boleh terbalik. maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik. Kelima tiang yang berjejer ke samping diupayakan memiliki lekukan dan bengkok yang sama. Jadi. pekerjaan pertama yang harus dibuat adalah ”possi arriang” (tiang pusat). Waktu penebangan diupayakan pada hari-hari baik.

bilamana rumah tersebut mempunyai tambing. ”Lattang” biasanya dipilih tarring (bambu) yang besar dan sudah tua. Letak pepattuang biasanya berada antara dua buah tiang rumah. Tambahan untuk Paceko biasanya terdiri atas satu deretan tiang yang jumlahnya enam batang ditambah satu batang di dekat tangga belakang.araiang diaya dan aratang naong. Untuk memperindah. Lantai rumah tradisional Mandar terbuat dari papan (kayu) dan lattang. Pemasangan ornamen seperti itu hanya tampak pada jendela yang ada di bagian depan dan sisi kiri kanan rumah. Seluruh tiang paceko juga diberi batu arriang. alisi dan taqta. Bilamana rumah ”boyang” akan diberi tambahan bangunan. Pepattuang berbentuk segi empat yang rata-rata terdiri atas dua daun jendela yang berukuran sekitar 100 x 40 cm. paling diatas tempatnya). masingmasing satu buah untuk rumah induk. Setelah pendirian tiang paceko. seperti tebu. biasanya dilengkapi tiga ”pepattuang” (jendela) dan satu ”ba’ba” (pintu). . pisang. Prosesi ritual menurut kepercayaan masyarakat tradisional Mandar biasanya dimulai dari ”possi arriang”. Secara vertikal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan Tuhannya. maka harus ditambah lagi passollor dan baeq sebanyak lima buah. Pada ”possi arriang” diikat lipaq (sarung) dan mukena atau kebaya. segala bahan kelengkapan upacara mattoddoq boyang. Daun jendela itu dapat dibuka ke kiri dan ke kanan. Selain pasak. Selain itu. Kedua jiwa tersebut harus menyatu di dalam ”possi arriang” kemudian tiang ”possi arriang” disiram dengan air dari dalam cerek. Kayu ini disebut pambalimbungan (tulang punggung. dilanjutkan pemasangan aratang naong dan aratang diaya yang dikuatkan dengan passanna. Air yang tersisa di dalam cerek tadi dimasukkan dalam botol kemudian digantung pada ”possi arriang” . terdapat pula balok kayu yang bentuknya pipih menyerupai pasak. Terali-terali tersebut ada yang dipasang secara vertikal dan ada yang horisontal. Dinding sisi depan ini biasanya dilengkapi ornamen pada bagian luar di bawah jendela. Sarung melambangkan jiwa laki-laki dan kebaya atau mukena sebagai jiwa perempuan. seperti paceko dan lego-lego. Lattang ini biasanya dipakai pada lantai paceko. maka setelah bangunan induk berdiri tegak dilanjutkan pendirian tiang paceko. Pada dinding sisi depan rumah. paceko dan lego-lego. Setelah tiang berdiri. Untuk boyang adaq. Sedangkan secara horisontal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Sedangkan boyang beasa jumlah tiang lego legonya sebanyak dua batang. pepattuang ini biasanya diberi ornamen berupa ukiran dan terali dari kayu yang jumlahnya selalu ganjil. kelapa juga digantung pada ”possi arriang” . Jumlahnya tiga buah. yaitu lego-lego. maka harus ditambah lagi aratang diaya dan aratang naong masing-masing satu buah. Pada dinding sisi kanan dan kiri rumah biasanya juga dilengkapi dengan pepattuang sebanyak dua atau tiga buah. Pemasangan ornamen berupa ukiran dan terali-terali juga dapat dilihat pada bangunan tambahan di depan rumah. Dinding rumah tradisional Mandar pada umumnya terbuat dari papan. Bila rumah tersebut ditambah paceko. jumlah tiang lego legonya sebanyak empat batang. Bahan kelengkapan upacara biasanya digantung setelah rumah berdiri. dilanjutkan pula pada pendirian tiang lego-lego. Sedangkan aratang diaya dan aratang naong masing-masing dua buah.

Temperatur udara kawasan permukiman masyarakat Toraja berkisar pada 150 hingga 300C. musik. Dalam kehidupan masyarakat toraja lebih percaya akan kekuatan sendiri. possi bola di Bugis. juga berfungsi sebagai identitas sosial. banyak dipengaruhi oleh ethos budaya “simuane tallang” atau filosofi “harmonisasi” dua belahan bambu yang saling terselungkup sebagaimana cara pemasangan belahan bambu pada atap rumah adat dan lumbung. Kondisi Tana Toraja. bagian dari lingkungan makrokosmos. fauna. kemuliaan Tuhan. tang dipegunungan dan berhawa dingin diduga mendasari ukuran pintu dan jendela yang relatif kecil. budayanya unik. upacara pengantin serta ritual upacara penguburannya. baik rumah bangsawan maupun rumah orang biasa di tana Mandar. gambaran alam. fauna dan sebagainya dapat dijadikan corak ―ornamen”.Ragam Hias dan Ornamen Pada umumnya rumah tradisional. Keunikan itu terlihat juga pada pola permukiman dan arsitektur tradisional rumah mereka. ataupun atap menjulang menaungi ruang tengah rumah dimana atap menyatu dengan asap-father sky Pusat rumah juga meraga sebagai tiang utama. Pusat rumah meraga sebagai perapian di tengah rumah. baik dalam taritarian. Masyarakat Tradisional Tana Toraja didalam membangun rumah tradisional mengacu pada kearifan budaya lokal–Kosmologi mereka yaitu :     Konsep ‗pusar‘ atau ‗pusat rumah‘ sebagai paduan antara kosmologi dan simbolisme Dalam perspektif kosmologi. memakai ”ragam hias ornamen”. Pada umumnya wilayah permukiman masyarakat Toraja terletak di pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 2800m di atas permukaan laut. Wujud konstruksi ini sangat diperlukan untuk menghangatkan temperatur udara interior rumah. bahasa. lantai dan dindingnya dari kayu yang tebal. rumah bagi masyarakat Toraja merupakan mikrokosmos. Harmonisasi didapati . Selain itu konsep arsitektur tradisional toraja. dalam kehidupannya juga mengenal filosofi “Aluk A’pa Oto’na” yaitu empat dasar pandangan hidup : Kehidupan Manusia. dinding. “Egocentrum”. agama dan kepercayaan namun tidak semua flora. Ukuran atap rumah tradisional Toraja yang terbuat dari susunan bambu sangat tebal. Konsep Toraja Etnis Toraja mendiami dataran tinggi di kawasan utara Sulawesi Selatan. Hal ini yang tercermin pada konsep arsitektur rumah mereka dengan ruang-ruang agak tertutup dengan “bukaan” yang sempit. seperti a’riri possi di Toraja. dan makna-makna budaya dalam masyarakat. plafon dan sebagainya. ”Ornamen” selain berfungsi sebagai hiasan atau ornamen. Corak ―ornamen” umumnya bersumber dari alam sekitar manusia seperti flora. makanan. adat dan kebudayaan. pocci balla di Makassar dimana tiang menyatu dengan mother earth Pada masyarakat tradisional Toraja. dan kepercayaan Aluktodolo yang menjiwai kehidupan masyarakatnya. Pada bagian atap. Daerah ini tidak berpantai. kehidupan alam leluhur ―Todolo‖. Keempat filosofi ini menjadi dasar terbentuknya denah rumah Toraja empat persegi panjang dengan dibatasi dinding yang melambangkan “badan” atau “Kekuasaan”.

Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip dasar Arsitektur Tradisional Toraja adalah simetris. bagian depan rumah harus berorientasi Utara atau arah Puang Matua ―Ulunna langi’” dan bagian belakang Rumah ke Selatan atau arah tempat roh-roh ―Pollo’na Langi’‖. kombong. Atau selalu ada keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. rumah adat Toraja adalah merupakan bangunan yang sangat besar artinya. . ―Tongkonan Pa’rapuan‖. jadi mempunyai arti sebagai tiang batu keluarga. kedudukannya sebagai rumah tempat membuat peraturan adat istiadat.―Tongkonan Layuk‖. makro dan mikro kosmos tetap terpelihara didalam tatanan kehidupan masyarakat tradisional toraja. pada arah Timur dimana para Dea ―Dewata‖ memelihara dunia beserta isinya ciptaan “Puang Mutua” untuk memberi kehidupan bagi manusia.dalam konsep arsitektur “Tongkonan” yang menginteraksikan secara keseluruhan komponen “tongkonan” seperti : Rumah.. serta tempat pembinaan warisan. Rumah Adat Tradisional Tongkonan. Gambar 3. Kosmologi dalam arsitektur Toraja Sumber : Tjahjono. Ed. yaitu tongkonan yang tidak mempunyai peranan dan fungsi sebagai tempat persatuan dan pembinaan keluarga dari keturunan pertama tongkonan itu. dan arah Barat adalah tempat bersemayam “To Membali Puang” atau tempat para leluhur ―Todolo”. Selain itu. dimana rumah dianggap sebagai “mikrokosmos”. 1999 Gambar 4. yaitu rumah adat yang merupakan tempat melaksanakan aturan dan perintah adat dalam suatu masalah daerah. karena peranannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Toraja. rante dan liang. Kesemuanya ini diterjemahkan menjadi satu kata sederhana yaitu “keseimbangan” dan secara arsitektural “keseimbangan” selalu diaplikasikan kedalam bentuk “simetris” pada bangunan. ―Tongkonan‖. fungsinya sama dengan Tongkonan Batu A‘riri tetapi tidak boleh diukir seperti tiga tongkonan diatas dan tidak memakai Longa.―Tongkonan Batu A’riri‖.‖ Tongkonan Pokamberan/Pokaindoran‖. dibedakan atas : . ―Tongkonan‖ dalam fungsinya terbagi menjadi 4 macam tingkatan yaitu : . didalam satu sistem kehidupan dan penghidupan orang toraja didalam area tongkonan. Rumah tradisional Tongkonan Toraja Tata letak rumah tongkonan berorientasi Utara – Selatan. lumbung. keterikatan dan berorientasi. . Sedangkan kedua arah mata angin lainnya mempunyai arti kehidupan dan pemeliharaan. Sedangkan fungsi dan kegunaan penataan lantai bangunan tradisional rumah adat Toraja. sawah.

. yaitu pekerjaan memasang dinding pengosokan berjejer keliling bangunan dan kayu Sangkinan Rindingan ini sama besar dan tingginya begitu pula pada jarak pemasangannya kecuali pada bagian sudut bangunan. . melalui tahap-tahap sebagai berikut : .‖Banua Dang Lanta’’‖.‖Tahap No’ton Parandangan’”. yaitu membangun suatu tempat untuk menyimpan bahan bangunan yang dinamakan ―Barung‖ atau ‖Loko Pa’ Tambenan‖. adalah bangunan yang tidak mempunyai peranan adat seperti ‖Tongkonan Batu A’riri‖ yang terdiri dari dua ruang yaitu Sumbung sebagai tempat tidur dan Sali sebagai dapur. adalah rumah untuk para Pengabdi kepada Penguasa Adat. pada jaman sekarang ini banyak didapati di kebun kebun. . Pekerjaan ini adalah pekerjaan permulaan dari pembangunan karena semua bahan bangunan sudah disiapkan. .. . yaitu bangunan tongkonan tertua dari penguasa adat yang memegang fungsi adat ‖Togkonan Pasio’ aluk‖.‖Banua Patang Lanta’’‖.‖Tahap Ma’ A’riri Posi’”.‖Tahap Mangraruk‖.‖Banua Tallung Lanta’’‖. Dalam proses pembangunan bangunan tradisional Toraja ini pengerjaannya dibagi menjadi 2 tahap yaitu : . . yaitu tempat membuat bangunan yang merupakan tempat mendirikan bangunan sampai selesai. . yaitu bangunan pemerintahan adat Toraja yang mempunyai tiga ruang. yaitu mengatur dan menanam batu pondasi yang dipahat atau asli yang sudah cukup baik untuk menjadi batu pondasi. yaitu mendirikan satu tiang tengah bangunan yang merupakan salah satu tiang yang mempunyai arti dalam pembangunan rumah adat Toraja. Jadi bangunan rumah adat Toraja selama didirikan seolah olah tidak terkena sinar matahari dan hujan. Sali dan Tangdo‘ yang berfungsi sebagai tempat upacara pengucapan syukur dan tempat istirahat tamu tamu. Pada rumah ini hanya terdapat satu tiang untuk melaksanakan kegiatan sehari hari.‖Tahap Pabenden Leke’”.‖Tahap Ma’ Sangkinan Rindingan‖. dimana semua bahan bangunan diolah diukur untuk persiapan pendirian bangunan tersebut.‖Banua Sang Borong‖ atau ‖Banua Sang Lanta‖.‖Tahap Ma’ Tamben‖ atau ‖Ma’ Pabendan‖. Ruang ruang itu adalah Sumbung. yaitu sebagai pekerjaan permulaan untuk mengumpulkan seluruh bahan bahan bangunan yang diperlukan .‖Tahap Ma’ Pabendan’”. . yaitu mendirikan tiang tiang bangunan utama diatas batu parandangan yang sudah diatur dalam ukuran persegi panjang. . dilanjutkan dengan pengerjaan ‖Ma’ Pabendan‖. Setelah semua pekerjaan tersebut diatas sudah selesai.

‖Tahap Ma’ Kayu Beke’i‖.‖Tahap Ma’ Petuo”..‖Tahap Ma’ Paringgi”. yaitu semua kayu yang panjangnya 3.‖Tahap Ma’ Benglo Longa‖. . yaitu pemasangan semua dinding yang dimasukkan dari atas ke dalam Sangkinan Rinding melalui semacam jaluran rel sebagai bingkai yang terpasang mati. dengan persilangan pada ujung atasnya dan ujung bawahnya disambung pada kayu Rampanan Papa‘ sebagai tempat mengatur kayu kecil kecil yang bernama Tarampak. Faktor inilah yang menyebabkan konstruksi dan arsitektur bangunan tetap sebagai dasar perancangan Tongkonan. yaitu pemasangan kayu pamiring yang membentuk longa dan berpangkal pada kayu Rampanga Papa Longa. yaitu tempat menumpunya kayu Rampanan yang fungsinya mengikat dan mengatr atap. yaitu merupakan pekerjaan yang sangat berat karena pemasangan Tarampak sampai ke bubungan tidak boleh berhenti.‖Tahap Ma’ Papa”. . . . Jadi bagian bagian dari rumah adat Toraja pulalah yang menentukan struktur arsitekturnya antara lain . . . yaitu pemasangan kayu diatas kayu Ma‘ Petuo sebagai tempat mengatur kayu kayu membentuk segitiga dengan badan rumah.5 m.‖Tahap Ma’ Palaka Indo’ Para‖. Sedangkan bagian luar dan dalam dibagi sebagai berikut : Interior rumah adat Toraja. yaitu merupakan bagian depan agak miring dari bagian atap bangunan. . ‖Tahap Ma’ Paleke’ Indo Tekeran”. yaitu pemasangan 4 buah kayu Ma‘ Petuo sebagai tumpuan bagi kayu bubungan. yaitu tangga pembantu pemasangan semua bagian dari Longa dan bila telah selesai maka Ma‘ Benglo Longa dibongkar.‖Tahap Ma’ Pabendan Tulak Somba”. . fungsi fungsi tersebut tidak akan berubah sepanjang letak dari bangunan itu tidak berubah yaitu atap menghadap keutara sebagai orientasi bangunan.‖Tahap Ma’ Kamun Rinding‖. rumah adat Toraja dibagi atas 2 bagian besar yaitu dengan menarik garis besar dari utara ke selatan yang dibedakan dengan nama Kale Banua Matallo dan Kale Banua Matumpu‘ yaitu bagian rumah sebelah timur dan bagian rumah sebelah barat. karena adanya hubungan pandangan keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan dari bangunan. yaitu pemasangan kayu Tulak Somba menopang bagian depan dan bagian belakang Longa.‖Tahap Ma’ Rampani”. . Semua bangunan rumah adat Toraja mempunyai peranan dan fungsi tertentu.

Exterior rumah adat Toraja. Jendela ini dapat terbuka dan tertutup setiap saat. . . Lobang ini berjumlah 3 buah dan tidak tertutup dengan ukuran 10 x 15 cm. ‖Pentiroan Matallo‖. ‖Pentiroan Mampu’ ‖. yaitu jendela jendela pada seluruh badan rumah yang kelihatan pada 4 sisi.‖Pentiroan‖. Jendela ini dibuka pada pagi hari dan dibuka terus pada waktu upacara pengucapan syukur. Peranannya sebagai tempat mengurung hewan hewan ternak pada malam hari untuk menjaga tuannya diatas rumah. ‖Tingayo Banua‖ atau ‖Lindo Banua‖. Jendela ini terbuka terus pada waktu upacara kematian atau bila didalamnya ada orang yang sakit. Jendela ini dibuka pada waktu ada upacara pemakaman orang mati. yaitu bagian badan dari bangunan yang terdiri dari ruang/petak mulai utara ke selatan. . . yaitu kolong dari bangunan rumah yang dibentuk oleh tiang tiang yang dihubungkan oleh sulur yang dinamakan roroan. Berfungsi untuk menyimpan peralatan dan pakaian upacara adat. yaitu jendela yang terletak disebelah timur bangunan. pemasangannya pada tengah bangunan pada ruang tengah. Jendela jedela itu adalah :     ‖Pentiroan Tingayo‖. yaitu jendela yang terletak dibelakang rumah menghadap ke selatan.‖Rattiang‖ atau disebut juga loteng yaitu bagian atas dari rumah yang sebagian ditutupi atap. . yaitu jendela yang terletak disebelah barat bangunan. yaitu 2 buah jendela yang terletak dibagian muka rumah menghadap ke utara. ‖Pentiroan Pollo’ Banua‖.‖Suluk Banua‖.‖Kale Banua‖.‖Longa‖ bagian menjulang dari atap bangunan di sebelah utara dan selatan.. yaitu bagian muka bangunan yang digunakan sebagai tempat melakukan upacara pengucapan syukur dan pemujaan.

. . Dari Masa Kemasa”.―Tulak Somba‖ yaitu tiang tinggi penopang ujung depan dan belakang bangunan adat Toraja yang dinamakan Longa. Masa arsitektur modern serta Masa arsitektur post modern. arsitektur tradisional merupakan pilihan satu-satunya. Dari masa lampau hingga masa kini ada 4 masa perkembangannya yang dapat ditelusuri yaitu : Masa arsitektur tradisional. . tetapi melambangkan sesuatu hal atau kegiatan serta problem kehidupan masyarakat. bangunan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal ataupun sebagai tempat bermukim keluarga. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ rumah adat Toraja adalah sebagai berikut : .―Passura‖ yaitu ukiran tradisional pada bangunan adat Toraja yang bukan hanya sebagai hiasan. tumbuhtumbuhan yang dipakai sebagai bahan bangunan dan batu-batuan. . yaitu bagian sebelah timur atau kanan bangunan sebagai tempat acara pemujaan kepada Deata. mempunyai sudut kemiringan atap yang tajam karena curah hujan di daerah ini besar.‖Matallo Banua‖. Secara tradisi. Fungsinya sebagai tiang penopang sekaligus tempat melekatnya tanduk karbau hasil pesta mendirikan rumah. yaitu bagian bangunan sebelah barat. . Perkembangan arsitektur tradisional dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : waktu. Arsitektur tradisional sangat dipengaruhi oleh keadaan dan potensi alam sekitarnya yang sering diambil menjadi motif utama pemberi corak. Masa arsitektur klassik. pengaruh budaya luar.―Katik‖ adalah bentuk kepala aya jantan yang berkokok. pola hidup. ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Terutama pengaruh iklim. curah hujan.‖Pollo Banua‖. . Perletakan Katik ini adalah diatas kuduk dari Kabongo yang mengartikan pimpinan yang menjalankan pemerintahan pada masyarakat tertentu.‖Kabongo‖.‖Matampu Banua‖. Arsitektur tradisional Toraja misalnya. “Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan.―A’riri Posi’‖ yaitu tiang tengah pada bangunan rumah adat Toraja yang hampir kelihatan berdiri sendiri diantara ruang selatan dan ruang tengah. Masa arsitektur tradisional : pada masa ini budaya asli dan pola hidup masyarakat tradisional berkembang didalam masyarakat tanpa ada pengaruh luar. yaitu bagian belakang bangunan sebagai tempat pelepasan orang mati. yaitu kayu yang dibentuk seperti kepala kerbau dengan tanduk asli tanduk kerbau yang mengartikan bahwa Tongkonan ini adalah Tongkonan pemimpin masyarakat dengan kata lain tempat melaksanakan peranan dan kekuasaan adat Toraja. .

prinsip dasar. Ghotic dan Barouq. bambu. Bahan bangunan lokasi seperti . Disini peran proporsi dan skala dari bangunan. Masa Arsitektur Modern : Konsep arsitektur modern menekankan faktor “fungsionalisme” dan “efesiensi” . Arsitektur Klasik mencakup gaya Renaissance. misalnya desain dan teknologi bahan bangunan. Perbedaan itu terlihat dalam hal konsep.Bambu dipakai sebagai atap dan plafound karena banyak hutan bambu di Tana Toraja. ruangan atau komponen bangunan yang berskala mega atau melampaui skala manusia. dan rerumputan untuk bahan atap mulai kurang dipakai. Masa Arsitektur Klassik adalah masa berkembangnya arsitektur klassik dari Eropa yang masuk ke Indonesia. Perihal ragam hias ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan yang sering ditemukan dan banyak memberi warna. Gaya arsitektur klassik terus tumbuh. struktur dan konstruksi. Karena semen. tata ruang. berkembang dan mewarnai karakter berbagai bangunan penting. Misalnya. Dimasa arsitektur klassik ini. arsitektur tradisional mulai tersisihkan. atau didalam ruangan yang luas dengan plafond yang tinggi itu. Konsep arsitektur modern pada dasarnya lebih menekankan fungsionalisme dan efesiensi yang mengutamakan . mereka juga membawa gaya arsitektur Cina. batu merah. tidak hanya pada Gereja tetapi juga bangunan Pemerintah Kolonial dan perumahan mereka. kayu. bahan bangunan. ruangan yang sangat luas dan plafond tinggi dan berorientasi keatas. Arsitektur tradisional yang lebih mengutamakan penggunaan bahan bangunan alamiah mulai dilupakan. Ornamen dipakai sebagai ungkapan arti simbol simbol suatu benda yang dianggap mempunyai arti khas dalam penghidupan dan kehidupan masyarakat tradisional etnis bersangkutan. Para arsitektur menerjemahkannya kedalam bahasa non verbal dengan menampilkan bangunan. bentuk tata ruang. kolom yang besar. struktur dan konstruksi menjadi lain. masuk ke Indonesia. Model arsitektur klasik sangat berbeda dengan arsitektur tradisional. Cara penyelesaian arsitektur seperti ini dikenal sebagai cara untuk memperoleh wibawa dan menekankan perasaan manusia yang berada di dekatnya atau didalamnya sehingga merasa lebih kecil dan tidak berarti didekat bangunan atau kolom yang besar. Ilmu pengetahuan dan teknologi arsitektur modern memberi warna lain bagi perkembangan kearsitekturan. beton dan besi jauh lebih menjamin kekuatan dan keawetan bangunan. bangunan besar dengan lantai atau permukaan tanah yang ditinggikan. Begitupun ketika pedagang Cina. ruang dan komponen sangat penting. Arsitektur Klassik disebut pula ―Arsitektur Kolonial‖ karena gaya ini hadir pada zaman kolonial. Demikian pula halnya bahan kayu yang dipakai sebagai tiang dan dinding. bentuk bangunan. Gaya gaya klasik ini terlihat pada Gereja yang lebih menekankan pada konsep sakral yaitu : Manusia itu kecil dihadapan Tuhan. dipakai menghiasi dinding dan tiang sesuai tradisi masing masing etnis. Sejak masa ini. penggunaan bahan bangunan. seperti terlihat pada rumah ibadah “Klenteng” dan perumahan didalam “Kampung Cina” yang masih dapat dilihat di beberapa kota besar di Indonesia. yang kemudian menyebar keseluruh dunia seiring penyebaran agama Katolik dan Protestan. Gaya arsitektur ini lebih dikenal melalui rancangan Istana Raja dan Gereja di Eropa.

Arsitektur Post –Modern ini memunculkan kembali arsitektur tradisional. Dalam perkembangan selanjutnya. Meskipun demikian arsitektur tradisional masih memiliki dan menampilkan persamaan yaitu : unsur vertikal dan horisontal. Sulawesi Selatan secara geografis terletak pada 0012‘~80 Lintang Selatan dan 116048‘~122036‘ Bujur Timur. menjadi rancu akibat dari perbedaan prinsip dasar. Gaya arsitektur Post-Modern yang sedang melanda dunia kearsitekturan juga merambah masuk ke Indonesia melalui kota-kota besar. Ternyata arsitektur modern sebagai suatu konsep yang mengutamakan fungsionalisme dan efisiensi itu lebih mampu mewadahi aktifitas manusia moderen sampai sekarang. Pada masa ini. Beberapa arsitektur modern masa kini. Toraja dengan Jawa. Ini juga menjadi suatu pertanda bahwa arsitektur di Indonesia sedang mencari bentuk lain seiring dengan kecenderungan masyarakat dan para arsitek memanfaatkan warisan budaya masa lampau untuk menemukan identitas baru yang dapat dipakai sebagai simbol dalam era globaliasi ini. funsionalisme dan efisiensi menjadi tidak mengikat lagi. Konsepsi Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Sebagai Reinkarnasi “Karakter” Pengembangan Kawasan Budaya Dan Pariwisata Lokal. Pada arsitektur masa kini dimana modernitas dan tradisional muncul bersamaan. Nampaknya gaya ini menoleh dan menggali dan memanfaatkan keunikan arsitekturan tradisional dan seni masa lampau untuk berimajinasi ke masa depan.90C. Masalah lain akan timbul bila dua macam atau lebih arsitektur tradisional yang berbeda disatukan di dalam satu gubahan arsitektur. Masa Arsitektur Post-Modern adalah model arsitektur masa kini. Unsur tradisional memang hadir tetapi lepas dari prinsip dasar dan norma norma khasnya.50C. Kemudian muncullah masalah-masalah akibat benturan antara tradisional dengan modernitas. yaitu antara 22. beridentitas etnis dan menyatakan status sosial melalui arsitektur tradisional sebagai simbol agar mempunyai “nilai Aktualisasi” . dirancang dan dibangun dengan mengawinkannya dengan unsur-unsur arsitektur tradisional tetapi terkadang bauran dengan unsur tradisional itu sendiri. Gaya arsitektur tradisional yang beranekaragam di Indonesia menjadi sumber inspirasi utama dalam pengayaan gaya post-modern ini selanjutnya.kenikmatan penghuni dan keleluasaan ruang gerak manusia. warna-warni dan bentuk yang unik. Temperatur udara sekitar 26. pegunungan dan lautan. Gaya post-modern ini lebih menonjolkan simbolisme. Pemakaian bahan bangunan pun menjadi lebih bebas dan beragam. Toraja dengan Bali. Identitas. dengan daerah dataran. mulai tidak dipersoalkan. Daerah ini merupakan Jazirah Barat Daya Pulau Sulawesi. seperti Toraja dengan Bugis. atau kombinasi lainnya. . arsitektur modern ini mendominasi karya-karya arsitektur di Indonesia.30C ~ 34. karakter dan ciri khas sangat penting untuk dihadirkan kembali. filosofi dan konsepnya. Cara pernyataan diri ini menjadi lebih menarik karena tradisionalisme ditarik hadir dalam pola hidup modern. Bahkan kedua unsur ini dapat ditemukan pada seluruh gaya arsitektur tradisional di Indonesia. nampaknya ada kecenderungan untuk menjawab keinginan masyarakat tampil lebih eksis. ornamen. klasik.

Dalam sistem sosial masyarakat Bugis dan Makassar ada strata sosial masyarakat yang menentukan arsitektur rumah tinggal mereka. Malaka kepulauan Maluku di Kawasan Timur Indonesia. musik dan tari-tarian. baik dimasa perang maupun dimasa damai. . Perbedaan itu terlihat juga pada jenis makanan. Seseorang dapat mengamati. Mandar dan Toraja. Benteng peninggalan kolonial Fort Rotterdam dan sejumlah bangunan peninggalan kolonial lainnya seperti rumah kediaman Gubernur menjadi bukti sejarah keberadaan Belanda di kota Makassar. Bugis dan Mandar terkenal sebagai pusat kelahiran pelaut berjiwa patriotik. Dipelabuhan ini terlihat kapal-kapal layar Phinisi khas Bugis-Makassar yang terkenal itu berlabuh. menikmati berbagai pengalaman pada keunikan budayanya. upacara adat. seni ukir. Dalam hal arsitektur rumah tradisional Bugis-Makassar secara umum sejenis. Dengan perahu layar tradisionalnya mereka mengarungi lautan kepulauan Indonesia.Makassar dan Mandar yang menghuni kawasan pantai mempunyai pelaut-pelaut ulung.Letaknya berada di daerah katulistiwa hingga masyarakatnya berpeluang hampir sepanjang tahun bisa bercocok-tanam. Daerah Sulawesi selatan dihuni oleh tiga etnis utama yaitu Bugis. yaitu rumah panggung dengan atap pelana yang sebagian besar bahan bangunannya dari kayu. Kemungkinan kondisi ini diwujudkan untuk mengeliminir temperatur udara panas terutama yang lokasinya di daerah hilir dan pantai. Arsitektur rumah tradisional Toraja juga berupa rumah panggung. itu masih dapat ditemukan di beberapa daerah misalnya pada upacara religius. Ukuran ruang. Makassar dan daerah sekitarnya juga terkenal memiliki pelaut ulung yaitu orang orang yang ahli membuat kapal laut sekaligus mumpuni berlayar. Pola ruang. tetapi. beberapa pulau di samudera Pasifik sampai kepantai Afrika. Sumatera. Latar belakang geografis. seni tradisional. Mereka berlayar untuk berniaga ke berbagai bandar niaga di Pulau Jawa. struktur dan konstruksinya sangat berbeda dibanding rumah arsitektur tradisional Bugis-Makassar. Makassar. Makassar merupakan salah satu kota bandar niaga terbesar di Indonesia bagian timur. Rumah tradisional Toraja atapnya melengkung. Benteng ini menjadi salah satu contoh terbaik dari arsitektur bangunan peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. prasejarah dan sejarah Sulawesi Selatan telah melahirkan kekayaan budaya yang menarik. pintu dan jendela rumah Bugis-Makassar relatif besar. Pada abad XVI Etnis Bugis. Masing-masing yang berbeda dalam bahasa dan sebagian budayanya. Pelabuhan Paotere yang berada di utara Ujung Pandang merupakan kawasan pelabuhan kapal tradisional. dan besaran rumah tradisional Bugis-Makassar mempunyai korelasi positif dengan tingkat strata sosial pemiliknya. ornamen. Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial yang paling terawat di Indonesia. ukiran yang cantik dan warna yang alami. pakaian. tenun benang kapas dan sutra serta arsitektur tradisionalnya.Bahan bangunan untuk atapnya adalah bambu. pola ruang. bahkan sampai ke Madagaskar (Mattulada 1998:3). Bahkan sampai kebagian utara Australia. Suku Makassar. Kelompok etnis yang paling besar di Sulawesi Selalatan adalah Bugis dan Makassar.

Kegiatan yang banyak dilakukan wisatawan di pulau ini selain memancing adalah snorkling. hidup antara tahun 1629 – 1670. gedung serba guna dan anjungan untuk memancing beragam jenis ikan laut. Sisa-sisa arsitektur kerajaan Gowa masih dapat ditemui di kawasan pinggiran. Makassar. Dimasa lalu bagunan ini adalah istana Sultan Gowa. khususnya di jalan Sulawesi. Sultan Hasanuddin dan Pangeran Diponegoro yang di asingkan Belanda dari Jawa ke kota ini.Sebelum Fort Rotterdam dibangun. Monumen Mandala di jalan. Dimasa lalu pulau ini menjadi tempat peristirahatan dan wisata petinggi kolonial Belanda.ciri kota Makassar. panggung hiburan. Ada beberapa bangunan peritirahatan khas Eropah yang sayangnya kini tidak ditemukan lagi Maros merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan. Di luar kompleks makam Pahlawan nasional ini terdapat Batu Pelantikan yang disebut “palantikang‖ merupakan tempat dimana dulu Raja-raja Gowa dilantik sebagai pemangku kerajaan dan dianugerahi mahkota kerajaan. Selain itu bangunan Vihara yang bergaya arsitektur Cina juga banyak terdapat di kota ini. Makam Diponegoro dan sebuah monumen untuk mengenang jasa pahlawan yang gagah berani ini terdapat di jalan Diponegoro. Kemudian Benteng ini dikuasai Belanda ketika sukses menyerang dan menduduki daerah ini. Belanda kemudian memodifikasi ulang benteng itu yang selanjutnya dikenal dengan nama Fort Rotterdam. Pulau Kayangan terletak sekitar empat mil laut atau sekitar 15 menit dengan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Laut dekat pelabuhan Soekarno-Hatta. Jendral Sudirman merupakan tugu berbentuk menara yang menjadi salah satu ikon arsitektur. Untuk menuju ke pulau ini wisatawan dapat menumpangi perahu motor milik pengelola atau menyewa speed boat. Istana ini berupa bangunan rumah kayu dengan gaya arsitektur Bugis-Makassar. termasuk tetangga yang berbatasan langsung dengan kota Makassar atau dikenal Kabupaten penyangga kota . Lokasi wisata ini dilengkapi fasilitas antara lain pondokan. Di pulau ini tersedia beberapa penginapan kecil yang juga menyediakan fasilitas makan. instrument musik dan berbagai macam kostum pakaian adat. Di kawasan ini terdapat Makam Sultan Hasanuddin. di tenggara kota Makassar. di tempat ini terdapat benteng yang disebut Benteng Pannyua milik kerajaan Gowa yang dibangun pada sekitar tahun 1545. restoran. Pulau Kayangan adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas satu hektar. salah seorang raja Gowa yang sangat terkenal. Pulau kecil yang terletak di lepas pantai kota Makassar ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur. Pada Museum tersimpan koleksi yang hampir sama dengan museum yang terdapat di Benteng Fort Rotterdam. Makassar juga merupakan kota tempat peristrahatan terakhir dua pahlawan besar Indonesia. Dalam bangunan benteng ini terdapat Museum Negeri La Galigo yang memiliki koleksi antara lain peralatan makanan dan memasak dari Tana Toraja. Tidak jauh dari kompleks pemakaman Sultan Hasanuddin terdapat Mesjid Katangka yang juga memiliki kompleks makam di mana di dalamnya terdapat beberapa kuburan dengan arsitektur khas. karena masyarakat keturunan Cina banyak bermukim di jalan itu dan sekitarnya. Makassar. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani pada tahun 1667. Beberapa kilometer ke arah selatan kota Sungguminasa terdapat Museum “Balla Lompoa”. Pahlawan nasional Pangeran Dipenogoro menjalani penahanan masa pengasingan selama 26 tahun di Fort Rotterdam.

juga memiliki panorama alam sekitarnya sangat menawan dan indah. Obyek wisata Alam Gua Pattunuang di Kabupaten Maros selain kaya akan akan stalagtit dan stalagmit yang menakjubkan. Menurut cerita rakyat bahwa pada zaman dahulu. Kawasan ini pernah menjadi tempat pertemuan antara para pemimpin Kalimantan dan pemimpin daerah Indonesia timur lainnya ketika mereka membentuk negara federasi Indonesia sebagai hasil perundingan dengan pemerintah belanda. namun sayangnya tempat itu musnah terbakar.Makassar. burung dan serangga yang langka. Prasejarah berupa gambar babi rusa serta puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding – dinding gua. Terdapat lukisan tua yang dilukis pada dinding gua yang diperkirakan berusia 5000 tahun SM. Selain air terjun dan kupu-kupunya. Keberadaannya menjadikan kawasan yang pertama dapat dikunjungi setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Di kawasan ini terlihat aneka ornamen yang indah. Sejumlah obyek wisata pantai juga dapat dijumpai di Maros seperti Pantai Kuri dengan pasir putihnya. Bantimurung terkenal karena menjadi habitat aneka jenis kupu-kupu yang cantik. Gua ini diperkirakan menjadi tempat kediaman manusia purba yang hidup di daerah ini pada masa 8000 hingga 30. sehingga selain akan memberi kenyamanan tersendiri juga terhindar dari kemacetan arus lalu lintas jalan raya. Batu tersebut kemudian dikenal masyarakat sekitar dengan julukan “Biseang Labboro” yaitu perahu terdampar. Kawasan ini merupakan salah satu pantai yang sangat ideal untuk dinikmati. Obyek wisata andalan ini cocok untuk kegiatan wisata alam di lembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu. Dekat dari Bantimurung terdapat gua Leang Leang. terlebih dengan suasana matahari terbenamnya yang indah.000 tahun yang lalu. Letaknya sangat strategis yaitu antara kota Maros dan Kota Makassar. Pada kawasan ini terdapat batu besar yang berbentuk perahu yang menyimpan legenda menarik. pernah ada saudagar dari Cina yang datang untuk melamar guna mempersunting gadis Samangki. Berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai di tempat ini. Di lokasi ini terdapat Air Terjung Bantimurung yang berada di lokasi perbukitan kapur yang subur dengan aneka tumbuhan. Di kawasan Malino . Malino di Kabupaten Gowa adalah kawasan resort pegunungan yang terkenal sejak awal kemerdekaan Indonesia. namun karena lamarannya ditolak akhirnya saudagar tersebut malu dan mengkaramkan perahunya yang kemudian menjelma menjadi batu. Untuk menuju Kota Makassar melalui pantai Kuri dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan menelusuri pesisir pantai. di lokasi wisata ini terdapat Museum kupu-kupu. Sayangnya Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang megah itu kurang menyerap ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut. Di kawasan Bantimurung ini pernah dibangun rumah-rumah peristirahatan dengan arsitektur khas Bugis-Makassar. Selain lukisan prasejarah. Tempat yang disebut juga Taman Prasejarah Leang-Leang ini terletak pada deretan bukit kapur yang curam dan para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat disekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia yang ditandai dengan lukisan. terdapat pula sebuah gua dengan stalagtit dan stalagmitnya yang menakjubkan. Obyek-obyek wisata di Kabupaten Maros yang banyak dikunjungi wisatawan antara lain Bantimurung. Diperkaya lagi dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing.

Masjid kuno ini memiliki atap bentuk tumpang tiga. ujung – ujung panah. sekitar 300 meter dari jalan raya. Masyarakat setempat menggunakan buah pohon kapuk itu sebagai bahan baku untuk membuat kasur. Kabupaten Jeneponto meski dikenal sebagai wilayah yang kering. Di Kelurahan Bontojaya. Air Terjun Boro. Bantaeng merupakan daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Di sini. Pada masa lalu. Kuburan Raja – Raja Binamu merupakan kuburan para Raja – Raja Binamu yang pernah memerintah di Butta Turatea Jeneponto. ditunjang berbagai fasilitas kolam renang. wisatawan dapat melakukan kegiatan olahraga pantai. penginapan dengan bagunan berarsitektur Bugis-Makassar. Kecamatan Kelara. terdapat Permandian Alam Emmerasa. ternayata memiliki juga panorama alam yang indah dan asri dengan pepohonan yang rindang. Kecamatan Bissappu terdapat Gua Batu Ejaya. Di kawasan ini rumah-rumah dibangun berarsitektur khas Bugis –Makassar. Dinding masjid bagian timur terdiri dari empat pilar bergaya arsitektur Eropa. Derajat yang di makamkan disana dapat dilihat dari patung yang berada di atas kuburan. Karena daerah ini pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan kolonial Belanda. Di utara Bantaeng terdapat sebuah air terjun yang cukup mengesankan. ilmuwan dari Belanda. Gua Batu Ejaya pernah diteliti tahun 1937 oleh Van Stein Callonfols. Masjid Tua Tompong juga menjadi salah satu obyek yang dikunjungi wisatawan. wisatawan dapat menyaksikan rumah panggung berjejer di antara areal persawahan. masjid ini dibangun pada tahun 1887 atas prakarsa Raja Bantaeng Karaeng Panawang pada abad 12. Bangunan induknya terdiri dari penampil dan tubuh masjid. Salah satu obyek pantainya yang terkenal adalah Birtaria Kassi di Kecamatan Tamalatea dengan pantai yang landai dan sudah tertata baik. Kuburan ini memiliki ciri khas ornamen yang indah. Ia melakukan penggalian arkeologi dan menemukan alat – alat batu jenis calsedon berupa serpihan yang digunakan sebagai pencerut. Daerah ini kaya akan sejarah maritimnya. Di kota Bantaeng terdapat juga bangunan-bangunan khas gaya arsitektur kolonial. Di sekitar gua itu terdapat banyak pohon kapuk. Kecamatan Eremerasa. Di sepanjang jalan. Letaknya di atas bukit yang datar. Di kawasan ini juga terdapat kolam pancing dan berbagai restoran. toko souvenir dan arena hiburan anak – anak.terdapat tempat-tempat peristirahatan bergaya arsitektur kolonial yang masih terjaga keberadaannya. Pemandangannya indah dengan pegunungan yang berada di kanan – kiri air terjun yang tingginya mencapai 20 meter. Konon. Bantaeng adalah pusat pembuatan kapal orang Bugis dengan reputasi yang terkenal selama ratusan tahun. Selatan dan Barat terbuat dari tembok yang mempunyai ventilasi udara dari roster porselin berwarna hijau. berlokasi di Desa Tompobulu. Di sekitar permandian ini udaranya sejuk dengan pemandangan alam berupa perbukitan yang ditumbuhi pohon dan tanaman berwarna hijau. mandi atau berendam di laut atau berlayar dengan perahu. Puisi – puisi lama pada abad ke–14 pernah memuji kualitas kapal buatan daerah ini. Di desa Kampala. Tidak terlalu sulit menemukan pantainya yang landai dengan udara yang nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas olahraga pantai. . Dinding masjid di bagian Utara.

Di kota Bantaeng terdapat Balla Lompoa-rumah adat khas Bugis Makassar yang dulu menjadi tempat bermukimnya raja – raja Bantaeng. La Tenri Ruwa adalah Raja Bone ke 11 yang pertama menerima ajakan dari Raja Gowa XIV Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin untuk memeluk agama Islam. Oleh sebab itu dalam kompleks bangunan ini terdapat sekitar 159 buah bangunan makam yang menyerap gaya arsitektur Islam. wisatan dapat berenang. Masyarakatnya masih sangat terikat dengan adat istiadat yang bersumber dari ajaran pasang/wasiat yang disebut ”Pasangnga Ri Kajang” yang dikomunikasikan lewat ”Ammatoa” sebagai pemangku adat. selebihnya batu cadas.617 meter persegi. Bahan baku bangunan makam itu terbuat dari batu karang. Pantai Mandala Ria di Desa Ara Kecamatan Bontobahari terdapat rumah-rumah khas Bugis Makassar. Kecamatan Bantaeng. Di kompleks ini terlihat kuburan dan nisan dengan ornamen yang khas. Mereka hidup dalam kesederhanaan dengan pakaian serba hitam dan bangunan rumah mereka dominan berwarna hitam dan mereka hidup dengan melestarikan hutan sebagai warisan leluhur. Luas tanahnya sekitar 1. tempat ini bagus untuk bersantai namun pada hari libur selalu ramai dengan pengunjung. snorkeling dan menyelam. Di arah selatan ibukota kabupaten Bulukumba terdapat desa tempat pembuatan kapal juga sejumlah obyek wisata yang dikenal dengan nama Pantai Bira. Pantai dengan hamparan pasir putih ini menjadi tempat yang asyik untuk menikmati sunrise dan sunset yang amat mempesona. Panorama alam yang indah. Kerajinan masyarakat berupa sulaman dan miniatur perahu phinisi dapat dijadikan souvenir menarik dari lokasi ini. Pada hari biasa.Makam Raja – Raja La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam yang terletak di tengah kota Bantaeng. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan pantai barat Pulau Selayar atau di Benteng yang merupakan kota utama di pulau ini. Di sekitarnya terdapat rumah – rumah penduduk berarsitektur tradisional. Bangunannya terdiri dari rumah induk dan pendopo. Rumah-rumah mereka berarsitektur Bugis Makassar. terletak di Kecamatan Bonto Bahari. Kelurahan Pallantikang. Pantai bira memiliki keragaman biota laut yang sangat indah. Berbagai jenis ikan hias dan terumbu karang beraneka warna. Di kawasan pantai ini. Selain pesona pantai berpasir putih yang indah. Pantai lemo-lemo. Beberapa kilometer di . batu bata dan batu kapur yang memakai bahan perekat. Di kabupaten ini terdapat desa-desa orang Bugis -Makassar yang bermukim di sekitar pantai Bulukumba. Pulau yang berbentuk memanjang tapi sempit ini dihuni oleh masyarakat Bugis dan Makassar. juga tersedia sumber air tawar di laut disaat surut. Pantai di tempat ini memiliki pasir yang putih. Bulukumba merupakan salah satu tempat keberangkatan kapal yang menuju ke Pulau Selayar. Untuk bermalam telah dibangun beberapa cottage ala arsitektur Bugis-Makassar yang dipadukan dengan pendekatan konsep arsitektur modern. tempat pembuatan perahu tradisional dan di sekitar pesisir dijadikan kawasan cagar alam dengan aneka satwa liar yang dilindungi. tepatnya di Lingkungan Lembang Cina. Kajang adalah kampung adat yang menjadi pemukiman dengan rumah-rumah adat khas Kajang. Pulau Selayar terletak di arah tenggara dari daratan semenanjung Sulawesi Selatan ini memiliki pantai berpasir dengan panorama yang indah.

Pulau atol Taka Bone Rate adalah yang terbesar ketiga di dunia dengan luas sekitar 2220 km2. Pao. Rumah tersebut dibangun akhir abad ke 19 atau tahun 1890. Bone adalah ibukota kabupaten Bone. terletak di Kelurahan Balangnipa. sebagai daerah bekas wilayah gabungan antara Kerajaan Tellulimpoe (Tondong. Pulau Katingdoang. Pulau Kanalo 2 dan Pulau Larearea yang merupakan daerah potensial untuk dijadikan obyek wisata bahari. tebal dinding siwali reppa -setengah depa. menyimpan potensi wisata bahari maupun wisata alam berpemandangan yang tidak kalah menariknya dengan daerah lainnya. pakaian kerajaan. benteng ini merupakan dasar yang bahannya berupa batu gunung yang diikat oleh lumpur Sungai Tangka. Rumah adat bugis yang terletak di pusat Kota Watampone ini adalah bekas istana Panglima Perang Kerajaan Bone Andi Baso Pagiling Putra Mahkota Raja Bone XXXX Lapawawoi Karaeng Sigeri. Legenda tentang kerajaan yang . Taka Bone Rate merupakan pulau karang atol yang terletak di tenggara Pulau Selayar atau di utara Pulau Bone Rate. Hal ini merupakan potensi wisata budaya yang tiada nilainya. Wisata budaya dan sejarahnya sangat kaya. Bone banyak memiliki gua-gua alam seperti Gua Mampu di Desa Labbeng. Kabupaten Sinjai merupakan daerah yang terletak di pantai timur bagian selatan jazirah Sulawesi Selatan dan berada di kaki Gunung Bawakaraeng. Pernak-pernik itu sangat indah dalam bentuk dan warnanya. keberadaan rumah panggung ini menunjukkan bahwa sejak masa lalu masyarakat Bone telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil yang cukup tinggi. Antara lain rumah adat Bola Soba di Kelurahan Manurungnge. Pulau Batanglampe. Kecamatan Sinjai Utara. patung. Pulau – pulau Sembilan terdiri dari 9 buah pulau yakni Pulau Burungloe. Museum Lapawawoi di pusat kota Watampone. bajubaju adat dan foto-foto keturunan Raja-raja Bone juga sarat dengan sejarah. tentunya menyimpan benda – benda peninggalan sebagai tanda kejayaan kedua kerajaan tersebut di masa lalu.selatan Benteng terdapat Benteng Bontobangun. Di dekat Pulau Selayar terdapat Pulau Pasi di mana wisatawan dapat melakukan kegiatan air snorkeling. Selanjutnya pada zaman penjajahan Belanda tahun 1864. Kecamatan Tanete Raittang. Di Selayar terdapat juga rumah adat yang berarsitektur khas. Suka dan Bala Suka). Pulau Liang Liang. Pantai Lasia di Kecamatan Sinjai Timur dan Desa Pattongko Kecamatan Tellulimpoe. direnovasi dengan model arsitektur Eropa dan selesai tahun 1868. berbentuk segi empat dan memiliki empat buah pertahanan yang disebut bastion. Manipi. Selain itu. Adalah salah satu daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan. Benteng Balangnipa berjarak 2 km dari pusat kota Sinjai. Pulau Kanalo 1. Terasa. Untuk kegiatan wisata alam. Di museum ini tersimpan peninggalan Kerajaan Bone dan benda-benda peninggalan Arung Palakka seperti keris. yang memiliki stalagtit dan stalagmit menyerupai bentuk makhluk sehingga muncul legenda Alleborenge Ri Mampu atau kutukan Kerajaan Mampu. Pulau Kambuno. Pada awal dibangunnya tahun 1560. Pulau Kodingare. Manimpahoi. Untuk wisata bahari daerah potensi pengembangan untuk wisata bahari adalah Pulau – pulau Sembilan di Kecamatan Sinjai Utara. Bulo Bulo dan Lamatti) dengan Kerajaan Pitulimpoe (Turungeng.

Bajoe yang terletak 7 km di sebelah timur Bone merupakan kota pelabuhan dan penyeberangan menuju ke Kolaka di Sulawesi Tenggara. Kepulauan ini memiliki gugusan terumbu karang yang padat dan indah yang di sela – selanya berenang ikan – ikan hias aneka warna dari berbagai spesies. Obyek pantai lainnya adalah Pulau Langkadea. jet sky dan fasilitas olahraga lainnya. bangunan ini terletak di jantung kota Watansoppeng. Soppeng merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan. Wisatawan dapat menyewa perahu jika berminat melihat ‖desa terapung‖ di dekat Bajoe. Makam-makam ditempat ini dibuat dengan bentuk yang khas. Konstruksi dan . terdapat peninggalan purbakala berupa gambar telapak tangan. ada sekian mitos yang berkembang bahwa keberadaan kalong ini yang jumlahnya ratusan hingga ribuan ini. sekitar 25 menit dengan speed boat dari Pelabuhan Bining Kassi. Krosen tahun 1905 selaku Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi. Ibukotanya Watansoppeng atau disebut juga kota kalong atau kelelawar. babi. Rumah-rumah masyarakat di kawasan itu dibangun dengan khas arsitektur Bugis-Makassar. A. Sejumlah fasilitas tersedia mulai dari akomodasi.dikutuk menjadi batu ini disampaikan secara turun temurun di tengah masyarakat setempat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam. Di bagian timur pantai yang landai dan berpasir putih sudah dilengkapi dengan fasilitas akomodasi dengan bangunan rumah khas berarsitektur Bugis Makassar. Pulau ini disebut juga Citra Mustika Langka atau Pulau Wisata Bahari Muslim karena pengunjung menghadapi sejumlah ketentuan misalnya harus berbusana muslim. laki – laki dan perempuan yang bukan muhrimnya tidak diperkenankan serumah dan tidak diperbolehkan ada judi. perahu yang diperkirakan berusia 5000 tahun. Kecamatan Cenrana. Salah satu diantaranya yang cukup terkenal diberi julukan ‖Rumah Tinggi” Villa Yuliana merupakan salah satu bangunan arsitektur peninggalan Belanda di Kabupaten Soppeng. Di pemandian ini juga terdapat Gua Mattampa dan taman rekreasinya yang dilengkapi fasilitas olahraga dan pertanian terpadu dan pusat percontohan pengembangan kolam air tawar dan tempat memancing. Kecamatan Bungoro sekitar 3 km dari kota Pangkajene yang berada pada poros Makassar – Pangkep. Sejumlah makam menjadi obbyek wisata ziarah seperti komplek pemakaman Raja Kalokkoe (Laleng Bata) sekitar 3 km dari kota Watampone dan makam Raja-raja Watang Lamuru di Desa Labalata. kompleks makam Labalata dan Kalokkoe serta makam Lapatau Matanna Tikka di Desa Nagauleng. Di Soppeng masih banyak ditemukan bagunan bergaya arsitektur kolonial. Uniknya kalong ini hanya mau berdiam dan bergelantungan di pepohonan sepanjang kota Watansoppeng. Pangkajene. Di beberapa gua. bertengger di pohon – pohon taman kota dengan suara berisik yang khas. Pemandian alam Mattampa merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Pangkep yang terletak di Kelurahan Samalewa. Di kelurahan Balloci Baru terdapat Taman Laut Pulau Kapoposan di Desa Mattiro Ujung Kecamatan Liukang Tupabiring. rusa. Keberadaan kalong di jantung kota Watansoppeng semakin menambah pesona kota ini karena ibukota Watansoppeng dijuluki sebagai kota kalong. dibangun oleh C.

SalassaE berfungsi sebagai Istana Datu Soppeng. nyaman di Desa Bulue. Rumah adat ini juga berfungsi sebagai museum dengan koleksi berbagai jenis barang antik yang bernilai tinggi dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri seperti : kursi. type orintasi dan data historis makam ini dapat dikatakan bahwa Islam masuk sekitar abad XVII. antara lain : Bola Ridie -Rumah Kuning yang berfungsi untuk menyimpan berbagai jenis atribut kerajaan. meja. Namun. Pemandian ini berada dalam kawasan hutan lindung yang berbukit dengan panorama alam yang indah. perkampungannya masih banyak yang khas berarsitektur Bugis-Makassar dan berbagai aktivitas masyarakat sekitarnya seperti pengolahan tembakau secara tradisionil. Sengkang merupakan kota yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Di tempat ini terdapat fasilitas peristirahatan yang dibangun dengan gaya campuran tradisional dan modern. Hasil industri tenun milik rakyat. Kota Sengkang terletak di pinggir Danau Tempe yang memiliki panorama indah. Kecamatan Liliriaja. berhadapan dengan Villa Yuliana yang dibangun sekitar tahun 1261 pada masa Pemerintahan Raja Soppeng I Latemmalala yang bergelar Petta Bekkae.arsitektur bangunan ini merupakan perpaduan gaya Eropa dan gaya Bugis. Rumah Adat Sao Mario terletak di Kelurahan Manorang Salo. Melihat bentuk. sayangnya pusat penenunan sutera milik rakyat umumnya terletak di . Sengkang memang dikenal sebagai pusat industri sutera. Kompleks Istana Datu Soppeng terletak di jantung kota Watansoppeng. Pemandian yang terletak di Kelurahan Ompo. Kain sutera banyak dijual di pasar Sengkang seperti selendang sutera. Mandar. Makassar. Kecamatan Marioriawa. Kecamatan Lalabata ini dikenal dengan airnya yang jernih. senjata tajam dan berbagai macam batu permata. Pemandian Alam Citta terletak di Jantung Desa Citta. pembangunan villa ini merupakan wujud kecintaan terhadap Ratu Yuliana. satu di antaranya ada di Nederland. Villa ini merupakan bangunan kembar. Namun. terdapat berbagai jenis rumah adat yang bergaya Arsitektur Bugis. Salah satu daya tarik kota Sengkang adalah produk kain sutera. Makam ini terletak di Kelurahan Bila Kecamatan Lalabata sekitar 1 km sebelah utara kota Watansoppeng. Itu terlihat pada ornamen-ornamennya. Toraja. Luwu dan Sidenreng dari abad XVII. Di dalam kompleks Rumah Adat Sao Mario ini. sejuk. Kecamatan Marioriawa. Minangkabau dan Batak. Di obyek ini pengunjung dapat berenang dan menikmati keindahan panorama alam. Pemandian Alam Ompo merupakan salah satu tujuan wisata andalan pula. Pada obyek wisata Ompo ini terdapat areal yang luas untuk perkemahan dan Motor Cross dan juga terdapat sebuah danau buatan yang cukup luas sebagai areal bermain perahu dan memancing ikan air tawar. Dalam kompleks tersebut terdapat bangunan. Makam Jera Lompoe adalah makam Datu/Raja-Raja Soppeng. Pemandian Air Panas Lejja merupakan salah satu objek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. dilihat dari bentuk nisannya terdapat pengaruh kebudayaan Hindu. Menhir Latammapole sebagai tempat menjalani hukuman bgi orang yang melanggar adat dengan cara mengelilingin 7ya kali. tempat tidur.

air mengalir melalui batu – batu gunung dan menciptakan air terjun kecil sehingga seolah bersusun – susun. Dua buah air terjun terdapat pula di Kabupaten Pinrang yaitu Air Terjun Karawa di Kelurahan Betteng. Air terjun lainnya masih di kelurahan yang sama sekitar 20 km dari kota Pinrang disebut Air Terjun Kalijodoh. Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang menjadi habitat satwa burung. kakao. Pemandian Air Panas Lemosusu ini memiliki panorama alam yang meski failitasnya masih sederhana untuk mandi maupun berendam. Pemandian air panas lainnya terdapat di Kelurahan yang sama menuju arah PLTU Bakaru. Sementara pada bagian Timur terdapat pantai berbatu keras yang tahan hantaman ombak. mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu Batu yang berada di tengah danau. Pulau Kamarrang di Kelurahan Ujung Labuang dapat ditempuh dari Ujung Lero sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu motor.desa-desa di sekitar Sengkang yang tidak memiliki akses angkutan umum. Untuk dapat menuju ke desa-desa ini. kopi. Dari kolam alami ini. Gugusan pulau yang menyembul dari laut ini mempunyai luas 7 hektar didominasi oleh vegetasi hutan pantai termasuk hutan bakau yang mengitari pulau – pulau bagian Barat dan Utara. Tak heran bila hari libur banyak dikunjungi wisatawan lokal setempat. Pinrang dikenal sebagai salah satu ‖Lumbung Pangan‖ di Sulawesi Selatan sekaligus penghasil udang. Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke Sungai Walanae. Di lokasi ini telah dibangun kolam renang yang sumber airnya dari kedua mata air tersebut. Pemandian Air Panas Sulili ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas lainnya termasuk pondok wisata sehingga banyak dikunjungi wisatawan domestik. Kawasan air terjun dengan ketinggian 60 meter ini di bawahnya terdapat kolam – kolam alami dan bebatuan untuk beristirahat. Sebagai daerah pertanian yang memiliki sumber daya alam yang cukup. Berada di kawasan seluas 2 hektar dan mempunyai empat sumber air. Pemandian air panas terdapat di Kelurahan Maminasse pada jalan poros Pinrang-Sidrap. kemiri dan kelapa. Pada bagian tengah pulau terdapat pohon – pohon tua yang digelantungi oleh ratusan kelelawar. Anda harus menyewa angkutan umum. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat. sekitar 12 km dari Pinrang. Pinrang juga memiliki kekayaan laut yang membentang sekitar 93 km dari kota Parepare sampai ke Polewali Mamasa. Terdapat sebuah makam tua di pulau ini dan dikeramatkan oleh para peziarah untuk menyatakan dan melepas nazar bila keinginannya dikabulkan. . Terdapat sebuah villa berarsitektur modern di pulau ini yang digunakan wisatawan untuk beristirahat. ikan bandeng. Ada dua sumber air yang mendukung tempat ini yaitu sumber air panas dan sumber air dingin. Panorama alam pegunungannya membuat tempat ini terasa sejuk dan nyaman sehingga menjadi tempat memadu kasih dan diyakini mereka yang datang berpasangan bisa berjodoh.

Di sebelah selatan Danau Matano terdapat Danau Towuti seluas 56. Wisatawan yang mengunjungi Toraja umumnya berkumpul di Rantepao. Di tempat ini dimakamkan para Raja Luwu yang pernah berkuasa. ibukota administrasi Tana Toraja. Istana yang berfungsi sebagai museum Batara Guru ini menyimpan benda – benda pribadi dan peralatan yang pernah digunakan Rja – Raja Luwu. Makam Raja – Raja Luwu ‖Lokkoe‖ yang artinya gua tempat peristirahatan. Masyarakat Toraja secara etnografis dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu Toraja Barat. Gua Liang Andulan di Desa Siteba. Untuk mencapai gua. Di kawasan yang indah permai ini masih bisa ditemui desa-desa tradisional dengan sawah yang membentang luas. Rantepao merupakan kota terbesar di Tana Toraja dan juga pusat perdagangan di wilayah ini. Secara geografis Tana Toraja berada di pegunungan pada pangkal semenanjung Sulawesi Selatan.Kota Palopo adalah ibukota kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan. Kota kecil yang cantik ini dikelilingi perbukitan yang puncaknya sering ditutupi kabut dan di dekat kota terdapat sebuah danau buatan. misalnya. . namun yang banyak dikenal orang luar khususnya wisatawan asing adalah Toraja Selatan yang dikenal juga dengan nama Toraja Sa‘adan atau Saqdan. peralatan dan perlengkapan upacara adat dan benda pusaka.100 hektar yang merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Dari kota ini bisa dilakukan perjalanan kekota pertambangan Soroako. pengunjung harus melalui sekitar 480 anak tangga dan di dalam gua terdapat makam leluhur To Tana Lalong terdiri dari Liang Kabongian dan Liang Sugi Sakalikuku. Timur dan Selatan. Di sini juga terdapat benda – benda antik seperti keramik. Di kota ini masih banyak terdapat rumah-rumah yang dibangun dengan arsitektur khas Toraja.400 hektar dan merupakan danau terdalam di Sulawesi. bangunan rumah tradisional Tongkonan dengan arsitektur yang unik khas kebudayaan Toraja yang sangat menarik. Rantepao adalah kota hujan karena hujan hampir selalu turun sepanjang tahun dengan udara yang dingin pada malam hari. Terletak di pusat kota Palopo dan bentuknya unik seperti bentuk piramida. Kota terletak di dekat Danau Matano seluas 16. Tana Toraja merupakan daerah tujuan wisata internasional yang paling menarik dan paling terkenal di Sulawesi. Pada umumnya mereka bermukim di sekitar Rantepao dan Makale. Istana ini didirikan pada tahun 1922 – 1924 oleh seorang arsitek Belanda bernama Obsenter Noble pada masa penjajahan Belanda di Luwu dengan bangunan bergaya Eropa. Danau ini menjadi habitat aneka flora dan satwa burung. Rumah adat ini sering dimanfaatkan untuk berbagai upacara baik upacara adat ataupun upacara Pemerintah Daerah. terletak di pusat kota Palopo. Kota ini terletak di daerah pegungungan yang memiliki banyak danau. Di Kabupaten Luwu terdapat Istana Kerajaan Luwu atau disebut juga Museum Batara Guru. Kecamatan Lamasi memiliki ragam stalaktit dan stalagmit dengan warna – warna yang indah. Kota ini menjadi titik awal bagi wisatawan yang ingin megeksplorasi segala keunikan dan keindahan Toraja. Di Kota Palopo telah dibangun rumah adat yang cukup besar berarsitektur Bugis. Danau-danau di wilayah ini saling berhubungan melalui banyak sekali sungai-sungai kecil.

jika saja hal tersebut terus dilakukan dalam kesadaran tinggi. ternyata sering dianggap tidak lagi mampu sepenuhnya mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat. Pemahaman seperti itulah yang mendasari pertimbangan hingga penerapan model baru pada arsitektur rumah atau bangunan masa kini dengan corak kekinian pula. arwah orang yang mati akan memberikan kemalangan bagi keluarga yang ditinggalkan. ultra modern atau pasca modern yang sepenuhnya mencerminkan kekinian terbaru. Alasan inilah yang mendasari pemikiran. Itu salah satunya yang menyebabkan rumah berarsitektur tradisional yang mengandung berbagai kearifan itu dinilai kuno. Padahal. ditinggalkan atau bahkan cenderung dilupakan itu. sebatas ornamen ringan semata. Pada banyak kasus. Mencari wujud arsitektur tradisional untuk rumah yang baru dengan penerapan secara bijak dan mematuhi kaidah-kaidah dengan tepat. tradisional diidentikkan dengan masa lalu yang kuno dibanding dengan modern. perlu ditransformasikan untuk menjadi bekal pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu arsitektur. sangat penting disadari bahwa transformasi model arsitektur tradisional ke arsitektur moderen sebenarnya dapat terproses secara baik dalam penataan ruang dan lingkungan dari waktu ke waktu. Hasil penelusuran. bukan karena pertimbangan aktualisasi kekayaan arsitektur tradisional. untuk generasi sekarang dan generasi penerus. Kearifan dan keunggulan yang mulai tak diabaikan. pentingnya berbagi kesadaran untuk sama-sama berusaha menggali dan memahami kembali kearifan dan keunggulan yang terkandung dalam ranah arsitektur rumah tradisional. pengkajian dan pelestarian kearifan lokal dalam yang masih dimiliki. Kalau pun ada upaya-upaya menyerap model arsitektur rumah tradisional. menjadi ajang ditampilkannya ornamen-ornamen khas Toraja yang sangat indah.Salah satu upacara adat yang paling mengesankan di Toraja adalah upacara penguburan mayat yang sudah terkenal ke seluruh dunia. serta bagi kelestarian alam dan lingkungan. ketinggalan zaman hingga pelan-pelan mulai ditinggalkan pemangku kepentingan. Ini perlu segera direvitalisasi. karena penerapan model arsitektur tradisional yang salah. Agar dapat terlihat secara jelas bagaimana esensi kearifan budaya lokal yang diterapkan itu ternyata masih bisa sangat fungsional. Pemanfaatan model arsitektur tradisional pada bangunan masa kini. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Dalam Konteks Ketahanan Budaya Lokal. Orang Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini. Semakin cepat dilakukan transformasi akan semakin besar dan efektif manfaatnya bagi masyarakat. dengan dinamika tuntutan kehidupan moderen yang selalu cepat berubah dengan variasi-variasinya. seharusnya terus menerus dilakukan secara konsepsional. Seringkali dianggap terjadi ketidakserasian antara keberadaan model arsitektur tradisional yang boleh dikatakan cenderung stagnan. Ada pula paradigma yang menilai bahwa dalam konteks waktu. tidak mengabaikan kaidah-kaidah sebagaimana mestinya mengakibatkan bangunan atau rumah itu bermasalah. Penerapan wujud identitas dan karakter budaya lokal pada arsitektur rumah tradisional diberbagai kawasan wisata. Upacara penguburan ini. Konsep arsitektur tradisional yang diterapkan pada kawasan wisata . tidak mau mengadopsi potensi arsitektur rumah tradisional. maka proses adopsi itu secara umum masih belum cukup memuaskan karena hadir hanya sebagai tempelan artistik pemanis.

apalagi mengingat Tana Toraja sebagai dareah tujuan wisata Sulawesi Selatan yang wisatawannya datang dari manca negara. dengan menanam pohon lontara atau pohon pandan di tamannya sebagai salah satu cara mempertahankan aura masa lalu. Begitu pula dengan Tongkonan ma’dandan atau batu a’riri yang merupakan ―arsitektur etnis” Toraja. seiring dengan perubahan waktu dan kemajuan teknologi yang bergerak ke masa depan. Bola Soba. Untuk mewujudkan ketahanan budaya dan konteks pelestarian ―Esensi” dan pengembangan ―Substansi” arsitektur tradisional Sulawesi Selatan maka. Di kawasan itu. bagaimana penataan suatu kawasan wisata budaya dan sekitarnya yang menyatu dalam konsep arsitektur rumah tradisional setempat.budaya lokal. perlu dengan sengaja ditata suatu lanskap yang berorientasi pada arsitektur etnis Bugis-Makassar nan harmonis. . Perlu pula selalu diperhitungkan. dalam kenyataannya bahwa dibangun oleh masyarakat tradisional Bugis-Makassar berdasarkan kaidah budaya Bugis-Makassar. Bahwa mempertahankan jatidiri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi. bisa berperan menjadi transformator atas nilai yang ingin diwariskan untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal sekaligus nasional. Perlu upaya memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian.     Perlu upaya memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan sebagai warisan budaya. salah satunya adalah melihat bentuk serta mengapresiasi arsitektur Tongkonan yang unik itu. Keberadaan model Tongkonan bisa dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan sekaligus dipadukan dengan konsep arsitektur modern. namun perubahan lingkungan strategis etnis yang mengadopsi kearifan-kearifan lokal perlu pula terus ikut diperhitungkan dan dipertahankan guna menjadi roh bagi pengembangan sekaligus dan meningkatkan ketahanan arsitektur berciri tradisional. Jika ditilik dari strata masyarakat bangsawan yang membangun dan menggunakannya maka Balla Lompoa masuk dalam kategori ―arsitektur klasik‖. Hidup dan kehidupan memang berhak terus berkembang seiring zamannya. maka itu merupakan ―Arsitektur etnis Bugis Makassar‖. demikian pula bila mengingat ―Balla Lompoa” tercipta berdasarkan kaidah dari bakuan teknik arsitektur yang telah diwariskan secara turun-temurun. sekaligus merupakan ―arsitektur tradisional”. tentunya mereka datang karena ingin menikmati keunikan budaya Toraja. Hal tersebut dapat ikut ditransformasikan melalui kesadaran akan keunggulan budaya yang dimiliki. maka itu merupakan ‗arsitektur tradisional‘. misalnya. bergantung dari sudut pandang yang menilainya: Jika Rumah Tradisional Bugis Makassar seperti : Balla Lompoa. Suatu obyek arsitektur memang dapat menyandang lebih dari satu atribut kategorisasi. Misalnya dengan penataan secara menyeluruh atas bangunan dan lingkungan diseputar Bola Soba dan juga Balla Lompoa – rumah khas Bugis Makassar.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali nilai dari kearifan arsitektur tradisional lokal dampaknya akan semakin baik, termasuk upaya-upaya transformasi, pewarisan nilai dan teknologi arsitektur tradisional dari para sesepuh, cerdik cendekia bidang budaya, sosiologi dan arsitek rumah tradisional akan sangat baik sebelum mereka terlanjur berpulang. Diharapkan dengan terwujudnya kelestarian arsitektur tradisional lokal Sulawesi Selatan dapat merajut kembali kejayaan masa lalu yang bermanfaat menjadi kebanggan masa kini. Warisan itu diwujudkan dalam explicit knowledge, yang sangat kita perlukan dalam memantapkan konsepsi ketahanan budaya lokal etnis oleh generasi masa kini dan generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa mendatang. BAHAN BACAAN
          

           

Abbas, Ibrahim (1999), Pendekatan Budaya Mandar. Hamid, Abu (1986). Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Makassar : Antropologi Unhas. Budi Santoso (1997), Pembangunan Nasional Indonesia dengan Berbagai Persoalan Budaya dalam Masyarakat Majemuk. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (2005), Informasi dan Potensi Investasi Pariwisata Sulawesi Selatan Djauhari Sumintardja (1998), Kompendium Sejarah Arsitektur Djauhari Sumintardja (1988), The House in Tana Toraja (Traditional Housing in Indonesia). Faisal (2007), Arsitetur Tradisional Mandar Provinsi Sulawesi Barat Josef Prijotomo (1988), Pasang surut arsitektur di Indonesia Koentjaraningrat (1993), Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan Kostof, S. (1991), A History of Architecture. Rituals and Settings. Mangunwijaya,YB, (1992) Wastu Citra, Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Mattulada (1982), Geografi Budaya Daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Depdikbud Nasrul Baddu (1990), Rumah tradisional Bugis Makassar Ronald Arya (2005), Nilai-nilai Arsitektur Tradisional Jawa Rudofsky, B. 1964. Architecture Without Architects. Sampebulu, DR, Ir, M.Eng, (1990), Tradisionalisme dalam arsitektur masa kini Saliya Yuswadi, Ir, M.Arch, (1992), Ragam Hias dalam arsitektur Tradisional Toraja Sachary, A. (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Desain, Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya. Tangdilintin, LT, (1979), Tongkonan (Rumah adat Toraja) dengan struktur seng dan konstruksinya. Tjahjono, G. Editor. (2001). Indonesian Heritage. Vol. 6. Architecture. Tuan, Y.F. (1974).Topophilia. A Study of Environmental Perception, Attitudes, and Values. Tang, Mahmud (1998), Reaktualisasi Nilai-nilai budaya Bugis Makassar dalam Kehidupan Sosial Pada Era Revormasi. Rinwar Karim, Muktahim, Adnin Sakti, (1992), Arsitektur tradisional Bugis Makassar.

Yudono Ananto, Prof, DR, Ir, MSc, (2008) Kearifan arsitektur tradisional rumah panggung dalam hunian modern.

Wikantari Ria, DR, Ir, M.Arch, (2008), Kearifan arsitektur lokal Kawasan Timur Indonesia : Tinjauan Ragam Lintas Etnik Comments: Be the first to comment

ESTE DE LACOSTE
Posted October 9, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAN IDENTITAS DOSEN Nama NIK/NIDN : : DR.Ir.Drs. Syahriar Tato, SH, MS 110018518/NIDN. 09.2102.5101

Tempat/tanggal lahir Agama/Jenis kelamin Pangkat/Golongan/Terhitung mulai tanggal Alamat rumah dan No.Tel/Faks/ e-mail Tlp : 0811417696 / 081524058227 email : ariegagahdeh@gmail.com

: :

Pinrang 21-2-1951 Islam/Laki-laki

:

( IV/C (01-04-06), Kep. No.25/KTH. 2006)

:

Jln.Bau Mangga III no. 3, Makassar

1. Pendidikan yang pernah diikuti :

JENJANG

BIDANG Administrasi Negara

PERGURUAN TINGGI STIA – LAN RI. Makassar Universitas Muslim Indonesia Universitas Satria Makassar UNHAS UNHAS Akademi Teknologi Negeri Makassar

TAHUN MASUK /LULUS 1980/1984 1984/1990 2006/2009 1990/1992 1994/2004 1970/1975

S1

Teknik Sipil Hukum Pidana PLH Perencanaan dan Penyehatan Lingkungan Program Ilmu-Ilmu Teknik Arsitektur

S2 S3 Profesi Spesialis Lain-lain D3

1. a. Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman Pada Kawasan Pantai Kotamadya Ujung Pandang Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III : : : DR.Ir. Yulianto Sumalyo, M.Sc Prof.DR.H. Rahardjo Adisasmita, M,Ec DR.Ir. Sampe Paembonan, MS Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair Rumah

b. Judul Disertasi : Tangga Dengan Filter Biogeokimia

1. Pembimbing I 2. : Prof.DR.Ir.H. Muh.Arief, Dipl.Ing Pembimbing II Pembimbing III Pembimbing IV : : : Prof.DR.H. Syahrul, M.Agr DR.Ir.H. Muh. Saleh Pallu, M.Eng DR.Ir. Mary Selintung, Msc

1. Judul penelitian terakhir dan tahunnya : :

1. Karya terpenting dan tahunnya 1. Penghargaan dalam bidang ilmu/

Mata kuliah yang diberikan di luar perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO 1. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI 4. NAMA MATA KULIAH Pembangunan Daerah Methode Penulisan Ilmiah Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Program Dan Proyek Prasarana Wilayah Dan Kota I Prasarana Wilayah dan Kota II Perencanaan Pariwisata Konsep dan Struktur Tata Ruang Manajemen Proyek dan Program Pembangunan Daerah JENJANG S-2 S-2 S-2 S-2 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 SKS 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 PERGURUAN TINGGI STIA-LANRI STIK Tamalate STIK Tamalate STIA LANRI PWK UIN PWK UIN PWK UIN PWK UIN STIA – PARIS STIA – PARIS 1. 7. 2. 45. Daftar karya ilmiah yang ditulis dalam 3 tahun terakhir NO 1. 5. JUDUL TULISAN Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan TAHUN 2005 DITERBITKAN SEBAGAI : *) Jurnal SPASIAL. 3.profesi/pendidikan beserta tahunnya : 1. 4. Mata kuliah di luar program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH JENJANG S-1 SKS 2 PROGRAM STUDI PWK 1. Prasarana Wilayah dan Kota I JENJANG S-2 SKS 2 1. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI 3. 10. 8. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Sistem Perumahan Dan Pemikiman 1. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI 1. . Pengalaman mengajar 2. Satya Karya 1985 Mentri PU 2. 9. Mata kuliah dalam program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH 1. 6.

2004 . 45. sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan 2006 3. 2007 4. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. SH. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Mei 2006 Jurnal SPASIAL. Syahriar Tato. Oktober 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 2 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah 1. Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia 2003 4. masihka memukau? 2003 3. Drs. Manajemen Strategik organisasi seni budaya Filter Biogeokimia. April 2007 Jurnal SPASIAL. 45. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar. MS) selama 10 tahun terakhir NO JUDUL ARTIKEL TAHUN DITERBITKAN SEBAGAI : *) Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no6 Tahun I. 45. Juni 2008 Jurnal SPASIAL. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Mengolah limbah cair perkotaan 2003 5. 45. April 2008 Jurnal SPASIAL. Air Sumber kehidupan. 45.Tata Guna lahan – system transportasi sebagai 2. Ir. Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban 2009 Mei 2005 Jurnal SPASIAL. masihkah lestari 2003 2. Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota 2008 6. Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem 2008 5. April 2009 1. Daftar Artikel Dosen (Dr.

6 1 Milyard Orang Dambakan Air 2004 ― Sinergi‖ no1. Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian lokal 2004 Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata 10. S2 Aerob dan Waktu Tinggal TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR Unhas 2006 NO 1. Building Information Center. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan sebagai warisan ―Pusaka‖ budaya local Indonesia 2008 12. Mengolah Limbah Cair Rumah Tangga dengan Filter Biogeokimia 2009 13. Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim Mungkinkah membangun seni budaya‖Beraura‖ tradisi di Sulawesi Selatan 2004 8. II Maret 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 3 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 5 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 6 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―Mimbar Aspirasi‖Edisi 44 Februari 2005 Artikel dalam Majallah BIC. 2004 9. Edisi Maret 2008 Buku Ilmiah. Penerbit Cipta Letera 2009 Buku Ilmiah. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan 2009 1. Tahun I. Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata) 2005 11. Zaenab . Penerbit warisan Budaya Indonesia 7. Pengalaman membimbing mahasiswa S2 dalam 5 tahun terakhir NAMA MAHASISWA P. Januari 2004 Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no3 Tahun. JUDUL TESIS STUDI Efektifitas Media Filter.

2. JUDUL TESIS STUDI S1 TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR 2008 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2008 2008 S1 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2007 2007 2009 2008 2008 2008 NO 1. 3. Gowa Strategi Pengembangan Rosmini Satria Kawasan Wisata Pantai lemo di Desa Mabonta Studi Pengembangan Ilham Objek Wisata Pantai Beraue Kab. Optimalisasi Pemamfaatan lahan Irma Febriani Pemukiman Kota Tanah Grigot Kab. Dan MBAS di limbah cair rumah sakit Labuangbaji Makassar Penataan Lingkungan 2. Rahmawati Asis Objek Wisata Sanrobengi S2 Kab. 6.COD.Terhadap Penurunan Kadar SS. Pasir Pengaruh Implementasi Konsep Agropolitan Ramlan Riza TerhadapPerkembangan Kota Barru Rahmudi Laode Perubahan Fungsi Lahan Hua Kota Bilibili Kab. Takalar 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2009 Pengalaman membimbing mahasiswa S1 dalam 5 tahun teakhir NAMA MAHASISWA P. 7. Setiawan Objek Wisata Alam S2 Lumpue Pare-pare Strategi Pengembangan 4. 5. Edi Syahrir Pemukiman Kumuh Di S2 Kota makassar Studi Pengembangan 3.BOD. Muh. Luwu Timur Studi Pemamfaatan Laode Ali Kasim Kawasan Pesisir Kota Raha Pengaruh Pengembangan Pulau Maitara Sebagai Kawasan Ekowisata Afriani Tompo dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pulau S1 Univ 45 2008 . 4.

12. Terbuka Hijau Kota S1 Rusman Baubau Revitalisasi Kawasan Wisata Sejarah dan Jawa Lukman Hakim S1 M. 2005 Univ 45 2005 15. Gowa Evaluasi Lokasi Perumahan Swadaya Mas Herfina Simabur S1 Kel. Prospek Pengembangan Kota Ternate sebagai S1 tujuan wisata Partisipasi Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Heru kualitas dilingkungan S1 Soemarjono Permukiman Kota Makassar Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Risdawati S1 Awal Baru Kec. Kab. Manggala Kota Makassar Analisis Sistem Pegelolaan Persampahan Citra Ariesta S1 Ibu Kota Kec. Kadafi Lakufu Tondano. 2005 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2006 16. Minahasa Analisis Pengembangan Pantai Dato Pangale M. Kolaka Utara Analisis Pengembangan Kota Malino Sebagai Ansarullah S1 Kawasan Wisata Kab. Masruri D dalam Peningkatan Sosial S1 Ekonomi masyarakat di Kab. 9. Batua Kec. 11. Beto Ambari Kota Baubau 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2009 2009 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2005 Univ 45 2005 2009 2009 2009 2009 14. 18. Kab. S1 Lasusua. Tarakan Timut. 17. Majene Analisis Pengembangan Objek Wisata Pantai Haerun Amrus Tanjung Tababu Kec. 10. . Kota Tarakan Analisis Pengembangan Kota Belopa Utara Arjan Ibrahim S1 sebagai Ibukota Kab Luwu Identifikasi Ruang Laode M.8. 13.

18 Agustus 2009 DR.MS Comments: Be the first to comment « Older Entries Newer Entries »   Home About Subscribe Syahriartato's Blog syndicates its weblog posts and Comments using a technology called RSS (Real Simple Syndication). You can use a service like Bloglines to get notified when there are new posts to this weblog.com WordPress.19.Ir.Drs. Archives     February 2010 January 2010 December 2009 October 2009 Categories      opini di majalah dan koran (12) SENI DAN BUDAYA (102) TULISAN ILMIAH POPULER (2) Uncategorized (25) Blogroll o o WordPress. SH. Syahriar Tato.org Meta . Enrekang 2008 S1 Univ 45 2009 Makassar. Nur Rezki Studi Pengembangan Kawasan Objek Wisata Benteng Alla Kab.

Follow Follow “Syahriartato's Blog” Get every new post delivered to your Inbox.com Blog at WordPress. Theme: Sapphire by Michael Martine.com . Enter your Powered by WordPress.    Register Log in XFN WordPress.com.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful