STRUKTUR SPASIAL WILAYAH PHERI URBAN SEBAGAI SISTEM DARI TATA RUANG KOTA

Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Abstrak Penulisan ini mengangkat judul tentang “ Struktur Spasial Wilayah Pheri Urban sebagai sub sistem dari suatu tata ruang kota. Dan akan mengulas lebih mendalam mengenai struktur keruangan wilayah pheri urban menyangkut tentang dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan, dimensi presentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan. Daerah pinggiran kota adalah suatu daerah yang juga dikenal sebagai daerah ”urban-fringe” atau daerah ”peri-urban” atau nama lain yang muncul kemudian merupakan daerah yang memerlukan perhatian yang serius karena begitu pentingnya daerah tersebut terhadap peri kehidupan baik desa maupun di kota dimasa yang akan datang. Berbagai dimensi kehidupan dikemukakan secara sistematik agar memudahkan pembaca merasa mudah mengikuti alur pemikiran yang dibangun.Dalam wilayah pheri urban secara fisik morfologis inilah sifat-sifat baik kedesaan dan kekotaan non fisikal menunjukkan intensitas yang jelas, sehingga secara akademik, para peneliti dapat menggunakannya sebagai dasar identifiksi wilayah. Karena wilayah ini bersifat multidimensional sehingga sangat menarik berbagai disiplin ilmu. Ciri khas wilayah ini sangat istimewa yang tidak dimiliki oleh wilayah lain yaitu dalam hal keterkaitan yang begitu besar dengan aspek kehidupan kota maupun desa yang tercipta secara simultan. Dalam beberapa hal ini sifat kekotaan terlihat lebih menonjol. Perpaduan sifat kedesaan dan kekotaan inilah yang menarik untuk dibahas, dan hal ini menjadi sedemikian penting untuk dikemukakan, karena pemahaman struktur keruangan wilayah pheri urban akan memfasilitasi dalam pemahaman kekuatan – kekuatan yang berperan mengubah performa dari berbagai perspektif. Dan bagian ini akan dikemukakan mengenai latar belakang permasalahan yang dihadapi wilayah pheri urban dan pentingnya studi wilayah pheri urban secara umum dan khusus di Indonesia. A. Pendahuluan Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory. Wilayah Pheri Urban yang disinggung adalah pola pemanfaatan lahan yang terbentuk berkaitan dengan pertimbangan biaya transportasi, jarak dan sifat komoditas. Oleh karena fakta empiris membuktikan bahwa keberadaan kota dan wilayah pheri urban sangat bervariasi adanya ditinjau dari segi fisikal, maka untuk membahas teorinya. Pada prinsipnya, wilayah pheri urban didominasi oleh lahan pertanian dimana jenis komoditas yang diusahakan oleh petani membentuk pola keruangan yang khas. Perkembangan kotanya didominasi oleh bentuk perkembangan konsentris dan terjadi sangat lambat dan bahkan terkadang stagnan karena kotanya dibatasi oleh benteng yang dibangun pada

masa sebelumnya untuk masa maksud pertahanan dan pada kasus ini perkembangan kotanya bersifat sentripental dalam wujud pemadatan bangunan (densifikasi) bangunan. Fakta empiris menunjukkan bahwa perkembangan fisik kota yang substansial terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi transportasi dan telekomunikasi. Pada perkembangan selanjutnya, muncul ide – ide baru dan berkembang sebagai teori – teori baru . Walaupun belum secara khusus atau eksplisit mengemukakan mengenai wilayah pheri urban, namun sudah membahas kondisi wilayah pheri urban sendiri. Pada saat itu belum muncul istilah khusus yang mengacu pada wilayah pheri urban. Baru pada dekade abad 20, muncul istilah yang diperkenalkan oleh Gaplin (1915) mengenai wilayah pheri urban yaitu istilah urban. Istilah tersebut merupakan akronim dari kata rural dan urban yang pada awalnya digunakan untuk menunjukkan suatu wilayah kedesaan yang mengalami perubahan menuju sifat kekotaan. Kemunculan istilah baru tersebut sangat menarik perhatian para pemerhati wilayah perkotaan dan wilayah, sehingga mengundang munculnya studi baru dan memunculkan konsep-konsep baru pula. Beberapa tahun setelah itu bermunculan teori-teori baru mengenai kota dan sekitarnya (Yunus, 2008 : 42). B. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan Tujuan dari penulisan ini adalah: ü Menjelaskan faktor – faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dimensi pembentuk pemanfaatan lahan dalam stuktur spasial wilayah urban. ü Menjelaskan teori-teori yang menyangkut struktur spasial wilayah pheri urban.

2. Kegunaan Kegunaan penyusunan ini adalah untuk mengetahui sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban, mengetahui metoda pendekatan sistem yang dimanfaatkan untuk delimitas sub zona wilayah pheri urban serta untuk mengetahui dimensi bentuk pemanfaatan lahan di dalam struktur spasial wilayah pheri urban sebagai sub sistem suatu tata ruang kota. C. Pembahasan Seperti telah dikemukakan oleh banyak pakar mengenai studi kota, bahwa pada masa yang akan datang kebanyakan penduduk di dunia ini akan bertempat tinggal di kota. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa jumlah penduduk kota – kota di dunia mempunyai kecendrungan makin besar. Sebagian besar penduuk kota yang baru tersebut akan menempati lahan–lahan yang berada di sekitar lahan terbangun, karena keberadaan lahan – lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di bagian dalam kota sudah sangat terbatas adanya atau bahkan sudah hilang sama sekali. Makin banyaknya jumlah penduduk yang menempati wilayah pheri urban ini dengan sendirinya akan membawa komsekuensi keruangan, sosial, ekonomi, kultural dan biofisikal di

wilayah pheri urban. Oleh karena latar belakang kondisi wilayah phei urban yang sangat bervariasi dari satu kota ke kota yang lain, maupun dari negara yang satu dengan negara lain, maka dapat dipastikan bahwa kondisi spasial, ekonomi, sosial, kultural dan lingkungan biofisikal yang terpengaruh oleh adanya perkembangan kota akan bervarisasi pula. Bertambahnya penduduk akan selalu diikuti oleh bertambahnya bangunan – bangunan pemukiman maupun bukan permukiman. Bangunan – bangunan non permukiman merupakan bangunan yang mengakomodasikan kegiatan – kegiatan baru yang menyartai, seperti kegiatan ekonomi, sosial, kultural dan politik. Terlepas dari sudut kepentingan mana sebuah negara memandang, baik antagonis maupun protogonis mengenai hilangnya lahan pertanian di WPU tersebut, ternyata ada kesamaan pandangan bahwa sebaiknya perlu ada pengelolaan yang mengatur hal tersebut agar WPU sebagai wilayah pra- urban mampu menciptakan suasana kehidupan kekotaan yang ada pada saat ini. Dinamika wilayah pheri urban yang menyangkut proses perubahan berbagai elemen kehidupan ternyata telah menciptakan struktur spasial yang khas di WPU sendiri. Pengenalan struktur spasial WPU merupakan tahap awal mengenali berbagai permasalahan yang muncul di wilayah pheri urban. Pemahaman mengenai hal tersebut dapat dijadikan landasan untuk merumuskan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi kecendrungan perkembangannya di masa yang akan datang (Yunus, 2008 : 91). 1. Pendekatan Sistem Secara garis besar, terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu : a. Pendekatan Administratif Teknik ini adalah suatu cara untuk mendelitimasi subzona spasial wilayah pheri urban yang mendasarkan pada eksistensi unit administrasi sebagai unit analisis (analitical units) dan data mengenai bentuk pemanfaatan lahan. Secara teoritis, makin kecil unit analisisnya makin akurat identifikasi subzona yang dilakukan dan makin luas unit administrasi yang digunakan makin kurang akurat hasilnya. Sebagai contoh aplikasi pendekatan ini adalah zonifikasi sebagian wilayah pheri urban di daerah pinggiran kota Yogyakarta. Oleh karena penelitiannya dibatasi pada desa-desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta secara administratif maka hasil yang diperoleh adalah jalur membingkai kota Yogyakarta. Walaupun secara administratif, desa-desa penelitian berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta ternyata status spasial yang diperoleh menunjukkan variasi yang cukup besar. Pendekatan administratif ternyata tidak hanya dapat digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi luasan bentuk pemanfaatan lahan semata, namun dapat pula digunakan untuk identifikasi wilayah pheri urban atas dasar proporsi jumlah penduduk atas dasar mata pencahariannya (Yunus, 2008 : 34). b. Pendekatan Fisikal Teknik ini merupakan cara identifikasi subzona wilayah pheri urban atas dasar unit-unit fisikal sebagai unit analisis. Cara ini dilaksanakan dengan cara mengenali unit analisis atas dasar batas-

3. Di dalam masing-masing blok kemudian dihitung mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahannya. 2008 : 39). Pendekatan Sel/Sistem Grid Pendekatan ini menekankan pada eksistensi unit analisis yang dibentuk berdasarkan garis-garis konseptual yang dibuat secara vertikal dan horizontal pada suatu peta yang menggambarkan sebaran bentuk pemanfaatan lahan. 4. Masing-masing unit analisis akan menampilkan proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan maupun lahan kekotaan. Faktor aksesibilitas fisikal mempunyai pengaruh substansial terhadap penjalaran nilai-nilai kekotaan ke arah daerah perdesaan. Batas terluar wilayah pheri urban di setiap sisi tidak selalu mempunyai jarak yang sama ke/dari lahan perkotaan terbangun dan hal ini sangat tergantung dari kondisi keruangan masing-masing bagian. saluran air) sehingga tergambarkan blokblok unit analisis. yaitu : 1. Memang. Konsdisi seperti ini disebut sebagai. c. Aksesibilitas fisikal yang . karena seluruh areal kekotaan berada pada batas-batas administrasi kota. ”True Bounded City”. Permasalahan hubungan antara batas kota secara administratif dan batas kota secara fisikal ini juga mempunyai dampak dalam analisis urbanisasi.batas fisikal yang ada seperti kenampakan linear (jalan. dalam perencanaan tata ruang kota akan memudahkan pemerintah kota. Batas fisikal kota koinsiden dengan batas administrasi kota. Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan. Mengingat bahwa pada masa mendatang kota yang bersangkutan selalu akan bertambah luas arealnya. Pendekatan Ekologi Faktorial Istilah ‖factorial ecology‖ sendiri termasuk baru di dalam studi kota yang digunakan untuk menganalisis struktur keruangan kota (urban spatial structure) dengan menggunakan analisis faktor sebagai tekniknya. namun cara ini dengan metode-metode induktifnya belum tentu menjamin generalisasi pola struktur sosial dan keruangan kota yang lebih baik (Yunus. Faktor aksesibilitas. Faktor telekomunikasi. 5. 2008 : 40). 2. Istilah pendekatan sel mengandung pengertian bahwa cara ini akan menghasilkan sel/kotak-kotak sebagai unit analisis dengan luasan tertentu yang dihasilkan oleh garis-garis vertikal maupun horizontal yang dibuat (Yunus. 2000 : 238) 2. d. Faktor kendala alami. maka kerja sama/koordinasi kerja dengan pemerintah daerah dalam mengsinkronkan perencanaan tata ruang kota. Dengan demikian ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh substansial terhadap dekat jauhnya jarak batas terluar WPU dari lahan terbangun. Untuk kota yang bersifat ‖True Bounded‖ analisis urbanisasi tidak mengalami kesulitan karena semua nampak kekotaan sesuai dengan batas administrasi kota (Yunus. Memang dari pendekatan ini dimungkinkan mampu menggambarkan kota-kota secara lebih detail. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain : a. Faktor topografis. Faktor politis. Faktor jaringan kelistrikan dan 6.

oleh karena wilayah peri urban meliputi daerah yang sangat luas. Oleh karena wilayah peri urban terdiri dari rural fringe dan urban fringe. Faktor telekomunikasi dalam beberapa hal dapat mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam penjalaran ide/nilai-nilai kekotaan dari kota ke desa. konsisten dan konsekuen penentuan batas terluar wilayah peri urban dapat ditentukan dengan cara antara lain moratorial. c. Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan perkotaan Bentuk pemanfaatan lahan perkotaan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah lahan nonagraris dalam arti luas. Makin baik kondisi prasarana transportasi dan sarana transportasi dari daerah perkotaan ke daerah perdesaan dapat dikatakan makin tinggi aksesibilitasnya dan akibatnya. Hal ini berarti bahwa apabila proporsi lahan kedesaan yang ada di atas 50% berarti bagian ini termasuk ke dalam rural fringe dan apabila proporsinya tercatat kurang dari 50% maka bagian tersebut akan dikategorikan sebagai urban fringe (Yunus. Faktor topografis juga mempunyai peranan yang besar terhadap jarak batas terluar wilayah pheri urban. Pada umumnya faktor topografis juga terkait dengan aksesibilitas fisikal sehingga pada bagian-bagian wilayah pheri urban yang ditandai oleh kondisi topografis yang terjal akan berbeda dengan bagian yang mempunyai kondisi topografis yang datar. 2008 : 115). Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi ini mengungkapkan proporsi bentuk pemanfaatan kedesaan yang ada dibandingkan dengan bentuk pemanfaatan lahan kekotaan. Untuk negara-negara maju dengan formulasi dan aplikasi tata ruang yang mapan. Bagian terluar dari wilayah peri urban ditandai oleh proporsi lahan kedesaan 100% yang kearah luar merupakan wilayah kedesaan sebenarnya dan kearah dalam merupakan wilayah peri urban. Seperti diketahui bahwa intensitas bangunan-bangunan atau bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian/bentuk pemanfaatan lahan urban di wilayah peri urban tidak akan sama di seluruh bagian. green belt policies. 2008 : 121). maka proporsi lahan kedesaan yang menjadi indikator batas antara keduanya adalah 50% lahan kedesaan.ditentukan oleh keadaan prasarana dan sarana transportasi. Sebenarnya. maka makin jauh pula jarak pengaruh kota terhadap daerah di sekitarnya. maka bagian wilayah-wilayah yang terpencil secara fisikal sekalipun akan mampu terjangkau selama alat telekomunikasinya tersedia. Oleh karena telekomunikasi mampu menghubungkan daerah satu ke daerah lain tanpa terkendala oleh halangan fisikal. Ada bagian tertentu yang sangat intensif. intensitas penjalaran nilai-nilai kekotaan melalui media elektronik sangat erat terkait dengan masuknya jaringan kelistrikan ke daerah perdesaan. b. Bentuk pemanfaatan lahan kedesaan dalam hal ini diekspresikan sebagai bentuk pemanfaatan agraris dan selebihnya itu merupakan bentuk pemanfaatan lahan nonkedesaan atau dikenal sebagai bentuk pemanfaatan kekotaan. Munculnya berbagai bentuk pemanfaatan lahan nonpertanian akan sangat mempengaruhi penentuan batas terluar dari wilayah peri urban. maka penghitungan proporsi lahan kedesaan tersebut memerlukan metode tertentu. dan beberapa kebijakan keruangan lainnya (Yunus. Faktor politis berkaitan erat dengan kebijakankebijakan pemerintah dalam pemanfaatan lahan. namun ada bagian yang lain yang tidak . zoning regulation. khususnya di daerah perdesaan. Faktor jaringan listrik mempunyai imbas yang besar di dalam berbagai aspek kehidupan.

Setiap kelompok harus mampu menekankan sebagian kepeningan kelompok mereka sendiri. Perkembangan fisikalnya terjadi secara gradual sentrifugal di semua sisi-sisi lahan terbangun yang sudah ada.intensif. 2006 : 84) 3. maka akan semakin intensif pembangunan dan makin besar proporsi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitu pula sebaliknya. 2008 : 122). Munculnya bangunan sebagai ekspresi bentuk pemanfaatan lahan non agraris sejalan dengan akselerasi konversi bentuk pemanfaatan lahan agraris ke bentuk pemanfaatan non agraris. Model yang dikemukakan didasarkan pada asumsi seperti yang telah dikemukakan oleh Von Thunen. Jika dikaitkan dengan konsep wilayah pheri urban maka ada keterkaitan pada konsep kota modern. Kota modern adalah tempat para penghuninya mengaktualisasikan diri mereka secara berkelompok. Secara diskrit memang sangat sulit untuk menemukenali batas antara urban fringe dan rural fringe. upaya untuk mengidentifikasi proporsi bentuk pemanfataan lahan kekotaan. tapi terutama secara individual. 2) Bahwa di daerah di sekitar kota merupakan daerah yang datar homogen. tanpa harus menginjak-injak hak kelompok atau individu lain. Oleh karena kondisi urban fringe dan rural fringe sebenarnya tidak semata dicirikhasi oleh bentuk pemanfaatan lahan dan suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa makin banyak faktor determinan maka makin kuat suatu bagian wilayah peri urban menjadi magnet bagi fungsi-fungsi kekotaan (Yunus. Bentuk perkembangan ini merupakan bentuk perkembangan yang paling lambat dibandingkan dengan bentuk-bentuk perkembangan yang lain. Teori Trade – off (clark) Menurut Clark (1982) pembahasan terjadinya concentric rings jenis-jenis tata guna lahan di wilayah pheri urban adalah wacana ekonomi dan pada masa selanjutnya model pembahasan tersebut dikenal dengan trade– off. Sebuah masyarakat urban seperti hanya dapat terbentuk bila setiap kelompok sosial-religius atau etnis melepaskan klaim mereka akan sifat absolut sistem nilai yang mereka anut. Sebagaimana upaya untuk mengidentifikasi wilayah peri urban dari sisi persentase proporsi bentuk pemanfaatan lahan kedesaan. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya gradasi ongkos transport yang teratur proporsional ke dan dari pusat kota dan hal inilah yang mirip dengan apa yang dikemukakan oleh von thunen mengenai homoginitas kondisi lingkungan fisik di bagian wilayah pheri urban dalam kaitannya dengan . termasuk kelompok mayoritas (Santoso. Gambaran seperti ini akan tampak jelas pada kota-kota yang perkembangan fisikalnya didominasi oleh apa yang disebut sebagai perkembangan konsentris (concentric development). sebagai berikut : 1) Bahwa kota yang bersangkutan hanya mempunyai satu pusat kegiatan saja atau satu CBD dan semua kesempatan kerja hanya berada di bagian ini dan semua transaksi jual beli barang hanya berlangsung di bagian pusat ini. Secara umum akan terlihat bahwa makin mendekati lahan kekotaan terbangun. Kepentingan komunitas urban scara keseluruhan harus diberi prioritas utama dan dimenangkan terhadap kepentingan spesifik kelompok manapun. Teori–teori yang menjadi landasan dalam studi wilayah pheri urban a. demi terbentuknya komunitas urban yang heterogen secara etnis-religius tetapi homogen secara urban kultural.

Zona paling luar merupakan zona . maka gradien grafik yang terbentuk juga sedikit mendatar namun dalam luasan yang agak besar. yang bukan termasuk ke dalam wilayah pheri urban. 3) Bahwa ongkos transport ke dan dari pusat kota menunjukkan gradasi yang proporsional ke segala arah dan bagian pusat kota merupakan tempat dimana derajad kemudahan untuk menjangkaunya (aksesibilitas) yang paling tinggi. karena para penghuni memprioritaskan bertempat tinggal dekat dengan tempet dimana mereka bekerja / dekat pusat kota dimana kesempatan kerja berada. namun memberikan tawaran kepuasan dalam hal kenyamanan bertempat tinggal. Homoginitas tanah dalam hal kegiatan pertanian yang homogin memungkinkan petani tidak mempunyai pilihan lain.usaha pertanian. merupakan daerah yang paling tinggi aksesibilitasnya dan kondisi ini paling dibutuhkan oleh fungsi komersial. Untuk golongan yang berstatus ekonomi tinggi. Berdasarkan beberapa penelitian memang ada kecendrungan bahwa golongan ini memilih bertempat tinggal di daerah pinggiran kota/peripheral locations atau bagian dari wilayah pheri urban yang fasilitasnya kurang. 4) Bahwa keberadaan lahan akan dijual kepada pihak – pihak yang mempunyai penawaran yang paling tinggi yang berarti bahwa semua pihak yang ada di kota mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan lokasi yang dianggap menguntungkan dan tidak ada persaingan yang bersifat monopolistik. Sementara itu pada cincin pertama yang terbentuk melingkari zona inti. namun dalam uraiannya dapat diketahui bahwa cincin kedua dan ketiga sebagian atau seluruhnya merupakan fungsi yang telah dan atau sedang berkembang di wilayah pheri urban. maka faktor tingginya aksesibilitas menjadi suatu hal yang sangat menentukan terhadap perkembangan fungsi ini. Disinilah pemaknaan trade-off berada untuk golongan berstatus sosial tinggi berada. mempunyai opsi yang lebih luas. Hal inilah yang menyebabkan terciptanya gradien yang sangat curam dalam kaitannya dengan jarak dari pusat kota. Oleh karena kemampuan membayar sewa lahannya juga lebih rendah. Secara berturut-turut. 5) Bahwa pemerintah tidak mengadakan intervensi dalam hal persaingan bebas pemasaran lahan. serta tidak ada kebijakan – kebijakan tertentu yang mampu mengubah performa lahan. Di bagian pusat kota atau zona inti . didominasi oleh fungsi residensial. Pada subzona cincin pertama didominasi oleh fungsi residensial dihuni oleh golongan berstatus ekonomi rendah sampai menengah bawah. (2) zona berikutnya merupakan cincin yang melingkari zona paling dalam dan merupakan zona yang ditempati oleh fungsi residensial. Apakah mereka akan bertempat tinggal di dekat pusat kota yang fasilitas kehidupannya paling lengkap dengan konsekuensi sewa lahan yang mahal. sehingga fungsi ini mau memberikan penawaran tertinggi terhadap lokasi yang dianggap paling ideal dibandingkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti fungsi residensial dan industrial. Oleh karena perkembangan fungsi ini sangat tergantung dari banyaknya custemors yang dapat menjangkau daerahnya. zona cincin konsentris yang tercipta adalah (1) zona paling dalam merupakan inti dari cincin-cincin yang terbentuk dan merupakan bagian pusat kota yang merupakan daerah dengan fungsi komersial. Walaupun secara eksplisit tidak dikemukakan mengenai fungsi-fungsi mana sebenarnya yang berkembang di wilayah pheri urban. seperti zoning regulation dan lain sejenisnya. (3) zona paling luar merupakan cincin dengan fungsi utama industrial. karena dimana-mana mempunyai kemampuan yang sama.

adalah pembahasan yang mengaitkan antara fungsi-fungsi Bid-rent dengan tahapan-tahapan siklus keluarga di kota. Di kebanyakan negara. maka daerah dimana masih tersedia lahan yang dapat mengakomodasikan bangunan – bangunan besar adalah pilihannya. yaitu mengenai proporsi bentuk pemanfaatan lahan. kemudahan untuk mengangkut bahan mentah (raw material) dan hasil produksi dalam jumlah besar menjadi pertimbangan utamanya. Kenampakan wilayah dalam hal ini diartikan sebagai kenampakan fisikal lahan (land scape) yang diaktualisasikan dalam bentuk pemanfaatan lahan. Hal kedua ini. nilai-nilai. 2008 : 99) Gambar 1. Berdasarkan fakta empiris. dapat disimpulkan bahwa karakteristik wilayah pheri urban yang merupakan perpaduan antara karakteristik kekotaan dan karakteristik kedesaan muncul dalam ekspresi ekonomi. ekonomi dan sosial. Berdasarkan proporsi keberadan lahan kekotaan dan lahan kedesaan dapat diketahui mengenai struktur spasial wilayah pheri urban. Teori Land Use Triangle : Discrete (Robin Pryor) Pryor (1971) mengemukakan tesisnya tentang wilayah pheri urban atas dasar parameter yang terukur. kultural dan spasial. Hal menarik kedua terkait dengan dasar penalaran perubahan kekotaan yang terjadi di dalam struktur internalnya. sosial. makin intensif perubahan bentuk pemanfaatan lahan dari bentuk . Berdasarkan fakta empiris yang dikemukakan oleh para peneliti terdahulu. norma-norma kekotaan mampu menjangkau daerah yang relatif terisolir dalam artian fisikal dan dalam beberapa hal telah mampu mengubah sifat kedesaan menjadi sifat semi kekotaan atau bahkan kekotaan sepenuhnya. Pada masa sebelumnya. maka fungsi industrial menempati ring terluar. Oleh karena itulah. kemudian mendasari penalaran yang dikemukakan dalam teori yang dikenal dengan sosial area analysis (Yunus. belum pernah ada konsep yang jelas mengenai keberadaan wilayah pheri urban itu sendiri serta bagaimana karakteristik soasial yang dapat diamati di lapangan. Oleh karena bangunan – bangunannya relatif berskala besar. Model sebaran spasial (trade of model) di WPU ( Clark) b. perkembangan fungsi ini mendominasi bangunan – bangunan di daerah pinggiran kota yang berselang seling dengan fungsi-fungsi residensial. Disamping itu. Bentuk pemanfaatan lahan adalah kenampakan fisikal sebagai cerminan kegiatan manusia diatasnya dan hal adalah langkah awal dalam mengenali berbagai atribut wilayah yang berasosiasi dengan kenampakan fisikal bentuk pemanfaatan lahan seperti karakteristik demografis. menurut rasional yang dikemukakan membutuhkan lahan yang luas serta faktor aksesibilitas juga menjadi bahan pertimbangannya.yang didominasi oleh fungsi industrial. Dua hal menarik untuk dikemukakan terkait dengan teori trade-off ini adalah pertama memberikan dasar penalaran bagi teori konsentirs yang dikemukakan oleh Burgess mengenai struktur internal kota yang terkenal dengan teori konsentris merupakan pionir pembahasan struktur tata ruang internal kota yang mampu memicu munculnya teori-teori baru. makin ke arah lahan kekotaan terbangun. kultural. Kemajaun teknologi transportasi dan informasi telah mengakibatkan penjalaran ide-ide. Zona yang ditempati oleh fungsi industrial. Menurut Pryor struktur spasial wilayah pheri urban dibedakan dalam 2 kategori yaitu urban fringe di satu sisi dan rural fringe di sisi yang lain yang didasari oleh kenyataan bahwa WPU merupakan wilayah yang berada diantara wilayah yang berkenampakan kekotaan seratus persen dan wilayah berkenampakan kedesaan seratus persen.

(2) presentase proporsi lahan kedesaan dan (3) presentase proporsi lahan kekotaan (Yunus. ternyata kecendrungan perkembangan kota baik ditilik dari segi fisikal maupun dari segi demografis dapat diketahui dengan jelas. Oleh karena model diagramatik yang dikemukakan berujud segitiga bentuk pemanfaatan lahan. khususnya penentu kebijakan. Walaupun esensi yang dikemukakan tidak menampilkan perbedaan yang signifikan. keruangan dalam rangka pengendalian perkembangan kota sehingga sejak dini dapat diketahui . Tiga dimensi penilaian tersebut adalah (1) presentase jarak dari/ ke batas 100% kenampakan kekotaan atau ke batas 100% kenampakan kedesaan. apalagi apabila kacamata yang digunakan adalah kondisi WPU di Negara berkembang. Hal ini sangat penting dipahami para pemerhati masalah perkotaan. Salah satu contoh kasus perkembangan WPU yaitu di kota Jogjakarta dengan mengambil kasus beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kota Yogyakarta sebagai bagian paling dinamis dari WPU nya. 2008 : 111) Gambar 2. Studi Kasus Perkembangan wilayah pheri urban di Yogyakarta Pemahaman mengenai wilayah pheri urban di Negara – Negara maju menghasilkan keragaman teori yang berbeda-beda serta istilah yang berbeda-beda pula. Dengan mendasarkan zonifikasi yang ada. namun beberapa diantaranya terkadang memunculkan pemahaman yang sedikit menimbulkan kerancuan. maka didalamnya memuat tiga dimensi penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi batas terluar dari masing-masing subzona.pemanfaatan lahan kedesaan menjadi bentuk pemanfaatan lahan kekotaan dan begitupula sebaliknya. 4. Model Zonifikasi WPU Negara Maju atas dasar Bentuk pemenfaatan lahan Legenda A : percentage Distance Urban to Rural land B : Percentage Urban land Use C : Percentage Rural Land Use D : Boundari Of Built-Up Urban Area E : Boundari Of Built-Up Rural Land F : Rural Urban Fringe G : Urban Fringe H : Rural Fringe 1.

yaitu sosio demografis ternyata ke arah barat daya menunjukkan perubahan sosio demografis yang sangat signifikan dari status zobides ke status zobikot dan hal ini tidak terdeteksi dari kecendrungan perkembangan fisikal. Kecendrungan perkembangan fisikal tidak selalu konsiden dengan perkembangan sosio demografis sehingga dengan mengetahui kecedrungan perkembangan kota dari dimensi yang berbeda-beda dharapkan dapat menjadi dasar yang menjadi kukuh untuk penyusunan kebijakan antisipasi baik dari segi spasial. fisikal. karena densifikasi yang tidk terkontrol merupakan biang keladi terciptanya kekumuhan dalam pemukiman dan deteriorisasi lingkungan. Perkembangan spasial fisikal yang terjadi yaitu kearah utara. Apabila hal ini tidak diikuti oleh adanya konversilahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang signifikan dapat dipastikan bahwa di bagian ini telah terjadi densifikasi pemukuman yang substansial da hal ini sangat perlu di monitor. ditilik dari sisi lain. ekonomi dan kultura. di bagian tenggara tidak menunukkan perubahan status sifat kkotaan yang berarti. Sementara itu di bagian-bagian lain seperti di bagian barat tampak belum menunjukkan perubahan yang berarti dan signifikan. dari semula bersifat zobikodes di bagian utara pada tahun 1988 menjadi bersifat zobikot pada tahun 1998 yang berarti sifat kekotaan semakin tampak dengan jelas dari segi kpmposisi demografisnya. Di bagian barat laut diidentifikasi peralihan status dari zobidekot menjadi zobikodes sedangkan dari bagian timur laut teridentifikasi perubahan dari zobikodes menjadi zobidekot. namun hal ini hanya dapat mengungkapkan perkembangan fisikal kekotaannya dan bukan kecendrungan perkembangan sosio – demografinya.kemungkinan timbulnya dampak negative terhadap lingkungan dan sejak dini pula dapat melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengatasinya Gambar 3. baik ke arah timur laut maupun kearah barat laut walaupun insentitas perkembangannya berbeda-beda. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar bentuk pemanfaatan lahan. Zonifikzsi WPU kota Yogyakarta atas dasar komposisi mata pencaharian kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Memang dalam tataran praktik dan kemajuan teknologi seseorang dapat memantau kecendrunagn kota dengan menggunakan alat bantu foto udara atau remote sensing imageries lainnya. kasus kota Yogyakarta tahun 1988 kasus kota Yogyakarta tahun 1998 Gambar 4. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan struktual sosio demografis yang signifikan di bagian barat daya. Sementara itu. Hal ini mengindikasikan bahwa kea rah itu pula terjadi konversi lahan-lahan pertanian paling banyak terjadi. Oleh karena formulasi kebijakan pengendalian kota tidak hanya mendasarkan pada satu dimensi saja. . Sebagai contoh yang dapat dikemukakan disini adalah kasus kota Yogyakarta. khususnya mengenai mata pencahariannya. sosial. Demikian pula halnya di bagian utara juga terlihat perubahan yang sangat sgnifikan. Namun demikian.

2005. 2008 : 153). (Yunus. Struktur Tata Ruang Kota. H. Kesimpulan 1. 2008. Pendekatan Sistem Secara garis besar. Pustaka Pelajar : Yogyakarta Comments: Be the first to comment TATA GUNA LAHAN-SISTEM TRANSPORTASI SEBAGAI SUBSISTEM DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN . 2000. Teorinya dikenal dengan The Isolated State Theory 2. 2006. Wilayah Pheri Urban berada diantara Pure Urban Land Use dan Pure Rural Land Use sehingga timbul dimensi penilaian Dimensi penilaian tersebut antara lain :    Dimensi Presentase jarak dari / ke batas 100% lahan kekotaan atau lahan kedesaan Dimensi persentase bentuk pemanfaatan lahan kedesaan Dimensi persentase bentukpemanfaatan lahan perkotaan E. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. D. Pustaka Pelajar : Yogyakarta _______. KPG dan Centropolis : Jakarta Yunus. Jo.maka keberadaan media yang dapat membantu mengenali kecendrunga perkembanagan kota dari berbagai dimensi akan lebih bermanfaat. Manajemen Kota Prespektif Spasial. Dinamika Wilayah Peri-Urban Determinan Masa Depan Kota. terdiri beberapa pendekatan sistem yang dapat dimanfaatkan untuk delimitas subzona wilayah pheri urban yaitu :     Pendekatan administratif Pendekatan fisikal Pendekatan sel/sistem grid Pendekatan ekologi faktorial 3. Menyiasati kota tanpa warga. Sejarah perkembangan studi wilayah pheri urban adalah Studi yang pertama kali mulai menyinggung WPU adalah studi yang dikemukakan oleh Von Thunen pada tahun 1926. Daftar Pustaka Santoso.S.

polusi suara. A. adalah sebagai berikut. selain mencerminkan keteraturan kota. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Penulisan ini berjudul tentang “Tata Guna Lahan dan Sistem Transportasi sebagai sub system dalam Perencanaan Pembangunan yang berkelanjutan” yang membahas mengenai keterkaitan antara sistem guna lahan dengan system transportasi dalam melakukan pembangunan yang berkelanjutan. Daerah – daerah tersebut saat ini menjadi pusat-pusat kegiatan financial dan peluang-peluang bisnis yang ekstensif yang kompleksitas dan diversitasnya mengalami siklus perubahan akibat beragam pengaruh social dan ekonomi. 2001:139) Ada beberapa hal yang menjadi faktor utama dari timbulnya masalah tersebut. karena sector ini sangat berperan dalam menentukan kegiatan dan aktivitas pergerakan yang terjadi.Penulisan ini menguraikan berbagai system pendekatan yang tepat juga mencakup seluruh aspek yang terkait untuk memberikan alternative pemecahan masalah yang tepat. dimana terdapat kecenderungan bahwa berkembangnya suatu kota bersamaan pula dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. polusi udara. . Wilayah perkotaan dari tahun ke tahun telah berubah sebagai akibat terjadinya pergeseran yang dramatis dari lahan pertanian menjadi daerah bisnis ―terjadi perubahan fungsi guna lahan‖. antara lain. Transportasi yang aman dan lancar. 1. (Sujarto. Hal ini menyebakan tidak sesuainya rencana dan kenyataan nyata manakala suatu rencana selesai disusun. Bahwa karena dinamika masyarakat yang menyebabkan perubahan yang cepat di dalam system nilai dan kebutuhan masyarakat sering proses penyusunan terdahului oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat.Posted December 28. Pendahuluan Kota dikenal dengan banyaknya permasalahan yang kompleks yang terdapat didalamnya. Akan tetapi terdapat kecenderungan dengan berkembangnya suatu kota bersamaan pules dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi.Transportasi merupakan salah satu kunci perkembangan bagi wilayah perkotaan.Permasalahan ini berkailan Brat dengan poles testes guna Lahan. sehingga dalam pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. Dengan terjadinya perubahan fungsi lahan yang sering kita temui di suatu kota dimana tata guna lahan yang ada tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah dibuat. juga mencerminkan kelancaran kegiatan perekonomian kota. Kota yang baik dapat ditandai. sehingga masalah ini akan selalu membayangi perkembangan suatu wilayah perkotaan. dan pemborosan energy merupakan sebagian dari sekian hanyak permasalahan yang dihadapi suatu kola berkaitan dengan masalah transportasi. dengan melihat kondisi transportasinya. Kemacetan (congestion). keterlambatan (delay).

dan lingkungan. system pergerakan. Adanya saling ketergantungan antara tata guna lahan dan system transportasi. Kegunaan Berdasarkan tujuan penyusunan penulisan di atas. sehingga pola guna lahan dan system transportasi tidak dapat dipisahkan. Permasalahan ini bukan saja menyangkut pada kenyamanan system transportasi yang terganggu (kepadatan. Kelanggenang suatu rencana kota dalam arti konsekuen dan konsistennya pembangunan kota dengan rencana kota sangat ditentukan juga oleh konsekwenan dan kekonsistenan pengelola kota dan masyarakat dalam memegang arahan pembangunan yang ditetapkan. 1984. Kegiatan transportasi yang terwujud pada hakikatnya adalah kegiatan yang menghubungkan dua lokasi guna lahan .1. 1986 dalam Khisty dan Lall. parkir dll). namun juga dapat meningkatkan pencemaran lingkungan melalui gas buangan dari kendaraan bermotor serta merupakan suatu bentuk pemborosan energy yang sia-sia. 2003: 74). Berbagai aspek/ pendekatan sistem yang mempengaruhi system tersebut yaitu system kegiatan. Tujuan dan Kegunaan 1. maka adapun kegunaan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Untuk mengetahui bagaimana system transportasi sebagai suatu system . Permasalahan transportasi ini merupakan suatu permasalahan kompleks yang melibatkan banyak aspek. Penulisan ini mencoba melihat permasalahan dalam system transportasi secara komprehensif yang di dasarkan pada pendekatan system. kemacetan. Tujuan Tujuan dari penulisan penulisan ini adalah: ü Mengidentifikasi system transportasi sebagai suatu system ü Mengidentifikasi keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan 2. keterlambatan. Permasalahan di sektor ini tidaklah sederhana. ASCE. pihak dari system yang terkait sehingga pemecahan permasalahan tersebut memerlukan suatu pemecahan yang comprehensive dan terpadu yang melibatkan semua unsur dan actor dalam pembangunan kota. B. system jaringan. Salah satu tujuan utama perencanaan setiap tata guna lahan atau system transportasi adalah untuk menjamin adanya keseimbangan yang efisien antara aktivitas guna lahan dengan kemampuan transportasi (Blunden dan Black.

Sistem transportasi yang macet tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya.2001 dalam Khisty dan Lall. Rencana Tata Guna Lahan dan Rencana Transportasi sumber : (http://www. Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik maka kebutuhan transportasinya harus terpenuhi dengan baik.(Mohammadi. .id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq . tidak termanfaatkan. 1. 2003: 7). C. yang menjalankan fungsinya demi mencapai tujuan. Pendekatan Sistem System adalah suatu perangkat yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Sebaliknya. Pendekatan Sistem Transportasi berkaitan dengan tata guna lahan.ü Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara tata guna lahan dan system transportasi dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Suatu rencana kota juga tak pernah lepas dari rencana tata guna lahan serta rencana transportasi. Pembahasan Transportasi dan tata guna lahan berhubungan sangat erat. Gambar 1. Pendekatan system (system approach) adalah suatu cara yang sistematik dan menyeluruh untuk memecahkan masalah yang melibatkan suatu system.co. sehingga biasanya dianggap membentuk satu landuse transport system. tranportasi yang tidak melayani suatu tata guna lahan akan menjadi sia-sia.google. lingkungan dan energi. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1 seperti berikut : Gambar 1.

Swasta dan Masyarakat harus ikut berperan dalam mengatasi masalah transportasi. Bina Marga c.Interaksi antara system kegiatan dan system jaringan akan menghasilkan suatu pergerakan. budaya dsb. Pendekatan Sistem Kegiatan . System ini berkaitan erat dengan pengaturan pola tata guna lahan sebagai unsur terpenting dalam pembentukan pola kegiatan kota atau daerah. System kegiatan:Bappenas. Dari ketiga sub system tersebut. id/searc h?hl=id &q=KE TERKA ITAN+ TATA+ GUNA +LAHA N+DEN GAN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Sub system kegiatan merupakan system kegiatan tertentu yang membangkitkan pergerakan dan dapat menarik pergerakan. lembaga. Selain dari semua sub system diatas terdapat suatu aspek yang harus selalu diperhatikan dalam pengadaan system transportasi yaitu aspek lingkungan. Di Indonesia system kelembagaan yang berkaitan dengan transportasi adalah: a. bahwa Pemerintah. Seluruh kebijaksanaan yang diambil oleh masing-masing kelembagaan harus terkait dan terkoordinasi dengan baik. 2. Sistem tersebut dapat merupakan suatu gabungan dari berbagai system pola kegiatan tata guna lahan (land use) seperti kegiatan social. Pemda b.go ogle. Secara umum dapat disebutkan.co.sumber: (http:// www. masih diperlukan system kelembagaan. dll. System ini terdiri dari individu. ekonomi. Prasarana yang diperlukan merupakan bagian dari system jaringan meliputi jaringan jalan raya. Kegiatan yang timbul dalam system ini membutuhkan pergerakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang perlu dilakukan setiap hari. kelompok. Pergerakan tersebut membutuhkan moda transportasi (sarana) dan media (prasarana) tempat moda tersebut bergerak. System pergerakan LLAJR. terminal. System jaringan: Dep.Polantas. besarnya pergerakan yang ditimbulkan tersebut sangat berkaitan dengan jenis dan intensitas kegiatan yang dilakukan. Perhubungan. Karena hal ini merupakan masalah bersama yang memerlukan penanganan dan keterlibatan semua pihak. instansi pemerintah serta swasta yang terlibat.

Pendekatan terhadap system kegiatan ini sebenarnya sangat banyak macam dan faktornya.     Tingginya aktifitas perkotaan sangat dipengaruhi oleh perkembangan jumlah penduduk. . atau meningkatnya daerah lain akibat dari aktifitas yang berbeda dalam sebuah kota sehingga pergerakan penduduk di dasari kebutuhan akan pekerjaan. umumnya terbentuk polarisasi yaitu munculnya kutub-kutub pertumbuhan. kegiatan-kegiatan penduduk seperti ekonomi. penting untuk mengetahui perencanaan tata guna lahan dalam merencanakan system angkutan. Pola distribusi kegiatan guna lahan pada saat sekarang sangat tidak teratur diakibatkan banyaknya rencana kota yang diabaikan karena alasan ekonomi. Faktor determinan yang mempengaruhi Guna lahan : a. 1984 dalam Khisty dan Lall. Keterkaitan antara system kegiatan (model tata guna lahan) dengan system transportasi dapat dilihat bahwa perencanaan transportasi untuk masa yang akan datang selalu dimulai dari perubahan dan perkembangan tata guna lahan. namun pada pembahasan ini ditekankan pada aspek pola tata guna lahan dalam suatu kota. 2003: 74). Oleh sebab itu. 1979 dalam Miro. fasilitas. Keterkaitan guna lahan dengan arus lalu lintas (Menhein. Perkembangan jumlah penduduk tidak saja dipengaruhi oleh natural growth. Tata guna tanah/lahan perkotaan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian dalam ruang dari peran kota. Jika manfaat lahan di setiap daerah untuk suatu kota telah diketahui. perkantoran yang esensinya menggunakan lahan sangatlah mempengaruhi tata guna lahan. kawasan tempat kerja. b. Faktor kegiatan penduduk. maka ini memungkinkan kita untuk memperkirakan lalu lintas yang dihasilkan (Blunden dan Black. industry. Pola penggunaan lahan di kawasan perkotaan. tempat tinggal. Dari hal tersebut maka kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat kebutuhan akan jasa transportasi yang merupakkan masukan yang berguna untuk merencanakan sampai tingkat mana fasilitas-fasilitas transportasi akan disediakan. kawasan tempat rekreasi dst. Faktor kependudukan. kawasan tempat tinggal. 2004: 45) adalah sebagai berikut: Arus lalu lintas ditentukan menurut pola tata guna lahannya dan tingkat pelayanan system transportasinya. akan tetapi arus masuk (pergerakan penduduk) in migration Pertumbuhan penduduk yang tinggi sangat berpengaruh pada spasial perkotaan. dll.

Dalam hal ini akan dibahas mengenai system transportasi darat. menjalankan dua fungsi. Pendekatan Sistem Pergerakan Transportasi yang baik yaitu transportasi yang dapat memberikan kenyamanan. Jaringan jalan merupakan suatu kesatuan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki. Pendekatan Sistem Jaringan Jaringan transportasi adalah jaringan prasarana trasnportasi (lintasan jalan. 4. lintasan penyeberangan. social. jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah ditingkat nasional dengan simpul jasa distribusi disebut jaringan jalan primer. (Kamaluddin. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberlakukan system angkutan . lintasan transportasi laut. biaya murah dan efesiensi waktu. system jaringan jalan dan kendaraan bermotor tidak dapat dipisahkan. Salah satu contoh dari permasalahan yang ditimbulkannya yaitu dapat menimbulkan kemacetan diakibatkan kapasitas jaringan jalan tidak sesuai dengan kendaraan yang ada. Pengaturan tata guna lahan di kota-kota saat ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. sistem jaringan (prasarana) meliputi jalan dan terminal. Transport jalan raya seringkali dikatakan sebagai urat nadi bagi kehidupan dan perkembangan ekonomi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki flow/jaringan transportasi untuk mengurangi masalah yang muncul yaitu dengan melakukan intervensi pada sarana transportasi. dan mobilitas penduduk yang tumbuh mengikuti maupun mendorong perkembangan yang terjadi pada berbagai sector dan bidang kehidupan tersebut. Dimana dalam pembangunan jaringan jalan harus memperhatikan jumlah kendaraan yang akan melewatinya.Kalau arus lalu lintas dalam jangka waktu yang lebih lama (panjang) semakin bertambah. pelabuhan. bandara). hampir pasti bahwa pola tata guna lahan dan tingkat pelayanan transportasinya mengalami perubahan. Hal ini menggambarkan bahwa system penyediaan dan system permintaan terdapat ketimpangan sehingga system transportasi tidak berjalan dengan efektif dan efisien. Dalam angkutan jalan raya. lintasan rel) dan simpul sarana transportasi (terminal. Dalam hubungan ini transportasi khususnya transportasi jalan raya. System jaringan jalan dengan peranan pelayanan. dan system jaringan jalan dengan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota membentuk system jaringan jalan sekunder. yaitu sebagai unsur penting yang melayani kegiatan-kegiatan yang sudah/sedang berjalan (the servicing function) dan sebagai unsur penggerak penting dalam proses pembangunan (the promoting function). kondisi system transportasi yang memburuk akibat meningkatnya motorisasi yang diperparah akibat lebih tingginya kenaikan jumlah kendaraan bermotor dibanding kecepatan pembangunan jalan. Permasalahan yang muncul. 2003: 53). 3.

perdagangan. menimbulkan polusi yang berlebihan. penyakit jantung. membahayakan kesehatan masyarakat dan mempengaruhi ekonomi masyarakat.dan kanker. juga sebagai suatu langkah antisipasi dalam peningkatan kepadatan lalu lintas. Transportasi dan Dampak Lingkungan Kemacetan. Hal ini akan berakibat pada menipisnya lapisan ozon yang selanjutnya mengakibatkan sesak napas.massal. Bangkitan lalulintas. mobil) Land use yang berbeda menghasilkan lalu lintas pada waktu yang berbeda. Jarak yang terlalu jauh yang mengakibatkan land use yang jauh jaraknya bakal ditinggalkan dan akan beralih fungsi. Ada 2 masalah dalam meminimalkan pergerakan akibat land use yaitu a. tetapi juga membuang waktu dan energy. Kemacetan lalu lintas juga dapat membahayakan kesehatan. Beberapa tipe antara lain :    Tipe land use yang menghasilkan lalu lintas yang berbeda dengan land use lainnya Land use yang berbeda menghasilkan tipe lalu lintas yang berbeda (pejalan kaki.id/search?hl= id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGAN+TRANSPORTASI&btnG=Telus uri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq) Dari tinjauan masalah transportasi dan dampaknya pada lingkungan. dimana dengan hal tersebut kita dapat mengurangi system pergerakan pada jalan raya. maka dapat dilihat kontribusi yang sangat besar dari masalah transportasi terhadap kenyamanan dan kelestarian . penyakit paru-paru. polusi. dll) mempunyai karakteristik bangkitan lalu lintas maupun pergerakan yang berbeda-beda.Konsentrasi Karbon monoksida yang tinggi pada jalan yang padat akan menghalangi aliran oksigen untuk para pengemudi. sehingga akan mempengaruhi kinerja pengemudi. sehingga alih fungsi ini akan menimbulkan masalah baru. b. 5. industry. perkantoran.co. truk. Bangkitan lalu lintas tergantung dari land use sebuah daerah (permukiman. Kemacetan lalu lintas tidak hanya mengurangi efisiensi pengoperasian transportasi.google. sakit kepala. Volume dan pola lalu lintas pada jaringan transportasi akan mempunyai efek feedback atau timbal balik terhadap lokasi tata guna tanah yang baru dan perlunya peningkatan prasarana. batuk. Tingkah laku agresif dan reaksi psikologis juga berhubungan dengan kondisi kemacetan lalu lintas (GAO dalam http://www. Sebaran geografis antara tata guna tanah (sistem kegiatan) serta kapasitas dan lokasi dari fasilitas transportasi (sistem jaringan) digabung untuk mendapatkan volume dan pola lalu lintas (sistem pergerakan). konservasi energy dan penurunan kesehatan masyarakat adalah beberapa dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pergerakan kendaraan bermotor. Dalam hal ini perlunya dalam rencana tata guna lahan memperhatikan zona-zona pembagian berdasarkan aktivitas penduduk yang saling berkaitan juga dalam rencana kota distribusi penduduk juga harus diperhatikan agar distribsi ruang dan distribusi .

lingkungan. Jalur lalu lintas sangat padat terutama pada jam-jamsibuk. Dari aspek accessibility kawasan ini mudah dicapai dari segala arah. pada siang hari. dengan kata lain maka kebutuhan akan lahan pun semakin meningkat.706. dengan sebagian besar untuk pemukiman kelas atas yang disediakan untuk para diplomat serta perkantoran. sedangkan berdasarkan perkiraan. penduduk Jakarta bisa mencapai 12 juta jiwa. akibatnya kemacetan dan kepadatan lalu lintas tidak dapat dihindarkan. jumlah penduduk Jakarta adalah 7. perawatan maupun pemakaian bahan bakar yang seminimal mungkin dapat memberikan pencemaran terhadap lingkungan. Konsep kedua adalah perbaikan mutu gas buangan dari kendaraan bermotor. Pengaturan tata guna lahan di Jakarta ini memang menjadi suatu permasalahan yang sangat sulit dan rumit mengingat pertumbuhan dan perkembangan nilai lahan yang sedemikian tinggi serta kepadatan bangunan yang sangat tinggi pula. Untuk mengatasi permasalahan ini sedikitnya terdapat tiga konsep yang dapat diberikan. Tetapi sekarang kawasan ini tumbuh menjadi kawasan perkantoran kelas satu termasuk kantor-kantor komersial. maupun Jakarta 1985-2005 Structure Plan. Dengan kondisi ini maka kebijaksanaan tata guna lahan di kawasan ini dirumuskan kembali dengan konsep superblock system dan high rise building. Konsep yang pertama adalah usaha untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang ada. Hal ini terjadi karena lokasi tersebut yang sangat strategis dibandingkan lokasi lain. Sebagai contoh adalah kasus di Kuningan. tetapi pelayanan transportasi tidak cukup baik. baik dalam Jakarta 1965-1985 Master Plan. Pengaturan ini sudah diarahkan. baik dari segi desain. Hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan.392 jiwa. hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan sarana transportasi massal yang nyaman. tahun 2007. 2005:141). dan perdagangan. ekonomi. Studi Kasus Permasalahan Transportasi akibat perubahan guna lahan di Jakarta Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia. Tidak salah. 6. . sehingga dapat menjadi alternative terbaik bagi masyarakat dan dapat mengurangi jumlah kendaraan pribadi. berdasarkan catatan resmi catatan sipil. pada awalnya wilayah ini dalam Jakarta Struktur Plan 2005 diarahkan untuk pengembangan kawasan campuran. (World Comission on Environment and Development/WCED (1987) dalam Yunus. Sebagai dampaknya kebutuhan transportasi meningkat pesat sedangkan sarananya sangat terbatas. politik. posisi Jakarta memegang posisi sangat penting dalam hal. Konsep yang ke tiga adalah usaha mengurangi kemacetan lalu lintas di jalan sehingga pemborosan energy dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi. kalau akhirnya Jakarta diserbu oleh pendatang (urban) yang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. Yang menjadi persoalan dimana lahan yang tersedia tidak bertambah akan tetapi jumlah penduduknya semakin hari semakin meningkat. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah suatu pola pembangunan yang bertujuan untuk mencukupi /memenuhi kebutuhan generasi penduduk masa kini tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan dating untuk mencukupi /memenuhi kebutuhannya. sebagai ibukota Negara. namun implementasi-nya masih seringkali berubah dan tidak sesuai karena adanya berbagai kebutuhan dan kendala.

Jotin dan Lall. Penutup 1.Kent. Dasar-dasar Rekayasa Transportasi.google. Daftar Pustaka http://www. Ghalia Indonesia: Jakarta Khisty.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENGA N+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&oq Kamaluddin. 2003. Interaksi tata guna lahan dan system transportasi merupakan indicator yang mesti diperhatikan dalam melakukan perencanaan system jaringan transportasi guna terciptanya pembangunan yang berkelanjutan tanpa merusak ekologi yang ada. Karena masih ditentukan oleh implementasinya yang banyak dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang dianggap lebih penting dan mendesak dari penataan guna lahan itu sendiri. sarana dan manajemen secara tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul.id/search?hl=id&q=KETERKAITAN+TATA+GUNA+LAHAN+DENG AN+TRANSPORTASI&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=&aq=f&o D.google. C. Saran    Melakukan intervensi pada system transportasi baik pada aspek prasarana.Dengan luas area 325 ha dan lebih dari setengah juta pekerja. B. sehingga meminimalisir permasalahan yang muncul.    System transportasi merupakan suatu system dalam pengembangan suatu perkotaan. 2003. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan penggunaan lahan belum didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi.co. Kesimpulan Berdasarkan uraian pembahasan sebelumnya maka dapat kami simpulkan bahwa :. maka kawasan ini sangat memerlukan alat dan sarana transportasi baru. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa kebijaksanaan tata guna lahan yang baik belum tentu dapat mendukung pemecahan masalah transportasi. Rustian. permasalahan system transportasi tersebut merupakan masalah yang kompleks yang melibatkan banyak aspek. kebijaksanaan transportasi masih mengacu pada Jakarta Struktur Plan 2005. Meningkatkan pelayanan system transportasi bagi masyarakat. yang jelas-jelas sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi perkembangan yang ada. walau terjadi perubahan fungsi kegiatan (tata guna lahan). Kebijaksanaan penggunaan lahan seharusnya didukung dengan kebijaksanaan pengembangan transportasi. (http://www. Erlangga : Jakarta . Namun dalam realitanya. Ekonomi Transportasi.co. pihak dan system yang terkait maka diperlukan pendekatan system yang tepat pula yang mencakup aspek yang terkait. E. 2.

2005. dimana ketersediaan lahan semakin terbatas maka dibutuhkan para perencana kota yang dapat mengatasi masalah kompleks perkotaan yang menghambat terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. dimana terwujudnya pembangunan berkelanjutan merupakan dambaan tiap kawasan atau kota dalam melaksanakan pembangunannya sebab dengan terwujudnya pembangunan bekelanjutan berarti telah menjamin kesejahteraan kehidupan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan dating dalam segala dimensi kehidupan.Miro. Fidel. Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa. Pendahuluan Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan di segala bidang. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Oleh: Syahriar Tato Abstrak Dalam makalah ini dipaparkan mengenai pembangunan yang berkelanjutan. Sehinnga dibutuhkan keahlian dari perencana kota yang dapat membuat perencanaan yang disatu pihak dapat memecahkan masalah urbanisai dan dilain pihak memperkaya fungsi kota dengan menata ruang perkotaan yang berdaya guna memenuhi segala macam aktivitas perkotaan. Dalam makalah ini juga terdapat contoh kasus yang meperlihatkan kondisi pembangunan yang tidak berkelanjutan di Kacamatan Tambora kotamadya Jakarta Barat. 1. Perencana. Pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan memanfaatkan tekhnologi. Hadi Sabari. Djoko. perlu memperhatikan fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia. ITB : Bandung Yunus. dan Praktisi. agar dapat terus- . Manajemen Kota Perspektif Spasial. Pustaka Pelajar : Yogyakarta. A. 2001. Dalam makalah ini juga dibahas mengenai berbagai macam masalah perkotaan yang menghambat pembangunan yang berkelanjutan yang sangat terlihat jelas yaitu masalah urbanisasi yang tidak terkendali yang mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan sehingga mempengaruhi secara langsung kondisi lingkungan dan kondisi keamanan perkotaan. Dalam pola pembangunan tersebut. Pengantar Planologi. Comments: Be the first to comment HAMBATAN DALAM SISTEM PEMBANGUNAN PERKOTAAN YANG BERKELANJUTAN Posted December 28. 2004. Contoh kasus ini menunjukkan tingkat kemiskinan yang signifikan yang berakibat pada banyaknya muncul permukiman kumuh yang dapat mengganggu keindahan kota serta mengakibatkan pencemaran lingkungan. Erlangga : Jakarta Sudjarto. Dengan melihat kondisi seperti sekarang ini.

viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah . Lingkungan bagi ummat manusia adalah salah satu modal dasar dalam pembangunan. Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan. Bagi manusia. Lingkungan sehat. Artinya.menerus menunjang kegiatan atau proses pembangunan yang berkelanjutan. bersih. Proses pembangunan terutama bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat baik secara spiritual maupun material. kota. Sinergi tiga aspek tersebut yaitu. dalam konteks tersebut selain keberlanjutan dari sisi ekonomi dan sosial. maka diperlukan juga keberlanjutan pada sisi ekologis. Hal ini menyebabkan peningkatan laju pembangunan lama untuk mencapai suatu pertumbuhan pembangunan yang merakyat. Menurut Brundtland Report dari PBB 1987. Pembangunan berkelanjutan adalah satu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan. bisnis. Model pembangunan yang merakyat berarti berangkat dari masyarakat. Pengertian pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial dimana masyarakat bergantung padanya. lestari. sustainable development. Definisi ini menunjukan bahwa adanya suatu pembangunan karena suatu kebutuhan. Sedangkan jika harapan tersebut tidak tercapai berarti. sosial dan budaya didalam pembangunan disebut dengan Pembangunan Berkelanjutan. pembangunan tidak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi tetapi juga haruslah melihat aspek keadilan terhadap lingkungan. kelembagaan sosialnya. Karena titik tolak pembangunan dimulai dari tindakan mengurangi masalah tersebut dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan meningkatkan untuk mencapai suatu tingkatan yang layak. akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi dan sosial dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat. Dengan demikian pembangunan mempunyai hubungan yang erat dengan masalah. secara tidak langsung akan mempengaruhi keberlanjutan produktifitas manusia di masa yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris. Adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah suatu harapan. dan kegiatan dunia usahanya. perencanaan dan proses pembelajaran sosial yang terpadu. dan sebagainya) yang berprinsip ―memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan‖. Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. dan masalah. Pembangunan yang tidak bertitik tolak dari masalah berarti ada indikasi kesalahan konsep dan model pembangunan tersebut berorientasi pada penyelesaian masalah sebagai penyebab akar masalah bukan akar masalahnya. pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan. masyarakat. ekonomi. kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memafaatkannya. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja. hal itu adalah masalah.

Untik mengidentifikasi masalah internal perkotaan 2. 3.bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan) Ada dua makna gagasan yang terkandung didalam cara pandang pembangunan berkelanjutan yaitu : gagasan kebutuhan. Tujuan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. 1. C. Bagaimana masalah kemiskinan di perkotaan. Untuk mengidentifikasi kemiskinan di perkotaan .blogspot. Tujuan dan Kegunaan 1. (http://id. (http://muhlissuhaeri. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban kota. 2 . B.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-. 4. Apa yang menjadi masalah internal perkotaan.) Pembangunan berkelanjutan juga mensyaratkan adanya pemeliharaan keanekaragaman. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. Bagaimana masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan. Hambatan dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan diantaranya diantaranya masalah internal dan eksternal perkotaan. yaitu kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia dan gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan oerganiasi social terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan hari depan. tentunya masih saja ada hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan itu sendiri. Rumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Pemeliharaan keanekaragaman hayati untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang.wikipedia. 1. Dalam pembahasan/penulisan ini dibahas mengenai hambatan dalam pembangunan berkelanjutan khususnya masalah internal perkotaan sebagai sistemnya dan sebagai subsistemnya dibatasi pada pada 3 masalah yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. Namun. 1. maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan penulisan ini adalah : 1. Bagaimana masalah keamanan dan ketertiban kota. Yang tak kalah pentingnya adalah pengakuan dan perawatan keanekaragaman budaya yang akan mendorong perlakuan yang merata terhadap tradisi berbagai masyarakat dapat lebih dimengerti oleh masyarakat.

2005: 375-377) Beberapa pemikir dibidang perencanaan dan perancangan kota. bioregionalisme. Barbier mengusulkan bahwa pembangunan berkelanjutan harus dilihat sebagai interaksi antara tiga system : sistem biologis dan sumber daya. Untuk mengetahui kemiskinan di perkotaan. Pembahasan Permasalahan pembangunan berkelanjutan sekarang telah merupakan komitmen setiap orang. Evaluasi itu dapat dilakukan dengan beberapa cara. Etika lingkungan non-antroposentris memandang manusia sebagai anggota komunitas hidup di dunia. Ini berarti tujuan kegiatan perencanaan kota. D. 2. Salah satu cara adalah evaluasi berdasarkan criteria pembangunan berkelanjutan. Pada tahun 1987. berkembang etika lingkungan non-antroposentris sebagai salah satu akibat terjadinya krisis-krisis lingkungan. (Arif Budimanta Dalam Bunga Rampai. Permasalahan pembangunan berkelanjutan juga tak dapat diabaikan dalam perkembangan berbagai ilmu pengetahuan dan tekonologi. Singapura. 5. perlu perencanaan dan perancangan yang bersifat ekologis dan berlandaskan etika non-antroposentris. seperti juga semua mahluk hidup lainnya. serta lingkungan buatan di perkotaan. berpendapat bahwa untuk mencapai proses pembangunan berkelanjutan. . Perencanaan kota bertujuan menyelesaikan atau mengatasi permasalahan kota melalui penyediaan ruang untuk semua kegiatan masyarakat yang kompleks. 3. sadar atau tidak sadar. ekofeminisme dan sebagainya Proses pembangunan berkelanjutan di perkotaan dapat diketahui dengan melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan-kawasan di kota tersebut. Untuk mengetahui masalah internal perkotaan. Selain itu. Konsep pembangunan yang berkelanjutan ini terus berkembang. yang menghasilkan kebijakan rencana kota. Tokyo yang memiliki kualitas pembangunan yang berkelanjutan yaitu cara berpikir yang integrative. dalam menjelaskan konsep pembangunan berkelanjutan ini. Sejak paruh abad ke-20. Budimanta membandingkan perkembangan kota Jakarta dengan kota-kota lain di Asia. proses-proses yang terjadi di dalam masyarakat dan antara masyarakat dan lingkungannya. seperti juga mahluk hidup lainnya. seperti biosentris. termasuk ilmu perencanaan kota. 2. sistem ekonomi dan sistem sosial. baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Kegunaan Penulisan Dari rumusan masalah diatas. Untuk mengetahui keamanan dan ketertiban kota. maka tujuan penulisan penulisan ini adalah : 1. Untuk mengetahui kualitas lingkungan hidup perkotaan. perspektif jangka panjang mempertimbangkan keanekaragaman dan distribusi keadilan social ekonomi. yaitu kebijakan yang menjadi pedoman utama pembangunan kota. Untuk mengidentifikasi keamanan dan ketertiban kota 5. yang bergelut di bidang pembangunan. yaitu Bangkok. Untuk mengidentifikasi kualitas lingkungan hidup perkotaan 4. adalah untuk mencapai proses pembangunan yang berkelanjutan. 4.3. Etika lingkungan non-antroposentris itu terbagi atas beberapa aliran. Edward B. Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan sebagai hasil debat antara pendukung pembangunan dan pendukung lingkungan.

1. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. dan lingkungan yang bermuara pada kondisi kemiskinan. Daya tarik kota sebagai pusat mata pencaharian yang membengkak ini sering dibarengi dan diperbesar oleh kemunduran ekonomi diluar kota. 2005: 410) Saat ini masalah kemiskinan perkotaan merupakan masalah mendesak yang banyak dihadapi kota-kota di Indonesia. sulit bagi mereka untuk mendapat akses ke pekerjaan yang baik dan stabil. poltik. Urbanisasi hampr terjadi dimanapun diseluruh dunia disebabkan oleh perkembangan ekonomi dan daya tarik perkotaan yang kadang menjebak bagi mereka yang tidak mampu bersaing sehingga menjadi terpinggirkan. Di Indonesia perkembangan ini cepat sekali sejak tahun 70-an.kriteria pembangunan berkelanjutan di perkotaan dirumuskan berdasarkan pemikiran-pemikiran yang berkembang seperti diuraiakan diatas. Yang paling mudah dan terlihat jelas dari wajah kemiskinan perkotaan ini adalah kondisi jutaan penduduk yang tinggal di permukiman kumuh dan liar. (Madrim Djody Gondokusumo dalam Bunga Rampai. air bersih. Pengertian kemiskinan sendiri bermakna multi-dimensi dari mulai rendahnya pendapatan. ketidakamanan. adanya urbanisasi. Kondisi kekumuhan ini menunjukkan seriusnya permasalahan sosial ekonomi. dan lain-lain. Sebagai akibat itu semua. pengelolaan sampah ) rumah sehat. dan pemahaman bahwa kemiskinan dan kerusakan lingkungan adalah ancaman utama pembangunan berkelanjutan. Ketidakadilan itu terlihat dari tidak terpenuhinya kebutuhankebutuhan mereka untuk bertahan hidup dalam kesehatan yang baik. dan terdapat di mana-mana. Ketidakadilan juga terlihat dari tidak adanya akses kepemilikan hak atas tanah yang mereka huni. sebagai pengangguran. kurangnya penghargaan social. 1999: 43) . kekurangan gizi dan nutrisi. Masalah Kemiskinan di Perkotaan Kemiskinan merupakan salah satu contoh ketidakadilan yang dialami suatu kelompok (masyarakat pra sejahtera). kondisi permukiman buruk atau kumuh dalam suatu kawasan memperlihatkan bahwa kawasan tersebut sedang dalam proses tidak berkelanjutan. Masalah lain yaitu. tidak layaknya tempat tinggal. 2005: 405) Berikut dibahas mengenai tiga sub sistem masalah internal perkotaan yang merupakan hambatan dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yaitu masalah kemiskinan di perkotaan. Kemiskinan serta kerusakan lingkungan hidup merupakan ancaman utama bagi proses pembangunan berkelanjutan dengan melihat tujuan dari pembangunan berkelanjutan yaitu mencapai masyarakat sejahtera (masyarakat berkelanjutan) dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan. Ketidakadilan itu menyebabkan masyarakat miskin tetap miskin dan mengancam proses pembangunan yang berkelanjutan. baik di Negara maju maupun di Negaranegara yang sedang berkembang. sulitnya mendapat akses ke pelayanan publik (sanitasi sehat. RTH. 1.(Soefaat. masalah kualitas lingkungan hidup perkotaan dan masalah keamanan dan ketertiban perkotaan. pelayanan pendidikan dan sebagainya. Kerusakan lingkungan. sebelum itu urbanisasi juga sudah berjalan tapi lebih lambat dan terbatas. menyebabkan mereka para pendatang yang tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk bersaing di perkotaan memaksa mereka untuk terpinggirkan sehingga menjadi warga miskin di perkotaan.

baik hulu maupun hilir dapat dilepaskan. maupun papan. Kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki hingga saat ini bellum dimnafaatkan secara optimal. yang awalnya yang diperoleh dari IRRI (Iinternasional Rice Research Institut). harganya pun ikut naik. Sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk mengentaskan atau mengurangi kemiskinan dengan berbagai programnya. Sehingga begitu dollar AS naik. telah menginstruksikan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian untuk menghentikan import sayur-sayuran dan buah-buahan. padahal tidak ada satu pun industri yang bahan bakunya tidak tergantung impor. mengingat produk-produk bahan poko tersebut berasal atau bersumber dari sumber daya hayati.Krisis ekonomi meningkatkan angka kemiskinan absolut di daerah perkotaan. kemiskinan masih tetap merupakan masalah penting sehingga perlu ditangani secara bersama-sama terutama dikawasan perkotaan. beliau menginstruksikan agar masyarakat mau memberdayakan sumber daya lahan yang tersedia untuk menanam sayur-sayuran. Deputi perdana menteri Malaysia. khususnya yang berdasar sumber daya hayati. dalam menetapkan strategi jangka pendeknya. paling tidak untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Pada dasarnya hal ini tidak akan terjadi apabila semua kebutuhan pokok tersebut dapat dicukupi oleh kita sendiri. termasuk harga-harga kebutuhan pokok yang dampaknya menyentuh segenap lapisan masyarakat. Sebagai contoh. Kebutuhan bahan pokok sebenarnya mampu kita penuhi. Mereka diberikan peluang untuk membudidayakan bibit-bibit . Hanya saja hingga ssat ini pengelolaan sumberdaya tersebut belum optimal. Oleh karena itu. (Gita Chandrika Dalam Bunga Rampai. Seharusnya dengan kekayaan hayati tersebut. Dalam kondisi seperti ini kita dapat belajar pada Negara tetangga kita Malaysia. Penduduk perkotaan yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat secara signifikan sejak terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1997. kebutuhan kita akan barang-barang. sandang. mengingat bangsa Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. namun paling tidak sejumlah devisa dapat dihemay dan lapangan kerja pertanian dapat digairahkan kembali. Yang menjadi kunci permasalahan adalah mengapa pasokan hulu dan hilir tidak dikembangkan secara mandiri di tingkat lokal dan nasional. Bersamaan dengan itu. baik pangan. maka kekuasaan atas bibit harus dikembalikan kepada mereka. Sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin melakukannya. Datuk Anwar Ibrahim. Swasembada bahan pangan yang kita lakukan masih mengalami hambatan sebab meskipun Negara kita hidup dalam pola agraris. melalui pancausaha tani pemerintah mengharuskan petani menggunakan varietas benih unggul padi. Hal tersebut mengakibatkan petani sangat tergantung pada indutri pupuk dan pestisida. semuanya merupakan produk olahan yang menggunakan bahan dasar sumber daya hayati. Upaya praktis ini tentu saja tidak dapat secara makro memperbaiki kondisi ekonomi kita. seperti kita ketahui pada jenis tersebut tidak dapat tumbuh tanpa dipupuk dan diberi pestisida. dalam pengadaan beras. Swasembada bahan pokok seharusnya dapat kita lakukan. 2005 : 7). baik hayati maupun nonhayati. dan dampak sampai kepada sektor pertanian. Selain itu. Padahal. Ketergantungan petani terhadap bibit tersebut menyebabkan petani tidak menjadi orang bebas. untuk kembali memperdayakan petani. tampaknya dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang ini. seringnya nilai tukar rupiah merosot terhadap nila dollar AS menimbulkan kenaikan harag berbagai jenis barang. dibutuhkan kebijakan yang tegas dari pemerintah Indonesia dalam melihat masalah ini. tetapi ketergantungan terhadap agro-industri. dapat kita penuhi sendiri. Kebutuhan masyarakat. Namun demikian. Apalagi.

tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak lainnya. (Suharto. Kelangsungan hidup individu dalam situasi seringkali tergantung pada keluarga yang secara bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan pemberian bantuan keuangan. sangatlah naif. karena ada pandangan bahwa pola pertanian yang ada selama ini tidak memberikan nilai tambah. Untuk itu. Ia adalah manajer seperangkat asset yang ada di seputar diri dan lingkungannya. Paradigma baru lebih menekankan pada ―apa yang dimiliki si miskin ‖ ketimbang ‖ apa yang tidak dimiliki si miskin ‖. Ketahanan kita akan kebutuhan bahan pokok sangatlah kurang. Dementara industry yang diharapkan mampu menopang sektor pertanian. Kedelai hingga kini masih harus diimpor. karena investasi yang ada selama ini bukan untuk pembangunan industri yang berbasis sumber daya alam hayati (agroindustry). Kerusuhan ini bahkan telah menembus sampai kawasan pedesaan atau kawasan pinggiran kota. tetapi menuju ke langit. Semuanya itu disebabkan kita belum pernah mengadakan penelitian bioteknologi. ternyata kita belum mampu menjadi produsen bahan baku kedelainya hingga kini. yang dapat mendukung pola agraris yang kita miliki agar efisien. Orang miskin bukanlah orang yang pasif. Bahkan kecenderungannya adalah mengubah kawasan pedesaan yang mampu mandiri berbasis pertanian keanekaragaman hayati. dalam rangka peningkatan ketahanan akan kebutuhan bahan pokok. Penelitian yang ada selama ini bukan membumi. Pendekatan kemiskinan yang berkembang selama ini perlu dilengkapi dengan konsep keberfungsian sosial yang lebih bermatra demorasi-sosial ketimbang neo-liberalisme. Sistem yang dapat melindungi warganya menghadapi kondisi-kondisi yang memburuk yang mampu ditangani oleh dirinya sendiri. kondisinya sangat rentang dan keropos. Keadaan ini terjadi pada orang yang miskin yang hidup di Negara yang tidak menerapkan sistem Negara kesejahteraan (welfare state). Rebounding atau pelurusan kembali makna keberfungsian sosial ini akan lebih memperjelas analisis mengenai bagaimana orang miskin mengatasi kemiskinannya. serta bagaimana struktur rumah tangga. dan jaringan sosial mempengaruhi kehidupan orang miskin. 2007: 46-50) Penelitian – penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemiskinan tidaklah statis.(Sugandi. bukan dalam pengertian mampu memberikan daya hidup pada komunitas desa. Kebijakan tegas untuk meninggalkan kultur agraris. Hal ini disebabkan desa telah kehilangan daya tahan menghadapi krisis. sebagai ajang konversi. diperlukan upaya pembangunan daerah yang berbasis keanekaragaman hayati setempat. yang merupakan makanan Indonesia sejak dahulu kala.lokal yang sudah ada. 2005 : 148) . Nilai tambah yang dimaksud dalam konteks tersebut adalah yang bisa memberikan konstribusi devisa. Krisis ekonomi yang menyebabkan naiknya harga kebutuhan bahan pokok telah menimbulkan berbagai kerusuhan. Tempe. keluarga kekerabatan. menjadi kawasan industri dan kawasan permukiman perkotaan. diganti dengan pola modern yang tergantung pada industri. Kultur agraris yang menjadi basis pertahanan ekonomi desa telah hilang maupun ditinggalkan. Bila hal ini dilakukan. ketergantungan petani dari jaringan internasional industri bibit akan hilang dan memunculkan kekuatan lokal. karena ketergantungannya pada bahan baku impor.

Pada akhirnya kebijakan pengurangan kemiskinan yang selama ini yaitu pendekatan top-down dalam perencanaan kebijakan yang sekarang dilakukan. yaitu mengurangi resiko lingkungan atau dan memperbesar manfaat lingkungan. Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan manusia. 2005 : 418) 1. yaitu melibatkan partisipasi masyarakat melalui dialog-dialog yang demokratis. Manusia merupakan subjek sekaligus objek pembangunan. Di lain pihak. diperlukan pendekatan pembangunan yang menitikberatkan pada segi manusia. Keberlanjutan pembangunan harus memadukan lingkungan hidup. Karena itu melestarikan keserasian bertentangan dengan hakekat hidup yang menginginkan perubahan. dan menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan. sumber daya manusia. serta pengembangan sumber daya buatan. pembangunan yang makin meningkat akan memberikan dampak negatif. Dengan perubahan hutan atau tata guna lahan lain menjadi sawah berubahlah pula keseimbangan lingkungan. Karena itu akan berarti menurunkan mutu lingkungan dan dengan itu mutu hidup. keadilan dan kesetaraan jender. Perubahan hutan menjadi sawah merupakan usaha untuk memanfaatkan lahan untuk produksi bahan makanan dibawah kondisi curah hujan yang tinggi dan juga untuk mengurangi resiko erosi di daerah pegunungan. Pembangunan dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup manusia. . Ilmu pengetahuan modern antroposentris sebagai dasar perencanaan kebijakan publik untuk mengelola kehidupan masyarakat dan lingkungan perlu diganti dengan ilmu pengetahuan yang bersifat non-antroposentris. melainkan berubah-ubah menurut umur orang atau golongan. Melestarikan keserasian akan berarti meniadakan kebutuhan dasar untuk dapat memilih. Manusia berada pada posisi sentral sahingga pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilya tidak boleh mengabaikan dimensi manusianya. tempat dan waktu. yang mengakibatkan rusaknya struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan. (Madrim Djody Gondokusumo Dalam Bunga Rampai. berupa resiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. menghargai perbedaan-perbedaan. Untuk dapat melakukan hal tersebut. perlu diganti dengan pendeketan bottom-up. Sejak berabad tahun yang lalu nenek moyang kita telah merubah hutan menjadi daerah pemukiman dan pertanian. Jadi jelaslah keserasian bukanlah suatu hal yang kekal. serta menjadi jaminan bagi kesejahteraan serta mutu hidup generasi masa kini dan generasi mendatang. termasuk sumber daya alam. Hingga sekarang pencetakan sawah masih berjalan terus. menghargai etika dan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan di lingkungan alam. 2. sehingga apa yang menjadi tujuan pembangunan akan sia-sia. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan pada hakekatnya tidak bisa dilepaskan dari pembangunan manusia itu sendiri. sehingga menuntut tanggung jawab dan perannya untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Masalah Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Pembangunan pada hakikatnya adalah perubahan lingkungan. Kerusakan ini pada akhirnya akan menjadi beban yang malah menurunkan mutu hidup manusia. yaitu pemerintah dan para pakar menganggap dirinya yang paling mengetehaui tentang proses-proses yang terjadi dimasyarakat.

Permasalahan ketersediaan tanah di perkotaan sebagai lahan hijau sangat terbatas. Selain harga tanah yang mahal, juga kurangnya penghargaan bagi pemilik tanah terlantar untuk dimanfaatka sebagai lahan terbuka hijau. Penggunaan ruang terbuka hijau mulanya diawali dengan tumbuhnya perumhana liar yang semakin luas dan sulit dikendalikan, yang selanjutnya menimbulkan terbentuknya kawasan kumuh. Apalagi para penghuni tersebut dikenakan pajak tidak resmi sehingga mereka merasakan seolah mendapatkan legalitas untuk tinggal di tempat tersebut. Begitu juga, disisi lain factor urbanisasi, khususnya golongan berpendapat rendah dan kurangnya tingkat pendidikan, mendorong mereka untuk menduduki lahan ruang terbuka hijau. Seperti pemanfaatan tepian tepian bantaran sungai dan tepian jalur kereta api sebagai tempat tinggal. (Soemarwoto, 1983 : 60-61) Secara sistem, ruang terbuka hijau kota pada dasarnya adalah bagian dari kota yang tidak terbangun, yang berfungsi menunjang kenyamanan, kesejahteraan, penigkatan kualitas lingkungan, dan pelestarian alam, umumnya terdiri dari ruang pergerakan linear atau koridor dan ruang pulau atau oasis (Spreigen 1965). Perencanaan ruang terbuka hijau secara tepat mampu mampu berperan dalam menigkatkan kualitas atmosfer kota, penyegaran udara, menurunkan suhu kota, menyapu debu permukaan kota, menurunkan kadar polusi udara dan meredam kebisingan. Penelitian Embleton (1963) menyatakan bahwa 1 hektar ruang terbuka hijau dapat meredam suara pada 7 db per 30 meter jarak dari sumber suara pada frekuensi kurang dari 1000 CPS , atau penelitian Carpenter (1975) dapat meredam kebisingan 25-80 %. Kualitas udara bersih merupakan factor luar yang sangat berpengaruh. Karena itu, keberadaan ruang terbuka hijau kota merupakan eksternalitas ekonomis, bukan disekonomis. Artinya, ruang terbuka hijau akan menyebabkan seseorang atau beberap individu menjadi lebih sehat dan baik. Dengan demikian, ada kemauan untuk menerima ruang terbuka hijau dari penigkatan aktivitas lain yang menguntungkan. Oleh karena itu, perencanaan ruang terbuka hijau kota merupakan manfaat sosial yang terdiri dari surplus konsumen sekaligus juga merupakan surplus produsen, sehingga umumnya kesejahteraan (kesehatan) penduduk kota meningkat akibat lingkungan yang sehat. Pelaku-pelaku yang terlibat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau kota terdiri atas sebagai berikut : 1. a. Pemerintah Kewajiban pemerintah kota, dalam hal ini instansi/lembaga dinas pertamanan, dan dinas kehutanan adalah mengadakan dan menyelenggrakan pembangunan secara adil untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kota, termasuk di dalamnya bidang keamanan, kenyaman, dan keserasian. Apabila hal ini dikaitkan dengan jenis ruang terbuka hijau yang ada maka ruang terbuka hijau yang harus disediakan oleh pemerintah adalah ruang terbuka hijau korodor yang meliputi: jalur hijau kota dan jalur hijau jalan; ruang terbuka hijau produktif yang meliputi kawasan pertanian kota, perairan/tambak; ruang terbuka hijau konservasi yang meliputi kawasan cagar alam dan hutan kota; ruang terbuka hijau lingkungan yang meliputi kawasan taman lingkungan dan bangunan, serta permakaman, perkantoran dan kebun binatang 1. b. Swasta

Peranan swasta sebagai pelaku ekonomi kota, yang bergerak di sektor formal maupun informal, tidak secara mutlak berkewajiban untuk melaksanakan pengadaan ruang terbuka hijua kota. Melalui pertimbangan-pertimbangna tertentu serta pengkajian dari sudut pandang swasta, dapat disediakan ruang terbuka hijau yag memungkinkan untuk dikelolah oleh swasta, yaitu ruang terbuka hijau untuk keindahan/estetika; ruang terbuka hijau untuk rekreasi; ruang terbuka hijau lainnya yang dapat dikomersialkan. 1. c. Masyarakat Kota Peran serta masyarakat, baik secrara individual maupun kelembagaan terhadap ruang terbuka hijau lebih terbatas pada pemanfaatan dan pemeliharaan. Dari segi perencanaan maupun pengadaannya, peran serta masyarakat sangat kecil sekali. Hal ini disebabkan keberadaan ruang hijau kota biasanya terbentuk oleh adanya tanah kosong yang belum/tidak dimanfaatkan. Kelangsungan keberadaannya tidak dapat dijamin, sehubungan dengan sifat penguasaan tanahnya yang lebih banyak bersifat individu (bukan tanah negara). 1. d. Media Massa Media massa, baik media elektronik maupun media cetak, ikut berperan sebagai pelaku dalam pengelolaan ruang terbuka hijau, khususnya dalam menciptakan opini publik terhadap pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan. Disamping hal tersebut, fungsi media massa juga bermanfaat untuk ikut mengawasi perkembangan ruang terbuka hijau. (Sugandy, 2007 : 103-105 ) Indonesia sudah mulai menyadari bahwa untuk mencapai masyarakat perkotaan masyarakat kehidupan perkotaan yang sejahtera, kualitas lingkungan hidupnya harus baik, karena akan beperngaruh pada kualitas hidupnya (Quality Of Life). Masalah yang terkait dengan kualitas lingkungan hidup dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat kota, meliputi aspek fisik seperti kualitas udara, air, tanah; kondisi lingkungan perumahannya seperti kekumuhan, kepadatan yang tinggi, lokasi yang tidak memadai serta kulaitas dan keselamatan bangunannya; ketersediaan saran dan prasarana serta pelayanan kota lainnya; aspek sosial budaya dan ekonomi seperti kesenjangan dan ketimpangan kondisi antar golongan atau antar warga, tidak tersedianya wahana atau tempat untuk menyalurkan kebutuhankrbutuhan sosial budaya, seperti untuk berinteraksi dan mengejawantahkan aspirasi-aspirasi sosial budayanya; serta jaminan perlindungan hukum dan keamanan dalam melaksanakan kehidupannya. Kohesi sosial dan kesetaraan (Equity) merupakan faktor penting dalam kualitas hidup di perkotaan. Kekumuhan kota disebabkan karena sumber daya yang ada di kota tidak mampu melayani kebutuhan penduduk kota. Kekemuhan kota bersumber dari kemiskinan kota yang desebabkan karena kemiskinan warganya dan ketidakmampuan pemerintah kota dalam memberikan pelayanan yang memadai kepada warga masyarakatnya. Kemiskinan warga disebabkan karena tidak memiliki akses kepada mata pencaharian yang memadai untuk hidup layak, serta akses pada modal dan informasi yang terbatas. Kemiskinan ini akan berdampak pada kemampuan

warga untuk membayar pajak yang diperlukan untuk membangun fasilitas dan infrastruktur di kawasannya. Permasalahan utama prasarana dan saran perkotaan (PSP) termasuk perumahan adalah tidak memadainya suplay dibandingkan dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan terbatasnya kesempatan masyarakat untuk mendapatkan pelayan PSP yang layak. Akibat dari keterbatasan suplay dibandingkan dengan kebutuhan, maka masyarakat yang berpenghasilan rendah justru harus membayar harga mahal untuk memperoleh pelayanan PSP tersebut. Berkaitan dengan perumahannya, mereka terpaksa menggunaka lahan-lahan secara liar dengan kualitas perumahan yang jauh dibawah standar. (Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 7-8 ) 1. 3. Masalah Keamanan dan Ketertiban Perkotaan Beberapa teror bom yang terjadi di beberapa kota di Indonesia akhir-akhir ini, sperti di Bali, Jakarta dan lain-lain telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat perkotaan dan mengganggu jalannya perekonomian kota. Selain itu, beberapa kota di Indonesia juga mengalami penurunan kualitas kehidupan dengan banyaknya terjadi kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar kelompok masyarakat, seperti di Poso, Palu, Ambon, Banda Aceh dan sebagainya. Permasalahan ini diperberat dengan masalah ketertiban di perkotaan Karena tidak disiplinnya masyarakat perkotaan. Hal ini tercermin dengan jelas antara lain dalam disiplain berlalu lintas. Saat ini juga semakin sering terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah, terutama di kota-kota besar. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal seperti tidak adanya sosialisasi dari pemerintah, kurangnya pelibatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, kurangnya pemamhaman akan hak-hak dan tanggung jawab masyarakta dalm pembanguna kota dan lain sebagainaya. Semua hal tersebut diatas sangat berpengaruh pada kinerja kotanya.( Gita Chandrika Napitupulu dalam Bunga rampai, 2005 : 9-10) Kemampuan untuk membuat perencanaan yang di satu pihak memecahkan masalah urbanisasi dan dilain pihak memperkaya fungsi kota merupakan keahlian yang sangat diharapkan dari para perencana kota pada masa akan datang. Setiap kota, selain berusaha untuk meningkatkan fungsifungsi perkotaan yang bersifat standar, sebaiknya juga mengembangkan fungsi-fungsi khusus yang kompetitif secara global. Tetapi kedua hal di atas hanyalah suatu strategi umum dalam menyiasati permasalahan pengembangan kota, dan sebenarnya baru bisa terlaksana bila beberapa permaslahan pokok dari kota-kota di Indonesia telah diperbaiki secara substansial. (Santoso, 2006 : 61) 1. 4. Contoh Kasus Contoh dari hambatan pembangunan yang berkelanjutan akibat kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup, yaitu yang terjadi di Kacamata Tambora, kotamadya Jakarta Barat (melalui penelitian yang dilakukan pada tahun 2002-2003). Kecamatan Tambora adalah kecamatan yang berkepadatan penduduk tertinggi di DKI Jakarta, yaitu lebih dari 500 orang per hektar, memiliki permukiman kumuh atau buruk yang sangat luas dan kemiskinan yang sangat signifikan. Evaluasi yang dilakukan berdasarkan Perhitungan criteria pembangunan yang berkelanjutan di

Daftar Pustaka http://id. E. dapat dilihat pada kondisi air. 1. yang merupakan faktor ekologis sebuah kota. tetapi juga akan mempengs\aruhi sub-sub sistem lain yang membentuk kawasan itu Berdasarkan kesimpulan diatas. keamanan dan ketertiban kota. dan sebagainya. serta sebagai akibat tidak berfungsinya pengelolaan sampah dan limbah air kota.wikipedia. seperti kecoa. tikus. nyamuk. subsistem Kecamatan Tambora tersebut diatas.org/wiki/Pembangunan_berkelanjutan http://muhlissuhaeri. maka adapun saran bagi pemerintah agar dapat menerapkan sistem pembangunan yang berkelanjutan seperti di negara-negara maju lainnya dengan jalan menanggulangi kemiskinan serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta keamanan dan ketertiban di perkotaan guna menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya di Indonesia sehingga dapat dirasakan bukan hanya untuk di masa sekarang melainkanjuga untuk generasi yang akan datang. lalat. Kesimpulan dan Saran Dari hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan: 1. F. tercemar. dalam kasus Kecamatan Tambora. Ancaman itu tidak hanya terjadi di dalam kawasan atau subsistem Kecamatan Tambora saja. 2. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. tanah. 1.com/2007/06/bagaimana-konsep-pembangunan-kota-harus . Ancaman tersebut tidak hanya terjadi di kawasan itu saja. kerusakan lingkungan hidup. dan udara yang telah tercemar. Bahwa hambatan dalam pencapaian pembangunan yang berkelanjutan adalah kemiskinan. Hal itu tentunya juga mengancam subsistem-subsistem lain dalam system kota Jakarta. dapat dikelompokkan dalam tiga dimensi yang saling berinteraksi terus menerus.perkotaan (3 PRO) terhadap kecamatan itu memperlihatkan bahwa proses tidak berkelanjutan sedang berlangsung. Tumpukan sampah di TPS juga merupakan sumber berkembangnya vektor-vektor penyakit. itu merupakan ancaman terhadap proses pembangunan berkelanjutan. tetapi juga akan mempengaruhi subsistem-subsistem lain yang membentuk kota Jakarta. 3. Pencemaran itu disebabkan oleh berbagai sumber didalam dan luar Kota Jakarta. yaitu dimensi social ekonomi dan lingkungan. Bahwa masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadidi suatu kawasan tertentu memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses tidak berkelanjutan.blogspot. tercemar. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. dll. karena komponen-komponen pembentukan yang membentuk jaringan. Kemiskinan dan fungsi-fungsi lingkungan hidup yang telah hilang atau rusak. Kondisi lingkungan pemukiman buruk atau kumuh seperti diuraikan diatas memperlihatkan bahwa kawasan itu sedang dalam proses yang tidak berkelanjutan. Kerusakan lingkungan.

Bunga, Rampai. 2005. Pembangunan Kota Indonesia Dalam Abad 21, Konsep dan Pedekatan Pembangunan Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI Santoso, Jo. 2006. Menyiasati Kota Tanpa Warga. Gramedia :Jakarta Soefaat. 1999. Hubungan Fungsional Teknik Sipil dengan Tata Ruang Kota dan Daerah Jilid 1. PT. Mediatama Saptakarya : Bandung Soemarwoto, Otto. 1983. Ekologi Lingkungan hidup dan Pembangunan. Djambatan : Jakarta Sugandhy, Aca dan Hakim, Rustam. 2007. Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan. Bumi Aksara Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat, kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial. PT. Refika Aditama: Bandung. Comments: Be the first to comment

ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA PERMUKIMAN DI KAWASAN TANJUNG BUNGA MAKASSAR
Posted December 28, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

Oleh: Syahriar Tato ABSTRAK Pada suatu lingkungan permukiman keberadaan sarana dan prasarana merupakan ukuran standar kelayakan dalam artian lingkungan permukiman yang dilengkapi sarana dan prasarana (utilitas) yang memadai cenderung akan mengalami peningkatan taraf kesejahteraan. Hal ini cukup beralasan seperti keberadaan jalan-jalan penghubung ke daerah sekitar maupun ke pusat kota akan terjadi kemudahan akses interaksi dengan lingkungan permukiman sekitarnya maupun ke kawasan-kawasan utama pada daerah perkotaan. Disisi lain keberadaan sarana dan prasarana yang ada di lingkungan permukiman akan memacu pula peningkatan aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi. Seperti keberadaan sarana jasa dan perdagangan akan memacu kelancaran distribusi barang dan jasa dari dalam ke luar, keberadaan sarana kesehatan akan terjadi peningkatan mutu kesehatan masyarakat, dan keberadaan sarana pendidikan yang memacu perubahan pola pikir dalam menumbuhkan kemandirian.

1. A. PENDAHULUAN Perkembangan jumlah penduduk pada daerah perkotaan yang disertai dengan peningkatan arus urbanisasi membawa perubahan besar pada kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan

papan beserta fasilitas penunjangnya. Kebutuhan dasar tersebut terus meningkat secara alamiah seiring kompleksitasnya kebutuhan hidup bermasyarakat, seperti kebutuhan untuk aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, dan aktivitas pelayanan umum. Dari fenomena tersebut menuntut pula pembangunan sarana dan prasarana di daerah perkotaan sebagai pengejewantahan menjaga kelangsungan hidup masyarakat di daerah perkotaan dalam rangka menuju kota berkelanjutan (sustainable cityes). Menurut Jayadinata J.T, (1999:31) mengatakan bahwa dalam meningkatkan perkembangan kegiatan sosial dan ekonomi, sarana dan prasarana merupakan hal yang penting. Untuk itu perhatian sejak dini dalam hal pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi pembangunannya baik dari segi pembangunan kuantitas sarana dan prasarana yang ada maupun kualitas pelayanannya. Namun upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana di daerah perkotaan bukanlah hal semudah membalikkan telapak tangan. Kendala dan sejumlah permasalahan dalam hal pemenuhan dan distribusinya menuntut tanggung jawab bersama ketiga komponen pembangunan yaitu pemerintah (penentu kebijakan), masyarakat (pengguna) dan pihak swasta (developer). Dari segi pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana fenomena-fenomena umum yang menjadi kendala utama yaitu harga lahan di perkotaan semakin tinggi, kurangnya ketersediaan lahan, kurangnya partisipasi masyarakat baik dalam bentuk swadaya maupun pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada, dan lain sebagainya, sedangkan ditinjau dari segi distribusi yaitu pemerataan sarana dan prasarana yang menimbulkan kesenjangan sosial antara kawasan pusat kota dan kawasan pinggiran kota. Kota Makassar sebagai salah satu kota dengan pelayanan jasa, sosial, ekonomi terbesar pada Kawasan Timur Indonesia (KTI) memberikan andil yang cukup besar dalam memicu perkembangan kota-kota lain yang berada di wilayah timur Indonesia umumnya dan bagi daerah hinterlandnya. Kota Makassar dalam Rencana Umum Tata Ruang terdiri atas bagian wilayah kota (BWK) yang membentuk fungsi kawasan-kawasan dan tersebar di seluruh Kota Makassar. Antaranya kawasan pendidikan, kawasan jasa dan perdagangan, kawasan industri, kawasan perkantoran, kawasan permukiman dan kawasan rekerasi/hiburan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang mendukung kelancaran aktivitas masyarakat. Di era globalisasi pembangunan perumahan di Kota Makassar terjadi perkembangan yang cukup pesat seiring dengan permintaan kebutuhan akan papan sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk. Implikasi dari pembangunan perumahan tersebut menuntut pula ketersediaan sarana dan prasarana perumahan. Kawasan Tanjung Bunga secara geografis terletak di sekitar ± 5 km sebelah barat daya dari jantung Kota Makassar yang merupakan daerah pesisir pantai Selat Makassar yang membentang sepanjang ± 8 km, yang pengembangannya di mulai sejak tahun 1997 secara fisik maupun non fisik. Ditinjau dari topografi Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah yang berdataran rendah dan juga termasuk daerah perairan karena merupakan daerah hilir aliran Sungai Jeneberang. Pembangunan pada Kawasan Tanjung Bunga perpaduan antara pariwisata, olah raga, bisnis, dan permukiman di atas lahan seluas ± 1000 ha, sedangkan tahap awal pembangunannya di mulai dari pembangunan pusat kawasan yaitu pada Kelurahan Tanjung Merdeka, dimana pembangunan

itu berupa pembangunan perumahan yang terdiri dari beberapa kompleks perumahan seluas 340 Ha, pembangunan ruko sebagai fasilitas perdagangan, pembangunan jalan akses dari dan ke Kota Makassar dan Kabupaten Gowa (PT. GMTD, Tbk, 2005). Kawasan Tanjung Bunga merupakan daerah pengembangan wilayah kota (BWK) C Kota Makassar yang memiliki fungsi utama sebagai rekreasi pantai dan jasa pariwisata, pusat perdagangan dan jasa sosial dengan fungsi penunjang pemerintahan Kota, perdagangan, permukiman, pendidikan, dan transportasi (revisi RUTRK Kota Makassar, 2001). 1. B. TUJUAN DAN KEGUNAAN 2. 1. TUJUAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui ketersediaan sarana saat ini dan yang akan datang di Kawasan Tanjung Bunga 1. 2. KEGUNAAN
  

Sebagai bahan masukan bagi swasta (developer) yaitu PT. GMTD, Tbk dalam hal penyediaan kebutuhan sarana di Kawasan Tanjung Bunga . Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya khususnya bagi pengembangan disiplin ilmu perencanaan wilayah dan kota

1. C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada ketersediaan dan banyaknya Kebutuhan akan 1. D. METODE PENULISAN 1. a. Dalam melakukan penelitian diperlukan penetapan lokasi sebagai upaya pemecahan masalah sesuai dengan tujuan penlitian dan ditetapkan Lokasi GMTDC TANJUNG BUNGA. 2. b. Melakukan proses pendataan baik berupa data primer maupun data sekunder dengan melakukan teknik observasi, kuisoner maupun kunjungan lembaga atau instansis. 3. c. Dalam melakukan proses analisa digunakan analisis bunga berganda dalam memproyeksi tingkat kebutuhan sarana. 1. E. ANALISIS 2. a. Analisis Aspek Kependudukan Dari hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan metode bunga berganda, maka perkembangan jumlah penduduk di Kawasan Tanjung Bunga dapat diasumsikan yaitu jumlah penduduk 10 (sepuluh) tahun kedepan 2005 – 2010 dengan menggunakan metode bunga berganda, maka akan diperoleh jumlah penduduk sebesar 32.737 jiwa. 1. b. Analsisis Ketersediaan Sarana Dan Prasarana

2. Sekolah Dasar (SD) penambahan sebanyak 19 (sembilan belas) unit dengan kebutuhan lahan 28. maka masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga yang hendak beribadah harus ke luar untuk mencari tempat beribadah. pemerintah mengupayakan program pendidikan bagi masyarakat baik secara formal maupun informal.5 ha. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Sedangkan untuk pendidikan formal pemerintah telah menyediakan jenjang pendidikan yang di mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak. yang mana pendidikan informal dapat ditempuh melalui kursus. Sekolah Dasar. Cipta Karya Dep. PU. Analisis Sarana Peribadatan Dalam melaksanakan ritual keagamaan berupa ibadah menurut agama dan kepercayaan yang dianut. Tahun 1979 dapat dilihat bahwa untuk kebutuhan Taman kanak-kanak (TK) yang ada saat ini perlu adanya penambahan begitu pula dengan Sekolah Dasar (SD) sedangkan untuk sarana pendidikan lainnya yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui tingkat pendidikan di daerah/kawasan tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut. merupakan wujud kepercayaan terhadap Tuhan YME. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) pada saat ini kurang memadai sedangkan Perguruan Tinggi (PT) tidak perlu mengalami penambahan. Dengan kondisi yang ada maka untuk ketersediaan sarana peribadatan yang ada saat ini masih belum memadai yaitu berupa sarana langgar serta belum adanya mesjid di Kawasan Tanjung sehingga dalam melaksanakan kewajiban yang berupa Shalat Jumat. 1. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas serta Perguruan Tinggi. Cipta Karya Dep. Tahun 1979. Hasil analisis evaluasi ketersediaan sarana pendidikan di atas berdasarkan standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan sekolah yang dikelola oleh pihak swasta dan memiliki sejumlah fasilitas yang ada di dalamnya yang berupa Laboratorium Bahasa Inggris. 1. diperlukan ketersediaan fasilitas peribadatan berupa tempat ibadah bagi masing-masing pemeluk agama. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) perlu penambahan sebanyak 5 (lima) unit dengan kebutuhan lahan 50 ha serta Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) penambahan sebanyak 5 (lima) dengan kebutuhan lahan 100 ha. Analisis Sarana Pendidikan Ketersediaan fasilitas pendidikan. Kebutuhan sarana pendidikan 10 (sepuluh) tahun ke depan untuk sarana pendidikan berupa : Taman Kanak-Kanak (TK) perlu adanya penambahan sebanyak 30 (tiga puluh) unit dengan kebutuhan lahan 36 ha.Analisis kebutuhan akan sarana pendidikan diadasarkan pada kondisi real dimana hal tersebut belum memadai yang perhitungannya didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh Ditjen. Untuk dapat melaksanakan kegiatan keagamaan tersebut. PU. Sarana pendidikan yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan satu kompleks. . 1. pelatihan dan pembinaan. Komputer dan IPA.

4. Analisis Sarana Perdagangan dan Jasa Sedangkan untuk ketersediaan sarana perdagangan pada tahun proyeksi yaitu tahun 2015 masih membutuhkan pengadaan jenis sarana seperti pusat perbelanjaan lingkungan yang berupa minimarket yaitu sebanyak 1 (satu) unit yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga sedangkan untuk jenis sarana perdagangan yang berupa toko/warung perlu adanya penambahan yang mana sarana tersebut bergabung dengan permukiman Berdasarkan jumlah penduduk yang ada saat ini dengan memperhatikan standar perencanaan yang baku yang dikeluarkan oleh Ditjen Cipta Karya Dep. Tbk sebagai pengelola kawasan terpadu ini. Apotek. 1. Poliklinik. kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga dan di daerah sekitarnya. 3.Untuk ketersediaan 10 (sepuluh) tahun ke depan mengenai fasilitas peribadatan diperkirakan masih membutuhkan penambahan jumlah maupun pengadaan unit yaitu. GMTD. Rumah Sakit Bersalin/BKIA sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 1. sedangkan Praktek Dokter. Apotek sebanyak 1 (satu) dengan kebutuhan lahan 0.7 ha. Praktek Dokter. dan pertokoan (ruko).35 ha. Maka yang tidak memadai yaitu Toko/Warung dan untuk sarana perbelanjaan yang berskala lingkungan seperti minimarket saat ini belum ada.3 ha sedangkan untuk sarana Masjid untuk tahun 2015 perlu adanya pengadaan dengan melihat kondisi yang akan datang. sedangkan untuk sarana yang lainnya sudah memadai seperti pusat perbelanjaan dan niaga. sarana Langgar/Surau mengalami penambahan 11 (sebelas) unit dengan kebutuhan lahan 3. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA : Ketersediaan sarana kesehatan yang ada saat ini yang berupa. yang indikator pentingnya yaitu tersedianya sarana kesehatan yang berupa . Apotek. Analisis Sarana Kesehatan Untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat. Disamping itu Pusat Perbelanjaan & Niaga (Mall) yang ada di Kawasan Tanjung Bunga merupakan Pusat Perbelanjaan dan Niaga (Mall) yang berskala regional yang melayani kebutuhan warga masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya dan di Kota Makassar pada umumnya yang dikenal dengan nama Grade Trade Center (GTC). maka beberapa jenis sarana kesehatan masih memerlukan beberapa penambahan yakni diantaranya. Selain itu juga nantinya akan diadakan pembangunan Masjid dan Gereja yang berskala kawasan yang melayani. dan nantinya di Kawasan Tanjung Bunga akan dilengkapi dengan Rumah Sakit type A yang sesuai dari perencanaan PT. Tahun 1979. PU.6 ha. dan Rumah Sakit Bersalin/BKIA yang ada saat ini masih memadai dengan melihat kondisi kependudukan serta standar perencanaan. Dengan kondisi yang mana berdasarkan standar perencanaan dan hasil proyeksi jumlah penduduk. diperlukan peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. . Poliklinik tidak memadai dengan melihat jumlah penduduk yang ada saat ini. Poliklinik sebanyak 9 (sembilan) dengan kebutuhan lahan 2. Selain penambahan dan pengadaan unitnya diperlukan juga pemeliharaan dan peningkatan pelayanannya terhadap masyarakat yang bermukim di Kawasan Tanjung Bunga maupun di daerah sekitarnya. Praktek Dokter sebanyak 5 (lima). 1.

1. sedangkan untuk sarana rekreasi yang berupa rekreasi pantai yang dikenal dengan Akkarena dengan skala pelayanan yang bersifat regional pada umumnya dan Kawasan Tanjung Bunga pada khususnya serta taman bermain yang terletak dilingkungan hunian yang ada di Kawasan tanjung Bunga.GMTD. selain itu mungkin perlu adanya peningkatan di segi pelayanannya utamanya perkantoran yang bersifat memberikan pelayanan ke publik. Tahun 1979. dan Stadion Dayung yang merupakan sarana olah raga yang bersifat nasional karena ditempat tersebut sering diadakan kegiatan yang bersifat nasional. fasilitas perdagangan dan jasa juga merupakan suatu indikator dalam menentukan perkembangan tingkat perekonomian suatu wilayah. Sehingga sarana olah raga dan rekreasi sangat penting untuk menunjang suatu kawasan. dimana ketersediaan sarana perdagangan dan jasa sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk melihat kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini dengan menggunakan jumlah penduduk yang ada saat ini serta melihat standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Ditjen. karena sesuai dengan fungsi sarana tersebut merupakan tempat untuk melakukan aktivitas yang memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita sehari-hari dan sebagai sarana untuk melepas lelah di dalam aktivitas kita seharian. Analisis Sarana Olah Raga Dan Rekreasi Untuk sarana olah raga dan rekreasi merupakan sarana yang cukup penting dalam menciptakan manusia yang sehat jasmani maupun rohani. dan Kantor Kelurahan Tanjung Merdeka yang pelayanannya berskala lokal sebagai fungsi sekunder. sedangkan swasta yang berupa Kantor Manajemen PT.Ketersediaan sarana perdagangan dan jasa merupakan aspek yang cukup esensial dalam perkembangan suatu kota atau wilayah. Cipta Karya Dep. Selain itu terdapat baruga atau balai pertemuan yang melayani kebutuhan masyarakat di Kawasan Tanjung Bunga untuk kegiatan atau pertemuan antar warga yang terletak di salah satu kawasan hunian yaitu perumahan taman Toraja. Baruga dan Stadion Dayung tidak mengalami penambahan melainkan butuh adanya peningkatan kondisi dari pada sarana tersebut sedangkan untuk sarana rekreasi juga tidak mengalami penambahan tetapi memperbaiki kondisi serta . Untuk mengetahui kebutuhan sarana olahraga dan rekreasi untuk tahun 2015 adalah sebagai berikut sarana olahraga Lapangan Bulutangkis. Tbk. 6. 5. Maka segala kebutuhan sarana perkantoran yang ada saat ini sudah memadai. Analisis Sarana Perkantoran Sarana perkantoran merupakan sarana sosial yang menunjang aktivitas di Kawasan Tanjung Bunga dengan melihat fungsi pelayanan dari pada sarana tersebut seperti Kantor Pemerintah yang berupa Kantor Kecamatan Tamalate yang berskala kawasan sebagai fungsi primer. Untuk sarana perkantoran yang telah ada saat ini tidak perlu mengalami penambahan melainkan perlu adanya peningkatan dari segi tingkat pelayanannya 1. Kebutuhan sarana olah raga dan rekreasi untuk ketersediaan saat ini di Kawasan Tanjung Bunga sudah memadai yang berupa sarana olah raga yang meliputi: Lapangan Bulutangkis. PU.

d. kurang memadai (kurang baik) dalam artian kurang memiliki tingkat ketersediaan. 1. Analisis Sarana Dengan Menggunakan Metode Pembobotan Untuk Meninjau Ketersediaan Sarana yang Ada Saat ini di Kawasan Tanjung Bunga Analisis sarana dengan metode pembobotan disini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai. 1. GMTD. Sedangkan untuk sarana lainnya sudah sesuai dengan peruntukkannya yang sudah mengacu pada master plan di Kawasan Tanjung Bunga. c. sarana kesehatan yang berupa BKIA (Rumah Sakit Bersalin). Tbk yaitu sarana pendidikan yang berupa Taman Kanak-Kanak (TK). 1. 1. dimana dari nilai bobot inidiidentifikasi terdapat tiga kategori yaitu memadai (baik) dalam artian memiliki tingkat ketersediaan. Analisis Aspek Sarana di Tinjau dari Master Plan Kawasan Tanjung Bunga Analisis aspek sarana ditinjau dari master plan dimaksud untuk melihat apakah peruntukkan sarana yang terbangun sesuai dengan fungsi peruntukkannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari hasil peta over lay tinjauan eksisting sarana dengan master plan Kawasan Tanjung Bunga berikut. dan tidak memadai (tidak baik) dalam artian belum memiliki tingkat ketersediaan. Sarana Pendidikan Tabel 01 Hasil Pembobotan Sarana Pendidikan Indikator Tingkat Pelayanan yang Skori Bob Standar Nil Sesuai Nil Nil ng ot Perencana Master Plan ai Persepsi/Masyarakat/Resp ai ai an onden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 1 unit tidak 3 1  Tingkat pencapaian sesuai Pendidikan. Tbk.mengembangkan yang telah ada sesuai dengan perkembangan kedepan nantinya. Dari tabel hasil over lay di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa sarana yang ada saat ini tidak sesuai dengan peruntukkannya yaitu tidak berdasarkan dengan master plan yang dikeluarkan oleh PT. GMTD. Adapun pemboboton disini didasarkan pada variabel yang telah ditetapkan dan dijabarkan dalam sub variabel sesuai dengan klasifikasi untuk masing-masing eksisting sarana yang ada di Kawasan Tanjung Bunga. selain sarana tersebut sarana yang berupa taman yang merupakan sarana daripada kawasan hunian yang ada di Kawasan Tanjung Bunga perlu adanya penambahan sebanyak 10 (sepuluh). hal ini di karenakan kawasan ini merupakan kawasan yang berbasis daerah pariwisata sesuai dengan peruntukannya dalam RUTR Kota Makassar. penduduk N Variabel o . serta sarana perkantoran swasta yang berupa Kantor Manajemen PT. dimana hal ini mempunyai sasaran terwujudnya tingkat pencapaian sesuai dengan kawasan perencanaan dan untuk mengantisipasi impak dari pergerakan sebagai bangkitan yang berpengaruh terhadap permasalahan transportasi kedepannya serta permasalahan lingkungan lainnya.

6 3 6  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 3 fungsi peruntukann 5 ya 4.    4. Asumsi pembobotan yaitu.66 2.33 Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. TK pendukung minimum  Kondisi 4 5 dengan fungsi peruntukkan ya dan 1 unit sudah sesuai dengan fungsi peruntukkan nya 8. 2. Sarana Peribadatan Tabel 02 .11 13 4.33 4.66 12.66 Jumlah  1 SD Jumlah 1 penduduk pendukung minimum 1 3 Jumlah  SLTP Jumlah penduduk pendukun g minimum Jumlah  3 SMU Jumlah 3 penduduk pendukun g minimum Jumlah 3 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .3 5 3  Tingkat kebutuhan 5 Sesuai 5  Tingkat pencapaian dengan  Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11 3.

3. Sarana Kesehatan Tabel 03 Hasil Pembobotan Sarana Kesehatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1 penduduk  Tingkat pencapaian Kesehatan. Asumsi pembobotan yaitu.Hasil Pembobotan Sarana Peribadatan Indikator Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 1  Tingkat pencapaian Peribadatan.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. pendukun  Kondisi  Poliklini g minimum k N Variabel o Jumlah  Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya 5 5 11 3.66 Praktek Jumlah penduduk 1 5   5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Sesuai dengan .33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . penduduk pendukun  Kondisi  Musholla g minimum h N Variabel o Jumlah 1 Nil Master ai Plan 1 1 1 1 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukan nya 5 7 2.

3 5 3 Tingkat kebutuhan 1 Tidak sesuai 1 Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 14.33 4. Tingkat Pelayanan yang Standar Nil Sesuai Perencan ai Persepsi/Masyarakat/Res aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 5 penduduk  Tingkat pencapaian pendukun  Kondisi g minimum Nil Master ai Plan 5 5 5 Skori Bob Nil ng ot ai Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan nya . Sarana Perdagangan dan Jasa Tabel 04 Hasil Pembobotan Sarana Perdagangan Dan Jasa Indikator N Variabel o 1 Sarana Perdagangan dan Jasa.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan . Asumsi pembobotan yaitu.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1.  Pst.33 Jumlah  Apotek Jumlah penduduk pendukun g minimum    Jumlah  5 BKIA/ Rumah sakit bersalin Jumlah 5 penduduk pendukun g minimum 5    Jumlah 5 4.dokter pendukun g minimum 5 5  Kondisi 3 3 3 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 fungsi peruntukann ya 5 5 13 4. 4.77 7 2.

penduduk pendukung  Kondisi  Kantor minimum N Variabel o Nil ai Master Plan 3 1 Nil Skori Bob ai ng ot Sesuai 5 dengan fungsi peruntukkan .33 3.Perbelan jaan & Jasa (mall) Jumlah  Pertokoa Jumlah n (ruko) penduduk pendukun g minimum · Jumlah Toko/war penduduk ung pendukun g minimum 5 5    5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 3 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 4.33 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .3 3 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 15 5 Jumlah  5 1    5 5 15 5 Jumlah 1 5 10. Sarana Perkantoran Tabel 05 Hasil Pembobotan Sarana Perkantoran Indikator Nil Tingkat Pelayanan yang Standar ai Sesuai Perencana Persepsi/Masyarakat/Res an ponden 1 Sarana Jumlah  Tingkat kebutuhan 5  Tingkat pencapaian Perkantoran. 5.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. Asumsi pembobotan yaitu.

Kecam atan Jumlah  1 nya 5 Kantor Jumlah 5 Lurah penduduk pendukung minimum 5 Ktr.66 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 1. Sarana Olahraga & Rekreasi Tabel 06 Hasil Pembobotan Sarana Olahraga & Rekreasi Indikator N Variabel o 1 Sarana Olahraga & Rekreasi. Jumlah 5 Manaje penduduk men pendukun PT. 6.6 6 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 1 fungsi peruntukann 1 ya 1.66 3. Tbk 5       Jumlah  1.88 5 1 11.6 6 Tingkat kebutuhan 5 Tidak sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukann 5 ya 5 5 11. g GMTD minimum . Asumsi pembobotan yaitu. Nil Tingkat Pelayanan yang Nil Standar ai Sesuai ai Master Perencan Persepsi/Masyarakat/Res Plan aan ponden Jumlah  Tingkat kebutuhan 3 Sesuai 5 penduduk  Tingkat pencapaian dengan pendukung fungsi Nil Skori Bob ai ng ot 5 .66 3.88 Jumlah 5 1 11 3.

55 5 5 15 5 5 15 5 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 Keterangan .6 6 Tingkat kebutuhan 5 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 Tingkat kebutuhan 3 Sesuai Tingkat pencapaian dengan Kondisi 5 fungsi peruntukkan 5 nya 5 5 5 13.    Memadai (baik) = 5 Kurang memadai (kurang baik) = 3 Tidak Memadai (tidak baik) = 1 Tabel 07 Nilai Bobot Aspek Sarana Ditinjau Dari Standar Indeks Bobot Kualitatif Dan Kuantitatif .66 4.33 Jumlah  Baruga Jumlah penduduk pendukung minimum 5 5    5 5 15 5 Jumlah  5 Pantai Jumlah 5 Akkare penduduk na pendukung minimum 5 5     Taman Jumlah penduduk pendukung minimum    Jumlah 5 5 3. Asumsi pembobotan yaitu. Bulutan gkis 5 5 peruntukkan nya Jumlah  Dayung Jumlah penduduk pendukung minimum    3 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 5 5 5 Tingkat kebutuhan 5 Tingkat pencapaian Kondisi 1 Sesuai dengan fungsi peruntukann ya Sesuai dengan fungsi peruntukann ya 5 5 13 4.minimum   Kondisi 1 5 Lap.

88 3.   3.11 4.No Variabel Sarana Pendidikan. 4.     3.77 2.33 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai Kurang memadai Memadai Memadai Memadai 3 Poliklinik Praktek dokter Apotek BKIA/rumah sakit bersalin Sarana Perdagangan dan Jasa.66 4. 2  Musholla Sarana Kesehatan.  Nilai Bobot 2.33 7     Memadai Memadai Memadai Lap.66 4.33 2.55 . Tbk Sarana Olahraga Dan Rekreasi.88 3.66 >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Memadai Memadai Memadai 5 Kantor kecamatan Kantor lurah o Kantor manajemen PT.33 5 5 3. GMTD.66 3. Bulutangkis Dayung Baruga Pantai Akkarena 5 4.33 Indeks Bobot Kuantitatif >3–5 >1 – 3 1 >3–5 >1 – 3 1 Indeks Bobot Kualitatif Kurang Memadai Memadai Memadai Memadai Kurang Memadai TK SD SLTP SMU 1    Sarana Peribadatan.  4   Pusat perbelanjaan dan niaga (Mall) Pertokoan (ruko) Toko/Warung Sarana Perkantoran.33 4.

1998. Comments: Be the first to comment pengelolaan sampah Posted December 24. dan Riyadi. Revisi Rencana Umum Tata Ruang Kota Makassar. 1996.S. Eko. Jakarta : Penerbit PT. Penataan Ruang Untuk Pembangunan Wilayah Penerbit Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin Bratakusumah S. Bandung: Penerbit Alumni. M. R. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan & Wilayah.). Poerwadarminta.J. Kamus Tata Ruang. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Comments: Be the first to comment STUDI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH . 1999. J. Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota. Perspektif Lingkungan Desa – Kota. Tata Ruang Perkotaan. 1997. Koestoer H. Perencanaan Pembangunan Daerah. Badan Perencanaan Daerah. ———— H. 2001. 2004. Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum W. Jakarta Jayadinata. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Budihardjo. Jakarta PN Balai Pustaka. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. 2001. Bandung: Penerbit ITB Bandung. DAFTAR PUSTAKA Amien.55 Memadai Memadai Sumber : Hasil Analisis Tahun 2005 F. T. D. 1997. Jakarta Penerbit Universitas Indonesia. 1985. Taman 5 4. Dimensi Keruangan Kota. 1979. Gramedia Pustaka Utama. et al (ed. R. Departemen PU Direktorat Jenderal Cipta Karya.

BOD5.31 m3/hari. it is apparent that the distance. topographical. and geological conditions have an effect on water pollution in the dumping site and its vicinity. and physical conditions of the town spatial arrangement. The land use condition is relatively heterogeneous around the dumping site and there is no relationship between the components of space function. Coli Bacteria around the location is not only affected by the existence of the dumping site. Efektifitas penggunaan metode tersebut harus mempertimbangkan aspek kondisi fisik TPA. and E. but also by other factors such as the activities of the community around the location. Based on BOD5 and content of E. kemampuan pendanaan. it tends to increase significantly. Kebijakan pemerintah Kabupaten Enrekang dalam pengolahan TPA sampah yaitu menggunakan metode Lahan Urug Terkendali (Controlled Landfill). The dumping site is not suitable viewed from the aspect of spatial arrangement. geological. This condition indicates that the E. kemudian pada Tahun 2002 menjadi 34. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstract The aim of the study was to find out the physical characteristics of the final dumping site and its suitability with the concept of spatial arrangement and its impact on the quality of water around it.72 %/tahun). jenis dan karakteristik sampah. but at samples S15-S24. The effect of E. The study was descriptive. dan prasarana pendukungnya . Coli Bacteria on the distance (S1S14) of the dumping site indicates that the decrease tends to be linear. A. The variables studied were topographical. hydrological. Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang. land use around it. I.Posted December 24. accecibility.77 m3/hari ( meningkat rata-rata sebesar 3. yang berpengaruh terhadap meningkatnya produksi sampah di kota tersebut. PENDAHULUAN 1. Coli Bacteria. Coli Bacteria. Latar Belakang Kota Enrekang mengalami perkembangan yang pesat. produksi sampah Tahun 1997 di Kota Enrekang sebesar 29. Prinsip pengolahan metode Lahan Urug Terkendali adalah secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah kemudian dilakukan perataan dan pemadatan sampah. The results of the study indicate that the physical characteristics of the final dumping site support the permeation of leaches toward the river and settlement area in the western part of the location.

Untuk mengetahui dan menjelaskan karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. 1. serta pencemaran tanah. 1997). Kegunaan Penelitian 1. seperti terbentuknya rembesan lindi yang dapat mencemari air permukaan dan air tanah dangkal.(Notoatmodjo. 2. 3. Lebih lanjut Yuliana menyimpulkan bahwa kondisi kualitas air sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang relatif berbau dan berubah warna terutama sumur-sumur yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi TPA. D. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Sampah . Mempertimbangkan jenis sampah di Kota Enrekang. dan kabupaten lainnya secara umum. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh TPA Sampah Kabupaten Enrekang terhadap pencemaran air lingkungan di sekitarnya. maka di dalam penelitian tersebut disarankan pengolahan sampah dilakukan dengan pengomposan. 3. Sebagai salah satu masukan dalam penentuan lokasi TPA di Kabupaten Enrekang. 2. Apakah penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang sesuai dengan konsep penataan ruang? 3. Indikasi tersebut lebih dipertegas dari penelitian terdahulu yang dilakukan di TPA Tamangapa oleh (Arifin 2001) yang menyimpulkan bahwa rembesan lindi yang keluar dari timbunan sampah membentuk alur yang mencemari air permukaan dan air tanah dangkal sekitar TPA. 2. B. Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek tersebut akan menimbulkan pencemaran lingkungan di sekitarnya. II. penelitian yang dilakukan oleh (Yuliana 2001) menunjukan bahwa beberapa sumur di sekitar TPA Kabupaten Enrekang kondisi airnya berbau. A. Tujuan Penelitian 1. Sejalan dengan itu. Untuk mengetahui dan menjelaskan kesesuaian penempatan TPA sampah Kabupaten Enrekang di tinjau dari aspek penataan ruang kota. Bagaimana karakteristik fisik lokasi TPA sampah di Desa Batu Mila Kabupaten Enrekang ? 2. S. Sebagai salah satu masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya di bidang persampahan. Apakah TPA sampah Kabupaten Enrekang mencemari air lingkungan di sekitarnya ? C. Perumusan Masalah 1. Sebagai salah satu masukan dalam pengolahan TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Juga disimpulkan bahwa penyakit diare dan kudis yang menjadi keluhan masyarakat sejak pertengahan Tahun 2000 disebabkan oleh pencemaran air akibat rembesan air lindi dari TPA tersebut. serta polusi udara. 1.

Pekerjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi. cara pembuangan akhir sampah merupakan salah satu aspek strategis dalam sistem pengolahan sampah. 1. yang dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Inceneration. tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang. Timbulan Sampah (Waste Generation) Pewadahan (Onside Storange) pengumpulan (Collection) Pemindahan dan Pengangkutan (Transfer dan Transport) Pemanfaatan Kembali (Procesing dan Recovery) Pembuangan Sampah (Disposal) C. 3. 6. Composting: cara pengolahan sampah untuk kebutuhan pupuk tanaman. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. 2. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah upaya yang sering dilakukan dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi operasional. setiap orang atau rumah tangga membakar sendiri sampahnya.Menurut American Public Health Association. Sanitary Landfill: metode ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan kemudian ditutup dengan tanah. 5. merupakan cara pembuangan sederhana di mana sampah hanya dibuang pada suatu lokasi. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut. 4. 7. sampah (waste) diartikan sebagai suatu yang tidak digunakan. 3. terdapat enam aktifitas yang terorganisir di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah. Menurut Madelan (1997). tidak dipakai. 4. 5. Pengolahan TPA Sampah Menurut Ryadi (1986). 6. Beberapa metode pengolahan sampah dalam penerapannya adalah sebagai berikut. 1. . berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Menurut Mustofa (2000) sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian. 1. Open Dumping atau pembuangan terbuka. sebagai berikut. 2. Controlled Landfill: Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk menghindari potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh. B. cara ini dilakukan dengan cara membakar sampah. Individual Inceneration. maka sampah didefinisikan sebagai suatu zat atau benda-benda yang tidak terpakai lagi yang bersumber dari aktivitas manusia dan proses alam baik yang bersifat zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan. barang rusak atau bercacat dalam pembikinan atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan.

perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah limbah padat (sampah) sampai ke TPA dengan memanfaatkan kembali limbah padat tersebut melalui daur ulang dan sistem pengomposan. Kepadatan penduduk rendah. 1. 4. status tanah tidak bervariasi. Utilitas. berdasarkan pedoman penyusunan tata ruang wilayah dan kota Tahun 1997. dijelaskan kriteria pemilihan lokasi TPA sebagai berikut. Biaya pengelolaan dan pengolahan yang murah. kertas. 7. jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter dari hilir aliran. arah angin dominan tidak menuju kepermukiman. Kriteria Regional. 1. namun karena sampah yang dihasilkan terus bertambah. kapasitas besar. Hog Feeding: cara pengolahan dengan sengaja mengumpulkan jenis sampah basah (gerbage) untuk digunakan sebagai makanan ternak. 5. Pemilihan Lokasi TPA Sampah Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 125/KPTS/1991 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah.000 mtr. yaitu tidak berlokasi pada daerah besar yang aktif dan bukan pada zona bahaya geologi. Kondisi tanah meliputi: produktifitas tanah rendah. Sejalan dengan itu. Kondisi hidrogeologi. 2. Memiliki zona penyangga yang cukup. Kriteria penyisih yaitu kriteria untuk memilih lokasi terbaik yaitu dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut. Oleh karena itu. tersedia lebih lengkap. 8. tangkapan air. 1. Iklim yang meliputi: intensitas hujan kecil. 3. 1. Di luar kawasan lindung (cagar alam. 1. tersedia tanah penutup yang cukup. untuk bau dan kebisingan. 2. 5. 3. Recycling: cara ini memanfaatkan dan mengolah kembali sebagian sampah. Lingkungan biologis meliputi: daya dukung kurang menunjang flora dan fauna. D. kaca/botol dan lain-lain. 6. Jarak dari bandara harus lebih besar dari 3.7. Wardhana (1995) menjelaskan bahwa walaupun sudah disediakan TPA. sehingga TPA ikut semakin meluas. Tidak pada daerah lindung dan daerah banjir periodik ( 25 thn). Estetika lingkungan (tidak terlihat dari keramaian dan jalan umum). Sejalan dengan itu. seperti kaleng. Kondisi geologi. sbb. yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak-tidaknya penempatan TPA. habitat kurang bervariasi. Masih dalam wilayah administrasi Kabupaten berangkutan. 8. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %. tidak boleh kandungan tanah lebih 10-6 cm/det. 6. 4. 9. yaitu tidak memiliki muka air tanah kurang dari 3 meter. faktor pertimbangan penentuan lokasi TPA sebagai berikut. plastik. hutan lindung). .

tidak berasa. syarat-syarat air yang sehat sebagai berikut. Syarat fisik air minum adalah bening (tidak berwarna). Tidak harus dibatasi oleh wilayah administrasi.E. dan rasa. :14 Thn 2003) Paramater Satuan pH BOD5 COD TSS B. bau. 3. maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan. Mempertimbangkan kecenderungan perkembangan kota. Pencemaran Air Lingkungan Menurut Wardana (1995). dapat dilihat tabel berikut. tetapi didasarkan pada keadaan normalnya. Tabel 1. Syarat bakteriologis air minum harus bebas dari segala bakteri terutama bakteri patogen.2. menurut Notoadmodjo (1997). (v) adanya mikroorganisme. air yang bersih tidak hanya ditetapkan pada kemurniannya saja. (iv) timbulnya endapan. (iii) adanya perubahan warna. Sejalan dengan itu. Syarat kimia air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah tertrentu pula. (i) perubahan suhu air. 7. Sulsel No. Berorientasi pada pemanfaatan jangka panjang. Berlokasi pada lahan-lahan non produktif. 5. 2. Lebih jelasnya baku mutu air. tetapi memiliki akses pencapaian yang baik. Coli. suhu di bawah suhu udara di luarnya. bahan tersuspensi. Jauh dari sumber air bersih dan daerah rawan bencana. Di luar aktifitas perkotaan. Jadi air tercemar apabila air tersebut telah menyimpang dari keadaan normalnya. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Domestik (KepGub. 4. Coli Kadar Maksiman* A B C 6-9 6-9 6-9 25 40 75 80 100 125 20 35 50 mg/l mg/l mg/l MPN/ 2500 5000 100 ml Keterangan: . (ii) perubahan pH. koloidal. 3. 1. (vi) meningkatnya BOD5 air lingkungan. Tanda-tanda atau indikator air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan yang dapat diamati melalui. Apabila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 20×102 Bakteri E. 1. 6. E.

000 m2. B.300 m2 .000 m2. Kategori C . pada rembesan air lindi/air genangan sekitar lokasi TPA (12 sampel).* = Kecuali pH Kategori A : . air sumur dangkal dan air Sungai Mila dengan jumlah sampel sebanyak 24 titik.Perkantoran.Kawasan permukiman (real estat) ukuran > 200 Ha .Restourant [rumah makan] ukuran > 2. .000-50.300 m2 .000 m2. Coli.400-2. perniagaan dan apartemen dengan ukuran 5.000-10. pada sumur-sumur di sekitar lokasi TPA (8 sampel) dan di sungai Mila (2 sampel). 1. meliputi. Metode penarikan sampel ini dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling). 1. pada daerah rembesan air lindi di lokasi TPA (2 sampel).400 m2 . perniagaan dan apartemen ukuran > 50.Perkantoran. Kategori B . permukiman (real estat) ukuran 16-200 Ha. Populasi dan Sampel Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah air lingkungan yang terdapat di sekitar lokasi TPA yang terdiri atas rembesan air lindi (air genangan). Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data disesuaikan dengan data yang akan diambil. Pengukuran.Restourant [rmh makan] ukuran 500-1. .Kaw.Restourant [rumah makan] ukuran 1. METODE PENELITIAN A.Perkantoran. perniagaan dan apartemen ukuran 10. melakukan pengukuran terhadap indikator kualitas air yang meliputi BOD5 dan Bakteri E. Pengambilan sampel didasarkan pada kondisi topografi (arah pergerakan lindi) dan jarak. III.

serta penelitian terdahulu yang relevan. Coli. BOD5 dan Bakteri E. Kondisi Geologi 2. 3. Untuk menjawab rumusan masalah pertama. ditentukan variabel sbb. Untuk menjawab rumusan masalah ketiga. D. Pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap kondisi fisik alamiah TPA sampah dan guna lahan daerah sekitarnya. Variabel Penelitian Dari uraian rumusan masalah dan tujuan penelitian. dan (ii) Focus Group Discussion. Wawancara. 1. Teknik ini digunakan untuk mendiskripsikan secara terperinci karakteristik fisik di sekitar TPA. sbb. Kondisi Topografi 2. 1. Penggunaan Lahan sekitar TPA 2.2. Kondisi Hidrologi 3. Untuk menjawab rumusan masalah kedua. Merupakan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait seperti BPS. 1. Perkembangan Fisik Ruang Kota Enrekang 3. yaitu wawancara kepada kelompok masyarakat tentang TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Pencapaian (Aksesibilitas) 3. BPN. ditentukan variabel. Bappeda. (i) Teknik wawancara non struktur. dengan melakukan sketsa dan pemetaan tematik lokasi. ditentukan variabel –variabelnya. Metode Analisis . 4. meliputi. C. maka dapat dirumuskan variabel penelitian sebagai berikut. Dokumentasi. yaitu melakukan wawancara kepada Aparat Pemda Enrekang berkaitan dengan lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. Observasi. Bapedalda.

Rumusan masalah butir (a) dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. menjadi kendala dalam pengembangan ruang Kabupaten Enrekang termasuk pengelolaan persampahan. sedangkan fungsi penunjang adalah permukiman dan fasilitas pendukung lainnya. Perkembangan fisik kota saat ini menunjukan fenomena penggunaan ruang yang tidak mempertimbangkan pelestarian lingkungan. Sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Enrekang belum menunjukan hasil yang optimal baik ditinjau dari aspek pewadahan/ pengumpulan maupun dari aspek pengangkutan ke TPA. dianalisis dengan menggunakan analisis statistik diskriptif. lokasi TPA yang ada saat ini juga terdapat di Kecamatan Maiwa. 1.Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah. 1. telah mengarahkan penggunaan ruang Kabupaten Enrekang sedemikian rupa sebagai pengejawantahan dari visi Kabupaten Enrekang. Pola permukiman yang terpencar serta kondisi geografi relatif bergelombang/pegunungan. Kebijakan Penataan Ruang Kota Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2001-2010 sebagai salah satu instrumen yang berkekuatan hukum dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Enrekang. sehingga harus mempertimbangkan alternatif lahan-lahan kosong pada daerah sekitarnya yang potensi untuk kegiatan perkotaan. HASIL DAN PEMBAHASAN A. dianalisis dengan teknik statistik diskriptif. Pengembangan ruang fisik secara ekstensif di Kota Enrekang tidak memungkinkan lagi. sbb. Rumusan masalah butir (c). Hal ini dapat dilihat dari beberapa permukiman masyarakat yang telah merambah sampai ke kawasan lindung yang terdapat di arah timur dan utara kota ini. 2. Fisik Kota IV. dimana arahan fungsi pengikat wilayah Kecamatan Maiwa tersebut adalah industri dan perkebunan. Sementara itu. 1. Tingkat . Secara alamiah kecenderungan perkembangan fisik kota saat ini adalah mengikuti jalur jalan poros ke selatan Kota Enrekang dan sebagian kecil berkembang ke arah timur. 1. Salah satu arahan pengembangan fisik Kota Enrekang menurut RTRW tersebut adalah wilayah Kecamatan Maiwa. Rumusan masalah butir (b). Kecenderungan Perkemb. 3. Aksesibilitas Secara umum sistem transportasi darat di Kabupaten Enrekang sangat dipengaruhi pola persebaran permukiman dan kondisi geografis wilayahnya. Jarak Kota Enrekang ke lokasi TPA yang relatif jauh yaitu sekitar 23 km serta sistem pewadahan/pengumpulan yang masih didominasi oleh metoda individual merupakan kendala yang dalam rangka teknik operasional pengelolaan sampah di Kabupaten Enrekang. Tinjauan Lokasi TPA terhadap Tata Ruang Kota Arah perkembangan Kota Enrekang dihambat oleh keadaan alam berupa gunung yang ada di sekelilingnya.

Bergabung dengan kawasan permukiman dan lokasi bumi perkemahan pramuka. Jumlah armada angkutan sampah yang dioperasikan tiap hari sebanyak 2 unit dengan kapasitas 6 m3/unit. Tabel 2 Matriks Hasil Wawancara dengan Masyarakat Kabupaten Enrekang Jawaban No. Sehingga tiap kendaraan masing-masing hanya bisa mengangkut sampah 2 kali / hari. dengan pertimbangan.0 Enrekang Tidak setuju karena 41 63. Mencemari lingkungan sekitarnya terutama Sungai Bila dan permukiman sekitarnya.0 kawasan permukiman dan Bumi Perkemahan .pencapaian armada angkutan sampah ke TPA ditempuh selama 6 jam tiap kali pengangkutan. Matriks hasil wawancara dengan masyarakat di Kota Enrekang. Menciptakan pembiayaan operasional yang tinggi.3 ekses rendah 2 Mencemari 57 95. dipertimbangkan alternatif lokasi baru TPA Kota Enrekang yang mudah dijangkau. namun tetap mempertimbangkan aspek lingkungan hidup. sementara volume produksi sampah tiap hari di Kota Enrekang adalah kurang lebih 34. Aspirasi Masyarakat Hasil wawancara dengan 60 responden di Kota Enrekang yang terdiri masyarakat sekitar TPA (15 responden) dan masyarakat Kota Enrekang (40 responden) serta Pemda Kabupaten Enrekang dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang (5 responden). sehingga jumlah rata rata pengangkutan setiap hari sebanyak empat kali kendaraan atau sebanyak 24 m3.77 m3/hari.0 Lingkungan Sekitarnya 3 Berdekatan dengan 39 65. Persepsi Masyarakat responden Jumlah % 1 Reatif Jauh dari Kota 45 75. Oleh karena itu. sbb. 1. Lokasi TPA sampah relatif jauh dari Kota Enrekang. Tingkat pencapaian yang relatif sulit ke lokasi TPA. secara umum menjawab pertanyaan bahwa tidak sepakat penempatan lokasi TPA di Desa batu Mila.

Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan normal berarti air tersebut telah mengalami pencemaran. maka diketahui kondisi air lingkungan di TPA sampah Kabupaten Enrekang dan sekitarnya. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kode S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 (m) 0 0 5 10 22 24 30 55 67 60 80 94 88 (mg/l) 327.00 96. beberapa indikator air lingkungan yang diamati perubahan-perubahannya meliputi. tetapi juga didasarkan pada keadaan normalnya.30 96. Karakteristik Sampel Air di Kawasan TPA Kabupaten Enrekang Jarak No. Berdasarkan tabel tersebut. diambil 24 sampel pada titik-titik sampel yang dianggap sebagai tempat-tempat rembesan air lindi dengan pertimbangan kondisi topografi.30 112.70 110.50 242. Lebih jelasnya titik-titik pengambilan sampel.4 Pramuka Menciptakan Biaya Operasional Yg Tinggi 32 53. Coli.00 48. tidak hanya ditetapkan pada kemurnian saja. Keadaan normal tersebut tergantung dari kegunaan & asal sumber air.3 B.60 323. Tinjauan TPA Terhadap Kualitas Air Lingkungan Untuk menilai air yang bersih. sebagai berikut.00 (MPN/100 ml 77 X 102 78 X 102 62 X 102 59 X 102 59 X 102 61 X 102 57 X 102 51 X 102 46 X 102 47 X 102 42 X 102 42 X 102 27 X 102 BOD5 Bakteri E-Coli . dapat diuraikan kondisi dan kualitas air di TPA sampah dan sekitarnya. Dalam penilaian kualitas air di kawasan TPA sampah dan sekitarnya di Kabupaten Enrekang ini. (i) Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD5) dan (ii) Kandungan Bakteri E.50 52. sebagaimana pada tabel berikut. dapat dilihat pada gambar berikut.20 98. geologi dan jarak. Berdasarkan hasil pengujian sampel air pada 24 titik sampel yang dilakukan di Laburatorium Kimia Fakultas Teknik Universitas ―45‖ Makassar.20 47.80 112.20 137. Dalam pengamatan tersebut. Tabel 3.

Penurunan kandungan BOD5 sampai mencapai titik di bawah ambang batas terjadi pada sampel S14 (kandungan BOD5 =38. ambang batas diperbolehkan .50 mg/l. 1. Pengambil sampel tersebut dilakukan dalam lokasi TPA sampah.10 27. Penilaian BOD5 Hasil pengujian kandungan BOD5 dalam air pada lokasi TPA sampah dan sekitarnya pada jarak antara 0-150 m menunjukkan bahwa kandungan BOD5 pada titik pengambilan sampel S1dan S13 menunjukan kandungan BOD5 berada di atas ambang batas. pada sampel S3 sampai dengan S7 cenderung menurun.80 mg/l) sampai pada S24 (kandungan BOD5 = 18. Kemudian dari sampel 10.10 20.90 21 X 102 77 X 102 81 X 102 82 X 102 81 X 102 95 X 102 41 X 102 96 X 102 75 X 102 99 X 102 97 X 102 Keterangan: Hasil Analisis Laboratorium Fakultas Teknik Univ.40 19. Penurunan kandungan BOD5 yang cukup drastis pada sampel S9 disebabkan oleh kondisi lahan pada daerah tersebut merupakan lokasi pembuatan batu cipping yang telah dilengkapi saluran drainase di sekelilingnya serta sudah mengalami pemadatan yang maksimal.50 18.80 38. tetapi masih dalam kategori cukup tinggi yaitu di atas 100 Mg/L. sehingga sulit terjadi perembesan air lindih pada lokasi tersebut. Grs. Kandungan BOD5 yang relatif cukup tinggi terutama terjadi pada sampel S1 dan S2 yaitu masing-masing 327.14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 S23 S24 86 90 105 120 125 100 200 200 165 126 150 38. Diagram hubungan kandungan BOD5 terhadap jarak diperlihatkan pada gambar berikut. sampel S11 sampai pada sampel terakhir 24 (S24) terus mengalami penurunan.50 mg/l pada S8 turun menjadi 52. Selanjutnya pada S10 kembali terjadi kenaikan BOD5 dari 52.30 mg/l pada S9 menjadi 96.00 mg/l pada S 10.30 19. Sementara itu. tetapi menunjukan penurunan yang relatif linier. ―45‖ Makassar 1. bahkan pada sampel S9 terjadi penurunan yang cukup signifikan yaitu dari 98.80 38.60 mg/l dan 323.30 mg/l pada S9.80 19.10 36.90 mg/l). Selanjut dari titik sampel S8 sampai dengan S13 kandungan BOD5 masih pada ambang batas yang tidak diperbolehkan.50 33.

sedangkan sampel S9 sampai dengan sampel S14 kandungan Bakteri E. pada sampel S15 (jarak 90 meter) – S24 (jarak 150 m) terjadi peningkatan kandungan Bakteri E. Semakin jauh air dari lokasi TPA semakin kecil kandungan Bakteri E. 2. Diantara sampel tersebut. Coli. Penetapan Baku Mutu Limbah Cair. menunjukan bahwa lokasi TPA berpengaruh terhadap kandungan bakteri E. Demikian pula kondisi topografi yang relatif bergelombang menjadikan pola sebaran Bakteri E. Coli di atas ambang batas terjadi pada sampel S1 sampai dengan sampel S8. Namun demikian. . Coli yang cukup signifikan kecuali pada sampel S20 terjadi penurunan di bawah ambang batas. Sedangkan penurunan secara drastis terjadi pada sampel S20 disebabkan karena lokasi pengambilan sampel yang dilakukan di seberang jalan (jalan tersebut membatasi titik sampel dengan perumahan dan TPA). sehingga pemadatan tanah oleh jalan menyulitkan perembesan ke titik sampel tersebut. Pada titik sampel antara S1 (dalam lokasi TPA) – S18 (jarak 86 meter ke arah utara) kandungan Bakteri E. Coli bersumber dari TPA sampah tersebut. Penilaian Bakteri E-Coli Berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 14 Tahun 2003 Tentang Pengelolaan. Coli tersebut di atas. Diagram Hubungan kandungan BOD5 air terhadap jarak. Coli Berada di bawah ambang batas. kandungan Bakteri E. Coli relatif menurun secara linier. misalnya tidak adanya drainase dan kolam oksidasi yang memadai pada kawasan tersebut. sehingga terbentuk genangan-genangan air lindih dan selanjutnya meresap ke dalam tanah. Selain dari pengaruh jarak terhadap kandungan Bakteri E. Coli dalam air. Coli dalam air di lokasi tersebut. Coli cenderung berfluktuasi. Berdasarkan pola sebaran BOD5 dalam air di sekitar TPA. dalam penelitian ini akan digunakan parameter kualitas air kategori A yaitu parameter kualitas air pada kawasan permukiman dengan ukuran 16-200 Ha dengan kadar maksimal BOD5 adalah 50×102 mg/l. Jenis batuan konglomerat yang terdapat pada lokasi penelitian memiliki porositas yang tinggi dalam menyebarkan cairan lindi yang mengandung Bakteri E. Udara. Coli pada lokasi TPA pada jarak 0-150 m menunjukan pola sebaran relatif berfluktuasi. Hasil pengujian kandungan Bakteri E. Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi serta Baku Mutu Tingkat Gangguan Kegiatan yang Beroperasi di Propinsi Sulawesi Selatan.Gambar 2. 1. menunjukan bahwa kondisi topografi dan jarak turut mempengaruhi sebaran pencemaran air di sekitar lokasi TPA. kondisi topografi dan geologi lokasi penelitian turut berpengaruh terhadap sebaran Bakteri E. pengendalian Pencemaran Air. Pola sebaran Bakteri E. Gambar diagram tersebut di atas menunjukkan sebaran pencemaran air yang cenderung linier pada kawasan TPA kecuali pada titik sampel 9 (S9) mengalami penurunan kandungan BOD5 yang relatif drastik. Peningkatan terutama terjadi pada sampel air di daerah permukiman khususnya pada sumur-sumur penduduk. Tingginya kandungan BOD5 di sekitar lokasi TPA tersebut merupakan konsekwensi dari belum adanya pengolahan sampah yang baik di TPA tersebut. Coli dalam air tersebut.

V. 2. diketahui karakteristik fisik lokasi TPA sampah Kabupaten Enrekang. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA . kandungan Bakteri E. B. Coli yang cenderungan meningkat pada sampel S15 sampai S24 (kecuali sampel S20). Struktur geologi TPA sampah Kabupaten Enrekang merupakan batuan konglomerat searah dengan kemiringan lahan. Agar Masyarakat dan Pemda Kabupaten Enrekang memulai program pengomposan sampah organik dalam mendukung dan menciptakan program Sistem Pertanian Organik (Organic Farming) baik dalam skala individual maupun dalam skala Komunal (kelompok). Coli. mempercepat rembesan air lindih sampai kawasan permukiman sekitar Sungai Bila. Agar dilakukan studi lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang. 2. disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang bermukiman di sekitar TPA tersebut seperti kondisi saluran air kotor rumah tangga dan jamban keluarga yang belum di desain dengan baik sehingga dengan mudah terjadi rembesan ke sumur-sumur penduduk dan air lingkungan di kawasan tersebut. lokasi TPA sampah yang ada di Batu Mila tidak sesuai ditinjau dari aspek penataan ruang. Coli dalam air terhadap jarak. 6. Diagram sebaran Bakteri E. 5. tetapi terdistribusi berdasarkan kondisi geografis dan tipologi kota di Kabupaten Enrekang . 1. ambang batas diperbolehkan Gambar 3. Kesimpulan 1. Coli diperlihatkan pada gambar berikut. Berdasarkan hasil penelitian. 3.Sementara itu. memudahkan rembesan lindih ke arah barat kawasan permukiman. Berdasarkan hasil penelitian. PENUTUP A. Diagram hub. menunjukan bahwa TPA sampah Kabupaten Enrekang telah mencemari air lingkungan di sekitarnya dampai radius 150 meter 4. Berdasarkan indikator BOD dan Bakteri E. Kondisi topografi pada lokasi TPA relatif bervariasi membentuk kemiringan yang relatif terjal ke arah barat sampai ke Sungai Mila. Sebaiknya lokasi TPA sampah di Kabupaten Enrekang tidak terpusat pada satu kawasan saja. sebagai berikut. kandungan Bakteri E. Grs.

Rineka Cipta. Madelan. (1989). Pengantar Ilmu Gunungapi. Hidartan dan Handayana. Sixth Edition. Pedoman Teknis Pengelolaan Persampahan. Sym Therm. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Bandung. Departemen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung. Bandung. Tenn. 1990. Djambatan. Penelitian Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah dan Pengelolaan Sampah Tepat Guna. 1986. Jakarta. 1980. Azwar. Ruslan H. Bandung. W. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Nova. Field Geology. Sudjana. Alswar. 1992. McGraw-Hill Book Company Inc. S. 1984. O.H. Ltd. Toronto. Bandung. 1989. London and Tokyo.Anonim.R. Bappeda Kabupaten Enrekang. Solo. Notoatmodjo. Alumni.A. Makassar. Vanderbilt University Press. Ujungpandang. Bandung. Mutiara Sumber Widya. Prorgam Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Kamus Lingkungan. J. Direktorat Penyehatan Lingkungan Permukiman. Kota Berkelanjutan. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 1997. Lahee. Dasar-Dasar Geologi Struktur. Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. Arifin F. Damanhuri E. Slamet R. Pertemuan Ilmiah Tahunan XXIII Ikatan Ahli Geologi Indonesia. 1989. 1999. A. Tarsito Edisi ke-6. Poll. Tesis tidak diterbitkan. 2001. Nashville. Bandung. Instalasi Penerbitan PAM-SKL. Kogakhusa Company. Jakarta. Pemetaan Geomorfologi Sistematis Untuk Studi Geologi. Azikin. Enviromental Sanitary. 2000. Sistem Pengelolaan Sampah. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang. New York. 1997. Tinjauan Geohidrologi Sebagai Salah Satu Pertimbangan Dalam Pemilihan Lokasi TPA Sampah (Studi Kasus TPA Sampah Tamangapa Makassar). Bandung. 1990. Jakarta. F.. . A Warld Health Organitation Expert Committee. Rineka Cipta.L. Metode Statistika. Soemarwoto. Surabaya. 1988. S. Budihardjo. Proceding Volume II.P. Karya Anda. Proc. (1988). Pencemaran Air. Mustofa. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Satya Wacana. Nat. Ryadi. Semarang. E. 1994.H. 1997.

Bandung. 1998.2001. A. 1989.N.. Departemen Pekerjaan Umum. Andi Offset. Erlangga. Departemen Pekerjaan Umum. Studi Pengelolaan Sampah di Kabupaten Enrekang Ditinjau Dari Aspek Pewadahan dan Pengangkutan. 1995. P. Pengantar Metode Penelitian Ilmu Sosial. Ujungpadang. Wardhana W. Perubahan status sosial ekonomi masyarakat dan kekurangmampuan sebagian warga diduga dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan intensitas untuk bermukim disekitar bantara sungai dengan harapan dapat membuka lahan perkebunan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Grasindo. maka diperlukan arahan pengelolaan dan pemanfaatannya. U. Skripsi tidak diterbitkan. Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Geologi Untuk Teknik Sipil.S. Jakarta. 1999/2000. Unaradjan. PT. Yuliana. Prosedur Pengoperasian Standar TPA Sampah. Jakarta. Yogyakarta. 2000.W. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized Abstrak Kerusakan sungai umumnya disebabkan oleh hilangnya hutan di daerah hulu sebagai akibat dari penebangan pohon yang tidak diikuti oleh peremajaan kembali. dan Udara. Makassar. Penelitian Secara Cepat Pencemaran Air. Disisi lain dengan terbukanya lahan disekitar bantara sungai akan menyebabkan mudahnya terjadi penurunan (degradasi tanah) dan semakin tingginya tingkat erosi yang dapat ditimbulkan. Jurusan Planologi Universitas 45. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Vehoef. peladangan yang berlokasi di daerah pinggiran sungai serta terjadinya sedimentasi yang diakibatkan oleh erosi berkepanjangan tanpa adanya pengendalian dan dapat berakibat terjadinya luapan banjir yang pada akhirnya menggenangi daerah perumahan dan permukiman penduduk.Sulawesi II Urban Development Project Pekerjaan Umum. Comments: Be the first to comment STUDI ARAHAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN Posted December 24. . Permasalahan utama yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sungai sebagai akibat adanya permukiman di sekitar bantaran sungai tanpa memperdulikan aturan sempadan sungai. Yayasan LPMB. Tri C. Tanah. Dampak Pencemaran Lingkungan. Untuk menjaga DAS Lawo. 1991.

Dampak air yang ditimbulkan adalah rendahnya debit air yang masuk di daerah irigasi pada musim kemarau. kerusakan ekosistem sungai. Proses Pengendalian DAS Lawo bertujuan untuk mewujudkan rasa aman dikalangan masyarakat yang hidup di daerah sekitar aliran sungai dan melestarikan ekosistem. Donri-Donri. air hujan yang jatuh hanya sebagian kecil yang meresap kedalam tanah. B. maka perlu di lakukan suatu kajian guna menyusun rencana pengelolaan kaitannya dengan alokasi berbagai kegiatan budidaya dan non budidaya yang dapat di lakukan dalam a DAS Lawo. Disamping untuk mendapatkan hasil ekonomis yang optimal dari hasil kegiatan budidaya tanpa merusak ekosistem lingkungan DAS Lawo. yang berakibat terhadap tingginya aliran permukaan (run-off). Tujuan dan Sasaran Penelitian .104. Dengan demikian pengendalian daerah aliran sungai pada prinsipnya ditujukan untuk meminimalkan ancaman banjir. dengan tujuan kondisi debit air pada musim kemarau dan musim penghujan tidak terlalu jauh berbedah dan pada saat musim hujan DAS tersebut tidak menimbulkan banjir yang dapat merugikan. perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi kebun campuran.45 Ha. yang merupakan salah satu sektor andalan kabupaten soppeng. sehingga membuat ekosistem sungai rusak. Kondisi demikian disebabkan oleh rusaknya system tata lingkungan pada daerah aliran sungai. Pendahuluan Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang dibatasi oleh pemisahan topografi yang menampung. Untuk meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan di DAS Lawo. dari kebun menjadi lahan pemukiman. Kondisi demikian diperparah oleh adanya penambangan Galian C didaerah aliran sungai bahkan dibadan sungai.1. Salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Soppeng adalah Sungai Lawo yang melintasi di empat Kecamatan yaitu Kecamatan Lalabata. A. Kondisi ini kalau di biarkan terus berlangsun akan berdampak terhadap menurunnya produksi terutama sektor pertanian. flora dan fauna serta jenis-jenis biota yang hidup didalam sungai. terutama pada bagian hulu. Daerah hulu yang merupakan pengatur lingkungan (condition environment). Ganra dan Kecamatan Lilirilau. yang mengakibatkan berkurangnya luas lahan budidaya dari tahun ketahun. kelestarian fungsi sungai dan yang terpenting adalah tuntutan hidup masyarakat dapat berjalan sesuai dengan koridor untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. dimana sebagian besar mengalir di permukaan yang menuju kesungai sebagai badan air. menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya kedalam suatu sistem pengaliran sungai atau tempat tertentu sesuai dengan kepentingan. 1. telah terjadi kerusakan lingkungan. Salah satu usaha pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kaitannya dengan pengendlian aliran sungai adalah untuk memenuhi keselamatan penduduk dari bahaya ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. dengan luas kawasan DAS ± 17. sepeti: perambahan hutan lindung. jauh dari bahaya yang dapat diakibatkan oleh luapan air sungai yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

3. Sumberdaya yang menjadi unsur suatu DAS ialah iklim. dan berbagai sumberdaya budaya. dan (4) meningkatkan perilaku masyarakat ke arah kegiatan konservasi.1. Tiap sumberdaya pembentuk DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. sedemikian rupa sehingga DAS dapat dikatakan merupakan suatu sumberdaya yang bergatra ganda dan terdiri atas berbagai macam sumberdaya tunggal. akan tetapi secara keseluruhan air tidak akan habis selama faktorfaktor pembentuknya tetap ada dan tetap berfungsi. Pada dasarnya DAS merupakan suatu wilayah yang menampung air. 1. Tinjauan Teoritis. iklim. air.. sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai suatu ―static resources‖. Air adalah salah satu sumberdaya alam yang memiliki sifat yang unik. (3) meningkatkan pendapatan petani. 2. Unsur-unsur lain seperti. 1. Karakteristik DAS. DAS juga merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat. (2) meningkatkan stabilitas tanah. tetapi sebagai suatu ―dynamic resources‖. DAS dapat dibagi menjadi dua satuan pengelolaan yakni satuan pengelolaan DAS hulu mencakup seluruh daerah tadahan atau . kelakuan dan kegunaan masing-masing. menyalurkan air tersebut dari suatu aliran ke seperangkat aliran tertentu dari hulu ke hilir dan berakhir di suatu tubuh/badan air bumi seperti danau atau laut. Pengelolaan DAS. Ditinjau secara setempat air dapat menyusut atau habis. Tujuan Tujuan pelaksanaan penelitian pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut: Untuk menentukan konsep pengelolaan DAS Lawo. sehingga terjadi kesimbangan antara daerah budidaya dan non-budidaya dan untuk mempertahankan dan memperbaiki lingkungan sistem hidrologis Sungai Lawo. Sasaran Pekerjaan Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan studi arahan pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut : (1) meningkatkan stabilitas tata air. vegetasi. tanah. yaitu sumberdaya tanah dan sumberdaya air. flora dan fauna. Air dapat disebut sebagai sumberdaya yang mengalir (flowing resources). dilihat dari kemampuannya untuk memugar diri (self restoring capability). dan manusia diperlakukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. manusia. geologi atau sumberdaya mineral. C. Pengelolaan DAS biasanya ditujukan kepada pengelolaan dua unsurnya yang dianggap penting. 1.

jumlah air didalam tiap komponen input. Dengan kata lain. dan laju transfer dapat dapat digambarkan dalam tabel 1. Pada prinsipnya DAS hulu perlu dikelola dengan penekanan utama sebagai fungsi konservasi. atau lingkungan pengendali (conditioning environment) dan daerah hilir sebagai daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumen. d) Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimumkan produksi Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS karena hal itu akan menentukan manfaat-manfaat besar yang dapat diperoleh atau peluang yang terbuka dalam pengelolaan DAS hilir. pengelolaan daerah hilir bertujuan meningkatkan daerah tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu.daerah kepala sungai. Pengolahan DAS hulu ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut. a) b) Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha pengendalian banjir. Keadaan Sistem Hidrologi DAS Komponen Banyaknya Komponen Input Output Transfer ke Komponen (1) Transfer dari komponen (2) (3) (1) (2) X1 X2 a1 a2 Z1 Z2 (1) (2) . Menurut pandangan ekologis. Seperti telah diuraikan sebelumnya. model matematik yang mewakili suatu sistem selalu meliliki unsur-unsur sebagai berikut (Mize and Cox. output. Tabel: 1. maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang. Pengelolaan DAS hilir dengan demikian mempunyai peranan melipatgandakan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Memperlancar infiltrasi air ke dalam tanah.F12 F21 0 F32 (3) X3 a3 Z3 (3) 0 F23 - . c) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. Perlakuan terhadap daerah hilir akan menentukan seberapa besar manfaat yang secara potensial dapat diperoleh dari pengelolaan daerah hulu akan benar-benar terwujud. 1968): Berdasarkan hal tersebut diatas. dan satuan pengelolaan DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan.

a) Tata guna lahan memberikan dampak terhadap curah hujan. Upaya penghijauan dan konservasi lahan lebih efektif untuk pengurangan sidementasi dan debit air/banjir. juga dalam jumlah yang kecil mungkin di absorbsi melalui daun ke dalam jaringan tanaman (Jeffrey. Lapisan-lapisan tajuk ini terbentuk sebagai akibat dari persaingan dimana pada akhirnya jenis-jenis tertentu akan lebih dominan dari pada jenis yang lain. dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. maka sebagian besar dari air hujan akan ditahan oleh tajuk dan langsung diluapkan kembali ke udara. meningkatkan aliran dasar (base flow). c) Tutupan kanopi pepohonan yang rapat dapat mengurangi debit banjir dengan periode ulang pendek. b) Tata guna lahan berdampak besar terhadap kelembaban tanah. Tata guna lahan memiliki keterkaitan dengan sumberdaya air DAS dalam beberapa aspek sebagai berikut. Air hujan yang ditahan oleh tumbuhan selain diuapkan kembali dari permukaan tanah. e) Tata guna lahan juga memberikan dampak terhadap kualitas air.1. sehingga tanah menjadi lebih lembab. akibatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir menjadi berlipat ganda dan umur reservoir menjadi lebih pendek. Hal ini berarti bahwa untuk curah hujan yang kecil. Hutan yang masih utuh terdiri dari strata-strata atau lapisan-lapisan tajuk. Lahan yang penuh ditutupi kanopi pepohonan akan dapat meningkatkan curah hujan sekitar 5 – 6 %. Intersepsi. 1964). Pohon-pohon yang tinggi pada lapisan teratas akan mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah. 4. a) Hutan dan Pengaruhnya bagi Air. Ekosistem Hutan Alam Struktur hutan yang masih utuh terdiri dari pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi sampai kepada pohon-pohon Perdu dan tumbuhan yang merambat yang semuanya tersusun dalam lapisan tujuk yang rapat. 3. 1. Sebaliknya apabila jumlah dan . Tata Guna lahan dan Perilaku DAS. d) Pengolahan yang tidak tepat dapat meningkatkan erosi dan pengendapan sedimen. b) Peredaran Air. Intersepsi merupakan suatu proses dimana sebagian dari curah hujan tertahan leh tajuk pohon dan sebagian besar diuapkan kembali ke udara. Apabila jumlah dan intensitas curah hujan rendah. serta meningkatkan pengisian air tanah. 1. Lahan yang tertutup dengan pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin dipermukaan tanah. persentase yang diintersepsi akan besar.

40 9. air ini telah melalui suatu struktur lapisan tanah yang rapat.49 2. struktur tegakan (stratifikasi).16 1. Aliran Batang (Stemflow) Aliran batang adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui batang pohon.85 2. kecepatan angin.90 6.intensitas curah hujan besar maka persentase yang diintersepsi akan menjadi kecil.29 2. Perakaran yang dalam dari jenis-jenis pohon menyebabkan evapotranpirasi lebih besar dibandingkan dengan jenis-jenis herbal yang mempunyai perakaran dangkal. kelembaban. suhu.500 2. ternyata dapat mengintersepsi lebih dari 68% curah hujan yang tidak lebat. 1. Evapotranspirasi pada berbagai ketingggian Ketinggian 0 (m. 1. Dengan demikian kecepatan dan besarnya butir-butir hujan yang mencapai tanah sudah sedemikian kecil sehingga tidak lagi merupakan bahaya bagi kerusakan tanah.10 7.000 . 4. 1962) pada petak seluas 300 meter persegi dengan 16 pohon yang masing-masing dipasangi saluran plastik berbentuk spiral pada dasar batang menunjukkaan bahwa aliran batang kurang dari 1% air lolos (UNESCO. Pengukuran stemflow pada suatu hutan selalu hijau yang rapat di Balnco (Huttel. Penguapan (Evapotranspiration) Penguapan merupakan proses perubahan face cair menjadi uap. Proses ini berlangsung pada berbagai permukaan air.36 3.79 3. 1. Air Lolos (Throughfall) Air lolos adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui lapisan tajuk.500 3.200 10. dpl) Evapotransp. Dikemukakan selanjutnya bahwa terdapat korelasi antara evatranspirasi total dengan kedalaman akar.000 1. Hubungan ketinggian dan evapotranspirasi telah diukur seperti tabel di bawah ini : Tabel 2. Sebelum mencapai permukaan tanah. Laju penguapan sangat dipengaruhi oleh radiasi. tekanan udara di atmosfir dan jumlah air yang tersedia untuk diuapkan. kulit batang dan letak serta posisi daun. Dalam penelitian Malchanov (1963) pada tegakan spurce (Picea sp) yang lebat daunnya.590 1.85 mm/hr Evapotransp 1.380 1. Hal ini sangat penting diperhatikan dalam menentukan luas hutan lindung didaerah-daerah dengan ketinggian yang tinggi. mulai dari lapisan pohon-pohon yang dominan sampai pada lapisan semak belukar dan serasah. Aliran batang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terpenting adalah architektur pohon.000 2.80 500 1. 1978). tanah tanaman untuk kemudian terlepas ke atas atmosfir sebagai uap air.

Lereng 15 – 25%. Sedangkan tekstur tanah berfariasi dari hulu – hilir DAS. lempung berliat. 1.54 mm dan 9.9 hari hujan/bulan. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe. dan liat. mediterian coklat. sedangkan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. 1. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. Tengah DAS antara lain: liat berpasir dan lempung berpasir. priodik. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. Geologi dan Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. 2. Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada sekitar ± 24 0 sampai 30 0 . Keadaan angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. D. 64 (L/det). gromosol. mediterian coklat regosol. 4. (ed). Untuk kemudahanya lereng dikelompokkan menjadi 5 kelas. Erosi dan Sedimentasi Aktifitas penduduk didaerah sekitar DAS secara tidak terkendali akan memberikan dampak terhadap perubahan kondisi fisik sungai terutama dalam bentuk erosi dan transpor sedimentasi dan akan berlanjut dengan proses pendangkalan dibagian dasar sungai sehingga akan . Kondisi ini menyebar merata keseluruh wilayah Kabupaten Soppeng. lereng 26 – 45% dan Lereng > 45%.mm/tahun Sumber : Ramsay. Wilayah DAS Sungai Lawo.6 hari dan terendah bulan Agustus dan Okotober yakni 0 (tidak hujan). Gambaran DAS Sungai Lawo Topografi Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl.. 2. Lereng 8 – 15%. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. termasuk wilayah DAS Lawo. sedang rata-rata hari hujan di Kabupaten Soppeng tertinggi bulan April 19. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. 1. Bagian hulu DAS tekstur tanah antara lain: lempung berpasir dan liat berpasir. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0% hingga lereng > 45%. dan temporer. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. yaitu: Lereng 0 – 7%. Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 295 mm dan yang terendah yakni bulan Agustus dan Oktober yakni 0 (tidak hujan).M. 1. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS lawo berupa genangan permanen. dan panjang lereng > 50 m. dan litosol yang tersebar dari hulu – hilir. Curah hujan Kabupaten Soppeng pada tahun 2005 berada pada intensitas 90. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). 1. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain: lempung berpasir. 1976. D. 3. Hidrologi dan Klimatologi Kondisi hidrologi DAS lawo berdasarkan data dari Dinas PSDA Kabupaten Soppeng debit sungai rata-rata per 15 Agustus 2007 adalah 427.

E. kondisi ini dibiarkan berlanjut terus menerus maka akan berlanjut dengan proses pendangkalan di bagian tengah sungai dan akan mengganggu keberlangsungan ekosistem pada hilir DAS itu sendiri. Kondisi DAS sungai lawo terutama dalam bentuk erosi dan sedimentasi. lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0 – 7% hingga lereng > 45%. tengah. . dimana bagian hulu DAS ditemukan beberapa bagian sungai yang sudah mengalami perubahan fisik dalam bentuk erosi. dan hilir DAS dalam menjalankan fungsi hidrologinya. dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. sehingga dalam proses penanganannya perlu diperhatikan pula guna menjaga keberlangsungan hubungan antara hulu.  Daerah Hilir Das Kondisi bagian hilir DAS Lawo dari segi fisik sungai umumnya sudah mengalami degradasi terutama dalam bentuk sedimentasi. kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS.  Daerah Tengah DAS Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. 1. Kondisi fisik bagian tengah DAS. Analisis geomorfologis Ketinggian merupakan salah satu faktor fisik yang berpengaruh terhadap suhu udara.Wilayah DAS Sungai Lawo. namun di beberapa bagian sungai terutama kondisi fisik sungai telah mengalami perubahan alur sungai yang dapat mempengaruhi pola aliran air sungai yang tidak mengikuti alur sungai yang sebenarnya di mana aliran air mengalir dibagian kiri kanan sungai dan membentuk delta di bagian tengah sungai. Analisis Wilayah DAS Lawo 1. dan panjang lereng > 50 m.  Struktur dan Tipologi DAS Daerah Hulu DAS Karakteristik hulu DAS Lawo secara umum merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki kerapatan hutannya baik dan sampai saat ini masih tetap dipertahankan fungsi hutannya terutama penduduk yang bermukim disekitar hulu DAS sebagai kawasan yang dapat memberikan perlindungan dibagian hulu hingga hilir DAS. Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S). sebagaimana pada tabel 3. bahkan terjadi kering di bagian tengah sungai. 5. Tabel: 3. tengah.mempengaruhi pola aliran air sungai baik di bagian hulu. bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl. dibeberapa tempat telah mengalami perubahan dalam bentuk alur air sehingga air tidak mengalir di bagian tengah sungai. maupun di bagian hilir DAS.

Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama disekitar pinggiran danau tempe.19 860. guna merumuskan strategi penanganan dan arahan pemanfaatannya. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS Lawo berupa genangan permanen.863. dan kawasan lindung. selain itu juga kondisi lereng ini dapat terjadi tanah longsor sehingga kelestariannya tetap dijaga. Lereng 25 – 45% vegetasinya tetap dipertahankan selain itu juga dapat di manfaatkan sebagai budidaya tanaman tahunan yang berbasis pada huta rakyat. agrovorestri dan hutan kemasyarakatan. Analisis geohidrologis. dan temporer. Kerapatan drainase adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS seperti tercantum dalam rumus di bawah ini: Dd = L/A Dd= Kerapatan Drainase (km/km) . Lereng 8 – 15% sebaiknya diperuntukan sebagai budidaya lahan kering atau lahan basah. debit air sungai. dan lainnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai jalur hijau juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. 45 % 69 3 15 8 5 100 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007 Apabila dianalisis lebih lanjut maka kondisi lereng 0 – 7% sebagian besar penutupan lahannya adalah sawah dan rawa.34 2. Geohidrologis dimaksudkan untuk mengetahui kondisi berupa kerapatan drainase. karena berfungsi sebagai kawasan penyangga.Klasifikasi dan Luas Lereng di Wilayah DAS Lawo Luas No Klasifikasi 1 0–7 2 8 – 15 3 16 – 25 4 25 – 45 5 >45 Jumlah (Ha) 11. kopi. Sedangkan lereng >45% vegetasinya tetap dipertahankan dan dilestarikan. sehingga untuk pemanfaatan lahannya dapat diperuntukan sebagai budidaya lahan kering ataupun lahan basa dan permukiman. pengaturan tata air. Lereng 16 – 25% pemanfaatannya sebaikknya sebagai budidaya tanaman tahunan/tanaman semusim jenis vegetasi berupa cengkeh. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan.391. dan genangan.104.54 17.92 486. Analisis ini sebagai dasar indikator dalam mengetahui kondisi hidrologis wilayah DAS Lawo.502. 1. cokelat. kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai berfariasi antara 8 – 30 m. dan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm.46 1. priodik.

Kondisi ini perlu adanya upaya-upaya penanganan yang harus dilakukan seperti pemantapan fungsi kawasan lindung terutama penghijauan kembali pada daerah-daerah yang kategori vegetasinya sudah dalam kondisi yang tidak diharapkan. . artinya jumlah air larian total semakin besar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pengaliran (drainase) DAS Lawo dalam kondisi sudah terganggu (tidak normal). Sedangkan dari data yang diperoleh maka Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (Vperm dalam m/dt) dapat dihitung dengan rumus: Vperm = L/t L = Jarak Antara dua Titik Pengamatan (m) t = Waktu Perjalanan Benda Apung (detik) Dari hasil perhitungan diatas maka diperoleh kecepatan permukaan aliran sungai rata-rata adalah 1. Pada persamaan ini nilai Q diperoleh dari perkalian antara kecepatan aliran V (m/dt) dan luas penampang melintang A (m2) atau secara matematis: Q=AV Q = Debit (m3/dt) A = Kecepatan Aliran (m/dt) V = Luas Penampang Melintang (m2) Dari hasil analisis yang dilakukan maka diperoleh debit air rata-rata DAS Lawo adalah 9. Berdasarkan data di atas dan hasil perhitungan kecepatan permukaan aliran rata-rata maka besarnya debit air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Bernoulli atau sering juga dikenal sebagai the continuity equation.L = Panjang Aliran Sungai (km) A = Luas DAS (km2) Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh kerapatan drainase wilayah DAS Lawo adalah 0.328 m3/dt.386 km/km.06 m/dt. Tabel: 4. serta pengaturan kembali pola penggunaan lahan di wilayah DAS lawo guna menghindari kemungkinan dampak negatif yang akan terjadi. sehingga tingkat infiltrasi yang terjadi di wilayah DAS Lawo akan semakin kecil.

Analisis SDA Kehutanan Pada kawasan hulu DAS status hutan sebagian besar adalah hutan lindung. gromosol. disisi lain kerapatan pohon sudah mulai berkurang. 3. 1. dan keberadaan vegetasi kurang mengimbangi kondisi struktur geologi yang ada sehingga mudah terjadinya erosi dan longsor. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain lempung berpasir. 5. jenis tanah ini mudah tererosi karena teksturnya berupa pasir berlempung sehingga penutupan lahannya harus tetap di jaga untuk menjaga agar tidak terjadi erosi/tanah longsor. Jenis tanah ini merupakan hasil dari proses endapan lumpur dari hasil sedimentasi yang terjadi.33 17. 1.53 845.45 Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007. Bagian hulu dan tengah DAS tekstur tanah berupa lempung berpasir dan liat berpasir.Jenis dan Luas Genangan di Wilayah DAS Lawo No 1 2 3 4 Jenis Genangan Permanen Periodik Temporer Non Genangan Jumlah Luas (Ha) 76. Analisis Geologi Berdasarkan pengamatan tim dilapangan ditemukan beberapa titik yang terdapat erosi dan longsor terutama di bagian hulu DAS yang mempunyai kelerengan kisaran 25 sampai >40. dan liat. kondisi ini diduga sebagai akibat lemahnya struktur geologi. Analisis Jenis Tanah Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua. karena mempunyai lapisan atas/soluin tanah yang dalam ± 100 cm. dan litosol yang tersebar dari hulu hingga hilir. Analisis Potensi SDA a. disebabkan . mediterian coklat regosol. sehingga sifatnya relatif subur. Sedangkan tekstur tanah bervariasi.875. Bagian hulu DAS terdapat jenis tanah mediterian coklat regosol dan litosol.46 307. sehingga memungkinkan untuk budidaya tanaman jangka panjang. Bagian tengah DAS terdapat jenis tanah gromosol dan mediterian cokelat. yang sesuai untuk lahan/kegiatan budidaya lahan basah. sehingga kedepan kawasan hutan tersebut tetap dijaga dan dilestarikan.13 15. Di mana jenis tanah ini adalah jenis tanah subur. karena kawasan ini merupakan daerah resapan dan penyimpanan air.104. Sedangkan jenis tanah yang terdapat di bagian hilir DAS adalah alluvial kelabu tua. mediterian coklat. Hal ini perlu adanya upaya penanganan berupa pemilihan jenis vegetasi yang akan dibudidayakan harus memiliki sistem perakaran yang dapat mendukung struktur geologi yang ada. lempung berliat.

c. jenis vegetasi adalah tegakan hutan. dan berbagai kebutuhan lainnya. 6. perikanan.karena terjadinya penebangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan belum sadar akan pentingnya pelestarian hutan. maupun kualitas air. Analisis Sumberdaya Air Potensi Sungai Lawo sebagai sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan perlu dikelola dengan baik terutam dalam hal pengaturan berbagai pemanfaatan lahan yang ada disekitar Sungai Lawo agar dampaknya tidak mengganggu kondisi hidrologi sungai baik dari segi fisik sungai. dan meningkatnya laju sedimentasi. perubahan siklus hidrologi. Analisis Aliran Sungai Lawo a. namun kenyataannya terdapat adanya . peternakan. sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan seperti sumber air bersih. b. Pertanian lahan basah memerlukan kedalaman efektif tanah minimal 60 cm. sehingga pemanfaatan lahan di daerah tersebut harus memperhatikan kaidah-kaidah konservasi agar pemanfaatannya tidak merusak lingkungan ekosistem wilayah DAS. Pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dan sumber daya lahan berupa perambahan hutan dan perladangan di suatu wilayah DAS yang cenderung meningkat tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi akan memberikan dampak positif terhadap DAS dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat penyediyaan sumber air dapat terganggu. Sedangkan tekstur tanah yang terbaik bagi jenis pertanian lahan basah adalah tanah yang berliat. dengan komoditas utamanya adalah padi sawah (wetland rice). batas ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30 cm. kelerengan diatas 15 %. sampai berlempung halus. kuantitas. dan harus dipertegas dengan aturan yang ada. Dari hasil analisis yang dilakukan di wilayah DAS Lawo. mempunyai kerapatan drainase tinggi. berdebu halus. pertanian. terutama dalam hal tekstur tanah dan kedalaman efektif tanah. dimana bagi oknum masyarakat yang merusak kawasan hutan tanpa memiliki dasar yang jelas harus diberikan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. Analisis DAS Hulu Bagian hulu DAS biasanya memiliki karakteristik antara lain. Kondisi hulu DAS Lawo umumnya didominasi oleh kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam mendukun proses hidrologi DAS masih tetap terjaga. pencemaran air. merupakan daerah konservasi. Kegiatan pertanian lahan basah adalah kegiatan pertanian yang memerlukan air terus menerus sepanjang tahun. Produktifitas dan kualitas mutu panen cenderung menurun bila kedalaman efektif tanah menurun. sehingga masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang fungsi pelestarian lingkungan disekitarnya. Tanah yang berkuarsa sangat tidak sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan kuarsanya sedang. Sedangkan pada kawasan DAS tengah dan hilir DAS seluruh kawasan bukan hutan lagi melainkan kawasan budidaya. bukan daerah banjir. Analisis SDA Pertanian Pembukaan lahan pertanian di wilayah daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan sehingga tidak akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti erosi. terdapat penyebaran lahan yang sesuai bagi pengembangan budidaya pertanian lahan basah.

saluran-saluran irigasi. Analisis DAS Tengah. Sedimentasi sebagai hasil dari proses erosi yang terjadi di DAS dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pada sungai. dan peningkatan fungsi sistem irigasi yang ada. pemakaian air diatur oleh bangunan irigasi. Aktifitas penduduk di sekitar bantaran sungai yang cenderung meningkat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konserfasi tanah dan air. Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan seperti perladangan tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi tanah dan air misalnya penggunaan input (pupuk dan pestisida) yang berlebihan akan berimplikasi langsung terhadap kandungan unsur pada tanah dan akan berpengaruh kepada daya dukung tanah sehingga tanah mudah tererosi dan juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas air tanah. merupakan daerah pemanfaatan. kerapatan drainase kecil. kelerengan dibawah 8 %. akan menimbulkan berbagai problem lingkungan seperti erosi yang dapat mempengaruhi produktifitas lahan. juga penebangan vegetas di daerah pinggiran sungai untuk perluasan areal perladangan dapat memberikan tingkat erosi yang terjadi di wilayah DAS. dan memberikan dampak terutama di daerah hilir DAS dalam bentuk transpor sedimentasi yang akan mengganggu sistem hidrologi DAS. Bagian hilir DAS disamping sebagai daerah pemanfaatan juga sebagai daerah penadah tentunya akan menanggung berbagai resiko yang terjadi di suatu wilayah DAS. a. Analisis Pengemb. jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian. dimana pada musim hujan banjir dapat merusak areal persawahan bahkan sampai ke pemukiman penduduk. b. Pengembangan Wisata Air. c. dan muara-muara sungai karena adanya sedimentasi ditempat tersebut. Karakteristik hilir DAS memiliki ciri antara lain. Untuk itu perlu adanya tindakan berupa sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat agar masyarakat menyadari pentingnya fungsi hutan dan bahaya terjadinya kerusakan lingkungan berupa erosi dan tanah longsor. Banjir yang terjadi di wilayah DAS lawo umumnya terdapat di bagian hilir DAS. 7. Analisis DAS hilir. . dibeberapa daerah merupakan daerah banjir. serta pengaturan penggunaan air irigasi agar dapat mengairi semua sawah yang ada di wilayah DAS Lawo secara umum dan khususnya wilayah hilir DAS sebagai daerah pemanfaatan berbagai aktifitas. Berdasarkan kondisi di atas maka perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan seperti pengaturan berbagai aktifitas terutama di wilayah hulu DAS agar tidak mengganggu fungsi kawasan hutan lindung. 1. Wisata. tinggi banjir yang terjadi ± 1 m.perambahan hutan yang kemudian dijadikan sebagai perladangan masih tetap terjadi. waduk. bendungan.

dinyatakan bahwa pendekatan dalam pengembangan. potensi ini dapat dilakukan melalui upaya pembangunan waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. Arahan Strategi Penanganan DAS. b. Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan DAS Lawo 1. keberadaan satwa. . serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. DAS sendiri merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah yang mengalir dari permukaan tanah ke sungai dari hulu hingga hilir. dan (ii) Pemilihan berdasarkan potensi wilayah. Aktifitas penduduk di wilayah DAS lawo yang pada umumnya adalah petani. proses penanganan ini berupa. Mengacu pada PP No. DAS hulu merupakan seluruh daerah tadahan/kepala sungai. F. Strategi Penanganan DAS Hulu Berdasarkan aspek ekologi daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) atau sebagai lingkungan pengendali (conditiong environment). Pengembangan Agrowisata Pengembangan agrowisata pada suatu lokasi perlu dilakukan kajian lokasi secara matang. dengan memanfaatkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan kebiasaan (massangki) dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. DAS Lawo terutama di bagian hulu DAS. Memperlancara infiltrasi air ke dalam tanah. Pengembangan Ekowisata.DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. a. 1. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) berdasarkan daya dukung kawasan. seperti. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata. (i) pemilihan berdasarkan Karakteristik alam.    Meningkatkan kemampuan fungsi retensi DAS hulu terhadap aliran permukaan melalui pemantapan fungsi kawasan lindung. yang akan banyak dipengaruhi oleh kondisi vegetasi pada setiap bagian dari daerah alirsan sungai tersebut. 22 tahun 1982 tentang tata pengaturan air. Hal ini di tandai dengan adanya berbagai keunggulan-keunggulan yang dimiliki berupa keindahan alam pegunungan. perlindungan dan penggunaan sumberdaya air didasarkan atas pendekatan wilayah sungai. Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha mengendalikan banjir. salah satunya adalah monyet yang tersebar khususnya di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan lingkungan ekologis di DAS Lawo agar lebih lestari. c.

Menentukan dan menyesuaikan jenis budidaya yang dapat dikembangkan pada setiap unit lahan. a. Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan.     Meningkatkan fungsi retensi DAS tengah melalui pengembangan prasarana pengairan berupa waduk tangkap dalam menahan air yang mengalir dari arah hulu DAS. Proses penanganannya berupa. Strategi Penanganan DAS Tengah Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS. . Menentukan sistem budidaya yang dapat dilakukan pada setiap permukaan lahan. 2. Meminimalisir tingkat erosi dan longsor yang terjadi melalui pendekatan EkoEnggineering dengan memanfaatkan vegetasi setempat. serta menjaga keberadaan vegetasi sekitarnya dalam membantu kemampuan retensi terhadap aliran permukaan. Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimalkan produksi.     Mencegah atau mengendalikan banjir dan sidementasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan.    Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia. DAS hilir merupakan daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumsi. kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS. c. DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Arahan Pemanfaatan Lahan. Mempertahankan dan melestarikan hutan lindung yang terdapat di satuan pengelolaan DAS Hulu. Meningkatkan daya guna air dari sumber-sumber air tersedia. Meliorasi tanah dan kalau perlu dilakukan reklamasi tanah. Memperbaiki pengaturan pemanfaatan lahan untuk meningkatkan kemampuan lahan. Rencana Kawasan Lindung. Strategi Penanganan DAS Hilir Berdasarkan tinjauan aspek ekologi. b. dengan strategi berupa.

Rencana Pengembangan Waduk. namun dalam rencana ini diupayakan agar waduk tersebut selain berfungsi untuk menunjang kegiatan seperti pertanian dan berbagai pemanfaatan lainnya juga berfungsi sebagai tempat wisata yang berskala lokal. waduk tangkap.Sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Arahan pemanfaatan lahan dengan kegiatan budidaya lahan kering.  Budidaya Lahan Kering. Dengan tujuan disamping bernilai lingkungan juga bernilai ekonomis. Rencana Irigasi. rencana pengembangannya diarahkan pada daerah perbatasan antara hulu dan tengah DAS. kakao. merupakan jenis tanaman yang dapat dibudidayakan seperti kelapa dalam. lada.56 hektar dengan vegetasi adalah hutan. dimana lokasi ini sebelumnya masuk dalam rencana pembangunan waduk tangkap. Sedangkan prasarana irigasi. maka jenis budidaya pertanian lahan basah (padi sawah) pengembangannya terutama diarahkan di daerah hilir dan di daerah tengah DAS. Berdasarkan pola penyebaran jenis tanah terutama dalam hal tekstur dan kedalaman efektif tanah. diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi dominan berupa jenis pertanian lahan basah terutama di daerah hilir dan tengah DAS. Kawasan Perlindungan setempat meliputi garis sempadan sungai. dan tembakau. 3. dan lainnya. b. dan kawasan sekitar mata air. jambu mente. Arahan Prasarana Lingkungan. Luas kawasan lindung yang merupakan kawasan DAS hulu seluas 860. maka dilakukan rencana pemanfaatan kawasan budidaya yang meliputi budidaya lahan kering dan lahan basah. a. namun harus memperhatikan keberadaan kawasan hutan lindung yang ada sehingga tidak terganggu fungsi lindungnya. Prasarana lingkungan berupa waduk tangkap. bambu. dengan . Rencana Pemanfaatan Budidaya. terdapat dibagian hulu DAS yaitu berupa kawasan hutan lindung. maka harus dihutankan kembali dengan vegetasi tanaman yang sesuai seperti kemiri dan sukun. kemiri. dimana proses pengaturannya dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir DAS Lawo. b.  Budidaya Lahan Basah. kopi. sedangkan di daerah hulu DAS bisa dikembangkan jenis budidaya berupa kemiri. sedangkan DAS hulu yang merupakan daerah lindung namun vegetasinya bukan hutan. Pengembangannya diarahkan di daerah DAS tengah. Berdasarkan potensi yang terdapat di wilayah DAS Lawo terutama potensi pertanian yang dominan.

Pengembangan Agrowisata. serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo. Aktifitas penduduk di wilayah DAS Lawo yang pada umumnya adalah petani. nilai dan fungsi ekologi sebagai obyek dan tujuan kepariwisataan. DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. Konsep ini lahir akibat keprihatinan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang terancam oleh pembangunan. terutama di bagian hulu DAS. c. Pengembangan ekowisata DAS Lawo diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan. Pengembangan Ekowisata. a. Pengembangan wisata ini diarahkan pada daerah yang memiliki potensi untuk dibangun prasarana air berupa waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu. disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) dengan berdasarkan kepada daya dukung kawasan. 4. Pengembangan Wisata Air.mempertimbangan kapasitas sistem irigasi yang ada sehingga dapat mengaliri semua areal sawah. . salah satunya adalah monyet yang tersebar di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat dan lingkungan ekologis di wilayah DAS Lawo agar lebih lestari. Dengan demikian pengembangan agro wisata diarahkan di daerah tengah dan hilir DAS. b. memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata yang meliputi keindahan alam pegunungan. Prospek pengembangan agrowisata di wilayah DAS Lawo mempunyai peluang yang baik mengingat potensi yang ada sangat beragam dan khas. Arahan Sistem Permukiman. dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan ‖massangki‖ dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi. keberadaan satwa liar. 5. Perpaduan antara kekayaan komoditas agraris dengan bentuk keindahan alam dan budaya masyarakat setempat merupakan kekayaan obyek wisata yang amat bernilai. serta ekowisata menjadi alat bagi penyadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan yang tidak mungkin mengorbankan masyarakat yang tinggal dan hidup didalam atau sekitar kawasan lingkungan. Areal Permukiman di Daerah Hulu. a. Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata atau wisata terbatas yang memanfaatkan tatanan. Arahan Prasarana Wisata. cenderung terdapat di daerah tengah dan hilir.

sebagai berikut. sehingga dapat lebih berkelanjutan. Biophysical relationships needed to perform economic evaluation of watershed management program. 2) Diprediksi DAS Lawo sepuluh tahun kedepan. maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. terutama kepada masyarakat yang bermukim dalam wilayah DAS Lawo. harus memperhatikan kepemilikan lahan yang termasuk dalam areal rencana waduk. 1990.. C. maka diperlukan upaya-upaya penanganan pelarangan perluasan kawasan pemukiman serta penyiapan lokasi pemukiman yang layak dalam berbagai aspek agar penduduk setempat dapat direlokasi ke tempat yang disiapkan. 2004. Yogyakarta. 5) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus menjadi komitmen bersama seluruh stakeholder. DAFTAR PUSTAKA Asdak. Gajah Mada University Press. maka sebaiknya dilakukan sosialisasi.Keberadaan pemukiman di daerah hulu DAS perlu diperhatikan agar tidak mengganggu fungsi kawasan lindung. Areal Permukiman di Daerah Hilir. Bandung. . Asdak. apabila tidak dilakukan perbaikan dan perlindungan DAS Lawo. 6) Pembangunan Waduk tangkap. Padjajaran University Press. maka terdapat beberapa rekomendasi yang harus dilakukan untuk dapat mengelola dan melindungi DAS Lawo. dimana proses penanganannya berupa pengaturan garis sempadan sungai. Berdasarkan hasil kajian DAS Lawo. 4) Untuk dapat mempercepat implementasi. 3) Masyarakat yang bermukim dalam kawasan lindung. larangan pembuangan sampah ke dalam sungai serta pengaturan fungsi kawasan lainnya yang dapat dilakukan agar penduduk dapat terhindar dari berbagai resiko lingkungan berupa banjir dan erosi agar lingkungan wilayah DAS dapat terjaga dalam mendukung berbagai pemanfaatan. 1) Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus dilakukan secara terpadu. Agar tidak mengganggu fungsi kawasan dan wilayah DAS secara keseluruhan. seharusnya direlokasi pada suatu tempat dalam bentuk transmigarasi lokal. Rekomendasi. C. G. sehingga dapat dilakukan lebih manusiawi. Penanganan pemukiman di luar daerah hulu diarahkan terutama pada daerah tengah dan hilir DAS. 1. b. karena berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 kawasan DAS merupakan kawasan strategis lingkungan yang senantiasa harus dilindungi.. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.

E. 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized ABSTRAK Besarnya kerugian akibat kekeringan di beberapa daerah sangat memprihatinkan. Prentice Hall... 1994. New York. perikanan. National Research Council of Canada. P.. tampungan banjir sementara. Honolulu H. P.F. D. 1985. Handbook on the principles of hydrology. Berdasarkan beberapa kejadian kekeringan diperoleh informasi bahwa kekeringan dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. karena nilainya cukup besar. Kerugian ini akan semakin besar kalau terjadi di kota-kota besar yang padat penduduknya. kabu asap. terbatasnya penyediaan air bersih. K. Englewood Cliffs. Sungai X3 Vegetasi X1 Comments: Be the first to comment PENANGANAN BANJIR DAN KEKERINGAN Posted December 24. Easter. karena proses .M. Black. Policies for sustanaibel Development. H. pompanisasai air banjir. 1991. Untuk mengurangi kerugian tersebut telah banyak usaha penanggulangan banjir yang dilakukan seperti pembuatan tanggul banjir. berkurangnya air untuk prtanian. EastWest center Worshop report. Akibatnya di beberapa tempat terjadi banjir yang banyak menimbulkan kerugian baik nyawa maupun harta benda. Gray.W. peternakan dan terganggunya transportasi air. karena kejadian banjir terus meningkat dari waktu ke waktu.N.. 1970.I. The environment and natural resources policy adn training project. K. Fenomena ini sudah kita sadari. Folliott. The role of watershed management. sudetan sungai. Integrated watershed management research for developing countries.M. Usaha pengendalian banjir tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan..Brooks. Pendahuluan Indonesia merupakan negara beriklim tropika humida (humid tropic) yang pada musim hujan mempunyai curah hujan tinggi. New Jersey. A. Watershed Hydrology. dll.

Hujan deras yang terjadi pada suatu hari dimana hari-hari sebelumnya tidak hujan sering tidak menimbulkan bnajir. Apabila air banjir pada musim hujan dapat ditampung dan disimpan. namun nilainya cukup kecil. Kejadian hujan dalam beberapa hari berturut-turut. Hal ini dapat difahami. Dalam konteks ini air menimbulkan gangguan akibat pengalirannya atau genangannya pada tempat-tempat yang tidak disediakan untuknya. Di Indonesia ada beberapa factor penting penyebab terjadinya banjir : a. Pengendalian banjir dan pananganan kekeringan secara terpadu nampaknya akan memberikan hasil lebih baik. Pembahasan 1. dan sumberdaya air secara keseluruhan. namun belum dirumuskan dengan baik. karena hujan diseluruh DAS belum teratus. Penanggulangan kedua bencana tersebut terus diupayakan dengan berbagai cara. Oleh karena itu menarik untuk dikaji pengaruh kelengasan tanah awal pada kejadian banjir. Pada kondisi tersebut nilai debit puncak ditentukan oleh sebagian luas DAS. perikanan dan pariwisata. usaha pengendalian banjir yang dilakukan sekaligus dapat mengurangi kerugian akibat kekeringan. Uraian di atas menunjukkan bahwa peristiwa banjir dan kekeringan sangat merugikan kehidupan manusia. Semakin tinggi intensitas hujan maka semakin tinggi pula debit banjirnya. walaupun intensitas hujannya tidak terlalu besar. Banjir adalah peristiwa keberadaan air mengalir melampaui kapasitas perangkat pengaliran yang disediakan/tersedia dan mengalir di luar kemampuan perangkat itu. maka pada saat kekeringan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia dan keperluan lain seperti irigasi. Banjir 1. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang telah dibasahi hujan sebelumnya menurunkan kemampuan menginfiltrasi air. sehingga dapat menurunkan debit banjir. baik itu proses di lahan maupun di jaringan sungainya. Faktor Hujan Intensitas hujan sangat berpengaruh pada besarnya debit puncak banjir. justru dapat menimbulkan banjir. namun nampaknya masih dilakukan secara terpisah. Di sisi lain banjir merupakan salah satu sumberdaya alam yang cukup besar potensinya. B. infiltrasi memang masih berjalan. yaitu pada kondisi durasi hujan yang lebih pendek dari waktu konsentrasinya. Pada kondisi tanah dengan kelengasan tinggi atau jenuh air. terutama jika telah banyak melakukan analisis banjir dengan model-model yang tersedia. Oleh karena itu penanggulangan banjir tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan DAS. Perlu mendapat perhatian pada penggunaan rumus Rasional. . Pengaruh kelengasan tanah awal pada debit banjir sudah difahami. sehingga hampir seluruh hujan menjadi aliran dan dapat menimbulkan banjir. pembangkit tenaga listrik. Dengan demikian.kejadian banjir memang sangat komplek.

bahkan cenderung mengalami kerusakan. daerah terbuka (jika ada tanaman. dll. hanya perdu). Peningkatan debit banjir mengakibatkan prasarana dan sarana yang ada tidak mampu menampung aliran yang terjadi. Genangan air mencapai 50 cm – 80 cm. Persoalan banjir menjadi semakin rumit jika di alur sungai terdapat rintangan-rintangan arus baik oleh alam maupun buatan manusia seperti : . sehingga jalur jalan Majalaya – Bandung terputus. Kejadian banjir di Sorong tanggal 18 Juli 2003 (www. Faktor Alur Sungai Upaya pengendalian banjir yang selama ini dilakukan berupa kegiatan fisik/struktur yang berada di sungai (in stream) dengan tujuan untuk melindungi dataran banjir yang telah berkembang. Aspek pendangkalan yang terjadi di alur sungai juga merupakan salah satu sebab terjadinya banjir.com. Apabila kondisi DAS di Indonesia dapat digolongkan stabil. Faktor DAS Daerah Aliran Sungai adalah daerah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. prediksi nilai debit dengan kala ulang tertentu yang diperoleh pada saat perencanaan sudah tidak relevan lagi pada saat ini. Bandung selatan mengalami banjir pada 27 Mei 2004 (w. Semakin banyak lahan terbuka. saluran drinasi. prasarana dan sarana pengendali banjir direncanakan untuk 10 sampai 100 th. Oleh karena itu. Namun kenyataannya. mengakibatkan banjir yang terjadi meningkat. Pengendalian banjir tersebut dengan membangun prasarana dan sarana seperti pembuatan tanggul. Data yang digunakan dapat berupa data hujan maupun aliran yang terekam pada kondisi DAS saat itu. sehingga daya rusak terhadap ekologis dan lingkungannya lebih tinggi. atau terbangun semakin kecil kemampuan retensinya. polder. Hal ini terjadi jika Daerah Aliran Sungainya mempunyai luas area terbuka yang meningkat.w. tampungan air (waduk). Hal tersebut diperparah dengan pola penyebaran permukiman yang menyebar.).antara. Pada th 2003. Adanya pendangkalan alur sungai. Tingkat kerusakan DAS bervariasi mulai dari kecil.id. sudetan. sedang sistem drainasi 2 sampai 10 tahun.b. Banjir ini diestimasikan akibat pemotongan bukit-bukit di sekitar Bandung selatan untuk permukiman dan kawasan industri. kejadian banjir diperparah dengan adanya peningkatan elevasi muka air laut. industri dll.co. Daerah Aliran Sungai yang ada memiliki tataguna lahan yang tidak stabil.kompas. tampang sungai menjadi berkurang sehingga daya tampung alirannya menurun pula. Pada umumnya. Berubahnya kawasan retensi banjir untuk Jakarta menjadi permukiman. prediksi debit dengan kala ulang tersebut tentu saja tidak akan menjadi masalah. Kerugian banjir diperkirakan sebesar 2. c. normalisasi alur sungai. sedang sampai besar/kritis yaitu pada tingkat yang sudah mengkhawatirkan. Proses pendangkalan ini dapat terjadi akibat erosi tebing dan dasar sungai maupun akibat erosi lahan di Daerah Aliran Sungai.8 milyar rupiah.. Perubahan fisik yng terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan retensi DAS terhadap banjir.) adalah akibat penggundulan hutan di sekitarnya.

Kekeringan Meteorologis Tipe kekeringan ini paling mudah untuk diidentifikasi dan difahami. Indeks Kekeringan Menurut De Martonne dengan : P = curah hujan tahunan rerata (mm). T = temperatur tahunan rerata. Batasan atau kriteria kekeringan sampai sekarang belum disepakati secara luas. Tidak ada batasan mengenai berapa lama hari/bulan tanpa hujan atau berapa banyak kekurangan air. 2. Kekeringan meteorologis didasarkan pada kriteria kuantitatif berupa indeks kekeringan. Kekeringan seringkali ditanggapi dengan pemahaman yang berbedabeda. sehingga dapat memberikan hasil yang baik. ada beberapa tipe kekeringan yang akan ditunjukkan untuk dapat digunakan sebagai acuan. Namun demikian. a = indeks kekeringan. Hal ini menunjukkan bahwa kekeringan merupakan kejadian yang spesifik pada suatu wilayah. a. Suatu wilayah dapat dikatakan mengalami kekeringan meteorologis apabila hujan tahunan rerata yang terjadi tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk evapotranspirasinya atau dapat juga dibandingkan dengan temperaturnya.Penampang pengaliran sempit karena formasi geologi yang keras Adanya ambang alam yang keras Belokan tajam pada sungai akan menimbulkan arus menyilang yang berbahaya Bangunan silang sengan sungai dengan rongga terlalu sempit Pertemuan antara dua sungai atau lebih dengan arus saling merintangi Faktor-faktor di atas perlu mendapatkan perhatian cukup serius dalam penanganan masalah banjir. . Kekeringan Kekeringan merupakan salah satu bentuk kondisi ekstrim dan kejadian alam yang kejadiannya tidak dapat dihindari serta karakteristiknya masih menyimpan ruang yang luas untuk dipelajari dan dikaji lebih mendalam. Selanjutnya indeks kekeringan dapat digunakan sebagai indikator dalam menetapkan klasifikasi tingkat kekeringan suatu wilayah.

tampungan dalam tanah dsb. didefinisikan sebagai jumlah penguapan dari suatu wilayah yang tertutup tumbuhan dengan kecukupan air untuk terjadinya penguapan maksimum menurut kondisi klimatologi. c.Menurut De Martonne. Kekeringan Pertanian Kekeringan pertanian merefleksikan kekurangan lengas tanah yang dibutuhkan oleh tanaman untuk hidup (evapotranspirasi). titik layu awal dan titik layu permanen. Apabila jumlah hujan tahunan rerata lebih kecil dari Eto tahunan. Kekeringan hidrologis dapat dilihat dari debit aliran rendah (lowflow). apabila terjadi kekeringan hidrologi maka secara meteorologi juga mengalami kekeringan. Kondisi kekerinan hidrologi tidak selalu terjadi secara bersamaan dengan kekeringan meteorologis. Evapotranspirasi potensial ini dihitung berdasarkan rumus Thornthwaite sebagai fungsi emperatur rerata bulanan. tampungan air di danau/waduk. wilayah kering wilayah semi kering .20 0. Tetapi pada umumnya. < 0.50 b. Nilai ini dibandingkan dengan tinggi curah hujan tahunan rerata (P). kapasitas lapang.03 < < 0. Respon tanaman terhadap kondisi lengas tanah sangat bervariasi. Indeks kekeringan menurut UNESCO (1979) Menurut UNESCO tingkat kekeringan diukur berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial Eto yang dihitung menurut rumus Penman. Sebagian tanaman mampu bertahan hidup dan tumbuh dalam kondisi lengas tanah yang rendah. Kadangkala ada daerah yang mengalami kekeringan meteorologi tetapi kalau dipandang dari sisi hidrologi sebenarnya tidak mengalami kekeringan. tetapi ada juga tanaman yang membutuhkan lengas tanah tinggi untuk bertahan hidup.03 Wilayah Super Kering 0.20 < < 0. Metode ini dianggap masih mengandung kelemahan karena mengabaikan pengaruh variasi musiman dan amplitudo harian dari temperatur di wilayah kering. suatu wilayah yang memiliki nilai a < 15 dikategorikan sebagai wilayah kering. Kekeringan Hidrologi Kekeringan tipe ini merefleksikan kondisi sistem air dalam suatu wilayah baik untuk air permukaan maupun air bawah permukaan. Beberapa batasan kondisi lengas tanah untuk tanaman yaitu kondisi jenuh. Indeks Kekeringan Menurut Thornthwaite (1948) Metode ini mengukur kekeringan suatu wilayah berdasarkan nilai evapotranspirasi potensial (Eto). maka wilayah tersebut merupakan daerah semi kering. Kondisi lengas tanah ini berdampak langsung pada produktifitas tanaman.

kebutuhan air untuk berbagai keperluan terpenuhi. pemeliharaan reservoirreservoir alamiah dan pembuatan resapan-resapan yang dapat memasukkan air hujan sebanyakbanyaknya ke dalam tanah. Aris mengingatkan perlunya masyarakat lebih waspada akan kemungkinan sering terjadinya banjir.swara. sementara debit musim kemarau semakin menurun sudah difahami bersama. Penanganan banjir melalui peningkatan retensi banjir dapat dilakukan dengan cara program penghijauan yang menyeluruh baik di perkotaan maupun perdesaan.Nampak bahwa kekeringan yang terjadi dapat merupakan interaksi berbagai tipe kekeringan yang menambah kesulitan pengertian tentang kekeringan. sedang 345 ha puso (www. Contoh penanganan banjir dan kekeringan secara terpadu dapat diuraikan sebagai berikut. Fenomena bahwa banjir semakin meningkat dari waktu ke waktu. sebagaimana diketahui. muka air tanah dapat diharapkan stabil. adalah persoalan kelebihan air.net).pikiran_rakyat. daerah pantai tersebut kesulitan mendapatkan air bersih. Kekeringan yang melanda Pulau Jawa terutama disebabkan oleh berkurangnya luas hutan dan meningkatnya penggunaan lahan non hutan. Jawa Barat yang bermuara di Selat Sunda. tanah longsor dan tentu saja kekeringan. 3. Tanah diharapkan dapat menjadi tampungan air sementara dan secara perlahan-lahan air dialirkan ke sungai sehingga tidak menimbulkan banjir di hilir. Disisi lain pada musim kemarau. Salah satu contoh kodisi tersebut ditunjukkan pada kejadian aliran di sungai Cidanau dari tahun 1998 – 2000 sebagai berikut : Gambar 1.802 ha mengalami kekurangan air dengan status berat dan ringan. Fluktuasi debit rata-rata bulanan Sungai Cidanau Mengingat fenomena di atas. Penanganan Banjir dan Kekeringan Secara Terpadu Banjir.com). Daerah Industri Cilegon Sungai Cidanau terletak di Daerah Cilegon. sumber air terpelihara. sementara kekeringan adalah persoalan kekurangan air. Sawah seluas 24. Contoh daerah yang mengalami kekeringan yaitu di Jawa Barat pada Juni 2003. Kesimpulan ini dipeoleh Aris Poniman dari hasil penyusunan neraca sumberdaya hutan dan lahan (www. Sungai ini sering membanjiri daerah Industri Cilegon dan sekitarnya. Manfaat langsung peningkatan retensi ini adalah terjaganya konservasi air di DAS. Peningkatan lahan non hutan dapat mengakibatkan kekeringan karena keseimbangan ekosistem dalam suatu DAS terganggu. Namun secara umum dapat dirangkum bahwa kekeringan adalah peristiwa terjadinya kesenjangan antara ketersediaan air dan kebutuhannya di masing-masing wilayah dan untuk tiap-tiap penggunaan. alangkah baiknya jika penanganan kedua persoalan tersebut dapat dilakukan secara terpadu. Untuk mengatasi kesulitan air bersih .

Gambar 2.200 ha. PT Krakatau Tirta Industri membuat waduk Krenceng yang letaknya 27. dan yang paling utama adalah pembebasan daerah Surakarta yang padat penduduk. Waduk ini mulai beroperasi pada th 1982.5 juta m3. Sehingga nilai koefisien aliran dan erosi lahan . Daerah Aliran Sungai ini terletak pada 7°39¢32² – 7°45¢ 08² LS dan 110°59¢02² – 111°2¢15² yang ditunjukkan pada Gambar 3.000 ha. Namun dengan berjalannya waktu. Pengendalian Banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dan Penyediaan Air Irigasi Pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo Hulu dilakukan dengan pembuatan waduk Wonogiri yang terletak ± 2 km sebelah selatan kota Wonogiri. Dari waduk air dialirkan ke Water Treatment Plant Krenceng dengan kapasitas pengolahan 2000 lt/dt. Oleh karena itu PDAM Surakarta akan memanfaatkan air Bengawan Solo untuk air baku dalam penyediaan air bersih bagi Kodya Surakarta. 1978). Catchment areanya sebesar 1350 km2 dan kapasitas tampungan 650 juta m3. Ltd. Luas area DAS Goseng = 5..dan mengurangi besarnya debit banjir. Daerah Aliran Sungai Goseng Daerah Aliran Sungai Goseng merupakan ordo pertama sungai Samin yang bermuara di Sungai Bengawan Solo. Permasalahan yang ada di DAS Goseng yaitu dibukanya lahan dengan kemiringan yang terjal sebagai tegal oleh masyarakat setempat. Sketsa tata letak waduk Krenceng U WTP Wd.Kreuceng Air baku untuk kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Cidanau dengan lokasi intake 700 m dari Selat Sunda di Kecamatan Cinangka. Terbangunnya sistem pengadaan air bersih di daerah Cilegon tersebut dapat mengatasi kesulitan air bersih dan sekaligus dapat mengurangi besarnya debit banjir. areal irigasi di Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan atau industri. Daerah banjir yang dapat dibebaskan seluas ± 11. Daerah Irigasi yang mendapatkan air dari waduk Wonogiri meliputi wilayah Kabupaten Sukoharjo. Selain untuk pengendalian banjir waduk juga dimanfaatkan untuk irigasi.2 km dari Sungai Cidanau.96 km2. Karanganyar. Sragen dan Klaten dengan luas 23. Waduk ini direncanakan untuk mengurangi debit banjir sebesar 4000 m3/detik menjadi 400 m3/detik (Nippon Koei Co. sehingga genangan yang sering terjadi dapat menurun. Kapasitas waduk tersebut yaitu 2. Dari intake air dipompa menuju waduk Krenceng yang merupakan penyimpanan cadangan air baku.

Mampukah Sarana dan Prasarana Pengendali Banjir dan Sistem Drainasi Membebaskan Dataran Banjir dari Ancaman Banjir dan Genangan. Penurunan debit puncak dengan adanya skenario reboisasi Gambar 5. Harapan ini tentunya akan lebih mudah terwujud jika dapat dilakukan reboisasi secara serempak. dengan harapan dapat memberikan tambahan air ke dalam tanah dan mengurangi erosi lahan. Prinsip Dasar Pengelolaan Kekeringan. Yogyakarta Comments: Be the first to comment ARSITEKTUR TRADISIONAL SULAWESI SELATAN PUSAKA WARISAN BUDAYA LOKAL INDONESIA Posted October 9.. 20 % luas DAS menjadi hutan atau tanpa reboisasi tetapi seluruh tegal dengan kemiringan tersebut di buat teras. Seminar Pengendalian Kekeringan DPS Mahakam. HMS UAJY dan HATHI. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. Informasi yang dapat diperoleh dari analisis ini bahwa adanya penghutanan kembali DAS memberikan harapan bahwa besarnya cadangan air tanah untuk berbagai kebutuhan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Gambar 3. Banjir Terus Menerus di Indonesia dan Tinjauan Eko-Hidrolis. Daftar Pustaka Agus Maryono. 2001. 2002. 2009 by syahriartato Categories: SENI DAN BUDAYA . Usaha penambahan luas hutan diaplikasikan pada DAS Goseng. Kursus Singkat Sistem Sumberdaya Air Dalam Otonomi Daerah II. PT. Jur. Prediksi penambahan volume air akibat penghutanan kembali DAS C. Perencanaan Pengembangan dan managemen Sumberdaya Air untuk Mengantisipasi Kekeringan DAS Mahakam. Seminar Permasalahan Banjir di Indonesia. 15. HMS UAJY dan HATHI. Cilegon.meningkat. 2002. Kalimantan Timur Siswoko. Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Untuk Industri Cilegon dan Sekitarnya serta Kualitas dan Kuantitas Sungai Cidanau. Yogyakarta Krakatau Tirta Industri. Rachmad Jayadi. yang ditandai dengan meningkatnya nilai debit puncak dan kekeruhan air sungai Samin. 10. 2002. yang berarti ada penambahan volume air ke dalam tanah sebagai ditunjukkan pada Gambar. Yogyakarta Sudjarwadi dan Fuad Bustomi. Lahan tegal dengan kemiringan 25 – 65% dicoba untuk di hutankan kembali dengan skenario 5. Kejadian hujan yang digunakan dalam analisis yaitu kejadian pada tanggal 14 Januari 1997. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan debit puncak. Teknik Sipik UGM. 2000.

Ketika interaksi sosial budaya suatu masyarakat semakin luas maka kian beragam dan kompleks jaringan yang dilakoninya. harapan. Kondisi ini. Kini. Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa ―kebudayaannya‖ masih asli. dampak negatif juga pasti terjadi. Kebudayaan lokal akan cenderung semakin terpuruk dan akhirnya porak poranda kehilangan identitas. Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya. Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. Suka tidak suka. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan ―setempat‖ biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak ―budaya‖ dengan pihak luar. nasion bahkan generasi pada suatu skala ―interaksi‖ sosial budaya. etnografis. penegakan hukum dan hak azasi.Kebudayaan dan Arsitektur Tradisional. atau semakin mereka menutup diri dari pergaulan dengan luar komunitasnya. Manusia beraktifitas mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan dimuka bumi ini. etnis. Sebaliknya. dimasa interaksi sosial budaya masyarakat semakin luas dan terbuka. baik di tingkat lokal. keterbukaan dapat mengakibatkan infiltrasi kebudayaan yang membawa nilai-nilai baru yang tidak semuanya baik dan sesuai dengan nilai luhur yang dimiliki hingga dapat menimbulkan dekadensi kebudayaan. manusia dapat saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak. kesan. Perkembangan positif yang telah terjadi adalah berkembangnya keterbukaan. dimana masyarakat semakin mengabaikan batas geografis. maka semakin kuat pula hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan ―budaya‖nya. perkembangan semangat demokrasi dan reformasi menjadi fenomena umum yang turut mendorong terjadinya pola interaksi sosial budaya baru. maka semakin besar pula peluang masyarakat tersebut untuk mengembangkan ―kebudayaan‖-nya. komunitas. Di Indonesia. Dengan menggunakan simbol-simbol yang diciptakannya. bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya. perkembangan demokrasi dan reformasi tersebut telah mendorong pengaruh yang memberi dampak positif sekaligus negatif. hingga pergaulannya kemudian semakian luas hingga menembus batas antar personal. berisi ungkapan makna yang digunakan ketika berkomunikasi menyampaikan pesan. memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan pergaulan dan kehidupan kemasyarakatan. Bila tidak ada filterisasi dan proteksi secara dini. regional maupun global. Kemampuan berfikir secara “metaforik‖ itu terwujud dalam kreativitas penciptaan berbagai ―symbol‖. Semakin tinggi intensitas interaksi sosial budaya yang dikembangkan oleh suatu komunitas lokal dalam pergaulannya dengan komunitas diluarnya. karena meningkatnya transportasi dan informasi yang mengantarkan ―budaya‖ baru. berbekal kemampuan berfikir secara ‖metaforik‖ serta memanfaatkan seluruh indranya. Masyarakat semakin terbuka. negara bahkan bangsa. Komunikasi secara simbolik itu dilakukan dengan efektif. etis dan manusiawi untuk membangun kesepahaman. kian diperparah karena anutan . pengalaman. transparansi. mengarahkan mereka menuju suatu keadaan imajiner.

Sebaliknya perbuatan manusia yang menyimpang dari tatanan dan aturan itu. menarik dan mentransformasi masuknya kebudayaan mancanegara. hukuman pembawa malapetaka. Dalam masyarakat kapitalistis.―model‖ pembangunan di Indonesia. penghayatan. penguasaan power kekuasaan sebesar-besarnya tetapi mengabaikan bagaimana cara atau proses mencapainya. Komunitas etnis atau masyarakat tradisional perlahan memudar. atau bagaimana memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. niscaya hidup manusia akan tenang dan damai. akan menjadi ―dosa‖. Tak heran jika yang nampak pesat berkembang kemudian adalah budaya opportunis dan hedonis yang lebih mengunggulkan rasio―kebudayaan otak‖. mereka sudah sangat sulit untuk hanya mempertahankan ciri khas ―budaya‖ lokalnya sebagai unggulan warisan leluhur mereka saja. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai dalam pencapaian skala materialistis -―ekonomi kebendaan‖ semata. nilai-nilai batin dan nilai-nilai ―spiritual‖ terus tergerogoti hingga keberadaannya merosot tajam. hampir semua aspek kehidupan bangsa sudah saling berinteraksi secara bebas. bercampur. kian tercemari nilai-nilai kebendaan dan pragmatisme. penyimpangan yang bisa berakibat terjadinya sangsi. Keberadaannya telah secara cepat menjadi katalisator yang sangat cepat. Suatu yang sesungguhnya memiliki tempat terhormat dalam kepribadian bangsa Indonesia sebagai wujud dari ―nilai warisan‖ nenek moyang bangsa. Kebudayaan rasa berintikan pada proses. Sementara disisi lain nilainilai non ekonomi. Dampak berbagai dari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. nilai kewibawaan. Orang-orang ingin serba bergegas cepat. sementara yang dikejar adalah bagaimana cara memperoleh selembar ijazah. yang mengatur segala apa yang terjadi secara harmonis. . Padahal. Tatanan atau acuan itu bersifat ―Stabil‖. acuan tetap. serta mempengaruhi sendi kehidupan secara keseluruhan. Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan kekurangsiapan sebagian besar masyarakat Indonesia mengantisipasi kemajuan yang sangat pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kepercayaan dan pemahaman akan tatanan dan acuan yang mengatur itu kemudian mengendap. solidaritas dan empati bagi sesama. berbanding terbalik dengan sensitifitas ―kebudayaan rasa‖ yang cenderung pelan karena segala sesuatu perlu proses dan pengendapan. banyak orang yang mengabaikan mutu. Teknologi komunikasi dan teknologi informasi sudah semakin canggih. masyarakat tradisional Indonesia sesungguhnya sangat percaya akan pentingnya suatu proses yang membentuk tatanan. Sementara nilai-nilai moral. nilai ekonomis cenderung menjadi tujuan utama yang sangat kuat menonjol. nilainilai batin dan spiritual. telah menjadikan batas-batas antar bangsa sudah semakin tidak jelas. Bila tidak bertentangan dengan keselarasan dan harmoni alam. menjadi sumber segala anutan. Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada pencapaian prestasi sesaat. Keluhuran budaya lokal yang adiluhung dan bersahaja itu. apapun yang dilakukan manusia haruslah sesuai atau selaras dalam harmoni tatanan kehidupan alam sekitarnya. mengkristal. ―Selaras‖ dan ―kekal‘‖ karena lahir dari proses yang panjang. bahkan nilai-nilai itu seolah menjadikan semacam komoditas eceran. ukuran kemuliaan dan kebahagiaan manusia. keadilan dan nilai-nilai ―kearifan budaya leluhur‖ terabaikan. sementara masih lebih bertumpu pada prioritas pembangunan ekonomi yang kapitalistis. menjadi landasan nilai ―budaya‖. Sesungguhnya. Kenyataannya terlihat pada apa yang terjadi didunia pendidikan.

perbuatan manusia itu selalu berdimensi dua atau ―dwimatra‖. Suatu tatanan yang selalu ―teratur”. Telaah arsitektur pada umumnya berpijak pada unsur – unsur ‖konsep”. Kedua : ―Ritual” berupa upacara atau perlakuan simbolis yang berfungsi atau dimaksudkan untuk memulihkan harmoni tatanan alam agar tetap selaras dengan manusia.. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup. dari sudut pandang itu akan dikenali karakteristiknya.Pada masyarakat tradisional Indonesia. manusia menggunakan tanda – tanda atau “simbol”. yaitu ―mistik‖ dan ―simbolik‖. yang diatur dalam sebuah tatanan ―budaya‖ atau ―kebudayaan‖. Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. Arsitektur sebagai unsur kebudayaan. Awalnya. laksana salah satu bentuk bahasa ―non-verbal‖ manusia yang bernuansa simbolik. Arsitektur adalah alat komunikasi manusia secara ―non verbal” yang mempunyai nuansa sastrawi. Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hanya hidup dalam suasana kepercayaan leluhur semata yang di pengaruhi oleh ―ethos budaya‖ lokal yang ekslusif serta mempunyai sifat-sifat khusus. dari masa ke masa. Ketika bicara tentang ―kebudayaan” secara komprehensif. maka ―arsitektur” adalah salah satu wujud hasil karya seni budaya. pertama : ―mitos asal‖. kehidupan manusia hanya terbatas dan berpusat pada kehidupan dirinya sendiri. Keterkaitan hubungan antara kebudayaan suatu bangsa dengan arsitektur. maka kehidupan ‖egocentrum‖ kemudian berubah menjadi bagian integral dari kehidupan habitat sekitarnya. Dalam naskah kuno sastra jawa dan kitab sastra “lontara” Bugis Makassar secara jelas dapat ditemukan relevansi antara lingkungan dan kehidupan budaya manusia. Ada dua macam tanda penting. Arsitektur sebagai hasil karya seni budaya diakui sebagai salah satu wujud kebudayaan yang dapat dijadikan cerminan dari kehidupan manusianya. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya itu didasarkan pada anggapan bahwa eksistensi hidup ada dalam rangkuman makrokosmos alam raya. perbuatan. sikap dan prilaku ―behavior” serta hasil karya seni ―artefak”. Kemudian manusia mengembangkan diri melalui dorongan naluri dan nalarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak jauh berbeda dengan sastra verbal yang metaforik. menjadi pola pengendali hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. ―tersusun” dan ―berulang” secara ―hirarkis” otomatis dalam sebuah ―tatanan budaya” yang terjaga. Arsitektur itu sendiri dapat dipahami melalui wacana metafor keindahan. Itulah dasar-dasar filosofi yang mewarnai ―Budaya‖ masyarakat tradisional Indonesia. agar manusia dapat terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan serta kesejahteraan dalam kehidupan. Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya ―kosmologi‖ yang menyeluruh. Kekhususan itu ditandai dari cara mereka mempertahankan suasana hidup selaras. harmonis dan seimbang dengan kehidupan ―habitat‖ sekitarnya. cara ―membangun” dan ―wujud nyata” dari ―bangunan‖ sebagai suatu lingkungan buatan dalam rekayasa lingkungan sekitarnya. Ed. 1999 . hal tersebut terwujud pada penggambaran bentuk ―rumah adat” yang diciptakannya. Sumber : Tjahjono. Telaahan ―kebudayaan” selalu berpijak pada unsur-unsur buah pikiran ―idea”. ―Egocentrum‖. tergambar pada telaahan masing –masing unsurnya.

Rumah Tradisional Nusantara “Konsep Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan ” Dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan. cara berinteraksi. Adat istiadat menjadi semacam pedoman dalam berpikir dan bertindak sesuai pola kehidupan masyarakatnya. Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk “Segi Empat”. Filosofi yang bersumber dari “mitos” asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur. Terwujud baik dalam tingkah laku. yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. mulai dari pemilihan tempat. dan “alam bawah”. alam tengah “banua tengah” dan alam bawah ―banua bawah” . yaitu alam atas atau “banua atas”. Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos. termasuk perlakuan dalam tata cara membangun rumah di dalam lingkungan alam sekitarnya. bersemayam di “Botting-Langik” (langit tertinggi). api.Gambar 1. Filosofi hidup masyarakat tradisional Bugis Makassar yang disebut “Sulapa Appa”. bentuk arsitektur. Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut “Dewata Seuwae” (dewa tunggal). air. anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan. hingga penyelenggaraan upacara ritual ketika proses membangunnya. bagaimana memahami alam semesta secara ―universal”. Termasuk tata cara atau prosesi pembuatan rumah. Semua pranata-pranata yang berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus berdasarkan kosmologis yang diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis. Tata cara pembuatan rumah menurut konsep arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. penentuan arah peletakan rumah. Adat istiadat dan kepercayaan adalah warisan nenek moyang yang mengisi inti kebudayaan. segala sesuatu yang menyangkut kehidupan masyarakat selalu dilakukan bersendikan adat istiadat. Abu Hamid (1978:30-31) dalam ―Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan‖ menuliskan bahwa rumah tradisional orang Bugis tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk ―segi empat‖. Oleh sebab itu berbagai upacara. dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka.. maka rumah tradisional Bugis Makassar dipengaruhi oleh pemahaman: “Struktur kosmos” dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu “alam atas” . Benua bawah disebut “Uriliyu” (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. yaitu : tanah. Bagi masyarakat tradisional Bugis-Makassar yang berfikir secara totalitas. menunjukkan upaya untuk “menyempurnakan diri”. Hal tersebut dipercaya sebagai warisan yang diterima langsung dari sang pengatur tata tertib kosmos untuk menjadi pengarah jalannya lembaga-lembaga sosial. . Konsep Bugis Makassar Konsep arsitektur masyarakat tradisional Bugis-Makassar bermula dari suatu pandangan hidup ontologis. pesta dan upacara kemasyarakatan yang berdasarkan pada adat istiadat. merujuk pada pesan atau wasiat yang bersumber dari kepercayaan dan adat istiadat yang dianut masyarakat Sulawesi Selatan. “alam tengah”. dan angin. tetap diadakan untuk menjaga kesinambungan dan pelestarikan prosesi budaya bangsa.

berapa pasak (pattolo) yang akan dipakai. menghadap kedataran tinggi. Untuk pendirian rumah. Panre Bola menguasai ilmu pengetahuan tentang tata cara pengerjaan rumah. . Seperti kebanyakan rumah tradisional di indonesia. Rumah tradisional Bugis-Makassar pada dasarnya terwujud dalam beberapa macam yaitu : . tetapi terutama demi kelangsungan hidup secara kosmis. Beberapa hal yang penting diketahui bahwa dalam proses mendirikan rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar. sedang untuk bangsawan biasa jumlah tiang kesamping dan kebelakang 4 hingga 5 tiang. mereka selalu meminta pertimbangan dari “Panrita Bola‖ atau Panre bola untuk pencarian tempat.Menurut Mangunwijaya (1992:95-96). puncak sambulayang/timpalaja hanya dua susun. kepercayaan tentang adanya pengaruh kosmologis sudah sangat dimaklumi masyarakat BugisMakassar.Rumah Orang Kebanyakan ―Tosama‖. menunjukkan arah yang dianggap cocok dan baik. tata wilayah dan tata bangunan alias arsitektur tidak diarahkan pertama kali demi penikmatan rasa estetika bangunan. . menyusul pemasangan tiang tiang yang lain. Adapun hari ataupun bulan yang baik. menghitung berapa tiang (aliri). atau menghadap ke salah satu arah mata angin. bahwa bagi orang-orang dahulu. Dalam hal ini peranan seorang Panrita Bola sangat menentukan melalui nasehat-nasehat mereka yang akan menjadi pegangan bagi penghuni rumah. pada puncak rumah induk terdiri dari tiga atau lebih sambulayang /timpalaja. Pada tahap selanjutnya secara berurutan mulailah mendirikan rumah dengan mengerjakan pemancangan tiang pusat rumah yang disebut ‖posi’bola” terlebih dahulu. Artinya selaku bagian integral dari seluruh ―kosmos‖ atau ―semesta raya‖ yang keramat dan gaib.Rumah Hamba sahaya ―Ata” atau “Suro”. Selain itu salah satu faktor pertimbangan lain yang selalu diperhitungkan adalah pemilihan waktu saat mendirikan rumah.Rumah Kaum Bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng”. dimulai dari pemilihan jenis kayu. Untuk rumah bangsawan ―Arung‖ atau “Karaeng” yang memegang jabatan. Beberapa wasiat yang menjadi perhatian dalam hal menentukan arah rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar misalnya: sebaiknya menghadap kearah terbitnya matahari. hingga pekerjaan selesai dikerjakan secara keseluruhan. Termasuk pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah hingga akhirnya merekostruksi rumah yang diinginkan serta perlengkapannya. biasanya didahului oleh serangkaian upacara-ritual. biasanya ditentukan atas bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dalam hal memilih waktu. rumah Bugis Makassar juga dipengaruhi oleh adanya strata sosial penghuninya. Tiang kesamping dan kebelakang berjumlah 5 hingga 6 batang. . Untuk rumah ―Tosama‖ atau orang kebanyakan/masyarakat umum terdiri dari 4 buah tiang kesamping dan kebelakang.

.Ale bola / kale balla. alat bertukang. memandang kosmos terbagi atas tiga bagian. dan lain-lain. Disini melekat plafond tempat atap bertumpu dan menaungi. Fungsinya yaitu: Penahan berdirinya tiang-tiang rumah. batang kelapa.Makassar. Selain ruang ruang tersebut. dan ruang samping yang memanjang pada bagian samping yang disebut “tamping”.Rakkeang / Pammakkang. pengandangan ternak. terletak pada bagian atas. Bahan biasanya dari kayu jati. Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa. letaknya diruang bahagian depan. . dan lain lain. dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe sebagai dasar tumpuan lantai. Pondasi/ ―Umpak‖. . Pada rumah bangsawan jumlahnya biasanya 5 hingga 6 batang (sesuai petak rumah).Awaso / siring. tempat meletakkan tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. terletak diruang bahagian belakang. terletak pada bagian bawah rumah. maka secara struktural rumah tradisional Bugis Makassar terbagi atas : Struktur bagian bawah. Bagian ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan alat cocok tanam.“Lontang ri saliweng/padaserang dallekang”.ruang dapur. Biasanya ruang ini menjadi tempat pusat aktivitas interaksi penghuni rumah.“Lontang ri tengnga/padaserang tangnga”.hamba sahaya berukuran yang lebih kecil. berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah. .untuk rakyat biasa 4 batang.Bentuk rumah ―Ata” atau “Suro”. serta ruang kecil di depan rumah yang disebut “lego-lego” atau “paladang”tempat berbincang atau bercengkerama. Pada umumnya rumah tradisional Bugis-Makassar berbentuk panggung dengan penyangga dari tiang yang secara vertikal terdiri atas tiga bagian yaitu : . “Palangga” (Makassar). Sedang secara horisontal ruangan dalam rumah terbagi atas tiga bagian yaitu : . masih ada lagi tambahan dibagian belakang ―Annasuang‖ atau “Appalluang”. biasanya hanya terdiri dari tiga petak. lontar. “Pattolo” (Bugis). terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari panjang rumah. terletak pada bagian tengah. Berdirinya tiang ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut: “Pattoddo” (Makassar). . Ruangannya terbagi atas beberapa petak dengan masing – masing fungsinya. “Arateng‖ (Bugis). Sebagaimana diketahui dalam konsep arsitektur tradisional Bugis. dengan sambulayang/ timpalaja yang polos. Selain itu dimanfaatkan menjadi tempat penyimpanan atribut adat kebesaran. bambu dan lain-lain. terletak diruang bahagian tengah.“Lontang ri laleng / padaserang riboko”. juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan padi sebagai lambang kehidupan/kesejahteraan pemiliknya. Dibagian ini ada sebuah tiang yang lebih ditonjolkan diantara tiang tiang lainnya.

rangka utama berpegang. Dinding untuk bahan penutup digunakan gamacca. bertumpu pada balok nok. Golongan ―Tosama‖ = ½ lebar rumah + 1 telapak tangan. Rakkeang/Pammakkang. dan bahan atap. Sistem konstruksinya biasanya menggunakan pen. kelapa. jati. dimensi 4 x 12. papan. lantai rumah biasanya tidak rata karena adanya ―tamping‖ yang berfungsi sebagai sirkulasi. Sistem konstruksinya. Berfungsi sebagai tempat kedudukan balok-balok gording dan sebagai penahan bidang atap sistem konstruksinya menggunakan sistem ikat. dimensi balok ± 4/12 cm. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dalam arah memanjang. Sistem konstruksinya. Sistem konstruksinya. takik. tiang dilubangi setebal penampang balok pengerat kemudian padongko di tusuk pada setiap lubang dari tiang. atau 6 x 15 cm. Struktur dan konstruksi bagian atas rumah terdiri dari konstruksi kap/atap yang merupakan suatu kesatuan yang kokoh dan stabil untuk menahan gaya.5 x 14. ikat. pendukung kaso. balok bubungan diletakkan diatas balok makelar yang ditakik kemudian diperkuat dengan paku pen. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa ―Tosama‖ umumnya rata tanpa tamping. Komponennya terdiri atas : Balok makelar ―soddu‖ atau ―suddu‖. Balok pasolla berbentuk pipih ± 3/12 cm. Balok pengerat ―Pattoddo riase‖ atau ―Pannoddo‖. dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. ―Arung‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + 1 jengkal telunjuk + 3 jari pemilik. bahan lantai dari papan. . 2. merupakan bagian konstruksi atas yang berupa bidang segitiga dan dibuat berlapis. Panjangnya lebih sedikit dari lebar rumah. bila tiang dari bahan bambu maka tiang dan balok pengerat ditakik ± 1/3 dari diameter. Sistem konstruksinya dengan sistem ikat/takik pen. sebagai tempat memakukan / mengikat papan lantai ―Rakkeang‖ atau ―Pammakkang‖. Terletak ditengah antara balok pengerat dan balok skor. pada kedua ujung bagian bawah terletak pada balok ―Pattikkeng‖. jepit dan ikat. Golongan ―Ata‖ = ½ lebar rumah + 1 siku + tinggi kepala + kepalan tangan pemilik. Untuk golongan bangsawan ―Arung‖. dan diperkuat dengan pasak. Konstruksi balok anak. bahannya dapat berupa bambu atau papan. Golongan hamba sahaja ―Ata‖ umumnya dari bambu. ―Sambulayang” atau ―Timpalaja‖. tempat memasang timpalaja dan tempat meletakkan balok rakkeang. Balok bangunan ―Coppo‖. Balok blander ―Bare‖ atau ―Panjakkala”. Bila segi empat. Jumlahnya ganjil dengan jarak rata-rata 20 hingga 50 cm. dengan ketinggian disesuaikan dengan status penghuninya. Fungsinya adalah sebagai ring balok. merupakan penahan lantai. dengan sistem konstruksi ikat dan jepit. dan paku pen. kemudian diikat. adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dari tiap baris arah lebar rumah. kaso. berdasarkan status penghuninya maka lantai rumah tradisional terdiri dari . komponen komponen utama bagian ini adalah : 1. dan lain-lain. Bahan biasanya batang lontar. berfungsi sebagai tempat kedudukan balok bubungan dan kaki kudakuda. ―Barakapu‖. Kaki Kuda – kuda ―Pasolle‖. sebagai tempat penyimpan barang dan lain-lain.Struktur badan rumah. Lantai. Sistem konstruksinya. berfungsi sebagai tempat bertumpunya balok ―suddu‖.

bintang tunggangan dan status sosial. Kedua susunan anak tangga tersebut diantarai oleh pararang. Fungsinya sebagai penahan angin yang berpegang pada balok gording dengan sistem sambungan pen dan lubang. rumbia. berupa papan yang dipasang pada ujung sisi depan dan belakang atap. semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang. daun yang memiliki arti rejeki yang tidak putus putusnya. agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan baik dan membawa keberuntungan. yaitu : ”boyang adaq” dan ”boyang beasa”. anjong. Bentuk ayam jantan yang diartikan sebagai keuletan dan keberanian. Ornamen flora corak tumbuhan . Gambar 2. atau daun lontar.Les plank ―Ciring‖. sama ”Ethos Kosmos” yang berlaku pada etnis Bugis Makassar. ”tumbag layar‖ nya tidak bersusun. Umumnya bermotifkan kaligrafi dari kebudayaan islam. disamping motif yang lainnya. Rumah Tradisional Bugis Makassar Konsep Mandar Identitas Arsitektur Tradisional Mandar tergambar dalam bentuk rumah tradisional yang disebut ”boyang” . dikenal adanya dua jenis boyang. dan lain-lain. Bagian pertama disebut ”tapang” yang . Ornamen fauna corak binatang. tangganya terdiri atas dua susun. Simbolik lain dapat dilihat pada struktur tangga. juga dapat berfungsi sebagai simbol status pemilik rumah. Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ pada rumah tradisional Bugis-Makassar merupakan salah satu bagian tersendiri dari bentuk dan corak rumah tradisional Bugis-Makassar. Selain berfungsi sebagai hiasan. sedangkan ”boyang beasa” ditempati oleh orang biasa. tangga tidak bersusun. Rumah tradisional Mandar berbentuk panggung yang terdiri atas tiga bahagian. Bentuk pelana dengan sudut antara 30 hingga 40°. Pada boyang adaq. Umumnya bermotifkan bunga/ kembang. misalnya ”tumbaq layar” yang bersusun antara 3 sampai 7 susun. ujungnya kadang diberi hiasan ―Ornamen‖. alang alang. Sedangkan pada boyang beasa. flora dan fauna. Ornamen corak alam. Pada ”boyang adaq” diberi penanda sebagai simbolik identitas tertentu sesuai tingkat status sosial penghuninya. penunjuk jalan. seperti menjalarnya bunga itu. jendela. Penggunaan ragam hias tersebut menandakan bahwa derajat penghuninya tinggi. kekuatan yang dahsyat. ”Boyang adaq” ditempati oleh keturunan bangsawan. Penempatan ragam hias ornamen tersebut utamanya pada sambulayang/timpalaja. Umumnya bentuk yang sering ditemukan adalah : Kepala kerbau yang disimbolkan sebagai bumi yang subur. bahan dari nipa. Ragam hias umumnya memiliki pola dasar yang bersumber dari corak alam. susunan pertama yang terdiri atas tiga anak tangga. sedangkan boyang beasa. Bentuk naga yang diartikan simbol wanita yang sifatnya lemah lembut. sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. Atap. Simbolik tersebut.

baik boyang adaq maupun boyang beasa mengenal tiga petak ruangan yang disebut lotang. meliputi atap dan loteng. tiga saling membutuhkan). di mana aktivitas keluarga dan hubungan sosial antara sesama anggota rumah tangga. petak paling belakang. Di ujung bawah atap. Petak yang di tengah biasanya lebih lebar dibanding dengan petak-petak yang lainnya. Ruangan tersebut terletak di bawah tapang yang menggunakan lantai yang terbuat dari papan atau bilah bambu. Rumah orang Mandar. Penempatan songi untuk anak gadis lebih menekankan pada fungsi pengamanan dan perlindungan untuk menjaga harkat dan martabat keluarga. yaitu ”ate” (atap). hanya dipasang pada saat akan digunakan. baik pada bagian kanan maupun kiri diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Pada ”tumbaq layar” tersebut dipasang ornamen ukiran bunga melati. tallu tammallaesang” (dua tak terpisah. Petak ini sering ditempatkan ”songi” (kamar) untuk anak gadis atau para orang tua seperti nenek dan kakek. petak kedua disebut ”tangnga boyang” (petak bagian tengah) dan petak ketiga disebut ”bui’ lotang” (petak belakang). terdapat tangga yang terbuat dari balok kayu atau bambu. Pada masa lalu.letaknya paling atas. Adapun dua yang tak terpisahkan itu adalah aspek hukum dan demokrasi. Demikian pula bentuk pola lantainya yang segi empat. Tapang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpang barang-barang. Adapun ketiga ‖lotang‖ ruangan tersebut adalah : ”Samboyang”. terdiri dari bagian paling atas. dan bagian ketiga disebut ”naong boyang” yang letaknya paling bawah. Pada masa lalu. petak bagian tengah rumah. Bagian kedua disebut ”roang boyang” . Ia ditempatkan pada kamar tersebut sebagai tindakan preventif untuk menjaga ”siriq” (harga diri). Pada bagian atas penutup bubungan. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. Pada umumnya hanya separuh bagian loteng yang letaknya di atas ruang tamu dan ruang keluarga. Ketiga petak di dalam roang boyang tersebut memiliki ukuran lebar yang berbeda. baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. sedangkan tiga saling membutuhkan adalah aspek ekonomi. Lantai tapang tidak menutupi seluruh bagian loteng. yaitu ruang yang ditempati manusia. ‖Tangnga boyang‖. Petak pertama disebut ”samboyang” (petak bagian depan). Sedangkan petak yang paling depan lebih lebar dibanding dengan petak yang paling belakang. yaitu petak paling depan. Petak ini berfungsi sebagai ruang keluarga. keadilan. Struktur bangunan rumah orang mandar. Atap rumah berbentuk prisma yang memanjang ke belakang menutupi seluruh bagian atas rumah. Di bawah atap terdapat ruang yang diberi lantai menyerupai lantai rumah. Bila ada hajatan dirumah tersebut. . tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna pada filosofi orang Mandar yang berbunyi : ”da’dua tassasara. Sesuai kodratnya anak gadis memerlukan perlindungan yang lebih baik dan terjamin. baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. Tangga tersebut dirancang untuk tidak dipasang secara permanen. terdiri atas ”tallu lotang” (tiga petak). rumah-rumah penduduk. Ruang tersebut diberi nama ”tapang”. Pada bagian depan atap terdapat ”tumbaq layar” yang memberi ”identitas” tentang status penghuninya. dan persatuan. Untuk naik ke tapang. tapang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan sebelum dihidangkan atau didistribusikan. Ornamen itu disebut ”teppang”. Tatanan dan aturan rumah adat. ‖Bui‘ boyang‖. ”tapang” tersebut sebagai tempat atau kamar calon pengantin wanita.

Pembuatan dinding seperti itu dimaksudkan untuk lebih memudahkan pasangannya. Sedangkan ‖boyang beasa”. Pada masa lalu. Jumlah tersebut disesuaikan dengan tinggi rumah. Kendati demikian. yaitu tangga depan dan tangga belakang. dan lebarnya minimal sama dengan satu petak bangunan induk. ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu dari kalangan masyarakat biasa dan ata (budak). Ditempat itu sering dibuatkan ”rambang” sebagai kandang ternak. pemasangan lantai yang terbuat dari papan agak dijarangkan agar berbagai kotoran. boyang adaq memiliki anak tangga yang lebih banyak. membangun ”boyang” dan hasil kegiatan berupa ‖bangunan‖ atau rumah tradisional. Bangunan ini biasanya lebih sempit dibanding dengan bangunan tambahan bagian belakang. di dalam roang boyang terdapat ruangan atau petak yang lantainya lebih rendah ”tambing” atau ”pelleteang”. baik yang berbentuk ukiran maupun yang berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal. demikian pula untuk membukanya jika rumah tersebut akan dibongkar atau dipindahkan. Bangunan tambahan yang ada di depan rumah yang disebut dengan ”lego-lego” (teras). kolong rumah hanya berlantai tanah. dan sebagainya dapat lebih mudah jatuh ke tanah. seperti debuh. tangga depannya bersusun dua dilengkapi dengan pasangan. Setiap tangga mempunyai anak tangga yang jumlahnya selalu ganjil. Olehnya itu. Bagian yang lain pada rumah adalah rinding (dinding). Dinding rumah terbuat dari kayu (papan) dan bambu (taqta dan alisi ). tangganya tidak bersusun dan tidak dilengkapi pegangan. penghuninya berasal dari golongan ata (beasa). Selain itu. Sedangkan ‖boyang beasa” sekitar 7 sampai 9 buah. bangunan tersebut tampak lebih indah dihiasi berbagai ornamen. yaitu berkisar 11 sampai 13 buah. rumah yang berdinding taqta dan alisi. Pada ”paceko” juga tersedia tempat buang air kecil yang disebut ”pattetemeangang”. Rumah tradisional Mandar. Jumlah anak tangga pada setiap tangga berkisar 7 sampai 13 buah. Bangunan tersebut biasanya dibuat secara menyilang dengan bangunan induk. mulai dari pintu depan ke belakang. sehingga mempunyai banyak fungsi. Ada kalanya sebagai tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita. Hal itu dibuat secara utuh sebelum dipasang atau dilengketkan pada tiang rumah. Mendirikan rumah ”boyang” melalui suatu tahapan kegiatan yang meliputi persiapan. Bangunan tambahan yang diletakkan di belakang bangunan induk disebut ”paceko” (dapur). Sedangkan boyang beasa selain berdinding papan. Dalam . pasir. Ruangan ini merupakan tempat lalu lalang anggota keluarga.Khusus pada boyang adaq. Letaknya selalu dipinggir dengan deretan tiang yang kedua dari pinggir. juga ada yang berdinding taqta dan alisi. baik ‖boyang adaq” maupun boyang beasa pada umumnya mempunyai dua tangga. Panjangnya minimal sama dengan lebar bangunan induk. Bangunan ini disertai ruang yang lapang. boyang adaq mempunyai dinding yang terbuat dari papan. Terdapat ruang di bawah lantai yang disebut ”naong boyang” (kolong rumah). Dinding rumah dirancang dan dibuat sedemikian rupa sesuai tinggi dan panjang setiap sisi rumah dan dilengkapi jendela pada setiap antara tiang. Pada boyang adaq. Pada umumnya. Fungsi bangunan ini adalah sebagai tempat sandaran tangga depan. tempat istirahat pada sore hari dan tempat duduk sebelum masuk rumah. Pada umumnya.

yaitu arah timur tempat matahari terbit. lantai. pemilihan lokasi atau tempat mendirikan rumah. Gaya arsitektur tradisional banyak dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang tersedia disekitar lingkungan alam setempat.proses persiapan ada beberapa hal yang patut diperhitungkan. hari-hari baik adalah senin. Arah pergerakan matahari yang menanjak . tanah tersebut sebaiknya ‖berbau wangi‖. karena terkait dengan kepercayaan masyarakat tradisionalnya. ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. maka rumah yang akan dibangun adalah ”boyang beasa”. suatu rumah tradisional memiliki ciri khas terutama pada tipologi. Pemilihan waktu. Bagi orang Mandar. Orientasi rumah ”boyang” yang paling baik adalah berorientasi pada arah yang mengandung makna positif. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah. seperti Muharram. dan jumat. Sebab dari status sosial yang akan menempati rumah tersebut. keharmonisan dalam rumah tangga. tidak lembek. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam pelaksanaan musyawarah dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). karena itu kegiatan awal dalam memulai mengerjakan rumah senantiasa berpedoman pada waktu-waktu baik. dan Dzulkaiddah. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan. Olehnya itu. Syafar. bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa. Pemilihan waktu mendirikan ”boyang” juga sangat penting. Tanah seperti ini memberi makna keharuman. maka jenis rumah yang akan dibangun adalah ”boyang adaq”. kamis. tetapi memiliki nilai dan makna tersendiri sesuai dengan adat istiadat masyarakat tradisional Mandar. Dalam musyawarah tersebut penilaian dan penentuan susunan tumbaq layar juga dibicarakan. Gambar 5. dan pengadaan bahan baku untuk tiang. dan ornamen yang ada didalamnya. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik. yaitu bahan baku yang tersedia dari lingkungan alam sekitar (lokal) maupun dari luar (dari daerah lain). yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan banyak tahu tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat tradisionalnya. menyiapkan ‖pappapia buyang” (tukang dan ahli) sesuai latar belakang sosial budaya penghuninya. Menurut mereka. atap dan sebagainya. Dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. Tanah yang baik adalah tanah yang agak keras. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan ”keberuntungan” dan ”keselamatan”. interior/eksterior. Pemilihan tempat mendirikan ”boyang” sangat terkait dengan kepercayaan tradisi masyarakat tentang adanya tanah yang baik dan kurang baik untuk dibanguni ”boyang”. bencana dan ketidak mujuran. Selain itu. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan ”bala”. Boyang Adaq Mandar Suatu bangunan rumah ”boyang” tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Jumadil Awal. Musyawarah lebih diutamakan pada penilaian status sosial yang akan menempati rumah tersebut. agar keluarga mereka kelak dapat memperoleh kebahagiaan. Biasanya berada pada daerah yang relatif sedikit tinggi atau bukit. setiap akan membangun rumah ”boyang” senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. Membangun rumah tradisional mandar memerlukan beberapa rangkaian kegiatan seperti musyawarah antar sesama keluarga atau kerabat.

Jadi. maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik. Untuk jenis sumaguri mengandung makna ‖empati kepada seluruh masyarakat‖. Dengan arah rumah ketimur. Jenis kayu yang diperuntukkan untuk possi arring tidaklah sembarang. Penebangan ayu (kayu) dan bambu biasanya disesuaikan dengan waktu baik.00. tidak boleh terbalik. maka dilanjutkanlah pekerjaan pada seluruh tiang rumah lainnya. Dalam pembuatan ”arriang”. Setiap rumah memiliki tiang minimal 20 batang. Penebangan kayu dilakukan pada pagi hari sekitar jam 09. Sebelum melakukan penebangan. bahwa diharapkan kelak rumah yang akan dibangun itu senantiasa dalam kondisi yang terang bercahaya. Penebangan kayu untuk ”possi arriang” harus dilakukan oleh ”sando boyang”. atau pada hari ke delapan sebelum tenggelamnya bulan. maka harus menggunakan minimal lima tiang tambahan untuk Paceko dan dua atau empat tiang untuk lego lego. jumlah pasak yang dibutuhkan sebanyak 18 buah. Rumah tradisional Mandar yang terdiri atas tallu lontang. Tiang tersebut diatur dan disusun berjejer kesamping dan kebelakang. lima . Bagi rumah tradisional yang mempunyai paceko dan lego-lego. Semua tiang pangkalnya harus berada di bawah. jenis kayu tersebut banyak digunakan pada possi arriang rumah adaq. Kelima tiang yang berjejer ke samping diupayakan memiliki lekukan dan bengkok yang sama. Penebangan kayu dapat dilakukan oleh beberapa orang. Pekerjaan seluruh tiang tersebut harus diperhatikan ujung-pangkalnya. Setelah ”possi arriang” usai dikerjakan. orang Mandar menyebutnya ”tarrang bulan” (terang bulan). Waktu penebangan diupayakan pada hari-hari baik. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar. Setiap jejeran ke samping biasanya terdiri atas lima batang. Sedangkan bahan bangunan diusahakan dan diambil dari lingkungan alam sekitar. yaitu kayu tersebut harus tumbang dan jatuh kearah matahari terbit. Pasak tersebut terdiri atas empat untuk passolor. tetapi pekerjaannya harus dimulai oleh sando boyang. Dalam pengertian ini terdapat makna simbolis.naik mengandung makna kebaikan. yang pertama harus ditebang adalah bahan untuk membuat possi arring (tiang pusat). kedua jenis kayu tersebut mengandung makna simbolis. pekerjaan pertama yang harus dibuat adalah ”possi arriang” (tiang pusat). Sedangkan jejeran ke belakang biasanya empat batang (tidak termasuk tiang paceko). dalam pengertian ini. dimulai dari pembuatan tiang ”arriang”. Ada hal yang penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan pada saat menebangan kayu. Hal ini dimaksudkan agar penghuninya kelak senangtiasa bersemangat atau bergairah dalam mengarungi kehidupan dunia. Sedangkan jenis kayu cawe-cawe mengandung makna ‖semangat atau mengairahkan‖. yang diharapkan selalu bertambah adalah nasib baik. Adapun hari baik menebangan kayu untuk ”possi arriang” adalah hari ke 14 terbitnya bulan. Pada saat menebang kayu. yaitu selalu bertambah ”naik” . empat untuk baeq. cahaya matahari pagi dapat menyinari ruang lego-lego hingga kedalam rumah. terutama rezki dan amal kebijakan. Waktu-waktu baik adalah sama halnya pada saat memulai membangun rumah ”boyang”. hal ini dimaksudkan agar cahaya matahari senantiasa menerangi rumah yang akan dibangun. ”sando boyang” melakukan upacara ritual yang dilakukan sendiri dirumahnya. Arah barat dianggap menghadap ke kiblat. Pembangunan rumah tradisional ”boyang”. biasanya kayu ”sumaguri” dan ”cawecawe” . Jenis kayu tersebut pada umumnya digunakan untuk ‖possi arriang” rumah biasa.

dilanjutkan pemasangan aratang naong dan aratang diaya yang dikuatkan dengan passanna. Setelah tiang berdiri. paling diatas tempatnya). Untuk boyang adaq. maka setelah bangunan induk berdiri tegak dilanjutkan pendirian tiang paceko. Lantai rumah tradisional Mandar terbuat dari papan (kayu) dan lattang. Sedangkan boyang beasa jumlah tiang lego legonya sebanyak dua batang. Pada dinding sisi kanan dan kiri rumah biasanya juga dilengkapi dengan pepattuang sebanyak dua atau tiga buah.araiang diaya dan aratang naong. segala bahan kelengkapan upacara mattoddoq boyang. maka harus ditambah lagi passollor dan baeq sebanyak lima buah. Setelah pendirian tiang paceko. Seluruh tiang paceko juga diberi batu arriang. Kayu ini disebut pambalimbungan (tulang punggung. Dinding rumah tradisional Mandar pada umumnya terbuat dari papan. Bahan kelengkapan upacara biasanya digantung setelah rumah berdiri. seperti paceko dan lego-lego. Tambahan untuk Paceko biasanya terdiri atas satu deretan tiang yang jumlahnya enam batang ditambah satu batang di dekat tangga belakang. dilanjutkan pula pada pendirian tiang lego-lego. jumlah tiang lego legonya sebanyak empat batang. masingmasing satu buah untuk rumah induk. Letak pepattuang biasanya berada antara dua buah tiang rumah. Pemasangan ornamen seperti itu hanya tampak pada jendela yang ada di bagian depan dan sisi kiri kanan rumah. Pada ”possi arriang” diikat lipaq (sarung) dan mukena atau kebaya. alisi dan taqta. yaitu lego-lego. Prosesi ritual menurut kepercayaan masyarakat tradisional Mandar biasanya dimulai dari ”possi arriang”. pisang. . Untuk memperindah. biasanya dilengkapi tiga ”pepattuang” (jendela) dan satu ”ba’ba” (pintu). Dinding sisi depan ini biasanya dilengkapi ornamen pada bagian luar di bawah jendela. Sedangkan aratang diaya dan aratang naong masing-masing dua buah. maka harus ditambah lagi aratang diaya dan aratang naong masing-masing satu buah. paceko dan lego-lego. Jumlahnya tiga buah. Pepattuang berbentuk segi empat yang rata-rata terdiri atas dua daun jendela yang berukuran sekitar 100 x 40 cm. Sarung melambangkan jiwa laki-laki dan kebaya atau mukena sebagai jiwa perempuan. Pada dinding sisi depan rumah. Selain itu. Bila rumah tersebut ditambah paceko. ”Lattang” biasanya dipilih tarring (bambu) yang besar dan sudah tua. Daun jendela itu dapat dibuka ke kiri dan ke kanan. Sedangkan secara horisontal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Selain pasak. Bilamana rumah ”boyang” akan diberi tambahan bangunan. Terali-terali tersebut ada yang dipasang secara vertikal dan ada yang horisontal. Lattang ini biasanya dipakai pada lantai paceko. Kedua jiwa tersebut harus menyatu di dalam ”possi arriang” kemudian tiang ”possi arriang” disiram dengan air dari dalam cerek. bilamana rumah tersebut mempunyai tambing. kelapa juga digantung pada ”possi arriang” . Air yang tersisa di dalam cerek tadi dimasukkan dalam botol kemudian digantung pada ”possi arriang” . seperti tebu. Secara vertikal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan Tuhannya. Pemasangan ornamen berupa ukiran dan terali-terali juga dapat dilihat pada bangunan tambahan di depan rumah. terdapat pula balok kayu yang bentuknya pipih menyerupai pasak. pepattuang ini biasanya diberi ornamen berupa ukiran dan terali dari kayu yang jumlahnya selalu ganjil.

“Egocentrum”. Daerah ini tidak berpantai. fauna dan sebagainya dapat dijadikan corak ―ornamen”. kehidupan alam leluhur ―Todolo‖. dan kepercayaan Aluktodolo yang menjiwai kehidupan masyarakatnya. Konsep Toraja Etnis Toraja mendiami dataran tinggi di kawasan utara Sulawesi Selatan. Pada umumnya wilayah permukiman masyarakat Toraja terletak di pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 2800m di atas permukaan laut. dan makna-makna budaya dalam masyarakat. memakai ”ragam hias ornamen”. bahasa. upacara pengantin serta ritual upacara penguburannya. Pusat rumah meraga sebagai perapian di tengah rumah. ”Ornamen” selain berfungsi sebagai hiasan atau ornamen. pocci balla di Makassar dimana tiang menyatu dengan mother earth Pada masyarakat tradisional Toraja. kemuliaan Tuhan. makanan. juga berfungsi sebagai identitas sosial. gambaran alam. adat dan kebudayaan. rumah bagi masyarakat Toraja merupakan mikrokosmos. Dalam kehidupan masyarakat toraja lebih percaya akan kekuatan sendiri. dinding. lantai dan dindingnya dari kayu yang tebal. possi bola di Bugis. ataupun atap menjulang menaungi ruang tengah rumah dimana atap menyatu dengan asap-father sky Pusat rumah juga meraga sebagai tiang utama. Temperatur udara kawasan permukiman masyarakat Toraja berkisar pada 150 hingga 300C. baik rumah bangsawan maupun rumah orang biasa di tana Mandar. banyak dipengaruhi oleh ethos budaya “simuane tallang” atau filosofi “harmonisasi” dua belahan bambu yang saling terselungkup sebagaimana cara pemasangan belahan bambu pada atap rumah adat dan lumbung. tang dipegunungan dan berhawa dingin diduga mendasari ukuran pintu dan jendela yang relatif kecil. musik. agama dan kepercayaan namun tidak semua flora. Keunikan itu terlihat juga pada pola permukiman dan arsitektur tradisional rumah mereka. bagian dari lingkungan makrokosmos. Hal ini yang tercermin pada konsep arsitektur rumah mereka dengan ruang-ruang agak tertutup dengan “bukaan” yang sempit.Ragam Hias dan Ornamen Pada umumnya rumah tradisional. Keempat filosofi ini menjadi dasar terbentuknya denah rumah Toraja empat persegi panjang dengan dibatasi dinding yang melambangkan “badan” atau “Kekuasaan”. plafon dan sebagainya. Corak ―ornamen” umumnya bersumber dari alam sekitar manusia seperti flora. Masyarakat Tradisional Tana Toraja didalam membangun rumah tradisional mengacu pada kearifan budaya lokal–Kosmologi mereka yaitu :     Konsep ‗pusar‘ atau ‗pusat rumah‘ sebagai paduan antara kosmologi dan simbolisme Dalam perspektif kosmologi. baik dalam taritarian. Selain itu konsep arsitektur tradisional toraja. budayanya unik. Wujud konstruksi ini sangat diperlukan untuk menghangatkan temperatur udara interior rumah. seperti a’riri possi di Toraja. Harmonisasi didapati . Pada bagian atap. fauna. dalam kehidupannya juga mengenal filosofi “Aluk A’pa Oto’na” yaitu empat dasar pandangan hidup : Kehidupan Manusia. Ukuran atap rumah tradisional Toraja yang terbuat dari susunan bambu sangat tebal. Kondisi Tana Toraja.

. karena peranannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Toraja.‖ Tongkonan Pokamberan/Pokaindoran‖. Ed. makro dan mikro kosmos tetap terpelihara didalam tatanan kehidupan masyarakat tradisional toraja. Gambar 3. pada arah Timur dimana para Dea ―Dewata‖ memelihara dunia beserta isinya ciptaan “Puang Mutua” untuk memberi kehidupan bagi manusia. Kesemuanya ini diterjemahkan menjadi satu kata sederhana yaitu “keseimbangan” dan secara arsitektural “keseimbangan” selalu diaplikasikan kedalam bentuk “simetris” pada bangunan. jadi mempunyai arti sebagai tiang batu keluarga. ―Tongkonan Pa’rapuan‖. sawah. Atau selalu ada keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. . Kosmologi dalam arsitektur Toraja Sumber : Tjahjono.―Tongkonan Batu A’riri‖. Sedangkan fungsi dan kegunaan penataan lantai bangunan tradisional rumah adat Toraja. 1999 Gambar 4. dibedakan atas : . keterikatan dan berorientasi. Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip dasar Arsitektur Tradisional Toraja adalah simetris. didalam satu sistem kehidupan dan penghidupan orang toraja didalam area tongkonan.. yaitu rumah adat yang merupakan tempat melaksanakan aturan dan perintah adat dalam suatu masalah daerah.dalam konsep arsitektur “Tongkonan” yang menginteraksikan secara keseluruhan komponen “tongkonan” seperti : Rumah. fungsinya sama dengan Tongkonan Batu A‘riri tetapi tidak boleh diukir seperti tiga tongkonan diatas dan tidak memakai Longa. dimana rumah dianggap sebagai “mikrokosmos”.―Tongkonan Layuk‖. Rumah Adat Tradisional Tongkonan. ―Tongkonan‖. kedudukannya sebagai rumah tempat membuat peraturan adat istiadat. kombong. Rumah tradisional Tongkonan Toraja Tata letak rumah tongkonan berorientasi Utara – Selatan. rumah adat Toraja adalah merupakan bangunan yang sangat besar artinya. rante dan liang. yaitu tongkonan yang tidak mempunyai peranan dan fungsi sebagai tempat persatuan dan pembinaan keluarga dari keturunan pertama tongkonan itu. lumbung. serta tempat pembinaan warisan. dan arah Barat adalah tempat bersemayam “To Membali Puang” atau tempat para leluhur ―Todolo”. Sedangkan kedua arah mata angin lainnya mempunyai arti kehidupan dan pemeliharaan. bagian depan rumah harus berorientasi Utara atau arah Puang Matua ―Ulunna langi’” dan bagian belakang Rumah ke Selatan atau arah tempat roh-roh ―Pollo’na Langi’‖. Selain itu. ―Tongkonan‖ dalam fungsinya terbagi menjadi 4 macam tingkatan yaitu : .

yaitu mendirikan tiang tiang bangunan utama diatas batu parandangan yang sudah diatur dalam ukuran persegi panjang. dimana semua bahan bangunan diolah diukur untuk persiapan pendirian bangunan tersebut. . Dalam proses pembangunan bangunan tradisional Toraja ini pengerjaannya dibagi menjadi 2 tahap yaitu : .‖Banua Sang Borong‖ atau ‖Banua Sang Lanta‖..‖Tahap No’ton Parandangan’”.‖Banua Dang Lanta’’‖. pada jaman sekarang ini banyak didapati di kebun kebun. yaitu bangunan tongkonan tertua dari penguasa adat yang memegang fungsi adat ‖Togkonan Pasio’ aluk‖. adalah rumah untuk para Pengabdi kepada Penguasa Adat.‖Tahap Ma’ Pabendan’”. yaitu mendirikan satu tiang tengah bangunan yang merupakan salah satu tiang yang mempunyai arti dalam pembangunan rumah adat Toraja. melalui tahap-tahap sebagai berikut : . . Setelah semua pekerjaan tersebut diatas sudah selesai.‖Banua Tallung Lanta’’‖. . yaitu sebagai pekerjaan permulaan untuk mengumpulkan seluruh bahan bahan bangunan yang diperlukan . Sali dan Tangdo‘ yang berfungsi sebagai tempat upacara pengucapan syukur dan tempat istirahat tamu tamu.‖Tahap Ma’ A’riri Posi’”. . Jadi bangunan rumah adat Toraja selama didirikan seolah olah tidak terkena sinar matahari dan hujan. yaitu tempat membuat bangunan yang merupakan tempat mendirikan bangunan sampai selesai. Pekerjaan ini adalah pekerjaan permulaan dari pembangunan karena semua bahan bangunan sudah disiapkan.‖Tahap Ma’ Tamben‖ atau ‖Ma’ Pabendan‖. . dilanjutkan dengan pengerjaan ‖Ma’ Pabendan‖. . yaitu membangun suatu tempat untuk menyimpan bahan bangunan yang dinamakan ―Barung‖ atau ‖Loko Pa’ Tambenan‖. adalah bangunan yang tidak mempunyai peranan adat seperti ‖Tongkonan Batu A’riri‖ yang terdiri dari dua ruang yaitu Sumbung sebagai tempat tidur dan Sali sebagai dapur.‖Tahap Pabenden Leke’”. Pada rumah ini hanya terdapat satu tiang untuk melaksanakan kegiatan sehari hari.‖Banua Patang Lanta’’‖.‖Tahap Ma’ Sangkinan Rindingan‖. . . . yaitu mengatur dan menanam batu pondasi yang dipahat atau asli yang sudah cukup baik untuk menjadi batu pondasi. yaitu pekerjaan memasang dinding pengosokan berjejer keliling bangunan dan kayu Sangkinan Rindingan ini sama besar dan tingginya begitu pula pada jarak pemasangannya kecuali pada bagian sudut bangunan. Ruang ruang itu adalah Sumbung.‖Tahap Mangraruk‖. yaitu bangunan pemerintahan adat Toraja yang mempunyai tiga ruang.

yaitu merupakan bagian depan agak miring dari bagian atap bangunan. fungsi fungsi tersebut tidak akan berubah sepanjang letak dari bangunan itu tidak berubah yaitu atap menghadap keutara sebagai orientasi bangunan. yaitu pemasangan kayu pamiring yang membentuk longa dan berpangkal pada kayu Rampanga Papa Longa.‖Tahap Ma’ Palaka Indo’ Para‖. yaitu tempat menumpunya kayu Rampanan yang fungsinya mengikat dan mengatr atap.‖Tahap Ma’ Rampani”. karena adanya hubungan pandangan keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan dari bangunan. . yaitu semua kayu yang panjangnya 3. . . yaitu tangga pembantu pemasangan semua bagian dari Longa dan bila telah selesai maka Ma‘ Benglo Longa dibongkar.‖Tahap Ma’ Kayu Beke’i‖. . yaitu merupakan pekerjaan yang sangat berat karena pemasangan Tarampak sampai ke bubungan tidak boleh berhenti.‖Tahap Ma’ Benglo Longa‖.5 m. yaitu pemasangan kayu diatas kayu Ma‘ Petuo sebagai tempat mengatur kayu kayu membentuk segitiga dengan badan rumah. . Jadi bagian bagian dari rumah adat Toraja pulalah yang menentukan struktur arsitekturnya antara lain . .. . ‖Tahap Ma’ Paleke’ Indo Tekeran”. yaitu pemasangan semua dinding yang dimasukkan dari atas ke dalam Sangkinan Rinding melalui semacam jaluran rel sebagai bingkai yang terpasang mati.‖Tahap Ma’ Pabendan Tulak Somba”.‖Tahap Ma’ Kamun Rinding‖. Faktor inilah yang menyebabkan konstruksi dan arsitektur bangunan tetap sebagai dasar perancangan Tongkonan. dengan persilangan pada ujung atasnya dan ujung bawahnya disambung pada kayu Rampanan Papa‘ sebagai tempat mengatur kayu kecil kecil yang bernama Tarampak.‖Tahap Ma’ Paringgi”. . yaitu pemasangan 4 buah kayu Ma‘ Petuo sebagai tumpuan bagi kayu bubungan.‖Tahap Ma’ Papa”. Sedangkan bagian luar dan dalam dibagi sebagai berikut : Interior rumah adat Toraja.‖Tahap Ma’ Petuo”. Semua bangunan rumah adat Toraja mempunyai peranan dan fungsi tertentu. rumah adat Toraja dibagi atas 2 bagian besar yaitu dengan menarik garis besar dari utara ke selatan yang dibedakan dengan nama Kale Banua Matallo dan Kale Banua Matumpu‘ yaitu bagian rumah sebelah timur dan bagian rumah sebelah barat. . yaitu pemasangan kayu Tulak Somba menopang bagian depan dan bagian belakang Longa.

Berfungsi untuk menyimpan peralatan dan pakaian upacara adat. pemasangannya pada tengah bangunan pada ruang tengah.‖Rattiang‖ atau disebut juga loteng yaitu bagian atas dari rumah yang sebagian ditutupi atap. ‖Pentiroan Mampu’ ‖. yaitu jendela jendela pada seluruh badan rumah yang kelihatan pada 4 sisi. Jendela ini dibuka pada pagi hari dan dibuka terus pada waktu upacara pengucapan syukur.‖Kale Banua‖. . Peranannya sebagai tempat mengurung hewan hewan ternak pada malam hari untuk menjaga tuannya diatas rumah. . yaitu 2 buah jendela yang terletak dibagian muka rumah menghadap ke utara. Exterior rumah adat Toraja. yaitu bagian muka bangunan yang digunakan sebagai tempat melakukan upacara pengucapan syukur dan pemujaan. Jendela ini terbuka terus pada waktu upacara kematian atau bila didalamnya ada orang yang sakit.‖Longa‖ bagian menjulang dari atap bangunan di sebelah utara dan selatan. .. yaitu jendela yang terletak dibelakang rumah menghadap ke selatan. yaitu jendela yang terletak disebelah timur bangunan. Lobang ini berjumlah 3 buah dan tidak tertutup dengan ukuran 10 x 15 cm. Jendela ini dapat terbuka dan tertutup setiap saat.‖Suluk Banua‖. . . Jendela ini dibuka pada waktu ada upacara pemakaman orang mati. Jendela jedela itu adalah :     ‖Pentiroan Tingayo‖. ‖Tingayo Banua‖ atau ‖Lindo Banua‖. yaitu kolong dari bangunan rumah yang dibentuk oleh tiang tiang yang dihubungkan oleh sulur yang dinamakan roroan. yaitu bagian badan dari bangunan yang terdiri dari ruang/petak mulai utara ke selatan. ‖Pentiroan Pollo’ Banua‖. ‖Pentiroan Matallo‖.‖Pentiroan‖. yaitu jendela yang terletak disebelah barat bangunan.

ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. yaitu bagian sebelah timur atau kanan bangunan sebagai tempat acara pemujaan kepada Deata. “Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan. Dari Masa Kemasa”. Arsitektur tradisional Toraja misalnya. .―Tulak Somba‖ yaitu tiang tinggi penopang ujung depan dan belakang bangunan adat Toraja yang dinamakan Longa. . mempunyai sudut kemiringan atap yang tajam karena curah hujan di daerah ini besar. arsitektur tradisional merupakan pilihan satu-satunya. . Masa arsitektur klassik. Perkembangan arsitektur tradisional dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : waktu. . Perletakan Katik ini adalah diatas kuduk dari Kabongo yang mengartikan pimpinan yang menjalankan pemerintahan pada masyarakat tertentu. . Ragam Hias dan Ornamen Ragam hias ―Ornamen‖ rumah adat Toraja adalah sebagai berikut : . Terutama pengaruh iklim. Masa arsitektur modern serta Masa arsitektur post modern. curah hujan. Masa arsitektur tradisional : pada masa ini budaya asli dan pola hidup masyarakat tradisional berkembang didalam masyarakat tanpa ada pengaruh luar. pengaruh budaya luar.―Passura‖ yaitu ukiran tradisional pada bangunan adat Toraja yang bukan hanya sebagai hiasan. .―Katik‖ adalah bentuk kepala aya jantan yang berkokok. Dari masa lampau hingga masa kini ada 4 masa perkembangannya yang dapat ditelusuri yaitu : Masa arsitektur tradisional. bangunan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal ataupun sebagai tempat bermukim keluarga. yaitu bagian bangunan sebelah barat. tumbuhtumbuhan yang dipakai sebagai bahan bangunan dan batu-batuan.―A’riri Posi’‖ yaitu tiang tengah pada bangunan rumah adat Toraja yang hampir kelihatan berdiri sendiri diantara ruang selatan dan ruang tengah. yaitu bagian belakang bangunan sebagai tempat pelepasan orang mati. Arsitektur tradisional sangat dipengaruhi oleh keadaan dan potensi alam sekitarnya yang sering diambil menjadi motif utama pemberi corak. Fungsinya sebagai tiang penopang sekaligus tempat melekatnya tanduk karbau hasil pesta mendirikan rumah.‖Kabongo‖. tetapi melambangkan sesuatu hal atau kegiatan serta problem kehidupan masyarakat. pola hidup.‖Pollo Banua‖.‖Matampu Banua‖.‖Matallo Banua‖. Secara tradisi. yaitu kayu yang dibentuk seperti kepala kerbau dengan tanduk asli tanduk kerbau yang mengartikan bahwa Tongkonan ini adalah Tongkonan pemimpin masyarakat dengan kata lain tempat melaksanakan peranan dan kekuasaan adat Toraja. .

beton dan besi jauh lebih menjamin kekuatan dan keawetan bangunan. Perihal ragam hias ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan yang sering ditemukan dan banyak memberi warna. Disini peran proporsi dan skala dari bangunan. Masa Arsitektur Klassik adalah masa berkembangnya arsitektur klassik dari Eropa yang masuk ke Indonesia. struktur dan konstruksi menjadi lain. Para arsitektur menerjemahkannya kedalam bahasa non verbal dengan menampilkan bangunan. dan rerumputan untuk bahan atap mulai kurang dipakai. kolom yang besar. seperti terlihat pada rumah ibadah “Klenteng” dan perumahan didalam “Kampung Cina” yang masih dapat dilihat di beberapa kota besar di Indonesia. mereka juga membawa gaya arsitektur Cina. ruangan yang sangat luas dan plafond tinggi dan berorientasi keatas. Perbedaan itu terlihat dalam hal konsep.Bambu dipakai sebagai atap dan plafound karena banyak hutan bambu di Tana Toraja. bahan bangunan. ruangan atau komponen bangunan yang berskala mega atau melampaui skala manusia. prinsip dasar. bentuk tata ruang. Arsitektur tradisional yang lebih mengutamakan penggunaan bahan bangunan alamiah mulai dilupakan. Arsitektur Klassik disebut pula ―Arsitektur Kolonial‖ karena gaya ini hadir pada zaman kolonial. masuk ke Indonesia. Cara penyelesaian arsitektur seperti ini dikenal sebagai cara untuk memperoleh wibawa dan menekankan perasaan manusia yang berada di dekatnya atau didalamnya sehingga merasa lebih kecil dan tidak berarti didekat bangunan atau kolom yang besar. bambu. penggunaan bahan bangunan. bangunan besar dengan lantai atau permukaan tanah yang ditinggikan. Gaya arsitektur klassik terus tumbuh. tata ruang. atau didalam ruangan yang luas dengan plafond yang tinggi itu. ruang dan komponen sangat penting. Dimasa arsitektur klassik ini. Karena semen. Model arsitektur klasik sangat berbeda dengan arsitektur tradisional. struktur dan konstruksi. Ghotic dan Barouq. Ornamen dipakai sebagai ungkapan arti simbol simbol suatu benda yang dianggap mempunyai arti khas dalam penghidupan dan kehidupan masyarakat tradisional etnis bersangkutan. yang kemudian menyebar keseluruh dunia seiring penyebaran agama Katolik dan Protestan. berkembang dan mewarnai karakter berbagai bangunan penting. Misalnya. Begitupun ketika pedagang Cina. Bahan bangunan lokasi seperti . Gaya arsitektur ini lebih dikenal melalui rancangan Istana Raja dan Gereja di Eropa. Konsep arsitektur modern pada dasarnya lebih menekankan fungsionalisme dan efesiensi yang mengutamakan . Ilmu pengetahuan dan teknologi arsitektur modern memberi warna lain bagi perkembangan kearsitekturan. Gaya gaya klasik ini terlihat pada Gereja yang lebih menekankan pada konsep sakral yaitu : Manusia itu kecil dihadapan Tuhan. bentuk bangunan. tidak hanya pada Gereja tetapi juga bangunan Pemerintah Kolonial dan perumahan mereka. Demikian pula halnya bahan kayu yang dipakai sebagai tiang dan dinding. Sejak masa ini. batu merah. arsitektur tradisional mulai tersisihkan. Masa Arsitektur Modern : Konsep arsitektur modern menekankan faktor “fungsionalisme” dan “efesiensi” . kayu. Arsitektur Klasik mencakup gaya Renaissance. dipakai menghiasi dinding dan tiang sesuai tradisi masing masing etnis. misalnya desain dan teknologi bahan bangunan.

filosofi dan konsepnya. beridentitas etnis dan menyatakan status sosial melalui arsitektur tradisional sebagai simbol agar mempunyai “nilai Aktualisasi” . seperti Toraja dengan Bugis. ornamen. Sulawesi Selatan secara geografis terletak pada 0012‘~80 Lintang Selatan dan 116048‘~122036‘ Bujur Timur. Konsepsi Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Sebagai Reinkarnasi “Karakter” Pengembangan Kawasan Budaya Dan Pariwisata Lokal. Kemudian muncullah masalah-masalah akibat benturan antara tradisional dengan modernitas. Gaya arsitektur tradisional yang beranekaragam di Indonesia menjadi sumber inspirasi utama dalam pengayaan gaya post-modern ini selanjutnya. dirancang dan dibangun dengan mengawinkannya dengan unsur-unsur arsitektur tradisional tetapi terkadang bauran dengan unsur tradisional itu sendiri. Cara pernyataan diri ini menjadi lebih menarik karena tradisionalisme ditarik hadir dalam pola hidup modern. . warna-warni dan bentuk yang unik.90C. menjadi rancu akibat dari perbedaan prinsip dasar. Pada arsitektur masa kini dimana modernitas dan tradisional muncul bersamaan. Pada masa ini. Dalam perkembangan selanjutnya. Masalah lain akan timbul bila dua macam atau lebih arsitektur tradisional yang berbeda disatukan di dalam satu gubahan arsitektur. Daerah ini merupakan Jazirah Barat Daya Pulau Sulawesi. dengan daerah dataran. Ini juga menjadi suatu pertanda bahwa arsitektur di Indonesia sedang mencari bentuk lain seiring dengan kecenderungan masyarakat dan para arsitek memanfaatkan warisan budaya masa lampau untuk menemukan identitas baru yang dapat dipakai sebagai simbol dalam era globaliasi ini. Gaya arsitektur Post-Modern yang sedang melanda dunia kearsitekturan juga merambah masuk ke Indonesia melalui kota-kota besar. funsionalisme dan efisiensi menjadi tidak mengikat lagi. Beberapa arsitektur modern masa kini. yaitu antara 22.30C ~ 34.kenikmatan penghuni dan keleluasaan ruang gerak manusia. Temperatur udara sekitar 26. mulai tidak dipersoalkan. atau kombinasi lainnya.50C. Identitas. Bahkan kedua unsur ini dapat ditemukan pada seluruh gaya arsitektur tradisional di Indonesia. Ternyata arsitektur modern sebagai suatu konsep yang mengutamakan fungsionalisme dan efisiensi itu lebih mampu mewadahi aktifitas manusia moderen sampai sekarang. karakter dan ciri khas sangat penting untuk dihadirkan kembali. Unsur tradisional memang hadir tetapi lepas dari prinsip dasar dan norma norma khasnya. Toraja dengan Bali. pegunungan dan lautan. Masa Arsitektur Post-Modern adalah model arsitektur masa kini. arsitektur modern ini mendominasi karya-karya arsitektur di Indonesia. Gaya post-modern ini lebih menonjolkan simbolisme. Meskipun demikian arsitektur tradisional masih memiliki dan menampilkan persamaan yaitu : unsur vertikal dan horisontal. Arsitektur Post –Modern ini memunculkan kembali arsitektur tradisional. Nampaknya gaya ini menoleh dan menggali dan memanfaatkan keunikan arsitekturan tradisional dan seni masa lampau untuk berimajinasi ke masa depan. nampaknya ada kecenderungan untuk menjawab keinginan masyarakat tampil lebih eksis. Pemakaian bahan bangunan pun menjadi lebih bebas dan beragam. klasik. Toraja dengan Jawa.

Masing-masing yang berbeda dalam bahasa dan sebagian budayanya. Kelompok etnis yang paling besar di Sulawesi Selalatan adalah Bugis dan Makassar. Makassar. Benteng ini menjadi salah satu contoh terbaik dari arsitektur bangunan peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. Makassar dan daerah sekitarnya juga terkenal memiliki pelaut ulung yaitu orang orang yang ahli membuat kapal laut sekaligus mumpuni berlayar. Arsitektur rumah tradisional Toraja juga berupa rumah panggung. Malaka kepulauan Maluku di Kawasan Timur Indonesia. Bahkan sampai kebagian utara Australia. Seseorang dapat mengamati. Ukuran ruang. Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial yang paling terawat di Indonesia. menikmati berbagai pengalaman pada keunikan budayanya. Bugis dan Mandar terkenal sebagai pusat kelahiran pelaut berjiwa patriotik.Makassar dan Mandar yang menghuni kawasan pantai mempunyai pelaut-pelaut ulung. Dipelabuhan ini terlihat kapal-kapal layar Phinisi khas Bugis-Makassar yang terkenal itu berlabuh. pola ruang. upacara adat. pintu dan jendela rumah Bugis-Makassar relatif besar. baik dimasa perang maupun dimasa damai. prasejarah dan sejarah Sulawesi Selatan telah melahirkan kekayaan budaya yang menarik. Suku Makassar. tetapi. yaitu rumah panggung dengan atap pelana yang sebagian besar bahan bangunannya dari kayu. dan besaran rumah tradisional Bugis-Makassar mempunyai korelasi positif dengan tingkat strata sosial pemiliknya. seni tradisional. Makassar merupakan salah satu kota bandar niaga terbesar di Indonesia bagian timur. Pada abad XVI Etnis Bugis. Latar belakang geografis. struktur dan konstruksinya sangat berbeda dibanding rumah arsitektur tradisional Bugis-Makassar. Perbedaan itu terlihat juga pada jenis makanan. seni ukir. tenun benang kapas dan sutra serta arsitektur tradisionalnya. Dalam hal arsitektur rumah tradisional Bugis-Makassar secara umum sejenis. itu masih dapat ditemukan di beberapa daerah misalnya pada upacara religius. . musik dan tari-tarian. Dalam sistem sosial masyarakat Bugis dan Makassar ada strata sosial masyarakat yang menentukan arsitektur rumah tinggal mereka. pakaian. bahkan sampai ke Madagaskar (Mattulada 1998:3). Pelabuhan Paotere yang berada di utara Ujung Pandang merupakan kawasan pelabuhan kapal tradisional. Kemungkinan kondisi ini diwujudkan untuk mengeliminir temperatur udara panas terutama yang lokasinya di daerah hilir dan pantai. Sumatera. Mereka berlayar untuk berniaga ke berbagai bandar niaga di Pulau Jawa. Daerah Sulawesi selatan dihuni oleh tiga etnis utama yaitu Bugis. Rumah tradisional Toraja atapnya melengkung. Dengan perahu layar tradisionalnya mereka mengarungi lautan kepulauan Indonesia. beberapa pulau di samudera Pasifik sampai kepantai Afrika. ornamen. Pola ruang. Mandar dan Toraja. Benteng peninggalan kolonial Fort Rotterdam dan sejumlah bangunan peninggalan kolonial lainnya seperti rumah kediaman Gubernur menjadi bukti sejarah keberadaan Belanda di kota Makassar.Bahan bangunan untuk atapnya adalah bambu. ukiran yang cantik dan warna yang alami.Letaknya berada di daerah katulistiwa hingga masyarakatnya berpeluang hampir sepanjang tahun bisa bercocok-tanam.

Dimasa lalu bagunan ini adalah istana Sultan Gowa. Tidak jauh dari kompleks pemakaman Sultan Hasanuddin terdapat Mesjid Katangka yang juga memiliki kompleks makam di mana di dalamnya terdapat beberapa kuburan dengan arsitektur khas. Pahlawan nasional Pangeran Dipenogoro menjalani penahanan masa pengasingan selama 26 tahun di Fort Rotterdam. khususnya di jalan Sulawesi. Makassar. Untuk menuju ke pulau ini wisatawan dapat menumpangi perahu motor milik pengelola atau menyewa speed boat. Pada Museum tersimpan koleksi yang hampir sama dengan museum yang terdapat di Benteng Fort Rotterdam. Sisa-sisa arsitektur kerajaan Gowa masih dapat ditemui di kawasan pinggiran. Makam Diponegoro dan sebuah monumen untuk mengenang jasa pahlawan yang gagah berani ini terdapat di jalan Diponegoro. instrument musik dan berbagai macam kostum pakaian adat. Pulau Kayangan terletak sekitar empat mil laut atau sekitar 15 menit dengan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Laut dekat pelabuhan Soekarno-Hatta. salah seorang raja Gowa yang sangat terkenal.Sebelum Fort Rotterdam dibangun. karena masyarakat keturunan Cina banyak bermukim di jalan itu dan sekitarnya. Pulau Kayangan adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas satu hektar. Dalam bangunan benteng ini terdapat Museum Negeri La Galigo yang memiliki koleksi antara lain peralatan makanan dan memasak dari Tana Toraja. Kegiatan yang banyak dilakukan wisatawan di pulau ini selain memancing adalah snorkling. Makassar. termasuk tetangga yang berbatasan langsung dengan kota Makassar atau dikenal Kabupaten penyangga kota . Sultan Hasanuddin dan Pangeran Diponegoro yang di asingkan Belanda dari Jawa ke kota ini. Ada beberapa bangunan peritirahatan khas Eropah yang sayangnya kini tidak ditemukan lagi Maros merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan. gedung serba guna dan anjungan untuk memancing beragam jenis ikan laut. Di pulau ini tersedia beberapa penginapan kecil yang juga menyediakan fasilitas makan. hidup antara tahun 1629 – 1670. Di luar kompleks makam Pahlawan nasional ini terdapat Batu Pelantikan yang disebut “palantikang‖ merupakan tempat dimana dulu Raja-raja Gowa dilantik sebagai pemangku kerajaan dan dianugerahi mahkota kerajaan.ciri kota Makassar. restoran. Dimasa lalu pulau ini menjadi tempat peristirahatan dan wisata petinggi kolonial Belanda. Kemudian Benteng ini dikuasai Belanda ketika sukses menyerang dan menduduki daerah ini. panggung hiburan. Monumen Mandala di jalan. Beberapa kilometer ke arah selatan kota Sungguminasa terdapat Museum “Balla Lompoa”. Makassar juga merupakan kota tempat peristrahatan terakhir dua pahlawan besar Indonesia. Belanda kemudian memodifikasi ulang benteng itu yang selanjutnya dikenal dengan nama Fort Rotterdam. Selain itu bangunan Vihara yang bergaya arsitektur Cina juga banyak terdapat di kota ini. Jendral Sudirman merupakan tugu berbentuk menara yang menjadi salah satu ikon arsitektur. di tempat ini terdapat benteng yang disebut Benteng Pannyua milik kerajaan Gowa yang dibangun pada sekitar tahun 1545. Istana ini berupa bangunan rumah kayu dengan gaya arsitektur Bugis-Makassar. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani pada tahun 1667. di tenggara kota Makassar. Lokasi wisata ini dilengkapi fasilitas antara lain pondokan. Pulau kecil yang terletak di lepas pantai kota Makassar ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur. Di kawasan ini terdapat Makam Sultan Hasanuddin.

Pada kawasan ini terdapat batu besar yang berbentuk perahu yang menyimpan legenda menarik. Terdapat lukisan tua yang dilukis pada dinding gua yang diperkirakan berusia 5000 tahun SM. Kawasan ini merupakan salah satu pantai yang sangat ideal untuk dinikmati. Malino di Kabupaten Gowa adalah kawasan resort pegunungan yang terkenal sejak awal kemerdekaan Indonesia. Bantimurung terkenal karena menjadi habitat aneka jenis kupu-kupu yang cantik. Diperkaya lagi dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing. Di lokasi ini terdapat Air Terjung Bantimurung yang berada di lokasi perbukitan kapur yang subur dengan aneka tumbuhan. Batu tersebut kemudian dikenal masyarakat sekitar dengan julukan “Biseang Labboro” yaitu perahu terdampar. Untuk menuju Kota Makassar melalui pantai Kuri dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan menelusuri pesisir pantai. Sayangnya Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang megah itu kurang menyerap ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. Letaknya sangat strategis yaitu antara kota Maros dan Kota Makassar. Berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai di tempat ini. Prasejarah berupa gambar babi rusa serta puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding – dinding gua. Obyek wisata Alam Gua Pattunuang di Kabupaten Maros selain kaya akan akan stalagtit dan stalagmit yang menakjubkan. pernah ada saudagar dari Cina yang datang untuk melamar guna mempersunting gadis Samangki. Selain lukisan prasejarah. namun sayangnya tempat itu musnah terbakar. namun karena lamarannya ditolak akhirnya saudagar tersebut malu dan mengkaramkan perahunya yang kemudian menjelma menjadi batu. Di kawasan Malino . sehingga selain akan memberi kenyamanan tersendiri juga terhindar dari kemacetan arus lalu lintas jalan raya. Tempat yang disebut juga Taman Prasejarah Leang-Leang ini terletak pada deretan bukit kapur yang curam dan para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat disekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia yang ditandai dengan lukisan. Kawasan ini pernah menjadi tempat pertemuan antara para pemimpin Kalimantan dan pemimpin daerah Indonesia timur lainnya ketika mereka membentuk negara federasi Indonesia sebagai hasil perundingan dengan pemerintah belanda.Makassar. Sejumlah obyek wisata pantai juga dapat dijumpai di Maros seperti Pantai Kuri dengan pasir putihnya. burung dan serangga yang langka. Obyek-obyek wisata di Kabupaten Maros yang banyak dikunjungi wisatawan antara lain Bantimurung. Obyek wisata andalan ini cocok untuk kegiatan wisata alam di lembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu. Selain air terjun dan kupu-kupunya. Gua ini diperkirakan menjadi tempat kediaman manusia purba yang hidup di daerah ini pada masa 8000 hingga 30. terdapat pula sebuah gua dengan stalagtit dan stalagmitnya yang menakjubkan. juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut. terlebih dengan suasana matahari terbenamnya yang indah. Di kawasan Bantimurung ini pernah dibangun rumah-rumah peristirahatan dengan arsitektur khas Bugis-Makassar. Di kawasan ini terlihat aneka ornamen yang indah.000 tahun yang lalu. juga memiliki panorama alam sekitarnya sangat menawan dan indah. Menurut cerita rakyat bahwa pada zaman dahulu. Dekat dari Bantimurung terdapat gua Leang Leang. di lokasi wisata ini terdapat Museum kupu-kupu. Keberadaannya menjadikan kawasan yang pertama dapat dikunjungi setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Masjid kuno ini memiliki atap bentuk tumpang tiga. Masjid Tua Tompong juga menjadi salah satu obyek yang dikunjungi wisatawan. Dinding masjid bagian timur terdiri dari empat pilar bergaya arsitektur Eropa. Di kota Bantaeng terdapat juga bangunan-bangunan khas gaya arsitektur kolonial. Konon. Bantaeng merupakan daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Di kawasan ini rumah-rumah dibangun berarsitektur khas Bugis –Makassar. Daerah ini kaya akan sejarah maritimnya. ilmuwan dari Belanda. masjid ini dibangun pada tahun 1887 atas prakarsa Raja Bantaeng Karaeng Panawang pada abad 12. Di sekitar permandian ini udaranya sejuk dengan pemandangan alam berupa perbukitan yang ditumbuhi pohon dan tanaman berwarna hijau. Kuburan Raja – Raja Binamu merupakan kuburan para Raja – Raja Binamu yang pernah memerintah di Butta Turatea Jeneponto. Pada masa lalu. ditunjang berbagai fasilitas kolam renang. ujung – ujung panah. Kecamatan Kelara. Kecamatan Bissappu terdapat Gua Batu Ejaya. Salah satu obyek pantainya yang terkenal adalah Birtaria Kassi di Kecamatan Tamalatea dengan pantai yang landai dan sudah tertata baik. berlokasi di Desa Tompobulu. Bantaeng adalah pusat pembuatan kapal orang Bugis dengan reputasi yang terkenal selama ratusan tahun. Letaknya di atas bukit yang datar. Selatan dan Barat terbuat dari tembok yang mempunyai ventilasi udara dari roster porselin berwarna hijau. Tidak terlalu sulit menemukan pantainya yang landai dengan udara yang nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas olahraga pantai. penginapan dengan bagunan berarsitektur Bugis-Makassar. wisatawan dapat menyaksikan rumah panggung berjejer di antara areal persawahan. Air Terjun Boro. wisatawan dapat melakukan kegiatan olahraga pantai. Kabupaten Jeneponto meski dikenal sebagai wilayah yang kering. mandi atau berendam di laut atau berlayar dengan perahu. Di sini. toko souvenir dan arena hiburan anak – anak. Bangunan induknya terdiri dari penampil dan tubuh masjid. Di kawasan ini juga terdapat kolam pancing dan berbagai restoran. Masyarakat setempat menggunakan buah pohon kapuk itu sebagai bahan baku untuk membuat kasur. . Kecamatan Eremerasa. Ia melakukan penggalian arkeologi dan menemukan alat – alat batu jenis calsedon berupa serpihan yang digunakan sebagai pencerut. Di Kelurahan Bontojaya. Gua Batu Ejaya pernah diteliti tahun 1937 oleh Van Stein Callonfols. Pemandangannya indah dengan pegunungan yang berada di kanan – kiri air terjun yang tingginya mencapai 20 meter. Di utara Bantaeng terdapat sebuah air terjun yang cukup mengesankan. Di sepanjang jalan. ternayata memiliki juga panorama alam yang indah dan asri dengan pepohonan yang rindang. Dinding masjid di bagian Utara. Karena daerah ini pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan kolonial Belanda. Kuburan ini memiliki ciri khas ornamen yang indah. Puisi – puisi lama pada abad ke–14 pernah memuji kualitas kapal buatan daerah ini. terdapat Permandian Alam Emmerasa. Derajat yang di makamkan disana dapat dilihat dari patung yang berada di atas kuburan. Di desa Kampala.terdapat tempat-tempat peristirahatan bergaya arsitektur kolonial yang masih terjaga keberadaannya. sekitar 300 meter dari jalan raya. Di sekitar gua itu terdapat banyak pohon kapuk.

Kecamatan Bantaeng. terletak di Kecamatan Bonto Bahari. Panorama alam yang indah. Di kawasan pantai ini. Masyarakatnya masih sangat terikat dengan adat istiadat yang bersumber dari ajaran pasang/wasiat yang disebut ”Pasangnga Ri Kajang” yang dikomunikasikan lewat ”Ammatoa” sebagai pemangku adat. Di kompleks ini terlihat kuburan dan nisan dengan ornamen yang khas. Untuk bermalam telah dibangun beberapa cottage ala arsitektur Bugis-Makassar yang dipadukan dengan pendekatan konsep arsitektur modern. Selain pesona pantai berpasir putih yang indah. Pantai di tempat ini memiliki pasir yang putih. Bulukumba merupakan salah satu tempat keberangkatan kapal yang menuju ke Pulau Selayar. Pantai bira memiliki keragaman biota laut yang sangat indah. Beberapa kilometer di . batu bata dan batu kapur yang memakai bahan perekat. La Tenri Ruwa adalah Raja Bone ke 11 yang pertama menerima ajakan dari Raja Gowa XIV Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin untuk memeluk agama Islam. Pantai Mandala Ria di Desa Ara Kecamatan Bontobahari terdapat rumah-rumah khas Bugis Makassar. Oleh sebab itu dalam kompleks bangunan ini terdapat sekitar 159 buah bangunan makam yang menyerap gaya arsitektur Islam. Berbagai jenis ikan hias dan terumbu karang beraneka warna. Bangunannya terdiri dari rumah induk dan pendopo. Di arah selatan ibukota kabupaten Bulukumba terdapat desa tempat pembuatan kapal juga sejumlah obyek wisata yang dikenal dengan nama Pantai Bira. Kajang adalah kampung adat yang menjadi pemukiman dengan rumah-rumah adat khas Kajang. Di kota Bantaeng terdapat Balla Lompoa-rumah adat khas Bugis Makassar yang dulu menjadi tempat bermukimnya raja – raja Bantaeng. tempat ini bagus untuk bersantai namun pada hari libur selalu ramai dengan pengunjung. Pada hari biasa. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan pantai barat Pulau Selayar atau di Benteng yang merupakan kota utama di pulau ini. Pulau Selayar terletak di arah tenggara dari daratan semenanjung Sulawesi Selatan ini memiliki pantai berpasir dengan panorama yang indah. Pantai dengan hamparan pasir putih ini menjadi tempat yang asyik untuk menikmati sunrise dan sunset yang amat mempesona. wisatan dapat berenang. tempat pembuatan perahu tradisional dan di sekitar pesisir dijadikan kawasan cagar alam dengan aneka satwa liar yang dilindungi. juga tersedia sumber air tawar di laut disaat surut. Kelurahan Pallantikang. Rumah-rumah mereka berarsitektur Bugis Makassar.617 meter persegi. tepatnya di Lingkungan Lembang Cina. Mereka hidup dalam kesederhanaan dengan pakaian serba hitam dan bangunan rumah mereka dominan berwarna hitam dan mereka hidup dengan melestarikan hutan sebagai warisan leluhur. snorkeling dan menyelam.Makam Raja – Raja La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam yang terletak di tengah kota Bantaeng. Kerajinan masyarakat berupa sulaman dan miniatur perahu phinisi dapat dijadikan souvenir menarik dari lokasi ini. Pantai lemo-lemo. Luas tanahnya sekitar 1. Bahan baku bangunan makam itu terbuat dari batu karang. Pulau yang berbentuk memanjang tapi sempit ini dihuni oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Di sekitarnya terdapat rumah – rumah penduduk berarsitektur tradisional. selebihnya batu cadas. Di kabupaten ini terdapat desa-desa orang Bugis -Makassar yang bermukim di sekitar pantai Bulukumba.

Untuk wisata bahari daerah potensi pengembangan untuk wisata bahari adalah Pulau – pulau Sembilan di Kecamatan Sinjai Utara. Pantai Lasia di Kecamatan Sinjai Timur dan Desa Pattongko Kecamatan Tellulimpoe. terletak di Kelurahan Balangnipa. menyimpan potensi wisata bahari maupun wisata alam berpemandangan yang tidak kalah menariknya dengan daerah lainnya. Benteng Balangnipa berjarak 2 km dari pusat kota Sinjai. Rumah adat bugis yang terletak di pusat Kota Watampone ini adalah bekas istana Panglima Perang Kerajaan Bone Andi Baso Pagiling Putra Mahkota Raja Bone XXXX Lapawawoi Karaeng Sigeri. Adalah salah satu daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan. Pada awal dibangunnya tahun 1560. keberadaan rumah panggung ini menunjukkan bahwa sejak masa lalu masyarakat Bone telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil yang cukup tinggi. Pao. Hal ini merupakan potensi wisata budaya yang tiada nilainya. direnovasi dengan model arsitektur Eropa dan selesai tahun 1868. Taka Bone Rate merupakan pulau karang atol yang terletak di tenggara Pulau Selayar atau di utara Pulau Bone Rate. sebagai daerah bekas wilayah gabungan antara Kerajaan Tellulimpoe (Tondong. Pulau Kanalo 2 dan Pulau Larearea yang merupakan daerah potensial untuk dijadikan obyek wisata bahari. Bulo Bulo dan Lamatti) dengan Kerajaan Pitulimpoe (Turungeng. Selain itu. Legenda tentang kerajaan yang . Antara lain rumah adat Bola Soba di Kelurahan Manurungnge. benteng ini merupakan dasar yang bahannya berupa batu gunung yang diikat oleh lumpur Sungai Tangka. Pulau – pulau Sembilan terdiri dari 9 buah pulau yakni Pulau Burungloe. Kecamatan Tanete Raittang. pakaian kerajaan. Di Selayar terdapat juga rumah adat yang berarsitektur khas. yang memiliki stalagtit dan stalagmit menyerupai bentuk makhluk sehingga muncul legenda Alleborenge Ri Mampu atau kutukan Kerajaan Mampu. tentunya menyimpan benda – benda peninggalan sebagai tanda kejayaan kedua kerajaan tersebut di masa lalu. patung. Pulau Kanalo 1. Kecamatan Sinjai Utara. Suka dan Bala Suka). Manipi. Untuk kegiatan wisata alam. Bone adalah ibukota kabupaten Bone. berbentuk segi empat dan memiliki empat buah pertahanan yang disebut bastion. bajubaju adat dan foto-foto keturunan Raja-raja Bone juga sarat dengan sejarah. Wisata budaya dan sejarahnya sangat kaya. tebal dinding siwali reppa -setengah depa. Pulau Liang Liang. Pulau atol Taka Bone Rate adalah yang terbesar ketiga di dunia dengan luas sekitar 2220 km2. Manimpahoi. Terasa. Pulau Katingdoang. Pulau Batanglampe. Pernak-pernik itu sangat indah dalam bentuk dan warnanya. Pulau Kambuno. Kabupaten Sinjai merupakan daerah yang terletak di pantai timur bagian selatan jazirah Sulawesi Selatan dan berada di kaki Gunung Bawakaraeng. Pulau Kodingare. Di dekat Pulau Selayar terdapat Pulau Pasi di mana wisatawan dapat melakukan kegiatan air snorkeling. Bone banyak memiliki gua-gua alam seperti Gua Mampu di Desa Labbeng. Selanjutnya pada zaman penjajahan Belanda tahun 1864. Di museum ini tersimpan peninggalan Kerajaan Bone dan benda-benda peninggalan Arung Palakka seperti keris. Rumah tersebut dibangun akhir abad ke 19 atau tahun 1890. Museum Lapawawoi di pusat kota Watampone.selatan Benteng terdapat Benteng Bontobangun.

bangunan ini terletak di jantung kota Watansoppeng. laki – laki dan perempuan yang bukan muhrimnya tidak diperkenankan serumah dan tidak diperbolehkan ada judi. Kecamatan Cenrana. Krosen tahun 1905 selaku Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi. Di beberapa gua. Ibukotanya Watansoppeng atau disebut juga kota kalong atau kelelawar. Sejumlah makam menjadi obbyek wisata ziarah seperti komplek pemakaman Raja Kalokkoe (Laleng Bata) sekitar 3 km dari kota Watampone dan makam Raja-raja Watang Lamuru di Desa Labalata. babi. Uniknya kalong ini hanya mau berdiam dan bergelantungan di pepohonan sepanjang kota Watansoppeng. Konstruksi dan . terdapat peninggalan purbakala berupa gambar telapak tangan. Pemandian alam Mattampa merupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Pangkep yang terletak di Kelurahan Samalewa. Salah satu diantaranya yang cukup terkenal diberi julukan ‖Rumah Tinggi” Villa Yuliana merupakan salah satu bangunan arsitektur peninggalan Belanda di Kabupaten Soppeng. ada sekian mitos yang berkembang bahwa keberadaan kalong ini yang jumlahnya ratusan hingga ribuan ini. Kepulauan ini memiliki gugusan terumbu karang yang padat dan indah yang di sela – selanya berenang ikan – ikan hias aneka warna dari berbagai spesies. Soppeng merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan. kompleks makam Labalata dan Kalokkoe serta makam Lapatau Matanna Tikka di Desa Nagauleng. Di pemandian ini juga terdapat Gua Mattampa dan taman rekreasinya yang dilengkapi fasilitas olahraga dan pertanian terpadu dan pusat percontohan pengembangan kolam air tawar dan tempat memancing.dikutuk menjadi batu ini disampaikan secara turun temurun di tengah masyarakat setempat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam. perahu yang diperkirakan berusia 5000 tahun. jet sky dan fasilitas olahraga lainnya. sekitar 25 menit dengan speed boat dari Pelabuhan Bining Kassi. Wisatawan dapat menyewa perahu jika berminat melihat ‖desa terapung‖ di dekat Bajoe. A. Makam-makam ditempat ini dibuat dengan bentuk yang khas. Sejumlah fasilitas tersedia mulai dari akomodasi. bertengger di pohon – pohon taman kota dengan suara berisik yang khas. Bajoe yang terletak 7 km di sebelah timur Bone merupakan kota pelabuhan dan penyeberangan menuju ke Kolaka di Sulawesi Tenggara. rusa. Di bagian timur pantai yang landai dan berpasir putih sudah dilengkapi dengan fasilitas akomodasi dengan bangunan rumah khas berarsitektur Bugis Makassar. Obyek pantai lainnya adalah Pulau Langkadea. Kecamatan Bungoro sekitar 3 km dari kota Pangkajene yang berada pada poros Makassar – Pangkep. Pangkajene. Di kelurahan Balloci Baru terdapat Taman Laut Pulau Kapoposan di Desa Mattiro Ujung Kecamatan Liukang Tupabiring. Pulau ini disebut juga Citra Mustika Langka atau Pulau Wisata Bahari Muslim karena pengunjung menghadapi sejumlah ketentuan misalnya harus berbusana muslim. dibangun oleh C. Keberadaan kalong di jantung kota Watansoppeng semakin menambah pesona kota ini karena ibukota Watansoppeng dijuluki sebagai kota kalong. Di Soppeng masih banyak ditemukan bagunan bergaya arsitektur kolonial. Rumah-rumah masyarakat di kawasan itu dibangun dengan khas arsitektur Bugis-Makassar.

Melihat bentuk. Pemandian ini berada dalam kawasan hutan lindung yang berbukit dengan panorama alam yang indah. perkampungannya masih banyak yang khas berarsitektur Bugis-Makassar dan berbagai aktivitas masyarakat sekitarnya seperti pengolahan tembakau secara tradisionil. Pemandian Alam Citta terletak di Jantung Desa Citta. pembangunan villa ini merupakan wujud kecintaan terhadap Ratu Yuliana. Itu terlihat pada ornamen-ornamennya. sayangnya pusat penenunan sutera milik rakyat umumnya terletak di . nyaman di Desa Bulue. Pemandian yang terletak di Kelurahan Ompo. sejuk. Luwu dan Sidenreng dari abad XVII. Di obyek ini pengunjung dapat berenang dan menikmati keindahan panorama alam. Makassar. Hasil industri tenun milik rakyat. terdapat berbagai jenis rumah adat yang bergaya Arsitektur Bugis. Kompleks Istana Datu Soppeng terletak di jantung kota Watansoppeng. Kecamatan Marioriawa. Menhir Latammapole sebagai tempat menjalani hukuman bgi orang yang melanggar adat dengan cara mengelilingin 7ya kali. berhadapan dengan Villa Yuliana yang dibangun sekitar tahun 1261 pada masa Pemerintahan Raja Soppeng I Latemmalala yang bergelar Petta Bekkae. Namun. Kecamatan Marioriawa. Kecamatan Lalabata ini dikenal dengan airnya yang jernih. meja. Sengkang memang dikenal sebagai pusat industri sutera. Mandar. Villa ini merupakan bangunan kembar. Kecamatan Liliriaja. Pemandian Alam Ompo merupakan salah satu tujuan wisata andalan pula. Pada obyek wisata Ompo ini terdapat areal yang luas untuk perkemahan dan Motor Cross dan juga terdapat sebuah danau buatan yang cukup luas sebagai areal bermain perahu dan memancing ikan air tawar. Di dalam kompleks Rumah Adat Sao Mario ini. antara lain : Bola Ridie -Rumah Kuning yang berfungsi untuk menyimpan berbagai jenis atribut kerajaan. tempat tidur. Kain sutera banyak dijual di pasar Sengkang seperti selendang sutera. Dalam kompleks tersebut terdapat bangunan. Toraja. SalassaE berfungsi sebagai Istana Datu Soppeng. Sengkang merupakan kota yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Makam Jera Lompoe adalah makam Datu/Raja-Raja Soppeng. Rumah adat ini juga berfungsi sebagai museum dengan koleksi berbagai jenis barang antik yang bernilai tinggi dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri seperti : kursi. Minangkabau dan Batak. type orintasi dan data historis makam ini dapat dikatakan bahwa Islam masuk sekitar abad XVII. Pemandian Air Panas Lejja merupakan salah satu objek wisata andalan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Kota Sengkang terletak di pinggir Danau Tempe yang memiliki panorama indah. satu di antaranya ada di Nederland. senjata tajam dan berbagai macam batu permata. Di tempat ini terdapat fasilitas peristirahatan yang dibangun dengan gaya campuran tradisional dan modern. Rumah Adat Sao Mario terletak di Kelurahan Manorang Salo. Namun.arsitektur bangunan ini merupakan perpaduan gaya Eropa dan gaya Bugis. Salah satu daya tarik kota Sengkang adalah produk kain sutera. dilihat dari bentuk nisannya terdapat pengaruh kebudayaan Hindu. Makam ini terletak di Kelurahan Bila Kecamatan Lalabata sekitar 1 km sebelah utara kota Watansoppeng.

Dari kolam alami ini. Ada dua sumber air yang mendukung tempat ini yaitu sumber air panas dan sumber air dingin. Pulau Kamarrang di Kelurahan Ujung Labuang dapat ditempuh dari Ujung Lero sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu motor. Pinrang juga memiliki kekayaan laut yang membentang sekitar 93 km dari kota Parepare sampai ke Polewali Mamasa. kakao. ikan bandeng. Pinggiran danau merupakan kawasan tanah lumpur yang juga menjadi tempat bermukim masyarakat setempat. air mengalir melalui batu – batu gunung dan menciptakan air terjun kecil sehingga seolah bersusun – susun. Panorama alam pegunungannya membuat tempat ini terasa sejuk dan nyaman sehingga menjadi tempat memadu kasih dan diyakini mereka yang datang berpasangan bisa berjodoh. Pemandian Air Panas Sulili ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas lainnya termasuk pondok wisata sehingga banyak dikunjungi wisatawan domestik. Dua buah air terjun terdapat pula di Kabupaten Pinrang yaitu Air Terjun Karawa di Kelurahan Betteng. Pemandian air panas lainnya terdapat di Kelurahan yang sama menuju arah PLTU Bakaru. . Terdapat sebuah villa berarsitektur modern di pulau ini yang digunakan wisatawan untuk beristirahat. Anda harus menyewa angkutan umum. Pemandian air panas terdapat di Kelurahan Maminasse pada jalan poros Pinrang-Sidrap. Untuk dapat menuju ke desa-desa ini. Gugusan pulau yang menyembul dari laut ini mempunyai luas 7 hektar didominasi oleh vegetasi hutan pantai termasuk hutan bakau yang mengitari pulau – pulau bagian Barat dan Utara. Berada di kawasan seluas 2 hektar dan mempunyai empat sumber air. Di lokasi ini telah dibangun kolam renang yang sumber airnya dari kedua mata air tersebut. sekitar 12 km dari Pinrang. Air terjun lainnya masih di kelurahan yang sama sekitar 20 km dari kota Pinrang disebut Air Terjun Kalijodoh. kemiri dan kelapa. Terdapat sebuah makam tua di pulau ini dan dikeramatkan oleh para peziarah untuk menyatakan dan melepas nazar bila keinginannya dikabulkan. Pinrang dikenal sebagai salah satu ‖Lumbung Pangan‖ di Sulawesi Selatan sekaligus penghasil udang. Tak heran bila hari libur banyak dikunjungi wisatawan lokal setempat. Kawasan air terjun dengan ketinggian 60 meter ini di bawahnya terdapat kolam – kolam alami dan bebatuan untuk beristirahat. kopi. Pada bagian tengah pulau terdapat pohon – pohon tua yang digelantungi oleh ratusan kelelawar. Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri danau dengan menggunakan perahu motor hingga ke Sungai Walanae. mengunjungi Desa Salotangah dan Desa Batu Batu yang berada di tengah danau. Pemandian Air Panas Lemosusu ini memiliki panorama alam yang meski failitasnya masih sederhana untuk mandi maupun berendam. Danau Tempe merupakan danau yang cukup luas namun dangkal yang menjadi habitat satwa burung. Sementara pada bagian Timur terdapat pantai berbatu keras yang tahan hantaman ombak.desa-desa di sekitar Sengkang yang tidak memiliki akses angkutan umum. Sebagai daerah pertanian yang memiliki sumber daya alam yang cukup.

ibukota administrasi Tana Toraja. Wisatawan yang mengunjungi Toraja umumnya berkumpul di Rantepao. Terletak di pusat kota Palopo dan bentuknya unik seperti bentuk piramida. Kota terletak di dekat Danau Matano seluas 16. Untuk mencapai gua. namun yang banyak dikenal orang luar khususnya wisatawan asing adalah Toraja Selatan yang dikenal juga dengan nama Toraja Sa‘adan atau Saqdan. Rantepao adalah kota hujan karena hujan hampir selalu turun sepanjang tahun dengan udara yang dingin pada malam hari. Dari kota ini bisa dilakukan perjalanan kekota pertambangan Soroako. Makam Raja – Raja Luwu ‖Lokkoe‖ yang artinya gua tempat peristirahatan. Istana yang berfungsi sebagai museum Batara Guru ini menyimpan benda – benda pribadi dan peralatan yang pernah digunakan Rja – Raja Luwu. Danau ini menjadi habitat aneka flora dan satwa burung. Di kota ini masih banyak terdapat rumah-rumah yang dibangun dengan arsitektur khas Toraja. Danau-danau di wilayah ini saling berhubungan melalui banyak sekali sungai-sungai kecil. peralatan dan perlengkapan upacara adat dan benda pusaka. Masyarakat Toraja secara etnografis dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu Toraja Barat. Tana Toraja merupakan daerah tujuan wisata internasional yang paling menarik dan paling terkenal di Sulawesi. Di tempat ini dimakamkan para Raja Luwu yang pernah berkuasa. Secara geografis Tana Toraja berada di pegunungan pada pangkal semenanjung Sulawesi Selatan. pengunjung harus melalui sekitar 480 anak tangga dan di dalam gua terdapat makam leluhur To Tana Lalong terdiri dari Liang Kabongian dan Liang Sugi Sakalikuku.Kota Palopo adalah ibukota kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan. Di kawasan yang indah permai ini masih bisa ditemui desa-desa tradisional dengan sawah yang membentang luas. . Istana ini didirikan pada tahun 1922 – 1924 oleh seorang arsitek Belanda bernama Obsenter Noble pada masa penjajahan Belanda di Luwu dengan bangunan bergaya Eropa. Kota ini menjadi titik awal bagi wisatawan yang ingin megeksplorasi segala keunikan dan keindahan Toraja. terletak di pusat kota Palopo. Rantepao merupakan kota terbesar di Tana Toraja dan juga pusat perdagangan di wilayah ini. Kota kecil yang cantik ini dikelilingi perbukitan yang puncaknya sering ditutupi kabut dan di dekat kota terdapat sebuah danau buatan. Di Kabupaten Luwu terdapat Istana Kerajaan Luwu atau disebut juga Museum Batara Guru. Gua Liang Andulan di Desa Siteba. Timur dan Selatan. misalnya. Di Kota Palopo telah dibangun rumah adat yang cukup besar berarsitektur Bugis. Kecamatan Lamasi memiliki ragam stalaktit dan stalagmit dengan warna – warna yang indah. Kota ini terletak di daerah pegungungan yang memiliki banyak danau.400 hektar dan merupakan danau terdalam di Sulawesi. Pada umumnya mereka bermukim di sekitar Rantepao dan Makale. Di sini juga terdapat benda – benda antik seperti keramik.100 hektar yang merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Rumah adat ini sering dimanfaatkan untuk berbagai upacara baik upacara adat ataupun upacara Pemerintah Daerah. Di sebelah selatan Danau Matano terdapat Danau Towuti seluas 56. bangunan rumah tradisional Tongkonan dengan arsitektur yang unik khas kebudayaan Toraja yang sangat menarik.

Mencari wujud arsitektur tradisional untuk rumah yang baru dengan penerapan secara bijak dan mematuhi kaidah-kaidah dengan tepat.Salah satu upacara adat yang paling mengesankan di Toraja adalah upacara penguburan mayat yang sudah terkenal ke seluruh dunia. Hasil penelusuran. Kearifan dan keunggulan yang mulai tak diabaikan. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan Dalam Konteks Ketahanan Budaya Lokal. Konsep arsitektur tradisional yang diterapkan pada kawasan wisata . Agar dapat terlihat secara jelas bagaimana esensi kearifan budaya lokal yang diterapkan itu ternyata masih bisa sangat fungsional. Upacara penguburan ini. sebatas ornamen ringan semata. Orang Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini. sangat penting disadari bahwa transformasi model arsitektur tradisional ke arsitektur moderen sebenarnya dapat terproses secara baik dalam penataan ruang dan lingkungan dari waktu ke waktu. tidak mau mengadopsi potensi arsitektur rumah tradisional. Pemanfaatan model arsitektur tradisional pada bangunan masa kini. tidak mengabaikan kaidah-kaidah sebagaimana mestinya mengakibatkan bangunan atau rumah itu bermasalah. ternyata sering dianggap tidak lagi mampu sepenuhnya mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat. Itu salah satunya yang menyebabkan rumah berarsitektur tradisional yang mengandung berbagai kearifan itu dinilai kuno. tradisional diidentikkan dengan masa lalu yang kuno dibanding dengan modern. Alasan inilah yang mendasari pemikiran. Semakin cepat dilakukan transformasi akan semakin besar dan efektif manfaatnya bagi masyarakat. ketinggalan zaman hingga pelan-pelan mulai ditinggalkan pemangku kepentingan. ultra modern atau pasca modern yang sepenuhnya mencerminkan kekinian terbaru. Pada banyak kasus. seharusnya terus menerus dilakukan secara konsepsional. maka proses adopsi itu secara umum masih belum cukup memuaskan karena hadir hanya sebagai tempelan artistik pemanis. Padahal. untuk generasi sekarang dan generasi penerus. dengan dinamika tuntutan kehidupan moderen yang selalu cepat berubah dengan variasi-variasinya. ditinggalkan atau bahkan cenderung dilupakan itu. Penerapan wujud identitas dan karakter budaya lokal pada arsitektur rumah tradisional diberbagai kawasan wisata. jika saja hal tersebut terus dilakukan dalam kesadaran tinggi. Ada pula paradigma yang menilai bahwa dalam konteks waktu. perlu ditransformasikan untuk menjadi bekal pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu arsitektur. Ini perlu segera direvitalisasi. Seringkali dianggap terjadi ketidakserasian antara keberadaan model arsitektur tradisional yang boleh dikatakan cenderung stagnan. Kalau pun ada upaya-upaya menyerap model arsitektur rumah tradisional. serta bagi kelestarian alam dan lingkungan. karena penerapan model arsitektur tradisional yang salah. pentingnya berbagi kesadaran untuk sama-sama berusaha menggali dan memahami kembali kearifan dan keunggulan yang terkandung dalam ranah arsitektur rumah tradisional. bukan karena pertimbangan aktualisasi kekayaan arsitektur tradisional. menjadi ajang ditampilkannya ornamen-ornamen khas Toraja yang sangat indah. arwah orang yang mati akan memberikan kemalangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Pemahaman seperti itulah yang mendasari pertimbangan hingga penerapan model baru pada arsitektur rumah atau bangunan masa kini dengan corak kekinian pula. pengkajian dan pelestarian kearifan lokal dalam yang masih dimiliki.

bisa berperan menjadi transformator atas nilai yang ingin diwariskan untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal sekaligus nasional. seiring dengan perubahan waktu dan kemajuan teknologi yang bergerak ke masa depan. dengan menanam pohon lontara atau pohon pandan di tamannya sebagai salah satu cara mempertahankan aura masa lalu. Misalnya dengan penataan secara menyeluruh atas bangunan dan lingkungan diseputar Bola Soba dan juga Balla Lompoa – rumah khas Bugis Makassar. Di kawasan itu. apalagi mengingat Tana Toraja sebagai dareah tujuan wisata Sulawesi Selatan yang wisatawannya datang dari manca negara.budaya lokal. Jika ditilik dari strata masyarakat bangsawan yang membangun dan menggunakannya maka Balla Lompoa masuk dalam kategori ―arsitektur klasik‖. Untuk mewujudkan ketahanan budaya dan konteks pelestarian ―Esensi” dan pengembangan ―Substansi” arsitektur tradisional Sulawesi Selatan maka. bergantung dari sudut pandang yang menilainya: Jika Rumah Tradisional Bugis Makassar seperti : Balla Lompoa. . maka itu merupakan ―Arsitektur etnis Bugis Makassar‖. Perlu upaya memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian. Keberadaan model Tongkonan bisa dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan sekaligus dipadukan dengan konsep arsitektur modern. namun perubahan lingkungan strategis etnis yang mengadopsi kearifan-kearifan lokal perlu pula terus ikut diperhitungkan dan dipertahankan guna menjadi roh bagi pengembangan sekaligus dan meningkatkan ketahanan arsitektur berciri tradisional. salah satunya adalah melihat bentuk serta mengapresiasi arsitektur Tongkonan yang unik itu. tentunya mereka datang karena ingin menikmati keunikan budaya Toraja. perlu dengan sengaja ditata suatu lanskap yang berorientasi pada arsitektur etnis Bugis-Makassar nan harmonis. dalam kenyataannya bahwa dibangun oleh masyarakat tradisional Bugis-Makassar berdasarkan kaidah budaya Bugis-Makassar. Suatu obyek arsitektur memang dapat menyandang lebih dari satu atribut kategorisasi. Hidup dan kehidupan memang berhak terus berkembang seiring zamannya. Begitu pula dengan Tongkonan ma’dandan atau batu a’riri yang merupakan ―arsitektur etnis” Toraja. maka itu merupakan ‗arsitektur tradisional‘. Bahwa mempertahankan jatidiri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi. misalnya. demikian pula bila mengingat ―Balla Lompoa” tercipta berdasarkan kaidah dari bakuan teknik arsitektur yang telah diwariskan secara turun-temurun. bagaimana penataan suatu kawasan wisata budaya dan sekitarnya yang menyatu dalam konsep arsitektur rumah tradisional setempat. Hal tersebut dapat ikut ditransformasikan melalui kesadaran akan keunggulan budaya yang dimiliki. Bola Soba. sekaligus merupakan ―arsitektur tradisional”. Perlu pula selalu diperhitungkan.     Perlu upaya memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan sebagai warisan budaya.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali nilai dari kearifan arsitektur tradisional lokal dampaknya akan semakin baik, termasuk upaya-upaya transformasi, pewarisan nilai dan teknologi arsitektur tradisional dari para sesepuh, cerdik cendekia bidang budaya, sosiologi dan arsitek rumah tradisional akan sangat baik sebelum mereka terlanjur berpulang. Diharapkan dengan terwujudnya kelestarian arsitektur tradisional lokal Sulawesi Selatan dapat merajut kembali kejayaan masa lalu yang bermanfaat menjadi kebanggan masa kini. Warisan itu diwujudkan dalam explicit knowledge, yang sangat kita perlukan dalam memantapkan konsepsi ketahanan budaya lokal etnis oleh generasi masa kini dan generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa mendatang. BAHAN BACAAN
          

           

Abbas, Ibrahim (1999), Pendekatan Budaya Mandar. Hamid, Abu (1986). Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Makassar : Antropologi Unhas. Budi Santoso (1997), Pembangunan Nasional Indonesia dengan Berbagai Persoalan Budaya dalam Masyarakat Majemuk. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (2005), Informasi dan Potensi Investasi Pariwisata Sulawesi Selatan Djauhari Sumintardja (1998), Kompendium Sejarah Arsitektur Djauhari Sumintardja (1988), The House in Tana Toraja (Traditional Housing in Indonesia). Faisal (2007), Arsitetur Tradisional Mandar Provinsi Sulawesi Barat Josef Prijotomo (1988), Pasang surut arsitektur di Indonesia Koentjaraningrat (1993), Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan Kostof, S. (1991), A History of Architecture. Rituals and Settings. Mangunwijaya,YB, (1992) Wastu Citra, Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Mattulada (1982), Geografi Budaya Daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Depdikbud Nasrul Baddu (1990), Rumah tradisional Bugis Makassar Ronald Arya (2005), Nilai-nilai Arsitektur Tradisional Jawa Rudofsky, B. 1964. Architecture Without Architects. Sampebulu, DR, Ir, M.Eng, (1990), Tradisionalisme dalam arsitektur masa kini Saliya Yuswadi, Ir, M.Arch, (1992), Ragam Hias dalam arsitektur Tradisional Toraja Sachary, A. (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Desain, Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya. Tangdilintin, LT, (1979), Tongkonan (Rumah adat Toraja) dengan struktur seng dan konstruksinya. Tjahjono, G. Editor. (2001). Indonesian Heritage. Vol. 6. Architecture. Tuan, Y.F. (1974).Topophilia. A Study of Environmental Perception, Attitudes, and Values. Tang, Mahmud (1998), Reaktualisasi Nilai-nilai budaya Bugis Makassar dalam Kehidupan Sosial Pada Era Revormasi. Rinwar Karim, Muktahim, Adnin Sakti, (1992), Arsitektur tradisional Bugis Makassar.

Yudono Ananto, Prof, DR, Ir, MSc, (2008) Kearifan arsitektur tradisional rumah panggung dalam hunian modern.

Wikantari Ria, DR, Ir, M.Arch, (2008), Kearifan arsitektur lokal Kawasan Timur Indonesia : Tinjauan Ragam Lintas Etnik Comments: Be the first to comment

ESTE DE LACOSTE
Posted October 9, 2009 by syahriartato Categories: Uncategorized

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAN IDENTITAS DOSEN Nama NIK/NIDN : : DR.Ir.Drs. Syahriar Tato, SH, MS 110018518/NIDN. 09.2102.5101

Tempat/tanggal lahir Agama/Jenis kelamin Pangkat/Golongan/Terhitung mulai tanggal Alamat rumah dan No.Tel/Faks/ e-mail Tlp : 0811417696 / 081524058227 email : ariegagahdeh@gmail.com

: :

Pinrang 21-2-1951 Islam/Laki-laki

:

( IV/C (01-04-06), Kep. No.25/KTH. 2006)

:

Jln.Bau Mangga III no. 3, Makassar

1. Pendidikan yang pernah diikuti :

JENJANG

BIDANG Administrasi Negara

PERGURUAN TINGGI STIA – LAN RI. Makassar Universitas Muslim Indonesia Universitas Satria Makassar UNHAS UNHAS Akademi Teknologi Negeri Makassar

TAHUN MASUK /LULUS 1980/1984 1984/1990 2006/2009 1990/1992 1994/2004 1970/1975

S1

Teknik Sipil Hukum Pidana PLH Perencanaan dan Penyehatan Lingkungan Program Ilmu-Ilmu Teknik Arsitektur

S2 S3 Profesi Spesialis Lain-lain D3

1. a. Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman Pada Kawasan Pantai Kotamadya Ujung Pandang Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III : : : DR.Ir. Yulianto Sumalyo, M.Sc Prof.DR.H. Rahardjo Adisasmita, M,Ec DR.Ir. Sampe Paembonan, MS Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair Rumah

b. Judul Disertasi : Tangga Dengan Filter Biogeokimia

1. Pembimbing I 2. : Prof.DR.Ir.H. Muh.Arief, Dipl.Ing Pembimbing II Pembimbing III Pembimbing IV : : : Prof.DR.H. Syahrul, M.Agr DR.Ir.H. Muh. Saleh Pallu, M.Eng DR.Ir. Mary Selintung, Msc

1. Judul penelitian terakhir dan tahunnya : :

1. Karya terpenting dan tahunnya 1. Penghargaan dalam bidang ilmu/

JUDUL TULISAN Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan TAHUN 2005 DITERBITKAN SEBAGAI : *) Jurnal SPASIAL.profesi/pendidikan beserta tahunnya : 1. 3. Mata kuliah yang diberikan di luar perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO 1. 4. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI 3. 5. Sistem Perumahan Dan Pemikiman 1. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI 4. 10. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI 1. Prasarana Wilayah dan Kota I JENJANG S-2 SKS 2 1. 9. NAMA MATA KULIAH Pembangunan Daerah Methode Penulisan Ilmiah Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Program Dan Proyek Prasarana Wilayah Dan Kota I Prasarana Wilayah dan Kota II Perencanaan Pariwisata Konsep dan Struktur Tata Ruang Manajemen Proyek dan Program Pembangunan Daerah JENJANG S-2 S-2 S-2 S-2 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 SKS 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 PERGURUAN TINGGI STIA-LANRI STIK Tamalate STIK Tamalate STIA LANRI PWK UIN PWK UIN PWK UIN PWK UIN STIA – PARIS STIA – PARIS 1. 6. Daftar karya ilmiah yang ditulis dalam 3 tahun terakhir NO 1. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 7. Mata kuliah dalam program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH 1. Satya Karya 1985 Mentri PU 2. 45. Pengalaman mengajar 2. Mata kuliah di luar program studi ini di perguruan tinggi ini pada 3 tahun terakhir NO NAMA MATA KULIAH JENJANG S-1 SKS 2 PROGRAM STUDI PWK 1. 2. 8. .

Ir. Oktober 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 1 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 2 Tahun 2003 Artikel dalam Majallah 1. Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota 2008 6. MS) selama 10 tahun terakhir NO JUDUL ARTIKEL TAHUN DITERBITKAN SEBAGAI : *) Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no6 Tahun I. Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia 2003 4. Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem 2008 5. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. April 2009 1. 2007 4. Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban 2009 Mei 2005 Jurnal SPASIAL. masihka memukau? 2003 3. Daftar Artikel Dosen (Dr. Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar.Tata Guna lahan – system transportasi sebagai 2. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. April 2008 Jurnal SPASIAL. SH. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. April 2007 Jurnal SPASIAL. masihkah lestari 2003 2. Perencanaan wilayah dan Kota Univ. Mengolah limbah cair perkotaan 2003 5. 45. Mei 2006 Jurnal SPASIAL. Manajemen Strategik organisasi seni budaya Filter Biogeokimia. 45. 45. Drs. Air Sumber kehidupan. sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan 2006 3. 2004 . Juni 2008 Jurnal SPASIAL. 45. Syahriar Tato.

II Maret 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 3 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 5 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―BKKINEWS‖ Edisi 6 Tahun 2004 Artikel dalam Majallah ―Mimbar Aspirasi‖Edisi 44 Februari 2005 Artikel dalam Majallah BIC. Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim Mungkinkah membangun seni budaya‖Beraura‖ tradisi di Sulawesi Selatan 2004 8. Tahun I.6 1 Milyard Orang Dambakan Air 2004 ― Sinergi‖ no1. Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata) 2005 11. Edisi Maret 2008 Buku Ilmiah. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan sebagai warisan ―Pusaka‖ budaya local Indonesia 2008 12. Building Information Center. S2 Aerob dan Waktu Tinggal TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR Unhas 2006 NO 1. Zaenab . Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian lokal 2004 Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata 10. JUDUL TESIS STUDI Efektifitas Media Filter. Pengalaman membimbing mahasiswa S2 dalam 5 tahun terakhir NAMA MAHASISWA P. Penerbit Cipta Letera 2009 Buku Ilmiah. Januari 2004 Artikel dalam Majallah ―sinergi‖no3 Tahun. Mengolah Limbah Cair Rumah Tangga dengan Filter Biogeokimia 2009 13. Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan 2009 1. Penerbit warisan Budaya Indonesia 7. 2004 9.

Terhadap Penurunan Kadar SS. 3. Setiawan Objek Wisata Alam S2 Lumpue Pare-pare Strategi Pengembangan 4. 4. Luwu Timur Studi Pemamfaatan Laode Ali Kasim Kawasan Pesisir Kota Raha Pengaruh Pengembangan Pulau Maitara Sebagai Kawasan Ekowisata Afriani Tompo dalam Peningkatan Ekonomi Masyarakat Pulau S1 Univ 45 2008 . Rahmawati Asis Objek Wisata Sanrobengi S2 Kab. Muh. 7. 2.COD. Edi Syahrir Pemukiman Kumuh Di S2 Kota makassar Studi Pengembangan 3. 5. Takalar 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2009 Pengalaman membimbing mahasiswa S1 dalam 5 tahun teakhir NAMA MAHASISWA P. JUDUL TESIS STUDI S1 TAHUN PERGURUAN KET TINGGI MULAI AKHIR 2008 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2008 2008 S1 Univ 45 2008 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2006 S1 Univ 45 2007 2007 2009 2008 2008 2008 NO 1. Pasir Pengaruh Implementasi Konsep Agropolitan Ramlan Riza TerhadapPerkembangan Kota Barru Rahmudi Laode Perubahan Fungsi Lahan Hua Kota Bilibili Kab. Gowa Strategi Pengembangan Rosmini Satria Kawasan Wisata Pantai lemo di Desa Mabonta Studi Pengembangan Ilham Objek Wisata Pantai Beraue Kab. 6. Optimalisasi Pemamfaatan lahan Irma Febriani Pemukiman Kota Tanah Grigot Kab. Dan MBAS di limbah cair rumah sakit Labuangbaji Makassar Penataan Lingkungan 2.BOD.

Prospek Pengembangan Kota Ternate sebagai S1 tujuan wisata Partisipasi Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Heru kualitas dilingkungan S1 Soemarjono Permukiman Kota Makassar Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Risdawati S1 Awal Baru Kec. 9. 2005 Univ 45 2005 15. 17. Kota Tarakan Analisis Pengembangan Kota Belopa Utara Arjan Ibrahim S1 sebagai Ibukota Kab Luwu Identifikasi Ruang Laode M. Batua Kec. Masruri D dalam Peningkatan Sosial S1 Ekonomi masyarakat di Kab. 12. Kab. Kab. 10. 13. Kadafi Lakufu Tondano. 11. Manggala Kota Makassar Analisis Sistem Pegelolaan Persampahan Citra Ariesta S1 Ibu Kota Kec. S1 Lasusua.8. Terbuka Hijau Kota S1 Rusman Baubau Revitalisasi Kawasan Wisata Sejarah dan Jawa Lukman Hakim S1 M. 2005 Univ 45 2009 Univ 45 2009 Univ 45 2009 2009 2006 16. Tarakan Timut. Beto Ambari Kota Baubau 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2009 2009 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2008 Univ 45 2005 Univ 45 2005 2009 2009 2009 2009 14. Kolaka Utara Analisis Pengembangan Kota Malino Sebagai Ansarullah S1 Kawasan Wisata Kab. Gowa Evaluasi Lokasi Perumahan Swadaya Mas Herfina Simabur S1 Kel. 18. Minahasa Analisis Pengembangan Pantai Dato Pangale M. Majene Analisis Pengembangan Objek Wisata Pantai Haerun Amrus Tanjung Tababu Kec. .

19.MS Comments: Be the first to comment « Older Entries Newer Entries »   Home About Subscribe Syahriartato's Blog syndicates its weblog posts and Comments using a technology called RSS (Real Simple Syndication). Enrekang 2008 S1 Univ 45 2009 Makassar.Ir.Drs.org Meta . You can use a service like Bloglines to get notified when there are new posts to this weblog. Archives     February 2010 January 2010 December 2009 October 2009 Categories      opini di majalah dan koran (12) SENI DAN BUDAYA (102) TULISAN ILMIAH POPULER (2) Uncategorized (25) Blogroll o o WordPress. Syahriar Tato. Nur Rezki Studi Pengembangan Kawasan Objek Wisata Benteng Alla Kab. SH.com WordPress. 18 Agustus 2009 DR.

com.com Blog at WordPress. Follow Follow “Syahriartato's Blog” Get every new post delivered to your Inbox.com . Enter your Powered by WordPress.    Register Log in XFN WordPress. Theme: Sapphire by Michael Martine.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful