P. 1
Farmasi Kedokteran

Farmasi Kedokteran

|Views: 1,623|Likes:
Published by Basten

More info:

Published by: Basten on May 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

FARMASI KEDOKTERAN
Siti Rahmatul Aini, S.F, Apt, dr. Triana Dyah C, dr. Ilsa Hunaifi Andang Sari, S.Si, Apt, Drs. Agus Supriyanto, Apt, dr. Nurhidayati M.Kes, Emmy Amalia dr.

BAHAN BELAJAR KETERAMPILAN MEDIK

PENDAHULUAN
Ilmu farmasi kedokteran merupakan ilmu terintegrasi dengan ilmu farmasi dan ilmu kedokteran klinik. Ditilik dari sejarahnya, sebelum abad XX, obat yang digunakan masih sederhana yaitu obat tradisional dan Ars Prescribendi dan Ars Preparans dipegang oleh 1 ahli yaitu dokter/tabib. Sedangkan setelah abad XX, melalui perkembangan ilmu pengobatan maka diciptakan obat dari bahan kimia, Ars prescribendi oleh dokter dan Ars preparansi dilakukan oleh apoteker.

PERIHAL OBAT
BATASAN OBAT Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun. Menurut Permenkes RI No.242/1990, obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun, sedangkan menurut Permenkes No.193/Kab/B-VII/71, obat adalah bahan/paduan bahan yang digunakan dalam menetapkan :  Diagnosis Contoh: cairan kontras (BaSO4)  Mencegah Contoh: vaksin, pil KB.  Menghilangkan penyakit/ gejala, luka/kelainan Contoh: obat-obat simptomatis, contoh: parasetamol.  Memperindah/memperelok tubuh Contoh: obat jerawat, pemutih KATEGORI OBAT Obat bisa dikategorikan menurut UU Farmasi, bentuk (fisik), cara pemberian dan khasiat/efek obat. Berdasarkan keamanannya obat dapat digolongkan (Peraturan MenKes No. 242/ Thn 90)  Obat bebas  Obat bebas terbatas  Obat keras  Obat Psikotropika  Obat narkotika

Menurut Jenisnya Obat Dapat Dibedakan Menjadi :  Obat baku/bahan  Substansi yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia atau buku

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

1

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

obat  Obat jadi  Obat paten  

resmi lainnya yang ditetapkan pemerintah. Obat standart, obat generik: obat dengan komposisi dan nama teknis standart seperti dalam Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan pemerintah. Trade name: obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar seperti nama pabrik atau yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya dan obat tersebut obat yang masih dilindung oleh hak patennya. Obat paten tidak tersedia dalam bentuk generik, dan tidak boleh suatu perusahaan membuat nama paten yang lain dengan kandungan yang sama selama masa paten obat ini masih dikuasai oleh perusahaan leadernya atau selama hak paten kandungannya tidak dijual atau dilisensikan ke perusahaan lain yang berminat. obat yang telah habis masa patennya obat dengan nama generik, nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan INN (International Non-propietary Names) dari WHO (World Health Organization) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Nama generik ini ditempatkan sebagai judul dari monografi sediaan-sediaan obat yang mengandung nama generik tersebut sebagai zat tunggal (Obat Generik Berlogo). Obat Generik bisa berupa obat off paten yang terdiri atas branded generik dan generik (berlogo). Obat tradisional, jamu, fitofarmaka: obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. Obat generik yang dibuat oleh pabrik dengan nama yang berbeda dengan nama generiknya tetapi komposisinya sama dengan generiknya. Yang membedakan adalah bentuk sediaan, rasa, kemasan dan promosi.

 Obat Off Paten  Obat Generik

 

 Obat asli

 Obat dengan Nama  Dagang

Menurut Cara Pemberiannya, Obat Dibedakan Menjadi:  Obat sistemik, yaitu cara pemberian obat yang memungkinkan obat masuk dalam tubuh dan beredar dalam sirkulasi sistemik sehingga efek kerjanya bersifat sistemik. Cara pemberian obat sistemik ini misalnya pemberian per oral dan parenteral.  Obat lokal, yaitu cara pemberian obat yang menghasilkan efek setempat atau hanya pada tempat pemberian. Obat lokal ini tidak atau minimal ditemukan dalam sirkulasi sistemik. Cara pemberian obat dengan efek lokal misalnya obat topikal seperti salep kulit, sampho anti ketombe, dan pemberian per inhalasi. Menurut khasiat/efek obat, obat dibedakan menjadi kelas terapi seperti tercantum dalam Daftar Obat Essensial Nasional ( DOEN). Penggolongan Berdasar Efek Farmakologi Contoh : Fenobarbital; dapat dikategorikan menurut:  Tempat kerja dalam tubuh; merupakan obat yang bekerja pada SSP  Aktivitas terapeutik; merupakan obat sedatif-hipnotik.  Mekanisme kerja farmakologi; merupakan depressan SSP  Sumber asal/ sifat-sifat kimia; merupakan turunan asam barbiturat. Menurut bentuk dan struktur kimia:  Asam; contoh acetosal, acidum ascorbinium, barbitalum  Basa; contoh alucol, bisacodyl, hidrochlorothiazida  Garam; contoh : natrium chlorida, papaverine HCI, atropine sulfas

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

2

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

   

Garam/senyawa kompleks; contoh: magnesium trisilikat, cynacobalamin, aluminium/ kalium sulfat. Ester; contoh: chloramphenicol palmitat, adrenaline bitartrat, gliceryl guayacolate Kristal mengandung aior: contoh ampiciline trihiodrat, calcii lactas, codein HCI Isotop radioaktif: contoh : chlormerodin Hg, natrii yodida.

Hubungan antara struktur kimia-sifat kimia dan aktivitas biologis obat.
Struktur kimia Sifat kimia-fisika Aktifitas biologis obat

Jumlah Macam Susunan dari atom molekul obat

Kelarutan Koefisien partisi Adsorpsi Derajat ionisasi

Respon Kenaikan jumlah ikatan obat reseptor

Penggolongan Obat Tradisional

Penggolongan obat di atas adalah obat yang berbasis kimia modern, padahal juga dikenal obat yang berasal dari alam, yang biasa dikenal sebagai obat tradisional.Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan perkembangan penelitian sampai dengan uji klinik. Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.

1.

Jamu (Empirical based herbal medicine)

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turunmenurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

3

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

2.

Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine)

Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan tehnologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis.

3.

Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)

Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia.. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

TATA NAMA
Sesuai dengan Monografi Farmakope Indonesia, maka nama yang sah digunakan dalam penulisan resep adalah:  Nama latin : contoh: acidium acetylsalicylicum,aecetaminofen, methampyronum  Nama Indonesia : contoh:asam asetilsalisilat, asetaminofen, metampiron  Nama lazim/generik : contoh: acetosal, paracetamol, antalgin

DERIVAT OBAT (TURUNAN OBAT)
Derivat (turunan) obat adalah sekelompok obat yang diturunkan dari senyawa yang sama dengan senyawa induk tetapi masing-masing punya struktur kimia yang berbeda, umumnya digunakan untuk sekelompok obat dengan khasiat yang sama, dan didapatkan dari hasil” manipulasi molekuler” senyawa induk (dengan struktrur kimia tertentu). Tujuan dibuatnya derivat obat adalah untuk mendapatkan obat baru dengan efek sama tapi lebih poten dan efek samping lebih kecil atau efek berbeda. Berdasarkan efek farmakologinya, derivat obat ini dapat dikategorikan menjadi obat lain. Sebagai contoh, SULFONAMID, suatu antimikroba, secara struktur kimia menyerupai PABA. Dari sulfonamid dapat diturunkan banyak obat baru dengan efek berbeda antara lain: chlorthiazide (berefek diuretika/ penurun tekanan darah); chlorpropamida yang mempunyai struktur mirip sulfonamid tapi berefek lain yaitu sebagai obat anti-diabetik.

DOSIS OBAT
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

4

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Dosis lazim, dosis terapeutik adalah sejumlah obat ( dalam satuan berat/volume unit) yang memberikan efek terapeutik pada penderita ( dewasa). Selain dosis terapeutik, dikenal pula istilah, dosis awal, dosis pemeliharaan, dosis maksimum, dosis toksis, dan dosis letal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dosis antara lain adalah faktor obat, faktor pemberian, faktor penderita dan indikasi dan patologi penyakit. Dosis Maksimum (DM) kecuali dinyatakan lain, adalah dosis maksimum untuk dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal. Penyerahan obat dengan melebih DM dapat dilakukan, jika dibelakang jumlah obat bersangkutan pada resep dibubuhi tanda seru dan paraf dokter penulis resep. Dosis Lazim untuk dewasa, anak dan bayi hanya merupakan petunjuk dan tidak mengikat.  FAKTOR OBAT Dipengaruhi oleh sifat fisika, daya larut (air/lemak), bentuk(kristal/amorf), sifat kimia (asam, basa, garam, ester), derajat keasaman (pH dan pKa), toksisitas.  FAKTOR RUTE PEMBERIAN OBAT Dosis obat yang diberikan melalui rute/cara pemberian apapun, harus mencapai dosis terapi dalam pada target organ. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misanya faktor yang membatasi kemampuan absorbsi obat pada pemberian per oral, maka dosis oral berbeda dengan dosis obat yang diberikan secara parenteral. Dosis obat pada pemberian per oral lebih tinggi dari pada per parenteral.  FAKTOR PENDERITA Dipengaruhi oleh umur (anak, dewasa, geriatri), berat badan (normal, obesitas, malnutrisi), luas permukaan tubuh, ras dan sensitivitas individual.  INDIKASI DAN PATOLOGI PENYAKIT  Penyebab penyakit  Keadaan pato-fisiologis, misalnya pada gangguan fungsi hepar dan/atau gangguan fungsi ginjal, beberapa jenis obat dikontraindikasikan, atau dosis beberapa jenis obat perlu diturunkan atau interval pemberian diperlama.

PERHITUNGAN DOSIS OBAT UNTUK ANAK Anak bukanlah miniatur dewasa, oleh karena organ tubuhnya (hepar, ginjal, saluran pencernaan, dan SSP) belum berfungsi secara sempurna, luas permukaan tubuh, kecepatan metabolisme basal, serta volume dan distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa, maka besar dosis pada anak ditentukan berdasarkan pada keadan fisiologi anak. Dalam menghitung dosis obat untuk anak, perlu dibedakan antara :      Prematur Neonatus ( 1bln) Infant ( s.d 1 thn) Balita (>1-5 thn) Anak ( 6-12 tahun)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan dosis anak: Faktor farmakokinetik obat  Absorpsi : kemampuan absorpsi dipengaruhi oleh  PH lambung dan usus  Waktu pengosongan lambung  Waktu transit  Enzim pencernaan  Distribusi : jumlah obat yang sampai di jaringan dipengaruhi oleh:

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

5

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

 Masa jaringan  Kandungan lemak  Aliran darah  Permeabilitas membran  Kadar protein plasma  Volume cairan ekstraseluler Metabolisme : kecepatan metabolisme dipengaruhi oleh:  Ukuran hepar  Kemampuan enzim mikrosomal Eksresi : proses eksresi obat terutama melalui ginjal dan dipengaruhi oleh:  Kecepatan filtrasi glomeruler  Proses sekresi dan reabsopsi tubuler

Cara menghitung dosis anak 1. Didasarkan perbandingan dengan dosis dewasa. Berdasar perbandingan umur: Rumus young ( Anak umur 1 – 8 tahun) Da = n n +12 x DM (mg)

Angka 12 menunjukkan berlaku untuk umur anak <12 tahun Dosis Rangkap = Dosis Kombinasi Apabila dalam resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai khasiat sama, maka dosisdosis yang ada dihitung sebagai berikut : Dosis A DM A

+

Dosis B DM B

+

dan seterusnya

≤1

Dihitung dosis rangkap sekali dan dosis rangkap sehari. Rumus Dilling 20 DM (mg) Da = n Angka 20 menunjukkan bahwa rumus ini berlaku untuk orang dewasa >20-24 tahun. Ket rumus diling: Da= dosis anak DM= dosis Maksimum n= umur 2. Berdasar perbandingan berat badan dianggap berat badan orang dewasa 70 kg Rumus Clark = BBa DM (mg) 70 3. Berdasar perbandingan luas permukaan tubuh (LPT) Dianggap bahwa luas permukaan tubuh orang dewasa : 1,73 m2 Rumus ( crawford- Terry Rouke) = LPT a DM (mg) 1,73 4. Didasarkan atas ukuran fisik anak secara individual

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

6

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

 

Sesuai dengan BB anak ( dalam kg) Sesuai dengan LPT anak ( dalam m2)

CATATAN: Kelemahan perhitungan anak dengan perbandingan dengan dosis dewasa:  Umur: tidak tepat oleh karena ada variasi BB dan LPT  Berat Badan : tidak tepat untuk semua obat  LPT : tidak praktis terutama kasus gawat Karena kelemahan-kelemahan tersebut maka diciptakan rumus baru untuk menghitung dosis anak yang lebih akurat oleh bagian farmasi kedokteran Unair. Untuk bayi 0-11 bulan Da= 89 13 + M DM

Da = dosis anak DM= Dosis Makanan m = umur dalam bulan atau 28,8+0,9 W Da = 1+ W W= berat dalam kg Untuk balita 1 – 4 tahun Da = 4,5 + n 19,8

DM

DM

n = umur dalam tahun atau Da = 2,5 + W 41 DM

W= berat badan dalam kg Catatan : rumus ini diturunkan dari Rumus Clark ( yang telah diseuaikan untuk anak Indonesia).

PERHITUNGAN DOSIS OBAT PADA OBESITAS Dikatakan obesitas jika BB > 20%, BB ideal dan komposisi komponen tubuh berbeda dengan BB normal Untuk perhitungan dosisnya harus memperhatikan kelarutan obat dalam lemak (lipofisitas) :  Berdasar berat badan tanpa lemak (BBTL) untuk obat non-lipofilik. Contoh: digitoksin, gentamisin  Berdasar berat badan normal ( BBN) untuk obat lipofilik Contoh: thiopental

DOSIS LAZIM / TERAPEUTIK Yang tertulis dalam pustaka

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

7

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

 

Dosis sekali (tunggal) Bisacodyl 5-10 mg/ dosis tunggal Dosis sehari Dexamethasone 0,2-2mg/ hari Diazepam 5-30 mg dalam dosis terbagi Dosis/kg.BB/hari  Ampicilin 50-100 mg/kg BB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.  Griseofulvin 0,5-1 g/ hari ( dosis tunggal atau terbagi) ; anak : 10 mg/kg BB/ hari

DOSIS UNTUK EFEK BERBEDA Sebagai contoh; PHENOBARBITAL sebagai :  sedative – hipnotik, dosisnya 30 mg/ 3-4 d.d  antikonvulsan, dosisnya 30-60 mg/2-3 DM KURVA BENTUK BEL Menunjukkan efek obat dalam populasi

EFEK Kecil Rata-rata Besar

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

8

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

UNDANG-UNDANG FARMASI & KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN
UU FARMASI Peraturan MenKes no. 242/ thn 90 : Pasal 1 ayat 1 Obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sisitem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Peraturan MenKes RI No. 922/thn 1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek Pasal 1 ayat 1 Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dan dokter hewan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Masih tentang resep, Peraturan MenKes No. 26/ thn 1981 BAB III pasal 10 menjelaskan: 1. Resep harus ditulis dengan jelas (terbaca red) dan lengkap 2. Ketentuan mengenai resep yang dimaksud ayat ( 1) ditetapkan Menteri. Selain itu , dalam Keputusan Menkes No. 280/ thn 1981 tentang resep yang terdapat dalam BAB II yang berbunyi: Pasal II : disamping memuat pasal 10 ( no.26/thn 81) resep juga harus memuat juga: 1. Nama, alamat, dan nomor izin praktek dr, drg. drh 2. Tanggal penulisan R/, nama setiap obat dan komposisi obat 3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan R/ 4. Tanda tangan /paraf dokter penulis R/ sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 5. Jenis hewan, nama, serta alamat pemilik untuk R/ dokter hewan 6. Tanda seru dan paraf dokter untuk R/ yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. Peraturan MenKes No. 922/ thn 93: Pasal 15 ayat 3 Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam R/ apoteker wajib berkonsultasi dngan dokter untuk pemilihan obat yang tepat. Pasal 16: 1. apabila apoteker menganggap bahwa dalam R/ terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. 2. apabila dalam hal dimkasud ayat (1) karena pertimbangan tertentu dokter penulis tetap pada pendirianya, dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim diatas resep. Pasal 17 ayat 3: R/ atau salinan R/ hanya boleh diperlihatkan kepada :  dokter penulis R/ atau yang merawat.  Penderita yang bersangkutan  Petugas kesehatan  Petugas yang berwenang menurut perundang- undangan yang berlaku

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

9

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

GOLONGAN OBAT Peraturan MenKes no. 242/ thn 90 pasal 1 ayat 3 menyebutkan bahwa obat digolongkan menjadi : 1. Obat bebas obat bebas yaitu obat yang dijual bebas dan dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter, di toko, dan toko obat. Obat ini ditandai dengan lingkaran warna hijau. Dibuku ISO ada tanda atau tulisan B.

Lambang obat bebas Contohnya:      Vitamin larut air 2-4 salep. Oralit Parasetamol ≤ 500mg Ibuprofen 200 mg

2. Obat bebas terbatas yaitu obat yang dibeli secara bebas tanpa resep dokter, tapi juga dengan batasan jumlah dan isi berkhasiat serta tanda peringatan P. Pada kemasannya ada tanda lingkaran biru tua dan termasuk obat daftar W ( Werschuwin) ( Kep. Menkes No. 6355/69). Di buku ISO ditandai dengan tulisan T.

Lambang obat bebas terbatas Sebagai contoh peringatannya :  P No. I : awas obat keras, bacalah aturan pemakaiannya.  Dulcolax tablet  Acetaminofen = >600 mg/tab atau >40 mg/ml (kep Menkes no.66227/73)  SG tablet.  P No. 2 : awas obat keras, hanya untuk kumur , jangan ditelan  Gargarisma khan  Betadin gargarisma  P NO. 3 : awas obat keras hanya untuk bagian luar badan  Anthistamin pemakain luar , misal dalam bentuk cream, caladin, caladril.  Lasonil  Liquor burowl  P No. 4 : awas obat keras hanya untuk dibakar  Dalam bentuk rokok dan sebuk untuk penyakit asma yang mengandung scopolamin.  P No.5 ; awas obat keras tidak boleh ditelan  Dulcolax Suppos  Amonia 10 % ke bawah  P No. 6 : awas obat keras wasir jangan ditelan:  Varemoid

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

10

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

3. Obat keras Adalah obat yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI dan yang ditandai dengan lingkaran warna merah lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya dan di penandaanya harus dicantum kalimat “Harus dengan Resep Dokter”. Obat ini termasuk daftar G ( Gevarrlijk).

Lambang obat keras Berdasarkan keputusan Menkes No. 347/ menkes/SK/VII/1990 tentang obat wajib Apotek (OWA 1) No. I, dan keputusan Menkes : 924/93 (OWA 2) maka menurut cara memperolehnya, obat keras terbagi 2: a. Harus dengan resep dokter ( G1)  Untuk semua injeksi  Antibiotika dan virus  Obat-obat jantung  Obat-obat psikotropika. b. Disarankan oleh apoteker di apotek  pil kb  analgetik-antipiretik ( antalgin, asam mefenamat)  antihistamin dan obat asma  Psikotropika Kombinasi  Obat Keras tertentu Menurut UU No. 49/1949 pasal 3 ayat 2, Apoteker hanya dapat menjual obat keras kepada: 1. pasien dengan resep dokter untuk obat yang bukan OWA 2. apoteker 3. dokter/dokter gigi 4. dokter hewan Yang berhak memiliki serta menyimpan obat daftar G dalam jumlah yang patut disangka bahwa obat tersebut tidak akan digunakan sendiri adalah: 1. PBF (pedagang besar farmasi) 2. APA (apoteker pengelola apotik) 3. Dokter yang berizin (dr,drg) 4. Dokter hewan (dalam batas haknya) 4. Psikotropika Menurut Undang-undang RI no. 5 tahun 1997 tentang PSIKOTROPIKA yang terdiri atas 16 bab 74 pasal, tertanggal 11 maret 1997, PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat baik alamiah maupun bukan narkotik yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Pasal 2 ayat 2 tentang penggolongan psikotropika: Penggolongan psikotropika: 1. psikotropika golongan I 2. psikotropika golngan II 3. psikotropika golongan III

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

11

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

4. psikotropika golongan IV Pasal 4 1. psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau ilmu pengetahuan. 2. psikotropika golongan I untuk ilmu pengetahuan 3. selain pasal 4 ayat 2 psikotropika golongan I dinyatakan sebagai barang terlarang. Pasal 14 ayat 5 Dokter hanya diperbolehkan menyerahkan obat psikotropika apabila: a. menjalankan praktek dan diberikan dengan suntikan b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. BAB XIV. Ketentuan Pidana ( 13 pasal) Pasal 59 1. Barang Siapa: a. menggunakan psikotropika selain yang dimaksud pasal 4 ayat 2 b. memproduksi atau menggunakan psikotropika golongan I c. mengedarkan psikotropika golongan I d. mengimpor selain kepentingan ilmu pengetahuan e. secara tanpa hak memiliki menyimpan atau membawa psikotropika golongan I dipidana penjara paling sedikit 4 tahun dan selama-lamanya 15 tahun dan membayar denda paling sedikit 150 juta dan paling bayak 750 jt. 2. Jika terorganisasi maka akan dipidana mati atau seumur hidup dan membayar denda 750 juta. Pasal 68 : tindak pidana di bidang Psikotropika sebagaimana diatur dalam undang-undang ini adalah kejahatan: 5. Narkotika Obat narkotika ditandai dengan lingkaran warna putih ada palang merah di tengah-tengahnya dan termasuk daftar O (Opiat). Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan apotik wajib melaporkan jumlah dan macamnya. Peresepan tidak boleh diulang dan ada tanda tangan dokter penulis resep. Di buku ISO ditandai dengan tulisan N.

Lambang obat golongan narkotika UU Narkotika No. 9 thn 1976 yang terdiri atas 10 bab 55 pasal diganti dengan UU no. 22 tahun 1997 tentang Narkotika dengan 15 BAB 104 pasal. BAB I pasal 1 Narkotika : zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

12

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Oleh karena itu, obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh apotek atas resep dokter. Tiap bulan apotek wajib melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah. BAB II Pasal 2 Narkotika digolongkan menjadi: a. Narkotika golongan I- kokain, heroin b. Narkotika golongan II= Metadon, morfina, opium, petidin, tebain c. Narkotika golongan III- kodein. Tujuan pengaturan Narkotika 1. menjamin ketersediaannya narkotika untuk keperluan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. 2. mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika 3. memberantas peredaran gelap narkotika. Pasal 4 Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. Pasal 5 Narkotika golongan I hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya. BAB III. Pengadaan Pasal 6 I. Menkes : mengupayakan tersedianya narkotika untuk pelayanan kesehatan atau pengembangan ilmu pengetahuan Pasal 9 I. narkotika golongan I dilarang diproduksi atau digunakan dalam proses produksi, kecuali jumlah sangat terbatas untuk pengembangan ilmu pengetahuan dengan pengawasan ketat dari Menkes. BAB V PEREDARAN Pasal 33 Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada Depkes Pasal 37 Narkotika golongan I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat tertentu atau pedagang besar farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Pasal 39 1. penyerahan narkotika hanya dilakukan oleh: apotek, rumah sakit, Puskesmas, balai pengobatan dan dokter. 2. apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada : rumah sakit, puskesmas, apotik lain , balai pengobatan, dokter, pasien. 3. rumah sakit, apotek, puskesmas, balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan R/ dokter. 4. Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dilakukan dalam:

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

13

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

a. menjalankan praktek dan diberikan melalui suntikan. b. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat melalui suntikan. c. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. 5. narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu , disarankan dokter dimaksud ayat 4 hanya dapat diperoleh di apotek. BAB XII. KETENTUAN PIDANA ( PASAL 78-99) Pasal 84 Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum: a. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan I untuk orang lain, dipidana paling lama 15 tahun dan didenda 750 jt b. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan II untuk orang lain, dipidana paling lama 10 tahun dan didenda 500 jt. c. Menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan III untuk orang lain, dipidana paling lama 5 tahun dan didenda 250 jt. Pasal 99 Dipidana penjara paling lama 10 tahun dan didenda 200 juta bagi pimpinan Rumah Sakit, Puskesmas, Balai Pengobatan, sarana penyimpanan pemerintah, apotek, dan dokter yang mengedarluaskan narkotika golongan II dan III bukan untuk pelayanan kesehatan.

HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER TENTANG PENGELOLAAN OBAT SESUAI PERATURAN PERUNDANGAN
Hal ini dicantumkan dalam peraturan Menkes No. 385 tahun 1989 Pasal 26 Ayat 1 Dokter dan dokter gigi dilarang: a. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kode etik kedokteran b. memberikan suntikan atau meracik obat kecuali suntikan. Ayat 2 Larangan pada ayat 1b tidak berlaku bagi dokter yang bertugas di Puskesmas atau daerah terpencil yang tidak ada apotek atau menolong orang sakit dalam keadaan darurat. Pasal 1 ayat 1 Daerah terpencil adalah daerah yang sulit komunikasinya meliputi wilayah administrasi yang luas serta berpenduduk jarang. Peraturan ini juga berlaku untuk obat dan golongan psikotropika dan narkotika.

KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN
Etika adalah suatu perbuatan, tingkah laku, sikap dan kebiasaan manusia dalam pergaulan sesama manusia dalam masyarakat yang mengutamakan kejujuran terhadap diri sendiri dan sesama manusia. Bagi apoteker: 1. R/ adalah rahasia tidak boleh dibicarakan kepada siapapun kecuali bila diperlukan untuk membuktikan kebenaran yaitu berdasarkan perintah pengadilan. 2. tidak boleh merubah obat yang tertulis dalam R/, tanpa konsultasi dokter penulis R/ 3. apabila seorang pasien meminta nasehatnya dalam bidang pengobatan, maka apoteker harus menyarankan atau menasehati pasien untuk datang ke dokternya, kecuali jika pertolongan atau pengobatan itu sangat diperlukan, maka apoteker harus memberi pertolongan dalam batas pengetahuan dan kemampuannya.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

14

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

4. seorang apoteker hendaknya menghindarkan diri dari tindakan atau pernyataan yang dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pasien pada dokter. Bagi dokter: 1. perlu dijaga agar kertas R/ jangan sampai digunakan orang lain untuk memberi atau menerima sebagaimana telah terjadi 2. jangan meninggalkan kertas R/ kosong yang sudah ditanda tangani 3. kalau ada kesalahan dengan apoteker saat memberikan obat, maka bertentangan sekali dengan kode etik bila hal ini dibicarakan dengan pasien. Hendaknya dokter langsung berhubungan dengan apoteker, demikian juga sebaliknya. 4. menghindarkan semua tindakan yang berentangan dengan etika kedokteran diantaranya:  memberikan atau meracik obat, kecuali suntikan  menulis R/ harus obat produk dari perusahaan farmasi tertentu  menjual obat ditempat praktek kecuali dengan ketentuan tertentu  menjual contoh obat.

BENTUK SEDIAAN OBAT
Bentuk sediaan obat (BSO) diperlukan agar penggunaan senyawa obat/ zat berkhasiat dalam farmakoterapi dapat secara aman, efisien dan atau memberikan efek yang optimal. Umumnya BSO mengandung satu atau lebih senyawa obat/ zat yang berkhasiat dan bahan dasar/ vehikulum yang diperlukan untuk formulasi tertentu. MANFAT BENTUK SEDIAAN OBAT Bentuk sediaan obat dipilih agar: 1. dapat melindungi obat dari faktor-faktor yang menimbulkan kerusakan baik di luar maupun dalam tubuh. 2. dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat 3. dapat menyediakan kerja yang luas 4. dapat melengkapi kerja obat yang optimum ( topikal, inhalasi) 5. merupakan sediaan yang cocok untuk:  obat yang tidak stabil, tidak larut  setiap cara penggunaan  penyakit pada berbagai tubuh 6. dapat dikemas/ dibentuk lebih menarik dan menyenangkan Dalam memilih BSO perlu memperhatikan sifat bahan obat, sifat sediaan, kondisi penderita dan penyakitnya, harga, dll. Disamping itu perlu diperhatikan pula penulisan resepnya agar jelas dan lengkap , sehingga tidak memberikan permasalahan dalam pelayanannya. FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENENTUKAN PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN OBAT 1. Umur penderita: a. anak balita: sebaiknya diberikan oral dalam bentuk sediaan cairan ( solutio, suspensi, emulsi, guttae) , karena bentuk sediaan cair lebih mudah diminum daripada bentuk padat. Bentuk sediaan padat yang masih dapat diberikan ialah bentuk pulveres ( puyer), sedang bentuk tablet atau kapsul hendaknya dihindari bagi anak dibawah umur lima tahun. b. Orang dewasa : obat yang diberikan per oral lebih sering diberikan dalam bentuk sediaan padat daripada bentuk sediaan cair, oleh karena bentuk sediaan padat (tablet/kapsul) umumnya lebih stabil dalam penyimpanan daripada sediaan cair. c. Geriatri : dalam hal kesulitan menelan pada penderita lanjut usia, pilih bentuk sediaan cair seperti bentuk sediaan pada anak-anak.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

15

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

2. Keadaan umum penderita a. penderita tidak sadar atau koma: dipilih bentuk sediaan injeksi atu rektal b. penderita masuk rumah sakit atau berobat jalan. 3. Lokasi tubuh dimana obat harus bekerja: a. efek lokal: bentuk sediaan dapat berupa solutio/mixtura; suspensi/mixtura agitanda; unguentum/pasta. Bentuk sediaan tersebut harus dapat dibedakan untuk dipakai pada kulit biasa atau kulit berambut atau mukosa dan untuk kulit yang utuh atau terluka. b. Penyerapan atau penetrasi obat melalui kulit: bentuk sediaan injeksi, atau linimentum/ cream/ unguentum/ cream dengan vehikulum tertentu. c. Efek sistemik : bentuk sediaan dapat berupa cairan atau padat, per oral, rektal atau injeksi. 4. Kecepatan dan lama obat yang dikehendaki a. obat berbentuk sediaan injeksi lebih cepat diabsorpsi daripada bentuk sediaan per oral atau per rektal b. obat dengan bentuk sediaan sustained release ( berupa tablet atau capsul) bekerja lebih lama daripada bentuk sediaan tablet atau kapsul biasa, pemberiaan obat cukup sekali atau dua kali sehari. 5. Bentuk teraupetik obat yang optimal dan efek samping yang minimal bagi penderita: a. Emetin HCI, morphin HCI diberikan dalam bentuk sediaan injeksi, tidak dalam bentuk oral. b. Vitamin C dalam bentuk sediaan cairan (oral) akan terurai, sehingga diberikan dalam bentuk sediaan tablet. 6. Bentuk sediaan yang paling enak/ cocok bagi penderita: a. Bahan oral yang sangat pahit meskipun mudah larut dalam air tidak diberikan dalam bentuk sediaan cair, sehingga akan lebih enak diberikan dalam bentuk sediaan padat ( tablet/kapsul) Misalnya; Chloramphenicol, Cotrimoxsazol, Metronidazol b. bahan obat yang berbau amis: dipilih dalam bentuk sediaan tablet atau kapsul atau lebih baik dalam bentuk dagree. Misalnya berbagai garam Fe ( Ferosi Sulfat, Ferosi klorida, Ferosi carbonas), karena bila diberikan dalam bentuk sediaan cair akan berasa seperti besi karatan pada lidah sangat tidak menyenangkan.

MACAM BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO)
1. Bentuk sediaan padat : pulvis, pulveres, capsula, tabula, supositoria 2. Bentuk sediaan cair: solutio/mixtura, suspensi, emulsi, guttae, infusa, dll 3. Bentuk sediaan setengah padat : unguenta, cream, pasta, dll.

BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) PADAT PULVIS DAN GRANULA (SERBUK DAN GRANUL)
Serbuk adalah campuran kering bahan obat dan zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau luar. Karena mempunyai pemakaian yang luas., serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada bentuk sediaan yang dipadatkan. Anak-anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. Masalah stabilitas yang sering dihadapi dalam sediaan bentuk cair, tidak ditemukan dalam bentuk serbuk. Obat yang tidak stabil diberikan dalam bentuk suspensi atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk atau granul. Serbuk oral yang dapat diserahkan dalam bentuk terbagi ( pulveres) atau tidak terbagi ( pulvis). Serbuk oral yang tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak paten, seperti laksan, antasida,makanan diet dan beberapa analgetika tertentu dan pasien dapat menakar secara syarat pulvis maupun pulveres :  Serbuk halus , kering dan homogen  Ukuran partikel 1,25 um-1,7 um

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

16

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Macam-macam serbuk PULVERES ( serbuk terbagi) Suatu serbuk yang terbagi dalam bobot yang kurang lebih sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Diracik berdasarkan formula resep dokter. Berat pulveres antara 300-500 mg. Keuntungan dan kerugiannya: 1. pada umumnya untuk pemakaian oral 2. penyerapan oleh gastrointestinal cukup baik 3. dokter hanya menyusun kombinasi dan dosis obat secara tepat sesuai kebutuhan 4. rasa pahit yang tidak enak dan tidak dapat disembunyikan. 5. tidak semua obat dapat diberikan dengan bentuk ini, misalnya beberapa obat yang saling berinteraksi. PULVIS ADSPERSORIUS (serbuk tabur) Serbuk ringan untuk topikal, dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat 100 mesh seperti tertera pada pengayak dan derajat halus serbuk 1141 agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. Sediaan ini sebagai obat luar untuk terapetik, profilaksi dan lubricant Penggunaan:  untuk tujuan menyerap tubuh  untuk mengurangi gesekan antara 2 lipatan  sebagai vehicle (pengisi)  tidak diberikan untuk luka yang terbuka. FINELY DIVIDE POWDERS Sediaan serbuk yang dimaksudkan untuk disuspensikan/dilarutkan dalam air atau dicampur dengan makanan lunak/ bahan lain. Yang tersedia merupakan sediaan paten. EFER VERSENT POWDER Sediaan yang mengandung selain bahan obat juga bahan pembantu yaitu Na bicarbonat dan asam citrat, asam tetrat, atau Na bisosfat. Yang tersedia merupakan sediaan paten. GRANULA Sediaan serbuk kasar yang dimaksudkan untuk di suspensikan /dilarutkan dalam air, atau dicampur dengan makanan lunak/bahan lain.Granula dibagi bulk granula dan divided granula. Bentuk sediaannnya pada umumnya paten yang tidak stabil dalam penyimpanan cukup lama. Contoh: antibiotik syrup (dry syrup), serbuk untuk injeksi. Ukuran partikel granul adalah 2-4 mm.

TABULAE ( COMPRESI, TABLET)
Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pembantu ( pengisi, pengikat, pengancur, pelicin).Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan tablet cetak dan tablet kempa. Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam Farmakope Indonesia yaitu keseragaman bobot dan kadar, kekerasan, waktu hancur. Sedangkan menurut Farmakope USA ditambah kecepatan disolusi ( kecepatan hancur dalam tubuh, biasanya 15 menit) dan bioavalibilitas . Penggunaan : pengobatan lokal dan sistemik. Bentuk sediaan tablet pada saat ini disiapkan oleh pabrik obat dengan alat dan teknik khusus, serta dibuat besar-besaran. Beberapa produk obat dirancang untuk melepaskan zat yang berkhasiat dan diabsorspsi tubuh secara cepat dan sempurna, produk lain mungkin dirancang untuk melepaskan zat secara perlahan-lahan supaya diabsorspsi secara lambat sehingga dapat memperpanjang aksinya. Oleh karena itu, pembuatan tablet memerlukan bahan tambahan yang disesuaikan terhadap fungsi/penggunaannya.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

17

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

PERJALANAN OBAT DALAM BENTUK SEDIAAN TABLET

DISENTEGRASI GRANUL TABLET DISOLUSI MODERAT

DIAGREGASI PARTIKEL OBAT

DISOLUSI LAMBAT

DISOLUSI CEPAT

OBAT TERLARUT DALAM CAIRAN GIT

OBAT DIABSORBSI

OBAT DALAM DARAH
M acam-macam tambahan untuk pembuatan tablet: (adanya bahan tambahan akan mempengaruhi kecepatan disolusi dan bioavailabilitas) 1. Pengisi (diluent) Untuk memperbesar volume tablet. Contoh: sakarum laktis, amilum, Ca-fosfat, Ca-karbonat. 2. Pengikat (binder) Dengan tujuan supaya tablet tidak mudah pecah dan bahan tablet dan saling merekat. Contoh: Mucilago gummi arabicium 10-20% 3. Penghancur (disintegrator) Dengan tujuan supaya tablet dapat/cepat hancur di lambung. Contoh: amilum kering, gelatin, agaragar, dan Na-alginat. 4. Pelicin ( lubricant) Supaya talet tidak melekat pada cetakan (matriks). Contoh: talkum 5% , Mg-stearat. 5. Bahan pembantu lain, misal zat warna. MACAM – MACAM TABLET 1. TABLET KEMPA (Compressed Tablet) a. Tablet triturat. Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya silindris, digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Jenis tablet ini sekarang sudah jarang digunakan. b. Tablet Hipodermik

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

18

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

Merupakan tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air dan digunakan untuk memberikan sediaan injeksi hipodermik. Tablet bukal Digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara gusi dan pipi. Zat aktif terserap langsung melalui mukosa mulut. Efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan lambat. Tablet sub lingual Digunakan dengan cara meletakkan di bawah lidah. Zat aktif diserap langsung melalui mukosa mulut dan efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan cepat. Tablet effervescent Dibuat dengan cara kempa, selain zat aktif juga mengandung campuran asam ( asam sitrat, asam tartrat) dan Na-bikarbonat dan apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida. Tablet dilarutkan atau didespresikan dalam air sebelum pemberian. Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab dan pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. Tablet kunyah ( chewable) Dimaksud untuk dikunyah, memberikan residu dengan rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. Jenis ini digunakan pada formulasi tablet untuk anak, terutama formulasi multivitamin, anatasida, dan antibiotika tertentu. Tablet lozenges ( tablet hisap) Adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma manis yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. Tablet hisap yang dibuat dengan cara dituang kadang-kadang disebut dengan pastiles, sedangkan tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa disebut dengan troches/trochisi. Tablet lozenges umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan, tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorpsi sistemik. Tablet vagina Adalah talet yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh, khususnya vagina. Guna tablet vagina dimaksudkan untuk : kontrasepsi, pengobatan vaginitis, pengobatan infeksi candida albicans. Tablet implantasi Tablet implantasi juga disebut sebagai pelet/implants. Cara penggunaanya dengan mengimplementasi pelet di bawah kulit, penyerapan bahan obat terjadi secara perlahan dalam kurun waktu yang lama. Pelet umumnya mengandung zat berkhasiat hormon alami atau hormon sintesis tablet implantasi untuk Keluarga Berencana disebut susuk. Pada tablet ada yang namanya kaplet yaitu tablet yang bentuknya menyerupai kapsul.

2. TABLET SALUT Tablet disalut untuk berbagai alasan, anatara lain melindungi zat aktif dari udara, kelembapan atau cahaya,menutupi rasa dan bau tidak enak, membuat penampilan lebih baik dan mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. a. Tablet salut biasa Umumnya tablet disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut. Untuk tujuan identifikasi dari nilai estetika, zat penyalut bagian luar dapat diwarnai. SCT ( sugar Coated Tablet). b. Tablet salut enterik ( Enteric Coated tablet (ECT) Jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi lambung, diperlukan bahan yang untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. Tablet pelepasan terkendali ( Slow Reacting tablet (SRT))

c.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

19

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Tablet pelepasan terkendali dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Berkaitan dengan hal ini, terdapat beberapa jenis sediaan obat yang mudahnya digolongkan ke dalam pelepasan terkendali, yakni aksi berulang (repeat action), aksi panjang (prolong action), dan pelepasan ajeg ( sustained action). Obat tersebut hancur di lambung. Secara umum, produk sediaan lepas lambat ( Slow Reacting Tablet) dapat dibagi menjadi 3 tipe: 1. Sediaan pelepasan ajeg (Sustained Action) Suatu produk dirancang untuk melepaskan suatu dosis terapetik awal (loading dose) yang diikuti oleh dosis tambahan untuk memelihara kisaran kadar terapi (dosis pemeliharaan-maintenance dose) suatu pelepasan obat yang lebih lambat dan konstan. Produk tersebut, konsentrasi obat dalam plasma yang relatif konstan dapat dipertahankan dengan fluktuasi yang minimal. Dengan sediaan ini, benar-benar mengendalikan pelepasan dan absorpsi obat sehingga dapat memelihara secara ajeg dan dapat diperkirakan kadar obat plasma. Karena itu, sediaan pelepasan ajeg ini sepenuhnya menggambarkan sediaan pelepasan terkendali . Kurva hubungan antara kadar dalam plasma dan waktu untuk sediaan aksi panjang, sediaan pelepasan ajeg, aksi berulang dan sediaan konvesional.

KTM PELEPASAN AJEG KEM AKSI PANJANG

KONVESIONAL

AKSI BERULANG

2. Sediaan aksi panjang ( Prolonged action) Sediaan obat yang dirancang untuk melepaskan obat secara lambat dan memberi cadangan secara terus menerus, selama selang waktu yang panjang. Dalam hal ini absorpsi cepat yang menyebabkan kadar puncak obat dalam plasma sangat tinggi dapat dicegah. Karena itu, sediaan semacam ini sering juga disebut pelepasan lambat. Dan biasanya digunakan bila tidak diperlukan aksi obat dengan cepat. 3. Sediaan aksi berulang ( Repeat action) Sediaan repeat action terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama mempunyai dosis yang dapat melepaskan obatnya secara tepat, dan bagian kedua merupakan dosis yang baru dilepaskan setelah beberapa waktu berlangsung. Bahkan beberapa produk mempunyai bagian ketiga. Pada gambar terlihat bahwa konsentrasi obat dalam darah mempunyai puncak dan lembah. Sedangkan produk lain tidak. Berbagai istilah lain yang sering dikaitkan dengan produk sediaan pelepasan terkendali meliput: Extended action, timed release, long action, drug delivery system dan programmed drug delivery.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

20

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Tujuan sediaan pelepasan terkendali Sebagaimana tersirat dalam uraian diatas, tujuan utama produk obat tersebut adalah untuk mencapai suatu efek samping yang diinginkan, yang disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. Beberapa keuntungan sediaan pelepasan terkendali, sebagaimana tersirat dari uraian diatas, meliputi: 1. Mempertahankan efek terapi untuk bebas waktu yang lama. 2. Mengurangi jumlah dan frekunsi pemakaian 3. Kepatuhan penderita tinggi karena obat yang dimakan lebih sedikit 4. Efek obat lebih seragam 5. Menghindari pemakaian obat pada malam hari 6. Mengurangi efek samping obat yang disebabkan oleh kadar obat yang tinggi dalam darah. Adapun kerugiannya: 1. Biaya mahal 2. Dose dumping, yaitu adanya sejumlah besar obat dari sediaan lepas secara cepat, hal tersebut dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti keracunan dan lebih sulit bila terjadi gangguan teknologi atau antaraksi. 3. Sering menimbulkan korelasi in vitro-in vivo yang jelek. 4. Fleksibilitas aturan dosis hilang 5. Efektivitas pelepasan obat dipengaruhi dan dibatasi oleh lama tinggal di saluran pencernaan. 6. Kepatuhan dan kemudahan penderita terhadap dosis mungkin berkurang.

MACAM, PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET
Macam 1. Tablet kempa Tablet salut gula (SCT) Tablet salut film (FCT) Tablet salut enterik (ECT) Tablet lepasan terkendali 2. Tablet kunyah (chewable) 3. Tablet Effervescent 4. Lozenges Trochisci Pastiles 5. Tablet bukal Ditelan Pemakaian GIT Tempat absorpsi

Dikunyah kemudian ditelan Dilarutkan kemudian ditelan Dihisap

GIT MUKOSA GIT Mukosa mulut

Diletakkan antara gusi dan pipi

Mukosa mulut - efek sistemik - efek lambat Mukosa mulut - efek sistemik - efek cepat Mukosa vagina - efek lokal - efek sistemik efek sistemik efek lama

6. Tablet sublingual

Diletakkan di bawah lidah

7. Tablet vagina 8. Tablet hipodermik 9. Pellet Cont:norplant susuk KB

Dimasukkan ke vagina Dilarutkan kemudian disuntikkan Disisipkan di bawah kulit

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

21

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

CAPSULAE (KAPSUL)
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak. Biasanya dipakai secara oral. Obat bekerja setelah cangkang/kulit kapsul larut dan obat terlarut serta diabsorpsi utuh. Bentuk obat dalam kapsul dapat berupa serbuk, granul, cair atau pasta dengan atau tanpa zat tambahan. Sediaan dapat berupa obat paten atau puyer yang disusun oleh penulis resep untuk memilih obat tunggal atau campuran dengan dosis tepat yang paling baik bagi setiap pasien. Fleksibilitas ini merupakan kelebihan kapsul cangkang dibandingkan bentuk sediaan tablet atau kapsul cangkang lunak. Macam sediaan kapsul ada kapsul biasa dan time released form. Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam farmakope Indonesia ( mengenai keseragaman bobot dan waktu hancur) Macam kapsul menurut sifat cangkang: 1. Capsule gelatinosae operculatae (Hard gelatine capsules/kapsul gelatin keras) Cangkang berisi gelatin, gula, air dan zat warna. Isi terpisah dari cangkang. Ukuran : 5 (terkecil)- 000 (terbesar). Sediaan pelepasan lambat ( time release) dalam kapsul keras: sustained released capsules dan enteric coated capsules. 2. Soft capsule (kapsul lunak) Cangkang mengandung seperti no.1, tetapi gula diganti bahan plasticier yang membuat kapsul menjadi lunak. Isi tak terpisah dari cangkang ( cairan dalam minyak; suspensi). Bentuk: bulat, oval, tube. Misal: kapsul minyak ikan, kapsul vit.A.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

22

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

SUPPOSITORIA, OVULA, BACILLA
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak, atau melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat berpengaruh pada pelepasan zat teraupetik. Isinya adalah zat aktif dalam vehikulum. Menurut Farmakope Indonesia, membedakan: - Suppositoria digunakan melalui rektum, bentuk seperti torpedo. - Ovula digunakan melalui vagina, bentuk seperti telur. - Bacila digunakan melalui saluran kencing, bentuk seperti batang Syarat : pada suhu tubuh bahan dasar harus dapat larut dan meleleh Bahan dasar supositoria : - dapat melarut, misalnya : PEG ( Poly Etilen Glikol) - dapat meleleh, misalnya : Oleum cacao Tujuan pengobatan : - lokal : supositoria, ovula, bacilia - sistematik : suposioria Bentuk :

SUPOSITORIA (REKTUM)

OVULA (VAGINA)

BACILIA (URETRA)

Mekanisme pelepasan obat:

SUPOSITORIA

VEHIKULUM -MELELEH -MELARUT

ZAT AKTIF TERBEBAS PEMBASAHAN DISOLUSI DIFUSI

Tujuan pemberian obat dalam bentuk supositoria : 1. Efek lokal : hemorrhoid, lokal anastetik 2. Efek sistemik, diberikan apabila cara pemberian lain sulit dilakukan, misalnya: a. Obat tidak dapat diberikan per injeksi karena penderita berobat jalan. b. Obat tak dapat diberikan per oral karena penderita hiperemesis atau baru saja menjalani operasi pada traktus digestivus bagian atas. c. Penderita tak dapat menelan d. Obat rusak oleh enzim yang ada di saluran cerna e. Obat yang dapat mengiritasi lambung f. Penderita dalam keadaan an-kooperatif g. Mengurangi metablisme obat dalam hepar (tidak mengalami first past effect)

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

23

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Alasan pembatasan di atas adalah karena bentuk sediaan supositoria bahan obat tidak diabsorpsi secara sempurna, umumnya fraksi yang diabsorbsi lebih rendah dibandingkan pemberian oral. Bahan obat yang diberikan dapat dalam supositoria untuk efek sistemik:  Extr. Belladon (spamolitik)  Barbital (sedatif)  Diazepam ( trankuilizer)  Aminophylin ( bronkodilator)  Bisacodyl (laksatif) Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan obat bentuk supositoria: 1. faktor fisisologi: - volume cairan rektum - isi rektum - sifat mukosa rektum - motilitas dinding rektum 2. faktor fisika kimia obat: - kelarutan obat - ukuran partikel - konsentrasi obat dalam basis - basis supositoria. Waktu dan cara pemakaian supositoria: 1. Sesudah defekasi, untuk menghindari obat dikeluarkan terlalu cepat bersama faeces sebelum sempat bekerja. 2. malam sebelum tidur, penderita dalam posisi terlentang untuk menghindari meleleh obat keluar rektum/vagina. Cara pemakaian supositoria hendaknya penderita diberitahu dengan jelas, supaya jangan ditelan. Penyimpanan ; pada suhu sejuk 5-15 0C BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR

SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN)
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut, misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. Apabila menyebut solutio, jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya, misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus, tingtur dan air. LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air. LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit, atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. Sifat-sifat: 1. Homogen 2. Dosis dapat diubah-ubah

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

24

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Cocok untuk anak-anak, manula dan untuk penderita yang sukar menelan. Absorpsi obatnya cepat, maka omset juga cepat Dapat diberikan dalam larutan yang encer, untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal), jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. 8. Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi, oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) 9. Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. 3. 4. 5. 6. 7. SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut, biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran, antiseptika, analgetika lokal atau adstringentia. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan, lalu dikumur-kumur, tidak ditelan. Contoh: Effisol liquid. b. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. c. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur, biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan, agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan, kemudian dikumur-kumur sampai pharing, tidak boleh ditelan. Contoh: Betadingargle & mouthwash. d. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral, selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya, zat pewarna, zat pewangi dan zat perasa. Kadar Alkohol antara 3-75%, tetapi biasanya sekitar5-15%. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga, juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. Sifat-sifat: 1. Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2. Dibanding dengan sediaan sirup, eliksir kurang manis dan kurang kental. 3. Berhubung mengandung alkohol, hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu, misal sakit hepar. Contoh: Bisovon eliksir, Batugin eliksir.

SIRUP
Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis, gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator, perasa (flavorong agent), pengawet dan pewarna. Sifat- sifat sirup: 1. Homogen 2. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan, rasanya lebih enak. Ada 4 macam sediaan sirup: a. Sirup Simpleks, solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. Tidak berwarna, tidak beraroma, sering disebut sirup putih.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

25

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

b. Sirup thymi, mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant), glukosa/sakarosa 64%. c. Sirup obat, selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%, biasanya 10%.Contoh : panadol sirup. d. Sirup kering, sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat, pemanis, perasa, pewarna, stabilisator, dan bahan lainnya, kecuali bahan pelarut. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan.

MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK)
Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa, sehingga cepat mengendap. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium), tragakant. Contoh; Liquor Faberi (FMI).

SUSPENSIONES ( SUSPENSI)
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA, tragakant, benzalkonium klorida. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi, sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. Contoh suspensi oral:Gelusil, Mylanta. Sifat-sifat: 1. cocok untuk penderita yang sukar menelan, anak-anak dan manula. 2. pada umumnya ditambah pemanis,perasa( flavoring agent) 3. kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. 4. tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. 5. sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi, karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . Contoh; Polycrol gel EMULSA (EMULSI) Emulsi adalah sistem dua fase, salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). Konsisten emulsi sangat beragam, mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme, pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil, etil, propil dan butil paraben, asam benzoat, dan senyawa amonium kuartener. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral, topikal maupun injeksi. Tujuan penggunaan BSO emulsi: 1. oral : memperbaiki absorbsi, memperbaiki rasa dan aroma.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

26

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

2. topikal: mudah dibersihkan, penetrasi/absopsi lebih baik 3. parenteral : memperbaiki absorpsi , memperpanjang efek. Kerugian BSO emulsi : Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. Contoh obat dalam: Scott Emulsion; Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A

GUTTAE (TETES)
Sediaan cair berupa larutan (solutio), emulsi eliksir, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam dan luar, digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia, yaitu penetes pada suhu 20 0C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47,5 mg dan 52,5 mg (1 tetes baku= 0,05 ml). jadi 1 ml= 20 tetes. Macam –macam Guttae: a. GUTTAE ORAL Obat tetes untuk oral, digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio, sirup, suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba, analgetika-antipiretika, vitamin dan antitusif. Sifat-sifat: 1. volume pemberian kecil, sehingga cocok untuk bayi dan balita. 2. pada umumnya ditambah pemanis, perasa, pewarna, dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. Perhatikan kemasan pada bobotnya, sehingga aturan pakai tepat. Contoh: Triaminic drops b. GUTTAE ORIS Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut, dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika, lokal anastetik, analgetika, dll). Contoh: effisol liquid. c. GUTTAE AURICULARES (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba, antiseptika, kortikosteroid, lokal anastesik, dan zat uuntuk irigasi. Sifat-sifat: 1. bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol, gliserol, heksilen glikol dan minyak nabati. 2. pH sebaiknya asam (5,0-6,0) d. GUTTAE NASALES (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar, pengawet. 1. cairan pembawa umumnya digunakan air, sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. 2. ph sebaiknya antara 5,5-7,5

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

27

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

3. bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan, lokal anastesik, antimikroba, dan antiseptika. Contoh: iliadin 0,025% e. GUTTAE OPTHALMICAE (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Apabila bentuk sediaan suspensi, harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba, antiinflamasi, anastetika, diagnostika, midriatika, miotika dan zat irigasi. Sifat-sifat: 1. steril 2. isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3. isohidris 4. untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok, sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae.

INFUSA (INFUS)
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. Kecuali dinyatakan lain, dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini, infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras, dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut, digunakan sejumlah yang tertera:  Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0,5 bagian  Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian  Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0,5 %  BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM.

EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR)
Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati, yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet.

INJECTIONES (INJEKSI, OBAT SUNTIK)
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Berdasarkan bentuk sediaan: a. Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. Contoh: inj Vit C, Inj luminal, inj valium. b. Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

28

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Contoh: inj. Penicilin oil, Inj Cortison Acetat suspensi c. Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal, sebelum disuntikkan, dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie) Contoh : inj. Streptomycin sulfat, inj. Penicilin G Sodium d. Kristal steril, untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) e. Cairan intravena ( infundabilia : infus i.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar, untuk dosis tunggal. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. Contoh: inj. Ringer lactat, inj. Dextrose Berdasarkan cara pemberian: 1. Injeksi intraderma/intrakutan (i.c) - umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air. - Volume yang digunakan 0,1-0,2 ml - Digunakan untuk diagnose atau immunitas - Meninggalkan tanda sedikit melepuh pada tempat yang disuntikan. - Contoh: ekstrak allergen; vaksin BCG 2. Injeksi Subkutan/hipodermik(s.c) - umumnya berupa larutan atau suspensi (bahan obat yang mengiritasi atau suspensi kental menyebabkan abses, luka dan rasa sakit). - Volume yang digunakan < 2 ml - Digunakan untuk pengobatan sistemik - Contoh : inj. Valium 3. Injeksi intramuskular (i.m) - Sediaan obat dapat berupa larutan, emulsi atau suspensi - Efek yang ditimbulkan kurang cepat, dan biasanya durasi lebih besar dari pada pemberian i.v - Digunakan untuk pengobatan sistemik - Tergantung dari tipe preparatnya, larutan dalam air lebih cepat diabsosrpsi dari pada dalam minyak. - Contoh: inj. Papaverin, inj. Streptomycin. 4. Injeksi intravena ( i.v) - Sediaan harus berupa larutan jernih, larutan yang bersifat hipertonis harus diberikan perlahan-lahan. - Aksi obat cepat karena tidak melalui proses absorpsi - Biasanya diberikan dalam keadaan darurat. - Contoh : ampisilin injeksi. 5. Injeksi intratekal (i.t) atau subarakhnoid, intraspinal,intradural. - umumnya tidak lebih dari 20 ml, tidak boleh mengandung bakterisida, dan diracik dalam wadah dosis tunggal. - Sediaan berupa larutan yang harus isotonis. 6. Injeksi peridural (p.d) 7. Injeksi intrasternal (i.s) 8. Injeksi peritoneal(i.p) 9. Injeksi intrakardial (i.k.d) Larutan hanya digunakan dalam keadaan gawat karena dikehendaki onset yang cepat. Syarat injeksi: aman, isotonis, bebas pirogen, steril, isohidris.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

29

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1. pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2. Pelarut bukan air:  Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati, misalnya minyak kacang (Ol.Arachidis), minyak wijen ( Ol sesami), minyak zaitun ( Ol olivarum), dll. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot.  Bukan minyak : alkohol, propilen-glikol, gliserin, parafin liq. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air, selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. BAHAN TAMBAHAN LAIN 1. Bahan penambah kelarutan a. Untuk menaikkan kelarutan : alkohol, gliserin, dll b. Surface active agent terutama non ionik, untuk stabilisator. 2. Larutan penyangga ( buffer) Tujuan penambahan larutan penyangga: o Menghindari perubahan pH dalam penyimpanan karena berinteraksi dengan wadah. o Mencapai pH sama dengan pH darah (7,4) Contoh : - Asam asetat dan garamnya(1-2%) - Asam sitrat dan garamnya (1-3 %) - Asam fosfat dan garamnya (0,8-2%). 3. Antioksidan Tujuannya: menghindari terjadinya oksidasi obat dalam sediaannya. Contoh antioksidan: - gas nitrogen - Na bisulfit 0,15 % - zat pengkhelat ( mis. EDTA 0,01-0,075%) - gas karbondioksida - Na Metabisulfit 0,2 % 4. Pengawet Untuk injeksi pada wadah ganda ( multiple dese), bahan yang digunakan bersifat bakteriostatik. Contoh :  Benzalkonium kloroda 0,05-0,1 %  Klorobotanol 0,5 %  Benzyl alkohol 2 %  Fenil merkuri nitrat/asetat 0,002 % KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. Diberikan untuk penderita yang sakit keras, koma, an-cooperatif. 6. Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

30

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

8. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki, terutama pemberian intavena. 9. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di RS atau tempat praktek dokter, oleh dokter atau perawat yang berkompeten. WADAH OBAT SUNTIK 1. Wadah dosis tunggal ( single dose), pada umumnya berbentuk ampul dengan volume 1-10 ml. 2. Wadah dosis ganda ( multiple dose), umumnya berbentuk vial atau flacon volume 10-20 ml. 3. Wadah untuk infus i.v yaitu botol infus dari kaca atau plastik biasanya dengan volume 500 ml.

Ampul, single dose Vol. 1-10 ml

Vial/flacon, multiple dose Vol 10-20 ml

SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri, antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid, venin, suspensi, mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai; selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. b. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. Pemakaiannya secara topikal, tidak boleh digunakan secara parenteral. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. c. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. Vaksin dibuat dari bakteria, riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid.

AEROSOLUM ( AEROSOL)
Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal), mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). Pada aerosol inhalasi, ukuran partikel obat harus dikontrol dan

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

31

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

ukuran rata-rata partikel obat harus lebih kecil dari 10 mg. Sediaan ini dikenal sebagai inhaler dosis terukur. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik, seperti pada asma bronkiale, sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit, juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. 2. Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing, ataupun rusak karena kelembaban udara, terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga, tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. 3. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. Untuk pemakaian topikal dapat uniform, membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. 5. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu, wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. Harganya mahal 2. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir), penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif.

INHALATIONES ( INHALASI)
Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk memperoleh efek lokal atau sistemik. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot, sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. Contoh: Alupent aerosol. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi, menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. Contoh: Bricasma inhaler. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat, yang karena bertekanan uap tinggi, dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. Contoh: Vicks Inhaler.

SEDIAAN CAIR LAIN

LOTION ( OBAT GOSOK)
Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. Sifat-sifatnya : 1. Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. 2. Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya Contoh : Baby Lotion.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

32

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

LINIMENTUM ( LINIMENTA)
Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi, suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. Sifat-sifatnya : 1. Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. 2. Apabila pelarutnya minyak, iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. 3. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) SEDIAAN SETENGAH PADAT Biasanya digunakan secara topikal dan berefek lokal, tetapi dengan perkembangan teknologi di bidang farmasi tersedia juga obat yang bertujuan untuk memberi efek sistemik karena tertentu contoh: obat anti-inflamasi diklofenak, kortikosteroid, antibiotika, dan voltaren. Voltaren merupakan NSAID yang merupakan obat pilihan pertama untuk reumatoid artritis. Oleh karena ia merupakan NSAID maka sifat khasnya adalah mengiritasi lambung dan menyebabkan pendarahan lambung jika diberikan per oral. Oleh karena itu maka obat Voltaren diberikan secara topikal tapi bertujuan untuk menghasilkan efek sistemik. Adapun prosesnya adalah sbb: setelah obat dilepas basis, obat akan diabsorpsi oleh lapisan kulit dan membrana mukosa, kemungkinan obat akan diabsorpsi lebih lanjut masuk ke pembuluh darah kemudian ke sirkulasi sistemik. Komposisi sediaan ini, disamping mengandung bahan obat juga memerlukan bahan dasar/basis yang berfungsi sebagai bahan pembawa obat disamping fungsi lain yaitu:  Pelumas (lubricant), khusus untuk sediaan setengah padat dengan basis berminyak.  Pelindung (protective), penutup; contoh vaseline.  Pembersih, pengering, contoh krem pembersih, Vanishing cream untuk obat jerawat, all propose cream.  Pelunak ( emolien) Bahan dasar atau basis yang digunakan harus memenuhi persyaratan stabil maksudnya tidak terpisah dari obatnya kecuali penicilin dan tetrasilikin yang diberikan dalam bentuk sediaan dalam bentuk sediaan oinment, lunak mudah dipakai dengan cara dioleskan, cocok/ sesuai serta dapat terdistribusi merata. Bentuk Resep:  Obat standart/paten  Racikan Macam sediaan setengah padat 1. unguenta 2. cream 3. pasta 4. jelly 5. sapo 6. oculenta 7. sediaan lain, contoh :  in ora base  emplastrum  liniment

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

33

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Bahan obat bisa terdiri dari obat khas topikal, contoh : asam salsilat adalah salah satu contoh obat yang khas tujuannya apakah akan digunakan sebagai antiseptik/antifungi/keratolitik,campora, resorcinol. Sulfur, dll atau obat lain contoh : antibiotik, anthihistamin, kortikosteroid. A. Basis Hidrokarbon Dikenal sebagai basis berlemak antara lain vaseline putih dan salep putih. Hanya sejumlah kecil bahan berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. Tujuannya terutama memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Penggunaan bahan dasar ini terutama sebagai pelunak (emolien). Adapun sifat basis ini sukar dicuci, tidak mengering, dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. Adapun pembagian basis hidrokarbon ini adalah sbb: 1. Parafin padat/cair, vaseline, jelene 2. Plastik : Polietilen cair 3. Sabun : alumunium stearat + minyak mineral. B. Basis lemak dan minyak Ol . arachidis, Ol sesami, Ol. Olivarium. C. Basis Polimer sintetik Silikon, dimetikon/dimetilpolisiloksan D. Basis absorpsi/ bahan dasar serap Manfaat bahan dasar ini juga sebagai emolien 1. anhidrus : merupakan bahan dasar yang dapat bercampur dengan air dan membentuk emulsi air dalam minyak, contoh:  adeps lanae ( lemak bulu domba) , untuk mengabsorpsi kebasahan lesi.  Hidrofilik petrolatum  Parafin hidrofilik  Lanoloin anhidrat. 2. Hidrous : merupakan emulsi air dalam minyak dan dapat bercampur dengan sejumlah air tambahan, contoh:  Lanolin ( merupakan kombinasi asam lemak dan air dengan perbandingan 3:1).  Cholesterol. E. Basis Tercuci Merupakan emulsi minyak dalam air. Contohnya antara lain salep hidrofilik atau tepat disebut krim (chemores). Basis ini disebut tercuci oleh karena mudah dicuci dengan air atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima sebagai bahan dasar kosmetik. Keuntungan yang lain adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terdapat pada keadaan dermatologik ( ket: pada lesi dermatologik akut banyak mengandung air, sedangkan basis tercuci ini lebih banyak airnya daripada minyak sehingga air dari sediaan ini akan lebih mudah bercampur dengan air dan lesi, ingat bahwa air larut dalam air bukan dalam minyak). Contoh lain:  PEG 4000 40% dilebur dengan  Peg 400 60%  (POLIETILEN GLIKOL) F. Basis Tipe Emulsi 1. Emulsi M/A ( sedikit minyak yang terselubung dalam air) : Vinishing cream

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

34

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Hidrophilic Oint 2. Emulsi A/M Lanolin Cold Cream PEMILIHAN BAHAN DASAR Tergantung pada banyak faktor antara lain:  Khasiat yang diinginkan  Sifat bahan obat yang dicampurkan, beberapa sediaan lebih efektif menggunakan bahan dasar tercuci daripada bahan dasar hidrokarbon.  Ketersediaan hayati  Stabilitas dan ketahanan bahan jadi Dalam beberapa hal perlu menggunakan bahan dasar yang kurang ideal untuk menjaga stabilitasnya. Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis, lebih stabil dalam bahan dasar hidro karbon daripada bahan dasar yang mengandung air, meskipun obat tersebut lebih efektif dalam bahan dasar yang mengandung air.

UNGUENTUM ( Ointment, salep)
Adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan, terdiri atas satu atau lebih bahan berkhasiat dalam bahan dasar yang cocok. Bahan dasar biasanya berminyak sehingga kontak dengan kulit lebih lama. Keuntungan : kontak dengan kulit lebih lama sehingga kerja obat lebih efektif. Bahan obat : sampai dengan 10 % Bahan dasar : A ( misal vaselin putih)/B/D ( misal lanolin) atau bisa juga campuran bahan dasar A dan D Fungsi : pengobatan setempat, pelindung, oleh karena kontaknya dengan kulit lebih lama, pelunak Sediaan : Racikan, Standar, Paten, Contoh Penulisan R/ Unguenta Racikan = R/ Vioform 3% Acid salisil 4 % Adeps Lanae 2 Vaseline AD 15 M.F.L.A UNGT SbDM m e t v.u.e Standart = R/ 2-4 Salf 20 SsDM ue Paten = R/ Nerisona fatty Oint/Oint tube I StDM u.e

CREAM ( KRIM)
Adalah bentuk sediaan setengah padat, mengandung salah satu/lebih bahan obat terlarut/terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasikan sebagai air dalam minyak/minyak dalam air. Basis krim menggunakan bahan dasar yang dapat dicuci dengan air antara lain basis emulsi atau cream tipe air/minyak ( A/M atau minyak/air ( M/A) Basis krim A/M dapat menyimpan lipid dan kelembaban dalam stratum korneum dan kemampuan memperbaiki jaringan dari kekeringan karena mempunyai sifat emolien. Basis krim M/A dioleskan pada kulit untuk mendapatkan :  Fase penguapan yang kontinyu  Menaikkan konsentrasi obat dalam air  Membentuk lapisan film pada permukaan kulit

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

35

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Keuntungan : oleh karena mengandung banyak air maka bisa berfungsi sebagai pendingin kulit. Kerugian : Karena banyak mengandung air maka mudah dibersihkan sehingga kontaknya dengan kulit singkat ( kerja obat singkat) Fungsi :  Pengobatan setempat  Pendingin  Pelunak Sediaan  Racikan  Standart  Non Generik / Obat dengan nama dagang Contoh Cream Racikan= R/ Hidrocortison Asetat 0,1 Basis Crem A/M ad.10 m.f.l.a cream sbDM met v.u.e standart= R/All Purpose Cream 25 S.d.e.f Non Generik / Obat dengan nama dagang= R/Nerisona Cream tube I SsDM m.u.e

PASTA
Pasta adalah sediaan setengah padat yang mengandung satu/lebih bahan obat yang ditunjukkan untuk pemakaian topikal. Sediaan tersebut berupa masa lembek, dibuat dengan mencampurkan bahan obat berbentuk serbuk dalam jumlah besar(40-60 %) dalam vaselin/parafin cair atau ke dalam bahan dasar berlemak dibuat dari gel fase tunggal mengandung air, misalnya pasta natrium karbonsimetilselulose, sedangkan pasta berlemak misalnya pasta zink oksida, merupakan salep yang padat dan kaku yang tidak meleleh pada suhu tubuh. Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibandingkan dengan salep karena tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air dan daya penetrasi dan daya maserasi lebih rendah dibandingkan dengan salep. Keuntungannya : bahan obat bisa 40-60 % lebih banyak Kerugiannya : tak bisa menempel pada kulit berambut. Bahan obat : padat 40-60% Bahan dasar : A/B/D Fungsi :  Pengobatan setempat  Pelindung pada bagian yang diolesi  Pembersih ( pasata gigi)  Tidak bisa untuk daerah berambut  Pengering  Obat dapat kontak lama dengan kulit  Cocok untuk lesi akut yang cendrung membentuk kerak menggelembung/mengeluarkan cairan. Cara pemakaian : dioleskan dulu pada kain kasa Sediaan : racikan, Standart, Non Generik / Obat dengan nama dagang CONTOH PASTA Standart =

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

36

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Pasta lasari R/ Acid salicyl 0,5 Zinc. Oxyd 6,250 Vaselin Flav ad 25 Mfla pasta SsDM v.u.e Racikan= R/ CMC 1 % PEG 10-30 % CaCO3 15-50 % Na Lauryl Sulfat 1-2 % Pengawet Na F Warna 0,1-1% Aqua ad 100 Cara pemakaian : Tidak langsung dioleskan pada kulit tetapi dioleskan dahulu pada kain kasa Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang,Standart,racikan

JELLY, GEL
Gel atau jeli merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel/jeli topikal merupakan gel fase tunggal dengan menggunakan bahan dasar larut dalam air, antara lain karbomer ( PEG, CMC) dan gom alam ( tragakanta, pektin) Bahan dasar : Gom, Tragakanta, Caragen agar Pektin, As, Alginat, semi sintetik (metil selulose, CMC) Tidak dikemas dalam pot tapi dalam tube Sifat :  Pelicin kulit, pembawa obat, pendingin  Mudah berjamur  Mudah kering oleh karena basisnya mengandung air  Efek lokal atau kemungkinan sistemik Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Bioplacenton)

SAPO
Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang

OCULENTA ( UNGENTUM OPHTALMICAE)
Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata, memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap, bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. Bahan dasar salep

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

37

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

seperti ini memungkinkan dispersi obat larut yang lebih baik. Keuntungan menggunakan salep mata yaitu obat dapat kontak lama dengan mata. Sifat :  Steril, sehingga obat tetap berkhasiat selama penyimpanan  Untuk obat dalam larutan/serbuk halus, basis tidak mengiritasi mata dan memungkinkan obat tersebar dengan perantaraan air mata. SEDIAAN LAIN 1. IN ORA BASE Merupakan preparat Non Generik / Obat dengan nama dagang setengah padat yang dioleskan. Digunakan untuk pengobatan bibir dan mukosa mulut Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( contoh Kenalog) 2. EMPLASTRUM Dari segi kimia hasil proses penyabunan dari asam lemak dengan logam berat, konsistensinya sedemikian rupa sehingga mudah melekat pada kulit dan biasanya dilapisi dengan kain. Sifat emplastrum :  Proteksi dan bantuan mekanis pada kulit  Kontak obat dengan kulit erat  Obat tidak melelh sehingga efek lokal lebih intensif. Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Kove salonpas) HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATKAN DALAM MEMILIH BENTUK SEDIAAN SETENGAH PADAT  Kondisi kulit yang terkena penyakit: - luas permukaan kulit, jika lesi luas ( ½ luas permukaan tubuh atau lebih berikan sediaan lotion ( murah). - Lapisan Straturn Komeum, jika lap. Str, korneum tebal tambahkan keratolitik. - Fisiologi Kulit  Tujuan : - Penetrasi Obat baik - Obat lama dikulit - Pembersih, dll  Bentuk sediaan : - macam - Fungsi  Basis : - Macam - Sifat PEDOMAN  DERMATOSA Akut : Krim M/A Kronis : Salep Pasta Krim M/A atau A/M Sub Akut : pasta Krim A/M  KEADAAN KULIT Kering : salep Krim

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

38

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Basah : Salep = Basis 4 ( D) Krim M/A atau A/M Berambut : basis 5 ( E) Krim M/A atau A/M Bersisik atau lap. Str corneum tebal; Pelumas keratolitik Contoh : pada lesi yang akut dan basah, maka berikan sediaan yang cocok sesuai pedoman diatas. Lihat pada dermatosa yang akut dan pada keadaan kulit yang basah. Setelah dicocokkan maka sediaan yang cocok adalah krim M/A.

RESEP
Kata resep berasal dari bahasa latin: Recipe (R/) : ambilah Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/1993: Resep merupakan suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada APA ( Apoteker Pengelola Apotek) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Fungsi resep : 1. Sebagai perwujudan cara terapi Upaya terapi pasien dengan menggunakan obat 2. Merupakan dokumen legal ( karena dilindungi UU) Agar pelayanan oleh apotek tidak dijumpai hal-hal yang merugikan penderita. 3. Sebagai catatan terapi Sebaiknya resep dibuat rangkap 2 :  1 lembar untuk pasien agar mendapat obat  1 lembar sebagai catatan dokter bila pasien datang lain untuk kontrol atau tidak sembuh, juga untuk memonitor atau mengevaluasi pengoabatan. 4. Merupakan media komunikasi Dari dokter kepada apoteker, atau dengan petugas kesehatan lain. Orang yang berhak menulis resep adalah:  Dokter ( umum, spesialis)  Dokter gigi terbatas untuk penyakit gigi  Dokter hewan terbatas untuk hewan Orang yang berhak mengetahui resep :  Dokter penulis resep atau yang merawat penderita  Penderita, tetapi kalau berpengaruh jelek pada psikologisnya, sebaiknya tidak perlu diberitahu.  Petugas kesehatan  Petugas lain yang berwenang menurut UU, misalnya instansi yang membiayai pasien. Tempat melayani resep : apotek ( umum, RS) Cara menyimpan resep : disimpan rapi sebagai dokumen selama tiga tahun Cara pemusnahan resep : dibakar oleh apotek dan dilaporkan pada instansi yang berwenang, misal Dinas Kesehatan, Depkes, Balai Pengawasan Obat dan Makanan, etc.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

39

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

ATURAN PENULISAN RESEP A. Dengan cara yang benar.  Jelas dapat dibaca  Sesuai aturan/kaidah penulisan yang berlaku Resep harus sesuai dengan Peraturan Menkes NO. 26/1980 dan Keputusan Menkes No.280/1981, harus ditulis dengan jelas dan lengkap. Aturan/kaidah penulisan resep: 1. Nama obat.  Bahan baku ( bentuk aslinya).  Dapat ditulis: 1) Nama generik. 2) Nama Sinonim  Misal : Asetosal ( ac.acet.salic); Ac. Salic; Ac Benzoic; Theophylin. Obat jadi  ditulis nama standart  sesuai DOEN ( berisi nama obat generik berlogo)  Misal: 1). Tab. Acetosal 100 mg, 500 mg. 2). Tab Aminophylin 200 mg. 3). Pot. Nigr. C. tuss. (OBH)  Obat dengan Nama Dagang  Contoh : Tab. Aspirin; tab. Bronsolven; Allerin Exp.60 ml, 120 ml  Nama obat harus ditulis dengan jelas agar tidak keliru diberikan, misalnya Indocin (anlgesik, antiinflamasi) dengan Lindocin (antibiotik) atau sebaliknya.. 2. Satuan jumlah/kekuatan obat 2.a. Berat : g (gram), mg (miligram), mcg (mikrogram). Satuan internasional : IU Volume : l (liter). ml (mililiter) Persentase %, b/b, b/v, v/v, v/b (b=berat, v=volume) Arti prosentase : - 0,5 % ( b/b) = 0,5 g dalam 100 g sediaan - 0,5 % ( b/v) = 0,5 g dalam 100 ml sediaan - 0,5 % (v/v) = 0,5 ml dalam 100 ml sediaan 2 .b. Satuan tab./cap./lag/tube ( biji) Satuan tersebut ditulis dengan angka Romawi . Contoh: ampicilin syr. Lag No.I 3. Alat penakar  Sendok makan (=15 ml)  C  Sendok teh ( = 8 ml)  Cth  Sendok obat ( =5 ml)  C plastik, biasa juga ditulis cth.  Tetesan/drops ( = 0,05 ml)  gtt B. Resep ditulis: Resep ditulis pada blanko R/ yang berukuran : Panjang : 15-18 cm Lebar : 10-12 cm Ditulis dengan tinta dan bahasa latin. Singkatan ditulis dalam bahasa latin dan harus lengkap penulisannya agar memenuhi syarat untuk dibuatkan/dilayani obatnya di apotek. BAHASA LATIN DALAM RESEP Bahasa latin dalam resep digunakan untuk penulisan:  Nama obat ( obat baku) 

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

40

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

 Pembentukan/bentuk obat  Petunjuk penggunaan obat ( biasanya disingkat) Biasanya ditulis dengan singaktan yang baku ( disepakati Internasional) dan dihindarkan singkatan dalam bahasa Indonesia. Penulisan singkatan ini dikarenakan ukuran blanko R/ yang tidak terlalu besar, maka diupayakan agar seluruh pesan tersampaikan. Bila ada istilah yang tidak ada dalam bahasa latin, istilah/kata tersebut ditulis utuh, jangan disingkat, misal: sendok plastik harus ditulis C plastik. Untuk hal-hal yang khusus, maka boleh digunakan bahasa Indonesia, namun tidak boleh disingkat. Misalnya: obat diberikan untuk 3 hari ( maksudnya kalau sampai 3 hari tidak terlihat perkembangannya yang positif, pasien kembali kepada dokternya). Alasan penggunaan bahasa latin :  Bahasa latin adalah bahasa yang mati ( artinya bahasa yang sudah tidak berkembang lagi)  Merupakan bahasa Internasional dalam dunia kedokteran dan kefarmasian  Menghindari dualisme ( adanya perbedaan pengertian).  Dalam keadaan tertentu karena faktor psikologi, ada baiknya pasien tidak perlu tahu obat/ bahan obat apa yang diberikan. Kerugian : Akibat perkembangan dari ilmu kedokteran dan kefarmasian, banyak menimbulkan istilahistilah baru yang tidak dijumpai singkatannya dalam bahasa latin. Jadi istilah tersebut harus ditulis lengkap. Tidak boleh membuat singkatan versi sendiri, seperti singkatan bahasa Indonesia. Singkatan Bahasa asing yang Penting : Iter…x = iteratur= diulang…x N.I = ne iteratur = tidak boleh diulang Cito = segera Urgent = penting Statim = penting P.I.M = periculum in mora= berbahaya bila ditunda! = ditulis dibelakang jumlah obat jika dosis melebihi dosis maksimum. RESEP LENGKAP Resep lengkap terdiri atas : 1. Superscriptio  Nama, umur (khususnya u/anak), alamat pasien  Tempat dan tanggal penulisan R/  Simbol R/ (= invocatio)  Nama, alamat, dan nomor izin praktek dokter 2. Inscriptio  Jenis bahan obat dalam resep, meliputi: - remidium cardinale = nama dan jumlah bahan-bahan pokok, bisa tunggal atau beberapa bahan. - Remidium adjuvant/korektor= nama dan jumlah obat tambahan - Remidium corrigens ( hanya kalau perlu), meliputi: Corringens saporis= perasa. Misal : saccharum lactis ( sacch. Lact) Corringens coloris ( warna)= carmine Corringens odoris (bau)= ol. Rossarum ( minyak permen) Corringens constituen: ditambahkan untuk bahan yang sedikit agar dapat dibuat sediaan obat. - Vehicle ( pembawa) yang diperlukan bila resep merupakan racikan dokter sendiri dan bukan obat jadi.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

41

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Jumlah bahan obat dinyatakan dalam satuan berat untuk bahan padat (mcg,mg,g) atau satuan isi untuk cairan (tetes, ml,I) 3. Subscriptio Memuat cara pembuatan (nama dan jumlah bentuk sediaan) 4. Signatura/transcriptio berisi petunjuk penggunaan obat, sebuah resep dikatakan sah bila:  Untuk resep dokter praktek swasta harus ada nama, izin kerja, alamat praktek dan rumah, tanda tangan/paraf.  Untuk resep dokter RS/Klinik/Poliklinik harus ada 1). Nama, alamat RS/Klinik/Poliklinik.2). nama, alamat, tanda tangan/paraf* dokter penulis resep. 3).bagian/unit di RS.  Dibubuhkan pada resep setelah signa  tanda tangan u/ gol. Obat narkotika dan psikotropika tertentu  paraf u/ gol.obat selain diatas Dalam memberikan resep kepada pasien perlu diperhatikan hal-hal sbb:  Penggunaan obat, sediaannya dipilih obat mana dan sediaan apa yang paling efektif dan cocok untuk penderita  Penggunaan kombinasi obat harus dipertimbangkan adanya kemungkinan interaksi  Dosis diperhitngkan dengan tepat sesuai kondisi penderita.  Penulisan singkatan dalam bahasa latin  Jumlah obat/sediaan seperlunya.  Sertakan info tentang cara penggunaan, efek samping, dan peringatan lain, misal: perubahan urin menjadi merah bila mengkonsumsi Rifampisin.  Adanya catatan ( kartu obat) untuk evaluasi jika pasien kembali lagi. Contoh blanko resep dokter praktek swasta :

dr. Enni Yuliani SIP : DU-2000/III/1999 Alamat Rumah/Praktek Jl.Ahmad yani 9 Gerung :

Gerung, ……………………

R/
Pro Alamat Umur : : :

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

42

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Contoh Blanko resep dokter RS/Klinik/Poliklinik

Klinik Bersalin EXONERO JL.Pemuda 18 Mataram Mataram, …………………… Dokter :

R/
Pro Alamat Umur : : :

Arti singkatan bahasa latin:  s.t.d.d.tab.l.u.h.a.c (= tandailah 3x sehari 1 tablet 1 jam sebelum makan)  s.d.c.f ( = tandailah dengan formulanya)  m.f.l.a.susp.200ml (= campur dan buat sesuai aturan suspensi sebanyak 200 ml)  f.l.a.pulv.d.t.d.no.XX (= campur sesuai aturan puyer sesuai takaran di atas sebanyak 20 bungkus). Catatan : untuk resep-resep intern misalnya RS, bagian nama sampai dengan alamat dapat diganti oleh kop. RS, dokter, dan SMF.  Pada lembar resep yang digunakan oleh dokter hewan, khusus untuk nama pasien perlu dicantumkan: jenis spesies( jenis binatang seperti kucing, anjing, dll), nama binatang, berat badan, nama dan alamat pemilik.  Untuk penulisan resep digunakan bahasa latin. Apabila ada keraguan dalam penjelasan dengan menggunakan bahasa tersebut, maka gunakan bahasa Indonesia, resep yang demikian hanya berlaku lokal untuk negara Indonesia saja.  Penulisan resep tidak boleh dicantumkan kode-kode tertentu.  Penulisan nama obat dengan menggunakan singkatan bahasa latin, bila termasuk obat baku/generik.  Untuk nama obat Non Generik / Obat dengan nama dagang harus secara lengkap dan jelas.  Penulisan signa harus jelas, dengan mencantumkan dan lain-lain yang diperlukan.  Pada penulisan numero dengan menggunakan angka romawi, misalnya‟X‟ jika diperlukan dapat ditulis‟-X-„. Penulisan tersebut diperlukan terutama untuk keamanan agar angkanya tidak ditambahi, misalnya untuk obat narkotika jumlahnya tidak ditambahi oleh pasien yang akan menyalahgunakan pamakaiannya, atau penambahan angka untuk obat lainnya oleh pihak apotek ( terutama dalam hubungannya dengan klaim asuransi).  Untuk tanda-tanda khusus seperti „Cito‟ atau „PIM‟ harus ditulis disebelah kanan pada bagian atas kertas resep. „iter‟ harus ditulis disebelah kiri di bawah pada setiap R/ yang memerlukan pengulangan maka harus ditulis pada sebelah kiri atas dari resep. FORMULA RESEP Dalam menuliskan resep, seorang dokter bisa memilih 3 penulisan formula resep, yaitu: 1. Resep Formula Magistralis -sediaan disusun oleh dokter sendiri - obat yang dipilih : bahan baku ( racikan)

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

43

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Sediaan Non Generik / Obat dengan nama dagang memakai bahan tambahan, antara lain : corrigen saporis, odoris, coloris, vehikulum/constituen. - Bila memakai formula ini, dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan bahan sediaan obat (BSO). 2. Resep Formula Officinalis - berupa sediaan jadi atau sediaan yang diracik apotek.. - obat berupa standart/baku menurut: Formula standart, farmakope Indonesia, Extra farmakope dan Formularium Indonesia. - Obat / sediaan generik berlogo - Dokter harus memahami isi/komposisi obat dan indikasinya. 3. Resep Formula Spesialistis - obat yang dipilih berupa obat dengan nama dagang atau obat jadi - sediaan jadi sesuai pabrik - satu sediaan bisa memiliki banyak formulasi - dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan, sifat, dan tujuan produk obat yang akan diberikan. Contoh cara penulisan, Arti, dan Makna masing-masing formula Resep: 1. RESEP MARGINALIS Sediaan padat

R/

Paracetamol mg 100 Phenobarbital mg 10 Sacch. Lact.q.s* m.f.l.a pulv.d.t.d no. XV** s.p.r.n t.d.d pulv.I *** Paraf

-

-

arti singkatan * Saccaharum lactum quantum sactis = “ Saccaharum lactum secukupnya”. ** misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero quindecem=” campur dan buatlah sesuai aturan puyer sebanyak dosis tersebut diatas sebanyak 15 bungkus”. *** signa pro re nata ter de die pulveres una=” tandai: bila perlu 3x sehari 1 bungkus puyer” Makna resep “setiap bungkus puyer mengandung bahan obat: Parasetamol 100 mg, Phenobarbital 10 Mg, dan Saccaharum laktum ( sebagai pemanis dan pembawa) secukupnya. Komposisi tersebut dibuat puyer sesuai dengan dosis obat yang digunakan. Buatlah puyer sejumlah 15 bungkus. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus. Obat diperlukan untuk 5 hari.” Atau:

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

44

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

R/

Paracetamol g 1,5 Phenobarbital mg 150 Sacch. Lact.q.s m.f.l.a pulv. no. XV s.p.r.n t.d.d pulv.I
Paraf

- arti singkatan : idem sda - Makna resep : “ dari bahan obat : Parasetamol 1,5 g, Phenobarnital 150 mg dan saccharum laktum secukupnya dicampur dan dibuat untuk menajdi 15 bungkus puyer. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus. Obat diperlukan untuk 5 hari. Apa bedanya kedua resep tersebut? Pada R/1 ditulis jumlah banyaknya obat untuk tiap bungkus puyer, sedangkan R/2 ditulis jumlah banyaknya obat untuk 15 bungkus puyer. Tidak dianjurkan bentuk peresepan berikut:

R/ Tab.Paracetamol No. III Tab. Luminal 50 mg no.III Sacch. Lact.q.s m.f.l.a pulv.d.t.a no. XV s.p.r.n t.d.d pulv.I
Paraf

 

arti singkatan : s.d.a Makna resep : “ tablet parasetamol ( 1 tablet =500 mg) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x500 mg= 1500 mg= 1,5 gr). Tablet Luminal ( 1 tablet = 50 mg ) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x50 = 150 mg), dan Saccharum laktum secukupnya. Dicampur dan dibuat untuk menjadi 15 bungkus puyer. Jadi tiap bungkus mengandung 100 mg dan Phenobarbital 10 mg. Aturan pakai : s.d.s”

Mengapa resep seperti ini tidak dianjurkan? Sediaan tablet Parasetamol dan Luminal mengandung sejumlah obat yang tertentu per tablet, sehingga bila diperlukan dosis lain yang tidak sama dengan kandungan obat dalam sediaan tersebut, akan memberikan masalah.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

45

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

R/ Aminophylin mg 150 Prednison mg 5 m.f.l.a pulv.d.t.a no. XXX* da.in caps.** s.p.r.n t.d.d caps.1 p.c***
Paraf

Arti singkatan * misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero trigenta= “ campur dan buatlah sesuai aturan puyer sesuai dosis tersebut sebanyak 30 bungkus”.** da in capsula= “berikan dalam bentuk kapsul”.*** signa pro re nata ter de die capsula una post coenam=”tandai : bila perlu 3x sehari masing-masing 1 kapsul, berikan sesudah makan‟. Sediaan Cair  sekarang sudah tidak ada sediaan cair yang disusun formula oleh dokter melalui resep, karena untuk membuat sediaan cair perlu teknologi dan sudah tersedia dalam bentuk sediaan jadi yang siap pakai oleh pabrik farmasi. Obat sediaan cair (sirup, suspensi, emulsi) harus dibuat segera dan memerlukan tambahan pengawet, stabilitas tidak bisa dijamin apabila dibuat di apotek. Pencampuran sediaan obat padat ke dalam sebuah sediaan jadi cair dilarang karena sangat tidak rasional, menggangggu homogenitas dan kadar obat dalam darah yang akhirnya akan mempengaruhi tujuan terapi. Sediaan ½ Padat

R/ Tetrasiklin 3 % Hidrokortison 2,5 % Ad.Lan.2* Vas.alb.ad 20 ** m.f.l.a. ungt*** s.b.d.d.u.e.m.et. v ****
Paraf
Arti singkatan * Adeps lanae 2= “ Adeps lanae sebanyak 2 gram”** vaselin album ad 20 = “Vaselin album sampai 20 gram.”***misce fac lege artis unguenta = “ campur dan buatlah sesuai aturan salep.” **** signa bi de die usus externus mane et vespere = “ tandai: 2x sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari.” Makna resep “ campur dan buatlah salep sebanyak 20 gram yang mengandung : Tetrasiklin 3 %, Hidrokortison 2,5 %, dan bahan Adeps lanae 2 gram dan vaseline album( ditambahkan hingga mencapai 20 g). aturan pakai: untuk pemakaian luar 2x sehari pagi dan sore.”

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

46

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Atau

R/ Tetracyclin 0,6 Hidrokortison 0,5 Ad.Lan.2 Vas.alb.ad 20 m.f.l.a. ungt* s.b.d.d.u.e.m.et. v **
Paraf
Arti resep : ambilkan Tetrasiklin 0,6 gram, Hidrokortison 0,5 gram. Adeps lanae 2 gram dan Vaseline album sampai jumlah salep sebanyak 20 gram.* campur dan buatlah menurut aturan salep.** tandailah dua kali sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari. Makna resep “ salep resep diatas mengandung Tetrasiklin 3 %, Hidrokortison 2,5 %, dengan basis salep: Adeps lanae (10 %) dan Vaseline album. Dibuat salep . Aturan pakai : s.d.a” Apa beda resep ini dengan resep diatas? Rsep ini memakai jumlah obat dalam gram.Yaitu Tetrasiklin 0,6 gram, di dapat dari : 3 % x20 gram = 0,6 gram; demikian pula Hidrokortison: 2,5 %x20 gram = 0,5 gram. 2. RESEP OFFICINALIS Sediaan Padat

R/ Amoxycilin 500 mg no.XV s.t.d.d. caps.I *

Paraf
Arti singkatan * signa ter de die capsula una=” tandailah 3x sehari 1 kapsul”. Makna resep:” berikan kapsul amoksisilin 500 mg sebanyak 15 butir. Aturan pakai; 3xsehari masing-masing 1 kapsul.” Sediaan Cair

R/ Pot. Alb.c.tuss.ml. 100 * s.t.d.d. Cth. II* *

Paraf
Arti singkatan * potio album contra tussim = “ obat batuk putih (OBP).** signa ter de die cochlear theae= “tandailah 3x sehari masing-masing 2 sendok teh” Makna resep:

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

47

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

” berikan obat batuk putih100 ml. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 2 sendok teh.” Formula Potio Album Contra Tusim ( OBP) R/ sol. Amm.spirt. Anis.2 Ol.Mint.Pip.Gtt.I Syr. Simpl.10 Aq.dest.Ad 100 m.f.l.a mixt Sediaan ½ Padat

R/ Ungt.Sulf.Salicyl. 20* s.b.d.d.u.e.m.et.v** ( setelah Mandi)

Paraf
Arti singkatan * Ungentum Sulfuric Salicylitum= “ salep Belerang-Salsilat” ** signa bi de die usus externus mane et vespere = tandailah 2 x sehari ,pagi dsan sore,untuk pemakaian luar.,setelah mandi Makna resep “ Berikan salep Sulfuris Salisilitum sebanyak 20 gram. Aturan pakai 2x sehari untuk pemakaian luar, pagi, dan sore hari sesudah mandi.” Formula Ungt. Sulfuris Salicylitum( 2-4 Zalf) R/ acidum salicylicum 2 Sulfur praesipitatum 4 Vaselin alb. Ad.100 3. RESEP SPESIALISTIS Sediaan Padat

R/ Caps Amoxan 500 mg no.XV s.t.d.d. caps I
Paraf
Makna resep “berikan kapsul Amoxan 500 mg 15 butir. Aturan pakai: 3x sehari, masing-masing 1 kapsul.” Formula dan sediaan Amoxan: Bisa dilihat di buku IIMS/ISO Sediaan Cair

R/ Cohistan expt.60 ml lag.I* s.t.d.d. Cth.I
Paraf
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

48

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Arti singkatan * Cohistan expectoran 60 ml lag una= “ Cohistan Expectoran 60 ml 1 btl.” Makna resep “berikan Cohistan expectoran 60 ml 1 botol. Aturan pakai : diminum 3x sehari masing-masing 1 sendok teh.” Formula dan sediaan Cohistan Expectoran: Bisa dilihat di ISO/IIMS Sediaan ½ Padat

R/ Scabicid cr.Tub.I* s.u.c.**
Paraf
Arti singkatan: * Scabicid cream tube una= “krim Scabicid 1 tube” ** signa usus cognitus =” Tandailah : aturan pakai sudah tahu.” Makna resep “berikan Scabicid cream 1 tube. Aturan pakai ; telah diketahui.” Formula dan sediaan Scabicid Cream : Lihat ISO/IIMS Catatan : dalam penulisan formula spesialistis dokter hanya perlu menuliskan nama Non Generik / Obat dengan nama dagang yang diberikan oleh pabriknya, kekuatan, dan jumlahnya. Komposisi/ formula harus diketahui secara baik oleh dokter penulis resep. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENULISAN RESEP: 1.

R/ Inj. Pethidin amp. II ( duo) * s.i.m.m** Tanda tangan
Arti singkatan: * injeksi Pethidin ampula duo = “ Injeksi Pethudin dua ampul” ** signa in manum medici = “ Serahkan pada dokter”

Makna resep “ serahkan pada dokter, injeksi Pethidin sebanyak 2 ampul”. Perhatian Karena obat ini ( injeksi Pethidin) termasuk golongan narkotika, maka dokter harus memberi tanda tangan bukan paraf.

2.

R/ Otopain ear drop lag I s.b.d.d gtt.II a.d.*

Paraf
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

49

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Arti singkatan:  signa bi de die guttae duo auriculae dextra=”Tandailah 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan”. Makna Resep “Berikan Otopain Ear drop (satu) botol. Aturan pakai 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan “. Perhatian: Untuk tetes telinga, hidung atau mata harus jelas untuk telinga, hidung atau mata kanan atau mata kiri atau kedua-duanya. Pemakaian kata” ear drop” ( bahasa inggris) diperbolehkan.. 3.

R/ Chloramphenicol Ungt.Opth. 1 % tub.I s.b.d.d. ungt. Opth. Od & Os.
Paraf Arti singkatan:  signa bi de die unguentum opthalmicum ocular dexter et ocular sinister=” tandailah 2x sehari salep mata, mata kanan dan mata kiri”. Makna resep “ Berikan salep mata Kloramfenikol 1 % 1 tube. Aturan pakai : 2x sehari mata kanan dan kiri”. Perhatian: Seperti halnya tetes, salep mata jelas untuk mata kanan, kiri atau keduanya.

4.

R/ Tempra oral drop fl.I s.p.r.n.t.d.d. 0,4 ml

Paraf
Makna Resep: “berikan Tempra oral drop satu flacon/botol. Aturan pakai : bila demam/panas berikan 0,4 ml (dengan pipet yang tersedia), dapat diberikan 3x sehari. Perhatian: Bila pemberian hanya waktu tertentu, bisa diberi keterangan. Misal: selain p.r.n = pro re nata= bila perlu, dapat diberi keterangan” febris/demam/panas”. Untuk obat-obat simptomatis yang diminum bila demam. 5.

R/ Bricasma Aerosol fl I s.b.d.d puff.II

Paraf
Makna resep : “ berikan Bricasma aerosol 1 flacon/botol. Aturan pakai 2x sehari, 2 semprotan.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

50

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

R/ Bricasma Turbohaler fl I s.b.d.d inh.II

Paraf
Makna resep : “ Berikan Bricasama Turbohaler 1 botol. Aturan pakai 2x sehari, 2 hirupan (inhalan)”. Perhatikan perbedaan kedua resep Perhatikan perbedaan aturan pakai dan sediaan/alat yang digunakan. Yang satu aerosol yang satu lagi inhalasi.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

51

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

ISTILAH BAHASA LATIN DALAM RESEP
Aa a.c ad ad lib aDM aq.bidest aq.dest aq.pro.inj aq.steril b.d.d/b.i.d b.h c C Cp C.th Caps Cylsm Collyr Collut Conc Cr d/da d.c d.c.f d.d d.i.d d.in.2 plo dil. div.in p.aeq d.t.d dext empl enem extr extr.liq extr.spiss extr.sicc f f.l.a filtr g.,G garg gtt gtt.opth gtt.auric gtt.nasal h h.m haust h.s i.m.m inf inf.iv iter iter 2x Lc Ana Ante coenam Ad Ad libitium Adbe Aqua bidestilata Aqua destilata Aqua pro injectio Aqua sterilisata Bis de die/bis in die Bis hora Cum Cochlear Cochlear pultis Cochlear theae Capsulae Clysma Collyrium Collutio Concentratus Cream Da Dorante coenam Da cum formula De die Da in demidio Da in duplo Dilitus Devide in dartes/equales Da tasles dosis Dexter Emplastrum Enema Extractum Extractum liquidium Extractum spisssum Extractum siccum Fac/fiat Fac lege artis Filtra Grama Gargarisma Guttae Guttae opthalimiceae Guttae auriculares Guttae nasales Hora Hora matutina Haustus Hora somni In manum medici Infusum Infus intavenus Iteretur /iteratie Iteretur 2x Loco Masing-masing sama banyak Sebelum makan Sampai Sampai yang diinginkan Tambahkan Air suling 2 kali Air suling Air untuk larutan suntik Air steril 2 kali sehari 2 jam Dengan Sendok makan 9 15 ml) Sendok bubur 9 8 ml) Sendok the(5 ml) Kapsul Lavement (cairan utk bubur) Cuci mata Cuci muluit Pekat Krim Berilah Selama makan Berilah dengan resep/formulanya sehari Berilah setengahnya Berilah 2 kalinya Encer Bagilah dalam bagian yg sama Berikan sebanyak takaran tersebut Kanan Plester Lavement Ekstrak/sari Sari cair Sari kental Sari kering Buat/ dibuat Buat menurut seni( aturan) Saring Garam Obat kumur Tetes Tetes mata Tetes relinga Tetes hidung Jam Pagi-pagi Sekali minum sebelum tidur Serahkan ke dokter Rebusan Sediaan steril untuk intravenous Diulang Diulang 2 kali Penggantinya l.a lag lin liq Liq.Carb.det Liq Paraf.liq Lit.oris Lot Loz m/man m. m.d.s m.et v. m.f. m.f.pulv mg mixt merid. N ne iter/ N.I o. ½ .h./o.d.h o.h. o.b.h. o.t.h o.m. o.n. p.aeq p.c. P.I.M Pot. p.p. p.r.n pulv pulv.adsp. q.d.d/q.i.d/4.d. d q.s. R. rec. r.p. S scat. s.n.e s.n.s sol./solut spir s.s.n s.u.e s.u.i s.u.n s.u.c sum. t.d.d/t.i.d Ungt.,ung Vesp Lege artis Legena Linimentum Liquor Liquor Carbonas detergent Liquidium Parafin liquidium Litus oris Lotio Lozonges Mane Misce Misce da signa Mane et vespere Misce fac Misce fac pulveres Miligramata Mixtura Meridium Noctum Ne iteretur Omni dimidia hora Omni hora Omni bi horio Omni tri horio Omni mane Omni noctum Partes aequales Post coenam Periculum in mora Potio Pro paupere Pro re nata Pulvis Pulveres Pulvis adspersorius Quarter de die/ quarter in die Quantum satis/quanrum suficit Recipe Recens Recenter paratus Signa Scatula Si necesse est. Si necesse sit Solutio Spiritus Signa suo nomine Signa usus externus Signa usus internus Signa usus notus Sgna usus cognitus Sumendum Ter de die/ ter in die Unguentum Vespere Menurut semestinya (= aturan) Botol Linimen Cairan Cairan varbonas pencuci Cair Parpum cair Tutul mulut Air pembersih Tablet hisap Pagi hari Campurlah Campur dan berilah tanda Pagi dan sore hari Campur dan buatlah Campur dan buatlah serbuk Miligram Larutan campuran Siang/tengah hari Malam hari Tidak diulang Tiap ½ jam Tiap jam Tiap 2 jam Tiap 3 jam Tiap pagi hari Tiap malam Tiap bagian yang sama Sesudah makan Berbahaya bila ditunda Cairan utk diminum Utk si miskin Bila perlu Serbuk (tunggal) Serbuk( jamak) Serbuk tabur Empat kali sehari Secukupnya Ambillah Segar Dibuat baru Tanda Dos Bila perlu Bila perlu Larutan Alkohol= etanol Tandai dengan namanya Tanda untuk obat luar Tanda untuk obat dalam Tanda aturan pakai sudah tahu Tanda aturan pakai sdh tahu utk Diminum Tiga kali sehari Salep Senja(=sore)hari

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

52

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

ANGKA LATIN
1= I = Unus, unae, unum, una 2=II= duo, ae 3=III=tres 4=IV=quatuor 5=V=quinguae 6=VI=sex 7=VII=Septem 8=VIII= octo 9=IX=novem 10=X= decem 12=XII=duodecem 15=XV=quidacem 20=XX=viginti 21=XXI=unus et viginti 25=XXV=quinguae et viginti 30=XXX=trigenta 40=XL=quadragenta 50=L=Quingenta 51=LI=unus quingenta 90=XC=nona genta 100=C=Centum 500=D=quncenti 1000=M=mille 2000=MM=duo mille 121=CXXI=centum unus et viginti 131=CXXXI= centum unus trigenta.

PENGGUNAAN OBAT RASIONAL

Terapi dengan menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mempertahankan hidup pasien. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara : mengobati pasien, mengurangi atau meniadakan rasa sakit, menghentikan atau memperlambat proses penyakit serta mencegah penyakit atau gejalanya. Terdapat 7 kriteria penggunaan obat secara rasional (POSR), yaitu : 1. Tepat diagnosis 2. Tepat indikasi 3. Tepat pemilihan obat 4. Tepat dosis, cara & lama pemberian 5. Tepat informasi 6. Tepat penilaian kondisi pasien 7. Tepat tindak lanjut Namun ada hal-hal yang tidak dapat disangkal dalam pemberian obat yaitu kemungkinan terjadinya hasil pengobatan yang seperti yang diharapkan (Drug related problem). Ketidakberhasilan pengobatan ini dapat disebabkan oleh: 1. Penulisan resep yang kurang tepat a. Pengobatan kurang tepat (missal: pemilihan obat, bentuk sediaan, dosis, rute, interval dosis, lama pemakaian). b. Peresepan obat berlebih c. Pemberian obat yang tidak diperlukan. d. Peresepan obat majemuk (polifarmasi). e. Peresepan salah 2. Penyerahan obat yang tidak tepat a. Obat yang tidak tersedia pada saat dibutuhkan b. Kesalahan dispensing 3. Perilaku pasien yang tidak mendukung a. Berhubungan dengan cara pengobatan yang tidak tepat b. Penggunaan obat tidak sesuai dengan perintah pengobatan (Non compliance) 4. Idiosinkrasi pasien a. Respon aneh individu terhadap obat b. Terjadi kesalahan atau kecelakaan 5. Tidak tepat penderita a. Pemberian obat yang dikontraindikasikan pada penderita

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

53

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

6. Pemantauan yang tidak tepat a. Gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak tepat. b. Gagal dalam memantau efek pengobatan pada pasien. Masalah yang terkait dengan pemberian obat  Rute pemberian obat Rute pemberian obat perlu dievaluasi untuk memastikan bahwa rute tersebut tepat bagi pasien. Contoh :  Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan secara oral karena tidak mampu / tidak boleh minum obat seperti sebelum operasi, tidak sadar atau menderita mual dan muntah.  Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan peroral memerlukan adanya kajian apakah pengobatan dapat diabaikan sementara waktu atau apakah diperlukan rute atau pengobatan alternatif.  Pasien dengan keadaan tidak memungkinkan akses melalui vena sehingga pemeberian obat secara IV harus dihindari. Rute pemberian obat juga harus disesuaikan dengan obat itu sendiri. Contoh :  Sediaan obat yang pelepasannya terkendali akan tidak tepat jika diberikan melalui selang naso-gastrik; harus dilakukan kajian terhadap pengobatan yang sedang diterima saat ini untuk menentukan formulasi atau pilihan obat alternatif.  Dosis yang terabaikan (kadang-kadang terlupakan, kadang-kadang tidak tersedia di bangsal / di apotek / di puskesmas, atau obat tidak tersedia pada saat dibutuhkan).  Bentuk sediaan obat Pada obat-obat tertentu, sangatlah penting untuk mempertimbangkan bioekuivalensi berbagai nama dagang obat. Contoh: pasien yang diterapi dengan Calsium chanel blockers pelepasan terkendali harus menggunakan nama dagang obat yang sama untuk terapi pemeliharaanya. Pada rute pemberian obat dapat diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien dan pemantauan intensif terhadap efek klinis. Contoh: suspensi fenitoin 90mg dalam 15 ml dipertimbangkan memberikan efek terapeutik yang kurang lebih sama dengan kapsul atau tablet yang mengandung natrium fenitoin 100mg. Pasien yang mungkin mengalami kesulitan dalam mematuhi aturan pengobatan akan memperoleh kemudahan dengan penyederhanaan aturan pengobatan, yaitu melalui pemberian sediaan obat yang pelepasannya terkendali sehingga cukup diberikan satu kali sehari.  Pemilihan waktu pemberian obat Sangat penting untuk memahami tentang ketepatan waktu pemberian dosis obat. Contoh:  Pemberian obat sedasi untuk malam hari sebaiknya 30 menit sebelum tidur.  Pemberian obat antihiperlipidemia golongan statin harus pada malam hari karena tujuan untuk mengurangi produksi kolesterol endogen yang diproduksi oleh tubuh pada malam hari.  Diuretik lebih baik diberikan pada pagi hari daripada malam hari (kecuali pada pasien yang dikateterisasi).

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

54

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Beberapa makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat-obat tertentu sehingga perlu diperikasa adanya persyaratan bahwa suatu obat harus diberikan bersamaan dengan atau sesuadah makan, atau justru menghindari pemberian bersamaan dengan makanan/ minuman. Contoh:  Tetrasiklin harus diberikan 1 jam sebelum makan atau pada saat perut kosong dan tidak boleh diberikan bersamaan dengan susu.  Frekwensi pemberian obat Pastikan frekwensi pemberian obat telah sesuai dengan farmakokinetika obat ataupun formulasinya. Pertimbangkan apakah pengobatan tersebut akan efektif bila diberikan hanya jika perlu atau perlu diberikan secara teratur. Contoh:  Laktulosa perlu diberikan secara teratur agar efektif.  antipirektik hanya diberikan jika diperlukan untuk mengatasi demam.  Kecepatan pemberian obat Untuk obat-obat tertentu perlu dipastikan bahwa obat-obat tersebut diberikan pada kecepatan yang tepat. Contoh:  Furosemid secara intravena harus diberikan pada kecepatan tidak lebih dari 4mg per menit.  Efek samping yang terkait dengan cara pemberian obat Perlu diantisipasi efek samping yang mungkin timbul sebagai akibat dari rute pemberian obat. Contoh:  Acute anger glaucoma dilaporkan terjadi pada pasien dengan pemberian ipatropium bromida secara nebulasi, terutama jika digunakan bersama-sama dengan salbutamol secara nebulasi). Perhatian/perlakuan khusus diperlukan untuk mencegah uap nebulasi dari masker menuju ke mata pasien. Masalah yang terkait dengan obat  Ketepatan pengobatan Aturan pengobatan perlu dikaji untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi pasien. Aturan pengobatan juga perlu dikaji dalam rangka memastikan ketepatan untuk masingmasing individu pasien, mengingat faktor-faktor seperti: keadaan penyakit yang bersamaan, fungsi hati dan ginjal, kontra indikasi, alergi, persoalan kepatuhan dan lain-lain. Contoh:  Profilaksis anti malaria yang tepat untuk wisatawan sesuai dengan tempat tujuan mereka, pilihan waktu dan lamanya kunjungan.  Beta bloker dapat memperparah keadaan asma, sehingga harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat penyakit asma atau penyakit paru obstrutif menahun.  Pentingnya pengobatan Pertimbangkan apakah pengobatan benar-benar dibutuhkan oleh pasien. Contoh:  Perlu dipertimbangkan antara resiko dan manfaat jika pasien diobati atau tidak diobati (terutama pada kehamilan dan menyusui).

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

55

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Pertimbangkan apakah suatu pengobatan masih diindikasikan untuk pasien – seperti penyelesaian suatu periode antibotika.  Pertimbangkan dasar pemikiran pada pemberian pengobatan yang bersamaan ataupun tambahan pengobatan, yang dapat mengarah pada duplikasi pengobatan (termasuk obat yang berbeda tetapi memiliki mekanisme aksi sama) atau pengobatan yang diberikan untuk mengatasi efek samping yang diakibat obat (termasuk ruam, mual, muntah). Ketepatan dosis Pertimbangkan pedoman dosis (termasuk dosis maksimum dan minimum) dan variable pasien yang mempengaruhi dosis (termasuk tinggi, berat, usia, fungsi ginjal dan hati). Kadang-kadang dosis obat perlu disesuaikan ketika terapi berlangsung. Contoh:  Karbamazepin menginduksi metabolismenya sendiri, sehingga perlu kajian terhadap khasiatnya dan atau penyesuain dosis.  Penurunan dosis kortikosteroid pada tahap akhir pengobatan jangka panjang asma. Jangka waktu pengobatan Beberapa terapi obat harus dilanjutkan untuk seumur hidup, sementara obat yang lain perlu diberikan untuk suatu pengobatan jangka waktu tertentu. Contoh:  Pengobatan seumur hidup untuk disfungsi tiroid atau diabetes mellitus.  Pengobatan jangka pendek untuk infeksi, mual / muntah, diare atau demam. Efek samping obat Efek samping yang dapat diantisipasi perlu dicegah atau ditangani dengan tepat. Efek samping yang tidak terduga perlu diidentifikasi dan dinilai untuk memutuskan apakah pengobatan dapat dilanjutkan, harus dihentikan (dan pengobatan alternatif diberikan) dan apakah pengobatan tambahan perlu diresepkan untuk mengatasi efek samping obat. Interaksi obat Interaksi obat dapat termasuk: interaksi obat-penyakit, interaksi obat-obat, interaksi obat-diet atau interaksi obat – uji laboratorium. Contoh:  Walaupun beta bloker tidak dikontra indikasikan untuk diabetes, tetapi golongan obat ini dapat mengakibatkan sedikit penurunan toleransi terhadap glukosa darah, serta mengganggu respon metabolisme dan autonomik terhadap hipoglikemia. Kardio selektif beta bloker lebih dipilih dan beta bloker harus dihindarkan pada mereka yang sering mengalami kejadian hipoglikemia.  Amiodaron meningkatkan konsentrasi digoksin dalam plasma sehingga memerlukan penurunan dosis pemeliharaan digoksin.  Sebagian makanan enteral yang diberikan melalui selang nasogastrik dapat mengganggu absorpsi fenitoin. Atau adanya logam bervalensi 2 pada diet (misalnya sayur bayam) dapat mengurangi absorpsi ciprofloksasin secara bermakna.  Eritromisin estolat menyebabkan peningkatan semu terhadap aspartat transaminase AST / SGOT. Kompatibilitas / Ketercampuran obat. Masalah obat yang tidak tercampurkan (OTT) secara fisika maupun kimia dapat muncul dan mengakibatkan hilangnya potensi, meningkatnya toksisitas atau efek samping lain. OTT

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

56

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

dapat timbul karena pencampuran dua jenis injeksi yang tidak tepat atau penambahan suatu injeksi ke dalam cairan infus yang tidak tepat. Contoh.  Siklizin cenderung mengendap dengan adanya NaCl 0,9% ketika digunakan bersamaan dalam satu alat suntik (syring drive) sehingga sangat penting untuk memeriksa semua tanda / indikasi pengendapan sebelum pemberian obat. Pedoman Pengobatan Salah satu aspek yang dapat memudahkan dan menjamin terlaksananya POSR adalah adanya suatu pedoman pengobatan. Pedoman tersbut disusun berdasarkan bukti ilmiah dan kesepakatan para ahli. Contoh pedoman yang digunakan di Indonesia adalah FRS, DOEN, DOEW, PPAB, dan PDT. Manfaat pedoman pengobatan: a. Untuk pasien Pengobatan yang diterima oleh pasien hanya pengobatan yang paling bermanfaat,paling dibutuhkan, aman dan ekonomis, serta dapat mengurangi kebingungan pasien akibat keaneka- ragaman pengobatan antara petugas sehingga kepatuhan pasien terhadap pengobatan lebih terjamin. b. Untuk dokter dan tenaga keperawatan Memudahkan dokter dan tenaga keperwatan untuk menentukan pengobatan yang paling bermanfaat, aman, rasional dan ekonomis bagi pasien. Tenaga kesehatan lebih dapat memusatkan perhatian pada proses penegakan diagnosis, mutu peresepan lebih terjamin dan memungkinkan evaluasi, supervisi dan monitoring praktek peresepan serta memberikan perlindungan hukum. c. Untuk pengelolaan suplai obat Suplai obat tiap penyakit baik oleh pemerintah sendiri ataupun melalui kerjasama dengan pihak swasta, lebih terjamin. Dapat memperkirakan kebutuhan obat secara lebih riil berdasarkan epidemiologi penyakit. d. Untuk pemegang kebijaksanaan kesehatan Pedoman pengobatan bermanfaat untuk mengukur mutu pelayanan pengobatan dan pengendalian biaya, sehingga anggaran obat dapat dimanfaatkan secara lebih efektif. Aspek Hukum Pedoman Pengobatan a. Sebagai standar keprofesian, karena pedoman pengobatan dibuat atas dasar pertimbangan ilmiah dan juga merupakan kesepakatan berbagai ahli yang relevan dan kompeten b. Memberi status hukum yang jelas dan dapat diterima, karena telah mengikuti prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum. Dampak pengobatan tidak rasonal a. Dampak terhadap biaya pengobatan Waktu perawatan lebih lama, pemberian obat tanpa indikasi dan pemberian obat yang tidak perlu menyebabkan biaya pengobatan meningkat b. Dampak terhadap efek samping obat Semakin banyak jenis obat yang diberikan, efek samping yang mungkin dialami oleh pasein dapat meningkat. Penggunaan antibiotik secara tidak rasonal menyebabkan terjadinya resistensi obat.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

57

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Faktor penyebab penggunaan obat yang tidak rasional Banyak faktor yang mendorong terjadinya pnggunaan obat yang tidak rasional, antara lain: 1. Kurangnya pengetahuan tentang farmakoterapi 2. Kurang mendapat informasi obat yang benar 3. Diagnosis yang tidak pasti sehingga pemberian obat seperti “ shot gun therapy” 4. kurangnya motivasi dokter dan tenaga paramedis untuk menambah ilmu misalnya jarang mengikuti kursus penyegar 5. Tidak adanya pedoman pengobatan pada unit-unit pelayanan kesehatan 6. Tekanan dari penderita 7. Tekanan dari industri farmasi 8. Sistem pelayanan kesehatan yang kurang merata 9. Pengawasan penggunaan dan peredaran obat yang kurang ketat.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

58

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->