P. 1
Buku Modul Guru Sd

Buku Modul Guru Sd

|Views: 441|Likes:
Published by Edy Hendras

More info:

Published by: Edy Hendras on May 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2012

pdf

text

original

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

99

100

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

PANDUAN GURU

UNTUK SEKOLAH DASAR

Disusun oleh: Edy Hendras Wahyono

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

1

Panduan Bagi Guru: Metode Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup. Diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Lingkungan, Kesehatan dan Kesejahteraan Keluaraga (YPLK3) dan didanai oleh Conoco Phllip. Oleh : Edy Hendras Wahyono Illustrator dan Tata Letak: Eko Wahono ISBN : ..................

2

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

KATA PENGANTAR

P

ertama tama penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkah dan rahmatNya, sehingga buku Panduan Guru untuk Pendidikan Lingku­ ngan Hidup ini, dapat tersusun.

Buku ini sebenarnya pernah penulis susun, dan bekerja sama dengan Fauna dan Flora Inter­ national, Program Aceh, untuk materi pelatihan bagi guru sekolah dasar di beberapa kabu­ paten. Selain itu juga sudah penyusun sebarkan ke jaringan mitra kerja, atau guru sekolah dimana penyusun melakukan pelatihan bagi guru sekolah dasar. Namun buku pertama yang penyusun tulis, terfokus untuk guru di Provinsi Aceh, sehingga edisi kali ini sedikit dimodifikasi untuk dapat digunakan secara umum dan secara luas diber­ bagai sekolah di Wilayah Republik Indonesia. Buku ini hanyalah sebuah metode pembelajaran yang sederhana, di mana materi pelajaran bagi siswa sekolah dasar, sudah ada pada buku pelajaran. Sehingga penyusun hanya mem­ berikan tambahan mengenai metode pembelajarannya saja, untuk membantu agar siswa sekolah mudah memahami materi yang diajarkan. Karena metode ini banyak memberikan contoh dengan simulasi dan permainan yang mudah dicerna dan mudah dilakukan. Semoga bermanfaat.

Bogor, 28 Oktober 2011.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

3

DAFTAR ISI
3 4 6 8 10 13 16
17 20 24

Kata Pengantar Daftar Isi Bab I. Pendahuluan Bab II. Panduan Penggunaan Modul Bab III. Bermain dan Belajar. Bab IV. Peran Guru dalam Memandu Sebuah permainan. Bab V. Materi Pembelajaran Pendidikan Pelestarian Alam dan Lingkun­ gan Hdup Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas I.
1. Bagian Pertama 2. Bagian kedua 3. Bagian ketiga : Mengenal Tumbuhan di sekitar kita. : Mengenal Satwa di Sekitar kita. : Peranan Tumbuhan bagi kehidupan kita.

26
27 30 32 34 36

Bab VI. Materi Pembelajaran Pendidikan Pelestarian Alam dan Lingkun­ gan Hdup Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas II.
1. Bagian Pertama 2. Bagian kedua 3. Bagian ketiga 4. Bagian keempat 5. Bagian kelima : Mengenal tumbuhan di sekitar kita. : Mengenal kehidupan satwa di sekitar kita. : Mengenal Bagian Tubuh Tumbuhan. : Mengenal Bagian Tubuh hewan. : Tempat hidup binatang.

39
40 44 46

Bab VII. Materi Pembelajaran Pendidikan Pelestarian Alam dan Lingkun­ gan Hdup Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas III.
1. 2. 3. Bagian pertama : Lingkungan Sehat. Bagian kedua : Kebutuhan Mahluk Hidup. Bagian ketiga : Menggolongkan Mahluk Hidup.

4

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

49
50 55 57

Bab VIII. Materi Pembelajaran Pendidikan Pelestarian Alam dan Lingkun­ gan Hdup Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas IV.
1. Bagian Pertama 2. Bagian Kedua 3. Bagian Ketiga : Mahluk Hidup dan Lingkungannya. : Perubahan Lingkungan. : Pohon Penyimpan Air.

59
60 62

Bab IX. Materi Pembelajaran Pendidikan Pelestarian Alam dan Lingkun­ gan Hdup Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas V.
1. Bagian Pertama 2. Bagian kedua : Mahluk Hidup Beradaptasi terhadap Lingkungannya. :Cinta Air dari Hulu sampai Hilir.

65
66 68 70 73

Bab X. Materi Pembelajaran Pendidikan Pelestarian Alam dan Lingkun­ gan Hdup Bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas VI.
1. Bagian Pertama 2. Bagian Kedua 3. Bagian Ketiga 4. Bagian Keempat : Mahluk Hidup dan Proses Kehidupan. : Pelestarian Jenis. : Energi dan Perubahan : Bumi Semakin panas.

75 82 85 88 95 94

Bab XI. Lingkungan Rusak, Apa yang bisa kita perbuat. Bab XII. Menuju Sekolah Hijau Bab XIII. Kegiatan Bersama Bab XIV. Beberapa Jenis Permainan Pembuka. Daftar Pustaka. Tentang Kami

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

5

BAB I PENDAHULUAN

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar-Rum -30: 41).

utipan ayat Ar-Rum sudah jelas, alam ini sudah mulai menampakkan tan­ da­tanda kerusakan. Bencana lingku­ ngan silih berganti, banjir dan longsor saling susul menyusul saat hujan tiba, dan kekeringan datang saat waktu kemarau tiba.

K

Semuanya karena kita sebagai manusia terlena, memperlakukan alam, mengam­ bil sumber daya alam tanpa berpikir pan­ jang untuk ke depan, untuk generasi men­ datang. Tetapi kita masih bisa berbuat untuk menyelamatkan alam ini. Kita harus terus

6

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

menerus mengingatkan, kepada segenap lapisan masyarakat. Buku ini hanyalah sebuah alat, untuk me­ nyampaikan pesan lingkungan, khusus untuk siswa sekolah dasar. Karena kami berpikir, merekalah nanti yang akan meneruskan semua kehidupan di negeri ini. Sehingga perlu membekali pengetahuan, pemaha­ man tentang arti penting sebuah kegiatan konservasi. Kami yakin bahwa Guru adalah agen pe­ rubah perilaku, penyampai pesan dan pem­ beri informasi. Oleh karena itu pengetahuan apapun bila menyiapkan penyampai pesan ini, sangatlah penting artinya, sehingga apa­ pun yang akan diberikan kepada anak didik akan sampai pada kelompok yang dikehen­ daki. Melalui jalur pendidikan YPLK3 ingin ber­ peran, memberikan pemahaman yang kami inginkan, dan berbuat untuk memperbaiki lingkungan yang kami harapkan. Apabila sudah memahami, dan mengetahui bahwa hidup saling ketergantungan satu sama lain, niscaya akan berbuat adil terhadap alam, dan berbuat bijak dalam memperlakukan lingkungan. Karena berbuat kerusakan di muka bumi ini, sesuatu yang dilarang oleh semua agama yang ada di dunia ini. , seperti yang tercantum dalam Al Qur’an Surah (QS Al-A’raf (7) : 56, yang artinya : Dan Janganlah kamu mengadakan kerusakan dimuka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya

rahmat Allah amat dekat kepada orangorang yang berbuat baik. Atau kitab Wahyu 7:3, “Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon”. Dan masih ada beberapa ayat yang menjelas­ kan tentang penciptaan alam oleh Yang Maha Kuasa, dan manusia sebagai umat di dunia yang diberikan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk keper­ luan hidup, namun tidak berlebihan, dan di­ larang untuk merusak dan menghancurkan. Semoga buku ini bermanfaat, demi kebaikan dan kesejahteraan bersama, karena kami ya­ kin, bahwa manusia dapat hidup rukun dan harmonis dengan alam.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

7

BAB II PANDUAN PENGGUNAAN BUKU MODUL

B

uku modul Pendidikan Pelestari­ an Alam dan Lingkungan Hidup ini, merupakan modul yang ditujukan untuk buku pegangan guru, di mana guru dapat menggunakan beberapa materi yang disesuaikan dengan mata pelajaran Sains, IPA atau IPA terpadu yang selama ini digunakan.

mata pelajaran sekolah, khususnya mata pelajaran IPA atau IPA terpadu yang sudah dilakukan. YPLK3 yang memiliki program pelestar­ ian alam dan lingkungan hidup, lebih menekankan pada pengetahuan tentang usaha pelestarian alam yang langsung ataupun tidak, terkait dengan kehidupan manusia. Untuk materi yang disajikan, lebih banyak pemberian pengetahuan kepada siswa dengan metode simulasi dan permainan, dengan harapan menyenangkan. Kreatif, interaktif dan tidak membosankan.

Modul ini disusun berdasarkan KTSP yang digunakan, yang berdasarkan kurikulum ta­ hun 2006, dan materi lingkungan disesuai­ kan dengan silabus yang sudah ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan. Modul pendidikan yang disiapkan meru­ pakan program yang terintegrasi ke dalam

8

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Untuk memudahkan dalam penggunaan buku ini serta berkaitan dengan pelajaran yang diberikan dan sesuai dengan sila­ bus sekolah, ada beberapa hal yang perlu disampaikan, antara lain: 1. Standar kompetensi, disesuaikan deng­ an sekolah atau buku ajar yang sudah dilakukan atau diberikan kepada siswa. 2. Terkait dengan tematik, yang saat ini sudah diterapkan di sekolah, tema yang akan diberikan dalam buku pendididi­ kan lingkungan ini adalah tema ling­ kungan yang ada di sekitar kita, dimana setiap siswa melakukan kegiatan dan pengamatan langsung dan bersentuhan dengan obyek, dan mengetahui pro­ gram yang dilakukan. Dengan demikian siswa mempunyai pengalaman langsung dalam melakukan kegiatan, dan menge­ tahui permasalahan lingkungan dan usaha pelestarian alam. 3. Kompetensi dasar, sebagian akan mengikuti buku ajar yang menjadi

pegangan sekolah, namun ada be­ berapa hal yang perlu kami masukkan untuk menambah pengetahuan yang disesuaikan dengan materi yang akan diberikan dalam modul ini. 4. Materi dan metode pembelajaran. Ba­ gian ini akan mencoba memberikan beberapa metode berupa simulasi dan permainan, yang disesuaikan dengan materi yang akan diberikan. Metode pembelajaran tentang pelestarian alam dan lingkungan hidup, menggunakan panca indera, sehingga siswa diharap­ kan dapat memahami mengenai ling­ kungan yang ada di sekitar kita. 5. Langkah­langkah untuk melakukan si­ mulasi dan permainan, akan kami jelaskan tahapan demi tahapan untuk melakukan permainan itu, serta peng­ gunaan alat atau bahan pendukung lainnya. Sehingga akan memudahkan dalam penerapan pengetahuan melalui permainan kepada siswa.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

9

BAB III BERMAIN DAN BELAJAR.

A. Menyederhanakan Persoalan.
Kadang­kadang kita sebagai orang tua atau pendidik, agak sedikit kebingungan untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana dari siswa atau anak kita, agar jawaban yang kita berikan dapat dimengerti, dipahami dengan menggunakan bahasa atau penge­ tahuan yang mereka miliki atau kuasai. Sebagai contoh. Ada seorang anak kelas II SD, menanyakan mengapa binatang tertentu su­ dah sulit ditemukan lagi, sedangkan menu­ rut ceritera nenek mereka, dahulu banyak sekali binatang itu mudah ditemukan. Nah, untuk menjawab hal yang demikian, tentu­

nya seorang anak dengan pengetahuan yang masih terbatas, daya nalarnya masih belum sampai, bila kita jelaskan dengan sebuah pengertian dengan bacaan atau ceritera. Salah satu hal yang paling mudah untuk di­ berikan jawaban tersebut adalah dengan permainan, melihat gambar atau dengan simulasi. Karena persolanan apapun dapat ditunjukkan dengan permainan, sehingga permasalahan yang sulit dapat diseder­ hanankan. Bermain sebenarnya bukan hanya milik mahluk hidup yang namanya manusia, na­ mun dilakukan oleh semua binatang. Dalam

10

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

tahapan bermain mengandung unsur pem­ belajaran, agar nanti bila telah menginjak dewasa dapat melakukan seperti apa yang mereka impikan. Sifat anak­anak anak usia 7 hingga 12 ta­ hun atau kelompok sekolah dasar biasanya mempunyai perilaku: • Ingin tahu, aktif dan berhasrat untuk mencoba hal yang baru. • Mulai menggunakan logika untuk memecahkan masalah. • Dapat mengaplikasikan penemuan masa lalu untuk masalah yang baru. • Suka membaca. • Dapat mengukur waktu, panjang, jum­ lah dan berat. • Menggunakan informasi dari buku un­ tuk membangun pengalaman sendiri. • Mulai peduli bahwa orang lain memiliki cara pandang yang berbeda. • Dapat mengembangkan dan mengikuti sebuah rencana sederhana. • Biasanya menikmati diskusi sebagai alat belajar. • Dapat menggunakan peralatan seperti: palu, jarum, gunting dll. Dari kenyataan inilah, kami mencoba un­ tuk menyusun buku panduan PKA dan LH ini dengan berbagai bentuk yang interaktif, menyenangkan, tidak membosankan, dan semua dilakukan bersama. Sebenarnya bermaian tak hanya disukai oleh anak­anak, dewasa pun saat ini juga banyak dikenalkan dengan berbagai per­ mainan, atau simulasi untuk mencari solusi yang terbaik dengan persoalan yang setiap saat muncul di sekitar kita. Karena dalam

permainan mengandung pesan atau filoso­ fi dalam sebuah kehidupan. Dalam menyusun buku Modul Pendidikan Pelestarian Alam dan Lingkungan Hidup ini, yang dikhususkan untuk pegangan guru dalam memberikan pemahaman tentang lingkungan, akan dikemas dengan berb­ agai permainan, simulasi dan bernyanyi. Semuanya akan menambah pengalaman siswa dalam mengenal alam lingkungannya. Materi pembelajaran, sebenarnya sudah disampaikan bagi pendidik di kelas setiap hari yang terkait dengan pengetahuan ling­ kungan yang ada di sekitar kita, sehingga kami hanya menambahkan beberapa pe­ ngetahuan yang penting untuk disampai­ kan, dengan berbagai kemasan.

B. Tahapan Bermain.
Dalam menyampaikan materi permaian, tentu kita mempunyai tujuan, permainan apa yang akan kita sampaikan sesuai de­ ngan materi pelajaran apa yang akan di­ berikan. Agar penyampaian materi menca­ pai tujuan yang diinginkan, ada beberapa tahap yang perlu dilakukan. Setiap tahap memiliki fungsi dan tujuan berbeda. Secara umum, tahapan tersebut adalah: 1. Permainan Awal. Permainan yang dikelompokkan dalam permainan ini biasanya untuk mencairkan suasana atau sering disebut “ice breaking”. Permainan ini umumnya dilakukan pada awal suatu kegiatan. Biasanya siswa masih malu­malu atau segan satu sama lain, atau

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

11

malah takut untuk maju ke depan atau ragu menyampaikan pendapat, terutama jika an­ tar peserta belum saling mengenal. Permainan ini memegang peranan penting dan bisa merangsang rasa ingin tahu dan membangun konsentrasi siswa. Karena kegi­ atan ini berfungsi sebagai sarana perkenalan antar siswa ataupun guru lebih dekat, serta membangkitkan semangat dari para siswa, maupun untuk meminimalkan kepasifan dari para siswa sebelum melakukan pelajaran. Jenis permainan ini biasanya selalu diada­ kan di awal rangkaian kegiatan, merupakan aktivitas yang memancing tawa, dan mem­ beri kesempatan bagi para siswa untuk ber­ interaksi secara aktif dan intensif (misalnya bersentuhan, bercakap­cakap/ menyampai­ kan informasi, dsb). Waktu yang diperlukan adalah sekitar 5 – 10 menit. 2. Permainan Pembangkit Antusias Permainan pembangkit yang berisi tentang materi yang akan disampaikan dan dapat memancing antusiasme siswa, merupakan pokok dan tujuan sebuah permainan itu di­

lakukan. Umumnya permainan ini menim­ bulkan keingintahuan siswa dari sebuah permainan tersebut. Atau sebuah permain­ an untuk memberikan pengetahuan tentang alam kepada peserta, melalui permainan. Misalnya pengetahuan tentang jaring­jaring kehidupan. Makhluk hidup di alam saling ter­ gantung satu sama lain. Apabila salah satu ter­ putus, maka kehidupan mereka di alam akan terganggu. Hal ini dapat ditunjukkan dengan permainan yang mudah dipahami oleh siswa. Masih banyak contoh permainan lainnya. 3. Permainan Evaluasi Pembelajaran di luar kelas dapat diketahui atau dipahami oleh siswa atau tidak, dalam sebuah kegiatan di luar kelas. Untuk mengeta­ hui hal itu dapat dilakukan evaluasi langsung. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan sebuah permainan juga. Misalnya membuat puisi, ceritera di depan siswa yang lain, lukisan dsb. Hal ini secara langsung, guru dapat mengeta­ hui respon atau kesan para siswa.

12

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

BAB IV PERANAN GURU DALAM MEMANDU SEBUAH PERMAINAN

A. Membawakan Permainan
Dalam membawakan sebuah permainan, peranan guru sangat penting. Karena per­ mainan yang akan dibawakan, sarat de­ ngan pesan­pesan lingkungan yang terkan­ dung di dalam permainan tersebut. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhati­ kan oleh guru dalam membawakan sebuah permainan.

Memilih permainan yang tepat untuk siswa.
• Hal-hal yang perlu diperhatikan anta­ ralain: tujuan yang ingin dicapai, jum­

lah dan umur peserta, alat bantu yang diperlukan, tempat dan waktu yang tersedia. • Perhatikan pula kondisi peserta, jika kelihatannya merasa lelah, pilihlah per­ mainan yang menghibur dan menyegar­ kan, serta tidak banyak gerakan fisik. Jika permainan membutuhkan konsen­ trasi dari peserta maupun suasana yang tenang, pilihlah waktu pagi atau malam hari. • Di awal permainan, peserta seringkali merasa ragu atau kuatir, hal ini adalah hal biasa. Untuk menghadapi hal ini, ya­ kinkan peserta bahwa permainan tidak

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

13

akan membahayakan diri mereka. Selain itu, pilihlah beberapa permainan sing­ kat (permainan pembuka) yang bersifat menghibur dan mencairkan kekakuan suasana. • Jangan ragu untuk mengubah atau melakukan improvisasi terhadap jenis permainan yang dipilih.

Mengatur ruangan permainan
• Aturlah posisi agar antar siswa dapat bebas saling melihat satu sama lain. Sedapat mungkin jauhkan benda­benda (misalnya meja tulis, bila di dalam kelas) yang dapat menghalangi komunikasi dan menjauhkan satu sama lain. • Posisi yang paling memungkinkan untuk hal ini adalah duduk dalam lingkaran. Selain memberi kebebasan untuk saling memandang, posisi ini juga memberi perasaan kesamaan hak, tidak ada yang lebih istimewa dari yang lain.

Membawakan permainan
• Tahap permulaan: Guru menyiapkan permainan, menjelaskan cara dan aturan bermain. Pastikanlah bahwa semua siswa memahami cara dan per­ aturan tersebut. Jika perlu beri kesem­ patan untuk mencoba atau memberi contoh, sebelum mulai bermain yang sesungguhnya. • Penjelasan yang diberikan sebaiknya dihafalkan terlebih dulu. Jika penjelas­ annya dibacakan maka interaksi antar siswa akan terasa kaku dan membo­ sankan. • Tahap bermain: Peran aktif siswa meru­ pakan penentu dari hasil proses ber­ main. Guru hanya sebagai pengamat

dari proses tersebut, yang akan berguna untuk pembahasan evaluasi setelah bermain selesai. • Untuk membina keakraban antara siswa, serta menumbuhkan keberani­ an, guru dapat ikut berpartisipasi dalam permainan. Dalam hal ini guru harus bertindak sebagai ‘salah satu anggota kelompok’. Namun demikian, guru per­ lu hati-hati, agar siswa tetap bersikap sebagaimana adanya dan tidak hanya mengulangi/meniru tingkah laku guru. • Tahap evaluasi dan refleksi: Tahap ini sangat penting dan tidak boleh ter­ lewatkan. Melalui tahap ini, arti dan pentingnya permainan baru akan jelas bagi para siswa. Guru perlu memoti­ vasi siswa, untuk memikirkan pengala­ man yang diterima dan memberanikan mereka untuk mengungkapkan piki­ ran dan perasaannya. Pertanyaan ten­ tang pengalaman dan perasaan mere­ ka setelah bermain, dapat membantu peserta pada tahap ini. • Dalam tahap selanjtnya, guru memberi kesempatan pada semua peserta untuk berbicara. Pada akhirnya, guru menu­ tup proses bermain dengan memberi­ kan kesimpulan pikiran dan perasaan siswa, serta menunjukkan hasil atau arti penting dari permainan yang baru saja dilakukan.

B. Bagaimana caranya menjadi fasilitator yang berhasil?
1. Milikilah rasa humor. 2. Gunakan bahasa yang mudah dimenger­ ti bagi siswa, hindari penggunaan istilah

14

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

tertentu yang sulit dimengerti siswa. 3. Hadapi siswa dengan luwes, tidak kaku. 4. Berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk berpikir dan menjawab. 5. Perhatikan kondisi diri sendiri. Hal ini merupakan pegangan untuk merasakan situasi di dalam kelompok. Jika guru merasakan suatu kebosanan, biasanya kelompok juga memiliki perasaan se­ rupa. 6. Perhatikan bahasa tubuh para siswa.

C. Yang harus dihindari oleh fasi­ litator
• Menilai pemikiran dan perasaan siswa • Di dalam setiap permainan tidak ada yang benar atau salah. Proses bermain

memberi kesempatan penghayatan yang berbeda bagi masing­masing siswa. Satu peserta akan merasakan arti ber­ main yang bersifat subyektif dan ber­ beda dari peserta lain. Menolong/membantu siswa, karena siswa akan menolong dirinya sendiri. Gunakan kalimat “seharusnya....’, atau ‘sebaiknya ...’ begini atau begitu, yang sifatnya memperbaiki. Memaksakan siswa untuk melakukan tindakan apa pun Memberikan jawaban atas masalah yang ditemui siswa. Beri dorongan pada peserta untuk menemukan jawaban sendiri, jangan memberi ceramah atau nasehat tentang suatu hal.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

15

BAB V MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PELESTARIAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP KELAS I

16

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Bagian Pertama MENGENAL TUMBUHAN DI SEKITAR KITA
1. Tema: Lingkungan di sekitar kita. 2. Pengantar.
Di dalam buku Dunia IPA untuk siswa kelas I, memang tidak mempelajari tentang kehidu­ pan yang ada di sekitar kita, hanya belajar mulai dari diri sendiri, yaitu mengenal anggota badan, sifat benda serta bumi dan alam se­ mesta. Namun dalam pembelajaran ini, akan diperkenalkan kehidupan yang ada di sekeliling kita, khususnya tumbuhan serta belajar hidup sehat dengan memelihara tanaman. Karena dalam materi pembelajaran untuk hidup sehat memerlukan air, udara yang segar. Tumbuhan yang ada di sekitar kita amat ba­ nyak, dan semua dapat dijadikan media bela­ jar langsung. Untuk belajar mengidentifikasi benda dapat menggunakan panca indera yang ada, misalnya penglihatan (mata), penciuman (hidung), perasa (lidah), pendengaran (telinga) dan peraba (kulit). Dalam memperkenalkan lingkungan yang ada disekitar kita bagi siswa sekolah dasar akan menggunakan metode pembelajaran menggunakan panca indera. Kaitannya dengan hidup sehat dan tidak se­ hat, yaitu tentang tempat yang mempunyai bau tidak sedap, misalnya tempat sampah, saluran air (got), parit dsb. • Bungkus makanan yang masih memiliki aroma makanan

5. Metode pembelajaran:
• Bermain dan penggunaan panca indera (penciuman) untuk mendeteksi benda.

6. Uraian Kegiatan:
• Guru menjelaskan mengenai sampah yang dihasilkan oleh setiap orang (anak). Setiap anak pasti menghasilkan sampah, seperti bungkus makanan dan sebagainya. • Berilah pertanyaan, berapa banyak setiap siswa jajan atau membawa makan yang menggunakan bungkus. • Ke manakah bungkus itu dibuang. • Pembelajaran ini menggunakan panca in­ dera. 6.1. Indera Penciuman 1. Ajak anak­anak ke luar kelas, dan berikan permainnan yang sifatnya pe­ nyegaran, agar siswa merasa senang dan gembira. 2. Anak­anak mencari pasangan, kemu­ dian membentuk sebuah lingkaran besar dengan 2 baris. Salah satu pa­ sangan ditutup matanya (atau me­ nutup mata) 3. Guru memberikan selembar daun

3. Tujuan:
• Menceriterakan lingkungan yang sehat dan tidak sehat. • Untuk menguji ketajaman penciuman siswa.

4. Sumber, bahan dan alat:
• Buku ajar SAINS dan IPA Terpadu. • Dedaunan yang mempunyai bau (aroma)

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

17

atau bungkus makanan, kepada siswa yang berada pada lingkaran ke 2 (yang tidak menutup mata) sebanyak be­ berapa buah (Jadi tidak semua anak mendapatkan benda yang dimaksud). Sambil menyanyikan sebuah lagu, benda yang telah diberikan diputar ke teman sebelah kanannya. 4. Setelah guru memberikan aba­aba stop, anak yang membawa benda mendekatkan benda itu ke hidung pasangannya. 5. Siswa mencoba menebak, bau apa­ kah yang ada pada benda tersebut? Syair lagu: (Nada gembira, di sini senang di sana senang) Bermain senang... Bernyanyi riang.... Untuk menebak benda yang dibawa.. Aku ingat, aku ingat .. Benda yang dibawa adalah …..

Catatan untuk Guru: Permainan bisa diulang beberapa kali, se­ suai dengan benda yang diambil sebagai contoh bahan permainan berikutnya. Setelah memainkan permainan tersebut, siswa diajak keliling kelas, atau sekolah un­ tuk melihat dan mencium bau yang kurang enak. Dengan demikian, siswa dapat me­ mahami tentang lingkungan yang kurang sehat, harapannya untuk berbuat dan hidup sehat tidak membuang sampah sem­ barangan. Selain itu dengan adanya tum­ buhan, lingkungan akan terlihat lebih hijau dan segar. 6.2. Mata kamera. Tujuan : 1. Membantu siswa membedakan an­ tara sampah organik dan an­organik. 2. Melatih daya ingat siswa tentang benda yang ditunjukkan (contoh) untuk mencari di alam. 3. Dapat membedakan benda yang satu dengan yang lain, sesuai dengan daya ingat siswa. Bahan dan materi : 1. Kain putih 1 x 1,5 meter atau beberapa lembar kertas koran. 2. Sampah daun (organik) dan sampah plasti/kaleng (an-organik), sampah lain yang bisa didaur ulang (kertas karton dsb). Uraian Kegiatan : 1. Ajak siswa ke luar ruangan untuk melakukan permainan ini, dan beri­ kan permainan yang menggembi­ rakan.

18

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

2. Siapkan kain putih atau kertas koran untuk alas bahan permainan. 3. Siapkan beberapa sampah dengan berbagai jenis, misalnya daun (de­ ngan berbagai jenis daun), sampah plastik bungkus makanan (dengan berbagai jenis), kertas. 4. Letakkan sampah tersebut di koran atau kain putih, kemudian tutup.. 5. Kumpulkan siswa (dengan memben­ tuk lingkaran atau membentuk huruf U) untuk melihat materi yang ada dalam bungkusan kain putih atau kertas koran. 6. Jelaskan tugas setiap siswa. Tugas mereka adalah mencari barang/sam­ pah atau benda yang contohnya ada di dalam bungkusan kain atau kertas koran. 7. Kain atau koran dibuka, dan berikan hitungan 10 – 20, agar siswa dapat melihat dan mengingat benda yang ada di dalam bungkusan tersebut. Kemudia tutup kembali. 8. Berikan waktu 15 menit, agar siswa dapat menemukan barang yang di­ tunjukkan dalam bungkusan kertas koran atau kain putih. 9. Langkah berikutnya adalah siswa di­ kumpulkan kembali untuk menun­ jukkan hasil pencariannya. 10.Sebelumnya buka kain putih atau kertas koran dan benda­benda yang ada di dalam di atur agar siswa dapat mengelompokkan hasil kerjanya me­ ngumpulkan sampah. 11.Ajaklah diskusi, menurut pendapat mereka tentang sampah. 12. Jelaskan mengenai sampah plas­ tik (yang sulit untuk membusuk)

dan sampah daun yang mudah membusuk. 13.Ajaklah siswa untuk membuang sampah yang telah dikumpulkan ke tempatnya. Catatan untuk guru: Permainan dengan panca indera berikut­ nya adalah menggunakan indera peng­ lihatan. Siswa diajak mengidentifikasi benda­benda yang diambil sebagai contoh dan mencocokkannya dengan mencari benda tersebut yang ada di sekitar kita. Terkait dengan pengenalan bagian tum­ buhan, contoh dapat diambil dari bagian tumbuhan, seperti daun, bungan, kulit dan sebagainya.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

19

Bagian Kedua MENGENAL SATWA DI SEKITAR KITA
1. Tema: Kita dan Lingkungan 2. Pengantar
Lingkungan yang ada di sekitar kita (rumah atau sekolah), sebenarnya dapat dijadikan tempat pembelajaran secara terbuka, un­ tuk mengenal mahluk hidup yang ada di sekitar kita. Untuk pengenalan satwa, ada beberapa yang dapat dilakukan, dengan berbagai permainan dan simulasi langsung di luar kelas. Dalam buku mata pelajaran IPA, materi mengenal kehidupan di sekitar kita, khu­ susnya kehidupan satwa memang belum diajarkan, namun pengenalan flora fauna akan lebih baik sedini mungkin diperke­ nalkan, dengan berbagai metode bermain yang menyenangkan.

6. Uraian Kegiatan
6.1. Memperagakan suara satwa. Mengidentifikasi satwa: dilakukan dengan pendengaran. Dalam permianan ini, siswa membunyikan suara satwa. Uraian Kegiatan : 1. Permainan ini adalah tebak­tebakan antar kelompok. 2. Bagi siswa menjadi 3­4 kelompok, sesuai dengan jumlah siswa dalam kelas. Paling sedikit satu kelompok 5 anak. 3. Berilah arahan agar siswa memaha­ mi suara satwa/binatang 4. Kemudian satu persatu setiap ke­ lompok menyuarakan suara bina­ tang tersebut.

3. Tujuan :
• Menceriterakan tentang jenis fauna. • Memperagakan bentuk satwa yang ada di sekitar kita.

4. Sumber, bahan dan alat.
• Buku pelajaran sekolah Sains da IPA Ter­ padu.

5. Metode Pembelajaran
• Bermain dan simulasi.

20

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

5. Kelompok lain menebak. 6. Ajaklah diskusi, di mana satwa itu dapat ditemui, hidupnya di mana dan ciri-cirinya seperti apa (bila ada tunjukkan gambar yang dimaksud). 6.2. Memperagkan bentuk satwa 1. Imajinasi anak­anak satu sama lain me­ mang berbeda, ada yang mempunyai pengalaman dengan berbagai kegiatan, membaca, melihat, menonton. Dalam permianan ini, kita akan melihat daya imajinasi anak terhadap kehidupan bi­ natang atau tumbuhan yang ada diseki­ tar kita, dengan memperagakan bentuk satwa atau tumbuhan itu dengan ge­ rakan. Uraian Kegiatan : 1. Permainan ini adalah tebak­tebakan antar kelompok, kalau memungkin berikan permainan yang menggem­ birakan. 2. Bagi siswa menjadi 3­4 kelompok, sesuai dengan jumlah siswa dalam kelas. Minimal 5 siswa dalam satu kelompok 3. Berilah arahan agar siswa memaha­ mi bentuk satwa/binatang atau tum­ buhan apa yang akan diperagakan (tanpa membunyikan suara bina­ tangnya). 4. Kemudian satu persatu setiap ke­ lompok memerankan binatang yang dimaksud. 5. Kelompok lain menebak. 6. Ajaklah diskusi, mengapa bentuk bi­ natang seperti itu, dimana satwa itu dapat ditemui, hidupnya dimana dan ciri-cirinya seperti apa (bila ada tun­ jukkan gambar yang dimaksud).

Catatan untuk guru: Akhir permainan ini guru dapat menjelas­ kan mengenai satwa yang ada di sekitar kita. Misalnya penyebaran, makanan, an­ caman kepunahan, perkembangbiakan, satwa yang dilindungi dsb. Dengan gambar­ gambar yang ada. 6.3. Memperagakan bentuk dan suara satwa 2. Bahan dan alat: • Poster atau lembaran tentang satwa yang dilindungi. • Tulisan huruf inisial satwa, Misalnya G (Gajah), H (Harimau), B (Beruang) dsb, atau membuat huruf abjad. • Huruf yang sudah disiapkan, di ba­ gian belakang akan ditulis nama sat­ wa yang dimaksud dengan beberapa keterangan yang diperlukan. Misal­

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

21

nya ciri­ciri, ukuran tubuh, Habitat, penyebaran, status dsb. Uraian Kegiatan 1. Guru membagi siswa menjadi 4 – 5 kelompok kecil, dan membagi­ kan gambar (sudah disiapkan) ke­ pada setiap kelompok. 2. Siswa diharapkan untuk mem­ pelajari gambar yang diberikan, dan dapat memperagakan satwa tersebut, sekaligus menyuarakan bunyi satwa yang dimaksud. 3. Kelompok lain diharapkan untuk memperhatikan peragaan dari kelompok yang sedang memper­ agakan, kemudian menebak sat­ wa yang dimaksud. 6.4. Menebak satwa 1. • Guru membuka poster atau lem­ baran satwa yang sudah disiapkan dengan menunjukkan berbagai jenis satwa yang ada dalam poster terse­ but. • Siswa menyebutkan satu persatu dengan mengeja gambar yang ada dan mengingatnya. • Kemudian guru menutup gambar tersebut. • Langkah selanjutnya, guru meng­ hambil huruf inisial satwa (sudah di­ siapkan). • Kemudian siswa menebak huruf yang dimaksud adalah satwa yang ada dalam poster sebelumnya. • Bila siswa sudah menebak, guru menjelaskan satwa tersebut (kete­ rangan sudah ada di baliknya). 6.4. Menebak satwa 2: Siapa aku Permainan ini dapat dimainkan di dalam dan di luas kelas. 1. Ajak siswa ke luar ruangan atau di dalam ruangan/aula. 2. Bacakan pertanyaan di bawah ini. 3. Bila siswa dapat menjawab pertan­ yaan pertama, maka siswa disilahkan untuk duduk. 4. Dan seterusnya bila menjawab per­ tanyaan 2, 3 dan seterusnya. 5. Pada pertanyaan terakhir sudah bisa dimengerti, maka sambil berdiri, siswa menirukan satwa yang dimaksud. Contoh beberapa pertanyaan, dan guru dapat mengembangkan sesuai dengan satwa yang ada di sekitar kita. Misalnya satwa yang dilindungi, atau binatang peliharaan yang ada di lingkungan kita.

22

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

No
1.

Harimau
Semasa kecil: Waktu aku lahir, rupaku sudah mirip de­ ngan ibuku, kadang­kadang aku dilahirkan kembar. Aku termasuk binatang mamalia.. Penyebaran: Di Indonesia, aku mempunyai banyak saudara, seperti di Bali dan di Jawa. Namun kedua saudaraku saat ini sudah punah. Kini tinggal aku, hidupku di Pulau Sumatera, dan aku sudah dilindungi oleh undang­undang, karena jumlahku di alam sudah semakin berkurang akibat perbu­ ruan Musuh Alam: Aku suka memangsa binatang yang ada di alam, namun saat ini di beberapa dae­ rah sudah susah untuk mencari mangsa, kadang aku mencari di desa­desa. Aku sering diburu oleh manusia untuk diambil bagian tubuhku, dan harganya sangat mahal. Perilaku: Makananku adalah daging sehingga aku disebut binatang karnivora. Aku sudah dilindungi undang­undang, dan jumlah populasi di hutan Sumatra lebih kurang 500 ekor Ancaman: Hidupku di hutan, tetapi tempat hidupku semakin menyempit akibat dari peneba­ ngan hutan Ciri­ciri khusus: Aku memiliki kulit yang indah, warna ku­ ning, loreng sehingga banyak orang yang menyukai kulitku untuk dikoleksi.

Capung
Aku dilahirkan/ditetaskan di dalam air, oleh indukku. Selama masih di dalam air, aku me­ makan berbagai jenis binatang kecil, seperti anak ikan, kecebong dsb. Musuhku di dalam air juga cukup banyak, seperti ikan yang sering mengejarku untuk me­ mangsaku. Tetapi aku sering menyemprotkan air ke berbagai jenis ikan yang akan menang­ kaku, dan aku berenang secepatnya untuk menghindar. Aku hidup di dalam air sampai waktu yang cukup lama, mencapai 2 – 5 tahun, sebelum aku berubah bentuk. Setelah berubah bentuk, aku bisa terbang. Aku mempunyai 2 pasang sayap yang indah. Aku mempunyai mata yang besar yang terdiri dari mata kecil yang banyak atau majemuk. Dengan mata majemuk ini, aku dengan mudah mencari mangsa atau menghidar dari musuh.

2.

3.

4.

Aku bisa terbang ke atas, ke depan, ke be­ lakang atau ke bawah. Sehingga manusia me­ niru bentukku atau perilakuku untuk membuat sebuah helikopter.

5.

Bangsanku ada ada 2 kelompok, ada yang kecil seperti jarum, ada pula yang besar dengan rentangan sayap hampir 20 sentimeter.

6.

Aku sering menangkap mangsa di padang rumput, makananku serangga kecil, atau aku kadang memakan bangsaku sendiri yang lebih kecil. Kata manusia aku dapat dijadikan indika­ tor suatu tempat yang belum tercemar oleh pestisida. Tahukah kalian siapa aku? .

7.

Siapa aku?

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

23

Bagian Ketiga PERANAN TUMBUHAN DALAM KEHIDUPAN KITA
1. Tema: Lingkungan di sekitar kita. 2. Pengantar
Rumahku adalah surgaku, tetapi bagi makh­ luk hidup yang tiggal di hutan, hutan dan pohonku adalah tempat tinggalku. Tempat tinggal bagi berbagai jenis makhluk hidup yang lain. Misalnya satu pohon beringin, bila kita amati pada saat berbuah, maka akan kita temukan berbagai jenis binatang yang mencari makan pada pohon tersebut. Di dalam hutan tropis, satu pohon yang be­ sar bila kita amati dengan seksama, maka di sana akan kita temukan berbagai mahluk hidup, mulai dari yang mikroskopis, berba­ gai jenis serangga, sampai jenis burung dan mamalia. Tak hanya binatang saja yang ada, namun juga tempel menempel berbagai je­ nis tumbuhan seperti paku-pakuan, jamur, lumut bahkan anggrek.

5. Metode Pembelajaran
• Simulasi dan permainan.

6. Uraian kegiatan
6.1. Permainan: Peranan tumbuhan bagi kehidupan makhluk lain. Hampir semua makhluk hidup yang ada di bumi ini memerlukan pohon, baik se­ cara langsung ataupun tidak. Bagi yang langsung memerlukan pohon, adalah se­ bagai sumber makanan, tempat tinggal, tempat bersarang, tempat untuk tidur. Umumnya satu batang pohon yang be­ sar, tempat berbagai satwa untuk hidup. Sehingga kehilangan pohon di hutan, akan mengakibatkan beberapa satwa kehilangan tempat tinggal dan tempat berbiak, yang mengakibatkan terjadinya penumpukan satwa pada satu tempat. Lambat laun akan terjadi persaingan, siapa yang kuat yang menang dan yang kalah akan tersisih atau bahkan mati. 1. Jelaskan terlebih dahulu mengenai kehidupan mahluk hidup satu sama lain saling tergantung, khsusunya tumbuhan dan binatang. 2. Ajaklah siswa ke luar ruangan. 3. Pilihlah 15 orang anak, dan buatlah kelompok kecil, membuat lingkaran kecil (jadi ada 5 kelompok, setiap kelompok 3 siswa), dan mereka ber­ peran sebagai pohon, tergantung dari jumlah siswa dalam satu kelas.

3.Tujuan:
• Mendemonstrasikan peranan tumbu­ han dalam kehidupan, khususnya tem­ pat hidup berbagai jenis binatang. • Siswa memahami bahwa mahluk hidup saling tergantung satu sama lain.

4. Sumber, bahan dan alat
• Buku ajar Sains dan IPA. • Poster pohon dengan berbagai kehidupan.

24

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

4. Tunjuklah 3 siswa, yang nantinya berperan sebagai penebang pohon. 5. Anak­anak (sisanya) untuk berperan sebagai binatang, sesuai dengan ke­ sukaan mereka. 6. Satu pohon mempunyai beberapa binatang, dan binatang itu dalam suatu lingkaran kecil. 7. Sambil menyanyikan lagu yang gembira (adakah lagu daerah yang menggembirakan yang berceritera tentang keindahan alam, flora dan fauna). Kalau tidak bisa menyanyikan lagi ”burung kutilang”. Syair di bawah ... 8. Kemudian 3 orang anak datang se­ bagai penebang pohon, dengan mem­ bunyaikan gergaji mesin dan meraung­ raung. Menebang 1 pohon, terus binatang yang ada lari menyelamatkan diri dan hinggap di pohon lain. 9. Suruh menghitung, berapa binatang saat ini ada, yang semula hanya 3­4 binatang. 10. Ulangi poin (8), dan binatang lari menyelamatkan diri. Berapa bina­ tang saat ini setiap pohon. 11. Akhirnya ditebang semua dan disi­ sakan 1 pohon. Saat ini berapa bina­ tang yang hinggap pada satu pohon. 12. Diskusikan apa yang terjadi bila semua pohon ditebang? Alangkah baiknya kita memelihara lingkungan, melestarikan hutan agar kehidupan dapat lestari. Catatan bagi guru : Kejadian seperti ini sudah terjadi di sekitar kita, sehingga bangak sekali berita gajah mengamuk dan memasuki perkampungan,

itu karena tempat tinggalnya berkurang, ditebang atau lahannya untuk pertani­ an dan perkebunan, sehingga satwa ini kekurangan tempat tinggal dan kekurangan makan. Akhirnya menyerang lahan pen­ duduk yang dulunya memang tempat ting­ gal mereka. Hal seperti ini juga terjadi pada kehidupan manusia, kehidupan di kota sudah saling berdesak­desakan satu sama lain. Apa yang bisa kita lakukan ? Bisa menyanyikan lagu Burung kutilang, na­ mun syair sedikit dirubah .. Di pucuk pohon yang rindang .. Banyak berbagai binatang ... Bernyanyi-nyanyi riang gembira Dengan tak jemu-jemu .. Mengangguk angguk sambil menari Trilili..lili..lili...liliiiiii ...............2x Kemudian datang penebang

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

25

BAB VI MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PELESTARIAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP KELAS II

26

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Bagian Pertama Mengenal Kehidupan Tumbuhan di sekitar kita
1. Tema: Lingkungan di sekitar kita. 2. Pengantar:
Tumbuhan di hutan, mempunyai ciri­ciri yang sangat khas, baik jenisnya maupun cara hidupnya. Misalnya tumbuhan yang hidup di pesisir berbeda dengan yang hi­ dup di pegunungan. Tumbuhan juga mempunyai perilaku sep­ erti satwa yang bergerak. Mereka melakukan kompetisi untuk memperrebutkan makanan, udara atupun sinar matahari. Sehingga sering kita jumpai tumbuhan yang mati karena ka­ lah bersaing dengan tumbuhan lain. Seperti akar liana yang merambat pada tumbuhan induk atau beringin pencekik, saat masih kecil menumpang tumbuh di pohon inang, setelah besar, mematikan pohon inang. Persaingan dalam hidup juga ditunjukkan dengan tumbuhnya akar banir, akar nafas atupun mengeluarkan zat alelopati yang dapat mematikan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Atau bagian­bagian tumbuhan menyesuaikan dengan lingkungan seperti akar bakau yang hidup di dalam air. Tumbuhan ada yang dapat menyuburkan tanah karena membantu mengikat nitro­ gen dari udara bebas, tetapi ada pula tum­ buhan yang rakus air.

Di dalam buku ajar kelas dua, materi yang diajarkan mengenal hewan dan tumbuhan. Oleh karena itu dalam bagian ini, hanya akan memberikan metode pembelajaran yang menyenangkan untuk mengenal he­ wan dan tumbuhan yang ada di sekitar kita.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

27

3. Tujuan :
• Memahami flora yang ada di sekitar kita. • Memahami bentuk bagian tumbuhan. • Mengetahui beberapa bagian dari tum­ buhan. • Mengidentifikasi berbagai flora yang ada di sekitar kita

• Dijelaskan semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah dan bagian lainnya 6.1. Permainan: Mata Kamera 1. Siswa diajak ke luar ruang kelas, dan berikan mainan yang menggembi­ rakan. 2. Guru menyiapkan beberapa bagian tumbuhan seperti daun, bunga, buah atau bagian tumbuhan yang lain, dengan jenis yang berbeda. 3. Sedangkan siswa diharapkan mem­ bawa kertas/buku dan alat tulis, kalau bisa membawa pinsil warna atau krayon. 4. Bagian dari tumbuhan sebelumnya di­ bungkus dengan kain atau kertas koran. 5. Siswa berkumpul membuat sete­ ngah lingkaran, melihat bungkusan yang sudah disiapkan. 6. Guru membuka bungkusan itu, dengan hitungan 10 kali, kemudian ditutup kembali. Dan sebelumnya menjelaskan kepada siswa untuk memperhatikan isi bungkusan dan

4. Sumber, bahan dan alat
• Buku ajar Kelas II, Sains dan IPA/Terpadu • Poster (Bagian tumbuhan). • Materi mengenal bagian tumbuhan akan dicetak berupa poster atau po­ tongan gambar, sehingga guru mudah menjelaskan kepada siswa, sebelum siswa diajak ke luar kelas.

5. Metode Pembelajaran :
• Simulasi dan Permainan.

6. Uraian Kegiatan
• Guru memilih salah satu pohon atau membawa tanaman pot, dan menjelas­ kan kepada semua siswa bagian bagian tumbuhan yang ada.

28

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

menggambar setelah dibuka, sesuai dengan keinginan setiap siswa. 7. Siswa diharapkan menggambar ka­ lau bisa mewarnai hasil karyanya. 8. Berikan waktu 15­30 menit untuk menggambar. 9. Diskusikan, dan setiap siswa sebisa mungkin menjelaskannya dan menulis­ kan (sambil belajar menulis). Catatan bagi Guru: Permainan ini dapat dimodifikasi untuk pengenalan bentuk daun, misalnya daun yang meruncing, seperti pita, bulat dsb. Permana dan simulasi pada pelajaran kelas satu, juga dapat dimainkan dalam permain­ an dan simulasi kelas dua, karena sifatnya terbatas pada pengenalan tumbuhan dan hewan secara mendasar. 6.2 Permaian II: Warna­warni tumbuhan. Tujuan : 1. Siswa mengetahui bahwa hutan tro­ pis atau tumbuhan yang ada di seki­ tar kita itu berwarna-warni, tidak hanya berwarna hijau. 2. Kreatifitas anak-anak. Bahan dan alat : Kertas karton yang sudah ditempel dobeltip, atau potongan kertas kar­ ton dan lem.

Uraian kegiatan : 1. Bagikan potongan karton dengan ukuran poscard (kartu pos), yang su­ dah ditempel dengan dobelotip atau potongan karton dengan lem. 2. Ajaklah ke luar ruangan, dan siswa bertugas untuk mengumpulkan ba­ gian dari pohon baik yang kering atau yang masih segar. Kemudian menempelkan pada karton. Berilah contoh yang sudah jadi (misalnya) 3. Siswa diberikan kebebasan untuk berkreasi dari bagian pohon terse­ but, misalnya membuat gambar, lukisan atau tulisan. Catatan bagi guru : Hutan tidak hanya berwarna hijau, dalam kenyataanya, dengan dibuktikan permain­ an ini. Warna di dalam hutan juga menjadi strtegi tumbuhan di dalam hidupnya. Misal­ nya buah selalu berwarna hijau ketika ma­ sih mentah dan warna merah atau kuning saat sudah masak. Strategi ini dimaksudkan bila sudah masak dengan berubah warna yang mencolok, dengan harapan dapat mengundang binatang, seperti burung, atau mamalia lain, untuk mengambilnya atau memakannya. Sehingga tumbuhan itu dapat dibantu dalam penyebaran biji. Suatu sisi kehidupan yang unik di dalam hutan.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

29

Bagian Kedua MENGENAL KEHIDUPAN HEWAN DI SEKITAR KITA

1. Tema: Alam Sekitarku 2. Pengantar:
Semua binatang mempunyai tempat ting­ gal masing masing, dan umumnya ter­ gantung dari makanannya atau sumber makanannya. Tentang tempat hidup ada yang luas seperti hutan, atau perairan, na­ mun beberapa satwa mempunyai tempat tinggal yang lebih khusus. Misalnya hutan mangrove, hutan pantai, pegunungan dan sebagainya.

berapa jenis binatang yang ada di seki­ tar kita. • Mengidentifikasi berbagai binatang yang ada di sekitar kita.

4. Sumber, bahan dan alat :
• Buku ajar IPA, Sains.

5. Metode pembelajaran :
• Simulasi dan permainan

6. Uraian Kegiatan
6.1. Permainan suara binatang. • Berilah permainan pembuka, untuk mencairkan suasana. • Bagi siswa menjadi beberapa kelom­ pok, tergantung dari jumlah siswa

3. Tujuan:
• Menceriterakan kehidupan di sekitar kita khusus tentang hewan. • Mendiskripsikan dan mengetahui be­

30

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

yang ada di dalam kelas. Minimal 5 siswa per kelompok. • Berikan masing-masing kelompok dengan gambar yang sudah disediakan. • Kemudian setiap kelompok menyu­ arakan suara binatang yang dimak­ sud, dan kelompok lain menebak suara binatang tersebut. 6.2. Permainan tebak satwa: makanan, tempat hidup, peragaan satwa. • Bagilah dua kelompok, atau bila jum­ lah siswa pria dan wanita seimbang, coba dibagi berdasarkan jenis kela­ min, agar sedikit tampil beda. • Kelompok I membawa huruf yang sudah disediakan. Kemudian menan­ yakan kepada kelompok lainnya. Misalnya huruf G. Bila kelompok II bisa menebak, tolong tirukan suara binatang itu dan peragakan ben­ tuknya, makanannya apa.

• Demikianlah seterusnya, dan seka­ rang kebalikannya kelompok dua yang menanyakan dengan menunjukkan Huruf inisial. Misalnya H (Harimau) dsb. Catatan untuk guru: Dalam permainan ini guru dapat memberi­ kan penjelasan tentang berbagai jenis suara binatang, bentuknya, makanannya dan tem­ pat tinggalnya. Terkait dengan tempat tinggal satwa atau habitat, diberikan contoh berbagai jenis yang sederhana. Misalnya Ikan, amphibi, ular, burung, gajah, serangga dsb. Pada metode pembelajaran mengenai pe­ ngenalan satwa kelas satu, juga dapat digu­ nakan untuk siswa kelas dua, tinggal memodifikasi dengan berbagai bentuk permainan. Misalnya tebak suara, peragaan tumbuhan atau binatang, sehingga pada metode pem­ belajaran ini, dapat memperkaya cara untuk penyampaian materi pelajaran.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

31

Bagian Ketiga PERTUMBUHAN TUMBUHAN
1. Tema : Lingkungan di sekitar kita 2. Pengantar
Semua mahluk hidp mengalami pertumbu­ han, termasuk tumbuhan yang ada di seki­ tar kita. Tumbuhan mempunyai bagian ba­ gian tubuh yang berbeda dan disesuaikan dengan fungsinya, misalnya akar, batang, daun atau bagian lainnya. Bentuk bagian tumbuhan jenis yang satu dengan yang lain umumnya berbeda, dan biasanya sesuai dengan tempat hidup, atau sifatnya dalam mendapatkan makanan. Dalam buku ajar materi tentang pertum­ buhan hewan dan tumbuhan, telah banyak dibahas mengenai berbagai jenis contoh tentang pertumbuhan hewan dan tana­ man. Sehingga dalam materi ini hanya akan menambahkan beberapa metode pembe­ lajarannya.

3. Tujuan:
• Mengidentifikasi bagian tumbuhan • Memahami fungsi bagian tumbuhan. • Merasakan (rasa empati) bagaimana menjadi sebatang pohon yang sedang tumbuh.

6. Uraian Kegiatan:
6.1. Permainan berperan sebagai pohon. • Sebelumnya berilah permainan po­ hon yang tertiup angin untuk memecahkan suasana agar lebih meriah. • Peserta tutup mata, dan membayangkan sebagai biji yang jatuh dari pucuk pohon.

4. Sumber, bahan dan alat
• Materi pembelajaran IPA/terpadu. • Tutup mata

5. Metode Pembelajaran
• Simulasi dan permainan

32

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

• Kemudian tumbuh, tumbuh dan tumbuh menjadi pohon. Angin, ba­ dai dan hujan turun. Kemudian ber­ bunga dan berbuah. • Setelah itu datanglah rombongan satwa yang memakan buah­buahan yang ada. • Bagaimana peserta merasakan se­ bagai tumbuhan yang dibutuhkan oleh banyak satwa. • Dalam permainan ini sengaja tidak diberikan atau digambarkan dengan perusakan hutan yang selama ini ter­ jadi. Karena untuk siswa diusahakan selalu “Happy Ending”. • Setelah itu mereka memberikan ke­ san­kesan. Umumnya yang melaku­ kan dengan serius serta meresapi­ nya akan merasakan batapa pohon itu diperlukan oleh banyak satwa. Bagaimana kalau hal itu rusak? Catatan bagi guru: Pohon memberikan segalanya bagi kehidu­ pan, oksigen yang dihasilkan untuk semua mahluk hidup yang bernafas, buah untuk semua satwa/manusia, biji untuk satwa seperti burung, daun untuk sebagian bina­ tang, kayu untuk kehidupan manusia. Buat­ lah diskusi bagaiman rasanya berperan se­ bagai pohon. Bagaimana pohon yang mulia ini kalau habis, dan apa yang akan terjadi? Agar lebih menarik, maka guru memba­ cakan alur ceriteranya, atau siswa dapat juga membacakannya. Misalnya sebuah ceitera atau puisi, bebas berkreasi, atau dikemas dengan sebuah nyanyian. Pertumbuhan pohon, bertahanlah engkau. Ada biji pohon yang sedang tumbuh,

Hujan yang menyiram, dan matahari menyinari, Tumbuh dan tumbuh menjadi besar, Semakin tinggi .. Berbunga, Berbuah, Dan memberikan makanan untuk kehidupan. Seperti manusia, binatang juga ikut menikmati seperti monyet, burung, serangga untuk mengisap madunya dan membantu penyerbukan .. Bertahanlah pohonku karena engkau membantu dalam kehidupan ... 6.2. Melukis pohon. • Berilah permainan yang menggem­ birakan. • Peserta membawa alat tulis, atau kalau ada membawa kertas gambar dan pinsil warna/krayon. • Ajaklah siswa ke pohon yang ter­ dekat, dan siswa memulai meng­ gambar bagian pohon yang mereka sukai. Misalnya bunga, buah, daun, kulit pohon atau akar dan batang. • Kemudian siswa menceriterakan gambar yang mereka buat, apa fungsinya dalam kehidupan pohon tersebut. Catatan untuk guru: Semua pohon mempunyai fungsi masing­ masing untuk menunjang kehidupan. Bisa juga menjelaskan fungsi masing­masing ba­ gian tubuh sesuai dengan pelajaran. Terkait dengan pelestarian alam adalah, pohon mempunyai fungsi untuk menyimpan air (akarnya), penghasil oksigen (daunnya saat terjadi fotosintesa) dsb.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

33

Bagian Keempat PERTUMBUHAN HEWAN

1. Tema: Lingkungan di sekitar kita 2. Pengantar
Hewan juga mengalami pertumbuhan, dari waktu ke waktu tumbuh berkembang men­ jadi besar. Bagian tubuh binatang satu jenis yang satu dengan yang lain juga berbeda, tergantung dari jenisnya, makanannya dan tempat hidup atau mencari makan. Misal­ nya jenis mamalia, mempunyai anggota tubuh yang berlainan. Jenis karnivora akan berkembang bagian tubuh yang sesuai dengan makanan untuk menangkap. Atau­ pun burung, mempunyai bentuk paruh, bentuk kaki yang berlainan satu sama lain tergantung dari jenis makanan dan tempat tinggalnya. Begitupula jenis binatang yang ada di sekitar kita, mulai dari serangga, ikan, amphibi dsb.

3. Tujuan
• Mengidentifikasi bagian tubuh hewan • Memahami fungsi bagian tubuh hewan • Rasa empati terhadap kehidupan.

6. Uraian Kegiatan:
6.1. Permainan: Puzzle 1. • Berikan permainan pembuka yang menyenangkan, seperti pindah tem­ pat, tongji­tongji atau yang lain se­ perti yang ada dalam buku ini. • Siapkan beberapa gambar yang su­ dah dipotong­potong dan masukan ke dalam amplop.

4. Sumber, bahan dan alat
• Materi pembelajaran SAIN dan IPA/Ter­ padu

5. Metode Pembelajaran
• Simulasi dan permainan

34

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

seekor binatang kesayangannya atau yang dikenal • Kemudian bacakan lagu atau puisi atau sebuah ceritera tentang bina­ tang, Misalnya: Wahai binatang yang hidup di alam Indah warnamu, bagus suaramu ... Bebas hidup kesana ke mari Mencari makan sesuka hati Bersama keluargamu dan temanmu engkau berjalan Engkau hidup damai di dalam hutan Kasihan engkau saat terjerat Hingga tubuhnya menjadi sekarat • Berikan setiap kelompok satu am­ plop, dan berilah tugas untuk me­ nyatukan gambar sesuai dengan gambar yang sebenarnya. • Tugas siswa menebak, satwa apakah itu ? 6.2. Permainan: Puzzle 2 • Gambar sudah disediakan, berupa puzle satwa yang dilindungi. • Tugas siswa adalah menyatukan po­ tongan bagian tubuh hewan. Wahai manusia jangan ganggu hidup mereka Biarkan hidup bebas dan merdeka Catatan bagi guru: Untuk permainan 1 dan 2, guru dapat menjelaskan tentang satwa yang ada dalam puzle tersebut, kemudian dijelaskan tentang fungsi atau bentuk anggota tubuh disesuai­ kan dengan makanannya, habitatnya dsb. Misalnya fungsi belalai pada gajah atau taring pada harimau, atau sayap pada burung dsb. Untuk permainan 3, dapat dibuat ceritera atau puisi atau lagu dan dinyanyikan ber­ sama, sehingga dapat memberikan kesan bagi siswa tentang hidup berperan seba­ gai satwa. Akhir permainan diskusikan, bagaimana seandainya yang berperan se­ bagai satwa tersebut ditangkap oleh ma­ nusia, senangkah hidup mereka (tanyakan kepada yang berperan sebagai satwa).

6.3. Berperan sebagai hewan. • Pilih beberapa anak yang akan me­ merankan sebagai hewan, berikan kebebasan untuk memilih binatang kesukaannya. • Anak yang dipilih untuk berperan sebagai satwa ditutup matanya, dan membayangkan bila ia menjadi

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

35

Bagian Kelima TEMPAT HIDUP BINATANG

1. Tema: Alam disekitarku. 2. Pengantar:
Binatang memerlukan tempat tinggal untuk hidupnya, misalnya berkembang biak, membesarkan anaknya dan mencari makan. Namun setiap binatang tempat tinggalnya satu sama lain berbeda. Ada yang hidup di pohon, di perairan atau di dalam tanah. Selain itu penyebarannya pun berlainan, ada yang hidup di puncah bukit,

di dataran rendah ataupun di lautan. Untuk memperkenalkan tempat tinggal binatang, ada beberapa simulasi yang dapat dikem­ bangkan, agar siswa memahami, mengerti dan dengan harapan turut serta bentindak untuk penyelamatannya. Dalam mata pelajaran kelas 2, sudah dijelas­ kan berbagai tempat hidup satwa, sehingga buku ini lebih menguatkan dalam metode pembelajaran yang berupa permainan.

36

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

3. Tujuan:
• Menceritakan tempat tinggal bianatang (yang hidup liar liar dan bukan yang di­ pelihara) di alam. • Menyebutkan jenis-jenis habitat (tempat tinggal) yang diketahui di sekeliling kita.

4. Sumber, bahan dan alat
• Buku pelajaran sekolah Sains, IPA.

5. Metode Pembelajaran
• Simulasi dan permainan

6. Uraian Kegiatan:
6.1. Permainan: Pindah tempat 1. Sebelum memainkan permainan ini, akan lebih meriah bila siswa di­ berikan permainan yang menggem­ birakan, dan konsentrasi, misalnya tepuk dada.

2. Lingkaran yang sudah terbentuk, dilanjutkan dengan permainan inti, yaitu pindah tempat. 3. Setiap siswa diharapkan di depannya ada sebuah tanda, misalnya seperti sepatu, daun, kertas ata benda lain­ nya.. 4. Guru di depan lingkaran, dan mem­ berikan aba­aba. Misalnya siapa yang menggunakan sepatu warna hitam. Maka semua siswa yang me­ makai sepatu hitam pindah tempat. 5. Guru yang memberi aba­aba juga pindah tempat mencari tempat yang kosong. Bagi siswa yang tidak mendapatkan bagian, berdiri di tengah lingkaran, dan mengganti­ kan peran guru untuk memberikan aba­aba. 6. Demikian seterusnya.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

37

Catatan untuk guru: Setiap mahluk hidup mempunyai tempat tinggal, dan mereka selalu bergerak dari satu tempat yang satu ke tempat yang lain untuk mencari makan atau berbiak. Ada bi­ natang yang selalu melakukan migrasi dari tempat tinggal asalnya. Khususnya bagi binatang yang tinggal di tempat yang me­ miliki perubahan musim. Binatang di hutan juga ada yang selalu melakukan kompetisi, untuk merebutkan bahan makanan. 6.2. Permainan: Habitat Satwa. Tujuan: Memahami berbagai habitat/ tempat tinggal satwa. Alat/bahan: Berbagai jenis gambar habi­ tat dan binatang. • Tunjuk lebih kurang 10 siswa, yang nantinya akan berperan sebagai habitat. • Siapkan dengan berbagai gambar, sesuai dengan habitat. Misalnya Hu­ tan bakau, hutan tropis, sungai, laut, pohon, padang pasir. Atau tulisan yang menunjukkan sebuah habitat/ tempat inggal satwa. • Siswa yang berperan sebagai habitat, berpisah dan lebih kurang berjarak 15­25 meter jaraknya dengan posisi siswa yang berperan sebagai satwa. • Siswa yang tidak berperan sebagai habitat, diberikan beberapa gambar satwa yang ada, atau siswa menu­ liskan satwa yang mereka sukai. Misalnya berperan sebagai burung bangau, burung elang, ikan, gajah, harimau, kancil, serangga dsb. • Kemudian berikan aba-aba siswa tersebut lari mencari habitat yang sesuai dengan hidup satwa.

Catatan untuk guru : Setiap satwa memiliki habitat yang khas, namun ada pula yang dapat hidup di berb­ agai jenis habitat, tergantung makanannya. Siswa akan memilih sesuai dengan keingi­ nannya, dan guru bisa mengarahkan, se­ baiknya siswa yang berperan sebagai satwa memilih habitat yang benar. Kaitannya dengan usaha pelestarian alam adalah, kini semakin banyak satwa yang kehilangan habitat, sehingga sering mema­ suki perladangan dan memakan tanaman masyarakat. Diskusikan, bagaimana seandainya mere­ ka yang berperan sebagai satwa tak ada pilihan dalam mencari habitatnya, misalnya ditebang atau hancur, sehingga habitatnya rusak ?

38

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

BAB VII MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PELESTARIAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP KELAS III

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

39

Bagian Pertama LINGKUNGAN SEHAT

1. Tema: Lingkungan di sekitar kita 2. Pengantar
Apa sebenarnya yang disebut dengan lingkungan yang sehat dan tidak sehat, coba tanyakan kepada siswa di dalam ke­ las. Mungkin akan berbeda pendapat satu sama lain. Pendapat anak perkotaan, mungkin berbeda dengan siswa di perde­ saan. Sehingga untuk menentukan hal ini ada batasan yang dapat dipahami oleh siswa.

3. Tujuan:
• Mengidentifikasi lingkungan sehat dan tak sehat, menurut siswa.

4. Sumber, bahan dan alat
• Buku pelajaran IPA dan Sains.

5. Metode pembelajaran
• Permainan dan simulasi.

6. Uraian kegiatan
6.1. Mengidentifikasi lingkungan yang sehat.

40

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Dalam simulasi dan pengamatan lang­ sung ini, lebih terfokus pada siswa un­ tuk melihat ke lingkungan yang ada di sekitar kita. • Berilah permainan pembuka, untuk mencairkan suasana, sehingga siswa senang dan bergembira. • Siapkan 2 gelas air mineral, kosong­ kan gelas yang satu. • Ajaklah siswa ke saluran air dekat sekolah (got atau kubangan air). • Gelas plastik yang sudah kosong diisi dengan air tersebut. • Siswa mengamati perbedaan kekeru­ han. • Siswa diharapkan juga mengamati binatang apa saja yang hidup pada air yang kotor tersebut. Catatan untuk guru. Ada beberapa binatang yang dapat menjadi indikator apakah air itu sehat atau tidak.

Binatang­binatang yang dapat dijadikan in­ dikator salah satunya adalah nimfa capung. 6.2. Mengidentifikasi lingkungan yang rusak • Berilah permainan pembuka, untuk mencairkan suasana, sehingga siswa senang dan bergembira. • Siswa membawa peralatan menu­ lis untuk mengungkap pendapatnya tentang lingkungan yang rusak dan yang baik. • Berilah waktu setiap siswa atau kelompok untuk mengungkapkan pendapatnya yang sudah ditulis. • Berilah permainan jaring kehidupan yang dapat menggambarkan apa akibat nya bila lingkungan itu rusak. Cara bermain: 1. Berikan tali kepada salah satu siswa yang nantinya berperan sebagai ma­ nusia.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

41

2. Tanyakan dalam hidup manusia memerlukan apa (makan, minum). Umpamakan memerlukan air untuk minum. Dan berikan gulungan tali ke­ pada siswa yang berperan sebagai air. 3. Air datang dari langit, dan disimpan oleh perakaran dalam hutan. Berikan tali kepada yang berperan sebagai hu­ tan. 4. Hutan tempat hidup apa saja, misal­ nya Harimau, berikan kepada yang berperan sebagai harimau. 5. Harimau memerlukan makanan, mi­ salnya rusa. 6. Rusa hidup di hutan, kembalikan lagi ke siswa yang berperan sebagai hu­ tan. Hutan untuk hidup burung, ma­ nusia juga perlu hutan, hutan meng­ hasilkan mata air, Dan seterusnya,

dan seterusnya, dengan pertanyaan yang saling terkait, sehingga semua siswa memegang tali. 7. Siswa memegang erat tali tersebut. Cobalah tarik salah satu tali yang di­ pegang siswa yang berperan sebagai hutan, siapa saja yang merasakan langsung dalam tarikan tersebut, ta­ nyakan kepada siswa dan mereka ber­ peran sebagai apa? 8. Berilah beban berupa tas atau benda lain, sehingga semua siswa mera­ sakan dalam menanggung beban. 9. Cobalah lepas salah satu pegangan siswa (seandainya salah satu hilang/ punah), apa yang terjadi. Binatang apa saja yang terpengaruh bila ada mahlukhi dup yang punah? Diskusikan. Berilah waktu mereka untuk mendis­

42

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

kusikan persoalan rantai makanan ini atau jaring­jaring kehidupan. 10. Kemudian ambil tali yang dilepas tadi. 11. Dan katakan kepada siswa, mari kita berbuat, kita memulai memperbaiki lingkungan yang telah rusak, agar alam ini hidupnya seimbang. Catatan untuk guru: Permainan ini dapat dimodifikasi dengan berbagai pokok permasalahan atau bahan ajar yang ada kaitannya dengan lingkungan yang baik dan rusak atau hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. 6.3. Mengidentifikasi makanan yang sehat. Tujuan: • Melihat kandungan makanan dan masa layak dimakan Uraian kegiatan. • Berilah permainan pembuka, sehingga tercipta suasana yang menyenangkan. • Siapkan sebuah produk makanan yang sudah dalam kemasan, misalnya mie instan atau makanan kalengan. • Jelaskan tentang masa pakai makan­ an tersebut dan kandungan dalam makanan. • Kemudian ajaklah siswa ke warung

atau toko terdekat untuk melihat atau membeli satu atau dua makan an yang sudah dikemas. • Jelaskan kepada siswa, sebelum me­ makan atau membeli makanan kema­ san itu, untuk melihat dan membaca kandungan makanan dan waktu masa pakai. Biasanya semua itu telah ter­ cantum tanggal dan tahun. • Siswa sekalian belajar melihat dan mengingat tanggal dan bulan serta tahun kadaluarsanya. Catatan untuk guru: Saat ini gaya hidup manusia semakin tinggi, dan tentu memerlukan makanan yang cu­ kup banyak dan beraneka bentuk kemasan. Pasti setiap orang di desa ataupun di kota memakan makanan yang sudah di kemas dalam berbagai bentuk. Misalnya kemasan dari plastik, stereofom, atau kalengan. Ada beberapa hal yang perlu diajarkan dan di­ beri pengertian kepada siswa tentang makan­ an yang sehat dan masih layak dikonsumsi. Kadang makanan yang beredar di warung atau di toko baik penjual ataupun pembeli, tidak memperhatikan isi kandungan dan masa layak dikonsumsi. Sehingga pengetahuan ini baik di­ berikan kepada siswa sedini mungkin.

Hati hati dengan makanan yang berlabelkan diskon, kemungkinan barang tersebut, sudah atau mendekati kadaluarsa.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

43

Bagian Kedua KEBUTUHAN MAHLUK HIDUP

1. Tema: Lingkungan di sekitar kita. 2. Pengantar
Kebutuhan sehari­hari anak satu sama lain tentu berbeda. Coba berikan sebuah per­ tanyaan, dan setiap siswa mencatat apa keperluan hidup sehari­hari mereka. Mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal dsb. Demikian halnya makhluk hdup, mereka

juga seperti manusia. Namun ada perbe­ daan antara manusia dan makhluk hidup lain. Jelaskan kepada siswa, tentang sifat­ sifat kelebihan yang dimiliki oleh manusia dibanding dengan makhluk hidup lainnya.

3. Tujuan.
• Mengidentifikasi Kebutuhan Makhluk Hidup

44

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

4. Sumber, bahan dan alat.
• Buku ajar Sains dan atau IPA.

5. Metode pembelajaran:
• Permainan dan simulasi.

6. Uraian kegiatan.
6,1, Mengamati kebutuhan makhluk hidup di sekitar kita. • Berikan permainan yang menyenangkan, agar suasana dalam kelom­ pok belajar lebih ceria. • Ajaklah siswa ke taman atau dekat ke sebuah pohon, dan diharapkan siswa mengidentifikasi satwa atau tumbu­ han apa yang ada, • Bila menemukan binatang yang ada di pohon, tanyakan apa fungsi pohon bagi binatang. • Atau bila memungkinkan ajaklah di tempat yang berair, misalnya got, sungai, danau atau kolam. Binatang apa yang ada di sana. Mengapa me­ merlukan tempat tersebut ? • Atau adakah hewan ternak yang ada di sekitar kita. Misalnya kambing, kerbau, sapi, ayam atau burung? Amati mereka sedang melakukan apa, makan, tidur atau berjalan. Bila makan, apa yang diperlukan dalam hidup mereka ? 6.2. Permainan saling ketergantungan. • Permainan yang dapat diberilkan adalah, mengenai hidup saling keter­ gantungan satu sama lain. (silahkan ikuti permainan sebelum bab ini atau pada meteri pelajaran kelas IV).

Catatan untuk guru: Pada bagian ini, lebih mengupas pada keperluan mahluk hidup dalam hidupnya. Kebutuhan pokok dalam kehidupan adalah, makan, tempat tinggal. Namun makan dan tempat tinggal memiliki kekhasan setiap individu. Setiap jenis berbeda kebutuhan hidupnya.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

45

Bagian Ketiga MENGGOLONGKAN MAHLUK HIDUP

1. Tema: Mahluk hidup yang ada di sekitar kita. 2. Pengantar
Bila sekolah mempunyai halaman yang di­ tumbuhi dengan berbagai tanaman, atau dekat dengan taman kota, hutan, areal pertanian, perkebunan, merupakan labora­ torium alam yang dapat digunakan dalam pendidikan pelestarian alam dan lingku­ ngan hidup ini. Ada beberapa metode yang dapat dilaku­ kan untuk menunjang dalam kegiatan di luar kelas.

3. Tujuan:
• Menggolongkan mahluk hidup secara sederhana

4. Sumber, bahan dan alat
• Buku Pelajaran IPA, alat tulis

5. Metode pembelajaran
• Permainan dan simulasi.

6. Uraian kegiatan
6.1. Penggolongan tumbuhan • Berilah permainan yang menyenang­ kan agar siswa antusias untuk mengi­ kuti praktek di lapangan ini, dengan

46

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

• •

memilih permainan yang sesuai. Berikan tugas setiap siswa untuk meng­ gambar bentuk daun atau warnanya secara mendetail, khususnya urat dau­ nya, ujung daun, runcing atau tumpul, sisi daunnya bergerigi atau rata. Ajaklah berdiskusi, apa nama daerah tumbuhan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan meng­ gambar pohon yang ada di sekitar kita. Misalnya pohon kelapa, durian, ram­ butan. Sebisa mungkin dalam pohon tersebut digambarkan tumbuhan yang menempel pada batang tersebut. Misalnya benalu, lumut, anggrek dsb. Ajaklah diskusi mengapa bentuk po­ hon demikian, bentuk buahnya atau tumbuhan yang menempel pada po­ hon tersebut.

mun lebih khusus kepada binatang, yaitu menggambar binatang yang dapat dilihat langsung atau binatang kesayangannya. • Siswa menggambar harimau misal­ nya, namun lebih detail dengan ang­ gota tubuh yang berkembang sesu­ ai dengan makanannya. Misalnya taring dan kuku yang tajam untuk berburu. Atau burung pemakan biji, penghisap madu, menangkap ikan. Catatan untuk Guru: Guru dapat menentukan persepsi anak tentang binatang atau tumbuhan dengan ciri ciri yang telah digambarkan oleh siswa. Misalnya diberikan tugas untuk menggam­ bar burung. Tentu siswa akan menggam­ bar sesuai dengan daya imajinasinya. Nah kita tinggal mengarahkan, jenis makanan­ nya, jenis habitatnya dsb. Sehingga siswa memahami bentuk bagian khusus yang

6.2. Penggolongan binatang • Hampir sama dengan poin 6.1, na­

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

47

berkembang sesuai dengan makanannya, atau tempat tingalnya. Misalnya jenis tumbuhan yang mempu­ nyai akar serabut dan akar tunggang, tentu secara sederhana, dapat menggolongkan tumbuhan tersebut. 6.3. Mengidentifikasi makhluk hidup. • Berikan permainan yang terkait dengan kehidupan flora dan fauna yang terlampir pada bagian akhir buku ini, sehingga selain membuat suasana meriah, juga memahami tentang ke­ hidupan binatang dan tumbuhan. • Bagilah siswa menjadi beberapa ke­ lompok (2­5 orang perkelompok). • Tugas mereka adalah mengidenti­ fikasi makhluk hidup yang mereka temui, berdasarkan ciri­ciri yang ada. • Misalnya (bila melihat burung), yang perlu dicatat adalah bentuk paruhnya, warna paruhnya, warna bulu, warna

kaki dan ciri­ciri lain yang dimiliki. Atau tumbuhan dengan berbagai ciri­ciri yang dimiliki, seperti bentuk daun, warna daun, bentuk batang, warna buah, bentuk buah, bunga dsb. Atau jenis binatang dan tumbuhan lain. • Setelah itu diskusikan, kira-kira tum­ buhan atau binatang apa saja yang di­ jumpai dengan ciri­ciri yang dimiliki ? Catatan untuk guru: Cara sederhana ini untuk melatih siswa mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup yang ada dengan berbagai bentuk dan coraknya. Selain itu siswa juga belajar ber­ ceritera dan menganalisa tentang kehidu­ pan yang ditemui. Kegiatan lapangan ini juga dapat dimodi­ fikasi atau dilengkapi dengan permainan atau teka­teki ”siapa aku” yang telah dising­ gung dan dijelaskan pada materi pelajaran kelas I dalam bab sebelumnya.

48

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

BAB VIII MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PELESTARIAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP KELAS IV

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

49

Bagian Pertama MAHLUK HIDUP DAN LINGKUNGANNYA

Dalam kehidupan, suatu individu atau makhluk hidup agar dapat bertahan hi­ dup sangat tergantung dengan makhluk hidup lainnya. Bila dirangkaikan satu sama lain maka akan tergambar sebuah rantai makanan yang merupakan siklus hidup di dalam kehidupan ini.

Zat yang dihasilkan ini digunakan untuk membangun dan mengembangkan tubuh­ nya, sehingga tumbuh dewasa, berbunga dan berbuah. Tumbuhan merupakan sumber makanan bagi satwa, terutama satwa yang mema­ kan tumbuhan atau sering disebut sebagai satwa herbivora, seperti misalnya ulat, kan­ cil, burung rangkong, owa. Satwa­satwa ini hidup berinteraksi dengan tumbuhan dan dalam perkembangannya terjadi adap­ tasi di kedua belah pihak. Sebagai contoh buah tumbuhan akan berwarna hijau dan terkadang menghasilkan rasa asam dan getah yang gatal. Hal ini merupakan adap­ tasi tumbuhan agar buahnya tidak dimakan oleh satwa pada saat masih muda, karena

1. Tema: Aku dan lingkungan 2. Pengantar:
Apakah yang dimaksudkan dengan rantai dan jaringan makanan? Pada kehidupan di hutan, tumbuhan merupakan penghasil makanan yang pertama. Memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber energi, butir hijau daunnya membentuk zat hidrat arang dari air dan udara yang diserapnya.

50

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

hal tersebut tidak membantu tumbuhan untuk menyebarkan bijinya (biji belum cu­ kup matang untuk disebarkan). Oleh kare­ na itu warnanya hijau agar tersamar de­ ngan warna daun dan tidak mengundang satwa untuk datang, sedangkan getah bi­ asanya dikeluarkan tumbuhan agar buah­ nya tidak dimakan satwa saat muda, karena alasan yang sama. Namun tidak demikian jika telah matang, biasanya buah berwarna menyolok dan tidak bergetah lagi, bahkan daging manis, karena memang dipersiap­ kan untuk disukai dan dimakan oleh satwa. Dalam kehidupan di hutan terdapat tingka­ tan-tingkatan penghasil dan pemakan. Sat­ wa herbivora (pemangsa tumbuhan) meru­ pakan sumber makanan bagi satwa­satwa pemakan daging, yang biasa disebut Kar­ nivora, seperti misalnya trenggiling, ular, biawak, dan satwa pemakan daging juga memiliki predator atau pemangsa, seperti halnya harimau. Demikianlah hubungan yang terjadi secara alamiah. Perpindahan energi dari sumbernya yakni tumbuhan kepada makhluk lain melalui makanan inilah yang disebut “Rantai makan­ an”. Contoh: Rumput ­ Rusa ­ Harimau; atau: Rumput ­ Ulat ­ Trenggiling ­ Harimau. Tetapi tiap-tiap rantai makanan ini tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan timbal balik satu dengan yang lain. Hubungan inilah yang disebut “jaringan makanan”. Hubungan ini rumit sekali dan hampir tidak mungkin memerinci jaringan makanan ini. Setiap habitat memiliki jaringan makanan yang khas, misalnya jaringan makanan di sepanjang aliran sungai atau di padang rumput kurang rumit dibandingkan dengan jaringan makan­

an di hutan hujan tropik. Dengan demikian kita dapat memerinci tingkatan penghasil dan pemakan di suatu ekosistem. Penghasil utama adalah tumbuhan, pemakai pertama adalah pemakan tumbuhan (herbivora) dan merupakan penghasil kedua. Pemakai ke­ tiga adalah karnivora dan seterusnya sesuai dengan ukuran tubuh. Pemakan terakhir adalah pengurai dimana ia hidup dari bang­ kai tumbuhan dan hewan. Hasil­hasil uraian dan penguraian ini diserap kembali oleh tumbuh­tumbuhan dan digunakan sebagai bahan pembentuk tubuhnya. Hal inilah yang disebut “perputaran zat makanan”. Pada se­ tiap perpindahan makanan ada energi yang hilang berupa panas. Dari tumbuhan ke sat­ wa herbivora energi yang hilang ini berupa penguapan/ transpirasi tumbuhan, sedang­ kan satwa herbivora ke karnivora panas ini merupakan tenaga untuk bergerak. Demikianlah hubungan setiap makhluk dengan makhluk lain, sehingga di dalam suatu ekosistem yang seimbang dan be­ lum diganggu oleh manusia, tidak akan ada peledakan populasi suatu jenis makhluk tertentu.

3. Tujuan:
• Memahami hubungan sesama mahluk hidup dan antara mahluk hidup dengan lingkungannya. • Siswa mengetahui berbagai jenis tum­ buhan dan binatang yang ada di sekitar kita. • Memahami peran makhluk hidup dalam kehidupan. • Memahami akibat bila terjadi kerusakan lingkungan terhadap kehidupan makh­ luk hidup.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

51

4. Sumber bahan dan alat:
• Bahan ajar SAINS dan IPA Terpadu untuk Sekolah Dasar Kelas IV. • Gambar berbagai jenis tumbuhan dan binatang, atau tulisan tentang satwa. Gambar yang perlu disiapkan dan di­ laminating dan diberi gantungan/je­ pitan) adalah: Gajah, harimau, primata (2­3 jenis), burung (2­3 jenis), beruang, pohon (2­3 jenis), rumput, padi, ayam, ular, tikus, semut, rayap, ikan, matahari, air dan berbagai jenis ekosistem (hutan, rawa, sungai, padang rumput. Diharap­ kan semua jenis yang ada. • Tali plastik/nilon.

atau ruang terbukan, sedangkan simu­ lasi dapat dilakukan di dalam kelas atau luar kelas.

6. Uraian kegiatan
6.1. Permainan pembuka. 1. Permainan di luar ruang kelas. 2. Berilah permainan pembuka untuk membuat mereka senang, dan gem­ bira dengan permainan bernyanyi. 3. Contoh permainan pembuka, terlam­ pir. 6.2. Tebak satwa/tumbuhan 1. Bila cuaca memungkinkan, ajaklah siswa ke luar kelas. 2. Buat siswa berpasangan, dan tem­ pelkan gambar atau tulisan pada masing­masing siswa. 3. Siswa yang ada di depan menanyakan

5. Metode Pembelajaran:
• Metode yang dikemas dalam materi ini adalah simulasi dan permainan. Untuk permainan dapat dilakukan di luar kelas

52

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

kepada pasangannya, ciri ciri makhluk hidup yang ada di punggungnya. 4. Pasangan hanya boleh menjawab, ya atau tidak. 5. Hingga kedua siswa yang di depan dan belakang bisa menebak satwa/ binatang yang ditempelkan di pung­ gung mereka masing­masing. Catatan untuk guru: Pesan permainan: Siswa mengetahui ciri­ ciri flora atau fauna yang ada di sekitar kita, dengan bahasa atau penglihatan mereka. 6. 3 Jaring kehidupan 1. Setelah permainan tebak satwa usai, buatlah lingkaran dan diikuti oleh siswa semua kelas, bila memungkin­ kan atau dibuat 2 kelompok. Satu ke­ lompok 20 siswa. 2. Mulailah satu siswa sebagai ”manusia” yang ada dalah kehidupan ini. 3. Berikan tali plastik atau nilon kepada siswa yang berperan sebagai ”manusia”. 4. Manusia memerlukan padi (misalnya), tali dilemparkan siswa yang berperan sebagai padi. Kemudian, padi dimakan burung, burung memerlukan pohon untuk bersarang, pohon untuk kehidu­ pan satwa yang lain, dan seterusnya. 5. Sehingga terjadilah jaring­jaring ke­ hidupan dalam lingkaran tersebut. 6. Siswa memegang erat tali tersebut. Cobalah tarik salah satu tali yang dipe­ gang siswa, siapa saja yang merasakan langsung dalam tarikan tersebut ? 7. Berilah beban berupa tas atau benda lain, sehingga semua siswa merasakan dalam menanggung beban. 8. Cobalah lepas salah satu pegangan

siswa (seandainya salah satu hilang/ punah), apa yang terjadi. Binatang apa saja yang terpengaruh bila ada mahlukhidup yang punah? Diskusikan. Berilah waktu mereka untuk mendis­ kusikan persoalan rantai makanan ini atau jaring­jaring kehidupan. 9. Kemudian ambil tali yang dilepas tadi. 10. Dan katakan kepada siswa, mari kita berbuat, kita memulai memperbaiki lingkungan yang telah rusak, agar alam ini hidupnya seimbang. Catatan untuk guru: Berilah pengetahuan kepada siswa sesuatu yang positif, dengan berupa ajakan untuk berbuat baik. Simulasi poin 6.3 dan 6.4. dapat digunakan atau dimodifikasi dengan berbagai isu lingkungan yang ada. Misalnya hubungan­ nya antara daerah aliran sungai, perkampung­ an, laut, hutan, persawahan ataupun organ­ isma yang ada. Tinggal bagaimana peran guru dalam penyampaian hal tersebut. Karena semua makhluk hidup ataupun yang tidak hidup, mempunyai peranan dalam kehidu­ pan di alam ini, baik langsung ataupun tidak terkait dengan kehidupan manusia. 6.4. Jaring kehidupan (2) Permainan ini dapat dilakukan dengan spon­ tan, dan dapat dilakukan di mana saja, baik di pinggiran hutan, persawahan, pesisir, pantai, pedesaan atau di sekitar sekolah. Apabila tidak ada gambar yang cukup, kita dapat melakukan dengan media alam dan fauna dan flora yang dapat dilihat langsung di luar ruangan: 1. Ajak ke luar ruangan atau kelas atau di­ mana saja, misalnya di pantai. 2. Langkah awal adalah: Ada salah satu siswa yang berperan sebagai hutan

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

53

3.

4.

5.

6. 7.

mangrove, atau pohon kelapa atau po­ hon lain yang ada di pantai. Berilah tali kepada siswa pertama yang ditunjuk. Tanyakan kepada siswa ada binatang apa yang tinggal pada pohon tersebut? Misalnya mangrove ada burung. Lem­ parkan tali tersebut kepada siswa yang menjawab burung. Tanyakan lagi makanan burung itu apa, misalnya ada yang menjawab ikan, lempar­ kan tali kepada siswa yang menjawab ikan. Ikan hidup dimana? Di laut lemparkan tali ke siswa yang menjawab laut, Dan seterus­ nya, hingga membuat sebuat jaring­jaring. Tanyakan, apa yang akan terjadi kalau hutan bakau hilang. Lepaskan tali yang di­ pegang oleh siswa yang berperan sebagai mangrove. Apa yang terjadi kalau lautnya penuh sampah? Ikannya mati, misalnya. Dan tanyakan apa yang akan terjadi ? Akhir permainan, ajaklah berbuat ses­ uatu untuk memperbaiki lingkungan.

makanan, namun di sini lebih kepada pem­ berian pemahanan tentang siapa yang ber­ peran sebagai produsen dan konsumen. Permainan ini bisa dilakukan dengan ”pe­ ran siswa” untuk membuat piramida, na­ mun permainan ini mengandung resiko, dan lebih baik menggunakan alat bantu. Bahan dan alat: Kotak atau balok kayu yang sudah diberi­ kan gambar berbagai jenis mahluk hidup dengan berbagai peranan sebagai produ­ sen dan konsumen. Misalnya: Tumbuhan, tikus, burung, ular, burung pemangsa, hari­ mau. Poster rantai makanan. 1. Berikan penjelasan dengan poster ten­ tang sebuah kehidupan di alam yang sa­ ling ketergantungan satu sama lain. 2. Peragakan dengan menumpuk poton­ gan balok bergambar di depan siswa, dan jelaskan mengapa demikian. Misal­ nya peranan produsen pertama, kedua serta konsumen pertama, kedua dan yang terakhir adalah pemangsa.

6.5 Piramida makanan Piramida makanan, masih ada kaitan­ nya dengan jaring kehidupan atau rantai

54

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Bagian Kedua. PERUBAHAN LINGKUNGAN

1. Tema: Kita dan lingkungan. 2. Pengantar
Lingkungan kita setiap saat berubah, kare­ na tekanan manusia untuk mencukupi kehidupannya. Hutan ditebang untuk di­ ambil kayunya, atau dibabat untuk lahan pertanian atau perkebunan. Atau terjadi kebakaran hutan, sehingga memusnahkan hutan tropis yang kita miliki. Perubahan lingkungan itu akan membawa dampak terhadap kehidupan kita sehari­ hari, misalnya banjir, kekurangan air, erosi dan tanah longsor. Bagaimana menjelaskan

kepada siswa agar pengetahuan ini dapat dipahami, Di bawah ini ada beberapa per­ mainan dan simulasi yang dapat dilakukan. Dalam buku ajar telah djelaskan berbagai contoh kerusakan lingkungan dan akibat­ nya bagi kehidupan manusia. Dalam buku ini akan diberikan beberapa permainan dan simulasi agar siswa memahami perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia.

3. Tujuan:
• Menceriterakan dan memahami dam­ pak kegiatan manusia yang memanfaat­ kan sumber daya alam yang berlebihan

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

55

dan dampaknya terhadap kehidupan manusia.

4. Sumber, bahan dan alat:
• Buku ajar IPA. • Lapangan rumput yang agak miring, em­ ber siram tanaman dan beberapa main­ an seperti binatang, rumah-rumahan.

5. Metode pembelajaran
• Permainan dan simulasi.

6. Uraian kegiatan
6.1 Erosi. Erosi sering terjadi pada saat musim hujan tiba, atau yang lebih besar lagi yang beraki­ bat fatal bagi kehidupan manusia adalah terjadinya tanah longsor. Pemahaman ini mudah sekali diberikan kepada siswa pada sebuah permainan atau simulasi. • Sebelum memberikan simulasi ten­ tang erosi, berilah permainan yang sifatnya menggemberikan. Misalnya pindah tempat, membuat lingkaran atau permainan habitat. • Pilih di halaman yang berumput, yang mempunyai letak kemiringan.

• Buat 2 buah petak yang berukuran 50 x 100 senti meter. • Petak pertama capur atau bersihkan rumputnya, dan petak ke dua biar­ kan rumput itu tumbuh. • Petak yang tidak ada rumputnya, berikan boneka kecil/mainan seperti rumah­rumahan, binatang dsb. • Siram dengan ember penyiram tana­ man di kedua petak tersebut bersa­ maan atau bergantian. • Apa yang terjadi? Siswa diharapkan mengamati. • Diskusikan mengapa hal ini bisa ter­ jadi. Catatan untuk guru: Bisa juga diberikan perumpamaan, seperti anak yang mempunyai kepala botak dan kepada yang mempunyai rambut tebal, bila mandi keramas, maka yang botak akan cepat kering. Demikian juga halnya dengan alam yang tanpa ditumbuhi pohon, maka bila hujan tiba air tidak ditahan atau disimpan oleh pohon, dan langsung mengalir di­ permukaan tanah.

56

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Bagian Ketiga POHON PENYIMPAN AIR

1. Tema: Kita dan Lingkungan 2. Pengantar:
Selain akar yang bertugas untuk menyerap makanan dan dialirkan ke daun untuk dimasak menjadi karbohidrat dan hasil samping berupa oksigen yang sangat diperlukan untuk kehidu­ pan, akar juga sangat penting artinya dalam penampungan air, dan mencegah erosi. Akar dapat diibaratkan seperti spon/busa, dimana di sela­selanya atau ruang antar akar, dapat menyimpan air, dan kemudi­ an mengikuti gaya grafitasi akan turun ke dalam tanah melalui perjalanan dan me­

merlukan waktu yang sangat panjang hing­ ga sampai di aliran mata air. Air yang tersimpan dalam tanah itu akan dikeluarkan sedikit demi sedikit menjadi mata air, dan tentu kita sebagai manusia yang sangat membutuhkan air bersih, tidak akan kekurangan. Namun apa yang terjadi saat ini? Di hulu sungai atau bukit dan pegunungan di mana terdapat hutan yang berfungsi seba­ gai kawasan penangkap hujan, semakin berkurang. Sehingga saat ini di daerah hilir, atau sungai sering kekeringan. Karena saat

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

57

musim hujan tiba, air yang turun dari langit langsung mengalir ke sungai, sehingga tidak ada air hujan yang meresap ke dalam tanah. Maka kini semakin meluas kekeringan saat musim kemarau tiba dan terjadi erosi serta longsor saat musim hujan.

tersebuh sudah menyerap air. • Angkat, dan pertunjukkan kepada siswa. • Spon/busa akan menetes sedikit demi sedikit hingga air tersebut habis. • Jelaskan dan diskusikan, seperti ini akar berfungsi sebagai penyimpan air, dan tanyakan kepada siswa adakah pendapat lain atau pertanyaan. Catatan untuk Guru: Kali ini guru bisa memberikan tugas kepada siswa, untuk menanyakan kepada kakek atau nenek atau orangtuanya, bagaimana ke­ adaan desanya saat ini bila dibandingkan saat kakek/nenek waktu masih muda. Apakah ter­ jadi perubahan kwalitas dan kwantitas air. Kumpulan catatan itu dapat dijadikan se­ buah monitoring/evaluasi sebuah perkem­ bangan mengenai persediaan air. Selain itu juga mengenai sungai misalnya, ben­ cana alam, banjir atau tanah longsor, bila dibandingkan dengan kejadian saat ini. Mengapa demikian dan apa penyebabnya menurut kakek atau nenek mereka?

3. Tujuan:
Memahami tentang berbagai fungsi akar pohon di dalam hutan.

4. Sumber, Bahan dan alat:
• Buku IPA. • Busa dan seember air.

5. Metode Pembelajaran:
• Simulasi dan permainan

6. Uraian Kegiatan:
6.1. Akar penyimpan air. • Siapkan sepotong busa atau spon yang biasa digunakan untuk mencuci piring. • Masukkan busa yang kering ke dalam air, beberapa saat, hingga spon/busa

58

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

BAB IX MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PELESTARIAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP KELAS V SD

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

59

Bagian Pertama MAHLUK HIDUP BERADAPTASI TERHADAP LINGKUNGANNYA
1. Tema: Kita dan lingkungan. 2. Pengantar
Saling ketergantungan kehidupan di alam, satwa yang satu tergantung dengan satwa yang lain, mendorong terjadinya pemangsa untuk mencari makan dan binatang yang akan dimangsa perlu menghindar dan me­ nyelamatkan diri. Banyak sekali kehidupan di hutan yang melakukan penyamaran untuk mencari maknan agar mudah untuk mendapat­ kan pakan, Seperti satwa karnivora yang warnanya hampir mirip dengan lingku­ ngan, tak sedikit jenis serangga yang mirip dengan daun atau ranting atau katak yang mirip dengan daun kering. Terkadang ada juga ngengat yang mempu­ nyai sayap yang persis seperti mata burung pemangsa, sehingga sering terhindar dari burung yang memaknnya. Atau yang terke­ nal adalah bunglon yang mempunyai sifat mimikri, ataun setiap hinggap pada benda, selalu warna tubuhnya berubah sesuai de­ ngan warna benda di mana dia hinggap.

hidup untuk mempertahankan diri dari pemangsa. • Berperan sebagai satwa dan mengasah indera pendengaran.

4. Sumber, bahan dan alat:
• IPA/Terpadu • Kain penutup mata.

5. Metode pembelajaran
• Permainan

6. Uraian kegiatan
6.1. Rusa dan Harimau. • Sebelum permainan dilakukan, berilah siswa permainan pembuka agar me­ reka senang dan antusias untuk mengikuti materi berikutnya. • Tunjuk seorang anak untuk berperan sebagai rusa. • Sedangkan sisanya berperan sebagai

3. Tujuan:
• Menceriterakan mahluk hidup yang dikenal. • Mengetahui cara pertahanan mahluk

60

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

harimau. Peserta yang berperan sebagai rusa ditutup matanya kemudian berdiri di tempat yang penuh dengan serasah. Sedangkan orang-orang yang berper­ an sebagai harimau berdiri agak jauh menyebar dan mengelilingi rusa. Pada saat acara dimulai, harimau berusaha menerkam rusa dengan menepuk siswa pemeran rusa. Bila si rusa kena tepuk maka yang ber­ peran sebagai rusa digantikan oleh orang yang menepuknya. Rusa selalu terjaga dan ia dapat mem­ bunuh harimau dengan cara menun­ juk arah harimau. Jadi bila ada harimau yang ditunjuk karena ketahuan dari bunyi injakan serasah maka, harimau tidak boleh

bermain sampai menunggu permain­ an selanjutnya. Catatan untuk guru: Permainan ini mempunyai pesan, bahwa baik pemangsa (harimau) berusaha sangat hati-hati untuk menangkap mangsanya, kadang­kadang bersembunyi, merunduk, merayap. Sedangkan rusa, dengan posisi yang terancam, sangat mengadalkan pen­ dengaran. Karena rusa pendengarannya sangat sensitif, sehingga harus waspada ter­ hadap ancaman musuh. Ada beberapa permainan anak­anak tradisi­ onal yang menceriterakan tentang satwa yang hidup di hutan dengan berbagai bentuk, seper­ ti permainan, sendratari ataupun kisah atau ceritera. Kemungkinan bisa digali kembali.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

61

Bagian Kedua. CINTA AIR DARI HULU SAMPAI HILIR

1. Tema: Kita dan Lingkungan. 2. Pengantar
Air adalah sumber kehidupan. Bila sedikit menjadi kawan, namun bila banyak dapat mengakibatkan kehancuran. Saat musim hujan tiba, air melimpah ruah menjadi bencana bagi umat manusia, na­ mun saat musim kering banyak berita ten­ tang kekeringan. Hal ini sangat terkait de­ ngan daerah tangkapan hujan yang berupa hutan yang kian menyusut. Kwantitas air di dunia ini tak bertambah dan tak pula berkurang, hanya kwalitasnya saja yang terus menurun akibat pencemaran. Menurut para ahli isi air dalam laut lebih

kurang 1.370 juta kilometer kubik dan me­ nutupi permukaan bumi ini sekitar 361 juta kilometer persegi. Air yang ada di bumi ini 98,8 % merupakan air laut, sedangkan sisanya seperti yang berben­ tuk es 1,2 %, air yang ada di sungai dan danau sekitar 0,002 % dan berupa uap. Fakta tentang air. Air adalah wajah dunia yang paling kita ke­ nal, sebagai cairan, air mengisi danau, su­ ngai, dan waduk di permukaan bumi dan menempati laut serta samudera. Air juga merupakan gas yang terjadi sewak­ tu menguap di atmosfir. Sebagai padatan, air menutupi kawasan kutub dan gunung­

62

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

gunung tinggi serta menciptakan peman­ dangan musim dingin. Air dalam jumlah yang sangat besar tersim­ pan di dalam tanah, baik di dalam tanahnya sendiri maupun di bawahnya, yaitu di dalam formasi berpori yang ikenal sebagai akifer. Air ada di dalam vegetasi atau tumbuhan dan juga di dalam tubuh kita ­ hampir 80% dari tubuh manusia terdiri dari air. Air ada juga yang meresap ke dalam tanah menjadi air tanah. Secara alami, perlahan muncul kembali menjadi air permukaan dan menjadi sumber utama dari aliran sungai yang dibutuhkan.

3. Tujuan:
• Memahami tentang kebutuhan air setiap makhluk hidup. • Mengetahui siklus air • Hemat air.

4. Sumber, bahan dan alat:
• IPA.

5. Metode pembelajaran
• Permainan dan simulasi.

6. Uraian kegiatan
6.1. Permainan ular tangga. 1. Ajak peserta ke luar kelas, atau di dalam kelas, tetapi, bangku, kursi sudah dip­ inggirkan secukupnya, lebih kurang 3 x 3 meter. Atau akan lebih baik di luar

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

63

2. 3. 4. 5.

kelas yang lapang atau rata. Pilih 4 anak berpasangan. Empat pasang anak akan berkompe­ tisi untuk mencapai puncak piramida. Satu orang sebagai pemain, dan satu orang sebagai pelempar dadu. Untuk berjalan, berapa langkah,

mengikuti angka berapa muka dadu bagian atas. 6. Apabila setelah melangkah ada ular turun, harus mengikut kemana arah ular turun. 7. atau akan naik ke atas, bila langkah terahir tertera tanda gambar tangga, dan seterusnya.

Catatan untuk guru:
Tanyakan, mengapa setiap ada gambar ular, siswa akan turun, dan mengapa setiap ada gambar tangga harus naik? Dalam diagram yang dibuat, beberapa kegi­ atan yang diharapkan siswa dapat berperan untuk perbaikan dan pelestarian lingkungan. Namun ada kegiatan yang dapat merusak, sehingga perlu memberikan pengertian.

21 20 11 10 1

22 19 12 9 2

23 18 13 8 3

24 17 14 7 4

35 16 15 6 5

MENEBANG POHON

MENANAM POHON

64

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

BAB X MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PELESTARIAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP KELAS VI

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

65

Bagian Pertama MAKHLUK HIDUP DAN PROSES KEHIDUPAN
1. Tema: Kita dan Lingkungan 2. Pengantar
Setiap makhluk hidup akan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, baik warna tubuh maupun anggota tubuh. Sehingga setiap satwa walupun masih dalam kerabat yang dekat, memiliki ciri yang khas. Penyesuaian anggota tubuh yang disesuaikan dengan makanan begitu juga. Binatang yang memangsa satwa akan memiliki taring atau cakar yang tajam. Atau satwa yang mencari makan pada malam hari akan memiliki peng­ lihatan yang tajam. Namun ada pula satwa yang mencari mangsa dengan mengandalkan pendengaran, akan memiliki alat pendenga­ ran atau bentuk daun telinga yang lebar. Atau burung yang mencari mangsa di perairan umumnya memiliki kaki yang panjang dsb. Tak hanya pada hewan, tumbuhanpun juga memiliki bentuk yang unik. Ada beberapa tumbuhan yang menangkap serangga un­ tuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti nitrogen. Dan umumnya tumbuhan seperti ini tumbuh pada lahan yang miskin akan un­ sur hara. Contohnya adalah kantong semar. Dalam tumbuhan ini kantong atas mempu­ nyau katup penutup, dan mempunyai bau yang khas yang disukai serangga. Apabila serangga mendekat, biasanya akan tertarik masuk ke dalam, dan didalam serang­ ga akan terjebak dan masuk ke dalam cairan

yang ada. Kemudian serangga membusuk, dan zat yang terkandung akan diserap oleh jaringan yang ada dalam kantong semar.

3. Tujuan
• Mendeskripsikan hubungan antara ciriciri khusus yang dimiliki hewan (kele­ lawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya • Mendeskripsikan hubungan antara ciriciri khusus yang dimiliki tumbuhan (kak­ tus, tumbuhan pemakan serangga) de­ ngan lingkungan hidupnya. • Rasa empati terhadap makhluk hidup.

4. Sumber, bahan dan alat:
• Buku pelajaran IPA/Terpadu dan SAINS. • Tutup mata.

5. Metode Pembelajaran:
• Permainan.

66

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

6. Uraian kegiatan
6.1 Permainan Kelelawar dan Ngengat. • Peserta membuat lingkaran sebagai batas permainan. • Tunjuk dua orang siswa yang akan berperan sebagai kelelawar dan ngengat dan ditutup matanya. • Untuk mencari mangsa, kelelawar akan selalu berbunyi, untuk mencari dimana posisi ngengat sebagai sum­ ber pakannya. • Kelelawar teriak “ngaaaaat” ngengat menjawat “ngat”. • Disitulah kelelawar bergerak ke arah suara tersebut. • Demikian seterusnya hingga kelela­ war dapat menangkap mangsanya. Catatan untuk Guru: Kelelawar pemakan serangga, sangat ber­ gantung ketajaman pendengaran dalam menangkap mangsa, sehingga kelelawar ini memiliki bentuk telinga yang lebih lebar bila dibandingkan dengan daun telingan kelela­ war lain yang memakan buah­buahan. Ketika kelelawar membunyikan suara berkali kali, maka akan terjadi pemantulan oleh se­ rangga tertentu yang sudah menjadi sasa­ rannya. Pantulan inilah yang ditangkap oleh telinga kelelawar dengan posisi sudut yang tertentu, sehingga dia bisa menentukan po­ sisi mangsa tersebut dan menangkapnya.

6.2 Menangkap mangsa • Pilih 5 siswa, yang nantinya berperan sebagai serangga, dan 3 siswa berpe­ ran sebagai putik bunga. • Sisanya mereka sebagai bunga, dan membentuk sebuah lingkaran. • Sambil menyanyikan lagu“ sekuntum bunga”, siswa yang membentuk ling­ karan (bergandengan) mengeliling sis­ wa yang beperan sebagai putik bunga. • Serangga berusaha memasuki ling­ karan untuk mendekati putik, dan 5 siswa yang berperan sebagai serang­ ga memasuki lingkaran, tentu terjadi perebutan karena lima serangga akan mengambil 3 putik bunga yang berisi madu. • Guru mengamati, kemudian memberi­ kan aba­aba “tangkap”, bunga segera menangkap serangga tersebut. • Serangga berusaha melepaskan diri dari jeratan bunga. Bila tertangkap, maka serangga itu menjadi makanan bunga tersebut. Catatan untuk guru: Tumbuhan tertentu yang memakan serang­ ga untuk sumber nitrogen, selalu menjebak serangga untuk memasuki dimana ada zat seperti madu atau tertarik dengan warna yang indah. Secara tidak sengaja, serangga bersentuhan dengan organ yang sangat sensitif pada ba­ gian kelopak bunga tersebut. Sehingga secara otomatis, organ tersebut berinteraksi, dan dengan cepat menutup katup bunga, sehing­ ga serangga yang masuk ke dalam kelopak akan terjebak. Beberapa bunga itu seperti kantong semar dan bunga pungu api.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

67

Bagian Kedua PELESTARIAN JENIS

1. Tema: Kita dan Lingkungan 2. Pengantar.
Usaha pelestarian alam dan lingkungan hidup, sudah lama dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat, baik pemerintah, lem­ baga swadaya masyarakat baik nasional mau­ pun internasional. Usaha ini dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dengan melakukan penyuluhan, penegakan hukum, pendidikan lingkungan ataupun menetapkan kawasan sebagai dae­ rah lindung. Di Indonesia ada beberapa ka­ wasan yang dilindungi, sesuai dengan kepe­ runtukannya. Kawasan pelestarian alam yang dikenal di Indonesia adalah sbb : a. Kawasan suaka alam, meliputi: • Kawasan Cagar Alam kawasan suaka alam yang karena ke­ adaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya ber­ langsung secara alami. • Kawasan Suaka Margasatwa Kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilaku­ kan pembinaan terhadap habitatnya.

b. Kawasan pelestarian alam, meliputi: • Kawasan Taman Nasional kawasan pelestarian alam yang mem­ punyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan un­ tuk tujuan penelitian, ilmu pengeta­ huan, pendidikan, menunjang budi­ daya, pariwisata dan rekreasi alam. • Kawasan Taman Hutan Raya kawasan pelestarian alam untuk tu­ juan koleksi tumbuhan dan atau sat­ wa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaat­ kan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menun­ jang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

68

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

• Kawasan Taman Wisata Alam kawasan pelestarian alam dengan tu­ juan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam. Selain penetapan kawasan pelestarian alam, juga dilakukan pelestarian jenis­jenis terten­ tu yang dianggap hampir punah, baik untuk flora maupun fauna. Untuk jenis-jenis bina­ tang telah dilakukan usaha rehabilitasi dan pelepasan satwa hasil sitaan, atau penang­ karan satwa yang hampir punah. Misalnya dilakukan penangkaran Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas, atau penang­ karan Harimau Sumatera dibeberapa kebun binatang di dalam atupun di luar negeri.

3. Tujuan.
• Mengidentifikasi jenis hewan dan tumbu­ han yang mendekati kepunahan • Mendeskripsikan pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk perkemba­ ngan Ilmu Pengetahuan Alam dan kehidu­ pan masyarakat

4. Sumber, bahan dan alat :
• Bahan ajar SAINS dan IPA/Terpadu

• Sisanya membuat sebuah lingkaran, dan di dalam lingkaran ada 2­3 siswa yang berperan sebagai Gajah, Rusa dan Harimau. • Sambil menyanyikan lagu yang isinya teka­teki (diiringi musik), siswa yang membentuk lingkaran dan bergan­ dengan bernyanyi sambil berputar, ke kanan dan ke kiri. • Setelah teka teki yang ada dalam lagu terjawab oleh pemburu (misal­ nya gajah), maka tiga orang pemburu berusaha memasuki lingkaran untuk menangkap, dan siswa yang memben­ tuk lingkaran berusaha menghalang­ halangi agar pemburu tidak dapat ma­ suk untuk menangkap satwa. Namun kalau pemburu tidak bisa menjawab, maka pemburu tidak diperkenankan memulai memburu satwa yang ada dalam lingkaran. • Bila pemburu belum berhasil, guru memberikan aba­aba untuk bernyanyi lagi dengan syair yang berbeda yang isinya teka­teki satwa dan pemburu mencari celah agar bisa masuk. Selain itu siswa yang membuat lingkaran ha­ rus selalu waspada. • Demikian seterusnya. Catatan bagi guru: Usaha pelestarian flora dan fauna sudah ban­ yak dilakukan oleh berbagai pihak, para pem­ buru dengan berbagai cara mencari celah un­ tuk merusaha menangkap dengan berbagai alat. Oleh karena itu kita semua harus se­ lalu waspada terhadap pemburu, dan sebisa mungkin kita memberi tahu betapa ruginya bila kita kehilangan satwa yang ada di hutan negeri ini.

5. Metode Pembelajaran
• Simulasi dan permainan

6. Uraian Kegiatan
6. 1. Harimau dan pemburu. • Beri permainan yang menyenangkan agar suasana siswa atau keadaan men­ jadi cair, dan menggembirakan. • Pilih dua siswa yang nantinya berperan sebagai pemburu, dan 2­3 siswa ber­ peran sebagai satwa.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

69

Bagian Ketiga ENERGI DAN PERUBAHANNYA

1. Tema: Kita dan Lingkungan 2. Pengantar
Setiap hari manusia memerlukan energi un­ tuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Misal­ nya energi listrik untuk penerangan, untuk menghidupkan peralatan elektronik, baik di rumah ataupun di perkantoran. Untuk mendapatkan listrik, manusia menggunakan berbagai sumber energi, misalnya bahan ba­ kar minyak, energi air, energi panas bumi, batu bara dan sebagainya. Energi ini selain menghasilkan listrik, memer­ lukan bahan bakar yang menghasilkan sisa

pembakaran berupa gas karbon yang mence­ mari lingkungan. Namun ada beberapa ener­ gi yang ramah lingkungan dan tidak mence­ mari alam, seperti energi air, panas bumi. Abad ke dua puluh semua kegiatan digerak­ kan oleh minyak dan gas bumi, namun be­ berapa ahli lingkungan yakin bahwa keter­ gantungan kita akan bahan bakar fosil, akan mempengaruhi dan mengubah pola iklim di bumi ini. Gas karbon ikutan yang terperang­ kap di dalam atmosfer akan menaikkan suhu bumi ini dan para ahli meramalkan mengaki­ bat efek rumah kaca ini menaikkan suhu pa­ nas dunia.

70

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Untuk itu diperlukan energi alternatif yang ramah lingkungan dan paling tidak memban­ tu melestarikan sumber daya alam dan me­ ngurangi gas karbon yang dihasilkan dalam kegiatan sehari­hari. Di beberapa negara telah menciptakan ba­ han bakar yang ramah lingkungan atau penghasil energi yang tidak mencemari lingkungan. Energi­energi tersebut dapat dihasilkan dari panas bumi, air dan undara untuk pembangkait listrik. Untuk energi yang terbarukan, dalam arti dapat diproduksi dengan melakukan pena­ naman, dan tidak menggali dan menambang sumber daya alam yang tersimpan di perut bumi yang suatu saat akan habis, dapat di­ lakukan oleh semua masyarakat. Misalnya dengan bahan energi dari alkohol (ethanol) yang dapat diproduksi atau dihasilkan dari tanaman tebu dan singkong. Negeri yang telah berhasil dalam pengembangan kenda­ raan berbakar ethanol adalah Brasilia. Selain itu pengembangan bahan bakar lain yang terbarukan adalah biodiesel, yang dapat dihasilkan dari minyak sawit atau tanaman jarak. Namun masih banyak hal yang perlu dibahas. Di sisi lain pengembangan biodiesel dan bioethanol perlu lahan untuk pertanian dan perkebunan, dan terkadang membabat hutan yang membantu dalam menghasilkan oksigen. Bisakah Indonesia mengembang­ kan hal yang demikian. Di bawah ini sebuah contoh, apa yang dapat kita lakukan untuk bumi ini. 1. Matikan listrik, jika tidak digunakan. 2. Jangan tinggalkan alat elektronik dalam

keadaan standby, Misalny TV. 3. Cabut charger telepon genggam dari stop kontak. Meskipun listrik tak menge­ luarkan emisi karbon, namun pembang­ kit listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi. 4. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet dan hemat. 5. Bersihkan lampu, debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%. 6. Jika pakai AC, tutup pintu dan jendela se­ lama AC menyala. Atur suhu sejuk secu­ kupnya, sekitar 21°­ 24° C. 7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda. Pohon menghasilkan oksigen dan dapat menetralisir karbon dioksida. 8. Jemur pakaian di luar, angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluar­ kan emisi karbon. 9. Gunakan kendaraan umum bila perlu, untuk mengurangi polusi udara. 10. Hemat penggunaan kertas, karena ba­ han bakunya berasal dari kayu dan harus menebang pohon. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastik menghasilkan gas berbahaya ketika di­ bakar. Atau Anda juga dapat membantu me­ ngumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

3, Tujuan.
• Mengidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematan­ nya dalam kehidupan sehari­hari. • Energi terbarukan

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

71

4. Sumber, bahan dan alat
• IPA/Terpadu. • Kacang kedelai/hijau atau kacang kulit.

5. Metode Pembelajaran
• Simulasi dan permainan

Catatan untuk guru : Energi terbarukan, umumya berasal dari mahluk hidup yang dapat ditanam, dikem­ bang biakkan, tidak pernah akan habis dan terutama tidak menghasilkan polusi ling­ kungan. Saat ini sudah banyak dan memulai dikem­ bangkan energi yang terbarukan tersebut, misalnya daru tumbuhan jarak, atau tumbu­ han lain yang bisa menghasilkan bahan bakar. Kaitannya dengan permainan di atas adalah, setiap orang pasti akan melakukan pengam­ bilan sebanyak­banyaknya sampai mampu. Namun kadang tidak berpikir untuk me­ nyisakan, agar dapat bertumbuh kembang hingga kebutuhan hidup akan sumber daya alam bisa berkelanjutan.

6. Uraian Kegiatan
6.1. Permainan kacang. • Bagi siswa menjadi 5 kelompok, atau sesuai dengan jumlah siswa, paling ti­ dak setiap kelompok minimal 5 orang siswa. • Siapkan lebih kurang setengah kilo­ gram biji kacang. • Bagikan setiap kelompok lebih kurang 50 biji kacang. • Berilah petunjuk aturan mainnya. Aturannya adalah sbb : AMBIL KACANG SEBANYAK­BANYAK­ NYA, BAGI YANG MENGAMBIL PA­ LING BANYAK DIALAH SEBAGAI PEMENANG. BILA KACANG HABIS, MAKA PERMAINAN SELESAI. NA­ MUN BILA KACANG TERSISA, AKAN DITAMBAH DUA KALI DARI KACANG YANG TERSISA. • Buka tulisan itu lebih kurang 20 kali hitungan, kemudian tutup. • Periksalah, apakah masih ada yang tersisa kacangnya setiap kelompok, ataukah sudah habis. • Bila yang masih tersisa, tambahkan dua kali lipatnya. • Kalau misalnya belum paham, ulangi kembali permainan tersebut hingga mereka paham benar apa arti katakata yang terdapat dalam tulisan tersebut.

72

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Bagian Keempat BUMI SEMAKIN PANAS

1. Tema: Kita dan Lingkungan 2. Pengantar
Efek Rumah Kaca Gas rumah kaca (GRK) yang menurut PBB (UNFCCC) diantaranya adalah Karbondiok­ sida (CO2), Dinitroksida (N2O), Metana dan (CH4). Yang paling banyak terdapat di atmos­ fir adalah CO2. CO2 dihasilkan oleh bahan bakar fosil (mi­ nyak bumi) dan kebakaran hutan; N2O di­ hasilkan dari bahan bakar dan pupuk; CH4 dihasilkan dari perluasan areal pertanian dan peternakan dll.

Dari tahun ke tahun seiring dengan bertam­ bahnya penduduk bumi, maka semakin besar kegiatan manusia yang menghasilkan GRK se­ hingga atmosfir menjadi tebal dengan GRK, akibatnya radiasi inframerah terperangkap kedalam atmosfir sehingga bumi menjadi se­ makin panas

3. Kompetensi dasar
• Mendiskripsaikan kegiatan manusia yang berdampak kepada pemanasan global. • Mendiskripsikan akibat dari pemanasan global. • Merasakan secara langsung simulasi pemanasan global.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

73

Catatan untuk guru: Effek rumah kaca, kadang ada salah penger­ tian akibat dari banyaknya manusia mem­ buat rumah dari kaca, namun kejadian ini (atau gas­gas rumah kaca) diibaratkan se­ bagai kaca yang menghalangi sinar matahari yang memantul ke permukaan bumi, keluar dari atmosfeer (lihat gambar). Di dalam rumah dan di luar rumah, seperti inilah dampak pemanasan global yang ada di muka bumi, diibaratkan. Di permukaan bumi, matahari yang menyinari bumi, panasnya akan menembus ke bumi, namun panas yang dipantulkan ke atas terhalang dengan gas­gas rumah kaca yang menumpuk di atmosfer. Se­ hingga panas itu kembali ke permukaan bumi dan menyebabkan bumi semakin panas. Seperti halnya bila kita berdiam diri di dalam rumah (dimisalkan rumah adalah bumi), pa­ nas yang masuk, tidak dapat keluar, berbeda bila di luar panas bisa keluar, atau terjadi sirkulasi udara. Lebih bagus lagi bila ada pondok yang ber­ atapkan seng atau kaca, misalnya.

4. Sumber, bahan dan alat
• Bahan bacaan

5. Metode pembelajaran:
• Permainan dan simulasi.

6. Uraian kegiatan.
• Sebelum keluar dari kelas, siswa di­ harapkan merasakan apa yang terjadi di dalam kelas. Misalnya panas, dengan berkipas­kipas (khususnya bila pada musim kemarau). • Kemudian ajaklah mereka di emperan ke­ las. Tanyakan apakah ada perbedaan suhu (panas) antara di dalam dan di luar kelas.

74

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

BAB XI LINGKUNGAN RUSAK APA YANG DAPAT KITA PERBUAT

A

da beberapa faktor penyebab keru­ sakan hutan dan akibatnya bagi ma­ syarakat adalah sbb:

A. Penyebab Rusaknya Hutan
1. Kebakaran hutan
Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat potensial untuk diman­

faatkan bagi pembangunan nasional. Na­ mun demikian dalam pemanfaatannya banyak mengalami ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan terhadap peles­ tarian hutan baik materi maupun lingku­ ngannya. Salah satu di antaranya adalah kebakaran hutan. Kita perlu menentukan langkah­langkah pencegahan dan pemada­ man kebakaran hutan.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

75

Jika sampai rusak, maka hutan-hutan kita ti­ dak dapat berperan sebagai penyimpan, pe­ ngatur dan sumber air. Jika ini terjadi, kita akan mengalami kerugian dan penderitaan yang berkepanjangan. Hutan­hutan kita juga berperan besar dalam menjaga kebersihan udara yang kita hirup, yang menghidupi semua makhluk hidup. Kebakaran hutan dan lahan sudah berlang­ sung cukup lama dan terjadi hampir setiap tahun pada musim kemarau. Disamping disebabkan oleh faktor alam seperti penga­ ruh El­Nino yang menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan, aktivitas manusia yang memanfaatkan api untuk berbagai ke­ pentingan seperti pembersihan lahan untuk pertanian, perkebunan, transmigrasi, perke­ mahan dan lain­lain baik karena unsur ke­ sengajaan maupun ketidaksengajaan maru­ pakan faktor utama terjadinya kebakaran hutan di Indonesia. Ada 3 (tiga) faktor penting penyebab ter­ jadinya kebakaran hutan dan lahan, yaitu : 1). Akumulasi Tumbuhan Bawah Keadaan tumbuhan bawah yang tebal dan kering pada musim kemarau. Kondisi ini sering ditemukan pada hutan bekas tebangan, sedangkan pada hutan pri­ mer, serasah dan tumbuhan bawah selalu lembab karena tertutup tajuk, sehingga sulit terbakar. 2). Penyalaan api oleh manusia Menggunakan api sewaktu membersih­ kan ladang dan memasak di dalam / seki­ tar hutan pada perburuan atau peman­

cingan. Membuang puntung rokok yang masih menyala di dalam / sekitar hutan. 3). Cuaca yang kering, berhubungan dengan: Tidak adanya hujan dalam periode yang panjang dapat menjadikan vegetasi kering yakni pada musim kemarau. Angin kencang, menyebabkan api men­ jadi besar dan menjalar lebih cepat.

Dampak kebakaran hutan dan lahan terha­ dap sosial ekonomi Kebakaran hutan dan lahan saat ini dipan­ dang telah menjadi salah satu bentuk gang­ guan terhadap pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kejadian kebakaran yang terjadi bisa menimbulkan kerusakan ekosistem hutan dan produktifi­ tas tanah, erosi dan banjir serta menurun­ kan keanekaragaman sumber daya alam hayati. Sedangkan asap yang ditimbulkan mengakibatkan terganggunya kesehatan masyarakat seperti diare dan radang saluran pernapasan, transportasi (darat, su­ ngai/danau/laut dan udara). Lebih dari 90% kebakaran hutan di Indone­ sia diakibatkan oleh manusia baik disengaja maupun tidak disengaja. Secara ekonomis yang hilang akibat keba­ karan hutan mencakup terganggunya proses produksi dan distribusi masalah lingkungan, dan kesehatan juga menurunkan jumlah tu­ ris, rusak dan gagalnya panen serta rusaknya hutan. Disamping itu asap yang mengan­ dung racun-racun seperti CO2, H2S dan CO disamping menyebabkan penurunan mutu lingkungan, juga menyebabkan tergang­

76

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

gunya hubungan Indonesia dengan negara tetangga. Dampak kebakaran hutan terhadap flora dan fauna Kebakaran hutan mengakibatkan banyaknya tumbuh-tumbuhan dan binatang yang mati, karena terjadi kekeringan dan tidak adanya air serta makanan yang cukup untuk menun­ jang kehidupan. Akibat lainnya, beberapa je­ nis tumbuhan dan binatang menjadi punah, karena keserakahan dan kelalaian manusia yang tidak bisa mengelola hutan sebagai sumber kehidupan.

Laju kerusakan hutan di Pulau Sumatera juga tidak kalah mengkhawatirkan. Tercatat ___% hutan hilang di Pulau Jawa dan hanya tersisa ____% hutan, itupun terbatas pada daerahdaerah konservasi seperti taman nasional dan cagar alam (sumber: Primata Indonesia oleh Supriatna dan Wahyono, EH, 2001). Indonesia masih memiliki hutan yang lebat pada tahun 1950. Sekitar 40 persen dari luas hutan pada tahun 1950 ini telah ditebang dalam waktu 50 tahun berikutnya. Jika dibu­ latkan, tutupan hutan di Indonesia turun dari 162 juta ha menjadi 98 juta ha.

2. Penebangan liar dan perambahan hutan
Penebangan liar dan perambahan hutan adalah salah satu dari sekian banyak kegiatan manusia yang menyebabkan hilangnya hutan dari permukaan bumi. Setiap tahun kondisi hutan Indonesia sema­ kin mengkhawatirkan. Dalam 50 tahun tera­ khir, Indonesia telah kehilangan hutan seluas lebih kurang 64 juta hektar hutan dataran rendah atau 40 % dari luas hutan sebelum­ nya. Sejak tahun 1996 laju kehilangan hutan indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun, sehingga dapat dikatakan setiap tahun Indo­ nesia kehilangan hutan seluas 3 kali wilayah DKI Jakarta atau seluas 6 kali lapangan bola setiap menit. Lemahnya penegakan hukum, kebakaran hutan, pembukaan lahan perke­ bunan, pembukaan lahan untuk pemukiman, pertanian tebas bakar, menciptakan Indone­ sia kehilangan hutan di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi sejak ta­ hun 1970 (Sumber: INFORM).

B. Akibat yang Ditimbulkan oleh Ru­ saknya Hutan.
Akibat dari hilangnya hutan, di Pulau Jawa khususnya dan di Indonesia umumnya, maka membawa dampak yang besar bagi kehidu­ pan. Ada beberapa hal yang terpengaruh dari hilangnya hutan adalah:

1. Kehilangan keragaman hayati
Berbarengan dengan hilangnya hutan tro­ pis di Indonesia yang merupakan habitat berbagai jenis satwa, maka mempunyai dampak yang besar bagi kehidupan satwa. Apalagi kegiatan manusia yang melakukan perburuan satwa sebagai binatang pelihara­ an (pet) maka akan mempercepat hilangnya keragaman hayati yang semuanya belum diketahui jenisnya atau manfaatnya bagi ke­ hidupan manusia. Kita ambil contoh Harimau Jawa dan Hari­ mau Bali yang lebih dahulu punah, dan kini hanya daerah tertentu saja yang dapat di­

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

77

jumpai “saudara” dari satwa karnivora ini di Sumatera. Belum lagi Badak, satwa primata, beberapa jenis mamalia dsb, yang juga me­ ngalami ancaman terhadap hilangnya hutan tropis. Selain satwa, rusaknya hutan juga berakibat punahnya beberapa jenis tumbuhan yang be­ lum semua diketahui manfaatnya. Beberapa jenis tumbuhan asli yang belum dibudida­ yakan, diyakini memiliki ketahanan terhadap berbagai serangan penyakit. Hilangnya satwa dan atau tumbuhan akibat rusaknya hutan tropis, memiliki keterkai­ tan. Beberapa tumbuhan pada hutan tropis, penyebarannya sangat tergantung dari ke­ beradaan satwa. Sebagai contoh orangutan diketahui telah membantu menyebarkan biji lebih kurang 40-an jenis. Ini artinya bila orangutan punah, maka lambat laun bebera­ pa jenis tumbuhan juga mengalami nasib yang sama. Ingat bunga anggun yaitu Calvaria major dari Kepulauan Mauritus, tumbuhan ini lambat laun punah, karena burung Dodo yang menjadi perantara dalam pembiakan tumbuhan itu punah karena perburuan.

C. Aksi Kegiatan
Aksi apa yang sekiranya dapat membantu dalam perbaikan lingkungan yang ada di sekitar kita? Cukup banyak yang dapat di­ lakukan, di bawah ini ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan, walaupun dampaknya tidak langsung terlihat, namun memerlukan waktu. Tetapi hal ini bila dapat terlaksana, memiliki dampak jangka panjang yang sangat membantu dalam usaha pelestarian alam dan lingkungan.

1. Penghijauan
Kegiatan penghijauan, baik dilakukan se­ cara massal pada daerah yang luas dan kritis ataupun dilakukan secara individu pada la­ han sempit, misalnya di halaman rumah atau pada lahan yang kosong, sangat bermanfaat terhadap alam dan lingkungan di sekitar kita. Penghijauan yang terpenting adalah perawatan, bukan hanya menanam dan diting­ galkan. Berbeda dengan proses alamiah yang ada pada hutan, penghijauan atau penana­ man pohon pada lahan di sekitar kita, me­ merlukan perawatan, seperti halnya mena­ nam pohon buah­buahan. Penanaman pohon yang memiliki nilai ekono­ mi, sangat penting artinya bagi masyarakat, sehingga kelak di kemudian hari memberikan hasil langsung bagi penanamnya, baik berupa buah ataupun kayu yang memiliki nilai eko­ nomi. Untuk kalangan sekolah, misalnya sekolah dasar, dengan menanamkan rasa cinta terha­ dap alam sedini mungkin, mulai dari menanam pohon, merawat, hingga memetik hasilnya, maka akan memiliki dampak yang cukup besar

2. Banjir, erosi dan kekeringan
Akibat yang langsung dirasakan oleh manu­ sia adalah banjir, akibat dari rusaknya hutan tropis. Sudah bukan rahasia lagi. Di berbagai daerah bila saat musim hujan tiba, maka berita banjir dan tanah longsor ada di mana­ma­ na, dan saat musim kering tiba, maka berita tentang kekurangan air akan menghiasi ber­ bagai berita. Kerugian banjir, tanah longsor, memang tak terhingga jumlahnya

78

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

di kelak kemudian hari. Misalnya jenis pohon tertentu diberikan nama “penanam” pohon tersebut, atau dilakukan kompetisi, maka si anak akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar agar pohon yang ditanam dapat hidup. Kegiatan ini sudah dilakukan di beberapa sekolah, dengan harapan siswa sekolah akan terus mempunyai perhatian terhadap ling­ kungan di sekitar kita. Tentu bapak dan ibu guru dapat melakukannya dan menerap­ kan di sekolahnya, mulai siswa sekolah kelas satu, dan akan dilihat hasilnya saat dia sudah duduk di kelas enam.

ngetahuan dan budi pekerti selama duduk di bangku sekolah, mulai dari tingkat ta­ man kanak­kanak hingga sekolah menengah umum. Guru pulalah yang memberikan mo­ tivasi dalam melakukan kehidupan seharihari, karena hampir 8 jam sehari anak berada dalam pengawasan guru. Guru merupakan jalur yang sangat penting di dalam menyebarkan pengetahuan, informasi dalam segala bidang, selain mata pelajaran yang sudah masuk ke dalam kurikulum. Hal ini sangat penting artinya dalam menyebar luaskan pengetahuan tentang konservasi yang selama ini balum banyak menyentuh ke tingkat siswa sekolah. Selama ini kegiatan di bidang konservasi ma­ sih didominasi oleh lembaga­lembaga swa­

2. Pelatihan dan pendidikan konser­ vasi di sekolah
Sekolah dan guru adalah “lembaga dan agen” perubah perilaku anak. Pemberi pe­

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

79

daya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, namun lembaga pendidikan masih belum banyak. Oleh karena itu untuk meningkatkan apresiasi konservasi kepada berbagai kalangan termasuk lembaga pen­ didikan, siswa sekolah, kegiatan ini mencari para “pemain baru” dalam konservasi. Program pendidikan konservasi melalui seko­ lah diyakini merupakan jalur yang dapat di­ tempuh dengan berbagai cara. a. Menyiapkan pendidik untuk mengetahui permasalah lingkungan yang ada di seki­ tar kita b. Membuat program pendidikan lingku­ ngan yang sederhana dan melibatkan langsung para pendidik, sehingga dapat memasukkan materi lingkungan di semua mata pelajaran. c. Mengajak siswa untuk melihat fakta di la­ pangan mengenai lingkungan. d. Mendiskusikan, dan mengajak siswa un­

tuk melakukan kegiatan yang mendukung tentang pelestarian alam e. Mengemas program pendidikan lingku­ ngan dan konservasi dengan berbagai bentuk. Misalnya seni dan budaya, lagu, kegiatan sosial, permainan dsb

3. Pemanfaatan sampah
Pengertian Sampah
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas ma­ nusia maupun alam yang belum memiliki ni­ lai ekonomis. a. Sumber­sumber sampah Rumah Tangga, Pertanian, Perkantoran Perusahaan, Rumah Sakit, Pasar dll. b. Sampah dibedakan menjadi Sampah Anorganik/kering: Contoh: logam,

80

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

besi, kaleng, plastik, karet, botol, dll yang tidak dapat mengalami pembususkan se­ cara alami. Sampah organik/basah: Contoh: Sampah dapur, sampah restoran, sisa sayuran, rem­ pah­rempah atau sisa buah dll yang dapat mengalami pembusukan secara alami. Sampah berbahaya: contoh: Baterei, botol ra­ cun nyamuk, jarum suntik bekas dll. c. Permasalahan sampah Secara umum pembuangan sampah yang ti­ dak memenuhi syarat kesehatan lingkungan akan dapat mengakibatkan: 1. Tempat berkembang dan sarang dari se­ rangga dan tikus 2. Menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan udara 3. Menjadi sumber dan tempat hidup ku­ man­kuman yang membahayakan ke­ sehatan. d. Pengelolaan Sampah 1. Tata cara Pemusnahan sampah 2. Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat dilakukan secara sederhana sebagai berikut: 2.1. Penumpukan. Dengan metode ini, sebenarnya sam­ pah tidak dimusnahkan secara lang­ sung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode pe­ numpukan bersifat murah, sederhana, tetapi menimbulkan resiko karena berjangkitnya penyakit menular, me­ nyebabkan pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit dan badan­badan air.

2.2. Pengkomposan. Cara pengkomposan merupakan cara sederhana dan dapat menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi. 2.3. Pembakaran. Metode ini dapat dilakukan hanya un­ tuk sampah yang dapat dibakar habis. Harus diusahakan jauh dari pemuki­ man untuk menghindari pencemarn asap, bau dan kebakaran. 2.4. “Sanitary Landfill”. Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi sampah ditutupi ta­ nah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas. e. Pemanfaatan Sampah: 1. Sampah basah: Kompos dan makanan ternak 2. Sampah kering: Dipakai kembali dan daur ulang 3. Sampah kertas: Daur Ulang

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

81

BAB XII MENUJU SEKOLAH HIJAU

aat ini banyak bermunculan tentang kata-kata hijau, yang artinya kegiatan yang ramah lingkungan atau memper­ lakukan alam dengan bijak. Ada sekolah hi­ jau (green School), perkantoran hijau (Green Office), Hotel Hijau (Green Hotel), perkotaan hijau (Green City), Kecamatan Hijau (Green Kecamatan), Pemukiman Hijau atau bahkan

S

sampai ke desa desa dengan sebutan Green Village (Desa Hijau) dan sebagainya. Sebenarnya apa yang disebutkan dengan kegiatan hijau itu? Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa kegiatan hijau itu, merupakan salah satu bagian kegiatan ma­ nusia dalam mengolah lingkungan hidupnya

82

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

dengan harapan dan tujuan agar tetap tercip­ ta lingkungan hidup yang tidak meninggalkan sifat­sifat alami yang manusiawi. Kegiatan­kegiatan yang dikembangkan da­ lam sekolah hijau Ini penting, untuk mena­ namkan kesadaran berperilaku hidup bersih dan sehat sejak di usia sekolah. Bagaimana pun warga lingkungan sekolah sangatlah beragam, mereka datang dari berbagai ling­ kungan. Diharapkan ketika berada di luar ling­ kungan sekolah, mampu menerapkan hidup bersih dan sehat seperti saat di sekolahnya. Lingkungan sekolah yang kondusif sangat diperlukan dalam menghasilkan tamatan yang cakap melalui proses belajar mengajar berbasis sistem pendidikan yang bermutu.

Tidak itu saja, lingkungan sekolah yang kon­ dusif juga akan ikut mendorong terwujud­ nya pola hidup bermutu yang pada saat ini sangat diperlukan dalam meningkatkan daya saing bangsa dimata dunia sekaligus melestarikan kekayaan sumber daya alam hayati Indonesia. Perwujudan sekolah hijau adalah sekolah yang memiliki komitmen dan secara siste­ matis mengembangkan program-program untuk menginternalisasikan nilai­nilai ling­ kungan dalam seluruh aktivitas sekolah. Sekolah dengan visi, misi, tujuan dan ke­ bijakan yang mengacu pada mutu sekolah, sangat berkepentingan mewujudkan pola hidup bermutu melalui program Green School.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

83

Sebenarnya tidaklah mudah mewujudkan kesejatian sekolah hijau karena tidak sekedar lingkungan fisik bersih yang terlihat, namun lebih pada terbangunnya kesadaran lingku­ ngan warga sekolah yang tercermin dalam perilaku keseharian sebagai tuntutan pening­ katan mutu hidup. Perwujudan Sekolah Hijau tidak terlepas dari peran swasta, LSM dan pemerintah. Dan yang paling penting adalah peran warga sekolah itu sendiri baik seluruh siswa, guru dan karyawan. Diperlukan guru atau bebe­ rapa guru untuk menjadi pelopor dan contoh bagi siswanya. Program sekolah hijau yang dikembangkan oleh Yayasan Kehati dan Yayasan Coca-Cola Indonesia ada lima kegiatan utama antara lain: o Pengembangan kurikulum berwawasan lingkungan. o Peningkatan kualitas kawasan sekolah dan lingkungan sekitarnya. o Pengembangan pendidikan berbasis ko­ munitas. o Pengembangan sistem pendukung yang ramah lingkungan. o Pengembangan manajemen sekolah ber­ wawasan lingkungan. Kini Kementerian Lingkungan Hidup RI, mem­ berikan sebuah penghargaan bagi sekolah yang mempunyai atau memiliki kegiatan yang berwawasan lingkungan. Program penghargaan itu melalui Program Adiwiyata, Penghargaan akan diberikan setiap Hari Ling­ kungan Hidup se Dunia pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya.

Beberapa sekolah yang telah mendapatkan penghargaan Adiwiyata, mengembangkan beberapa kegiatan sekolah antara lain: 1. Sekolah telah memiliki misi dan visi yang terkait dengan lingkungan. 2. Melakukan penghematan sumber daya alam dan energi. Misalnya penghematan listrik, kertas, air dsb. 3. Menata lingkungan sekolah yang ramah lingkungan. Misalnya tak ada lahan yang kosong dan semua ditanami dengan ber­ bagai tumbuhan baik sebagai tempat praktek siswa, seperti kebun sayur, kebun buah (untuk praktek IPA), pengelolaan sampah yang dapat digunakan sebagai bahan baku kompos. 4. Pengembangan kurikulum, mulok, ter­ integrasi atau bagian eskul yang terkait dengan lingkungan. 5. Bekerja sama dengan komunitas masyara­ kat untuk pemeliharaan lingkunga dan perbaikan alam. 6. Melakukan berbagai kegiatan yang terkait denga pelestarian alam dan lingkungan. 7. Melakukan peningkatan sumber daya manusia, baik siswa ataupun guru untuk lebih memahami tentang lingkungan. 8. dsb

84

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

BAB XIII KEGIATAN BERSAMA

adang­kadang kita kehabisan ide un­ tuk membuat sebuah kegiatan bersa­ ma, satu kelas, satu sekolah ataupun melibatkan beberapa sekolah untuk melaku­ kan kegiatan bersama yang terkait tentang pelestarian alam dan lingkungan hidup. Di bawah ini ada beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan bersama, baik untuk satu level kelas (hanya kelas 1 yang terdiri dari beberapa kelas) ataupun satu sekolah dan melibatkan semua komunitas. Ada beberapa kegiatan yang bisa dimodifikasi tergantung dari tingkat kebutuhan dan tujuan.

K

1. Pengenalan lingkungan.
Program pengenalan lingkungan, dapat di­ modifikasi atau diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran.

• Olah Raga: pada saat lari pagi, atau jalan pagi untuk pemanasan. Sebenarnya ba­ nyak hal yang dapat dikerjakan. Seiswa tidak hanya berolah raga denga jalan keliling sekolah, desa atau menelusuri jalan­ jalan. Siswa dapat diberikan tugas untuk mengamati, mengidentifikasi semua kehidupan yang ada selama perjalanan. Misalnya identifikasi daerah atau kehidu­ pan yang sehat dan tak sehat, kawasan kumuh, kawasan bencana dsb. Kemudia didiskusikan, apa hasilnya selama perjala­ nan oleh raga. • IPA/IPS selain pengamatan di atas, untuk kegiatan IPA banyak yang dapat dilaku­ kan. Misalnya pengamatan air bersih untuk kebutuhan air minum di desanya, tingkat pencemaran, permasalahan sam­ pah, pertanian, peternakan, pasar dsb.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

85

Pengamatan keanekaragaman hayati untuk kegiatan bersama juga dapat di­ lakukan. Misalnya dengan pengamatan kekayaan alam tentang tumbuhan. Baik tumbuhan yang sudah dibudidayakan ataupun yang belum. • Untuk pengamatan kekayaan alam flora dan fauna sangat bagus bila ada arena pembelajaran, yang sudah dibuatkan jalan atau jalur pendidikan. Apabila ti­ dak ada beberapa langkah yang dapat dilakukan: o Tentukan jalur yang akan dilalui oleh siswa. Misalnya jalan setapak di desa. perkampungan, jalan pematang sa­ wah, kebun dsb. o Jalur yang ditentukan sedapat mung­ kin jalur yang berputar dan ketika be­ rangkat dan pulang tidak pada jalur yang sama (loop trail). o Berikan tugas siswa untuk mencatat flora dan fauna yang dijumpai selama melakukan perjalanan. o Hal ini juga dapat membantu siswa un­ tuk belajar mengidentifikasi kekayaan alam yang ada di sekitar kita. • Program penyuluhan. Untuk program pe­ nyadaran dan penyuluhan,

kinan bisa dijadikan tambahan untuk dijual buahnya, kayunya dan hasil bagian yang lain. Menerapkan sedini mungkin kegiatan ini akan menambah menanamkan rasa cinta kepada siswa agar kelak mereka memiliki pe­ ngetahuan yang tentu seumur hidup tak akan terlupakan, yaitu menanam dan merawat kelak akan memanen, sehingga menanam­ kan rasa cinta terhadap tumbuhan.

3. Persami
Perkemahan sabtu minggu atau kegiatan perkemahan bersama pada akhir tahun atau pada acara tertentu, dapat juga didesain un­ tuk kegiatan yang sifatnya memperkenalkan atau usaha pelestarian alam. Kegiatan ini banyak dapat dilakukan, diberi­ kan dengan berbagai permainan yang terkait dengan lingkungan, sehingga mereka mema­ hami arti sebuah pelestarian alam bagi ke­ hidupan. Atau kegiatan pengenalan lingkungan dengan menentukan jalan atau jalur pendidikan yang sudah dibahan di atas. Kegiatan dapat di set­ ing mulai dari cara pembuatan tenda yang baik, tempat sampah, buang air kecil/besar untuk menanamkan kebersihan lingkungan. Apabila mereka diajak jalan­jalan dan di­ pandu oleh pemandu alam, sepanjang per­ jalanan dapat dijelaskan tentang obyek yang menarik untuk diketahui dan dikenal. Namun kalau tidak, dibuat beberapa pos, dimana di­ jaga oleh pembina atau guru, dan dijelaskan obyek yang menarik sepanjang perjalanan. Dan semua dilakukan dengan berdiskusi ta­ nya jawab antara guru dan siswa.

2. Penanaman pohon.
Program penanaman pohon dapat dilaku­ kan di setiap kelas, misalnya mulai kelas I SD. Siswa diberikan tugas untuk menanam dan merawat pohon buah atau pohon yang mem­ punyai nilai ekonomi penting. Seperti sebuah tabungan, pohon juga merupakan tabungan untuk masa depan. Misalnya saat SD melaku­ kan penanaman, nanti 6 tahun kemudia, ke­ tika sudah lulus, pohon sudah sebesar apa, sudah berbuah atau belum, dan kemung­

86

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

4. Kompetisi untuk sebuah prestasi.
Sebenarnya kegiatan ini untuk meningkat­ kan motivasi siswa terhadap kepedulian ter­ hadap lingkungan. Kegiatan dapat dilakukan mulai dari awal, misalnya. o Dibuat kelompok, setiap kelompok tidak lebih dari 10 orang. o Mereka dalam satu tenda. o Tentukan berbagai kegiatan yang dapat dikompetisikan yang terkait dengan pengetahuan alam, usaha pelestaria lingku­ ngan, bakti sosial, kebersihan, pembuatan syair dan lagu (kesenian), membuat per­ nak­pernik dari alam kemudian dipamer­ kan dan dinilai. o Untuk pengenalan alam dengan perjalan­ an (trekking), setiap kelompok mengiden­ tifikasi flora dan fauna yang ditemui. o Mereka wajib mendatangi pos untuk di­ berikan berbagai petunjuk, pengarahan atau pertanyaan

bih meresap dan tertanam ke dalam lubuk hati yang lebih dalam mengenai fungsi alam dan manusia sebagai kholik. Beberapa kegiatan yang dapat dikembang­ kan adalah: o Puasa, berbuka puasa dan sahur, dan sho­ lat wajib dan tarawih bersama. o Ceramah tentang alam dan Islam yang terkait dengan lingkungan. o Baca Al Qur’an saling bergantian atau se­ tiap siswa membaca juz yang berbeda, sehingga dapat selesai 30 Juz selama melakukan kegiatan ini. o Pengamatan di alam. o Tentu kegiatan ini dapat disesuaikan de­ ngan kondisi lokal. Sebenarnya masih banyak berbagai kegiatan yang dapat dilakukan bersama di luar kelas atau outdorr activities bagi siswa untuk lebih mendekatkan diri terhadap alam.

5. Pesantren Alam
Lebih baik bila dilakukan saat bulan puasa, karena suasana, waktu atau kondisi akan le­
PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

87

BAB IV PERMAINAN PEMBUKA

P

ermainan pembuka adalah sebuah kegiatan untuk mencairkan suasana, atau mengawali sebuah kegiatan inti yang berisi tentang pesan yang mengandung pemahaman tentang pelestarian alam, sebab akibat atau hubungan timbal balik antara mahluk hidup yang satu dengan yang lain. Beberapa permainan yang dapat membantu untuk mengawali kegiatan:

1. Tongji­tongji
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana Peralatan: ­­

Cara bermain : • Tangan kiri diangkat, dan tangan kanan menyentuh siku. • Sambil mengatakan tongji-tongji, tangan kanan menyentuk siku tangan kiri. • Kemudian mengatakan ”la .. la..” sambil tepuk tangan dua kali. • Katakan ”yim..yim..” sambil menggerak­ kan tangan (jari tangan). • Katakan ”tole..tole” sambil menggeleng­ kan kepala ke kiri dan ke kanan. • Kemudian katankan ”la ..la..” sambil bertepuk tangan dua kali. • Lakukan semakin cepat, semakin cepat dan semakin cepat. • Ulangi beberapa kali sampai terlihat siswa siap untuk diajak bermain dengan per­ mainan ini.

88

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

2. Lempar bola
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana, ketangkasan, berkenalan dan konsentrasi Peralatan: Bola tenis. Cara bermain: • Bagi siswa menjadi dua kelompok, sama banyak dan masing­masing membuat lingkaran. • Berikan bola pada salah satu siswa, dan lemparkan bola tersebut ke teman di depannya, sambil memanggil namanya. Berikan penjelasan setiap siswa harus mengingat kepada siapa memberikan bola dan dari siapa mendapatkan bola. • Demikian seterusnya, dan ulangi berapa kali. Dapatkan lebih cepat, karena per­ mainan ini dilombakan dengan kelom­ pok lainnya. • Dengan menggunakan stopwatch, guru dapat menghitung berapa menit siswa melemparkan bola ke temannya hingga di terima kembali. • Lemparan berikutnya harus mengikuti urutan yang diberikan bola.

dengan lakban, sejumlah peserta dengan kelompok yang diharapkan. 2. Berapa kelompok yang diinginkan? Sean­ dainya dibagi dalam 4 kelompok berarti 1 kelompok 5 orang. 3. Buatkan suara yang meniru suara apa saja, sebanyak 5 jenis suara. Misalnya su­ ara burung, gajah atau suara kendaraan. 4. Setelah semua tertutup matanya, setiap orang meneriakkan suara yang sudah ditentukan. Peserta mencari suara yang sama. Dalam permainan ini juga mengandung fi­ losofi, betapa sulitnya untuk mencari kelom­ pok diskusi yang seia sekata, perlu perjuang­ an. Namun akan bertemu juga bila dengan menyuarakan hati dan kesabaran.

Mencari pasangan untuk kelompok II
Cara bermain: 1. Kelompok yang lebih dari 20 orang mem­ bentuk sebuah lingkaran. 2. Berapa kelompok yang diinginkan? Untuk 20 orang bila akan dibagi menjadi 4 ke­ lompok, berarti satu kelompok terdiri dari 5 orang. 3. Peserta berhitung 1 – 4. Untuk orang ke 5 mulai berhitung dari 1 – 4. Begitu seterus­ nya, hingga orang terakhir. 4. Bagi yang merasa jatuh pada hitungan 1 kumpul dengan yang satu dan seterusnya. 5. Terbentuk 5 kelompok dengan pilihan acak.

3. Mencari pasangan
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana dan perkenalan Peralatan: ­­ Cara bermain: 1. Kelompok yang lebih dari 20 orang, di­ tutup matanya. Di dalam tutup mata diberikan tulisan rahasia yang ditutup

4. Puzzle
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: 5 anak per kelompok Tujuan: Mencairkan suasana

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

89

anak SD sebaiknya dibuat potongan yang besar serta jumlah kepingan 25­50 buah. • Guntinglah karton tersebut mengikuti pola untuk mendaptkan kepingan­kepi­ ngan puzzle. • Simpan kepingan puzzle tersebut dalam wadah tertentu (misalnya kotak sepatu yang sudah tidak terpakai) dan beri nama, keterangan mengenai gambar (misalnya tumbuhan/satwa yang hidup di air, satwa bertanduk dan berkaki 4, dsb) dan jumlah kepingan yang menjelaskan gambar puz­ zle tersebut di luar wadahnya. Peralatan: Puzzle yang terkait dengan flora fauna atau potongan gambar. Cara bermain: 1. Peserta diminta untuk membagi diri ke dalam kelompok, dengan jumlah anggota yang ditentukan instruktur 2. Peserta memilih nomer amplop (yang telah berisi potongan gambar) 3. Peserta diberikan potongan­potongan kertas dari sebuah gambar 4. Peserta bertugas menyatukan potongan kertas tersebut menjadi sebuah gambar Tips 1: membuat puzzle murah meriah • Carilah gambar satwa atau tumbuhan yang bisa diperoleh dari poster, majalah, kalender, poster, dsb • Tempelkan gambar tersebut pada sebuah karton tebal (bisa dari kardus yang sudah tidak terpakai, sampul map, dsb) • Di bagian belakang (yang tidak ditempeli gambar) gambarkan pola puzzle yang di­ inginkan. Semakin kecil ukuran dan sema­ kin banyak jumlah kepingannya, tingkat kesulitannya semakin tinggi. Untuk anak(kegiatan ini akan menyenangkan jika dapat dilakukan oleh anak­anak itu sendiri, dengan pengawasan dari guru, terutama pada saat pengguntingan).

5. Melukis wajah
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana Peralatan: ­­ Cara bermain: 1. Masing­masing peserta mendapatkan po­ tongan kertas ukuran kartu pos & pinsil. 2. Tugas dari masing­masing orang tersebut adalah melukis dirinya. 3. Setelah seluruh peserta melukis dirinya, hasil lukisan tersebut dikumpulkan oleh pemandu. 4. Kartu pos tersebut kemudian dibagikan kembali kepada seluruh peserta dengan catatan tidak boleh ada yang mendapat­ kan lukisan dirinya sendiri. 5. Masing­masing orang bertugas mewaw­ ancarai si empunya lukisan selengkap

90

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

mungkin (data minimal yang harus di­ dapatkan adalah nama, sekolah/kelas, hobi/kesukaan, dan ketakutan) 6. Hasil wawancara tersebut akan dipresen­ tasikan pada saat berkumpul

6. Tepuk tangan
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana, belajar berhi­ tung. Peralatan: ­­ Cara bermain: • Peserta diminta untuk memilih satu orang teman sebagai pasangannya. • Pemandu menyebut “satu” dan peserta melakukan tepuk tangan satu kali di ta­ ngan masing­masing dan dilanjutkan tepuk tangan satu kali dengan telapak

tangan kawan. • Pemandu menyebut “dua” , maka peserta melakukan dua kali tepuk tangan di ta­ ngan masing­masing dan dua kali tepuk tangan dengan kawan, dan seterusnya • Pemandu menyebutkan sebuah angka dan peserta melakukan tepuk tangan dengan pola serupa dengan jumlah yang sama dengan angka yang disebut. Per­ mainan selesai bila terjadi kesalahan. • Permainan bisa dilanjutkan dengan merubah formasi peserta menjadi tiga orang, empat orang, lima orang dan diakhiri dengan seluruh peserta Catatan: Permainan tepuk tangan ini juga dapat di­ rubah pertanyaannya. Misalnya 2 x 2, atau 2 + 3 atau 2 pangkat 3, atau pengurangan, pembagian dsb. sambil belajar menghitung dan bermain

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

91

7. Harimau dan rusa
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana Peralatan: Tali yang dibuat lingkaran atau ro­ tan atau kain sarung. Cara bermain: 1. Buat lingkaran besar, semua peserta dapat mengikuti permainan ini. 2. Berkan alat tali/rotan/kain sarung ke­ pada salah satu siswa dalam lingkaran, berperan sebagai rusa. 3. Lebih kurang di hadapan dalam ling­ karan berikan alat yang sama, dan ber­ peran sebagai harimau. 4. Rusa memasukkan tubuhnya dalam lingkaran dua kali, setelah itu di beri­ kan kepada teman sebelah kanannya. Demikian juga yang berperan sebagai harimau, memasukan tubuhnya ke dalam lingkaran, namun hanya sekali, kemudian berikan kepada kawan sebe­

lah kananya. 5. Terus kejar­kejaran, sampai tali/rotan/ kain sarung yang berperan sebagai rusa tertangkap dengan alat yang berperan sebagai harimau. 6. Bagi yang tertangkap, untuk maju ke de­ pan. 7. Ulangi beberapa kali, sampai suasana cair dan permainan inti dapat dimulai.

8. Transfer benda
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana dan kebersa­ maan Peralatan: 3­4 potongan kayu bulat, tergan­ tung jumlah kelompok. Cara bermain: • Siapkan potongan tongkat 40-50 senti­ meter. • Bagi siswa menjadi 2 kelompok atau 3 kelompok sesuai dengan jumlah siswa

92

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

dalam kelas. Minimal 1 kelompok 10 siswa. Berbaris. • Permainan ini adalah kebersamaan dan pertandingan. • Berikan tongkat kepada siswa terdepan, dan dijepit pada leher. Tidak boleh dipe­ gang tangan. • Beri aba-aba agar siswa memberikan (memindahkan) tongkat tersebut ke kawan di belakangnya. Dan seterusnya hingga tongkat itu sampai pada siswa terakhir.

9. Duduk bersama
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana Peralatan: ­­ Cara bermain: • Buat lingkaran besar, sebaiknya siswa pria dan wanita dipisahkan. • Lingkaran bertolak punggung (lihat gambar), dan rapat. • Siswa tangan di atas, dan kemudian saling duduk di lutut. • Beri aba-aba untuk berjalan, kiri-kanankiri­kanan. Diskusi: Kerja sama perlu kekompakan.

10. Hula hup
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana Peralatan: ­­ Cara bermain: 1. Peserta membuat sebuah lingkaran 2. Peserta dipersilahkan menghadap kanan. 3. Setelah itu seluruh tangan kanan peser­ ta disilangkan di antara dua paha sam­ pai menjulur keluar, sedangkan tangan kiri harus memegang tangan kanan kawan didepannya, sehingga memben­ tuk sebuah rantai. 4. Lingkaran rotan dimasukan dalam ling­

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

93

karan orang tersebut dan harus berputar hingga kembali lagi ke posisi semula.

12. Lingkaran besar lingkaran kecil
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan: Mencairkan suasana, belajar menghi­ tung kwadrat dsb. Peralatan: ­­ Cara bermain: • Buatlah lingkaran besar, dan semua siswa ikut dalam permainan tersebut. • Sambil bernyanyi, lingkaran besar... ling­ karan besar (siswa sambil berputar dan bergandeng tangan) lingkaran... lima. Demikian seterusnya, lingkaran 2, 3 atau sekalian belajar menghitung, kelipatan, pangkat dsb. • Misalnya lingkaran dua ..lingkaran dua ...dikalikan tiga (mereka membentuk ling­ karan yang berisi 6 siswa) • Dan akhirnya membuat lingkaran besar kembali.

11. Arah angin
Waktu permainan: 30 menit. Usia peserta: Semua usia Jumlah Peserta: ­­ Tujuan : Mencairkan suasana Peralatan: ­­ Cara bermain: • Buatlah lingkaran, dan semua siswa ikut dalam permainan ini. • Berilah penjelasan: Bila guru mengatakan angin dari kiri, maka siswa miring ke kanan. Bila guru mengatakan angin dari belakang, maka siswa doyong ke depan, dan seterusnya. • Namun bila guru mengatakan angin ribut, maka siswa pindah tempat ke depan. • Berilah penjelasan, siswa tidak perlu lari kencang, dan hindari bertabrakan saat guru mengatakan angin ribut.

94

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

DAFTAR PUSTAKA
1. Cornell J. 1989. Sharing Nature With Children. Dawn Publication, California, USA. 2. Grupo Aprender con la Naturaleza, 2003. A Day of Adventure in the Forest. English Edition, Xanadu Printing&Graphics, South Africa. 3. Ham Sam, 1992. Interpretation A Practical Guide for People with Big Ideas and Small Budgets. Golden, Colorado, USA: Fulcrum/North American Press. 4. Wahyono, EH, 1998. Bagaimana Menjadi Pemandu dan Interpreter Alam. Conservation Inter­ national Indonesia, Jakarta. 5. Wahyono, EH, Ario A, Digdo, A. 2002. Modul Pendidikan Konservasi Alam. Conservation Inter­ national Indonesia, Jakarta. 6. Wahyono, E.H, Sarilani, P, Rozali S, 2004. Main main di Hutan, Sebuah Pendekatan Untuk Pen­ didikan Konservasi Alam. Conservation International Indonesia, Jakarta. 7. Materi pelajaran sekolah

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

95

TENTANG KAMI
Yayasan Pendidikan Lingkungan Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga (YPLK3)
Visi
Menuju kehidupan Indonesia yang lebih sehat.

Misi
• Bekerjasama dengan berbagai lembaga, untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. • Melakukan program penyadartahuan dan peningkatan sumber daya manusia yang terkait dengan lingkungan. • Menerbitkan buku-buku bacaan tentang lingkungan, kesehatan, dan pertanian. YPLK3 adalah sebuah lembaga nir laba yang mempunyai kegiatan khusus, antara lain: • Pendidikan lingkungan kesehatan untuk menuju kesejahteraan keluarga. • Kampanye tentang penyadaran kesehatan lingkungan • Pelatihan peningkatan sumber daya manusia di bidang lingkungan dan kesehatan masyarakat. • Penerbitan buku yang terkait dengan program kegiatan. YPLK3 merupakan kumpulan para relawan yang berkegiatan di bidang lingkungan hidup, kesehat­ an dan peningkatan kapasitas gender dengan berbagai kegiatan. Para relawan memiliki berbagai pengalaman di bidang masing­masing. Para relawan yang ber­ gabung dalam YPLK3 umumnya pernah menjadi relawan di berbagai daerah, misalnya penyulu­ han kesehatan di Aceh pasca tsunami, penanganan para pengungsi di berbagai lokasi bencana, peningkatan kapasitas kaum perempuan (ibu rumah tangga) dengan berbagai keahlian, kampa­ nye penyadaran berbagai penyakit menular seperti Aids, TBC, flu burung, kampanye penyadar ta­ huan tentang lingkungan hidup, pendidikan lingkungan hidup, pendidikan lingkungan kesehatan, sanitasi, pertanian organik, pembuatan kompos, pembuatan energi alternatif, pengembangan wilayah pesisir dsb. YPLK3, selama ini merupakan lembaga yang banyak melakukan berbagai kegiatan yang terkait tentang CSR beberapa perusahaan. Kegiatan yang dilakukan lebih banyak untuk pendampingan masyarakat.

96

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

Perkumpulan Siberut Hijau (PASIH)
Perkumpulan Siberut Hijau disingkat PASIH adalah lembaga non­pemerintah dan berbasiskan masyarakat. PASIH memiliki visi untuk terciptanya keselarasan pelestarian keanekaragaman haya­ ti dan pembangunan yang adil dan berkelanjutan di pulau Siberut. Sementara misinya adalah mewujudkan keseimbangan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelan­ jutan dengan senantiasa memperhatikan nilai-nilai sosial budaya, aspek ekologi, dan ekonomi di Pulau Siberut. Untuk mewujudkannya, organisasi ini berusaha membangun kapasitas masyarakat dan mempromosikan dan menyebarluaskan informasi dan teknologi tepat guna, mendukung per­ baikan kualitas kehidupan dan memperbaiki sistem pemanfaatan sumber daya alam. PASIH merupakan transformasi dari sebuah program kolaboratif yang bertajuk Kolaboratif Manajemen (Ko­Manajemen) Siberut. Program Ko­Manajemen dimulai pada tahun 2001 dengan melibatkan Balai Taman Nasional Siberut (BTNS), Masyarakat Adat Siberut, LSM (Yayasan Citra Mandiri) dan didukung oleh UNESCO Kantor Jakarta. Program ini selesai tahun 2007. Komponen Ko­Manajemen bersepakat melanjutkan kerja konservasi dengan mendirikan PASIH pada tanggal 22 April 2007. PASIH terdaftar melalui akta notaris sejak 24 Mei 2007 dengan akta No. 10 yang dibuat dihadapan Notaris/P.P.A.T RISMADONA, S.H. dan terdaftar pada panitera Pengadilan Negeri Kelas I.A Padang No 04/2007 sesuai dengan SK MENKEH NO. C–872.HT.03.01–1999. Kegiatan utama PASIH adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, melakukan pendampingan di akar rumput dan organisasi­organisasi lokal, memperkuat jaringan lembaga non­pemerintah dan para profesional. Organiasi ini meningkatkan kesadaran dan kemampuan beberapa stakeholder, seperti kalangan perempuan, organisasi lokal untuk mendorong ke arah kemandirian dan mengambil inisiatif untuk mengembangkan teknologi dan menciptakan kewirausahaan akar rumput.

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

97

98

PA N D U A N G U R U M E T O D E P E M B E L A J A R A N P E N D I D I K A N L I N G K U N G A N H I D U P U N T U K S E KO L A H D A S A R

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->