BAB 5 PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN SEPARATISME Gerakan pemisahan diri (separatisme) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI

) di wilayah Aceh, Papua, dan Maluku merupakan masalah bersama bangsa Indonesia yang sampai dengan saat ini masih belum dapat dituntaskan. Upaya penyelesaian gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah menunjukkan kemajuan yang berarti dengan telah dicapainya butir-butir kesepakatan bersama dalam perundingan informal di Helsinki. Namun, perlu terus diupayakan adanya kerjasama dalam memelihara suasana kondusif khususnya dalam pelaksanaan butir-butir kesepakatan yang telah dicapai. Tidak dapat dihindari kemungkinan adanya pihak yang melakukan gangguan keamanan berupa penghadangan, penculikan, penyanderaan, serta pemerasan terhadap masyarakat. Walaupun saat ini kondisi mental dan kesejahteraan rakyat Aceh masih belum pulih akibat separatisme dan bencana tsunami 26 Desember 2004, namun dengan telah disahkannya Undang-undang Pemerintahan Aceh kiranya kondisi keamanan di wilayah Aceh diharapkan semakin kondusif. Saat ini merupakan periode yang sangat penting dalam membangun kebersamaan rakyat Aceh sebagai bagian integral bangsa Indonesia. Keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh akan secara signifikan membangun kepercayaan

Tergalangnya tokoh-tokoh kunci gerakan separatis tersebut diharapkan mampu meredam aktivitas bersenjata. Oleh karena itu. Dengan demikian. langkah preventif untuk mencegah semakin mengakarnya gerakan OPM lebih tepat jika diarahkan dengan cara mengambil hati masyarakat Papua dengan membangun Papua secara berkeadilan. Upaya ini telah menunjukkan keberhasilan dengan indikator semakin menurunnya intensitas perlawanan gerakan bersenjata. Di samping itu. langkah rekonsiliasi dengan OPM masih membutuhkan waktu untuk mencapai keberhasilannya. Kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai memerlukan waktu bagi penyelesaian permasalahan secara menyeluruh. Sementara itu penyelesaian kasus separatisme di Papua secara simultan terus dilakukan dengan intensif mengupayakan penyelesaian secara komprehensif. Berbagai langkah kebijakan telah diterapkan terhadap kedua wilayah tersebut. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana menurunkan tingkat perlawanan gerakan separatis dan menggalang tokoh kunci gerakan separatis OPM. Namun demikian kondisi sosial masyarakat dan masih kuatnya dukungan sebagian kelompok masyarakat terhadap perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) perlu diwaspadai dengan baik.dan kebersamaan rakyat Aceh terhadap anak bangsa Indonesia lainnya dalam wadah NKRI. Sejumlah kebijakan yang telah dan sedang dilaksanakan bagi provinsi Papua telah menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan kearah terciptanya kondisi lebih baik.2 . Adanya pengakuan negara asing meskipun tidak memiliki landasan hukum yang kuat merupakan benih kesulitan di masa yang akan datang apabila upaya-upaya diplomasi luar negeri tidak dilakukan secara intensif. Pencegahan dan penanggulangan gerakan separatisme terutama di Aceh dan Papua secara signifikan telah menguras sumber daya nasional. upaya-upaya pembinaan secara terus 05 . Otonomi khusus di provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) dan disahkannya UUPA yang memberikan berbagai opsi bagi pembangunan dan keleluasaan penyelenggaraan pemerintahan di provinsi NAD diharapkan benar-benar dapat menyelesaikan dan menghapus tuntutan serta ide separatisme di wilayah Aceh secara abadi.

dan sikap sebagian elit politik Papua terindikasi turut memberikan andil bagi berlarut-larutnya penyelesaian masalah separatisme di Papua. Gerakan pemisahan diri (separatisme) dari NKRI yang masih memerlukan penanganan serius saat ini adalah di Aceh dan Papua. seperti masih adanya sementara kalangan yang menolak UndangUndang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan sikap GAM yang dinilai belum secara tulus menerima perdamaian. Gerakan Separatis Papua (GSP) terdeteksi terus memperkuat basis dukungan melalui lembaga politik dan adat. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI Ancaman disintegrasi bangsa yang muncul sebagai dampak dari rasa ketidakadilan serta merebaknya sentimen primordialisme secara berlebihan telah melunturkan rasa dan kepentingan nasional bangsa Indonesia.424 orang mantan anggota GAM. Adanya pengakuan dari negara lain yang memberikan ijin pembukaan perwakilan GSP. seperti Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Dewan Adat Papua (DAP). meskipun tidak memiliki landasan hukum yang kuat namun dapat diperkirakan merupakan benih kesulitan di masa mendatang yang akan semakin mempersulit penyelesaian masalah Gerakan Separatis Papua. mereka berupaya menginternasionalisasikan masalah Papua melalui pencarian suaka politik ke beberapa negara asing bahkan mendapatkan dukungan dari negara asing. Disamping itu. serta sengketa pilkada yang hingga kini 05 .3 . Gerakan politiknya juga memperluas resistensi masyarakat Papua terhadap kebijakan otonomi khusus (Otsus) dan pemekaran wilayah. Implementasi butir-butir MoU menghadapi berbagai kendala. sehingga dapat meningkatkan moral kelompok GSP. akan merupakan nilai positif bagi penyelesaian masalah separatisme di provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sementara itu. Namun demikian. pemberian amnesti dan abolisi kepada 1.menerus perlu dilakukan agar gerakan separatisme tidak mengkristal sehingga sulit ditangani. pemahaman terhadap kehidupan bangsa yang multietnis dan multikulturis yang belum sepenuhnya utuh serta permasalahan kesejahteraan dan keadilan sosial yang dihadapi sebagian masyarakat Papua. I. Disamping mengangkat isu Freeport.

LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN DAN HASIL-HASIL YANG DICAPAI dalam pencegahan dan Langkah-langkah kebijakan penanggulangan separatisme adalah: 1) 2) Penguatan koordinasi dan kerjasama antarlembaga pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan separtisme.belum terselesaikan merupakan sikap elit politik khususnya para calon yang tidak siap menerima kekalahan. Penguatan komunikasi politik pemerintah dan masyarakat. Terkait dengan masalah reintegrasi bagi GAM dan masyarakat korban konflik.4 . sehingga diharapkan GAM 05 . Disadari bahwa UUPA yang telah disetujui oleh DPR-RI pada tanggal 11 Juli 2006 tidak mungkin dapat memuaskan semua pihak. Pelaksanaan pendidikan politik yang berbasiskan multietnis dan multikultur dan rasa saling percaya. Penguatan peran aktif masyarakat lokal dalam pencegahan dan penanggulangan separtisme. Pemerintah terus berupaya mengatasi dan mengeliminasi sejumlah kendala yang ada. 3) 4) 5) 6) Dalam penyelesaian masalah separatis. terlebih untuk dapat mengakomodasi 2 kepentingan yang berbeda. Demi kepentingan perdamaian. Pemerintah memperpanjang masa tugas Aceh Monitoring Mission (AMM). Pemulihan keamanan dan peningkatan upaya-upaya komprehensif penyelesaian separatisme di NAD dan Papua terutama peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penumbuhan rasa cinta tanah air. Mendeteksi secara dini potensi-potensi konflik dan separatisme. II. secara keseluruhan lambat laun akan menjadi akumulasi dan lahan subur bagi tetap berkembangnya ide dan gerakan separatisme di Papua. Pemerintah berusaha melakukan restrukturisasi Badan Reintegrasi Aceh (BRA) sebagai badan yang bertanggung jawab dalam proses reintegrasi guna dapat lebih fokus dalam melaksanakan tugasnya.

yang pada akhirnya mampu mengubah sikap Australia untuk meninjau kembali kebijakan keimigrasiannya. Aparat keamanan berupaya terus memburu keberadaan senjata illegal guna menghindari munculnya masalah gangguan keamanan yang berpotensi menggagalkan upaya perdamaian. Pemerintah melakukan pendekatan khusus kepada pihak Australia. khususnya terkait dengan para pencari suaka asal Papua. Keseriusan pemerintah telah ditunjukkan sejak awal. khususnya penindakan terhadap aksi-aksi kriminalitas dengan menggunakan senjata api. Pemerintah juga mendorong dan memfasilitasi DPR RI untuk melakukan pendekatan dengan berbagai pihak di Australia.dan masyarakat korban konflik dapat terbantu dan hidup normal dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun terkait dengan permasalahan separatisme di Papua. rakyat Aceh termasuk anggota GAM pasca bencana tsunami sudah jenuh dengan suasana konflik.5 . Di sisi lain. pemerintah melakukan protes keras antara lain dengan penarikan sementara Dubes RI untuk Australia. Pada tingkat kementerian terkait/instansi. Pemerintah secara intens melakukan koordinasi dengan pihak GAM dan AMM untuk secara bersama membahas segala permasalahan. antara lain dengan berusaha keras meyakinkan pihak-pihak yang kurang mendukung penandatanganan perdamaian karena dinilai lebih menguntungkan GAM dan mengancam keutuhan NKRI. Secara sungguh-sungguh Pemerintah berupaya menciptakan suasana yang kondusif dengan mengeliminir potensi-potensi kerawanan. namun Pemerintah optimis perdamaian komprehensif di Aceh dapat diwujudkan. pada tingkatan akar rumput. 05 . sehingga perdamaian merupakan satusatunya harapan bagi mereka untuk hidup lebih baik di masa mendatang. Menyangkut pemberian suaka oleh pemerintah Australia kepada 43 warga negara Indonesia asal Papua. baik lobilobi internasional maupun pendekatan stakeholder di Papua. Pemerintah berupaya menempuh langkah-langkah strategis. baik di Commision on Security Arrangement (CoSA) maupun aktivitas penting lainnya seperti sosialisasi MoU serta UUPA di seluruh wilayah NAD. Kendati masih dihadapkan pada sejumlah kendala selama masa implementasi damai.

(c) pendidikan strategis ketahanan nasional dalam rangka peningkatan kualitas kader pimpinan nasional. perlu ditindaklanjuti dengan (a) perumusan rancangan kebijakan nasional dalam rangka pembinaan ketahanan nasional untuk menjamin tercapainya tujuan dan kepentingan nasional dan keselamatan negara dari ancaman terhadap kedaulatan. TINDAK LANJUT YANG DIPERLUKAN Dalam rangka meningkatkan hasil-hasil yang telah dicapai serta mengatasi permasalahan yang dihadapi. wawasan nusantara. dan (d) pemantapan nilai-nilai kebangsaan melalui penyelenggaraan perumusan kebijaksanaan secara konsepsional serta pengembangannya. penegakan kedaulatan dan penjagaan keutuhan wilayah NKRI. Meskipun terdapat sedikit gesekan. peningkatan komitmen persatuan dan kesatuan nasional. pemantapan keamanan dalam negeri. III. Di dalam negeri. dan sistem manajemen nasional.Pendekatan internasional juga dilakukan dan berhasil meyakinkan kelompok GSP di Papua New Guinea (PNG) bersikap mendukung kebijakan Otonomi Khusus di Papua. 05 . pelantikan Gubernur Papua pada tanggal 24 Juli 2006 menandakan proses demokrasi telah berjalan dengan baik di Papua. maka diperlukan pengembangan ketahanan nasional. serta peningkatan kualitas pelayanan informasi publik.6 . pengembangan penyelidikan. persatuan dan kesatuan. ketahanan nasional. (b) penelitian dan pengkajian strategis masalah aktual yang berkaitan dengan konsepsi pertahanan dan keamanan nasional. Upaya pengembangan ketahanan nasional. Pemerintah senantiasa berupaya mendorong terwujudnya suasana kondusif di Papua dengan meningkatkan keamanan dan terus berusaha mengadakan pendekatan dan memfasilitasi perdamaian antara elit-elit Papua khususnya yang bersaing di Pilkada 2006 untuk memiliki sikap menerima hasil pilkada yang telah diselenggarakan secara demokratis. sehingga tidak mengorbankan masyarakat kecil. pengamanan dan penggalangan keamanan negara. Selanjutnya pemerintah optimis permasalahan separatisme di Papua dapat diselesaikan seiring dengan pelaksanaan otonomi khusus.

pengamanan dan penggalangan keamanan negara. Dalam peningkatan komitmen persatuan dan kesatuan nasional. Selanjutnya pemantapan keamanan dalam negeri. (c) pengkajian analisis intelijen perkembangan lingkungan strategis.7 . peperangan informasi. tindak lanjut yang diperlukan adalah (a) pendidikan politik masyarakat. dan pengawasan wilayah). (c) upaya perwujudan dan fasilitasi berbagai fora dan wacana-wacana sosial politik yang dapat memperdalam pemahaman mengenai pentingnya persatuan bangsa. Dalam penegakan kedaulatan dan penjagaan keutuhan wilayah NKRI. tindak lanjut yang diperlukan adalah (a) pengembangan intelijen negara didukung intelijen teritorial dan intelijen sektoral/fungsional agar mampu melakukan deteksi dini gerakan separatisme. (b) koordinasi seluruh badan-badan intelijen pusat dan daerah di seluruh wilayah NKRI dalam hal mencegah dan menanggulangi separatisme. 05 . baik berdiri sendiri maupun memiliki keterkaitan dengan kekuatan-kekuatan di luar negeri.Adapun pengembangan penyelidikan. serta (c) pelaksanaan diplomasi untuk memperoleh dukungan internasional terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan NKRI. serta penanggulangan perang urat syaraf dari berbagai anasir separatisme yang sudah memasuki berbagai aspek kehidupan (melalui counter opinion. pengolahan dan penyusunan produk intelijen dalam hal deteksi dini untuk mencegah dan menanggulangi separatisme. dan menghormati perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. tindak lanjut yang diperlukan adalah: (a) antisipasi dan pelaksanaan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) terhadap gerakan separatis yang berusaha memisahkan diri dari NKRI terutama gerakan separatisme bersenjata yang mengancam kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia. mengikis sikap diskriminatif. (b) antisipasi dan pelaksanaan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) terhadap aksi radikalisme yang berlatar belakang primordial etnis. tindak lanjut yang diperlukan adalah peningkatan koordinasi penanganan terhadap gangguan keamanan yang mengancam integritas NKRI serta persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat. ras dan agama serta ideologi di luar Pancasila yang mengarahkepada separatisme. (b) sosialisasi wawasan kebangsaan.

Sementara itu. sehingga memicu berbagai kekecewaan dan ketidakpuasan. 05 . pengabaian hak-hak dasar penduduk asli Papua dan masih adanya perbedaan pendapat mengenai sejarah penyatuan Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah masalahmasalah yang perlu diselesaikan. Dalam peningkatan kualitas pelayanan informasi publik.8 . penegakan hukum serta penyelesaian pelanggaran HAM. tindak lanjut yang diperlukan adalah peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan informasi yang memperkuat ikatan persatuan dan kebangsaan. karena upaya penyelesaian masalah tersebut selama ini dinilai kurang menyentuh akar masalah (root problems) dan aspirasi masyarakat Papua.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful