P. 1
miras

miras

|Views: 50|Likes:
Published by dicskatro

More info:

Published by: dicskatro on May 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2012

pdf

text

original

MAKALAH

MIRAS DAN NARKOBA
DALAM HUKUM ISLAM


Disusun Untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia
Dosen pengampu : Bp. SUDARSONO






NAMA : SODIKUN
NIM : 11.22.1200




STIE DHARMAPUTRA
SEMARANG
2012


MAKALAH

MIRAS DAN NARKOBA
DALAM HUKUM ISLAM


Disusun Untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia
Dosen pengampu : Bp. SUDARSONO





NAMA : SODIKUN
NIM : 11.22.1200




STIE DHARMAPUTRA
SEMARANG
2012




A. Pendahuluan
Miras dan narkoba merupakan dua hal yang memiliki kesamaan daya perusak
terhadap sendi-sendi kehidupan, sehingga menyita perhatian banyak kalangan. Lebih-
lebih ketika sekian banyak penelitian menyatakan bahwa korban miras dan narkoba
saat ini telah merambah ke segenap lapisan masyarakat mulai dari anak yang baru
dilahirkan hingga orang tua, mulai dari rakyat jelata sampai konglomeratnya. Bahkan,
tidak sedikit dari anak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, yang ikut menjadi
korban keganasannya. Yang sangat memprihatinkan lagi, bahwa perilaku orang tua
sudah biasa mempengaruhi sejak si kecil masih berada dalam kandungan. Bila waktu
hamil sang ibu terbiasa minum alkohol, maka resiko si kecil berkembang menjadi
pecandu alkohol pun juga besar.
Dr John S Baer, seorang psikolog dari University of Washington mengatakan:
“Jumlah dan frekuensi alkohol yang diminum ibu hamil bisa menjadi patokan berapa
besar anak berkembang menjadi alkoholik”. Penelitian ini membuktikan penyebab
semakin lama semakin banyak anak yang terlibat masalah alkohol. Baer yang juga
mengajar di Addiction Treatment Center mengatakan kalau penelitian ini sebenarnya
melanjutkan penelitian-penelitian sebelumnya. Para ilmuwan sudah lama
menghubungkan masalah alkoholik dengan lingkungan dan kebiasaan. Dan studi ini
adalah yang pertama mengangkat hubungan ibu hamil yang mengkonsumsi alkohol
dengan kemungkinan munculnya masalah alkohol pada si kecil. Penelitian ini
membutuhkan waktu yang lama sejak tahun 2974-1975, sekitar 500 ibu hamil yang
mempunyai kebiasaan minum alkohol berhasil dikumpulkan. Selanjutnya peneliti
mengikuti perkembangan buah hati mereka selama 21 tahun. Penelitian ini tidak sia-
sia. “Kami menemukan sekitar 14 persen dewasa muda berusia 21 tahun, yang saat
janinnya banyak terpapar alkohol, mengalami sedikitnya 4 sampai 5 kali masalah
dengan alkohol. sedangkan anak yang dalam kandungan terpajani sedikit alkohol,
hanya 4 persen yang berkembang menjadi pecandu. Memang masalah ini tidak bisa
dihubungkan secara langsung. Namun dengan adanya penelitian ini menunjukkan
bahwa kebiasaan minum semasa hamil bisa menigkatkan resiko anak menjadi
pecandu juga. Selain itu, kebiasaan minum alkohol bisa membuat anak lahir cacat
atau kurang bulan (premature).
Lain halnya dengan narkoba. Dampaknya lebih berbahaya dari sekedar meneguk
minuman keras. “Pemakaian narkoba dapat mengakibatkan gangguan mental atau
jiwa yang dalam istilah kedokteran jiwa (psikiatri) disebut gangguan mental organic.
Disebut organic karena narkoba ini bila masuk ke dalam tubuh maka langsung
bereaksi dengan sel-sel syaraf pusat (otak) serta menimbulkan gangguan pada alam
pikir, perasaan, dan perilaku. Paramedis pun telah bersepakat, bahwa heroin dan
semisalnya dapat memakan sel-sel otak dan mengakibatkan kerusakan jiwa serta
badan manusia. Sedangkan ekstasi merangsang susunan syaraf pusat, terutama syaraf
otonom yang mengatur peredaran darah dan pernapasan. Rangsangan ini
menyebabkan orang mampu bergerak terus menerus tanpa rasa lelah, tidak tidur
semalam suntuk, hilang nafsu makan, dan jika ada suara musik secara refleks
kepalanya langsung bergoyang-goyang atau bergeleng-geleng mengikuti alur musik
tanpa henti. Dalam dosis tinggi, narkoba akan menyebabkan tekanan darah meningkat
sehingga menambah kerja jantung secara paksa dan memungkinkan pecahnya
pembuluh darah. Dan sesungguhnya mengonsumsi barang terlaknat ini menyebabkan
penderitraan pada manusia secara material maupun moral.
Dari aspek stabilitas keamanan, misalnya, baik nasional maupun internasional,
persoalan narkoba saat ini sangat memperihatinkan. Dalam skala nasional banyaknya
kejahatan-kejahatan di tanah air erat sekali hubunganya dengan masalah narkoba.
Bahkan yang sangat mengerikan bahwa jaringan pengedar narkotika di Bali,
Surabaya, dan Jakarta, selama lebih dari dua tahun ini dikendalikan oleh seorang
narapidana (napi) laki-laki dewasa kelas I di Tangerang. Napi yang menjadi otak
peredaran heroin dan putau tersebut adalah Innocent Iwuofor, seorang warga Negara
Nigeria.
Dalam skala internasional, ternyata kegiatan terorisme sering terkait dan erat
hubunganya dengan kegiatan perdagangan narkotika ilegal lintas batas negara
sehingga kepustakaan mengenai narkotika mengenal dan mengakui kedekatan
kegiatan tersebut sebagai narco-terorism. Pasangan dua kegiatan yang berbeda latar
belakang tampaknya semakin serasi sejalan dengan perkembangan pasca perang
dingin karena kontrol dari negara kuat semakin berkurang terutama setelah hancur
leburnya Negeri Unisoviet dan Yugoslavia. Kegiatan mafia kejahatan yang dimotori
oleh bekas agen–agen KGB semakin merajalela dan menghalalkan segala cara untuk
mengeruk keuntungan berlipat ganda yang tidak pernah akan diperoleh selama rezim
Unisoviet masih berdiri utuh. Kegiatan perdagangan ilegal narkotika menjadi salah
satu alternative sumber pendanaan bagi kegiatan terorisme dan kejahatan
transnasional lainya, seperti perdagangan wanita dan anak-anak serta penyelundupan
migran ke beberapa negara.
Paparan di atas menunjukkan bahwa minuman keras, narkotika, dan obat berbahaya
merupakan hal yang sangat menarik sekali untuk dikaji secara intensif, guna
memberikan sumbangan pemikiran untuk mengatasi minuman keras, narkotika, dan
obat berbahaya yang menjadi permasalahan serius, baik dalam skala nasional maupun
internasional.

B. Tinjauan Umum Tentang Miras Dan Narkoba
1. Miras
a. Pengertian Miras (minuman keras)
Minuman keras, sering kali disingkat dengan miras, adalah minuman beralkohol yang
diproses dari hasil pertanian dengan jalan fermentasi atau destilasi. Dalam bahasa
Arab (Islam) disebut khamer. Jadi, miras di sini adalah semua jenis minuman yang
mengandung alkohol (ethanol) dan apabila diminum dapat memabukkan, membuat
linglung, dan tidak sadarkan diri. Sekali pun mengandung alkohol (dibawah 20%) dan
tidak bereaksi memabukkan, maka berdasarkan Standard Industri Indonesia (SII)
tidak dinamakan minuman keras, akan tetapi dinamakan minuman ringan (shoft
drink).
b. Macam-macam Miras
Macam-macam miras bisa diketahui melalui sedikit dan banyaknya kandungan
ethanol yang terdapat pada setiap jenis minuman keras yang tersedia dan beredar di
masyarakat. Dewasa ini minuman beralkohol (ethanol) yang dikonsumsi masyarakat
tersedia dalam berbagai konsentrasi mulai dari 5% sampai 50%, seperti: Must dengan
kadar ethanol 5-6%, Wine: 10%, Frotified Wine: 15-20%, Beer: 49%, Spirit: 38%,
Whiskey US: 43-50%, Whiskey UK: 40%. , Anggur: 7-22%, umumnya 12-14 %,
anggur merah: kira-kira 14%, Anggur Putih: kira-kira 10%, Champagne atau
Sparking Wine: 10,13-20%, Port dan Sherry (dari jenis Anggur): 20% atau lebih,
golongan bir : 4%-7%, Ale: 8-16%, Porter: 8-16%, Bir hitam: 8-16%, Toak (hasil
fermentasi nira): 8%, Gin (dihasilkan dengan cara destilasi): 37-54%, Whiskey: 37-
53%, Brendy: 37-43% dan sebagainya.
c. Klasifikasi Miras
Minuman beralkohol dikelompokkan dalam golongan sebagai berikut:
1. Minuman beralkohol golongan A, yakni yang memiliki kadar ethanol (C2HOH)
sebesar 1% sampai dengan 5%.
2. Minuman beralkohol golongan B, yakni yang memiliki kadar ethanol kurang dari
20%.
3. Minuman beralkohol golongan C, yakni yang memiliki kadar ethanol lebih dari
20% sampai 55%.

d. Pengaruh Miras terhadap Kejiwaan
Minuman keras baru berpengaruh pada kejiwaan, apabila mencapai konsentrasi
ethanol dalam darah dengan efek klinik sebagai berikut:
1. 30-100 mg/dl: Eforia sedang, aktif berbicara, hilang hambatan, tidak bisa
berkonsentrasi, inkordinasi, tidak bisa berpendapat.
2. 100-200 mg/dl: Emosi tak stabil, Excitement, reaksi lambat, keseimbangan hilang,
bicara tidak karuan.
3. 200-300 mg/dl: Binggung, disorientasi, pusing, diplopia, pupil melebar,
keseimbangan berkurang.
4. 300-400 mg/dl: Apatis, tidur, muntah, ngompol, tidak mau berdiri.
5. 400 mg/dl: tidak sadar, koma, pernapasan lambat, reflek mata berkurang,
temperatur tubuh menurun, hipotensi, shok mati.

C. NARKOBA
a. Pengertian Narkoba
Narkotika dan obat-obat berbahaya yang seringkali disingkat narkoba adalah dua
jenis yang berbeda. Pertama, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan. Kedua, psikotropika dan obat-obat berbahaya adalah zat atau obat,
baik alami maupun sintesis, bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktivitas mental dan perilaku.
b. Jenis-jenis Narkotika
Narkotika atau obat bius yang dalam bahasa Inggris disebut narcotic adalah semua
bahan obat yang mempunyai efek kerja yang pada umumnya bersifat:
1. Membius (menurunkan kesadaran)
2. Merangsang (meningkatkan semangat kegiatan atau aktivitas)
3. Ketagihan (ketergantungan , mengikat, dependence)
4. Menimbulkan daya berkhayal (halusinasi)
Zat ini secara garis besar digolongkan menjadi dua macam: narkotika dalam arti
sempit dan narkotika dalam arti luas. Narkotika dalam arti sempit, bersifat alami.
Yaitu semua bahan obat opiatin, cocaine, dan ganja. Sedangkan narkotika dalam arti
luas, bersifat alami dan syntetic. Yaitu semua bahan obat-obatan yang berasal dari:
a. Papaver Somniferum (opium atau candu, morphine, heroin dan sebagainya)
b. Eryth Roxylon Coca (cocaine)
c. Cannabis Sativa (ganja, hasyisy)
d. Golongan obat-obatan depressant (obat-obat penenang)
e. Golongan obat-obatan stimulant (obat-obat perangsang)
f. Golongan obat-obatan hallucinogen( obat pemicu khayal)
Dr.Shaleh bin Ghonim as Sadlan membagi obat-obat terlarang ini menjadi tiga
bagian, yaitu :
a. Narkotika Natural (Alami)
Yaitu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti ganja, opium, koka, alkot
(cathaedulis) dan lain-lain.
b. Narkotika Semi Sintesis
Yaitu yang dimodifikasi dari bahan-bahan alami (biasanya dari zat kimia yang
terdapat dalam opium) kemudian diproses secara kimiawi supaya memberikan
pengaruh lebih kuat, seperti morfin, heroin, kokain dan lain-lain
c. Narkotika Sintesis
Yaitu pil-pil yang terbuat dari bahan kimia murni. Pengaruh dan efek yang
ditimbulkannya sama dengan narkotika natural atau semi sintesis. Dikemas dalam
bentuk kapsul, pil, tablet, cairan injeksi, minuman, serbuk dan berbagai bentuk lainya.
Di antaranya adalah berbagai jenis obat tidur seperti kapsul Signal, atau pil
perangsang (stimulantia) seperti Kiptagon atau Amphetamine, atau tablet penenang
seperti Valium 5 dan derivate-derivatnya yang lain. Termasuk diantaranya pil
hallusinogent (pembangkit halusinasi) sepert L.S.D (Lysegic Acid Diethlamide).
Sejalan dengan itu Abu Ghifari membagi narkotika menjadi dua bagian yaitu :
a. Narkotika alam. Jenis natur dari dedaunan dan getah, yang tehnik penggunaanya
sangat praktis yang terdiri dari :
1. Bentuk daun, misalnya ganja, wujudnya mirip daun teh kering, warnanya hijau
kecoklatan, dan
2. Bentuk getah, misalnya cannabis dan hasyis, wujudnya cairan kental, warnanya
coklat tua.
b. Narkotika sintetik jenis yang diolah secara kimiawi, terdiri dari:
1. Bentuk cairan, misalnya morfin (ampul), wujudnya mirip cairan alkohol murni,
warnanya bening.
2. Bentuk tablet atau kapsul, misalnya: tablet cosadon, warnanya merah muda,
magadon (nitrazwpam 5 mg), warnanya putih, rohipnool warnanya putih, kapsul
nembutal, warnanya kuning, trandene 10, warnanya kuning tua.
d. Klasifikasi Narkoba
1. Narkotika
Menurut UU No. 22 Th. 1997 tentang narkotika, pasal 2 ayat 1 ditinjau dari ruang
lingkup dan tujuanya, narkotika bisa diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu
narkotika golongan I, golongan II, dan narkotika golongan III.
Yang dimaksud dengan narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat
digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam
terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Dan
yang dimaksud dengan narkotika golongan II, adalah yang berkhasiat pengobatan
digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Adapun yang dimaksudkan dengan narkotika
golongan III, adalah narkotika ynag berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan
dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
2. Psikotropika
Sebagaimana narkotika, psikotropika pun juga digolong-golongkan atau
diklasifikasikan menurut jenisnya. Psikotropika yang mempunyai potensi
mengakibatkan sindroma ketergantungan, digolongkan menjadi empat golongan ,
yaitu psikotropika golongan I, golongan II, golongan III, dan psikotropika golongan
IV.
Dalam penjelasan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997
tentang psikotropika dijelaskan, bahwa psikotropika golongan I adalah psikotropika
yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan
dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom
ketergantungan.
Sedangkan psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan sertam mempunyai
potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat
luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Sekalipun pengaturan psikotropika dalam undang-undang ini hanya meliputi
psikotropika golongan I, golongan II, golongan III, dan psikotropika golongan IV,
masih terdapat psikotropika lainya yang tidak mempunyai potensi mengakibatkan
sindrom ketergantungan, tetapi digolongkan sebagai obat keras. Oleh Karena itu,
pengaturan, pembinaan, dan pengawasannya tunduk kepada peraturan perundang-
undangan yang berlaku dibidang obat keras.

e. Pengaruh atau gejala yang ditimbulkan oleh narkoba
e.1. Psikologi
Meskipun efek narkotika dan psikotropika sering berlainan, namun secara umum
benda itu menyerang sistem dan fungsi neotransmitter pada susunan syaraf pusat atau
otak. Akibatnya fungsi berfikir, berperasaan dan berperilaku dari si pemakai atau
pecandu akan terganggu. Misalnya semangat berlebihan, gelisah, dan tidak bisa diam,
tidak bisa tidur, dan tidak bisa makan. Dalam jangka panjang, penggunaan obat ini
dapat menimbulkan fungsi otak terganggu dan bisa berakhir dengan kegilaan.
Bila si pemakai sudah sampai pada tingkat pecandu, kemudian ia tidak memakainya,
maka pengaruh yang dapat dirasakan, antara lain cepat marah, tidak tenang, cepat
lelah, tidak bersemangat, dan ingin tidur terus.
e.2. Fisiologis
Efek yang ditimbulkan oleh narkotika dan psikotropika terhadap fisik, antara lain
menurunya kekebalan tubuh dan rusaknya beberapa fungsi organ tubuh, baik organ
dalam seperti jantung, paru-paru, liver, hati dan lain sebagainya, juga organ luar
seperti pupil mata mengecil , bicara cadel, mulut kering, dan alat-alat indera lainya.
Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa narkoba adalah racun yang bukan saja
merusak seseorang secara fisik tapi juga merusak jiwa dan masa depan penggunanya.
Secara fisik, kekebalan tubuh semakin lama semakin ambruk, sementara
mentalitasnya sudah terlanjur ketergantungan dan membutuhkan pemenuhan narkoba
dalam dosis yang semakin tinggi. Jika dia tidak berhasil menemukan narkoba, maka
tubuh akan mengadakan reaksi yang menyakitkan, diantaranya sembelit, muntah-
muntah, kejang-kejang, dan badan menggigil yang dikenal dengan sakau. Untuk itu
para pecandu narkoba tidak bisa lepas dari ketergantungan, hingga memerlukan terapi
cukup lama.
Penyalahgunaan narkoba dapat mengakibatkan gangguan mental atau jiwa yang
dalam istilah kedokteran jiwa (psikiatri) disebut gangguan mental organic. Disebut
organic karena narkoba ini bila masuk ke dalam tubuh langsung bereaksi dengan sel-
sel saraf pusat (otak) dan menimbulkan gangguan dalam alam pikir, perasaan
danperilaku. Kondisi demikian dapat dikonseptualisasikan sebagai gangguan jiwa
karena narkoba.

D. Tinjauan Hukum Islam terhadap Miras dan Narkoba
1. Miras
a. Pengertian Miras menurut Hukum Islam
Miras dalam Islam disebut dengan khamer. Sedangkan kata khamer berasal dari kosa-
kata Arab khamara-yakhmuru atau khamara yakhmiru, yang berarti tertutup atau
terhalang. Karena itu, minuman tersebut sifatnya dapat menutupi akal dan pikiran
sehat peminumnya dari mengerjakan perintah-perintah agama (Allah dan rasulnya).
Khamer dibuat dari perasan atau sari buah anggur. Bisa disebut khamer juga setiap
perasan atau sari buah yang difermentasi atau didestilasi, atau dilakukan peragian
sehingga berefek memabukkan.
Namun untuk yang terakhir ini masih diperselisihkan oleh kalangan ulama fikih,
misalnya:
1. Imam Abu Hanifah
Ia berpendapat, bahwa khamer adalah minuman yang memabukkan dan hanya terbuat
dari perasan anggur saja. Sedangkan minuman memabukkan yang terbuat dari bahan
selain perasan anggur, ia tidak dimasukkanya ke dalam kategori khamer, akan tetapi
menamakanya dengan sebutan nabidz. Sebagaimana pernyataannya sebagai berikut
ini:
ّ

حٌ ٓ

ِ

غ

ٌ و

ٖ

غ ١ ٓ

ِ غ

ى ـ

ّ

ٌ

ِ

ٚ

ظم

ٕ

ٌ

غ١

ٓ

ِ غ

ى ـ

ّ

ٌ غ

ٌ غ ّ ش

ٌ

ٝ

ّ ـ٠ ٍ

غ ١

ٌ

ٚ

غ
ٓ ١١

ٛ

ى

ٌ ٘

ظ

ِ

ظ٘

ٚ ض ١

ٔ ٝ

ّ ـ٠ ً غ ّ س ٝ

ٍ ١

ٌ ٟ

ٓ

ٚ ٞ

ٚ

ٛ

ٌٕ

ٚ ٟ

ش

ٌٕ

ٚ
“Khamer adalah minuman yang memabukkan yang berasal dari perasan anggur saja.
Adapun yang memabukkan dari selain anggur, seperti minuman yang terbuat dari
perasan kurma dan gandum, maka tidak dinamakan khamer, akan tetapi dinamakan
nabidz. Ini adalah madhabnya ulama Kufah, Al-Nakha’I, Al-Tsauri dan Ibnu Laila”
Dengan pendapatnya tersebut, ia mengemukakan dua alasan :
a. Karena alasan bahasa. Mereka berpegang pada kata-kata Abu al-Aswad al –Du’ali
sebuah sya’irnya yang berbunyi sebagai berikut :
ٙ

ٔ ى

ّ

١

ٕ

ِ ٘ س

ث ٠

ع ٝ

ٕ

ٔ

ٛ

ٌ ٙ غ

ج غ ّ ش

ٌ

ص
ٙ ٔ ٍ ِٗ ٗ ذض ٘ٛس ٗ ٔ ٕٙ ى ٠ ٚ ٕٗ ى ج ل ْ
“Biarlah khamer itu diminum orang-orang yang sesat,
Karena aku yakin bahwa sang pemabuk tetap menyanyikan (membela)
keberadaanya”
“Baik Khamer itu tak ada untuknya atau sang pemabuk tak memilikinya.
Sesungguhnya mereka berdua adalah saudara yang pernah disusui seorang ibu”
Dengan alasan ini mereka berpendapat bahwa sesungguhnya nabidz bukan termasuk
khamer. Dan yang dinamakan khamer adalah sesuatu (minuman) yang sangat keras
(memabukkan) yang berasal dari perasan anggur.
b. Karena alasan agama, (berlandaskan sunnah nabi). Yaitu hadis yang diriwayatkan
oleh Abi Sa’id al Khudri :
ظٕ ِ ٙح غش ِ ي ل ؟غّس ث غش ٗ ٌ يم ْٛ ٕ ٍُ ؿ ٚ ٗ١ ٍ ا ٍٝ ص ٟ ٕ ٌ ٝ ج
ٗ١ ٍ ا ٍٝ ص ا يٛؿ ع َغذ ي ل ٓ١ ط١ ٍ ش ٌ ي ل ث غش طِٚ ي ل ٗ ٌٛؿ عٚ ا ِٙغد
ٓ١ ط١ ٍ ش ٌ ٍُ ؿ ٚ
“Ketika Nisywan datang kepada rasulullah, beliau berkata kepadanya: Apakah kau
minum khamer? Ia menjawab: saya tidak meminumnya sejak Allah dan rasulnya
mengharamkan. Kalau begitu apa yang kau minum? Ia menjawab: Dua campuran.
Maka rasulullah mengharamkan kedua campuran tersebut”.
Hadis tersebut menjelaskan bahwa peminum meniadakan penamaan khamer dari dua
campuran minuman dihadapan rasulullah sedangkan beliau tidak mengingkarinya.
2. Jumhur Ulama (Mayoritas Ulama)
Di antara mayoritas ini, antara lain, adalah Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam
Ahmad. Mereka berpendapat:
هـ ِ غش ًى ٌ ُؿ إ غّش ٌ ْ .ٖغ١ ٚ غ١ ٌ ٚ غّح ٌ ٚ ٕ ٌ غ١ ِٓ ْ و ءٛؿ ع
.ػجذ ٌ ً٘ٚ ٓ١ ذضذّ ٌ عّٛٙج ٘ظِ ٛ٘ٚ
“Khamer adalah nama (sebutan) bagi setiap minuman yang memabukkan baik terbuat
dari anggur, kurma, gandum, atau lainnya. Ini merupakan pendapat mayoritas dari
kalangan ahli hadis dan ulama Hijaz”
Alasan mereka bahwa yang dinamakan khamer adalah segala sesuatu yang
memabukkan, menjadi sangat kuat sekali dengan ditopang beberapa dalil hadits
berikut:
1. Hadis Ibnu Umar yang mengatakan
ٛ ٖٚع) َغد غى ـ ِ ً وٚ غّس غى ـ ِ ً و(غّ ٟ ٓ صٚص
“Segala yang memabukkan adalah khamer, dan segala yang memabukkan hukumnya
haram.”(H.R. Abu DAud dari Ibnu Umar).
2. Hadis Ibnu Umar
عض ٌٚ غ١ ٌٚ ةطٕ ذ ٌٚ غّح ٌٚ ،ٕ ٌ ِٓ :ةـ ّس ِٓ ٟ٘ٚ يؼ ٔ َٛ ٠ غّش ٌ ُ ٠غذ ج يؼ ٔ
ٖٚع) ًم ٌ غِس ِ غّش ٌٚ(صٚص ٚ
“Khamer diharamkan semenjak ditetapkan keharamanya, dan khamer yang dimaksud
yang terbuat dari lima hal: anggur, kurma, biji gandum, jewawud (jelai), dan sari pati.
Khamer adalah apa yang dapat menutupi akal“.(H.R. Abu Daud).
3. Hadis Ummi Salimah
ةٍّ ؿ َ ٓ صٚص ٛ ٖٚع) غح ف ِٚ غى ـ ِ ً و ٓ ٍُ ؿ ٚ ٗ١ ٍ ا ٍٝ ص ا يٛؿ ع ٝٙ ٔ
.(ٕٙ ا ٟضع
“Rasulullah melarang segala minuman yang memabukkan dan menutupi akal .”(HR.
Abu Daud dari Ummi Salamah RA).
4. Hadis Abu Hurairah:
ً١ ّؿ ٕ ذضد غد ٓ غ١ ٘ػ ٟٕ ذضد ٟٕ ذضد ّْر ٟ ٓ زجذ ٌ ٔغ س ُ١ ٘غ ٓ
ٗ١ ٍ ا ٍٝ ص ا يٛؿ ع ي ل ي ل غ ٠غ٘ ٟ ٓ ٗ ذضد غ١ ر و ْ غ١ ر و ٟ ٓ ٟذ ٠
(ٍُ ـ ِ ٖٚع) ة ٕ ٌٚ ةٍ شٕ ٌ ٓ١ جغج ٌ ٓ١ ج٘ ِٓ غّش ٌ ٍُ ؿ ٚ
“Zuhair bin Harb bercerita padaku, bahwa Isnai’l bin Ibrahim telah bercerita kepada
kita, kita telah mendapatkan kabar dari Al Hajjaj bin Abi Usman, bahwa Yahya bin
Abi Katsir bercerita padaku sesungguhnya Aba Katsir mendengar Abu Hurairah
berkata : Rasulullah saw, bersabda : khamer itu terbuat dari kedua pohon ini, yaitu
kurma dan anggur”.(H.R.Muslim).
5. Hadits Anas:
ٟ ٕٔ ٌ ث ذ ٓ ؾ ٔٛ ٠ ٓ ع ٔ ٓ ٗ ع ض ٙش ٛ ٕ ذضد ؾ ٔٛ ٠ ٓ ضّد ٕ ذضد
١ ٍ ل لإ ٕ ل غّس ةٕ ٠ضّ ٌ ٟٕ ٠ ضج ٔ ِٚ ثِغد ٓ١ د غّش ٌ ٕ ١ ٍ ثِغد ؾ ٔ ٓ
(ٞعش ٌ ٖٚع) .غّح ٌٚ غـ ٌ ٔغّس ةِٚ
“Ahmad bin Yunus bercerita kepada kita, bahwa Abu Syihab Abdu Rabbih bin Nafi’,
dari Yunus, (ia) dari Tsabit Al Bunnani, (ia) dari Anas telah bercerita kepada kita,
diharamkan khamer semenjak ditetapkan keharamanya, dan di Madinah kami tidak
mendapatkan khamer yang terbuat dari anggur, kecuali hanya sedikit. Sedangkan
umumnya khamer kita kebanyakan terbuat dari kurma atau kurma yang masih muda.”
Al-Fahru al Rozi berpendapat bahwa hal di atas merupakan argumentasi yang paling
kuat dalam hal menamakan khamer dalam pengertian semua yang memabukkan.
Al-Imam al-Alusi pun juga mengemukakan komentarnya sebagai berikut:
ٞأ ٠ٚ ْ و ف١ و ٕ ٌ ض ِّ ضشح ّ ٌ غ ٌ ْ ٕٗ يءٚض ٌ ٟ ٕ ٠ ل ٞظ ٌ كذ ٌ ْ ضٕ ٚ
ٗ لط عم ٠ٚ ٗ عش ضذ ٠ٚ ٖغ١ ر ى و ٍٗ ١ ٍ لٚ َغد غى ـ ٠ د١ ذ ْ و ٝح ِ ّٟؿ ُؿ
.ةظ١ ٍ ٗح ؿ ج ٔٚ
“Menurut saya, sesungguhnya yang benar dan tidak boleh diingkari, bahwa minuman
yang dibuat dari apa saja selain anggur, apapun adanya serta apapun namanya,
sekiranya memabukkan maka hukumnya haram. Baik sedikit maupun banyak.
Peminumnya dikenai hukuman had, talaknya dianggap sah serta najisnya terhitung
najis mughalladhah”
Dari berbagai argumentasi di atas, Muhammad Ali al-Shabuni berpendapat bahwa
sesungguhnya segala sesuatu yang memabukkan adalah khamer.
Selain permasalahan di atas, yang juga menjadi perbincangan para ulama adalah
bentuk zat dari khamer. Muhammad al-Zuhri al –Ghamrawi menyatakan:
. ئِ ٍٗ ص ْ و د١ د ضِج ٛ ٌٚ ٗ ٌ ٝط ح ّ ٌ ٗ عش ِٓ صغّ ٌ
“Yang dimaksudkan dengan peminumnya adalah orang yang mengonsumsi khamer,
sekali pun berupa zat padat, adalkan berasal dari zat cair”
Dari pernyataan tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
khamer harus berupa zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair. Oleh karena itu
yang tidak berbentuk zat cair (minuman), seperti: ganja, opium, dan sebagainya
bukan termasuk khamer. Oleh karenanya, tidak berlaku hukuman had bagi
penggunanya (peminumnya). Hal ini sesuai dengan pendapat Ibrahim al –Bajuri yang
mengatakan:
ًم ٌ عضش ٠ ِ َغد ْإٚ ٗ١ ضد ّ٘ٛذ ٔٚ ْٛ١ لٚ ة ١ ذ ٌ و ت ٕ ٌ غ ٌ زغسٚ
ٕٗ ِ .َٛ ٌ ِٓ ه ٌط ُر و ٟ ٕ ٠ ٓى ٌ َغذ ٠ ٗح ٍ م ٌ ٕٗ ِ ًم ٌ عضش ٠ ل ِ فش
“Dikecualikan dari minuman (syarab), tumbuh-tumbuhan seperti ganja, opium, dan
lainya, maka tidak diberlakukan hukum had, sekalipun semua itu haram dan menutupi
akal. Tetapi sebaiknya hal tersebut dijauhkan dari pandangan orang awam”
Dari ulasan di atas, secara definitive, khamer bisa diartikan sebagai: Zat cair atau zat
padat yang berasal dari zat cair yang disajikan untuk minuman, yang apabila diminum
akan mengakibatkan mabuk atau tertutupnya akal. Dengan demikian sekalipun
berupa zat cair, tetapi tidak disajikan untuk diminum, tidak termasuk kategori
khamer, seperti alkohol dan sebagainya.

b. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Miras (Khamer)
Sebagian telah dimaklumi, bahwasanya al-Qur’an merupakan sumber hukum yang
pertama dalam mengatur segala persoalan kehidupan. Kemudian setelah itu secara
berurutan adalah: Sunnah rasul (al-Hadis), Ijma’, dan yang terakhir adalah Qiyas.
Dengan bersandar pada empat hal inilah segala persoalan sosial baik yang sudah
terjadi , maupun yang sedang dan akan terjadi, ditetapkan sebagai aturan – aturan
hukum yang harus ditaati. Karena al-Qur’an diturunkan oleh Allah ke dunia
diperuntukkan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana
firman-Nya dalam al-Qur’an surat Al-Anbiya’, ayat 107:
µuBt-! Z_· 9¢e=(\¢~=v0e¹( ¢u(HttZ )ee &µ|¢=(+o~
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.
Secara universal, kandungan isi al-Qur’an, mencakup persoalan sosial, yang terdiri
dari :
1) Ilmu-ilmu tentang hokum.
2) Ilmu–ilmu tentang jidal (dialog).
3) Ilmu–ilmu tentang bagaimana orang mengingat-ingat kenikmatan yang telah
diberikan oleh Allah kepadanya.
4) Ilmu-ilmu tentang peringatan terhadap manusia akan adanya hari pembalasan.
5) Ilmu–ilmu tentang kematian dan kehidupan setelah mati.
Masalah minuman keras memang sudah ditetapkan keharamanya di dalam al-Qur’an.
Dan segala sesuatu yang telah ditetapkan aturanya di dalam al-Qur’an , wajib ditaati
dan tidak boleh seorang pun mengingkarinya. Hal ini sesuai dengan apa yang
dikemukakan oleh Ibnu Abbas sebagai berikut:
ا ٍٝ ص ضّذِ ٍٝ يؼٕ ّ ٌ ح ى ٌ صس ض لٚ .ٗ ًّ نعضص ٟ ٖٕ ح ذٚ ٕ ّج طإ
.ٍُ ٌ و ٗ ٌ ع ،ٍُ ؿ ٚ ٗ١ ٍ
“Apabila telah kami kumpulkan dan kami tetapkan al-Qur’an di hatimu, maka
berbuatlah kamu dengannya. Yang dimaksudkan Ibnu Abbas adalah al-Qur’an yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.maka jadilah al-Qur’an itu baginya
bagaikan ilmu.”
Setelah melalui perdebatan panjang di kalangan para ulama’ dalam menentukan
apakah sesunguhnya khamer tersebut, pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa mereka
(ulama) terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
Pertama, adalah golongan Hanafiyah. Mereka memutuskan bahwa khamer adalah:
“Minuman yang memabukkan yang terbuat dari perasan anggur”. Sedangkan yang
terbuat dari selain anggur tidak disebut khamer, akan tetapi disebut nabidz.
Kedua, adalah golongan jumhur ulama, yaitu Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Mereka
memutuskan bahwa khamer adalah:”Nama (sebutan) bagi setiap minuman yang
memabukkan , baik terbuat dari perasan anggur, kurma, gandum atau yang lainnya.”
Setelah mencermati perbedaan pendapat tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa
secara definitive khamer adalah: “Zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair
yang disajikan untuk minuman, yang apabila diminum akan mengakibatkan mabuk
atau tertutupnya akal fikiran”.
Islam memandang khamer sebagai sesuatu yang kehadiranya akan menimbulkan
mafsadat atau kerusakan dalam perjalanan hidup manusia. Oleh karenanya khamer
harus dijauhkan dari segala aktifitas manusia, agar bisa mendapatkan kebahagiaan
hidup baik di dunia maupun akhirat. Firman Allah dalam al -Qur’an, surat Al-
Maidah, ayat 90 menyatakan:
t~+÷µkt- µu#-{uP·,->: µu#-9.0¢.s© #-:.o0(© )eP+0¢-
'u#Bt+©u)#( #-!v°e¦¸t (o--¸(It±e7uv #-9±.:o~· ©t0¢~ Bie(
_¸(+© µu#-{u.9o~N© ®· ?\.=eo¹u|t 9o\¢=+3'N|
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum (khamer), berjudi
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan.”
Kata rijs(عزؽ ) dalam ayat di atas, sekalipun oleh kebanyakan orang diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “keji”, sesungguhnya merupakan terjemahan
yang kurang tepat (kurang pas). Karena dalam ayat di atas, perbuatan (keji) itu
dinyatakan sebagai bagian dari syaitan. Kesimpulannya, orang yang minum khamer
telah mengambil alih satu perbuatan dari perbuatan-perbuatan syaitan. Sebagaimana
diinformasikan al-Qur’an , bahwa syaitan adalah musuh bagi manusia, dan manusia
harus memposisikanya sebagai musuh yang nyata. Bukan hanya Islam yang
menyatakan bahwa syaitan adalah musuh bagi manusia, tetapi hampir semua agama
dan keyakinan menyatakan bahwa syaitan adalah musuh yang selalu bertujuan untuk
menyesatkan dan merusak sendi-sendi agama yang bertujuan memelihara
kelangsungan dan keselamatan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Untuk memberikan pemeliharaan terhadaap kelangsungan dan keselamatan serta
kebahagiaan hidup yang dimaksud, Imam Syathibi, menetapkan lima tujuan yang
paling mendasar dengan diturunkanya syari’at Islam. Lima tujuan dasar itu, ia
menyebutnya dengan al dlaruriyyah al khams, yang diantaranya, Hifdzu al din
(menjaga agama), Hifdzu al nasl (menjaga keturunan), Hifdzu al mal (menjaga harta),
Hifdzu al aql (menajga akal), Hifdzu al I’rdli (menjaga harga diri).
Kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia yang wajib dijaga. Oleh
karena itu datangnya khamer yang berpotensi merusak, harus dihindarkan jauh-jauh
dengan tujuan untuk:
1) Menjaga agama
Agama merupakan suatu keyakinan yang mengatur perjalanan hidup manusia demi
mencapai kebahagiaanya di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu agama merupakan
kebutuhan asasi manusia yang harus dihormati dan dijaga dari segala hal yang
merusaknya. Baik dalam hubunganya antara manusia dengan sesame (muamalah),
maupun dengan penciptanya (ibadah). Baik dalam bidang muamalah maupun ibadah,
kesehatan jasmani dan rohani merupakan kebutuhan fital yang tidak boleh ditiadakan.
Sebab itulah minum khamer yang berpotensi merusak ditetapkan sebagai perbuatan
syaitan. Ibadah, (khususnya shalat) merupakan perintah Allah yang harus dijalankan
dengan sepenuh hati dan ikhlas, serta dalam konsentrasi maksimal. Yaitu
melaksanakan ibadah penuh dengan kesadaran berfikir serta hadirnya hati yang
diikuti dengan gerakan-gerakan anggota badan secara teratur dan tuma’ninah.
Kehadiran khamer (miras) yang berpotensi merusak akal dan jiwa serta membuat
lemahnya fisik, sangat bertentangan dan bahkan bisa mengacaukan perbuatan shalat
tersebut. Oleh karena itu Islam melarang orang mendekati perbuatan shalat ketika
dalam keadaan mabuk. al-Qur’an suran An-Nisa’:
#-9·'=vu4ov ?o).t/u#( e 'u#Bt+©u#( #-!v°e¦¸t t~+÷µkt- c_·
?o)^u9'u|t Bt- ?o\|=v0¹u#( µ¢A÷©4 ¹3o~t3 µu&µPuO(
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan
mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”
Ayat tersebut sesungguhnya tidak menunjukkan larangan tentang shalat. Karena
shalat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Hanya saja ayat tersebut
menjelaskan bahwa shalat tidak boleh didekati(dikerjakan) ketiak orang itu dalam
keadaan mabuk. Artinya fokus larangan dalam ayat tersebut adalah larangan mabuk
(minum khamer). Karena ketika orang itu mabuk , jiwa, raga, dan fikiranya
terganggu, hingga ia tidak menyadari apa yang ia ucapkan di dalam shalat, dan tidak
pula menyadari akan gerakan-gerakan yang ia kerjakan di dalamnya. Hal semacam
ini sangat bertentangan dengan tujuan syari’at dalam hal shalat atau ibadah-ibadah
yang lainnya.
2) Menjaga Keturunan.
Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan jawaban tegas bahwa
minuman keras ternyata berakibat buruk pada generasi penerus. Bahaya minuman
keras, bukan hanya mengancam peminumnya saja. Namun secara tidak manusiawi,
anak yang masih kecil, bahkan ketika anak masih berada dalam kandungan , sudah
terpengaruh (mengalami gangguan-gangguan kesehatan) manakala ketika sang ibu
hamil terbiasa minum alkohol. Bahkan resiko si kecil berkembang menjadi pecandu
alkohol pun besar. Masalah ini dikemukakan dalam suatu studi: “Jumlah dan
frekuensi alkohol yang diminum ibu hamil bisa menjadi patokan berapa besar anak
berkembang menjadi alkoholik. . Pengaruh buruk alkohol atau miras tidak hanya
berpengaruh fisik saja, melainkan juga berpengaruh pada karakter atau akhlak si
anak, yang dalam pepatah Jawa dikatakan “kacang ora ninggalno lanjaran”. Artinya
seseorang meniru keadaan akhlak orang tuanya.
3) Untuk menjaga harta
Orang hidup tidak mungkin bisa dipisahkan dari harta. Artinya tanpa harta orang
tidak akan bisa hidup. Oleh karena itu harta termasuk kebutuhan asasi yang harus
dipenuhi dan dijaga. Membelanjakan harta ke jalan yang tidak benar (untuk minuman
keras atau khamer) merupakan perbuatan yang tidak ada artinya dan sia-sia atau
mubadzir, sekaligus merupakan perbuatan syaitan yang seharusnya dijauhi.
Sebagaimana al-Qur’an , surat Al-Isyra’ ayat 27 menyatakan :
)e,|uu÷|t .ç°Pu)#( #-9.0¹6t¢_¦¸t )e|• Z.· .ç^u+# 9et/veµe÷
#-9±.:o~¹ µu.ç°|t ( #-9±u~:e¹¸
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhanya”.

4) Untuk menjaga akal
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan bahwa akal adalah sesuatu
yang amat penting bagi manusia. Dengan akalnya manusia bisa mengetahui tanda-
tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Dan dengan akalnya pula manusia akan
mendapatkan kebahagiaanya. al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 242 menegaskan
sebagai berikut:
9o6^N| #-!+ ©7t¹ie¸¹ .çç÷9e ._.· ?o\|)=\u|t 9o\¢=+3'N|
'u#t~Ieµe÷
“Demikian Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum hukum-Nya)
supaya kamu memahaminya.”
Mengenal Tuhan adlaah suatu kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mengerti apa
artinya hidup dalam naungan agama. Irulah sebabnya pada suatu ketika Siti A’isyah
menyatakan sebagai berikut:
.م ٗ ٌ ا ً ج ِٓ خٍ ض ل
“Sungguh berbahagialah orang-orang yang diberi akal oleh Allah.”
Demikian halnya Al Hasan Ra. Dalam suatu komentarnya ia mangatakan:
ٓ ٠ص ُح ٠ ِِٛ ٠ ٗ ٖظف ٕ ح ؿ لإ م ءغِ ا صٚ ِٚ ٍٗ م ُح ٠ ٝح د ًجغ ٌ
“Tidaklah sempurna agama seseorang hingga sempurna akalnya, dan Alloh tidak
menitipkan akal kepadanya kecuali pada suatu hari Allah berkenan
menyelamatkanya”.
Ia berkomentar demikian tidak lain karena memandang betapa akal itu merupakan
sesutau yang sangat berharga baginya. Agama seseorang tidak akan sempurna jika
akalnya tidak sempurna. Dan keselamatan seseorang pun tergantung pada
kesempurnaan akalnya pula.

5) Untuk menjaga Kehormatan
Mengkonsumsi minuman keras, tidak hanya menyebabkan rusaknya fisik, dan
kerugian harta saja, melainkan juga menyebabkan penderitaan manusia secara moral
atau kejiwaan serta menterlantarkan keluarga yang seharusnya dijunjung tinggi. Para
ahli dibidang kedokteran menyatakan:
ٟ ِٗضشح ـ ٠ يّ ٌ ضج١ ٌ َغ جل ٝ ٌإ أج ٌٚ يٛ ٠ ِٓ ع١ ضٚ ٗـ ف ٔ ض ِٓضِ ِٓ غر وٚ
َّٛـ ٌ ٖظ٘ ٟط ح ٕٗ طٚٚ ٗح ِ ف ضإٚ ٍٗ ٘ٚ ٗـ ف ٔ ن٘
“Tidak sedikit orang yang kecanduan (selalu minum khamer), akhirnya kehilangan
kepedulian terhadap dirinya sendiri , keluarga, bahkan menyeret dirinya untuk
berbuat kriminal lainya demi mendapatkan harta untuk menghancurkan dirinya
sendiri, keluarga, bahkan memperlemah umat dan negaranya”.
Realitas sosial menunjukkan bahwa banyak sekali kejadian-kejadian kriminal. Yang
disebabkan karena pelakunya dalam keadaan mabuk. Perbuatan tersebut dilakukan
diluar kesadarannya. Karena otak (pikiran) orang yang sedang mabuk khamer,
terganggu oleh serangan alkohol pada syaraf pusatnya. Dalam kitabnya Dalil al Sailin
dituturkan:
غ ي ل.عِض ٌ ؿ ٚ ٠ ٌ ًصٚ عٚغ ٌ ؽع غّش ٌ :ٞ
“Berkatalah seorang Badui, minuman keras (khamer) adalah pangkal semua
kejahatan , asal segala bencana dan sebab segala kerusakan.”
Dengan demikian jelaslah bahwa miras (khamer) merupakan penyebab segala
terjadinya perbuatan jahat (criminal), sesuai dengan al-Qur’an surat Al-Maidah ayat
91:
&µ| #-9±.:o~¹ ©c¹ )eP+0¢- #-:.oK|c ¸e µu#-9.7t(.®-!'u
#-9.\¢¢÷µuov /t|Zu3'N© ©u°e¦¢ (o¸¢~| ( #-9·'=vu4o_ µu©t· #-!÷
e..c ©t µut·ls.'N| µu#-9.0¢|s©e _®· BZ0tk¿u|t &µP'A
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu mengingat Allah dan sembahyang, maak berhentilah kamu (dari
mengerjakan pekerjaan itu)”.
Setelah mencermati ulasan di atas, secara garis besar bisa disimpulkan bahwa miras
adalah sesuatu yang sangat merugikan, karena adanya daya perusaknya sangat besar
terhadap sendi-sendi kehidupan, yaitu: agama, keturunan, harta, akal dan harga diri
manusia.

c. Pertimbangan Hukum Islam terhadap Miras (Khamer)
Proses yang panjang dalam perjalanan manusia bersama minuman keras (khamer),
pada akhirnya membuahkan suatu ketetapan bahwa miras adalah sebagai sesuatu
yang dilarang (diharamkan)
Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan dampak negatip yang ditimbulkan
oleh miras, yaitu:
1). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya agama
2). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya keturunan
3). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya harta.
4). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya akal
5). Miras sebagai penyebab terganggunya harga diri.
Maka berdasarkan:
1. Q.S. Al-Baqarah 219-220:
#-9.¢0(c ©tC· oT(÷t=\uPt7¢ + 9e=Z•-•© µuBt+o~e¦¹
27e· )eO.N\ (e¸e0¢-! °\~| ( µu#-9.0¢|s©e Bt-o#
µuoT(÷t=\uPt 3 P+.\e¸e0¢- Be &µ2}9t µu)eO.0¹¸¹0¢-!
#-¢ut~Me 9o3'N© #-!+ ©7t¹ie¸¹ .çç÷9e 3 #-9.\¢.uu °\~
©Ze)^u|t 3 µu#-¢u,©to_ #-9P|u- ¸e ®_.· ?outç3v©µ|t
9o\¢=+6^N| µu)e| ( ,¢|· ;°ìN| )e=(碩 °\~| ( #-9.uIt~0¢4 ©t·
µuoT(÷t=\uPt7¢ Be, #-9.0¹.T©¢ t\|=vN© µu#-!+ 4
(o-e,|uu÷P3'N| Bo-9e:'uo\N| ©t_¹ #-!v )e| •4 {ç©(Zuut3'N|
#-!+ vç-!'u µu9ou| 4 #-9.0¹·(=eç. ..· µ¢3©O®
“Tentang dunia dan akhirat, Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim,
katakanlah: “Menurut urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul
dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang
membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah
menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijak….”(220).
2. Q.S. Al-Maidah 90
t~+÷µkt- µu#-{uP·,->: µu#-9.0¢.s© #-:.o0(© )eP+0¢-
'u#Bt+©u)#( #-!v°e¦¸t (o--¸(It±e7uv #-9±.:o~· ©t0¢~ Bie(
_¸(+© µu#-{u.9o~N© ®· ?\.=eo¹u|t 9o\¢=+3'N|
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum (khamer), berjudi
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan.”

3. Q.S. Al-Maidah 91
©c¹ )eP+0¢- ¸e µu#-9.7t(.®-!'u #-9.\¢¢÷µuov /t|Zu3'N©
©u°e¦¢ &µ| #-9±.:o~¹ µu©t· #-!÷ e..c ©t µut·ls.'N|
µu#-9.0¢|s©e #-:.oK|c _®· BZ0tk¿u|t &µP'A (o¸¢~| (
#-9·'=vu4o_
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang, amak berhentilah kamu
(dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
4. Hadits Anas
ي ٟضع ؾ ٔ ٓ ي ٕ ٌٚ ض ٠غج ٌ غّش ٌ ٟ ضٍ ج ٍُ ؿ ٚ ٗ١ ٍ ا ٍٝ ص ٟ ٕ ٌ ْ ٕٗ ٗ ٌ
ٟ ْٚغ ج ِ :ي ل ٜغم ٌٚ ف ٠غ ٌ ِٓ ؽٕ ٌ ٔصٚ غّ ْ و ٍّ ٓ١ ع غى ٛ ضٍ ج ُ ذ
ٓ١ ّٔ ذ غّ ضٍ ج صٚضذ ٌ فسأ و ٍٙ ج ج ْ ٜع :فٛ ٓ ّٓدغ ٌ ض يم غّش ٌ ضٍ ج
(عٖٚ يع)
“Dari Anas RA. Bahwasanya nabi Muhammad SAW, menjilid (melaksanakan
hukuman had) dengan menggunakan pelepah kurma dan sandal. Kemudian Abubakar
menjilid 40 kali. Ketika sampai pada giliranya Umar, sedangkan manusia mulai
berdatangan dari pedesaan, beliau bertanya: apa pendapatmu tentang penjilitan
terhadap masalah khamer? Seraya Abdurrahman bin Auf menjawab: aku melihat
bahwa engkau menjilid dengan hukuman had yang paling ringan. Maka selanjutnya
Umar menjilid sebanyak 80 kali.”
5. Hadits Abu Hurairoh
:ٕٗ ا ٟضع غ ٠غ٘ ٛ ي ل :ي ل غش ض ل ًجغ ٍُ ؿ ٚ ٗ١ ٍ ا ٍٝ ص ٟ ٕ ٌ ٟ ج
ض ي ل فغ ٔ ٍّ ٗ ٛر عض ٌٚ ٍٗ ٕ عض ٌٚ ٖض١ عض ٌ ٕ ّ ٛ غض
ْط١ ٌ ٗ١ ٍ ٕٛ ١ ج ل ظى٘ ٛ ٌٛم ج ل :َـ ٌٚ ٌ ٗ١ ٍ ي ل ا نؼس :َٛم ٌ
(عٖٚ يرعٞ ٚٚ صٚص)
“Berkatalah Abu Hurairoh RA, seorang laki-laki peminum khamer didatangkan
kehadapan Rosululloh, seraya beliau berkata: Pukullah dia. Maka diantara kita (para
sahabat nabi) ada orang yang memukul dengan tanganya, ada yang memukul dengan
sandalnya, dan ada yang memukul dengan pakaianya. Setelah lelaki tersebut pergi,
sebagian kaum mengatakan semoga Allah menghinakan kamu. Maka bersabdalah
Rosulullah SAW, jangan kau katakana demikian, jangan kau memberikan
pertolongan kepada syetan atas dia”. (HR. Al-Bukhori dan Abu Daud)
Hukum Islam, menetapkan bahwa khamer adalah barang diharamkan. Barang siapa
melanggar, berarti ia berbuat melawan hukum. Bagi peminumnya dikenakan
hukuman had atau dicambuk (dipukul) sebanyak 40 kali. Berdasarkan hadits ini juga,
hukuman had bisa ditingkatkan menjadi 80 kali, apabila hakim memandang perlu.
Hal itu dilakukan manakala hakim melihat masalah dalam pemberatan hukuman had
tersebut. Seperti apabila peminum sudah berkali-kali dijatuhi hukuman had tetapi
tidak juga jera.
Adapaun alat yang dipergunaakn untuk memukul, boleh dengan segala sesuatu yang
apabila dipukulkan bisa menimbulkan rasa sakit (bisa membuat si peminum jera),
berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori dan Abu Daud di atas,
maka dengan demikian jelaslah bahwa persoalan alat untuk mencambuk atau
melaksanakan hukuman had, menjadi kewenangan hakim.
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa khamer atau miras dalam tinjauan
(perspektif) hukum Islam adalah:
1) Hukumnya haram.
2) Peminumnya dikenakan hukuman had (dicambuk 40 kali hingga 80 kali), menurut
keputusan hakim.
3) Penentuan alat untuk hukuman had, merupakan wewenang hakim.
2. Narkoba
a. Pengertian Narkoba Menurut Hukum Islam
Narkoba yang dikenal sekarang ini, sesungguhnya tidak pernah ada pada masa
permulaan Islam. Bahkan tidak satu ayat-pun dari ayat-ayat al-Qur’an maupun Hadis
Nabi yang membahas masalah tersebut. Pembahasan pada waktu itu hanya berkisar
pada permasalahan khamer saja, sebagaimana ulasan sebelumnya.
Adapun narkoba yang dalam istilah agama Islam disebut mukhoddirot, baru dikenal
oleh umat Islam pada akhir abad ke 6 H. itupun masih terbatas pada ganja. Yaitu
ketika bangsa Tartar memerangi atau menjajah negara-negara Islam. Pada waktu
itulah orang-orang Islam yang masih lemah imanya, dan orang-orang fasiq dari
kalangan umat Islam terpengaruh dan kemudian mengkonsumsi barang tersebut. Baru
setelah itu persoalan ganja dikenal dan tersebar dikalangan umat Islam. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah telah membahas panjang dan lebar mengenai tumbuhan
marihuana (dalam bahasa Arab disebut Hasyisyah) yang ternyata belakangan ini
tergolong narkotika. Hasil kajiannya dapat ditemukan dalam kitabnya yang berjudul
Majmu’ al-Fatawa. Diantaranya ia menyatakan sebagai berikut:
... ٖٚطٖ يحفٞف فإْٖ ٚي َ يغْ ْٖ ظٖعت ْٞ يَؽيَْٞ فٞ ٚرع يَئ ةؿ صـ ٌ
...ْشـ ى ٕ ج ف١ ؿ عٛٙظ عِ ٘عٛٙظ ْ وٚ ،غح ح ٌ ٗ ٌٚص تغٙظ د١ د ة ـ ٌ ً ئٚٚ
“Sesungguhnya awal dikenalnya ganja oleh umat Islam adlaah pada akhir abad ke 6
H atau abad ke 7 H, yaitu ketika bangsa Tatar dengan panglimanya bernama Jenghis
Kan merambah kewilayah Negara Islam.”
Begitu juga Syaikh Muhammad Ali Husin Al-Maliki RA. Menyatakan bahwa
marihuana belum pernah dibahas oleh ulama-ulama mujtahidin pada masanya, dan
belum pernah juga dibicarakan oleh ulama-ulama salaf. Karena sesungguhnya ganja
atau marihuana tersebut tidak dikenal pada waktu itu. Tumbuhan ini baru dikenal dan
tersebar pada akhir abad ke 6, yaitu pada masa pendudukan bangsa Tatar. Hal ini
diketahui dari pernyataan yang termuat dalam kitab Tahdziful furuq sebagai berikut:
ي ت ٕ ٌ ْ ٍُ ِٓ ُ٘غ١ لٚ ،ْٚضٙح جّ ٌ ةّ ئل ٗ١ ٍ ٍُ ى ح ٠ ُ ٌ ة ١ ذ ٌ فٚغِ
ة ٌٚص ٟ غ ح ٔٚ ةؿ صـ ٌ ة ئّ ٌ غسٚ ٟ غٙظ ّ ٔإٚ ُٕٙ ِػ ٟ ٓى ٠ ُ ٌ ٗ ٔل فٍ ـ ٌ ءٍّ
.عح ح ٌ
“ketahuilah sesungguhnya tumbuh-tumbuhan yang dikenal dengan nama
marihuana(ganja) belum pernah dibahas oleh ulama-ulama mejtahidin, dan belum
pernah juga dibicarakan oleh ulama-ulama slaaf. Karena sesungguhnya ganja atau
marihuana tersebut tidak ada pada zaman mereka. Barang tersebut baru dikenal dan
tersebar pada akhir abad ke 6, yaitu pada masa pendudukan bangsa Tatar.”
Sejak itulah ulama-ulama Islam mulai mendiskusikan dan memperdebatkan
permasalahan narkoba, baik dalam pengertianya, jenisnya, macam-macamnya serta
segala sesuatu yang terkait denganya. Dalam kenyataan al-Qur’an dan Al-Hadis tidak
pernah membahas secara langsung persoalan narkoba tersebut. Bahkan tidak pernah
membahas jenis tumbuh-tumbuhan tertentu, yang kemudian hari dinyatakan sebagai
tumbuhan (tanaman) terlarang. Kini narkoba menjadi permasalahan umat, yang
menuntut para ulama untuk segera memberikan jawaban tentang hukumnya yang
pada kenyataanya barang tersebut memang memabukkan. Ini artinya antara miras dan
narkoba memiliki kesamaan sifat (illat), yaitu iskar atau sifat memabukkan.
b. Tinjauan hukum Islam terhadap Narkoba
Sekalipun narkoba memiliki kesamaan sifat iskar dengan miras, namun secara
definitive menunjukkan adanya perbedaan. Karena miras berupa zat cair sedangkan
narkoba tidak. Dari sini muncul pertanyaan apakah narkoba yang memiliki dasar
kesamaan iskar dengan miras, juga memiliki potensi muatan hukum yang sama?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus diketahui dahulu sumber hukum yang
dipergunakan di dalam hukum Islam yang sudah menjadi kesepakatan para yuris
(dalam hal ini ulama Syafi’iyah), yaitu: al-Qur’an, al-Hadis, dan Qiyas.
Sebagaimana mereka telah sepakat bahwa dalil –dalil tersebut adalah sebagai alat
istidlal (menetapkan dalil suatu peristiwa) juga telah sepakat tentang tertib atau
jenjang dalam beristidlal dari dalil-dalil tersebut.
Diatas telah dijelaskan bahwa baik al-Qur’an maupun Al-Hadis , tidak pernah
menjelaskan secara langsung persoalan narkoba. Begitu juga halnya dengan ijma’,
baik dari para sahabat nabi maupun ulama mujtahid. Karena pada masa itu narkoba
memang belum dikenal. Oleh karena itu alternative terakhir dalam memutuskan
hukumnya narkoba adalah melalui jalan qiyas.
Secara etimologis kata qiyas berarti qadara, artinya mengukur, membandingkan
sesuatu dengan yang semisalnya. Sedangkan menurut terminology hukum Islam, Al-
Imam Al-Ghozali mendefinisikan qiyas sebagai berikut:
ُى د ت ذ ِٓ ّٕٙ ١ عِج غِأ ٠ ّٕٙ ٗ١ ف ٔٚ ّٙ ٌ ُى د ت ذ ٟ ٍَٛ ِ ٍٝ ٍَٛ ِ ًّد
.ّٕٙ ٗ١ ف ٔٚ
“Menanggungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang diketahui dalam hal
menetapkan hukum pada keduanya disebabkan ada hal yang sama antara keduanya,
dalam penetapan hukum atau peniadaan hukum.”
Karena sifat Iskar yang berpengaruh di dalam penggunaan narkoba sangat ditentukan
oleh besar kecilnya kadar yang dikonsumsi, maka hasil penetapan besar kecilnya
muatan hukum narkoba tersebut harus disesuaikan dengan qiyas yang dipergunakan.
Apakah qiyas awlawi (yaitu qiyas yang berlkunya hukum furu’ lebih kuat dari
pemberlakuan hukum pada asal karena kekuatan illat pada furu’). Atau dengan
menggunakan qiyas musawi (qiyas yang berlakunya hukum furu’ sama keadaanya
dengan berlakunya hukum asal karena kekuatanillatnya sama). Ataukah
menggunakan qiyas adwan (qiyas yang berlakunya hukum pada furu’ lebih lemah
dibandingkan dengan berlakunya hukum pada asal meskipun qiyas tersebut
memenuhi persyaratan.
c. Pertimbangan hukum Islam terhadap Narkoba
Pada pasal miras menurut hukum Islam telah dijelaskan bahwa seperti epium dan
sebagainya, tidak diberlakukan hukuman had. Karena pada kenyataanya narkoba
bukanlah miras. Untuk itu diperlukan qiyas sebagai alat beristidlal. Dengan maksud
untuk menentukan hukuman bagi pelaku penyalahgunaan narkoba secara pasti dan
adil. Oleh karena itu mekanisme penetapanya diserahkan kepada yang berwewenang
atau hakim. Kalau menurut pandangan hakim, penyalahgunaan narkoba itu kadarnya
di bawah standar miras, maka hakim menggunakan qiyas adwan. Dan hukuman yang
dijatuhkan , potensinya berada di bawah hukuman had. Akan tetapi kalau
penyalahgunaan narkoba itu sama kadarnya dengan miras, maka qiyas yang harus
dipergunakan adalah qiyas musawi. Dan hukuman yang ditetapkan dipersamakan
dengan hukuman had. Bergitu juga apabila penyalahgunaan narkoba itu kadarnya
lebih besar dari pada miras, maka yang dipergunakan adalah qiyas aulawi. Dan
hukuman yang ditetapkan harus lebih berat dari hukuman miras sesuai dengan
muatan kadar narkoba yang dikonsumsi atau disalahgunakan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sepanjang narkoba dipergunakan di jalan
benar, maka Islam masih memberikan toleransi. Artinya narkoba dalam hal-hal
tertentu boleh dipergunakan, khususnya pada kepentingan medis pada tingkat –
tingkat tertentu:
a. Pada tingkat darurat. Yaitu pada aktifitas pembedahan atau operasi besar, yakni
operasi pada organ-organ tubuh yang vital seperti hati, jantung, dan lain-lain. Yang
apabila dilaksanakan tanpa diadakan pembiusan total, kemungkinan besar si pasien
akan mengalami kematian.
b. Pada tingkat kebutuhan atau hajat. Yaitu pada aktifitas pembedahan yang apabila
tidak menggunakan pembiusan, pasien akan merasakan sangat kesakitan, tetapi pada
akhirnya akan mengganggu jalanya pembedahan. Walaupun tidak sampai pada
kekhawatiran matinya si pasien.
c. Tingkatan bukan darurat dan bukan hajat. Yaitu tingkatan pada aktifitas
pembedahan ringan yakni pembedahan paada organ tubuh yang apabila tidak
dilakukan pembiusan, tidak apa-apa. Seperti pencabutan gigi, kuku, dan sebagainya.
Namun pasien akan merasakan kesakitan juga.


Setelah melalui proses diskusi dan perdebatan panjang, akhirnya para ulama sampai
pada kesepakatan bahwa narkoba adlaah haram, karena pada narkoba terdapat illat
(sifat) memabukkan sebagaimana pada khamer, sekalipun mekanisme hukumanya
berbeda. Hal ini selaras dengan pernyataan Ibnu Taimiyah yang berbunyi:
َؿ ل ز١ ش ي ل- ا ّٗدع-: "ني ٖطٖ يحفٞف يصي حعَ، ٖٚٞ َْ رخ يرئخ
خّ ٌ قف ج َغد ٕٙ ِ غى ـ ّ ٌ غ١ ر ى ٌ ٓى ٌ ،غ١ ر و ٚ ١ ٍ ل ٕٙ ِ ً و ءٛؿ ٚ ،ةِع
"ٓ١ ٍّ ـ ّ ٌ
“Berkatalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah r.a. mengkonsumsi ganja hukumnya
adalah haram, bahkan termasuk sejelek-jelek perkara, baik sedikit maupun banyak,
hanya saja mengkonsumsi secara banyak hukumnya haram berdasarkan kesepakatan
umat Islam.”
Sejalan dengan itu Al-Imam Al-Qarafi juga berpendapat:
عٕ ّ ٌ ٍٝ غ ٌ ً٘ كف ج قٛـ ف ٌ ً٘ ٙط ح ٠ ٟح ٌ ة ١ ذ ٌ فٚغ ّ ٌ ت ٕ ٌ
ًم ٍ ٌ ١ ّ ٌ ٘غ١ ر و ٕٝ ٕٙ ِ
“Tumbuh-tumbuhan yang terkenal dengan anam ganja yang dikonsumsi oleh orang-
orang fasiq, telah disepakati keharamanya oleh para ulama’, yaitu penggunaan
dengan kadar banyak sehingga menghilangkan (berpengaruh) pada akal.
Ulama yang lain memberikan ulasan agak luas. Artinya tidak terbatas pada ganja saja.
Mereka sudah memasukkan opium , marihuana dan sebagainya. Sebagaimana Syekh
Muhammad A’lauddin Al –Hashkafi al-Hanafi, beliau mengatakan :
... ٚٞحعَ ني يْز ٚيحفٞف ٚيفَٞٚ يْٖ َفؽص ييقي ٚٞصص ْ طنع ييٖ ْٚ
ٌ
“ …dan haram mengonsumsi ganja, marihuana dan epium , karena merusak akal dan
menghalangi ingatan (dzikir) pada Allah dan shalat.”
Dari ulasan di atas bisa disimpulkan bahwa narkoba menurut Islam adalah:”Segala
sesuatu yang memabukkan atau menghilangkan kesadaran, tetapi bukan minuman
keras, baik berupa tanaman maupun yang selainya. Selanjutnya istilah narkoba dalam
terminology Islam disebut mukhoddirot”.
Hukum keharaman narkoba ditetapkan melalui jalan qiyas yang terdiri dari: qiyas
aulawi, qiyas musawi dan qiyas adwan. Adapun sangsi hukumnya, bagi pengguna
narkoba sepenuhnya menjadi wewenang hakim. Selain itu, Islam memandang
narkoba merupakan barang yang sejak awal sudah diharamkan. Oleh karenanya pada
kebutuhan medis, penggunaan narkoba dianggap tingkat darurat atau toleransi.

6. Kesimpulan
Beberapa hal yang bisa disimpulkan dari tulisan ini, dirumuskan sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal mendefinisikan miras
(khamer), sebagai berikut:
a. Imam Abu Hanifah
Menurut al Imam Abu Hanifah, khamer (miras) adalah : “Minuman keras yang
memabukkan yang berasal dari perasaan anggur saja”. Sedangkan yang terbuat dari
selain anggur, dinamakan nabidz. Oleh karena itu bagi peminumnya (nabidz) tidak
dikenakan hukuman had.
b. Jumhur ulama’ (Syafi’i, Maliki, dan Ahmad)
Menurut mereka Khamer adalah:”Nama (sebutan) dari setiap minuman yang
memabukkan “. Oleh karenanya dari apapun minuman itu dibuat, asalkan
memabukkan, maka minuman tersebut layak dinamakan khamer. Bagi peminumnya
dikenakan hukuman had.
c. Untuk memperoleh definisi yang kongkrit, dan sesuai dengan pendapat ulama
Syafi’iyah sebagai panutan mayoritas masyarakat hukum di Indonesia, diadakan
penggabungan kedua definisi di atas. Sehingga khamer didefinisikan sebagai:” Zat
cair atau zat padat yang berasal dari zat cair yang disajikan untuk minuman, yang
apabila diminum akan memabukkan”.
2. Dari definisi di atas (definisi miras), menunjukkan bahwa menurut pandangan
Hukum Islam, narkoba bukanlah miras (khamer). Hanya saja pada narkoba terdapat
illat yang sama dengan khamer. Illat tersebut adalah sifat iskar (memabukkan). Oleh
karena itu bagi pelaku penyalahgunaan narkoba tidak dikenakan hukuman had,
melainkan dikenakan hukuman dengan jalan qiyas terhadap miras. Yaitu:
a. Apabila penyidikannya menunjukkan illat yang lebih rendah (ringan) dari pada
khamer, maka yang dipakai adalah qiyas adwan. Dalam arti derajat hukuman
pidananya harus di bawah hukuman had.
b. Apabila penyidikanya menunjukkan illat yang sama dengan khamer, maka yang
dipakai adalah qiyas musawi. Dalam arti derajat hukumanya dipersamakan dengan
hukuman had. Akan tetapi apabila penyidikanya menunjukkan lebih berat dari pada
khamer, maka yang dipakai adalah qiyas aulawi. Artinya , derajat hukumanya lebih
berat dari hukuman had. Sedangkan muatan berat-ringanya (berat) hukuman
sepenuhnya menjadi wewenang hakim.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mazid, Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar bin, (t.th.), Ahkam al
Jirohah al Thibbiyah wa al Atsar al Mutarottabah alaiha, (Madinah: Al Jamiah al
Islamiyah bin al Madinah al Nabawiyah).
Al Alusi, (1994), Ruhu al Maa’ni, juz 2, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah).
Al Bajuri, Ibrohim, (t.th.), Hasyiyah al Bajuri, (Indonesia: Dahlan).
Al Dahlawi, Ahmad bin Abdul Rahim, (1987), Al Fauzul Kabir Fi Ushuli al Tafsir,
(Bairut: Dar al Basya’ir al Islamiyah).
Al Ghifari, Abu, (2002), Generasi Narkoba, (Bandung: Al Mujahid).
Al Ghomrowi, Muhammad al Zuhri, (1923), Al Sirojol Wahhaj, (t.t: Musthofa al Babi
al Halbi).
Al Jashshas, (1994), Ahkamu al-Qur’an, juz 1, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah).
Al Qarafi, (t.th.), Al Furuq, jilid 1, (Beirut: Darul Fikri).
Al Sadlan, Sholeh bin Ghonim, (2000), Bahaya Narkoba Mengancam Umat, (Jakarta:
Darul Haq).
Al Syatibi, Abi Ishaq, (t.th.), Al Muwafaqot, jilid 4, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah).
Aris, Widodo Moch, (1996), Makalah Penyalahgunaan Obat Psikotropika (obat
terlarang),Dampaknya pada kesehatan, (t.tp)
Atmasasmita, Romli, (2003), Pemberantasan Terorisme dari Aspek Hukum Pidana
Internasiona, (Malang: Makalah Seminar Nasional dan Temu Alumni Mahasiswa
Fakultas Hukum Unisma Malang).
Bukhari, (1999), Shahih Bukhari, (Beirut: Dar Ibnu Katir al Yamamah).
Departemen Agama RI, (2001), Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van
Hoeve).
Departemen Agama RI, (1978), Al Qur’an dan Terjemahanya, (Jakarta: Bumi Restu).
Ismail, Anas Abu Daud, (1996), Dalilussailin, (t.tp: Al Mamlakatul Arabiyah).
Mansur, Ali Nasif, (1975), Al Taj, (Beirut: Daru al Fiar).
Muhammad, Ali Al Shabuni, (t.th.), Rowai al Bayan,juz 1, (t.tp: Daru al Fikr).
Muslim, (1999), Sohih Muslim,jilid 3, (Beirut: Daru Al Ihya’al Turats).
Sanusi, Ahmad Mushofa, (2002), Problem Narkotika Psikotropika dan HIV-AIDS,
(Jakarta: Zikrul Hakim).
Sartono, (1999), Racun dan keracunan, (Jakarta: Widya Medika).
Sudiro, Amsruhi, (2000), Islam melawan Narkoba, (Jogjakarta: Madani Pustaka).
Syarifudin, Amir, (1997), Ushul Fiqh,jilid 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu).
Taimiyah, Ibnu, (t.th.), Majmu’al Fatawa, jilid 34, (Beirut: Daru Al Ihya’al Turats).
Thohon, Ahmad bin Muhammad, (t.th.), Al Mukhoddirut Syarrun Mustatir.
Yahya, Mukhtar dkk, (1983), Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam, (Bandung:
Al Ma’arif).
Jawa Pos, 18 April 2003.
Kompas, 29 Januari 2003.
Tempo, 27 Mei 2001.
Majalah Interview, 20 Januari 2001.
Undang-undang Nomor 5, Tahun1997 tentang Psikotropika.
Undang-undag Nomor 22, Tahun1997 tentang Narkoba.

1200 STIE DHARMAPUTRA SEMARANG 2012 .MAKALAH MIRAS DAN NARKOBA DALAM HUKUM ISLAM Disusun Untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia Dosen pengampu : Bp. SUDARSONO NAMA NIM : SODIKUN : 11.22.

Disebut organic karena narkoba ini bila masuk ke dalam tubuh maka langsung bereaksi dengan sel-sel syaraf pusat (otak) serta menimbulkan gangguan pada alam pikir. Dalam skala nasional banyaknya kejahatan-kejahatan di tanah air erat sekali hubunganya dengan masalah narkoba. dan jika ada suara musik secara refleks kepalanya langsung bergoyang-goyang atau bergeleng-geleng mengikuti alur musik tanpa henti. baik nasional maupun internasional. seorang psikolog dari University of Washington mengatakan: “Jumlah dan frekuensi alkohol yang diminum ibu hamil bisa menjadi patokan berapa besar anak berkembang menjadi alkoholik”. bahwa perilaku orang tua sudah biasa mempengaruhi sejak si kecil masih berada dalam kandungan. Paramedis pun telah bersepakat. misalnya. sekitar 500 ibu hamil yang mempunyai kebiasaan minum alkohol berhasil dikumpulkan. tidak tidur semalam suntuk. perasaan. hanya 4 persen yang berkembang menjadi pecandu. Selanjutnya peneliti mengikuti perkembangan buah hati mereka selama 21 tahun. Para ilmuwan sudah lama menghubungkan masalah alkoholik dengan lingkungan dan kebiasaan. terutama syaraf otonom yang mengatur peredaran darah dan pernapasan.A. Lain halnya dengan narkoba. seorang warga Negara Nigeria. “Kami menemukan sekitar 14 persen dewasa muda berusia 21 tahun. sehingga menyita perhatian banyak kalangan. Penelitian ini membutuhkan waktu yang lama sejak tahun 2974-1975. yang ikut menjadi korban keganasannya. Dr John S Baer. Yang sangat memprihatinkan lagi. Surabaya. Dan sesungguhnya mengonsumsi barang terlaknat ini menyebabkan penderitraan pada manusia secara material maupun moral. Dalam dosis tinggi. Namun dengan adanya penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan minum semasa hamil bisa menigkatkan resiko anak menjadi pecandu juga. hilang nafsu makan. dan Jakarta. bahwa heroin dan semisalnya dapat memakan sel-sel otak dan mengakibatkan kerusakan jiwa serta badan manusia. kebiasaan minum alkohol bisa membuat anak lahir cacat atau kurang bulan (premature). narkoba akan menyebabkan tekanan darah meningkat sehingga menambah kerja jantung secara paksa dan memungkinkan pecahnya pembuluh darah. Bahkan yang sangat mengerikan bahwa jaringan pengedar narkotika di Bali. Sedangkan ekstasi merangsang susunan syaraf pusat. mulai dari rakyat jelata sampai konglomeratnya. Penelitian ini tidak siasia. Baer yang juga mengajar di Addiction Treatment Center mengatakan kalau penelitian ini sebenarnya melanjutkan penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian ini membuktikan penyebab semakin lama semakin banyak anak yang terlibat masalah alkohol. dan perilaku. sedangkan anak yang dalam kandungan terpajani sedikit alkohol. Bila waktu hamil sang ibu terbiasa minum alkohol. Dampaknya lebih berbahaya dari sekedar meneguk minuman keras. Dan studi ini adalah yang pertama mengangkat hubungan ibu hamil yang mengkonsumsi alkohol dengan kemungkinan munculnya masalah alkohol pada si kecil. ternyata kegiatan terorisme sering terkait dan erat hubunganya dengan kegiatan perdagangan narkotika ilegal lintas batas negara . “Pemakaian narkoba dapat mengakibatkan gangguan mental atau jiwa yang dalam istilah kedokteran jiwa (psikiatri) disebut gangguan mental organic. Napi yang menjadi otak peredaran heroin dan putau tersebut adalah Innocent Iwuofor. Lebihlebih ketika sekian banyak penelitian menyatakan bahwa korban miras dan narkoba saat ini telah merambah ke segenap lapisan masyarakat mulai dari anak yang baru dilahirkan hingga orang tua. selama lebih dari dua tahun ini dikendalikan oleh seorang narapidana (napi) laki-laki dewasa kelas I di Tangerang. tidak sedikit dari anak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendahuluan Miras dan narkoba merupakan dua hal yang memiliki kesamaan daya perusak terhadap sendi-sendi kehidupan. Memang masalah ini tidak bisa dihubungkan secara langsung. Selain itu. Dalam skala internasional. persoalan narkoba saat ini sangat memperihatinkan. Dari aspek stabilitas keamanan. mengalami sedikitnya 4 sampai 5 kali masalah dengan alkohol. yang saat janinnya banyak terpapar alkohol. Bahkan. Rangsangan ini menyebabkan orang mampu bergerak terus menerus tanpa rasa lelah. maka resiko si kecil berkembang menjadi pecandu alkohol pun juga besar.

seperti perdagangan wanita dan anak-anak serta penyelundupan migran ke beberapa negara.13-20%. Pengaruh Miras terhadap Kejiwaan Minuman keras baru berpengaruh pada kejiwaan. 30-100 mg/dl: Eforia sedang. Champagne atau Sparking Wine: 10. maka berdasarkan Standard Industri Indonesia (SII) tidak dinamakan minuman keras. narkotika. keseimbangan hilang.sehingga kepustakaan mengenai narkotika mengenal dan mengakui kedekatan kegiatan tersebut sebagai narco-terorism. 2. sering kali disingkat dengan miras. pupil melebar. umumnya 12-14 %. Dalam bahasa Arab (Islam) disebut khamer. tidak bisa berkonsentrasi. Brendy: 37-43% dan sebagainya. Dewasa ini minuman beralkohol (ethanol) yang dikonsumsi masyarakat tersedia dalam berbagai konsentrasi mulai dari 5% sampai 50%. Klasifikasi Miras Minuman beralkohol dikelompokkan dalam golongan sebagai berikut: 1. disorientasi. Ale: 8-16%. b. narkotika. Whiskey: 3753%. . Miras a. 3. yakni yang memiliki kadar ethanol (C2HOH) sebesar 1% sampai dengan 5%. Macam-macam Miras Macam-macam miras bisa diketahui melalui sedikit dan banyaknya kandungan ethanol yang terdapat pada setiap jenis minuman keras yang tersedia dan beredar di masyarakat. 2. Kegiatan perdagangan ilegal narkotika menjadi salah satu alternative sumber pendanaan bagi kegiatan terorisme dan kejahatan transnasional lainya. Minuman beralkohol golongan A. Pasangan dua kegiatan yang berbeda latar belakang tampaknya semakin serasi sejalan dengan perkembangan pasca perang dingin karena kontrol dari negara kuat semakin berkurang terutama setelah hancur leburnya Negeri Unisoviet dan Yugoslavia. Bir hitam: 8-16%. baik dalam skala nasional maupun internasional. inkordinasi. Gin (dihasilkan dengan cara destilasi): 37-54%. Pengertian Miras (minuman keras) Minuman keras. yakni yang memiliki kadar ethanol lebih dari 20% sampai 55%. tidak bisa berpendapat. apabila mencapai konsentrasi ethanol dalam darah dengan efek klinik sebagai berikut: 1. . Toak (hasil fermentasi nira): 8%. dan tidak sadarkan diri. Kegiatan mafia kejahatan yang dimotori oleh bekas agen–agen KGB semakin merajalela dan menghalalkan segala cara untuk mengeruk keuntungan berlipat ganda yang tidak pernah akan diperoleh selama rezim Unisoviet masih berdiri utuh. keseimbangan berkurang. hilang hambatan. Anggur Putih: kira-kira 10%. Port dan Sherry (dari jenis Anggur): 20% atau lebih. Wine: 10%. Beer: 49%. d. seperti: Must dengan kadar ethanol 5-6%. miras di sini adalah semua jenis minuman yang mengandung alkohol (ethanol) dan apabila diminum dapat memabukkan. 200-300 mg/dl: Binggung. reaksi lambat. c. Minuman beralkohol golongan B. Porter: 8-16%. bicara tidak karuan. 100-200 mg/dl: Emosi tak stabil. B. Whiskey US: 43-50%. membuat linglung. adalah minuman beralkohol yang diproses dari hasil pertanian dengan jalan fermentasi atau destilasi. golongan bir : 4%-7%. Jadi. Sekali pun mengandung alkohol (dibawah 20%) dan tidak bereaksi memabukkan. Tinjauan Umum Tentang Miras Dan Narkoba 1. anggur merah: kira-kira 14%. Spirit: 38%. Anggur: 7-22%. Frotified Wine: 15-20%. Paparan di atas menunjukkan bahwa minuman keras. guna memberikan sumbangan pemikiran untuk mengatasi minuman keras. dan obat berbahaya merupakan hal yang sangat menarik sekali untuk dikaji secara intensif. Excitement. aktif berbicara. dan obat berbahaya yang menjadi permasalahan serius. diplopia. 3. yakni yang memiliki kadar ethanol kurang dari 20%. akan tetapi dinamakan minuman ringan (shoft drink). Whiskey UK: 40%. Minuman beralkohol golongan C. pusing.

Narkotika Semi Sintesis Yaitu yang dimodifikasi dari bahan-bahan alami (biasanya dari zat kimia yang terdapat dalam opium) kemudian diproses secara kimiawi supaya memberikan pengaruh lebih kuat. . Menimbulkan daya berkhayal (halusinasi) Zat ini secara garis besar digolongkan menjadi dua macam: narkotika dalam arti sempit dan narkotika dalam arti luas. baik alami maupun sintesis. tidak mau berdiri. ngompol. Dikemas dalam bentuk kapsul. b. Eryth Roxylon Coca (cocaine) c. hasyisy) d. Pengertian Narkoba Narkotika dan obat-obat berbahaya yang seringkali disingkat narkoba adalah dua jenis yang berbeda. bersifat alami dan syntetic. psikotropika dan obat-obat berbahaya adalah zat atau obat. hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Yaitu semua bahan obat opiatin. Ketagihan (ketergantungan . warnanya hijau kecoklatan. tablet. tidur. 400 mg/dl: tidak sadar. Bentuk getah. heroin dan sebagainya) b. Bentuk cairan. Narkotika Sintesis Yaitu pil-pil yang terbuat dari bahan kimia murni. Merangsang (meningkatkan semangat kegiatan atau aktivitas) 3. Narkotika sintetik jenis yang diolah secara kimiawi. cocaine. Kedua. misalnya morfin (ampul). warnanya bening. alkot (cathaedulis) dan lain-lain. 300-400 mg/dl: Apatis. 5. misalnya ganja. yaitu : a. b.4. Pengaruh dan efek yang ditimbulkannya sama dengan narkotika natural atau semi sintesis. atau pil perangsang (stimulantia) seperti Kiptagon atau Amphetamine. muntah. Jenis-jenis Narkotika Narkotika atau obat bius yang dalam bahasa Inggris disebut narcotic adalah semua bahan obat yang mempunyai efek kerja yang pada umumnya bersifat: 1. temperatur tubuh menurun. cairan injeksi. terdiri dari: 1. dependence) 4. b. narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. pernapasan lambat.D (Lysegic Acid Diethlamide). Jenis natur dari dedaunan dan getah. minuman. Narkotika alam.Shaleh bin Ghonim as Sadlan membagi obat-obat terlarang ini menjadi tiga bagian. shok mati. reflek mata berkurang. Termasuk diantaranya pil hallusinogent (pembangkit halusinasi) sepert L. pil. Yaitu semua bahan obat-obatan yang berasal dari: a. yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. koka. morphine. kokain dan lain-lain c. bukan narkotika. wujudnya cairan kental. Bentuk daun. heroin. Membius (menurunkan kesadaran) 2. mengikat. koma. Golongan obat-obatan depressant (obat-obat penenang) e. Narkotika Natural (Alami) Yaitu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti ganja. Narkotika dalam arti sempit. dan ganja. warnanya coklat tua. Sejalan dengan itu Abu Ghifari membagi narkotika menjadi dua bagian yaitu : a. Pertama. Golongan obat-obatan hallucinogen( obat pemicu khayal) Dr.S. Sedangkan narkotika dalam arti luas. C. misalnya cannabis dan hasyis. seperti morfin. Cannabis Sativa (ganja. Di antaranya adalah berbagai jenis obat tidur seperti kapsul Signal. serbuk dan berbagai bentuk lainya. Papaver Somniferum (opium atau candu. Golongan obat-obatan stimulant (obat-obat perangsang) f. wujudnya mirip daun teh kering. hipotensi. bersifat alami. dan 2. atau tablet penenang seperti Valium 5 dan derivate-derivatnya yang lain. wujudnya mirip cairan alkohol murni. NARKOBA a. yang tehnik penggunaanya sangat praktis yang terdiri dari : 1. opium.

trandene 10. Adapun yang dimaksudkan dengan narkotika golongan III.1. warnanya kuning. dan narkotika golongan III. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan sertam mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan. yaitu narkotika golongan I. tidak tenang. Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan. dan psikotropika golongan IV. pengaturan. antara lain cepat marah. gelisah. warnanya kuning tua. serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. rohipnool warnanya putih. e. namun secara umum benda itu menyerang sistem dan fungsi neotransmitter pada susunan syaraf pusat atau otak. adalah yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Dalam jangka panjang. pasal 2 ayat 1 ditinjau dari ruang lingkup dan tujuanya. adalah narkotika ynag berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Fisiologis Efek yang ditimbulkan oleh narkotika dan psikotropika terhadap fisik. berperasaan dan berperilaku dari si pemakai atau pecandu akan terganggu. Sedangkan psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. Dan yang dimaksud dengan narkotika golongan II. digolongkan menjadi empat golongan . dan pengawasannya tunduk kepada peraturan perundangundangan yang berlaku dibidang obat keras. Yang dimaksud dengan narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi. golongan II. bahwa psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi. psikotropika pun juga digolong-golongkan atau diklasifikasikan menurut jenisnya. Bentuk tablet atau kapsul. d. Sekalipun pengaturan psikotropika dalam undang-undang ini hanya meliputi psikotropika golongan I. maka pengaruh yang dapat dirasakan. masih terdapat psikotropika lainya yang tidak mempunyai potensi mengakibatkan sindrom ketergantungan. Narkotika Menurut UU No. antara lain . tidak bersemangat. Psikotropika Sebagaimana narkotika. warnanya merah muda. dan ingin tidur terus. cepat lelah. dan tidak bisa diam. e.2. Dalam penjelasan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika dijelaskan. Oleh Karena itu. serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. golongan III. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan. dan tidak bisa makan. warnanya putih. Bila si pemakai sudah sampai pada tingkat pecandu. penggunaan obat ini dapat menimbulkan fungsi otak terganggu dan bisa berakhir dengan kegilaan. golongan II. golongan III. pembinaan. tidak bisa tidur. Klasifikasi Narkoba 1. kapsul nembutal. golongan II. magadon (nitrazwpam 5 mg). Akibatnya fungsi berfikir. Misalnya semangat berlebihan. Pengaruh atau gejala yang ditimbulkan oleh narkoba e. dan psikotropika golongan IV. narkotika bisa diklasifikasikan menjadi tiga golongan. kemudian ia tidak memakainya.2. 2. 22 Th. 1997 tentang narkotika. tetapi digolongkan sebagai obat keras. yaitu psikotropika golongan I. Psikologi Meskipun efek narkotika dan psikotropika sering berlainan. misalnya: tablet cosadon.

Al-Nakha’I. (berlandaskan sunnah nabi). ia mengemukakan dua alasan : a. Secara fisik. minuman tersebut sifatnya dapat menutupi akal dan pikiran sehat peminumnya dari mengerjakan perintah-perintah agama (Allah dan rasulnya).menurunya kekebalan tubuh dan rusaknya beberapa fungsi organ tubuh. Namun untuk yang terakhir ini masih diperselisihkan oleh kalangan ulama fikih. Sedangkan kata khamer berasal dari kosakata Arab khamara-yakhmuru atau khamara yakhmiru. Miras a. paru-paru. Mereka berpegang pada kata-kata Abu al-Aswad al –Du’ali sebuah sya’irnya yang berbunyi sebagai berikut : ٙٔ ‫ص ٌشّغ ج غ ٙ ٌ ٛ ٕٔٝ ع ٠ث س ٘ ِ ٕ١ ّى‬ ٙ ٔ ٍ ِٗ ٗ ‫ْ ال ج ى ٕٗ ٚ ٠ ى ٕٙ ٔ ٗ سٛ٘ ضذ‬ “Biarlah khamer itu diminum orang-orang yang sesat. ia tidak dimasukkanya ke dalam kategori khamer. akan tetapi menamakanya dengan sebutan nabidz. bicara cadel. Karena alasan agama. Dan yang dinamakan khamer adalah sesuatu (minuman) yang sangat keras (memabukkan) yang berasal dari perasan anggur. baik organ dalam seperti jantung. Penyalahgunaan narkoba dapat mengakibatkan gangguan mental atau jiwa yang dalam istilah kedokteran jiwa (psikiatri) disebut gangguan mental organic. Kondisi demikian dapat dikonseptualisasikan sebagai gangguan jiwa karena narkoba. Karena alasan bahasa. Karena aku yakin bahwa sang pemabuk tetap menyanyikan (membela) keberadaanya” “Baik Khamer itu tak ada untuknya atau sang pemabuk tak memilikinya. Ini adalah madhabnya ulama Kufah. Sedangkan minuman memabukkan yang terbuat dari bahan selain perasan anggur. juga organ luar seperti pupil mata mengecil . diantaranya sembelit. kejang-kejang. Imam Abu Hanifah Ia berpendapat. hati dan lain sebagainya. Sebagaimana pernyataannya sebagai berikut ini: ّ‫١غ ٌ ٕ مظ ٚ ِ ٌّـىغ ِٓ ١غٖ و ٌ غ ِٓ ٌح‬ ِٓ ‫غ ٚ ٌ ١غ ٍ ٠ـّٝ ٌشّغ ٌ غ ٌّـىغ‬ ٓ١١ ٛ‫ٚ ٌٕش ٟ ٚ ٌٕٛٚٞ ٚ ٓ ٟ ٌ١ٍٝ سّغ ً ٠ـّٝ ٔ ١ض ٚ٘ظ ِظ٘ ٌى‬ “Khamer adalah minuman yang memabukkan yang berasal dari perasan anggur saja. Tinjauan Hukum Islam terhadap Miras dan Narkoba 1. Karena itu. D. Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa narkoba adalah racun yang bukan saja merusak seseorang secara fisik tapi juga merusak jiwa dan masa depan penggunanya. Jika dia tidak berhasil menemukan narkoba. misalnya: 1. muntahmuntah. seperti minuman yang terbuat dari perasan kurma dan gandum. sementara mentalitasnya sudah terlanjur ketergantungan dan membutuhkan pemenuhan narkoba dalam dosis yang semakin tinggi. Al-Tsauri dan Ibnu Laila” Dengan pendapatnya tersebut. Sesungguhnya mereka berdua adalah saudara yang pernah disusui seorang ibu” Dengan alasan ini mereka berpendapat bahwa sesungguhnya nabidz bukan termasuk khamer. maka tubuh akan mengadakan reaksi yang menyakitkan. Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id al Khudri : . Bisa disebut khamer juga setiap perasan atau sari buah yang difermentasi atau didestilasi. akan tetapi dinamakan nabidz. kekebalan tubuh semakin lama semakin ambruk. bahwa khamer adalah minuman yang memabukkan dan hanya terbuat dari perasan anggur saja. perasaan danperilaku. b. dan alat-alat indera lainya. Adapun yang memabukkan dari selain anggur. Pengertian Miras menurut Hukum Islam Miras dalam Islam disebut dengan khamer. Disebut organic karena narkoba ini bila masuk ke dalam tubuh langsung bereaksi dengan selsel saraf pusat (otak) dan menimbulkan gangguan dalam alam pikir. mulut kering. yang berarti tertutup atau terhalang. atau dilakukan peragian sehingga berefek memabukkan. Khamer dibuat dari perasan atau sari buah anggur. Untuk itu para pecandu narkoba tidak bisa lepas dari ketergantungan. dan badan menggigil yang dikenal dengan sakau. liver. hingga memerlukan terapi cukup lama. maka tidak dinamakan khamer.

Hadis tersebut menjelaskan bahwa peminum meniadakan penamaan khamer dari dua campuran minuman dihadapan rasulullah sedangkan beliau tidak mengingkarinya.R. dan khamer yang dimaksud yang terbuat dari lima hal: anggur. biji gandum.( ٕٙ ‫ع ضٟ هللا‬ “Rasulullah melarang segala minuman yang memabukkan dan menutupi akal . bersabda : khamer itu terbuat dari kedua pohon ini.‫ٚ٘ٛ ِظ٘ جّٙٛع ٌ ّذضذ ١ٓ ٚ ً٘ ٌ ذج ػ‬ “Khamer adalah nama (sebutan) bagi setiap minuman yang memabukkan baik terbuat dari anggur. bahwa Abu Syihab Abdu Rabbih bin Nafi’. 2. dan Imam Ahmad.R. adalah Imam Malik. kurma. Hadits Anas: ٟ ٔ ٕ ٌ ‫ض ع ٗ ٓ ٔ ع ٓ ٠ ٛٔ ؾ ٓ ذ ث‬ ٙ‫دضذ ٕ دّض ٓ ٠ ٛٔ ؾ دضذ ٕ ٛ ش‬ ١ ٍ ‫ٓ ٔ ؾ دغِث ٍ ١ ٕ ٌ شّغ د ١ٓ دغِث ِٚ ٔ جض ٠ ٕٟ ٌ ّض٠ ٕة سّغ ال ٕ إال ل‬ (ٞ‫ٚ ِة سّغٔ ٌ ـغ ٚ ٌ حّغ. Ini merupakan pendapat mayoritas dari kalangan ahli hadis dan ulama Hijaz” Alasan mereka bahwa yang dinamakan khamer adalah segala sesuatu yang memabukkan.R.Muslim). Maka rasulullah mengharamkan kedua campuran tersebut”.” Al-Fahru al Rozi berpendapat bahwa hal di atas merupakan argumentasi yang paling kuat dalam hal menamakan khamer dalam pengertian semua yang memabukkan. atau lainnya. 4.(H. kita telah mendapatkan kabar dari Al Hajjaj bin Abi Usman. antara lain. Mereka berpendapat: ‫١غ ٚ ١غٖ. dan sari pati.(H. ْ ٌ شّغ إ ؿُ ٌ ىً شغ ِ ـه‬ ٌ ٚ ‫١غ ٌ ٕ ٚ ٌ حّغ‬ ِٓ ْ ‫ع ؿٛ ء و‬ . Kalau begitu apa yang kau minum? Ia menjawab: Dua campuran.‫ٍ ١ٗ ٚ ؿ ٍُ ٕ ٛ ْ م ي ٌ ٗ شغ ث سّغ ؟ ل ي ِ شغ حٙ ِ ٕظ‬ ‫ج ٝ ٌ ٕ ٟ ص ٍٝ هللا‬ ٗ١ ٍ ‫دغِٙ هللا ٚع ؿٌٛ ٗ ل ي ِٚ ط شغ ث ل ي ٌ ش ٍ ١ط ١ٓ ل ي ذغَ ع ؿٛي هللا ص ٍٝ هللا‬ ٓ١ ‫ٚ ؿ ٍُ ٌ ش ٍ ١ط‬ “Ketika Nisywan datang kepada rasulullah. yaitu kurma dan anggur”. Jumhur Ulama (Mayoritas Ulama) Di antara mayoritas ini. 2. (ia) dari Anas telah bercerita kepada kita. menjadi sangat kuat sekali dengan ditopang beberapa dalil hadits berikut: 1. Abu Daud dari Ummi Salamah RA).”(HR. Sedangkan umumnya khamer kita kebanyakan terbuat dari kurma atau kurma yang masih muda. jewawud (jelai). Hadis Ummi Salimah ‫ٍ ١ٗ ٚ ؿ ٍُ ٓ و ً ِ ـ ىغ ِٚ ف حغ )عٚ ٖ ٛ ص ٚص ٓ َ ؿ ٍّة‬ ‫ٔ ٙٝ ع ؿٛي هللا ص ٍٝ هللا‬ . dari Yunus. Abu Daud). (ia) dari Tsabit Al Bunnani. )عٚ ٖ ٌ ش ع‬ “Ahmad bin Yunus bercerita kepada kita. kurma. Imam Syafi’i. Al-Imam al-Alusi pun juga mengemukakan komentarnya sebagai berikut: ٞ‫ٚ ٕض ْ ٌ ذك ٌ ظٞ ال ٠ ٕ ٟ ٌ ضٚءي ٕٗ ْ ٌ غ ٌ ّ حشض ِّ ض ٌ ٕ و ١ف و ْ ٚ٠ أ‬ ٗ ‫ؿُ ؿّٟ ِ حٝ و ْ ذ ١د ٠ ـ ىغ دغ َ ٚل ٍ ١ ٍٗ و ى ر ١غٖ ٚ٠ ذض ش ع ٗ ٚ٠ مع ط ل‬ . dan di Madinah kami tidak mendapatkan khamer yang terbuat dari anggur. Hadis Ibnu Umar yang mengatakan ٛ ٖ ٚ‫ص ٚص ٓ ٟ ّغ(و ً ِ ـ ىغ سّغ ٚو ً ِ ـ ىغ دغ َ )ع‬ “Segala yang memabukkan adalah khamer. dan segala yang memabukkan hukumnya haram. Khamer adalah apa yang dapat menutupi akal“. 3. bahwa Yahya bin Abi Katsir bercerita padaku sesungguhnya Aba Katsir mendengar Abu Hurairah berkata : Rasulullah saw. Abu DAud dari Ibnu Umar). 5. Hadis Ibnu Umar ‫١غ ٚ ٌ ضع‬ ٌ ٚ ‫ٔ ؼي ج ذغ٠ ُ ٌ شّغ ٠ َٛ ٔ ؼي ٟٚ٘ ِٓ سّ ـة: ِٓ ٌ ٕ ، ٚ ٌ حّغ ٚ ٌ ذ ٕطة‬ ٖ ٚ‫ٚ ص ٚص(ٚ ٌ شّغ ِ س ِغ ٌ مً )ع‬ “Khamer diharamkan semenjak ditetapkan keharamanya. gandum. diharamkan khamer semenjak ditetapkan keharamanya. Hadis Abu Hurairah: ً١ ّ‫ٓ غ ٘ ١ُ س غٔ ٌ ذج ز ٓ ٟ رّ ْ دضذ ٕٟ دضذ ٕٟ ػ٘ ١غ ٓ دغ دضذ ٕ ؿ‬ ٗ١ ٍ ‫و ر ١غ دضذ ٗ ٓ ٟ ٘غ٠ غ ل ي ل ي ع ؿٛي هللا ص ٍٝ هللا‬ ْ ‫٠ ذٟ ٓ ٟ و ر ١غ‬ (ٍُ ‫ٚ ؿ ٍُ ٌ شّغ ِٓ ٘ ج ١ٓ ٌ جغج ١ٓ ٌ ٕش ٍة ٚ ٌ ٕ ة )عٚ ٖ ِ ـ‬ “Zuhair bin Harb bercerita padaku. kecuali hanya sedikit. bahwa Isnai’l bin Ibrahim telah bercerita kepada kita. beliau berkata kepadanya: Apakah kau minum khamer? Ia menjawab: saya tidak meminumnya sejak Allah dan rasulnya mengharamkan.”(H.

Dengan demikian sekalipun berupa zat cair. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas sebagai berikut: ‫ًّ ٗ. tidak termasuk kategori khamer. Selain permasalahan di atas.ٍُ ٌ ‫ع ٌ ٗ و‬ ،ٍُ ‫ٍ ١ٗ ٚ ؿ‬ “Apabila telah kami kumpulkan dan kami tetapkan al-Qur’an di hatimu. Dengan bersandar pada empat hal inilah segala persoalan sosial baik yang sudah terjadi . bahwasanya al-Qur’an merupakan sumber hukum yang pertama dalam mengatur segala persoalan kehidupan. 2) Ilmu–ilmu tentang jidal (dialog). seperti alkohol dan sebagainya. 3) Ilmu–ilmu tentang bagaimana orang mengingat-ingat kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Muhammad Ali al-Shabuni berpendapat bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang memabukkan adalah khamer. bahwa minuman yang dibuat dari apa saja selain anggur. maka berbuatlah kamu dengannya. adalkan berasal dari zat cair” Dari pernyataan tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan khamer harus berupa zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair. ayat 107:       “Dan tiadalah Kami mengutus kamu. kandungan isi al-Qur’an. sesungguhnya yang benar dan tidak boleh diingkari. maka tidak diberlakukan hukum had. sekiranya memabukkan maka hukumnya haram. apapun adanya serta apapun namanya. ٚل ض سص ٌ ى ح ٌ ّ ٕؼي ٍٝ ِذّض ص ٍٝ هللا‬ ‫ح ٕ ٖ ٟ صضعن‬ ‫إط جّ ٕ ٚ ذ‬ . 4) Ilmu-ilmu tentang peringatan terhadap manusia akan adanya hari pembalasan. Muhammad al-Zuhri al –Ghamrawi menyatakan: . tetapi tidak disajikan untuk diminum. 5) Ilmu–ilmu tentang kematian dan kehidupan setelah mati. ditetapkan sebagai aturan – aturan hukum yang harus ditaati. sekali pun berupa zat padat. tumbuh-tumbuhan seperti ganja. Kemudian setelah itu secara berurutan adalah: Sunnah rasul (al-Hadis). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Miras (Khamer) Sebagian telah dimaklumi. khamer bisa diartikan sebagai: Zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair yang disajikan untuk minuman. Ijma’. Oleh karena itu yang tidak berbentuk zat cair (minuman). Masalah minuman keras memang sudah ditetapkan keharamanya di dalam al-Qur’an.. Peminumnya dikenai hukuman had. Dan segala sesuatu yang telah ditetapkan aturanya di dalam al-Qur’an . dan sebagainya bukan termasuk khamer. opium. ‫ٌ ّغ ص ِٓ ش ع ٗ ٌ ّ ح طٝ ٌ ٗ ٌٚ ٛ ج ِض د ١د و ْ ص ٍٗ ِ ئ‬ “Yang dimaksudkan dengan peminumnya adalah orang yang mengonsumsi khamer. Oleh karenanya. wajib ditaati dan tidak boleh seorang pun mengingkarinya. dan lainya. mencakup persoalan sosial. secara definitive. Yang dimaksudkan Ibnu Abbas adalah al-Qur’an yang . b. sekalipun semua itu haram dan menutupi akal. melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Karena al-Qur’an diturunkan oleh Allah ke dunia diperuntukkan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surat Al-Anbiya’. Baik sedikit maupun banyak. yang juga menjadi perbincangan para ulama adalah bentuk zat dari khamer. Tetapi sebaiknya hal tersebut dijauhkan dari pandangan orang awam” Dari ulasan di atas.‫ٚٔ ج ؿ حٗ ٍ ١ظة‬ “Menurut saya. maupun yang sedang dan akan terjadi. opium. tidak berlaku hukuman had bagi penggunanya (peminumnya). yang apabila diminum akan mengakibatkan mabuk atau tertutupnya akal. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibrahim al –Bajuri yang mengatakan: ً‫دض ١ٗ ٚإْ دغَ ِ ٠ شضع ٌ م‬ ّ ٘ٛ‫ٚسغز ٌ غ ٌ ٕ ت و ٌ ذ ١ ة ٚ ال ١ْٛ ٚٔ ذ‬ ٕٗ ِ . yang terdiri dari : 1) Ilmu-ilmu tentang hokum. Secara universal. dan yang terakhir adalah Qiyas. talaknya dianggap sah serta najisnya terhitung najis mughalladhah” Dari berbagai argumentasi di atas.َ ٛ ٌ ِٓ ‫٠ ذغَ ٌ ىٓ ٠ ٕ ٟ و رُ طٌ ه‬ ٗ‫ش ف ِ ال ٠ شضع ٌ مً ِ ٕٗ ٌ م ٍ ح‬ “Dikecualikan dari minuman (syarab). seperti: ganja.

Hifdzu al nasl (menjaga keturunan). maupun dengan penciptanya (ibadah). kesehatan jasmani dan rohani merupakan kebutuhan fital yang tidak boleh ditiadakan. menetapkan lima tujuan yang paling mendasar dengan diturunkanya syari’at Islam. Yaitu melaksanakan ibadah penuh dengan kesadaran berfikir serta hadirnya hati yang . Kedua. Mereka memutuskan bahwa khamer adalah:”Nama (sebutan) bagi setiap minuman yang memabukkan . Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (khususnya shalat) merupakan perintah Allah yang harus dijalankan dengan sepenuh hati dan ikhlas. Firman Allah dalam al -Qur’an. sesungguhnya merupakan terjemahan yang kurang tepat (kurang pas). Hifdzu al aql (menajga akal). dan manusia harus memposisikanya sebagai musuh yang nyata. gandum atau yang lainnya. sesungguhnya meminum (khamer).maka jadilah al-Qur’an itu baginya bagaikan ilmu. kurma. Imam Syathibi. Sebagaimana diinformasikan al-Qur’an . Kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia yang wajib dijaga. akan tetapi disebut nabidz. Hifdzu al I’rdli (menjaga harga diri). dan Ahmad. perbuatan (keji) itu dinyatakan sebagai bagian dari syaitan. sekalipun oleh kebanyakan orang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “keji”. Lima tujuan dasar itu. Bukan hanya Islam yang menyatakan bahwa syaitan adalah musuh bagi manusia. Mereka memutuskan bahwa khamer adalah: “Minuman yang memabukkan yang terbuat dari perasan anggur”. Untuk memberikan pemeliharaan terhadaap kelangsungan dan keselamatan serta kebahagiaan hidup yang dimaksud. adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. maka bisa disimpulkan bahwa secara definitive khamer adalah: “Zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair yang disajikan untuk minuman. Kesimpulannya. Hifdzu al din (menjaga agama).” Setelah mencermati perbedaan pendapat tersebut. harus dihindarkan jauh-jauh dengan tujuan untuk: 1) Menjaga agama Agama merupakan suatu keyakinan yang mengatur perjalanan hidup manusia demi mencapai kebahagiaanya di dunia maupun akhirat. Sedangkan yang terbuat dari selain anggur tidak disebut khamer. Oleh karena itu datangnya khamer yang berpotensi merusak. Sebab itulah minum khamer yang berpotensi merusak ditetapkan sebagai perbuatan syaitan. yaitu: Pertama. yang apabila diminum akan mengakibatkan mabuk atau tertutupnya akal fikiran”. yaitu Malik. serta dalam konsentrasi maksimal.” Setelah melalui perdebatan panjang di kalangan para ulama’ dalam menentukan apakah sesunguhnya khamer tersebut. ayat 90 menyatakan:                 “Hai orang-orang yang beriman. Oleh karenanya khamer harus dijauhkan dari segala aktifitas manusia. Islam memandang khamer sebagai sesuatu yang kehadiranya akan menimbulkan mafsadat atau kerusakan dalam perjalanan hidup manusia. Karena dalam ayat di atas. orang yang minum khamer telah mengambil alih satu perbuatan dari perbuatan-perbuatan syaitan. adalah golongan jumhur ulama.diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu agama merupakan kebutuhan asasi manusia yang harus dihormati dan dijaga dari segala hal yang merusaknya. baik terbuat dari perasan anggur. Ibadah. Baik dalam bidang muamalah maupun ibadah. agar bisa mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. surat AlMaidah. mengundi nasib dengan panah. adalah golongan Hanafiyah. pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa mereka (ulama) terbagi menjadi dua golongan. Syafi’i. Hifdzu al mal (menjaga harta). bahwa syaitan adalah musuh bagi manusia. Baik dalam hubunganya antara manusia dengan sesame (muamalah). ia menyebutnya dengan al dlaruriyyah al khams.” Kata rijs(‫ ) ؽزع‬dalam ayat di atas. berjudi (berkorban untuk) berhala. yang diantaranya. tetapi hampir semua agama dan keyakinan menyatakan bahwa syaitan adalah musuh yang selalu bertujuan untuk menyesatkan dan merusak sendi-sendi agama yang bertujuan memelihara kelangsungan dan keselamatan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu harta termasuk kebutuhan asasi yang harus dipenuhi dan dijaga. yang dalam pepatah Jawa dikatakan “kacang ora ninggalno lanjaran”. jiwa. Artinya tanpa harta orang tidak akan bisa hidup.” Ayat tersebut sesungguhnya tidak menunjukkan larangan tentang shalat. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.diikuti dengan gerakan-gerakan anggota badan secara teratur dan tuma’ninah. Kehadiran khamer (miras) yang berpotensi merusak akal dan jiwa serta membuat lemahnya fisik. dan fikiranya terganggu. Bahaya minuman keras. bukan hanya mengancam peminumnya saja. anak yang masih kecil. Namun secara tidak manusiawi. Bahkan resiko si kecil berkembang menjadi pecandu alkohol pun besar. dan tidak pula menyadari akan gerakan-gerakan yang ia kerjakan di dalamnya. Dengan akalnya manusia bisa mengetahui tandatanda kekuasaan dan kebesaran Allah. raga. Pengaruh buruk alkohol atau miras tidak hanya berpengaruh fisik saja.” Mengenal Tuhan adlaah suatu kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mengerti apa artinya hidup dalam naungan agama. . al-Qur’an suran An-Nisa’:              “Hai orang-orang yang beriman. Sebagaimana al-Qur’an . Karena shalat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Dan dengan akalnya pula manusia akan mendapatkan kebahagiaanya. Masalah ini dikemukakan dalam suatu studi: “Jumlah dan frekuensi alkohol yang diminum ibu hamil bisa menjadi patokan berapa besar anak berkembang menjadi alkoholik. melainkan juga berpengaruh pada karakter atau akhlak si anak. sekaligus merupakan perbuatan syaitan yang seharusnya dijauhi. 4) Untuk menjaga akal Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan bahwa akal adalah sesuatu yang amat penting bagi manusia. Artinya fokus larangan dalam ayat tersebut adalah larangan mabuk (minum khamer). 2) Menjaga Keturunan. Hal semacam ini sangat bertentangan dengan tujuan syari’at dalam hal shalat atau ibadah-ibadah yang lainnya. janganlah kamu shalat. Oleh karena itu Islam melarang orang mendekati perbuatan shalat ketika dalam keadaan mabuk. ‫ٍخ ِٓ ج ً هللا ٌ ٗ م‬ ‫لض‬ “Sungguh berbahagialah orang-orang yang diberi akal oleh Allah. bahkan ketika anak masih berada dalam kandungan . Membelanjakan harta ke jalan yang tidak benar (untuk minuman keras atau khamer) merupakan perbuatan yang tidak ada artinya dan sia-sia atau mubadzir. sudah terpengaruh (mengalami gangguan-gangguan kesehatan) manakala ketika sang ibu hamil terbiasa minum alkohol. al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 242 menegaskan sebagai berikut:         “Demikian Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. sedang kamu dalam keadaan mabuk. Artinya seseorang meniru keadaan akhlak orang tuanya. sangat bertentangan dan bahkan bisa mengacaukan perbuatan shalat tersebut.” . Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan jawaban tegas bahwa minuman keras ternyata berakibat buruk pada generasi penerus. 3) Untuk menjaga harta Orang hidup tidak mungkin bisa dipisahkan dari harta. Hanya saja ayat tersebut menjelaskan bahwa shalat tidak boleh didekati(dikerjakan) ketiak orang itu dalam keadaan mabuk. Karena ketika orang itu mabuk . Irulah sebabnya pada suatu ketika Siti A’isyah menyatakan sebagai berikut: . hingga ia tidak menyadari apa yang ia ucapkan di dalam shalat. surat Al-Isyra’ ayat 27 menyatakan :    •        “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhanya”.

ل ي غ‬ ‫٠ ٚؿ‬ ٌ ً‫ٞ: ٌ شّغ ع ؽ ٌ غٚع ٚ ص‬ “Berkatalah seorang Badui. Para ahli dibidang kedokteran menyatakan: ٟ ِٗ‫ٚو رغ ِٓ ِضِٓ ض ٔ ف ـٗ ٚ ض ١ع ِٓ ٠ ٛي ٌٚ جأ إٌ ٝ إلج غ َ ٌ ١جض ٌ ّ ي ٠ ـ حشض‬ َّٛ‫٘ ن ٔ ف ـٗ ٚ ٘ ٍٗ ٚإ ض ف ِ حٗ ٚٚط ٕٗ ح طٟ ٘ظٖ ٌ ـ‬ “Tidak sedikit orang yang kecanduan (selalu minum khamer). Pertimbangan Hukum Islam terhadap Miras (Khamer) Proses yang panjang dalam perjalanan manusia bersama minuman keras (khamer). dan kerugian harta saja. secara garis besar bisa disimpulkan bahwa miras adalah sesuatu yang sangat merugikan. 5) Untuk menjaga Kehormatan Mengkonsumsi minuman keras. Karena otak (pikiran) orang yang sedang mabuk khamer.” Dengan demikian jelaslah bahwa miras (khamer) merupakan penyebab segala terjadinya perbuatan jahat (criminal). Realitas sosial menunjukkan bahwa banyak sekali kejadian-kejadian kriminal. Miras sebagai faktor penyebab terganggunya harta. Miras sebagai faktor penyebab terganggunya keturunan 3). akhirnya kehilangan kepedulian terhadap dirinya sendiri . c. Ia berkomentar demikian tidak lain karena memandang betapa akal itu merupakan sesutau yang sangat berharga baginya. Dalam kitabnya Dalil al Sailin dituturkan: ‫ٌ ضِ ع. Setelah mencermati ulasan di atas.S. karena adanya daya perusaknya sangat besar terhadap sendi-sendi kehidupan. sesuai dengan al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 91:                       “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu. tidak hanya menyebabkan rusaknya fisik. terganggu oleh serangan alkohol pada syaraf pusatnya. Dalam suatu komentarnya ia mangatakan: ٓ ٠‫ٌ غجً د حٝ ٠ حُ م ٍٗ ِٚ ٚص هللا ِغء م إال ؿ ح ٕ فظٖ ٗ ٠ ِٛ ِ ٠ حُ ص‬ “Tidaklah sempurna agama seseorang hingga sempurna akalnya. keturunan. akal dan harga diri manusia. Miras sebagai faktor penyebab terganggunya agama 2). bahkan memperlemah umat dan negaranya”. keluarga. Maka berdasarkan: 1. Al-Baqarah 219-220:     ••  . minuman keras (khamer) adalah pangkal semua kejahatan . Dan keselamatan seseorang pun tergantung pada kesempurnaan akalnya pula. Miras sebagai penyebab terganggunya harga diri. yaitu: 1). yaitu: agama. Q. Yang disebabkan karena pelakunya dalam keadaan mabuk. dan menghalangi kamu mengingat Allah dan sembahyang. pada akhirnya membuahkan suatu ketetapan bahwa miras adalah sebagai sesuatu yang dilarang (diharamkan) Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan dampak negatip yang ditimbulkan oleh miras. harta. dan Alloh tidak menitipkan akal kepadanya kecuali pada suatu hari Allah berkenan menyelamatkanya”. asal segala bencana dan sebab segala kerusakan. 4). Perbuatan tersebut dilakukan diluar kesadarannya. maak berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. melainkan juga menyebabkan penderitaan manusia secara moral atau kejiwaan serta menterlantarkan keluarga yang seharusnya dijunjung tinggi. bahkan menyeret dirinya untuk berbuat kriminal lainya demi mendapatkan harta untuk menghancurkan dirinya sendiri. Miras sebagai faktor penyebab terganggunya akal 5). keluarga. Agama seseorang tidak akan sempurna jika akalnya tidak sempurna.Demikian halnya Al Hasan Ra.

Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijak….”(220). niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Hadits Abu Hurairoh :ٕٗ ‫ٍ ١ٗ ٚ ؿ ٍُ غجً ل ض شغ ل ي: ل ي ٛ ٘غ٠ غ ع ضٟ هللا‬ ‫ج ٟ ٌ ٕ ٟ ص ٍٝ هللا‬ ‫ض‬ ‫رٛ ٗ ٍّ ٔ غف ل ي‬ ‫ٕ ٍٗ ٚ ٌ ض ع‬ ‫١ضٖ ٚ ٌ ض ع‬ ‫ضغ ٛ ّ ٕ ٌ ض ع‬ ْ ‫١ط‬ ٌ ٗ١ ٍ ٕٛ ١ ‫ٚ ٌ ـ َ: ال ج مٌٛ ٛ ٘ىظ ال ج‬ ٌ ٗ١ ٍ ‫ٌ مَٛ: سؼ ن هللا ل ي‬ (‫)صٚ ص ٚ ٚ ٞع ر ي ٖ ٚع‬ “Berkatalah Abu Hurairoh RA. dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. amak berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. seorang laki-laki peminum khamer didatangkan kehadapan Rosululloh. mengundi nasib dengan panah. Q. sesungguhnya meminum (khamer). Al-Maidah 91                       “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu. maka mereka adalah saudaramu. 4. ada yang memukul dengan sandalnya. menjilid (melaksanakan hukuman had) dengan menggunakan pelepah kurma dan sandal. Bahwasanya nabi Muhammad SAW. sebagian kaum mengatakan semoga Allah menghinakan kamu. jangan kau memberikan pertolongan kepada syetan atas dia”. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Q. beliau bertanya: apa pendapatmu tentang penjilitan terhadap masalah khamer? Seraya Abdurrahman bin Auf menjawab: aku melihat bahwa engkau menjilid dengan hukuman had yang paling ringan. katakanlah: “Menurut urusan mereka secara patut adalah baik. Ketika sampai pada giliranya Umar.                                                 •         “Tentang dunia dan akhirat.S. berjudi (berkorban untuk) berhala. dan jika kamu bergaul dengan mereka. dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Barang siapa . Dan jikalau Allah menghendaki. seraya beliau berkata: Pukullah dia. jangan kau katakana demikian.” 5. Hadits Anas ‫ٍ ١ٗ ٚ ؿ ٍُ ج ٍض ٟ ٌ شّغ ٌ جغ٠ ض ٚ ٌ ٕ ي ٓ ٔ ؾ ع ضٟ ي‬ ‫ٌ ٗ ٕٗ ْ ٌ ٕ ٟ ص ٍٝ هللا‬ ٟ ْٚ‫١ٓ ٍّ و ْ ّغ ٚصٔ ٌ ٕ ؽ ِٓ ٌ غ٠ ف ٚ ٌ مغٜ ل ي: ِ ج غ‬ ‫ذ ُ ج ٍض ٛ ىغ ع‬ ٓ١ ٔ ّ ‫ض ٌ غدّٓ ٓ ٛف: عٜ ْ ج ج ٍٙ و أسف ٌ ذضٚص ج ٍض ّغ ذ‬ ‫ج ٍض ٌ شّغ م ي‬ (‫ع ي ٖ ٚع‬ ) “Dari Anas RA. dan ada yang memukul dengan pakaianya. 2. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Kemudian Abubakar menjilid 40 kali. menetapkan bahwa khamer adalah barang diharamkan.S. Maka diantara kita (para sahabat nabi) ada orang yang memukul dengan tanganya. Maka bersabdalah Rosulullah SAW. (HR. Al-Maidah 90                 “Hai orang-orang yang beriman. Al-Bukhori dan Abu Daud) Hukum Islam. Setelah lelaki tersebut pergi. sedangkan manusia mulai berdatangan dari pedesaan. Maka selanjutnya Umar menjilid sebanyak 80 kali.” 3.

jenisnya. yang . Hal itu dilakukan manakala hakim melihat masalah dalam pemberatan hukuman had tersebut. Bahkan tidak satu ayat-pun dari ayat-ayat al-Qur’an maupun Hadis Nabi yang membahas masalah tersebut. 2) Peminumnya dikenakan hukuman had (dicambuk 40 kali hingga 80 kali). Menyatakan bahwa marihuana belum pernah dibahas oleh ulama-ulama mujtahidin pada masanya. yaitu pada masa pendudukan bangsa Tatar. Hal ini diketahui dari pernyataan yang termuat dalam kitab Tahdziful furuq sebagai berikut: ‫ِ غٚف ٌ ذ ١ ة ٌ ُ ٠ ح ى ٍُ ٍ ١ٗ ألئ ّة ٌ ّج حٙضْٚ، ٚال ١غُ٘ ِٓ ٍُ ْ ٌ ٕ ت ي‬ ‫ٍّ ء ٌ ـ ٍف ألٔ ٗ ٌ ُ ٠ ىٓ ٟ ػِ ُٕٙ ٚإٔ ّ ظٙغ ٟ ٚ سغ ٌ ّ ئ ة ٌ ـ ص ؿة ٚ ٔ ح غ ٟ صٌٚ ة‬ . 2. Berdasarkan hadits ini juga.. yang kemudian hari dinyatakan sebagai tumbuhan (tanaman) terlarang. merupakan wewenang hakim.. maka dengan demikian jelaslah bahwa persoalan alat untuk mencambuk atau melaksanakan hukuman had. Karena sesungguhnya ganja atau marihuana tersebut tidak ada pada zaman mereka. Bahkan tidak pernah membahas jenis tumbuh-tumbuhan tertentu. Pengertian Narkoba Menurut Hukum Islam Narkoba yang dikenal sekarang ini. Karena sesungguhnya ganja atau marihuana tersebut tidak dikenal pada waktu itu. menjadi kewenangan hakim. dan belum pernah juga dibicarakan oleh ulama-ulama salaf. baru dikenal oleh umat Islam pada akhir abad ke 6 H. Barang tersebut baru dikenal dan tersebar pada akhir abad ke 6. Dalam kenyataan al-Qur’an dan Al-Hadis tidak pernah membahas secara langsung persoalan narkoba tersebut. ٖٚ‫ٌ ـ ص ؿة ئ َي عر ٚ ٞف َْٞيؽَي ْٞ تعٖظ ْٖ ْغي َ يٚ ْٖإف فٞفحي ٖط‬ .melanggar. Adapaun alat yang dipergunaakn untuk memukul. dan orang-orang fasiq dari kalangan umat Islam terpengaruh dan kemudian mengkonsumsi barang tersebut. berarti ia berbuat melawan hukum. Hasil kajiannya dapat ditemukan dalam kitabnya yang berjudul Majmu’ al-Fatawa. baik dalam pengertianya. menurut keputusan hakim.” Sejak itulah ulama-ulama Islam mulai mendiskusikan dan memperdebatkan permasalahan narkoba. sebagaimana ulasan sebelumnya.. yaitu ketika bangsa Tatar dengan panglimanya bernama Jenghis Kan merambah kewilayah Negara Islam. Narkoba a. Bagi peminumnya dikenakan hukuman had atau dicambuk (dipukul) sebanyak 40 kali. itupun masih terbatas pada ganja.‫ٌ ح ح ع‬ “ketahuilah sesungguhnya tumbuh-tumbuhan yang dikenal dengan nama marihuana(ganja) belum pernah dibahas oleh ulama-ulama mejtahidin.. macam-macamnya serta segala sesuatu yang terkait denganya. Seperti apabila peminum sudah berkali-kali dijatuhi hukuman had tetapi tidak juga jera. Baru setelah itu persoalan ganja dikenal dan tersebar dikalangan umat Islam. Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa khamer atau miras dalam tinjauan (perspektif) hukum Islam adalah: 1) Hukumnya haram. sesungguhnya tidak pernah ada pada masa permulaan Islam.” Begitu juga Syaikh Muhammad Ali Husin Al-Maliki RA. berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori dan Abu Daud di atas. Pembahasan pada waktu itu hanya berkisar pada permasalahan khamer saja. yaitu pada masa pendudukan bangsa Tatar. Diantaranya ia menyatakan sebagai berikut: . Yaitu ketika bangsa Tartar memerangi atau menjajah negara-negara Islam. Pada waktu itulah orang-orang Islam yang masih lemah imanya. apabila hakim memandang perlu. dan belum pernah juga dibicarakan oleh ulama-ulama slaaf. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membahas panjang dan lebar mengenai tumbuhan marihuana (dalam bahasa Arab disebut Hasyisyah) yang ternyata belakangan ini tergolong narkotika. boleh dengan segala sesuatu yang apabila dipukulkan bisa menimbulkan rasa sakit (bisa membuat si peminum jera). Tumbuhan ini baru dikenal dan tersebar pada akhir abad ke 6. 3) Penentuan alat untuk hukuman had.ْ ‫ٚ ٚ ئ ً ٌ ـ ة د ١د ظٙغت صٌٚ ٗ ٌ ح حغ، ٚو ْ ظٙٛع٘ ِع ظٙٛع ؿ ١ف ج ٕ ى ـش‬ “Sesungguhnya awal dikenalnya ganja oleh umat Islam adlaah pada akhir abad ke 6 H atau abad ke 7 H. hukuman had bisa ditingkatkan menjadi 80 kali. Kini narkoba menjadi permasalahan umat. Adapun narkoba yang dalam istilah agama Islam disebut mukhoddirot.

Bergitu juga apabila penyalahgunaan narkoba itu kadarnya lebih besar dari pada miras. Oleh karena itu alternative terakhir dalam memutuskan hukumnya narkoba adalah melalui jalan qiyas. Karena miras berupa zat cair sedangkan narkoba tidak. jantung. Dan hukuman yang ditetapkan harus lebih berat dari hukuman miras sesuai dengan muatan kadar narkoba yang dikonsumsi atau disalahgunakan. Sedangkan menurut terminology hukum Islam. Pada tingkat darurat. Ataukah menggunakan qiyas adwan (qiyas yang berlakunya hukum pada furu’ lebih lemah dibandingkan dengan berlakunya hukum pada asal meskipun qiyas tersebut memenuhi persyaratan. Dari sini muncul pertanyaan apakah narkoba yang memiliki dasar kesamaan iskar dengan miras. Yaitu pada aktifitas pembedahan atau operasi besar. harus diketahui dahulu sumber hukum yang dipergunakan di dalam hukum Islam yang sudah menjadi kesepakatan para yuris (dalam hal ini ulama Syafi’iyah). Tinjauan hukum Islam terhadap Narkoba Sekalipun narkoba memiliki kesamaan sifat iskar dengan miras. maka qiyas yang harus dipergunakan adalah qiyas musawi. potensinya berada di bawah hukuman had. Diatas telah dijelaskan bahwa baik al-Qur’an maupun Al-Hadis . yakni operasi pada organ-organ tubuh yang vital seperti hati. dan Qiyas. namun secara definitive menunjukkan adanya perbedaan. Atau dengan menggunakan qiyas musawi (qiyas yang berlakunya hukum furu’ sama keadaanya dengan berlakunya hukum asal karena kekuatanillatnya sama). maka hasil penetapan besar kecilnya muatan hukum narkoba tersebut harus disesuaikan dengan qiyas yang dipergunakan. dalam penetapan hukum atau peniadaan hukum. b.” Karena sifat Iskar yang berpengaruh di dalam penggunaan narkoba sangat ditentukan oleh besar kecilnya kadar yang dikonsumsi. Dan hukuman yang dijatuhkan . Apakah qiyas awlawi (yaitu qiyas yang berlkunya hukum furu’ lebih kuat dari pemberlakuan hukum pada asal karena kekuatan illat pada furu’). Karena pada kenyataanya narkoba bukanlah miras. Karena pada masa itu narkoba memang belum dikenal. Dengan maksud untuk menentukan hukuman bagi pelaku penyalahgunaan narkoba secara pasti dan adil. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sepanjang narkoba dipergunakan di jalan benar. Artinya narkoba dalam hal-hal tertentu boleh dipergunakan. Akan tetapi kalau penyalahgunaan narkoba itu sama kadarnya dengan miras. juga memiliki potensi muatan hukum yang sama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan hukuman yang ditetapkan dipersamakan dengan hukuman had. AlImam Al-Ghozali mendefinisikan qiyas sebagai berikut: ُ‫دًّ ِ ٍَٛ ٍٝ ِ ٍَٛ ٟ ذ ت د ىُ ٌ ّٙ ٚٔ ف ١ٗ ّٕٙ ٠ أِغ ج ِع ١ ّٕٙ ِٓ ذ ت د ى‬ . Untuk itu diperlukan qiyas sebagai alat beristidlal. tidak diberlakukan hukuman had. Pertimbangan hukum Islam terhadap Narkoba Pada pasal miras menurut hukum Islam telah dijelaskan bahwa seperti epium dan sebagainya. Oleh karena itu mekanisme penetapanya diserahkan kepada yang berwewenang atau hakim. membandingkan sesuatu dengan yang semisalnya. khususnya pada kepentingan medis pada tingkat – tingkat tertentu: a. dan lain-lain. Sebagaimana mereka telah sepakat bahwa dalil –dalil tersebut adalah sebagai alat istidlal (menetapkan dalil suatu peristiwa) juga telah sepakat tentang tertib atau jenjang dalam beristidlal dari dalil-dalil tersebut. Begitu juga halnya dengan ijma’. artinya mengukur. Yang . yaitu iskar atau sifat memabukkan. maka Islam masih memberikan toleransi. Ini artinya antara miras dan narkoba memiliki kesamaan sifat (illat). al-Hadis. Secara etimologis kata qiyas berarti qadara. yaitu: al-Qur’an.menuntut para ulama untuk segera memberikan jawaban tentang hukumnya yang pada kenyataanya barang tersebut memang memabukkan. penyalahgunaan narkoba itu kadarnya di bawah standar miras. tidak pernah menjelaskan secara langsung persoalan narkoba. baik dari para sahabat nabi maupun ulama mujtahid. c. maka yang dipergunakan adalah qiyas aulawi. Kalau menurut pandangan hakim. maka hakim menggunakan qiyas adwan. ّٕٙ ٗ١ ‫ٚٔ ف‬ “Menanggungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang diketahui dalam hal menetapkan hukum pada keduanya disebabkan ada hal yang sama antara keduanya.

Selain itu. mengkonsumsi ganja hukumnya adalah haram. Oleh karenanya pada kebutuhan medis. sebagai berikut: a. dirumuskan sebagai berikut: 1. asalkan . Hal ini selaras dengan pernyataan Ibnu Taimiyah yang berbunyi: َ ‫خئ ري خ ر َْ ٖٞٚ ،َ عح يصي فٞفحي ٖطٖ ين " :-عدّٗ هللا -ل ي ش ١ز إل ؿ‬ ‫عِة، ٚ ؿٛ ء و ً ِ ٕٙ ل ٍ ١ ٚ و ر ١غ ، ٌ ىٓ ٌ ى ر ١غ ٌ ّ ـ ىغ ِ ٕٙ دغ َ ج ف ق ٌ ّخ‬ "ٓ١ ٍّ ‫ٌ ّ ـ‬ “Berkatalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah r. Artinya tidak terbatas pada ganja saja. Ulama yang lain memberikan ulasan agak luas. Seperti pencabutan gigi. tetapi bukan minuman keras. Walaupun tidak sampai pada kekhawatiran matinya si pasien. Selanjutnya istilah narkoba dalam terminology Islam disebut mukhoddirot”. yaitu penggunaan dengan kadar banyak sehingga menghilangkan (berpengaruh) pada akal. b. beliau mengatakan : . b.. Setelah melalui proses diskusi dan perdebatan panjang. kemungkinan besar si pasien akan mengalami kematian. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal mendefinisikan miras (khamer). dan sebagainya.” Dari ulasan di atas bisa disimpulkan bahwa narkoba menurut Islam adalah:”Segala sesuatu yang memabukkan atau menghilangkan kesadaran. khamer (miras) adalah : “Minuman keras yang memabukkan yang berasal dari perasaan anggur saja”. marihuana dan epium . Jumhur ulama’ (Syafi’i. hanya saja mengkonsumsi secara banyak hukumnya haram berdasarkan kesepakatan umat Islam. Kesimpulan Beberapa hal yang bisa disimpulkan dari tulisan ini. Oleh karenanya dari apapun minuman itu dibuat.a. dinamakan nabidz. Mereka sudah memasukkan opium . bahkan termasuk sejelek-jelek perkara. sekalipun mekanisme hukumanya berbeda. Adapun sangsi hukumnya. bagi pengguna narkoba sepenuhnya menjadi wewenang hakim. Oleh karena itu bagi peminumnya (nabidz) tidak dikenakan hukuman had. qiyas musawi dan qiyas adwan. Yaitu tingkatan pada aktifitas pembedahan ringan yakni pembedahan paada organ tubuh yang apabila tidak dilakukan pembiusan. Yaitu pada aktifitas pembedahan yang apabila tidak menggunakan pembiusan. dan Ahmad) Menurut mereka Khamer adalah:”Nama (sebutan) dari setiap minuman yang memabukkan “. Pada tingkat kebutuhan atau hajat. kuku. c. akhirnya para ulama sampai pada kesepakatan bahwa narkoba adlaah haram. tetapi pada akhirnya akan mengganggu jalanya pembedahan. karena merusak akal dan menghalangi ingatan (dzikir) pada Allah dan shalat. tidak apa-apa. Hukum keharaman narkoba ditetapkan melalui jalan qiyas yang terdiri dari: qiyas aulawi. karena pada narkoba terdapat illat (sifat) memabukkan sebagaimana pada khamer. ٚٞ‫ْ ٚ ٖيي عنط ْ صصٞٚ يق يي صؽفَ ْٖ ي َٚٞف ي ٚ فٞفحي ٚ زْ ي ين َعح‬ ٌ “ …dan haram mengonsumsi ganja. baik sedikit maupun banyak. baik berupa tanaman maupun yang selainya. Maliki.. Sedangkan yang terbuat dari selain anggur. Sebagaimana Syekh Muhammad A’lauddin Al –Hashkafi al-Hanafi.apabila dilaksanakan tanpa diadakan pembiusan total. Namun pasien akan merasakan kesakitan juga. Imam Abu Hanifah Menurut al Imam Abu Hanifah. Tingkatan bukan darurat dan bukan hajat. penggunaan narkoba dianggap tingkat darurat atau toleransi.” Sejalan dengan itu Al-Imam Al-Qarafi juga berpendapat: ‫غ ٍٝ ٌ ّ ٕع‬ ٌ ً٘ ‫ٌ ٕ ت ٌ ّ غٚف ٌ ذ ١ ة ٌ حٟ ٠ ح طٙ ً٘ ٌ ف ـٛق ج فك‬ ً‫ِ ٕٙ ٕٝ و ر ١غ٘ ٌ ّ ١ ٌ ٍ م‬ “Tumbuh-tumbuhan yang terkenal dengan anam ganja yang dikonsumsi oleh orangorang fasiq. Islam memandang narkoba merupakan barang yang sejak awal sudah diharamkan. 6. telah disepakati keharamanya oleh para ulama’. pasien akan merasakan sangat kesakitan. marihuana dan sebagainya.

Yaitu: a. (Jogjakarta: Madani Pustaka). Ahmad Mushofa. Ushul Fiqh. Pemberantasan Terorisme dari Aspek Hukum Pidana Internasiona. Ali Nasif. Bagi peminumnya dikenakan hukuman had. Ismail. Al Qarafi. Hasyiyah al Bajuri. (Bandung: Al Mujahid).th. (2002). Sholeh bin Ghonim. Dalam arti derajat hukumanya dipersamakan dengan hukuman had.jilid 3. (Beirut: Darul Fikri). Artinya . juz 1.tp: Al Mamlakatul Arabiyah). melainkan dikenakan hukuman dengan jalan qiyas terhadap miras. (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah). (t. juz 2. Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar bin. (t. Al Taj. Al Syatibi. maka yang dipakai adalah qiyas adwan. Ibrohim.). Al Qur’an dan Terjemahanya. derajat hukumanya lebih berat dari hukuman had. Ahmad bin Abdul Rahim.). Untuk memperoleh definisi yang kongkrit. (2002). (Jakarta: Darul Haq). (1999). Dalilussailin.th. Hanya saja pada narkoba terdapat illat yang sama dengan khamer. Widodo Moch. Ensiklopedia Islam. Apabila penyidikannya menunjukkan illat yang lebih rendah (ringan) dari pada khamer. Sehingga khamer didefinisikan sebagai:” Zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair yang disajikan untuk minuman. Al Bajuri. Thohon. maka yang dipakai adalah qiyas aulawi. (1999).). (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah). Al Sirojol Wahhaj. (Jakarta: Bumi Restu). Abu. (Madinah: Al Jamiah al Islamiyah bin al Madinah al Nabawiyah). Al Sadlan. (t. Ahkam al Jirohah al Thibbiyah wa al Atsar al Mutarottabah alaiha. narkoba bukanlah miras (khamer). (Beirut: Dar Ibnu Katir al Yamamah). (1999). Abi Ishaq. Racun dan keracunan. Departemen Agama RI. Al Muwafaqot. 2. Ahmad bin Muhammad. Illat tersebut adalah sifat iskar (memabukkan). Al Mukhoddirut Syarrun Mustatir.th. (1975). Amsruhi. (Beirut: Daru al Fiar). Rowai al Bayan. (Jakarta: Zikrul Hakim).). maka minuman tersebut layak dinamakan khamer. (2003). (1923). Ruhu al Maa’ni. (t. Syarifudin. maka yang dipakai adalah qiyas musawi.tp: Daru al Fikr). Aris. dan sesuai dengan pendapat ulama Syafi’iyah sebagai panutan mayoritas masyarakat hukum di Indonesia. c. Problem Narkotika Psikotropika dan HIV-AIDS. Sohih Muslim. Majmu’al Fatawa. diadakan penggabungan kedua definisi di atas. jilid 1.). Al Furuq.t: Musthofa al Babi al Halbi). Ahkamu al-Qur’an.juz 1. Bahaya Narkoba Mengancam Umat. Sedangkan muatan berat-ringanya (berat) hukuman sepenuhnya menjadi wewenang hakim. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Mazid. (t. Sartono. (Beirut: Daru Al Ihya’al Turats). Muslim. Al Fauzul Kabir Fi Ushuli al Tafsir. (t. Romli.Dampaknya pada kesehatan. Al Dahlawi. (t. Sanusi. (Jakarta: Widya Medika). . Ibnu.th. (Beirut: Daru Al Ihya’al Turats). Dalam arti derajat hukuman pidananya harus di bawah hukuman had.jilid 1. (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah). (2001). (1997). (1978). yang apabila diminum akan memabukkan”. Al Alusi. Ali Al Shabuni. Mansur. Muhammad.th. Anas Abu Daud.th. Sudiro. (t. (Bairut: Dar al Basya’ir al Islamiyah). (2000). Amir. Taimiyah. jilid 34. menunjukkan bahwa menurut pandangan Hukum Islam. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu). Al Ghomrowi. (1996). Akan tetapi apabila penyidikanya menunjukkan lebih berat dari pada khamer.memabukkan. Al Jashshas. (1994). (Indonesia: Dahlan). Bukhari. b. (t. Generasi Narkoba.). (t. Shahih Bukhari. Al Ghifari. Makalah Penyalahgunaan Obat Psikotropika (obat terlarang). Islam melawan Narkoba.th. jilid 4. Apabila penyidikanya menunjukkan illat yang sama dengan khamer. Muhammad al Zuhri. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve). (2000). Departemen Agama RI. Dari definisi di atas (definisi miras).tp) Atmasasmita. Oleh karena itu bagi pelaku penyalahgunaan narkoba tidak dikenakan hukuman had.). (1996). (1987). (Malang: Makalah Seminar Nasional dan Temu Alumni Mahasiswa Fakultas Hukum Unisma Malang). (t. (1994).

Mukhtar dkk. (1983). Undang-undag Nomor 22. 20 Januari 2001. Tahun1997 tentang Narkoba. Jawa Pos. Majalah Interview. (Bandung: Al Ma’arif).Yahya. Tempo. Tahun1997 tentang Psikotropika. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam. Undang-undang Nomor 5. 29 Januari 2003. Kompas. 27 Mei 2001. . 18 April 2003.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->