CARA MENARIK KESIMPULAN

Cara Menarik Kesimpulan

Ada tiga macam cara untuk menarik kesimpulan dalam paragraf induktif, yaitu generalisasi, analogi, dan sebab akibat. 1. Generalisasi Generalisasi merupakan pola pengembangan sebuah paragraf yang dibentuk melalui penarikan sebuah gagasan atau simpulan umum berdasarkan perihal atau kejadian. Contoh: Dua anak kecil ditemukan tewas di pinggir Jalan Jendral Sudirman. Seminggu kemudian, seorang anak wanita hilang ketika pulang dari sekolah. Sehari kemudian, polisi menemukan bercak-bercak darah di kursi belakang mobil Anwar. Polisi juga menemukan potret dua orang anak yang tewas di Jalan Jenderal Sudirman dalam kantung celana Anwar. Dengan demikian, Anwar adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban tentang hilangnya tiga anak itu. Simpulan generalisasi tersebut ditandai dengan memberikan pernyataan yang bersifat khusus untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dapat diketahui bahwa pikiran utama atau kesimpulan paragraf tersebut ditandai dengan kata dengan demikian. Secara lengkap adalah Dengan demikian, Anwar adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban tentang hilangnya tiga anak itu. 2. Analogi Analogi merupakan perbandingan dua hal yang berbeda, tetapi masih memperlihatkan kesamaan segi atau fungsi dari kedua hal yang dibandingkan. Dua hal yang dibandingkan tersebut berbeda, tetapi memiliki banyak persamaan. Berdasarkan banyak kesamaan tersebut, ditariklah suatu kesimpulan. Contoh: Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada saja rintangan seperti jalan yang licin yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya ? Begitu pula bila menuntut ilmu, seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya ? Jadi, menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung yaitu banyak rintangan untuk mencapai puncaknya. 3. Sebab-akibat

yaitu sebab akibat. sebab akibat 1 akibat 2. akibat yang menjadi gagasan utamanya dan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciannya. sebab akibat ini dapat juga terbalik. atau sebaliknya akibat sebab. Akan tetapi. yang lain dari tipe manusia pedalaman. sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. semuanya itu tidak memungkinkan orang bekerja pelan-pelan seperti menanti menguningnya padi di musim panen.Pengembangan sebuah paragraf dapat pula menggunakan sebab akibat. Ada beberapa macam pola pengembangan sebab akibat. Akibat 2 Akibat 2 Model 1 Model 2 Contoh: Melihat sepintas lalu masyarakat kota bandar kita terkesan oleh kesibukan-kesibukan kerja dan lalu lintas sehari-hari. pemuatan barang-barang ekspor dan pembongkaran barangbarang impor. Membaca Intensif Paragraf Deduktif . C. Sebab dapat bertindak sebagai gagasan utama. Kiranya inilah yang membentuk tipe manusia pesisiran. akibat 1 akibat 2 sebab. Hubungan dagang dengan relasi-relasi dari luar daerah pulau ataupun asing yang pembesarannya harus selekas mungkin diadakan berhubung terikatnya perahu layar pada angin musim.

Oleh karena itu. Pernyataan di atas adalah implikasi. Adapun ciri-ciri paragraf deduktif adalah: kalimat utama terletak di awal paragraf. dimulai dengan pernyataan umum dilanjutkan dengan uraian atau penjelasan khusus. Pemakiaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. dan biimplikasi. dan televisi pemakaian bahasa Indonesia belum terjaga dengan baik. Perbedaan dalam struktur kalimat. Apa kesimpulan yang sah? . Paman APIQ masih mengajak kita untuk berdiskusi tentang tema logika menarik kesimpulan. Fakta-fakta di atas menunjukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan. yaitu Pemerintah mengkaji anggaran subsidi minyak tanah ke elpiji. lagu kalimat. Paskah Suzetta. jika proses diversifikasi energi ini berjalan. Dengan cara ini. Para pemuka kitapun pada umumnya belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Contoh: Pemerintah tengah mengkaji kemungkinan mengalihkan anggaran subsidi minyak tanah ke elpiji. diharapkan harga elpiji akan makin murah sehingga mendorong masyarakat tidak lagi menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar. diperkirakan dana subsidi minyak bisa dihemat hingga Rp30 triliun. Misal diketahui seseorang berakhlak buruk. Di lingkungan persuratkabaran. Contoh: Jika berakhlak buruk maka badan berpenyakit.Paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya terdapat pada awal paragraf. dan ucapan terlihat dengan mudah. radio. Subsidi elpiji diperkirakan berjumlah Rp 6 triliun. Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diawal paragraf (Deduktif). yaitu pemakaian bahasa Indonesia di seluruh Indonesia belum seragam. Gagasan utama paragraf tersebut terletak pada awal paragraf. Contoh: Pemakiaan bahasa Indonesia di seluruh Indonesia dewasa ini belum dapat dikatakan seragam. Terdapat tiga bentuk logika yang sangat penting untuk menarik kesimpulan: implikasi. Sementara anggap juga pernyataan implikasi di atas juga bernilai benar. langkah penting dalam menemukan paragraf deduktif adalah mencari dan menemukan letak kalimat utama. kontraposisi.

Kesimpulan (karena) TIDAK berakhlak buruk. Diketahui TIDAK berakhlak buruk. Nilai kebenaran kontra posisi sama atau ekivalen dengan implikasi. Kesimpulan badan berpenyakit. Misal diketahui seseorang badan berpenyakit. Jadi. (Sah). Misal diketahui badan tidak berpenyakit. Mari kita ubah implikasi di atas menjadi kontraposisi. Apa kesimpulan yang sah? “(pasti karena) Berakhlak buruk. Selain kondisi di atas kita tidak dapat menarik kesimpulan yang sah. Situasi akan menjadi lebih mudah bila situasiya adalah biimplikasi. Tetapi bagaimana kita tahu bahwa suatu kondisi adalah biimplikasi atau hanya implikasi? .” (Tidak sah). (Sah). Kesimpulan badan TIDAK berpenyakit.” (Sah). Contoh: Jika dan hanya jika berakhlak buruk maka badan berpenyakit. Contoh: Jika badan TIDAK berpenyakit maka (karena) TIDAK berakhlak buruk. (Sah).” (Tidak sah. Diketahui badan berpenyakit. Apa kesimpulan yang sah? “(karena) TIDAK berakhlak buruk. Kesimpulan (karena) berakhlak buruk. Misal diketahui badan berpenyakit. Diketahui badan TIDAK berpenyakit.“Badan berpenyakit. Kondisi lain tidak sah untuk menarik kesimpulan. sangat mudah bagi kita untuk menarik kesimpulan yang sah jika situasinya adalah biimplikasi.” (Sah). (Sah). Sedangkan cara menarik kesimpulan dengan cara kontraposisi kita kenal sebagai modus tollens. Cara menarik kesimpulan dengan memanfaatkan implikasi kita kenal sebagai modus ponens. Misal diketahui berakhlak buruk.) Cara lain yang sah untuk menarik kesimpulan adalah dengan mengubah implikasi menjadi kontraposisi. Apa kesimpulan yang sah? “(karena) berakhlak buruk.

kontraposisi. epistemologi. implikasi. inovasi pembelajaran matematika Di-tag APIQ.Itulah pertanyaan penting yang perlu kita cermati. matematika kreatif. Kali ini kita akan berlatih menarik kesimpulan. Cara menarik kesimpulan kita kali ini berdasarkan prinsip logika implikasi saja. modus ponens Premis: SYARAT terpenuhi Kesimpulan:HASIL terpenuhi Contoh: Premis 1:Jika BERIMAN maka BERPUASA Premis 2: BERIMAN Kesimpulan: BERPUASA Cara 2: TOlak hasil. logika matematika. modus tollens Premis: HASIL TIDAK terpenuhi Kesimpulan: (karena) SYARAT TIDAK terpenuhi Contoh: Premis 1: Jika BERIMAN maka BERPUASA Premis 2: TIDAK BERPUASA Kesimpulan: TIDAK BERIMAN . Bagaimana menurut Anda? Salam hangat… (angger. Paman APIQ menyarankan. kita membatasi hanya pada 3 cara yang sah untuk menarik kesimpulan – sebenarnya tersedia banyak cara. Jika SYARAT terpenuhi maka HASIL terpenuhi. 2010 | 1 Komentar Paman APIQ kembali mengajak kita untuk berpetualang dengan logika matematika. Cara 1: POsitif syarat. Epistemologi memberi kerangka bagi kita untuk menjawabnya. biimplikasi. menarik kesimpulan Latihan Logika Matematika Menarik Kesimpulan Posted on Agustus 23. untuk sementara. agus Nggermanto: Pendiri APIQ) → Leave a comment Ditulis pada APIQ.

(harus diisi apa ?) Kesimpulan : Sulit masuk jurusan IPA …. Premis 4: (jika) bukan p maka r Premis 3: bukan r .” Modus ponens dapat kita gunakan bila SYARAT POsitif. sebab penjelasan saya kurang dipahami cucu. Soal di atas menunjukkan bahwa kesimpulannya HASIL Positif: “Sulit masuk jurusan IPA. premis 2 harus berupa syarat positif. Salam hangat. (Selesai).Cara 3: silogisme. premis 1 : bukan p maka bukan q. Sekarang kita siap berlatih… Berikut adalah kiriman soal latihan dari Pak Hussain. Wassalam … Premis 1 dan 2 membentuk silogisme menghasilkan kesimpulan : premis 4. maka sulit masuk jurusan IPA Premis 2 : ……………. kesimpulan HASIL Positif. … dan soal lain berikut ini : premis 1 : bukan p maka bukan q. misalnya dalam soal cucu saya : Premis 1 : Jika nilai Matematika rendah. premis 2 : bukan q maka r premis 3 : bukan r Maka kesimpulan yang sah adalah ? Tolong dibahas dengan cara APIQ. …. Premis 2: Nilai matematika rendah. Jadi. runtuntan logis. Terima kasih kepada Pak Hussain atas sharingnya. premis 2 : bukan q maka r Kesimpulan: (jika) bukan p maka r (premis 4) Selanjutnya. Contoh: Jika BERIMAN maka BERPUASA Jika BERPUASA maka BERTAKWA Kesimpulan: Jika BERIMAN maka BERTAKWA. lagi2 soal penarikan kesimpulan.

Premis 1: Jika x BUKAN = genap maka x BUKAN = 6. Bahkan Paman APIQ yakin bahwa logika matematika adalah awal yang paling bagus untuk mempelajari logika. istilah p. Premis 2: Jika x BUKAN = 6 maka x + 2 bilangan ganjil Premis 3: x + 2 BUKAN bilangan ganjil. logika. Paman APIQ menyarankan agar kita membuat soal yang lebih nyata bagi siswa. menarik kesimpulan. Ini menjadikan logika matematika seperti tidak masuk akal. inovasi pembelajaran matematika Di-tag APIQ. Bagaimana menurut Anda? Salam hangat… (angger. agus Nggermanto: Pendiri APIQ) → 1 Komentar Ditulis pada APIQ. modus ponens. Diskusi melalui internet juga menjadikan bahan logika menjadi lebih penting lagi. . Dengan diubah seperti di atas maka anak-anak pasti lebih mudah memahami. Ketika Paman APIQ mengembangkan materi logika secara kreatif maka materi logika semakin menarik lagi. Logika matematika merupakan awal yang bagus untuk mempelajari logika. Lebih-lebih beberapa teman dari ITB juga mendukung untuk mengembangkan logika. 2010 | 2 Komentar Dari awal saya memang tertarik dengan studi logika. Sedikit catatan tentang soal yang terakhir. (Bukan ganjil) ==> (x = 6) ==> (x Genap). silogisme Kekuatan Logika Matematika untuk Menarik Kesimpulan Posted on Agustus 21. r. matematika kreatif. Keunggulan dari logika matematika adalah jelas dan sederhana. (Selesai). Modus Tollens dapat kita gunakan jika TOlak HASIL dan kesimpulan TOlak SYARAT. Kesimpulan: BUKAN bukan p = p. q. modus tollens.Kita perhatikan premis 3 adalah Tolak HASIL. Soal ini cukup abstrak bagi siswa. logika matematika. Sekarang mari kita ikuti contoh sederhana menarik kesimpulan dengan logika matematika. Sayangnya logika matematika sering ditampilkan secara tidak logis intuitif.

Kesimpulan? Pasti BUKAN kuda.) Sah. (Selesai). Diketahui kuda. BUKAN kuda juga dapat TIDAK berkaki empat seperti manusia. Kesimpulan yang sah dan valid. BUKAN kuda dapat saja berkaki empat seperti sapi. . Satu metode lagi yang sering kita gunakan untuk menarik kesimpulan adalah silogisme. (Selesai). tolak konsekuensi. Diketahui BUKAN kuda. Pada kondisi seperti ini kita tidak dapat menarik kesimpulan. Kesimpulan? Pasti berkaki empat.Jika kuda maka berkaki empat. Mari kita lanjutkan. (Selesai. Kesimpulan? Tidak sah. Jika kuda maka berkaki empat. Kesimpulan? Jika kuda maka bertenaga kuat. Diketahui berkaki empat. Kita tidak dapat menarik kesimpulan pada kondisi di atas. Jika berkaki empat maka bertenaga kuat. Jika kuda maka berkaki empat. Mari kita coba lagi. Diketahui TIDAK berkaki empat. Jika kuda maka berkaki empat. Kita lanjut satu langkah lagi. Kesimpulan? Bukan berkaki empat. atau afirmasi positif. Hati-hati. Mudahkan? Cara menarik kesimpulan seperti di atas kita kenal sebagai modus ponens. Metode menarik kesimpulan yang terakhir ini kita kenal sebagai modus tollens. Jika kuda maka berkaki empat. (TIDAK SAH).

Melatih Nalar Logika Matematika: Implikasi dan Biimplikasi Posted on Oktober 22. dan berguna bagi diri kita. menarik kesimpulan. Kesimpulan: Silakan cek jika x = -3. Kesimpulan: x = 3. semakin mantap. Kesimpulan: x TIDAK = 3. agus Nggermanto: Pendiri APIQ) → 2 Komentar Ditulis pada APIQ. Inovasi Pembelajaran. Silakan cek x = -3. Bagaimana menurut Anda? (Bersambung…) Salam hangat… (angger. Modus tollens. (SAH). Jika x = 3 maka x = 3. Paman APIQ mengajak kita menyelidiki logika matematika implikasi dan biimplikasi. Jika x = 3 maka . (SAH). Agar semakin mahir. Kesimpulan: Jika x = 3 maka x TIDAK = 3. Jika x = 3 maka . . Modus ponens. matematika kreatif. Kali ini. modus tollens. 2009 | 1 Komentar Mari berlatih lagi nalar logika matematika lagi. inovasi pembelajaran matematika Di-tag APIQ. logika matematika. kursus matematika. logika. modus ponens. silogisme (TIDAK sah).Paman APIQ mengajak kita untuk mengambil contoh yang agak matematis. (Tidak sah).

D. Mari kita asumsikan pernyataan implikasi di atas adalah benar. (Sah dan benar).(1) n = 3 (2) n adalah ganjil Struktur logika implikasi yang dapat kita susun adalah: JIKA n = 3 MAKA n adalah bilangan ganjil. (Sah dan benar). Diketahui n tidak = 3. C. Bagaimana kita menarik kesimpulan? A. Dari 4 situasi di atas (A. (Sah dan benar). Kesimpulan kita adalah n = 3. Kita tidak dapat menarik kesimpulan dengan pasti. masuk akal. Kesimpulan kita n adalah bukan bilangan ganjil. Kesimpulan kita adalah 2n tidak = 6. D) kita hanya dapat menarik kesimpulan dalam 2 situasi yaitu A dan D. Karena mungkin saja n = 7. (Tidak sah). (Tidak sah). dapat kita pahami. B. Jadi kita perlu hati-hati ketika menarik kesimpulan. Kesimpulan kita n adalah bilangan ganjil. (Sah dan benar). Kesimpulan kita adalah n = 3. C. Kesimpulan kita adalah 2n = 6. B. C. . Mari kita bandingkan dengan situasi biimplikasi. Kesimpulan kita ini pasti benar. Logis. Diketahui n = 3. Diketahui n bukan bilangan ganjil. Dalam situasi ini kita tidak dapat menarik kesimpulan yang pasti. Logis dan masuk akal pernyataan implikasi di atas. Diketahui n = 3. Diketahui n tidak = 3. Diketahui 2n = 6. A. Diketahui n adalah bilangan ganjil. Dalam situasi ini n dapat saja ganjil atau tidak ganjil. B. Mari kita asumsikan biimplikasi di atas adalah benar. Karena mungkin saja n = 7 yang merupakan bilangan ganjil. Sah dan benar. Kesimpulan kita adalah n tidak = 3. (1) n = 3 (2) 2n = 6 Kita susun struktur biimplikasi JIKA DAN HANYA JIKA n = 3 MAKA 2n = 6.

Mari kita anggap implikasi di atas adalah benar. (2) Mendapat nilai bagus. (Sah dan benar). Yuk…sekarang mari kita bermain-main. A. C. Diketahui “Mendapat nilai bagus”. Ternyata masih banyak orang salah berpikir dengan menyatakan: JIKA mendapat nilai bagus MAKA (karena pasti ia) rajin belajar. (1) Rajin belajar.D. Kesimpulannya? Pasti tidak mendapat nilai bagus? Mungkin saja mendapat nilai bagus? C. Perhatikan dalam segala situasi biimplikasi kita dapat menarik kesimpulan secara sah. Kesimpulannya? Pasti rajin belajar? Mungkin saja tidak rajin belajar? D. . JIKA tidak rajin belajar MAKA tidak mendapat nilai bagus. B. (Pernyataan ini tidak sah). Mungkin saja ia mendapat nilai bagus karena keberuntungan atau “lainnya”. D. Kesimpulan kita n tidak = 3. Diketahui 2n tidak = 6. Diketahui “Tidak rajin belajar”. (Pernyataan ini tidak sah). Ini adalah struktur implikasi. Kesimpulannya? Pasti tidak rajin belajar? Mungkin saja sudah rajin belajar? Dari 4 kondisi A. Kesimpulannya? Pasti mendapat nilai bagus? Mungkin tidak mendapat nilai bagus? B. Diketahui “Rajin belajar”. Diketahui “Tidak mendapat nilai bagus”. Sedangkan tidak semua situasi implikasi kita dapat menarik kesimpulan yang sah. di atas kira-kira kondisi mana yang membuat kita yakin membuat kesimpulan? Tampaknya kita hanya yakin pada kondisi D: JIKA (ternyata) tidak mendapat nilai bagus MAKA (itu dikarenakan oleh dia ) tidak rajin belajar.

(Sah dan benar). antara lain kesimpulan. . Untuk menghasilkan kesimpulan yang baik. perhatikan persyaratan berikut ini: 1)Persyaratan materi atau isi:        Kesimpulan berupa interpretasi atas hasil analisis. Oleh karena itu. JIKA matahari tidak terbit MAKA pagi belum tiba. JIKA pagi belum tiba MAKA matahari belum terbit. sedangkan implikasi adalah keimpulan yang melibat data. Kesimpulan skripsi/makalah disertai saran-saran yang ditujukan secara jelas kepada seseorang. Orang pada umumnya menarik kesimpulan yang benar untuk contoh-contoh biimplikasi di atas. Kesimpulan merupakan bab penutup berisi uraian singkat atau rincian yang merupakan konsekuensi pembahasan bab-bab sebelumnya. dapat berupa inferensi dan dapat pula berupa implikasi. tidak melibat data secara langsung. Hanya saja kita harus yakin bahwa situasi kita benar-benar biimplikasi. (Sah dan benar). Kesimpulan tidak menyajikan kutipan dan dermisi. Sedangkan untuk biimplikasi kita lebih mudah memahaminya. sekelompok orang. JIKA pagi telah tiba MAKA matahari terbit. Kesimpulan jawaban masalah yang telah dirumuskan dalam pendahuluan. agus Nggermanto: Pendiri APIQ) Kesimpulan atau simpulan merupakan bagian penting sebuah Karya tulis ilmiah. atau sekelompok orang dalam lembaga tertentu. JIKA matahari terbit MAKA pagi telah tiba. (Pernyataan ini sah dan benar). Struktur logika ini kita kenal sebagai kontra posisi dari suatu implikasi. Kesimpulan menyajikan gambaran isi Karya tulis yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya secara singkat dan meyakinkan. Kesimpulan tidak menyajikan hal-hal yang tidak diuraikan sebelumnya. Bagaimana menurut Anda? Salam hangat… (angger. Berhati-hatilah dengan implikasi karena berbeda dengan biimplikasi.JIKA rajin belajar MAKA mendapat nilai bagus. (Sah dan benar). Pembaca yang tidak memiliki cukup waktu untuk membaca naskah selengakapnya cenderung membaca bagian-bagian penting saja. kesimpulan harus disusun sebaik mungkin. (Sah dan benar). Contoh: JIKA DAN HANYA JIKA matahari terbit MAKA pagi telah tiba. Inferensi adalah kesimpulan berdasarkan referensi.

fakta menunjukkan adanya kecenderungan. yang disebut premis khusus ( PK ). Dalam makalah. misalnya: dengan demikian. Dalam skripsi. Menarik suatu kesimpilan dengan cara silogisme. jadi. langsung kata kesimpulan. mula-mula diketengahkan suatu pernyataan yang bersifat umum. CA K : Saya harus mematuhi peraturan sekolah. akibatnya. Perbedaan terdapat pada pilihan kata terutama kata-kata transisi yang cenderung menunjukkan hubungan penegas. Contoh : PU : Pelajar harus mematuhi peraturan sekolah AB PK : Saya pelajar. pilihan kata. disebut premis umum (PU ). misalnya: jadi. Lalu diakhiri dengan sebuah pernyataan yang berupa kesimpulan ( K ). kesimpulan sekurang-kurangnya juga dua butir. hasilnya. 3)Penyajian: Kesimpulan dapat disajikan dalam bentuk paragraf semacam esai dan dapat pula berupa butir-butir rincian. kalimat.2)Persyaratan bahasa: Secara umum persyaratan ejaan. judul kesimpulan diawali dengan bab menjadi bab kesimpulan ditulis dengan huruf kapital seluruhnya. Silogisme kategorial. Jika rumusan masalah dalam pendahuluan ada dua butir. Terima kasih. Saya rasa tulisan tersebut cukup bermanfaat buat kalian agar kesimpulan yang kita tulis lebih tajam dan orang yang membaca lebih bisa memahami tulisan kita. judul tanpa bab. dapat disimpulkan bahwa. Jika dirumuskan sebagai berikut : PU : A = B PK : C = A K:C=B Silogisme terbagi menjadi dua jenis sbb : a. Kemudian disusul dengan sebuah pernyataan yang bersifat khusus. dan paragraf. serupa dengan persyaratan bahasa pada naskah utama. . Silogisme ini bagian dari penalaran deduksi. hubungan yang menyatakan hasil atau akibat.

kesimpulannya juga negatif. Ketika Anda bertanya. PK = Made Aryana adalah warga negara Indonesia. Jadilah Pembaca Aktif Jangan lupa dengan enam kata tanya: Siapa? Kapan? Di mana? Apa? Mengapa? Bagaimana? Buatlah teks bacaan menjawab pertanyaan Anda saat Anda membaca. K = Ali tidak perlu memiliki KTP C. C = B karena C = A Contoh : PU = Semua warga negara Indonesia harus terampil berbahasa Indonesia.CB b. Contoh : PU = Semua penduduk Indonesia yang belum berusia 17 tahun tidak perlu memiliki KTP. K = Made Aryana harus terampilan berbahasa Indonesia Entimem : Made Aryana harus terampil berbahasa Indonesia karena ia warga negara Indonesia Banyak orang yang merasa bahwa sebenarnya mereka hanya mengingat sedikit saja walaupun mereka tidak begitu yakin tentang pemahaman mereka. PK = Ali penduduk Indonesia yang belum berusia 17 tahun. Anda memusatkan pikiran Anda kedalam keadaan yang leboh . Inilah beberapa kiat tambahan untuk memastikan bahwa Anda mendapatkan apa yang Anda perlukan dari apa yang Anda baca. Silogisme Negatif Jika salah satu premis negatif. a. Silogisme ini langsung mengetengahkan kesimpul an dengan premis khusus yang menjadi penyebabnya. Entimem Entimen adalah silogisme yang diperpendek.

Lalu. Libatkan indera Anda Gunakanlah indera pendengaran Anda dengan membaca secara keras. otak Anda harus bekerja lebih keras untuk mengartikannya. e. Bacalah sekali buku itu dengan cepat. Buat peta pikiran (mind mapping) dari materi bacaan Buatlah peta pikiran dengan menggunakan judul-judul bab atau pembagian topik lainnya. Ciptakan minat Lebih mudah membaca buku ketika Anda mengenal subjeknya. Bacalah gagasannya. c. d. dan satu-satunya cara Anda dapat “memahami gagasan” tersebut adalah dengan membaca kata-kata dalam konteks yang berhubungan. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki: Kaifa http://iqro4all. Sumber: -Quantum Learning. b. Ketika Anda membaca kata satu demi satu. Lalu bacalah sekali lagi secara menyeluruh dan isilah detail-detail yang penting untuk diingat. mengeluarkan gagasan dari teks seolah-olah Anda menyedot bensin dari dalam tangki. libatkan indera kinestetik dan visual Anda dengan menggarisbawahi hal-hal yang penting dengan stabilo dan gambarlah sesuatu ditepinya untuk membantu Anda memahami konsep-konsep kunci.com/journal/item/36/36 .multiply.menuntut. jika buku itu milik Anda. bukan kata-katanya Kata-kata yang digunakan seorang penulis adalah alat untuk menyampaikan gagasangagasannya. Membaca kata satu demi satu bagaikan berusaha untuk mengetahui seperti apa bentuk boomerang dengan meneliti molekul-molekulnya.