Ekosistem Laut Dalam (Deep Sea) Yang Menakjubkan

Disusun Oleh Yoga Prismanata

Laut dalam merupakan daerah yang tidak pernah diungkapkan dan dijelajahi. Orang banyak mengeksplorasi ke luar angkasa dari pada ke bawah laut. Itulah sebabnya banyak yang tidak mengetahui keajaiban-keajaiban yang ada dilaut. Kedalaman 300 meter yang ada pada laut merupakan daerah yang tidak dapat tertembus oleh sinar matahari, sehin

gga suasana pada kedalaman tersebut adalah gelap, kemudian pada kedalaman tersebut tekananb ertambah dan suhu airpun menurun. Zona yang demikian disebut “Twilight Zone”. Pada zona ini semua hewan laut terlihat transparan atau tembus pandang, hal tersebut merupakan sebuah mekanisme bertahan hidup makhluk-makhluk laut agar tidak dengan mudah dimangsa. Oleh sebab itulah pada “Twilight Zone” sebisa mungkin hewanhewan laut untuk tidak terlihat, terutama oleh pemangsa. Contoh dari hewan-hewan laut yang

mampu hidup pada zona ini adalah Phronima, Cumi-cumi, A moeba, Comb Jelly, Cope pod, dan ikan Hatchet. Dalam ekosistem dasar laut sebisa mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan agar dapat bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini dilengkapi keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan mangsa, seperti Ikan Fang Tooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi sehingga ketika ada mangsa yang lewat didepannya ia langsung dapat dengan cepat memakannya, karena memang tidak banyak hewan laut yang mampu hidup dalam ekosistem ini. Kemudian contoh lainnya adalah Ikan Hairyangler yang tubuhnya dipenuhi dengan atena sensitif, antena tersebut sangat sensitif sekali terhadap setiap gerakan, fungsinya untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya. Di laut dalam sering terlihat cahaya yang berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah

di laut dalam tetap ada kehidupan. Walau nyaris tidak tergantung dengan sinar matahari. Sea Cucumbers. kurang lebih bioluminescence berfungsi sebagai umpan. Zona Afotik Tepat ditengah lautan dalam terbaring suatu struktur geologi terbesar planet kita yaitu pegunungan ditengah laut. namun beberapa diantara hewan laut dalam tersebut menggunakan bioluminescence untuk menarik lawan jenisnya. Misalnya. Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut. namun siklus harian matahari sangat mempengaruhi keadaan laut dalam. sebab pada kedalaman lebih dari 100 m tidak ada lagi proses fotosintesis karena sinar matahari tak mampu menembus sampai kedalaman ini. seperti Hiu. Batuan di dalam laut berfungsi sebagai jangkar bagi hewan yang mengguntung hidup pada makanan yang lewat. Ditemukan koral dikedalaman 2000 m di perairan dingin di teluk Norwegia. Makanan mereka pada kedalaman ini adalah berupa fosil atau bangkai hewan laut. Brittle stars. Pada kedalaman ribuan meter di laut suhu air turun hingga dibawah 4 centigrade dan tekanan dapat mencapai 100 kali lipat dari permukaan. Cahaya bioluminescence yang dihasilkan biasa berwarna biru atau kehijauan.Bioluminescence. Crinoids atau lebih dikenal dengan nama Bunga Lili Laut sebab hewan ini kelihatan seperti tumbuhan yang lengkap dengan daun dan tangkai. Walau dengan keadaan yang sangat ekstrim tersebut. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh setiap hewan laut dalam. namun sebenarnya Crinoids merupakan jenis hewan. kemudian setiap fajar mereka kembali ke laut dalam yang lebih aman dari predator. tingginya 30 m dan panjangnya 200 m. seribu juta ton makhluk hidup naik ke air dangkal setiap malam. Bukan hanya koral yang mampu hidup dikedalaman ini. Namun beberapa diantaranya ada yang hanya dimiliki oleh hewan laut betina. Bioluminescence digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau alat untuk menarik mangsa. Dengan ketinggian 2 mil diatas dasar laut. dan Sea urchins. Untuk bertahan hidup koral tersebut harus mampu menangkap makanan dengan efisien sebab matahari tidak dapat masuk pada kedalaman 2000 m sehingga koral tersebut tidak dapat memperoleh energi dari sinar matahari. membentang sejauh lebih . baik betina maupun jantan. hewan laut seperti hiu pun mampu hidup bahkan sampai kedalaman 2500 m. dan merah. Kehidupan makhluk laut yang memerlukan fotosentesis untuk dapat mendapatkan energi pada umumnya berada pada kedalaman diatas 100 m. hewan laut yang mampu hidup pada kedalaman tersebut adalah Echinoderms. putih. cahaya tersebut berasal dari bakteri yang hidup secara permanen didalam sebuah perangkap. Walau sebagian besar bioluminescence digunakan untuk mekanisme bertahan hidup.

Terdapat cerobong yang mengeluarkan air panas yang dapat melelehkan. kemudian beberapa jenis hewan lautnya. Pada keadaan ini air dipenuhi dengan kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) yang beracun. kemudian kepiting putih. Persamaan diantaranya adalah adanya Gunung Api bawah laut. yang menajubkan ada cacing berwarna merah yang memenuhi bagian dari cerobong tersebut dengan panjang masing-masing 2 m dan lebar 4 cm. Tidak ada hewan yang lain yang bisa hidup pada suhu dan tekanan tinggi. Hewan laut yang hidup di ekosistem ini adalah udang. seperti yang tampak pada gambar diatas yang membandingkan ekosistem laut dalam yang ada di Film Blue Planet (gambar atas) dengan . Selain dengan sulfida ada yang menggunakan sumber energi lain yaitu dengan menggunakan gas Metan (CH4). Dicerobong lain dipenuhi komunitas dari beberapa organisme. maka kurang lebih dua ekosistem tersebut memiliki banyak persamaan. sehingga para ilmuwan menyebutnya cacing pompeii. artinya ada aktivitas vulkanisme di kedalaman ini. Didalam tubuh mereka terdapat bakteri yang mampu menyerap energi dari sulfida yang keluar dari cerobong. Perbandingan Dengan Ekosistem Dasar Laut di Perairan Laut Sulawesi Utara Jika dibandingkan antara ekosistem laut dalam yang dijelaskan di Film Blue Planet dengan ekosistem laut dalam yang ada di perairan laut Sulawesi Utara. Walau keadaan yang demikian terdapat penghuni dicerobong tersebut yaitu Puly Chaek yang terdapat pada suhu 80o centigrade. dan kerang.28 ribu mil. bagian bawah dari lubangnya dipenuhi oleh kerang besar. Jika dipermukaan 100o Centigrade. lobster. maka dibawah laut air akan tetap cair pada suhu 400o centigrade. Seperti cacing yang berwarna merah dan kerang laut yang hidupnya tergantung dengan kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) ataupun gas Metan (CH4). Dan sekali lagi hewan yang ada didasar laut tersebut mengandung bakteri khusus yang mampu mengolah energi dari gas metan ini. Koloni bakteri ini adalah sumber energi utama setiap makhluk hidup disini. Bakteri dan mikroba lainnya adalah inti dari rantai makanan yang diperlukan oleh lebih dari 500 spesies. cacing polychaete merah. Bagian teratas dari rantai makanan ada ikan yang tidak pernah bergerak jauh dari lubang itu.

Ini mencakup sebagian wilayah Indonesia. Hal ini setanding dengan kekayaan dan keragaman dan kelebatan hutan di Amazon. hampir setara dengan luasnya 48 negara bagian AS tanpa Alaska dan Hawaii. Malaysia. dan tiga perempat Moluska atau hewan laut bertulang lunak seperti tripang. Lokasi ekosistem laut dalam (deep sea) di Laut Sangihe Talaud. Papua Nugini. ubur-ubur. dan Timor Leste. Segitiga Terumbu Karang adalah ekosistem laut yang paling beragam dan dari segi biologi paling rumit di planet ini. Dengan luas 5. 6 dari 7 spesies penyu laut di dunia. cumi-cumi dan lain. tiram.ekosistem laut dalam yang ada di perairan laut Sulawesi Utara (gambar bawah).7 juta km2. Segitiga Terumbu Karang juga dihuni oleh lebih dari 600 spesies karang pembentuk-terumbu (75% sudah dikenal ilmu pengetahuan). Kepulauan Solomon. 3000 spesies ikan terumbu karang (40% spesies terumbu karang yang ada di dunia). tepatnya di Laut Sangihe Talaud yang merupakan wilayah atau zona Segitiga Terumbu Karang. Sulawesi Utara dan letak segitiga terumbu karang di Indonesia b . Filipina.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful