P. 1
MAKALAH IJTIHAD

MAKALAH IJTIHAD

|Views: 308|Likes:
Published by lilikmusthofa

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: lilikmusthofa on May 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2014

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Ijtihad 1.

Secara etimologi Ijtihad berasal dari kata jahda yang artinya al – matsaqah (sulit atau berat, susa h atau sukar. Dalam al quran banyak disebutkan, misalnya dalam surat An- Nahl: 3 8, An- Nur: 53, Al – Fatir : 42 dan surat At – Taubah: 79. Dari ayat –ayat tersebut me maknakan kalimah jahda dengan sekuat – kuatnya atau sungguh-sungguh. Oleh karena i tu, kalimah jahda artinya “badzl al wus’i wa al thaqah” yakni pengerahan segala kesann gupan da kekuatan atau berarti juga al mubalaghah fi al yamin artinya ber lebih - lebihan dalam sumpah. Dilihat dar segi gramatikal masih serumpun dengan kata jihad. Baik kata jihad da n ijtihad mempunyai arti sungguh –sungguh. Hanya saja kata ijtihad berasal dari fi il madli jahada dan mengikuti timbangan (wazan) fa’ala dari bentuk fi’il tsulasi maz id bi harfain (kata kerja tiga huruf dengan dua huruf tambahan). Kata ijtihad be rasal dari mashdar dari fiil madli ijtahada yang ditambah alif dan ta’, berungsi e nunjukkan perbuatan yang sungguh – sungguh. 2. Secara terminologi Menurut al – dihlawi ijtihad adalah memeras pikiran. Pemikiran memungkinkan membaw a kepada kesalahan. Ijtihad yang salah (membawa kesaahan) tidak membawa dosa bag i pelakunya, malah dia akan mendapatkan satu pahala. Menurut Abu Zahrah mengatakan bahwa ijtihad adalah mengerahkan segala kemampuan yang terdapat pada seorang ahli hukum islam dalam beristinbath(menggali) hukum i slam yamg bersifat praktis dari dalil yang terperinci. Ijtihad menurut istilah pula, ialah (Abd Wahhab Khallaf 1995: 256) : a. Mencurahkan tenaga sepenuhnya dan sebanyak mana untuk mendapatkan huk um syarak yang berbentuk amali dengan cara istinbat daripada dalil-dalil dan sum ber syarak. b. Mencurahkan segala tenaga untuk mendapatkan hukum syarak daripada sesuat u dalil yang terperinci atau tafsili dari dalil-dalil syariat. c. Usaha seseorang mujtahid dengan mengerah segala kemampuan yang ada untuk memperolehi hukum syarak yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf melalui cara yang ditetapkan oleh syarak. Dari semua definisi tentang ijtihad di atas, dapat disimpulkan bahwa ijtihad ada lah: 1. Pengerahan akal pikiran para fuqaha’ atau ushuliyin; 2. Menggunakan akalnya dengan sungguh –sungguh karena adanya dalil-dalil yang dzanni dari al - quran dan al – hadits; 3. Berkaitan dengan hukum syar’i yang amaliah; 4. Menggali kandungan hukum syar’i dengan berbagai usaha dan pendekatan; 5. Dalil – dalil yang ada dirinci sedemikian rupa sehingga hilang ke-dzanni-a nnya; 6. Hasil ijtihad berbentuk fiqh sehingga mudah diamalkan. Enam ciri ijtihad tersebut memberikan gambaran bahwa ijtihad adalah salah satu m etode penggalian hukum islam dengan menggunakan akal atau ra’yu, maka alat utama i jtihad adalah akal. Ijtihad yang sepenuhnya menggunakan ra’yu, kebenarannya sangat personal dan tidak mengikat kepada yang lain. Oleh karena itu, dalam ijtihad te rdapat berbagai pendekatan rasional, sebagaimana qiyas yang merupakan salah satu pendekatan paling populer dikalangan ulama’ ahli ushul. B. DASAR IJTIHAD Ijtihad bisa sumber hukumnya dari al-qur an dan alhadis yang menghendaki digunak annya ijtihad . 1. Firman Allah dalam Surat An-Nisa Ayat 59 Artinya: Hai orang-orang yang beriman taatilah allah dan taatilah rosul dan orng -orang yang memegang kekuasaan diantara kamu kemudian jika kamu berselisih penda

   

pt tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada allah(alqur an dan sunnah nabi) 2. Sabda Rosullullah Saw: Artinya dari mu adz bin jabal ketika nabi muhammad saw mengutusnya ke ya man untuk bertindak sebagai hakim beliau bertanya kepda mu adz apa yang kamu lak ukan jika kepadamu diajukan suatu perkara yang harus di putuskan? Mua dz menjawa b, "aku akan memutuskan berdasarkan ketentuan yang termaktuk dalam kitabullah" n abi bertanya lagi "bagaimana jika dalam kitab allah tidak terdapat ketentuan ter sebut?" mu adz menjawab, " dengan berdasarkan sunnah rosulullah". Nabi bertanya lagi, "bagaimana jika ketenyuan tersebut tidak terdapat pula dalam sunnah rosull ullah?" mu adz menjawab, "aku akan menjawab dengan fikiranku, aku tidak akan mem biarkan suatu perkara tanpa putusan" , lalu mu adz mengatakan, " rosullulah kemu dian menepuk dadaku seraya mengatakan, segala puji bagi Allah yang telah memberi kan pertolongan kepada utusanku untuk hal yang melegakan". al-Qur an surat an-Nisa ayat 59. Artinya: Hai orang-orang yang beriman taatilah allah dan taatilah rosul dan orng -orang yang memegang kekuasaan diantara kamu kemudian jika kamu berselisih penda pt tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada allah(alqur an dan sunnah nabi) 1. Dasar ijtihad dalam sunah ialah sabda Nabi SAW.

Artinya: "Apabila seorang hakim berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala, D an apabila ia memutuskan suatu perkara, lalu ia berijtihad kemudian ternyata ijt ihadnya keliru, maka ia mendapat satu pahala " (HR. Bukhari dan Muslim). 2. Ijtihad seorang sahabat Rosulullah SAW, Sa adz bin Mu adz ketika membuat kepu tusan hukum kepada bani khuroidhoh dan rosulullah membenarkan hasilnya, beliau b ersabda "Sesungguhnya engkau telah memutuskan suatu terhadap mereka menurut huku m Allah dari atas tujuh langit". Artinya hadist ini menunjukkan bahwa ijtihad sahabat tersebut mempunyai manfaat dan dihargai oleh rosulullah a. Firman Allah yang artinya : "Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagia n harta rampasan perang. Katakanlah, hanya rampasan perang itu keputusan Allah d an rosul sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara se samamu, dan taatilah kepada Allah dan Rosulnya jika kamu adalah orang-orang yang beriman". (Al-Anfal:1) b. fiman Allah yang artinya : "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampaan perang maka sesungguhnya setengah untuk Allah, Ros ul, Kerabat rosul, anak-anak yatim, orang-oarang miskan dan ibnu sabil. Jika kam u beriamn kepada Allah dan kepada apa yang kami terunkan kepada hamba kami muham mad dari hari furqon yaitu bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa ata sega la sesuatu". (Al-Anfal:41). C. RUKUN – RUKUN IJTIHAD 1. Al-wāqi’, yaitu kasus yang terjadi atau diduga akan terjadi yang tidak diter angkan oleh nash. 2. Mujtahīd, yaitu orang yang melakukan ijtihad yang mempunyai kemampuan untu k berijtihad dengan syarat-syarat tertentu. 3. Mujtahīd fīh, ialah hukum-hukum syari’at yang bersifat ‘amali (taklifi). 4. Dalil syara’ untuk menentukan suatu hukum bagi mujtāhid fīh. D. SYARAT – SYARAT MUJTAHID Orang – orang yang melakukan ijtihad dinamakan mujtahid, dan harus memenuhi bebera pa syarat.dan di antaranya adalah sebagai berikut: a. Mengerti bahasa arab Syarat ini disepakati oleh para ulama’, karena kedua dasar hukum yakni Al Quran da n Hadits adalah berbahasa arab. b. Memahami tentang Al Quran dan nasikh mansukh Yang mensyaratkan demikian termasuk Imam Syafi’i, mengingat bahwa ayat – ayat Al Qur

 

   

 

 

 

 

 

   

 

an tidak semuanya jelas dan terperinci. c. Mengerti tentang sunnah Syarat ini disepakati oleh para ulama’, da harus mengetahui pula jalan riwayat dan kekuatan perawinya. d. Mengetahui hal – hal yang diijma’kan dan yang diikhtilafkan Para ulama’ sepakat tentang syarat ini tetapi tidak mesti harus menghafal semua ma salah yang telah diijma’kan. e. Mengerti tentang qiyas Menurut imam syafi’i syarat ini sangat penting karena qiyas sangat identik dengan ijtihad. f. Mengetahui maksud – maksud hukum Seorang mujtahid harus mengerti tentang maksud dan tujuan syariat, yang mana har us bersendikan pada kemaslahatan umat g. Memiliki pemahaman dan penilaian yang benar Syarat ini bertujua untuk lebih mengarahkan dalam membedakan pendapat yang kuat dan yang lemah. h. Sebagian ulama’ ada juga yang mensyaratkan, bahwa seorang mujtahid harus b erhati bersih dan berniat lurus karna hal tersebut dapat mempermudah dalam pemec ahan suatu masalah. E. TINGKATAN – TINGKATAN MUJTAHID 1. Mujtahid mutlaq, mujtahid mustaqil, mujtaihd fi al syar’i. Inilah para muj tahid yang mengeluarkan hukum dari al quran dan sunnah. Mujtahid mutlak mempunya i ccara –cara tersendiri dalam istinbath al ahkam. 2. Mujtahid muntasib, yaitu para mujtahid yang mengikuti pendapat imam dala m ashal dan berbeda dalam furu’, seperti abu yusuf, muhammad bin hasan di dalam ma dzhab hanafi, al muzani di dalam madzhab syafi’i. 3. Mujtahid fi al madzhab, adalah seorang mujtahid baik dalam ushul maupun furu’ mengikuti imam madzhab hanya di dalam penerapannya mereka berbeda dengan mad zhab, jadi pkerjaan mereka adalah tahqiq al manat, yaitu menerapkan illat – illat hukum yang telah ditentukan oleh ulama’-ulama’ madzhab sebelumnya. Jadi, hanya mempe rluas atau mempersempit penerapan sesuatu yang telah ada dalam madzhab. 4. Ahl al tarjih, mereka tidak mengadakan istinbath al ahkam,tetapi hanya m entarjih di antara pendapat - pendapat yang ada. F. RUANG LINGKUP IJTIHAD (MAJAL AL-IJTIHAD) Ijtihad hanya dapat dilakukan pada lapangan atau medan tertentu yaitu: 1) dalildalil yang qath i wurūd-nya dzanni dalālah-nya; 2) dalil-dalil yang dzani wurūd -nya q ath i dalālah-nya; 3) dalil-dalil yang dzanni wurūd dan dalālah-nya. 4) terhadap kasus -kasus yang tidak ada hukumnya. Oleh karena itu, Ijtihad tidak dapat dilakukan t erhadap kasus-kasus yang sudah secara tegas disebutkan hukumnya oleh dalil-dalil yang qath i wurūd dan dalālah – nya. Imam al-Ghazali telah membatasi mengenai ranah yang bisa dimasuki ijtihad hanya pada setiap hukum syara’ yang tidak ditemukan kejelasan dalilnya (baik dari Al-Qur’a n ataupun al-Sunnah) secara qath’ī. Maka tidak menjadi lahan dan ranah ijtihad setia p apa yang telah termaktub secara eksplisit dan qath’ī, seperti wajibnya shalat lima waktu, zakat, dan lainnya.

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dari uraian makalah kami di atas dapat kami simpulkan bahwa: 1. Berijtihad merupakan suatu kegiatan menggali hukum secara sungguh – sunggu h untuk mencari hukum yang belum termaktub dalam nash(al quran dan sunnah)

 

 

 

2. Allah dan Rasul pun menganjurkan kepada kita untuk berijtihad, dan melar ang kita untuk taqlid. 3. Dalam berijtihad terdapat rukun dan syaratnya, yaitu sebagai berikut: Rukun ijtihad diantaranya, Al-wāqi’, yaitu kasus yang terjadi atau diduga akan terja di yang tidak diterangkan oleh nash.Mujtahīd, yaitu orang yang melakukan ijtihad y ang mempunyai kemampuan untuk berijtihad dengan syarat-syarat tertentu. Mujtahīd fīh , ialah hukum-hukum syari’at yang bersifat ‘amali (taklifi). Dalil syara’ untuk menent ukan suatu hukum bagi mujtāhid fīh. Dan di antara syarat-syaratnya ialah: a.)Mengert i bahasa arab, b.)Memahami tentang Al Quran dan nasikh mansukh, c.)Mengerti tent ang sunnah, d.)Mengetahui hal – hal yang diijma’kan dan yang diikhtilafkan,e.)Menger ti tentang qiyas, f.)Mengetahui maksud – maksud hukum, g.)Memiliki pemahaman dan p enilaian yang benarh.)Sebagian ulama’ ada juga yang mensyaratkan, bahwa seorang mu jtahid harus berhati bersih dan berniat lurus karna hal tersebut dapat mempermud ah dalam pemecahan suatu masalah. 4. Adapun tingkatan – tingkatan mujtahid yaitu: Mujtahid mutlaq, mujtahid mus taqil, mujtahid fi al syar’i, Mujtahid muntasib, Mujtahid fi al madzhab, Ahl al ta rjih. 5. Ruang lingkup ijtihad yaitu: 1) dalil-dalil yang qath i wurūd-nya dzanni d alālah-nya; 2) dalil-dalil yang dzani wurūd -nya qath i dalālah-nya; 3) dalil-dalil ya ng dzanni wurūd dan dalālah-nya. 4) terhadap kasus-kasus yang tidak ada hukumnya.

 

 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->