P. 1
Strategi Optimalisasi Peran Bmt Sebagai Penggerak Sektor Usaha Mikro

Strategi Optimalisasi Peran Bmt Sebagai Penggerak Sektor Usaha Mikro

|Views: 154|Likes:
Published by erydmardhatillah

More info:

Published by: erydmardhatillah on May 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2013

pdf

text

original

1

JUDUL “STRATEGI OPTIMALISASI PERAN BMT SEBAGAI PENGGERAK SEKTOR USAHA MIKRO” Oleh : Prof.Dr.H.Hendi Suhendi, M.Si (Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN SGD Bandung) A. Preface Fenomena penerapan prinsip syariah dalam lembaga keuangan semakin berkembang pesat, tidak hanya di perbankan tetapi juga lembaga keuangan bukan bank (LKBB). Di sektor lembaga keuangan bank dikenal dengan perbankan syariah, sedangkan pada lembaga keuangan bukan bank dengan mengacu pada Penjelasan Pasal 49 huruf i Undangundang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, terdiri dari lembaga keuangan mikro syariah, asuransi syariah, reasuransi syariah, reksadana syariah, obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah, sekuritas syariah, pembiayaan syariah, pegadaian syariah, dana pensiun lembaga keuangan syariah, dan bisnis syariah. Adapun mengenai Baitul Maal wat Tamwil (BMT) tercangkup dalam istilah lembaga keuangan mikro syariah. Keberadaaan BMT ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pengembagan sektor ekonomi riil, terlebih bagi kegiatan usaha yang belum memenuhi segala persyaratan untuk mendapatkan pembiayaan dari lembaga perbankan syariah. BMT merupakan bentuk lembaga keuangan dan bisnis yang serupa dengan koperasi atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Baitul tamwil merupakan cikal bakal lahirnya bank syariah pada tahun 1992. Segmen masyarakat yang biasanya dilayani BMT adalah masyarakat kecil yang kesulitan berhubungan dengan bank. Perkembangan BMT semakin marak setelah mendapat dukungan dari Yayasan Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (YINBUK) yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apa peranan BMT dalam rangka pemberdayaan sektor ekonomi riil; Bagaimana optimalisasi peran itu dalam realitas kehidupan masyarakat; Apa yang menjadi kendala dalam upaya dimaksud; Dan alternatif solusi yang dapat ditempuh untuk menghilangkan atau paling tidak meminimalisir adanya kendala dimaksud, akan menjadi bahasan dalam artikel ini.

Kondisi tersebut menjadi latar belakang munculnya lembaga-lembaga keuangan mikro yang sudah menjangkau hingga ke pedesaan-pedesaan atau yang dikenal dengan sebutan BMT.2 B. BMT dalam operasional usahanya pada dasarnya hampir mirip dengan perbankan yaitu melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk pembiayaan. Wakaf. Keduanya hendaknya mampu dilaksanakan oleh BMT secara proporsional. sedangkan pelaku sektor ekonomi riil juga sebagian berada di desa-desa. Produk jasa d. Penjelasan mengenai produk BMT dengan mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dapat dikemukakan sebagai berikut: Pertama. serta memberikan jasa-jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian layanan yang diberikan oleh bank syariah belum dapat menjangkau sektor ekonomi riil secara optimal. Produk penyaluran dana (lending) c. operasional bank syariah belum dapat secara optimal menjangkau sektor usaha mikro di tingkat akar rumput (grass root). Produk tabarru’: ZISWAH (Zakat. Produk penghimpunan dana (funding) b. Infaq. Hal demikian karena ternyata bank syariah sebagai lembaga intermediasi keuangan dalam menjalankan fungsinya menyalurkan dana kepada masyarakat berupa memberikan pembiayaan masih mensyaratkan adanya jaminan yang itu tidak mudah bisa dipenuhi oleh nasabah. yaitu misi sosial (tabarru’) dan misi untuk mendapatkan keuntungan (tamwil). khususnya nasabah kecil. Dalam realitasnya. Peranan BMT dalam Rangka Pemberdayaan Sektor Usaha Mikro Krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia pada 2008-2009 awal yang lalu menyebabkan sektor riil di kaum akar rumput hampir lumpuh dengan banyaknya pengusaha yang ‘gulung tikar’ alias mengalami kebangkrutan. dan Hibah) Dengan demikian sebagaimana namanya BMT menjalankan dua misi. produk penghimpunan dana yang ada di BMT pada umumnya berupa simpanan atau tabungan yang didasarkan pada akad wadiah dan akan mudharabah. Di sisi yang lain fakta menunjukkan bahwa operasional bank syariah juga terbatas di kota-kota. Untuk . Secara umum produk BMT dalam rangka melaksanakan fungsinya tersebut dapat diklasifikasikan menjadi empat hal yaitu: a. Shadaqah.

Dengan demikian akad jual beli hanya dapat diterapkan pada produk perbankan . Namun demikian nasabah yang memakai skema simpanan mudharabah juga menanggung risiko kerugian atas uang yang ia simpan. dengan ketentuan bahwa sewaktu-waktu pemilik barang membutuhkan uang/barang yang bersangkutan masih utuh. Wadiah ad Dhamanah. Melalui simpanan mudharabah nasabah berpeluang mendapatkan penghasilan yang besarnya sesuai dengan nisbah bagi hasil yang telah diperjanjikan di awal akad. yaitu akad wadiah yang mana pihak yang menerima titipan diperbolehkan untuk memanfaatkan uang/barang yang dititipkan. sehingga ia dapat menggunakan dana yang disimpan oleh nasabah untuk kegiatan produktif. Wadiah al-Amanah. salam. Dalam hal nasabah BMT menghendaki uang yang di simpan juga memberikan tambahan pendapatan atau memang ditujukan sebagai sarana investasi maka BMT biasanya juga menyediakan produk simpanan yang di dasarkan pada akad mudharabah. akad sewa-menyewa. 1. akad bagi hasil. Hal demikian juga mendatangkan keuntungan bagi nasabah. dan istishna. b. Adapun penerapan dari akad jual beli ini dalam transaksi BMT tampak dalam produk pembiayaan murabahah. akan tetapi potensi penghasilan atau keuntungan yang akan diperoleh juga kecil karena sangat tergantung pada kebijakan dari BMT yang bersangkutan. Secara fikih akad wadiah ditinjau dari boleh tidaknya penerima titipan untuk memanfaatkan barang titipan tersebut dibedakan menjadi dua macam. yaitu akad wadiah yang mana pihak yang menerima titipan tidak boleh memanfaatkan barang yang dititipkan. dan akad pinjam meminjam. Jual Beli Jual beli intinya adalah akad antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli. yakni bahwa nasabah dimungkinkan mendapatkan bonus yang besarnya tergantung pada kebijaan BMT dan tidak boleh diperjanjikan di muka. yakni akad jual beli. produk penghimpunan dana yang di sediakan oleh BMT bisa mendasarkan pada akad-akad tradisional Islam. Kedua. Melalui simpanan wadiah nasabah BMT terhindar dari risiko kerugian. yaitu: a. BMT akan menggunakan akad Wadiah ad Dhamanah dalam produk simpanannya.3 itu dalam BMT dikenal adanya dua jenis simpanan yaitu simpanan wadiah dan simpanan mudharabah. dimana obyeknya adalah barang dan harga.

karena dalam praktik BMT bisa diterapkan dalam dua sisi sekaligus. salam. Salam. Implementasi akad bagi hasil dalam produk BMT di bidang penghimpunan dana sebagaimana disebut di atas dalam bentuk simpanan. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah. Murabahah. 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Istishna. Fatwa DSN MUI No. dan istishna. dan Fatwa DSN MUI No. b. adalah jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan. yang penjelasannya adalah sebagai berikut: . 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah. Istishna. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh) dan untuk penerapan akad musyarakah dalam produk pembiayaan dapat dibaca dalam Fatwa DSN MUI No. 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam. Dalam praktik BMT akad sewa-menyewa ini diterapkan dalam produk penyaluran dana berupa pembiayaan ijarah dan pembiayaan ijarah muntahia bit tamlik (IMBT). c. adalah jual beli barang sebesar harga pokok barang ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati. Adapun pengertian dari masing-masing jenis pembiayaan dimaksud adalah sebagai berikut: a. adalah jual beli barang dengan cara pemesanan dengan syarat-syarat tertentu dan pembayaran tunai terlebih dahulu secara penuh. sedangkan implementasinya dalam produk penyaluran dana adalah pada produk Pembiayaan Mudharabah dan Pembiayaan Musyarakah. Secara teknis mengenai penerapan akad mudharabah dalam bentuk pembiayaan dapat dibaca dalam Fatwa DSN MUI No. 3. Sewa-Menyewa Sewa-menyewa merupakan perjanjian yang obyeknya adalah manfaat atas suatu barang atau pelayanan. sehingga bagi pihak yang menerima manfaat berkewajiban untuk membayar uang sewa/upah (ujrah). Akad ini unik. Implementasi akad murabahah. yaitu sisi penghimpunan dana (funding) dan sisi penyaluran dana (lending). 2. Bagi Hasil Penerapan akad bagi hasil dalam transaksi Lembaga Keuangan Syariah (LKS) inilah yang lebih dikenal di masyarakat karena memang fungsinya sebagai pengganti bunga. khususnya dalam praktik BMT secara teknis dapat dibaca dalam Fatwa DSN MUI No.4 berupa penyaluran dana.

artinya bahwa pinjaman akan diberikan hanya kepada nasabah yang benar-benar membutuhkan uang. KTP. 4. 19/DSN-MUI/IX/2000 tentang al Qardh. Pihak BMT selaku pemberi pinjaman dilarang meminta imbalan betapapun kecilnya. produk jasa merupakan produk yang saat ini banyak dikembangkan oleh LKS termasuk BMT. maka semakin besar pula pendapatan BMT yang bersangkutan dari sektor ini. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah. karena itu termasuk riba.5 a. SIM. Dengan semakin banyaknya jenis produk jasa yang diberikan oleh BMT kepada nasabahnya. Dalam Islam akad pinjam-meminjam juga disediakan tetapi hanya pada keadaan emergency. Dalam operasional BMT transaksi pinjam-meminjam ini dikenal dengan nama pembiayaan qardh. yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. yang pada dasarnya dalam hal nasabah tidak mampu mengembalikan. Ada juga qardh al-hasan (pinjaman kebajikan). Ini merupakan riba. Secara teknis mengenai penerapan akad ijarah di BMT dapat mengacu pada Fatwa DSN MUI No. adalah transaksi sewa-menyewa yang memberikan hak opsi di akhir masa sewa bagi pihak penyewa untuk memiliki barang yang menjadi obyek sewa melaluai mekanisme hibah ataupun melalui mekanisme beli. maka seyogyanya pihak pemberi pinjaman bisa mengikhlaskannya. misalnya dalam perpanjangan STNK. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al-Ijarah Al-Mutahiyah bi Al-Tamlik. Ijarah adalah transaksi sewa-menyewa atas suatu barang dan atau upah mengupah atas suatu jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa. Pinjam-meminjam yang Bersifat Sosial Dalam sistem konvensional produk penyaluran dana berupa kredit merupakan perjanjian pinjam-meminjam dengan ketentuan bahwa nasabah debitur wajib membayar bunga berdasarkan presentase tertentu terhadap pokok pinjaman. . Secara teknis mengenai implementasi IMBT ini dapat dibaca dalam ketentuan Fatwa DSN MUI No. Secara teknis mengenai pembiayaan qardh ini mengacu pada Fatwa DSN MUI No. b. yaitu pinjam meminjam dana tanpa imbalan dengan kewajiban pihak peminjam mengembalikan pokok pinjaman secara sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu. Adapun mengenai produk jasa misalnya di dasarkan pada akad wakalah. Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT). dan sebagainya. BMT berdasarkan akad wakalah ini dapat memberikan jasa. karena melalui produk ini bank akan mendapatkan pendapatan berupa fee. Ketiga.

maka dengan melihat karakteristik pembiayaan sebagaimana tersebut di atas dan setelah melalui studi kelayakan (feasibility study). tentu berbeda dengan BMT yang ada di sekitar masyarakat pedagang. juga diperlukan pemahaman terhadap kondisi setempat dimana sebuah BMT berada. Nasabah atau calon nasabah yang menginginkan barang modal atau barang konsumtif dengan maksud untuk dimiliki. ia dapat diberikan pembiayaan ijarah. ia dapat diberikan pembiayaan murabahah. Nasabah atau calon nasabah yang membutuhkan uang tunai karena adanya kebutuhan yang mendesak (emergency). maka fungsi BMT di bidang penyaluran dana khususnya dalam bentuk pembiayaan produktif perlu lebih ditingkatkan. Dan apabila nasabah atau calon nasabah menghendaki kepemilikan atas barang di akhir masa sewa maka tepat jika ia diberi pembiayaan IMBT. BMT yang berada di sekitar masyarakat petani. Adapun salah satu caranya selain peningkatan kapabilitas dan profesionalitas para pengelolanya. Nasabah atau calon nasabah yang menginginkan modal kerja atau tambahan modal kerja. Dalam rangka optimalisasi peranan BMT untuk pengembangan sektor ekonomi riil. ia dapat diberikan pembiayaan mudharabah/pembiayaan musyarakah. Optimalisasi peran BMT dalam pengembangan sektor riil secara prinsip dapat dilakukan dengan mengenal motivasi dari nasabah atau calon nasabah ketika mereka mengajukan permohonan ke BMT. 3. Adapun beberapa motivasi nasabah atau calon nasabah berikut jenis pembiayaan yang sesuai dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. maka dengan melihat karakteristik pembiayaan sebagaimana tersebut di atas dan setelah melalui studi kelayakan (feasibility study). 2. maka dengan melihat karakteristik pembiayaan sebagaimana tersebut di atas dan setelah melalui studi kelayakan .6 Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa BMT sebagai lembaga keuangan mikro syariah berperan sebagai lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat yang mempunyai dana lebih (surplus unit) dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan dana (deficit unit). Optimalisasi Peranan BMT dalam Realitas Kehidupan Masyarakat Peranan BMT di bidang penyaluran dana kepada masyarakat dunia usaha yang bergerak di sektor ekonomi riil perlu dioptimalkan. maka dengan melihat karakteristik pembiayaan sebagaimana tersebut di atas dan setelah melalui studi kelayakan (feasibility study). 4. Nasabah atau calon nasabah yang menginginkan manfaat atas suatu barang. C.

seperti masih adanya budaya masyarakat yang belum sepenuhnya menerima eksistensi lembaga keuangan syariah karena di anggap njlimet dan tidak terprediksi.7 (feasibility study) ia dapat diberi produk berupa pembiayaan qardh/qardh al hasan. sehingga dalam praktiknya BMT seringkali menjadi sama dengan lembaga keuangan konvensional yang jauh dari nilai-nilai Islami. agar BMT sebagai lembaga dengan target market sektor riil berupa usaha-usaha kecil dapat menjalankan perannya dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui peningkatan kapabilitas dan profesionalitas para pengelola BMT. Adapun kendala eksternal adalah kendala yang disebabkan oleh faktor dari luar BMT. yakni terkait dengan status hukum BMT yang pada umumnya adalah koperasi. Kendala-kendala tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam. Atau dengan kata lain belum terpenuhinya sumber daya insani yang mumpuni di bidang ekonomi syariah. . yakni sebagai lembaga intermediasi keuangan belum mendapatkan pijakan hukumnya yang kokoh. D. sehingga diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud secara adil dan merata. Kendala pada aspek hukum juga masih dijumpai. Hal ini nampak pada adanya fakta bahwa banyak dijumpai pengurus atau pengelola BMT belum memahami tentang prinsip-prinsip syariah dan juga prinsip pengelolaan usaha yang baik dan benar. serta kepekaan melakukan analisis pembiayaan sehingga dapat memberikan pembiayaan yang tepat bagi nasabah atau calon nasabah maka optimalisasi peranan BMT di sektor ekonomi riil dapat dilaksanakan dengan semestinya. Adanya kendala dimaksud perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Fungsi BMT yang hampir mirip-mirip dengan bank. BMT yang berperan secara optimal dapat memberikan andil dalam pembangunan nasional. yaitu kendala internal dan kendala eksternal. Kendala internal adalah kendala yang disebabkan karena faktor dari dalam BMT itu sendiri. Menurut ketentuan hukum koperasi memerlukan aspek legal lain jika ingin melakukan kegiatan penghimpunan dana. Kendala dalam Pengelolaan BMT dalam Rangka Pemberdayaan Usaha Mikro Banyak kendala-kendala yang menjadi hambatan pengelolaan BMT dalam pemberdayaan sektor riil.

Dalam mengatasi kendala-kendala yang terjadi. hal ini lebih menekankan aspek karakter nasabah. Memperluas jaringan kerjasama. Alternatif Solusi untuk Mengatasi/Mengurangi Kendala-Kendala Menuju Kinerja BMT yang Optimum Kendala berupa masih rendahnya sumber daya insani yang memahami pengelolaan lembaga keuangan berdasarkan prinsip syariah. bahwa niat pengelola yang utama adalah berupa niat untuk beribadah kepada Allah SWT. yang meliputi transparancy. khususnya bagi BMT yang baru berdiri dapat diatasi dengan proses magang pada BMT lain yang sudah memiliki kredibilitas dalam operasionalnya. accountability. terutama dalam pemberian pembiayaan kepada masyarakat. Ulama adalah tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sehingga pengurus BMT dapat menjalin kerjasama saling menguntungkan dengannya untuk kepentingan sosialisasi mengenai lembaga keuangan yang dikelola berdasarkan prinsip syariah dimaksud. BMT dapat menjalin kerjasama dengan BMT lain. Memperhatikan ulama. Kemudian dalam rangka pemasaran produk-produk BMT kepada masyarakat. and fairness. ada beberapa strategi yang dapat ditempuh oleh pengelola BMT yang bersangkutan antara lain yaitu: 1. Di samping itu juga dapat melalui partisipasi dalam program pelatihan ekonomi syariah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga terkait. Prinsip mengenal nasabah (know your customer principle). responsibility. BMT dapat menerapkan prinsip-prinsip berikut: 1. sektor hukum juga mempunyai peran penting di dalamnya. Pemerintah. 2. dan siapa saja yang memiliki minat dalam rangka mengembangkan sistem ekonomi Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Meluruskan niat. 2. 3. Bank Syariah. 3. . Adapun untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan pembiayaan kepada masyarakat.8 E. independency. maka seorang pengelola akan mendapatkan dua macam keutamaan yakni berupa pahala dan keberhasilan dalam pengelolaan BMT. Prinsip kehati-hatian (prudential principle) dalam melaksanakan kegiatannya. Dengan diniatkan ibadah. Secara internal perlu menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.

Metode ini perlu ditempuh untuk mengakselerasi perkembangan BMT. dan memiliki nilai jual yang tinggi. serta profesional di bidangnya. Setelah keempat pendekatan di atas dilalui. yang diwujudkan dengan mengedepankan transparansi manajemen. amanah. BMT sebagai lembaga keuangan mikro syariah sudah saatnya berbenah diri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan dana bagi pengembangan kegiatan usaha. selanjutnya perlu dikembangkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. tidak terlalu berisiko. Penutup Demikian sekilas pembahasan mengenai optimalisasi peranan BMT sebagai penggerak sektor ekonomi riil. Strategi pemasaran tersebut sama-sama penting dan saling menguatkan dalam rangka optimalisasi peran BMT.9 4. memberikan pelayanan terbaik. bijaksana dalam mengambil keputusan penting. Perkembangan sektor ekonomi riil akan dapat berlangsung dengan cepat ketika didukung oleh tersedianya sumber dana yang memadahi dan sesuai dengan nilai-nilai keadilan. sehingga pelan tapi pasti dapat mengikis atau mengurangi jumlah penduduk miskin di Indonesia. . Pengelola BMT harus mampu bertindak jujur. misalnya dengan pembentukan unit khusus yang menawarkan produk BMT dari rumah ke rumah. Metode jemput bola. 2. Memilih produk-produk yang tepat: sederhana. F. keikhlasan menerima kritik dan saran. Adanya merupakan salah satu kontribusi bagi suksesnya proses pembangunan.

2002. Bandung. Suhendi. pent. Kelemahan. Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Fatwa DSN MUI No. Yogyakarta: UCY Press. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah Fatwa DSN MUI No.” The American Journal of Islamic Social Sciences. Yogyakarta: UII Press. 2. Suhendi. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah Fatwa DSN MUI No. Islam dan Pembangunan Ekonomi. Bandung : Rosdakarya. Suhendi. 14. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al-Ijarah Al-Mutahiyah bi AlTamlik Fatwa DSN MUI No. Hendi. 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Istishna Fatwa DSN MUI No.10 DAFTAR PUSTAKA Chapra. Umar. 19/DSN-MUI/IX/2000 tentang al Qardh . Makhalul Ilmi. Awalil. 2007. 2004. 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Salam Fatwa DSN MUI No. Asas-asas Fiqh Muamalah. Ikhwan Abidin Gema Insani Press. Hendi. dan Ancaman. 2006. Fiqh Muamalah. No. Muhamad. BMT dan Bank Islam. Perkembangan Bisnis dan Keuangan Syariah di Indonesia dalam Bank Syariah. Yogyakarta: Ekonisia. 2000. 1997. 1997. Hendi. SM. BMT: Fakta dan Prospek Baitul Maal wat Tamwil. Khan. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah Fatwa DSN MUI No. Teori dan Praktik Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Analisis Kekuatan. Rizky. Bandung : SGD Press. 2000. Vol. Muhammad Akram ‘The Role of Government in the Economy. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh) Fatwa DSN MUI No.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->