P. 1
skripsi lusdy

skripsi lusdy

|Views: 212|Likes:
Published by rayhan_boyz88
BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dalam pengertian yang sederhana, guru merupakan figur manusia yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti dilibatkan dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Hal itu tidak dapat disangkal, karena lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. Sebagian besar waktu guru ada di sekolah, sisanya ada di ruma
BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dalam pengertian yang sederhana, guru merupakan figur manusia yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti dilibatkan dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Hal itu tidak dapat disangkal, karena lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. Sebagian besar waktu guru ada di sekolah, sisanya ada di ruma

More info:

Published by: rayhan_boyz88 on May 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dalam pengertian yang sederhana, guru merupakan figur manusia yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru mesti dilibatkan dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Hal itu tidak dapat disangkal, karena lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. Sebagian besar waktu guru ada di sekolah, sisanya ada di rumah dan lingkungan masyarakat. Sosok guru adalah orang yang identik dengan pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab membentuk karakter generasi bangsa, di tangan para gurulah tunastunas bangsa ini terbentuk sikap dan moralitasnya sehingga mampu memberikan yang terbaik untuk anak negeri ini dimasa datang.1 Guru merupakan tulang punggung dalam kegiatan pendidikan terutama yang berkaitan dengan kegiatan proses belajar mengajar. Tanpa adanya peran guru maka proses belajar mengajar akan terganggu bahkan gagal. Oleh karena itu dalam manajemen pendididikan perananan guru dalam upaya keberhasilan pendidikan selalu ditingkatkan, kinerja atau prestasi kerja guru harus selalu ditingkatkan

1

Isjoni, Guru Sebagai Motivator Perubahan, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2008, h. 3

mengingat tantangan dunia pendidikan untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global. Untuk tercapainya tujuan tersebut, maka guru memegang peranan penting. Oleh sebab itu guru di sekolah tidak hanya sekedar mentransferkan sejumlah ilmu pengetahuan kepada siswanya, tetapi lebih dari itu ia bertanggung jawab dalam membina sikap dan keterampilan mereka. Tugas guru tidak terbatas pada memberikan informasi kepada siswa, namun tugas guru lebih komprehensif dari itu. Selain mengajar dan membekali siswa dengan pengetahuan, guru juga harus mendidik mereka agar mereka bisa mandiri dan mengembangkan bakat siswa diberbagai bidang, mendisiplinkan moral mereka, membimbing hasrat dan menanamkan kebajikan dalam jiwa mereka pada jalan kebenaran agar mereka tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 104 sebagai berikut:

           


Artinya:



  
“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”2 Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama mutlak diperlukan di lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, orang-orang yang berada dalam lingkungan tersebut sangat bertanggung jawab dalam pembinaan sikap mental dan kepribadian anak (siswa) nya. Di lingkungan sekolah, seorang guru agama harus mampu menanamkan nilai-nilai agama kepada setiap siswa dengan berbagai cara. Sebaliknya tujuan itu tidak akan tercapai apabila tidak ada kerjasama dengan semua pihak terutama dengan sesama guru dan antara guru dengan orang tua siswa maupun dengan masyarakat. Sebab pendidikan agama dapat terbina apabila adanya kesinambungan atau keterpaduan antara pembinaan orang tua di dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan sekolah. Melalui peranannya sebagai pendidik, guru di harapkan mampu mendorong siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui bermacammacam sumber dan media. Guru hendaknya mampu membantu setiap siswa untuk secara efektif dapat mempergunakan berbagai kesempatan belajar dari berbagai sumber serta media belajar. Kegiatan siswa dalam bersikap dan bertingkah laku yang tidak baik di sekolah karena kurangnya pengetahuan siswa tentang budi pekerti. Oleh sebab itu,
2

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Pelita III, 1983, h. 93

perlu adanya guru agama yang mendukung dalam mendidik perilaku siswa. Jika seorang guru agama itu bertingkah laku yang baik maka siswanya juga akan mencontoh perilaku tersebut atau sebaliknya, karena seorang guru adalah suri tauladan bagi siswanya. Cara yang tepat untuk mengembangkan dan memelihara fitrah manusia (siswa) ini adalah melalui pendidikan, karena pendidikan mencakup berbagai dimensi: badan, akal, perasaan, kehendak dan seluruh unsur kejiwaan manusia serta bakat-bakat dan kemampuannya. Pendidikan merupakan upaya untuk

mengembangkan bakat dan kemampuan individual, sehingga potensi-potensi kejiwaan itu dapat diaktualisasikan secara sempurna, karena potensi-potensi itu sesungguhnya merupakan kekayaan dalam diri manusia yang amat berharga. Dengan adanya pendidikan ini maka dapat diketahui bakat dan kemampuan siswa, sehingga bakat dan kemampuan tersebut dapat dibina dan dikembangkan, dan menjadi tugas seorang pendidiklah untuk membantu siswa agar mengetahui bakat dan kemampuannya. Di samping itu pendidik juga berkewajiban untuk menemukan kesulitan-kesulitan yang membatasi perkembangan potensinya serta membantu menghilangkan hambatan itu untuk mencapai kemajuan siswa.3 Demikian juga dengan guru agama di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi dalam membina sikap mental dan kepribadian siswanya tidak terlepas dari peran guru di sekolah, orang tua di rumah dan masyarakat di lingkungannya.
3

Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005, h. 14-15

Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan merupakan salah satu Sekolah Dasar Negeri yang ada di Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan dan di sekitar lingkungannya tinggal berbagai lapisan masyarakat yang terdiri dari beberapa suku, agama dan mata pencaharian. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan guru yang mengajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan pada tanggal 21 Oktober 2010, dinyatakan bahwa di sekolah tersebut pelaksanaan pendidikan agama Islam masih kurang maksimal di karenakan guru yang mengajar pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan hanya 1 orang guru dan harus mengajar 19 kelas dalam seminggu, dalam setiap hari hampir 3 kelas guru mengajar dengan jumlah siswa rata-rata 30 sampai 35 orang per kelas, dan dalam kelas tersebut juga memiliki karakteristik siswa yang berbeda. Selain itu, kegiatan keagamaan pun jarang dilaksanakan khususnya agama Islam misalnya Isra Mi’raj, Maulid Nabi, Pesantren Kilat maupun kegiatankegiatan keagamaan lainnya. Beranjak dari kenyataan tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui secara pasti bagaimana peranan guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam agar bisa diterapkan kepada siswa di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, untuk itu penulis mengadakan penelitian dengan judul: “PERANAN GURU AGAMA ISLAM DALAM MELAKSANAKAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI“

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 2. Bagaimana kendala yang dihadapi guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

C.

Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang sudah dirumuskan penulis, maka penelitian ini bertujuan meliputi: 1. Mendiskripsikan upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. 2. Mendiskripsikan kendala yang dihadapi guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

D.

Kegunaan Penelitian Melalui penelitian ini penulis berharap akan memberikan kegunaan sebagai berikut: 1. Sebagai sumbangan pemikiran kepada guru agama Islam dalam upaya

melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah3 Kereng Pangi. 2. Dalam rangka menambah pengetahuan dan pemahaman tentang peranan

guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam. 3. Sebagai bahan informasi bagi lembaga terkait dalam upaya mengambil

langkah-langkah untuk membina dan mengembangkan sistem pelaksanaan dalam melaksanakan pendidikan agama Islam. 4. Sebagai bahan bacaan dan sumbangan pikiran yang sederhana dalam

khazanah ilmu pengetahuan di STAIN Palangka Raya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.

Penelitian Sebelumnya Hasil penelitian sebelumnya dilakukan oleh Rahmanita tahun 2006 yang berjudul: “PERANAN GURU PAI DALAM MENGATASI KESULITAN KEAGAMAAN SISWA DI SMAN-1 JEKAN RAYA PALANGKA RAYA”. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN-1 Jekan Raya Palangka Raya, adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah penggabungan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tingkat kesulitan keagamaan siswa sekitar 75,00 % baik itu yang tidak bisa membaca al-Qur’an seperti membaca huruf-huruf hijaiyah dan membaca secara bertajwid. Tidak bisa mempraktekkan gerakan shalat seperti duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir seperti halnya masih salah meletakkan kaki. Tingkat kesulitan selanjutnya yaitu kesulitan dalam menghafal bacaan-bacaan shalat seperti bacaan do’a iftitah, surah-surah pendek-pendek, duduk tahiyat awal dan duduk tahiyat akhir, dan kesulitan dalam hal bertingkah laku sesuai dengan akhlakul karimah. Dalam mengatasi kesulitan yang dialami siswa tersebut, maka guru melakukan bimbingan khusus sesuai dengan permasalahan yang di alami oleh

siswa. Adapun pelaksanaannya dilakukan pada saat jam pelajaran sesuai materi pelajaran dengan permasalahan siswa maupun di luar jam pelajaran dengan cara memberikan les privat kepada siswa. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Taufik Hidayat tahun 2006 yang berjudul: “UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENUMBUHKAN TOLERANSI BERAGAMA SISWA SMA NEGERI-3 PALANGKA RAYA”. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN-3 Palangka Raya, adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa dalam menumbuhkan sikap toleransi beragama siswa dilakukan melalui proses belajar mengajar di ruangan kelas atau pada saat pembelajaran tersebut berlangsung, dan upaya pelaksanaan

pembelajarannya yaitu dengan menggunakan beberapa metode seperti metode ceramah, metode penugasan (dalam aspek al-Qur’an yaitu memberikan tugas membaca dan mendiskripsikan ayat al-Qur’an tentang toleransi) dan metode uswatun hasanah (dalam aspek akhlak yaitu mengajarkan kepada siswa tentang sifat keteladanan). Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis disini yaitu dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, dan permasalahannya lebih kepada kurangnya mutu pendidikan agama khususnya agama Islam, baik itu pada saat pembelajaran tersebut berlangsung maupun pada saat di luar pembelajaran. Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut maka perlu adanya

peranan seorang guru agama Islam, khususnya upaya yang akan dilakukan oleh guru agama Islam dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam tersebut.

B.

Deskripsi Teoritik 1. Pengertian Guru Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menyatakan bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar, perguruan, sekolah, gedung tempat belajar, perguruan tinggi atau sekolah tinggi (universitas).4 UU No 14 Tahun 2005 Pasal 1 ayat (1) tentang Guru dan Dosen menyatakan: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”5 Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, guru adalah seorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menunjang hubungan sebaik-baiknya dengan anak didik, sehingga menjunjung tinggi, mengembangkan dan menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan, dan keilmuan.6

Sampurna K, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Cipta Karya, 2003, h. 171 Trianto dan Titik Triwulan Tutik, Tinjauan Yuridis Hak serta Kewajiban Pendidik Menurut UU Guru dan Dosen, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2006, h. 23 6 Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Intermasa, 2002, h. 8
5

4

Guru yang dimaksud disini ialah pendidikan yang memberikan pelajaran kepada murid, biasanya guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran disekolah.7 Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru, pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru.8 Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa guru adalah seseorang yang pekerjaannya mengajar orang lain yang dapat dicontoh dan ditiru, artinya dicontoh perkataannya dan ditiru perbuatannya, namun guru yang dimaksud disini adalah guru agama Islam yang berprofesi sebagai pengajar bidang studi agama Islam dan menjadi contoh teladan bagi muridnya. Proses belajar disini adalah perubahan tingkah laku atau perilaku individu melalui proses pendidikan, dimana guru harus memahami pendidikan yang akan diajarkannya kepada siswa. Jadi, pendidikan diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir dan merubah perilaku siswa secara bertahap kepada perilaku yang menjadikan mereka berperilaku terpuji. Pendidikan suatu perpaduan antara guru dan siswa, yang menyangkut peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara guru dan siswa.
7

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, h. 5

1992, h. 75
8

Jalinan komunikasi yang harmonis inilah yang menjadi indikator dalam suatu pendidikan yang berjalan dengan baik, apabila seorang guru mampu merubah diri seorang siswa dalam arti luas serta mampu menumbuh kembangkan kesadaran siswa dalam berperilaku yang terpuji. Maka akan menghasilkan suatu pendidikan yang bermanfaat bagi semua siswa.

2. Peran, Tugas dan Syarat Sebagai Seorang Guru Agama Islam a. Pengertian Peranan Guru Agama Islam Peran guru adalah membantu para siswa mengubah tingkah lakunya sesuai dengan arah yang di inginkan. Dalam hal ini terdapat dua faktor utama, yakni proses (perubahan tingkah laku) dan kriteria (arah yang diinginkan secara khusus) yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan.9 Peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.10 Fungsi dan peranan pendidik dalam menyelenggarakan pendidikan Islam menduduki posisi strategis dan vitas. Pendidik yang terlibat secara fisik dan emosional dalam proses pengembangan fitrah manusia didik baik langsung maupun tidak akan memberi warna tersendiri terhadap corak dan
9

Oermar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru Al-Gensindo, Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, h. 4

2002, h. 7
10

model sumber daya manusia yang dihasilkannya. Oleh karena itu, di samping sangat menghargai posisi strategis pendidik, Islam menggariskan fungsi, peranan dan kriteria seorang pendidik.11 Dilihat dari segi dirinya sendiri, seorang guru harus berperan sebagai berikut: 1) Petugas sosial, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. 2) Pelajar dan ilmuan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan. 3) Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid disekolah dalam pendidikan anaknya, guru berperan sebagai orang tua bagi siswa-siswanya. 4) Pencari teladan, yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk siswa bukan untuk seluruh masyarakat atau menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku. 5) Pencari keamanan, yaitu guru menjadi tempat berlindung bagi siswasiswa untuk memperoleh rasa aman dan puas didalamnya.12 Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams dan Decey dalam “Basic Priaciples Of Student Teaching”, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor,
11 12

Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005, h. 35 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, h.

13

perencana, supervisor, motivator, dan konselor. Yang akan dikemukakan disini adalah peranan yang dianggap paling dominan dan diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Guru sebagai demonstrator Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar ini berarti bahwa guru haru belajar terus menerus. Dengan cara demikian, ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga mampu memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis. Maksudnya agar apa yang disampaikannya itu betul-betul dimiliki oleh anak didik. 2) Guru sebagai pengelola kelas Sebagai menejer guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial didalam kelasnya. Dengan demikian guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif dikalangan siswa. 3) Guru sebagai mediator dan fasilitator Sebagai fasilitator guru pun menjadi perantara dalam hubungan antar manusia, untuk keperluan itu guru harus terampil mempergunakan pengetahuan tentang bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi. Sebagai

fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah atau pun surat kabar. 4) Guru sebagai evaluator Guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu, informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feedback) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya, dengan demikian proses belajar mengajar akan terus menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.13 Jadi, dapat dipahami bahwa peran merupakan keikutsertaan guru agama dalam membina sikap atau tingkah laku siswanya ketingkat yang lebih baik dan sempurna. Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa peranan adalah peran serta atau usaha guru agama khususnya guru agama islam dalam mendidik, membina, membimbing serta mengarahkan siswa kepada yang lebih baik dan sempurna.

13

Ibid, h. 9-12

b.

Tugas Sebagai Guru Agama Islam Tugas guru adalah berinterelasi dengan siswanya dengan cara menciptakan kondisi dan bahan, dengan memanipulasi situasi yang memungkinkan siswa mengubah tingkah laku sesuai dengan keinginan itu sebagaimana telah diramalkan sebelumnya.14 Guru sebagai pendidik ataupun pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaharuan kurikulum, pengadaan alat-alat belajar sampai pada kriteria sumber daya manusia yang dihasilkan oleh usaha pendidikan, selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan betapa signifikan (berarti penting) posisi guru dalam dunia pendidikan.15 Guru bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah dalam arti memberikan bimbingan dan pengajaran kepada para siswa, tanggung jawab ini direalisasikan dalam bentuk melaksanakan pembinaan kurikulum, menuntun para siswa belajar, membina pribadi, watak, dan jasmaniah siswa, menganalisis kesulitan belajar, serta menilai kemajuan belajar para siswa.16

14

Oermar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru Al-Gensindo,

2002, h. 8 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995, h. 223 16 Oemar Hamalik, Pendidikan Guru, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, h. 40
15

Fungsi dan tugas guru pendidik dalam pendidikan dapat disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu: 1) Sebagai pengajar, yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan. 2) Sebagai pendidik, yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan kepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah SWT menciptakannya. 3) Sebagai pemimpin, yang memimpin, mengendalikan diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian,

pengontrolan, dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.17 Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan imu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilanketerampilan pada siswa.18 Dengan demikian, guru yang memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, setidak-tidaknya mejalankan tiga macam tugas utama, yaitu:

17 18

Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008, h. 91 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, h. 7

1)

Merencanakan Perencanaan yang dibuat, merupakan antisipasi dan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dalam pengajaran. Sehingga tercipta suatu situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan yang diharapkan, perencaan ini meliputi: a) Tujuan apa yang hendak dicapai, yaitu bentuk-bentuk tingkah laku apa yang diinginkan dapat dicapai atau dapat dimiliki oleh siswa setelah terjadinya proses belajar mengajar. b) Bahan pelajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan. c) Bagaimana proses belajar mengajar yang akan diciptakan oleh guru agar siswa mencapai tujuan secara efektif dan efisien. d) Bagaimana menciptakan dan menggunakan alat untuk mengetahui atau mengukur apakah tujuan itu tercapai atau tidak.

2)

Melaksanakan pengajaran Pelaksanaan pengajaran selayaknya berpegang pada apa yang tertuang dalam perencanaan. Namun, situasi yang dihadapi guru dalam melaksanakan pengajaran mempunyai pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar itu sendiri. Situasi pengajaran itu sendiri banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

a) Faktor guru Menamakan pola umum tingkah laku mengajar yang dimiliki guru dengan istilah “Gaya mengajar atau Teaching Style”. b) Faktor siswa Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian. Keragaman dalam kecakapan dan kepribadian ini dapat mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi dalam proses belajar mengajar. c) Faktor kurikulum Secara sederhana arti kurikulum dalam kajian ini

menggambarkan pada isi atau pelajaran dan pola interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh sebab itu, tujuan yang hendak dicapai itu secara khusus

menggambarkan bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai siswa melalui proses belajar yang beranekaragam. d) Faktor lingkungan Mengistilahkan lingkungan fisik tempat belajar dengan istilah “Millieu”, yang berarti konteks terjadinya pengalaman belajar. Lingkungan ini meliputi keadaan ruangan, tata ruang, dan berbagai

situasi

fisik

yang

ada

disekitar

kelas

atau

sekitar

tempat

berlangsungnya proses belajar mengajar. Sehubungan dengan keempat faktor yang telah disebutkan diatas, guru memegang peranan penting dalam menciptakan situasi sehingga proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. 3) Memberikan balikan Balikan mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar mengajar, bahwa belajar itu ditandai oleh adanya keberhasilan dan kegagalan. Bila hal ini diketahui oleh siswa, akan membawa dampak berupa hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Suatu hadiah sebagai dampak dari keberhasilan yang dicapai dapat menjadi penguat (re-inforcement) terhadap hasil belajar, sedangkan suatu hukuman sebagai dampak dari kegagalan dapat menghilangkan (extinchion) tingkah laku yang tidak diinginkan.19 Menurut Ag. Soejono dikutip dari bukunya Ahmad Tafsir dalam buku “Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam” merinci tugas pendidik (termasuk guru) sebagai berikut:

Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002, h. 4-7

19

a) Wajib menemukan pembawaan yang ada pada anak-anak didik dengan berbagai cara seperti observasi, wawancara, melalui pergaulan, angket dan sebagainya. b) Berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menekan perkembangan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang. c) Memperlihatkan kepada anak didik tugas orang dewasa dalam memperkenalkan berbagai bidang keahlian, keterampilan, agar anak didik memilihnya dengan tepat. d) Mengadakan evaluasi setiap waktu mengetahui apakah perkembangan anak didik berjalan dengan baik. e) Memberikan bimbingan dan penyuluhan tatkala anak didik menemui kesulitan dalam mengembangkan potensinya.20 c. Syarat Menjadi Guru Agama Islam Dalam UU No 14 tahun 2005 Pasal 10 tentang Guru-guru menyatakan: “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”.21

20

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya,

1992, h. 79 Trianto dan Titik Triwulan Tutik, Tinjauan Yuridis Hak serta Kewajiban Pendidik Menurut UU Guru dan Dosen, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2006, h. 24
21

Guru menjadi pendidik karena jabatan, atas dasar ini guru ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan anak didik. Guru secara tidak langsung atau langsung menerima kepercayaan dan tanggung jawab dari masyarakat untuk memangku jabatan pendidikan anak di sekolah. Menurut Hadari Nawawi dikutip dari bukunya Jasiah dalam buku “Ilmu Pendidikan” menyatakan bahwa guru merupakan faktor yang sangat penting untuk terselenggarakannya pendidikan dengan mutu yang baik di sekolah, karena itu bagi guru harus memiliki persyaratan-persyaratan tertentu. Adapun syarat-syarat untuk menjadi guru yang baik adalah: 1) Syarat professional (Ijazah) Pekerjaan guru adalah suatu profesi didalam masyarakat, karena itu pekerjaan guru tidak dapat dipegang sembarangan orang yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi profesi tersebut. Untuk menjadi guru perlu adanya pendidikan khusus yang mendidik calon-calon guru dan juga perlu adanya pendidikan guna meningkatkan profesi guru-guru yang sudah bekerja. 2) Syarat biologis Dalam melaksanakan tugas keguruan bagi seorang guru perlu mempunyai fisik yang sehat agar ia dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik, misalnya guru tidak mempunyai cacat, berpenyakit dan semacamnya agar tidak menganggu tugas yang dilaksanakan. 3) Syarat psikologis

Syarat ini menyangkut kejiwaan dan mental seorang guru yang didalamnya meliputi kesehatan rohani misalnya tidak gila, sakit syaraf atau gangguan jiwa lainnya. Guru mempunyai kepribadian luhur, harmonis dan integratif serta kestabilan emosi. Guru juga harus menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakatnya dan gurupun harus memiliki norma-norma susila yang dipilih dan dijadikan pedoman dalam berperilaku dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. 4) Syarat pedagogis didakti Guru harus mempunyai pengetahuan tentang manusia dan masyarakat, seperti antropologi, sosial, sosiologi. Guru memiliki ilmu keguruan dan imu pendidikan. Guru memiliki keterampilan mendidik, mengajar dan sikap positif terhadap pendidikan. Guru harus mempunyai keahlian dalam bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada anak didiknya dan guru harus memiliki falsafah atau pandangan hidup yang tetap dan dapat dipertanggung jawabkan.22 Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya “Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam” mengemukakan bahwa syarat yang terpenting untuk menjadi guru meliputi: a) b) c) Umur harus dewasa Sehat jasmani dan rohani Menguasai bidang ilmu yang diajarkan
22

Jasiah, Ilmu Pendidikan, STAIN Palangka Raya, 2007, h. 101-103

d)

Berkepribadian muslim23

Mengacu pada pendapat diatas dapat dipahami bahwa syarat untuk menjadi guru agama Islam haruslah yang berkualitas, karena kualitas guru agama Islam sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan dan mutu pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam para ahli berpendapat bahwa seorang guru harus mempunyai berbagai macam sifat, sifat tersebut yaitu sebagai berikut:  Kasih sayang kepada anak didik  Lemah lembut  Rendah hati  Menghormati ilmu yang bukan pegangannya  Adil  Menyenangi ijtihad  Konsekuen, perkataan sesuai dengan perbuatan  Sederhana24

23

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, Ibid, h. 84

1992, h. 81
24

3. Upaya Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Pelaksanaan pendidikan sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM) sangat penting maknanya bagi pembangunan nasional. Bahkan dapat dikatakan masa depan bangsa terletak pada keberadaan pendidikan yang berkualitas, dan pendidikan berkualitas hanya akan muncul apabila terdapat lembaga pendidikan yang berkualitas. Karena itu, strategi peningkatan mutu pendidikan merupakan upaya untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.25 Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, sebab dari proses pendidikan manusia dapat maju dan berkembang. Dengan dimilikinya pendidikan oleh suatu bangsa dan negara, akan lahir tenaga-tenaga yang terampil dan profesional, yang diharapkan dapat menjadi kader-kader penerus dan dapat berperan aktif dalam pembangunan nusa dan bangsa. Para ahli pendidikan telah sepakat bahwa guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan, termasuk pendidikan agama. Pernyataan ini berangkat dari suatu pemikiran bahwa guru merupakan salah satu input instrumental yang dapat mentransfer pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang lebih sempurna kepada murid. Di pundaknya terpikul tugas dan tanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak didik. Tugas tersebut meliputi: mengajarkan ilmu pengetahuan agama Islam, menanamkan keimanan

http://digilib.iai-tribakti.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=kiuntbk-gdlkhoirulanw-5831

25

ke dalam jiwa anak, mendidik anak agar taat menjalankan agama dan mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia. Agar guru agama dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, baginya dituntut untuk memiliki beberapa persyaratan, kepribadian, pengetahuan, dan ketrampilan. Adanya persyaratan ini disebabkan karena guru agama tidak semata-mata mengajarkan berbagai macam pengetahuan tentang agama, melainkan juga mendidik dan membina budi pekerti.26 Proses pembelajaran merupakan suatu sistem. Dengan demikian, pencapaian standar proses untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat dimulai dari menganalisis setiap komponen yang dapat membentuk dan memengaruhi proses pembelajaran. Begitu banyak komponen yang dapat memengaruhi kualitas pendidikan. Namun demikian, tidak mungkin upaya meningkatkan kualitas dilakukan dengan memperbaiki setiap komponen secara serempak. Hal ini memang wajar, sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun bagus dan idealnya kurikulum pendidikan, bagaimanapun lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan, tanpa diimbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semuanya akan kurang bermakna. Oleh sebab itu, untuk mencapai standar proses pendidikan, sebaiknya dimulai dengan menganalisis komponen guru.27
26
27

http://studentresearch.umm.ac.id/index.php/department_of_tarbiyah/article/view/7445 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada Media Group,

2009, h. 273

Peserta didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi, baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Menurut Harlen, W., dalam sebuah situs internet ada beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik, antara lain:

a. Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif. Sikap guru tampil hangat, bersemangat, penuh percaya diri dan antusias, serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia cerdas berpotensi, merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses, serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik, sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan. b. Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran. Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti, maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa

dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta

didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif. c. Tersedia fasilitas, sumber belajar, dan lingkungan yang mendukung. Bila di dalam kegiatan pembelajaran telah tersedia fasilitas dan sumber belajar yang “menarik” dan “cukup” untuk mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar maka hal itu juga akan menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan, jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar. d. Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik. Agar kesadaran akan potensi, eksistensi, dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh, maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. Sehingga kemampuan individu, pendapat atau gagasan, maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai, dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik, antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi,

mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan, memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya. e. Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses belajar mengajar.

Perlu diingat bahwa bila terjadi kesalahan dalam hal perlakuan oleh guru di dalam pengelolaan kelas pada waktu yang lalu maka hal itu berpengaruh negatif terhadap kegiatan selanjutnya. Penerapan peraturan yang tidak konsisten, tidak adil, atau kesalahan perlakuan yang lain akan menimbulkan kekecewaan dari para peserta didik, dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keaktifan belajar peserta didik. Karena itu di dalam memberikan sanksi harus sesuai dengan ketentuannya, memberi nilai sesuai kriteria, dan memberi pujian tidak pilih kasih. f. Adanya pemberian “penguatan” dalam proses belajar-mengajar. Penguatan adalah pemberian respon dalam interaksi belajar-mengajar baik berupa pujian maupun sanksi. Pemberian penguatan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan keaktifan belajar dan mencegah berulangnya kesalahan dari peserta didik. Penguatan yang sifatnya positif dapat dilakukan dengan kata-kata; bagus!, baik!, betul!, hebat! Namun semua itu tidak disajikan dengan cara berpura-pura tetapi harus tulus dari nurani guru dan sebagainya, atau dapat juga dengan gerak; acungan jempol, tepuk tangan, menepuk-nepuk bahu, menjabat tangan dan lain-lain. Ada pula

dengan cara memberi hadiah seperti hadiah buku, benda kenangan atau diberi hadiah khusus berupa; boleh pulang duluan atau pemberian perlakuan menyenangkan lainnya.

g. Jenis kegiatan Pembelajaran menarik atau menyenangkan dan menantang. Agar peserta didik dapat tetap aktif dalam mengikuti kegiatan atau melaksanakan tugas pemebelajaran perlu dipilih jenis kegiatan atau tugas yang sifatnya menarik atau menyenangkan bagi peserta didik di samping juga bersifat menantang. Pelaksanaan kegiatan hendaknya bervariasi, tidak selalu harus di dalam kelas, diberikan tugas yang dikerjakan di luar kelas seperti di perpustakaan, dan lain-lain. Penerapan model “belajar sambil bekerja” (learning by doing) sangat dianjurkan, di jenjang sekolah dasar antara lain dilakukan belajar sambil bernyanyi atau belajar sambil bermain. Untuk lebih mengaktifkan peserta didik secara merata dapat diterapkan pemberian tugas pembelajaran secara individu atau kelompok belajar (group learning) yang didukung adanya fasilitas/ sumber belajar yang cukup. Sekiranya tersedia dianjurkan penggunaan media pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat lebih efektif. h. Penilaian hasil belajar dilakukan serius, obyektif, teliti dan terbuka. Penilaian hasil belajar yang tidak serius akan sangat mengecewakan peserta didik, dan hal itu akan memperlemah semangat belajar. Karena itu,

agar kegiatan penilaian ini dapat membangun semangat belajar para peserta didik maka hendaknya dilakukan serius, sesuai dengan ketentuannya, jangan sampai terjadi manipulasi, sehingga hasilnya dapat obyektif. Hasil penilaiannya diumumkan secara terbuka atau yang lebih baik dibuatkan daftar kemajuan hasil belajar yang ditempel di kelas. Dari daftar kemajuan belajar tersebut setiap peserta didik dapat melihat prestasi mereka masingmasing tahap per tahap.28 Ada empat dimensi tingkah laku guru yang dipandang sebagai faktor penting dalam mempelancar proses belajar dalam kelas sebagai berikut: 1) Pemberian informasi yaitu tingkah laku guru yang menjadi sarana pemindahan suatu fakta atau sebagian konsep pengertian yang disampaikan secara lisan kepada murid. 2) Pendorong timbulnya jawaban yaitu berupa usaha yang dilakukan oleh guru untuk melibatkan murid ke dalam kegiatan belajar dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan khusus yang berkaitan dengan mata pelajaran. 3) Umpan balik yaitu usaha guru untuk mengarahkan murid untuk memberikan jawaban-jawaban yang benar dan menghindarkan mereka memberikan jawaban salah (dengan syarat-syarat yang jelas) dalam kegiatan belajar.

28

http://dokumens.multiply.com/journal/item/33

4) Kontrol atau pengendalian yaitu menyangkut usaha guru untuk tetap mempertahankan minat/ perhatian murid terhadap kegiatan belajarnya.29

Lingkungan sekolah pun besar sekali pengaruhnya terhadap pembentukan dan perkembangan pribadi anak. Menurut al-Ghazali dikutip dari bukunya Ahmad Syar’I dalam buku “Filsafat Pendidikan Islam” menyatakan bahwa bukan saja orang yang tidak punya cacat budi pekertinya yang bisa dibentuk dan dikembangkan, anak yang berakhlak buruk pun bisa dirubah melalui pendidikan.30 Program-program pendidikan agama harus ditata kembali sehingga mampu mengantisipasi kebutuhan hidup bangsa yang bermoral dalam modernisme. Tujuan pendidikan agama di semua lingkungan harus diarahkan terutama kepada pendalaman dan pengamalan nilai-nilai iman dan takwa, tidak hanya kepada ilmu pengetahuan keagamaan, karena kita tidak mendidik murid-murid sekolah umum menjadi ulama.31 Selain itu dalam pelaksanaan pendidikan agama di sekolah juga diperlukan suasana interaksi antara guru dan peserta didik yang sifatnya lebih mendalam lahir dan batin. Figur “guru agama” tidak sekedar sebagai “penyampai” materi pelajaran tetapi lebih dari itu ia adalah sumber inspirasi
29

M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi Aksara, 1993, Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005, h. 84 M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi Aksara, 1993, h.

h.165
30 31

87

“spiritual” dan sekaligus sebagai pembimbing sehingga terjalin hubungan pribadi antara guru dan peserta didik yang cukup dekat dan mampu melahirkan keterpaduan bimbingan rohani dan akhlak dengan materi pelajaran.32 Tetapi lebih penting adalah faktor pembinaan dan pengembangan bobot dan visi keprofesian maupun jiwa dan semangat keguruannya. Pembinaan dan pengembangan ini hanya dapat dilakukan kalau kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi dan lembaga tempat pekerjaannya cukup mendukung, moril dan materilnya. Dukungan moril terutama berupa “penghargaan”. Sedangkan dukungan materil yang terutama adalah berupa penyediaan sumber-sumber pendidikan maupun fasilitas belajar.33 Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut: a) Sebaiknya guru memiliki bahan referensi yang lebih banyak

dibandingkan dengan siswa. Hal ini untuk menjaga agar guru memiliki pemahaman yang lebih baik tentang materi yang akan dikaji bersama siswa. b) Guru dapat menunjukkan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yang biasanya memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata siswa lain. Siswa yang demikian perlu perlakuan khusus, misalnya dengan
32

A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, Jakarta: Alfa Grafikatama, 1998, Ibid, h. 213-214

h. 158
33

memberikan bahan pengayaan dengan menunjukkan sumber belajar yang berkenaan dengan materi. c) Guru perlu melakukan pemetaan tentang materi pelajaran misalnya dengan menentukan mana materi inti, yang wajib dipelajari siswa, mana materi tambahan, mana materi yang harus diingat kembali karena pernah dibahas, dan lain sebagainya. Melalui pemetaan semacam ini akan memudahkan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai sumber belajar.34 Karena itu kalau kita ingin menatap masa depan pendidikan Islam di Indonesia yang mampu memainkan peran strategis dan diperhitungkan untuk dijadikan pilihan, maka perlu ada keterbukaan wawasan dan keberanian dalam memecahkan masalah-masalahnya secara fundamental dan

menyeluruh seperti yang berkaitan dengan: (1). Kejelasan operasional. (2). Pembedayaan kelembagaan yang ada dengan menata kembali sistemnya. (3). Perbaikan, pembaharuan dan pengembangan sistem pengelolaan atau manajemennya. antara yang dicita-citakan dengan langkah-langkah

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006, h. 22

34

Dengan langkah-langkah ini diharapkan pendidikan Islam dapat berperan lebih artikulatif di masa yang akan datang.35 Adapun jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di sekolah adalah sebagai berikut: (a). Kegiatan ekstrakurikuler yang memiliki kaitan dengan bidang studi Pendidikan Agama Islam. Dalam hal ini, kegiatan ekstrakurikuler tersebut diarahkan kepada kegiatan pengayaan dan penguatan terhadap materi-materi pembahasan dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam, seperti program kegiatan ekstrakurikuler membaca Al-Qur’an (kursus membaca Al-Qur’an). Kegiatan ini sangat penting “mengingat kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan langkah awal pendalaman dan pengakraban Islam lebih lanjut. (b). Kegiatan ekstrakurikuler yang tidak memiliki kaitan dengan bidang studi Pendidikan Agama Islam. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tersebut dapat berupa:  Kesenian, Kesenian sebagai kegiatan ekstrakurikuler Pendidiakn Agama Islam bisa berupa seni baca Al-Qur’an, qasidah, kaligrafi, dan sebagainya. Di samping memberikan keterampilan kepada siswa, seni seperti dinyatakan oleh Wardi Bachtiar, bisa membangun

35

A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, Jakarta: Alfa Grafikatama, 1998,

h. 11

sesuatu perasaan keagamaan atau mengganti perasaan yang telah melekat dengan perasaan yang baru.  Pesantren Kilat, Pesantren kilat adalah “Kajian dasar Islam dalam jangka waktu tertentu antara 2-5 hari tergatung situasi dan kondisi. Kegiatan ini dapat diadakan di dalam atau di luar kota asalkan situasinya tenang, cukup luas, dapat menginap dan fasilitas memadai”.  Tafakur Alam, Tafakur alam adalah “Kegiatan yang bertujuan untuk menyegarkan kembali jiwa yang penat sambil menghayati kebesaran penciptaan Allah SWT dan menguatkan ukhuwah. Biasanya berlangsung 1-3 hari dan diadakan di luar kota: pegunungan, perbukitan, taman atau kebun raya, pantai dan lain sebagainya.  Shalat Jum’at berjamaah bagi sekolah yang memiliki fasilitas untuk menyelenggarakan shalat Jum’at berjamaah, bisa menjadikan aktivitas ibadah ini sebagai bagian dari program kegiatan esktrakurikuler. Dalam kegiatan ekstrakurikuler ini, siswa tidak hanya sekedar menjalankan shalat secara berjamaah, tapi juga terlibat dalam penyelenggaraannya.  Majalah dinding, sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Majalah dinding memiliki dua fungsi, yaitu: “a). Wahana informasi keislaman, b). Pusat informasi kegiatan Islam baik internal sekolah maupun

eksternal. Agar efektif, muatan informasi Islam dalam majalah dinding hendaknya yang singkat, padat, informatif, dan aktual. dan Masih banyak lagi jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diselenggarakan di sekolah tergantung kepada kebutuhan sekolah dan siswa. 36

4.

Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Pendidikan Agama Islam Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan citacita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.37 Menurut Ahmad D. Marimba dikutip dari bukunya Nur Uhbiyati dalam buku “Pendidikan Agama Islam” menyatakan bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian yang lain seringkali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan

36
37

http://makalahpai.blogspot.com/2008/11/program-ekstrakurikuler-pendidikan.html M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000, h. 10

memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.38

Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani dikutip dari bukunya Abdul Mujib dalam buku “Ilmu Pendidikan Islam” menjelaskan bahwa pendidikan Islam dengan: “Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.39 Al-Syaibaniy dikutip dari bukunya Al-Rasyidin dan Syamsul Nizar dalam buku “Filsafat Pendidikan Islam” mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.40 Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan rencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk

38 39

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998, h. 9 Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008, h. 25-26 40 Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005, h. 31

menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.41 Dengan mengutip dari beberapa pendapat para tokoh pendidikan tersebut, penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu proses pembinaan dan pengajaran yang dilaksanakan dalam segala segi, yang dapat membimbing dan mengarahkan seseorang menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berpegang teguh terhadap ajaran agama Allah, yaitu agama Islam. Pendidikan agama Islam berbeda dengan pendidikan yang lain, pendidikan agama Islam lebih mengedepankan nilai-nilai keIslaman dan tertuju pada terbentuknya manusia dan berakhlakul karimah serta taat dan tunduk kepada Allah semata. Sedangkan pendidikan selain Islam, tidak terlalu memprioritaskan hanyalah pemenuhan kebutuhan indrawi semata. b. Fungsi Pendidikan Agama Islam Fungsi pendidikan Islam adalah menyediakan segala fasilitas yang dapat memungkinkan tugas-tugas pendidikan Islam tersebut tercapai dan berjalan dengan lancar.42 Menurut Kurshid Ahmad, dikutip dari bukunya Abdul Mujib dalam buku “Ilmu Pendidikan Islam” menyatakan bahwa fungsi pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
Abdul Majib dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006, h. 130 42 Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008, h. 67
41

1) Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial, serta ide-ide masyarakat dan bangsa. 2) Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan pertimbangan perubahan sosial ekonomi.43 Padahal fungsi utama pendidikan agama di sekolah adalah memberikan landasan yang mampu menggugah kesadaran dan

mendorong peserta didik melakukan perbuatan yang mendukung pembentukan pribadi muslim yang kuat (pemeluk agama yang taat), landasan itu meliputi: a) Landasan mutivasional, yaitu pemupukan sifat positif peserta didik untuk menerima ajaran agamanya dan sekaligus bertanggung jawab terhadap pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. b) Landasan etika, yaitu tertanamnya norma-norma keagamaan peserta didik sehingga perbuatannya selalu diacu oleh isi, jiwa dan semangat akhlakul kharimah.

43

Ibid, h. 69

c) Landasan moral, yaitu tersusunnya tata nilai dalam diri peserta didik yang bersumber dari ajaran agamanya sehingga memiliki daya tahan dalam menghadapi setiap tantangan dan perubahan.44

Dari pendapat di atas, bahwa fungsi pendidikan Agama Islam di sini dapat menjadi inspirasi dan pemberi kekuatan mental yang akan menjadi bentuk moral yang mengawasi segala tingkah laku dan petunjuk jalan hidupnya serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa. Pendidikan agama Islam mempunyai fungsi yang sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan kepribadian dan mental anak, karena pendidikan agama Islam mempunyai dua aspek terpenting, yaitu aspek pertama yang ditujukan kepada Jiwa atau pembentukan kepribadian anak, dan kedua, yang ditunjukan kepada pikiran yakni pengajaran agama Islam itu sendiri. Seperti diketahui bahwa pembinaan mental anak didik tidaklah dimulai dari sekolah, akan tetapi dimulai dari rumah (keluarga), sejak si anak dilahirkan ke titik maksimal yang dapat sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan dunia, mulailah ia menerima didikan-didikan dan perlakuanperlakuan. Mula-mula ibu bapaknya, kemudian dari anggota keluarga yang lain (saudara) dan kemudian dari lingkungan masyarakatnya.

44

A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, Jakarta: Alfa Grafikatama, 1998,

h. 159-160

Demikian memberikan warna dan mempengaruhi dasar-dasar pembentukan kepribadiannya. Pembinaan, pertumbuhan mental dan kepribadiannya itu kemudian akan ditambah dan disempurnakan oleh sekolah. Orang tua seharusnya memberikan pendidikan agama pada anakanaknya sejak kecil, bahkan sejak masih dalam kandungan, sebab disadari atau tidak, hal ini akan mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak setelah lahir terutama pada perkembangan dan pertumbuhan aspek kejiwaannya. c. Tujuan Pendidikan Agama Islam Pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan, dan indera. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, imiah, maupun bahwasanya (secara perorangan maupun secara berkelompok). dan pendidikan ini mendorong semua aspek tersebut kearah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup.45 Menurut Zakiah Daradjah dikutip dari bukunya Nur Uhbiyati dalam buku “Ilmu Pendidikan Islam” menyatakan bahwa tujuan pendidikan agama Islam secara seluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil dengan pola takwa. Insan kamil artinya seluruh manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan
45

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000, h. 40-41

normal karena takwanya kepada Allah SWT. Ini mengandung arti bahwa pendidikan Islam itu diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya, serta gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam baik berhubungan dengan allah maupun dengan sesamanya.

Ada beberapa tujuan pendidikan yang perlu kita ketahui yaitu : 1) Tujuan umum Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan itu meliputi seluruh aspek kemanusian yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda pada setiap tinggkat umur, kecerdasan, situasi dan kondisi dengan kerangka yang sama. 2) Tujuan akhir Pendidikan itu berlansung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan akhir pendidikan islam itu dapat dipahani dalam firman Allah SWT surah Ali Imran ayat 102:

     

 

    

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

3)

Tujuan sementara Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal.

4)

Tujuan operasional Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan-kegiatan pendidikan. Suatu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu.46

46

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998, h. 41-44

Dari

berbagai

tujuan

pendidikan

Islam

di

atas

menggambarkan betapa luasnya ruang lingkup dan sasaran yang harus dicapai pendidikan Islam. Namun demikian, patokan yang kita pegangi bahwa pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam sama/ identik dengan tujuan kehidupan umat manusia khususnya umat Islam, yang pada intinya untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia akhirat.47 Tujuan pendidikan agama Islam secara optimal, maka tanggung jawabnya tidak hanya diserahkan kepada pihak sekolah atau guru saja. Akan tetapi juga menjadi tanggung jawab pihak orang tua maupun masyarakat. Dari pendapat tersebut, maka jelaslah bahwa kepribadian muslim merupakan tujuan akhir yang akan dicapai dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam. Apabila sasaran pendidikan dapat tercapai dengan baik dan optimal, maka sebagai konsekwensinya dalam diri anak terbentuk kepribadian yang sesuai dengan jalan ajaran agama Islam, sehingga akan meningkatkan pula keimanannya. Dengan Keimanan yang teguh dan kuat, akan menimbulkan ketaatan dalam menjalankan kewajiban agamanya, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan wujud kepribadian muslim itu sendiri akan tercermin dalam diri anak didik pada ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, baik
47

dan

Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005, h. 29

ketika ia hidup di dunia maupun pada saat menghadapi kematian. Dengan demikian, sikap dan tingkah laku manusia tersebut harus semata-mata diarahkan untuk mencari keridhoan Allah SWT. Hal ini mengandung pengertian bahwa tercapainya tujuan pendidikan agama Islam berarti pula tercapainya tujuan hidup manusia. Berpijak dari tujuan tersebut di atas, maka jelaslah bahwa tujuan pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam segala jenjang dan tingkatnya adalah dimaksudkan untuk membantu manusia dalam rangka mencapai tujuan hidupnya, sehingga akan diperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat secara seimbang selaras.

d. Kurikulum Pendidikan Agama Islam Salah satu komponen yang sering dijadikan faktor penyebab menurunnya mutu pendidikan adalah kurikulum. Adanya asumsi bahwa kurikulum terlalu padat, tidak sesuai dengan kebutuhan anak, terlalu memberatkan anak bahkan merepotkan guru. Pengembangan kurikulum merupakan komponen yang sangat esensial dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Para ahli kurikulum memandang bahwa pengembangan kurikulum merupakan suatau siklus dari adanya keterjalinan, hubungan antara

komponen kurikulum, yaitu antara komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi. Keempat komponen ini merupakan suatu siklus tersebut tidaklahberdiri sendiri, tetapi saling mempengaruhi satu sama lain. Kondisi seperti ini juga dialami oleh pendidikan berbasis agama, bahkan akan lebih membingungkan jika dilihat pada kenyataan bahwa proses pendidikan agama Islam dengan hasil yang dicapai terlalu jauh meleset dari apa yang menjadi tujuan pendidikan agama Islam itu sendiri.48 Kurikulum itu diibaratkan bagaikan menu atau serangkaian jenis makanan dan minuman yang tersedia serta dapat dihidangkan. Dalam UU sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa “kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian yang sesuai dengan jenis dan jenjang masingmasing satuan pendidikan.49 1) Fungsi Kurikulum Kurikulum adalah seperangkat perencanaan dan media untuk mengantar lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Konsep dasar kurikulum sebenarnya tidak sesederhana

48
49

http://an-simbah.blogspot.com/ A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, Jakarta: Alfa Grafikatama, 1998,

h. 153

itu, tetapi kurikulum dapat diartikan menurut fungsinya sebagaimana dalam pengertian berikut ini: a). Kurikulum sebagai program studi. Pengertiannya adalah seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari oleh peserta didik di sekolah atau institusi pendidikan lainnya. b). Kurikulum sebagai konten. Pengertiannya adalah data atau informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lain yang memungkinkan timbulnya belajar. c). Kurikulum sebagai kegiatan terencana. Pengertiannya adalah kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. d). Kurikulum sebagai hasil belajar. Pengertiannya adalah seperangkat jangka waktu yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasi cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil itu, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan. e). Kurikulum sebagai reproduksi kultural. Pengertiannya adalah transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut. f). Kurikulum sebagai pengalaman belajar. Pengertiannya adalah keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah.

g). Kurikulum sebagai produksi. Pengertiannya adalah seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.50 Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam pada sekolah diarahkan pada peningkatan mutu dan relevansi pendidikan agama Islam pada sekolah dengan perkembangan kondisi lingkungan lokal, nasional, dan global, serta kebutuhan peserta didik. Kegiatan dalam rangka pengembangan kurikulum adalah pembinaan atas satuan pendidikan dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam tingkat satuan pendidikan.51

Kurikulum pendidikan agama Islam untuk sekolah/ madrasah berfungsi sebagai berikut: (1). Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuh

kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut

50

51

Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2008, h. 122-123 http://www.ispi.or.id/2010/09/19/pengembangan-pendidikan-agama-islam-di-sekolah/

dapat

berkembang

secara

optimal

sesuai

dengan

tingkat

perkembangannya. (2). Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. (3). Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam. (4). Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,

kekurangan-kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.

(5). Pencegahan,

yaitu

untuk

menyangkal

hal-hal

negatif

dari

lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya. (6). Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya. (7). Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang

secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.52 2) Struktur kurikulum Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi tersebut terdiri atas standar kompetensi lulusan.53 Adapun standar kompetensi kelompok mata pelajaran untuk masing-masing satuan pendidikan selengkapnya adalah sebagai berikut: a). Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak. b). Menujukkan sikap jujur dan adil. c). Mengenal keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. d). Berkomunikasi secara santun yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. e). Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang sesuai dengan tuntunan agamanya.
Abdul Majib dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006, h. 134-135 53 E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009, h. 50
52

f). Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap sesame manusia dan lingkungan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.54 Terciptanya kondisi seperti di atas maka akan tercapailah tujuan dari pendidikan agama yang sesuai dengan pengertian pendidikan agama Islam. Pengertian itu adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga meimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Mata pelajaran pendidikan agama islam itu secara keseluruhan dalam lingkup Al-Qur’an dan al-Hadis, keimanan, akhlak, fikih, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan hubungan mausia dengan tuhan dan diri sendiri serta lingkungannya.55 Struktur kurikulum SD dan MI memuat jumlah dan jenis mata pelajaran yang ditempuh dalam satu periode belajar selama 6 tahun mulai kelas I sampai dengan kelas VI dengan struktur kurikulum yang sebagai berikut: Struktur Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah
54 55

Ibid, h. 99 http://an-simbah.blogspot.com/

A. Mata Pelajaran

B. Pembiasaan C. Muatan Lokal

Kelas Pendidikan Agama Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial Bahasa Indonesia Matematika Pengetahuan Alam Kerajinan tangan dan Kesenian Pendidikan Jasmani Kegiatan yang mendorong/ mendukung pembiasaan Kegiatan atau Mata Pelajaran JUMLAH

ALOKASI WAKTU I dan II III s/d VI 3 5 Pendekatan TEMATIK 5 5 4 4 4 2 32

27

 Penjelasan untuk kelas I dan II: (1). Pengelolaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran dan kegiatan belajar pembiasaan dengan menggunakan pendekatan tematik diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah dan madrasah. (2). Penjelasan teknis pendekatan tematik diatur dalam pedoman tersendiri. (3). Alokasi waktu total yang disediakan adalah 27 jam mata pelajaran per minggu. Daerah, sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total atau mengubah alokasi waktu mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah madrasah atau daerah.

(4). Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 35 menit. Jam tatap muka per minggu adalah 27 jam pelajaran (945 menit). (5). Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu. Jumlah jam tatap muka per minggu adalah 945 menit (16 jam), jumlah jam tatap muka per tahun adalah 918 s/d 1.80 jam (32.130 s/d 38.090 menit). (6). Alokasi waktu sebanyak 27 jam pelajaran pada dasarnya dapat diatur dengan bobot berkisar: (a) 15 % untuk Agama, (b) 50 % untuk membaca dan menulis permulaan serta berhitung, dan (c) 35 % untuk Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial, Kerajinan Tangan dan Kesenian, dan Pendidikan Jasmani.  Penjelasan untuk kelas III, IV, V, dan VI (1). Pengelolaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran dan kegiatan belajar pembiasaan diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah dan madrasah. (2). Penjelasan teknis kegiatan belajar pembiasaan diatur dalam pedoman tersendiri. (3). Alokasi waktu total yang disediakan adalah 32 s/d 34 jam mata pelajaran per minggu. Daerah, sekolah atau madrasah dapat menambah alokasi waktu total atau mengubah alokasi waktu mata

pelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah madrasah atau daerah. (4). Satu jam pelajaran tatap muka dilaksanakan selama 40 menit. Jam tatap muka per minggu adalah 32 s/d 34 jam pelajaran (1.280 s/d 1360 menit). (5). Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (2 semester) adalah 34 – 40 minggu. Jumlah jam tatap muka per minggu adalah 1.088 s/d 1.280 jam pelajaran (43.520 s/d 51.200 menit). (6). Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial dapat diajarkan baik secara sendiri-sendiri maupun terintegrasi yang diatur sepenuhnya oleh sekolah. (7). Muatan lokal diadakan dan ditentukan jenisnya oleh daerah/ sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan daerah/ sekolah. Bagi daerah/ sekolah yang menjalankan muatan lokal, alokasi waktu maksimal 2 jam pelajaran per minggu. Kegiatan atau bahan kajian dan pelajaran diatur sepenuhnya oleh daerah atau sekolah. (8). Sekolah dan madrasah dapat memberikan mata pelajaran Bahasa Inggris mulai kelas IV sesuai dengan kemampuan. (9). Sekolah dan madrasah dapat mengenalkan teknologi informasi dan komunikasi sesuai dengan kemampuan.

(10). Sekolah

dan

madrasah

bertaraf

internasional

dapat

menggunakan Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya sebagai bahasa pengantar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.56 Cukup beralasan bahwa berhasil tidaknya kurikulum pendidikan tergantung pada guru. Walaupun kadangkala kurikulum yang tersusun logis dan sistematis, tetapi tidak berarti apabila tidak dibarengi dengan kualifikasi pendidik. Nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum seharusnya diformasikan oleh guru dan selanjutnya dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Adapun untuk lebih jelas berikut akan dipaparkan beberapa isi kurikulum berbasis kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk Sekolah Dasar dan akan disebutkan secara lebih rinci sebagai berikut: Kelas : VI Semester :1 Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam Standar Kompetensi (al-qur’an): 1. Mengartikan Alquran surah pendek pilihan Kompetensi Dasar 1.1 Membaca QS Al Qadr dan Al ‘Alaq ayat 1-5 1.2 Mengartikan QS Al Qadr dan Al
56

Materi Pokok/Pembahasan Surah Al Qadr dan Al ‘Alaq ayat 1-5

Indikator 1. Membaca Surah Al Qadr 2. Membaca Surah Al ‘Alaq ayat 1-5

Surah Al Qadr dan Al ‘Alaq ayat 1-5

1. Mengartikan Surah Al Qadr

Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Kencana prenada media group, 2005, h. 51-53

‘Alaq ayat 1-5 2. Mengartikan Surah Al ‘Alaq ayat 1-5 3. Menerapkan arti/ isi kandungan Surah Al Qadr dan Al Al ‘Alaq ayat 1-5

Standar Kompetensi (Aqidah): 2. Meyakini adanya hari akhir Kompetensi Dasar 2.1 Menyebutkan nama-nama hari akhir 2.2 Menjelaskan tanda-tanda hari akhir Materi Pokok/Pembahasan Iman kepada hari akhir Indikator 1. Menjelaskan pengertian hari akhir 2. Menyebutkan nama-nama hari akhir 1. Menjelaskan tanda-tanda hari akhir 2. Menyebutkan contoh kejadian hari akhir

Iman kepada hari akhir

Standar Kompetensi (Tarikh): 3. Menceritakan kisah Abu Lahab, Abu Jahal dan Musailamah Al Kazzab Kompetensi Dasar 3.1 Menceritakan perilaku Musailamah Abu Jahal dan Abu Lahab Materi Pokok/Pembahasan Kisah Abu Lahab, Abu Jahal dan Musailamah Al Kazzab Indikator 1. Menjelaskan kekejaman Abu Lahab dan istrinya terhadap Nabi Muhammad SAW 2. Menjelaskan kejahatan Abu Jahal terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW

3.2 Menceritakan perilaku Musailamah Ak Kazzab

Kisah Abu Lahab, Abu Jahal dan Musailamah Al Kazzab

1. Menjelaskan kejahatan Musailamah Al Kazzab terhadap Islam

Standar Kompetensi (Akhlak): 4. Menghindari perilaku tercela Kompetensi Dasar 4.1 Menghindari perilaku dengki seperti Abu Lahab dan Abu Jahal Materi Pokok/Pembahasan Menghindari perilaku dengki dan sombong Indikator 1. Menjelaskan kedengkian Abu Lahab dan Abu Jahal 2. Menghindari perilaku dengki dalam kehidupan sehari-hari Menghindari perilaku bohong atau dusta 1. Menghindari perilaku bohong dan sombong dalam kehidupan seharihari

4.1 Menghindari perilaku bohong seperti Musailamah Al Kazzab

Standar kompetensi (Fiqih): 5. Mengenal ibadah bulan Ramadan Kompetensi Dasar 5.1 Melaksanakan tarawih di bulan Ramadan 5.2 Melaksanakan tadarus Alquran Materi Pokok/Pembahasan Ibadah di bulan Ramadan Indikator 1.Mempraktikkan atau mengamalkan salat tarawih di bulan Ramadan 1. Melaksanakan tadarus Alquran di bulan Ramadan

Ibadah di bulan Ramadan

Kelas : VI Semester :2 Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam Standar kompetensi (Alquran): 6. Mengartikan surah pendek pilihan Kompetensi Dasar 6.1 Membaca QS Al Maidah ayat 3 dan Materi Pokok/Pembahasan Surah Al Maidah ayat 3 dan Surah Al Hujurat ayat Indikator 1.Melafalkan kata dan kalimat Surah Al Maidah

Surah Al Hujurat ayat 13

13

ayat 3 dan Surah Al Hujurat ayat 13 2. Membaca sesuai hukum tajwid Surah Al Maidah ayat 3 dan Surah Al Hujurat ayat 13 1. Mengartikan kata dan kalimat Surah Al Maidah ayat 3 dan Surah al Hujurat ayat 13 2. Menerapkan arti/isi kandungan Surah Al Maidah ayat 3 dan Surah Al Hujurat ayat 13

6.2 Mengartikan Surah Al Maidah ayat 3 Surah Al Maidah dan Surah Al Hujurat ayat ayat 3 dan Surah Al 13 Hujurat ayat 13

Standar kompetensi (Aqidah): 7. Meyakini adanya Qada’ dan Qadar Kompetensi Dasar 7.1 Menunjukkan contoh-contoh qada’ dan qadar Materi Pokok/Pembahasan Iman terhadap qada’dan qadar Indikator 1. Menjelaskan pengertian qada’dan qadar 2. Menyebutkan contohcontoh qada’ dan qadar 3. Menyebutkan manfaat setia kawan 7.2 Menunjukkan keyakinan terhadap qada’ dan qadar Iman terhadap qada’dan qadar 1. Menyebutkan cara meyakini adanya qada’ dan qadar

Standar kompetensi (Tarikh) : 8. Menceritakan kisah kaum Muhajirin dan kaum Ansar Kompetensi Dasar 8.1 Menceritakan perjuangan kaum Materi Pokok/Pembahasan Kisah kaum Muhajirin dan kaum Ansar Indikator 1. Menjelaskan kisah perjuangan kaum

Muhajirin

Muhajirin 2. Menyebutkan usaha-usaha kaum Muhajirin

8.2 Menceritakan perjuangan kaum ansar

Kisah kaum Muhajirin dan kaum Ansar

1. Menjelaskan kisah perjuangan kaum Ansar

2. Menyebutkan usahausaha kaum Ansar Standar kompetensi (Akhlak): 9. Membiasakan perilaku terpuji Kompetensi Dasar 9.1 Meneladani perilaku kegigihan perjuangan kaum Muhajirin dalam kehidupan seharihari di lingkungan peserta didik Materi Pokok/Pembahasan Membiasakan perilaku terpuji Indikator 1. Menjelaskan kisah kegigihan perjuangan kaum Muhajirin dalam meraih kehidupan yang lebih baik 2. Meneladani kegigihan usaha-usaha kaum Muhajirin dalam meraih kehidupan sehari-hari yang lebih baik

Standar kompetensi (Fiqih): 10. Mengetahui kewajiban zakat Kompetensi Dasar 10.1 Menyebutkan macam-macam zakat Materi Pokok/Pembahasan Hal Zakat Indikator 1. Menjelaskan pengertian zakat 2. Menyebutkan macamacam zakat 10.2 Menyebutkan ketentuan zakat fitrah Hal Zakat 1. Menjelaskan pengertian zakat fitrah 2. Menyebutkan ketentuan zakat fitrah 3. Melaksanakan zakat fitrah

4. Menyebutkan manfaat zakat fitrah

C.

Kerangka Pikir dan Pertanyaan Penelitian Kerangka Pikir Guru adalah bagian dari unsur pendidikan yang

memberikan kontribusi bagi perkembangan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, guru harus memiliki keahlian dan professional kerja dalam menjalankan tugasnya dengan baik. Di dalam pengajaran, salah satu komponen yang

terpenting adalah peranan seorang guru baik kegiatan maupun cara yang digunakan dalam melaksanakan atau kualitas hasil belajar. Di dalam peranan seorang guru merupakan hal terpenting sekali dalam melaksanakan pendidikan, apalagi masalah pendidikan agama Islam. Terkait dengan hal diatas, maka menjadi perhatian peneliti adalah bagaimana upaya guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi dan

bagaimana kendala guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Kerangka pikir dibawah ini merupakan dasar bagi penulis untuk mempermudah dalam mengungkapkan data yang kongkrit di sekolah yang menjadi objek penelitian dan dapat dituangkan pada suatu bagan sebagai berikut:

Upaya dan Kendala Guru Agama Islam Dalam Melaksanakan Pendidikan Agama Islam Upaya Guru PAI

Dalam Proses Belajar

Melaksanakan Pendidikan Agama Islam

Diluar Proses Belajar

Kendala Guru PAI

2. Pertanyaan Penelitian

1) Bagaimana upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 2) Bagaimana kendala guru agama Islam dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 3) Bagaimana faktor yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 4) Bagaimana kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 5) Bagaimana sarana dan prasarana dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 6) Bagaimana upaya selanjutnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

BAB III METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu penelitian Adapun alokasi waktu yang diperlukan penulis pada pengumpulan data di lapangan tentang peranan guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Negeri telangkah-3 adalah selama 2 (dua) bulan setelah surat penelitian di keluarkan oleh pihak STAIN Palangka raya. 2. Tempat Penelitian Penulis mengambil tempat penelitian di Sekolah Dasar Negeri telangkah3 Kereng Pangi. Dengan alasan karena sekolah ini merupakan salah satu Sekolah

Dasar yang berstatus negeri merupakan bagian pendidikan umum yang ada di Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan.

Pendekatan, Objek dan Subjek Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Dalam penelitian masalah peranan guru agama Islam dalam

melaksanakan pendidikn agama Islam ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan menempatkan subjek penelitian seperti apa adanya, tanpa melakukan intervensi sehingga fakta yang sesungguhnya dapat diperoleh,57 atau dengan kata lain memahami arti suatu peristiwa berdasarkan kenyatan atau fakta dalam situasi 64 tertentu, kenyataan dalam penelitian adalah peranan guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. 2. Objek Penelitian Adapun yang menjadi objek pada penelitian ini adalah upaya dan kendala pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru agama Islam dalam

melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Melalui penelitian ini, penulis dapat mengetahui secara mendalam bagaimana upaya serta kendala guru Agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

57

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000,

h. 6

3.

Subjek Penelitian Adapun subjek dalam penelitian ini adalah guru agama Islam Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi yang berjumlah satu orang, yaitu Lilis Sukasmi, dan yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, yaitu Karya, S.Pd, dan dua orang siswa kelas VI.

Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik observasi dan wawancara sebagai alat pengumpulan data yang utama, sedangkan teknik dokumentasi sebagai alat pendukung dalam pengumpulan data dalam penelitian ini. Data yang akan dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Observasi Menurut Subagyo, observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.58

58

Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1997,

h. 63

Hal ini hampir sama juga yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi, yang dimaksud dengan teknik observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis fenomena-fenomena yang diteliti.59 Alasan penulis menggunakan teknik observasi ini ialah: a. Melalui pengamatan secara langsung dapat diperoleh data yang lengkap dan jelas. b. Memungkinkan pencatatan yang sesuai dengan kejadian yang terjadi.

Adapun data yang ingin diperoleh melalui teknik ini adalah:
a.

Mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

b.

Mengetahui kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

c.

Mengetahui faktor yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

d.

Mengetahui kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

e.

Mengetahui sarana dan prasarana dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

2.

Wawancara

59

Sutrisno Hadi, Metodologi Research Li, Yogyakarta: Yasbit Fak. Psikologi UGM, 1989,

h. 136

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan.60 Dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah pengumpulan data dengan sumber data yang berhadapan langsung dengan sumber data serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian, dengan tujuan dapat menghasilkan data atau informasi yang diperlukan. Penggunaan teknik wawancara ini adalah untuk memperoleh data sebagai berikut:
a.

Bagaimana upaya yang dilakukan guru agama Islam pada saat proses melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

b. Bagaimana kendala guru agama Islam pada saat proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? c. Bagaimana faktor yang mendukung pada saat proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

60

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004,

h. 135

d. Bagaimana kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? e. Bagaimana sarana dan prasarana pada saat proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? f. Bagaimana upaya selanjutnya atau kedepannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

3.

Dokumentasi Teknik dokumentasi ialah cara pengambilan data dari dokumen-dokumen yang tertulis dan dapat dipercaya kebenarannya. Tujuan teknik dokumentasi ini adalah bertujuan untuk memperoleh data-data sebagai berikut: a. Sejarah singkat Sekolah dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi b. Regenerasi kepemimpinan, tenaga pengajar dan keadaan siswa Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. c. Kurikulum Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi d. Keadaan guru dan karyawan Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi e. Keadaan siswa Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi f. Keadaan sarana dan prasarana Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

g. Buku penunjang pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi h. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam i. Silabus Pendidikan Agama Islam j. Jadwal pelajaran kelas VI Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Pengabsahan Data Pengabsahan data adalah untuk menjamin keabsahan apa yang telah diamati dan ditulis oleh peneliti dan relevan dengan apa yang seharusnya terjadi. Hal ini dilakukan untuk memelihara dan menjamin bahwa data maupun informasi yang didapat itu benar. Untuk memperoleh keabsahan data tersebut penulis mengutip pendapat Moleong dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif dengan teknik triangulasi yaitu “Pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu”.61 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa triangulasi berarti

membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang

61

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004,

h. 178

diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Sedangkan dalam pelaksanaannya, triangulasi dilakukan dengan cara: 1. Triangulasi sumber, yaitu dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber, misalnya dari atasan, maupun bawahan. 2. Triangulasi teknik, yaitu dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya dengan observasi, dokumentasi, atau kuensioner. 3. Triangulasi waktu, yaitu pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda, misalnya pagi, siang dan sore.

Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitin ini adalah analisis data menurut Milles dan Huberman mengemukakan bahwa teknik analisis data dalam suatu penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu sebagai berikut: 1. Data Collection (memilah data), yaitu dikumpulkan semua data yang ada hubungannya dengan permasalahan penelitian, baik yang didapat melalui pengamatan, wawancara, dokumen maupun pengumpulan benda atau barang, foto dan lain-lain yang kemudian diubah kedalam bentuk tulisan-tulisan yang dapat dibaca, dikode dan dianalisis. 2. Data Reduction (pengurangan data), yaitu data yang begitu banyak dan komplek serta mungkin masih tercampur aduk yang diperoleh dari kancah penelitian

ditajamkan, diseleksi, digolongkan, diarahkan, dibuang yang tidak relevan dan diorganisasikan dengan cara sedemikian rupa untuk pemecahan masalah atau untuk menjawab pertanyaan penelitian, kemudian menyederhanakannya dan menyusunnya secara sistematis sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat diverifikasi atau disimpulkan. 3. Data Display (penyajian data), yaitu dikembangkan format berupa tabel ringkasan untuk menjelaskan dan menyederhanakan kekomplekan data agar menjadi lebih muda dipahami oleh pembaca. 4. Conclusion Drawing (penarikan kesimpulan), yaitu dilakukan penarikan kesimpulan dari data yang diperoleh, kemudian untuk laporan final harus diverifikasi yaitu dengan melihat kembali pada reduksi data maupun pada penyajian data, sehingga kesimpulan yang diambil tidak menyimpang dari data yang dianalisis.62 Analisis ini dipandang relevan, karena data lapangan sebagian besar hasil observasi dan wawancara. Data dimaksud cukup banyak dan tidak seluruhnya disajikan, oleh karena ini mesti dilakukan pengurangan data sebelum disajikan. Dalam penelitian ini penulis melakukan pengumpulan data yaitu dikhususkan di kelas VI baik itu dilakukan dengan teknik observasi, wawancara maupun dokumentasi. Namun dengan demikian, secara umumnya yaitu dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

Abdul Qodir, Metodologi Riset Kualitatif, Panduan dasar melakukan penelitian ilmiah, Palangka Raya, t.np, 1999, h. 77

62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.

Sejarah Singkat Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan. Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi ini pada awalnya berdiri pada tahun 1987 yang beralamat di jalan Cjilik Riwut km 15,5 Kereng Pangi Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan yang dijabat oleh Bapak Serel Imat terhitung mulai tahun 1987 sampai tahun 1999. Pada sekitar tahun 1993 maka dibuat lagi Sekolah Dasar Negeri Telangkah-5 Kereng Pangi yang dijabat oleh Bapak Felik, jadi pada saat itu Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi dengan Sekolah Dasar Negeri Telangkah-5 Kereng Pangi satu lokasi atau ruang lingkup. Pada tahun 2000 sampai tahun 2008 kepala Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi dijabat oleh Bapak J. A. Masran, dan pada sekitar tahun 2003 Sekolah Dasar Negeri Telangkah-5 Kereng Pangi berpindah lokasi

di jalan Baon Bango yang berdampingan dengan SMP Negeri 2 Katingan. Sekitar tahun 2008 sampai sekarang Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi dijabat oleh Bapak Karya, S.Pd. dengan beberapa pembaharuan dalam segi pembangunan sarana dan prasarana.

2.

Kepemimpinan Regenerasi, Tenaga Pengajar dan Keadaan Siswa. Untuk lebih jelasnya regenerasi kepemimpinan Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: TABEL 1. NAMA KEPALA SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI No. Nama Kepala Sekolah Periode 1. Serel Imat 1987 – 1999 2. J. A. Masran 2000 – 2008 3. Karya, S.Pd 2008 – Sekarang Sumber Data: Dokumentasi SDN Telangkah-3 Kereng Pangi Tahun 2010 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui dalam kurun waktu 23 tahun Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan sudah mempunyai empat kepala sekolah yang satu dengan yang lainnya saling berupaya untuk memajukan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan. Hal tersebut dapat dilihat dari kualitas siswa dari tahun ke tahunnya yang terus bertambah dan menjadikan Sekolah

Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan sebagai salah satu pilihan untuk sekolah. Untuk lebih jelasnya mengenai tenaga pengajar dan pendidikan terakhir serta kepangkatan dalam PNS pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan dapat dilihat pada tabel berikut:

TABEL 2. NAMA TENAGA PENGAJAR, PENDIDIKAN DAN KEPANGKATAN DALAM PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. Nama / NIP Karya, S.Pd NIP. 19630303 19809 1 002 Thomas jalaman NIP. 19560110 197802 1 001 Lilis Sukasmi NIP. 19600620 198112 2 004 Elis NIP. 19620210 198408 1 002 Hasanah NIP. 19650802 199110 2 001 Pirlus, A. Ma. Pd NIP. 19660317 198712 1 002 Nelie, S. Pd NIP. 19670228 198712 2 002 Jolok Laksana, S. Pd NIP. 19720224 199102 1 001 Mariyanie, A. Ma. Pd NIP. 19650921 199102 2 002 M. Anang, S. Pd NIP. 19680105 199112 1 001 Megawatie, A. Ma. Pd NIP. 19700520 199108 2 001 Halman, A. Ma. Pd Pendidikan S–1 SPG SGA SPG SGO D–2 S–1 S–1 D–2 S–1 D–2 D–2 Gol. IV / a IV / a IV / a III / d III / d III / c III / c III / c III / c III / c III / c III / c Ket. Kepala Sekolah Guru kelas III B Guru PAI Guru kelas II B Guru kelas I D Guru kelas II C Guru kelas II D Guru kelas III C Guru Agama Kristen Guru kelas VI A Guru kelas IV A Guru kelas V A

13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

NIP. 132 032 155 Saliani, S. Pd NIP. 19720404 199606 2 004 Marety, A. Ma. Pd. SD NIP. 132 031 868 Banjiriah, A. Ma. Pd. SD NIP. 19730212 199309 2 002 Kirisman, S. Pd NIP. 19750402 199703 1 007 Suyata, S. Pd NIP. 19700616 199309 2 001 Reliati, S. Pd NIP. 19750815 199803 2 006 Markawi, S. Pd NIP. 19700322 200011 2 001 Yopi, A. Ma. Pd NIP. 19811002 200604 2 002 Rusianeng, A. Ma. Pd NIP. 19750315 200604 1 016 Samidin NIP. 19690929 200604 1 007 Siti Ramlah

S–1 D–2 D–2 S–1 S–1 S–1 S–1 D–2 D–2 SGO D–3

III / c III / b III / b III / b III / b III / b III / a II / c II / c II / c II / b

Guru kelas III A Guru kelas I B Guru kelas IV C Guru kelas VI B Guru kelas III D Guru kelas V B Guru kelas IV B Guru kelas I C Guru kelas II A Guru Penjaskes Guru kelas I A

Sumber Data: Dokumentasi SDN Telangkah-3 Kereng Pangi Tahun 2010 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa semua tenaga pengajar yang di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah hal ini dapat diketahui dari jumlah tenaga pengajar berdasarkan golongan pangkat yang ada di sekolah tersebut yaitu dapat dilihat tabel berikut: TABEL 3. JUMLAH TENAGA PENGAJAR BERDASARKAN GOLONGAN PANGKAT SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI No. Golongan Jumlah

1. IV / a 3 2. III / d 2 3. III / c 8 4. III / b 5 5. III / a 1 6. II / c 2 7. II / b 1 Sumber Data: Dokumentasi SDN Telangkah-3 Kereng Pangi Tahun 2010

TABEL 4. KEADAAN KELAS DAN JUMLAH SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI TAHUN AJARAN 2010 / 2011 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelas I II III IV V VI Jenis Kelamin L P 83 64 73 80 74 73 77 78 41 54 50 39 Jumlah Siswa

147 153 147 155 95 89 Jumlah 786 Sumber Data: Dokumentasi SDN Telangkah-3 Kereng Pangi Tahun 2010 Melalui tabel di atas terlihat jumlah siswa Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan dari setiap tingkatannya dapat dikatakan lebih banyak, hal ini tentunya menjadi tanggung jawab bagi pihak sekolah untuk dapat memberikan pembelajaran yang maksimal sehingga bukan hanya unggul dari segi jumlah tetapi dari segi kualitas. Untuk mencapai hal tersebut tentunya sangat diperlukan tenaga pengajar yang professional dan menguasai bidangnya.

3. Sarana dan Prsarana Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan. Untuk mempermudah dan mempelancar pelayanan dibidang pendidikan, maka Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingandalam melaksanakan hal tersebut tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang ada. Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: TABEL 5. SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI TAHUN AJARAN 2010 / 2011 No. Nama Barang Jumlah Ket. 1 2 3 4 1. Meja Kerja Guru 23 Baik 2. Kursi Kerja Guru 23 Baik 3. Meja Belajar Siswa 600 Baik 4. Kursi Belajar Siswa 600 Baik 5. Kursi Tamu 2 Set Baik 6. Lemari Kayu 15 Baik 7. Komputer 1 Baik 8. Alat Olahraga 12 Baik 9. Alat Peraga 10 Baik 10. Buku Perpustakaan 100 Baik Sumber Data: Dokumentasi SDN Telangkah-3 Kereng Pangi Tahun 2010
4.

Kurikulum yang digunakan Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan.

Untuk lebih jelasnya kurikulum yang digunakan Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan ini dapat dilihat tabel berikut ini:

TABEL 6. KURIKULUM DIGUNAKAN DAN BUKU PENUNJANG PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI No. 1. 2. 3. 4. Kurikulum 2004 2006 Pedoman Pembelajaran Buku Penunjang Buku Paket PAI Al-Qur’an Juz Amma Buku-buku Cerita

Sumber Data: Dokumentasi SDN Telangkah-3 Kereng Pangi Tahun 2010 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kabupaten Katingan ini cukup memadai. Apabila dicermati secara mendalam bahwa sarana dan prasarana merupakan suatu hal yang sangat penting keberadaannya di suatu lembaga pendidikan. Ini semua adalah dalam rangka mendukung setiap kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

B. Penyajian Data

Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidikan dalam mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan yang berhubungan dengan pengajaran atau pembelajaran yang telah ditentukan untuk dapat membina dan mengembangkan siswa menjadi manusia yang berilmu, bermoral serta beramal sebagaimana fungsinya sebagai makhluk hidup. Sebagai wujud dari proses pendidikan, maka Pendidikan Agama Islam haruslah tersusun, terprogram dalm melaksanakan pembelajaran khususnya proses belajar mengajar. Oleh karena itu dalam hal ini guru sebagai pelaksana pendidikan sangatlah berperan dalam kesuksesan dunia pendidikan salah satunya dalam mengupayakan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam yang diajarkan. Penelitian ini menggambarkan peranan guru agama Islam dalam

melaksanakan Pendidikan Agama Islam di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, yang dilaksanakan pada lembaga pendidikan yaitu guru pendidikan agama Islam. Berikut akan digambarkan tentang peranan guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.
1.

Upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

Pendidikan merupakan salah satu hal yang digunakan untuk membinan dan mengembangkan siswa menjadi manusia yang berilmu, bermoral serta sebagaimana fungsinya sebagai makhluk sosial. Seorang guru Pendidikan Agama Islam, bila dilihat dari segi tugasnya bukan hanya mengajar atau menyampaikan materi diruang kelas kemudian pulang. Tetapi diharapkan adanya skill dan pengetahuan yang luas sebagai bekal dalam rangka memberikan bimbingan serta membentuk perilaku peserta didik kearah perilaku yang lebih baik. Selanjutnya bagaimana upaya-upaya yang sudah dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi dapat diketahui dengan hasil wawancara: 1) LS LS yaitu salah seorang guru yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi. Temuan di lapangan melalui wawancara tentang perencanaan pembelajaran LS menjelaskan, sebagai berikut: “Sebelum mengawali suatu pelajaran, biasanya saya melakukan perencanaan yaitu pertama-tama saya mengecek jadwal pelajaran. Kemudian mempersiapkan materi pelajaran sesuai dengan kelas yang akan saya ajarkan, saya mempersiapkan RPP, silabus, semuanya itu saya persiapkan terlebih dahulu. Setelah itu saya tinggal menerapkan yang sudah saya rencanakan sesuai dengan kondisi kelas pada saat itu.63

63

Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010

Berdasarkan uraian wawancara tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sebelum dimulai pembelajaran LS selalu mempersiapkan apa saja yang diperlukan dalam melaksanakan suatu kegiatan pembelajaran. Selain itu menurut LS dalam proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi, sebagaimana diungkapkannya:

“Pada waktu proses pembelajaran berlangsung, saya biasanya menyampaikan pelajaran yang akan diajarkan. Kemudian muridmurid diperintahkan untuk mencatat dan setelah itu saya menjelaskan materi-materi yang sudah dicatat oleh murid, sambil saya mengadakan tanya jawab dan diakhir pembelajaran saya memberikan soal baik itu secara lisan ataupun tertulis”.64 Kemudian LS juga menambahkan: “Bila ada materi pelajaran yang harus membutuhkan untuk praktek atau peraga maka saya mencontohkan di depan kelas, kemudian saya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan di depan kelas dihadapan teman-temannya”.65 Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa dalam proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN telangkah-3 Kereng Pangi, guru agama Islam melakukan suatu pembelajaran seperti yang diterapkan oleh semua guru di dalam kelas yaitu menyampaikan materi yang

64 65

Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010 Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010

diajarkan, mencatat, menjelaskan dan memberikan soal atau tanya jawab kepada siswa serta memberikan praktek walaupun hanya di depan kelas. Hasil wawancara di lapangan mengenai upaya yang sudah dilakukan, LS menjelaskan: “Selain dari proses pembelajaran berlangsung biasanya untuk kegiatan diluar sekolah atau diluar kelas, murid-murid dianjurkan atau disarankan untuk mengikuti les pada sore hari atau bersekolah di pesantren, mengaji di TK/ TPA baik itu pembelajaran membaca AlQur’an dan tajwidnya maupun Iqra, dikarenakan di sekolah ini waktu pembelajaran hanya sedikit”66 Hasil observasi, bahwa guru agama Islam (LS) memang sudah ada melakukan kegiatan dalam bentuk proses belajar mengajar dalam kelas serta mengadakan les pada sore hari.67 Menurut pendapat penulis untuk hal tersebut masih kurang dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam, seharusnya diadakan kegiatan-kegiatan seperti tadarus Al-Qur’an, membaca surah-surah pendek maupun do’a-do’a harian sebelum dimulai pembelajaran. Kemudian LS menjelaskan tentang faktor yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, bahwa: “Alhamdulillah, untuk faktor pendukungnya di lingkungan SD ini sudah banyak TK/ TPA di langgar-langgar maupun di masjid-masjid, adanya pesantren, acara pengajian serta belajar privat dirumahrumah. Namun, untuk hal tersebut kami tidak dapat memastikan bahwa terlaksana 100% dikarenakan minat siswa yang masih kurang serta kondisi fisik siswa yang kelelahan pada saat pulang sekolah”.68

66 67

Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010 Observasi di SDN Telangkah-3, tanggal 2 Desember 2010 68 Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010

Berdasarkan hasil observasi bahwa di lingkungan SDN Telangkah-3 Kereng Pangi ini memang sudah banyak TK/ TPA maupun pesantren serta kegiatan keagamaan lainnya. Tetapi hal tersebut bukan kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak sekolah, kegiatan tersebut dilaksanakan oleh lingkungan masyarakat sekitarnya.69

Selanjutnya untuk kegiatan ekstrakurikuler PAI di Sekolah Dasar Negeri telangkah-3 Kereng Pangi, LS mengatakan bahwa: “Untuk kegiatan keagamaan atau kegiatan ekstrakurikuler di SD ini belum pernah dilaksanakan dikarenakan hampir 85% tenaga pengajar beragama non muslim, dan dari segi dananya masih kurang mencukupi”.70 Analisis penulis berpendapat untuk kegiatan ekstrakurikuler tersebut seharusnya guru agama Islam berkoordinasi dengan guru yang lain maupun kepala sekolah, untuk mengadakan kegiatan ekstrakurikuler PAI di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi tersebut. 2) KR KR seorang kepala sekolah SDN Telangkah-3 Kereng Pangi (Informan), dari hasil wawancara di lapangan tentang proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan guru agama Islam sebagaimana di maksud, KR menjelaskan sebagai berikut:

69 70

Observasi di TK/ TPA dan SDN Telangkah-3, tanggal 2 Desember 2010 Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010

”Kalau selama ini PAI ini satu orang guru saja, kalau pelaksanaan proses belajar mengajar selalu tetap saja terlaksana. Cuman dengan kapasitas dengan murid yang kurang lebih yang beragama Islam 363 orang laki-laki dan 353 orang perempuan ini sangat kurang maksimal, ya keaktifan mengajar ya aktif tapi dengan kemampuan satu orang guru dengan jumlah murid 716 orang murid”71 Pernyataan KR di atas menjelaskan bahwa guru agama Islam sudah berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi tersebut, walaupun jumlah siswa yang sangat banyak. Dengan jumlah murid 716 orang, menurut pendapat penulis seharusnya pihak sekolah berusaha untuk menambah tenaga pengajar khususnya agama Islam dengan cara mengajukan permohonan kepada bagian DEPDIKNAS atau DEPAG untuk ditempatkan tenaga pengajar di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi. Bisa juga mencari guru bantu yang ada di Madrasah-madrasah, agar proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat terlaksana dengan baik. Sedangkan KR juga menjelaskan upaya yang dilakukan dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam, sebagaimana di ungkapkannya : “Saya berupaya dengan anak-anak, saya anjurkan ikut pelajaran keagamaan diluar misalnya dipelayanan masyarakat seperti ikut pengajian dan sebagainya di musholla, di RT, di RW yang ada itu. Saya anjurkan jangan mengharapkan hanya di sekolah, segala macam kegiatan baca Al-Qur’an, TK/ TPA agar aktif disitu”.72

71 72

Wawancara dengan KR, tanggal 6 Desember 2010 Wawancara dengan KR, tanggal 6 Desember 2010

Berdasarkan penjelasan KR di atas, menjelaskan bahwa pihak sekolah hanya berupaya dengan memberikan anjuran kepada siswa untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada di lingkungan masyarakat.

Menurut analisis penulis, untuk kegiatan diluar sekolah seharusnya pihak sekolah jangan hanya sekedar menyarankan kepada siswa untuk belajar di TK/ TPA, tetapi pihak sekolah juga mengadakan TK/ TPA di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi tersebut. Untuk mempermudah siswa dalam memahami baca tulis Al-Qur’an maupun Iqra. Hasil wawancara peneliti di lapangan mengenai kegiatan

ekstrakurikuler KR juga menjelaskan: “Kalau untuk kegiatan ekstrakurikuler PAI secara khusus di SD ini belum pernah dilaksanakan, dikarenakan dana-dana yang ada masih kurang mencukupi untuk melaksanakannya.”73 Mengenai uraian di atas pihak sekolah belum pernah mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan atau ekstrakurikuler khususnya Pendidikan Agama Islam, alasan yang disampaikan oleh pihak sekolah yaitu kesulitan untuk mencari dananya. 3) DS DS adalah salah satu seorang siswa SDN Telangkah-3 Kereng Pangi (Informan) dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil wawancara di lapangan
73

Wawancara dengan KR, tanggal 6 Desember 2010

tentang proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam, DS menjelaskan sebagai berikut:

“Biasa gurunya kadang-kadang masuk dan tidak, karena gurunya masuk di kelas lain dan juga jarak rumah guru sangat jauh. Tetapi bila gurunya masuk kami diberi penjelasan tentang materi tersebut dan kami diberikan tugas menjawab soal”.74 Berdasarkan hasil wawancara dengan DS, dapat dipahami bahwa guru agama Islam (LS) kurang aktif dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Apalagi dengan banyaknya kendala-kendala yang harus di alami pada saat melaksanakan proses belajar mengajar. Sedangkan DS menjelaskan tentang kegiatan keagamaan yang ada di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi, bahwa: “Untuk kegiatan keagamaan tidak pernah diadakan hanya saja kami mengikuti les sore hari atau kami sekolah sore di pesantren AlMuhajirin dan ada juga teman-teman yang lain belajar Iqra atau AlQur’an di TK/ TPA di musholla-musholla”.75 Berdasarkan hasil observasi, sebagian siswa SDN Telangkah-3 Kereng Pangi memang ada ikut belajar di TK/ TPA salah satunya di TK/ TPA langgar Subulussalam, yang mana di TK/ TPA tersebut hanya ada beberapa siswa yang memang bersekolah di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi.76 Untuk memastikan para siswa memang benar-benar mengikuti
74 75

Wawancara dengan DS, tanggal 8 Desember 2010 Wawancara dengan DS, tanggal 8 Desember 2010 76 Observasi di TK/ TPA Subulussalam, tanggal 4 Desember 2010

pelajaran di TK/ TPA, namun seharusnya pihak sekolah mengecek namanama siswa yang melaksanakan anjuran atau saran-saran yang sudah disampaikan kepada siswa.

4) DP DP adalah salah satu seorang siswa SDN Telangkah-3 Kereng Pangi (Informan) dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil wawancara di lapangan DP juga memberikan keterangan yang hampir sama dengan DS yang menjelaskan tentang proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, mengatakan bahwa: “Kalau pelajaran agama itu gurunya jarang masuk, tetapi bila gurunya masuk biasanya kami diberi dikte dan kemudian dikasih soal terus pulang. Bila ada teman-teman yang ribut guru biasanya bercerita tentang sejarah-sejarah zaman dulu”.77 Sedangkan DP juga menjelaskan hal yang sama tentang kegiatan keagamaan yang ada di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi, bahwa: “Kegiatan keagamaan tidak ada diadakan, tetapi saya sendiri ikut belajar di TK / TPA di musholla”.78 Hasil observasi dan wawancara di lapangan, upaya yang sudah dilakukan guru agama Islam di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi masih kurang baik, hal tersebut karena guru yang mengajar Pendidikan Agama

77 78

Wawancara dengan DP, tanggal 8 Desember 2010 Wawancara dengan DP, tanggal 8 Desember 2010

Islam

hanya

berusaha

dalam

melaksanakan

pembelajaran

dengan

mengadakan les.

2.

Kendala yang dihadapi guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Berdasarkan atas langkah sistem pendidikan dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam tidak selamanya berjalan lancar dan tepat sasaran, banyak kendala-kendala yang harus dihadapinya, seperti kurangnya motivasi untuk mendalami ilmu agama khususnya agama Islam, serta rasa takut untuk memperjuangkan aqidah. Hal tersebut erat kaitannya antara perubahan proses pendidikan yang masih kurang kualitasnya, yaitu kualitas penciptaan generasi muda yang berilmu pengetahuan tinggi tanpa mengurangi pendidikan keagamaan. 1) LS Berdasarkan hasil di lapangan melalui wawancara tentang kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam LS menjelaskan sebagai berikut: “Kendalanya seperti kekurangan guru khususnya guru PAI, di SD ini gurunya hanya satu orang saja yaitu saya sendiri dengan mengajar sebanyak 19 kelas. Jadi saya kesulitan untuk mempersiapkan segala sesuatunya, bahkan terkadang kelas-kelas yang lain saya tidak bisa masuk untuk mengajar mereka dikarenakan waktu yang bersamaan jadwalnya dan bahkan kelas tersebut saya hanya memberikan tugas

saja dan tugas mencatat materi, namun saya berupaya untuk melaksanakannya”.79 Berdasarkan hasil observasi dan data dokumentasi guru agama Islam di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi memang benar hanya berjumlah satu orang guru dengan jumlah kelas sebanyak 19 ruang.80 Sedangkan LS juga menjelaskan dari beberapa kendala yang di alami dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu: “Dan yang lebih sulit lagi saya tidak bisa menggabungkan kelas yang satu dengan kelas yang lainnya, dikarenakan hampir setiap kelas jumlah murid yang beragama Islam yaitu sekitar 30-35 orang per kelasnya. Jadi saya hanya bisa berbuat semampu saya saja dalam setiap kali mengajar”.81 Dari uraian wawancara tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah kekurangan tenaga pengajar yang hanya berjumlah satu orang guru dengan jumlah kelas sebanyak 19 ruang serta jadwal pelajaran yang tidak teratur dari pihak sekolah. Selain itu menurut LS, tentang keadaan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN telangkah-3 Kereng Pangi, menjelaskan: “Kalau di SD ini, masih terbatas sekali dalam hal sarana dan prasarana baik itu buku-buku pelajaran, atau buku-buku yang berhubungan dengan materi agama Islam misalnya Al-Qur’an, bukubuku cerita lainnya, dan yang lebih disayangkan lagi mushollanya tidak ada. Biasanya saya terkadang sulit untuk melakukan praktek
79 80

Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010 Observasi di SDN Telangkah-3, tanggal 2 Desember 2010 81 Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010

misalnya praktek shalat, wudhu ataupun yang lainnya karena keterbatasan sarana dan prasarana tersebut”.82 Hasil observasi mengenai sarana dan prasarana di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi masih terbatas seperti kurangnya buku-buku pelajaran serta tidak adanya musholla.83 Mengenai kendala tersebut penulis berpendapat, untuk buku-buku pelajaran, guru agama menyarankan kepada siswa agar membawakan buku-buku agama yang ada dirumah seperti buku do’a-do’a harian, Al-Qur’an atau Iqra maupun cerita-cerita Islami agar dapat meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam. Hasil wawancara peneliti di lapangan tentang harapan dan upaya selanjutnya dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, LS menjelaskan bahwa: “Saya sangat berharap pemerintah lebih memperhatikan sarana dan prasarana maupun tenaga pengajar khususnya guru PAI di Kabupaten Katingan, karena yang saya ketahui rata-rata setiap sekolah umum kekurangan guru PAI. Bukan itu saja diharapkan juga SD ini agar guru PAI bisa melakukan praktek atau mengajarkan materi yang diajarkan bisa lebih maksimal sesuai dengan yang diharapkan oleh kami semua”.84 Dari pernyataan LS di atas, menurut analisis penulis dapat disimpulkan bahwa pihak pemerintah lebih memperhatikan lagi nasib pendidikan yang ada di Indonesia khususnya di Kabupaten Katingan ini. Dikarenakan tenaga pengajar maupun dari hal sarana dan prasarana di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi masih banyak kekurangan, dan hal tersebut tidak
82 83

Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010 Observasi di SDN Telangkah-3, tanggal 2 Desember 2010 84 Wawancara dengan LS, tanggal 30 Nopember 2010

sebanding dengan jumlah siswa yang sangat banyak dengan jumlah tenaga pengajar yang masih kekurangan khususnya guru agama Islam. 2) KR Kemudian dari hasil wawancara di lapangan tentang kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi KR menjelaskan sebagai berikut: “Kalau kendalanya kekurangan tenaga kependidikan tadi, setelah itu semestinya sekolah yang sebesar ini dibangunlah satu ruang langgar/ musholla. Tapi disini berdekatan dengan masjid besar saya rasa tekaper kesitu”.85 Berdasarkan hasil uraian di atas, pendapat KR dengan LS tidak jauh berbeda mengenai kendala dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi. KR juga menjelaskan bahwa di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi ini masih banyak kekurangannya salah satunya tenaga pengajar serta musholla yang tidak ada di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi ini. Hasil observasi, SDN Telangkah-3 Kereng Pangi ini berdekatan dengan masjid besar yaitu masjid Al-Muhajirin.86 Namun analisis penulis seharusnya dibangun sebuah musholla sendiri di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi ini agar pihak sekolah dapat mempergunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan seperti praktek pelajaran agama maupun yang lainnya.

85 86

Wawancara dengan KR, tanggal 6 Desember 2010 Observasi di SDN Telangkah-3, tanggal 6 Desember 2010

Kemudian KR juga menjelaskan tentang sarana dan prsarana di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi, sebagaimana di ungkapkannya: “Kalau masalah buku pelajaran sudah cukup dengan ditunjang oleh perpustakaan yang ada dan buku-buku penunjang yang di anggarkan dari dana BOS”.87 Menurut analisis penulis mengenai hasil wawancara dengan KR, yang menyatakan bahwa buku-buku pelajaran di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi ini sudah cukup. Namun pernyataan tersebut berbeda dengan pendapat LS yang menjelaskan bahwa buku-buku pelajaran masih serba kekurangan, pernyataan LS ini sesuai dengan hasil data dokumentasi serta hasil observasi yang dilakukan penulis. Hasil wawancara peneliti di lapangan tentang upaya selanjutnya dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, KR menjelaskan bahwa: “Upaya kami minimal proses pembelajaran dengan melihat kondisi yang banyak ini mungkin supaya menambah tenaga pengajar yang minimal satu orang atau dua orang supaya terlaksana secara keseluruhan. Selama ini pun kami berupaya mengangkat guru honor, kendala guru honor ini, Negara kita dengan latar belakang yang dikualifikasi saat ini yaitu S-1 PAI. Sedangkan guru yang ada ini masih tingkat SLTA, dia tidak mengikuti kualifikasi standar S-1. Dari pihak sekolah agar kedepannya kami akan mengusulkan lewat PEMDA nantinya supaya ditambah tenaga pengajar yang kualifikasi pendidikannya S-1 PAI”.88

87 88

Wawancara dengan KR, tanggal 6 Desember 2010 Wawancara dengan KR, tanggal 6 Desember 2010

Berdasarkan hasil wawancara dengan KR, mengenai upaya selanjutnya. Bahwa pihak sekolah akan berupaya dengan menambah tenaga pengajar khususnya Pendidikan Agama Islam. Namun semua itu harus sesuai dengan syarat dari pemerintah yang harus dengan latar belakang kualifikasi S-1 Pendidikan Agama Islam, yang akan diusulkan melalui PEMDA. 3) DS Selanjutnya hasil di lapangan melalui wawancara tentang kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, DS menjelaskan sebagai berikut: “Buku-bukunya ada tetapi tidak semua siswa yang mendapatkan buku-buku tersebut, kami disuruh untuk berduduk bertiga dengan satu buku untuk belajar bersama. Bila mushollanya disini tidak ada sehingga kami tidak bisa melakukan praktek, itupun dipraktekkan hanya didepan kelas oleh gurunya”.89 Hasil wawancara di lapangan untuk harapan selanjutnya dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, DS menjelaskan yaitu: “Harapan kami mudahan-mudahan pelajaran agama itu lebih lancar lagi, guru pun bisa hadir dan mengajar kami agar kami mempunyai wawasan luas dengan materi-materi yang kami pelajari”.90

4) DP

89 90

Wawancara dengan DS, tanggal 8 Desember 2010 Wawancara dengan DS, tanggal 8 Desember 2010

Selajutnya hasil wawancara di lapangan mengenai kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, DP mengatakan: “Buku-buku dari pihak sekolah sudah disediakan, tetapi bukubukunya hanya sedikit, bahkan terkadang kami belajar bersama-sama dengan satu buku saja”.91 Kemudian DP juga menjelaskan harapan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, bahwa: “Saya berharap acara keagamaan selalu dilaksanakan misalnya Maulid, Isra Mi’raj, Pesantren Kilat dan kalau bisa perlombaan mengaji diadakan juga”.92 Dari pernyataan di atas menurut analisis penulis tidak jauh berbeda dari beberapa pernyataan sebelumnya, bahwa di SDN Telangkah-3 Kereng Pangi ini masih banyak kekurangan khususnya untuk Pendidikan Agama Islam dan untuk harapan selanjutnya agar Pendidikan Agama Islam dapat ditingkatkan lagi baik dari segi pelaksanaan pembelajarannya maupun kegiatan keagamaannya. Kesimpulan penulis berdasarkan wawancara dan pengamatan (Observasi) terhadap kendala yang dihadapi LS (GPAI) dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, adalah berupa:

91 92

Wawancara dengan DP, tanggal 8 Desember 2010 Wawancara dengan DP, tanggal 8 Desember 2010

a. Kurangnya tenaga pengajar khususnya guru agama Islam yang bertolak belakang dengan jumlah siswa yang sangat banyak, sehingga proses belajar mengajar masih kurang maksimal dilaksanakan. b. Alokasi waktu yang diatur oleh pihak sekolah yang bersamaan dengan jadwal pelajaran kelas lain, membuat guru agama Islam sulit untuk membagi waktu pada saat ingin melaksanakan proses belajar mengajar.
c.

Sarana dan prasarana yang masih terbatas seperti buku-buku pelajaran agama dan tidak adanya tempat praktek seperti musholla.

d. Jumlah siswa yang sangat banyak antara 30-35 per kelas sehingga sulit digabungkan.

C. Analisis Data Dari hasil data yang diperoleh peneliti yaitu data tentang upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam serta kendala yang dihadapi guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Terdapat beberapa poin penting tentang pelaksanaan di lapangan yaitu:
1.

Upaya yang dilakukan oleh guru agama Islam Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi masih belum sesuai dengat teori, karena banyak keterbatasan pengetahuan guru tersebut. Guru agama Islam hanya melaksanakan pembelajaran seperti halnya guru-guru yang lain yaitu dalam proses belajar mengajar misalnya menyampaikan materi, menjelaskan, memberikan tugas baik secara lisan maupun

secara tertulis dan tanya jawab. Untuk kegiatan diluar jam pelajaran guru agama Islam hanya memberikan les pada sore hari, dan ia juga hanya memberikan saran atau anjuran-anjuran saja kepada siswa untuk belajar di TK/ TPA, sekolah di pesantren dan mengikuti pengajian-pengajian yang dilaksanakan oleh

masyarakat. Namun dari beberapa kegiatan tersebut, guru agama Islam masih dianggap belum berperan aktif atau belum ada upaya-upaya yang lebih baik yang dilakukannya. Sehingga mutu pendidikan agama Islam di Sekolah dasar Negeri telangkah-3 Kereng Pangi ini tidak ada peningkatannya.
2.

Kendala yang dihadapi guru agama Islam Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam Seperti kurangnya tenaga pengajar khusunya guru agama Islam di sekolah tersebut, yang hanya berjumlah satu orang guru dari 23 guru dengan jumlah kelas sebanyak 19 ruang. Selain itu guru juga tidak bisa menggabungkan kelas yang satu dengan kelas yang lainnya dikarenakan jumlah siswa yang beragama Islam dalam satu kelas hampir 30-35 orang siswa khususnya di kelas VI. Kendala yang lainnya yaitu alokasi waktu yang ditetapkan oleh pihak sekolah khususnya pelajaran agama Islam masih ada yang bersamaan waktunya dengan kelas lain, dari segi sarana dan prasarana masih kurang seperti tidak adanya musholla atau tempat praktek, sehingga menyulitkan guru dalam menjelaskan materi pelajaran agama Islam. Untuk kegiatan keagamaan (ekstrakurikuler) yang secara khusus dari guru agama Islam maupun dari pihak sekolah tidak pernah dilaksanakan, di karenakan hampir 85% tenaga pengajar di sekolah tersebut beragama non muslim dan dari segi

dana

pun

masih

kurang

untuk

melaksanakan

kegiatan

keagamaan

(ekstrakurikuler) tersebut.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
1.

Upaya Yang Dilakukan Guru Agama Islam Dalam Melaksanakan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Bentuk-bentuk upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, antara lain: Melalui proses belajar mengajar wujudnya adalah adanya materi pelajaran yang diajarkan tentang pendidikan agama Islam yang dilakukan diruang kelas, untuk melaksanakan pendidikan agama Islam di luar ruang kelas atau di luar sekolah, melalui kegiatan-kegiatan keagamaan wujudnya mengadakan les, menyarankan untuk sekolah pesantren, mengaji di TK/ TPA serta mengikuti acara pengajian.

2.

Kendala Yang Dihadapi Guru Agama Islam Dalam Melaksanakan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. a. Kurangnya tenaga pengajar Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, adapun wujudnya kurang tenaga pengajar pendidikan agama Islam sehingga membuat proses belajar mengajar tidak berjalan dengan maksimal.
b.Fasilitas

dari pihak sekolah baik99 berupa sarana maupun prasarana, masih

kurang memadai terlebih dalam upaya guru agama Islam dalam melaksanakan

pendidikan agama Islam di kelas VI Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, adapun fasilitas dimaksud adalah kurangnya buku-buku pelajaran khususnya buku agama Islam, serta tidak adanya mushola sehingga untuk melaksanakan usaha dalam melaksanakan pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi kurang maksimal.
c. Alokasi

waktu yang belum teratur sehingga bersamaan dengan jadwal pelajaran

kelas lain, sehingga membuat guru agama Islam kesulitan untuk mengatur waktu pada saat ingin melaksanakan proses belajar mengajar.
d.Jumlah

siswa yang terlalu banyak pada setiap kelas antara 30-35 per kelas

sehingga sulit digabungkan menjadi satu kelas, sehingga menyebabkan jadwal pelajaran tidak teratur.

B. Saran-saran
1.

Disarankan kepada guru agama Islam agar meningkatkan usahanya dalam melaksanakan pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, terutama dalam melaksanakan proses belajar mengajar di ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

2.

Untuk semua siswa-siswa Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi agar benar-benar mengikuti pelajaran agama khususnya agama Islam baik dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah seperti mengikuti les, sekolah di pesantren dan TK/ TPA di musholla atau di masjid-masjid.

3. Kepada Kepala Sekolah kalau bisa disediakan sarana dan prasarana untuk guru agama Islam dalam melaksanakan proses belajar mengajar Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi.

PERANAN GURU AGAMA ISLAM DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI ABSTRAKSI Dalam upaya melaksanakan Pendidikan Agama Islam, peranan seorang guru agama Islam cukup menentukan dalam keberhasilannya. Oleh karena itu sebagai seorang pendidik maka guru dituntut untuk berperan aktif baik pada saat proses pelaksanaan pembelajaran maupun diluar proses pelaksanaan pembelajaran.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah; 1). Bagaimana upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi; 2). Bagaimana kendala yang dihadapi guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Tujuan dari penelitian ini adalah; 1). Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi; 2). Untuk mengetahui kendalakendala yang dihadapi guru agama Islam dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah satu orang guru agama Islam dan yang menjadi informan adalah Kepala Sekolah serta dua orang siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi. Analisis data dilakukan sejak pengumpulan data, yang terdiri dari 4 tahap yaitu 1. Pengumpulan Data (Data Collection), 2. Deduksi Data (Data Reduction), 3. Penyajian Data (Data Display), 4. Penarikan Kesimpulan (Data Conclusion). Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru agama Islam telah melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, dengan mengadakan kegiatan antara lain melalui proses belajar mengajar atau kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam, serta melalui kegiatan-kegiatan diluar sekolah seperti mengadakan les, dan menganjurkan kepada siswa mengaji di TK/ TPA, sekolah di pesantren dan mengikuti acara pengajian. Tapi dalam pelaksanaannya ada beberapa kendala yang menghambat kegiatan tersebut yaitu kurangnya tenaga pengajar khususnya guru agama Islam, alokasi waktu yang tidak teratur serta kurangnya sarana dan prasarana dari lembaga terkait, yaitu pihak Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi. Pada dasarnya di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi, guru agama Islam sudah berupaya untuk melaksanakan Pendidikan Agama Islam dalam lingkungan sekolahnya. INSTRUMEN PENELITIAN

1. Bagaimana upaya yang dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

a).

Bagaimana perencanaan guru agama Islam dalam setiap kali melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

b).

Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

2. Bagaimana kendala guru agama Islam dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 3. Bagaimana faktor yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 4. Bagaimana kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 5. Bagaimana sarana dan prasarana dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 6. Bagaimana upaya selanjutnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

PEDOMAN OBSERVASI

1.

Bagaimana perencanaan guru agama Islam sebelum melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

2.

Bagaimana proses pelaksanaan pada saat pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

3. Bagaimana kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 4. Bagaimana faktor yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 5. Bagaimana kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 6. Bagaimana sarana dan prasarana dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

PEDOMAN WAWANCARA

1.

Bagaimana upaya yang sudah dilakukan guru agama Islam dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?
a).

Bagaimana perencanaan guru agama Islam sebelum dimulai proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

b).

Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

2. Bagaimana kendala guru agama Islam pada saat proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?
3.

Bagaimana faktor yang mendukung pada saat proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

4. Bagaimana kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 5. Bagaimana sarana dan prasarana pada saat proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi? 6. Bagaimana upaya selanjutnya atau kedepannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi?

PEDOMAN DOKUMEN

a. Sejarah singkat Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi b. Kurikulum Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi c. Keadaan guru dan karyawan Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi d. Keadaan siswa Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi e. Keadaan sarana dan prasarana Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi
f.

Buku penunjang pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

g. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam h. Silabus Pendidikan Agama Islam i. Jadwal pelajaran Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Lokasi penelitian Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan yang beralamat Jalan Cilik Riwut KM. 15,5 Kereng Pangi

Lokasi penelitian Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan yang beralamat Jalan Cilik Riwut KM. 15,5 Kereng Pangi

Wawancara dengan KR, tentang pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Wawancara dengan LS, tentang pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Wawancara dengan DS, Siswi Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Wawancara dengan DP, Siswi Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, tiga orang siswa dengan menggunakan satu buku paket yang masih terbatas

Proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, tiga orang siswa dengan menggunakan satu buku paket pelajaran yang terbatas

Saat proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung di ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Saat proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam berlangsung di ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri Telangkah-3 Kereng Pangi

Lokasi TK/ TPA Subulussalam Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan yang beralamat Jalan Cilik Riwut KM. 14,5 Kereng Pangi

Proses belajar mengajar di TK/ TPA Subulussalam Kereng Pangi

Proses belajar mengajar di TK/ TPA Subulussalam Kereng Pangi

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad., Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2002. Al-Rasyidin, Samsul Nizar., Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press, 2005. Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2000. Arifin, M., Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi Aksara, 1993. Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Pelita III, 1983. Fadjar, A. Malik., Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, Jakarta: Alfa Grafikatama, 1998. Hadi, Sutrisno., Metodologi Research Li. Yogyakarta: Yasbit Fak. Psikologi UGM, 1989. Hamalik, Oemar., Pendidikan Guru. Jakarta: Bumi Aksara, 2003. Hamalik, Oermar., Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru AlGensindo, 2002. Isjoni., Guru Sebagai Motivator Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2008. Jasiah., Ilmu Pendidikan. STAIN Palangka Raya, 2007. Majib, Abdul, Dian Andayani., Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006. Mujib, Abdul., Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2008. Mulyasa, E., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009. Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004. Nurdin, Syafruddin., Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: Intermasa, 2002. Qodir, Abdul, Metodologi Riset Kualitatif, Panduan dasar melakukan penelitian ilmiah, Palangka Raya, t.np, 1999. Sampurna, K., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Cipta Karya, 2003. Sanjaya, Wina., Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009. Sanjaya, Wina., Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Kencana prenada media group, 2005. Sanjaya, Wina., Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.

Syah, Muhibbin., Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995. Subagyo, Joko., Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta, 1997. Syar’i, Ahmad., Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005. Tafsir, Ahmad., Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992. Trianto, Titik Triwulan Tutik., Tinjauan Yuridis Hak serta Kewajiban Pendidik Menurut UU Guru dan Dosen. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2006. Uhbiyati, Nur., Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 1998. Uhbiyati, Nur., Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 1997. Usman, Moh. Uzer., Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001. http://an-simbah.blogspot.com/ http://digilib.iai-tribakti.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=kiuntbk-gdlkhoirulanw-5831 http://dokumens.multiply.com/journal/item/33 http://makalahpai.blogspot.com/2008/11/program-ekstrakurikuler-pendidikan.html http://student-research.umm.ac.id/index.php/department_of_tarbiyah/article/view/7445 http://www.ispi.or.id/2010/09/19/pengembangan-pendidikan-agama-islam-disekolah/

PERANAN GURU AGAMA ISLAM DALAM MELAKSANAKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI TELANGKAH-3 KERENG PANGI

SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi dan Memperoleh Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Disusun oleh: LUSDIAMPU NIM. 070 111 0794

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA JURUSAN TARBIYAH PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TAHUN 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->