MAKALAH HADITS DAN ILMU HADIST Al-Jarh Wa At-Ta‟dil

Disusun oleh: DHANI HANIFAH ELA NURLELA ELIS SULASTRI FAUZI AZZAMAHSYARI GINA SEPTRIANA W. GURIANG

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2012

Penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu. Bandung. sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini di antaranya adalah memenuhi salah satu tugas untuk mata kuliah Hadits dan Ilmu Hadits. Ucapan terima kasih penyusun tujukan kepada Allah SWT. Mei 2012 Penyusun . yang senantiasa memberi kekuatan kepada penulis. hidayah. kepada pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. dan menjadikan makalah ini sebagai sarana pembelajaran bagi para pembaca. yang telah memberikan rahmat. dan kepada para pembaca yang bersedia mengapresiasi karya penyusun ini.KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT. dan taufiq-Nya kepada penyusun. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. penyusun berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sebagai pengingat bagi penyusun agar menyusun karya selanjutnya dengan baik.

Latar belakang Hadist sebagai pernyataan. Hal utama yang ditelaah dalam kajian “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil” adalah meneliti sanad hadist untuk mengetahui sifat dan perilaku perawi hadist yang berimplikasi kepada diterima atau ditolaknya hadist tersebut dan dapat difahami bahwa “Ilmu Al-Jarh Wa AtTa‟dil” merupakan suatu kajian ilmu hadist yang sangat penting dpelajari dan ditelaah. Rumusan masalah . lafal-lafal. Beranjak dari itulah dalam makalah ini penulis akan menguraikan sekilas tentang “Ilmu AlJarh Wa At-Ta‟dil” dengan menjelaskan pengertian. C. Para ulama memperhatikan para periwayat hadist dalam upaya membedakan antara hadist yang dapat diterima dan hadist yang ditolak. taqrir dan hal ihwal nabi Muhammad SAW. Untuk mengetahui pengertian dari ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. 2. kecermatan dan akhlak setiap periwayat hadist. Dengan begitu para perawi merupakan pusat utama dalam rangka mengetahui keshahihan hadist. Untuk mengetahui keadilan dan kecacatan rawi. B. 3. kaidah-kaidah yang berlaku dalam “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah: 1. serta menjelaskan tokoh-tokoh dan karyanya dan membahas karya yang membahas “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. Untuk mengetahui syarat-syarat menta‟dilkan dan mentajrihkan. Hadist sampai kepada kita melalui jalan perawi. yakni dengan memperhatikan kashalehan. syarat-syarat.merupakan sumber ajaran islam yang kedua setelah al-Qur‟an. kekuatan ingatan. pengalaman. disebut “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”.BAB I PENDAHULUAN A. Pengalaman para ulama dalam mengkaji periwayatan hadist ini berkembang dan melahirkan kaidah-kaidah yang pada akhirnya menjadi sebuah ilmu.

Kemudian pengertian al-adl scara etimologi berarti „sesuatu yang tedapat dalam jiwa bahwa sesuatu itu lurus merupakan lawan dari „lacur‟. Ilmu jarh wa al-ta’dil adalah ilmu tentang hal ihwal para rawi dalam hal mencatat keaiban dan menguji keadilannya.sbabuntuk keperluan agama dan tidak mlampaui batas kemanusiaan. Pengertian Al Jarh Wa At-Ta’dil Kalimat aljarh wa at-ta‟dilmerupakan satu dari kesatuan pengertian yang teriri dari dua kata. . baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah.BAB II PEMBAHASAN A. yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu. Aljarh atau tajrib artinya mencacatkan. yakni menuturkan sebab-sebab cacatnya rawi. Menurut Nur Al-Din al-jarh didefinisikan dengan: ْ َ ْ َ ْ ِ َ ْ ّْ َ ِ‫اَنطَؼٍُْ َفًَِسأيْ َانذذٌَْثَتًِاٌََضهُةُ َأَْ ٌََخمَّتِؼذَاَنَتَِّأََْظَثت‬ َ ُ ِ ِ “Kecacatan pada perawi Hadits disebabkan oleh seauatu yang dapat merusak keadilan atau kedabitan perawi”. Sedangkan menurut ulama lain. 2007:109). menurut iatilah berarti: ٌَ ِ‫ػكضََُُّْٕتَزَكٍَةٌَانشأيْ َٔ ْانذكىَُػهٍََّتِاََََُّّػذلٌَأَْ َظَاَت‬ َْ ‫ط‬ ِْ َ ْ ُ َ ِ ّ ِ ْ َ ُ َْ “Lawan dari al-jarh. yakni memuji rawi dengan sifat-sifat yang membawa maqbuknya riwayat. Orang adil berarti orang yang diterima kesaksiannya. Sedangkan at-ta’dil yang secara bahasa berarti at-tasywiyah (menyamarkan).dari kata ‫جشحََ. yaitu ‘al-jarh ‘ dan’ al-adl’. yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan letetapan.dil adalah suatu yang membahas hal-ihwal para rawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya.ٌَجشح‬yang berarti „ seseorang menbuat luka pada tubuh orang lain. ilmu al-jarh wa at-ta’dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka. Al Jarh secara bahasa merupakan bentuk masdar. bahwa ia adil atau dabit”. Ta’dil pada diri seseorang berarti nilai positif. Adapun secara terminologi. Muhammad Ajjaj Al-Khatib mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu al-jarh wa al-ta.ta‟dil atinya menganggap adil seorang rawi. Perbuatan tajrih termasukyang dibolehkan oleh agama. aladl berarti orang yang memiliki sift yang mencacatkan keagamaan dan keperwiraannya.

Metode Untuk Mengetahui Kadilan Dan Kecacatn Rawi Dan Masalah-Masalahnya Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : 1. dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil. Al. Para ulama sadar sepenuhnya bahwa menunjukan aib orang lain itu dilarang oleh agama. kita juga akan menyeleksi mana hadis yang sahih. mana informasi yang benar datang dari Nabi saw. periwayatannya harus ditolak.Baghdadi mengutip penilaian ibnu Mubarak atas kebohongan al-ma‟la abnu hilal.B. Manfaat Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. bagaiman mugkin dapat dipilah antara yang hak dan yang batil. Syu‟bah bin Al-Hajjai. hasan ataupun hadis dhaif. dan sebagainya. Oleh karena itu. 1991:87) Kedua. Mengapa engkau berbuat ghibah (memperlihatkan aib orang lain). niscaya periwayatannya diterima. Dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah). Menunjukan cacat periwayat hadits bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan martabat individu . 2. Fakta itu menunjukan bahwa ternyata. maka bahaya yang timbul akan lebih besar dan hadits nabi tidak dapat diselamatkan. Akan tetapi bila jarh (kritik) tidak dilakukan. C. Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil (Bisy-Syuhrah)seperti terkenalnya sebagai orang yang adil di kalangan para ahli ilmu bagi Anas bin Malik. Apabila seorang rawi dinilai oleh para ahl sebagai seorang rawi yang cacat. Sesuai dengan fakta sejarah. tatapi untuk melindungi informasi nabi saw dari kepalsuan. Sufyan Ats-Tsauri. di butuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan. mereka sudah terkenal dikalangan para ahli sehingga tidak perlu lagi diperbincangkan lagi tentang keadilannya. Ibdul Mubarak menjawab. bukan dari matanya. .(faturrahman. pemalsuan hadits yang terjadi sejak dulu dan makin marak pada masa perilaku kekuasaan politik islam. apalagi ulama. pertama bermanfaat untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu dapat diterima atau harus ditolak sama sekali. terutama dari segi kualitas rawi. “kalau saya tidak menjelaskan . Ketiga manfaat untuk mengetahui Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. yaitu ditetapkan sebagai rawi yang adil oleh orang yang adil semula rawi yang di ta‟dil-kan itu belum terkenal sebagai rawi yang adil. tidak semua pembawa hadits itu dapat dipercaya. selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist terpenuhi. dan mana yang bukan.

. baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. Men-ta‟dil-kan tanpa menyebutkan sebab-sebabnya dapat diterima. Karena men-ta‟dilkan itu bias dibuat-buat. yaitu: a. tetapi men-jarh-kan tidak perlu. Minimal dua orang. sehingga kalau disebutkan semuanya tentu akan menyibukkan saja. b. baik dalam soal riwayah maupun syahadah . yaitu: a. Berdasarkan berita tentang ketenaran rawidalam keaibanya. sebagai berikut: a. baik orang yang merdeka atau budak. Setiap orang yang dapat menerima periwayatannnya baik laki-laki maupun perempuan. Untuk ta‟dil harus disebutkan sebab-sebabnya. Seorang rawi yang adil. Cukup seorang saja. d. c. adapun men-tajrih-kan tidak diterima. b. diantaranya apabila penilaian itu secara mubham (tak disebutkan sebab-sebabnya) dan ada kalanya mujasar (disebutkan sebab-sebabnya ). Tentang mubham ini diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat . b. Untuk kedua-duanya . yang telah mengetahui sebab-sebab dia cacat. Dan karena orang-orang itu berlainan dalam mengemukakan sebab jarh. hingga harus diterangkan. hingga tidak mustahil seseorang men-tajrih menurut keyakinannya. Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan. Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan men-ta‟dil-kan dan men-jarh-kan seorang rawi. kalau menyebutkan seba-sebabbya. Cukup satu orang saja. karena sebab itu banyak sekali. Untuk kedua-duanya tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya Masalah berikutnya adalah perselisihan dalam menentukannnya mengenai jumlah orang yang dipandang cukup untuk menta‟dilkan dan men-jarh-kan raw. tetapi tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya. c. Berdasarkan pen-tajrih an dari seorang yang adil. karena jarh itu dapat berhasil dengan satu sebab. harus disebutkan sebab-sebabnya. b. dalam soal riwayah bukan dalam soal syahadah.Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah ini dapat dilakukan oleh: a.

Jujur 5. melainkan harus jelas dulu sebab-sebab penilaian tersebut. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan E. Dalam masalah ini. malah ia sendiri juga cacat. 4. sebagai berikut: a. Ta‟dil didahulukan daripada jarh. salah satunya tidak bisa didahulukan. Al-jarh harus didahuukan secara mutlak. kita tidak boleh menerima langsung suatu perkataan sebelum ada yang menyetujui. Bila keadannya seperti itu. Berilmu pengetahuan 2. Menjauhi fanatic golongan 6. Sebagian men-tajrih-kannya. syabhat. yaitu: 1. Oleh sebab itu. Terkadang orang yangenganggap orang lain cacat. Beranjak dari sikap selektif terhadap sesuatu. d. Bila jarh dan ta‟dil bertentangan. diperlukan penelitian lebih lanjut tentang keadaan sebenarnya. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. Tetap dalam ta‟arudh bila tidak dikemukaan yang men-tajrih-kan Melihat dari perbedaan tersebut sekarang kita bisa mengetahui bahwa konsepَ‫اَ ْنجشْ حَُيمَذو‬ َ ٌّ ُ َ‫(ػهَىَانتّؼذٌْم‬mendahulukan jarh dari pada ta‟dil) bukan merupakan konsep yang mutlak. sampai diketahu yang lebih kuat diantaranya. kecuali dengan adanya perkara yang mengukuhkan salah satunya yakni keadaan dihentikan sementara. َ ِ ِْ tetapi merupakan konsep dari mayoritas ulama. Takwa 3. sebagian lain men-ta‟dilkan. Syarat-Syarat Bagi Orang Yang Men-Ta’dil-Kan Dan Men-Tajrih-Kan Kiata tidak boleh menerima bagitu saja penilaian seorang ulama terhadap ulama lainnya. ada beberapa syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan. Pertentangan Antara Al-Jarh Dan At-Ta’dil Terkadang pernyatan-pernyataan ulama tentang tajrih dan ta‟dil terhadap orang yang sama bias saling bertentangan. . walaupun jumlah mu‟tadilnya lebih banyak banyak dari pada jarh-nya b. bila yang menta‟dilkan lebih banyak karena banyaknya yang menta‟dil bias mengukuhkan keadaan rawi-rawi yang bersangkutan c.D. para ulama terbagi dalam beberapa pandapat. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat.

= Orang yang tsiqat (lagi) tsiqah. segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam keadilan dengan menggunakan lafazh-lafazh yang Af'lu Al-Ta‟dil atau ungkapan lain yang mengandung pengertian sejenis ‫اس‬ َ َُّ‫أَْ ثَكَُان‬ ِ ًَ َ‫اَثثَتَانُّاسَدفظًأَػذَان‬ ُ ْ ‫ِ ِْ َ َ ة‬ ‫ْ ِ ْ ُ ْ ْ ْ ْت‬ َ ‫اِنٍَُّانًُتًَََٓفًَِانثّث‬ ِ ‫ة‬ َ ّ‫ثِمّةٌَفَْٕ قََثِم‬ ٍ = orang yang paling tsiqat. = Orang yang hafidz (lagi) petah lidahnya. = Orang yang ahli (lagi) petah lidahnya. Ibnu Shalah. Tingkatan pertama. = Orang yang memegang amanat = Orang yang tidak cacat Tingkatan kelima. tetapi dengan lafazh yang tidak mengandung arti „kuat ingatan dan adil‟ ( tsiqah) . yaitu teguh dalam pendiriannya. misalnya: ‫ثثتَثثت‬ ‫ثمةَثمة‬ ‫دجةدجة‬ ‫ثثتَثمة‬ ‫دافعَدجة‬ ٍ‫ضثطَيتم‬ = Orang yang teguh (lagi) teguh. = Orang yang kuat ingatan (lagi) meyakinkan ilmunya. dan Imam An-Nawawy. misalnya: . menurut Al-Hafidz Ad-Dzahaby dan Al-Iraqi menjadi 5. lafazh-lafazh itu disusun menjadi 4 tingkatan. misalnya ‫صذٔق‬ ٌٕ‫ياءي‬ ّ‫الَتاسَت‬ = Orang yang sangat jujur. misalnya ‫ثثت‬ ٍ‫يتم‬ ‫دافع‬ ‫دجة‬ = Orang yang teguh (hati-hati lidahnya). = Orang yang meyakinkan ilmunya. Menurut Ibnu Hatim. sedangkan menurut Ibnu Hajar menyusunnya 6 tingkatan yaitu sebagai berikut. Tingkatan ketiga.F. orang yang paling kuat hapalnnya = Orang yang paling mantap hapalan da keadilannya = Orang yang palingf menonjol keteguhan hatinya dan akidahnya = Orang yang paling tsiqat melebihi orang tsiqat Tingkatan kedua . menunjukan kejujuran rawi. tetapi tidak diketahui adanya ke-dhabit-an. baik sifatnya yang dihubungkan itu selafazh (dengan mengulangnya) maupun semakna. menunjukan keadilan dan ke-dhabit-an. yaitu teguh dalam pendiriannya. menunjukan keadilan dengan suatu lafazh yang mengandung arti „kuat ingatan. yaitu orang yang sangat percaya. = Orang yang teguh (lagi) tsiqah. Lafazh-Lafazh Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Lafazh-lafazh yang digunakan untuk men-tajrih dan men-ta‟dil itu bertingkat. = Orang yang hafidz = Orang yang petah lidahnya Tingkatan keempat. memperkuat ke-tsiqah-an rawi dengan membubuhi satu sifat yang menunjukan keadilan dan ke-dhabit-annya.

= Orang yang dituduh dusta.‫يذهةَانصذق‬ ‫جٍذانذذٌث‬ ‫دضٍَانذذٌث‬ ‫يماسبَانذذٌث‬ = Orang yang berstatus jujur. = Orang yang pendusta. misalnya: ‫صذٔقَاٌَشاءهللا‬ ‫فالٌََصٌٕهخ‬ ّ‫فالٌََيمثٕلَدذٌث‬ = Orang yang jujur. menunjukan arti „ mendekati cacat „ seperti sifat-sifat diatas yang diikuti dengan lafazh “Insya Allah” atau lafazh tersebut di-tashir-kan ( pengecilan arti ) atau lafazh itu dikaitkan dengan suatu pengharapan. = Orang yang penipu. Adapun hadits-hadits para rawi yang di-ta‟dilkan menurut tingkatan kelima dan keenam hanya dapat berbentuk af‟alu yang ditulis. menunjuk pada tuduhan dusta. bohong atau sebagainya. menunjukan pada keterlaluan si rawi tentang cacatnya dengan menggunakan lafazh-lafazh yang berbentuk mengandung pengertian sejenisnya. misalnya ‫كزاب‬ ‫ٔضاع‬ ‫دجال‬ ‫فالٌََيُٓىَتانكزاب‬ ‫أيتٓىَتانٕضغ‬ ‫فالٌََفٍَّانُظش‬ ‫فالٌََصالط‬ ‫فالٌََراْةَانذذٌث‬ ‫فالٌََيتشٔنَانذذٌث‬ = Orang yang pembohong. Kemudian tingkatan dan lafazh-lafazh untuk men-tajrihkan rawi-rawi yaitu: Tingkatan pertama. = Orang yang hadisnya tewlah hilang. = Orang yang bagus hadisnya. = Orang yang penipu. Tingkatan keenam. = Orang yang pendusta. = Orang yang sedikit kesalehannya. misalnya: = Orang yang dituduh bohong. = Orang yang gugur. Tingkatan ketiga. = Orang yang hadisnya berdekatan dengan hadist lain yang tsiqah. . Para ali menggunakan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang di ta‟dilkan menurut tingkatan pertama sampai tingkatan keempat sebagai hujjah. = Orang yang perlu diteliti. dan baru dapat dipergunakan bila dikuatkan oleh hadits periwayat lain. = Orang yang diterima hadist-hadistnya. ّ‫ = فالٌََاسجَٕتاٌَالَتاسَت‬Orang yang diharapkan tsiqah. menggunakan lafazh-lafazh yang af‟alu al-ta‟dil atau ungkapan lain yang Tingkatan kedua. = Orang yang ditinggalkan hadisnya. misalnya : ‫أضغَانُاس‬ ‫اكزابَانُاس‬ ‫انٍَّانًُتًَٓفًَانٕضغ‬ = Orang yang paling dusta. menunjukan sangat cacat dengan berbentuk shigat muballaguh. = Orang yang baik hadisnya.

hadisnya tidak dapat dibuat Hujjah sama sekali.Tingkatan keempat menunjukan sangat kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalan. yaitu apabila kita temui sebagai ahli jarh dan ta‟‟dil. Sebab. = Orang yang kacau hadistnya. Untuk menerima pen-tajrih-an atau pen-ta‟dilan. hadisnya masih dapat dipakai sebagai I‟tibar (tempat pembanding). misalnya: ّ‫ضؼفَدذٌث‬ ٍّ‫فالٌََيمالَف‬ ‫فالٌََفٍَّخهف‬ ٍٍ‫فالٌََن‬ ‫فالٌََنٍشَتانذجة‬ ‫فالٌََنٍشَتانمٕي‬ = Orang yang di-dhoif-kan hadistnya. kita tidak perlu segera menerima pan-tajrihan tersebut tetapi hendaklah menyelidiki terlebih dahulu. = Orang yang ditolak hadisnya. Tingkatan keenam. pen-tajrih-anya tersebut tidak boleh diterima. = Orang yang lunak. = Orang yang munkar hadistnya. misalnya: ّ‫فالٌََالٌَذتجَت‬ ‫فالٌََيجٕٓل‬ ‫فالٌََيُكشانذذٌث‬ ِ‫فالٌََٔا‬ = Orang yang tidak dapat dibuat hujjah hadistnya. kendati yang men-tajrihkan adalh ulama`ulama yang mansyhur. adalah si-jarh sendiri termasuk orang yang di-tajrih-kan oleh orang lain. =Orang yang diperbincangkan. terkadang sebab-sebab yang digunakannuntuk men-jarh-kannya tidak kuat sehingga kita bias menolak pen-jarh-annya. = Orang yang tidak kuat. tetapi sifat-sifat itu berdekatan dengan „adil. = Orang yang disingkiri. dalam men-jarh seorang rawi. Orang yang di-tajrih menurut tingkatan pertama sampai dengan tingkatan keempat. menunjuk kepada kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalannya. selama orang-orang lain tidak menyetujuinya. Hal itu disebabkan adannya kemungkinan-kemungkinan antara lain. Kemungkinan yang lain bias terjadi bahwa si jarh termasuk orang yang terlalu berlebihan . sehingga pen-tajrih-annya dan penta‟dil-annya tidak harus segera kita terima . = Orang yang tidak dapat digunakan hujjah hadistnya. menyifati rawi dengan sifat-sifat yang menunjukan kelemahannya. setelah kita adakan penelitian. = Orang yang tidak dikenal hadistnya. Adapun orang-orang yang di-tajrihkan menurut tingkatan kelima dan keenam. Tingkatan kelima. ada yang harus diperhatikan. Jika pentajrih-an itu membawa kegoncangan yang hebat . = Orang yang lemah. misalnya: ‫يطشٔحَانذذٌث‬ ‫فالٌََضؼٍف‬ ‫فالٌََيشدٔدَانذذٌث‬ = Orang yang dilempar hadisnya.

lebih ringan. Karya-karya yang pertama-tama sampai kepada kita adalah kitab Ma‟rifat Ar-Rujal karya Yahya Ibn Ma‟in . Karya-karya tersebut adalah karya-karya Imam Yahya Ibn Ma‟in (158-235 H). Jadi. mulai muncul pada abad ke-2 hijriah. Dicetak di india pada tahun 1375 H.) dan telah dicetak di india pada tahun 1325 H. Tetapi terlebih dahulu berdasarkan kualitas orang yang menilainya.). Mulai dari yang membatasi karyanya dengan menyebut rawi-rawi yang dhaif dan kadzab saja. Yakni ketika modifikasi ilmu mulai marak di segenap penjuru wilayah islam. Karya-karya ini sebagian besar disusun secara alphabet. mulai yang paling kecil yang terdiri dari satu jilid dan memuat ratusan rawi. Metode yang digunakannya pun berbeda-beda. ada juga yang memadukan antara rawi-rawi tsiqat dengan rawi-rawi dhaif. dalam sembilan jilid. Sampai ada juga yang membatasi pada rwai-rawi yang tsiqat saja. riwayat yang kemungkinan bisa diterima adalah bukan berdasarkan banyak atau sedikitnya orang yang menilai. Namun.dalam men-tajrih-kan seseorang. Karya-karya tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda. Kitab-kitab ilmu al-jarh wa at-ta’dil Kitab-kitab yang membahas ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. kitab Adh-Dhu‟afa karya Imam Muhamad Bin Ismail Al-Bukhari (194-256 H.850 biografi. dan Imam Ahmad Ibn Hambal (164-241 H ) kemudian muncul secara berturut-turut karya berikutnya yang lebih luas uraiannya. mencakup berbagai bidang berbagai pendapat para tokoh al-jarh wa at-ta‟dil tentang rawi-rawi yang lebih banyak jumlahnya. Dan bersamanya dicetak pula kitab Adh-Dhu‟afa Wa Al-Matrukin karya Imam Ahmad Ibn Syuaib Ali An-Nisa (215-303 H. sampai yang terbesar yang terdiri dari puluhan jilid dan memuat ribuan rawi. kitab ini terdiri dari empat juz dalam format yang besar dan memuat 1. Jilid pertama merupakan muqaddimah-nya dan masing-masing juz lainnya terdiri dari dua jilid. baik yang dicetak maupun yang masih bebentuk manuskrip. Karya itu mencakup sekitar 40 karya. dan Al-Kamil Fi Ma‟rifat Dhu‟afa Al – . Adapun pen-tajrih-an yang dilakukan oleh kebanyakan ahli tajrih dan ta‟dil. Ali Ibn Al-Madiny (161-234 H).) Karya-karya ulama mutaqadimin yang paling lengkap adalah kitab Al-Jarh Wa AtTa‟dil karya Abdurrahman Ibn Abu Hatim Ar-Razi (240-327 H. sampai abad VII H. G. Termasuk karya-karya yang popular adalah kitab at-tsiqat karya Abu Hatim Bin Hibban Al-Busty yang wafat tahun 354 H.

Didalamnya terdapat 14. Kitab lisan Al-mizan karya Al-Hafidz Syihabuddin Ahmad Ali (Ibn Hajar) Al-Asqalani (773-852 H. . Begitu juga. dalam enam juz.) yang memuat semua hal yang dimuat Al-Mizan dengan beberapa tambahan. dan dicetak di india pada tahun 1329-1331 H. ) Adapun karya cetakan yang paling lengkap dalm bidang ini adalah kitab Mizan AlI‟tidal karya Imam Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad Adz-Dzahabi (673-748 H.Muhadditsin Wa „illal Al-hadist karya Al-Hafidz Abdullah Ibn Muhamad (Ibn Addiy) AlJurjaniy(277-365 H.105 biografi.343 biografi.) yang di cetak beberapa kali dan terakhir di mesir pada tahun 1382 H/1963 M dalam tiga juz memuat 1.

Menjauhi fanatic golongan 6. Jujur 5. yaitu: 1. Sedangkan Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil. baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. Berilmu pengetahuan 2. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan . 4. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat. Takwa 3. syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan. 2007:109). syabhat. Dan dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah).KESIMPULAN Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka.

Munzier. Solahudin. 2010. Ulumul Hadits.Ilmu hadis. M. Ratu. 2008.Agus. Ikhtisar Ulumul Hadits . Jakarta Utara: Rajawali Pers.Bandung: Sega Arsy. Bandung: Pustaka Setia .DAFTAR PUSTAKA Maslani dan Suntiah. 2011 . Suparta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful