MAKALAH HADITS DAN ILMU HADIST Al-Jarh Wa At-Ta‟dil

Disusun oleh: DHANI HANIFAH ELA NURLELA ELIS SULASTRI FAUZI AZZAMAHSYARI GINA SEPTRIANA W. GURIANG

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2012

Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini di antaranya adalah memenuhi salah satu tugas untuk mata kuliah Hadits dan Ilmu Hadits. Ucapan terima kasih penyusun tujukan kepada Allah SWT. sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. dan menjadikan makalah ini sebagai sarana pembelajaran bagi para pembaca. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu. Bandung. dan kepada para pembaca yang bersedia mengapresiasi karya penyusun ini. kepada pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. hidayah.KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT. Mei 2012 Penyusun . dan taufiq-Nya kepada penyusun. Penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. yang senantiasa memberi kekuatan kepada penulis. penyusun berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sebagai pengingat bagi penyusun agar menyusun karya selanjutnya dengan baik. yang telah memberikan rahmat.

B. yakni dengan memperhatikan kashalehan. Rumusan masalah . kaidah-kaidah yang berlaku dalam “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. lafal-lafal. kekuatan ingatan. Beranjak dari itulah dalam makalah ini penulis akan menguraikan sekilas tentang “Ilmu AlJarh Wa At-Ta‟dil” dengan menjelaskan pengertian. Para ulama memperhatikan para periwayat hadist dalam upaya membedakan antara hadist yang dapat diterima dan hadist yang ditolak. Untuk mengetahui pengertian dari ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. kecermatan dan akhlak setiap periwayat hadist. Dengan begitu para perawi merupakan pusat utama dalam rangka mengetahui keshahihan hadist.merupakan sumber ajaran islam yang kedua setelah al-Qur‟an. pengalaman. Hal utama yang ditelaah dalam kajian “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil” adalah meneliti sanad hadist untuk mengetahui sifat dan perilaku perawi hadist yang berimplikasi kepada diterima atau ditolaknya hadist tersebut dan dapat difahami bahwa “Ilmu Al-Jarh Wa AtTa‟dil” merupakan suatu kajian ilmu hadist yang sangat penting dpelajari dan ditelaah. Hadist sampai kepada kita melalui jalan perawi. Pengalaman para ulama dalam mengkaji periwayatan hadist ini berkembang dan melahirkan kaidah-kaidah yang pada akhirnya menjadi sebuah ilmu. Untuk mengetahui syarat-syarat menta‟dilkan dan mentajrihkan. taqrir dan hal ihwal nabi Muhammad SAW. serta menjelaskan tokoh-tokoh dan karyanya dan membahas karya yang membahas “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. C. disebut “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. 3. syarat-syarat. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah: 1.BAB I PENDAHULUAN A. Untuk mengetahui keadilan dan kecacatan rawi. Latar belakang Hadist sebagai pernyataan. 2.

ilmu al-jarh wa at-ta’dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka. Adapun secara terminologi. yakni memuji rawi dengan sifat-sifat yang membawa maqbuknya riwayat. Sedangkan at-ta’dil yang secara bahasa berarti at-tasywiyah (menyamarkan). yaitu ‘al-jarh ‘ dan’ al-adl’. menurut iatilah berarti: ٌَ ِ‫ػكضََُُّْٕتَزَكٍَةٌَانشأيْ َٔ ْانذكىَُػهٍََّتِاََََُّّػذلٌَأَْ َظَاَت‬ َْ ‫ط‬ ِْ َ ْ ُ َ ِ ّ ِ ْ َ ُ َْ “Lawan dari al-jarh.dil adalah suatu yang membahas hal-ihwal para rawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya.dari kata ‫جشحََ. 2007:109).BAB II PEMBAHASAN A. Menurut Nur Al-Din al-jarh didefinisikan dengan: ْ َ ْ َ ْ ِ َ ْ ّْ َ ِ‫اَنطَؼٍُْ َفًَِسأيْ َانذذٌَْثَتًِاٌََضهُةُ َأَْ ٌََخمَّتِؼذَاَنَتَِّأََْظَثت‬ َ ُ ِ ِ “Kecacatan pada perawi Hadits disebabkan oleh seauatu yang dapat merusak keadilan atau kedabitan perawi”. Ta’dil pada diri seseorang berarti nilai positif. Al Jarh secara bahasa merupakan bentuk masdar. yakni menuturkan sebab-sebab cacatnya rawi. yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu.sbabuntuk keperluan agama dan tidak mlampaui batas kemanusiaan. baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah. Perbuatan tajrih termasukyang dibolehkan oleh agama. . Aljarh atau tajrib artinya mencacatkan.ta‟dil atinya menganggap adil seorang rawi.ٌَجشح‬yang berarti „ seseorang menbuat luka pada tubuh orang lain. Orang adil berarti orang yang diterima kesaksiannya. Kemudian pengertian al-adl scara etimologi berarti „sesuatu yang tedapat dalam jiwa bahwa sesuatu itu lurus merupakan lawan dari „lacur‟. Ilmu jarh wa al-ta’dil adalah ilmu tentang hal ihwal para rawi dalam hal mencatat keaiban dan menguji keadilannya. bahwa ia adil atau dabit”. yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan letetapan. Muhammad Ajjaj Al-Khatib mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu al-jarh wa al-ta. Pengertian Al Jarh Wa At-Ta’dil Kalimat aljarh wa at-ta‟dilmerupakan satu dari kesatuan pengertian yang teriri dari dua kata. Sedangkan menurut ulama lain. aladl berarti orang yang memiliki sift yang mencacatkan keagamaan dan keperwiraannya.

2. Akan tetapi bila jarh (kritik) tidak dilakukan. Apabila seorang rawi dinilai oleh para ahl sebagai seorang rawi yang cacat. C. kita juga akan menyeleksi mana hadis yang sahih. “kalau saya tidak menjelaskan . 1991:87) Kedua. dan sebagainya. periwayatannya harus ditolak. pemalsuan hadits yang terjadi sejak dulu dan makin marak pada masa perilaku kekuasaan politik islam. Dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah). Menunjukan cacat periwayat hadits bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan martabat individu . pertama bermanfaat untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu dapat diterima atau harus ditolak sama sekali. Oleh karena itu. Ketiga manfaat untuk mengetahui Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. Manfaat Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. mereka sudah terkenal dikalangan para ahli sehingga tidak perlu lagi diperbincangkan lagi tentang keadilannya. tatapi untuk melindungi informasi nabi saw dari kepalsuan. Al. yaitu ditetapkan sebagai rawi yang adil oleh orang yang adil semula rawi yang di ta‟dil-kan itu belum terkenal sebagai rawi yang adil. Sesuai dengan fakta sejarah. hasan ataupun hadis dhaif. Ibdul Mubarak menjawab. Mengapa engkau berbuat ghibah (memperlihatkan aib orang lain). Fakta itu menunjukan bahwa ternyata. selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist terpenuhi.(faturrahman. . Sufyan Ats-Tsauri. di butuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan.Baghdadi mengutip penilaian ibnu Mubarak atas kebohongan al-ma‟la abnu hilal. dan mana yang bukan. bagaiman mugkin dapat dipilah antara yang hak dan yang batil. bukan dari matanya. dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil. tidak semua pembawa hadits itu dapat dipercaya. niscaya periwayatannya diterima. Syu‟bah bin Al-Hajjai. apalagi ulama. Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil (Bisy-Syuhrah)seperti terkenalnya sebagai orang yang adil di kalangan para ahli ilmu bagi Anas bin Malik. Metode Untuk Mengetahui Kadilan Dan Kecacatn Rawi Dan Masalah-Masalahnya Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : 1. Para ulama sadar sepenuhnya bahwa menunjukan aib orang lain itu dilarang oleh agama. mana informasi yang benar datang dari Nabi saw. terutama dari segi kualitas rawi. maka bahaya yang timbul akan lebih besar dan hadits nabi tidak dapat diselamatkan.B.

baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. adapun men-tajrih-kan tidak diterima. Cukup seorang saja. dalam soal riwayah bukan dalam soal syahadah. karena sebab itu banyak sekali. hingga harus diterangkan. harus disebutkan sebab-sebabnya. Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan men-ta‟dil-kan dan men-jarh-kan seorang rawi. yaitu: a. b. tetapi tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya. sehingga kalau disebutkan semuanya tentu akan menyibukkan saja. c. Untuk ta‟dil harus disebutkan sebab-sebabnya. Berdasarkan pen-tajrih an dari seorang yang adil. d. Untuk kedua-duanya . baik dalam soal riwayah maupun syahadah . yang telah mengetahui sebab-sebab dia cacat. yaitu: a. Dan karena orang-orang itu berlainan dalam mengemukakan sebab jarh. c. tetapi men-jarh-kan tidak perlu. Berdasarkan berita tentang ketenaran rawidalam keaibanya.. sebagai berikut: a. Karena men-ta‟dilkan itu bias dibuat-buat. diantaranya apabila penilaian itu secara mubham (tak disebutkan sebab-sebabnya) dan ada kalanya mujasar (disebutkan sebab-sebabnya ). karena jarh itu dapat berhasil dengan satu sebab. hingga tidak mustahil seseorang men-tajrih menurut keyakinannya. Seorang rawi yang adil. Tentang mubham ini diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat . b. b.Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah ini dapat dilakukan oleh: a. b. Setiap orang yang dapat menerima periwayatannnya baik laki-laki maupun perempuan. baik orang yang merdeka atau budak. Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan. Untuk kedua-duanya tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya Masalah berikutnya adalah perselisihan dalam menentukannnya mengenai jumlah orang yang dipandang cukup untuk menta‟dilkan dan men-jarh-kan raw. Minimal dua orang. Men-ta‟dil-kan tanpa menyebutkan sebab-sebabnya dapat diterima. kalau menyebutkan seba-sebabbya. Cukup satu orang saja.

Menjauhi fanatic golongan 6. malah ia sendiri juga cacat. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat. para ulama terbagi dalam beberapa pandapat. bila yang menta‟dilkan lebih banyak karena banyaknya yang menta‟dil bias mengukuhkan keadaan rawi-rawi yang bersangkutan c. Tetap dalam ta‟arudh bila tidak dikemukaan yang men-tajrih-kan Melihat dari perbedaan tersebut sekarang kita bisa mengetahui bahwa konsepَ‫اَ ْنجشْ حَُيمَذو‬ َ ٌّ ُ َ‫(ػهَىَانتّؼذٌْم‬mendahulukan jarh dari pada ta‟dil) bukan merupakan konsep yang mutlak. Al-jarh harus didahuukan secara mutlak. Jujur 5. walaupun jumlah mu‟tadilnya lebih banyak banyak dari pada jarh-nya b. Takwa 3.D. Bila keadannya seperti itu. kita tidak boleh menerima langsung suatu perkataan sebelum ada yang menyetujui. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. . kecuali dengan adanya perkara yang mengukuhkan salah satunya yakni keadaan dihentikan sementara. Oleh sebab itu. Sebagian men-tajrih-kannya. Ta‟dil didahulukan daripada jarh. sampai diketahu yang lebih kuat diantaranya. yaitu: 1. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan E. Beranjak dari sikap selektif terhadap sesuatu. salah satunya tidak bisa didahulukan. َ ِ ِْ tetapi merupakan konsep dari mayoritas ulama. diperlukan penelitian lebih lanjut tentang keadaan sebenarnya. Terkadang orang yangenganggap orang lain cacat. 4. ada beberapa syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan. syabhat. sebagian lain men-ta‟dilkan. Dalam masalah ini. Berilmu pengetahuan 2. Pertentangan Antara Al-Jarh Dan At-Ta’dil Terkadang pernyatan-pernyataan ulama tentang tajrih dan ta‟dil terhadap orang yang sama bias saling bertentangan. Bila jarh dan ta‟dil bertentangan. melainkan harus jelas dulu sebab-sebab penilaian tersebut. Syarat-Syarat Bagi Orang Yang Men-Ta’dil-Kan Dan Men-Tajrih-Kan Kiata tidak boleh menerima bagitu saja penilaian seorang ulama terhadap ulama lainnya. sebagai berikut: a. d.

misalnya ‫ثثت‬ ٍ‫يتم‬ ‫دافع‬ ‫دجة‬ = Orang yang teguh (hati-hati lidahnya). menunjukan keadilan dengan suatu lafazh yang mengandung arti „kuat ingatan. Ibnu Shalah. yaitu teguh dalam pendiriannya. menunjukan kejujuran rawi. memperkuat ke-tsiqah-an rawi dengan membubuhi satu sifat yang menunjukan keadilan dan ke-dhabit-annya. dan Imam An-Nawawy. misalnya: ‫ثثتَثثت‬ ‫ثمةَثمة‬ ‫دجةدجة‬ ‫ثثتَثمة‬ ‫دافعَدجة‬ ٍ‫ضثطَيتم‬ = Orang yang teguh (lagi) teguh. tetapi tidak diketahui adanya ke-dhabit-an. = Orang yang ahli (lagi) petah lidahnya. sedangkan menurut Ibnu Hajar menyusunnya 6 tingkatan yaitu sebagai berikut. segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam keadilan dengan menggunakan lafazh-lafazh yang Af'lu Al-Ta‟dil atau ungkapan lain yang mengandung pengertian sejenis ‫اس‬ َ َُّ‫أَْ ثَكَُان‬ ِ ًَ َ‫اَثثَتَانُّاسَدفظًأَػذَان‬ ُ ْ ‫ِ ِْ َ َ ة‬ ‫ْ ِ ْ ُ ْ ْ ْ ْت‬ َ ‫اِنٍَُّانًُتًَََٓفًَِانثّث‬ ِ ‫ة‬ َ ّ‫ثِمّةٌَفَْٕ قََثِم‬ ٍ = orang yang paling tsiqat. = Orang yang meyakinkan ilmunya. menurut Al-Hafidz Ad-Dzahaby dan Al-Iraqi menjadi 5. = Orang yang tsiqat (lagi) tsiqah. tetapi dengan lafazh yang tidak mengandung arti „kuat ingatan dan adil‟ ( tsiqah) . lafazh-lafazh itu disusun menjadi 4 tingkatan. = Orang yang memegang amanat = Orang yang tidak cacat Tingkatan kelima. Tingkatan pertama. = Orang yang teguh (lagi) tsiqah. = Orang yang hafidz (lagi) petah lidahnya. Tingkatan ketiga. misalnya ‫صذٔق‬ ٌٕ‫ياءي‬ ّ‫الَتاسَت‬ = Orang yang sangat jujur. Menurut Ibnu Hatim. baik sifatnya yang dihubungkan itu selafazh (dengan mengulangnya) maupun semakna. = Orang yang hafidz = Orang yang petah lidahnya Tingkatan keempat. menunjukan keadilan dan ke-dhabit-an. Lafazh-Lafazh Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Lafazh-lafazh yang digunakan untuk men-tajrih dan men-ta‟dil itu bertingkat.F. = Orang yang kuat ingatan (lagi) meyakinkan ilmunya. misalnya: . yaitu orang yang sangat percaya. orang yang paling kuat hapalnnya = Orang yang paling mantap hapalan da keadilannya = Orang yang palingf menonjol keteguhan hatinya dan akidahnya = Orang yang paling tsiqat melebihi orang tsiqat Tingkatan kedua . yaitu teguh dalam pendiriannya.

= Orang yang hadisnya berdekatan dengan hadist lain yang tsiqah. ّ‫ = فالٌََاسجَٕتاٌَالَتاسَت‬Orang yang diharapkan tsiqah. = Orang yang gugur. = Orang yang penipu. = Orang yang diterima hadist-hadistnya. . Adapun hadits-hadits para rawi yang di-ta‟dilkan menurut tingkatan kelima dan keenam hanya dapat berbentuk af‟alu yang ditulis. = Orang yang pendusta. = Orang yang sedikit kesalehannya. menunjukan arti „ mendekati cacat „ seperti sifat-sifat diatas yang diikuti dengan lafazh “Insya Allah” atau lafazh tersebut di-tashir-kan ( pengecilan arti ) atau lafazh itu dikaitkan dengan suatu pengharapan. = Orang yang penipu. = Orang yang baik hadisnya. Tingkatan ketiga. misalnya : ‫أضغَانُاس‬ ‫اكزابَانُاس‬ ‫انٍَّانًُتًَٓفًَانٕضغ‬ = Orang yang paling dusta. = Orang yang bagus hadisnya.‫يذهةَانصذق‬ ‫جٍذانذذٌث‬ ‫دضٍَانذذٌث‬ ‫يماسبَانذذٌث‬ = Orang yang berstatus jujur. misalnya: = Orang yang dituduh bohong. = Orang yang pendusta. menggunakan lafazh-lafazh yang af‟alu al-ta‟dil atau ungkapan lain yang Tingkatan kedua. = Orang yang ditinggalkan hadisnya. menunjukan sangat cacat dengan berbentuk shigat muballaguh. menunjuk pada tuduhan dusta. = Orang yang hadisnya tewlah hilang. = Orang yang perlu diteliti. bohong atau sebagainya. misalnya ‫كزاب‬ ‫ٔضاع‬ ‫دجال‬ ‫فالٌََيُٓىَتانكزاب‬ ‫أيتٓىَتانٕضغ‬ ‫فالٌََفٍَّانُظش‬ ‫فالٌََصالط‬ ‫فالٌََراْةَانذذٌث‬ ‫فالٌََيتشٔنَانذذٌث‬ = Orang yang pembohong. Kemudian tingkatan dan lafazh-lafazh untuk men-tajrihkan rawi-rawi yaitu: Tingkatan pertama. Para ali menggunakan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang di ta‟dilkan menurut tingkatan pertama sampai tingkatan keempat sebagai hujjah. menunjukan pada keterlaluan si rawi tentang cacatnya dengan menggunakan lafazh-lafazh yang berbentuk mengandung pengertian sejenisnya. dan baru dapat dipergunakan bila dikuatkan oleh hadits periwayat lain. Tingkatan keenam. = Orang yang dituduh dusta. misalnya: ‫صذٔقَاٌَشاءهللا‬ ‫فالٌََصٌٕهخ‬ ّ‫فالٌََيمثٕلَدذٌث‬ = Orang yang jujur.

Tingkatan keenam. kendati yang men-tajrihkan adalh ulama`ulama yang mansyhur. tetapi sifat-sifat itu berdekatan dengan „adil. pen-tajrih-anya tersebut tidak boleh diterima. Tingkatan kelima. Adapun orang-orang yang di-tajrihkan menurut tingkatan kelima dan keenam. Hal itu disebabkan adannya kemungkinan-kemungkinan antara lain. = Orang yang ditolak hadisnya. = Orang yang lemah. selama orang-orang lain tidak menyetujuinya. hadisnya tidak dapat dibuat Hujjah sama sekali. Kemungkinan yang lain bias terjadi bahwa si jarh termasuk orang yang terlalu berlebihan . setelah kita adakan penelitian. Sebab. dalam men-jarh seorang rawi. terkadang sebab-sebab yang digunakannuntuk men-jarh-kannya tidak kuat sehingga kita bias menolak pen-jarh-annya. misalnya: ‫يطشٔحَانذذٌث‬ ‫فالٌََضؼٍف‬ ‫فالٌََيشدٔدَانذذٌث‬ = Orang yang dilempar hadisnya.Tingkatan keempat menunjukan sangat kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalan. hadisnya masih dapat dipakai sebagai I‟tibar (tempat pembanding). =Orang yang diperbincangkan. menyifati rawi dengan sifat-sifat yang menunjukan kelemahannya. misalnya: ّ‫فالٌََالٌَذتجَت‬ ‫فالٌََيجٕٓل‬ ‫فالٌََيُكشانذذٌث‬ ِ‫فالٌََٔا‬ = Orang yang tidak dapat dibuat hujjah hadistnya. Orang yang di-tajrih menurut tingkatan pertama sampai dengan tingkatan keempat. = Orang yang munkar hadistnya. = Orang yang tidak dapat digunakan hujjah hadistnya. misalnya: ّ‫ضؼفَدذٌث‬ ٍّ‫فالٌََيمالَف‬ ‫فالٌََفٍَّخهف‬ ٍٍ‫فالٌََن‬ ‫فالٌََنٍشَتانذجة‬ ‫فالٌََنٍشَتانمٕي‬ = Orang yang di-dhoif-kan hadistnya. = Orang yang tidak dikenal hadistnya. Jika pentajrih-an itu membawa kegoncangan yang hebat . = Orang yang lunak. kita tidak perlu segera menerima pan-tajrihan tersebut tetapi hendaklah menyelidiki terlebih dahulu. = Orang yang tidak kuat. adalah si-jarh sendiri termasuk orang yang di-tajrih-kan oleh orang lain. = Orang yang kacau hadistnya. menunjuk kepada kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalannya. ada yang harus diperhatikan. sehingga pen-tajrih-annya dan penta‟dil-annya tidak harus segera kita terima . yaitu apabila kita temui sebagai ahli jarh dan ta‟‟dil. Untuk menerima pen-tajrih-an atau pen-ta‟dilan. = Orang yang disingkiri.

Karya-karya tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda. dan Imam Ahmad Ibn Hambal (164-241 H ) kemudian muncul secara berturut-turut karya berikutnya yang lebih luas uraiannya. Mulai dari yang membatasi karyanya dengan menyebut rawi-rawi yang dhaif dan kadzab saja. baik yang dicetak maupun yang masih bebentuk manuskrip. dalam sembilan jilid. Metode yang digunakannya pun berbeda-beda. Ali Ibn Al-Madiny (161-234 H).) dan telah dicetak di india pada tahun 1325 H. lebih ringan. mulai yang paling kecil yang terdiri dari satu jilid dan memuat ratusan rawi. Dicetak di india pada tahun 1375 H. mulai muncul pada abad ke-2 hijriah. Jilid pertama merupakan muqaddimah-nya dan masing-masing juz lainnya terdiri dari dua jilid. Termasuk karya-karya yang popular adalah kitab at-tsiqat karya Abu Hatim Bin Hibban Al-Busty yang wafat tahun 354 H. sampai yang terbesar yang terdiri dari puluhan jilid dan memuat ribuan rawi. dan Al-Kamil Fi Ma‟rifat Dhu‟afa Al – . Sampai ada juga yang membatasi pada rwai-rawi yang tsiqat saja.850 biografi. Karya itu mencakup sekitar 40 karya.dalam men-tajrih-kan seseorang. Karya-karya yang pertama-tama sampai kepada kita adalah kitab Ma‟rifat Ar-Rujal karya Yahya Ibn Ma‟in . kitab ini terdiri dari empat juz dalam format yang besar dan memuat 1. ada juga yang memadukan antara rawi-rawi tsiqat dengan rawi-rawi dhaif.) Karya-karya ulama mutaqadimin yang paling lengkap adalah kitab Al-Jarh Wa AtTa‟dil karya Abdurrahman Ibn Abu Hatim Ar-Razi (240-327 H. Jadi. Kitab-kitab ilmu al-jarh wa at-ta’dil Kitab-kitab yang membahas ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. sampai abad VII H. Tetapi terlebih dahulu berdasarkan kualitas orang yang menilainya. G. mencakup berbagai bidang berbagai pendapat para tokoh al-jarh wa at-ta‟dil tentang rawi-rawi yang lebih banyak jumlahnya. Karya-karya tersebut adalah karya-karya Imam Yahya Ibn Ma‟in (158-235 H). Adapun pen-tajrih-an yang dilakukan oleh kebanyakan ahli tajrih dan ta‟dil. kitab Adh-Dhu‟afa karya Imam Muhamad Bin Ismail Al-Bukhari (194-256 H. Namun.). Yakni ketika modifikasi ilmu mulai marak di segenap penjuru wilayah islam. riwayat yang kemungkinan bisa diterima adalah bukan berdasarkan banyak atau sedikitnya orang yang menilai. Dan bersamanya dicetak pula kitab Adh-Dhu‟afa Wa Al-Matrukin karya Imam Ahmad Ibn Syuaib Ali An-Nisa (215-303 H. Karya-karya ini sebagian besar disusun secara alphabet.

) yang memuat semua hal yang dimuat Al-Mizan dengan beberapa tambahan. dan dicetak di india pada tahun 1329-1331 H.) yang di cetak beberapa kali dan terakhir di mesir pada tahun 1382 H/1963 M dalam tiga juz memuat 1. Didalamnya terdapat 14. ) Adapun karya cetakan yang paling lengkap dalm bidang ini adalah kitab Mizan AlI‟tidal karya Imam Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad Adz-Dzahabi (673-748 H.343 biografi. Begitu juga. Kitab lisan Al-mizan karya Al-Hafidz Syihabuddin Ahmad Ali (Ibn Hajar) Al-Asqalani (773-852 H.Muhadditsin Wa „illal Al-hadist karya Al-Hafidz Abdullah Ibn Muhamad (Ibn Addiy) AlJurjaniy(277-365 H. dalam enam juz.105 biografi. .

Menjauhi fanatic golongan 6. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat. Takwa 3. syabhat. baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan . 2007:109). 4. Berilmu pengetahuan 2. syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan. Dan dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah).KESIMPULAN Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka. Jujur 5. Sedangkan Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil. yaitu: 1.

2011 .DAFTAR PUSTAKA Maslani dan Suntiah. Jakarta Utara: Rajawali Pers. Bandung: Pustaka Setia . 2010. M. Ulumul Hadits. Ratu. 2008. Munzier.Agus. Solahudin. Ikhtisar Ulumul Hadits . Suparta.Bandung: Sega Arsy.Ilmu hadis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful