MAKALAH HADITS DAN ILMU HADIST Al-Jarh Wa At-Ta‟dil

Disusun oleh: DHANI HANIFAH ELA NURLELA ELIS SULASTRI FAUZI AZZAMAHSYARI GINA SEPTRIANA W. GURIANG

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2012

yang telah memberikan rahmat. penyusun berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sebagai pengingat bagi penyusun agar menyusun karya selanjutnya dengan baik. hidayah. Ucapan terima kasih penyusun tujukan kepada Allah SWT. yang senantiasa memberi kekuatan kepada penulis. dan menjadikan makalah ini sebagai sarana pembelajaran bagi para pembaca. Oleh karena itu. dan taufiq-Nya kepada penyusun.KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT. Penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Mei 2012 Penyusun . Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini di antaranya adalah memenuhi salah satu tugas untuk mata kuliah Hadits dan Ilmu Hadits. Bandung. kepada pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. dan kepada para pembaca yang bersedia mengapresiasi karya penyusun ini. sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Untuk mengetahui syarat-syarat menta‟dilkan dan mentajrihkan. B. pengalaman. syarat-syarat. Pengalaman para ulama dalam mengkaji periwayatan hadist ini berkembang dan melahirkan kaidah-kaidah yang pada akhirnya menjadi sebuah ilmu. Hadist sampai kepada kita melalui jalan perawi. lafal-lafal. yakni dengan memperhatikan kashalehan. taqrir dan hal ihwal nabi Muhammad SAW.merupakan sumber ajaran islam yang kedua setelah al-Qur‟an. Dengan begitu para perawi merupakan pusat utama dalam rangka mengetahui keshahihan hadist. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah: 1. Latar belakang Hadist sebagai pernyataan. Untuk mengetahui keadilan dan kecacatan rawi. serta menjelaskan tokoh-tokoh dan karyanya dan membahas karya yang membahas “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. Rumusan masalah . Para ulama memperhatikan para periwayat hadist dalam upaya membedakan antara hadist yang dapat diterima dan hadist yang ditolak. kaidah-kaidah yang berlaku dalam “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. kekuatan ingatan. C. kecermatan dan akhlak setiap periwayat hadist. Hal utama yang ditelaah dalam kajian “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil” adalah meneliti sanad hadist untuk mengetahui sifat dan perilaku perawi hadist yang berimplikasi kepada diterima atau ditolaknya hadist tersebut dan dapat difahami bahwa “Ilmu Al-Jarh Wa AtTa‟dil” merupakan suatu kajian ilmu hadist yang sangat penting dpelajari dan ditelaah. Untuk mengetahui pengertian dari ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. disebut “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. 3.BAB I PENDAHULUAN A. Beranjak dari itulah dalam makalah ini penulis akan menguraikan sekilas tentang “Ilmu AlJarh Wa At-Ta‟dil” dengan menjelaskan pengertian.

Ilmu jarh wa al-ta’dil adalah ilmu tentang hal ihwal para rawi dalam hal mencatat keaiban dan menguji keadilannya. 2007:109). ilmu al-jarh wa at-ta’dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka.dari kata ‫جشحََ.ٌَجشح‬yang berarti „ seseorang menbuat luka pada tubuh orang lain. Ta’dil pada diri seseorang berarti nilai positif. menurut iatilah berarti: ٌَ ِ‫ػكضََُُّْٕتَزَكٍَةٌَانشأيْ َٔ ْانذكىَُػهٍََّتِاََََُّّػذلٌَأَْ َظَاَت‬ َْ ‫ط‬ ِْ َ ْ ُ َ ِ ّ ِ ْ َ ُ َْ “Lawan dari al-jarh. Adapun secara terminologi. .ta‟dil atinya menganggap adil seorang rawi. Aljarh atau tajrib artinya mencacatkan. yaitu ‘al-jarh ‘ dan’ al-adl’.BAB II PEMBAHASAN A. yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu. Orang adil berarti orang yang diterima kesaksiannya. Al Jarh secara bahasa merupakan bentuk masdar. Sedangkan at-ta’dil yang secara bahasa berarti at-tasywiyah (menyamarkan). Muhammad Ajjaj Al-Khatib mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu al-jarh wa al-ta.sbabuntuk keperluan agama dan tidak mlampaui batas kemanusiaan. baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah. Menurut Nur Al-Din al-jarh didefinisikan dengan: ْ َ ْ َ ْ ِ َ ْ ّْ َ ِ‫اَنطَؼٍُْ َفًَِسأيْ َانذذٌَْثَتًِاٌََضهُةُ َأَْ ٌََخمَّتِؼذَاَنَتَِّأََْظَثت‬ َ ُ ِ ِ “Kecacatan pada perawi Hadits disebabkan oleh seauatu yang dapat merusak keadilan atau kedabitan perawi”. bahwa ia adil atau dabit”. Perbuatan tajrih termasukyang dibolehkan oleh agama. Sedangkan menurut ulama lain. Kemudian pengertian al-adl scara etimologi berarti „sesuatu yang tedapat dalam jiwa bahwa sesuatu itu lurus merupakan lawan dari „lacur‟. Pengertian Al Jarh Wa At-Ta’dil Kalimat aljarh wa at-ta‟dilmerupakan satu dari kesatuan pengertian yang teriri dari dua kata. yakni memuji rawi dengan sifat-sifat yang membawa maqbuknya riwayat. yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan letetapan.dil adalah suatu yang membahas hal-ihwal para rawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya. yakni menuturkan sebab-sebab cacatnya rawi. aladl berarti orang yang memiliki sift yang mencacatkan keagamaan dan keperwiraannya.

selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist terpenuhi. 2. Mengapa engkau berbuat ghibah (memperlihatkan aib orang lain). Al. dan sebagainya. Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil (Bisy-Syuhrah)seperti terkenalnya sebagai orang yang adil di kalangan para ahli ilmu bagi Anas bin Malik. dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil. hasan ataupun hadis dhaif.B. Sesuai dengan fakta sejarah. Manfaat Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. pemalsuan hadits yang terjadi sejak dulu dan makin marak pada masa perilaku kekuasaan politik islam.Baghdadi mengutip penilaian ibnu Mubarak atas kebohongan al-ma‟la abnu hilal. yaitu ditetapkan sebagai rawi yang adil oleh orang yang adil semula rawi yang di ta‟dil-kan itu belum terkenal sebagai rawi yang adil. Menunjukan cacat periwayat hadits bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan martabat individu . . 1991:87) Kedua. bagaiman mugkin dapat dipilah antara yang hak dan yang batil. terutama dari segi kualitas rawi. di butuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan. Para ulama sadar sepenuhnya bahwa menunjukan aib orang lain itu dilarang oleh agama. Oleh karena itu. Apabila seorang rawi dinilai oleh para ahl sebagai seorang rawi yang cacat.(faturrahman. kita juga akan menyeleksi mana hadis yang sahih. pertama bermanfaat untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu dapat diterima atau harus ditolak sama sekali. C. Syu‟bah bin Al-Hajjai. Ketiga manfaat untuk mengetahui Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. tidak semua pembawa hadits itu dapat dipercaya. maka bahaya yang timbul akan lebih besar dan hadits nabi tidak dapat diselamatkan. Metode Untuk Mengetahui Kadilan Dan Kecacatn Rawi Dan Masalah-Masalahnya Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : 1. “kalau saya tidak menjelaskan . tatapi untuk melindungi informasi nabi saw dari kepalsuan. mana informasi yang benar datang dari Nabi saw. Ibdul Mubarak menjawab. dan mana yang bukan. bukan dari matanya. apalagi ulama. Akan tetapi bila jarh (kritik) tidak dilakukan. mereka sudah terkenal dikalangan para ahli sehingga tidak perlu lagi diperbincangkan lagi tentang keadilannya. niscaya periwayatannya diterima. Sufyan Ats-Tsauri. Dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah). periwayatannya harus ditolak. Fakta itu menunjukan bahwa ternyata.

baik orang yang merdeka atau budak. karena sebab itu banyak sekali. b. Men-ta‟dil-kan tanpa menyebutkan sebab-sebabnya dapat diterima. Seorang rawi yang adil. sebagai berikut: a. hingga harus diterangkan. diantaranya apabila penilaian itu secara mubham (tak disebutkan sebab-sebabnya) dan ada kalanya mujasar (disebutkan sebab-sebabnya ). yang telah mengetahui sebab-sebab dia cacat. Minimal dua orang. adapun men-tajrih-kan tidak diterima. c. tetapi tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya. kalau menyebutkan seba-sebabbya. yaitu: a. c. harus disebutkan sebab-sebabnya. b. Untuk kedua-duanya tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya Masalah berikutnya adalah perselisihan dalam menentukannnya mengenai jumlah orang yang dipandang cukup untuk menta‟dilkan dan men-jarh-kan raw. d.. Berdasarkan pen-tajrih an dari seorang yang adil. b.Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah ini dapat dilakukan oleh: a. sehingga kalau disebutkan semuanya tentu akan menyibukkan saja. Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan. Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan men-ta‟dil-kan dan men-jarh-kan seorang rawi. karena jarh itu dapat berhasil dengan satu sebab. Dan karena orang-orang itu berlainan dalam mengemukakan sebab jarh. baik dalam soal riwayah maupun syahadah . yaitu: a. Untuk ta‟dil harus disebutkan sebab-sebabnya. baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. hingga tidak mustahil seseorang men-tajrih menurut keyakinannya. b. Cukup satu orang saja. Tentang mubham ini diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat . Cukup seorang saja. dalam soal riwayah bukan dalam soal syahadah. Karena men-ta‟dilkan itu bias dibuat-buat. Setiap orang yang dapat menerima periwayatannnya baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan berita tentang ketenaran rawidalam keaibanya. tetapi men-jarh-kan tidak perlu. Untuk kedua-duanya .

sebagian lain men-ta‟dilkan. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. Oleh sebab itu. Menjauhi fanatic golongan 6. ada beberapa syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan. diperlukan penelitian lebih lanjut tentang keadaan sebenarnya. Syarat-Syarat Bagi Orang Yang Men-Ta’dil-Kan Dan Men-Tajrih-Kan Kiata tidak boleh menerima bagitu saja penilaian seorang ulama terhadap ulama lainnya. Berilmu pengetahuan 2. kecuali dengan adanya perkara yang mengukuhkan salah satunya yakni keadaan dihentikan sementara. Beranjak dari sikap selektif terhadap sesuatu. d. Bila jarh dan ta‟dil bertentangan. Bila keadannya seperti itu. syabhat. sampai diketahu yang lebih kuat diantaranya. Takwa 3. bila yang menta‟dilkan lebih banyak karena banyaknya yang menta‟dil bias mengukuhkan keadaan rawi-rawi yang bersangkutan c. sebagai berikut: a. . Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan E. Pertentangan Antara Al-Jarh Dan At-Ta’dil Terkadang pernyatan-pernyataan ulama tentang tajrih dan ta‟dil terhadap orang yang sama bias saling bertentangan. 4. melainkan harus jelas dulu sebab-sebab penilaian tersebut. salah satunya tidak bisa didahulukan. para ulama terbagi dalam beberapa pandapat. َ ِ ِْ tetapi merupakan konsep dari mayoritas ulama. Ta‟dil didahulukan daripada jarh. Dalam masalah ini. Terkadang orang yangenganggap orang lain cacat. Sebagian men-tajrih-kannya. Al-jarh harus didahuukan secara mutlak. Jujur 5. Tetap dalam ta‟arudh bila tidak dikemukaan yang men-tajrih-kan Melihat dari perbedaan tersebut sekarang kita bisa mengetahui bahwa konsepَ‫اَ ْنجشْ حَُيمَذو‬ َ ٌّ ُ َ‫(ػهَىَانتّؼذٌْم‬mendahulukan jarh dari pada ta‟dil) bukan merupakan konsep yang mutlak. yaitu: 1. walaupun jumlah mu‟tadilnya lebih banyak banyak dari pada jarh-nya b.D. malah ia sendiri juga cacat. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat. kita tidak boleh menerima langsung suatu perkataan sebelum ada yang menyetujui.

segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam keadilan dengan menggunakan lafazh-lafazh yang Af'lu Al-Ta‟dil atau ungkapan lain yang mengandung pengertian sejenis ‫اس‬ َ َُّ‫أَْ ثَكَُان‬ ِ ًَ َ‫اَثثَتَانُّاسَدفظًأَػذَان‬ ُ ْ ‫ِ ِْ َ َ ة‬ ‫ْ ِ ْ ُ ْ ْ ْ ْت‬ َ ‫اِنٍَُّانًُتًَََٓفًَِانثّث‬ ِ ‫ة‬ َ ّ‫ثِمّةٌَفَْٕ قََثِم‬ ٍ = orang yang paling tsiqat.F. tetapi dengan lafazh yang tidak mengandung arti „kuat ingatan dan adil‟ ( tsiqah) . misalnya ‫ثثت‬ ٍ‫يتم‬ ‫دافع‬ ‫دجة‬ = Orang yang teguh (hati-hati lidahnya). memperkuat ke-tsiqah-an rawi dengan membubuhi satu sifat yang menunjukan keadilan dan ke-dhabit-annya. Menurut Ibnu Hatim. = Orang yang ahli (lagi) petah lidahnya. = Orang yang teguh (lagi) tsiqah. lafazh-lafazh itu disusun menjadi 4 tingkatan. menunjukan keadilan dengan suatu lafazh yang mengandung arti „kuat ingatan. = Orang yang kuat ingatan (lagi) meyakinkan ilmunya. yaitu teguh dalam pendiriannya. orang yang paling kuat hapalnnya = Orang yang paling mantap hapalan da keadilannya = Orang yang palingf menonjol keteguhan hatinya dan akidahnya = Orang yang paling tsiqat melebihi orang tsiqat Tingkatan kedua . menunjukan keadilan dan ke-dhabit-an. sedangkan menurut Ibnu Hajar menyusunnya 6 tingkatan yaitu sebagai berikut. = Orang yang hafidz (lagi) petah lidahnya. = Orang yang tsiqat (lagi) tsiqah. misalnya ‫صذٔق‬ ٌٕ‫ياءي‬ ّ‫الَتاسَت‬ = Orang yang sangat jujur. = Orang yang memegang amanat = Orang yang tidak cacat Tingkatan kelima. menurut Al-Hafidz Ad-Dzahaby dan Al-Iraqi menjadi 5. = Orang yang meyakinkan ilmunya. Tingkatan ketiga. baik sifatnya yang dihubungkan itu selafazh (dengan mengulangnya) maupun semakna. yaitu orang yang sangat percaya. Ibnu Shalah. misalnya: ‫ثثتَثثت‬ ‫ثمةَثمة‬ ‫دجةدجة‬ ‫ثثتَثمة‬ ‫دافعَدجة‬ ٍ‫ضثطَيتم‬ = Orang yang teguh (lagi) teguh. Lafazh-Lafazh Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Lafazh-lafazh yang digunakan untuk men-tajrih dan men-ta‟dil itu bertingkat. = Orang yang hafidz = Orang yang petah lidahnya Tingkatan keempat. misalnya: . menunjukan kejujuran rawi. tetapi tidak diketahui adanya ke-dhabit-an. dan Imam An-Nawawy. Tingkatan pertama. yaitu teguh dalam pendiriannya.

bohong atau sebagainya. = Orang yang pendusta. misalnya : ‫أضغَانُاس‬ ‫اكزابَانُاس‬ ‫انٍَّانًُتًَٓفًَانٕضغ‬ = Orang yang paling dusta. misalnya: ‫صذٔقَاٌَشاءهللا‬ ‫فالٌََصٌٕهخ‬ ّ‫فالٌََيمثٕلَدذٌث‬ = Orang yang jujur. Tingkatan ketiga. menunjukan pada keterlaluan si rawi tentang cacatnya dengan menggunakan lafazh-lafazh yang berbentuk mengandung pengertian sejenisnya. = Orang yang bagus hadisnya. menunjuk pada tuduhan dusta. = Orang yang hadisnya berdekatan dengan hadist lain yang tsiqah. = Orang yang sedikit kesalehannya. = Orang yang diterima hadist-hadistnya. .‫يذهةَانصذق‬ ‫جٍذانذذٌث‬ ‫دضٍَانذذٌث‬ ‫يماسبَانذذٌث‬ = Orang yang berstatus jujur. Adapun hadits-hadits para rawi yang di-ta‟dilkan menurut tingkatan kelima dan keenam hanya dapat berbentuk af‟alu yang ditulis. ّ‫ = فالٌََاسجَٕتاٌَالَتاسَت‬Orang yang diharapkan tsiqah. = Orang yang baik hadisnya. menggunakan lafazh-lafazh yang af‟alu al-ta‟dil atau ungkapan lain yang Tingkatan kedua. misalnya ‫كزاب‬ ‫ٔضاع‬ ‫دجال‬ ‫فالٌََيُٓىَتانكزاب‬ ‫أيتٓىَتانٕضغ‬ ‫فالٌََفٍَّانُظش‬ ‫فالٌََصالط‬ ‫فالٌََراْةَانذذٌث‬ ‫فالٌََيتشٔنَانذذٌث‬ = Orang yang pembohong. = Orang yang penipu. = Orang yang hadisnya tewlah hilang. Para ali menggunakan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang di ta‟dilkan menurut tingkatan pertama sampai tingkatan keempat sebagai hujjah. = Orang yang penipu. = Orang yang perlu diteliti. menunjukan arti „ mendekati cacat „ seperti sifat-sifat diatas yang diikuti dengan lafazh “Insya Allah” atau lafazh tersebut di-tashir-kan ( pengecilan arti ) atau lafazh itu dikaitkan dengan suatu pengharapan. = Orang yang gugur. = Orang yang ditinggalkan hadisnya. menunjukan sangat cacat dengan berbentuk shigat muballaguh. dan baru dapat dipergunakan bila dikuatkan oleh hadits periwayat lain. = Orang yang pendusta. misalnya: = Orang yang dituduh bohong. Tingkatan keenam. Kemudian tingkatan dan lafazh-lafazh untuk men-tajrihkan rawi-rawi yaitu: Tingkatan pertama. = Orang yang dituduh dusta.

Tingkatan keenam. dalam men-jarh seorang rawi. Orang yang di-tajrih menurut tingkatan pertama sampai dengan tingkatan keempat. adalah si-jarh sendiri termasuk orang yang di-tajrih-kan oleh orang lain. misalnya: ّ‫فالٌََالٌَذتجَت‬ ‫فالٌََيجٕٓل‬ ‫فالٌََيُكشانذذٌث‬ ِ‫فالٌََٔا‬ = Orang yang tidak dapat dibuat hujjah hadistnya. selama orang-orang lain tidak menyetujuinya. Hal itu disebabkan adannya kemungkinan-kemungkinan antara lain. kendati yang men-tajrihkan adalh ulama`ulama yang mansyhur. = Orang yang tidak dapat digunakan hujjah hadistnya. yaitu apabila kita temui sebagai ahli jarh dan ta‟‟dil. = Orang yang munkar hadistnya. Sebab. Adapun orang-orang yang di-tajrihkan menurut tingkatan kelima dan keenam. = Orang yang disingkiri. menunjuk kepada kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalannya. Jika pentajrih-an itu membawa kegoncangan yang hebat . = Orang yang kacau hadistnya. sehingga pen-tajrih-annya dan penta‟dil-annya tidak harus segera kita terima . kita tidak perlu segera menerima pan-tajrihan tersebut tetapi hendaklah menyelidiki terlebih dahulu. =Orang yang diperbincangkan. = Orang yang lunak. = Orang yang lemah. misalnya: ّ‫ضؼفَدذٌث‬ ٍّ‫فالٌََيمالَف‬ ‫فالٌََفٍَّخهف‬ ٍٍ‫فالٌََن‬ ‫فالٌََنٍشَتانذجة‬ ‫فالٌََنٍشَتانمٕي‬ = Orang yang di-dhoif-kan hadistnya. misalnya: ‫يطشٔحَانذذٌث‬ ‫فالٌََضؼٍف‬ ‫فالٌََيشدٔدَانذذٌث‬ = Orang yang dilempar hadisnya. Tingkatan kelima. = Orang yang ditolak hadisnya. terkadang sebab-sebab yang digunakannuntuk men-jarh-kannya tidak kuat sehingga kita bias menolak pen-jarh-annya. = Orang yang tidak kuat. setelah kita adakan penelitian. pen-tajrih-anya tersebut tidak boleh diterima. Kemungkinan yang lain bias terjadi bahwa si jarh termasuk orang yang terlalu berlebihan . hadisnya masih dapat dipakai sebagai I‟tibar (tempat pembanding).Tingkatan keempat menunjukan sangat kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalan. hadisnya tidak dapat dibuat Hujjah sama sekali. = Orang yang tidak dikenal hadistnya. Untuk menerima pen-tajrih-an atau pen-ta‟dilan. menyifati rawi dengan sifat-sifat yang menunjukan kelemahannya. tetapi sifat-sifat itu berdekatan dengan „adil. ada yang harus diperhatikan.

mencakup berbagai bidang berbagai pendapat para tokoh al-jarh wa at-ta‟dil tentang rawi-rawi yang lebih banyak jumlahnya. mulai muncul pada abad ke-2 hijriah. Tetapi terlebih dahulu berdasarkan kualitas orang yang menilainya.dalam men-tajrih-kan seseorang. Metode yang digunakannya pun berbeda-beda. dan Imam Ahmad Ibn Hambal (164-241 H ) kemudian muncul secara berturut-turut karya berikutnya yang lebih luas uraiannya. Termasuk karya-karya yang popular adalah kitab at-tsiqat karya Abu Hatim Bin Hibban Al-Busty yang wafat tahun 354 H. Karya-karya tersebut adalah karya-karya Imam Yahya Ibn Ma‟in (158-235 H). Namun. Adapun pen-tajrih-an yang dilakukan oleh kebanyakan ahli tajrih dan ta‟dil.) Karya-karya ulama mutaqadimin yang paling lengkap adalah kitab Al-Jarh Wa AtTa‟dil karya Abdurrahman Ibn Abu Hatim Ar-Razi (240-327 H. dan Al-Kamil Fi Ma‟rifat Dhu‟afa Al – . G. lebih ringan. riwayat yang kemungkinan bisa diterima adalah bukan berdasarkan banyak atau sedikitnya orang yang menilai. Mulai dari yang membatasi karyanya dengan menyebut rawi-rawi yang dhaif dan kadzab saja. Karya-karya yang pertama-tama sampai kepada kita adalah kitab Ma‟rifat Ar-Rujal karya Yahya Ibn Ma‟in . Karya itu mencakup sekitar 40 karya. dalam sembilan jilid. Karya-karya ini sebagian besar disusun secara alphabet. baik yang dicetak maupun yang masih bebentuk manuskrip.) dan telah dicetak di india pada tahun 1325 H. Jadi. kitab Adh-Dhu‟afa karya Imam Muhamad Bin Ismail Al-Bukhari (194-256 H. Jilid pertama merupakan muqaddimah-nya dan masing-masing juz lainnya terdiri dari dua jilid. Dan bersamanya dicetak pula kitab Adh-Dhu‟afa Wa Al-Matrukin karya Imam Ahmad Ibn Syuaib Ali An-Nisa (215-303 H. kitab ini terdiri dari empat juz dalam format yang besar dan memuat 1. sampai yang terbesar yang terdiri dari puluhan jilid dan memuat ribuan rawi.850 biografi. sampai abad VII H. Ali Ibn Al-Madiny (161-234 H). Dicetak di india pada tahun 1375 H. mulai yang paling kecil yang terdiri dari satu jilid dan memuat ratusan rawi. Yakni ketika modifikasi ilmu mulai marak di segenap penjuru wilayah islam.). ada juga yang memadukan antara rawi-rawi tsiqat dengan rawi-rawi dhaif. Sampai ada juga yang membatasi pada rwai-rawi yang tsiqat saja. Kitab-kitab ilmu al-jarh wa at-ta’dil Kitab-kitab yang membahas ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. Karya-karya tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda.

dalam enam juz. . Begitu juga.343 biografi.Muhadditsin Wa „illal Al-hadist karya Al-Hafidz Abdullah Ibn Muhamad (Ibn Addiy) AlJurjaniy(277-365 H. Kitab lisan Al-mizan karya Al-Hafidz Syihabuddin Ahmad Ali (Ibn Hajar) Al-Asqalani (773-852 H. dan dicetak di india pada tahun 1329-1331 H.105 biografi. ) Adapun karya cetakan yang paling lengkap dalm bidang ini adalah kitab Mizan AlI‟tidal karya Imam Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad Adz-Dzahabi (673-748 H. Didalamnya terdapat 14.) yang memuat semua hal yang dimuat Al-Mizan dengan beberapa tambahan.) yang di cetak beberapa kali dan terakhir di mesir pada tahun 1382 H/1963 M dalam tiga juz memuat 1.

KESIMPULAN Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka. syabhat. yaitu: 1. Menjauhi fanatic golongan 6. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat. baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan . 2007:109). 4. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan. Jujur 5. Berilmu pengetahuan 2. Dan dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah). Sedangkan Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil. Takwa 3.

M.Ilmu hadis.Bandung: Sega Arsy. Ratu. Bandung: Pustaka Setia . Ulumul Hadits.Agus. Ikhtisar Ulumul Hadits . Solahudin. 2010. 2008. Suparta. Jakarta Utara: Rajawali Pers.DAFTAR PUSTAKA Maslani dan Suntiah. Munzier. 2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful