MAKALH ILMU HADITS

MAKALAH HADITS DAN ILMU HADIST Al-Jarh Wa At-Ta‟dil

Disusun oleh: DHANI HANIFAH ELA NURLELA ELIS SULASTRI FAUZI AZZAMAHSYARI GINA SEPTRIANA W. GURIANG

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2012

KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. dan kepada para pembaca yang bersedia mengapresiasi karya penyusun ini. hidayah. Mei 2012 Penyusun . dan menjadikan makalah ini sebagai sarana pembelajaran bagi para pembaca. Bandung. Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini di antaranya adalah memenuhi salah satu tugas untuk mata kuliah Hadits dan Ilmu Hadits. dan taufiq-Nya kepada penyusun. Oleh karena itu. yang senantiasa memberi kekuatan kepada penulis. yang telah memberikan rahmat. Penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Ucapan terima kasih penyusun tujukan kepada Allah SWT. penyusun berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sebagai pengingat bagi penyusun agar menyusun karya selanjutnya dengan baik. kepada pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar.

taqrir dan hal ihwal nabi Muhammad SAW. pengalaman. Untuk mengetahui pengertian dari ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. lafal-lafal. kecermatan dan akhlak setiap periwayat hadist.BAB I PENDAHULUAN A. Beranjak dari itulah dalam makalah ini penulis akan menguraikan sekilas tentang “Ilmu AlJarh Wa At-Ta‟dil” dengan menjelaskan pengertian. Hal utama yang ditelaah dalam kajian “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil” adalah meneliti sanad hadist untuk mengetahui sifat dan perilaku perawi hadist yang berimplikasi kepada diterima atau ditolaknya hadist tersebut dan dapat difahami bahwa “Ilmu Al-Jarh Wa AtTa‟dil” merupakan suatu kajian ilmu hadist yang sangat penting dpelajari dan ditelaah.merupakan sumber ajaran islam yang kedua setelah al-Qur‟an. Pengalaman para ulama dalam mengkaji periwayatan hadist ini berkembang dan melahirkan kaidah-kaidah yang pada akhirnya menjadi sebuah ilmu. kekuatan ingatan. yakni dengan memperhatikan kashalehan. Untuk mengetahui keadilan dan kecacatan rawi. 2. disebut “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. 3. kaidah-kaidah yang berlaku dalam “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. B. C. serta menjelaskan tokoh-tokoh dan karyanya dan membahas karya yang membahas “Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta‟dil”. Hadist sampai kepada kita melalui jalan perawi. Rumusan masalah . Dengan begitu para perawi merupakan pusat utama dalam rangka mengetahui keshahihan hadist. Latar belakang Hadist sebagai pernyataan. syarat-syarat. Para ulama memperhatikan para periwayat hadist dalam upaya membedakan antara hadist yang dapat diterima dan hadist yang ditolak. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui syarat-syarat menta‟dilkan dan mentajrihkan.

ta‟dil atinya menganggap adil seorang rawi. menurut iatilah berarti: ٌَ ِ‫ػكضََُُّْٕتَزَكٍَةٌَانشأيْ َٔ ْانذكىَُػهٍََّتِاََََُّّػذلٌَأَْ َظَاَت‬ َْ ‫ط‬ ِْ َ ْ ُ َ ِ ّ ِ ْ َ ُ َْ “Lawan dari al-jarh. yakni memuji rawi dengan sifat-sifat yang membawa maqbuknya riwayat.BAB II PEMBAHASAN A. Kemudian pengertian al-adl scara etimologi berarti „sesuatu yang tedapat dalam jiwa bahwa sesuatu itu lurus merupakan lawan dari „lacur‟. baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah. yaitu ‘al-jarh ‘ dan’ al-adl’.ٌَجشح‬yang berarti „ seseorang menbuat luka pada tubuh orang lain.sbabuntuk keperluan agama dan tidak mlampaui batas kemanusiaan. Ilmu jarh wa al-ta’dil adalah ilmu tentang hal ihwal para rawi dalam hal mencatat keaiban dan menguji keadilannya. 2007:109). Al Jarh secara bahasa merupakan bentuk masdar. yakni menuturkan sebab-sebab cacatnya rawi. Aljarh atau tajrib artinya mencacatkan. Muhammad Ajjaj Al-Khatib mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu al-jarh wa al-ta. ilmu al-jarh wa at-ta’dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka. . Perbuatan tajrih termasukyang dibolehkan oleh agama. Adapun secara terminologi. yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu. Ta’dil pada diri seseorang berarti nilai positif.dari kata ‫جشحََ. Sedangkan menurut ulama lain. yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan letetapan. Orang adil berarti orang yang diterima kesaksiannya. Sedangkan at-ta’dil yang secara bahasa berarti at-tasywiyah (menyamarkan). bahwa ia adil atau dabit”. Menurut Nur Al-Din al-jarh didefinisikan dengan: ْ َ ْ َ ْ ِ َ ْ ّْ َ ِ‫اَنطَؼٍُْ َفًَِسأيْ َانذذٌَْثَتًِاٌََضهُةُ َأَْ ٌََخمَّتِؼذَاَنَتَِّأََْظَثت‬ َ ُ ِ ِ “Kecacatan pada perawi Hadits disebabkan oleh seauatu yang dapat merusak keadilan atau kedabitan perawi”.dil adalah suatu yang membahas hal-ihwal para rawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya. Pengertian Al Jarh Wa At-Ta’dil Kalimat aljarh wa at-ta‟dilmerupakan satu dari kesatuan pengertian yang teriri dari dua kata. aladl berarti orang yang memiliki sift yang mencacatkan keagamaan dan keperwiraannya.

maka bahaya yang timbul akan lebih besar dan hadits nabi tidak dapat diselamatkan. selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadist terpenuhi. 2. kita juga akan menyeleksi mana hadis yang sahih. Oleh karena itu. di butuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan. Metode Untuk Mengetahui Kadilan Dan Kecacatn Rawi Dan Masalah-Masalahnya Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : 1. Mengapa engkau berbuat ghibah (memperlihatkan aib orang lain). pertama bermanfaat untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu dapat diterima atau harus ditolak sama sekali.Baghdadi mengutip penilaian ibnu Mubarak atas kebohongan al-ma‟la abnu hilal. hasan ataupun hadis dhaif. “kalau saya tidak menjelaskan . Manfaat Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. 1991:87) Kedua. dan apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil. C. mereka sudah terkenal dikalangan para ahli sehingga tidak perlu lagi diperbincangkan lagi tentang keadilannya. tidak semua pembawa hadits itu dapat dipercaya. tatapi untuk melindungi informasi nabi saw dari kepalsuan. yaitu ditetapkan sebagai rawi yang adil oleh orang yang adil semula rawi yang di ta‟dil-kan itu belum terkenal sebagai rawi yang adil. Al. dan sebagainya. Akan tetapi bila jarh (kritik) tidak dilakukan. terutama dari segi kualitas rawi. Sufyan Ats-Tsauri. Ketiga manfaat untuk mengetahui Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. Sesuai dengan fakta sejarah. mana informasi yang benar datang dari Nabi saw. periwayatannya harus ditolak. niscaya periwayatannya diterima. pemalsuan hadits yang terjadi sejak dulu dan makin marak pada masa perilaku kekuasaan politik islam. Menunjukan cacat periwayat hadits bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan martabat individu . dan mana yang bukan. bukan dari matanya. Syu‟bah bin Al-Hajjai. bagaiman mugkin dapat dipilah antara yang hak dan yang batil.(faturrahman. Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil (Bisy-Syuhrah)seperti terkenalnya sebagai orang yang adil di kalangan para ahli ilmu bagi Anas bin Malik. apalagi ulama. Ibdul Mubarak menjawab.B. Fakta itu menunjukan bahwa ternyata. Para ulama sadar sepenuhnya bahwa menunjukan aib orang lain itu dilarang oleh agama. Dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah). Apabila seorang rawi dinilai oleh para ahl sebagai seorang rawi yang cacat. .

tetapi men-jarh-kan tidak perlu. sebagai berikut: a. Berdasarkan berita tentang ketenaran rawidalam keaibanya. dalam soal riwayah bukan dalam soal syahadah. Cukup satu orang saja. Untuk kedua-duanya . Untuk kedua-duanya tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya Masalah berikutnya adalah perselisihan dalam menentukannnya mengenai jumlah orang yang dipandang cukup untuk menta‟dilkan dan men-jarh-kan raw. hingga harus diterangkan. kalau menyebutkan seba-sebabbya. yaitu: a. yaitu: a. Karena men-ta‟dilkan itu bias dibuat-buat. Men-ta‟dil-kan tanpa menyebutkan sebab-sebabnya dapat diterima. c. b. yang telah mengetahui sebab-sebab dia cacat. Cukup seorang saja. adapun men-tajrih-kan tidak diterima.. b. baik dalam soal syahadah maupun soal riwayah. Berdasarkan pen-tajrih an dari seorang yang adil. Untuk ta‟dil harus disebutkan sebab-sebabnya. c. Dan karena orang-orang itu berlainan dalam mengemukakan sebab jarh. tetapi tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya. Tentang mubham ini diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat . sehingga kalau disebutkan semuanya tentu akan menyibukkan saja. karena sebab itu banyak sekali. hingga tidak mustahil seseorang men-tajrih menurut keyakinannya. b. Setiap orang yang dapat menerima periwayatannnya baik laki-laki maupun perempuan. baik dalam soal riwayah maupun syahadah .Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah ini dapat dilakukan oleh: a. baik orang yang merdeka atau budak. diantaranya apabila penilaian itu secara mubham (tak disebutkan sebab-sebabnya) dan ada kalanya mujasar (disebutkan sebab-sebabnya ). Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan. Seorang rawi yang adil. Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan men-ta‟dil-kan dan men-jarh-kan seorang rawi. harus disebutkan sebab-sebabnya. b. Minimal dua orang. d. karena jarh itu dapat berhasil dengan satu sebab.

ada beberapa syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan. malah ia sendiri juga cacat. sampai diketahu yang lebih kuat diantaranya. syabhat. diperlukan penelitian lebih lanjut tentang keadaan sebenarnya. Pertentangan Antara Al-Jarh Dan At-Ta’dil Terkadang pernyatan-pernyataan ulama tentang tajrih dan ta‟dil terhadap orang yang sama bias saling bertentangan. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat. Bila jarh dan ta‟dil bertentangan. Menjauhi fanatic golongan 6. sebagian lain men-ta‟dilkan. salah satunya tidak bisa didahulukan. Oleh sebab itu. kecuali dengan adanya perkara yang mengukuhkan salah satunya yakni keadaan dihentikan sementara. Jujur 5. sebagai berikut: a.D. Tetap dalam ta‟arudh bila tidak dikemukaan yang men-tajrih-kan Melihat dari perbedaan tersebut sekarang kita bisa mengetahui bahwa konsepَ‫اَ ْنجشْ حَُيمَذو‬ َ ٌّ ُ َ‫(ػهَىَانتّؼذٌْم‬mendahulukan jarh dari pada ta‟dil) bukan merupakan konsep yang mutlak. Dalam masalah ini. melainkan harus jelas dulu sebab-sebab penilaian tersebut. Takwa 3. . d. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan E. Syarat-Syarat Bagi Orang Yang Men-Ta’dil-Kan Dan Men-Tajrih-Kan Kiata tidak boleh menerima bagitu saja penilaian seorang ulama terhadap ulama lainnya. Ta‟dil didahulukan daripada jarh. Bila keadannya seperti itu. Terkadang orang yangenganggap orang lain cacat. walaupun jumlah mu‟tadilnya lebih banyak banyak dari pada jarh-nya b. bila yang menta‟dilkan lebih banyak karena banyaknya yang menta‟dil bias mengukuhkan keadaan rawi-rawi yang bersangkutan c. َ ِ ِْ tetapi merupakan konsep dari mayoritas ulama. 4. Beranjak dari sikap selektif terhadap sesuatu. Berilmu pengetahuan 2. yaitu: 1. para ulama terbagi dalam beberapa pandapat. Al-jarh harus didahuukan secara mutlak. Sebagian men-tajrih-kannya. kita tidak boleh menerima langsung suatu perkataan sebelum ada yang menyetujui.

yaitu orang yang sangat percaya. menunjukan kejujuran rawi. Tingkatan ketiga. orang yang paling kuat hapalnnya = Orang yang paling mantap hapalan da keadilannya = Orang yang palingf menonjol keteguhan hatinya dan akidahnya = Orang yang paling tsiqat melebihi orang tsiqat Tingkatan kedua . segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam keadilan dengan menggunakan lafazh-lafazh yang Af'lu Al-Ta‟dil atau ungkapan lain yang mengandung pengertian sejenis ‫اس‬ َ َُّ‫أَْ ثَكَُان‬ ِ ًَ َ‫اَثثَتَانُّاسَدفظًأَػذَان‬ ُ ْ ‫ِ ِْ َ َ ة‬ ‫ْ ِ ْ ُ ْ ْ ْ ْت‬ َ ‫اِنٍَُّانًُتًَََٓفًَِانثّث‬ ِ ‫ة‬ َ ّ‫ثِمّةٌَفَْٕ قََثِم‬ ٍ = orang yang paling tsiqat. Tingkatan pertama. = Orang yang teguh (lagi) tsiqah. = Orang yang meyakinkan ilmunya. lafazh-lafazh itu disusun menjadi 4 tingkatan. dan Imam An-Nawawy. = Orang yang kuat ingatan (lagi) meyakinkan ilmunya. Lafazh-Lafazh Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil Lafazh-lafazh yang digunakan untuk men-tajrih dan men-ta‟dil itu bertingkat. yaitu teguh dalam pendiriannya. = Orang yang ahli (lagi) petah lidahnya. Menurut Ibnu Hatim. = Orang yang memegang amanat = Orang yang tidak cacat Tingkatan kelima. baik sifatnya yang dihubungkan itu selafazh (dengan mengulangnya) maupun semakna. misalnya: ‫ثثتَثثت‬ ‫ثمةَثمة‬ ‫دجةدجة‬ ‫ثثتَثمة‬ ‫دافعَدجة‬ ٍ‫ضثطَيتم‬ = Orang yang teguh (lagi) teguh. tetapi tidak diketahui adanya ke-dhabit-an. menunjukan keadilan dengan suatu lafazh yang mengandung arti „kuat ingatan. yaitu teguh dalam pendiriannya. misalnya: . memperkuat ke-tsiqah-an rawi dengan membubuhi satu sifat yang menunjukan keadilan dan ke-dhabit-annya. menunjukan keadilan dan ke-dhabit-an.F. misalnya ‫صذٔق‬ ٌٕ‫ياءي‬ ّ‫الَتاسَت‬ = Orang yang sangat jujur. = Orang yang tsiqat (lagi) tsiqah. Ibnu Shalah. misalnya ‫ثثت‬ ٍ‫يتم‬ ‫دافع‬ ‫دجة‬ = Orang yang teguh (hati-hati lidahnya). tetapi dengan lafazh yang tidak mengandung arti „kuat ingatan dan adil‟ ( tsiqah) . = Orang yang hafidz (lagi) petah lidahnya. sedangkan menurut Ibnu Hajar menyusunnya 6 tingkatan yaitu sebagai berikut. menurut Al-Hafidz Ad-Dzahaby dan Al-Iraqi menjadi 5. = Orang yang hafidz = Orang yang petah lidahnya Tingkatan keempat.

menunjukan arti „ mendekati cacat „ seperti sifat-sifat diatas yang diikuti dengan lafazh “Insya Allah” atau lafazh tersebut di-tashir-kan ( pengecilan arti ) atau lafazh itu dikaitkan dengan suatu pengharapan. bohong atau sebagainya. misalnya : ‫أضغَانُاس‬ ‫اكزابَانُاس‬ ‫انٍَّانًُتًَٓفًَانٕضغ‬ = Orang yang paling dusta. Adapun hadits-hadits para rawi yang di-ta‟dilkan menurut tingkatan kelima dan keenam hanya dapat berbentuk af‟alu yang ditulis. Kemudian tingkatan dan lafazh-lafazh untuk men-tajrihkan rawi-rawi yaitu: Tingkatan pertama. misalnya: = Orang yang dituduh bohong. = Orang yang bagus hadisnya. Tingkatan keenam. misalnya ‫كزاب‬ ‫ٔضاع‬ ‫دجال‬ ‫فالٌََيُٓىَتانكزاب‬ ‫أيتٓىَتانٕضغ‬ ‫فالٌََفٍَّانُظش‬ ‫فالٌََصالط‬ ‫فالٌََراْةَانذذٌث‬ ‫فالٌََيتشٔنَانذذٌث‬ = Orang yang pembohong. Para ali menggunakan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang di ta‟dilkan menurut tingkatan pertama sampai tingkatan keempat sebagai hujjah. misalnya: ‫صذٔقَاٌَشاءهللا‬ ‫فالٌََصٌٕهخ‬ ّ‫فالٌََيمثٕلَدذٌث‬ = Orang yang jujur. = Orang yang sedikit kesalehannya. menggunakan lafazh-lafazh yang af‟alu al-ta‟dil atau ungkapan lain yang Tingkatan kedua. Tingkatan ketiga.‫يذهةَانصذق‬ ‫جٍذانذذٌث‬ ‫دضٍَانذذٌث‬ ‫يماسبَانذذٌث‬ = Orang yang berstatus jujur. = Orang yang ditinggalkan hadisnya. menunjukan sangat cacat dengan berbentuk shigat muballaguh. = Orang yang baik hadisnya. menunjukan pada keterlaluan si rawi tentang cacatnya dengan menggunakan lafazh-lafazh yang berbentuk mengandung pengertian sejenisnya. = Orang yang hadisnya tewlah hilang. ّ‫ = فالٌََاسجَٕتاٌَالَتاسَت‬Orang yang diharapkan tsiqah. = Orang yang diterima hadist-hadistnya. = Orang yang perlu diteliti. menunjuk pada tuduhan dusta. . = Orang yang dituduh dusta. = Orang yang pendusta. = Orang yang pendusta. = Orang yang hadisnya berdekatan dengan hadist lain yang tsiqah. = Orang yang penipu. = Orang yang penipu. dan baru dapat dipergunakan bila dikuatkan oleh hadits periwayat lain. = Orang yang gugur.

Sebab. setelah kita adakan penelitian. selama orang-orang lain tidak menyetujuinya. Jika pentajrih-an itu membawa kegoncangan yang hebat . terkadang sebab-sebab yang digunakannuntuk men-jarh-kannya tidak kuat sehingga kita bias menolak pen-jarh-annya. = Orang yang lunak. Tingkatan kelima. = Orang yang disingkiri. menyifati rawi dengan sifat-sifat yang menunjukan kelemahannya. = Orang yang lemah. = Orang yang munkar hadistnya. kendati yang men-tajrihkan adalh ulama`ulama yang mansyhur. = Orang yang tidak dapat digunakan hujjah hadistnya. kita tidak perlu segera menerima pan-tajrihan tersebut tetapi hendaklah menyelidiki terlebih dahulu. = Orang yang tidak dikenal hadistnya.Tingkatan keempat menunjukan sangat kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalan. = Orang yang tidak kuat. hadisnya masih dapat dipakai sebagai I‟tibar (tempat pembanding). Adapun orang-orang yang di-tajrihkan menurut tingkatan kelima dan keenam. ada yang harus diperhatikan. pen-tajrih-anya tersebut tidak boleh diterima. misalnya: ‫يطشٔحَانذذٌث‬ ‫فالٌََضؼٍف‬ ‫فالٌََيشدٔدَانذذٌث‬ = Orang yang dilempar hadisnya. misalnya: ّ‫ضؼفَدذٌث‬ ٍّ‫فالٌََيمالَف‬ ‫فالٌََفٍَّخهف‬ ٍٍ‫فالٌََن‬ ‫فالٌََنٍشَتانذجة‬ ‫فالٌََنٍشَتانمٕي‬ = Orang yang di-dhoif-kan hadistnya. Untuk menerima pen-tajrih-an atau pen-ta‟dilan. misalnya: ّ‫فالٌََالٌَذتجَت‬ ‫فالٌََيجٕٓل‬ ‫فالٌََيُكشانذذٌث‬ ِ‫فالٌََٔا‬ = Orang yang tidak dapat dibuat hujjah hadistnya. menunjuk kepada kelemahan dan kekacauan rawi mengenai hapalannya. yaitu apabila kita temui sebagai ahli jarh dan ta‟‟dil. Orang yang di-tajrih menurut tingkatan pertama sampai dengan tingkatan keempat. tetapi sifat-sifat itu berdekatan dengan „adil. = Orang yang kacau hadistnya. hadisnya tidak dapat dibuat Hujjah sama sekali. =Orang yang diperbincangkan. Tingkatan keenam. Hal itu disebabkan adannya kemungkinan-kemungkinan antara lain. adalah si-jarh sendiri termasuk orang yang di-tajrih-kan oleh orang lain. Kemungkinan yang lain bias terjadi bahwa si jarh termasuk orang yang terlalu berlebihan . dalam men-jarh seorang rawi. sehingga pen-tajrih-annya dan penta‟dil-annya tidak harus segera kita terima . = Orang yang ditolak hadisnya.

kitab ini terdiri dari empat juz dalam format yang besar dan memuat 1. Jilid pertama merupakan muqaddimah-nya dan masing-masing juz lainnya terdiri dari dua jilid. G. baik yang dicetak maupun yang masih bebentuk manuskrip.). Karya-karya yang pertama-tama sampai kepada kita adalah kitab Ma‟rifat Ar-Rujal karya Yahya Ibn Ma‟in . sampai abad VII H. Jadi.dalam men-tajrih-kan seseorang. Dan bersamanya dicetak pula kitab Adh-Dhu‟afa Wa Al-Matrukin karya Imam Ahmad Ibn Syuaib Ali An-Nisa (215-303 H. Namun.850 biografi.) Karya-karya ulama mutaqadimin yang paling lengkap adalah kitab Al-Jarh Wa AtTa‟dil karya Abdurrahman Ibn Abu Hatim Ar-Razi (240-327 H. Ali Ibn Al-Madiny (161-234 H).) dan telah dicetak di india pada tahun 1325 H. mencakup berbagai bidang berbagai pendapat para tokoh al-jarh wa at-ta‟dil tentang rawi-rawi yang lebih banyak jumlahnya. lebih ringan. Yakni ketika modifikasi ilmu mulai marak di segenap penjuru wilayah islam. Karya-karya tersebut adalah karya-karya Imam Yahya Ibn Ma‟in (158-235 H). kitab Adh-Dhu‟afa karya Imam Muhamad Bin Ismail Al-Bukhari (194-256 H. mulai yang paling kecil yang terdiri dari satu jilid dan memuat ratusan rawi. dan Al-Kamil Fi Ma‟rifat Dhu‟afa Al – . Termasuk karya-karya yang popular adalah kitab at-tsiqat karya Abu Hatim Bin Hibban Al-Busty yang wafat tahun 354 H. Sampai ada juga yang membatasi pada rwai-rawi yang tsiqat saja. ada juga yang memadukan antara rawi-rawi tsiqat dengan rawi-rawi dhaif. Tetapi terlebih dahulu berdasarkan kualitas orang yang menilainya. Adapun pen-tajrih-an yang dilakukan oleh kebanyakan ahli tajrih dan ta‟dil. Kitab-kitab ilmu al-jarh wa at-ta’dil Kitab-kitab yang membahas ilmu al-jarh wa at-ta‟dil. Karya-karya ini sebagian besar disusun secara alphabet. Mulai dari yang membatasi karyanya dengan menyebut rawi-rawi yang dhaif dan kadzab saja. sampai yang terbesar yang terdiri dari puluhan jilid dan memuat ribuan rawi. mulai muncul pada abad ke-2 hijriah. Metode yang digunakannya pun berbeda-beda. riwayat yang kemungkinan bisa diterima adalah bukan berdasarkan banyak atau sedikitnya orang yang menilai. Karya-karya tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda. dalam sembilan jilid. Karya itu mencakup sekitar 40 karya. dan Imam Ahmad Ibn Hambal (164-241 H ) kemudian muncul secara berturut-turut karya berikutnya yang lebih luas uraiannya. Dicetak di india pada tahun 1375 H.

.) yang memuat semua hal yang dimuat Al-Mizan dengan beberapa tambahan. dalam enam juz. ) Adapun karya cetakan yang paling lengkap dalm bidang ini adalah kitab Mizan AlI‟tidal karya Imam Syamsuddin Muhammad Ibn Ahmad Adz-Dzahabi (673-748 H. Kitab lisan Al-mizan karya Al-Hafidz Syihabuddin Ahmad Ali (Ibn Hajar) Al-Asqalani (773-852 H. dan dicetak di india pada tahun 1329-1331 H. Begitu juga. Didalamnya terdapat 14.Muhadditsin Wa „illal Al-hadist karya Al-Hafidz Abdullah Ibn Muhamad (Ibn Addiy) AlJurjaniy(277-365 H.) yang di cetak beberapa kali dan terakhir di mesir pada tahun 1382 H/1963 M dalam tiga juz memuat 1.105 biografi.343 biografi.

2007:109). Menjauhi fanatic golongan 6. Jujur 5. Sedangkan Keadilan rawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua ketepatan : Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang yang adil. syabhat. Takwa 3. baik yang dapat mencacatkan atau membersihkanmereka dengan ungkapan atau lapadz tertntu (Subhi al-shalah. Dan dengan pujian dari seseorang yang adil (tazkiyah). 4. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta‟dil-kan dan men-tajrihkan . Berilmu pengetahuan 2. dosa-dosa yang kecil dan makruhat. yaitu: 1. Wara‟ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat.KESIMPULAN Ilmu al-jarh wa at-ta‟dil itu adalah ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang dapat menunjukankeadaan mereka. syarat bagi orang yang men-ta‟dil-kan dan orang yang men-tajrih-kan.

Ulumul Hadits.Ilmu hadis. Solahudin. Munzier.Bandung: Sega Arsy. 2010. 2011 . M. 2008. Ikhtisar Ulumul Hadits . Suparta. Bandung: Pustaka Setia .DAFTAR PUSTAKA Maslani dan Suntiah. Ratu. Jakarta Utara: Rajawali Pers.Agus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful