Makalah Hukum Perjanjian

April 12th, 2011 • Related • Filed Under

Kata Pengantar
Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah, rahmat dan salam untuk Muhammad Rasul pilihan, saya sebagai penyusun makalah telah berhasil dalam Menyusun makalah dari mata kuliah Aspek Hukum Dalam Ekonomi tentang materi SAP mengenai HUKUM PERJANJIAN , yang dapat diselesaikan semata-mata atas kehendak-NYA dan rahmat cinta-kasihNYA yang berlimpah-limpah. Dalam makalah ini juga akan dipelajari atau membahas secara keseluruhan tentang Hukum Perjanjian. Saya berupaya dalam penyusunan makalah ini untuk memberi sedikit penjelasan dan pandangan tentang lebih jauh tentang Hukum Perjanjian, maupun penjelasan tentang latar belakang terjadinya Hukum Perjanjian di Indonesia secara umum, dan upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat yang kurang pengetahuan tentang Hukum Perjanjian di Indonesia. Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, maka saya sebagai penyusun makalah sangat menanti tegur sapa serta kritik dan saran membangun dari pembaca untuk lebih bisa menyempurnakan makalah ini. Dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengumpulan materi ini, karna makalah ini tersusun dari berbagai sumber,baik berupa buku teks, tulisan, ataupun pendapat dari para ahli. Akhir kata, saya berharap mudah-mudahan makalah ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,dan bisa menjadi tolak ukur kita terhadap dunia sosial sebaik mungkin. Billahit taufiq wal hidayah Wassalaamu`alaikum wr.wb. Bekasi, 12 April 2011 Penyusun, Lindri widiya atfa Pengertian Perjanjian. 1. Menurut Kitab Undang Undang Hukum Perdata Perjanjian menurut Pasal 1313 Kitab Undang Undang Hukum Perdata berbunyi : “Suatu Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Ketentua pasal ini sebenarnya kurang begitu memuaskan, karena ada beberapa kelemahan. Kelemahan- kelemahan itu adalah seperti diuraikan di bawah ini: a) Hanya menyangkut sepihak saja, hal ini diketahui dari perumusan, “satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya”. b) Kata perbuatan mencakup juga tanpa consensus c) Pengertian perjanjian terlalu luas d) Tanpa menyebut tujuan e) Ada bentuk tertentu, lisan dan tulisan

S. 6. Menurut Rutten Perjanjian adalah perbuatan hokum yang terjadi sesuai dengan formalitas-formalitas dari peraturan hukum yang ada. Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antarbangsa yang bertujuan untuk menciptakan akibat-akibat tertentu. perjanjian internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh pemerintah RI dengan satu atau lebih negara. perjanjian internasional adalah perjanjian dalam bentukdan nama tertentu yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik. antarorganisasi internasional. syarat ada persetuuan kehendak 2. ada hal tertentu 4. Perjanjian internasional adalah persetujuan antara subjek hukum internasional yang menimbulkan kewajiban-kewajiban yang mengikat dalam hukum internasional. LLM. syarat kecakapan pihak. 7. . menimbulkan hak dan kewajiban pada pemerintah RI yang bersifat hukum publik. seperti disebutkan di bawah ini: 1.syarat tertentu sebagai isi perjanjian. 2. disimpulkan bahwa perjanjian internasional adalah perjanjian yang dilakukan oleh subjek-subjek hukum internasional dan mempunyai tujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Kerjasama internasional secara hukum diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional. Konvensi Wina 1986. organisasi internasional atau subjek hukum internasional lainnya. Dr.f) Ada syarat. tergantung dari persesuaian pernyataan kehendak dua atau lebih orang-orang yang ditujukan untuk timbulnya akibat hukum demi kepentingan salah satu pihak atas beban pihak lain atau demi kepentingan dan atas beban masingmasing pihak secara timbal balik. dapat berbentuk bilateral maupun multilateral. Menurut adat Perjanjian menurut adat disini adalah perjanjian dimana pemilik rumah memberikan ijin kepada orang lain untuk mempergunakan rumahnya sebagai tempat kediaman dengan pembayaran sewa dibelakang (atau juga dapat terjadi pembayaran dimuka). perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan oleh dua negara atau lebih yang bertujuan untu mengadakan akibat-akibat hukum tertentu.pihak 3. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut. Konvensi Wina 1969. Perjanjian internasional sebagai persetujuan internasional yang diatur menurut hukum internasional dan ditanda tangani dalam bentuk tertulis antara satu negara atau lebih dan antara satu atau lebih organisasi internasional. Pengertian perjanjian internasional. diantaranya adalah sebagai berikut : 1. UU No. Schwarzenberger. yaitu negara-negara dalam melaksanakan hubungan atau kerjasamanya membuat perjanjian internasional. 5. Perjanjian internasional adalah suatu persetujuan antarnegara yang menimbulkan hak dan kewajiban diantara pihak-pihak yang mengadakan. Oppenheimer-Lauterpact. Dr. serta 4. 3. Prof. 3. Muchtar Kusumaatmaja. Adapun subjek hukum yang dimaksud adalah lembaga-lembaga internasional dan negara-negara. UU No 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.H. ada kausa yang halal 2. B.

tidak bisa masuk atau ikut menjadi pihak ke dalam perjanjian tersebut. isi atau pokok masalah yang diatur dalam perjanjian itu tidak saja bersangkut-paut dengan kepentingan para pihak atau subjek hukum internasional yang ikut serta dalam merumuskan naskah perjanjian tersebut. perjanjian multilateral sesungguhnya sama dengan perjanjian bilateral. Dalam kenyatannya. serta melahirkan kaidah-kaidah hukum yang berlaku hanyalah bagi kedua pihak yang bersangkutan. yaitu Perjanjian Internasional yang peserta atau pihak-pihak yang terikat di dalam perjanjian itu lebih dari dua subjek hukum internasional. Menurut Pasal 1338 Ayat (1) . b. dan antarorganisasi internasional. Pihak ketiga. artinya kedua pihak harus tunduk secara penuh atau secara keseluruhan terhadap semua isi atau pasal dari perjanjian tersebut atau sama sekali tidak mau tunduk sehingga perjanjian tersebut tidak akan pernah mengikat dan berlaku sebagai hukum positif. memiliki corak terbuka. terutama negara dan organisasi internasional. Oleh karenanya. 1. Sedangkan yang dimaksud dengan obyek hukum internasional adalah semua kepentingan yang menyangkut kehidupan masyarakat internasional.Perjanjian antarbangsa atau yang sering disebut sebagai perjanjian internasional merupakan persetujuan internasional yang diatur oleh hubungan internasional serta ditandatangani dalam bentuk tertulis. pihak lain atau pihak ketiga ini mungkin bisa menyangkut seluruh negara di dunia. Maksudnya. bergantung pada corak perjanjian multilateral itu sendiri. Sifat kaidah hukum yang dilahirkan perjanjian multilateral bisa bersifat khusus dan ada pula yang bersifat umum. Perjanjian internasional pada hakekatnya merupakan suatu tujuan atau agreement. Dalam perjanjian internasional ini ada hukum yang mengatur perjanjian tersebut. dan budaya.[2] Kontrak adalah suatu perjanjian (tertulis) antara dua atau lebih orang (pihak) yang menciptakan hak dan kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu. Contoh perjanjian internasional diantaranya adalah antarnegara atau lebih. terutama kepentingan ekonomi. Kaidah hukum yang lahir dari perjanjian bilateral bersifat khusus dan bercorak perjanjian tertutup (closed treaty). antarorganisasi internasional atau lebih. Corak perjanjian multilateral yang bersifat khusus adalah tertutup. yang membedakan hanya dari segi jumlah pesertanya semata. dsb). Dalam konteks negara. Kontrak atau contracts (dalam bahasa Inggris) dan overeenskomst (dalam Bahasa Belanda) dalam pengertian yang lebih luas kontrak sering dinamakan juga dengan istilah perjanjian. Sedangkan perjanjian multilateral yang bersifat umum. Standar Kontrak Upaya manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan bisnis. Dalam perjanjian internasional terdapat istilah subjek dan obyek. sosial.[3] Dalam hukum kontrak sendiri terdapat asas yang dinamakan kebebasan berkontrak. Yang dimaksud subjek perjanjian internasional adalah semua subjek hukum internasional. perjanjian multilateral yang terbuka ini cenderung berkembang menjadi kaidah hukum internasional yang berlaku secara umum atau universal. mengatur hal-hal yang berkenaan dengan masalah yang khusus menyangkut kepentingan pihak-pihak yang mengadakan atau yang terikat dalam perjanjian tersebut. tetapi juga kepentingan dari pihak lain atau pihak ketiga. Perjanjian Internasional Multilateral. 1. perjanjian-perjanjian multilateral semacam itu memang membuka diri bagi pihak ketiga untuk ikut serta sebagai pihak di dalam perjanjian tersebut. diantaranya adalah mewujudkannya dalam bentuk kontrak bisnis.[1] Istilah “kontrak” atau “perjanjian” dalam sistem hukum nasional memiliki pengertian yang sama. bisa sebagian negara. politik. Dalam bisnis. Perjanjian Internasional Bilateral. Maka dari segi sifatnya yang khusus tersebut. Bentuk perjanjian internasional yang dilakuka antarbangsa maupun antarorganisasi internasional ini tidak harus berbentuk tertulis. a. yaitu Perjanjian Internasional yang jumlah peserta atau pihak-pihak yang terikat di dalamnya terdiri atas dua subjek hukum internasional saja (negara dan / atau organisasi internasional. bahkan bisa jadi hanya beberapa negara saja. walaupun mempunyai kepentingan yang sama baik terhadap kedua pihak atau terhadap salah satu pihak. seperti halnya di Belanda tidak dibedakan antara pengertian “contract” dan “overeenkomst”. kontrak merupakan bentuk perjanjian yang dibuat secara tertulis yang didasarkan kepada kebutuhan bisnis.

bebas mengenai apa yang diperjanjikan. Tidak dipungkiri bahwa kegiatan bisnis tersebut menjadi latar belakang tumbuhnya perjanjian baku. Konsensualisme. 2. Istilah perjanjian baku berasal dari terjemahan dari bahasa Inggris.KUH Perdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. ia menandatangani perjanjian tersebut. artinya kontrak itu merupakan Undang-undang bagi para pihak yang membuatnya (mengikat). Metode Penelitian Dalam penulisan makalah ini metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. bahkan seringkali tersebut sudah tercetak (boilerplate) dalam bentuk-bentuk formulir tertentu oleh salah satu pihak. dimana dipaparkan mengenai dasar hukum pemberlakuan perjanjian baku dengan mengenyampingkan asas kebebasan berkontrak. Masyarakat sekarang bukan lagi merupakan kumpulan individu seperti pada abad XIX. Itulah sebabnya Buku III KUH Perdata dikatakan menganut sistem terbuka dan didasarkan pada asas kebebasan berkontrak. artinya seseorang bebas untuk mengadakan perjanjian. bebas pula menentukan bentuk kontraknya. yaitu mendatangkan kesejahteraan seoptimal mungkin.[6] Tetapi kebebasan kehendak tersebut dalam kenyataanya seringkali didapati salah satu pihak yang menentukan syarat didalam suatu kontrak. bila para pihak memiliki bargaining power yang seimbang. perjanjian itu sianggap tidak ada karena debitur tidak menandatangani perjanjian itu. adalah perjanjian itu telah terjadi jika telah ada konsensus antara pihak-pihak yang mengadakan kontrak. Menurut Gras dan Pitlo. Yang dimaksud dengan satu perbuatan hukum yang berisi dua ialah penawaran (aanbod/offer) dan penerimaan (aanvaarding acceptance). Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan hukum adalah perbuatan subyek hukum yang didasarkan pada kehendak yang dinyatakan untuk menimbulkan akibat hukum yang dikehendaki dan diakui oleh hukum. Hal inilah yang membuat perjanjian baku sering telah distandarisasi isinya oleh pihak-pihak ekonomi kuat.[5] Communis opinio doctorum selama ini dengan bertitik tolak pada pasal 1313 KUH Perdata menyatakan bahwa “perjanjian adalah suatu perbuatan hukum yang berisi dua” (“een tweezijdige rechtshandeling”) untuk menimbulkan persesuaian kehendak guna melahirkan akibat hukum. Permasalahan Dari uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yaitu apa yang menjadi dasar berlakunya perjanjian baku/standar kontrak ditinjau dari sudut pengenyampingan asas kebebsan berkontrak. Dari bunyi pasal tersebut sangat jelas terkandung asas : a. Penawaran dan penerimaan itu masing-masing pada hakekatnya adalah perbuatan hukum. b. tetapi merupakan kumpulan dari sejumlah ikatan kerja sama (organisasi). Disinilah letak kontradiksi antara asas kebebasan berkontrak dengan pemberlakuan pelaksanaan perjanjian baku. sedangkan pihak lain hanya dapat menerima atau menolak (misalnya dalam kontrak standar: syarat umum dari bank. Apabila debitur menerima isinya pernjanjian tersebut. Pacta Sun Servanda. dan sebagainya). Kebebasan berkontrak. Kontrak ini telah ditentukan secara sepihak oleh salah satu pihak. Untuk itulah perlu adanya penelitian dan pemahaman terhadap hukum kontrak yang meninjau dasar hukum pemberlakuan perjanjian baku/standard contract dengan mengenyampingkan asas kebebasan berkontrak. Perjanjian baku lazimnya dibuat oleh organisasi-organisasi poerusahaan.[4] Asas kebebasan berkontrak adalah refleksi dari perkembangan paham pasar bebas yang dipelopori oleh Adam Smith. yaitu standard contract. terutama pihak ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah. sedangkan pihak lainnya hanya diminta untuk menerima atau menolak isinya. 3. c. Dalam perkembangannya ternyata kebebasan berkontrak dapat mendatangkan ketidakadilan karena prinsip ini hanya dapat mencapai tujuannya. latar belakang lahirnya perjanjian baku antara lain merupakan akibat dari perubahan susunan masyarakat.[7]. Kontrak baku menurut Munir Fuadi adalah :[8] Suatu kontrak tertulis yang dibuat oleh hanya salah satu pihak dalam kontrak tersebut. tetapi apabila ia menolak. syarat penyerahan dari produsen. Standar kontrak merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan dituangkan dalam bentuk formulir. yang dalam hal ini ketika kontrak tersebut ditandatangani umumnya para pihak hanya mengisikan data-data . Berarti masing-masing pihak seyogyanya mempunyai kebebasan kehendak.

Sebagai contoh yang paling dikenal adalah yang menyangkut hubungan antara buruh dan majikan/pengusaha.3. Dalam melihat pembatasan kebebasan berkontrak terhadap kebolehan pelaksanaan kontrak baku terdapat dua pendapat yang dikemukaan oleh Treitel yaitu terdapat dua pembatasan. dan Pasal 6.2. Maksudnya adalah membuat keadan seseorang menjadi lebih baik atau mengganti kerugian dalam keadaan yang memeprburuk.[11] Tanpa sepakat dari salah satu pihak yang membuat perjanjian.[14] Di Indonesia kita ketahui pula ada dijumpai tindakan negara yang merupakan campur tangan terhadap isi perjanjian yang dibuat oleh para pihak. namun hanya UU atau Perpu atau peraturan perundan-undagan yang lebih tinggi saja yang memepunyai kekuatan hukum untuk emmbatsai bekerjanya asas kebebasan berkontrak. Orang tidak dapat dipaksa untuk memberikan sepakatnya. Adanya paksaan menunjukkan tidak adanya sepakat. NBW Belanda Isi ketentuan itu adalah sebagai berikut : Bidang-bidang usaha untuk mana aturan baku diperlukan ditentukan dengan peraturan.5. Asas umum yang pertama mengemukakan bahwa “hukum tidak membatasi syarat-syarat yang boleh diperjanjikan oleh para pihak: asas tersebut tidak membebaskan berlakunya syarat-syarat suatu perjanjian hanya karena syarat-syarat perjanjian tersebut kejam atau tidak adil bagi satu pihak. suatu transaksi atau aturan adalah sah jika membuat keadaan seseorang menjadi lebih baik dengan tidak seorangpun dibuat menjadi lebih buruk. sedangkan menurut ukuran Kaldor-Hicks. maka terdapat landasan hukum dari berlakunya perjanjian baku yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.[10] Menurut Treitel. Artinya kebebasan berkontrak tidak tak terbatas. Bila dikaitkan dengan peraturan yang dikeluarkan yang berkaitan dengan kontrak baku atau perjanjian standar yang merupakan pembolehan terhadap praktek kontrak baku. yaitu : 1. Yang kedua pembatasan kebebasan berkontrak karena alasan demi kepentingan umum (public interest). Yang pertama adalah pembatasan yang dilakukan untuk menekan penyalahgunaan yang disebabkan oleh karena berlakunya asas kebebasan berkontrak. Tetapi tidak semua tingkat peraturan perundang-undangan dapat membatasi asas kebebasn berkontrak. Yang mungkin dilakukan oleh pihak lain adalah untuk memberikan pihak kepadanya. Pasal 6. Pembatasan-pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak yang selama ini dikenal dan diakui oleh hukum kontrak sebagaimana telah diterangkan diatas ternyata telah bertambah dengan pembatasan-pembatasan baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh hukum perjanjian yaitu pembatasan-pembatasan yang datangnya dari pihak pengadilan dalam rangka pelaksanaan fungsinya selaku pembuat hukum. yaitu untuk setuju mengikatkan diri pada perjanjian yang dimaksud atau menolak mengikatkan diri pada perjanjian yang dimaksud.[13] Dari keterangan diatas dapat di ketahui bahwa tidak ada kebebasan berkontrak yang mutlak. dan yang kedua bahwa pada umumnya seseorang menurut hukum tidak dapat dipaksa untuk memasuki suatu perjnjian. Pemerintah dapat mengatur atau melarang suatu kontrak yang dapat berakibat buruk terhadap atau merugikan kepentingan masyarakat. maka perjanjian yang dibuat tidak sah.informatif tertentu saja dengan sedikit atau tanpa perubahan dalam klausul-klausulnya dimana para pihak lain dalam kontrak tersebut tidak mempunyai kesempatan atau hanya sedikit kesempatan untuk menegosiasi atau mengubah klausul-kalusul yang sudah dibuat oleh salah satu pihak tersebut. Intinya adalah bahwa kebebasan berkontrak meliputi kebebasan bagi para pihak untuk menentukan dengan siapa dia ingin atau tidak ingin membuat perjanjian.[12] Namun kebebasan berkontrak diatas tidak dapat berlaku mutlak tanpa batas. “freedom of contract” digunakan untuk merujuk kepada dua asas umum (general principle). suatu transaksi atau aturan sah itu adalah efisien jika memberikan akibat bagi suatu keuntungan sosial. 1. Dengan akibat transasksi yang diinginkan tidak dapat dilangsungkan. dan dari diperkenalkan dan diberlakukannya perjanjian adhesi atau perjanjian baku yang timbul dari kebutuhan bisnis.5. Inilah yang terjadi dengan berlakunya perjanjian baku di dunia bisnis pada saat ini. Misalnya diberlakukannya exemption clauses (kalusul eksemsi) dalam perjanjian-perjanjian baku. . dari pihak pembuat peraturan perundang-undangan (legislature) terutama dari pihak pemerintah. sehingga biasanya kontrak baku sangat berat sebelah.1.[9] Sedangkan menurut Pareto. Sepakat yang diberikan dengan dipaksa adalah contradictio in terminis. Jadi ruang lingkup asas kebebasan berkontrak meliputi kebebasan para pihak untuk menentukan sendiri isi perjanjian yang ingin mereka buat.

8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.19 Prinsip UNIDROIT menentukan sebagai berikut : Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak menggunakan syarat-syarat baku. Prinsip UNIDROIT merupakan prinsip hukum yang mengatur hak dan kewajiban para pihak pada saat mereka menerapkan prinsip kebebasan berkontrak karena prinsip kebebasan berkontrak jika tidak diatur bisa membahayakan pihak yang lemah. kecuali suatu pihak sebelumnya telah menyatakan jelas atau kemudian tanpa penundaan untuk memberitahukannya kepada pihak lain. perjanjian sepihak adalah perjanjian yang memberikan kewajibannya kepada satu pihak dan hak kepada satu pihak dan hak kepada pihak lainnya. Seseorang yang menandatangani atau dengan cara lain mengetahui isi janji baku atau menerima penunjukkan terhadap syarat umum. 5. Macam-macam Perjanjian Jenis –jenis Perjanjian 1) Perjanjian timbale balik dan perjanjian sepihak. Pasal 2. Pasal 2. UU No.20 – pasal 2. Syarat-syarat baku merupakan aturan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu untuk digunakan secara umum dan berulang-ulang oleh salah satu pihak dan secara nyata digunakan tanpa negosiasi dengan pihak lainnya. suatu kontrak disimpulkan berdasarkan perjanjian-perjanjian yang telah disepakati dan persyaratan-persyaratan standar yang memiliki kesamaan dalam substansi. Cara menyusun dan cara bekerja panitia diatur dengan Undang-undang. dan pencabutan aturan baku hanya mempunyai kekuatan. Dengan telah dikeluarkannya peraturan-peraturan tersebut diatas menunjukkan bahwa pada intinya kontrak baku merupakan jenis kontrak yang diperbolehkan dan dibenarkan untuk dilaksanakan oleh kedua belah pihak karena pada dasarnya dasar hukum pelaksanaan kontrak baku dibuat untuk melindungi pelaksanaan asas kebebasan berkontrak yang berlebihan dan untuk kepentingan umum sehingga perjanjian kontrak baku berlaku dan mengikat kedua belah pihak yang membuatnya. Penetapan. 2. Pengertian kontrak baku. persyaratan yang disebut terakhir dinyatakan berlaku. 2) Perjanjian percuma dan perjanjian dengan alas hak yang membebani . dan penyajiannya. 1. perubahan. Pasal 2. maka berlaku aturan-aturan umum tentang pembentukan kontrak dengan tunduk pada pasal 2. kecuali untuk beberapa persyaratan tertentu.19 sampai dengan pasal 2.22. setelah ada persetujuan raja dan keputusan raja mengenai hal itu dalam Berita Negara. Pasal 2. 4. Janji baku dapat dibatalkan. 3. Pasal 2. misalkan hibah. bahwa hal tersebut tidak dimaksudkan untuk terikat dengan kontrak tersebut. melalui sebuah panitian yasng ditentukan untuk itu.21 berbunyi :dalam hal timbul suatu pertentangan antara persyaratan-persyaratan standar dan tidak standar.20 Prinsip UNIDROIT menentukan sebagai berikut : Suatu persyaratan dalam persyaratan-persyaratan standar yang tidak dapat secara layak diharapkan oleh suatu pihak.22 Jika kedua belah pihak menggunakan persyaratan-persyaratan standar dan mencapai kesepakatan. 2. diubah dan dicabut jika disetujui oleh Menteri kehakiman. Ketentuan ini mengatur tentang : a. terikat kepada janji itu. Untuk menentukan apakah suatu persyaratan memenuhi ciri seperti tersebut diatas akan bergantung pada isi bahasa. 6. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. dinyatakan tidak berlaku kecuali pihak tersebut secara tegas menerimanya. 7.Aturan baku dapat ditetapkan. jika pihak kreditoir mengetahui atau seharunya mengetahui pihak kreditur tidak akan menerima perjanjian baku itu jika ia mengetahui isinya. Tunduknya salah satu pihak terhadap kontrak baku b.22 prinsip UNIDROIT (Principles of International Comercial Contract). UU No 10 Tahun 1988 tentang Perubahan UU No.

yaitu perundingan dan penandatanganan. ekstradisi. dan IBRD 2. dan SEATO CGI. Berdasarkan Pihak-pihak yang Terlibat. Contoh :   Perjanjian antar organisasi internasional Tahta suci (Vatikan) dengan organisasi MEE. dan ratifikasi. Berdasarkan Isinya      Contoh : Segi politis.   NATO. 3. yaitu organisasi internasional organisasi internasional lainnya. 1. 4. . Kerjasama ASEAN dan MEE. Segi ekonomi. batas alam daratan.    Status kewarganegaraan Indonesia-RRC. Perjanjian antarsesama subjek hukum internasional selain negara. ANZUS. Segi hukum Segi batas wilayah Segi kesehatan. IMF. Berdasarkan Proses/Tahapan Pembuatannya   Contoh : Perjanjian bersifat penting yang dibuat melalui proses perundingan. Berdasarkan Subjeknya    Perjanjian antarnegara yang dilakukan oleh banyak negara yang merupakan subjek hukum internasional. seperti bantuan ekonomi dan bantuan keuangan. seperti pakta pertahanan dan pakta perdamaian. Masalah karantina. penanggulangan wabah penyakit AIDS. penandatanganan. Laut teritorial. Perjanjian bersifat sederhana yang dibuat melalui dua tahap.3) Perjanjian bernama dan tidak bernama 4) Perjanjiankebendaan dan perjanjian obligatoir 5) Perjanjian konsensual dan perjanjian real Macam-Macam Perjanjian Internasional Perjanjian internasional sebagai sumber formal hukum internasional dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Perjanjian internasional antara negara dan subjek hukum internasional lainnya.

Perjanjian internasional lebih menjamin kepastian hukum. Perjanjian internasional menjadi hukum terpenting bagi hukum internasional positif. Contoh :  Perjanjian antara Indonesia dengan Filipina tentang pemberantasan dan penyelundupan dan bajak laut. tetapi juga mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan umum dan bersifat terbuka yaitu memberi kesempatan bagi negara lain untuk turut serta dalam perjanjian tersebut.  Konvensi hukum laut tahun 1958 (tentang Laut teritorial. akibat-akibat yang timbul dalam perjanjian tersebut hanya mengikat dua negara saja yaitu Indonesia dan RRC. syarat. Bersifat khusus (treaty contact) karena hanya mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan kedua negara saja. sebab perjanjian internasional diadakan secara tertulis. konvensi Jenewa (tahun 1949) tentang Perlindungan Korban Perang. Perjanjian bilateral. Zona Ekonomi Esklusif. 2. Zona Bersebelahan. perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura yang ditandatangani pada tanggal 27 April 2007 di Tampaksiring. Berdasarkan Fungsinya  Law Making Treaties / perjanjian yang membentuk hukum. sehingga ia diakui oleh hukum (legally concluded contract). sehingga perjanjian ini sering disebut law making treaties. Syarat Sahnya Perjanjian Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh undang.  Perjanjian Multilateral. 3. adalah perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban. Konvensi Wina (tahun 1961) tentang hubungan diplomatik.undang. Menurut ketentuan pasal 1320 KUHPdt. yaitu menutup kemungkinan bagi pihak lain untuk turut dalam perjanjian tersebut. konvensi Wina tahun 1961 (tentang hubungan diplomatik) dan konvensi Jenewa tahun 1949 (tentang perlindungan korban perang).  5. adalah perjanjian yang diadakan oleh banyak pihak. adalah perjanjian yang diadakan oleh dua pihak. diantaranya sebagai berikut : 1. perjanjian Indonesia dengan RRC pada tahun 1955 tentang dwi kewarganegaraan. Perjanjian ini bersifat tertutup. Bali. Di dalam perjanjian internasional diatur juga hal-hal yang menyangkut hak dan kewajiban antara subjeksubjek hukum internasional (antarnegara). Konvensi hukum laut (tahun 1958). adalah suatu perjanjian yang meletakkan ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah hukum bagi masyarakat internasional secara keseluruhan (bersifat multilateral). Kedudukan perjanjian internasional dianggap sangat penting karena ada beberapa alasan. karena lebih menjamin kepastian hukum. tidak hanya mengatur kepentingan pihak yang terlibat dalam perjanjian. 1. Contoh : Perjanjian Indonesia dan RRC tentang dwikewarganegaraan. dan Landas Benua). Perjanjian internasional mengatur masalah-masalah kepentingan bersama diantara para subjek hukum internasional.  Treaty contract / perjanjian yang bersifat khusus. yang hanya mengikat bagi negara-negara yang mengadakan perjanjian saja (perjanjian bilateral).syarat sah perjanjian adalah sebagai berikut: .

karena berbicara mengenai objek yang diperjanjikan dalam sebuah perjanjian. Keempat syarat untuk sahnya perjanjian tersebut antara lain : 1. serta orang-orang yang dilarang oleh undang-undang untuk melakukan perbuatan hukum tertentu seperti orang yang telah dinyatakan pailit oleh pengadilan. perjanjian tersebut tetap mengikat. Suatu Hal Tertentu. suatu perjanjian dinyatakan sah apabila telah memenuhi 4 (empat) syarat komulatif. dan • Tidak bertentangan dengan undang-undang. Sedangkan. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. 4. Dalam perjanjian bilamana syarat-syarat subjektif tidak terpenuhi maka perjanjiannya dapat dibatalkan oleh hakim atas permintaan pihak yang tidak cakap atau yang memberikan kesepakatan secara tidak bebas. sehingga ia diakui oleh hukum (legally concluded contract). suatu perjanjian harus berdasarkan sebab yang halal yang tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 1337 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Sepakat diantara mereka yang mengikatkan diri. menurut Pasal 1330 KUHPerdata jo. Artinya. Artinya para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat atau setuju mengenai hal-hal pokok atau materi yang diperjanjikan. bilamana syarat-syarat objektif yang tidak dipenuhi maka perjanjiannya batal demi hukum. orang-orang yang ditaruh dibawah pengampuan. Selama tidak dibatalkan. sehat akal pikiran. Arti kata kecakapan yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa para pihak telah dinyatakan dewasa oleh hukum. apabila diberikan karena kekeliruan. apa yang diperjanjikan harus jelas sehingga hak dan kewajiban para pihak bisa ditetapkan. syarat kesatu dan kedua dinamakan syarat subjektif.pihak untuk membuat perjanjian (capacity) 3) Ada suatu hal tertentu (a certain subject matter) 4) Ada suatu sebab yang halal (legal cause) Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh undang. kekhilafan. sedangkan ketiga dan keempat dinamakan syarat objektif. . • Tidak bertentangan dengan kesusilaan. Cakap juga berarti orang yang sudah dewasa. Suatu Sebab Yang Halal. paksaan ataupun penipuan. Menurut ketentuan pasal 1320 KUHPdt.syarat sah perjanjian adalah sebagai berikut: 1) Ada persetujuan kehendak antara pihak. Pasal 433 KUPerdata. Artinya. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. dalam membuat perjanjian. yaitu : • Tidak bertentangan dengan ketertiban umum. dan tidak dilarang oleh suatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu.1) Ada persetujuan kehendak antara pihak.pihak untuk membuat perjanjian (capacity) 3) Ada suatu hal tertentu (a certain subject matter) 4) Ada suatu sebab yang halal (legal cause) Berdasarkan ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.undang. sudah atau pernah menikah. syarat.pihak yang membuat perjanjian (consensus) 2) Ada kecakapan pihak. mereka yang telah berusia 21 tahun. karena berbicara mengenai subjek yang mengadakan perjanjian. Artinya batal 3. Dan orang-orang yang dianggap tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum yaitu : orang-orang yang belum dewasa. Dan kesepakatan itu dianggap tidak ada 2. menurut Pasal 1330 jo. yakni sesuai dengan ketentuan KUHPerdata. Pasal 47 UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.pihak yang membuat perjanjian (consensus) 2) Ada kecakapan pihak.

c. dari semula dianggap tidak pernah ada perjanjian sehingga tidak ada dasar untuk saling menuntut di pengadilan. d) menentukan tempat terjadinya perjanjian. d. 4. yang dimaksud adalah bahwa perjanjian/kontrak lahir pada saat terjadinya konsensus/sepakat dari para pihak pembuat kontrak terhadap obyek yang diperjanjikan. tak peduli apakah surat tersebut dibuka atau dibiarkan tidak dibuka. Pernyataan pihak yang menawarkan dinamakan tawaran (offerte). Atas permintaan salah satu pihak : pembatalan dimintakan oleh salah satu pihak misalnya dalam hal ada salah satu pihak yang tidak cakap menurut hukum. c) saat mulai dihitungnya jangka waktu kadaluwarsa. b. Pihak lainnya dapat menyangkal hal itu. jika ia memang menghendaki apa yang disepakati. Pernyataan pihak yang menerima penawaran dinamakan akseptasi (acceptatie). b) penentuan resiko.demi hukum bahwa. Seorang dikatakan memberikan persetujuannya/kesepakatannya (toestemming). Mariam Darus Badrulzaman melukiskan pengertian sepakat sebagai pernyataan kehendak yang disetujui (overeenstemende wilsverklaring) antar pihak-pihak. maka harus ada pembuktian. Dengan kata lain kontrak itu ada pada saat pihak lain menyatakan penerimaan/akseptasinya. Pembatalan dan Pelaksanaan Suatu Perjanjian BATALNYA PERJANJIAN : 1. Teori Pernyataan (Uitings Theorie) Menurut teori ini. Jadi secara yuridis perjanjian tersebut dianggap tidak pernah ada. Harus ada gugatan kepada Hakim. Teori penerimaan (Ontvangtheorie). Yang pokok adalah saat surat tersebut sampai pada alamat si penerima surat itulah yang dipakai sebagai patokan saat lahirnya kontrak. Batal demi hukum : suatu perjanjian menjadi batal demi hukum apabila syarat objektif bagi sahnya suatu perjanjian tidak terpenuhi. Teori Pengiriman (Verzending Theori). Menurut teori ini saat pengiriman jawaban akseptasi adalah saat lahirnya kontrak. Ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk menentukan saat lahirnya kontrak yaitu: a. Jadi pertemuan kehendak dari pihak yang menawarkan dan kehendak dari pihak yang akeptasi itulah yang disebut sepakat dan itu yang menimbulkan/melahirkan kontrak/perjanjian. Sedang yang dimaksud konsensus/sepakat adalah pertemuan kehendak atau persesuaian kehendak antara para pihak di dalam kontrak. Saat Lahirnya Perjanjian Saat Lahirnya Perjanjian Menetapkan kapan saat lahirnya perjanjian mempunyai arti penting bagi : a) kesempatan penarikan kembali penawaran. Pada umumnya perjanjian yang diatur dalam BW bersifat konsensual. 2. 1. Teori Pengetahuan (Vernemingstheorie). Berdasarkan Pasal 1320 jo 1338 ayat (1) BW/KUHPerdata dikenal adanya asas konsensual. Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat jawaban akseptasi diketahui isinya oleh pihak yang menawarkan. Tanggal cap pos dapat dipakai sebagai patokan tanggal lahirnya kontrak. 5. Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat diterimanya jawaban. kontrak telah ada/lahir pada saat atas suatu penawaran telah ditulis surat jawaban penerimaan. 1. .

UU memberikan kebebasan kepada para pihak apakah akan menghendaki pembatalan atau tidak – oleh UU pembatalan tersebut dibatas sampai 5 thn.blogspot.co.php?view=article&catid=46:mata-kuliah-&id=251:hukum-perikatan-aamppersetujuan-khusus&option=com_content&Itemid=58 http://www. *Asas konsensus yang terdapat dalam pasal 1320 KUHPer tidak berlaku secara keseluruhan tetapi ada pengecualiannya. maka harus dibuatkan dengan akta notaris.html http://oraetlabora-aiueo. perjanjian tersebut tidak boleh di atur atau dibatalkan secara sepihak saja.cc/2011/04/hukum-perjanjian.eko-purwanto.ac. Salah satunya untuk memperoleh hak milik ialah jual beli.tanyahukum. Jadi perjanjian itu mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa.com/2010/12/macam-macam-perjanjian-internasional. diatur oleh pasal 1454 KUHPer tetapi pembatasan waktu tersebut tidak berlaku bagi pembatalan yang diajukan selaku pembelaan atau tangkisan.gunadarma.html http://gitandriy.com/2011/02/5hukum-perjanjian.blogspot. Pelaksanaan perjanjian ialah pemenuhan hak dan kewajiban yang telah di perjanjikan oleh pihak-pihak supaya perjanjian itu mencapai tujuannya. Perjanjian yang telah di buat secara sah mengikat pihak-pihak.html http://wisbenbae. Referensi: http://wartawarga. Apabila perjanjian dengan diharuskan dibuat dengan bentuk tertentu tersebut tidak dipenuhi maka perjanjian itu BATAL DEMI HUKUM.tumblr.com/main/index.blogspot. perjanjian perdamaian harus dibuat tertulis. misalnya hibah benda tak bergerak.com/perdata/164/syarat-sah-perjanjian/ http://makalahdanskripsi.com/2008/07/makalah-hukum-perikatan. artinya pelaksanaan perjanjian harus mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan. Undang-undang menetapkan suatu formalitas untuk perjanjian tertentu. Pelaksanaan Itikad baik dalam pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata merupakan ukuran objektif untuk menilai pelaksanaan perjanjian.com/post/342536732/macam-macam-perjanjian-internasional .id/2011/04/bab-iii-jukum-perjanjian/ http://www.akta-online. dll.1.html http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful