P. 1
Makalah Tafsir Ayat Hukum (Alat Bukti Di Pengadilan)

Makalah Tafsir Ayat Hukum (Alat Bukti Di Pengadilan)

|Views: 466|Likes:
Published by Fasmawi Saban

More info:

Published by: Fasmawi Saban on May 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2013

pdf

text

original

TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.

Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 1

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr,wb,.
Alhamdulillah Berkat pertolongan Allah SWT kami penulis dapat
menyajikan makalah yang berjudul “ Tafsir Al Quran surat Al-baqarah ayat
224-225.” didalamnya membahas bagaimana menjadi seorang yang adil, amanah
dan jujur terhadap apa yang mereka kerjakan.
Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas prodi ilmu hukum dalam
materi tafsir ayat hukum di UIN (SUKA) Yogyakarta, disamping itu juga sebagai
pembelajaran bagi kami penulis untuk mengetahui semua aspek aspek yang
berkaitan dengan tafsir Al Quran surah Al-baqarah ayat 224-225.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa makalah ini masih sangant
jauh dari sempurna, baik isi, susunan kalimat maupun sistematika
pembahasannya. Untuk itu teguran, saran dan nasihat para pembaca serta dosen
Pengampu senantiasa kami harapkan demi kesepurnaan makalah kami ini,. tiada
gading yang tak retak,kata pepatah.
Namun upaya mencari gading yang tidak retak setidaknya telah kami
usahakan.Akhirnya segala kesalahan dan kekurangan adalah tanggung jawab kami
sebagai penusun.namun,apabila terdapat kebenaran dalam Makalah inisemata
karena hanya ridho,tuntunan,dan petunjuk dari allah sang maha pencipta.
Wassalamualaikum wr,wb


Yogyakarta, 20 Desember 2011

penulis
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 2


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................1
DAFTAR ISI..........................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................3
A. Latar Belakang...............................................................................3
B. Rumusan Masalah..........................................................................4
C. Maksud Dan Tujuan.......................................................................4

BAB II PEMBAHASAN..................................................................... 5
A. Bunyi ayat,Terjemahan dari QS.Al-Baqarah ayat 224-225...........5
B. Kata Penting atau Keyword dari QS.Al-Baqarah ayat 224-225....5
C. Asbabunnuzul QS.Al-Baqarah ayat 224-225.................................8
D. Korelasi dengan ayat yang lainya................................................11
E. Penafsiran dari berbagai tokoh/kitab tafsir.................................13
F. Aplikasi Dari Tafsir Tersebut Dengan Kegiatan Hukum.............16


BAB III PENUTUP............................................................................17
A. Kesimpulan................................................................................17
B. Saran..........................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................18




TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 3

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Selain mendengarkan keterangan pernyataan dari saksi,Seorang
hakim dalam menjatuhkan putusanya juga harus melihat “Alat Bukti” dari Orang
yang berperkara tersebut. Alat bukti adalah alat-alat atau upaya yang bisa
dipergunakan oleh pihak-pihak yang berperkara di muka sidang pengadilan untuk
meyakinkan hakim akan kebenaran tuntutan atau bantahannya Alat bukti ini
sangat penting artinya bagi para pihak yang berperkara merupakan alat atau sarana
untuk meyakinkan kebenaran tuntutan hak penggugat atau menolak tuntutan hak
bagi hakim.Suatu perkara di pengadilan tidak dapat diputus oleh hakim tanpa
didahului dengan pembuktian. Dengan kata lain, kalau gugatan penggugat tidak
berdasarkan bukti maka perkara tersebut akan diputus juga oleh hakim tetapi
dengan menolaknya gugatan karena tidak ada bukti. tujuan utama dari alat bukti
ialah untuk lebih memperjelas dan meyakinkan hukum sehingga ia tidak keliru
dalam menetapkan putusannya dan pihak yang benar tidak dirugikan sehingga
dengan demikian keadilan di muka bumi ini dapat ditegakkan.
Alat bukti terdiri dari beberapa macam di antaranya ada yang disepakati oleh
Mazhab-mazhab dan sebagainya lagi masih diperselisihkan. Diantara alat bukti
yang kebanyakan digunakan oleh para fuqaha seperti diungkapkan oleh Abu
Yusuf :
،هـيـمي ، زا سـقا ، ل ىكو ، تماسق ،تـىيـب ، هب مهغ نا سق و
Artinya: “©Sumpah, Pengakuan, penolakan sumpah, qasamah, bayyinah,
ilmu qadhi dan petunjuk-petunjuk) ©”
Menurut sistem HIR dan RBg hakim terikat dengan alat-alat bukti sah
yang diatur dengan undang-undang. Ini berarti hakim hanya boleh menjatuhkan
putusan berdasarkan alat-alat bukti yang telah diatur undang-undang. Menurut
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 4

ketentuan Pasal 164 HIR, 284 RBg, dan 1866 BW ada lima jenis alat bukti dalam
perdata yaitu: surat, saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah.Sedangkan
menurut Hukum Acara Perdata yang biasa dipergunakan pada pengadilan dalam
lingkungan peradilan agama, ada 7 (tujuh) macam alat-alat bukti yang dapat
dijadikan bukti kebenaran dan ketidakbenaran suatu di pengadilan, yaitu:Alat
bukti surat-surat (tertulis),Alat bukti saksi,Alat bukti persangkaan,Alat
bukti pengakuan,Alat bukti sumpah,Alat bukti pemeriksaan setempat,Alat
bukti keterangan ahli.
1

Salah satu hal yang menarik dari macam-macam alat bukti yaitu “Alat
Bukti Sumpah”.Sumpah adalah pernyataan yang dilakukan oleh seseorang dengan
membawa nama allah.Sumpah seseorang yang berperkara dipengadilan dapat
dijadikan sebagai alat bukti oleh kebenaran/hak.Keterangan atau dalil-dalil
alqur‟an yang emnejlaskan tentang “ALAT BUKTI” tersebut adalah: QS.AL-
BAQARAH AYAT 224-225
B. RUMUSAN MASALAH
 Bagaimanakah Penafsiran QS.Al-Baqarah ayat 224-225 yaitu sumpah sebagai
alat bukti?
 Dengan mengurikan:
1) Bunyi ayat,Terjemahan dari QS.Al-Baqarah ayat 224-225.
2) Kata penting atau Keyword dari QS.Al-Baqarah ayat 224-225.
3) Asbabunnuzul QS.Al-Baqarah ayat 224-225.
4) Korelasi dengan ayat yang lainya.
5) penafsiran dari berbagai tokoh/kitab tafsir.

C.Maksud Dan Tujuan
 Meengetahui isi penafsiran terhadap QS.Al-Baqarah ayat 224-225
seumpah sbgai alat bukti.

1
Diakses dari internet tanggal 20 Desember 2011
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 5

BAB II
PEMBAHASAN
A.Bunyi Dan Terjemahan Surat Al-Baqarah, Ayat:224-225
Bismillahirrohmanirrohiiim....
ºº4Ò* W-O¬UE¬^_Ò` -.- LO=¯¯ONN
¯ª¬:g4E©uC+· ]Ò¡ W-ÒGOE¯·>
W-O¬³+-·>4Ò W-O÷·)U¯¬>4Ò ¬-u-4
+EE4¯- ¯ +.-4Ò 77Og¼E- _¦1)U4×
^ggj÷ ·º Nª77Og·-E·NC +.-
÷O^¯^U¯) EO)× ¯ª7¯g4E©uCÒ¡
}´¯·¯4Ò ª77Og·-E·NC E¼g¯ ;e4:=OE
¯ª7¯+O¬U¬~ ¯ +.-4Ò NOO¬¼EN ¬®7)UEO
^gg)÷
Terjemahan:
224. "Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai
penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan Mengadakan ishlah di antara
manusia. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui".
225. "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud
(untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang
disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyantun".
2

B.Keyword Atau Kata Penting
o

ت
َ
ض
ْ
سُ ع = Al-„urdhah,Sama dengan Al-Ghurfah (kamar),artinya
mencegah atau menghalang-halangi sesuatu.
3
Dalam Tafsir Al-Azhar:Di dalam
ayat yang tengah kita tafsirkan ini kita bertemu dengan kalimat urdhatun, yang
mempunyai dua arti. Pertama penghalang, kedua sasaran. Menurut arti yang
pertama ialah, janganlah kamu jadikan Allah menjadi penghalang bagi sumpah
kamu, yang menghalangi kamu nernuat kebajikan dan bertaqwa dan
mendamaikan di antara manusia. Arti kedua dari urdhatun, ialah sasaran, atau
alamat pembidikan ketika belajar memanah atau menembak, sehingga seluruh
mata dan perhatian ditujukan kesana. Maka Allah telah dijadikan sasaran sumpah,

2
Al-Qur‟an Surat al-baqarah ayat 224-225 halaman
3
Ahmad Musthafa Al-Maraghi ,Tafsir Al-Maraghi,cetakan pertama,halaman 299
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 6

artinya ialah mempermudah-mudah kebesaran Tuhan, untuk memperkuat suatu
sumpah. Inipun perbuatan yang tidak layak.


o O^¯^U¯ = Al-laghwu :
Perkataan yang terucap ditengah-tengah pembicaraan serupa sumpah yang keluar
tanpa disengaja,Seperti wa‟lah dan La wa‟lah,perkataan ini terucap tanpa
disengaja dtidak dimaksudkan sebagai sumpah (merupakan kebiasaan orang-
orang arab,pen.),Allah tidak mewajibkan kifarat padanya dan tidak merupakan
perbuatan dosa,supaya tidak mempersempit kaum mu‟min.
4

Di sisni terdapat kata laghwi, yang di dalam terjemahannya kita
artikan sia-sia. Menurut arti yang biasa laghwi artinya ialah kata-kata terlanjur aau
kata-kata yamg tidak diperhitungkan masak-masak. Bercakap asal bercakap saja.
Maka dalam hal ini ahli-ahli tafsir yang mu‟tabar telah mengeluarkan berbagai
pendapat. Menurut ibnu Abbas dan Aisyah dan sebagian ahli-ahli tafsir, arti
laghwi disini ialah kat terbiasa yang diucapkan orang sekedar menguatkan saja,
misalnya Tidak! Demi Allah! Atau memang begitu halnya! Demi Allah. Di dalam
percakapan sehari-hari, dengan tidak maksud hati bersumpah.
Menurut al-Maruzi, begitulah arti laghwi pada sumpah itu, yang telah
sama pendapat-pendapat ulama-Ulama atasnya. Menurut Abu Hurairah sumpah
laghwi ialah bersumpah untuk memastikan bahwa yang akan kejadian ini begini.
Tetapi kemudian setelah sampai waktunya, maka yang kejadian itu berbeda
dengan yang telah dipastikannya itu. Itupun termasuk sumpah laghwi. Menurut
riwaya yang lain dari Ibnu Abbas, sumpah laghwi ialah sumpah seseorang
seketika dia sangat marah. Pendapatnya itu disnut juga oleh Thawus dan Makhul.
Menurut satu riwayat dari Ibny Mali, sumpah laghwi ialah sumpah atas akan
berbuat maksiat. Pendapat inipun diterima dari Said bin Musayyab, dan Abu
Bakar bin Abdurahman dan Abdullah bin Zubair dari saudaranya Urwah.
Seumpama kalau orang bersumpah bahwa dia akan meminum khamar, atau
bersumpah hendak memutuskan silaturahmi.
Menurut Zaid bin Aslam, sumpah laghwi ialah sumpah seseorang atas
dirinya sendiri, seumpama dia berkata:”Biarlah Allah membutakan mataku,” atau
“biarlah Allah melicin-tandaskan hartaku”, atau seorang berkata:”Biarlah aku jadi
Yahudi, biar aku jadi Musyrik”, namun aku tidak akan mengerjakan demikian,
atau tidak pernah berbuat begitu. Dari segala macam penafsiran ini dapatlah kita
simpulkan bahwasannya orang yang sedang sangat marah dan kalaf, sehingga dia
bersumpah memakai nama Allah, maka sumpahnya itu tidaklah dimakan hokum.
Misalnya kata orang yang sanyat marah, kepada ana kandungnya:”Demi Allah

4
Ahmad Musthafa Al-Maraghi ,Tafsir Al-Maraghi,cetakan pertama,halaman 300
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 7

mulai hari ini engkau tidak akan saya beri belanja lagi!” Sumpah waktu marah itu
dipandang laghwi sama juga dengan orang yang menjatuhkan talak kepada
istrinya di waktu dia sedang sangat marah. Di ujung ayat Tuhan bersabda:
“Sedang Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ujung ayat
225).
Dengan sabda Allah bahwa sumpah yang laghwi itu biasa
diampuni, sebab Tuhan Maha Pengampun dan Penyayang, sudah mendapat kesan
yang halus sekali,bahwa sumpah yang laghhwi itupun tercela juga. Kalau dapat
kita herndaklah mengelakka diri daripada berbuat demikian, meskipun tidak akan
membayar kaffarah. Di dala surah al-Mu‟minun, surat 23 ayat 3 diterangkan
setengah dari sebab kemenangan yang akan dicapai oleh oreang yang beriman,
ialah apabila mereka suka berpaling dari segala perbuatan laghwi, yamg tidak ada
faedahnya yang sia-sia. Memang sudah menjadi kebiasaan setengah orang,
terutama bangsa yang emakai bahasa arab, menguatkan kata dengan Wallahi atau
tallahi dan billahi, buikan bermaksud sumpah. Misalnya orang bertanya apa kabar
si anu, dia enjawab: khoir Wallahi! (Dia dalam baik, Demi Allah!).
Atau dia berkata karena telah lelah: Ana ta’ban, Wallahi (Saya amat
lelah, Wallahi). Dan orang bertanya: Apa betul ada pencuri mencoba masuk
rumah saudara semalam? Dia menjawab: Ee, Wallah! (Benar, Demi Allah). Orang
Islam Indonesia yang tidak terbiasa atau tidak mempunyai kalimat Wallah untuk
menguatkan kata dan hanya untuk bersumpah saja, apabila mulai bergaul dengan
orang arab, kerapkali merasa dan mempermudah-mudah sumpah. Padahal bagi
mereka hal itu bukan sengaja sumpah, hanya penguat kata saja. Rupanya karena
ini telah kebiasaan lama, dan bukan sengaja bersumpah, tidaklah dia ditarik oleh
Allah. Sumpah yang ditarik dan diperhituingkan, ialah sumpah yang dating dari
hati atau sebagai disebut dalam ayat “diusahakan oleh hati,” sumpah sebenar
sumpah yang wajibdikuatkan dengan nama Allah, sumpah yang demikianlah yang
dikenakan kaffarah kalau hendak dibatalkan.
o
ْ
م
ُ
ك
ِ
ىـ
َ
م
ْ
ي
َ
أ = Al-aiman,Aiman adalah jamak dari kata yamin ,sinonimnya
adalah qasam yang berarti “sumpah”,menurut istilah yamin adalah penguatan
urusan dengan menyebut nama allah,atau yang menyebut salah satu sifatnya .
Kata yamin dipinjam dari kebiasaan orang yang bersumpah selalu
mengggunakan tangan kanan untuk bersalaman.
5


5
Ahmad Musthafa Al-Maraghi ,Tafsir Al-Maraghi,cetakan pertama,halaman 299
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 8

Sebagaimana bunyi hadits Rasululloh Saw,berikut ini:
“Barang siapa Bersumpah pada sesuatu,kemudian ia melihat bahwa sesuatu itu
baik baginya ,maka hendaknya ia mengambil yang baik itu (membatalkan
sumpahnya,pen)”,kemudian ia wajib membayar kifarat atas sumpahnya.
6


C.Asbabunnuzul Qs.Al-Baqarah Ayat 224-225
Dalam makalah ini,saya menitikberatkan pembhasan kepada ayat 224
saja dan ayat 225 hanya sebagai pelengkap.
Sebagaimana kita maklumi, sumpah ialah suatu perjanjian yang
diteguhkan dengan memakai nama Allah! Kitapun bisa bersumpah hendak
menghentikan suatu pekerjaan ataupun mengerjakannya. Ada orang yang dengan
memakai nama Allah, berjanji tidak akan menolong si anu.
Diriwayatkan oleh ibnu jarir latar belakang turunya ayat ini ketika
Sayyidina Abu Bakar; beliau pernah bersumpah: "Demi Allah", aku tidak lagi
akan memberikan bantuan kepada si Misthah. Karena si Misthah ini yang
hidupnya sejak pindah dari Makkah ke Madinah, adalah dibantu oleh Abu Bakar,
seketika orang-orang munafik membuat fitnah bahwa Siti Aisyah berlaku serong
dengan seorang pemuda bernama Shafwan, maka si Misthah inipun turut
menyebar-nyebarkan fitnah itu pula. Maka kemudian setelah turun ayat Allah
membersihkan Aisyah dari noda buruk itu, Abu Bakar tidak lagi akan
memberikan bantuannya lagi kepada si Misthah, patut dia berlaku demikian
terhadap si Misthah yang selama ini telah mendapat bantuan daripadanya.
Lantaran teguran ayat itu, Abu Bakar telah membayar Kaffarah sumpahnya yang
terlanjur itu.
Dalam hal ini Abu Bakar telah menjadikan Nama Allah menjadi
penghalang atas maksudnya hendak berbuat baik, membantu orang lain. Oleh
sebab itu janganlah orang sampai mengambil nama Allah menjadi penghalang
baginya berbuat baik, atau untuk menegakkan takwa. Karena segala kebajikan
yang kita kerjakan, tujuan keta ialah supaya dia menjadi jalan untuk
memperkokoh ketakwaan kita kepada Allah.

6
Ahmad Musthafa Al-Maraghi ,Tafsir Al-Maraghi,cetakan pertama,halaman 299
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 9

Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari
„Atha‟, bahwa seorang laki-laki datang kepada Aisyah r.a. Orang itu berkata:”
Saya bernadzar bahwa saya tidak akan bercakap-cakap dengan si pulan. Kalau aku
bercakap-cakap dengan dia, maka sekalian budak-budakku akan merdeka, dan
segala harta-hartaku akan akan aku jadikan beban buat menutupi (aku belikan
pakaian) bagi ka‟bah.” Mendengar nadzar yang ganjil itu, Aisyah berkata
padanya:”Janganlah engkau lahjutkan sumpah atau nadzar demikian. Janganlah
engkau jadikan yang demikian akan sebab merdeka budak-budakmu dan dan
jadikan ahrta bendasmu akan jadi pakaian ka‟bah. Sebab cara demikian telah telah
dilarang Allah dengan ayat. Dan janganlah kamu jadaikan Allah jadi penghalang
dari sumpahmu, sebab itru hendaklah segera engkau bayar kaffarah dari
sumpahmu itu”.
Nyata sekarang bahwa ayat ini melarang keras orang bersumpah
dengan nama Allah buat menghambat dirinya dari satu pekerjaan yang baik, dan
banyaklah missal-misal yang dapat dikemukakan untuk itu. Misalnya orang
berkata:”Demi Allah, saya tidak akan ke Makkah selama si anu masih bercokol
disana. Atau demi Allah biar si anu dan si pulan itu berkelahi terus-menerus,
namun aku tidak akan mendamaikan mereka.” Maka sumpah-sumpah tersebut
yang menjadikan Alllah jadi penghalang dari suatu perbuatan yang baik, atau
menjadikan Allah menjadi sasaran sumpah, amatlah dicela oeh Tuhan, dan di
ujung ayat Tuhan bersabda: “Dan Allah adalah Maha Mendengar, lagi
Mengeetahui” (Ujung ayat 224).
Allah mendengar perkataan-perkataan yang terlanjur itu, sebab
Namanya Allah telah dijadikan penghalang atau sasaran, dan Allah pun
mengetahui, bahwa perbuatan dan percakapan demikian adalah timbul dari
kekurangan adab kepada Allah yang tiada pantas bagi seorang yangberiman.
Maka bersabda Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan sumpah-sumpah semacam itu:
“Barangsiapa yang bersumpah atas suatu persumpahan, lalu dilihatnya ada hal
yang lebih baik dari itu, hendaklah dia lakukan pekerjaan yang lebih baik itu, dan
hendaklah dia bayar kaffarah sumpahnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim).Dikuatkan lagi oleh sabda-sabda abeliau yang lain, di antaranya ialah
sabdanya:
“Tidak ada nadzar dan tidak ada supah pada perkara yang tidak dikuasai oleh
anak adam, dan tidak pula dalam hal yang memutuskan silaturahmi.”
(Diriwayatkan oleh Abu Daud,Ibnu Majah dan Imam Ahmad).
Missal perkara yang tidak dapat dikuasai oleh anak adam ialah
bersumpah akan berangkat meninggalkan kota kediaman dan berpindah ke negeri
lain besok juga! Sebab hari esok bukanlah kepastian manusia, melainkan
ketentuan Allah, melainkan katakana sajal;ah “Insya Allah”.
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 10

Atau bersumpah dalam hal maksiat. Misalnya: Demi Allah, sebelum
aku berzina dengan perempuan itu, belumlah aku akan bertaubat.Missal yang
ketiga bersumpah memutruskan silaturahmi ialah “Demi Allah”, aku tidak akan
bertegur-sapa dengan si anu, dan lain sebagainya. Segala sumpah yang demikian
ini adsalah sangan tidak disetujui oleh syara‟, namun orang yang terlanjur
bersumpah jahat ini, tetap haram mengerjakan pekerjaan yang tercela itu, dan
tetap wajib membayar kaffarah sumpahnya. Dan disini kita mendapat pelajaran
bahwa nama Allah tidak boleh kitajadikan sasaran untuk bersumpah.
Menurut riwayat daripada an-Nasa‟I dan Ibnu Majah, bahwa seorang
sahabat Rasulullah s.a.w. bernama Malik al-Jusammy mengatakan kepada beliau,
bahwa pada suatu hari dating kepadanya anak saudara ayahnya (sepupunya).
Maka diapun bersumpah tidak akan memberikan apa-apa kepada saudara
sepupunya itu dan tidak pula hendak menghubungkan silaturahmi lagi dengan dia.
Lalu berkata Rasulullah kepadanya: “Hendaklah engkau segera kaffarah
sumpahmu!!”Kemudian datanglah lanjutan peraturan Allah lagi berkenaan
dengan sumpah:
“Tidaklah diperhitungkan oleh Allah apa yang sia-sia pada sumpah
kamu”(pangkal ayat 225).
+ Asbabunnuzul beberapa versi singkat dari kitab tafsir yang berbeda:
1. Tafsir Al-Maraghi:Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan
bahwa latar belakang dari turunya ayat ini adalah sumpah yang diucapkan oleh
sahabat Abu Bakar untuk tidak memberi nafkah lagi kepada misthah setelah ia
terlibat dalam masalah Hadiitsu „I-Ifki dengan melemparkan tuduhan terhadap
siti aisyah .Misthah yaitu salah seorang kerabat Abu bakar.
7

2. Alqur‟an dan tafsir dari UII (univ.Islam Indonesia):Diriwayatkan oleh ibnu
jarir sebab turunya ayat 224 ini,ialah ketika abu bakar ra bersumpah dengan
menyebut nama allah,bahwa ia tidak akan lagi membantu seseorang yaitu
mistha yang menyebarkan kabar bohong menjelek-jelekkan nama aisyah ra
yaitu istri rasululloh.riwayat yang mencemarkan nama baik aisyah oleh orang-
orang munafik disebut hadiitsul „ifki.
8

3. Begitu pula dengan kitab tafsir dari kementrian agama menyebutkan
ababunuuzul ayat 224 ini yaitu Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadits yang
menyatakan bahwa latar belakang dari turunya ayat ini adalah sumpah yang
diucapkan oleh sahabat Abu Bakar untuk tidak memberi nafkah lagi kepada
misthah setelah ia terlibat dalam masalah Hadiitsu „ifki (kabar bohong)
9





7
Ahmad Musthafa Al-Maraghi ,Tafsir Al-Maraghi,cetakan pertama,halaman 300
8
UII (universitas islam indonesia) Alqur’an dan tafsirnya halaman 378
9
Kementrian Agama RI,Alquran dan tafsirnya,halaman 332
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 11

D.Korelasi Dengan Ayat Yang Lain
Menurut saya,QS.Al-baqarah ayat 224 selain berhubungan langsung
dengan ayat 225.karena ayat 225 itu adalah terusan keterngan dan sebagai
penjelasan dari ayat 224 .
Korelasi antara Qs.al-baqarah ayat 224-225 yang menjelaskan
tentang sumpah sebagai alat bukti dapat juga bisa ditambah korelasinya dengan
Dasar hukum daripada alat bukti saksi .dapat dilihat dalam Q.S. al Baqarah (2):
282
… َ ه
ِ
م َ ن
ْ
ىَ ضْ سَت ْ ه
ّ
م
ِ
م
ِ
ناَت
َ
أ َ س
ْ
ما
َ
و
ٌ
مُ جَ س
َ
ف
ِ
هْ ي
َ
ه ُ جَ ز اَوىُ كَي
ْ
م
َ
ن ْ ن
ِ
إ
َ
ف
ْ
مُ ك
ِ
نا َ ج
ِ
ز ْ ه
ِ
م
ِ
هْ يَ دي
ِ
هَ ش اوُ د
ِ
هْ شَتْ سا
َ
و ْ ن
َ
أ
ِ
ءاَ دَ هّ شنا

َ
و يَ س
ْ
خ
ُ
لا ا
َ
مُ هاَ د ْ ح
ِ
إ َ سّ ك
َ
رُت
َ
ف ا
َ
مُ هاَ د ْ ح
ِ
إ
ّ
م
ِ
ضَت ْ ن
َ
أا
َ
مُ هاَ د ْ ح
ِ
إ
ّ
م
ِ
ضَت اىُ عُ د ا
َ
م ا
َ
ذ
ِ
إ ُ ءاَ دَ هّ شنا َ ب
ْ
أَي ل …
Terjemahnya :
“…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki
diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua
orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa
maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi
keterangan) apabila mereka dipanggil…”
Dalam dalam Q.S. an Nisah (4) 135 yaitu :
َ ءاَ دَ هُ ش
ِ
طْ س
ِ
ق
ْ
نا
ِ
ب َ هي
ِ
ما
ّ
ى
َ
ق اى
ُ
وىُ ك اى
ُ
ى
َ
ما َ ء َ هي
ِ
ر
ّ
نا اَ هّي
َ
أاَي
ّ
ِ
ل …
Terjemahnya :
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-
benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah…”
Kesimpulannya bahwa setiap saksi yang memberikan kesaksiannya di
depan hakim hendaknya memperoleh jaminan keamanan baik jiwa, harta dan
kehormatannya. Karena setiap kesaksian dipandang wajib bagi setiap orang yang
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 12

memiliki pengetahuan akan perkara yang ia ketahui secara pasti tentang
kebenaran tersebut.
Sehingga dengan adanya kesaksian dari saksi tersebut diharapkan
akan terungkapnya suatu kebenaran diantara pihak-pihak yang berperkara dengan
sebab itulah maka berdosa hukumnya bagi orang yang memenuhi syarat untuk
menjadi saksi menolak untuk tidak memberikan kesaksiannya, berdasarkan firman
Allah swt di dalam Al-Qur‟an Q.S. al Baqarah (2) 283 yaitu :

ٌ
مي
ِ
هَ ع َ نى
ُ
ه
َ
مْ عَت ا
َ
م
ِ
ـب
ُ
ّ
ا
َ
و
ُ
هـ
ُ
ب
ْ
ه
َ
ق
ٌ
م
ِ
ثا
َ
ء
ُ
ه
ّ
و
ِ
إ
َ
ف ا
َ
ه
ْ
مُت
ْ
ك
َ
ي ْ ه
َ
م
َ
و
َ
ةَ دا
َ
هّ شنا اى
ُ
مُت
ْ
كـَت ل
َ
و
Terjemahnya :
“…dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan
barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang
yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Seperti yang telah dijelaskan di Latar belakang, tentang kedudukan
saksi dalam hukum pembuktian yaitu sebagai ALAT BUKTI, diantara alat bukti
lainnya yang dapat diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara. Namun dalam
berbagai alasan demi untuk membuktikan suatu kebenaran antara pihak-pihak
yang berperkara, hingga adanya saksi sebagai alat bukti yang diajukan oleh pihak-
pihak yang berperkara, tidak begitu saja diterima sebelum saksi yang diajukan
kemuka pengadilan memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh hukum pembuktian.
Untuk memberitahukan kesaksian yang dapat diterima serta dapat di
jadikan pembuktian kuat wajib memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu :
Beragam Islam, Baliqh, Berakal, Merdeka, Adil.
Syarat-syarat saksi yang dikemukakan di atas adalah merupakan
syarat-syarat yang diperpegangi oleh peradilan agama, namun ada beberapa
tambahan syarat seperti yang dikemukakan oleh Sayyid Sabiq dalam fiqh
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 13

sunnahnya, dengan dua syarat tambahannya yaitu mampu berbicara tidak bisa,
dan bukan sanak famili atau keluarga terdekat salah satunya.

E.PENAFSIRAN DARI BEBERAPA KITAB TAFSIR
1) AL-QUR‟AN DAN TAFSIRNYA DARI KEMENTRIAN AGAMA RI DAN
UII PADA DASAR PENAFSIRANYA SAMA YAITU:
(224-225) Ayat ini memperingatkan manusia agar berhati-hati
mempergunakan nama allah dalam bersumpah dengan menyebut nama allah
untukn hal-hal yang tidak baik dan dilarang oleh agama,sebab nama allah
sangat mulia dan harus diagungkan.Dalam ayat ini dilarang bersumpah untuk
tidak berbuat baik atau tidak bertakwa atau tidak mengadakan islah diantara
manusia.Kalau sumpah seperti itu sudah diuapkan,wajib dilanggar atau
dibatalkan,sebab sumpah tersebut tidak pada tempatnya ,tetapi sesudah sumpah
itu dilanggar,harus memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi
pakaian kepada mereka atau kalau tak sanggup,berpuasa selama tiga hari.
10


2) TAFSIR AL-MARAGHI SEBAGAI BERIKUT:
ºº4Ò* W-O¬UE¬^_Ò` -.- LO=¯¯ONN
¯ª¬:g4E©uC+· ]Ò¡ W-ÒGOE¯·>
W-O¬³+-·>4Ò W-O÷·)U¯¬>4Ò ¬-u-4
+EE4¯- ¯
Janganlah kalian bersumpah dengan nama allah untuk meninggalkan sesuatu
yang baik .kalian harus meninggalkanya demi keagungan namanya.Dan ia
tidak rela jika namanya dijadikan sebagai penghalang dari hal-hal yang
baik.Banyak orang yang terburu-buru mengucapkan sumpah untuk tidak
melakukan sesuatu ,padahal padanya kebaikan.atau sebaliknya,ia bersumpah
untuk melakukan sesuatu ,tetapi justru padanya kejelekkan ,oleh karena itu
allah melarang kita melakukan hal itu dan memerintahkan kita untuk
menyelidiki hal-hal yang baik bagi kita.Apabila kita bersumpah untuk
meninggalkan sesuatu,sedang padanya kebaikan,maka hendaknya kita
melakukanya kembali dan membayar kifarat,sebagaimana yang akan
dijelaskan pada surat al-maidah.

10
Alqur‟an Dan Tafsirnya dari Kementrian Agama RI Dan UII (univ. .Islam Indonesia)
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 14

+.-4Ò 77Og¼E- _¦1)U4× ^ggj÷
Allah maha mendengar apa-apa yang kalian ucapkan,maha mearena ngetahui
apa yang menjadi niat kalian .oleh karena itu hendaknya kalian
memperhatikan allah dalam hal yang kalian sembunyikan maupun yang kalian
lahirkan.Dan hendaknya kalian memperhatikan larangan-laranganya agar kelak
kalian menjadi orang yang berbahagia.
Dalam ayat brikutnya ini,tersirat jelas makna ancaman dan peringatan
yang sangat keras:
·º Nª77Og·-E·NC +.- ÷O^¯^U¯)
EO)× ¯ª7¯g4E©uCÒ¡ }´¯·¯4Ò
Allah tidak akan menghukum kalian oleh sebab sumpah yang terucap dari
mulut kalian tanpa disengaja ditengah-tengah pembicaraan kalian.oleh karena
itu,ia tidak mewajibkan kifarat kepada kalian dan juga tidak menghukum
kalian
ª77Og·-E·NC E¼g¯ ;e4:=OE
¯ª7¯+O¬U¬~
Tetapi,allah menggunakan sangsi kifarat atau hukuman kepada kalian,jika
kalian berniat sesuatu dengan mengucapkan sumpah atas nama allah.Demikian
itu agar supaya kalian tidak menjadikan nama allah sebagai penghaalang
dalam melakukan amal soleh
¯ +.-4Ò NOO¬¼EN ¬®7)UEO ^gg)÷
Alladosa yang emreka lakukanh mengampuni hamba-hambanya atas
dengan sumpahnya ,dan ia tidak tergesa-gesa menghukum mereka serta
tidak membebani mereka dengan hal-hal yang berat jika mereka tidak
sengaja bersumpah,oleh karena hal ini telah menjadi kesalahn mereka.
11

3) TAFSIR AL-AZHAR SEBAGAI BERIKUT:
Ibnu Abass menafsirkan, maksud ayat ialah supaya kamu jangan mengambil
nama Allah menjadi dasar persumpahan tidak akan mengerjakan yang baik.
Yaitu seorang laki-laki bersumpah tidak akan bertegur sapa dengan salah
seorang karib kerabatnya, atau tidak hendak memberikan sedekah, atau

11
Ahmad Musthafa Al-Maraghi ,Tafsir Al-Maraghi,cetakan pertama,halaman 299-300
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 15

bersumpah tidak akan mendamaikan diantara dua orang yang berselisih, dan
semuanya dikuatkan dengan sumpah berdasarkan pada tafsir-tafsir ini.
Nyata sekarang bahwa ayat ini melarang keras orang bersumpah dengan
nama Allah buat menghambat dirinya dari satu pekerjaan yang baik, dan
banyaklah
12

4) Bersumpah dengan menyebut nama allah untuk tidak akan berbuat yang
tidak diperbolehkan orang yang mengucapkan sumpah seperti itu akan
mendapatkan hukuman dari allah.
5) Untuk penafsiran kedua ayat ini baik ayat 224 yang melarang kita jadikan
Allah jadi sasaran sumpah, atau penghalang berbuat baik, dan ayat 225 yang
memberi ampun orang yang terlanjur kata bersumpah yang bukan dari hati,
baiklah kita jadikan pegangan perkataasn Imam Syafi‟i. beliau berkata:”Aku
tidak pernah memakai sumpah, baik pada yang benar ataupun pada yang
dusta.”
Kalau kiat tiru pula kebiasaan orang-orang Arab, yang sampai diberi maaf oleh
al-Qur‟an karena tersendat-sendat mulutnya, sebentar-sebentar menyebut
Wallah, kita takut nama Tuhan akan diperingan-ringan saja, sehingga turun
mutunya karena kealapaan kita. Hendaknya janganlah sampai kita menyebut-
nyebut nama Allah dan bersumpah-sumpah dalam hal yang kecil-kecilpun,
kadang-kadang hanya dalam perkara menguatkan suatu nperkataan kecil
sehingga lama-lama kepercayaan orang kepada kitapun menjadi luntur, karena
sudah murah-murah saja bersumpah, yang kian lama kian dapat diketahui
orang bahwa kita adalah seorang pembohong. Orang mudah bersumpah seperti
inilah yang dicela oleh Tuhan, sebagai petanda dari orang kafir, sebagai
tersebut di dalam surat al-Qalam (Surat 68, ayat 10). “dan janganlah kamu
turuti tiap-tiap oran yang suka bersumpah yang rendah hina.”
6) TAFSIR DARI HASIL SEARCHING» 224. (Janganlah kamu jadikan Allah),
artinya sewaktu bersumpah dengan-Nya (sebagai sasaran) atau penghalang
(bagi sumpah-sumpahmu) yang mendorong kamu (untuk) tidak (berbuat baik
dan bertakwa). Maka sumpah seperti itu tidak disukai, dan disunahkan untuk
melanggarnya lalu membayar kafarat. Berbeda halnya dengan sumpah untuk
berbuat kebaikan, maka itu termasuk taat (serta mendamaikan di antara
manusia), maksud ayat, jangan kamu terhalang untuk membuat kebaikan yang
disebutkan dan lain-lainnya itu jika terlanjur bersumpah, tetapi langgarlah dan
bayarlah kafarat sumpah, karena yang menjadi asbabun nuzulnya ialah tidak
mau melanggar sumpah yang telah diikrarkannya. (Dan Allah Maha
Mendengar) ucapan-ucapanmu (lagi Maha Mengetahui) keadaan-keadaanmu.

Tafsir » 225. (Allah tidaklah menghukum kamu disebabkan sumpah kosong),
artinya yang tidak dimaksud (dalam sumpah-sumpahmu) yakni yang terucap

12
Tafsir dari Al-Azhar
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 16

dari mulut tanpa sengaja untuk bersumpah, misalnya, "Tidak, demi Allah!"
Atau "Benar, demi Allah!" Maka ini tidak ada dosanya serta tidak wajib
kafarat. (Tetapi Allah akan menghukum kamu disebabkan sumpah yang
disengaja oleh hatimu), artinya kamu sadari bahwa itu sumpah yang tidak
boleh dilanggar. (Dan Allah Maha Pengampun) terhadap hal-hal yang tidak
disengaja (lagi Maha Penyantun) hingga sudi menangguhkan hukuman
terhadap orang yang akan menjalaninya.
7) AL-QUR‟AN DAN TAFSIRNYA DARI YAYASAN PENYELENGGARA
PENAFSIRAN ALQUR‟AN
Menafsirkan:Bahwa ayat 224-225 ini tentang peringatan allah kepada manusia
agar manusia berhati-hati mempergunakan nama allah dalam bersumpah .
Jangan berani bersumpah dengan menyebut nama allah untuk hal-hal yang
tidak baik,dan yang dilarang oleh agama,sebab nama allah sangat mulia dan
harus diagungkan.
13



F.Aplikasi Dari Tafsir Tersebut Dengan Kegiatan Hukum
Menurut Pendapat saya,jika dihubungkan dengan bidang hukum
didunia nyata,ayat tersebut menjelaskan tentang sumpah yg termasuk alat bukti.isi
ayat tersebut mengingatkan agar seseorang yang sedang terjerat kasus di
pengadilan dan orang itu salah agar tidak mengobral nama allah sebagai alat
bukti penolong bagi dirinya.tetapi jika orang itu tidak salah,sumpa tersebut bisa
dijadikan sebagai alat penolong bagi dirinya.Lalu Hakim sebagai penegak
keadilan di pengadilan harus benar-benar teliti dan mencermati sumpah
tersebut.Oleh karena itu hakim harus berhati-hati dalam menarik kesimpulan
tersebut.
14









13
Al-qur‟an dan tafsirnya,jilid 1,Yayasan penyelenggara penafsiran al-qur‟an
14
Menurut Pendapat Saya
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 17

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas,saya menyimpulkan penafsiran terhadap sumpah
sebagai alat bukti pada Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 adalah sebagai berikut:

 Ayat ini memperingatkan manusia agar berhati-hati mempergunakan nama
allah dalam bersumpah dengan menyebut nama allah untukn hal-hal yang
tidak baik dan dilarang oleh agama,sebab nama allah sangat mulia dan harus
diagungkan.
 Bersumpah dengan menyebut nama allah untuk tidak akan berbuat yang
tidak diperbolehkan orang yang mengucapkan sumpah seperti itu akan
mendapatkan hukuman dari allah.


B. SARAN

Adapun saran dari saya yaitu
 Menurut pendapat saya,ayat 224-225 tersebut mengingatkan agar seseorang
yang sedang terjerat kasus di pengadilan dan orang itu salah agar tidak
mengobral nama allah sebagai alat bukti penolong bagi dirinya.tetapi jika
orang itu tidak salah,sumpah tersebut bisa dijadikan sebagai alat penolong
bagi dirinya.dan dihubungkan dengan 282 yaitu
Kesaksian dan persaksian yang diberikan oleh para saksi harus pula
memenuhi kriteria atau syarat-syarat yang dipakai dan disepakati oleh para
ahli hukum Islam, sehingga kesaksian yang diberikan di muka Pengadilan
Agama dapat dijadikan sebagai alat pembuktian





DAFTAR PUSTAKA
TAFSIR AYAT HUKUM | Qs.Al-Baqarah ayat 224-225 (Alat Bukti) 18


Al-Qur’an Dan Tafsirnya,Yogyakarta:UII(Univ.Islam Indonesia)

Al-maraghi,musthafa ahmad.1984,Al-qur’an dan tafsirnya (Tafsir al-
maraghi)

Al-Qur’an Dan Tafsirnya,Yogyakarta:Kementrian Agama Republik
Indonesia

Al-qur’an Dan Tafsirnya.1975 ,Jakarta:Yayasan Penyelenggara Penafsiran
Al-qur‟an

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->