Potret Negara Maritim Indonesia

Buku Bacaan Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

Tim Penyusun : Djuanda Tomo HS, M.Si Mohamad Armansyah, ST Navi Watupongoh, S.IK
i

dicetak dan disebarluaskan oleh : SEKRETARIAT DEWAN MARITIM INDONESIA Departemen Kelautan dan Perikanan 2005

ii

504 pulau. Pulau-pulau yang ada disatukan oleh perairan laut menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola kemaritiman Indonesia. sebagai potensi ekonomi maritim yang sangat berlimpah ragamnya. Sejak dahulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa dengan jiwa maritim dan semangat kebaharian yang tinggi. Hadirnya buku bacaan ini merupakan inisiatif dari Dewan Maritim Indonesia. Adanya pengenalan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai insan pembangunan yang berjiwa maritim. sehingga mereka menyebut nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut. buku ini merupakan sumbangsih untuk merubah pola pikir para siswa agar lebih cinta pada laut. Saya percaya. agar lebih mengenal potensi sumber daya alam yang terkandung di wilayah laut kita. Oleh karena itu Indonesia dikenal oleh dunia Internasional sebagai “Negara Kepulauan” terbesar di dunia. Melalui buku bacaan ini saya mengajak adik-adik harus lebih banyak membaca buku tentang keberadaan laut kita.SAMBUTAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN Secara geografis dua pertiga wilayah negara Republik Indonesia terdiri dari perairan laut yang di dalamnya terdapat + 17. Namun. agar pengenalan wawasan kemaritiman sudah mulai digerakkan dari siswa-siswa tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas sebagai generasi penerus untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yagn berjiwa maritim dimasa depan. Menteri Kelautan dan Perikanan T Freddy Numberi iii . Buku bacaan ini akan banyak membantu adik-adik untuk mengenal kekayaan yang ada di laut kita seperti terumbu karang yang indah dan beragam jenis biota di dalamnya. sekarang pribahasa nenek moyangku pelaut tidak banyak dikenal oleh para siswa.

Saya percaya. Dengan rasa gembira saya menyambut baik prakarsa sekretariat Dewan Maritim Indonesia (DMI) untuk menyusun dan menerbitkan buku Berwawasan Maritim Republik Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggapan partisipatif terhadap Seruan Sunda Kelapa yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 27 Desember 2001 di Jakarta. non hayati maupun energi laut namun selama ini kita telah mengabaikannya. Juni 2005 Sekretaris Umum T Prof. Hadirnya buku bacaan ini diharapkan bisa menjadi bahan pengetahuan bagi generasi penerus utamanya kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yang berjiwa maritim di masa depan. iv . Ir. Agr. merupakan buku bacaan yang mengenalkan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai sumber insan pembangunan yang berjiwa maritim.000 km dan 2/3 (dua per tiga) wilayahnya adalah lautan. Rizal Max Rompas. Laut merupakan potensi sumberdaya maritim yang sangat kaya baik hayati.SAMBUTAN SEKRETARIS UMUM DEWAN MARITIM INDONESIA Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa secara geografis Indonesia merupakan salah satu negara maritim di dunia. semoga penerbitan buku ini bermanfaat. panjang pantai + 81.504 pulau. M. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola potensi kemaritiman Indonesia. Jakarta. yang menghimbau agar seluruh rakyat Indonesia kembali membangun negeri maritim dengan 5 (lima) pilar program yang antara lain membangun kembali wawasan maritim. buku ini merupakan sumbangsih yang berharga bagi pembanguan maritim Indonesia. Dengan demikian kemaritiman menjadi sangat penting bagi kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia. memiliki pulau sebanyak + 17. Dr. Buku Potret Negara Maritim Indonesia ini.

serta pertemuan dari tiga lempeng besar dunia Eurasia. India. wilayah-wilayah dengan palung-palung laut dalam di bagian Tengah (laut Banda) dan daerah paparan Sahul dengan laut dangkal di ujung Timur.000 km atau sekitar 14% dari panjang garis pantai dunia dan memiliki sekitar 17. dan dengan pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Fenomena alam yang paling menonjol adalah daerah paparan Sunda yang memiliki laut dangkal di sebelah Barat. Negara Indonesia 2/3 wilayahnya atau sekitar 5. Dari Barat sampai ke Timur kepulauan Nusantara terbentang jalur magnetic dan jalur seismic serta jalur anomaly gravitas negatif terpanjang di dunia. Perikanan.8 juta merupakan lautan dan memiliki panjang garis pantai 81. Gambaran ini memperlihatkan potensi-potensi perekonomian dalam bentuk potensi tambang. Australia dan Pasifik. terbentang lautan luas yang memeluk kepulauan Nusantara dengan kokoh dan dengan variasi jenis-jenis kedalaman laut yaitu laut dangkal dan laut dalam yang memberi keindahan dan aneka ragam biota laut di dalamnya. lempeng Eurasia dan lempeng Samudera Hindia-Australia. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau berbagai fenomena alam (earth fenomena) sangat kaya di Indonesia. Atas dasar susunan geografis yang demikan unik. Penerbitan buku yang diberi judul “Potret Negara Maritim Indonesia” yang diperuntukkan bagi siswa didik di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).504 pulau besar dan kecil. ekosistem lindung dan jasa-jasa Kelautan sangatlah besar.KATA PENGANTAR Kondisi geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia yang strategis terletak didaerah tropis yang diapit oleh dua benua yakni Asia dan Australia dan dua samudra yaitu Samudera Pasifik dan Sumudera Hindia. Salah satu keunikan posisi kepulauan Nusantara adalah karena Indonesia terbentuk dari pertemuan tiga lempeng raksasa bumi (earth) yakni lempeng Pasifik. Indonesia secara geografis merupakan negara maritim terbesar di dunia. Dengan luas laut demikian. hal tersebut merupakan kekayaan yang luar biasa bagi Indonesia. Dengan posisi silang yang sangat strategis dan kaya dengan sumberdaya alam yang beranekaragam. dimaksudkan untuk membuka wawasan kepada generasi muda akan besarnya potensi-potensi ekonomi v .

yang dikandung dalam pembangunan dan pengelolaan maritime. dan dapat menjadi alternatif tulang punggung negara yang selama ini sangat bergantung pada pajak. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna karena itu pada kesempatan ini mengharapkan saran-saran konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan buku ini. Penyusun vi .

................... Konflik Budaya Maritim .............................. iii iv v vii viii 1 4 5 6 11 13 14 17 19 22 25 27 29 30 36 38 39 40 46 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA .........2 Letak Geografis dan Kepentingannya .................................................................................................................................................................. Kata Pengantar ...................................................... Daftar Isi ....... Laut Sebagai Pemersatu Bangsa ......................... BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM ... BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM .................................................2 4..........................................................................................................2 2............ Batas Wilayah Maritim dan Pulau-pulau Terluar ............................. Kebangkitan Kemaritiman Indonesia . BAB 1 BAB 2 PENDAHULUAN ................................................................ Pengembangan Tekhnologi dan Budaya Maritim .......... Pelestarian Sumberdaya Budaya Maritim ........................ 2.....................4 4........................................DAFTAR ISI Hal Sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan ................................................1 5................. Tipologi Kawasan Maritim .................................................................5 4...................3 4............................................................................................ 4................................................................ 3.... Daftar Gambar ...................................1 3............................................................................................ Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan .................................................. Pengembangan Sosial Budaya Maritim ...6 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim ...................................1 4....................2 5........... Masyarakat Suku Laut dan Otonomi Daerah ...... PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA .....................................................................................3 BAB 3 Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan ................3 Dimensi Wilayah Maritim .............................................1 2..................... 5.......................................... vii .................. Sambutan Sekretaris Umum Dewan Maritim Indonesia ....................................................

......... 47 48 49 55 57 59 62 64 67 BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM .............................. 6.............................................................................. Konsep Pelabuhan dan Zona Perhubungan ............................................................................................................................................................................................................................. 6. 7..................... 7.BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT ................................ DAFTAR GAMBAR hal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Peta Indonesia ..........2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia ..............................................................................................................1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia .....................4 Industri Energi dan Sumberdaya Mineral ................... 7....................................................................... Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antar Pulau (INTERINSULAIR) ......................... DAFTAR PUSTAKA ..... Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia .1 Industri Pelayaran ..................................................................................................3 Industri Pariwisata Bahari .......................................................................................................................................................... Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) .......2 Industri Perikanan ........................................................................................ 60 59 10 14 15 16 58 viii ....................................................................... Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya ........ 7....... Posisi Geo-Strategis Indonesia ..............

menengah maupun kecil yang telah berkecimpung dalam bisnis maritim untuk memperoleh kemakmuran dari usahanya karena harus senantiasa berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. Namun pada kenyataannya sampai saat ini sektor maritim terkesan masih agak tersisihkan baik dalam segi pengaturan. yang merupakan suatu model pembangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhanya.BAB 1 PENDAHULUAN Sebagaimana kita ketahui bahwa negara Indonesia kita tercinta ini adalah negara yang memiliki wilayah perairan terbesar di dunia dan dua pertiga dari wilayah kedaulatan negara kita merupakan wilayah perairan. Pembangunan secara ekonomis dianggap berkelanjutan (an economically sustainable area/ecosystem) jika kawasan tersebut mampu menghasilkan barang dan jasa (good and services) secara berkesinambungan (on continuing basis). atau tersier. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras melanda dunia. Adapun ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut dapat dikemukakan secara jelas pada uraian berikut : a. Kondisi ini juga yang kemudian menimbulkan keengganan bagi para calon pengusaha yang berkeinginan untuk mencoba peruntungannya dalam dunia usaha maritim. ekologi dan sosial. memelihara pemerintahan dari hutang luar negeri pada tingkatan yang terkendali (a manageable level). Model pembangunan yang digunakan Indonesia adalah model pembangunan berkelanjutan (sustainable development). 1 . Seyogyanya sektor maritim dapat kita jadikan sebagai salah satu sumber penunjang utama bagi perekonomian masyarakat negara kita sesuai dengan salah satu semboyan yang kita miliki sebagai negara maritim yakni ”Jalesveva Jayamahe” yang memiliki arti ”Di Laut Kita Jaya”. ada beberapa model pembangunan yang dikembangkan. sekunder. Hal ini tentu saja tidak terlepas sebagai akibat dari banyaknya permasalahan yang terdapat di seputar dunia maritim yang menimbulkan kesulitan bagi para pengusaha besar. pembinaan dan pengawasan pemerintah maupun dalam segi peminat dunia usaha apabila dibandingkan dengan sektor-sektor perekomian lainnya sehingga berbagai potensi sumber daya dalam sektor maritim yang sebenarnya memiliki prospek penghasilan dan keuntungan yang teramat besar masih belum dapat didayagunakan secara optimal. Pembangunan berkelanjutan ini mengandung tiga unsur utama yakni dimensi ekonomi. dan menghindarkan ketidakseimbangan yang ekstrim antar sektor (extreme sectoral imbalances) yang dapat mengakibatkan kehancuran produksi sektor primer.

Dan kepulauan meliputi suatu gugusan pulau termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut. ada kesetaraan gender (gender equity). pertahanan. manakala basis (ketersediaan stok) sumber daya alamnya dapat dipelihara secara stabil. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan. dan kondisi iklim. terutama stakeholders. kesehatan. Pengertian laut merupakan ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan daratan dan bentuk-bentuk alamiah lainnya yang mempunyai kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum internasional. Pembangunan dikatakan secara ekologis berkelanjutan (an ecologically sustainable arealecosystem). stabilitas siklus hidrologi. perumahan. Ketentuan tentang wilayah nasional Indonesia menyebutkan bahwa wilayah nasional Indonesia adalah suatu hamparan perairan laut luas dengan berpuluh ribu pulau tersebar di dalamnya. dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian eratnya sehingga pulau-pulau. c. tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya dapat diperbaharaui (renewable resources). siklus biogeokimia. ekonomi. Dalam konteks ini termasuk pula pemeliharaan keanekaragaman hayati (biodiversity). apabila kebutuhan dasar (pangan. perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi. yang merupakan suatu wilayah kesatuan laut dan pulau secara bulat dan utuh termasuk udara diatasnya dan berbentuk wilayah kepulauan yang menyatu. keamanan. sehingga laju (tingkat) pemanfaatan tidak melebihi daya dukung (carrying capacity) kawasan pesisir dan laut untuk menyediakannya”. secara tekhnis dapat didefinisikan bahwa “pembangunan kelautan berkelanjutan (sustainable marine development) adalah suatu upaya pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalam kawasan pesisir dan lautan untuk kesejahteraan manusia. Pembangunan dianggap secara sosial berkelanjutan (a socially sustainable area/ ecosystem).b. pengelolaan pembangunan berbasis sumber daya kelautan. Untuk lebih jelas mengenai batasan pengertian wilayah nasional Indonesia maka kita perlu mengetahui tentang pengertian-pengertian sebagai berikut : Pulau merupakan wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi oleh air dan berada di atas permukaan air pada waktu air pasang minimum selama setahun. 2 . tidak terjadi pembuangan limbah melampaui kapasitas asimilasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kondisi tercemar. (ekologis). dan pendidikan) seluruh penduduknya terpenuhi. sandang. terjadi distribusi pendapatan dan kesempatan berusaha secara adil. terdapat akuntabilitas dan partisipasi politik. serta pemanfaatan sumber daya tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources) yang dibarengi dengan upaya pengembangan bahan substitusinya secara memadai.

Dalam sistem sosial-budaya yang menjunjung tinggi harkat manusia dan keadilan serta mampu menumbuhkan semangat cinta laut. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. dan ruang udara di atasnya. di dasar maupun yang berada di bawah dasar lautan. Pengertian Maritim Indonesia adalah suatu lingkungan alam yang terbentuk secara alami. sosial-budaya dan pertahanan keamanan. 3 . Sedangkan untuk sistem pertahanan-keamanan yang bertumpu pada kekuatan rakyat serta mampu menjamin tegaknya kedaulatan di seluruh wilayah laut dan laut yurisdiksi nasional. termasuk udara di atasnya berikut sumber daya dan lingkungan alam. yang sekaligus dapat mengangkat kualitas kehidupan seluruh rakyat di seluruh kepulauan. ekonomi. landas kontinen termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. serta keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut bagi kemakmuran seluruh rakyat. kegiatan di permukaan laut. Uraian tersebut di atas memberi gambaran pengertian tentang apa itu Maritim Indonesia. di dalam. dan kemaritiman itu sendiri adalah hal-hal yang menyangkut masalah maritim. perdagangan (sea-borne trade). Untuk sistem ekonomi yang berdasarkan demokrasi ekonomi mampu memberikan dorongan dan kemudahan bagi usaha-usaha industri dan jasa maritim dalam arti luas. terdiri atas hamparan perairan laut yang luas dengan beribu pulau besar dan tersebar di dalamnya. Negara maritim berdiri di atas landasan alam dan budaya maritim yang membentuk peradaban maritim yang dicerminkan dalam sistem politik. serta tersalur dan terpenuhinya kepentingan-kepentingan masyarakat maritim di lembagalembaga eksekutif dan legislatif. membangun tradisi dan perikehidupan masyarakat maritim dan menjadikan laut sebagai penghubung dan pemersatu bangsa. yang merupakan satu kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat.Sedangkan pengertian kelautan meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan di laut yang meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya. Jadi Maritim Indonesia tidak diberi pengertian segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut saja. baik yang berada di atas. Sistem politik yang berdasarkan demokrasi politik khususnya mampu menjamin keutuhan seluruh kepulauan Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah negara. dan kepelabuhanan baik nasional dan internasional. Karena negara maritim merupakan negara yang mempunyai kegiatan maritim dan kekuatan armada laut yang dimilikinya yang memberikan kontribusi penting bagi pembangunan nasional. Sedangkan maritim itu sendiri merupakan bagian dari kegiatan di laut yang mengacu pada pelayaran/pengangkutan laut. melainkan lebih dari itu.

telah memiliki jajahan yang luas di benua Asia antara lain Indonesia.BAB 2 PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA Negara maritim Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia dan telah memiliki visi nasional yang dikenal dengan “Wawasan Nusantara Bahari”. yang pada intinya menggambarkan sikap dan kebijakan suatu negara maritim dalam upaya mensejahterakan rakyat dan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara dengan mendasar kepada sifat dan bentuk kemaritimannya secara profesional. Bahkan berkat visi maritim yang dianut tersebut. Salah satu contoh negara maritim adalah negara maritim Britania (lnggris). dengan motto terkenalnya “Britain Rules the waves”. suatu negara kerajaan kecil di Benua Eropa. baik wilayah maupun penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat. Berkat visi maritim yang diterapkannya. baik sikap dan kebijakannya terhadap dunia luar. negara Britania merupakan negara penjajah yang menapakkan kakinya di lima benua. Predikat Indonesia sebagai negara maritim. Nuansa kemaritimannya perlu diberikan porsi yang lebih luas dalam rangka memenuhi cita-cita nasional kita agar “Negara Maritim Indonesia” kembali menjadi bangsa dan negara bahari secara nyata. Mengingat pengertian “Wawasan Nusantara” diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap kedaulatan wilayah dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan. 4 . namun dalam perkembangannya kata baharinya ditanggalkan dan hanya menjadi “Wawasan Nusantara” saja. Selanjutnya contoh negara maritim lainnya adalah negara Belanda. seperti pada jaman Sriwijaya dan Majapahit terdahulu. berbangsa dan bernegara yang mencakup politik. yang merupakan negara kepulauan di kawasan Eropa dan menerapkan visi maritim secara berhasil dalam upaya mensejahterakan rakyatnya dan membela kelangsungan keberadaan negaranya. Maka rumusan Wawasan Nusantara yang telah dimiliki bangsa Indonesia memerlukan penyempurnaan dengan memasukkan unsur muatan kemaritiman yang lebih proporsional. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki visi atau cara pandang berdasarkan nilai-nilai kemaritiman. sebenarnya akan semakin lengkap dan mantap dengan tersusunnya “Wawasan Maritim Indonesia” yang akan berfungsi sebagai acuan dan pemberi arah bagi penentuan strategi dan kebijakan dalam pelaksanaan secara operatif. dan dari hasil negara jajahannya telah mampu membangun negara Belanda yang makmur melimpah yang terletak di Benua Eropa. Di mana merupakan suatu negara kontinen (Benua) yang menganut dan menerapkan “Visi Maritim” dalam penyelenggaraan kebijakan kesejahteraan rakyatnya. ekonomi. pertahanan dan keamanan serta menjadikannya sebagai geopolitik. sosial budaya.

Di samping ekspansi politis yang memiliki dampak yang menyangkut strategi dan kebijakan ketahanan wilayah kerajaan tersebut. bahwa Majapahit memiliki visi kemaritiman. Melalui laut. Itulah visi kemaritiman Majapahit. Majapahit mampu mengkordinasikan negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh. akhirnya pola pemikiran yang demikian berubah.1. Kerajaan-kerajaan suku bangsa yang bertebaran itu belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya merupakan penduduk dari satu wilayah kepulauan. 5 . Mpu Nala. pemanfaatan laut. Tidak dapat dipastikan apakah Mahapatih Gadjah Mada dan Panglima Laut Majapahit. Hal ini terjadi ketika seorang putera bangsa yang bernama Mahapatih Gadjah Mada ‘menyadari’ ingin menyatukan kerajaan-kerajaan kecil nusantara di bawah koordinasi Kerajaan Majapahit. Tindakan politis yang dilakukan Mahapatih Gadjah Mada dapat dikatakan. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan Bumi nusantara tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdaulat merupakan wilayah kepulauan yang sekaligus merupakan wilayah perairan. di mana wilayah Indonesia terdiri 2/3 bagian keseluruhan wilayahnya adalah perairan. dan merupakan suku bangsa pesisir dan pulau-pulau kecil adalah penduduk yang yang memiliki wawasan maritim yaitu hidup sebagai nelayan yang bermata pencaharian mencari ikan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. yang negeri asalnya berjumlah berpuluh-puluh baik di pulau Sumatera maupun di pulau Kalimantan. bahwa kehendak mempersatukan wilayah perairan nusantara menjadi satu kerajaan di bawah panji-panji Majapahit merupakan pemahaman akan kondisi geografis Nusantara. Ketika masyarakat nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dari berbagai suku bangsa yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Dapat kita lihat bahwa negara ini telah mencapai kemakmuran yang sederajat dengan negara Eropa dan negara Amerika yang maju. Karena alasan itulah wilayah perairan kepulauan ini selanjutnya dinamakan Nusantara oleh Majapahit. bahkan merupakan satu-satunya negara Asia yang termasuk negara ekonomi maju. Seiring dengan perjalanan waktu. sebagai sarana transportasi serta alat pertahanan dimanfaatkan Majapahit sebagai pusat kerajaan. tetapi yang jelas. 2. perantau hingga pembajak di laut. yaitu negara Jepang yang dikenal dengan negara matahari terbit. yang merupakan negara kepulauan dimana negara Jepang bervisi maritim dalam penyelenggaraan pemerintahan negaranya. sudah memahami geopolitik wilayah perairan kerajaan Majapahit atau belum. meskipun hanya sebatas sebagai sarana transportasi dan ketahanan wilayah. Semangat kebahariannya diwujudkan dalam perilaku sebagai pelaut.Di Asia ada juga satu negara maritim.

maka setiap manusia mempunyai visi terhadap dunia yang dihadapi. seiring dengan keluarnya pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang perairan Indonesia. yaitu dengan menguasai wilayah perairan nusantara mulai dari kawasan Utara yang meliputi wilayah Ternate dan Tidore. Secara Implisit penyebutan itu merupakan pengakuan bahwa air (laut) adalah bagian dari wilayah negara dan merupakan pemersatu bagi pulau-pulau (daerah dan penduduknya) yang harus dilindungi oleh segenap bangsa dan negara Indonesia. Ironisnya lagi. Melihat kondisi kemaritiman Majapahit dari wilayah serta potensi laut yang luar biasa. dan kelemahan sebagai negara kepulauan (nusantara) yang berada di antara dua samudera dan dua benua. Hanya 6 . 2.2. Manusia yang hidup dalam masyarakat dan bernegara perlu memiliki orientasi tersebut dalam bentuk cara pandang atau wawasan. bagaimana suatu bangsa dapat membangun negaranya secara baik dan benar. Selama masa Pemerintahan Belanda bangsa kita yang tadinya mempunyai pemikiran yang berorientasi paridigma laut menjadi paradigma daratan (continental). Demikian pula terhadap manusia. Indonesia dikenal sebagai negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan beraneka suku bangsa dan kebudayaan. kekuatan. bangsa Indonesia perlu memiliki visi yang jelas dan berjangka panjang dalam konteks kemaritiman nusantara termasuk di dalamnya sebuah wawasan kemaritiman nusantara. Langkah pemerintah itu sangat strategis karena sejatinya 2/3 dari luas wilayah Indonesia adalah perairan dan merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia (Archipelagic State). Melalui proses sejarah maritim yang panjang. Jadi cara pandang yang didasarkan pada kemaritiman dalam kehidupan bangsa Indonesia pada hakikatnya berlaku sebagai sebuah visi dalam menghadapi tantangan ke depan. maka demi kepentingan Belanda sendiri. Tanpa dilengkapi dengan visi. ancaman. orientasi setiap kehidupan manusia adalah masa depan yang cerah. semangat maritim bangsa Indonesia tidak disadari telah terkikis dan dirubah dengan sengaja oleh sistem pemerintahan Belanda selama 350 tahun. Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak lagi memiliki jiwa maritim. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan Perkembangan pentingnya kemaritiman Indonesia mulai mendapatkan perhatian sejak tahun 1957. dan kehidupannnya lebih berorientasi kepada daratan. masyarakat juga kurang menyadari bahwa Indonesia secara geografis memiliki berbagai peluang. kawasan Selatan meliputi Batavia dan sepanjang Pantura (Pantai Utara Pulau Jawa). Pemerintah Hindia Belanda juga mewujudkan visi kemaritimannya. Dengan demikian. kawasan Tengah: Makasar.Sistem transportasi perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintahan Hindia Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara.

dianggap sebagai laut territorial bagian dari selat yang terletak di antara dua garis sebelah menyebelah selat yang menghubungkan kedua tepi sedekat mungkin pada laut terbuka . jika lubang di maksud melebihi sepuluh mil laut. di tempat mana jarak antara titik-titik itu melebihi enam mil laut. daerah laut. yang memotong lubang dari teluk. jarak tiga mil laut itu diukur dari garis lurus. yang jadi permasalahan. dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. ceruk laut. batas laut teritorial kita hanya 3 mil laut yang diukur dari garis pantai pada waktu air surut terendah dan melingkari setiap pulau sehingga mengakibatkan banyak kantong-kantong laut bebas di antara pulau-pulau di Indonesia. Laut Territorial Indonesia : I.saja. walaupun lebar selat di bagian lain antara kedua garis itu melebihi enam mil laut. Dengan pengertian bahwa : A. C. pada titik pertama dimana lebar selat tidak melebihi enam mil laut. 442 yang membagi wilayah daratan Indonesia dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendidi-sendiri. yang membentang ke arah laut sampai jarak tiga mil laut dari garis air surut pulau-pulau atau bagian-bagian pulau-pulau yang termasuk wilayah Republik Indonesia. 7 . batu-batu karang dan gosong-gosong yang ada di atas permukaan laut pada waktu air surut wilayah Republik Indonesia. ceruk laut. di tempat kelompok yang terdiri dari dua atau lebih pulau-pulau. muara sungai atau terusan. ceruk laut. di tempat teluk. dengan pulau-pulau diartikan juga karang-karang. Bunyi Pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 yaitu : (1) Di dalam aturan ini dan di dalam ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan berdasarkan aturan ini yang diartikan dengan : 1. muara sungai atau terusan. maka garis lurus itu ditarik melintang teluk. B. di tempat selat-selat yang menghubungkan dua laut terbuka dan dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. sedekat mungkin pada gerbang masuk pada titik pertama di mana lebar lubang itu tidak melebihi sepuluh mil laut. muara sungai atau terusan. Ketika itu. ungkapan itu belum didukung dengan peraturan perundang-undangan mengingat penentuan batas laut teritorial sampai pada tahun 1957 masih berpedoman pada pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim 1939 stb No. jarak tiga mil laut diukur dari garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik terjauh garis-garis air surut dari pulau-pulau yang terletak pada bagian luar kelompok.

Perairan pedalaman Indonesia : semua perairan yang terletak pada bagian sisi darat dari laut territorial Indonesia. di tempat selat yang menghubungkan dua laut terbuka yang lebar selatnya tidak melebihi enam mil laut dan dalam hal mana Indonesia bukan merupakan satu-satunya negara tepi. II. tetapi terletak dalam batas-batas bandar yang ditetapkan. 2. Disahkannya Undang-undang itu. memajukan kesejahteraan umum. sekaligus mempunyai tujuan yaitu : “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Daerah laut Indonesia (perairan territorial) : laut territorial Indonesia. mengingat dalam perkembangan hukum internasional banyak negara pantai yang berjuang menentukan wilayah lautnya lebih dari tiga mil laut. b. Bagi kita ini menjadi bukti kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia. maka garis pemisah antara laut territorial Indonesia dengan negara asing. tentu merupakan keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia. 3. Pengertian di atas tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat UUD’45 yang dalam rumusannya telah menegaskan bahwa negara Indonesia mempunyai fungsi. perdamaian abadi dan keadilan sosial”. termasuk sungai-sungai. muara-muara sungai dan terusan. 4. 8 . laut pantai. 4/Prp 1960 tentang Perairan Indonesia. Secara yuridis formil pengumuman pemerintah itu dituangkan dalam Undangundang No. Daerah air Indonesia : laut territorial termasuk perairan pedalaman Indonesia. ditarik melalui tengah-tengah selat. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Pemerintah Indonesia telah mensosialisasikan wilayah perairan Indonesia melalui pengumuman pemerintah tanggal 13 Desember 1957 yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda. daerah laut yang terletak pada sisi laut dari tengah daerah laut yang diuraikan di bawah I. terusan-terusan dan danau-danau dan rawa-rawa di Indonesia. termasuk bagian laut territorial yang terletak pada bagian sisi darat dari : a. daerah air teluk-teluk.D. mengingat sebelumnya laut di antara pulau yang tadinya merupakan laut bebas telah tercakup dan dinyatakan sebagai perairan pedalaman Indonesia. ceruk-ceruk laut.

India dan Cina. dengan ketentuan pengakuan atas lalu lintas damai bagi kapal-kapal asing untuk melintasi laut wilayah 12 mil laut dan perairan pedalaman Indonesia dari laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia dan sebaliknya. pada 13 Desember 1957 yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda. Organisasi ini memiliki motto ” Safer Shiping (Keselamatan Kapal). Selain United Nation Convention Law of the Sea (UNCLOS). 9 . serta dari laut bebas ke laut bebas. ada beberapa konvensi penting di bidang maritim. yang mencerminkan masalah yang menjadi cakupan tugasnya. Keberhasilan perjuangan tersebut. dan Cleaner Ocean (Perlindungan dan Kelestarian Laut)”.8 juta km². yang telah disebutkan di atas. dengan diundangkannya Undangundang tersebut perairan pedalaman Indonesia menjadi bagian dari wilayah negara kesatuan Indonesia atau wilayah perairan semula hanya memiliki 3 mil laut menjadi 12 mil laut. sehingga membatasi hak-hak negara lain. Akan tetapi kesadaran bahwa Indonesia merupakan suatu Negara Kepulauan sesungguhnya masih belum terlalu lama. menjamin berlakunya seluruh peraturan perundang-undangan Indonesia dalam yurisdiksi (secara hukum) bekas laut bebas tadi. berarti beban dan tanggung jawab pemerintah Indonesia di wilayah perairan semakin besar dan berat dengan bertambahnya luas wilayah perairan Indonesia dari 3. yang mengeluarkan suatu konsep geopolitik maritim.Dimasukkannya bekas laut bebas menjadi perairan pedalaman Indonesia. perubahan terakhir pada tahun 1974 (konvensi ini dikenal sebagai SOLAS 1974). Saat ini laut tak bisa terlepas dari berbagai konvensi internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memfasilitasi pendirian IMO (International Maritime Organization). sebab yang tadinya merupakan laut bebas. jazirah Arab. yaitu sejak Perdana Menteri Djuanda. Konvensi tentang hal ini telah beberapa kali diselenggarakan. Salah satunya adalah konvensi tentang keselamatan jiwa di laut yaitu Safety of Life at Sea (SOLAS). Sejarah menunjukan bahwa nelayan-nelayan kita dengan menggunakan perahu phinisi telah mengarungi lautan dan mendarat di bumi Afrika.7 juta km² menjadi 5. Sebagaimana diketahui bersama bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki kejayaan dalam bidang kelautan. Perjuangan dan keberhasilan ini merupakan bukti adanya kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia.

Gambar 1. Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan administrasi pemerintahan dan politik sebagai negara kesatuan. Peta Indonesia Sumber : BAKOSURTANAL Dapat dibayangkan bahwa wilayah laut di antara dua pulau yang berada lebih dari 3 (tiga) mil dari garis pantainya merupakan wilayah internasional. yang dapat digunakan secara bebas oleh negara manapun tanpa izin berlayar dari Indonesia. dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian wajar dari wilayah daratan Negara Republik Inoonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari pada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. maka pada sidang UNCLOS PBB tahun 1982 usulan Djuanda diterima bahkan dijadikan konsep tentang negara kepulauan dan mewarnai pasal-pasal UNCLOS 10 . Yong Celebes dan lain-lain.fraksi Sumatera – fraksi Celebes dan seterusnya. Yong Sumatera. di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia. Pada akhirnya melalui perjuangan diplomasi yang gigih tak kenal lelah selama hampir 25 tahun. Setiap selat antara dua pulau hampir dapat dipastikan merupakan perairan internasional. sehingga menyebabkan wilayah Indonesia terpecah menjadi beberapa fraksi. Ditambah lagi dengan tekanan politik nasional pada waktu itu memang sangat lokal sesuai dengan tanah asalnya seperti Yong Java. seperti fraksi Jawa . Menyadari hal ini maka Perdana Menteri Djuanda tepat pada tanggal 13 Desember 1957 menyatakan deklarasinya yang berbunyi sebagai berikut : “Bahwa segala perairan di sekitar. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indoneisa akan ditentukan dengan Undang-Undang”.

terlebih setelah masuknya VOC ke Indonesia (1602 M . Akibatnya terjadi proses penurunan semangat dan jiwa maritim bangsa serta perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Indonesia yang semula bercirikan maritim menjadi sifat kedaratan. Akibatnya pembangunan sektor kelautan di masa orde baru telah diabaikan dan sangat tertinggal. Indonesia perlu membuka wilayah lautannya untuk dapat dilalui oleh kapal asing yang biasa dikenal dengan nama “ALKI” (Alur Laut Kepulauan Indonesia). 17 tahun 1985. Kebangkitan Kemaritiman Indonesia Kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim pernah mengalami kemunduran. Pada tahun 1985 keputusan sidang PBB tersebut kemudian diratifikasi dalam bentuk Undang-Undang No. timbul tuntutan untuk mencari kebijakan pembangunan yang baru dan kebutuhan untuk membangun bidang kelautan sangat besar. Upaya tersebut tidak mampu membentuk pemikiran umum yang mampu merubah paradigma dari darat ke laut. Pada tahun 1996 telah dicanangkan sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara. Dalam kerangka untuk membangun Benua Maritim Indonesia. Indonesia juga dikenakan kewajiban-kewajiban internasional yang harus dipenuhi berdasarkan UNCLOS 1982. Seiring dengan reformasi pembangunan.1798 M). Selain itu juga diamanatkan untuk merubah dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang ada. Selain hak dan peluang untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan laut. Keputusan kedua raja yang telah dikendalikan oleh Belanda tersebut memasung kemampuan maritim bangsa Indonesia. Kedua raja keturunan Mataram tersebut menyerahkan perdagangan laut hasil bumi dan rempahrempah dari wilayahnya kepada Belanda. 11 . Keberhasilan diplomasi Indonesia di forum internasional tersebut di atas sayangnya kurang diperhatikan dan ditanggapi secara baik oleh para politisi dan birokrat kita.(Konvensi Hukum Laut 1982). Salah satu peristiwa bersejarah tentang hilangnya kejayaan tersebut adalah terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang dilakukan oleh Belanda dengan Raja Surakarta dan Yogyakarta. Pasal-pasal dalam UNCLOS 1982 tersebut memberikan hak kepada Indonesia sebagai negara kepulauan dan tentunya merupakan peluang Indonesia dalam pengaturan untuk memanfaatkan kekayaan laut bagi sebesar-besarnya kepentingan negara dan rakyatnya. Oleh beberapa kalangan pada waktu itu yang dipelopori oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah dilakukan terobosan-terobosan kecil untuk menggugah kesadaran politik agar lebih ‘seimbang’. yang melibatkan seluruh lembaga nasional yang terkait dengan bidang kelautan. Terbukti masih belum adanya satupun lembaga keuangan yang mau memberikan pinjaman perbankan berupa kredit kepada para nelayan ataupun pembelian kapal. termasuk akademisi perguruan tinggi. 2.3.

udara. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1999 di bawah pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid menyatakan komitmennya terhadap pembangunan kelautan. Pada tahun 1998 Presiden Baharudin Jusuf Habibie semasa pemerintahannya mendeklarasikan visi pembangunan kelautan bangsa Indonesia dalam “Deklarasi Bunaken. Sejarah bahari Indonesia telah mewariskan pengalaman. Inti dari deklarasi tersebut adalah laut merupakan peluang. dan Wawasan Nusantara dijadikan sebagai wawasan kebangsaan yang mengetengahkan azaz “Negara Nusantara” (archipelagic state). 12 . Salah satu hasil perjuangan dari para pejuang maritim melalui satu komitmen untuk memajukan kemaritiman Indonesia. sehingga ke depan dapat dijadikan andalan dalam meningkatkan devisa negara.Hal ini merupakan kemunduran kekuatan bangsa Indonesia sebagai negara maritim terbesar. Kedua lembaga tersebut diharapkan menjadi suatu lembaga yang mampu menjadi wadah untuk mengelola sektor kelautan yang memiliki potensi yang sangat besar. Presiden Megawati Soekarnoputri menerbitkan Keppres Nomor 126 tahun 2001 yang menetapkan tanggal 13 Desember sebagai “Hari Nusantara”. tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan. Wawasan Nusantara tersebut memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan darat. kebahagiaan serta kejayaan bangsa. dasar laut dan tanah di bawahnya. dan pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. dan selanjutnya atas usulan dari Dewan Maritim Indonesia. serta seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya tidak boleh di pisah-pisahkan. kesatuan dan pembangunan bangsa Indonesia. Kemudian memasuki pemerintahan Presiden Suharto untuk memperoleh pengakuan dari dunia internasional telah dilaksanakan perjuangan yang terus menerus di forum internasional dan regional. Sehingga pada tahun 1982 gagasan “Negara Nusantara” berhasil dan diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS’82) serta berlaku sebagai hukum internasional positif sejak 16 November 1994. Pada tahun 1957 Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno mendeklarasikan Wawasan Nusantara di kalangan dunia. yang intinya mengajak kepada segenap bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan di laut. cita-cita dan perjuangan para bahariwan dalam mewujudkan kemakmuran. Komitmen pemerintah terhadap pembangunan di bidang maritim makin menampakan harapan cerah dengan telah dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan dikembangkannya kelembagaan Dewan Kelautan Nasional (DKN) menjadi Dewan Maritim Indonesia (DMI). pada tahun 2001 di bawah pemerintahan Presiden RI Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan “Seruan Sunda Kelapa”.

sehingga ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. dan sejak ribuan tahun sebelum Masehi sudah “mengglobalisasi” di kawasan Samudera Hindia dan kawasan Samudera Pasifik sebagai pelau-pelaut ulung yang jejak-jejak kebudayaannya masih dapat didikuti sampai sekarang.000 Km terpanjang ke dua di dunia setelah negara Kanada. melintas samudera sejauh 6500 km sampai di Madagaskar. Pada abad XIII konsep persatuan kepulauan Indonesia secara politik di bawah satu kekuasaan telah diletakkan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari melalui semboyan Cakrawala Mandala Dwipantara. dimana 2/3 luas wilayah kedaulatan terdiri dari laut yang mempunyai wilayah laut yurisdiksi sangat luas dan sangat kaya akan sumber daya alam yang terdiri dari 17.504 pulau dengan panjang pantai 81. yaitu di antara dua benua dan dua samudera. kepulauan Indonesia sejak abad VII secara ekonomi telah dipersatukan oleh kerajaan Sriwijaya dengan menguasai lalu lintas perdagangan dari Barat dan Timur. Oleh karenanya 13 . maka yang dimaksud dengan bangsa dan negara Indonesia adalah rakyat dan wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penduduk dan pulau-pulau dari kepulauan Indonesia. bukan hanya perahu cadik sebagai perahu khas nusantara. Jejak kebudayaan prasejarah bercirikan maritim juga ditemukan di kawasan Austronesia.BAB 3 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Peninggalan sejarah pada masa sebelum Masehi berupa bekas-bekas kerajaan Merina yang didirikan oleh para perantau dari Nusantara ditemukan juga di Madagaskar. bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu telah mampu membangun kapal-kapal layar samudera. Penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik dan ekonomi dilanjutkan selama masa penjajahan Belanda sampai Jepang. sosial-budaya. Dalam sejarah. Utara dan Selatan di Selat Malaka. yang kemudian diwujudkan secara nyata oleh maha Patih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit pada abad ke XV melalui sumpah Palapanya. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang sebanding atau seluas eropa atau USA. Hal ini menunjukkan. ekonomi. pertahanan dan keamanan nasional Indonesia. Situasi dan kondisi aspek alamiah demikian menunjukkan bahwa laut adalah alamiah yang paling dominan mempengaruhi kehidupan politik. melainkan rumpun bahasa Austronesia dimana pengaruh bahasa-bahasa di nusantara terasa sangat kuat dibandingkan dengan pengaruh rumpun bahasa Indochina atau Yunan. Dari penemuan bukti-bukti baru tentang prasejarah Indonesia itu memberikan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah asli bangsa pelaut atau pengembara. Laut Cina Selatan dan laut Jawa. serta terletak pada letak geografis yang sangat strategis.

1 Letak Geografis dan Kepentingannya Posisi geografi Indonesia yang berada pada posisi persilangan dunia. dan Presiden RI pertama. ekonomi. Ditinjau dari aspek sosial ekonomi potensi kelautan Indonesia dapat dikembangkan dan didayagunakan sebagai basis 14 .pembangunan nasional seyogyanya dirumuskan dengan mempertimbangkan dan memperhatikan. 3. kerawanan dan keunggulan dari pengaruh alamiah laut. Proklamator Kemerdekaan. telah memberikan prioritas khusus dalam upaya memperjuangkan status perairan kepulauan tersebut menjadi wilayah tanah dan air Indonesia sebagai satu wilayah kedaulatan utuh dalam NKRI. Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia Sumber : Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan Pada waktu Indonesia merebut kemerdekaan. Gambar 2. Oleh karenanya. untuk mencegah dan mengatasi kerawanan tersebut Bung Karno. dan sistem pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). laut kepulauan Indonesia masih berstatus perairan internasional yang memisah-misahkan wilayah kedaulatan Indonesia. kelebihan. memberikan kedudukan dan peranan strategis bagi Indonesia baik dalam hubungan antar bangsa maupun untuk membangun kejayaannya sendiri. Kondisi demikian sangat mempengaruhi kehidupan politik. sosial-budaya. kekurangan.

merupakan aset nasional yang sangat potensial bagi pengembangan industri wisata bahari. bidang Kelautan dan Perikanan dijadikan salah satu “prime mover” ekonomi nasional. Oleh karena itu melalui “kabinet Gotong Royong” yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri selalu mengatakan bahwa.strategis bagi ruang dan kepentingan kesejahteraan masyarakat Indonesia. seperti ekosistem terumbu karang.7 juta Km² wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Oleh karena itu masyarakat internasional mengenal Indonesia sebagai Negara Maritim. bahwa sumber daya alam yang ada di dalamnya cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai sumber kekuatan ekonomi nasional yang telah mengalami keterpurukan. 2.1 juta Km² luas laut Teritorial.000 Km. dan garis pantai sepanjang 81. Posisi Geo-Strategis Indonesia Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki luas wilayah laut 5. Gambar 3. terdiri dari 3. Sampai saat ini yang menjadi kelemahan dan kekurangan kita dalam memanfaatkan potensi kelautan dengan sebaik-baiknya adalah belum semua sumber daya kelautan disentuh atau dilirik untuk eksplorasi dan eksploitasi oleh 15 . Potensi kelautan yang dimiliki oleh negara Indonesia diibaratkan sebagai “naga sedang tidur (Sleeping Big Dragon)” yang perlu dibangunkan sekarang ini untuk mengatasi krisis multidimensi yang sedang melanda negara kita.8 juta Km². Disamping itu pula keindahan alam laut dengan keanekaragaman biota laut. Disamping itu pula telah disadari banyak orang. Di dalam wilayah laut Indonesia terkandung berbagai potensi sumberdaya yang sangat bervariasi baik hayati maupun nir-hayati. Secara keseluruhan wilayah laut Indonesia mencapai 75 % dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal itu pertanda bahwa wilayah perairan laut Indonesia sangat diminati oleh kalangan internasional. yaitu dapat mengancam kedaulatan negara Indonesia. Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi yang strategis dalam lalulintas perekenomian dunia. dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ada aspek positifnya yaitu bertambahnya devisa negara dalam bidang ekonomi suatu kawasan yang dilalui ALKI. Gambar 4 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 16 . tetapi juga ingin memanfaatkan sumberdaya perikanan yang sangat besar. karena terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia). bukan hanya untuk kebutuhan pelayaran. Dilihat dari sudut pandang geografis. Salah satu contoh wilayah perairan Indonesia yang sering menjadi wilayah pencurian ikan secara tidak sah yaitu wilayah laut Papua yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. sehingga sering dijumpai kapal-kapal ikan milik asing ditangkap oleh petugas pengamanan di laut. tetapi ada pula aspek negatifnya. Adanya kegiatan pencurian ikan oleh kapal-kapal asing mengakibatkan populasi ikan semakin berkurang dan menimbulkan kerusakan ekosistem laut dan menimbulkan kerugian devisa negara yang sangat besar. Oleh karena itu banyak kapal-kapal asing melakukan pencurian ikan secara tidak sah secara hukum (illegal fishing). sehingga membuat masyarakat internasional mengakui Indonesia sebagai persimpangan lintas pelayaran niaga utama (across of the commercial shipping). maka satu-satunya negara di dunia yang dilalui oleh 3 (tiga) alur laut internasional dan yang dikenal sebagai alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Kepentingan kalangan negara luar terhadap potensi wilayah perairan Indonesia. Karena begitu strategis kedudukan laut kita.pemerintah Indonesia.

kiranya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang dan yang akan mendatang. dan mewujudkan sistem pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan (oceans governance). sosial.2 Laut Sebagai Pemersatu Bangsa Dengan telah berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UU No. Dalam posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui secara internasional sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya alam laut yang sangat besar.3. maka yang harus kita lakukan saat ini untuk menuju bangsa yang maju dan makmur. terdapat 119 negara yang menandatangani United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang maju. ekonomi. Dengan menyadari kenyataan yang ada bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berwawasan nusantara. namun belum ada undang-undang yang mengatur tentang kebijaksanaan dan strategi pengamanan dan pemanfaatan laut untuk digunakan sebagai acuan utama bagi semua peraturan perundang-undangan dan rencana pembangunan nasional.17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional 1982) selanjutnya pada tahun 1994 Indonesia secara resmi diakui internasional sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah kedaulatan di laut sebesar kurang lebih dua kali lebih besar dari pada wilayah kedaulatan di darat. dan disamping itu juga memiliki hak berdaulat untuk pemanfaatan sumberdaya alam di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen Indonesia. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. politik. Kelautan sebagai kesatuan ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia diatur dan dikelola dengan tujuan memperkuat wawasan nusantara. nasional dan internasional. Jamaika. membangun ekonomi nasional yang berorientasi pada keunggulan komparatif di bidang kelautan. Saat ini sudah ada sejumlah undang-undang di bidang kelautan. pertahanan dan keamanan yang diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. mengingat wilayah laut Indonesia merupakan bagian terbesar dari wilayah Indonesia yang mempunyai posisi strategis dari berbagai aspek ekologis. mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berorientasi kepada keserasian kepentingan antar daerah. kita perlu membangun sistem pemerintahan yang berorientasi kelautan (ocean governance) sehingga Indonesia menjadi negara maritim yang maju dan kuat di dunia. Dengan memandang laut Indonesia sebagai tali kehidupan dan masa depan bangsa sehingga pengamanan dan pemanfaatannya harus mendapat perhatian yang khusus dan sungguh-sungguh dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal mengenai perihal ketentuan tentang Prinsip 17 . tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera.

18 . melainkan justru sebagai alat yang menyatukan pulaupulau yang satu dengan lainnya. karena kalau sampai terpecah-pecah maka fungsinya sebagai alat pemersatu akan hilang. Prinsip-prinsip tentang fungsi laut sebagai alat pemersatu atau fungsi laut sebagai faktor integritas wilayah inilah yang kemudian hari menjadi wawasan kebangsaan negara Indonesia yaitu wawasan nusantara. Oleh karena itu lautan Nusantara harus selalu dijaga keutuhannya.Negara Kepulauan. Salah satu pasal dalam Prinsip Negara Kepulauan yaitu memandang laut bukan sebagai alat pemisah. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. laut tidak hanya menjadi alat penghubung antar pulau tetapi juga alat perekat antar pulau-pulau dan suku-suku bangsa yang bersebar dari Sabang sampai Merauke.

dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi. biasanya ditimbulkan oleh adanya kesenjangan sosial. penjelasan dan analisis secara empirik. sedangkan menurut Sanjek konsep “kreasi dan dinamika budaya”. lembaga donor. inovasi teknologi.BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM Indonesia memiliki berbagai macam suku. mesin. akan tetapi apabila tidak dapat dipelihara dengan baik terutama dalam hal toleransi. keterlibatan secara tidak langsung kategori-kategori dan hirarki sosial dalam aktivitas kebaharian. perubahan atau bertahannya unsur-unsur budaya maritim juga sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal terutama pasar regional. agama. Fenomena sosial budaya bahari di Indonesia sangat kompleks. menurut Koentjaraningrat yang dilakukan dengan menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”. sehingga sering menimbulkan konflik antar suku. 19 . dan ras di masyarakat. Permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat. sarana penggerak berupa layar. hakhak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut). gagasan. nasional dan pasar global. keanekaragaman tersebut dapat menjadi penghambat bagi terciptanya stabilitas nasional. adat istiadatdapat menjadi kekuatan atau modal bagi pembangunan nasional. Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan. Hal ini dicirikan dengan beberapa fenomena yang dominan yaitu : kompleksnya kategori atau kelompok sosial yang terlibat dalam kehidupan kebaharian. tumbuh dan berkembangnya sektorsektor dan sub-sub sektor ekonomi dan aktivitas lainnya berkaitan dengan laut. Keanekaragaman suku. dan lain-lain. Salah satu upaya dalam menangani konflik dapat dilakukan secara adat. sifat homogen dan diversiti unsur-unsur budaya. LSM. perlengkapan fisik lainnya). fenomena dinamika. di mana suku-suku yang ada tersebut memiliki adat istiadat yang berbeda. Selain faktor-faktor internal. kebijakan-kebijakan pemerintah. Untuk mempelajari budaya bahari yang kompleks dan relevan. intervensi perguruan tinggi. dan teknologi (sarana/ prasarana transportasi laut. kelompok kerjasama nelayan. alat-alat tangkap. dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya). perubahan dan persisten dari unsur-unsur budaya bahari tersebut. ras. kelembagaan (organisasi. Hal semacam inilah yang perlu dihindari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama bagi masyarakat di daerah perbatasan. dan proses dinamika. tetapi apabila sudah menyangkut stabilitas dan keamanan nasional maka hal tersebut menjadi kewenangan pemerintah. keyakinan. agama. saling keterkaitan antar sektor-sektor kehidupan dan internal antar unsur-unsur budaya bahari.

NTT. Di Eropah dan negara-negara pantai dan kepulauan maju lainnya selain pelayar. pekerja jasa dan industri di lingkungan pedesaan dan perkotaan. parawisata bahari. jasa pengamanan wilayah laut dan isinya. Makassar. nelayan. Vercruijsse. pertambangan. co-management dan lain-lain. Mandar. Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. Itulah sebabnya ke depan proses dinamika budaya maritim mustinya diarahkan secara bijak dengan pendekatanpendekatan community-based management. 1994. 1996) serta studi lapangan (field work) intensif. Termasuk dalam sektor-sektor ekonomi kebaharian utama antara lain perikanan. bahkan dalam banyak segi lebih kompleks daripada yang mencirikan kategori-kategori sosial yang hidup di darat dengan berbagai sektor ekonomi atau mata pencaharian hidup seperti komuniti-komuniti petani. bisa merupakan kelompok-kelompok etnik sepenuhnya (seperti berbagai desa nelayan Bajo di Kepulauan Riau. Sulawesi Tengah). sesungguhnya menunjukkan fenomena sosial budaya yang sangat kompleks. tetapi dalam banyak ukuran bisa dikategorikan sebagai suatu sub-sub etnik (seperti berbagai desa-desa nelayan Bugis. pelayaran/usaha transportasi laut. Kompleksitas sosial budaya bahari tersebut terutama dicirikan pada sekurang-kurangnya lima fenomena. kelompok-kelompok olah ragawan laut antara lain seperti peselancar dan penyelam. Bavinck. keluarga. individu 20 . Acheson. Madura di kawasan pesisir dan pulau-pulau). Palsson. 1984. 1991. kelompok-kelompok sosial kebaharian seringkali bukan sekedar berupa kelompok-kelompok kerja yang merupakan sub-sub komuniti desa. 1984. Pertama. 1977. khususnya pada komunitikomuniti pesisir dan pulau-pulau di Sulawesi Selatan. 1988). pengangkut barang dengan berbagai kategorinya. 1984) . Kajian literatur tentang sosial budaya bahari di berbagai tempat di dunia termasuk Indonesia (antara lain: Firth. dan marinir. kelompok. Terhadap sektor-sektor dan sub-sub sektor ekonomi maritim tersebut oleh pelaku dan pengelolanya (komuniti. konflik sosial. Andersen dan Cato Wadel. pemburu dan peramu. 1975. munculnya sedemikian banyak kategori-kategori sosial bahari tersebut tentu dikondisikan oleh tumbuh dan berkembangnya jenis-jenis usaha ekonomi terkait laut cukup banyak dan kaya dengan variasi dan tingkatan skalanya masing-masing. dan Kesultanan Buton (Schoorl. 1981. Sulawesi Selatan. kemerosotan sumberdaya dan degradasi lingkungan laut. dan lain-lain. peternak.Proses dinamika yang tidak atau kurang terarahkan seperti dialami selama ini banyak berdampak negatif terhadap kondisi kehidupan ekonomi. kelompok organisasi pencinta lingkungan laut yang anggota-anggotanya berasal dari kota-kota bahkan dari negara-negara berlainan (Ginkel dan Verrips. juga dikenal kelompok-kelompok awak kapal pengeruk dasar sungai dan perairan pantai kota-kota. Kedua. Masyhuri. Setiap kategori dan level sosial tersebut mempunyai atau dicirikan dengan pola-pola budaya konteks lokal dan global. industri maritim. bahkan suatu negara atau kerjaan seperti antara lain Kerajaan Goa hingga abad ke-17 (Mukhlis Paeni 1995). 1982.

Kelima. ini seringkali diacukan pada kerangka pengembangan terpadu yang ideal yang menguntungkan setiap sektor.atau pengusaha privat) seringkali melakukan berbagai gaya menejemen berupa ekstensifikasi dengan strategi diversifikasi. Di Indonesia misalnya selama ini. pihak donor pembangunan. nelayan bagang (Bugis). pengusaha dan rentenir. peneliti dan praktisi dari lembaga perguruan tinggi. gagasan. Karena itu fenomena masyarakat dan budaya bahari harus dipahami juga dalam konteks eksternalnya. kompleksitas fenomena sosial budaya bahari ditunjukkan pula dalam proses dinamikanya. organisasi sosial. pemerintah/instansi terkait. koperasi dan bank. pedagang. ada proses transformasi struktural mengenai 21 . bahwa selain pelaku dan pengguna langsung. kelompok olah ragawan laut. norma. nilai. Makassar) dan pemburu hiu (Bajo) dari Sulawesi Selatan bisa mencerminkan sikap kepribadian budaya bahari berbeda-beda. tetapi seringkali juga dilakukan secara parsial yang menjurus pada gejala persaingan dan konflik kepentingan yang pada gilirannya berdampak pada sektor-sektor usaha kecil milik rakyat dengan gaya menejemen tradisionalnya. Fenomena budaya dari setiap kategori atau sub-sub kategori sosial dicirikan dengan karakter kepribadian kebahariannya masingmasing. dan sebagainya bisa menunjukkan karakter budaya bahari berbeda-beda. Kategori-kategori sosial dari luar yang tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan dan aktivitas kemaritiman tersebut justru merupakan kekuatan-kekuatan eksternal yang memberi pengaruh dalam menentukan tatanan dan dinamika kehidupan sosial budaya komuniti-komuniti atau kelompok-kelompok sosial kebaharian utama seperti nelayan dan pelayar. bahasa. Keempat. dan lain-lain. kepercayaan. Di sana ada perubahan sepenuhnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar dan dayung. fenomena sosial budaya maritim bukan hanya tampak pada aspek-aspek budayanya (sistem-sistem pengetahuan. intensifikasi dengan usaha tunggal. Ketiga. Fenomena tersebut yang dicirikan dengan saling keterkaitan internal antara unsur-unsur serta sifat homogeniti dan difersitasnya merupakan kerumitan tersendiri. komuniti pembuat perahu/kapal. para pembuat perahu dan alat tangkap. ekonomi. pasar dan TPI. kelompok awak kapal angkutan. Bugis. pola pemukiman. osilasi di antara berbagai sektor ekonomi terkait laut dan dengan sektor-sektor lain. ada banyak kategori-kategori sosial dengan tingkatan-tingkatan sosialnya masing-masing terlibat secara tidak langsung dalam setiap sektor ekonomi kebaharian (pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut). Bahkan di antara kelompokkelompok nelayan rumpon (Mandar). penyelam tripang (Bajo. kesenian) dengan kategori-kategori dan hirarki sosial pendukungnya yang berbeda-beda. teknologi. Setiap kategori sosial sebagai nelayan. dalam rangka pengembangannya melibatkan pemerintah. satuan marinir. Sektor perikanan merupakan sektor ekonomi cukup banyak jenisnya menurut spesis sumberdaya laut dan tipe-tipe teknologi eksploitasi digunakan serta bertingkat-tingkat menurut skala investasi modal usaha yang melibatkan nelayan sebagai pelaku dan pengguna langsung. keamanan laut.

Pengkajian masyarakat dan budaya bahari yang demikian kompleks tersebut. menuntut diperlukannya (1) pendekatan studi/kajian multi dan atau interdisipliner yang melibatkan bukan hanya antropologi tetapi juga disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora lainnya. ada proses perkembangan internal seperti perubahan tipe bagang tancap ke bagang perahu melalui bentuk-bentuk transisi bagang rakit/apung di Sinjai (Sulawesi Selatan). bertahannya tradisi seperti pengetahuan kelautan. yang kemudian memberi kemungkinan kepada kita untuk mengenal kebudayaan yang mereka pertahankan. Keberadaan pulau-pulau kecil yang dihuni penduduk. 4. lingkungan dan sumberdaya laut (berdasarkan pandangan etik dan emik). model/kerangka penjelasan/analisis yang empirik serta metode koleksi data lebih aplikatif. meskipun jumlahnya sedikit. sistem sosial dan sistem teknologi yang mungkin khas dan berbeda dengan komunitas lainnnya. dan proses difusi (persebaran) yang menyolok seperti persebaran rumpon dari Majenne (Sulawesi Selatan). Di sana ada juga fenomena paternalisme yang melibatkan pemerintah. biologi. teknik perkapalan) yang relevan dengan fenomena sosial budaya dan fenomena fisik yang bisa saling interkoneksi dan dikontekskan. Pewarisan itu dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. Lebih lanjut dalam konteks Indonesia misalnya. sebuah bentuk perahu tradisional dari Kalimantan dimodifikasi menjadi tipe jolloro’ di Bira (Bulukumba) kurang lebih dua dekade terakhir. pembuatan perahu. dan aturan bagi hasil. bubu dari Buton (Sulawesi Tenggara). ekologi. Kebudayaan mereka akan terus berlangsung melalui pewarisan kepada keturunan secara vertikal dan juga secara horizontal kepada warga masyarakat lain. di sana ada wacana tentang kearifan lokal (local indigenious) tetapi banyak kontradiksi dengan fenomena eksploitasi sumberdaya secara berlebih dan komersialisasi dengan segala dampak negatifnya bagi kondisi sosial ekonomi.kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta jaringan pemasaran. kalangan akademisi dan organisasi non-pemerintah (Ornop) di samping berpengaruh positif dapat juga negatif bagi tatanan dan dinamika sosia budaya lokal. yang sudah pasti menarik perhatian ilmuwan.1 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim Komunitas-komunitas pantai yang hidup dari sumberdaya alam kelautan dengan alam pikiran mereka dan mengembangkan sistem budaya. Akan tetapi penelitian yang mendalam belum menyentuh sebagian besar komunitas yang menghuni 22 . selain terdapat persamaan terdapat pula perbedaan budaya di antara komunitaskomunitas kelautan itu. dan (2) konsep budaya. dan bahkan seringkali ada manipulasi identitas etnis secara sementara atau permanen seperti dilakukan oleh sebagian besar kelompok-kelompok masyarakat Bajo di manamana dalam rangka adaptasi sosial budayanya. bahkan non-sosial (seperti perikanan dan kelautan.

dan norma/aturan berkenaan dengan pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. Sistem budaya maritim mencakup sistem-sistem pengetahuan. Selain suku Bajau. pengetahuan tentang tanda-tanda (di laut. dan Sumatera Selatan yang kita kenal dengan nama “orang laut”. pada waktu lalu pernah menjadi pemandangan umum di perairan Indonesia. angkasa/perbintangan). Akibatnya nilai-nilai budaya mereka lenyap sebelum diteliti dan direkam oleh para peneliti. bahkan di sebagian perairan Asia Tenggara. 1976). pengetahuan tentang lokasi dan sarang ikan. Sistem pengetahuan meliputi antara lain: Sistem pengetahuan nelayan mencakup : pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi tinggi. Ratusan kapal Bugis ‘phinisi’ yang tersohor itu. lambungnya dibuat lebih kokoh untuk menahan getaran mesin. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. 23 . Mereka hidup mencari nafkah di perairan Nusa Tenggara Barat. Jika kedua term asing diaplikasikan secara konsisten. Mereka seringkali berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. karena kedua tiangnya dilepas dan tidak memiliki layar lagi. Sulawesi Selatan. pengetahuan tentang musim. nilai. sementara di buritan dibangun rumah geladak yang besar. Konsep budaya maritim. Kearifan lingkungan masyarakat semacam itu perlu kita pahami termasuk komunitas-komunitas kecil yang hidup di pulau-pulau kecil. Nusa Tenggara Timur.pulau-pulau kecil. Kapal Bugis itu kini dilengkapi mesin. “Suku Bajau” yang sebagian besar hidupnya di laut dan bertempat tinggal dalam perahu (rumah perahu). sedangkan term ketiga diacukan kepada aktivitas menangkap ikan semata (Nishimura. Maluku. Kapal yang berbobot puluhan hingga ratusan ton dan bertiang dua serta dilengkapi dengan tujuh layar sekarang sudah tidak kelihatan. keyakinan/ kepercayaan. Jambi. ada masyarakat yang hidup di laut dan di pesisir kepulauan Riau. tidak lepas kompleksitas dari fenomena sosial budaya. Mereka hidup sepanjang tahun di antara laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Sulawesi Utara. sehingga sudah sempat direkam dan dapat dilestarikan nilai budayanya. Term kedua menurut perasaan linguistik Eropa lebih mengacu kepada kegiatan pelayaran. gagasan. dan pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya. Perubahan-perubahan budaya dapat pula terjadi dengan cepat sekali akibat hubungan-hubungan terbuka dan intensif dengan dunia luar. Salah satu bentuk penghargaan itu ialah melalui pelestarian. sehingga sering disebut dengan “sea nomad”. darat. Sudah saatnya bagi kita untuk berusaha memahami dan menghargai kebudayaan yang telah mereka kembangkan sendiri dari generasi ke generasi. terutama berkaitan dengan beragamnya kelompok dan kategori sosial yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut serta beragamnya sektor mata pencaharian terkait laut menjadi alasan lebih cocok memilih term ‘budaya bahari’ daripada term-term ‘budaya maritim’ dan ‘budaya marin’ dalam rangka pengkajian ilmiah. Untung saja sudah ada penelitian mengenai phinisi. Sulawesi Tenggara.

norma/aturan. 1961: 522. berubah dan bertahannya 24 . nilai. Memadainya konsep tiga wujud kebudayaan untuk analisis fenomena sosial budaya juga pernah diungkapkan Ignas Kleden dalam acara seminar pada Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia di Hotel Indonesia. prilaku/tindakan dan sarana/prasarana fisik yang digunakan oleh masyarakat pendukungnya (masyarakat bahari) dalam rangka pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan merekayasa jasa-jasa lingkungan laut bagi kehidupannya. kebudayaan yang mereka pahami ternyata meliputi tiga wujud seperti dikonsepsikan oleh Koentjaraningrat. yang berarti bagian-bagian tertentu dari kedua subjeknya tereduksi. 1981: 68) dan simbolik (Geertz dalam Harris. Kerumitan fenomena sosial budaya. teknologi dan seni berkaitan kelautan. kepercayaan. budaya material) dari Koentjaraningrat daripada melakukan reduksi wujud kedua dan ketiga seperti dilakukan para antropolog kognitif (Goodenough.Vayda (1988. totalitas. Sebuah formulasi batasan budaya secara jelas mencakup ketiga wujud tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat yaitu “keseluruhan sistem gagasan. khususnya budaya bahari. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat. 1999: 19). sistem sosial. Meskipun konsep moderat seringkali dikritik oleh para penganut kognitivisme dan simbolisme karena dinilai mencakup segalanya. 1999: 20) ) atau secara berlebihan menekankan pada pertimbangan rasional biaya dan keuntungan (cost-benefit considerations) seperti dilakukan para penganut materialis budaya (Harris. ketertutupan. Bahkan kalau mendengarkan perbincangan masyarakat lokal pada semua tingkatan.kedua wilayah tersebut akan saling eksklusif. Mengacu kepada konsep tiga wujud dan definisi budaya tersebut. esensialis. namun konsep ‘tiga wujud kebudayaan’ justru sebetulnya memadai sebagai model deskripsi atau analisis karena tidak mengurangi dan tidak melampaui fenomena sosial budaya ke atas dan ke bawah. terutama dalam proses dinamika. abstrak dan general. normatif. Budaya bahari mengandung isi/unsur-unsurnya berupa sistemsistem pengetahuan. Dalam rangka deskripsi. simbol komunikatif. Adapun kelemahan-kelemahan dibagi bersama berbagai perspektif berupa asumsiasumsi tentang homogeniti. 1980:193). 1992). Konsep budaya bahari akan mencakup semua fenomena sosial budaya yang kompleks. 1996. penjelasan dan analisis fenomena budaya bahari yang kompleks kiranya lebih memadai jika memanfaatkan konsep tiga wujud kebudayaan (sistem gagasan. dan budaya bahari difahami sebagai sistem-sistem gagasan/ide. yang dalam penjelasan tidak atau kurang empirik kiranya bisa diatasi dengan konsep ‘kreasi dan dinamika budaya’ dari Sanjek dan mode penjelasan kontekstualis progresif dari A. kelembagaan. Keesing. keseimbangan.P.

Dalam pada itu beberapa aspek kebudayaan masyarakat yang sekarang masih hidup dapat berubah cepat sebagai akibat berbagai pengaruh. Upaya pelestarian masyarakat maritim tidak dimaksudkan untuk menghambat perkembangannya tetapi mengangkat mereka ke dalam taraf hidup yang lebih baik. 25 . Belum lagi tindakan-tindakan manusia yang merusak. crossing its own boundaries. dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. interconnected. diverging. mereka tidak perlu meninggalkan jati dirinya sebagai masyarakat maritim. mencuri. apakah proses kreasi budaya dimaksudkan oleh Sanjek pada dimensi kognitif dan simbolik. Sudah tentu untuk melestarikan semua itu perlu lebih dahulu dilakukan penelitian agar dapat direncanakan sumberdaya budaya mana dan masyarakat mana yang perlu lebih dahulu diprioritaskan. persisting where we don’t espect it to. meliputi pikiran dan prilaku. Tujuan pelestarian budaya dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat mereka sendiri dan masyarakat diluar mereka. 4. sehingga perangkat-perangkat proses kreasi tertentu kalau bukan sepenuhnya bisa digunakan sebagai model deskripsi dan eksplanasi dengan konsep atau perspektif budaya tertentu. prilaku sosial dan material.sebagaimana digambarkan di muka kiranya dapat dijelaskan dan dianalisis dengan konsep proses kreasi dan dinamika seperti dinyatakan oleh Sanjek (dalam Borofsky. and changing where we do. hegemonizing. atau ketiga wujud gagasan. justru kemampuan beradaptasi. dan sebagainya. reformulating. creolizing.” Kelihatannya kompleksitas proses kreasi dan dinamika budaya tersebut relatif bisa mengenai semua sisi realita sosial budaya. sesuai dengan yang mereka jalankan selama berabad-abad walaupun saat ini terjadi perubahan kebudayaan. bukan saja karena sebagian besar benda dibuat dari bahan yang mudah rusak. kecerdasan dan ketrampilan mereka dapat dijadikan contoh dan disebarkan kepada masyarakat lain. yang berorientasi kepada kepentingan untuk memupuk jatidiri. yang tentu mengurangi nilai kesahihan datanya. resisting. Tidak menjadi masalah.2 Pelestarian Sumberdaya Budaya maritim Pada dasarnya sumberdaya budaya masa lalu tidak pernah lengkap. dan tekhnologi. open rather then closed. dan dapat menyebabkan nilai budaya yang ada dan proses perubahannya tidak sempat dipelajari dan direkam dengan seksama. tetapi juga karena pengaruh alam di daerah tropis mudah melapukkannnya. diffusing. 1994: 313) bahwa kebudayaan “is … under continuous creation – fluid. Selama ini banyak nelayan ilegal lokal dan asing yang datang ke pulau-pulau kecil berpengaruh sedikit dan menjadi korban dari tindakan ilegal mereka. partial rather then total. Tingkat keterawatannya rendah. memindahkan. interpenetrating. homogenizing.

ternyata bahwa proses dinamika. sarana perlengkapan lainnya). teknik rumpon nelayan Mandar (Sulawesi Selatan). aktivitas. lembaga kerjasama pengelolaan modal ponggawa-sawi (Sulawesi Selatan). aturan). Gagasan muncul kemudian ialah diperlukannya kerjasama dan kelembagaan untuk mengusahakan berbagai keperluan mutlak (sarana/ prasarana fisik berupa perahu/kapal. berwawasan lingkungan. namun tampak di mana-mana suatu proses dinamika berlangsung cukup pesat. kelembagaan (kelompok/organisasi. penguatan atau revitalisasi sistem-sistem tradisional yang potensial berkaitan dengan pengelolaan 26 . far from the throne” menurut Pujo Semedi (2000) atau untuk nelayan Bugis. LSM. dan lembaga donor ialah menemukan araharah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut secara berkelanjutan. pembentukan institusi baru. meskipun dinamika budaya bahari komunitikomuniti nelayan di Indonesia selama ini tidak atau masih sangat kurang mendapat pengarahan dari pemerintah. jauh dari negara. untuk kesejahteraan bersama masyarakat. Tumbuhkan pandangan dan kesadaran bahwa sumberdaya laut rentan terhadap ancaman perilakuperilaku tertentu. sarana eksploitasi sumberdaya.Wujud dan karakteristik budaya komuniti nelayan. Menumbuhkan dan revitalisasi kelembagaankelembagaan tradisional yang menekankan moral pemerataan atau keadilan dalam kesempatan berusaha dan pembagian hasil. Pokoknya pola pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan jasajasa laut melibatkan sistem-sistem budaya (kognitif). Dinamika budaya maritim Indonesia. antara lain seperti sasi (Maluku). kerusakan ekosistem laut. modernisasi dan globalisasi banyak membawa dampak-dampak negatif berupa kemiskinan ekonomi sebagian terbesar penduduk nelayan tradisional skala kecil. kalangan akademisi. tokoh masyarakat. mengubah pandangan budaya dan praktek akses terbuka/ bebas ke penguatan hak-hak pemilikan. terutama terumbu karang. manusia harus arif dan bertanggungjawab dalam perilaku pemanfaatan sumberdaya laut. jadi tanpa perlakuan bijak kondisi sumberdaya laut akan menjadi semakin berkurang/terbatas. Makassar dan Bajo. panglima laut di Aceh. modal. terkurasnya populasi sumberdaya laut. tepatnya “dekat ke ponggawa/bos. Tanpa memandang rendah beberapa kearifan lokal masih tersisa. konflikkonflik antar kelompok-kelompok nelayan. Hal ini adalah akibat dari suatu proses dinamika komuniti-komuniti nelayan yang kurang terarahkan secara bijak. mereka itu “closed to the stone.” Apa yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan seperti pemerintah. sarana dan prasarana pengangkutan dan teknologi eksploitasi sumberdaya (fisik/material). diasumsikan bahwa keterlibatan dan hubungan manusia dengan lingkungan lautnya didasari dengan pengetahuan dan gagasannya tentang arti dan fungsi (konsumtif dan non-konsumtif) dari sumberdaya dan lingkungan laut bagi kehidupannya. pengelolaan komunal tradisional di Kapuas Hulu (Kalimantan).

Laut sebagai basis budaya pesisir dan eksistensi wali sebagai salah satu unsur legitimasi kekuasaan mulai diabaikan. Dalam wujud teknologi perlu pengembangan teknologi perikanan tangkap ramah lingkungan.3 Konflik Budaya Maritim Secara historis akar konflik kebudayaan Jawa berupa pertentangan budaya antara (1) budaya pedalaman dengan budaya pesisiran. yakni Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. nasional dan global yang tidak semata dikendalikan kekuatan-kekuatan eksternal. regional. serta membangun institusi pasar lokal. pendiri kerajaan Mataram. Suksesi kekuasaan yang terjadi dari Demak ke Pajang menjadi awal sejarah Jawa bagaimana kaum ulama (agama) terseret ke dalam arus pertikaian politik dan kekuasaan.pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. Karena budaya bahari adalah pragmatis. sebagai suatu misteri yang merupakan sumber kekuatan dan inspirasi para raja Mataram sehingga laut menjadi hal yang amat suci. 4. pusat kekuasaan Jawa sebagai pusat kebudayaan semakin ditarik ke pedalaman. yang berorientasi ke pesisir. Sunan Kudus sebagai guru dari Arya Penangsang sebenarnya merupakan wakil budaya pesisiran yang berhadapan dengan Sunan Kalijaga dan Adiwijaya yang merupakan presentasi dari budaya pedalaman. dominasi pola-pola budaya pedalaman mulai mewarnai kebudayaan jawa. Ketiga konflik ini terjadi bersama-sama. teknologi pascapanen. pengembangan teknologi budidaya dan semi-budidaya. Kemenangan Adiwijaya membuat pusat pemerintahan bergeser dari Demak. Melalui Sutawijaya. Konflik budaya pedalaman dan pesisiran bermula ketika kekuasaan Demak sebagai pengganti kekuasaan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya jatuh ke tangan Pajang (Adiwijaya atau Mas Karabet). Kedua tokoh yang paling berpeluang sekaligus berambisi untuk menduduki takhta kerajaan yakni Mas Karebet (Adiwijaya) dari Pajang dan Arya Penangsang dari Jipang. beralih ke Pajang yang lebih memilih pedalaman sebagai basis kekuasaan sekaligus basis kebudayaan. 27 . saling terkait. tetapi sekaligus hal ini memencilkan laut (dan pesisir) dari persinggungan budaya yang lebih luas. dan (3) budaya santri dengan budaya abangan. (2) budaya keraton (Mantaraman) dengan budaya rakyat. Dengan demikian. Dominasi budaya pedalaman makin menguat ketika tampilnya dinasti penguasa baru yaitu Mantaram (Mataram) yang menggeser kekuasaan Pajang. masing-masing mempunyai beking wali. Politik kebudayaan jawa Mataram mencoba membuat jarak dengan budaya pesisir dengan meletakan laut sebagai sesuatu yang disakralisasikan. dan saling mempengaruhi. segala contoh nyata yang memberikan makna praktis bagi mereka niscaya akan dinilai tinggi dan diperebutkan.

Keraton merupakan sentrum dan daerah yang berada di luar keraton (mancanegara. sekaligus pensakralisasian. Masyarakat di luar keraton dianggap tabu untuk menyelenggarakan atau melakukan kesenian produk keraton. dan ditonton oleh pihak keraton. ledek. sedangkan kesenian lain di luar wilayah keraton dianggap sebagai seni pinggiran yang secara estetis dan etika di bawah kesenian keraton. hati-hati. dan lain-lain) dianggap sebagai kesenian “resmi” dan adiluhung. Apa yang terdapat dalam Babat Tanah Jawi sebenarnya merupakan pengulangan dari apa yang dilakukan oleh Ken Arok pendiri Singasari yang memanfaatkan teks sastra (Pararaton) sebagai sarana legitiminasi kekuasaannya. dipentaskan. pencanggihan. Tari bedhaya misalnya. Ini terjadi ketika budaya pedalaman semakin kokoh dan kekuasaan Mataram membuat benteng budaya baru berupa keraton dan pembagian daerah keraton. Kehalusan. Kesenian dalam kosmologis keraton merupakan kesenian yang mengalami sofistikasi. yakni budaya tradisional/rakyat dengan budaya keraton. janger. Kesenian keraton di luar wilayah keraton menemukan tandingannnya dengan munculnya kesenian-kesenian baru yang terutama sekali menemukan lahan subur di wilayah pengaruh budaya pesisiran. Tari bedhaya sebagai kreasi kesenian keraton memformulasikan diri sebagai sesuatu yang serba halus. dan kebebasan improvisasi. pesisir. selaras. dan kerumitan yang menjadi ciri kebudayaan keraton. tandak. maka kesenian rakyat atau pesisiran berlangsung dengan suasana pesta dan hiruk-pikuk yang kemudian menghadirkan suasana yang serba primitif. yang hingga saat ini masih mewarnai budaya berpikir penguasa-penguasa kita. dan teratur. kerumitan. Kesenian keraton menjadi kesenian yang mengambil jarak sedemikian rupa dengan kebudayaan dan masyarakat di luar keraton. 28 . Timbul kesenian-kesenian tayub. yang merupakan penguasa. Dengan demikian estetika kesenian rakyat atau pesisiran secara sadar mendudukkan dirinya sebagai kesenian atau kebudayaan massa. Perbenturan budaya pesisir dan padalaman melahirkan konflik budaya baru. keekspresifan.Kerajaan Mataram menumbuhkan pola pikir budaya dan politik yang selalu berorientasi dengan mitologi. kecanggihan. Apabila kesenian keraton bersikap tertutup dan masyarakat suasana yang khusus. Orientasi mitologis ini terlihat dengan dimunculkannya mitos Nyai Roro Kidul (Ratu Kidul) dan munculnya Babat Tanah Jawi yang di dalamnya memuat silsilah pendiri Mataram yang dikaitkan sekaligus mencampur adukkan tokoh mitologis dengan nama-nama nabi. brang wetan. sangat menutup kemungkinan improvisasi. Karena itu. perumitan. ronggeng. Muncul kesenian-kesenian rakyat yang merupakan produk dari sistem masyarakat grass-root yang menafikan keteraturan. dan keteraturan yang menjadi standar estetika budaya keraton di lawan dengan kebebasan. merupakan tarian sakral yang hanya boleh dilakukan. dan sejenisnya.

Kebudayaan santri sebagai kebudayaan baru yang sebenarnya muncul dari daerah pesisiran. Dalam satuan yang lebih kecil hal itu dapat disimak pada komuniti-komuniti khusus di dalam suatu masyarakat.Kebudayaan keraton juga memunculkan fenomena baru di mana pihak penguasa dapat mensahkan kehadiran seorang kreator seni sebagai abdi atau pegawai keraton (penguasa). pandangan. Dengan catatan ini. serta menyempit atau meluasnya peluang-peluang ekonomi. tetapi dari lingkungan pengaruh kuat agama Islam menganggap estetika kebudayaan rakyat (yang kemudian disebut pula dengan abangan) sebagai sebuah kesenian yang terlampau primitif. Pada titik ini kesenian keraton lebih menekankan kesenian atau estetika dalam bingkai politis dan filosofis. sedangkan kesenian rakyat (pesisiran) lebih menekankan pada fungsi ekonomis. beserta segala benda budaya yang terkait dengan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan laut. Sebagai contoh dapat disebutkan bagaimana sebuah masyarakat ‘maritim’ seperti orang Bugis dapat mengembangkan varian-varian budaya masing-masing di Sape (Bima). Perkembangan ilmu. semua itu dapat memberikan pengaruh dan menjadi faktor pengubah kepada kebudayaan walaupun pendukung kebudayaan tersebut tetap tinggal dalam suatu lingkungan alamiah yang sama. Produk-produk sastra kepujanggaan seperti misanya Wedhatama.4 Pengembangan Sosial Budaya Maritim Subyek kajian maritim yang bersifat sosial-budaya adalah segala pemikiran. Kebudayaan itu senantiasa berada dalam proses dan tegangan antara bertahan dan berubah. 29 . Konflik budaya tidak saja terjadi antara kebudayaan rakyat dengan budaya keraton. dan serat-serat Ronggowarsito merupakan produk keraton yang isinya hampir semua menceritakan dan mengatur perilaku rakyat terhadap penguasa atau perilaku penguasa terhadap rakyat. perkembangan keagamaan dan ideologi. dan Johor. Komuniti dalam lingkungan alam-sosial budaya tertentu dapat mempunyai ciri-ciri yang khas. manusia hidup dalam suatu masyarakat. kiranya dapat diantisipasi bahwa berbagai masyarakat nelayan ataupun masyarakat maritim pada umumnya. yang sedikit atau banyak berbeda dengan komuniti lain yang sama-sama merupakan bagian dari suatu masyarakat luas yang sama. Sebagaimana diketahui. dari waktu ke waktu dapat memperoleh tantangan-tantangan yang berbeda. perilaku manusia. Donggala. 4. dan di dalamnya membentuk kebudayaan dari waktu ke waktu. perubahan konstelasi politik. tetapi juga antara kebudayaan rakyat dengan kebudayaan santri. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya pujangga keraton yang digaji untuk berkarya. sebagai fungsi dari faktor-faktor historis dan peluang-peluang berasimilasi. Tripama.

di dalam suatu kesatuan kenegaraan baru. 4. proses menjadi bangsa Indonesia yang merupakan persatuan dari suku-suku bangsa yang terikat . yang darinya kita bersama dapat memperoleh kearifan dan wawasan. yaitu Republik Indonesia.Pandangan dan penyikapan terhadap berbagai masyarakat etnik kelautan Indonesia perlu dibedakan atas dasar tujuan orang menghadapinya. mengharuskan adanya restrukturisasi hubunganhubungan lama ke dalam hubungan-hubungan baru. Namun apabila ada segi-segi budaya yang dirasa tidak relevan lagi (seperti tiadanya kesempatan pendidikan umum bagi anak-anak nelayan) kiranya perlu dirancang suatu pengalihan cara hidup yang diterima oleh komuniti yang bersangkutan. sedangkan disisi lain terdapat tujuan pelestarian budaya yang dapat ditempuh dengan cara pemberdayaan maupun perangsangan perubahan. lahir dan batin. hubungan perseteruan tradisional harus diubah menjadi hubungan saling memahami. perubahan-perubahan itu harus terasa bergerak dari dalam komuniti itu sendiri. Tradisi dan dinamika budaya maritim dalam konteks eksternal dan modern. Di satu sisi ada tujuan ilmiah yang sasarannya adalah untuk memperoleh kebenaran-kebenaran ilmiah berupa data dan fakta mengenai peri kehidupan kelautan dalam segala aspek.dan semua itu menyangkut hubungan di darat maupun di laut. Di samping itu. dan dapat dihayati sebagai sesuatu yang meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka. Dalam hal ini perlu dilakukan pendampingan disertai pengkajian mengenai kesiapan mereka untuk berubah. dan kesetaraan dengan komuniti-komuniti lain menjadi tolok ukur penyertaannya. Seperti halnya 30 . Yang penting. ditinjau dari segi lahiriah maupun batiniah. sedemikian rupa sehingga kebudayaan itu dapat lestari eksistensinya tanpa harus macet dan tak mampu menghadapi tantangan-tantangan baru. Di antaranya. cara-cara hidup maupun teknologi tradisional yang menunjang kehidupan maritim di sana-sini perlu mendapat penyimakan kembali secara diperhadapkan dengan perkembangan ilmu dan tata ekonomi masa kini. Pencapaian-pencapaian budaya yang unggul dari masyarakat maritim tradisional kita dapat dibela dengan berbagai upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi dengan memanfaatkan ilmu-ilmu baru yang terkait. Dalam hal ini manfaat bagi komuniti yang bersangkutan. hubungan persekutuan terbatas harus diubah menjadi terbuka. senantiasa harus menjadi tolok ukur utama. eksistensi budaya bahari baik dalam bentuk tradisonal maupun dinamikanya hanya bisa dipahami dalam konteks eksternalnya.5 Pengembangan Teknologi dan Budaya Maritim Sebagaimana difahami bersama. Demikian pula daerah-daerah jelajah tradisional di laut dari komuniti-komuniti etnik yang berfokus maritim senantiasa dalam proses dinegosiasikan kembali dengan adanya ketentuan-ketentuan hukum nasional maupun internasional. Proses perubahanperubahan itu sendiri merupakan suatu subyek pengamatan.

hubungan-hubungan produksi (ke dalam dan ke luar) dan distribusi (termasuk aturan bagi hasil). dan lain-lain. karena kenyataan lapangan memang menunjukkan fenomena yang demikian. tembikar. juga sebagai bahan obat-obatan untuk kesehatan. Pengetahuan dan praktek menyelam mencari tripang bagi mereka bukanlah fenomena baru. namun kondisi permintaan pasarlah yang banyak menyumbang kepada pengayaan hingga mencapai tidak kurang dari 40 jenis teripang. lilin. Taiwan. Sutherland. Meningkatnya jumlah konsumen. porselin. Seiring dengan proses adopsi sarana selam modern ialah modernisasi perahu-perahu nelayan dengan pemasangan motor tempel (outboard 31 . nutrisi. semua ini merupakan kontribusi awal dari hubungan dengan dunia luar. Hongkong. sirip hiu. dan ditingkatkan lagi di awal periode 1990-an dengan mengganti tangki/tabung gas dengan kompresor. dan lainlain (Macknight. dengan pedagang Cina. Pedagang asing tersebut sebetulnya digerakkan oleh fungsi teripang yang konon bagi orang Cina di samping sebagai santapan enak. RRC. sarang burung walet. penyu. 1976. Demikian juga pedagang Cina-lah yang mengajarkan sorting menurut tingkatan nilai tukar dari yang paling tinggi hingga yang rendah.prilaku penyelaman teripang oleh nelayan-nelayan Bugis. termasuk hasil-hasil laut seperti teripang. pedagang dalam negeri dan dari negara tetangga terlibat dalam jaringan pasar komoditi tersebut mendorong adopsi inovasi perangkat alat selam berupa tangki/tabung gas yang digunakan oleh penyelam dari Pulau Sembilan sejak awal periode 1980-an. terbentuknya varisi baru dalam struktur kelompok kerja nelayan. tetapi juga dalam konteks eksternal. melainkan fenomena lama yang bisa dilacak ke beberapa dekade bahkan beberapa abad ke belakang (backward in time) dan melacak jaringan perdagangannya ke luar (outward in space) hingga melampaui batas-batas negara ke pasar ekspor seperti Singapura. 1987). Pengenalan nelayan pada prilaku dan habitat teripang. Biota ini mulai dicari ketika kapal-kapal dagang Cina yang ramai berlabuh di Pelabuhan Kota Somba Opu (pusat kota Kerajaan Makassar yang jaya hingga abad ke17) di abad ke-17 mencari komoditi ekspor. Pada mulanya nelayan tidak banyak tahu dan memperhatikan spesis teripang karena tidak bernilai. yang biasa ditukar langsung dengan barang-barang rongsokan: pakaian. 1996). memperpanjang umur. agar-agar. Korea dan Jepang. pengaktifan fungsi sarana tangkap tradisional dalam situasi modern. Bajo dan Makassar dari Sulawesi Selatan tidak cukup hanya difahami dalam konteks sosial budaya lokal. dan menambah keperkasaan laki-laki (Akimichi. vitalitas. Pada mulanya pengusaha Cina dari Makassar membawa langsung pelatih selam yang kemudian merekrut dua atau tiga pembantu lokal yang lebih dahulu terampil menggunakan perangkat alat selam modern tersebut. Meskipun digunakan nama-nama lokal terhadap spesis-spesis ini.

sebagian terbesar nelayan penyelam kembali lagi ke Pulau Sembilan dan beralih ke usaha lobster dan ikan hidup. juga karena ini dapat memperkuat status sosial konsumennya (Akimichi. 1996). Konteks birokrasi melalui pelaksanaan kebijakan pemerintah juga menyumbang kepada perubahan-perubahan keputusan dan prilaku nelayan melalui respons-respons ide dan sikap-sikap (menerima atau menolak). lola) yang diambil dari kawasan taka-taka Pulau Sembilan. transformasi struktural kelompok ponggawa-sawi. Sebaliknya terbentuknya berbagai strategi/taktik sebagian nelayan untuk mempertahankan aktivitas ilegalnya seperti membom dan membius atau berhentinya sebagian di antara mereka dari aktivitas ilegal tersebut dipengaruhi oleh aturan hukum 32 . Motorisasi perahu dan adopsi gae (istilah Bugis) atau rengge (istilah Makassar) sejenis pukat apung raksasa (purse seine) yang merupakan teknik tangkap andalan untuk ikan pelagik (terutama layang) di Sulawesi Selatan sebetulnya diperkenalkan oleh dan melalui jalur promosi pemerintah di tahun 1970-an. napolen). kemudian dilakukan peningkatan kapasitas muat perahu dengan peningkatan kekuatan mesin dipasang pada bagian dalam bodi perahu (inboard motor). dan merosotnya secara drastis populasi teripang dari berbagai spesis dan kerang (mutiara. sunu. Adopsi inovasi teknologi dan peningkatan kapasitas muat perahu yang berarti peningkatan skala investasi usaha berkonsekuensi pada terjadinya proses penetrasi kapitalisme. Demikianlah kedua faktor situasi pasar yang tetap membaik dan kondisi terkurasnya sumberdaya laut setempat pada akhirnya mendorong kelompok-kelompok penyelam dari Kambuno dan Kodingare terpaksa melakukan ekspansi area penangkapan (fishing gruonds) ke tempat-tempat lainnya di Sulawesi Selatan dan berbagai provinsi lainnya terutama di kawasan Timur Indonesia. Bagaimana kedua komoditi yang pada mulanya melimpah di taka-taka Pulau Sembilan karena tidak mempunyai nilai tukar dan hanya sedikit dimakan karena oleh sebagian besar penduduk pulau merasakan itu menjijikkan atau menganggap menyebabkan kebiasaan malas jika dimakan pada akhirnya hanya memerlukan sekitar tujuh tahun saja populasi spesisspesis ini merosot drastis karena sebagian terbesar nelayan setempat dan pendatang menangkapnya. Ketika komoditi lobster dan ikan hidup laku di pasar ekspor (Hongkong dan Singapura). bahkan mengunjungi Australia di akhir tahun 1980-an hingga paruh pertama tahun 1990-an.motor). Meningkatnya permintaan lobster dan ikan hidup di pasar ekspor sebenarnya disebabkan oleh faktor terjadinya perubahan pola makan kelas konsumen elit di negara-negara pengimpor dari mengkonsumsi hasil laut dalam kondisi segar yang sudah dihidangkan di meja restoran Sea-food ke model baru di mana para pengunjung terlebih dahulu memancing ikan atau lobster hidup dari kolam-kolam penampungan lalu diolah dan disajikan para pelayan menurut selera pengunjung masing-masing. Dan Mulailah sejarah budaya tentang lobster dan ikan hidup (kerapu. Pola makan baru di restoran-restoran Cina seperti ini di samping terkait pada nilai kenikmatan santapan.

kerang (mutiara. tentang larangan pengambilan dan pengrusakan terumbu karang di sepanjang perairan pantai Sulawesi Selatan) dan cara-cara pengawasan oleh para penegak hukum di setiap wilayah tugasnya masing-masing. sirip hiu.I Sulawesi Selatan No. batu laga. Berbagai kebijakan pemerintah (tentang pelarangan atau pembangunan). tripang. dan prosedure menangkap napoleon wrasse). terkecuali bagi usaha-usaha nelayan kecil (antara lain diatur dalam Amandemen Peraturan Dirjen Perikanan No. ikan (segar dan hidup). rumput laut. lembaga perguruan tinggi. kelestarian sosial budaya dan lingkungan fisik. telur ikan. Penjelasan prilaku dan poses dinamika sosial budaya komuniti-komuniti nelayan juga sedikit banyak dikontekskan pada kehadiran berbagai Ornop di sana. Oleh karena itu perguruan tinggi sebagai penggagas ide dan inovator teknologi merupakan konteks eksternal bagi proses dinamika sosial budaya masyarakat bahari. Eksploitasi berbagai spesis laut untuk komoditi ekspor (seperti. tentang skala. Demikian juga berbagai praktek ekonomi nelayan baru seperti budidaya rumput laut.8259/ 95. penetasan telur dan pembesaran bibit bandeng dan udang di Indonesia. dan wawasan global terutama melalui wacana berkembang dalam dunia Ornop sendiri. termasuk di Sulawesi Selatan. lobster (segar dan hidup) dimungkinkan oleh kerjasama dagang antar negara dengan penerbitan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP).HK. ikan hias) di kawasan lindung seperti Pulau Kapoposang (Pangkep) dan Taman Nasional Taka Bonerate ialah usaha-saha penyadaran lingkungan dilakukan oleh LP3M dan WWF dengan penyebaran poster-poster jenis-jenis biota laut langka dilindungi dunia. 33 . lola). Kembalinya semua perahu nelayan cantram Galesong Utara (Takalar) akhir-akhir ini (akhir Desember 2002) dari Sinjai disebabkan oleh penolakan masyarakat nelayan setempat (didukung oleh pemerintah daerah setempat) terhadap penggunaan teknik (menyerupai pukat harimau mini) yang bisa dengan cepat menguras berbagai jenis biota laut dan merusak kondisi dasar. lokasi. khususnya komuniti-komuniti nelayan.(antara lain: Peraturan Pemerintah Daerah TK. biasanya meramu wawasannya dari masyarakat lokal. Periode 1990an merupakan periode mulainya keterlibatan secara meluas berbagai Ornop di desa-desa nelayan pantai dan pulau-pulau di Indonesia. keramba penampungan ikan dan lobster hidup.7 1987. isi dan formulasinya banyak mengacu kepada rekomendasi peneliti dari lembaga perguruan tinggi berdasarkan hasil penelitian ilmiah. penyu. merupakan bagian dari studi/praktek lapangan atau pengabdian masyarakat dilakukan oleh peneliti atau praktisi dari lembaga perguruan tinggi. Ornop dengan paradigma keberpihakan kepada kepentingan rakyat mengemban visi dan misi pokok pada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi. kerang mata tujuh.330/DJ. menangkap ikan napoleon (untuk ukuran tertentu). Ikut berpengaruh pada berhentinya sebagian besar nelayan mengambil batu karang. termasuk Sulawesi Selatan. peningkatan sumberdaya manusia dan keterampilan penduduk. kima. penumbuhan jiwa demokrasi. budidaya teknik keramba.

antar pulau. pemukat. tetapi juga oleh kelompok-kelompok nelayan desa-desa pantai Teluk Bone (Sinjai. Bulukumba Timur). demikian juga munculnya lembaga ponggawa-sawi di Sulawesi Selatan sebagai respons pelaut atau nelayan terhadap permintaan pasar global akan hasil-hasil laut komoditi ekspor sejak abad ke-13 atau 14 silam.Di Kawasan Taka Bonerate misalnya. Demikian halnya jaringan pemasarannya hanya mencapai pasar dan konsumen regional. namun kepentingannya semata untuk pembangunan pemukiman penduduk lokal. Bone. namun konteks eksternalnya tidak melintasi batas-batas fisik dan sosial budaya jauh ke luar. pulau. namun dalam budaya bahari kebanyakan komuniti nelayan masih ada banyak unsur-unsur pengetahuan. pembentukan kelembagaan. Meskipun telah terjadi modernisasi perikanan dan adanya pengaruh pasar globalisasi yang kuat. pengguna bubu. Aturan penguasaan dan pemanfaatan sumberdaya laut secara terbuka (common property right/open use) juga menyebabkan suatu lokasi dieksploitasi secara bersamasama. pembentukan dan pengelolaan zona-zona perlindungan terumbu karang dan biota-biota langka berasosiasi karang. Sebetulnya lembaga asosiasi di Maluku muncul sebagai mekanisme masyarakat lokal merespons pasar global sejak ratusan tahun silam (Zerner. penyelam tripang dan mutiara dari Selayar. pengelola bagang dan rumpon. pencari kerang mata tujuh dari Buton (Sultra) dan Palu di tahun 1990-an. nelayan ikan hias dan pemburu penyu dari Bali di tahun 1990-an. Hal mana juga dilakukan di kawasankawasan karang lainnya seperti Biak dan Maluku dengan keterlibatan LSM lokal. bahkan lokal saja. dan sebagainya yang sudah berlangsung cukup lama. Misalnya kawasan taka Pulau Sembilan bukan hanya dieksploitasi oleh penduduk nelayan setempat. Fenomena ini bisa ditunjukkan antara lain pada komuniti nelayan Liang-liang (Pulau Sembilan) yang tetap mempertahankan pengelolaan 34 . pandangan. Hingga seberapa jauhkah ke belakang dan ke luar benangbenang pengaruh kontekstual perlu dilacak? Ternyata ada juga konteks historik dari prilaku eksploitasi sumberdaya laut yang perlu dilacak jauh ke belakang. dan penyelam tripang dari Madura sejak tahun 2000 hingga sekarang. WWF dan LP3M mencoba menggalang sebagian masyarakat nelayan di beberapa desa pulau untuk terlibat dalam berbagai program kegiatan meliputi penyadaran lingkungan. etnis dan provinsi berdekatan. Luwu. jadi konteks penjelasannya internal. Ini dicontohkan pada praktek pemancing ikan-ikan campuran. nelayan pulau-pulau dari Kodya Makassar. Nasional dan Internasional (WWF) (Osseweijer. namun asal mula dan proses kemunculannya hanya melintasi batas-batas daerah. 2001). 1994). kelembagaan dan teknologi eksploitasi bertahan dan difungsikan. Pangkep. pelatihan keterampilan. Takalar. Bahkan gagasan dan praktek menambang batu karang dan pasir di taka-taka oleh penduduk pulau-pulau di kawasan karang yang sudah berlangsung puluhan atau ratusan tahun lalu.

panambe) Pancing (di Sulawesi Selatan: p. Teknologi penangkapan ikan di Indonesia (lihat P. pattek. Di Sulawesi Selatan. Pinisi adalah salah satu tipe perahu Sulawesi Selatan yang konstruksinya memang bagus. 1909) secara garis besar dikategori ke dalam: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Net (di Sulawesi Selatan: panjak. Leti-leti Jawa Nade Sumatra Jukung Jawa.arad.dedang. kompresor (tidak tercantum dalam P. Konstruksi ini lebih mengutamakan fungsi daya muat. 35 . nelayan Jawa dan Madura cukup kaya dengan alat tangkap pukat. bius) Alat selam: tabung. namun mereka tetap mempertahankan sistem-sistem tradisionalnya. parang.van Kampen) Linggis. para pengusaha dan agen eksportir dengan mana tangkapan ikan dan lobster hidup dijual. p.rintak. namun kurang dari segi ukiran dan motif-motif gambar bermakna. p. Golekan.N. p. p. lanra. p. Secara kolektif mereka tetap mempertahankan lokasi-lokasi dan sarang-sarang ikan yang dimiliki sejak dahulu dan tetap menggunakan pancing labuh. perahu-perahu tradisional mulai dilengkapi dengan motor (motor tempel dan motor dalam) di awal tahun 1970-an.van Kampen.peperek. Pangkur.krakat.kopek. Berbagai tipe perahu tradisional milik kelompok-kelompok etnis di Indonesia antara lain sebagai berikut: Pinisi Bugis P. p. Salah satu ciri khas perahu Jawa dan Bali ialah penuh dengan ukiran dan gambargambar binatang menggunakan kombinasi warna mengandung berbagai makna simbolik. Teknologi kemaritiman.besar. p. p.pemanfaatan sumberdaya kawasan karang secara tradisional dan arif. Patorani Makasar Lambo Mandar. Lambo Buton Sandeq. Meskipun dikelilingi oleh kelompokkelompok nelayan pengguna bahan peledak dan bius.labuh.van Kampen.N. sero/belle’) Alat tusuk (di Sulawesi Selatan: tombak. Pajang saja mempunyai jenis (p.kedo-kedo) Perangkap (di Sulawesi Selatan: Bubu. ladung) Teknik lainnya (di berbagai tempat: bahan peledak. keseimbangan dan kecepatan. sektor-sektor ekonomi perikanan dan usaha transportasi/pelayaran masih selalu merupakan sektor-sektor andalan yang bertahan dan berkembang dengan teknologi pelayaran dan penangkapan ikan tradisional dalam berbagai bentuk dan arsiteknya. akhir 1980-an) Janggolan Madura Janggolan Bali Mayang Jawa Prahu jaring Madura Lisalis. Sebagian besar dari jenis-jenis pukat tersebut masih digunakan sebagian besar nelayan Jawa dan Madura hingga sekarang ini. p.tonda.bhanton).N. bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Nusantara ini. gae. Bago Mandar Bagan Bugis Jolloro (tipe terbaru. menangkap/memungut dengan tangan (tidak tercantum dalam karangan P.

Pandangan demikian itu kemudian dikonsepsikan dengan istilah “mare liberium” atau laut bebas. Dalam memandang kedudukan kawasan laut. keinginan untuk menguasai laut terjadi. setidaknya dapat diklasifikasi kedudukan laut dalam empat kategori.4. Gelombang yang dahsyat dan arus laut yang menghanyutkan merupakan ancaman malapetaka bagi setiap orang yang pergi ke laut. Dalam banyak hal prinsip-prinsip mare liberium dan mare clausum dalam perkembangannya menunjukkan pada penguatan pandangan laut sebagai strategi politik. Prinsip mare clausum itu diikuti pula dengan konsep monopoli (berdagang sendiri) yang berkembang pada periode awal perkembangan perdagangan maritim. Kedua. laut merupakan tapal batas wilayah kekuasaan. Keempat. Pertama.6 Masyarakat Suku laut dan Otonomi daerah Kawasan laut dipandang sebagai kawasan yang bebas. Dalam perkembangan kemudian. Secara historis. Setiap orang dapat dengan bebas menggunakan kawasan laut. Prinsip mare liberium ini pada gilirannya mempengaruhi tatanan masyarakat yang menginginkan pembebasan diri dari kehidupan pemerintahan yang bersifat otoriter dan mengeksploitasi penduduknya. Kategori keempat yang menyatakan bahwa laut dipandang sebagai daerah strategik politik bagi penguasaan sumber-sumber kesejahteraan dan kekuasaan. Prinsip mare liberium itu juga pada dasarnya di pengaruhi oleh pandangan yang menempatkan wilayah laut dan lautan adalah kawasan yang penuh tantangan dan maut. kawasan jalur lalulintas pelayaran yang menghubungkan antar daerah dan pulau. Ketiga. 36 . sementara kerajaan Spanyol ke arah barat. laut sebagai infrastruktur. kelompok yang memandang kawasan laut sebagai daerah pemukiman. karena tidak seorangpun yang memilikinya dan menguasainya. Pengaturan atas wilayah laut itu dikenal dengan konsep mare clausum atau laut tertutup. Dalam perjanjian itu dinyatakan bahwa kerajaan portugis memperoleh kekuasaan atas wilayah perairan dari eropa ke arah timur. laut adalah kawasan yang menyediakan sumber kehidupan. tercatat bahwa usaha untuk memilah wilayah laut mulai terjadi ketika dicapainya perjanjian tordesilas pada tahun 1492. yang berkaitan dengan pemguasaan komoditi dagang tertentu. maupun dijadikan infrastruktur pelayaran maritim. ketika kegiatan perdagangan maritim berkembang yang diikuti dengan usaha mencari produksi-produksi primadona dalam dunia perdagangan. turun ke laut dan menjadikan laut sebagai kawasan pemukiman mereka. dan tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber-sumber laut.

Kegiatan masyarakat marine (masyarakat suku laut) bergantung pada kondisi angin muson dan pasang surut air laut. Kegiatan pengembaraan mereka di laut mengalami pembatasan. dengan demikian pada gilirannya dapat memudarkan kegiatan suku laut dan juga nelayan di wilayah kabupaten dan kota. oleh karena terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 32 tahun 2004 mengatur tentang kewenangan daerah dalam mengatur wilayah perairan laut. Kondisi muson dan pasang surut laut yang mempengaruhi kegiatan usaha masyarakat suku laut ini memberikan gambaran kepada kita bahwa waktu kerja mereka sangat singkat. 32 tahun 2004 diberlakukan. 22 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No. Sebelum UU No. kehidupan suku laut dan nelayan masih cukup lapang. UU No.Masyarakat suku laut mata pencaharian utama mereka adalah nelayan. Implikasi dari terbatasnya ruang gerak masyarakat suku laut tersebut mendorong mereka untuk melakukan eksodus ke negara lain atau senantiasa melakukan “pelanggaran” perairan antar daerah. dan hal inilah yang mendorong mereka mengembara di perairan untuk mendapatkan tempat bagi kegiatan kerja mereka. mencari. Tampaknya UU tersebut cenderung berpegang pada prinsip mare clausum. mengumpulkan dan memperdagangkan produksi ikan laut. 37 . Mereka masih berpeluang mengembara di perairan wilayah nusantara. sehubungan dengan pengaturan wilayah laut dan pembatasan ke wilayah perairan pemerintahan lain.

dan fasilitas keselamatan maritim. Dalam otoritas maritim. Wilayah laut meliputi dua per tiga wilayah Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81. Sekalipun 38 .BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya terdiri dari lautan dan memiliki ribuan pulau. Pemerintah Indonesia wajib membentuk satu lembaga yang memegang otoritas maritim. Dalam konteks ketatanegaraan yang lazim dan universal maka kepentingan nasional ditempatkan sebagai tujuan utama. Hasil pemetaan berisi tentang kekayaan sumber daya alam hayati dan nir hayati. Hasil pemetaan berisi informasi tentang titik koordinat batas wilayah dengan negara tetangga. Lembaga yang memegang otoritas maritim wajib mengambil tindakan kepada pelanggaran garis batas wilayah laut sesuai ketentuan yang berlaku. Bertitik-tolak dari pengertian ini maka kebijakan kelautan harus mendudukan perairan laut sebagai unsur pemersatu bangsa. Dengan demikian pertanyaan yang timbul adalah dimanakah kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal di tempatkan? Kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal tentunya harus diperhatikan dan dijadikan pertimbangan penting dalam proses perumusan kebijakan nasional kemaritiman. Pemetaan kawasan laut dilakukan untuk kepentingan pembangunan di laut. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. pulau buatan.000 Km terpanjang ke dua di dunia dan sumberdaya alam hayati dan nir hayati yang dapat dimanfaatkan untuk menambah devisa negara dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. pulau-pulau kecil. juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. Dan dalam pemetaan wilayah laut dilakukan setiap kali ada perubahan kontur pantai. sarana bantu navigasi. pemeliharaan dan pelestarian lingkungan laut. Pemetaan wilayah laut ditugaskan kepada lembaga hidrografi. yang menyatukan seluruh pulau-pulau di wilayah nusantara. pelabuhan dan setiap perubahan alur pelayaran dan hasil pemetaan ini dilaporkan ke Organisasi Maritim Internasional (IMO). sedangkan kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara politik menjadi tujuan pendukungnya. Untuk penetapan garis batas wilayah laut Indonesia dengan negara tetangga ditetapkan oleh ke dua negara melalui perjanjian bersama dan Pemerintah Indonesia menugaskan institusi tertentu yang berwenang melakukan ketetapan garis batas wilayah laut dengan negara tetangga.

Namun dengan perjuangan yang gigih di forum-forum PBB maupun forum-forum internasional yang lain. Pada tahun 1957 bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk merebut kembali Irian barat (sekarang Papua) dari penjajahan Belanda. maka pencapaian tujuan utama akan menjadi sangat berat dan rapuh. transportasi antar moda. terutama dalam hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga. Kriteria dari kawasan maritim. sehingga kapal-kapal perang asing tidak bebas lagi melintasinya. Jamaika. c. pariwisata bahari dan pengembangan pusat-pusat perekonomian regional dan kawasan produksinya. Adalah merupakan kenyataan yang pahit bahwa kapal-kapal perang Belanda yang dikirim untuk meperkuat pertahanan Belanda di Irian Barat berlayar dengan bebas melalui Selat Malaka – Laut Jawa – Laut Flores – Laut Banda dan sampai ke Irian Barat. 5. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. tetapi dapat menjadi unsur pemersatu berbagai kepentingan daerah dan menjamin rezim wilayah negara kepuluan sebagaimana diamanatkan dalam UNCLOS 1982. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal perihal ketentuan tentang Prinsip Negara Kepulauan.1 Upaya untuk mendapat pengakuan internasional atas Prinsip Negara Kepulauan seperti yang dinyatakan Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957 merupakan perjuangan yang berat dan panjang. watershed dan sistem wilayah perikanan. Kawasan Maritim harus dapat mencerminkan kepentingan-kepentingan politik. secara ekosistem dapat secara optimal mengakomodasikan corak ragam ekosistem kepulauan. secara politik tidak dibatasi oleh sistem administrasi wilayah. 39 . d. Itulah sebabnya Pemerintah Indonesia kemudian menyatakan bahwa semua laut di antara pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke itu adalah wilayah kedaulatan mutlak Indonesia. akhirnya perjuangan itu membawa hasil. Dimensi Wilayah Maritim b. Ketika Deklarasi Djuanda itu diumumkan hampir semua negara besar yang berkepentingan dengan jalan laut melalui Indonesia menolak. tentunya harus dapat menterjemahkan pengertian Maritim Indonesia sebagaimana dijelaskan sebelumnya. dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu : a.demikian tetap disadari bahwa tanpa terpenuhinya kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara optimal. 119 negara menandatangani United National Convetion on the Law of the Sea (UNCLOS). seperti konsep bioregion. ekonomi dan sosial dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ekosistem suatu negara kepulauan. secara sosial dapat mencerminkan keragaman etnis tetapi tetap dalam bingkai prinsip ” bhineka tunggal ika” . Kriteria Kawasan Maritim. secara ekonomi dapat mengakomodasi berbagai kepentingan kegiatan ekonomi bahari seperti perdagangan antar negara dan antar wilayah.

tetapi kepanjangan wilayah kekuasaan daerah. UNCLOS 1982 lebih menekankan kepada sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi Negara Kepulauan. menjamin Innocent Passage. baik yang berjangka pendek maupun berjangka panjang. selain dari dua unsur lainnya. seperti dalam menetapkan wilayah laut daerah-daerah dalam rangka otonomi daerah. Transit Passage. dan Straits for Internasional Navigation. juga memperhatikan kepentingan perikanan negara lain. Ketika Pemerintah Indonesia mensahkan Undang-Undang No. adanya wilayah dalam suatu negara ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. yaitu rakyat dan pemerintah. Sejauh ini Pemetintah Indonesia bertindak sangat lambat. yang dikuatirkan justru menggugurkan hak penerapan Prinsip Negara Kepulauan. yang mempersatukan seluruh pulau dalam administrasi kedaulatan Negara Kepulauan itu sebagai satu kesatuan wilayah dengan persyaratan tertentu. 5. dimana kapal perang negara manapun setiap waktu dapat melintas tanpa hambatan. 17 Tahun 1985 yang meratifikasi UNCLOS 1982. antara lain menetapkan sejumlah Alur Laut Kepulauan atau Archipelagic Sealanes. pertambangan dan pariwisata. baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah masih mengabaikan ketentuan UNCLOS 1982. wilayah 40 . Dalam seluruh Perairan Kepulauan hanya berlaku satu rezim hukum nasional yang tunduk kepada ketentuan UNCLOS 1982. maka semua ketentuan terdahulu yang bertentangan dengan UNCLOS 1982 hanya menjadi dokumen sejarah.Namun berbeda dengan Deklarasi Djuanda 1957 yang menyatakan bahwa seluruh laut di antara dan sekeliling pulau-pulau itu merupakan wilayah kedaulatan mutlak seperti halnya wilayah darat. Suatu negara yang mempunyai sistem pemerintahan negara yang beberapa kewenangannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Oleh karena itu Perairan Kepulauan adalah satu wilayah laut yang utuh. sehingga jika kondisi demikian tetap diberikan akan menimbulkan kerawanan terhadap konflik antar daerah dalam pengelolaan sumberdaya seperti perikanan. bahkan beberapa kebijaksanaan yang dilahirkan kemudian.2 Batas Wilayah Maritim dan Pulau-Pulau Terluar Wilayah adalah salah satu unsur utama. terutama negara tetangga. selain itu akan menimbulkan biaya tinggi dalam usaha perdagangan antar pulau. Esensi dari prinsip Negara Kepulauan dalam perspektif kewilayahan sesuai UNCLOS 1982 adalah diberikannya hak kepada Negara Kepulauan untuk menarik garis pangkal batas laut wilayahnya dengan menarik garis lurus dari titik-titik terluar dan menyatakan perairan di dalam lingkaran garis pangkal itu sebagai Perairan Kepulauan. Selanjutnya Pemerintah Indonesia harus menyiapkan program implementasi UNCLOS 1982 secara sistematis. dan tidak tumpang tindih dengan hukum-hukum lokal. Oleh karena itu. Laut cenderung tidak lagi dipandang sebagai pemersatu wilayah.

2 mil dari garis pantai pulau-pulau terluar. bangsa Indonesia mengenai hukum laut internasional tercantum dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang dikenal dengan United Nations Convension on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ketiga tahun 1982 yang selanjutnya disebut Hukum Laut (Hukla) 1982. dalam Bab IX A tentang Wilayah Negara pada Pasal 25A tercantum Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri 41 . Djuanda mengeluarkan pengumuman pemerintah yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda yang menyatakan bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State). sehingga mempunyai wewenang untuk mengelola daerah kedaulatannya yang punya batas. Bangsa Indonesia patut berbangga karena melalui Deklarasi Djuanda tersebut. Termasuk kewenangan ini ruang udara di atasnya. Batas wilayah negara Indonesia adalah 1. Tanggal 13 Desember 1957 ini kemudian menjadi tonggak sejarah Kelautan Indonesia yang kemudian dikenal dengan Wawasan Nusantara. Pada dasarnya konsep deklarasi ini menyatakan bahwa semua laut/perairan di antara pulau-pulau Indonesia tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena laut antarpulau merupakan penghubung dan menjadi satu kesatuan dengan pulau-pulau tersebut. dasar laut (sea bed) dan tanah di bawah dasar laut (sub soil).pemerintahan daerah juga ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ini berarti kapal asing dengan leluasa dapat melayari laut yang mengelilingi atau yang memisahkan pulau-pulau tersebut. serta semua sumber daya maritim baik yang hidup maupun yang tidak. Maka. pulau-pulau di wilayah ini dipisahkan oleh laut di sekelilingnya. Pemerintah Indonesia meratifikasi Hukla 1982 dengan Undang-undang No. Indonesia. Namun demikian. pada umumnya kita sepakat bahwa ketika para pendiri negara ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam ordonansi ini setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa sebagai kesatuan wilayah hal ini sangat merugikan bangsa Indonesia sehingga pada tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh Ir. Upaya mencantumkan Wilayah Negara Republik Indonesia dalam UUD 1945 diawali dari perubahan kedua dan terus berlanjut sampai pada perubahan keempat UUD 1945. Dalam UUD 1945 tidak secara implisit mengatur pasal mengenai “Wilayah Negara Republik Indonesia”. wilayah negara Republik Indonesia merupakan wilayah yang mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939. wilayah negara Republik Indonesia mempunyai cakupan wilayah Hindia Belanda. yaitu Teriroriale Zeen en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). 17 Tahun 1985. Oleh karena itu.

Selanjutnya dalam pasal tersebut dinyatakan “dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang”. sangat diperlukan informasi kewilayahan NKRI seperti informasi pulau-pulau terluar beserta nama-namanya.Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang. Sementara itu. 17 Tahun 1985. Berdasarkan Hukla. Hak-hak. batas landas kontinen (continental shelf). sedangkan garis pantai didefinisikan sebagai muka laut terendah. Garis median yaitu garis yang punya jarak yang sama (equidistance) dengan garis pantai dari negara bertetangga tersebut. Setelah tujuh tahun bangsa hidup dalam penataan negara secara normal. Untuk mendukung hal itu. Jadi. Batas dan hak wilayah laut menurut Hukla 1982. 42 . Benua Asia dan Australia. Batas laut teritorial diukur berdasarkan garis pangkal yang menghubungkan titik-titik dasar bertempat di pantai terluar dari pulau-pulau terluar wilayah NKRI. Oleh karena itu. Pengukuran ini merupakan aspek teknis yang dilakukan oleh tenaga ahli geodesi yang mengerti tentang aspek legal dari penetapan batas. batas zona ekonomi eksklusif (ZEE). karena NKRI merupakan negara kepulauan. Indonesia harus mengkaji dan menetapkan antara lain batas laut teritorial. dalam penetapan batas sangat diperlukan keterpaduan aspek teknis dan legal. kewajiban. serta Samudra Hindia dan Pasifik. batas laut teritorial sejauh maksimum 12 mil laut dari garis pantai. dan wewenang di dalam batas teritorial wilayah laut NKRI akan berbeda dengan hak-hak dan wewenang di luar batas teritorial. “Negara kepulauan berciri Nusantara” punya arti bahwa negara kepulauan yang dimaksud terletak di antara dua benua dan dua samudra. Kira-kira lima tahun bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan sehingga tahun 1950 mulailah bangsa Indonesia menata negara dengan sistem pemerintahan yang disepakati pada waktu itu. Jika dua negara bertetangga punya jarak antara garis pantainya kurang dari 24 mil laut. batas zona tambahan (contiguous zone). maka penetapan batas di wilayah laut mengacu kepada UNCLOS 82/HUKLA 82 yang telah diratifikasi dengan UU No. seperti belum tercantumnya wilayah negara. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa NKRI yang merupakan negara kepulauan wajib menetapkan batas teritorial wilayahnya baik wilayah darat dan laut. yang dimaksud dengan panjang 1 mil laut sama dengan 1852 meter. Dapat dipahami bahwa UUD 1945 (asli) yang dikeluarkan setelah proklamasi kemerdekaan belumlah sempurna. tetapi terletak di dalam batas ZEE dan batas landas kontinen. pernyataan “sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dan berbentuk negara kesatuan dan republik” sudah menunjukkan di mana lokasi geografis negara kesatuan yang berbentuk republik itu yang lengkapnya disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. batas teritorial antar dua negara tersebut adalah garis median. Jadi. Dalam wilayah laut teritorial berlaku hakhak dan kewajiban dalam wilayah kedaulatan NKRI.

secara legal. 6 Tahun 1996 ini. Dengan inisiatif para pakar penetapan batas dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dari aspek legal dan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dari aspek teknis pada awal tahun 2003 dibentuk Forum Kajian Kewilayahan NKRI. sejajar. yaitu pada tanggal 13 Desember 1957. Pada tanggal 16 Juni 1998 dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 38/2002 ini perlu dicabut dan segera diganti dengan yang baru. Dengan keluarnya keputusan Mahkamah Internasional tentang kasus Sipadan dan Ligitan. Dalam PP No. Jadi. 4/PRP/1960. 61 Tahun 1998 tentang Koordinat Geografis Titik Dasar Kepulauan di Laut Nusantara. PP No. yaitu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Hukla 82 (yang telah diratifikasi dengan UU No. Setelah 48 tahun Deklarasi Djuanda itu dikumandangkan sudah sejauh mana Indonesia dapat menyelesaikan batas-batas di laut terutama batas laut teritorial ?. 38/2002 ini dicantumkan titik pangkal di Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Dengan menganggap bahwa semua titik pangkal lengkap dengan koordinat geografisnya yang tercantum pada Undang-undang No. dan sama tinggi dengan negara-negara lain barulah satu tonggak sejarah tentang wilayah negara diumumkan. wilayah negara menjadi tidak jelas. 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Pada tanggal 8 Agustus 1996 diterbitkan UU No. Hal lain mengenai wilayah negara tercantum pada UUD 1945 pada perubahan kedua UUD 1945 Bab IX A pasal 25E yang ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR tahun 2000 yang kemudian berubah menjadi pasal 25 A pada perubahan keempat UUD 1945 yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 yang bunyinya sudah disampaikan di awal tulisan ini. Dalam UU ini dicantumkan koordinat geografis titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar di wilayah negara. 43 .9 ha) tidak termasuk daftar pulau terluar. Pulau-pulau Sipadan (kl. PP No.berdampingan. Daftar koordinat titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar tidak tercantum dalam UU No.4 ha) dan Ligitan (kl. Deklarasi Djuanda diratifikasi melalui UU No. 61 Tahun 1998 ini adalah upaya bangsa Indonesia menutup kantong Natuna yang masih terdapat dalam UU No. Dinamika penetapan batas wilayah negara perlu kita simak. 4/PRP/1960. 4/ PRP/1960 masih berlaku. Pada tanggal 15 Februari 2003 forum ini menyelenggarakan Diskusi Panel bertema “Reaktualisasi Wawasan Nusantara Dalam Perspektif Kesatuan Wilayah Negara Republik Indonesia” di Unpad. 10. 17 Tahun 1985 dan menyatakan bahwa UU No. Pada tanggal 28 Juni 2002 keluar PP No. artinya semangat Deklarasi Djuanda yang menjiwai UU No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia yang isinya sangat umum. 4/PRP/1960 tentang Perairan tidak berlaku lagi. 7. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia.

dan merupakan dasar hukum yang kuat hal kedaulatan atas pulau-pulau terluar itu. Undang-undang No. dan Permasalahan Penataan Batas Maritim Indonesia dengan Negara Tetangga. Proklamasi Kedaulatan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 belum mencakup proklamasi Wilayah Kedaulatan Negara RI itu. Agak disayangkan bahwa pada pencabutan itu tidak ditegaskan secara eksplisit bahwa walaupun rezim hukum atas perairan disesuaikan denga UNCLOS 44 . untuk dapat menetapkan batas wilayah kedaulatan itu. yang menghubungkan titik-titik terluar dari pula-pulau terluar. TNI. Pertemuan yang diselenggarakan di Unpad dan ITB pada awal dan akhir tahun 2003 ini menyatakan perlunya kejelasan dalam masalah kelembagaan dalam penetapan batas wilayah negara. Realisasi. Kasus Batas RI-Singapura” yang penyelengaraannya berdasarkan kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) ITB dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). yang masih harus diperjuangkan untuk diterima oleh dunia internasional dan yang akhirnya diterima dunia internasional dengan Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS . yang telah disahkan Indonesia dengan UU No. Departemen Pertahanan. dan departemen lainnya yang terkait. Penetapan batas wilayah negara adalah kerja sama antara Departeman Dalam Negeri. kecuali Sipadan dan Ligitan pada waktu itu. Undang-Undang ini telah didepositkan ke PBB dan diketahui dunia internasional selama 42 tahun tanpa ada yang mempersengketakan kedaulatan Indonesia atas pulau-pulau terluar itu. khususnya negara baru RI dengan tatanan geografis yang khas. dalam rangka 46 tahun Deklarasi Djuanda diselenggarakan workshop dengan tema “Status. disertai satu konsep dasar klaim wilayah perairan. Bakosurtanal. 17 Tahun 1985. Dengan Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah mendeklarasikan bahwa Republik Indonesia adalah satu Negara Kepulauan.Sebagai lanjutannya pada tanggal 15 Desember 2003. Perlu sekali diperhatikan bahwa UndangUndang ini selain merupakan proklamasi wilayah perairan Indonesia. satu konsep yang baru. juga merupakan proklamasi kedaulatan atas pulau-pulau terluar yang dilingkupi oleh garis batas laut territorial dan khususnya garis-garis pangkal territorial (territorial baselines). Diperlukan waktu dan kondisi yang memadai untuk dapat mengkaji secara cermat berbagai aspek kewilayahan satu negara. Dengan Undang-Undang No.III).4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia maka untuk pertama kali diproklamasikan wilayah kedaulatan NKRI. 4/Prp Tahun 1960 karena tidak sesuai lagi dengan rezim hukum Negara Kepulauan sebagaimana diatur dalam UNCLOS. 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia telah mencabut UU No. yang hasil kajiannya adalah satu konsep Wawasan Nusantara. Semoga dengan tetap dalam semangat Deklarasi Djuanda penetapan batas-batas maritim kepulauan Indonesia segera terselesaikan.

tidak termasuk TimorTimur.namun itu tidak mengganggu kedaulatan atas pulau-pulau terluar dan bahkan ditetapkan garis pangkal yang baru dan disesuaikan dengan yang dimungkinkan oleh UNCLOS. dan kiranya ini masih konsisten dengan peta lampiran UU No. 6 Tahun 1996 untuk penggambaran batas perairan laut wilayah jelas diperhitungkan ’klaim’ kedaulatan atas pulau-pulau Sipadan dan Ligitan. yang masih memasukkan pulau Sipadan dan Ligitan dalam kedaulatan Indonesia. Juga Timor Timur masih dimasukkan dalam peta lampiran itu sebagai satu bagian dari NKRI. Dengan PP No. Apakah ini perlu dikoreksi dengan undang-undang? Hal kontroversi status pulau-pulau terluar.17 tahun 1985 dan Konvensi 45 . 38 Tahun 2002 penarikan garis-garis pangkal ditata kembali sehingga dapat diperoleh laut wilayah dan wilayah yurisdiksi nasional atas laut yang seluas mungkin. Pembangunan Nasional Sektor Kelautan telah dicanangkan dalam GBHN 1993 untuk diarahkan kepada pemanfaatan Wilayah Laut Nasional termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen disamping untuk mendukung penegakan Kedaulatan Yurisdiksi Nasional di laut serta dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara. secara khusus pulau-pulau terluar lainnya. Penetapan Batas Wilayah Yurisdiksi Negara merupakan kebutuhan ynag mutlak harus ditentukan agar segala kegiatan yang akan dilaksanakan di dalam wilayah tersebut dapat diterima oleh lingkungan Regional maupun Internasional baik secara Yuridis maupun secara faktual. Yang menonjol adalah bahwa pada peta lampiran UU No. kiranya jelas bahwa. dimana Republik Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut dengan Undang-Undang No. 38 tahun 2002 kemudian menetapkan garis pangkal territorial yang baru. 4/ Prp tahun 1960. namun telah diserahkan ke Mahkamah Internasional (ICJ) untuk memutuskan hal kasus sengketa itu. pertama kali Pemerintah Indonesia mengklaim kedaulatan atas kedua pulau itu di tahun 1969. yang langsung disengketakan oleh Malaysia. 6 Tahun 1996 dan konsisten dengan klaim kedaulatan atasnya yang telah diperjuangkan selama lebih dari 30 tahun. walaupun kedaulatan atas kedua pulau tidak pernah secara eksplisit tertuang dalam peraturan perundang-undangan. kecuali Sipadan dan Ligitan. Perlu diperhatikan bahwa khusus untuk pulau Sipadan dan Ligitan. Hukum Laut Intenasional tahun 1982 (UNCLOS-82) telah menentukan hak dan kewajiban negara kepulauan. yang masih dimungkinkan oleh ketetapan UNCLOS. Peraturan Pemerintah No. Ini merupakan dasar hukum yang terkuat. Pelaksanaan kegiatan serta perwujudan sasaran dari Pembangunan Nasional di laut tersebut tidak terlepas dari kebutuhan akan data dan informasi kelautan yang akan merupakan bekal awal dalam tahap perencanaan serta pendukung dalam pelaksanaannya. selama 42 tahun tidak ada negara lain yang mempersengketakan proklamasi wilayah kedaulatan yang ditetapkan denga UU No.

Untuk dapat membangun suatu negara maritim. Setiap kawasan didefinisikan dan dideliniasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu. Batas Laut Teritorial dan Zona Tambahan. Telah lama pula kita kenal istilah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. kawasan wilayah perikanan dan yang terbaru dikenal dengan kawasan bio-region. Hal ini mewajibkan Indonesia untuk memenuhi semua ketentuan konvensi tersebut. Peta ALKI mempunyai spesifikasi tersendiri sesuai standard bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. antara lain kawasan transmigrasi. Kawasan maritim sebagaimana dijelaskan dalam kriteria di atas merupakan komposit dari berbagai pendekatan kewilayahan yang memperhatikan unsur politik. Sebagai Negara Kepulauan. Keterkaitan antara Kegiatan Pemetaan Sumberdaya Kelautan dengan UNCLOS-82 adalah menyangkut penentuan Titik Pangkal. harus sudah tersedia bulan September 1999. 46 . Oleh karena itu terminologi suatu kawasan harus dilihat dalam suatu konteks dan konsep pemanfaatan tertentu. satu tahun setelah ALKI diakui oleh dunia internasional. salah satu strategi yang harus didorong dan dikembangkan adalah tumbuhnya pemahaman tentang visi maritim nusantara. kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akan berlaku efektif 16 November 2004. Garis Pangkal. KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu). ekonomi.diberlakukan efektif sejak 16 November 1994. yang satu dan lainnya berbeda untuk konsep yang berbeda. Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Indonesia berkewajiban memberikan akomodasi pelayaran bagi kapal-kapal asing atau hak lintas alur kepulauan (UNCLOS-82). sosial dan ekosistem suatu negara kepuluan. 5. kawasan pariwisata bahari. Batas Landas Kontinen dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Ketentuan dari UNCLOS’ 82 mewajibkan deposito dari daftar koordinat geografis atau peta-peta pendukung klaim Indonesia di atas. Sekalipun disadari bahwa untuk tataran operasioanal berbagai kebijakan strategis ini kemudian perlu dijabarkan lagi ke dalam sistem pemerintahan yang berjalan sebagaimana yang berlaku sekarang yaitu dalam sistem tata pemerintahan pusat dan daerah. yang menjadi dasar dari pembentukan perangkat sistem pemerintahan ”ocean governance” pemerintahan yang berbasis kemaritiman untuk suatu kepentingan yang masuk dalam tataran perumusan kebijakan yang strategis.3 Tipologi Kawasan Maritim Di Indonesia dikenal beberapa tipologi kawasan.

Indonesia mengajukan konsep mengenai rejim negara kepulauan dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. 5. Indonesiapun akhirnya mendapat pengakuan sebagai salah satu negara kepulauan berdasarkan Konvensi tersebut. 2. Pemanfaatan sumber daya kelautan seringkali menghadapi berbagai permasalahan yang tidak terakomodasi secara efektif dalam agenda pembangunan nasional. Dengan wilayah laut yang sangat luas. visi sektoral 47 . Konflik penggunaan ruang dan masalah pencemaran lingkungan laut.4 / Prp. Masih banyaknya sumber daya manusia kepelautan yang tidak memiliki kualifikasi sesuai standar International Maritime Organization (IMO). 4.BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT Usaha Pemerintah Indonesia untuk mengelola potensi maritim dilakukan melalui pengajuan konsep Negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar seharusnya dapat lebih membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun potensinya sebagai negara maritim besar. akhirnya rejim negara kepulauan diterima oleh negara-negara peserta konferensi dan kemudian diatur dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea –UNCLOS). Penetapan batas-batas wilayah laut dengan beberapa negara tetangga yang masih belum rampung. Berangkat dari pemikiran yang tertuang dalam Deklarasi Djuanda 1957 dan Undang-undang No. kebijakan di bidang kelautan yang dilakukan oleh pemerintah masih didominasi oleh pendekatan yang cenderung bersifat sektoral dan terkadang bertentangan dengan kepentingan yang bersifat umum sehingga menimbulkan berbagai kebijakan yang bertentangan. Industri pelayaran niaga yang sebagian besar masih dilayani oleh perusahaan dan kapal berbendera asing. Dalam kenyataan selama ini. Khususnya dalam hal pengaturan kebijakan. 3. Dalam konteks wilayah pesisir. pemanfaatan dan pengelolaan laut yang menyangkut banyak aspek memerlukan pendekatan kebijakan yang terpadu. Berbagai permasalahan tersebut antara lain: 1. Sayangnya. fokus pembangunan nasional selama ini lebih bertumpu pada pembangunan di wilayah darat dan telah menjadikan potensi sumber daya kelautan Indonesia tidak terkelola secara optimal. Indonesia dapat memperoleh manfaat yang besar dari sumberdaya yang terdapat di dalamnya. Setelah melalui proses perdebatan yang panjang. Tahun 1960. Masih tertinggalnya industri perikanan Indonesia. misalnya.

kedua fungsinya. industri maritim. Sejarah telah menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia sempat dikenal sebagai bangsa maritim yang tangguh melalui kejayaan kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu seperti Majapahit dan Sriwijaya. Demikian pula. dan hal tersebut dapat dimulai dengan menumbuhkan wawasan maritim di tingkat masyarakat. Setiap pemanfaatan laut harus memperhatikan dan menjaga keterpaduan dan keserasian serta mencegah pencemaran dan pengrusakan lingkungan laut. telah mendorong departemen-departemen atau instansi teknis berlomba-lomba membuat peraturan perundang-undangan untuk mengelola sumber daya alam atau jasa-jasa lingkungan pesisir sesuai dengan kepentingannya masing-masing yang bermuara pada peningkatan pendapatan asli daerahnya. padahal tidak ada orang yang bisa mencuri atau menduduki laut? Ada empat properti laut yang menjadikannya penting untuk diperebutkan sepanjang masa. telekomunikasi. 6. lalu lintas pelayaran. pertahanan negara. Pembangunan di bidang kelautan tidak mendapat prioritas utama dalam pembangunan nasional yang pada akhirnya berimbas pada memudarnya budaya maritim yang seharusnya menjadi bagian dari budaya nasional. yaitu pertama lokasinya. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya memperbaiki keadaan sumber daya manusia di bidang kelautan yang selama ini cenderung tidak mendapat perhatian yang layak. penyaluran energi. Pengaturan pengelolaan wilayah pesisir yang demikian ini. Hal penting lainnya adalah bagaimana membangkitkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. perlu diambil langkah-langkah untuk mewujudkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. ketiga kekayaan alam yang dikandungnya dan keempat sosial-budaya kehidupan masyarakat bahari.1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia Laut dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Lokasi laut 48 . Mengapa laut menjadi penting dalam hidup manusia dan mengapa orang mencintai laut? Mengapa setiap negara harus mengawal lautnya. dan memupuk budaya maritim sejak dini melalui sistem pendidikan nasional yang berwawasan maritim. ada kecenderungan daerah akan membuat peraturan-peraturan daerah berdasarkan kepentingan daerahnya masing-masing. Namun tampaknya dominasi Indonesia sebagai negara maritim besar sangat sulit untuk dipertahankan saat ini seiring dengan lebih difokuskannya pembangunan nasional di wilayah darat. Oleh karena itu. Alam laut memiliki ciri khas. memajukan pengembangan keterampilan sumber daya manusia di bidang teknologi kelautan. telah dan akan melahirkan ketidakpastian hukum bagi semua kalangan yang berkaitan dan berkepentingan dengan wilayan pesisir (stakeholders).pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir.

Sebagai media penghubung lokasi laut tertentu menjadi sea lane of communication (SLOC) yang bersifat internasional baik untuk kepentingan ekonomi maupun militer. juga mempertimbangkan pengaruh lingkungan strategis terhadap pembangunan nasional seperti globalisasi dan otonomi daerah.8 juta km² terdiri dari 49 . bahwa tujuan pembangunan kelautan hendaknya tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi. seperti ikan dan tumbuh-tumbuhan laut. reorientasi fokus pembangunan. Gagasan paradigma pembangunan ini selain mendasarkan pada potensi. pemerataan kesejahteraan (social equity).2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia Paradigma baru pembangunan Indonesia adalah berbasis kelautan dan sudah saatnya Indonesia melakukan reorientasi paradigma pembangunannya ke arah kemaritiman. Laut jangan lagi dipersepsikan sebagai keranjang sampah (tempat pembuangan limbah dari darat) dan ajang ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan. kendala. melainkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran). lalu sebagai media pemersatu antar pulau bagi negara kepulauan. permasalahan. Letak geografis dan kandungan sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia memberikan pengakuan bahwa Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia. dari basis sumberdaya daratan ke basis sumberdaya kelautan. peluang. 6. tetapi sebagai Anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. antar pulau dan ke luar dengan pasar dunia. juga sebagai sabuk pengaman (safety belt/safety cordon) terhadap serangan musuh dari luar. adalah laut dengan lokasinya sangat strategis baik dilihat dari sudut pandang ekonomi maupun militer. dalam memenangkan peperangan atau dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. dan terpeliharanya daya dukung dan kualitas lingkungan pesisir serta lautan secara seimbang (proporsional).sangat menentukan dalam pencapaian kepentingan nasional. dengan luas laut 5. tetapi juga bahan tambang mineral yang dikandung air laut. antara lain : sebagai media penghubung ke dalam. Pertama. dan juga sebagai medan perang. Laut memiliki fungsi yang sangat penting. atau yang berupa choking points dimana semua kapal yang berlayar harus merapat seperti di ujung selatan Afrika dan India. lapisan dasar laut lepas pantai dan laut dalam. dan kondisi pembangunan kelautan yang ada. Rorientasi tersebut mencakup dua hal mendasar. Termasuk dalam kekayaan alam laut adalah energi listrik yang dapat ditimbulkan oleh tenaga gelombang air laut dan hembusan angin di atas laut. Laut yang berupa selat yang menghubungkan dua samudera seperti Selat Malaka. Kedua. Kekayaan alam laut tidak hanya berupa kekayaan hayati dan nabati yang ada dalam massa air laut.

7 juta km² dan 3.luas laut teritorial 2. Kedua.504 pulau yang dikelilingi oleh 81. ternyata pembangunan berbasis sumber daya kelautan diabaikan. selama berabad-abad telah menjadikan sumberdaya kelautan sebagai basis pertumbuhannya dalam mencapai kemakmuran dan kemajuan dalam peradabannya. laut telah menjadi media hubungan nasional dan internasional. banyak argumen yang memperkuat mengapa pembangunan berbasis sumber daya kelautan. pengolahan. Dengan mengembangkan industri berbasis sumber daya kelautan berarti juga mendorong aktivitas ekonomi di sektor lainnya. Sejarah mencatat bahwa pusat-pusat ekonomi dan peradaban yang pernah ada di wilayah Nusantara.000 km garis pantai dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Di bawah ini adalah beberapa alasan kuat mengapa pembangunan nasional kita adalah berbasis sumberdaya maritim antara lain : Pertama. Keempat. politik.1 km² laut ZEE atau 2/3 dari total wilayah Indonesia merupakan lautan dan ditaburi sekitar 17. ekonomi dan militer. Kondisi geografis ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Indonesia berada pada posisi geopolitis yang penting yakni Lautan Pasifik dan Lautan Hindia. harus dijadikan arus utama pembangunan nasional. baik secara ekonomi. sampai sekarang masih terlihat sisa-sisa budaya berbasis bahari ini pada beberapa suku di Indonesia. Kelima. pertahanan dan keamanan dunia. dengan sejumlah keunggulan komparatif sekaligus kompetitif yang sangat tinggi. akibat kelalaian serta kurang perhatiannya kita sendiri sebagai bangsa. serta menjadi suatu kawasan penting. Bahkan. komunikasi. perdagangan. menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa merupakan penemuan kembali (reinventing) aspek kehidupan yang pernah dominan dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa. 50 . Rendahnya kinerja sektor ekonomi berbasis kelautan yang jauh dari potensi yang dimiliki. sebuah kawasan paling dinamis dalam percaturan politik. Suatu kenyataan pahit yang harus kita akui bahwa selama ini. keterkaitan yang kuat (backward and forward lingkage) antara industri berbasis kelautan dengan industri dan aktivitas ekonomi lainnya. dengan kondisi geopolitis yang ada. Ketiga. Pembangunan berbasis sumber daya kelautan dianggap sebagai sektor pinggiran. baik secara politik. dari aspek politik. Selain itu. dari sisi sosial dan budaya. termasuk usaha transportasi. merupakan harga yang harus dibayar. maka stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri dapat dicapai. sumber daya kelautan merupakan sumber daya yang senantiasa dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif ini dapat bertahan panjang asal diikuti dengan pengelolaan yang arif. jika kita memiliki jaminan keamanan dan pertahanan dalam menjaga kedaulatan perairan. Pada saat itu. dan jasa-jasa lainnya. melimpahnya sumber daya kelautan perikanan yang kita miliki. Alasan di atas sudah cukup menjadi dasar untuk menjadikan pembangunan kelautan sebagai arus utama (mainstream) pembangunan nasional. sosial dan budaya.

bahan tambang dan mineral lainnya. rumput laut. pasang surut. (4) Jasa lingkungan. Bahkan tidak mustahil akan mengakibatkan kelangkaan serta persaingan dalam mendapatkannya. pengaturan iklim. Sumber daya tersebut memiliki kegunaan untuk makanan.8 juta km². OTEC (Ocean Thennal Energy Conversion). Dengan luas laut 5. Kondisi ini membuat kita semakin maju beberapa langkah dalam menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa. padang lamun. Sumberdaya laut Indonesia dengan kekayaan keanekaragaman hayati memiliki potensi untuk pengembangan bioteknologi kelautan. dan penyerapan limbah. Fakta ini menunjukkan bahwa sumberdaya kelautan merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang amat potensial dimanfaatkan sebagai sumberdaya yang efektif dalam pembangunan bangsa Indonesia. yang ditindaklanjuti dengan membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai institusi utama (leading institution) yang bertanggung jawab memberi arahan. keindahan alam. dan angin. Potensi wisata bahari Indonesia pun memiliki nilai yang cukup tinggi. Indonesia sesungguhnya memiliki sumberdaya perikanan laut yang cukup besar baik dari segi kuantitas maupun keragamannya. (2) Sumberdaya yang tak dapat pulih (unrenewable resources). Karakteristik geografis Indonesia serta struktur dan tipologi ekosistemmya yang didominasi oleh lautan telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekargaman yang tinggi dan terbesar di dunia. sejak reformasi. minuman. Ini tercermin dari keputusan politik bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999. mengeluarkan kebijakan.Namun. Dengan demikian orientasi pembangunan bangsa Indonesia ke depan yang berbasis pada sumberdaya kelautan merupakan suatu keniscayaan. dan melaksanakan program-program di bidang kelautan dan perikanan. Diperkirakan terdapat 35. Berdasarkan jenisnya sumberdaya kelautan dibagi menjadi: (1) Sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) antara lain ikan dan biota perairan lainnya. (3) Energi kelautan. hutan mangrove. antara lain minyak dan gas bumi. antara lain gelombang.000 spesies. Pembangunan ekonomi dunia di masa datang yang penuh tantangan dan persaingan yang ketat. dan kosmetika. Di Indonesia terdapat 241 Kabupaten/ kota yang memiliki pesisir. antara lain media transportasi dan komunikasi. muncul kesadaran untuk menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan nasional telah mendapatkan tempat yang lebih baik serta pijakan yang lebih kuat. membutuhkan faktor-faktor produksi seperti sumberdaya alam yang penggunaannya akan semakin meningkat. ekosistem pantai dan pulau-pulau kecil. sementara yang dimanfaatkan baru 5. farmasi. yang merupakan justifikasi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara bahari terbesar di dunia. 51 .000 spesies biota laut memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan.

baru 9. Laut. Sedangkan sisanya sebesar 74. secara kuantitatif relatif sudah memadai. 52 . produk hukum perikanan tersebut memiliki tiga ciri pokok. hukum kelautan kita juga dirancang atas dasar doktrin bahwa sumberdaya kelautan merupakan sumberdaya open-access sehingga pembatasan keikutsertaan dalam okupasinya menjadi sesuatu yang dipantangkan. Selanjutnya. diformulasi dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) dan Keputusan Menteri (Kepmen). Produk yang bisa dikembangkan antara lain wisata bisnis. Suatu hal yang tidak kondusif bagi upaya konservasi sumberdaya kelautan. Dari sektor pertambangan. yakni sentralistik. Hal ini kemudian mendorong tumbuhnya sikap merasa ‘tidak memiliki laut’ di kalangan pemerintah dan masyarakat daerah. berbasis pada doktrin open-access. ibarat sebuah arena pertarungan bebas. laut Indonesia menyimpan potensi kekayaan yang cukup besar berupa minyak dan gas bumi. Diperkirakan Indonesia memiliki cadangan minyak bumi yang dapat menghasilkan 84. jelas kurang memiliki akuntabilitas politik. merupakan isyarat bahwa tekanan terhadap nelayan tradisional sudah sampai pada titik yang tidak mampu ditolerir. yang tentu saja akan selalu melahirkan pemenang dan pecundang. Ciri sentralistik dari produk hukum di sektor perikanan menjelma. Produk hukum yang demikian. wisata alam. secara substantif.8 milyar barel yang diketahui pasti. seperti di Bagan Percut Sumatera Utara. Pengalaman menunjukkan bahwa para pengusaha perikanan berkapital besar yang selalu keluar sebagai pemenang. Secara kategorik.68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. produk hukum tersebut mengkonsentrasikan kewenangan pengelolaan sumberdaya perikanan hanya pada pemerintah pusat. Perlawanan nelayan tradisional yang cenderung sangat radikal. dan anti pluralisme hukum. baik dari sisi materi maupun dari sisi proses produksinya. tidak kurang dari tiga puluh produk hukum telah diproduksi untuk mengatur sektor perikanan. produk hukum tersebut sangat memprihatinkan. di mata pemerintah dan masyarakat daerah. tetapi sejauh mana kemampuan kita dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya kelautan tersebut dalam mencapai kemakmuran bangsa. Dari sisi materi muatannya.48 milyar barel minyak. Dari sisi proses produksinya. Keberhasilan pembangunan di bidang kelautan sejatinya tidak hanya ditunjukkan dengan mengklaim diri sebagai negara maritim atau diwujudkan melalui kebanggaan terhadap keunggulan komparatif yang dimiliki saja. Dari sejumlah itu. wisata pantai. Akibatnya. laut dipandang sebagai ‘halaman belakang’ dan ‘bak sampah’. hukum kelautan pada umumnya. wisata budaya.Dengan demikian Indonesia memiliki lokasi obyek wisata bahari yang cukup besar dibandingkan dengan negara lain. wisata pesiar. Peraturan dan perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek kegiatan pengelolaan di bidang kelautan. Selama tiga puluh tahun terakhir. Namun. dan wisata olahraga.

ketika sampai pada tingkat implementasi. yakni hukum kelautan yang anti kemajemukan. Sulawesi. Akibatnya banyak dari kita yang kurang mengenal pulau-pulau kecil atau gugusan pulau-pulau kecil lainnya sehingga kawasan ini menjadi terlantar atau tidak terkelola dengan baik. Sasi di Maluku. Sesungguhnya. Sentuhan tersebut dapat dilakukan 53 . Oleh sebab itu. Indonesia yang memiliki 17. maka kedaulatan bangsa Indonesia sesungguhnya dalam ancaman besar. memberikan secercah harapan. Sebagai negara kepulauan. Melalui UU ini. Namun frame work pembangunan bangsa yang dipraktekkan selama ini mengakibatkan kita hanya mengenal pulau-pulau besar seperti Sumatera. Kalimantan. panglima laut di Aceh. sentralisme kewenangan pengelolaan sumberdaya kelautan dapat dikurangi. yang membuka peluang desentralisasi. Pada gilirannya. padahal hukum adat tersebut telah terbukti sangat efektif menjaga kelestarian sumberdaya alam. Papua dan Bali. Konsekuensi logis dari keadaan ini menimbulkan kesenjangan pertumbuhan dan kurangnya sinkronisasi pengembangan antarwilayah. yang menjadi pusat-pusat aktivitas utama dalam pembangunan. Dengan perkataan lain. seperti larangan penggunaan pukat harimau. Belanda yang memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Ligitan berada dalam kedaulatan Malaysia. terdapat pula beberapa produk hukum yang memihak kepentingan nelayan tradisional. Jawa. sentuhan pembangunan pada pulau-pulau serupa perlu dilakukan meskipun memiliki tingkat keisolasian yang tinggi. Lemahnya penegakan hukum masih merupakan salah satu kendala. dari pengalaman ini dapat kita simpulkan bahwa tanpa adanya perhatian terhadap pemberdayaan pulau-pulau kecil. terutama yang berbatasan dengan negara asing. Alasan utama keputusan itu dilandasi oleh adanya tindakan administratif secara nyata oleh pemerintah Inggris pada kedua pulau tersebut sejak tahun 1917. tetapi penjabaran dan penyusunan standar dan prosedur pengelolaan yang baik dan bertanggungjawab sesuai dengan kaidah-kaidah pengelolaan yang diterima secara universal. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang signifikan untuk mengelola laut. Namun. ketentuan tersebut seperti tak bergigi.504 pulau-pulau besar dan kecil dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Contoh paling nyata yang baru saja kita rasakan adalah keputusan Mahkamah Internasional tanggal 17 Desember 2002 di Den Haag.Konsekuensi logis dari kedua ciri di atas. hal ini akan membawa kepada muculnya kerawanan baru terutama pada pulau-pulau di kawasan perbatasan. Kelahiran UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. atau tradisi rompong di Sulawesi Selatan merupakan contoh aktual dari hukum adat atau tradisi lokal yang demikian itu. yang diperlukan saat ini bukan ‘menghapus’ ketentuan Pasal 3 dan 10 UU Nomor 22 Tahun 1999. telah menjadikan bangsa ini sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Hukum adat dan tradisi masyarakat lokal tidak diakui sebagai bagian dari sistem hukum nasional. Karena itu.

mendeklarasikan pulau yang memiliki produktivitas hayati yang tinggi sebagai kawasan konservasi. Di lain pihak. mendorong nelayan melakukan aktivitas penangkapan di perairan sekitar pulau. terbatasnya sarana.dengan cara menarik investasi ke pulau-pulau tersebut. Di samping itu. di dalam pemanfaatannya perlu memperhatikan daya dukung pulau mengingat sifatnya yang rentan terhadap perubahan lingkungan. sehingga dapat mewujudkan pemanfaatan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil tersebut masih dihadapkan pada berbagai masalah antara lain letaknya yang terpencil. 54 . merangsang aktivitas ekonomi masyarakat penghuni pulau melalui paket-paket tertentu. prasarana dan sumberdaya manusia. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di kawasan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara terencana dan terintegrasi dengan melibatkan peran serta masyarakat setempat. melakukan penataan ruang.

melalui Diklat serta kegiatan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan lain. pemeliharaan dan perbaikannya pada lokasi-lokasi yang strategis.BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM Ekonomi (industri) kelautan dikembangkan untuk mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui industri maritim dalam rangka peningkatan ketahanan nasional. Penggunaan tenaga kerja yang semaksimal mungkin. yang meliputi seluruh perairan Indonesia dan memiliki kemudahan dukungan berbagai bahan baku dan suku cadang. misalnya: fasilitas pembuatan pelabuhan. Sebanyak 22% dari penduduk Indonesia adalah masyarakat yang menempati areal pesisir sebagai tempat tinggal dan bekerja pada sektor yang berhubungan dengan kelautan. pelayaran dan wisata bahari. Indutri kemaritiman yang dikembangkan perlu mengikuti kaidah-kaidah lingkungan yang berlaku. Reduce. pariwisata. disamping industri pendukungnya.dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan industri berbagai aspek kelautan. Kenyataannya sebanyak 65% nelayan. Industri maritim membuka lapangan pekerjaan yang seluasluasnya bagi masyarakat Indonesia. perikanan. Rehabilitation. pada tingkat global. upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. dan juga perlu pengembangan sumberdaya manusia Indonesia. pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir sebagai pelaku dan objek dari pembangunan masih terjebak dalam kemiskinan. industri perikanan. dan menghasilkan permasalahan yang timbul yang berkaitan dengan berbagai jenis limbah yang dihasilkan dalam proses kegiatan tersebut di perairan laut. Industri kemaritiman disamping mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. Selama ini pembangunan ekonomi berbasis sumber daya kelautan di Indonesia masih belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. juga perlu mempertimbangkan aspek SDM. Industri maritim dikembangkan dengan menerapkan asas angkutan laut dalam negeri dan hanya boleh dilakukan oleh kapal-kapal berbendera Indonesia (Asas cabotage). Industri kemaritiman ini perlu diselaraskan dengan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan selalu dikembangkan. seperti: Industri yang berwawasan lingkungan. dan berdasarkan pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Recover). Reuse. seperti pelayaran. nasional maupun lokal. sumberdaya energi dan mineral. permukiman. limbah hasil industri yang didaur-ulang berdasarkan prinsip 5-R (Recycle. regional. antara lain Oceans Technology. Kebijakan di bidang industri kemaritiman. akibatnya mengubah keterpurukan sosial ekonomi masyarakat pesisir. dan keterkaitannya. 55 .

Berkat perjuangan para penyelenggara negara ini. c. Dengan itu maka Indonesia mempunyai hak tertentu untuk memanfaatkan kawasan yang luasnya sekitar 8 juta km2 atau empat kali lipat dari wilayah teritorial Indonesia pada awal kemerdekaan di tahun 1945. 48%. pariwisata. 56 . yang dapat ditingkatkan melalui pendidikan ke mancanegara melalui alih teknologi dari tenaga ahli asing yang didatangkan. Pembangunan industri maritim harus sejauh mungkin menggunakan potensi sumberdaya alam nasional. Diperlukan kebijakan yang adil dan seimbang antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola sumberdaya alam . seperti: Islandia. Sumberdaya alam yang terkandung baik di pulau-pulau yang tersebar. apalagi bila dibandingkan dengan negara lainnya yang memiliki sumberdaya kelautan lebih kecil dari Indonesia. Untuk menempatkan keunggulan komperatif yang luar biasa disektor ini diperlukan suatu strategi pembangunan ekonomi di bidang industri maritim. maupun yang berada di wilayah lautan harus dikelola secara bijak. bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat yang berkeberlanjutan. yang memadukan mempermudah hubungan antar pulau. Pembangunan industri maritim harus dapat mendorong tumbuh kembangnya sistem transportasi nasional yang handal. Pembangunan industri maritim harus dibangun melalui pengembangan teknologi kemaritiman modern yang mempunyai keterkaitan dengan teknologi tepat-guna massal yang berkembang di wilayah pesisir. air. udara dan kandungan di dalamnya untuk mendorong tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI. energi dan sumberdaya mineral. dan dengan kemampuan bangsa Indonesia sendiri. Indonesia telah diakui dalam Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut. sehingga mempunyai kedaulatan dan yurisdiksi atas kawasan dan kekayaan alam di luar Nusantara Indonesia. yaitu di Zone Tambahan dan Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE).Berdasarkan kontribusi kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya kelautan terhadap PDB masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang kita miliki. Situasi itu selain membawa Indonesia menjadi negara yang sangat luas juga mempunyai keunggulan komparatif yang luar biasa di sektor kelautan dan perikanan. kehutanan.tanah. d. e. sehingga dengan itu akan memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional. b. namun tetap memberi dukungan bagi pengembangan agribisnis di wilayah agraris di pedalaman. dan 54%. Cina dan Jepang di mana kontribusi ekonomi dari bidang kelautannya masing-masing sebesar 65%. Adapun Strategi pembangunan ekonomi industri maritim adalah : a.

keamanan. Industri pelayaran sebagaimana dimaksud meliputi industri perkapalan. Industri pelayaran dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara dalam masa perang atau dalam bahaya perang.1 Potensi jasa lingkungan kelautan lainnya yang masih memerlukan sentuhan pendayagunaan secara profesional agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal adalah jasa transportasi laut (perhubungan laut). Industri pelayaran dikembangkan untuk memantapkan perwujudan wawasan nusantara serta memperlancar roda perekonomian dan perdagangan. penumpang dan/atau barang. pemerintah daerah. maka industri maritim harus dapat meningkatkan budidaya kelautan dan perikanan dengan tetap memperhatikan kelestariannya. dan ketertiban arus lalu lintas kapal.f.pelabuhan pengumpul (hubports) nasional didukung sepenuhnya oleh armada pelayaran nasional. asosiasi pelayaran nasional. Betapa tidak. Perencanaan pengembangan pelabuhan umum melibatkan pemerintah pusat. Industri Pelayaran 7. Daya saing pelabuhan . angkutan laut dan pelabuhan. Tata ruang wilayah pelabuhan dan sekitarnya harus memperhatikan kelancaran kegiatan pelabuhan. Berdasarkan data yang ada. Pemerintah membangun pelabuhan umum untuk mendukung kegiatan armada pelayaran niaga nasional dan kegiatan perdagangan kawasan hinterlan masing-masing pelabuhan. Pembangunan industri maritim dapat membawa kembali kejayaan Indonesia sebagai negara bahari. keselamatan berlayar. Kamar Dagang Indonesia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mewujudkan sistem pelabuhan komunitas (community port) secara terpadu dengan sistem transportasi laut dan intermoda nasional. serta angkutan laut dan tempat perpindahan intra dan/ atau antarmoda. Pemerintah menyelenggarakan pelabuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayaran nasional. hampir 80 persen proses perpindahan barang dan jasa antar pulau menggunakan jasa perhubungan laut. 57 . Kerjasama angkutan laut antar perusahaan pelayaran nasional dengan perusahaan pelayaran asing dilakukan berdasarkan prinsip timbal balik (reci procal) ketersediaan terminal pelabuhan pada kedua belah pihak. sebagai negara maritim ternyata pangsa pasar angkutan laut baik antar pulau maupun antar negara masih dikuasai oleh armada niaga berbendera asing. Perkembangan pelabuhan mengikuti perkembangan armada niaga nasional dan perkembangan armada niaga nasional mengikuti perkembangan perdagangan. Armada niaga nasional menunjang kelancaran.

Banyak pelabuhan terbuka bagi perdagangan luar negeri Sarana dan prasarana pelabuhan yang tersedia belum mempunyai fasilitas pelabuhan untuk pelayanan kapal penumpang dan masih bergabung dengan pelayanan kapal barang Sertifikat kepelautan yang diterbitkan belum memenuhi standar Internasional. Belum adanya jaringan informasi Berdasarkan DATA pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 95.38% dari kegiatan ekspor-impor dan 46. Freight On Board) dan perdagangan impor (CIF. Cost Insurance and Freight) yang dalam birokrasinya sangat sulit.99% pelayaran domestik dilayani oleh kapal-kapal berbendera asing. misalnya kemudahan menyewa kapal Syarat-syarat dalam melaksanakan bisnis perdagangan khususnya perdagangan ekspor (FOB.Gambar 5 Konsep Pelabuhan Dan Zona Perhubungan Sumber : Departemen Perhubungan Pelayaran Indonesia memiliki nilai sangat srategis tidak saja dalam aspek ekonomi. sementara disisi lain pelayaran rakyat atau tradisional kondisinya semakin terpuruk. 58 . kesempatan kerja. dan membangkitkan ekonomi lainnya. karena mendatangkan devisa. Hal ini di sebabkan oleh berbagai faktor antara lain: Belum adanya dukungan perbankan Tidak mampu mengembangkan armada Praktek pengoperasian kapal asing yang menimbulkan dampak negatif. tetapi juga dalam aspek lainnya seperti kedaulatan (sea power) dan pemersatu bangsa. Namun industri pelayaran Indonesia dewasa ini dalam kondisi sangat memprihatinkan.

budidaya perikanan. sehingga menjadi industri perikanan yang terkemuka di dunia. dan dikembangkan secara terpadu dengan pelabuhan perikanan. pajak dan retribusi. 7. telah dibangun beberapa sarana dan prasarana berupa pelabuhan perikanan yang terdapat di 32 titik wilayah Belt Ekonomi Maritim yaitu di Lampulo. Industri perikanan nasional merupakan salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan perekonomian nasional dan ketahanan nasional bangsa Indonesia. sistem dan kualitas serta kapasitas pelayanan pelabuhan. pemasaran. menyebabkan kelemahan tersendiri bagi industri pelayaran. dan kredit (pendanaan) untuk modal serta sistem hukum yang belum memadai. kapasitas dan kualitas pendidikan pelaut (SDM). akibat bisnis yang tidak terintegrasi secara baik. manajemen yang kurang profesional. 59 . fasilitas. Untuk mendukung industri perikanan nasional. Pelabuhanpelabuhan di Indonesia umumnya belum mempunyai master plan yang memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjamin kepastian usaha dan investasi. armada perikanan. Belum dilaksanakannya pengembangan jaringan infrastruktur pelabuhan dalam tatanan kepelabuhan nasional yang berakibat pengoperasian pelabuhan tidak optimal sehingga secara nasional tidak efisien karena investasi yang berlebihan.Gambar 6 Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antarpulau (Interinsulair) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Selain permasalahan di atas. pengelolaan ikan dan pemasaran. pengalengan ikan.2 Industri Perikanan Laut Indonesia yang kaya akan berbagai jenis ikan harus dimanfaatkan untuk pengembangan industri perikanan nasional yang didukung oleh armada dengan teknologi penangkapan ikan yang canggih. Industri perikanan nasional meliputi pengolahan ikan. dan eksport yang sesuai dengan standart kualitas nasional dan internasional.

Lombok. P. Bungus. Sabang. Muarangantu. pengrusakan lingkungan hidup. Tello. tanjung Pandan. Tarakan. P. P. Nusa Barung.K o n d i s i industri perikanan di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan. lemahnya pengawasan. untuk mencegah dan memerangi penangkapan ikan ilegal. Pekalongan. Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 60 . Tual. Madura. Tarempa. P. Bali. Pelabuhan Ratu. Gambar 8. P. Bengkalis. Karimun Jawa. Sungai Liat. Sibolga. Enggano. dan laporannya di bawah standar. hal ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusi perikanan terhadap pendapatan nasional. Hantipan. Kupang.Belawan. Sedangkan pelabuhan perikanan yang dalam pengembangan yaitu P. Teluk Batang. P. Bacan. Sorong. Bawean. Wetar. Brondong. Indonesia harus menjadi anggota organisasi dan komisi-komisi regional dan internasional yang berhubungan dengan aspek ekologi perikanan untuk menjaga sumberdaya perikanan secara berkelanjutan demikian juga memasuki organisasi/komite yang berhubungan dengan pemberian sangsi dan/atau pengawasan terhadap pencurian ikan dan perikanan yang tidak dilaporkan. Dagho. Kejawanan. Pemerintah secara aktif melakukan pengawasan terhadap kapal-kapal ikan Indonesia. Kapal perikanan berbendera asing dilarang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia. P. P. P. Pemangkat. Banjarmasin. P. Bagansiapi-api. P. Sikakap. Sumba. Banda. Buru. dan lainnya dan juga mengenai masalah distribusi (pemasaran) yang masih dikuasai oleh negara asing. laporannya salah. Ambon. Cilacap. Roti. P. Lab. Faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan ini antara lain adanya pencurian ikan secara ilegal. P. P. Biak. Kendari. Bitung. Banggai. Perigi. Waegeo. Kep.

cakalang.7 juta US$. Sedangkan untuk budidaya laut yang meliputi ikan. dan cumi-cumi 28. Berdasarkan perhitungan harga di tingkat produsen tahun 2000 nilai produksi ikan tangkap mencapai Rp. kerang-kerangan. Pada tahun 2000. kerapu. Perairan Indonesia diperkirakan memiliki potensi lestari ikan laut sebesar 6. Di kawasan Barat Indonesia (KBI) terdapat jenis ikan pelagis kecil. Pangsa ekspor ikan Indonesia selama ini di lakukan pada Negara besar di dunia seperti: Negara Jepang. 18. Laut Tomini dan Laut Maluku.53 juta ha yang terbentang dari ujung bagian barat Indonesia sampai ke ujung wilayah timur Indonesia yang diukur sepanjang 5 km dari garis pantai ke arah laut. yaitu selat Malaka. Sedangkan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) khususnya laut dalam terdapat jenis ikan seperti Tuna besar.4 juta ton pertahun. abalone. pelagis kecil. Selat makassar dan laut Flores. Laut Banda. udang peneid 94. Dan untuk produksi perikanan Indonesia sampai saat ini mencapai 618 juta ton pertahun. Selain potensi perikanan tangkap.6 juta). lobster 4.8 ribu ton. kerang mutiara. ikan karang 145 ribu ton.25 ribu ton (Dahuri. Amerika. Laut Sulawesi. ikan demersal 1.46 triliun. Komoditaskomoditas yang dapat dibudidayakan pada areal tersebut antara lain: ikan kakap. Jepang merupakan importir terbesar jenis ikan tuna dan cakalang baik dalam bentuk segar atau beku.8 ribu ton.07 milyar. tiram. Potensi tersebut terdiri dari ikan pelagis besar 1. Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang cukup besar. pelagis kecil. mengalami kenaikan yang cukup berarti.6 juta ton. kegiatan budidaya laut (marikultur) mencapai produksi sebesar 994. Pada tahun 1996 Jepang mengimpor ikan tuna/cakalang sebesar 69.962 ton dengan 61 . dan rumput laut. 2003).36 triliun di tingkat produsen pada tahun 2002. Importir lainnya adalah Amerika Serikat yang mengalami kenaikan drastis permintaan ikan dari 14. tiram. Potensi lahan kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 24. Cakalang. Laut Arafura. Di Indonesia terdapat beberapa wilayah pengelolaan sumberdaya ikan. Utara Jawa dan Selat Sunda. Negara Spanyol dan Perancis yang masing-masing 7. udang dan ikan domersal.36 juta ton. kecuali di Samudera Hindia terdapat Tuna besar. dan Samudera Hindia. kerang darah. teripang.856 ton (senilai US$ 25. ikan pelagis kecil 3.293 ton (senilai US $ 20. udang dan ikan demersal.288 ton. rumput laut. teripang.7 juta) dan 6.Pemanfaatan sumberdaya laut di Indonesia baru mencapai 62 % dari potensi lestarinya dan tidak sampai ambang batas merusak lingkungan seperti yang menjadi syarat dari Federation Agriculture Organization (FAO) sebesar 80 % pemanfaatan sumberdaya ikan dari potensi lestari. udang dan ikan demersal. Spanyol dan Negara Prancis.754 pada tahun 1996 senilai 116. mutiara mencapai produksi senilai Rp 1.1 juta dibandingkan dengan tahun 1994 yang sebesar 69. Laut Cina Selatan. Sedangkan untuk benih ikan laut mencapai Rp 8.65 juta ton.291 ton (1994) menjadi 18.568 ton senilai $627.

nilai sebesar Rp 1,36 triliun berdasarkan nilai pada tingkat produsen (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). Indonesia juga memiliki potensi pengembangan budidaya tambak yang cukup besar. Lahan utama yang potensial bagi pengembangan budidaya tambak terletak di daerah hutan bakau. Ditjen Perikanan (1999) memperkirakan potensi lahan pengembangan tambak di Indonesia mencapai 913.000 ha, sedangkan tingkat pemanfaatannya baru mencapai 344.759 ha atau sekitar 40 persen dari total potensinya. Komoditas-komoditas potensial yang dapat dibudidayakan adalah: udang windu, udang putih, udang api-api, udang cendana, ikan bandeng, baronang, belanak, dan ikan nila. Pada tahun 2000, kegiatan budidaya tambak baru mencapai produksi sebesar 430.017 ton atau sekitar 24 persen dari potensi lahan yang tersedia, apabila setiap 1 ha lahan menghasilkan produksi 2 ton maka nilai produksinya sebesar Rp 7,46 triliun (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). 7.3. Industri Pariwisata Bahari Pemerintah mendorong pengembangan potensi wisata bahari di seluruh perairan Indonesia sebagai upaya meningkatkan perekonomian nasional dan mendukung usaha masyarakat di bidang pariwisata. Pengembangan wisata bahari harus melibatkan peran serta masyarakat lokal, adat, dan pesisir serta memperhatikan pertimbangan para pemangku kepentingan, pelayanan satu atap dan kemudahan masuk Indonesia. Perencanaan wisata bahari harus dikaitkan dengan lingkungan dan tata ruang untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keterpaduan pembangunan serta memperhatikan keselamatan dan keamanan wisatawan, pelabuhan/marina, acara wisata dan pemasaran. Pengusahaan wisata bahari yang memanfaatkan pantai harus memberikan ruang bagi kepentingan umum. Pemerintah berkeinginan membangun infrastruktur pariwisata bahari, pelabuhan/marina, fasilitas umum keselamatan dan keamanan, bagi para wisatawan. Untuk menjamin keselamatan dan keamanan kapal-kapal wisata bahari, pemerintah menyediakan fasilitas berupa alat komunikasi dan stasiun-stasiun pelaporan radio, dan penjagaan pantai dan penyelamatan. Pengembangan wisata bahari di daerah perbatasan dan daerah pulau-pulau kecil terluar harus memperhatikan kepentingan Indonesia jauh ke depan, masyarakat negara tetangga dan batas-batas wilayah Indonesia. Dengan melihat latar belakang laut Indonesia yang merupakan terbesar dari Aseanarean, yang memiliki potensi wisata bahari beraneka ragam. Potensi ini mengandung keunikan dan kelangkaan dibandingkan dengan kawasan mediteranean dan carribean. Sebenarnya, industri wisata bahari Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata bahari terbesar di dunia dengan berbasis marine ecotourism. Namun industri ini juga tak luput dari ancaman yang timbul dari dalam maupun dari luar. 62

Ancaman-ancaman tersebut bisa berasal dari negara tetangga yang selama ini dianggap sebagai pesaing dan yang mengeksploitasi, keamanan yang belum kondusif, dan pemasaran yang masih didominasi oleh negara lain. Sementara dari dalam, ancaman itu muncul berupa masih adanya masyarakat yang merusak atau mencemari lingkungan. Cruising Approval For Indonesian Territory (CAIT) dan penyusunan Custom Immigration Port Clearance dan Quarantine (CIPQ) yang menyulitkan ditambah lagi kebijakan fiskal yang belum mendukung. Obyek wisata bahari yang meliputi wisata selam, wisata marina dan rekreasi air. Wisata selam menekankan pada usaha kegiatan penyediaan sarana, fasilitas atau jasa pemanduan untuk penjelajahan alam bawah air. Wisata marina merupakan kegiatan bisnis berupa penyediaan tempat berlabuh dan tambatnya kapalkapal pesiar, kapal layar atau lainnya. Rekreasi air adalah kegiatan usaha penyediaan sarana prasarana di perairan laut atau pantai. Kegiatan wisata bahari seperti pemancingan (game fishing), selancar, sky air, berenang, selam di kawasan terumbu karang, yang dihuni oleh berbagai jenis ikan hias laut. Jenis-jenis wisata demikian umumnya terdapat di pulau-pulau kecil yang menyebar di seluruh Nusantara. Potensi wisata bahari terdapat pada 21 pulau yang tercakup dalam Belt Ekonomi Kelautan, yaitu Pulau Sabang (game fishing); P. Nias (selancar angin dan game fishing), P. Siberut (game fishing, selancar angin); P. Enggano (game fishing, selancar angin); Ujung Kulon (game fishing, selancar angin); Pengandaran (wisata pantai); Cilacap (wisata pantai); P. Sumba (menyelam); P. Roti (game fishing); P. Biak (menyelam); P. Moyo (game fishing); Sanger Talaud (menyelam); P. Belitung (wisata pantai); P. Bali (wisata pantai, selancar angin); Krakatau (wisata pantai, game fishing); P. Karimata (wisata pantai); P.Rupat (wisata pantai). Pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan juga dapat dilakukan terhadap jasa-jasa lingkungan, terutama untuk pengembangan pariwisata dan pelayaran. Dewasa ini pariwisata berbasis kelautan (wisata bahari) telah menjadi salah satu produk pariwisata yang menarik dunia internasional. Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata bahari yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia, yang terwujud dalam bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis. Pada tahun 2002 pariwisata bahari menyumbang US$ 4,5 milyar atau menurun 16,5 persen dari tahun 2001 yang mencapai US$ 5,428 milyar (Media Indonesia, 2002). Penurunan ini disebabkan oleh kondisi stabilitas nasional Indonesia terutama setelah ledakan bom di pulau Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang lalu. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan bagi perkembangan dunia pariwisata pada khususnya, perekonomian Indonesia pada umumnya. Untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata, perlu upaya serius dari setiap elemen masyarakat Indonesia untuk 63

menciptakan suasana yang kondusif sehingga memberikan kenyamanan dan ketenangan di seluruh kawasan Indonesia. Selain itu perlu memperhatikan kekhasan, nilai jual dan peningkatan mutu komoditi pariwisata, sehingga dapat menarik masyarakat internasional untuk berkunjung ke Indonesia. Kemudian untuk Alur wisata bahari melalui kapal pesiar yang selama ini dikelola oleh Singapura yaitu: dari Singapura melalui Selat Karimata - Selat Makassar ke Manado – Wakatobi – Tabonerate – Bali – Karimunjawa – Kepulauan Seribu – Ujung Kulon – Karakatau – Raiu kembali ke Singapura. Biaya untuk menikmati wisata bahari tersebut 2000 dolar AS per orang. 7.4. Industri Energi dan Sumberdaya Mineral Pemerintah mendorong pengembangan industri energi dan sumberdaya mineral sebagai upaya peningkatan perekonomian nasional dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Industri energi dari laut bersumber pada dinamika gelombang, pola arus dan pasang surut dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung, sedangkan industri sumberdaya mineral bersumber dari air laut, dasar laut dan tanah dibawahnya dikembangkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, keterpaduan pembangunan lainnya, keselamatan dan keamanan kerja. Teknologi industri energi dan sumberdaya mineral dikuasai ahli-ahli bangsa Indonesia melalui pendidikan dan kerjasama luar negeri. Perubahan sumberdaya mineral di laut menjadi energi dikembangkan dengan memperhatikan penanganan limbah. Pengolahan dan penggunaan sumberdaya mineral dilakukan dengan memperhatikan hasil eksplorasi, potensi kandungan dan konservasi energi. Energi kelautan merupakan energi non-konvensional dan termasuk sumberdaya kelautan non hayati yang dapat diperbaharui yang memiliki potensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir dan lautan Indonesia. Keberadaan sumberdaya ini dimasa yang akan datang semakin signifikan manakala energi yang bersumber dari BBM (bahan bakar minyak) semakin menipis. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan adalah ocean thermal energy conversion (OTEC), energi kinetik dari gelombang, pasang surut dan arus, konversi energi dari perbedaan salinitas. Perairan Indonesia merupakan suatu wilayah perairan yang sangat ideal untuk mengembangkan sumber energi OTEC. Hal ini dimungkinkan karena OTEC didasari pada perbedaan suhu air laut permukaan dengan suhu air pada kedalaman 1 km minimal 20°C. Hal ini terlihat dari banyak laut, teluk serta selat yang cukup dalam di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan OTEC. Salah satu pilot plant OTEC dikembangkan di pantai utara Pulau Bali.

64

Sumber energi kelautan lainnya, antara lain energi yang berasal dari perbedaan pasang surut, dan energi yang berasal dari gelombang. Kedua macam energi tersebut juga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Kajian terhadap sumber energi ini seperti yang dilakukan oleh BPPT bekerjasama dengan Norwegia di Pantai Baron, D. I Yogyakarta. Hasil dari kegiatan ini merupakan masukan yang penting dan pengalaman yang berguna dalam upaya Indonesia mempersiapkan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan energi non konvensional. Sementara itu, potensi pengembangan sumber energi pasang surut di Indonesia paling tidak terdapat di dua lokasi, yaitu Bagan Siapi-api dan Merauke, karena di kedua lokasi ini kisaran pasang surutnya mencapai 6 meter. Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi seluruh mineral dan geologi. Indonesia sebagai negara maritim memiliki kandungan minyak dan gas bumi yang besar, berdasarkan data geologi, diketahui bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan potensi yang mengandung minyak dan gas bumi seperti di Selatan Makassar. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 cekungan berada di daerah transisi daratan dan lautan (pesisir) dan hanya 6 cekungan yang berada di daratan. Dari 60 cekungan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 84,48 milyar berel minyak, namun baru 9,8 milyar barel yang diketahui dengan pasti, sedangkan sisanya sebesar 74,68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. Sumber mineral dasar laut ditemukan di daerah hidrotermal atau di daerah gunung api dasar laut yang terdapat di wilayah perairan Maluku dan Sulawesi bagian utara ini. Di daerah hidrotermal ini terjadi keluaran cairan magma dari perut bumi dan terjadi mineralisasi karena tercampur dengan air laut. Mineral ini bertumpuk-tumpuk di mulut magma yang menghasilkan puncak gunung yang runcing dan menjulang tinggi pada kedalaman sekitar 2000 hingga 4000 meter dari permukaan laut. Sebagai gambaran besarnya sumber tambang dasar laut di perairan ini adalah sumber tambang dasar laut di Papua Nugini yang mengandung tembaga, seng plumbum, emas dan perak, eksploitasinya mencapai tingkat 200 ton per hari. Disamping memiliki potensi migas, Indonesia juga memiliki potensi sumberdaya alam yang terdapat di pantai dan lautan meliputi seluruh mineral yang terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas A (mineral strategis: minyak, gas dan batu bara); kelas B (mineral vital: emas, timah, bauksit, nikel ,bijih besi, cromite); dan kelas C (mineral industri: termasuk bahan bangunan dan galian seperti granit, tanah liat, kaolin dan pasir. Secara umum pertambangan di wilayah Belt Ekonomi Maritim yang sudah beroperasi terdapat di Kepulauan Riau, Indramayu, Bawean, Bontang, dan Sale/Papua. Sedangkan wilayah lautan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wilayah pertambangan adalah Natuna, Teluk Cendrawasih, Banda/Maluku, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Selat Makassar dan Halmahera.

65

66 .

Amsterdam. McGraw-Hill. “Anthropology of Fishing”. “On The Knowledge and Knowing of Cultural Activities”. XXII September-Desember 1998: 81-91.. Mc Graw-Hill. Inc. Small Fry: The Economic of Petty Fishermen in Northern Sri Lanka. Direktori Dewan Maritim Indonesia. 1998. Assessing Cultural Anthropology. “Bugis Enterpreneurialism and Resource Use: Structure and Practise”. New York. 67 . dan Cato Wadel. New York.1989. Tyler (eds). Assessing Cultural Anthropology (Section five). No. In Robert Borofsky (ed). Alam R. 1994. Th. James. Akimichi. In Robert Borofsky (ed. 1982. Curtin. Coastal Foragers in Transition. Cambridge University Press. F. VU Uitgeverij/Free University Press. Senri Ethnological Studies No.Menuju Membangun Negara Maritim. Australian National University. Mc Graw-Hill. Andersen. Paper. Vol.Russel. 1994. Research Metods in Anthropology. Sociology of Development Research. G. Robert. Central Sulawesi”. “Cultural in Motion”. Borofsky. 2003. Dewan Maritim Indonesia. London. 1981. Marten. 1985. 1984. Annual Review of Anthropology. Inc. 1984. Siegel. 1991. Beals dan Stephen A.”Searching For Good Fortune: the Making of A Bugis Shore Community at Lake Lindu. Acheson. 2004. Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology. Assessing Cultural Anthropology (Section five).L. M. Centre University Bieleveld. Palo Alto. North Atlantic Fishermen: Anthropological Essays on Modern Fishing. Memorial University of Newfoundland. Philip D. 2004. National Museum of Ethnology. Dewan Maritim Indonesia. Tomoya. “Modernization and Socio Economic Change in The Coastal Marine fisheries of Java : Some Hypotheses”. New York. 1994. New York. R. Newfoundland Social and Economic Research. Disertasi. In Bernard J. Bavinck.57. 10 : 275-316.. 42. 1994.DAFTAR PUSTAKA Acciaioli. Indonesia Negara Maritim. Betke. Bernard. London: Sage Publications.). H.. Inc. Cross Cultural Trade in World History. Naskah Akademik Rancangan Undang-undang tentang Kelautan.

Horridge. Hengky Supit. New York. Indonesia and the Law of Sea. Firth. 1995. Prof. 2003. IPB.S) 9: 511532. 2003. Jakarta. Rowman & Littlefield Publishers. Rais.1999. “Cognition and The Catch : The Location of Fishing Spots in a Brazilian Coastal Village”. Rob van dan Jojada Verrips. Lumentah HMJ. pp: 262-282). Raymond. Man (N. New York. Malay Fishermen: Their Peasant Economy. Goodenough. Orasi Ilmiah : Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumbedaya Pesisir dan Lautan. 1982. Pradnya Paramita. Dahuri. Dalam Maritime Anthropological Study. Kajiaan Penunjang Rancangan Undang-undang Maritim tentang Sistem Pertahanan Keamanan Laut. In Robert Borofsky (ed. Mr.W. W. R. Dahuri. PT. Inc. C. Geertz. Sayling Craft of Indonesia. Inc. 2004. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Louis. M. J. 2003. St. Forman. Ginting. Hamid. 2004. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan. 68 . “Toward A Working Theory of Culture”. 1975.Dewan Maritim Indonesia. 1988. Abu.. Keanekaragaman Hayati Laut. Jakarta. Pelestarian Budaya Kebaharian Masyarakat Sulawesi Selatan: Suatu Tinjauan Antropologi). Oxford: Oxford Univ. 1994. 1967. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Wawasan Nusantara. Bogor.J. Simon & Schuster: New York. Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan. Ethnology 6 (4): 417-426. R.. 1986.P. McGraw Hill. 1996. Dewan Maritim Indonesia. Hasjim Djalal.. Theories of Culture in Postmodern Times. “Culture and Sosial Change : The Indonesian Case”. Dahuri R.). New York. New York. Marvin.Press. Sitepu. Ginkel. 1984. The Sacred Cow and the Abiminable Pig: Riddles of on Food and Culture. S. Vol. Adrian. Harris. Introduction. Danusaputro Munadjat St. 2003. Crowell. 1968. S. 1 (2) 1988.Norton & Company Inc. Teropong Kajian Tata Kelautan Indonesia. 2003.1987. The Rise of Anthropologi Theory. Assessing Cultural Anthropology (Section four. Laporan Semiloka Kebijakan Nasional Bidang Kemaritiman. Ward H.

1909. Lampe. Sanur. Buku 1 dan 2. Darmawan salman. University of London.m New York.T. Laporan penelitian. Jhon Pieres. Jakarta. School of Oriental and African Studies. Territorial dan Perairan Indonesia. Yayasan Pustaka Nusantara. Jakarta. Pengantar Ilmu Antropologi. IND-HILL-CO. Universitas Hasanuddin –PPT-LIPI. McGraw Hill. Menyisir Pantai Utara. 1975a. Universitas Hasanuddin Bekerjasama COREMAP LIPI. Roger M. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. Mededeelingen Uitgande van het Departement van Landbow. Proyek Dibiayai Bank Dunia. Lampe.1975b. J. Disertasi. SH). 20-21 Sept. No. Yogyakarta Perwakilan KITL V.Colf & Co. Jakarta. Kampen. Laporan penelitian. “Pasompe “Ugi”: Bugis Migrants and Wanderers”. 1994. Batavia: G.). McGraw-Hill. 2003. Makalah dalam Seminar Menejemen Pembangunan Menurut Budaya Bangsa Indonesia. Proyek dibiayai oleh Bank Dunia. Dr. 1996/1997. Motik Chandra. 1994. Serba Serbi Konsultasi Hukum Maritim. Pengembangan Sumber Daya Kelautan(Laut. Mattulada. Hamzah. A. 2001. Manusia Bawahan dalam Menejemen. In Robert Borofsky (ed. New York. 69 . Assessing Cultural Anthropology (Section five. dan Ramli A. 1980.1985. pp: 396-410). P. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”.). “An Indonesian Society and Its Universe: A Study of the Bugis of South Sulawesi (Celebes) and their Role Within A Wider Social and Economic System”. “Multilevel Linkages: Longitudinal and Comparative Studies”. Buku 1 dan 2. “Theory of Culture Revisited”.. 1996. Inc. PP.van.Hasil Sarasehan Nasional Dewan Maritim Indonesia. Louis. Aksara Baru. dan Ansar Arifin. Jakrta. St. Jakarta. De Hulpmiddelen der Zeevisscherij op Java en Madoera in Gebruik.1997/ 1998. 1985. Inc.2000. Assessing Cultural Anthropology (Section four). 397-408. Pokok-pokok Pemikiran Pembangunan Maritim. Laporan penelitian. Koentjaraningrat. Munsi. Lineton. Archipel 10: 173-201. Munsi. “Studi Pemanfaatan Sumberdaya Laut dalam Rangka Optimasi Zonasi Taman Nasional Taka Bonerate”. Mardiana. Keesing. Universitas Hasanuddin – PPT -LIPI. 2000.9.N. Masyhuri. In Robert Borofsky (ed. Kottak dan Elizabeth Colson.

Far from the Throne. 1999. 70 . Willem.1984. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan. 6-9 Sept. Prof. Dissertation. Taka Bonerate dan Pulau-Pulau Sembilan”. S. 2004. Universiteit te Amsterdam. The Voyage to Marege . Paeni. Laporan Penelitian. Watupongoh Navy. J. Dirjen Kelembagaan Departemen Perikanan dan Kelautan RI.C. Eastern Indonesia).” Fifth DutchIndonesian Historical Congress diselenggarakan pada Lage Vuursche – Nederland. Disertasi. Praharani Synthesa. C. 2002. Roy A. Makalah disajikan dalam Seminar Kebudayaan Maritim. Rompas Max Rizald. Penyusunan Scenario Planning Sumber Daya Perikanan Di Wilayah Papua. Closed to the Stone. Pusat Studi Lingkungan Universitas Hasanuddin. 2001. Melbourne University Press. Laporan Perumusan Kebijakan tentang Penguatan Kelembagaan. Macassan Trepangers in Northern Australia. Soselisa. (Enlarge Edition) Yale University Press. 1986. 1976. Yale University Press. 1995.Macknight. Ecological Sustainability and Social Security in the Management and Exploitation of Land and Water Resources in Indonesia.IK. 2004. Spermonde. S. Rappaport. New Haven. Nur Indar dan Lampe. Moka. Taken at the Flood: Marine Resource Use and Management in the Aru Islanders (Maluku. Gisli. 1991. “Penjajakan Awal Mengenai Kondisi terumbu Karang Di Kep.” Padang. Laporan Perumusan Kebijakan Maritim Sebagai Pemersatu Bangsa. Universiteit te Leiden. Laporan Penelitian. 23-27 June 1986. Ideology and Change in the Early State of Buton. Fakultas Sastra Unhas. Manchester University Press. 2001. Semedi. Osseweijer. Pandang. Paper to be presented at the “Conference on Legal Complexity. Sistem-sistem Tradisional Sebagai Institusi Dalam Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya di Wilayah Pesisir.IK. Manon. Melbourne. 1968. Sasi in Maluku: Communal Property and Communal Rights in Marine Resource Management.W.Dr. Coastal Economies. Pujo. Palsson. Cultural Accounts: Human Ecology and Icelandic Discourse. Schoorl. Hermin. 1985. Pigs for The Ancestors: Ritual In the Ecology of New Guinea People. Memahami Kebudayaan Maritim di Sulawesi Selatan. 1999. Mukhlis. U. Pigs For the Ancestors: Ritual in The Ecology of New Guinea People. 2004. New Haven. “Power. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan.

“Action and Consequences as Objects of Explanation in Human Ecology”. Vayda Andrew P. Environment. Cambridge. 71 . H. The Penetration of Capitalism: A West African Case Study. Batavia: Landsdrukkerij. The Capital World-Economy: Essays. Onderzoek naar Mindere Welvaart der Inlandsche Bevolking op Java en Madoera. CYPED. “ Tripang and Wangkang. Cambridge University Press. Wallerstein. 1979. II. London: Zed Books Ltd. 1984. Vercruijsse. 2-6 Nopember 1987 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Cabagan. PP. Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. 2001. University of the Philippines. 1972-1820”.1988. 1905. “Studying Human Actions and Their Environmental Consequences”. Isabela Philipines. Society and Belief in South Sulawesi. Emile. Leiden. Fishers of the Visayas: Visayas Maritime Anthropological Studies. The China Trade of Eightreenth Century Makassar. 1987. Diajukan Pada Konferensi Tentang Trade. I. Makalah. 1991-1993. Immanuel. Technology and Society 51 : 2-7.Sutherland. CSSP Publication. Welvaartcommissie. Overzicht van Uitkomsten der Gewestelijke Onderzoekingen naar de Vischteelt en Visscherij en Daaruit Gemaakte Gevolgtrekkingen. 293-307. 1992. In Forestry for People and Nature.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful