Potret Negara Maritim Indonesia

Buku Bacaan Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

Tim Penyusun : Djuanda Tomo HS, M.Si Mohamad Armansyah, ST Navi Watupongoh, S.IK
i

dicetak dan disebarluaskan oleh : SEKRETARIAT DEWAN MARITIM INDONESIA Departemen Kelautan dan Perikanan 2005

ii

Pulau-pulau yang ada disatukan oleh perairan laut menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Buku bacaan ini akan banyak membantu adik-adik untuk mengenal kekayaan yang ada di laut kita seperti terumbu karang yang indah dan beragam jenis biota di dalamnya. Oleh karena itu Indonesia dikenal oleh dunia Internasional sebagai “Negara Kepulauan” terbesar di dunia. Saya percaya. Namun. sebagai potensi ekonomi maritim yang sangat berlimpah ragamnya. Hadirnya buku bacaan ini merupakan inisiatif dari Dewan Maritim Indonesia. Sejak dahulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa dengan jiwa maritim dan semangat kebaharian yang tinggi. agar lebih mengenal potensi sumber daya alam yang terkandung di wilayah laut kita. buku ini merupakan sumbangsih untuk merubah pola pikir para siswa agar lebih cinta pada laut. Menteri Kelautan dan Perikanan T Freddy Numberi iii .504 pulau. agar pengenalan wawasan kemaritiman sudah mulai digerakkan dari siswa-siswa tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas sebagai generasi penerus untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yagn berjiwa maritim dimasa depan. sehingga mereka menyebut nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut. Adanya pengenalan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai insan pembangunan yang berjiwa maritim. Melalui buku bacaan ini saya mengajak adik-adik harus lebih banyak membaca buku tentang keberadaan laut kita.SAMBUTAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN Secara geografis dua pertiga wilayah negara Republik Indonesia terdiri dari perairan laut yang di dalamnya terdapat + 17. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola kemaritiman Indonesia. sekarang pribahasa nenek moyangku pelaut tidak banyak dikenal oleh para siswa.

Dr. Buku Potret Negara Maritim Indonesia ini. buku ini merupakan sumbangsih yang berharga bagi pembanguan maritim Indonesia. Laut merupakan potensi sumberdaya maritim yang sangat kaya baik hayati. memiliki pulau sebanyak + 17. Jakarta. Dengan rasa gembira saya menyambut baik prakarsa sekretariat Dewan Maritim Indonesia (DMI) untuk menyusun dan menerbitkan buku Berwawasan Maritim Republik Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggapan partisipatif terhadap Seruan Sunda Kelapa yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 27 Desember 2001 di Jakarta. Dengan demikian kemaritiman menjadi sangat penting bagi kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia. panjang pantai + 81. yang menghimbau agar seluruh rakyat Indonesia kembali membangun negeri maritim dengan 5 (lima) pilar program yang antara lain membangun kembali wawasan maritim. non hayati maupun energi laut namun selama ini kita telah mengabaikannya. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola potensi kemaritiman Indonesia. merupakan buku bacaan yang mengenalkan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai sumber insan pembangunan yang berjiwa maritim. Saya percaya. Agr.SAMBUTAN SEKRETARIS UMUM DEWAN MARITIM INDONESIA Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa secara geografis Indonesia merupakan salah satu negara maritim di dunia. Ir.000 km dan 2/3 (dua per tiga) wilayahnya adalah lautan.504 pulau. iv . Hadirnya buku bacaan ini diharapkan bisa menjadi bahan pengetahuan bagi generasi penerus utamanya kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yang berjiwa maritim di masa depan. semoga penerbitan buku ini bermanfaat. Juni 2005 Sekretaris Umum T Prof. Rizal Max Rompas. M.

KATA PENGANTAR Kondisi geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia yang strategis terletak didaerah tropis yang diapit oleh dua benua yakni Asia dan Australia dan dua samudra yaitu Samudera Pasifik dan Sumudera Hindia. Dari Barat sampai ke Timur kepulauan Nusantara terbentang jalur magnetic dan jalur seismic serta jalur anomaly gravitas negatif terpanjang di dunia.000 km atau sekitar 14% dari panjang garis pantai dunia dan memiliki sekitar 17. India. Salah satu keunikan posisi kepulauan Nusantara adalah karena Indonesia terbentuk dari pertemuan tiga lempeng raksasa bumi (earth) yakni lempeng Pasifik. Fenomena alam yang paling menonjol adalah daerah paparan Sunda yang memiliki laut dangkal di sebelah Barat. Australia dan Pasifik. Dengan luas laut demikian. serta pertemuan dari tiga lempeng besar dunia Eurasia. wilayah-wilayah dengan palung-palung laut dalam di bagian Tengah (laut Banda) dan daerah paparan Sahul dengan laut dangkal di ujung Timur. Atas dasar susunan geografis yang demikan unik. Indonesia secara geografis merupakan negara maritim terbesar di dunia. ekosistem lindung dan jasa-jasa Kelautan sangatlah besar. terbentang lautan luas yang memeluk kepulauan Nusantara dengan kokoh dan dengan variasi jenis-jenis kedalaman laut yaitu laut dangkal dan laut dalam yang memberi keindahan dan aneka ragam biota laut di dalamnya. dan dengan pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. lempeng Eurasia dan lempeng Samudera Hindia-Australia. Negara Indonesia 2/3 wilayahnya atau sekitar 5.504 pulau besar dan kecil. hal tersebut merupakan kekayaan yang luar biasa bagi Indonesia. Gambaran ini memperlihatkan potensi-potensi perekonomian dalam bentuk potensi tambang. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau berbagai fenomena alam (earth fenomena) sangat kaya di Indonesia. dimaksudkan untuk membuka wawasan kepada generasi muda akan besarnya potensi-potensi ekonomi v . Dengan posisi silang yang sangat strategis dan kaya dengan sumberdaya alam yang beranekaragam. Perikanan. Penerbitan buku yang diberi judul “Potret Negara Maritim Indonesia” yang diperuntukkan bagi siswa didik di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).8 juta merupakan lautan dan memiliki panjang garis pantai 81.

Penyusun vi .yang dikandung dalam pembangunan dan pengelolaan maritime. dan dapat menjadi alternatif tulang punggung negara yang selama ini sangat bergantung pada pajak. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna karena itu pada kesempatan ini mengharapkan saran-saran konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan buku ini.

................................ BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM ............................................................................5 4....................... Pengembangan Sosial Budaya Maritim .......1 5......................... Masyarakat Suku Laut dan Otonomi Daerah .............................................................3 BAB 3 Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan ................................................................................................ iii iv v vii viii 1 4 5 6 11 13 14 17 19 22 25 27 29 30 36 38 39 40 46 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA ...........................................................1 2....................................................................... 2............................................ 4......... vii ....................................... Laut Sebagai Pemersatu Bangsa .......................... Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan ......... 5.2 5............ Kata Pengantar ..............................................................................................2 4........................ Pelestarian Sumberdaya Budaya Maritim .........4 4.................................................................................................................................................................................2 2........................ 3..................................... Kebangkitan Kemaritiman Indonesia .............. Batas Wilayah Maritim dan Pulau-pulau Terluar ............................................................................................ Konflik Budaya Maritim ..................... PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA .......................................................6 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim ...DAFTAR ISI Hal Sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan ...................................... Daftar Gambar ........1 4.................... Daftar Isi ....2 Letak Geografis dan Kepentingannya ........................... BAB 1 BAB 2 PENDAHULUAN ......................... Sambutan Sekretaris Umum Dewan Maritim Indonesia ................................3 Dimensi Wilayah Maritim .................................................. Pengembangan Tekhnologi dan Budaya Maritim .......................... BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM ....1 3.....................................3 4............................................................ Tipologi Kawasan Maritim ..................................

.................................................................. DAFTAR GAMBAR hal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Peta Indonesia ... 7................................................................................................................................................. 7................................................................................ 60 59 10 14 15 16 58 viii .............................................. Konsep Pelabuhan dan Zona Perhubungan ................... 7.................................................................................... 47 48 49 55 57 59 62 64 67 BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM ............................ DAFTAR PUSTAKA ......... Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia ........................................ Posisi Geo-Strategis Indonesia ...............................................................................................................................3 Industri Pariwisata Bahari .................................4 Industri Energi dan Sumberdaya Mineral ............................................2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia .........1 Industri Pelayaran . 7................................ Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antar Pulau (INTERINSULAIR) ............. 6.................................................................... Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) .......................................................................... Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya .............................................................................. 6......BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT ............2 Industri Perikanan ......................1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia ...............................................................

Namun pada kenyataannya sampai saat ini sektor maritim terkesan masih agak tersisihkan baik dalam segi pengaturan. atau tersier. memelihara pemerintahan dari hutang luar negeri pada tingkatan yang terkendali (a manageable level). sekunder. dan menghindarkan ketidakseimbangan yang ekstrim antar sektor (extreme sectoral imbalances) yang dapat mengakibatkan kehancuran produksi sektor primer. Kondisi ini juga yang kemudian menimbulkan keengganan bagi para calon pengusaha yang berkeinginan untuk mencoba peruntungannya dalam dunia usaha maritim. Pembangunan secara ekonomis dianggap berkelanjutan (an economically sustainable area/ecosystem) jika kawasan tersebut mampu menghasilkan barang dan jasa (good and services) secara berkesinambungan (on continuing basis).BAB 1 PENDAHULUAN Sebagaimana kita ketahui bahwa negara Indonesia kita tercinta ini adalah negara yang memiliki wilayah perairan terbesar di dunia dan dua pertiga dari wilayah kedaulatan negara kita merupakan wilayah perairan. Adapun ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut dapat dikemukakan secara jelas pada uraian berikut : a. Model pembangunan yang digunakan Indonesia adalah model pembangunan berkelanjutan (sustainable development). yang merupakan suatu model pembangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhanya. Seyogyanya sektor maritim dapat kita jadikan sebagai salah satu sumber penunjang utama bagi perekonomian masyarakat negara kita sesuai dengan salah satu semboyan yang kita miliki sebagai negara maritim yakni ”Jalesveva Jayamahe” yang memiliki arti ”Di Laut Kita Jaya”. ada beberapa model pembangunan yang dikembangkan. ekologi dan sosial. pembinaan dan pengawasan pemerintah maupun dalam segi peminat dunia usaha apabila dibandingkan dengan sektor-sektor perekomian lainnya sehingga berbagai potensi sumber daya dalam sektor maritim yang sebenarnya memiliki prospek penghasilan dan keuntungan yang teramat besar masih belum dapat didayagunakan secara optimal. Hal ini tentu saja tidak terlepas sebagai akibat dari banyaknya permasalahan yang terdapat di seputar dunia maritim yang menimbulkan kesulitan bagi para pengusaha besar. menengah maupun kecil yang telah berkecimpung dalam bisnis maritim untuk memperoleh kemakmuran dari usahanya karena harus senantiasa berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras melanda dunia. Pembangunan berkelanjutan ini mengandung tiga unsur utama yakni dimensi ekonomi. 1 .

Pembangunan dianggap secara sosial berkelanjutan (a socially sustainable area/ ecosystem). (ekologis). ekonomi. secara tekhnis dapat didefinisikan bahwa “pembangunan kelautan berkelanjutan (sustainable marine development) adalah suatu upaya pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalam kawasan pesisir dan lautan untuk kesejahteraan manusia. dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian eratnya sehingga pulau-pulau. Pengertian laut merupakan ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan daratan dan bentuk-bentuk alamiah lainnya yang mempunyai kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum internasional.b. pertahanan. Untuk lebih jelas mengenai batasan pengertian wilayah nasional Indonesia maka kita perlu mengetahui tentang pengertian-pengertian sebagai berikut : Pulau merupakan wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi oleh air dan berada di atas permukaan air pada waktu air pasang minimum selama setahun. terutama stakeholders. sehingga laju (tingkat) pemanfaatan tidak melebihi daya dukung (carrying capacity) kawasan pesisir dan laut untuk menyediakannya”. Dan kepulauan meliputi suatu gugusan pulau termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut. terjadi distribusi pendapatan dan kesempatan berusaha secara adil. dan kondisi iklim. kesehatan. perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi. Pembangunan dikatakan secara ekologis berkelanjutan (an ecologically sustainable arealecosystem). tidak terjadi pembuangan limbah melampaui kapasitas asimilasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kondisi tercemar. keamanan. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks ini termasuk pula pemeliharaan keanekaragaman hayati (biodiversity). apabila kebutuhan dasar (pangan. dan pendidikan) seluruh penduduknya terpenuhi. serta pemanfaatan sumber daya tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources) yang dibarengi dengan upaya pengembangan bahan substitusinya secara memadai. tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya dapat diperbaharaui (renewable resources). 2 . manakala basis (ketersediaan stok) sumber daya alamnya dapat dipelihara secara stabil. perumahan. ada kesetaraan gender (gender equity). sandang. pengelolaan pembangunan berbasis sumber daya kelautan. siklus biogeokimia. yang merupakan suatu wilayah kesatuan laut dan pulau secara bulat dan utuh termasuk udara diatasnya dan berbentuk wilayah kepulauan yang menyatu. terdapat akuntabilitas dan partisipasi politik. stabilitas siklus hidrologi. Ketentuan tentang wilayah nasional Indonesia menyebutkan bahwa wilayah nasional Indonesia adalah suatu hamparan perairan laut luas dengan berpuluh ribu pulau tersebar di dalamnya. c.

membangun tradisi dan perikehidupan masyarakat maritim dan menjadikan laut sebagai penghubung dan pemersatu bangsa. juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. Jadi Maritim Indonesia tidak diberi pengertian segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut saja. 3 . di dasar maupun yang berada di bawah dasar lautan. Negara maritim berdiri di atas landasan alam dan budaya maritim yang membentuk peradaban maritim yang dicerminkan dalam sistem politik. terdiri atas hamparan perairan laut yang luas dengan beribu pulau besar dan tersebar di dalamnya. yang sekaligus dapat mengangkat kualitas kehidupan seluruh rakyat di seluruh kepulauan. dan kepelabuhanan baik nasional dan internasional. serta keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. termasuk udara di atasnya berikut sumber daya dan lingkungan alam. baik yang berada di atas. serta tersalur dan terpenuhinya kepentingan-kepentingan masyarakat maritim di lembagalembaga eksekutif dan legislatif. sosial-budaya dan pertahanan keamanan. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. Karena negara maritim merupakan negara yang mempunyai kegiatan maritim dan kekuatan armada laut yang dimilikinya yang memberikan kontribusi penting bagi pembangunan nasional. ekonomi. kegiatan di permukaan laut. Dalam sistem sosial-budaya yang menjunjung tinggi harkat manusia dan keadilan serta mampu menumbuhkan semangat cinta laut. Sedangkan maritim itu sendiri merupakan bagian dari kegiatan di laut yang mengacu pada pelayaran/pengangkutan laut. di dalam. serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut bagi kemakmuran seluruh rakyat. Sistem politik yang berdasarkan demokrasi politik khususnya mampu menjamin keutuhan seluruh kepulauan Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah negara. Sedangkan untuk sistem pertahanan-keamanan yang bertumpu pada kekuatan rakyat serta mampu menjamin tegaknya kedaulatan di seluruh wilayah laut dan laut yurisdiksi nasional. Uraian tersebut di atas memberi gambaran pengertian tentang apa itu Maritim Indonesia. dan ruang udara di atasnya. perdagangan (sea-borne trade). Untuk sistem ekonomi yang berdasarkan demokrasi ekonomi mampu memberikan dorongan dan kemudahan bagi usaha-usaha industri dan jasa maritim dalam arti luas. yang merupakan satu kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat.Sedangkan pengertian kelautan meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan di laut yang meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya. melainkan lebih dari itu. landas kontinen termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. dan kemaritiman itu sendiri adalah hal-hal yang menyangkut masalah maritim. Pengertian Maritim Indonesia adalah suatu lingkungan alam yang terbentuk secara alami.

telah memiliki jajahan yang luas di benua Asia antara lain Indonesia. Di mana merupakan suatu negara kontinen (Benua) yang menganut dan menerapkan “Visi Maritim” dalam penyelenggaraan kebijakan kesejahteraan rakyatnya. Berkat visi maritim yang diterapkannya. Predikat Indonesia sebagai negara maritim. sosial budaya. namun dalam perkembangannya kata baharinya ditanggalkan dan hanya menjadi “Wawasan Nusantara” saja. Selanjutnya contoh negara maritim lainnya adalah negara Belanda. berbangsa dan bernegara yang mencakup politik. Maka rumusan Wawasan Nusantara yang telah dimiliki bangsa Indonesia memerlukan penyempurnaan dengan memasukkan unsur muatan kemaritiman yang lebih proporsional. Mengingat pengertian “Wawasan Nusantara” diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap kedaulatan wilayah dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan. dan dari hasil negara jajahannya telah mampu membangun negara Belanda yang makmur melimpah yang terletak di Benua Eropa. negara Britania merupakan negara penjajah yang menapakkan kakinya di lima benua. Nuansa kemaritimannya perlu diberikan porsi yang lebih luas dalam rangka memenuhi cita-cita nasional kita agar “Negara Maritim Indonesia” kembali menjadi bangsa dan negara bahari secara nyata. baik wilayah maupun penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat. baik sikap dan kebijakannya terhadap dunia luar. pertahanan dan keamanan serta menjadikannya sebagai geopolitik.BAB 2 PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA Negara maritim Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia dan telah memiliki visi nasional yang dikenal dengan “Wawasan Nusantara Bahari”. dengan motto terkenalnya “Britain Rules the waves”. seperti pada jaman Sriwijaya dan Majapahit terdahulu. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki visi atau cara pandang berdasarkan nilai-nilai kemaritiman. ekonomi. suatu negara kerajaan kecil di Benua Eropa. Bahkan berkat visi maritim yang dianut tersebut. yang pada intinya menggambarkan sikap dan kebijakan suatu negara maritim dalam upaya mensejahterakan rakyat dan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara dengan mendasar kepada sifat dan bentuk kemaritimannya secara profesional. yang merupakan negara kepulauan di kawasan Eropa dan menerapkan visi maritim secara berhasil dalam upaya mensejahterakan rakyatnya dan membela kelangsungan keberadaan negaranya. 4 . sebenarnya akan semakin lengkap dan mantap dengan tersusunnya “Wawasan Maritim Indonesia” yang akan berfungsi sebagai acuan dan pemberi arah bagi penentuan strategi dan kebijakan dalam pelaksanaan secara operatif. Salah satu contoh negara maritim adalah negara maritim Britania (lnggris).

perantau hingga pembajak di laut. 5 . Tidak dapat dipastikan apakah Mahapatih Gadjah Mada dan Panglima Laut Majapahit.1. yaitu negara Jepang yang dikenal dengan negara matahari terbit. sudah memahami geopolitik wilayah perairan kerajaan Majapahit atau belum. Tindakan politis yang dilakukan Mahapatih Gadjah Mada dapat dikatakan. Mpu Nala. akhirnya pola pemikiran yang demikian berubah. Itulah visi kemaritiman Majapahit. yang negeri asalnya berjumlah berpuluh-puluh baik di pulau Sumatera maupun di pulau Kalimantan. di mana wilayah Indonesia terdiri 2/3 bagian keseluruhan wilayahnya adalah perairan. meskipun hanya sebatas sebagai sarana transportasi dan ketahanan wilayah. Seiring dengan perjalanan waktu. Semangat kebahariannya diwujudkan dalam perilaku sebagai pelaut. Di samping ekspansi politis yang memiliki dampak yang menyangkut strategi dan kebijakan ketahanan wilayah kerajaan tersebut. yang merupakan negara kepulauan dimana negara Jepang bervisi maritim dalam penyelenggaraan pemerintahan negaranya. Ketika masyarakat nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dari berbagai suku bangsa yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan Bumi nusantara tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdaulat merupakan wilayah kepulauan yang sekaligus merupakan wilayah perairan. Karena alasan itulah wilayah perairan kepulauan ini selanjutnya dinamakan Nusantara oleh Majapahit. sebagai sarana transportasi serta alat pertahanan dimanfaatkan Majapahit sebagai pusat kerajaan. Dapat kita lihat bahwa negara ini telah mencapai kemakmuran yang sederajat dengan negara Eropa dan negara Amerika yang maju. bahkan merupakan satu-satunya negara Asia yang termasuk negara ekonomi maju. Kerajaan-kerajaan suku bangsa yang bertebaran itu belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya merupakan penduduk dari satu wilayah kepulauan. tetapi yang jelas. Melalui laut.Di Asia ada juga satu negara maritim. bahwa kehendak mempersatukan wilayah perairan nusantara menjadi satu kerajaan di bawah panji-panji Majapahit merupakan pemahaman akan kondisi geografis Nusantara. pemanfaatan laut. Hal ini terjadi ketika seorang putera bangsa yang bernama Mahapatih Gadjah Mada ‘menyadari’ ingin menyatukan kerajaan-kerajaan kecil nusantara di bawah koordinasi Kerajaan Majapahit. 2. dan merupakan suku bangsa pesisir dan pulau-pulau kecil adalah penduduk yang yang memiliki wawasan maritim yaitu hidup sebagai nelayan yang bermata pencaharian mencari ikan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. bahwa Majapahit memiliki visi kemaritiman. Majapahit mampu mengkordinasikan negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh.

Melihat kondisi kemaritiman Majapahit dari wilayah serta potensi laut yang luar biasa. Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak lagi memiliki jiwa maritim. Hanya 6 . Indonesia dikenal sebagai negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan beraneka suku bangsa dan kebudayaan. 2. masyarakat juga kurang menyadari bahwa Indonesia secara geografis memiliki berbagai peluang. Pemerintah Hindia Belanda juga mewujudkan visi kemaritimannya. semangat maritim bangsa Indonesia tidak disadari telah terkikis dan dirubah dengan sengaja oleh sistem pemerintahan Belanda selama 350 tahun. Tanpa dilengkapi dengan visi. maka setiap manusia mempunyai visi terhadap dunia yang dihadapi. Demikian pula terhadap manusia. Secara Implisit penyebutan itu merupakan pengakuan bahwa air (laut) adalah bagian dari wilayah negara dan merupakan pemersatu bagi pulau-pulau (daerah dan penduduknya) yang harus dilindungi oleh segenap bangsa dan negara Indonesia. Jadi cara pandang yang didasarkan pada kemaritiman dalam kehidupan bangsa Indonesia pada hakikatnya berlaku sebagai sebuah visi dalam menghadapi tantangan ke depan. ancaman. Melalui proses sejarah maritim yang panjang.2. Ironisnya lagi. dan kelemahan sebagai negara kepulauan (nusantara) yang berada di antara dua samudera dan dua benua. kawasan Tengah: Makasar. kawasan Selatan meliputi Batavia dan sepanjang Pantura (Pantai Utara Pulau Jawa). Langkah pemerintah itu sangat strategis karena sejatinya 2/3 dari luas wilayah Indonesia adalah perairan dan merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia (Archipelagic State). bangsa Indonesia perlu memiliki visi yang jelas dan berjangka panjang dalam konteks kemaritiman nusantara termasuk di dalamnya sebuah wawasan kemaritiman nusantara. bagaimana suatu bangsa dapat membangun negaranya secara baik dan benar. orientasi setiap kehidupan manusia adalah masa depan yang cerah. Manusia yang hidup dalam masyarakat dan bernegara perlu memiliki orientasi tersebut dalam bentuk cara pandang atau wawasan. seiring dengan keluarnya pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang perairan Indonesia. maka demi kepentingan Belanda sendiri. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan Perkembangan pentingnya kemaritiman Indonesia mulai mendapatkan perhatian sejak tahun 1957. dan kehidupannnya lebih berorientasi kepada daratan. Dengan demikian.Sistem transportasi perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintahan Hindia Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. yaitu dengan menguasai wilayah perairan nusantara mulai dari kawasan Utara yang meliputi wilayah Ternate dan Tidore. kekuatan. Selama masa Pemerintahan Belanda bangsa kita yang tadinya mempunyai pemikiran yang berorientasi paridigma laut menjadi paradigma daratan (continental).

ceruk laut. ungkapan itu belum didukung dengan peraturan perundang-undangan mengingat penentuan batas laut teritorial sampai pada tahun 1957 masih berpedoman pada pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim 1939 stb No. Dengan pengertian bahwa : A. ceruk laut. 442 yang membagi wilayah daratan Indonesia dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendidi-sendiri. walaupun lebar selat di bagian lain antara kedua garis itu melebihi enam mil laut. jika lubang di maksud melebihi sepuluh mil laut. B. di tempat kelompok yang terdiri dari dua atau lebih pulau-pulau. dianggap sebagai laut territorial bagian dari selat yang terletak di antara dua garis sebelah menyebelah selat yang menghubungkan kedua tepi sedekat mungkin pada laut terbuka . Ketika itu. jarak tiga mil laut diukur dari garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik terjauh garis-garis air surut dari pulau-pulau yang terletak pada bagian luar kelompok. muara sungai atau terusan. yang membentang ke arah laut sampai jarak tiga mil laut dari garis air surut pulau-pulau atau bagian-bagian pulau-pulau yang termasuk wilayah Republik Indonesia. sedekat mungkin pada gerbang masuk pada titik pertama di mana lebar lubang itu tidak melebihi sepuluh mil laut. di tempat selat-selat yang menghubungkan dua laut terbuka dan dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. 7 . dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. muara sungai atau terusan. Bunyi Pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 yaitu : (1) Di dalam aturan ini dan di dalam ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan berdasarkan aturan ini yang diartikan dengan : 1. jarak tiga mil laut itu diukur dari garis lurus. yang jadi permasalahan. Laut Territorial Indonesia : I. ceruk laut. C. pada titik pertama dimana lebar selat tidak melebihi enam mil laut. di tempat teluk. yang memotong lubang dari teluk.saja. maka garis lurus itu ditarik melintang teluk. daerah laut. muara sungai atau terusan. di tempat mana jarak antara titik-titik itu melebihi enam mil laut. batu-batu karang dan gosong-gosong yang ada di atas permukaan laut pada waktu air surut wilayah Republik Indonesia. batas laut teritorial kita hanya 3 mil laut yang diukur dari garis pantai pada waktu air surut terendah dan melingkari setiap pulau sehingga mengakibatkan banyak kantong-kantong laut bebas di antara pulau-pulau di Indonesia. dengan pulau-pulau diartikan juga karang-karang.

b. 3. perdamaian abadi dan keadilan sosial”. daerah laut yang terletak pada sisi laut dari tengah daerah laut yang diuraikan di bawah I. termasuk bagian laut territorial yang terletak pada bagian sisi darat dari : a. ceruk-ceruk laut. 8 . ditarik melalui tengah-tengah selat. daerah air teluk-teluk. II. maka garis pemisah antara laut territorial Indonesia dengan negara asing. Bagi kita ini menjadi bukti kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia. 4/Prp 1960 tentang Perairan Indonesia. Pengertian di atas tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat UUD’45 yang dalam rumusannya telah menegaskan bahwa negara Indonesia mempunyai fungsi. memajukan kesejahteraan umum. laut pantai. muara-muara sungai dan terusan. di tempat selat yang menghubungkan dua laut terbuka yang lebar selatnya tidak melebihi enam mil laut dan dalam hal mana Indonesia bukan merupakan satu-satunya negara tepi. Pemerintah Indonesia telah mensosialisasikan wilayah perairan Indonesia melalui pengumuman pemerintah tanggal 13 Desember 1957 yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda. terusan-terusan dan danau-danau dan rawa-rawa di Indonesia. termasuk sungai-sungai. tentu merupakan keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia. Daerah laut Indonesia (perairan territorial) : laut territorial Indonesia. mengingat sebelumnya laut di antara pulau yang tadinya merupakan laut bebas telah tercakup dan dinyatakan sebagai perairan pedalaman Indonesia. 2.D. tetapi terletak dalam batas-batas bandar yang ditetapkan. Disahkannya Undang-undang itu. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. 4. sekaligus mempunyai tujuan yaitu : “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Daerah air Indonesia : laut territorial termasuk perairan pedalaman Indonesia. mengingat dalam perkembangan hukum internasional banyak negara pantai yang berjuang menentukan wilayah lautnya lebih dari tiga mil laut. Perairan pedalaman Indonesia : semua perairan yang terletak pada bagian sisi darat dari laut territorial Indonesia. Secara yuridis formil pengumuman pemerintah itu dituangkan dalam Undangundang No.

dengan diundangkannya Undangundang tersebut perairan pedalaman Indonesia menjadi bagian dari wilayah negara kesatuan Indonesia atau wilayah perairan semula hanya memiliki 3 mil laut menjadi 12 mil laut. yaitu sejak Perdana Menteri Djuanda. Perjuangan dan keberhasilan ini merupakan bukti adanya kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia. yang telah disebutkan di atas. perubahan terakhir pada tahun 1974 (konvensi ini dikenal sebagai SOLAS 1974). Organisasi ini memiliki motto ” Safer Shiping (Keselamatan Kapal). yang mengeluarkan suatu konsep geopolitik maritim.Dimasukkannya bekas laut bebas menjadi perairan pedalaman Indonesia. berarti beban dan tanggung jawab pemerintah Indonesia di wilayah perairan semakin besar dan berat dengan bertambahnya luas wilayah perairan Indonesia dari 3. sehingga membatasi hak-hak negara lain. jazirah Arab. Sebagaimana diketahui bersama bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki kejayaan dalam bidang kelautan. yang mencerminkan masalah yang menjadi cakupan tugasnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memfasilitasi pendirian IMO (International Maritime Organization). Salah satunya adalah konvensi tentang keselamatan jiwa di laut yaitu Safety of Life at Sea (SOLAS). India dan Cina. Saat ini laut tak bisa terlepas dari berbagai konvensi internasional. Akan tetapi kesadaran bahwa Indonesia merupakan suatu Negara Kepulauan sesungguhnya masih belum terlalu lama. Sejarah menunjukan bahwa nelayan-nelayan kita dengan menggunakan perahu phinisi telah mengarungi lautan dan mendarat di bumi Afrika.8 juta km². menjamin berlakunya seluruh peraturan perundang-undangan Indonesia dalam yurisdiksi (secara hukum) bekas laut bebas tadi. pada 13 Desember 1957 yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda. dengan ketentuan pengakuan atas lalu lintas damai bagi kapal-kapal asing untuk melintasi laut wilayah 12 mil laut dan perairan pedalaman Indonesia dari laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia dan sebaliknya. serta dari laut bebas ke laut bebas. Keberhasilan perjuangan tersebut. sebab yang tadinya merupakan laut bebas. dan Cleaner Ocean (Perlindungan dan Kelestarian Laut)”. Konvensi tentang hal ini telah beberapa kali diselenggarakan. 9 . ada beberapa konvensi penting di bidang maritim. Selain United Nation Convention Law of the Sea (UNCLOS).7 juta km² menjadi 5.

dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian wajar dari wilayah daratan Negara Republik Inoonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari pada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia.Gambar 1. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indoneisa akan ditentukan dengan Undang-Undang”. Peta Indonesia Sumber : BAKOSURTANAL Dapat dibayangkan bahwa wilayah laut di antara dua pulau yang berada lebih dari 3 (tiga) mil dari garis pantainya merupakan wilayah internasional. Yong Celebes dan lain-lain. Setiap selat antara dua pulau hampir dapat dipastikan merupakan perairan internasional. seperti fraksi Jawa . Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan administrasi pemerintahan dan politik sebagai negara kesatuan. Yong Sumatera.fraksi Sumatera – fraksi Celebes dan seterusnya. maka pada sidang UNCLOS PBB tahun 1982 usulan Djuanda diterima bahkan dijadikan konsep tentang negara kepulauan dan mewarnai pasal-pasal UNCLOS 10 . Ditambah lagi dengan tekanan politik nasional pada waktu itu memang sangat lokal sesuai dengan tanah asalnya seperti Yong Java. Menyadari hal ini maka Perdana Menteri Djuanda tepat pada tanggal 13 Desember 1957 menyatakan deklarasinya yang berbunyi sebagai berikut : “Bahwa segala perairan di sekitar. yang dapat digunakan secara bebas oleh negara manapun tanpa izin berlayar dari Indonesia. sehingga menyebabkan wilayah Indonesia terpecah menjadi beberapa fraksi. Pada akhirnya melalui perjuangan diplomasi yang gigih tak kenal lelah selama hampir 25 tahun.

yang melibatkan seluruh lembaga nasional yang terkait dengan bidang kelautan. Seiring dengan reformasi pembangunan. Salah satu peristiwa bersejarah tentang hilangnya kejayaan tersebut adalah terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang dilakukan oleh Belanda dengan Raja Surakarta dan Yogyakarta. Oleh beberapa kalangan pada waktu itu yang dipelopori oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah dilakukan terobosan-terobosan kecil untuk menggugah kesadaran politik agar lebih ‘seimbang’. Dalam kerangka untuk membangun Benua Maritim Indonesia. terlebih setelah masuknya VOC ke Indonesia (1602 M . Keputusan kedua raja yang telah dikendalikan oleh Belanda tersebut memasung kemampuan maritim bangsa Indonesia. Indonesia juga dikenakan kewajiban-kewajiban internasional yang harus dipenuhi berdasarkan UNCLOS 1982. Kedua raja keturunan Mataram tersebut menyerahkan perdagangan laut hasil bumi dan rempahrempah dari wilayahnya kepada Belanda.1798 M). Pasal-pasal dalam UNCLOS 1982 tersebut memberikan hak kepada Indonesia sebagai negara kepulauan dan tentunya merupakan peluang Indonesia dalam pengaturan untuk memanfaatkan kekayaan laut bagi sebesar-besarnya kepentingan negara dan rakyatnya. 11 .(Konvensi Hukum Laut 1982). 2.3. Kebangkitan Kemaritiman Indonesia Kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim pernah mengalami kemunduran. Terbukti masih belum adanya satupun lembaga keuangan yang mau memberikan pinjaman perbankan berupa kredit kepada para nelayan ataupun pembelian kapal. Selain hak dan peluang untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan laut. Selain itu juga diamanatkan untuk merubah dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang ada. Pada tahun 1985 keputusan sidang PBB tersebut kemudian diratifikasi dalam bentuk Undang-Undang No. Indonesia perlu membuka wilayah lautannya untuk dapat dilalui oleh kapal asing yang biasa dikenal dengan nama “ALKI” (Alur Laut Kepulauan Indonesia). 17 tahun 1985. Akibatnya terjadi proses penurunan semangat dan jiwa maritim bangsa serta perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Indonesia yang semula bercirikan maritim menjadi sifat kedaratan. Upaya tersebut tidak mampu membentuk pemikiran umum yang mampu merubah paradigma dari darat ke laut. Pada tahun 1996 telah dicanangkan sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara. timbul tuntutan untuk mencari kebijakan pembangunan yang baru dan kebutuhan untuk membangun bidang kelautan sangat besar. termasuk akademisi perguruan tinggi. Akibatnya pembangunan sektor kelautan di masa orde baru telah diabaikan dan sangat tertinggal. Keberhasilan diplomasi Indonesia di forum internasional tersebut di atas sayangnya kurang diperhatikan dan ditanggapi secara baik oleh para politisi dan birokrat kita.

Hal ini merupakan kemunduran kekuatan bangsa Indonesia sebagai negara maritim terbesar. Salah satu hasil perjuangan dari para pejuang maritim melalui satu komitmen untuk memajukan kemaritiman Indonesia. kebahagiaan serta kejayaan bangsa. Pada tahun 1957 Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno mendeklarasikan Wawasan Nusantara di kalangan dunia. kesatuan dan pembangunan bangsa Indonesia. Wawasan Nusantara tersebut memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan darat. 12 . dan selanjutnya atas usulan dari Dewan Maritim Indonesia. dan Wawasan Nusantara dijadikan sebagai wawasan kebangsaan yang mengetengahkan azaz “Negara Nusantara” (archipelagic state). serta seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya tidak boleh di pisah-pisahkan. pada tahun 2001 di bawah pemerintahan Presiden RI Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan “Seruan Sunda Kelapa”. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1999 di bawah pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid menyatakan komitmennya terhadap pembangunan kelautan. dasar laut dan tanah di bawahnya. yang intinya mengajak kepada segenap bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan di laut. Sehingga pada tahun 1982 gagasan “Negara Nusantara” berhasil dan diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS’82) serta berlaku sebagai hukum internasional positif sejak 16 November 1994. Sejarah bahari Indonesia telah mewariskan pengalaman. udara. Kemudian memasuki pemerintahan Presiden Suharto untuk memperoleh pengakuan dari dunia internasional telah dilaksanakan perjuangan yang terus menerus di forum internasional dan regional. Kedua lembaga tersebut diharapkan menjadi suatu lembaga yang mampu menjadi wadah untuk mengelola sektor kelautan yang memiliki potensi yang sangat besar. tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan. cita-cita dan perjuangan para bahariwan dalam mewujudkan kemakmuran. Komitmen pemerintah terhadap pembangunan di bidang maritim makin menampakan harapan cerah dengan telah dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan dikembangkannya kelembagaan Dewan Kelautan Nasional (DKN) menjadi Dewan Maritim Indonesia (DMI). Inti dari deklarasi tersebut adalah laut merupakan peluang. dan pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. sehingga ke depan dapat dijadikan andalan dalam meningkatkan devisa negara. Presiden Megawati Soekarnoputri menerbitkan Keppres Nomor 126 tahun 2001 yang menetapkan tanggal 13 Desember sebagai “Hari Nusantara”. Pada tahun 1998 Presiden Baharudin Jusuf Habibie semasa pemerintahannya mendeklarasikan visi pembangunan kelautan bangsa Indonesia dalam “Deklarasi Bunaken.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang sebanding atau seluas eropa atau USA. yaitu di antara dua benua dan dua samudera. Dari penemuan bukti-bukti baru tentang prasejarah Indonesia itu memberikan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah asli bangsa pelaut atau pengembara. pertahanan dan keamanan nasional Indonesia. serta terletak pada letak geografis yang sangat strategis.000 Km terpanjang ke dua di dunia setelah negara Kanada. ekonomi. Utara dan Selatan di Selat Malaka. bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu telah mampu membangun kapal-kapal layar samudera.BAB 3 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Peninggalan sejarah pada masa sebelum Masehi berupa bekas-bekas kerajaan Merina yang didirikan oleh para perantau dari Nusantara ditemukan juga di Madagaskar. maka yang dimaksud dengan bangsa dan negara Indonesia adalah rakyat dan wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penduduk dan pulau-pulau dari kepulauan Indonesia. Jejak kebudayaan prasejarah bercirikan maritim juga ditemukan di kawasan Austronesia. Hal ini menunjukkan. Laut Cina Selatan dan laut Jawa. Pada abad XIII konsep persatuan kepulauan Indonesia secara politik di bawah satu kekuasaan telah diletakkan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari melalui semboyan Cakrawala Mandala Dwipantara. melainkan rumpun bahasa Austronesia dimana pengaruh bahasa-bahasa di nusantara terasa sangat kuat dibandingkan dengan pengaruh rumpun bahasa Indochina atau Yunan. Oleh karenanya 13 . Penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik dan ekonomi dilanjutkan selama masa penjajahan Belanda sampai Jepang. Situasi dan kondisi aspek alamiah demikian menunjukkan bahwa laut adalah alamiah yang paling dominan mempengaruhi kehidupan politik. kepulauan Indonesia sejak abad VII secara ekonomi telah dipersatukan oleh kerajaan Sriwijaya dengan menguasai lalu lintas perdagangan dari Barat dan Timur. sehingga ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam sejarah. melintas samudera sejauh 6500 km sampai di Madagaskar. dan sejak ribuan tahun sebelum Masehi sudah “mengglobalisasi” di kawasan Samudera Hindia dan kawasan Samudera Pasifik sebagai pelau-pelaut ulung yang jejak-jejak kebudayaannya masih dapat didikuti sampai sekarang.504 pulau dengan panjang pantai 81. dimana 2/3 luas wilayah kedaulatan terdiri dari laut yang mempunyai wilayah laut yurisdiksi sangat luas dan sangat kaya akan sumber daya alam yang terdiri dari 17. sosial-budaya. yang kemudian diwujudkan secara nyata oleh maha Patih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit pada abad ke XV melalui sumpah Palapanya. bukan hanya perahu cadik sebagai perahu khas nusantara.

kelebihan. telah memberikan prioritas khusus dalam upaya memperjuangkan status perairan kepulauan tersebut menjadi wilayah tanah dan air Indonesia sebagai satu wilayah kedaulatan utuh dalam NKRI. kekurangan. kerawanan dan keunggulan dari pengaruh alamiah laut. dan sistem pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kondisi demikian sangat mempengaruhi kehidupan politik.1 Letak Geografis dan Kepentingannya Posisi geografi Indonesia yang berada pada posisi persilangan dunia. Proklamator Kemerdekaan. untuk mencegah dan mengatasi kerawanan tersebut Bung Karno. Oleh karenanya. Ditinjau dari aspek sosial ekonomi potensi kelautan Indonesia dapat dikembangkan dan didayagunakan sebagai basis 14 . memberikan kedudukan dan peranan strategis bagi Indonesia baik dalam hubungan antar bangsa maupun untuk membangun kejayaannya sendiri. laut kepulauan Indonesia masih berstatus perairan internasional yang memisah-misahkan wilayah kedaulatan Indonesia. 3. Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia Sumber : Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan Pada waktu Indonesia merebut kemerdekaan. Gambar 2. dan Presiden RI pertama. sosial-budaya.pembangunan nasional seyogyanya dirumuskan dengan mempertimbangkan dan memperhatikan. ekonomi.

Secara keseluruhan wilayah laut Indonesia mencapai 75 % dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.8 juta Km². dan garis pantai sepanjang 81. 2.7 juta Km² wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).strategis bagi ruang dan kepentingan kesejahteraan masyarakat Indonesia. terdiri dari 3. Posisi Geo-Strategis Indonesia Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki luas wilayah laut 5. Disamping itu pula telah disadari banyak orang. Oleh karena itu melalui “kabinet Gotong Royong” yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri selalu mengatakan bahwa. seperti ekosistem terumbu karang.1 juta Km² luas laut Teritorial. bahwa sumber daya alam yang ada di dalamnya cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai sumber kekuatan ekonomi nasional yang telah mengalami keterpurukan. Gambar 3. Disamping itu pula keindahan alam laut dengan keanekaragaman biota laut.000 Km. Di dalam wilayah laut Indonesia terkandung berbagai potensi sumberdaya yang sangat bervariasi baik hayati maupun nir-hayati. Oleh karena itu masyarakat internasional mengenal Indonesia sebagai Negara Maritim.merupakan aset nasional yang sangat potensial bagi pengembangan industri wisata bahari. Potensi kelautan yang dimiliki oleh negara Indonesia diibaratkan sebagai “naga sedang tidur (Sleeping Big Dragon)” yang perlu dibangunkan sekarang ini untuk mengatasi krisis multidimensi yang sedang melanda negara kita. Sampai saat ini yang menjadi kelemahan dan kekurangan kita dalam memanfaatkan potensi kelautan dengan sebaik-baiknya adalah belum semua sumber daya kelautan disentuh atau dilirik untuk eksplorasi dan eksploitasi oleh 15 . bidang Kelautan dan Perikanan dijadikan salah satu “prime mover” ekonomi nasional.

karena terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia). sehingga membuat masyarakat internasional mengakui Indonesia sebagai persimpangan lintas pelayaran niaga utama (across of the commercial shipping). Gambar 4 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 16 . tetapi juga ingin memanfaatkan sumberdaya perikanan yang sangat besar. Salah satu contoh wilayah perairan Indonesia yang sering menjadi wilayah pencurian ikan secara tidak sah yaitu wilayah laut Papua yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Kepentingan kalangan negara luar terhadap potensi wilayah perairan Indonesia. Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi yang strategis dalam lalulintas perekenomian dunia. Karena begitu strategis kedudukan laut kita. Hal itu pertanda bahwa wilayah perairan laut Indonesia sangat diminati oleh kalangan internasional.pemerintah Indonesia. dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adanya kegiatan pencurian ikan oleh kapal-kapal asing mengakibatkan populasi ikan semakin berkurang dan menimbulkan kerusakan ekosistem laut dan menimbulkan kerugian devisa negara yang sangat besar. bukan hanya untuk kebutuhan pelayaran. Oleh karena itu banyak kapal-kapal asing melakukan pencurian ikan secara tidak sah secara hukum (illegal fishing). tetapi ada pula aspek negatifnya. yaitu dapat mengancam kedaulatan negara Indonesia. maka satu-satunya negara di dunia yang dilalui oleh 3 (tiga) alur laut internasional dan yang dikenal sebagai alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Dilihat dari sudut pandang geografis. Ada aspek positifnya yaitu bertambahnya devisa negara dalam bidang ekonomi suatu kawasan yang dilalui ALKI. sehingga sering dijumpai kapal-kapal ikan milik asing ditangkap oleh petugas pengamanan di laut.

yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal mengenai perihal ketentuan tentang Prinsip 17 . terdapat 119 negara yang menandatangani United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Jamaika. kiranya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang dan yang akan mendatang.2 Laut Sebagai Pemersatu Bangsa Dengan telah berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UU No. pertahanan dan keamanan yang diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. ekonomi. kita perlu membangun sistem pemerintahan yang berorientasi kelautan (ocean governance) sehingga Indonesia menjadi negara maritim yang maju dan kuat di dunia. Dengan memandang laut Indonesia sebagai tali kehidupan dan masa depan bangsa sehingga pengamanan dan pemanfaatannya harus mendapat perhatian yang khusus dan sungguh-sungguh dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional. Dengan menyadari kenyataan yang ada bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berwawasan nusantara. tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera.3. mengingat wilayah laut Indonesia merupakan bagian terbesar dari wilayah Indonesia yang mempunyai posisi strategis dari berbagai aspek ekologis. mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berorientasi kepada keserasian kepentingan antar daerah. politik. sosial. Dalam posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui secara internasional sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya alam laut yang sangat besar. nasional dan internasional. Kelautan sebagai kesatuan ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia diatur dan dikelola dengan tujuan memperkuat wawasan nusantara. maka yang harus kita lakukan saat ini untuk menuju bangsa yang maju dan makmur. membangun ekonomi nasional yang berorientasi pada keunggulan komparatif di bidang kelautan. Saat ini sudah ada sejumlah undang-undang di bidang kelautan. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. dan mewujudkan sistem pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan (oceans governance). mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang maju.17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional 1982) selanjutnya pada tahun 1994 Indonesia secara resmi diakui internasional sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah kedaulatan di laut sebesar kurang lebih dua kali lebih besar dari pada wilayah kedaulatan di darat. dan disamping itu juga memiliki hak berdaulat untuk pemanfaatan sumberdaya alam di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen Indonesia. namun belum ada undang-undang yang mengatur tentang kebijaksanaan dan strategi pengamanan dan pemanfaatan laut untuk digunakan sebagai acuan utama bagi semua peraturan perundang-undangan dan rencana pembangunan nasional.

Prinsip-prinsip tentang fungsi laut sebagai alat pemersatu atau fungsi laut sebagai faktor integritas wilayah inilah yang kemudian hari menjadi wawasan kebangsaan negara Indonesia yaitu wawasan nusantara. Oleh karena itu lautan Nusantara harus selalu dijaga keutuhannya. karena kalau sampai terpecah-pecah maka fungsinya sebagai alat pemersatu akan hilang. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. melainkan justru sebagai alat yang menyatukan pulaupulau yang satu dengan lainnya. 18 . Salah satu pasal dalam Prinsip Negara Kepulauan yaitu memandang laut bukan sebagai alat pemisah. laut tidak hanya menjadi alat penghubung antar pulau tetapi juga alat perekat antar pulau-pulau dan suku-suku bangsa yang bersebar dari Sabang sampai Merauke.Negara Kepulauan.

dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi. tumbuh dan berkembangnya sektorsektor dan sub-sub sektor ekonomi dan aktivitas lainnya berkaitan dengan laut. keterlibatan secara tidak langsung kategori-kategori dan hirarki sosial dalam aktivitas kebaharian. adat istiadatdapat menjadi kekuatan atau modal bagi pembangunan nasional. Permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat. kebijakan-kebijakan pemerintah. sifat homogen dan diversiti unsur-unsur budaya. keanekaragaman tersebut dapat menjadi penghambat bagi terciptanya stabilitas nasional. ras. saling keterkaitan antar sektor-sektor kehidupan dan internal antar unsur-unsur budaya bahari. Selain faktor-faktor internal. perubahan atau bertahannya unsur-unsur budaya maritim juga sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal terutama pasar regional. biasanya ditimbulkan oleh adanya kesenjangan sosial.BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM Indonesia memiliki berbagai macam suku. lembaga donor. alat-alat tangkap. agama. dan teknologi (sarana/ prasarana transportasi laut. inovasi teknologi. intervensi perguruan tinggi. akan tetapi apabila tidak dapat dipelihara dengan baik terutama dalam hal toleransi. fenomena dinamika. tetapi apabila sudah menyangkut stabilitas dan keamanan nasional maka hal tersebut menjadi kewenangan pemerintah. Hal ini dicirikan dengan beberapa fenomena yang dominan yaitu : kompleksnya kategori atau kelompok sosial yang terlibat dalam kehidupan kebaharian. Hal semacam inilah yang perlu dihindari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama bagi masyarakat di daerah perbatasan. Salah satu upaya dalam menangani konflik dapat dilakukan secara adat. dan lain-lain. Fenomena sosial budaya bahari di Indonesia sangat kompleks. keyakinan. LSM. dan proses dinamika. Untuk mempelajari budaya bahari yang kompleks dan relevan. nasional dan pasar global. sehingga sering menimbulkan konflik antar suku. Keanekaragaman suku. menurut Koentjaraningrat yang dilakukan dengan menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”. Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan. agama. kelompok kerjasama nelayan. perubahan dan persisten dari unsur-unsur budaya bahari tersebut. sedangkan menurut Sanjek konsep “kreasi dan dinamika budaya”. sarana penggerak berupa layar. penjelasan dan analisis secara empirik. mesin. perlengkapan fisik lainnya). dan ras di masyarakat. 19 . hakhak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut). kelembagaan (organisasi. dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya). di mana suku-suku yang ada tersebut memiliki adat istiadat yang berbeda. gagasan.

Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. 1982. Acheson. kelompok. juga dikenal kelompok-kelompok awak kapal pengeruk dasar sungai dan perairan pantai kota-kota. Di Eropah dan negara-negara pantai dan kepulauan maju lainnya selain pelayar. pengangkut barang dengan berbagai kategorinya. Kedua. dan lain-lain. 1984) . pelayaran/usaha transportasi laut. Palsson. bahkan suatu negara atau kerjaan seperti antara lain Kerajaan Goa hingga abad ke-17 (Mukhlis Paeni 1995). Pertama. Sulawesi Selatan. 1996) serta studi lapangan (field work) intensif. pertambangan. peternak. Itulah sebabnya ke depan proses dinamika budaya maritim mustinya diarahkan secara bijak dengan pendekatanpendekatan community-based management.Proses dinamika yang tidak atau kurang terarahkan seperti dialami selama ini banyak berdampak negatif terhadap kondisi kehidupan ekonomi. Setiap kategori dan level sosial tersebut mempunyai atau dicirikan dengan pola-pola budaya konteks lokal dan global. Mandar. keluarga. jasa pengamanan wilayah laut dan isinya. kelompok-kelompok sosial kebaharian seringkali bukan sekedar berupa kelompok-kelompok kerja yang merupakan sub-sub komuniti desa. co-management dan lain-lain. Masyhuri. 1984. Vercruijsse. 1984. Termasuk dalam sektor-sektor ekonomi kebaharian utama antara lain perikanan. nelayan. bisa merupakan kelompok-kelompok etnik sepenuhnya (seperti berbagai desa nelayan Bajo di Kepulauan Riau. Kajian literatur tentang sosial budaya bahari di berbagai tempat di dunia termasuk Indonesia (antara lain: Firth. pemburu dan peramu. dan marinir. 1991. 1988). khususnya pada komunitikomuniti pesisir dan pulau-pulau di Sulawesi Selatan. 1975. kelompok organisasi pencinta lingkungan laut yang anggota-anggotanya berasal dari kota-kota bahkan dari negara-negara berlainan (Ginkel dan Verrips. konflik sosial. Sulawesi Tengah). 1981. Madura di kawasan pesisir dan pulau-pulau). sesungguhnya menunjukkan fenomena sosial budaya yang sangat kompleks. Bavinck. kelompok-kelompok olah ragawan laut antara lain seperti peselancar dan penyelam. bahkan dalam banyak segi lebih kompleks daripada yang mencirikan kategori-kategori sosial yang hidup di darat dengan berbagai sektor ekonomi atau mata pencaharian hidup seperti komuniti-komuniti petani. munculnya sedemikian banyak kategori-kategori sosial bahari tersebut tentu dikondisikan oleh tumbuh dan berkembangnya jenis-jenis usaha ekonomi terkait laut cukup banyak dan kaya dengan variasi dan tingkatan skalanya masing-masing. individu 20 . Terhadap sektor-sektor dan sub-sub sektor ekonomi maritim tersebut oleh pelaku dan pengelolanya (komuniti. Makassar. 1977. industri maritim. dan Kesultanan Buton (Schoorl. pekerja jasa dan industri di lingkungan pedesaan dan perkotaan. parawisata bahari. kemerosotan sumberdaya dan degradasi lingkungan laut. Kompleksitas sosial budaya bahari tersebut terutama dicirikan pada sekurang-kurangnya lima fenomena. tetapi dalam banyak ukuran bisa dikategorikan sebagai suatu sub-sub etnik (seperti berbagai desa-desa nelayan Bugis. Andersen dan Cato Wadel. 1994. NTT.

ekonomi. komuniti pembuat perahu/kapal. pedagang. penyelam tripang (Bajo. Setiap kategori sosial sebagai nelayan. ada banyak kategori-kategori sosial dengan tingkatan-tingkatan sosialnya masing-masing terlibat secara tidak langsung dalam setiap sektor ekonomi kebaharian (pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut). Bugis. pemerintah/instansi terkait. teknologi. Kelima. kelompok awak kapal angkutan. kompleksitas fenomena sosial budaya bahari ditunjukkan pula dalam proses dinamikanya. Fenomena budaya dari setiap kategori atau sub-sub kategori sosial dicirikan dengan karakter kepribadian kebahariannya masingmasing. bahasa. Di sana ada perubahan sepenuhnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar dan dayung. Kategori-kategori sosial dari luar yang tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan dan aktivitas kemaritiman tersebut justru merupakan kekuatan-kekuatan eksternal yang memberi pengaruh dalam menentukan tatanan dan dinamika kehidupan sosial budaya komuniti-komuniti atau kelompok-kelompok sosial kebaharian utama seperti nelayan dan pelayar. keamanan laut. peneliti dan praktisi dari lembaga perguruan tinggi. organisasi sosial. Di Indonesia misalnya selama ini. koperasi dan bank. osilasi di antara berbagai sektor ekonomi terkait laut dan dengan sektor-sektor lain. Makassar) dan pemburu hiu (Bajo) dari Sulawesi Selatan bisa mencerminkan sikap kepribadian budaya bahari berbeda-beda. Keempat. Fenomena tersebut yang dicirikan dengan saling keterkaitan internal antara unsur-unsur serta sifat homogeniti dan difersitasnya merupakan kerumitan tersendiri. pihak donor pembangunan. pasar dan TPI. Ketiga. nilai. Sektor perikanan merupakan sektor ekonomi cukup banyak jenisnya menurut spesis sumberdaya laut dan tipe-tipe teknologi eksploitasi digunakan serta bertingkat-tingkat menurut skala investasi modal usaha yang melibatkan nelayan sebagai pelaku dan pengguna langsung.atau pengusaha privat) seringkali melakukan berbagai gaya menejemen berupa ekstensifikasi dengan strategi diversifikasi. Bahkan di antara kelompokkelompok nelayan rumpon (Mandar). nelayan bagang (Bugis). Karena itu fenomena masyarakat dan budaya bahari harus dipahami juga dalam konteks eksternalnya. pola pemukiman. dan sebagainya bisa menunjukkan karakter budaya bahari berbeda-beda. gagasan. bahwa selain pelaku dan pengguna langsung. kepercayaan. pengusaha dan rentenir. ada proses transformasi struktural mengenai 21 . para pembuat perahu dan alat tangkap. tetapi seringkali juga dilakukan secara parsial yang menjurus pada gejala persaingan dan konflik kepentingan yang pada gilirannya berdampak pada sektor-sektor usaha kecil milik rakyat dengan gaya menejemen tradisionalnya. ini seringkali diacukan pada kerangka pengembangan terpadu yang ideal yang menguntungkan setiap sektor. dalam rangka pengembangannya melibatkan pemerintah. fenomena sosial budaya maritim bukan hanya tampak pada aspek-aspek budayanya (sistem-sistem pengetahuan. satuan marinir. kelompok olah ragawan laut. intensifikasi dengan usaha tunggal. kesenian) dengan kategori-kategori dan hirarki sosial pendukungnya yang berbeda-beda. norma. dan lain-lain.

sebuah bentuk perahu tradisional dari Kalimantan dimodifikasi menjadi tipe jolloro’ di Bira (Bulukumba) kurang lebih dua dekade terakhir. bubu dari Buton (Sulawesi Tenggara). ekologi. Akan tetapi penelitian yang mendalam belum menyentuh sebagian besar komunitas yang menghuni 22 . Lebih lanjut dalam konteks Indonesia misalnya. ada proses perkembangan internal seperti perubahan tipe bagang tancap ke bagang perahu melalui bentuk-bentuk transisi bagang rakit/apung di Sinjai (Sulawesi Selatan). Keberadaan pulau-pulau kecil yang dihuni penduduk. dan (2) konsep budaya. yang kemudian memberi kemungkinan kepada kita untuk mengenal kebudayaan yang mereka pertahankan. kalangan akademisi dan organisasi non-pemerintah (Ornop) di samping berpengaruh positif dapat juga negatif bagi tatanan dan dinamika sosia budaya lokal. bertahannya tradisi seperti pengetahuan kelautan. meskipun jumlahnya sedikit. dan bahkan seringkali ada manipulasi identitas etnis secara sementara atau permanen seperti dilakukan oleh sebagian besar kelompok-kelompok masyarakat Bajo di manamana dalam rangka adaptasi sosial budayanya. bahkan non-sosial (seperti perikanan dan kelautan. model/kerangka penjelasan/analisis yang empirik serta metode koleksi data lebih aplikatif.1 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim Komunitas-komunitas pantai yang hidup dari sumberdaya alam kelautan dengan alam pikiran mereka dan mengembangkan sistem budaya. selain terdapat persamaan terdapat pula perbedaan budaya di antara komunitaskomunitas kelautan itu. Kebudayaan mereka akan terus berlangsung melalui pewarisan kepada keturunan secara vertikal dan juga secara horizontal kepada warga masyarakat lain. teknik perkapalan) yang relevan dengan fenomena sosial budaya dan fenomena fisik yang bisa saling interkoneksi dan dikontekskan. Pengkajian masyarakat dan budaya bahari yang demikian kompleks tersebut. biologi. di sana ada wacana tentang kearifan lokal (local indigenious) tetapi banyak kontradiksi dengan fenomena eksploitasi sumberdaya secara berlebih dan komersialisasi dengan segala dampak negatifnya bagi kondisi sosial ekonomi. 4.kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta jaringan pemasaran. Pewarisan itu dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. sistem sosial dan sistem teknologi yang mungkin khas dan berbeda dengan komunitas lainnnya. menuntut diperlukannya (1) pendekatan studi/kajian multi dan atau interdisipliner yang melibatkan bukan hanya antropologi tetapi juga disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora lainnya. pembuatan perahu. dan proses difusi (persebaran) yang menyolok seperti persebaran rumpon dari Majenne (Sulawesi Selatan). yang sudah pasti menarik perhatian ilmuwan. dan aturan bagi hasil. lingkungan dan sumberdaya laut (berdasarkan pandangan etik dan emik). Di sana ada juga fenomena paternalisme yang melibatkan pemerintah.

Salah satu bentuk penghargaan itu ialah melalui pelestarian. pada waktu lalu pernah menjadi pemandangan umum di perairan Indonesia. Mereka seringkali berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. tidak lepas kompleksitas dari fenomena sosial budaya. pengetahuan tentang musim. Untung saja sudah ada penelitian mengenai phinisi. Sistem pengetahuan meliputi antara lain: Sistem pengetahuan nelayan mencakup : pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi tinggi. Selain suku Bajau. Sulawesi Utara. Sulawesi Selatan. angkasa/perbintangan). keyakinan/ kepercayaan. Sudah saatnya bagi kita untuk berusaha memahami dan menghargai kebudayaan yang telah mereka kembangkan sendiri dari generasi ke generasi. Mereka hidup mencari nafkah di perairan Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Kapal yang berbobot puluhan hingga ratusan ton dan bertiang dua serta dilengkapi dengan tujuh layar sekarang sudah tidak kelihatan. Perubahan-perubahan budaya dapat pula terjadi dengan cepat sekali akibat hubungan-hubungan terbuka dan intensif dengan dunia luar. 23 . Kapal Bugis itu kini dilengkapi mesin. pengetahuan tentang tanda-tanda (di laut. sehingga sering disebut dengan “sea nomad”. dan Sumatera Selatan yang kita kenal dengan nama “orang laut”. gagasan. bahkan di sebagian perairan Asia Tenggara. dan pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya. sementara di buritan dibangun rumah geladak yang besar. Term kedua menurut perasaan linguistik Eropa lebih mengacu kepada kegiatan pelayaran. Sistem budaya maritim mencakup sistem-sistem pengetahuan. Jika kedua term asing diaplikasikan secara konsisten. 1976). Jambi. Maluku. Akibatnya nilai-nilai budaya mereka lenyap sebelum diteliti dan direkam oleh para peneliti. darat. sedangkan term ketiga diacukan kepada aktivitas menangkap ikan semata (Nishimura. lambungnya dibuat lebih kokoh untuk menahan getaran mesin. ada masyarakat yang hidup di laut dan di pesisir kepulauan Riau. nilai. Konsep budaya maritim.pulau-pulau kecil. Ratusan kapal Bugis ‘phinisi’ yang tersohor itu. terutama berkaitan dengan beragamnya kelompok dan kategori sosial yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut serta beragamnya sektor mata pencaharian terkait laut menjadi alasan lebih cocok memilih term ‘budaya bahari’ daripada term-term ‘budaya maritim’ dan ‘budaya marin’ dalam rangka pengkajian ilmiah. Mereka hidup sepanjang tahun di antara laut Cina Selatan dan Laut Jawa. karena kedua tiangnya dilepas dan tidak memiliki layar lagi. Kearifan lingkungan masyarakat semacam itu perlu kita pahami termasuk komunitas-komunitas kecil yang hidup di pulau-pulau kecil. pengetahuan tentang lokasi dan sarang ikan. sehingga sudah sempat direkam dan dapat dilestarikan nilai budayanya. “Suku Bajau” yang sebagian besar hidupnya di laut dan bertempat tinggal dalam perahu (rumah perahu). Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. dan norma/aturan berkenaan dengan pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut.

abstrak dan general. nilai. yang dalam penjelasan tidak atau kurang empirik kiranya bisa diatasi dengan konsep ‘kreasi dan dinamika budaya’ dari Sanjek dan mode penjelasan kontekstualis progresif dari A. Dalam rangka deskripsi. simbol komunikatif. Adapun kelemahan-kelemahan dibagi bersama berbagai perspektif berupa asumsiasumsi tentang homogeniti. teknologi dan seni berkaitan kelautan.Vayda (1988. Memadainya konsep tiga wujud kebudayaan untuk analisis fenomena sosial budaya juga pernah diungkapkan Ignas Kleden dalam acara seminar pada Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia di Hotel Indonesia. budaya material) dari Koentjaraningrat daripada melakukan reduksi wujud kedua dan ketiga seperti dilakukan para antropolog kognitif (Goodenough. normatif. kelembagaan.P. 1999: 19). kepercayaan. 1999: 20) ) atau secara berlebihan menekankan pada pertimbangan rasional biaya dan keuntungan (cost-benefit considerations) seperti dilakukan para penganut materialis budaya (Harris. terutama dalam proses dinamika. dan budaya bahari difahami sebagai sistem-sistem gagasan/ide. yang berarti bagian-bagian tertentu dari kedua subjeknya tereduksi. esensialis. Meskipun konsep moderat seringkali dikritik oleh para penganut kognitivisme dan simbolisme karena dinilai mencakup segalanya. namun konsep ‘tiga wujud kebudayaan’ justru sebetulnya memadai sebagai model deskripsi atau analisis karena tidak mengurangi dan tidak melampaui fenomena sosial budaya ke atas dan ke bawah. 1961: 522. penjelasan dan analisis fenomena budaya bahari yang kompleks kiranya lebih memadai jika memanfaatkan konsep tiga wujud kebudayaan (sistem gagasan. 1981: 68) dan simbolik (Geertz dalam Harris. berubah dan bertahannya 24 . Konsep budaya bahari akan mencakup semua fenomena sosial budaya yang kompleks. Sebuah formulasi batasan budaya secara jelas mencakup ketiga wujud tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat yaitu “keseluruhan sistem gagasan. 1996. keseimbangan. kebudayaan yang mereka pahami ternyata meliputi tiga wujud seperti dikonsepsikan oleh Koentjaraningrat. Mengacu kepada konsep tiga wujud dan definisi budaya tersebut. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat. 1980:193). Kerumitan fenomena sosial budaya. sistem sosial. norma/aturan. Keesing. Bahkan kalau mendengarkan perbincangan masyarakat lokal pada semua tingkatan. khususnya budaya bahari. totalitas. 1992). prilaku/tindakan dan sarana/prasarana fisik yang digunakan oleh masyarakat pendukungnya (masyarakat bahari) dalam rangka pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan merekayasa jasa-jasa lingkungan laut bagi kehidupannya. Budaya bahari mengandung isi/unsur-unsurnya berupa sistemsistem pengetahuan. ketertutupan.kedua wilayah tersebut akan saling eksklusif.

diverging. mencuri. bukan saja karena sebagian besar benda dibuat dari bahan yang mudah rusak. atau ketiga wujud gagasan. Selama ini banyak nelayan ilegal lokal dan asing yang datang ke pulau-pulau kecil berpengaruh sedikit dan menjadi korban dari tindakan ilegal mereka. Sudah tentu untuk melestarikan semua itu perlu lebih dahulu dilakukan penelitian agar dapat direncanakan sumberdaya budaya mana dan masyarakat mana yang perlu lebih dahulu diprioritaskan. Dalam pada itu beberapa aspek kebudayaan masyarakat yang sekarang masih hidup dapat berubah cepat sebagai akibat berbagai pengaruh. hegemonizing. resisting. sesuai dengan yang mereka jalankan selama berabad-abad walaupun saat ini terjadi perubahan kebudayaan. 25 . diffusing. mereka tidak perlu meninggalkan jati dirinya sebagai masyarakat maritim. dan sebagainya. dan tekhnologi.” Kelihatannya kompleksitas proses kreasi dan dinamika budaya tersebut relatif bisa mengenai semua sisi realita sosial budaya. crossing its own boundaries. homogenizing. yang berorientasi kepada kepentingan untuk memupuk jatidiri. 1994: 313) bahwa kebudayaan “is … under continuous creation – fluid. Upaya pelestarian masyarakat maritim tidak dimaksudkan untuk menghambat perkembangannya tetapi mengangkat mereka ke dalam taraf hidup yang lebih baik. interpenetrating.2 Pelestarian Sumberdaya Budaya maritim Pada dasarnya sumberdaya budaya masa lalu tidak pernah lengkap. apakah proses kreasi budaya dimaksudkan oleh Sanjek pada dimensi kognitif dan simbolik. kecerdasan dan ketrampilan mereka dapat dijadikan contoh dan disebarkan kepada masyarakat lain. tetapi juga karena pengaruh alam di daerah tropis mudah melapukkannnya. Tingkat keterawatannya rendah. open rather then closed. 4. dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. dan dapat menyebabkan nilai budaya yang ada dan proses perubahannya tidak sempat dipelajari dan direkam dengan seksama.sebagaimana digambarkan di muka kiranya dapat dijelaskan dan dianalisis dengan konsep proses kreasi dan dinamika seperti dinyatakan oleh Sanjek (dalam Borofsky. partial rather then total. interconnected. Tujuan pelestarian budaya dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat mereka sendiri dan masyarakat diluar mereka. creolizing. reformulating. Belum lagi tindakan-tindakan manusia yang merusak. yang tentu mengurangi nilai kesahihan datanya. memindahkan. sehingga perangkat-perangkat proses kreasi tertentu kalau bukan sepenuhnya bisa digunakan sebagai model deskripsi dan eksplanasi dengan konsep atau perspektif budaya tertentu. persisting where we don’t espect it to. Tidak menjadi masalah. meliputi pikiran dan prilaku. and changing where we do. justru kemampuan beradaptasi. prilaku sosial dan material.

tepatnya “dekat ke ponggawa/bos. kalangan akademisi. Menumbuhkan dan revitalisasi kelembagaankelembagaan tradisional yang menekankan moral pemerataan atau keadilan dalam kesempatan berusaha dan pembagian hasil. sarana dan prasarana pengangkutan dan teknologi eksploitasi sumberdaya (fisik/material). antara lain seperti sasi (Maluku). mereka itu “closed to the stone. sarana perlengkapan lainnya). Makassar dan Bajo. terkurasnya populasi sumberdaya laut. penguatan atau revitalisasi sistem-sistem tradisional yang potensial berkaitan dengan pengelolaan 26 . teknik rumpon nelayan Mandar (Sulawesi Selatan). panglima laut di Aceh.Wujud dan karakteristik budaya komuniti nelayan. terutama terumbu karang. Gagasan muncul kemudian ialah diperlukannya kerjasama dan kelembagaan untuk mengusahakan berbagai keperluan mutlak (sarana/ prasarana fisik berupa perahu/kapal. manusia harus arif dan bertanggungjawab dalam perilaku pemanfaatan sumberdaya laut. kerusakan ekosistem laut. lembaga kerjasama pengelolaan modal ponggawa-sawi (Sulawesi Selatan). meskipun dinamika budaya bahari komunitikomuniti nelayan di Indonesia selama ini tidak atau masih sangat kurang mendapat pengarahan dari pemerintah. Dinamika budaya maritim Indonesia. konflikkonflik antar kelompok-kelompok nelayan. jauh dari negara. tokoh masyarakat.” Apa yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan seperti pemerintah. namun tampak di mana-mana suatu proses dinamika berlangsung cukup pesat. Tumbuhkan pandangan dan kesadaran bahwa sumberdaya laut rentan terhadap ancaman perilakuperilaku tertentu. Hal ini adalah akibat dari suatu proses dinamika komuniti-komuniti nelayan yang kurang terarahkan secara bijak. ternyata bahwa proses dinamika. kelembagaan (kelompok/organisasi. modernisasi dan globalisasi banyak membawa dampak-dampak negatif berupa kemiskinan ekonomi sebagian terbesar penduduk nelayan tradisional skala kecil. Tanpa memandang rendah beberapa kearifan lokal masih tersisa. pembentukan institusi baru. untuk kesejahteraan bersama masyarakat. sarana eksploitasi sumberdaya. dan lembaga donor ialah menemukan araharah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut secara berkelanjutan. berwawasan lingkungan. LSM. modal. aktivitas. aturan). diasumsikan bahwa keterlibatan dan hubungan manusia dengan lingkungan lautnya didasari dengan pengetahuan dan gagasannya tentang arti dan fungsi (konsumtif dan non-konsumtif) dari sumberdaya dan lingkungan laut bagi kehidupannya. mengubah pandangan budaya dan praktek akses terbuka/ bebas ke penguatan hak-hak pemilikan. Pokoknya pola pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan jasajasa laut melibatkan sistem-sistem budaya (kognitif). pengelolaan komunal tradisional di Kapuas Hulu (Kalimantan). far from the throne” menurut Pujo Semedi (2000) atau untuk nelayan Bugis. jadi tanpa perlakuan bijak kondisi sumberdaya laut akan menjadi semakin berkurang/terbatas.

yang berorientasi ke pesisir. Dominasi budaya pedalaman makin menguat ketika tampilnya dinasti penguasa baru yaitu Mantaram (Mataram) yang menggeser kekuasaan Pajang. sebagai suatu misteri yang merupakan sumber kekuatan dan inspirasi para raja Mataram sehingga laut menjadi hal yang amat suci. regional. saling terkait. Kedua tokoh yang paling berpeluang sekaligus berambisi untuk menduduki takhta kerajaan yakni Mas Karebet (Adiwijaya) dari Pajang dan Arya Penangsang dari Jipang. dan saling mempengaruhi. tetapi sekaligus hal ini memencilkan laut (dan pesisir) dari persinggungan budaya yang lebih luas. dan (3) budaya santri dengan budaya abangan. nasional dan global yang tidak semata dikendalikan kekuatan-kekuatan eksternal. 27 . Dalam wujud teknologi perlu pengembangan teknologi perikanan tangkap ramah lingkungan. yakni Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Laut sebagai basis budaya pesisir dan eksistensi wali sebagai salah satu unsur legitimasi kekuasaan mulai diabaikan. segala contoh nyata yang memberikan makna praktis bagi mereka niscaya akan dinilai tinggi dan diperebutkan. Dengan demikian. serta membangun institusi pasar lokal.3 Konflik Budaya Maritim Secara historis akar konflik kebudayaan Jawa berupa pertentangan budaya antara (1) budaya pedalaman dengan budaya pesisiran.pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. Ketiga konflik ini terjadi bersama-sama. Melalui Sutawijaya. 4. (2) budaya keraton (Mantaraman) dengan budaya rakyat. pengembangan teknologi budidaya dan semi-budidaya. dominasi pola-pola budaya pedalaman mulai mewarnai kebudayaan jawa. teknologi pascapanen. masing-masing mempunyai beking wali. beralih ke Pajang yang lebih memilih pedalaman sebagai basis kekuasaan sekaligus basis kebudayaan. Kemenangan Adiwijaya membuat pusat pemerintahan bergeser dari Demak. Konflik budaya pedalaman dan pesisiran bermula ketika kekuasaan Demak sebagai pengganti kekuasaan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya jatuh ke tangan Pajang (Adiwijaya atau Mas Karabet). Karena budaya bahari adalah pragmatis. Politik kebudayaan jawa Mataram mencoba membuat jarak dengan budaya pesisir dengan meletakan laut sebagai sesuatu yang disakralisasikan. pendiri kerajaan Mataram. pusat kekuasaan Jawa sebagai pusat kebudayaan semakin ditarik ke pedalaman. Suksesi kekuasaan yang terjadi dari Demak ke Pajang menjadi awal sejarah Jawa bagaimana kaum ulama (agama) terseret ke dalam arus pertikaian politik dan kekuasaan. Sunan Kudus sebagai guru dari Arya Penangsang sebenarnya merupakan wakil budaya pesisiran yang berhadapan dengan Sunan Kalijaga dan Adiwijaya yang merupakan presentasi dari budaya pedalaman.

dipentaskan. yakni budaya tradisional/rakyat dengan budaya keraton. yang merupakan penguasa. kerumitan. Dengan demikian estetika kesenian rakyat atau pesisiran secara sadar mendudukkan dirinya sebagai kesenian atau kebudayaan massa. dan keteraturan yang menjadi standar estetika budaya keraton di lawan dengan kebebasan. tandak. Tari bedhaya sebagai kreasi kesenian keraton memformulasikan diri sebagai sesuatu yang serba halus. Apa yang terdapat dalam Babat Tanah Jawi sebenarnya merupakan pengulangan dari apa yang dilakukan oleh Ken Arok pendiri Singasari yang memanfaatkan teks sastra (Pararaton) sebagai sarana legitiminasi kekuasaannya. pesisir. Kesenian keraton di luar wilayah keraton menemukan tandingannnya dengan munculnya kesenian-kesenian baru yang terutama sekali menemukan lahan subur di wilayah pengaruh budaya pesisiran. kecanggihan. Masyarakat di luar keraton dianggap tabu untuk menyelenggarakan atau melakukan kesenian produk keraton. perumitan. Ini terjadi ketika budaya pedalaman semakin kokoh dan kekuasaan Mataram membuat benteng budaya baru berupa keraton dan pembagian daerah keraton. Tari bedhaya misalnya. selaras. Muncul kesenian-kesenian rakyat yang merupakan produk dari sistem masyarakat grass-root yang menafikan keteraturan. Keraton merupakan sentrum dan daerah yang berada di luar keraton (mancanegara. brang wetan. Kesenian keraton menjadi kesenian yang mengambil jarak sedemikian rupa dengan kebudayaan dan masyarakat di luar keraton. 28 . keekspresifan. dan teratur. ronggeng. Karena itu. dan ditonton oleh pihak keraton. Orientasi mitologis ini terlihat dengan dimunculkannya mitos Nyai Roro Kidul (Ratu Kidul) dan munculnya Babat Tanah Jawi yang di dalamnya memuat silsilah pendiri Mataram yang dikaitkan sekaligus mencampur adukkan tokoh mitologis dengan nama-nama nabi. Perbenturan budaya pesisir dan padalaman melahirkan konflik budaya baru. yang hingga saat ini masih mewarnai budaya berpikir penguasa-penguasa kita. janger. Kehalusan. Apabila kesenian keraton bersikap tertutup dan masyarakat suasana yang khusus. dan sejenisnya. dan kebebasan improvisasi. dan lain-lain) dianggap sebagai kesenian “resmi” dan adiluhung. merupakan tarian sakral yang hanya boleh dilakukan. Kesenian dalam kosmologis keraton merupakan kesenian yang mengalami sofistikasi. ledek. Timbul kesenian-kesenian tayub. dan kerumitan yang menjadi ciri kebudayaan keraton. sekaligus pensakralisasian.Kerajaan Mataram menumbuhkan pola pikir budaya dan politik yang selalu berorientasi dengan mitologi. sedangkan kesenian lain di luar wilayah keraton dianggap sebagai seni pinggiran yang secara estetis dan etika di bawah kesenian keraton. hati-hati. maka kesenian rakyat atau pesisiran berlangsung dengan suasana pesta dan hiruk-pikuk yang kemudian menghadirkan suasana yang serba primitif. sangat menutup kemungkinan improvisasi. pencanggihan.

perubahan konstelasi politik. Dalam satuan yang lebih kecil hal itu dapat disimak pada komuniti-komuniti khusus di dalam suatu masyarakat. sebagai fungsi dari faktor-faktor historis dan peluang-peluang berasimilasi. manusia hidup dalam suatu masyarakat. 29 . Perkembangan ilmu. yang sedikit atau banyak berbeda dengan komuniti lain yang sama-sama merupakan bagian dari suatu masyarakat luas yang sama. dari waktu ke waktu dapat memperoleh tantangan-tantangan yang berbeda. dan Johor. Tripama. Dengan catatan ini. Sebagai contoh dapat disebutkan bagaimana sebuah masyarakat ‘maritim’ seperti orang Bugis dapat mengembangkan varian-varian budaya masing-masing di Sape (Bima). sedangkan kesenian rakyat (pesisiran) lebih menekankan pada fungsi ekonomis. Konflik budaya tidak saja terjadi antara kebudayaan rakyat dengan budaya keraton. semua itu dapat memberikan pengaruh dan menjadi faktor pengubah kepada kebudayaan walaupun pendukung kebudayaan tersebut tetap tinggal dalam suatu lingkungan alamiah yang sama. beserta segala benda budaya yang terkait dengan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan laut. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya pujangga keraton yang digaji untuk berkarya. Kebudayaan itu senantiasa berada dalam proses dan tegangan antara bertahan dan berubah. kiranya dapat diantisipasi bahwa berbagai masyarakat nelayan ataupun masyarakat maritim pada umumnya. Donggala. Sebagaimana diketahui. dan di dalamnya membentuk kebudayaan dari waktu ke waktu.Kebudayaan keraton juga memunculkan fenomena baru di mana pihak penguasa dapat mensahkan kehadiran seorang kreator seni sebagai abdi atau pegawai keraton (penguasa). Pada titik ini kesenian keraton lebih menekankan kesenian atau estetika dalam bingkai politis dan filosofis. tetapi dari lingkungan pengaruh kuat agama Islam menganggap estetika kebudayaan rakyat (yang kemudian disebut pula dengan abangan) sebagai sebuah kesenian yang terlampau primitif. dan serat-serat Ronggowarsito merupakan produk keraton yang isinya hampir semua menceritakan dan mengatur perilaku rakyat terhadap penguasa atau perilaku penguasa terhadap rakyat. Kebudayaan santri sebagai kebudayaan baru yang sebenarnya muncul dari daerah pesisiran. 4. Komuniti dalam lingkungan alam-sosial budaya tertentu dapat mempunyai ciri-ciri yang khas. pandangan.4 Pengembangan Sosial Budaya Maritim Subyek kajian maritim yang bersifat sosial-budaya adalah segala pemikiran. serta menyempit atau meluasnya peluang-peluang ekonomi. Produk-produk sastra kepujanggaan seperti misanya Wedhatama. perilaku manusia. tetapi juga antara kebudayaan rakyat dengan kebudayaan santri. perkembangan keagamaan dan ideologi.

ditinjau dari segi lahiriah maupun batiniah. Demikian pula daerah-daerah jelajah tradisional di laut dari komuniti-komuniti etnik yang berfokus maritim senantiasa dalam proses dinegosiasikan kembali dengan adanya ketentuan-ketentuan hukum nasional maupun internasional. yang darinya kita bersama dapat memperoleh kearifan dan wawasan. sedemikian rupa sehingga kebudayaan itu dapat lestari eksistensinya tanpa harus macet dan tak mampu menghadapi tantangan-tantangan baru. Yang penting. Tradisi dan dinamika budaya maritim dalam konteks eksternal dan modern. sedangkan disisi lain terdapat tujuan pelestarian budaya yang dapat ditempuh dengan cara pemberdayaan maupun perangsangan perubahan. Pencapaian-pencapaian budaya yang unggul dari masyarakat maritim tradisional kita dapat dibela dengan berbagai upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi dengan memanfaatkan ilmu-ilmu baru yang terkait. Dalam hal ini perlu dilakukan pendampingan disertai pengkajian mengenai kesiapan mereka untuk berubah. proses menjadi bangsa Indonesia yang merupakan persatuan dari suku-suku bangsa yang terikat . di dalam suatu kesatuan kenegaraan baru. Proses perubahanperubahan itu sendiri merupakan suatu subyek pengamatan. dan kesetaraan dengan komuniti-komuniti lain menjadi tolok ukur penyertaannya. mengharuskan adanya restrukturisasi hubunganhubungan lama ke dalam hubungan-hubungan baru.5 Pengembangan Teknologi dan Budaya Maritim Sebagaimana difahami bersama. perubahan-perubahan itu harus terasa bergerak dari dalam komuniti itu sendiri. lahir dan batin. senantiasa harus menjadi tolok ukur utama. 4. cara-cara hidup maupun teknologi tradisional yang menunjang kehidupan maritim di sana-sini perlu mendapat penyimakan kembali secara diperhadapkan dengan perkembangan ilmu dan tata ekonomi masa kini. Di antaranya. Namun apabila ada segi-segi budaya yang dirasa tidak relevan lagi (seperti tiadanya kesempatan pendidikan umum bagi anak-anak nelayan) kiranya perlu dirancang suatu pengalihan cara hidup yang diterima oleh komuniti yang bersangkutan.Pandangan dan penyikapan terhadap berbagai masyarakat etnik kelautan Indonesia perlu dibedakan atas dasar tujuan orang menghadapinya. hubungan perseteruan tradisional harus diubah menjadi hubungan saling memahami. Di samping itu. yaitu Republik Indonesia. Seperti halnya 30 . Di satu sisi ada tujuan ilmiah yang sasarannya adalah untuk memperoleh kebenaran-kebenaran ilmiah berupa data dan fakta mengenai peri kehidupan kelautan dalam segala aspek.dan semua itu menyangkut hubungan di darat maupun di laut. Dalam hal ini manfaat bagi komuniti yang bersangkutan. eksistensi budaya bahari baik dalam bentuk tradisonal maupun dinamikanya hanya bisa dipahami dalam konteks eksternalnya. dan dapat dihayati sebagai sesuatu yang meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka. hubungan persekutuan terbatas harus diubah menjadi terbuka.

tembikar. Seiring dengan proses adopsi sarana selam modern ialah modernisasi perahu-perahu nelayan dengan pemasangan motor tempel (outboard 31 . lilin. Meningkatnya jumlah konsumen. pedagang dalam negeri dan dari negara tetangga terlibat dalam jaringan pasar komoditi tersebut mendorong adopsi inovasi perangkat alat selam berupa tangki/tabung gas yang digunakan oleh penyelam dari Pulau Sembilan sejak awal periode 1980-an. terbentuknya varisi baru dalam struktur kelompok kerja nelayan. juga sebagai bahan obat-obatan untuk kesehatan. sirip hiu. dan menambah keperkasaan laki-laki (Akimichi. Sutherland. Pada mulanya nelayan tidak banyak tahu dan memperhatikan spesis teripang karena tidak bernilai. Demikian juga pedagang Cina-lah yang mengajarkan sorting menurut tingkatan nilai tukar dari yang paling tinggi hingga yang rendah. Bajo dan Makassar dari Sulawesi Selatan tidak cukup hanya difahami dalam konteks sosial budaya lokal. Hongkong. yang biasa ditukar langsung dengan barang-barang rongsokan: pakaian. dan lainlain (Macknight. karena kenyataan lapangan memang menunjukkan fenomena yang demikian. melainkan fenomena lama yang bisa dilacak ke beberapa dekade bahkan beberapa abad ke belakang (backward in time) dan melacak jaringan perdagangannya ke luar (outward in space) hingga melampaui batas-batas negara ke pasar ekspor seperti Singapura. 1996). dengan pedagang Cina. sarang burung walet. Taiwan. termasuk hasil-hasil laut seperti teripang. vitalitas. Korea dan Jepang. tetapi juga dalam konteks eksternal. Pedagang asing tersebut sebetulnya digerakkan oleh fungsi teripang yang konon bagi orang Cina di samping sebagai santapan enak. Pengetahuan dan praktek menyelam mencari tripang bagi mereka bukanlah fenomena baru. 1987). Pengenalan nelayan pada prilaku dan habitat teripang. pengaktifan fungsi sarana tangkap tradisional dalam situasi modern. memperpanjang umur. Pada mulanya pengusaha Cina dari Makassar membawa langsung pelatih selam yang kemudian merekrut dua atau tiga pembantu lokal yang lebih dahulu terampil menggunakan perangkat alat selam modern tersebut. namun kondisi permintaan pasarlah yang banyak menyumbang kepada pengayaan hingga mencapai tidak kurang dari 40 jenis teripang. porselin. 1976.prilaku penyelaman teripang oleh nelayan-nelayan Bugis. Biota ini mulai dicari ketika kapal-kapal dagang Cina yang ramai berlabuh di Pelabuhan Kota Somba Opu (pusat kota Kerajaan Makassar yang jaya hingga abad ke17) di abad ke-17 mencari komoditi ekspor. penyu. dan ditingkatkan lagi di awal periode 1990-an dengan mengganti tangki/tabung gas dengan kompresor. dan lain-lain. agar-agar. RRC. Meskipun digunakan nama-nama lokal terhadap spesis-spesis ini. semua ini merupakan kontribusi awal dari hubungan dengan dunia luar. hubungan-hubungan produksi (ke dalam dan ke luar) dan distribusi (termasuk aturan bagi hasil). nutrisi.

Ketika komoditi lobster dan ikan hidup laku di pasar ekspor (Hongkong dan Singapura). Demikianlah kedua faktor situasi pasar yang tetap membaik dan kondisi terkurasnya sumberdaya laut setempat pada akhirnya mendorong kelompok-kelompok penyelam dari Kambuno dan Kodingare terpaksa melakukan ekspansi area penangkapan (fishing gruonds) ke tempat-tempat lainnya di Sulawesi Selatan dan berbagai provinsi lainnya terutama di kawasan Timur Indonesia. Bagaimana kedua komoditi yang pada mulanya melimpah di taka-taka Pulau Sembilan karena tidak mempunyai nilai tukar dan hanya sedikit dimakan karena oleh sebagian besar penduduk pulau merasakan itu menjijikkan atau menganggap menyebabkan kebiasaan malas jika dimakan pada akhirnya hanya memerlukan sekitar tujuh tahun saja populasi spesisspesis ini merosot drastis karena sebagian terbesar nelayan setempat dan pendatang menangkapnya. Konteks birokrasi melalui pelaksanaan kebijakan pemerintah juga menyumbang kepada perubahan-perubahan keputusan dan prilaku nelayan melalui respons-respons ide dan sikap-sikap (menerima atau menolak). juga karena ini dapat memperkuat status sosial konsumennya (Akimichi. Dan Mulailah sejarah budaya tentang lobster dan ikan hidup (kerapu. Pola makan baru di restoran-restoran Cina seperti ini di samping terkait pada nilai kenikmatan santapan. kemudian dilakukan peningkatan kapasitas muat perahu dengan peningkatan kekuatan mesin dipasang pada bagian dalam bodi perahu (inboard motor). lola) yang diambil dari kawasan taka-taka Pulau Sembilan. napolen).motor). Motorisasi perahu dan adopsi gae (istilah Bugis) atau rengge (istilah Makassar) sejenis pukat apung raksasa (purse seine) yang merupakan teknik tangkap andalan untuk ikan pelagik (terutama layang) di Sulawesi Selatan sebetulnya diperkenalkan oleh dan melalui jalur promosi pemerintah di tahun 1970-an. sebagian terbesar nelayan penyelam kembali lagi ke Pulau Sembilan dan beralih ke usaha lobster dan ikan hidup. sunu. Adopsi inovasi teknologi dan peningkatan kapasitas muat perahu yang berarti peningkatan skala investasi usaha berkonsekuensi pada terjadinya proses penetrasi kapitalisme. bahkan mengunjungi Australia di akhir tahun 1980-an hingga paruh pertama tahun 1990-an. 1996). Meningkatnya permintaan lobster dan ikan hidup di pasar ekspor sebenarnya disebabkan oleh faktor terjadinya perubahan pola makan kelas konsumen elit di negara-negara pengimpor dari mengkonsumsi hasil laut dalam kondisi segar yang sudah dihidangkan di meja restoran Sea-food ke model baru di mana para pengunjung terlebih dahulu memancing ikan atau lobster hidup dari kolam-kolam penampungan lalu diolah dan disajikan para pelayan menurut selera pengunjung masing-masing. Sebaliknya terbentuknya berbagai strategi/taktik sebagian nelayan untuk mempertahankan aktivitas ilegalnya seperti membom dan membius atau berhentinya sebagian di antara mereka dari aktivitas ilegal tersebut dipengaruhi oleh aturan hukum 32 . transformasi struktural kelompok ponggawa-sawi. dan merosotnya secara drastis populasi teripang dari berbagai spesis dan kerang (mutiara.

Periode 1990an merupakan periode mulainya keterlibatan secara meluas berbagai Ornop di desa-desa nelayan pantai dan pulau-pulau di Indonesia.I Sulawesi Selatan No. kima. rumput laut. kelestarian sosial budaya dan lingkungan fisik. merupakan bagian dari studi/praktek lapangan atau pengabdian masyarakat dilakukan oleh peneliti atau praktisi dari lembaga perguruan tinggi. sirip hiu. lola). lokasi. ikan hias) di kawasan lindung seperti Pulau Kapoposang (Pangkep) dan Taman Nasional Taka Bonerate ialah usaha-saha penyadaran lingkungan dilakukan oleh LP3M dan WWF dengan penyebaran poster-poster jenis-jenis biota laut langka dilindungi dunia. Eksploitasi berbagai spesis laut untuk komoditi ekspor (seperti. isi dan formulasinya banyak mengacu kepada rekomendasi peneliti dari lembaga perguruan tinggi berdasarkan hasil penelitian ilmiah. khususnya komuniti-komuniti nelayan. Oleh karena itu perguruan tinggi sebagai penggagas ide dan inovator teknologi merupakan konteks eksternal bagi proses dinamika sosial budaya masyarakat bahari.(antara lain: Peraturan Pemerintah Daerah TK. tentang larangan pengambilan dan pengrusakan terumbu karang di sepanjang perairan pantai Sulawesi Selatan) dan cara-cara pengawasan oleh para penegak hukum di setiap wilayah tugasnya masing-masing. tripang. dan wawasan global terutama melalui wacana berkembang dalam dunia Ornop sendiri. keramba penampungan ikan dan lobster hidup. batu laga. Ikut berpengaruh pada berhentinya sebagian besar nelayan mengambil batu karang. termasuk di Sulawesi Selatan. tentang skala. ikan (segar dan hidup). budidaya teknik keramba. lembaga perguruan tinggi. dan prosedure menangkap napoleon wrasse). lobster (segar dan hidup) dimungkinkan oleh kerjasama dagang antar negara dengan penerbitan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP). Demikian juga berbagai praktek ekonomi nelayan baru seperti budidaya rumput laut. terkecuali bagi usaha-usaha nelayan kecil (antara lain diatur dalam Amandemen Peraturan Dirjen Perikanan No. kerang (mutiara. Ornop dengan paradigma keberpihakan kepada kepentingan rakyat mengemban visi dan misi pokok pada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi. Berbagai kebijakan pemerintah (tentang pelarangan atau pembangunan). penyu.HK. biasanya meramu wawasannya dari masyarakat lokal. Kembalinya semua perahu nelayan cantram Galesong Utara (Takalar) akhir-akhir ini (akhir Desember 2002) dari Sinjai disebabkan oleh penolakan masyarakat nelayan setempat (didukung oleh pemerintah daerah setempat) terhadap penggunaan teknik (menyerupai pukat harimau mini) yang bisa dengan cepat menguras berbagai jenis biota laut dan merusak kondisi dasar. kerang mata tujuh. peningkatan sumberdaya manusia dan keterampilan penduduk. penumbuhan jiwa demokrasi.7 1987. menangkap ikan napoleon (untuk ukuran tertentu). Penjelasan prilaku dan poses dinamika sosial budaya komuniti-komuniti nelayan juga sedikit banyak dikontekskan pada kehadiran berbagai Ornop di sana. penetasan telur dan pembesaran bibit bandeng dan udang di Indonesia. 33 .330/DJ. termasuk Sulawesi Selatan.8259/ 95. telur ikan.

kelembagaan dan teknologi eksploitasi bertahan dan difungsikan. Bulukumba Timur). Luwu. Takalar. Pangkep. Ini dicontohkan pada praktek pemancing ikan-ikan campuran. tetapi juga oleh kelompok-kelompok nelayan desa-desa pantai Teluk Bone (Sinjai. pelatihan keterampilan. antar pulau. nelayan ikan hias dan pemburu penyu dari Bali di tahun 1990-an. Hal mana juga dilakukan di kawasankawasan karang lainnya seperti Biak dan Maluku dengan keterlibatan LSM lokal. namun konteks eksternalnya tidak melintasi batas-batas fisik dan sosial budaya jauh ke luar. Misalnya kawasan taka Pulau Sembilan bukan hanya dieksploitasi oleh penduduk nelayan setempat. pengguna bubu. pulau. namun asal mula dan proses kemunculannya hanya melintasi batas-batas daerah. Demikian halnya jaringan pemasarannya hanya mencapai pasar dan konsumen regional. 1994). dan sebagainya yang sudah berlangsung cukup lama. Sebetulnya lembaga asosiasi di Maluku muncul sebagai mekanisme masyarakat lokal merespons pasar global sejak ratusan tahun silam (Zerner. etnis dan provinsi berdekatan. pandangan. pembentukan dan pengelolaan zona-zona perlindungan terumbu karang dan biota-biota langka berasosiasi karang. Bahkan gagasan dan praktek menambang batu karang dan pasir di taka-taka oleh penduduk pulau-pulau di kawasan karang yang sudah berlangsung puluhan atau ratusan tahun lalu. WWF dan LP3M mencoba menggalang sebagian masyarakat nelayan di beberapa desa pulau untuk terlibat dalam berbagai program kegiatan meliputi penyadaran lingkungan. Aturan penguasaan dan pemanfaatan sumberdaya laut secara terbuka (common property right/open use) juga menyebabkan suatu lokasi dieksploitasi secara bersamasama.Di Kawasan Taka Bonerate misalnya. Hingga seberapa jauhkah ke belakang dan ke luar benangbenang pengaruh kontekstual perlu dilacak? Ternyata ada juga konteks historik dari prilaku eksploitasi sumberdaya laut yang perlu dilacak jauh ke belakang. Bone. bahkan lokal saja. nelayan pulau-pulau dari Kodya Makassar. namun kepentingannya semata untuk pembangunan pemukiman penduduk lokal. pembentukan kelembagaan. demikian juga munculnya lembaga ponggawa-sawi di Sulawesi Selatan sebagai respons pelaut atau nelayan terhadap permintaan pasar global akan hasil-hasil laut komoditi ekspor sejak abad ke-13 atau 14 silam. pengelola bagang dan rumpon. namun dalam budaya bahari kebanyakan komuniti nelayan masih ada banyak unsur-unsur pengetahuan. Fenomena ini bisa ditunjukkan antara lain pada komuniti nelayan Liang-liang (Pulau Sembilan) yang tetap mempertahankan pengelolaan 34 . Nasional dan Internasional (WWF) (Osseweijer. Meskipun telah terjadi modernisasi perikanan dan adanya pengaruh pasar globalisasi yang kuat. dan penyelam tripang dari Madura sejak tahun 2000 hingga sekarang. pemukat. penyelam tripang dan mutiara dari Selayar. jadi konteks penjelasannya internal. pencari kerang mata tujuh dari Buton (Sultra) dan Palu di tahun 1990-an. 2001).

pemanfaatan sumberdaya kawasan karang secara tradisional dan arif.N. panambe) Pancing (di Sulawesi Selatan: p. Sebagian besar dari jenis-jenis pukat tersebut masih digunakan sebagian besar nelayan Jawa dan Madura hingga sekarang ini. akhir 1980-an) Janggolan Madura Janggolan Bali Mayang Jawa Prahu jaring Madura Lisalis. p. parang. lanra. Berbagai tipe perahu tradisional milik kelompok-kelompok etnis di Indonesia antara lain sebagai berikut: Pinisi Bugis P. p. p.kopek. p. Pajang saja mempunyai jenis (p. Teknologi penangkapan ikan di Indonesia (lihat P. menangkap/memungut dengan tangan (tidak tercantum dalam karangan P. kompresor (tidak tercantum dalam P. sero/belle’) Alat tusuk (di Sulawesi Selatan: tombak. bius) Alat selam: tabung. Golekan.dedang.N. nelayan Jawa dan Madura cukup kaya dengan alat tangkap pukat. p. Di Sulawesi Selatan. Konstruksi ini lebih mengutamakan fungsi daya muat.N.van Kampen. sektor-sektor ekonomi perikanan dan usaha transportasi/pelayaran masih selalu merupakan sektor-sektor andalan yang bertahan dan berkembang dengan teknologi pelayaran dan penangkapan ikan tradisional dalam berbagai bentuk dan arsiteknya. Secara kolektif mereka tetap mempertahankan lokasi-lokasi dan sarang-sarang ikan yang dimiliki sejak dahulu dan tetap menggunakan pancing labuh. Leti-leti Jawa Nade Sumatra Jukung Jawa.van Kampen.bhanton). Lambo Buton Sandeq.peperek. p.arad. namun mereka tetap mempertahankan sistem-sistem tradisionalnya. Meskipun dikelilingi oleh kelompokkelompok nelayan pengguna bahan peledak dan bius. 1909) secara garis besar dikategori ke dalam: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Net (di Sulawesi Selatan: panjak. namun kurang dari segi ukiran dan motif-motif gambar bermakna. bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Nusantara ini.besar. p. perahu-perahu tradisional mulai dilengkapi dengan motor (motor tempel dan motor dalam) di awal tahun 1970-an. para pengusaha dan agen eksportir dengan mana tangkapan ikan dan lobster hidup dijual. Patorani Makasar Lambo Mandar. ladung) Teknik lainnya (di berbagai tempat: bahan peledak. pattek. p.rintak. Pangkur. Bago Mandar Bagan Bugis Jolloro (tipe terbaru. Pinisi adalah salah satu tipe perahu Sulawesi Selatan yang konstruksinya memang bagus. 35 . p.tonda.van Kampen) Linggis.krakat. Salah satu ciri khas perahu Jawa dan Bali ialah penuh dengan ukiran dan gambargambar binatang menggunakan kombinasi warna mengandung berbagai makna simbolik. gae.kedo-kedo) Perangkap (di Sulawesi Selatan: Bubu.labuh. keseimbangan dan kecepatan. Teknologi kemaritiman.

sementara kerajaan Spanyol ke arah barat. Kategori keempat yang menyatakan bahwa laut dipandang sebagai daerah strategik politik bagi penguasaan sumber-sumber kesejahteraan dan kekuasaan. Pandangan demikian itu kemudian dikonsepsikan dengan istilah “mare liberium” atau laut bebas. Setiap orang dapat dengan bebas menggunakan kawasan laut. keinginan untuk menguasai laut terjadi. turun ke laut dan menjadikan laut sebagai kawasan pemukiman mereka. Dalam perjanjian itu dinyatakan bahwa kerajaan portugis memperoleh kekuasaan atas wilayah perairan dari eropa ke arah timur. Gelombang yang dahsyat dan arus laut yang menghanyutkan merupakan ancaman malapetaka bagi setiap orang yang pergi ke laut. Secara historis. kelompok yang memandang kawasan laut sebagai daerah pemukiman. karena tidak seorangpun yang memilikinya dan menguasainya. maupun dijadikan infrastruktur pelayaran maritim. ketika kegiatan perdagangan maritim berkembang yang diikuti dengan usaha mencari produksi-produksi primadona dalam dunia perdagangan. Dalam perkembangan kemudian. 36 . laut merupakan tapal batas wilayah kekuasaan.6 Masyarakat Suku laut dan Otonomi daerah Kawasan laut dipandang sebagai kawasan yang bebas. Pertama. dan tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber-sumber laut. Prinsip mare liberium itu juga pada dasarnya di pengaruhi oleh pandangan yang menempatkan wilayah laut dan lautan adalah kawasan yang penuh tantangan dan maut. tercatat bahwa usaha untuk memilah wilayah laut mulai terjadi ketika dicapainya perjanjian tordesilas pada tahun 1492. setidaknya dapat diklasifikasi kedudukan laut dalam empat kategori. kawasan jalur lalulintas pelayaran yang menghubungkan antar daerah dan pulau. Keempat. Prinsip mare liberium ini pada gilirannya mempengaruhi tatanan masyarakat yang menginginkan pembebasan diri dari kehidupan pemerintahan yang bersifat otoriter dan mengeksploitasi penduduknya. yang berkaitan dengan pemguasaan komoditi dagang tertentu. Ketiga. Kedua. laut adalah kawasan yang menyediakan sumber kehidupan. Dalam memandang kedudukan kawasan laut. laut sebagai infrastruktur. Dalam banyak hal prinsip-prinsip mare liberium dan mare clausum dalam perkembangannya menunjukkan pada penguatan pandangan laut sebagai strategi politik. Pengaturan atas wilayah laut itu dikenal dengan konsep mare clausum atau laut tertutup.4. Prinsip mare clausum itu diikuti pula dengan konsep monopoli (berdagang sendiri) yang berkembang pada periode awal perkembangan perdagangan maritim.

Kondisi muson dan pasang surut laut yang mempengaruhi kegiatan usaha masyarakat suku laut ini memberikan gambaran kepada kita bahwa waktu kerja mereka sangat singkat. Kegiatan masyarakat marine (masyarakat suku laut) bergantung pada kondisi angin muson dan pasang surut air laut. mengumpulkan dan memperdagangkan produksi ikan laut. Mereka masih berpeluang mengembara di perairan wilayah nusantara. UU No. oleh karena terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sebelum UU No. Implikasi dari terbatasnya ruang gerak masyarakat suku laut tersebut mendorong mereka untuk melakukan eksodus ke negara lain atau senantiasa melakukan “pelanggaran” perairan antar daerah. 32 tahun 2004 diberlakukan. 37 . mencari. sehubungan dengan pengaturan wilayah laut dan pembatasan ke wilayah perairan pemerintahan lain. Tampaknya UU tersebut cenderung berpegang pada prinsip mare clausum. Kegiatan pengembaraan mereka di laut mengalami pembatasan.Masyarakat suku laut mata pencaharian utama mereka adalah nelayan. 22 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No. 32 tahun 2004 mengatur tentang kewenangan daerah dalam mengatur wilayah perairan laut. kehidupan suku laut dan nelayan masih cukup lapang. dengan demikian pada gilirannya dapat memudarkan kegiatan suku laut dan juga nelayan di wilayah kabupaten dan kota. dan hal inilah yang mendorong mereka mengembara di perairan untuk mendapatkan tempat bagi kegiatan kerja mereka.

Untuk penetapan garis batas wilayah laut Indonesia dengan negara tetangga ditetapkan oleh ke dua negara melalui perjanjian bersama dan Pemerintah Indonesia menugaskan institusi tertentu yang berwenang melakukan ketetapan garis batas wilayah laut dengan negara tetangga. dan fasilitas keselamatan maritim. Hasil pemetaan berisi tentang kekayaan sumber daya alam hayati dan nir hayati. Dengan demikian pertanyaan yang timbul adalah dimanakah kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal di tempatkan? Kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal tentunya harus diperhatikan dan dijadikan pertimbangan penting dalam proses perumusan kebijakan nasional kemaritiman. Lembaga yang memegang otoritas maritim wajib mengambil tindakan kepada pelanggaran garis batas wilayah laut sesuai ketentuan yang berlaku. pelabuhan dan setiap perubahan alur pelayaran dan hasil pemetaan ini dilaporkan ke Organisasi Maritim Internasional (IMO). pemeliharaan dan pelestarian lingkungan laut. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. Pemerintah Indonesia wajib membentuk satu lembaga yang memegang otoritas maritim. yang menyatukan seluruh pulau-pulau di wilayah nusantara. pulau buatan. Dan dalam pemetaan wilayah laut dilakukan setiap kali ada perubahan kontur pantai.000 Km terpanjang ke dua di dunia dan sumberdaya alam hayati dan nir hayati yang dapat dimanfaatkan untuk menambah devisa negara dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pemetaan kawasan laut dilakukan untuk kepentingan pembangunan di laut. Bertitik-tolak dari pengertian ini maka kebijakan kelautan harus mendudukan perairan laut sebagai unsur pemersatu bangsa. juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. Wilayah laut meliputi dua per tiga wilayah Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81.BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya terdiri dari lautan dan memiliki ribuan pulau. Dalam konteks ketatanegaraan yang lazim dan universal maka kepentingan nasional ditempatkan sebagai tujuan utama. sedangkan kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara politik menjadi tujuan pendukungnya. sarana bantu navigasi. Sekalipun 38 . Dalam otoritas maritim. pulau-pulau kecil. Pemetaan wilayah laut ditugaskan kepada lembaga hidrografi. Hasil pemetaan berisi informasi tentang titik koordinat batas wilayah dengan negara tetangga.

dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu : a. akhirnya perjuangan itu membawa hasil. Ketika Deklarasi Djuanda itu diumumkan hampir semua negara besar yang berkepentingan dengan jalan laut melalui Indonesia menolak. Dimensi Wilayah Maritim b. ekonomi dan sosial dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ekosistem suatu negara kepulauan. seperti konsep bioregion. tentunya harus dapat menterjemahkan pengertian Maritim Indonesia sebagaimana dijelaskan sebelumnya. 119 negara menandatangani United National Convetion on the Law of the Sea (UNCLOS). c. Adalah merupakan kenyataan yang pahit bahwa kapal-kapal perang Belanda yang dikirim untuk meperkuat pertahanan Belanda di Irian Barat berlayar dengan bebas melalui Selat Malaka – Laut Jawa – Laut Flores – Laut Banda dan sampai ke Irian Barat. tetapi dapat menjadi unsur pemersatu berbagai kepentingan daerah dan menjamin rezim wilayah negara kepuluan sebagaimana diamanatkan dalam UNCLOS 1982. secara ekosistem dapat secara optimal mengakomodasikan corak ragam ekosistem kepulauan. secara politik tidak dibatasi oleh sistem administrasi wilayah. terutama dalam hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga. Namun dengan perjuangan yang gigih di forum-forum PBB maupun forum-forum internasional yang lain. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal perihal ketentuan tentang Prinsip Negara Kepulauan.1 Upaya untuk mendapat pengakuan internasional atas Prinsip Negara Kepulauan seperti yang dinyatakan Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957 merupakan perjuangan yang berat dan panjang. secara ekonomi dapat mengakomodasi berbagai kepentingan kegiatan ekonomi bahari seperti perdagangan antar negara dan antar wilayah. Kriteria Kawasan Maritim. d. sehingga kapal-kapal perang asing tidak bebas lagi melintasinya. maka pencapaian tujuan utama akan menjadi sangat berat dan rapuh.demikian tetap disadari bahwa tanpa terpenuhinya kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara optimal. transportasi antar moda. Kawasan Maritim harus dapat mencerminkan kepentingan-kepentingan politik. Pada tahun 1957 bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk merebut kembali Irian barat (sekarang Papua) dari penjajahan Belanda. Kriteria dari kawasan maritim. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. secara sosial dapat mencerminkan keragaman etnis tetapi tetap dalam bingkai prinsip ” bhineka tunggal ika” . Itulah sebabnya Pemerintah Indonesia kemudian menyatakan bahwa semua laut di antara pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke itu adalah wilayah kedaulatan mutlak Indonesia. 39 . watershed dan sistem wilayah perikanan. 5. Jamaika. pariwisata bahari dan pengembangan pusat-pusat perekonomian regional dan kawasan produksinya.

selain itu akan menimbulkan biaya tinggi dalam usaha perdagangan antar pulau. bahkan beberapa kebijaksanaan yang dilahirkan kemudian. maka semua ketentuan terdahulu yang bertentangan dengan UNCLOS 1982 hanya menjadi dokumen sejarah. dimana kapal perang negara manapun setiap waktu dapat melintas tanpa hambatan. menjamin Innocent Passage. antara lain menetapkan sejumlah Alur Laut Kepulauan atau Archipelagic Sealanes. Laut cenderung tidak lagi dipandang sebagai pemersatu wilayah. dan tidak tumpang tindih dengan hukum-hukum lokal.Namun berbeda dengan Deklarasi Djuanda 1957 yang menyatakan bahwa seluruh laut di antara dan sekeliling pulau-pulau itu merupakan wilayah kedaulatan mutlak seperti halnya wilayah darat. Oleh karena itu. yaitu rakyat dan pemerintah. juga memperhatikan kepentingan perikanan negara lain. Esensi dari prinsip Negara Kepulauan dalam perspektif kewilayahan sesuai UNCLOS 1982 adalah diberikannya hak kepada Negara Kepulauan untuk menarik garis pangkal batas laut wilayahnya dengan menarik garis lurus dari titik-titik terluar dan menyatakan perairan di dalam lingkaran garis pangkal itu sebagai Perairan Kepulauan. Sejauh ini Pemetintah Indonesia bertindak sangat lambat. Suatu negara yang mempunyai sistem pemerintahan negara yang beberapa kewenangannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah. yang mempersatukan seluruh pulau dalam administrasi kedaulatan Negara Kepulauan itu sebagai satu kesatuan wilayah dengan persyaratan tertentu. baik yang berjangka pendek maupun berjangka panjang.2 Batas Wilayah Maritim dan Pulau-Pulau Terluar Wilayah adalah salah satu unsur utama. dan Straits for Internasional Navigation. UNCLOS 1982 lebih menekankan kepada sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi Negara Kepulauan. sehingga jika kondisi demikian tetap diberikan akan menimbulkan kerawanan terhadap konflik antar daerah dalam pengelolaan sumberdaya seperti perikanan. tetapi kepanjangan wilayah kekuasaan daerah. Transit Passage. 5. baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah masih mengabaikan ketentuan UNCLOS 1982. Oleh karena itu Perairan Kepulauan adalah satu wilayah laut yang utuh. selain dari dua unsur lainnya. terutama negara tetangga. seperti dalam menetapkan wilayah laut daerah-daerah dalam rangka otonomi daerah. adanya wilayah dalam suatu negara ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Ketika Pemerintah Indonesia mensahkan Undang-Undang No. Dalam seluruh Perairan Kepulauan hanya berlaku satu rezim hukum nasional yang tunduk kepada ketentuan UNCLOS 1982. wilayah 40 . Selanjutnya Pemerintah Indonesia harus menyiapkan program implementasi UNCLOS 1982 secara sistematis. pertambangan dan pariwisata. 17 Tahun 1985 yang meratifikasi UNCLOS 1982. yang dikuatirkan justru menggugurkan hak penerapan Prinsip Negara Kepulauan.

2 mil dari garis pantai pulau-pulau terluar. pada umumnya kita sepakat bahwa ketika para pendiri negara ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. wilayah negara Republik Indonesia merupakan wilayah yang mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939. Oleh karena itu. wilayah negara Republik Indonesia mempunyai cakupan wilayah Hindia Belanda. Bangsa Indonesia patut berbangga karena melalui Deklarasi Djuanda tersebut. dasar laut (sea bed) dan tanah di bawah dasar laut (sub soil). Maka. Djuanda mengeluarkan pengumuman pemerintah yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda yang menyatakan bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State). dalam Bab IX A tentang Wilayah Negara pada Pasal 25A tercantum Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri 41 . Pemerintah Indonesia meratifikasi Hukla 1982 dengan Undang-undang No. Batas wilayah negara Indonesia adalah 1. Dalam ordonansi ini setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Tanggal 13 Desember 1957 ini kemudian menjadi tonggak sejarah Kelautan Indonesia yang kemudian dikenal dengan Wawasan Nusantara.pemerintahan daerah juga ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta semua sumber daya maritim baik yang hidup maupun yang tidak. sehingga mempunyai wewenang untuk mengelola daerah kedaulatannya yang punya batas. bangsa Indonesia mengenai hukum laut internasional tercantum dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang dikenal dengan United Nations Convension on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ketiga tahun 1982 yang selanjutnya disebut Hukum Laut (Hukla) 1982. yaitu Teriroriale Zeen en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). pulau-pulau di wilayah ini dipisahkan oleh laut di sekelilingnya. Ini berarti kapal asing dengan leluasa dapat melayari laut yang mengelilingi atau yang memisahkan pulau-pulau tersebut. 17 Tahun 1985. Pada dasarnya konsep deklarasi ini menyatakan bahwa semua laut/perairan di antara pulau-pulau Indonesia tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena laut antarpulau merupakan penghubung dan menjadi satu kesatuan dengan pulau-pulau tersebut. Upaya mencantumkan Wilayah Negara Republik Indonesia dalam UUD 1945 diawali dari perubahan kedua dan terus berlanjut sampai pada perubahan keempat UUD 1945. Dalam UUD 1945 tidak secara implisit mengatur pasal mengenai “Wilayah Negara Republik Indonesia”. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa sebagai kesatuan wilayah hal ini sangat merugikan bangsa Indonesia sehingga pada tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh Ir. Termasuk kewenangan ini ruang udara di atasnya. Namun demikian. Indonesia.

17 Tahun 1985. Selanjutnya dalam pasal tersebut dinyatakan “dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang”. Oleh karena itu. Dapat dipahami bahwa UUD 1945 (asli) yang dikeluarkan setelah proklamasi kemerdekaan belumlah sempurna. seperti belum tercantumnya wilayah negara. Setelah tujuh tahun bangsa hidup dalam penataan negara secara normal. Benua Asia dan Australia. Dalam wilayah laut teritorial berlaku hakhak dan kewajiban dalam wilayah kedaulatan NKRI. “Negara kepulauan berciri Nusantara” punya arti bahwa negara kepulauan yang dimaksud terletak di antara dua benua dan dua samudra. sangat diperlukan informasi kewilayahan NKRI seperti informasi pulau-pulau terluar beserta nama-namanya. Batas laut teritorial diukur berdasarkan garis pangkal yang menghubungkan titik-titik dasar bertempat di pantai terluar dari pulau-pulau terluar wilayah NKRI. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa NKRI yang merupakan negara kepulauan wajib menetapkan batas teritorial wilayahnya baik wilayah darat dan laut. dan wewenang di dalam batas teritorial wilayah laut NKRI akan berbeda dengan hak-hak dan wewenang di luar batas teritorial. maka penetapan batas di wilayah laut mengacu kepada UNCLOS 82/HUKLA 82 yang telah diratifikasi dengan UU No. Jadi. Berdasarkan Hukla. Pengukuran ini merupakan aspek teknis yang dilakukan oleh tenaga ahli geodesi yang mengerti tentang aspek legal dari penetapan batas. Jadi. Indonesia harus mengkaji dan menetapkan antara lain batas laut teritorial. Sementara itu. 42 . serta Samudra Hindia dan Pasifik. karena NKRI merupakan negara kepulauan. batas zona ekonomi eksklusif (ZEE). dalam penetapan batas sangat diperlukan keterpaduan aspek teknis dan legal. sedangkan garis pantai didefinisikan sebagai muka laut terendah. batas zona tambahan (contiguous zone).Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang. batas teritorial antar dua negara tersebut adalah garis median. yang dimaksud dengan panjang 1 mil laut sama dengan 1852 meter. Untuk mendukung hal itu. kewajiban. tetapi terletak di dalam batas ZEE dan batas landas kontinen. Batas dan hak wilayah laut menurut Hukla 1982. Jika dua negara bertetangga punya jarak antara garis pantainya kurang dari 24 mil laut. Garis median yaitu garis yang punya jarak yang sama (equidistance) dengan garis pantai dari negara bertetangga tersebut. batas landas kontinen (continental shelf). Kira-kira lima tahun bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan sehingga tahun 1950 mulailah bangsa Indonesia menata negara dengan sistem pemerintahan yang disepakati pada waktu itu. batas laut teritorial sejauh maksimum 12 mil laut dari garis pantai. pernyataan “sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dan berbentuk negara kesatuan dan republik” sudah menunjukkan di mana lokasi geografis negara kesatuan yang berbentuk republik itu yang lengkapnya disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hak-hak.

Pada tanggal 15 Februari 2003 forum ini menyelenggarakan Diskusi Panel bertema “Reaktualisasi Wawasan Nusantara Dalam Perspektif Kesatuan Wilayah Negara Republik Indonesia” di Unpad. 61 Tahun 1998 tentang Koordinat Geografis Titik Dasar Kepulauan di Laut Nusantara. Deklarasi Djuanda diratifikasi melalui UU No. 38/2002 ini dicantumkan titik pangkal di Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Dinamika penetapan batas wilayah negara perlu kita simak. 43 . Dalam PP No. wilayah negara menjadi tidak jelas. dan sama tinggi dengan negara-negara lain barulah satu tonggak sejarah tentang wilayah negara diumumkan. Hal lain mengenai wilayah negara tercantum pada UUD 1945 pada perubahan kedua UUD 1945 Bab IX A pasal 25E yang ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR tahun 2000 yang kemudian berubah menjadi pasal 25 A pada perubahan keempat UUD 1945 yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 yang bunyinya sudah disampaikan di awal tulisan ini.berdampingan. yaitu pada tanggal 13 Desember 1957. 61 Tahun 1998 ini adalah upaya bangsa Indonesia menutup kantong Natuna yang masih terdapat dalam UU No. 6 Tahun 1996 ini. 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Setelah 48 tahun Deklarasi Djuanda itu dikumandangkan sudah sejauh mana Indonesia dapat menyelesaikan batas-batas di laut terutama batas laut teritorial ?. yaitu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Hukla 82 (yang telah diratifikasi dengan UU No. sejajar. Pada tanggal 16 Juni 1998 dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 4/PRP/1960 tentang Perairan tidak berlaku lagi.9 ha) tidak termasuk daftar pulau terluar. Jadi. 38/2002 ini perlu dicabut dan segera diganti dengan yang baru. 4/PRP/1960. Dengan keluarnya keputusan Mahkamah Internasional tentang kasus Sipadan dan Ligitan. 10. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia yang isinya sangat umum. 7. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. artinya semangat Deklarasi Djuanda yang menjiwai UU No. 17 Tahun 1985 dan menyatakan bahwa UU No. Pulau-pulau Sipadan (kl. Pada tanggal 8 Agustus 1996 diterbitkan UU No. Daftar koordinat titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar tidak tercantum dalam UU No. 4/ PRP/1960 masih berlaku. Dengan menganggap bahwa semua titik pangkal lengkap dengan koordinat geografisnya yang tercantum pada Undang-undang No. Pada tanggal 28 Juni 2002 keluar PP No.4 ha) dan Ligitan (kl. PP No. Dalam UU ini dicantumkan koordinat geografis titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar di wilayah negara. PP No. 4/PRP/1960. Dengan inisiatif para pakar penetapan batas dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dari aspek legal dan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dari aspek teknis pada awal tahun 2003 dibentuk Forum Kajian Kewilayahan NKRI. secara legal.

Departemen Pertahanan. Undang-Undang ini telah didepositkan ke PBB dan diketahui dunia internasional selama 42 tahun tanpa ada yang mempersengketakan kedaulatan Indonesia atas pulau-pulau terluar itu. Pertemuan yang diselenggarakan di Unpad dan ITB pada awal dan akhir tahun 2003 ini menyatakan perlunya kejelasan dalam masalah kelembagaan dalam penetapan batas wilayah negara. Bakosurtanal. juga merupakan proklamasi kedaulatan atas pulau-pulau terluar yang dilingkupi oleh garis batas laut territorial dan khususnya garis-garis pangkal territorial (territorial baselines). Diperlukan waktu dan kondisi yang memadai untuk dapat mengkaji secara cermat berbagai aspek kewilayahan satu negara. 17 Tahun 1985. Perlu sekali diperhatikan bahwa UndangUndang ini selain merupakan proklamasi wilayah perairan Indonesia. Kasus Batas RI-Singapura” yang penyelengaraannya berdasarkan kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) ITB dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Semoga dengan tetap dalam semangat Deklarasi Djuanda penetapan batas-batas maritim kepulauan Indonesia segera terselesaikan. satu konsep yang baru. Dengan Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah mendeklarasikan bahwa Republik Indonesia adalah satu Negara Kepulauan. Proklamasi Kedaulatan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 belum mencakup proklamasi Wilayah Kedaulatan Negara RI itu. 4/Prp Tahun 1960 karena tidak sesuai lagi dengan rezim hukum Negara Kepulauan sebagaimana diatur dalam UNCLOS. yang telah disahkan Indonesia dengan UU No. dan departemen lainnya yang terkait. khususnya negara baru RI dengan tatanan geografis yang khas. yang hasil kajiannya adalah satu konsep Wawasan Nusantara. kecuali Sipadan dan Ligitan pada waktu itu. untuk dapat menetapkan batas wilayah kedaulatan itu. Dengan Undang-Undang No.Sebagai lanjutannya pada tanggal 15 Desember 2003.4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia maka untuk pertama kali diproklamasikan wilayah kedaulatan NKRI. dalam rangka 46 tahun Deklarasi Djuanda diselenggarakan workshop dengan tema “Status. Realisasi. dan Permasalahan Penataan Batas Maritim Indonesia dengan Negara Tetangga. 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia telah mencabut UU No.III). dan merupakan dasar hukum yang kuat hal kedaulatan atas pulau-pulau terluar itu. TNI. Penetapan batas wilayah negara adalah kerja sama antara Departeman Dalam Negeri. Agak disayangkan bahwa pada pencabutan itu tidak ditegaskan secara eksplisit bahwa walaupun rezim hukum atas perairan disesuaikan denga UNCLOS 44 . yang masih harus diperjuangkan untuk diterima oleh dunia internasional dan yang akhirnya diterima dunia internasional dengan Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS . disertai satu konsep dasar klaim wilayah perairan. yang menghubungkan titik-titik terluar dari pula-pulau terluar. Undang-undang No.

kiranya jelas bahwa. 38 tahun 2002 kemudian menetapkan garis pangkal territorial yang baru. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1996 dan konsisten dengan klaim kedaulatan atasnya yang telah diperjuangkan selama lebih dari 30 tahun. 6 Tahun 1996 untuk penggambaran batas perairan laut wilayah jelas diperhitungkan ’klaim’ kedaulatan atas pulau-pulau Sipadan dan Ligitan.namun itu tidak mengganggu kedaulatan atas pulau-pulau terluar dan bahkan ditetapkan garis pangkal yang baru dan disesuaikan dengan yang dimungkinkan oleh UNCLOS. namun telah diserahkan ke Mahkamah Internasional (ICJ) untuk memutuskan hal kasus sengketa itu. Apakah ini perlu dikoreksi dengan undang-undang? Hal kontroversi status pulau-pulau terluar. 4/ Prp tahun 1960. dimana Republik Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut dengan Undang-Undang No. yang masih memasukkan pulau Sipadan dan Ligitan dalam kedaulatan Indonesia. kecuali Sipadan dan Ligitan. pertama kali Pemerintah Indonesia mengklaim kedaulatan atas kedua pulau itu di tahun 1969. dan kiranya ini masih konsisten dengan peta lampiran UU No. selama 42 tahun tidak ada negara lain yang mempersengketakan proklamasi wilayah kedaulatan yang ditetapkan denga UU No. Pembangunan Nasional Sektor Kelautan telah dicanangkan dalam GBHN 1993 untuk diarahkan kepada pemanfaatan Wilayah Laut Nasional termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen disamping untuk mendukung penegakan Kedaulatan Yurisdiksi Nasional di laut serta dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara. Dengan PP No. Yang menonjol adalah bahwa pada peta lampiran UU No. Penetapan Batas Wilayah Yurisdiksi Negara merupakan kebutuhan ynag mutlak harus ditentukan agar segala kegiatan yang akan dilaksanakan di dalam wilayah tersebut dapat diterima oleh lingkungan Regional maupun Internasional baik secara Yuridis maupun secara faktual. 38 Tahun 2002 penarikan garis-garis pangkal ditata kembali sehingga dapat diperoleh laut wilayah dan wilayah yurisdiksi nasional atas laut yang seluas mungkin. tidak termasuk TimorTimur. yang masih dimungkinkan oleh ketetapan UNCLOS. Juga Timor Timur masih dimasukkan dalam peta lampiran itu sebagai satu bagian dari NKRI. Ini merupakan dasar hukum yang terkuat. secara khusus pulau-pulau terluar lainnya.17 tahun 1985 dan Konvensi 45 . Perlu diperhatikan bahwa khusus untuk pulau Sipadan dan Ligitan. yang langsung disengketakan oleh Malaysia. Hukum Laut Intenasional tahun 1982 (UNCLOS-82) telah menentukan hak dan kewajiban negara kepulauan. Pelaksanaan kegiatan serta perwujudan sasaran dari Pembangunan Nasional di laut tersebut tidak terlepas dari kebutuhan akan data dan informasi kelautan yang akan merupakan bekal awal dalam tahap perencanaan serta pendukung dalam pelaksanaannya. walaupun kedaulatan atas kedua pulau tidak pernah secara eksplisit tertuang dalam peraturan perundang-undangan.

Untuk dapat membangun suatu negara maritim. 5. 46 . Keterkaitan antara Kegiatan Pemetaan Sumberdaya Kelautan dengan UNCLOS-82 adalah menyangkut penentuan Titik Pangkal. Sebagai Negara Kepulauan. salah satu strategi yang harus didorong dan dikembangkan adalah tumbuhnya pemahaman tentang visi maritim nusantara.diberlakukan efektif sejak 16 November 1994. Batas Laut Teritorial dan Zona Tambahan. KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu). antara lain kawasan transmigrasi. ekonomi. Garis Pangkal. Setiap kawasan didefinisikan dan dideliniasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu. kawasan wilayah perikanan dan yang terbaru dikenal dengan kawasan bio-region. satu tahun setelah ALKI diakui oleh dunia internasional. Batas Landas Kontinen dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). harus sudah tersedia bulan September 1999. Indonesia berkewajiban memberikan akomodasi pelayaran bagi kapal-kapal asing atau hak lintas alur kepulauan (UNCLOS-82). Telah lama pula kita kenal istilah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.3 Tipologi Kawasan Maritim Di Indonesia dikenal beberapa tipologi kawasan. kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akan berlaku efektif 16 November 2004. Sekalipun disadari bahwa untuk tataran operasioanal berbagai kebijakan strategis ini kemudian perlu dijabarkan lagi ke dalam sistem pemerintahan yang berjalan sebagaimana yang berlaku sekarang yaitu dalam sistem tata pemerintahan pusat dan daerah. kawasan pariwisata bahari. Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Kawasan maritim sebagaimana dijelaskan dalam kriteria di atas merupakan komposit dari berbagai pendekatan kewilayahan yang memperhatikan unsur politik. yang satu dan lainnya berbeda untuk konsep yang berbeda. yang menjadi dasar dari pembentukan perangkat sistem pemerintahan ”ocean governance” pemerintahan yang berbasis kemaritiman untuk suatu kepentingan yang masuk dalam tataran perumusan kebijakan yang strategis. sosial dan ekosistem suatu negara kepuluan. Ketentuan dari UNCLOS’ 82 mewajibkan deposito dari daftar koordinat geografis atau peta-peta pendukung klaim Indonesia di atas. Peta ALKI mempunyai spesifikasi tersendiri sesuai standard bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Hal ini mewajibkan Indonesia untuk memenuhi semua ketentuan konvensi tersebut. Oleh karena itu terminologi suatu kawasan harus dilihat dalam suatu konteks dan konsep pemanfaatan tertentu.

BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT Usaha Pemerintah Indonesia untuk mengelola potensi maritim dilakukan melalui pengajuan konsep Negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Masih tertinggalnya industri perikanan Indonesia. Dengan wilayah laut yang sangat luas.4 / Prp. fokus pembangunan nasional selama ini lebih bertumpu pada pembangunan di wilayah darat dan telah menjadikan potensi sumber daya kelautan Indonesia tidak terkelola secara optimal. 3. pemanfaatan dan pengelolaan laut yang menyangkut banyak aspek memerlukan pendekatan kebijakan yang terpadu. Dalam kenyataan selama ini. Berangkat dari pemikiran yang tertuang dalam Deklarasi Djuanda 1957 dan Undang-undang No. Pemanfaatan sumber daya kelautan seringkali menghadapi berbagai permasalahan yang tidak terakomodasi secara efektif dalam agenda pembangunan nasional. Tahun 1960. kebijakan di bidang kelautan yang dilakukan oleh pemerintah masih didominasi oleh pendekatan yang cenderung bersifat sektoral dan terkadang bertentangan dengan kepentingan yang bersifat umum sehingga menimbulkan berbagai kebijakan yang bertentangan. Indonesiapun akhirnya mendapat pengakuan sebagai salah satu negara kepulauan berdasarkan Konvensi tersebut. Dalam konteks wilayah pesisir. Khususnya dalam hal pengaturan kebijakan. Industri pelayaran niaga yang sebagian besar masih dilayani oleh perusahaan dan kapal berbendera asing. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar seharusnya dapat lebih membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun potensinya sebagai negara maritim besar. Berbagai permasalahan tersebut antara lain: 1. 4. Penetapan batas-batas wilayah laut dengan beberapa negara tetangga yang masih belum rampung. Masih banyaknya sumber daya manusia kepelautan yang tidak memiliki kualifikasi sesuai standar International Maritime Organization (IMO). Indonesia mengajukan konsep mengenai rejim negara kepulauan dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. Setelah melalui proses perdebatan yang panjang. akhirnya rejim negara kepulauan diterima oleh negara-negara peserta konferensi dan kemudian diatur dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea –UNCLOS). 2. 5. Konflik penggunaan ruang dan masalah pencemaran lingkungan laut. Indonesia dapat memperoleh manfaat yang besar dari sumberdaya yang terdapat di dalamnya. visi sektoral 47 . Sayangnya. misalnya.

Mengapa laut menjadi penting dalam hidup manusia dan mengapa orang mencintai laut? Mengapa setiap negara harus mengawal lautnya. lalu lintas pelayaran. penyaluran energi. Lokasi laut 48 . memajukan pengembangan keterampilan sumber daya manusia di bidang teknologi kelautan.pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir. dan memupuk budaya maritim sejak dini melalui sistem pendidikan nasional yang berwawasan maritim.1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia Laut dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Namun tampaknya dominasi Indonesia sebagai negara maritim besar sangat sulit untuk dipertahankan saat ini seiring dengan lebih difokuskannya pembangunan nasional di wilayah darat. 6. telah mendorong departemen-departemen atau instansi teknis berlomba-lomba membuat peraturan perundang-undangan untuk mengelola sumber daya alam atau jasa-jasa lingkungan pesisir sesuai dengan kepentingannya masing-masing yang bermuara pada peningkatan pendapatan asli daerahnya. Demikian pula. padahal tidak ada orang yang bisa mencuri atau menduduki laut? Ada empat properti laut yang menjadikannya penting untuk diperebutkan sepanjang masa. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya memperbaiki keadaan sumber daya manusia di bidang kelautan yang selama ini cenderung tidak mendapat perhatian yang layak. ketiga kekayaan alam yang dikandungnya dan keempat sosial-budaya kehidupan masyarakat bahari. Pembangunan di bidang kelautan tidak mendapat prioritas utama dalam pembangunan nasional yang pada akhirnya berimbas pada memudarnya budaya maritim yang seharusnya menjadi bagian dari budaya nasional. dan hal tersebut dapat dimulai dengan menumbuhkan wawasan maritim di tingkat masyarakat. perlu diambil langkah-langkah untuk mewujudkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. telah dan akan melahirkan ketidakpastian hukum bagi semua kalangan yang berkaitan dan berkepentingan dengan wilayan pesisir (stakeholders). Pengaturan pengelolaan wilayah pesisir yang demikian ini. pertahanan negara. yaitu pertama lokasinya. Setiap pemanfaatan laut harus memperhatikan dan menjaga keterpaduan dan keserasian serta mencegah pencemaran dan pengrusakan lingkungan laut. Hal penting lainnya adalah bagaimana membangkitkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. ada kecenderungan daerah akan membuat peraturan-peraturan daerah berdasarkan kepentingan daerahnya masing-masing. Sejarah telah menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia sempat dikenal sebagai bangsa maritim yang tangguh melalui kejayaan kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu seperti Majapahit dan Sriwijaya. Oleh karena itu. kedua fungsinya. industri maritim. Alam laut memiliki ciri khas. telekomunikasi.

permasalahan. juga mempertimbangkan pengaruh lingkungan strategis terhadap pembangunan nasional seperti globalisasi dan otonomi daerah. juga sebagai sabuk pengaman (safety belt/safety cordon) terhadap serangan musuh dari luar. adalah laut dengan lokasinya sangat strategis baik dilihat dari sudut pandang ekonomi maupun militer. seperti ikan dan tumbuh-tumbuhan laut. reorientasi fokus pembangunan. lapisan dasar laut lepas pantai dan laut dalam.sangat menentukan dalam pencapaian kepentingan nasional. lalu sebagai media pemersatu antar pulau bagi negara kepulauan. Rorientasi tersebut mencakup dua hal mendasar. Gagasan paradigma pembangunan ini selain mendasarkan pada potensi. Pertama. Kedua. Kekayaan alam laut tidak hanya berupa kekayaan hayati dan nabati yang ada dalam massa air laut. atau yang berupa choking points dimana semua kapal yang berlayar harus merapat seperti di ujung selatan Afrika dan India. 6. tetapi sebagai Anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. dan terpeliharanya daya dukung dan kualitas lingkungan pesisir serta lautan secara seimbang (proporsional). dengan luas laut 5. antar pulau dan ke luar dengan pasar dunia. antara lain : sebagai media penghubung ke dalam. Sebagai media penghubung lokasi laut tertentu menjadi sea lane of communication (SLOC) yang bersifat internasional baik untuk kepentingan ekonomi maupun militer. dalam memenangkan peperangan atau dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. dan kondisi pembangunan kelautan yang ada. Termasuk dalam kekayaan alam laut adalah energi listrik yang dapat ditimbulkan oleh tenaga gelombang air laut dan hembusan angin di atas laut. kendala. Laut memiliki fungsi yang sangat penting. Laut jangan lagi dipersepsikan sebagai keranjang sampah (tempat pembuangan limbah dari darat) dan ajang ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan.2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia Paradigma baru pembangunan Indonesia adalah berbasis kelautan dan sudah saatnya Indonesia melakukan reorientasi paradigma pembangunannya ke arah kemaritiman. melainkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran). tetapi juga bahan tambang mineral yang dikandung air laut. dan juga sebagai medan perang. pemerataan kesejahteraan (social equity). Laut yang berupa selat yang menghubungkan dua samudera seperti Selat Malaka. peluang.8 juta km² terdiri dari 49 . Letak geografis dan kandungan sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia memberikan pengakuan bahwa Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia. bahwa tujuan pembangunan kelautan hendaknya tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi. dari basis sumberdaya daratan ke basis sumberdaya kelautan.

akibat kelalaian serta kurang perhatiannya kita sendiri sebagai bangsa. Kedua. dan jasa-jasa lainnya. Suatu kenyataan pahit yang harus kita akui bahwa selama ini. dengan kondisi geopolitis yang ada.1 km² laut ZEE atau 2/3 dari total wilayah Indonesia merupakan lautan dan ditaburi sekitar 17. Keempat. Alasan di atas sudah cukup menjadi dasar untuk menjadikan pembangunan kelautan sebagai arus utama (mainstream) pembangunan nasional. sumber daya kelautan merupakan sumber daya yang senantiasa dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif ini dapat bertahan panjang asal diikuti dengan pengelolaan yang arif. jika kita memiliki jaminan keamanan dan pertahanan dalam menjaga kedaulatan perairan.504 pulau yang dikelilingi oleh 81. komunikasi. sampai sekarang masih terlihat sisa-sisa budaya berbasis bahari ini pada beberapa suku di Indonesia. dari sisi sosial dan budaya. dari aspek politik. keterkaitan yang kuat (backward and forward lingkage) antara industri berbasis kelautan dengan industri dan aktivitas ekonomi lainnya.luas laut teritorial 2. Kondisi geografis ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Indonesia berada pada posisi geopolitis yang penting yakni Lautan Pasifik dan Lautan Hindia. Rendahnya kinerja sektor ekonomi berbasis kelautan yang jauh dari potensi yang dimiliki. Di bawah ini adalah beberapa alasan kuat mengapa pembangunan nasional kita adalah berbasis sumberdaya maritim antara lain : Pertama. laut telah menjadi media hubungan nasional dan internasional. baik secara ekonomi.000 km garis pantai dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Kelima. pertahanan dan keamanan dunia. Selain itu. perdagangan. harus dijadikan arus utama pembangunan nasional. ekonomi dan militer. maka stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri dapat dicapai. menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa merupakan penemuan kembali (reinventing) aspek kehidupan yang pernah dominan dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa. sosial dan budaya. ternyata pembangunan berbasis sumber daya kelautan diabaikan. selama berabad-abad telah menjadikan sumberdaya kelautan sebagai basis pertumbuhannya dalam mencapai kemakmuran dan kemajuan dalam peradabannya. politik. pengolahan. Pada saat itu. serta menjadi suatu kawasan penting. Bahkan. dengan sejumlah keunggulan komparatif sekaligus kompetitif yang sangat tinggi. melimpahnya sumber daya kelautan perikanan yang kita miliki. Ketiga. Pembangunan berbasis sumber daya kelautan dianggap sebagai sektor pinggiran. baik secara politik. merupakan harga yang harus dibayar. sebuah kawasan paling dinamis dalam percaturan politik. 50 . termasuk usaha transportasi.7 juta km² dan 3. banyak argumen yang memperkuat mengapa pembangunan berbasis sumber daya kelautan. Sejarah mencatat bahwa pusat-pusat ekonomi dan peradaban yang pernah ada di wilayah Nusantara. Dengan mengembangkan industri berbasis sumber daya kelautan berarti juga mendorong aktivitas ekonomi di sektor lainnya.

Pembangunan ekonomi dunia di masa datang yang penuh tantangan dan persaingan yang ketat.8 juta km². ekosistem pantai dan pulau-pulau kecil.000 spesies biota laut memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan. pasang surut. (4) Jasa lingkungan. (3) Energi kelautan. antara lain media transportasi dan komunikasi. OTEC (Ocean Thennal Energy Conversion). antara lain gelombang. Dengan demikian orientasi pembangunan bangsa Indonesia ke depan yang berbasis pada sumberdaya kelautan merupakan suatu keniscayaan. hutan mangrove. sejak reformasi. (2) Sumberdaya yang tak dapat pulih (unrenewable resources). keindahan alam. padang lamun. Fakta ini menunjukkan bahwa sumberdaya kelautan merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang amat potensial dimanfaatkan sebagai sumberdaya yang efektif dalam pembangunan bangsa Indonesia. Ini tercermin dari keputusan politik bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999.Namun. bahan tambang dan mineral lainnya. membutuhkan faktor-faktor produksi seperti sumberdaya alam yang penggunaannya akan semakin meningkat. dan angin. pengaturan iklim. Kondisi ini membuat kita semakin maju beberapa langkah dalam menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa. Di Indonesia terdapat 241 Kabupaten/ kota yang memiliki pesisir.000 spesies. minuman. Indonesia sesungguhnya memiliki sumberdaya perikanan laut yang cukup besar baik dari segi kuantitas maupun keragamannya. Dengan luas laut 5. farmasi. Sumberdaya laut Indonesia dengan kekayaan keanekaragaman hayati memiliki potensi untuk pengembangan bioteknologi kelautan. dan melaksanakan program-program di bidang kelautan dan perikanan. muncul kesadaran untuk menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan nasional telah mendapatkan tempat yang lebih baik serta pijakan yang lebih kuat. 51 . yang merupakan justifikasi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara bahari terbesar di dunia. Sumber daya tersebut memiliki kegunaan untuk makanan. Bahkan tidak mustahil akan mengakibatkan kelangkaan serta persaingan dalam mendapatkannya. mengeluarkan kebijakan. dan kosmetika. dan penyerapan limbah. Karakteristik geografis Indonesia serta struktur dan tipologi ekosistemmya yang didominasi oleh lautan telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekargaman yang tinggi dan terbesar di dunia. antara lain minyak dan gas bumi. Berdasarkan jenisnya sumberdaya kelautan dibagi menjadi: (1) Sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) antara lain ikan dan biota perairan lainnya. yang ditindaklanjuti dengan membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai institusi utama (leading institution) yang bertanggung jawab memberi arahan. rumput laut. Diperkirakan terdapat 35. Potensi wisata bahari Indonesia pun memiliki nilai yang cukup tinggi. sementara yang dimanfaatkan baru 5.

yakni sentralistik. hukum kelautan kita juga dirancang atas dasar doktrin bahwa sumberdaya kelautan merupakan sumberdaya open-access sehingga pembatasan keikutsertaan dalam okupasinya menjadi sesuatu yang dipantangkan. Namun. tidak kurang dari tiga puluh produk hukum telah diproduksi untuk mengatur sektor perikanan. wisata alam. laut Indonesia menyimpan potensi kekayaan yang cukup besar berupa minyak dan gas bumi. berbasis pada doktrin open-access. yang tentu saja akan selalu melahirkan pemenang dan pecundang. Hal ini kemudian mendorong tumbuhnya sikap merasa ‘tidak memiliki laut’ di kalangan pemerintah dan masyarakat daerah. merupakan isyarat bahwa tekanan terhadap nelayan tradisional sudah sampai pada titik yang tidak mampu ditolerir. produk hukum perikanan tersebut memiliki tiga ciri pokok.8 milyar barel yang diketahui pasti. di mata pemerintah dan masyarakat daerah. jelas kurang memiliki akuntabilitas politik. Sedangkan sisanya sebesar 74.68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan.48 milyar barel minyak. 52 .Dengan demikian Indonesia memiliki lokasi obyek wisata bahari yang cukup besar dibandingkan dengan negara lain. secara kuantitatif relatif sudah memadai. Dari sisi proses produksinya. Selanjutnya. produk hukum tersebut mengkonsentrasikan kewenangan pengelolaan sumberdaya perikanan hanya pada pemerintah pusat. hukum kelautan pada umumnya. Dari sejumlah itu. dan anti pluralisme hukum. produk hukum tersebut sangat memprihatinkan. Selama tiga puluh tahun terakhir. Ciri sentralistik dari produk hukum di sektor perikanan menjelma. Produk yang bisa dikembangkan antara lain wisata bisnis. Pengalaman menunjukkan bahwa para pengusaha perikanan berkapital besar yang selalu keluar sebagai pemenang. tetapi sejauh mana kemampuan kita dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya kelautan tersebut dalam mencapai kemakmuran bangsa. Secara kategorik. Akibatnya. Dari sisi materi muatannya. wisata pesiar. Keberhasilan pembangunan di bidang kelautan sejatinya tidak hanya ditunjukkan dengan mengklaim diri sebagai negara maritim atau diwujudkan melalui kebanggaan terhadap keunggulan komparatif yang dimiliki saja. Laut. Produk hukum yang demikian. diformulasi dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) dan Keputusan Menteri (Kepmen). dan wisata olahraga. Diperkirakan Indonesia memiliki cadangan minyak bumi yang dapat menghasilkan 84. secara substantif. baru 9. ibarat sebuah arena pertarungan bebas. seperti di Bagan Percut Sumatera Utara. baik dari sisi materi maupun dari sisi proses produksinya. Suatu hal yang tidak kondusif bagi upaya konservasi sumberdaya kelautan. Perlawanan nelayan tradisional yang cenderung sangat radikal. Dari sektor pertambangan. Peraturan dan perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek kegiatan pengelolaan di bidang kelautan. wisata budaya. laut dipandang sebagai ‘halaman belakang’ dan ‘bak sampah’. wisata pantai.

yang membuka peluang desentralisasi. Dengan perkataan lain. sentralisme kewenangan pengelolaan sumberdaya kelautan dapat dikurangi. Lemahnya penegakan hukum masih merupakan salah satu kendala. Sulawesi. Sasi di Maluku. Melalui UU ini. atau tradisi rompong di Sulawesi Selatan merupakan contoh aktual dari hukum adat atau tradisi lokal yang demikian itu. yang diperlukan saat ini bukan ‘menghapus’ ketentuan Pasal 3 dan 10 UU Nomor 22 Tahun 1999. Contoh paling nyata yang baru saja kita rasakan adalah keputusan Mahkamah Internasional tanggal 17 Desember 2002 di Den Haag. Sesungguhnya. hal ini akan membawa kepada muculnya kerawanan baru terutama pada pulau-pulau di kawasan perbatasan. Namun frame work pembangunan bangsa yang dipraktekkan selama ini mengakibatkan kita hanya mengenal pulau-pulau besar seperti Sumatera. yang menjadi pusat-pusat aktivitas utama dalam pembangunan. telah menjadikan bangsa ini sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Kalimantan. dari pengalaman ini dapat kita simpulkan bahwa tanpa adanya perhatian terhadap pemberdayaan pulau-pulau kecil. panglima laut di Aceh. Sebagai negara kepulauan. Alasan utama keputusan itu dilandasi oleh adanya tindakan administratif secara nyata oleh pemerintah Inggris pada kedua pulau tersebut sejak tahun 1917. Hukum adat dan tradisi masyarakat lokal tidak diakui sebagai bagian dari sistem hukum nasional. terdapat pula beberapa produk hukum yang memihak kepentingan nelayan tradisional. Indonesia yang memiliki 17. Papua dan Bali.Konsekuensi logis dari kedua ciri di atas. Belanda yang memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Ligitan berada dalam kedaulatan Malaysia. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang signifikan untuk mengelola laut. maka kedaulatan bangsa Indonesia sesungguhnya dalam ancaman besar. ketika sampai pada tingkat implementasi. memberikan secercah harapan.504 pulau-pulau besar dan kecil dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. ketentuan tersebut seperti tak bergigi. sentuhan pembangunan pada pulau-pulau serupa perlu dilakukan meskipun memiliki tingkat keisolasian yang tinggi. yakni hukum kelautan yang anti kemajemukan. Namun. Konsekuensi logis dari keadaan ini menimbulkan kesenjangan pertumbuhan dan kurangnya sinkronisasi pengembangan antarwilayah. Jawa. seperti larangan penggunaan pukat harimau. terutama yang berbatasan dengan negara asing. Oleh sebab itu. Kelahiran UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Karena itu. padahal hukum adat tersebut telah terbukti sangat efektif menjaga kelestarian sumberdaya alam. Akibatnya banyak dari kita yang kurang mengenal pulau-pulau kecil atau gugusan pulau-pulau kecil lainnya sehingga kawasan ini menjadi terlantar atau tidak terkelola dengan baik. Pada gilirannya. tetapi penjabaran dan penyusunan standar dan prosedur pengelolaan yang baik dan bertanggungjawab sesuai dengan kaidah-kaidah pengelolaan yang diterima secara universal. Sentuhan tersebut dapat dilakukan 53 .

prasarana dan sumberdaya manusia. di dalam pemanfaatannya perlu memperhatikan daya dukung pulau mengingat sifatnya yang rentan terhadap perubahan lingkungan. sehingga dapat mewujudkan pemanfaatan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.dengan cara menarik investasi ke pulau-pulau tersebut. terbatasnya sarana. mendeklarasikan pulau yang memiliki produktivitas hayati yang tinggi sebagai kawasan konservasi. Di lain pihak. melakukan penataan ruang. 54 . Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di kawasan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara terencana dan terintegrasi dengan melibatkan peran serta masyarakat setempat. merangsang aktivitas ekonomi masyarakat penghuni pulau melalui paket-paket tertentu. pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil tersebut masih dihadapkan pada berbagai masalah antara lain letaknya yang terpencil. mendorong nelayan melakukan aktivitas penangkapan di perairan sekitar pulau. Di samping itu.

dan juga perlu pengembangan sumberdaya manusia Indonesia. permukiman. seperti: Industri yang berwawasan lingkungan. antara lain Oceans Technology. seperti pelayaran. nasional maupun lokal. Reduce. dan keterkaitannya. regional. juga perlu mempertimbangkan aspek SDM. sumberdaya energi dan mineral.dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan industri berbagai aspek kelautan. limbah hasil industri yang didaur-ulang berdasarkan prinsip 5-R (Recycle. Industri maritim membuka lapangan pekerjaan yang seluasluasnya bagi masyarakat Indonesia. Rehabilitation. pada tingkat global. misalnya: fasilitas pembuatan pelabuhan. pariwisata. melalui Diklat serta kegiatan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan lain. industri perikanan. Industri maritim dikembangkan dengan menerapkan asas angkutan laut dalam negeri dan hanya boleh dilakukan oleh kapal-kapal berbendera Indonesia (Asas cabotage). Industri kemaritiman ini perlu diselaraskan dengan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan selalu dikembangkan. disamping industri pendukungnya. Kenyataannya sebanyak 65% nelayan.BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM Ekonomi (industri) kelautan dikembangkan untuk mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui industri maritim dalam rangka peningkatan ketahanan nasional. Recover). Penggunaan tenaga kerja yang semaksimal mungkin. pelayaran dan wisata bahari. Reuse. dan menghasilkan permasalahan yang timbul yang berkaitan dengan berbagai jenis limbah yang dihasilkan dalam proses kegiatan tersebut di perairan laut. Kebijakan di bidang industri kemaritiman. Industri kemaritiman disamping mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. Selama ini pembangunan ekonomi berbasis sumber daya kelautan di Indonesia masih belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. dan berdasarkan pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir sebagai pelaku dan objek dari pembangunan masih terjebak dalam kemiskinan. akibatnya mengubah keterpurukan sosial ekonomi masyarakat pesisir. pemeliharaan dan perbaikannya pada lokasi-lokasi yang strategis. 55 . Sebanyak 22% dari penduduk Indonesia adalah masyarakat yang menempati areal pesisir sebagai tempat tinggal dan bekerja pada sektor yang berhubungan dengan kelautan. upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. perikanan. yang meliputi seluruh perairan Indonesia dan memiliki kemudahan dukungan berbagai bahan baku dan suku cadang. Indutri kemaritiman yang dikembangkan perlu mengikuti kaidah-kaidah lingkungan yang berlaku.

c. pariwisata. Sumberdaya alam yang terkandung baik di pulau-pulau yang tersebar. d. Untuk menempatkan keunggulan komperatif yang luar biasa disektor ini diperlukan suatu strategi pembangunan ekonomi di bidang industri maritim.Berdasarkan kontribusi kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya kelautan terhadap PDB masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang kita miliki. bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat yang berkeberlanjutan. dan dengan kemampuan bangsa Indonesia sendiri. yang memadukan mempermudah hubungan antar pulau. sehingga dengan itu akan memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional. Berkat perjuangan para penyelenggara negara ini. 56 .tanah. Cina dan Jepang di mana kontribusi ekonomi dari bidang kelautannya masing-masing sebesar 65%. Diperlukan kebijakan yang adil dan seimbang antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola sumberdaya alam . Pembangunan industri maritim harus sejauh mungkin menggunakan potensi sumberdaya alam nasional. Indonesia telah diakui dalam Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut. Pembangunan industri maritim harus dibangun melalui pengembangan teknologi kemaritiman modern yang mempunyai keterkaitan dengan teknologi tepat-guna massal yang berkembang di wilayah pesisir. b. udara dan kandungan di dalamnya untuk mendorong tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI. maupun yang berada di wilayah lautan harus dikelola secara bijak. namun tetap memberi dukungan bagi pengembangan agribisnis di wilayah agraris di pedalaman. dan 54%. yaitu di Zone Tambahan dan Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE). yang dapat ditingkatkan melalui pendidikan ke mancanegara melalui alih teknologi dari tenaga ahli asing yang didatangkan. e. air. Adapun Strategi pembangunan ekonomi industri maritim adalah : a. seperti: Islandia. energi dan sumberdaya mineral. 48%. apalagi bila dibandingkan dengan negara lainnya yang memiliki sumberdaya kelautan lebih kecil dari Indonesia. kehutanan. Situasi itu selain membawa Indonesia menjadi negara yang sangat luas juga mempunyai keunggulan komparatif yang luar biasa di sektor kelautan dan perikanan. sehingga mempunyai kedaulatan dan yurisdiksi atas kawasan dan kekayaan alam di luar Nusantara Indonesia. Dengan itu maka Indonesia mempunyai hak tertentu untuk memanfaatkan kawasan yang luasnya sekitar 8 juta km2 atau empat kali lipat dari wilayah teritorial Indonesia pada awal kemerdekaan di tahun 1945. Pembangunan industri maritim harus dapat mendorong tumbuh kembangnya sistem transportasi nasional yang handal.

angkutan laut dan pelabuhan. Tata ruang wilayah pelabuhan dan sekitarnya harus memperhatikan kelancaran kegiatan pelabuhan. Industri pelayaran dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara dalam masa perang atau dalam bahaya perang. penumpang dan/atau barang. Pemerintah membangun pelabuhan umum untuk mendukung kegiatan armada pelayaran niaga nasional dan kegiatan perdagangan kawasan hinterlan masing-masing pelabuhan. sebagai negara maritim ternyata pangsa pasar angkutan laut baik antar pulau maupun antar negara masih dikuasai oleh armada niaga berbendera asing. Berdasarkan data yang ada. keselamatan berlayar. Pembangunan industri maritim dapat membawa kembali kejayaan Indonesia sebagai negara bahari. Industri pelayaran dikembangkan untuk memantapkan perwujudan wawasan nusantara serta memperlancar roda perekonomian dan perdagangan.pelabuhan pengumpul (hubports) nasional didukung sepenuhnya oleh armada pelayaran nasional. Daya saing pelabuhan .f. keamanan. Perkembangan pelabuhan mengikuti perkembangan armada niaga nasional dan perkembangan armada niaga nasional mengikuti perkembangan perdagangan. Industri Pelayaran 7. dan ketertiban arus lalu lintas kapal. Kerjasama angkutan laut antar perusahaan pelayaran nasional dengan perusahaan pelayaran asing dilakukan berdasarkan prinsip timbal balik (reci procal) ketersediaan terminal pelabuhan pada kedua belah pihak.1 Potensi jasa lingkungan kelautan lainnya yang masih memerlukan sentuhan pendayagunaan secara profesional agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal adalah jasa transportasi laut (perhubungan laut). serta angkutan laut dan tempat perpindahan intra dan/ atau antarmoda. Industri pelayaran sebagaimana dimaksud meliputi industri perkapalan. hampir 80 persen proses perpindahan barang dan jasa antar pulau menggunakan jasa perhubungan laut. Betapa tidak. asosiasi pelayaran nasional. pemerintah daerah. 57 . maka industri maritim harus dapat meningkatkan budidaya kelautan dan perikanan dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Armada niaga nasional menunjang kelancaran. Kamar Dagang Indonesia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mewujudkan sistem pelabuhan komunitas (community port) secara terpadu dengan sistem transportasi laut dan intermoda nasional. Perencanaan pengembangan pelabuhan umum melibatkan pemerintah pusat. Pemerintah menyelenggarakan pelabuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayaran nasional.

99% pelayaran domestik dilayani oleh kapal-kapal berbendera asing. Freight On Board) dan perdagangan impor (CIF. Banyak pelabuhan terbuka bagi perdagangan luar negeri Sarana dan prasarana pelabuhan yang tersedia belum mempunyai fasilitas pelabuhan untuk pelayanan kapal penumpang dan masih bergabung dengan pelayanan kapal barang Sertifikat kepelautan yang diterbitkan belum memenuhi standar Internasional. Belum adanya jaringan informasi Berdasarkan DATA pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 95. Hal ini di sebabkan oleh berbagai faktor antara lain: Belum adanya dukungan perbankan Tidak mampu mengembangkan armada Praktek pengoperasian kapal asing yang menimbulkan dampak negatif. karena mendatangkan devisa. sementara disisi lain pelayaran rakyat atau tradisional kondisinya semakin terpuruk. misalnya kemudahan menyewa kapal Syarat-syarat dalam melaksanakan bisnis perdagangan khususnya perdagangan ekspor (FOB. Namun industri pelayaran Indonesia dewasa ini dalam kondisi sangat memprihatinkan.38% dari kegiatan ekspor-impor dan 46.Gambar 5 Konsep Pelabuhan Dan Zona Perhubungan Sumber : Departemen Perhubungan Pelayaran Indonesia memiliki nilai sangat srategis tidak saja dalam aspek ekonomi. dan membangkitkan ekonomi lainnya. tetapi juga dalam aspek lainnya seperti kedaulatan (sea power) dan pemersatu bangsa. Cost Insurance and Freight) yang dalam birokrasinya sangat sulit. 58 . kesempatan kerja.

Industri perikanan nasional merupakan salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan perekonomian nasional dan ketahanan nasional bangsa Indonesia. pengelolaan ikan dan pemasaran. fasilitas. Belum dilaksanakannya pengembangan jaringan infrastruktur pelabuhan dalam tatanan kepelabuhan nasional yang berakibat pengoperasian pelabuhan tidak optimal sehingga secara nasional tidak efisien karena investasi yang berlebihan.2 Industri Perikanan Laut Indonesia yang kaya akan berbagai jenis ikan harus dimanfaatkan untuk pengembangan industri perikanan nasional yang didukung oleh armada dengan teknologi penangkapan ikan yang canggih. pemasaran. dan kredit (pendanaan) untuk modal serta sistem hukum yang belum memadai. 59 . pajak dan retribusi. armada perikanan. Untuk mendukung industri perikanan nasional. budidaya perikanan. kapasitas dan kualitas pendidikan pelaut (SDM). dan eksport yang sesuai dengan standart kualitas nasional dan internasional. pengalengan ikan. dan dikembangkan secara terpadu dengan pelabuhan perikanan. telah dibangun beberapa sarana dan prasarana berupa pelabuhan perikanan yang terdapat di 32 titik wilayah Belt Ekonomi Maritim yaitu di Lampulo. akibat bisnis yang tidak terintegrasi secara baik. sehingga menjadi industri perikanan yang terkemuka di dunia.Gambar 6 Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antarpulau (Interinsulair) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Selain permasalahan di atas. menyebabkan kelemahan tersendiri bagi industri pelayaran. sistem dan kualitas serta kapasitas pelayanan pelabuhan. Pelabuhanpelabuhan di Indonesia umumnya belum mempunyai master plan yang memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjamin kepastian usaha dan investasi. 7. Industri perikanan nasional meliputi pengolahan ikan. manajemen yang kurang profesional.

Nusa Barung. Lab. Roti. Bungus. Pekalongan. Sedangkan pelabuhan perikanan yang dalam pengembangan yaitu P. Bagansiapi-api. Faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan ini antara lain adanya pencurian ikan secara ilegal. Banda. P. Gambar 8. P. Banjarmasin. P. Hantipan. P. Biak. Sorong. Enggano.Belawan. Wetar. P. Buru. lemahnya pengawasan. Tarempa. Pemangkat. Cilacap. Bawean. P. P. Dagho. Indonesia harus menjadi anggota organisasi dan komisi-komisi regional dan internasional yang berhubungan dengan aspek ekologi perikanan untuk menjaga sumberdaya perikanan secara berkelanjutan demikian juga memasuki organisasi/komite yang berhubungan dengan pemberian sangsi dan/atau pengawasan terhadap pencurian ikan dan perikanan yang tidak dilaporkan. P. P. Tual. P. Sumba. Bitung. Sikakap. Bacan. Kupang. laporannya salah. Sabang. Sungai Liat.K o n d i s i industri perikanan di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan. Waegeo. pengrusakan lingkungan hidup. Teluk Batang. Ambon. Kendari. Pelabuhan Ratu. Pemerintah secara aktif melakukan pengawasan terhadap kapal-kapal ikan Indonesia. Muarangantu. Banggai. Lombok. dan laporannya di bawah standar. untuk mencegah dan memerangi penangkapan ikan ilegal. Brondong. Tarakan. Kapal perikanan berbendera asing dilarang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia. Tello. Kep. dan lainnya dan juga mengenai masalah distribusi (pemasaran) yang masih dikuasai oleh negara asing. Madura. Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 60 . Perigi. Sibolga. Bali. Karimun Jawa. Bengkalis. P. P. Kejawanan. P. tanjung Pandan. hal ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusi perikanan terhadap pendapatan nasional. P.

Pada tahun 2000. Sedangkan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) khususnya laut dalam terdapat jenis ikan seperti Tuna besar. Di Indonesia terdapat beberapa wilayah pengelolaan sumberdaya ikan. yaitu selat Malaka. Sedangkan untuk benih ikan laut mencapai Rp 8. Cakalang. Importir lainnya adalah Amerika Serikat yang mengalami kenaikan drastis permintaan ikan dari 14. kecuali di Samudera Hindia terdapat Tuna besar. dan rumput laut.291 ton (1994) menjadi 18. Laut Banda. mutiara mencapai produksi senilai Rp 1. ikan pelagis kecil 3. Perairan Indonesia diperkirakan memiliki potensi lestari ikan laut sebesar 6. tiram. Di kawasan Barat Indonesia (KBI) terdapat jenis ikan pelagis kecil.53 juta ha yang terbentang dari ujung bagian barat Indonesia sampai ke ujung wilayah timur Indonesia yang diukur sepanjang 5 km dari garis pantai ke arah laut. Amerika. kegiatan budidaya laut (marikultur) mencapai produksi sebesar 994. udang dan ikan domersal.1 juta dibandingkan dengan tahun 1994 yang sebesar 69.65 juta ton.7 juta US$.46 triliun. udang peneid 94. 2003).754 pada tahun 1996 senilai 116. 18. Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang cukup besar. mengalami kenaikan yang cukup berarti. Spanyol dan Negara Prancis. abalone.36 juta ton.36 triliun di tingkat produsen pada tahun 2002. Potensi lahan kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 24. udang dan ikan demersal. Negara Spanyol dan Perancis yang masing-masing 7.288 ton. kerang-kerangan. teripang.962 ton dengan 61 . Laut Cina Selatan. Sedangkan untuk budidaya laut yang meliputi ikan. pelagis kecil.6 juta). kerang mutiara. Laut Tomini dan Laut Maluku. ikan karang 145 ribu ton.856 ton (senilai US$ 25. rumput laut. udang dan ikan demersal. Selain potensi perikanan tangkap. Berdasarkan perhitungan harga di tingkat produsen tahun 2000 nilai produksi ikan tangkap mencapai Rp. Laut Arafura. cakalang.7 juta) dan 6. dan cumi-cumi 28.07 milyar. Jepang merupakan importir terbesar jenis ikan tuna dan cakalang baik dalam bentuk segar atau beku.8 ribu ton. Komoditaskomoditas yang dapat dibudidayakan pada areal tersebut antara lain: ikan kakap.Pemanfaatan sumberdaya laut di Indonesia baru mencapai 62 % dari potensi lestarinya dan tidak sampai ambang batas merusak lingkungan seperti yang menjadi syarat dari Federation Agriculture Organization (FAO) sebesar 80 % pemanfaatan sumberdaya ikan dari potensi lestari.4 juta ton pertahun.293 ton (senilai US $ 20. kerapu. tiram. Potensi tersebut terdiri dari ikan pelagis besar 1. kerang darah. dan Samudera Hindia.568 ton senilai $627. Dan untuk produksi perikanan Indonesia sampai saat ini mencapai 618 juta ton pertahun. teripang. Pada tahun 1996 Jepang mengimpor ikan tuna/cakalang sebesar 69. Laut Sulawesi. ikan demersal 1.6 juta ton.8 ribu ton. Selat makassar dan laut Flores. Pangsa ekspor ikan Indonesia selama ini di lakukan pada Negara besar di dunia seperti: Negara Jepang. lobster 4.25 ribu ton (Dahuri. Utara Jawa dan Selat Sunda. pelagis kecil.

nilai sebesar Rp 1,36 triliun berdasarkan nilai pada tingkat produsen (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). Indonesia juga memiliki potensi pengembangan budidaya tambak yang cukup besar. Lahan utama yang potensial bagi pengembangan budidaya tambak terletak di daerah hutan bakau. Ditjen Perikanan (1999) memperkirakan potensi lahan pengembangan tambak di Indonesia mencapai 913.000 ha, sedangkan tingkat pemanfaatannya baru mencapai 344.759 ha atau sekitar 40 persen dari total potensinya. Komoditas-komoditas potensial yang dapat dibudidayakan adalah: udang windu, udang putih, udang api-api, udang cendana, ikan bandeng, baronang, belanak, dan ikan nila. Pada tahun 2000, kegiatan budidaya tambak baru mencapai produksi sebesar 430.017 ton atau sekitar 24 persen dari potensi lahan yang tersedia, apabila setiap 1 ha lahan menghasilkan produksi 2 ton maka nilai produksinya sebesar Rp 7,46 triliun (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). 7.3. Industri Pariwisata Bahari Pemerintah mendorong pengembangan potensi wisata bahari di seluruh perairan Indonesia sebagai upaya meningkatkan perekonomian nasional dan mendukung usaha masyarakat di bidang pariwisata. Pengembangan wisata bahari harus melibatkan peran serta masyarakat lokal, adat, dan pesisir serta memperhatikan pertimbangan para pemangku kepentingan, pelayanan satu atap dan kemudahan masuk Indonesia. Perencanaan wisata bahari harus dikaitkan dengan lingkungan dan tata ruang untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keterpaduan pembangunan serta memperhatikan keselamatan dan keamanan wisatawan, pelabuhan/marina, acara wisata dan pemasaran. Pengusahaan wisata bahari yang memanfaatkan pantai harus memberikan ruang bagi kepentingan umum. Pemerintah berkeinginan membangun infrastruktur pariwisata bahari, pelabuhan/marina, fasilitas umum keselamatan dan keamanan, bagi para wisatawan. Untuk menjamin keselamatan dan keamanan kapal-kapal wisata bahari, pemerintah menyediakan fasilitas berupa alat komunikasi dan stasiun-stasiun pelaporan radio, dan penjagaan pantai dan penyelamatan. Pengembangan wisata bahari di daerah perbatasan dan daerah pulau-pulau kecil terluar harus memperhatikan kepentingan Indonesia jauh ke depan, masyarakat negara tetangga dan batas-batas wilayah Indonesia. Dengan melihat latar belakang laut Indonesia yang merupakan terbesar dari Aseanarean, yang memiliki potensi wisata bahari beraneka ragam. Potensi ini mengandung keunikan dan kelangkaan dibandingkan dengan kawasan mediteranean dan carribean. Sebenarnya, industri wisata bahari Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata bahari terbesar di dunia dengan berbasis marine ecotourism. Namun industri ini juga tak luput dari ancaman yang timbul dari dalam maupun dari luar. 62

Ancaman-ancaman tersebut bisa berasal dari negara tetangga yang selama ini dianggap sebagai pesaing dan yang mengeksploitasi, keamanan yang belum kondusif, dan pemasaran yang masih didominasi oleh negara lain. Sementara dari dalam, ancaman itu muncul berupa masih adanya masyarakat yang merusak atau mencemari lingkungan. Cruising Approval For Indonesian Territory (CAIT) dan penyusunan Custom Immigration Port Clearance dan Quarantine (CIPQ) yang menyulitkan ditambah lagi kebijakan fiskal yang belum mendukung. Obyek wisata bahari yang meliputi wisata selam, wisata marina dan rekreasi air. Wisata selam menekankan pada usaha kegiatan penyediaan sarana, fasilitas atau jasa pemanduan untuk penjelajahan alam bawah air. Wisata marina merupakan kegiatan bisnis berupa penyediaan tempat berlabuh dan tambatnya kapalkapal pesiar, kapal layar atau lainnya. Rekreasi air adalah kegiatan usaha penyediaan sarana prasarana di perairan laut atau pantai. Kegiatan wisata bahari seperti pemancingan (game fishing), selancar, sky air, berenang, selam di kawasan terumbu karang, yang dihuni oleh berbagai jenis ikan hias laut. Jenis-jenis wisata demikian umumnya terdapat di pulau-pulau kecil yang menyebar di seluruh Nusantara. Potensi wisata bahari terdapat pada 21 pulau yang tercakup dalam Belt Ekonomi Kelautan, yaitu Pulau Sabang (game fishing); P. Nias (selancar angin dan game fishing), P. Siberut (game fishing, selancar angin); P. Enggano (game fishing, selancar angin); Ujung Kulon (game fishing, selancar angin); Pengandaran (wisata pantai); Cilacap (wisata pantai); P. Sumba (menyelam); P. Roti (game fishing); P. Biak (menyelam); P. Moyo (game fishing); Sanger Talaud (menyelam); P. Belitung (wisata pantai); P. Bali (wisata pantai, selancar angin); Krakatau (wisata pantai, game fishing); P. Karimata (wisata pantai); P.Rupat (wisata pantai). Pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan juga dapat dilakukan terhadap jasa-jasa lingkungan, terutama untuk pengembangan pariwisata dan pelayaran. Dewasa ini pariwisata berbasis kelautan (wisata bahari) telah menjadi salah satu produk pariwisata yang menarik dunia internasional. Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata bahari yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia, yang terwujud dalam bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis. Pada tahun 2002 pariwisata bahari menyumbang US$ 4,5 milyar atau menurun 16,5 persen dari tahun 2001 yang mencapai US$ 5,428 milyar (Media Indonesia, 2002). Penurunan ini disebabkan oleh kondisi stabilitas nasional Indonesia terutama setelah ledakan bom di pulau Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang lalu. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan bagi perkembangan dunia pariwisata pada khususnya, perekonomian Indonesia pada umumnya. Untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata, perlu upaya serius dari setiap elemen masyarakat Indonesia untuk 63

menciptakan suasana yang kondusif sehingga memberikan kenyamanan dan ketenangan di seluruh kawasan Indonesia. Selain itu perlu memperhatikan kekhasan, nilai jual dan peningkatan mutu komoditi pariwisata, sehingga dapat menarik masyarakat internasional untuk berkunjung ke Indonesia. Kemudian untuk Alur wisata bahari melalui kapal pesiar yang selama ini dikelola oleh Singapura yaitu: dari Singapura melalui Selat Karimata - Selat Makassar ke Manado – Wakatobi – Tabonerate – Bali – Karimunjawa – Kepulauan Seribu – Ujung Kulon – Karakatau – Raiu kembali ke Singapura. Biaya untuk menikmati wisata bahari tersebut 2000 dolar AS per orang. 7.4. Industri Energi dan Sumberdaya Mineral Pemerintah mendorong pengembangan industri energi dan sumberdaya mineral sebagai upaya peningkatan perekonomian nasional dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Industri energi dari laut bersumber pada dinamika gelombang, pola arus dan pasang surut dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung, sedangkan industri sumberdaya mineral bersumber dari air laut, dasar laut dan tanah dibawahnya dikembangkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, keterpaduan pembangunan lainnya, keselamatan dan keamanan kerja. Teknologi industri energi dan sumberdaya mineral dikuasai ahli-ahli bangsa Indonesia melalui pendidikan dan kerjasama luar negeri. Perubahan sumberdaya mineral di laut menjadi energi dikembangkan dengan memperhatikan penanganan limbah. Pengolahan dan penggunaan sumberdaya mineral dilakukan dengan memperhatikan hasil eksplorasi, potensi kandungan dan konservasi energi. Energi kelautan merupakan energi non-konvensional dan termasuk sumberdaya kelautan non hayati yang dapat diperbaharui yang memiliki potensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir dan lautan Indonesia. Keberadaan sumberdaya ini dimasa yang akan datang semakin signifikan manakala energi yang bersumber dari BBM (bahan bakar minyak) semakin menipis. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan adalah ocean thermal energy conversion (OTEC), energi kinetik dari gelombang, pasang surut dan arus, konversi energi dari perbedaan salinitas. Perairan Indonesia merupakan suatu wilayah perairan yang sangat ideal untuk mengembangkan sumber energi OTEC. Hal ini dimungkinkan karena OTEC didasari pada perbedaan suhu air laut permukaan dengan suhu air pada kedalaman 1 km minimal 20°C. Hal ini terlihat dari banyak laut, teluk serta selat yang cukup dalam di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan OTEC. Salah satu pilot plant OTEC dikembangkan di pantai utara Pulau Bali.

64

Sumber energi kelautan lainnya, antara lain energi yang berasal dari perbedaan pasang surut, dan energi yang berasal dari gelombang. Kedua macam energi tersebut juga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Kajian terhadap sumber energi ini seperti yang dilakukan oleh BPPT bekerjasama dengan Norwegia di Pantai Baron, D. I Yogyakarta. Hasil dari kegiatan ini merupakan masukan yang penting dan pengalaman yang berguna dalam upaya Indonesia mempersiapkan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan energi non konvensional. Sementara itu, potensi pengembangan sumber energi pasang surut di Indonesia paling tidak terdapat di dua lokasi, yaitu Bagan Siapi-api dan Merauke, karena di kedua lokasi ini kisaran pasang surutnya mencapai 6 meter. Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi seluruh mineral dan geologi. Indonesia sebagai negara maritim memiliki kandungan minyak dan gas bumi yang besar, berdasarkan data geologi, diketahui bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan potensi yang mengandung minyak dan gas bumi seperti di Selatan Makassar. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 cekungan berada di daerah transisi daratan dan lautan (pesisir) dan hanya 6 cekungan yang berada di daratan. Dari 60 cekungan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 84,48 milyar berel minyak, namun baru 9,8 milyar barel yang diketahui dengan pasti, sedangkan sisanya sebesar 74,68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. Sumber mineral dasar laut ditemukan di daerah hidrotermal atau di daerah gunung api dasar laut yang terdapat di wilayah perairan Maluku dan Sulawesi bagian utara ini. Di daerah hidrotermal ini terjadi keluaran cairan magma dari perut bumi dan terjadi mineralisasi karena tercampur dengan air laut. Mineral ini bertumpuk-tumpuk di mulut magma yang menghasilkan puncak gunung yang runcing dan menjulang tinggi pada kedalaman sekitar 2000 hingga 4000 meter dari permukaan laut. Sebagai gambaran besarnya sumber tambang dasar laut di perairan ini adalah sumber tambang dasar laut di Papua Nugini yang mengandung tembaga, seng plumbum, emas dan perak, eksploitasinya mencapai tingkat 200 ton per hari. Disamping memiliki potensi migas, Indonesia juga memiliki potensi sumberdaya alam yang terdapat di pantai dan lautan meliputi seluruh mineral yang terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas A (mineral strategis: minyak, gas dan batu bara); kelas B (mineral vital: emas, timah, bauksit, nikel ,bijih besi, cromite); dan kelas C (mineral industri: termasuk bahan bangunan dan galian seperti granit, tanah liat, kaolin dan pasir. Secara umum pertambangan di wilayah Belt Ekonomi Maritim yang sudah beroperasi terdapat di Kepulauan Riau, Indramayu, Bawean, Bontang, dan Sale/Papua. Sedangkan wilayah lautan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wilayah pertambangan adalah Natuna, Teluk Cendrawasih, Banda/Maluku, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Selat Makassar dan Halmahera.

65

66 .

Mc Graw-Hill. In Robert Borofsky (ed).”Searching For Good Fortune: the Making of A Bugis Shore Community at Lake Lindu. Inc. Dewan Maritim Indonesia. Beals dan Stephen A. Coastal Foragers in Transition. “On The Knowledge and Knowing of Cultural Activities”. Betke. Centre University Bieleveld. Akimichi. F. 1998. Amsterdam. North Atlantic Fishermen: Anthropological Essays on Modern Fishing. VU Uitgeverij/Free University Press. London. Dewan Maritim Indonesia. “Cultural in Motion”. Philip D. Senri Ethnological Studies No. 42. Australian National University. New York. New York. McGraw-Hill. Bernard. 1981. No. 1984. Bavinck. 1994. Research Metods in Anthropology.Menuju Membangun Negara Maritim. Robert. Indonesia Negara Maritim. R. 1994.L. Inc. Andersen.. 2004. Assessing Cultural Anthropology (Section five). 1984..). “Anthropology of Fishing”. New York. H. National Museum of Ethnology. Siegel.. 1994. Memorial University of Newfoundland. Sociology of Development Research. Annual Review of Anthropology. G. Cross Cultural Trade in World History. “Bugis Enterpreneurialism and Resource Use: Structure and Practise”. 2003. Acheson. Central Sulawesi”. Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology. 1991. Direktori Dewan Maritim Indonesia. Tyler (eds). James. Vol. Assessing Cultural Anthropology (Section five). 67 . Curtin. Assessing Cultural Anthropology. 1994. 1982. Paper. Small Fry: The Economic of Petty Fishermen in Northern Sri Lanka. Palo Alto. “Modernization and Socio Economic Change in The Coastal Marine fisheries of Java : Some Hypotheses”. dan Cato Wadel. 10 : 275-316.DAFTAR PUSTAKA Acciaioli. In Robert Borofsky (ed. Marten. Tomoya. Naskah Akademik Rancangan Undang-undang tentang Kelautan. Disertasi. Alam R. Cambridge University Press.1989. M. XXII September-Desember 1998: 81-91. London: Sage Publications. In Bernard J. Th.57. 2004. 1985.Russel. Mc Graw-Hill. Newfoundland Social and Economic Research. Inc. Borofsky. New York.

1994. New York. McGraw Hill. IPB. Raymond. “Toward A Working Theory of Culture”. Ethnology 6 (4): 417-426. The Sacred Cow and the Abiminable Pig: Riddles of on Food and Culture. Rais. W. 1988. Laporan Semiloka Kebijakan Nasional Bidang Kemaritiman. Dewan Maritim Indonesia. Indonesia and the Law of Sea. pp: 262-282). Rob van dan Jojada Verrips.Dewan Maritim Indonesia. J. Introduction. S. Ginkel. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.1987. Pradnya Paramita. Bogor.Press. Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan. 2003. Crowell. Dahuri. Theories of Culture in Postmodern Times. Sayling Craft of Indonesia. Adrian. New York. 2003. Hengky Supit. R.P. “Culture and Sosial Change : The Indonesian Case”. 2003. Goodenough. Rowman & Littlefield Publishers. “Cognition and The Catch : The Location of Fishing Spots in a Brazilian Coastal Village”.Norton & Company Inc. Kajiaan Penunjang Rancangan Undang-undang Maritim tentang Sistem Pertahanan Keamanan Laut. Louis.).1999. 1986. Orasi Ilmiah : Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumbedaya Pesisir dan Lautan. Jakarta. 1975. 2003. PT. Inc. M. 2003. Sitepu. 1995. Man (N. Mr. Geertz.W. Oxford: Oxford Univ. Simon & Schuster: New York. 1968. Lumentah HMJ. Firth. Inc. Keanekaragaman Hayati Laut. 1984. C. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan. R. New York.S) 9: 511532. Assessing Cultural Anthropology (Section four. 2004. 1982. Hasjim Djalal. Teropong Kajian Tata Kelautan Indonesia. Wawasan Nusantara.J. Ward H. 1 (2) 1988. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Forman. 2004. Abu. Vol. In Robert Borofsky (ed. Ginting.. S. Malay Fishermen: Their Peasant Economy. Pelestarian Budaya Kebaharian Masyarakat Sulawesi Selatan: Suatu Tinjauan Antropologi). Horridge. Dalam Maritime Anthropological Study. Jakarta.. Harris. The Rise of Anthropologi Theory.. 1967. Prof. 68 . St. Dahuri R. Dahuri. Danusaputro Munadjat St. Hamid. Marvin. New York. 1996.

McGraw Hill. Lineton. A. Pokok-pokok Pemikiran Pembangunan Maritim.N. dan Ramli A. Pengembangan Sumber Daya Kelautan(Laut. Darmawan salman. Laporan penelitian.). SH). 1909. Dr. Proyek dibiayai oleh Bank Dunia. Universitas Hasanuddin – PPT -LIPI. Yogyakarta Perwakilan KITL V. Proyek Dibiayai Bank Dunia. IND-HILL-CO.m New York. Archipel 10: 173-201. Hamzah. 1994. Buku 1 dan 2. 1996. In Robert Borofsky (ed. Laporan penelitian. J.T. Munsi.1975b. Pengantar Ilmu Antropologi. 1980. 2000. Jakarta. Jhon Pieres. pp: 396-410). 397-408. Lampe. 2001. Keesing. University of London. PP.Hasil Sarasehan Nasional Dewan Maritim Indonesia. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. Inc. Jakarta. School of Oriental and African Studies. “Studi Pemanfaatan Sumberdaya Laut dalam Rangka Optimasi Zonasi Taman Nasional Taka Bonerate”. Makalah dalam Seminar Menejemen Pembangunan Menurut Budaya Bangsa Indonesia. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. P. Aksara Baru. Sanur.2000. Munsi.. 69 .Colf & Co. Roger M. 2003. Jakarta.1985. Jakarta. Mattulada. Universitas Hasanuddin –PPT-LIPI. Batavia: G. 1985. 1994. McGraw-Hill.van. Mardiana. Louis.). Laporan penelitian. Lampe. “Pasompe “Ugi”: Bugis Migrants and Wanderers”. No. New York. Buku 1 dan 2. Assessing Cultural Anthropology (Section four). Mededeelingen Uitgande van het Departement van Landbow. St. Kampen. Serba Serbi Konsultasi Hukum Maritim.1997/ 1998. Motik Chandra. 1975a. Territorial dan Perairan Indonesia. In Robert Borofsky (ed. Koentjaraningrat. Yayasan Pustaka Nusantara. Masyhuri. Kottak dan Elizabeth Colson. 1996/1997. Manusia Bawahan dalam Menejemen. Universitas Hasanuddin Bekerjasama COREMAP LIPI. Assessing Cultural Anthropology (Section five. 20-21 Sept. Menyisir Pantai Utara. Jakrta. De Hulpmiddelen der Zeevisscherij op Java en Madoera in Gebruik.9. dan Ansar Arifin. “An Indonesian Society and Its Universe: A Study of the Bugis of South Sulawesi (Celebes) and their Role Within A Wider Social and Economic System”. Inc. Disertasi. “Theory of Culture Revisited”. “Multilevel Linkages: Longitudinal and Comparative Studies”.

Pujo. 6-9 Sept.Macknight. 2004. Macassan Trepangers in Northern Australia.W. Praharani Synthesa. New Haven. Manchester University Press. Paper to be presented at the “Conference on Legal Complexity. Rappaport. Universiteit te Amsterdam.1984. Dirjen Kelembagaan Departemen Perikanan dan Kelautan RI. Sistem-sistem Tradisional Sebagai Institusi Dalam Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya di Wilayah Pesisir. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan.” Padang. Mukhlis. 1985. Laporan Penelitian. 2001. 1991. The Voyage to Marege .IK. S. 1986. 1999. 1976. Sasi in Maluku: Communal Property and Communal Rights in Marine Resource Management. 1968. Ideology and Change in the Early State of Buton.Dr. Pandang.” Fifth DutchIndonesian Historical Congress diselenggarakan pada Lage Vuursche – Nederland. 70 . Fakultas Sastra Unhas. Manon.IK. 1995. Yale University Press. Far from the Throne. Prof. Laporan Perumusan Kebijakan Maritim Sebagai Pemersatu Bangsa. Gisli. 1999. Melbourne. Moka. Disertasi. 2002. C. Laporan Perumusan Kebijakan tentang Penguatan Kelembagaan. Watupongoh Navy. Pigs for The Ancestors: Ritual In the Ecology of New Guinea People. Palsson. Roy A. “Power. Soselisa. Taka Bonerate dan Pulau-Pulau Sembilan”. Nur Indar dan Lampe. Schoorl. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan.C. Pigs For the Ancestors: Ritual in The Ecology of New Guinea People. Ecological Sustainability and Social Security in the Management and Exploitation of Land and Water Resources in Indonesia. Willem. Memahami Kebudayaan Maritim di Sulawesi Selatan. Osseweijer. Pusat Studi Lingkungan Universitas Hasanuddin. Melbourne University Press. Hermin. Eastern Indonesia). 23-27 June 1986. J. New Haven. Closed to the Stone. (Enlarge Edition) Yale University Press. Dissertation. Spermonde. Makalah disajikan dalam Seminar Kebudayaan Maritim. Universiteit te Leiden. Paeni. S. U. Taken at the Flood: Marine Resource Use and Management in the Aru Islanders (Maluku. “Penjajakan Awal Mengenai Kondisi terumbu Karang Di Kep. 2004. 2001. Laporan Penelitian. 2004. Cultural Accounts: Human Ecology and Icelandic Discourse. Penyusunan Scenario Planning Sumber Daya Perikanan Di Wilayah Papua. Coastal Economies. Semedi. Rompas Max Rizald.

CYPED. Environment. Batavia: Landsdrukkerij. I. Vercruijsse. 2-6 Nopember 1987 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Cambridge. Wallerstein. 71 . Society and Belief in South Sulawesi. H. 293-307. 1979. The Penetration of Capitalism: A West African Case Study. 1905. Vayda Andrew P. 1972-1820”. Onderzoek naar Mindere Welvaart der Inlandsche Bevolking op Java en Madoera. University of the Philippines. The China Trade of Eightreenth Century Makassar. The Capital World-Economy: Essays. In Forestry for People and Nature. “Studying Human Actions and Their Environmental Consequences”. II. CSSP Publication. Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. Isabela Philipines. “Action and Consequences as Objects of Explanation in Human Ecology”. Welvaartcommissie. Makalah.Sutherland. 1991-1993.1988. Fishers of the Visayas: Visayas Maritime Anthropological Studies. PP. Cambridge University Press. 2001. 1992. Technology and Society 51 : 2-7. 1987. 1984. Immanuel. Emile. Leiden. London: Zed Books Ltd. Cabagan. Overzicht van Uitkomsten der Gewestelijke Onderzoekingen naar de Vischteelt en Visscherij en Daaruit Gemaakte Gevolgtrekkingen. “ Tripang and Wangkang. Diajukan Pada Konferensi Tentang Trade.