Potret Negara Maritim Indonesia

Buku Bacaan Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

Tim Penyusun : Djuanda Tomo HS, M.Si Mohamad Armansyah, ST Navi Watupongoh, S.IK
i

dicetak dan disebarluaskan oleh : SEKRETARIAT DEWAN MARITIM INDONESIA Departemen Kelautan dan Perikanan 2005

ii

Pulau-pulau yang ada disatukan oleh perairan laut menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Menteri Kelautan dan Perikanan T Freddy Numberi iii . agar lebih mengenal potensi sumber daya alam yang terkandung di wilayah laut kita. sekarang pribahasa nenek moyangku pelaut tidak banyak dikenal oleh para siswa. Buku bacaan ini akan banyak membantu adik-adik untuk mengenal kekayaan yang ada di laut kita seperti terumbu karang yang indah dan beragam jenis biota di dalamnya. Hadirnya buku bacaan ini merupakan inisiatif dari Dewan Maritim Indonesia. Sejak dahulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa dengan jiwa maritim dan semangat kebaharian yang tinggi. buku ini merupakan sumbangsih untuk merubah pola pikir para siswa agar lebih cinta pada laut. sehingga mereka menyebut nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut.SAMBUTAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN Secara geografis dua pertiga wilayah negara Republik Indonesia terdiri dari perairan laut yang di dalamnya terdapat + 17. Melalui buku bacaan ini saya mengajak adik-adik harus lebih banyak membaca buku tentang keberadaan laut kita. Saya percaya.504 pulau. Namun. Oleh karena itu Indonesia dikenal oleh dunia Internasional sebagai “Negara Kepulauan” terbesar di dunia. agar pengenalan wawasan kemaritiman sudah mulai digerakkan dari siswa-siswa tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas sebagai generasi penerus untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yagn berjiwa maritim dimasa depan. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola kemaritiman Indonesia. sebagai potensi ekonomi maritim yang sangat berlimpah ragamnya. Adanya pengenalan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai insan pembangunan yang berjiwa maritim.

Hadirnya buku bacaan ini diharapkan bisa menjadi bahan pengetahuan bagi generasi penerus utamanya kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yang berjiwa maritim di masa depan. Ir. Dengan rasa gembira saya menyambut baik prakarsa sekretariat Dewan Maritim Indonesia (DMI) untuk menyusun dan menerbitkan buku Berwawasan Maritim Republik Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggapan partisipatif terhadap Seruan Sunda Kelapa yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 27 Desember 2001 di Jakarta. yang menghimbau agar seluruh rakyat Indonesia kembali membangun negeri maritim dengan 5 (lima) pilar program yang antara lain membangun kembali wawasan maritim. merupakan buku bacaan yang mengenalkan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai sumber insan pembangunan yang berjiwa maritim. Rizal Max Rompas.504 pulau. M. semoga penerbitan buku ini bermanfaat. iv . Saya percaya. Jakarta. Dr. Dengan demikian kemaritiman menjadi sangat penting bagi kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia.000 km dan 2/3 (dua per tiga) wilayahnya adalah lautan. Buku Potret Negara Maritim Indonesia ini. non hayati maupun energi laut namun selama ini kita telah mengabaikannya. panjang pantai + 81. memiliki pulau sebanyak + 17. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola potensi kemaritiman Indonesia.SAMBUTAN SEKRETARIS UMUM DEWAN MARITIM INDONESIA Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa secara geografis Indonesia merupakan salah satu negara maritim di dunia. buku ini merupakan sumbangsih yang berharga bagi pembanguan maritim Indonesia. Agr. Laut merupakan potensi sumberdaya maritim yang sangat kaya baik hayati. Juni 2005 Sekretaris Umum T Prof.

Salah satu keunikan posisi kepulauan Nusantara adalah karena Indonesia terbentuk dari pertemuan tiga lempeng raksasa bumi (earth) yakni lempeng Pasifik. Dengan posisi silang yang sangat strategis dan kaya dengan sumberdaya alam yang beranekaragam. serta pertemuan dari tiga lempeng besar dunia Eurasia. Indonesia secara geografis merupakan negara maritim terbesar di dunia. wilayah-wilayah dengan palung-palung laut dalam di bagian Tengah (laut Banda) dan daerah paparan Sahul dengan laut dangkal di ujung Timur. Perikanan. Negara Indonesia 2/3 wilayahnya atau sekitar 5. Dari Barat sampai ke Timur kepulauan Nusantara terbentang jalur magnetic dan jalur seismic serta jalur anomaly gravitas negatif terpanjang di dunia. lempeng Eurasia dan lempeng Samudera Hindia-Australia. dimaksudkan untuk membuka wawasan kepada generasi muda akan besarnya potensi-potensi ekonomi v . India. Penerbitan buku yang diberi judul “Potret Negara Maritim Indonesia” yang diperuntukkan bagi siswa didik di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan luas laut demikian. Australia dan Pasifik.KATA PENGANTAR Kondisi geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia yang strategis terletak didaerah tropis yang diapit oleh dua benua yakni Asia dan Australia dan dua samudra yaitu Samudera Pasifik dan Sumudera Hindia. Gambaran ini memperlihatkan potensi-potensi perekonomian dalam bentuk potensi tambang.504 pulau besar dan kecil. Fenomena alam yang paling menonjol adalah daerah paparan Sunda yang memiliki laut dangkal di sebelah Barat.000 km atau sekitar 14% dari panjang garis pantai dunia dan memiliki sekitar 17. dan dengan pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.8 juta merupakan lautan dan memiliki panjang garis pantai 81. ekosistem lindung dan jasa-jasa Kelautan sangatlah besar. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau berbagai fenomena alam (earth fenomena) sangat kaya di Indonesia. Atas dasar susunan geografis yang demikan unik. hal tersebut merupakan kekayaan yang luar biasa bagi Indonesia. terbentang lautan luas yang memeluk kepulauan Nusantara dengan kokoh dan dengan variasi jenis-jenis kedalaman laut yaitu laut dangkal dan laut dalam yang memberi keindahan dan aneka ragam biota laut di dalamnya.

Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna karena itu pada kesempatan ini mengharapkan saran-saran konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan buku ini.yang dikandung dalam pembangunan dan pengelolaan maritime. Penyusun vi . dan dapat menjadi alternatif tulang punggung negara yang selama ini sangat bergantung pada pajak.

.................................... 4.............. vii ..............2 2.............................................................. iii iv v vii viii 1 4 5 6 11 13 14 17 19 22 25 27 29 30 36 38 39 40 46 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA ....................................2 5.................................................3 4....1 3................. BAB 1 BAB 2 PENDAHULUAN ......................... Batas Wilayah Maritim dan Pulau-pulau Terluar ................................. Daftar Gambar .......................................................................................................3 Dimensi Wilayah Maritim ........................................4 4............................................................... Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan ........................................................................................................... Daftar Isi .................................................... Pengembangan Sosial Budaya Maritim ..................1 4..................................................... Kebangkitan Kemaritiman Indonesia .........................DAFTAR ISI Hal Sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan ........................................................................................................................ Sambutan Sekretaris Umum Dewan Maritim Indonesia ......................................................................................................................................................................1 5................. Masyarakat Suku Laut dan Otonomi Daerah ......2 Letak Geografis dan Kepentingannya ........................................................... 2......................................... 5....... BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM .....................2 4.........1 2..................... Laut Sebagai Pemersatu Bangsa ......3 BAB 3 Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan ................... Tipologi Kawasan Maritim .................... BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM ..... Pelestarian Sumberdaya Budaya Maritim .......... 3.......6 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim .................................. Konflik Budaya Maritim . Pengembangan Tekhnologi dan Budaya Maritim .............................................................................................................................5 4............................................. Kata Pengantar .......... PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA .....

Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antar Pulau (INTERINSULAIR) ................................................. 6.......2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia ............................................................................................4 Industri Energi dan Sumberdaya Mineral .........................1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia ........................................................................ DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT .............................................................................................................................................................................................................................................................................................. DAFTAR GAMBAR hal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Peta Indonesia ............. 7.................... Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya ............... 60 59 10 14 15 16 58 viii .................................................................................................3 Industri Pariwisata Bahari ................... 7... 7.................................. Posisi Geo-Strategis Indonesia ...... 6.................................. 47 48 49 55 57 59 62 64 67 BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM ............... 7....... Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) ..............1 Industri Pelayaran ...................................................................................2 Industri Perikanan ................... Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia ....................... Konsep Pelabuhan dan Zona Perhubungan .........................................

1 . ekologi dan sosial. ada beberapa model pembangunan yang dikembangkan. pembinaan dan pengawasan pemerintah maupun dalam segi peminat dunia usaha apabila dibandingkan dengan sektor-sektor perekomian lainnya sehingga berbagai potensi sumber daya dalam sektor maritim yang sebenarnya memiliki prospek penghasilan dan keuntungan yang teramat besar masih belum dapat didayagunakan secara optimal. yang merupakan suatu model pembangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhanya. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras melanda dunia. Adapun ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut dapat dikemukakan secara jelas pada uraian berikut : a. Kondisi ini juga yang kemudian menimbulkan keengganan bagi para calon pengusaha yang berkeinginan untuk mencoba peruntungannya dalam dunia usaha maritim. memelihara pemerintahan dari hutang luar negeri pada tingkatan yang terkendali (a manageable level). atau tersier. dan menghindarkan ketidakseimbangan yang ekstrim antar sektor (extreme sectoral imbalances) yang dapat mengakibatkan kehancuran produksi sektor primer. sekunder. menengah maupun kecil yang telah berkecimpung dalam bisnis maritim untuk memperoleh kemakmuran dari usahanya karena harus senantiasa berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. Seyogyanya sektor maritim dapat kita jadikan sebagai salah satu sumber penunjang utama bagi perekonomian masyarakat negara kita sesuai dengan salah satu semboyan yang kita miliki sebagai negara maritim yakni ”Jalesveva Jayamahe” yang memiliki arti ”Di Laut Kita Jaya”.BAB 1 PENDAHULUAN Sebagaimana kita ketahui bahwa negara Indonesia kita tercinta ini adalah negara yang memiliki wilayah perairan terbesar di dunia dan dua pertiga dari wilayah kedaulatan negara kita merupakan wilayah perairan. Pembangunan berkelanjutan ini mengandung tiga unsur utama yakni dimensi ekonomi. Pembangunan secara ekonomis dianggap berkelanjutan (an economically sustainable area/ecosystem) jika kawasan tersebut mampu menghasilkan barang dan jasa (good and services) secara berkesinambungan (on continuing basis). Namun pada kenyataannya sampai saat ini sektor maritim terkesan masih agak tersisihkan baik dalam segi pengaturan. Hal ini tentu saja tidak terlepas sebagai akibat dari banyaknya permasalahan yang terdapat di seputar dunia maritim yang menimbulkan kesulitan bagi para pengusaha besar. Model pembangunan yang digunakan Indonesia adalah model pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Dan kepulauan meliputi suatu gugusan pulau termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut. terutama stakeholders. tidak terjadi pembuangan limbah melampaui kapasitas asimilasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kondisi tercemar. sandang. tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya dapat diperbaharaui (renewable resources). Dalam konteks ini termasuk pula pemeliharaan keanekaragaman hayati (biodiversity). terjadi distribusi pendapatan dan kesempatan berusaha secara adil. dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian eratnya sehingga pulau-pulau. ekonomi. ada kesetaraan gender (gender equity). Pengertian laut merupakan ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan daratan dan bentuk-bentuk alamiah lainnya yang mempunyai kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum internasional. Untuk lebih jelas mengenai batasan pengertian wilayah nasional Indonesia maka kita perlu mengetahui tentang pengertian-pengertian sebagai berikut : Pulau merupakan wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi oleh air dan berada di atas permukaan air pada waktu air pasang minimum selama setahun. keamanan. serta pemanfaatan sumber daya tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources) yang dibarengi dengan upaya pengembangan bahan substitusinya secara memadai.b. manakala basis (ketersediaan stok) sumber daya alamnya dapat dipelihara secara stabil. dan pendidikan) seluruh penduduknya terpenuhi. 2 . yang merupakan suatu wilayah kesatuan laut dan pulau secara bulat dan utuh termasuk udara diatasnya dan berbentuk wilayah kepulauan yang menyatu. terdapat akuntabilitas dan partisipasi politik. perumahan. perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi. c. sehingga laju (tingkat) pemanfaatan tidak melebihi daya dukung (carrying capacity) kawasan pesisir dan laut untuk menyediakannya”. stabilitas siklus hidrologi. kesehatan. siklus biogeokimia. Pembangunan dikatakan secara ekologis berkelanjutan (an ecologically sustainable arealecosystem). pengelolaan pembangunan berbasis sumber daya kelautan. Ketentuan tentang wilayah nasional Indonesia menyebutkan bahwa wilayah nasional Indonesia adalah suatu hamparan perairan laut luas dengan berpuluh ribu pulau tersebar di dalamnya. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan. dan kondisi iklim. (ekologis). secara tekhnis dapat didefinisikan bahwa “pembangunan kelautan berkelanjutan (sustainable marine development) adalah suatu upaya pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalam kawasan pesisir dan lautan untuk kesejahteraan manusia. Pembangunan dianggap secara sosial berkelanjutan (a socially sustainable area/ ecosystem). pertahanan. apabila kebutuhan dasar (pangan.

kegiatan di permukaan laut. yang merupakan satu kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat.Sedangkan pengertian kelautan meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan di laut yang meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya. yang sekaligus dapat mengangkat kualitas kehidupan seluruh rakyat di seluruh kepulauan. Uraian tersebut di atas memberi gambaran pengertian tentang apa itu Maritim Indonesia. Pengertian Maritim Indonesia adalah suatu lingkungan alam yang terbentuk secara alami. Negara maritim berdiri di atas landasan alam dan budaya maritim yang membentuk peradaban maritim yang dicerminkan dalam sistem politik. di dalam. Sedangkan maritim itu sendiri merupakan bagian dari kegiatan di laut yang mengacu pada pelayaran/pengangkutan laut. melainkan lebih dari itu. baik yang berada di atas. Karena negara maritim merupakan negara yang mempunyai kegiatan maritim dan kekuatan armada laut yang dimilikinya yang memberikan kontribusi penting bagi pembangunan nasional. dan kemaritiman itu sendiri adalah hal-hal yang menyangkut masalah maritim. Untuk sistem ekonomi yang berdasarkan demokrasi ekonomi mampu memberikan dorongan dan kemudahan bagi usaha-usaha industri dan jasa maritim dalam arti luas. sosial-budaya dan pertahanan keamanan. Jadi Maritim Indonesia tidak diberi pengertian segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut saja. serta keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. di dasar maupun yang berada di bawah dasar lautan. landas kontinen termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. ekonomi. Dalam sistem sosial-budaya yang menjunjung tinggi harkat manusia dan keadilan serta mampu menumbuhkan semangat cinta laut. termasuk udara di atasnya berikut sumber daya dan lingkungan alam. serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut bagi kemakmuran seluruh rakyat. juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. membangun tradisi dan perikehidupan masyarakat maritim dan menjadikan laut sebagai penghubung dan pemersatu bangsa. Sistem politik yang berdasarkan demokrasi politik khususnya mampu menjamin keutuhan seluruh kepulauan Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah negara. dan ruang udara di atasnya. dan kepelabuhanan baik nasional dan internasional. Sedangkan untuk sistem pertahanan-keamanan yang bertumpu pada kekuatan rakyat serta mampu menjamin tegaknya kedaulatan di seluruh wilayah laut dan laut yurisdiksi nasional. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. terdiri atas hamparan perairan laut yang luas dengan beribu pulau besar dan tersebar di dalamnya. 3 . serta tersalur dan terpenuhinya kepentingan-kepentingan masyarakat maritim di lembagalembaga eksekutif dan legislatif. perdagangan (sea-borne trade).

ekonomi. dan dari hasil negara jajahannya telah mampu membangun negara Belanda yang makmur melimpah yang terletak di Benua Eropa. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki visi atau cara pandang berdasarkan nilai-nilai kemaritiman. Di mana merupakan suatu negara kontinen (Benua) yang menganut dan menerapkan “Visi Maritim” dalam penyelenggaraan kebijakan kesejahteraan rakyatnya. dengan motto terkenalnya “Britain Rules the waves”. baik wilayah maupun penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat. Salah satu contoh negara maritim adalah negara maritim Britania (lnggris). Bahkan berkat visi maritim yang dianut tersebut. yang merupakan negara kepulauan di kawasan Eropa dan menerapkan visi maritim secara berhasil dalam upaya mensejahterakan rakyatnya dan membela kelangsungan keberadaan negaranya. seperti pada jaman Sriwijaya dan Majapahit terdahulu. Selanjutnya contoh negara maritim lainnya adalah negara Belanda. berbangsa dan bernegara yang mencakup politik. baik sikap dan kebijakannya terhadap dunia luar. Nuansa kemaritimannya perlu diberikan porsi yang lebih luas dalam rangka memenuhi cita-cita nasional kita agar “Negara Maritim Indonesia” kembali menjadi bangsa dan negara bahari secara nyata. Mengingat pengertian “Wawasan Nusantara” diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap kedaulatan wilayah dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan. Maka rumusan Wawasan Nusantara yang telah dimiliki bangsa Indonesia memerlukan penyempurnaan dengan memasukkan unsur muatan kemaritiman yang lebih proporsional. negara Britania merupakan negara penjajah yang menapakkan kakinya di lima benua. namun dalam perkembangannya kata baharinya ditanggalkan dan hanya menjadi “Wawasan Nusantara” saja. suatu negara kerajaan kecil di Benua Eropa. pertahanan dan keamanan serta menjadikannya sebagai geopolitik. yang pada intinya menggambarkan sikap dan kebijakan suatu negara maritim dalam upaya mensejahterakan rakyat dan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara dengan mendasar kepada sifat dan bentuk kemaritimannya secara profesional. Berkat visi maritim yang diterapkannya. sosial budaya. telah memiliki jajahan yang luas di benua Asia antara lain Indonesia.BAB 2 PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA Negara maritim Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia dan telah memiliki visi nasional yang dikenal dengan “Wawasan Nusantara Bahari”. sebenarnya akan semakin lengkap dan mantap dengan tersusunnya “Wawasan Maritim Indonesia” yang akan berfungsi sebagai acuan dan pemberi arah bagi penentuan strategi dan kebijakan dalam pelaksanaan secara operatif. 4 . Predikat Indonesia sebagai negara maritim.

Tindakan politis yang dilakukan Mahapatih Gadjah Mada dapat dikatakan. Majapahit mampu mengkordinasikan negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh.Di Asia ada juga satu negara maritim. di mana wilayah Indonesia terdiri 2/3 bagian keseluruhan wilayahnya adalah perairan. Ketika masyarakat nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dari berbagai suku bangsa yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia. dan merupakan suku bangsa pesisir dan pulau-pulau kecil adalah penduduk yang yang memiliki wawasan maritim yaitu hidup sebagai nelayan yang bermata pencaharian mencari ikan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. tetapi yang jelas. Mpu Nala. Melalui laut. 5 . pemanfaatan laut. yang merupakan negara kepulauan dimana negara Jepang bervisi maritim dalam penyelenggaraan pemerintahan negaranya. sudah memahami geopolitik wilayah perairan kerajaan Majapahit atau belum. Tidak dapat dipastikan apakah Mahapatih Gadjah Mada dan Panglima Laut Majapahit. Semangat kebahariannya diwujudkan dalam perilaku sebagai pelaut. Di samping ekspansi politis yang memiliki dampak yang menyangkut strategi dan kebijakan ketahanan wilayah kerajaan tersebut. Karena alasan itulah wilayah perairan kepulauan ini selanjutnya dinamakan Nusantara oleh Majapahit.1. Hal ini terjadi ketika seorang putera bangsa yang bernama Mahapatih Gadjah Mada ‘menyadari’ ingin menyatukan kerajaan-kerajaan kecil nusantara di bawah koordinasi Kerajaan Majapahit. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan Bumi nusantara tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdaulat merupakan wilayah kepulauan yang sekaligus merupakan wilayah perairan. Dapat kita lihat bahwa negara ini telah mencapai kemakmuran yang sederajat dengan negara Eropa dan negara Amerika yang maju. akhirnya pola pemikiran yang demikian berubah. yang negeri asalnya berjumlah berpuluh-puluh baik di pulau Sumatera maupun di pulau Kalimantan. Itulah visi kemaritiman Majapahit. bahwa kehendak mempersatukan wilayah perairan nusantara menjadi satu kerajaan di bawah panji-panji Majapahit merupakan pemahaman akan kondisi geografis Nusantara. bahwa Majapahit memiliki visi kemaritiman. meskipun hanya sebatas sebagai sarana transportasi dan ketahanan wilayah. perantau hingga pembajak di laut. Kerajaan-kerajaan suku bangsa yang bertebaran itu belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya merupakan penduduk dari satu wilayah kepulauan. yaitu negara Jepang yang dikenal dengan negara matahari terbit. Seiring dengan perjalanan waktu. 2. bahkan merupakan satu-satunya negara Asia yang termasuk negara ekonomi maju. sebagai sarana transportasi serta alat pertahanan dimanfaatkan Majapahit sebagai pusat kerajaan.

bangsa Indonesia perlu memiliki visi yang jelas dan berjangka panjang dalam konteks kemaritiman nusantara termasuk di dalamnya sebuah wawasan kemaritiman nusantara. maka demi kepentingan Belanda sendiri. Demikian pula terhadap manusia. yaitu dengan menguasai wilayah perairan nusantara mulai dari kawasan Utara yang meliputi wilayah Ternate dan Tidore. kekuatan. kawasan Selatan meliputi Batavia dan sepanjang Pantura (Pantai Utara Pulau Jawa).2. Ironisnya lagi.Sistem transportasi perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintahan Hindia Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. dan kelemahan sebagai negara kepulauan (nusantara) yang berada di antara dua samudera dan dua benua. Jadi cara pandang yang didasarkan pada kemaritiman dalam kehidupan bangsa Indonesia pada hakikatnya berlaku sebagai sebuah visi dalam menghadapi tantangan ke depan. Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak lagi memiliki jiwa maritim. Melalui proses sejarah maritim yang panjang. 2. semangat maritim bangsa Indonesia tidak disadari telah terkikis dan dirubah dengan sengaja oleh sistem pemerintahan Belanda selama 350 tahun. dan kehidupannnya lebih berorientasi kepada daratan. seiring dengan keluarnya pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang perairan Indonesia. orientasi setiap kehidupan manusia adalah masa depan yang cerah. maka setiap manusia mempunyai visi terhadap dunia yang dihadapi. ancaman. Hanya 6 . Selama masa Pemerintahan Belanda bangsa kita yang tadinya mempunyai pemikiran yang berorientasi paridigma laut menjadi paradigma daratan (continental). Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan Perkembangan pentingnya kemaritiman Indonesia mulai mendapatkan perhatian sejak tahun 1957. Secara Implisit penyebutan itu merupakan pengakuan bahwa air (laut) adalah bagian dari wilayah negara dan merupakan pemersatu bagi pulau-pulau (daerah dan penduduknya) yang harus dilindungi oleh segenap bangsa dan negara Indonesia. bagaimana suatu bangsa dapat membangun negaranya secara baik dan benar. Pemerintah Hindia Belanda juga mewujudkan visi kemaritimannya. Melihat kondisi kemaritiman Majapahit dari wilayah serta potensi laut yang luar biasa. kawasan Tengah: Makasar. Tanpa dilengkapi dengan visi. Langkah pemerintah itu sangat strategis karena sejatinya 2/3 dari luas wilayah Indonesia adalah perairan dan merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia (Archipelagic State). Manusia yang hidup dalam masyarakat dan bernegara perlu memiliki orientasi tersebut dalam bentuk cara pandang atau wawasan. Indonesia dikenal sebagai negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan beraneka suku bangsa dan kebudayaan. Dengan demikian. masyarakat juga kurang menyadari bahwa Indonesia secara geografis memiliki berbagai peluang.

dianggap sebagai laut territorial bagian dari selat yang terletak di antara dua garis sebelah menyebelah selat yang menghubungkan kedua tepi sedekat mungkin pada laut terbuka . maka garis lurus itu ditarik melintang teluk. B. ceruk laut. yang membentang ke arah laut sampai jarak tiga mil laut dari garis air surut pulau-pulau atau bagian-bagian pulau-pulau yang termasuk wilayah Republik Indonesia. di tempat teluk. walaupun lebar selat di bagian lain antara kedua garis itu melebihi enam mil laut.saja. ceruk laut. jarak tiga mil laut itu diukur dari garis lurus. Bunyi Pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 yaitu : (1) Di dalam aturan ini dan di dalam ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan berdasarkan aturan ini yang diartikan dengan : 1. yang memotong lubang dari teluk. ungkapan itu belum didukung dengan peraturan perundang-undangan mengingat penentuan batas laut teritorial sampai pada tahun 1957 masih berpedoman pada pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim 1939 stb No. batas laut teritorial kita hanya 3 mil laut yang diukur dari garis pantai pada waktu air surut terendah dan melingkari setiap pulau sehingga mengakibatkan banyak kantong-kantong laut bebas di antara pulau-pulau di Indonesia. C. 7 . ceruk laut. 442 yang membagi wilayah daratan Indonesia dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendidi-sendiri. pada titik pertama dimana lebar selat tidak melebihi enam mil laut. sedekat mungkin pada gerbang masuk pada titik pertama di mana lebar lubang itu tidak melebihi sepuluh mil laut. di tempat mana jarak antara titik-titik itu melebihi enam mil laut. batu-batu karang dan gosong-gosong yang ada di atas permukaan laut pada waktu air surut wilayah Republik Indonesia. Dengan pengertian bahwa : A. di tempat kelompok yang terdiri dari dua atau lebih pulau-pulau. jarak tiga mil laut diukur dari garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik terjauh garis-garis air surut dari pulau-pulau yang terletak pada bagian luar kelompok. muara sungai atau terusan. jika lubang di maksud melebihi sepuluh mil laut. daerah laut. dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. Ketika itu. di tempat selat-selat yang menghubungkan dua laut terbuka dan dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. muara sungai atau terusan. muara sungai atau terusan. Laut Territorial Indonesia : I. dengan pulau-pulau diartikan juga karang-karang. yang jadi permasalahan.

muara-muara sungai dan terusan. 2. terusan-terusan dan danau-danau dan rawa-rawa di Indonesia.D. perdamaian abadi dan keadilan sosial”. termasuk bagian laut territorial yang terletak pada bagian sisi darat dari : a. 8 . Disahkannya Undang-undang itu. Pemerintah Indonesia telah mensosialisasikan wilayah perairan Indonesia melalui pengumuman pemerintah tanggal 13 Desember 1957 yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda. Perairan pedalaman Indonesia : semua perairan yang terletak pada bagian sisi darat dari laut territorial Indonesia. daerah air teluk-teluk. tetapi terletak dalam batas-batas bandar yang ditetapkan. termasuk sungai-sungai. memajukan kesejahteraan umum. ditarik melalui tengah-tengah selat. daerah laut yang terletak pada sisi laut dari tengah daerah laut yang diuraikan di bawah I. 3. laut pantai. mengingat dalam perkembangan hukum internasional banyak negara pantai yang berjuang menentukan wilayah lautnya lebih dari tiga mil laut. sekaligus mempunyai tujuan yaitu : “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. 4. 4/Prp 1960 tentang Perairan Indonesia. Daerah laut Indonesia (perairan territorial) : laut territorial Indonesia. Daerah air Indonesia : laut territorial termasuk perairan pedalaman Indonesia. Secara yuridis formil pengumuman pemerintah itu dituangkan dalam Undangundang No. tentu merupakan keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia. mengingat sebelumnya laut di antara pulau yang tadinya merupakan laut bebas telah tercakup dan dinyatakan sebagai perairan pedalaman Indonesia. ceruk-ceruk laut. b. II. di tempat selat yang menghubungkan dua laut terbuka yang lebar selatnya tidak melebihi enam mil laut dan dalam hal mana Indonesia bukan merupakan satu-satunya negara tepi. maka garis pemisah antara laut territorial Indonesia dengan negara asing. Pengertian di atas tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat UUD’45 yang dalam rumusannya telah menegaskan bahwa negara Indonesia mempunyai fungsi. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Bagi kita ini menjadi bukti kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia.

Salah satunya adalah konvensi tentang keselamatan jiwa di laut yaitu Safety of Life at Sea (SOLAS). Keberhasilan perjuangan tersebut. berarti beban dan tanggung jawab pemerintah Indonesia di wilayah perairan semakin besar dan berat dengan bertambahnya luas wilayah perairan Indonesia dari 3. Akan tetapi kesadaran bahwa Indonesia merupakan suatu Negara Kepulauan sesungguhnya masih belum terlalu lama. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memfasilitasi pendirian IMO (International Maritime Organization).7 juta km² menjadi 5. sebab yang tadinya merupakan laut bebas. jazirah Arab. dengan ketentuan pengakuan atas lalu lintas damai bagi kapal-kapal asing untuk melintasi laut wilayah 12 mil laut dan perairan pedalaman Indonesia dari laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia dan sebaliknya. Perjuangan dan keberhasilan ini merupakan bukti adanya kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia.8 juta km². Sebagaimana diketahui bersama bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki kejayaan dalam bidang kelautan. yang telah disebutkan di atas. sehingga membatasi hak-hak negara lain. Konvensi tentang hal ini telah beberapa kali diselenggarakan.Dimasukkannya bekas laut bebas menjadi perairan pedalaman Indonesia. yaitu sejak Perdana Menteri Djuanda. pada 13 Desember 1957 yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda. Organisasi ini memiliki motto ” Safer Shiping (Keselamatan Kapal). yang mencerminkan masalah yang menjadi cakupan tugasnya. Selain United Nation Convention Law of the Sea (UNCLOS). 9 . India dan Cina. Sejarah menunjukan bahwa nelayan-nelayan kita dengan menggunakan perahu phinisi telah mengarungi lautan dan mendarat di bumi Afrika. dengan diundangkannya Undangundang tersebut perairan pedalaman Indonesia menjadi bagian dari wilayah negara kesatuan Indonesia atau wilayah perairan semula hanya memiliki 3 mil laut menjadi 12 mil laut. dan Cleaner Ocean (Perlindungan dan Kelestarian Laut)”. ada beberapa konvensi penting di bidang maritim. Saat ini laut tak bisa terlepas dari berbagai konvensi internasional. perubahan terakhir pada tahun 1974 (konvensi ini dikenal sebagai SOLAS 1974). yang mengeluarkan suatu konsep geopolitik maritim. menjamin berlakunya seluruh peraturan perundang-undangan Indonesia dalam yurisdiksi (secara hukum) bekas laut bebas tadi. serta dari laut bebas ke laut bebas.

yang dapat digunakan secara bebas oleh negara manapun tanpa izin berlayar dari Indonesia. sehingga menyebabkan wilayah Indonesia terpecah menjadi beberapa fraksi.Gambar 1. seperti fraksi Jawa . dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian wajar dari wilayah daratan Negara Republik Inoonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari pada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. Peta Indonesia Sumber : BAKOSURTANAL Dapat dibayangkan bahwa wilayah laut di antara dua pulau yang berada lebih dari 3 (tiga) mil dari garis pantainya merupakan wilayah internasional.fraksi Sumatera – fraksi Celebes dan seterusnya. Menyadari hal ini maka Perdana Menteri Djuanda tepat pada tanggal 13 Desember 1957 menyatakan deklarasinya yang berbunyi sebagai berikut : “Bahwa segala perairan di sekitar. Yong Celebes dan lain-lain. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indoneisa akan ditentukan dengan Undang-Undang”. Setiap selat antara dua pulau hampir dapat dipastikan merupakan perairan internasional. maka pada sidang UNCLOS PBB tahun 1982 usulan Djuanda diterima bahkan dijadikan konsep tentang negara kepulauan dan mewarnai pasal-pasal UNCLOS 10 . Ditambah lagi dengan tekanan politik nasional pada waktu itu memang sangat lokal sesuai dengan tanah asalnya seperti Yong Java. Pada akhirnya melalui perjuangan diplomasi yang gigih tak kenal lelah selama hampir 25 tahun. di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia. Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan administrasi pemerintahan dan politik sebagai negara kesatuan. Yong Sumatera.

Keputusan kedua raja yang telah dikendalikan oleh Belanda tersebut memasung kemampuan maritim bangsa Indonesia. Terbukti masih belum adanya satupun lembaga keuangan yang mau memberikan pinjaman perbankan berupa kredit kepada para nelayan ataupun pembelian kapal.1798 M). Akibatnya terjadi proses penurunan semangat dan jiwa maritim bangsa serta perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Indonesia yang semula bercirikan maritim menjadi sifat kedaratan. terlebih setelah masuknya VOC ke Indonesia (1602 M . Keberhasilan diplomasi Indonesia di forum internasional tersebut di atas sayangnya kurang diperhatikan dan ditanggapi secara baik oleh para politisi dan birokrat kita. 17 tahun 1985. 2. Upaya tersebut tidak mampu membentuk pemikiran umum yang mampu merubah paradigma dari darat ke laut.3. yang melibatkan seluruh lembaga nasional yang terkait dengan bidang kelautan. Kebangkitan Kemaritiman Indonesia Kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim pernah mengalami kemunduran. Indonesia perlu membuka wilayah lautannya untuk dapat dilalui oleh kapal asing yang biasa dikenal dengan nama “ALKI” (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Oleh beberapa kalangan pada waktu itu yang dipelopori oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah dilakukan terobosan-terobosan kecil untuk menggugah kesadaran politik agar lebih ‘seimbang’. Pada tahun 1985 keputusan sidang PBB tersebut kemudian diratifikasi dalam bentuk Undang-Undang No. Selain itu juga diamanatkan untuk merubah dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang ada. Selain hak dan peluang untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan laut. Akibatnya pembangunan sektor kelautan di masa orde baru telah diabaikan dan sangat tertinggal. termasuk akademisi perguruan tinggi.(Konvensi Hukum Laut 1982). Indonesia juga dikenakan kewajiban-kewajiban internasional yang harus dipenuhi berdasarkan UNCLOS 1982. Salah satu peristiwa bersejarah tentang hilangnya kejayaan tersebut adalah terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang dilakukan oleh Belanda dengan Raja Surakarta dan Yogyakarta. Kedua raja keturunan Mataram tersebut menyerahkan perdagangan laut hasil bumi dan rempahrempah dari wilayahnya kepada Belanda. 11 . Pasal-pasal dalam UNCLOS 1982 tersebut memberikan hak kepada Indonesia sebagai negara kepulauan dan tentunya merupakan peluang Indonesia dalam pengaturan untuk memanfaatkan kekayaan laut bagi sebesar-besarnya kepentingan negara dan rakyatnya. Pada tahun 1996 telah dicanangkan sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara. Seiring dengan reformasi pembangunan. timbul tuntutan untuk mencari kebijakan pembangunan yang baru dan kebutuhan untuk membangun bidang kelautan sangat besar. Dalam kerangka untuk membangun Benua Maritim Indonesia.

Pada tahun 1998 Presiden Baharudin Jusuf Habibie semasa pemerintahannya mendeklarasikan visi pembangunan kelautan bangsa Indonesia dalam “Deklarasi Bunaken. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1999 di bawah pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid menyatakan komitmennya terhadap pembangunan kelautan. 12 . Sehingga pada tahun 1982 gagasan “Negara Nusantara” berhasil dan diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS’82) serta berlaku sebagai hukum internasional positif sejak 16 November 1994. kesatuan dan pembangunan bangsa Indonesia. serta seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya tidak boleh di pisah-pisahkan. tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan. Komitmen pemerintah terhadap pembangunan di bidang maritim makin menampakan harapan cerah dengan telah dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan dikembangkannya kelembagaan Dewan Kelautan Nasional (DKN) menjadi Dewan Maritim Indonesia (DMI). pada tahun 2001 di bawah pemerintahan Presiden RI Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan “Seruan Sunda Kelapa”. Sejarah bahari Indonesia telah mewariskan pengalaman. dan pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. kebahagiaan serta kejayaan bangsa. Pada tahun 1957 Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno mendeklarasikan Wawasan Nusantara di kalangan dunia. Wawasan Nusantara tersebut memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan darat. Salah satu hasil perjuangan dari para pejuang maritim melalui satu komitmen untuk memajukan kemaritiman Indonesia. Kedua lembaga tersebut diharapkan menjadi suatu lembaga yang mampu menjadi wadah untuk mengelola sektor kelautan yang memiliki potensi yang sangat besar.Hal ini merupakan kemunduran kekuatan bangsa Indonesia sebagai negara maritim terbesar. Inti dari deklarasi tersebut adalah laut merupakan peluang. Kemudian memasuki pemerintahan Presiden Suharto untuk memperoleh pengakuan dari dunia internasional telah dilaksanakan perjuangan yang terus menerus di forum internasional dan regional. dasar laut dan tanah di bawahnya. udara. cita-cita dan perjuangan para bahariwan dalam mewujudkan kemakmuran. sehingga ke depan dapat dijadikan andalan dalam meningkatkan devisa negara. dan selanjutnya atas usulan dari Dewan Maritim Indonesia. yang intinya mengajak kepada segenap bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan di laut. dan Wawasan Nusantara dijadikan sebagai wawasan kebangsaan yang mengetengahkan azaz “Negara Nusantara” (archipelagic state). Presiden Megawati Soekarnoputri menerbitkan Keppres Nomor 126 tahun 2001 yang menetapkan tanggal 13 Desember sebagai “Hari Nusantara”.

kepulauan Indonesia sejak abad VII secara ekonomi telah dipersatukan oleh kerajaan Sriwijaya dengan menguasai lalu lintas perdagangan dari Barat dan Timur. Utara dan Selatan di Selat Malaka. Situasi dan kondisi aspek alamiah demikian menunjukkan bahwa laut adalah alamiah yang paling dominan mempengaruhi kehidupan politik. Oleh karenanya 13 . Jejak kebudayaan prasejarah bercirikan maritim juga ditemukan di kawasan Austronesia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang sebanding atau seluas eropa atau USA. maka yang dimaksud dengan bangsa dan negara Indonesia adalah rakyat dan wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penduduk dan pulau-pulau dari kepulauan Indonesia. Penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik dan ekonomi dilanjutkan selama masa penjajahan Belanda sampai Jepang. bukan hanya perahu cadik sebagai perahu khas nusantara. Pada abad XIII konsep persatuan kepulauan Indonesia secara politik di bawah satu kekuasaan telah diletakkan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari melalui semboyan Cakrawala Mandala Dwipantara. dimana 2/3 luas wilayah kedaulatan terdiri dari laut yang mempunyai wilayah laut yurisdiksi sangat luas dan sangat kaya akan sumber daya alam yang terdiri dari 17. dan sejak ribuan tahun sebelum Masehi sudah “mengglobalisasi” di kawasan Samudera Hindia dan kawasan Samudera Pasifik sebagai pelau-pelaut ulung yang jejak-jejak kebudayaannya masih dapat didikuti sampai sekarang. Hal ini menunjukkan.504 pulau dengan panjang pantai 81. pertahanan dan keamanan nasional Indonesia. melintas samudera sejauh 6500 km sampai di Madagaskar. Dari penemuan bukti-bukti baru tentang prasejarah Indonesia itu memberikan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah asli bangsa pelaut atau pengembara. sosial-budaya. melainkan rumpun bahasa Austronesia dimana pengaruh bahasa-bahasa di nusantara terasa sangat kuat dibandingkan dengan pengaruh rumpun bahasa Indochina atau Yunan. Laut Cina Selatan dan laut Jawa. ekonomi. bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu telah mampu membangun kapal-kapal layar samudera. sehingga ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.BAB 3 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Peninggalan sejarah pada masa sebelum Masehi berupa bekas-bekas kerajaan Merina yang didirikan oleh para perantau dari Nusantara ditemukan juga di Madagaskar. yang kemudian diwujudkan secara nyata oleh maha Patih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit pada abad ke XV melalui sumpah Palapanya. yaitu di antara dua benua dan dua samudera.000 Km terpanjang ke dua di dunia setelah negara Kanada. serta terletak pada letak geografis yang sangat strategis. Dalam sejarah.

Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia Sumber : Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan Pada waktu Indonesia merebut kemerdekaan. Proklamator Kemerdekaan. memberikan kedudukan dan peranan strategis bagi Indonesia baik dalam hubungan antar bangsa maupun untuk membangun kejayaannya sendiri. ekonomi. telah memberikan prioritas khusus dalam upaya memperjuangkan status perairan kepulauan tersebut menjadi wilayah tanah dan air Indonesia sebagai satu wilayah kedaulatan utuh dalam NKRI. Gambar 2. Ditinjau dari aspek sosial ekonomi potensi kelautan Indonesia dapat dikembangkan dan didayagunakan sebagai basis 14 . laut kepulauan Indonesia masih berstatus perairan internasional yang memisah-misahkan wilayah kedaulatan Indonesia. kekurangan. kelebihan. dan Presiden RI pertama. kerawanan dan keunggulan dari pengaruh alamiah laut. 3.1 Letak Geografis dan Kepentingannya Posisi geografi Indonesia yang berada pada posisi persilangan dunia. Kondisi demikian sangat mempengaruhi kehidupan politik. Oleh karenanya. dan sistem pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). sosial-budaya. untuk mencegah dan mengatasi kerawanan tersebut Bung Karno.pembangunan nasional seyogyanya dirumuskan dengan mempertimbangkan dan memperhatikan.

bahwa sumber daya alam yang ada di dalamnya cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai sumber kekuatan ekonomi nasional yang telah mengalami keterpurukan.merupakan aset nasional yang sangat potensial bagi pengembangan industri wisata bahari.1 juta Km² luas laut Teritorial.strategis bagi ruang dan kepentingan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Disamping itu pula keindahan alam laut dengan keanekaragaman biota laut. Secara keseluruhan wilayah laut Indonesia mencapai 75 % dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Potensi kelautan yang dimiliki oleh negara Indonesia diibaratkan sebagai “naga sedang tidur (Sleeping Big Dragon)” yang perlu dibangunkan sekarang ini untuk mengatasi krisis multidimensi yang sedang melanda negara kita. Di dalam wilayah laut Indonesia terkandung berbagai potensi sumberdaya yang sangat bervariasi baik hayati maupun nir-hayati. Gambar 3. dan garis pantai sepanjang 81. seperti ekosistem terumbu karang. Disamping itu pula telah disadari banyak orang.8 juta Km². Sampai saat ini yang menjadi kelemahan dan kekurangan kita dalam memanfaatkan potensi kelautan dengan sebaik-baiknya adalah belum semua sumber daya kelautan disentuh atau dilirik untuk eksplorasi dan eksploitasi oleh 15 . Posisi Geo-Strategis Indonesia Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki luas wilayah laut 5.000 Km. Oleh karena itu melalui “kabinet Gotong Royong” yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri selalu mengatakan bahwa. terdiri dari 3. bidang Kelautan dan Perikanan dijadikan salah satu “prime mover” ekonomi nasional. 2.7 juta Km² wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Oleh karena itu masyarakat internasional mengenal Indonesia sebagai Negara Maritim.

Karena begitu strategis kedudukan laut kita. tetapi juga ingin memanfaatkan sumberdaya perikanan yang sangat besar. dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.pemerintah Indonesia. sehingga membuat masyarakat internasional mengakui Indonesia sebagai persimpangan lintas pelayaran niaga utama (across of the commercial shipping). Hal itu pertanda bahwa wilayah perairan laut Indonesia sangat diminati oleh kalangan internasional. Adanya kegiatan pencurian ikan oleh kapal-kapal asing mengakibatkan populasi ikan semakin berkurang dan menimbulkan kerusakan ekosistem laut dan menimbulkan kerugian devisa negara yang sangat besar. karena terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia). yaitu dapat mengancam kedaulatan negara Indonesia. Salah satu contoh wilayah perairan Indonesia yang sering menjadi wilayah pencurian ikan secara tidak sah yaitu wilayah laut Papua yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Oleh karena itu banyak kapal-kapal asing melakukan pencurian ikan secara tidak sah secara hukum (illegal fishing). Kepentingan kalangan negara luar terhadap potensi wilayah perairan Indonesia. Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi yang strategis dalam lalulintas perekenomian dunia. Dilihat dari sudut pandang geografis. Ada aspek positifnya yaitu bertambahnya devisa negara dalam bidang ekonomi suatu kawasan yang dilalui ALKI. sehingga sering dijumpai kapal-kapal ikan milik asing ditangkap oleh petugas pengamanan di laut. maka satu-satunya negara di dunia yang dilalui oleh 3 (tiga) alur laut internasional dan yang dikenal sebagai alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). bukan hanya untuk kebutuhan pelayaran. Gambar 4 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 16 . tetapi ada pula aspek negatifnya.

dan disamping itu juga memiliki hak berdaulat untuk pemanfaatan sumberdaya alam di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen Indonesia.3. dan mewujudkan sistem pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan (oceans governance). mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang maju. Dengan menyadari kenyataan yang ada bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berwawasan nusantara. nasional dan internasional. Dalam posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui secara internasional sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya alam laut yang sangat besar.17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional 1982) selanjutnya pada tahun 1994 Indonesia secara resmi diakui internasional sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah kedaulatan di laut sebesar kurang lebih dua kali lebih besar dari pada wilayah kedaulatan di darat. pertahanan dan keamanan yang diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. mengingat wilayah laut Indonesia merupakan bagian terbesar dari wilayah Indonesia yang mempunyai posisi strategis dari berbagai aspek ekologis. politik. ekonomi. mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berorientasi kepada keserasian kepentingan antar daerah. maka yang harus kita lakukan saat ini untuk menuju bangsa yang maju dan makmur. sosial. kita perlu membangun sistem pemerintahan yang berorientasi kelautan (ocean governance) sehingga Indonesia menjadi negara maritim yang maju dan kuat di dunia. Jamaika. terdapat 119 negara yang menandatangani United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Pada tahun 1982 di Teluk Montego. Dengan memandang laut Indonesia sebagai tali kehidupan dan masa depan bangsa sehingga pengamanan dan pemanfaatannya harus mendapat perhatian yang khusus dan sungguh-sungguh dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional. kiranya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang dan yang akan mendatang.2 Laut Sebagai Pemersatu Bangsa Dengan telah berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UU No. Saat ini sudah ada sejumlah undang-undang di bidang kelautan. tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal mengenai perihal ketentuan tentang Prinsip 17 . membangun ekonomi nasional yang berorientasi pada keunggulan komparatif di bidang kelautan. namun belum ada undang-undang yang mengatur tentang kebijaksanaan dan strategi pengamanan dan pemanfaatan laut untuk digunakan sebagai acuan utama bagi semua peraturan perundang-undangan dan rencana pembangunan nasional. Kelautan sebagai kesatuan ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia diatur dan dikelola dengan tujuan memperkuat wawasan nusantara.

Negara Kepulauan. melainkan justru sebagai alat yang menyatukan pulaupulau yang satu dengan lainnya. karena kalau sampai terpecah-pecah maka fungsinya sebagai alat pemersatu akan hilang. Oleh karena itu lautan Nusantara harus selalu dijaga keutuhannya. Prinsip-prinsip tentang fungsi laut sebagai alat pemersatu atau fungsi laut sebagai faktor integritas wilayah inilah yang kemudian hari menjadi wawasan kebangsaan negara Indonesia yaitu wawasan nusantara. Salah satu pasal dalam Prinsip Negara Kepulauan yaitu memandang laut bukan sebagai alat pemisah. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. laut tidak hanya menjadi alat penghubung antar pulau tetapi juga alat perekat antar pulau-pulau dan suku-suku bangsa yang bersebar dari Sabang sampai Merauke. 18 .

mesin. sarana penggerak berupa layar. keterlibatan secara tidak langsung kategori-kategori dan hirarki sosial dalam aktivitas kebaharian. kebijakan-kebijakan pemerintah. keanekaragaman tersebut dapat menjadi penghambat bagi terciptanya stabilitas nasional. Salah satu upaya dalam menangani konflik dapat dilakukan secara adat. LSM. inovasi teknologi. 19 . Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan. Selain faktor-faktor internal. sedangkan menurut Sanjek konsep “kreasi dan dinamika budaya”. hakhak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut). penjelasan dan analisis secara empirik. Hal ini dicirikan dengan beberapa fenomena yang dominan yaitu : kompleksnya kategori atau kelompok sosial yang terlibat dalam kehidupan kebaharian. biasanya ditimbulkan oleh adanya kesenjangan sosial. alat-alat tangkap. sifat homogen dan diversiti unsur-unsur budaya. dan teknologi (sarana/ prasarana transportasi laut. dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya). Keanekaragaman suku. Fenomena sosial budaya bahari di Indonesia sangat kompleks. dan lain-lain. kelembagaan (organisasi. gagasan. intervensi perguruan tinggi. adat istiadatdapat menjadi kekuatan atau modal bagi pembangunan nasional. perlengkapan fisik lainnya). nasional dan pasar global. di mana suku-suku yang ada tersebut memiliki adat istiadat yang berbeda. dan proses dinamika. agama. ras.BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM Indonesia memiliki berbagai macam suku. sehingga sering menimbulkan konflik antar suku. tetapi apabila sudah menyangkut stabilitas dan keamanan nasional maka hal tersebut menjadi kewenangan pemerintah. dan ras di masyarakat. keyakinan. lembaga donor. dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi. Permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat. saling keterkaitan antar sektor-sektor kehidupan dan internal antar unsur-unsur budaya bahari. kelompok kerjasama nelayan. menurut Koentjaraningrat yang dilakukan dengan menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”. tumbuh dan berkembangnya sektorsektor dan sub-sub sektor ekonomi dan aktivitas lainnya berkaitan dengan laut. Untuk mempelajari budaya bahari yang kompleks dan relevan. perubahan dan persisten dari unsur-unsur budaya bahari tersebut. Hal semacam inilah yang perlu dihindari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama bagi masyarakat di daerah perbatasan. akan tetapi apabila tidak dapat dipelihara dengan baik terutama dalam hal toleransi. agama. perubahan atau bertahannya unsur-unsur budaya maritim juga sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal terutama pasar regional. fenomena dinamika.

juga dikenal kelompok-kelompok awak kapal pengeruk dasar sungai dan perairan pantai kota-kota. dan Kesultanan Buton (Schoorl. dan marinir. Palsson. kelompok. Vercruijsse. Di Eropah dan negara-negara pantai dan kepulauan maju lainnya selain pelayar.Proses dinamika yang tidak atau kurang terarahkan seperti dialami selama ini banyak berdampak negatif terhadap kondisi kehidupan ekonomi. co-management dan lain-lain. jasa pengamanan wilayah laut dan isinya. pelayaran/usaha transportasi laut. Masyhuri. Madura di kawasan pesisir dan pulau-pulau). Itulah sebabnya ke depan proses dinamika budaya maritim mustinya diarahkan secara bijak dengan pendekatanpendekatan community-based management. sesungguhnya menunjukkan fenomena sosial budaya yang sangat kompleks. pengangkut barang dengan berbagai kategorinya. 1977. Setiap kategori dan level sosial tersebut mempunyai atau dicirikan dengan pola-pola budaya konteks lokal dan global. Sulawesi Selatan. tetapi dalam banyak ukuran bisa dikategorikan sebagai suatu sub-sub etnik (seperti berbagai desa-desa nelayan Bugis. pekerja jasa dan industri di lingkungan pedesaan dan perkotaan. 1984) . keluarga. peternak. 1994. 1988). Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. nelayan. bisa merupakan kelompok-kelompok etnik sepenuhnya (seperti berbagai desa nelayan Bajo di Kepulauan Riau. Andersen dan Cato Wadel. kemerosotan sumberdaya dan degradasi lingkungan laut. bahkan dalam banyak segi lebih kompleks daripada yang mencirikan kategori-kategori sosial yang hidup di darat dengan berbagai sektor ekonomi atau mata pencaharian hidup seperti komuniti-komuniti petani. bahkan suatu negara atau kerjaan seperti antara lain Kerajaan Goa hingga abad ke-17 (Mukhlis Paeni 1995). Bavinck. Sulawesi Tengah). 1981. 1991. dan lain-lain. Acheson. 1984. parawisata bahari. individu 20 . industri maritim. khususnya pada komunitikomuniti pesisir dan pulau-pulau di Sulawesi Selatan. munculnya sedemikian banyak kategori-kategori sosial bahari tersebut tentu dikondisikan oleh tumbuh dan berkembangnya jenis-jenis usaha ekonomi terkait laut cukup banyak dan kaya dengan variasi dan tingkatan skalanya masing-masing. kelompok-kelompok olah ragawan laut antara lain seperti peselancar dan penyelam. Pertama. pemburu dan peramu. 1996) serta studi lapangan (field work) intensif. 1975. pertambangan. Makassar. kelompok-kelompok sosial kebaharian seringkali bukan sekedar berupa kelompok-kelompok kerja yang merupakan sub-sub komuniti desa. konflik sosial. kelompok organisasi pencinta lingkungan laut yang anggota-anggotanya berasal dari kota-kota bahkan dari negara-negara berlainan (Ginkel dan Verrips. Mandar. NTT. 1984. Kajian literatur tentang sosial budaya bahari di berbagai tempat di dunia termasuk Indonesia (antara lain: Firth. Termasuk dalam sektor-sektor ekonomi kebaharian utama antara lain perikanan. Terhadap sektor-sektor dan sub-sub sektor ekonomi maritim tersebut oleh pelaku dan pengelolanya (komuniti. Kedua. Kompleksitas sosial budaya bahari tersebut terutama dicirikan pada sekurang-kurangnya lima fenomena. 1982.

ekonomi. Kategori-kategori sosial dari luar yang tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan dan aktivitas kemaritiman tersebut justru merupakan kekuatan-kekuatan eksternal yang memberi pengaruh dalam menentukan tatanan dan dinamika kehidupan sosial budaya komuniti-komuniti atau kelompok-kelompok sosial kebaharian utama seperti nelayan dan pelayar. dan lain-lain. teknologi. Di Indonesia misalnya selama ini. para pembuat perahu dan alat tangkap. ini seringkali diacukan pada kerangka pengembangan terpadu yang ideal yang menguntungkan setiap sektor. keamanan laut. Fenomena budaya dari setiap kategori atau sub-sub kategori sosial dicirikan dengan karakter kepribadian kebahariannya masingmasing. organisasi sosial. dan sebagainya bisa menunjukkan karakter budaya bahari berbeda-beda. pemerintah/instansi terkait. koperasi dan bank. penyelam tripang (Bajo. fenomena sosial budaya maritim bukan hanya tampak pada aspek-aspek budayanya (sistem-sistem pengetahuan. osilasi di antara berbagai sektor ekonomi terkait laut dan dengan sektor-sektor lain. Fenomena tersebut yang dicirikan dengan saling keterkaitan internal antara unsur-unsur serta sifat homogeniti dan difersitasnya merupakan kerumitan tersendiri. kompleksitas fenomena sosial budaya bahari ditunjukkan pula dalam proses dinamikanya. komuniti pembuat perahu/kapal. Bahkan di antara kelompokkelompok nelayan rumpon (Mandar). Makassar) dan pemburu hiu (Bajo) dari Sulawesi Selatan bisa mencerminkan sikap kepribadian budaya bahari berbeda-beda. pengusaha dan rentenir. nilai. peneliti dan praktisi dari lembaga perguruan tinggi. tetapi seringkali juga dilakukan secara parsial yang menjurus pada gejala persaingan dan konflik kepentingan yang pada gilirannya berdampak pada sektor-sektor usaha kecil milik rakyat dengan gaya menejemen tradisionalnya. Bugis. kepercayaan. ada banyak kategori-kategori sosial dengan tingkatan-tingkatan sosialnya masing-masing terlibat secara tidak langsung dalam setiap sektor ekonomi kebaharian (pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut). gagasan. dalam rangka pengembangannya melibatkan pemerintah. kelompok awak kapal angkutan. pihak donor pembangunan. pola pemukiman. pasar dan TPI. pedagang.atau pengusaha privat) seringkali melakukan berbagai gaya menejemen berupa ekstensifikasi dengan strategi diversifikasi. kelompok olah ragawan laut. bahasa. Di sana ada perubahan sepenuhnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar dan dayung. nelayan bagang (Bugis). kesenian) dengan kategori-kategori dan hirarki sosial pendukungnya yang berbeda-beda. intensifikasi dengan usaha tunggal. norma. Karena itu fenomena masyarakat dan budaya bahari harus dipahami juga dalam konteks eksternalnya. ada proses transformasi struktural mengenai 21 . Setiap kategori sosial sebagai nelayan. satuan marinir. Kelima. bahwa selain pelaku dan pengguna langsung. Keempat. Sektor perikanan merupakan sektor ekonomi cukup banyak jenisnya menurut spesis sumberdaya laut dan tipe-tipe teknologi eksploitasi digunakan serta bertingkat-tingkat menurut skala investasi modal usaha yang melibatkan nelayan sebagai pelaku dan pengguna langsung. Ketiga.

meskipun jumlahnya sedikit. Di sana ada juga fenomena paternalisme yang melibatkan pemerintah. Pengkajian masyarakat dan budaya bahari yang demikian kompleks tersebut. lingkungan dan sumberdaya laut (berdasarkan pandangan etik dan emik). yang kemudian memberi kemungkinan kepada kita untuk mengenal kebudayaan yang mereka pertahankan. pembuatan perahu. sistem sosial dan sistem teknologi yang mungkin khas dan berbeda dengan komunitas lainnnya. dan aturan bagi hasil. yang sudah pasti menarik perhatian ilmuwan. dan bahkan seringkali ada manipulasi identitas etnis secara sementara atau permanen seperti dilakukan oleh sebagian besar kelompok-kelompok masyarakat Bajo di manamana dalam rangka adaptasi sosial budayanya. menuntut diperlukannya (1) pendekatan studi/kajian multi dan atau interdisipliner yang melibatkan bukan hanya antropologi tetapi juga disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora lainnya. Keberadaan pulau-pulau kecil yang dihuni penduduk. ada proses perkembangan internal seperti perubahan tipe bagang tancap ke bagang perahu melalui bentuk-bentuk transisi bagang rakit/apung di Sinjai (Sulawesi Selatan). ekologi. bubu dari Buton (Sulawesi Tenggara). di sana ada wacana tentang kearifan lokal (local indigenious) tetapi banyak kontradiksi dengan fenomena eksploitasi sumberdaya secara berlebih dan komersialisasi dengan segala dampak negatifnya bagi kondisi sosial ekonomi. Pewarisan itu dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. kalangan akademisi dan organisasi non-pemerintah (Ornop) di samping berpengaruh positif dapat juga negatif bagi tatanan dan dinamika sosia budaya lokal. bertahannya tradisi seperti pengetahuan kelautan. dan (2) konsep budaya. sebuah bentuk perahu tradisional dari Kalimantan dimodifikasi menjadi tipe jolloro’ di Bira (Bulukumba) kurang lebih dua dekade terakhir. model/kerangka penjelasan/analisis yang empirik serta metode koleksi data lebih aplikatif. Akan tetapi penelitian yang mendalam belum menyentuh sebagian besar komunitas yang menghuni 22 .1 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim Komunitas-komunitas pantai yang hidup dari sumberdaya alam kelautan dengan alam pikiran mereka dan mengembangkan sistem budaya. biologi. bahkan non-sosial (seperti perikanan dan kelautan. teknik perkapalan) yang relevan dengan fenomena sosial budaya dan fenomena fisik yang bisa saling interkoneksi dan dikontekskan. Lebih lanjut dalam konteks Indonesia misalnya. selain terdapat persamaan terdapat pula perbedaan budaya di antara komunitaskomunitas kelautan itu. Kebudayaan mereka akan terus berlangsung melalui pewarisan kepada keturunan secara vertikal dan juga secara horizontal kepada warga masyarakat lain. 4. dan proses difusi (persebaran) yang menyolok seperti persebaran rumpon dari Majenne (Sulawesi Selatan).kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta jaringan pemasaran.

Sulawesi Selatan. sehingga sering disebut dengan “sea nomad”. keyakinan/ kepercayaan. Perubahan-perubahan budaya dapat pula terjadi dengan cepat sekali akibat hubungan-hubungan terbuka dan intensif dengan dunia luar. Akibatnya nilai-nilai budaya mereka lenyap sebelum diteliti dan direkam oleh para peneliti. Kapal yang berbobot puluhan hingga ratusan ton dan bertiang dua serta dilengkapi dengan tujuh layar sekarang sudah tidak kelihatan. Salah satu bentuk penghargaan itu ialah melalui pelestarian. Sudah saatnya bagi kita untuk berusaha memahami dan menghargai kebudayaan yang telah mereka kembangkan sendiri dari generasi ke generasi. terutama berkaitan dengan beragamnya kelompok dan kategori sosial yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut serta beragamnya sektor mata pencaharian terkait laut menjadi alasan lebih cocok memilih term ‘budaya bahari’ daripada term-term ‘budaya maritim’ dan ‘budaya marin’ dalam rangka pengkajian ilmiah. darat. 1976). dan Sumatera Selatan yang kita kenal dengan nama “orang laut”. nilai.pulau-pulau kecil. Konsep budaya maritim. ada masyarakat yang hidup di laut dan di pesisir kepulauan Riau. angkasa/perbintangan). Selain suku Bajau. Kearifan lingkungan masyarakat semacam itu perlu kita pahami termasuk komunitas-komunitas kecil yang hidup di pulau-pulau kecil. Jika kedua term asing diaplikasikan secara konsisten. Mereka seringkali berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sistem budaya maritim mencakup sistem-sistem pengetahuan. karena kedua tiangnya dilepas dan tidak memiliki layar lagi. tidak lepas kompleksitas dari fenomena sosial budaya. Term kedua menurut perasaan linguistik Eropa lebih mengacu kepada kegiatan pelayaran. Sulawesi Tenggara. “Suku Bajau” yang sebagian besar hidupnya di laut dan bertempat tinggal dalam perahu (rumah perahu). dan pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya. pengetahuan tentang lokasi dan sarang ikan. Jambi. Mereka hidup sepanjang tahun di antara laut Cina Selatan dan Laut Jawa. pada waktu lalu pernah menjadi pemandangan umum di perairan Indonesia. sehingga sudah sempat direkam dan dapat dilestarikan nilai budayanya. Nusa Tenggara Timur. sementara di buritan dibangun rumah geladak yang besar. 23 . sedangkan term ketiga diacukan kepada aktivitas menangkap ikan semata (Nishimura. Sulawesi Utara. dan norma/aturan berkenaan dengan pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. pengetahuan tentang musim. Kapal Bugis itu kini dilengkapi mesin. lambungnya dibuat lebih kokoh untuk menahan getaran mesin. bahkan di sebagian perairan Asia Tenggara. Untung saja sudah ada penelitian mengenai phinisi. Ratusan kapal Bugis ‘phinisi’ yang tersohor itu. gagasan. Maluku. Sistem pengetahuan meliputi antara lain: Sistem pengetahuan nelayan mencakup : pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi tinggi. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Mereka hidup mencari nafkah di perairan Nusa Tenggara Barat. pengetahuan tentang tanda-tanda (di laut.

1961: 522. budaya material) dari Koentjaraningrat daripada melakukan reduksi wujud kedua dan ketiga seperti dilakukan para antropolog kognitif (Goodenough. Budaya bahari mengandung isi/unsur-unsurnya berupa sistemsistem pengetahuan. ketertutupan. Keesing. yang dalam penjelasan tidak atau kurang empirik kiranya bisa diatasi dengan konsep ‘kreasi dan dinamika budaya’ dari Sanjek dan mode penjelasan kontekstualis progresif dari A. kebudayaan yang mereka pahami ternyata meliputi tiga wujud seperti dikonsepsikan oleh Koentjaraningrat. abstrak dan general. nilai.P. dan budaya bahari difahami sebagai sistem-sistem gagasan/ide. 1980:193). 1981: 68) dan simbolik (Geertz dalam Harris. normatif. 1999: 20) ) atau secara berlebihan menekankan pada pertimbangan rasional biaya dan keuntungan (cost-benefit considerations) seperti dilakukan para penganut materialis budaya (Harris. esensialis. Meskipun konsep moderat seringkali dikritik oleh para penganut kognitivisme dan simbolisme karena dinilai mencakup segalanya. totalitas. namun konsep ‘tiga wujud kebudayaan’ justru sebetulnya memadai sebagai model deskripsi atau analisis karena tidak mengurangi dan tidak melampaui fenomena sosial budaya ke atas dan ke bawah. Bahkan kalau mendengarkan perbincangan masyarakat lokal pada semua tingkatan. terutama dalam proses dinamika. Memadainya konsep tiga wujud kebudayaan untuk analisis fenomena sosial budaya juga pernah diungkapkan Ignas Kleden dalam acara seminar pada Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia di Hotel Indonesia. Sebuah formulasi batasan budaya secara jelas mencakup ketiga wujud tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat yaitu “keseluruhan sistem gagasan. Mengacu kepada konsep tiga wujud dan definisi budaya tersebut. kelembagaan. sistem sosial. Konsep budaya bahari akan mencakup semua fenomena sosial budaya yang kompleks. Kerumitan fenomena sosial budaya. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat. simbol komunikatif. berubah dan bertahannya 24 . norma/aturan. prilaku/tindakan dan sarana/prasarana fisik yang digunakan oleh masyarakat pendukungnya (masyarakat bahari) dalam rangka pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan merekayasa jasa-jasa lingkungan laut bagi kehidupannya. teknologi dan seni berkaitan kelautan. Adapun kelemahan-kelemahan dibagi bersama berbagai perspektif berupa asumsiasumsi tentang homogeniti.Vayda (1988. khususnya budaya bahari.kedua wilayah tersebut akan saling eksklusif. Dalam rangka deskripsi. 1999: 19). yang berarti bagian-bagian tertentu dari kedua subjeknya tereduksi. kepercayaan. 1992). penjelasan dan analisis fenomena budaya bahari yang kompleks kiranya lebih memadai jika memanfaatkan konsep tiga wujud kebudayaan (sistem gagasan. 1996. keseimbangan.

” Kelihatannya kompleksitas proses kreasi dan dinamika budaya tersebut relatif bisa mengenai semua sisi realita sosial budaya. Tingkat keterawatannya rendah. kecerdasan dan ketrampilan mereka dapat dijadikan contoh dan disebarkan kepada masyarakat lain. dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. reformulating. yang tentu mengurangi nilai kesahihan datanya. and changing where we do. prilaku sosial dan material. Dalam pada itu beberapa aspek kebudayaan masyarakat yang sekarang masih hidup dapat berubah cepat sebagai akibat berbagai pengaruh. Belum lagi tindakan-tindakan manusia yang merusak. resisting. tetapi juga karena pengaruh alam di daerah tropis mudah melapukkannnya. apakah proses kreasi budaya dimaksudkan oleh Sanjek pada dimensi kognitif dan simbolik. dan tekhnologi. sesuai dengan yang mereka jalankan selama berabad-abad walaupun saat ini terjadi perubahan kebudayaan. Sudah tentu untuk melestarikan semua itu perlu lebih dahulu dilakukan penelitian agar dapat direncanakan sumberdaya budaya mana dan masyarakat mana yang perlu lebih dahulu diprioritaskan. interconnected.sebagaimana digambarkan di muka kiranya dapat dijelaskan dan dianalisis dengan konsep proses kreasi dan dinamika seperti dinyatakan oleh Sanjek (dalam Borofsky.2 Pelestarian Sumberdaya Budaya maritim Pada dasarnya sumberdaya budaya masa lalu tidak pernah lengkap. 4. persisting where we don’t espect it to. 25 . Selama ini banyak nelayan ilegal lokal dan asing yang datang ke pulau-pulau kecil berpengaruh sedikit dan menjadi korban dari tindakan ilegal mereka. interpenetrating. dan dapat menyebabkan nilai budaya yang ada dan proses perubahannya tidak sempat dipelajari dan direkam dengan seksama. homogenizing. atau ketiga wujud gagasan. yang berorientasi kepada kepentingan untuk memupuk jatidiri. crossing its own boundaries. creolizing. sehingga perangkat-perangkat proses kreasi tertentu kalau bukan sepenuhnya bisa digunakan sebagai model deskripsi dan eksplanasi dengan konsep atau perspektif budaya tertentu. 1994: 313) bahwa kebudayaan “is … under continuous creation – fluid. hegemonizing. bukan saja karena sebagian besar benda dibuat dari bahan yang mudah rusak. diverging. partial rather then total. dan sebagainya. justru kemampuan beradaptasi. Tidak menjadi masalah. Tujuan pelestarian budaya dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat mereka sendiri dan masyarakat diluar mereka. diffusing. open rather then closed. Upaya pelestarian masyarakat maritim tidak dimaksudkan untuk menghambat perkembangannya tetapi mengangkat mereka ke dalam taraf hidup yang lebih baik. memindahkan. mencuri. meliputi pikiran dan prilaku. mereka tidak perlu meninggalkan jati dirinya sebagai masyarakat maritim.

modal. kelembagaan (kelompok/organisasi. Tumbuhkan pandangan dan kesadaran bahwa sumberdaya laut rentan terhadap ancaman perilakuperilaku tertentu. teknik rumpon nelayan Mandar (Sulawesi Selatan). Gagasan muncul kemudian ialah diperlukannya kerjasama dan kelembagaan untuk mengusahakan berbagai keperluan mutlak (sarana/ prasarana fisik berupa perahu/kapal. pengelolaan komunal tradisional di Kapuas Hulu (Kalimantan). aturan). terutama terumbu karang.Wujud dan karakteristik budaya komuniti nelayan. penguatan atau revitalisasi sistem-sistem tradisional yang potensial berkaitan dengan pengelolaan 26 . pembentukan institusi baru. kalangan akademisi. terkurasnya populasi sumberdaya laut. konflikkonflik antar kelompok-kelompok nelayan. lembaga kerjasama pengelolaan modal ponggawa-sawi (Sulawesi Selatan). Tanpa memandang rendah beberapa kearifan lokal masih tersisa. tokoh masyarakat. berwawasan lingkungan. meskipun dinamika budaya bahari komunitikomuniti nelayan di Indonesia selama ini tidak atau masih sangat kurang mendapat pengarahan dari pemerintah. jauh dari negara. sarana dan prasarana pengangkutan dan teknologi eksploitasi sumberdaya (fisik/material). dan lembaga donor ialah menemukan araharah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut secara berkelanjutan. Makassar dan Bajo.” Apa yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan seperti pemerintah. far from the throne” menurut Pujo Semedi (2000) atau untuk nelayan Bugis. namun tampak di mana-mana suatu proses dinamika berlangsung cukup pesat. sarana perlengkapan lainnya). manusia harus arif dan bertanggungjawab dalam perilaku pemanfaatan sumberdaya laut. aktivitas. ternyata bahwa proses dinamika. jadi tanpa perlakuan bijak kondisi sumberdaya laut akan menjadi semakin berkurang/terbatas. antara lain seperti sasi (Maluku). Menumbuhkan dan revitalisasi kelembagaankelembagaan tradisional yang menekankan moral pemerataan atau keadilan dalam kesempatan berusaha dan pembagian hasil. modernisasi dan globalisasi banyak membawa dampak-dampak negatif berupa kemiskinan ekonomi sebagian terbesar penduduk nelayan tradisional skala kecil. mereka itu “closed to the stone. mengubah pandangan budaya dan praktek akses terbuka/ bebas ke penguatan hak-hak pemilikan. Dinamika budaya maritim Indonesia. LSM. diasumsikan bahwa keterlibatan dan hubungan manusia dengan lingkungan lautnya didasari dengan pengetahuan dan gagasannya tentang arti dan fungsi (konsumtif dan non-konsumtif) dari sumberdaya dan lingkungan laut bagi kehidupannya. Hal ini adalah akibat dari suatu proses dinamika komuniti-komuniti nelayan yang kurang terarahkan secara bijak. untuk kesejahteraan bersama masyarakat. tepatnya “dekat ke ponggawa/bos. Pokoknya pola pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan jasajasa laut melibatkan sistem-sistem budaya (kognitif). kerusakan ekosistem laut. panglima laut di Aceh. sarana eksploitasi sumberdaya.

segala contoh nyata yang memberikan makna praktis bagi mereka niscaya akan dinilai tinggi dan diperebutkan. Dominasi budaya pedalaman makin menguat ketika tampilnya dinasti penguasa baru yaitu Mantaram (Mataram) yang menggeser kekuasaan Pajang.pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. 4. masing-masing mempunyai beking wali. tetapi sekaligus hal ini memencilkan laut (dan pesisir) dari persinggungan budaya yang lebih luas. Dalam wujud teknologi perlu pengembangan teknologi perikanan tangkap ramah lingkungan. dan saling mempengaruhi. pendiri kerajaan Mataram. sebagai suatu misteri yang merupakan sumber kekuatan dan inspirasi para raja Mataram sehingga laut menjadi hal yang amat suci. regional. yakni Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. saling terkait. (2) budaya keraton (Mantaraman) dengan budaya rakyat. nasional dan global yang tidak semata dikendalikan kekuatan-kekuatan eksternal. Konflik budaya pedalaman dan pesisiran bermula ketika kekuasaan Demak sebagai pengganti kekuasaan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya jatuh ke tangan Pajang (Adiwijaya atau Mas Karabet). Karena budaya bahari adalah pragmatis. 27 .3 Konflik Budaya Maritim Secara historis akar konflik kebudayaan Jawa berupa pertentangan budaya antara (1) budaya pedalaman dengan budaya pesisiran. dominasi pola-pola budaya pedalaman mulai mewarnai kebudayaan jawa. Suksesi kekuasaan yang terjadi dari Demak ke Pajang menjadi awal sejarah Jawa bagaimana kaum ulama (agama) terseret ke dalam arus pertikaian politik dan kekuasaan. pusat kekuasaan Jawa sebagai pusat kebudayaan semakin ditarik ke pedalaman. teknologi pascapanen. Politik kebudayaan jawa Mataram mencoba membuat jarak dengan budaya pesisir dengan meletakan laut sebagai sesuatu yang disakralisasikan. Laut sebagai basis budaya pesisir dan eksistensi wali sebagai salah satu unsur legitimasi kekuasaan mulai diabaikan. Sunan Kudus sebagai guru dari Arya Penangsang sebenarnya merupakan wakil budaya pesisiran yang berhadapan dengan Sunan Kalijaga dan Adiwijaya yang merupakan presentasi dari budaya pedalaman. Ketiga konflik ini terjadi bersama-sama. Kemenangan Adiwijaya membuat pusat pemerintahan bergeser dari Demak. beralih ke Pajang yang lebih memilih pedalaman sebagai basis kekuasaan sekaligus basis kebudayaan. Melalui Sutawijaya. dan (3) budaya santri dengan budaya abangan. Dengan demikian. serta membangun institusi pasar lokal. Kedua tokoh yang paling berpeluang sekaligus berambisi untuk menduduki takhta kerajaan yakni Mas Karebet (Adiwijaya) dari Pajang dan Arya Penangsang dari Jipang. pengembangan teknologi budidaya dan semi-budidaya. yang berorientasi ke pesisir.

tandak. dan sejenisnya. yang merupakan penguasa. kecanggihan. Keraton merupakan sentrum dan daerah yang berada di luar keraton (mancanegara. sekaligus pensakralisasian. keekspresifan. Kesenian keraton menjadi kesenian yang mengambil jarak sedemikian rupa dengan kebudayaan dan masyarakat di luar keraton. Apa yang terdapat dalam Babat Tanah Jawi sebenarnya merupakan pengulangan dari apa yang dilakukan oleh Ken Arok pendiri Singasari yang memanfaatkan teks sastra (Pararaton) sebagai sarana legitiminasi kekuasaannya. maka kesenian rakyat atau pesisiran berlangsung dengan suasana pesta dan hiruk-pikuk yang kemudian menghadirkan suasana yang serba primitif. dan ditonton oleh pihak keraton. Kesenian dalam kosmologis keraton merupakan kesenian yang mengalami sofistikasi. perumitan. Timbul kesenian-kesenian tayub. dan kebebasan improvisasi. dipentaskan. Apabila kesenian keraton bersikap tertutup dan masyarakat suasana yang khusus. selaras.Kerajaan Mataram menumbuhkan pola pikir budaya dan politik yang selalu berorientasi dengan mitologi. pesisir. 28 . yang hingga saat ini masih mewarnai budaya berpikir penguasa-penguasa kita. ronggeng. Kehalusan. Kesenian keraton di luar wilayah keraton menemukan tandingannnya dengan munculnya kesenian-kesenian baru yang terutama sekali menemukan lahan subur di wilayah pengaruh budaya pesisiran. Masyarakat di luar keraton dianggap tabu untuk menyelenggarakan atau melakukan kesenian produk keraton. Karena itu. sedangkan kesenian lain di luar wilayah keraton dianggap sebagai seni pinggiran yang secara estetis dan etika di bawah kesenian keraton. sangat menutup kemungkinan improvisasi. Tari bedhaya misalnya. dan keteraturan yang menjadi standar estetika budaya keraton di lawan dengan kebebasan. dan lain-lain) dianggap sebagai kesenian “resmi” dan adiluhung. Perbenturan budaya pesisir dan padalaman melahirkan konflik budaya baru. Muncul kesenian-kesenian rakyat yang merupakan produk dari sistem masyarakat grass-root yang menafikan keteraturan. hati-hati. Orientasi mitologis ini terlihat dengan dimunculkannya mitos Nyai Roro Kidul (Ratu Kidul) dan munculnya Babat Tanah Jawi yang di dalamnya memuat silsilah pendiri Mataram yang dikaitkan sekaligus mencampur adukkan tokoh mitologis dengan nama-nama nabi. dan teratur. Tari bedhaya sebagai kreasi kesenian keraton memformulasikan diri sebagai sesuatu yang serba halus. brang wetan. ledek. Dengan demikian estetika kesenian rakyat atau pesisiran secara sadar mendudukkan dirinya sebagai kesenian atau kebudayaan massa. kerumitan. dan kerumitan yang menjadi ciri kebudayaan keraton. pencanggihan. merupakan tarian sakral yang hanya boleh dilakukan. Ini terjadi ketika budaya pedalaman semakin kokoh dan kekuasaan Mataram membuat benteng budaya baru berupa keraton dan pembagian daerah keraton. yakni budaya tradisional/rakyat dengan budaya keraton. janger.

dan Johor. Sebagaimana diketahui. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya pujangga keraton yang digaji untuk berkarya. beserta segala benda budaya yang terkait dengan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan laut. Donggala. 4. Sebagai contoh dapat disebutkan bagaimana sebuah masyarakat ‘maritim’ seperti orang Bugis dapat mengembangkan varian-varian budaya masing-masing di Sape (Bima). Dalam satuan yang lebih kecil hal itu dapat disimak pada komuniti-komuniti khusus di dalam suatu masyarakat. serta menyempit atau meluasnya peluang-peluang ekonomi. semua itu dapat memberikan pengaruh dan menjadi faktor pengubah kepada kebudayaan walaupun pendukung kebudayaan tersebut tetap tinggal dalam suatu lingkungan alamiah yang sama. sebagai fungsi dari faktor-faktor historis dan peluang-peluang berasimilasi. sedangkan kesenian rakyat (pesisiran) lebih menekankan pada fungsi ekonomis. Tripama. dan di dalamnya membentuk kebudayaan dari waktu ke waktu. perubahan konstelasi politik. tetapi juga antara kebudayaan rakyat dengan kebudayaan santri.Kebudayaan keraton juga memunculkan fenomena baru di mana pihak penguasa dapat mensahkan kehadiran seorang kreator seni sebagai abdi atau pegawai keraton (penguasa). Pada titik ini kesenian keraton lebih menekankan kesenian atau estetika dalam bingkai politis dan filosofis. Produk-produk sastra kepujanggaan seperti misanya Wedhatama. tetapi dari lingkungan pengaruh kuat agama Islam menganggap estetika kebudayaan rakyat (yang kemudian disebut pula dengan abangan) sebagai sebuah kesenian yang terlampau primitif. dan serat-serat Ronggowarsito merupakan produk keraton yang isinya hampir semua menceritakan dan mengatur perilaku rakyat terhadap penguasa atau perilaku penguasa terhadap rakyat. manusia hidup dalam suatu masyarakat. kiranya dapat diantisipasi bahwa berbagai masyarakat nelayan ataupun masyarakat maritim pada umumnya. Kebudayaan santri sebagai kebudayaan baru yang sebenarnya muncul dari daerah pesisiran. Perkembangan ilmu. Dengan catatan ini. Konflik budaya tidak saja terjadi antara kebudayaan rakyat dengan budaya keraton. 29 . pandangan. yang sedikit atau banyak berbeda dengan komuniti lain yang sama-sama merupakan bagian dari suatu masyarakat luas yang sama.4 Pengembangan Sosial Budaya Maritim Subyek kajian maritim yang bersifat sosial-budaya adalah segala pemikiran. Komuniti dalam lingkungan alam-sosial budaya tertentu dapat mempunyai ciri-ciri yang khas. dari waktu ke waktu dapat memperoleh tantangan-tantangan yang berbeda. perilaku manusia. perkembangan keagamaan dan ideologi. Kebudayaan itu senantiasa berada dalam proses dan tegangan antara bertahan dan berubah.

Di antaranya.Pandangan dan penyikapan terhadap berbagai masyarakat etnik kelautan Indonesia perlu dibedakan atas dasar tujuan orang menghadapinya. Dalam hal ini perlu dilakukan pendampingan disertai pengkajian mengenai kesiapan mereka untuk berubah.dan semua itu menyangkut hubungan di darat maupun di laut. Di samping itu. Yang penting. sedangkan disisi lain terdapat tujuan pelestarian budaya yang dapat ditempuh dengan cara pemberdayaan maupun perangsangan perubahan. senantiasa harus menjadi tolok ukur utama. yang darinya kita bersama dapat memperoleh kearifan dan wawasan. Dalam hal ini manfaat bagi komuniti yang bersangkutan. lahir dan batin. Pencapaian-pencapaian budaya yang unggul dari masyarakat maritim tradisional kita dapat dibela dengan berbagai upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi dengan memanfaatkan ilmu-ilmu baru yang terkait. dan kesetaraan dengan komuniti-komuniti lain menjadi tolok ukur penyertaannya. Namun apabila ada segi-segi budaya yang dirasa tidak relevan lagi (seperti tiadanya kesempatan pendidikan umum bagi anak-anak nelayan) kiranya perlu dirancang suatu pengalihan cara hidup yang diterima oleh komuniti yang bersangkutan. Demikian pula daerah-daerah jelajah tradisional di laut dari komuniti-komuniti etnik yang berfokus maritim senantiasa dalam proses dinegosiasikan kembali dengan adanya ketentuan-ketentuan hukum nasional maupun internasional. Proses perubahanperubahan itu sendiri merupakan suatu subyek pengamatan. ditinjau dari segi lahiriah maupun batiniah. dan dapat dihayati sebagai sesuatu yang meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka. yaitu Republik Indonesia. 4. di dalam suatu kesatuan kenegaraan baru. eksistensi budaya bahari baik dalam bentuk tradisonal maupun dinamikanya hanya bisa dipahami dalam konteks eksternalnya. sedemikian rupa sehingga kebudayaan itu dapat lestari eksistensinya tanpa harus macet dan tak mampu menghadapi tantangan-tantangan baru. Tradisi dan dinamika budaya maritim dalam konteks eksternal dan modern. Di satu sisi ada tujuan ilmiah yang sasarannya adalah untuk memperoleh kebenaran-kebenaran ilmiah berupa data dan fakta mengenai peri kehidupan kelautan dalam segala aspek. hubungan persekutuan terbatas harus diubah menjadi terbuka. perubahan-perubahan itu harus terasa bergerak dari dalam komuniti itu sendiri. cara-cara hidup maupun teknologi tradisional yang menunjang kehidupan maritim di sana-sini perlu mendapat penyimakan kembali secara diperhadapkan dengan perkembangan ilmu dan tata ekonomi masa kini. proses menjadi bangsa Indonesia yang merupakan persatuan dari suku-suku bangsa yang terikat . Seperti halnya 30 .5 Pengembangan Teknologi dan Budaya Maritim Sebagaimana difahami bersama. hubungan perseteruan tradisional harus diubah menjadi hubungan saling memahami. mengharuskan adanya restrukturisasi hubunganhubungan lama ke dalam hubungan-hubungan baru.

Bajo dan Makassar dari Sulawesi Selatan tidak cukup hanya difahami dalam konteks sosial budaya lokal. vitalitas. Biota ini mulai dicari ketika kapal-kapal dagang Cina yang ramai berlabuh di Pelabuhan Kota Somba Opu (pusat kota Kerajaan Makassar yang jaya hingga abad ke17) di abad ke-17 mencari komoditi ekspor. pedagang dalam negeri dan dari negara tetangga terlibat dalam jaringan pasar komoditi tersebut mendorong adopsi inovasi perangkat alat selam berupa tangki/tabung gas yang digunakan oleh penyelam dari Pulau Sembilan sejak awal periode 1980-an. Pengetahuan dan praktek menyelam mencari tripang bagi mereka bukanlah fenomena baru. termasuk hasil-hasil laut seperti teripang. dan lainlain (Macknight. Meningkatnya jumlah konsumen. terbentuknya varisi baru dalam struktur kelompok kerja nelayan. juga sebagai bahan obat-obatan untuk kesehatan. sirip hiu. dan lain-lain. agar-agar. pengaktifan fungsi sarana tangkap tradisional dalam situasi modern. dengan pedagang Cina. lilin. nutrisi. hubungan-hubungan produksi (ke dalam dan ke luar) dan distribusi (termasuk aturan bagi hasil).prilaku penyelaman teripang oleh nelayan-nelayan Bugis. Korea dan Jepang. tembikar. RRC. Pedagang asing tersebut sebetulnya digerakkan oleh fungsi teripang yang konon bagi orang Cina di samping sebagai santapan enak. Hongkong. karena kenyataan lapangan memang menunjukkan fenomena yang demikian. Pada mulanya pengusaha Cina dari Makassar membawa langsung pelatih selam yang kemudian merekrut dua atau tiga pembantu lokal yang lebih dahulu terampil menggunakan perangkat alat selam modern tersebut. semua ini merupakan kontribusi awal dari hubungan dengan dunia luar. penyu. 1976. Taiwan. sarang burung walet. Pengenalan nelayan pada prilaku dan habitat teripang. porselin. Demikian juga pedagang Cina-lah yang mengajarkan sorting menurut tingkatan nilai tukar dari yang paling tinggi hingga yang rendah. 1987). namun kondisi permintaan pasarlah yang banyak menyumbang kepada pengayaan hingga mencapai tidak kurang dari 40 jenis teripang. dan menambah keperkasaan laki-laki (Akimichi. dan ditingkatkan lagi di awal periode 1990-an dengan mengganti tangki/tabung gas dengan kompresor. yang biasa ditukar langsung dengan barang-barang rongsokan: pakaian. Sutherland. melainkan fenomena lama yang bisa dilacak ke beberapa dekade bahkan beberapa abad ke belakang (backward in time) dan melacak jaringan perdagangannya ke luar (outward in space) hingga melampaui batas-batas negara ke pasar ekspor seperti Singapura. 1996). Meskipun digunakan nama-nama lokal terhadap spesis-spesis ini. tetapi juga dalam konteks eksternal. Seiring dengan proses adopsi sarana selam modern ialah modernisasi perahu-perahu nelayan dengan pemasangan motor tempel (outboard 31 . Pada mulanya nelayan tidak banyak tahu dan memperhatikan spesis teripang karena tidak bernilai. memperpanjang umur.

Dan Mulailah sejarah budaya tentang lobster dan ikan hidup (kerapu. transformasi struktural kelompok ponggawa-sawi. Sebaliknya terbentuknya berbagai strategi/taktik sebagian nelayan untuk mempertahankan aktivitas ilegalnya seperti membom dan membius atau berhentinya sebagian di antara mereka dari aktivitas ilegal tersebut dipengaruhi oleh aturan hukum 32 . lola) yang diambil dari kawasan taka-taka Pulau Sembilan. bahkan mengunjungi Australia di akhir tahun 1980-an hingga paruh pertama tahun 1990-an.motor). dan merosotnya secara drastis populasi teripang dari berbagai spesis dan kerang (mutiara. 1996). Motorisasi perahu dan adopsi gae (istilah Bugis) atau rengge (istilah Makassar) sejenis pukat apung raksasa (purse seine) yang merupakan teknik tangkap andalan untuk ikan pelagik (terutama layang) di Sulawesi Selatan sebetulnya diperkenalkan oleh dan melalui jalur promosi pemerintah di tahun 1970-an. juga karena ini dapat memperkuat status sosial konsumennya (Akimichi. sebagian terbesar nelayan penyelam kembali lagi ke Pulau Sembilan dan beralih ke usaha lobster dan ikan hidup. kemudian dilakukan peningkatan kapasitas muat perahu dengan peningkatan kekuatan mesin dipasang pada bagian dalam bodi perahu (inboard motor). Adopsi inovasi teknologi dan peningkatan kapasitas muat perahu yang berarti peningkatan skala investasi usaha berkonsekuensi pada terjadinya proses penetrasi kapitalisme. Demikianlah kedua faktor situasi pasar yang tetap membaik dan kondisi terkurasnya sumberdaya laut setempat pada akhirnya mendorong kelompok-kelompok penyelam dari Kambuno dan Kodingare terpaksa melakukan ekspansi area penangkapan (fishing gruonds) ke tempat-tempat lainnya di Sulawesi Selatan dan berbagai provinsi lainnya terutama di kawasan Timur Indonesia. Ketika komoditi lobster dan ikan hidup laku di pasar ekspor (Hongkong dan Singapura). napolen). Bagaimana kedua komoditi yang pada mulanya melimpah di taka-taka Pulau Sembilan karena tidak mempunyai nilai tukar dan hanya sedikit dimakan karena oleh sebagian besar penduduk pulau merasakan itu menjijikkan atau menganggap menyebabkan kebiasaan malas jika dimakan pada akhirnya hanya memerlukan sekitar tujuh tahun saja populasi spesisspesis ini merosot drastis karena sebagian terbesar nelayan setempat dan pendatang menangkapnya. Konteks birokrasi melalui pelaksanaan kebijakan pemerintah juga menyumbang kepada perubahan-perubahan keputusan dan prilaku nelayan melalui respons-respons ide dan sikap-sikap (menerima atau menolak). Pola makan baru di restoran-restoran Cina seperti ini di samping terkait pada nilai kenikmatan santapan. Meningkatnya permintaan lobster dan ikan hidup di pasar ekspor sebenarnya disebabkan oleh faktor terjadinya perubahan pola makan kelas konsumen elit di negara-negara pengimpor dari mengkonsumsi hasil laut dalam kondisi segar yang sudah dihidangkan di meja restoran Sea-food ke model baru di mana para pengunjung terlebih dahulu memancing ikan atau lobster hidup dari kolam-kolam penampungan lalu diolah dan disajikan para pelayan menurut selera pengunjung masing-masing. sunu.

Eksploitasi berbagai spesis laut untuk komoditi ekspor (seperti.330/DJ. terkecuali bagi usaha-usaha nelayan kecil (antara lain diatur dalam Amandemen Peraturan Dirjen Perikanan No. 33 . Kembalinya semua perahu nelayan cantram Galesong Utara (Takalar) akhir-akhir ini (akhir Desember 2002) dari Sinjai disebabkan oleh penolakan masyarakat nelayan setempat (didukung oleh pemerintah daerah setempat) terhadap penggunaan teknik (menyerupai pukat harimau mini) yang bisa dengan cepat menguras berbagai jenis biota laut dan merusak kondisi dasar. ikan (segar dan hidup). lobster (segar dan hidup) dimungkinkan oleh kerjasama dagang antar negara dengan penerbitan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP). peningkatan sumberdaya manusia dan keterampilan penduduk. kerang mata tujuh. Berbagai kebijakan pemerintah (tentang pelarangan atau pembangunan). budidaya teknik keramba.HK. merupakan bagian dari studi/praktek lapangan atau pengabdian masyarakat dilakukan oleh peneliti atau praktisi dari lembaga perguruan tinggi. kelestarian sosial budaya dan lingkungan fisik. Penjelasan prilaku dan poses dinamika sosial budaya komuniti-komuniti nelayan juga sedikit banyak dikontekskan pada kehadiran berbagai Ornop di sana. batu laga. ikan hias) di kawasan lindung seperti Pulau Kapoposang (Pangkep) dan Taman Nasional Taka Bonerate ialah usaha-saha penyadaran lingkungan dilakukan oleh LP3M dan WWF dengan penyebaran poster-poster jenis-jenis biota laut langka dilindungi dunia. rumput laut. menangkap ikan napoleon (untuk ukuran tertentu). tripang. dan wawasan global terutama melalui wacana berkembang dalam dunia Ornop sendiri. penyu. penetasan telur dan pembesaran bibit bandeng dan udang di Indonesia. termasuk di Sulawesi Selatan.8259/ 95. Periode 1990an merupakan periode mulainya keterlibatan secara meluas berbagai Ornop di desa-desa nelayan pantai dan pulau-pulau di Indonesia. kerang (mutiara. keramba penampungan ikan dan lobster hidup. telur ikan. Ikut berpengaruh pada berhentinya sebagian besar nelayan mengambil batu karang. isi dan formulasinya banyak mengacu kepada rekomendasi peneliti dari lembaga perguruan tinggi berdasarkan hasil penelitian ilmiah.7 1987. sirip hiu. tentang skala. termasuk Sulawesi Selatan. dan prosedure menangkap napoleon wrasse). penumbuhan jiwa demokrasi. lokasi. khususnya komuniti-komuniti nelayan. lola).I Sulawesi Selatan No. lembaga perguruan tinggi. biasanya meramu wawasannya dari masyarakat lokal. kima. tentang larangan pengambilan dan pengrusakan terumbu karang di sepanjang perairan pantai Sulawesi Selatan) dan cara-cara pengawasan oleh para penegak hukum di setiap wilayah tugasnya masing-masing. Demikian juga berbagai praktek ekonomi nelayan baru seperti budidaya rumput laut.(antara lain: Peraturan Pemerintah Daerah TK. Ornop dengan paradigma keberpihakan kepada kepentingan rakyat mengemban visi dan misi pokok pada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi. Oleh karena itu perguruan tinggi sebagai penggagas ide dan inovator teknologi merupakan konteks eksternal bagi proses dinamika sosial budaya masyarakat bahari.

namun dalam budaya bahari kebanyakan komuniti nelayan masih ada banyak unsur-unsur pengetahuan. Aturan penguasaan dan pemanfaatan sumberdaya laut secara terbuka (common property right/open use) juga menyebabkan suatu lokasi dieksploitasi secara bersamasama. pengelola bagang dan rumpon. demikian juga munculnya lembaga ponggawa-sawi di Sulawesi Selatan sebagai respons pelaut atau nelayan terhadap permintaan pasar global akan hasil-hasil laut komoditi ekspor sejak abad ke-13 atau 14 silam. pemukat. WWF dan LP3M mencoba menggalang sebagian masyarakat nelayan di beberapa desa pulau untuk terlibat dalam berbagai program kegiatan meliputi penyadaran lingkungan. dan sebagainya yang sudah berlangsung cukup lama. pelatihan keterampilan. pengguna bubu. pembentukan dan pengelolaan zona-zona perlindungan terumbu karang dan biota-biota langka berasosiasi karang. Ini dicontohkan pada praktek pemancing ikan-ikan campuran.Di Kawasan Taka Bonerate misalnya. jadi konteks penjelasannya internal. Misalnya kawasan taka Pulau Sembilan bukan hanya dieksploitasi oleh penduduk nelayan setempat. Pangkep. Demikian halnya jaringan pemasarannya hanya mencapai pasar dan konsumen regional. kelembagaan dan teknologi eksploitasi bertahan dan difungsikan. pembentukan kelembagaan. Sebetulnya lembaga asosiasi di Maluku muncul sebagai mekanisme masyarakat lokal merespons pasar global sejak ratusan tahun silam (Zerner. Meskipun telah terjadi modernisasi perikanan dan adanya pengaruh pasar globalisasi yang kuat. Hal mana juga dilakukan di kawasankawasan karang lainnya seperti Biak dan Maluku dengan keterlibatan LSM lokal. namun kepentingannya semata untuk pembangunan pemukiman penduduk lokal. antar pulau. Bulukumba Timur). namun konteks eksternalnya tidak melintasi batas-batas fisik dan sosial budaya jauh ke luar. bahkan lokal saja. namun asal mula dan proses kemunculannya hanya melintasi batas-batas daerah. Bahkan gagasan dan praktek menambang batu karang dan pasir di taka-taka oleh penduduk pulau-pulau di kawasan karang yang sudah berlangsung puluhan atau ratusan tahun lalu. etnis dan provinsi berdekatan. Bone. pulau. 2001). nelayan ikan hias dan pemburu penyu dari Bali di tahun 1990-an. Fenomena ini bisa ditunjukkan antara lain pada komuniti nelayan Liang-liang (Pulau Sembilan) yang tetap mempertahankan pengelolaan 34 . Luwu. pencari kerang mata tujuh dari Buton (Sultra) dan Palu di tahun 1990-an. Nasional dan Internasional (WWF) (Osseweijer. Hingga seberapa jauhkah ke belakang dan ke luar benangbenang pengaruh kontekstual perlu dilacak? Ternyata ada juga konteks historik dari prilaku eksploitasi sumberdaya laut yang perlu dilacak jauh ke belakang. dan penyelam tripang dari Madura sejak tahun 2000 hingga sekarang. Takalar. 1994). nelayan pulau-pulau dari Kodya Makassar. pandangan. penyelam tripang dan mutiara dari Selayar. tetapi juga oleh kelompok-kelompok nelayan desa-desa pantai Teluk Bone (Sinjai.

van Kampen) Linggis. Berbagai tipe perahu tradisional milik kelompok-kelompok etnis di Indonesia antara lain sebagai berikut: Pinisi Bugis P. perahu-perahu tradisional mulai dilengkapi dengan motor (motor tempel dan motor dalam) di awal tahun 1970-an. 1909) secara garis besar dikategori ke dalam: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Net (di Sulawesi Selatan: panjak. keseimbangan dan kecepatan. akhir 1980-an) Janggolan Madura Janggolan Bali Mayang Jawa Prahu jaring Madura Lisalis. sero/belle’) Alat tusuk (di Sulawesi Selatan: tombak. Konstruksi ini lebih mengutamakan fungsi daya muat. Leti-leti Jawa Nade Sumatra Jukung Jawa.N.pemanfaatan sumberdaya kawasan karang secara tradisional dan arif. Pinisi adalah salah satu tipe perahu Sulawesi Selatan yang konstruksinya memang bagus. Sebagian besar dari jenis-jenis pukat tersebut masih digunakan sebagian besar nelayan Jawa dan Madura hingga sekarang ini. Pajang saja mempunyai jenis (p.N. Patorani Makasar Lambo Mandar.kedo-kedo) Perangkap (di Sulawesi Selatan: Bubu. p.besar.krakat. sektor-sektor ekonomi perikanan dan usaha transportasi/pelayaran masih selalu merupakan sektor-sektor andalan yang bertahan dan berkembang dengan teknologi pelayaran dan penangkapan ikan tradisional dalam berbagai bentuk dan arsiteknya. Pangkur. p. namun mereka tetap mempertahankan sistem-sistem tradisionalnya.peperek. panambe) Pancing (di Sulawesi Selatan: p. kompresor (tidak tercantum dalam P. Teknologi penangkapan ikan di Indonesia (lihat P. Di Sulawesi Selatan. Lambo Buton Sandeq. p.N. Meskipun dikelilingi oleh kelompokkelompok nelayan pengguna bahan peledak dan bius. bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Nusantara ini.bhanton). Salah satu ciri khas perahu Jawa dan Bali ialah penuh dengan ukiran dan gambargambar binatang menggunakan kombinasi warna mengandung berbagai makna simbolik. p. namun kurang dari segi ukiran dan motif-motif gambar bermakna. pattek. p.rintak. gae. menangkap/memungut dengan tangan (tidak tercantum dalam karangan P. Bago Mandar Bagan Bugis Jolloro (tipe terbaru. p. Golekan. p.dedang.van Kampen. bius) Alat selam: tabung. p. para pengusaha dan agen eksportir dengan mana tangkapan ikan dan lobster hidup dijual.labuh. 35 .arad. parang. Teknologi kemaritiman. nelayan Jawa dan Madura cukup kaya dengan alat tangkap pukat. lanra.tonda. ladung) Teknik lainnya (di berbagai tempat: bahan peledak. Secara kolektif mereka tetap mempertahankan lokasi-lokasi dan sarang-sarang ikan yang dimiliki sejak dahulu dan tetap menggunakan pancing labuh. p.van Kampen.kopek.

Kategori keempat yang menyatakan bahwa laut dipandang sebagai daerah strategik politik bagi penguasaan sumber-sumber kesejahteraan dan kekuasaan. dan tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber-sumber laut. Prinsip mare liberium itu juga pada dasarnya di pengaruhi oleh pandangan yang menempatkan wilayah laut dan lautan adalah kawasan yang penuh tantangan dan maut. setidaknya dapat diklasifikasi kedudukan laut dalam empat kategori. Keempat.4. laut merupakan tapal batas wilayah kekuasaan. Setiap orang dapat dengan bebas menggunakan kawasan laut. Dalam perkembangan kemudian. Prinsip mare liberium ini pada gilirannya mempengaruhi tatanan masyarakat yang menginginkan pembebasan diri dari kehidupan pemerintahan yang bersifat otoriter dan mengeksploitasi penduduknya. laut sebagai infrastruktur. laut adalah kawasan yang menyediakan sumber kehidupan. turun ke laut dan menjadikan laut sebagai kawasan pemukiman mereka. Pertama. Secara historis. Ketiga. ketika kegiatan perdagangan maritim berkembang yang diikuti dengan usaha mencari produksi-produksi primadona dalam dunia perdagangan. kawasan jalur lalulintas pelayaran yang menghubungkan antar daerah dan pulau. Pengaturan atas wilayah laut itu dikenal dengan konsep mare clausum atau laut tertutup.6 Masyarakat Suku laut dan Otonomi daerah Kawasan laut dipandang sebagai kawasan yang bebas. tercatat bahwa usaha untuk memilah wilayah laut mulai terjadi ketika dicapainya perjanjian tordesilas pada tahun 1492. 36 . kelompok yang memandang kawasan laut sebagai daerah pemukiman. Prinsip mare clausum itu diikuti pula dengan konsep monopoli (berdagang sendiri) yang berkembang pada periode awal perkembangan perdagangan maritim. Dalam banyak hal prinsip-prinsip mare liberium dan mare clausum dalam perkembangannya menunjukkan pada penguatan pandangan laut sebagai strategi politik. keinginan untuk menguasai laut terjadi. Pandangan demikian itu kemudian dikonsepsikan dengan istilah “mare liberium” atau laut bebas. Gelombang yang dahsyat dan arus laut yang menghanyutkan merupakan ancaman malapetaka bagi setiap orang yang pergi ke laut. maupun dijadikan infrastruktur pelayaran maritim. yang berkaitan dengan pemguasaan komoditi dagang tertentu. Dalam memandang kedudukan kawasan laut. karena tidak seorangpun yang memilikinya dan menguasainya. Kedua. Dalam perjanjian itu dinyatakan bahwa kerajaan portugis memperoleh kekuasaan atas wilayah perairan dari eropa ke arah timur. sementara kerajaan Spanyol ke arah barat.

UU No. oleh karena terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. dan hal inilah yang mendorong mereka mengembara di perairan untuk mendapatkan tempat bagi kegiatan kerja mereka. 22 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No. Kegiatan masyarakat marine (masyarakat suku laut) bergantung pada kondisi angin muson dan pasang surut air laut.Masyarakat suku laut mata pencaharian utama mereka adalah nelayan. mengumpulkan dan memperdagangkan produksi ikan laut. mencari. Implikasi dari terbatasnya ruang gerak masyarakat suku laut tersebut mendorong mereka untuk melakukan eksodus ke negara lain atau senantiasa melakukan “pelanggaran” perairan antar daerah. Kondisi muson dan pasang surut laut yang mempengaruhi kegiatan usaha masyarakat suku laut ini memberikan gambaran kepada kita bahwa waktu kerja mereka sangat singkat. Kegiatan pengembaraan mereka di laut mengalami pembatasan. dengan demikian pada gilirannya dapat memudarkan kegiatan suku laut dan juga nelayan di wilayah kabupaten dan kota. 32 tahun 2004 diberlakukan. Mereka masih berpeluang mengembara di perairan wilayah nusantara. Sebelum UU No. 37 . Tampaknya UU tersebut cenderung berpegang pada prinsip mare clausum. kehidupan suku laut dan nelayan masih cukup lapang. sehubungan dengan pengaturan wilayah laut dan pembatasan ke wilayah perairan pemerintahan lain. 32 tahun 2004 mengatur tentang kewenangan daerah dalam mengatur wilayah perairan laut.

Pemerintah Indonesia wajib membentuk satu lembaga yang memegang otoritas maritim. Bertitik-tolak dari pengertian ini maka kebijakan kelautan harus mendudukan perairan laut sebagai unsur pemersatu bangsa. Hasil pemetaan berisi informasi tentang titik koordinat batas wilayah dengan negara tetangga. Dalam otoritas maritim. yang menyatukan seluruh pulau-pulau di wilayah nusantara. sedangkan kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara politik menjadi tujuan pendukungnya. pulau-pulau kecil. pulau buatan. dan fasilitas keselamatan maritim. pemeliharaan dan pelestarian lingkungan laut.BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya terdiri dari lautan dan memiliki ribuan pulau. Lembaga yang memegang otoritas maritim wajib mengambil tindakan kepada pelanggaran garis batas wilayah laut sesuai ketentuan yang berlaku. Wilayah laut meliputi dua per tiga wilayah Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81. Untuk penetapan garis batas wilayah laut Indonesia dengan negara tetangga ditetapkan oleh ke dua negara melalui perjanjian bersama dan Pemerintah Indonesia menugaskan institusi tertentu yang berwenang melakukan ketetapan garis batas wilayah laut dengan negara tetangga. Pemetaan wilayah laut ditugaskan kepada lembaga hidrografi. Dengan demikian pertanyaan yang timbul adalah dimanakah kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal di tempatkan? Kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal tentunya harus diperhatikan dan dijadikan pertimbangan penting dalam proses perumusan kebijakan nasional kemaritiman. Dan dalam pemetaan wilayah laut dilakukan setiap kali ada perubahan kontur pantai. sarana bantu navigasi. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. Hasil pemetaan berisi tentang kekayaan sumber daya alam hayati dan nir hayati. Pemetaan kawasan laut dilakukan untuk kepentingan pembangunan di laut. pelabuhan dan setiap perubahan alur pelayaran dan hasil pemetaan ini dilaporkan ke Organisasi Maritim Internasional (IMO). Sekalipun 38 . juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya.000 Km terpanjang ke dua di dunia dan sumberdaya alam hayati dan nir hayati yang dapat dimanfaatkan untuk menambah devisa negara dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam konteks ketatanegaraan yang lazim dan universal maka kepentingan nasional ditempatkan sebagai tujuan utama.

tetapi dapat menjadi unsur pemersatu berbagai kepentingan daerah dan menjamin rezim wilayah negara kepuluan sebagaimana diamanatkan dalam UNCLOS 1982. Jamaika.1 Upaya untuk mendapat pengakuan internasional atas Prinsip Negara Kepulauan seperti yang dinyatakan Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957 merupakan perjuangan yang berat dan panjang. 5. Pada tahun 1957 bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk merebut kembali Irian barat (sekarang Papua) dari penjajahan Belanda. Namun dengan perjuangan yang gigih di forum-forum PBB maupun forum-forum internasional yang lain. d. tentunya harus dapat menterjemahkan pengertian Maritim Indonesia sebagaimana dijelaskan sebelumnya. secara ekonomi dapat mengakomodasi berbagai kepentingan kegiatan ekonomi bahari seperti perdagangan antar negara dan antar wilayah. terutama dalam hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga. Kriteria dari kawasan maritim. Ketika Deklarasi Djuanda itu diumumkan hampir semua negara besar yang berkepentingan dengan jalan laut melalui Indonesia menolak. 119 negara menandatangani United National Convetion on the Law of the Sea (UNCLOS). Kawasan Maritim harus dapat mencerminkan kepentingan-kepentingan politik. Adalah merupakan kenyataan yang pahit bahwa kapal-kapal perang Belanda yang dikirim untuk meperkuat pertahanan Belanda di Irian Barat berlayar dengan bebas melalui Selat Malaka – Laut Jawa – Laut Flores – Laut Banda dan sampai ke Irian Barat. c. watershed dan sistem wilayah perikanan. akhirnya perjuangan itu membawa hasil. Dimensi Wilayah Maritim b. sehingga kapal-kapal perang asing tidak bebas lagi melintasinya. ekonomi dan sosial dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ekosistem suatu negara kepulauan. Kriteria Kawasan Maritim. pariwisata bahari dan pengembangan pusat-pusat perekonomian regional dan kawasan produksinya. seperti konsep bioregion. 39 . maka pencapaian tujuan utama akan menjadi sangat berat dan rapuh. dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu : a. Itulah sebabnya Pemerintah Indonesia kemudian menyatakan bahwa semua laut di antara pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke itu adalah wilayah kedaulatan mutlak Indonesia. secara politik tidak dibatasi oleh sistem administrasi wilayah. secara ekosistem dapat secara optimal mengakomodasikan corak ragam ekosistem kepulauan.demikian tetap disadari bahwa tanpa terpenuhinya kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara optimal. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal perihal ketentuan tentang Prinsip Negara Kepulauan. secara sosial dapat mencerminkan keragaman etnis tetapi tetap dalam bingkai prinsip ” bhineka tunggal ika” . transportasi antar moda.

UNCLOS 1982 lebih menekankan kepada sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi Negara Kepulauan. Laut cenderung tidak lagi dipandang sebagai pemersatu wilayah. maka semua ketentuan terdahulu yang bertentangan dengan UNCLOS 1982 hanya menjadi dokumen sejarah. 5. juga memperhatikan kepentingan perikanan negara lain. adanya wilayah dalam suatu negara ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Esensi dari prinsip Negara Kepulauan dalam perspektif kewilayahan sesuai UNCLOS 1982 adalah diberikannya hak kepada Negara Kepulauan untuk menarik garis pangkal batas laut wilayahnya dengan menarik garis lurus dari titik-titik terluar dan menyatakan perairan di dalam lingkaran garis pangkal itu sebagai Perairan Kepulauan. baik yang berjangka pendek maupun berjangka panjang. Sejauh ini Pemetintah Indonesia bertindak sangat lambat. bahkan beberapa kebijaksanaan yang dilahirkan kemudian. Selanjutnya Pemerintah Indonesia harus menyiapkan program implementasi UNCLOS 1982 secara sistematis. yaitu rakyat dan pemerintah. Oleh karena itu Perairan Kepulauan adalah satu wilayah laut yang utuh. terutama negara tetangga. Suatu negara yang mempunyai sistem pemerintahan negara yang beberapa kewenangannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah.Namun berbeda dengan Deklarasi Djuanda 1957 yang menyatakan bahwa seluruh laut di antara dan sekeliling pulau-pulau itu merupakan wilayah kedaulatan mutlak seperti halnya wilayah darat. wilayah 40 . baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah masih mengabaikan ketentuan UNCLOS 1982. antara lain menetapkan sejumlah Alur Laut Kepulauan atau Archipelagic Sealanes. dimana kapal perang negara manapun setiap waktu dapat melintas tanpa hambatan. Transit Passage. selain itu akan menimbulkan biaya tinggi dalam usaha perdagangan antar pulau. 17 Tahun 1985 yang meratifikasi UNCLOS 1982. sehingga jika kondisi demikian tetap diberikan akan menimbulkan kerawanan terhadap konflik antar daerah dalam pengelolaan sumberdaya seperti perikanan. menjamin Innocent Passage. yang dikuatirkan justru menggugurkan hak penerapan Prinsip Negara Kepulauan. dan tidak tumpang tindih dengan hukum-hukum lokal. yang mempersatukan seluruh pulau dalam administrasi kedaulatan Negara Kepulauan itu sebagai satu kesatuan wilayah dengan persyaratan tertentu. Oleh karena itu. tetapi kepanjangan wilayah kekuasaan daerah. selain dari dua unsur lainnya. Dalam seluruh Perairan Kepulauan hanya berlaku satu rezim hukum nasional yang tunduk kepada ketentuan UNCLOS 1982. seperti dalam menetapkan wilayah laut daerah-daerah dalam rangka otonomi daerah.2 Batas Wilayah Maritim dan Pulau-Pulau Terluar Wilayah adalah salah satu unsur utama. Ketika Pemerintah Indonesia mensahkan Undang-Undang No. pertambangan dan pariwisata. dan Straits for Internasional Navigation.

sehingga mempunyai wewenang untuk mengelola daerah kedaulatannya yang punya batas. dalam Bab IX A tentang Wilayah Negara pada Pasal 25A tercantum Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri 41 . Termasuk kewenangan ini ruang udara di atasnya. Oleh karena itu. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa sebagai kesatuan wilayah hal ini sangat merugikan bangsa Indonesia sehingga pada tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh Ir. Dalam UUD 1945 tidak secara implisit mengatur pasal mengenai “Wilayah Negara Republik Indonesia”. Tanggal 13 Desember 1957 ini kemudian menjadi tonggak sejarah Kelautan Indonesia yang kemudian dikenal dengan Wawasan Nusantara. yaitu Teriroriale Zeen en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). serta semua sumber daya maritim baik yang hidup maupun yang tidak. Upaya mencantumkan Wilayah Negara Republik Indonesia dalam UUD 1945 diawali dari perubahan kedua dan terus berlanjut sampai pada perubahan keempat UUD 1945. Namun demikian. Djuanda mengeluarkan pengumuman pemerintah yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda yang menyatakan bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State). Maka. Ini berarti kapal asing dengan leluasa dapat melayari laut yang mengelilingi atau yang memisahkan pulau-pulau tersebut. wilayah negara Republik Indonesia mempunyai cakupan wilayah Hindia Belanda. pulau-pulau di wilayah ini dipisahkan oleh laut di sekelilingnya. Pemerintah Indonesia meratifikasi Hukla 1982 dengan Undang-undang No. Pada dasarnya konsep deklarasi ini menyatakan bahwa semua laut/perairan di antara pulau-pulau Indonesia tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena laut antarpulau merupakan penghubung dan menjadi satu kesatuan dengan pulau-pulau tersebut. wilayah negara Republik Indonesia merupakan wilayah yang mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939. bangsa Indonesia mengenai hukum laut internasional tercantum dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang dikenal dengan United Nations Convension on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ketiga tahun 1982 yang selanjutnya disebut Hukum Laut (Hukla) 1982.pemerintahan daerah juga ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pada umumnya kita sepakat bahwa ketika para pendiri negara ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia patut berbangga karena melalui Deklarasi Djuanda tersebut. Indonesia. dasar laut (sea bed) dan tanah di bawah dasar laut (sub soil).2 mil dari garis pantai pulau-pulau terluar. Batas wilayah negara Indonesia adalah 1. Dalam ordonansi ini setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. 17 Tahun 1985.

Batas laut teritorial diukur berdasarkan garis pangkal yang menghubungkan titik-titik dasar bertempat di pantai terluar dari pulau-pulau terluar wilayah NKRI. dan wewenang di dalam batas teritorial wilayah laut NKRI akan berbeda dengan hak-hak dan wewenang di luar batas teritorial. batas teritorial antar dua negara tersebut adalah garis median. Selanjutnya dalam pasal tersebut dinyatakan “dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang”. kewajiban.Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang. sangat diperlukan informasi kewilayahan NKRI seperti informasi pulau-pulau terluar beserta nama-namanya. Benua Asia dan Australia. Batas dan hak wilayah laut menurut Hukla 1982. batas landas kontinen (continental shelf). Hak-hak. sedangkan garis pantai didefinisikan sebagai muka laut terendah. Indonesia harus mengkaji dan menetapkan antara lain batas laut teritorial. seperti belum tercantumnya wilayah negara. Oleh karena itu. Setelah tujuh tahun bangsa hidup dalam penataan negara secara normal. Dapat dipahami bahwa UUD 1945 (asli) yang dikeluarkan setelah proklamasi kemerdekaan belumlah sempurna. Jadi. batas zona ekonomi eksklusif (ZEE). Jika dua negara bertetangga punya jarak antara garis pantainya kurang dari 24 mil laut. tetapi terletak di dalam batas ZEE dan batas landas kontinen. “Negara kepulauan berciri Nusantara” punya arti bahwa negara kepulauan yang dimaksud terletak di antara dua benua dan dua samudra. Berdasarkan Hukla. batas laut teritorial sejauh maksimum 12 mil laut dari garis pantai. maka penetapan batas di wilayah laut mengacu kepada UNCLOS 82/HUKLA 82 yang telah diratifikasi dengan UU No. Garis median yaitu garis yang punya jarak yang sama (equidistance) dengan garis pantai dari negara bertetangga tersebut. Untuk mendukung hal itu. yang dimaksud dengan panjang 1 mil laut sama dengan 1852 meter. pernyataan “sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dan berbentuk negara kesatuan dan republik” sudah menunjukkan di mana lokasi geografis negara kesatuan yang berbentuk republik itu yang lengkapnya disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. karena NKRI merupakan negara kepulauan. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa NKRI yang merupakan negara kepulauan wajib menetapkan batas teritorial wilayahnya baik wilayah darat dan laut. serta Samudra Hindia dan Pasifik. 42 . batas zona tambahan (contiguous zone). Sementara itu. dalam penetapan batas sangat diperlukan keterpaduan aspek teknis dan legal. Kira-kira lima tahun bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan sehingga tahun 1950 mulailah bangsa Indonesia menata negara dengan sistem pemerintahan yang disepakati pada waktu itu. 17 Tahun 1985. Jadi. Dalam wilayah laut teritorial berlaku hakhak dan kewajiban dalam wilayah kedaulatan NKRI. Pengukuran ini merupakan aspek teknis yang dilakukan oleh tenaga ahli geodesi yang mengerti tentang aspek legal dari penetapan batas.

PP No.9 ha) tidak termasuk daftar pulau terluar. Dengan keluarnya keputusan Mahkamah Internasional tentang kasus Sipadan dan Ligitan. Pada tanggal 16 Juni 1998 dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Pada tanggal 8 Agustus 1996 diterbitkan UU No. sejajar. Dalam PP No. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. 7. 4/PRP/1960.4 ha) dan Ligitan (kl. Dalam UU ini dicantumkan koordinat geografis titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar di wilayah negara. 4/PRP/1960. 17 Tahun 1985 dan menyatakan bahwa UU No. 61 Tahun 1998 ini adalah upaya bangsa Indonesia menutup kantong Natuna yang masih terdapat dalam UU No. 38/2002 ini dicantumkan titik pangkal di Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan.berdampingan. 61 Tahun 1998 tentang Koordinat Geografis Titik Dasar Kepulauan di Laut Nusantara. Pada tanggal 15 Februari 2003 forum ini menyelenggarakan Diskusi Panel bertema “Reaktualisasi Wawasan Nusantara Dalam Perspektif Kesatuan Wilayah Negara Republik Indonesia” di Unpad. secara legal. 38/2002 ini perlu dicabut dan segera diganti dengan yang baru. 6 Tahun 1996 ini. wilayah negara menjadi tidak jelas. Deklarasi Djuanda diratifikasi melalui UU No. 4/PRP/1960 tentang Perairan tidak berlaku lagi. Jadi. Pada tanggal 28 Juni 2002 keluar PP No. Setelah 48 tahun Deklarasi Djuanda itu dikumandangkan sudah sejauh mana Indonesia dapat menyelesaikan batas-batas di laut terutama batas laut teritorial ?. Pulau-pulau Sipadan (kl. 4/ PRP/1960 masih berlaku. Daftar koordinat titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar tidak tercantum dalam UU No. 43 . 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. PP No. Dinamika penetapan batas wilayah negara perlu kita simak. Dengan menganggap bahwa semua titik pangkal lengkap dengan koordinat geografisnya yang tercantum pada Undang-undang No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia yang isinya sangat umum. Dengan inisiatif para pakar penetapan batas dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dari aspek legal dan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dari aspek teknis pada awal tahun 2003 dibentuk Forum Kajian Kewilayahan NKRI. 10. artinya semangat Deklarasi Djuanda yang menjiwai UU No. Hal lain mengenai wilayah negara tercantum pada UUD 1945 pada perubahan kedua UUD 1945 Bab IX A pasal 25E yang ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR tahun 2000 yang kemudian berubah menjadi pasal 25 A pada perubahan keempat UUD 1945 yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 yang bunyinya sudah disampaikan di awal tulisan ini. yaitu pada tanggal 13 Desember 1957. dan sama tinggi dengan negara-negara lain barulah satu tonggak sejarah tentang wilayah negara diumumkan. yaitu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Hukla 82 (yang telah diratifikasi dengan UU No.

Realisasi. TNI. yang masih harus diperjuangkan untuk diterima oleh dunia internasional dan yang akhirnya diterima dunia internasional dengan Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS . Bakosurtanal. 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia telah mencabut UU No.4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia maka untuk pertama kali diproklamasikan wilayah kedaulatan NKRI. Pertemuan yang diselenggarakan di Unpad dan ITB pada awal dan akhir tahun 2003 ini menyatakan perlunya kejelasan dalam masalah kelembagaan dalam penetapan batas wilayah negara. dan Permasalahan Penataan Batas Maritim Indonesia dengan Negara Tetangga. disertai satu konsep dasar klaim wilayah perairan. yang hasil kajiannya adalah satu konsep Wawasan Nusantara. Semoga dengan tetap dalam semangat Deklarasi Djuanda penetapan batas-batas maritim kepulauan Indonesia segera terselesaikan. Undang-undang No. 17 Tahun 1985. untuk dapat menetapkan batas wilayah kedaulatan itu. Diperlukan waktu dan kondisi yang memadai untuk dapat mengkaji secara cermat berbagai aspek kewilayahan satu negara. Proklamasi Kedaulatan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 belum mencakup proklamasi Wilayah Kedaulatan Negara RI itu. dan departemen lainnya yang terkait. Penetapan batas wilayah negara adalah kerja sama antara Departeman Dalam Negeri. Departemen Pertahanan. juga merupakan proklamasi kedaulatan atas pulau-pulau terluar yang dilingkupi oleh garis batas laut territorial dan khususnya garis-garis pangkal territorial (territorial baselines). Undang-Undang ini telah didepositkan ke PBB dan diketahui dunia internasional selama 42 tahun tanpa ada yang mempersengketakan kedaulatan Indonesia atas pulau-pulau terluar itu. Agak disayangkan bahwa pada pencabutan itu tidak ditegaskan secara eksplisit bahwa walaupun rezim hukum atas perairan disesuaikan denga UNCLOS 44 . Perlu sekali diperhatikan bahwa UndangUndang ini selain merupakan proklamasi wilayah perairan Indonesia. dan merupakan dasar hukum yang kuat hal kedaulatan atas pulau-pulau terluar itu. 4/Prp Tahun 1960 karena tidak sesuai lagi dengan rezim hukum Negara Kepulauan sebagaimana diatur dalam UNCLOS. yang menghubungkan titik-titik terluar dari pula-pulau terluar. Dengan Undang-Undang No. satu konsep yang baru. yang telah disahkan Indonesia dengan UU No.Sebagai lanjutannya pada tanggal 15 Desember 2003.III). Kasus Batas RI-Singapura” yang penyelengaraannya berdasarkan kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) ITB dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). dalam rangka 46 tahun Deklarasi Djuanda diselenggarakan workshop dengan tema “Status. kecuali Sipadan dan Ligitan pada waktu itu. khususnya negara baru RI dengan tatanan geografis yang khas. Dengan Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah mendeklarasikan bahwa Republik Indonesia adalah satu Negara Kepulauan.

Ini merupakan dasar hukum yang terkuat. tidak termasuk TimorTimur. yang masih memasukkan pulau Sipadan dan Ligitan dalam kedaulatan Indonesia. secara khusus pulau-pulau terluar lainnya. 38 tahun 2002 kemudian menetapkan garis pangkal territorial yang baru. Penetapan Batas Wilayah Yurisdiksi Negara merupakan kebutuhan ynag mutlak harus ditentukan agar segala kegiatan yang akan dilaksanakan di dalam wilayah tersebut dapat diterima oleh lingkungan Regional maupun Internasional baik secara Yuridis maupun secara faktual. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1996 dan konsisten dengan klaim kedaulatan atasnya yang telah diperjuangkan selama lebih dari 30 tahun. yang masih dimungkinkan oleh ketetapan UNCLOS.17 tahun 1985 dan Konvensi 45 .namun itu tidak mengganggu kedaulatan atas pulau-pulau terluar dan bahkan ditetapkan garis pangkal yang baru dan disesuaikan dengan yang dimungkinkan oleh UNCLOS. Yang menonjol adalah bahwa pada peta lampiran UU No. Pelaksanaan kegiatan serta perwujudan sasaran dari Pembangunan Nasional di laut tersebut tidak terlepas dari kebutuhan akan data dan informasi kelautan yang akan merupakan bekal awal dalam tahap perencanaan serta pendukung dalam pelaksanaannya. pertama kali Pemerintah Indonesia mengklaim kedaulatan atas kedua pulau itu di tahun 1969. 4/ Prp tahun 1960. 38 Tahun 2002 penarikan garis-garis pangkal ditata kembali sehingga dapat diperoleh laut wilayah dan wilayah yurisdiksi nasional atas laut yang seluas mungkin. yang langsung disengketakan oleh Malaysia. Pembangunan Nasional Sektor Kelautan telah dicanangkan dalam GBHN 1993 untuk diarahkan kepada pemanfaatan Wilayah Laut Nasional termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen disamping untuk mendukung penegakan Kedaulatan Yurisdiksi Nasional di laut serta dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara. Hukum Laut Intenasional tahun 1982 (UNCLOS-82) telah menentukan hak dan kewajiban negara kepulauan. kecuali Sipadan dan Ligitan. namun telah diserahkan ke Mahkamah Internasional (ICJ) untuk memutuskan hal kasus sengketa itu. selama 42 tahun tidak ada negara lain yang mempersengketakan proklamasi wilayah kedaulatan yang ditetapkan denga UU No. dimana Republik Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut dengan Undang-Undang No. Dengan PP No. 6 Tahun 1996 untuk penggambaran batas perairan laut wilayah jelas diperhitungkan ’klaim’ kedaulatan atas pulau-pulau Sipadan dan Ligitan. Perlu diperhatikan bahwa khusus untuk pulau Sipadan dan Ligitan. walaupun kedaulatan atas kedua pulau tidak pernah secara eksplisit tertuang dalam peraturan perundang-undangan. kiranya jelas bahwa. Juga Timor Timur masih dimasukkan dalam peta lampiran itu sebagai satu bagian dari NKRI. dan kiranya ini masih konsisten dengan peta lampiran UU No. Apakah ini perlu dikoreksi dengan undang-undang? Hal kontroversi status pulau-pulau terluar.

Peta ALKI mempunyai spesifikasi tersendiri sesuai standard bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Batas Landas Kontinen dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Indonesia berkewajiban memberikan akomodasi pelayaran bagi kapal-kapal asing atau hak lintas alur kepulauan (UNCLOS-82). Ketentuan dari UNCLOS’ 82 mewajibkan deposito dari daftar koordinat geografis atau peta-peta pendukung klaim Indonesia di atas. Setiap kawasan didefinisikan dan dideliniasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu. Untuk dapat membangun suatu negara maritim. Garis Pangkal.3 Tipologi Kawasan Maritim Di Indonesia dikenal beberapa tipologi kawasan. satu tahun setelah ALKI diakui oleh dunia internasional. Hal ini mewajibkan Indonesia untuk memenuhi semua ketentuan konvensi tersebut. Oleh karena itu terminologi suatu kawasan harus dilihat dalam suatu konteks dan konsep pemanfaatan tertentu. yang menjadi dasar dari pembentukan perangkat sistem pemerintahan ”ocean governance” pemerintahan yang berbasis kemaritiman untuk suatu kepentingan yang masuk dalam tataran perumusan kebijakan yang strategis. ekonomi. yang satu dan lainnya berbeda untuk konsep yang berbeda. harus sudah tersedia bulan September 1999.diberlakukan efektif sejak 16 November 1994. salah satu strategi yang harus didorong dan dikembangkan adalah tumbuhnya pemahaman tentang visi maritim nusantara. Sekalipun disadari bahwa untuk tataran operasioanal berbagai kebijakan strategis ini kemudian perlu dijabarkan lagi ke dalam sistem pemerintahan yang berjalan sebagaimana yang berlaku sekarang yaitu dalam sistem tata pemerintahan pusat dan daerah. 46 . Sebagai Negara Kepulauan. KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu). Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Telah lama pula kita kenal istilah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akan berlaku efektif 16 November 2004. antara lain kawasan transmigrasi. kawasan wilayah perikanan dan yang terbaru dikenal dengan kawasan bio-region. sosial dan ekosistem suatu negara kepuluan. Kawasan maritim sebagaimana dijelaskan dalam kriteria di atas merupakan komposit dari berbagai pendekatan kewilayahan yang memperhatikan unsur politik. kawasan pariwisata bahari. Batas Laut Teritorial dan Zona Tambahan. 5. Keterkaitan antara Kegiatan Pemetaan Sumberdaya Kelautan dengan UNCLOS-82 adalah menyangkut penentuan Titik Pangkal.

Indonesia dapat memperoleh manfaat yang besar dari sumberdaya yang terdapat di dalamnya. Dengan wilayah laut yang sangat luas. pemanfaatan dan pengelolaan laut yang menyangkut banyak aspek memerlukan pendekatan kebijakan yang terpadu. akhirnya rejim negara kepulauan diterima oleh negara-negara peserta konferensi dan kemudian diatur dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea –UNCLOS). 3. Dalam kenyataan selama ini. 5. Tahun 1960. Masih banyaknya sumber daya manusia kepelautan yang tidak memiliki kualifikasi sesuai standar International Maritime Organization (IMO). visi sektoral 47 . Berangkat dari pemikiran yang tertuang dalam Deklarasi Djuanda 1957 dan Undang-undang No. Sayangnya. Penetapan batas-batas wilayah laut dengan beberapa negara tetangga yang masih belum rampung. Pemanfaatan sumber daya kelautan seringkali menghadapi berbagai permasalahan yang tidak terakomodasi secara efektif dalam agenda pembangunan nasional. Konflik penggunaan ruang dan masalah pencemaran lingkungan laut. Masih tertinggalnya industri perikanan Indonesia. Industri pelayaran niaga yang sebagian besar masih dilayani oleh perusahaan dan kapal berbendera asing. Indonesia mengajukan konsep mengenai rejim negara kepulauan dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. 4.4 / Prp.BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT Usaha Pemerintah Indonesia untuk mengelola potensi maritim dilakukan melalui pengajuan konsep Negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Khususnya dalam hal pengaturan kebijakan. misalnya. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar seharusnya dapat lebih membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun potensinya sebagai negara maritim besar. kebijakan di bidang kelautan yang dilakukan oleh pemerintah masih didominasi oleh pendekatan yang cenderung bersifat sektoral dan terkadang bertentangan dengan kepentingan yang bersifat umum sehingga menimbulkan berbagai kebijakan yang bertentangan. Indonesiapun akhirnya mendapat pengakuan sebagai salah satu negara kepulauan berdasarkan Konvensi tersebut. Setelah melalui proses perdebatan yang panjang. 2. Dalam konteks wilayah pesisir. Berbagai permasalahan tersebut antara lain: 1. fokus pembangunan nasional selama ini lebih bertumpu pada pembangunan di wilayah darat dan telah menjadikan potensi sumber daya kelautan Indonesia tidak terkelola secara optimal.

penyaluran energi. lalu lintas pelayaran. 6. Oleh karena itu. padahal tidak ada orang yang bisa mencuri atau menduduki laut? Ada empat properti laut yang menjadikannya penting untuk diperebutkan sepanjang masa. ketiga kekayaan alam yang dikandungnya dan keempat sosial-budaya kehidupan masyarakat bahari. Lokasi laut 48 . Mengapa laut menjadi penting dalam hidup manusia dan mengapa orang mencintai laut? Mengapa setiap negara harus mengawal lautnya. dan hal tersebut dapat dimulai dengan menumbuhkan wawasan maritim di tingkat masyarakat. telah dan akan melahirkan ketidakpastian hukum bagi semua kalangan yang berkaitan dan berkepentingan dengan wilayan pesisir (stakeholders). Alam laut memiliki ciri khas. Pembangunan di bidang kelautan tidak mendapat prioritas utama dalam pembangunan nasional yang pada akhirnya berimbas pada memudarnya budaya maritim yang seharusnya menjadi bagian dari budaya nasional. dan memupuk budaya maritim sejak dini melalui sistem pendidikan nasional yang berwawasan maritim. Pengaturan pengelolaan wilayah pesisir yang demikian ini.1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia Laut dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. memajukan pengembangan keterampilan sumber daya manusia di bidang teknologi kelautan. Setiap pemanfaatan laut harus memperhatikan dan menjaga keterpaduan dan keserasian serta mencegah pencemaran dan pengrusakan lingkungan laut. yaitu pertama lokasinya. ada kecenderungan daerah akan membuat peraturan-peraturan daerah berdasarkan kepentingan daerahnya masing-masing. telah mendorong departemen-departemen atau instansi teknis berlomba-lomba membuat peraturan perundang-undangan untuk mengelola sumber daya alam atau jasa-jasa lingkungan pesisir sesuai dengan kepentingannya masing-masing yang bermuara pada peningkatan pendapatan asli daerahnya. Hal penting lainnya adalah bagaimana membangkitkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. pertahanan negara. telekomunikasi. Sejarah telah menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia sempat dikenal sebagai bangsa maritim yang tangguh melalui kejayaan kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu seperti Majapahit dan Sriwijaya. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya memperbaiki keadaan sumber daya manusia di bidang kelautan yang selama ini cenderung tidak mendapat perhatian yang layak.pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir. kedua fungsinya. Namun tampaknya dominasi Indonesia sebagai negara maritim besar sangat sulit untuk dipertahankan saat ini seiring dengan lebih difokuskannya pembangunan nasional di wilayah darat. Demikian pula. perlu diambil langkah-langkah untuk mewujudkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. industri maritim.

dengan luas laut 5. seperti ikan dan tumbuh-tumbuhan laut. dan terpeliharanya daya dukung dan kualitas lingkungan pesisir serta lautan secara seimbang (proporsional). Termasuk dalam kekayaan alam laut adalah energi listrik yang dapat ditimbulkan oleh tenaga gelombang air laut dan hembusan angin di atas laut. Pertama. tetapi sebagai Anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.sangat menentukan dalam pencapaian kepentingan nasional. atau yang berupa choking points dimana semua kapal yang berlayar harus merapat seperti di ujung selatan Afrika dan India. peluang. Laut jangan lagi dipersepsikan sebagai keranjang sampah (tempat pembuangan limbah dari darat) dan ajang ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan. dari basis sumberdaya daratan ke basis sumberdaya kelautan. Kekayaan alam laut tidak hanya berupa kekayaan hayati dan nabati yang ada dalam massa air laut. tetapi juga bahan tambang mineral yang dikandung air laut. Laut memiliki fungsi yang sangat penting. lalu sebagai media pemersatu antar pulau bagi negara kepulauan. Gagasan paradigma pembangunan ini selain mendasarkan pada potensi.2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia Paradigma baru pembangunan Indonesia adalah berbasis kelautan dan sudah saatnya Indonesia melakukan reorientasi paradigma pembangunannya ke arah kemaritiman. permasalahan.8 juta km² terdiri dari 49 . 6. bahwa tujuan pembangunan kelautan hendaknya tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi. reorientasi fokus pembangunan. melainkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran). kendala. juga mempertimbangkan pengaruh lingkungan strategis terhadap pembangunan nasional seperti globalisasi dan otonomi daerah. Letak geografis dan kandungan sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia memberikan pengakuan bahwa Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia. dalam memenangkan peperangan atau dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. lapisan dasar laut lepas pantai dan laut dalam. dan kondisi pembangunan kelautan yang ada. antara lain : sebagai media penghubung ke dalam. adalah laut dengan lokasinya sangat strategis baik dilihat dari sudut pandang ekonomi maupun militer. juga sebagai sabuk pengaman (safety belt/safety cordon) terhadap serangan musuh dari luar. Laut yang berupa selat yang menghubungkan dua samudera seperti Selat Malaka. dan juga sebagai medan perang. Rorientasi tersebut mencakup dua hal mendasar. pemerataan kesejahteraan (social equity). Sebagai media penghubung lokasi laut tertentu menjadi sea lane of communication (SLOC) yang bersifat internasional baik untuk kepentingan ekonomi maupun militer. Kedua. antar pulau dan ke luar dengan pasar dunia.

harus dijadikan arus utama pembangunan nasional.000 km garis pantai dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Sejarah mencatat bahwa pusat-pusat ekonomi dan peradaban yang pernah ada di wilayah Nusantara. dari aspek politik. pengolahan. termasuk usaha transportasi. politik.1 km² laut ZEE atau 2/3 dari total wilayah Indonesia merupakan lautan dan ditaburi sekitar 17. perdagangan. Alasan di atas sudah cukup menjadi dasar untuk menjadikan pembangunan kelautan sebagai arus utama (mainstream) pembangunan nasional. Kelima. sampai sekarang masih terlihat sisa-sisa budaya berbasis bahari ini pada beberapa suku di Indonesia. ekonomi dan militer. Ketiga. Keempat. Pada saat itu. dengan kondisi geopolitis yang ada. komunikasi. merupakan harga yang harus dibayar. Di bawah ini adalah beberapa alasan kuat mengapa pembangunan nasional kita adalah berbasis sumberdaya maritim antara lain : Pertama. dan jasa-jasa lainnya. sosial dan budaya.luas laut teritorial 2. 50 . jika kita memiliki jaminan keamanan dan pertahanan dalam menjaga kedaulatan perairan. pertahanan dan keamanan dunia.7 juta km² dan 3. baik secara politik. dengan sejumlah keunggulan komparatif sekaligus kompetitif yang sangat tinggi. melimpahnya sumber daya kelautan perikanan yang kita miliki. Suatu kenyataan pahit yang harus kita akui bahwa selama ini. banyak argumen yang memperkuat mengapa pembangunan berbasis sumber daya kelautan. Bahkan. baik secara ekonomi. Pembangunan berbasis sumber daya kelautan dianggap sebagai sektor pinggiran. selama berabad-abad telah menjadikan sumberdaya kelautan sebagai basis pertumbuhannya dalam mencapai kemakmuran dan kemajuan dalam peradabannya. sebuah kawasan paling dinamis dalam percaturan politik. sumber daya kelautan merupakan sumber daya yang senantiasa dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif ini dapat bertahan panjang asal diikuti dengan pengelolaan yang arif. Kondisi geografis ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Indonesia berada pada posisi geopolitis yang penting yakni Lautan Pasifik dan Lautan Hindia. Rendahnya kinerja sektor ekonomi berbasis kelautan yang jauh dari potensi yang dimiliki. Selain itu. dari sisi sosial dan budaya. menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa merupakan penemuan kembali (reinventing) aspek kehidupan yang pernah dominan dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa. serta menjadi suatu kawasan penting. ternyata pembangunan berbasis sumber daya kelautan diabaikan. akibat kelalaian serta kurang perhatiannya kita sendiri sebagai bangsa. maka stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri dapat dicapai. laut telah menjadi media hubungan nasional dan internasional. Dengan mengembangkan industri berbasis sumber daya kelautan berarti juga mendorong aktivitas ekonomi di sektor lainnya.504 pulau yang dikelilingi oleh 81. Kedua. keterkaitan yang kuat (backward and forward lingkage) antara industri berbasis kelautan dengan industri dan aktivitas ekonomi lainnya.

Sumberdaya laut Indonesia dengan kekayaan keanekaragaman hayati memiliki potensi untuk pengembangan bioteknologi kelautan. Di Indonesia terdapat 241 Kabupaten/ kota yang memiliki pesisir. (3) Energi kelautan. OTEC (Ocean Thennal Energy Conversion). Ini tercermin dari keputusan politik bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999.000 spesies. rumput laut. keindahan alam. Pembangunan ekonomi dunia di masa datang yang penuh tantangan dan persaingan yang ketat. Diperkirakan terdapat 35. Berdasarkan jenisnya sumberdaya kelautan dibagi menjadi: (1) Sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) antara lain ikan dan biota perairan lainnya. Indonesia sesungguhnya memiliki sumberdaya perikanan laut yang cukup besar baik dari segi kuantitas maupun keragamannya. Dengan luas laut 5. sejak reformasi. Potensi wisata bahari Indonesia pun memiliki nilai yang cukup tinggi. dan melaksanakan program-program di bidang kelautan dan perikanan.000 spesies biota laut memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan. pengaturan iklim. bahan tambang dan mineral lainnya. muncul kesadaran untuk menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan nasional telah mendapatkan tempat yang lebih baik serta pijakan yang lebih kuat. 51 . farmasi. Sumber daya tersebut memiliki kegunaan untuk makanan. Karakteristik geografis Indonesia serta struktur dan tipologi ekosistemmya yang didominasi oleh lautan telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekargaman yang tinggi dan terbesar di dunia. Fakta ini menunjukkan bahwa sumberdaya kelautan merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang amat potensial dimanfaatkan sebagai sumberdaya yang efektif dalam pembangunan bangsa Indonesia. Bahkan tidak mustahil akan mengakibatkan kelangkaan serta persaingan dalam mendapatkannya. Kondisi ini membuat kita semakin maju beberapa langkah dalam menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa. (2) Sumberdaya yang tak dapat pulih (unrenewable resources). ekosistem pantai dan pulau-pulau kecil. padang lamun. Dengan demikian orientasi pembangunan bangsa Indonesia ke depan yang berbasis pada sumberdaya kelautan merupakan suatu keniscayaan. membutuhkan faktor-faktor produksi seperti sumberdaya alam yang penggunaannya akan semakin meningkat. dan kosmetika.Namun. hutan mangrove. dan angin. antara lain gelombang. yang ditindaklanjuti dengan membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai institusi utama (leading institution) yang bertanggung jawab memberi arahan. antara lain minyak dan gas bumi. mengeluarkan kebijakan. dan penyerapan limbah. (4) Jasa lingkungan. minuman.8 juta km². yang merupakan justifikasi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara bahari terbesar di dunia. pasang surut. sementara yang dimanfaatkan baru 5. antara lain media transportasi dan komunikasi.

ibarat sebuah arena pertarungan bebas. secara kuantitatif relatif sudah memadai. Namun. Dari sisi proses produksinya. yang tentu saja akan selalu melahirkan pemenang dan pecundang. diformulasi dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) dan Keputusan Menteri (Kepmen). wisata pesiar. baik dari sisi materi maupun dari sisi proses produksinya. seperti di Bagan Percut Sumatera Utara. yakni sentralistik. secara substantif. dan wisata olahraga. Dari sejumlah itu. Ciri sentralistik dari produk hukum di sektor perikanan menjelma. Hal ini kemudian mendorong tumbuhnya sikap merasa ‘tidak memiliki laut’ di kalangan pemerintah dan masyarakat daerah. berbasis pada doktrin open-access. Sedangkan sisanya sebesar 74. Produk yang bisa dikembangkan antara lain wisata bisnis. Dari sisi materi muatannya. wisata alam. hukum kelautan kita juga dirancang atas dasar doktrin bahwa sumberdaya kelautan merupakan sumberdaya open-access sehingga pembatasan keikutsertaan dalam okupasinya menjadi sesuatu yang dipantangkan. wisata pantai. hukum kelautan pada umumnya. Pengalaman menunjukkan bahwa para pengusaha perikanan berkapital besar yang selalu keluar sebagai pemenang. laut Indonesia menyimpan potensi kekayaan yang cukup besar berupa minyak dan gas bumi. 52 . wisata budaya. Dari sektor pertambangan. di mata pemerintah dan masyarakat daerah. baru 9. Laut.8 milyar barel yang diketahui pasti. Akibatnya. Produk hukum yang demikian.Dengan demikian Indonesia memiliki lokasi obyek wisata bahari yang cukup besar dibandingkan dengan negara lain. merupakan isyarat bahwa tekanan terhadap nelayan tradisional sudah sampai pada titik yang tidak mampu ditolerir. Keberhasilan pembangunan di bidang kelautan sejatinya tidak hanya ditunjukkan dengan mengklaim diri sebagai negara maritim atau diwujudkan melalui kebanggaan terhadap keunggulan komparatif yang dimiliki saja.48 milyar barel minyak. Diperkirakan Indonesia memiliki cadangan minyak bumi yang dapat menghasilkan 84. Perlawanan nelayan tradisional yang cenderung sangat radikal. produk hukum perikanan tersebut memiliki tiga ciri pokok. produk hukum tersebut mengkonsentrasikan kewenangan pengelolaan sumberdaya perikanan hanya pada pemerintah pusat. Suatu hal yang tidak kondusif bagi upaya konservasi sumberdaya kelautan. tidak kurang dari tiga puluh produk hukum telah diproduksi untuk mengatur sektor perikanan. tetapi sejauh mana kemampuan kita dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya kelautan tersebut dalam mencapai kemakmuran bangsa. Selama tiga puluh tahun terakhir. Selanjutnya. Secara kategorik. dan anti pluralisme hukum. produk hukum tersebut sangat memprihatinkan.68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. laut dipandang sebagai ‘halaman belakang’ dan ‘bak sampah’. jelas kurang memiliki akuntabilitas politik. Peraturan dan perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek kegiatan pengelolaan di bidang kelautan.

yang diperlukan saat ini bukan ‘menghapus’ ketentuan Pasal 3 dan 10 UU Nomor 22 Tahun 1999. Karena itu. Belanda yang memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Ligitan berada dalam kedaulatan Malaysia. yakni hukum kelautan yang anti kemajemukan. Kalimantan. panglima laut di Aceh. sentralisme kewenangan pengelolaan sumberdaya kelautan dapat dikurangi. Dengan perkataan lain. Indonesia yang memiliki 17. yang membuka peluang desentralisasi. terutama yang berbatasan dengan negara asing. Namun frame work pembangunan bangsa yang dipraktekkan selama ini mengakibatkan kita hanya mengenal pulau-pulau besar seperti Sumatera. Oleh sebab itu. ketentuan tersebut seperti tak bergigi. Namun. tetapi penjabaran dan penyusunan standar dan prosedur pengelolaan yang baik dan bertanggungjawab sesuai dengan kaidah-kaidah pengelolaan yang diterima secara universal. Papua dan Bali. Melalui UU ini. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang signifikan untuk mengelola laut. Contoh paling nyata yang baru saja kita rasakan adalah keputusan Mahkamah Internasional tanggal 17 Desember 2002 di Den Haag.Konsekuensi logis dari kedua ciri di atas. maka kedaulatan bangsa Indonesia sesungguhnya dalam ancaman besar. Akibatnya banyak dari kita yang kurang mengenal pulau-pulau kecil atau gugusan pulau-pulau kecil lainnya sehingga kawasan ini menjadi terlantar atau tidak terkelola dengan baik. Pada gilirannya.504 pulau-pulau besar dan kecil dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. ketika sampai pada tingkat implementasi. memberikan secercah harapan. Konsekuensi logis dari keadaan ini menimbulkan kesenjangan pertumbuhan dan kurangnya sinkronisasi pengembangan antarwilayah. Sulawesi. Sasi di Maluku. dari pengalaman ini dapat kita simpulkan bahwa tanpa adanya perhatian terhadap pemberdayaan pulau-pulau kecil. Sesungguhnya. atau tradisi rompong di Sulawesi Selatan merupakan contoh aktual dari hukum adat atau tradisi lokal yang demikian itu. Jawa. Alasan utama keputusan itu dilandasi oleh adanya tindakan administratif secara nyata oleh pemerintah Inggris pada kedua pulau tersebut sejak tahun 1917. seperti larangan penggunaan pukat harimau. padahal hukum adat tersebut telah terbukti sangat efektif menjaga kelestarian sumberdaya alam. yang menjadi pusat-pusat aktivitas utama dalam pembangunan. Kelahiran UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Sentuhan tersebut dapat dilakukan 53 . Lemahnya penegakan hukum masih merupakan salah satu kendala. Hukum adat dan tradisi masyarakat lokal tidak diakui sebagai bagian dari sistem hukum nasional. sentuhan pembangunan pada pulau-pulau serupa perlu dilakukan meskipun memiliki tingkat keisolasian yang tinggi. telah menjadikan bangsa ini sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Sebagai negara kepulauan. hal ini akan membawa kepada muculnya kerawanan baru terutama pada pulau-pulau di kawasan perbatasan. terdapat pula beberapa produk hukum yang memihak kepentingan nelayan tradisional.

54 . merangsang aktivitas ekonomi masyarakat penghuni pulau melalui paket-paket tertentu. Di samping itu.dengan cara menarik investasi ke pulau-pulau tersebut. Di lain pihak. mendorong nelayan melakukan aktivitas penangkapan di perairan sekitar pulau. pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil tersebut masih dihadapkan pada berbagai masalah antara lain letaknya yang terpencil. sehingga dapat mewujudkan pemanfaatan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. prasarana dan sumberdaya manusia. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di kawasan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara terencana dan terintegrasi dengan melibatkan peran serta masyarakat setempat. di dalam pemanfaatannya perlu memperhatikan daya dukung pulau mengingat sifatnya yang rentan terhadap perubahan lingkungan. melakukan penataan ruang. terbatasnya sarana. mendeklarasikan pulau yang memiliki produktivitas hayati yang tinggi sebagai kawasan konservasi.

Industri kemaritiman ini perlu diselaraskan dengan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan selalu dikembangkan. pelayaran dan wisata bahari. Penggunaan tenaga kerja yang semaksimal mungkin. seperti pelayaran. Selama ini pembangunan ekonomi berbasis sumber daya kelautan di Indonesia masih belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya.BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM Ekonomi (industri) kelautan dikembangkan untuk mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui industri maritim dalam rangka peningkatan ketahanan nasional. dan menghasilkan permasalahan yang timbul yang berkaitan dengan berbagai jenis limbah yang dihasilkan dalam proses kegiatan tersebut di perairan laut. Kebijakan di bidang industri kemaritiman. Reuse. akibatnya mengubah keterpurukan sosial ekonomi masyarakat pesisir. dan juga perlu pengembangan sumberdaya manusia Indonesia. Industri maritim membuka lapangan pekerjaan yang seluasluasnya bagi masyarakat Indonesia. Kenyataannya sebanyak 65% nelayan. Sebanyak 22% dari penduduk Indonesia adalah masyarakat yang menempati areal pesisir sebagai tempat tinggal dan bekerja pada sektor yang berhubungan dengan kelautan. melalui Diklat serta kegiatan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan lain. juga perlu mempertimbangkan aspek SDM. pariwisata. Industri kemaritiman disamping mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. limbah hasil industri yang didaur-ulang berdasarkan prinsip 5-R (Recycle. Indutri kemaritiman yang dikembangkan perlu mengikuti kaidah-kaidah lingkungan yang berlaku. perikanan. industri perikanan. antara lain Oceans Technology. disamping industri pendukungnya. Rehabilitation. yang meliputi seluruh perairan Indonesia dan memiliki kemudahan dukungan berbagai bahan baku dan suku cadang. Reduce. permukiman. dan berdasarkan pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Industri maritim dikembangkan dengan menerapkan asas angkutan laut dalam negeri dan hanya boleh dilakukan oleh kapal-kapal berbendera Indonesia (Asas cabotage).dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan industri berbagai aspek kelautan. dan keterkaitannya. 55 . pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir sebagai pelaku dan objek dari pembangunan masih terjebak dalam kemiskinan. misalnya: fasilitas pembuatan pelabuhan. pemeliharaan dan perbaikannya pada lokasi-lokasi yang strategis. nasional maupun lokal. upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. seperti: Industri yang berwawasan lingkungan. Recover). sumberdaya energi dan mineral. regional. pada tingkat global.

sehingga mempunyai kedaulatan dan yurisdiksi atas kawasan dan kekayaan alam di luar Nusantara Indonesia. energi dan sumberdaya mineral. dan 54%. Diperlukan kebijakan yang adil dan seimbang antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola sumberdaya alam . yang memadukan mempermudah hubungan antar pulau. Berkat perjuangan para penyelenggara negara ini. Sumberdaya alam yang terkandung baik di pulau-pulau yang tersebar. apalagi bila dibandingkan dengan negara lainnya yang memiliki sumberdaya kelautan lebih kecil dari Indonesia. yaitu di Zone Tambahan dan Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE). Cina dan Jepang di mana kontribusi ekonomi dari bidang kelautannya masing-masing sebesar 65%. c. Adapun Strategi pembangunan ekonomi industri maritim adalah : a. seperti: Islandia. bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat yang berkeberlanjutan. dan dengan kemampuan bangsa Indonesia sendiri. sehingga dengan itu akan memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional.Berdasarkan kontribusi kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya kelautan terhadap PDB masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang kita miliki. yang dapat ditingkatkan melalui pendidikan ke mancanegara melalui alih teknologi dari tenaga ahli asing yang didatangkan. air. d. Dengan itu maka Indonesia mempunyai hak tertentu untuk memanfaatkan kawasan yang luasnya sekitar 8 juta km2 atau empat kali lipat dari wilayah teritorial Indonesia pada awal kemerdekaan di tahun 1945. e. Situasi itu selain membawa Indonesia menjadi negara yang sangat luas juga mempunyai keunggulan komparatif yang luar biasa di sektor kelautan dan perikanan. Untuk menempatkan keunggulan komperatif yang luar biasa disektor ini diperlukan suatu strategi pembangunan ekonomi di bidang industri maritim. Pembangunan industri maritim harus dibangun melalui pengembangan teknologi kemaritiman modern yang mempunyai keterkaitan dengan teknologi tepat-guna massal yang berkembang di wilayah pesisir. b. Pembangunan industri maritim harus dapat mendorong tumbuh kembangnya sistem transportasi nasional yang handal. maupun yang berada di wilayah lautan harus dikelola secara bijak. 48%.tanah. Indonesia telah diakui dalam Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut. namun tetap memberi dukungan bagi pengembangan agribisnis di wilayah agraris di pedalaman. kehutanan. 56 . udara dan kandungan di dalamnya untuk mendorong tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI. pariwisata. Pembangunan industri maritim harus sejauh mungkin menggunakan potensi sumberdaya alam nasional.

sebagai negara maritim ternyata pangsa pasar angkutan laut baik antar pulau maupun antar negara masih dikuasai oleh armada niaga berbendera asing. keselamatan berlayar. Berdasarkan data yang ada. Kamar Dagang Indonesia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mewujudkan sistem pelabuhan komunitas (community port) secara terpadu dengan sistem transportasi laut dan intermoda nasional. asosiasi pelayaran nasional. Daya saing pelabuhan . penumpang dan/atau barang. Tata ruang wilayah pelabuhan dan sekitarnya harus memperhatikan kelancaran kegiatan pelabuhan. serta angkutan laut dan tempat perpindahan intra dan/ atau antarmoda.1 Potensi jasa lingkungan kelautan lainnya yang masih memerlukan sentuhan pendayagunaan secara profesional agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal adalah jasa transportasi laut (perhubungan laut). Industri pelayaran dikembangkan untuk memantapkan perwujudan wawasan nusantara serta memperlancar roda perekonomian dan perdagangan. 57 . Armada niaga nasional menunjang kelancaran. hampir 80 persen proses perpindahan barang dan jasa antar pulau menggunakan jasa perhubungan laut. Pembangunan industri maritim dapat membawa kembali kejayaan Indonesia sebagai negara bahari.pelabuhan pengumpul (hubports) nasional didukung sepenuhnya oleh armada pelayaran nasional. Industri pelayaran dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara dalam masa perang atau dalam bahaya perang. maka industri maritim harus dapat meningkatkan budidaya kelautan dan perikanan dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Industri pelayaran sebagaimana dimaksud meliputi industri perkapalan. Kerjasama angkutan laut antar perusahaan pelayaran nasional dengan perusahaan pelayaran asing dilakukan berdasarkan prinsip timbal balik (reci procal) ketersediaan terminal pelabuhan pada kedua belah pihak. Pemerintah menyelenggarakan pelabuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayaran nasional. keamanan.f. Perkembangan pelabuhan mengikuti perkembangan armada niaga nasional dan perkembangan armada niaga nasional mengikuti perkembangan perdagangan. angkutan laut dan pelabuhan. Betapa tidak. pemerintah daerah. dan ketertiban arus lalu lintas kapal. Pemerintah membangun pelabuhan umum untuk mendukung kegiatan armada pelayaran niaga nasional dan kegiatan perdagangan kawasan hinterlan masing-masing pelabuhan. Industri Pelayaran 7. Perencanaan pengembangan pelabuhan umum melibatkan pemerintah pusat.

dan membangkitkan ekonomi lainnya. misalnya kemudahan menyewa kapal Syarat-syarat dalam melaksanakan bisnis perdagangan khususnya perdagangan ekspor (FOB. karena mendatangkan devisa. Banyak pelabuhan terbuka bagi perdagangan luar negeri Sarana dan prasarana pelabuhan yang tersedia belum mempunyai fasilitas pelabuhan untuk pelayanan kapal penumpang dan masih bergabung dengan pelayanan kapal barang Sertifikat kepelautan yang diterbitkan belum memenuhi standar Internasional. Hal ini di sebabkan oleh berbagai faktor antara lain: Belum adanya dukungan perbankan Tidak mampu mengembangkan armada Praktek pengoperasian kapal asing yang menimbulkan dampak negatif. Belum adanya jaringan informasi Berdasarkan DATA pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 95. Namun industri pelayaran Indonesia dewasa ini dalam kondisi sangat memprihatinkan. Freight On Board) dan perdagangan impor (CIF. 58 .99% pelayaran domestik dilayani oleh kapal-kapal berbendera asing. sementara disisi lain pelayaran rakyat atau tradisional kondisinya semakin terpuruk.Gambar 5 Konsep Pelabuhan Dan Zona Perhubungan Sumber : Departemen Perhubungan Pelayaran Indonesia memiliki nilai sangat srategis tidak saja dalam aspek ekonomi. tetapi juga dalam aspek lainnya seperti kedaulatan (sea power) dan pemersatu bangsa.38% dari kegiatan ekspor-impor dan 46. kesempatan kerja. Cost Insurance and Freight) yang dalam birokrasinya sangat sulit.

menyebabkan kelemahan tersendiri bagi industri pelayaran.Gambar 6 Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antarpulau (Interinsulair) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Selain permasalahan di atas. 7. akibat bisnis yang tidak terintegrasi secara baik. dan kredit (pendanaan) untuk modal serta sistem hukum yang belum memadai. Pelabuhanpelabuhan di Indonesia umumnya belum mempunyai master plan yang memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjamin kepastian usaha dan investasi. fasilitas. manajemen yang kurang profesional. pemasaran. Belum dilaksanakannya pengembangan jaringan infrastruktur pelabuhan dalam tatanan kepelabuhan nasional yang berakibat pengoperasian pelabuhan tidak optimal sehingga secara nasional tidak efisien karena investasi yang berlebihan. budidaya perikanan. Industri perikanan nasional meliputi pengolahan ikan. pajak dan retribusi. pengalengan ikan. pengelolaan ikan dan pemasaran. dan dikembangkan secara terpadu dengan pelabuhan perikanan. Industri perikanan nasional merupakan salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan perekonomian nasional dan ketahanan nasional bangsa Indonesia. kapasitas dan kualitas pendidikan pelaut (SDM). sistem dan kualitas serta kapasitas pelayanan pelabuhan. armada perikanan. Untuk mendukung industri perikanan nasional. 59 . sehingga menjadi industri perikanan yang terkemuka di dunia. telah dibangun beberapa sarana dan prasarana berupa pelabuhan perikanan yang terdapat di 32 titik wilayah Belt Ekonomi Maritim yaitu di Lampulo. dan eksport yang sesuai dengan standart kualitas nasional dan internasional.2 Industri Perikanan Laut Indonesia yang kaya akan berbagai jenis ikan harus dimanfaatkan untuk pengembangan industri perikanan nasional yang didukung oleh armada dengan teknologi penangkapan ikan yang canggih.

P. P. Sungai Liat. pengrusakan lingkungan hidup. Kupang. Biak. Wetar. Enggano. Pekalongan. Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 60 . Kejawanan. P. Roti. Banda. Sibolga. P. Brondong. Bitung. P. Kapal perikanan berbendera asing dilarang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia. Sedangkan pelabuhan perikanan yang dalam pengembangan yaitu P. tanjung Pandan. Bali. Pelabuhan Ratu. P. Hantipan. Pemangkat. Muarangantu. Bengkalis. Indonesia harus menjadi anggota organisasi dan komisi-komisi regional dan internasional yang berhubungan dengan aspek ekologi perikanan untuk menjaga sumberdaya perikanan secara berkelanjutan demikian juga memasuki organisasi/komite yang berhubungan dengan pemberian sangsi dan/atau pengawasan terhadap pencurian ikan dan perikanan yang tidak dilaporkan. untuk mencegah dan memerangi penangkapan ikan ilegal. Bawean. P. Banggai. Sabang. P. Kep. P. Madura. Gambar 8. Pemerintah secara aktif melakukan pengawasan terhadap kapal-kapal ikan Indonesia. Kendari. P. dan laporannya di bawah standar. Tual. P. Tello. Bacan. Nusa Barung. Lab.K o n d i s i industri perikanan di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan. P. Dagho. Tarempa. Sumba.Belawan. Karimun Jawa. Ambon. Cilacap. Bungus. Sikakap. Faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan ini antara lain adanya pencurian ikan secara ilegal. Tarakan. dan lainnya dan juga mengenai masalah distribusi (pemasaran) yang masih dikuasai oleh negara asing. Buru. hal ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusi perikanan terhadap pendapatan nasional. Banjarmasin. P. Lombok. Perigi. Teluk Batang. laporannya salah. Sorong. Waegeo. Bagansiapi-api. lemahnya pengawasan. P.

dan cumi-cumi 28.6 juta).25 ribu ton (Dahuri.07 milyar. Negara Spanyol dan Perancis yang masing-masing 7.36 juta ton.754 pada tahun 1996 senilai 116.4 juta ton pertahun. pelagis kecil. Perairan Indonesia diperkirakan memiliki potensi lestari ikan laut sebesar 6. 18. udang dan ikan demersal. Pangsa ekspor ikan Indonesia selama ini di lakukan pada Negara besar di dunia seperti: Negara Jepang. rumput laut. 2003). yaitu selat Malaka. Sedangkan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) khususnya laut dalam terdapat jenis ikan seperti Tuna besar. dan Samudera Hindia.46 triliun.8 ribu ton. Laut Banda.Pemanfaatan sumberdaya laut di Indonesia baru mencapai 62 % dari potensi lestarinya dan tidak sampai ambang batas merusak lingkungan seperti yang menjadi syarat dari Federation Agriculture Organization (FAO) sebesar 80 % pemanfaatan sumberdaya ikan dari potensi lestari. Sedangkan untuk benih ikan laut mencapai Rp 8. Selat makassar dan laut Flores. Laut Sulawesi. Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang cukup besar. Laut Arafura.65 juta ton. Potensi tersebut terdiri dari ikan pelagis besar 1.7 juta) dan 6.288 ton. Importir lainnya adalah Amerika Serikat yang mengalami kenaikan drastis permintaan ikan dari 14. teripang. ikan karang 145 ribu ton. Pada tahun 1996 Jepang mengimpor ikan tuna/cakalang sebesar 69.962 ton dengan 61 . kegiatan budidaya laut (marikultur) mencapai produksi sebesar 994. Selain potensi perikanan tangkap.7 juta US$. Laut Cina Selatan. mengalami kenaikan yang cukup berarti. Dan untuk produksi perikanan Indonesia sampai saat ini mencapai 618 juta ton pertahun. kerang darah.291 ton (1994) menjadi 18. abalone. Di kawasan Barat Indonesia (KBI) terdapat jenis ikan pelagis kecil. udang dan ikan demersal. ikan pelagis kecil 3. Di Indonesia terdapat beberapa wilayah pengelolaan sumberdaya ikan. kerang-kerangan. Laut Tomini dan Laut Maluku. Cakalang. mutiara mencapai produksi senilai Rp 1. ikan demersal 1. cakalang. dan rumput laut. udang peneid 94.856 ton (senilai US$ 25. Spanyol dan Negara Prancis. Utara Jawa dan Selat Sunda. udang dan ikan domersal. Komoditaskomoditas yang dapat dibudidayakan pada areal tersebut antara lain: ikan kakap. kerapu.36 triliun di tingkat produsen pada tahun 2002.1 juta dibandingkan dengan tahun 1994 yang sebesar 69. pelagis kecil. Amerika. Sedangkan untuk budidaya laut yang meliputi ikan.293 ton (senilai US $ 20.8 ribu ton. Potensi lahan kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 24. Pada tahun 2000.53 juta ha yang terbentang dari ujung bagian barat Indonesia sampai ke ujung wilayah timur Indonesia yang diukur sepanjang 5 km dari garis pantai ke arah laut. Berdasarkan perhitungan harga di tingkat produsen tahun 2000 nilai produksi ikan tangkap mencapai Rp. teripang. lobster 4. kerang mutiara. tiram. tiram.568 ton senilai $627. kecuali di Samudera Hindia terdapat Tuna besar.6 juta ton. Jepang merupakan importir terbesar jenis ikan tuna dan cakalang baik dalam bentuk segar atau beku.

nilai sebesar Rp 1,36 triliun berdasarkan nilai pada tingkat produsen (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). Indonesia juga memiliki potensi pengembangan budidaya tambak yang cukup besar. Lahan utama yang potensial bagi pengembangan budidaya tambak terletak di daerah hutan bakau. Ditjen Perikanan (1999) memperkirakan potensi lahan pengembangan tambak di Indonesia mencapai 913.000 ha, sedangkan tingkat pemanfaatannya baru mencapai 344.759 ha atau sekitar 40 persen dari total potensinya. Komoditas-komoditas potensial yang dapat dibudidayakan adalah: udang windu, udang putih, udang api-api, udang cendana, ikan bandeng, baronang, belanak, dan ikan nila. Pada tahun 2000, kegiatan budidaya tambak baru mencapai produksi sebesar 430.017 ton atau sekitar 24 persen dari potensi lahan yang tersedia, apabila setiap 1 ha lahan menghasilkan produksi 2 ton maka nilai produksinya sebesar Rp 7,46 triliun (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). 7.3. Industri Pariwisata Bahari Pemerintah mendorong pengembangan potensi wisata bahari di seluruh perairan Indonesia sebagai upaya meningkatkan perekonomian nasional dan mendukung usaha masyarakat di bidang pariwisata. Pengembangan wisata bahari harus melibatkan peran serta masyarakat lokal, adat, dan pesisir serta memperhatikan pertimbangan para pemangku kepentingan, pelayanan satu atap dan kemudahan masuk Indonesia. Perencanaan wisata bahari harus dikaitkan dengan lingkungan dan tata ruang untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keterpaduan pembangunan serta memperhatikan keselamatan dan keamanan wisatawan, pelabuhan/marina, acara wisata dan pemasaran. Pengusahaan wisata bahari yang memanfaatkan pantai harus memberikan ruang bagi kepentingan umum. Pemerintah berkeinginan membangun infrastruktur pariwisata bahari, pelabuhan/marina, fasilitas umum keselamatan dan keamanan, bagi para wisatawan. Untuk menjamin keselamatan dan keamanan kapal-kapal wisata bahari, pemerintah menyediakan fasilitas berupa alat komunikasi dan stasiun-stasiun pelaporan radio, dan penjagaan pantai dan penyelamatan. Pengembangan wisata bahari di daerah perbatasan dan daerah pulau-pulau kecil terluar harus memperhatikan kepentingan Indonesia jauh ke depan, masyarakat negara tetangga dan batas-batas wilayah Indonesia. Dengan melihat latar belakang laut Indonesia yang merupakan terbesar dari Aseanarean, yang memiliki potensi wisata bahari beraneka ragam. Potensi ini mengandung keunikan dan kelangkaan dibandingkan dengan kawasan mediteranean dan carribean. Sebenarnya, industri wisata bahari Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata bahari terbesar di dunia dengan berbasis marine ecotourism. Namun industri ini juga tak luput dari ancaman yang timbul dari dalam maupun dari luar. 62

Ancaman-ancaman tersebut bisa berasal dari negara tetangga yang selama ini dianggap sebagai pesaing dan yang mengeksploitasi, keamanan yang belum kondusif, dan pemasaran yang masih didominasi oleh negara lain. Sementara dari dalam, ancaman itu muncul berupa masih adanya masyarakat yang merusak atau mencemari lingkungan. Cruising Approval For Indonesian Territory (CAIT) dan penyusunan Custom Immigration Port Clearance dan Quarantine (CIPQ) yang menyulitkan ditambah lagi kebijakan fiskal yang belum mendukung. Obyek wisata bahari yang meliputi wisata selam, wisata marina dan rekreasi air. Wisata selam menekankan pada usaha kegiatan penyediaan sarana, fasilitas atau jasa pemanduan untuk penjelajahan alam bawah air. Wisata marina merupakan kegiatan bisnis berupa penyediaan tempat berlabuh dan tambatnya kapalkapal pesiar, kapal layar atau lainnya. Rekreasi air adalah kegiatan usaha penyediaan sarana prasarana di perairan laut atau pantai. Kegiatan wisata bahari seperti pemancingan (game fishing), selancar, sky air, berenang, selam di kawasan terumbu karang, yang dihuni oleh berbagai jenis ikan hias laut. Jenis-jenis wisata demikian umumnya terdapat di pulau-pulau kecil yang menyebar di seluruh Nusantara. Potensi wisata bahari terdapat pada 21 pulau yang tercakup dalam Belt Ekonomi Kelautan, yaitu Pulau Sabang (game fishing); P. Nias (selancar angin dan game fishing), P. Siberut (game fishing, selancar angin); P. Enggano (game fishing, selancar angin); Ujung Kulon (game fishing, selancar angin); Pengandaran (wisata pantai); Cilacap (wisata pantai); P. Sumba (menyelam); P. Roti (game fishing); P. Biak (menyelam); P. Moyo (game fishing); Sanger Talaud (menyelam); P. Belitung (wisata pantai); P. Bali (wisata pantai, selancar angin); Krakatau (wisata pantai, game fishing); P. Karimata (wisata pantai); P.Rupat (wisata pantai). Pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan juga dapat dilakukan terhadap jasa-jasa lingkungan, terutama untuk pengembangan pariwisata dan pelayaran. Dewasa ini pariwisata berbasis kelautan (wisata bahari) telah menjadi salah satu produk pariwisata yang menarik dunia internasional. Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata bahari yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia, yang terwujud dalam bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis. Pada tahun 2002 pariwisata bahari menyumbang US$ 4,5 milyar atau menurun 16,5 persen dari tahun 2001 yang mencapai US$ 5,428 milyar (Media Indonesia, 2002). Penurunan ini disebabkan oleh kondisi stabilitas nasional Indonesia terutama setelah ledakan bom di pulau Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang lalu. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan bagi perkembangan dunia pariwisata pada khususnya, perekonomian Indonesia pada umumnya. Untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata, perlu upaya serius dari setiap elemen masyarakat Indonesia untuk 63

menciptakan suasana yang kondusif sehingga memberikan kenyamanan dan ketenangan di seluruh kawasan Indonesia. Selain itu perlu memperhatikan kekhasan, nilai jual dan peningkatan mutu komoditi pariwisata, sehingga dapat menarik masyarakat internasional untuk berkunjung ke Indonesia. Kemudian untuk Alur wisata bahari melalui kapal pesiar yang selama ini dikelola oleh Singapura yaitu: dari Singapura melalui Selat Karimata - Selat Makassar ke Manado – Wakatobi – Tabonerate – Bali – Karimunjawa – Kepulauan Seribu – Ujung Kulon – Karakatau – Raiu kembali ke Singapura. Biaya untuk menikmati wisata bahari tersebut 2000 dolar AS per orang. 7.4. Industri Energi dan Sumberdaya Mineral Pemerintah mendorong pengembangan industri energi dan sumberdaya mineral sebagai upaya peningkatan perekonomian nasional dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Industri energi dari laut bersumber pada dinamika gelombang, pola arus dan pasang surut dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung, sedangkan industri sumberdaya mineral bersumber dari air laut, dasar laut dan tanah dibawahnya dikembangkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, keterpaduan pembangunan lainnya, keselamatan dan keamanan kerja. Teknologi industri energi dan sumberdaya mineral dikuasai ahli-ahli bangsa Indonesia melalui pendidikan dan kerjasama luar negeri. Perubahan sumberdaya mineral di laut menjadi energi dikembangkan dengan memperhatikan penanganan limbah. Pengolahan dan penggunaan sumberdaya mineral dilakukan dengan memperhatikan hasil eksplorasi, potensi kandungan dan konservasi energi. Energi kelautan merupakan energi non-konvensional dan termasuk sumberdaya kelautan non hayati yang dapat diperbaharui yang memiliki potensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir dan lautan Indonesia. Keberadaan sumberdaya ini dimasa yang akan datang semakin signifikan manakala energi yang bersumber dari BBM (bahan bakar minyak) semakin menipis. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan adalah ocean thermal energy conversion (OTEC), energi kinetik dari gelombang, pasang surut dan arus, konversi energi dari perbedaan salinitas. Perairan Indonesia merupakan suatu wilayah perairan yang sangat ideal untuk mengembangkan sumber energi OTEC. Hal ini dimungkinkan karena OTEC didasari pada perbedaan suhu air laut permukaan dengan suhu air pada kedalaman 1 km minimal 20°C. Hal ini terlihat dari banyak laut, teluk serta selat yang cukup dalam di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan OTEC. Salah satu pilot plant OTEC dikembangkan di pantai utara Pulau Bali.

64

Sumber energi kelautan lainnya, antara lain energi yang berasal dari perbedaan pasang surut, dan energi yang berasal dari gelombang. Kedua macam energi tersebut juga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Kajian terhadap sumber energi ini seperti yang dilakukan oleh BPPT bekerjasama dengan Norwegia di Pantai Baron, D. I Yogyakarta. Hasil dari kegiatan ini merupakan masukan yang penting dan pengalaman yang berguna dalam upaya Indonesia mempersiapkan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan energi non konvensional. Sementara itu, potensi pengembangan sumber energi pasang surut di Indonesia paling tidak terdapat di dua lokasi, yaitu Bagan Siapi-api dan Merauke, karena di kedua lokasi ini kisaran pasang surutnya mencapai 6 meter. Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi seluruh mineral dan geologi. Indonesia sebagai negara maritim memiliki kandungan minyak dan gas bumi yang besar, berdasarkan data geologi, diketahui bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan potensi yang mengandung minyak dan gas bumi seperti di Selatan Makassar. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 cekungan berada di daerah transisi daratan dan lautan (pesisir) dan hanya 6 cekungan yang berada di daratan. Dari 60 cekungan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 84,48 milyar berel minyak, namun baru 9,8 milyar barel yang diketahui dengan pasti, sedangkan sisanya sebesar 74,68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. Sumber mineral dasar laut ditemukan di daerah hidrotermal atau di daerah gunung api dasar laut yang terdapat di wilayah perairan Maluku dan Sulawesi bagian utara ini. Di daerah hidrotermal ini terjadi keluaran cairan magma dari perut bumi dan terjadi mineralisasi karena tercampur dengan air laut. Mineral ini bertumpuk-tumpuk di mulut magma yang menghasilkan puncak gunung yang runcing dan menjulang tinggi pada kedalaman sekitar 2000 hingga 4000 meter dari permukaan laut. Sebagai gambaran besarnya sumber tambang dasar laut di perairan ini adalah sumber tambang dasar laut di Papua Nugini yang mengandung tembaga, seng plumbum, emas dan perak, eksploitasinya mencapai tingkat 200 ton per hari. Disamping memiliki potensi migas, Indonesia juga memiliki potensi sumberdaya alam yang terdapat di pantai dan lautan meliputi seluruh mineral yang terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas A (mineral strategis: minyak, gas dan batu bara); kelas B (mineral vital: emas, timah, bauksit, nikel ,bijih besi, cromite); dan kelas C (mineral industri: termasuk bahan bangunan dan galian seperti granit, tanah liat, kaolin dan pasir. Secara umum pertambangan di wilayah Belt Ekonomi Maritim yang sudah beroperasi terdapat di Kepulauan Riau, Indramayu, Bawean, Bontang, dan Sale/Papua. Sedangkan wilayah lautan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wilayah pertambangan adalah Natuna, Teluk Cendrawasih, Banda/Maluku, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Selat Makassar dan Halmahera.

65

66 .

Siegel. Inc. 1994.). Tomoya. dan Cato Wadel.”Searching For Good Fortune: the Making of A Bugis Shore Community at Lake Lindu. Dewan Maritim Indonesia. Dewan Maritim Indonesia. Assessing Cultural Anthropology. 1994. Marten. Coastal Foragers in Transition. 1985.Menuju Membangun Negara Maritim.. 67 . “Cultural in Motion”. Betke..Russel. Direktori Dewan Maritim Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Acciaioli. Bavinck. XXII September-Desember 1998: 81-91. Amsterdam.1989. Sociology of Development Research. Andersen. VU Uitgeverij/Free University Press. 1982. Naskah Akademik Rancangan Undang-undang tentang Kelautan. London: Sage Publications. In Robert Borofsky (ed. “Anthropology of Fishing”. “Bugis Enterpreneurialism and Resource Use: Structure and Practise”. G. Memorial University of Newfoundland.57. Borofsky. No. Cross Cultural Trade in World History. New York.. Senri Ethnological Studies No. 42. Research Metods in Anthropology. Bernard. 2004. H. Mc Graw-Hill. London. 1984. McGraw-Hill. Cambridge University Press. New York. 2004. Small Fry: The Economic of Petty Fishermen in Northern Sri Lanka. National Museum of Ethnology. Beals dan Stephen A. North Atlantic Fishermen: Anthropological Essays on Modern Fishing. Alam R.L. Paper. Th. Annual Review of Anthropology. Robert. 1984. Philip D. James. In Bernard J. 1994. Inc. F. Assessing Cultural Anthropology (Section five). 10 : 275-316. Palo Alto. Mc Graw-Hill. Newfoundland Social and Economic Research. Inc. Centre University Bieleveld. Akimichi. R. In Robert Borofsky (ed). 1994. Vol. Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology. “Modernization and Socio Economic Change in The Coastal Marine fisheries of Java : Some Hypotheses”. 1981. Curtin. “On The Knowledge and Knowing of Cultural Activities”. Indonesia Negara Maritim. New York. Tyler (eds). 1991. New York. 1998. 2003. Australian National University. Central Sulawesi”. Disertasi. Assessing Cultural Anthropology (Section five). M. Acheson.

). Theories of Culture in Postmodern Times. 68 . Inc. 1 (2) 1988. “Toward A Working Theory of Culture”.1999. New York. Orasi Ilmiah : Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumbedaya Pesisir dan Lautan. Man (N. Simon & Schuster: New York. Danusaputro Munadjat St. 1968. “Cognition and The Catch : The Location of Fishing Spots in a Brazilian Coastal Village”. Sayling Craft of Indonesia. Dahuri R. J. 1984. 1994. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Forman.Dewan Maritim Indonesia. Rob van dan Jojada Verrips. The Sacred Cow and the Abiminable Pig: Riddles of on Food and Culture. Geertz. 2004. In Robert Borofsky (ed. Prof. 1975.S) 9: 511532. Marvin. pp: 262-282). Hamid. S. 1996. 1995. Inc. “Culture and Sosial Change : The Indonesian Case”. Goodenough. Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan. Oxford: Oxford Univ. Dalam Maritime Anthropological Study. Dahuri.. 1982. Ethnology 6 (4): 417-426. Sitepu. McGraw Hill. Ginkel. Raymond. S. Bogor. Assessing Cultural Anthropology (Section four. 2003. 2003.. Pradnya Paramita. Jakarta. Kajiaan Penunjang Rancangan Undang-undang Maritim tentang Sistem Pertahanan Keamanan Laut.1987. Keanekaragaman Hayati Laut. The Rise of Anthropologi Theory. 1988. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Rowman & Littlefield Publishers. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan. Dewan Maritim Indonesia.J.. St. Teropong Kajian Tata Kelautan Indonesia. C. M. Ward H. Laporan Semiloka Kebijakan Nasional Bidang Kemaritiman. Ginting. New York.W. 1986. Lumentah HMJ.Norton & Company Inc. Abu. PT. 2004. Jakarta. Indonesia and the Law of Sea. Crowell. 2003. Dahuri. 1967. R.Press. Rais. W. Louis. Firth.P. New York. Adrian. R. Malay Fishermen: Their Peasant Economy. Mr. New York. Vol. 2003. 2003. Wawasan Nusantara. IPB. Hengky Supit. Harris. Horridge. Pelestarian Budaya Kebaharian Masyarakat Sulawesi Selatan: Suatu Tinjauan Antropologi). Hasjim Djalal. Introduction.

Keesing. “Multilevel Linkages: Longitudinal and Comparative Studies”. Kottak dan Elizabeth Colson. Pokok-pokok Pemikiran Pembangunan Maritim. 1994. Universitas Hasanuddin – PPT -LIPI. 2000. Hamzah.Colf & Co. Laporan penelitian. Archipel 10: 173-201. Proyek dibiayai oleh Bank Dunia. Munsi. Motik Chandra. In Robert Borofsky (ed. Disertasi. No. Proyek Dibiayai Bank Dunia. Aksara Baru. SH).. pp: 396-410). 1975a. Laporan penelitian. Mardiana. Inc. Munsi. PP. Inc. Laporan penelitian. 1985. 2003. Mattulada. Jakrta. Jhon Pieres. IND-HILL-CO. Jakarta.). School of Oriental and African Studies. Jakarta. P.Hasil Sarasehan Nasional Dewan Maritim Indonesia. Makalah dalam Seminar Menejemen Pembangunan Menurut Budaya Bangsa Indonesia. 1909. Koentjaraningrat. 1996/1997. “An Indonesian Society and Its Universe: A Study of the Bugis of South Sulawesi (Celebes) and their Role Within A Wider Social and Economic System”. 1994. Pengembangan Sumber Daya Kelautan(Laut.1975b. Buku 1 dan 2. 69 . De Hulpmiddelen der Zeevisscherij op Java en Madoera in Gebruik. Darmawan salman. 397-408. 2001. In Robert Borofsky (ed. A. Louis. Universitas Hasanuddin Bekerjasama COREMAP LIPI.m New York.1997/ 1998. Mededeelingen Uitgande van het Departement van Landbow. Pengantar Ilmu Antropologi. Masyhuri. Serba Serbi Konsultasi Hukum Maritim. 1980. Roger M. Menyisir Pantai Utara. Kampen. Buku 1 dan 2. Lampe. New York. dan Ramli A.N.T. St.). 20-21 Sept. University of London. “Theory of Culture Revisited”. McGraw Hill.1985. “Studi Pemanfaatan Sumberdaya Laut dalam Rangka Optimasi Zonasi Taman Nasional Taka Bonerate”. Universitas Hasanuddin –PPT-LIPI. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”.van. Batavia: G. McGraw-Hill. Jakarta. Lineton. “Pasompe “Ugi”: Bugis Migrants and Wanderers”. Yogyakarta Perwakilan KITL V. Dr. dan Ansar Arifin. Lampe. Assessing Cultural Anthropology (Section five. Yayasan Pustaka Nusantara. 1996. Jakarta. Sanur.9.2000. J. Territorial dan Perairan Indonesia. Manusia Bawahan dalam Menejemen. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. Assessing Cultural Anthropology (Section four).

23-27 June 1986. Willem. Manchester University Press. “Power. Melbourne University Press. 2001. Praharani Synthesa. Osseweijer. Pujo. Universiteit te Leiden. New Haven. Cultural Accounts: Human Ecology and Icelandic Discourse. Soselisa. Melbourne. Ideology and Change in the Early State of Buton. 2002.” Fifth DutchIndonesian Historical Congress diselenggarakan pada Lage Vuursche – Nederland. Palsson. Mukhlis. Spermonde. Taka Bonerate dan Pulau-Pulau Sembilan”. Makalah disajikan dalam Seminar Kebudayaan Maritim. S. Rappaport. New Haven. Pandang. Moka. 1985.” Padang.1984. Pusat Studi Lingkungan Universitas Hasanuddin. Laporan Perumusan Kebijakan Maritim Sebagai Pemersatu Bangsa.IK. Disertasi.Macknight. 2004. Penyusunan Scenario Planning Sumber Daya Perikanan Di Wilayah Papua. “Penjajakan Awal Mengenai Kondisi terumbu Karang Di Kep. Prof. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan. J. Pigs for The Ancestors: Ritual In the Ecology of New Guinea People. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan. Paper to be presented at the “Conference on Legal Complexity. Nur Indar dan Lampe. Ecological Sustainability and Social Security in the Management and Exploitation of Land and Water Resources in Indonesia. 6-9 Sept. Hermin. 1991. (Enlarge Edition) Yale University Press. C. Paeni. 1968. Laporan Penelitian. Yale University Press. 1995. Dissertation. Sasi in Maluku: Communal Property and Communal Rights in Marine Resource Management. Closed to the Stone.W. Taken at the Flood: Marine Resource Use and Management in the Aru Islanders (Maluku. Schoorl. Laporan Perumusan Kebijakan tentang Penguatan Kelembagaan. Coastal Economies.Dr. Fakultas Sastra Unhas. 1999.C.IK. Sistem-sistem Tradisional Sebagai Institusi Dalam Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya di Wilayah Pesisir. Watupongoh Navy. 2001. Far from the Throne. Semedi. Macassan Trepangers in Northern Australia. 1976. 1986. Roy A. Memahami Kebudayaan Maritim di Sulawesi Selatan. Pigs For the Ancestors: Ritual in The Ecology of New Guinea People. 70 . 2004. Rompas Max Rizald. Dirjen Kelembagaan Departemen Perikanan dan Kelautan RI. Laporan Penelitian. U. Eastern Indonesia). Gisli. Manon. 1999. The Voyage to Marege . S. Universiteit te Amsterdam. 2004.

London: Zed Books Ltd. 2001. 1991-1993. 2-6 Nopember 1987 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. PP. Leiden. Emile. Onderzoek naar Mindere Welvaart der Inlandsche Bevolking op Java en Madoera.1988. The Penetration of Capitalism: A West African Case Study. Isabela Philipines. Diajukan Pada Konferensi Tentang Trade. 1979. Vercruijsse. 1984. University of the Philippines. “Action and Consequences as Objects of Explanation in Human Ecology”. Cabagan. 1992. CSSP Publication.Sutherland. Cambridge University Press. Technology and Society 51 : 2-7. “ Tripang and Wangkang. Society and Belief in South Sulawesi. H. 1972-1820”. The China Trade of Eightreenth Century Makassar. II. Overzicht van Uitkomsten der Gewestelijke Onderzoekingen naar de Vischteelt en Visscherij en Daaruit Gemaakte Gevolgtrekkingen. Wallerstein. 293-307. 1905. 1987. “Studying Human Actions and Their Environmental Consequences”. The Capital World-Economy: Essays. Welvaartcommissie. I. Environment. Fishers of the Visayas: Visayas Maritime Anthropological Studies. CYPED. Immanuel. Makalah. In Forestry for People and Nature. Batavia: Landsdrukkerij. Cambridge. Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. 71 . Vayda Andrew P.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful