Potret Negara Maritim Indonesia

Buku Bacaan Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

Tim Penyusun : Djuanda Tomo HS, M.Si Mohamad Armansyah, ST Navi Watupongoh, S.IK
i

dicetak dan disebarluaskan oleh : SEKRETARIAT DEWAN MARITIM INDONESIA Departemen Kelautan dan Perikanan 2005

ii

yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola kemaritiman Indonesia. Saya percaya. sehingga mereka menyebut nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut. Melalui buku bacaan ini saya mengajak adik-adik harus lebih banyak membaca buku tentang keberadaan laut kita. Buku bacaan ini akan banyak membantu adik-adik untuk mengenal kekayaan yang ada di laut kita seperti terumbu karang yang indah dan beragam jenis biota di dalamnya. Menteri Kelautan dan Perikanan T Freddy Numberi iii . buku ini merupakan sumbangsih untuk merubah pola pikir para siswa agar lebih cinta pada laut. Hadirnya buku bacaan ini merupakan inisiatif dari Dewan Maritim Indonesia.504 pulau. Oleh karena itu Indonesia dikenal oleh dunia Internasional sebagai “Negara Kepulauan” terbesar di dunia.SAMBUTAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN Secara geografis dua pertiga wilayah negara Republik Indonesia terdiri dari perairan laut yang di dalamnya terdapat + 17. sebagai potensi ekonomi maritim yang sangat berlimpah ragamnya. agar pengenalan wawasan kemaritiman sudah mulai digerakkan dari siswa-siswa tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas sebagai generasi penerus untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yagn berjiwa maritim dimasa depan. agar lebih mengenal potensi sumber daya alam yang terkandung di wilayah laut kita. Sejak dahulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa dengan jiwa maritim dan semangat kebaharian yang tinggi. sekarang pribahasa nenek moyangku pelaut tidak banyak dikenal oleh para siswa. Namun. Adanya pengenalan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai insan pembangunan yang berjiwa maritim. Pulau-pulau yang ada disatukan oleh perairan laut menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.

yang menghimbau agar seluruh rakyat Indonesia kembali membangun negeri maritim dengan 5 (lima) pilar program yang antara lain membangun kembali wawasan maritim. Jakarta.000 km dan 2/3 (dua per tiga) wilayahnya adalah lautan. Laut merupakan potensi sumberdaya maritim yang sangat kaya baik hayati. Juni 2005 Sekretaris Umum T Prof.SAMBUTAN SEKRETARIS UMUM DEWAN MARITIM INDONESIA Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa secara geografis Indonesia merupakan salah satu negara maritim di dunia. non hayati maupun energi laut namun selama ini kita telah mengabaikannya. Dr. iv . Buku Potret Negara Maritim Indonesia ini. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola potensi kemaritiman Indonesia. memiliki pulau sebanyak + 17. Saya percaya. Hadirnya buku bacaan ini diharapkan bisa menjadi bahan pengetahuan bagi generasi penerus utamanya kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yang berjiwa maritim di masa depan. M. buku ini merupakan sumbangsih yang berharga bagi pembanguan maritim Indonesia. semoga penerbitan buku ini bermanfaat. Ir.504 pulau. panjang pantai + 81. Agr. merupakan buku bacaan yang mengenalkan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai sumber insan pembangunan yang berjiwa maritim. Rizal Max Rompas. Dengan rasa gembira saya menyambut baik prakarsa sekretariat Dewan Maritim Indonesia (DMI) untuk menyusun dan menerbitkan buku Berwawasan Maritim Republik Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggapan partisipatif terhadap Seruan Sunda Kelapa yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 27 Desember 2001 di Jakarta. Dengan demikian kemaritiman menjadi sangat penting bagi kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia.

Perikanan. wilayah-wilayah dengan palung-palung laut dalam di bagian Tengah (laut Banda) dan daerah paparan Sahul dengan laut dangkal di ujung Timur. Dengan luas laut demikian. dimaksudkan untuk membuka wawasan kepada generasi muda akan besarnya potensi-potensi ekonomi v . Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau berbagai fenomena alam (earth fenomena) sangat kaya di Indonesia.504 pulau besar dan kecil. Penerbitan buku yang diberi judul “Potret Negara Maritim Indonesia” yang diperuntukkan bagi siswa didik di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). India. Dengan posisi silang yang sangat strategis dan kaya dengan sumberdaya alam yang beranekaragam. lempeng Eurasia dan lempeng Samudera Hindia-Australia.KATA PENGANTAR Kondisi geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia yang strategis terletak didaerah tropis yang diapit oleh dua benua yakni Asia dan Australia dan dua samudra yaitu Samudera Pasifik dan Sumudera Hindia. ekosistem lindung dan jasa-jasa Kelautan sangatlah besar. Dari Barat sampai ke Timur kepulauan Nusantara terbentang jalur magnetic dan jalur seismic serta jalur anomaly gravitas negatif terpanjang di dunia. Salah satu keunikan posisi kepulauan Nusantara adalah karena Indonesia terbentuk dari pertemuan tiga lempeng raksasa bumi (earth) yakni lempeng Pasifik. serta pertemuan dari tiga lempeng besar dunia Eurasia.000 km atau sekitar 14% dari panjang garis pantai dunia dan memiliki sekitar 17. Gambaran ini memperlihatkan potensi-potensi perekonomian dalam bentuk potensi tambang. dan dengan pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Atas dasar susunan geografis yang demikan unik. hal tersebut merupakan kekayaan yang luar biasa bagi Indonesia. Negara Indonesia 2/3 wilayahnya atau sekitar 5. Fenomena alam yang paling menonjol adalah daerah paparan Sunda yang memiliki laut dangkal di sebelah Barat. Indonesia secara geografis merupakan negara maritim terbesar di dunia. Australia dan Pasifik.8 juta merupakan lautan dan memiliki panjang garis pantai 81. terbentang lautan luas yang memeluk kepulauan Nusantara dengan kokoh dan dengan variasi jenis-jenis kedalaman laut yaitu laut dangkal dan laut dalam yang memberi keindahan dan aneka ragam biota laut di dalamnya.

Penyusun vi . dan dapat menjadi alternatif tulang punggung negara yang selama ini sangat bergantung pada pajak. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna karena itu pada kesempatan ini mengharapkan saran-saran konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan buku ini.yang dikandung dalam pembangunan dan pengelolaan maritime.

................... 4......................................................................................2 Letak Geografis dan Kepentingannya .................. Sambutan Sekretaris Umum Dewan Maritim Indonesia ...............................3 4......................................................... vii ..........2 2............ Daftar Gambar ..................... BAB 1 BAB 2 PENDAHULUAN .............................................1 5.........................5 4................................................................ Pengembangan Sosial Budaya Maritim ............... Kata Pengantar ...........................6 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim ..................................................................................................................................................................................... Daftar Isi .......................................... 5...................................................... Laut Sebagai Pemersatu Bangsa .... Konflik Budaya Maritim .... Batas Wilayah Maritim dan Pulau-pulau Terluar ..................................................................................................................1 4.....................................................................2 5........1 2................................................. 3......................... Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan .............. iii iv v vii viii 1 4 5 6 11 13 14 17 19 22 25 27 29 30 36 38 39 40 46 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA ........3 Dimensi Wilayah Maritim ........................................................................... PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA ......1 3............ Pengembangan Tekhnologi dan Budaya Maritim ............................................. BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM ......4 4.................. Tipologi Kawasan Maritim ................................. Pelestarian Sumberdaya Budaya Maritim .................................3 BAB 3 Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan ......... BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM ........................................................................................ Kebangkitan Kemaritiman Indonesia .......DAFTAR ISI Hal Sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan ...................................................................................... Masyarakat Suku Laut dan Otonomi Daerah ........ 2.................................................2 4............................

............................................................................................. DAFTAR GAMBAR hal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Peta Indonesia .....................................................................1 Industri Pelayaran ........ Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia .................................. 7................................... Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya ............................................................... 6.............. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) .2 Industri Perikanan ...............................................4 Industri Energi dan Sumberdaya Mineral ............ Posisi Geo-Strategis Indonesia ....................................... Konsep Pelabuhan dan Zona Perhubungan ..... 7......................................... DAFTAR PUSTAKA .......................................................BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT .................. 7...................................................... 60 59 10 14 15 16 58 viii .................... 7................................................................................................................................3 Industri Pariwisata Bahari ........................................................................... 47 48 49 55 57 59 62 64 67 BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM .................................................................................2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia ............................................................................................................................... Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antar Pulau (INTERINSULAIR) ................ 6........1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia ...........................................................

ekologi dan sosial. 1 . pembinaan dan pengawasan pemerintah maupun dalam segi peminat dunia usaha apabila dibandingkan dengan sektor-sektor perekomian lainnya sehingga berbagai potensi sumber daya dalam sektor maritim yang sebenarnya memiliki prospek penghasilan dan keuntungan yang teramat besar masih belum dapat didayagunakan secara optimal. Pembangunan berkelanjutan ini mengandung tiga unsur utama yakni dimensi ekonomi. Hal ini tentu saja tidak terlepas sebagai akibat dari banyaknya permasalahan yang terdapat di seputar dunia maritim yang menimbulkan kesulitan bagi para pengusaha besar. menengah maupun kecil yang telah berkecimpung dalam bisnis maritim untuk memperoleh kemakmuran dari usahanya karena harus senantiasa berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. atau tersier. dan menghindarkan ketidakseimbangan yang ekstrim antar sektor (extreme sectoral imbalances) yang dapat mengakibatkan kehancuran produksi sektor primer. Model pembangunan yang digunakan Indonesia adalah model pembangunan berkelanjutan (sustainable development). memelihara pemerintahan dari hutang luar negeri pada tingkatan yang terkendali (a manageable level). Kondisi ini juga yang kemudian menimbulkan keengganan bagi para calon pengusaha yang berkeinginan untuk mencoba peruntungannya dalam dunia usaha maritim. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras melanda dunia. Seyogyanya sektor maritim dapat kita jadikan sebagai salah satu sumber penunjang utama bagi perekonomian masyarakat negara kita sesuai dengan salah satu semboyan yang kita miliki sebagai negara maritim yakni ”Jalesveva Jayamahe” yang memiliki arti ”Di Laut Kita Jaya”. Pembangunan secara ekonomis dianggap berkelanjutan (an economically sustainable area/ecosystem) jika kawasan tersebut mampu menghasilkan barang dan jasa (good and services) secara berkesinambungan (on continuing basis). ada beberapa model pembangunan yang dikembangkan. Adapun ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut dapat dikemukakan secara jelas pada uraian berikut : a. Namun pada kenyataannya sampai saat ini sektor maritim terkesan masih agak tersisihkan baik dalam segi pengaturan.BAB 1 PENDAHULUAN Sebagaimana kita ketahui bahwa negara Indonesia kita tercinta ini adalah negara yang memiliki wilayah perairan terbesar di dunia dan dua pertiga dari wilayah kedaulatan negara kita merupakan wilayah perairan. yang merupakan suatu model pembangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhanya. sekunder.

terjadi distribusi pendapatan dan kesempatan berusaha secara adil. c. sehingga laju (tingkat) pemanfaatan tidak melebihi daya dukung (carrying capacity) kawasan pesisir dan laut untuk menyediakannya”. tidak terjadi pembuangan limbah melampaui kapasitas asimilasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kondisi tercemar. serta pemanfaatan sumber daya tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources) yang dibarengi dengan upaya pengembangan bahan substitusinya secara memadai. Ketentuan tentang wilayah nasional Indonesia menyebutkan bahwa wilayah nasional Indonesia adalah suatu hamparan perairan laut luas dengan berpuluh ribu pulau tersebar di dalamnya. pengelolaan pembangunan berbasis sumber daya kelautan. yang merupakan suatu wilayah kesatuan laut dan pulau secara bulat dan utuh termasuk udara diatasnya dan berbentuk wilayah kepulauan yang menyatu. Dalam konteks ini termasuk pula pemeliharaan keanekaragaman hayati (biodiversity). terdapat akuntabilitas dan partisipasi politik. dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian eratnya sehingga pulau-pulau. sandang. tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya dapat diperbaharaui (renewable resources). dan pendidikan) seluruh penduduknya terpenuhi. pertahanan. Untuk lebih jelas mengenai batasan pengertian wilayah nasional Indonesia maka kita perlu mengetahui tentang pengertian-pengertian sebagai berikut : Pulau merupakan wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi oleh air dan berada di atas permukaan air pada waktu air pasang minimum selama setahun. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Pembangunan dikatakan secara ekologis berkelanjutan (an ecologically sustainable arealecosystem). Pembangunan dianggap secara sosial berkelanjutan (a socially sustainable area/ ecosystem). perumahan.b. 2 . apabila kebutuhan dasar (pangan. kesehatan. siklus biogeokimia. keamanan. stabilitas siklus hidrologi. ada kesetaraan gender (gender equity). manakala basis (ketersediaan stok) sumber daya alamnya dapat dipelihara secara stabil. dan kondisi iklim. Dan kepulauan meliputi suatu gugusan pulau termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut. (ekologis). Pengertian laut merupakan ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan daratan dan bentuk-bentuk alamiah lainnya yang mempunyai kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum internasional. terutama stakeholders. perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi. ekonomi. secara tekhnis dapat didefinisikan bahwa “pembangunan kelautan berkelanjutan (sustainable marine development) adalah suatu upaya pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalam kawasan pesisir dan lautan untuk kesejahteraan manusia.

melainkan lebih dari itu. ekonomi. serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut bagi kemakmuran seluruh rakyat. dan kepelabuhanan baik nasional dan internasional. Pengertian Maritim Indonesia adalah suatu lingkungan alam yang terbentuk secara alami. Untuk sistem ekonomi yang berdasarkan demokrasi ekonomi mampu memberikan dorongan dan kemudahan bagi usaha-usaha industri dan jasa maritim dalam arti luas. Karena negara maritim merupakan negara yang mempunyai kegiatan maritim dan kekuatan armada laut yang dimilikinya yang memberikan kontribusi penting bagi pembangunan nasional. dan kemaritiman itu sendiri adalah hal-hal yang menyangkut masalah maritim. yang sekaligus dapat mengangkat kualitas kehidupan seluruh rakyat di seluruh kepulauan. baik yang berada di atas. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. Uraian tersebut di atas memberi gambaran pengertian tentang apa itu Maritim Indonesia. Sedangkan maritim itu sendiri merupakan bagian dari kegiatan di laut yang mengacu pada pelayaran/pengangkutan laut. Sistem politik yang berdasarkan demokrasi politik khususnya mampu menjamin keutuhan seluruh kepulauan Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah negara. di dalam. kegiatan di permukaan laut. sosial-budaya dan pertahanan keamanan. Sedangkan untuk sistem pertahanan-keamanan yang bertumpu pada kekuatan rakyat serta mampu menjamin tegaknya kedaulatan di seluruh wilayah laut dan laut yurisdiksi nasional. yang merupakan satu kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat. membangun tradisi dan perikehidupan masyarakat maritim dan menjadikan laut sebagai penghubung dan pemersatu bangsa. Negara maritim berdiri di atas landasan alam dan budaya maritim yang membentuk peradaban maritim yang dicerminkan dalam sistem politik. dan ruang udara di atasnya. di dasar maupun yang berada di bawah dasar lautan.Sedangkan pengertian kelautan meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan di laut yang meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya. landas kontinen termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Jadi Maritim Indonesia tidak diberi pengertian segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut saja. perdagangan (sea-borne trade). juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. serta tersalur dan terpenuhinya kepentingan-kepentingan masyarakat maritim di lembagalembaga eksekutif dan legislatif. terdiri atas hamparan perairan laut yang luas dengan beribu pulau besar dan tersebar di dalamnya. serta keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. 3 . termasuk udara di atasnya berikut sumber daya dan lingkungan alam. Dalam sistem sosial-budaya yang menjunjung tinggi harkat manusia dan keadilan serta mampu menumbuhkan semangat cinta laut.

Predikat Indonesia sebagai negara maritim. seperti pada jaman Sriwijaya dan Majapahit terdahulu. yang merupakan negara kepulauan di kawasan Eropa dan menerapkan visi maritim secara berhasil dalam upaya mensejahterakan rakyatnya dan membela kelangsungan keberadaan negaranya. dengan motto terkenalnya “Britain Rules the waves”. dan dari hasil negara jajahannya telah mampu membangun negara Belanda yang makmur melimpah yang terletak di Benua Eropa. Berkat visi maritim yang diterapkannya. pertahanan dan keamanan serta menjadikannya sebagai geopolitik. Di mana merupakan suatu negara kontinen (Benua) yang menganut dan menerapkan “Visi Maritim” dalam penyelenggaraan kebijakan kesejahteraan rakyatnya. telah memiliki jajahan yang luas di benua Asia antara lain Indonesia. berbangsa dan bernegara yang mencakup politik. Selanjutnya contoh negara maritim lainnya adalah negara Belanda. baik sikap dan kebijakannya terhadap dunia luar. ekonomi.BAB 2 PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA Negara maritim Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia dan telah memiliki visi nasional yang dikenal dengan “Wawasan Nusantara Bahari”. Nuansa kemaritimannya perlu diberikan porsi yang lebih luas dalam rangka memenuhi cita-cita nasional kita agar “Negara Maritim Indonesia” kembali menjadi bangsa dan negara bahari secara nyata. sebenarnya akan semakin lengkap dan mantap dengan tersusunnya “Wawasan Maritim Indonesia” yang akan berfungsi sebagai acuan dan pemberi arah bagi penentuan strategi dan kebijakan dalam pelaksanaan secara operatif. yang pada intinya menggambarkan sikap dan kebijakan suatu negara maritim dalam upaya mensejahterakan rakyat dan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara dengan mendasar kepada sifat dan bentuk kemaritimannya secara profesional. negara Britania merupakan negara penjajah yang menapakkan kakinya di lima benua. Salah satu contoh negara maritim adalah negara maritim Britania (lnggris). namun dalam perkembangannya kata baharinya ditanggalkan dan hanya menjadi “Wawasan Nusantara” saja. 4 . Maka rumusan Wawasan Nusantara yang telah dimiliki bangsa Indonesia memerlukan penyempurnaan dengan memasukkan unsur muatan kemaritiman yang lebih proporsional. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki visi atau cara pandang berdasarkan nilai-nilai kemaritiman. baik wilayah maupun penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat. Bahkan berkat visi maritim yang dianut tersebut. Mengingat pengertian “Wawasan Nusantara” diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap kedaulatan wilayah dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan. suatu negara kerajaan kecil di Benua Eropa. sosial budaya.

Ketika masyarakat nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dari berbagai suku bangsa yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia. meskipun hanya sebatas sebagai sarana transportasi dan ketahanan wilayah.1. Tidak dapat dipastikan apakah Mahapatih Gadjah Mada dan Panglima Laut Majapahit. Melalui laut. sebagai sarana transportasi serta alat pertahanan dimanfaatkan Majapahit sebagai pusat kerajaan. akhirnya pola pemikiran yang demikian berubah. Seiring dengan perjalanan waktu. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan Bumi nusantara tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdaulat merupakan wilayah kepulauan yang sekaligus merupakan wilayah perairan. yaitu negara Jepang yang dikenal dengan negara matahari terbit. Kerajaan-kerajaan suku bangsa yang bertebaran itu belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya merupakan penduduk dari satu wilayah kepulauan. Semangat kebahariannya diwujudkan dalam perilaku sebagai pelaut. sudah memahami geopolitik wilayah perairan kerajaan Majapahit atau belum. bahwa Majapahit memiliki visi kemaritiman. Tindakan politis yang dilakukan Mahapatih Gadjah Mada dapat dikatakan. tetapi yang jelas. 5 . Dapat kita lihat bahwa negara ini telah mencapai kemakmuran yang sederajat dengan negara Eropa dan negara Amerika yang maju. bahkan merupakan satu-satunya negara Asia yang termasuk negara ekonomi maju. Itulah visi kemaritiman Majapahit. bahwa kehendak mempersatukan wilayah perairan nusantara menjadi satu kerajaan di bawah panji-panji Majapahit merupakan pemahaman akan kondisi geografis Nusantara. yang merupakan negara kepulauan dimana negara Jepang bervisi maritim dalam penyelenggaraan pemerintahan negaranya. Mpu Nala. pemanfaatan laut. perantau hingga pembajak di laut. Di samping ekspansi politis yang memiliki dampak yang menyangkut strategi dan kebijakan ketahanan wilayah kerajaan tersebut. Majapahit mampu mengkordinasikan negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh. Karena alasan itulah wilayah perairan kepulauan ini selanjutnya dinamakan Nusantara oleh Majapahit.Di Asia ada juga satu negara maritim. 2. di mana wilayah Indonesia terdiri 2/3 bagian keseluruhan wilayahnya adalah perairan. Hal ini terjadi ketika seorang putera bangsa yang bernama Mahapatih Gadjah Mada ‘menyadari’ ingin menyatukan kerajaan-kerajaan kecil nusantara di bawah koordinasi Kerajaan Majapahit. dan merupakan suku bangsa pesisir dan pulau-pulau kecil adalah penduduk yang yang memiliki wawasan maritim yaitu hidup sebagai nelayan yang bermata pencaharian mencari ikan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. yang negeri asalnya berjumlah berpuluh-puluh baik di pulau Sumatera maupun di pulau Kalimantan.

kekuatan. Tanpa dilengkapi dengan visi.2. kawasan Selatan meliputi Batavia dan sepanjang Pantura (Pantai Utara Pulau Jawa). Selama masa Pemerintahan Belanda bangsa kita yang tadinya mempunyai pemikiran yang berorientasi paridigma laut menjadi paradigma daratan (continental). Manusia yang hidup dalam masyarakat dan bernegara perlu memiliki orientasi tersebut dalam bentuk cara pandang atau wawasan. Melalui proses sejarah maritim yang panjang. yaitu dengan menguasai wilayah perairan nusantara mulai dari kawasan Utara yang meliputi wilayah Ternate dan Tidore. dan kelemahan sebagai negara kepulauan (nusantara) yang berada di antara dua samudera dan dua benua. Secara Implisit penyebutan itu merupakan pengakuan bahwa air (laut) adalah bagian dari wilayah negara dan merupakan pemersatu bagi pulau-pulau (daerah dan penduduknya) yang harus dilindungi oleh segenap bangsa dan negara Indonesia. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan Perkembangan pentingnya kemaritiman Indonesia mulai mendapatkan perhatian sejak tahun 1957. Dengan demikian. Melihat kondisi kemaritiman Majapahit dari wilayah serta potensi laut yang luar biasa. Langkah pemerintah itu sangat strategis karena sejatinya 2/3 dari luas wilayah Indonesia adalah perairan dan merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia (Archipelagic State). bagaimana suatu bangsa dapat membangun negaranya secara baik dan benar. Ironisnya lagi. Demikian pula terhadap manusia. bangsa Indonesia perlu memiliki visi yang jelas dan berjangka panjang dalam konteks kemaritiman nusantara termasuk di dalamnya sebuah wawasan kemaritiman nusantara. semangat maritim bangsa Indonesia tidak disadari telah terkikis dan dirubah dengan sengaja oleh sistem pemerintahan Belanda selama 350 tahun. Pemerintah Hindia Belanda juga mewujudkan visi kemaritimannya. maka demi kepentingan Belanda sendiri. 2. maka setiap manusia mempunyai visi terhadap dunia yang dihadapi. kawasan Tengah: Makasar. seiring dengan keluarnya pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang perairan Indonesia. orientasi setiap kehidupan manusia adalah masa depan yang cerah. masyarakat juga kurang menyadari bahwa Indonesia secara geografis memiliki berbagai peluang. Jadi cara pandang yang didasarkan pada kemaritiman dalam kehidupan bangsa Indonesia pada hakikatnya berlaku sebagai sebuah visi dalam menghadapi tantangan ke depan. Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak lagi memiliki jiwa maritim. Indonesia dikenal sebagai negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan beraneka suku bangsa dan kebudayaan. dan kehidupannnya lebih berorientasi kepada daratan.Sistem transportasi perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintahan Hindia Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. ancaman. Hanya 6 .

dengan pulau-pulau diartikan juga karang-karang. maka garis lurus itu ditarik melintang teluk. muara sungai atau terusan. yang memotong lubang dari teluk. batu-batu karang dan gosong-gosong yang ada di atas permukaan laut pada waktu air surut wilayah Republik Indonesia. 442 yang membagi wilayah daratan Indonesia dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendidi-sendiri. ungkapan itu belum didukung dengan peraturan perundang-undangan mengingat penentuan batas laut teritorial sampai pada tahun 1957 masih berpedoman pada pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim 1939 stb No. walaupun lebar selat di bagian lain antara kedua garis itu melebihi enam mil laut. di tempat mana jarak antara titik-titik itu melebihi enam mil laut. jarak tiga mil laut diukur dari garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik terjauh garis-garis air surut dari pulau-pulau yang terletak pada bagian luar kelompok. jarak tiga mil laut itu diukur dari garis lurus. Bunyi Pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 yaitu : (1) Di dalam aturan ini dan di dalam ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan berdasarkan aturan ini yang diartikan dengan : 1. di tempat selat-selat yang menghubungkan dua laut terbuka dan dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. batas laut teritorial kita hanya 3 mil laut yang diukur dari garis pantai pada waktu air surut terendah dan melingkari setiap pulau sehingga mengakibatkan banyak kantong-kantong laut bebas di antara pulau-pulau di Indonesia. C.saja. ceruk laut. dianggap sebagai laut territorial bagian dari selat yang terletak di antara dua garis sebelah menyebelah selat yang menghubungkan kedua tepi sedekat mungkin pada laut terbuka . di tempat kelompok yang terdiri dari dua atau lebih pulau-pulau. daerah laut. di tempat teluk. yang membentang ke arah laut sampai jarak tiga mil laut dari garis air surut pulau-pulau atau bagian-bagian pulau-pulau yang termasuk wilayah Republik Indonesia. yang jadi permasalahan. dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. ceruk laut. 7 . Dengan pengertian bahwa : A. muara sungai atau terusan. jika lubang di maksud melebihi sepuluh mil laut. Ketika itu. sedekat mungkin pada gerbang masuk pada titik pertama di mana lebar lubang itu tidak melebihi sepuluh mil laut. Laut Territorial Indonesia : I. B. ceruk laut. pada titik pertama dimana lebar selat tidak melebihi enam mil laut. muara sungai atau terusan.

termasuk bagian laut territorial yang terletak pada bagian sisi darat dari : a. memajukan kesejahteraan umum. termasuk sungai-sungai. ceruk-ceruk laut. daerah laut yang terletak pada sisi laut dari tengah daerah laut yang diuraikan di bawah I. daerah air teluk-teluk. Pengertian di atas tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat UUD’45 yang dalam rumusannya telah menegaskan bahwa negara Indonesia mempunyai fungsi.D. sekaligus mempunyai tujuan yaitu : “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. 3. 4/Prp 1960 tentang Perairan Indonesia. 4. Daerah laut Indonesia (perairan territorial) : laut territorial Indonesia. Disahkannya Undang-undang itu. tentu merupakan keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia. Secara yuridis formil pengumuman pemerintah itu dituangkan dalam Undangundang No. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. muara-muara sungai dan terusan. ditarik melalui tengah-tengah selat. Daerah air Indonesia : laut territorial termasuk perairan pedalaman Indonesia. mengingat dalam perkembangan hukum internasional banyak negara pantai yang berjuang menentukan wilayah lautnya lebih dari tiga mil laut. perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Bagi kita ini menjadi bukti kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia. mengingat sebelumnya laut di antara pulau yang tadinya merupakan laut bebas telah tercakup dan dinyatakan sebagai perairan pedalaman Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mensosialisasikan wilayah perairan Indonesia melalui pengumuman pemerintah tanggal 13 Desember 1957 yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda. b. 2. maka garis pemisah antara laut territorial Indonesia dengan negara asing. 8 . II. di tempat selat yang menghubungkan dua laut terbuka yang lebar selatnya tidak melebihi enam mil laut dan dalam hal mana Indonesia bukan merupakan satu-satunya negara tepi. terusan-terusan dan danau-danau dan rawa-rawa di Indonesia. tetapi terletak dalam batas-batas bandar yang ditetapkan. Perairan pedalaman Indonesia : semua perairan yang terletak pada bagian sisi darat dari laut territorial Indonesia. laut pantai.

menjamin berlakunya seluruh peraturan perundang-undangan Indonesia dalam yurisdiksi (secara hukum) bekas laut bebas tadi. berarti beban dan tanggung jawab pemerintah Indonesia di wilayah perairan semakin besar dan berat dengan bertambahnya luas wilayah perairan Indonesia dari 3. Konvensi tentang hal ini telah beberapa kali diselenggarakan. dengan diundangkannya Undangundang tersebut perairan pedalaman Indonesia menjadi bagian dari wilayah negara kesatuan Indonesia atau wilayah perairan semula hanya memiliki 3 mil laut menjadi 12 mil laut. Selain United Nation Convention Law of the Sea (UNCLOS).Dimasukkannya bekas laut bebas menjadi perairan pedalaman Indonesia.8 juta km². yang mencerminkan masalah yang menjadi cakupan tugasnya. dengan ketentuan pengakuan atas lalu lintas damai bagi kapal-kapal asing untuk melintasi laut wilayah 12 mil laut dan perairan pedalaman Indonesia dari laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia dan sebaliknya. ada beberapa konvensi penting di bidang maritim. Keberhasilan perjuangan tersebut. sebab yang tadinya merupakan laut bebas. 9 . yang mengeluarkan suatu konsep geopolitik maritim. Akan tetapi kesadaran bahwa Indonesia merupakan suatu Negara Kepulauan sesungguhnya masih belum terlalu lama. serta dari laut bebas ke laut bebas. yaitu sejak Perdana Menteri Djuanda. yang telah disebutkan di atas.7 juta km² menjadi 5. dan Cleaner Ocean (Perlindungan dan Kelestarian Laut)”. Salah satunya adalah konvensi tentang keselamatan jiwa di laut yaitu Safety of Life at Sea (SOLAS). India dan Cina. Organisasi ini memiliki motto ” Safer Shiping (Keselamatan Kapal). perubahan terakhir pada tahun 1974 (konvensi ini dikenal sebagai SOLAS 1974). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memfasilitasi pendirian IMO (International Maritime Organization). Sejarah menunjukan bahwa nelayan-nelayan kita dengan menggunakan perahu phinisi telah mengarungi lautan dan mendarat di bumi Afrika. Saat ini laut tak bisa terlepas dari berbagai konvensi internasional. pada 13 Desember 1957 yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda. Sebagaimana diketahui bersama bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki kejayaan dalam bidang kelautan. Perjuangan dan keberhasilan ini merupakan bukti adanya kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia. jazirah Arab. sehingga membatasi hak-hak negara lain.

seperti fraksi Jawa . yang dapat digunakan secara bebas oleh negara manapun tanpa izin berlayar dari Indonesia. dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian wajar dari wilayah daratan Negara Republik Inoonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari pada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan administrasi pemerintahan dan politik sebagai negara kesatuan. Setiap selat antara dua pulau hampir dapat dipastikan merupakan perairan internasional. Peta Indonesia Sumber : BAKOSURTANAL Dapat dibayangkan bahwa wilayah laut di antara dua pulau yang berada lebih dari 3 (tiga) mil dari garis pantainya merupakan wilayah internasional. Yong Celebes dan lain-lain. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indoneisa akan ditentukan dengan Undang-Undang”. maka pada sidang UNCLOS PBB tahun 1982 usulan Djuanda diterima bahkan dijadikan konsep tentang negara kepulauan dan mewarnai pasal-pasal UNCLOS 10 . sehingga menyebabkan wilayah Indonesia terpecah menjadi beberapa fraksi.Gambar 1. Yong Sumatera. Menyadari hal ini maka Perdana Menteri Djuanda tepat pada tanggal 13 Desember 1957 menyatakan deklarasinya yang berbunyi sebagai berikut : “Bahwa segala perairan di sekitar. Ditambah lagi dengan tekanan politik nasional pada waktu itu memang sangat lokal sesuai dengan tanah asalnya seperti Yong Java.fraksi Sumatera – fraksi Celebes dan seterusnya. di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia. Pada akhirnya melalui perjuangan diplomasi yang gigih tak kenal lelah selama hampir 25 tahun.

11 . Pasal-pasal dalam UNCLOS 1982 tersebut memberikan hak kepada Indonesia sebagai negara kepulauan dan tentunya merupakan peluang Indonesia dalam pengaturan untuk memanfaatkan kekayaan laut bagi sebesar-besarnya kepentingan negara dan rakyatnya. Salah satu peristiwa bersejarah tentang hilangnya kejayaan tersebut adalah terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang dilakukan oleh Belanda dengan Raja Surakarta dan Yogyakarta. Upaya tersebut tidak mampu membentuk pemikiran umum yang mampu merubah paradigma dari darat ke laut. 17 tahun 1985.3. Oleh beberapa kalangan pada waktu itu yang dipelopori oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah dilakukan terobosan-terobosan kecil untuk menggugah kesadaran politik agar lebih ‘seimbang’. Terbukti masih belum adanya satupun lembaga keuangan yang mau memberikan pinjaman perbankan berupa kredit kepada para nelayan ataupun pembelian kapal. 2. Indonesia juga dikenakan kewajiban-kewajiban internasional yang harus dipenuhi berdasarkan UNCLOS 1982. Keberhasilan diplomasi Indonesia di forum internasional tersebut di atas sayangnya kurang diperhatikan dan ditanggapi secara baik oleh para politisi dan birokrat kita. Kebangkitan Kemaritiman Indonesia Kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim pernah mengalami kemunduran. timbul tuntutan untuk mencari kebijakan pembangunan yang baru dan kebutuhan untuk membangun bidang kelautan sangat besar. Seiring dengan reformasi pembangunan. Akibatnya pembangunan sektor kelautan di masa orde baru telah diabaikan dan sangat tertinggal. termasuk akademisi perguruan tinggi. terlebih setelah masuknya VOC ke Indonesia (1602 M . Pada tahun 1996 telah dicanangkan sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara. Selain itu juga diamanatkan untuk merubah dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang ada. yang melibatkan seluruh lembaga nasional yang terkait dengan bidang kelautan. Akibatnya terjadi proses penurunan semangat dan jiwa maritim bangsa serta perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Indonesia yang semula bercirikan maritim menjadi sifat kedaratan. Kedua raja keturunan Mataram tersebut menyerahkan perdagangan laut hasil bumi dan rempahrempah dari wilayahnya kepada Belanda.(Konvensi Hukum Laut 1982). Selain hak dan peluang untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan laut. Keputusan kedua raja yang telah dikendalikan oleh Belanda tersebut memasung kemampuan maritim bangsa Indonesia. Pada tahun 1985 keputusan sidang PBB tersebut kemudian diratifikasi dalam bentuk Undang-Undang No. Indonesia perlu membuka wilayah lautannya untuk dapat dilalui oleh kapal asing yang biasa dikenal dengan nama “ALKI” (Alur Laut Kepulauan Indonesia).1798 M). Dalam kerangka untuk membangun Benua Maritim Indonesia.

dan Wawasan Nusantara dijadikan sebagai wawasan kebangsaan yang mengetengahkan azaz “Negara Nusantara” (archipelagic state). Sejarah bahari Indonesia telah mewariskan pengalaman. Pada tahun 1957 Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno mendeklarasikan Wawasan Nusantara di kalangan dunia. serta seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya tidak boleh di pisah-pisahkan. Komitmen pemerintah terhadap pembangunan di bidang maritim makin menampakan harapan cerah dengan telah dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan dikembangkannya kelembagaan Dewan Kelautan Nasional (DKN) menjadi Dewan Maritim Indonesia (DMI). tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan. Kemudian memasuki pemerintahan Presiden Suharto untuk memperoleh pengakuan dari dunia internasional telah dilaksanakan perjuangan yang terus menerus di forum internasional dan regional. dan selanjutnya atas usulan dari Dewan Maritim Indonesia. Presiden Megawati Soekarnoputri menerbitkan Keppres Nomor 126 tahun 2001 yang menetapkan tanggal 13 Desember sebagai “Hari Nusantara”. Perkembangan selanjutnya pada tahun 1999 di bawah pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid menyatakan komitmennya terhadap pembangunan kelautan. Pada tahun 1998 Presiden Baharudin Jusuf Habibie semasa pemerintahannya mendeklarasikan visi pembangunan kelautan bangsa Indonesia dalam “Deklarasi Bunaken. 12 . udara. pada tahun 2001 di bawah pemerintahan Presiden RI Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan “Seruan Sunda Kelapa”. Sehingga pada tahun 1982 gagasan “Negara Nusantara” berhasil dan diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS’82) serta berlaku sebagai hukum internasional positif sejak 16 November 1994. kebahagiaan serta kejayaan bangsa.Hal ini merupakan kemunduran kekuatan bangsa Indonesia sebagai negara maritim terbesar. cita-cita dan perjuangan para bahariwan dalam mewujudkan kemakmuran. dan pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. Inti dari deklarasi tersebut adalah laut merupakan peluang. Salah satu hasil perjuangan dari para pejuang maritim melalui satu komitmen untuk memajukan kemaritiman Indonesia. kesatuan dan pembangunan bangsa Indonesia. sehingga ke depan dapat dijadikan andalan dalam meningkatkan devisa negara. Kedua lembaga tersebut diharapkan menjadi suatu lembaga yang mampu menjadi wadah untuk mengelola sektor kelautan yang memiliki potensi yang sangat besar. Wawasan Nusantara tersebut memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan darat. yang intinya mengajak kepada segenap bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan di laut. dasar laut dan tanah di bawahnya.

Jejak kebudayaan prasejarah bercirikan maritim juga ditemukan di kawasan Austronesia. ekonomi. pertahanan dan keamanan nasional Indonesia.000 Km terpanjang ke dua di dunia setelah negara Kanada. yaitu di antara dua benua dan dua samudera. kepulauan Indonesia sejak abad VII secara ekonomi telah dipersatukan oleh kerajaan Sriwijaya dengan menguasai lalu lintas perdagangan dari Barat dan Timur. dan sejak ribuan tahun sebelum Masehi sudah “mengglobalisasi” di kawasan Samudera Hindia dan kawasan Samudera Pasifik sebagai pelau-pelaut ulung yang jejak-jejak kebudayaannya masih dapat didikuti sampai sekarang. serta terletak pada letak geografis yang sangat strategis. Laut Cina Selatan dan laut Jawa. melainkan rumpun bahasa Austronesia dimana pengaruh bahasa-bahasa di nusantara terasa sangat kuat dibandingkan dengan pengaruh rumpun bahasa Indochina atau Yunan. bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu telah mampu membangun kapal-kapal layar samudera. Dari penemuan bukti-bukti baru tentang prasejarah Indonesia itu memberikan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah asli bangsa pelaut atau pengembara. melintas samudera sejauh 6500 km sampai di Madagaskar. Hal ini menunjukkan. Penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik dan ekonomi dilanjutkan selama masa penjajahan Belanda sampai Jepang. sehingga ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam sejarah. bukan hanya perahu cadik sebagai perahu khas nusantara. Situasi dan kondisi aspek alamiah demikian menunjukkan bahwa laut adalah alamiah yang paling dominan mempengaruhi kehidupan politik. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang sebanding atau seluas eropa atau USA. dimana 2/3 luas wilayah kedaulatan terdiri dari laut yang mempunyai wilayah laut yurisdiksi sangat luas dan sangat kaya akan sumber daya alam yang terdiri dari 17. sosial-budaya.504 pulau dengan panjang pantai 81. Utara dan Selatan di Selat Malaka. Oleh karenanya 13 . maka yang dimaksud dengan bangsa dan negara Indonesia adalah rakyat dan wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penduduk dan pulau-pulau dari kepulauan Indonesia. Pada abad XIII konsep persatuan kepulauan Indonesia secara politik di bawah satu kekuasaan telah diletakkan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari melalui semboyan Cakrawala Mandala Dwipantara.BAB 3 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Peninggalan sejarah pada masa sebelum Masehi berupa bekas-bekas kerajaan Merina yang didirikan oleh para perantau dari Nusantara ditemukan juga di Madagaskar. yang kemudian diwujudkan secara nyata oleh maha Patih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit pada abad ke XV melalui sumpah Palapanya.

Oleh karenanya. 3. dan sistem pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). memberikan kedudukan dan peranan strategis bagi Indonesia baik dalam hubungan antar bangsa maupun untuk membangun kejayaannya sendiri. ekonomi. Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia Sumber : Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan Pada waktu Indonesia merebut kemerdekaan. dan Presiden RI pertama.pembangunan nasional seyogyanya dirumuskan dengan mempertimbangkan dan memperhatikan. untuk mencegah dan mengatasi kerawanan tersebut Bung Karno.1 Letak Geografis dan Kepentingannya Posisi geografi Indonesia yang berada pada posisi persilangan dunia. kerawanan dan keunggulan dari pengaruh alamiah laut. kekurangan. laut kepulauan Indonesia masih berstatus perairan internasional yang memisah-misahkan wilayah kedaulatan Indonesia. Gambar 2. Kondisi demikian sangat mempengaruhi kehidupan politik. telah memberikan prioritas khusus dalam upaya memperjuangkan status perairan kepulauan tersebut menjadi wilayah tanah dan air Indonesia sebagai satu wilayah kedaulatan utuh dalam NKRI. kelebihan. Proklamator Kemerdekaan. Ditinjau dari aspek sosial ekonomi potensi kelautan Indonesia dapat dikembangkan dan didayagunakan sebagai basis 14 . sosial-budaya.

8 juta Km². Sampai saat ini yang menjadi kelemahan dan kekurangan kita dalam memanfaatkan potensi kelautan dengan sebaik-baiknya adalah belum semua sumber daya kelautan disentuh atau dilirik untuk eksplorasi dan eksploitasi oleh 15 . Disamping itu pula telah disadari banyak orang. bahwa sumber daya alam yang ada di dalamnya cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai sumber kekuatan ekonomi nasional yang telah mengalami keterpurukan. Oleh karena itu melalui “kabinet Gotong Royong” yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri selalu mengatakan bahwa. bidang Kelautan dan Perikanan dijadikan salah satu “prime mover” ekonomi nasional. seperti ekosistem terumbu karang.000 Km. Gambar 3.strategis bagi ruang dan kepentingan kesejahteraan masyarakat Indonesia.7 juta Km² wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). dan garis pantai sepanjang 81. Posisi Geo-Strategis Indonesia Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki luas wilayah laut 5. 2. Oleh karena itu masyarakat internasional mengenal Indonesia sebagai Negara Maritim. Di dalam wilayah laut Indonesia terkandung berbagai potensi sumberdaya yang sangat bervariasi baik hayati maupun nir-hayati. terdiri dari 3. Potensi kelautan yang dimiliki oleh negara Indonesia diibaratkan sebagai “naga sedang tidur (Sleeping Big Dragon)” yang perlu dibangunkan sekarang ini untuk mengatasi krisis multidimensi yang sedang melanda negara kita. Secara keseluruhan wilayah laut Indonesia mencapai 75 % dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disamping itu pula keindahan alam laut dengan keanekaragaman biota laut.merupakan aset nasional yang sangat potensial bagi pengembangan industri wisata bahari.1 juta Km² luas laut Teritorial.

sehingga sering dijumpai kapal-kapal ikan milik asing ditangkap oleh petugas pengamanan di laut. Dilihat dari sudut pandang geografis. maka satu-satunya negara di dunia yang dilalui oleh 3 (tiga) alur laut internasional dan yang dikenal sebagai alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Hal itu pertanda bahwa wilayah perairan laut Indonesia sangat diminati oleh kalangan internasional. Kepentingan kalangan negara luar terhadap potensi wilayah perairan Indonesia. Karena begitu strategis kedudukan laut kita. dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu banyak kapal-kapal asing melakukan pencurian ikan secara tidak sah secara hukum (illegal fishing). yaitu dapat mengancam kedaulatan negara Indonesia. tetapi juga ingin memanfaatkan sumberdaya perikanan yang sangat besar.pemerintah Indonesia. Salah satu contoh wilayah perairan Indonesia yang sering menjadi wilayah pencurian ikan secara tidak sah yaitu wilayah laut Papua yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. karena terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia). Ada aspek positifnya yaitu bertambahnya devisa negara dalam bidang ekonomi suatu kawasan yang dilalui ALKI. sehingga membuat masyarakat internasional mengakui Indonesia sebagai persimpangan lintas pelayaran niaga utama (across of the commercial shipping). Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi yang strategis dalam lalulintas perekenomian dunia. Adanya kegiatan pencurian ikan oleh kapal-kapal asing mengakibatkan populasi ikan semakin berkurang dan menimbulkan kerusakan ekosistem laut dan menimbulkan kerugian devisa negara yang sangat besar. tetapi ada pula aspek negatifnya. Gambar 4 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 16 . bukan hanya untuk kebutuhan pelayaran.

Dalam posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui secara internasional sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya alam laut yang sangat besar. Saat ini sudah ada sejumlah undang-undang di bidang kelautan. terdapat 119 negara yang menandatangani United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). politik. dan mewujudkan sistem pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan (oceans governance). tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera. namun belum ada undang-undang yang mengatur tentang kebijaksanaan dan strategi pengamanan dan pemanfaatan laut untuk digunakan sebagai acuan utama bagi semua peraturan perundang-undangan dan rencana pembangunan nasional. pertahanan dan keamanan yang diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dengan memandang laut Indonesia sebagai tali kehidupan dan masa depan bangsa sehingga pengamanan dan pemanfaatannya harus mendapat perhatian yang khusus dan sungguh-sungguh dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. nasional dan internasional. kiranya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang dan yang akan mendatang.3.2 Laut Sebagai Pemersatu Bangsa Dengan telah berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UU No. kita perlu membangun sistem pemerintahan yang berorientasi kelautan (ocean governance) sehingga Indonesia menjadi negara maritim yang maju dan kuat di dunia. sosial. Kelautan sebagai kesatuan ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia diatur dan dikelola dengan tujuan memperkuat wawasan nusantara. dan disamping itu juga memiliki hak berdaulat untuk pemanfaatan sumberdaya alam di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen Indonesia. Jamaika. mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berorientasi kepada keserasian kepentingan antar daerah. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal mengenai perihal ketentuan tentang Prinsip 17 . maka yang harus kita lakukan saat ini untuk menuju bangsa yang maju dan makmur. mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang maju. mengingat wilayah laut Indonesia merupakan bagian terbesar dari wilayah Indonesia yang mempunyai posisi strategis dari berbagai aspek ekologis. Dengan menyadari kenyataan yang ada bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berwawasan nusantara. membangun ekonomi nasional yang berorientasi pada keunggulan komparatif di bidang kelautan.17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional 1982) selanjutnya pada tahun 1994 Indonesia secara resmi diakui internasional sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah kedaulatan di laut sebesar kurang lebih dua kali lebih besar dari pada wilayah kedaulatan di darat. ekonomi.

18 . Prinsip-prinsip tentang fungsi laut sebagai alat pemersatu atau fungsi laut sebagai faktor integritas wilayah inilah yang kemudian hari menjadi wawasan kebangsaan negara Indonesia yaitu wawasan nusantara.Negara Kepulauan. laut tidak hanya menjadi alat penghubung antar pulau tetapi juga alat perekat antar pulau-pulau dan suku-suku bangsa yang bersebar dari Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu lautan Nusantara harus selalu dijaga keutuhannya. melainkan justru sebagai alat yang menyatukan pulaupulau yang satu dengan lainnya. karena kalau sampai terpecah-pecah maka fungsinya sebagai alat pemersatu akan hilang. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Salah satu pasal dalam Prinsip Negara Kepulauan yaitu memandang laut bukan sebagai alat pemisah.

perubahan atau bertahannya unsur-unsur budaya maritim juga sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal terutama pasar regional. sehingga sering menimbulkan konflik antar suku. Untuk mempelajari budaya bahari yang kompleks dan relevan. dan lain-lain. inovasi teknologi. tumbuh dan berkembangnya sektorsektor dan sub-sub sektor ekonomi dan aktivitas lainnya berkaitan dengan laut. dan ras di masyarakat. keanekaragaman tersebut dapat menjadi penghambat bagi terciptanya stabilitas nasional. kelompok kerjasama nelayan. dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya). sifat homogen dan diversiti unsur-unsur budaya. Hal semacam inilah yang perlu dihindari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama bagi masyarakat di daerah perbatasan. hakhak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut). menurut Koentjaraningrat yang dilakukan dengan menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”. Salah satu upaya dalam menangani konflik dapat dilakukan secara adat. 19 . dan teknologi (sarana/ prasarana transportasi laut. agama. kebijakan-kebijakan pemerintah. keyakinan. nasional dan pasar global. dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi.BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM Indonesia memiliki berbagai macam suku. Hal ini dicirikan dengan beberapa fenomena yang dominan yaitu : kompleksnya kategori atau kelompok sosial yang terlibat dalam kehidupan kebaharian. adat istiadatdapat menjadi kekuatan atau modal bagi pembangunan nasional. Fenomena sosial budaya bahari di Indonesia sangat kompleks. Selain faktor-faktor internal. agama. dan proses dinamika. Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan. kelembagaan (organisasi. saling keterkaitan antar sektor-sektor kehidupan dan internal antar unsur-unsur budaya bahari. Keanekaragaman suku. biasanya ditimbulkan oleh adanya kesenjangan sosial. Permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat. mesin. lembaga donor. sarana penggerak berupa layar. LSM. penjelasan dan analisis secara empirik. gagasan. perubahan dan persisten dari unsur-unsur budaya bahari tersebut. perlengkapan fisik lainnya). di mana suku-suku yang ada tersebut memiliki adat istiadat yang berbeda. akan tetapi apabila tidak dapat dipelihara dengan baik terutama dalam hal toleransi. intervensi perguruan tinggi. tetapi apabila sudah menyangkut stabilitas dan keamanan nasional maka hal tersebut menjadi kewenangan pemerintah. ras. keterlibatan secara tidak langsung kategori-kategori dan hirarki sosial dalam aktivitas kebaharian. fenomena dinamika. sedangkan menurut Sanjek konsep “kreasi dan dinamika budaya”. alat-alat tangkap.

Sulawesi Selatan. 1991. Andersen dan Cato Wadel. dan marinir. jasa pengamanan wilayah laut dan isinya. Palsson. kelompok-kelompok olah ragawan laut antara lain seperti peselancar dan penyelam. pemburu dan peramu. bisa merupakan kelompok-kelompok etnik sepenuhnya (seperti berbagai desa nelayan Bajo di Kepulauan Riau. co-management dan lain-lain. konflik sosial. sesungguhnya menunjukkan fenomena sosial budaya yang sangat kompleks. bahkan suatu negara atau kerjaan seperti antara lain Kerajaan Goa hingga abad ke-17 (Mukhlis Paeni 1995). 1981. kelompok-kelompok sosial kebaharian seringkali bukan sekedar berupa kelompok-kelompok kerja yang merupakan sub-sub komuniti desa. Kajian literatur tentang sosial budaya bahari di berbagai tempat di dunia termasuk Indonesia (antara lain: Firth. keluarga. parawisata bahari. bahkan dalam banyak segi lebih kompleks daripada yang mencirikan kategori-kategori sosial yang hidup di darat dengan berbagai sektor ekonomi atau mata pencaharian hidup seperti komuniti-komuniti petani. khususnya pada komunitikomuniti pesisir dan pulau-pulau di Sulawesi Selatan. kemerosotan sumberdaya dan degradasi lingkungan laut. 1984. pekerja jasa dan industri di lingkungan pedesaan dan perkotaan. 1977. Bavinck. nelayan. 1994. 1982. industri maritim. 1984) . peternak. munculnya sedemikian banyak kategori-kategori sosial bahari tersebut tentu dikondisikan oleh tumbuh dan berkembangnya jenis-jenis usaha ekonomi terkait laut cukup banyak dan kaya dengan variasi dan tingkatan skalanya masing-masing. Setiap kategori dan level sosial tersebut mempunyai atau dicirikan dengan pola-pola budaya konteks lokal dan global. Makassar. 1996) serta studi lapangan (field work) intensif. pelayaran/usaha transportasi laut. individu 20 . pengangkut barang dengan berbagai kategorinya. 1984. kelompok organisasi pencinta lingkungan laut yang anggota-anggotanya berasal dari kota-kota bahkan dari negara-negara berlainan (Ginkel dan Verrips. tetapi dalam banyak ukuran bisa dikategorikan sebagai suatu sub-sub etnik (seperti berbagai desa-desa nelayan Bugis. NTT. Terhadap sektor-sektor dan sub-sub sektor ekonomi maritim tersebut oleh pelaku dan pengelolanya (komuniti. Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. Vercruijsse. juga dikenal kelompok-kelompok awak kapal pengeruk dasar sungai dan perairan pantai kota-kota. Sulawesi Tengah). Pertama. Masyhuri. pertambangan. Madura di kawasan pesisir dan pulau-pulau). 1988). dan lain-lain. Acheson.Proses dinamika yang tidak atau kurang terarahkan seperti dialami selama ini banyak berdampak negatif terhadap kondisi kehidupan ekonomi. dan Kesultanan Buton (Schoorl. kelompok. 1975. Itulah sebabnya ke depan proses dinamika budaya maritim mustinya diarahkan secara bijak dengan pendekatanpendekatan community-based management. Kedua. Di Eropah dan negara-negara pantai dan kepulauan maju lainnya selain pelayar. Termasuk dalam sektor-sektor ekonomi kebaharian utama antara lain perikanan. Kompleksitas sosial budaya bahari tersebut terutama dicirikan pada sekurang-kurangnya lima fenomena. Mandar.

tetapi seringkali juga dilakukan secara parsial yang menjurus pada gejala persaingan dan konflik kepentingan yang pada gilirannya berdampak pada sektor-sektor usaha kecil milik rakyat dengan gaya menejemen tradisionalnya. pedagang. fenomena sosial budaya maritim bukan hanya tampak pada aspek-aspek budayanya (sistem-sistem pengetahuan.atau pengusaha privat) seringkali melakukan berbagai gaya menejemen berupa ekstensifikasi dengan strategi diversifikasi. Keempat. dan sebagainya bisa menunjukkan karakter budaya bahari berbeda-beda. Makassar) dan pemburu hiu (Bajo) dari Sulawesi Selatan bisa mencerminkan sikap kepribadian budaya bahari berbeda-beda. teknologi. satuan marinir. osilasi di antara berbagai sektor ekonomi terkait laut dan dengan sektor-sektor lain. koperasi dan bank. pihak donor pembangunan. pemerintah/instansi terkait. Karena itu fenomena masyarakat dan budaya bahari harus dipahami juga dalam konteks eksternalnya. komuniti pembuat perahu/kapal. nilai. organisasi sosial. peneliti dan praktisi dari lembaga perguruan tinggi. bahwa selain pelaku dan pengguna langsung. para pembuat perahu dan alat tangkap. dan lain-lain. bahasa. Ketiga. Fenomena budaya dari setiap kategori atau sub-sub kategori sosial dicirikan dengan karakter kepribadian kebahariannya masingmasing. kepercayaan. intensifikasi dengan usaha tunggal. pola pemukiman. Sektor perikanan merupakan sektor ekonomi cukup banyak jenisnya menurut spesis sumberdaya laut dan tipe-tipe teknologi eksploitasi digunakan serta bertingkat-tingkat menurut skala investasi modal usaha yang melibatkan nelayan sebagai pelaku dan pengguna langsung. nelayan bagang (Bugis). keamanan laut. pengusaha dan rentenir. kelompok awak kapal angkutan. gagasan. ekonomi. Di sana ada perubahan sepenuhnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar dan dayung. penyelam tripang (Bajo. dalam rangka pengembangannya melibatkan pemerintah. kelompok olah ragawan laut. Fenomena tersebut yang dicirikan dengan saling keterkaitan internal antara unsur-unsur serta sifat homogeniti dan difersitasnya merupakan kerumitan tersendiri. pasar dan TPI. ada banyak kategori-kategori sosial dengan tingkatan-tingkatan sosialnya masing-masing terlibat secara tidak langsung dalam setiap sektor ekonomi kebaharian (pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut). Bugis. Kategori-kategori sosial dari luar yang tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan dan aktivitas kemaritiman tersebut justru merupakan kekuatan-kekuatan eksternal yang memberi pengaruh dalam menentukan tatanan dan dinamika kehidupan sosial budaya komuniti-komuniti atau kelompok-kelompok sosial kebaharian utama seperti nelayan dan pelayar. ada proses transformasi struktural mengenai 21 . Setiap kategori sosial sebagai nelayan. Bahkan di antara kelompokkelompok nelayan rumpon (Mandar). kesenian) dengan kategori-kategori dan hirarki sosial pendukungnya yang berbeda-beda. norma. Di Indonesia misalnya selama ini. kompleksitas fenomena sosial budaya bahari ditunjukkan pula dalam proses dinamikanya. ini seringkali diacukan pada kerangka pengembangan terpadu yang ideal yang menguntungkan setiap sektor. Kelima.

yang kemudian memberi kemungkinan kepada kita untuk mengenal kebudayaan yang mereka pertahankan. yang sudah pasti menarik perhatian ilmuwan. menuntut diperlukannya (1) pendekatan studi/kajian multi dan atau interdisipliner yang melibatkan bukan hanya antropologi tetapi juga disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora lainnya. Pewarisan itu dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. bubu dari Buton (Sulawesi Tenggara). dan proses difusi (persebaran) yang menyolok seperti persebaran rumpon dari Majenne (Sulawesi Selatan). Lebih lanjut dalam konteks Indonesia misalnya. dan (2) konsep budaya. bahkan non-sosial (seperti perikanan dan kelautan. Pengkajian masyarakat dan budaya bahari yang demikian kompleks tersebut. bertahannya tradisi seperti pengetahuan kelautan. pembuatan perahu. selain terdapat persamaan terdapat pula perbedaan budaya di antara komunitaskomunitas kelautan itu. di sana ada wacana tentang kearifan lokal (local indigenious) tetapi banyak kontradiksi dengan fenomena eksploitasi sumberdaya secara berlebih dan komersialisasi dengan segala dampak negatifnya bagi kondisi sosial ekonomi. model/kerangka penjelasan/analisis yang empirik serta metode koleksi data lebih aplikatif. Kebudayaan mereka akan terus berlangsung melalui pewarisan kepada keturunan secara vertikal dan juga secara horizontal kepada warga masyarakat lain. ekologi. ada proses perkembangan internal seperti perubahan tipe bagang tancap ke bagang perahu melalui bentuk-bentuk transisi bagang rakit/apung di Sinjai (Sulawesi Selatan). sebuah bentuk perahu tradisional dari Kalimantan dimodifikasi menjadi tipe jolloro’ di Bira (Bulukumba) kurang lebih dua dekade terakhir. kalangan akademisi dan organisasi non-pemerintah (Ornop) di samping berpengaruh positif dapat juga negatif bagi tatanan dan dinamika sosia budaya lokal. dan aturan bagi hasil. 4.kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta jaringan pemasaran. lingkungan dan sumberdaya laut (berdasarkan pandangan etik dan emik). Keberadaan pulau-pulau kecil yang dihuni penduduk. dan bahkan seringkali ada manipulasi identitas etnis secara sementara atau permanen seperti dilakukan oleh sebagian besar kelompok-kelompok masyarakat Bajo di manamana dalam rangka adaptasi sosial budayanya. sistem sosial dan sistem teknologi yang mungkin khas dan berbeda dengan komunitas lainnnya.1 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim Komunitas-komunitas pantai yang hidup dari sumberdaya alam kelautan dengan alam pikiran mereka dan mengembangkan sistem budaya. meskipun jumlahnya sedikit. Akan tetapi penelitian yang mendalam belum menyentuh sebagian besar komunitas yang menghuni 22 . Di sana ada juga fenomena paternalisme yang melibatkan pemerintah. biologi. teknik perkapalan) yang relevan dengan fenomena sosial budaya dan fenomena fisik yang bisa saling interkoneksi dan dikontekskan.

dan pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya. 1976). Selain suku Bajau. 23 . sementara di buritan dibangun rumah geladak yang besar. gagasan. darat. Kapal yang berbobot puluhan hingga ratusan ton dan bertiang dua serta dilengkapi dengan tujuh layar sekarang sudah tidak kelihatan. Term kedua menurut perasaan linguistik Eropa lebih mengacu kepada kegiatan pelayaran. terutama berkaitan dengan beragamnya kelompok dan kategori sosial yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut serta beragamnya sektor mata pencaharian terkait laut menjadi alasan lebih cocok memilih term ‘budaya bahari’ daripada term-term ‘budaya maritim’ dan ‘budaya marin’ dalam rangka pengkajian ilmiah. Sulawesi Tenggara. Perubahan-perubahan budaya dapat pula terjadi dengan cepat sekali akibat hubungan-hubungan terbuka dan intensif dengan dunia luar. Untung saja sudah ada penelitian mengenai phinisi. bahkan di sebagian perairan Asia Tenggara. keyakinan/ kepercayaan. sehingga sering disebut dengan “sea nomad”. Kapal Bugis itu kini dilengkapi mesin. tidak lepas kompleksitas dari fenomena sosial budaya. Akibatnya nilai-nilai budaya mereka lenyap sebelum diteliti dan direkam oleh para peneliti. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. Salah satu bentuk penghargaan itu ialah melalui pelestarian. sehingga sudah sempat direkam dan dapat dilestarikan nilai budayanya. Ratusan kapal Bugis ‘phinisi’ yang tersohor itu. Sistem pengetahuan meliputi antara lain: Sistem pengetahuan nelayan mencakup : pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi tinggi. Jambi. dan norma/aturan berkenaan dengan pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. ada masyarakat yang hidup di laut dan di pesisir kepulauan Riau. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. pada waktu lalu pernah menjadi pemandangan umum di perairan Indonesia. Mereka hidup sepanjang tahun di antara laut Cina Selatan dan Laut Jawa. sedangkan term ketiga diacukan kepada aktivitas menangkap ikan semata (Nishimura. dan Sumatera Selatan yang kita kenal dengan nama “orang laut”. Kearifan lingkungan masyarakat semacam itu perlu kita pahami termasuk komunitas-komunitas kecil yang hidup di pulau-pulau kecil. Mereka seringkali berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. angkasa/perbintangan). Jika kedua term asing diaplikasikan secara konsisten. nilai. Maluku.pulau-pulau kecil. “Suku Bajau” yang sebagian besar hidupnya di laut dan bertempat tinggal dalam perahu (rumah perahu). Sistem budaya maritim mencakup sistem-sistem pengetahuan. karena kedua tiangnya dilepas dan tidak memiliki layar lagi. pengetahuan tentang tanda-tanda (di laut. Konsep budaya maritim. Mereka hidup mencari nafkah di perairan Nusa Tenggara Barat. lambungnya dibuat lebih kokoh untuk menahan getaran mesin. pengetahuan tentang lokasi dan sarang ikan. Sudah saatnya bagi kita untuk berusaha memahami dan menghargai kebudayaan yang telah mereka kembangkan sendiri dari generasi ke generasi. pengetahuan tentang musim.

budaya material) dari Koentjaraningrat daripada melakukan reduksi wujud kedua dan ketiga seperti dilakukan para antropolog kognitif (Goodenough. 1996. namun konsep ‘tiga wujud kebudayaan’ justru sebetulnya memadai sebagai model deskripsi atau analisis karena tidak mengurangi dan tidak melampaui fenomena sosial budaya ke atas dan ke bawah. prilaku/tindakan dan sarana/prasarana fisik yang digunakan oleh masyarakat pendukungnya (masyarakat bahari) dalam rangka pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan merekayasa jasa-jasa lingkungan laut bagi kehidupannya. Sebuah formulasi batasan budaya secara jelas mencakup ketiga wujud tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat yaitu “keseluruhan sistem gagasan. yang berarti bagian-bagian tertentu dari kedua subjeknya tereduksi. Meskipun konsep moderat seringkali dikritik oleh para penganut kognitivisme dan simbolisme karena dinilai mencakup segalanya. Memadainya konsep tiga wujud kebudayaan untuk analisis fenomena sosial budaya juga pernah diungkapkan Ignas Kleden dalam acara seminar pada Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia di Hotel Indonesia.P. Dalam rangka deskripsi. Konsep budaya bahari akan mencakup semua fenomena sosial budaya yang kompleks. ketertutupan. teknologi dan seni berkaitan kelautan. dan budaya bahari difahami sebagai sistem-sistem gagasan/ide. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat. kepercayaan. Kerumitan fenomena sosial budaya. 1961: 522. kebudayaan yang mereka pahami ternyata meliputi tiga wujud seperti dikonsepsikan oleh Koentjaraningrat. 1999: 20) ) atau secara berlebihan menekankan pada pertimbangan rasional biaya dan keuntungan (cost-benefit considerations) seperti dilakukan para penganut materialis budaya (Harris. 1981: 68) dan simbolik (Geertz dalam Harris. berubah dan bertahannya 24 . Mengacu kepada konsep tiga wujud dan definisi budaya tersebut. keseimbangan. 1999: 19). esensialis. nilai. simbol komunikatif. Keesing. kelembagaan. 1980:193). Bahkan kalau mendengarkan perbincangan masyarakat lokal pada semua tingkatan.kedua wilayah tersebut akan saling eksklusif. normatif. 1992). sistem sosial. khususnya budaya bahari. terutama dalam proses dinamika. abstrak dan general. totalitas.Vayda (1988. penjelasan dan analisis fenomena budaya bahari yang kompleks kiranya lebih memadai jika memanfaatkan konsep tiga wujud kebudayaan (sistem gagasan. Adapun kelemahan-kelemahan dibagi bersama berbagai perspektif berupa asumsiasumsi tentang homogeniti. Budaya bahari mengandung isi/unsur-unsurnya berupa sistemsistem pengetahuan. norma/aturan. yang dalam penjelasan tidak atau kurang empirik kiranya bisa diatasi dengan konsep ‘kreasi dan dinamika budaya’ dari Sanjek dan mode penjelasan kontekstualis progresif dari A.

Tingkat keterawatannya rendah. mencuri. 1994: 313) bahwa kebudayaan “is … under continuous creation – fluid. tetapi juga karena pengaruh alam di daerah tropis mudah melapukkannnya. reformulating. yang berorientasi kepada kepentingan untuk memupuk jatidiri. Belum lagi tindakan-tindakan manusia yang merusak. dan dapat menyebabkan nilai budaya yang ada dan proses perubahannya tidak sempat dipelajari dan direkam dengan seksama. diverging.” Kelihatannya kompleksitas proses kreasi dan dinamika budaya tersebut relatif bisa mengenai semua sisi realita sosial budaya. resisting. mereka tidak perlu meninggalkan jati dirinya sebagai masyarakat maritim. 25 . dan sebagainya. persisting where we don’t espect it to. dan tekhnologi. Sudah tentu untuk melestarikan semua itu perlu lebih dahulu dilakukan penelitian agar dapat direncanakan sumberdaya budaya mana dan masyarakat mana yang perlu lebih dahulu diprioritaskan. dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. Upaya pelestarian masyarakat maritim tidak dimaksudkan untuk menghambat perkembangannya tetapi mengangkat mereka ke dalam taraf hidup yang lebih baik. creolizing. justru kemampuan beradaptasi. partial rather then total. crossing its own boundaries. yang tentu mengurangi nilai kesahihan datanya. kecerdasan dan ketrampilan mereka dapat dijadikan contoh dan disebarkan kepada masyarakat lain.sebagaimana digambarkan di muka kiranya dapat dijelaskan dan dianalisis dengan konsep proses kreasi dan dinamika seperti dinyatakan oleh Sanjek (dalam Borofsky. 4.2 Pelestarian Sumberdaya Budaya maritim Pada dasarnya sumberdaya budaya masa lalu tidak pernah lengkap. meliputi pikiran dan prilaku. memindahkan. prilaku sosial dan material. diffusing. atau ketiga wujud gagasan. Selama ini banyak nelayan ilegal lokal dan asing yang datang ke pulau-pulau kecil berpengaruh sedikit dan menjadi korban dari tindakan ilegal mereka. and changing where we do. interpenetrating. Tujuan pelestarian budaya dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat mereka sendiri dan masyarakat diluar mereka. homogenizing. open rather then closed. interconnected. sesuai dengan yang mereka jalankan selama berabad-abad walaupun saat ini terjadi perubahan kebudayaan. apakah proses kreasi budaya dimaksudkan oleh Sanjek pada dimensi kognitif dan simbolik. hegemonizing. Dalam pada itu beberapa aspek kebudayaan masyarakat yang sekarang masih hidup dapat berubah cepat sebagai akibat berbagai pengaruh. Tidak menjadi masalah. sehingga perangkat-perangkat proses kreasi tertentu kalau bukan sepenuhnya bisa digunakan sebagai model deskripsi dan eksplanasi dengan konsep atau perspektif budaya tertentu. bukan saja karena sebagian besar benda dibuat dari bahan yang mudah rusak.

pengelolaan komunal tradisional di Kapuas Hulu (Kalimantan). kelembagaan (kelompok/organisasi. terkurasnya populasi sumberdaya laut. manusia harus arif dan bertanggungjawab dalam perilaku pemanfaatan sumberdaya laut. berwawasan lingkungan. sarana perlengkapan lainnya). tepatnya “dekat ke ponggawa/bos. far from the throne” menurut Pujo Semedi (2000) atau untuk nelayan Bugis.Wujud dan karakteristik budaya komuniti nelayan. Tumbuhkan pandangan dan kesadaran bahwa sumberdaya laut rentan terhadap ancaman perilakuperilaku tertentu. panglima laut di Aceh. kerusakan ekosistem laut.” Apa yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan seperti pemerintah. LSM. jadi tanpa perlakuan bijak kondisi sumberdaya laut akan menjadi semakin berkurang/terbatas. untuk kesejahteraan bersama masyarakat. modal. jauh dari negara. aktivitas. teknik rumpon nelayan Mandar (Sulawesi Selatan). konflikkonflik antar kelompok-kelompok nelayan. meskipun dinamika budaya bahari komunitikomuniti nelayan di Indonesia selama ini tidak atau masih sangat kurang mendapat pengarahan dari pemerintah. modernisasi dan globalisasi banyak membawa dampak-dampak negatif berupa kemiskinan ekonomi sebagian terbesar penduduk nelayan tradisional skala kecil. mengubah pandangan budaya dan praktek akses terbuka/ bebas ke penguatan hak-hak pemilikan. sarana eksploitasi sumberdaya. terutama terumbu karang. Gagasan muncul kemudian ialah diperlukannya kerjasama dan kelembagaan untuk mengusahakan berbagai keperluan mutlak (sarana/ prasarana fisik berupa perahu/kapal. Dinamika budaya maritim Indonesia. tokoh masyarakat. namun tampak di mana-mana suatu proses dinamika berlangsung cukup pesat. kalangan akademisi. sarana dan prasarana pengangkutan dan teknologi eksploitasi sumberdaya (fisik/material). aturan). mereka itu “closed to the stone. antara lain seperti sasi (Maluku). dan lembaga donor ialah menemukan araharah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut secara berkelanjutan. diasumsikan bahwa keterlibatan dan hubungan manusia dengan lingkungan lautnya didasari dengan pengetahuan dan gagasannya tentang arti dan fungsi (konsumtif dan non-konsumtif) dari sumberdaya dan lingkungan laut bagi kehidupannya. Menumbuhkan dan revitalisasi kelembagaankelembagaan tradisional yang menekankan moral pemerataan atau keadilan dalam kesempatan berusaha dan pembagian hasil. pembentukan institusi baru. penguatan atau revitalisasi sistem-sistem tradisional yang potensial berkaitan dengan pengelolaan 26 . Tanpa memandang rendah beberapa kearifan lokal masih tersisa. Makassar dan Bajo. Pokoknya pola pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan jasajasa laut melibatkan sistem-sistem budaya (kognitif). lembaga kerjasama pengelolaan modal ponggawa-sawi (Sulawesi Selatan). ternyata bahwa proses dinamika. Hal ini adalah akibat dari suatu proses dinamika komuniti-komuniti nelayan yang kurang terarahkan secara bijak.

Kedua tokoh yang paling berpeluang sekaligus berambisi untuk menduduki takhta kerajaan yakni Mas Karebet (Adiwijaya) dari Pajang dan Arya Penangsang dari Jipang. regional. yakni Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. masing-masing mempunyai beking wali. dan (3) budaya santri dengan budaya abangan. Konflik budaya pedalaman dan pesisiran bermula ketika kekuasaan Demak sebagai pengganti kekuasaan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya jatuh ke tangan Pajang (Adiwijaya atau Mas Karabet). nasional dan global yang tidak semata dikendalikan kekuatan-kekuatan eksternal. Dalam wujud teknologi perlu pengembangan teknologi perikanan tangkap ramah lingkungan. Politik kebudayaan jawa Mataram mencoba membuat jarak dengan budaya pesisir dengan meletakan laut sebagai sesuatu yang disakralisasikan. 4. beralih ke Pajang yang lebih memilih pedalaman sebagai basis kekuasaan sekaligus basis kebudayaan. Melalui Sutawijaya. saling terkait. teknologi pascapanen. pendiri kerajaan Mataram. sebagai suatu misteri yang merupakan sumber kekuatan dan inspirasi para raja Mataram sehingga laut menjadi hal yang amat suci. dan saling mempengaruhi. Kemenangan Adiwijaya membuat pusat pemerintahan bergeser dari Demak. pusat kekuasaan Jawa sebagai pusat kebudayaan semakin ditarik ke pedalaman. dominasi pola-pola budaya pedalaman mulai mewarnai kebudayaan jawa. (2) budaya keraton (Mantaraman) dengan budaya rakyat. pengembangan teknologi budidaya dan semi-budidaya. tetapi sekaligus hal ini memencilkan laut (dan pesisir) dari persinggungan budaya yang lebih luas. segala contoh nyata yang memberikan makna praktis bagi mereka niscaya akan dinilai tinggi dan diperebutkan. Dominasi budaya pedalaman makin menguat ketika tampilnya dinasti penguasa baru yaitu Mantaram (Mataram) yang menggeser kekuasaan Pajang. Sunan Kudus sebagai guru dari Arya Penangsang sebenarnya merupakan wakil budaya pesisiran yang berhadapan dengan Sunan Kalijaga dan Adiwijaya yang merupakan presentasi dari budaya pedalaman. Suksesi kekuasaan yang terjadi dari Demak ke Pajang menjadi awal sejarah Jawa bagaimana kaum ulama (agama) terseret ke dalam arus pertikaian politik dan kekuasaan. serta membangun institusi pasar lokal. Ketiga konflik ini terjadi bersama-sama. Laut sebagai basis budaya pesisir dan eksistensi wali sebagai salah satu unsur legitimasi kekuasaan mulai diabaikan.pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut.3 Konflik Budaya Maritim Secara historis akar konflik kebudayaan Jawa berupa pertentangan budaya antara (1) budaya pedalaman dengan budaya pesisiran. Dengan demikian. 27 . yang berorientasi ke pesisir. Karena budaya bahari adalah pragmatis.

janger. Perbenturan budaya pesisir dan padalaman melahirkan konflik budaya baru. brang wetan. Masyarakat di luar keraton dianggap tabu untuk menyelenggarakan atau melakukan kesenian produk keraton. pesisir. tandak. kecanggihan. ronggeng. dan kebebasan improvisasi. pencanggihan. Timbul kesenian-kesenian tayub. sedangkan kesenian lain di luar wilayah keraton dianggap sebagai seni pinggiran yang secara estetis dan etika di bawah kesenian keraton. Ini terjadi ketika budaya pedalaman semakin kokoh dan kekuasaan Mataram membuat benteng budaya baru berupa keraton dan pembagian daerah keraton. dan teratur. 28 . Karena itu. perumitan. yang hingga saat ini masih mewarnai budaya berpikir penguasa-penguasa kita. dan sejenisnya. sangat menutup kemungkinan improvisasi. Orientasi mitologis ini terlihat dengan dimunculkannya mitos Nyai Roro Kidul (Ratu Kidul) dan munculnya Babat Tanah Jawi yang di dalamnya memuat silsilah pendiri Mataram yang dikaitkan sekaligus mencampur adukkan tokoh mitologis dengan nama-nama nabi. Apabila kesenian keraton bersikap tertutup dan masyarakat suasana yang khusus. dan ditonton oleh pihak keraton. Tari bedhaya misalnya. yakni budaya tradisional/rakyat dengan budaya keraton. Keraton merupakan sentrum dan daerah yang berada di luar keraton (mancanegara.Kerajaan Mataram menumbuhkan pola pikir budaya dan politik yang selalu berorientasi dengan mitologi. Kesenian keraton di luar wilayah keraton menemukan tandingannnya dengan munculnya kesenian-kesenian baru yang terutama sekali menemukan lahan subur di wilayah pengaruh budaya pesisiran. Kesenian dalam kosmologis keraton merupakan kesenian yang mengalami sofistikasi. Tari bedhaya sebagai kreasi kesenian keraton memformulasikan diri sebagai sesuatu yang serba halus. kerumitan. dipentaskan. hati-hati. selaras. Muncul kesenian-kesenian rakyat yang merupakan produk dari sistem masyarakat grass-root yang menafikan keteraturan. Kehalusan. sekaligus pensakralisasian. dan lain-lain) dianggap sebagai kesenian “resmi” dan adiluhung. Kesenian keraton menjadi kesenian yang mengambil jarak sedemikian rupa dengan kebudayaan dan masyarakat di luar keraton. yang merupakan penguasa. keekspresifan. maka kesenian rakyat atau pesisiran berlangsung dengan suasana pesta dan hiruk-pikuk yang kemudian menghadirkan suasana yang serba primitif. dan keteraturan yang menjadi standar estetika budaya keraton di lawan dengan kebebasan. dan kerumitan yang menjadi ciri kebudayaan keraton. Apa yang terdapat dalam Babat Tanah Jawi sebenarnya merupakan pengulangan dari apa yang dilakukan oleh Ken Arok pendiri Singasari yang memanfaatkan teks sastra (Pararaton) sebagai sarana legitiminasi kekuasaannya. ledek. merupakan tarian sakral yang hanya boleh dilakukan. Dengan demikian estetika kesenian rakyat atau pesisiran secara sadar mendudukkan dirinya sebagai kesenian atau kebudayaan massa.

Produk-produk sastra kepujanggaan seperti misanya Wedhatama. Perkembangan ilmu. Kebudayaan santri sebagai kebudayaan baru yang sebenarnya muncul dari daerah pesisiran. perkembangan keagamaan dan ideologi. 29 . dan Johor. Sebagai contoh dapat disebutkan bagaimana sebuah masyarakat ‘maritim’ seperti orang Bugis dapat mengembangkan varian-varian budaya masing-masing di Sape (Bima). manusia hidup dalam suatu masyarakat. tetapi dari lingkungan pengaruh kuat agama Islam menganggap estetika kebudayaan rakyat (yang kemudian disebut pula dengan abangan) sebagai sebuah kesenian yang terlampau primitif. Sebagaimana diketahui. beserta segala benda budaya yang terkait dengan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan laut.Kebudayaan keraton juga memunculkan fenomena baru di mana pihak penguasa dapat mensahkan kehadiran seorang kreator seni sebagai abdi atau pegawai keraton (penguasa). Kebudayaan itu senantiasa berada dalam proses dan tegangan antara bertahan dan berubah. perubahan konstelasi politik. Dengan catatan ini. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya pujangga keraton yang digaji untuk berkarya. Tripama. dari waktu ke waktu dapat memperoleh tantangan-tantangan yang berbeda. tetapi juga antara kebudayaan rakyat dengan kebudayaan santri. 4. dan serat-serat Ronggowarsito merupakan produk keraton yang isinya hampir semua menceritakan dan mengatur perilaku rakyat terhadap penguasa atau perilaku penguasa terhadap rakyat. Komuniti dalam lingkungan alam-sosial budaya tertentu dapat mempunyai ciri-ciri yang khas. Konflik budaya tidak saja terjadi antara kebudayaan rakyat dengan budaya keraton. Pada titik ini kesenian keraton lebih menekankan kesenian atau estetika dalam bingkai politis dan filosofis. yang sedikit atau banyak berbeda dengan komuniti lain yang sama-sama merupakan bagian dari suatu masyarakat luas yang sama. serta menyempit atau meluasnya peluang-peluang ekonomi. perilaku manusia.4 Pengembangan Sosial Budaya Maritim Subyek kajian maritim yang bersifat sosial-budaya adalah segala pemikiran. Dalam satuan yang lebih kecil hal itu dapat disimak pada komuniti-komuniti khusus di dalam suatu masyarakat. sebagai fungsi dari faktor-faktor historis dan peluang-peluang berasimilasi. semua itu dapat memberikan pengaruh dan menjadi faktor pengubah kepada kebudayaan walaupun pendukung kebudayaan tersebut tetap tinggal dalam suatu lingkungan alamiah yang sama. pandangan. Donggala. sedangkan kesenian rakyat (pesisiran) lebih menekankan pada fungsi ekonomis. kiranya dapat diantisipasi bahwa berbagai masyarakat nelayan ataupun masyarakat maritim pada umumnya. dan di dalamnya membentuk kebudayaan dari waktu ke waktu.

yang darinya kita bersama dapat memperoleh kearifan dan wawasan. dan dapat dihayati sebagai sesuatu yang meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka. Seperti halnya 30 . Namun apabila ada segi-segi budaya yang dirasa tidak relevan lagi (seperti tiadanya kesempatan pendidikan umum bagi anak-anak nelayan) kiranya perlu dirancang suatu pengalihan cara hidup yang diterima oleh komuniti yang bersangkutan. mengharuskan adanya restrukturisasi hubunganhubungan lama ke dalam hubungan-hubungan baru. perubahan-perubahan itu harus terasa bergerak dari dalam komuniti itu sendiri.5 Pengembangan Teknologi dan Budaya Maritim Sebagaimana difahami bersama. Pencapaian-pencapaian budaya yang unggul dari masyarakat maritim tradisional kita dapat dibela dengan berbagai upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi dengan memanfaatkan ilmu-ilmu baru yang terkait. Dalam hal ini manfaat bagi komuniti yang bersangkutan. Dalam hal ini perlu dilakukan pendampingan disertai pengkajian mengenai kesiapan mereka untuk berubah. sedemikian rupa sehingga kebudayaan itu dapat lestari eksistensinya tanpa harus macet dan tak mampu menghadapi tantangan-tantangan baru. dan kesetaraan dengan komuniti-komuniti lain menjadi tolok ukur penyertaannya. ditinjau dari segi lahiriah maupun batiniah. 4.dan semua itu menyangkut hubungan di darat maupun di laut. di dalam suatu kesatuan kenegaraan baru. hubungan persekutuan terbatas harus diubah menjadi terbuka. Di satu sisi ada tujuan ilmiah yang sasarannya adalah untuk memperoleh kebenaran-kebenaran ilmiah berupa data dan fakta mengenai peri kehidupan kelautan dalam segala aspek. Yang penting. Di antaranya. lahir dan batin. Demikian pula daerah-daerah jelajah tradisional di laut dari komuniti-komuniti etnik yang berfokus maritim senantiasa dalam proses dinegosiasikan kembali dengan adanya ketentuan-ketentuan hukum nasional maupun internasional.Pandangan dan penyikapan terhadap berbagai masyarakat etnik kelautan Indonesia perlu dibedakan atas dasar tujuan orang menghadapinya. senantiasa harus menjadi tolok ukur utama. Di samping itu. hubungan perseteruan tradisional harus diubah menjadi hubungan saling memahami. Proses perubahanperubahan itu sendiri merupakan suatu subyek pengamatan. Tradisi dan dinamika budaya maritim dalam konteks eksternal dan modern. cara-cara hidup maupun teknologi tradisional yang menunjang kehidupan maritim di sana-sini perlu mendapat penyimakan kembali secara diperhadapkan dengan perkembangan ilmu dan tata ekonomi masa kini. eksistensi budaya bahari baik dalam bentuk tradisonal maupun dinamikanya hanya bisa dipahami dalam konteks eksternalnya. sedangkan disisi lain terdapat tujuan pelestarian budaya yang dapat ditempuh dengan cara pemberdayaan maupun perangsangan perubahan. proses menjadi bangsa Indonesia yang merupakan persatuan dari suku-suku bangsa yang terikat . yaitu Republik Indonesia.

semua ini merupakan kontribusi awal dari hubungan dengan dunia luar. sarang burung walet. Taiwan. yang biasa ditukar langsung dengan barang-barang rongsokan: pakaian. namun kondisi permintaan pasarlah yang banyak menyumbang kepada pengayaan hingga mencapai tidak kurang dari 40 jenis teripang. termasuk hasil-hasil laut seperti teripang. dan ditingkatkan lagi di awal periode 1990-an dengan mengganti tangki/tabung gas dengan kompresor. hubungan-hubungan produksi (ke dalam dan ke luar) dan distribusi (termasuk aturan bagi hasil). dengan pedagang Cina. agar-agar. Meskipun digunakan nama-nama lokal terhadap spesis-spesis ini. karena kenyataan lapangan memang menunjukkan fenomena yang demikian. pengaktifan fungsi sarana tangkap tradisional dalam situasi modern. lilin. 1987). Korea dan Jepang. nutrisi. Pada mulanya pengusaha Cina dari Makassar membawa langsung pelatih selam yang kemudian merekrut dua atau tiga pembantu lokal yang lebih dahulu terampil menggunakan perangkat alat selam modern tersebut. Demikian juga pedagang Cina-lah yang mengajarkan sorting menurut tingkatan nilai tukar dari yang paling tinggi hingga yang rendah. 1996). memperpanjang umur. sirip hiu. Seiring dengan proses adopsi sarana selam modern ialah modernisasi perahu-perahu nelayan dengan pemasangan motor tempel (outboard 31 . vitalitas. Bajo dan Makassar dari Sulawesi Selatan tidak cukup hanya difahami dalam konteks sosial budaya lokal. tembikar. Sutherland. dan menambah keperkasaan laki-laki (Akimichi. Meningkatnya jumlah konsumen. Biota ini mulai dicari ketika kapal-kapal dagang Cina yang ramai berlabuh di Pelabuhan Kota Somba Opu (pusat kota Kerajaan Makassar yang jaya hingga abad ke17) di abad ke-17 mencari komoditi ekspor. porselin. pedagang dalam negeri dan dari negara tetangga terlibat dalam jaringan pasar komoditi tersebut mendorong adopsi inovasi perangkat alat selam berupa tangki/tabung gas yang digunakan oleh penyelam dari Pulau Sembilan sejak awal periode 1980-an. terbentuknya varisi baru dalam struktur kelompok kerja nelayan. Pada mulanya nelayan tidak banyak tahu dan memperhatikan spesis teripang karena tidak bernilai. Pedagang asing tersebut sebetulnya digerakkan oleh fungsi teripang yang konon bagi orang Cina di samping sebagai santapan enak. tetapi juga dalam konteks eksternal. dan lain-lain.prilaku penyelaman teripang oleh nelayan-nelayan Bugis. Pengetahuan dan praktek menyelam mencari tripang bagi mereka bukanlah fenomena baru. juga sebagai bahan obat-obatan untuk kesehatan. Hongkong. penyu. RRC. melainkan fenomena lama yang bisa dilacak ke beberapa dekade bahkan beberapa abad ke belakang (backward in time) dan melacak jaringan perdagangannya ke luar (outward in space) hingga melampaui batas-batas negara ke pasar ekspor seperti Singapura. dan lainlain (Macknight. Pengenalan nelayan pada prilaku dan habitat teripang. 1976.

Ketika komoditi lobster dan ikan hidup laku di pasar ekspor (Hongkong dan Singapura). dan merosotnya secara drastis populasi teripang dari berbagai spesis dan kerang (mutiara. 1996). sunu. Adopsi inovasi teknologi dan peningkatan kapasitas muat perahu yang berarti peningkatan skala investasi usaha berkonsekuensi pada terjadinya proses penetrasi kapitalisme. Meningkatnya permintaan lobster dan ikan hidup di pasar ekspor sebenarnya disebabkan oleh faktor terjadinya perubahan pola makan kelas konsumen elit di negara-negara pengimpor dari mengkonsumsi hasil laut dalam kondisi segar yang sudah dihidangkan di meja restoran Sea-food ke model baru di mana para pengunjung terlebih dahulu memancing ikan atau lobster hidup dari kolam-kolam penampungan lalu diolah dan disajikan para pelayan menurut selera pengunjung masing-masing. Motorisasi perahu dan adopsi gae (istilah Bugis) atau rengge (istilah Makassar) sejenis pukat apung raksasa (purse seine) yang merupakan teknik tangkap andalan untuk ikan pelagik (terutama layang) di Sulawesi Selatan sebetulnya diperkenalkan oleh dan melalui jalur promosi pemerintah di tahun 1970-an. napolen). Pola makan baru di restoran-restoran Cina seperti ini di samping terkait pada nilai kenikmatan santapan. lola) yang diambil dari kawasan taka-taka Pulau Sembilan. Sebaliknya terbentuknya berbagai strategi/taktik sebagian nelayan untuk mempertahankan aktivitas ilegalnya seperti membom dan membius atau berhentinya sebagian di antara mereka dari aktivitas ilegal tersebut dipengaruhi oleh aturan hukum 32 . sebagian terbesar nelayan penyelam kembali lagi ke Pulau Sembilan dan beralih ke usaha lobster dan ikan hidup. Konteks birokrasi melalui pelaksanaan kebijakan pemerintah juga menyumbang kepada perubahan-perubahan keputusan dan prilaku nelayan melalui respons-respons ide dan sikap-sikap (menerima atau menolak). transformasi struktural kelompok ponggawa-sawi. kemudian dilakukan peningkatan kapasitas muat perahu dengan peningkatan kekuatan mesin dipasang pada bagian dalam bodi perahu (inboard motor).motor). Demikianlah kedua faktor situasi pasar yang tetap membaik dan kondisi terkurasnya sumberdaya laut setempat pada akhirnya mendorong kelompok-kelompok penyelam dari Kambuno dan Kodingare terpaksa melakukan ekspansi area penangkapan (fishing gruonds) ke tempat-tempat lainnya di Sulawesi Selatan dan berbagai provinsi lainnya terutama di kawasan Timur Indonesia. Bagaimana kedua komoditi yang pada mulanya melimpah di taka-taka Pulau Sembilan karena tidak mempunyai nilai tukar dan hanya sedikit dimakan karena oleh sebagian besar penduduk pulau merasakan itu menjijikkan atau menganggap menyebabkan kebiasaan malas jika dimakan pada akhirnya hanya memerlukan sekitar tujuh tahun saja populasi spesisspesis ini merosot drastis karena sebagian terbesar nelayan setempat dan pendatang menangkapnya. bahkan mengunjungi Australia di akhir tahun 1980-an hingga paruh pertama tahun 1990-an. juga karena ini dapat memperkuat status sosial konsumennya (Akimichi. Dan Mulailah sejarah budaya tentang lobster dan ikan hidup (kerapu.

penumbuhan jiwa demokrasi. Ikut berpengaruh pada berhentinya sebagian besar nelayan mengambil batu karang. termasuk di Sulawesi Selatan. batu laga.8259/ 95. telur ikan. Ornop dengan paradigma keberpihakan kepada kepentingan rakyat mengemban visi dan misi pokok pada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi. 33 .7 1987. rumput laut. kerang mata tujuh. biasanya meramu wawasannya dari masyarakat lokal.HK. Oleh karena itu perguruan tinggi sebagai penggagas ide dan inovator teknologi merupakan konteks eksternal bagi proses dinamika sosial budaya masyarakat bahari. ikan hias) di kawasan lindung seperti Pulau Kapoposang (Pangkep) dan Taman Nasional Taka Bonerate ialah usaha-saha penyadaran lingkungan dilakukan oleh LP3M dan WWF dengan penyebaran poster-poster jenis-jenis biota laut langka dilindungi dunia. ikan (segar dan hidup). lembaga perguruan tinggi. tentang skala. Penjelasan prilaku dan poses dinamika sosial budaya komuniti-komuniti nelayan juga sedikit banyak dikontekskan pada kehadiran berbagai Ornop di sana. budidaya teknik keramba. isi dan formulasinya banyak mengacu kepada rekomendasi peneliti dari lembaga perguruan tinggi berdasarkan hasil penelitian ilmiah. penyu. lokasi.(antara lain: Peraturan Pemerintah Daerah TK. tentang larangan pengambilan dan pengrusakan terumbu karang di sepanjang perairan pantai Sulawesi Selatan) dan cara-cara pengawasan oleh para penegak hukum di setiap wilayah tugasnya masing-masing. termasuk Sulawesi Selatan. Kembalinya semua perahu nelayan cantram Galesong Utara (Takalar) akhir-akhir ini (akhir Desember 2002) dari Sinjai disebabkan oleh penolakan masyarakat nelayan setempat (didukung oleh pemerintah daerah setempat) terhadap penggunaan teknik (menyerupai pukat harimau mini) yang bisa dengan cepat menguras berbagai jenis biota laut dan merusak kondisi dasar.I Sulawesi Selatan No. merupakan bagian dari studi/praktek lapangan atau pengabdian masyarakat dilakukan oleh peneliti atau praktisi dari lembaga perguruan tinggi. Periode 1990an merupakan periode mulainya keterlibatan secara meluas berbagai Ornop di desa-desa nelayan pantai dan pulau-pulau di Indonesia. penetasan telur dan pembesaran bibit bandeng dan udang di Indonesia.330/DJ. dan prosedure menangkap napoleon wrasse). sirip hiu. dan wawasan global terutama melalui wacana berkembang dalam dunia Ornop sendiri. lobster (segar dan hidup) dimungkinkan oleh kerjasama dagang antar negara dengan penerbitan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP). khususnya komuniti-komuniti nelayan. kelestarian sosial budaya dan lingkungan fisik. kima. menangkap ikan napoleon (untuk ukuran tertentu). kerang (mutiara. Demikian juga berbagai praktek ekonomi nelayan baru seperti budidaya rumput laut. peningkatan sumberdaya manusia dan keterampilan penduduk. Berbagai kebijakan pemerintah (tentang pelarangan atau pembangunan). lola). tripang. terkecuali bagi usaha-usaha nelayan kecil (antara lain diatur dalam Amandemen Peraturan Dirjen Perikanan No. keramba penampungan ikan dan lobster hidup. Eksploitasi berbagai spesis laut untuk komoditi ekspor (seperti.

Bulukumba Timur). pencari kerang mata tujuh dari Buton (Sultra) dan Palu di tahun 1990-an. Demikian halnya jaringan pemasarannya hanya mencapai pasar dan konsumen regional. Hingga seberapa jauhkah ke belakang dan ke luar benangbenang pengaruh kontekstual perlu dilacak? Ternyata ada juga konteks historik dari prilaku eksploitasi sumberdaya laut yang perlu dilacak jauh ke belakang. jadi konteks penjelasannya internal. WWF dan LP3M mencoba menggalang sebagian masyarakat nelayan di beberapa desa pulau untuk terlibat dalam berbagai program kegiatan meliputi penyadaran lingkungan.Di Kawasan Taka Bonerate misalnya. namun konteks eksternalnya tidak melintasi batas-batas fisik dan sosial budaya jauh ke luar. pelatihan keterampilan. Sebetulnya lembaga asosiasi di Maluku muncul sebagai mekanisme masyarakat lokal merespons pasar global sejak ratusan tahun silam (Zerner. pengelola bagang dan rumpon. kelembagaan dan teknologi eksploitasi bertahan dan difungsikan. Nasional dan Internasional (WWF) (Osseweijer. Luwu. nelayan ikan hias dan pemburu penyu dari Bali di tahun 1990-an. namun asal mula dan proses kemunculannya hanya melintasi batas-batas daerah. Bahkan gagasan dan praktek menambang batu karang dan pasir di taka-taka oleh penduduk pulau-pulau di kawasan karang yang sudah berlangsung puluhan atau ratusan tahun lalu. pengguna bubu. pemukat. Misalnya kawasan taka Pulau Sembilan bukan hanya dieksploitasi oleh penduduk nelayan setempat. Fenomena ini bisa ditunjukkan antara lain pada komuniti nelayan Liang-liang (Pulau Sembilan) yang tetap mempertahankan pengelolaan 34 . Pangkep. namun kepentingannya semata untuk pembangunan pemukiman penduduk lokal. namun dalam budaya bahari kebanyakan komuniti nelayan masih ada banyak unsur-unsur pengetahuan. Hal mana juga dilakukan di kawasankawasan karang lainnya seperti Biak dan Maluku dengan keterlibatan LSM lokal. bahkan lokal saja. pandangan. pembentukan dan pengelolaan zona-zona perlindungan terumbu karang dan biota-biota langka berasosiasi karang. pembentukan kelembagaan. Ini dicontohkan pada praktek pemancing ikan-ikan campuran. 1994). dan penyelam tripang dari Madura sejak tahun 2000 hingga sekarang. Aturan penguasaan dan pemanfaatan sumberdaya laut secara terbuka (common property right/open use) juga menyebabkan suatu lokasi dieksploitasi secara bersamasama. etnis dan provinsi berdekatan. penyelam tripang dan mutiara dari Selayar. demikian juga munculnya lembaga ponggawa-sawi di Sulawesi Selatan sebagai respons pelaut atau nelayan terhadap permintaan pasar global akan hasil-hasil laut komoditi ekspor sejak abad ke-13 atau 14 silam. tetapi juga oleh kelompok-kelompok nelayan desa-desa pantai Teluk Bone (Sinjai. pulau. Bone. antar pulau. dan sebagainya yang sudah berlangsung cukup lama. Meskipun telah terjadi modernisasi perikanan dan adanya pengaruh pasar globalisasi yang kuat. nelayan pulau-pulau dari Kodya Makassar. 2001). Takalar.

Meskipun dikelilingi oleh kelompokkelompok nelayan pengguna bahan peledak dan bius. p. gae. Konstruksi ini lebih mengutamakan fungsi daya muat.dedang. sektor-sektor ekonomi perikanan dan usaha transportasi/pelayaran masih selalu merupakan sektor-sektor andalan yang bertahan dan berkembang dengan teknologi pelayaran dan penangkapan ikan tradisional dalam berbagai bentuk dan arsiteknya. 1909) secara garis besar dikategori ke dalam: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Net (di Sulawesi Selatan: panjak. namun kurang dari segi ukiran dan motif-motif gambar bermakna.kopek.tonda. Di Sulawesi Selatan. Secara kolektif mereka tetap mempertahankan lokasi-lokasi dan sarang-sarang ikan yang dimiliki sejak dahulu dan tetap menggunakan pancing labuh.krakat. Patorani Makasar Lambo Mandar. sero/belle’) Alat tusuk (di Sulawesi Selatan: tombak.N. Bago Mandar Bagan Bugis Jolloro (tipe terbaru. Berbagai tipe perahu tradisional milik kelompok-kelompok etnis di Indonesia antara lain sebagai berikut: Pinisi Bugis P. para pengusaha dan agen eksportir dengan mana tangkapan ikan dan lobster hidup dijual. menangkap/memungut dengan tangan (tidak tercantum dalam karangan P. Pinisi adalah salah satu tipe perahu Sulawesi Selatan yang konstruksinya memang bagus.rintak.van Kampen. lanra. bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Nusantara ini.peperek. parang. 35 . keseimbangan dan kecepatan. kompresor (tidak tercantum dalam P.pemanfaatan sumberdaya kawasan karang secara tradisional dan arif. panambe) Pancing (di Sulawesi Selatan: p. akhir 1980-an) Janggolan Madura Janggolan Bali Mayang Jawa Prahu jaring Madura Lisalis. Leti-leti Jawa Nade Sumatra Jukung Jawa.van Kampen) Linggis.bhanton). Pajang saja mempunyai jenis (p. Teknologi penangkapan ikan di Indonesia (lihat P. p. ladung) Teknik lainnya (di berbagai tempat: bahan peledak.N.kedo-kedo) Perangkap (di Sulawesi Selatan: Bubu. Teknologi kemaritiman. Sebagian besar dari jenis-jenis pukat tersebut masih digunakan sebagian besar nelayan Jawa dan Madura hingga sekarang ini. p.N.arad. perahu-perahu tradisional mulai dilengkapi dengan motor (motor tempel dan motor dalam) di awal tahun 1970-an. p. p. nelayan Jawa dan Madura cukup kaya dengan alat tangkap pukat.van Kampen.besar. Lambo Buton Sandeq. p. Salah satu ciri khas perahu Jawa dan Bali ialah penuh dengan ukiran dan gambargambar binatang menggunakan kombinasi warna mengandung berbagai makna simbolik. Pangkur. namun mereka tetap mempertahankan sistem-sistem tradisionalnya.labuh. Golekan. p. bius) Alat selam: tabung. p. p. pattek.

Dalam perkembangan kemudian. Ketiga. Kategori keempat yang menyatakan bahwa laut dipandang sebagai daerah strategik politik bagi penguasaan sumber-sumber kesejahteraan dan kekuasaan. Kedua. kawasan jalur lalulintas pelayaran yang menghubungkan antar daerah dan pulau. Pertama. Prinsip mare liberium ini pada gilirannya mempengaruhi tatanan masyarakat yang menginginkan pembebasan diri dari kehidupan pemerintahan yang bersifat otoriter dan mengeksploitasi penduduknya. Dalam perjanjian itu dinyatakan bahwa kerajaan portugis memperoleh kekuasaan atas wilayah perairan dari eropa ke arah timur. setidaknya dapat diklasifikasi kedudukan laut dalam empat kategori.6 Masyarakat Suku laut dan Otonomi daerah Kawasan laut dipandang sebagai kawasan yang bebas. laut merupakan tapal batas wilayah kekuasaan. Dalam banyak hal prinsip-prinsip mare liberium dan mare clausum dalam perkembangannya menunjukkan pada penguatan pandangan laut sebagai strategi politik. laut adalah kawasan yang menyediakan sumber kehidupan. turun ke laut dan menjadikan laut sebagai kawasan pemukiman mereka. Prinsip mare clausum itu diikuti pula dengan konsep monopoli (berdagang sendiri) yang berkembang pada periode awal perkembangan perdagangan maritim. dan tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber-sumber laut. tercatat bahwa usaha untuk memilah wilayah laut mulai terjadi ketika dicapainya perjanjian tordesilas pada tahun 1492. Keempat. laut sebagai infrastruktur. Dalam memandang kedudukan kawasan laut. Gelombang yang dahsyat dan arus laut yang menghanyutkan merupakan ancaman malapetaka bagi setiap orang yang pergi ke laut. Secara historis. ketika kegiatan perdagangan maritim berkembang yang diikuti dengan usaha mencari produksi-produksi primadona dalam dunia perdagangan. 36 . kelompok yang memandang kawasan laut sebagai daerah pemukiman. Setiap orang dapat dengan bebas menggunakan kawasan laut. karena tidak seorangpun yang memilikinya dan menguasainya. sementara kerajaan Spanyol ke arah barat.4. Pengaturan atas wilayah laut itu dikenal dengan konsep mare clausum atau laut tertutup. Prinsip mare liberium itu juga pada dasarnya di pengaruhi oleh pandangan yang menempatkan wilayah laut dan lautan adalah kawasan yang penuh tantangan dan maut. keinginan untuk menguasai laut terjadi. Pandangan demikian itu kemudian dikonsepsikan dengan istilah “mare liberium” atau laut bebas. maupun dijadikan infrastruktur pelayaran maritim. yang berkaitan dengan pemguasaan komoditi dagang tertentu.

Kondisi muson dan pasang surut laut yang mempengaruhi kegiatan usaha masyarakat suku laut ini memberikan gambaran kepada kita bahwa waktu kerja mereka sangat singkat. Kegiatan pengembaraan mereka di laut mengalami pembatasan.Masyarakat suku laut mata pencaharian utama mereka adalah nelayan. 37 . 32 tahun 2004 mengatur tentang kewenangan daerah dalam mengatur wilayah perairan laut. sehubungan dengan pengaturan wilayah laut dan pembatasan ke wilayah perairan pemerintahan lain. dengan demikian pada gilirannya dapat memudarkan kegiatan suku laut dan juga nelayan di wilayah kabupaten dan kota. dan hal inilah yang mendorong mereka mengembara di perairan untuk mendapatkan tempat bagi kegiatan kerja mereka. UU No. Tampaknya UU tersebut cenderung berpegang pada prinsip mare clausum. mencari. mengumpulkan dan memperdagangkan produksi ikan laut. 32 tahun 2004 diberlakukan. Mereka masih berpeluang mengembara di perairan wilayah nusantara. Sebelum UU No. Implikasi dari terbatasnya ruang gerak masyarakat suku laut tersebut mendorong mereka untuk melakukan eksodus ke negara lain atau senantiasa melakukan “pelanggaran” perairan antar daerah. kehidupan suku laut dan nelayan masih cukup lapang. oleh karena terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. 22 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No. Kegiatan masyarakat marine (masyarakat suku laut) bergantung pada kondisi angin muson dan pasang surut air laut.

BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya terdiri dari lautan dan memiliki ribuan pulau. Hasil pemetaan berisi informasi tentang titik koordinat batas wilayah dengan negara tetangga. pelabuhan dan setiap perubahan alur pelayaran dan hasil pemetaan ini dilaporkan ke Organisasi Maritim Internasional (IMO). juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. sedangkan kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara politik menjadi tujuan pendukungnya. pulau buatan. Wilayah laut meliputi dua per tiga wilayah Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81. Dalam konteks ketatanegaraan yang lazim dan universal maka kepentingan nasional ditempatkan sebagai tujuan utama. pulau-pulau kecil.000 Km terpanjang ke dua di dunia dan sumberdaya alam hayati dan nir hayati yang dapat dimanfaatkan untuk menambah devisa negara dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pemetaan wilayah laut ditugaskan kepada lembaga hidrografi. dan fasilitas keselamatan maritim. Hasil pemetaan berisi tentang kekayaan sumber daya alam hayati dan nir hayati. pemeliharaan dan pelestarian lingkungan laut. Dalam otoritas maritim. yang menyatukan seluruh pulau-pulau di wilayah nusantara. Dengan demikian pertanyaan yang timbul adalah dimanakah kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal di tempatkan? Kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal tentunya harus diperhatikan dan dijadikan pertimbangan penting dalam proses perumusan kebijakan nasional kemaritiman. Lembaga yang memegang otoritas maritim wajib mengambil tindakan kepada pelanggaran garis batas wilayah laut sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk penetapan garis batas wilayah laut Indonesia dengan negara tetangga ditetapkan oleh ke dua negara melalui perjanjian bersama dan Pemerintah Indonesia menugaskan institusi tertentu yang berwenang melakukan ketetapan garis batas wilayah laut dengan negara tetangga. sarana bantu navigasi. Bertitik-tolak dari pengertian ini maka kebijakan kelautan harus mendudukan perairan laut sebagai unsur pemersatu bangsa. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. Sekalipun 38 . Dan dalam pemetaan wilayah laut dilakukan setiap kali ada perubahan kontur pantai. Pemerintah Indonesia wajib membentuk satu lembaga yang memegang otoritas maritim. Pemetaan kawasan laut dilakukan untuk kepentingan pembangunan di laut.

Kawasan Maritim harus dapat mencerminkan kepentingan-kepentingan politik.1 Upaya untuk mendapat pengakuan internasional atas Prinsip Negara Kepulauan seperti yang dinyatakan Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957 merupakan perjuangan yang berat dan panjang. 5. secara ekosistem dapat secara optimal mengakomodasikan corak ragam ekosistem kepulauan. 119 negara menandatangani United National Convetion on the Law of the Sea (UNCLOS). Adalah merupakan kenyataan yang pahit bahwa kapal-kapal perang Belanda yang dikirim untuk meperkuat pertahanan Belanda di Irian Barat berlayar dengan bebas melalui Selat Malaka – Laut Jawa – Laut Flores – Laut Banda dan sampai ke Irian Barat. Kriteria Kawasan Maritim. c. dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu : a. ekonomi dan sosial dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ekosistem suatu negara kepulauan.demikian tetap disadari bahwa tanpa terpenuhinya kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara optimal. Itulah sebabnya Pemerintah Indonesia kemudian menyatakan bahwa semua laut di antara pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke itu adalah wilayah kedaulatan mutlak Indonesia. Ketika Deklarasi Djuanda itu diumumkan hampir semua negara besar yang berkepentingan dengan jalan laut melalui Indonesia menolak. Namun dengan perjuangan yang gigih di forum-forum PBB maupun forum-forum internasional yang lain. maka pencapaian tujuan utama akan menjadi sangat berat dan rapuh. Jamaika. pariwisata bahari dan pengembangan pusat-pusat perekonomian regional dan kawasan produksinya. transportasi antar moda. Pada tahun 1957 bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk merebut kembali Irian barat (sekarang Papua) dari penjajahan Belanda. secara sosial dapat mencerminkan keragaman etnis tetapi tetap dalam bingkai prinsip ” bhineka tunggal ika” . Kriteria dari kawasan maritim. 39 . d. tentunya harus dapat menterjemahkan pengertian Maritim Indonesia sebagaimana dijelaskan sebelumnya. sehingga kapal-kapal perang asing tidak bebas lagi melintasinya. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. secara ekonomi dapat mengakomodasi berbagai kepentingan kegiatan ekonomi bahari seperti perdagangan antar negara dan antar wilayah. akhirnya perjuangan itu membawa hasil. secara politik tidak dibatasi oleh sistem administrasi wilayah. Dimensi Wilayah Maritim b. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal perihal ketentuan tentang Prinsip Negara Kepulauan. tetapi dapat menjadi unsur pemersatu berbagai kepentingan daerah dan menjamin rezim wilayah negara kepuluan sebagaimana diamanatkan dalam UNCLOS 1982. terutama dalam hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga. watershed dan sistem wilayah perikanan. seperti konsep bioregion.

Sejauh ini Pemetintah Indonesia bertindak sangat lambat. 17 Tahun 1985 yang meratifikasi UNCLOS 1982. yang mempersatukan seluruh pulau dalam administrasi kedaulatan Negara Kepulauan itu sebagai satu kesatuan wilayah dengan persyaratan tertentu. Ketika Pemerintah Indonesia mensahkan Undang-Undang No. menjamin Innocent Passage. yang dikuatirkan justru menggugurkan hak penerapan Prinsip Negara Kepulauan.2 Batas Wilayah Maritim dan Pulau-Pulau Terluar Wilayah adalah salah satu unsur utama. baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah masih mengabaikan ketentuan UNCLOS 1982. selain itu akan menimbulkan biaya tinggi dalam usaha perdagangan antar pulau. Esensi dari prinsip Negara Kepulauan dalam perspektif kewilayahan sesuai UNCLOS 1982 adalah diberikannya hak kepada Negara Kepulauan untuk menarik garis pangkal batas laut wilayahnya dengan menarik garis lurus dari titik-titik terluar dan menyatakan perairan di dalam lingkaran garis pangkal itu sebagai Perairan Kepulauan. Suatu negara yang mempunyai sistem pemerintahan negara yang beberapa kewenangannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Oleh karena itu Perairan Kepulauan adalah satu wilayah laut yang utuh. dimana kapal perang negara manapun setiap waktu dapat melintas tanpa hambatan. yaitu rakyat dan pemerintah. UNCLOS 1982 lebih menekankan kepada sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi Negara Kepulauan. tetapi kepanjangan wilayah kekuasaan daerah. dan tidak tumpang tindih dengan hukum-hukum lokal. seperti dalam menetapkan wilayah laut daerah-daerah dalam rangka otonomi daerah. Transit Passage. selain dari dua unsur lainnya. Laut cenderung tidak lagi dipandang sebagai pemersatu wilayah. maka semua ketentuan terdahulu yang bertentangan dengan UNCLOS 1982 hanya menjadi dokumen sejarah. wilayah 40 . baik yang berjangka pendek maupun berjangka panjang. bahkan beberapa kebijaksanaan yang dilahirkan kemudian. Dalam seluruh Perairan Kepulauan hanya berlaku satu rezim hukum nasional yang tunduk kepada ketentuan UNCLOS 1982. juga memperhatikan kepentingan perikanan negara lain. adanya wilayah dalam suatu negara ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. antara lain menetapkan sejumlah Alur Laut Kepulauan atau Archipelagic Sealanes. dan Straits for Internasional Navigation. sehingga jika kondisi demikian tetap diberikan akan menimbulkan kerawanan terhadap konflik antar daerah dalam pengelolaan sumberdaya seperti perikanan. Oleh karena itu. 5. Selanjutnya Pemerintah Indonesia harus menyiapkan program implementasi UNCLOS 1982 secara sistematis. terutama negara tetangga.Namun berbeda dengan Deklarasi Djuanda 1957 yang menyatakan bahwa seluruh laut di antara dan sekeliling pulau-pulau itu merupakan wilayah kedaulatan mutlak seperti halnya wilayah darat. pertambangan dan pariwisata.

Tanggal 13 Desember 1957 ini kemudian menjadi tonggak sejarah Kelautan Indonesia yang kemudian dikenal dengan Wawasan Nusantara. 17 Tahun 1985. sehingga mempunyai wewenang untuk mengelola daerah kedaulatannya yang punya batas. yaitu Teriroriale Zeen en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). dasar laut (sea bed) dan tanah di bawah dasar laut (sub soil). serta semua sumber daya maritim baik yang hidup maupun yang tidak. pada umumnya kita sepakat bahwa ketika para pendiri negara ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. pulau-pulau di wilayah ini dipisahkan oleh laut di sekelilingnya. Bangsa Indonesia patut berbangga karena melalui Deklarasi Djuanda tersebut. Namun demikian. Ini berarti kapal asing dengan leluasa dapat melayari laut yang mengelilingi atau yang memisahkan pulau-pulau tersebut. Pada dasarnya konsep deklarasi ini menyatakan bahwa semua laut/perairan di antara pulau-pulau Indonesia tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena laut antarpulau merupakan penghubung dan menjadi satu kesatuan dengan pulau-pulau tersebut. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa sebagai kesatuan wilayah hal ini sangat merugikan bangsa Indonesia sehingga pada tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh Ir. wilayah negara Republik Indonesia mempunyai cakupan wilayah Hindia Belanda. Dalam UUD 1945 tidak secara implisit mengatur pasal mengenai “Wilayah Negara Republik Indonesia”. Dalam ordonansi ini setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai.2 mil dari garis pantai pulau-pulau terluar. Indonesia. bangsa Indonesia mengenai hukum laut internasional tercantum dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang dikenal dengan United Nations Convension on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ketiga tahun 1982 yang selanjutnya disebut Hukum Laut (Hukla) 1982. dalam Bab IX A tentang Wilayah Negara pada Pasal 25A tercantum Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri 41 . Maka. Batas wilayah negara Indonesia adalah 1. wilayah negara Republik Indonesia merupakan wilayah yang mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939. Djuanda mengeluarkan pengumuman pemerintah yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda yang menyatakan bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State). Termasuk kewenangan ini ruang udara di atasnya.pemerintahan daerah juga ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah Indonesia meratifikasi Hukla 1982 dengan Undang-undang No. Oleh karena itu. Upaya mencantumkan Wilayah Negara Republik Indonesia dalam UUD 1945 diawali dari perubahan kedua dan terus berlanjut sampai pada perubahan keempat UUD 1945.

Untuk mendukung hal itu. Oleh karena itu. batas zona ekonomi eksklusif (ZEE). Berdasarkan Hukla. Setelah tujuh tahun bangsa hidup dalam penataan negara secara normal. serta Samudra Hindia dan Pasifik. kewajiban. sedangkan garis pantai didefinisikan sebagai muka laut terendah. Jadi. batas teritorial antar dua negara tersebut adalah garis median. Batas dan hak wilayah laut menurut Hukla 1982. yang dimaksud dengan panjang 1 mil laut sama dengan 1852 meter. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa NKRI yang merupakan negara kepulauan wajib menetapkan batas teritorial wilayahnya baik wilayah darat dan laut. “Negara kepulauan berciri Nusantara” punya arti bahwa negara kepulauan yang dimaksud terletak di antara dua benua dan dua samudra. Sementara itu. Dapat dipahami bahwa UUD 1945 (asli) yang dikeluarkan setelah proklamasi kemerdekaan belumlah sempurna. Selanjutnya dalam pasal tersebut dinyatakan “dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang”. dalam penetapan batas sangat diperlukan keterpaduan aspek teknis dan legal. karena NKRI merupakan negara kepulauan. Garis median yaitu garis yang punya jarak yang sama (equidistance) dengan garis pantai dari negara bertetangga tersebut. Pengukuran ini merupakan aspek teknis yang dilakukan oleh tenaga ahli geodesi yang mengerti tentang aspek legal dari penetapan batas. Indonesia harus mengkaji dan menetapkan antara lain batas laut teritorial. Dalam wilayah laut teritorial berlaku hakhak dan kewajiban dalam wilayah kedaulatan NKRI. Batas laut teritorial diukur berdasarkan garis pangkal yang menghubungkan titik-titik dasar bertempat di pantai terluar dari pulau-pulau terluar wilayah NKRI.Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang. batas laut teritorial sejauh maksimum 12 mil laut dari garis pantai. Jika dua negara bertetangga punya jarak antara garis pantainya kurang dari 24 mil laut. seperti belum tercantumnya wilayah negara. batas landas kontinen (continental shelf). tetapi terletak di dalam batas ZEE dan batas landas kontinen. 17 Tahun 1985. Kira-kira lima tahun bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan sehingga tahun 1950 mulailah bangsa Indonesia menata negara dengan sistem pemerintahan yang disepakati pada waktu itu. batas zona tambahan (contiguous zone). maka penetapan batas di wilayah laut mengacu kepada UNCLOS 82/HUKLA 82 yang telah diratifikasi dengan UU No. 42 . sangat diperlukan informasi kewilayahan NKRI seperti informasi pulau-pulau terluar beserta nama-namanya. Jadi. Hak-hak. dan wewenang di dalam batas teritorial wilayah laut NKRI akan berbeda dengan hak-hak dan wewenang di luar batas teritorial. Benua Asia dan Australia. pernyataan “sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dan berbentuk negara kesatuan dan republik” sudah menunjukkan di mana lokasi geografis negara kesatuan yang berbentuk republik itu yang lengkapnya disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7. 17 Tahun 1985 dan menyatakan bahwa UU No. Dengan inisiatif para pakar penetapan batas dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dari aspek legal dan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dari aspek teknis pada awal tahun 2003 dibentuk Forum Kajian Kewilayahan NKRI. Jadi. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia yang isinya sangat umum. Dalam PP No. 4/PRP/1960 tentang Perairan tidak berlaku lagi. Pada tanggal 28 Juni 2002 keluar PP No. Dinamika penetapan batas wilayah negara perlu kita simak. PP No. 38/2002 ini dicantumkan titik pangkal di Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan.4 ha) dan Ligitan (kl. yaitu pada tanggal 13 Desember 1957. Pada tanggal 15 Februari 2003 forum ini menyelenggarakan Diskusi Panel bertema “Reaktualisasi Wawasan Nusantara Dalam Perspektif Kesatuan Wilayah Negara Republik Indonesia” di Unpad. wilayah negara menjadi tidak jelas. PP No. 4/PRP/1960. artinya semangat Deklarasi Djuanda yang menjiwai UU No. 4/PRP/1960. yaitu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Hukla 82 (yang telah diratifikasi dengan UU No. Dalam UU ini dicantumkan koordinat geografis titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar di wilayah negara. Daftar koordinat titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar tidak tercantum dalam UU No. 6 Tahun 1996 ini. Dengan keluarnya keputusan Mahkamah Internasional tentang kasus Sipadan dan Ligitan. Pulau-pulau Sipadan (kl.berdampingan. dan sama tinggi dengan negara-negara lain barulah satu tonggak sejarah tentang wilayah negara diumumkan. Hal lain mengenai wilayah negara tercantum pada UUD 1945 pada perubahan kedua UUD 1945 Bab IX A pasal 25E yang ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR tahun 2000 yang kemudian berubah menjadi pasal 25 A pada perubahan keempat UUD 1945 yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 yang bunyinya sudah disampaikan di awal tulisan ini. 61 Tahun 1998 tentang Koordinat Geografis Titik Dasar Kepulauan di Laut Nusantara. sejajar. Deklarasi Djuanda diratifikasi melalui UU No. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. 4/ PRP/1960 masih berlaku. 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia.9 ha) tidak termasuk daftar pulau terluar. 10. Setelah 48 tahun Deklarasi Djuanda itu dikumandangkan sudah sejauh mana Indonesia dapat menyelesaikan batas-batas di laut terutama batas laut teritorial ?. 61 Tahun 1998 ini adalah upaya bangsa Indonesia menutup kantong Natuna yang masih terdapat dalam UU No. Pada tanggal 16 Juni 1998 dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Dengan menganggap bahwa semua titik pangkal lengkap dengan koordinat geografisnya yang tercantum pada Undang-undang No. 43 . Pada tanggal 8 Agustus 1996 diterbitkan UU No. secara legal. 38/2002 ini perlu dicabut dan segera diganti dengan yang baru.

Dengan Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah mendeklarasikan bahwa Republik Indonesia adalah satu Negara Kepulauan. Undang-undang No. Semoga dengan tetap dalam semangat Deklarasi Djuanda penetapan batas-batas maritim kepulauan Indonesia segera terselesaikan. Dengan Undang-Undang No. Realisasi. yang masih harus diperjuangkan untuk diterima oleh dunia internasional dan yang akhirnya diterima dunia internasional dengan Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS . Penetapan batas wilayah negara adalah kerja sama antara Departeman Dalam Negeri. dan departemen lainnya yang terkait. 4/Prp Tahun 1960 karena tidak sesuai lagi dengan rezim hukum Negara Kepulauan sebagaimana diatur dalam UNCLOS. disertai satu konsep dasar klaim wilayah perairan. 17 Tahun 1985. Diperlukan waktu dan kondisi yang memadai untuk dapat mengkaji secara cermat berbagai aspek kewilayahan satu negara. 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia telah mencabut UU No. yang telah disahkan Indonesia dengan UU No.4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia maka untuk pertama kali diproklamasikan wilayah kedaulatan NKRI. Perlu sekali diperhatikan bahwa UndangUndang ini selain merupakan proklamasi wilayah perairan Indonesia. untuk dapat menetapkan batas wilayah kedaulatan itu. yang menghubungkan titik-titik terluar dari pula-pulau terluar. Kasus Batas RI-Singapura” yang penyelengaraannya berdasarkan kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) ITB dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). juga merupakan proklamasi kedaulatan atas pulau-pulau terluar yang dilingkupi oleh garis batas laut territorial dan khususnya garis-garis pangkal territorial (territorial baselines). Undang-Undang ini telah didepositkan ke PBB dan diketahui dunia internasional selama 42 tahun tanpa ada yang mempersengketakan kedaulatan Indonesia atas pulau-pulau terluar itu.III). yang hasil kajiannya adalah satu konsep Wawasan Nusantara. TNI. dalam rangka 46 tahun Deklarasi Djuanda diselenggarakan workshop dengan tema “Status. satu konsep yang baru. Proklamasi Kedaulatan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 belum mencakup proklamasi Wilayah Kedaulatan Negara RI itu. khususnya negara baru RI dengan tatanan geografis yang khas. dan merupakan dasar hukum yang kuat hal kedaulatan atas pulau-pulau terluar itu. dan Permasalahan Penataan Batas Maritim Indonesia dengan Negara Tetangga. Pertemuan yang diselenggarakan di Unpad dan ITB pada awal dan akhir tahun 2003 ini menyatakan perlunya kejelasan dalam masalah kelembagaan dalam penetapan batas wilayah negara. Agak disayangkan bahwa pada pencabutan itu tidak ditegaskan secara eksplisit bahwa walaupun rezim hukum atas perairan disesuaikan denga UNCLOS 44 . Departemen Pertahanan. kecuali Sipadan dan Ligitan pada waktu itu.Sebagai lanjutannya pada tanggal 15 Desember 2003. Bakosurtanal.

Yang menonjol adalah bahwa pada peta lampiran UU No. yang masih dimungkinkan oleh ketetapan UNCLOS. walaupun kedaulatan atas kedua pulau tidak pernah secara eksplisit tertuang dalam peraturan perundang-undangan. Perlu diperhatikan bahwa khusus untuk pulau Sipadan dan Ligitan. secara khusus pulau-pulau terluar lainnya. Juga Timor Timur masih dimasukkan dalam peta lampiran itu sebagai satu bagian dari NKRI. Pelaksanaan kegiatan serta perwujudan sasaran dari Pembangunan Nasional di laut tersebut tidak terlepas dari kebutuhan akan data dan informasi kelautan yang akan merupakan bekal awal dalam tahap perencanaan serta pendukung dalam pelaksanaannya. yang masih memasukkan pulau Sipadan dan Ligitan dalam kedaulatan Indonesia. Dengan PP No. Penetapan Batas Wilayah Yurisdiksi Negara merupakan kebutuhan ynag mutlak harus ditentukan agar segala kegiatan yang akan dilaksanakan di dalam wilayah tersebut dapat diterima oleh lingkungan Regional maupun Internasional baik secara Yuridis maupun secara faktual. pertama kali Pemerintah Indonesia mengklaim kedaulatan atas kedua pulau itu di tahun 1969. Peraturan Pemerintah No. Apakah ini perlu dikoreksi dengan undang-undang? Hal kontroversi status pulau-pulau terluar. namun telah diserahkan ke Mahkamah Internasional (ICJ) untuk memutuskan hal kasus sengketa itu. kiranya jelas bahwa. selama 42 tahun tidak ada negara lain yang mempersengketakan proklamasi wilayah kedaulatan yang ditetapkan denga UU No. yang langsung disengketakan oleh Malaysia.17 tahun 1985 dan Konvensi 45 . Ini merupakan dasar hukum yang terkuat. 4/ Prp tahun 1960. 6 Tahun 1996 dan konsisten dengan klaim kedaulatan atasnya yang telah diperjuangkan selama lebih dari 30 tahun. 38 Tahun 2002 penarikan garis-garis pangkal ditata kembali sehingga dapat diperoleh laut wilayah dan wilayah yurisdiksi nasional atas laut yang seluas mungkin. dimana Republik Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut dengan Undang-Undang No.namun itu tidak mengganggu kedaulatan atas pulau-pulau terluar dan bahkan ditetapkan garis pangkal yang baru dan disesuaikan dengan yang dimungkinkan oleh UNCLOS. dan kiranya ini masih konsisten dengan peta lampiran UU No. kecuali Sipadan dan Ligitan. tidak termasuk TimorTimur. 6 Tahun 1996 untuk penggambaran batas perairan laut wilayah jelas diperhitungkan ’klaim’ kedaulatan atas pulau-pulau Sipadan dan Ligitan. 38 tahun 2002 kemudian menetapkan garis pangkal territorial yang baru. Pembangunan Nasional Sektor Kelautan telah dicanangkan dalam GBHN 1993 untuk diarahkan kepada pemanfaatan Wilayah Laut Nasional termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen disamping untuk mendukung penegakan Kedaulatan Yurisdiksi Nasional di laut serta dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara. Hukum Laut Intenasional tahun 1982 (UNCLOS-82) telah menentukan hak dan kewajiban negara kepulauan.

Indonesia berkewajiban memberikan akomodasi pelayaran bagi kapal-kapal asing atau hak lintas alur kepulauan (UNCLOS-82). satu tahun setelah ALKI diakui oleh dunia internasional. harus sudah tersedia bulan September 1999. yang menjadi dasar dari pembentukan perangkat sistem pemerintahan ”ocean governance” pemerintahan yang berbasis kemaritiman untuk suatu kepentingan yang masuk dalam tataran perumusan kebijakan yang strategis. Keterkaitan antara Kegiatan Pemetaan Sumberdaya Kelautan dengan UNCLOS-82 adalah menyangkut penentuan Titik Pangkal. Batas Landas Kontinen dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). ekonomi. kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akan berlaku efektif 16 November 2004. Untuk dapat membangun suatu negara maritim.3 Tipologi Kawasan Maritim Di Indonesia dikenal beberapa tipologi kawasan. Hal ini mewajibkan Indonesia untuk memenuhi semua ketentuan konvensi tersebut. Kawasan maritim sebagaimana dijelaskan dalam kriteria di atas merupakan komposit dari berbagai pendekatan kewilayahan yang memperhatikan unsur politik. salah satu strategi yang harus didorong dan dikembangkan adalah tumbuhnya pemahaman tentang visi maritim nusantara. 46 . Sebagai Negara Kepulauan. Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). antara lain kawasan transmigrasi. Sekalipun disadari bahwa untuk tataran operasioanal berbagai kebijakan strategis ini kemudian perlu dijabarkan lagi ke dalam sistem pemerintahan yang berjalan sebagaimana yang berlaku sekarang yaitu dalam sistem tata pemerintahan pusat dan daerah. Peta ALKI mempunyai spesifikasi tersendiri sesuai standard bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. 5. Ketentuan dari UNCLOS’ 82 mewajibkan deposito dari daftar koordinat geografis atau peta-peta pendukung klaim Indonesia di atas. Batas Laut Teritorial dan Zona Tambahan. Garis Pangkal. sosial dan ekosistem suatu negara kepuluan. Setiap kawasan didefinisikan dan dideliniasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu. KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu). kawasan wilayah perikanan dan yang terbaru dikenal dengan kawasan bio-region.diberlakukan efektif sejak 16 November 1994. kawasan pariwisata bahari. Telah lama pula kita kenal istilah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Oleh karena itu terminologi suatu kawasan harus dilihat dalam suatu konteks dan konsep pemanfaatan tertentu. yang satu dan lainnya berbeda untuk konsep yang berbeda.

Penetapan batas-batas wilayah laut dengan beberapa negara tetangga yang masih belum rampung. 5. pemanfaatan dan pengelolaan laut yang menyangkut banyak aspek memerlukan pendekatan kebijakan yang terpadu. Sayangnya. Dalam konteks wilayah pesisir. 2. Dengan wilayah laut yang sangat luas. Berangkat dari pemikiran yang tertuang dalam Deklarasi Djuanda 1957 dan Undang-undang No. Tahun 1960. Indonesia mengajukan konsep mengenai rejim negara kepulauan dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. Indonesia dapat memperoleh manfaat yang besar dari sumberdaya yang terdapat di dalamnya. akhirnya rejim negara kepulauan diterima oleh negara-negara peserta konferensi dan kemudian diatur dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea –UNCLOS). visi sektoral 47 . Pemanfaatan sumber daya kelautan seringkali menghadapi berbagai permasalahan yang tidak terakomodasi secara efektif dalam agenda pembangunan nasional. Masih tertinggalnya industri perikanan Indonesia. Dalam kenyataan selama ini. Berbagai permasalahan tersebut antara lain: 1. Masih banyaknya sumber daya manusia kepelautan yang tidak memiliki kualifikasi sesuai standar International Maritime Organization (IMO).4 / Prp. kebijakan di bidang kelautan yang dilakukan oleh pemerintah masih didominasi oleh pendekatan yang cenderung bersifat sektoral dan terkadang bertentangan dengan kepentingan yang bersifat umum sehingga menimbulkan berbagai kebijakan yang bertentangan. 4. Indonesiapun akhirnya mendapat pengakuan sebagai salah satu negara kepulauan berdasarkan Konvensi tersebut. fokus pembangunan nasional selama ini lebih bertumpu pada pembangunan di wilayah darat dan telah menjadikan potensi sumber daya kelautan Indonesia tidak terkelola secara optimal. Setelah melalui proses perdebatan yang panjang. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar seharusnya dapat lebih membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun potensinya sebagai negara maritim besar. 3. misalnya. Konflik penggunaan ruang dan masalah pencemaran lingkungan laut. Industri pelayaran niaga yang sebagian besar masih dilayani oleh perusahaan dan kapal berbendera asing.BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT Usaha Pemerintah Indonesia untuk mengelola potensi maritim dilakukan melalui pengajuan konsep Negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Khususnya dalam hal pengaturan kebijakan.

ada kecenderungan daerah akan membuat peraturan-peraturan daerah berdasarkan kepentingan daerahnya masing-masing. Alam laut memiliki ciri khas. penyaluran energi. 6. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya memperbaiki keadaan sumber daya manusia di bidang kelautan yang selama ini cenderung tidak mendapat perhatian yang layak. telekomunikasi. pertahanan negara. yaitu pertama lokasinya. Lokasi laut 48 . kedua fungsinya. telah mendorong departemen-departemen atau instansi teknis berlomba-lomba membuat peraturan perundang-undangan untuk mengelola sumber daya alam atau jasa-jasa lingkungan pesisir sesuai dengan kepentingannya masing-masing yang bermuara pada peningkatan pendapatan asli daerahnya. Demikian pula. Oleh karena itu.pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir. Setiap pemanfaatan laut harus memperhatikan dan menjaga keterpaduan dan keserasian serta mencegah pencemaran dan pengrusakan lingkungan laut.1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia Laut dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Namun tampaknya dominasi Indonesia sebagai negara maritim besar sangat sulit untuk dipertahankan saat ini seiring dengan lebih difokuskannya pembangunan nasional di wilayah darat. industri maritim. Pembangunan di bidang kelautan tidak mendapat prioritas utama dalam pembangunan nasional yang pada akhirnya berimbas pada memudarnya budaya maritim yang seharusnya menjadi bagian dari budaya nasional. telah dan akan melahirkan ketidakpastian hukum bagi semua kalangan yang berkaitan dan berkepentingan dengan wilayan pesisir (stakeholders). perlu diambil langkah-langkah untuk mewujudkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. Sejarah telah menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia sempat dikenal sebagai bangsa maritim yang tangguh melalui kejayaan kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu seperti Majapahit dan Sriwijaya. dan hal tersebut dapat dimulai dengan menumbuhkan wawasan maritim di tingkat masyarakat. dan memupuk budaya maritim sejak dini melalui sistem pendidikan nasional yang berwawasan maritim. lalu lintas pelayaran. Mengapa laut menjadi penting dalam hidup manusia dan mengapa orang mencintai laut? Mengapa setiap negara harus mengawal lautnya. memajukan pengembangan keterampilan sumber daya manusia di bidang teknologi kelautan. ketiga kekayaan alam yang dikandungnya dan keempat sosial-budaya kehidupan masyarakat bahari. Hal penting lainnya adalah bagaimana membangkitkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. Pengaturan pengelolaan wilayah pesisir yang demikian ini. padahal tidak ada orang yang bisa mencuri atau menduduki laut? Ada empat properti laut yang menjadikannya penting untuk diperebutkan sepanjang masa.

seperti ikan dan tumbuh-tumbuhan laut. atau yang berupa choking points dimana semua kapal yang berlayar harus merapat seperti di ujung selatan Afrika dan India. Kedua. dalam memenangkan peperangan atau dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. permasalahan. Letak geografis dan kandungan sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia memberikan pengakuan bahwa Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia. lapisan dasar laut lepas pantai dan laut dalam. peluang. Laut yang berupa selat yang menghubungkan dua samudera seperti Selat Malaka. tetapi sebagai Anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. juga mempertimbangkan pengaruh lingkungan strategis terhadap pembangunan nasional seperti globalisasi dan otonomi daerah. antar pulau dan ke luar dengan pasar dunia. lalu sebagai media pemersatu antar pulau bagi negara kepulauan. dan terpeliharanya daya dukung dan kualitas lingkungan pesisir serta lautan secara seimbang (proporsional). pemerataan kesejahteraan (social equity). dengan luas laut 5. Sebagai media penghubung lokasi laut tertentu menjadi sea lane of communication (SLOC) yang bersifat internasional baik untuk kepentingan ekonomi maupun militer. Laut jangan lagi dipersepsikan sebagai keranjang sampah (tempat pembuangan limbah dari darat) dan ajang ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan. bahwa tujuan pembangunan kelautan hendaknya tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi.8 juta km² terdiri dari 49 . juga sebagai sabuk pengaman (safety belt/safety cordon) terhadap serangan musuh dari luar. reorientasi fokus pembangunan. Rorientasi tersebut mencakup dua hal mendasar.2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia Paradigma baru pembangunan Indonesia adalah berbasis kelautan dan sudah saatnya Indonesia melakukan reorientasi paradigma pembangunannya ke arah kemaritiman. Gagasan paradigma pembangunan ini selain mendasarkan pada potensi. Termasuk dalam kekayaan alam laut adalah energi listrik yang dapat ditimbulkan oleh tenaga gelombang air laut dan hembusan angin di atas laut. Pertama. adalah laut dengan lokasinya sangat strategis baik dilihat dari sudut pandang ekonomi maupun militer. 6. tetapi juga bahan tambang mineral yang dikandung air laut. antara lain : sebagai media penghubung ke dalam. Laut memiliki fungsi yang sangat penting. dari basis sumberdaya daratan ke basis sumberdaya kelautan.sangat menentukan dalam pencapaian kepentingan nasional. Kekayaan alam laut tidak hanya berupa kekayaan hayati dan nabati yang ada dalam massa air laut. melainkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran). kendala. dan juga sebagai medan perang. dan kondisi pembangunan kelautan yang ada.

Dengan mengembangkan industri berbasis sumber daya kelautan berarti juga mendorong aktivitas ekonomi di sektor lainnya. laut telah menjadi media hubungan nasional dan internasional. Selain itu. dari aspek politik. sebuah kawasan paling dinamis dalam percaturan politik. Di bawah ini adalah beberapa alasan kuat mengapa pembangunan nasional kita adalah berbasis sumberdaya maritim antara lain : Pertama. komunikasi. dan jasa-jasa lainnya. menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa merupakan penemuan kembali (reinventing) aspek kehidupan yang pernah dominan dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa.7 juta km² dan 3. politik. Rendahnya kinerja sektor ekonomi berbasis kelautan yang jauh dari potensi yang dimiliki. Alasan di atas sudah cukup menjadi dasar untuk menjadikan pembangunan kelautan sebagai arus utama (mainstream) pembangunan nasional. sumber daya kelautan merupakan sumber daya yang senantiasa dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif ini dapat bertahan panjang asal diikuti dengan pengelolaan yang arif. melimpahnya sumber daya kelautan perikanan yang kita miliki. baik secara politik. dari sisi sosial dan budaya. baik secara ekonomi. banyak argumen yang memperkuat mengapa pembangunan berbasis sumber daya kelautan. sampai sekarang masih terlihat sisa-sisa budaya berbasis bahari ini pada beberapa suku di Indonesia. harus dijadikan arus utama pembangunan nasional. Sejarah mencatat bahwa pusat-pusat ekonomi dan peradaban yang pernah ada di wilayah Nusantara. termasuk usaha transportasi.luas laut teritorial 2. Ketiga. perdagangan. Kondisi geografis ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Indonesia berada pada posisi geopolitis yang penting yakni Lautan Pasifik dan Lautan Hindia. Kelima. dengan sejumlah keunggulan komparatif sekaligus kompetitif yang sangat tinggi. Suatu kenyataan pahit yang harus kita akui bahwa selama ini. merupakan harga yang harus dibayar. sosial dan budaya. ekonomi dan militer. dengan kondisi geopolitis yang ada. Bahkan. Pada saat itu. pertahanan dan keamanan dunia. Keempat.000 km garis pantai dengan potensi ekonomi yang sangat besar. keterkaitan yang kuat (backward and forward lingkage) antara industri berbasis kelautan dengan industri dan aktivitas ekonomi lainnya. Pembangunan berbasis sumber daya kelautan dianggap sebagai sektor pinggiran. ternyata pembangunan berbasis sumber daya kelautan diabaikan. jika kita memiliki jaminan keamanan dan pertahanan dalam menjaga kedaulatan perairan. 50 . pengolahan.504 pulau yang dikelilingi oleh 81. akibat kelalaian serta kurang perhatiannya kita sendiri sebagai bangsa.1 km² laut ZEE atau 2/3 dari total wilayah Indonesia merupakan lautan dan ditaburi sekitar 17. maka stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri dapat dicapai. serta menjadi suatu kawasan penting. Kedua. selama berabad-abad telah menjadikan sumberdaya kelautan sebagai basis pertumbuhannya dalam mencapai kemakmuran dan kemajuan dalam peradabannya.

ekosistem pantai dan pulau-pulau kecil.000 spesies. hutan mangrove. Diperkirakan terdapat 35.8 juta km². antara lain media transportasi dan komunikasi. yang merupakan justifikasi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara bahari terbesar di dunia. antara lain gelombang. Karakteristik geografis Indonesia serta struktur dan tipologi ekosistemmya yang didominasi oleh lautan telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekargaman yang tinggi dan terbesar di dunia. dan angin. membutuhkan faktor-faktor produksi seperti sumberdaya alam yang penggunaannya akan semakin meningkat. pasang surut. keindahan alam. bahan tambang dan mineral lainnya. dan kosmetika. Berdasarkan jenisnya sumberdaya kelautan dibagi menjadi: (1) Sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) antara lain ikan dan biota perairan lainnya. Sumber daya tersebut memiliki kegunaan untuk makanan. 51 . OTEC (Ocean Thennal Energy Conversion). Dengan luas laut 5. (3) Energi kelautan. Pembangunan ekonomi dunia di masa datang yang penuh tantangan dan persaingan yang ketat. (4) Jasa lingkungan. padang lamun. mengeluarkan kebijakan. muncul kesadaran untuk menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan nasional telah mendapatkan tempat yang lebih baik serta pijakan yang lebih kuat. Potensi wisata bahari Indonesia pun memiliki nilai yang cukup tinggi. rumput laut. Sumberdaya laut Indonesia dengan kekayaan keanekaragaman hayati memiliki potensi untuk pengembangan bioteknologi kelautan. Ini tercermin dari keputusan politik bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999.Namun. minuman. Indonesia sesungguhnya memiliki sumberdaya perikanan laut yang cukup besar baik dari segi kuantitas maupun keragamannya. Bahkan tidak mustahil akan mengakibatkan kelangkaan serta persaingan dalam mendapatkannya.000 spesies biota laut memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan. Fakta ini menunjukkan bahwa sumberdaya kelautan merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang amat potensial dimanfaatkan sebagai sumberdaya yang efektif dalam pembangunan bangsa Indonesia. dan melaksanakan program-program di bidang kelautan dan perikanan. farmasi. pengaturan iklim. Di Indonesia terdapat 241 Kabupaten/ kota yang memiliki pesisir. sejak reformasi. (2) Sumberdaya yang tak dapat pulih (unrenewable resources). sementara yang dimanfaatkan baru 5. Dengan demikian orientasi pembangunan bangsa Indonesia ke depan yang berbasis pada sumberdaya kelautan merupakan suatu keniscayaan. yang ditindaklanjuti dengan membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai institusi utama (leading institution) yang bertanggung jawab memberi arahan. dan penyerapan limbah. antara lain minyak dan gas bumi. Kondisi ini membuat kita semakin maju beberapa langkah dalam menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa.

diformulasi dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) dan Keputusan Menteri (Kepmen).Dengan demikian Indonesia memiliki lokasi obyek wisata bahari yang cukup besar dibandingkan dengan negara lain. baik dari sisi materi maupun dari sisi proses produksinya. laut Indonesia menyimpan potensi kekayaan yang cukup besar berupa minyak dan gas bumi. Selama tiga puluh tahun terakhir.68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. Dari sisi proses produksinya. produk hukum tersebut mengkonsentrasikan kewenangan pengelolaan sumberdaya perikanan hanya pada pemerintah pusat.8 milyar barel yang diketahui pasti. Ciri sentralistik dari produk hukum di sektor perikanan menjelma. produk hukum tersebut sangat memprihatinkan. ibarat sebuah arena pertarungan bebas. Suatu hal yang tidak kondusif bagi upaya konservasi sumberdaya kelautan. Diperkirakan Indonesia memiliki cadangan minyak bumi yang dapat menghasilkan 84. jelas kurang memiliki akuntabilitas politik. Secara kategorik. berbasis pada doktrin open-access. secara substantif. laut dipandang sebagai ‘halaman belakang’ dan ‘bak sampah’. wisata budaya. wisata pesiar. produk hukum perikanan tersebut memiliki tiga ciri pokok. Namun.48 milyar barel minyak. Pengalaman menunjukkan bahwa para pengusaha perikanan berkapital besar yang selalu keluar sebagai pemenang. seperti di Bagan Percut Sumatera Utara. dan anti pluralisme hukum. hukum kelautan pada umumnya. Keberhasilan pembangunan di bidang kelautan sejatinya tidak hanya ditunjukkan dengan mengklaim diri sebagai negara maritim atau diwujudkan melalui kebanggaan terhadap keunggulan komparatif yang dimiliki saja. secara kuantitatif relatif sudah memadai. Laut. Akibatnya. Sedangkan sisanya sebesar 74. wisata alam. yang tentu saja akan selalu melahirkan pemenang dan pecundang. yakni sentralistik. Hal ini kemudian mendorong tumbuhnya sikap merasa ‘tidak memiliki laut’ di kalangan pemerintah dan masyarakat daerah. Dari sejumlah itu. tetapi sejauh mana kemampuan kita dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya kelautan tersebut dalam mencapai kemakmuran bangsa. Dari sektor pertambangan. di mata pemerintah dan masyarakat daerah. baru 9. wisata pantai. 52 . Produk yang bisa dikembangkan antara lain wisata bisnis. tidak kurang dari tiga puluh produk hukum telah diproduksi untuk mengatur sektor perikanan. hukum kelautan kita juga dirancang atas dasar doktrin bahwa sumberdaya kelautan merupakan sumberdaya open-access sehingga pembatasan keikutsertaan dalam okupasinya menjadi sesuatu yang dipantangkan. Perlawanan nelayan tradisional yang cenderung sangat radikal. Dari sisi materi muatannya. Peraturan dan perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek kegiatan pengelolaan di bidang kelautan. merupakan isyarat bahwa tekanan terhadap nelayan tradisional sudah sampai pada titik yang tidak mampu ditolerir. dan wisata olahraga. Produk hukum yang demikian. Selanjutnya.

sentuhan pembangunan pada pulau-pulau serupa perlu dilakukan meskipun memiliki tingkat keisolasian yang tinggi. yakni hukum kelautan yang anti kemajemukan. Papua dan Bali. Sasi di Maluku. Sentuhan tersebut dapat dilakukan 53 . yang membuka peluang desentralisasi. atau tradisi rompong di Sulawesi Selatan merupakan contoh aktual dari hukum adat atau tradisi lokal yang demikian itu. Namun frame work pembangunan bangsa yang dipraktekkan selama ini mengakibatkan kita hanya mengenal pulau-pulau besar seperti Sumatera. Hukum adat dan tradisi masyarakat lokal tidak diakui sebagai bagian dari sistem hukum nasional. Sulawesi. Dengan perkataan lain. sentralisme kewenangan pengelolaan sumberdaya kelautan dapat dikurangi. Oleh sebab itu. ketentuan tersebut seperti tak bergigi. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang signifikan untuk mengelola laut. padahal hukum adat tersebut telah terbukti sangat efektif menjaga kelestarian sumberdaya alam. tetapi penjabaran dan penyusunan standar dan prosedur pengelolaan yang baik dan bertanggungjawab sesuai dengan kaidah-kaidah pengelolaan yang diterima secara universal. Karena itu. Namun. yang menjadi pusat-pusat aktivitas utama dalam pembangunan. Indonesia yang memiliki 17. Sebagai negara kepulauan. yang diperlukan saat ini bukan ‘menghapus’ ketentuan Pasal 3 dan 10 UU Nomor 22 Tahun 1999. maka kedaulatan bangsa Indonesia sesungguhnya dalam ancaman besar.Konsekuensi logis dari kedua ciri di atas. Sesungguhnya. Jawa. Melalui UU ini. Konsekuensi logis dari keadaan ini menimbulkan kesenjangan pertumbuhan dan kurangnya sinkronisasi pengembangan antarwilayah. hal ini akan membawa kepada muculnya kerawanan baru terutama pada pulau-pulau di kawasan perbatasan. ketika sampai pada tingkat implementasi.504 pulau-pulau besar dan kecil dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. terdapat pula beberapa produk hukum yang memihak kepentingan nelayan tradisional. Akibatnya banyak dari kita yang kurang mengenal pulau-pulau kecil atau gugusan pulau-pulau kecil lainnya sehingga kawasan ini menjadi terlantar atau tidak terkelola dengan baik. Belanda yang memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Ligitan berada dalam kedaulatan Malaysia. Kalimantan. dari pengalaman ini dapat kita simpulkan bahwa tanpa adanya perhatian terhadap pemberdayaan pulau-pulau kecil. Alasan utama keputusan itu dilandasi oleh adanya tindakan administratif secara nyata oleh pemerintah Inggris pada kedua pulau tersebut sejak tahun 1917. telah menjadikan bangsa ini sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. terutama yang berbatasan dengan negara asing. Pada gilirannya. Kelahiran UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. seperti larangan penggunaan pukat harimau. memberikan secercah harapan. Contoh paling nyata yang baru saja kita rasakan adalah keputusan Mahkamah Internasional tanggal 17 Desember 2002 di Den Haag. panglima laut di Aceh. Lemahnya penegakan hukum masih merupakan salah satu kendala.

mendeklarasikan pulau yang memiliki produktivitas hayati yang tinggi sebagai kawasan konservasi. pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil tersebut masih dihadapkan pada berbagai masalah antara lain letaknya yang terpencil. melakukan penataan ruang. sehingga dapat mewujudkan pemanfaatan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat. merangsang aktivitas ekonomi masyarakat penghuni pulau melalui paket-paket tertentu. prasarana dan sumberdaya manusia. di dalam pemanfaatannya perlu memperhatikan daya dukung pulau mengingat sifatnya yang rentan terhadap perubahan lingkungan. 54 . terbatasnya sarana. mendorong nelayan melakukan aktivitas penangkapan di perairan sekitar pulau. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di kawasan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara terencana dan terintegrasi dengan melibatkan peran serta masyarakat setempat. Di lain pihak.dengan cara menarik investasi ke pulau-pulau tersebut. Di samping itu.

upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. Recover). pada tingkat global.BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM Ekonomi (industri) kelautan dikembangkan untuk mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui industri maritim dalam rangka peningkatan ketahanan nasional. pariwisata. seperti: Industri yang berwawasan lingkungan. yang meliputi seluruh perairan Indonesia dan memiliki kemudahan dukungan berbagai bahan baku dan suku cadang.dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan industri berbagai aspek kelautan. akibatnya mengubah keterpurukan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Industri kemaritiman disamping mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. Reuse. industri perikanan. nasional maupun lokal. pemeliharaan dan perbaikannya pada lokasi-lokasi yang strategis. Indutri kemaritiman yang dikembangkan perlu mengikuti kaidah-kaidah lingkungan yang berlaku. regional. Rehabilitation. Industri maritim dikembangkan dengan menerapkan asas angkutan laut dalam negeri dan hanya boleh dilakukan oleh kapal-kapal berbendera Indonesia (Asas cabotage). Selama ini pembangunan ekonomi berbasis sumber daya kelautan di Indonesia masih belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. dan juga perlu pengembangan sumberdaya manusia Indonesia. Sebanyak 22% dari penduduk Indonesia adalah masyarakat yang menempati areal pesisir sebagai tempat tinggal dan bekerja pada sektor yang berhubungan dengan kelautan. Penggunaan tenaga kerja yang semaksimal mungkin. 55 . Kebijakan di bidang industri kemaritiman. dan berdasarkan pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). misalnya: fasilitas pembuatan pelabuhan. juga perlu mempertimbangkan aspek SDM. limbah hasil industri yang didaur-ulang berdasarkan prinsip 5-R (Recycle. perikanan. permukiman. dan keterkaitannya. Kenyataannya sebanyak 65% nelayan. dan menghasilkan permasalahan yang timbul yang berkaitan dengan berbagai jenis limbah yang dihasilkan dalam proses kegiatan tersebut di perairan laut. sumberdaya energi dan mineral. antara lain Oceans Technology. melalui Diklat serta kegiatan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan lain. Industri kemaritiman ini perlu diselaraskan dengan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan selalu dikembangkan. disamping industri pendukungnya. pelayaran dan wisata bahari. pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir sebagai pelaku dan objek dari pembangunan masih terjebak dalam kemiskinan. Reduce. seperti pelayaran. Industri maritim membuka lapangan pekerjaan yang seluasluasnya bagi masyarakat Indonesia.

Dengan itu maka Indonesia mempunyai hak tertentu untuk memanfaatkan kawasan yang luasnya sekitar 8 juta km2 atau empat kali lipat dari wilayah teritorial Indonesia pada awal kemerdekaan di tahun 1945. udara dan kandungan di dalamnya untuk mendorong tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI. Berkat perjuangan para penyelenggara negara ini. Pembangunan industri maritim harus sejauh mungkin menggunakan potensi sumberdaya alam nasional. d. Pembangunan industri maritim harus dapat mendorong tumbuh kembangnya sistem transportasi nasional yang handal. seperti: Islandia. apalagi bila dibandingkan dengan negara lainnya yang memiliki sumberdaya kelautan lebih kecil dari Indonesia. kehutanan. pariwisata. sehingga dengan itu akan memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional. yaitu di Zone Tambahan dan Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE). e. sehingga mempunyai kedaulatan dan yurisdiksi atas kawasan dan kekayaan alam di luar Nusantara Indonesia. Situasi itu selain membawa Indonesia menjadi negara yang sangat luas juga mempunyai keunggulan komparatif yang luar biasa di sektor kelautan dan perikanan. bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat yang berkeberlanjutan.Berdasarkan kontribusi kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya kelautan terhadap PDB masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang kita miliki. yang dapat ditingkatkan melalui pendidikan ke mancanegara melalui alih teknologi dari tenaga ahli asing yang didatangkan. Indonesia telah diakui dalam Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut. 56 . Sumberdaya alam yang terkandung baik di pulau-pulau yang tersebar. maupun yang berada di wilayah lautan harus dikelola secara bijak. air. Untuk menempatkan keunggulan komperatif yang luar biasa disektor ini diperlukan suatu strategi pembangunan ekonomi di bidang industri maritim. namun tetap memberi dukungan bagi pengembangan agribisnis di wilayah agraris di pedalaman. Cina dan Jepang di mana kontribusi ekonomi dari bidang kelautannya masing-masing sebesar 65%. dan 54%. Adapun Strategi pembangunan ekonomi industri maritim adalah : a. yang memadukan mempermudah hubungan antar pulau. Pembangunan industri maritim harus dibangun melalui pengembangan teknologi kemaritiman modern yang mempunyai keterkaitan dengan teknologi tepat-guna massal yang berkembang di wilayah pesisir. dan dengan kemampuan bangsa Indonesia sendiri. c. 48%.tanah. energi dan sumberdaya mineral. b. Diperlukan kebijakan yang adil dan seimbang antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola sumberdaya alam .

Betapa tidak. 57 . Daya saing pelabuhan .f.1 Potensi jasa lingkungan kelautan lainnya yang masih memerlukan sentuhan pendayagunaan secara profesional agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal adalah jasa transportasi laut (perhubungan laut). keamanan. Perkembangan pelabuhan mengikuti perkembangan armada niaga nasional dan perkembangan armada niaga nasional mengikuti perkembangan perdagangan. Pembangunan industri maritim dapat membawa kembali kejayaan Indonesia sebagai negara bahari. Industri pelayaran dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara dalam masa perang atau dalam bahaya perang. keselamatan berlayar. Pemerintah menyelenggarakan pelabuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayaran nasional. Pemerintah membangun pelabuhan umum untuk mendukung kegiatan armada pelayaran niaga nasional dan kegiatan perdagangan kawasan hinterlan masing-masing pelabuhan. maka industri maritim harus dapat meningkatkan budidaya kelautan dan perikanan dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Industri pelayaran dikembangkan untuk memantapkan perwujudan wawasan nusantara serta memperlancar roda perekonomian dan perdagangan. angkutan laut dan pelabuhan. hampir 80 persen proses perpindahan barang dan jasa antar pulau menggunakan jasa perhubungan laut. Berdasarkan data yang ada. asosiasi pelayaran nasional. Industri Pelayaran 7. Perencanaan pengembangan pelabuhan umum melibatkan pemerintah pusat. sebagai negara maritim ternyata pangsa pasar angkutan laut baik antar pulau maupun antar negara masih dikuasai oleh armada niaga berbendera asing. dan ketertiban arus lalu lintas kapal. Kerjasama angkutan laut antar perusahaan pelayaran nasional dengan perusahaan pelayaran asing dilakukan berdasarkan prinsip timbal balik (reci procal) ketersediaan terminal pelabuhan pada kedua belah pihak. Industri pelayaran sebagaimana dimaksud meliputi industri perkapalan. Tata ruang wilayah pelabuhan dan sekitarnya harus memperhatikan kelancaran kegiatan pelabuhan. pemerintah daerah.pelabuhan pengumpul (hubports) nasional didukung sepenuhnya oleh armada pelayaran nasional. penumpang dan/atau barang. Kamar Dagang Indonesia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mewujudkan sistem pelabuhan komunitas (community port) secara terpadu dengan sistem transportasi laut dan intermoda nasional. serta angkutan laut dan tempat perpindahan intra dan/ atau antarmoda. Armada niaga nasional menunjang kelancaran.

Cost Insurance and Freight) yang dalam birokrasinya sangat sulit. sementara disisi lain pelayaran rakyat atau tradisional kondisinya semakin terpuruk.38% dari kegiatan ekspor-impor dan 46. Namun industri pelayaran Indonesia dewasa ini dalam kondisi sangat memprihatinkan. Freight On Board) dan perdagangan impor (CIF. 58 . karena mendatangkan devisa. Hal ini di sebabkan oleh berbagai faktor antara lain: Belum adanya dukungan perbankan Tidak mampu mengembangkan armada Praktek pengoperasian kapal asing yang menimbulkan dampak negatif.Gambar 5 Konsep Pelabuhan Dan Zona Perhubungan Sumber : Departemen Perhubungan Pelayaran Indonesia memiliki nilai sangat srategis tidak saja dalam aspek ekonomi.99% pelayaran domestik dilayani oleh kapal-kapal berbendera asing. Belum adanya jaringan informasi Berdasarkan DATA pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 95. Banyak pelabuhan terbuka bagi perdagangan luar negeri Sarana dan prasarana pelabuhan yang tersedia belum mempunyai fasilitas pelabuhan untuk pelayanan kapal penumpang dan masih bergabung dengan pelayanan kapal barang Sertifikat kepelautan yang diterbitkan belum memenuhi standar Internasional. kesempatan kerja. misalnya kemudahan menyewa kapal Syarat-syarat dalam melaksanakan bisnis perdagangan khususnya perdagangan ekspor (FOB. tetapi juga dalam aspek lainnya seperti kedaulatan (sea power) dan pemersatu bangsa. dan membangkitkan ekonomi lainnya.

pemasaran. Untuk mendukung industri perikanan nasional.Gambar 6 Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antarpulau (Interinsulair) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Selain permasalahan di atas. Belum dilaksanakannya pengembangan jaringan infrastruktur pelabuhan dalam tatanan kepelabuhan nasional yang berakibat pengoperasian pelabuhan tidak optimal sehingga secara nasional tidak efisien karena investasi yang berlebihan. dan eksport yang sesuai dengan standart kualitas nasional dan internasional. dan dikembangkan secara terpadu dengan pelabuhan perikanan. kapasitas dan kualitas pendidikan pelaut (SDM). pengalengan ikan. sehingga menjadi industri perikanan yang terkemuka di dunia. akibat bisnis yang tidak terintegrasi secara baik. sistem dan kualitas serta kapasitas pelayanan pelabuhan. armada perikanan. 7. budidaya perikanan. Industri perikanan nasional merupakan salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan perekonomian nasional dan ketahanan nasional bangsa Indonesia. 59 .2 Industri Perikanan Laut Indonesia yang kaya akan berbagai jenis ikan harus dimanfaatkan untuk pengembangan industri perikanan nasional yang didukung oleh armada dengan teknologi penangkapan ikan yang canggih. menyebabkan kelemahan tersendiri bagi industri pelayaran. fasilitas. pengelolaan ikan dan pemasaran. Industri perikanan nasional meliputi pengolahan ikan. Pelabuhanpelabuhan di Indonesia umumnya belum mempunyai master plan yang memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjamin kepastian usaha dan investasi. dan kredit (pendanaan) untuk modal serta sistem hukum yang belum memadai. manajemen yang kurang profesional. pajak dan retribusi. telah dibangun beberapa sarana dan prasarana berupa pelabuhan perikanan yang terdapat di 32 titik wilayah Belt Ekonomi Maritim yaitu di Lampulo.

Bitung. Bawean. Ambon. Pelabuhan Ratu. Sibolga. Bungus. Kejawanan. P. Faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan ini antara lain adanya pencurian ikan secara ilegal. Roti. P. Bacan. hal ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusi perikanan terhadap pendapatan nasional. Pemerintah secara aktif melakukan pengawasan terhadap kapal-kapal ikan Indonesia. Hantipan. lemahnya pengawasan. Kupang. Sumba. Tual. Dagho. P. Karimun Jawa. P. Pemangkat. Wetar. Madura. Gambar 8. Cilacap. P. Tarempa. Teluk Batang. Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 60 . Pekalongan. Bali. Brondong. P. P. Indonesia harus menjadi anggota organisasi dan komisi-komisi regional dan internasional yang berhubungan dengan aspek ekologi perikanan untuk menjaga sumberdaya perikanan secara berkelanjutan demikian juga memasuki organisasi/komite yang berhubungan dengan pemberian sangsi dan/atau pengawasan terhadap pencurian ikan dan perikanan yang tidak dilaporkan. Perigi. Tello. Muarangantu. P. Nusa Barung. untuk mencegah dan memerangi penangkapan ikan ilegal. laporannya salah. Enggano. Sungai Liat. Kep. Kapal perikanan berbendera asing dilarang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia. P. pengrusakan lingkungan hidup. dan laporannya di bawah standar. Lombok. P. Waegeo. Bagansiapi-api.K o n d i s i industri perikanan di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan. Banggai. Biak. Bengkalis. Sedangkan pelabuhan perikanan yang dalam pengembangan yaitu P. Lab. Sorong.Belawan. P. Buru. dan lainnya dan juga mengenai masalah distribusi (pemasaran) yang masih dikuasai oleh negara asing. Banda. tanjung Pandan. P. Sikakap. Banjarmasin. Tarakan. Sabang. P. P. Kendari.

Berdasarkan perhitungan harga di tingkat produsen tahun 2000 nilai produksi ikan tangkap mencapai Rp.07 milyar. Jepang merupakan importir terbesar jenis ikan tuna dan cakalang baik dalam bentuk segar atau beku. kerang mutiara.Pemanfaatan sumberdaya laut di Indonesia baru mencapai 62 % dari potensi lestarinya dan tidak sampai ambang batas merusak lingkungan seperti yang menjadi syarat dari Federation Agriculture Organization (FAO) sebesar 80 % pemanfaatan sumberdaya ikan dari potensi lestari. ikan demersal 1. kerapu. Sedangkan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) khususnya laut dalam terdapat jenis ikan seperti Tuna besar.46 triliun. udang peneid 94. Spanyol dan Negara Prancis. 2003). Potensi lahan kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 24.7 juta US$. kerang-kerangan.4 juta ton pertahun. Laut Arafura. Dan untuk produksi perikanan Indonesia sampai saat ini mencapai 618 juta ton pertahun. kerang darah. mengalami kenaikan yang cukup berarti. tiram. Pangsa ekspor ikan Indonesia selama ini di lakukan pada Negara besar di dunia seperti: Negara Jepang.36 triliun di tingkat produsen pada tahun 2002. Utara Jawa dan Selat Sunda.568 ton senilai $627. Sedangkan untuk benih ikan laut mencapai Rp 8.856 ton (senilai US$ 25. Negara Spanyol dan Perancis yang masing-masing 7.6 juta). Laut Tomini dan Laut Maluku. kegiatan budidaya laut (marikultur) mencapai produksi sebesar 994.293 ton (senilai US $ 20. Selat makassar dan laut Flores. lobster 4. dan Samudera Hindia.288 ton. Perairan Indonesia diperkirakan memiliki potensi lestari ikan laut sebesar 6. pelagis kecil.962 ton dengan 61 . yaitu selat Malaka. mutiara mencapai produksi senilai Rp 1.25 ribu ton (Dahuri. Selain potensi perikanan tangkap.7 juta) dan 6.754 pada tahun 1996 senilai 116.8 ribu ton. ikan karang 145 ribu ton. abalone. Pada tahun 2000. Di Indonesia terdapat beberapa wilayah pengelolaan sumberdaya ikan.53 juta ha yang terbentang dari ujung bagian barat Indonesia sampai ke ujung wilayah timur Indonesia yang diukur sepanjang 5 km dari garis pantai ke arah laut. Potensi tersebut terdiri dari ikan pelagis besar 1. dan cumi-cumi 28. Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang cukup besar. Importir lainnya adalah Amerika Serikat yang mengalami kenaikan drastis permintaan ikan dari 14. tiram. Pada tahun 1996 Jepang mengimpor ikan tuna/cakalang sebesar 69. kecuali di Samudera Hindia terdapat Tuna besar.36 juta ton. Sedangkan untuk budidaya laut yang meliputi ikan.291 ton (1994) menjadi 18. pelagis kecil. Cakalang.6 juta ton. teripang.65 juta ton. Amerika. cakalang. 18. Laut Cina Selatan. Laut Banda. dan rumput laut.1 juta dibandingkan dengan tahun 1994 yang sebesar 69. udang dan ikan demersal. Komoditaskomoditas yang dapat dibudidayakan pada areal tersebut antara lain: ikan kakap. Laut Sulawesi. Di kawasan Barat Indonesia (KBI) terdapat jenis ikan pelagis kecil. udang dan ikan demersal. teripang. ikan pelagis kecil 3. udang dan ikan domersal.8 ribu ton. rumput laut.

nilai sebesar Rp 1,36 triliun berdasarkan nilai pada tingkat produsen (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). Indonesia juga memiliki potensi pengembangan budidaya tambak yang cukup besar. Lahan utama yang potensial bagi pengembangan budidaya tambak terletak di daerah hutan bakau. Ditjen Perikanan (1999) memperkirakan potensi lahan pengembangan tambak di Indonesia mencapai 913.000 ha, sedangkan tingkat pemanfaatannya baru mencapai 344.759 ha atau sekitar 40 persen dari total potensinya. Komoditas-komoditas potensial yang dapat dibudidayakan adalah: udang windu, udang putih, udang api-api, udang cendana, ikan bandeng, baronang, belanak, dan ikan nila. Pada tahun 2000, kegiatan budidaya tambak baru mencapai produksi sebesar 430.017 ton atau sekitar 24 persen dari potensi lahan yang tersedia, apabila setiap 1 ha lahan menghasilkan produksi 2 ton maka nilai produksinya sebesar Rp 7,46 triliun (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). 7.3. Industri Pariwisata Bahari Pemerintah mendorong pengembangan potensi wisata bahari di seluruh perairan Indonesia sebagai upaya meningkatkan perekonomian nasional dan mendukung usaha masyarakat di bidang pariwisata. Pengembangan wisata bahari harus melibatkan peran serta masyarakat lokal, adat, dan pesisir serta memperhatikan pertimbangan para pemangku kepentingan, pelayanan satu atap dan kemudahan masuk Indonesia. Perencanaan wisata bahari harus dikaitkan dengan lingkungan dan tata ruang untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keterpaduan pembangunan serta memperhatikan keselamatan dan keamanan wisatawan, pelabuhan/marina, acara wisata dan pemasaran. Pengusahaan wisata bahari yang memanfaatkan pantai harus memberikan ruang bagi kepentingan umum. Pemerintah berkeinginan membangun infrastruktur pariwisata bahari, pelabuhan/marina, fasilitas umum keselamatan dan keamanan, bagi para wisatawan. Untuk menjamin keselamatan dan keamanan kapal-kapal wisata bahari, pemerintah menyediakan fasilitas berupa alat komunikasi dan stasiun-stasiun pelaporan radio, dan penjagaan pantai dan penyelamatan. Pengembangan wisata bahari di daerah perbatasan dan daerah pulau-pulau kecil terluar harus memperhatikan kepentingan Indonesia jauh ke depan, masyarakat negara tetangga dan batas-batas wilayah Indonesia. Dengan melihat latar belakang laut Indonesia yang merupakan terbesar dari Aseanarean, yang memiliki potensi wisata bahari beraneka ragam. Potensi ini mengandung keunikan dan kelangkaan dibandingkan dengan kawasan mediteranean dan carribean. Sebenarnya, industri wisata bahari Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata bahari terbesar di dunia dengan berbasis marine ecotourism. Namun industri ini juga tak luput dari ancaman yang timbul dari dalam maupun dari luar. 62

Ancaman-ancaman tersebut bisa berasal dari negara tetangga yang selama ini dianggap sebagai pesaing dan yang mengeksploitasi, keamanan yang belum kondusif, dan pemasaran yang masih didominasi oleh negara lain. Sementara dari dalam, ancaman itu muncul berupa masih adanya masyarakat yang merusak atau mencemari lingkungan. Cruising Approval For Indonesian Territory (CAIT) dan penyusunan Custom Immigration Port Clearance dan Quarantine (CIPQ) yang menyulitkan ditambah lagi kebijakan fiskal yang belum mendukung. Obyek wisata bahari yang meliputi wisata selam, wisata marina dan rekreasi air. Wisata selam menekankan pada usaha kegiatan penyediaan sarana, fasilitas atau jasa pemanduan untuk penjelajahan alam bawah air. Wisata marina merupakan kegiatan bisnis berupa penyediaan tempat berlabuh dan tambatnya kapalkapal pesiar, kapal layar atau lainnya. Rekreasi air adalah kegiatan usaha penyediaan sarana prasarana di perairan laut atau pantai. Kegiatan wisata bahari seperti pemancingan (game fishing), selancar, sky air, berenang, selam di kawasan terumbu karang, yang dihuni oleh berbagai jenis ikan hias laut. Jenis-jenis wisata demikian umumnya terdapat di pulau-pulau kecil yang menyebar di seluruh Nusantara. Potensi wisata bahari terdapat pada 21 pulau yang tercakup dalam Belt Ekonomi Kelautan, yaitu Pulau Sabang (game fishing); P. Nias (selancar angin dan game fishing), P. Siberut (game fishing, selancar angin); P. Enggano (game fishing, selancar angin); Ujung Kulon (game fishing, selancar angin); Pengandaran (wisata pantai); Cilacap (wisata pantai); P. Sumba (menyelam); P. Roti (game fishing); P. Biak (menyelam); P. Moyo (game fishing); Sanger Talaud (menyelam); P. Belitung (wisata pantai); P. Bali (wisata pantai, selancar angin); Krakatau (wisata pantai, game fishing); P. Karimata (wisata pantai); P.Rupat (wisata pantai). Pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan juga dapat dilakukan terhadap jasa-jasa lingkungan, terutama untuk pengembangan pariwisata dan pelayaran. Dewasa ini pariwisata berbasis kelautan (wisata bahari) telah menjadi salah satu produk pariwisata yang menarik dunia internasional. Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata bahari yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia, yang terwujud dalam bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis. Pada tahun 2002 pariwisata bahari menyumbang US$ 4,5 milyar atau menurun 16,5 persen dari tahun 2001 yang mencapai US$ 5,428 milyar (Media Indonesia, 2002). Penurunan ini disebabkan oleh kondisi stabilitas nasional Indonesia terutama setelah ledakan bom di pulau Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang lalu. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan bagi perkembangan dunia pariwisata pada khususnya, perekonomian Indonesia pada umumnya. Untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata, perlu upaya serius dari setiap elemen masyarakat Indonesia untuk 63

menciptakan suasana yang kondusif sehingga memberikan kenyamanan dan ketenangan di seluruh kawasan Indonesia. Selain itu perlu memperhatikan kekhasan, nilai jual dan peningkatan mutu komoditi pariwisata, sehingga dapat menarik masyarakat internasional untuk berkunjung ke Indonesia. Kemudian untuk Alur wisata bahari melalui kapal pesiar yang selama ini dikelola oleh Singapura yaitu: dari Singapura melalui Selat Karimata - Selat Makassar ke Manado – Wakatobi – Tabonerate – Bali – Karimunjawa – Kepulauan Seribu – Ujung Kulon – Karakatau – Raiu kembali ke Singapura. Biaya untuk menikmati wisata bahari tersebut 2000 dolar AS per orang. 7.4. Industri Energi dan Sumberdaya Mineral Pemerintah mendorong pengembangan industri energi dan sumberdaya mineral sebagai upaya peningkatan perekonomian nasional dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Industri energi dari laut bersumber pada dinamika gelombang, pola arus dan pasang surut dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung, sedangkan industri sumberdaya mineral bersumber dari air laut, dasar laut dan tanah dibawahnya dikembangkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, keterpaduan pembangunan lainnya, keselamatan dan keamanan kerja. Teknologi industri energi dan sumberdaya mineral dikuasai ahli-ahli bangsa Indonesia melalui pendidikan dan kerjasama luar negeri. Perubahan sumberdaya mineral di laut menjadi energi dikembangkan dengan memperhatikan penanganan limbah. Pengolahan dan penggunaan sumberdaya mineral dilakukan dengan memperhatikan hasil eksplorasi, potensi kandungan dan konservasi energi. Energi kelautan merupakan energi non-konvensional dan termasuk sumberdaya kelautan non hayati yang dapat diperbaharui yang memiliki potensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir dan lautan Indonesia. Keberadaan sumberdaya ini dimasa yang akan datang semakin signifikan manakala energi yang bersumber dari BBM (bahan bakar minyak) semakin menipis. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan adalah ocean thermal energy conversion (OTEC), energi kinetik dari gelombang, pasang surut dan arus, konversi energi dari perbedaan salinitas. Perairan Indonesia merupakan suatu wilayah perairan yang sangat ideal untuk mengembangkan sumber energi OTEC. Hal ini dimungkinkan karena OTEC didasari pada perbedaan suhu air laut permukaan dengan suhu air pada kedalaman 1 km minimal 20°C. Hal ini terlihat dari banyak laut, teluk serta selat yang cukup dalam di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan OTEC. Salah satu pilot plant OTEC dikembangkan di pantai utara Pulau Bali.

64

Sumber energi kelautan lainnya, antara lain energi yang berasal dari perbedaan pasang surut, dan energi yang berasal dari gelombang. Kedua macam energi tersebut juga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Kajian terhadap sumber energi ini seperti yang dilakukan oleh BPPT bekerjasama dengan Norwegia di Pantai Baron, D. I Yogyakarta. Hasil dari kegiatan ini merupakan masukan yang penting dan pengalaman yang berguna dalam upaya Indonesia mempersiapkan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan energi non konvensional. Sementara itu, potensi pengembangan sumber energi pasang surut di Indonesia paling tidak terdapat di dua lokasi, yaitu Bagan Siapi-api dan Merauke, karena di kedua lokasi ini kisaran pasang surutnya mencapai 6 meter. Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi seluruh mineral dan geologi. Indonesia sebagai negara maritim memiliki kandungan minyak dan gas bumi yang besar, berdasarkan data geologi, diketahui bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan potensi yang mengandung minyak dan gas bumi seperti di Selatan Makassar. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 cekungan berada di daerah transisi daratan dan lautan (pesisir) dan hanya 6 cekungan yang berada di daratan. Dari 60 cekungan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 84,48 milyar berel minyak, namun baru 9,8 milyar barel yang diketahui dengan pasti, sedangkan sisanya sebesar 74,68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. Sumber mineral dasar laut ditemukan di daerah hidrotermal atau di daerah gunung api dasar laut yang terdapat di wilayah perairan Maluku dan Sulawesi bagian utara ini. Di daerah hidrotermal ini terjadi keluaran cairan magma dari perut bumi dan terjadi mineralisasi karena tercampur dengan air laut. Mineral ini bertumpuk-tumpuk di mulut magma yang menghasilkan puncak gunung yang runcing dan menjulang tinggi pada kedalaman sekitar 2000 hingga 4000 meter dari permukaan laut. Sebagai gambaran besarnya sumber tambang dasar laut di perairan ini adalah sumber tambang dasar laut di Papua Nugini yang mengandung tembaga, seng plumbum, emas dan perak, eksploitasinya mencapai tingkat 200 ton per hari. Disamping memiliki potensi migas, Indonesia juga memiliki potensi sumberdaya alam yang terdapat di pantai dan lautan meliputi seluruh mineral yang terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas A (mineral strategis: minyak, gas dan batu bara); kelas B (mineral vital: emas, timah, bauksit, nikel ,bijih besi, cromite); dan kelas C (mineral industri: termasuk bahan bangunan dan galian seperti granit, tanah liat, kaolin dan pasir. Secara umum pertambangan di wilayah Belt Ekonomi Maritim yang sudah beroperasi terdapat di Kepulauan Riau, Indramayu, Bawean, Bontang, dan Sale/Papua. Sedangkan wilayah lautan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wilayah pertambangan adalah Natuna, Teluk Cendrawasih, Banda/Maluku, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Selat Makassar dan Halmahera.

65

66 .

North Atlantic Fishermen: Anthropological Essays on Modern Fishing. “Bugis Enterpreneurialism and Resource Use: Structure and Practise”. Palo Alto. XXII September-Desember 1998: 81-91. dan Cato Wadel. Borofsky.Menuju Membangun Negara Maritim. London. 2004. Akimichi. 1998. Inc. Vol. 10 : 275-316.. R. “On The Knowledge and Knowing of Cultural Activities”. New York. 1991. Memorial University of Newfoundland. Andersen.DAFTAR PUSTAKA Acciaioli. “Modernization and Socio Economic Change in The Coastal Marine fisheries of Java : Some Hypotheses”.. 1994. James. Amsterdam. Mc Graw-Hill.1989.”Searching For Good Fortune: the Making of A Bugis Shore Community at Lake Lindu. “Anthropology of Fishing”.. Bavinck. 1994. Philip D. Assessing Cultural Anthropology (Section five). New York. 67 . VU Uitgeverij/Free University Press. Cambridge University Press. Sociology of Development Research. Betke. F. In Robert Borofsky (ed). New York. 1984. Disertasi. London: Sage Publications. Assessing Cultural Anthropology (Section five). Siegel. Inc. Marten. Indonesia Negara Maritim. Th. 1981. Direktori Dewan Maritim Indonesia. 42. 1984. Robert. H. Dewan Maritim Indonesia.Russel. Mc Graw-Hill. 1985. McGraw-Hill. Newfoundland Social and Economic Research. Annual Review of Anthropology. Research Metods in Anthropology. Dewan Maritim Indonesia.57. Paper. Coastal Foragers in Transition. “Cultural in Motion”. Acheson. Tyler (eds). 2004. 1994. In Bernard J.). Assessing Cultural Anthropology. No. Tomoya. Small Fry: The Economic of Petty Fishermen in Northern Sri Lanka. Alam R.L. Curtin. 1994. Centre University Bieleveld. Senri Ethnological Studies No. G. 1982. M. Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology. Inc. Cross Cultural Trade in World History. Naskah Akademik Rancangan Undang-undang tentang Kelautan. National Museum of Ethnology. Bernard. Australian National University. Central Sulawesi”. In Robert Borofsky (ed. Beals dan Stephen A. 2003. New York.

. S.Dewan Maritim Indonesia. New York. IPB. Harris.Press.Norton & Company Inc.J. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ginting. Dalam Maritime Anthropological Study. J. Sayling Craft of Indonesia. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan. Vol. Ethnology 6 (4): 417-426. Hamid. New York. McGraw Hill. Geertz. 1994. 1982. 2003. 1984. Forman.P. Rais. 1995. R. The Rise of Anthropologi Theory. Keanekaragaman Hayati Laut. Rowman & Littlefield Publishers. Hengky Supit. “Culture and Sosial Change : The Indonesian Case”. Crowell. 2003. Prof. “Cognition and The Catch : The Location of Fishing Spots in a Brazilian Coastal Village”.. Hasjim Djalal. Wawasan Nusantara.). Assessing Cultural Anthropology (Section four. 2003. Rob van dan Jojada Verrips. New York. 2004. Louis. Teropong Kajian Tata Kelautan Indonesia. Simon & Schuster: New York. 1988. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Dahuri. S. Lumentah HMJ. 1 (2) 1988. pp: 262-282). Pradnya Paramita. Raymond. The Sacred Cow and the Abiminable Pig: Riddles of on Food and Culture. 2003. Ward H. Indonesia and the Law of Sea. Pelestarian Budaya Kebaharian Masyarakat Sulawesi Selatan: Suatu Tinjauan Antropologi). 1975.1987. 1986. 1967. Orasi Ilmiah : Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumbedaya Pesisir dan Lautan. In Robert Borofsky (ed. 68 . Goodenough. 2004. W. Danusaputro Munadjat St. Kajiaan Penunjang Rancangan Undang-undang Maritim tentang Sistem Pertahanan Keamanan Laut. Dahuri R. R. Horridge.W. Introduction. Marvin. Firth.1999. PT. Man (N. Inc. Malay Fishermen: Their Peasant Economy. Jakarta. M. Abu. Ginkel.S) 9: 511532. Oxford: Oxford Univ. Sitepu. Adrian. C. Bogor. 2003. Laporan Semiloka Kebijakan Nasional Bidang Kemaritiman. Inc. 1968. 1996. Dahuri. Dewan Maritim Indonesia. New York. Theories of Culture in Postmodern Times. St. Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan. “Toward A Working Theory of Culture”. Mr.. Jakarta.

Jakarta. In Robert Borofsky (ed. Territorial dan Perairan Indonesia. Batavia: G. PP. 1985. Aksara Baru. Assessing Cultural Anthropology (Section four). School of Oriental and African Studies. Jakarta. Lampe. Jakarta. Pengantar Ilmu Antropologi. Kottak dan Elizabeth Colson. Hamzah. Yogyakarta Perwakilan KITL V. Yayasan Pustaka Nusantara. 1994. 1996. Sanur. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. P. 2000.m New York. 2003.N. Disertasi. Assessing Cultural Anthropology (Section five. Proyek Dibiayai Bank Dunia. “Theory of Culture Revisited”. Lineton. No. 1980. Louis. Inc.Colf & Co. 397-408. Darmawan salman. Pokok-pokok Pemikiran Pembangunan Maritim. Jakrta. Manusia Bawahan dalam Menejemen. In Robert Borofsky (ed. Masyhuri. Universitas Hasanuddin – PPT -LIPI. Mattulada. Motik Chandra. Roger M. New York. 69 . Menyisir Pantai Utara. “Studi Pemanfaatan Sumberdaya Laut dalam Rangka Optimasi Zonasi Taman Nasional Taka Bonerate”. Koentjaraningrat. Munsi. dan Ramli A.1997/ 1998. 2001. Laporan penelitian. Mededeelingen Uitgande van het Departement van Landbow. Jhon Pieres. 1975a.). Mardiana.. SH). Jakarta. 1994. A. Makalah dalam Seminar Menejemen Pembangunan Menurut Budaya Bangsa Indonesia. Kampen. Universitas Hasanuddin Bekerjasama COREMAP LIPI. “An Indonesian Society and Its Universe: A Study of the Bugis of South Sulawesi (Celebes) and their Role Within A Wider Social and Economic System”. IND-HILL-CO.T. 1909. “Pasompe “Ugi”: Bugis Migrants and Wanderers”. Munsi.Hasil Sarasehan Nasional Dewan Maritim Indonesia. “Multilevel Linkages: Longitudinal and Comparative Studies”. St. Archipel 10: 173-201.van. Buku 1 dan 2. Inc.).9. Lampe. Laporan penelitian. De Hulpmiddelen der Zeevisscherij op Java en Madoera in Gebruik. dan Ansar Arifin.1975b. J.1985. Serba Serbi Konsultasi Hukum Maritim. 1996/1997.2000. Proyek dibiayai oleh Bank Dunia. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. pp: 396-410). McGraw-Hill. Buku 1 dan 2. 20-21 Sept. Universitas Hasanuddin –PPT-LIPI. Keesing. Dr. University of London. Laporan penelitian. McGraw Hill. Pengembangan Sumber Daya Kelautan(Laut.

Far from the Throne.W. Soselisa. Disertasi. “Power. 1999. Nur Indar dan Lampe. Macassan Trepangers in Northern Australia. 1976.” Fifth DutchIndonesian Historical Congress diselenggarakan pada Lage Vuursche – Nederland. Taka Bonerate dan Pulau-Pulau Sembilan”. Closed to the Stone. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan. Universiteit te Amsterdam. Hermin. Yale University Press. New Haven.” Padang. 1991. Manchester University Press. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan.1984. Laporan Penelitian. 2004. Osseweijer. 23-27 June 1986. (Enlarge Edition) Yale University Press. Laporan Perumusan Kebijakan tentang Penguatan Kelembagaan. 2002. Pujo. S. U. Fakultas Sastra Unhas. Rompas Max Rizald. 6-9 Sept. 2004. Melbourne University Press.Dr. Paeni. 1986. Paper to be presented at the “Conference on Legal Complexity. Dirjen Kelembagaan Departemen Perikanan dan Kelautan RI. Sistem-sistem Tradisional Sebagai Institusi Dalam Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya di Wilayah Pesisir. 1968. Pusat Studi Lingkungan Universitas Hasanuddin. 2001. 2004. Melbourne. Cultural Accounts: Human Ecology and Icelandic Discourse. Ideology and Change in the Early State of Buton. C. Praharani Synthesa. 1999. Laporan Perumusan Kebijakan Maritim Sebagai Pemersatu Bangsa. Ecological Sustainability and Social Security in the Management and Exploitation of Land and Water Resources in Indonesia. Universiteit te Leiden. Coastal Economies. New Haven. 1995. Palsson. Taken at the Flood: Marine Resource Use and Management in the Aru Islanders (Maluku.IK. Watupongoh Navy. 1985. Mukhlis. The Voyage to Marege . Memahami Kebudayaan Maritim di Sulawesi Selatan. Moka. Gisli. Schoorl. Pigs for The Ancestors: Ritual In the Ecology of New Guinea People. 70 .Macknight. 2001. Pigs For the Ancestors: Ritual in The Ecology of New Guinea People. Sasi in Maluku: Communal Property and Communal Rights in Marine Resource Management. Manon. Rappaport. Pandang. “Penjajakan Awal Mengenai Kondisi terumbu Karang Di Kep. Makalah disajikan dalam Seminar Kebudayaan Maritim. Spermonde. Willem. Laporan Penelitian.IK. Eastern Indonesia). Roy A. Dissertation. Semedi. Prof. Penyusunan Scenario Planning Sumber Daya Perikanan Di Wilayah Papua. J. S.C.

CYPED. Onderzoek naar Mindere Welvaart der Inlandsche Bevolking op Java en Madoera. Technology and Society 51 : 2-7. Vayda Andrew P. Overzicht van Uitkomsten der Gewestelijke Onderzoekingen naar de Vischteelt en Visscherij en Daaruit Gemaakte Gevolgtrekkingen. H. The Capital World-Economy: Essays. I. PP. 1991-1993. Cabagan. Wallerstein. “Studying Human Actions and Their Environmental Consequences”. Environment. Immanuel. 1979. 2001. “Action and Consequences as Objects of Explanation in Human Ecology”. Fishers of the Visayas: Visayas Maritime Anthropological Studies. Cambridge. “ Tripang and Wangkang. 71 . 1984. Society and Belief in South Sulawesi. 1987. Diajukan Pada Konferensi Tentang Trade. 1992. 1972-1820”. In Forestry for People and Nature. The Penetration of Capitalism: A West African Case Study. 1905. 2-6 Nopember 1987 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. The China Trade of Eightreenth Century Makassar. London: Zed Books Ltd. Welvaartcommissie. Cambridge University Press. Vercruijsse. Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. Makalah. Emile. Leiden.Sutherland.1988. II. Isabela Philipines. University of the Philippines. CSSP Publication. 293-307. Batavia: Landsdrukkerij.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful