P. 1
72398779-PDF-SMA

72398779-PDF-SMA

|Views: 66|Likes:
Published by khuday_ebbe5726

More info:

Published by: khuday_ebbe5726 on May 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB 1 PENDAHULUAN
  • BAB 2 PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA
  • 2.1.Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan
  • 2.2.Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan
  • Gambar 1 Peta Indonesia
  • 2.3.Kebangkitan Kemaritiman Indonesia
  • BAB 3 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA
  • Gambar 2 Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia
  • 3.1Letak Geografis dan Kepentingannya
  • Gambar 3 Posisi Geo-Strategis Indonesia
  • Gambar 4 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI)
  • 3.2Laut Sebagai Pemersatu Bangsa
  • BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM
  • 4.1Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim
  • 4.2Pelestarian Sumberdaya Budaya maritim
  • 4.3Konflik Budaya Maritim
  • 4.4Pengembangan Sosial Budaya Maritim
  • 4.5Pengembangan Teknologi dan Budaya Maritim
  • 4.6Masyarakat Suku laut dan Otonomi daerah
  • BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM
  • 5.1Dimensi Wilayah Maritim
  • 5.2Batas Wilayah Maritim dan Pulau-Pulau Terluar
  • 5.3Tipologi Kawasan Maritim
  • BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT
  • 6.1Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia
  • 6.2Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia
  • BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM
  • 7.1Industri Pelayaran
  • Gambar 5 Konsep Pelabuhan Dan Zona Perhubungan
  • 7.2Industri Perikanan
  • 7.3.Industri Pariwisata Bahari
  • 7.4.Industri Energi dan Sumberdaya Mineral
  • DAFTAR PUSTAKA

Potret Negara Maritim Indonesia

Buku Bacaan Bagi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

Tim Penyusun : Djuanda Tomo HS, M.Si Mohamad Armansyah, ST Navi Watupongoh, S.IK
i

dicetak dan disebarluaskan oleh : SEKRETARIAT DEWAN MARITIM INDONESIA Departemen Kelautan dan Perikanan 2005

ii

Hadirnya buku bacaan ini merupakan inisiatif dari Dewan Maritim Indonesia. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola kemaritiman Indonesia. Sejak dahulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa dengan jiwa maritim dan semangat kebaharian yang tinggi. Buku bacaan ini akan banyak membantu adik-adik untuk mengenal kekayaan yang ada di laut kita seperti terumbu karang yang indah dan beragam jenis biota di dalamnya. Adanya pengenalan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai insan pembangunan yang berjiwa maritim.504 pulau. sehingga mereka menyebut nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut. Pulau-pulau yang ada disatukan oleh perairan laut menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.SAMBUTAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN Secara geografis dua pertiga wilayah negara Republik Indonesia terdiri dari perairan laut yang di dalamnya terdapat + 17. sebagai potensi ekonomi maritim yang sangat berlimpah ragamnya. buku ini merupakan sumbangsih untuk merubah pola pikir para siswa agar lebih cinta pada laut. Melalui buku bacaan ini saya mengajak adik-adik harus lebih banyak membaca buku tentang keberadaan laut kita. Oleh karena itu Indonesia dikenal oleh dunia Internasional sebagai “Negara Kepulauan” terbesar di dunia. agar pengenalan wawasan kemaritiman sudah mulai digerakkan dari siswa-siswa tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas sebagai generasi penerus untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yagn berjiwa maritim dimasa depan. sekarang pribahasa nenek moyangku pelaut tidak banyak dikenal oleh para siswa. agar lebih mengenal potensi sumber daya alam yang terkandung di wilayah laut kita. Saya percaya. Menteri Kelautan dan Perikanan T Freddy Numberi iii . Namun.

memiliki pulau sebanyak + 17. Ir. Juni 2005 Sekretaris Umum T Prof. non hayati maupun energi laut namun selama ini kita telah mengabaikannya. yang pada gilirannya diharapkan mampu menggali dan mengelola potensi kemaritiman Indonesia. Hadirnya buku bacaan ini diharapkan bisa menjadi bahan pengetahuan bagi generasi penerus utamanya kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mempersiapkan diri menjadi kader-kader yang berjiwa maritim di masa depan. Dengan demikian kemaritiman menjadi sangat penting bagi kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia. M. yang menghimbau agar seluruh rakyat Indonesia kembali membangun negeri maritim dengan 5 (lima) pilar program yang antara lain membangun kembali wawasan maritim. iv . Jakarta. panjang pantai + 81.504 pulau. merupakan buku bacaan yang mengenalkan wawasan maritim sejak dini kepada generasi pewaris cita-cita perjuangan bangsa sebagai sumber insan pembangunan yang berjiwa maritim. Buku Potret Negara Maritim Indonesia ini. buku ini merupakan sumbangsih yang berharga bagi pembanguan maritim Indonesia. Dr. Dengan rasa gembira saya menyambut baik prakarsa sekretariat Dewan Maritim Indonesia (DMI) untuk menyusun dan menerbitkan buku Berwawasan Maritim Republik Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggapan partisipatif terhadap Seruan Sunda Kelapa yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 27 Desember 2001 di Jakarta. Saya percaya. Agr.000 km dan 2/3 (dua per tiga) wilayahnya adalah lautan.SAMBUTAN SEKRETARIS UMUM DEWAN MARITIM INDONESIA Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa secara geografis Indonesia merupakan salah satu negara maritim di dunia. semoga penerbitan buku ini bermanfaat. Laut merupakan potensi sumberdaya maritim yang sangat kaya baik hayati. Rizal Max Rompas.

Perikanan. wilayah-wilayah dengan palung-palung laut dalam di bagian Tengah (laut Banda) dan daerah paparan Sahul dengan laut dangkal di ujung Timur.504 pulau besar dan kecil. dimaksudkan untuk membuka wawasan kepada generasi muda akan besarnya potensi-potensi ekonomi v . Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau berbagai fenomena alam (earth fenomena) sangat kaya di Indonesia. Penerbitan buku yang diberi judul “Potret Negara Maritim Indonesia” yang diperuntukkan bagi siswa didik di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Fenomena alam yang paling menonjol adalah daerah paparan Sunda yang memiliki laut dangkal di sebelah Barat. lempeng Eurasia dan lempeng Samudera Hindia-Australia. Gambaran ini memperlihatkan potensi-potensi perekonomian dalam bentuk potensi tambang. India. dan dengan pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. ekosistem lindung dan jasa-jasa Kelautan sangatlah besar. Atas dasar susunan geografis yang demikan unik. serta pertemuan dari tiga lempeng besar dunia Eurasia. terbentang lautan luas yang memeluk kepulauan Nusantara dengan kokoh dan dengan variasi jenis-jenis kedalaman laut yaitu laut dangkal dan laut dalam yang memberi keindahan dan aneka ragam biota laut di dalamnya. Australia dan Pasifik.000 km atau sekitar 14% dari panjang garis pantai dunia dan memiliki sekitar 17. hal tersebut merupakan kekayaan yang luar biasa bagi Indonesia. Indonesia secara geografis merupakan negara maritim terbesar di dunia.KATA PENGANTAR Kondisi geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia yang strategis terletak didaerah tropis yang diapit oleh dua benua yakni Asia dan Australia dan dua samudra yaitu Samudera Pasifik dan Sumudera Hindia. Dengan luas laut demikian. Negara Indonesia 2/3 wilayahnya atau sekitar 5. Dari Barat sampai ke Timur kepulauan Nusantara terbentang jalur magnetic dan jalur seismic serta jalur anomaly gravitas negatif terpanjang di dunia. Salah satu keunikan posisi kepulauan Nusantara adalah karena Indonesia terbentuk dari pertemuan tiga lempeng raksasa bumi (earth) yakni lempeng Pasifik. Dengan posisi silang yang sangat strategis dan kaya dengan sumberdaya alam yang beranekaragam.8 juta merupakan lautan dan memiliki panjang garis pantai 81.

Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna karena itu pada kesempatan ini mengharapkan saran-saran konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan buku ini. Penyusun vi . dan dapat menjadi alternatif tulang punggung negara yang selama ini sangat bergantung pada pajak.yang dikandung dalam pembangunan dan pengelolaan maritime.

............... vii ................................................. iii iv v vii viii 1 4 5 6 11 13 14 17 19 22 25 27 29 30 36 38 39 40 46 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA ............3 BAB 3 Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan .................................................................................................................. Sambutan Sekretaris Umum Dewan Maritim Indonesia .................. 4.................................................................................................................................. 3............ Kata Pengantar ...1 3......................................................................... Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan .......................2 5........1 4....... Daftar Gambar ................................................................................................................................................................................................................5 4...4 4.....2 Letak Geografis dan Kepentingannya ..........................................2 2............................................. Pengembangan Tekhnologi dan Budaya Maritim ................................................ Pengembangan Sosial Budaya Maritim .................... Pelestarian Sumberdaya Budaya Maritim ............ Kebangkitan Kemaritiman Indonesia ................................................ 2.................. Tipologi Kawasan Maritim ................................................ PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA .....................................................................1 2....................................................................... BAB 1 BAB 2 PENDAHULUAN .................. Batas Wilayah Maritim dan Pulau-pulau Terluar .......................................... Laut Sebagai Pemersatu Bangsa ...... Daftar Isi ......6 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim ............DAFTAR ISI Hal Sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan .............. Konflik Budaya Maritim .........................................................................................2 4....... BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM ............ 5..............................1 5...................................................................3 Dimensi Wilayah Maritim ..................... BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM ........................3 4.......................................... Masyarakat Suku Laut dan Otonomi Daerah ..............

.............................. 7... DAFTAR GAMBAR hal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Peta Indonesia ......... Konsep Pelabuhan dan Zona Perhubungan ....... 7........................................................................................................................................................................BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT ............. Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya ........................... 47 48 49 55 57 59 62 64 67 BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM ............................................................................ Posisi Geo-Strategis Indonesia ................................................................................................................... 6.........2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia ..................... Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia .......... 7..................................................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................ 7......................................... 6..........................................................................2 Industri Perikanan ..4 Industri Energi dan Sumberdaya Mineral ................................................................ Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antar Pulau (INTERINSULAIR) .....................................................................3 Industri Pariwisata Bahari ...........1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia .......................................................................1 Industri Pelayaran ............................. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) .... 60 59 10 14 15 16 58 viii ........................................................................................

Namun pada kenyataannya sampai saat ini sektor maritim terkesan masih agak tersisihkan baik dalam segi pengaturan. Kondisi ini juga yang kemudian menimbulkan keengganan bagi para calon pengusaha yang berkeinginan untuk mencoba peruntungannya dalam dunia usaha maritim. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras melanda dunia. dan menghindarkan ketidakseimbangan yang ekstrim antar sektor (extreme sectoral imbalances) yang dapat mengakibatkan kehancuran produksi sektor primer. Model pembangunan yang digunakan Indonesia adalah model pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Seyogyanya sektor maritim dapat kita jadikan sebagai salah satu sumber penunjang utama bagi perekonomian masyarakat negara kita sesuai dengan salah satu semboyan yang kita miliki sebagai negara maritim yakni ”Jalesveva Jayamahe” yang memiliki arti ”Di Laut Kita Jaya”. ekologi dan sosial. Pembangunan berkelanjutan ini mengandung tiga unsur utama yakni dimensi ekonomi. ada beberapa model pembangunan yang dikembangkan. 1 . pembinaan dan pengawasan pemerintah maupun dalam segi peminat dunia usaha apabila dibandingkan dengan sektor-sektor perekomian lainnya sehingga berbagai potensi sumber daya dalam sektor maritim yang sebenarnya memiliki prospek penghasilan dan keuntungan yang teramat besar masih belum dapat didayagunakan secara optimal. Pembangunan secara ekonomis dianggap berkelanjutan (an economically sustainable area/ecosystem) jika kawasan tersebut mampu menghasilkan barang dan jasa (good and services) secara berkesinambungan (on continuing basis). menengah maupun kecil yang telah berkecimpung dalam bisnis maritim untuk memperoleh kemakmuran dari usahanya karena harus senantiasa berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. sekunder.BAB 1 PENDAHULUAN Sebagaimana kita ketahui bahwa negara Indonesia kita tercinta ini adalah negara yang memiliki wilayah perairan terbesar di dunia dan dua pertiga dari wilayah kedaulatan negara kita merupakan wilayah perairan. memelihara pemerintahan dari hutang luar negeri pada tingkatan yang terkendali (a manageable level). Adapun ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut dapat dikemukakan secara jelas pada uraian berikut : a. yang merupakan suatu model pembangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhanya. atau tersier. Hal ini tentu saja tidak terlepas sebagai akibat dari banyaknya permasalahan yang terdapat di seputar dunia maritim yang menimbulkan kesulitan bagi para pengusaha besar.

kesehatan. pertahanan. dan pendidikan) seluruh penduduknya terpenuhi. keamanan. sehingga laju (tingkat) pemanfaatan tidak melebihi daya dukung (carrying capacity) kawasan pesisir dan laut untuk menyediakannya”. perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi. (ekologis). secara tekhnis dapat didefinisikan bahwa “pembangunan kelautan berkelanjutan (sustainable marine development) adalah suatu upaya pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalam kawasan pesisir dan lautan untuk kesejahteraan manusia. dan kondisi iklim. tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya dapat diperbaharaui (renewable resources). Dan kepulauan meliputi suatu gugusan pulau termasuk bagian pulau dan perairan di antara pulau-pulau tersebut. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan. sandang. Ketentuan tentang wilayah nasional Indonesia menyebutkan bahwa wilayah nasional Indonesia adalah suatu hamparan perairan laut luas dengan berpuluh ribu pulau tersebar di dalamnya. yang merupakan suatu wilayah kesatuan laut dan pulau secara bulat dan utuh termasuk udara diatasnya dan berbentuk wilayah kepulauan yang menyatu. terutama stakeholders. tidak terjadi pembuangan limbah melampaui kapasitas asimilasi lingkungan yang dapat mengakibatkan kondisi tercemar. Pembangunan dikatakan secara ekologis berkelanjutan (an ecologically sustainable arealecosystem). serta pemanfaatan sumber daya tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources) yang dibarengi dengan upaya pengembangan bahan substitusinya secara memadai. apabila kebutuhan dasar (pangan. Dalam konteks ini termasuk pula pemeliharaan keanekaragaman hayati (biodiversity). manakala basis (ketersediaan stok) sumber daya alamnya dapat dipelihara secara stabil.b. pengelolaan pembangunan berbasis sumber daya kelautan. ada kesetaraan gender (gender equity). dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lain demikian eratnya sehingga pulau-pulau. Pengertian laut merupakan ruang perairan di muka bumi yang menghubungkan daratan dengan daratan dan bentuk-bentuk alamiah lainnya yang mempunyai kesatuan geografis dan ekologis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum internasional. siklus biogeokimia. terjadi distribusi pendapatan dan kesempatan berusaha secara adil. perumahan. ekonomi. c. 2 . Untuk lebih jelas mengenai batasan pengertian wilayah nasional Indonesia maka kita perlu mengetahui tentang pengertian-pengertian sebagai berikut : Pulau merupakan wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi oleh air dan berada di atas permukaan air pada waktu air pasang minimum selama setahun. Pembangunan dianggap secara sosial berkelanjutan (a socially sustainable area/ ecosystem). terdapat akuntabilitas dan partisipasi politik. stabilitas siklus hidrologi.

melainkan lebih dari itu. ekonomi. juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. Jadi Maritim Indonesia tidak diberi pengertian segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut saja. sosial-budaya dan pertahanan keamanan. perdagangan (sea-borne trade). di dalam. membangun tradisi dan perikehidupan masyarakat maritim dan menjadikan laut sebagai penghubung dan pemersatu bangsa. Pengertian Maritim Indonesia adalah suatu lingkungan alam yang terbentuk secara alami. Sedangkan untuk sistem pertahanan-keamanan yang bertumpu pada kekuatan rakyat serta mampu menjamin tegaknya kedaulatan di seluruh wilayah laut dan laut yurisdiksi nasional. landas kontinen termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. terdiri atas hamparan perairan laut yang luas dengan beribu pulau besar dan tersebar di dalamnya.Sedangkan pengertian kelautan meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan di laut yang meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya. Negara maritim berdiri di atas landasan alam dan budaya maritim yang membentuk peradaban maritim yang dicerminkan dalam sistem politik. di dasar maupun yang berada di bawah dasar lautan. dan ruang udara di atasnya. termasuk udara di atasnya berikut sumber daya dan lingkungan alam. dan kepelabuhanan baik nasional dan internasional. serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut bagi kemakmuran seluruh rakyat. baik yang berada di atas. Untuk sistem ekonomi yang berdasarkan demokrasi ekonomi mampu memberikan dorongan dan kemudahan bagi usaha-usaha industri dan jasa maritim dalam arti luas. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. Sistem politik yang berdasarkan demokrasi politik khususnya mampu menjamin keutuhan seluruh kepulauan Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah negara. kegiatan di permukaan laut. serta tersalur dan terpenuhinya kepentingan-kepentingan masyarakat maritim di lembagalembaga eksekutif dan legislatif. yang sekaligus dapat mengangkat kualitas kehidupan seluruh rakyat di seluruh kepulauan. serta keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. dan kemaritiman itu sendiri adalah hal-hal yang menyangkut masalah maritim. 3 . Dalam sistem sosial-budaya yang menjunjung tinggi harkat manusia dan keadilan serta mampu menumbuhkan semangat cinta laut. yang merupakan satu kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat. Uraian tersebut di atas memberi gambaran pengertian tentang apa itu Maritim Indonesia. Karena negara maritim merupakan negara yang mempunyai kegiatan maritim dan kekuatan armada laut yang dimilikinya yang memberikan kontribusi penting bagi pembangunan nasional. Sedangkan maritim itu sendiri merupakan bagian dari kegiatan di laut yang mengacu pada pelayaran/pengangkutan laut.

yang pada intinya menggambarkan sikap dan kebijakan suatu negara maritim dalam upaya mensejahterakan rakyat dan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara dengan mendasar kepada sifat dan bentuk kemaritimannya secara profesional. pertahanan dan keamanan serta menjadikannya sebagai geopolitik. dengan motto terkenalnya “Britain Rules the waves”. Salah satu contoh negara maritim adalah negara maritim Britania (lnggris). baik wilayah maupun penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat. 4 . Selanjutnya contoh negara maritim lainnya adalah negara Belanda. seperti pada jaman Sriwijaya dan Majapahit terdahulu. Bahkan berkat visi maritim yang dianut tersebut. Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia memiliki visi atau cara pandang berdasarkan nilai-nilai kemaritiman. Nuansa kemaritimannya perlu diberikan porsi yang lebih luas dalam rangka memenuhi cita-cita nasional kita agar “Negara Maritim Indonesia” kembali menjadi bangsa dan negara bahari secara nyata.BAB 2 PERKEMBANGAN KEMARITIMAN INDONESIA Negara maritim Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia dan telah memiliki visi nasional yang dikenal dengan “Wawasan Nusantara Bahari”. negara Britania merupakan negara penjajah yang menapakkan kakinya di lima benua. baik sikap dan kebijakannya terhadap dunia luar. Di mana merupakan suatu negara kontinen (Benua) yang menganut dan menerapkan “Visi Maritim” dalam penyelenggaraan kebijakan kesejahteraan rakyatnya. berbangsa dan bernegara yang mencakup politik. sosial budaya. telah memiliki jajahan yang luas di benua Asia antara lain Indonesia. suatu negara kerajaan kecil di Benua Eropa. Predikat Indonesia sebagai negara maritim. yang merupakan negara kepulauan di kawasan Eropa dan menerapkan visi maritim secara berhasil dalam upaya mensejahterakan rakyatnya dan membela kelangsungan keberadaan negaranya. Maka rumusan Wawasan Nusantara yang telah dimiliki bangsa Indonesia memerlukan penyempurnaan dengan memasukkan unsur muatan kemaritiman yang lebih proporsional. sebenarnya akan semakin lengkap dan mantap dengan tersusunnya “Wawasan Maritim Indonesia” yang akan berfungsi sebagai acuan dan pemberi arah bagi penentuan strategi dan kebijakan dalam pelaksanaan secara operatif. namun dalam perkembangannya kata baharinya ditanggalkan dan hanya menjadi “Wawasan Nusantara” saja. Mengingat pengertian “Wawasan Nusantara” diartikan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap kedaulatan wilayah dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan. ekonomi. dan dari hasil negara jajahannya telah mampu membangun negara Belanda yang makmur melimpah yang terletak di Benua Eropa. Berkat visi maritim yang diterapkannya.

Di samping ekspansi politis yang memiliki dampak yang menyangkut strategi dan kebijakan ketahanan wilayah kerajaan tersebut. 2. Melalui laut. Itulah visi kemaritiman Majapahit. Tindakan politis yang dilakukan Mahapatih Gadjah Mada dapat dikatakan. meskipun hanya sebatas sebagai sarana transportasi dan ketahanan wilayah. 5 . sebagai sarana transportasi serta alat pertahanan dimanfaatkan Majapahit sebagai pusat kerajaan. Ketika masyarakat nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dari berbagai suku bangsa yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia. dan merupakan suku bangsa pesisir dan pulau-pulau kecil adalah penduduk yang yang memiliki wawasan maritim yaitu hidup sebagai nelayan yang bermata pencaharian mencari ikan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena alasan itulah wilayah perairan kepulauan ini selanjutnya dinamakan Nusantara oleh Majapahit. Hal ini terjadi ketika seorang putera bangsa yang bernama Mahapatih Gadjah Mada ‘menyadari’ ingin menyatukan kerajaan-kerajaan kecil nusantara di bawah koordinasi Kerajaan Majapahit. Mpu Nala. akhirnya pola pemikiran yang demikian berubah.1. di mana wilayah Indonesia terdiri 2/3 bagian keseluruhan wilayahnya adalah perairan. Semangat kebahariannya diwujudkan dalam perilaku sebagai pelaut. pemanfaatan laut. sudah memahami geopolitik wilayah perairan kerajaan Majapahit atau belum. Seiring dengan perjalanan waktu. Dapat kita lihat bahwa negara ini telah mencapai kemakmuran yang sederajat dengan negara Eropa dan negara Amerika yang maju. yang merupakan negara kepulauan dimana negara Jepang bervisi maritim dalam penyelenggaraan pemerintahan negaranya. bahwa kehendak mempersatukan wilayah perairan nusantara menjadi satu kerajaan di bawah panji-panji Majapahit merupakan pemahaman akan kondisi geografis Nusantara. bahkan merupakan satu-satunya negara Asia yang termasuk negara ekonomi maju. Kerajaan-kerajaan suku bangsa yang bertebaran itu belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya merupakan penduduk dari satu wilayah kepulauan. perantau hingga pembajak di laut. Tidak dapat dipastikan apakah Mahapatih Gadjah Mada dan Panglima Laut Majapahit. yaitu negara Jepang yang dikenal dengan negara matahari terbit. bahwa Majapahit memiliki visi kemaritiman. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sebelum Kemerdekaan Bumi nusantara tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdaulat merupakan wilayah kepulauan yang sekaligus merupakan wilayah perairan. Majapahit mampu mengkordinasikan negeri asalnya serta melindungi diri dari serangan musuh. tetapi yang jelas.Di Asia ada juga satu negara maritim. yang negeri asalnya berjumlah berpuluh-puluh baik di pulau Sumatera maupun di pulau Kalimantan.

Demikian pula terhadap manusia. ancaman. orientasi setiap kehidupan manusia adalah masa depan yang cerah. Ironisnya lagi. Hanya 6 . Tanpa dilengkapi dengan visi. Manusia yang hidup dalam masyarakat dan bernegara perlu memiliki orientasi tersebut dalam bentuk cara pandang atau wawasan. kekuatan.Sistem transportasi perhubungan laut Majapahit konon diambil alih oleh Pemerintahan Hindia Belanda ketika berkuasa di wilayah Nusantara. Jadi cara pandang yang didasarkan pada kemaritiman dalam kehidupan bangsa Indonesia pada hakikatnya berlaku sebagai sebuah visi dalam menghadapi tantangan ke depan. seiring dengan keluarnya pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang perairan Indonesia. maka demi kepentingan Belanda sendiri.2. Secara Implisit penyebutan itu merupakan pengakuan bahwa air (laut) adalah bagian dari wilayah negara dan merupakan pemersatu bagi pulau-pulau (daerah dan penduduknya) yang harus dilindungi oleh segenap bangsa dan negara Indonesia. masyarakat juga kurang menyadari bahwa Indonesia secara geografis memiliki berbagai peluang. dan kehidupannnya lebih berorientasi kepada daratan. Dengan demikian. Indonesia dikenal sebagai negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan beraneka suku bangsa dan kebudayaan. kawasan Selatan meliputi Batavia dan sepanjang Pantura (Pantai Utara Pulau Jawa). Selama masa Pemerintahan Belanda bangsa kita yang tadinya mempunyai pemikiran yang berorientasi paridigma laut menjadi paradigma daratan (continental). maka setiap manusia mempunyai visi terhadap dunia yang dihadapi. dan kelemahan sebagai negara kepulauan (nusantara) yang berada di antara dua samudera dan dua benua. bangsa Indonesia perlu memiliki visi yang jelas dan berjangka panjang dalam konteks kemaritiman nusantara termasuk di dalamnya sebuah wawasan kemaritiman nusantara. Melihat kondisi kemaritiman Majapahit dari wilayah serta potensi laut yang luar biasa. semangat maritim bangsa Indonesia tidak disadari telah terkikis dan dirubah dengan sengaja oleh sistem pemerintahan Belanda selama 350 tahun. 2. Kondisi Kemaritiman Indonesia Sesudah Kemerdekaan Perkembangan pentingnya kemaritiman Indonesia mulai mendapatkan perhatian sejak tahun 1957. Langkah pemerintah itu sangat strategis karena sejatinya 2/3 dari luas wilayah Indonesia adalah perairan dan merupakan satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia (Archipelagic State). Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak lagi memiliki jiwa maritim. Melalui proses sejarah maritim yang panjang. kawasan Tengah: Makasar. yaitu dengan menguasai wilayah perairan nusantara mulai dari kawasan Utara yang meliputi wilayah Ternate dan Tidore. bagaimana suatu bangsa dapat membangun negaranya secara baik dan benar. Pemerintah Hindia Belanda juga mewujudkan visi kemaritimannya.

jika lubang di maksud melebihi sepuluh mil laut. sedekat mungkin pada gerbang masuk pada titik pertama di mana lebar lubang itu tidak melebihi sepuluh mil laut. di tempat selat-selat yang menghubungkan dua laut terbuka dan dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. yang membentang ke arah laut sampai jarak tiga mil laut dari garis air surut pulau-pulau atau bagian-bagian pulau-pulau yang termasuk wilayah Republik Indonesia. daerah laut. Laut Territorial Indonesia : I. C. di tempat mana jarak antara titik-titik itu melebihi enam mil laut. 442 yang membagi wilayah daratan Indonesia dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendidi-sendiri. ceruk laut. ceruk laut.saja. ungkapan itu belum didukung dengan peraturan perundang-undangan mengingat penentuan batas laut teritorial sampai pada tahun 1957 masih berpedoman pada pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim 1939 stb No. dengan pulau-pulau diartikan juga karang-karang. di tempat teluk. batas laut teritorial kita hanya 3 mil laut yang diukur dari garis pantai pada waktu air surut terendah dan melingkari setiap pulau sehingga mengakibatkan banyak kantong-kantong laut bebas di antara pulau-pulau di Indonesia. Bunyi Pasal 1 ayat (1) angka 1 s/d 4 yaitu : (1) Di dalam aturan ini dan di dalam ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan berdasarkan aturan ini yang diartikan dengan : 1. batu-batu karang dan gosong-gosong yang ada di atas permukaan laut pada waktu air surut wilayah Republik Indonesia. muara sungai atau terusan. di tempat kelompok yang terdiri dari dua atau lebih pulau-pulau. walaupun lebar selat di bagian lain antara kedua garis itu melebihi enam mil laut. maka garis lurus itu ditarik melintang teluk. dianggap sebagai laut territorial bagian dari selat yang terletak di antara dua garis sebelah menyebelah selat yang menghubungkan kedua tepi sedekat mungkin pada laut terbuka . ceruk laut. muara sungai atau terusan. jarak tiga mil laut diukur dari garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik terjauh garis-garis air surut dari pulau-pulau yang terletak pada bagian luar kelompok. Ketika itu. Dengan pengertian bahwa : A. pada titik pertama dimana lebar selat tidak melebihi enam mil laut. yang jadi permasalahan. dalam hal mana Indonesia adalah satu-satunya negara tepi. 7 . B. muara sungai atau terusan. yang memotong lubang dari teluk. jarak tiga mil laut itu diukur dari garis lurus.

8 . terusan-terusan dan danau-danau dan rawa-rawa di Indonesia. mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Disahkannya Undang-undang itu. Daerah air Indonesia : laut territorial termasuk perairan pedalaman Indonesia. maka garis pemisah antara laut territorial Indonesia dengan negara asing. 4. perdamaian abadi dan keadilan sosial”. sekaligus mempunyai tujuan yaitu : “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. 2. daerah laut yang terletak pada sisi laut dari tengah daerah laut yang diuraikan di bawah I. tetapi terletak dalam batas-batas bandar yang ditetapkan. Daerah laut Indonesia (perairan territorial) : laut territorial Indonesia. ceruk-ceruk laut. termasuk sungai-sungai. di tempat selat yang menghubungkan dua laut terbuka yang lebar selatnya tidak melebihi enam mil laut dan dalam hal mana Indonesia bukan merupakan satu-satunya negara tepi. mengingat sebelumnya laut di antara pulau yang tadinya merupakan laut bebas telah tercakup dan dinyatakan sebagai perairan pedalaman Indonesia. Perairan pedalaman Indonesia : semua perairan yang terletak pada bagian sisi darat dari laut territorial Indonesia. b. Pemerintah Indonesia telah mensosialisasikan wilayah perairan Indonesia melalui pengumuman pemerintah tanggal 13 Desember 1957 yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda. laut pantai. tentu merupakan keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia. ditarik melalui tengah-tengah selat. Bagi kita ini menjadi bukti kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia. muara-muara sungai dan terusan. memajukan kesejahteraan umum. mengingat dalam perkembangan hukum internasional banyak negara pantai yang berjuang menentukan wilayah lautnya lebih dari tiga mil laut. daerah air teluk-teluk.D. 3. termasuk bagian laut territorial yang terletak pada bagian sisi darat dari : a. II. 4/Prp 1960 tentang Perairan Indonesia. Secara yuridis formil pengumuman pemerintah itu dituangkan dalam Undangundang No. Pengertian di atas tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat UUD’45 yang dalam rumusannya telah menegaskan bahwa negara Indonesia mempunyai fungsi.

ada beberapa konvensi penting di bidang maritim. Sejarah menunjukan bahwa nelayan-nelayan kita dengan menggunakan perahu phinisi telah mengarungi lautan dan mendarat di bumi Afrika. yang mengeluarkan suatu konsep geopolitik maritim.Dimasukkannya bekas laut bebas menjadi perairan pedalaman Indonesia. Akan tetapi kesadaran bahwa Indonesia merupakan suatu Negara Kepulauan sesungguhnya masih belum terlalu lama. Sebagaimana diketahui bersama bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki kejayaan dalam bidang kelautan. Organisasi ini memiliki motto ” Safer Shiping (Keselamatan Kapal). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memfasilitasi pendirian IMO (International Maritime Organization). dengan ketentuan pengakuan atas lalu lintas damai bagi kapal-kapal asing untuk melintasi laut wilayah 12 mil laut dan perairan pedalaman Indonesia dari laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia dan sebaliknya. Salah satunya adalah konvensi tentang keselamatan jiwa di laut yaitu Safety of Life at Sea (SOLAS). dan Cleaner Ocean (Perlindungan dan Kelestarian Laut)”. Selain United Nation Convention Law of the Sea (UNCLOS).7 juta km² menjadi 5. sehingga membatasi hak-hak negara lain. menjamin berlakunya seluruh peraturan perundang-undangan Indonesia dalam yurisdiksi (secara hukum) bekas laut bebas tadi. India dan Cina. Saat ini laut tak bisa terlepas dari berbagai konvensi internasional. perubahan terakhir pada tahun 1974 (konvensi ini dikenal sebagai SOLAS 1974). serta dari laut bebas ke laut bebas. yang mencerminkan masalah yang menjadi cakupan tugasnya. yang telah disebutkan di atas. yaitu sejak Perdana Menteri Djuanda. Keberhasilan perjuangan tersebut. sebab yang tadinya merupakan laut bebas. jazirah Arab. berarti beban dan tanggung jawab pemerintah Indonesia di wilayah perairan semakin besar dan berat dengan bertambahnya luas wilayah perairan Indonesia dari 3. Perjuangan dan keberhasilan ini merupakan bukti adanya kesatuan wilayah (laut dan daratan) negara Indonesia. dengan diundangkannya Undangundang tersebut perairan pedalaman Indonesia menjadi bagian dari wilayah negara kesatuan Indonesia atau wilayah perairan semula hanya memiliki 3 mil laut menjadi 12 mil laut.8 juta km². Konvensi tentang hal ini telah beberapa kali diselenggarakan. 9 . pada 13 Desember 1957 yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda.

Yong Celebes dan lain-lain. Pada akhirnya melalui perjuangan diplomasi yang gigih tak kenal lelah selama hampir 25 tahun. sehingga menyebabkan wilayah Indonesia terpecah menjadi beberapa fraksi. Yong Sumatera. Setiap selat antara dua pulau hampir dapat dipastikan merupakan perairan internasional. Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan administrasi pemerintahan dan politik sebagai negara kesatuan. Peta Indonesia Sumber : BAKOSURTANAL Dapat dibayangkan bahwa wilayah laut di antara dua pulau yang berada lebih dari 3 (tiga) mil dari garis pantainya merupakan wilayah internasional. maka pada sidang UNCLOS PBB tahun 1982 usulan Djuanda diterima bahkan dijadikan konsep tentang negara kepulauan dan mewarnai pasal-pasal UNCLOS 10 . dengan tidak memandang luas dan lebarnya adalah bagian wajar dari wilayah daratan Negara Republik Inoonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari pada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. Ditambah lagi dengan tekanan politik nasional pada waktu itu memang sangat lokal sesuai dengan tanah asalnya seperti Yong Java.fraksi Sumatera – fraksi Celebes dan seterusnya. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indoneisa akan ditentukan dengan Undang-Undang”. seperti fraksi Jawa .Gambar 1. di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia. yang dapat digunakan secara bebas oleh negara manapun tanpa izin berlayar dari Indonesia. Menyadari hal ini maka Perdana Menteri Djuanda tepat pada tanggal 13 Desember 1957 menyatakan deklarasinya yang berbunyi sebagai berikut : “Bahwa segala perairan di sekitar.

Akibatnya pembangunan sektor kelautan di masa orde baru telah diabaikan dan sangat tertinggal. Upaya tersebut tidak mampu membentuk pemikiran umum yang mampu merubah paradigma dari darat ke laut. Salah satu peristiwa bersejarah tentang hilangnya kejayaan tersebut adalah terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang dilakukan oleh Belanda dengan Raja Surakarta dan Yogyakarta. Keberhasilan diplomasi Indonesia di forum internasional tersebut di atas sayangnya kurang diperhatikan dan ditanggapi secara baik oleh para politisi dan birokrat kita. Indonesia juga dikenakan kewajiban-kewajiban internasional yang harus dipenuhi berdasarkan UNCLOS 1982. Selain itu juga diamanatkan untuk merubah dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang ada. 11 . Selain hak dan peluang untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan laut. terlebih setelah masuknya VOC ke Indonesia (1602 M .3. Terbukti masih belum adanya satupun lembaga keuangan yang mau memberikan pinjaman perbankan berupa kredit kepada para nelayan ataupun pembelian kapal.1798 M). Dalam kerangka untuk membangun Benua Maritim Indonesia.(Konvensi Hukum Laut 1982). Indonesia perlu membuka wilayah lautannya untuk dapat dilalui oleh kapal asing yang biasa dikenal dengan nama “ALKI” (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Seiring dengan reformasi pembangunan. Akibatnya terjadi proses penurunan semangat dan jiwa maritim bangsa serta perubahan nilai-nilai sosial dalam masyarakat Indonesia yang semula bercirikan maritim menjadi sifat kedaratan. Oleh beberapa kalangan pada waktu itu yang dipelopori oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) telah dilakukan terobosan-terobosan kecil untuk menggugah kesadaran politik agar lebih ‘seimbang’. timbul tuntutan untuk mencari kebijakan pembangunan yang baru dan kebutuhan untuk membangun bidang kelautan sangat besar. Pada tahun 1985 keputusan sidang PBB tersebut kemudian diratifikasi dalam bentuk Undang-Undang No. Pasal-pasal dalam UNCLOS 1982 tersebut memberikan hak kepada Indonesia sebagai negara kepulauan dan tentunya merupakan peluang Indonesia dalam pengaturan untuk memanfaatkan kekayaan laut bagi sebesar-besarnya kepentingan negara dan rakyatnya. 2. Kebangkitan Kemaritiman Indonesia Kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim pernah mengalami kemunduran. Keputusan kedua raja yang telah dikendalikan oleh Belanda tersebut memasung kemampuan maritim bangsa Indonesia. Pada tahun 1996 telah dicanangkan sebagai Tahun Bahari dan Dirgantara. yang melibatkan seluruh lembaga nasional yang terkait dengan bidang kelautan. termasuk akademisi perguruan tinggi. Kedua raja keturunan Mataram tersebut menyerahkan perdagangan laut hasil bumi dan rempahrempah dari wilayahnya kepada Belanda. 17 tahun 1985.

Perkembangan selanjutnya pada tahun 1999 di bawah pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid menyatakan komitmennya terhadap pembangunan kelautan. dan pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. Inti dari deklarasi tersebut adalah laut merupakan peluang. yang intinya mengajak kepada segenap bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan di laut. kesatuan dan pembangunan bangsa Indonesia. Kemudian memasuki pemerintahan Presiden Suharto untuk memperoleh pengakuan dari dunia internasional telah dilaksanakan perjuangan yang terus menerus di forum internasional dan regional. tantangan dan harapan untuk masa depan persatuan. Sejarah bahari Indonesia telah mewariskan pengalaman. Presiden Megawati Soekarnoputri menerbitkan Keppres Nomor 126 tahun 2001 yang menetapkan tanggal 13 Desember sebagai “Hari Nusantara”. Wawasan Nusantara tersebut memandang laut merupakan satu keutuhan wilayah dengan darat.Hal ini merupakan kemunduran kekuatan bangsa Indonesia sebagai negara maritim terbesar. pada tahun 2001 di bawah pemerintahan Presiden RI Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan “Seruan Sunda Kelapa”. Pada tahun 1957 Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno mendeklarasikan Wawasan Nusantara di kalangan dunia. dan selanjutnya atas usulan dari Dewan Maritim Indonesia. Pada tahun 1998 Presiden Baharudin Jusuf Habibie semasa pemerintahannya mendeklarasikan visi pembangunan kelautan bangsa Indonesia dalam “Deklarasi Bunaken. Kedua lembaga tersebut diharapkan menjadi suatu lembaga yang mampu menjadi wadah untuk mengelola sektor kelautan yang memiliki potensi yang sangat besar. Salah satu hasil perjuangan dari para pejuang maritim melalui satu komitmen untuk memajukan kemaritiman Indonesia. 12 . dan Wawasan Nusantara dijadikan sebagai wawasan kebangsaan yang mengetengahkan azaz “Negara Nusantara” (archipelagic state). dasar laut dan tanah di bawahnya. kebahagiaan serta kejayaan bangsa. udara. Komitmen pemerintah terhadap pembangunan di bidang maritim makin menampakan harapan cerah dengan telah dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan dikembangkannya kelembagaan Dewan Kelautan Nasional (DKN) menjadi Dewan Maritim Indonesia (DMI). Sehingga pada tahun 1982 gagasan “Negara Nusantara” berhasil dan diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS’82) serta berlaku sebagai hukum internasional positif sejak 16 November 1994. sehingga ke depan dapat dijadikan andalan dalam meningkatkan devisa negara. serta seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya tidak boleh di pisah-pisahkan. cita-cita dan perjuangan para bahariwan dalam mewujudkan kemakmuran.

504 pulau dengan panjang pantai 81.000 Km terpanjang ke dua di dunia setelah negara Kanada. bahwa nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu telah mampu membangun kapal-kapal layar samudera. kepulauan Indonesia sejak abad VII secara ekonomi telah dipersatukan oleh kerajaan Sriwijaya dengan menguasai lalu lintas perdagangan dari Barat dan Timur. Hal ini menunjukkan. Laut Cina Selatan dan laut Jawa. Jejak kebudayaan prasejarah bercirikan maritim juga ditemukan di kawasan Austronesia. Utara dan Selatan di Selat Malaka. bukan hanya perahu cadik sebagai perahu khas nusantara.BAB 3 NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Peninggalan sejarah pada masa sebelum Masehi berupa bekas-bekas kerajaan Merina yang didirikan oleh para perantau dari Nusantara ditemukan juga di Madagaskar. sehingga ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. maka yang dimaksud dengan bangsa dan negara Indonesia adalah rakyat dan wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penduduk dan pulau-pulau dari kepulauan Indonesia. yaitu di antara dua benua dan dua samudera. dimana 2/3 luas wilayah kedaulatan terdiri dari laut yang mempunyai wilayah laut yurisdiksi sangat luas dan sangat kaya akan sumber daya alam yang terdiri dari 17. serta terletak pada letak geografis yang sangat strategis. ekonomi. Oleh karenanya 13 . Pada abad XIII konsep persatuan kepulauan Indonesia secara politik di bawah satu kekuasaan telah diletakkan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari melalui semboyan Cakrawala Mandala Dwipantara. yang kemudian diwujudkan secara nyata oleh maha Patih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit pada abad ke XV melalui sumpah Palapanya. melainkan rumpun bahasa Austronesia dimana pengaruh bahasa-bahasa di nusantara terasa sangat kuat dibandingkan dengan pengaruh rumpun bahasa Indochina atau Yunan. Dari penemuan bukti-bukti baru tentang prasejarah Indonesia itu memberikan pemahaman bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah asli bangsa pelaut atau pengembara. pertahanan dan keamanan nasional Indonesia. Situasi dan kondisi aspek alamiah demikian menunjukkan bahwa laut adalah alamiah yang paling dominan mempengaruhi kehidupan politik. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang sebanding atau seluas eropa atau USA. sosial-budaya. dan sejak ribuan tahun sebelum Masehi sudah “mengglobalisasi” di kawasan Samudera Hindia dan kawasan Samudera Pasifik sebagai pelau-pelaut ulung yang jejak-jejak kebudayaannya masih dapat didikuti sampai sekarang. Penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik dan ekonomi dilanjutkan selama masa penjajahan Belanda sampai Jepang. melintas samudera sejauh 6500 km sampai di Madagaskar. Dalam sejarah.

kerawanan dan keunggulan dari pengaruh alamiah laut. Oleh karenanya. 3. kelebihan. sosial-budaya. laut kepulauan Indonesia masih berstatus perairan internasional yang memisah-misahkan wilayah kedaulatan Indonesia.pembangunan nasional seyogyanya dirumuskan dengan mempertimbangkan dan memperhatikan. Gambar 2.1 Letak Geografis dan Kepentingannya Posisi geografi Indonesia yang berada pada posisi persilangan dunia. Ditinjau dari aspek sosial ekonomi potensi kelautan Indonesia dapat dikembangkan dan didayagunakan sebagai basis 14 . memberikan kedudukan dan peranan strategis bagi Indonesia baik dalam hubungan antar bangsa maupun untuk membangun kejayaannya sendiri. untuk mencegah dan mengatasi kerawanan tersebut Bung Karno. ekonomi. telah memberikan prioritas khusus dalam upaya memperjuangkan status perairan kepulauan tersebut menjadi wilayah tanah dan air Indonesia sebagai satu wilayah kedaulatan utuh dalam NKRI. Proklamator Kemerdekaan. kekurangan. dan sistem pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). dan Presiden RI pertama. Aspek Alamiah Laut Paling Mempengaruhi Kehidupan Indonesia Sumber : Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan Pada waktu Indonesia merebut kemerdekaan. Kondisi demikian sangat mempengaruhi kehidupan politik.

bidang Kelautan dan Perikanan dijadikan salah satu “prime mover” ekonomi nasional. 2.merupakan aset nasional yang sangat potensial bagi pengembangan industri wisata bahari. Sampai saat ini yang menjadi kelemahan dan kekurangan kita dalam memanfaatkan potensi kelautan dengan sebaik-baiknya adalah belum semua sumber daya kelautan disentuh atau dilirik untuk eksplorasi dan eksploitasi oleh 15 . Secara keseluruhan wilayah laut Indonesia mencapai 75 % dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Posisi Geo-Strategis Indonesia Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki luas wilayah laut 5.7 juta Km² wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).strategis bagi ruang dan kepentingan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Potensi kelautan yang dimiliki oleh negara Indonesia diibaratkan sebagai “naga sedang tidur (Sleeping Big Dragon)” yang perlu dibangunkan sekarang ini untuk mengatasi krisis multidimensi yang sedang melanda negara kita.000 Km. dan garis pantai sepanjang 81.1 juta Km² luas laut Teritorial. seperti ekosistem terumbu karang. bahwa sumber daya alam yang ada di dalamnya cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai sumber kekuatan ekonomi nasional yang telah mengalami keterpurukan. Oleh karena itu melalui “kabinet Gotong Royong” yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri selalu mengatakan bahwa. Di dalam wilayah laut Indonesia terkandung berbagai potensi sumberdaya yang sangat bervariasi baik hayati maupun nir-hayati. Disamping itu pula telah disadari banyak orang.8 juta Km². Oleh karena itu masyarakat internasional mengenal Indonesia sebagai Negara Maritim. Gambar 3. terdiri dari 3. Disamping itu pula keindahan alam laut dengan keanekaragaman biota laut.

Oleh karena itu banyak kapal-kapal asing melakukan pencurian ikan secara tidak sah secara hukum (illegal fishing). Ada aspek positifnya yaitu bertambahnya devisa negara dalam bidang ekonomi suatu kawasan yang dilalui ALKI. karena terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia). tetapi ada pula aspek negatifnya. Hal itu pertanda bahwa wilayah perairan laut Indonesia sangat diminati oleh kalangan internasional. Dilihat dari sudut pandang geografis. sehingga membuat masyarakat internasional mengakui Indonesia sebagai persimpangan lintas pelayaran niaga utama (across of the commercial shipping). Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi yang strategis dalam lalulintas perekenomian dunia. sehingga sering dijumpai kapal-kapal ikan milik asing ditangkap oleh petugas pengamanan di laut. tetapi juga ingin memanfaatkan sumberdaya perikanan yang sangat besar. Adanya kegiatan pencurian ikan oleh kapal-kapal asing mengakibatkan populasi ikan semakin berkurang dan menimbulkan kerusakan ekosistem laut dan menimbulkan kerugian devisa negara yang sangat besar. Kepentingan kalangan negara luar terhadap potensi wilayah perairan Indonesia. Karena begitu strategis kedudukan laut kita. maka satu-satunya negara di dunia yang dilalui oleh 3 (tiga) alur laut internasional dan yang dikenal sebagai alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). yaitu dapat mengancam kedaulatan negara Indonesia. bukan hanya untuk kebutuhan pelayaran.pemerintah Indonesia. dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Gambar 4 Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 16 . Salah satu contoh wilayah perairan Indonesia yang sering menjadi wilayah pencurian ikan secara tidak sah yaitu wilayah laut Papua yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik.

politik. kiranya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang dan yang akan mendatang. mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berorientasi kepada keserasian kepentingan antar daerah. mengingat wilayah laut Indonesia merupakan bagian terbesar dari wilayah Indonesia yang mempunyai posisi strategis dari berbagai aspek ekologis. dan disamping itu juga memiliki hak berdaulat untuk pemanfaatan sumberdaya alam di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen Indonesia. Saat ini sudah ada sejumlah undang-undang di bidang kelautan.2 Laut Sebagai Pemersatu Bangsa Dengan telah berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UU No. Jamaika. kita perlu membangun sistem pemerintahan yang berorientasi kelautan (ocean governance) sehingga Indonesia menjadi negara maritim yang maju dan kuat di dunia.17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional 1982) selanjutnya pada tahun 1994 Indonesia secara resmi diakui internasional sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah kedaulatan di laut sebesar kurang lebih dua kali lebih besar dari pada wilayah kedaulatan di darat. namun belum ada undang-undang yang mengatur tentang kebijaksanaan dan strategi pengamanan dan pemanfaatan laut untuk digunakan sebagai acuan utama bagi semua peraturan perundang-undangan dan rencana pembangunan nasional. sosial. Dengan memandang laut Indonesia sebagai tali kehidupan dan masa depan bangsa sehingga pengamanan dan pemanfaatannya harus mendapat perhatian yang khusus dan sungguh-sungguh dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional. terdapat 119 negara yang menandatangani United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Dalam posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui secara internasional sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya alam laut yang sangat besar. nasional dan internasional. maka yang harus kita lakukan saat ini untuk menuju bangsa yang maju dan makmur. dan mewujudkan sistem pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan (oceans governance). ekonomi. membangun ekonomi nasional yang berorientasi pada keunggulan komparatif di bidang kelautan. mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang maju. Pada tahun 1982 di Teluk Montego. Kelautan sebagai kesatuan ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia diatur dan dikelola dengan tujuan memperkuat wawasan nusantara.3. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal mengenai perihal ketentuan tentang Prinsip 17 . tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera. pertahanan dan keamanan yang diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dengan menyadari kenyataan yang ada bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berwawasan nusantara.

Prinsip-prinsip tentang fungsi laut sebagai alat pemersatu atau fungsi laut sebagai faktor integritas wilayah inilah yang kemudian hari menjadi wawasan kebangsaan negara Indonesia yaitu wawasan nusantara. laut tidak hanya menjadi alat penghubung antar pulau tetapi juga alat perekat antar pulau-pulau dan suku-suku bangsa yang bersebar dari Sabang sampai Merauke. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Salah satu pasal dalam Prinsip Negara Kepulauan yaitu memandang laut bukan sebagai alat pemisah. melainkan justru sebagai alat yang menyatukan pulaupulau yang satu dengan lainnya. Oleh karena itu lautan Nusantara harus selalu dijaga keutuhannya. 18 .Negara Kepulauan. karena kalau sampai terpecah-pecah maka fungsinya sebagai alat pemersatu akan hilang.

Salah satu upaya dalam menangani konflik dapat dilakukan secara adat. kelembagaan (organisasi. perlengkapan fisik lainnya). Hal semacam inilah yang perlu dihindari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama bagi masyarakat di daerah perbatasan. menurut Koentjaraningrat yang dilakukan dengan menerapkan konsep “tiga wujud kebudayaan”. lembaga donor. perubahan dan persisten dari unsur-unsur budaya bahari tersebut. dan daftar kebutuhan serta cita-cita dalam kognitifnya). sifat homogen dan diversiti unsur-unsur budaya. mesin. Fenomena sosial budaya bahari di Indonesia sangat kompleks. dan ras di masyarakat. penjelasan dan analisis secara empirik. Untuk mempelajari budaya bahari yang kompleks dan relevan. agama.BAB 4 SOSIAL DAN BUDAYA MARITIM Indonesia memiliki berbagai macam suku. dan menurut Vayda menerapkan metode penjelasan progresif kontekstual” sebagai model deskripsi. di mana suku-suku yang ada tersebut memiliki adat istiadat yang berbeda. perubahan atau bertahannya unsur-unsur budaya maritim juga sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal terutama pasar regional. sedangkan menurut Sanjek konsep “kreasi dan dinamika budaya”. gagasan. adat istiadatdapat menjadi kekuatan atau modal bagi pembangunan nasional. akan tetapi apabila tidak dapat dipelihara dengan baik terutama dalam hal toleransi. Permasalahan yang sering terjadi dalam masyarakat. alat-alat tangkap. sehingga sering menimbulkan konflik antar suku. nasional dan pasar global. Wujud budaya bahari nelayan ialah sistem budaya (meliputi terutama sistem-sistem pengetahuan. kelompok kerjasama nelayan. inovasi teknologi. Hal ini dicirikan dengan beberapa fenomena yang dominan yaitu : kompleksnya kategori atau kelompok sosial yang terlibat dalam kehidupan kebaharian. Keanekaragaman suku. intervensi perguruan tinggi. kebijakan-kebijakan pemerintah. agama. fenomena dinamika. keanekaragaman tersebut dapat menjadi penghambat bagi terciptanya stabilitas nasional. ras. Selain faktor-faktor internal. keyakinan. sarana penggerak berupa layar. dan lain-lain. tumbuh dan berkembangnya sektorsektor dan sub-sub sektor ekonomi dan aktivitas lainnya berkaitan dengan laut. tetapi apabila sudah menyangkut stabilitas dan keamanan nasional maka hal tersebut menjadi kewenangan pemerintah. keterlibatan secara tidak langsung kategori-kategori dan hirarki sosial dalam aktivitas kebaharian. hakhak pemilikan/kontrol atas wilayah dan sumberdaya laut). 19 . dan proses dinamika. biasanya ditimbulkan oleh adanya kesenjangan sosial. LSM. saling keterkaitan antar sektor-sektor kehidupan dan internal antar unsur-unsur budaya bahari. dan teknologi (sarana/ prasarana transportasi laut.

pelayaran/usaha transportasi laut. pekerja jasa dan industri di lingkungan pedesaan dan perkotaan. Makassar. NTT. kelompok-kelompok sosial kebaharian seringkali bukan sekedar berupa kelompok-kelompok kerja yang merupakan sub-sub komuniti desa. pertambangan. bahkan suatu negara atau kerjaan seperti antara lain Kerajaan Goa hingga abad ke-17 (Mukhlis Paeni 1995). Bavinck. Sulawesi Tengah). parawisata bahari. Kajian literatur tentang sosial budaya bahari di berbagai tempat di dunia termasuk Indonesia (antara lain: Firth. pengangkut barang dengan berbagai kategorinya. Vercruijsse. Itulah sebabnya ke depan proses dinamika budaya maritim mustinya diarahkan secara bijak dengan pendekatanpendekatan community-based management. Terhadap sektor-sektor dan sub-sub sektor ekonomi maritim tersebut oleh pelaku dan pengelolanya (komuniti. Setiap kategori dan level sosial tersebut mempunyai atau dicirikan dengan pola-pola budaya konteks lokal dan global. Di Eropah dan negara-negara pantai dan kepulauan maju lainnya selain pelayar. Acheson. 1975. Mandar. dan lain-lain. kelompok. Masyhuri. 1994. pemburu dan peramu. 1991. bisa merupakan kelompok-kelompok etnik sepenuhnya (seperti berbagai desa nelayan Bajo di Kepulauan Riau. jasa pengamanan wilayah laut dan isinya. 1984) . Sulawesi Selatan. dan marinir. juga dikenal kelompok-kelompok awak kapal pengeruk dasar sungai dan perairan pantai kota-kota. kelompok-kelompok olah ragawan laut antara lain seperti peselancar dan penyelam. Andersen dan Cato Wadel. individu 20 . 1981. Kedua. munculnya sedemikian banyak kategori-kategori sosial bahari tersebut tentu dikondisikan oleh tumbuh dan berkembangnya jenis-jenis usaha ekonomi terkait laut cukup banyak dan kaya dengan variasi dan tingkatan skalanya masing-masing. co-management dan lain-lain. Madura di kawasan pesisir dan pulau-pulau). Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. dan Kesultanan Buton (Schoorl. bahkan dalam banyak segi lebih kompleks daripada yang mencirikan kategori-kategori sosial yang hidup di darat dengan berbagai sektor ekonomi atau mata pencaharian hidup seperti komuniti-komuniti petani. konflik sosial. kemerosotan sumberdaya dan degradasi lingkungan laut. sesungguhnya menunjukkan fenomena sosial budaya yang sangat kompleks. kelompok organisasi pencinta lingkungan laut yang anggota-anggotanya berasal dari kota-kota bahkan dari negara-negara berlainan (Ginkel dan Verrips. peternak. khususnya pada komunitikomuniti pesisir dan pulau-pulau di Sulawesi Selatan. 1988). keluarga.Proses dinamika yang tidak atau kurang terarahkan seperti dialami selama ini banyak berdampak negatif terhadap kondisi kehidupan ekonomi. 1984. 1982. 1996) serta studi lapangan (field work) intensif. industri maritim. Termasuk dalam sektor-sektor ekonomi kebaharian utama antara lain perikanan. 1977. Pertama. nelayan. tetapi dalam banyak ukuran bisa dikategorikan sebagai suatu sub-sub etnik (seperti berbagai desa-desa nelayan Bugis. 1984. Kompleksitas sosial budaya bahari tersebut terutama dicirikan pada sekurang-kurangnya lima fenomena. Palsson.

peneliti dan praktisi dari lembaga perguruan tinggi.atau pengusaha privat) seringkali melakukan berbagai gaya menejemen berupa ekstensifikasi dengan strategi diversifikasi. kelompok awak kapal angkutan. Makassar) dan pemburu hiu (Bajo) dari Sulawesi Selatan bisa mencerminkan sikap kepribadian budaya bahari berbeda-beda. Fenomena tersebut yang dicirikan dengan saling keterkaitan internal antara unsur-unsur serta sifat homogeniti dan difersitasnya merupakan kerumitan tersendiri. bahwa selain pelaku dan pengguna langsung. pemerintah/instansi terkait. dan lain-lain. Bugis. teknologi. dan sebagainya bisa menunjukkan karakter budaya bahari berbeda-beda. ini seringkali diacukan pada kerangka pengembangan terpadu yang ideal yang menguntungkan setiap sektor. Fenomena budaya dari setiap kategori atau sub-sub kategori sosial dicirikan dengan karakter kepribadian kebahariannya masingmasing. Ketiga. intensifikasi dengan usaha tunggal. pengusaha dan rentenir. bahasa. Setiap kategori sosial sebagai nelayan. penyelam tripang (Bajo. kompleksitas fenomena sosial budaya bahari ditunjukkan pula dalam proses dinamikanya. fenomena sosial budaya maritim bukan hanya tampak pada aspek-aspek budayanya (sistem-sistem pengetahuan. ekonomi. koperasi dan bank. Di Indonesia misalnya selama ini. tetapi seringkali juga dilakukan secara parsial yang menjurus pada gejala persaingan dan konflik kepentingan yang pada gilirannya berdampak pada sektor-sektor usaha kecil milik rakyat dengan gaya menejemen tradisionalnya. dalam rangka pengembangannya melibatkan pemerintah. organisasi sosial. satuan marinir. para pembuat perahu dan alat tangkap. komuniti pembuat perahu/kapal. nilai. pihak donor pembangunan. Bahkan di antara kelompokkelompok nelayan rumpon (Mandar). ada banyak kategori-kategori sosial dengan tingkatan-tingkatan sosialnya masing-masing terlibat secara tidak langsung dalam setiap sektor ekonomi kebaharian (pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut). kepercayaan. keamanan laut. kelompok olah ragawan laut. nelayan bagang (Bugis). Karena itu fenomena masyarakat dan budaya bahari harus dipahami juga dalam konteks eksternalnya. Kategori-kategori sosial dari luar yang tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan dan aktivitas kemaritiman tersebut justru merupakan kekuatan-kekuatan eksternal yang memberi pengaruh dalam menentukan tatanan dan dinamika kehidupan sosial budaya komuniti-komuniti atau kelompok-kelompok sosial kebaharian utama seperti nelayan dan pelayar. pedagang. norma. Keempat. Kelima. osilasi di antara berbagai sektor ekonomi terkait laut dan dengan sektor-sektor lain. Di sana ada perubahan sepenuhnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar dan dayung. Sektor perikanan merupakan sektor ekonomi cukup banyak jenisnya menurut spesis sumberdaya laut dan tipe-tipe teknologi eksploitasi digunakan serta bertingkat-tingkat menurut skala investasi modal usaha yang melibatkan nelayan sebagai pelaku dan pengguna langsung. kesenian) dengan kategori-kategori dan hirarki sosial pendukungnya yang berbeda-beda. ada proses transformasi struktural mengenai 21 . gagasan. pasar dan TPI. pola pemukiman.

dan aturan bagi hasil. pembuatan perahu. teknik perkapalan) yang relevan dengan fenomena sosial budaya dan fenomena fisik yang bisa saling interkoneksi dan dikontekskan. Kebudayaan mereka akan terus berlangsung melalui pewarisan kepada keturunan secara vertikal dan juga secara horizontal kepada warga masyarakat lain. ada proses perkembangan internal seperti perubahan tipe bagang tancap ke bagang perahu melalui bentuk-bentuk transisi bagang rakit/apung di Sinjai (Sulawesi Selatan). dan (2) konsep budaya. kalangan akademisi dan organisasi non-pemerintah (Ornop) di samping berpengaruh positif dapat juga negatif bagi tatanan dan dinamika sosia budaya lokal. Akan tetapi penelitian yang mendalam belum menyentuh sebagian besar komunitas yang menghuni 22 . bubu dari Buton (Sulawesi Tenggara). yang sudah pasti menarik perhatian ilmuwan. Pewarisan itu dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. Pengkajian masyarakat dan budaya bahari yang demikian kompleks tersebut. biologi. Di sana ada juga fenomena paternalisme yang melibatkan pemerintah. sebuah bentuk perahu tradisional dari Kalimantan dimodifikasi menjadi tipe jolloro’ di Bira (Bulukumba) kurang lebih dua dekade terakhir. bertahannya tradisi seperti pengetahuan kelautan.kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta jaringan pemasaran. ekologi. 4. Lebih lanjut dalam konteks Indonesia misalnya. Keberadaan pulau-pulau kecil yang dihuni penduduk. meskipun jumlahnya sedikit. sistem sosial dan sistem teknologi yang mungkin khas dan berbeda dengan komunitas lainnnya. bahkan non-sosial (seperti perikanan dan kelautan. yang kemudian memberi kemungkinan kepada kita untuk mengenal kebudayaan yang mereka pertahankan. dan bahkan seringkali ada manipulasi identitas etnis secara sementara atau permanen seperti dilakukan oleh sebagian besar kelompok-kelompok masyarakat Bajo di manamana dalam rangka adaptasi sosial budayanya.1 Keterbatasan Sistem Sosial Budaya Maritim Komunitas-komunitas pantai yang hidup dari sumberdaya alam kelautan dengan alam pikiran mereka dan mengembangkan sistem budaya. menuntut diperlukannya (1) pendekatan studi/kajian multi dan atau interdisipliner yang melibatkan bukan hanya antropologi tetapi juga disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora lainnya. dan proses difusi (persebaran) yang menyolok seperti persebaran rumpon dari Majenne (Sulawesi Selatan). di sana ada wacana tentang kearifan lokal (local indigenious) tetapi banyak kontradiksi dengan fenomena eksploitasi sumberdaya secara berlebih dan komersialisasi dengan segala dampak negatifnya bagi kondisi sosial ekonomi. selain terdapat persamaan terdapat pula perbedaan budaya di antara komunitaskomunitas kelautan itu. lingkungan dan sumberdaya laut (berdasarkan pandangan etik dan emik). model/kerangka penjelasan/analisis yang empirik serta metode koleksi data lebih aplikatif.

sementara di buritan dibangun rumah geladak yang besar. Sulawesi Selatan. Maluku. pada waktu lalu pernah menjadi pemandangan umum di perairan Indonesia. Jambi. pengetahuan tentang tanda-tanda (di laut. nilai. pengetahuan tentang lokasi dan sarang ikan. Kapal Bugis itu kini dilengkapi mesin. sedangkan term ketiga diacukan kepada aktivitas menangkap ikan semata (Nishimura. terutama berkaitan dengan beragamnya kelompok dan kategori sosial yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut serta beragamnya sektor mata pencaharian terkait laut menjadi alasan lebih cocok memilih term ‘budaya bahari’ daripada term-term ‘budaya maritim’ dan ‘budaya marin’ dalam rangka pengkajian ilmiah. karena kedua tiangnya dilepas dan tidak memiliki layar lagi. darat. Kapal yang berbobot puluhan hingga ratusan ton dan bertiang dua serta dilengkapi dengan tujuh layar sekarang sudah tidak kelihatan. ada masyarakat yang hidup di laut dan di pesisir kepulauan Riau. Mereka hidup sepanjang tahun di antara laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Konsep budaya maritim. sehingga sudah sempat direkam dan dapat dilestarikan nilai budayanya. Kearifan lingkungan masyarakat semacam itu perlu kita pahami termasuk komunitas-komunitas kecil yang hidup di pulau-pulau kecil. Sulawesi Utara. Untung saja sudah ada penelitian mengenai phinisi. dan norma/aturan berkenaan dengan pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. Nusa Tenggara Timur. Sistem budaya maritim mencakup sistem-sistem pengetahuan. gagasan. Mereka seringkali berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Selain suku Bajau. Sulawesi Tenggara. angkasa/perbintangan). Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Ratusan kapal Bugis ‘phinisi’ yang tersohor itu. Sistem pengetahuan meliputi antara lain: Sistem pengetahuan nelayan mencakup : pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi tinggi. Akibatnya nilai-nilai budaya mereka lenyap sebelum diteliti dan direkam oleh para peneliti. Term kedua menurut perasaan linguistik Eropa lebih mengacu kepada kegiatan pelayaran. 23 .pulau-pulau kecil. lambungnya dibuat lebih kokoh untuk menahan getaran mesin. pengetahuan tentang musim. 1976). Salah satu bentuk penghargaan itu ialah melalui pelestarian. bahkan di sebagian perairan Asia Tenggara. tidak lepas kompleksitas dari fenomena sosial budaya. keyakinan/ kepercayaan. Jika kedua term asing diaplikasikan secara konsisten. Perubahan-perubahan budaya dapat pula terjadi dengan cepat sekali akibat hubungan-hubungan terbuka dan intensif dengan dunia luar. dan Sumatera Selatan yang kita kenal dengan nama “orang laut”. dan pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya. Mereka hidup mencari nafkah di perairan Nusa Tenggara Barat. “Suku Bajau” yang sebagian besar hidupnya di laut dan bertempat tinggal dalam perahu (rumah perahu). sehingga sering disebut dengan “sea nomad”. Sudah saatnya bagi kita untuk berusaha memahami dan menghargai kebudayaan yang telah mereka kembangkan sendiri dari generasi ke generasi.

dan budaya bahari difahami sebagai sistem-sistem gagasan/ide. Konsep budaya bahari akan mencakup semua fenomena sosial budaya yang kompleks. 1999: 19). kelembagaan. 1996.kedua wilayah tersebut akan saling eksklusif. keseimbangan. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat. teknologi dan seni berkaitan kelautan. nilai. Keesing.Vayda (1988. ketertutupan. Meskipun konsep moderat seringkali dikritik oleh para penganut kognitivisme dan simbolisme karena dinilai mencakup segalanya. 1961: 522. Mengacu kepada konsep tiga wujud dan definisi budaya tersebut. kebudayaan yang mereka pahami ternyata meliputi tiga wujud seperti dikonsepsikan oleh Koentjaraningrat. abstrak dan general. 1992). sistem sosial. totalitas. yang dalam penjelasan tidak atau kurang empirik kiranya bisa diatasi dengan konsep ‘kreasi dan dinamika budaya’ dari Sanjek dan mode penjelasan kontekstualis progresif dari A. namun konsep ‘tiga wujud kebudayaan’ justru sebetulnya memadai sebagai model deskripsi atau analisis karena tidak mengurangi dan tidak melampaui fenomena sosial budaya ke atas dan ke bawah. norma/aturan. simbol komunikatif. prilaku/tindakan dan sarana/prasarana fisik yang digunakan oleh masyarakat pendukungnya (masyarakat bahari) dalam rangka pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan merekayasa jasa-jasa lingkungan laut bagi kehidupannya. Adapun kelemahan-kelemahan dibagi bersama berbagai perspektif berupa asumsiasumsi tentang homogeniti. penjelasan dan analisis fenomena budaya bahari yang kompleks kiranya lebih memadai jika memanfaatkan konsep tiga wujud kebudayaan (sistem gagasan. esensialis. berubah dan bertahannya 24 . yang berarti bagian-bagian tertentu dari kedua subjeknya tereduksi. Memadainya konsep tiga wujud kebudayaan untuk analisis fenomena sosial budaya juga pernah diungkapkan Ignas Kleden dalam acara seminar pada Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia di Hotel Indonesia. 1980:193). Budaya bahari mengandung isi/unsur-unsurnya berupa sistemsistem pengetahuan. Sebuah formulasi batasan budaya secara jelas mencakup ketiga wujud tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat yaitu “keseluruhan sistem gagasan. 1981: 68) dan simbolik (Geertz dalam Harris. Bahkan kalau mendengarkan perbincangan masyarakat lokal pada semua tingkatan. Dalam rangka deskripsi. kepercayaan. 1999: 20) ) atau secara berlebihan menekankan pada pertimbangan rasional biaya dan keuntungan (cost-benefit considerations) seperti dilakukan para penganut materialis budaya (Harris.P. terutama dalam proses dinamika. budaya material) dari Koentjaraningrat daripada melakukan reduksi wujud kedua dan ketiga seperti dilakukan para antropolog kognitif (Goodenough. Kerumitan fenomena sosial budaya. khususnya budaya bahari. normatif.

creolizing. 25 . sehingga perangkat-perangkat proses kreasi tertentu kalau bukan sepenuhnya bisa digunakan sebagai model deskripsi dan eksplanasi dengan konsep atau perspektif budaya tertentu. Sudah tentu untuk melestarikan semua itu perlu lebih dahulu dilakukan penelitian agar dapat direncanakan sumberdaya budaya mana dan masyarakat mana yang perlu lebih dahulu diprioritaskan. dan tekhnologi. dan dapat menyebabkan nilai budaya yang ada dan proses perubahannya tidak sempat dipelajari dan direkam dengan seksama. interpenetrating. tetapi juga karena pengaruh alam di daerah tropis mudah melapukkannnya. crossing its own boundaries. Tujuan pelestarian budaya dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat mereka sendiri dan masyarakat diluar mereka. open rather then closed.sebagaimana digambarkan di muka kiranya dapat dijelaskan dan dianalisis dengan konsep proses kreasi dan dinamika seperti dinyatakan oleh Sanjek (dalam Borofsky. partial rather then total. diverging. Dalam pada itu beberapa aspek kebudayaan masyarakat yang sekarang masih hidup dapat berubah cepat sebagai akibat berbagai pengaruh. meliputi pikiran dan prilaku. diffusing. resisting. 4.2 Pelestarian Sumberdaya Budaya maritim Pada dasarnya sumberdaya budaya masa lalu tidak pernah lengkap. interconnected. bukan saja karena sebagian besar benda dibuat dari bahan yang mudah rusak. hegemonizing. and changing where we do. Tidak menjadi masalah. sesuai dengan yang mereka jalankan selama berabad-abad walaupun saat ini terjadi perubahan kebudayaan. mereka tidak perlu meninggalkan jati dirinya sebagai masyarakat maritim. prilaku sosial dan material. apakah proses kreasi budaya dimaksudkan oleh Sanjek pada dimensi kognitif dan simbolik. dan sebagainya. yang berorientasi kepada kepentingan untuk memupuk jatidiri. 1994: 313) bahwa kebudayaan “is … under continuous creation – fluid. Selama ini banyak nelayan ilegal lokal dan asing yang datang ke pulau-pulau kecil berpengaruh sedikit dan menjadi korban dari tindakan ilegal mereka. justru kemampuan beradaptasi. dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. yang tentu mengurangi nilai kesahihan datanya. atau ketiga wujud gagasan. kecerdasan dan ketrampilan mereka dapat dijadikan contoh dan disebarkan kepada masyarakat lain. Upaya pelestarian masyarakat maritim tidak dimaksudkan untuk menghambat perkembangannya tetapi mengangkat mereka ke dalam taraf hidup yang lebih baik. reformulating. homogenizing.” Kelihatannya kompleksitas proses kreasi dan dinamika budaya tersebut relatif bisa mengenai semua sisi realita sosial budaya. Tingkat keterawatannya rendah. memindahkan. Belum lagi tindakan-tindakan manusia yang merusak. mencuri. persisting where we don’t espect it to.

namun tampak di mana-mana suatu proses dinamika berlangsung cukup pesat. untuk kesejahteraan bersama masyarakat. Tanpa memandang rendah beberapa kearifan lokal masih tersisa. terutama terumbu karang. terkurasnya populasi sumberdaya laut. LSM. berwawasan lingkungan. antara lain seperti sasi (Maluku). aktivitas. Hal ini adalah akibat dari suatu proses dinamika komuniti-komuniti nelayan yang kurang terarahkan secara bijak. penguatan atau revitalisasi sistem-sistem tradisional yang potensial berkaitan dengan pengelolaan 26 . Makassar dan Bajo. tokoh masyarakat. dan lembaga donor ialah menemukan araharah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut secara berkelanjutan. sarana perlengkapan lainnya). sarana dan prasarana pengangkutan dan teknologi eksploitasi sumberdaya (fisik/material). modal. Gagasan muncul kemudian ialah diperlukannya kerjasama dan kelembagaan untuk mengusahakan berbagai keperluan mutlak (sarana/ prasarana fisik berupa perahu/kapal. Pokoknya pola pengelolaan pemanfaatan sumberdaya dan jasajasa laut melibatkan sistem-sistem budaya (kognitif). manusia harus arif dan bertanggungjawab dalam perilaku pemanfaatan sumberdaya laut. Dinamika budaya maritim Indonesia. aturan). far from the throne” menurut Pujo Semedi (2000) atau untuk nelayan Bugis. diasumsikan bahwa keterlibatan dan hubungan manusia dengan lingkungan lautnya didasari dengan pengetahuan dan gagasannya tentang arti dan fungsi (konsumtif dan non-konsumtif) dari sumberdaya dan lingkungan laut bagi kehidupannya. jauh dari negara. mereka itu “closed to the stone. Tumbuhkan pandangan dan kesadaran bahwa sumberdaya laut rentan terhadap ancaman perilakuperilaku tertentu. teknik rumpon nelayan Mandar (Sulawesi Selatan). panglima laut di Aceh. tepatnya “dekat ke ponggawa/bos. lembaga kerjasama pengelolaan modal ponggawa-sawi (Sulawesi Selatan). konflikkonflik antar kelompok-kelompok nelayan. meskipun dinamika budaya bahari komunitikomuniti nelayan di Indonesia selama ini tidak atau masih sangat kurang mendapat pengarahan dari pemerintah. Menumbuhkan dan revitalisasi kelembagaankelembagaan tradisional yang menekankan moral pemerataan atau keadilan dalam kesempatan berusaha dan pembagian hasil. kelembagaan (kelompok/organisasi.” Apa yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak berkepentingan seperti pemerintah. pengelolaan komunal tradisional di Kapuas Hulu (Kalimantan). kerusakan ekosistem laut. pembentukan institusi baru. ternyata bahwa proses dinamika. jadi tanpa perlakuan bijak kondisi sumberdaya laut akan menjadi semakin berkurang/terbatas.Wujud dan karakteristik budaya komuniti nelayan. modernisasi dan globalisasi banyak membawa dampak-dampak negatif berupa kemiskinan ekonomi sebagian terbesar penduduk nelayan tradisional skala kecil. sarana eksploitasi sumberdaya. mengubah pandangan budaya dan praktek akses terbuka/ bebas ke penguatan hak-hak pemilikan. kalangan akademisi.

nasional dan global yang tidak semata dikendalikan kekuatan-kekuatan eksternal. saling terkait. segala contoh nyata yang memberikan makna praktis bagi mereka niscaya akan dinilai tinggi dan diperebutkan. Dominasi budaya pedalaman makin menguat ketika tampilnya dinasti penguasa baru yaitu Mantaram (Mataram) yang menggeser kekuasaan Pajang. (2) budaya keraton (Mantaraman) dengan budaya rakyat. Politik kebudayaan jawa Mataram mencoba membuat jarak dengan budaya pesisir dengan meletakan laut sebagai sesuatu yang disakralisasikan. Kemenangan Adiwijaya membuat pusat pemerintahan bergeser dari Demak. dan saling mempengaruhi. 27 . Konflik budaya pedalaman dan pesisiran bermula ketika kekuasaan Demak sebagai pengganti kekuasaan Majapahit menjadi lemah dan akhirnya jatuh ke tangan Pajang (Adiwijaya atau Mas Karabet). dominasi pola-pola budaya pedalaman mulai mewarnai kebudayaan jawa. 4.3 Konflik Budaya Maritim Secara historis akar konflik kebudayaan Jawa berupa pertentangan budaya antara (1) budaya pedalaman dengan budaya pesisiran. Laut sebagai basis budaya pesisir dan eksistensi wali sebagai salah satu unsur legitimasi kekuasaan mulai diabaikan. Ketiga konflik ini terjadi bersama-sama. tetapi sekaligus hal ini memencilkan laut (dan pesisir) dari persinggungan budaya yang lebih luas. pusat kekuasaan Jawa sebagai pusat kebudayaan semakin ditarik ke pedalaman. Kedua tokoh yang paling berpeluang sekaligus berambisi untuk menduduki takhta kerajaan yakni Mas Karebet (Adiwijaya) dari Pajang dan Arya Penangsang dari Jipang. sebagai suatu misteri yang merupakan sumber kekuatan dan inspirasi para raja Mataram sehingga laut menjadi hal yang amat suci. Dalam wujud teknologi perlu pengembangan teknologi perikanan tangkap ramah lingkungan. yakni Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Suksesi kekuasaan yang terjadi dari Demak ke Pajang menjadi awal sejarah Jawa bagaimana kaum ulama (agama) terseret ke dalam arus pertikaian politik dan kekuasaan. Karena budaya bahari adalah pragmatis. Sunan Kudus sebagai guru dari Arya Penangsang sebenarnya merupakan wakil budaya pesisiran yang berhadapan dengan Sunan Kalijaga dan Adiwijaya yang merupakan presentasi dari budaya pedalaman. pendiri kerajaan Mataram. yang berorientasi ke pesisir. beralih ke Pajang yang lebih memilih pedalaman sebagai basis kekuasaan sekaligus basis kebudayaan. Melalui Sutawijaya. regional. serta membangun institusi pasar lokal. dan (3) budaya santri dengan budaya abangan. Dengan demikian. masing-masing mempunyai beking wali. teknologi pascapanen.pemanfaatan sumberdaya dan jasa-jasa laut. pengembangan teknologi budidaya dan semi-budidaya.

dipentaskan. Orientasi mitologis ini terlihat dengan dimunculkannya mitos Nyai Roro Kidul (Ratu Kidul) dan munculnya Babat Tanah Jawi yang di dalamnya memuat silsilah pendiri Mataram yang dikaitkan sekaligus mencampur adukkan tokoh mitologis dengan nama-nama nabi. hati-hati. Kesenian dalam kosmologis keraton merupakan kesenian yang mengalami sofistikasi. maka kesenian rakyat atau pesisiran berlangsung dengan suasana pesta dan hiruk-pikuk yang kemudian menghadirkan suasana yang serba primitif. sangat menutup kemungkinan improvisasi. selaras. pencanggihan. dan ditonton oleh pihak keraton. Karena itu. Tari bedhaya misalnya. 28 . dan lain-lain) dianggap sebagai kesenian “resmi” dan adiluhung. sedangkan kesenian lain di luar wilayah keraton dianggap sebagai seni pinggiran yang secara estetis dan etika di bawah kesenian keraton. yang merupakan penguasa. merupakan tarian sakral yang hanya boleh dilakukan. tandak. Keraton merupakan sentrum dan daerah yang berada di luar keraton (mancanegara. kecanggihan. dan kerumitan yang menjadi ciri kebudayaan keraton. Muncul kesenian-kesenian rakyat yang merupakan produk dari sistem masyarakat grass-root yang menafikan keteraturan. Perbenturan budaya pesisir dan padalaman melahirkan konflik budaya baru. yang hingga saat ini masih mewarnai budaya berpikir penguasa-penguasa kita. Kehalusan. Ini terjadi ketika budaya pedalaman semakin kokoh dan kekuasaan Mataram membuat benteng budaya baru berupa keraton dan pembagian daerah keraton. janger. pesisir. brang wetan. dan teratur. Timbul kesenian-kesenian tayub. Kesenian keraton menjadi kesenian yang mengambil jarak sedemikian rupa dengan kebudayaan dan masyarakat di luar keraton. Masyarakat di luar keraton dianggap tabu untuk menyelenggarakan atau melakukan kesenian produk keraton.Kerajaan Mataram menumbuhkan pola pikir budaya dan politik yang selalu berorientasi dengan mitologi. dan sejenisnya. keekspresifan. sekaligus pensakralisasian. dan keteraturan yang menjadi standar estetika budaya keraton di lawan dengan kebebasan. Kesenian keraton di luar wilayah keraton menemukan tandingannnya dengan munculnya kesenian-kesenian baru yang terutama sekali menemukan lahan subur di wilayah pengaruh budaya pesisiran. ledek. Dengan demikian estetika kesenian rakyat atau pesisiran secara sadar mendudukkan dirinya sebagai kesenian atau kebudayaan massa. dan kebebasan improvisasi. Apa yang terdapat dalam Babat Tanah Jawi sebenarnya merupakan pengulangan dari apa yang dilakukan oleh Ken Arok pendiri Singasari yang memanfaatkan teks sastra (Pararaton) sebagai sarana legitiminasi kekuasaannya. Tari bedhaya sebagai kreasi kesenian keraton memformulasikan diri sebagai sesuatu yang serba halus. yakni budaya tradisional/rakyat dengan budaya keraton. kerumitan. Apabila kesenian keraton bersikap tertutup dan masyarakat suasana yang khusus. perumitan. ronggeng.

yang sedikit atau banyak berbeda dengan komuniti lain yang sama-sama merupakan bagian dari suatu masyarakat luas yang sama. Pada titik ini kesenian keraton lebih menekankan kesenian atau estetika dalam bingkai politis dan filosofis. dari waktu ke waktu dapat memperoleh tantangan-tantangan yang berbeda. Sebagai contoh dapat disebutkan bagaimana sebuah masyarakat ‘maritim’ seperti orang Bugis dapat mengembangkan varian-varian budaya masing-masing di Sape (Bima). serta menyempit atau meluasnya peluang-peluang ekonomi. Tripama. beserta segala benda budaya yang terkait dengan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan laut. Dengan catatan ini. sedangkan kesenian rakyat (pesisiran) lebih menekankan pada fungsi ekonomis. dan Johor. perilaku manusia. semua itu dapat memberikan pengaruh dan menjadi faktor pengubah kepada kebudayaan walaupun pendukung kebudayaan tersebut tetap tinggal dalam suatu lingkungan alamiah yang sama. perubahan konstelasi politik. Kebudayaan itu senantiasa berada dalam proses dan tegangan antara bertahan dan berubah. pandangan. Perkembangan ilmu. kiranya dapat diantisipasi bahwa berbagai masyarakat nelayan ataupun masyarakat maritim pada umumnya. dan di dalamnya membentuk kebudayaan dari waktu ke waktu. sebagai fungsi dari faktor-faktor historis dan peluang-peluang berasimilasi. Kebudayaan santri sebagai kebudayaan baru yang sebenarnya muncul dari daerah pesisiran. tetapi dari lingkungan pengaruh kuat agama Islam menganggap estetika kebudayaan rakyat (yang kemudian disebut pula dengan abangan) sebagai sebuah kesenian yang terlampau primitif. Donggala. dan serat-serat Ronggowarsito merupakan produk keraton yang isinya hampir semua menceritakan dan mengatur perilaku rakyat terhadap penguasa atau perilaku penguasa terhadap rakyat. perkembangan keagamaan dan ideologi. Konflik budaya tidak saja terjadi antara kebudayaan rakyat dengan budaya keraton.4 Pengembangan Sosial Budaya Maritim Subyek kajian maritim yang bersifat sosial-budaya adalah segala pemikiran. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya pujangga keraton yang digaji untuk berkarya. 29 . Komuniti dalam lingkungan alam-sosial budaya tertentu dapat mempunyai ciri-ciri yang khas. Produk-produk sastra kepujanggaan seperti misanya Wedhatama.Kebudayaan keraton juga memunculkan fenomena baru di mana pihak penguasa dapat mensahkan kehadiran seorang kreator seni sebagai abdi atau pegawai keraton (penguasa). Sebagaimana diketahui. manusia hidup dalam suatu masyarakat. tetapi juga antara kebudayaan rakyat dengan kebudayaan santri. 4. Dalam satuan yang lebih kecil hal itu dapat disimak pada komuniti-komuniti khusus di dalam suatu masyarakat.

proses menjadi bangsa Indonesia yang merupakan persatuan dari suku-suku bangsa yang terikat . hubungan perseteruan tradisional harus diubah menjadi hubungan saling memahami. dan dapat dihayati sebagai sesuatu yang meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka. sedangkan disisi lain terdapat tujuan pelestarian budaya yang dapat ditempuh dengan cara pemberdayaan maupun perangsangan perubahan. senantiasa harus menjadi tolok ukur utama.5 Pengembangan Teknologi dan Budaya Maritim Sebagaimana difahami bersama. eksistensi budaya bahari baik dalam bentuk tradisonal maupun dinamikanya hanya bisa dipahami dalam konteks eksternalnya. Di antaranya. sedemikian rupa sehingga kebudayaan itu dapat lestari eksistensinya tanpa harus macet dan tak mampu menghadapi tantangan-tantangan baru. hubungan persekutuan terbatas harus diubah menjadi terbuka. yang darinya kita bersama dapat memperoleh kearifan dan wawasan. mengharuskan adanya restrukturisasi hubunganhubungan lama ke dalam hubungan-hubungan baru. dan kesetaraan dengan komuniti-komuniti lain menjadi tolok ukur penyertaannya. yaitu Republik Indonesia. Demikian pula daerah-daerah jelajah tradisional di laut dari komuniti-komuniti etnik yang berfokus maritim senantiasa dalam proses dinegosiasikan kembali dengan adanya ketentuan-ketentuan hukum nasional maupun internasional.Pandangan dan penyikapan terhadap berbagai masyarakat etnik kelautan Indonesia perlu dibedakan atas dasar tujuan orang menghadapinya. Pencapaian-pencapaian budaya yang unggul dari masyarakat maritim tradisional kita dapat dibela dengan berbagai upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi dengan memanfaatkan ilmu-ilmu baru yang terkait. Dalam hal ini manfaat bagi komuniti yang bersangkutan. Tradisi dan dinamika budaya maritim dalam konteks eksternal dan modern.dan semua itu menyangkut hubungan di darat maupun di laut. 4. ditinjau dari segi lahiriah maupun batiniah. Seperti halnya 30 . Dalam hal ini perlu dilakukan pendampingan disertai pengkajian mengenai kesiapan mereka untuk berubah. cara-cara hidup maupun teknologi tradisional yang menunjang kehidupan maritim di sana-sini perlu mendapat penyimakan kembali secara diperhadapkan dengan perkembangan ilmu dan tata ekonomi masa kini. Proses perubahanperubahan itu sendiri merupakan suatu subyek pengamatan. di dalam suatu kesatuan kenegaraan baru. lahir dan batin. Yang penting. Di samping itu. perubahan-perubahan itu harus terasa bergerak dari dalam komuniti itu sendiri. Di satu sisi ada tujuan ilmiah yang sasarannya adalah untuk memperoleh kebenaran-kebenaran ilmiah berupa data dan fakta mengenai peri kehidupan kelautan dalam segala aspek. Namun apabila ada segi-segi budaya yang dirasa tidak relevan lagi (seperti tiadanya kesempatan pendidikan umum bagi anak-anak nelayan) kiranya perlu dirancang suatu pengalihan cara hidup yang diterima oleh komuniti yang bersangkutan.

sirip hiu. Pada mulanya nelayan tidak banyak tahu dan memperhatikan spesis teripang karena tidak bernilai. Biota ini mulai dicari ketika kapal-kapal dagang Cina yang ramai berlabuh di Pelabuhan Kota Somba Opu (pusat kota Kerajaan Makassar yang jaya hingga abad ke17) di abad ke-17 mencari komoditi ekspor. penyu. nutrisi. hubungan-hubungan produksi (ke dalam dan ke luar) dan distribusi (termasuk aturan bagi hasil). Hongkong. melainkan fenomena lama yang bisa dilacak ke beberapa dekade bahkan beberapa abad ke belakang (backward in time) dan melacak jaringan perdagangannya ke luar (outward in space) hingga melampaui batas-batas negara ke pasar ekspor seperti Singapura. termasuk hasil-hasil laut seperti teripang. tetapi juga dalam konteks eksternal. 1987). Pedagang asing tersebut sebetulnya digerakkan oleh fungsi teripang yang konon bagi orang Cina di samping sebagai santapan enak. 1976. Meningkatnya jumlah konsumen. dan ditingkatkan lagi di awal periode 1990-an dengan mengganti tangki/tabung gas dengan kompresor. dengan pedagang Cina. tembikar. Seiring dengan proses adopsi sarana selam modern ialah modernisasi perahu-perahu nelayan dengan pemasangan motor tempel (outboard 31 . terbentuknya varisi baru dalam struktur kelompok kerja nelayan. yang biasa ditukar langsung dengan barang-barang rongsokan: pakaian. 1996). pengaktifan fungsi sarana tangkap tradisional dalam situasi modern. dan lain-lain. vitalitas. dan lainlain (Macknight. Demikian juga pedagang Cina-lah yang mengajarkan sorting menurut tingkatan nilai tukar dari yang paling tinggi hingga yang rendah. Sutherland. Taiwan. pedagang dalam negeri dan dari negara tetangga terlibat dalam jaringan pasar komoditi tersebut mendorong adopsi inovasi perangkat alat selam berupa tangki/tabung gas yang digunakan oleh penyelam dari Pulau Sembilan sejak awal periode 1980-an. agar-agar. lilin. namun kondisi permintaan pasarlah yang banyak menyumbang kepada pengayaan hingga mencapai tidak kurang dari 40 jenis teripang. Korea dan Jepang. dan menambah keperkasaan laki-laki (Akimichi. Pada mulanya pengusaha Cina dari Makassar membawa langsung pelatih selam yang kemudian merekrut dua atau tiga pembantu lokal yang lebih dahulu terampil menggunakan perangkat alat selam modern tersebut. memperpanjang umur. Bajo dan Makassar dari Sulawesi Selatan tidak cukup hanya difahami dalam konteks sosial budaya lokal. porselin. sarang burung walet. Pengenalan nelayan pada prilaku dan habitat teripang. RRC. juga sebagai bahan obat-obatan untuk kesehatan. karena kenyataan lapangan memang menunjukkan fenomena yang demikian. semua ini merupakan kontribusi awal dari hubungan dengan dunia luar.prilaku penyelaman teripang oleh nelayan-nelayan Bugis. Meskipun digunakan nama-nama lokal terhadap spesis-spesis ini. Pengetahuan dan praktek menyelam mencari tripang bagi mereka bukanlah fenomena baru.

Dan Mulailah sejarah budaya tentang lobster dan ikan hidup (kerapu. Ketika komoditi lobster dan ikan hidup laku di pasar ekspor (Hongkong dan Singapura). Sebaliknya terbentuknya berbagai strategi/taktik sebagian nelayan untuk mempertahankan aktivitas ilegalnya seperti membom dan membius atau berhentinya sebagian di antara mereka dari aktivitas ilegal tersebut dipengaruhi oleh aturan hukum 32 . transformasi struktural kelompok ponggawa-sawi. dan merosotnya secara drastis populasi teripang dari berbagai spesis dan kerang (mutiara. Meningkatnya permintaan lobster dan ikan hidup di pasar ekspor sebenarnya disebabkan oleh faktor terjadinya perubahan pola makan kelas konsumen elit di negara-negara pengimpor dari mengkonsumsi hasil laut dalam kondisi segar yang sudah dihidangkan di meja restoran Sea-food ke model baru di mana para pengunjung terlebih dahulu memancing ikan atau lobster hidup dari kolam-kolam penampungan lalu diolah dan disajikan para pelayan menurut selera pengunjung masing-masing. Konteks birokrasi melalui pelaksanaan kebijakan pemerintah juga menyumbang kepada perubahan-perubahan keputusan dan prilaku nelayan melalui respons-respons ide dan sikap-sikap (menerima atau menolak). lola) yang diambil dari kawasan taka-taka Pulau Sembilan. bahkan mengunjungi Australia di akhir tahun 1980-an hingga paruh pertama tahun 1990-an. Pola makan baru di restoran-restoran Cina seperti ini di samping terkait pada nilai kenikmatan santapan. juga karena ini dapat memperkuat status sosial konsumennya (Akimichi. sebagian terbesar nelayan penyelam kembali lagi ke Pulau Sembilan dan beralih ke usaha lobster dan ikan hidup. sunu. Demikianlah kedua faktor situasi pasar yang tetap membaik dan kondisi terkurasnya sumberdaya laut setempat pada akhirnya mendorong kelompok-kelompok penyelam dari Kambuno dan Kodingare terpaksa melakukan ekspansi area penangkapan (fishing gruonds) ke tempat-tempat lainnya di Sulawesi Selatan dan berbagai provinsi lainnya terutama di kawasan Timur Indonesia. napolen). kemudian dilakukan peningkatan kapasitas muat perahu dengan peningkatan kekuatan mesin dipasang pada bagian dalam bodi perahu (inboard motor). 1996). Motorisasi perahu dan adopsi gae (istilah Bugis) atau rengge (istilah Makassar) sejenis pukat apung raksasa (purse seine) yang merupakan teknik tangkap andalan untuk ikan pelagik (terutama layang) di Sulawesi Selatan sebetulnya diperkenalkan oleh dan melalui jalur promosi pemerintah di tahun 1970-an. Bagaimana kedua komoditi yang pada mulanya melimpah di taka-taka Pulau Sembilan karena tidak mempunyai nilai tukar dan hanya sedikit dimakan karena oleh sebagian besar penduduk pulau merasakan itu menjijikkan atau menganggap menyebabkan kebiasaan malas jika dimakan pada akhirnya hanya memerlukan sekitar tujuh tahun saja populasi spesisspesis ini merosot drastis karena sebagian terbesar nelayan setempat dan pendatang menangkapnya. Adopsi inovasi teknologi dan peningkatan kapasitas muat perahu yang berarti peningkatan skala investasi usaha berkonsekuensi pada terjadinya proses penetrasi kapitalisme.motor).

dan wawasan global terutama melalui wacana berkembang dalam dunia Ornop sendiri. batu laga.7 1987. kima. sirip hiu. Kembalinya semua perahu nelayan cantram Galesong Utara (Takalar) akhir-akhir ini (akhir Desember 2002) dari Sinjai disebabkan oleh penolakan masyarakat nelayan setempat (didukung oleh pemerintah daerah setempat) terhadap penggunaan teknik (menyerupai pukat harimau mini) yang bisa dengan cepat menguras berbagai jenis biota laut dan merusak kondisi dasar. tripang.330/DJ. budidaya teknik keramba. lembaga perguruan tinggi.HK. Periode 1990an merupakan periode mulainya keterlibatan secara meluas berbagai Ornop di desa-desa nelayan pantai dan pulau-pulau di Indonesia. lobster (segar dan hidup) dimungkinkan oleh kerjasama dagang antar negara dengan penerbitan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP). Demikian juga berbagai praktek ekonomi nelayan baru seperti budidaya rumput laut. Berbagai kebijakan pemerintah (tentang pelarangan atau pembangunan). ikan (segar dan hidup). terkecuali bagi usaha-usaha nelayan kecil (antara lain diatur dalam Amandemen Peraturan Dirjen Perikanan No. khususnya komuniti-komuniti nelayan. Penjelasan prilaku dan poses dinamika sosial budaya komuniti-komuniti nelayan juga sedikit banyak dikontekskan pada kehadiran berbagai Ornop di sana. kelestarian sosial budaya dan lingkungan fisik. merupakan bagian dari studi/praktek lapangan atau pengabdian masyarakat dilakukan oleh peneliti atau praktisi dari lembaga perguruan tinggi. Eksploitasi berbagai spesis laut untuk komoditi ekspor (seperti. isi dan formulasinya banyak mengacu kepada rekomendasi peneliti dari lembaga perguruan tinggi berdasarkan hasil penelitian ilmiah. menangkap ikan napoleon (untuk ukuran tertentu). peningkatan sumberdaya manusia dan keterampilan penduduk. penetasan telur dan pembesaran bibit bandeng dan udang di Indonesia. Ikut berpengaruh pada berhentinya sebagian besar nelayan mengambil batu karang.I Sulawesi Selatan No. 33 . keramba penampungan ikan dan lobster hidup. termasuk di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu perguruan tinggi sebagai penggagas ide dan inovator teknologi merupakan konteks eksternal bagi proses dinamika sosial budaya masyarakat bahari. penumbuhan jiwa demokrasi. penyu. biasanya meramu wawasannya dari masyarakat lokal. ikan hias) di kawasan lindung seperti Pulau Kapoposang (Pangkep) dan Taman Nasional Taka Bonerate ialah usaha-saha penyadaran lingkungan dilakukan oleh LP3M dan WWF dengan penyebaran poster-poster jenis-jenis biota laut langka dilindungi dunia.(antara lain: Peraturan Pemerintah Daerah TK. termasuk Sulawesi Selatan. kerang (mutiara. lokasi. dan prosedure menangkap napoleon wrasse). tentang skala. tentang larangan pengambilan dan pengrusakan terumbu karang di sepanjang perairan pantai Sulawesi Selatan) dan cara-cara pengawasan oleh para penegak hukum di setiap wilayah tugasnya masing-masing. lola). Ornop dengan paradigma keberpihakan kepada kepentingan rakyat mengemban visi dan misi pokok pada peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi. rumput laut.8259/ 95. telur ikan. kerang mata tujuh.

pulau. tetapi juga oleh kelompok-kelompok nelayan desa-desa pantai Teluk Bone (Sinjai. pencari kerang mata tujuh dari Buton (Sultra) dan Palu di tahun 1990-an. Sebetulnya lembaga asosiasi di Maluku muncul sebagai mekanisme masyarakat lokal merespons pasar global sejak ratusan tahun silam (Zerner. antar pulau. pandangan. pelatihan keterampilan. namun dalam budaya bahari kebanyakan komuniti nelayan masih ada banyak unsur-unsur pengetahuan. kelembagaan dan teknologi eksploitasi bertahan dan difungsikan. pengguna bubu. nelayan ikan hias dan pemburu penyu dari Bali di tahun 1990-an. pemukat. Demikian halnya jaringan pemasarannya hanya mencapai pasar dan konsumen regional. Bone. Bahkan gagasan dan praktek menambang batu karang dan pasir di taka-taka oleh penduduk pulau-pulau di kawasan karang yang sudah berlangsung puluhan atau ratusan tahun lalu. penyelam tripang dan mutiara dari Selayar. pembentukan kelembagaan. namun konteks eksternalnya tidak melintasi batas-batas fisik dan sosial budaya jauh ke luar. bahkan lokal saja. Bulukumba Timur). Pangkep. 2001). Luwu. etnis dan provinsi berdekatan. Takalar. namun kepentingannya semata untuk pembangunan pemukiman penduduk lokal. dan penyelam tripang dari Madura sejak tahun 2000 hingga sekarang. Meskipun telah terjadi modernisasi perikanan dan adanya pengaruh pasar globalisasi yang kuat. Nasional dan Internasional (WWF) (Osseweijer. jadi konteks penjelasannya internal. 1994). Hal mana juga dilakukan di kawasankawasan karang lainnya seperti Biak dan Maluku dengan keterlibatan LSM lokal. dan sebagainya yang sudah berlangsung cukup lama. WWF dan LP3M mencoba menggalang sebagian masyarakat nelayan di beberapa desa pulau untuk terlibat dalam berbagai program kegiatan meliputi penyadaran lingkungan. nelayan pulau-pulau dari Kodya Makassar. Hingga seberapa jauhkah ke belakang dan ke luar benangbenang pengaruh kontekstual perlu dilacak? Ternyata ada juga konteks historik dari prilaku eksploitasi sumberdaya laut yang perlu dilacak jauh ke belakang. pengelola bagang dan rumpon. Fenomena ini bisa ditunjukkan antara lain pada komuniti nelayan Liang-liang (Pulau Sembilan) yang tetap mempertahankan pengelolaan 34 . Misalnya kawasan taka Pulau Sembilan bukan hanya dieksploitasi oleh penduduk nelayan setempat. Aturan penguasaan dan pemanfaatan sumberdaya laut secara terbuka (common property right/open use) juga menyebabkan suatu lokasi dieksploitasi secara bersamasama.Di Kawasan Taka Bonerate misalnya. namun asal mula dan proses kemunculannya hanya melintasi batas-batas daerah. pembentukan dan pengelolaan zona-zona perlindungan terumbu karang dan biota-biota langka berasosiasi karang. demikian juga munculnya lembaga ponggawa-sawi di Sulawesi Selatan sebagai respons pelaut atau nelayan terhadap permintaan pasar global akan hasil-hasil laut komoditi ekspor sejak abad ke-13 atau 14 silam. Ini dicontohkan pada praktek pemancing ikan-ikan campuran.

Pangkur.van Kampen) Linggis. namun kurang dari segi ukiran dan motif-motif gambar bermakna. p.tonda. Di Sulawesi Selatan.rintak. Teknologi penangkapan ikan di Indonesia (lihat P. p. Pinisi adalah salah satu tipe perahu Sulawesi Selatan yang konstruksinya memang bagus. p.van Kampen. sero/belle’) Alat tusuk (di Sulawesi Selatan: tombak. p. perahu-perahu tradisional mulai dilengkapi dengan motor (motor tempel dan motor dalam) di awal tahun 1970-an.labuh. panambe) Pancing (di Sulawesi Selatan: p. bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau di Nusantara ini. lanra.N. Leti-leti Jawa Nade Sumatra Jukung Jawa. menangkap/memungut dengan tangan (tidak tercantum dalam karangan P. Teknologi kemaritiman. parang. Meskipun dikelilingi oleh kelompokkelompok nelayan pengguna bahan peledak dan bius. nelayan Jawa dan Madura cukup kaya dengan alat tangkap pukat.kopek. ladung) Teknik lainnya (di berbagai tempat: bahan peledak.N. bius) Alat selam: tabung.kedo-kedo) Perangkap (di Sulawesi Selatan: Bubu.besar. Golekan. Lambo Buton Sandeq. p. 35 .N. p. Berbagai tipe perahu tradisional milik kelompok-kelompok etnis di Indonesia antara lain sebagai berikut: Pinisi Bugis P.dedang. p. Sebagian besar dari jenis-jenis pukat tersebut masih digunakan sebagian besar nelayan Jawa dan Madura hingga sekarang ini. namun mereka tetap mempertahankan sistem-sistem tradisionalnya. Pajang saja mempunyai jenis (p.pemanfaatan sumberdaya kawasan karang secara tradisional dan arif. keseimbangan dan kecepatan. Konstruksi ini lebih mengutamakan fungsi daya muat. gae.krakat. akhir 1980-an) Janggolan Madura Janggolan Bali Mayang Jawa Prahu jaring Madura Lisalis. sektor-sektor ekonomi perikanan dan usaha transportasi/pelayaran masih selalu merupakan sektor-sektor andalan yang bertahan dan berkembang dengan teknologi pelayaran dan penangkapan ikan tradisional dalam berbagai bentuk dan arsiteknya.peperek. Secara kolektif mereka tetap mempertahankan lokasi-lokasi dan sarang-sarang ikan yang dimiliki sejak dahulu dan tetap menggunakan pancing labuh. Bago Mandar Bagan Bugis Jolloro (tipe terbaru. kompresor (tidak tercantum dalam P. p.van Kampen. 1909) secara garis besar dikategori ke dalam: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Net (di Sulawesi Selatan: panjak. p.arad.bhanton). Patorani Makasar Lambo Mandar. pattek. Salah satu ciri khas perahu Jawa dan Bali ialah penuh dengan ukiran dan gambargambar binatang menggunakan kombinasi warna mengandung berbagai makna simbolik. para pengusaha dan agen eksportir dengan mana tangkapan ikan dan lobster hidup dijual.

karena tidak seorangpun yang memilikinya dan menguasainya. kelompok yang memandang kawasan laut sebagai daerah pemukiman. Pertama. laut merupakan tapal batas wilayah kekuasaan. Dalam memandang kedudukan kawasan laut. 36 . setidaknya dapat diklasifikasi kedudukan laut dalam empat kategori. ketika kegiatan perdagangan maritim berkembang yang diikuti dengan usaha mencari produksi-produksi primadona dalam dunia perdagangan. Gelombang yang dahsyat dan arus laut yang menghanyutkan merupakan ancaman malapetaka bagi setiap orang yang pergi ke laut. Prinsip mare liberium ini pada gilirannya mempengaruhi tatanan masyarakat yang menginginkan pembebasan diri dari kehidupan pemerintahan yang bersifat otoriter dan mengeksploitasi penduduknya. Kedua. Kategori keempat yang menyatakan bahwa laut dipandang sebagai daerah strategik politik bagi penguasaan sumber-sumber kesejahteraan dan kekuasaan.6 Masyarakat Suku laut dan Otonomi daerah Kawasan laut dipandang sebagai kawasan yang bebas. dan tidak ada larangan bagi siapapun untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber-sumber laut. kawasan jalur lalulintas pelayaran yang menghubungkan antar daerah dan pulau. sementara kerajaan Spanyol ke arah barat. turun ke laut dan menjadikan laut sebagai kawasan pemukiman mereka. yang berkaitan dengan pemguasaan komoditi dagang tertentu. Dalam perjanjian itu dinyatakan bahwa kerajaan portugis memperoleh kekuasaan atas wilayah perairan dari eropa ke arah timur. keinginan untuk menguasai laut terjadi. laut sebagai infrastruktur. Setiap orang dapat dengan bebas menggunakan kawasan laut. tercatat bahwa usaha untuk memilah wilayah laut mulai terjadi ketika dicapainya perjanjian tordesilas pada tahun 1492. Pandangan demikian itu kemudian dikonsepsikan dengan istilah “mare liberium” atau laut bebas. Dalam perkembangan kemudian.4. Secara historis. Ketiga. Prinsip mare liberium itu juga pada dasarnya di pengaruhi oleh pandangan yang menempatkan wilayah laut dan lautan adalah kawasan yang penuh tantangan dan maut. maupun dijadikan infrastruktur pelayaran maritim. Keempat. laut adalah kawasan yang menyediakan sumber kehidupan. Dalam banyak hal prinsip-prinsip mare liberium dan mare clausum dalam perkembangannya menunjukkan pada penguatan pandangan laut sebagai strategi politik. Pengaturan atas wilayah laut itu dikenal dengan konsep mare clausum atau laut tertutup. Prinsip mare clausum itu diikuti pula dengan konsep monopoli (berdagang sendiri) yang berkembang pada periode awal perkembangan perdagangan maritim.

mengumpulkan dan memperdagangkan produksi ikan laut. Kegiatan pengembaraan mereka di laut mengalami pembatasan. Tampaknya UU tersebut cenderung berpegang pada prinsip mare clausum. Sebelum UU No. 32 tahun 2004 diberlakukan. mencari. kehidupan suku laut dan nelayan masih cukup lapang. sehubungan dengan pengaturan wilayah laut dan pembatasan ke wilayah perairan pemerintahan lain. 32 tahun 2004 mengatur tentang kewenangan daerah dalam mengatur wilayah perairan laut. Mereka masih berpeluang mengembara di perairan wilayah nusantara. UU No. oleh karena terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kondisi muson dan pasang surut laut yang mempengaruhi kegiatan usaha masyarakat suku laut ini memberikan gambaran kepada kita bahwa waktu kerja mereka sangat singkat. Kegiatan masyarakat marine (masyarakat suku laut) bergantung pada kondisi angin muson dan pasang surut air laut. Implikasi dari terbatasnya ruang gerak masyarakat suku laut tersebut mendorong mereka untuk melakukan eksodus ke negara lain atau senantiasa melakukan “pelanggaran” perairan antar daerah. 37 .Masyarakat suku laut mata pencaharian utama mereka adalah nelayan. dan hal inilah yang mendorong mereka mengembara di perairan untuk mendapatkan tempat bagi kegiatan kerja mereka. 22 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi UU No. dengan demikian pada gilirannya dapat memudarkan kegiatan suku laut dan juga nelayan di wilayah kabupaten dan kota.

Pemetaan kawasan laut dilakukan untuk kepentingan pembangunan di laut. Hasil pemetaan berisi tentang kekayaan sumber daya alam hayati dan nir hayati. pulau-pulau kecil. pelabuhan dan setiap perubahan alur pelayaran dan hasil pemetaan ini dilaporkan ke Organisasi Maritim Internasional (IMO). Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut. Pemetaan wilayah laut ditugaskan kepada lembaga hidrografi. pulau buatan. Bertitik-tolak dari pengertian ini maka kebijakan kelautan harus mendudukan perairan laut sebagai unsur pemersatu bangsa. juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. Sekalipun 38 . Lembaga yang memegang otoritas maritim wajib mengambil tindakan kepada pelanggaran garis batas wilayah laut sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian pertanyaan yang timbul adalah dimanakah kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal di tempatkan? Kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal tentunya harus diperhatikan dan dijadikan pertimbangan penting dalam proses perumusan kebijakan nasional kemaritiman. Dalam otoritas maritim. Dan dalam pemetaan wilayah laut dilakukan setiap kali ada perubahan kontur pantai. Untuk penetapan garis batas wilayah laut Indonesia dengan negara tetangga ditetapkan oleh ke dua negara melalui perjanjian bersama dan Pemerintah Indonesia menugaskan institusi tertentu yang berwenang melakukan ketetapan garis batas wilayah laut dengan negara tetangga. pemeliharaan dan pelestarian lingkungan laut. yang menyatukan seluruh pulau-pulau di wilayah nusantara. dan fasilitas keselamatan maritim. sarana bantu navigasi. Wilayah laut meliputi dua per tiga wilayah Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 81.000 Km terpanjang ke dua di dunia dan sumberdaya alam hayati dan nir hayati yang dapat dimanfaatkan untuk menambah devisa negara dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. sedangkan kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara politik menjadi tujuan pendukungnya. Pemerintah Indonesia wajib membentuk satu lembaga yang memegang otoritas maritim. Hasil pemetaan berisi informasi tentang titik koordinat batas wilayah dengan negara tetangga.BAB 5 WILAYAH DAN KAWASAN MARITIM Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya terdiri dari lautan dan memiliki ribuan pulau. Dalam konteks ketatanegaraan yang lazim dan universal maka kepentingan nasional ditempatkan sebagai tujuan utama.

sehingga kapal-kapal perang asing tidak bebas lagi melintasinya. tentunya harus dapat menterjemahkan pengertian Maritim Indonesia sebagaimana dijelaskan sebelumnya. d.demikian tetap disadari bahwa tanpa terpenuhinya kepentingan daerah dan kebutuhan masyarakat lokal secara optimal. Namun dengan perjuangan yang gigih di forum-forum PBB maupun forum-forum internasional yang lain. Kriteria dari kawasan maritim. secara ekosistem dapat secara optimal mengakomodasikan corak ragam ekosistem kepulauan. Kawasan Maritim harus dapat mencerminkan kepentingan-kepentingan politik. maka pencapaian tujuan utama akan menjadi sangat berat dan rapuh. akhirnya perjuangan itu membawa hasil. 5. ekonomi dan sosial dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ekosistem suatu negara kepulauan. Kriteria Kawasan Maritim. tetapi dapat menjadi unsur pemersatu berbagai kepentingan daerah dan menjamin rezim wilayah negara kepuluan sebagaimana diamanatkan dalam UNCLOS 1982. pariwisata bahari dan pengembangan pusat-pusat perekonomian regional dan kawasan produksinya. watershed dan sistem wilayah perikanan. Ketika Deklarasi Djuanda itu diumumkan hampir semua negara besar yang berkepentingan dengan jalan laut melalui Indonesia menolak. Pada tahun 1957 bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk merebut kembali Irian barat (sekarang Papua) dari penjajahan Belanda. dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu : a. secara ekonomi dapat mengakomodasi berbagai kepentingan kegiatan ekonomi bahari seperti perdagangan antar negara dan antar wilayah. Itulah sebabnya Pemerintah Indonesia kemudian menyatakan bahwa semua laut di antara pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke itu adalah wilayah kedaulatan mutlak Indonesia. transportasi antar moda. secara sosial dapat mencerminkan keragaman etnis tetapi tetap dalam bingkai prinsip ” bhineka tunggal ika” . seperti konsep bioregion. yang di dalamnya memuat sembilan buah pasal perihal ketentuan tentang Prinsip Negara Kepulauan. Dimensi Wilayah Maritim b.1 Upaya untuk mendapat pengakuan internasional atas Prinsip Negara Kepulauan seperti yang dinyatakan Pemerintah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957 merupakan perjuangan yang berat dan panjang. 119 negara menandatangani United National Convetion on the Law of the Sea (UNCLOS). Pada tahun 1982 di Teluk Montego. secara politik tidak dibatasi oleh sistem administrasi wilayah. terutama dalam hubungan bilateral dengan negara-negara tetangga. 39 . c. Jamaika. Adalah merupakan kenyataan yang pahit bahwa kapal-kapal perang Belanda yang dikirim untuk meperkuat pertahanan Belanda di Irian Barat berlayar dengan bebas melalui Selat Malaka – Laut Jawa – Laut Flores – Laut Banda dan sampai ke Irian Barat.

dan tidak tumpang tindih dengan hukum-hukum lokal. baik yang berjangka pendek maupun berjangka panjang. Transit Passage. yang dikuatirkan justru menggugurkan hak penerapan Prinsip Negara Kepulauan. terutama negara tetangga. wilayah 40 . pertambangan dan pariwisata. Esensi dari prinsip Negara Kepulauan dalam perspektif kewilayahan sesuai UNCLOS 1982 adalah diberikannya hak kepada Negara Kepulauan untuk menarik garis pangkal batas laut wilayahnya dengan menarik garis lurus dari titik-titik terluar dan menyatakan perairan di dalam lingkaran garis pangkal itu sebagai Perairan Kepulauan. Oleh karena itu. yaitu rakyat dan pemerintah. tetapi kepanjangan wilayah kekuasaan daerah. adanya wilayah dalam suatu negara ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. dan Straits for Internasional Navigation. yang mempersatukan seluruh pulau dalam administrasi kedaulatan Negara Kepulauan itu sebagai satu kesatuan wilayah dengan persyaratan tertentu. 5. 17 Tahun 1985 yang meratifikasi UNCLOS 1982. maka semua ketentuan terdahulu yang bertentangan dengan UNCLOS 1982 hanya menjadi dokumen sejarah. Dalam seluruh Perairan Kepulauan hanya berlaku satu rezim hukum nasional yang tunduk kepada ketentuan UNCLOS 1982. Sejauh ini Pemetintah Indonesia bertindak sangat lambat. dimana kapal perang negara manapun setiap waktu dapat melintas tanpa hambatan. bahkan beberapa kebijaksanaan yang dilahirkan kemudian. baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan Pemerintah masih mengabaikan ketentuan UNCLOS 1982. selain itu akan menimbulkan biaya tinggi dalam usaha perdagangan antar pulau. UNCLOS 1982 lebih menekankan kepada sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi Negara Kepulauan. Selanjutnya Pemerintah Indonesia harus menyiapkan program implementasi UNCLOS 1982 secara sistematis. Laut cenderung tidak lagi dipandang sebagai pemersatu wilayah. seperti dalam menetapkan wilayah laut daerah-daerah dalam rangka otonomi daerah. juga memperhatikan kepentingan perikanan negara lain.2 Batas Wilayah Maritim dan Pulau-Pulau Terluar Wilayah adalah salah satu unsur utama. antara lain menetapkan sejumlah Alur Laut Kepulauan atau Archipelagic Sealanes. Suatu negara yang mempunyai sistem pemerintahan negara yang beberapa kewenangannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah. sehingga jika kondisi demikian tetap diberikan akan menimbulkan kerawanan terhadap konflik antar daerah dalam pengelolaan sumberdaya seperti perikanan.Namun berbeda dengan Deklarasi Djuanda 1957 yang menyatakan bahwa seluruh laut di antara dan sekeliling pulau-pulau itu merupakan wilayah kedaulatan mutlak seperti halnya wilayah darat. selain dari dua unsur lainnya. menjamin Innocent Passage. Ketika Pemerintah Indonesia mensahkan Undang-Undang No. Oleh karena itu Perairan Kepulauan adalah satu wilayah laut yang utuh.

Batas wilayah negara Indonesia adalah 1.pemerintahan daerah juga ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 17 Tahun 1985. Tanggal 13 Desember 1957 ini kemudian menjadi tonggak sejarah Kelautan Indonesia yang kemudian dikenal dengan Wawasan Nusantara.2 mil dari garis pantai pulau-pulau terluar. Indonesia. sehingga mempunyai wewenang untuk mengelola daerah kedaulatannya yang punya batas. Djuanda mengeluarkan pengumuman pemerintah yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda yang menyatakan bahwa negara Republik Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State). Bangsa Indonesia patut berbangga karena melalui Deklarasi Djuanda tersebut. Upaya mencantumkan Wilayah Negara Republik Indonesia dalam UUD 1945 diawali dari perubahan kedua dan terus berlanjut sampai pada perubahan keempat UUD 1945. Ini berarti kapal asing dengan leluasa dapat melayari laut yang mengelilingi atau yang memisahkan pulau-pulau tersebut. Termasuk kewenangan ini ruang udara di atasnya. Oleh karena itu. pulau-pulau di wilayah ini dipisahkan oleh laut di sekelilingnya. wilayah negara Republik Indonesia mempunyai cakupan wilayah Hindia Belanda. Dalam ordonansi ini setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. dalam Bab IX A tentang Wilayah Negara pada Pasal 25A tercantum Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri 41 . bangsa Indonesia mengenai hukum laut internasional tercantum dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang dikenal dengan United Nations Convension on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ketiga tahun 1982 yang selanjutnya disebut Hukum Laut (Hukla) 1982. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa sebagai kesatuan wilayah hal ini sangat merugikan bangsa Indonesia sehingga pada tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh Ir. Maka. serta semua sumber daya maritim baik yang hidup maupun yang tidak. dasar laut (sea bed) dan tanah di bawah dasar laut (sub soil). Namun demikian. Pada dasarnya konsep deklarasi ini menyatakan bahwa semua laut/perairan di antara pulau-pulau Indonesia tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena laut antarpulau merupakan penghubung dan menjadi satu kesatuan dengan pulau-pulau tersebut. pada umumnya kita sepakat bahwa ketika para pendiri negara ini memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah Indonesia meratifikasi Hukla 1982 dengan Undang-undang No. Dalam UUD 1945 tidak secara implisit mengatur pasal mengenai “Wilayah Negara Republik Indonesia”. yaitu Teriroriale Zeen en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). wilayah negara Republik Indonesia merupakan wilayah yang mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939.

dan wewenang di dalam batas teritorial wilayah laut NKRI akan berbeda dengan hak-hak dan wewenang di luar batas teritorial. Setelah tujuh tahun bangsa hidup dalam penataan negara secara normal.Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang. Hak-hak. karena NKRI merupakan negara kepulauan. Kira-kira lima tahun bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan sehingga tahun 1950 mulailah bangsa Indonesia menata negara dengan sistem pemerintahan yang disepakati pada waktu itu. Pernyataan ini mempunyai makna bahwa NKRI yang merupakan negara kepulauan wajib menetapkan batas teritorial wilayahnya baik wilayah darat dan laut. Dalam wilayah laut teritorial berlaku hakhak dan kewajiban dalam wilayah kedaulatan NKRI. “Negara kepulauan berciri Nusantara” punya arti bahwa negara kepulauan yang dimaksud terletak di antara dua benua dan dua samudra. maka penetapan batas di wilayah laut mengacu kepada UNCLOS 82/HUKLA 82 yang telah diratifikasi dengan UU No. Sementara itu. batas landas kontinen (continental shelf). Dapat dipahami bahwa UUD 1945 (asli) yang dikeluarkan setelah proklamasi kemerdekaan belumlah sempurna. pernyataan “sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dan berbentuk negara kesatuan dan republik” sudah menunjukkan di mana lokasi geografis negara kesatuan yang berbentuk republik itu yang lengkapnya disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan Hukla. serta Samudra Hindia dan Pasifik. sangat diperlukan informasi kewilayahan NKRI seperti informasi pulau-pulau terluar beserta nama-namanya. Oleh karena itu. seperti belum tercantumnya wilayah negara. Benua Asia dan Australia. kewajiban. dalam penetapan batas sangat diperlukan keterpaduan aspek teknis dan legal. Batas dan hak wilayah laut menurut Hukla 1982. Jadi. batas zona ekonomi eksklusif (ZEE). batas laut teritorial sejauh maksimum 12 mil laut dari garis pantai. Pengukuran ini merupakan aspek teknis yang dilakukan oleh tenaga ahli geodesi yang mengerti tentang aspek legal dari penetapan batas. Untuk mendukung hal itu. 42 . yang dimaksud dengan panjang 1 mil laut sama dengan 1852 meter. Jika dua negara bertetangga punya jarak antara garis pantainya kurang dari 24 mil laut. Indonesia harus mengkaji dan menetapkan antara lain batas laut teritorial. Garis median yaitu garis yang punya jarak yang sama (equidistance) dengan garis pantai dari negara bertetangga tersebut. 17 Tahun 1985. Batas laut teritorial diukur berdasarkan garis pangkal yang menghubungkan titik-titik dasar bertempat di pantai terluar dari pulau-pulau terluar wilayah NKRI. batas zona tambahan (contiguous zone). Jadi. Selanjutnya dalam pasal tersebut dinyatakan “dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-undang”. tetapi terletak di dalam batas ZEE dan batas landas kontinen. batas teritorial antar dua negara tersebut adalah garis median. sedangkan garis pantai didefinisikan sebagai muka laut terendah.

10.9 ha) tidak termasuk daftar pulau terluar. wilayah negara menjadi tidak jelas. Dengan keluarnya keputusan Mahkamah Internasional tentang kasus Sipadan dan Ligitan. Deklarasi Djuanda diratifikasi melalui UU No.berdampingan. artinya semangat Deklarasi Djuanda yang menjiwai UU No. 7. 4/PRP/1960. 43 . Setelah 48 tahun Deklarasi Djuanda itu dikumandangkan sudah sejauh mana Indonesia dapat menyelesaikan batas-batas di laut terutama batas laut teritorial ?. Pada tanggal 15 Februari 2003 forum ini menyelenggarakan Diskusi Panel bertema “Reaktualisasi Wawasan Nusantara Dalam Perspektif Kesatuan Wilayah Negara Republik Indonesia” di Unpad. 4/PRP/1960 tentang Perairan tidak berlaku lagi. dan sama tinggi dengan negara-negara lain barulah satu tonggak sejarah tentang wilayah negara diumumkan. 4/PRP/1960. Pada tanggal 8 Agustus 1996 diterbitkan UU No.4 ha) dan Ligitan (kl. Hal lain mengenai wilayah negara tercantum pada UUD 1945 pada perubahan kedua UUD 1945 Bab IX A pasal 25E yang ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR tahun 2000 yang kemudian berubah menjadi pasal 25 A pada perubahan keempat UUD 1945 yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 yang bunyinya sudah disampaikan di awal tulisan ini. 61 Tahun 1998 ini adalah upaya bangsa Indonesia menutup kantong Natuna yang masih terdapat dalam UU No. PP No. 17 Tahun 1985 dan menyatakan bahwa UU No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia yang isinya sangat umum. Dengan inisiatif para pakar penetapan batas dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dari aspek legal dan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dari aspek teknis pada awal tahun 2003 dibentuk Forum Kajian Kewilayahan NKRI. 6 Tahun 1996 ini. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Dengan menganggap bahwa semua titik pangkal lengkap dengan koordinat geografisnya yang tercantum pada Undang-undang No. sejajar. 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Pada tanggal 16 Juni 1998 dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. Pada tanggal 28 Juni 2002 keluar PP No. yaitu pada tanggal 13 Desember 1957. 38/2002 ini perlu dicabut dan segera diganti dengan yang baru. secara legal. 4/ PRP/1960 masih berlaku. Dinamika penetapan batas wilayah negara perlu kita simak. PP No. 38/2002 ini dicantumkan titik pangkal di Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Pulau-pulau Sipadan (kl. yaitu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Hukla 82 (yang telah diratifikasi dengan UU No. Daftar koordinat titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar tidak tercantum dalam UU No. 61 Tahun 1998 tentang Koordinat Geografis Titik Dasar Kepulauan di Laut Nusantara. Jadi. Dalam UU ini dicantumkan koordinat geografis titik-titik dasar pantai terluar dari pulau terluar di wilayah negara. Dalam PP No.

yang masih harus diperjuangkan untuk diterima oleh dunia internasional dan yang akhirnya diterima dunia internasional dengan Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 (UNCLOS . Realisasi. disertai satu konsep dasar klaim wilayah perairan. untuk dapat menetapkan batas wilayah kedaulatan itu. juga merupakan proklamasi kedaulatan atas pulau-pulau terluar yang dilingkupi oleh garis batas laut territorial dan khususnya garis-garis pangkal territorial (territorial baselines). 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia telah mencabut UU No. dan departemen lainnya yang terkait. Proklamasi Kedaulatan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 belum mencakup proklamasi Wilayah Kedaulatan Negara RI itu.III). yang menghubungkan titik-titik terluar dari pula-pulau terluar. Departemen Pertahanan.4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia maka untuk pertama kali diproklamasikan wilayah kedaulatan NKRI. Dengan Undang-Undang No. Perlu sekali diperhatikan bahwa UndangUndang ini selain merupakan proklamasi wilayah perairan Indonesia. yang telah disahkan Indonesia dengan UU No. dan Permasalahan Penataan Batas Maritim Indonesia dengan Negara Tetangga. Undang-Undang ini telah didepositkan ke PBB dan diketahui dunia internasional selama 42 tahun tanpa ada yang mempersengketakan kedaulatan Indonesia atas pulau-pulau terluar itu. TNI. satu konsep yang baru. khususnya negara baru RI dengan tatanan geografis yang khas. Bakosurtanal. Semoga dengan tetap dalam semangat Deklarasi Djuanda penetapan batas-batas maritim kepulauan Indonesia segera terselesaikan. Kasus Batas RI-Singapura” yang penyelengaraannya berdasarkan kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) ITB dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Diperlukan waktu dan kondisi yang memadai untuk dapat mengkaji secara cermat berbagai aspek kewilayahan satu negara. Penetapan batas wilayah negara adalah kerja sama antara Departeman Dalam Negeri. Dengan Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 Pemerintah mendeklarasikan bahwa Republik Indonesia adalah satu Negara Kepulauan. kecuali Sipadan dan Ligitan pada waktu itu. Undang-undang No. 4/Prp Tahun 1960 karena tidak sesuai lagi dengan rezim hukum Negara Kepulauan sebagaimana diatur dalam UNCLOS. 17 Tahun 1985. Pertemuan yang diselenggarakan di Unpad dan ITB pada awal dan akhir tahun 2003 ini menyatakan perlunya kejelasan dalam masalah kelembagaan dalam penetapan batas wilayah negara. dan merupakan dasar hukum yang kuat hal kedaulatan atas pulau-pulau terluar itu.Sebagai lanjutannya pada tanggal 15 Desember 2003. Agak disayangkan bahwa pada pencabutan itu tidak ditegaskan secara eksplisit bahwa walaupun rezim hukum atas perairan disesuaikan denga UNCLOS 44 . yang hasil kajiannya adalah satu konsep Wawasan Nusantara. dalam rangka 46 tahun Deklarasi Djuanda diselenggarakan workshop dengan tema “Status.

6 Tahun 1996 untuk penggambaran batas perairan laut wilayah jelas diperhitungkan ’klaim’ kedaulatan atas pulau-pulau Sipadan dan Ligitan. 38 tahun 2002 kemudian menetapkan garis pangkal territorial yang baru. pertama kali Pemerintah Indonesia mengklaim kedaulatan atas kedua pulau itu di tahun 1969. kiranya jelas bahwa. Pembangunan Nasional Sektor Kelautan telah dicanangkan dalam GBHN 1993 untuk diarahkan kepada pemanfaatan Wilayah Laut Nasional termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen disamping untuk mendukung penegakan Kedaulatan Yurisdiksi Nasional di laut serta dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara. Dengan PP No. namun telah diserahkan ke Mahkamah Internasional (ICJ) untuk memutuskan hal kasus sengketa itu. Perlu diperhatikan bahwa khusus untuk pulau Sipadan dan Ligitan. yang masih dimungkinkan oleh ketetapan UNCLOS. secara khusus pulau-pulau terluar lainnya. Penetapan Batas Wilayah Yurisdiksi Negara merupakan kebutuhan ynag mutlak harus ditentukan agar segala kegiatan yang akan dilaksanakan di dalam wilayah tersebut dapat diterima oleh lingkungan Regional maupun Internasional baik secara Yuridis maupun secara faktual.namun itu tidak mengganggu kedaulatan atas pulau-pulau terluar dan bahkan ditetapkan garis pangkal yang baru dan disesuaikan dengan yang dimungkinkan oleh UNCLOS. Hukum Laut Intenasional tahun 1982 (UNCLOS-82) telah menentukan hak dan kewajiban negara kepulauan. yang langsung disengketakan oleh Malaysia. selama 42 tahun tidak ada negara lain yang mempersengketakan proklamasi wilayah kedaulatan yang ditetapkan denga UU No. kecuali Sipadan dan Ligitan. 38 Tahun 2002 penarikan garis-garis pangkal ditata kembali sehingga dapat diperoleh laut wilayah dan wilayah yurisdiksi nasional atas laut yang seluas mungkin. Ini merupakan dasar hukum yang terkuat. walaupun kedaulatan atas kedua pulau tidak pernah secara eksplisit tertuang dalam peraturan perundang-undangan. Apakah ini perlu dikoreksi dengan undang-undang? Hal kontroversi status pulau-pulau terluar. dan kiranya ini masih konsisten dengan peta lampiran UU No. yang masih memasukkan pulau Sipadan dan Ligitan dalam kedaulatan Indonesia. 4/ Prp tahun 1960. dimana Republik Indonesia telah meratifikasi konvensi tersebut dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 dan konsisten dengan klaim kedaulatan atasnya yang telah diperjuangkan selama lebih dari 30 tahun.17 tahun 1985 dan Konvensi 45 . Juga Timor Timur masih dimasukkan dalam peta lampiran itu sebagai satu bagian dari NKRI. Peraturan Pemerintah No. Pelaksanaan kegiatan serta perwujudan sasaran dari Pembangunan Nasional di laut tersebut tidak terlepas dari kebutuhan akan data dan informasi kelautan yang akan merupakan bekal awal dalam tahap perencanaan serta pendukung dalam pelaksanaannya. Yang menonjol adalah bahwa pada peta lampiran UU No. tidak termasuk TimorTimur.

Kawasan maritim sebagaimana dijelaskan dalam kriteria di atas merupakan komposit dari berbagai pendekatan kewilayahan yang memperhatikan unsur politik. yang menjadi dasar dari pembentukan perangkat sistem pemerintahan ”ocean governance” pemerintahan yang berbasis kemaritiman untuk suatu kepentingan yang masuk dalam tataran perumusan kebijakan yang strategis. 5. Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). ekonomi. Garis Pangkal. Ketentuan dari UNCLOS’ 82 mewajibkan deposito dari daftar koordinat geografis atau peta-peta pendukung klaim Indonesia di atas. Peta ALKI mempunyai spesifikasi tersendiri sesuai standard bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. 46 . Telah lama pula kita kenal istilah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. sosial dan ekosistem suatu negara kepuluan. satu tahun setelah ALKI diakui oleh dunia internasional. yang satu dan lainnya berbeda untuk konsep yang berbeda. KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu). Untuk dapat membangun suatu negara maritim. kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan akan berlaku efektif 16 November 2004. Indonesia berkewajiban memberikan akomodasi pelayaran bagi kapal-kapal asing atau hak lintas alur kepulauan (UNCLOS-82). Setiap kawasan didefinisikan dan dideliniasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu. harus sudah tersedia bulan September 1999. Hal ini mewajibkan Indonesia untuk memenuhi semua ketentuan konvensi tersebut. antara lain kawasan transmigrasi. kawasan wilayah perikanan dan yang terbaru dikenal dengan kawasan bio-region. Sebagai Negara Kepulauan.3 Tipologi Kawasan Maritim Di Indonesia dikenal beberapa tipologi kawasan. salah satu strategi yang harus didorong dan dikembangkan adalah tumbuhnya pemahaman tentang visi maritim nusantara. Keterkaitan antara Kegiatan Pemetaan Sumberdaya Kelautan dengan UNCLOS-82 adalah menyangkut penentuan Titik Pangkal. Oleh karena itu terminologi suatu kawasan harus dilihat dalam suatu konteks dan konsep pemanfaatan tertentu. Batas Laut Teritorial dan Zona Tambahan.diberlakukan efektif sejak 16 November 1994. kawasan pariwisata bahari. Batas Landas Kontinen dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Sekalipun disadari bahwa untuk tataran operasioanal berbagai kebijakan strategis ini kemudian perlu dijabarkan lagi ke dalam sistem pemerintahan yang berjalan sebagaimana yang berlaku sekarang yaitu dalam sistem tata pemerintahan pusat dan daerah.

Tahun 1960. Konflik penggunaan ruang dan masalah pencemaran lingkungan laut. Indonesia mengajukan konsep mengenai rejim negara kepulauan dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar seharusnya dapat lebih membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun potensinya sebagai negara maritim besar. akhirnya rejim negara kepulauan diterima oleh negara-negara peserta konferensi dan kemudian diatur dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea –UNCLOS). 5. Indonesiapun akhirnya mendapat pengakuan sebagai salah satu negara kepulauan berdasarkan Konvensi tersebut. Setelah melalui proses perdebatan yang panjang. fokus pembangunan nasional selama ini lebih bertumpu pada pembangunan di wilayah darat dan telah menjadikan potensi sumber daya kelautan Indonesia tidak terkelola secara optimal. Dengan wilayah laut yang sangat luas. Berangkat dari pemikiran yang tertuang dalam Deklarasi Djuanda 1957 dan Undang-undang No. Indonesia dapat memperoleh manfaat yang besar dari sumberdaya yang terdapat di dalamnya. misalnya.BAB 6 EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI LAUT Usaha Pemerintah Indonesia untuk mengelola potensi maritim dilakukan melalui pengajuan konsep Negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Dalam konteks wilayah pesisir. pemanfaatan dan pengelolaan laut yang menyangkut banyak aspek memerlukan pendekatan kebijakan yang terpadu. 3. 4. Industri pelayaran niaga yang sebagian besar masih dilayani oleh perusahaan dan kapal berbendera asing. visi sektoral 47 . Pemanfaatan sumber daya kelautan seringkali menghadapi berbagai permasalahan yang tidak terakomodasi secara efektif dalam agenda pembangunan nasional. Masih tertinggalnya industri perikanan Indonesia. Dalam kenyataan selama ini. Berbagai permasalahan tersebut antara lain: 1. 2.4 / Prp. kebijakan di bidang kelautan yang dilakukan oleh pemerintah masih didominasi oleh pendekatan yang cenderung bersifat sektoral dan terkadang bertentangan dengan kepentingan yang bersifat umum sehingga menimbulkan berbagai kebijakan yang bertentangan. Sayangnya. Penetapan batas-batas wilayah laut dengan beberapa negara tetangga yang masih belum rampung. Masih banyaknya sumber daya manusia kepelautan yang tidak memiliki kualifikasi sesuai standar International Maritime Organization (IMO). Khususnya dalam hal pengaturan kebijakan.

dan memupuk budaya maritim sejak dini melalui sistem pendidikan nasional yang berwawasan maritim. ada kecenderungan daerah akan membuat peraturan-peraturan daerah berdasarkan kepentingan daerahnya masing-masing. Hal penting lainnya adalah bagaimana membangkitkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. Pengaturan pengelolaan wilayah pesisir yang demikian ini. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya memperbaiki keadaan sumber daya manusia di bidang kelautan yang selama ini cenderung tidak mendapat perhatian yang layak. yaitu pertama lokasinya.pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir. Setiap pemanfaatan laut harus memperhatikan dan menjaga keterpaduan dan keserasian serta mencegah pencemaran dan pengrusakan lingkungan laut. padahal tidak ada orang yang bisa mencuri atau menduduki laut? Ada empat properti laut yang menjadikannya penting untuk diperebutkan sepanjang masa. telah dan akan melahirkan ketidakpastian hukum bagi semua kalangan yang berkaitan dan berkepentingan dengan wilayan pesisir (stakeholders). memajukan pengembangan keterampilan sumber daya manusia di bidang teknologi kelautan. Alam laut memiliki ciri khas. dan hal tersebut dapat dimulai dengan menumbuhkan wawasan maritim di tingkat masyarakat. Lokasi laut 48 . Namun tampaknya dominasi Indonesia sebagai negara maritim besar sangat sulit untuk dipertahankan saat ini seiring dengan lebih difokuskannya pembangunan nasional di wilayah darat. Demikian pula. industri maritim. telah mendorong departemen-departemen atau instansi teknis berlomba-lomba membuat peraturan perundang-undangan untuk mengelola sumber daya alam atau jasa-jasa lingkungan pesisir sesuai dengan kepentingannya masing-masing yang bermuara pada peningkatan pendapatan asli daerahnya. kedua fungsinya. Sejarah telah menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia sempat dikenal sebagai bangsa maritim yang tangguh melalui kejayaan kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu seperti Majapahit dan Sriwijaya. perlu diambil langkah-langkah untuk mewujudkan kembali budaya maritim sebagai bagian dari budaya nasional. Pembangunan di bidang kelautan tidak mendapat prioritas utama dalam pembangunan nasional yang pada akhirnya berimbas pada memudarnya budaya maritim yang seharusnya menjadi bagian dari budaya nasional. Oleh karena itu. pertahanan negara. Mengapa laut menjadi penting dalam hidup manusia dan mengapa orang mencintai laut? Mengapa setiap negara harus mengawal lautnya. lalu lintas pelayaran. penyaluran energi. ketiga kekayaan alam yang dikandungnya dan keempat sosial-budaya kehidupan masyarakat bahari.1 Fungsi Laut Bagi Kehidupan Manusia Laut dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. 6. telekomunikasi.

bahwa tujuan pembangunan kelautan hendaknya tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi. tetapi sebagai Anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. Termasuk dalam kekayaan alam laut adalah energi listrik yang dapat ditimbulkan oleh tenaga gelombang air laut dan hembusan angin di atas laut. kendala. 6. Sebagai media penghubung lokasi laut tertentu menjadi sea lane of communication (SLOC) yang bersifat internasional baik untuk kepentingan ekonomi maupun militer. adalah laut dengan lokasinya sangat strategis baik dilihat dari sudut pandang ekonomi maupun militer. lalu sebagai media pemersatu antar pulau bagi negara kepulauan. tetapi juga bahan tambang mineral yang dikandung air laut. atau yang berupa choking points dimana semua kapal yang berlayar harus merapat seperti di ujung selatan Afrika dan India. lapisan dasar laut lepas pantai dan laut dalam. Kedua. reorientasi fokus pembangunan. juga sebagai sabuk pengaman (safety belt/safety cordon) terhadap serangan musuh dari luar. dalam memenangkan peperangan atau dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. Rorientasi tersebut mencakup dua hal mendasar. permasalahan. Letak geografis dan kandungan sumber daya kelautan yang dimiliki Indonesia memberikan pengakuan bahwa Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia. Kekayaan alam laut tidak hanya berupa kekayaan hayati dan nabati yang ada dalam massa air laut. juga mempertimbangkan pengaruh lingkungan strategis terhadap pembangunan nasional seperti globalisasi dan otonomi daerah. peluang. dan kondisi pembangunan kelautan yang ada. melainkan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran). Laut yang berupa selat yang menghubungkan dua samudera seperti Selat Malaka. seperti ikan dan tumbuh-tumbuhan laut. dan juga sebagai medan perang. antar pulau dan ke luar dengan pasar dunia.sangat menentukan dalam pencapaian kepentingan nasional. dari basis sumberdaya daratan ke basis sumberdaya kelautan. dengan luas laut 5. Pertama. pemerataan kesejahteraan (social equity). antara lain : sebagai media penghubung ke dalam.2 Potensi Kelautan dan Kemaritiman Indonesia Paradigma baru pembangunan Indonesia adalah berbasis kelautan dan sudah saatnya Indonesia melakukan reorientasi paradigma pembangunannya ke arah kemaritiman. Laut jangan lagi dipersepsikan sebagai keranjang sampah (tempat pembuangan limbah dari darat) dan ajang ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan. dan terpeliharanya daya dukung dan kualitas lingkungan pesisir serta lautan secara seimbang (proporsional).8 juta km² terdiri dari 49 . Laut memiliki fungsi yang sangat penting. Gagasan paradigma pembangunan ini selain mendasarkan pada potensi.

termasuk usaha transportasi.7 juta km² dan 3. dari aspek politik. Alasan di atas sudah cukup menjadi dasar untuk menjadikan pembangunan kelautan sebagai arus utama (mainstream) pembangunan nasional. Rendahnya kinerja sektor ekonomi berbasis kelautan yang jauh dari potensi yang dimiliki. dari sisi sosial dan budaya. dengan sejumlah keunggulan komparatif sekaligus kompetitif yang sangat tinggi. sampai sekarang masih terlihat sisa-sisa budaya berbasis bahari ini pada beberapa suku di Indonesia.luas laut teritorial 2.1 km² laut ZEE atau 2/3 dari total wilayah Indonesia merupakan lautan dan ditaburi sekitar 17. serta menjadi suatu kawasan penting. Ketiga. baik secara politik. ternyata pembangunan berbasis sumber daya kelautan diabaikan. selama berabad-abad telah menjadikan sumberdaya kelautan sebagai basis pertumbuhannya dalam mencapai kemakmuran dan kemajuan dalam peradabannya. sebuah kawasan paling dinamis dalam percaturan politik. politik. Pembangunan berbasis sumber daya kelautan dianggap sebagai sektor pinggiran. Suatu kenyataan pahit yang harus kita akui bahwa selama ini. dengan kondisi geopolitis yang ada. komunikasi. Bahkan. sumber daya kelautan merupakan sumber daya yang senantiasa dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif ini dapat bertahan panjang asal diikuti dengan pengelolaan yang arif. Keempat. dan jasa-jasa lainnya. perdagangan. Kelima.000 km garis pantai dengan potensi ekonomi yang sangat besar. melimpahnya sumber daya kelautan perikanan yang kita miliki. baik secara ekonomi. laut telah menjadi media hubungan nasional dan internasional. Di bawah ini adalah beberapa alasan kuat mengapa pembangunan nasional kita adalah berbasis sumberdaya maritim antara lain : Pertama. harus dijadikan arus utama pembangunan nasional. akibat kelalaian serta kurang perhatiannya kita sendiri sebagai bangsa.504 pulau yang dikelilingi oleh 81. Kondisi geografis ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Indonesia berada pada posisi geopolitis yang penting yakni Lautan Pasifik dan Lautan Hindia. pertahanan dan keamanan dunia. merupakan harga yang harus dibayar. menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa merupakan penemuan kembali (reinventing) aspek kehidupan yang pernah dominan dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa. Pada saat itu. sosial dan budaya. keterkaitan yang kuat (backward and forward lingkage) antara industri berbasis kelautan dengan industri dan aktivitas ekonomi lainnya. ekonomi dan militer. Kedua. jika kita memiliki jaminan keamanan dan pertahanan dalam menjaga kedaulatan perairan. Sejarah mencatat bahwa pusat-pusat ekonomi dan peradaban yang pernah ada di wilayah Nusantara. 50 . pengolahan. Selain itu. maka stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri dapat dicapai. banyak argumen yang memperkuat mengapa pembangunan berbasis sumber daya kelautan. Dengan mengembangkan industri berbasis sumber daya kelautan berarti juga mendorong aktivitas ekonomi di sektor lainnya.

dan penyerapan limbah. Bahkan tidak mustahil akan mengakibatkan kelangkaan serta persaingan dalam mendapatkannya. dan melaksanakan program-program di bidang kelautan dan perikanan. bahan tambang dan mineral lainnya. minuman. 51 . (3) Energi kelautan. keindahan alam. sejak reformasi. Karakteristik geografis Indonesia serta struktur dan tipologi ekosistemmya yang didominasi oleh lautan telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekargaman yang tinggi dan terbesar di dunia. Sumber daya tersebut memiliki kegunaan untuk makanan. Pembangunan ekonomi dunia di masa datang yang penuh tantangan dan persaingan yang ketat. hutan mangrove. (2) Sumberdaya yang tak dapat pulih (unrenewable resources). (4) Jasa lingkungan. pasang surut. pengaturan iklim. rumput laut. yang merupakan justifikasi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara bahari terbesar di dunia. yang ditindaklanjuti dengan membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai institusi utama (leading institution) yang bertanggung jawab memberi arahan. dan angin. mengeluarkan kebijakan. antara lain gelombang. Ini tercermin dari keputusan politik bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999. Dengan demikian orientasi pembangunan bangsa Indonesia ke depan yang berbasis pada sumberdaya kelautan merupakan suatu keniscayaan. Potensi wisata bahari Indonesia pun memiliki nilai yang cukup tinggi.000 spesies. Sumberdaya laut Indonesia dengan kekayaan keanekaragaman hayati memiliki potensi untuk pengembangan bioteknologi kelautan. ekosistem pantai dan pulau-pulau kecil. Di Indonesia terdapat 241 Kabupaten/ kota yang memiliki pesisir. Fakta ini menunjukkan bahwa sumberdaya kelautan merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang amat potensial dimanfaatkan sebagai sumberdaya yang efektif dalam pembangunan bangsa Indonesia.000 spesies biota laut memiliki potensi sebagai penghasil obat-obatan. muncul kesadaran untuk menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan sebagai arus utama pembangunan nasional telah mendapatkan tempat yang lebih baik serta pijakan yang lebih kuat. Berdasarkan jenisnya sumberdaya kelautan dibagi menjadi: (1) Sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) antara lain ikan dan biota perairan lainnya. antara lain minyak dan gas bumi.Namun.8 juta km². OTEC (Ocean Thennal Energy Conversion). padang lamun. Dengan luas laut 5. Kondisi ini membuat kita semakin maju beberapa langkah dalam menjadikan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan sebagai arus utama pembangunan bangsa. Diperkirakan terdapat 35. Indonesia sesungguhnya memiliki sumberdaya perikanan laut yang cukup besar baik dari segi kuantitas maupun keragamannya. antara lain media transportasi dan komunikasi. farmasi. membutuhkan faktor-faktor produksi seperti sumberdaya alam yang penggunaannya akan semakin meningkat. sementara yang dimanfaatkan baru 5. dan kosmetika.

Dengan demikian Indonesia memiliki lokasi obyek wisata bahari yang cukup besar dibandingkan dengan negara lain. 52 . Ciri sentralistik dari produk hukum di sektor perikanan menjelma. wisata pantai. Laut. produk hukum perikanan tersebut memiliki tiga ciri pokok. laut dipandang sebagai ‘halaman belakang’ dan ‘bak sampah’. Dari sektor pertambangan. hukum kelautan pada umumnya. merupakan isyarat bahwa tekanan terhadap nelayan tradisional sudah sampai pada titik yang tidak mampu ditolerir. baik dari sisi materi maupun dari sisi proses produksinya. Peraturan dan perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek kegiatan pengelolaan di bidang kelautan. Keberhasilan pembangunan di bidang kelautan sejatinya tidak hanya ditunjukkan dengan mengklaim diri sebagai negara maritim atau diwujudkan melalui kebanggaan terhadap keunggulan komparatif yang dimiliki saja. wisata alam.68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. Diperkirakan Indonesia memiliki cadangan minyak bumi yang dapat menghasilkan 84. produk hukum tersebut mengkonsentrasikan kewenangan pengelolaan sumberdaya perikanan hanya pada pemerintah pusat. produk hukum tersebut sangat memprihatinkan. dan anti pluralisme hukum. diformulasi dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) dan Keputusan Menteri (Kepmen). wisata pesiar. ibarat sebuah arena pertarungan bebas. tetapi sejauh mana kemampuan kita dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya kelautan tersebut dalam mencapai kemakmuran bangsa. hukum kelautan kita juga dirancang atas dasar doktrin bahwa sumberdaya kelautan merupakan sumberdaya open-access sehingga pembatasan keikutsertaan dalam okupasinya menjadi sesuatu yang dipantangkan. secara kuantitatif relatif sudah memadai. wisata budaya. laut Indonesia menyimpan potensi kekayaan yang cukup besar berupa minyak dan gas bumi. yang tentu saja akan selalu melahirkan pemenang dan pecundang. Dari sisi materi muatannya. tidak kurang dari tiga puluh produk hukum telah diproduksi untuk mengatur sektor perikanan. Hal ini kemudian mendorong tumbuhnya sikap merasa ‘tidak memiliki laut’ di kalangan pemerintah dan masyarakat daerah. dan wisata olahraga. Produk hukum yang demikian. Sedangkan sisanya sebesar 74. di mata pemerintah dan masyarakat daerah. Dari sisi proses produksinya. Perlawanan nelayan tradisional yang cenderung sangat radikal. Produk yang bisa dikembangkan antara lain wisata bisnis. Selama tiga puluh tahun terakhir. Dari sejumlah itu. Pengalaman menunjukkan bahwa para pengusaha perikanan berkapital besar yang selalu keluar sebagai pemenang. jelas kurang memiliki akuntabilitas politik. Suatu hal yang tidak kondusif bagi upaya konservasi sumberdaya kelautan. baru 9. secara substantif.48 milyar barel minyak. Secara kategorik. Namun. yakni sentralistik. Selanjutnya.8 milyar barel yang diketahui pasti. seperti di Bagan Percut Sumatera Utara. berbasis pada doktrin open-access. Akibatnya.

dari pengalaman ini dapat kita simpulkan bahwa tanpa adanya perhatian terhadap pemberdayaan pulau-pulau kecil. Papua dan Bali. Kalimantan. Dengan perkataan lain. yang menjadi pusat-pusat aktivitas utama dalam pembangunan. Sebagai negara kepulauan. maka kedaulatan bangsa Indonesia sesungguhnya dalam ancaman besar. Hukum adat dan tradisi masyarakat lokal tidak diakui sebagai bagian dari sistem hukum nasional. yang diperlukan saat ini bukan ‘menghapus’ ketentuan Pasal 3 dan 10 UU Nomor 22 Tahun 1999. Akibatnya banyak dari kita yang kurang mengenal pulau-pulau kecil atau gugusan pulau-pulau kecil lainnya sehingga kawasan ini menjadi terlantar atau tidak terkelola dengan baik.504 pulau-pulau besar dan kecil dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. memberikan secercah harapan. yang membuka peluang desentralisasi. Namun frame work pembangunan bangsa yang dipraktekkan selama ini mengakibatkan kita hanya mengenal pulau-pulau besar seperti Sumatera. Karena itu. terdapat pula beberapa produk hukum yang memihak kepentingan nelayan tradisional. yakni hukum kelautan yang anti kemajemukan. tetapi penjabaran dan penyusunan standar dan prosedur pengelolaan yang baik dan bertanggungjawab sesuai dengan kaidah-kaidah pengelolaan yang diterima secara universal. Sentuhan tersebut dapat dilakukan 53 . Sasi di Maluku. Sulawesi. Kelahiran UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Namun. terutama yang berbatasan dengan negara asing. Melalui UU ini. Lemahnya penegakan hukum masih merupakan salah satu kendala. sentuhan pembangunan pada pulau-pulau serupa perlu dilakukan meskipun memiliki tingkat keisolasian yang tinggi. seperti larangan penggunaan pukat harimau. ketika sampai pada tingkat implementasi. padahal hukum adat tersebut telah terbukti sangat efektif menjaga kelestarian sumberdaya alam. Contoh paling nyata yang baru saja kita rasakan adalah keputusan Mahkamah Internasional tanggal 17 Desember 2002 di Den Haag. Belanda yang memutuskan bahwa Pulau Sipadan dan Ligitan berada dalam kedaulatan Malaysia. Alasan utama keputusan itu dilandasi oleh adanya tindakan administratif secara nyata oleh pemerintah Inggris pada kedua pulau tersebut sejak tahun 1917. sentralisme kewenangan pengelolaan sumberdaya kelautan dapat dikurangi. Sesungguhnya.Konsekuensi logis dari kedua ciri di atas. Konsekuensi logis dari keadaan ini menimbulkan kesenjangan pertumbuhan dan kurangnya sinkronisasi pengembangan antarwilayah. hal ini akan membawa kepada muculnya kerawanan baru terutama pada pulau-pulau di kawasan perbatasan. Jawa. panglima laut di Aceh. Pemerintah daerah diberikan kewenangan yang signifikan untuk mengelola laut. telah menjadikan bangsa ini sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. atau tradisi rompong di Sulawesi Selatan merupakan contoh aktual dari hukum adat atau tradisi lokal yang demikian itu. ketentuan tersebut seperti tak bergigi. Indonesia yang memiliki 17. Pada gilirannya. Oleh sebab itu.

di dalam pemanfaatannya perlu memperhatikan daya dukung pulau mengingat sifatnya yang rentan terhadap perubahan lingkungan. pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil tersebut masih dihadapkan pada berbagai masalah antara lain letaknya yang terpencil. prasarana dan sumberdaya manusia. sehingga dapat mewujudkan pemanfaatan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.dengan cara menarik investasi ke pulau-pulau tersebut. mendorong nelayan melakukan aktivitas penangkapan di perairan sekitar pulau. mendeklarasikan pulau yang memiliki produktivitas hayati yang tinggi sebagai kawasan konservasi. Di samping itu. merangsang aktivitas ekonomi masyarakat penghuni pulau melalui paket-paket tertentu. terbatasnya sarana. 54 . melakukan penataan ruang. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di kawasan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara terencana dan terintegrasi dengan melibatkan peran serta masyarakat setempat. Di lain pihak.

Industri kemaritiman disamping mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. seperti: Industri yang berwawasan lingkungan. Industri maritim dikembangkan dengan menerapkan asas angkutan laut dalam negeri dan hanya boleh dilakukan oleh kapal-kapal berbendera Indonesia (Asas cabotage). misalnya: fasilitas pembuatan pelabuhan. juga perlu mempertimbangkan aspek SDM. industri perikanan. Kenyataannya sebanyak 65% nelayan. dan juga perlu pengembangan sumberdaya manusia Indonesia. akibatnya mengubah keterpurukan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Reduce. 55 . sumberdaya energi dan mineral. seperti pelayaran. Penggunaan tenaga kerja yang semaksimal mungkin. dan keterkaitannya. pelayaran dan wisata bahari. dan menghasilkan permasalahan yang timbul yang berkaitan dengan berbagai jenis limbah yang dihasilkan dalam proses kegiatan tersebut di perairan laut. antara lain Oceans Technology. melalui Diklat serta kegiatan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan lain. Rehabilitation. Kebijakan di bidang industri kemaritiman. regional. pada tingkat global. perikanan. upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan perusakan lingkungan. Selama ini pembangunan ekonomi berbasis sumber daya kelautan di Indonesia masih belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Recover). pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir sebagai pelaku dan objek dari pembangunan masih terjebak dalam kemiskinan.dimaksudkan untuk menumbuh kembangkan industri berbagai aspek kelautan. Industri kemaritiman ini perlu diselaraskan dengan ketentuan-ketentuan internasional yang berlaku dan selalu dikembangkan. disamping industri pendukungnya. nasional maupun lokal.BAB 7 EKONOMI (INDUSTRI) MARITIM Ekonomi (industri) kelautan dikembangkan untuk mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui industri maritim dalam rangka peningkatan ketahanan nasional. Indutri kemaritiman yang dikembangkan perlu mengikuti kaidah-kaidah lingkungan yang berlaku. dan berdasarkan pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). pemeliharaan dan perbaikannya pada lokasi-lokasi yang strategis. pariwisata. Reuse. limbah hasil industri yang didaur-ulang berdasarkan prinsip 5-R (Recycle. Industri maritim membuka lapangan pekerjaan yang seluasluasnya bagi masyarakat Indonesia. permukiman. Sebanyak 22% dari penduduk Indonesia adalah masyarakat yang menempati areal pesisir sebagai tempat tinggal dan bekerja pada sektor yang berhubungan dengan kelautan. yang meliputi seluruh perairan Indonesia dan memiliki kemudahan dukungan berbagai bahan baku dan suku cadang.

seperti: Islandia. Pembangunan industri maritim harus sejauh mungkin menggunakan potensi sumberdaya alam nasional. air. yang memadukan mempermudah hubungan antar pulau. sehingga dengan itu akan memberikan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional.tanah. pariwisata. energi dan sumberdaya mineral. Diperlukan kebijakan yang adil dan seimbang antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola sumberdaya alam . maupun yang berada di wilayah lautan harus dikelola secara bijak. Sumberdaya alam yang terkandung baik di pulau-pulau yang tersebar. Pembangunan industri maritim harus dapat mendorong tumbuh kembangnya sistem transportasi nasional yang handal. bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat yang berkeberlanjutan. d. yaitu di Zone Tambahan dan Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE). 48%. c. udara dan kandungan di dalamnya untuk mendorong tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan nasional dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI. kehutanan. Cina dan Jepang di mana kontribusi ekonomi dari bidang kelautannya masing-masing sebesar 65%. apalagi bila dibandingkan dengan negara lainnya yang memiliki sumberdaya kelautan lebih kecil dari Indonesia. 56 . namun tetap memberi dukungan bagi pengembangan agribisnis di wilayah agraris di pedalaman. Untuk menempatkan keunggulan komperatif yang luar biasa disektor ini diperlukan suatu strategi pembangunan ekonomi di bidang industri maritim. Dengan itu maka Indonesia mempunyai hak tertentu untuk memanfaatkan kawasan yang luasnya sekitar 8 juta km2 atau empat kali lipat dari wilayah teritorial Indonesia pada awal kemerdekaan di tahun 1945. Pembangunan industri maritim harus dibangun melalui pengembangan teknologi kemaritiman modern yang mempunyai keterkaitan dengan teknologi tepat-guna massal yang berkembang di wilayah pesisir. dan dengan kemampuan bangsa Indonesia sendiri. sehingga mempunyai kedaulatan dan yurisdiksi atas kawasan dan kekayaan alam di luar Nusantara Indonesia. dan 54%. b. Adapun Strategi pembangunan ekonomi industri maritim adalah : a. yang dapat ditingkatkan melalui pendidikan ke mancanegara melalui alih teknologi dari tenaga ahli asing yang didatangkan.Berdasarkan kontribusi kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya kelautan terhadap PDB masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang kita miliki. Indonesia telah diakui dalam Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut. Berkat perjuangan para penyelenggara negara ini. e. Situasi itu selain membawa Indonesia menjadi negara yang sangat luas juga mempunyai keunggulan komparatif yang luar biasa di sektor kelautan dan perikanan.

Kerjasama angkutan laut antar perusahaan pelayaran nasional dengan perusahaan pelayaran asing dilakukan berdasarkan prinsip timbal balik (reci procal) ketersediaan terminal pelabuhan pada kedua belah pihak. asosiasi pelayaran nasional. Industri pelayaran sebagaimana dimaksud meliputi industri perkapalan.f. hampir 80 persen proses perpindahan barang dan jasa antar pulau menggunakan jasa perhubungan laut. serta angkutan laut dan tempat perpindahan intra dan/ atau antarmoda. Armada niaga nasional menunjang kelancaran. Betapa tidak. Pemerintah menyelenggarakan pelabuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayaran nasional. dan ketertiban arus lalu lintas kapal. 57 . Industri pelayaran dikembangkan untuk memantapkan perwujudan wawasan nusantara serta memperlancar roda perekonomian dan perdagangan. Pemerintah membangun pelabuhan umum untuk mendukung kegiatan armada pelayaran niaga nasional dan kegiatan perdagangan kawasan hinterlan masing-masing pelabuhan. angkutan laut dan pelabuhan. Industri pelayaran dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara dalam masa perang atau dalam bahaya perang. Perencanaan pengembangan pelabuhan umum melibatkan pemerintah pusat.pelabuhan pengumpul (hubports) nasional didukung sepenuhnya oleh armada pelayaran nasional. Industri Pelayaran 7. sebagai negara maritim ternyata pangsa pasar angkutan laut baik antar pulau maupun antar negara masih dikuasai oleh armada niaga berbendera asing. pemerintah daerah. maka industri maritim harus dapat meningkatkan budidaya kelautan dan perikanan dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Tata ruang wilayah pelabuhan dan sekitarnya harus memperhatikan kelancaran kegiatan pelabuhan. Daya saing pelabuhan .1 Potensi jasa lingkungan kelautan lainnya yang masih memerlukan sentuhan pendayagunaan secara profesional agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal adalah jasa transportasi laut (perhubungan laut). Kamar Dagang Indonesia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mewujudkan sistem pelabuhan komunitas (community port) secara terpadu dengan sistem transportasi laut dan intermoda nasional. keselamatan berlayar. keamanan. penumpang dan/atau barang. Berdasarkan data yang ada. Perkembangan pelabuhan mengikuti perkembangan armada niaga nasional dan perkembangan armada niaga nasional mengikuti perkembangan perdagangan. Pembangunan industri maritim dapat membawa kembali kejayaan Indonesia sebagai negara bahari.

kesempatan kerja. Cost Insurance and Freight) yang dalam birokrasinya sangat sulit. misalnya kemudahan menyewa kapal Syarat-syarat dalam melaksanakan bisnis perdagangan khususnya perdagangan ekspor (FOB. Hal ini di sebabkan oleh berbagai faktor antara lain: Belum adanya dukungan perbankan Tidak mampu mengembangkan armada Praktek pengoperasian kapal asing yang menimbulkan dampak negatif. Namun industri pelayaran Indonesia dewasa ini dalam kondisi sangat memprihatinkan. karena mendatangkan devisa. dan membangkitkan ekonomi lainnya.99% pelayaran domestik dilayani oleh kapal-kapal berbendera asing. Belum adanya jaringan informasi Berdasarkan DATA pada tahun 2000 menunjukkan bahwa 95.38% dari kegiatan ekspor-impor dan 46.Gambar 5 Konsep Pelabuhan Dan Zona Perhubungan Sumber : Departemen Perhubungan Pelayaran Indonesia memiliki nilai sangat srategis tidak saja dalam aspek ekonomi. 58 . sementara disisi lain pelayaran rakyat atau tradisional kondisinya semakin terpuruk. Freight On Board) dan perdagangan impor (CIF. Banyak pelabuhan terbuka bagi perdagangan luar negeri Sarana dan prasarana pelabuhan yang tersedia belum mempunyai fasilitas pelabuhan untuk pelayanan kapal penumpang dan masih bergabung dengan pelayanan kapal barang Sertifikat kepelautan yang diterbitkan belum memenuhi standar Internasional. tetapi juga dalam aspek lainnya seperti kedaulatan (sea power) dan pemersatu bangsa.

menyebabkan kelemahan tersendiri bagi industri pelayaran. akibat bisnis yang tidak terintegrasi secara baik. pemasaran. pengalengan ikan. Belum dilaksanakannya pengembangan jaringan infrastruktur pelabuhan dalam tatanan kepelabuhan nasional yang berakibat pengoperasian pelabuhan tidak optimal sehingga secara nasional tidak efisien karena investasi yang berlebihan.2 Industri Perikanan Laut Indonesia yang kaya akan berbagai jenis ikan harus dimanfaatkan untuk pengembangan industri perikanan nasional yang didukung oleh armada dengan teknologi penangkapan ikan yang canggih. telah dibangun beberapa sarana dan prasarana berupa pelabuhan perikanan yang terdapat di 32 titik wilayah Belt Ekonomi Maritim yaitu di Lampulo. 59 . Industri perikanan nasional merupakan salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan perekonomian nasional dan ketahanan nasional bangsa Indonesia. Industri perikanan nasional meliputi pengolahan ikan. dan eksport yang sesuai dengan standart kualitas nasional dan internasional. sehingga menjadi industri perikanan yang terkemuka di dunia. 7. Untuk mendukung industri perikanan nasional. sistem dan kualitas serta kapasitas pelayanan pelabuhan.Gambar 6 Jaringan Pelayanan Transportasi Laut Antarpulau (Interinsulair) Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah Selain permasalahan di atas. budidaya perikanan. kapasitas dan kualitas pendidikan pelaut (SDM). dan kredit (pendanaan) untuk modal serta sistem hukum yang belum memadai. Pelabuhanpelabuhan di Indonesia umumnya belum mempunyai master plan yang memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjamin kepastian usaha dan investasi. manajemen yang kurang profesional. dan dikembangkan secara terpadu dengan pelabuhan perikanan. pengelolaan ikan dan pemasaran. armada perikanan. fasilitas. pajak dan retribusi.

Banjarmasin. Sungai Liat.Belawan. Karimun Jawa. Kep. Bengkalis. Sorong. Cilacap. P. P. P. Kendari. Lab. Roti. P. Kejawanan. Faktor-faktor yang menyebabkan permasalahan ini antara lain adanya pencurian ikan secara ilegal. Tarakan. untuk mencegah dan memerangi penangkapan ikan ilegal. Gambar 8. tanjung Pandan. Bawean. P. Bungus. dan laporannya di bawah standar. P. P. lemahnya pengawasan. Bitung. laporannya salah. Ambon. P. Brondong. Banda. P. Hantipan. Enggano. Pemangkat. Pekalongan. Sabang. Biak. Banggai. Bali. Waegeo. Wilayah Pengembangan Perikanan (WPP) dan Potensi Sumberdayanya Sumber : Makalah Perumusan Kebijakan Penguatan Kelembagaan Dewan Maritim Indonesia di Daerah 60 . Sikakap. Kupang. Bacan. Madura. Perigi. Nusa Barung. Wetar. Tello. Buru. Dagho. Tual. pengrusakan lingkungan hidup. Lombok. Sedangkan pelabuhan perikanan yang dalam pengembangan yaitu P. P.K o n d i s i industri perikanan di Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan. Teluk Batang. P. P. hal ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusi perikanan terhadap pendapatan nasional. Muarangantu. P. Bagansiapi-api. Sibolga. Pemerintah secara aktif melakukan pengawasan terhadap kapal-kapal ikan Indonesia. P. Kapal perikanan berbendera asing dilarang melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia. Pelabuhan Ratu. Tarempa. Sumba. Indonesia harus menjadi anggota organisasi dan komisi-komisi regional dan internasional yang berhubungan dengan aspek ekologi perikanan untuk menjaga sumberdaya perikanan secara berkelanjutan demikian juga memasuki organisasi/komite yang berhubungan dengan pemberian sangsi dan/atau pengawasan terhadap pencurian ikan dan perikanan yang tidak dilaporkan. dan lainnya dan juga mengenai masalah distribusi (pemasaran) yang masih dikuasai oleh negara asing.

Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya yang cukup besar. Perairan Indonesia diperkirakan memiliki potensi lestari ikan laut sebesar 6. cakalang. Laut Tomini dan Laut Maluku.36 triliun di tingkat produsen pada tahun 2002. ikan pelagis kecil 3. Sedangkan untuk budidaya laut yang meliputi ikan. Laut Sulawesi.291 ton (1994) menjadi 18. Selat makassar dan laut Flores.962 ton dengan 61 . rumput laut. Laut Arafura. Cakalang. ikan karang 145 ribu ton.6 juta).4 juta ton pertahun. dan Samudera Hindia. kecuali di Samudera Hindia terdapat Tuna besar. tiram. Laut Cina Selatan.46 triliun.568 ton senilai $627. kegiatan budidaya laut (marikultur) mencapai produksi sebesar 994. teripang. Di Indonesia terdapat beberapa wilayah pengelolaan sumberdaya ikan.53 juta ha yang terbentang dari ujung bagian barat Indonesia sampai ke ujung wilayah timur Indonesia yang diukur sepanjang 5 km dari garis pantai ke arah laut. Sedangkan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) khususnya laut dalam terdapat jenis ikan seperti Tuna besar. Pangsa ekspor ikan Indonesia selama ini di lakukan pada Negara besar di dunia seperti: Negara Jepang. Laut Banda.Pemanfaatan sumberdaya laut di Indonesia baru mencapai 62 % dari potensi lestarinya dan tidak sampai ambang batas merusak lingkungan seperti yang menjadi syarat dari Federation Agriculture Organization (FAO) sebesar 80 % pemanfaatan sumberdaya ikan dari potensi lestari.856 ton (senilai US$ 25. pelagis kecil.07 milyar.1 juta dibandingkan dengan tahun 1994 yang sebesar 69. Di kawasan Barat Indonesia (KBI) terdapat jenis ikan pelagis kecil. udang dan ikan domersal. Dan untuk produksi perikanan Indonesia sampai saat ini mencapai 618 juta ton pertahun.8 ribu ton. lobster 4. Sedangkan untuk benih ikan laut mencapai Rp 8. kerang mutiara.288 ton.65 juta ton. dan rumput laut. ikan demersal 1.293 ton (senilai US $ 20. Spanyol dan Negara Prancis. Pada tahun 1996 Jepang mengimpor ikan tuna/cakalang sebesar 69. Berdasarkan perhitungan harga di tingkat produsen tahun 2000 nilai produksi ikan tangkap mencapai Rp. Potensi tersebut terdiri dari ikan pelagis besar 1. Pada tahun 2000. mutiara mencapai produksi senilai Rp 1. 2003). Amerika. Jepang merupakan importir terbesar jenis ikan tuna dan cakalang baik dalam bentuk segar atau beku. kerang darah. Komoditaskomoditas yang dapat dibudidayakan pada areal tersebut antara lain: ikan kakap.6 juta ton. pelagis kecil. udang dan ikan demersal. kerang-kerangan. dan cumi-cumi 28. yaitu selat Malaka. kerapu. udang dan ikan demersal.7 juta US$. Potensi lahan kegiatan budidaya laut diperkirakan mencapai 24. mengalami kenaikan yang cukup berarti. Utara Jawa dan Selat Sunda. tiram. teripang. udang peneid 94. Selain potensi perikanan tangkap. Negara Spanyol dan Perancis yang masing-masing 7.7 juta) dan 6.36 juta ton. abalone. Importir lainnya adalah Amerika Serikat yang mengalami kenaikan drastis permintaan ikan dari 14.754 pada tahun 1996 senilai 116.8 ribu ton. 18.25 ribu ton (Dahuri.

nilai sebesar Rp 1,36 triliun berdasarkan nilai pada tingkat produsen (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). Indonesia juga memiliki potensi pengembangan budidaya tambak yang cukup besar. Lahan utama yang potensial bagi pengembangan budidaya tambak terletak di daerah hutan bakau. Ditjen Perikanan (1999) memperkirakan potensi lahan pengembangan tambak di Indonesia mencapai 913.000 ha, sedangkan tingkat pemanfaatannya baru mencapai 344.759 ha atau sekitar 40 persen dari total potensinya. Komoditas-komoditas potensial yang dapat dibudidayakan adalah: udang windu, udang putih, udang api-api, udang cendana, ikan bandeng, baronang, belanak, dan ikan nila. Pada tahun 2000, kegiatan budidaya tambak baru mencapai produksi sebesar 430.017 ton atau sekitar 24 persen dari potensi lahan yang tersedia, apabila setiap 1 ha lahan menghasilkan produksi 2 ton maka nilai produksinya sebesar Rp 7,46 triliun (Statistik Budidaya Perikanan, 2001). 7.3. Industri Pariwisata Bahari Pemerintah mendorong pengembangan potensi wisata bahari di seluruh perairan Indonesia sebagai upaya meningkatkan perekonomian nasional dan mendukung usaha masyarakat di bidang pariwisata. Pengembangan wisata bahari harus melibatkan peran serta masyarakat lokal, adat, dan pesisir serta memperhatikan pertimbangan para pemangku kepentingan, pelayanan satu atap dan kemudahan masuk Indonesia. Perencanaan wisata bahari harus dikaitkan dengan lingkungan dan tata ruang untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keterpaduan pembangunan serta memperhatikan keselamatan dan keamanan wisatawan, pelabuhan/marina, acara wisata dan pemasaran. Pengusahaan wisata bahari yang memanfaatkan pantai harus memberikan ruang bagi kepentingan umum. Pemerintah berkeinginan membangun infrastruktur pariwisata bahari, pelabuhan/marina, fasilitas umum keselamatan dan keamanan, bagi para wisatawan. Untuk menjamin keselamatan dan keamanan kapal-kapal wisata bahari, pemerintah menyediakan fasilitas berupa alat komunikasi dan stasiun-stasiun pelaporan radio, dan penjagaan pantai dan penyelamatan. Pengembangan wisata bahari di daerah perbatasan dan daerah pulau-pulau kecil terluar harus memperhatikan kepentingan Indonesia jauh ke depan, masyarakat negara tetangga dan batas-batas wilayah Indonesia. Dengan melihat latar belakang laut Indonesia yang merupakan terbesar dari Aseanarean, yang memiliki potensi wisata bahari beraneka ragam. Potensi ini mengandung keunikan dan kelangkaan dibandingkan dengan kawasan mediteranean dan carribean. Sebenarnya, industri wisata bahari Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata bahari terbesar di dunia dengan berbasis marine ecotourism. Namun industri ini juga tak luput dari ancaman yang timbul dari dalam maupun dari luar. 62

Ancaman-ancaman tersebut bisa berasal dari negara tetangga yang selama ini dianggap sebagai pesaing dan yang mengeksploitasi, keamanan yang belum kondusif, dan pemasaran yang masih didominasi oleh negara lain. Sementara dari dalam, ancaman itu muncul berupa masih adanya masyarakat yang merusak atau mencemari lingkungan. Cruising Approval For Indonesian Territory (CAIT) dan penyusunan Custom Immigration Port Clearance dan Quarantine (CIPQ) yang menyulitkan ditambah lagi kebijakan fiskal yang belum mendukung. Obyek wisata bahari yang meliputi wisata selam, wisata marina dan rekreasi air. Wisata selam menekankan pada usaha kegiatan penyediaan sarana, fasilitas atau jasa pemanduan untuk penjelajahan alam bawah air. Wisata marina merupakan kegiatan bisnis berupa penyediaan tempat berlabuh dan tambatnya kapalkapal pesiar, kapal layar atau lainnya. Rekreasi air adalah kegiatan usaha penyediaan sarana prasarana di perairan laut atau pantai. Kegiatan wisata bahari seperti pemancingan (game fishing), selancar, sky air, berenang, selam di kawasan terumbu karang, yang dihuni oleh berbagai jenis ikan hias laut. Jenis-jenis wisata demikian umumnya terdapat di pulau-pulau kecil yang menyebar di seluruh Nusantara. Potensi wisata bahari terdapat pada 21 pulau yang tercakup dalam Belt Ekonomi Kelautan, yaitu Pulau Sabang (game fishing); P. Nias (selancar angin dan game fishing), P. Siberut (game fishing, selancar angin); P. Enggano (game fishing, selancar angin); Ujung Kulon (game fishing, selancar angin); Pengandaran (wisata pantai); Cilacap (wisata pantai); P. Sumba (menyelam); P. Roti (game fishing); P. Biak (menyelam); P. Moyo (game fishing); Sanger Talaud (menyelam); P. Belitung (wisata pantai); P. Bali (wisata pantai, selancar angin); Krakatau (wisata pantai, game fishing); P. Karimata (wisata pantai); P.Rupat (wisata pantai). Pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan juga dapat dilakukan terhadap jasa-jasa lingkungan, terutama untuk pengembangan pariwisata dan pelayaran. Dewasa ini pariwisata berbasis kelautan (wisata bahari) telah menjadi salah satu produk pariwisata yang menarik dunia internasional. Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya adalah upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata bahari yang terdapat di seluruh pesisir dan lautan Indonesia, yang terwujud dalam bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis. Pada tahun 2002 pariwisata bahari menyumbang US$ 4,5 milyar atau menurun 16,5 persen dari tahun 2001 yang mencapai US$ 5,428 milyar (Media Indonesia, 2002). Penurunan ini disebabkan oleh kondisi stabilitas nasional Indonesia terutama setelah ledakan bom di pulau Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang lalu. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan bagi perkembangan dunia pariwisata pada khususnya, perekonomian Indonesia pada umumnya. Untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata, perlu upaya serius dari setiap elemen masyarakat Indonesia untuk 63

menciptakan suasana yang kondusif sehingga memberikan kenyamanan dan ketenangan di seluruh kawasan Indonesia. Selain itu perlu memperhatikan kekhasan, nilai jual dan peningkatan mutu komoditi pariwisata, sehingga dapat menarik masyarakat internasional untuk berkunjung ke Indonesia. Kemudian untuk Alur wisata bahari melalui kapal pesiar yang selama ini dikelola oleh Singapura yaitu: dari Singapura melalui Selat Karimata - Selat Makassar ke Manado – Wakatobi – Tabonerate – Bali – Karimunjawa – Kepulauan Seribu – Ujung Kulon – Karakatau – Raiu kembali ke Singapura. Biaya untuk menikmati wisata bahari tersebut 2000 dolar AS per orang. 7.4. Industri Energi dan Sumberdaya Mineral Pemerintah mendorong pengembangan industri energi dan sumberdaya mineral sebagai upaya peningkatan perekonomian nasional dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Industri energi dari laut bersumber pada dinamika gelombang, pola arus dan pasang surut dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung, sedangkan industri sumberdaya mineral bersumber dari air laut, dasar laut dan tanah dibawahnya dikembangkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, keterpaduan pembangunan lainnya, keselamatan dan keamanan kerja. Teknologi industri energi dan sumberdaya mineral dikuasai ahli-ahli bangsa Indonesia melalui pendidikan dan kerjasama luar negeri. Perubahan sumberdaya mineral di laut menjadi energi dikembangkan dengan memperhatikan penanganan limbah. Pengolahan dan penggunaan sumberdaya mineral dilakukan dengan memperhatikan hasil eksplorasi, potensi kandungan dan konservasi energi. Energi kelautan merupakan energi non-konvensional dan termasuk sumberdaya kelautan non hayati yang dapat diperbaharui yang memiliki potensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir dan lautan Indonesia. Keberadaan sumberdaya ini dimasa yang akan datang semakin signifikan manakala energi yang bersumber dari BBM (bahan bakar minyak) semakin menipis. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan adalah ocean thermal energy conversion (OTEC), energi kinetik dari gelombang, pasang surut dan arus, konversi energi dari perbedaan salinitas. Perairan Indonesia merupakan suatu wilayah perairan yang sangat ideal untuk mengembangkan sumber energi OTEC. Hal ini dimungkinkan karena OTEC didasari pada perbedaan suhu air laut permukaan dengan suhu air pada kedalaman 1 km minimal 20°C. Hal ini terlihat dari banyak laut, teluk serta selat yang cukup dalam di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar bagi pengembangan OTEC. Salah satu pilot plant OTEC dikembangkan di pantai utara Pulau Bali.

64

Sumber energi kelautan lainnya, antara lain energi yang berasal dari perbedaan pasang surut, dan energi yang berasal dari gelombang. Kedua macam energi tersebut juga memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Kajian terhadap sumber energi ini seperti yang dilakukan oleh BPPT bekerjasama dengan Norwegia di Pantai Baron, D. I Yogyakarta. Hasil dari kegiatan ini merupakan masukan yang penting dan pengalaman yang berguna dalam upaya Indonesia mempersiapkan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan energi non konvensional. Sementara itu, potensi pengembangan sumber energi pasang surut di Indonesia paling tidak terdapat di dua lokasi, yaitu Bagan Siapi-api dan Merauke, karena di kedua lokasi ini kisaran pasang surutnya mencapai 6 meter. Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi seluruh mineral dan geologi. Indonesia sebagai negara maritim memiliki kandungan minyak dan gas bumi yang besar, berdasarkan data geologi, diketahui bahwa Indonesia memiliki 60 cekungan potensi yang mengandung minyak dan gas bumi seperti di Selatan Makassar. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 cekungan berada di daerah transisi daratan dan lautan (pesisir) dan hanya 6 cekungan yang berada di daratan. Dari 60 cekungan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 84,48 milyar berel minyak, namun baru 9,8 milyar barel yang diketahui dengan pasti, sedangkan sisanya sebesar 74,68 milyar barel berupa kekayaan yang belum dimanfaatkan. Sumber mineral dasar laut ditemukan di daerah hidrotermal atau di daerah gunung api dasar laut yang terdapat di wilayah perairan Maluku dan Sulawesi bagian utara ini. Di daerah hidrotermal ini terjadi keluaran cairan magma dari perut bumi dan terjadi mineralisasi karena tercampur dengan air laut. Mineral ini bertumpuk-tumpuk di mulut magma yang menghasilkan puncak gunung yang runcing dan menjulang tinggi pada kedalaman sekitar 2000 hingga 4000 meter dari permukaan laut. Sebagai gambaran besarnya sumber tambang dasar laut di perairan ini adalah sumber tambang dasar laut di Papua Nugini yang mengandung tembaga, seng plumbum, emas dan perak, eksploitasinya mencapai tingkat 200 ton per hari. Disamping memiliki potensi migas, Indonesia juga memiliki potensi sumberdaya alam yang terdapat di pantai dan lautan meliputi seluruh mineral yang terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas A (mineral strategis: minyak, gas dan batu bara); kelas B (mineral vital: emas, timah, bauksit, nikel ,bijih besi, cromite); dan kelas C (mineral industri: termasuk bahan bangunan dan galian seperti granit, tanah liat, kaolin dan pasir. Secara umum pertambangan di wilayah Belt Ekonomi Maritim yang sudah beroperasi terdapat di Kepulauan Riau, Indramayu, Bawean, Bontang, dan Sale/Papua. Sedangkan wilayah lautan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wilayah pertambangan adalah Natuna, Teluk Cendrawasih, Banda/Maluku, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Selat Makassar dan Halmahera.

65

66 .

Dewan Maritim Indonesia. Dewan Maritim Indonesia. Assessing Cultural Anthropology (Section five).. Beals dan Stephen A. VU Uitgeverij/Free University Press. “Cultural in Motion”. 2003. “Anthropology of Fishing”. Acheson.DAFTAR PUSTAKA Acciaioli. New York. Small Fry: The Economic of Petty Fishermen in Northern Sri Lanka. H. 1981.”Searching For Good Fortune: the Making of A Bugis Shore Community at Lake Lindu. Amsterdam. 1984. 10 : 275-316. M. R. 1982. Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology. “On The Knowledge and Knowing of Cultural Activities”. Tyler (eds). In Robert Borofsky (ed). 1998. 1984. Andersen. Mc Graw-Hill. Marten. dan Cato Wadel. Indonesia Negara Maritim. Central Sulawesi”. XXII September-Desember 1998: 81-91. G. Memorial University of Newfoundland. In Bernard J. Alam R.57. Robert. Assessing Cultural Anthropology (Section five). Philip D. Tomoya. Mc Graw-Hill. James. Sociology of Development Research. Bavinck. Betke. Australian National University. London. Akimichi. Newfoundland Social and Economic Research.. 1994. 1994. Cambridge University Press. Direktori Dewan Maritim Indonesia. Siegel. Coastal Foragers in Transition. 1985. 1991.L. Inc. Palo Alto. F. No. Cross Cultural Trade in World History. Inc. Borofsky. Bernard. North Atlantic Fishermen: Anthropological Essays on Modern Fishing. Annual Review of Anthropology. London: Sage Publications.Menuju Membangun Negara Maritim. New York.1989. Th. Disertasi. In Robert Borofsky (ed. Research Metods in Anthropology. 67 . New York. Paper. 42. New York. “Modernization and Socio Economic Change in The Coastal Marine fisheries of Java : Some Hypotheses”. 1994. “Bugis Enterpreneurialism and Resource Use: Structure and Practise”. 1994. Naskah Akademik Rancangan Undang-undang tentang Kelautan. Assessing Cultural Anthropology.Russel. Centre University Bieleveld. 2004. Inc. National Museum of Ethnology.). McGraw-Hill. 2004. Vol.. Curtin. Senri Ethnological Studies No.

Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.P. The Sacred Cow and the Abiminable Pig: Riddles of on Food and Culture. McGraw Hill. Oxford: Oxford Univ. “Toward A Working Theory of Culture”. 2003. 68 . PT. Pradnya Paramita. Hamid. Adrian. 1975. New York..1987. Danusaputro Munadjat St. “Cognition and The Catch : The Location of Fishing Spots in a Brazilian Coastal Village”. Vol. New York. 2003. Wawasan Nusantara. Man (N. J. 2003.. Jakarta. C. Harris. 1982. Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan. 1988. 1994. Prof. Ginting. The Rise of Anthropologi Theory. Dahuri R. 1967. Malay Fishermen: Their Peasant Economy. Horridge. Assessing Cultural Anthropology (Section four. Pelestarian Budaya Kebaharian Masyarakat Sulawesi Selatan: Suatu Tinjauan Antropologi). 1995.Norton & Company Inc. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Inc. Teropong Kajian Tata Kelautan Indonesia. St.J. 1968. Forman. Dahuri. New York. pp: 262-282). Rowman & Littlefield Publishers. 1 (2) 1988. Sayling Craft of Indonesia. Firth. S. Louis. Sitepu. Orasi Ilmiah : Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumbedaya Pesisir dan Lautan. Simon & Schuster: New York. W.. 2003. Ethnology 6 (4): 417-426. R. Marvin.1999.Press. Introduction. Ward H. Laporan Semiloka Kebijakan Nasional Bidang Kemaritiman. Geertz. Raymond.S) 9: 511532. Rais. 1984. S. Jakarta. Dahuri. Kajiaan Penunjang Rancangan Undang-undang Maritim tentang Sistem Pertahanan Keamanan Laut. Bahan Konsinyir Penyusunan Draft RUU Kelautan. Goodenough. Rob van dan Jojada Verrips. Hasjim Djalal. Inc. Dewan Maritim Indonesia. Ginkel. R. 2004. “Culture and Sosial Change : The Indonesian Case”. Theories of Culture in Postmodern Times. Mr. New York. In Robert Borofsky (ed.). Crowell. Dalam Maritime Anthropological Study. 2003. Lumentah HMJ. M. 1986. 2004. IPB. Abu.Dewan Maritim Indonesia. 1996. Keanekaragaman Hayati Laut.W. Hengky Supit. Bogor. Indonesia and the Law of Sea.

pp: 396-410). De Hulpmiddelen der Zeevisscherij op Java en Madoera in Gebruik. 1985. 1980.Colf & Co. J. Inc. Hamzah.). University of London. Universitas Hasanuddin –PPT-LIPI. McGraw-Hill. Universitas Hasanuddin Bekerjasama COREMAP LIPI. 1994. Louis. Lampe. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. Mattulada. 1996/1997.1997/ 1998. Buku 1 dan 2. 397-408. Proyek dibiayai oleh Bank Dunia. “Multilevel Linkages: Longitudinal and Comparative Studies”. Laporan penelitian. Kottak dan Elizabeth Colson. “Theory of Culture Revisited”. 2001. Jakarta. Lampe. 1909.. Jhon Pieres. Munsi. Yogyakarta Perwakilan KITL V.T. Disertasi. Serba Serbi Konsultasi Hukum Maritim. Motik Chandra. dan Ansar Arifin. dan Ramli A. Munsi. Kampen. In Robert Borofsky (ed. 20-21 Sept. Territorial dan Perairan Indonesia. Pengembangan Sumber Daya Kelautan(Laut. Assessing Cultural Anthropology (Section five. A. Batavia: G. “Studi Pemanfaatan Sumberdaya Laut dalam Rangka Optimasi Zonasi Taman Nasional Taka Bonerate”. 2000. Proyek Dibiayai Bank Dunia. Archipel 10: 173-201. “Pasompe “Ugi”: Bugis Migrants and Wanderers”. Roger M. “Studi Analisa Sosial – COREMAP Propinsi Sulawesi Selatan”. Jakarta. Laporan penelitian. Jakarta. Buku 1 dan 2. Jakrta. Universitas Hasanuddin – PPT -LIPI.van.N. Menyisir Pantai Utara. Masyhuri. Inc. SH). Jakarta. Darmawan salman. Pokok-pokok Pemikiran Pembangunan Maritim. McGraw Hill. “An Indonesian Society and Its Universe: A Study of the Bugis of South Sulawesi (Celebes) and their Role Within A Wider Social and Economic System”. Sanur.m New York. 1996. St. Keesing.Hasil Sarasehan Nasional Dewan Maritim Indonesia. Pengantar Ilmu Antropologi.9. 1975a.2000. 69 . Makalah dalam Seminar Menejemen Pembangunan Menurut Budaya Bangsa Indonesia.). School of Oriental and African Studies. In Robert Borofsky (ed. P. No.1985. Laporan penelitian.1975b. Lineton. Yayasan Pustaka Nusantara. IND-HILL-CO. Mededeelingen Uitgande van het Departement van Landbow. Aksara Baru. Manusia Bawahan dalam Menejemen. 2003. PP. Dr. Mardiana. Assessing Cultural Anthropology (Section four). 1994. Koentjaraningrat. New York.

Coastal Economies.W. Ecological Sustainability and Social Security in the Management and Exploitation of Land and Water Resources in Indonesia. Schoorl. C. Spermonde.” Padang. New Haven. Melbourne. 6-9 Sept. Moka. Pujo. 1991. New Haven. Dissertation. Laporan Penelitian. Closed to the Stone. Disertasi. 2004. Taka Bonerate dan Pulau-Pulau Sembilan”. Osseweijer.Macknight.IK. Universiteit te Leiden. Ideology and Change in the Early State of Buton. Laporan Perumusan Kebijakan Maritim Sebagai Pemersatu Bangsa. Paeni. Makalah disajikan dalam Seminar Kebudayaan Maritim. Pigs for The Ancestors: Ritual In the Ecology of New Guinea People. Manon. Manchester University Press. Laporan Perumusan Kebijakan tentang Penguatan Kelembagaan. Macassan Trepangers in Northern Australia. Willem.IK. 2001. Melbourne University Press. 2004. Gisli.C. J. 2004. “Power. 23-27 June 1986. 1999. Watupongoh Navy. 1976. (Enlarge Edition) Yale University Press. Hermin. Dirjen Kelembagaan Departemen Perikanan dan Kelautan RI. S. Cultural Accounts: Human Ecology and Icelandic Discourse. 1968. 2002. 1986. Praharani Synthesa. 1999. Mukhlis. S. Prof. Paper to be presented at the “Conference on Legal Complexity. Semedi. The Voyage to Marege . Rappaport. Far from the Throne.” Fifth DutchIndonesian Historical Congress diselenggarakan pada Lage Vuursche – Nederland. 1985. 2001. Pigs For the Ancestors: Ritual in The Ecology of New Guinea People.Dr. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan. Universiteit te Amsterdam. Sistem-sistem Tradisional Sebagai Institusi Dalam Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya di Wilayah Pesisir. Rompas Max Rizald. Pusat Studi Lingkungan Universitas Hasanuddin. Palsson.1984. Penyusunan Scenario Planning Sumber Daya Perikanan Di Wilayah Papua. Proyek Pengkajian Kebijakan Kelautan. Taken at the Flood: Marine Resource Use and Management in the Aru Islanders (Maluku. U. Roy A. Nur Indar dan Lampe. 1995. Eastern Indonesia). 70 . Memahami Kebudayaan Maritim di Sulawesi Selatan. Laporan Penelitian. Soselisa. Sasi in Maluku: Communal Property and Communal Rights in Marine Resource Management. Pandang. Yale University Press. Fakultas Sastra Unhas. “Penjajakan Awal Mengenai Kondisi terumbu Karang Di Kep.

The China Trade of Eightreenth Century Makassar. CSSP Publication. Fishers of the Visayas: Visayas Maritime Anthropological Studies. Onderzoek naar Mindere Welvaart der Inlandsche Bevolking op Java en Madoera. CYPED. Wallerstein. 2001. H. “Studying Human Actions and Their Environmental Consequences”. I. 1984. “Action and Consequences as Objects of Explanation in Human Ecology”. Cambridge University Press. Technology and Society 51 : 2-7. Vayda Andrew P. The Capital World-Economy: Essays. 1905. Leiden. Cabagan. Isabela Philipines. 1972-1820”. Vercruijsse. II. Ushijima dan Cynthia Neri Zayas. Immanuel. PP. 293-307.Sutherland. “ Tripang and Wangkang. Welvaartcommissie. Cambridge. Batavia: Landsdrukkerij. University of the Philippines. 1991-1993. Diajukan Pada Konferensi Tentang Trade. 1992.1988. 1987. 71 . London: Zed Books Ltd. 1979. 2-6 Nopember 1987 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. The Penetration of Capitalism: A West African Case Study. Society and Belief in South Sulawesi. Environment. Makalah. Overzicht van Uitkomsten der Gewestelijke Onderzoekingen naar de Vischteelt en Visscherij en Daaruit Gemaakte Gevolgtrekkingen. Emile. In Forestry for People and Nature.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->