P. 1
Menurut Daniel Goleman

Menurut Daniel Goleman

|Views: 222|Likes:
Published by msemelekethe

More info:

Published by: msemelekethe on May 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2015

pdf

text

original

Menurut Daniel Goleman (Emotional Intelligence – 1996) : orang yang mempunyai IQ tinggi tapi EQ rendah cenderung mengalami kegagalan

yang lebih besar disbanding dengan orang yang IQ-nya rata-rata tetapi EQ-nya tinggi, artinya bahwa penggunaan EQ atau olahrasa justru menjadi hal yang sangat pending, dimana menurut Goleman dalam dunia kerja, yang berperan dalam kesuksesan karir seseorang adalah 85% EQ dan 15% IQ. Jadi, peran EQ sangat signifikan. Kita perlu mengembangkan IQ – menyangkut pengetahuan dan keterampilan, namun kita juga harus dapat menampilkan EQ yang sebaik-baiknya karena EQ harus dilatih. Untuk meningkatkan kemampuan IQ dan EQ agar supaya dapat memanfaatkan hati nurani kita yang terdalam maka kita juga harus membina SQ yang merupakan cerminan hubungan kita dengan Sang Pencipta / Allah SWT, melalui SQ kita dilatih menggunakan ketulusan hati kita sehingga mempertajam apa yang dapat kita tampilkan. Jadi perpaduan antara IQ, EQ dan SQ inilah yang akan membina jiwa kita secara utuh, sehingga kita dapat meniti karir dengan baik, dimana akan lebih baik lagi jika ditambahkan AQ (Adversity Quotient) yang mengajarkan kepada kita bagaimana dapat menjadikan tantangan bahkan ancaman menjadi peluang. Jadi yang ideal memang saudara harus mampu memadukan IQ, EQ, SQ dan AQ dengan seimbang sehingga Insya Allah saudara akan menjadi orang yang sukses dalam meniti karier. IQ (INTELLEGENCE QUOTIENT)ADALAH : IQ (Intelectual Quotient) atau pengalaman, skill, pengetahuan, dan berbagai hal yang berhubungan dengan kecerdasan intelektual dan dapat meningkatkan derajat kita ke tempat yang lebih tinggi dari orang lain. Dengan begitu kesuksesan akan dapat lebih mudah dicapai. Apakah benar begitu? EQ (Emotional Quotient) EQ (Emotional Quotient). Dengan kecerdasan emosional, kita justru akan lebih mendalami kecerdasan intelektual kita dalam berbuat dan berperilaku. Karena hanya dengan IQ saja, tentu sangat mustahil orang bisa meraih kesuksesan. Tergantung kesuksesannya seperti apa dulu, kalo suksesnya membunuh orang-orang nggak berdosa dengan membantainya satu persatu, dengan kemampuan menembak, merakit bom, memilih senjata, berkelahi, membuat virus komputer, melakukan aktifitas hacking dll. Sebuah penelitian di Amerika dan Jepang menyatakan bahwa dari 100% orang sukses, hanya 10-20 persen aja yang berpendidikan tinggi, berijazah lengkap, dan tentunya dengan IQ yang di atas rata-rata, selebihnya, 80-90 persen hanya lulusan SMA, SMP, atau bahkan tidak punya latar belakang pendidikan, kebanyakan dari mereka mengawali karir dari berdagang. Hal ini membuktikan bahwa IQ bukanlah segala-galanya. Dari beberapa penelitian juga dikatakan bahwa justru orang-oarang yang ber IQ tinggi malah memiliki kesulitan dalam bergaul, berinteraksi, mengembangkan diri, dan ber-attitute baik. Ternyata, kecerdasan IQ dan EQ aja belum cukup untuk menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, masih ada satu hal lagi yang selama ini kita lupakan. Memang, kedua hal tersebut sudah cukup memberikan peranan dalam meraih kesuksesan, tapi, apakah kita akan puas dengan kesuksesan-kesuksesan kita? tentunya nggak. kita akan terus meraih apa yang kita inginkan. terus dan terus menerus… Tapi pernah nggak sih kita menyadari bahwa segala hal yang kita raih dalam kesuksesan itu justru malah akan menjerumuskan kita dalam-dalam? Berbagai pengalaman yang pernah gue baca, masalahnya sama, yaitu nggak adanya kepuasan dalam hidup meski kita berada dalam kesuksesan tertinggi. Ambil aja contoh Fulan, Fulan adalah seorang pelajar yang pintar, nilainya bagus terus dan meraih peringkat pertama di sekolahnya, hingga pada akhirnya dia disekolahkan ke luar negeri, setelah lulus, ia mengambil S2 di negeri belahan lain lagi. lalu ia kerja, mendapat posisi yang paling tinggi, dan terus begitu hingga pada akhirnya ia sadar kalau selama ini memiliki kesulitan untuk menghadapi hidup dan menganggap kesuksesan bukanlah segala2nya… masih ada lagi yang mesti ia cari… tapi apakah itu???

Pemimpin yang menerapkan nilai-nilai EQ akan menggunakan hatinya dalam memimpin. dilakukan dengan prinsip just do it. Inggris dan Amerika ada materi tambahan yang berkaitan erat dengan life skill dan leadership. alam pra sadar (EQ). ” Kinerja diartikan sebagai kualitas dan Kuantitas output dari suatu proses manajemen “. dan sebuah unsur terdalam otak manusia yang disebut GOD SPOT. dengan demikian visinya tidak sebatas sampai akhir kehidupan dunia saja. Pencapain visi dan misi oleh pemimpin yang hanya mengandalkan IQ. Padahal definisi kinerja yang berlandaskan ESQ adalah “Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi. tidak semata-mata logika sebagaimana pendekatan IQ di atas. Disitu aspekkejujuran. Justru inilah banyak menyebabkan timbulnya kemerosotan moral dan etika karena mereka dapat melakukan dengan berbagai cara untuk mencapai hasil yang diharapkan. pemahaman akan individu dan masyarakat. semata-mata mengharap ridha Allah SWT. dan Fatonah (berpendirian kuat) dalam memimpin. maka visi dan misi serta orientasi kerjanya sebatas pada hal-hal yang sifatnya materialistis. Visi dan misinya sangat jauh kedepan karena dihasilkan dari proses memahami masa lalu (sejarah) yang sangat jauh ke belakang. Demikian juga dalam hal pengukuran kinerja karyawannya. sehingga ukuran yang digunakannya bukan lagi ukuran manusia tapi sudah menggunakan ukuran Tuhan Pencipta Alam Semesta. dengan mengacu pada definisi ini. disikapi sebagai prinsip just a game. dimana semua perilaku kita di dunia akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT dan kita yakin bahwa pengadilan akhirat akan kita hadapi. tetapi kriteria proses untuk mencapai hasil tersebut juga sangat diperhatikan. sehingga segala bentuk kegagalan ataupun keberhasilan. tidak seamta-mata hanya berorientasi pada hasil seperti yang populer dikembangkan di Barat. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masingmasing dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara legal. hanya sebatas pada hubungan antar sesama manusia dengan mengabaikan hubungan dengan Tuhan Pencipta Semesta Alam. Landasan EQ dan SQ Dalam Kepemimpinan Seorang pemimpin yang hanya berlandaskan pada IQ saja.Ada yang bilang ketenangan sejati? Terus bagaimana caranya agar kita dapat meraih ketenangan sejati tersebut? sebuah pertanyaan besar. Namun konsep itu nampaknya masih terlepas dari nilai-nilai luhur ajaran agama. Oleh karena itu prinsip just do it nya adalah mengerjakan segala sesuatu dengan penuh keikhlasan karena melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang pemimpin. yaitu alam sadar (IQ). Kriteria berdasarkan hasil hanya berfokus pada apa yang telah dicapai atau dihasilkan ketimbang bagaimana sesuatu itu dicapai atau dihasilkan . Hal ini berarti.bukan? Beberapa pakar kecerdasan telah menemukan tiga tingkatan alam dalam otak manusia. Penerapan EQ ini ditunjukan dengan sifat sidik (jujur). tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika”. Pemimpin yang mendalami dan menerapkan nilai-nilai SQ dipadukan dengan nilai-nilai EQ. kriteria berdasarkan hasil hanya tepat diberlakukan bagi organisasi yang tidak peduli bagaimana hasil ini dicapai. ultimate goal nya semata-mata mendapat ridha Allah SWT. Salah satu contoh definisi kinerja yang dikemukakan seorang ahli barat John Whitmore. Hal itulah yang ternyata dapat meningkatkan potensi kecerdasan spiritual atau SQ (Spiritual Quotient) kita. bahkan ultimate goal nya juga masih sebatas mancari kepuasan materiil atau duniawi. sebuah titik terang yang berada di alam bawah sadar manusia. ditambah basic technology diberikan sebagai menu sehari-hari. Amanah (terpercaya). Tabligh (berani menyampaikan kebenaran). maka kinerja itu dapat berupa produk akhir (barang dan jasa) dan atau . Mulai dari upaya memahami penciptaan alam dan manusia sampai meyakini bahwa tujuan akhirnya tidak lain adalah akhirat. dengan mengenyampingkan hal-hal yang berbau spirituallits dan sentuhan hati nurani. namun pendekatan EQ ini sasaran akhirnya cenderung masih tetap sama dengan pendekatan IQ yakni sebatas mengejar kepuasan materiil atau duniawi. matematis dan pragmatis. tapi sampai pada kehidupan akhirat. Konon di dalam dunia pendidikan negara maju seperti Jepang.

EQ. dan lain-lain. Kalau bimbingan konseling ini sudah dilakukan secara efektif dengan memesukan semua aspek kecerdasan yang diperlukan. ia akan terbiasa berperilaku tidak jujur. yakni dimensi kendali. Konsep Kesimbangan AQ. jelas bahwa AQ sangat berhubungan erat dengan IQ. menginjak kepala orang. melanggar norma dan autran yang ada. tidak mencontek atau tidak menjiplak makalah orang lain. Kriteri ini sangat penting khusunya bagi pekerjaan yang membutuhkan hubungan antar personal. tapi bagaimana proses untuk mencapai output tersebut . Penilaian keberhasilan peserta didik bukan hanya dilihat dari ketepatapan waktu menyelesaikan seluruh program studi.Penerapan keseluruhan aspek kecerdasan ini sangat efektif kalau dilakukan dalam kegiatan bimbingan konseling disetiap lembaga pendidikan. Dimensi jangkauan yang menyatakan sejauhmana kesulitan ini akan merambah kehidupan seseorang menunjukkan. korupsi. Dimensi kedua tentang tentang asal usul sangat terkait erat dengan SQ. sekalipun tidak berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. sebagai contoh dalam toko swalayan. dan perilaku amoral lainnya ia akan selalu mencari jalan pintas yang mudah ia lakukan untuk mencapai tujuannya walaupun harus menyikut orang lain. apakah kasir-kasirnya dean pelayannya ramah atau menyenangkan pelanggan ? Toko itu harus membuat daftar perilaku tertentu yang harus diikuti karyawan. Kalau kriteria tidak secara cermat dipantau dan diperhitungkan. Dimensi daya tahan dimaksudkan bahwa makin tinggi daya tahan seseorang. perilaku-perilaku itu dapat diukur langsung oleh pelanggan/pembeli. atau sejauhmana seseorang mempersalahkan orang lain atau lingkungan yang menjadi sumber kesulitan dan kegagalannya. keseluruhan aspek kecerdasan (IQ. Menurut Stoltz(2000) indikator-indikatornya dapat dikelompokkan menjadi empat dimensi. Dimensi kendali terkait dengan EQ yakni sejauh mana seseorang mampu mengelola kesulitan yang akan datang. makin mampu menghadapi berbagai kesukaran yang dihadapinya.berbentuk perilaku. material dan spritual. dimensi jangkauan serta dimensi daya tahan . kecakapan. dimensi asal usul dan pengakuan. kolusi. EQ dan SQ dalam Kurikulum Pendidikan. Padahal kalau seseorang memiliki kecerdasan adversitas ( Adversity Intelligence) akan mampu menghadapi rintangan atau halangan yang menghadang dalam mencapai tujuan. demikian jugab kalau haya sekedar SQ dan EQ tidak akan mampu mendukung keberhasilan hidup seseorang secara utuh. sejauh mana kesediaan untuk bertanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan tersebut. EQ dan SQ. Kriteria berdasarkan perilaku ini sangat penting karena mampu mengindentifikasikan bagaiaman pekerjaan itu dilaksanakan. maka hasilnya akan nampak takala lulusan ini mengabdikan ilmunya ditempat kerja. Pemahaman EQ dan SQ akan lebih mudah dilakukan melalui kegiatan tatap muka secara langsung dengan menggugah hati nurani setiap peserta didik untuk berperilaku baik dan mampu negendalikan diri serta berinteraksi dengan orang lain secara baik pula. sarana dan keterampilan spesifik yang dapat mendukung pencapaian tujuan organisasi. apakh dengan cara -cara yang jujur. IQ. kompetensi. Pengukuran kecerdasan adversitas yang dinyatakan dengan AQ (Adversity Quotient) yaitu nilai yang diperoleh dengan pembagian tertentu. Dan yang lebih penting lagi adalah. makin tinggi usaha yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. menurut Goleman kata jangkauan ini berhubungan dengan lamanya seseorang terlarut dala suasana hati yang tidak menentu. Dalam teori kecerdasan emosional. Berdasarkan uraian di atas. Di lingkungan dunia pendidikan. tapi bagaimana perilaku siswa saat mengikuti evaluasi/ujian. maka sudah saatnya penilaian keberhasilan siswa/peserta didik tidak sekedar pada tataran output (produk). Memahami Potensi Qalbu Dalam Kepemimpinan . tidak berupaya mencari bocoran soal dari lain-lain. SQ dan AQ) perlu mendapat bobot perhatian yang seimbang. Hal ini penting mengingat IQ saja tidak menjamin keberhasilan hidupseseorang. bagaimana suatu masalah mengganggu aktivitas lainnya. Makin tinggi kesediaan seseorang untuk bertanggung jawab atas kegagalan atau kesulitan yang menghadang. yakni sejauhmana seseorang mempersalahkan dirinya ketika ia mendapati bahwa kesalahan tersebut berasal dari dirinya.

Fu`ad dengan kandungan akal. kesopanan. Fungsi akal membantu fua`ad untuk menangkap seluruh fenomena yang bersifat lahir. berfikir. Sementara itu akal kita akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang ada disekitarnya melalui penglihatan dan pendengaran yakni fenomena alam. Fu`ad yang berfungsi akan menyebabkan diri kita selalu terlibat dalam tanya jawab. yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna . Dimensi fu‟ad memberikan ruang untuk akal. berani bertindak. Fu‟ad melihat berbagai alamat (tanda) yang kemudian menjadi ilmu untuk mewujudkannya dalam bentuk amal/perilaku. maka akan terjadi sebaliknya. zikir. peranan fu`ad merupakan pasukan qalbu yang paling aterdepan. budaya dll. apakah dirinya berpihak kepada kebenaran ataukah sedang berada dalam posisi yang salah. wujud. tata nilai. Seluruh potensi qalbu harus selalu disinari cahaya illahi (Ruh kebenaran). adat. pikir. mengingat peranan iblis yang dengan gigih berusaha untuk memadamkan cahaya illahi dan menggantinya dengan nyala api yang bernuatan elemen-elemen rendah dan fana yang penuh dengan nafsu hewaniah. sehingga dapat melaksankan berbagai kebijakan pimpinannya dengan baik. dan penglihatan. inilah inti dari pelaksanaan manajemen sialturahmi. kalau yang menang adalah iblis/syetan. Dalam mengambil sikap atau keputusan. dan nyata dengan mendayagunakan fungsi nazhar “indra penglihatan” sedangkan hal-hal yang bersifat perenungan. Shadr ini juga mempunyai potensi untuk mampu memberikan penghargaan atau apresiasi terhadap nilai-nilai keindahan. yang mencakup kepekaan atas keindahan. Pengawal setia Fu‟ad ini adalah akal. Shadr adalah potensi kalbu untuk menangkap seluruh nuansa alam dan manusia dari kacamata rasa. Kalbu dengan dimensi Shadr nya akan mengolah hal-hal yang menyangkut aspek emosional. dan kelembutan. dan bertanggung jawab. Dalam menyaring input-input ini terjadi interaksiantara akal dan kalbu. memilih dan mengolah seluruh data yang masuk dalam qalbu dan aqal manusia. yang mendayagunakan peran hati nurani. Fu`ad tampil sebagai assabiqunal awwalun dari pendayagunaan potensi qalbu. Hidup manusia diwarnai oleh pertarungan sengit antara malaikat dan iblis untukmemperebutkan posisi strategis di dalam nafs. sehingga implementasi dari silaturahmi ini bukan hanya sekedar perbuatan lahir/fisik/jasad. Oleh karena itu semua perbuatan manusia selalu didahului pro-kontra. saling hormat menghormati antara pemimpin dan bawahannya. terutama jika perbuatan itu belum menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh yang bersangkutan. Akal berkaitan dengan keadaan untuk menangkap seluruh gejala alam yang tampak nyata. Keseluruhan interaksi dari ketiga potensi qalbu ini kemudian akan dirangkum dalam nafs (ego) nafs inilah yang akan mengambil keputusan akhir yang akan ditindaklanjuti secara fisiologis. budaya dan menghormati orang lain. dan tidak tampak dalam penglihatan diserahkan kepada potensi pikir dengan mendayagunakan fungsi sam`a “pendengaran”. pendengaran. Kecerdasan Spiritual (SQ) Pengertian SQ Denah Zohar dan Ian Marshall juga mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value. Seseorang yang IQ nya tinggi belum tentu termasuk katagori orang yang mendayagunakan fu`ad untuk mengenal hakikat dari penciptaan langit dan bumi serta segala yang tampak. bertafakur. pemahaman mendalam terhadap hakikat yang bersifat ghalib tidak nyata. yang ditunjukkan dengan ketulusan untuk saling mencintai dan menyayangi sehingga timbul saling percaya. tapi sudah melibatkan peran hati nurani. zikir dan pikir mampu mengetuk nurani untuk mengambil keputusan secara kritis. maka seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk bertanya kepada hati nurani dan menggugah hati nurani masyarakat yang dipimpinnya. Sedangkan jika yang menang adalah malaikat. sehingga ia akan tetap berada didalam jalan kebenaran. perbuatannya sudah dapat dipastikan perbautan buruk yang akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.Setiap manusia akan dipengaruhi oleh dua bisikan ke dalam qalbunya yakni bisikan baik dari malaikat dan bisikan buruk/jahat dari iblis/syetan.

lebih efektif. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada. menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Selain itu menurut Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2001. Individu yang mampu mengembangkan kecerdasan spiritual akan memiliki prinsip dan cara pandang yang realistis. EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi. .penjelasan ini juga berlaku terhadap keluarga dimana kecerdasan ini sangat penting dalam membangun karakter manusia yaitu anggota keluarga yang mengilhami orang disekitarnya. Apabila tindakan didasari dibimbing oleh yang benar maka tindakan ucapan. maka ia pun dapat membangun hubungan saling tergantung. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Mind (Psikis) and Soul (Spiritual). yang spiritual. kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran). Setiap pribadi yang menjadi mandiri. dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik). Dengan memberi makna yang positif itu. digerakkan oleh nilai dan mampu mengaplikasikan integritas. proaktif. Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. dan sikapnya menjadi bijaksana dan penuh kebaikan. Mengenai karakter manusia yang mengilhami dan memberikan pengaruh positif berdasarkan visi dan prinsip yang lebih tinggi ini covey menerangkan bahwa kemenangan publik di mulai dengan kemenangan pribadi. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Jadi seharusnya IQ. berpusat pada prinsip yang benar. Kecerdasan spiritual mampu mengungkapkan yang abadi. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa. bahkan penderitaan yang dialaminya. masalah. mampu menyatukan keragaman. Peranan SQ dalam Informatika Menurut Zohar dan Marshal. maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi „pusat-diri‟ Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang SQ nya tinggi cenderung menjadi pemimpin yang penuh pengabdian. yang fitrah dalam struktur kecerdasan manusia. Dengan kecerdasan spiritual pribadi akan memiliki pribadi utuh dan berpusat pada prinsip yang benar. yang asasi. lebih sempurna. Dari pernyataan tersebut. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa. lebih bijaksana dari dalam keluar sehingga membuat manusia dapat lebih benar. Kecerdasan Spiritual (SQ) penting dalam kehidupan. Lebih bahagia dan menyikapi sesuatu dengan lebih jerih sesuai dengan bimbingan nurani yang luhur dalam keseluruhan hidupnya. Ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain.yang lebih luas dan kaya. dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan). Kecerdasan spiritual juga mampu membimbing kecerdasan lain berdasarkan prinsip yang hakiki untuk membuat kita lebih arif. kaya. jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan. Dari pernyataan tersebut. dan menstranformasikan kesulitan menjadi medan penyempurnaan dan pendidikan spiritual yang lebih tajam dan matang. Tempat untuk membangun hubungan apapun adalah di dalam diri sendiri. dan meciptakan pribadi utuh yang mampu bertindak bijaksana sehingga dalam keluarga tadi tercipta suatu kesinambungan. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. langgeng dan sangat produktif dengan orang lain. tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. Mengenalkan SQ Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. dalam lingkungan pengaruh dan karakter. ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. mampu memaknai.

Pendek kata. yaitu mampu menghasilkan ide-ide baru (orisinil) dalam meningkatkan daya saing dalam dunia kerjanya dan lebih luas lagi daya saing di era globalisasi. mampu mencari dan menciptakan terobosan terobosan dalam membatasi berbagai kendala atau permasalahan yang muncul dalam lembaga profesi yang mereka geluti. Hambatan dan peluang akan ditemui dalam mencapai cita-cita masa depan. “S” Strenght (Kekuatan). namun penelitian mengungkapkan bahwa manusia berkreasi adalah karena adanya kebutuhan dasar. gagasannya sendiri maupun orang lain. tidak ada satupun pernyataan yang dapat diterima secara umum mengenai mengapa Peran CQ dalam Profesi Informatika Seseorang yang kreatif akan menjadi lebih terbuka pikirannya terhadap imajinasinya. kegembiraan hidup dan kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Seorang pelaksana profesi haruslah bersikap fleksibel.CQ (CRETIVITY QUOTIENT) Pengertian CQ Potensi seseorang untuk memunculkan sesuatu yang penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi serta semua bidang dalam usaha lainnya Kreatifitas adalah kemampuan untuk mencipta dan berkreasi. kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia. AQ(Adversity Quotient) Pengertian AQ(Adversity Quotient) Menurut Stoltz. kepercayaan diri yang lebih besar. seperti : keamanan. Sekalipun beberapa pengamat yang memiliki rasa humor merasa bahwa kebutuhan manusia untuk menciptakan berasal dari keinginan untuk “hidup di luar kemampuan mereka”. Namun satu hal yang perlu diyakini bahwa tidak ada manusia yang sempurna. orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah. Peran AQ dalam Profesi Informatika Adversity Qountient adalah kemampuan / kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampumengatasi tantangan hidup resiko. jadi atau tidaknya. yang akan mengarungi semua tantangan dan rintangan yang ada”. Setiap individu mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. haruslah mempunyai CQ yang tinggi. AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. Analisis SWOT merupakan suatu teknik yang dapat digunakan untuk menelaah tingkat keberhasilan pencapaian cita-cita/karier. adalah mereka yang kreatif.Pelaksana profesi yang ingin menjadi seorang yang profesional hendalah menetapkan dihati bahwa “Saya adalah pendaki sejati. . serta sejauh mana sikap. SDM sebagai pelaksana suatu profesi dengan tingkat kecerdasan kreativitas (CQ) yang tinggi. selalu menginginkan perubahan-perubahan kearah kehidupan yang lebih baik. adalah sebuah potensi yang ada pada diri sendiri yang mendukung cita-cita / karier.” tulis Stoltz. cinta dan penghargaan. serta tidak dapat diam. tidak ada jalan yang lurus mulus. reformatif dan tidak statis. Seorang pelaksana profesi yang ingin mencapai nilai-nilai profesional. komunikatif dan aspiratif. akan menuntaskan pekerjaannya. “AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana. Mereka juga termotivasi untuk berkreasi oleh lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup yang lebih menyenangkan.

Hal ini berarti manajemen silaturahmi belum dijalankan dengan baik. adalah segala sesuatu yang dapat menggagalkan rencana citacita/ karier yang berasal dari diri sendiri atau lingkungan. sehingga tidak dapat menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungan dan leadership dalam setiap jenjang pendidikan. melepas belenggu mental. adalah seluruh kekurangan yang ada pada diri sendiri dan kurang mendukung cita-cita/ karier. Konsep manajemen silaturahmi (Masil) menghendaki agar semua persoalan dapat diselesaikan melalui pendekatan hati nurani. “O” Opportunity. agar dapat menjalin hubungan dengan orang lain secara baik dan efektif. berserah diri kepada Tuhan. tapi kontribusi terbesar yang mendukung keberhasilan seseorang adalah kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam wujud siltarturahmi basa-basi atau seremonial. Tidak ada artinya tangan bersalaman dan saling tegus sapa antara pimpinan dan bawahannya. sementara kelompok yang lain diabaikan bahkan luput dari perhatiannya. hidup sehat dan lain-lain. (Peluang). seperti kemampuan membaca. Kesimpulan dan Saran Faktor keberhasilan seseorang didalam memimpin ternyata bukan semata-mata ditentukan oleh faktor pendidikan formal atau bahkan bukan ditentukan oleh kemampuan dan kecerdasan inteltual. Kurikulum pendidikan harus mengarah pada peningkatan kompetensi berkenaan dengan keterampilan hidup. .“W” Weakness (Kelemahan). Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan Zero Mind Proces. Dalam upaya mewujudkan gagasan itu program jangka penjangnya perlu ada upaya penyempurnaan system pendidikan nasional kita sebagaimana diterapkan di negara maju yakni memberikan muatan-muatan life skill. Keterampilan hidup yang lebih luas. adalah segala sesuatu yang dapat menunjang keberhasilan cita-cita/karier. Tidak ada gunanya kalau seorang pemimpin menggembar -gemborkan perlunya silturahmi tapi ia tidak memberikan contoh yang baik dalam melaksanakan siltaturahmi yang berkualitas. maka emosi terkendali. dengan prinsip saling menyayangi diantara sesama manusia. tapi silaturahmi yang ikhlas semata-mata untuk mewujudkan dan mempererat tali kasih sayang. sehingga anak didik mampu menghayati kehidupan dan lingkungannya. Keterampilan hidup yang dimaksud bukan hanya kompetensi untuk memperoleh pengetahuan dan untuk memperoleh pengetahuan dan untuk tumbuh berkembang bagi diri sendiri. tercipta dalam bentuk aplikasi nyata. Kadang-kadang ada pemimpin yangmampu bersilaturahmi dengan sebagian kecil kelompok. akal/logika berpikir terjadi ketenangan batin. tetapi perlu diberikan kompetensi organisasi dengan baik. Maka potensi energi dan nilai spiritual muncul dan bangkit. berhitung. Dalam hal ini kemampuan intra personal dan inter personal sangat mendukung untuk maksud tersebut. “T” Traits (Ancaman). di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakat. tapi hatinya tidak ikut bersalaman. baik di rumah. menulis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->