P. 1
Mata Terasa Ada Pasir

Mata Terasa Ada Pasir

|Views: 1,262|Likes:
Published by Chimot Jogang

More info:

Published by: Chimot Jogang on May 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2013

pdf

text

original

Mata Terasa Ada Pasir, Awas Uveitis Jumat, 02 April 2010 23:51 Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris

, korpus siliaris,dan koroid) dengan berbagai penyebabnya. Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalami inflamasi biasanya juga ikut mengalami inflamasi. Menurut dr Anang Tribowo SpM, uveitis anterior merupakan peradangan iris dan badan siliar yang dapat berjalan akut maupun kronis. Penyebab dari iritis tidak dapat diketahui dengan melihat gambaran klinisnya saja. ’’Iritis dan iridisiklitis dapat merupakan suatu manifestasi klinik reaksi imunologik terlambat, dini atau sel mediated terhadap jaringan uvea anterior,’’ujarnya. Ia mengatakan, uveitis anterior dapat disebabkan oleh gangguan sistemik di tempat lain, yang secara hematogen dapat menjalar ke mata atau timbul reaksi alergi mata. Berdasarkan spesifitas penyebab disebabkan oleh virus, bakteri, fungi, ataupun parasit yang spesifik. Penyebab nonspesifik (noninfeksi) atau reaksi hipersensitivitas disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap mikroorganisme atau antigen. Yang masuk kedalam tubuh dan merangsang reaksi antigen antibodi dengan predileksi pada traktus uvea. ’’Seperti semua proses radang, uveitis anterior ditandai dengan adanya dilatasi pembuluh darah yang akan menimbulkan gejala hiperemia silier (hiperemi perikorneal atau pericorneal vascular injection),’’bebernya. Peningkatan permeabilitas ini, sambungnya, akan menyebabkan eksudasi ke dalam akuos humor, sehingga terjadi peningkatan konsentrasi protein dalam akuos humor. Gejala kliniknya, kata Anang, pada anamnesa penderita mengeluh, mata terasa ngeres seperti ada pasir, merah disertai air mata. Selain itu, terasa nyeri, baik saat ditekan ataupun digerakkan. ’’Nyeri bertambah hebat bila telah timbul glaukoma sekunder. Fotofobia, penderita menutup mata bila terkena sinar Blefarospasme. Penglihatan kabur atau menurun ringan, kecuali bila telah terjadi katarak komplikata, penglihatan akan banyak menurun,’’ungkap Anang. Ditambahkannya, penderita uveitis anterior akut dengan respon yang baik terhadap pengobatan non spesifik. Umumnya tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Sementara bagi penderita yang tidak responsif, diusahakan untuk menemukan diagnosis etiologinya melalui pemeriksaan laboratorium. Pada penderita ini sebaiknya dilakukan skin test untuk pemeriksaan tuberkulosis dan toksoplasmosis. Untuk kasus-kasus yang rekurens (berulang), berat, bilateral, atau granulomatosa, perlu dilakukan tes untuk sifilis, foto Rontgen untuk mencari kemungkinan tuberkulosis atau sarkoidosis. Tujuan utama dari pengobatan uveitis anterior adalah untuk mengembalikan atau memperbaiki fungsi penglihatan mata. Apabila sudah terlambat dan fungsi penglihatan tidak dapat lagi dipulihkan seperti semula. ’’Pengobatan tetap perlu diberikan untuk mencegah memburuknya penyakit dan terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan,”terang Anang. (mg39)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->