Pelvic Inflammatory Disease

Sofie Rifayani Krisnadi Pendahuluan Peradangan panggul (Pelvic Inflammatory Disease/PID) terjadi apabila mikroorganisme(m.o) menginfeksi uterus (endometritis) , tuba Fallopii (salpingitis), ovarium dan/atau jaringan panggul sekitarnya (tuboovarial abses, peritonitis lokal). Peradangan panggul banyak dikaitkan dengan Penyakit Menular Seksual (PMS) terutama Gonore dan Klamidia, meskipun ternyata dapat pula disebabkan oleh m.o. lain bukan penyebab PMS. Gejalanya bervariasi, sehingga diagnosis sering sulit ditegakkan dan bila tidak ditangani dengan baik, komplikasinya dapat menyebabkan kematian, kemandulan dan kehamilan ektopik yang merupakan masalah medik, sosial dan ekonomi. Insidensi/Prevalensi Diperkirakan 1.000.000 wanita pertahun di USA mendapat pengobatan untuk peradangan panggul (Araj dkk,1991), dan perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan adalah $ 4.200.000. (36.120.000.000 rupiah) sehingga pencegahan penyakit ini sangat penting. Laporan di banyak negara biasanya lebih rendah dari kejadian sesungguhnya, hal ini sering disebabkan karena cara diagnosis yang tidak memadai, dan pada penyakit yang ringan atau kronis pasien tidak berobat lagi; padahal gejala sisanya berakibat buruk terhadap fungsi reproduksi. Di Indonesia data sulit didapat dari kepustakaan. Faktor risiko untuk penyakit ini adalah banyak pasangan seksual (multiple sexual partner), aktivitas seksual saat remaja, pemakaian AKDR, pernah mengalami peradangan panggul sebelumnya atau mengalami PMS dan riwayat tindakan obstetri/ginekologis. (Shrikhande dkk.,1998).

Etiologi Penyebab peradangan panggul biasanya polimikrobial, paling banyak karena infeksi Neisseria gonorrhoeae (30-80%) atau Chlamydia trachomatis (60%); 25%-40% penderita gonore juga terinfeksi oleh klamidia. Mikroorganisme lain penyebab infeksi panggul adalah spesies erob (fakultatif) dan anerob yang terdapat dalam saluran genital seperti Streptococcus, terutama grup B, Peptococcus, Peptostreptococcus, Escherichia coli, Gardnerella vaginalis dan Bacteroides. Kadang-kadang ditemukan juga spesies Actinomyces dan Clostridium. Meskipun sangat jarang, dapat pula diisolasi golongan virus seperti Coxsackie B5, ECHO 6, Herpes type 2, Haemophilus influenzae. Tabel 1.

MIKROORGANISME YANG BERPERAN PADA PERADANGAN PANGGUL Penyakit Menular Seksual Flora Endogen

. dari vagina dan serviks ke uterus). Keaktifan seksual pada usia belasan mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang aktivitas seksualnya dimulai pada usia 25-29 tahun. Penyebaran yang tidak melalui rongga ditemukan juga yakni melalui aliran limfa parametrial. Wolner dkk. Laporan tentang hubungan kontrasepsi oral dengan kejadian PID tidak konsisten. Faktor risiko: Pengenalan faktor risiko yang berhubungan dengan PID dapat membantu pencegahan dan pengelolaan penyakit ini. spermisida). 4) Mikroorganisme secara individu mempunyai faktor virulensi yang potensial untuk menginfeksi saluran reproduksi seperti gonore dan klamidia (obligat intraseluler). . sedangkan Cramer dkk.o. Metoda kontrasepsi barier akan menurunkan kejadian PID bila dipakai dengan benar (kondom.(1987) tidak menemukan peningkatan atau penurunan PID pada pemakai kontrasepsi oral.o.o. Setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi panggul atau berhubungan dengan patogenesis PID yakni: 1) Instrumentasi uterus (misalnya pemasangan IUD yang memungkinkan penjalaran m.1991).(1990) mendapatkan kejadian servisitis oleh C.Chlamydia trachomatis Neisseria gonorrhoeae Neisseria meningitidis Peptococcus Peptostreptococcus Bacteroides bivius Bacteroides fragilis MIKOPLASMA BAKTERIA EROBIK Mycoplasma hominis Streptococcus sp Ureaplasma urealyticum Escherichia coli Staphylococcus sp Coliform bacilli Patogenesis Peradangan panggul dipercaya sebagai hasil penyebaran percontinuitatum m. diafragma.. N.trachomatis meningkat pada akseptor pil namun gejala klinis servisitis menurun sehingga kejadian PID tersembunyi. 2)Perubahan hormonal selama haid dan menstruasi itu sendiri mengganggu barier mekanis serviks dalam hal menahan masuknya m. dari endoserviks ke endometrium dan endosalping.1984). Pria dan Wanita yang mulai memasuki aktivitas seksual dan tidak mempunyai infeksi PMS ditingkatkan pengetahuannya dan kewaspadaannya mengenai risiko PID dan dianjurkan untuk tetap mempunyai perilaku seks yang sehat. Sekitar 20-40% pasien gonore dan infeksi klamidia pada serviks mengalami peradangan panggul akut (CDC. Umur. demikian juga aktivitas seksual dengan banyak pasangan dan tingginya frekuensi hubungan seksual. Pendidikan dan status sosioekonomi yang rendah juga meningkatkan risiko PID. Untuk mereka yang mempunyai PMS atau pernah mempunyai PMS perlu menginformasikannya pada dokter bila mempunyai keluhan dan kecurigaan akan PID dan berikan konseling agar berobat dengan tuntas.. Wanita seksual aktif yang tidak menikah atau bercerai juga merupakan risiko tinggi (Bell dkk. trachomatis keduanya menyebabkan endoservisitis. 3) Saat menstruasi mungkin terjadi aliran retrograde yang menyebabkan m. memasuki tuba dan peritoneum.o. sosioekonomi dan status marital ternyata berhubungan dengan kejadian PID.gonorrhoeae dan C.

N. secara umum diagnosis ditegakkan dari keluhan nyeri perut bawah. faktor otot-rangka atau nyeri yang berhubungan dengan persyarafan (Moore. Marks dkk.000 terutama dengan duh purulen Pemeriksaan USG mendukung Biopsi endometrium menunjukkan endometritis LED atau protein C reaktif meningkat Kultur dari rongga panggul terhadap C. nyeri perut bawah. sistitis.(2000) mengevaluasi 773 wanita terdiagnosis PID (1991-1997) dan mendapatkan keluhan terbanyak adalah fluor albus (68%).. sedangkan pemeriksaan dalam baik bimanual dan rektovaginal dapat . KRITERIA KLINI7K DIAGNOSIS PERADANGAN PANGGUL KRITERIA KLINIK UNTUK DIAGNOSIS PERADANGAN PANGGUL Kriteria mayor Kriteria minor Nyeri perut bawah Terdapat tumor masa pada adneksa Nyeri goyang serviks Demam > 38oC Nyeri pada perabaan adneksa Diplokokus intraseluler pada preparat Gram Ada infeksi servikovaginal Lekositosis > 10. nyeri berkemih. dispareni. Pemeriksaan spekulum mutlak harus dikerjakan untuk mencari infeksi servikovaginal. Tabel 2. Gejala klinis dan Diagnosis Gejala klinis PID bervariasi dan tidak spesifik. demam dan lekositosis. Westrom (1983) melaporkan hanya 3% yang mempunyai gejala akut abdomen sehingga membutuhkan operasi emergensi. Beberapa kasus mengeluhkan proktitis bahkan nyeri perut kuadran kanan atas. Secara klinis kadang-kadang diagnosis sulit ditegakkan. merokok dan pemakaian obat bius. haid itu sendiri.trachomatis. dispareni (57%). mual dan muntah terutama pada kasus yang berat. nyeri perut bawah (65%).2000). Pemeriksa harus membedakan nyeri perut bawah akibat peradangan panggul dengan nyeri pada kelainan ginekologis lainnya (endometriosis) atau nyeri akibat masalah saluran cerna (apendisitis. irritable bowel syndrome). Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang baik. kehamilan ektopik terganggu. nyeri goyang serviks (75%) dan servisitis (56%).Faktor risiko lain adalah irigasi vagina terutama saat haid. Secara klinik dapat ditemukan duh tubuh vaginal yang abnormal (sering berupa pus). perdarahan bercak (spotting) diantara siklus haid atau siklus yang tidak teratur. demam lebih dari 38o C. adhesi. sedangkan temuan klinis yang paling sering adalah nyeri adneksa (83%).Mycoplasma dan mikroorganisme anerob positif.gonorrhoeae.

Uji kehamilan yang sensitif (b hCG subunit) . Perlu ditekankan bahwa gejala klasik peradangan panggul tidak selalu ditemukan. histerosalpingografi. atau insersi AKDR. Saat pemeriksaan spekulum dapat diambil spesimen untuk kultur untuk N. namun pemeriksa dapat mengandalkannya sebagai penyebab peradangan panggul (Garcia.trachomatis atau mikroorganisme lainnya.Laju endapan darah dan protein C reaktif. Harus diwaspadai adanya salpingitis sekunder terhadap apendisitis. pasien tidak pernah mengeluhkan nyeri panggul atau keputihan. namun pada apendisitis akut nyeri terjadi tiba-tiba dan gejala visera menonjol. C. usia mulai aktif seksual. Tabel 3. Dalam situasi ini perlu ditentukan ada tidaknya kehamilan. Diagnosis Diferensial Semua wanita yang mengeluhkan nyeri perut bawah harus ditanya mengenai penyakit alat cerna dan saluran kemih. nyeri perabaan uterus dan nyeri tekan adneksa. Dua penyebab penting yang harus dibedakan adalah kehamilan ektopik terganggu dan apendisitis akut.1996). Ketiganya merupakan keadaan gawat darurat yang membutuhkan tindakan segera.Pemeriksaan USG abdominal/vaginal Pengobatan Centers for Disease Control (CDC. sehingga ada istilah “silent PID”( peradangan panggul tak bergejala). tetapi peningkatan lekosit dan menurunnya laju endapan darah (LED) dapat membantu. Oleh karena itu klinisi harus benar-benar waspada dan teliti dalam menegakkan diagnosis termasuk anamnesis mengenai kebiasaan seksual. keputihan. hidrotubasi. kehamilan ektopik. dan laparoskopi merupakan solusi terbaik.Biopsi endometrium . LED biasanya tidak berubah. Hitung lekosit . Alat bantu diagnostik Pemeriksaan Laboratorium dan mikrobiologi untuk diferensial diagnosis .Kultur spesimen dari endoserviks. Nyeri pada kehamilan ektopik terganggu datangnya sangat tiba-tiba dan biasanya terdapat perdarahan pervaginam yang dapat pula terjadi pada peradangan panggul dengan endometritis. dan tindakan intervensi ginekologis lain seperti kuretasi. Pemeriksaan laboratorium sangat tidak spesifik. Pada wanita aktif seksual harus dipikirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu. jumlah pasangan. nyeri goyang serviks. riwayat PMS. namun terdapat infertilitas yang pada pemeriksaan laparoskopi atau histerosalpingografi didapatkan obstruksi tuba dan perlekatan. abortus. endometrium atau cairan peritoneal/abses saat laparoskopi . Hasil kultur hanya menunjukkan adanya servikovaginitis.1993) dan World Health Organization (WHO) .menemukan masa adneksa.gonorrhoeae. Pada keduanya terdapat nyeri abdomen bawah.

Pasien harus dirawat apabila didapatkan hal-hal sebagai berikut : • • • • • • • Diagnosis tidak dapat dipastikan Ada gejala abdomen akut ( DD dengan apendisitis atau kehamilan ektopik terganggu) Diduga suatu abses pelvis Penderita remaja Klinis menunjukkan peradangan panggul berat Perawatan jalan tidak memberikan hasil memadai Terapi untuk pasien yang dirawat: REGIMEN A: Cefoxitin 2 gram intravena setiap 6 jam.gonorrhoeae dan Bacteroides fragilis memproduksi β laktamase yang akan menghambat antibiotika beta laktam seperti penisilin dan derivatnya. malahan kadang-kadang diperlukan pengobatan spesifik untuk kemungkinan berbagai etiologi dan menghindarkan komplikasi. Hal inilah yang memicu produksi antimikroba yang dapat menghambat aktivitas enzimatis mikroorganisme seperti gabungan ampisilin dengan sulbaktam yang menunjukan aktivitas baik terhadap bakteri Gram positif dan bakteri anerob. Pemilihan terapi: Pemilihan terapi didasarkan atas beratnya gejala klinis yang ditemukan. trachomatis yang terbukti sebagai penyebab terbanyak. karena beberapa pasien sering menghentikan terapinya akibat mahalnya antibiotika yang dipakai. Regimen diberikan sedikitnya 2 hari untuk menilai adanya perbaikan. terutama pada pasien rawat jalan. pasien boleh berobat jalan dengan terapi lanjutan doxycycline 100 mg setiap 12 jam selama 2 minggu. N. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah resistensi mikroorganisme terhadap terapi antimikroba yang dapat merupakan masalah serius. namun tidak demikian di Mexico. anerob Gram positif dan anerob Gram negatif. Centers for Disease Control (CDC) menekankan pentingnya terapi kombinasi ini diberikan baik pada pasien rawat jalan maupun pasien sang dirawat inap. REGIMEN B: Clindamycin 900 mg intravena setiap 8 jam digabung dengan gentamicin dosis pertama 2mg/Kg BB intravena atau intramuskuler selanjutnya 1. Untuk mengantisipasi kemungkinan etiologi polimikrobial. N. Bila ada perbaikan.gonorrhoeae sedikit sekali ditemukan pada kultur.gonorrhoeae dan C. selanjutnya diberi terapi rawat . atau Cefotetan 2 gram intravena setiap 12 jam digabung dengan doxycycline 100 mg peroral atai intravena setiap 12 jam.5 mg/KgBB setiap 8 jam. Regimen diberikan sedikitnya 2 hari untuk menilai perbaikan klinis.menetapkankan pengobatan peradangan panggul dengan terapi terhadap N. diberikan antibiotika yang cakupannya luas terhadap bakteri erob. Pertimbangan lain yang harus diperhatikan adalah biaya pengobatan.

Kondom dan spermisida dapat mengurangi risiko peradangan panggul. primer. infertilitas. Pemeriksaan dengan laparoskopi menunjukkan bahwa 66% penderita peradangan panggul mengalami salpingitis (Soper. sekunder dan tersier. drainase abses dan irigasi piosalping. Cephalosporine efektif untuk infeksi akibat Gram negatif dan mikroorganisme anerob. tuboovarial abses atau ovarektomi. 20(61%) dapat dikonfirmasi sebagai PID.jalan doxycycline 100 mg setiap 12 jam atau clindamycin 450 mg peroral setiap 6 jam selama 14 hari pengobatan.. Pencegahan primer adalah pencegahan terjadinya PMS.(2000) mengevaluasi 33 pasien yang terdiagnosis PID akut secara klinis dengan laparoskopi. Laparoskopi juga menyelesaikan masalah akut abdomen pada penderita lainnya yang bukan PID. pasien harus dirawat dan mendapat terapi parenteral. diagnosis lebih mudah ditegakkan demikian pula terapinya. Pada pasien dengan PID dilakukan irigasi. maka terapi dapat terlambat atau tidak adekuat yang akan merugikan pasien dan kejadian kehamilan ektopik. Hal ini membuat indikasi rawat berubah dan dengan adanya laparoskopi. dan nyeri panggul kronis lebih sering ditemukan pada penderita ini. • Terapi untuk pasien rawat jalan: Cefoxitin 2 g intramuskuler dengan probenecid 1 gram peroral atau Ceftriaxone/Ceftizoxime/Cefotaxime 250 mg intramuskuler dengan doxycycline 100 mg setiap 12 jam peroral selama 14 hari. terutama pada kasus-kasus yang harus dibedakan dengan kemungkinan kelainan ginekologis lainnya atau kelainan visera. Karena peradangan panggul dapat tidak bergejala padahal komplikasi yang terjadi sama beratnya dengan peradangan yang bergejala. Molander dkk. yang meskipun efeknya terhadap peradangan panggul belum banyak diberitakan namun sebagai pengganti doxycycline masa depannya sangat menjanjikan. Hanya pada 3 orang tidak dilakukan laparoskopi operatif. 11 (33%) mempunyai penyakit lain dan 2 orang(6%) tidak ditemukan kelainan. Pencegahan Pencegahan PID dan gejala sisanya dapat dilakukan dalam tiga tingkat. pencegahan sekunder mencakup pencegahan menjalarnya peradangan rendah (vulvovaginitis. berikan ofloxacin 400 mg peroral setiap 6 jam digabung dengan clindamycin 450 mg peroral setiap 6 jam atau metronidazole 500 mg peroral setiap 12 jam selama 14 hari.1991). Saat ini telah diperkenalkan azithromycin untuk Chlamydia. demikian pula laparoskopi dapat diandalkan untuk terapi operatif pada abses dan adhesi. Bila pasien tidak dapat mentolerir doxycycline atau merupakan kontraindikasi. adhesiolisis. servisitis) menuju alat reproduksi yang lebih tinggi dan pencegahan tersier meliputi pencegahan terjadinya disfungsi tuba atau kerusakan tuba dan organ panggul . Perspektif pengobatan masa kini: Laparoskopi dapat mendiagnosis peradangan panggul dengan sangat baik. Bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan klinik. demikian juga hubungan seksual yang aman dan bersih serta pasangan tunggal merupakan cara pencegahan terbaik.

regardless of symptoms Return for follow-up evaluation as instructed Abstain from sex until symptoms disappear and appropriate treatment is completed When diagnosed as having an STD. even if symptoms are not present Take all medications as directed. Pada semua tingkat pencegahan dibutuhkan peranan individu. diaphragms. US Department of Health and Human Services. Public Health Service. Tabel 4. komunitas dan petugas kesehatan. and/or vaginal spermicides even if contraception is not needed Use condoms consistently and correctly Seek medical evaluation promptly after having unprotected sex (intercourse without a condom) with someone who is suspected having an STD Seek medical care immediately when genital lesions or discharge appear Seek routine check-ups for STD if in non mutually monogamous relationship(s). Rekomendasi untuk individu dalam pencegahan PMS/PID General preventive measures Maintain Healthy Sexual Behavior Specific recommendations Postpone initiation of sexual intercourse At least 2-3 years following menarche Limit number of sex partners Avoid “casual sex” and sex with high-risk partners Question potential sex partners about STD and inspect their genital for lesions or discharge Avoid sex with infected person Abstain from sex if STD Symptoms appear Use condoms. notify all sex partners in need of medical assessment If preferred. Centers for .lainnya akibat infeksi tinggi. assist health providers in identifying sex partners Use barrier methods Adopt healthy medical care seeking behavior Comply with management instructions Ensure examination of sex partners . Dikutip dari : Policy Guidelines for Prevention and Management of Pelvic Inflammatory Disease (PID).

Pustaka acuan • o o Aral JO. Centers for Disease Controls. Holmes KK. and adopt healthy medical seeking behavior Provide appropriate preventive Screen patients for gonococci and chlamydial medicine services infections routinely when indicated Provide epidemiological treatment for STD/PID when appropriate Provide appropriate medical Diagnose STD/PID promptly management for illness Treat STD/PID promptly with effective antibiotics Encourage patients to comply with management instructions Ensure examination of sex partners Encourage infected patients to refer all sex partners in need of medical assessment Evaluate and treat sex partners appropriately Report all STD to appropriate health authorities Dikutip dari : Policy Guidelines for Prevention and Management of Pelvic Inflammatory Disease (PID). Sex Transm Dis 1984. use barrier methods. Public Health Service.18:2570-2573. Bell TA. Cates W. treatment and prevention of STD/PID Complete continuing education courses periodically to update knowledge on STD/PID prevention and management Educate patients about STD/PID and their potential complications Provide effective patient education Encourage individuals to maintain healthy and counseling sexual behavior. JAMA 1991.S. gonorrhea. and hospitalized pelvic inflammatory disease in sexually experienced U.11:291-5. Tabel 5. Masher WD. Age-specific risks of syphilis. Self-Reported pelvic inflammatory disease in United States 1988. US Department of Health and Human Services. . women.Disease Controls. Rekomendasi untuk petugas kesehatan dalam pencegahan PMS/PID General preventive measures Maintain up-to-date knowledge about the prevention and management of STD/PID Specific recommendations Develop an accurate base of information on the diagnosis.

92(2):189-192. Pelvic inflammatory disease: medical treatment. Garcia JLA. Diagnosis and laparoscopy grading of acute salpingitis. Cramer DW.Estcourt CS. JAMA 1987. Wagner K. Westrom L. Clinical manifestations and diagnosis of pelvic inflammatory disease. Eschenbach DA. Zodpey SP. Int J STD AIDS 2000 Aug. Moore J.o o o o o o o o o o o Centers for Disease Control. Kennedy S. National Center for Prevention Services. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol 2000. Shrikhande SN.Tideman RL. Paavonen J. MMWR vol. Goldman MB.1996. Indian J Public Health 1998 Apr-Jun. The relationship of tubal infertility to barrier method and oral contraceptive use. JAMA 1990. Wolner-Hanssen P. et al. 11 (8):545-7. Marks C.Schiff I. Laparoscopic management of suspected acute pelvic inflammatory disease. 40 (RR5). et al.263:54-9.Mindel A. Diagnosing PID—getting the balance right. Soper DE.Baillieres Best Pract Res Clin Obstet Gynecol 2000 Jun.14(3):389-402.257:2446-50. Molander P. J Am Assoc Gynecol Laparosc 2000 Feb. Page J. Risk factors and protective factors of pelvic inflammatory disease: a case-control study. Sjoberg J. Lanxac J. Policy Guidelines for prevention and management of pelvic inflammatory disease (PID).7(1):107-10.1991. Cacciatore B. Paavonen J. J Reprod Med 1983. Educational services from Pharmacia & Upjohn. Am J Obstet Gynecol 1991. Decreased risk of symptomatic chlamydial pelvic inflammatory disease associated with oral contraceptive use. .Smart S. Quentin R. Causes of chronic pelvic pain. Kulkarni HR. Pelvic Inflammatory Disease. 28(suppl):703-708.164:1370-1378.42(2):42-7. Monograph.

dan STD (Sexual Transmitter Disease)seperti Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae Kebanyakan merupakan Komplikasi dari Gonorea Berhubungan dengan vaginosis bacterial seperti Gardnerella vaginosis. dan ovarium yang mengarah ke perlukaan dengan perlengketan pada jaringan dan organ sekitar II. Definisi Inflamasi pada uterus. M.Penyakit Infeksi Pelvis [Pelvic Inflammatory Disease (PID)] atau Salpingitis I. Mobiluncus spp. Etiologi Infeksi asendens dari penyakit infeksi di atas IV. Manifestasi Klinis Simptom • • • • • Wanita dengan IUD asimptomatik Nyeri abdominal kuadran bawah Dispareunia Perdarah vagina Abnormal Vaginal discharge Sign • Nyeri abdominal bawah. flora endogenos vagina. biasanya menyertai penyakit mikoplasma. Epidemiologi • • • Polimikrobial. Faktor resiko Mudah tertular pada orang dengan STD terutama: • • • • • • • Usia muda Pasangan seksual baru Banyak pasangan seksual Kurangnya penggunaan kontrasepsi yang aman Golongan sodial ekonomi rendah Penggunaan IUD setelah 3 minggu Usia kehamilan terminal V. Mycoplasma hominis.. tuba fallopi. tuberculosis.. streptokokus aerobic. and other anaerobes III. biasanya bilateral .

bila antibiotik yang diberikan selama 48 jam tak member respon. PUD: imbalans estrogen dan progesterone sesuai dengan siklus atau di luar siklus haid KET: peningkatan hormon HCG Endometriosis : dispareunia Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan untuk menyingkirkan: • • • • Tes kehamilan: Pemeriksaan serum kehamilan untuk menyingkirkan KET Swabs serviks untuk mengetahui penyebab: (+) untuk Klamidia dan Gonorea. atau apendiks yang ruptur) Laparoskopi untuk melihat langsung gambaran tuba fallopi. maka dapat digunakan sebagai tindakan operatif Urinalisis dan kultur urin untuk meng-ekslusi infeksi saluran • • Catatan: • • Tak ada satu pun pemeriksaan yang sensitive atau pun spesifik untuk menegakkan diagnosis penyakit infeksi pelvis ini Bila pasien dicurigai menderita PID maka temui dokter secepatnya untuk mencegah terjadinya infertilitas VI. hasil (-) masih bisa menunjukkan PID akibat penyebab alin ↑ laju endap darah dan C-protein: menunjukkan adanya infeksi Biopsy endometrium o Pemeriksaan USG per vaginam dan per pelvis: untuk menyingkirkan KET usia > 6 minggu o Kuldosintesis: untuk mengetahui bahwa perdarahan yang terjadi diakibatkan oleh hemoperitoneum (berasal dari KET yang rupture atau kista hemoragik) yang dapat menyebabkan sepsis pelvis (salpingitis. Pemeriksaan ini invasive sehingga bukan merupakan pemeriksaan rutin. Untuk mendiagnosis penyakit infeksi pelvis. abses pelvis rupture. Mekanisme .• • • Pengeluaran secret mukopurulen dan terdapat servisitis menggunakan spekulum Nyeri pergerakan pada Serviks dan nyeri adneksa pada pemeriksaan vagina bimanual Demam > 38oC tapi terkadang juga apreksia Differential diagnosis • • • • Apendisitis: tidak ada vaginal discharge.

VII. for 14 days. untuk pasien dengan riwayat STD agar menjalani skrining dan terapi untuk pasanagan seksual pasien Penatalaksanaan antibiotik : • • • • Jangan tunda pemberian antibiotic bersamaan dengan dilakukannnya pemeriksaan tambahan untuk mengetahui diagnosis PID karena akan meningkatkan komplikasi bila lama diberikan Gunakan antibiotic spectrum luas untuk tatalaksana C. Penatalaksanaan Langkah pertama yang doter umum lakukan: • • • Sediakan analgesik Bila pasien menggunakan IUD maka stop penggunaan in situ. Jangan pada pasien Gonorea o Berat: . trachomatis. Gunakan: ceftriaxone 250 mg i. N. dan infeksi anaerobic. gonorrhoeae. dengan catatan pasien dapat mencegah kehamilan meski tanpa alat kontrasepsi minimal 7 hari Segera rujuk ke bagian genitourinaria (obgyn).m atau cefoxitin + probenecid oral 1g. ditambah doxycycline oral+ metronidazole selama 14 hari  Ofloxacin 400 mg oral 2x/hari + metronidazole oral 400 mg 2x/hari selama 14 hari.m 1x/hari + doxycycline 100 mg oral2x/hari dan metronidazole 400 mg 2x/hari selama 14 hari Pilihan obat: o Pasien rawat jalan:  Ceftriaxon i.

dan peritonitis pelvis. setelah gejala menurun maka ganti obat dengan menggunakan doxycycline oral danmetronidazole untuk melengkapi terapi selama 14 hari Terapi untuk pasangan seksual pasien • • • • • • Biasanya si pria asimptomatik Cegah koitus slama terapi dan follow up selesai. beri terapi Gonorea. terapi imunosupresi).v bila terdapat gejala: pireksia. bila tidak dapat mengekslusi apendisitis atau KET Simpton dan sign-nya berat Deteriorasi kondisi klinis Terapi oral gagal (tidak ada respon selama 3 hari) Tidak mampu toleransi terhadap terapi oral misalnya. Komplikasi • Infertilitas . i. Terapi inisial dengan doxycycline.v. Pencegahan • • • Kurangi penggunan IUD bila pasien menderita Klamidia dan Gonorea Pemeriksaan terhadap wanita <> Antibiotic profilaktik rutin pada pengguna IUD jangan dilakukan VIII.  Terapi i. abses tuba-ovarium.v + metronidazol i.v antibiotic dan atau pemeriksaan lebih lanjut bila dicurigai: • • • • • • • Diagnosis penyakitnya tak pasti. Terapi empiris untuk pasangan yang menderita Klamidia dan Gonorea yang tidak mau di-skrining Rujukan Rujuk untuk terapi lebih lanjut seperti. Skrining bila ternyata pasangan mempunyai riwayat STD bila terbukti pasien pernah koitus bersama si pria dalam jangka waktu <> Beri terapi terhadap infeksi Klamidia pada si pria meski dia tidak menderita Klamidia berdasarkan hasil uji pemeriksaan tambahan Bila terdapat Gonorea. mual dan muntah Hamil Immunodeficiency (misalnya HIV . ceftriaxone i. Prognosis Permanen namun dapat ditatalaksana kuratif untuk mencegah kerusakkan lebih lanjut system reproduksi IX.

gonorrhoeae menyebabkan ophthalmia neonatorum dan Chlamydial pneumonitis .• • • • • • KET Nyeri Pelvis kronik Perihepatitis (sindrom Fitz-Hugh-Curtis ): nyeri RUQ Reiter’s syndrome (artritis reaktif) Pada kehamilan: ↑kelahiran Preterm. trachomatis atau N. ↑ angka penyakit penyerta maternal dan fetal Neonatus: infeksi perinatal C.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful