BAB I LANDASAN TEORI

Distilasi adalah unit operasi yang sudah ratusan tahun diaplikasikan secara luas. Di sperempat abad pertama dari abad ke-20 ini, aplikasi unit distilasi berkembang pesat dari yang hanya terbatas pada upaya pemekatan alcohol kepada berbagai aplikasi di hampir seluruh industri kimia. Distilasi pada dasarnya adalah proses pemisahan suatu campuran menjadi dua atau lebih produk lewat eksploitasi perbedaan kemampuan menguap komponen-komponen dalam campuran. Operasi ini biasanya dilaksanakan dalam suatu klom baki (tray column) atau kolom dengan isian (packing column) untuk mendapatkan kontak antar fasa seintim mungkin sehingga diperoleh unjuk kerja pemisahan yang lebih baik. Salah satu modus operasi distilasi adalah distilasi curah (batch distillation). Pada operasi ini, umpan dimasukkan hanya pada awal operasi, sedangkan produknya dikeluarkan secara kontinu. Operasi ini memiliki beberapa keuntungan : 1. Kapasitas operasi terlalu kecil jika dilaksanakan secara kontinu. Beberapa peralatan pendukung seperti pompa, tungku/boiler, perapian atau

instrumentasi biasanya memiliki kapasitas atau ukuran minimum agar dapat digunakan pada skala industrial. Di bawah batas minimum tersebut, harga peralatan akan lebih mahal dan tingkat kesulitan operasinya akan semakin tinggi. 2. Karakteristik umpan maupun laju operasi berfluktuasi sehingga jika dilaksanakan secara kontinu akan membutuhkan fasilitas pendukung yang mampu menangani fluktuasi tersebut. Fasilitas ini tentunya sulit diperoleh dan mahal harganya. Peralatan distilasi curah dapat dipandang memiliki fleksibilitas operasi dibandingkan peralatan distilasi kontinu. Hal ini merupakan salah satu alas an mengapa peralatan distilasi curah sangat cocok digunakan sebagai alat serbaguna untuk memperoleh kembali pelarut maupun digunakan pada pabrik skala pilot. Perangkat praktikum distilasi batch membawa para pengguna untuk mempelajari prinsip-prinsip dasar pemisahan

dengan operasi distilasi, seperti kesetimbangan uap cair dan pemisahan lewat multi tahap kesetimbangan. Perangkat ini dapat juga dimanfaatkan untuk mempelajari dasar-dasar penilaian untuk kerja kolom distilasi pacing dan mempelajari perpindahan massa dalam kolom distilasi packing.

Kesetimbangan Uap-Cair Seperti telah disampaikan terdahulu, operasi distilasi mengekspoitasi perbedaan kemampuan menguap (volatillitas) komponen-komponen dalam campuran untuk melaksanakan proses pemisahan. Berkaitan dengan hal ini, dasar dasar keseimbangan uap-cair perlu dipahami terlebih dahulu. Berikut akan diulas secara singkat pokok-pokok penting tentang kesetimbangan uap-cair guna melandasi pemahaman tentang operasi distilasi.

1.1.1

Harga-K dan Volatillitas Relatif Harga-K (K-Value) adalah ukuran tendensi suatu komponen untuk menguap. Jika harga-K suatu komponen tinggi, maka komponen tersebut cenderung untuk terkonsentrasi di fasa uap, sebaliknya jika harganya rendah, maka komponen cenderung untuk terkonsentrasi di fasa cair. Persamaan (1) di bawah ini menampilkan cara menyatakan harga-K.

Dengan

adalah fraksi mol komponen i di fasa uap dan

adalah

fraksi mol komponen i di fasa fasa cair. Harga-K adalah fungsi dari temperatur, tekanan, dan komposisi. Dalam kesetimbangan, jika dua di antara variable-variabel tersebut telah ditetapkan, maka variable ketiga akan tertentu harganya. Dengan demikian, harga-K dapat ditampilkan sebagai fungsi dari tekanan dan komposisi, temperature dan komposisi, atau tekanan dan temperatur.

A dan B. αAB.Volatillitas relative (relative volatility) antara komponen i dan j didefinisikan sebagai : Dengan Ki adalah harga-K untuk komponen I dan Ki adalah harga-K untuk komponen j. B. Volatillitas relatif ini adalah ukuran kemudahan terpisahkan lewat eksploitasi perbedaan volatillitas. Berdasarkan persamaan (1) dan (2). sedangkan fasa cair akan diperkaya oleh komponen yang lebih sukar menguap. Dengan demikian. harga α mendekati satu atau bahkan satu. maka kedua komponen sangat sulit bahkan tidak mungkin dipisahkan lewat operasi distilasi. Menurut konsensus. volatillitas relative. dapat dinyatakan sebagai berikut : ⁄ ⁄ Atau dapat dikembangkan menjadi : ( ) Jika persamaan (4) tersebut dialurkan terhadap sumbu x-y. Sebagai contoh untuk sistem biner. misalkan A. Cairan ini dididihkan sehingga terbentuk fasa uap dan fasa cair. maka fasa uap akan kaya dengan komponen yang lebih mudah menguap. misalkan suatu cairan yang dapat menguap terdiri dari dua komponen. volatillitas relative ditulis sebagai perbandingan harga-K dari komponen lebih mudah menguap (MVC = more-volatile component) terhadap harga K komponen yang lebih sulit menguap. maka akan diperoleh kurva kesetimbangan yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang mudah menguap di fasa cair dan fasa uap yang dikenal sebagai diagram x- .

1. sama dengan fraksi mol komponen tersebut. . Ini menandakan bahwa semakin besar harga αAB. Yang dimaksud dengan campuran ideal adalah campuran yang perilaku fasa uapnya mematuhi Hukum Dalton dan perilaku fasa cairnya mengikuti Hukum Raoult. seperti diperlihatkan pada persamaan (5). pernyataan ini. dikalikan tekanan parsial komponen. menyatakan bahwa tekanan parsial komponen dalam campuran. sama dengan fraksi mol komponen di fasa cair. Perhatikan gambar (1). .2 Sistem Ideal dan Tak Ideal Uraian terdahulu berlaku dengan baik untuk campuran-campuran yang mirip dengan campuran ideal. Persamaan (6) menampilkan . Gambar 1 Diagram x-y sistem biner A-B 1.y. . pi. semakin mudah A dan B dipisahkan lewat distilasi. Garis bersudut 45° yang dapat diartikan semakin banyaknya komponen A di fasa uap pada saat kesetimbangan. Hokum Dalton untuk gas ideal.

Titik C mewakili titik didih komponen A murni dan Titik A mewakili titik didih komponen B murni.1. 1. upaya penegakan persamaan-persamaan untuk mengevaluasi system tak ideal telah banyak dikembangakn dan bahkan telah diaplikasikan.3 Diagram T-x-y Proses-proses distilasi industrial seringkali diselenggarakan pada tekanan yang relative konstan. Kurva ABC adalah titik-titik komposisi cairan jenuh. . dipanaskan hingga mencapai temperatur T1 di kurva ABC yang berarti campuran berada pada temperatur jenuhnya sedemikian hingga pemanasan lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya penguapan T1 dapat dianggap sebagai temperatur terbentuknya uap pertama kali atau dinamai titik didih (bubble point) campuran cair dengan komposisi X0. Untuk keperluan ini diagram fasa isobar (pada tekanan tertentu) paling baik untuk ditampilkan. Perhatikan bahwa uap yang terbentuk memiliki komposisi tidak sama dengan x0 tetapi y0 (diperoleh dari penarikan garis horizontal dari T1). Data kesetimbangan uap-cair umumnya diperoleh dari serangkaian hasil percobaan. Walaupun tidak mudah. harga-K untuk sistem ideal dapat dinyatakan sebagai berikut. Diagram yang menempatkan temperatur dan komposisi dalam ordinat dan absis ini dinamai diagram T-x-y. Pustaka sepaerti walas (1984) dan Smith-van Ness (1987) dapat dipelajari untuk mendalami topik tersebut. sedangkan kurva AEC adalah titik-titik komposisi untuk uap jenuh. Pernyataan harga-K untuk system tak ideal tidak seringkas pernyataan untuk system ideal. Bayangkan suatu campuran berfasa cair titik G.Dari persamaan (5) dan (6). bertemperatur T0 dan komposisinya X0. Bentuk umum diagram ini diperlihatkan dalam gambar 1 yang mewakili campuran dengan dua komponen A dan B berada dalam kesetimbangan uap-cairnya.

dan 3) Daerah yang dibatasi kedua kurva tersebut yang mewakili system dua fasa dalam kesetimbangan. uap dan cair. komposisi uap yang diperoleh akan sama dengan komposisi cairan awal. uap berada dalam keadaan jenuh dan cairan mulai terbentuk. Di titik ini. semua fasa cair telah berubah menjadi uap. Pada temperatur ini. Diagram Tx-y dengan demikian dapat dibagi menjadi tiga daerah : 1) Daerah di bawah kurva ABC yang mewakili subcooled liquid mixtures (cairan lewat jenuh). Sekarang operasi dibalik. Karena tidak ada massa hilang untuk keseluruhan sistem. Penyuplaian panas berikutnya menghasilkan uap lewat jenuh seperti diwakili oleh titik F. Operasi distilasi bekerja di daerah tempat terwujudnya kesetimbangan dua fasa.Pemanasan lebih lanjut mengakibatkan semakin banyak uap terbentuk dan sebagai konsekuensinya adalah perubahan komposisi terus menerus di fasa cair sampai tercapainya titik E. Pendinginan lebih lanjut menyebabkan fasa cair makin banyak terbentuk sampai tercapainya titik H yang mewakili titik jenuh fasa cair. Mula-mula campuran fasa uap di titik F didinginkan dari temperatur T2 hingga mencapai titik E di kurva AEC. Titik ini kemudian dinamai titik embun (dew point). 2) Daerah di atas kurva AEC yang mwakili superheated vapor (uap lewat jenuh). Gambar 2 Tipikal Diagram T-x-y .

4 Azeotrop dan Larutan Tak Campur Gambar 2 adalah tipikal untuk sistem normal. Jika interaksi fisik dan kimiawi yang terjadi di dalam sistem sangat signifikan maka bentukan kurva T-x-y dan x-y akan mengalami penyimpangan yang berarti. dsb.1. Pada titik ini perubahan temperatur saat penguapan terjadi tidak menyebabkan perbedaan komposisi di fasa uap dan cair.1. Pada gambar 3 berbagai modifikasi. seperti distilasi ekstraktif. Gambar 3a mewakili sistem maximum boiling azeotrope. distilasi kukus. sedangkan gambar 3b mewakili sistem minimum boiling azeotrop. Lihat titik a dengan komposisi xa. perlu dilakukan untuk memisahkan komponen-komponen dari system yang tak ideal ini. Gambar 3 Diagram T-x-y untuk sistem tak ideal Gambar 3a dan 3b mewakili sistem azeotrop yaitu sistem yang memiliki perilaku seperti zat murni di suatu komposisi tertentu. Gambar 4 Diagram x-y untuk sistem tak ideal .

cairan dalam labu dipanaskan sehingga sebagian cairan akan menguap dengan komposisi uap yD yang dianggap berada dalam kesetimbangan dengan komposisi cairan yang ada di labu. fraksi mol V = jumlah uap dalam labu W = jumlah cairan dalam labu Gambar 5 Distilasi Diferensial Pada alat ini. Dalam hal ini. sedangkan cairan yang tertinggal kaya akan komponen yang lebih sukar menguap (B). Destilasi Diferensial Kasus distilasi batch (partaian) yang paling sederhana adalah operasi yang menggunakan peralatan seperti pada Gambar berikut ini. Apabila hal ini berlangsung terus. Uap keluar labu menuju kondenser dan diembunkan secara total. . mol/jam yD = komposisi distilat. Hal ini juga berdampak pada komposisi uap yang dihasilkan. Cairan yang keuar dari kondenser memiliki komposisi xD yang besarnya sama dengan yD. Keterangan : D = laju alir distilat. komponen A akan semakin sedikit dan komponen B akan semakin banyak.Interaksi antar komponen yang sangat kuat memungkinkan terbentuknya dua fasa cairan yang ditunjukkan oleh daerah tak saling larut (immiscible region) dalam diagram fasa seperti tampak dalam gambar 3c. xw. distilasi berlangsung satu tahap. maka komposisi di dalam cairan akan berubah. Diagram x-y untuk sistem-sistem ini dapat dilihat pada gambar 4. Uap yang keluar dari labu kaya akan komponen yang lebih sukar menguap (A).

α. hubungan kesetimbangan dapat dinyatakan dengan koefisien volatillitas relative. sehingga persamaan (9) dapat dengan mudah diselesaikan menjadi : ( ) ( ) Untuk campuran biner. perubahan temperature cairan dalam labu tidak terlalu besar.Jika komposisi komponen A di dalam cairan menurun. maka komposisi komponen A di dalam uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan tadi juga akan menurun. Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Rayleigh. maka integrasi persamaan (5) adalah : ( ) [ ( ) ( )] . dan konstanta kesetimbangan uap-cair dapat dinyatakan sebagai : y = Kx. Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa komposisi dalam operasi ini berubah terhadap waktu. Neraca massa proses distilasi diferensial dapat dinyatakan sbb : ( ) ( ) ( ) Bentuk integrasi persamaan di atas adalah sbb : ∫ ( ) ∫ Dimana x0 dan W0 masing-masing adalah komposisi dan berat cairan di dalam labu mula-mula. Jika koefisien volatillitas relatif ini dapat dianggap tetap selama operasi. Jika operasi dilaksanakan pada tekanan tetap.

hubungan operasi dan kesetimbangan dalam kolom distilasi dapat digambarkan pada diagram McCabe-Thiele. karena kolom rektifikasi menyediakan terjadinya serangkaian tahap kesetimbangan. Dengan jumlah tahap kesetimbangan yang lebih banyak. Jika nisbah refluks dibuat tetap.Rektifikasi dengan Refluks Konstan Distilasi partaian menggunakan kolom rektifikasi yang ditempatkan di atas labu didihnya (reboiler) akan memberikan pemisahan yang lebih baik dari pada distilasi diferensial biasa. maka komposisi cairan dalam reboiler dan distilat akan berubah terhadap waktu. Gambar 6 Diagram McCabe-Thiele Pada saat awal operasi (t=t0). sebagian cairan hasil kondensasi dikembalikan ke dalam kolom sebagai refluks agar pada kolom terjadi kontak antar fasa uap-cair. komposisi cairan di dalam reboiler dinyatakan dengan x0. Di puncak kolom. komposisi komponen yang mudah menguap di fasa uap akan semakin besar atau dengan kata lain. maka komposisi distilat awal adalah xD. pemisahan yang diperoleh akan lebih baik. Komposisi ini dapat . Jika cairan yang mengalir melalui kolom tidak terlalu besar dibandingkan dengan jumlah cairan di reboiler dan kolom memberikan dua tahap pemisahan teroritik. Kolom rektifikasi dapat berupa kolom dengan piringan (plate) atau dengan isian (packing). Perhatikan gambar 6 berikut ini. Untuk saat tertentu.

Secara umum. seperti ditunjukkan berikut ini : Gambar 7 Distilasi dengan refluks total . Pada waktu tertentu setelah operasi (t=t1). maka persamaan (12) dapat diubah menjadi : Waktu yang diperlukan untuk distalasi curah menggunakan kolom rektifikasi dengan refluks konstan dapat dihitung melalui neraca massa total berdasarkan laju penguapan konstan. V. persamaan garis operasi adalah sbb : untuk waktu ke-i. Karena refluks dipertahankan tetap. Dengan mendefinisikan nisbah refluks. Persamaan (12) jarang digunakan dalam praktek karena melibatkan besaran L dan V yaitu laju alir cairan dan uap yang mengalir di dalam kolom. komposisi cairan di dalam reboiler adalah xW dan komposisi distilat adalah xD. maka L/V dan tahap teoritik tetap. sebagian R = L/D.diperoleh dengan membentuk garis operasi dengan kemiringan L/V dan mengambil dua buah tahap kesetimbangan antara garis operasi dan garis kesetimbangan seperti yang ditunjukan pada gambar 3. R.

5. 7.Sistem Peralatan Kontrol 7 12 12 8 Blok-3 1 10 11 Blok-4 Blok-5 2 Keterangan : 1. 3. 6. 8. Tombol alarm Tombol start Tombol heater OFF Tombol heater ON Tombol heater intermit Tombol heater pemanasan Tombol cooler ON Tombol cooler CLOSED Tombol ON-OFF Blok 3 : Kontrol aliran cairan dan uap di dalam kolom Blok 4 : Kontrol laju alir distilat Blok 5 : Kontrol laju alir cairan ke kolom . 9. 4. 2.

2. Membuat kurva kalibrasi antara indeks bias dengan fraksi mol etanol. Memisahkan campuran biner air dan ethanol. Mengukur fraksi distilat (xo) dan residu (xw) dalam hal ini perubahan konsentrasi terhadap waktu. Menghitung etanol dalam sampel yang diperoleh dengan persamaan luas Rayleigh. 4. 3. .BAB II TUJUAN Tujuan dari percobaan pompa sentrifugal ini antara lain untuk menentukan karakteristik pompa sentrifugal dengan : 1.

000 1/(Xd-Xw) 6.600 .200 0.000 y = 40.400 0.8 Fraksi Mol Ethanol 1 1.2 0.6 0.7 0.000 -2.4605 R² = 0.000 0.BAB III HASIL PERCOBAAN Kurva Kalibrasi Kurva Kalibrasi 0.100 0.000 4.066x .1475x + 0.6 0.000 0.000 10.1 0 0 0.000 8.4 0.372 R² = 0.300 Xw 0.4 0.11.5 Indeks Bias 0.500 0.000 2.7146 0.2 y = 0.8352 Kurva Hasil Destilat Kurva Hasil Destilat 12.2 0.3 0.

Perhitungan Berdasarkan Persamaan Rayleigh ∫ Dengan menggunakan persamaan Simpson. Luas di bawah kurva ( ( ) ) ( ⁄ ) .

suhu reaktor umpan mencapai 90 oC.55 ml. Perbandingan massa ethanol-air dapat diperoleh dengan cara mengalikan massa jenis dengan volumenya.25 ml. dengan cara memplotkan pada kurva kalibrasi antara indeks bias dengan residu. Semakin lama waktu destilasi maka semakin besar fraksi mol ethanol yang terkandung dalam destilat.381 gram. Dari grafik luas diperoleh luasnya sebesar 2. Sedangkan volume residu didapat yaitu sebesar 25. ini membuktikan bahwa senyawa ethanolnya yang terdistilasi. serta semakin sedikit fraksi mol ethanol di dalam campuran (umpan). sedangkan suhu kondensat mencapai 80 oC. . Komposisi dari destilat dan residu dapat dilihat dengan menggunakan indeks bias yang diperoleh dari masing-masing destilat dan residu. Untuk mencari neraca massa total. Dari kurva kalibrasi ini diperoleh bahwa kenaikan indeks bias akan sebanding dengan peningkatan komposisi ethanolnya. digunakan persamaan Rayleigh dengan menggunakan grafik persamaan Rayleigh yang merupakan metode luas dibawah kurva yaitu persamaan integral dari 1/(XD-XW) yang sebanding dengan ln perbandingan berat etanol awal dan akhir. Total volume destilat yang didapat yaitu sebesar 96.9386 sehingga berat etanol akhir didalam residu sebesar 48. disini telihat bahwa titik didih campuran umpan dipengaruhi oleh titik didih komponen dalam campuran tersebut.BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN Oleh : Syahdini Handiani (101411057) Pada percobaan ini. Pada saat destilat terbentuk pertama kali (setelah umpan mendidih). komponen yang akan dipisahkan adalah ethanol dan air. Titik didih etanol yaitu 78 oC sedangkan air memiliki titik didih 100 oC pada tekanan 1 atmosfer.

. Kenaikan indeks bias berbanding lurus dengan peningkatan komposisi ethanol. 4. Berat etanol akhir didalam residu sebesar 48. Volume total destilat yang didapat yaitu sebesar 25. 5.KESIMPULAN Kesimpulan yang didapatkan dari percobaan ini yaitu : 1.381 gram. Volume total destilat yang didapat yaitu sebesar 96. 2.25 ml. 3. serta semakin sedikit fraksi mol ethanol di dalam campuran (umpan). Semakin lama waktu destilasi maka semakin besar fraksi mol ethanol yang terkandung dalam destilat.55 ml.

New York : Mc Graw Hill. Chapter 3. Jakarta : PT Pradnya Paramita. Operasi Teknik Kimia. dkk. Jakarta: Erlangga. S. H. Teknologi Kimia. Unit Operations of Chemical Engineering. Jakarta : Erlangga. Smith. Butterworths Publishers. McCabe.Jasjfi. Distillation Design. Peter Harriott.Sc. Jilid 1. Third Edition. Bandung : Politeknik Negeri Bandung. G. John Wiley.. Mc. Inc. H. 1992. London : Prentice Hall International. Diterjemahkan oleh Dr. Jasafi. dan Peter Harriot. 1988. Mc Cabe. Schneiter. MA. H. Gester. . Ir. Buku Petunjuk Praktikum Satuan Operasi : Distilasi. J. Phase Equilibria in Chemical Engineering. Penerjemah : Ir. Julian C. 1995. New York. Chapter 1. Mc Cabe. Jilid 2.. Perry’s. Edisi keempat.. Eng. .M.J. Walas. Erlangga. edisi 3. 1993. Mc Graw-Hill. Operasi Teknik Kimia. J. Jakarta. New York.M. 5. Warren L.D. M. Henley. Diterjemahkan oleh: Ir. Fifth Edition.Sc. Equilibrium-Stage Separation Operations in Chemical Engineering. E. Hauser. Stauble. Waren L. 1981. H. Transport Processes And Unit Operation.Z. 1990. E.. 2004. 9. pp 127-132. Warren L. 1984 Warren L. Geankoplis. Cabe. Jurusan Teknik Kimia. Operasi Teknik Kimia. dan E. E. 1990.. Bagian 2. Smith. Kister.DAFTAR PUSTAKA Bernasconi. “Chemical Engineering Handbook”. Lienda Handojo. 1999. Tim. M.. Julian C. 1999. C.

Aquades Campuran ethanol-air . 3. 6. 8. 5. 2.LAMPIRAN A ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN Alat 1. Alat distilasi dan unit pengendali 1 unit 2. 4. 7. Refraktometer Stopwatch Gelas sampel 10 buah Botol semprot 1 buah Pipet ukur 10 ml 2 buah Gelas kimia 250 ml 5 buah Pipet tetes 2 buah Bahan 1.

407 Pengamatan Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 Volume Ethanol (ml) Destilat 0 12 16 20 16.524 0.509 0.501 .563 0.582 0.512 0.5 Indeks Bias Destilat 0.57 0.53 0.LAMPIRAN B DATA PENGAMATAN Kondisi Operasi Pemanas minyak (oil bath) Temperatur uap (vapour) Perbandingan reflux.545 0.55 4.601 Residu 0.532 0. R = L/D = 90°C = 80°C = 6/3 = 2 Kurva Kalibrasi Ethanol (ml) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Aquades (ml) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Indeks Bias 0.554 0.516 0.565 0.5 4 3 4.558 0.522 0.548 0.603 0.532 0.566 0.514 0.566 0.25 15 17 Residu 2 3 4.576 0.487 0.

3 0.55 Kurva Kalibrasi Ethanol (ml) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Aquades (ml) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 XEthanol 1 0.5 25.566 0.576 0.7 0.5 0.565 0.5 4 3 4.LAMPIRAN C PENGOLAHAN DATA Total Volume Destilat dan Residu Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 TOTAL Volume Ethanol (ml) Destilat 0 12 16 20 16.9 0.55 4.558 0.516 0.1 0 Indeks Bias 0.407 .2 0.25 15 17 96.603 0.554 0.25 Residu 2 3 4.487 0.4 0.532 0.8 0.512 0.6 0.

625 2.Perhitungan Berdasarkan Kurva Kalibrasi Waktu (s) 0 900 1800 3600 7200 14400 28800 Indeks Bias Destilat 0.514 0.367 0.721 0.501 XDestilat (XD) 0.497 0.422 0.599 0.959 Dari Kurva Kalibrasi XResidu (XW) 0.748 0.545 0.476 0.381 0.122 0.830 0.088 0.014 1.522 0.53 0.680 ) ( 11. Luas di bawah kurva ( ( ) ) ( ⁄ ) .470 ) Perhitungan Berdasarkan Persamaan Rayleigh ∫ Dengan menggunakan persamaan Simpson.769 3.532 0.435 0.490 0.265 0.548 0.308 8.566 0.563 0.333 0.167 3.601 Residu 0.582 0.509 0.524 0.57 0.578 0.341 2.701 0.299 0.279 ( 0.