Menurut Jro Mangku Susila Yasa, sesungguhnya untuk membuat banten Byakala diperlukan beberapa jenis perlengkapan antara

lain : 1. Ayakan (sidi) yang diuat dari bambu; ayakan ini nantinya juga merupakan tempat dari pada perlengkapan lainnya. 2. Kulit-sesayut yaitu sejenis jejahitan berbentuk bundar dengan potongan yang khusus (isehan di tangannya). Dalam hal ini kulit sesayut dibuat dari “selepan” (daun kelapa yang sudah hijau). 3. Kulit – peras – pandan adalah kulit – peras yang dibuat dari daun pandan berduri (pandan – wong). 4. Nasi dan garam atau lauk pauk lainnya di bungkus dengan daun pisang sedemikian rupa sehingga ada yang berbentuk segi empat dan segi tiga (nasi metajuh, nasi timpuh). 5. Penek hamong adalah sebuah penek nasi yang di sisipi terasi mentah, bawang dan jahe. 6. Rerasmen adalah sejenis lauk pauk yang terdiri dari kacang-kacangan (di goreng) sesaur (serundeng kelapa), ikan teri, telur, garam dan sambel; lauk pauk tersebut dialasi dengan sebuah tangkih berbentuk segi tiga, sedangkan sambel dengan garamnya dialasi dengan tangkih kecil. Adakalanya dilengkapi terung, timun, kecai (kacang hijau yang baru tumbuh atau kecambah) dan tulung (sejenis rumput laut). 7. Pebersihan (pesucian) yaitu sebuah ceper berisi alat-alat yang berfungsi sebagai penyucian seperti : Kekosok, dibuat dari tepung beras; ada yang berwarna putih, dan sebuah lagi di campur dengan kunir sehingga warnanya kuning disebut kekosok kuning. Bahan kerasmen, umpama kelapa di parut/daun kembang sepatu yang disisir halus ataupun yang lain. Sisig adalah sejenis alat untuk membersihkan gigi, dibuat dari sejenis jajan yang dibakar sampai gosong. Tepung tawar, dibuat dari daun dadap, beras dan kunir, kemudian ditumbuk menjadi satu. Kapas diisi sedikit minyak kelapa atau minyak wangi. Bija, adalah dicuci kemudian dicampur dengan air cendana atau bunga yang berbau wangi. Bahan-bahan tersebut masing-masing dialasi dengan sebuah tangkih kecil berbentuk segitiga (celemik) dan diatasnya di susuni sebuah payasan seperti pada daksina. 8. Sorohan alit terdiri dari : Peras-alit yaitu seperti banten peras, hanya isinya serba sedikit, demikian pula tumpeng dan sampiannya sangat kecil.

Sedangkan sabet dibuat dari serabut kelapa yang dijepit dengan bambu atau lidi. daun kayu tulak. sabet. dan lawat buah. 9. Dalam upacara ini diusahakan adanya tiga kali letusan. petak ketiga berisi bija dan sedikit benang. - Base tulak yaitu sejenis porosan yang bentuknya khusus dibat dari 3/5 lembar daun sirih diisi sedikit kapur. Sampian nagasari adalah sejenis canang genten tetapi alasnya berbentuk bundar dibuat dari janur/daun kelapa yang agak tua. Untuk maksud tersebut sudah tentu diperlukan alat/tempat untuk membakarnya. yang bentk anyam-anyaman serta jejahitannya lebih banyak dari pada lis amu-amuan. petak kedua berisi tepung tawar. - Sampat adalah sejenis sapu lidi yang kecil dibuat dari beberapa buah ujung lidi. 10. sehingga bila dibakar akan menimbulkan letusan. 11. daun pinang. sedangkan sampiannya berbentuk tangkih lengkap berisi porosan serta bunga. penyenengnya dibuat dari daun andong yang merah (andong bang) demikian pula tetebusnya adalah benang merah. Sebuah tangkih berisi sejenis ramuan yang dibuat dari daun dadap. ketiga perlengkapan (tetandingan diatas) diikat menjadi satu. ketiga tulung itu berisi sedikit nasi dan rerasmen. jajan buah-buahan dan sampian nagasari yang kecil. tangga tuwun. Bila keadaan memungkinkan dapat pula dilengkapi dengan padma dan lis pabyakalan. jan sesapi. lilit-linting. daun kayu sisih. base tulak. Penyeneng adalah sejenis jejahitan yang bentuknya sedemikian rupa sehingga di tengahtengahnya terbagi menjadi tiga petak. Pembakaran tetimpug dilakukan sebelummenghaturkan banten byakala dan tempatnya sesuai dengan tempat dimana upacara mabyakala diselenggarakan. - Sesayut adalah sebuah kulit sesayut kecil berisi sedikit nasi. kemudian di sela-selanya dilengkapi dengan jajan buah-buahan.- Tulung. lawat nyuh : yang semuanya diikat menjadi satu. Khusus pada banten byakala. . ditumbuk menjadi satu. Tetimpung yaitu beberapa ruas bambu yang agak mentah. Selain daripada itu jika keadaan memungkinkan dilengkapi dengan sebuah kekeb yaitu sejenis alat untuk menutupi nasi pada waktu di masak. sedangkan porosannya ditaruh di sela-selanya. lalang yang masih hijau. sebutir telur. Ada pula yang melengkapi dengan daun-daunan lainnya. rerasmen. 12. ada yang disebut : tangga menek. sebuah tangkih. petak pertama berisi nasi-segau (nasi di campur dengan abu). Isuh-isuh yaitu sebuah ceper yang berisi : sampat. yaitu sebuah tangkih berbentuk segitiga ditempatu tiga buah jejahitan yang disebut tulung sangkur.

padang lepas (sejenis rumput). dan seet mingmang (sejenis anyamanyaman dari daun lalang yang muda). Yang berfungsi sebagai pemberian kepada para bhuta kala. . ujung pohon dadap. 14. penek hamong. Adapun cara menyusun perlengkapan-perlengkapan tersebut sebagai berikut : Alas tempatnya adalah sidi. adalah 3 pulung nasi disirami darah mentah dan dilengkapi dengan terasi mentah. diatasnya berturut-turut disusuni kulit sesayut. kecuali tetimpug dan kekeb. penyeneng. amel-amel (jika ada) dan air atau tirta. kemudian dialasi dengan limas atau tempurung kelapa. Sasak mentah. Oleh karena it akan dipergunakan sebagai pendahuluan sesuatu upacara itu baik otonan. sebab upacara ini bertujuan untuk menghilangkan para bhuta-kala serta mengembalikan ke tempat asalnya dan tidak mengganggu pelaksanaan upacara berikutnya. adalah sebuah limas (sejenis jejahitan yang diisi tiga lembar daun dadap. menghadap ke selatan. Yang berfungsi sebagai alat untuk menciptakan air atau tirta. Nyepi dan lain-lainnya. dan sewaktu upacara berlangsung letaknya menengadah sedangkan setelah selesai ditengkurupkan. maka orang yang bersangkutan akan membelakangi pintu rumah atau menghadap ke utara. menjelang hari raya Galungan. Pada waktu „natab/ngayab” tangan diayunkan ke arah belakang. Amel-amel. kulit peras-pandan. Banten ini disebut pula “bya-kaonan” dan merupakan salah satu banten yang berfungsi sebagai penyucian dalam arti menghilangkan para bhuta kala yang tidak sewajarnya berada pada suatu tempat atau diri seseorang. satu bungkus lagi yang berbentuk segi tiga dan sebuah penek hamong. bumbu-bumbu dirajang. Pada dasarnya perlengkapan yang terdapat pada banten ini dapat dibedakan sebagai berikut :    Yang berfungsi sebagai penyucian adalah perlengkapan.Bagian luar dari kekeb itu diisi tanda silang (tampak-dara) dengan kapur. sehingga bila banten ini ditujukan kepada seseorang. isuh-isuh. adalah nasi yang dibungkus dengan daun pisang. dan padma. sebungkus nasi yang berbentuk segi empat. sasak mentah dan soroan alit. Dalam upacara-upacara yang lebih besar ada kalanya ditambahkan dengan perlengkapan yang disebut : 13. Perlengkapan yang terdapat pada pesucian. adalah lis amu-amuan (bebuu) lis pebyakala. tidak ke arah bawah/dada. putih dan hitam (benang tridatu). Upacara dilakukan di halaman rumah atau halaman mrajan. sedangkan perlengkapan yang lain ditaruh di sekitarnya. persembahyangan umum/bersama. semua perlengkapan tersebut diikat dengan benag merah.

Mengenai pemakaian sidi (Ayakan) dan kekeb kemungkinan mempunyai arti simbolis pemisahan antara yang berfaedah dengan yang tidak diperlukan. dan kekeb merupakan alat untuk menutupi nasi agar bisa masak dengan baik. ruparupanya mempunyai makna memanggil/mengeluarkan para bhuta kala agar pergi meninggalkan tempat/orang yang bersangkutan sebab upacara segera akan dimulai. Sedangkan pemakaian tetimpug. . kala. sehigga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Dengan demikian memahami fungsi daripada perlengkapan-perlengkapan pada banten ini diharapkan pembuatannya disesuaikan dengan desa. patra. serta melindungi dari pengaruh-pengaruh luar yang akan merugikan. sebagaimana hanya sidi (ayakan) adalah merupakan alat untuk memisahkan beras dari dedak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful