ASUHAN KEPERAWATAN GASTRITIS DAN HEMATEMESIS MELENA

November 9th, 2011 by admin

A. PENGERTIAN Gastritis adalah suatu penyakit inflamasi dari mukosa lambung akibat peningkatan asam lambung yang manifestasi klinisnya yaitu perdarahan saluran cerna atas berupa hematemesis melena (Mansjoer, 2000). Gastritis terbagi dua yaitu gastritis akut dan kronis. Gastritis akut dan kronis memiliki manifestasi klinis dan komplikasi yang sama yaitu dapat ditemukan terjadinya perdarahan saluran cerna atas atau perdarahan gastrointestinal atas berupa hematemesis melena. Hematemesis Melena inilah yang merupakan keadaan gawat darurat yang sering dijumpai di tiap rumah sakit di seluruh dunia termasuk di Indonesia (Mansjoer, 2000). Hematemesis adalah muntah darah dan biasanya disebabkan oleh penyakit saluran cerna bagian atas. Melena adalah keluarnya feses berwarna hitam per rektal yang mengandung campuran darah, biasanya disebabkan oleh perdarahan usus proksimal (Grace & Borley, 2007). Hematemesis adalah muntah darah. Darah bisa dalam bentuk segar (bekuan/gumpalan atau cairan berwarna merah cerah) atau berubah karena enzim dan asam lambung, menjadi kecoklatan dan berbentuk seperti butiran kopi. Memuntahkan sedikit darah dengan warna yang telah berubah adalah gambaran nonspesifik dari muntah berulang dan tidak selalu menandakan perdarahan saluran pencernaan atas yang signifikan. Melena adalah keluarnya tinja yang lengket dan hitam seperti aspal, dengan bau yang khas, yang lengket dan menunjukkan perdarahan saluran pencernaan atas serta dicernanya darah pada usus halus (Davey, 2005). Hematemesis adalah dimuntahkannya darah dari mulut; darah dapat berasal dari saluran cerna bagian atas atau darah dari luar yang tertelan (epistaksis, hemoptisis, ekstraksi gigi, tonsilektomi). Tergantung pada lamanya kontak dengan asam lambung, darah dapat berwarna merah, coklat atau hitam. Biasanya tercampur sisa makanan dan bereaksi asam. Melena adalah feses berwarna hitamseperti ter karena bercampur darah; umumnya terjadi akibat perdarahan saluran cerna bagian atas yang lebih dari 50-100 ml dan biasanya disertai hematemesis ( Purwadianto & Sampurna, 2000). Hematemesis dan melena merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit. B. ETIOLOGI Penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas seperti hematemesis biasanya

varises esophagus. Pada umumnya penderita dengan perdarahan saluran cerna bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus mempunyai faal hati yang buruk/. Pada pasien usia muda dengan riwayat perdarahan saluran cerna bagian atas singkat berulang (sering disertai kolaps hemodinamik) dan endoskopi yang normal.terganggu sehingga setiap perdarahan baik besar maupun kecil mengakibatkan kegagalan hati yang berat. Penurunan berat badan mengarahkan dugaan ke keganasan. biasanya dekat jantung. Penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas yang terbanyak dijumpai di Indonesia adalah pecahnya varises esofagus dengan rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan saluran cerna bagian atas. kadar Hb. karsinoma lambung. purpura trombositopenia). penyakit darah (leukemia. DIC (disseminated intravascular coagulation). gastritis erosive atau ulseratif (mengkonsumsi alcohol dalam jumlah besar.terjadi bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunum dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemesis. dan stress). seperti ikterus dan encefalopati. Adanya riwayat muntah-muntah berulang yang awalnya tidak berdarah lebih kearah MalloryWeiss. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml. Perdarahan yang berat disertai adanya bekuan dan pengobatan syok refrakter meningkatkan kemungkinan varises.blogspot. Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan saluran cerna bagian atas.com/2010/01/ asuhan-keperawatan- . konsumsi alkohol yang berlebihan mengarahkan ke dugaan gastritis serta penyakit ulkus peptikum. baru dijumpai keadaan melena. atau kadang-kadang varises. harus dipertimbangkan lesi Dieulafoy (adanya arteri submukosa. C. (http://kumpulan-asuhankeperawatan. dan lain-lain. Konsumsi alkohol berlebihan mengarahkan dugaan ke gastritis (30-40%). Perdarahan pada saluran cerna bagian atas paling sering disebabkan oleh ulkus peptikum. yang dapat menyebabkan perdarahan saluran pencernaan intermitten yang banyak) (Davey. keadaan hati. Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis penderita seperti faktor umur. penyakit ulkus peptikum (30-40%). PATOFISIOLOGI Adanya riwayat dyspepsia memperberat dugaan ulkus peptikum. 2005). tekanan darah selama perawatan. Begitu juga riwayat muntah-muntah berulang yang awalnya tidak berdarah. kortikosteroid. esofagitis. Hasil penelitian Hernomo menunjukan bahwa angka kematian penderita dengan perdarahan saluran cerna bagian atas dipengaruhi oleh faktor kadar Hb waktu dirawat. terjadi/tidaknya perdarahan ulang. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya perdarahan saluran cerna bagian atas. obat-obatan yang ulserogenik: golongan salisilat. karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan setiap macam perdarahan saluran cerna bagian atas. Adanya riwayat pembedahan aorta abdominalis sebelumnya meningkatkan kemungkinan fistula aortoenterik.

. c.hematomesis-melena. Dilakukan klisma atau lavemen dengan air biasa disertai pemberian antibiotika yang tidak diserap oleh usus. 2000). Pemberian obat – obatan hemostatik seperti vitamin K 4×10 mg/hari. f. kesadaran penderita dan bila perlu dipasang CVP monitor. obat – obat yang menimbulkan efek sedatif morfin. Penderita harus diistirahatkan mutlak. antasida dan golongan H2 reseptor antagonis (simetidin atau ranitidin) berguna untuk menanggulangi perdarahan. nyeri pada lambung. sebagai tindakan sterilisasi usus. penyakit hati kronis (sirosis hepatis). PENATALAKSANAAN Pengobatan penderita perdarahan saluran cerna bagian atas harus sedini mungkin dan sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan yang teliti dan pertolongan yang lebih baik.Pengawasan dan pengobatan a. d. hiperperistaltik. e. penurunan Hb dan Ht yang tampak setelah beberapa jam. Transfusi darah diperlukan untuk mengganti darah yang hilang dan mempertahankan kadar hemoglobin 50 – 70 % nilai normal. dan koagulopati purpura serta memar. demam ringan antara 38-39oC. Penderita dipuasakan selama perdarahan masih berlangsung dan bila perdarahan berhenti dapat diberikan makanan cair. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan produksi amoniak oleh bakteri usus. meperidin dan paraldehid sebaiknya dihindarkan .9 % selama belum tersedia darah. b. g. karbasokrom (Adona AC). dan peningkatan kadar ureum darah setelah 24-48 jam akibat pemecahan protein darah oleh bakteri usus (Purwadianto & Sampurna. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala yang dapat di temukan pada pasien hematemesis melena adalah syok (frekuensi denyut jantung. E. Infus cairan langsung dipasang dan diberikan larutan garam fisiologis NaCl 0. h.html) D. Pengawasan terhadap tekanan darah. Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu dilakukan untuk mengikuti keadaan perdarahan. Pengobatan penderita perdarahan saluran cerna bagian atas meliputi: 1. dan ini dapat menimbulkan ensefalopati hepatik.suhu tubuh). nadi. leukositosis dan trombositosis pada 2-5 jam setelah perdarahan.

3. 5. Pemeriksaan endoskopi dapat segera dilakukan setelah cairan aspirasi lambung sudah jernih. Beberapa peneliti mendapatkan hasil yang baik dengan pemakaian SB tube ini dalam menanggulangi perdarahan saluran cerna bagian atas akibat pecahnya varises esofagus. Karena itu perlu pemeriksaan elektrokardiogram dan anamnesis terhadap kemungkinan adanya penyakit jantung koroner/iskemik. Tindakan . lavage (umbah lambung) dengan air . pada pemberian pitresin per infuse akan mengakibatkan kontriksi pembuluh darah dan splanknikus sehingga menurunkan tekanan vena porta. cara pemasangannya dan kemungkinan akibat yang dapat timbul pada waktu dan selama pemasangan. dengan demikian perdarahan akan berhenti.150 ml sampai cairan aspirasi berwarna jernih dan bila perlu tindakan ini dapat diulang setiap 1 – 2 jam. Cara pengobatan ini sudah mulai populer dan merupakan salah satu pengobatan yang baru dalam menanggulangi perdarahan saluran cerna bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus. Sebaiknya pemasangan SB tube dilakukan sesudah penderita tenang dan kooperatif. Pemberian air pada kumbah lambung akan menyebabkan vasokontriksi lokal sehingga diharapkan terjadi penurunan aliran darah di mukosa lambung. sehingga penderita dapat diberitahu dan dijelaskan tujuan pemakaian alat tersebut.Pemakaian bahan sklerotik Bahan sklerotik sodium morrhuate 5 % sebanyak 5 ml atau sotrdecol 3 % sebanyak 3 ml dengan bantuan fiberendoskop yang fleksibel disuntikan dipermukaan varises kemudian ditekan dengan balon SB tube. Komplikasi pemasangan SB tube yang berat seperti laserasi dan ruptur esofagus. karena itu harus berhati-hati dengan pemakaian obat tersebut terutama pada penderita penyakit jantung iskemik. Umbah lambung ini akan dilakukan berulang kali memakai air sebanyak 100. Perlu diingat bahwa pitresin dapat merangsang otot polos sehingga dapat terjadi vasokontriksi koroner. 4. 6. Pemasangan balon Sengstaken-Blakemore Tube Dilakukan pemasangan balon Sengstaken-Blakemore tube (SB tube) untuk penderita perdarahan akibat pecahnya varises. Pemasangan pipa nasogastrik Tujuan pemasangan pipa naso gastrik adalah untuk aspirasi cairan lambung.Tindakan operasi Bila usaha – usaha penanggulangan perdarahan diatas mengalami kegagalan dan perdarahan tetap berlangsung. Pemberian pitresin (vasopresin) Pitresin mempunyai efek vasokoktriksi. dan pemberian obat-obatan. dengan demikian diharapkan perdarahan varises dapat berhenti. maka dapat dipikirkan tindakan operasi . obstruksi jalan napas tidak pernah ditemukan.2.

ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspekaspek pemeliharaan. (Mubin. Untuk sampai pada hal ini. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium seperti kadar hemoglobin. penurunan intelektual. syok hipovolemik (kehilangan volume darah sirkulasi sehingga curah jantung dan tekanan darah menurun). kadar ureum kreatinin dan uji fungsi hati segera dilakukan secara berkala untuk dapat mengikuti perkembangan penderita (Davey. leukosit. dan literatur yang mencakup semua material. majalah dan surat kabar. hematokrit.com/2009/01/asuhankeperawatan-gratis-free. 2005). Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan dalam perumusan diagnosa keperawatan (Doenges. buku-buku. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan Hematemesis Melena. dan kelainan neurologis yang menyertai kelainan parenkim hati). transeksi esofagus. dokumentasi dan kasus klien. 2006) G. pintasan porto -kaval. Pengkajian pada klien Hematemesis Melena yang merujuk apa kasus Perdarahan . anemi posthemoragik (kehilangan darah yang mendadak dan tidak disadari). wawancara dan pemeriksaan fisik. dengan menggunakan metoda ilmiah” (Doenges. Selain itu dapat juga dengan catatan klien seperti catatan klinik. yang mempunyai kebutuhan sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. 2000). Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa. dan preventif perawatan kesehatan. rehabilitative.operasi yang basa dilakukan adalah: ligasi varises esofagus.2000). sosial dan spiritual. sehingga dapat diketahui kebutuhan klien tersebut. KOMPLIKASI Komplikasi yang bisa terjadi pada pasien Hematemesis Melena adalah koma hepatik (suatu sindrom neuropsikiatrik yang ditandai dengan perubahan kesadaran. Operasi efektif dianjurkan setelah 6 minggu perdarahan berhenti dan fungsi hati membaik.html) F. psiko. Cara pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu observasi. aspirasi pneumoni (infeksi paru yang terjadi akibat cairan yang masuk saluran napas). trombosit. perawat memandang pasien sebagai individu yang utuh yang terdiri dari bio. 1. H. profesi keperawatan telah mengidentifikasi proses pemecahan masalah “menggabungkan elemen yang paling diinginkan dari seni keperawatan dengan elemen yang paling relevan dari system teori. ( http://primanileda.blogspot.

Neurosensori Gejala: Rasa berdenyut. suara gemetar. pengisian kapiler lambat/perlahan (vasokontriksi). pusing/sakit kepala karena sinar. darah warna gelap. mual. sianosis. distensi. muntah (muntah yang memanjang diduga obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka duodenal). kelembaban kulit/membrane mukosa: berkeringat (menunjukkan status syok. Tanda: Nyeri tekan abdomen. nyeri akut. tidak toleran terhadap makanan. perasaan tidak berdaya. misalnya gelisah. .Gastrointestinal atas menurut Doenges (2000): Aktivitas/Istirahat Gejala: Kelemahan. mual/muntah. Makanan/Cairan Gejala: Anoreksia. warna kulit: Pucat. kelemahan/nadi perifer lemah. Tanda: Takikardia. pekat. penurunan berat badan. perubahan pola defekasi/ karakteristik feses. gastritis. keluarga. penurunan produksi mukosa. berat jenis urin meningkat. contoh makanan pedas. bunyi usus: sering hiperaktif selama perdarahan. haluaran urine: menurun. karakter feses: diare. radiasi area gaster. takikardia. respon psikologik). kerja). takipnea/hiperventilasi (respons terhadap aktivitas). Sirkulasi Gejala: Hipotensi (termasuk postural). cegukan. gemetar. dengan atau tanpa bekuan darah. (tergantung pada jumlah kehilangan darah. kelelahan. hipoaktif setelah perdarahan. Eliminasi Gejala : Riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan GI atau masalah yang berhubungan dengan GI. bedah gaster. Tanda: Muntah: Warna kopi gelap atau merah cerah. pucat. diet khusus untuk penyakit ulkus sebelumnya. membran mukosa kering. sendawa bau asam. kecoklatan. Integritas Ego Gejala: Faktor stress akut atau kronis (keuangan. turgor kulit buruk (perdarahan kronis). berbusa. misalnya luka peptic/gaster. coklat. bau busuk (steatore). hipoksemia). Tanda :Tanda ansietas. konstipasi dapat terjadi (perubahan diet. masalah menelan. perhatian menyempit. atau kadang-kadang merah cerah. penggunaan antasida). berkeringat. nyeri ulu hati. disritmia (hipovolemia.

Diagnosa keperawatan memberikan dasar-dasar pemilihan intervensi untuk mencapai yang menjadi tanggung gugat perawat. Keamanan Gejala: Alergi terhadap obat/sensitive. alcohol. pucat. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien Hematemesis Melena . keluhan saat ini dapat diterima karena (misalnya anemia) atau diagnosa yang tak berhubungan (misalnya trauma kepala). ibuprofen). Diagnosis Keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan langkah kedua dari proses keperawatan setelah pengkajian data. disorientasi/bingung. keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah-masalah kesehatan / proses kehidupan yang potensial atau aktual. faktor pencetus: makanan. antibiotic. hepatitis. nyeri epigastrium terlokalisir di kanan terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus duodenal). misalnya ASA. rentang dari agak cenderung tidur. rasa terbakar.kelemahan. status mental: tingkat kesadaran dapat terganggu. berhati-hati pada area yang sakit. sampai pingsan dan koma (tergantung pada volume sirkulasi/oksigenasi). atau episode muntah berat. tak ada nyeri (varises esophageal atau gastritis). berkeringat. steroid. 1998). alkohol. memperhatikan respon individu/klien terhadap penyakit atau kondisi yang dialaminya. rokok. perhatian menyempit. 2002). nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi. penggunaan obat-obat tertentu (salisilat. perih. eritema palmar (menunjukkan sirosis/hipertensi portal). Tanda: Peningkatan suhu. Diagnosa keperawatan adalah mengidentifikasi masalah kesehatan yang aktual atau potensial yang dapat ditangani dengan intervensi keperawatan yang mandiri (Smeltzer & Bare. diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang. rasa ketidaknyamanan/distress samar-samar setelah makan banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut). alkoholisme. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : Adanya penggunaan obat resep/dijual bebas yang mengandung ASA. spider angioma. Tanda: Wajah berkerut. Nyeri/Kenyamanan Gejala: Nyeri. dangkal. Menurut NANDA (1990) seperti yang dikutip dalam bukunya (Capernito. gangguan makan. NSAID menyebabkan perdarahan GI. Diagnosa keperawatan berorientasi pada kebutuhan dasar manusia berdasarkan teori kebutuhan dasar Abraham Maslow. masalah kesehatan yang lama misalnya sirosis. nyeri epigastrium kiri sampai tengah/atau menyebar ke punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan antasida (ulkus gaster). 2. stressor psikologis. digambarkan sebagai tajam. reserpin. flu usus.

ancaman kematian. d. produksi urine output seimbang. Tujuan perencanaan adalah mengurangi. Rasional: Membantu dalam membedakan distress gaster. muntah darah dan berak darah berhenti. Perencanaan Perencanaan adalah penentuan tujuan dan rencana perawatan yang disusun untuk membantu pasien mengatasi masalah yang sudah didiagnosa (Smeltzer & Bare). menuliskan rencana intervensi.merujuk pada kasus Perdarahan Gastrointestinal Atas menurut Doenges (2000) adalah: a. Tujuan Kebutuhan cairan terpenuhi. mungkin karena ulkus gaster. Tanda vital dalam batas normal. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. c. menentukan rencana intervensi. Adapun rencana asuhan keperawatan yang dirumuskan berdasarkan kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien Hematemesis Melena merujuk pada kasus Perdarahan Gastrointestinal Atas menurut Doenges (2000) adalah: Diagnosa I Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan (kehilangan secara aktif). darah merah . Rencana tindakan keperawatan merupakan langkah ketiga dalam proses keperawatan. Ketakutan/ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Tahapan perencanaan keperawatan adalah menentukan prioritas. atau spasme otot dinding perut. Catat karakteristik muntah dan/ atau drainase. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan rasa panas/terbakar pada mukosa lambung dan rongga mulut. e. menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan pasien. merumuskan tujuan / sasaran dari perumusan kriteria hasil yang diinginkan. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan (kehilangan secara aktif) b. 3. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan perlu dibuat perencanaan intervensi keperawatan dan aktivitas keperawatan. Kriteria Hasil : Rencana Tindakan : 1. Darah merah cerah menandakan adanya atau perdarahan arterial akut. turgor kulit baik. Resiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemik karena perdarahan. membran mukosa lembab.

takipnea. Berikan cairan/darah sesuai indikasi. 8. Rasional: Aktivitas/ muntah meningkatkan tekanan intra-abdominal dan dapat mencetuskan perdarahan lanjut. berbaring. Kolaborasi: 7. Rasional: Mungkin digunakan bila infeksi penyebab gastritis kronis. Jadwalkan aktivitas untuk memberikan periode istirahat tanpa gangguan. Hilangkan rangsangan berbahaya. misalnya Hb/ Ht Rasional: Alat untuk menentukan kebutuhan penggantian darah dan mengawasi keefektifan terapi. 5. Rasional: Mencegah refluks gaster dan aspirasi antasida dimana dapat menyebabkan komplikasi paru serius. Diagnosa II Resiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia. 6. mencegah muntah dan tegangan pada saat defekasi. Rasional: Memberikan pedoman untuk penggantian cairan. 3. 2. Ukur kehilangan darah/ cairan melalui muntah dan defekasi. misalnya perubahan mental. Tinggikan kepala tempat tidur selama pemberian antasida.gelap mungkin darah lama (tertahan dalam usus) atau perdarahan vena dari varises. Pertahankan tirah baring. berkeringat. peningkatan suhu. Rasional: Penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya perdarahan (akut/kronis). 4. Catat respons fisiologis individual pasien terhadap perdarahan. kelemahan. berdiri bila mungkin . Awasi tanda vital. . Berikan obat antibiotik sesuai indikasi. gelisah. 9. bandingkan dengan hasil normal klien/sebelumnya. Rasional: Hipotensi postural menunjukkan penurunan volume sirkulasi. Awasi pemeriksaan laboratorium. pucat. Awasi masukan dan haluaran dan hubungkan dengan perubahan berat badan. ansietas. Rasional: Memburuknya gejala dapat menunjukkan berlanjutnya perdarahan atau tidak adekuatnya penggantian cairan. Ukur TD dengan posisi duduk.

Rasional: Perubahan disritmia dan iskemia dapat terjadi sebagai akibat hipotensi. Rasional: Mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi. 2. Rasional: Nyeri disebabkan oleh ulkus gaster sering hilang setelah perdarahan akut karena efek bufer darah. kulit hangat. khususnya tiba-tiba nyeri hebat atau nyeri menyebar ke bahu. hipoksia. Rencana Tindakan : 1. Observasi kulit untuk pucat. Awasi kecepatan jantung/irama bila EKG kontinu ada. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi . 5. Kriteria Hasil : Mempertahankan/ memperbaiki perfusi jaringan dengan bukti tanda vital stabil. pucat. kemerahan. Kaji kulit terhadap dingin. Diagnosa III Gangguan rasa nyaman: nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan rasa .Tujuan : Resiko gangguan perfusi jaringan tidak terjadi. Rasional: Mengobati hipoksemia dan asidosis laktat selama perdarahan akut. Rasional: Vasokontriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan/ atau dapat terjadi sebagai efek samping pemberian vasopresin. pengisian kapiler lambat. Berikan cairan IV sesuai indikasi. Kolaborasi 6. berkeringat. 3. keluaran urine adekuat. atau pendinginan dekat area jantung bila lavase air dingin digunakan untuk mengontrol perdarahan. Pijat dengan minyak. nadi perifer teraba. Auskultasi nadi apikal. 7. Rasional: Gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan risiko kerusakan kulit. keluhan pusing/ sakit kepala. Ubah posisi dengan sering. ketidakseimbangan elektrolit. 4. Rasional: Perubahan dapat menunjukkan ketidakadekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial. Selidiki perubahan tingkat kesadaran. Catat laporan nyeri abdomen. dan nadi perifer lemah. asidosis.

RR= 20x/i. 5. meminimalkan nyeri/ ketidaknyamanan. Rasional: Membantu dalam membuat diagnose dan kebutuhan terapi. atau spasme otot dinding perut. Rasional: Makanan mempunyai efek penetralisir. Tujuan : Pengetahuan klien tentang perawatan di rumah bertambah setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang hematemesis melena. Rasional: Menurunkan kekakuan sendi. T= 36-37oC. Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.TD=140/90 mmHg. termasuk lokasi. Diagnosa IV Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). intensitas (skala 0-1). TTV stabil. Rasional: Mengobati nyeri yang muncul. skala nyeri 0-1. Tujuan: Nyeri terkontrol.panas/terbakar pada mukosa lambung dan rongga mulut. 2. N=80x/i. Rasional: Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri klien sebelumnya dimana dapat membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi. prognosis. Anjurkan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk klien. tentang proses penyakit. Kriteria Hasil: Klien menyatakan nyerinya hilang dan tampak rileks. Kriteria Hasil : . Catat keluhan nyeri. Identifikasi dan batasi makanan yang menimbulkan ketidaknyamanan. Berikan obat analgesik sesuai indikasi. Rasional: Makanan khusus yang menyebabkan distress bermacam-macam antara individu. Bantu latihan rentang gerak aktif/ aktif. Kolaborasi 6. lamanya. Rencana Tindakan: 1. juga mencegah distensi dan haluaran gastrin. 3. 4. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya.

Awasi respon fisiologis. 2. ancaman kematian. Berikan kesempatan klien dan keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan kesehatan. 2. Catat petunjuk perilaku seperti gelisah. sakit kepala dan sensasi kesemutan. 3. misalnya takipnea. Rencana Tindakan: 1. cara pengobatan dan perawatan di rumah serta pencegahan kekambuhan penyakit. Rasional: Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama dengan klien. Berikan evaluasi terhadap keefektifan pendidikan kesehatan. Rasional: Memberikan kesempatan klien dan keluarga untuk lebih memahami tentang penyakitnya. Berikan penjelasan tentang penyakit yang klien derita. kurang kontak mata dan perilaku . Kaji sejauh mana ketidakmengertian klien dan keluarga tentang penyakit yang diderita. Diagnosa V Ketakutan/ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. pusing.Klien menyatakan pemahaman penyebab perdarahannya sendiri (bila tahu) dan penggunaan tindakan pengobatan. 5. Rasional: Memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan informasi/ keputusan tentang masa depan dan kontrol masalah kesehatan. Rasional: Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien setelah diberi pendidikan kesehatan. Kriteria Hasil: Menunjukkan rasa rileks serta melaporkan rasa ansietas hilang atau berkurang. Tujuan: Ansietas berkurang / hilang. 4. Rasional: Dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik/ status syok. Diskusikan dengan klien untuk melakukan pendidikan kesehatan. Rencana Tindakan : 1. Rasional: Mengidentifikasi area kekurangan pengetahuan/ salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan sesuai kebutuhan. palpitasi.

5. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. psikologis. sosial dan spiritual. dan teknikal.melawan. intelektual dan tehnikal. 3. berikan umpan balik. . Bersamaan dengan ini. Dorong pernyataan takut dan ansietas. penugasan keterampilan interpersonal. dan psikologi dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan. serta interdependen atau sering disebut intervensi kolaborasi. 4. Intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. Pelaksanaan Pelaksanaan atau implementasi adalah aktualisasi dari rencana perawatan melalui intervensi keperawatan (Smeltzer & Bare. Rasional: Membantu klien menerima perasaan dan memberikan kesempatan untuk memperjelas konsep. Ketiga fase interminasi. Hal hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah intervensi dilakukan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. Ada tiga fase implementasi keperawatan yaitu fase persiapan klien dan lingkungan. Tindakan keperawatan atau implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan oleh perawat dan klien. keamanan fisik. 2002). Berikan lingkungan tenang untuk istirahat. Rasional: Meningkatkan relaksasi dan keterampilan koping. Gunakan sentuhan dan kontak mata dengan tepat. Rasional: Membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi seorang diri. Rasional: Indikator derajat takut yang dialami klien. Berespons terhadap tanda panggilan dengan cepat. psikologis dilindungi dan didokumentasikan keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan. 4. merupakan terminasi perawat dengan klien setelah implementasi dilakukan. perawat tetap melakukan going asesment yang berupa pengumpulan data yang berhubungan dengan reaksi klien termasuk reaksi fisik. penguasaan keterampilan interpersonal. Tindakan keperawatan atau implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan oleh perawat dan klien. (Gaffar. Kedua fase operasional merupakan puncak implementasi dengan berorientasi pada tujuan implementasi dapat dilakukan dengan intervensi independen atau mandiri. kemampuan fisik. intelektual. Dorong orang terdekat tinggal dengan klien.

meningkatkan/mempertahankan stabilitas hemodinamik. produksi urine output seimbang. jika pasien sama sekali tidak menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah yang baru (Nursalam. c. dan potensial komplikasi. kebutuhan pengobatan. 5. RR= 20x/i. Pada tahap ini ada beberapa yang perlu dikerjakan.1999). Mengisi format asuhan keperawatan. Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu : a. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan strategi asuhan keperawatan. Pelaksanaan adalah implementasi atau penerapan tindakan-tindakan keperawatan yang telah direncanakan. 2000). Evaluasi Evaluasi adalah penentuan dari respon pasien terhadap intervensi keperawatan dan sejauh mana tujuan sudah dicapai (Smeltzer & Bare. untuk menilai apakah prosedur dilakukan sesuai dengan rencana dan evaluasi hasil berfokus kepada perubahan perilaku dan keadaan kesehatan pasien sebagai hasil tindakan keperawatan. 2002). Beberapa prioritas keperawatan yang diterapkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan Hematemesis Melena merujuk pada kasus Perdarahan Gastrointestinal Atas menurut Doenges (2000) adalah kontrol perdarahan. b. T= 36-37oC). antara lain : a. muntah darah . b. Masalah belum teratasi Masalah belum teratasi. membran mukosa lembab. Masalah sebagian teratasi Masalah sebagian teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian dari kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Masalah teratasi Masalah teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi terdiri dari evaluasi proses. Evaluasi yang diharapkan pada klien Hematemesis Melena merujuk pada kasus Perdarahan Gastrointestinal Atas menurut Doenges (2000) adalah tanda vital dalam batas normal (TD=140/90 mmHg. turgor kulit normal. N=80x/i. Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas berkesinambungan dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan pasien/keluarga. Melaksanakan/menerapkan tindakan-tindakan keperawatan yang ada dalam rencana. dan memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis. meningkatkan penurunan stres.

). kulit hangat. Kedaruratan Medik Pedoman Pelaksanaan Praktis (105-110). Philadelpia: Prima Medika. Jakarta: Erlangga.). pasien mengerti dengan penjelasan yang diberikan perawat. Mubin (2006). Evaluasi dilakukan dengan melihat respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah diberikan dengan memperhatikan tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan. Marylin E. et. nadi perifer teraba. nyeri hilang. Jakarta: Binarupa Aksara. Dokumentasi bukan hanya persyaratan untuk akreditasi tetapi juga merupakan catatan permanen tentang apa yang terjadi dengan setiap pasien. Implementasi dari perencanaan dicatat dalam catatan kemajuan. keluaran urine adekuat. Diambil pada 13 Juli 2010 dari http://kumpulan-asuhankeperawatan. Mansjoer. Budi Santosa (Penerjemah). Diambil pada 13 Juli 2010 . Primanileda (2009). Asuhan Keperawatan Hematomesis Melena. Dokumentasi ini merupakan persyaratan legal dalam setiap lingkungan pelayanan kesehatan (Doenges. DAFTAR PUSTAKA Davey. skala nyeri 0-1. Doenges. dan perencanaan asuhan pasien dicatat pada rencana perawatan. Dokumentasi Dokumentasi memberikan catatan tentang penggunaan proses keperawatan untuk memberikan perawatn secara individual. NANDA Internasional (2005).blogspot. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1(3rd ed. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosis Dan Terapi (2nd Ed. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien (3rd ed.html. tampak tenang. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Jakarta: Media Aesculapius. Askep Hematemesis Melena. Patrick (2005).). Jakarta: EGC. Arif (2000).com/2010/01/asuhankeperawatan-hematomesis-melena. Evaluasi asuhan dicatat dalam catatan kemajuan atau rencana perawatan. mendiskusikan masalah kecemasannya dan menunjukkan rasa rileks serta melaporkan rasa ansietas hilang atau berkurang. At a Glance Medicine (36-37). 6. Pengkajian awal dicatat dalam riwayat atau data dasar pasien. 2000). Purwadianto & Sampurna (2000). Evaluasi bisa bersifat formatif yaitu dilakukan secara terus-menerus untuk menilai setiap hasil yang telah dicapai dan bersifat sumatif yaitu dilakukan sekaligus pada akhir semua tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Jakarta: EGC. Jhoxer (2010). Diagnosa dari masalah/kebutuhan pasien. al. (2000).dan berak darah berhenti.

r_gc..id/search?hl=id&biw=1366&bih=669&q=penyebab+hematemesis+melena&r evid=596963441&sa=X&ei=XmOiT8b4DoG3rAfor8mWBw&sqi=2&ved=0CBkQ1QIoAA#q=penyebab+ hematemesis+melena&hl=id&prmd=imvns&ei=AWeiT4TGCIfprAeks4SWBw&start=20&sa=N&bav=o n.osb&fp=bc32ddf01300ee54&biw=1366&bih=705 .r_qf.co.cf.google.or.https://www.2.r_pw.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful