P. 1
BSE Bahasa Indonesia Kelas 7

BSE Bahasa Indonesia Kelas 7

5.0

|Views: 46,860|Likes:
Published by Mulyo Wong Cirebon
Website : http://gratis4all.com
Website : http://gratis4all.com

More info:

Published by: Mulyo Wong Cirebon on May 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2015

pdf

text

original

1.Menentukan pokok-pokok cerita.

2.Merangkai pokok-pokok cerita menjadi urut-
an cerita yang menarik.

3.Bercerita dengan menggunakan alat peraga
berdasarkan pokok-pokok cerita.

Materi:

Menyampaikan cerita dengan alat peraga.

Pernahkah kamu menyaksikan pementasan wayang kulit? Atau menyaksikan Ki Slamet Gundono
ketika mementaskan kisah pewayangan dengan peraga wayang suketnya? Dengan dialog yang lancar
dan mantap, penonton begitu terkesima. Penonton larut ke dalam suasana cerita.

Mengapa kisah yang mereka tampilkan di atas pentas begitu memikat di hati penonton? Ya,
karena mereka tidak hanya sekadar bercerita. Mereka bercerita dengan alat peraga sehingga nada
dan suasana cerita menjadi lebih hidup.

Kata Kunci: Menentukan – Merangkai – Bercerita

Ayo, perhatikan cerita berikut ini dengan saksama!

Rep. Dok. bengawan solo festival

Gambar 5.4 Aksi Slamet Gundono dengan wayang
suketnya

Seruling Ajaib

Si Kancil sedang asyik ber-
jalan di hutan bambu.

”Ternyata enak juga jalan-
jalan di hutan bambu. Sejuk dan
begitu damai,” kata Kancil da-
lam hati. Keasyikan berjalan
membuat ia lupa jalan keluar,
lalu ia mencoba jalan pintas de-
ngan menerobos pohon-pohon
bambu. Tapi, yang terjadi Kancil
malah terjepit di antara batang
pohon bambu.

”Tolong! Tolong!” teriak
Kancil. Ia meronta-ronta. Sema-
kin ia meronta semakin kuat jepitan bambu itu. Ia
hanya berharap mudah-mudahan ada binatang lain
yang menolongnya.

Tak jauh dari hutan bambu, seekor harimau
sedang beristirahat sambil mendengarkan kicauan
burung. Ia berkhayal bisa bernyanyi seperti burung.

”Ah, andai aku bisa bernyanyi seperti burung.
Tapi, siapa yang mau mengajari aku bernyanyi, ya?”
tanyanya dalam hati. Semilir angin membuat
Harimau terkantuk-kantuk. Tak lama setelah ia men-

dengkur, terdengar suara
berderit-derit. Suara itu se-
makin nyaring karena terbawa
angin.

”Itu suara apa, ya?” kata
Harimau. ”Yang pasti bukan
suara kicauan burung. Seper-
tinya suaranya datang dari
arah hutan bambu, lebih baik
aku selidiki saja,” ujar Si Hari-
mau.

Suara itu semakin jelas
ketika Harimau sampai di hu-
tan bambu. Ia mendapati ternyata seekor kancil
sedang terjepit di antara pohon-pohon bambu.

”Apa yang harus kulakukan agar bisa lolos
dengan selamat?” pikir Si Kancil. ”Harimau yang
baik, janganlah kau makan aku, tubuhku yang kecil
pasti tak akan mengenyangkanmu.”

”Aku tak peduli, aku sudah lama menunggu
kesempatan ini,” ujar si Harimau. Angin tiba-tiba
berhembus lagi, kriet . . . kriet . . . .

Gambar 5.5 Harimau terkecoh oleh tipu daya
si Kancil

Bahasa dan Sastra Indonesia VII

70

”Suara apakah itu?” tanya Harimau pena-

saran.

”Itu suara seruling ajaibku,” jawab Kancil
dengan cepat. Otaknya yang cerdik telah mene-
mukan suatu cara untuk meloloskan diri. ”Aku
bersedia mengajarimu asalkan engkau tidak
memangsaku, bagaimana?” tanya Si Kancil. Hari-
mau tergoda dengan tawaran Si Kancil, karena ia
memang ingin dapat bernyanyi seperti burung. Ia
berpikir meniup seruling tidak kalah hebat dengan
bernyanyi. Tangan Si Kancil pura-pura asyik me-
mainkan seruling seiring dengan hembusan angin.
Sementara Harimau memerhatikan dengan serius.

”Kok lagunya hanya seperti itu?” tanya Hari-

mau.

”Ini baru nada dasar,” jawab Kancil. ”Begini
caranya, coba kau kemari dan renggangkan dulu
batang bambu ini dari tubuhku,” kata Si Kancil.
Harimau melakukan apa yang dikatakan Kancil
hingga akhirnya Kancil terbebas dari jepitan
pohon bambu. ”Nah, sekarang masukkan lehermu
dan julurkan lidahmu pada batang bambu ini. Lalu
tiuplah pelan-pelan,” Kancil menerangkan dengan
serius. ”Jangan heran ya, kalau suaranya kadang

kurang merdu, tapi kalau lagi tidak ngadat suara-
nya bagus, lho.”

Harimau yang telah terjepit di antara batang
bambu tidak menyadari bahwa ia telah ditipu Si
Kancil.

”Kau mau pergi ke mana, Cil?” tanya Hari-

mau.

”Aku pergi tidak lama, nanti waktu aku kem-
bali, kau harus sudah bisa meniupnya, ya?” jawab
Si Kancil sambil pergi meninggalkan Harimau.

Setelah Si Kancil pergi, angin bertiup semilir-
semilir dan semakin lama semakin kencang. Batang-
batang pohon bambu menjadi saling bergesekan
dan berderit-derit.

”Hore, aku bisa!” seru Harimau bersemangat.
Karena terlalu bersemangat meniup, lidah Harimau
menjadi terjepit di antara batang bambu. Ia ber-
teriak kesakitan dan segera menarik lidahnya dari
jepitan batang bambu. ”Wah, ternyata aku telah
ditipu lagi oleh Si Kancil, betapa bodohnya aku
ini, pasti bunyi berderit-derit itu suara batang bam-
bu yang bergesekan. Grr… benar-benar keterla-
luan, kalau ketemu nanti akan kuhajar Si Kancil,”
kata Harimau.

(Dikutip dari www.e-SmartSchool.com, diakses 26 Februari 2008)

Sebuah cerita yang cukup menarik, bukan? Cerita tersebut akan lebih menarik jika diceritakan
dengan alat peraga. Bagaimana caranya? Ayo, pelajari langkah-langkahnya berikut ini!

1.Menentukan Pokok-Pokok Cerita

Langkah pertama yang perlu kamu lakukan sebelum bercerita adalah menentukan pokok-
pokok cerita. Caranya, catatlah peristiwa-peristiwa penting yang terdapat dalam cerita, termasuk
tokoh yang terlibat di dalamnya! Gunakan kalimat yang singkat, tetapi jelas!

Ayo, perhatikan contoh pokok-pokok cerita Seruling Ajaib berikut ini!

1.Si Kancil sedang asyik berjalan di hutan bambu.

2.Keasyikan berjalan membuat Si Kancil lupa jalan keluar.

3.Si Kancil terjepit di antara batang pohon bambu.

4.Si Kancil meronta-ronta dan berteriak minta tolong.

5.Harimau yang beristirahat di sekitar rumpun bambu berkhayal bisa bernyanyi seperti burung.

6.Harimau terjaga dari tidurnya mendengar suara berderit-derit, kemudian menyelidikinya.

7.Harimau mendapati seekor kancil sedang terjepit di antara pohon-pohon bambu dan bermaksud
hendak memangsanya.

8.Kancil sangat ketakutan dan mencari akal agar lolos dari sergapan Harimau yang hendak
memangsanya.

9.Harimau penasaran ketika mendengar suara deritan pohon bambu tertiup angin.

10Dengan cerdik, Si Kancil mengaku bahwa suara deritan itu adalah suara seruling ajaibnya.

11.Harimau menyetujui tawaran Si Kancil yang hendak mengajarinya memainkan seruling ajaib
dengan syarat Harimau tidak jadi memangsanya.

12.Harimau menuruti permintaan Si Kancil agar merenggangkan batang bambu hingga akhirnya
terbebas dari jepitan pohon bambu.

Budi Pekerti

71

13.Harimau pun memenuhi permintaan Si Kancil agar memasukkan leher dan menjulurkan lidah
pada batang bambu.

14.Ketika angin bertiup, Harimau semakin bersemangat meniup seruling ajaib hingga lidahnya
terjepit di antara batang bambu.

15.Harimau berteriak kesakitan dan baru sadar bahwa ia telah ditipu oleh Si Kancil.

2.Bercerita dengan Menggunakan Alat Peraga

Berdasarkan pokok-pokok cerita tersebut, kamu dapat bercerita secara lisan kepada orang
lain. Cerita akan lebih memikat jika didukung dengan alat peraga. Alat peraga berupa gambar
atau peralatan yang digunakan untuk mendukung isi cerita. Tujuannya adalah untuk memperjelas
dan memberikan gambaran yang nyata kepada penonton.

Berikut ini adalah beberapa contoh gambar berangkai yang dapat digunakan sebagai peraga
untuk menyajikan cerita Seruling Ajaib.

a.Kancil berjalan di hutan bambu

b.Kancil terjepit di antara batang
bambu

c.Si Kancil meronta-ronta dan
berteriak minta tolong

j.Harimau terpedaya dan men-
jepitkan lehernya

k.Harimau menjerit kesakitan, Kancil
lolos dari maut

i.Harimau mulai teperdaya meng-
ikuti kata-kata Kancil

g.Kancil ketakutan melihat Harimau
datang

h.Kancil memperdayai Harimau

d.Harimau berkhayal bisa bernyanyi
seperti burung

e.Harimau terjaga mendengar suara
jeritan

f.Harimau menertawai Kancil yang
terjepit

Bahasa dan Sastra Indonesia VII

72

Ayo, perhatikan contoh gambaran penggunaan alat peraga dalam menyajikan cerita Seruling
Ajaib
dalam tabel berikut ini!

Peristiwa

Gambaran Penggunaan Alat Peraga

Si Kancil sedang asyik berjalan di hutan
bambu. Karena keasyikan berjalan, ia lupa jalan
keluar.

Ketika hendak mencari jalan pintas, Si Kancil
justru terjepit di antara batang bambu. Ia pun
meronta-ronta dan berteriak minta tolong.

Sementara itu, tak jauh dari rumpun bambu,
seekor harimau sedang berkhayal untuk dapat
bernyanyi seperti burung. Karena lelah, harimau
itu tertidur. Harimau yang tertidur itu tiba-tiba
terjaga ketika mendengar suara berderit-derit dan
menyelidikinya.

Sambil bercerita, penutur menampilkan gam-
bar Si Kancil yang sedang asyik berjalan di hutan
bambu. (Gambar a)

Gambar Kancil terjepit di antara batang po-
hon bambu ditampilkan. Penutur dapat menambah-
kan kata seru, misalnya, ”Aduh, sakit, toloooong!”
(Gambarbdanc)

Gambar Harimau sedang beristirahat ditam-
pilkan. Sambil bercerita, penutur menampilkan
gambar Harimau yang terjaga ketika mendengar
suara berderit-derit. (Gambar d dan e)

Harimau mendapati seekor kancil sedang
terjepit di antara pohon-pohon bambu dan ber-
maksud hendak memangsanya. Kancil sangat ke-
takutan dan mencari akal agar lolos dari sergapan
Harimau yang hendak memangsanya.

Sambil bercerita, penutur menampilkan gam-
bar Harimau tertawa terbahak-bahak ketika melihat
Kancil sedang terjepit di antara pohon-pohon bam-
bu. Penutur dapat menambahkan suara Harimau
yang sedang tertawa, misalnya, ”Huaaa, hahaha!”
(Gambarf)

Harimau tiba-tiba mendengar suara deritan
pohon bambu tertiup angin. Harimau penasaran.
Dengan cerdik, Si Kancil mengaku bahwa suara
deritan itu adalah suara seruling ajaibnya.

Harimau berkeinginan untuk dapat meniup
seruling ajaib itu. Maka, Harimau pun menyetujui
tawaran Si Kancil yang hendak mengajarinya me-
mainkan seruling ajaib dengan syarat Harimau
tidak jadi memangsanya.

Harimau pun menuruti permintaan Si Kancil
agar merenggangkan batang bambu hingga
akhirnya terbebas dari jepitan pohon bambu.

Karena keinginannya untuk bisa meniup
seruling ajaib begitu kuat, Harimau pun memenuhi
permintaan Si Kancil agar memasukkan leher dan
menjulurkan lidah pada batang bambu.

Ketika angin bertiup, Harimau semakin
bersemangat meniup seruling ajaib hingga
lidahnya terjepit di antara batang bambu. Harimau
berteriak kesakitan. Penguasa hutan itu baru sadar
bahwa ia telah ditipu oleh Si Kancil.

Penutur menambahkan suara, misalnya,
”Kriet-kriet” untuk menggambarkan peristiwa
deritan pohon bambu tertiup angin. Gambar Si
Kancil mengaku bahwa suara deritan itu adalah
suara seruling ajaibnya ditampilkan. (Gambar g)

Sambil bercerita, gambar Kancil dan Harimau
yang sedang terlibat percakapan ditampilkan.
(Gambar h)

Sambil bercerita, penutur menampilkan gam-
bar Harimau sedang merenggangkan batang bam-
bu dan gambar Si Kancil yang terbebas dari jepitan
pohon bambu. (Gambar i)

Sambil bercerita, gambar Harimau memasuk-
kan leher dan menjulurkan lidah pada batang bam-
bu ditampilkan. (Gambar j)

Gambar Harimau yang terjepit lidahnya di
antara batang bambu ditampilkan. Kemudian, di-
lanjutkan penampilan gambar Harimau yang ber-
teriak kesakitan. (Gambar k)

Budi Pekerti

73

Bercerita dengan menggunakan alat peraga dapat menarik perhatian penonton. Apalagi jika
didukung dengan penghayatan yang tepat. Dengan penghayatan yang tepat, kamu dapat memper-
lihatkan ekspresi yang berbeda-beda sesuai dengan suasana cerita.

Sekarang, ayo membaca pojok bahasa untuk menambah pengetahuanmu!

Pojok Bahasa

Partikel -kah dan -lah

Dalam cerita Seruling Ajaib kita temukan kalimat berikut ini.

1.”Lalu tiuplah pelan-pelan,” Kancil menerangkan dengan serius.

2.”Suara apakah itu?” tanya Harimau penasaran.

Pada kalimat 1 dan 2, terdapat penggunaan bentuk -lah pada kata tiuplahdan bentuk -kahpada
kataapakah.Jika kita cermati, penggunaan bentuk -lah dan -kah pada kata tersebut tidak memiliki
makna (baik leksikal maupun gramatikal). Bentuk tersebut hanya berfungsi sebagai penegas. Bentuk
-lah dan -kah yang tidak mempunyai makna leksikal maupun makna gramatikal dan hanya berfungsi
sebagai penegas disebut partikel.

Pemarkah Negatif Jangan

Dalam dongeng Seruling Ajaib juga kita temukan kalimat berikut ini.

3.”Harimau yang baik, janganlah kau makan aku, tubuhku yang kecil pasti tak akan mengenyang-

kanmu.”

4.”Jangan heran, ya, kalau suaranya kadang kurang merdu, tapi kalau lagi tidak ngadat suaranya
bagus, lho!”

Pada kalimat 3 dan 4, terdapat penggunaan bentuk jangan. Jika kita cermati, kalimat 3 dan 4
mengandung unsur larangan agar kita tidak melakukan sesuatu seperti yang dinyatakan dalam
kalimat tersebut. Kata janganyang digunakan dalam kalimat tersebut termasuk pemarkah negatif,
yaitu pemarkah (penanda) yang digunakan dalam kalimat yang isinya mengandung unsur larangan.

Uraian di atas cukup jelas, bukan ? Ayo, praktikkan pengetahuanmu dengan mengerjakan kegiatan

berikut ini!

Kerja Mandiri 2

Coba kerjakan dengan baik di buku tugasmu!

1.Bacalah kembali cerita Seruling Ajaib di atas!

2.Berdasarkan pokok-pokok cerita dan petunjuk penggunaan alat, sampaikanlah cerita
Seruling Ajaib tersebut di depan kelas!

3.Laksanakan secara bergantian dengan bimbingan guru!

Bahasa dan Sastra Indonesia VII

74

C

MEMBACA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->