BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Sejak zaman Romawi perdagangan, perdagangan sudah berkembang dengan pesatnya, sehingga dengan demikian sehingga dengan demikian diperlukan pula pengaturan yang tepat untuk dapat mengikuti perkebmbangan yang serba dinamis itu. Timbulnya pengaturan baru ini akan menimbulkan suatu perubahan pula dalam hukum Perdata Romawi yang telah ada. Sehingga, akhirnya terbentuklah sebuah kitab undang-undang yang baru yang kemudian bernama Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Pemisahan hukum perdata dalam dua buah bagian itu yang terdiri atas hukum perdata dan hukum dagang diambil alih oleh tata hukum Prancis yang hukumnya sangat berbau Romawi. Sistem tata hukum Prancis akhirnya diambil oleh Belanda dan berdasarkan asas konkordansi/concordantie baginsel berlakulah pula sistem hukum Belanda itu di Indonesia. Maka dari itu sampai saat ini hukum Perdata di Indonesia terbagi pula dalam dua buah bagian yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Sipil/KUHS atau Burgerlijk Wetbork/BW dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang/KUHD atau Wetboek van Koophandel/WvK. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah definisi dari perjanjian? 2. Apakah definisi dari jual beli perusahaan? 3. Apakah definisi dari hukum perlindungan konsumen? 4. Apakah definisi dari hukum kepailitan? 5. Apakah definisi dari hukum persaingan usaha? 6. Apakah definisi dari bursa?

1

C. TUJUAN PENULISAN 1. Menjelaskan definisi dari perjanjian 2. Menjelaskan definisi jual beli perusahaan. 3. Menjelaskan definisi dari hokum perlindungan konsumen 4. Menjelaskan definisi dari hokum kepailitan. 5. Menjelaskan definisi dari hokum persaingan usaha. 6. Menjelaskan definisi dari bursa.

2

BAB II PEMBAHASAN

A. PERJANJIAN 1. Pengertian Perjanjian Secara teoritis, ada beberapa pengertian tetang perjanjian, yaitu :1 a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kontrak atau persetujuan adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih. (Pasal 1313 KUHPerdata). b. Prof. Subekti Perjanjian adalah suatu peristiwa ketika seseorang berjanji kepada orang lain atau antara dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. c. Van Dune Perjanjian adalah hubungan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. d. Prof. Siti Ismijati Jenie Perjanjian dalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat yang beritikad baik untuk menimbulkan suatu akibat hukum. Jadi perjanjian adalah perbuatan hukum antra 2 orang atau lebih dimana mereka saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih yang dapat menimbulkan akibat hukum.

1

Much. Nurachmad, S.T, M.Hum.2010 Buku Pintar Memahami & Menbuat Surat Perjanjian. Jakarta: Visimedia. Hal : 4

3

2. Syarat Sah Perjanjian Menurut Pasal 1320 KUHPerdata, syarat sahnya suatu perjanjian adalah sebagai berikut2: a. Sepakat mereka yang mengikatkan diri (syarat subjektif) Sepakat merupakan consensus murni dan tidak merupakan cacat kehendak. Apabila terjadi cacat kehendak, suatu perjanjian akibat hukumnya menjadi tidak sempurna dan dapat dimintakan pembatalan perjanjiannya. b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan (syarat subjektif) Cakap adalah mampu untuk melakukan perbuatan hukum dengan akibat hukum yang lengkap. Dalam Pasal 1330, orang yang tidak cakap adalah : Orang yang belum dewasa yaitu belum berumur 21 tahun. Berada di bawah pengampuan. Orang yang berda di bawah pengampuan tidak cakap dalam membuat perjanjian. c. Suatu hal tertentu. (syarat objektif) Hal tertentu diatur dalam Pasal 1332 KUHPerdata Bahwa obyek yang diperjanjikan dapat ditentukan dan dapat dilaksanakan oleh para pihak. d. Suatu sebab yang halal. (syarat objektif) Suatu sebab dikatakan halal apabila sesuai dengan ketentuan pasal 1337 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yaitu : - tidak bertentangan dengan ketertiban umum - tidak bertentangan dengan kesusilaan - tidak bertentangan dengan undang-undang.

2

Ibid, Hal : 7

4

Apabila suatu perjanjian tidak memiliki salah satu atau kedua syarat subjektif, maka perjanjian akan tetap berjalan, tetapi dapat dibatalkan apabila pihak yang berkepentingan menghendaki. Sedangkan apabila suatu perjanjian tidak memiliki salah satu atau keduanya dari syarat objektif, maka perjanjian akan batal demi hukum (perjanjian dianggap tidak pernah ada).

3. Asas-Asas Perjanjian a. Asas Konsensus Perjanjian dapat lahir, terjadi, timbul, dan berlaku sejak tercapainya kata sepakat diantara para pihak tanpa perlu adanya formalitas tertentu. b. Asas Pacta Sunt Servanda Asas ini disebut sebagai asas kepastian hukum karena perjanjian dibuat secara sah mengikat sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Hal ini dapat dilihat pada pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai membuatnya”. c. Asas Kebebasan Berkontrak Asas kebebasan berkontrak adalah kebebasan sesorang dalam membuat suatu perjanjian yang terdiri dari :3 Bebas untuk membuat atau tidak membuat suatu perjanjian Bebas untuk menentukan dengan siapa seseorang akan mengikatkan diri Bebas menentukan isi perjanjian dan syarat-syaratnya Bebas menentukan bentuk perjanjian Bebas menentukan terhadap hukum yang mana perjanjian itu akan tunduk. undang-undang bagi mereka yang

3

Ibid, Hal : 14

5

Tetapi kebebasan tersebut memiliki batasan yaitu : tidak bertentangan dengan ketertiban umum, tidak bertentangan dengan kesusilaan, dan tidak bertentangan dengan undang-undang.

A. JUAL BELI PERUSAHAAN 1. Pengertian Jual Beli Perusahaan Jual beli adalah suatu perjajian timbal-balik yang dalam hal ini pihak yang satu (si penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedangkan pihak yang lainnya (pembeli) berjanji untuk membayar harga yang terdiri atas jumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut.4 Pengertian jual-beli Perdata (umum) diatur dalam Pasal 1457-1540 KUH Perdata. Jual beli adalah suatu perjanjian timbal balik antara penjual dan pembeli, dengan mana pihak penjual mengikatkan diri untuk menyerahkan suatu benda, sedangkan pihak pembeli mengikatkan diri untuk membayar harga benda sebagaimana yang telah diperjanjikan. (Psl 1457 KUH Pdt) Jual beli dapat tercapai apabila : a. Saat tercapainya kesepakatan benda dan harga, meskipun belum ada penyerahan atau pembayaran b. Azas Konsensualisme (psl.1458 BW) Menurut Zeylemeker jual beli perusahaan (handelskoop) adalah perbuatan pedagang atau pengusaha lainnya yang berdasarkan perusahaannya/jabatannya melakukan perjanjian jual beli. Dengan demikian jual beli perusahaan tersebut merupakan jual beli yang memiliki sifat-sifat khusus.

4

Richard Eddy. 2010. Aspek Legal Properti – Teori, ontoh, dan Aplikasi. Yogyakarta : Andi. HaL 56

6

Kekhususan Jual Beli Perusahaan, yaitu : a. Perbuatan perusahaan Jual beli perusahaan merupakan perbuatan perusahaan. Menurut Polak perbuatan tersebut direncanakan terlebih dahulu tentang untung ruginya dan segala sesuatunya dicatat dalam pembukuan. Jadi jual beli ini bukan untuk kepentingan sendiri sebagai konsumen tetapi untuk kepentingan perusahaan atau jabatannya dalam perusahaan. b. Para pihak salah satu / keduanya adalah pengusaha yaitu orang atau badan hukum yang menjalankan perusahaan yang mungkin saja bertempat tinggal tidak dalam satu negara. c. Barang-barang yang diperjualbelikan Biasanya barang-barang dagangan tidak dipakai/dikonsumsi sendiri, tetapi untuk dijual kepada orang lain atau dipergunakan untuk kepentingan perusahaan. d. Pengangkutan Biasanya barang-barang yang diperjualbelikan tidak sedikit, oleh karena itu diperlukan pengangkutan yang khusus pada waktu penyerahan baik melalui pengangkutan darat. laut, dan udara. (70% biasanya melalui laut)

e. Syarat-syarat dalam jual beli perusahaan Syarat-syarat dalam jual beli Perdata diatur dalam Bab V Buku III KUH Perdata, berbeda dengan syarat-syarat dalam jual beli perusahaan seringkali disertai dengan syarat-syarat sebagai berikut : f.a.s. (Free alongside ship), syarat f.o.b.

7

(free on board), syarat c.i.f. (cost insurance and freight) atau syarat c.f. (cost and freight), syarat franco.

Dasar Hukum yang Berlaku bagi Jual Beli Perusahaan KUHD dan KUH Perdata tidak mengatur jual beli perusahaan, karena unsur-unsur jual beli perdata dengan jual beli perusahaan berbeda, dan dlm jual beli perusahaan ada unsur internasionalnya. Menurut Dorhout Mess ada beberapa peraturan internasional yang mengatur jual beli perusahaan yang berlaku umum tujuannya menciptakan kesatuan hukum internasional bagi jual beli perusahaan. Aturan-aturan tersebut yaitu : a. Warsaw-Oxford Rules 1928-1932 mengatur syarat c.i.f. b. Inco-Terms mengatur syarat-syarat yang lazim dipergunakan dalam jual beli perusahaan. (Dibuat atas inisiatif ICC) c. Uniform Customs and Practice for Documentary Credits, mengatur cara pembayaran dalam jual beli perusahaan yakni mengenai kredit berdokumen.

Unsur-unsur Jual Beli Perusahaan a. Terjadinya Perjanjian Jual Beli Perusahaan Jual beli perusahaan terjadi pada saat detik tercapainya kesepakatan mengenai harga dan barang (Psl. 1320 dan 1338 (1) KUH Pdt) dan biasanya selalu diikuti / dilanjutkan dengan akta, meskipun perjanjian tersebut terjadi melalui telepon, telex dll. b. Penyedirian dan beralihnya risiko Risiko : kewajiban memikul kerugian yang disebabkan oleh suatu kejadian di luar kesalahan salah satu pihak.

8

2. Syarat-syarat dalam jual beli perusahaan a. Syarat loco (loko), Berarti loko gudang penjual, yaitu pembeli menerima barang di gudang penjual. Risiko dana hak milik beralih kepada pembeli mulai saat barang diangkut ke luar dari gudang penjual. Pembeli harus menanggung semua biaya untuk mengangkut barang mulai dari gudang penjual sampai gudang pembeli.

b. Syarat franko Syarat ini adalah kebalikan dari syarat “loko”. Jika dalam syarat loko pembeli yang harus mengambil barang di gudang penjual, sedangkan pada syarat franko penjual harus menyerahkan barang di gudang pembeli.

c. Syarat f.a.s. (free alongside ship) Penjual menyerahkan barangnya di samping kapal yang disediakan pembeli di pelabuhan pemuatan. Karena itu pembeli yang menanggung biaya pemuatan ke dalam kapal.

d. Syarat f.o.b. (free on board) Penjual menyerahkan barang di atas kapal yang disediakan pembeli di pelabuhan pemuatan. Biaya biaya pengangkutan dan ongkos-ongkos lain sampai di atas kapal menjadi tanggungan penjual, karena terhadap ongkos-ongkos tersebut pembeli bebas (free).

9

e. Syarat c.i.f (cost insurance freight) Penjual menanggung semua biaya dan ongkos-ongkos pengangkutan sampai barang di pelabuhan pembongkaran, yakni di pelabuhan negara pembeli. Jadi penjual harus mengantarkan barang sampai ke pelabuhan pembeli.

f. Syarat c & f (cost and freight) Syarat ini hampir sama dengan syarat c.i,f., perbedaannya terletak pada premi asuransi. Pada syarat c.i.f. premi asuransi menjadi tanggungan penjual, sedangkan pada c.& f, premi asuransi menjadi tanggungan pembeli.

3. Syarat Pembayaran Jual Beli Perusahaan a. tunai, Pembayaran tunai berarti barang yang dibeli perusahaan langsung dibayar seketika setelah perusahaan mendapatkan barang tersebut, baik barang tersebut barang jadi ataupun barang mentah b. kredit, Pembayaran kredit berarti barang yang dibeli perusahaan dibayar secara berangsur sesuai kesepakatan antara pihak pembeli dan penjual setelah perusahaan memperoleh barang tersebut. c. konsinyasi, pembayaran konsinyasi berarti barang yang dibeli perusahaan dibayar setelah barang tersebut berhasil dijual kembali kepada pihak lain oleh perusahaan.

4. Dokumen Jual Beli Perusahaan a. Bill of Landing (B/L), merupakan dokumen pengangkutan yang berisi daftar semua barang barang yang dikirimkan penjual kepada pembeli, sesuai dengan

10

perjanjian jual beli perusahaan yang telah ditutup. Dokumen ini juga disebut konosemen. b. Polis Asuransi, merupakan tand abukti bahwa barang-barang yang dikirimkan sudah diasuransikan. Hal ini penting untuk menjamin kerugian yang ditimbulkan. c. Faktur (Invoice), merupakan dokumen dari penjual sebagai lampiran B/L yang berisi catatan barang-barang yang dikirimkan beserta harganya di tempat penjual. Ada 2 macam invoice, yaitu : Commercial invoice, invoice yang dibuat oleh penjual, berisi rincian barang-barang yang dikirim beserta harganya. Consular Invoice, invoice yang dibuat dan ditandatangani oleh konsul dagang dari Negara pembeli yang berdomisili di Negara penjual. d. Certificate of Origin, merupakan surat keterangan asal barang, yang dibuat oleh kamar dagang di Negara penjual dengan tujuan untuk menjamin keaslian barang-barang yang bersangkutan. e. Packing List, merupakan suatu daftar kali-kali beserta isinya yang dibuat oleh perusahaan yang mengepak barang-barang tersebut.

B. PERLINDUNGAN KONSUMEN Pelanggaran terhadap hak konsumen disebabkan oleh bebrapa factor. Diantaranta factor sikap pelaku usaha yang sering memandang konsumen sebagai pihak yang mudah dieksploitasi dan dipengaruhi untuk mengosumsi segala bentuk barang atau jasa yang ditawarkan. Untuk itu diperlukan perlindungan konsumen agar hal tersebut tidak terjadi. 1. Pengertian Perlindungan Konsumen

11

Menurut Pasal 1 angka 2 UU No. 8 Tahun 1999, konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentigan sendiri, keluarga, orang lain, maupu makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. 5 Di dalam penjelasan UU No. 8 tahun 1999, konsumen terbagi 2 yaitu : Konsumen akhir, yaitu pengguna atau pemanfaat akhir dari suatu produk. Konsumen antara, yaitu konsumen yang menggunakan suatu produk sebagai bagian dari proses suatu produk lainnya. Konsumen yang dimaksud dalam undang-undang ini adalah konsumen akhir. Pengertian perlindungan konsumen dapat dilihat pada UU No. 8 tahun 1999 di dalam pasal 1 angka 1 yaitu segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. 2. Sumber Hukum Perlindungan Konsumen Peraturan tentang hukum perlindungan konsumen diatur dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Di samping UU Perlindungan Konsumen, beberapa dasar hukum perlindungan konsumen lainnya adalah :6 a. Peraturan Pemerintah RI No. 57 Tahun 2001 tentang Badan Perlindungan Konsumen Nasional. b. Peraturan Pemerintah RI No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen. c. Peraturan Pemerintah RI No. 59 Tahun 2001 tentang Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat. d. Dll.

5

Elsi Kartika Sari S.H, M.H, dan Advendi Simangunsong, S.H, M.M. 2007. Hukum dalam Ekonomi. Jakarta : Grasindo. Hal : 156 6 Happy Susanto. 2008. Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan. Jakarta: Visimedia. Hal : 20

12

3. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen Perlindungan Konsumen diselenggaraka sebagai usaha bersama berdasarkan 5 asas dalam pembaguna nasional, yaitu : a. Asas Manfaat Asas manfaat adalah segala upaya dalam meyelenggarakan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.

b. Asas Keadilan Asas keadilan adalah memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya seara adil.

c. Asas Keseimbangan Asas keseimbangan adalah memeberikan kesimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materil maupun spiritual.

d. Asas Keamanan dan Keselamatan konsumen Asas keamana dan keamanan konsumen adalah untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan. e. Asas kepastian hokum Asas kepastian hukum baik pelaku maupun konsumen mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen serta Negara menjamin kepastian hukum.

13

Tujuan dari perlindungan konsumen adalah :7 a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkan dari ekses negative pemakaian barang/jasa c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebgai konsumen d. Menetapkan system perlindungan konsumen yang mengandung unsure kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindingan konsumen, sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha f. Meningkatkan kualitas babrang dan jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

4. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha dan Konsumen a. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha Berdasarkan Pasal 6 dan 7 UU No. 8 Tahun 1999, hak dan kewajiban pelaku usaha adalah sebagai berikut :8 Hak Pelaku usaha adalah :

7 8

Ibid, Hal : 161 Elsi Kartika Sari S.H, M.H, dan Advendi Simangunsong, S.H, M.M. Op.cit. Hal : 162

14

1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang

diperdagangkan. 2) Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik. 3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen. 4) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barangdan/atau jasa yang diperdagangkan. 5) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Kewajiban pelaku usaha adalah : 1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya. 2) Melakukan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta member penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan. 3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; pelaku usaha dilarang membeda-bedakan konsumen dalam memberikan pelayanan; pelaku usaha dilarang membeda-bedakan mutu pelayanan kepada konsumen. 4) Menjamin mutu barang dan atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.

15

5) Member kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta member jaminan dan atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan. 6) Member kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. 7) Member kompensasi ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

b. Hak dan Kewajiban Konsumen Berdasarkan Pasal 4 dan 5 UU No. 8 Tahun 1999, hak dan kewajiban konsumen adalah :9 Hak Konsumen adalah : 1) Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam konsumsi barang dan/atau jasa. 2) Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa, sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjiakan. 3) Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. 4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.

9

Ibid. Hal : 161

16

5) Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan konsumen dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. 6) Hak untuk mendapatkan pembi naan dan pendidikan konsumen. 7) Hak untukdiperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif berdasarkan suku, agama, budaya, daerah, pendidikan, kaya, miskin, dan status social lainnya. 8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. 9) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturn perundang-undangan lainnya.

Kewajiban konsumen adalah : 1) Membaca, mengikuti petunjuk informasi, dan prosedur pemakaian, atau pemanfaatan baran dan/atau jasa demi keamanan dan keselamatan. 2) Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. 3) Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati. 4) Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

5. Kepentingan Konsumen yang di Lindungi Undang-undang a. Kepentingan fisik Konsumen berhak atas produk yang aman, artinya produk yang tidak mempunyai kesalahan teknis atau kesalahan lainnya yang bisa merugikan kesehatannya atau membahayakan hidupnya.

17

b. Kepentingan social ekonomi Produk yg ditawarkan sesuai dengan daya beli konsumen. c. Kepentingan hukum Jika konsumen dirugikan oleh pelaku usaha maka konsumen wajib dilindungi dengan upaya penyelesaian sengketa konsumen.

6. Transaksi Konsumen10 a. Sebelum transaksi (Pretransaction) Merupakan penetapan strategi layanan konsumen yang akan dijalankan, menyediakan catatan tertulis tentang kebijakan pelayanan konsumen. Misalnya, dengan menetapkan bagaimana barang dikirim setelah order diterima, bagaimana prosedur pengembalian barang, dan metode pengiriman agar pelanggan mengetahui pelayanan yang akan didapat.

b. Transaksi (Transaction) Merupakan penetapan strategi yang menyangkut pelaksanaan pengiriman barang/produk ke konsumen. Elemen ini merupakan hasil langsung pada saata pengantaran barang ke konsumen, mengatur tingkat persediaan barang, dan menyeleksi sarana transportasi.

c. Sesudah transaksi (posttransaction) Merupakan penetapan prosedur pemberian layanan yang dilakukan untuk menunjang produk yang diproduksi di pasaran. Misalnya dengan melindungi konsumen dari produk cacat, menyediakan pengembalian barang, menjamin

10

Yolanda M. Siagian. 2007. Aplikasi Supply Chain Managenent dalam Dunia Bisnis. Jakarta: Grasindo. Hal : 66

18

penerimaan kembali, member garansi, dan juga mendengarkan complain dari konsumen.

7. Penyelesaian Sengketa Konsumen Menurut AZ. Naution, S.H, sengketa konsumen adalah sengketa antar konsumen dengan pelaku usaha (public atau privat) tentang produk konsumen, barang dan/atau jasa konsumen tertentu. Sedangkan menurut Sidharta, sengketa konsumen adalah sengketa berkenaan dengan pelanggaran hak-hak konsumen. Penyelesaian sengketa konsumen memiliki kekhasan karena para pihak 7yang berselisih dimungkinkan menyelesaikan sengketa itu melalui peradilan dan konsumen dapat memilih jalan lain di luar pengadilan. Dengan demikian, dapat disimpulkan penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan dengan cara : a. Penyelesaian damai oleh para pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa melibatkan pengadilan atau pihak ketiga yang netral. b. Penyelesaian melalui pengadilan. Penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu kepada ketentuan peradilan umum yang berlaku. c. Penyelesaian di luar pengadilan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)

C. HUKUM KEPAILITAN Peraturan mengenai kepailitan telah ada sejak masa lampau, dimana para kreditor menggunakan pailit untuk mengancam debitor agar segera melunasi hutangnya. Semakin pesatnya perkembangan ekonomi menimbulkan semakin banyaknya permasalahan utangpiutang di masyarakat. Di Indonesia, peraturan mengenai kepailitan telah ada sejak tahun 1905.

19

1.

Pengertian dan Sumber Hukum Kepailitan Beberapa pengertian kepailitan, yaitu : a. UU No. 37 Tahun 2004 Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur oleh curator dibawah pengawasan hakim pengawas. b. Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan Kepailitan adalah keadaan dimana seseorang yang oleh suatu pengadilan dinyatakan bankrupt dan yang aktivanya atau warisannya telah diperuntukkan untuk membayar utang-utangnya. c. Sudargo Gautama Kepailitan adalah Sitaan menyeluruh atas segala harta benda si pailit. d. Etimologis Pailit (Faillite, failliet, to fail) berarti kemaeta melakukan pembayaran hutang.

Sumber hukum dari hukum kepailitan adalah a. KUHPerdata b. UU No. 37/2004 tentang Kepailitan dan PKPU c. KUHPidana d. UU No. 40/2007 tentang PT.

2. Syarat Dinyatakan Pailit Dalam Pasal 2(1) UUK “debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonan satu atau lebih

20

krediturnya”. Syarat-syarat yuridis agar suatu perusahaan dapat dinyatakan pailit adalah sebagai berikut : a) Adanya utang; b) Minimal satu dari utang sudah jatuh tempo; c) Minimal satu dari utang dapat ditagih; d) Adanya debitor; e) Adanya kreditor; f) Kreditor lebih dari satu; g) Pernyataan pailit dilakukan oleh pengadilan khusus yang disebut dengan “Pengadilan Niaga”; h) Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh pihak yang berwenang; i) Syarat-syarat yuridis lainnya yang disebutkan dalam Undang Undang Kepailitan

3. Pihak yang Dinyatakan Pailit Setiap orang dapat dinyatakan pailit sepanjang memenuhi ketentuan dalam Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004. Debitur secara sumir terbukti memenuhi syarat di atas dapat dinyatakan pailit, baik debitor perorangan maupun badan hukum. Menurut Imran Nating, pihak yang dapat dinyatakan pailit antara lain : a) Orang Perorangan Baik laki-laki maupun, menjalankan perusahaan atau tidak, yang telah menikah maupun yang belum menikah. Jika permohonan pernyataan pailit tersebut diajukan oleh debitor perorangan yang telah menikah, permohonan tersebut hanya dapat diajukan atas persetujuan suami atau istrinya, kecuali antara suami istri tersebut tidak ada pencampuran harta.

21

b) Harta Peninggalan (Warisan) Harta warisan dari seseorang yang meninggal dunia dapat dinyatakan pailit apabila orang yang meninggal dunia itu semasa hidupnya berada dalam keadaan berhenti membayar utangnya, atau harta warisannya pada pada saat meninggal dunia si pewaris tidak mencukupi untuk membayar utangnya. Dengan demikian, debitor yang telah meninggal dunia masih saja dinyatakan pailit atas harta kekayaannya apabila ada kreditor yang mengajukan permohonan tersebut. Akan tetapi permohonan tidak ditujukan bagi para ahli waris. Pernyataan pailit harta peninggalan berakibat demi hukum dipisahkan harta kekayaan pihak yang meninggal dari harta kekayaan para ahli waris dengan cara yang dijelaskan dalam Pasal 1107 KUH Perdata. Pernyataan pailit harus diajukan paling lambat 90 (sembilan puluh) hari setelah debitor meninggal.

c) Perkumpulan Perseroan (Holding Company) Undang-Undang Kepailitan tidak mensyaratkan bahwa permohonan kepailitan terhadap holding company dan anak-anak perusahaannya harus diajukan dalam satu dokumen yang sama. Permohonan-permohonan selain dapat diajukan dalam satu permohonan, juga dapat diajukan terpisah sebagai dua permohonan.

d) Penjamin (Guarantor) Penanggungan utang atau borgtocht adalah suatu persetujuan dimana pihak ketiga guna kepentingan kreditor mengikatkan dirinya untuk memenuhi kewajiban debitor apabila debitoe yang bersangkutan tidak dapat memenuhi kewajibannya

e) Badan Hukum

22

Pada badan hukum selalu diwakili oleh organ dan perbuatan organ adalah perbuatan badan hukum itu sendiri. Organ hanya dapat mengikatkan badan hukum, jika tindakanya masih dalam batas dan wewenang yang telah ditentukan dalam anggaran dasar.

f) Perkumpulan Bukan Badan Hukum Perkumpulan yang bukan berbadan hukum ini menjalankan suatu usaha berdasarkan perjanjian antaranggotanya, tetapi perkumpulan ini bukan merupakan badan hukum, artinya tidak ada pemisahan harta perusahaan dan harta kekayaan pribadi, yang termasuk dalam perkumpulan ini antara lain : (1) Maatscappen (persekutuan perdata); (2) Persekutuan firma; (3) Persekutuan komanditer. Oleh karena bukan badan hukum, maka hanya para anggotanya saja yang dapat dinyatakan pailit. Permohonan pailit terhadap Firma dan Persekutuan Komanditer harus memuat nama dan tempat kediaman masing-masing pesero yang secara tanggung renteng terikat untuk seluruh utang Firma.

g) Bank Undang-Undang Kepailitan dan PKPU membedakan antara debitur bank dan bukan bank. Pembedaan tersebut dilakukan dalam hal siapa yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit. Apabila debitur adalah bank, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia, karena bank sarat dengan uang masyarakat yang harus dilindungi.

23

h) Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian Sebagaimana bank, Undang-Undang Kepailitan dan PKPU juga membedakan perusahaan efek dengan debitur lainnya. Jika menyangkut debitur yang merupakan Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal. Badan ini dikecualikan oleh Undang-Undang karena lembaga ini mengelola dana masyarakat umum.

4. Pihak yang Berhak Menyatakan Pailit Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit antara lain: a. Debitor Dalam setiap hal disyaratkan bahwa debitur mempunyai lebih dari satu orang kreditor, karena merasa tidak mampu atau sudah tidak dapat membayar utangutangnya, dapat mengajukan permohonan pailit. Debitur harus membuktikan bahwa ia mempunyai dua atau lebih kreditor serta juga membuktikan bahwa ia tidak dapat membayar salah satu atau lebih utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Apabila debitor telah menikah, maka harus ada persetujuan pasanganya, karena hal ini menyangkut harta bersama, kecuali tidak ada pencampuran harta.

b. Kreditor Dua orang kreditor atau lebih, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit selama memenuhi syarat yang

24

telah ditentukan dalam Undang-Undang. Kreditor yang mengajukan permohonan pernyataan pailit bagi debitor harus memenuhi syarat bahwa hak tuntutannya terbukti secara sederhana atau pembuktian mengenai hak kreditor untuk menagih juga dilakukan secara sederhana.

c. Kejaksaan Apabila permohonan pernyataan pailit mengandung unsure atau alasan untuk kepentingan umum maka, permohonan harus diajukan oleh Kejaksaan. Kepntingan umum yang dimaksud dalam Undang-Undang adalah kepentingan bangsa dan Negara dan/atau kepentingan masyarakat luas, misalnya: Debitor melarikan diri; Debitor menggelapkan harta kekayaan; Debitor mempunyai utang kepada BUMN atau badan usaha lain yang menghimpun dana dari masyarakat; Debitor mempunyai utang yang berasal dari penghimpunan dana dari masyarakat luas; Debitor tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam menyelesaikan masalah utang piutang yang telah jatuh waktu; atau Dalam hal lainnya yang menurut kejaksaan merupakan kepentingan umum.

d. Bank Indonesia Bank Indonesia adalah satu-satunya pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit jika debitornya adalah bank. Pengajuan permohonan pernyataan pailit bagi bank sepenuhnya merupakan kewenangan Bank Indonesia dan semata-

25

mata didasarkan atas penilaian kondisi keuangan dan kondisi perbankan secara keseluruhan, oleh karena itu tidak perlu dipertanggungjawabkan.

e. Badan Pengawas Pasar Modal Apabila debitor adalah perusahaan Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian maka satu-satunya pihak yang dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit adalah Badan Pengawas Pasar Modal, karena lembaga tersebut melakukan kegiatan yang berhubungan dengan dana masyarakat yang diinvestasikan dalam efek di bawah pengawasan Badan Pengawas Pasar Modal.

f. Menteri Keuangan Permohonan pernyataan pailit harus diajukan oleh Menteri Keuangan apabila debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik. Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 disebutkan bahwa Kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit bagi Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi sepenuhnya ada pada Menteri Keuangan. Kewenangan untuk mengajukan pailit bagi Dana Pensiun, sepenuhnya ada pada Menteri Keuangan.

5. Proses Acara Kepailitan Pengadilan Niaga, Kasasi, dan PK Pengaturan tentang kekhususan hukum acara Pengadilan Niaga sampai saat ini belum dilakukan secara tegas dan khusus. Hukum acara Pengadilan Niaga yang ada

26

saat ini terpisah-pisah sesuai dengan obyek sengketa yang diajukan. Kekhususan Pengadilan Niaga dalam perkara kepailitan adalah: 1) pengadilan ini tidak mengenal banding, sehingga jika ada pihak yang merasa tidak puas dapatmengajukan upaya hukum dengan cara kasasi ke Mahkamah Agung; 2) jangka waktu proses pendaftaran, pemeriksaan dan penjatuhan putusan pada tingkat Pengadilan Niaga diatur secara tegas, yaitu 30 hari 3) jangka waktu Kasasi di Mahkamah Agung adalah selama 34 hari.

Dalam hukum acara perkara kepailitan terdapat terobosan waktu berperkara yang sangat cepat. Dari waktu yang biasanya dua sampai dengan empat tahun berperkara melalui Pengadilan Negeri (dari gugatan di Pengadilan Negeri sampai dengan upaya khusus Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung), turun drastis menjadi 154 hari. Dengan perincian; maksimal waktu 30 hari untuk memutuskan ermohonan kepailitan di tingkat Pengadilan Niaga; maksimal waktu 30 hari untuk memutuskan permohonan Kasasi di tingkat Kasasi; dan maksimal 30 hari untuk memutuskan permohonan upaya hukum khusus Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung. Selebihnya adalah perhitungan waktu pendaftaran permohonan Kasasi dan Peninjauan Kembali. Namun dalam beberapa kasus, para hakim niaga, khususnya majelis hakim tingkat Mahkamah Agung tampaknya kurang memperhatikan jangka waktu tersebut, seperti dalam beberapa putusan, majelis hakim kasasi ataupun Peninjauan Kembali memberikan putusan pailit melebihi jangka waktu yang telah ditetapkan, tanpa akibat hukum apapun.

6. Beda Antara Kepailitan dengan PKPU Perbedaan antara Kepailitan dan PKPU dapat dilihat dengan tabel di bawah ini :

27

Sisi Kepailitan Pembeda Debitor mempunyai dua

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Debitur tidak dapat atau atau lebih kreditor, dan Alasan tidak membayar sedikitnya Pengajuan satu utang yang telah jatuh sudah jatuh tempo. tempo dan dapat ditagih Debitor tidak kehilangan hak Debitor kehilangan Kewenangan wewenang untuk mengurus Debitor harta pailit dilakukan harus atas persetujuan dari pengurus PKPU maksimal hanya 270 hari, apabila tidak selesai dan tidak dicapai Jangka waktu Tidak dibatasi perdamaian,maka demi hukum debitur dinyatakan pailit Fungsi Perdamaian Tugas Kurator menggantikan Pengurus dan posisi debitor Kurator menggantikan posisi debitor Pengurus tidak perdamaian sebagai cara penyelesaian pembayaran perdamaian sebagai jalan restrukturisasi hutang setiap tindakan yang mengurus hartanya, tetapi membayar utangnya yang memperkirakan tidak dapat

28

Penangguhan 90 hari (stay) Kepailitan,direktur dan PKPU,direktur dan Kedudukan komisaris tetap boleh Direktur dan menduduki jabatan Komisaris selanjutnya menduduki jabatan di perusahaan lain. kepailitan tidak boleh waktu 5 tahun setelah Komisaris dalam jangka 270 hari

D. HUKUM PERSAINGAN USAHA 1. Pengertian dan Sumber Hukum Persaingan Usaha Persaingan usaha itu penting karena beberapa hal, yaitu : Persaingan memaksa perusahaan untuk menekan biaya menjadi lebih rendah Persaingan memaksa perusahaan untuk selalu menciptakan produk baru dan berinovasi Pesaingan memaksa terciptanya pelayanan yang lebih baik Menguntungkan konsumen.

Sebelum adanya UU No. 5 tahun 1999, Indonesia tidak memiliki hukum persaingan yang komperenhensif. Beberapa peraturan yang mengatur tentang persaingan adalah : Pasal 382bis KUHP Pasal 1365 KUHPerdata UU No. 15 Tahun 1984 tentang Perindustrian Dll.

29

2. Tujuan Persaingan Usaha Tujuan dari persaingan usaha adalah : Agar persaingan antar pelaku usaha tetap hidup Agar persaingan yang dilakukan antar pelaku usaha dilakukan secara sehat Mencegah penyalahgunaan kekuatan ekonomi Melindungi kebebasan konsumen dan produsen dalam berusaha Efesiensi ekonomi Meningkatkan kesejahteraan konsumen

Tujuan dari UU persaingan usaha Indonesia : menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha. (Pasal 3 UU No.5/1999)

3. Perbuatan yang Dilarang dan Perjanjian yang Dilarang a. Perbuatan yang Dilarang Hal ini diatur dalam Pasal 17-22 UU No. 5/1999, yaitu :

30

1) Monopoli Pengertian monopoli menurut pasal 1 angka 1 UU No. 5 Tahun 1999 yaitu penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa tertentu, sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Dengan demikian, monopoli adalah situasi pasar dimana hanya ada satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha yang menguasai suatu produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang akan ditawarkan kepada banyak pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha tadi dapat mengontrol dan mengendalikan tingkat produksi, harga, dan wilayah pemasaran. Monopoli merupakan masalah yang menjadi perhatian utama dalam setiap pembahasan pembentukan hukum persaingan usaha. Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa sekalipun demikian, monopoli itu sendiri pada dasarnya bukanlah suatu bentuk kejahatan atau bertentangan dengan hukum apabila diperoleh dengan cara-cara yang fair dan tidak melanggar hukum. Pelaku usaha melakukan monopoli apabila : Barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada subtitusinya. Mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk kedalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

2) Monopsoni Berdasarkan pada pasal 18 UU No. 5 Tahun 1999, monopsoni merupakan suatu keadaan dimana suatu kelompok usaha menguasai pangsa pasar yang

31

besar untuk membeli suatu produk, sehingga perilaku pembeli tunggal tersebut akan dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan tidak sehat, dn apabila pembeli tunggal tersebut menguasai lebih dari 50% pangsa pasar suatu jenis produk atau jasa.

3) Penguasaan Pasar Pihak yang dapat melakukan penguasaan pasar adalah para pelaku usaha yang mempunyai market power, yaitu pelaku usaha yang dapat menguasai pasar sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa yang di pasar yang bersangkutan. Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat, yaitu : a) Menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan. b) Menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaaha pesaingnya itu. c) Membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan atau jasa pada pasar bersangkutan. d) Melakukan praktik diskrimniasi terhadap pelaku usaha tertentu.

4) Dumping Larangan praktek dumping terdapat pada pasal 20 UU No. 65 tahun 1999 yang menyatakan bahwa pelaku usaha dilarang melakukan pemasokan barang

32

dan/atau jasa dengan cara melakukan jual rugi atau menetapkan harga yang sangat rendah dengan maksud untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya di pasar yang sama.

5) Manipulasi Biaya Pasal 21 UU No. 5 tahun 1999 melarang pelaku usaha melakukan keurangan dalam menetapkan biaya produksi dan biaya lainnya yang menjadi bagian dari komponen haraga barang dan/atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

6) Persekongkolan Persekongkolan diatur dalam pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 yaitu pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingg dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Ada 3 bentuk persekongkolan : 1. Persekongkolan horizontal Dilakukan oleh antar penawar tender. 2. Persekongkolan vertical Dilakukan antara penawar dengan panitia pelaksana tender. 3. Persekongkolan horizontal dan vertikal - Persekongkolan membocorkan rahasia dagang perusahaan (Pasal 23) - Persekongkolan menghambat perdagangan (Pasal 24)

b. Perjanjian yang Dilarang

33

Hal ini diatur dalam pasal 4-16 UU No. 5/1999 :11 1) Perjanjian oligopoli Pasal 4 ayat 1 UU No. 5 Tahun 1999 menyatakan bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk secara bersama melakukan penguasaan produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat. Pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha melakukan penguasaan produksi atau pemasaran barang atau jasa apabila menguasai 75% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

2) Penetapan Harga Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 melarang pelaku usaha untuk mengadakan perjanjian dengan pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan/atau jasa yang harus dibayar konsumen atau pelanggannya pada pasar bersangkutan yang sama. Ketentuan ini tidak berlaku apabila : Suatu perjanjian dibuat dalam suatu usaha patungan. Suatu perjanjian yang didasarkan undang-undang yang berlaku.

3) Pembagian Wilayah Pemasaran Pasal 9 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 melarang pelaku usaha untuk mengadakan perjanjian pembagian wilayah (market allocation), baik yang bersifat vertikal atau horizontal. Dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 5

11

Rachmadi Usman, S. H. 2004. Hukum Persaingan Usaha di Indonesia. Jakarta: Gramedia. Hal: 42

34

Tahun 1999 dinyatakan bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya dengan tujuan membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan/atau jasa, sehingga mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.

4) Pemboikotan Pelaku usaha juga dilarang untuk membuat perjanjian untuk melakukan pemboikotan (boycott). Pemboikotan ini merupakan perjanjian horizontal antara pelaku usaha pesaing untuk menolak mengadakan hubungan dagang dengan pelaku usaha lain. Larangan membuat perjanjian pemboikotan ini diatur dalam Pasal 10 Undang-UndangNomor 5 Tahun 1999, yang menetapkan: a. Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri . b. Pelaku usaha dilarang rnernbuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menolak menjualsetiap barang dan/atau jasa dari pelaku usaha lain, sehingga perbuatan tersebut merugikan atau dapat diduga merugikan pelaku usaha lain ; atau membatasi pelaku usaha laindalam menjualatau membeli setiap barang dan/atau jasa dari pasar bersangkutan.

5) Kartel

35

Kamus Hukum Ekonomi ELIPS (1997:21) mengartikan kartel (carte/) sebagai "persekongkolan atau persekutuan di antara beberapa produsen produk sejenis dengan maksud untuk mengontrol produksi, harga, dan penjualannya, serta untuk memperoleh posisi monopoli". Dengan demikian, kartel rnerupakan salah satu bentuk monopoli, di mana beberapa pelaku usaha (produsen). bersatu untuk mengontrol produksi, menentukan harga, dan/atau wilayah pemasaran atas suatu barang dan/atau jasa, sehingga di antara mereka tidak ada lagi persaingan. Larangan membuat perjanjian kartel ini dicantumkan dalam Pasal 11 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 yang menetapkan bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha saingannya yang bemaksud mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan/atau pemasaran suatu barang dan/atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.

6) Trust Trust diatur dalam pasal 12 UU No. 5 Tahun 1999 yaitu pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerjasama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup masingmasing perusahaan atau perseroan anggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

36

7) Oligopsoni Berdasarkan ketentuan Pasal 13 UU No. 5 tahun 1999, pelaku usaha dilarang mebuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk secara bersama-sama menguasai pembelian atau penerimaan pasokan agar dapat mengendalikan harga atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangkutan, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. pelaku usaha dapat diduga melakukan penguasaan pembelian atau penerimaan pasokan apabila menguasai lebih dari 75 % pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

8) Integrasi vertical Integrasi vertical diatur dalam pasal 14 UU No. 5 Tahun 1999 yaitu pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil pengolahan atau proses lanjutan, baik dalam satu rangkaian langsung maupun tidak langsung, yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat.

9) Perjanjian Tertutup Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 melarang pelaku usaha untuk membuat perjanjian tertutup dengan pelaku usaha lainnya. Dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dinyatakan:

37

(1) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang mernuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan/atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan/atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan/atau pada ternpat tertentu . (2) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain yang mernuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan/atau jasa tertentu harus bersedia membeli barang dan/atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok. (3) Pelaku usaha dilarang mernbuat perjanjian mengenai harga atau potongan harga tertentu atas barang dan/atau jasa, yang memuat persyaratan bahwa pelaku usaha yang menerima barang dan/atau jasa dari pelaku usaha pemasok a. harus bersedia membeli barang dan/atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok;atau b. tidak akan membeli barang dan/atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok

10) Perjanjian dengan Pihak Luar Negeri Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain di luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat (Pasal 16 UU No.5/1999)

E. Bursa 1. Pengertian bursa

38

Bursa adalah sebuah pasar yang sangat terorganisasi, yang mempertemukan pembeli dengan penjual tanpa mereka tahu siapa lawan transaksi mereka. Bursa (terutama) menjadi tempat perdagangan efek, komoditas, mata uang, dan kontrak berjangka dan kontrak hak beli/jual.

2. Bursa efek Menurut pasal 1 UU Pasar Modal No. 8 Tahun1995, Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan system dan/atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka.12 Secara umum organisasi bursa efek memiliki beberapa fungsi yang dijabat oleh manajer atau direktur, yaitu : a. Fungsi keanggotaan, bertugas menetapkan peraturan mengenai persyaratan menjadi anggota bursa, mengingatkan anggota bursa yang tidak memenuhi persyaratan selama setahun berjalan dan mengeluarkan keanggotaan bursa. b. Fungsi pencatatan, bertugas menerapkanperaturan mengenai persyaratan saham di bursa efek bagi perusahaan yang melakukan penawaran umum, mengeluarkan surat pencatatan selama tahun berjalan, dan mengeluarkanperusahaan public dari pencatatan bursa. c. Fungsi perdagangan, bertugas untuk menetapkan peraturan perdagangan, mekanisme perdagangan, dan sosialisasinya kepada wakil perantara pedagang efek. d. Fungsi pengawasan perdagangan, bertugas melakukan pengawasan terhadap perdagangan selama jam perdagangan berlangsung untuk menegah kegiatan

12

Mohamad Samsul. 2006. Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Jakarta: Erlangga. Hal: 95

39

penipuan harga, permainan harga, manipulasi harga, cornering, dan short selling. e. Fungsi ketaatan aturan, bertugas melakukan pengawasan terhadap anggota bursa dan emiten mengenai ketaatan terhadap peraturan bursa. f. Fungsi pemeriksaan internal, bertugas melakukan pemeriksaan terhadap semua unit kerja yang ada dalam organisasi perusahaan, termasuk unit direksi, dan anggota bursa, serta wajib melaporkan secra langsung kepda direksi, komisaris, dan bapepam tentang masalah-masalah material yang ditemuinya yang dapat mempengaruhi perusahaan efek ataupun bursa efek. g. Fungsi teknologi informasi, bertugs melakukan inovasi teknologi perdagangan dan teknologi informasi berkaitan dengan perkembangan komputerisasi. h. Fungsi riset dan pengembangan, bertugas melakukan kajian-kajian untuk menemukan produk-produk baru yang akan diperdagangkan. i. Fungsi administrasi dan keuangan, bertugas menunjang kegiatan-kegiatan operasional tentang administrasi dan keuangannya, menyusun laporan keuangan periodic, mengkoordinasikan perbuatan anggaran tahunan, dan menyiapkan bahan untuk auditor. j. Fungsi hubungan masyarakat, bertugas menjalin hubungan dengan perusahaan public, pemerintah daerah, dan instansi lain yang ada kaitannya dengan kegitan umum di bursa. 3. Bursa komoditi Bursa komoditi atau bursa berjangka adalah tempat/fasilitas memperjual

belikan kontrak atas sejumlah komoditi atau instrumen keuangan dengan harga tertentu yang penyerahan barangnya disepakati akan dilakukan pada saat yang akan datang. Kontrak itu dibuat antara pihak-pihak yang saling tidak tahu lawaan

40

transaksinya. Kontrak adalah mengikat pada saat terjadinya kesepakatan antara pembeli dan penjual meskipun mereka saling tidak tahu lawan transaksinya. Di Indonesia, keberadaan bursa berjangka baru dimulai melalui penetapan UU No. 32 Tahun 1997 tentang Bursa Berjangka Komoditi. Pelaku perdagangan komoditi adalah : a. Hedger Hedger adalah seorang pedagang atau pengusaha yang melakukan bisnis di pasar tunai (pasar fisik) ata komoditi yang kontrak berjangkanya diperdagangkan di pasar berjangka (bursa). b. Spekulator Spekulator adalah seorang pedagang yang berusaha untuk mengharapkan keuntungan melalui suatu antisipasi yang tepat terhadap perubahan harga. Speculator melakukan transaksi sesuai dengan perkiraan tersebut.

4. Perbedaan Bursa Efek dengan Bursa Komoditi Kontrak perdagangan berjangka tidak diterbitkan sebagaimana dalam penerbitan saham tetapi "terbentuk" sewaktu ada pihak pembeli (disebut dengan istilah long) dan ada pihak penjual (yang disebut short) Pihak pembeli dan penjual kontrak menciptakan kontrak baru setiap kali mereka mencapai kesepakatan. Kalau bukan untuk menutup posisi long sebelumnya, pasti pihak penjual akan menjadi short. Short dan long selalu berpasangan, dimana ada pihak yang memiliki posisi long, pasti ada pihak yang short. di Bursa saham, jumlah efek yang terdaftaradalah terbatas. Penjual, kecuali emiten, tidak dapat menciptakan saham itu, karena di pasar modal penjual harus memiliki atau meminjam efek, sebelum boleh menjualnya. Sedangkan pada bursa berjangka, pihak pembeli dan

41

penjual kontrak menciptakan kontrak baru setiap kali mereka mencapai kesepakatan. Kalau bukan untuk menutup posisi long sebelumnya, pasti pihak penjual akan menjadi short. Short dan long selalu berpasangan, dimana ada pihak yang memiliki posisi long, pasti ada pihak yang short.

Di pasar berjangka, investor mungkin merealisasi rugi atau laba, baik waktu membeli maupun menjual, bila transaksi pembelian ataupun penjualan itu ditutup posisinya. Baik pembeli maupun penjual mungkin tidak merealisasikan rugi atau laba kalau pembelian atau penjualan itu terus membuka posisinya. Sedangkan pada pasar modal, penjual tidak boleh short. Investor di pasar modal hanya akan mungkin merealisasi rugi atau laba pada waktu menjual saham yang dimilikinya. Kemungkinan laba hanya ada pada penjual, sedangkan pembeli hanya akan merealisasikan rugi atau labanya pada waktu menjual.

Dipasar modal yang terjadi adalah perdagangan fisik di mana jual beli saham dilakukan secara fisik, sehingga terjadi serah terima saham secara fisik dengan kewajiban membayar senilai 100% dari transaksi, sedangkan dalam perdagangan berjangka yang diperdagangkan adalah kontrak/janji atau kesepakatan untuk menyerahkan atau menerima suatu barang tertentu di kemudian hari. Sebagai penjual atau pembeli dalam pasar berjangka wajib menyerahkan sejumlah dana hanya sekitar 5 – 10% dari nilai komoditi yang ditransaksikan sebagai itikad baik (good faith) yang disebut margin

42

DAFTAR PUSTAKA

Nurachmad, Much. 2010. Buku Pintar Memahami & Menbuat Surat Perjanjian. Jakarta: Visimedia. Eddy, Richard. 2010. Aspek Legal Properti – Teori, Contoh, dan Aplikasi. Yogyakarta : Andi. Sari, Elsi Kartika SH, MH dan Advendi Simangunsong, SH, MM. 2007. Hukum dalam Ekonomi. Jakarta : Grasindo. Susanto, Happy. 2008. Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan. Jakarta: Visimedia. Usman, Rachmadi, SH. 2004. Hukum Persaingan Usaha di Indonesia. Jakarta: Gramedia. Samsul, Mohamad. 2006. Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Jakarta: Erlangga.

43

Siagian, Yolanda M.. 2007. Aplikasi Supply Chain Managenent dalam Dunia Bisnis. Jakarta: Grasindo.

44

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful