P. 1
Struktur Fisik Dan Batin Puisi

Struktur Fisik Dan Batin Puisi

|Views: 2,164|Likes:
Published by AAL

More info:

Published by: AAL on May 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

INTRODUCTION Chairil Anwar adalah salah satu pelopor angkatan ’45 yang telah membawa nama Indonesia ke jenjang

Internasional melalui karya puisinya. Puisi “Aku” adalah salah satu karya agung beliau yang paling terkemuka dari angkatan 1945. Konsep puisi Chairil Anwar pada zamannya atau angkatannya lebih menonjolkan kebebasan untuk berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Sebagaimana pengarangnya, puisi “Aku” ini juga mempunyai banyak sisi yang menarik untuk diketahui lebih dalam. Penulis memilih judul tersebut untuk mengetahui lebih lanjut tentang puisi “Aku” dan keterkaiatannya dengan Chairil Anwar sebagai pengarang dari puisi tersebut.

STRUKTUR FISIK: - Diksi : “Sedu sedan”

- Lambang/makna: Secara makna, puisi “Aku” menggunakan katakata yang tidak terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas puisi ini. Sesuai dengan judulnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalah, seperti Chairil Anwar sendiri. -Kata Konkret : Perkomplitan bahasa seperti “Kalau sampai waktuku” mengartikan bahwa waktu yang dimaksud dalam kutipan adalah sebuah tujuan yang dibatasi oleh waktu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Chairil adalah penyair yang sedang dalam pencarian bahasa ucap yang mampu memenuhi luapan ekspresinya sesuai dengan yang diinginkannya, tanpa harus memperdulikan bahasa ucap dari penyair lain saat itu. Chairil juga memberikan awalan kata ‘kalau’ yang berarti sebuah pengandaian. Jadi, Chairil berandai-andai tentang suatu masa saat ia sampai pada apa yang ia cari selama ini, yaitu penemuan bahasa ucap yang berbeda. Selain itu ada juga perkomplitkan bahasa seperti “aku ini binatang jalang dari kumpuluan terbuang”, kutipan tersebut menggunakan kata ‘binatang jalang’ karena Chairil ingin menggambarkan seolah seperti binatang yang hidup bebas, seenaknya sendiri tanpa sedikitpun ada yang mengatur. Lebih tepatnya seperti binatang liar. Karena itulah ia ‘dari kumpulannya terbuang. - Rima : Selain itu rima yang dipakai Chairil Anwar dalam puisi ini bisa dibilang kalau beliau mengiramai puisi ini dengan akhiran U. - Majas : Di puisi ini kita bisa lihat bahwa Chairil Anwar benar-benar membuat puisi yang penuh dengan makna yang dilihat dari persepsi yang berbeda-beda. Menurut saya Chairil Anwar menggunakan beberapa gaya bahasa seperti hiperbola, klimaks,

. Dari sini terlihat juga kegigihan Chairil yang ia coba sampaikan kepada pembaca untuk berkarya dan biarkan orang lain menilainya. Chairil juga ingin menyampaikan agara pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya diberbagai hal. Gaya bahasa penegasan yang makin lama makin memuncak terlihat dalam kutipan “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” karena disitu bisa dilihat kalau Chairil Anwar menegaskan watak dari penyair ataupun dari puisi ini.Pokok Persoalan (subject matter) : Chairil ingin mengungkapkan bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah.Perasaan : Persaan yang Chairil coba sampaikan yaitu perasaan untuk tidak mau mengalah dan bisa juga dibilang pembrontakan diri dan juga sakit hati. seperti yang saya tadi sudah jelaskan satu persatu kalau Chairil Anwar menulis puisi ini sebagai pengekspresian jiwa dirinya sendiri. . Pada bait ini seolah menjadi penutup dari puisi tersebut. inipun menunjukan sikap Chairil yang tidak mau mengalah. Dalam perbandingan kata-kata di puisi ini terlihat dalam kutipan “aku ini binatang jalang” yang seolah-olah mengartikan bahwa Chairil ingin hidup sebebas-bebasnya tanpa ada yang mengatur dirinya karena binatang adalah mahluk hidup yang bebas dan begitu pula jalang yang hidup tanpa aturan tanpa memikirkan sila-sila dan harga diri. Bisa dilihat bahwa beliau mengungkapkan dalam kutipan “biar peluru menembus kulitku aku tetap meradang menjerjang” yang menurut saya itu berlebihan walau artinya yang beliau maksud adalah beliau tidak mau menyerah karena beliau terluka. Dan juga kebebasan dalam hidup. suatu ketidak pedulian. Chairil juga pandai untuk mengungkapkan benda mati seakan-akan hidup yang terlihat dalam kutipan “Luka dan bisa kubawa berlari” yang diartikan bahwa Chairil ingin membawa pedih pahitnya luka dalam dirinya sampai hilang. . seperti apapun penilaian tersebut. penutup terdiri atas kesimpulan dan harapan. .Tema : Pantang Menyerah.metafora dan personafikasi. Kutipan tersebut juga mengungkapkan pembrontakan batin Chairil yang ingin melakukan hal apa saja tanpa orang mengatur. Oleh karena itu janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja.Imaji : Ada imaji taktil dalam puisi ini.Nada : Nada yang dipakai dalam puisi ini yaitu nada masa bodoh tetapi juga adanya nada protes. Sebagaimana sebuah karya tulis. Chairil Anwar berharap bahwa ia masih hidup seribu tahun lagi agar ia tetap bisa mencari-cari apa yang diinginkannya. . dalam kutipan “biar peluru menembus kulitku”. STRUKTUR BATIN . karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Mengartikan ungkapan peluru akan masuk dalam kulitnya. baik kehidupan atau pekerjaan.

Amanat : Amanat dalam puisi ini untuk para pembaca yaitu agar pembaca tetap hidup tanpa keputus asaan dalam berkarya karena hidup itu seharusnya bebas. ..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->