Empat Pilar Kunci Membangun Demokrasi Indonesia

MPR RI Para lembaga negara sepakat bahwa negara ini mengalami banyak kemajuan dalam berdemokrasi. Meski demikian masih banyak paradok berdemokrasi ditemukan, seperti aksi kekerasan di masyarakat, pragmatisme-transaksional saat pemilu dan pilkada, dan political distrust. Ketua MPR menawarkan 4 Pilar sebagai permasalahan yang sekarang dihadapi. Ratusan wartawan sejak pukul 09.30 WIB sudah memadati ruang di depan Nusantara IV, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, 20 Februari 2012. Mereka datang pagi-pagi agar bisa mengabadikan kedatangan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kedatangan SBY ke gedung wakil rakyat, guna mengikuti pertemuan rutin konsultasi pimpinan lembaga negara. Pertemuan yang digelar dengan tuan rumah DPR itu merupakan pertemuan yang kesekian kalinya sejak digelar pada tahun 2009. Tepat pukul 09.45-an, SBY datang, dan secara spontan kilatan kamera para fotografer tak putusputusnya membidik SBY sepanjang melintasi karpet merah yang terhampar di depan mereka. SBY dengan didampingi Ketua DPR Marzuki Alie dan dengan pengawalan ketat memasuki Ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV. Sementara di ruang tamu Ruang Delegasi sudah ada pimpinan lembaga negara lainnya, Ketua MPR Taufiq Kiemas, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua BPK Hadi Purnomo, Ketua MK Mahfud MD, Ketua MA Harifin Tumpa, dan Ketua Komisi Yudisial Erman Suparman. Ketika memasuki Ruang Delegasi, fotografer dan juru kamera masih diberi kesempatan untuk mengabadikan acara. Setelah dirasa cukup pengambilan gambar, mereka meninggalkan Ruang Delegasi, dan acara pertemuan pimpinan lembaga negara dimulai dan tertutup dari liputan press. Selama pertemuan berlangsung, para kuli tinta itu masih setia menunggu di depan Gedung Nusantara IV, press room, dan ruang di sekitarnya. Sekitar pukul 12.50, pertemuan para pemimpin lembaga negara itu berakhir, sebagai sosialisasi dari hasil pertemuan itu, para pemimpin lembaga negara mengadakan konferensi press di depan Gedung Nusantara IV. Dalam konferensi press itu SBY, Taufiq Kiemas, Irman Gusman, Hadi Purnomo, Mahfud MD, Harifin Tumpa, dan Erman Suparman berdiri berjajar, sementara Marzuki Alie berdiri di depannya, di podium, untuk membacakan hasil pertemuan itu. “Pertemuan para pemimpin lembaga negara ini diadakan untuk kesekian kalinya, dan saat ini DPR sebagai tuan rumah. Pertemuan kali ini juga sebagai perpisahan dengan Bapak Harifin Tumpa karena sebentar lagi ia akan mengakhiri masa tugasnya sebagai ketua MA,” ujarnya. Selepas memberikan sedikit pengantar selanjutnya Marzukie Ali membacakan hasil pertemuan itu. Hasil pertemuan itu menghasilkan 8 hal yang dirasa sebagai respon atas apa yang terjadi di masyarakat. Seperti dikatakan oleh Marzukie Ali, bahwa para pimpinan lembaga negara melihat bahwa banyak kemajuan yang telah dicapai bangsa ini dalam kehidupan demokrasi. Meski demikian, pembangunan demokrasi harus dilaksanakan yang lebih sehat dengan perlunya etika dan rule of law. Diakui oleh para pemimpin lembaga negara, pengalaman menuju konsolidasi demokrasi yang berkualitas masih diwarnai adanya paradoks demokrasi dari nilai demokrasi konstitusional yang didambakan. Sejumlah realitas menunjukan masih ada kelemahan dalam berdemokrasi salah satunya masih adanya praktek kekerasan di masyarakat, pragmatisme-transaksional terutama pada pelaksanaan

Demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi konstitusional yang memperkuat 4 Pilar. NKRI. sedang unsur anggota DPD mewakili ruang dan daerah yang terabaikan di tingkat nasional. Dijelaskan oleh Taufiq Kiemas. suami Megawati Soekarnoputri itu mengakui tantangan terhadap 4 Pilar berbangsa dan bernegara selama ini masih terus menghadang.” harapnya. Meski optimis. dan Bhinneka Tunggal Ika.” paparnya. “Upaya memperkokoh pilar-pilar negara haruslah didukung aktif seluruh komponen bangsa terutama keteladanan dari para penyelenggara negara dengan memahami dan melaksanakan nilai-nilai luhur bangsa yang terangkum dalam 4 Pilar dalam segala aspek. Nilai demokrasi yang dikembangkan di Indonesia adalah bersifat universal yang memiliki kesetaraan. dengan memperkokoh 4 Pilar.pemilu dan pilkada. Dalam upaya demokratisasi di Indonesia. “Sistem demokrasi kita pilih karena merupakan amanat Bapak Pendir Bangsa.” ujarnya. Taufiq Kiemas dalam sambutannya mengatakan. kebersamaan. Taufiq Kiemas yakin. terpenuhinya hak berserikat dan berkumpul. MPR adalah lembaga negara khas demokrasi Indonesia. 4 Pilar telah mampu membuktikan adanya semangat kebangsaan. Unsur DPR menggambarkan perwakilan rakyat melalui mekanisme partai politik.” ujarnya. “Sehingga keberadaan MPR menggambarkan unsur penjelmaan seluruh rakyat Indonesia yang berdaulat. dalam perbedaan yang meneguhkan persatuan dan kesatuan bangsa. Keanggotaan MPR terdiri dari anggota DPR dan DPD. . “Kita masih bangga sampai hari ini bangsa Indonesia tetap kokoh bersatu sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.” ujarnya. yakni Pancasila. UUD NRI Tahun 1945. salah satu upaya untuk mewujudkan Indonesia yang berdemokrasi adalah dengan adanya satu kesatuan sikap dari seluruh komponen bangsa agar menggali kembali nilai-nilai luhur kebangsaan dalam rangka memperkuat pilar-pilar negara. “Atas dasar itulah pemasyarakatan 4 Pilar harus didukung oleh seluruh komponen bangsa. permasalahan institusional politik yang berpotensi pada munculnya distrust. cita-cita Indonesia ke depan akan lebih baik dan terwujud. penghargaan terhadap HAM.” ujarnya. Menurut Taufiq Kiemas. “Dalam konteks ini pemerintah dan perangkat lembaga negara dituntut untuk bersikap tegas bersama menegakan hukum dan bukan memberikan ruang aksi kekerasan dan anarkisme melanda masyarakat atas nama kebebasan dan demokrasi.

pada hemat saya. Tidak ada pola hidup yang seragam. Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala. di masyarakat kita. Artinya segala persoalan dan keputusan dibicarakan di . mulai dari perbedaan ras. agama. mayoritas rakyat dibuai dengan konsumsi. Jika itu tidak tercapai. Dengan kata lain. Ukuran dari keberhasilan demokrasi sebagai tata kelola masyarakat adalah. Demokrasi tidak menyeragamkan kehidupan. demokrasi pada dasarnya adalah tata kelola masyarakat dengan menjadikan kepentingan rakyat (demos) sebagai fokus utamanya. sejauh mana kebijakan dan praktek politik yang ada menyumbang pada terciptanya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh. melainkan karena kedekatannya dengan kekuasaan yang ada. Sebagai sistem tata kelola politik. Feodalisme politik masih tercium di udara. paham politik. bahwa rakyat merupakan penguasa (kratos=kekuasaan) utama dari negara. Di sisi lain. Maka di dalam masyarakat demokratis. sampai dengan perpindahan tiba-tiba Angelina Sondakh. kita perlu menegaskan kembali komitmen kita pada terciptanya masyarakat demokratis di Indonesia. Asumsi dasarnya adalah. berhasil atau tidaknya demokrasi dapat diukur secara kurang lebih obyektif dari keberadaan empat pilar itu dalam masyarakat. Mengelola Perbedaan Perbedaan adalah fakta hidup. sampai dengan perbedaan selera. rakyat. perbedaan cara hidup. Pada hemat saya.Empat Pilar Demokrasi untuk Indonesia Oleh Reza A. ras. atau sebanyak mungkin. ke salah satu komisi di DPR yang mengurus anggaran. Pada saat yang sama. seperti kebijakan Ditjen DIKTI yang secara tiba-tiba mengeluarkan aturan tentang penerbitan dan publikasi jurnal ilmiah di Indonesia. Barang-barang hasil produksi sistem ekonomi kapitalisme menutup mata mereka dari kebenaran “hitam” politis yang sebenarnya terpampang di depan mata. Orang menjadi penguasa bukan karena kemampuan nyatanya. tidak adanya kekuasaan politis yang bersifat mutlak (2). dan cara hidup seringkali menajamkan prasangka yang berujung pada kekerasan antar manusia. akuntabilitas serta transparansi kekuasaan publik (3). Perbedaan suku. maka pemerintah yang berkuasa harus segera dicopot. golongan. Surabaya Perbedaan masih seringkali memicu konflik. dan lupa tanggung jawab mereka sebagai warga negara untuk mengawasi kekuasaan. dan partisipasi publik yang tinggi dari setiap warganya (4). demokrasi memiliki empat pilar yang menyangganya. Semua itu dikelola dengan prinsip fairness. dan kemampuannya melakukan manuver-manuver politis yang penuh tipu daya semata. Keseragaman adalah pemaksaan. Empat pilar tersebut adalah kemampuan mengelola perbedaan secara sehat (1). banyak kebijakan lahir dari mekanisme-mekanisme yang rahasia dan tidak masuk akal.A Wattimena Dosen Filsafat Politik. dan diganti dengan pemerintah (partai) yang lain. bahkan konflik berdarah. dan memperdalam pengetahuan kita tentang demokrasi tersebut. melainkan memelihara dan mengelola perbedaan. tersangka kasus korupsi. Di titik ini. dan pemaksaan adalah ciri penguasa otoriter dan totaliter. suku. sehingga perbedaan menjadi energi dasar untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran bersama. agama. perbedaan adalah sesuatu yang dibanggakan.

Jika ia dianggap gagal dalam menjalankan misi tersebut. Masyarakat demokratis menjauh dari politik rahasia semacam itu. Artinya kekuasaan tersebut ada. Artinya seorang penguasa bisa dengan lapang dada meninggalkan pos politiknya. walaupun mereka miskin ataupun bagian dari kelompok minoritas. serta diberi kesempatan untuk kembali mengajukan keberatannya di kesempatan-kesempatan publik yang telah tersedia. jika ia memang terbukti secara definitif gagal dalam menjalankan tugasnya. Karena rahasia berkuasa. maka kekuasaan politis itu dicabut. Masyarakat hidup dan bergerak dengan rasa curiga dan prasangka. Hal ini. namun dikelola dengan prinsip fairness. Jika ini tidak ada. yakni rakyat itu sendiri. Akuntabilitas dan Transparansi Di dalam pemerintahan monarki absolut ataupun totaliter. di mana yang terbaiklah yang akan memimpin. Kekuasaan absolut yang dapat kita temukan pada pemerintahan monarki dan totaliter tidak berlaku di dalam pemerintahan demokratis. Akuntabilitas dan transparansi politik adalah ciri utama dari kekuasaan demokratis. bahwa semuanya bersifat temporal dan relatif pada kinerja dari kekuasaan tersebut. sampai dengan tata kelola pemerintahan terkecil. Keadilan dapat diakses oleh semua pihak. Hal ini berlaku mulai dari pemerintahan politis pusat. kekuasaan politis bersifat relatif. Tidak Ada Kekuasaan Mutlak Di dalam masyarakat demokratis.dalam ruang publik yang bebas dan egaliter. kita akan melihat orang-orang yang berasal dari latar belakang dan ideologi yang berbeda bisa hidup berdampingan. artinya dapat diakses oleh setiap orang yang . Transparansi. Tidak ada drama politik yang biasanya muncul. berlaku dari mulai kekuasaan politik di pusat negara. atau keterbukaan. Di dalam masyarakat demokratis yang sehat. ada satu ciri yang sama. Bahkan dapatlah dikatakan. meresap ke dalam berbagai struktur maupun institusi politik yang ada. Fairness menjadi kultur. dan diberikan ke pihak lain yang lebih kompeten. karena seorang penguasa dicopot dari jabatan politisnya. dan bukan sesuatu yang asing. Konflik tetap ada. terutama soal taktik merebut dan mempertahankan kekuasaan politis. menjalankan apa yang sudah menjadi keputusan bersama. Tujuan dari keterbukaan ini adalah pertanggungjawaban kekuasaan terhadap orang-orang yang telah memberikan kekuasaan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa kultur meritokrasi. sekali lagi. maka ketidakpercayaan menjadi atmosfer hidup bersama. Proses pembuatan kebijakan dibuat dengan prosesproses publik yang melibatkan semua pihak yang nantinya terkena dampak dari kebijakan tersebut. adalah ciri utama politik demokrasi. maka masyarakat tersebut belum layak disebut sebagai masyarakat demokratis. bahwa seluruh fondasi politis adalah rahasia. Contohnya kas kolektif RT dan RW dibuat transparan. aspek-aspek kekuasaan adalah sesuatu yang rahasia. Di dalam semua bentuk kekuasaan politis tersebut. sampai dengan level RT dan RW. Prinsip fairness juga meresap ke dalam pelbagai institusi yang ada. yakni pada level RT dan RW. selama ia masih berperan dalam mengupayakan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Pihak yang pemikirannya tidak diterima harus secara terbuka mengakui “kekalahannya”.

dan diberikan pertanggungjawaban yang benar secara berkala. feodalisme. fanatisme dan fundamentalisme sempit. terutama soal penggunaannya. Jika ini tidak ada. Semua itu dapat diukur secara kuantitatif dari seberapa banyak rakyat yang aktif di organisasi masyarakatnya. maka demokrasi pun juga tidak ada. Rakyat harus secara cerdas. Sebagai warga negara Indonesia yang demokratis. rakyat haruslah cerdas dan kritis di dalam menjalankan dan mengawasi gerak roda politik. masyarakat akan terhindar dari segala bentuk kekuasaan absolut yang seringkali mengatasnamakan demokrasi. kritis. Hanya dengan begitu. seberapa banyak yang mengikuti pemilu. kebodohan. Kas itu juga dibuat laporan pertanggungjawaban secara berkala.tinggal di RT dan RW tersebut. kita bisa sungguh mewujudkan masyarakat demokratis yang mampu memberikan keadilan dan kemakmuran bagi semua. bahwa partisipasi aktif di dalam kehidupan bermasyarakat akan memberikan keuntungan yang nyata bagi semua. bahwa empat pilar demokrasi di atas belum secara nyata terwujud di Indonesia. maka demokrasi belumlah menjadi mentalitas sekaligus sistem yang nyata di masyarakat tersebut. konsumtivisme. serta politik rahasia (persekongkolan) masih memiliki pengaruh dan kekuatan besar di Indonesia. Jelas sekali. yakni keadilan dan kemakmuran bagi semua. Hanya dengan begitu. Jika mayoritas rakyat masih bersikap masa bodoh. Partisipasi yang Bergairah Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat. kita perlu untuk melawan musuh-musuh demokrasi tersebut dengan gigih. Sebagai penguasa. seperti kemiskinan. Proses-proses pemilihan dan pola kerja ketua RT/RW serta jajaran di bawahnya juga dibuat terbuka. tetapi sebenarnya bermotivasi totaliter dan otoriter. dan seberapa banyak yang berpartisipasi aktif dalam partai politik. dan untuk rakyat. oleh rakyat. Dasar dari semua itu adalah kepercayaan dasar. dan merasa pesimis dengan kehidupan politik masyarakatnya.*** . dan bergairah ambil bagian dari menjalankan dan mengawasi roda kekuasaan di masyarakat demokratis. sikap tak peduli. Musuh-musuh demokrasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful