P. 1
bidai

bidai

|Views: 46|Likes:
Published by Rickyd'Rick

More info:

Published by: Rickyd'Rick on May 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2012

pdf

text

original

Nama : Rudi Mulyono Farikh Afyudin Anita Kurniawati Kelas : DIII KEPERAWATAN

PEMBALUTAN, PEMBIDAIAN DAN PENGERTIAN
Membalut adalah tindakan untuk menyangga atau menahan bagian tubuh agar tidak bergeser atau berubah dari posisi yang dikehendaki. TUJUAN 1. Menghindari bagian tubuh agar tidak bergeser dari tempatnya 2. Mencegah terjadinya pembengkakan 3. Menyokong bagian badan yang cidera dan mencegah agar bagian itu tidak bergeser 4. Menutup agar tidak kena cahaya, debu dan kotoran ALAT DAN BAHAN 1. Mitella adalah pembalut berbentuk segitiga 2. Dasi adalah mitella yang berlipat – lipat sehingga berbentuk seperti dasi 3. Pita adalah pembalut gulung 4. Plester adalah pembalut berperekat 5. Pembalut yang spesifik 6. Kassa steril 1. Mitella adalah pembalut berbentuk segitiga a. Bahan pembalut terbuat dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan berbagai ukuran. Panjang kaki antara 50 – 100 cm. b. Pembalut ini dipergunakan pada bagian kaki yang terbentuk bulat atau untuk menggantung bagian anggota badan yang cedera c. Pembalut ini bisa dipakai pada cedera di kepala, bahu, dada, siku, telapak tangan, pinggul, telapak kaki dan untuk menggantung tangan

Luka pada dagu. atau diikatkan pada tempat lain maupun dapat dibiarkan bebas. Lebar 5 cm : biasa untuk leher dan pergelangan tangan. lalu ditarik secukupnya dan kedua ujung sisi itu diikatkan. 10 – 15 cm : biasa untuk dada. betis dan kaki terkilir c. Pita adalah pembalut gulung a. Macam–macam pembalut dan penggunaanya : Lebar 2. hal ini tergantung pada tempat dan kepentingannya e. Gambar cara membalut dengan dasi : Luka pada mata. Luka pada ketiak. perut dan punggung c. flanel atau bahan elastis. Yang paling sering adalah dari kassa. paha. Luka pada dada. dahi (atau bagian kepala yang lain). Lebar 10 cm : biasa untuk paha dan sendi panggul. dimulai dari salah satu ujung yang diletakkan dari proksimal ke distal menutup sepanjang bagian tubuh yang akan dibalut kemudian dari distal ke proksimal dibebatkan dengan arah bebatan saling menyilang dan tumpang tindih antara bebatan yang satu dengan bebatan berikutnya. Kemudian ujung yang dalam tadi (b) diikat dengan ujung yang lain secukupnya . Kedua ujungnya diikatkan secukupnya. Luka pada siku 3. ketiak. Pembalut ini adalah mitella yang dilipat – lipat dari salah satu sisi segitiga agar beberapa lapis dan berbentuk seperti pita dengan kedua ujung – ujungnya lancip dan lebarnya antara 5 – 10 cm b. Lebar 7. Dasi adalah mitella yang berlipat – lipat sehingga berbentuk seperti dasi a. kain kassa. siku.5 cm :biasa untuk kepala. Pembalut ini dapat dibuat dari kain katun. lengan bawah. Gambar cara membalut dengan mitela : Luka pada atap tengkorak. lengan. rahang. Cara membalut dengan mitela : Salah satu sisi mitella dilipat 3 – 4 cm sebanyak 1 – 3 kali. Lengan yang cedera. Lebar . lutut. maka dipilih pembalutan pita ukuran lebar yang sesuai. Diusahakan agar balutan tidak mudah kendor dengan cara sebelum diikat arahnya saling menarik. Pembalut ini biasa dipergunakan untuk membalut mata. Cara membalut dengan dasi : Pembalut mitella dilipat – lipat dari salah satu sisi sehingga berbentuk pita dengan masing – masing ujung lancip. hal ini karena kassa mudah menyerap air.d. Pertengahan sisi yang telah terlipat diletakkan diluar bagian yang akan dibalut. Cara membalut dengan pita : Berdasar besar bagian tubuh yang akan dibalut. d. Bebatkan pada tempat yang akan dibalut sampai kedua ujungnya dapat diikatkan. Telapak kaki 2. darah dan tidak mudah bergeser (kendor) b. Balutan pita biasanya beberapa lapis. Salah satu ujung yang bebas lainnya ditarik dan dapat diikatkan pada ikatan b.5 cm : biasa untuk jari – jari. betis dan kaki. lengan atas.

Pembalut ini untuk merekatkan penutup luka. Pilih jenis pembalut yang akan dipergunakan ! dapat salah satu atau kombinasi 3. Jika ada luka terbuka : luka diberi obat antiseptik.d. Cara membalut luka dengan plester. Bagaimana luas luka tersebut d. Adalah kassa yang dipotong dengan berbagai ukuran untuk menutup luka kecil yang sudah diberi obat–obatan (antibiotik. Apakah ada luka terbuka atau tidak c. antiplagestik) b. Jika untuk fiksasi (misalnya pada patah tulang atau terkilir) : balutan plester dibuat ”strapping” dengan membebat berlapis – lapis dari distal ke proksimal dan untuk membatasi gerakkan tertentu perlu kita yang masing – masing ujungnya difiksasi dengan plester 5. Gambar cara membalut dengan pita : Pada kepala. Snelverband adalah pembalut pita yang sudah ditambah dengan kassa penutup luka dan steril. Kassa steril a. untuk fiksasi pada sendi yang terkilir. Pada lengan. Pembalut yang spesifik a. Apakah perlu membatasi gerak bagian tubuh tertentu atau tidak 2. baru lekatkan pembalut plester. Perhatikan tempat atau letak yang akan dibalut dengan menjawab pertanyaan ini : a. Pada tumit. Bagian dari tubuh yang mana b. Plester adalah pembalut berperekat a. Khusus untuk penutup luka. untuk merekatkan pada kelainan patah tulang b. biasa dilengkapi dengan obat anti septic c. Sebelum dibalut jika luka terbuka perlu diberi desinfektan atau dibalut dengan pembalut yang mengandung desinfektan atau dislokasi perlu direposisi . Sufratulle adalah kassa steril yang telah direndam dengan obat pembunuh kuman. Biasa dipergunakan pada luka – luka kecil 6. tutup luka dengan kassa. Pada telapak tangan 4. baru dibuka pada saat akan dipergunakan. Setelah ditutup kassa itu kemudian baru dibalut PROSEDUR PEMBALUTAN 1. sering dipakai pada luka – luka lebar yang terdapat pada badan b.

misalnya pada balutan berlapis. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan darurat. Bidai traksi Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya. Mempercepat penyembuhan MACAM–MACAM BIDAI 1. bidai udara. Tidak mengganggu peredaran darah. 2. lapis yang paling bawah letaknya disebelah distal e. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah 4. Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan : a. Sesedikit mungkin membatasi gerak bagian tubuh yang lain c. Mengurangi rasa nyeri 5. Bidai keras Umumnya terbuat dari kayu. plastik atau bahan lain yang kuat dan ringan. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah 3. Dapat membatasi pergeseran atau gerak bagian tubuh yang memang perlu difiksasi b. alumunium. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan. anyaman kawat atau bahan lain yang kuat tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi) TUJUAN PEMBIDAIAN 1. karton. bidai vakum. Contoh : bidai traksi tulang paha 3. umumnya dipakai pada patah tulang paha.4. hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus. Mencegah pergerakan / pergeseran dari ujung tulang yang patah 2. Contoh : bidai kayu. Bidai improvisasi . Usahakan posisi balutan yang paling nyaman untuk kegiatan pokok penderita d. Tidak mudah kendor atau lepas PEMBIDAIAN PENGERTIAN Bidai atau spalk adalah alat dari kayu.

Siapkan alat – alat selengkapnya 2. Contoh : majalah. Melewati minimal dua sendi yang berbatasan SYARAT – SYARAT PEMBIDAIAN 1. dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat yang patah 6. karton dan lain-lain. jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada tidaknya patah tulang 3. . Sepatu. Contoh: gendongan lengan PRINSIP PEMBIDAIAN 1. Ikatan jangan terlalu keras dan terlalu kendor 4. Kalau memungkinkan anggota gerak tersebut ditinggikan setelah dibidai 7. jam tangan dan alat pengikat perlu dilepas. Ikatan harus cukup jumlahnya. koran. Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si penolong. Lakukan pembidaian pada tempat dimana anggota badan mengalami cidera ( korban yang dipindahkan) 2. Bidai dibalut dengan pembalut sebelum digunakan 5. Lakukan juga pembidaian pada persangkaan patah tulang. gelang.Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang. Sebelum dipasang diukur dulu pada anggota badan korban yang tidak sakit 3. 4. Gendongan/Belat dan bebat Pembidaian dengan menggunakan pembalut. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. umumnya dipakai mitela (kain segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah cedera.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->