Strategi Belajar Mengajar

Posted by Jaruki Andriansyah M at 06:22 0 comments

Konsep (SBM)
Pengertian

Strategi

Belajar

Mengajar
SBM

Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula. Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajarmengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betulbetul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Klasifikasi

SBM

Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan Expository dan Discovery/Inquiry. “Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran. Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik - discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar. Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturutturut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:

Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan: Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya. Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia mengemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut. Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dari sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah. Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik. Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Discovery dan Inquiry : Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai” Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan 2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)

3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas. 4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan 5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan. 6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan 7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. 8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa. 9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya. Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. Menemukan masalah Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan Perumusan keterangan yang diperoleh Analisis proses inquiry.

Implementasi

Belajar

Mengajar

Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugastugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa. Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus

Di madrasah. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Untuk menyikapi hal tersebut diatas. Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati. Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita. Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. 5. didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokokpokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. dan terampil dalam menggunakan alat peraga. Model dan metode apapun yang diterapkan. sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan. Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :    Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan. jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa. minat. setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. dan bertanggung jawab. model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. potensi. pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya. Menjaga agar para siswa “mencintai” kita. dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. 3. hangat. pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep belajar. maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif. dapat mengajarkannya. Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. bakat. model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat diantara model pembelajaran yang lain. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. Menurut penemunya. Misalnya.dilakukan oleh guru atau siswa. menyenangi materi yang kta ajarkan. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran. Contoh. ramah. Model apa pun yang kita terapkan. Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain. dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran. dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru . antusias. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut : 1. 2. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru. Jadi. Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). 4.

yang menurut Edi Suardi sebagai berikut: 1. anak didik adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran karena itu. dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. gila dan sebagainya. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih efektif dan efisien. karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. 4. Dalam kegiatan belajar mengajar. Ditandai dengan aktivitas anak didik. Ada suatu proses (jalannya interaksi) yang direncanakan. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “Perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. di desain untuk mencapai secara optimal. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Ini sama halnya anak didik tidak belajar. maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ciri dan Komponen Belajar Mengajar Hakikat Belajar Mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai konsekuensi. Dalam hal ini materi harus di desain sedemikian rupa. perubahan fisik. tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif. Dalam perannya sebagai pembimbing. Inilah yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan. kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciriciri tertentu. Ciri-ciri Belajar Mengajar Sebagai suatu proses perngaturan. yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. bahwa anak didik merupakan syarat untuk bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Hakikat. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kegiatan belajar. inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. guru berperan sebagai pembimbing. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang . Keaktifan anak didik di sana tidak hanya dituntut dari segi fisik. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas. Akhirnya. 6. sehingga cocok untuk mencapai tujuan. guru harus berusaha menghidupkan dan memberi motivasi. atau langkah-langkah sistematik dan relevan. Misalnya. maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur. dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. mabuk. 2. bila hakikat belajar adalah “perubahan”. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapinya. 3. maka hakikat belajar mengajar adalah proses “perubahan” yang dilkakukan oleh guru. 5. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan dispilin. Belajar mengajar memiliki tujuan.

Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini. Dalam kegiatan belajar mengajar. batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditingkatkan. Komponen-Komponen Belajar Mengajar Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi: Tujuan. Akhirnya. kapan tujuan itu sudah harus tercapai. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik). tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. setelah guru melakukan kegiatan belajar mengajar. guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Segala sesuatu yang telah diprogramkam akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. bukan guru. Karena itu. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah. Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Dari seluruh kagiatan diatas. Bahan Pelajaran. karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah amana kagiatan itu akan di bawah. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari dispilin keilmuan guru. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu. Evaluasi. Kegiatan Belajar Mengajar. kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. mereka diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. 8. masalah evaluasi bagian penting yang tidak bisa diabaikan. Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. guru tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran. Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan. Metode.diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar. 1991: 72). 7. yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Evaluasi harus guru lalkukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah dilakukan. guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif. Dalam kegiatan belajar mengajar. . Ada batas waktu.

sedalamdalamnya. (1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya. Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar. yang bisa merugikan anak didik. sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-halbaru bagi si pelajar. M. alat mempunyai fungsi. Dengan demikian. Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.A. 1989: 51). Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Sesuai dengan pendapat di atas. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana. menurut Wind dan Brown. Jadi. dan bukan membiarkannya. Rustana Ardiwinata. Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses. serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. yaitu alat sebagai perlengkapan. sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dengan anak didik. maka menurut Wayan Nurkancana dan P. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Evaluasi. Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang (Drs. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana. Udin Saripuddin Winataputra. Dan karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh gurudalam mengelola kelas. Marimba.K. Ny. Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik. dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran. (1983: 1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. 1991: 165). Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Dalam mengajar.Alat. evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. dan Drs. Drs. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan). Sumber Pelajaran.P. baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar anak didik. . alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan (Dr. Brown. Ahmad D. yaitu evaluation. harus guru hilangkan. guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat.N. Berbeda dengan pendapat tersebut. Sumartana. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Roestiyah N.

Ada beberapa pendekatan yang dianjurkan dalam pembicaraan ini dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai masalah dalam kegiatan belajar mengajar. Demi jelasnya ikutilah uraian berikut.

Pendekatan

Individual

Di kelas ada sekelompok anak didik. Mereka duduk di kursi masing-masing. Mereka berkelompok dari dua sampai lima orang. Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan fasilitas belajar. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasan dan sebagainya, selalu ada variasinya. Masing-masing anak didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya. Perbedaan individual anak didik tersebut memberika wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar, dapat diatasi oleh kegiatan individual. Misalnya, untuk menghentikan anak didik yang suka biacara. Caranya dengan memisahkan/memindahkan salah satu dari anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara di tempatkan pada kelompok anak didik yang pendiam. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendakatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guru menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan dipergunakan untuk membina dan mengembangkan sikap social anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok dapat ditumbuh kembangkan rasa social yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial timggi di kelas. Tentu saja sikap ini pada hal-hal yang baik saj. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem pada mata rantai kehidupan pada semua mahkluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa ketergantungan makhluk lain secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu. Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya akan ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau mempunyai mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya mereka yang menpunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif, dan mandiri.

Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal, atau saling menyukai satu sama lain. Yang mempunyai kecenderungan menamai keakraban sebagai tarikan kelompok adalah merupakan satu-satunya factor yang menyebabkan kelompok bersatu.
     

Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa factor, yaitu : Perasaan diterima atau disukai teman-teman Tarikan kelompok Teknik pengelompokkan oleh guru Partisipasi/ketelibatan dalam kelompok Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya struktur dan sifat-sifat kelompok.

Sedang sifat-sifat kelompok itu adalah:
     

Suatu multi personalia dengan tingkat keakraban tertentu Suatu system interaksi Suatu organisasi atau struktur Merupakan suatu motif tertentu atau tujuan bersama Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu Pola perilaku dapat di observasi yang di sebut kepribadian.

Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bernasalah anak didik yang bervariasi. Setiap masalah dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan. Dalam belajar, anak didik mempunyai motivasi yang berbeda. Pada satu sisi anak didik memiliki motivasi yang rendah tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu yang relative lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai tanda adanya gangguan dalam proses belajar mengajar. Karena itu, dalam mengajar kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu metode. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru bisa saja membagi anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan anak didik. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.

Pendekatan Edukatif
Anak didik yang melakukan kesalahan yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya tidak tepat diberikan sangsi hokum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cedera, ini hukuman yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah

menggunakan Teori Power, yakni teori kekuasaan, untuk menundukkan orang lian. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hokum, norma susila, norma, moral, norma social dan norma agama. Guru yang hanya mengajar di kelas, belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan hubungan guru dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang bermasalah. Guru yang jarang bergaul dengan anak didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang dirasakan anak didik, membuat anak didik apatis dan tertutup atas apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam pendidikan, karena menyebabkan anak didik menjadi orang yang tertutup.

Pendekatan Pengalaman
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman dapat bersifat mendidik, karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak kea rah tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Karena itu, cirri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak, kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak. Demikianlah pendapat Witherington. Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembsngsn jiwa anak. Sehingga dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Untuk pendidikan agam islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan unuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individu maupun kelompok.

Pendekatan

Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang terjadi konflik di antara mereka. Anak kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah mempunyai hak, seperti hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang bergizi, dna hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk memberikan haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat, setelah mendapatkan pendidikan kebiasaan yang baik di rumah. Pengaruhnya juga terbawa ke sekolah. Menanamkan

perasaan social dan perasaan harga diri. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu.kebiasaan yang baik memang tidak mudah. Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. Dengan pendekatan ini siswa dibiasakan mengamalkan ajaran agama. Sebaiknya. diskusi. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak. Tanya jawab. akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah. Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual. Maha Pencipta atas segala sesuatu di dunia ini. keyakinan terhadap agama yang dianut bertambah kokoh. mana kebenaran dan mana kedustaan dari sesuatu ajaran atau perbuatan. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. baik sebagai individu maupun sebagai makhluk social. . Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu untuk kepentingan hidupnya. tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak. Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah. Dengan akal pula dapat membuktikan dan mmbenarkan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Pendekatan Fungsional Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar pengisi otak. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. tetapi diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan teknologi modern. Pendekatan Rasional Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Maka dari itu pendekatan pembiasaan dimaksudkan di sini. maka nilai ilmu sudah fungsional di dalam diri anak. Pendidikan agama islam sangat penting dalam hal ini. Karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. dan kadang-kadang makan waktu yang lama. kerja kelompok. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. terutama untuk pendidikan agama islam. Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Walaupun disadari keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu. Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Dengan begitu. baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Emosi akan memberi tanggapan bila ada rangsangan dari luar diri seseorang. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Pendekatan Emosional Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. dan pemberian tugas. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran. Dengan begitu.

tetapi menyatu dengan nilai agama. pemberian tugas. Khususnya untuk mata pelajaran umum. tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar. pendapat. sebagai bahasa sasaran. Dengan demikian. pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa. 4. Pendekatan Kebermaknaan Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut: 1. tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Dalam prakteknya tidak hanya digunakan satu. didukung oleh pemahaman lintas budaya. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan . struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan. Tanya jawab dan demonstrasi. kebemaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar siswa. Tentu saja penggunaannya tidak sembarangan. yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan. tetapi diyakini. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda baik secara lisan maupun tertulis. Motivasi belajar siswa merupakan factor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya. Pendekatan Keagamaan Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi. dan diamalkan secara hayat siswa di kandung badan.Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Kadar motivasi ini ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran siswa yang bersangkutan. dihayati. antara lain adalah metode latihan. Suatu kalimat dapat mempunyai kalimat yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural. 5. Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsure-unsur bahasa sasaran. Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. baik secara lisan maupun tertuis. dan perasaan). tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tulisan. tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. Berbagai pendekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini. 2. Untuk memperlicin jalan ke arah itu. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut. Akhirnya. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler. 3. dipahami. pikiran. sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. ceramah. 6. Dengan kata lain.

Metode Sebagai Strategi Pengajaran Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relative lama. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi. A. Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitaor yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya. tidak hanya sebagai objek belaka. dan masa depannya. Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang. dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa. Dalam proses belajar mengajar. Karena itu. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam – macam. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai Strategi Metode dan Penentuan Metode .M (1988.pengalaman. maka akn sia – sialah tujuan tersebut. Factor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Metode adalah pelican jalan pengajaran menuju tujuan. sehingga penguasaan penuh dapat tercapai. maka metode yang digunakan harus sesuai dengan tujuan. metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang. Karena itu. ada yang cepat. Dari hasil analisis yang dilakukan. Artinya. pengalaman siswa dalam lingkungan. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. cirri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran. 8. siswa merupakan subjek utama. Karena itu. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan Tujuan adalah suatu cita – cita yang akan dicapai dlam kegiatan belajar mengajar. Kedudukan Pemilihan & Penentuan Metode dl Pengajaran Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar Salah satu usaha yang tidak pernah ditinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan belajar mengajar. karena adanya perangsang dari luar. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman. Tujuan adalah pedoman yang member arah kemana keegiatan belajar mengajar akan dibawa. Pemilihan 1. ada yang sedang.90) adalah motif – motif yang aktif dan berfungsinya. Bila tidak. 7. tat nilai. metode menempati peranan yang tidak kalah petingnya dari komponen lalinnya dalam kegiatan belajar mengajar. minat. lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode yaitu: Metode sebagai Alat motivasi Ekstrinsik Sebagai salah satu komponen pengajaran. minat. tata nilai. dan ada yang lambat.

1997). Metode pembelajaran Konstruktivisme Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pentingnya Pemilihaan dan Penentuan Metode Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreativ bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. dalam konteks filsafat pendidikan. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemulihan dan penetuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. konsep. Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Efektivitas Penggunaan Metode Efektivitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam suatu pelajaran. Situasi adalah suasana kegiatan belajar mengajar yang guur ciptakan tidak selalu sama dari hari kehari. Guru. Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain. karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau ……pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno. Kontruksi berarti bersifat membangun. yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Winarno Surahmad (1990. Fasilitas.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan . Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. jjika memahami sifst – sifst masing – masing metode tersebut. bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut :      Anak Didik. Faktor – factor yang mempengaruhi Pemilihan Metode Guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya. atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. 4. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.Guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kelas. Guru adalah manusia berpotensi yang mengjarkan pendidikan. 97) mengatakan. Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri. 2. Anak didik adalah manusia berpotensi yang mengahajatkan pendidikan. Situasi. 3. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. sebagai persiapan tertulis. Tujuan. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akna mempengaruhi pemilihan metode mengajar. Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit.

Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Selanjutnya. kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin. Bleicher & Cooper. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. 1997). 1998). Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. dorongan. Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. pengetahuan atau teknologi. Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut: Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. 1993. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. 1988: 132). yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Misalnya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk.1993. 1. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. Teslow dan Taylor. 1996: 7). yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Atwel. 1997).kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. Wilson. . Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor. 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky. Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin. Sedangkan. 2.

bukanlah akhir dari segalagalanyamelainkan justru menjadi awal untuk pengembangan yang lebih baik. dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. sangat berperan dalam menjelaskan mengapa seorang siswa bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. fenomena. Teori Belajar Bermakna dan Ausuble. HUBUNGAN KONSTRUKTIVISME DENGAN TEORI BELAJAR LAIN Selama 20 tahun terakhir ini konstruktivisme telah banyak mempengaruhi pendidikan Sains dan Matematika di banyak negara Amerika. Teori Belajar Konsep Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori petubahan konsep ini dipengaruhi atau didasari oleh filsafat kostruktivisme. Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial. Cobb. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman. “Salah pengrtian” dalam memahami sesuatu. Dalam pembelajaran matematika. Inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar seperti teori Perubahan Konsep. Dengan demikian. dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan. 1991). dan Teori Skema. menurut Teori Konstruktivisme dan teori Perubahan Konsep. seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan sisiwa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat. memberikan contoh. Teori Bermakna Ausubel Menurut Ausubel. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan sekema yang ada atau dapat mengubahnya. dan teori perubahan konsep yang menjelaskan bahwa siswa mengalami perubahan konsep terus menerus. seseorang belajar denga mengasosiasikan fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. siswa berinteraksi dengan guru. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest. menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan. Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME. Kostruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana siswa membentuk pengetahuan yang tidak tepat. Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar. dan Australia. Teori perubahan konsep sangat membantu karena mendorong pendidik agar menciptakan suasana dan keadaan yang memungkinkan perubahan konsep yang kuat pada murid sehingga pemahaman mereka lebih sesuai dengan ilmuan. Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism). Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep . Konstrutivisme dan Teori Perubahan Konsep memberikan pengertian bahwa setiap orang dapat membentuk pengertian yang berbeda tersebut bukanlah akhir pengembangan karena setiap kali mereka masih dapat mengubah pengertiannya sehingga lebih sesuai dengan pengertian ilmuan. Eropa.peringatan. Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivesme. dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai.

Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. Dalam banyak hal mereka punya kesamaan. Dapat terjadi bahwa metode pencarian sendiri memang merupakan metode konstruktivisme tetapi tidak semua semua konstruktivis dengan metode pencarian sendiri. konstruktivime lebih menekankan pengembangan konsep dan pengertian yang mendalam. . dalam praktek metode pencarian sendiri tidak memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri. pengetahuan disimpan dalam suatu paket informasi. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar 2. 8. 3. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif. Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid 6. dan Maturasionisme Konstruktivisme berbeda dengan Behavorisme dan Maturasionisme. justru dikembangkan belajar bersama dalam kelompok. Bila Maturasionisme lebih menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan langkah–langkah perkembangan kedewasaan. karena langkah-langkah pencarian dan bagaimana pencarian dilaporkan dan dirumuskan sudah dituliskan sebelumnya. bila seseorang mengikuti perkembangan pengetahuan yang ada. atau sekema yang terdiri dari konstruksi mental gagasan kita. Kadang–kadang orang menganggap bahwa konstruktivisme sama dengan Teori Pencarian Sendiri (Inguiry Approach) dalam belajar. Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid 4.seperti penekanan keaktifan siswa untuk memenuhi suatu hal. Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen. kita dapat menambah skema yang ada sihingga dapa t menjadi lebih luas dan berkembang. Dalam teori ini kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Teori ini lebih menunjukkan bahwa pengetahuan kita itu tersusun dalam suatu skema yang terletak dalam ingatan kita. kedua teori ini tidak sama. Dalam belajar. Konstrtivisme. Dalam pengertian Maturasionisme. bla seseorang tidak mengkonstruktiviskan pengetahuan secara aktif. Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide 5. Sebenarnya kalau kita lihat secara teliti. Hal ini yang tidak ada dalam metode mencari sendiri. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka berfikir dan bukan meniru saja. meskipun ia berumur tua akan tetap tidakakan berkembang pengetahuannya. Dalam konstruktivisme terlibih yang personal sosial. Behaviorisme. Bahkan. Menurut Konstruktivisme. Bila Behaviorisme menekankan keterampilan sebagai suatu tujuan pengajaran. Teori Skema Menurut teori ini. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah: 1. Konstruktivisme lebih menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif sibelajar. dengan sendirinya ia akan menemukan pengetahuan yang lengkap. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru 7.

PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME 1. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal. Mmencari dan menilai pendapat siswa 9. Sedangkan. perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah 5. Belajar merupakan proses aktif . melainkan melalui tindakan. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa. melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri 3. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan 8. dan sumber. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan. Bahkan. kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar 4. dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. melainkan seperangkat pembelajaran. 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. 1999: 61). (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan. prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah: 2. 6. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . HAKIKAT ANAK MENURUT TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. Secara garis besar. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar. materi. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus. (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa 7. Marilyn dan Tony. Driver dan Bell (dalam Susan. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri.

Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME Kelebihan 1.untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring labalaba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. menjana idea dan membuat keputusan. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. Faham : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. pengekalan. fasilitor. 1998: 5). 2. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. Justeru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. 4. 1999: 62). Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. . Maksudnya. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (a) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Ingat : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. 3. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. murid berfikir untuk menyelesaikan masalah. pengelompokan. (b) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (c) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Dari pengertian di atas. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Selain itu. Berfikir : Dalam proses membina pengetahuan baru. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik.

aktif berfikir. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya. sarana belajar. kontruksi pengetahuan. maka mereka akan berasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru. Ia harus aktif melakukan kegiatan. berupa reaksi fifik terhadap . bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya. 2. 6. baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri.5. Segala sesuatu seperti bahan. dan evaluasi belajar. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. media. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak. mereka faham. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas. Evaluasi. Seronok : Oleh kerana mereka terlibat secara terus. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman. dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. menyusun konsep. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. PROSES BELAJAR MENURUT KONSTRUKVISTIK 1. Peranan guru. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. peranan guru. Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek si belajar. Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas. ingat. 4. Sarana belajar. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif. dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri. Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung. diukur dan dinilai secara konkret. 3. 5. peralatan. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak. melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sebdiri. yakin dan berinteraksi dengan sihat. Metode pembelajaran Behaviourisme Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati. lingkungan. Peranan siswa.

Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.stimulans. 4. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Menurut Thorndike. perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Ateacher’s Word Book (1921). selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi. dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali. maka terbukalah pintu sangkar tersebut. dan kucing segera lari ke tempat makan. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru. Mementingkan faktor lingkungan 2. Dalam melaksanakan coba-coba ini. belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. dan Human Nature and The Social Order (1940). asosiasi. sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons. Mental and social Measurements (1904). kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif. Mementingkan masa lalu Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. sehingga dapat digambarkan sebagai berikut: S R S1 R1 dst Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop. Animal Intelligence (1911). . Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali.Your City (1939). Teori Behavioristik: 1. demikian selanjutnya. maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Belajar berarti penguatan ikatan. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Menekankan pada faktor bagian 3. Sifatnya mekanis 5.

ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. tetapi ia tidak melakukannya. Misalnya. Masalah kedua. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya. yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku. Akibatnya. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Misalnya. maka ia akan cenderung mengerjakannya. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. materi pelajaran akan semakin dikuasai. Apabila hal ini dilaksanakan. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. maka timbullah ketidakpuasan. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto. maka timbullah rasa ketidakpuasan. Namun. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. bila anak mengerjakan PR. ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Akibatnya. yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. maka ia akan merasa puas. Apabila hal ini dilaksanakan. ia mendapatkan muka manis gurunya. ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Sebaliknya. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan.Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut : Hukum Kesiapan (law of readiness). ia akan dihukum. jika sebaliknya. tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Hukum Latihan (law of exercise). Misalnya. 1984). yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) . ia tak akan melakukan tindakan lain. . maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Akibatnya. jika ada kecenderungan bertindak. Hukum akibat (law of effect). maka ia akan cenderung mengerjakannya. Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut: Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response). Makin sering diulangi. Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya.

Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif). maupun psikomotornya. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. emosi . Selain menambahkan hukum-hukum baru. sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah. tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element). Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan. Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing. Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting) Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training. sedangkan hukuman tidak berakibat apaapa. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Hukum Sikap ( Set/ Attitude). Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain : Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon. dimana perangsang asli . sosial. Hukum akibat direvisi. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah. Hukum Respon by Analogy Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif. yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.

Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. nasi goreng. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. dengan segala kelebihannya. perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kin sebelum makanan diperlihatkan. Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu. maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker. Sebagai contoh. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia. dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Pavlov berpendapat. rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut. maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu. 1985). maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Bayangkan. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Tanpa disadari. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Awalnya mungkin suara itu asing. yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) . Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama. es. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan. Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. sedang merah adalah rangsangan buatan. Namun demikian. sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. siomay) yang sering lewat di rumah. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran. melainkan tingkah lakunya.dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan seharjhari ada situasi yang sama seperti pada anjing. secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. tetapi setelah si pejual es krim sering lewat. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyibunyian dari pedagang makanan(rujak. bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. peranan maupun bicara. suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. baru makanan. Makanan adalah rangsangan wajar. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme.

tidak digunkan hukuman. tidak sengaja ia menekan tombol. Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik. lampu yangdapat diatur nyalanya. ia mengemukakan teori operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan. Skinner membuat eksperimen sebagai berikut : Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”. dalam proses pembelajaran. Tingkah laku yang diinginkan pendidik. Dalam beberapa hal. digunakan sistem modul.1970) B. Beberapa prinsip Skinner antara lain : Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa. diberi hadiah. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box. perilaku. yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol. makanan keluar. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. lebih dipentingkan aktifitas sendiri. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Materi pelajaran. Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Pada tahun 1938. alat pemberi makanan. jika bebar diberi penguat. atau penghargaan. memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang. Dalam proses pembelajaran. untukmenghindari adanya hukuman.F. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Untuk itu lingkungan perlu diubah. dan lantai yanga dapat dialir listrik. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Dalam perkembangan psikologi belajar. . Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah. penampung makanan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. proses ini disebut shapping. dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer. Dalam pembelajaran digunakan shaping.Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern. jika salah dibetulkan. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian.

Mementingkan pengaruh lingkungan Mementingkan bagian-bagian Mementingkan peranan reaksi Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon . diskriminasi.Robert Gagne ( 1916-2002) Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut: Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku. rangkaian SR. ingatan dan motifasi. mencakup kode pengkodean simbolik. Albert Bandura (1925-masih hidup) Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare alberta berkebangsaan Kanada. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah: Perhatian. kemampuan meniru. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional. Karena melibatkan atensi. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. 3. Penyimpanan atau proses mengingat. mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat. keakuratan umpan balik. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. mencakup kemampuan fisik. Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu: 1. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Reprodukdi motorik. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. 2. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR. Motivasi. Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon. asosiasi verbal. dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan danpemecahan masalah). teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. 4.

bersifaat mekanistik. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Murid dipandang pasif . Sebagai konsekuensi teori ini. para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap. bagi siswa harus dapat menerima informasi yang disampaikan oleh gurunya secara baik pula –yang selanjutnya saya sebut sebagai gaya belajar. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Chatib (2009:100-101) menjelaskan pada dasarnya gaya mengajar adalah strategi transfer informasi yang diberikan oleh . Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. menggunakan komputer. dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. suka mengulangi dan harus dibiasakan. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa. reflek. contohnya: percakapan bahasa asing. kelenturan. sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan. Begitu juga. Gaya Belajar dan Multiple Intelligences PADA dasarnya. sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik. spontanitas. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan 7. Guru tidak banyak memberi ceramah. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa. perlu motivasi dari luar. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya.5. Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya 6. hal terpenting dalam proses pembelajaran. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. berenang. dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. menari. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini. bersikap otoriter. Kesalahan harus segera diperbaiki. Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central. komunikasi berlangsung satu arah. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. olahraga dan sebagainya. daya tahan dan sebagainya. salah satunya adalah bagaimana seorang guru mampu menyampaikan informasi dengan baik – selanjutnya disebut sebagai gaya mengajar. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. mengetik.

Howard Gardner. Hal ini menurut Bobbi DePorter dinamakan sebagai asas utama quantum learning. Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Hasil MIR ini merupakan data yang sangat penting untuk diketahui oleh guru dan siswanya. Selain itu. Siswa lain mungkin menemukan bahwa mereka menggunakan gaya yang berbeda dalam situasi yang berbeda. diharapkan setiap individu siswa dapat belajar secara menyenangkan. Apabila seseorang diriset dengan MIR. setiap guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswanya yang diketahui dari Multiple Intelligences Research (MIR). guru perlu menyampaikan informasi dengan menggunakan gaya mengajar yang berbeda. Sebagai guru.guru kepada siswanya. Beberapa siswa mungkin menemukan bahwa mereka memiliki pilihan gaya belajar atau cara menyelesaikan masalah dengan gaya belajar yang lain. Sumber Belajar dan Alat Pelajaran Pengertian Sumber Belajar Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa. Dalam proses pembelajaran yang dianggap modern maka sumber belajar tidak hanya buku saja. Berpijak pada konsep keragaman gaya belajar dan perbedaan tingkat kecenderungan multiple intelligence siswa mengenai adanya perbedaan individual. tidak hanya dalam gaya yang disukai mereka. Dengan demikian. seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. kiranya penting untuk diperhatikan bagi para guru untuk memahami keragamaan gaya belajar siswa ini. maka akan terbaca kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya. Oleh karena itu. Setiap guru akan masuk ke dunia siswa sehingga siswa merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses belajar. 2010) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. terutama jika metode mengajar yang dipilih digunakan lebih cocok gaya belajar yang disukai mereka. mulai dari skala tertinggi sampai terendah. dan hasilnya digunakan untuk mengarahkan siswa melalui serangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajarnya (Keller. Guru harus mampu membantu mereka untuk memaksimalkan dan menggunakan gaya belajar mereka. karena model pembelajarannya didesain berlandaskan pada gaya belajar dan kecerdasan yang ada pada masing-masing siswa. Dalam pengajaran tradisional guru sering hanya menetapkan buku teks sebagai sumber belajar. Conner (2008:1) menyatakan bahwa gaya belajar siswa mengacu pada cara siswa memilih untuk menerima atau memproses informasi baru. Kemudian. perlu untuk mengetahui gaya belajar siswa. tetapi guru sebaiknya memanfaatkan sumber lain . siswa bisa belajar dengan cara lain. Dengan demikian. Dengan adanya variasi dalam menyampaikan informasi kepada siswa secara keseluruhan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan lebih cepat. itupun biasanya terbatas hanya dari salah satu buku tertentu saja. ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. (Silvana. dan mengembangkan kemampuan yang kurang dominan. 2010). Sebuah gaya belajar siswa dinilai atau diriset sebelum proses pembelajaran dimulai. yaitu masuk ke dunia siswa.

Evaluasi dalam pembelajaran bukan hanya sekedar untukmengukur keberhasilan siswa dalam pencapaian hasil belajar atua prestasi belajar. laboratorium. tetapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang dilakukan setiap siswa. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi. . film. Apa fungsi sumber belajar? Sumber belajar memiliki fungsi : 1. Apa sumber belajar itu? Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data. Oleh sebab itu. orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar. majalah. sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah. Evaluasi merupakan proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipetimbangkan. dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional. setiap guru tidak hanya menentukan tes sebagai alat evaluasi akan tetapi juga menggunakan nontes dalam bentuk tugas misalnya wawancara. perpustakaan dan lain sebagainya. 2. misalnya. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual. dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya. baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.selain buku wajib.

dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian. yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit. yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. 6. Lebih memantapkan pembelajaran. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization). dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar. (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit. Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa Ada berapa jenis sumber belajar? Secara garis besarnya. Memungkinkan belajar secara seketika. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design). terdapat dua jenis sumber belajar yaitu: 1. diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran . Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis. 2. 5. dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis. 4.3. yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan.

motor. perpustakaan. nara sumber. Bagaimana memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar? . museum. sarasehan. grafik yang dirancang untuk pembelajaran. siswa. (4) alat/ perlengkapan: perangkat keras. tokoh karier dan sebagainya. komik. bahan ajar. film. aula. dan (6) lingkungan: ruang kelas. candi. debat. pimpinan lembaga.Dari kedua macam sumber belajar. dan sebagainya (2) orang: guru. sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1) pesan: informasi. seminar. simulasi. generator. VCD/DVD. talk shaw dan sejenisnya. dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa. tokoh masyarakat. pasar. (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi. dongeng. relief. papan tulis. dan sebagainya. kebun. slides. Apa kriteria memilih sumber belajar? Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: (1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal. hikayat. pemecahan masalah. (3) mudah: dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita. (3) bahan: buku. kamera. cerita rakyat. arca. sulit dan langka. (4) fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan. instruktur. diskusi. mobil. (5) sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar. televisi. kantor dan sebagainya. alat listrik. studio. radio. teman. ahli. komputer. toko. obeng dan sebagainya. mesin. permainan. gambar. (2) praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang rumit. transparansi. percakapan biasa.

Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond. berkemah. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif. Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas. pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya. maka perlu dilakukan perencanaan. Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan. karyawisata. seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Bagaimana prosedur merancang sumber belajar? . praktek lapangan dan sebagainya. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar. yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka. seperti survey.Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.

bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Misalkan. guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. kotak pembungkus. Dengan sentuhan . Bahan bekas. yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan berbekal kreativitas. yang banyak berserakan di sekolah dan rumah. prosedur merancang sumber belajar dapat mengikuti alur sebagai berikut: Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar? Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. seperti kertas.Secara skematik. mainan.

bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran. dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar Bahan belajar yang berisi pengetahuan. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas.kreativitas. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider? Pengorganisasian Bahan Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa. kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar. harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masingmasing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien. namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal. Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet. sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-. Demikian pula. memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Bahan belajar itu pula yang akan dipelajari oleh warga dalam mencapai tujuan belajar. masih dianggap relatif mahal. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Materi harus dipilih atas . keterampilan dan atau nilai-nilai akan disampaikan oleh tutor kepada warga belajar. lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan.

menyebaban siswa semakin sadar. Keberhasilan Belajar Mengajar Pengertian Belajar Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. 2002: 22). Ketertarikan warga belajar dalam memilih dan mempelajari bahan belajar adalah merupakan manifestasi dari perilaku belajar warga belajar. 1993: 5). adanya penguatan-penguatan. akan kemampuan dirinya (Dimyati dan Mudjiono.pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian perilaku warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati. . Adanya informasi tentang sasaran belajar. Materi itu pun akan mempengaruhi pertimbangan tutor dalam memilih dan menetapkan teknik pembelajaran. Surya. Kemampuan-kemampuan kognitif. Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar adalah tingkat kemampuan peserta. afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat.Siswa mengalami suatu proses belajar. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapankecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak. adanya evaluasi dan keberhasilan belajar. Seorang tutor hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar untuk diajarkan. tingkat daya tarik bahan belajar. 1992. dan tingkat kebaharuan dan aktualisasi bahan. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide. keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta. Morgan. siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Dari ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu tindakan sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan dalam diri mereka atas stimulasi lingkungan dan proses mental mereka sehingga bertambah pengetahuannya. sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan ( Moh. Pengertian MengajarJerome S. seperti dikutip Tim Penulis Psikologi Pendidikan (1993: 60) ringkasnya mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. 23). Dalam proses belajar tesebut.

mengajar bukan sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor Tes Sumatif Tes ini dilakukan untuk mengukur daya serap anak didik terhadap bahan pokokpokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester atau dua tahun pelajaran.Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. Indikator Keberhasilan Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. Tolak Ukur. Pengertian Keberhasilan Pengertian. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK. bertujuan untuk memperoleh gambaran daya serap anak didik untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar anak didik. . guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa. melainkan mengandung makna yang lebih luas dan kompleks. yaitu terjadinya komunikasi dan interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya. 2.Jadi. setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/ TIK telah dicapai siswa baik individu maupun klasikal Namun yang banyak dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dari keduanya adalah daya serap siswa terhadap pelajaran Penilaian keberhasilan Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan dan dapat digolongkan kedalam jenis penilaian sebagai berikut : Tes Formatif Penilaian ini digunakan untuk menguur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap anak didik terhadap pokok bahasan tersebut. baik secara individu maupun kelompok. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. adalah: 1. dan Tingkatan Keberhasilan Belajar Mengajar Moh Uzer Usman dan Lilis Setyawati dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (1993: 7-8) mengemukakan sebagai berikut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses balajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu Tes Subsumatif Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu.

Tes ini bertujuan untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar anak didik dalam suatu periode belajar tertentu. maka dapat dilanjutkan ke proses belajar untuk pokok bahasan yang baru 2. Hasil tes ini daigunakan untuk kenaikan kelas. 3. maka proses belajar mengajar berikutnya adalah perbaikan Pengukuran tentang tingkatan keberhasilan proses mengajar sangat penting karena itu pengukuran harus betul-betul : • Syahih ( Valid ) • Andal ( reliable) dan • Lugas ( Objective) Hal ini dapat tercapai apabila alat ukurnya disusun berdasarkan kaidah. optimal atau maksimal. Baik / minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 75% s/d 84% dikuasai siswa 4. kita dapat menggunakan tingkat acuan sebagai berikut: 1. Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa . Ada dua point yang dapat dilihat dari hasil tingkat keberhasilan proses belajar mengajar : 1. 2. Istimewa / maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa. Program Perbaikan Tingkat keberhasilan proses mengajar dapat ddigunakan dalam berbagai usaha antara lain dengan kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri. hukum atau ketentuan penyusunan tes Pengajaran perbaikan mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut : • Mengulang pokok bahasan seluruhnya • Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai • Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama • Memberi tugas-tugas khusus Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Faktor – Tujuan faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah : . aturan. Apabila 75 % anak didik kurang (dibawah taraf minimal ) dalam mencapai tingkat keberhasilan . menyusun rangking atau sebagai ukuran mutu sekolah Tingkat Keberhasilan Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru. Apabila 75 % anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai tingkat keberhasilan minimal. Kurang : apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa. Baik sekali/ optimal: apabila sebagian besar (85% s/d 94%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa.

Contoh rumusan TIK berdasarkan ciri-ciri dan indikator terpilih adalah Tujuan menguasai Aspek Kebahasaan . dan dirumuskan dalah TIK ( Tujuan Instruksional Khusus) sedangkan TIU (Tujuan Instruksional Umum ) yang sudah tersedia didalam GBPP. Dapat diilustrasikan sebagai berikut: Berdasarkan pada indikator terpilih tersebut diatas dapat dirumuskan sejumlah TIK dari TIU yang bersangkutan. Perumusan tujuan menentukan kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar Guru diwajibkan untuk merumuskan tujuan pembelajarannya agar dapat tercapai sasaran dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Anak Didik . hasil proses belajarnya pun akan berbeda. maka perbuatan TIK harus berpedoman padaTIU.. Karena prosesnya berbeda. Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalamannya Guru yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar . Oleh sebab itu. Indikator suatu TIU banyak namun handaknya dipilih yang betul-betul penting sehingga dapat mewakili TIU. TIK adalah wakil dari TIU. • Latar belakang dan Pengalaman guru Guru pemula dengan latar belakang pendidikan kegurua lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. untuk menjembatinya dibuat program Akta 4 dan Akta 5. Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar yaitu : • Kepribadian Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas didalam kelas • Pandangan terhadap anak didik Proses belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan berbeda. karena ia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya. akan banyak menemukan masalah dikelas. Siswa mampu membuat kalimat Simple Present minimal 10 kata kerja dengan tepat dan benar Bila TPK tersebut dianalisa dapat diketahui unsur – unsur berikut : • Audience : Siswa • Behaviour : Dapat membuat kalimat Simple Present • Condition : Dengan menggunakan 10 kata kerja • Degree : Dengan tepat dan benar Guru Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah dan orang yang berpengalaman dalm bidang profesinya. Guru dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. TIK harus dirumuskan secara operasional dengan memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu : • Secara Spesifik menyatakan perilaku yang akan dicapai • Membatasi dalam keadaan mana perubahan perilaku diharapkan dapat terjadi (kondisi perilaku) • Menyatakan kriteria perubahan perilaku secara spesifik. artinya menggambarkan standar minimal perilaku yang dapat diterima sebagai hasil yang dicapai.

• Gaya mengajar personalisasi dan • Gaya mengajar interaksional Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan belajar mengajar yaitu: • Gaya mengajar guru o Gaya mengajar klasik. tetapi bisa lebih dari dua rumusan. Kegiatan Pengajaran Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. aktif. dapat dibedakan 4 macam yaitu • Gaya mengajar klasik. misalnya pendiam. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya belajar anak didik. Hal ini sebagai bukti bahwa tingkat penguasaan anak terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. diketahui kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. manja dam sebagainya. Guru yang mengajar. 59). Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992. Aspek dari anak didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah : • Psikologis anak didik • Biologis anak didik • Intelektual anak didik • Kesenangan terhadap pelajaran Hal diatas yang menyebabkan perbedaan karakteristik anak didik . o Gaya mengajar personalisasi dan o Gaya mengajar interaksional • Pendekatan guru o Pendekatan individual Guru berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya o Pendekatan kelompok Berusah memahami anak didik sebagai mahluk sosial Perpaduan kedua pendekatan ini akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik • Strategi penggunaan metode Penggunaan strategi belajar dapat digunakan lebih dari 1 meetde pengajaran misalnya penggunaan metode Ceramah dengan metode Tanya jawab untuk mata pelajaan IPS.. . karena itu dikenallah tingkat keberhasilan maksimal (istimewa). Angka-angka dirapor menunjukkan bukti nyata dari keberhasilan belajar mengajar. Optimal ( baik sekali ). minimal (baik) dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai anak didik. kreatif . Anak yang dengan ciri-ciri mereka masing-masing berkumpul di dalam kelas dan yang mengumpulkan tentu saja guru atau pengelola sekolah. Orang tuanya memepercayakan guru untuk mendididik mereka agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. o Gaya mengajar teknologis. • Gaya mengajar teknologis. Jarang guru menggunakan 1 metode dalam melaksanakan pengajaran . anak didik yang belajar. Banyak sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan mempengaruhi pengelolaan kelas. hal ini disebabkan rumusan tujuan yang dibuat guru tidak hanya satu.Adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Dari penjelasan diatas. keras kepala.

maka tidak dapat dipercaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar mengajar. • Gaya mengajar personalisasi dan • Gaya mengajar interaksional Bahan dan Alat Evaluasi Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. • Gaya mengajar teknologis. Kelmahannya terletak pada pengusaan anak didik terhadap bahan pelajaran bersifat semuatau samar-samar. Bahan pelajaran biasanya sudah dikemas dalam bentuk buku paket. bukan membuat rumus penilaian yang cenderung mendatangkan sikap dan tindakan spekulatif pada anak didik Berbagai permasalahan yang telah diuraikan tersebut mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar.Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992. oleh sebab itu guru sudah menggabungkan lebih dari satu alat evaluasi. 59). Alat tes dalam bentuk essay dapat mengurangi sikap dan tindakan spekulasi pada anak didik sebab alat tes ini hanya dapat dikjawab bila anak didik betul-betul menguasai bahan pelajaran dengan baik. Benar Salah dan Pilihan Ganda adalah bagian dari tes objectif artinya objektif dalam hal pengoreksian tapi belum tentu objektif dalam jawaban yang dilakukan anak didik. dan kemudian guru akan membuat item-item soal evaluasi dengan perencanaan yang sistemastis dan dengan penggunaan alat evaluasi. Hal yang perlu dalam suasana evaluasi adalah • Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas • Semua murid dibagi menurut tingkatan masing-masing • Besar sedikitnya anak didik dalam kelas • Berlaku jujur . Ada waktu yang harus ditempuh dalam menyelesaikan buku paket tersebut misalnya 1 semester . maka bila anak didik tidak bisa menjawab dia cenderung melakukan tindakan spekulasi. Untuk tes objektif mempunyai rumus penilaian masing-masing. Alat evaluasi yang umum digunakan adalah : • Benar – Salah ( True – False) • Pilihan Ganda ( Multiple Choice) • Menjodohkan ( Matching) • Melengkapi ( Completion ) dan • Essay Masing – masing alat evaluasi itu mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antra seseorang . Suasana Evaluasi Faktor suasana evaluasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Karena sifat alat ini mengharuskan anak didik memilih jawaban yang sudah disediakan dan tidak ada alternatif lain diluar alternatif itu. Jadi kesanalah rujukan standar penilaian itu. baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut. Bila alat tes itu tidak valid dan tidak reliable . pengambilan sikap untung – untungan daripada tidak diisi Pembuatan item soal dengan memakai alat tes objektif dapat menampung hampir semua bahan pelajaran yang sudah dipelajari oleh anak didik dalam satu semester. Penggunaan Media Sumber Belajar Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. dapat dibedakan 4 macam yaitu • Gaya mengajar klasik.

Hamalik ( 1986). karena apabila ada ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Perkembahang ilmu pengetahuan dan teknolohi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam prose belajar mengajar. Ada beberapa para ahli diantaranya : 1. prinsip. Perantara media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep. Gerlach & Ely 1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia. Dalam hal ini mediator media menunjukkan fungsi atau perannya yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar – siswa dan isi pelajaran 4. media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. 2. dan ketrampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut sifat bahan ajar. 6. . materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan . Pengertian Media Kata Mdia berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak darui kata ”medium:. Para guru dituntut agar mampu mengunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah. Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran Media sebagai Alat bantu 1. gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi Dalam proses belajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. AECT (Association of Education and Communication Technology ) 1977. 3. Media pembelajaran di sekolah digunakan dengan tujuan antara lain sebagai berikut : 2. hal ini disebabkan oleh keinginan guru untuk membantu dalam menyampaikan bahan pelajaran. Suatu yang sudah nyata bahwa media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. dan juga dituntut untuk dapat mengembangkan ketrerampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. hasil dari belajar adalah perubahan sikap pada diri orang tersebut. (1987 : 234) mediator adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Oleh sebab itu belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Hamidjojo dalam Latuheru (1993) memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide gagasan atau pendapat sehingga ide. yang berari ” perantara” atau ”pengantar” . Heinich dan kawan-kawan (1982) medium sebagai perantara yang mengantarkan informasi antara sumber dan penerima 5. Fleming .dengan lingkungannya. keterampilan dan sikap.

Macam-macam Media Meda yang telah dikenal tidak hanya terdiri dari dua jenis tetapi disa dilihat dari jenisnya yaitu : Dilihat dari Jenisnya. Meningkatkan kualitas belajar mengajar. Media dibagi kedalam: a. Media sebagai Sumber Belajar Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana. Guru yang pandai menggunakan media adalah guru yang bisa memanipulasi media sebagai sumber belajar dan sebagai penyalur informasi dari bahan yang disampaikan kepada anak didik sebagai proses belajar mengajar. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat dan motivasi peserta didik untuk belajar. Kadang anjuran menggunakan media sukar dilaksanakan karena dana yang terbatas untuk membelinya. 4. 7. Buku / perpustakaan Media massa. 5. Menumbuhkan sikap dan ketrampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu. menyimpan. Contoh : Radio. di sekolah. . Memperjelas informasi atau pesan pembelajaran. 3. di pedesaan dan sebagainya. tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional dan kompetensi guru itu sendiri. di pusat kota.3. Udin Saripudin dan Winataputra ( 1995. merekam. Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik. Media Auditif Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. 5. di halaman. 4. untuk itu seorang guru harus kreatif dengan membuat media pendidikan yang sederhana selama menunjang tercapainya tujuan pengajaran. melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek Ciri Manipulatif ( Manipulative Property) Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording karena bisa diedit dan yang diambil hanya bagian-bagian penting saja Ciri Distributif ( Distributive Property) Memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan memalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu. Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan sebab media digunakan : Ciri Fiksatif ( Fixative Property) Menggambarkan kemampuan media. Manusia. Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan . Alam lingkungan dan Media pendidikan Media pendidikan sebagai salah satu sumber ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik serta diakui sebagai alat bantu auditif. 65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori yaitu : 1. 2. 6. visual dan audiovisual.

Audiovisual Diam Yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti bingkai suara (sound slide). Prinsip-prinsip pemilihan dan Penggunaan Media Drs Sudirman N ( 1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibagi dalam tiga kategori yaitu : 1) Tujuan Pemilihan Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas misalnya sasaran seperti anak TK. SD SMP. Media Audiovisual Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Oleh sebab itu . Tujuan pemilihan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai media. c. dan Media ini dibagi kedalam ” i. Media dibagi dalam: a. masyarakat pedesaan. Strip (film rangkai). Media untuk Pengajaran Individual Penggunaannya hanya untuk seorang diri misalnya modul berprogram dan pengajaran melalui komputer. Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat Dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film. perkotaan. gambar . b. Pembagian lain dari media ini adalah • Audiovisual Murni Yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti film video-cassette • Audiovisual Tidak Murni Yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari tape recorder Dilihat dari daya Liputnya .SMU. Media Kompleks Adalah media yang bahan dan alat pembuatanya sulit diperoleh serta mahal harganya . Audiovisual Gerak Yaitu medi yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yangbergerak seperi film suara dan video cassette. Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu sama.Cassette recorder. Contoh : Radio dan Televisi b. piringan hitam Media ini tidak cocok untuk oran tuli atau yang bermasalah dengan pendengaran b. sulit membuatnya dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai. Film rangkai suara dan cetak suara. . Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti slide foto. Tuna rungu Tuna netra. Media Sederhana Bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah. ii. film rangkai yang harus menngunakan tempat yang tertutup dan gelap. Jenis media ini lebih baik dibandingkan kedua jenis media yang pertama dan kedua. sound slide. film bisu dan film kartun c. lukisam. cara pembuatanya mudah dan penggunaanya tidak sulit. Dilihat dari Bahan Pembuatannya a. apabila mengunakan media guru harus mmepertimbangkan jenis dan karakteristik yang tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Media Visual Adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan .

pengelola pengajaran dan pengelola hasil pembelajaran siswa. Tuntutan masyarakat .2) Karakteristik Media Pengajaran Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan pada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran secara variasi. Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa. Menyajikan media dengan tepat Artinya teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan. Latihan dan Pengulangan 11. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru.waktu dan sarana yang ada. dan di dalam masyarakat. yakni sebagai guru. Emosi siswa 7. guru akan mengahadapi kesulitan dan cenderang bersikap spekulatif.tempat serta kondisi lingkungan saat media mengajar digunakan. Artinya memperhitungkan penggunaan media tersebut telah sesuai dengan tingkat kematangan / kemampuan anak didik 3. sedangkan apabila kurang memahami karateristik media tersebut. Penerapan Prinsip prinsip menurut Dr nana Sudjana (1991 :104) yang harus diperhatikan agar penggunaan media tersebut dapat mencapai hasil yang baik adalah : 1. Penguatan (Reinforcement) 10. Motivasi siswa 2. Dari segi teori belajar prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah : 1. Artinya Waktu . Teknik-teknik Balik Memancing Mendapatkan Appersepsi Anak Umpan Didik Sebelum saya membahas masalah bagaimana cara memancing apersepsi anak didik. 3) Alternatif Pilihan Memilih artinya proses membuat keputusan dari berbagai alternatif pilihan. Perbedaan Individual siswa 3. Tujuan Pembelajaran 4. bahan metode. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat. saya akan membahas masalah peranan guru. baik di sekolah. Disekolah guru berperan sebagai perancang atau perencana. Organisasi isi 5. Persiapan sebelum belajar 6. Guru mempunyai peranan yang amat luas. sebagai pengajar dan pendidik . Umpan Balik 9. ia harus menunjukkan perilaku yang layak (bisa dijadikan teladan oleh siswanya). tempat dan situasi yang tepat. 4. Menentukan jenis media dengan tepat. Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru (Surya. Artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan 2. 1997: 108). Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu. Partisipasi 8. di dalam keluarga.

bilamana pengajar menyadari pentingnya umpan balik. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Maka pengajaran yang ia berikan akan menjadi lebih efektif. Setelah seluruh kursus atau seluruh rangkaian pelajaran selesai diberikan. 2005: 152). Terlihat pada waktu ujian bahwa murid belum mengerti secara baik bahan yang diajarkan. intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. Sering kali cara demikian tidak mungkin terlaksana. Sebaliknya. (Tohirin. Namun kadang kala cara tersebut dapat sangat bermanfaat. Selain itu murid atau mahasisiwa juga diberi kesempatan untuk memeriksa diri sampai di mana mereka mengerti bahan tersebut. baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik. Karenanya keaktifan peserta didik dalam menjalani proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Dan itu berarti suatu keterlambatan. sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan. Dan dari sini kiranya saya telah mengetahui bahwa ada berbagai macam bentuk umpan balik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses. serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia cerdas berpotensi. Umpan balik hanya dimaksudkan untuk mencari informasi sampai dimana murid mengerti bahan yang telah dibahas. Pada umumnya pengajar kurang memikirkan perlunya mengadakan umpan balik seperti itu. Sehingga mereka dapat melengkapi pengertian-pengertian yang belum lengkap. Sejauh mana bahan yang telah diterangkan dapat mereka mengerti. PESERTA DIDIK Peserta didik adalah Sang Anak yang merupakan milik Sang Pencipta dan milik dirinya sendiri. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif. karena memerlukan waktu cukup banyak. bersemangat.khususunya siswa dari guru dalam aspek etis. karena itu salah satu cara memancing apersepasi anak didik. Pilihan tentu saja paling tergantung pada pengajar yang bersangkutan sendiri. serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik. Sejauh mana suatu penjelasan dapat tersampaikan secara baik. penuh percaya diri dan antusias. merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Itulah tadi bentuk-bentuk umpan balik yang dimaksudkan untuk melihat. antara lain : Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif Sikap guru tampil hangat. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. . Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti. maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. keberhasilannya akan sangat tergantung dari pemanfaatan potensi yang dia miliki. Hal yang paling penting adalah sejauh mana uraian yang diberikan dapat diterima secara jelas oleh murid. Peserta didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi.Umpan balik tidak sama dengan penilaian.

AUDIO VERBAL . Karena itu. mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan. D.Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik Agar kesadaran akan potensi. diberikan tugas yang dikerjakan di luar kelas seperti di perpustakaan. Penilaian hasil belajar yang tidak serius akan sangat mengecewakan peserta didik. Sekiranya tersedia dianjurkan penggunaan media pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat lebih efektif. agar kegiatan penilaian ini dapat membangun semangat belajar para peserta didik maka hendaknya dilakukan serius. dan lain-lain. dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh. Pelaksanaan kegiatan hendaknya bervariasi. dan hal itu akan memperlemah semangat belajar. Untuk lebih mengaktifkan peserta didik secara merata dapat diterapkan pemberian tugas pembelajaran secara individu atau kelompok belajar (group learning) yang didukung adanya fasilitas/sumber belajar yang cukup. maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. Sehingga kemampuan individu. Penilaian hasil belajar dilakukan serius. obyektif. pendapat atau gagasan. peran siswa dalam kelompok dapat beragam dan beberapa keputusan tentang peran ini dapat dibuat oleh siswa-siswa Memanfaatkan Teknik Alat Bantu yang Akseptable Ada beberapa macam alat Bantu yang dapat diterima oleh siswa. agar mereka mudah memahami pelajaran diantaranya adalah: 1. Hasil penilaiannya diumumkan secara terbuka atau yang lebih baik dibuatkan daftar kemajuan hasil belajar yang ditempel di kelas. memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya.Jika siswa belum biasa bekerja efektif dalam kelompok.kelompok itu kecil (dua sampai tiga siswa) dan guru menetapkan anggota kelompok tugas itu dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat saja tugas itu sederhana perintahperintah jelas dan diberikan selangkah-demi-selangkah guru perlu menyediakan sumber belajar guru menerangkan dengan jelas peran setiap siswa di dalam kelompok penilaian bersifat informal dan guru perlu membahas dan mendiskusikan tugas itu dengan siswa Hal penting dari tugas ini adalah belajar bekerjasama. Dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik. Jenis kegiatan Pembelajaran menarik atau menyenangkan dan menantang Agar peserta didik dapat tetap aktif dalam mengikuti kegiatan atau melaksanakan tugas pemebelajaran perlu dipilih jenis kegiatan atau tugas yang sifatnya menarik atau menyenangkan bagi peserta didik di samping juga bersifat menantang. maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. jangan sampai terjadi manipulasi.Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses belajar mengajar. eksistensi. sesuai dengan ketentuannya. Penerapan model œbelajar sambil bekerja• (learning by doing) sangat dianjurkan. teliti dan terbuka. Dari daftar kemajuan belajar tersebut setiap peserta didik dapat melihat prestasi mereka masing-masing tahap per tahap.Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan. sehingga hasilnya dapat obyektif. jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar. tidak selalu harus di dalam kelas. di jenjang sekolah dasar antara lain dilakukan belajar sambil bernyanyi atau belajar sambil bermain. maka guru boleh menetapkan tugas masing-masing anggota kelompok dengan mempertim-bangkan beberapa hal seperti. antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi.

& Brooks. dan penyediaan program penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu ˜unjuk kemampuan/ mendemonstrasikan kinerja (performance). 1993: 9) 2. ( Harlen. Pada keadaan ini.Dengan demikian. (Nazulia. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Sekalipun terdapat komunikasi yang baik masih dapat diharapkan bahwa selalu terdapat kekurang pahaman. di samping buku pelajaran ada buku kerja untuk membantu murid mengenang dan mengelolah buah pikiran pokok dari buku pelajaran. Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah.apa yang dikemukakan diatas merupakan usaha uantuk mempertinggi mutu mengajar agar murid-murid dapat memahami apa yang diajarkan tanpa komunikasi yang baik antara guru dan murid proses mengajar-belajar tidak akan berjalan dengan efektif. Film. Alat audiovisual diperlukan untuk membantu mereka. Kalau keadaan ini berkelanjutan. model-model. Karena itu. VISUALILASI VERBAL Tak semua murid sanggup belajar dengan cara verbal yang abstrak. Akan tetapi tak semua bahan harus disampaikan secara kongkrit. dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga memungkinkan semua siswa terlibat baik secara mental maupun secara fisik. penyediaan pertanyaan yang mendorong berpikir dan . Alat audio visual dapat membantu anak-anak belajar dengan menyajikan dalam bentuk yang kongkrit. sebagai hasil belajar. Inti dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat pertanyaan yang mendorong siswa bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah. 1982: 45) Dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Tentu saja. Pengalaman belajar berupa eksperimen dalam laboratorium bermanfaat sekali untuk memahami ide atau pengartian yang sulit. Untuk mengatasinya. akan sangat membantu kalau dikemas dalam suatu cerita tayangan hidup yang menyentuh dimensi emosi dan perasaan.G.G. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah ada sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. modul dan lain-lain. Pencapaian kompetensi tentang sikap/attitude seperti pada mata pengajaran Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. atau kalau terpaksa perlu berceramah cukup antara 20 – 25 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong Lihat – Raba – Bau – Rasa. seperti buku. (Brooks. 1987: 12) Buku pelajaran. sedikitnya ada tiga hal strategis yang perlu dikuasai guru dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran yaitu. W. Buku kerja. Materi yang diceramahkan pun perlu kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. hendaknya ada beberapa buku yang harus dimiliki dalam satu pelajaran karena dalam buku yang satu mungkin lebih jelas dan mudah dipahami dalam buku yang lain. dan lain memepermudah pengertian tentang konsep dan proses tertentu. J. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Media cetak. pemberian umpan balik. film strip. guru perlu merencanakan tugas dan alat belajar yang menantang. tak semua sama baiknya. Kebanyakan pelajar dapat dan harus disampaikan secara verbal akan tetapi untuk bagian-bagian tertentu alat audio-visual atau alat intruksional pada umumnya sangat berguna untuk mempermudah dan memepercepat pemahaman bagi murid-murid tertentu.Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film). M. guru harus mengurangi cara ini.

berproduksi. dan imajinatif. terbuka. maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada ‘merangsang siswa berpikir’. percobaan. . penyediaan umpan balik yang bermakna. Pertanyaan ini dapat digunakan untuk tujuan merangsang siswa berpikir. Pertanyaan dapat membuat siswa berpikir. dan penyediaan penilaian yang memberi peluang semua siswa mampu melakukan unjuk-perbuatan. Apa tujuan Saudara sebagai guru bertanya kepada siswa? Tujuan bertanya Mengharap jawaban benar? Seberapa besar kemungkinan siswa menjawab jika mereka tidak yakin jawabannya benar? Merangsang siswa berpikir dan berbuat? Akibatnya siswa sering tak berani menjawab pertanyaan guru sekalipun jawabannya mudah jika salah satu tujuan mengajar adalah mengembangkan potensi siswa untuk berpikir. Usaha guru itu harus di Bantu dengan mengunakan bantuan seperti “feedback― atau umpan balik yang terperinci kepada guru maupun murid. Penyediaan Pertanyaan yang Mendorong Siswa Berpikir dan Berproduksi Alat mengajar yang paling murah tetapi ampuh adalah bertanya. Apa perbedaan gerak bekicot di lantai licin dengan di lantai kasar? Berapa banyak biji buah pepaya ini? Imajinatif / Interpretatif Pertanyaan yang jawaban nya diluar benda / gambar / kejadian yang diamati (Diperlihatkan gambar gadis termenung di pinggir laut) Apa yang dipikirkan gadis itu? Mengapa ia berdiri di situ? Menggunakan Metode yang Bervariasi Dengan cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid. Kategori pertanyaan yang termasuk jenis pertanyaan ini antara lain pertanyaan produktif. Merangsang berpikir dalam arti ˜merangsang siswa menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabnya bukan mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru. atau penyelidikan. Kategori Arti Contoh Terbuka Pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar Mengapa Ibukota Indonesia Jakarta ? Apa yang akan terjadi jika di kota besar tidak ada pemulung sampah? Produktif Pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui pengamatan.

Data itu bisa dikumpulkn dengan berbagai cara Riset-riset psikologi berkenaan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. 2. ini juga merupakan bantuan agar murid menguasai bahan pelajaran melalui langkah-langkah pendek. termasuk proses pembelajaran pendidikan agama Islam. tanpa bantuan guru pelajar akan mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. Selain itu eksperimen dapat pula digunakan untuk mengukur kecepatan bereaksi seorang peserta didik terhadap stimulus tertentu dalam proses belajar. 3. Sebaiknya orang itu jangan gurunya sendiri sehingga ia dapt memberi bantuan dengan cara yang lain dari pada guru itu. Mula-mula bahan pelajaran di bagi dalam satuan-satuan pelajaran. metode-metode tertentu untuk memgumpulkan berbagai data dan informasi penting yang bersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan proses pembelajaran. Metode Studi KasusRiset Psikologi Pembelajaran Pendidkan Agama Islam selain menggunakan metode studi kasus. 2. Maka memanfaatkan batuan murid dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran. Studi kasus (Icase study) dalam kakian psikologi merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk . Penggunaan metode kuesioner dalam riset-riset pendidikan termasuk pendidikan islam dan psikologi pembelajran Pendidikan Agama Islam. Hendaknya di usahakan agar murid selekas mungkin dapat membebaskan diri dari bantuan tutor. termasuk psikologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Belajar kelompok. Di dalam proses pembelajaran. relative lebih menonjol apabila dibandingkan penggunaan metode-metode lainnya.sumber dan metode-metode pengajaran tamabahan di mana saja diperlukan usaha tambahan itu dimaksud untuk memperbaiki mutu pengajaran dan meningkatkan kemampuan anak memahami apa yang diajarkan dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu untuk menguasai bahan pelajaran sepenuhnya. Test formatif itu bersifat diagnostik dan serentak menunjukan kemajuan atau keberhasilan anak. 3. Bantuan tutor. dapat memanfaatkan berbagai metode tertentu seperti: 1. (Syaipul Bahri Djamarah. dari pada guru. Pelajaran beprogram. Merid sering lebih paham akan apa yang disampaikan oleh temannya. Suatu satuan pelajaran misalnya meliputi bahan pelajaran satu baba atau buku yang dapat dikuasai dalam waktu satu atau dua minggu. metode serimg dipahami sebagai cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam melakuan suatu kegiatan. biasa cara belajar yang digunakan oleh murid lebih mudah ditangkap oleh murid lain. Teknik pelaksanaan metode eksperimen dengan menyesuaikan data yang akan diangkat. sangat banyak data psikologis. 2002: 25) Secara singkat dan umum. metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter di dalam laboratorium atau ruang tertentu lainnya. seperti data pendengaran siswa. Feedback atau umpan balik diberikan melalui test-test formatif. Pada prinsipnya. yaitu orang yang dapat membantu murid secara individual. belajar atau saling membantu dalam pelajaran. Banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan dalam menimbulkan feedback antara lain: 1. Jadi tutor harus mendidik anak agar dapat belajar sendiri. Berkaitan dengan psikologi belajar. penglihatan siswa dan gerak mata siswa ketika sedang membaca.

mereka perlu merumuskan hipotesis. Merasakan makanan yang terus-menerus akan menimbulakan kebosanan. mendengar penjelasan. an psikolog pendidikan. dalam kegiatan seperti itu. peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang melakukan penelitian. psikolog kongnitif. menjawab. menyanggah) Mereka dapat diberi suatu kumpulan peralatan yang tepat dan suatu pertanyaan untuk diselidiki. Selama proses belajar mengajar berlansung. Kemudian. (Hamalik. bukan kelas yang diadakan secara khusus. Awalnya. Makan makanan yang bervariasi Mendengarkan lagu-lagu baru lebih menyenangkan daripada lagu-lagu yang tiap hari didengar. 2003: 43) Pengembangan Variasi Mengajar Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. 5. perhatian . Mengatur alat rumah tangga sering berganti. yakni diberi hanya rincian topik yang sedang dibicarakan dan mungkin beberapa gagasan tentang beberapa aspek topik yang akan mereka selidiki. mengumpulkan data dan selanjutnya menyusun suatu kesimpulan. Bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi. metode observasi naturalistic digunakan oleh para psikolog perkembangan. Mereka dapat diberi pertanyaan penelitian eksperimen terbuka (tidak terbatas). Orang akan lebih suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti kata positif. (Soemanto Wasty. maka akan membosankan siswa. terdapat prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara-cara memberi perlakuan pemulihan (psychological treatment) terhadap kelainan jiwa tersebut. mengumpulkan data. dicatat dalam lembaran format observasi yang khusus dirancang sesuai dengan data dan informasi yang akan dihimpun. metode naturalistik lebih banyak digunakan oleh para ahli ilmu hewan untuk mempelajari perilaku hewan tertentu. mereka merancang prosedur eksperimennya sendiri. 1992:15) Beberapa contoh keragaman pengalaman belajar yang mungkin dipilih guru untuk beberapa mata pelajaran meliputi antara lain. Metode Observasi NaturalistikMetode obsevasi naturalistik merupakan jenis obsevasi yang dilakukan secara alamiah.memperoleh gambaran yang terperinci mengenai aspek-aspek psikologi seoarang siswa atau sekelompok siswa tertentu. Seorang peneliti atau guru yang menjai asistennya dapat mengaplikasikan metode ini lewat kegiatan belajar mengajar atau belajar mengajar dalam kelas-kelas regular. mengatur data dan menyusun suatu kesimpulan. Dalam hal ini. (misalnya kecepatan membaca). Demikian juga dalam proses belajar mengajar . Metode Klinis Metode klinis (clinical method) hanya digunakan oleh para ahli psikologi klinis atau psikiater. 4. memilih peralatan yang tepat. berkomentar. yakni kelas tata dan biasa. merancang metode eksperimen. Kelas dapat mendiskusikan jenis data yang perlu dikumpulkan. Menggubah syair lagu dan bernyanyi Melakukan Permainan Bermain peran Diskusi (bertanya. Rekreasi pada dasarnya juga mengurangi kebosanan pandangan ditempat asalnya. akan membuat orang lebih senang dirumah daripada pergi. Dalam metode ini. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Dalam perkembangan selanjutnya. jenis perilaku siswa diteliti.

Anak tidak bisa dipaksakan untuk terus menerus memusatkan perhatiannya dalam mengikuti pelajarannya. dan variasi dalam tingkat kognitif. variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran. sikap dan perbuatan guru dalam kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa. 2. membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku. antusiasme serta penuh partisipasi. Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya atau secara integrasi. karena merupakan keterampilan campuran atau diinegrasikan dengan keterampilan yang lain. dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa. cariasi dalam memberikan penguatan. 3. sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran. yaitu : 1) Variasi gaya mengajar 2) Variasi dalam menggunakan media . yaitu variasi dalam gaya mengajar. Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar. Untuk mengatasi kebosanan siswa tersebut perlu adanya variasi. Meliputi: 1. Keterampilan dalam mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya. gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa. maka akan meningkatkan perhatian siswa. Dan ini bisa dibuktikan melalui ketekunan. variasi dalam memberi pertanyaan. Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid. Pengertian Variasi Gaya Mengajar Pengertian Variasi Gaya Mengajar Ada beberapa pendapat berkenaan dengan Variasi gaya mengajar. Misalnya. apalagi jika guru saat mengajar tanpa menggunakan variasi alias monoton yang membuat siswa kurang perhatian. Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah tingkah laku. sehingga dalam situasi belajar mengajar.siswa berkurang. sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. Menurut Syahminan Zaini. dan variasi dalam interaksi antara guru dan siswa. Menurut Abdul Qadir Munsyi. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan. dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar ada tiga aspek. antusiasme. siswa-guru dan siswa-siswa. media yang digunakan berganti-ganti. gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas. dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. mengantuk. dan bosan. Variasi lebih bersifat proses daripada produk. Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek. mengantuk. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa. 4. Dari definisi di atas. keaktifan mereka dalam belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas.

Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan. akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai.3) Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinyanya Motivasi Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru. Tujuan mengadakan variasi dimadsud adalah : Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Ini merupakan masalh bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung. yaitu motivasi . bukanlah masalah bagi guiru. siswa yang kurang menyenangi materi yang diberikan guru. Tujuan Variasi Mengajar Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa. yaitu motivasi intrinsik. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi. Misalnya factor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran. Bagi siswa yang sering memperhatikan materi pelajran yang diberikan. guru memperhatikan variasi mengajarnya. Bahkan tanpa motivasi. situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenanginya. perhatian adalah masalah yang tidak bias dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Karena itu. Berbagai factor memang mempengaruhi. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Dalam proses belajr mengajr di kelas. apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Maka dari itu. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya. Jadi. seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya kurang dapt mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. motivasi dan belajar siswa. tetapi bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru. karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan.

Direncanakan secara baik dan eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. dalam bervariasi harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan agar menarik siswa untuk memperhatikan atau mendengarkan penjelasan guru. motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan. Komponen-komponen Variasi Mengajar Dalam mengajar hendaknya menggunakan berbagai macam variasi gaya. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Umpan balik ini ada dua yaitu Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa dan Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. 2. Misalnya metode diskusi. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. kegiatan siswa menjadi pusat perhatian guru. spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. Acuh tak acuh sering ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan. dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan. Misalnya hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan. terutama penggunaan variasi gaya mengajar. Sikap negative ini tidak hanya terjadi pada siswa. jauh dari sikap permusuhan. Dengan variasi gaya tersebut. Prinsip Penggunaan Dalam proses belajar mengajar. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar. Untuk itu agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa.sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat. akan menjadikan siswa merasa tertarik terhadap penampilan . Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Karena variasi ini memerlukan keluwesan. 3. Tanya jawab. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. Disamping itu juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. problem solving atau cerita. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif. Jadi penggunaan variasi ini harus benar-benar berstruktur dan direncanakan. resitasi. tetapi juga pada siswi. Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru.

Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. nada dan kecepatan. Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci. seorang guru dapat menarik perhatian tentang kata-kata penting pada suatu bacaan dengan memberi warna merah atau digaris bawahi. gunakan kalimat pendek yang cepat untuk menimbulkan semangat. Dalam pelajaran. agar perhatian itu tetap ada perlu adanya prinsip-prinsip yakni : a. Perhatian seseorang tertuju atau terarah pada hal-hal yang dianggap rumit. Disini gurulah yang berhak menimbulkan atau membangkitkan minat belajar siswa baik dirumah maupun dikelas. “Jangan lupa ini dicatat dengan sungguh-sungguh” dan sebagainya. dan tinggi menjadi rendah. Jika suara guru senantiasa keras terus atau terlalu keras. jika materi yang disampaikan oleh guru iru tidak menjadi perhatian siswa. perhatian siswa terhadap materi yang diberikan itupun kurang. dari cepat menjadi lambat. bila sudah begitu siswa diliputi oleh rasa cemas. ketakutan selama belajar. kadang cepat. Variasi suara bisa mempengaruhi informasi yang sangat biasa sekalipun. Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya. justru akan sulit diterima. Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal yang baru. b. kadang lambat. Variasi gaya mengajar guru ini meliputi komponen-komponen sebagai berikut : Variasi Suara Variasi suara dalah perubahan suara dari keras menjadi lemah. . maka bisa menimbulkan kebosanan. Suara guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya bervariasi. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik. Bagi guru yang harus diingat adalah suatu pelajaran tidak boleh tampak terlalu rumit dan guru tidak boleh mempersulit pelajaran yang sederhana dikarenakan semata-mata untuk menarik perhatian siswa. c. Dari ketiga prinsip ini guru harus mengetahui banyak tentang siswanya agar bisa mengarahkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran. karena materinya agak sulit dan sebagainya. kadang rendah (pelan). volume. Dari luar bisa saja lingkungan. Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti. baik dalam intonasi.mengajar guru. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan ndengan situasi dan kondisi. Untuk menimbulkan minat tersebut ada dua cara yakni dari diri sendiri dan dari luar dirinya. yaitu halhal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pemusatan Perhatian Perhatian menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi. gunakanlah bisikan atau tekanan suara untuk hal-hal penting. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas. sehingga tidak lagi suka belajar. Bila sudah begitu siswa akan meremehkan gurunya. sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi guru dalam memusatkan perhatian siswa bisa dengan memberikan kata-kata seperti : “coba perhatikan ini baik-baik”. orang tua dan guru. guru dapat menggunakan atau memberikan peringatan dengan bentuk kata-kata. kadang meninggi. jenis rangsangan baru yang dapat menarik perhatian termasuk warna dan bentuk. maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang diajarinya. Memang menarik perhatian siswa itu sangatlah tidak mudah apalagi dalam jumlah siswa yang banyak. jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan obyek. Misalnya : “Perhatikan baik-baik”. apalagi yang duduknya dideretan belakang. karena siswa menganggap gurunya seorang yang kejam.

dapat pula meningkatkan kepribadian guru dan hendaklah selalu diingat oleh guru. Kontak pandang Ketika proses belajar mengajar berlangsung. Melihat hanya pada siswa tertentu atas kelompok siswa saja e. bahwa perpindahan posisi itu jangan dilakukan secara berlebihan. Melihat kearah lantai d. sebaliknya bila guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan pandangannya keseluruh kelas atau siswa. Untuk itu seyogyanya guru memberikan kesenyapan terhadap siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya supaya jawabannya sempurna dan tepat. Melihat keluar ruang b. Tapi jika seorang guru tidak memberikan kesenyapan atau waktu kepada siswa untuk berfikir dalam menjawab pertanyaannya siswa akan menjawab dengan asal alias asal bicara.Kesenyapan atau kebisuan guru (Teaching Silence) Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi pihak guru ditengahtengah menerangkan sesuatu. Perpindahan Posisi Guru Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu dalam menarik perhatian anak didik. pandanglah siswa-siswa anda secara merata tapi jangan berlebihan. sebab menatap atau memandang mata setiap anak disik atau siswa bisa membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian. Untuk itu. yaitu mengetahui psikologi anak atau siswa dan mengetahui seberapa banyak pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Dengan keadaan senyap atau diamnya guru secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa. Bertemunya pandang diantara mereka yang berinteraksi. jangan sampai guru menunduk terus atau melihat langit-langit dan tidak berani mengadakan kontak mata dengan para siswanya dan jangan sampai pula guru hanya mengadakan kontak pandang dengan satu siswa secara terus menerus tanpa memperhatikan siswa yang lain. Melihat dan menghadap kepapan tulis saat menjelaskan kecuali sambil menunjukkan sesuatu. lakukan saja secara wajar agar siswa bias memperhatikan. akan membangun dan membina jalinan tingkat tinggi. sesungguhnya merupakan suatu etika atau sopan santun pergaulan karena menunjukkan saling perhatian diantara mereka. Melihat kearah langit-langit c. gunanya pandangan mata. Jadi dalam kontak pandang hendaknya guru berusaha seintim mungkin agar siswa merasa diperhatikan dan dihargai. Hal-hal diatas bertujuan supaya bisa mengendalikan situasi kelas dengan baik. Bila dilakukan berlebihan guru akan kelihatan terburu-buru. kontak mata yang sering dilakukan. seorang guru adalah untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa. sehingga bisa menjawab pertanyaan guru dengan baik dan tepat. sehingga jawabannya kurang tepat dengan pertanyaan. Hal-hal yang harus dihindari guru selama presentasinya didepan kelas : a. Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. sebab siswa begitu tahu apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya siswa bisa mengingat kembali informasi-informasi yang mungkin ia hafal. . Pemberian waktu bagi siswa digunakan untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap.

yaitu : a. tidak sekedar mondar-mandir. jika guru kaku dalam bergerak ini bisa menjemukan siswa. supaya menarik perhatian siswa dan mempermudah pemahaman siswa terhadap materi tersebut. warna. guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran. sebaiknya jangan kaku atau kikuk. untuk menumbuhkan minat belajar siswa dan meningkatkan memori siswa terhadap bahan tersebut. . Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi posisi duduk dan diam di tempat lalu berjalan-jalan mengelilingi siswa dan sebagainya. grafik dan warna untuk meningkatkan memorinya Dari ciri-ciri diatas. belejar yang efektif adalah dengan melibatkan diri langsung dengan aktifitasnya. bersemangat dan berminat dalam belajar. Ciri-ciri siswa kinestetik adalah : 1) Belajar dengan melakukan. supaya siswa termotivasi. Kinestetik Bagi pelajar kinestetik. perpindahan posisi dan eksperimen wajah. guru hendaknya memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar siswanya. Ciri-ciri siswa auditorial adalah : 1) Perhatiannya mudah terpecah 2) Berbicara dengan pola berirama 3) Belajar dengan cara mendengar 4) Berdialog secara internal dan eksternal c. menggunakan metode eksperimen. jadi merekacenderung pada eksperimen (gerak). belajar yang efektif adalah dengan menggunakan "gambaran keseluruhan" (melakukan tinjauan umum). Auditorial Bagi pelajar auditorial. guru harus bisa menggunakan gambar. misalnya saja saat menerangkan guru hanya berdiri didepan kelas saja atau duduk dikursi saja. Visual Bagi pelajar visual. Maka dari itu gunakanlah variasi posisi ini secara wajar dan sesuaikan dengan tujuan. Dan bila variasi dilakukan secara berlebihan itu juga bisa mengganggu perhatian siswa atau konsentrasi siswa terhadap pelajaran. Adapun model-model belajar ada tiga macam. Yang penting dalam perubahan posisi itu harus ada tujuannya. Untuk itu guru disaat menerangkan dituntut untuk menggunakan variasi. Model-Model Belajar Dalam melaksanakan variasi gaya mengajar. bahasa tubuh guru hendaknya bervariasi. yakni dengan membaca bahan pelajaran secara sekilas. dari sisi kiri ke sisi kanan.Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian belakang. memperhatikan segala sesuatu 2) Mengingat dengan gambar. tanpa ada pergantian atau variasi ini bisa menimbulkan kebosanan siswa. atau diantara anak didik dari belakang kesamping anak didik. Cirri-ciri pelajar visual : 1) Teratur. belajar yang efektif adalah dengan mendengar. pemusatan. Gaya mengajar guru yang mudah mempengaruhi siswa ini adalah kontak pandang. lakukan saja secara bebas dan wajar bisa menarik perhatian siswa. perhatian dan kesenyapan memudahkan dan meningkatkan perhatian siswa dalam belajar. b. menunjuk tulisan saat membaca 2) Mengingat sambil melihat langsung Disini guru dianjurkan melibatkan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung. dan tidak sekedar mondar-mandir dan seorang guru janganlah melakukan kegiatan mengajar dengan satu posisi. Guru melakukan pergantian posisi.

Dalam pengajaranpun terjadi suatu proses interaksi yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran yang mana tujuan tersebut telah ditentukan dan telah disistematisasikan secara terarah. 4. satu rangkaian perubahan dan pertumbuhan serta perkembangan fungsi-fungsi psikis dan pisik. Interaksi edukatif memilki bahan/pesanyang menjadi isi interaksi atau sebuah materi. Evaluasi terhadap hasil interaksi Komponen-komponen Interaksi edukatif mempunyai sejumlah komponen sebagai berikuti: Tujuan . Setiapaktifitas pengajaran tidak dapat dilepaskan dari segi teknis semisal bagaimana upaya untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur.dalam rangkaiannya tersebut pristiwa yang menuju kepada pembentukan itu sendiri merupakan suatu proses teknis. ia memiliki sifat sosial yang besar . kepribadianyang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Memiliki metode tertentu dalam penyampaiannya untuk mencapai tujuan 6. Interaksi edukatif mempunyai ciri. terikat dalam situasi. unsur teknis dan unsur normatif . Ditandai dengan pelajar atau peserta yang aktif. Dalam setiap bentuk interaksi edukatif mengandung dua unsur pokok. 2. subjek belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain.Maka dibutuhkan suatu proses interaksi. Dalam unsur normatif. kesehatan jasmani dan rohani. sedangkan pendidikan bersifat normatif. Mempunyai situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik 7.ciri sebagai berikut: 1. pristiwa ini adalah suatu rentetan kegiatan saling mempengaruhi.dalam artian yang lebih spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar. Proses interaksi ini dapat terjadi dalam “ikatan situasi”. Pengertian Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran.interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa. 3. Interaksi edukatif mempunyai tujuan. anak didik. terarah pada satu tujun. Guru berperan sebagai pembimbing 5. Pendidikan sebagai kegiatan praktis yang berlangsung dalam suatu masa. Ciri-ciri Dalam bentuknya interaksi mengandung unsur pokok diantaranya interaksi edukatif yang bersifat nomatif. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. Misalnya dalam pengajaran pmp guru dan peserta didik harus meyakini pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.pengajaran sebagai bagian dari pendidikan. antara guru ( sebagai pendidik). Sedangkan suatu pendidikan dapat dirumuskan pula secara teknis dan merupakan pristiwa yang memiliki aspek teknis.Mengenal Interaksi Edukatif Realitas manusia sebagai makhluk sosial. dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama.

. Tujuan mempunyai arti penting dalam kegiatan interaksi edukatif tujuan dapat memberikan arah yang jelas dan pasti kemana pembelajaran akan dibawa oleh guru. biaya. nasihat dan sebagainya. Interaksi edukatif yang akan terjadi juga dipengaruhi oleh cara guru memahami perbedaan individual anak didik ini. Alat material berupa suruhan. Alat Alat adalah sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. gambar. Bahan pelajaran Bahan adalah susbtansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif. video dan sebagainya. Tujuan evaluasi disini adalah untuk mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan. maka perlu diperhatikan tujuan berbagai jenis fungsinya anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya. fasilitator serta pribadi guru dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.Kegiatan interaksi adalah suatu kegiatan yang secara dilakukan oleh guru. Kegiatan belajar mengajar Kegiatan belajar mengajar adalah inti dari kegiatan dalam pendidikan segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar. tanpa bahan pelajaran proses interaksi edukatif tidak akan berjalan. Karena itu bahan pelajaran mutlak harus mutlak dikuasai guru dengan baik. waktu. Dalam kegiatan interaksi ini edukatif biasanya digunakan alat non material dan alat material. Evaluasi Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. perintah. Dalam kegiatan belajar mengajar metode sangat penting maka dalam hal ini guru harus menggunakan metode yang bervariasi karena penggunaan metode mengajar dapat mempengaruhi perhatian dan pemahaman anak didik. Kegiatan yang jelas Tujuan menempati posisi yang strategis dalam kegiatan dalam kegiatan interaksi edukatif nilai strategis adalah tujuan sebagai berikut: 1) Dapat memberikan arah kegiatan interaksi edukatif . Metode metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yang diberikan selama kegiatan interaksi edukatif berlangsung. atas dasar kesadaran itulah guru melakukan kegiatan pembuatan program pengajaran dengan prosedur dan langkah yang sistematik. Di dalam tujuan pembelajaran terhimpun sejumlah norma yang akan ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tergantung pada kreativitas guru. serta kebijakan-kebijakan lainnya. dalam pengelolaan dan pengajaran kelas yang perlu diperhatikan oleh guru adalah perbedaan anak didik pada aspek biologis intelektual dan psikologis. ada dimana-mana di sekolah. Sumber pelajaran Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. di pusat kota. di halaman. larangan. Sedangkan alat material adalah atau alat bantu pengajaran berupa papan tulis. Segala sesuatu dapat di pergunakan sebagai sumber belajar sesuai kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. di pedesaan dan sebagainya. baik bahan pelajaran pokok maupun bahan pelajaran penunjang dan bahan pelajaran adalah unsur inti dalam kegiatan interaksi edukatif.

Gagne (dalam Abdillah dan Abdul. Materi didesain sehingga dapat mencapai tujuan dan dipersiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar mengajar. 6) Memudahkan menyeleksi kemampuan yang di inginkan dari anak didik 7) Memudahkan menyeleksi memberi penilaian dan memudahkan pengorganisasian 8) Kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan pengajaran. (8) Unsur penilaian. atau langkah-langkah sistematik yang relevan. tingkah laku dan perbuatan guru. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai melalui interaksi belajar mengajar. Setiap tujuan diberi waktu tertentu. mampu menciptakan kondisi kelas yang kondusif.2) Membantu memudahkan menyeleksi bahan pelajaran yang akandisampai kan 3) Memudahkan menyeleksi metode yang digunakan 4) Memudahkan menyeleksi media dan lat bantu pengajaran 5) Menolong menyeleksi sikap. Maka dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen merupakan hal yang penting. Langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan. dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian siswa mempunyai tujuan. Seorang pengajar dapat mengartikan belajar sebagai kegiatan pengumpulan fakta atau juga dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses penerapan prinsip. memiliki keterampilan mengkomunikasikan program serta memahami landasan-landasan pendidikan sebagai dasar bertindak. memahami cara atau metode yang digunakan. Jadi proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar. jika semua komponen di laksanakan guru dengan baik maka guru akan dapat mecapai tujuan pembelajaran dan komponen tersebut di jadikan acuan dan prosedur oleh guru Interaksi Edukatif Belajar Mengajar Sebagai Interaksi Dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berlanglsung interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan paling pokok.1988 :17) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup yang memungkinkan makhluk hidup ini merubah perilakunya cukup cepat dalam cara kurang lebih sama.( Titin. (7) Ada batas waktu. kapan tujuan itu harus dicapai. 2003:10) Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola interaksi belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan mendesain program. menguasai materi pelajaran. Dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur. maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar. (3) Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. (5) Dalam interaksi belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing. terampil memanfaatkan media dan memilih sumber. Ketika sedang mengajar di depan kelas. Siswa sebagai pusat pembelajaran. (6) dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin. Interaksi belajar mengajar sadar tujuan. (4) Ditandai dengan adanya aktivitas siswa. Dalam proses interaksi tersebut dibutuhkan komponen pendukung (ciri-ciri interaksi edukatif) yaitu (1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan : yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. . Guru memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi dan sebagai mediator dan proses belajar mengajar. (2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan. terjadi dua proses yang terpadu yaitu proses belajar mengajar. didesain untuk mencapai tujuan yang telah dilaksanakan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar merupakan proses kegiatan komunikasi dua arah. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang integral (terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar. teaching is for the purpose of aiding the pupil learn” ……. Pandangan ini pada dasarnya mengemukakan bahwa mengajar adalah membimbing kegiatan belajar anak. dengan kata lain anak-anak yang harus aktif belajar sedangkan guru bertindak sebagai pembimbing. 1989 dalam Suparno P.2002:58). maka keseluruhan proses belajar yang harus dialami siswa dalam kerangka pendidikan di sekolah dapat dipandang sebagai suatu sistem. ”Teaching is the guidance of learning activities. ( Hamalik .sehingga perubahan yang sama tidak harus pada setiap situasi baru. Guru mengajar dengan gayanya sendiri dan . Lebih lanjut dikemukakan bahwa belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau apa yang dipelajari dengan apa yang sudah dipunyai seseorang. Atau dapat dikatakan bahwa belajar sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman. Analisis Model Interaksi Edukatif Interaksi edukatif adalah sebuah interaksi belajar mengajar. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan. Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. yaitusebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang merupakan substansi sebagai medium antara guru dengan anak didik dalam rangka mencapai tujuan. Belajar bukanlah menghafalkan fakta-fakta yang terlepas-lepas. Dalam interaksi edukatif ada dua buah kegiatan yakni kegiatan guru di satu pihak dan kegiatan anak didik di lain pihak. atau mengaitkan konsep pada umumnya menjadi proposisi yang bermakna. 1997 :61) Berdasarkan beberapa pendapat tentang belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku tertentu baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung sebagai pengalaman (latihan) dalam interaksinya dengan lingkungan. Proses belajar harus tumbuh dan berkembang dari diri anak sendiri. dan mengadakan justifikasi. (Suparno P . melainkan mengaitkan konsep yang baru dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. membuat makna. keterampilan serta nilai-nilai dan sikap. Selanjutnya proses belajar mengajar merupakan aspek dari proses pendidikan. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencournt. bersikap kritis. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Sedangkan Dahar (1988 :11) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses dimana organisme perilakunya sebagai akibat pengalaman. dialog. yang mana sistem tersebut merupakan kesatuan dari berbagai komponen (input) yang saling berinteraksi (proses) untuk menghasilkan sesuatu dengan tujuan yang telah ditetapkan (output). Merujuk pada kaum kontruktivis bahwa belajar merupakan proses aktif dalam mengkonstruksi arti teks. mencari kejelasan.1997 :65). dll. pengalaman fisik. Berdasarkan orientasi proses belajar mengajar siswa harus ditempatkan sebagai sujek belajar yang sifatnya aktif dan melibatkan banyak faktor yang mempengaruhi.

Dalam mengajar. Dalam merencanakan program-program tersebut di atas perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan : 1. guru perlu memahami gaya-gaya belajar anak didik. alat. keseimbangan. 7.D. dan perencanaan program pengajaran. Prinsip – prinsip tersebut adalah : 1. Bekal bawaan anak didik Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan metode Pemilihan pengalaman – pengalaman belajar Pemilihan bahan dan peralatan belajar . Tidak ada satu pun dari komponen itu dapat guru abaikan dalam perencanaan pengajaran. keserasian antara kedua komponen itu. Prinsip motivasi Prinsip berangkat dari persepsi yang dimiliki Prinsip mengarah kepada titik pusat perhatian tertentu atau fokus tertentu Prinsip keterpaduan Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi Prinsip mencari. 6. menemukan. N. 4. dan mengadakan evaluasi setelah akhir kegiatan pelajaran. 8. mengidentifikasi tugas mengajar guru yang bersifat suksesif menjadi tiga tahap: Tahap Sebelum Pengajaran Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan pelaksanaan kurikulum. Sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah komponen pengajaran. yaitu guru dan anak didik. menyiapkan bahan dan sumber belajar. Semua kegiatan yang di lakukan guru harus di dekati dengan pendekatan sistem. tetapi juga belajar memahami suasana psikologi anak didik dan kondisi kelas. program semester atau catur wulan (cawu). 4. dan mengembangkan diri Prinsip belajar sambil bekerja Prinsip hubungan sosial Prinsip perbedaan Individual Tahap-tahap R. Banyak kegiatn yang harus guru lakukan dalam interaksi edukatif. Prinsip-prinsip Prinsip – prinsip ini diharapkan mampu menjebatani dan memecahkan masalah yang sedang guru hadapi dalam kegiatan interaksi edukatif. Kerelevansian gaya-gaya mengajar guru dengan gaya-gaya belajar anak didik akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif yang konsif. (1985) mengatakan bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila dalam prosesnya tercipta keselarasn. memilih pendekatan. 3. karena semuanya saling terkait dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.Untuk tiu semua prinsip yang akan diuraikan berikut ini sebaiknya guru kuasai dan pahami betul-betul agar kegiatan interaksi edukatif dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.program satuan pelajaran (satpel).anak didik belajar dengan gayanya sendiri. Conners. Guru tidak hanya mengajar .A Ametembun. 5. diantaranya memahami prinsip-prinsip interaksi edukatif. 3. 9. dan alat bantu pelajaran. memilih metode. 5. 2. 2.

anak didik dengan anak didik. 8. 5. Ada beberapa aspek yang perlu di pertimbangkan dalam tahap pengajaran ini. 4. Jadi. Menilai Pekerjaan anak didik 2. 6. Menilai pengajaran guru 3. teknik atau dengan kata lain disebut teknologi. yaitu : 1. 4. 9.6. 7. anak didik dalam kelompok atau anak didik secara individual. 3. 3. Pengelolaan dan pengendalian kelas Penyampaian informasi Penggunaan tingkah laku verbal non verbal Merangsang tanggapan balik dari anak didik Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar Mendiagnosis kesulitan belajar Memperimbangkan perbedaan individual Mengevaluasi kegiatan interaksi Tahap Sesudah Pengajaran Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan anak didik. yang dimaksud dengan CBSA adalah salah satu strategi interaksi edukatif yang menuntut keaktifan dan partisipasi anak didik seoptimal mungkin. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya CBSA dalam Interaksi Edukatif Cara belajar siswa aktif (CBSA) atau student active learning (SAL) bukan disiplin ilmu atau teori. 2. Penerapan CBSA dalam Interkasi Edukatif Derajat aktifitas belajar yang optimal Indikator CBSA Indikator Keberhasilan belajar . sehingga anak didik mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien. 1. 7. melainkan merupakan cara. Beberapa perbuatan guru yang tampak pada tahap sesuadah mengajar. antara lain : 1. Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia Mempertimbangkan pola pengelompokan Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar Tahap Pengajaran Dalam tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan anak didik. Sebagai konsep. 8. CBSA adalah suatu proses kegiatan interaksi edukatif yang subjeknyaadalah anak didik yang terlibat secara intelektual dan emosional. Pengertian ini menempatkan anak didik sebagai inti dalam kegiatan interkasi edukatif. sehingga ia betul – betula berperan dan berpartisipasi aktif dala melakukan kegiatan belajar. 2.Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah direncanakan.

Tes Subsumatif 3. 2. 2. Indikator Yang menjadi petunjuk. 1. Perilaku yang di gariskan dalam tujuan pembelajaran khusus (TPK) telah di capai oleh anak didik. memahami. baik secara indiviadual maupun kelompok. 3. Tujuan dan lingkup kegiatan Asas pelaksanaan kegiatan Bentuk pelaksanaan kegiatan Langkah – langkah pelaksanaan keterampilan proses Pelaksanaan Cara belajar siswa aktif 1.Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya. dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai anak didik.Pola Pelaksanaan Keterampilan Proses dan CBSA Pelaksanaan keterampilan proses Keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam proses interkasi edukatif. 3. . bahan suatu proses belajar itu dianggap berhasil adalah sebagai berikut : 1. Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak didik menyadari. Tujuan dan ruang lingkup kegiatan CBSA Asas pelaksanaan kegiatan CBSA Bentuk pelaksanaan kegiatan CBSA Langkah-langkah CBSA Keberhasilan Interaksi Edukatif Pengertian Suatu proses interaksi edukatif tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus bahan tersebut. 4. baik secara individual maupun kelompok. Tes formatif 2. 2. Penilaian Keberhasilan Keberhasilan interkasi edukatif biasanya di ukur dengan tes prestasi (hasil belajar). tes prestasi belajar dapat di manfaatkan untuk penilaian berikut : 1. 4. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang di ajarkan mencapai prestasi tertinggi. Tes Sumatif Tingkat keberhasilan Setiap interaksi edukatif selalu menghasilkan prestasi belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi belajar yang telah dicapai.

Salah satunya berhubungan dengan perbaikan proses interaksi edukatif itu sendiri.Program perbaikan Taraf atau tingkat keberhasilan proses interaksi edukatif dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful