Strategi Belajar Mengajar

Posted by Jaruki Andriansyah M at 06:22 0 comments

Konsep (SBM)
Pengertian

Strategi

Belajar

Mengajar
SBM

Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula. Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajarmengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betulbetul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Klasifikasi

SBM

Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan Expository dan Discovery/Inquiry. “Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran. Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik - discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar. Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturutturut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:

Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan: Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya. Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia mengemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut. Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dari sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah. Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik. Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Discovery dan Inquiry : Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai” Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan 2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)

3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas. 4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan 5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan. 6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan 7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. 8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa. 9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya. Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. Menemukan masalah Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan Perumusan keterangan yang diperoleh Analisis proses inquiry.

Implementasi

Belajar

Mengajar

Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugastugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa. Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus

ramah. Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Untuk menyikapi hal tersebut diatas. Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Model apa pun yang kita terapkan. tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Model dan metode apapun yang diterapkan. maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif. Contoh. setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati. Jadi. dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. potensi. 5. Menurut penemunya. 3. Misalnya. jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa. pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya.dilakukan oleh guru atau siswa. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan. 2. dapat mengajarkannya. model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. antusias. maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut : 1. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran. menyenangi materi yang kta ajarkan. bakat. Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :    Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru. 4. Menjaga agar para siswa “mencintai” kita. Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran. dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru . didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokokpokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. hangat. Di madrasah. pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep belajar. dan terampil dalam menggunakan alat peraga. dan bertanggung jawab. sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru. model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat diantara model pembelajaran yang lain. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. minat. Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda.

3. sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan dispilin. Ciri dan Komponen Belajar Mengajar Hakikat Belajar Mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kegiatan belajar. Ciri-ciri Belajar Mengajar Sebagai suatu proses perngaturan. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang . Ditandai dengan aktivitas anak didik. Dalam perannya sebagai pembimbing. Dalam hal ini materi harus di desain sedemikian rupa. karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. gila dan sebagainya. guru berperan sebagai pembimbing. maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur. inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. 5. tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif. anak didik adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran karena itu. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapinya. perubahan fisik. Ini sama halnya anak didik tidak belajar. kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciriciri tertentu. Ada suatu proses (jalannya interaksi) yang direncanakan. 2. mabuk. di desain untuk mencapai secara optimal. bila hakikat belajar adalah “perubahan”. maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. 6. atau langkah-langkah sistematik dan relevan. bahwa anak didik merupakan syarat untuk bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Sebagai konsekuensi. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “Perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Akhirnya. yang menurut Edi Suardi sebagai berikut: 1. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih efektif dan efisien. yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. guru harus berusaha menghidupkan dan memberi motivasi. dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. Keaktifan anak didik di sana tidak hanya dituntut dari segi fisik. Dalam kegiatan belajar mengajar. dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. Hakikat. Misalnya. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Inilah yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan. 4. maka hakikat belajar mengajar adalah proses “perubahan” yang dilkakukan oleh guru. Belajar mengajar memiliki tujuan. agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.

karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah amana kagiatan itu akan di bawah. 1991: 72). Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu. guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Akhirnya. Bahan Pelajaran. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari dispilin keilmuan guru. Dari seluruh kagiatan diatas. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini. Karena itu. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah.diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran. Evaluasi harus guru lalkukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah dilakukan. Komponen-Komponen Belajar Mengajar Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi: Tujuan. Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif. Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik). Evaluasi. Dalam kegiatan belajar mengajar. 8. kapan tujuan itu sudah harus tercapai. Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik. Segala sesuatu yang telah diprogramkam akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. mereka diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. . Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. setelah guru melakukan kegiatan belajar mengajar. bukan guru. yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. guru tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Ada batas waktu. Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. 7. kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. masalah evaluasi bagian penting yang tidak bisa diabaikan. Metode. Dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan Belajar Mengajar. batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditingkatkan. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan. Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan (Dr. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik. Udin Saripuddin Winataputra. 1989: 51). . Sesuai dengan pendapat di atas. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana. dan bukan membiarkannya. Marimba. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Sumber Pelajaran. guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. harus guru hilangkan. yang bisa merugikan anak didik. baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar anak didik. Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang (Drs. evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Ny. Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses. Evaluasi.Alat. menurut Wind dan Brown. dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Dan karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh gurudalam mengelola kelas. Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana. Rustana Ardiwinata.A. sedalamdalamnya. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something.K. yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan).P. Jadi. sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dengan anak didik. (1983: 1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. Drs. yaitu alat sebagai perlengkapan.N. yaitu evaluation. Berbeda dengan pendapat tersebut. (1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya. M. serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengajar. 1991: 165). Roestiyah N. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar. alat mempunyai fungsi. sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-halbaru bagi si pelajar. dan Drs. Brown. Sumartana. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran. Ahmad D. Dengan demikian. maka menurut Wayan Nurkancana dan P. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik.

Ada beberapa pendekatan yang dianjurkan dalam pembicaraan ini dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai masalah dalam kegiatan belajar mengajar. Demi jelasnya ikutilah uraian berikut.

Pendekatan

Individual

Di kelas ada sekelompok anak didik. Mereka duduk di kursi masing-masing. Mereka berkelompok dari dua sampai lima orang. Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan fasilitas belajar. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasan dan sebagainya, selalu ada variasinya. Masing-masing anak didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya. Perbedaan individual anak didik tersebut memberika wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar, dapat diatasi oleh kegiatan individual. Misalnya, untuk menghentikan anak didik yang suka biacara. Caranya dengan memisahkan/memindahkan salah satu dari anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara di tempatkan pada kelompok anak didik yang pendiam. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendakatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guru menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan dipergunakan untuk membina dan mengembangkan sikap social anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok dapat ditumbuh kembangkan rasa social yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial timggi di kelas. Tentu saja sikap ini pada hal-hal yang baik saj. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem pada mata rantai kehidupan pada semua mahkluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa ketergantungan makhluk lain secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu. Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya akan ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau mempunyai mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya mereka yang menpunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif, dan mandiri.

Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal, atau saling menyukai satu sama lain. Yang mempunyai kecenderungan menamai keakraban sebagai tarikan kelompok adalah merupakan satu-satunya factor yang menyebabkan kelompok bersatu.
     

Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa factor, yaitu : Perasaan diterima atau disukai teman-teman Tarikan kelompok Teknik pengelompokkan oleh guru Partisipasi/ketelibatan dalam kelompok Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya struktur dan sifat-sifat kelompok.

Sedang sifat-sifat kelompok itu adalah:
     

Suatu multi personalia dengan tingkat keakraban tertentu Suatu system interaksi Suatu organisasi atau struktur Merupakan suatu motif tertentu atau tujuan bersama Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu Pola perilaku dapat di observasi yang di sebut kepribadian.

Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bernasalah anak didik yang bervariasi. Setiap masalah dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan. Dalam belajar, anak didik mempunyai motivasi yang berbeda. Pada satu sisi anak didik memiliki motivasi yang rendah tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu yang relative lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai tanda adanya gangguan dalam proses belajar mengajar. Karena itu, dalam mengajar kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu metode. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru bisa saja membagi anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan anak didik. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.

Pendekatan Edukatif
Anak didik yang melakukan kesalahan yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya tidak tepat diberikan sangsi hokum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cedera, ini hukuman yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah

menggunakan Teori Power, yakni teori kekuasaan, untuk menundukkan orang lian. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hokum, norma susila, norma, moral, norma social dan norma agama. Guru yang hanya mengajar di kelas, belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan hubungan guru dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang bermasalah. Guru yang jarang bergaul dengan anak didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang dirasakan anak didik, membuat anak didik apatis dan tertutup atas apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam pendidikan, karena menyebabkan anak didik menjadi orang yang tertutup.

Pendekatan Pengalaman
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman dapat bersifat mendidik, karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak kea rah tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Karena itu, cirri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak, kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak. Demikianlah pendapat Witherington. Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembsngsn jiwa anak. Sehingga dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Untuk pendidikan agam islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan unuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individu maupun kelompok.

Pendekatan

Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang terjadi konflik di antara mereka. Anak kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah mempunyai hak, seperti hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang bergizi, dna hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk memberikan haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat, setelah mendapatkan pendidikan kebiasaan yang baik di rumah. Pengaruhnya juga terbawa ke sekolah. Menanamkan

diskusi. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu. akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Pendekatan Fungsional Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar pengisi otak.kebiasaan yang baik memang tidak mudah. Dengan begitu. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak. Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak. Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. terutama untuk pendidikan agama islam. Tanya jawab. Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual. Maha Pencipta atas segala sesuatu di dunia ini. Pendekatan Emosional Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Maka dari itu pendekatan pembiasaan dimaksudkan di sini. perasaan social dan perasaan harga diri. baik sebagai individu maupun sebagai makhluk social. Emosi akan memberi tanggapan bila ada rangsangan dari luar diri seseorang. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini. Karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. maka nilai ilmu sudah fungsional di dalam diri anak. Dengan begitu. Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. kerja kelompok. dan pemberian tugas. Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. tetapi diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan teknologi modern. . baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah. Dengan akal pula dapat membuktikan dan mmbenarkan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Pendidikan agama islam sangat penting dalam hal ini. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. dan kadang-kadang makan waktu yang lama. keyakinan terhadap agama yang dianut bertambah kokoh. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu untuk kepentingan hidupnya. maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah. yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Pendekatan Rasional Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Dengan pendekatan ini siswa dibiasakan mengamalkan ajaran agama. Walaupun disadari keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu. Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Sebaiknya. mana kebenaran dan mana kedustaan dari sesuatu ajaran atau perbuatan. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah.

sebagai bahasa sasaran. tetapi menyatu dengan nilai agama. 6. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi. Tentu saja penggunaannya tidak sembarangan. Dengan demikian. Untuk memperlicin jalan ke arah itu. dihayati. pendapat. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut. tetapi diyakini. kebemaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar siswa. Pendekatan Kebermaknaan Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut: 1. tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Motivasi belajar siswa merupakan factor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya. Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. pikiran. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural. Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). Tanya jawab dan demonstrasi. Kadar motivasi ini ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran siswa yang bersangkutan. tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tulisan.Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Pendekatan Keagamaan Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran. Dalam prakteknya tidak hanya digunakan satu. Berbagai pendekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini. 5. 3. Dengan kata lain. tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar. dan diamalkan secara hayat siswa di kandung badan. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda baik secara lisan maupun tertulis. antara lain adalah metode latihan. sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. dipahami. baik secara lisan maupun tertuis. ceramah. Akhirnya. pemberian tugas. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan. 4. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler. Khususnya untuk mata pelajaran umum. didukung oleh pemahaman lintas budaya. tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan. struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan . Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsure-unsur bahasa sasaran. 2. yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan. Suatu kalimat dapat mempunyai kalimat yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. dan perasaan). guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum.

maka metode yang digunakan harus sesuai dengan tujuan. cirri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran. dan masa depannya. Dari hasil analisis yang dilakukan. minat. Karena itu.pengalaman. siswa merupakan subjek utama. Karena itu. ada yang sedang. Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang. dan ada yang lambat. minat. sehingga penguasaan penuh dapat tercapai. ada yang cepat. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Metode Sebagai Strategi Pengajaran Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relative lama. Bila tidak. 8. Metode adalah pelican jalan pengajaran menuju tujuan. metode menempati peranan yang tidak kalah petingnya dari komponen lalinnya dalam kegiatan belajar mengajar. pengalaman siswa dalam lingkungan. tata nilai. Kedudukan Pemilihan & Penentuan Metode dl Pengajaran Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar Salah satu usaha yang tidak pernah ditinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan belajar mengajar. maka akn sia – sialah tujuan tersebut. tidak hanya sebagai objek belaka. karena adanya perangsang dari luar. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman. 7. Karena itu. Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitaor yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya. Factor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode yaitu: Metode sebagai Alat motivasi Ekstrinsik Sebagai salah satu komponen pengajaran. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan Tujuan adalah suatu cita – cita yang akan dicapai dlam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar. Nilai Strategi Metode dan Penentuan Metode . Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam – macam. Artinya. Pemilihan 1.M (1988. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. tat nilai. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi. metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran.90) adalah motif – motif yang aktif dan berfungsinya. A. Tujuan adalah pedoman yang member arah kemana keegiatan belajar mengajar akan dibawa. metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang. dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa.

sebagai persiapan tertulis. Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau ……pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno. Fasilitas. Kontruksi berarti bersifat membangun. Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain.Guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kelas. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Metode pembelajaran Konstruktivisme Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. 97) mengatakan. Efektivitas Penggunaan Metode Efektivitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam suatu pelajaran. 4. 2. yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. konsep. dalam konteks filsafat pendidikan.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan . jjika memahami sifst – sifst masing – masing metode tersebut. Winarno Surahmad (1990. bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut :      Anak Didik. Situasi. Anak didik adalah manusia berpotensi yang mengahajatkan pendidikan. karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. 1997). Tujuan. Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Guru adalah manusia berpotensi yang mengjarkan pendidikan. Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri. Guru. Faktor – factor yang mempengaruhi Pemilihan Metode Guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya. Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Pentingnya Pemilihaan dan Penentuan Metode Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreativ bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. Situasi adalah suasana kegiatan belajar mengajar yang guur ciptakan tidak selalu sama dari hari kehari. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemulihan dan penetuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akna mempengaruhi pemilihan metode mengajar. 3. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.

pengetahuan atau teknologi. Atwel. 1. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. Sedangkan. 1996: 7). 1988: 132). Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Wilson. yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky. . 1997). Teslow dan Taylor. Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. dorongan. Misalnya. 1997). Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. 1998). Bleicher & Cooper.1993. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. 1993. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk. 2. Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Selanjutnya. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran. dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor. Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut: Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.

Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivesme. Inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar seperti teori Perubahan Konsep. seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan sisiwa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat. Eropa. HUBUNGAN KONSTRUKTIVISME DENGAN TEORI BELAJAR LAIN Selama 20 tahun terakhir ini konstruktivisme telah banyak mempengaruhi pendidikan Sains dan Matematika di banyak negara Amerika. dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. Teori Belajar Konsep Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori petubahan konsep ini dipengaruhi atau didasari oleh filsafat kostruktivisme. Teori Bermakna Ausubel Menurut Ausubel. menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan. dan teori perubahan konsep yang menjelaskan bahwa siswa mengalami perubahan konsep terus menerus. fenomena. Dalam pembelajaran matematika. Konstrutivisme dan Teori Perubahan Konsep memberikan pengertian bahwa setiap orang dapat membentuk pengertian yang berbeda tersebut bukanlah akhir pengembangan karena setiap kali mereka masih dapat mengubah pengertiannya sehingga lebih sesuai dengan pengertian ilmuan. dan Teori Skema. 1991). Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME. siswa berinteraksi dengan guru. sangat berperan dalam menjelaskan mengapa seorang siswa bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan sekema yang ada atau dapat mengubahnya. Teori Belajar Bermakna dan Ausuble. Teori perubahan konsep sangat membantu karena mendorong pendidik agar menciptakan suasana dan keadaan yang memungkinkan perubahan konsep yang kuat pada murid sehingga pemahaman mereka lebih sesuai dengan ilmuan. Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar.peringatan. bukanlah akhir dari segalagalanyamelainkan justru menjadi awal untuk pengembangan yang lebih baik. dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan. Dengan demikian. Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial. memberikan contoh. Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism). Kostruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana siswa membentuk pengetahuan yang tidak tepat. Cobb. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep . “Salah pengrtian” dalam memahami sesuatu. menurut Teori Konstruktivisme dan teori Perubahan Konsep. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman. dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. seseorang belajar denga mengasosiasikan fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest. dan Australia.

dan Maturasionisme Konstruktivisme berbeda dengan Behavorisme dan Maturasionisme. bila seseorang mengikuti perkembangan pengetahuan yang ada. kedua teori ini tidak sama. atau sekema yang terdiri dari konstruksi mental gagasan kita.seperti penekanan keaktifan siswa untuk memenuhi suatu hal. dengan sendirinya ia akan menemukan pengetahuan yang lengkap. Kadang–kadang orang menganggap bahwa konstruktivisme sama dengan Teori Pencarian Sendiri (Inguiry Approach) dalam belajar. Bila Maturasionisme lebih menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan langkah–langkah perkembangan kedewasaan.atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. dalam praktek metode pencarian sendiri tidak memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri. Bila Behaviorisme menekankan keterampilan sebagai suatu tujuan pengajaran. karena langkah-langkah pencarian dan bagaimana pencarian dilaporkan dan dirumuskan sudah dituliskan sebelumnya. Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. konstruktivime lebih menekankan pengembangan konsep dan pengertian yang mendalam. Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid 4. Dalam konstruktivisme terlibih yang personal sosial. Dalam teori ini kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah: 1. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar 2. kita dapat menambah skema yang ada sihingga dapa t menjadi lebih luas dan berkembang. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka berfikir dan bukan meniru saja. Teori Skema Menurut teori ini. pengetahuan disimpan dalam suatu paket informasi. Behaviorisme. 3. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru 7. justru dikembangkan belajar bersama dalam kelompok. Dalam banyak hal mereka punya kesamaan. Menurut Konstruktivisme. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif. Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid 6. Sebenarnya kalau kita lihat secara teliti. 8. Bahkan. Konstruktivisme lebih menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif sibelajar. Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen. Dapat terjadi bahwa metode pencarian sendiri memang merupakan metode konstruktivisme tetapi tidak semua semua konstruktivis dengan metode pencarian sendiri. meskipun ia berumur tua akan tetap tidakakan berkembang pengetahuannya. . Teori ini lebih menunjukkan bahwa pengetahuan kita itu tersusun dalam suatu skema yang terletak dalam ingatan kita. Dalam belajar. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran. bla seseorang tidak mengkonstruktiviskan pengetahuan secara aktif. Hal ini yang tidak ada dalam metode mencari sendiri. Dalam pengertian Maturasionisme. Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide 5. Konstrtivisme.

dan sumber. 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid. prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah: 2. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa 7. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri 3. kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar 4. HAKIKAT ANAK MENURUT TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus. dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Driver dan Bell (dalam Susan. Mmencari dan menilai pendapat siswa 9. melainkan melalui tindakan. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. 6. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan. siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan 8. Bahkan. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. melainkan seperangkat pembelajaran. Secara garis besar. materi. (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari.PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME 1. Sedangkan. Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . 1999: 61). Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa. Marilyn dan Tony. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar. sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah 5. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal. melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. Belajar merupakan proses aktif . (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.

Dari pengertian di atas. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME Kelebihan 1. 4. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. fasilitor. setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. mereka akan ingat lebih lama semua konsep. mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. 1999: 62). Faham : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (a) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Justeru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. Ingat : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif. pengelompokan. 3. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. Selain itu. murid berfikir untuk menyelesaikan masalah. Maksudnya. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. Berfikir : Dalam proses membina pengetahuan baru. 1998: 5). Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). menjana idea dan membuat keputusan. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka.untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring labalaba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (c) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. pengekalan. 2. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. . (b) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.

aktif berfikir. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. sarana belajar. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung. Segala sesuatu seperti bahan. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak. peralatan. bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya. 5. diukur dan dinilai secara konkret. dan evaluasi belajar. Peranan siswa. dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Evaluasi. yakin dan berinteraksi dengan sihat. media. 2. peranan guru. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. ingat. 6. Metode pembelajaran Behaviourisme Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati.5. serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman. maka mereka akan berasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru. Sarana belajar. lingkungan. berupa reaksi fifik terhadap . menyusun konsep. Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif. kontruksi pengetahuan. Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek si belajar. Seronok : Oleh kerana mereka terlibat secara terus. PROSES BELAJAR MENURUT KONSTRUKVISTIK 1. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. 3. Ia harus aktif melakukan kegiatan. Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak. baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. 4. Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas. melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sebdiri. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas. dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Peranan guru. mereka faham.

Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Ateacher’s Word Book (1921). Menekankan pada faktor bagian 3. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. sehingga dapat digambarkan sebagai berikut: S R S1 R1 dst Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan. maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dalam melaksanakan coba-coba ini.Your City (1939). maka terbukalah pintu sangkar tersebut. demikian selanjutnya. Menurut Thorndike. kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. asosiasi. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali. Animal Intelligence (1911). dan kucing segera lari ke tempat makan. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif. Mental and social Measurements (1904). perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). 4. Sifatnya mekanis 5. dan Human Nature and The Social Order (1940).stimulans. Mementingkan faktor lingkungan 2. Belajar berarti penguatan ikatan. Teori Behavioristik: 1. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru. Mementingkan masa lalu Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons. . Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.

ia mendapatkan muka manis gurunya. jika ada kecenderungan bertindak. maka timbullah ketidakpuasan. Makin sering diulangi. maka ia akan merasa puas. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. Sebaliknya. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah.Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut : Hukum Kesiapan (law of readiness). ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Misalnya. Masalah kedua. Hukum Latihan (law of exercise). 1984). yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya. Akibatnya. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. maka timbullah rasa ketidakpuasan. yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) . maka ia akan cenderung mengerjakannya. tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. bila anak mengerjakan PR. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. Akibatnya. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan. yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku. Apabila hal ini dilaksanakan. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Apabila hal ini dilaksanakan. ia tak akan melakukan tindakan lain. Akibatnya. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Misalnya. ia akan dihukum. tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. . Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Misalnya. Namun. jika sebaliknya. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto. ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya. walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. tetapi ia tidak melakukannya. Hukum akibat (law of effect). Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut: Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response). materi pelajaran akan semakin dikuasai. maka ia akan cenderung mengerjakannya. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia.

Hukum akibat direvisi. Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain. Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing. tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. sosial. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting) Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Selain menambahkan hukum-hukum baru. Hukum Respon by Analogy Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. maupun psikomotornya. Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training. Hukum Sikap ( Set/ Attitude). Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. emosi . dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain : Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon. sedangkan hukuman tidak berakibat apaapa. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah. tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif. Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904.Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif). dimana perangsang asli . yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element). Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta.

melainkan tingkah lakunya. Tanpa disadari.dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Pavlov berpendapat. bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu. baru makanan. sedang merah adalah rangsangan buatan. bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang. Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia. Awalnya mungkin suara itu asing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyibunyian dari pedagang makanan(rujak. siomay) yang sering lewat di rumah. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran. yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia. 1985). Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Bayangkan. bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. nasi goreng. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. tetapi setelah si pejual es krim sering lewat. maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu. perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kin sebelum makanan diperlihatkan. es. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. peranan maupun bicara. suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker. dengan segala kelebihannya. secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. Sebagai contoh. sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan seharjhari ada situasi yang sama seperti pada anjing. rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut. dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan. Makanan adalah rangsangan wajar. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme. Namun demikian. maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) . Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia.

alat pemberi makanan. Dalam pembelajaran digunakan shaping. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus. pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah. dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer. untukmenghindari adanya hukuman. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian. penampung makanan. atau penghargaan.1970) B. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Materi pelajaran. lampu yangdapat diatur nyalanya. tidak sengaja ia menekan tombol.Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern. . Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan. jika salah dibetulkan. digunakan sistem modul. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box. tidak digunkan hukuman. Pada tahun 1938.F. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. dan lantai yanga dapat dialir listrik. Dalam beberapa hal. memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang. makanan keluar. ia mengemukakan teori operant conditioning. Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. dalam proses pembelajaran. Beberapa prinsip Skinner antara lain : Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa. diberi hadiah. jika bebar diberi penguat. lebih dipentingkan aktifitas sendiri. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan. yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol. Dalam proses pembelajaran. Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. proses ini disebut shapping. perilaku. Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Untuk itu lingkungan perlu diubah. Dalam perkembangan psikologi belajar. Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Skinner membuat eksperimen sebagai berikut : Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”. Tingkah laku yang diinginkan pendidik.

asosiasi verbal. teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. 2. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku. Motivasi. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Karena melibatkan atensi. Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. mencakup kemampuan fisik. rangkaian SR. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah: Perhatian. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR. mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat. Reprodukdi motorik. mencakup kode pengkodean simbolik. dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan danpemecahan masalah). ingatan dan motifasi. diskriminasi. kemampuan meniru. Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu: 1. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon. 4. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut: Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.Robert Gagne ( 1916-2002) Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. keakuratan umpan balik. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Mementingkan pengaruh lingkungan Mementingkan bagian-bagian Mementingkan peranan reaksi Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon . 3. Albert Bandura (1925-masih hidup) Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare alberta berkebangsaan Kanada. Penyimpanan atau proses mengingat. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.

guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. salah satunya adalah bagaimana seorang guru mampu menyampaikan informasi dengan baik – selanjutnya disebut sebagai gaya mengajar. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan. dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. bersifaat mekanistik. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Chatib (2009:100-101) menjelaskan pada dasarnya gaya mengajar adalah strategi transfer informasi yang diberikan oleh . Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru. para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap. komunikasi berlangsung satu arah. Gaya Belajar dan Multiple Intelligences PADA dasarnya. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan.5. reflek. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa. tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini. perlu motivasi dari luar. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan 7. menari. Murid dipandang pasif . Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks. sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. spontanitas. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. menggunakan komputer. olahraga dan sebagainya. mengetik. kelenturan. hal terpenting dalam proses pembelajaran. daya tahan dan sebagainya. sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik. Begitu juga. dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. suka mengulangi dan harus dibiasakan. Guru tidak banyak memberi ceramah. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa. bersikap otoriter. Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central. Sebagai konsekuensi teori ini. berenang. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. bagi siswa harus dapat menerima informasi yang disampaikan oleh gurunya secara baik pula –yang selanjutnya saya sebut sebagai gaya belajar. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya 6. contohnya: percakapan bahasa asing. Kesalahan harus segera diperbaiki.

Dengan demikian. Conner (2008:1) menyatakan bahwa gaya belajar siswa mengacu pada cara siswa memilih untuk menerima atau memproses informasi baru. Siswa lain mungkin menemukan bahwa mereka menggunakan gaya yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Kemudian. 2010) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Guru harus mampu membantu mereka untuk memaksimalkan dan menggunakan gaya belajar mereka. kiranya penting untuk diperhatikan bagi para guru untuk memahami keragamaan gaya belajar siswa ini. Dalam pengajaran tradisional guru sering hanya menetapkan buku teks sebagai sumber belajar. Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Dalam proses pembelajaran yang dianggap modern maka sumber belajar tidak hanya buku saja.guru kepada siswanya. Howard Gardner. siswa bisa belajar dengan cara lain. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa. ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Berpijak pada konsep keragaman gaya belajar dan perbedaan tingkat kecenderungan multiple intelligence siswa mengenai adanya perbedaan individual. karena model pembelajarannya didesain berlandaskan pada gaya belajar dan kecerdasan yang ada pada masing-masing siswa. dan mengembangkan kemampuan yang kurang dominan. Apabila seseorang diriset dengan MIR. dan hasilnya digunakan untuk mengarahkan siswa melalui serangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajarnya (Keller. Dengan adanya variasi dalam menyampaikan informasi kepada siswa secara keseluruhan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan lebih cepat. setiap guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswanya yang diketahui dari Multiple Intelligences Research (MIR). tetapi guru sebaiknya memanfaatkan sumber lain . Sebagai guru. diharapkan setiap individu siswa dapat belajar secara menyenangkan. Beberapa siswa mungkin menemukan bahwa mereka memiliki pilihan gaya belajar atau cara menyelesaikan masalah dengan gaya belajar yang lain. Sebuah gaya belajar siswa dinilai atau diriset sebelum proses pembelajaran dimulai. itupun biasanya terbatas hanya dari salah satu buku tertentu saja. Sumber Belajar dan Alat Pelajaran Pengertian Sumber Belajar Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. mulai dari skala tertinggi sampai terendah. perlu untuk mengetahui gaya belajar siswa. maka akan terbaca kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya. Hal ini menurut Bobbi DePorter dinamakan sebagai asas utama quantum learning. seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. (Silvana. 2010). terutama jika metode mengajar yang dipilih digunakan lebih cocok gaya belajar yang disukai mereka. Oleh karena itu. Setiap guru akan masuk ke dunia siswa sehingga siswa merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses belajar. Hasil MIR ini merupakan data yang sangat penting untuk diketahui oleh guru dan siswanya. Selain itu. guru perlu menyampaikan informasi dengan menggunakan gaya mengajar yang berbeda. tidak hanya dalam gaya yang disukai mereka. yaitu masuk ke dunia siswa. Dengan demikian.

. majalah. baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. setiap guru tidak hanya menentukan tes sebagai alat evaluasi akan tetapi juga menggunakan nontes dalam bentuk tugas misalnya wawancara. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual. orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar. sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah. 2. Evaluasi dalam pembelajaran bukan hanya sekedar untukmengukur keberhasilan siswa dalam pencapaian hasil belajar atua prestasi belajar. Apa sumber belajar itu? Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data. dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional. Evaluasi merupakan proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipetimbangkan. dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). misalnya. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi. dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya. perpustakaan dan lain sebagainya. film. tetapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang dilakukan setiap siswa. laboratorium. Apa fungsi sumber belajar? Sumber belajar memiliki fungsi : 1.selain buku wajib. Oleh sebab itu.

6. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design). Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa Ada berapa jenis sumber belajar? Secara garis besarnya. 4. 2. 5. yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit. (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.3. dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas. Lebih memantapkan pembelajaran. terdapat dua jenis sumber belajar yaitu: 1. yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran . yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis. dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar. (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis. Memungkinkan belajar secara seketika. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization).

Bagaimana memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar? . dan sebagainya. (4) alat/ perlengkapan: perangkat keras. televisi. teman. transparansi. radio. (5) sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar. pasar. (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi. komputer. kamera. bahan ajar. talk shaw dan sejenisnya. Apa kriteria memilih sumber belajar? Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: (1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal. dan (6) lingkungan: ruang kelas. slides. generator. dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa. percakapan biasa. kantor dan sebagainya. (3) mudah: dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita. mesin. sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1) pesan: informasi. nara sumber. instruktur. papan tulis. gambar. (2) praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang rumit. aula. tokoh masyarakat. cerita rakyat. arca. obeng dan sebagainya. permainan. grafik yang dirancang untuk pembelajaran. pemecahan masalah. sarasehan. pimpinan lembaga. film. sulit dan langka. simulasi. diskusi. dan sebagainya (2) orang: guru. hikayat. relief. VCD/DVD. tokoh karier dan sebagainya. debat. mobil. perpustakaan. siswa.Dari kedua macam sumber belajar. alat listrik. studio. candi. seminar. toko. dongeng. motor. (4) fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan. (3) bahan: buku. komik. kebun. ahli. museum.

Bagaimana prosedur merancang sumber belajar? . Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond. maka perlu dilakukan perencanaan. karyawisata. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar. praktek lapangan dan sebagainya.Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. berkemah. seperti survey. Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif. Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan. Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam. seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka. pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.

guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. seperti kertas. mainan. kotak pembungkus. yang banyak berserakan di sekolah dan rumah. Misalkan. Padahal dengan berbekal kreativitas. bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Dengan sentuhan . yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. prosedur merancang sumber belajar dapat mengikuti alur sebagai berikut: Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar? Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. Bahan bekas.Secara skematik. bekas kemasan sering luput dari perhatian kita.

namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar Bahan belajar yang berisi pengetahuan. Demikian pula. harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan.kreativitas. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Bahan belajar itu pula yang akan dipelajari oleh warga dalam mencapai tujuan belajar. masih dianggap relatif mahal. lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan. dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal. keterampilan dan atau nilai-nilai akan disampaikan oleh tutor kepada warga belajar. memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Materi harus dipilih atas . Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider? Pengorganisasian Bahan Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa. kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas. Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet. sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masingmasing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran.

Siswa mengalami suatu proses belajar. Materi itu pun akan mempengaruhi pertimbangan tutor dalam memilih dan menetapkan teknik pembelajaran. Adanya informasi tentang sasaran belajar. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide. keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta. adanya penguatan-penguatan. Pengertian MengajarJerome S. Morgan. siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. 1993: 5). akan kemampuan dirinya (Dimyati dan Mudjiono. afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat. menyebaban siswa semakin sadar. Seorang tutor hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar untuk diajarkan. Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar adalah tingkat kemampuan peserta. dan tingkat kebaharuan dan aktualisasi bahan. Dari ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu tindakan sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan dalam diri mereka atas stimulasi lingkungan dan proses mental mereka sehingga bertambah pengetahuannya. 1992. Surya. 2002: 22).pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian perilaku warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Kemampuan-kemampuan kognitif. 23). Dalam proses belajar tesebut. Ketertarikan warga belajar dalam memilih dan mempelajari bahan belajar adalah merupakan manifestasi dari perilaku belajar warga belajar. Keberhasilan Belajar Mengajar Pengertian Belajar Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati. adanya evaluasi dan keberhasilan belajar. . Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapankecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak. tingkat daya tarik bahan belajar. seperti dikutip Tim Penulis Psikologi Pendidikan (1993: 60) ringkasnya mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan ( Moh.

2.Jadi. yaitu terjadinya komunikasi dan interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor Tes Sumatif Tes ini dilakukan untuk mengukur daya serap anak didik terhadap bahan pokokpokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester atau dua tahun pelajaran. mengajar bukan sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan. bertujuan untuk memperoleh gambaran daya serap anak didik untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar anak didik. baik secara individu maupun kelompok. . Indikator Keberhasilan Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil.Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. melainkan mengandung makna yang lebih luas dan kompleks. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/ TIK telah dicapai siswa baik individu maupun klasikal Namun yang banyak dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dari keduanya adalah daya serap siswa terhadap pelajaran Penilaian keberhasilan Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan dan dapat digolongkan kedalam jenis penilaian sebagai berikut : Tes Formatif Penilaian ini digunakan untuk menguur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap anak didik terhadap pokok bahasan tersebut. Pengertian Keberhasilan Pengertian. dan Tingkatan Keberhasilan Belajar Mengajar Moh Uzer Usman dan Lilis Setyawati dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (1993: 7-8) mengemukakan sebagai berikut. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses balajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu Tes Subsumatif Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. adalah: 1. Tolak Ukur. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi. setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya.

Baik sekali/ optimal: apabila sebagian besar (85% s/d 94%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa. maka dapat dilanjutkan ke proses belajar untuk pokok bahasan yang baru 2. Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa . Apabila 75 % anak didik kurang (dibawah taraf minimal ) dalam mencapai tingkat keberhasilan . Program Perbaikan Tingkat keberhasilan proses mengajar dapat ddigunakan dalam berbagai usaha antara lain dengan kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri. 3.Tes ini bertujuan untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar anak didik dalam suatu periode belajar tertentu. maka proses belajar mengajar berikutnya adalah perbaikan Pengukuran tentang tingkatan keberhasilan proses mengajar sangat penting karena itu pengukuran harus betul-betul : • Syahih ( Valid ) • Andal ( reliable) dan • Lugas ( Objective) Hal ini dapat tercapai apabila alat ukurnya disusun berdasarkan kaidah. hukum atau ketentuan penyusunan tes Pengajaran perbaikan mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut : • Mengulang pokok bahasan seluruhnya • Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai • Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama • Memberi tugas-tugas khusus Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Faktor – Tujuan faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah : . optimal atau maksimal. aturan. Kurang : apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa. Baik / minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 75% s/d 84% dikuasai siswa 4. kita dapat menggunakan tingkat acuan sebagai berikut: 1. Apabila 75 % anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai tingkat keberhasilan minimal. Istimewa / maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa. Ada dua point yang dapat dilihat dari hasil tingkat keberhasilan proses belajar mengajar : 1. Hasil tes ini daigunakan untuk kenaikan kelas. 2. menyusun rangking atau sebagai ukuran mutu sekolah Tingkat Keberhasilan Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru.

dan dirumuskan dalah TIK ( Tujuan Instruksional Khusus) sedangkan TIU (Tujuan Instruksional Umum ) yang sudah tersedia didalam GBPP. Guru dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas. karena ia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya. Perumusan tujuan menentukan kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar Guru diwajibkan untuk merumuskan tujuan pembelajarannya agar dapat tercapai sasaran dalam setiap kegiatan belajar mengajar. akan banyak menemukan masalah dikelas. untuk menjembatinya dibuat program Akta 4 dan Akta 5. Dapat diilustrasikan sebagai berikut: Berdasarkan pada indikator terpilih tersebut diatas dapat dirumuskan sejumlah TIK dari TIU yang bersangkutan. Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar yaitu : • Kepribadian Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas didalam kelas • Pandangan terhadap anak didik Proses belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan berbeda. hasil proses belajarnya pun akan berbeda. Karena prosesnya berbeda. • Latar belakang dan Pengalaman guru Guru pemula dengan latar belakang pendidikan kegurua lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Oleh sebab itu. artinya menggambarkan standar minimal perilaku yang dapat diterima sebagai hasil yang dicapai. TIK adalah wakil dari TIU.. Anak Didik . Indikator suatu TIU banyak namun handaknya dipilih yang betul-betul penting sehingga dapat mewakili TIU. TIK harus dirumuskan secara operasional dengan memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu : • Secara Spesifik menyatakan perilaku yang akan dicapai • Membatasi dalam keadaan mana perubahan perilaku diharapkan dapat terjadi (kondisi perilaku) • Menyatakan kriteria perubahan perilaku secara spesifik. Siswa mampu membuat kalimat Simple Present minimal 10 kata kerja dengan tepat dan benar Bila TPK tersebut dianalisa dapat diketahui unsur – unsur berikut : • Audience : Siswa • Behaviour : Dapat membuat kalimat Simple Present • Condition : Dengan menggunakan 10 kata kerja • Degree : Dengan tepat dan benar Guru Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah dan orang yang berpengalaman dalm bidang profesinya. Contoh rumusan TIK berdasarkan ciri-ciri dan indikator terpilih adalah Tujuan menguasai Aspek Kebahasaan . maka perbuatan TIK harus berpedoman padaTIU.Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalamannya Guru yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar .

tetapi bisa lebih dari dua rumusan. Guru yang mengajar. Kegiatan Pengajaran Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. Dari penjelasan diatas. aktif. minimal (baik) dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai anak didik. Aspek dari anak didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah : • Psikologis anak didik • Biologis anak didik • Intelektual anak didik • Kesenangan terhadap pelajaran Hal diatas yang menyebabkan perbedaan karakteristik anak didik . Orang tuanya memepercayakan guru untuk mendididik mereka agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. Optimal ( baik sekali ). karena itu dikenallah tingkat keberhasilan maksimal (istimewa). o Gaya mengajar personalisasi dan o Gaya mengajar interaksional • Pendekatan guru o Pendekatan individual Guru berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya o Pendekatan kelompok Berusah memahami anak didik sebagai mahluk sosial Perpaduan kedua pendekatan ini akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik • Strategi penggunaan metode Penggunaan strategi belajar dapat digunakan lebih dari 1 meetde pengajaran misalnya penggunaan metode Ceramah dengan metode Tanya jawab untuk mata pelajaan IPS. diketahui kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. o Gaya mengajar teknologis. Hal ini sebagai bukti bahwa tingkat penguasaan anak terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. • Gaya mengajar personalisasi dan • Gaya mengajar interaksional Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan belajar mengajar yaitu: • Gaya mengajar guru o Gaya mengajar klasik.Adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya belajar anak didik. keras kepala. 59). Anak yang dengan ciri-ciri mereka masing-masing berkumpul di dalam kelas dan yang mengumpulkan tentu saja guru atau pengelola sekolah. Angka-angka dirapor menunjukkan bukti nyata dari keberhasilan belajar mengajar. anak didik yang belajar. dapat dibedakan 4 macam yaitu • Gaya mengajar klasik. Banyak sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan mempengaruhi pengelolaan kelas. misalnya pendiam. .. kreatif . • Gaya mengajar teknologis. Jarang guru menggunakan 1 metode dalam melaksanakan pengajaran . Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992. manja dam sebagainya. hal ini disebabkan rumusan tujuan yang dibuat guru tidak hanya satu.

Bahan pelajaran biasanya sudah dikemas dalam bentuk buku paket. Jadi kesanalah rujukan standar penilaian itu. Hal yang perlu dalam suasana evaluasi adalah • Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas • Semua murid dibagi menurut tingkatan masing-masing • Besar sedikitnya anak didik dalam kelas • Berlaku jujur . Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antra seseorang . pengambilan sikap untung – untungan daripada tidak diisi Pembuatan item soal dengan memakai alat tes objektif dapat menampung hampir semua bahan pelajaran yang sudah dipelajari oleh anak didik dalam satu semester. Ada waktu yang harus ditempuh dalam menyelesaikan buku paket tersebut misalnya 1 semester . baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut. Benar Salah dan Pilihan Ganda adalah bagian dari tes objectif artinya objektif dalam hal pengoreksian tapi belum tentu objektif dalam jawaban yang dilakukan anak didik. oleh sebab itu guru sudah menggabungkan lebih dari satu alat evaluasi. Penggunaan Media Sumber Belajar Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. • Gaya mengajar personalisasi dan • Gaya mengajar interaksional Bahan dan Alat Evaluasi Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Untuk tes objektif mempunyai rumus penilaian masing-masing. 59). maka bila anak didik tidak bisa menjawab dia cenderung melakukan tindakan spekulasi. dapat dibedakan 4 macam yaitu • Gaya mengajar klasik. Suasana Evaluasi Faktor suasana evaluasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. dan kemudian guru akan membuat item-item soal evaluasi dengan perencanaan yang sistemastis dan dengan penggunaan alat evaluasi.Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992. Karena sifat alat ini mengharuskan anak didik memilih jawaban yang sudah disediakan dan tidak ada alternatif lain diluar alternatif itu. bukan membuat rumus penilaian yang cenderung mendatangkan sikap dan tindakan spekulatif pada anak didik Berbagai permasalahan yang telah diuraikan tersebut mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. maka tidak dapat dipercaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar mengajar. Alat tes dalam bentuk essay dapat mengurangi sikap dan tindakan spekulasi pada anak didik sebab alat tes ini hanya dapat dikjawab bila anak didik betul-betul menguasai bahan pelajaran dengan baik. Alat evaluasi yang umum digunakan adalah : • Benar – Salah ( True – False) • Pilihan Ganda ( Multiple Choice) • Menjodohkan ( Matching) • Melengkapi ( Completion ) dan • Essay Masing – masing alat evaluasi itu mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. • Gaya mengajar teknologis. Kelmahannya terletak pada pengusaan anak didik terhadap bahan pelajaran bersifat semuatau samar-samar. Bila alat tes itu tidak valid dan tidak reliable .

Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep. Fleming . Perantara media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. yang berari ” perantara” atau ”pengantar” . Suatu yang sudah nyata bahwa media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. hasil dari belajar adalah perubahan sikap pada diri orang tersebut.dengan lingkungannya. media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Pengertian Media Kata Mdia berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak darui kata ”medium:. Gerlach & Ely 1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia. 2. gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan . 6. AECT (Association of Education and Communication Technology ) 1977. hal ini disebabkan oleh keinginan guru untuk membantu dalam menyampaikan bahan pelajaran. (1987 : 234) mediator adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Hamidjojo dalam Latuheru (1993) memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide gagasan atau pendapat sehingga ide. Ada beberapa para ahli diantaranya : 1. Para guru dituntut agar mampu mengunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah. Hamalik ( 1986). hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi Dalam proses belajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. prinsip. keterampilan dan sikap. 3. karena apabila ada ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran Media sebagai Alat bantu 1. dan ketrampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut sifat bahan ajar. Dalam hal ini mediator media menunjukkan fungsi atau perannya yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar – siswa dan isi pelajaran 4. . Perkembahang ilmu pengetahuan dan teknolohi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam prose belajar mengajar. dan juga dituntut untuk dapat mengembangkan ketrerampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Oleh sebab itu belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Media pembelajaran di sekolah digunakan dengan tujuan antara lain sebagai berikut : 2. Heinich dan kawan-kawan (1982) medium sebagai perantara yang mengantarkan informasi antara sumber dan penerima 5.

5. Media dibagi kedalam: a. 4. Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan . Udin Saripudin dan Winataputra ( 1995. Media sebagai Sumber Belajar Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana. Kadang anjuran menggunakan media sukar dilaksanakan karena dana yang terbatas untuk membelinya. Macam-macam Media Meda yang telah dikenal tidak hanya terdiri dari dua jenis tetapi disa dilihat dari jenisnya yaitu : Dilihat dari Jenisnya. 3. 7. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat dan motivasi peserta didik untuk belajar. 6. Buku / perpustakaan Media massa. Menumbuhkan sikap dan ketrampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu. di sekolah. di pusat kota. visual dan audiovisual. Media Auditif Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. di pedesaan dan sebagainya. Contoh : Radio. Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik. tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional dan kompetensi guru itu sendiri. 2. Memperjelas informasi atau pesan pembelajaran. Guru yang pandai menggunakan media adalah guru yang bisa memanipulasi media sebagai sumber belajar dan sebagai penyalur informasi dari bahan yang disampaikan kepada anak didik sebagai proses belajar mengajar. merekam. Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan sebab media digunakan : Ciri Fiksatif ( Fixative Property) Menggambarkan kemampuan media. di halaman. . 4. 65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori yaitu : 1. Meningkatkan kualitas belajar mengajar. 5.3. menyimpan. untuk itu seorang guru harus kreatif dengan membuat media pendidikan yang sederhana selama menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Alam lingkungan dan Media pendidikan Media pendidikan sebagai salah satu sumber ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik serta diakui sebagai alat bantu auditif. Manusia. melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek Ciri Manipulatif ( Manipulative Property) Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording karena bisa diedit dan yang diambil hanya bagian-bagian penting saja Ciri Distributif ( Distributive Property) Memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan memalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.

SMU. Audiovisual Gerak Yaitu medi yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yangbergerak seperi film suara dan video cassette. Media untuk Pengajaran Individual Penggunaannya hanya untuk seorang diri misalnya modul berprogram dan pengajaran melalui komputer. film rangkai yang harus menngunakan tempat yang tertutup dan gelap. Film rangkai suara dan cetak suara. Jenis media ini lebih baik dibandingkan kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti slide foto.Cassette recorder. apabila mengunakan media guru harus mmepertimbangkan jenis dan karakteristik yang tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Tuna rungu Tuna netra. Dilihat dari Bahan Pembuatannya a. Contoh : Radio dan Televisi b. Media Kompleks Adalah media yang bahan dan alat pembuatanya sulit diperoleh serta mahal harganya . b. . Media Sederhana Bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah. Media dibagi dalam: a. c. masyarakat pedesaan. cara pembuatanya mudah dan penggunaanya tidak sulit. Strip (film rangkai). Tujuan pemilihan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai media. ii. Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu sama. sound slide. film bisu dan film kartun c. piringan hitam Media ini tidak cocok untuk oran tuli atau yang bermasalah dengan pendengaran b. dan Media ini dibagi kedalam ” i. perkotaan. Oleh sebab itu . SD SMP. Pembagian lain dari media ini adalah • Audiovisual Murni Yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti film video-cassette • Audiovisual Tidak Murni Yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari tape recorder Dilihat dari daya Liputnya . Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat Dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film. Media Visual Adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan . Prinsip-prinsip pemilihan dan Penggunaan Media Drs Sudirman N ( 1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibagi dalam tiga kategori yaitu : 1) Tujuan Pemilihan Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas misalnya sasaran seperti anak TK. Media Audiovisual Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. lukisam. gambar . Audiovisual Diam Yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti bingkai suara (sound slide). sulit membuatnya dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai.

guru akan mengahadapi kesulitan dan cenderang bersikap spekulatif. 4. pengelola pengajaran dan pengelola hasil pembelajaran siswa. 1997: 108). Teknik-teknik Balik Memancing Mendapatkan Appersepsi Anak Umpan Didik Sebelum saya membahas masalah bagaimana cara memancing apersepsi anak didik. Latihan dan Pengulangan 11. Artinya Waktu . sebagai pengajar dan pendidik . Tuntutan masyarakat . saya akan membahas masalah peranan guru. Persiapan sebelum belajar 6. Menentukan jenis media dengan tepat. yakni sebagai guru. Artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan 2. Dari segi teori belajar prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah : 1. Tujuan Pembelajaran 4. Motivasi siswa 2. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru. Artinya memperhitungkan penggunaan media tersebut telah sesuai dengan tingkat kematangan / kemampuan anak didik 3. sedangkan apabila kurang memahami karateristik media tersebut.2) Karakteristik Media Pengajaran Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan pada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran secara variasi. Perbedaan Individual siswa 3. tempat dan situasi yang tepat. Emosi siswa 7. Penerapan Prinsip prinsip menurut Dr nana Sudjana (1991 :104) yang harus diperhatikan agar penggunaan media tersebut dapat mencapai hasil yang baik adalah : 1. di dalam keluarga. Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa.waktu dan sarana yang ada. Organisasi isi 5. Guru mempunyai peranan yang amat luas. Partisipasi 8. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat. ia harus menunjukkan perilaku yang layak (bisa dijadikan teladan oleh siswanya). Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru (Surya. Penguatan (Reinforcement) 10. dan di dalam masyarakat. baik di sekolah. 3) Alternatif Pilihan Memilih artinya proses membuat keputusan dari berbagai alternatif pilihan. Menyajikan media dengan tepat Artinya teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan. Umpan Balik 9.tempat serta kondisi lingkungan saat media mengajar digunakan. bahan metode. Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu. Disekolah guru berperan sebagai perancang atau perencana.

Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. PESERTA DIDIK Peserta didik adalah Sang Anak yang merupakan milik Sang Pencipta dan milik dirinya sendiri.Umpan balik tidak sama dengan penilaian. . Hal yang paling penting adalah sejauh mana uraian yang diberikan dapat diterima secara jelas oleh murid. intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. Pilihan tentu saja paling tergantung pada pengajar yang bersangkutan sendiri. baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan. serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia cerdas berpotensi. Namun kadang kala cara tersebut dapat sangat bermanfaat. Setelah seluruh kursus atau seluruh rangkaian pelajaran selesai diberikan. bilamana pengajar menyadari pentingnya umpan balik.khususunya siswa dari guru dalam aspek etis. merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Itulah tadi bentuk-bentuk umpan balik yang dimaksudkan untuk melihat. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Pada umumnya pengajar kurang memikirkan perlunya mengadakan umpan balik seperti itu. Terlihat pada waktu ujian bahwa murid belum mengerti secara baik bahan yang diajarkan. karena itu salah satu cara memancing apersepasi anak didik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses. Dan itu berarti suatu keterlambatan. Peserta didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi. serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik. maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik. Umpan balik hanya dimaksudkan untuk mencari informasi sampai dimana murid mengerti bahan yang telah dibahas. Sebaliknya. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif. 2005: 152). (Tohirin. Sejauh mana bahan yang telah diterangkan dapat mereka mengerti. penuh percaya diri dan antusias. karena memerlukan waktu cukup banyak. keberhasilannya akan sangat tergantung dari pemanfaatan potensi yang dia miliki. antara lain : Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif Sikap guru tampil hangat. Karenanya keaktifan peserta didik dalam menjalani proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Sejauh mana suatu penjelasan dapat tersampaikan secara baik. Maka pengajaran yang ia berikan akan menjadi lebih efektif. Sering kali cara demikian tidak mungkin terlaksana. bersemangat. Selain itu murid atau mahasisiwa juga diberi kesempatan untuk memeriksa diri sampai di mana mereka mengerti bahan tersebut. Dan dari sini kiranya saya telah mengetahui bahwa ada berbagai macam bentuk umpan balik. Sehingga mereka dapat melengkapi pengertian-pengertian yang belum lengkap. Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti.

memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya. Dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik. antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi. Penerapan model œbelajar sambil bekerja• (learning by doing) sangat dianjurkan. sesuai dengan ketentuannya. Penilaian hasil belajar dilakukan serius. maka guru boleh menetapkan tugas masing-masing anggota kelompok dengan mempertim-bangkan beberapa hal seperti. obyektif. dan hal itu akan memperlemah semangat belajar. maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. AUDIO VERBAL . dan lain-lain. agar mereka mudah memahami pelajaran diantaranya adalah: 1. Sekiranya tersedia dianjurkan penggunaan media pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat lebih efektif.Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses belajar mengajar. Hasil penilaiannya diumumkan secara terbuka atau yang lebih baik dibuatkan daftar kemajuan hasil belajar yang ditempel di kelas. Penilaian hasil belajar yang tidak serius akan sangat mengecewakan peserta didik. di jenjang sekolah dasar antara lain dilakukan belajar sambil bernyanyi atau belajar sambil bermain. Pelaksanaan kegiatan hendaknya bervariasi.kelompok itu kecil (dua sampai tiga siswa) dan guru menetapkan anggota kelompok tugas itu dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat saja tugas itu sederhana perintahperintah jelas dan diberikan selangkah-demi-selangkah guru perlu menyediakan sumber belajar guru menerangkan dengan jelas peran setiap siswa di dalam kelompok penilaian bersifat informal dan guru perlu membahas dan mendiskusikan tugas itu dengan siswa Hal penting dari tugas ini adalah belajar bekerjasama. peran siswa dalam kelompok dapat beragam dan beberapa keputusan tentang peran ini dapat dibuat oleh siswa-siswa Memanfaatkan Teknik Alat Bantu yang Akseptable Ada beberapa macam alat Bantu yang dapat diterima oleh siswa. jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar. Dari daftar kemajuan belajar tersebut setiap peserta didik dapat melihat prestasi mereka masing-masing tahap per tahap. Jenis kegiatan Pembelajaran menarik atau menyenangkan dan menantang Agar peserta didik dapat tetap aktif dalam mengikuti kegiatan atau melaksanakan tugas pemebelajaran perlu dipilih jenis kegiatan atau tugas yang sifatnya menarik atau menyenangkan bagi peserta didik di samping juga bersifat menantang. mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan.Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan. Karena itu. eksistensi. teliti dan terbuka. D. sehingga hasilnya dapat obyektif. tidak selalu harus di dalam kelas. dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh. agar kegiatan penilaian ini dapat membangun semangat belajar para peserta didik maka hendaknya dilakukan serius. Untuk lebih mengaktifkan peserta didik secara merata dapat diterapkan pemberian tugas pembelajaran secara individu atau kelompok belajar (group learning) yang didukung adanya fasilitas/sumber belajar yang cukup.Jika siswa belum biasa bekerja efektif dalam kelompok. Sehingga kemampuan individu. pendapat atau gagasan. diberikan tugas yang dikerjakan di luar kelas seperti di perpustakaan.Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik Agar kesadaran akan potensi. jangan sampai terjadi manipulasi.

Inti dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat pertanyaan yang mendorong siswa bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah. (Brooks. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah ada sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. atau kalau terpaksa perlu berceramah cukup antara 20 – 25 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong Lihat – Raba – Bau – Rasa. Pencapaian kompetensi tentang sikap/attitude seperti pada mata pengajaran Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama.Dengan demikian. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Sekalipun terdapat komunikasi yang baik masih dapat diharapkan bahwa selalu terdapat kekurang pahaman. modul dan lain-lain. Kalau keadaan ini berkelanjutan. ( Harlen.G. Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. J. hendaknya ada beberapa buku yang harus dimiliki dalam satu pelajaran karena dalam buku yang satu mungkin lebih jelas dan mudah dipahami dalam buku yang lain. Pengalaman belajar berupa eksperimen dalam laboratorium bermanfaat sekali untuk memahami ide atau pengartian yang sulit. guru harus mengurangi cara ini. 1982: 45) Dalam mengelola kegiatan pembelajaran. guru perlu merencanakan tugas dan alat belajar yang menantang. sedikitnya ada tiga hal strategis yang perlu dikuasai guru dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran yaitu. dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga memungkinkan semua siswa terlibat baik secara mental maupun secara fisik. Akan tetapi tak semua bahan harus disampaikan secara kongkrit. Alat audio visual dapat membantu anak-anak belajar dengan menyajikan dalam bentuk yang kongkrit. sebagai hasil belajar. seperti buku. di samping buku pelajaran ada buku kerja untuk membantu murid mengenang dan mengelolah buah pikiran pokok dari buku pelajaran.Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film). Kebanyakan pelajar dapat dan harus disampaikan secara verbal akan tetapi untuk bagian-bagian tertentu alat audio-visual atau alat intruksional pada umumnya sangat berguna untuk mempermudah dan memepercepat pemahaman bagi murid-murid tertentu. 1987: 12) Buku pelajaran. Film. M.apa yang dikemukakan diatas merupakan usaha uantuk mempertinggi mutu mengajar agar murid-murid dapat memahami apa yang diajarkan tanpa komunikasi yang baik antara guru dan murid proses mengajar-belajar tidak akan berjalan dengan efektif. pemberian umpan balik. VISUALILASI VERBAL Tak semua murid sanggup belajar dengan cara verbal yang abstrak. Pada keadaan ini. dan penyediaan program penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu ˜unjuk kemampuan/ mendemonstrasikan kinerja (performance). Buku kerja. Materi yang diceramahkan pun perlu kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. W. Tentu saja. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung.G. film strip. akan sangat membantu kalau dikemas dalam suatu cerita tayangan hidup yang menyentuh dimensi emosi dan perasaan. dan lain memepermudah pengertian tentang konsep dan proses tertentu. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. (Nazulia. & Brooks. model-model. Karena itu. 1993: 9) 2. penyediaan pertanyaan yang mendorong berpikir dan . Alat audiovisual diperlukan untuk membantu mereka. Untuk mengatasinya. tak semua sama baiknya. Media cetak.

Pertanyaan dapat membuat siswa berpikir. terbuka. Penyediaan Pertanyaan yang Mendorong Siswa Berpikir dan Berproduksi Alat mengajar yang paling murah tetapi ampuh adalah bertanya. atau penyelidikan. Kategori Arti Contoh Terbuka Pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar Mengapa Ibukota Indonesia Jakarta ? Apa yang akan terjadi jika di kota besar tidak ada pemulung sampah? Produktif Pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui pengamatan. Pertanyaan ini dapat digunakan untuk tujuan merangsang siswa berpikir. Kategori pertanyaan yang termasuk jenis pertanyaan ini antara lain pertanyaan produktif. dan penyediaan penilaian yang memberi peluang semua siswa mampu melakukan unjuk-perbuatan. Apa tujuan Saudara sebagai guru bertanya kepada siswa? Tujuan bertanya Mengharap jawaban benar? Seberapa besar kemungkinan siswa menjawab jika mereka tidak yakin jawabannya benar? Merangsang siswa berpikir dan berbuat? Akibatnya siswa sering tak berani menjawab pertanyaan guru sekalipun jawabannya mudah jika salah satu tujuan mengajar adalah mengembangkan potensi siswa untuk berpikir.berproduksi. . penyediaan umpan balik yang bermakna. Usaha guru itu harus di Bantu dengan mengunakan bantuan seperti “feedback― atau umpan balik yang terperinci kepada guru maupun murid. Merangsang berpikir dalam arti ˜merangsang siswa menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabnya bukan mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru. maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada ‘merangsang siswa berpikir’. Apa perbedaan gerak bekicot di lantai licin dengan di lantai kasar? Berapa banyak biji buah pepaya ini? Imajinatif / Interpretatif Pertanyaan yang jawaban nya diluar benda / gambar / kejadian yang diamati (Diperlihatkan gambar gadis termenung di pinggir laut) Apa yang dipikirkan gadis itu? Mengapa ia berdiri di situ? Menggunakan Metode yang Bervariasi Dengan cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid. percobaan. dan imajinatif.

Sebaiknya orang itu jangan gurunya sendiri sehingga ia dapt memberi bantuan dengan cara yang lain dari pada guru itu. penglihatan siswa dan gerak mata siswa ketika sedang membaca. Data itu bisa dikumpulkn dengan berbagai cara Riset-riset psikologi berkenaan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. biasa cara belajar yang digunakan oleh murid lebih mudah ditangkap oleh murid lain. metode serimg dipahami sebagai cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam melakuan suatu kegiatan. Bantuan tutor. Test formatif itu bersifat diagnostik dan serentak menunjukan kemajuan atau keberhasilan anak. Pelajaran beprogram. Suatu satuan pelajaran misalnya meliputi bahan pelajaran satu baba atau buku yang dapat dikuasai dalam waktu satu atau dua minggu. Feedback atau umpan balik diberikan melalui test-test formatif. sangat banyak data psikologis. Maka memanfaatkan batuan murid dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran. tanpa bantuan guru pelajar akan mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. 3. metode-metode tertentu untuk memgumpulkan berbagai data dan informasi penting yang bersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan proses pembelajaran. Berkaitan dengan psikologi belajar. relative lebih menonjol apabila dibandingkan penggunaan metode-metode lainnya. ini juga merupakan bantuan agar murid menguasai bahan pelajaran melalui langkah-langkah pendek. Merid sering lebih paham akan apa yang disampaikan oleh temannya. 2. 2002: 25) Secara singkat dan umum. Teknik pelaksanaan metode eksperimen dengan menyesuaikan data yang akan diangkat. (Syaipul Bahri Djamarah. seperti data pendengaran siswa. Metode Studi KasusRiset Psikologi Pembelajaran Pendidkan Agama Islam selain menggunakan metode studi kasus. Jadi tutor harus mendidik anak agar dapat belajar sendiri. termasuk proses pembelajaran pendidikan agama Islam. dari pada guru. belajar atau saling membantu dalam pelajaran. dapat memanfaatkan berbagai metode tertentu seperti: 1. metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter di dalam laboratorium atau ruang tertentu lainnya. yaitu orang yang dapat membantu murid secara individual. Pada prinsipnya. Mula-mula bahan pelajaran di bagi dalam satuan-satuan pelajaran. termasuk psikologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam.sumber dan metode-metode pengajaran tamabahan di mana saja diperlukan usaha tambahan itu dimaksud untuk memperbaiki mutu pengajaran dan meningkatkan kemampuan anak memahami apa yang diajarkan dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu untuk menguasai bahan pelajaran sepenuhnya. 2. Selain itu eksperimen dapat pula digunakan untuk mengukur kecepatan bereaksi seorang peserta didik terhadap stimulus tertentu dalam proses belajar. 3. Banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan dalam menimbulkan feedback antara lain: 1. Studi kasus (Icase study) dalam kakian psikologi merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk . Belajar kelompok. Di dalam proses pembelajaran. Penggunaan metode kuesioner dalam riset-riset pendidikan termasuk pendidikan islam dan psikologi pembelajran Pendidikan Agama Islam. Hendaknya di usahakan agar murid selekas mungkin dapat membebaskan diri dari bantuan tutor.

dicatat dalam lembaran format observasi yang khusus dirancang sesuai dengan data dan informasi yang akan dihimpun. mereka merancang prosedur eksperimennya sendiri. Menggubah syair lagu dan bernyanyi Melakukan Permainan Bermain peran Diskusi (bertanya. berkomentar. Seorang peneliti atau guru yang menjai asistennya dapat mengaplikasikan metode ini lewat kegiatan belajar mengajar atau belajar mengajar dalam kelas-kelas regular. Selama proses belajar mengajar berlansung. an psikolog pendidikan. Mereka dapat diberi pertanyaan penelitian eksperimen terbuka (tidak terbatas). psikolog kongnitif. mendengar penjelasan. Metode Observasi NaturalistikMetode obsevasi naturalistik merupakan jenis obsevasi yang dilakukan secara alamiah. merancang metode eksperimen. metode naturalistik lebih banyak digunakan oleh para ahli ilmu hewan untuk mempelajari perilaku hewan tertentu. mengatur data dan menyusun suatu kesimpulan. metode observasi naturalistic digunakan oleh para psikolog perkembangan. Kelas dapat mendiskusikan jenis data yang perlu dikumpulkan. (misalnya kecepatan membaca). Rekreasi pada dasarnya juga mengurangi kebosanan pandangan ditempat asalnya. jenis perilaku siswa diteliti. Makan makanan yang bervariasi Mendengarkan lagu-lagu baru lebih menyenangkan daripada lagu-lagu yang tiap hari didengar. Dalam hal ini. bukan kelas yang diadakan secara khusus. terdapat prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara-cara memberi perlakuan pemulihan (psychological treatment) terhadap kelainan jiwa tersebut. yakni diberi hanya rincian topik yang sedang dibicarakan dan mungkin beberapa gagasan tentang beberapa aspek topik yang akan mereka selidiki. 2003: 43) Pengembangan Variasi Mengajar Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. menjawab. 4. Dalam perkembangan selanjutnya. mengumpulkan data. (Hamalik. 5. Metode Klinis Metode klinis (clinical method) hanya digunakan oleh para ahli psikologi klinis atau psikiater. Orang akan lebih suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti kata positif. Awalnya.memperoleh gambaran yang terperinci mengenai aspek-aspek psikologi seoarang siswa atau sekelompok siswa tertentu. (Soemanto Wasty. akan membuat orang lebih senang dirumah daripada pergi. Bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi. 1992:15) Beberapa contoh keragaman pengalaman belajar yang mungkin dipilih guru untuk beberapa mata pelajaran meliputi antara lain. memilih peralatan yang tepat. peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang melakukan penelitian. Dalam metode ini. Kemudian. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. mereka perlu merumuskan hipotesis. maka akan membosankan siswa. mengumpulkan data dan selanjutnya menyusun suatu kesimpulan. perhatian . Merasakan makanan yang terus-menerus akan menimbulakan kebosanan. yakni kelas tata dan biasa. menyanggah) Mereka dapat diberi suatu kumpulan peralatan yang tepat dan suatu pertanyaan untuk diselidiki. dalam kegiatan seperti itu. Demikian juga dalam proses belajar mengajar . Mengatur alat rumah tangga sering berganti.

maka akan meningkatkan perhatian siswa. siswa-guru dan siswa-siswa. sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. Untuk mengatasi kebosanan siswa tersebut perlu adanya variasi. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan. dan variasi dalam interaksi antara guru dan siswa. antusiasme serta penuh partisipasi. sehingga dalam situasi belajar mengajar. 2. gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas. sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran. Anak tidak bisa dipaksakan untuk terus menerus memusatkan perhatiannya dalam mengikuti pelajarannya. dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa. Meliputi: 1. Keterampilan dalam mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya. yaitu : 1) Variasi gaya mengajar 2) Variasi dalam menggunakan media .siswa berkurang. Menurut Syahminan Zaini. media yang digunakan berganti-ganti. Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya atau secara integrasi. bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku. variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran. Dari definisi di atas. karena merupakan keterampilan campuran atau diinegrasikan dengan keterampilan yang lain. dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar ada tiga aspek. cariasi dalam memberikan penguatan. 4. Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid. dan bosan. dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. yaitu variasi dalam gaya mengajar. Misalnya. keaktifan mereka dalam belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas. Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah tingkah laku. Pengertian Variasi Gaya Mengajar Pengertian Variasi Gaya Mengajar Ada beberapa pendapat berkenaan dengan Variasi gaya mengajar. antusiasme. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa. Dan ini bisa dibuktikan melalui ketekunan. mengantuk. sikap dan perbuatan guru dalam kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa. dan variasi dalam tingkat kognitif. gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa. apalagi jika guru saat mengajar tanpa menggunakan variasi alias monoton yang membuat siswa kurang perhatian. Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek. membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. variasi dalam memberi pertanyaan. Variasi lebih bersifat proses daripada produk. 3. Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar. mengantuk. Menurut Abdul Qadir Munsyi.

siswa yang kurang menyenangi materi yang diberikan guru. karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya. Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. perhatian adalah masalah yang tidak bias dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran. tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinyanya Motivasi Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Tujuan mengadakan variasi dimadsud adalah : Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Tujuan Variasi Mengajar Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa. Jadi. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenanginya. bukanlah masalah bagi guiru. yaitu motivasi intrinsik. apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum. Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru. Dalam proses belajr mengajr di kelas. Bagi siswa yang sering memperhatikan materi pelajran yang diberikan. Berbagai factor memang mempengaruhi. Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi. tetapi bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Misalnya factor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran. seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. motivasi dan belajar siswa. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Karena itu. Ini merupakan masalh bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan.3) Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya kurang dapt mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan. akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. guru memperhatikan variasi mengajarnya. Maka dari itu. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi. yaitu motivasi .

motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan. Misalnya metode diskusi. spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. 3. Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Misalnya hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain.sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat. Acuh tak acuh sering ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas. dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan. Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Untuk itu agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan variasi gaya tersebut. 2. resitasi. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif. Disamping itu juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Prinsip Penggunaan Dalam proses belajar mengajar. tetapi juga pada siswi. sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar. Direncanakan secara baik dan eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. problem solving atau cerita. Komponen-komponen Variasi Mengajar Dalam mengajar hendaknya menggunakan berbagai macam variasi gaya. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa. Jadi penggunaan variasi ini harus benar-benar berstruktur dan direncanakan. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Karena variasi ini memerlukan keluwesan. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Sikap negative ini tidak hanya terjadi pada siswa. dalam bervariasi harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan agar menarik siswa untuk memperhatikan atau mendengarkan penjelasan guru. kegiatan siswa menjadi pusat perhatian guru. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan. Umpan balik ini ada dua yaitu Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa dan Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran. Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. terutama penggunaan variasi gaya mengajar. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. jauh dari sikap permusuhan. akan menjadikan siswa merasa tertarik terhadap penampilan . Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan. Tanya jawab.

guru dapat menggunakan atau memberikan peringatan dengan bentuk kata-kata. Memang menarik perhatian siswa itu sangatlah tidak mudah apalagi dalam jumlah siswa yang banyak. Perhatian seseorang tertuju atau terarah pada hal-hal yang dianggap rumit. perhatian siswa terhadap materi yang diberikan itupun kurang. Jika suara guru senantiasa keras terus atau terlalu keras. agar perhatian itu tetap ada perlu adanya prinsip-prinsip yakni : a. . Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik. dan tinggi menjadi rendah. Misalnya : “Perhatikan baik-baik”. kadang cepat. maka bisa menimbulkan kebosanan. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan ndengan situasi dan kondisi. kadang meninggi. orang tua dan guru. karena materinya agak sulit dan sebagainya. Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. Disini gurulah yang berhak menimbulkan atau membangkitkan minat belajar siswa baik dirumah maupun dikelas. ketakutan selama belajar. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas. gunakan kalimat pendek yang cepat untuk menimbulkan semangat. kadang lambat. Dari luar bisa saja lingkungan. karena siswa menganggap gurunya seorang yang kejam. Variasi suara bisa mempengaruhi informasi yang sangat biasa sekalipun. bila sudah begitu siswa diliputi oleh rasa cemas. c. jenis rangsangan baru yang dapat menarik perhatian termasuk warna dan bentuk. seorang guru dapat menarik perhatian tentang kata-kata penting pada suatu bacaan dengan memberi warna merah atau digaris bawahi. apalagi yang duduknya dideretan belakang. b. baik dalam intonasi. yaitu halhal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya. jika materi yang disampaikan oleh guru iru tidak menjadi perhatian siswa. Bagi guru yang harus diingat adalah suatu pelajaran tidak boleh tampak terlalu rumit dan guru tidak boleh mempersulit pelajaran yang sederhana dikarenakan semata-mata untuk menarik perhatian siswa. justru akan sulit diterima. nada dan kecepatan. Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci.mengajar guru. Variasi gaya mengajar guru ini meliputi komponen-komponen sebagai berikut : Variasi Suara Variasi suara dalah perubahan suara dari keras menjadi lemah. maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang diajarinya. gunakanlah bisikan atau tekanan suara untuk hal-hal penting. Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal yang baru. kadang rendah (pelan). sehingga tidak lagi suka belajar. volume. Suara guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya bervariasi. Untuk menimbulkan minat tersebut ada dua cara yakni dari diri sendiri dan dari luar dirinya. Pemusatan Perhatian Perhatian menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi. dari cepat menjadi lambat. sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi guru dalam memusatkan perhatian siswa bisa dengan memberikan kata-kata seperti : “coba perhatikan ini baik-baik”. Dalam pelajaran. “Jangan lupa ini dicatat dengan sungguh-sungguh” dan sebagainya. Dari ketiga prinsip ini guru harus mengetahui banyak tentang siswanya agar bisa mengarahkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran. jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan obyek. Bila sudah begitu siswa akan meremehkan gurunya.

jangan sampai guru menunduk terus atau melihat langit-langit dan tidak berani mengadakan kontak mata dengan para siswanya dan jangan sampai pula guru hanya mengadakan kontak pandang dengan satu siswa secara terus menerus tanpa memperhatikan siswa yang lain. . akan membangun dan membina jalinan tingkat tinggi. seorang guru adalah untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa. Kontak pandang Ketika proses belajar mengajar berlangsung. Untuk itu. Melihat kearah langit-langit c. Tapi jika seorang guru tidak memberikan kesenyapan atau waktu kepada siswa untuk berfikir dalam menjawab pertanyaannya siswa akan menjawab dengan asal alias asal bicara. pandanglah siswa-siswa anda secara merata tapi jangan berlebihan. dapat pula meningkatkan kepribadian guru dan hendaklah selalu diingat oleh guru. yaitu mengetahui psikologi anak atau siswa dan mengetahui seberapa banyak pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Pemberian waktu bagi siswa digunakan untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap. gunanya pandangan mata. sehingga bisa menjawab pertanyaan guru dengan baik dan tepat. Hal-hal diatas bertujuan supaya bisa mengendalikan situasi kelas dengan baik. Dengan keadaan senyap atau diamnya guru secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa. Hal-hal yang harus dihindari guru selama presentasinya didepan kelas : a. sebab menatap atau memandang mata setiap anak disik atau siswa bisa membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian.Kesenyapan atau kebisuan guru (Teaching Silence) Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi pihak guru ditengahtengah menerangkan sesuatu. sebab siswa begitu tahu apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya siswa bisa mengingat kembali informasi-informasi yang mungkin ia hafal. sehingga jawabannya kurang tepat dengan pertanyaan. Bertemunya pandang diantara mereka yang berinteraksi. sesungguhnya merupakan suatu etika atau sopan santun pergaulan karena menunjukkan saling perhatian diantara mereka. Perpindahan Posisi Guru Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu dalam menarik perhatian anak didik. bahwa perpindahan posisi itu jangan dilakukan secara berlebihan. Untuk itu seyogyanya guru memberikan kesenyapan terhadap siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya supaya jawabannya sempurna dan tepat. Melihat dan menghadap kepapan tulis saat menjelaskan kecuali sambil menunjukkan sesuatu. Melihat keluar ruang b. Melihat hanya pada siswa tertentu atas kelompok siswa saja e. kontak mata yang sering dilakukan. Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Bila dilakukan berlebihan guru akan kelihatan terburu-buru. Jadi dalam kontak pandang hendaknya guru berusaha seintim mungkin agar siswa merasa diperhatikan dan dihargai. Melihat kearah lantai d. lakukan saja secara wajar agar siswa bias memperhatikan. sebaliknya bila guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan pandangannya keseluruh kelas atau siswa.

belajar yang efektif adalah dengan mendengar. yakni dengan membaca bahan pelajaran secara sekilas. bahasa tubuh guru hendaknya bervariasi.Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian belakang. menggunakan metode eksperimen. yaitu : a. guru hendaknya memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar siswanya. Gaya mengajar guru yang mudah mempengaruhi siswa ini adalah kontak pandang. misalnya saja saat menerangkan guru hanya berdiri didepan kelas saja atau duduk dikursi saja. dan tidak sekedar mondar-mandir dan seorang guru janganlah melakukan kegiatan mengajar dengan satu posisi. memperhatikan segala sesuatu 2) Mengingat dengan gambar. grafik dan warna untuk meningkatkan memorinya Dari ciri-ciri diatas. b. warna. perpindahan posisi dan eksperimen wajah. Kinestetik Bagi pelajar kinestetik. Guru melakukan pergantian posisi. Visual Bagi pelajar visual. belejar yang efektif adalah dengan melibatkan diri langsung dengan aktifitasnya. Ciri-ciri siswa auditorial adalah : 1) Perhatiannya mudah terpecah 2) Berbicara dengan pola berirama 3) Belajar dengan cara mendengar 4) Berdialog secara internal dan eksternal c. Untuk itu guru disaat menerangkan dituntut untuk menggunakan variasi. sebaiknya jangan kaku atau kikuk. Ciri-ciri siswa kinestetik adalah : 1) Belajar dengan melakukan. tidak sekedar mondar-mandir. . Yang penting dalam perubahan posisi itu harus ada tujuannya. jika guru kaku dalam bergerak ini bisa menjemukan siswa. belajar yang efektif adalah dengan menggunakan "gambaran keseluruhan" (melakukan tinjauan umum). supaya menarik perhatian siswa dan mempermudah pemahaman siswa terhadap materi tersebut. bersemangat dan berminat dalam belajar. guru harus bisa menggunakan gambar. tanpa ada pergantian atau variasi ini bisa menimbulkan kebosanan siswa. pemusatan. lakukan saja secara bebas dan wajar bisa menarik perhatian siswa. dari sisi kiri ke sisi kanan. Cirri-ciri pelajar visual : 1) Teratur. supaya siswa termotivasi. Auditorial Bagi pelajar auditorial. perhatian dan kesenyapan memudahkan dan meningkatkan perhatian siswa dalam belajar. atau diantara anak didik dari belakang kesamping anak didik. menunjuk tulisan saat membaca 2) Mengingat sambil melihat langsung Disini guru dianjurkan melibatkan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung. untuk menumbuhkan minat belajar siswa dan meningkatkan memori siswa terhadap bahan tersebut. Adapun model-model belajar ada tiga macam. Model-Model Belajar Dalam melaksanakan variasi gaya mengajar. Maka dari itu gunakanlah variasi posisi ini secara wajar dan sesuaikan dengan tujuan. guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran. Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi posisi duduk dan diam di tempat lalu berjalan-jalan mengelilingi siswa dan sebagainya. jadi merekacenderung pada eksperimen (gerak). Dan bila variasi dilakukan secara berlebihan itu juga bisa mengganggu perhatian siswa atau konsentrasi siswa terhadap pelajaran.

Ciri-ciri Dalam bentuknya interaksi mengandung unsur pokok diantaranya interaksi edukatif yang bersifat nomatif. pristiwa ini adalah suatu rentetan kegiatan saling mempengaruhi.dalam artian yang lebih spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar. ia memiliki sifat sosial yang besar . kesehatan jasmani dan rohani. satu rangkaian perubahan dan pertumbuhan serta perkembangan fungsi-fungsi psikis dan pisik. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. Pendidikan sebagai kegiatan praktis yang berlangsung dalam suatu masa. Setiapaktifitas pengajaran tidak dapat dilepaskan dari segi teknis semisal bagaimana upaya untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur. 2. Dalam setiap bentuk interaksi edukatif mengandung dua unsur pokok.dalam rangkaiannya tersebut pristiwa yang menuju kepada pembentukan itu sendiri merupakan suatu proses teknis.pengajaran sebagai bagian dari pendidikan. Pengertian Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Ditandai dengan pelajar atau peserta yang aktif. 3. Evaluasi terhadap hasil interaksi Komponen-komponen Interaksi edukatif mempunyai sejumlah komponen sebagai berikuti: Tujuan . unsur teknis dan unsur normatif . Proses interaksi ini dapat terjadi dalam “ikatan situasi”. Interaksi edukatif mempunyai tujuan. Mempunyai situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik 7. 4. kepribadianyang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. antara guru ( sebagai pendidik). Memiliki metode tertentu dalam penyampaiannya untuk mencapai tujuan 6.Mengenal Interaksi Edukatif Realitas manusia sebagai makhluk sosial. sedangkan pendidikan bersifat normatif. Guru berperan sebagai pembimbing 5. terikat dalam situasi.ciri sebagai berikut: 1. Sedangkan suatu pendidikan dapat dirumuskan pula secara teknis dan merupakan pristiwa yang memiliki aspek teknis. Dalam unsur normatif. Interaksi edukatif memilki bahan/pesanyang menjadi isi interaksi atau sebuah materi.interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa. anak didik. Misalnya dalam pengajaran pmp guru dan peserta didik harus meyakini pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia. Dalam pengajaranpun terjadi suatu proses interaksi yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran yang mana tujuan tersebut telah ditentukan dan telah disistematisasikan secara terarah. subjek belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain. dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Interaksi edukatif mempunyai ciri. terarah pada satu tujun.Maka dibutuhkan suatu proses interaksi.

Karena itu bahan pelajaran mutlak harus mutlak dikuasai guru dengan baik. video dan sebagainya. Dalam kegiatan belajar mengajar metode sangat penting maka dalam hal ini guru harus menggunakan metode yang bervariasi karena penggunaan metode mengajar dapat mempengaruhi perhatian dan pemahaman anak didik. fasilitator serta pribadi guru dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. larangan. tanpa bahan pelajaran proses interaksi edukatif tidak akan berjalan. Evaluasi Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Kegiatan belajar mengajar Kegiatan belajar mengajar adalah inti dari kegiatan dalam pendidikan segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan interaksi ini edukatif biasanya digunakan alat non material dan alat material. Tujuan mempunyai arti penting dalam kegiatan interaksi edukatif tujuan dapat memberikan arah yang jelas dan pasti kemana pembelajaran akan dibawa oleh guru. di pusat kota. Kegiatan yang jelas Tujuan menempati posisi yang strategis dalam kegiatan dalam kegiatan interaksi edukatif nilai strategis adalah tujuan sebagai berikut: 1) Dapat memberikan arah kegiatan interaksi edukatif . Interaksi edukatif yang akan terjadi juga dipengaruhi oleh cara guru memahami perbedaan individual anak didik ini. Tujuan evaluasi disini adalah untuk mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan. atas dasar kesadaran itulah guru melakukan kegiatan pembuatan program pengajaran dengan prosedur dan langkah yang sistematik. Alat material berupa suruhan. ada dimana-mana di sekolah. waktu. Bahan pelajaran Bahan adalah susbtansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif. gambar. di pedesaan dan sebagainya. dalam pengelolaan dan pengajaran kelas yang perlu diperhatikan oleh guru adalah perbedaan anak didik pada aspek biologis intelektual dan psikologis. biaya. Metode metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yang diberikan selama kegiatan interaksi edukatif berlangsung. perintah. nasihat dan sebagainya. Sedangkan alat material adalah atau alat bantu pengajaran berupa papan tulis. Alat Alat adalah sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Segala sesuatu dapat di pergunakan sebagai sumber belajar sesuai kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Kegiatan interaksi adalah suatu kegiatan yang secara dilakukan oleh guru. Sumber pelajaran Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. Di dalam tujuan pembelajaran terhimpun sejumlah norma yang akan ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. di halaman. maka perlu diperhatikan tujuan berbagai jenis fungsinya anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya. serta kebijakan-kebijakan lainnya. baik bahan pelajaran pokok maupun bahan pelajaran penunjang dan bahan pelajaran adalah unsur inti dalam kegiatan interaksi edukatif.. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tergantung pada kreativitas guru.

(5) Dalam interaksi belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing. Materi didesain sehingga dapat mencapai tujuan dan dipersiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar mengajar. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai melalui interaksi belajar mengajar. 6) Memudahkan menyeleksi kemampuan yang di inginkan dari anak didik 7) Memudahkan menyeleksi memberi penilaian dan memudahkan pengorganisasian 8) Kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan pengajaran. Seorang pengajar dapat mengartikan belajar sebagai kegiatan pengumpulan fakta atau juga dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses penerapan prinsip. Dalam proses interaksi tersebut dibutuhkan komponen pendukung (ciri-ciri interaksi edukatif) yaitu (1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan : yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Jadi proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar. mampu menciptakan kondisi kelas yang kondusif. Dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur. dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian siswa mempunyai tujuan. didesain untuk mencapai tujuan yang telah dilaksanakan. memahami cara atau metode yang digunakan. (7) Ada batas waktu.2) Membantu memudahkan menyeleksi bahan pelajaran yang akandisampai kan 3) Memudahkan menyeleksi metode yang digunakan 4) Memudahkan menyeleksi media dan lat bantu pengajaran 5) Menolong menyeleksi sikap. maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar. Interaksi belajar mengajar sadar tujuan. Maka dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen merupakan hal yang penting. tingkah laku dan perbuatan guru. Langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan. memiliki keterampilan mengkomunikasikan program serta memahami landasan-landasan pendidikan sebagai dasar bertindak. Gagne (dalam Abdillah dan Abdul. (6) dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin. (4) Ditandai dengan adanya aktivitas siswa. terampil memanfaatkan media dan memilih sumber.( Titin. jika semua komponen di laksanakan guru dengan baik maka guru akan dapat mecapai tujuan pembelajaran dan komponen tersebut di jadikan acuan dan prosedur oleh guru Interaksi Edukatif Belajar Mengajar Sebagai Interaksi Dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berlanglsung interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan paling pokok. Ketika sedang mengajar di depan kelas. atau langkah-langkah sistematik yang relevan. (2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan. terjadi dua proses yang terpadu yaitu proses belajar mengajar. (3) Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. menguasai materi pelajaran. . (8) Unsur penilaian. Siswa sebagai pusat pembelajaran. 2003:10) Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola interaksi belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan mendesain program.1988 :17) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup yang memungkinkan makhluk hidup ini merubah perilakunya cukup cepat dalam cara kurang lebih sama. Setiap tujuan diberi waktu tertentu. Guru memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi dan sebagai mediator dan proses belajar mengajar. kapan tujuan itu harus dicapai.

Analisis Model Interaksi Edukatif Interaksi edukatif adalah sebuah interaksi belajar mengajar. Lebih lanjut dikemukakan bahwa belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau apa yang dipelajari dengan apa yang sudah dipunyai seseorang. dan mengadakan justifikasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar merupakan proses kegiatan komunikasi dua arah. mencari kejelasan. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang integral (terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar. membuat makna. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. dll. Merujuk pada kaum kontruktivis bahwa belajar merupakan proses aktif dalam mengkonstruksi arti teks. maka keseluruhan proses belajar yang harus dialami siswa dalam kerangka pendidikan di sekolah dapat dipandang sebagai suatu sistem.2002:58). melainkan mengaitkan konsep yang baru dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. bersikap kritis. atau mengaitkan konsep pada umumnya menjadi proposisi yang bermakna. (Suparno P . Sedangkan Dahar (1988 :11) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses dimana organisme perilakunya sebagai akibat pengalaman. 1997 :61) Berdasarkan beberapa pendapat tentang belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku tertentu baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung sebagai pengalaman (latihan) dalam interaksinya dengan lingkungan.1997 :65). dialog. Dalam interaksi edukatif ada dua buah kegiatan yakni kegiatan guru di satu pihak dan kegiatan anak didik di lain pihak. Selanjutnya proses belajar mengajar merupakan aspek dari proses pendidikan. pengalaman fisik. ( Hamalik . ”Teaching is the guidance of learning activities. Pandangan ini pada dasarnya mengemukakan bahwa mengajar adalah membimbing kegiatan belajar anak. Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. dengan kata lain anak-anak yang harus aktif belajar sedangkan guru bertindak sebagai pembimbing. Proses belajar harus tumbuh dan berkembang dari diri anak sendiri. Belajar bukanlah menghafalkan fakta-fakta yang terlepas-lepas.sehingga perubahan yang sama tidak harus pada setiap situasi baru. yang mana sistem tersebut merupakan kesatuan dari berbagai komponen (input) yang saling berinteraksi (proses) untuk menghasilkan sesuatu dengan tujuan yang telah ditetapkan (output). teaching is for the purpose of aiding the pupil learn” ……. yaitusebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang merupakan substansi sebagai medium antara guru dengan anak didik dalam rangka mencapai tujuan. Berdasarkan orientasi proses belajar mengajar siswa harus ditempatkan sebagai sujek belajar yang sifatnya aktif dan melibatkan banyak faktor yang mempengaruhi. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencournt. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan. keterampilan serta nilai-nilai dan sikap. 1989 dalam Suparno P. Guru mengajar dengan gayanya sendiri dan . Atau dapat dikatakan bahwa belajar sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman.

program semester atau catur wulan (cawu). yaitu guru dan anak didik. Guru tidak hanya mengajar . N.A Ametembun. mengidentifikasi tugas mengajar guru yang bersifat suksesif menjadi tiga tahap: Tahap Sebelum Pengajaran Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan pelaksanaan kurikulum. menemukan. dan alat bantu pelajaran. keseimbangan. 3. memilih pendekatan. 7. dan perencanaan program pengajaran. 4. Prinsip motivasi Prinsip berangkat dari persepsi yang dimiliki Prinsip mengarah kepada titik pusat perhatian tertentu atau fokus tertentu Prinsip keterpaduan Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi Prinsip mencari. Dalam mengajar. (1985) mengatakan bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila dalam prosesnya tercipta keselarasn. guru perlu memahami gaya-gaya belajar anak didik.Untuk tiu semua prinsip yang akan diuraikan berikut ini sebaiknya guru kuasai dan pahami betul-betul agar kegiatan interaksi edukatif dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Semua kegiatan yang di lakukan guru harus di dekati dengan pendekatan sistem. tetapi juga belajar memahami suasana psikologi anak didik dan kondisi kelas. 2. Prinsip-prinsip Prinsip – prinsip ini diharapkan mampu menjebatani dan memecahkan masalah yang sedang guru hadapi dalam kegiatan interaksi edukatif.program satuan pelajaran (satpel). alat. 6. Prinsip – prinsip tersebut adalah : 1. 5. Banyak kegiatn yang harus guru lakukan dalam interaksi edukatif. Kerelevansian gaya-gaya mengajar guru dengan gaya-gaya belajar anak didik akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif yang konsif. 2. Tidak ada satu pun dari komponen itu dapat guru abaikan dalam perencanaan pengajaran. Sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah komponen pengajaran. karena semuanya saling terkait dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. keserasian antara kedua komponen itu. 8. menyiapkan bahan dan sumber belajar.anak didik belajar dengan gayanya sendiri.D. Conners. memilih metode. 3. dan mengadakan evaluasi setelah akhir kegiatan pelajaran. dan mengembangkan diri Prinsip belajar sambil bekerja Prinsip hubungan sosial Prinsip perbedaan Individual Tahap-tahap R. Dalam merencanakan program-program tersebut di atas perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan : 1. Bekal bawaan anak didik Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan metode Pemilihan pengalaman – pengalaman belajar Pemilihan bahan dan peralatan belajar . 4. diantaranya memahami prinsip-prinsip interaksi edukatif. 9. 5.

Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah direncanakan. 4. sehingga anak didik mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien. Menilai pengajaran guru 3. 9. yaitu : 1. Penerapan CBSA dalam Interkasi Edukatif Derajat aktifitas belajar yang optimal Indikator CBSA Indikator Keberhasilan belajar . 8. 3. 3. teknik atau dengan kata lain disebut teknologi. anak didik dengan anak didik. 5. 2. Ada beberapa aspek yang perlu di pertimbangkan dalam tahap pengajaran ini.6. Pengelolaan dan pengendalian kelas Penyampaian informasi Penggunaan tingkah laku verbal non verbal Merangsang tanggapan balik dari anak didik Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar Mendiagnosis kesulitan belajar Memperimbangkan perbedaan individual Mengevaluasi kegiatan interaksi Tahap Sesudah Pengajaran Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan anak didik. yang dimaksud dengan CBSA adalah salah satu strategi interaksi edukatif yang menuntut keaktifan dan partisipasi anak didik seoptimal mungkin. 2. Beberapa perbuatan guru yang tampak pada tahap sesuadah mengajar. antara lain : 1. anak didik dalam kelompok atau anak didik secara individual. 7. 4. Pengertian ini menempatkan anak didik sebagai inti dalam kegiatan interkasi edukatif. Sebagai konsep. Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia Mempertimbangkan pola pengelompokan Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar Tahap Pengajaran Dalam tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan anak didik. 1. Menilai Pekerjaan anak didik 2. melainkan merupakan cara. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya CBSA dalam Interaksi Edukatif Cara belajar siswa aktif (CBSA) atau student active learning (SAL) bukan disiplin ilmu atau teori. sehingga ia betul – betula berperan dan berpartisipasi aktif dala melakukan kegiatan belajar. Jadi. 8. CBSA adalah suatu proses kegiatan interaksi edukatif yang subjeknyaadalah anak didik yang terlibat secara intelektual dan emosional. 7. 6.

Tes formatif 2. 3. 4. Tes Sumatif Tingkat keberhasilan Setiap interaksi edukatif selalu menghasilkan prestasi belajar. Indikator Yang menjadi petunjuk. Tujuan dan lingkup kegiatan Asas pelaksanaan kegiatan Bentuk pelaksanaan kegiatan Langkah – langkah pelaksanaan keterampilan proses Pelaksanaan Cara belajar siswa aktif 1. Perilaku yang di gariskan dalam tujuan pembelajaran khusus (TPK) telah di capai oleh anak didik. dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai anak didik. 2. Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak didik menyadari. Tujuan dan ruang lingkup kegiatan CBSA Asas pelaksanaan kegiatan CBSA Bentuk pelaksanaan kegiatan CBSA Langkah-langkah CBSA Keberhasilan Interaksi Edukatif Pengertian Suatu proses interaksi edukatif tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus bahan tersebut. Penilaian Keberhasilan Keberhasilan interkasi edukatif biasanya di ukur dengan tes prestasi (hasil belajar). Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi belajar yang telah dicapai. .Pola Pelaksanaan Keterampilan Proses dan CBSA Pelaksanaan keterampilan proses Keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam proses interkasi edukatif. 1. 4. 2. bahan suatu proses belajar itu dianggap berhasil adalah sebagai berikut : 1. Tes Subsumatif 3. tes prestasi belajar dapat di manfaatkan untuk penilaian berikut : 1. 2. baik secara individual maupun kelompok. baik secara indiviadual maupun kelompok. 3. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang di ajarkan mencapai prestasi tertinggi.Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya. memahami.

Program perbaikan Taraf atau tingkat keberhasilan proses interaksi edukatif dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya. Salah satunya berhubungan dengan perbaikan proses interaksi edukatif itu sendiri. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful