P. 1
Strategi Belajar Mengajar

Strategi Belajar Mengajar

|Views: 323|Likes:

More info:

Published by: Stomt Chiiee Sneakerz on May 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2012

pdf

text

original

Sections

  • Konsep Strategi Belajar Mengajar (SBM)
  • Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar
  • Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar
  • Kedudukan Pemilihan & Penentuan Metode dl Pengajaran
  • Gaya Belajar dan Multiple Intelligences
  • Sumber Belajar dan Alat Pelajaran
  • Keberhasilan Belajar Mengajar
  • Penggunaan Media Sumber Belajar
  • Teknik-teknik Mendapatkan Umpan Balik
  • Pengembangan Variasi Mengajar
  • Mengenal Interaksi Edukatif
  • Analisis Model Interaksi Edukatif

Strategi Belajar Mengajar

Posted by Jaruki Andriansyah M at 06:22 0 comments

Konsep (SBM)
Pengertian

Strategi

Belajar

Mengajar
SBM

Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula. Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajarmengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betulbetul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.

Klasifikasi

SBM

Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan Expository dan Discovery/Inquiry. “Exposition” (ekspositorik) yang berarti guru hanya memberikan informasi yang berupa teori, generalisasi, hukum atau dalil beserta bukti bukti yang mendukung. Siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. Pengajaran telah diolah oleh guru sehingga siap disampaikan kepada siswa, dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu, disebut ekspositorik. Hampir tidak ada unsur discovery (penemuan). Dalam suatu pengajaran, pada umumnya guru menggunakan dua kutub strategi serta metode mengajar yang lebih dari dua macam, bahkan menggunakan metode campuran. Suatu saat guru dapat menggunakan strategi ekspositorik dengan metode ekspositorik juga. Begitu pula dengan discovery/inquiry. Sehingga suatu ketika ekspositorik - discovery/inquiry dapat berfungsi sebagai strategi belajar-mengajar, tetapi suatu ketika juga berfungsi sebagai metode belajar-mengajar. Guru dapat memilih metode ceramah, ia hanya akan menyampaikan pesan berturutturut sampai pada pemecahan masalah/eksperimen bila guru ingin banyak melibatkan siswa secara aktif. Strategi mana yang lebih dominan digunakan oleh guru tampak pada contoh berikut:

Pada Taman kanak-kanak, guru menjelaskan kepada anak-anak, aturan untuk menyeberang jalan dengan menggunakan gambar untuk menunjukkan aturan: Berdiri pada jalur penyeberangan, menanti lampu lintas sesuai dengan urutan wama, dan sebagainya. Dalam contoh tersebut, guru menggunakan strategi ekspositorik. Ia mengemukakan aturan umum dan mengharap anak-anak akan mengikuti/mentaati aturan tersebut. Dengan menunjukkan sebuah media film yang berjudul “Pengamanan jalan menuju sekolah guru ingin membantu siswa untuk merencanakan jalan yang terbaik dari sekolah ke rumah masing-masing dan menetapkan peraturan untuk perjalanan yang aman dari dan ke sekolah. Dengan film sebagai media tersebut, akan merupakan strategi ekspositori bila direncanakan untuk menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka perbuat, mereka diharapkan menerima dan melaksanakan informasi/penjelasan tersebut. Akan tetapi strategi itu dapat menjadi discovery atau inquiry bila guru menyuruh anak-anak kecil itu merencanakan sendiri jalan dari rumah masing masing. Strategi ini akan menyebabkan anak berpikir untuk dapat menemukan jalan yang dianggap terbaik bagi dirinya masing-masing. Tugas tersebut memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan pertanyaan sebelum mereka sampai pada penemuan-penemuan yang dianggapnya terbaik. Mungkin mereka perlu menguji cobakan penemuannya, kemungkinan mencari jalan lain kalau dianggap kurang baik. Dan contoh sederhana tersebut dapat kita lihat bahwa suatu strategi yang diterapkan guru, tidak selalu mutlak ekspositorik atau discovery. Guru dapat mengombinasikan berbagai metode yang dianggapnya paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Discovery dan Inquiry : Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Discovery (penemuan) adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental misalnya; mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan konsep, misalnya; bundar, segi tiga, demokrasi, energi dan sebagai. Prinsip misalnya “Setiap logam bila dipanaskan memuai” Inquiry, merupakan perluasan dari discovery (discovery yang digunakan lebih mendalam) Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya; merumuskan problema, merancang eksperi men, melaksanakan eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Selanjutnya Sund mengatakan bahwa penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas rendah, sedangkan inquiry adalah baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi. DR. J. Richard Suchman mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi. guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson, (pelajaran dengan penemuan terpimpin) yang langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Adanya problema yang akan dipecahkan, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan 2. Jelas tingkat/kelasnya (dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelajaran, misalnya SMP kelas III)

3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui keglatan tersebut perlu ditulis dengan jelas. 4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan 5. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melaksanakan kegiatan. 6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan 7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. 8. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa. 9. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan Sebagaimana mestinya. Sedangkan langkah-langkah inquiry menurut dia meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. Menemukan masalah Pengumpulan data untuk memperoleh kejelasan Pengumpulan data untuk mengadakan percobaan Perumusan keterangan yang diperoleh Analisis proses inquiry.

Implementasi

Belajar

Mengajar

Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugastugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa. Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus

dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. minat. dan bertanggung jawab. maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif. Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain. pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep belajar. dapat mengajarkannya. potensi. 4. jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa. Menurut penemunya. Contoh. dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru . 2. Misalnya. Di madrasah. ramah. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita. sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran. Jadi. Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :    Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan. Model dan metode apapun yang diterapkan. Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan. dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru. Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokokpokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati. 3. model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. antusias.dilakukan oleh guru atau siswa. model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat diantara model pembelajaran yang lain. maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut : 1. 5. setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Untuk menyikapi hal tersebut diatas. Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Menjaga agar para siswa “mencintai” kita. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. dan terampil dalam menggunakan alat peraga. tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). bakat. menyenangi materi yang kta ajarkan. hangat. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya. Model apa pun yang kita terapkan.

mabuk. Dalam hal ini materi harus di desain sedemikian rupa. kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciriciri tertentu. guru berperan sebagai pembimbing. bila hakikat belajar adalah “perubahan”. Ciri dan Komponen Belajar Mengajar Hakikat Belajar Mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar. Ditandai dengan aktivitas anak didik. 6. di desain untuk mencapai secara optimal. Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih efektif dan efisien. Misalnya. tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif. dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Hakikat. anak didik adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran karena itu. maka hakikat belajar mengajar adalah proses “perubahan” yang dilkakukan oleh guru. guru harus berusaha menghidupkan dan memberi motivasi. Ciri-ciri Belajar Mengajar Sebagai suatu proses perngaturan. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. atau langkah-langkah sistematik dan relevan. maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. 2. Inilah yang dimaksud dengan kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan. Akhirnya. bahwa anak didik merupakan syarat untuk bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. gila dan sebagainya. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan dispilin. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kegiatan belajar. 5. inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. perubahan fisik. 4. sehingga cocok untuk mencapai tujuan. maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur. Ada suatu proses (jalannya interaksi) yang direncanakan. Ini sama halnya anak didik tidak belajar. Dalam perannya sebagai pembimbing. agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Keaktifan anak didik di sana tidak hanya dituntut dari segi fisik. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “Perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Sebagai konsekuensi. Belajar mengajar memiliki tujuan. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapinya. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang . 3. Dalam kegiatan belajar mengajar. yang menurut Edi Suardi sebagai berikut: 1.

Metode. 7. Kegiatan Belajar Mengajar. Segala sesuatu yang telah diprogramkam akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. bukan guru. Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok.diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun anak didik dengan sadar. guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. . batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditingkatkan. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik). yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan Pelajaran. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). guru tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran. masalah evaluasi bagian penting yang tidak bisa diabaikan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu. guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak didik. Dari seluruh kagiatan diatas. Evaluasi. Dalam interaksi itu anak didiklah yang lebih aktif. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini. tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. 1991: 72). Dalam kegiatan belajar mengajar. kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Evaluasi harus guru lalkukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah dilakukan. Komponen-Komponen Belajar Mengajar Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi: Tujuan. Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah amana kagiatan itu akan di bawah. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang terlepas dari dispilin keilmuan guru. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan. Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. kapan tujuan itu sudah harus tercapai. Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. setelah guru melakukan kegiatan belajar mengajar. 8. Ada batas waktu. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. mereka diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Karena itu. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran. Dalam kegiatan belajar mengajar. Akhirnya. Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik.

dan Drs. Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses. evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. (1989: 85) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya.A. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. alat mempunyai fungsi. maka menurut Wayan Nurkancana dan P. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran. Jadi. alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan (Dr. Rustana Ardiwinata. harus guru hilangkan. Roestiyah N.N.K. M. Sumartana. serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana. Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik. Dan karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh gurudalam mengelola kelas. Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. menurut Wind dan Brown. yaitu evaluation. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Sumber Pelajaran.Alat. Marimba. Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris. Berbagai Pendekatan Dalam Belajar Mengajar Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. dan bukan membiarkannya. Yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang (Drs. Berbeda dengan pendapat tersebut. Ny. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana. sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dengan anak didik. baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar anak didik. (1983: 1) evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. Sesuai dengan pendapat di atas. dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar. sedalamdalamnya. Dengan demikian. Sebab pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal baru (perubahan). yaitu alat sebagai perlengkapan. Dikatakan bahwa Evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Brown. . Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. yang bisa merugikan anak didik. sumber belajar itu merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-halbaru bagi si pelajar. 1991: 165). Udin Saripuddin Winataputra. Dalam buku Essentials of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Ahmad D. guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat. Dalam mengajar. 1989: 51).P. Drs. Evaluasi.

Ada beberapa pendekatan yang dianjurkan dalam pembicaraan ini dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan berbagai masalah dalam kegiatan belajar mengajar. Demi jelasnya ikutilah uraian berikut.

Pendekatan

Individual

Di kelas ada sekelompok anak didik. Mereka duduk di kursi masing-masing. Mereka berkelompok dari dua sampai lima orang. Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan fasilitas belajar. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasan dan sebagainya, selalu ada variasinya. Masing-masing anak didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya. Perbedaan individual anak didik tersebut memberika wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar, dapat diatasi oleh kegiatan individual. Misalnya, untuk menghentikan anak didik yang suka biacara. Caranya dengan memisahkan/memindahkan salah satu dari anak didik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Anak didik yang suka bicara di tempatkan pada kelompok anak didik yang pendiam. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendakatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.

Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar terkadang ada juga guru menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan dipergunakan untuk membina dan mengembangkan sikap social anak didik. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok dapat ditumbuh kembangkan rasa social yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial timggi di kelas. Tentu saja sikap ini pada hal-hal yang baik saj. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan, seperti ekosistem pada mata rantai kehidupan pada semua mahkluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa ketergantungan makhluk lain secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu. Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya akan ada kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau mempunyai mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya mereka yang menpunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif, dan mandiri.

Beberapa pengarang mengatakan, keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal, atau saling menyukai satu sama lain. Yang mempunyai kecenderungan menamai keakraban sebagai tarikan kelompok adalah merupakan satu-satunya factor yang menyebabkan kelompok bersatu.
     

Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa factor, yaitu : Perasaan diterima atau disukai teman-teman Tarikan kelompok Teknik pengelompokkan oleh guru Partisipasi/ketelibatan dalam kelompok Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya struktur dan sifat-sifat kelompok.

Sedang sifat-sifat kelompok itu adalah:
     

Suatu multi personalia dengan tingkat keakraban tertentu Suatu system interaksi Suatu organisasi atau struktur Merupakan suatu motif tertentu atau tujuan bersama Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu Pola perilaku dapat di observasi yang di sebut kepribadian.

Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada permasalahan anak didik yang bernasalah anak didik yang bervariasi. Setiap masalah dihadapi oleh anak didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan. Dalam belajar, anak didik mempunyai motivasi yang berbeda. Pada satu sisi anak didik memiliki motivasi yang rendah tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu yang relative lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali. Ini sebagai tanda adanya gangguan dalam proses belajar mengajar. Karena itu, dalam mengajar kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan jarang sekali menggunakan satu metode. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru bisa saja membagi anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan anak didik. Permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan ini didekati dengan “pendekatan bervariasi”.

Pendekatan Edukatif
Anak didik yang melakukan kesalahan yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan pelajaran, misalnya tidak tepat diberikan sangsi hokum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cedera, ini hukuman yang tidak bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah

menggunakan Teori Power, yakni teori kekuasaan, untuk menundukkan orang lian. Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hokum, norma susila, norma, moral, norma social dan norma agama. Guru yang hanya mengajar di kelas, belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berakhlak mulia. Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan hubungan guru dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang bermasalah. Guru yang jarang bergaul dengan anak didik dan tidak mau tahu dengan masalah yang dirasakan anak didik, membuat anak didik apatis dan tertutup atas apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan dalam pendidikan, karena menyebabkan anak didik menjadi orang yang tertutup.

Pendekatan Pengalaman
Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua pengalaman dapat bersifat mendidik, karena ada pengalaman yang tidak bersifat mendidik. Suatu pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak kea rah tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu, misalnya “mendidik anak menjadi pencopet”. Karena itu, cirri-ciri pengalaman yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak, kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak. Demikianlah pendapat Witherington. Betapa tingginya nilai suatu pengalaman, maka disadari akan pentingnya pengalaman itu bagi perkembsngsn jiwa anak. Sehingga dijadikanlah pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Untuk pendidikan agam islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan unuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individu maupun kelompok.

Pendekatan

Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik anak kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Begitulah biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, kedua kepribadian yang bertentangan ini selalu ada dan tidak jarang terjadi konflik di antara mereka. Anak kecil memang belum mempunyai kewajiban, tetapi dia sudah mempunyai hak, seperti hak dipelihara, hak dilindungi, hak diberi makanan yang bergizi, dna hak mendapatkan pendidikan. Salah satu cara untuk memberikan haknya di bidang pendidikan adalah dengan cara memberikan kebiasaan yang baik dalam kehidupan mereka. Berdasarkan pembiasaan itulah anak terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat, setelah mendapatkan pendidikan kebiasaan yang baik di rumah. Pengaruhnya juga terbawa ke sekolah. Menanamkan

kerja kelompok. dan pemberian tugas. Pendekatan Emosional Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Perasaan rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual. Pendekatan Rasional Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. baik sebagai individu maupun sebagai makhluk social. yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat merasakan sesuatu. Pendidikan agama islam sangat penting dalam hal ini. Karena dengan pendidikan pembiasaan itulah diharapkan siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini siswa dibiasakan mengamalkan ajaran agama. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Emosi akan memberi tanggapan bila ada rangsangan dari luar diri seseorang. Sebaiknya. maka nilai ilmu sudah fungsional di dalam diri anak. diskusi. Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Untuk mendukung pemakaian pendekatan ini.kebiasaan yang baik memang tidak mudah. baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah. . Dengan akal pula dapat membuktikan dan mmbenarkan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka dari itu pendekatan pembiasaan dimaksudkan di sini. Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Dengan begitu. Bahkan yang lebih penting adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak. akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. mana kebenaran dan mana kedustaan dari sesuatu ajaran atau perbuatan. Anak dapat merasakan manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. Tanya jawab. Anak mendayagunakan nilai guna dari suatu ilmu untuk kepentingan hidupnya. Walaupun disadari keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu. terutama untuk pendidikan agama islam. Dengan begitu. baik secara individual maupun secara kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. keyakinan terhadap agama yang dianut bertambah kokoh. perasaan social dan perasaan harga diri. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran. Pendekatan Fungsional Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar pengisi otak. maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah. tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak. Bertolak dari pendidikan kebiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan pendekatan yang disebut pendekatan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. tetapi diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan penghasilan teknologi modern. dan kadang-kadang makan waktu yang lama. Maha Pencipta atas segala sesuatu di dunia ini.

Pendekatan Keagamaan Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimat dapat mempunyai kalimat yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu digunakan. Dengan kata lain. 5. tetapi bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan. Motivasi belajar siswa merupakan factor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu itu tidak sekuler. sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Tentu saja penggunaannya tidak sembarangan. Akhirnya. Dengan demikian. yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan. tentu saja diperlukan penggunaan metode mengajar. didukung oleh pemahaman lintas budaya. Kadar motivasi ini ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran siswa yang bersangkutan. dihayati. Khususnya untuk mata pelajaran umum. tetapi diyakini. 4. 3. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan atau tulisan. tetapi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang dicapai. dipahami. dan diamalkan secara hayat siswa di kandung badan. Untuk memperlicin jalan ke arah itu. Pendekatan Kebermaknaan Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini diuraikan sebagai berikut: 1. tetapi terdiri dari banyak mata pelajaran. Berbagai pendekatan dalam pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk kedua jenis mata pelajaran ini.Pendekatan fungsional yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan tersebut. Dalam prakteknya tidak hanya digunakan satu. dan perasaan). Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural. sebagai bahasa sasaran. struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan. Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa dan kosa kata). pendapat. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu dipertimbangkan. guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan . Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh pembelajaran unsure-unsur bahasa sasaran. 2. ceramah. kebemaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam keberhasilan belajar siswa. tetapi menyatu dengan nilai agama. pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa. Dengan penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi. antara lain adalah metode latihan. 6. pikiran. Tanya jawab dan demonstrasi. pemberian tugas. baik secara lisan maupun tertuis. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut.

pengalaman. ada yang sedang. metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam – macam. cirri-ciri dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait dengan pengajaran. 7.90) adalah motif – motif yang aktif dan berfungsinya. Nilai Strategi Metode dan Penentuan Metode . Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitaor yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berbahasanya. A. maka metode yang digunakan harus sesuai dengan tujuan. Karena itu. dan ada yang lambat. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman. Metode adalah pelican jalan pengajaran menuju tujuan. tat nilai. Bila tidak. Dari hasil analisis yang dilakukan. Metode sebagai alat untuk mencapai tujuan Tujuan adalah suatu cita – cita yang akan dicapai dlam kegiatan belajar mengajar. Artinya. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu. Pemilihan 1. tidak hanya sebagai objek belaka. Metode Sebagai Strategi Pengajaran Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relative lama. tata nilai. sehingga penguasaan penuh dapat tercapai. minat. Karena itu. 8. lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode yaitu: Metode sebagai Alat motivasi Ekstrinsik Sebagai salah satu komponen pengajaran. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Dalam proses belajar mengajar. minat. maka akn sia – sialah tujuan tersebut. karena adanya perangsang dari luar. dan masa depannya. Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang. siswa merupakan subjek utama. Karena itu. Factor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi. dan masa depannya harus dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih bermakna bagi siswa. ada yang cepat. Tujuan adalah pedoman yang member arah kemana keegiatan belajar mengajar akan dibawa. metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran. pengalaman siswa dalam lingkungan. Kedudukan Pemilihan & Penentuan Metode dl Pengajaran Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar Salah satu usaha yang tidak pernah ditinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan belajar mengajar. metode menempati peranan yang tidak kalah petingnya dari komponen lalinnya dalam kegiatan belajar mengajar.M (1988.

atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. 4. konsep. yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Situasi. karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Tujuan. 97) mengatakan. Faktor – factor yang mempengaruhi Pemilihan Metode Guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya. Kontruksi berarti bersifat membangun. Metode pembelajaran Konstruktivisme Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). dalam konteks filsafat pendidikan. sebagai persiapan tertulis.Guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kelas. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akna mempengaruhi pemilihan metode mengajar. Anak didik adalah manusia berpotensi yang mengahajatkan pendidikan. Efektivitas Penggunaan Metode Efektivitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam suatu pelajaran. Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru. Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau ……pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno. bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut :      Anak Didik. 1997). Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. jjika memahami sifst – sifst masing – masing metode tersebut.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan . Guru adalah manusia berpotensi yang mengjarkan pendidikan. Guru. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemulihan dan penetuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain. 2. Fasilitas. Situasi adalah suasana kegiatan belajar mengajar yang guur ciptakan tidak selalu sama dari hari kehari. Pentingnya Pemilihaan dan Penentuan Metode Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreativ bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Winarno Surahmad (1990. 3. Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar.

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar. 1988: 132). Selanjutnya. dorongan. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin.kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor. 1993. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. 1996: 7). 1997). Atwel. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. pengetahuan atau teknologi. Bleicher & Cooper. Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran. 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. 2. . Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar.1993. yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Misalnya. 1997). dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Sedangkan. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk. 1. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Wilson. yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin. 1998). pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi. Teslow dan Taylor. Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut: Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. Cobb. seseorang belajar denga mengasosiasikan fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. Teori Bermakna Ausubel Menurut Ausubel. Dengan demikian. Konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan. Karakteristik pendekatan konstruktivis sosio ini sangat sesuai dengan karakteristik RME. Konstrutivisme dan Teori Perubahan Konsep memberikan pengertian bahwa setiap orang dapat membentuk pengertian yang berbeda tersebut bukanlah akhir pengembangan karena setiap kali mereka masih dapat mengubah pengertiannya sehingga lebih sesuai dengan pengertian ilmuan. 1991). Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman. seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan sisiwa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat. memberikan contoh. bukanlah akhir dari segalagalanyamelainkan justru menjadi awal untuk pengembangan yang lebih baik. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan sekema yang ada atau dapat mengubahnya. menurut Teori Konstruktivisme dan teori Perubahan Konsep. sangat berperan dalam menjelaskan mengapa seorang siswa bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari. Teori Belajar Konsep Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori petubahan konsep ini dipengaruhi atau didasari oleh filsafat kostruktivisme. fenomena. Dalam pembelajaran matematika. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest. Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial) disebut pendekatan konstruktivis sosial. Eropa. dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. Teori Belajar Bermakna dan Ausuble. HUBUNGAN KONSTRUKTIVISME DENGAN TEORI BELAJAR LAIN Selama 20 tahun terakhir ini konstruktivisme telah banyak mempengaruhi pendidikan Sains dan Matematika di banyak negara Amerika. “Salah pengrtian” dalam memahami sesuatu. Teori perubahan konsep sangat membantu karena mendorong pendidik agar menciptakan suasana dan keadaan yang memungkinkan perubahan konsep yang kuat pada murid sehingga pemahaman mereka lebih sesuai dengan ilmuan. menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep . Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan konstruktivisme sosio (socio-constructivism). dan Teori Skema. dan teori perubahan konsep yang menjelaskan bahwa siswa mengalami perubahan konsep terus menerus. Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivesme. dan Australia. siswa berinteraksi dengan guru.peringatan. Inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar seperti teori Perubahan Konsep. Kostruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana siswa membentuk pengetahuan yang tidak tepat.

kita dapat menambah skema yang ada sihingga dapa t menjadi lebih luas dan berkembang. karena langkah-langkah pencarian dan bagaimana pencarian dilaporkan dan dirumuskan sudah dituliskan sebelumnya. 3. Kadang–kadang orang menganggap bahwa konstruktivisme sama dengan Teori Pencarian Sendiri (Inguiry Approach) dalam belajar. Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. konstruktivime lebih menekankan pengembangan konsep dan pengertian yang mendalam. Behaviorisme. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru 7. bila seseorang mengikuti perkembangan pengetahuan yang ada. Teori Skema Menurut teori ini. meskipun ia berumur tua akan tetap tidakakan berkembang pengetahuannya. Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide 5. bla seseorang tidak mengkonstruktiviskan pengetahuan secara aktif. Konstruktivisme lebih menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif sibelajar. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka berfikir dan bukan meniru saja. 8. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran. Bila Behaviorisme menekankan keterampilan sebagai suatu tujuan pengajaran. dan Maturasionisme Konstruktivisme berbeda dengan Behavorisme dan Maturasionisme. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah: 1. Sebenarnya kalau kita lihat secara teliti. Dalam banyak hal mereka punya kesamaan.atau pengertian yang sudah dipunyai siswa.seperti penekanan keaktifan siswa untuk memenuhi suatu hal. kedua teori ini tidak sama. Bila Maturasionisme lebih menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan langkah–langkah perkembangan kedewasaan. Dalam konstruktivisme terlibih yang personal sosial. Menurut Konstruktivisme. dengan sendirinya ia akan menemukan pengetahuan yang lengkap. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif. Dalam pengertian Maturasionisme. Teori ini lebih menunjukkan bahwa pengetahuan kita itu tersusun dalam suatu skema yang terletak dalam ingatan kita. Konstrtivisme. Dalam belajar. . Bahkan. Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid 4. Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen. Dalam teori ini kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. justru dikembangkan belajar bersama dalam kelompok. Dapat terjadi bahwa metode pencarian sendiri memang merupakan metode konstruktivisme tetapi tidak semua semua konstruktivis dengan metode pencarian sendiri. atau sekema yang terdiri dari konstruksi mental gagasan kita. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar 2. Hal ini yang tidak ada dalam metode mencari sendiri. dalam praktek metode pencarian sendiri tidak memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri. pengetahuan disimpan dalam suatu paket informasi. Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid 6.

Driver dan Bell (dalam Susan. melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas. (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa. (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari. materi. perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi. melainkan melalui tindakan. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid. Sedangkan. Bahkan. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar. sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah 5. Secara garis besar. 6. Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. 1999: 61). 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan. (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal. Belajar merupakan proses aktif . dan sumber. Marilyn dan Tony. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa. Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa 7. dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar 4. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan 8. siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri.PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME 1. Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme. HAKIKAT ANAK MENURUT TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang. prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah: 2. (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri 3. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus. melainkan seperangkat pembelajaran. Mmencari dan menilai pendapat siswa 9.

Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Berfikir : Dalam proses membina pengetahuan baru. murid berfikir untuk menyelesaikan masalah. (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan.untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring labalaba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo. 1999: 63) adalah sebagai berikut: (a) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar. konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama. Faham : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru. Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. 1998: 5). Maksudnya. 1999: 62). 2. Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru. Ingat : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TEORI KONSTRUTIVISME Kelebihan 1. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (c) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. menjana idea dan membuat keputusan. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan. Dari pengertian di atas. Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi. pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration). mereka akan ingat lebih lama semua konsep. (b) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. . Justeru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Selain itu. pengelompokan. Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget. 3. 4. proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi). Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator. fasilitor. pengekalan. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi.

Proses belajar kontruktivistik secara konseptual proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif. Peranan guru. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Evaluasi. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. kontruksi pengetahuan. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak. Ia harus aktif melakukan kegiatan. berupa reaksi fifik terhadap . diukur dan dinilai secara konkret. PROSES BELAJAR MENURUT KONSTRUKVISTIK 1. Seronok : Oleh kerana mereka terlibat secara terus. 3. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. lingkungan. sarana belajar. maka mereka akan berasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru. Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung. ingat. Peranan siswa. Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek si belajar. menyusun konsep. aktif berfikir. 4. Pandangan ini mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas. melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sebdiri. baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. 5. dan evaluasi belajar. Sarana belajar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya. media. bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya. 2. dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. mereka faham. Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri. 6. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. yakin dan berinteraksi dengan sihat. peralatan. Metode pembelajaran Behaviourisme Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati. peranan guru.5. Segala sesuatu seperti bahan.

Setiap response menimbulkan stimulus yang baru. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif. dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali. maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. . Sifatnya mekanis 5. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). Dalam melaksanakan coba-coba ini. sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). asosiasi. Menurut Thorndike. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Mental and social Measurements (1904).stimulans. Animal Intelligence (1911). dan kucing segera lari ke tempat makan. sehingga dapat digambarkan sebagai berikut: S R S1 R1 dst Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop. Mementingkan masa lalu Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Ateacher’s Word Book (1921). dan Human Nature and The Social Order (1940). demikian selanjutnya.Your City (1939). Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. Menekankan pada faktor bagian 3. Teori Behavioristik: 1. maka terbukalah pintu sangkar tersebut. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi. 4. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons. Belajar berarti penguatan ikatan. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. Mementingkan faktor lingkungan 2. perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ).

walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. ia akan dihukum. tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah. bila anak mengerjakan PR. yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) . Hukum akibat (law of effect). Sebaliknya. Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan. Akibatnya. maka timbullah ketidakpuasan. tetapi ia tidak melakukannya. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. Masalah kedua. Apabila hal ini dilaksanakan. Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut: Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response). maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Makin sering diulangi. Namun. materi pelajaran akan semakin dikuasai. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. 1984). suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya. maka ia akan cenderung mengerjakannya. yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku. maka ia akan cenderung mengerjakannya. jika ada kecenderungan bertindak. ia mendapatkan muka manis gurunya. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia. Misalnya. jika sebaliknya. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. maka timbullah rasa ketidakpuasan. maka ia akan merasa puas.Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut : Hukum Kesiapan (law of readiness). Apabila hal ini dilaksanakan. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto. . Hukum Latihan (law of exercise). Misalnya. yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya. Akibatnya. ia tak akan melakukan tindakan lain. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Akibatnya.

Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif). Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain. tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif. Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing. emosi . Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja. maupun psikomotornya. sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah. dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain : Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon. dimana perangsang asli .Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting) Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Hukum Respon by Analogy Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Hukum akibat direvisi. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah. Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training. sosial. yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element). sedangkan hukuman tidak berakibat apaapa. Hukum Sikap ( Set/ Attitude). Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. Selain menambahkan hukum-hukum baru.

tetapi setelah si pejual es krim sering lewat. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyibunyian dari pedagang makanan(rujak. secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. baru makanan. dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Tanpa disadari. maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. dengan segala kelebihannya. maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut. suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. 1985). Awalnya mungkin suara itu asing. maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu. Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan seharjhari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama. Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu. peranan maupun bicara. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. es. Namun demikian.dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Sebagai contoh. Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. sedang merah adalah rangsangan buatan. siomay) yang sering lewat di rumah. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan. Bayangkan. perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang. Makanan adalah rangsangan wajar. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme. melainkan tingkah lakunya. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) . bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker. Pavlov berpendapat. nasi goreng. Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia. Kin sebelum makanan diperlihatkan. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran.

Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. proses ini disebut shapping. Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. dan lantai yanga dapat dialir listrik. tidak digunkan hukuman. jika salah dibetulkan. diberi hadiah. yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol. Untuk itu lingkungan perlu diubah. untukmenghindari adanya hukuman. atau penghargaan. Dalam pembelajaran digunakan shaping. pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik. lebih dipentingkan aktifitas sendiri. Beberapa prinsip Skinner antara lain : Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa. perilaku. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism.Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern. dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.F. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Tingkah laku yang diinginkan pendidik. ia mengemukakan teori operant conditioning. penampung makanan. dalam proses pembelajaran. makanan keluar. tidak sengaja ia menekan tombol.1970) B. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. digunakan sistem modul. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. lampu yangdapat diatur nyalanya. . Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian. Skinner membuat eksperimen sebagai berikut : Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”. memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang. Materi pelajaran. Dalam beberapa hal. jika bebar diberi penguat. Dalam proses pembelajaran. alat pemberi makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan. Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Pada tahun 1938. Dalam perkembangan psikologi belajar. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Motivasi. dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan danpemecahan masalah). Reprodukdi motorik. Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon. 2. teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu: 1. Albert Bandura (1925-masih hidup) Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare alberta berkebangsaan Kanada. rangkaian SR. Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut: Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat. asosiasi verbal. mencakup kemampuan fisik. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. diskriminasi. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. 3. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal. ingatan dan motifasi. Penyimpanan atau proses mengingat. Karena melibatkan atensi. kemampuan meniru. mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. 4. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR. keakuratan umpan balik.Robert Gagne ( 1916-2002) Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Mementingkan pengaruh lingkungan Mementingkan bagian-bagian Mementingkan peranan reaksi Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon . mencakup kode pengkodean simbolik. Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah: Perhatian.

Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. bagi siswa harus dapat menerima informasi yang disampaikan oleh gurunya secara baik pula –yang selanjutnya saya sebut sebagai gaya belajar. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa. kelenturan. hal terpenting dalam proses pembelajaran. olahraga dan sebagainya. sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik. dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Chatib (2009:100-101) menjelaskan pada dasarnya gaya mengajar adalah strategi transfer informasi yang diberikan oleh . Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya 6. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan. Guru tidak banyak memberi ceramah. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. bersifaat mekanistik. bersikap otoriter. menggunakan komputer. sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap. guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. berenang. komunikasi berlangsung satu arah. reflek. Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru. perlu motivasi dari luar. suka mengulangi dan harus dibiasakan. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks. spontanitas. Sebagai konsekuensi teori ini. mengetik. daya tahan dan sebagainya. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. menari.5. Murid dipandang pasif . salah satunya adalah bagaimana seorang guru mampu menyampaikan informasi dengan baik – selanjutnya disebut sebagai gaya mengajar. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan 7. Begitu juga. tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Gaya Belajar dan Multiple Intelligences PADA dasarnya. Kesalahan harus segera diperbaiki. contohnya: percakapan bahasa asing. Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya.

Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Hal ini menurut Bobbi DePorter dinamakan sebagai asas utama quantum learning. 2010) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa. Dalam proses pembelajaran yang dianggap modern maka sumber belajar tidak hanya buku saja. Dengan demikian. yaitu masuk ke dunia siswa. seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. Dengan demikian. mulai dari skala tertinggi sampai terendah. (Silvana. dan mengembangkan kemampuan yang kurang dominan. setiap guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswanya yang diketahui dari Multiple Intelligences Research (MIR). Guru harus mampu membantu mereka untuk memaksimalkan dan menggunakan gaya belajar mereka. Setiap guru akan masuk ke dunia siswa sehingga siswa merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses belajar. Sumber Belajar dan Alat Pelajaran Pengertian Sumber Belajar Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Berpijak pada konsep keragaman gaya belajar dan perbedaan tingkat kecenderungan multiple intelligence siswa mengenai adanya perbedaan individual. karena model pembelajarannya didesain berlandaskan pada gaya belajar dan kecerdasan yang ada pada masing-masing siswa. terutama jika metode mengajar yang dipilih digunakan lebih cocok gaya belajar yang disukai mereka. tidak hanya dalam gaya yang disukai mereka. Dalam pengajaran tradisional guru sering hanya menetapkan buku teks sebagai sumber belajar. Siswa lain mungkin menemukan bahwa mereka menggunakan gaya yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Sebuah gaya belajar siswa dinilai atau diriset sebelum proses pembelajaran dimulai. 2010). Apabila seseorang diriset dengan MIR. tetapi guru sebaiknya memanfaatkan sumber lain . maka akan terbaca kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya. Oleh karena itu. dan hasilnya digunakan untuk mengarahkan siswa melalui serangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajarnya (Keller. guru perlu menyampaikan informasi dengan menggunakan gaya mengajar yang berbeda. kiranya penting untuk diperhatikan bagi para guru untuk memahami keragamaan gaya belajar siswa ini. perlu untuk mengetahui gaya belajar siswa. Howard Gardner. ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. itupun biasanya terbatas hanya dari salah satu buku tertentu saja. Kemudian. Hasil MIR ini merupakan data yang sangat penting untuk diketahui oleh guru dan siswanya. Sebagai guru. Selain itu. Conner (2008:1) menyatakan bahwa gaya belajar siswa mengacu pada cara siswa memilih untuk menerima atau memproses informasi baru. Beberapa siswa mungkin menemukan bahwa mereka memiliki pilihan gaya belajar atau cara menyelesaikan masalah dengan gaya belajar yang lain. siswa bisa belajar dengan cara lain.guru kepada siswanya. Dengan adanya variasi dalam menyampaikan informasi kepada siswa secara keseluruhan memungkinkan siswa untuk belajar lebih baik dan lebih cepat. diharapkan setiap individu siswa dapat belajar secara menyenangkan.

Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual. dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya. film. dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional. tetapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang dilakukan setiap siswa. . Evaluasi dalam pembelajaran bukan hanya sekedar untukmengukur keberhasilan siswa dalam pencapaian hasil belajar atua prestasi belajar. setiap guru tidak hanya menentukan tes sebagai alat evaluasi akan tetapi juga menggunakan nontes dalam bentuk tugas misalnya wawancara. majalah. baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. 2. Apa fungsi sumber belajar? Sumber belajar memiliki fungsi : 1.selain buku wajib. Oleh sebab itu. laboratorium. Evaluasi merupakan proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipetimbangkan. sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah. dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). perpustakaan dan lain sebagainya. Apa sumber belajar itu? Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data. misalnya. orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi.

yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit. yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan. (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design). 6. (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization). Lebih memantapkan pembelajaran. diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran . Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa Ada berapa jenis sumber belajar? Secara garis besarnya. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis. dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian. yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. 4.3. 5. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas. dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar. terdapat dua jenis sumber belajar yaitu: 1. Memungkinkan belajar secara seketika. 2. dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

dan sebagainya (2) orang: guru. dan (6) lingkungan: ruang kelas. motor. pasar. nara sumber. percakapan biasa. gambar. radio. seminar. komik. sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1) pesan: informasi. (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi. (4) alat/ perlengkapan: perangkat keras. studio. tokoh karier dan sebagainya. tokoh masyarakat. siswa. teman. instruktur. obeng dan sebagainya. permainan. kebun. (4) fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan. dongeng. Apa kriteria memilih sumber belajar? Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: (1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal. simulasi.Dari kedua macam sumber belajar. cerita rakyat. transparansi. dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa. arca. (3) bahan: buku. generator. slides. ahli. televisi. (5) sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar. perpustakaan. toko. grafik yang dirancang untuk pembelajaran. diskusi. sarasehan. komputer. kantor dan sebagainya. bahan ajar. mobil. candi. hikayat. dan sebagainya. (2) praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang rumit. kamera. pemecahan masalah. mesin. debat. museum. VCD/DVD. aula. sulit dan langka. relief. alat listrik. film. pimpinan lembaga. (3) mudah: dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita. talk shaw dan sejenisnya. Bagaimana memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar? . papan tulis.

maka perlu dilakukan perencanaan. Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar. yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond.Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. berkemah. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif. seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya. Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam. karyawisata. seperti survey. Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas. Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). praktek lapangan dan sebagainya. Bagaimana prosedur merancang sumber belajar? .

Bahan bekas. prosedur merancang sumber belajar dapat mengikuti alur sebagai berikut: Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar? Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya. yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. yang banyak berserakan di sekolah dan rumah. Padahal dengan berbekal kreativitas. kotak pembungkus. Dengan sentuhan . bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. mainan.Secara skematik. guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalkan. seperti kertas.

dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masingmasing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien. harus dilihat dari ketertarikan warga belajar terhadap materi yang disampaikan. keterampilan dan atau nilai-nilai akan disampaikan oleh tutor kepada warga belajar. Bahan belajar itu pula yang akan dipelajari oleh warga dalam mencapai tujuan belajar. Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet. dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas.kreativitas. sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-. dan kesamaan tingkat dan lingkup pengalaman antara tutor dan warga belajar Bahan belajar yang berisi pengetahuan. kesesuaian materi dengan kebutuhan warga belajar. memudahkan warga belajar dalam mempelajarinya. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider? Pengorganisasian Bahan Pengorganisasian bahan belajar sedemikian rupa. bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Setiap bahan belajar yang ingin disampaikan. Materi harus dipilih atas . Demikian pula. lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Pengorganisasian bahan belajar dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran. masih dianggap relatif mahal.

Adanya informasi tentang sasaran belajar. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapankecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak. 1993: 5). dan tingkat kebaharuan dan aktualisasi bahan. Pengertian MengajarJerome S. Kemampuan-kemampuan kognitif. Keberhasilan Belajar Mengajar Pengertian Belajar Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Ketertarikan warga belajar dalam memilih dan mempelajari bahan belajar adalah merupakan manifestasi dari perilaku belajar warga belajar. afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat. Dari ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu tindakan sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan dalam diri mereka atas stimulasi lingkungan dan proses mental mereka sehingga bertambah pengetahuannya. problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati. 2002: 22). Seorang tutor hendaknya mengetahui faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar untuk diajarkan. Dalam proses belajar tesebut. akan kemampuan dirinya (Dimyati dan Mudjiono.Siswa mengalami suatu proses belajar. Morgan. Surya. Faktor-faktor yang patut dipertimbangkan dalam memilih bahan belajar adalah tingkat kemampuan peserta. adanya evaluasi dan keberhasilan belajar. adanya penguatan-penguatan. sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan ( Moh. keterkaitannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta.pertimbangan sejauh mana peranannya dalam menciptakan situasi untuk penyesuaian perilaku warga belajar di dalam mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. tingkat daya tarik bahan belajar. Materi itu pun akan mempengaruhi pertimbangan tutor dalam memilih dan menetapkan teknik pembelajaran. menyebaban siswa semakin sadar. seperti dikutip Tim Penulis Psikologi Pendidikan (1993: 60) ringkasnya mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. 23). . 1992.

guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/ TIK telah dicapai siswa baik individu maupun klasikal Namun yang banyak dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dari keduanya adalah daya serap siswa terhadap pelajaran Penilaian keberhasilan Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan dan dapat digolongkan kedalam jenis penilaian sebagai berikut : Tes Formatif Penilaian ini digunakan untuk menguur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap anak didik terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses balajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu Tes Subsumatif Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Daya serap terhadap bahan pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi. melainkan mengandung makna yang lebih luas dan kompleks. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor Tes Sumatif Tes ini dilakukan untuk mengukur daya serap anak didik terhadap bahan pokokpokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester atau dua tahun pelajaran.Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. adalah: 1. dan Tingkatan Keberhasilan Belajar Mengajar Moh Uzer Usman dan Lilis Setyawati dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (1993: 7-8) mengemukakan sebagai berikut. Pengertian Keberhasilan Pengertian. .Jadi. mengajar bukan sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan. yaitu terjadinya komunikasi dan interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya. 2. bertujuan untuk memperoleh gambaran daya serap anak didik untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar anak didik. Indikator Keberhasilan Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya. baik secara individu maupun kelompok. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil. Tolak Ukur.

3. optimal atau maksimal. Apabila 75 % anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai tingkat keberhasilan minimal. hukum atau ketentuan penyusunan tes Pengajaran perbaikan mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut : • Mengulang pokok bahasan seluruhnya • Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai • Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama • Memberi tugas-tugas khusus Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Faktor – Tujuan faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah : .Tes ini bertujuan untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar anak didik dalam suatu periode belajar tertentu. maka proses belajar mengajar berikutnya adalah perbaikan Pengukuran tentang tingkatan keberhasilan proses mengajar sangat penting karena itu pengukuran harus betul-betul : • Syahih ( Valid ) • Andal ( reliable) dan • Lugas ( Objective) Hal ini dapat tercapai apabila alat ukurnya disusun berdasarkan kaidah. aturan. Kurang : apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa. Hasil tes ini daigunakan untuk kenaikan kelas. menyusun rangking atau sebagai ukuran mutu sekolah Tingkat Keberhasilan Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru. 2. Apabila 75 % anak didik kurang (dibawah taraf minimal ) dalam mencapai tingkat keberhasilan . Baik sekali/ optimal: apabila sebagian besar (85% s/d 94%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa. maka dapat dilanjutkan ke proses belajar untuk pokok bahasan yang baru 2. Program Perbaikan Tingkat keberhasilan proses mengajar dapat ddigunakan dalam berbagai usaha antara lain dengan kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri. Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa . kita dapat menggunakan tingkat acuan sebagai berikut: 1. Ada dua point yang dapat dilihat dari hasil tingkat keberhasilan proses belajar mengajar : 1. Baik / minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 75% s/d 84% dikuasai siswa 4. Istimewa / maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa.

. dan dirumuskan dalah TIK ( Tujuan Instruksional Khusus) sedangkan TIU (Tujuan Instruksional Umum ) yang sudah tersedia didalam GBPP. untuk menjembatinya dibuat program Akta 4 dan Akta 5. Dapat diilustrasikan sebagai berikut: Berdasarkan pada indikator terpilih tersebut diatas dapat dirumuskan sejumlah TIK dari TIU yang bersangkutan. Guru dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas. akan banyak menemukan masalah dikelas. Indikator suatu TIU banyak namun handaknya dipilih yang betul-betul penting sehingga dapat mewakili TIU. Siswa mampu membuat kalimat Simple Present minimal 10 kata kerja dengan tepat dan benar Bila TPK tersebut dianalisa dapat diketahui unsur – unsur berikut : • Audience : Siswa • Behaviour : Dapat membuat kalimat Simple Present • Condition : Dengan menggunakan 10 kata kerja • Degree : Dengan tepat dan benar Guru Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah dan orang yang berpengalaman dalm bidang profesinya. Contoh rumusan TIK berdasarkan ciri-ciri dan indikator terpilih adalah Tujuan menguasai Aspek Kebahasaan . Oleh sebab itu. • Latar belakang dan Pengalaman guru Guru pemula dengan latar belakang pendidikan kegurua lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. hasil proses belajarnya pun akan berbeda. Karena prosesnya berbeda.Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. karena ia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya. TIK harus dirumuskan secara operasional dengan memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu : • Secara Spesifik menyatakan perilaku yang akan dicapai • Membatasi dalam keadaan mana perubahan perilaku diharapkan dapat terjadi (kondisi perilaku) • Menyatakan kriteria perubahan perilaku secara spesifik. Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar yaitu : • Kepribadian Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas didalam kelas • Pandangan terhadap anak didik Proses belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan berbeda. Perumusan tujuan menentukan kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar Guru diwajibkan untuk merumuskan tujuan pembelajarannya agar dapat tercapai sasaran dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Anak Didik . TIK adalah wakil dari TIU. Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalamannya Guru yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar . artinya menggambarkan standar minimal perilaku yang dapat diterima sebagai hasil yang dicapai. maka perbuatan TIK harus berpedoman padaTIU.

aktif. manja dam sebagainya. • Gaya mengajar personalisasi dan • Gaya mengajar interaksional Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan belajar mengajar yaitu: • Gaya mengajar guru o Gaya mengajar klasik. . Jarang guru menggunakan 1 metode dalam melaksanakan pengajaran . Guru yang mengajar. Banyak sedikitnya jumlah anak didik dikelas akan mempengaruhi pengelolaan kelas. Aspek dari anak didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah : • Psikologis anak didik • Biologis anak didik • Intelektual anak didik • Kesenangan terhadap pelajaran Hal diatas yang menyebabkan perbedaan karakteristik anak didik . Dari penjelasan diatas. 59). o Gaya mengajar personalisasi dan o Gaya mengajar interaksional • Pendekatan guru o Pendekatan individual Guru berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya o Pendekatan kelompok Berusah memahami anak didik sebagai mahluk sosial Perpaduan kedua pendekatan ini akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik • Strategi penggunaan metode Penggunaan strategi belajar dapat digunakan lebih dari 1 meetde pengajaran misalnya penggunaan metode Ceramah dengan metode Tanya jawab untuk mata pelajaan IPS. Optimal ( baik sekali ). karena itu dikenallah tingkat keberhasilan maksimal (istimewa). hal ini disebabkan rumusan tujuan yang dibuat guru tidak hanya satu. tetapi bisa lebih dari dua rumusan. Kegiatan Pengajaran Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya.. Anak yang dengan ciri-ciri mereka masing-masing berkumpul di dalam kelas dan yang mengumpulkan tentu saja guru atau pengelola sekolah. Hal ini sebagai bukti bahwa tingkat penguasaan anak terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Angka-angka dirapor menunjukkan bukti nyata dari keberhasilan belajar mengajar. anak didik yang belajar. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya belajar anak didik. minimal (baik) dan kurang untuk setiap bahan yang dikuasai anak didik. Orang tuanya memepercayakan guru untuk mendididik mereka agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. o Gaya mengajar teknologis.Adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. keras kepala. kreatif . misalnya pendiam. Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992. diketahui kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. • Gaya mengajar teknologis. dapat dibedakan 4 macam yaitu • Gaya mengajar klasik.

Kelmahannya terletak pada pengusaan anak didik terhadap bahan pelajaran bersifat semuatau samar-samar. • Gaya mengajar teknologis. baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut. dan kemudian guru akan membuat item-item soal evaluasi dengan perencanaan yang sistemastis dan dengan penggunaan alat evaluasi. pengambilan sikap untung – untungan daripada tidak diisi Pembuatan item soal dengan memakai alat tes objektif dapat menampung hampir semua bahan pelajaran yang sudah dipelajari oleh anak didik dalam satu semester. bukan membuat rumus penilaian yang cenderung mendatangkan sikap dan tindakan spekulatif pada anak didik Berbagai permasalahan yang telah diuraikan tersebut mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Karena sifat alat ini mengharuskan anak didik memilih jawaban yang sudah disediakan dan tidak ada alternatif lain diluar alternatif itu. Untuk tes objektif mempunyai rumus penilaian masing-masing. Benar Salah dan Pilihan Ganda adalah bagian dari tes objectif artinya objektif dalam hal pengoreksian tapi belum tentu objektif dalam jawaban yang dilakukan anak didik. Alat tes dalam bentuk essay dapat mengurangi sikap dan tindakan spekulasi pada anak didik sebab alat tes ini hanya dapat dikjawab bila anak didik betul-betul menguasai bahan pelajaran dengan baik. Penggunaan Media Sumber Belajar Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Jadi kesanalah rujukan standar penilaian itu. Hal yang perlu dalam suasana evaluasi adalah • Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas • Semua murid dibagi menurut tingkatan masing-masing • Besar sedikitnya anak didik dalam kelas • Berlaku jujur . Ada waktu yang harus ditempuh dalam menyelesaikan buku paket tersebut misalnya 1 semester . oleh sebab itu guru sudah menggabungkan lebih dari satu alat evaluasi. maka tidak dapat dipercaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar mengajar. dapat dibedakan 4 macam yaitu • Gaya mengajar klasik. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antra seseorang .Gaya mengajar menurut Muhammad Ali ( 1992. Bahan pelajaran biasanya sudah dikemas dalam bentuk buku paket. maka bila anak didik tidak bisa menjawab dia cenderung melakukan tindakan spekulasi. Suasana Evaluasi Faktor suasana evaluasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. • Gaya mengajar personalisasi dan • Gaya mengajar interaksional Bahan dan Alat Evaluasi Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Bila alat tes itu tidak valid dan tidak reliable . 59). Alat evaluasi yang umum digunakan adalah : • Benar – Salah ( True – False) • Pilihan Ganda ( Multiple Choice) • Menjodohkan ( Matching) • Melengkapi ( Completion ) dan • Essay Masing – masing alat evaluasi itu mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.

Perkembahang ilmu pengetahuan dan teknolohi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam prose belajar mengajar. Hamalik ( 1986). Pengertian Media Kata Mdia berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak darui kata ”medium:. hubungan komunikasi akan berjalan lancar dengan hasil maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi Dalam proses belajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. yang berari ” perantara” atau ”pengantar” . 6. (1987 : 234) mediator adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Hamidjojo dalam Latuheru (1993) memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide gagasan atau pendapat sehingga ide. Oleh sebab itu belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan . hal ini disebabkan oleh keinginan guru untuk membantu dalam menyampaikan bahan pelajaran. Ada beberapa para ahli diantaranya : 1. dan ketrampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut sifat bahan ajar. Fleming . Gerlach & Ely 1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia. Media pembelajaran di sekolah digunakan dengan tujuan antara lain sebagai berikut : 2. Dalam hal ini mediator media menunjukkan fungsi atau perannya yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar – siswa dan isi pelajaran 4. media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. Para guru dituntut agar mampu mengunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah. keterampilan dan sikap.dengan lingkungannya. Heinich dan kawan-kawan (1982) medium sebagai perantara yang mengantarkan informasi antara sumber dan penerima 5. AECT (Association of Education and Communication Technology ) 1977. . 2. dan juga dituntut untuk dapat mengembangkan ketrerampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep. hasil dari belajar adalah perubahan sikap pada diri orang tersebut. 3. karena apabila ada ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Perantara media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran Media sebagai Alat bantu 1. Suatu yang sudah nyata bahwa media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. prinsip.

Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan sebab media digunakan : Ciri Fiksatif ( Fixative Property) Menggambarkan kemampuan media. Contoh : Radio. visual dan audiovisual. Alam lingkungan dan Media pendidikan Media pendidikan sebagai salah satu sumber ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik serta diakui sebagai alat bantu auditif. 4. 5. Media Auditif Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja. Kadang anjuran menggunakan media sukar dilaksanakan karena dana yang terbatas untuk membelinya. menyimpan. di pusat kota. di halaman. . tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional dan kompetensi guru itu sendiri. melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek Ciri Manipulatif ( Manipulative Property) Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording karena bisa diedit dan yang diambil hanya bagian-bagian penting saja Ciri Distributif ( Distributive Property) Memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan memalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu. Udin Saripudin dan Winataputra ( 1995. Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan . 4. Guru yang pandai menggunakan media adalah guru yang bisa memanipulasi media sebagai sumber belajar dan sebagai penyalur informasi dari bahan yang disampaikan kepada anak didik sebagai proses belajar mengajar. 6. merekam. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat dan motivasi peserta didik untuk belajar. 7. Media sebagai Sumber Belajar Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana. Memperjelas informasi atau pesan pembelajaran. 65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori yaitu : 1. Macam-macam Media Meda yang telah dikenal tidak hanya terdiri dari dua jenis tetapi disa dilihat dari jenisnya yaitu : Dilihat dari Jenisnya. Menumbuhkan sikap dan ketrampilan tertentu dalam teknologi karena peserta didik tertarik untuk menggunakan atau mengoperasikan media tertentu. Menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan peserta didik. Manusia. Buku / perpustakaan Media massa. untuk itu seorang guru harus kreatif dengan membuat media pendidikan yang sederhana selama menunjang tercapainya tujuan pengajaran. di sekolah. di pedesaan dan sebagainya. Meningkatkan kualitas belajar mengajar. 5.3. 3. 2. Media dibagi kedalam: a.

Media Sederhana Bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah. dan Media ini dibagi kedalam ” i. ii. Tuna rungu Tuna netra. gambar . Tujuan pemilihan ini berkaitan dengan kemampuan berbagai media. Media Kompleks Adalah media yang bahan dan alat pembuatanya sulit diperoleh serta mahal harganya . Prinsip-prinsip pemilihan dan Penggunaan Media Drs Sudirman N ( 1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibagi dalam tiga kategori yaitu : 1) Tujuan Pemilihan Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas misalnya sasaran seperti anak TK. Audiovisual Gerak Yaitu medi yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yangbergerak seperi film suara dan video cassette. Media dibagi dalam: a. Media untuk Pengajaran Individual Penggunaannya hanya untuk seorang diri misalnya modul berprogram dan pengajaran melalui komputer. b. sulit membuatnya dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yang memadai. Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu sama. Oleh sebab itu . c.Cassette recorder. lukisam. masyarakat pedesaan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti slide foto. Media Audiovisual Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini lebih baik dibandingkan kedua jenis media yang pertama dan kedua. Dilihat dari Bahan Pembuatannya a.SMU. Media Visual Adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan . SD SMP. piringan hitam Media ini tidak cocok untuk oran tuli atau yang bermasalah dengan pendengaran b. film bisu dan film kartun c. Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat Dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film. . Strip (film rangkai). Audiovisual Diam Yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti bingkai suara (sound slide). sound slide. apabila mengunakan media guru harus mmepertimbangkan jenis dan karakteristik yang tepat untuk menunjang pencapaian tujuan pengajaran. film rangkai yang harus menngunakan tempat yang tertutup dan gelap. perkotaan. Pembagian lain dari media ini adalah • Audiovisual Murni Yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti film video-cassette • Audiovisual Tidak Murni Yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari tape recorder Dilihat dari daya Liputnya . Film rangkai suara dan cetak suara. cara pembuatanya mudah dan penggunaanya tidak sulit. Contoh : Radio dan Televisi b.

Tujuan Pembelajaran 4.tempat serta kondisi lingkungan saat media mengajar digunakan. Emosi siswa 7. Artinya memperhitungkan penggunaan media tersebut telah sesuai dengan tingkat kematangan / kemampuan anak didik 3. Partisipasi 8. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru.waktu dan sarana yang ada. Menyajikan media dengan tepat Artinya teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan. Artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang akan diajarkan 2. Menentukan jenis media dengan tepat. Perbedaan Individual siswa 3. Persiapan sebelum belajar 6. Motivasi siswa 2. Latihan dan Pengulangan 11. Organisasi isi 5. yakni sebagai guru. Guru mempunyai peranan yang amat luas. saya akan membahas masalah peranan guru. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat. tempat dan situasi yang tepat. Artinya Waktu . Dari segi teori belajar prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah : 1. pengelola pengajaran dan pengelola hasil pembelajaran siswa. Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu. di dalam keluarga. Umpan Balik 9. ia harus menunjukkan perilaku yang layak (bisa dijadikan teladan oleh siswanya). baik di sekolah. guru akan mengahadapi kesulitan dan cenderang bersikap spekulatif. 1997: 108). Peranan guru artinya keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru (Surya. Tuntutan masyarakat . bahan metode. Penerapan Prinsip prinsip menurut Dr nana Sudjana (1991 :104) yang harus diperhatikan agar penggunaan media tersebut dapat mencapai hasil yang baik adalah : 1. 3) Alternatif Pilihan Memilih artinya proses membuat keputusan dari berbagai alternatif pilihan. dan di dalam masyarakat. sebagai pengajar dan pendidik . Peranan guru di sekolah ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa. Teknik-teknik Balik Memancing Mendapatkan Appersepsi Anak Umpan Didik Sebelum saya membahas masalah bagaimana cara memancing apersepsi anak didik. sedangkan apabila kurang memahami karateristik media tersebut. Penguatan (Reinforcement) 10. Disekolah guru berperan sebagai perancang atau perencana. 4.2) Karakteristik Media Pengajaran Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan pada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran secara variasi.

karena memerlukan waktu cukup banyak. bersemangat.khususunya siswa dari guru dalam aspek etis. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Dan dari sini kiranya saya telah mengetahui bahwa ada berbagai macam bentuk umpan balik. baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Sehingga mereka dapat melengkapi pengertian-pengertian yang belum lengkap. serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia cerdas berpotensi.Umpan balik tidak sama dengan penilaian. serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik. Sebaliknya. Sejauh mana bahan yang telah diterangkan dapat mereka mengerti. penuh percaya diri dan antusias. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif. PESERTA DIDIK Peserta didik adalah Sang Anak yang merupakan milik Sang Pencipta dan milik dirinya sendiri. karena itu salah satu cara memancing apersepasi anak didik. Pilihan tentu saja paling tergantung pada pengajar yang bersangkutan sendiri. keberhasilannya akan sangat tergantung dari pemanfaatan potensi yang dia miliki. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses. antara lain : Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif Sikap guru tampil hangat. Setelah seluruh kursus atau seluruh rangkaian pelajaran selesai diberikan. Itulah tadi bentuk-bentuk umpan balik yang dimaksudkan untuk melihat. Peserta didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi. bilamana pengajar menyadari pentingnya umpan balik. Sejauh mana suatu penjelasan dapat tersampaikan secara baik. (Tohirin. Sering kali cara demikian tidak mungkin terlaksana. sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan. Umpan balik hanya dimaksudkan untuk mencari informasi sampai dimana murid mengerti bahan yang telah dibahas. Karenanya keaktifan peserta didik dalam menjalani proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. intelektual dan sosial lebih tinggi daripada yang dituntut dari orang dewasa lainnya. Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Dan itu berarti suatu keterlambatan. Maka pengajaran yang ia berikan akan menjadi lebih efektif. Selain itu murid atau mahasisiwa juga diberi kesempatan untuk memeriksa diri sampai di mana mereka mengerti bahan tersebut. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. 2005: 152). Pada umumnya pengajar kurang memikirkan perlunya mengadakan umpan balik seperti itu. Terlihat pada waktu ujian bahwa murid belum mengerti secara baik bahan yang diajarkan. . Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik. merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Namun kadang kala cara tersebut dapat sangat bermanfaat. Hal yang paling penting adalah sejauh mana uraian yang diberikan dapat diterima secara jelas oleh murid. maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif.

D. dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh. maka guru boleh menetapkan tugas masing-masing anggota kelompok dengan mempertim-bangkan beberapa hal seperti. diberikan tugas yang dikerjakan di luar kelas seperti di perpustakaan.Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses belajar mengajar. Penerapan model œbelajar sambil bekerja• (learning by doing) sangat dianjurkan. Hasil penilaiannya diumumkan secara terbuka atau yang lebih baik dibuatkan daftar kemajuan hasil belajar yang ditempel di kelas. Dari daftar kemajuan belajar tersebut setiap peserta didik dapat melihat prestasi mereka masing-masing tahap per tahap. Karena itu. Penilaian hasil belajar yang tidak serius akan sangat mengecewakan peserta didik. Dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik. antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi. Jenis kegiatan Pembelajaran menarik atau menyenangkan dan menantang Agar peserta didik dapat tetap aktif dalam mengikuti kegiatan atau melaksanakan tugas pemebelajaran perlu dipilih jenis kegiatan atau tugas yang sifatnya menarik atau menyenangkan bagi peserta didik di samping juga bersifat menantang. agar kegiatan penilaian ini dapat membangun semangat belajar para peserta didik maka hendaknya dilakukan serius.kelompok itu kecil (dua sampai tiga siswa) dan guru menetapkan anggota kelompok tugas itu dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat saja tugas itu sederhana perintahperintah jelas dan diberikan selangkah-demi-selangkah guru perlu menyediakan sumber belajar guru menerangkan dengan jelas peran setiap siswa di dalam kelompok penilaian bersifat informal dan guru perlu membahas dan mendiskusikan tugas itu dengan siswa Hal penting dari tugas ini adalah belajar bekerjasama. mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan. dan hal itu akan memperlemah semangat belajar. peran siswa dalam kelompok dapat beragam dan beberapa keputusan tentang peran ini dapat dibuat oleh siswa-siswa Memanfaatkan Teknik Alat Bantu yang Akseptable Ada beberapa macam alat Bantu yang dapat diterima oleh siswa. dan lain-lain. eksistensi. jangan sampai terjadi manipulasi. pendapat atau gagasan.Jika siswa belum biasa bekerja efektif dalam kelompok. maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. Penilaian hasil belajar dilakukan serius. teliti dan terbuka. Sekiranya tersedia dianjurkan penggunaan media pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat lebih efektif. sesuai dengan ketentuannya. Pelaksanaan kegiatan hendaknya bervariasi.Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan. jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar.Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik Agar kesadaran akan potensi. Sehingga kemampuan individu. maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya. AUDIO VERBAL . sehingga hasilnya dapat obyektif. obyektif. di jenjang sekolah dasar antara lain dilakukan belajar sambil bernyanyi atau belajar sambil bermain. Untuk lebih mengaktifkan peserta didik secara merata dapat diterapkan pemberian tugas pembelajaran secara individu atau kelompok belajar (group learning) yang didukung adanya fasilitas/sumber belajar yang cukup. agar mereka mudah memahami pelajaran diantaranya adalah: 1. tidak selalu harus di dalam kelas.

Pengalaman belajar berupa eksperimen dalam laboratorium bermanfaat sekali untuk memahami ide atau pengartian yang sulit. Film. Materi yang diceramahkan pun perlu kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa. penyediaan pertanyaan yang mendorong berpikir dan . Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah ada sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. Karena itu. Pencapaian kompetensi tentang sikap/attitude seperti pada mata pengajaran Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama. pemberian umpan balik. dan lain memepermudah pengertian tentang konsep dan proses tertentu. guru harus mengurangi cara ini. Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah.G. hendaknya ada beberapa buku yang harus dimiliki dalam satu pelajaran karena dalam buku yang satu mungkin lebih jelas dan mudah dipahami dalam buku yang lain. & Brooks. Inti dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat pertanyaan yang mendorong siswa bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah. Pada keadaan ini.Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film). akan sangat membantu kalau dikemas dalam suatu cerita tayangan hidup yang menyentuh dimensi emosi dan perasaan. seperti buku. Kebanyakan pelajar dapat dan harus disampaikan secara verbal akan tetapi untuk bagian-bagian tertentu alat audio-visual atau alat intruksional pada umumnya sangat berguna untuk mempermudah dan memepercepat pemahaman bagi murid-murid tertentu. Alat audio visual dapat membantu anak-anak belajar dengan menyajikan dalam bentuk yang kongkrit.Dengan demikian.G. Kalau keadaan ini berkelanjutan. J. dan penyediaan program penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu ˜unjuk kemampuan/ mendemonstrasikan kinerja (performance). Untuk mengatasinya.apa yang dikemukakan diatas merupakan usaha uantuk mempertinggi mutu mengajar agar murid-murid dapat memahami apa yang diajarkan tanpa komunikasi yang baik antara guru dan murid proses mengajar-belajar tidak akan berjalan dengan efektif. modul dan lain-lain. 1982: 45) Dalam mengelola kegiatan pembelajaran. ( Harlen. dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga memungkinkan semua siswa terlibat baik secara mental maupun secara fisik. Akan tetapi tak semua bahan harus disampaikan secara kongkrit. cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. (Brooks. model-model. 1993: 9) 2. siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. tak semua sama baiknya. peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. guru perlu merencanakan tugas dan alat belajar yang menantang. atau kalau terpaksa perlu berceramah cukup antara 20 – 25 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong Lihat – Raba – Bau – Rasa. 1987: 12) Buku pelajaran. W. Tentu saja. Media cetak. Alat audiovisual diperlukan untuk membantu mereka. VISUALILASI VERBAL Tak semua murid sanggup belajar dengan cara verbal yang abstrak. M. Buku kerja. (Nazulia. di samping buku pelajaran ada buku kerja untuk membantu murid mengenang dan mengelolah buah pikiran pokok dari buku pelajaran. sedikitnya ada tiga hal strategis yang perlu dikuasai guru dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran yaitu. sebagai hasil belajar. film strip. Sekalipun terdapat komunikasi yang baik masih dapat diharapkan bahwa selalu terdapat kekurang pahaman.

Pertanyaan dapat membuat siswa berpikir. penyediaan umpan balik yang bermakna. atau penyelidikan. Apa tujuan Saudara sebagai guru bertanya kepada siswa? Tujuan bertanya Mengharap jawaban benar? Seberapa besar kemungkinan siswa menjawab jika mereka tidak yakin jawabannya benar? Merangsang siswa berpikir dan berbuat? Akibatnya siswa sering tak berani menjawab pertanyaan guru sekalipun jawabannya mudah jika salah satu tujuan mengajar adalah mengembangkan potensi siswa untuk berpikir. Kategori Arti Contoh Terbuka Pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar Mengapa Ibukota Indonesia Jakarta ? Apa yang akan terjadi jika di kota besar tidak ada pemulung sampah? Produktif Pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui pengamatan. maka tujuan bertanya hendaknya lebih pada ‘merangsang siswa berpikir’. Merangsang berpikir dalam arti ˜merangsang siswa menggunakan gagasan sendiri dalam menjawabnya bukan mengulangi gagasan yang sudah dikemukakan guru. dan imajinatif. Apa perbedaan gerak bekicot di lantai licin dengan di lantai kasar? Berapa banyak biji buah pepaya ini? Imajinatif / Interpretatif Pertanyaan yang jawaban nya diluar benda / gambar / kejadian yang diamati (Diperlihatkan gambar gadis termenung di pinggir laut) Apa yang dipikirkan gadis itu? Mengapa ia berdiri di situ? Menggunakan Metode yang Bervariasi Dengan cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid. Usaha guru itu harus di Bantu dengan mengunakan bantuan seperti “feedback― atau umpan balik yang terperinci kepada guru maupun murid. Pertanyaan ini dapat digunakan untuk tujuan merangsang siswa berpikir. percobaan.berproduksi. Kategori pertanyaan yang termasuk jenis pertanyaan ini antara lain pertanyaan produktif. terbuka. dan penyediaan penilaian yang memberi peluang semua siswa mampu melakukan unjuk-perbuatan. . Penyediaan Pertanyaan yang Mendorong Siswa Berpikir dan Berproduksi Alat mengajar yang paling murah tetapi ampuh adalah bertanya.

Data itu bisa dikumpulkn dengan berbagai cara Riset-riset psikologi berkenaan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bantuan tutor. sangat banyak data psikologis. metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter di dalam laboratorium atau ruang tertentu lainnya. Metode Studi KasusRiset Psikologi Pembelajaran Pendidkan Agama Islam selain menggunakan metode studi kasus. ini juga merupakan bantuan agar murid menguasai bahan pelajaran melalui langkah-langkah pendek. Pada prinsipnya. biasa cara belajar yang digunakan oleh murid lebih mudah ditangkap oleh murid lain. relative lebih menonjol apabila dibandingkan penggunaan metode-metode lainnya. Suatu satuan pelajaran misalnya meliputi bahan pelajaran satu baba atau buku yang dapat dikuasai dalam waktu satu atau dua minggu. Studi kasus (Icase study) dalam kakian psikologi merupakan sebuah metode penelitian yang digunakan untuk . metode serimg dipahami sebagai cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam melakuan suatu kegiatan. (Syaipul Bahri Djamarah. seperti data pendengaran siswa. termasuk proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Pelajaran beprogram. yaitu orang yang dapat membantu murid secara individual. metode-metode tertentu untuk memgumpulkan berbagai data dan informasi penting yang bersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan proses pembelajaran. Hendaknya di usahakan agar murid selekas mungkin dapat membebaskan diri dari bantuan tutor. Feedback atau umpan balik diberikan melalui test-test formatif. Jadi tutor harus mendidik anak agar dapat belajar sendiri. dapat memanfaatkan berbagai metode tertentu seperti: 1. termasuk psikologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam. 3. Sebaiknya orang itu jangan gurunya sendiri sehingga ia dapt memberi bantuan dengan cara yang lain dari pada guru itu. Merid sering lebih paham akan apa yang disampaikan oleh temannya. 2. Mula-mula bahan pelajaran di bagi dalam satuan-satuan pelajaran. Maka memanfaatkan batuan murid dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran. penglihatan siswa dan gerak mata siswa ketika sedang membaca. 2. belajar atau saling membantu dalam pelajaran. 2002: 25) Secara singkat dan umum. Belajar kelompok. tanpa bantuan guru pelajar akan mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. 3. dari pada guru. Di dalam proses pembelajaran. Banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan dalam menimbulkan feedback antara lain: 1.sumber dan metode-metode pengajaran tamabahan di mana saja diperlukan usaha tambahan itu dimaksud untuk memperbaiki mutu pengajaran dan meningkatkan kemampuan anak memahami apa yang diajarkan dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu untuk menguasai bahan pelajaran sepenuhnya. Penggunaan metode kuesioner dalam riset-riset pendidikan termasuk pendidikan islam dan psikologi pembelajran Pendidikan Agama Islam. Teknik pelaksanaan metode eksperimen dengan menyesuaikan data yang akan diangkat. Test formatif itu bersifat diagnostik dan serentak menunjukan kemajuan atau keberhasilan anak. Selain itu eksperimen dapat pula digunakan untuk mengukur kecepatan bereaksi seorang peserta didik terhadap stimulus tertentu dalam proses belajar. Berkaitan dengan psikologi belajar.

dalam kegiatan seperti itu. 1992:15) Beberapa contoh keragaman pengalaman belajar yang mungkin dipilih guru untuk beberapa mata pelajaran meliputi antara lain. dicatat dalam lembaran format observasi yang khusus dirancang sesuai dengan data dan informasi yang akan dihimpun. jenis perilaku siswa diteliti.memperoleh gambaran yang terperinci mengenai aspek-aspek psikologi seoarang siswa atau sekelompok siswa tertentu. Metode Observasi NaturalistikMetode obsevasi naturalistik merupakan jenis obsevasi yang dilakukan secara alamiah. yakni diberi hanya rincian topik yang sedang dibicarakan dan mungkin beberapa gagasan tentang beberapa aspek topik yang akan mereka selidiki. 2003: 43) Pengembangan Variasi Mengajar Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. yakni kelas tata dan biasa. Awalnya. (Soemanto Wasty. Mengatur alat rumah tangga sering berganti. terdapat prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa serta cara-cara memberi perlakuan pemulihan (psychological treatment) terhadap kelainan jiwa tersebut. an psikolog pendidikan. bukan kelas yang diadakan secara khusus. 5. menyanggah) Mereka dapat diberi suatu kumpulan peralatan yang tepat dan suatu pertanyaan untuk diselidiki. Metode Klinis Metode klinis (clinical method) hanya digunakan oleh para ahli psikologi klinis atau psikiater. Kemudian. Dalam metode ini. Makan makanan yang bervariasi Mendengarkan lagu-lagu baru lebih menyenangkan daripada lagu-lagu yang tiap hari didengar. menjawab. (Hamalik. mengumpulkan data. berkomentar. mereka merancang prosedur eksperimennya sendiri. Selama proses belajar mengajar berlansung. memilih peralatan yang tepat. metode observasi naturalistic digunakan oleh para psikolog perkembangan. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini. mengatur data dan menyusun suatu kesimpulan. psikolog kongnitif. Orang akan lebih suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti kata positif. 4. peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang melakukan penelitian. Mereka dapat diberi pertanyaan penelitian eksperimen terbuka (tidak terbatas). merancang metode eksperimen. metode naturalistik lebih banyak digunakan oleh para ahli ilmu hewan untuk mempelajari perilaku hewan tertentu. Bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi. Kelas dapat mendiskusikan jenis data yang perlu dikumpulkan. Merasakan makanan yang terus-menerus akan menimbulakan kebosanan. (misalnya kecepatan membaca). Demikian juga dalam proses belajar mengajar . Seorang peneliti atau guru yang menjai asistennya dapat mengaplikasikan metode ini lewat kegiatan belajar mengajar atau belajar mengajar dalam kelas-kelas regular. Menggubah syair lagu dan bernyanyi Melakukan Permainan Bermain peran Diskusi (bertanya. mengumpulkan data dan selanjutnya menyusun suatu kesimpulan. perhatian . mereka perlu merumuskan hipotesis. Dalam perkembangan selanjutnya. mendengar penjelasan. maka akan membosankan siswa. Rekreasi pada dasarnya juga mengurangi kebosanan pandangan ditempat asalnya. akan membuat orang lebih senang dirumah daripada pergi.

Pengertian Variasi Gaya Mengajar Pengertian Variasi Gaya Mengajar Ada beberapa pendapat berkenaan dengan Variasi gaya mengajar. Menurut Abdul Qadir Munsyi. Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar. cariasi dalam memberikan penguatan.siswa berkurang. karena merupakan keterampilan campuran atau diinegrasikan dengan keterampilan yang lain. 4. dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar ada tiga aspek. 2. gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa. 3. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan. mengantuk. antusiasme serta penuh partisipasi. gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas. maka akan meningkatkan perhatian siswa. sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran. yaitu : 1) Variasi gaya mengajar 2) Variasi dalam menggunakan media . Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya atau secara integrasi. Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah tingkah laku. bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku. dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa. mengantuk. siswa-guru dan siswa-siswa. dan variasi dalam interaksi antara guru dan siswa. dan bosan. Variasi lebih bersifat proses daripada produk. antusiasme. membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa. media yang digunakan berganti-ganti. Dan ini bisa dibuktikan melalui ketekunan. variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran. variasi dalam memberi pertanyaan. sehingga dalam situasi belajar mengajar. apalagi jika guru saat mengajar tanpa menggunakan variasi alias monoton yang membuat siswa kurang perhatian. Dari definisi di atas. Misalnya. yaitu variasi dalam gaya mengajar. Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek. Keterampilan dalam mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya. dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Meliputi: 1. Menurut Syahminan Zaini. Untuk mengatasi kebosanan siswa tersebut perlu adanya variasi. dan variasi dalam tingkat kognitif. sikap dan perbuatan guru dalam kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa. sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. keaktifan mereka dalam belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas. Anak tidak bisa dipaksakan untuk terus menerus memusatkan perhatiannya dalam mengikuti pelajarannya. Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid.

Maka dari itu. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi. yaitu motivasi . guru memperhatikan variasi mengajarnya. Karena itu. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. perhatian adalah masalah yang tidak bias dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi.3) Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Berbagai factor memang mempengaruhi. tetapi bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru. karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru. akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan mengadakan variasi dimadsud adalah : Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung. Bahkan tanpa motivasi. Tujuan Variasi Mengajar Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. motivasi dan belajar siswa. siswa yang kurang menyenangi materi yang diberikan guru. apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. yaitu motivasi intrinsik. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenanginya. maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Dalam proses belajr mengajr di kelas. Ini merupakan masalh bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. Jadi. karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinyanya Motivasi Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Bagi siswa yang sering memperhatikan materi pelajran yang diberikan. Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya kurang dapt mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan. bukanlah masalah bagi guiru. Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar. tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Misalnya factor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran.

Disamping itu juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi. Tanya jawab. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif. kegiatan siswa menjadi pusat perhatian guru. Untuk itu agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. akan menjadikan siswa merasa tertarik terhadap penampilan . Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan. 3. dalam bervariasi harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan agar menarik siswa untuk memperhatikan atau mendengarkan penjelasan guru. 2. Jadi penggunaan variasi ini harus benar-benar berstruktur dan direncanakan. motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan. Direncanakan secara baik dan eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran. Umpan balik ini ada dua yaitu Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa dan Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran. resitasi. problem solving atau cerita. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Prinsip-prinsip tersebut adalah : 1. tetapi juga pada siswi. Dengan variasi gaya tersebut. Karena variasi ini memerlukan keluwesan. Sikap negative ini tidak hanya terjadi pada siswa. Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa. jauh dari sikap permusuhan. Misalnya metode diskusi. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain.sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat. Prinsip Penggunaan Dalam proses belajar mengajar. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Komponen-komponen Variasi Mengajar Dalam mengajar hendaknya menggunakan berbagai macam variasi gaya. Misalnya hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Acuh tak acuh sering ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. terutama penggunaan variasi gaya mengajar. spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar.

c.mengajar guru. Jika suara guru senantiasa keras terus atau terlalu keras. Perhatian seseorang tertuju atau terarah pada hal-hal yang dianggap rumit. Misalnya : “Perhatikan baik-baik”. kadang lambat. dari cepat menjadi lambat. karena materinya agak sulit dan sebagainya. baik dalam intonasi. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan ndengan situasi dan kondisi. volume. nada dan kecepatan. agar perhatian itu tetap ada perlu adanya prinsip-prinsip yakni : a. bila sudah begitu siswa diliputi oleh rasa cemas. Bagi guru yang harus diingat adalah suatu pelajaran tidak boleh tampak terlalu rumit dan guru tidak boleh mempersulit pelajaran yang sederhana dikarenakan semata-mata untuk menarik perhatian siswa. Variasi gaya mengajar guru ini meliputi komponen-komponen sebagai berikut : Variasi Suara Variasi suara dalah perubahan suara dari keras menjadi lemah. Dalam pelajaran. Variasi suara bisa mempengaruhi informasi yang sangat biasa sekalipun. ketakutan selama belajar. kadang cepat. perhatian siswa terhadap materi yang diberikan itupun kurang. Dari luar bisa saja lingkungan. jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan obyek. jenis rangsangan baru yang dapat menarik perhatian termasuk warna dan bentuk. Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. kadang rendah (pelan). Suara guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya bervariasi. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik. “Jangan lupa ini dicatat dengan sungguh-sungguh” dan sebagainya. apalagi yang duduknya dideretan belakang. dan tinggi menjadi rendah. orang tua dan guru. seorang guru dapat menarik perhatian tentang kata-kata penting pada suatu bacaan dengan memberi warna merah atau digaris bawahi. guru dapat menggunakan atau memberikan peringatan dengan bentuk kata-kata. b. Untuk menimbulkan minat tersebut ada dua cara yakni dari diri sendiri dan dari luar dirinya. Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya. Disini gurulah yang berhak menimbulkan atau membangkitkan minat belajar siswa baik dirumah maupun dikelas. maka bisa menimbulkan kebosanan. Pemusatan Perhatian Perhatian menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi. jika materi yang disampaikan oleh guru iru tidak menjadi perhatian siswa. sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi guru dalam memusatkan perhatian siswa bisa dengan memberikan kata-kata seperti : “coba perhatikan ini baik-baik”. Bila sudah begitu siswa akan meremehkan gurunya. Memang menarik perhatian siswa itu sangatlah tidak mudah apalagi dalam jumlah siswa yang banyak. gunakanlah bisikan atau tekanan suara untuk hal-hal penting. sehingga tidak lagi suka belajar. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas. Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci. . justru akan sulit diterima. karena siswa menganggap gurunya seorang yang kejam. maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang diajarinya. yaitu halhal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. kadang meninggi. gunakan kalimat pendek yang cepat untuk menimbulkan semangat. Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal yang baru. Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti. Dari ketiga prinsip ini guru harus mengetahui banyak tentang siswanya agar bisa mengarahkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran.

Melihat dan menghadap kepapan tulis saat menjelaskan kecuali sambil menunjukkan sesuatu. seorang guru adalah untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa. Perpindahan Posisi Guru Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu dalam menarik perhatian anak didik. Melihat hanya pada siswa tertentu atas kelompok siswa saja e. Dengan keadaan senyap atau diamnya guru secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa. Hal-hal diatas bertujuan supaya bisa mengendalikan situasi kelas dengan baik. dapat pula meningkatkan kepribadian guru dan hendaklah selalu diingat oleh guru. Bertemunya pandang diantara mereka yang berinteraksi. pandanglah siswa-siswa anda secara merata tapi jangan berlebihan. akan membangun dan membina jalinan tingkat tinggi. Untuk itu seyogyanya guru memberikan kesenyapan terhadap siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya supaya jawabannya sempurna dan tepat. sehingga bisa menjawab pertanyaan guru dengan baik dan tepat. sesungguhnya merupakan suatu etika atau sopan santun pergaulan karena menunjukkan saling perhatian diantara mereka. Melihat kearah lantai d. yaitu mengetahui psikologi anak atau siswa dan mengetahui seberapa banyak pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Tapi jika seorang guru tidak memberikan kesenyapan atau waktu kepada siswa untuk berfikir dalam menjawab pertanyaannya siswa akan menjawab dengan asal alias asal bicara. sebaliknya bila guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan pandangannya keseluruh kelas atau siswa. Hal-hal yang harus dihindari guru selama presentasinya didepan kelas : a. Melihat kearah langit-langit c. bahwa perpindahan posisi itu jangan dilakukan secara berlebihan. Jadi dalam kontak pandang hendaknya guru berusaha seintim mungkin agar siswa merasa diperhatikan dan dihargai. Kontak pandang Ketika proses belajar mengajar berlangsung. Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. sebab siswa begitu tahu apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya siswa bisa mengingat kembali informasi-informasi yang mungkin ia hafal. Bila dilakukan berlebihan guru akan kelihatan terburu-buru. Pemberian waktu bagi siswa digunakan untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap. jangan sampai guru menunduk terus atau melihat langit-langit dan tidak berani mengadakan kontak mata dengan para siswanya dan jangan sampai pula guru hanya mengadakan kontak pandang dengan satu siswa secara terus menerus tanpa memperhatikan siswa yang lain. Melihat keluar ruang b. sebab menatap atau memandang mata setiap anak disik atau siswa bisa membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian. sehingga jawabannya kurang tepat dengan pertanyaan. kontak mata yang sering dilakukan.Kesenyapan atau kebisuan guru (Teaching Silence) Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi pihak guru ditengahtengah menerangkan sesuatu. Untuk itu. gunanya pandangan mata. . lakukan saja secara wajar agar siswa bias memperhatikan.

sebaiknya jangan kaku atau kikuk. perpindahan posisi dan eksperimen wajah. menggunakan metode eksperimen. yaitu : a. misalnya saja saat menerangkan guru hanya berdiri didepan kelas saja atau duduk dikursi saja. guru harus bisa menggunakan gambar. grafik dan warna untuk meningkatkan memorinya Dari ciri-ciri diatas. supaya menarik perhatian siswa dan mempermudah pemahaman siswa terhadap materi tersebut. guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran. Auditorial Bagi pelajar auditorial. Maka dari itu gunakanlah variasi posisi ini secara wajar dan sesuaikan dengan tujuan. belajar yang efektif adalah dengan mendengar. dan tidak sekedar mondar-mandir dan seorang guru janganlah melakukan kegiatan mengajar dengan satu posisi.Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian belakang. b. perhatian dan kesenyapan memudahkan dan meningkatkan perhatian siswa dalam belajar. Gaya mengajar guru yang mudah mempengaruhi siswa ini adalah kontak pandang. Adapun model-model belajar ada tiga macam. Kinestetik Bagi pelajar kinestetik. lakukan saja secara bebas dan wajar bisa menarik perhatian siswa. bahasa tubuh guru hendaknya bervariasi. bersemangat dan berminat dalam belajar. belejar yang efektif adalah dengan melibatkan diri langsung dengan aktifitasnya. Ciri-ciri siswa kinestetik adalah : 1) Belajar dengan melakukan. memperhatikan segala sesuatu 2) Mengingat dengan gambar. Dan bila variasi dilakukan secara berlebihan itu juga bisa mengganggu perhatian siswa atau konsentrasi siswa terhadap pelajaran. Yang penting dalam perubahan posisi itu harus ada tujuannya. pemusatan. warna. . guru hendaknya memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar siswanya. yakni dengan membaca bahan pelajaran secara sekilas. Model-Model Belajar Dalam melaksanakan variasi gaya mengajar. Cirri-ciri pelajar visual : 1) Teratur. Visual Bagi pelajar visual. jadi merekacenderung pada eksperimen (gerak). Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi posisi duduk dan diam di tempat lalu berjalan-jalan mengelilingi siswa dan sebagainya. Untuk itu guru disaat menerangkan dituntut untuk menggunakan variasi. atau diantara anak didik dari belakang kesamping anak didik. supaya siswa termotivasi. untuk menumbuhkan minat belajar siswa dan meningkatkan memori siswa terhadap bahan tersebut. tanpa ada pergantian atau variasi ini bisa menimbulkan kebosanan siswa. dari sisi kiri ke sisi kanan. Ciri-ciri siswa auditorial adalah : 1) Perhatiannya mudah terpecah 2) Berbicara dengan pola berirama 3) Belajar dengan cara mendengar 4) Berdialog secara internal dan eksternal c. tidak sekedar mondar-mandir. jika guru kaku dalam bergerak ini bisa menjemukan siswa. menunjuk tulisan saat membaca 2) Mengingat sambil melihat langsung Disini guru dianjurkan melibatkan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung. belajar yang efektif adalah dengan menggunakan "gambaran keseluruhan" (melakukan tinjauan umum). Guru melakukan pergantian posisi.

Maka dibutuhkan suatu proses interaksi. terarah pada satu tujun. Mempunyai situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik 7. terikat dalam situasi. Memiliki metode tertentu dalam penyampaiannya untuk mencapai tujuan 6. Ciri-ciri Dalam bentuknya interaksi mengandung unsur pokok diantaranya interaksi edukatif yang bersifat nomatif. Evaluasi terhadap hasil interaksi Komponen-komponen Interaksi edukatif mempunyai sejumlah komponen sebagai berikuti: Tujuan . satu rangkaian perubahan dan pertumbuhan serta perkembangan fungsi-fungsi psikis dan pisik. ia memiliki sifat sosial yang besar . Interaksi edukatif mempunyai ciri. Interaksi edukatif mempunyai tujuan. Dalam setiap bentuk interaksi edukatif mengandung dua unsur pokok. antara guru ( sebagai pendidik). Guru berperan sebagai pembimbing 5. Ditandai dengan pelajar atau peserta yang aktif. Sedangkan suatu pendidikan dapat dirumuskan pula secara teknis dan merupakan pristiwa yang memiliki aspek teknis.ciri sebagai berikut: 1. Proses interaksi ini dapat terjadi dalam “ikatan situasi”. kepribadianyang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. pristiwa ini adalah suatu rentetan kegiatan saling mempengaruhi. 2. dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Misalnya dalam pengajaran pmp guru dan peserta didik harus meyakini pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.Mengenal Interaksi Edukatif Realitas manusia sebagai makhluk sosial. subjek belajar ) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain.pengajaran sebagai bagian dari pendidikan. Dalam pengajaranpun terjadi suatu proses interaksi yang diupayakan berdasarkan ikatan tujuan pengajaran yang mana tujuan tersebut telah ditentukan dan telah disistematisasikan secara terarah. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. kesehatan jasmani dan rohani.interaksi belajar mengajar mengandung suatu arti adanya kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di suatu pihak dengan warga belajar ( siswa. Pengertian Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. unsur teknis dan unsur normatif . Pendidikan sebagai kegiatan praktis yang berlangsung dalam suatu masa. Dalam unsur normatif.dalam rangkaiannya tersebut pristiwa yang menuju kepada pembentukan itu sendiri merupakan suatu proses teknis. Setiapaktifitas pengajaran tidak dapat dilepaskan dari segi teknis semisal bagaimana upaya untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur. sedangkan pendidikan bersifat normatif. Interaksi edukatif memilki bahan/pesanyang menjadi isi interaksi atau sebuah materi. anak didik. 3. 4.dalam artian yang lebih spesifik pada bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar.

ada dimana-mana di sekolah. Dalam kegiatan belajar mengajar metode sangat penting maka dalam hal ini guru harus menggunakan metode yang bervariasi karena penggunaan metode mengajar dapat mempengaruhi perhatian dan pemahaman anak didik. serta kebijakan-kebijakan lainnya. baik bahan pelajaran pokok maupun bahan pelajaran penunjang dan bahan pelajaran adalah unsur inti dalam kegiatan interaksi edukatif. Kegiatan yang jelas Tujuan menempati posisi yang strategis dalam kegiatan dalam kegiatan interaksi edukatif nilai strategis adalah tujuan sebagai berikut: 1) Dapat memberikan arah kegiatan interaksi edukatif . Alat Alat adalah sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar Kegiatan belajar mengajar adalah inti dari kegiatan dalam pendidikan segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar. di pedesaan dan sebagainya. Segala sesuatu dapat di pergunakan sebagai sumber belajar sesuai kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. perintah. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tergantung pada kreativitas guru. tanpa bahan pelajaran proses interaksi edukatif tidak akan berjalan. biaya. Bahan pelajaran Bahan adalah susbtansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif. Metode metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yang diberikan selama kegiatan interaksi edukatif berlangsung. nasihat dan sebagainya.Kegiatan interaksi adalah suatu kegiatan yang secara dilakukan oleh guru. di pusat kota. Tujuan evaluasi disini adalah untuk mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan. maka perlu diperhatikan tujuan berbagai jenis fungsinya anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya. Alat material berupa suruhan.. Sedangkan alat material adalah atau alat bantu pengajaran berupa papan tulis. Interaksi edukatif yang akan terjadi juga dipengaruhi oleh cara guru memahami perbedaan individual anak didik ini. gambar. Dalam kegiatan interaksi ini edukatif biasanya digunakan alat non material dan alat material. atas dasar kesadaran itulah guru melakukan kegiatan pembuatan program pengajaran dengan prosedur dan langkah yang sistematik. waktu. larangan. Karena itu bahan pelajaran mutlak harus mutlak dikuasai guru dengan baik. Sumber pelajaran Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. fasilitator serta pribadi guru dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. dalam pengelolaan dan pengajaran kelas yang perlu diperhatikan oleh guru adalah perbedaan anak didik pada aspek biologis intelektual dan psikologis. Di dalam tujuan pembelajaran terhimpun sejumlah norma yang akan ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. Evaluasi Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. di halaman. Tujuan mempunyai arti penting dalam kegiatan interaksi edukatif tujuan dapat memberikan arah yang jelas dan pasti kemana pembelajaran akan dibawa oleh guru. video dan sebagainya.

atau langkah-langkah sistematik yang relevan. Gagne (dalam Abdillah dan Abdul. 6) Memudahkan menyeleksi kemampuan yang di inginkan dari anak didik 7) Memudahkan menyeleksi memberi penilaian dan memudahkan pengorganisasian 8) Kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan pengajaran. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai melalui interaksi belajar mengajar. Ketika sedang mengajar di depan kelas. Guru memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi dan sebagai mediator dan proses belajar mengajar. tingkah laku dan perbuatan guru.( Titin. dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian siswa mempunyai tujuan. Dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur. didesain untuk mencapai tujuan yang telah dilaksanakan. kapan tujuan itu harus dicapai. (7) Ada batas waktu. (6) dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin.1988 :17) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup yang memungkinkan makhluk hidup ini merubah perilakunya cukup cepat dalam cara kurang lebih sama. . Materi didesain sehingga dapat mencapai tujuan dan dipersiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar mengajar. jika semua komponen di laksanakan guru dengan baik maka guru akan dapat mecapai tujuan pembelajaran dan komponen tersebut di jadikan acuan dan prosedur oleh guru Interaksi Edukatif Belajar Mengajar Sebagai Interaksi Dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berlanglsung interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan paling pokok. maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar. (2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan. Dalam proses interaksi tersebut dibutuhkan komponen pendukung (ciri-ciri interaksi edukatif) yaitu (1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan : yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Maka dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komponen merupakan hal yang penting. memahami cara atau metode yang digunakan. Interaksi belajar mengajar sadar tujuan. (8) Unsur penilaian. mampu menciptakan kondisi kelas yang kondusif. Seorang pengajar dapat mengartikan belajar sebagai kegiatan pengumpulan fakta atau juga dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses penerapan prinsip. terjadi dua proses yang terpadu yaitu proses belajar mengajar. menguasai materi pelajaran. (3) Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.2) Membantu memudahkan menyeleksi bahan pelajaran yang akandisampai kan 3) Memudahkan menyeleksi metode yang digunakan 4) Memudahkan menyeleksi media dan lat bantu pengajaran 5) Menolong menyeleksi sikap. Siswa sebagai pusat pembelajaran. terampil memanfaatkan media dan memilih sumber. Jadi proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar. Langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan. memiliki keterampilan mengkomunikasikan program serta memahami landasan-landasan pendidikan sebagai dasar bertindak. (5) Dalam interaksi belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing. 2003:10) Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola interaksi belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan mendesain program. Setiap tujuan diberi waktu tertentu. (4) Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.

1997 :61) Berdasarkan beberapa pendapat tentang belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku tertentu baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung sebagai pengalaman (latihan) dalam interaksinya dengan lingkungan. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencournt. ( Hamalik . Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar merupakan proses kegiatan komunikasi dua arah. yang mana sistem tersebut merupakan kesatuan dari berbagai komponen (input) yang saling berinteraksi (proses) untuk menghasilkan sesuatu dengan tujuan yang telah ditetapkan (output). Pandangan ini pada dasarnya mengemukakan bahwa mengajar adalah membimbing kegiatan belajar anak. Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa. dll. yaitusebuah proses interaksi yang menghimpun sejumlah nilai (norma) yang merupakan substansi sebagai medium antara guru dengan anak didik dalam rangka mencapai tujuan. Belajar bukanlah menghafalkan fakta-fakta yang terlepas-lepas. bersikap kritis.sehingga perubahan yang sama tidak harus pada setiap situasi baru. (Suparno P . teaching is for the purpose of aiding the pupil learn” ……. Lebih lanjut dikemukakan bahwa belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau apa yang dipelajari dengan apa yang sudah dipunyai seseorang. maka keseluruhan proses belajar yang harus dialami siswa dalam kerangka pendidikan di sekolah dapat dipandang sebagai suatu sistem. keterampilan serta nilai-nilai dan sikap. Merujuk pada kaum kontruktivis bahwa belajar merupakan proses aktif dalam mengkonstruksi arti teks. dengan kata lain anak-anak yang harus aktif belajar sedangkan guru bertindak sebagai pembimbing. mencari kejelasan. dan mengadakan justifikasi.1997 :65). ”Teaching is the guidance of learning activities. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang integral (terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai pengajar yang sedang mengajar. 1989 dalam Suparno P. Berdasarkan orientasi proses belajar mengajar siswa harus ditempatkan sebagai sujek belajar yang sifatnya aktif dan melibatkan banyak faktor yang mempengaruhi. atau mengaitkan konsep pada umumnya menjadi proposisi yang bermakna. Selanjutnya proses belajar mengajar merupakan aspek dari proses pendidikan. membuat makna. Dalam interaksi edukatif ada dua buah kegiatan yakni kegiatan guru di satu pihak dan kegiatan anak didik di lain pihak. pengalaman fisik. Proses belajar harus tumbuh dan berkembang dari diri anak sendiri. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Atau dapat dikatakan bahwa belajar sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman. Guru mengajar dengan gayanya sendiri dan .2002:58). Analisis Model Interaksi Edukatif Interaksi edukatif adalah sebuah interaksi belajar mengajar. melainkan mengaitkan konsep yang baru dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. dialog. Sedangkan Dahar (1988 :11) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses dimana organisme perilakunya sebagai akibat pengalaman. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan.

karena semuanya saling terkait dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. guru perlu memahami gaya-gaya belajar anak didik. (1985) mengatakan bahwa suatu interaksi yang harmonis terjadi bila dalam prosesnya tercipta keselarasn. 2. N. 2. Tidak ada satu pun dari komponen itu dapat guru abaikan dalam perencanaan pengajaran. program semester atau catur wulan (cawu). 4. 6. dan mengembangkan diri Prinsip belajar sambil bekerja Prinsip hubungan sosial Prinsip perbedaan Individual Tahap-tahap R. 5. tetapi juga belajar memahami suasana psikologi anak didik dan kondisi kelas. memilih pendekatan. Prinsip motivasi Prinsip berangkat dari persepsi yang dimiliki Prinsip mengarah kepada titik pusat perhatian tertentu atau fokus tertentu Prinsip keterpaduan Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi Prinsip mencari. dan mengadakan evaluasi setelah akhir kegiatan pelajaran.D. alat. 4. keseimbangan. dan perencanaan program pengajaran.Untuk tiu semua prinsip yang akan diuraikan berikut ini sebaiknya guru kuasai dan pahami betul-betul agar kegiatan interaksi edukatif dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. 3. menyiapkan bahan dan sumber belajar. 3. memilih metode. 8. menemukan.anak didik belajar dengan gayanya sendiri. Semua kegiatan yang di lakukan guru harus di dekati dengan pendekatan sistem. Prinsip – prinsip tersebut adalah : 1. Dalam mengajar. diantaranya memahami prinsip-prinsip interaksi edukatif. Guru tidak hanya mengajar . Kerelevansian gaya-gaya mengajar guru dengan gaya-gaya belajar anak didik akan memudahkan guru menciptakan interaksi edukatif yang konsif. dan alat bantu pelajaran. Bekal bawaan anak didik Perumusan tujuan pembelajaran Pemilihan metode Pemilihan pengalaman – pengalaman belajar Pemilihan bahan dan peralatan belajar . Conners. 5. Prinsip-prinsip Prinsip – prinsip ini diharapkan mampu menjebatani dan memecahkan masalah yang sedang guru hadapi dalam kegiatan interaksi edukatif. keserasian antara kedua komponen itu. 7.program satuan pelajaran (satpel). yaitu guru dan anak didik. Dalam merencanakan program-program tersebut di atas perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan : 1. 9.A Ametembun. Banyak kegiatn yang harus guru lakukan dalam interaksi edukatif. Sebab pengajaran adalah suatu sistem yang melibatkan sejumlah komponen pengajaran. mengidentifikasi tugas mengajar guru yang bersifat suksesif menjadi tiga tahap: Tahap Sebelum Pengajaran Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan pelaksanaan kurikulum.

7. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya CBSA dalam Interaksi Edukatif Cara belajar siswa aktif (CBSA) atau student active learning (SAL) bukan disiplin ilmu atau teori. 3. Beberapa perbuatan guru yang tampak pada tahap sesuadah mengajar. Pengertian ini menempatkan anak didik sebagai inti dalam kegiatan interkasi edukatif.6. 4. teknik atau dengan kata lain disebut teknologi. CBSA adalah suatu proses kegiatan interaksi edukatif yang subjeknyaadalah anak didik yang terlibat secara intelektual dan emosional. 5. Ada beberapa aspek yang perlu di pertimbangkan dalam tahap pengajaran ini.Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah direncanakan. 3. anak didik dalam kelompok atau anak didik secara individual. yaitu : 1. 2. 4. melainkan merupakan cara. 8. anak didik dengan anak didik. Menilai pengajaran guru 3. 6. sehingga ia betul – betula berperan dan berpartisipasi aktif dala melakukan kegiatan belajar. Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia Mempertimbangkan pola pengelompokan Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar Tahap Pengajaran Dalam tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan anak didik. Menilai Pekerjaan anak didik 2. 7. 1. Sebagai konsep. Pengelolaan dan pengendalian kelas Penyampaian informasi Penggunaan tingkah laku verbal non verbal Merangsang tanggapan balik dari anak didik Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar Mendiagnosis kesulitan belajar Memperimbangkan perbedaan individual Mengevaluasi kegiatan interaksi Tahap Sesudah Pengajaran Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan anak didik. 9. antara lain : 1. yang dimaksud dengan CBSA adalah salah satu strategi interaksi edukatif yang menuntut keaktifan dan partisipasi anak didik seoptimal mungkin. sehingga anak didik mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien. 8. Penerapan CBSA dalam Interkasi Edukatif Derajat aktifitas belajar yang optimal Indikator CBSA Indikator Keberhasilan belajar . 2. Jadi.

Tes formatif 2. tes prestasi belajar dapat di manfaatkan untuk penilaian berikut : 1. Perilaku yang di gariskan dalam tujuan pembelajaran khusus (TPK) telah di capai oleh anak didik. 2. Tujuan dan lingkup kegiatan Asas pelaksanaan kegiatan Bentuk pelaksanaan kegiatan Langkah – langkah pelaksanaan keterampilan proses Pelaksanaan Cara belajar siswa aktif 1. . baik secara indiviadual maupun kelompok. dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai anak didik. 4. 3.Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya. 2. memahami. 3. Indikator Yang menjadi petunjuk. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang di ajarkan mencapai prestasi tertinggi. Tes Sumatif Tingkat keberhasilan Setiap interaksi edukatif selalu menghasilkan prestasi belajar. bahan suatu proses belajar itu dianggap berhasil adalah sebagai berikut : 1. 1.Pola Pelaksanaan Keterampilan Proses dan CBSA Pelaksanaan keterampilan proses Keterampilan proses adalah suatu pendekatan dalam proses interkasi edukatif. 2. Masalah yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi belajar yang telah dicapai. 4. Penilaian Keberhasilan Keberhasilan interkasi edukatif biasanya di ukur dengan tes prestasi (hasil belajar). Tujuan dan ruang lingkup kegiatan CBSA Asas pelaksanaan kegiatan CBSA Bentuk pelaksanaan kegiatan CBSA Langkah-langkah CBSA Keberhasilan Interaksi Edukatif Pengertian Suatu proses interaksi edukatif tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran khusus bahan tersebut. Tes Subsumatif 3. baik secara individual maupun kelompok. Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak didik menyadari.

Program perbaikan Taraf atau tingkat keberhasilan proses interaksi edukatif dapat dimanfaatkan untuk berbagai upaya. Salah satunya berhubungan dengan perbaikan proses interaksi edukatif itu sendiri. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->