Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

pelaksanaan. 3. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS . output pendidikan. guru. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah. 8.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2.Memiliki kebijakan. 6.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri.Memiliki harapan prestasi yang tinggi. kominikatif dan akuntabilitas. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7.Kemandirian.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah. akan menggunakan team work. tujuan dan sasaran mutu yang jelas. yaitu sebagai berikut : a. di antaranya sebagai berikut: a.Akan mengalami peningkatan manajemen.Transparansi .Dalam bekerja. 2. a.Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input.Proses pendidikan 1. c.Input Pendidikan 1. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik. 4. 5. b. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah. f.Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko.Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. antisipatif.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi.Komitmen pada pelanggan b.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah. c.Kepemimpinan yang kuat. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya. g. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. proses. karyawan. d.Lingkungan sekolah yang nyaman. e. kepala sekolah. 3.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif.Responsif.Tim kerja yang kompak dan dinamis.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana.melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri. b. mulai dari pengambilan keputusan. 4. h.Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.

Aktif bertanya. Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP. c. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran. dan pemerintah mengenai hasil lulusan.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. sarana dan prasarana. Siswa aktif dan guru pasif. b. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. Selain itu. dan pemerintah. pengelolaan. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. pembiayaan.Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. masyarakat.Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah. Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara. c. .Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa.Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki. a. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. dan standar penilaian sekolah. b. dan sekolah. daerah.Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. masyarakat. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan.

e. f.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah. .Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. perpustakaan. tempat berolahraga. laboratorium. proses. yaitu berupa masukan. konkrit. mudah diukur.Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. SPM bersifat sederhana.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik.Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian. hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah. tempat bermain. Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional. d. i. keputusan intruksional maupun organisasional. h.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi. bengkel kerja. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. tempat beribadah.c. proses pembelajaran.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu. g. Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. termasuk penggunaan tekhnologi. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. terbuka.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. informasi dan komunikasi. tempat berekreasi.

terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas.51 . guru-guru. MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah. M.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. 2009.Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. c. Manajemen Berbasis Sekolah. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan.dan efisien.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00. kepala sekolah. Melalui penerapan MBS. Nanang dan Ali. serta kebutuhan masyarakat setempat. b. Manajemen Berbasis Sekolah.efektif.Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS). 2007. 2.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. Fattah. guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a. Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal.

Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas. perbaikan sarana-sarana pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. moral. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan. pasal 3). masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. dan lain-lain. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum. maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. 26 March 2010 13:54 administrator A.20 Tahun 2003 (Sisdiknas. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. dan budaya. Bagi pemeluk agama. atau cenderung tambal sulam. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. bangsa maupun antar bangsa. politik . Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. Akibatnya. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. bahkan lebih berorintasi proyek. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. Secara fungsional. sosial. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . perbankan. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. telekomunikasi. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. Dalam artian. baik industri. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak.

perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. Saat ini. sebagai contoh. Di lain pihak. berilmu. selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. Singkat kata. maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. 28 Februari 2006). mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah. Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen. . Ahmad Sjafii Maarif. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis. negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. termasuk dunia pendidikannya. Pendek kata. Oleh karena itu. Dengan komptensi yang dimiliki. tanpa kualitas guru yang baik. The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. Padahal. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika.cakap. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru. yaitu tenaga pendidik. pemangku profesi keguruan.beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. kreatif. 9 Mei 2005). Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. Sebagaimana diketahui. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. berakhlak mulia.sehat. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi. Para ahli di bidang pendidikan. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

melakukan pengukuran. Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya. B. karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya. atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum. Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut. karena sikap dan tingkah laku. Bagi sebagian besar orangtua siswa. Oleh karena itu. dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. faktor yang paling penting adalah guru. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. penampilan profesional. kemampuan individual. Namun demikian. dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas. C.

Pertama. motivator. Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. Nah. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas.tidak semenarik komik atau majalah. Pertama. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. dan dinamisator bagi peserta didik. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI). apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. bukan pegawai yang mengejar prestasi. perlu mendapat prioritas dalam reformasi". Kedua. dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan. Hak-hak guru sebagai pribadi. bukan 'upah minimum'. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan. . anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. Ketiga. Dengan kata lain. dalam kondisi seperti itu. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan. pemangku profesi keguruan. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. Dalam kondisi seperti itu. yaitu guru. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. Itulah sebabnya. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. serta dalam era apa saja.

. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain. atau kalau perlu dipensiundinikan. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. Dengan demikian. Dari kelima syarat tersebut. dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional. misalnya tenaga administrasi. Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima. Kalau perlu. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. 2. Jika syarat tersebut telah dilakukan. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). Untuk itu. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. Alasan kedua. maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini.

dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu. Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. . Artinya. dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan. maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Selain itu. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting. Jadi. untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu. Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut.

Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. maupun psikomotorik siswa. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan. sebagaimana tercantum dalam pengumuman. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya. kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. Disamping itu. seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur. kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa. afektif.kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik. ada penerimaan guru baru disekolah. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. media. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti. Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain. Dengan demikian. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini. memilih metode. sehat jasmani dan rohani. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting . Selain itu. Selain itu. surat kabar dan sebagainya. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif.

Sementara itu. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan. atau pengawas. maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. 4. 5. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. disusunlah satu standar pembinaan karier. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. . Sebagai contoh. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. 3. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. Selain itu.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. Selain itu. yang juga sangat berat. langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya. Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. untuk menjadi instruktur. atau menjadi kepala sekolah. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan.

maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya. menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. . maka akan menjadikan guru profesional. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. system penyampaian. Dengan kompetensi tersebut. yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. inservice training. dan sebagainya. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Tujuan. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. 3) Kompetensi psikomotorik. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. 2) Kompetensi afektif. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). pola. Oleh karena itu. yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. Sudah tentu termasuk PGRI. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah. Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. dan on the job training. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru. Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. evaluasi. Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). organisasi perjuangan para guru. Agar tujuan pendidikan tercapai. yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. struktur dan isi kurikulumnya. baik secara akademis maupun non akademis. hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. program pendidikan. kompetensi guru berperan penting.

dan diikuti juga anggota komite sekolah. kegiatan belajar. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi. Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri. 2) Perumusan Visi. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. Sebagai pengajar. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. metode mengajar. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. mereka tidak berangkat dari nol. dan seluruh staf. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. kemajuan yang telah dicapai. melainkan dari kondisi yang dimiliki.D. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. dan evaluasi. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran. dan tujuan . guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. Misi. guru.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran. bahan pengajaran. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami.

kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. 4) Pelaksanaan . Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. Sedangkan misi. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. keadilan. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. dalam bentuk tertulis. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Tujuan (jangka menengah). dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. bagaimana. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. serta hasil seperti apa yang diharapkan. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. keluhuran budi pekerti. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan .Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. Tujuan merupakan tahapan antara. Dengan kata lain. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. kemanusiaan. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.semesteran. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan. Ia juga memonitor kemajuan siswa. Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar.Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. siswa. dengan kepala sekolah dan orang tua. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. setiap guru memahami visi dan misi sekolah. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen. b. Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan. misalnya menghadapi lomba bidang studi. atau kegiatan lainnya. (mengorganisasikan bahan. c. dengan siswa. Tahap pelaksanaan. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah. bahkan mingguan). atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. pengorganisasian. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. merencanakan proses pembelajaran. pembuatan rencana. Sebagai perencana. penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. hanya lingkupnya yang berbeda. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai). Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya.

Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). Sungguh pun demikian. dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. bidang ketenagaan. bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. 5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian. bidang keuangan. (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya. Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah. menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya).Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk .

Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang). termasuk pendidikan. yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. mereka ingin segera memperoleh kepastian. demokratisasi.tradisional. Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. ingin memperoleh pedoman. transparansi. dan Kepmemdiknas No. meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. Disamping itu. UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan. baik yang berlandaskan agama maupun budaya. kebijakan yang mendukung. sistem pendidikan. serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik. demokratisasi dan akuntabilitas. Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. sebagai dokumen tertulis resmi. akuntabilitas. bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Konkritnya. desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya. Disisi lain. keluarnya UU No. Baik yang antusias menerima. Pemuda. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. dan olah raga tahun 2000-2004. petunjuk dan sebagainya.25 Tahun 2000 tentang Propenas.kalangan dalam sekolah sendiri). Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi).

Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil. Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya. (2) standar kualifikasi. Edisi 01/Tahun 2003. 2006 Undang-undang RI No.com. DAFTAR BACAAN Hamalik. Asrorun. 2004 Samana.wordpress. 3 februari 2005 . bermutu. Membangun Profesionalitas Guru. (5) standar pembinaan karir. www. Azyumardi. (www. Moch. Jakarta : eLSAS. Mudahmudahan. Kompas. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Sinar Grafika. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya.. dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan. (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan. Menjadi Guru Profesional. Azra. 20 Tahun 2003. Com). 2003. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. 2003 Peraturan Pemerintah RI No.1994 Uzer Usman. dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat. Oemar. Jakarta: Prenada Media.Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan.E.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK. (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. A. Membina Mutu Pendidikan. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya.1989 Ni. Jakarta: Bumi Aksara.SaifulAdi. dan MKPS. 2006 Rosyada. MKKS. Jakarta: Bina Aksara. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan..2007 N. . yang perlu diberdayakan. Jakarta: Sinar Grafika.Yogyakarta:Kanisius.K. Profesionalisme Keguruan. dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.am. Inovasi Kurikulum. MGMP. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. 2006 Kunandar.Bandung: PT.2005 Adi Saiful. Remaja Rosdakarya. Jakarta: Bumi Aksara.

Jakarta: Logos wacana Ilmu. Manajemen Kualitas. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Syafarudin.Soebagio Atmodiworo. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Oleh karena itu. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Dalam implementasi MBS.1999. Dukungan finansial. Grasindo. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Namun. Akhirnya. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . 2002. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. 2004. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. Uwes Sanusi. ketidakpuasan.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu.blogspot.Ardadijaya. Doretea. Wahyu Ariyani.info/index. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. 2000. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah.html http://www. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. ICW. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian.dinaspendidikanparepare. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Bedjo. Sujanto.

tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. . dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. 22 tahun 1999. Tetapi. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. bukan dengan pemerintah pusat. kelompok dan organisasinya. Munculnya UU No. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. Berdasarkan latar belakangnya. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Pertama. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Kedua. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah.

partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Hubungan guru. yaitu melalui UU No. Apapun model MBS yang dipakai. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Mandatnya sudah jelas. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. yang paling . Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Kedua. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. Ketiga. Kedua. bersahabat dan hangat. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar.BAB II PEMBAHASAN A. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. Pertama. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Keempat. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. 2. tujuan dan akuntabilitas. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. yaitu terprogram dan sistematik. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa.

MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. Namun. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. 3. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. staf. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. budaya. ekonomi dan politik. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Keempat. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. pelayanan kepada masyarakat. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). Kedua. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. prinsip inisiatif sumber daya manusia. (c) wanita. Desentralisasi dalam kekuasaan. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. . pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. melainkan memerlukan biaya. pengetahuan dan ketrampilan. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. dan (d) penyandang cacat. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. Karena itu. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). sosial dan budaya. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. pengetahuan dan ketrampilan. prinsip sistem pengelolaan mandiri. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. informasi dan penghargaan. tenaga. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Ketiga. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. kepala sekolah dan orang tua siswa.

tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. Keempat. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Keenam. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. Kubick (1988) tentang School-Based Management. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. Pada dasarnya. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Ketujuh. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Kedelapan. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Pertama. B. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Dengan demikian. Kelima. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Oleh karena itu. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Ketiga. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Kesembilan.Ketiga. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Kedua. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas.

yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. membuat rencana jangka pendek. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Ketujuh. Kedelapan. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Kedelapan. diskusi. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. implementasi pada proses pembelajaran. Kelima. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Kedua. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. Kesembilan. Kelima. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Menurut Slamet P. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Keempat. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Keenam. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Sementara itu.designer. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Oleh karena itu. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. motivator. identifikasi peran masing-masing. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum.H. Ketiga. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. fasilitator dan liaison. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. Namun. Keenam. Kesembilan. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. forum ilmiah dan media massa. melakukan pemantauan terhadap proses dan . evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Pertama. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Keempat. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. Ketujuh.

dan lebih mampu mengelola . kemandirian dan kerjasama. kurikulum. Pertama. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. strategi dan monitoring serta evaluasi. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Ketiga. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. kepemimpinan. keuangan. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. 2. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. dan budaya masyarakat. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. budaya pemerintah daerah. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. masalah partisipasi. Selain itu. 1. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. masyarakat. Oleh karena itu. Wohlstetter dkk. Kedua. pendanaan. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. pembangunan kelembagaan (capacity building). Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. ketenaga kerjaan. waktu. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. budaya sekolah.evaluasi terhadap hasil MBS. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. yaitu parisipasi masyarakat. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah.

rancangan dan implementasi dari reformasi. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. 4. menciptakan visi bersama. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. memperbaiki lingkungan kerja. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. Kelima. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. 5. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya.Base. Sementara itu. Keenam. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. Kedua. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. Keempat. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. pelatihan.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. berapa dana yang akan dialokasikan. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. mendefinisikan peran baru. Pertama. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. Byrk dkk. guru dan administrator tentang tujuan. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. 3. Ketiga. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. memahami konteks perubahan.dirinya secara lebih efektif. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung .

proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. Ketiga. Padahal dalam kenyataan. . C. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Sekolah Dasar Inpres. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. Pertama. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS.dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Sekolah Dasar Swasta. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah.C. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). 6 Oktober 2000). implementasi MBS memakan waktu. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. J. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Menurut Taruna. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. (3) belajar untuk hidup bersama. kurangnya kepercayaan antar pihak. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Sejak September 1999. dan (4) belajar untuk kemandirian. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Keempat. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Pertama. (2) belajar untuk melaksanakan. Kedua. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Oleh karena itu. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan.

Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah.Kedua. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Pertama. Ketiga. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah . Namun. D. Selain itu. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. Keempat. memahami konteks perubahan. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. memperbaiki lingkunagn kerja. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Ketiga. Kedua. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Menurut Taruna. mendefinisikan peran baru. tantangan demokrasi. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. menciptakan visi bersama.

Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. professional. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Oleh karena itu. dan market. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Kedua. Ketiga. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. legal. 16 April 2001). bureaucratic. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. Kedua. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. teratur. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. fungsi dan wewenang. Keempat. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Ketiga. Selanjutnya. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. . BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Dengan demikian. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. Pertama. Pertama. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.Pada era desentralisasi. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. terkonsep dan terorganisir rapi. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas.

Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal.ed. School-Based Management. 1973. Arif. Fasli dan Dedi Supriadi (ed.http://www. Cetakan Kedua. Cetakan Ketiga dan Keempat.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Jakarta: PT Bumi Aksara. Dalam implementasi MBS. Lori Jo. 1995.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Pengantar Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Lori Jo. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. 02.governancereform/06. Oswald.worldbank. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.http://www1. 2003.ed.org/education/globaleducationreform/06. Jalal. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. http://www. Amir Daien. Oswald. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. 2006. Surabaya: Usaha Nasional. Surabaya. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Komariah. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Strategi dan Implementasi). 2006. ___________. Dukungan . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Wallahu ‘alamu. 2001. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Aan dan Cepi Triatna. Nurrawi. 2002. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis).).

Tetapi. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut.finansial. Munculnya UU No. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. kelompok dan organisasinya. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. ketidakpuasan. Pertama. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Berdasarkan latar belakangnya. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. Akhirnya. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. Kedua. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. bukan dengan pemerintah pusat. Oleh karena itu. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Namun. 22 tahun 1999. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu.

batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . yaitu melalui UU No. yaitu terprogram dan sistematik.atau kota. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Kedua. bersahabat dan hangat. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. BAB II PEMBAHASAN A. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Hubungan guru. Mandatnya sudah jelas. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. Pertama. tujuan dan akuntabilitas. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa.

sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. prinsip inisiatif sumber daya manusia. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. Keempat. Desentralisasi dalam kekuasaan. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. 3. prinsip sistem pengelolaan mandiri. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. Karena itu. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Ketiga. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. melainkan memerlukan biaya. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. pengetahuan dan ketrampilan. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. informasi dan penghargaan. Teori yang Mendasari MBS Pertama. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. pelayanan kepada masyarakat. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). Apapun model MBS yang dipakai. kepala sekolah dan orang tua siswa. ukuran keberhasilan . Namun. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. pengetahuan dan ketrampilan. 2. Ketiga. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Kedua. staf. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Keempat. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. tenaga. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni.

Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. sosial dan budaya. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. Kelima. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. (c) wanita. budaya. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Dengan demikian. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Ketujuh. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. B. Keempat. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. ekonomi dan politik. Kubick (1988) . Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Kesembilan. dan (d) penyandang cacat. Kedelapan. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Kedua. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Keenam. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Ketiga. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah.

strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Oleh karena itu. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. implementasi pada proses pembelajaran. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. fasilitator dan liaison. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Kedelapan. Pertama. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Sementara itu. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Kedua. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Oleh karena itu. Kesembilan. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Keenam. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya.tentang School-Based Management. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. . pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Namun. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Ketujuh. identifikasi peran masing-masing. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Kelima. Ketiga. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Keempat. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . motivator. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. Pada dasarnya.

kurikulum. Oleh karena itu. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Kelima. pendanaan. keuangan. Kedelapan. Menurut Slamet P. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. masyarakat. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. strategi dan monitoring serta evaluasi. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. diskusi. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . 1. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. waktu. Pertama. Pertama. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. masalah partisipasi. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. Kesembilan. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Keenam. Keempat.H. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Kedua. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. forum ilmiah dan media massa. membuat rencana jangka pendek. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. yaitu parisipasi masyarakat. ketenaga kerjaan. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. Kedua. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Ketiga. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. Ketujuh. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. pembangunan kelembagaan (capacity building). Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan.

Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. 4. Wohlstetter dkk. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. dan budaya masyarakat. 5. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. budaya sekolah. Ketiga. Pertama. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. kepemimpinan. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. budaya pemerintah daerah. yaitu pengadopsian suatu perspektif . MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Keempat. rancangan dan implementasi dari reformasi. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. Ketiga. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. 2. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Sementara itu. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Byrk dkk. pelatihan. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Selain itu. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. guru dan administrator tentang tujuan.akuntabilitas. Kelima. kemandirian dan kerjasama. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. Keenam. Kedua. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. 3.

tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. menciptakan visi bersama. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Oleh karena itu.Base. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. C. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. kurangnya kepercayaan antar pihak. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. memperbaiki lingkungan kerja. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. berapa dana yang akan dialokasikan. Ketiga. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. . Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. Kedua. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). Pertama. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. memahami konteks perubahan. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. mendefinisikan peran baru. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. bahkan dalam beberapa terminologi Sit.yang lebih luas akan suatu sistem. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS.

Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. implementasi MBS memakan waktu. J. Menurut Taruna. Menurut Taruna. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. memperbaiki lingkunagn kerja. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Sejak September 1999. Sekolah Dasar Inpres. 6 Oktober 2000). Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). memahami konteks perubahan. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. mendefinisikan peran baru. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. tenaga dan pikiran secara besar-besaran.C. Ketiga. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. dan (4) belajar untuk kemandirian. tantangan demokrasi. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. Sekolah Dasar Swasta. Keempat. Pertama. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. (2) belajar untuk melaksanakan. Pertama. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. Selain itu. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. Kedua. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. menciptakan visi bersama. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Padahal dalam kenyataan. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. (3) belajar untuk hidup bersama. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah.Keempat.

Namun. dan market. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. 16 April 2001). adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. bureaucratic. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Pertama. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. Kedua. D. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. Pertama. Ketiga. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Kedua. professional. Selanjutnya. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Ketiga. Ketiga. fungsi dan wewenang. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Dengan demikian. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Keempat. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. . tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Kedua. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. legal. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada.

DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. 2001. Bandung: PT . Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. 2006. Strategi dan Implementasi). bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Wallahu ‘alamu. Jalal.). Cetakan Ketiga dan Keempat. Aan dan Cepi Triatna. Cetakan Kedua. Surabaya: Usaha Nasional. E.ed. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. teratur. 2003. terkonsep dan terorganisir rapi. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. 2006. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. 1973. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: PT Bumi Aksara. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Komariah. Oleh karena itu. http://www. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. ___________. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Pengantar Ilmu Pendidikan. Amir Daien. Mulyasa.

htm. Oswald. http://www./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan.H. Tilaar. Revised Edition.pdk.org/education/globaleducationreform/06.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah.go.S. 1996.SMBQ&ASBMReynolds. Priscilla dan Susan Albers Mohrman. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.html. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. Suryadi. 27. Inc. 1992.com/. 1993.e.gov/pubs/cpre/fb5sbm. “Manajemen Berbasis Sekolah”. Wohlstetter.ed. School-Based management: ERIC Digest Number 99. U.A. Lori Jo. School-Based Management. 02.blogspot. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 1995. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.http://www1.. 2002. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar).R. http://ww. http://ww. California: Corwin Press. School-based Management: Strategies for Succes. 1997. Tafsir. Larry J..http://www. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Nurrawi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement. gurutrenggalek. Lori Jo. Oswald.Remaja Rosdakarya. Ace dan H. Ahmad.ed.governancereform/06.html - . Slamet P.worldbank. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt. Cetakan Pertama. Surabaya. Arif. Wohlstetter. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2001.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful