Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.Dalam bekerja.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik. a.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan.Kemandirian.Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko. karyawan. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah.Memiliki harapan prestasi yang tinggi. 4. antisipatif. b. pelaksanaan. proses.Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif.Kepemimpinan yang kuat. 4. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input. output pendidikan. guru. 8. kominikatif dan akuntabilitas.Tim kerja yang kompak dan dinamis.Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. h.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2.Proses pendidikan 1.Input Pendidikan 1.Memiliki kebijakan. mulai dari pengambilan keputusan. d. 3.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi. tujuan dan sasaran mutu yang jelas. akan menggunakan team work. b. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah.Lingkungan sekolah yang nyaman.melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri. di antaranya sebagai berikut: a. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya.Komitmen pada pelanggan b. 3.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah. kepala sekolah.Responsif. g.Transparansi . c. f. 6. e. 2. 5.Akan mengalami peningkatan manajemen. yaitu sebagai berikut : a. c. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS .

Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. . b. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum. pembiayaan. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. b. Aktif bertanya.Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. dan standar penilaian sekolah. dan sekolah. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula. Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi. sarana dan prasarana. daerah. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. dan pemerintah. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran. pengelolaan.Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. Siswa aktif dan guru pasif. orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester. a. masyarakat. dan pemerintah mengenai hasil lulusan. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki.Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. Selain itu.Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. c. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a. c.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. masyarakat. Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara.

terbuka. tempat bermain. mudah diukur. Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. d. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. informasi dan komunikasi.Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. g.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. tempat berekreasi. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi. f.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik. yaitu berupa masukan.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik. e. perpustakaan. hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah. tempat berolahraga. bengkel kerja. . laboratorium. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu.Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. termasuk penggunaan tekhnologi.c. keputusan intruksional maupun organisasional.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik.Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. h.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi. SPM bersifat sederhana. proses. konkrit. i. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian. tempat beribadah. proses pembelajaran. Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional.

Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. Nanang dan Ali. serta kebutuhan masyarakat setempat. b. kepala sekolah. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS). Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal. MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis. Manajemen Berbasis Sekolah. 2. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah. Melalui penerapan MBS. 2009. Manajemen Berbasis Sekolah. guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan.Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik.efektif. terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. 2007. guru-guru. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. c. Fattah. M. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas.Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a.51 .dan efisien.

bahkan lebih berorintasi proyek. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. perbankan. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. Bagi pemeluk agama. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. bangsa maupun antar bangsa. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat. sosial. dan lain-lain. Dalam artian. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. telekomunikasi. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. 26 March 2010 13:54 administrator A. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi. dan budaya. politik . Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum. Secara fungsional. masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. atau cenderung tambal sulam. perbaikan sarana-sarana pendidikan. pasal 3). Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. baik industri. moral. Akibatnya. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan.20 Tahun 2003 (Sisdiknas.

Saat ini. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. Para ahli di bidang pendidikan. maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. sebagai contoh.sehat. selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. pemangku profesi keguruan. Pendek kata. negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. Di lain pihak.beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. 28 Februari 2006). telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika. maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Ahmad Sjafii Maarif. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 9 Mei 2005). anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. Singkat kata. berilmu. perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti. . yaitu tenaga pendidik. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. berakhlak mulia. Padahal. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. Sebagaimana diketahui. Dengan komptensi yang dimiliki. termasuk dunia pendidikannya. dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen. Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. kreatif. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi. Oleh karena itu. tanpa kualitas guru yang baik. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi.cakap. mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah.

Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun. Oleh karena itu. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes. Namun demikian. faktor yang paling penting adalah guru. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran. Bagi sebagian besar orangtua siswa. kemampuan individual. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. B. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. karena sikap dan tingkah laku. karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas. dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya. Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik. Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. melakukan pengukuran. atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. penampilan profesional. dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. C.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi.

serta dalam era apa saja. Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. bukan 'upah minimum'. Pertama. yaitu guru. Pertama. Hak-hak guru sebagai pribadi. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. . Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi. dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Dengan kata lain. dalam kondisi seperti itu. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. perlu mendapat prioritas dalam reformasi". anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI). Nah. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. motivator. Dalam kondisi seperti itu. Itulah sebabnya. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan. bukan pegawai yang mengejar prestasi. Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. dan dinamisator bagi peserta didik. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. Ketiga. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan.tidak semenarik komik atau majalah. peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa. pemangku profesi keguruan. Kedua.

maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. 2. . atau kalau perlu dipensiundinikan. Dengan demikian. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai. Jika syarat tersebut telah dilakukan. (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. Alasan kedua. uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. Untuk itu. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. misalnya tenaga administrasi. Kalau perlu. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini. Dari kelima syarat tersebut. dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif.

tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting. Selain itu. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis. dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut. dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia. untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan. Jadi. . Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. Artinya. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut. Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu.

Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. maupun psikomotorik siswa. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain. kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa.kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti. kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting . Selain itu. memilih metode. surat kabar dan sebagainya. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi. afektif. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini. Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala. Selain itu. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. Disamping itu. sehat jasmani dan rohani. Dengan demikian. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur. media. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. ada penerimaan guru baru disekolah. sebagaimana tercantum dalam pengumuman.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif.

Selain itu. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. yang juga sangat berat. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. . Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja. Sebagai contoh. Sementara itu. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. 4. 3. atau pengawas. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. Selain itu. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. untuk menjadi instruktur. atau menjadi kepala sekolah. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. 5. maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. disusunlah satu standar pembinaan karier. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan.

Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. struktur dan isi kurikulumnya. inservice training. hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. system penyampaian. Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Sudah tentu termasuk PGRI. yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. 2) Kompetensi afektif. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. dan sebagainya. . Oleh karena itu. yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Agar tujuan pendidikan tercapai. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. organisasi perjuangan para guru. Dengan kompetensi tersebut. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. 3) Kompetensi psikomotorik. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). Tujuan. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). baik secara akademis maupun non akademis. maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya. maka akan menjadikan guru profesional. Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. kompetensi guru berperan penting. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah. Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. pola. dan on the job training. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. evaluasi. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). program pendidikan.

maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. dan seluruh staf. Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. dan diikuti juga anggota komite sekolah. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. kegiatan belajar. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. 2) Perumusan Visi. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). bahan pengajaran. dan evaluasi. atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. melainkan dari kondisi yang dimiliki. maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar. guru. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas. tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. Misi. guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang.D. metode mengajar. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. dan tujuan . kemajuan yang telah dicapai. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. Sebagai pengajar. mereka tidak berangkat dari nol. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi.

4) Pelaksanaan . Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. bagaimana. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. keadilan. keluhuran budi pekerti. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. kemanusiaan. Dengan kata lain. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. Tujuan merupakan tahapan antara. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. serta hasil seperti apa yang diharapkan. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. dalam bentuk tertulis. Sedangkan misi. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan .Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. Tujuan (jangka menengah). kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya.

Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. bahkan mingguan).semesteran. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. dengan siswa. pembuatan rencana. misalnya menghadapi lomba bidang studi. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). hanya lingkupnya yang berbeda. Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar. (mengorganisasikan bahan. kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan. Tahap pelaksanaan. Ia juga memonitor kemajuan siswa. c. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai). Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen. penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. atau kegiatan lainnya. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . merencanakan proses pembelajaran. b.Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. setiap guru memahami visi dan misi sekolah. Sebagai perencana. menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. pengorganisasian. dengan kepala sekolah dan orang tua. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. siswa.

Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah. bidang ketenagaan. 5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya. menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya). sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d. bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. Sungguh pun demikian.Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk . Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. bidang keuangan. dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian.

serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. akuntabilitas.25 Tahun 2000 tentang Propenas. desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. dan Kepmemdiknas No. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. sebagai dokumen tertulis resmi. sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi). ingin memperoleh pedoman. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. sistem pendidikan.tradisional. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang). transparansi. termasuk pendidikan. baik yang berlandaskan agama maupun budaya. Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . mereka ingin segera memperoleh kepastian. bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya. ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). petunjuk dan sebagainya. Disamping itu. ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. keluarnya UU No. agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama.kalangan dalam sekolah sendiri). Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. Disisi lain. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi. dan olah raga tahun 2000-2004. meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. kebijakan yang mendukung. Konkritnya. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif. bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik. Pemuda. Baik yang antusias menerima. UU No. demokratisasi dan akuntabilitas. konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan. demokratisasi.

Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan.. Mudahmudahan. Jakarta: Bumi Aksara. Asrorun. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada. Inovasi Kurikulum. dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG. Profesionalisme Keguruan. Jakarta: Prenada Media.com. Membangun Profesionalitas Guru. Edisi 01/Tahun 2003. 2004 Samana. Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya. Moch. 2006 Kunandar.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru. Jakarta: Sinar Grafika.1989 Ni.SaifulAdi. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan. Azra.1994 Uzer Usman. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi. dan MKPS. Jakarta : eLSAS. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya. Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil.wordpress. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Sinar Grafika. Menjadi Guru Profesional. Azyumardi. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. bermutu. (www. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK. (5) standar pembinaan karir. Remaja Rosdakarya. 2006 Undang-undang RI No.Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya.2007 N.Bandung: PT. www. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. MGMP. Kompas. Com). (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat.Yogyakarta:Kanisius. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya. DAFTAR BACAAN Hamalik. 2006 Rosyada. A. yang perlu diberdayakan. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.2005 Adi Saiful. 2003. Jakarta: Bumi Aksara.E. (2) standar kualifikasi. 20 Tahun 2003. 3 februari 2005 . MKKS. Oemar. dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global. . Jakarta: Bina Aksara. Membina Mutu Pendidikan. 2003 Peraturan Pemerintah RI No. (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan.am..K.

ICW. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Akhirnya. Namun. Jakarta: Logos wacana Ilmu. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Syafarudin. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan.dinaspendidikanparepare.info/index. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan.blogspot. Uwes Sanusi. Manajemen Kualitas. 2000. Oleh karena itu. Dukungan finansial. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai.Ardadijaya. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya.Soebagio Atmodiworo. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. ketidakpuasan. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu. 2002. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Sujanto. Bedjo. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Wahyu Ariyani. Grasindo.1999. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. Doretea. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Dalam implementasi MBS. 2004.html http://www.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat.

ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. 22 tahun 1999. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Munculnya UU No. Berdasarkan latar belakangnya. Kedua. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Tetapi. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Pertama. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. kelompok dan organisasinya. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. bukan dengan pemerintah pusat. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . . Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran.

orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Teori yang Mendasari MBS Pertama. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. Hubungan guru. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. Kedua. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. yaitu terprogram dan sistematik.BAB II PEMBAHASAN A. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. tujuan dan akuntabilitas. yaitu melalui UU No. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. bersahabat dan hangat. yang paling . 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Keempat. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. 2. Ketiga. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Kedua. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Mandatnya sudah jelas. Apapun model MBS yang dipakai. Pertama. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. 3. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. staf. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. kepala sekolah dan orang tua siswa. informasi dan penghargaan.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. dan (d) penyandang cacat. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. Keempat. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Kedua. Desentralisasi dalam kekuasaan. tenaga. sosial dan budaya. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. (c) wanita. pelayanan kepada masyarakat. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. prinsip sistem pengelolaan mandiri. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Karena itu. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. Namun. prinsip inisiatif sumber daya manusia. pengetahuan dan ketrampilan. . terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. pengetahuan dan ketrampilan. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. budaya. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Ketiga. melainkan memerlukan biaya. ekonomi dan politik.

Kubick (1988) tentang School-Based Management. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Ketujuh. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Pertama. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Pada dasarnya. Kedua. Keempat. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.Ketiga. Keenam. Oleh karena itu. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. B. Kelima. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Ketiga. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Kedelapan. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Dengan demikian. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Kesembilan. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda.

Menurut Slamet P. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Kesembilan. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. implementasi pada proses pembelajaran. melakukan pemantauan terhadap proses dan . demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait.H. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Ketujuh. Keempat. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Sementara itu. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Kedua. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Pertama. fasilitator dan liaison. motivator.designer. Kelima. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Namun. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. diskusi. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . membuat rencana jangka pendek. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Oleh karena itu. Kelima. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. Keenam. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Kesembilan. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Kedelapan. Keenam. Ketujuh. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. forum ilmiah dan media massa. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Kedelapan. Keempat. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. identifikasi peran masing-masing. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. Ketiga. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut.

budaya pemerintah daerah. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. kemandirian dan kerjasama. 2. ketenaga kerjaan. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. dan budaya masyarakat. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. Kedua. Ketiga. Oleh karena itu. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. masyarakat. dan lebih mampu mengelola . Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. Pertama. Selain itu. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru.evaluasi terhadap hasil MBS. waktu. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. 1. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. budaya sekolah. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. pendanaan. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. masalah partisipasi. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. yaitu parisipasi masyarakat. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. kepemimpinan. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. kurikulum. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Wohlstetter dkk. pembangunan kelembagaan (capacity building). keuangan. strategi dan monitoring serta evaluasi.

rancangan dan implementasi dari reformasi. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. 4. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. pelatihan. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Pertama. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Keenam. Ketiga. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. mendefinisikan peran baru. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. menciptakan visi bersama. berapa dana yang akan dialokasikan. memahami konteks perubahan. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. 5. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan.dirinya secara lebih efektif. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung . tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. Kedua. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Kelima. guru dan administrator tentang tujuan. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. Byrk dkk. 3. Sementara itu. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. monitoring yang ketat dan dukungan VEC.Base. Keempat. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. memperbaiki lingkungan kerja.

Pertama. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. (3) belajar untuk hidup bersama. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Sekolah Dasar Inpres.C. implementasi MBS memakan waktu. J. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. . Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. 6 Oktober 2000). Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu.dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. C. Keempat. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. Kedua. Menurut Taruna. Sejak September 1999. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. Sekolah Dasar Swasta. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Ketiga. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. dan (4) belajar untuk kemandirian. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Pertama. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Padahal dalam kenyataan. kurangnya kepercayaan antar pihak. (2) belajar untuk melaksanakan. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya.

Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. menciptakan visi bersama. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. tantangan demokrasi. Ketiga. mendefinisikan peran baru. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. Pertama. Keempat. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Selain itu. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Namun. D. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik.Kedua. memahami konteks perubahan. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. memperbaiki lingkunagn kerja. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah . (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Kedua. Menurut Taruna. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. Ketiga. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah.

Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Kedua. fungsi dan wewenang. Dengan demikian. Keempat. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. terkonsep dan terorganisir rapi. teratur. Ketiga. professional. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Oleh karena itu. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas.Pada era desentralisasi. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. legal. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. bureaucratic. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Kedua. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Ketiga. Selanjutnya. dan market. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Pertama. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. 16 April 2001). . Pertama. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya.

gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). 02. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Pengantar Ilmu Pendidikan. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal.). 2003. Cetakan Kedua.ed.worldbank. ___________. Nurrawi.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Arif.ed. 2002.governancereform/06. 2001. Surabaya: Usaha Nasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dukungan . Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Wallahu ‘alamu. Komariah. Lori Jo. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.http://www. http://www.org/education/globaleducationreform/06. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Jakarta: PT Bumi Aksara. Aan dan Cepi Triatna. Strategi dan Implementasi). Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Dalam implementasi MBS. Cetakan Ketiga dan Keempat. Oswald. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Oswald. School-Based Management. E. 2006. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Amir Daien.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. 1973. 1995. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Jalal. Surabaya. Mulyasa. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. 2006.http://www1. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Lori Jo.

Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Akhirnya. bukan dengan pemerintah pusat. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya.finansial. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. 22 tahun 1999. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Tetapi. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Berdasarkan latar belakangnya. kelompok dan organisasinya. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Oleh karena itu. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Namun. Pertama. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Kedua. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. Munculnya UU No. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. ketidakpuasan. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya.

mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa.atau kota. Mandatnya sudah jelas. Kedua. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. BAB II PEMBAHASAN A. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . Pertama. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. tujuan dan akuntabilitas. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. bersahabat dan hangat. yaitu terprogram dan sistematik. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Hubungan guru. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. yaitu melalui UU No. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat.

Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. tenaga. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Ketiga. Keempat. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Keempat. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. pengetahuan dan ketrampilan. 2. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. staf. Ketiga. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. prinsip sistem pengelolaan mandiri. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). pengetahuan dan ketrampilan. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. Apapun model MBS yang dipakai. 3. Kedua. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. pelayanan kepada masyarakat. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Desentralisasi dalam kekuasaan.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Karena itu. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. informasi dan penghargaan. prinsip inisiatif sumber daya manusia. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. melainkan memerlukan biaya. Namun. ukuran keberhasilan . apa pun kriteria keberhasilan tersebut. kepala sekolah dan orang tua siswa. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah.

Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. ekonomi dan politik. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Keempat. Kubick (1988) . Kesembilan. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Dengan demikian. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. Ketujuh. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Keenam. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. Kedelapan. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Kedua. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. sosial dan budaya. (c) wanita. budaya. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. B. Kelima. Ketiga. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. dan (d) penyandang cacat. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat.

Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Pertama. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Keenam. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Oleh karena itu. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Namun. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Kelima. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Ketujuh. Kedua. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. fasilitator dan liaison. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. Keempat. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS.tentang School-Based Management. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Kesembilan. motivator. Oleh karena itu. Ketiga. Sementara itu. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Pada dasarnya. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. . Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Kedelapan. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. identifikasi peran masing-masing. implementasi pada proses pembelajaran. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum.

para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. keuangan. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. forum ilmiah dan media massa. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. pendanaan. yaitu parisipasi masyarakat. kurikulum. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Menurut Slamet P. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. masalah partisipasi. strategi dan monitoring serta evaluasi. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Kedua. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. membuat rencana jangka pendek. Pertama. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Keenam. Oleh karena itu.H. diskusi. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Kesembilan. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Keempat. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Kedua. Kedelapan. masyarakat. ketenaga kerjaan. Kelima. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Pertama. waktu. 1. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. pembangunan kelembagaan (capacity building). Ketiga. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Ketujuh.

meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. rancangan dan implementasi dari reformasi. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Sementara itu. kepemimpinan. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Byrk dkk. Ketiga. guru dan administrator tentang tujuan. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Kelima. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. 4. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. pelatihan. Wohlstetter dkk. budaya sekolah. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. 5. Kedua. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Keenam. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. Selain itu. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. budaya pemerintah daerah. Ketiga. Keempat. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. 2. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. dan budaya masyarakat. yaitu pengadopsian suatu perspektif . (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Pertama.akuntabilitas. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. 3. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. kemandirian dan kerjasama.

memperbaiki lingkungan kerja. C. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. kurangnya kepercayaan antar pihak. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Pertama.Base. berapa dana yang akan dialokasikan. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Ketiga. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. memahami konteks perubahan. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. . kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. mendefinisikan peran baru. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. menciptakan visi bersama. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa.yang lebih luas akan suatu sistem. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Oleh karena itu. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Kedua. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf.

Madrasah Ibtidaiyah Negeri. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. implementasi MBS memakan waktu. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Pertama. J. Sejak September 1999. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. 6 Oktober 2000). (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Ketiga. tantangan demokrasi. Kedua. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Menurut Taruna. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. mendefinisikan peran baru. Sekolah Dasar Swasta. dan (4) belajar untuk kemandirian. Menurut Taruna. (2) belajar untuk melaksanakan. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Padahal dalam kenyataan. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Selain itu. (3) belajar untuk hidup bersama. Pertama. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Keempat. Sekolah Dasar Inpres.C. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. menciptakan visi bersama. memahami konteks perubahan. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. memperbaiki lingkunagn kerja. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya.Keempat. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah.

Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Pertama. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. Kedua. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. fungsi dan wewenang. Selanjutnya. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. bureaucratic. Ketiga. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. Kedua. D. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. dan market. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Pertama. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. Ketiga. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. 16 April 2001). pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Dengan demikian. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Kedua. Namun. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. . Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. legal. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Keempat.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. professional. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Ketiga. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas.

Amir Daien. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Bandung: PT . teratur. Pengantar Ilmu Pendidikan.ed. Jakarta: PT Bumi Aksara. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. http://www. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. ___________. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Komariah. 2006. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Cetakan Kedua. Mulyasa. 2006. 2003. 1973. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. E. 2001. Oleh karena itu. Cetakan Ketiga dan Keempat.). DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Aan dan Cepi Triatna. Jalal.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Wallahu ‘alamu. Strategi dan Implementasi). terkonsep dan terorganisir rapi. Surabaya: Usaha Nasional. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Ahmad. 1995. Wohlstetter. Nurrawi.htm.ed. Suryadi.org/education/globaleducationreform/06./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. 2002.html. Oswald.http://www. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Tafsir. Wohlstetter.gov/pubs/cpre/fb5sbm. 27.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt.SMBQ&ASBMReynolds. School-Based Management.blogspot. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement.pdk.http://www1. School-Based management: ERIC Digest Number 99.html - .. Tilaar.worldbank.Remaja Rosdakarya. Cetakan Pertama. Arif. Ace dan H. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Oswald. Bandung: Remaja Rosdakarya.ed. Inc. U.com/. Slamet P. 1992. Revised Edition. 2001. http://ww. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.H. 1993. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. California: Corwin Press.go.S. gurutrenggalek. 1997.A.e. 1996. 02. Priscilla dan Susan Albers Mohrman. Lori Jo. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). Priscilla dan Susan Albers Mohrman. Surabaya. Larry J. http://www.R. http://ww.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah. Lori Jo. “Manajemen Berbasis Sekolah”.governancereform/06. School-based Management: Strategies for Succes..