Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2. akan menggunakan team work.Dalam bekerja.Memiliki harapan prestasi yang tinggi.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri.Input Pendidikan 1.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah. 5. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS .Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. tujuan dan sasaran mutu yang jelas. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. yaitu sebagai berikut : a. h. 2.Memiliki kebijakan.Responsif. f.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik. a.Lingkungan sekolah yang nyaman. kominikatif dan akuntabilitas. guru. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input.Akan mengalami peningkatan manajemen.melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri.Tim kerja yang kompak dan dinamis.Kepemimpinan yang kuat. pelaksanaan. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana. karyawan.Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. 8. 3.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. kepala sekolah. c.Komitmen pada pelanggan b. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi. output pendidikan. antisipatif. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya. 6. di antaranya sebagai berikut: a. 4. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah. c. proses. b. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah. g. e.Kemandirian.Transparansi . 3. d.Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko. b.Proses pendidikan 1.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah. mulai dari pengambilan keputusan. 4.

orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP. c. daerah.Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa.Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya.Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. masyarakat. Aktif bertanya. Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a. dan standar penilaian sekolah. pembiayaan. sarana dan prasarana. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum. Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara.Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula. Siswa aktif dan guru pasif. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester. dan sekolah. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik.Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. a. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. c. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah. Selain itu. b. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. pengelolaan. Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran. . b. dan pemerintah. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. dan pemerintah mengenai hasil lulusan. masyarakat.

i. . hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah. tempat berolahraga. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi. bengkel kerja. h.Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik. e.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu. perpustakaan. konkrit. tempat berekreasi.c. mudah diukur. g.Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. terbuka.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik. tempat bermain. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian.Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. keputusan intruksional maupun organisasional. termasuk penggunaan tekhnologi. SPM bersifat sederhana. Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional. tempat beribadah.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik. informasi dan komunikasi. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. d. proses pembelajaran. proses. yaitu berupa masukan. laboratorium. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi. f.

dan efisien. Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. guru-guru. 2007.Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. serta kebutuhan masyarakat setempat. Melalui penerapan MBS. Nanang dan Ali.51 . kepala sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah.Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a. Manajemen Berbasis Sekolah.efektif. Fattah. 2. 2009. c. terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS). guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan. b. MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis. M. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai.

pasal 3). baik industri. penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi. maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . atau cenderung tambal sulam. dan budaya. Secara fungsional. telekomunikasi. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. perbankan. bahkan lebih berorintasi proyek. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday. perbaikan sarana-sarana pendidikan. bangsa maupun antar bangsa. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera. Akibatnya. moral. sosial. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. 26 March 2010 13:54 administrator A. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. politik . Dalam artian. Bagi pemeluk agama. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya.20 Tahun 2003 (Sisdiknas. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. dan lain-lain. masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum.

Di lain pihak. Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen. berakhlak mulia. Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti. Ahmad Sjafii Maarif. Saat ini. termasuk dunia pendidikannya. perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. Oleh karena itu. Singkat kata. . Dengan komptensi yang dimiliki. The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. tanpa kualitas guru yang baik. Pendek kata. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. yaitu tenaga pendidik. Para ahli di bidang pendidikan. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. 28 Februari 2006). Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi. Padahal. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika. telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. 9 Mei 2005). selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. kreatif. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis. dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). berilmu. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.cakap. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. Sebagaimana diketahui. pemangku profesi keguruan. Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. sebagai contoh. mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan.beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.sehat.

karena sikap dan tingkah laku. tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya. Oleh karena itu.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. Namun demikian. dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. kemampuan individual. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut. penampilan profesional. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes. Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru. B. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. faktor yang paling penting adalah guru. Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. melakukan pengukuran. C. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya. Bagi sebagian besar orangtua siswa. Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik.

peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. motivator. Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. bukan 'upah minimum'. Hak-hak guru sebagai pribadi. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. Itulah sebabnya. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. pemangku profesi keguruan. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. dalam kondisi seperti itu. Ketiga. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. . maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas. yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. yaitu guru. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. bukan pegawai yang mengejar prestasi. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan. dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. serta dalam era apa saja. perlu mendapat prioritas dalam reformasi".tidak semenarik komik atau majalah. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. Dengan kata lain. Pertama. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI). Pertama. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. Nah. dan dinamisator bagi peserta didik. Kedua. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. Dalam kondisi seperti itu. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

Jika syarat tersebut telah dilakukan. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). misalnya tenaga administrasi. Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai. Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini. . (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini. Dari kelima syarat tersebut.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. atau kalau perlu dipensiundinikan. Kalau perlu. karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. 2. Dengan demikian. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional. Untuk itu. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima. Alasan kedua. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain.

dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya. . Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan. Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja. Selain itu. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Jadi.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar. Artinya. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru.

kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. surat kabar dan sebagainya. maupun psikomotorik siswa. Disamping itu. sehat jasmani dan rohani. ada penerimaan guru baru disekolah. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. sebagaimana tercantum dalam pengumuman. seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur. Dengan demikian. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting . media. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya. kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa. afektif.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. Selain itu. Selain itu. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana. Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif. memilih metode. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan.kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi. Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain.

maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. atau menjadi kepala sekolah. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya. untuk menjadi instruktur. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan. yang juga sangat berat. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. . melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. Selain itu. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan. Sementara itu. karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. Sebagai contoh. Selain itu. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan. disusunlah satu standar pembinaan karier. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. 5. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. 3.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. atau pengawas. 4.

struktur dan isi kurikulumnya. system penyampaian. 3) Kompetensi psikomotorik. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. Dengan kompetensi tersebut. dan sebagainya. Agar tujuan pendidikan tercapai. evaluasi. maka akan menjadikan guru profesional. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan. pola. program pendidikan. Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. 2) Kompetensi afektif. hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. kompetensi guru berperan penting. yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku. menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. organisasi perjuangan para guru. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin. baik secara akademis maupun non akademis. inservice training. Tujuan. Sudah tentu termasuk PGRI. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Oleh karena itu. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). . Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. dan on the job training. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru.

kegiatan belajar.D. mereka tidak berangkat dari nol. dan tujuan . dan diikuti juga anggota komite sekolah. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. Sebagai pengajar. Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri. dan evaluasi. dan seluruh staf. melainkan dari kondisi yang dimiliki. Misi. metode mengajar. tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. bahan pengajaran. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. guru. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 2) Perumusan Visi. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi. guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. kemajuan yang telah dicapai. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality.

Tujuan (jangka menengah).Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Sedangkan misi. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan . Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. keadilan. serta hasil seperti apa yang diharapkan. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. bagaimana. Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. Dengan kata lain. kemanusiaan. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. keluhuran budi pekerti. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. dalam bentuk tertulis. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. 4) Pelaksanaan . Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. Tujuan merupakan tahapan antara.

dengan kepala sekolah dan orang tua. Sebagai perencana. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. dengan siswa. hanya lingkupnya yang berbeda. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya. siswa. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. misalnya menghadapi lomba bidang studi. Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). setiap guru memahami visi dan misi sekolah. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. (mengorganisasikan bahan. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar. bahkan mingguan). Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah.semesteran. b. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. Tahap pelaksanaan.Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. pengorganisasian. Ia juga memonitor kemajuan siswa. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. pembuatan rencana. atau kegiatan lainnya. c. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai). merencanakan proses pembelajaran. menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan.

yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian. merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah. bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya). (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. 5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya. Sungguh pun demikian. Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat. bidang keuangan. Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. bidang ketenagaan. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk . sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d.Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu.

keluarnya UU No. dan olah raga tahun 2000-2004. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Disisi lain. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif. Disamping itu. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). demokratisasi. Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi). sistem pendidikan. mereka ingin segera memperoleh kepastian. Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang). Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya. Pemuda. Baik yang antusias menerima. yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. Konkritnya. kebijakan yang mendukung. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah. baik yang berlandaskan agama maupun budaya.tradisional. demokratisasi dan akuntabilitas. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. UU No. transparansi. Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. termasuk pendidikan. meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. petunjuk dan sebagainya. ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. sebagai dokumen tertulis resmi. serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . akuntabilitas. serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik. dan Kepmemdiknas No.kalangan dalam sekolah sendiri). ingin memperoleh pedoman.25 Tahun 2000 tentang Propenas. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan.

Bandung: PT. Menjadi Guru Profesional. dan MKPS. 2006 Undang-undang RI No. Mudahmudahan. Jakarta: Sinar Grafika.. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi. Com). 3 februari 2005 . Membangun Profesionalitas Guru. dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global. www. 2003. Jakarta: Sinar Grafika.com.E. MKKS. Edisi 01/Tahun 2003. dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG. Inovasi Kurikulum. Kompas. (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan. Azyumardi. Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. Membina Mutu Pendidikan.2007 N. Jakarta: Bumi Aksara. Remaja Rosdakarya. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya.1989 Ni. 2006 Rosyada. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK. A. 2004 Samana.K. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya. (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. Azra. MGMP. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. DAFTAR BACAAN Hamalik.2005 Adi Saiful. Jakarta: Bumi Aksara. (2) standar kualifikasi.SaifulAdi. (5) standar pembinaan karir. Asrorun. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan.am. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya. yang perlu diberdayakan.1994 Uzer Usman. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara. Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya.wordpress. Jakarta: Prenada Media. 2003 Peraturan Pemerintah RI No. Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil. (www. . dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru. bermutu. Moch. 2006 Kunandar. Oemar. 20 Tahun 2003. Profesionalisme Keguruan..Yogyakarta:Kanisius. Jakarta : eLSAS. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar.

Grasindo. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Dukungan finansial. ketidakpuasan. Namun. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Syafarudin. 2002.html http://www. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. 2004. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya.info/index. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Sujanto. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Akhirnya.dinaspendidikanparepare.Soebagio Atmodiworo. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT. Oleh karena itu. Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Doretea. Manajemen Kualitas. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan.Ardadijaya. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. ICW. Dalam implementasi MBS. Jakarta: Logos wacana Ilmu.1999. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Uwes Sanusi. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. 2000. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Wahyu Ariyani.blogspot. Bedjo.

dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . Tetapi. . dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. 22 tahun 1999. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Munculnya UU No. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Berdasarkan latar belakangnya. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Pertama. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. kelompok dan organisasinya. bukan dengan pemerintah pusat. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. Kedua. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja.

Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. yang paling . prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. bersahabat dan hangat. Keempat. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. yaitu terprogram dan sistematik. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. Apapun model MBS yang dipakai.BAB II PEMBAHASAN A. Hubungan guru. Pertama. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. yaitu melalui UU No. tujuan dan akuntabilitas. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Mandatnya sudah jelas. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. Kedua. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. 2. Ketiga. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Kedua. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan.

Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. dan (d) penyandang cacat. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. staf. pengetahuan dan ketrampilan. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. Namun. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. Kedua. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. pelayanan kepada masyarakat. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. sosial dan budaya. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. (c) wanita. Karena itu. budaya. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Keempat. ekonomi dan politik. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. prinsip sistem pengelolaan mandiri. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. . diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. kepala sekolah dan orang tua siswa. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. 3. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. tenaga. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. informasi dan penghargaan. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. pengetahuan dan ketrampilan.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. melainkan memerlukan biaya. Desentralisasi dalam kekuasaan. Ketiga.

Kelima. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Keenam. Pada dasarnya. Kedua. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Keempat. Ketiga. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Kedelapan. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Kesembilan. Kubick (1988) tentang School-Based Management. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Oleh karena itu. B. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Dengan demikian. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Pertama. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Ketujuh. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management.Ketiga. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional.

Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. fasilitator dan liaison. diskusi. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Keempat. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. Kelima. Kedua. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Ketiga. Kelima. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Ketujuh. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Keempat. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Kedelapan. Menurut Slamet P. implementasi pada proses pembelajaran. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. motivator. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. Keenam. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. melakukan pemantauan terhadap proses dan . identifikasi peran masing-masing. forum ilmiah dan media massa. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri.designer. Kesembilan. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Sementara itu. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Ketujuh. Oleh karena itu. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. membuat rencana jangka pendek. Keenam.H. Kedelapan. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. Pertama. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Namun. Kesembilan. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar.

Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol.evaluasi terhadap hasil MBS. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Ketiga. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. yaitu parisipasi masyarakat. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. waktu. 1. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. ketenaga kerjaan. Selain itu. masyarakat. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. strategi dan monitoring serta evaluasi. budaya sekolah. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Oleh karena itu. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. dan lebih mampu mengelola . penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Kedua. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. kurikulum. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. pendanaan. dan budaya masyarakat. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. budaya pemerintah daerah. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. masalah partisipasi. kemandirian dan kerjasama. Pertama. 2. kepemimpinan. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. keuangan. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. Wohlstetter dkk. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. pembangunan kelembagaan (capacity building).

Keempat. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Sementara itu. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung . Byrk dkk. mendefinisikan peran baru. berapa dana yang akan dialokasikan. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. 3. menciptakan visi bersama. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. 5. Kelima. Keenam.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. 4. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. memahami konteks perubahan. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. guru dan administrator tentang tujuan. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. pelatihan. rancangan dan implementasi dari reformasi. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Ketiga. Kedua. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem.Base. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Pertama. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. memperbaiki lingkungan kerja. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS.dirinya secara lebih efektif. bahkan dalam beberapa terminologi Sit.

Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Menurut Taruna. (3) belajar untuk hidup bersama. (2) belajar untuk melaksanakan. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Oleh karena itu. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Pertama. Pertama.C. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. C. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. J. Sekolah Dasar Swasta. ketidakmampuan dalam berkomunikasi.dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. dan (4) belajar untuk kemandirian. 6 Oktober 2000). artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. implementasi MBS memakan waktu. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Padahal dalam kenyataan. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. kurangnya kepercayaan antar pihak. . Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Sekolah Dasar Inpres. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Keempat. Kedua. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Sejak September 1999. Ketiga.

ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Keempat. menciptakan visi bersama. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Pertama. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah . (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. mendefinisikan peran baru.Kedua. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Ketiga. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. D. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. Ketiga. tantangan demokrasi. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Namun. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Kedua. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. memperbaiki lingkunagn kerja. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. memahami konteks perubahan. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Menurut Taruna. Selain itu. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya.

Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda.Pada era desentralisasi. terkonsep dan terorganisir rapi. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. . Ketiga. Selanjutnya. Keempat. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Pertama. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. dan market. bureaucratic. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. fungsi dan wewenang. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Oleh karena itu. 16 April 2001). Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. teratur. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. Kedua. Kedua. Dengan demikian. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. professional. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Ketiga. Pertama. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. legal. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis.

http://www. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.governancereform/06. Jakarta: PT Bumi Aksara.ed. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. 02.).gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Surabaya: Usaha Nasional. Cetakan Kedua.ed. 2003. Dukungan . 1995. School-Based management: ERIC Digest Number 99.worldbank. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Pengantar Ilmu Pendidikan.org/education/globaleducationreform/06. Oswald. School-Based Management. Lori Jo. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Mulyasa.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. ___________. Dalam implementasi MBS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Aan dan Cepi Triatna. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006. 1973. Arif. Lori Jo. Oswald. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). 2001. Cetakan Ketiga dan Keempat.Wallahu ‘alamu. E.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Surabaya. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Nurrawi. Amir Daien. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. 2006. 2002.http://www1. Jalal. Strategi dan Implementasi). Komariah.http://www.

Kedua. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . Namun. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Pertama. Oleh karena itu. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. bukan dengan pemerintah pusat. Munculnya UU No. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. Akhirnya. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. 22 tahun 1999. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. kelompok dan organisasinya. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Tetapi.finansial. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. Berdasarkan latar belakangnya. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. ketidakpuasan. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya.

Kedua. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. yaitu melalui UU No. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik.atau kota. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. BAB II PEMBAHASAN A. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. yaitu terprogram dan sistematik. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Pertama. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Hubungan guru. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Mandatnya sudah jelas. bersahabat dan hangat. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . Sekilas tentang Wacana MBS 1. tujuan dan akuntabilitas.

Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). Apapun model MBS yang dipakai. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Teori yang Mendasari MBS Pertama. pelayanan kepada masyarakat. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. pengetahuan dan ketrampilan. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. tenaga. informasi dan penghargaan. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. melainkan memerlukan biaya. staf. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). 3. Ketiga. Ketiga. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. Desentralisasi dalam kekuasaan. pengetahuan dan ketrampilan. prinsip sistem pengelolaan mandiri. kepala sekolah dan orang tua siswa. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Keempat. Namun. 2. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. Kedua. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Keempat. ukuran keberhasilan . Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Karena itu.

B. budaya. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. dan (d) penyandang cacat. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Kesembilan. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. sosial dan budaya. Keempat. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. (c) wanita. Ketiga. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Keenam. Ketujuh. ekonomi dan politik. Kelima. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Kubick (1988) . Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Kedelapan. Dengan demikian. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Kedua. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah.

demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. . tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Namun. fasilitator dan liaison. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Oleh karena itu. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. implementasi pada proses pembelajaran. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Keempat. Ketujuh. Ketiga. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Sementara itu. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal.tentang School-Based Management. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Kedelapan. Kelima. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. identifikasi peran masing-masing. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. motivator. Pertama. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . Kesembilan. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Keenam. Oleh karena itu. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Kedua. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Pada dasarnya. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.

kurikulum. masalah partisipasi. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. Kedua. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. yaitu parisipasi masyarakat. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Kelima. keuangan. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. diskusi. Ketujuh. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat.H. Oleh karena itu. Kedelapan. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. Keenam. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kedua. strategi dan monitoring serta evaluasi. Pertama. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Pertama. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. 1. masyarakat. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. waktu. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . membuat rencana jangka pendek. forum ilmiah dan media massa. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Kesembilan. pembangunan kelembagaan (capacity building). merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. pendanaan. Menurut Slamet P. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. ketenaga kerjaan. Keempat. Ketiga. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel.

Byrk dkk. 2. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Keempat. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. budaya sekolah. yaitu pengadopsian suatu perspektif . (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. kepemimpinan. dan budaya masyarakat. pelatihan. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. Keenam. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya.akuntabilitas. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. 4. Kedua. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. rancangan dan implementasi dari reformasi. kemandirian dan kerjasama. Wohlstetter dkk. Kelima. Ketiga. guru dan administrator tentang tujuan. Sementara itu. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Pertama. 3. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. budaya pemerintah daerah. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. 5. Selain itu. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Ketiga. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down.

kinerja kepala sekolah yang tidak merata. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. menciptakan visi bersama. Oleh karena itu. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah.Base. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. mendefinisikan peran baru. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Pertama. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. kurangnya kepercayaan antar pihak. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah.yang lebih luas akan suatu sistem. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. memperbaiki lingkungan kerja. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Kedua. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). C. Ketiga. berapa dana yang akan dialokasikan. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. . Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. memahami konteks perubahan. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan.

Sekolah Dasar Inpres. Padahal dalam kenyataan.Keempat. Keempat. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Pertama. Menurut Taruna. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. mendefinisikan peran baru. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Pertama. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. menciptakan visi bersama. 6 Oktober 2000). memperbaiki lingkunagn kerja. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. Sejak September 1999. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. tantangan demokrasi. memahami konteks perubahan. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. Kedua. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari.C. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Sekolah Dasar Swasta. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. dan (4) belajar untuk kemandirian. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. implementasi MBS memakan waktu. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Ketiga. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. (2) belajar untuk melaksanakan. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. (3) belajar untuk hidup bersama. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). J. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Menurut Taruna. Selain itu.

16 April 2001). sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. Ketiga. Keempat. legal. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. . Selanjutnya. fungsi dan wewenang. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Ketiga. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Kedua. Pertama. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. D. Ketiga. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Dengan demikian. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Kedua. Kedua. professional. dan market. Pertama. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. Namun. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. bureaucratic.

Strategi dan Implementasi). 2006.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. http://www. Oleh karena itu. 2003. Jalal. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2006. terkonsep dan terorganisir rapi.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya.ed. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Aan dan Cepi Triatna. ___________. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Amir Daien. teratur. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Cetakan Kedua. Bandung: PT . Komariah. 2001. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja.). E. 1973. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Mulyasa. Cetakan Ketiga dan Keempat. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Wallahu ‘alamu. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya.

Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). Lori Jo. Bandung: Remaja Rosdakarya. http://ww.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah.ed. California: Corwin Press.A.worldbank. 1992. 27.R. Cetakan Pertama. Oswald.ed.S. Priscilla dan Susan Albers Mohrman. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement. School-based Management: Strategies for Succes.pdk. 1997.http://www1. Oswald./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan.go..http://www.gov/pubs/cpre/fb5sbm. http://www. Revised Edition. Ace dan H.e. 1993. School-Based management: ERIC Digest Number 99. http://ww. Ahmad. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. U. Surabaya. 2001. Suryadi.SMBQ&ASBMReynolds. 1996.com/.Remaja Rosdakarya. Lori Jo. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. School-Based Management. 02.blogspot. Larry J.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt.htm. “Manajemen Berbasis Sekolah”. Tilaar. Arif.org/education/globaleducationreform/06.html.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. 2002. Tafsir.H. gurutrenggalek. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.html - . Wohlstetter. 1995. Slamet P. Nurrawi. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide.. Inc.governancereform/06. Wohlstetter.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful