Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

antisipatif.Proses pendidikan 1.melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. output pendidikan. h.Kemandirian. 8. di antaranya sebagai berikut: a.Memiliki kebijakan.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya. 4. tujuan dan sasaran mutu yang jelas.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah. c. 6.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2.Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko. yaitu sebagai berikut : a. 5. b. akan menggunakan team work. g.Responsif.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana. f. proses. a. 3.Kepemimpinan yang kuat.Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. kominikatif dan akuntabilitas. c.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri. kepala sekolah.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik.Dalam bekerja. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS .Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah. b.Input Pendidikan 1.Komitmen pada pelanggan b.Akan mengalami peningkatan manajemen. pelaksanaan. mulai dari pengambilan keputusan. 4.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi.Memiliki harapan prestasi yang tinggi. karyawan. 2. 3. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7.Transparansi .Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. d. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah.Tim kerja yang kompak dan dinamis. e.Lingkungan sekolah yang nyaman. guru. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah.

Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara.Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a. . Aktif bertanya. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah.Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP. Siswa aktif dan guru pasif. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. masyarakat. pengelolaan. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan. dan pemerintah mengenai hasil lulusan. dan standar penilaian sekolah.Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa. pembiayaan. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah. masyarakat.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. daerah. a. sarana dan prasarana. b. c.Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. b. Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. dan sekolah. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki.Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum. Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi. Selain itu.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. dan pemerintah. c.

Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. perpustakaan. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu.Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. informasi dan komunikasi. hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah. f. proses pembelajaran. Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. SPM bersifat sederhana. h. tempat berekreasi. terbuka.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. keputusan intruksional maupun organisasional. mudah diukur. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. tempat bermain. . laboratorium. termasuk penggunaan tekhnologi.Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. g. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. tempat berolahraga. Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional. bengkel kerja. i. d. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik.c. konkrit. tempat beribadah. e. proses.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah. yaitu berupa masukan.

2007. 2009. Fattah. guru-guru. Manajemen Berbasis Sekolah.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Nanang dan Ali. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah.Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs. guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan. c. 2. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. kepala sekolah. terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. serta kebutuhan masyarakat setempat.Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. M.efektif. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas. Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal. Manajemen Berbasis Sekolah. Melalui penerapan MBS.51 . Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS). b.dan efisien. MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis.

Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. baik industri. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. Secara fungsional. pasal 3). Akibatnya. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. moral. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas. maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Bagi pemeluk agama.20 Tahun 2003 (Sisdiknas. bahkan lebih berorintasi proyek. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan budaya. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. 26 March 2010 13:54 administrator A. sosial. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum. masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. Dalam artian. perbankan. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. perbaikan sarana-sarana pendidikan. bangsa maupun antar bangsa. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. politik . dan lain-lain.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak. atau cenderung tambal sulam. telekomunikasi. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja.

sebagai contoh. dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien.beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendek kata.sehat. Saat ini. Padahal. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. pemangku profesi keguruan. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru. maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika. kreatif. Para ahli di bidang pendidikan. yaitu tenaga pendidik. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. Ahmad Sjafii Maarif. tanpa kualitas guru yang baik. Dengan komptensi yang dimiliki. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi.cakap. termasuk dunia pendidikannya. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis. perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. . berakhlak mulia. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. berilmu. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti. 28 Februari 2006). yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. 9 Mei 2005). secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah. negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. Oleh karena itu. Singkat kata. Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sebagaimana diketahui. Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen. Di lain pihak. Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler.

dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. kemampuan individual.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas. B. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Namun demikian. penampilan profesional. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. Bagi sebagian besar orangtua siswa. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya. tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya. dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik. Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. C. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi. Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun. faktor yang paling penting adalah guru. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya. karena sikap dan tingkah laku. Oleh karena itu. melakukan pengukuran. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum.

maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan. . dalam kondisi seperti itu. Nah. Pertama. Ketiga. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi. yaitu guru. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan. pemangku profesi keguruan. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. serta dalam era apa saja. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. Dengan kata lain. dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. bukan pegawai yang mengejar prestasi. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa. Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. motivator. apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. Kedua. Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. Hak-hak guru sebagai pribadi. bukan 'upah minimum'. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. Itulah sebabnya. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. Dalam kondisi seperti itu. perlu mendapat prioritas dalam reformasi". Pertama. dan dinamisator bagi peserta didik.tidak semenarik komik atau majalah. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI).

Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. misalnya tenaga administrasi. (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. atau kalau perlu dipensiundinikan. . 2. Dari kelima syarat tersebut. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif. uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). Jika syarat tersebut telah dilakukan. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima. Kalau perlu. dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. Dengan demikian. Untuk itu.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. Alasan kedua. Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai.

Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik. Selain itu.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis. dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu. dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu. Jadi. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar. Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut. . Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru. Artinya. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan. maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia.

maupun psikomotorik siswa. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya. media. Selain itu. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. sehat jasmani dan rohani. Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana.kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan. Disamping itu. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting . kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa. ada penerimaan guru baru disekolah. surat kabar dan sebagainya. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif. Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. sebagaimana tercantum dalam pengumuman. seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur. Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. Selain itu. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti. afektif. kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. memilih metode. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini. Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. Dengan demikian.

Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. Selain itu. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'. 5. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan. Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. . Selain itu. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. yang juga sangat berat. langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. atau menjadi kepala sekolah. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. Sementara itu. 4. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. Sebagai contoh. disusunlah satu standar pembinaan karier. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. untuk menjadi instruktur. maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar. melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. 3. atau pengawas. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya.

Oleh karena itu. pola. Agar tujuan pendidikan tercapai. dan sebagainya. yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. baik secara akademis maupun non akademis. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. evaluasi. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). maka akan menjadikan guru profesional. hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. system penyampaian. Dengan kompetensi tersebut. kompetensi guru berperan penting. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. program pendidikan. Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. . Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Sudah tentu termasuk PGRI. organisasi perjuangan para guru. Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru. Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. 3) Kompetensi psikomotorik. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. inservice training. Tujuan.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. 2) Kompetensi afektif. struktur dan isi kurikulumnya. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku. menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. dan on the job training.

Sebagai pengajar. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. dan seluruh staf. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi. bahan pengajaran. Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. kegiatan belajar. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. mereka tidak berangkat dari nol. melainkan dari kondisi yang dimiliki. dan diikuti juga anggota komite sekolah. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. kemajuan yang telah dicapai. 2) Perumusan Visi. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. guru. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri. dan evaluasi. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas.D. maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. dan tujuan . atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. Misi. tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. metode mengajar.

sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. bagaimana. kemanusiaan. Tujuan merupakan tahapan antara. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan misi. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan . ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. Tujuan (jangka menengah). keadilan. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. Dengan kata lain. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. keluhuran budi pekerti. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. dalam bentuk tertulis. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. 4) Pelaksanaan .Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. serta hasil seperti apa yang diharapkan. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa.

Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan.Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai). siswa. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . atau kegiatan lainnya. Ia juga memonitor kemajuan siswa. Tahap pelaksanaan. c. merencanakan proses pembelajaran. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan.semesteran. Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. hanya lingkupnya yang berbeda. setiap guru memahami visi dan misi sekolah. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. misalnya menghadapi lomba bidang studi. (mengorganisasikan bahan. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar. menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. pengorganisasian. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya. dengan siswa. dengan kepala sekolah dan orang tua. penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. b. kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. pembuatan rencana. bahkan mingguan). Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Sebagai perencana.

maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat. Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah.Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. Sungguh pun demikian. bidang ketenagaan. Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk . bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian. 5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. bidang keuangan. menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya). (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d. Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya.

Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. UU No. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif. Disisi lain. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . dan Kepmemdiknas No. sistem pendidikan. konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan. Baik yang antusias menerima. serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik. Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi).25 Tahun 2000 tentang Propenas. Pemuda. serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. baik yang berlandaskan agama maupun budaya. petunjuk dan sebagainya. kebijakan yang mendukung. transparansi. demokratisasi. desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. keluarnya UU No. demokratisasi dan akuntabilitas. sebagai dokumen tertulis resmi. ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. termasuk pendidikan. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. ingin memperoleh pedoman. bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya. Konkritnya.tradisional. Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang).kalangan dalam sekolah sendiri). 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah. dan olah raga tahun 2000-2004. bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . Disamping itu. mereka ingin segera memperoleh kepastian. meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. akuntabilitas.

2006 Rosyada. Jakarta: Sinar Grafika. MKKS. 2006 Undang-undang RI No. Com). Jakarta: Sinar Grafika.. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Azra.SaifulAdi. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi. A.Bandung: PT. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya. . (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan. yang perlu diberdayakan. Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil. (5) standar pembinaan karir.Yogyakarta:Kanisius.E. DAFTAR BACAAN Hamalik. dan MKPS. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. Inovasi Kurikulum. 2003 Peraturan Pemerintah RI No. 20 Tahun 2003.am. dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG. 2003. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.1989 Ni.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru.K. Jakarta: Bina Aksara. Membangun Profesionalitas Guru. 3 februari 2005 . dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK. Remaja Rosdakarya. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan. Profesionalisme Keguruan. Asrorun. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya. Moch. Edisi 01/Tahun 2003.Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Oemar.. Azyumardi. Jakarta : eLSAS. Jakarta: Bumi Aksara.2007 N. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat.com. bermutu. (www. Membina Mutu Pendidikan.wordpress. Menjadi Guru Profesional. Kompas. Mudahmudahan. 2006 Kunandar. (2) standar kualifikasi. Jakarta: Prenada Media. 2004 Samana. (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya.2005 Adi Saiful. www.1994 Uzer Usman. MGMP.

Manajemen Kualitas. Namun. Akhirnya. ICW. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. Uwes Sanusi. Syafarudin.Soebagio Atmodiworo. Grasindo. Sujanto.dinaspendidikanparepare. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT. 2002.Ardadijaya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Oleh karena itu. Wahyu Ariyani. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. 2000.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu. Dukungan finansial. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.info/index.1999. Doretea. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . Dalam implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Jakarta: Logos wacana Ilmu. 2004. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Bedjo.html http://www. ketidakpuasan. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting.blogspot. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan.

Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Munculnya UU No. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. bukan dengan pemerintah pusat. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Kedua. kelompok dan organisasinya. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Tetapi. Pertama. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . 22 tahun 1999. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. . Berdasarkan latar belakangnya. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja.

yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Pertama. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. tujuan dan akuntabilitas. yang paling . Keempat. Hubungan guru. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. bersahabat dan hangat. 2. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Apapun model MBS yang dipakai.BAB II PEMBAHASAN A. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Kedua. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Ketiga. yaitu melalui UU No. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. yaitu terprogram dan sistematik. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Mandatnya sudah jelas. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Kedua. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah.

keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. sosial dan budaya. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Keempat. Karena itu. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. budaya. pengetahuan dan ketrampilan. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. prinsip inisiatif sumber daya manusia. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. staf. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. pelayanan kepada masyarakat. tenaga. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. . pengetahuan dan ketrampilan. Kedua. informasi dan penghargaan. dan (d) penyandang cacat. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. (c) wanita. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. melainkan memerlukan biaya. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. kepala sekolah dan orang tua siswa. 3. prinsip sistem pengelolaan mandiri. ekonomi dan politik. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). Desentralisasi dalam kekuasaan. Ketiga. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. Namun. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa.

terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Kelima.Ketiga. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Keenam. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. Ketujuh. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. Oleh karena itu. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Kedelapan. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Pada dasarnya. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. B. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Dengan demikian. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Ketiga. Kubick (1988) tentang School-Based Management. Kedua. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Pertama. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Kesembilan. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Keempat. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik.

usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. identifikasi peran masing-masing. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. Keenam. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa.designer. Kelima. Ketujuh. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Kedelapan. motivator. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Kesembilan. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Keempat. Oleh karena itu. Pertama. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. melakukan pemantauan terhadap proses dan . Kelima. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Keenam. diskusi. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. implementasi pada proses pembelajaran. Kedua. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Namun. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Kesembilan.H. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. forum ilmiah dan media massa. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Menurut Slamet P. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kedelapan. membuat rencana jangka pendek. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Sementara itu. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Ketujuh. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Ketiga. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. fasilitator dan liaison. Keempat.

Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. ketenaga kerjaan. Selain itu. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. 2. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. keuangan. Kedua. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. pendanaan. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. pembangunan kelembagaan (capacity building). kemandirian dan kerjasama. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Pertama. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. dan budaya masyarakat. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha.evaluasi terhadap hasil MBS. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. masyarakat. dan lebih mampu mengelola . Oleh karena itu. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. kurikulum. 1. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Ketiga. yaitu parisipasi masyarakat. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. strategi dan monitoring serta evaluasi. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. waktu. budaya pemerintah daerah. Wohlstetter dkk. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. kepemimpinan. budaya sekolah. masalah partisipasi. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah.

Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. Keenam. guru dan administrator tentang tujuan. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. 3. memahami konteks perubahan. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS.Base.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. pelatihan. menciptakan visi bersama. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. mendefinisikan peran baru. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. 5.dirinya secara lebih efektif. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung . Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Ketiga. Sementara itu. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Kedua. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Pertama. Byrk dkk. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. berapa dana yang akan dialokasikan. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. rancangan dan implementasi dari reformasi. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. memperbaiki lingkungan kerja. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Keempat. 4. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). Kelima. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi.

Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. 6 Oktober 2000). sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. implementasi MBS memakan waktu. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. C. Kedua. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. Sekolah Dasar Swasta. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Ketiga. Keempat. kurangnya kepercayaan antar pihak. (3) belajar untuk hidup bersama. Sejak September 1999. Menurut Taruna. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah.C. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. dan (4) belajar untuk kemandirian. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. .dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. (2) belajar untuk melaksanakan. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. J. Sekolah Dasar Inpres. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Pertama. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. Padahal dalam kenyataan. Oleh karena itu. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). Pertama.

(b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. mendefinisikan peran baru. memahami konteks perubahan. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah . Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Menurut Taruna. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. Pertama. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Ketiga. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. menciptakan visi bersama.Kedua. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. Kedua. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. D. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Ketiga. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Selain itu. tantangan demokrasi. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. memperbaiki lingkunagn kerja. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Namun. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Keempat. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis.

Pertama. Ketiga. bureaucratic. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas.Pada era desentralisasi. Kedua. 16 April 2001). fungsi dan wewenang. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Dengan demikian. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. teratur. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. terkonsep dan terorganisir rapi. legal. Selanjutnya. professional. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. . Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Keempat. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. Pertama. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Ketiga. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Oleh karena itu. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Kedua. dan market. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait.

___________. Oswald. Nurrawi. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep.governancereform/06. Jakarta: PT Bumi Aksara. Surabaya: Usaha Nasional.ed. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. Cetakan Ketiga dan Keempat. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Fasli dan Dedi Supriadi (ed.). E. Strategi dan Implementasi). 2002. Jalal. Amir Daien. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. http://www. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Cetakan Kedua. Pengantar Ilmu Pendidikan. Oswald. Arif. 2003.org/education/globaleducationreform/06. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Komariah. 02. Dalam implementasi MBS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.http://www1. Aan dan Cepi Triatna. School-Based Management. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. 1995. 2001. Lori Jo.Wallahu ‘alamu. 2006.worldbank. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Surabaya.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Dukungan .ed.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma.http://www. 2006. Mulyasa. 1973. Lori Jo.

Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . Berdasarkan latar belakangnya. Akhirnya. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. bukan dengan pemerintah pusat. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Namun. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Pertama. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. 22 tahun 1999. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya.finansial. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Oleh karena itu. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Kedua. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. Tetapi. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. kelompok dan organisasinya. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Munculnya UU No. ketidakpuasan. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut.

seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. BAB II PEMBAHASAN A. Sekilas tentang Wacana MBS 1. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Mandatnya sudah jelas. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. yaitu terprogram dan sistematik. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. tujuan dan akuntabilitas. Hubungan guru. Pertama. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. yaitu melalui UU No. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Kedua. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. bersahabat dan hangat. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan.atau kota. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong.

kepala sekolah dan orang tua siswa. Kedua. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. pengetahuan dan ketrampilan. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. tenaga. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Ketiga. Desentralisasi dalam kekuasaan. Apapun model MBS yang dipakai. 3. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). pelayanan kepada masyarakat. Namun. pengetahuan dan ketrampilan. staf. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. Keempat. Keempat. melainkan memerlukan biaya. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. informasi dan penghargaan. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Karena itu. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. ukuran keberhasilan . sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. 2. Ketiga. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. prinsip sistem pengelolaan mandiri. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa.

tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Kedelapan. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Keenam. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. dan (d) penyandang cacat. ekonomi dan politik. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Kesembilan. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Ketiga. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Ketujuh. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Keempat. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. (c) wanita. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Kelima. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. sosial dan budaya. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Kedua. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Kubick (1988) . B. Dengan demikian. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. budaya. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran.

sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing.tentang School-Based Management. fasilitator dan liaison. Keempat. . dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Kelima. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Pada dasarnya. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Namun. Sementara itu. Ketujuh. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Oleh karena itu. Kedelapan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Pertama. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. Kedua. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. identifikasi peran masing-masing. Ketiga. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Keenam. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Kesembilan. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. implementasi pada proses pembelajaran. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Oleh karena itu. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. motivator. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah.

Kedua. yaitu parisipasi masyarakat. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Menurut Slamet P. membuat rencana jangka pendek. ketenaga kerjaan. 1. Ketujuh. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. diskusi. pembangunan kelembagaan (capacity building). Ketiga. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. pendanaan. Kelima. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. Kesembilan. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. kurikulum. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. strategi dan monitoring serta evaluasi. Pertama.H. Keenam. Pertama. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. masalah partisipasi. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. Oleh karena itu. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. masyarakat. Kedua. forum ilmiah dan media massa. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Keempat. Kedelapan. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. keuangan. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. waktu. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi.

pelatihan. 4. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down.akuntabilitas. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. 2. budaya sekolah. kepemimpinan. Keenam. 3. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. Keempat. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Ketiga. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). 5. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Ketiga. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. Kedua. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Wohlstetter dkk. rancangan dan implementasi dari reformasi. Byrk dkk. Sementara itu. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Kelima. guru dan administrator tentang tujuan. budaya pemerintah daerah. Selain itu. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Pertama. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. kemandirian dan kerjasama. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. yaitu pengadopsian suatu perspektif . dan budaya masyarakat.

Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. memahami konteks perubahan. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. . MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah.Base. Kedua. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. berapa dana yang akan dialokasikan. Oleh karena itu. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. menciptakan visi bersama. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Ketiga. mendefinisikan peran baru. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. memperbaiki lingkungan kerja. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Pertama. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. C. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan.yang lebih luas akan suatu sistem. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. kurangnya kepercayaan antar pihak. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan.

mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. mendefinisikan peran baru. memahami konteks perubahan. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. J. Menurut Taruna. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung.Keempat. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. Kedua. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. Sejak September 1999. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Keempat. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Pertama. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Pertama. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. implementasi MBS memakan waktu. dan (4) belajar untuk kemandirian. Menurut Taruna. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. 6 Oktober 2000). tenaga dan pikiran secara besar-besaran. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. tantangan demokrasi. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. (2) belajar untuk melaksanakan. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat.C. Padahal dalam kenyataan. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Sekolah Dasar Inpres. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. Selain itu. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. menciptakan visi bersama. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. memperbaiki lingkunagn kerja. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Ketiga. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Sekolah Dasar Swasta. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. (3) belajar untuk hidup bersama. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah.

Pertama. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Kedua. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. Ketiga. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. bureaucratic. Keempat. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Kedua. D. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. Namun. Selanjutnya. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Ketiga. legal. Dengan demikian. fungsi dan wewenang. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. Ketiga. professional. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Kedua. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. 16 April 2001). Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. . Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. dan market. Pertama. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung.

Pengantar Ilmu Pendidikan. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1973. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. E. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. 2006. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Strategi dan Implementasi). Wallahu ‘alamu. Cetakan Kedua.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. teratur. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Surabaya: Usaha Nasional. 2006. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Mulyasa. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Amir Daien. Jakarta: PT Bumi Aksara. Aan dan Cepi Triatna. http://www. 2001. ___________. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Komariah.). Fasli dan Dedi Supriadi (ed.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Bandung: PT . Cetakan Ketiga dan Keempat. terkonsep dan terorganisir rapi.ed. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. 2003. Oleh karena itu. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jalal.

go. Oswald.Remaja Rosdakarya. Tilaar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.A. Wohlstetter.blogspot. Inc. Ahmad. Nurrawi.SMBQ&ASBMReynolds. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.html. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. California: Corwin Press. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.http://www1. 27. School-Based Management. 2001.e.H. Lori Jo. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). Bandung: Remaja Rosdakarya.governancereform/06. 1996. 1993.pdk. Suryadi.. Lori Jo.html - .id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah. 1995. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. School-based Management: Strategies for Succes.worldbank.ed. 1997. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. Ace dan H. Tafsir.htm. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform. Oswald. U. Slamet P. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.S. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement. http://www. Larry J. Wohlstetter. http://ww.org/education/globaleducationreform/06.http://www. 2002. gurutrenggalek.gov/pubs/cpre/fb5sbm.com/. Arif.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt. Revised Edition.. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.R. http://ww. 1992. Cetakan Pertama./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan. “Manajemen Berbasis Sekolah”. Surabaya.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. 02.ed.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful