P. 1
91637398 Strategi Penerapan Mbs Di Indonesia

91637398 Strategi Penerapan Mbs Di Indonesia

|Views: 100|Likes:
Published by ketanireng

More info:

Published by: ketanireng on May 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2012

pdf

text

original

Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

antisipatif. output pendidikan. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. a. b.Lingkungan sekolah yang nyaman.Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. mulai dari pengambilan keputusan.Responsif. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah. yaitu sebagai berikut : a. c.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah.melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri. tujuan dan sasaran mutu yang jelas. d.Transparansi .Kemandirian.Memiliki kebijakan.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS . e. h.Memiliki harapan prestasi yang tinggi. 4. 3. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah. akan menggunakan team work. 8.Input Pendidikan 1. 3.Akan mengalami peningkatan manajemen. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input. kepala sekolah. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7.Proses pendidikan 1.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri.Komitmen pada pelanggan b. g. c. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana. 2. b. 6. karyawan. 4.Tim kerja yang kompak dan dinamis. di antaranya sebagai berikut: a.Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko.Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.Dalam bekerja. guru. pelaksanaan. f. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya.Kepemimpinan yang kuat. proses.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. kominikatif dan akuntabilitas.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi.Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. 5.

Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan. .Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. masyarakat. Selain itu. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran. sarana dan prasarana. pengelolaan. Aktif bertanya. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a. orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP. Siswa aktif dan guru pasif.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. dan standar penilaian sekolah. Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. daerah. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester. dan pemerintah mengenai hasil lulusan. pembiayaan. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah.Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa. Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum.Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. c. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. c. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki. b. dan sekolah. dan pemerintah. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. a.Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. b. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik. masyarakat.

Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. proses pembelajaran. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. tempat berolahraga. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.c. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi. informasi dan komunikasi. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. laboratorium. proses.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik. i. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi. h. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. mudah diukur. f. e.Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah. d. yaitu berupa masukan.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian. konkrit. tempat bermain. keputusan intruksional maupun organisasional. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. g. bengkel kerja. . Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional.Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. tempat beribadah. SPM bersifat sederhana. terbuka. tempat berekreasi. termasuk penggunaan tekhnologi. Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. perpustakaan.

Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs.51 .Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. guru-guru. Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal. MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis. b. Nanang dan Ali.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah. 2. guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan. c.dan efisien.efektif. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. Melalui penerapan MBS. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah. serta kebutuhan masyarakat setempat. M. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas. Fattah. kepala sekolah. 2009. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS).

20 Tahun 2003 (Sisdiknas. penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. baik industri. telekomunikasi. moral. sosial. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. 26 March 2010 13:54 administrator A. Dalam artian. maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. bahkan lebih berorintasi proyek. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. perbaikan sarana-sarana pendidikan. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak. perbankan. Secara fungsional. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera. dan budaya. Akibatnya. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. dan lain-lain. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. atau cenderung tambal sulam. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. pasal 3). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. bangsa maupun antar bangsa. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. politik . Bagi pemeluk agama. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya.

Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. . maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal.beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. kreatif. negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. Para ahli di bidang pendidikan. tanpa kualitas guru yang baik. mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah. 28 Februari 2006). Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis. 9 Mei 2005). perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. Ahmad Sjafii Maarif. selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. Di lain pihak. Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen. pemangku profesi keguruan. termasuk dunia pendidikannya.sehat. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu. Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti.cakap. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. berilmu. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika. Saat ini. Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). sebagai contoh. berakhlak mulia. Dengan komptensi yang dimiliki. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya. Singkat kata. telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. Pendek kata. Padahal. yaitu tenaga pendidik. yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Sebagaimana diketahui. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru.

dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi. Namun demikian. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. faktor yang paling penting adalah guru. karena sikap dan tingkah laku. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun. melakukan pengukuran. Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya. dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru. Bagi sebagian besar orangtua siswa. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut. karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. kemampuan individual. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. Oleh karena itu. B. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. penampilan profesional. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes. Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. C. atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran.

Pertama. pemangku profesi keguruan. Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. motivator. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. Dengan kata lain. perlu mendapat prioritas dalam reformasi". dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. dan dinamisator bagi peserta didik. serta dalam era apa saja. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. Kedua. Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. Dalam kondisi seperti itu. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. Nah. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. bukan 'upah minimum'. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. dalam kondisi seperti itu. apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. Hak-hak guru sebagai pribadi. bukan pegawai yang mengejar prestasi. yaitu guru. Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Pertama. Ketiga. Itulah sebabnya. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI). Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa.tidak semenarik komik atau majalah. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas. . yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi.

Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. Kalau perlu. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain. (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini. karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini. uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. Dengan demikian. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. misalnya tenaga administrasi. 2. (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. Jika syarat tersebut telah dilakukan. . dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. atau kalau perlu dipensiundinikan. Dari kelima syarat tersebut. Alasan kedua. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. Untuk itu. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima.

dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. Jadi. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru. Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru. Artinya. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan. dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting. maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu. Selain itu. . Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik. Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis.

seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. Dengan demikian. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. surat kabar dan sebagainya. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain. Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala. ada penerimaan guru baru disekolah. maupun psikomotorik siswa. kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Selain itu. sebagaimana tercantum dalam pengumuman. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa. Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. sehat jasmani dan rohani. media. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan. memilih metode. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting .kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik. Selain itu. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur. Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana. Disamping itu. Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. afektif. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi.

karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar. 5. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan. untuk menjadi instruktur. Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. disusunlah satu standar pembinaan karier. yang juga sangat berat. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. Selain itu. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. Sementara itu. atau menjadi kepala sekolah. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya. 4. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. Selain itu. 3. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan. melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. Sebagai contoh. . langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. atau pengawas. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan.

menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. inservice training. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah. yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. program pendidikan. yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. pola. maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya. yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. baik secara akademis maupun non akademis. Oleh karena itu. . Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin. organisasi perjuangan para guru. Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. Dengan kompetensi tersebut. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Tujuan. maka akan menjadikan guru profesional. kompetensi guru berperan penting. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru. system penyampaian. dan on the job training. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). struktur dan isi kurikulumnya. evaluasi. dan sebagainya. hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). 3) Kompetensi psikomotorik. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. Sudah tentu termasuk PGRI. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. Agar tujuan pendidikan tercapai. 2) Kompetensi afektif. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan.

tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). dan diikuti juga anggota komite sekolah. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran. kemajuan yang telah dicapai. dan seluruh staf. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu.D. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran. dan evaluasi. maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. guru. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. Misi. 2) Perumusan Visi. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. mereka tidak berangkat dari nol. guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. kegiatan belajar. melainkan dari kondisi yang dimiliki. dan tujuan . Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. metode mengajar. Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. Sebagai pengajar. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas. bahan pengajaran. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik.

Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. Tujuan merupakan tahapan antara. Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. kemanusiaan. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. Dengan kata lain. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. 4) Pelaksanaan . Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan . sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. bagaimana. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. keadilan. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya.Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Tujuan (jangka menengah). keluhuran budi pekerti. serta hasil seperti apa yang diharapkan. dalam bentuk tertulis. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. Sedangkan misi. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan.

dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. c. pembuatan rencana. siswa. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. setiap guru memahami visi dan misi sekolah. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah. Sebagai perencana. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. pengorganisasian. bahkan mingguan). Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). misalnya menghadapi lomba bidang studi. menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. b.Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. atau kegiatan lainnya. hanya lingkupnya yang berbeda. kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya. Ia juga memonitor kemajuan siswa. Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai). maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. merencanakan proses pembelajaran. dengan siswa. Tahap pelaksanaan. dengan kepala sekolah dan orang tua. (mengorganisasikan bahan.semesteran.

Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. 5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah. (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian.Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya. bidang ketenagaan. Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. bidang keuangan. maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk . Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat. menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya). Sungguh pun demikian.

bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif. keluarnya UU No. Disamping itu. akuntabilitas.tradisional. serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. UU No. baik yang berlandaskan agama maupun budaya. dan olah raga tahun 2000-2004. sistem pendidikan. yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. Disisi lain. Konkritnya. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. ingin memperoleh pedoman. termasuk pendidikan. Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi). desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi. serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik.25 Tahun 2000 tentang Propenas.kalangan dalam sekolah sendiri). demokratisasi dan akuntabilitas. mereka ingin segera memperoleh kepastian. kebijakan yang mendukung. agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. demokratisasi. transparansi. meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya. Baik yang antusias menerima. Pemuda. sebagai dokumen tertulis resmi. Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. dan Kepmemdiknas No. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang). ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah. petunjuk dan sebagainya.

Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya. Jakarta: Prenada Media. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya.1989 Ni. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. 2003 Peraturan Pemerintah RI No.Yogyakarta:Kanisius. yang perlu diberdayakan. Remaja Rosdakarya..Bandung: PT. Oemar. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada. Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. 2006 Kunandar. .Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Menjadi Guru Profesional. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. (5) standar pembinaan karir.2005 Adi Saiful. Membangun Profesionalitas Guru. Membina Mutu Pendidikan. 3 februari 2005 . dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global.. Jakarta: Bumi Aksara.E.K. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. Jakarta: Sinar Grafika.am. (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. 2004 Samana. A. (www. Jakarta: Bina Aksara.SaifulAdi. Mudahmudahan. Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi.2007 N.com. dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG. dan MKPS.wordpress. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Asrorun. Edisi 01/Tahun 2003. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan. 20 Tahun 2003. Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya. Profesionalisme Keguruan. www. DAFTAR BACAAN Hamalik. Jakarta: Bumi Aksara. Kompas. Azra.1994 Uzer Usman. 2006 Undang-undang RI No. Jakarta : eLSAS. 2003. dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat. (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan. Jakarta: Sinar Grafika. Azyumardi. Moch. Inovasi Kurikulum. Com). MKKS. bermutu.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru. (2) standar kualifikasi. MGMP. 2006 Rosyada. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK.

Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan.1999. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS.Soebagio Atmodiworo. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. ICW. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . Syafarudin. 2000. Uwes Sanusi. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. 2002. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. ketidakpuasan. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.html http://www.blogspot.info/index. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Sujanto. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. Grasindo. 2004. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Dukungan finansial. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal.dinaspendidikanparepare. Bedjo.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu.Ardadijaya. Namun. Oleh karena itu.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. Wahyu Ariyani. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Doretea. Akhirnya. Jakarta: Logos wacana Ilmu. Manajemen Kualitas. Dalam implementasi MBS. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT.

yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. Pertama. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Munculnya UU No.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. kelompok dan organisasinya. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. . secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Kedua. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Berdasarkan latar belakangnya. Tetapi. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. bukan dengan pemerintah pusat. 22 tahun 1999. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut.

Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Mandatnya sudah jelas. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. 2. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya.BAB II PEMBAHASAN A. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. Hubungan guru. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Ketiga. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Keempat. yaitu melalui UU No. Kedua. bersahabat dan hangat. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Apapun model MBS yang dipakai. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. tujuan dan akuntabilitas. Kedua. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Sekilas tentang Wacana MBS 1. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Pertama. yaitu terprogram dan sistematik. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. yang paling . implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar.

Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. tenaga. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. pengetahuan dan ketrampilan. dan (d) penyandang cacat. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. prinsip inisiatif sumber daya manusia. staf. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. pelayanan kepada masyarakat. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Namun. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. sosial dan budaya. (c) wanita. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. Karena itu. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. pengetahuan dan ketrampilan. ekonomi dan politik. Ketiga. informasi dan penghargaan. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Kedua. 3. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. Keempat. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. kepala sekolah dan orang tua siswa. . Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. budaya. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Desentralisasi dalam kekuasaan. melainkan memerlukan biaya. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. prinsip sistem pengelolaan mandiri. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur.

adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Pertama. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . Kubick (1988) tentang School-Based Management. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Kedelapan. Keenam. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan.Ketiga. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Keempat. Pada dasarnya. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Kesembilan. Ketiga. Kedua. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . Kelima. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. B. Oleh karena itu. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Dengan demikian. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Ketujuh. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan.

Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Keenam. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Kedua. Kelima. melakukan pemantauan terhadap proses dan . Kesembilan. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. motivator. Keenam. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Kedelapan. Sementara itu. Pertama. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Ketiga.designer. fasilitator dan liaison. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Menurut Slamet P. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Namun. identifikasi peran masing-masing. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. forum ilmiah dan media massa. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. implementasi pada proses pembelajaran. Oleh karena itu. Kedelapan. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. Kesembilan. Kelima. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Keempat. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. diskusi. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum.H. Keempat. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. membuat rencana jangka pendek. Ketujuh. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Ketujuh.

Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. budaya pemerintah daerah. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. Wohlstetter dkk. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. masalah partisipasi. Selain itu.evaluasi terhadap hasil MBS. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. 2. dan lebih mampu mengelola . kurikulum. pendanaan. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. waktu. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Pertama. Oleh karena itu. 1. kemandirian dan kerjasama. kepemimpinan. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. keuangan. pembangunan kelembagaan (capacity building). dan budaya masyarakat. budaya sekolah. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. Kedua. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. masyarakat. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. strategi dan monitoring serta evaluasi. ketenaga kerjaan. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Ketiga. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. yaitu parisipasi masyarakat. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai.

monitoring yang ketat dan dukungan VEC. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Keenam. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. memahami konteks perubahan. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. 3. Kelima. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Keempat. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. guru dan administrator tentang tujuan. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung . membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. 5. rancangan dan implementasi dari reformasi. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah.Base. pelatihan. Ketiga. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. memperbaiki lingkungan kerja. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. berapa dana yang akan dialokasikan. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. Pertama. menciptakan visi bersama. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. Byrk dkk. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. 4. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Sementara itu. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. Kedua. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. mendefinisikan peran baru.dirinya secara lebih efektif. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. Pertama. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. (2) belajar untuk melaksanakan. (3) belajar untuk hidup bersama. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Padahal dalam kenyataan. 6 Oktober 2000). namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Menurut Taruna. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan.dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). kurangnya kepercayaan antar pihak. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. implementasi MBS memakan waktu. J. . kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Sejak September 1999. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan.C. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Pertama. Oleh karena itu. C. Keempat. Kedua. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Sekolah Dasar Swasta. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. Sekolah Dasar Inpres. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Ketiga. dan (4) belajar untuk kemandirian. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan.

tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. mendefinisikan peran baru. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Ketiga. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. menciptakan visi bersama.Kedua. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Selain itu. tantangan demokrasi. Keempat. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Ketiga. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. Pertama. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah . dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. memahami konteks perubahan. Kedua. memperbaiki lingkunagn kerja. Menurut Taruna. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Namun. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. D. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada.

adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. legal. Selanjutnya. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. bureaucratic. fungsi dan wewenang. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Kedua. Pertama. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Oleh karena itu. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas.Pada era desentralisasi. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Kedua. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. terkonsep dan terorganisir rapi. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. 16 April 2001). Ketiga. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Dengan demikian. teratur. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Pertama. professional. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. . dan market. Keempat. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Ketiga. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis.

Surabaya.ed.org/education/globaleducationreform/06.governancereform/06. Cetakan Kedua. 2002. Lori Jo. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. 2001.Wallahu ‘alamu.http://www. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. 1995. Jalal. 02. E.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Lori Jo. Pengantar Ilmu Pendidikan. Arif.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget.ed. Nurrawi. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.http://www1. Dukungan . School-Based Management. Oswald.worldbank. Dalam implementasi MBS. Aan dan Cepi Triatna.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Cetakan Ketiga dan Keempat. 1973. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Mulyasa. 2003. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Amir Daien. Jakarta: PT Bumi Aksara. ___________. 2006. Oswald. 2006. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Surabaya: Usaha Nasional. http://www.). Komariah. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Strategi dan Implementasi). DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.

Oleh karena itu. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Munculnya UU No. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. Pertama. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . Berdasarkan latar belakangnya. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. Kedua. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. 22 tahun 1999. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. kelompok dan organisasinya. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Tetapi. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. ketidakpuasan. Akhirnya. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. bukan dengan pemerintah pusat. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Namun. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran.finansial.

batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat.atau kota. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. yaitu melalui UU No. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. bersahabat dan hangat. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. Mandatnya sudah jelas. yaitu terprogram dan sistematik. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Sekilas tentang Wacana MBS 1. BAB II PEMBAHASAN A. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Hubungan guru. Kedua. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. tujuan dan akuntabilitas. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Pertama.

Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. staf. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. pengetahuan dan ketrampilan. Keempat. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. prinsip sistem pengelolaan mandiri. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Desentralisasi dalam kekuasaan. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. Keempat. apa pun kriteria keberhasilan tersebut.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. Teori yang Mendasari MBS Pertama. kepala sekolah dan orang tua siswa. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). pengetahuan dan ketrampilan. pelayanan kepada masyarakat. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. informasi dan penghargaan. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. ukuran keberhasilan . MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Kedua. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. melainkan memerlukan biaya. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Ketiga. 2. Namun. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Apapun model MBS yang dipakai. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). Karena itu. Ketiga. 3. tenaga. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis.

Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. dan (d) penyandang cacat. Kesembilan. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Kelima. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Dengan demikian. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Kubick (1988) . Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Kedelapan. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. sosial dan budaya. budaya. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. B. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. Keempat. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Ketujuh. Kedua. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Keenam. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. ekonomi dan politik. (c) wanita. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Ketiga. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya.

akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Sementara itu. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Kedelapan. Pada dasarnya. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Oleh karena itu. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. identifikasi peran masing-masing. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . . Namun. Keenam. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. fasilitator dan liaison. Pertama. Kedua. Kesembilan. motivator.tentang School-Based Management. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Ketujuh. Ketiga. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Kelima. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Oleh karena itu. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. implementasi pada proses pembelajaran. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Keempat. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa.

Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . keuangan. pembangunan kelembagaan (capacity building). Kedua. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Menurut Slamet P. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. 1. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat.H. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. diskusi. Kelima. membuat rencana jangka pendek. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. yaitu parisipasi masyarakat. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. masalah partisipasi. Ketujuh. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. masyarakat. waktu. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . kurikulum. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. ketenaga kerjaan. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Ketiga. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Keempat.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. forum ilmiah dan media massa. Kedua. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. pendanaan. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Pertama. Kesembilan. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. Kedelapan. Oleh karena itu. strategi dan monitoring serta evaluasi. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Pertama. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Keenam. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar.

Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Keempat. Sementara itu. pelatihan. dan budaya masyarakat. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. 3. Pertama. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. Ketiga. 4. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. 5. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). kepemimpinan. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Wohlstetter dkk. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. kemandirian dan kerjasama. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. Keenam. budaya sekolah. Selain itu. Kedua. guru dan administrator tentang tujuan. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. yaitu pengadopsian suatu perspektif . budaya pemerintah daerah. Ketiga. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. Byrk dkk. 2. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Kelima. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa.akuntabilitas. rancangan dan implementasi dari reformasi.

pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Ketiga.Base. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. berapa dana yang akan dialokasikan. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. Kedua. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. memperbaiki lingkungan kerja. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. .yang lebih luas akan suatu sistem. mendefinisikan peran baru. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Pertama. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. kurangnya kepercayaan antar pihak. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. memahami konteks perubahan. menciptakan visi bersama. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. C. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Oleh karena itu. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya.

Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Pertama. Menurut Taruna. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. 6 Oktober 2000). Sejak September 1999. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Ketiga. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Padahal dalam kenyataan. dan (4) belajar untuk kemandirian. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. Keempat. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Sekolah Dasar Inpres. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Sekolah Dasar Swasta. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri.Keempat. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. (2) belajar untuk melaksanakan. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem.C. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Selain itu. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Menurut Taruna. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. J. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. memahami konteks perubahan. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. implementasi MBS memakan waktu. Pertama. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. mendefinisikan peran baru. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. (3) belajar untuk hidup bersama. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Kedua. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. menciptakan visi bersama. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . Madrasah Ibtidaiyah Swasta). memperbaiki lingkunagn kerja. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. tantangan demokrasi. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir.

Kedua. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. bureaucratic. legal. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. Kedua. Ketiga. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. Dengan demikian. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Namun. fungsi dan wewenang. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. professional. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Ketiga. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Ketiga. dan market. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. D. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. Pertama. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Keempat. . Kedua. 16 April 2001). Selanjutnya. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Pertama.

E.ed.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. http://www. 2003. Jakarta: PT Bumi Aksara. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Bandung: PT . teratur. Pengantar Ilmu Pendidikan. Komariah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. 1973. 2001. Cetakan Kedua.). terkonsep dan terorganisir rapi. Strategi dan Implementasi). Jalal. Cetakan Ketiga dan Keempat. 2006. Wallahu ‘alamu. Surabaya: Usaha Nasional. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Mulyasa. Aan dan Cepi Triatna. Oleh karena itu. 2006. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Amir Daien. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. ___________. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif.

Arif. 2002. School-based Management: Strategies for Succes. Slamet P. 2001.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt. Bandung: Remaja Rosdakarya.http://www1. Lori Jo. Nurrawi.e.governancereform/06. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.html - . Wohlstetter. Ahmad. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Lori Jo.htm.html.gov/pubs/cpre/fb5sbm.ed. Cetakan Pertama. Tilaar. Suryadi./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan.org/education/globaleducationreform/06.SMBQ&ASBMReynolds.. http://www.. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. 1993. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.ed. U. Oswald.pdk. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). 1996. School-Based management: ERIC Digest Number 99. 27. Ace dan H.go. 1997.http://www. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.H.S. Revised Edition. School-Based Management. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement. http://ww. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform.worldbank. 1992.blogspot.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah. California: Corwin Press. gurutrenggalek.Remaja Rosdakarya.A. Inc. 02. http://ww.com/. 1995. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. “Manajemen Berbasis Sekolah”. Surabaya.R. Wohlstetter. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. Larry J. Tafsir. Oswald.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->