Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

Lingkungan sekolah yang nyaman. 4.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik. proses.Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.Proses pendidikan 1. f. g. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah.Responsif. 5.Kepemimpinan yang kuat.Tim kerja yang kompak dan dinamis. e. mulai dari pengambilan keputusan.Komitmen pada pelanggan b. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input. di antaranya sebagai berikut: a. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan.Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko.Dalam bekerja. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7.Input Pendidikan 1. d.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah.Transparansi . guru. tujuan dan sasaran mutu yang jelas. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah. 3.Akan mengalami peningkatan manajemen. kepala sekolah. pelaksanaan. output pendidikan.Kemandirian. 3. 2.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana. 6. h.Memiliki kebijakan. c.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi. c. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya. karyawan. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah. b. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS .melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri. 4. antisipatif.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri.Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. yaitu sebagai berikut : a.Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2. b. 8. akan menggunakan team work.Memiliki harapan prestasi yang tinggi. a. kominikatif dan akuntabilitas.

Aktif bertanya. dan standar penilaian sekolah. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. masyarakat.Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. c. dan pemerintah. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran. Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara. daerah. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester. pembiayaan. a. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik. sarana dan prasarana. b. masyarakat. pengelolaan. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. b. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah. c. Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi.Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya.Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a. Siswa aktif dan guru pasif. .Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan. Selain itu.Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. dan sekolah. orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. dan pemerintah mengenai hasil lulusan. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.

proses. e. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi. tempat beribadah. yaitu berupa masukan. i.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah. termasuk penggunaan tekhnologi. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. keputusan intruksional maupun organisasional. Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. tempat bermain. perpustakaan. konkrit. laboratorium.Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. bengkel kerja.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya.Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. d. proses pembelajaran. mudah diukur. terbuka. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. h. f. g. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional. tempat berolahraga.Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. informasi dan komunikasi. .c. tempat berekreasi. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu. hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah. SPM bersifat sederhana. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik.

b.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a. Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal. serta kebutuhan masyarakat setempat.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Manajemen Berbasis Sekolah.Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs. 2. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS).dan efisien. Melalui penerapan MBS. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas. guru-guru. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan. guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan. terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. kepala sekolah. c.efektif. 2007. 2009. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. Fattah. Manajemen Berbasis Sekolah.Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Nanang dan Ali. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. M.51 . MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . Akibatnya. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. moral. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. telekomunikasi. Dalam artian. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak. Bagi pemeluk agama. perbankan. bangsa maupun antar bangsa. politik . maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. bahkan lebih berorintasi proyek. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. sosial. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. baik industri. 26 March 2010 13:54 administrator A.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday.20 Tahun 2003 (Sisdiknas. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum. dan budaya. Secara fungsional. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya. pasal 3). Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. atau cenderung tambal sulam. dan lain-lain. perbaikan sarana-sarana pendidikan.

Dengan komptensi yang dimiliki. berakhlak mulia. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis. 28 Februari 2006). negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen. yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika. Di lain pihak. maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. Pendek kata. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. .beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah. Singkat kata. Ahmad Sjafii Maarif. termasuk dunia pendidikannya. berilmu. The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. sebagai contoh. Sebagaimana diketahui. kreatif. Padahal. yaitu tenaga pendidik. telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. 9 Mei 2005). mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Saat ini. maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. Para ahli di bidang pendidikan. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. pemangku profesi keguruan.cakap. tanpa kualitas guru yang baik. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting.sehat. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru.

karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya. dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi. karena sikap dan tingkah laku. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas. C. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran. dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. faktor yang paling penting adalah guru. melakukan pengukuran. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes. Namun demikian. B. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. kemampuan individual. Oleh karena itu. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. penampilan profesional. Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik. Bagi sebagian besar orangtua siswa. Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran.

perlu mendapat prioritas dalam reformasi". dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. pemangku profesi keguruan. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas. Dengan kata lain. Dalam kondisi seperti itu. Itulah sebabnya. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. dan dinamisator bagi peserta didik. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. bukan 'upah minimum'. yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan. Pertama. peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa. maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. Pertama. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI). Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. yaitu guru. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi. Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. Hak-hak guru sebagai pribadi. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. Ketiga. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Nah. Kedua. motivator. . apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. dalam kondisi seperti itu. serta dalam era apa saja. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.tidak semenarik komik atau majalah. bukan pegawai yang mengejar prestasi.

karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. . (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). Jika syarat tersebut telah dilakukan. Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional. 2. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. misalnya tenaga administrasi. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. Dari kelima syarat tersebut. Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai. Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. Kalau perlu. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain. Dengan demikian.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. Untuk itu. Alasan kedua. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. atau kalau perlu dipensiundinikan. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap.

dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik. Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut. Artinya. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Jadi. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia. dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting. tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis. . maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu. Selain itu. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja.

Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana. surat kabar dan sebagainya. ada penerimaan guru baru disekolah. media. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting . afektif. memilih metode. Dengan demikian. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. maupun psikomotorik siswa. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif. sehat jasmani dan rohani. Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala. Disamping itu. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti.kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. sebagaimana tercantum dalam pengumuman. Selain itu. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur. Selain itu. seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini.

Sementara itu. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. atau menjadi kepala sekolah. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. untuk menjadi instruktur. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. yang juga sangat berat. langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. atau pengawas. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan. maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. disusunlah satu standar pembinaan karier. 5. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. Sebagai contoh. Selain itu. . Selain itu. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. 4. 3. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan.

maka akan menjadikan guru profesional. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru. 3) Kompetensi psikomotorik. dan on the job training. dan sebagainya. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. system penyampaian. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Agar tujuan pendidikan tercapai. kompetensi guru berperan penting.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. 2) Kompetensi afektif. pola. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan. Sudah tentu termasuk PGRI. yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. inservice training. yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku. . Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. baik secara akademis maupun non akademis. Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. Tujuan. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). program pendidikan. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). struktur dan isi kurikulumnya. Oleh karena itu. evaluasi. organisasi perjuangan para guru. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. Dengan kompetensi tersebut. maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah.

Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri. tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. guru. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. 2) Perumusan Visi. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality.D. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. melainkan dari kondisi yang dimiliki. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. dan tujuan . untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. Misi.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. dan diikuti juga anggota komite sekolah. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi. dan evaluasi. guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar. atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. kemajuan yang telah dicapai. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran. Sebagai pengajar. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). dan seluruh staf. kegiatan belajar. Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas. Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. mereka tidak berangkat dari nol. bahan pengajaran. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. metode mengajar.

misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. kemanusiaan. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif.Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. Dengan kata lain. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. keluhuran budi pekerti. Tujuan merupakan tahapan antara. 4) Pelaksanaan . prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. Sedangkan misi. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan . dalam bentuk tertulis. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. Tujuan (jangka menengah). serta hasil seperti apa yang diharapkan. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. bagaimana. keadilan. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan.

Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . setiap guru memahami visi dan misi sekolah. bahkan mingguan). dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. misalnya menghadapi lomba bidang studi. c. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. pengorganisasian. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien).Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai). Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan.semesteran. siswa. Ia juga memonitor kemajuan siswa. dengan kepala sekolah dan orang tua. Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. atau kegiatan lainnya. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan. merencanakan proses pembelajaran. dengan siswa. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. Tahap pelaksanaan. Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen. pembuatan rencana. hanya lingkupnya yang berbeda. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. (mengorganisasikan bahan. Sebagai perencana. b. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar.

5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya). mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. bidang ketenagaan. bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian. Sungguh pun demikian. Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya. Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah. sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d. bidang keuangan.Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk . Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat.

ingin memperoleh pedoman. demokratisasi dan akuntabilitas. Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi). dan olah raga tahun 2000-2004. desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan. serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah.kalangan dalam sekolah sendiri). Disisi lain. dan Kepmemdiknas No. kebijakan yang mendukung. sistem pendidikan. keluarnya UU No. bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . mereka ingin segera memperoleh kepastian. bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya. UU No. transparansi. akuntabilitas. Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. termasuk pendidikan. Pemuda. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif. Disamping itu. ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang). Konkritnya. yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. petunjuk dan sebagainya. sebagai dokumen tertulis resmi.tradisional. baik yang berlandaskan agama maupun budaya. serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. demokratisasi.25 Tahun 2000 tentang Propenas. sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. Baik yang antusias menerima. agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan.

Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya. Com). dan MKPS. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya. Asrorun. Jakarta: Prenada Media. MKKS. dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat.1994 Uzer Usman. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi. yang perlu diberdayakan. Membangun Profesionalitas Guru.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru. Mudahmudahan. MGMP. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2) standar kualifikasi. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. www. Moch.K. 2003 Peraturan Pemerintah RI No.2007 N. Edisi 01/Tahun 2003.com. (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan. Remaja Rosdakarya. Azyumardi.Yogyakarta:Kanisius.wordpress.. Menjadi Guru Profesional. dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global.1989 Ni. 20 Tahun 2003. Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil. A.SaifulAdi. Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. 2006 Undang-undang RI No. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya. Jakarta : eLSAS.2005 Adi Saiful. Oemar. 2006 Rosyada. 2004 Samana. Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya.E. 3 februari 2005 . Inovasi Kurikulum. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar.am. . 2006 Kunandar. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: Bina Aksara. Azra.Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Sinar Grafika. Profesionalisme Keguruan. bermutu. (5) standar pembinaan karir. 2003. dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG.Bandung: PT. Kompas. Membina Mutu Pendidikan. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. DAFTAR BACAAN Hamalik. Jakarta: Bumi Aksara. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK. (www. Jakarta: Sinar Grafika..

Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. Namun. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. Sujanto.Soebagio Atmodiworo. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Syafarudin.info/index. Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. ICW. 2004. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Dukungan finansial.Ardadijaya. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS.1999. Oleh karena itu. Grasindo. Uwes Sanusi. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan.dinaspendidikanparepare.blogspot. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Bedjo. Manajemen Kualitas.html http://www. 2000. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Akhirnya. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. 2002. Jakarta: Logos wacana Ilmu. Dalam implementasi MBS. Doretea. Wahyu Ariyani. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. ketidakpuasan. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS.

seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. kelompok dan organisasinya. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. Pertama. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Kedua. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Munculnya UU No. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. bukan dengan pemerintah pusat. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. 22 tahun 1999. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Tetapi. Berdasarkan latar belakangnya. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. .

implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Pertama. Kedua.BAB II PEMBAHASAN A. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. tujuan dan akuntabilitas. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. Teori yang Mendasari MBS Pertama. yaitu terprogram dan sistematik. yang paling . Ketiga. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Mandatnya sudah jelas. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. yaitu melalui UU No. bersahabat dan hangat. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Keempat. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Kedua. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. 2. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. Apapun model MBS yang dipakai. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Hubungan guru. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Sekilas tentang Wacana MBS 1.

pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. (c) wanita. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Desentralisasi dalam kekuasaan. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. prinsip sistem pengelolaan mandiri. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. melainkan memerlukan biaya. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. Kedua. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. staf. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. dan (d) penyandang cacat. Namun. Ketiga. informasi dan penghargaan. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). kepala sekolah dan orang tua siswa. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. sosial dan budaya. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. prinsip inisiatif sumber daya manusia. pengetahuan dan ketrampilan. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. pengetahuan dan ketrampilan. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. budaya. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. Keempat.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. . MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. 3. tenaga. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. ekonomi dan politik. Karena itu. pelayanan kepada masyarakat. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS.

apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.Ketiga. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Ketujuh. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. B. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Oleh karena itu. Pertama. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Pada dasarnya. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Ketiga. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Kubick (1988) tentang School-Based Management. Dengan demikian. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Kedelapan. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Keenam. Kelima. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Kedua. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. Kesembilan. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Keempat.

identifikasi peran masing-masing. Keenam. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. diskusi. implementasi pada proses pembelajaran. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Keempat. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Ketujuh. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS.designer. Kesembilan. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. Ketujuh. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. Kelima. motivator. Oleh karena itu. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. forum ilmiah dan media massa. melakukan pemantauan terhadap proses dan . Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Pertama. Sementara itu. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Keenam. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Namun. Kesembilan. Kedua. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. Kedelapan. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Kelima. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. fasilitator dan liaison.H. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Keempat. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. membuat rencana jangka pendek. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Kedelapan. Ketiga. Menurut Slamet P. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer.

budaya pemerintah daerah. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. 1. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. kemandirian dan kerjasama. kurikulum. Pertama. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Selain itu. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi.evaluasi terhadap hasil MBS. yaitu parisipasi masyarakat. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. masyarakat. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. masalah partisipasi. dan budaya masyarakat. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. keuangan. Wohlstetter dkk. waktu. dan lebih mampu mengelola . Ketiga. pembangunan kelembagaan (capacity building). pendanaan. strategi dan monitoring serta evaluasi. budaya sekolah. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Oleh karena itu. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. ketenaga kerjaan. 2. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. Kedua. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. kepemimpinan.

3. memperbaiki lingkungan kerja. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Keenam. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. 5. menciptakan visi bersama. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Byrk dkk. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. guru dan administrator tentang tujuan. Kelima. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Kedua. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah.Base.dirinya secara lebih efektif. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. pelatihan. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Pertama. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. rancangan dan implementasi dari reformasi. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). 4. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. Keempat. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. mendefinisikan peran baru. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung . khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. berapa dana yang akan dialokasikan. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. Sementara itu.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. memahami konteks perubahan. Ketiga. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down.

dan (4) belajar untuk kemandirian. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Pertama. implementasi MBS memakan waktu. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. (3) belajar untuk hidup bersama. Kedua. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. 6 Oktober 2000).C. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Pertama. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Keempat. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. Sekolah Dasar Swasta. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. (2) belajar untuk melaksanakan. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil.dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Sejak September 1999. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Sekolah Dasar Inpres. Menurut Taruna. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). Oleh karena itu. kurangnya kepercayaan antar pihak. Ketiga. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. . Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. J. Padahal dalam kenyataan. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. C.

Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. D. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Ketiga. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis.Kedua. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Namun. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. Kedua. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Menurut Taruna. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah . (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. menciptakan visi bersama. memperbaiki lingkunagn kerja. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. Ketiga. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. Pertama. Keempat. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Selain itu. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. tantangan demokrasi. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. memahami konteks perubahan. mendefinisikan peran baru. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat.

bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Selanjutnya. Kedua. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. professional. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. . Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. legal. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Dengan demikian. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. Ketiga. Kedua. bureaucratic. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. terkonsep dan terorganisir rapi. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Keempat. Pertama. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. Ketiga. teratur. dan market. fungsi dan wewenang. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. 16 April 2001). Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Pertama. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Oleh karena itu.Pada era desentralisasi. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political.

http://www. Surabaya. Oswald. Komariah. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah.org/education/globaleducationreform/06.Wallahu ‘alamu. Cetakan Ketiga dan Keempat. ___________. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Oswald. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Lori Jo. Pengantar Ilmu Pendidikan. 02. 1973.worldbank.http://www1. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Surabaya: Usaha Nasional. http://www. Aan dan Cepi Triatna. Lori Jo. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Mulyasa. Jalal. E. Amir Daien.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.governancereform/06. Cetakan Kedua. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Nurrawi. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.ed. 2003. 2006. Jakarta: PT Bumi Aksara. School-Based Management. 2006. 2002. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). 1995. Dalam implementasi MBS.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. 2001. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.ed. Strategi dan Implementasi). Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Dukungan .gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Arif.).

bukan dengan pemerintah pusat. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . Namun. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah.finansial. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. 22 tahun 1999. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. kelompok dan organisasinya. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. ketidakpuasan. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Oleh karena itu. Akhirnya. Berdasarkan latar belakangnya. Kedua. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Tetapi. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . Pertama. Munculnya UU No. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting.

bersahabat dan hangat. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. yaitu melalui UU No. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur.atau kota. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. Hubungan guru. Kedua. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Pertama. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Mandatnya sudah jelas. Sekilas tentang Wacana MBS 1. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. yaitu terprogram dan sistematik. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. tujuan dan akuntabilitas. BAB II PEMBAHASAN A.

diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. pengetahuan dan ketrampilan. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. informasi dan penghargaan. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. Kedua. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. kepala sekolah dan orang tua siswa. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Ketiga. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. prinsip sistem pengelolaan mandiri. 3. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. tenaga. Karena itu. Desentralisasi dalam kekuasaan. pelayanan kepada masyarakat. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Ketiga. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. Keempat. staf. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. pengetahuan dan ketrampilan. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. Apapun model MBS yang dipakai. Namun. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. 2.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. Keempat. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. prinsip inisiatif sumber daya manusia. melainkan memerlukan biaya. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). ukuran keberhasilan . pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan.

sosial dan budaya. Kelima. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. (c) wanita. Kubick (1988) . Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. B.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Kedua. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Keempat. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. dan (d) penyandang cacat. ekonomi dan politik. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Keenam. Ketiga. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Ketujuh. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Dengan demikian. Kesembilan. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. budaya. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Kedelapan. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat.

Pada dasarnya. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Kedua. implementasi pada proses pembelajaran. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Sementara itu. identifikasi peran masing-masing. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Oleh karena itu. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Ketujuh. motivator. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Pertama. fasilitator dan liaison. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Keenam. Kedelapan. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Namun. Ketiga. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. Oleh karena itu. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. . usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Keempat.tentang School-Based Management. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Kesembilan. Kelima.

dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Keenam. Oleh karena itu. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. masalah partisipasi. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. strategi dan monitoring serta evaluasi. forum ilmiah dan media massa. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. Kesembilan. Kedelapan. Ketiga. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. Pertama. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. masyarakat. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. ketenaga kerjaan. Ketujuh. pembangunan kelembagaan (capacity building). Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. diskusi. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. Kedua. pendanaan. keuangan. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. 1. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. yaitu parisipasi masyarakat. membuat rencana jangka pendek. Kedua. Menurut Slamet P. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan.H. waktu. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. kurikulum. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. Kelima. Pertama. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. Keempat. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha.

Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. 2. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. 5. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Sementara itu. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah.akuntabilitas. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. Ketiga. guru dan administrator tentang tujuan. budaya pemerintah daerah. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. 3. Keempat. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. pelatihan. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. yaitu pengadopsian suatu perspektif . Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. Wohlstetter dkk. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Byrk dkk. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. Ketiga. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. dan budaya masyarakat. Kelima. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. Kedua. Pertama. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. rancangan dan implementasi dari reformasi. Selain itu. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Keenam. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. kemandirian dan kerjasama. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. budaya sekolah. kepemimpinan. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. 4.

Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. memperbaiki lingkungan kerja. memahami konteks perubahan. Ketiga. C. berapa dana yang akan dialokasikan. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. kurangnya kepercayaan antar pihak. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. bahkan dalam beberapa terminologi Sit.yang lebih luas akan suatu sistem. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Oleh karena itu. Kedua. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. . Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. mendefinisikan peran baru. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. menciptakan visi bersama. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf.Base. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. Pertama.

menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. Menurut Taruna. Sejak September 1999. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Sekolah Dasar Inpres. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. Kedua. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik.Keempat. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. Selain itu. Sekolah Dasar Swasta. Ketiga. mendefinisikan peran baru. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah.C. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. memahami konteks perubahan. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). tantangan demokrasi. Pertama. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. Padahal dalam kenyataan. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. (2) belajar untuk melaksanakan. Pertama. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. 6 Oktober 2000). Menurut Taruna. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. memperbaiki lingkunagn kerja. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. implementasi MBS memakan waktu. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. dan (4) belajar untuk kemandirian. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. menciptakan visi bersama. (3) belajar untuk hidup bersama. Keempat. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. J.

adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Ketiga. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. dan market. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. Kedua. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. Namun. Keempat. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Selanjutnya. Ketiga. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. Pertama. 16 April 2001). adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. professional. bureaucratic. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Kedua. Ketiga. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. Dengan demikian. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Kedua. D. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. Pertama. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. . Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. fungsi dan wewenang. legal.

___________. Mulyasa. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Bandung: PT . 2006. Surabaya: Usaha Nasional.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. 1973. Jalal. Cetakan Ketiga dan Keempat. Jakarta: PT Bumi Aksara. Aan dan Cepi Triatna. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Pengantar Ilmu Pendidikan. Amir Daien. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Wallahu ‘alamu.). Komariah. Oleh karena itu.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. E. http://www. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. 2006. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Cetakan Kedua. 2001. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. terkonsep dan terorganisir rapi. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Strategi dan Implementasi). teratur. 2003. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.ed.

ed. School-based Management: Strategies for Succes. 1995.blogspot. Lori Jo. Slamet P.gov/pubs/cpre/fb5sbm. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tilaar.Remaja Rosdakarya./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan. Oswald.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Revised Edition.html - . “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33..S.worldbank. School-Based Management.. California: Corwin Press.H. 1993. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. http://ww. Tafsir. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.ed.A. http://www. Inc. 1997.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt. gurutrenggalek. Larry J. Surabaya. 2002. Nurrawi. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform. 1992. Suryadi. U.com/. 02. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Ahmad.http://www.SMBQ&ASBMReynolds. Wohlstetter. http://ww. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar). “Manajemen Berbasis Sekolah”. 27.governancereform/06.R. 1996. Ace dan H. Oswald.html. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.htm. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Lori Jo. Wohlstetter.http://www1. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement.pdk. Cetakan Pertama. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.e. Arif.org/education/globaleducationreform/06. 2001.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah.go.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful