RANCANG BANGUN TELEMEDICINE SEBAGAI SARANA PENCEGAHAN PENYEBARAN HIV/AIDS Evi Triandini1, Candra Ahmadi2 STMIK STIKOM

Bali Jl. Raya PuputanRenon, Denpasar - Bali, telp/fax: (0361) 244445 / 264773 e-mail: evi@stikom-bali.ac.id1, candra@stikom-bali.ac.id2 Absrak 1. Pendahuluan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang termasuk family retroviridae.AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV [1]. Penderita HIV/AIDS di Indonesia hingga bulan Maret 2011 mencapai 24.282 pasien. DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua, dan Bali mendominasi kasus HIV/AIDS terbanyak [2]. Untuk mendiagnosis HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immunodeficiency Syndrome) ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis dan pemeriksaan laboratorium. Infeksi HIV tidak akan menunjukan gejala tertentu. Secara bertahap, seiring dengan menurunnya system kekebalan tubuh, ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) akan mulai menunjukan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik yang disebabkan oleh virus, parasit dan mikobakterium. Telemedicine adalah aplikasi dari pengobatan klinis, yang pengembangannya memanfaatkan telepon, internet, dan jaringan komunikasi lain untuk mentransfer informasi medis. Dengan transfer ini, informasi media tersebut dapat digunakan untuk konsultasi kesehatan dan kadang-kadang dapat digunakan pula untuk prosedur medis di tempat terpencil. Dalam praktek pelaksanaannya, telemedicine diterapkan dalam dua konsep, yaitu real-time (synchronous) dan store-and-forward (asynchronous). Telemedicine secara real-time (synchronous telemedicine) bisa berbentuk sedarhana seperti penggunaan telepon, atau kompleks seperti penggunaaan robot rendah. Synchronous telemedicine memerlukan kehadiran kedua pihak pada waktu yang sama. Telemedicine dengan store-and-forward (asynchronous telemedicine) mencakup pengumpulan data medis dan pengiriman data ini ke seorang dokter (specialist) pada waktu yang tepat untuk evaluasi secara offline. Jenis telemedicine ini tidak memerlukan kehadiran kedua belah pihak dalam waktu yang sama [3]. Sesuai dengan cakupannya, mengembangkan suatu konsep sistem telemedika berbasis ICT (Information Communications and Technology) untuk pengelolaan masalah kesehatan masyarakat yang mengutamakan efektifitas, akseptabilitas dan keberlangsungan dari penerapan sistem secara nyata. Sistem yang dikembangkan dirancang dengan menggunakan teknologi yang sesuai, tersedia dan secara teknis maupun ekonomis dapat dioperasikan secara swadaya. Aplikasi disesuaikan kebutuhan nyata pengguna serta dirancang seefektif dan semudah mungkin untuk meningkatkan akseptabilitas penerapan sistem secara umum dapat dilihat pada Gambar 1 berikut [4].

Koesoema.com/tag/masalahhiv-aids-adalah-masalah-besar-yang-mengancam-indonesia-dan-banyak-negara-di-seluruhdunia/. Hendra Yunianto TS. [3]. 2006. Allya P. http://www. Penderita HIV di Indonesia Hingga Maret 2011 Sebanyak 24. 2009. Yogyakarta: Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009) [4].282 Jiwa. http://ayumi. Hasil 5. Konferensi Nasional . ____.com/read/2011/07/02/210043/1673168/10/penderitahiv-di-indonesia-hingga-maret-2011-sebanyak-24282-jiwa. Elvan Dany Sutrisno. Artificial Intelligence Base Telemedicine Robotic.inube. Sistem Telemedika Berbasis ICT Dalam Pengelolaan Masalah Kesehatan Masyarakat. 2009. [2].detiknews. Yoke S. Perancangan Sistem MASYARAKAT INTERNET MASYARAKAT OPERATOR PROVIDER MASYARAKAT DOKTER SERVER ROUTER MASYARAKAT MASYARAKAT 3. Tinjauan Medikolegal Kasus HIV/AIDS. Irawan.Gambar 1. Soegijardjo Soegijoko. Kisti Hakika. Kesimpulan DaftarPustaka [1]. Diagram Blok Umum Sistem Telemedika Berbasis ICT 2. 2011. Liza Afriyanti. Metode 4.

Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 3-4 Mei 2006. Xv [6]. . [5]. Vfdv [7]. Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful