P. 1
Contoh PTK

Contoh PTK

|Views: 1,797|Likes:
Published by Enin Ira Suprianto
Silahkan dipelajari contoh PTK ini untuk bapa/ibu guru mgmp sains fisika yang ingin mengajukan kenaikan pangkat, mumpung lagi ada penilaian
Silahkan dipelajari contoh PTK ini untuk bapa/ibu guru mgmp sains fisika yang ingin mengajukan kenaikan pangkat, mumpung lagi ada penilaian

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Enin Ira Suprianto on May 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Deskripsi Masalah Permasalahan pembelajaran sains fisika di SMPN 1 Cimahi yang paling utama adalah kurang diterapkannya pembelajaran siswa aktif. Sebagian guru sains fisika lebih banyak menggunakan metode ceramah, suatu metode yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi mengenai suatu masalah secara lisan dengan harapan siswa mendapat informasi mengenai suatu masalah tertentu. Hal ini dapat dipahami,mengingat SMPN 1 Cimahi belum memiliki laboratorium IPA yang representatif. Pembelajaran dengan metode ini kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dengan sesamanya. Kegiatan belajar lebih bersifat individual. Keberhasilan pembelajaran dengan metode ini tergantung kepada retensi siswa dan dramatisasi guru. Siswa yang mempunyai kemampuan mengingat yang baik akan terus dapat mengikuti pelajaran gurunya, sedang siswa yang tidak mempunyai kemampuan mengingat yang baik akan terus tertinggal.

1

Hasil penelitian National Training Laboratories (Suyanto,1996:2) menemukan keterkaitan antara proses pembelajaran dengan retensi siswa. Semakin rendah keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, semakin rendah retensi siswa akan apa yang dipelajari. Sebaliknya, semakin tinggi keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, semakin tinggi daya ingat siswa akan apa yang dipelajari. Berdasarkan hasil penelitian ini kemudian disusun piramida belajar yang menggambarkan berbagai tingkat retensi siswa berdasarkan proses pembelajarannya. Proses pembelajaran dengan metode ceramah paling mudah dilupakan. Metode pembelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk banyak terlibat di dalamnya seperti praktik langsung dan mengajarkan atau menerapkan apa yang dipelajari, meningkatkan daya ingat siswa. Hal ini seperti apa yang dikatakan oleh Confucius, ”I see and I forget, I hear and I remember, I do and I understand”. Pembelajaran sains fisika berdasarkan belajar aktif lebih menekankan peranan siswa untuk belajar. Oleh karena itu guru memiliki peranan penting untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa mengembangkan dirinya sebagai siswa aktif. Pengembangan pembelajaran siswa aktif ini mengubah kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Peran guru pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa ini bukan sebagai satu-satunya sumber informasi yang maha penting, tetapi bergeser sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Kondisi ini memberi konsekuensi kepada guru agar lebih memberi kesempatan pada siswa untuk memperkaya pengalaman belajarnya melalui berbagai kegiatan mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan dan nara sumber lain. Pembelajaran yang berpusat pada siswa (pembelajaran siswa aktif) lebih menekankan kepada cara belajar siswa untuk mengembangkan keterampilan memproses perolehan (keterampilan proses). Melalui kegiatan pengembangan kegiatan keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, keterampilanketerampilan itu akan menjadi roda penggerak penemuan fakta, pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai (Semiawan, dkk,1986:18). Sebagai guru yang harus profesional di bidangnya,guru IPA dituntut untuk dapat menciptakan strategi atau model pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan mudah

2

dipahami sehingga tercipta iklim belajar yang kondusif, membangkitkan motivasi, inovasi dan kreativitas peserta didik untuk terus belajar. Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”. Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat dipahamkan bahwa hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu: 1. sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended; 2. proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; 3. produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; 4. aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sementara itu penulis menyadari ,pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya: (1) memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai besaran fisis, (2) menanamkan pada peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah, (3) latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar fisika, yaitu sebagai penerapan fisika pada masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa alam, (4) memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah. Namun guru harus menyadari juga akan ketiadaan peralatan urgen seperti alat-alat ukur ,yang seharusnya tidak boleh diabaikan. Kondisi nyata yang dihadapi penulis, dimana lingkungan di luar sekolah - siswa mengenali ICT dengan kemajuan teknologi yang pesat, sementara di lingkungan sekolah siswa belum mendapatkannya; dalam kondisi inilah guru harus menjembatani ketimpangan sektor kelebihan di luar sekolah terhadap sektor kekurangan

3

di dalam sekolah. Sehingga penulis berniat untuk memfasilitasi kegiatan siswa yang amat mendasar seperti melaksanakan eksperimen-eksperimen fisika untuk mendukung pemahaman konsep dasar fisika seperti wujud zat, aliran kalor, atau gerak lurus, mengingat hasil pembelajaran fisika selama ini terkesan tidak kontekstual, bahkan siswa cenderung memahami konsep fisika dengan cara “hafal cangkem”, bila ada persoalan /permasalahan sesungguhnya – maka bingunglah mereka. Untuk hal inilah, penulis berkeinginan untuk meneliti Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah dalam Pembelajaran Fisika sebagai Model Inovasi untuk Meningkatkan Prestasi Siswa Kelas VII A RSBI di SMPN 1 Cimahi B. Rumusan Masalah. Pada proses pembelajaran fisika di smester 1, prestasi siswa kelas VII A RSBI kurang menggembirakan, hal ini terlihat dari hasil nilai fisika siswa yang masih ada di bawah standar kriteria ketuntasan minimal. Siswa kebanyakan masih sulit untuk memecahkan persoalan fisika yang ada kaitannya dengan kehidupan mereka secara nyata. Sementara itu, terdapat paradigma baru bahwa metode Problem Base Instruction (Pembelajaran Berdasarkan Masalah) adalah sebuah metode yang cocok untuk pembelajaran fisika khususnya agar siswa terampil menghadapi persoalan kontekstual di dalam kehidupan mereka. Untuk itu, penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut : Apakah siswa. C. Tujuan Penelitian. Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah metode PBI dapat menaikkan prestasi fisika siswa. D. Manfaat Penelitian. Kontribusi yang ingin dicapai adalah bertambahnya wawasan pengetahuan dalam bidang pendidikan, khususnya dalam pembelajaran fisika, serta dapat diaplikasikan secara praktis untuk kelas-kelas regular, sehingga inovasi pembelajaran PBI ini dapat dipraktekkan pula untuk tingkatan kelas lainnya. pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan prestasi hasil belajar

4

BAB II LANDASAN TEORI Secara garis besar PBI menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Peranan guru dalam PBI adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan dan dialog siswa, serta mendukung belajar siswa. PBI diorganisasikan di sekitar situasi kehidupan nyata yang menghindari jawaban sederhana dan mengundang berbagai pemecahan yang bersaing. A. CIRI-CIRI PENGAJARAN BERDASARKAN MASALAH Di bawah ini adalah beberapa ciri khusus PBI yang telah dikembangkan oleh berbagai pakar pengajaran : a. Pengajuan pertanyaan atau masalah PBI bukan untuk mengatur prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Metode ini mengajukan situasi kehidupan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin Meskipun PBI mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. Sebagai contoh, masalah perpindahan kalor mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti fisika, ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan pemerintahan. c. Penyelidikan autentik PBI mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan. Sudah barang tentu, metode penyelidikan yang digunakan, bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari.

5

d.

Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. PBI menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau

artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video, maupun program komputer. Karya nyata dan peragaan direncanakan oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah. e. Kerja-sama Seperti halnya model pembelajaran kooperatif, PBI dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir. B. LANDASAN TEORITIK Model pengajaran ini sangat efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat tinggi, membantu siswa memproses informasi yang telah dimilikinya, dan membantu siswa membangun sendiri pengetahuannya tentang dunia sosial dan fisik di sekelilingnya. Pengajaran berdasarkan permasalahan bertumpu pada psikologi kognitif dan pandangan para konstruktivis mengenai belajar. Model pengajaran ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsipprinsip CTL, yaitu inquiri, konstruktivisme, dan menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi. Pembelajaran langsung memperoleh dukungan teoritisnya dari psikologi perilaku dan teori pembelajaran sosial. Guru menggunakan pembelajaran langsung terutama menyandarkan pada stimuli eksternal seperti penguatan untuk menjaga agar siswa tetap bekerjasama dan untuk menjaga agar mereka tetap terlibat dalam tugas-tugas akademik. Peran guru pada pelajaran dengan pembelajaran langsung terutama terdiri dari presentasi informasi kepada siswa dan pemodelan keterampilan tertentu dengan jelas dan efisien. Pengajaran berdasarkan masalah di lain fihak berlandaskan pada psikologi kognitif sebagai pendukung teorinya. Fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa (perilaku mereka), melainkan kepada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka) pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Walaupun peran guru pada pengajaran berdasarkan masalah kadang melibatkan presentasi dan menjelaskan sesuatu hal kepada siswa, namun yang lebih lazim adalah berperan sebagai

6

pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berpikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri. Melatih siswa berpikir, memecahkan masalah, dan menjadi pebelajar yang mandiri bukan hal baru dalam pendidikan. Strategi pengajaran seperti pembelajaran discovery, latihan inkuiri, dan pengajaran induktif mempunyai sejarah dan prestise panjang. Metoda sokratik, kembali ke zaman Yunani awal, menekankan pentingnya penalaran induktif dan dialog dalam proses belajar-mengajar. John Dewey memerikan agak rinci pentingnya apa yang disebut berpikir reflektif, dan proses yang seharusnya digunakan guru untuk membantu siswa menerapkan keterampilan berpikir produktif dan keterampilan proses. Jerome Bruner menekankan pentingnya pembelajaran discovery dan bagaimana guru seharusnya membantu siswa menjadi “pembangun” pengetahuan mereka sendiri. Untuk tujuan pembahasan ini, pembelajaran berdasarkan masalah akan ditelusuri melalui tiga aliran pikiran utama abad kedua puluh. 1. Dewey dan Kelas Demokratis Seperti pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berdasarkan masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey. Dalam menggambarkan suatu pandangan tentang Demokrasi dan Pendidikan, Dewey dimana sekolah seharusnya pendidikan

mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan yang nyata. Ilmu mendidik Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Dewey dan sejawatnya seperti Kill Patrick mengemukakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya lebih memiliki manfaat daripada abstrak, dan pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan pilihan mereka sendiri. Visi pembelajaran yang berdaya guna atau berpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan bawaan siswa untuk menyelidiki secara pribadi situasi yang bermakna secara jelas menghubungkan PBI kontemporer dengan filosofi pendidikan dan pedagogi Dewey. "From the standpoint of the child, the great waste in school comes from his inability to utilize the experience he gets outside while on the other hand he is unable to apply in daily life what he is learning in school. That is the isolation of the school - its isolation from life." (John Dewey, 1916) 2. Piaget, Vygotsky, dan Konstruktivisme

7

Sementara Dewey memberikan dasar filofofis untuk PBI, psikologi abad dua puluh telah banyak memberikan dukungan teoretis. Ahli psikologi Eropa Jean Piget dan Lev Vygotsky merupakan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme dan di atas konsep inilah PBI kontemporer diletakkan. Jean Piaget (1886-1980) seorang ahli psikologi Swiss, selama 50 tahun lebih mempelajari bagaimana anak berpikir dan proses-proses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual. Dalam penjelasan tentang bagaimana perkembangan intelektual pada anak kecil, Piaget menegaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus-menerus berusaha memahami dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahu ini, menurut Piaget, memotivasi mereka untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh semakin dewasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Sementara itu pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka, memotivasi mereka untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu. Pandangan konstruktivis-kognitif ,dimana PBI dikembangkan, banyak didasarkan pada teori Piaget. Pandangan ini, seperti halnya pandangan Piaget, mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Menurut Piaget, pedagogi yang baik harus melibatkan pemberian anak dengan situasi-situasi di mana anak itu mandiri melakukan eksperimen, dalam arti paling luas dari istilah itu – mencoba segala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda, memanipulasi simbol, mengajukan pertanyaan, dan menemukan sendiri jawabannya, mencocokkan apa yang ia temukan pada suatu saat dengan apa yang ia temukan pada saat yang lain, membandingkan temuannya dengan temuan anak lain. Lev Vygotsky (1896-1934) seorang ahli psikologi Rusia, memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Satu ide kunci yang berkembang dari ide Vygotsky tentang aspek sosial belajar adalah konsepnya tentang zone of proximal development. Menurut Vygotsky, siswa mempunyai dua

8

tingkat perkembangan : tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual didefinisikan sebagai pemfungsian intelektual individu saat ini dan kemampuan untuk belajar sesuatu yang khusus atas kemampuannya sendiri. Individuindividu juga mempunyai tingkat perkembangan potensial, dimana Vygotsky mendefinisikan sebagai tingkat seseorang individu dapat memfungsikan atau mencapai tingkat itu dengan bantuan orang lain, seperti guru, orangtua, atau teman sejawat yang kemampuannya lebih tinggi. Zona antara tingkat perkembangan aktual siswa dan tingkat perkembangan potensial disebut zona perkembangan terdekat, yaitu tingkat perkembangan sedikit di atas perkembangan seseorang saat ini. Fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. 3. Bruner dan Pembelajaran Penemuan Jerome Bruner, seorang ahli psikologi Amerika adalah seorang pelopor era reformasi kurikulum tahun 1950-an dan 1960-an. Dia dan koleganya menyediakan teori pendukung penting yang kemudian dikenal sebagai pembelajaran penemuan, suatu model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan suatu keyakinan bahwa pembelajaran yang sebenarnya terjadi melalui penemuan pribadi. Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa, juga menciptakan kemungkinankemungkinan untuk penemuan siswa. Ketika pembelajaran penemuan diterapkan dalam sains dan ilmu-ilmu sosial, pembelajaran ini menekankan penalaran induktif dan proses-proses inkuiri yang merupakan contoh metode ilmiah. Richard Suchman mengembangkan suatu pendekatan yang disebut latihan inkuiri. Ketika menggunakan pendekatan Suchman, guru menyajikan siswa situasi teka-teki atau kejadian-kejadian yang tak terduga yang dimaksudkan untuk memancing rasa ingin tahu dan memotivasi penyelidikan. 4. Berpusat pada Siswa Manfaat dari fokus pada bagaimana siswa belajar seperti ditunjukkan pada teori pembelajaran membantu kita menertibkan pilihan-pilihan beragam metoda pembelajaran yang semula terkesan riuh. Lihat gambar berikut. Perhatikan banyaknya kemungkinan strategi pembelajaran yang

9

sedang diperdebatkan di lingkungan pendidikan maupun media, seringkali menutupi fokus utama yang ditunjukkan di tengah gambar yaitu bagaimana siswa belajar, yang ternyata membutuhkan secara bergantian seluruh metode yang diperdebatkan.

Gambar di atas melukiskan penertiban

keriuhan ini dalam format

diagram : pembelajaran berbasis ceramah (lecture), pembelajaran berbasis teks, pembelajaran berbasis inkuiri, pembelajaran dengan teknologi-maju,

10

pembelajaran berbasis individu atau kelompok kooperatif, dan sebagainya. Apakah beberapa teknik pembelajaran ini lebih baik dibanding yang lain? Apakah ceramah merupakan cara pembelajaran yang buruk, seperti dikesankan belakangan ini? Apakah pembelajaran kooperatif efektif? Apakah upaya memanfaatkan penggunaan komputer membantu kemajuan siswa, atau sebaliknya menghambat? Sejumlah literatur menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut salah. Bertanya teknik pembelajaran mana yang terbaik dapat dianalogikan dengan bertanya alat manakah yang terbaik – palu, obeng, pisau, atau tang. Dalam pembelajaran seperti dalam pertukangan kayu, pemilihan alat bergantung kepada tugas yang sedang dikerjakan dan bahan apa yang akan dikerjakan. Buku dan ceramah bisa saja merupakan metode yang sangat efektif dalam meneruskan informasi baru untuk pembelajaran, menggugah imajinasi, dan mengasah sikap kritis siswa – tetapi guru harus mencari bentuk kegiatan pembelajaran lain untuk menggali pemahaman-awal (pra-konsepsi) dan tingkat pemahaman siswa, atau untuk membantu siswa mengenal kekuatan strategi meta-kognitif untuk memonitor proses belajar mereka sendiri. Sebuah eksperimen dapat menjadi sebuah cara untuk mengasah pengetahuan yang sedang terbentuk, tetapi eksperimen bukanlah satu-satunya membangun pemahaman konseptual yang membantu siswa melakukan penarikan kesimpulan umum. Tidak ada praktek pembelajaran universal terbaik. Sebaliknya, jika titik tolaknya adalah suatu kumpulan inti pirinsip-prinsip belajar, maka pemilihan strategi belajar (yang dibedakan berdasarkan jenis matapelajaran, tingkat/kelas/, dan dampak belajar yang diinginkan) akan menjadi pilihan yang lebih tepat. Begitu banyaknya peluang merupakan sederetan kesempatan dimana seorang guru dapat menyusun sebuah program instruksional, bukan sekedar suatu perlombaan yang tidak jelas dari berbagai alternatif metode pembelajaran. Dari gambar di atas, dapat diperlihatkan bahwa PBI adalah bagian dari pembelajaran berbasis inkuiri yang meliputi pembelajaran berbasis kasus, berbasis proyek, berbasis masalah, dan pembelajaran dengan desain. 11

C. TUJUAN BELAJAR SISWA PBI tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. PBI utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Ketiga tujuan tersebut diuraikan di bawah ini. a. Keterampilan Berpikir Dan Keterampilan Pemecahan Masalah Berbagai macam ide telah digunakan untuk memerikan cara seseorang berpikir. Tetapi, apa sebenarnya yang terlibat dalam proses berpikir ? Apakah keterampilan berpikir itu dan terutama apakah keterampilan berpikir tingkat tinggi ? Kebanyakan definisi yang telah dikemukakan memerikan proses-proses intelektual abstrak antara lain sebagai berikut : ● Berpikir adalah proses yang melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalaran. ● Berpikir adalah proses secara simbolik menyatakan (melalui bahasa) obyek nyata dan kejadian-kejadian dan penggunaan pernyataan simbolik itu untuk menemukan prinsipprinsip esensial tentang obyek dan kejadian itu. Pernyataan simbolik (abstrak) seperti itu biasanya berbeda dengan operasi mental yang didasarkan pada tingkat kongkret dari fakta dan kasus khusus. ● Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang saksama. Kebanyakan pernyataan mutakhir tentang berpikir memaklumi bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah tidak sama dengan keterampilan yang berhubungan dengan pola-pola tingkah laku rutin. Mereka menekankan (meskipun definisi yang tepat tentang keterampilan berpikir tingkat tinggi tidak selalu dapat ditemukan), bahwa kita mengenali berpikir semacam itu bila kita menyaksikan keterampilan itu di dalam operasi. Lebih jauh, berpikir tingkat tinggi, tidak seperti tingkah laku lebih kongkrit, adalah kompleks dan tidak mudah direduksi menjadi rutin. Perhatikan pernyataan berikut yang diajukan oleh Lauren Resnick tentang apa yang ia tetapkan sebagai berpikir tingkat tinggi.

12

● Berpikir tingkat tinggi adalah non-algorithmik, yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat ditetapkan sebelumnya. ● Berpikir tingkat tinggi cenderung kompleks. Keseluruhan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudut pandang. ● Berpikir tingkat tinggi seringkali menghasilkan banyak solusi, masing-masing dengan keuntungan kerugian, daripada solusi tunggal. ● Berpikir tingkat tinggi melibatkan pertimbangan dan interpretasi. ● Berpikir tingkat tinggi melibatkan penerapan banyak kriteria, yang kadang-kadang bertentangan satu dengan lainnya. ● Berpikir tingkat tinggi seringkali melibatkan ketidakpastian. Tidak segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas diketahui. ● Berpikir tingkat tinggi melibatkan pengaturan diri tentang proses berpikir. Kita tidak mengakui sebagai berpikir tingkat tinggi pada seseorang jika ada orang lain membantu pada setiap tahap. ● Berpikir tingkat tinggi melibatkan pencarian makna, menemukan struktur pada keadaan yang tampaknya tidak teratur. ● Berpikir tingkat tinggi adalah kerja keras. Ada pengerahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangan yang dibutuhkan. Perlu dicatat bahwa Resnick menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti pertimbangan, pengaturan diri, pencarian makna, dan ketidakpastian. Jelas proses berpikir dan keterampilan berpikir yang perlu diaktifkan adalah sangat kompleks. Resnick juga menekankan pentingnya konteks atau keterkaitan pada saat berpikir tentang berpikir. Yaitu, meskipun proses berpikir memiliki beberapa kesamaan antar situasi, proses itu juga bervariasi bergantung kepada apa yang dipikirkan seseorang. Sebagai contoh, proses yang kita gunakan untuk memikirkan tentang matematika berbeda dengan proses yang kita gunakan untuk memikirkan tentang puisi. Proses berpikir yang digunakan untuk memikirkan ide abstrak berbeda dengan yang digunakan untuk memikirkan tentang situasi kehidupan nyata. Karena hakekat kekomplekan dan konteks dari keterampilan berpikir tingkat tinggi, keterampilan itu tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan ide dan keterampilan yang lebih kongkrit. 13

Ketrampilan proses dan berpikir tingkat tinggi bagaimanapun juga, jelas dapat diajarkan, dan kebanyakan program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan ini amat mendasarkan pada pendekatan yang serupa dengan PBI. b. Pemodelan Peranan Orang Dewasa Resnick juga memberikan rasionalisasi tentang bagaimana PBI membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar pentingnya peran orang dewasa. Resnick memerikan bagaimana pembelajaran sekolah, dipahami secara tradisional, berbeda dalam 4 (empat) hal penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah. Keempat hal tersebut dipaparkan sebagai berikut ini. ● Pembelajaran di sekolah berpusat pada kinerja siswa secara individual, sementara di luar sekolah kerja mental melibatkan kerja sama dengan orang lain. ● Pembelajaran di sekolah terpusat pada proses berpikir tanpa bantuan, sementara aktivitas mental di luar sekolah selalu melibatkan alat-alat kognitif seperti komputer, kalkulator, dan instrumen ilmiah lainnya. ● Pembelajaran di sekolah mengembangkan berpikir simbolik berkaitan dengan situasi hipotesis, sementara aktivitas mental di luar sekolah menghadapkan masing-masing individu secara langsung dengan benda dan situasi yang kongkrit dan nyata. ● Pembelajaran di sekolah memusatkan pada keterampilan umum (membaca, menulis, menghitung) dan pengetahuan umum (sejarah dunia, unsur-unsur kimia), sementara berpikir situasi khusus seperti membeli atau menyewa mobil baru mendominasi aktivitas mental di luar sekolah. Pandangan Resnick tersebut memberi alasan yang kuat untuk PBI. Dia mengemukakan bahwa bentuk pembelajaran ini penting untuk menjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah.Catatan bagaimana pengajaran PBI sesuai dengan aktivitas mental di luar sekolah adalah : ● PBI mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas. ● PBI memiliki elemen-elemen belajar magang. Hal tersebut mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lainnya, sehingga secara bertahap siswa dapat memahami peran yang diamati tersebut (ilmuwan, guru, dokter, seniman, atau ahli sejarah, dan sebagainya). 14

● PBI melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena itu. c. Pebelajar yang Otonom dan Mandiri Akhirnya PBI berusaha membantu siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan otonom. Dengan bimbingan guru yang secara berulang-ulang mendorong dan mengarahkan mereka untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri, siswa belajar untuk menyelesaikan tugas-tugas itu secara mandiri dalam hidupnya kelak. Untuk mencapai tujuan belajar siswa, pustaka 4 menyajikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan PBI seperti diuraikan berikut ini: I. Cara-cara untuk Menjadi Fasilitator PBI yang Baik a. b. c. d. e. f. g. h. i. Berminat dan antusias Lupakan untuk berceramah di kelas Mentolerir suasana sunyi kelas Buatlah siswa saling berbicara diantara mereka dan bukan kepada Anda Pastikan bahwa kelas menyetujui pokok bahasan sebelum pertemuan berkahir Dorong penggunaan sumber-sumber informasi yang akurat pada saat siswa meneliti pokok bahasan mereka Ingatlah ada tujuan pembelajaran dari kasus dan matapelajaran Ciptakan lingkunan belajar yang di dalam kelas Jadilah diri Anda sendiri

II. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi PBI : a. b. Faktor-faktor filosofis Memahami prinsip-prinsip filosofis yang mendasari PBI Memiliki komitmen terhadap filosofi PBI Faktor-faktor desain Desain kurikulum menyeluruh Masalah yang didesain dengan baik Asesmen yang seuai dengan PBI dan disiplin/profesi tertentu yang terkait 15

c. d. -

Waktu belajar bebas yang terjadwal Faktor-faktor bimbingan PBI Ukuran kelompok kecil Pergantian peran dapat diterima secara realistik Keterampilan membimbing yang efektif Kemampuan untuk memodelkan keterampilan proses Kesempatan yang cukup bagi siswa untuk memperoleh umpan balik Faktor induksi guru dan siswa Penerimaan pentingnya induksi siswa ke PBI dan bahwa siswa mempunyai waktu cukup untuk mengembangkan keterampilan proses PBI dan mungkin perlu mengganti asumsi-asumsi mereka tentang pembelajaran

e. -

Pengembangan yang kuat pada guru yang sesuai/pantas Faktor-faktor manajemen Pendekatan yang realistik dan pragmatis Dukungan kelembagaan dan manajemen sekolah Dukungan koordinator dan administrasi PBI

D. TINGKAH LAKU MENGAJAR (SINTAKS) PBI biasanya terdiri dari 5 (lima) tahap utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Jika jangkauan masalahnya tidak terlalu kompleks, maka kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam waktu dua sampai tiga kali pertemuan. Namun untuk masalah-masalah yang kompleks mungkin akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya. Kelima tahapan tersebut disajikan pada Tabel berikut.

16

Tabel Sintaks Model Pengajaran Berdasarkan Permasalahan FASE - FASE Fase 1 Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Fase 2 Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan Fase 3 Membimbing pelatihan Fase 4 Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Fase 5 Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan PERILAKU GURU Menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar Mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik. Mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari

E. LINGKUNGAN BELAJAR DAN SISTEM PENGELOLAAN Tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur secara ketat yang dibutuhkan untuk pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil pada pembelajaran kooperatif, lingkungan belajar dan sistem manajemen pada PBI dicirikan oleh : terbuka, proses demokrasi, dan peranan siswa aktif. Dalam kenyataan, keseluruhan proses membantu siswa untuk menjadi mandiri, siswa yang otonom yang percaya pada keterampilan intelektual mereka sendiri memerlukan keterlibatan aktif dalam lingkungan berorientasi inkuiri yang aman secara intelektual. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran PBI yang terstruktur dan dapat diprediksi, norma disekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Lingkungan belajar menekankan pada peranan sentral siswa bukan guru.

17

F. Hipotesis Tindakan Berdasarkan uraian dari pemahaman metode PBI, siswa diharapkan dapat melaksanakan pembelajaran fisika dengan suasana yang menyenangkan. Peneliti mengharapkan kemampuan presentasi siswa meningkat, meski kelas RSBI diharapkan menggunakan bahasa presentasi dengan

18

bahasa Inggris. Siswa diharapkan juga dapat menyelesaikan proyek mereka, dimana sistem teknologi informatika seperti komputer dan internet harus mereka gunakan. Sehingga peneliti menyusun hipotesis sebagai berikut : Jika Metode PBI diterapkan pada pelajaran fisika di kelas VII A RSBI, prestasi fisika siswa akan meningkat.

19

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan metoda penelitian tindakan sekolah, yaitu metoda penelitian yang dilakukan di dalam kelas untuk melakukan perbaikan dan pengamatan kemampuan belajar siswa kelas VII A RSBI SMPN 1 Cimahi B. Subjek dan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah di SMP Negeri 1 Cimahi. Penetapkan lokasi di sekolah tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa peneliti bertugas sebagai guru IPA- fisika di sekolah tersebut, sehingga diperkirakan akan memperoleh kemudahan untuk mendapat akses dalam pelaksanaan penelitian. Subjek penelitian pada kesempatan ini adalah siswa kelas VII A RSBI tahun ajaran 2010 - 2011. C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Prosedur pelaksanaan penelitian dapat digambarkan secara skema sebagai berikut :

Gambar 3.1 S kema Prosedur Penelitian

20

1. Tahap Orientasi a. Menentukan / Identifikasi Permasalahan dan Fokus Permasalahan. Permasalahan penelitian merupakan suatu kondisi yang tidak diharapkan keberadaannya dalam proses pembelajaran. Permasalahan tersebut merupakan temuan yang dapat dijadikan sebagai permasalahan dalam penelitian. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi permasalahan yang disusul dengan penyusunan kerangka pemikiran dan menyusun hipotesis awal guna mendapatkan gambaran sementara untuk melakukan pelaksanaan penelitian dalam mengatasi masalah yang telah diperoleh. b. Perencanaan Tindakan. 1) Tahap Persiapan, meliputi : • • • Mengidentifikasi permasalahan,mengumpulkan data pendukung berupa data Menyusun kuesioner untuk diisi oleh siswa Menyusun daftar hadir dan alat-alat dokumentasi primer dan data sekunder

2) Implementasi Kegiatan, meliputi : a. Inventarisir program kegiatan. Kegiatan ini dilakukan dengan cara menginventarisir konsep-konsep kalor dan gerak lurus dimana diharapkan siswa memperoleh konsep ini berawal dari guru kemudian secara mandiri melalui permasalahan dikehidupan sehari-hari dan bersifat kontekstual, kegiatan ini adalah : Siklus 1 Hasil Belajar Mampu mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta mendeskripsikan penerapan kalor dalam kehidupan sehari-hari Kegiatan Siswa Project Based Learning

Pembelajaran Direct • Demo Eksperimen Instruction yang lebih konduksi dan konveksi bersifat teacher centre, pada udara. dengan target siswa mampu • Demo Eksperimen pompa menjelaskan peran kalor dan balon otomatis penerapannya dalam • Demo Eksperimen kehidupan sehari-hari. popcorn

21

2

a.Mampu mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta mendeskripsikan penerapan kalor dalam kehidupan sehari-hari

Pembelajaran PBI, dengan target siswa dapat menganalisa hasil eksperimen

• Eksperimen meriam semprot • Eksperimen efek panas pada logam • Eksplorasi The Jungle • Membuat kalorimeter sendiri. • Berjalan di atas bara api

b. Mampu menganalisis data percobaan gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran PBI, dengan • Eksperimen GLB dan target siswa dapat GLBB menggunakan menganalisa hasil ticker timer. eksperimen GLB dan GLBB. • Eksperimen Gerak Jatuh Bebas

b. Menyiapkan Lembar Kegiatan Siswa. Lembar kegiatan merupakan tuntunan kegiatan yang dilakukan siswa pada proses pembelajaran,terutama berisi langkah-langkah tuntunan eksperimen yang disesuaikan dengan jenis kegiatan siswa (bentuk LKS terlampir). c. Pembuatan Rencana Program Pembelajaran (RPP). Pembuatan Rencana Program Pembelajaran mengacu pada format penyusunan RPP yang umumnya berlaku sesuai standar Depdiknas, atau sesuai RPP hasil penataran (bentuk RPP terlampir). d. Menyiapkan alat dan bahan perlengkapan pembelajaran. Guru menyiapkan semua bahan-bahan dan perlengkapan yang diperlukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Bahan dan perlengkapan yang disediakan adalah semua bahan dan

22

perlengkapan yang berbentuk penunjang kegiatan eksperimen, termasuk computer (note book), ataupun LCD bila tersedia. e. Menyiapkan alat penilaian. Alat-alat evaluasi dalam pembelajaran ini adalah : 1) Piranti evaluasi ketrampilan penggunaan alat-alat eksperimen. Untuk mengukur kompetensi siswa dalam menggunakan alat-alat eksperimen dan alat bantu presentasi, dilakukan melalui pengukuran ketrampilan mengoperasionalkan alat-alat tersebut, termasuk mengoperasikan internet. Skala ukur yang digunakan meliputi : B = baik , S = sedang , C = cukup dan K = kurang. Tabel.1 Evaluasi ketrampilan penggunaan alat-alat eksperimen dan alat bantu presentasi. Kelompok Penggunaan alat ukur kalor B S C K Merangkai alat-alat B S C K B Penggunaan komputer S C K

I II III IV V VI

2) Piranti evaluasi tingkat partisipasi siswa dalam diskusi dan analisa data. Untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan diskusi kelompok dan analisa data, dilakukan pengukuran dengan menggunakan skala : A = aktif, S = sedang, C = cukup, dan K = kurang.

23

Tabel 2. Evaluasi tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan diskusi Kelompok I II III IV V VI A S C K Keterangan

3. Piranti Skala Sikap. Piranti evaluasi untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran yang menunjukkan kreatifitas siswa, menggunakan pengukuran dengan skala SM = sangat memuaskan, M = memuaskan, CM = cukup memuaskan dan KM = kurang memuaskan. Observer dapat menilai sikap siswa melalui kedalaman bahan presentasi yang disajikan oleh siswa, jumlah dan ragam sumber pembelajaran yang diambil dari file internet, dan cara penyajian presentasi yang dilakukan. Tabel 3. Piranti skala sikap. Kelompok SM I II III IV V VI Siklus Ke 1 M CM Siklus Ke 2 M CM

KM

SM

KM

4. Piranti evaluasi hasil belajar siswa.

24

Piranti evaluasi untuk mengukur perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan setelah menggunakan PBI dilakukan dengan menggunakan perangkat soal dalam bentuk pilihan ganda 4 pilihan (bentuk piranti evaluasi terlampir). Tabel 4. Piranti evaluasi rata-rata hasil belajar siswa. Nama Rata-rata hasil belajar siklus 1 siklus 2 keterangan

3) Tahap Pemantauan dan Evaluasi, meliputi : • Mencatat semua kelemahan dan kekurangan • Mencatat semua kendala yang timbul dalam menanggulangi kelemahan dan kekurangan 4) Tahap Analisis dan Refleksi • • Merancang kegiatan untuk menyelesaikan permasalahan yang ditemui Mengantisipasi adanya masalah yang timbul dengan penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaannya. • Menindaklanjuti tindakan yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan belajar siswa didalam proses PBI.

2. Pelaksanaan Tindakan

25

Setelah persiapan lapangan dan instrumen yang dibutuhkan tersedia, pelaksanaan tindakan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah dalam pembelajaran fisika sebagai model inovasi untuk meningkatkan prestasi siswa kelas VII A RSBI, dilakukan sebanyak 2 siklus, pada setiap siklus terdiri atas tahap-tahap berikut : a. Perencanaan, yaitu merencanakan dan mempersiapkan kegiatan pembelajaran berdasarkan masalah dalam pembelajaran fisika beserta instrumen yang dibutuhkan. b. Pelaksanaan Tindakan Kelas, yaitu kegiatan proses belajar mengajar secara DI dan PBI antara peneliti dengan para siswa kelas VII A, sehingga terjadi interaksi antara siswa dengan siswa , juga antara guru dengan siswa. c. Pengamatan, yaitu pengamatan secara langsung dari peneliti terhadap aktivitas para siswa sebagai subjek bimbingan. Dengan menggunakan lembar pengamatan peneliti mengamati pelaksanaan proses pembelajaran siswa sesuai dengan kompetensi dasar di tingkat yang sesuai. d. Refleksi, yaitu kegiatan dalam usaha perbaikan untuk pertemuan kegiatan selanjutnya,dari evaluasi kekurangan pertemuan sebelumnya. Perbaikan ini bertitik tolak dari hasil pengamatan dan hasil diskusi yang dilakukan oleh peneliti dengan guru-guru observer yang membantu peneliti. Perbaikan ini dapat dilihat dalam persiapan dan perencanaan pembelajaran berikutnya.

Hal-hal yang direncanakan dalam penelitian ini terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan materi pembelajaran. Maka penulis membuat perencanaan ulang (replanning) untuk setiap perencanaan khusus. • Siklus Pertama. Fenomena peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dipelajari oleh siswa secara DI (direct instruction). Konsep ini dipelajari dengan alokasi waktu 8 x 45 menit untuk pengamatan-pengamatan yang meliputi : 1. Eksperimen konduksi dan konveksi pada udara, eksperimen pompa balon otomatis, eksperimen popcorn, eksperimen meriam semprot, mula-mula diawali oleh guru; guru

26

mendemonstrasikan di depan siswa. Seluruh eksperimen dijelaskan oleh guru, guru banyak bertanya, siswa diminta aktif untuk menjawab, pembelajaran ini dikenal dengan pembelajaran direct instruction. 2.Seluruh pengamatan yang erat kaitannya dengan tsb, kehidupan hasilnya siswa

dipresentasikan

oleh guru , lalu setiap kelompok siswa diminta untuk kembali fisika tersusun ini menjelaskan sampai konsep benar-benar oleh siswa

kembali , guru berperan sebagai sumber. • Siklus kedua. Eksperimen efek panas pada logam, eksplorasi The Jungle, membuat kalorimeter sendiri, berjalan di atas bara api, Fenomena Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan

(GLBB) , dilakukan melalui proses pembelajaran problem based instruction (pembelajaran berdasarkan masalah), yang menekankan pada kemampuan psikomotor siswa. Konsep gerak

27

ini dimasukkan dalam siklus kedua yang membutuhkan alokasi waktu 8 x 45 menit, untuk pengamatan dan pembuatan proyek yang meliputi : 1) Eksperimen efek panas pada logam, eksplorasi The Jungle, membuat kalorimeter sendiri, berjalan di atas bara api, yang semuanya tercakup dalam materi kalor. 2) Pengamatan benda yang bergerak lurus beraturan dan mengetahui grafik hubungan kecepatan terhadap waktu. Dalam kegiatan ini siswa diminta mengatur sendiri konsep eksperimennya, merencanakan dan melaksanakannya, serta memberi kesimpulan terhadap grafik temuan mereka sendiri, serta diminta untuk mempresentasikan hasil temuan mereka. 3)Pengamatan gerak lurus berubah dilaksanakan beraturan dengan

bahan dan alat yang hampir sama dengan

pengamatan gerak lurus beraturan, dimana

perbedaannya – siswa akan memperoleh grafik V terhadap t yang

menghasilkan percepatan gerak benda. Karena tingkat kesulitan eksperimen ini cukup tinggi, maka waktu eksperimen tidak terlalu dibatasi,sehingga siswa dapat melakukan pengamatan berkali-kali.

28

d. Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan tindakan kelas dengan teknik : a. (Observasi), Pengamatan observasi dilakukan oleh peneliti dan dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan untuk memperoleh data aktivitas siswa dalam kelompok sekaligus mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam kegiatan belajar mengajar, serta untuk memperoleh data kemampuan siswa dalam proses pembelajaran PBI. b.Evaluasi, dilakukan terhadap hasil kerja siswa dalam proses pembelajaran secara keseluruhan untuk menilai kelengkapan, sistematik dan sistematis dari hasil belajar siswa. Aspek yang dievaluasi merupakan seluruh aspek yang dilakukan oleh siswa dalam PBI. c. Dokumentasi, merupakan data yang berupa visual foto yang diambil ketika kegiatan berlangsung. E. Analisis Data Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif (Supardi, 2006 : 131). terhadap perolehan hasil kegiatan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah dalam pembelajaran – dianalisis secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Semua data dianalisis mulai dari siklus satu dan siklus dua untuk dibandingkan dengan teknik deskriptif persentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan penelitian

29

tabel kriteria deskriptif persentase , yang dikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang. Tabel 3.1 Klasifikasi Kategori Tingkatan dan Persentase Kriteria Nilai Baik Sekali 86 – 100 Baik 71 – 85 Cukup 56 – 70 Kurang 41 – 55 Sangat Kurang < 40 (sumber : Depdiknas, 2006 : 4) Penafsiran Kemampuan Baik Sekali Kemampuan Baik Kemampuan Cukup Kemampuan Kurang Kemampuan Kurang Sekali

Hasil observasi dianalisis menggunakan teknik deskriptif – kualitatif yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat, dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

30

A. Hasil Penelitian 1. Tahap Orientasi Sebelum pelaksanaan tindakan berlangsung, dilakukan observasi awal yang merupakan tahap orientasi untuk mengetahui kondisi dan situasi siswa dalam pembelajaran IPA - fisika, dimana sebenarnya penulis sudah memahami kondisi ini cukup lama, serta catatan-catatan yang merupakan kekurangan –kekurangan dalam proses pembelajaran yang dilakukan siswa. Adapun temuan yang menjadi catatan yang harus diperbaiki pada kegiatan pembelajaran di kelas, yaitu : Tabel 4.1 Hasil Observasi Awal Temuan Masalah Dampak yang ditimbulkan Pada kegiatan Pendahuluan Tidak tercapai tujuan yang siswa kurang aktif seharusnya dalam menanggapi pertanyaanpelaksanaan pembelajaran pertanyaan dari guru serta arah pembelajaran siswa tidak tentu Dalam kegiatan inti, siswa Pelaksanaan kegiatan masih terlihat bingung, pembelajaran terlalu tidak semangat, kurang teacher centre, siswa aktif ketika guru melakukan cenderung tidak menguasai pembelajaran DI (direct konsep, dan jenuh. instruction) Pada kegiatan Siswa tidak memperoleh penutup,perencanaan tindak kesiapan psikis dan mental lanjut remedial,program untuk kegiatan pengayaan,layanan pembelajaran berikutnya. konseling,memberikan tugas individual/kelompok, siswa semakin jenuh. Pada proses evaluasi, Proses pembelajaran hasilnya tidak mencapai dinyatakan tidak berhasil kriteria ketuntasan minimal

No 1

2

Saran Perbaikan (Refleksi) 1. Peningkatan kemampuan siswa melalui pembelajaran problem based instruction,agar siswa lebih aktif. 2. Pelaksanaan bimbingan belajar dengan cara PBI oleh guru kepada siswa 3. Pengefektifan pembelajaran IPA – fisika melalui proyekproyek PBI.

3

4

2. Tahap Perencanaan Tindakan

31

Untuk melaksanakan tindakan guna memperbaiki kekurangan- kekurangan sesuai temuantemuan di lapangan, peneliti dengan para observer bersepakat untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran PBI, kemudian disusun agenda kegiatannya sebagai berikut : Tabel 4.2 Perencanaan Tindakan Bentuk Tindakan (1) Peneliti dan guru mitra melaksanakan kegiatan eksplorasi,elaborasi dan konfirmasi serta membuat langkahlangkah penyusunan RPP PBI (2) Peneliti dan guru mitra menyusun model RPP yang mengacu pada PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pasal 20 dan Permendiknas No 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. (3) Melakukan pembelajaran DI dan semi PBI (siklus 1) Memperbaiki RPP yang telah disusun bersama pada siklus ke 1 dan membuat model pembelajaran inovasi secara lebih lengkap dan sistematis Peneliti bersama siswa melaksanakan pembelajaran sesuai RPP baru hasil revisi pembelajaran siklus 1, peneliti mengamati pelaksanaan proses pembelajaran tersebut 3. Tahap Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan Tindakan (Implementation of Action) merupakan tindakan untuk

Siklus ke I

Waktu Pelaksanaan Hari Sabtu Tanggal 15 Januari 2011

II

Hari Sabtu Tanggal 22 Januari 2011

Hari Sabtu Tanggal 29 Januari 2008 s/d Maret 201

melaksanakan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah dalam memperbaiki kekurangankekurangan pada pembelajaran fisika yang dilakukan siswa seperti apa yang diperoleh dari temuan tahap orientasi. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus/pertemuan.

32

a. Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus Kesatu Pelaksanaan tindakan siklus I dapat digambarkan sebagai berikut : 1) Perencanaan Tahap perencanaan pada tindakan siklus kesatu ini,adalah mempersiapkan bahan untuk membuat RPP secara lengkap. Bahan-bahan itu diantaranya PP 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, Permendiknas No 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan, Permendiknas No 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian, Permendiknas No 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Buku-buku Materi Pelajaran, Buku-buku Sekolah Elektronik, Buku-buku Sumber Inovasi Pembelajaran, Model contoh Silabus dan RPP versi English dan Indonesian, Alat-alat laboratorium 2) Pelaksanaan dan observasi Seperti apa yang telah dijadwalkan, pada hari Sabtu tanggal 15 Januari 2011,pukul 8.00, peneliti dan para siswa melaksanakan pembelajaran direct intruction (DI) , dengan langkahlangkah sebagai berikut : a) Peneliti dan guru mitra berdiskusi sekitar 15 menit tentang langkah-langkah penyusunan Pembelajaran berdasarkan DI b) Peneliti dan para siswa melaksanakan pembelajaran berdasarkan direct instruction. c) Peneliti melakukan evaluasi dalam proses pembelajaran dengan melakukan observasi yang menghasilkan temuan sebagai berikut : Tabel 4.3 Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus I No Aspek yang Skor Siswa Skor Ideal % diobservasi Pencapaian 1 Mengemukakan 8 27 29,6 pendapat

Kategori Sangat Kurang

33

2 3 4 5

Mengajukan pertanyaan Kerjasama Memecahkan Masalah Menarik Kesimpulan Jumlah Rerata

10 14 13 19 64 12,8

27 27 27 27 135 27

37,0 51,9 48,2 70,4 47,4

Sangat Kurang Kurang Kurang Cukup Kurang

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Tabel.4.4 Hasil Evaluasi Awal Kompetensi Siswa Aspek yang dinilai Skor Skor % Siswa Ideal Kesesuaian Pemahaman konsep 12 27 44,4 Mendengarkan, 18 27 66,7 mencatat, membaca Kesiapan menerima 20 27 74,1 Materi Pelajaran Memberi tanggapan 10 27 37,0 Kerja sama 19 27 70,4 kelompok Bertanya 13 27 48,1 Menjawab 9 27 33,3 pertanyaan Keaktifan 14 27 52,0 Jumlah 115 216 53,2 Rerata 14,4 27

Kategori Kurang Cukup Baik Sangat Kurang Baik Kurang Sangat Kurang Kurang Kurang

Tabel.4.5 Hasil Observasi Proses Pembelajaran Siklus 1 No Aspek Skor Skor % Siswa Ideal Kesesuaian A Pendahuluan 11,8 27 43,5 Kesiapan siswa secara psikis dan 12 27 44,4 fisik untuk mengikuti proses pembelajaran

Kategori Kurang

34

B

C

menjawab pertanyaan yang 8 mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari Memahami tujuan pembelajaran 11 Dapat menerima cakupan materi 16 Kegiatan Inti 67,3 Kemampuan Eksplorasi 32 (5 kegiatan) Kemampuan Elaborasi 85 (9 Kegiatan) Kemampuan Konfirmasi 85 (8 Kegiatan) Penutup 9,6 Dapat Membuat 9 Rangkuman/Simpulan Memperoleh nilai dan atau refleksi 18 secara konsisten dan terprogram Dapat memberikan umpan balik 7 terhadap proses dan hasil belajar Dapat Menerima kegiatan tindak 9 lanjut dan atau dapat menerima tugas baik individual maupun kelompok Memahami rencana pembelajaran 5 pada pertemuan berikutnya Jumlah 297 Rerata 29,6

27 27 27 198 135 243 216 27 27 27 27 27 27 837 27

29,6 40,7 59,3 32,7 23,7 35,0 39,4 35,5 33,3 66,7 25,9 33,3 18,5 37,2

Sangat Kurang Kurang Cukup Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Cukup Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang Sangat Kurang

Kegiatan penerapan PBI pada pembelajaran fisika sebagai model inovasi, dilaksanakan untuk meningkatkan prestasi siswa kelas VII A di SMPN 1 cimahi, seperti terlihat pada hasil evaluasi dan observasi yang dilakukan peneliti dapat terlihat tingkat aktivitas, tingkat kemampuan siswa prestasi belajar fisika, dan tingkat implementasi dari hasil proses belajar yang telah direncanakan sebelumnya pada saat pelaksanaan

pembelajaran terhadap siswa atau peserta didik. Tingkat aktivitas siswa untuk mata pelajaran IPA-fisika di SMP Negeri 1 Cimahi pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus I masih kurang (47,4 %), hal tersebut disebabkan oleh masih kurangnya siswa berperan secara mandiri, pembelajaran masih bersifat teacher centre. 35

Berdasarkan data 4.4 tentang hasil evaluasi awal kompetensi siswa terlihat bahwa pemahaman konsep, usaha mendengar, mencatat,membaca, kesiapan menerima pelajaran, memberi tanggapan, kerjasama kelompok, bertanya dan menjawab, berikut keaktifan siswa masih pada level kurang (53,2 %), hal ini terjadi karena proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa (PBI) belum dimulai, guru masih memberikan contoh-contoh demo yang kurang merangsang minat siswa untuk berbuat melakukan proses pembelajaran. Hasil observasi proses pembelajaran siklus 1 , juga masih kurang (37,2 %). Pembelajaran DI ternyata tidak begitu diminati siswa meski guru sudah mendemonstrasikan beberapa eksperimen. Kemampuan eksplorasi, elaborasi dan kemampuan konfirmasi siswa baik terhadap sesama teman maupun guru masih sulit berkembang, mengingat proses pembelajaran masih dibatasi oleh garis tanya-jawab yang bersumber dari guru. 3) Refleksi Dari hasil temuan observasi dan evaluasi yang dilakukan peneliti pada pelaksanaan tindakan siklus 1 terlihat masih ada kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki untuk pelaksanaan tindakan pada siklus kedua. Sehingga masih perlu dibuat refleksi sebagai bahan perencanaan pada siklus selanjutnya .Adapun refleksi untuk siklus kedua berdasarkan temuan sebelumnya adalah sebagai berikut : Tabel 4.6 Refleksi Siklus I Dampak yang ditimbulkan Kemampuan siswa dalam evaluasi pembelajaran tidak akan meningkat (prestasi siswa stagnan)

Temuan Masalah 1. Aktivitas siswa Masih rendahnya kerjasama antar siswa dalam kegiatan pembelajaran, kurangnya minat untuk bertanya dan mengeluar pendapat dalam pelaksanaan diskusi dan presentase di kelas,serta masih rendahnya

Saran Perbaikan (refleksi) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengeksplorasi diri dalam proses pembelajaran dengan metode PBI, dimana guru hanya berperan sebagai fasilitator.

36

kemampuan siswa dalam memecahkan masalah 2. Kompetensi siswa. Guru mengalami kesulitan dalam membuat indikator,menentukan tujuan pembelajaran,menentukan metoda yang sesuai dengan kondisi dan situasi peserta didik/siswa ,dan kesulitan dalam menyusun langkah-langkah untuk kegiatan pembelajaran

Kompetensi siswa belum tercapai secara tuntas, evaluasi tidak mencapai target KKM (kriteria ketuntasan minimal)

Mempersiapkan metode,teknik, model pembelajaran yang lebih tepat dan cocok, disarankan oleh tim ahli dari LPMP untuk diterapkan pembelajaran berbasis masalah (Problem based instruction)

3. Implementasi Pembelajaran Pembelajaran direct instruction masih kurang sesuai, sehingga berpengaruh terhadap tercapainya kesesuaian pada pengimplementasian metode pembelajaran tsb sesuai dengan yang diharapkan.

Kegiatan pembelajaran kelihatan kurang kondusif dan monoton, serta guru masih mendominasi dalam pelaksanaan pembelajaran

Perbaikan dalam pembuatan RPP ,dan penentuan penggunaan metoda pembelajaran yang menggunakan metoda PBI dengan silabus standar RSBI.

b. Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Siklus Kedua Untuk melaksanakan tindakan siklus 2 maka dilakukan cara sbb : 1) Perencanaan Peneliti dan guru mitra mengadakan diskusi balikan untuk memperbaiki RPP dan melengkapi pembelajaran PBI secara lengkap dan sistematis dan melaksanakan tindakan kedua. Diperoleh kesepakatan sebagai : a) RPP dan pembelajaran dirancang bersama Peneliti dengan guru mitra. b) Dalam membuat indikator Pencapaian Kompetensi menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. c) RPP dan pembelajaran dirancang dengan menggunakan model Problem Based

Instruction.

37

d) Pembelajaran dirancang dengan kegiatan pelajaran dilakukan secara interaktif inspirasi yang menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup baik prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. 2) Pelaksanaan dan observasi Berdasarkan kesepakatan yang telah diputuskan oleh peneliti dan guru mitra pada waktu mengadakan diskusi balik,bahwa peneliti dan guru-guru mitra melaksanakan penyusunan RPP dan perencanaan Pembelajaran, dengan langkah-langkah sbb : a) Peneliti dan guru mitra berdialog tentang kata kerja operasional untuk menentukan indikator pencapaian kompetensi, model problem based learning, Pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan. b) Peneliti dan guru mitra menyusun RPP dan rencana pembelajaran PBI. c) Peneliti kembali melakukan evaluasi dalam penyusunan perencanaan pembelajaran PBI yang dilakukan guru beserta para siswa dengan melakukan observasi dengan hasil

temuan sebagai berikut Tabel 4.7 Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus II No Aspek yang Skor Siswa Skor Ideal % diobservasi Pencapaian 1 Mengemukakan 18 27 66,7 pendapat 2 Mengajukan 21 27 77,8 pertanyaan 3 Kerjasama 24 27 88,9 4 Memecahkan 16 27 59,3 Masalah 5 Menarik Kesimpulan 18 27 66,7 Jumlah 97 135 71,9 Rerata 19,4 27

Kategori Cukup Baik Sangat Baik Kurang Cukup Baik

38

Tabel 4.8 Hasil Evaluasi Awal Kompetensi Siswa Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 Aspek yang dinilai Pemahaman konsep Mendengarkan, mencatat, membaca Kesiapan menerima Materi Pelajaran Memberi tanggapan Kerja sama kelompok Bertanya Menjawab pertanyaan Keaktifan Jumlah Rerata Skor Siswa 20 24 22 20 23 21 19 20 169 21,1 Skor Ideal 27 27 27 27 27 27 27 27 216 27 % Kesesuaian 74,1 88,9 81,5 74,1 85,2 77,8 70,4 74,1 78,3 Kategori Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik Baik

Tabel 4.9 Hasil Observasi Proses Pembelajaran Siklus 2 No A Aspek Pendahuluan Kesiapan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran menjawab pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari Memahami tujuan pembelajaran Dapat menerima cakupan materi Kegiatan Inti Kemampuan Eksplorasi (5 kegiatan) Kemampuan Elaborasi (9 Kegiatan) Kemampuan Konfirmasi (8 Kegiatan) Penutup Dapat Membuat Rangkuman/Simpulan Memperoleh nilai dan atau refleksi Skor Guru 82 20 16 25 21 424 82 195 147 163 22 23 Skor Ideal 108 27 27 27 27 594 135 243 216 135 27 27 % Kesesuaian 76,0 74,1 59,3 92,6 77,8 69,7 60,7 80,2 68,1 81,5 81,5 85,2 Baik Baik 39 Kategori

Baik Cukup Sangat Baik Baik Cukup Baik Cukup

B

C

secara konsisten dan terprogram Dapat memberikan umpan balik 16 terhadap proses dan hasil belajar Dapat Menerima kegiatan tindak lanjut dan atau dapat menerima tugas 24 baik individual maupun kelompok Memahami rencana pembelajaran 26 pada pertemuan berikutnya Jumlah 669 Rerata 223

27 27 27 837 27

59,3 88,9 96,3 82,2

Cukup Sangat Baik Sangat Baik Baik

Berdasarkan data hasil observasi dan evaluasi yang dilakukan pada siklus II terlihat bahwa : Tingkat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PBI untuk mata pelajaran IPAfisika di kelas VII A SMP Negeri1 Cimahi pada pelaksanaan penelitian tindakan sekolah siklus II sudah baik (71,9 %). Berdasarkan hasil evaluasi terhadap kompetensi siswa untuk mata pelajaran IPA-fisika pada siklus II terlihat bahwa kemampuan siswa dalam proses pembelajaran semakin lengkap,sistimatik dan sistematis sudah membaik (78,3 %). Dalam pengimplementasian proses pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya pada proses pembelajaran terhadap peserta didik, berdasarkan hasil observasi pada siklus II menunjukkan bahwa kemampuan siswa sudah baik (82,2 %). Sedangkan kekurangannya (17,8 %) sebagai pengimplementasian yang masih belum sesuai disebabkan belum termasuk pembelajaran tugas yang terstruktur dan tugas mandiri akibat siswa – siswa yang kurang kemampuannya dalam belajar. 3) Refleksi Dari hasil temuan observasi yang dilakukan peneliti pada pelaksanaan tindakan siklus II , terlihat bahwa para siswa telah berhasil mencapai indikator-indikator pembelajaran, dimana siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik, siswa dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain, dan siswa dapat memperoleh

40

pembelajaran dari berbagai sumber. Sehingga dengan keberhasilan siswa dalam pembelajaran berbasis masalah tersebut dapat dilanjutkan pada perencanaan pengajaran selanjutnya.

B. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Aktivitas Siswa Berdasarkan tabel 4.3 dan tabel 4.7 mengenai aktivitas siswa dalam kegiatan penerapan pembelajaran berdasarkan masalah untuk mata pelajaran IPA-fisika ,sebagai model inovasi untuk meningkatkan prestasi siswa kelas VII A RSBI di SMP Negeri 1 Cimahi, pada siklus 1 dan siklus 2 dapat dibuat grafik sebagai berikut :

Gambar 4.1 Grafik Aktifitas Siswa

Keterangan : Aspek yang diobservasi 1. Mengemukakan pendapat 2. Mengajukan pertanyaan

4. Memecahkan masalah 5. Menarik kesimpulan 41

3. Kerjasama

6. Nilai rata-rata

Pada gambar grafik tersebut diatas, terlihat bahwa pada umumnya sebagian besar aspek yang diobservasi untuk mengukur aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sesuai yang diharapkan, kecuali untuk aspek aktivitas penarikan kesimpulan. Untuk aspek menarik kesimpulan mengalami penurunan yaitu dari 70,0 % pada siklus I turun menjadi 65,0 % pada siklus II,tetapi hal ini tidak begitu memberikan pengaruh yang berarti terhadap tingkat aktivitas siswa secara keseluruhan. 2. Tingkat Kemampuan Siswa (Kompetensi Siswa) Tingkat kemampuan siswa dalam pembelajaran dari setiap siklus berdasarkan pada tabel 4.4 dan tabel 4.8, dapat dilihat peningkatannya secara jelas dari grafik sebagai berikut : Gambar.4.2 Grafik Persentase Tingkat Kemampuan /Kompetensi Siswa

Keterangan : Aspek yang dievaluasi 1. Pemahaman Konsep 2. Mendengarkan,mencatat, membaca 6. Bertanya 7. Menjawab Pertanyaan 8. Keaktifan 42

3. Kesiapan menerima materi pelajaran 4. Memberi tanggapan 5. Kerjasama Kelompok Peningkatan kemampuan siswa

9. Rerata

dalam pembelajaran

seperti terlihat pada grafik di

atas,terjadi pada semua aspek yang di evaluasi. Berdasarkan hal tersebut , kemampuan siswa untuk meningkatkan aspek yang dievaluasi bergantung kepada kesempatan untuk mendapatkan bimbingan yang dianggap bisa membina mereka. Dengan perencanaan yang sesuai kebutuhan, terdapat peningkatan kompetensi dalam pembelajaran dari satu siklus ke siklus tindakan selanjutnya. 3. Tingkat Kemampuan Siswa dalam Pengimplementasian Metode PBI Berdasarkan tabel 4.5 dan tabel 4.9 kemampuan pengimplementasian pembelajaran dengan metode PBI dapat dilihat dalam bentuk tabel seperti berikut : Gambar 4.3 Grafik Persentase Tingkat Kemampuan Implementasi PBI

Keterangan : Aspek yang dievaluasi 1. Kegiatan Pendahuluan 3. Kegiatan Penutup 43

2. Kegiatan Inti

4. Rerata

Kemampuan guru untuk mengimplementasikan RPP seperti pada gambar grafik di atas secara umum dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat tersimpulkan dari gambar diagram batang rerata dari siklus I yang termasuk kategori sangat kurang (37,2 %) pada siklus II naik menjadi kategori baik (82,2 %). Peningkatan tersebut memberikan arti bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran berdasarkan rencana pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya dengan lengkap sesuai perencanaan yang sistematik dan sistematis berdasarkan pada metode pembelajaran Problem Based Instruction. Proses pembelajaran PBI dapat dikatakan telah mengaktifkan siswa, sehingga siswa dan guru merasakan proses pembelajaran yang lebih variatif. Disamping itu, siswa pun dituntut untuk belajar kreatif, mandiri, menyenangkan dan menantang untuk meningkatkan

kemampuannya, sehingga suasana kelas ketika berlangsung proses pembelajaran menjadi lebih kondusif. Hal itu memperkuat pernyataan bahwa dengan perencanaan pembelajaran yang baik, lengkap, sistematis, dan sistematik akan memperoleh pelaksanaan proses dan juga hasil yang tidak kalah baiknya. Secara garis besar PBI menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Peranan guru dalam PBI adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan dan dialog siswa, serta mendukung belajar siswa. PBI diorganisasikan di sekitar situasi kehidupan nyata yang menghindari jawaban sederhana dan mengundang berbagai pemecahan yang bersaing. PBI memang lebih unggul dari pembelajaran Direct Instruction atau pembelajaran Cooperative Learning (CL), dalam hal ini PBI adalah metode yang paling cocok untuk pembelajaran fisika di kelas RSBI dibanding metode kontekstual lainnya.

44

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan Berdasarkan uraian sebelumnya, maka untuk hasil penelitian tentang penerapan pembelajaran berdasarkan masalah dalam pembelajaran fisika sebagai model inovasi untuk meningkatkan prestasi siswa kelas VII A RSBI di SMP Negeri 1 Kota Cimahi dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Adanya peningkatan aktivitas siswa dalam mempersiapkan dan melaksanakan

pembelajaran fisika yang lengkap dan sistematis melalui metode PBI dari siklus I (47,4%) ke (71,9%) pada siklus II. 2. Kendala dan persoalan yang ditemukan guru dalam proses perencanaan pembelajaran fisika yang meliputi; kesulitan dalam menentukan metoda pembelajaran, membuat indikator pencapaian kompetensi, dan menyusun kegiatan pembelajaran secara sistematis dan sistematik dapat diselesaikan secara bersama melalui diskusi untuk saling melengkapi kekurangan penelitian tindakan kelas bersama guru mitra dan peneliti.

45

3. Melalui bimbingan guru, siswa dapat meningkatkan kemampuannya (kompetensinya dalam belajar ) , yaitu dari 53,2% pada siklus I ke 78,3% pada siklus II. Dan kemampuan mengimplementasikan pembelajaran fisika dengan metode PBI , yaitu pada siklus I sebesar 37,2% menjadi 82,2% pada siklus II. B. Rekomendasi Berdasarkan temuan dari hasil penelitian ini, maka penulis menyampaikan rekomendasi sebagai berikut : 1. Guru untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuannya dalam menyusun RPP secara lengkap dan sistematis, dan melakukan pembelajaran yang inovatif seperti pembelajaran PBI untuk melaksanakan proses pembelajaran di kelas atau luar kelas guna meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. 2. PBI tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. PBI utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Dalam hal ini, diharapkan guru dapat menjadi fasilitator selama proses pembelajaran. 3. Sekolah, diharapkan untuk dapat memberdayakan guru dan para siswa untuk melaksanakan pembelajaran PBI, khususnya pada pelajaran fisika, sehingga dapat bermanfaat bagi peningkatan prestasi siswa untuk mencapai kriteria ketuntasan minimal sekolah RSBI yang cukup tinggi dibandingkan dengan sekolah reguler.

46

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan (2006), Standar Nasional Pendidikan, Jakarta Badan Standar Nasional Pendidikan (2007), Standar Proses, Jakarta B.Suryosubroto.(1997), Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta; Rineka Cipta Departemen Pendidikan Nasional (2003), Revitalisasi musyawarah Guru Mata Pelajaran, Jakarta : Depdiknas Departemen Pendidikan Nasional (2004), Pedoman Supervisi Pembelajaran, Jakarta : Depdiknas Departemen Pendidikan Nasional (2004), Standar Kompetensi Guru SMP, Jakarta : Depdiknas Departemen Pendidikan Nasional (2008), Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional (2002), Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kelas di SMP, Jakarta : Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional (2006), Standar Kompetensi Mata Pelajaran IPA KTSP; Jakarta Puskur Balitbang Depdiknas. Http://www.scribd.com/doc/2473703/Penelitian-Tindakan-Kelas-PTK-SUHARSIMI-ARIKUNTO Http://suaidinmath.wordpress.com/2010/04/04/pedoman-penyusunan-penelitian-tindakan-kelasclassroom-action-research/ Http://jlcabello.posterous.com/problem-based-learning-guidelines, David Peter.

47

OBSERVASI DAN EVALUASI AKTIVITAS Siklus Ke Mata Pelajaran : Hari/Tanggal Jenis Kegiatan : : Aspek yang dievaluasi Mengemukakan pendapat Mengajukan Pertanyaan Memecahkan Masalah Menarik Kesimpulan :

Kerjasama

No

Nama Siswa

Rerata

48

Cimahi,............................2011 Observer EVALUASI KOMPETENSI SISWA Siklus Ke: Nama Siswa/Kelompok : Mata Pelajaran : Kelas/Smester : Materi Pembelajaran : Skore Sebagian Sesuai (2-3)

Aspek
Pemahaman Konsep : peneliti memberi umpan balik untuk men cek pemahaman siswa Mendengarkan, mencatat, membaca : peneliti / guru mitra mengamati aktifitas setiap kelompok Kesiapan menerima materi pelajaran : terutama untuk pelatihan lanjutan Memberi Tanggapan : men cek frekwensi dan kualitas tanggapan setiap kelompok Kerjasama Kelompok : evaluasi team work setiap kelompok Bertanya : Kemampuan bertanya siswa dievaluasi apakah terkait dengan materi Menjawab Pertanyaan : Guru bertanya, kemampuan

Tidak Sesuai (1)

Sesuai (4)

49

menjawab setiap kelompok di cek Keaktifan : meliputi setiap hal yangdilakukan oleh kelompok, termasuk bekerja secara otonom dan mandiri. Cimahi,............................2011 Observer

Dra. Irawati. NIP.196105121986032005

OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN PBI Siklus Ke: Nama Siswa/Kelompok : Mata Pelajaran : Kelas/Smester : Materi Pembelajaran : Implementasi No A Aspek Pendahuluan 1. Peserta didik siap secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pebelajaran 2. Siswa dapat menjawab pertanyaanpertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari 3. Siswa memahami penjelasan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai 4. Siswa memahami cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus/RPP Tidak ada/tidak sesuai 0 Sebagian sesuai 1-3 Sesuai 4 Catatan

50

B

Kegiatan Inti 1. Eksplorasi a. Peserta didik terlibat mencari informasi yang luas, dan dalam topik /tema materi yang akan dipelajari dengan belajar dari aneka sumber b. Peserta didik memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis melalui pemberian tugas,diskusi,dll c.Interaksi antar peserta didik , serta antar peserta didik dengan guru,lingkungan,dan sumber belajar lainnya d. Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. e. Keterlibatan peserta didik melakukan percobaan di laboratorium,atau diluar kelas. 2. Elaborasi a. Kemampuan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna b. Kemampuan peserta didik melalui pemberian tugas,diskusi,dll untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis c. Kemampuan siswa untuk berpikir,menganalisis,menyelesaikan masalah,dan bertindak tanpa rasa takut d. Keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif e. keterlibatan peserta didik berkompetensi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar f.Keterlibatan peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis , secara individual maupun kelompok g. Kemampuan peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok di dalam presentasi. h. Kemampuan peserta didik melakukan eksperimen, membuat karya berupa alat peraga i. Keterlibatan peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik 3. Konfirmasi 51

a. Siswa aktif dalam proses umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,tulisan,isyarat,maupun penyelesaian tugas dengan baik. b. Siswa memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber c. Peserta didik beserta guru melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan d. Keterlibatan peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar : 1) berfungsi sebagai nara sumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan teman yang menghadapi kesulitan ,dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar 2) membantu menyelesaikan masalah 3) memberi acuan agar team work dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi 4)memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh 5)memberikan motivasi kepada teman / peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif Penutup 1. Keterlibatan siswa bersama-sama dengan siswa lain dan/atau sendiri membuat rangkuman /simpulan pelajaran 2. Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram 3. Kemampuan umpan balik terhadap proses dan hasil belajar 4. Keterlibatan siswa dalam kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi,program pengayaan, atau keterlibatan siswa dalam tugas balik,tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik 5. Pemahaman siswa dalam rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya Kesimpulan/Saran/Komentar :

52

Cimahi,............................2011 Observer

Dra. Irawati NIP.196105121986032005

Contoh Foto Kegiatan

53

Action 1: Look at the following actions. Explain : is there heat transfer process in your sliding motion ?

54

2. Why does the water spurt when your body reach the bottom part?

3. It's better to use the swimming tire tube for the following action. Why? give an explanation.

55

56

4. The water in the bucket was spilled. Why? Explain : what kind of energies involved in this process?

5. Why were you not sank when you sit above the swimming tire tube, while your density greater than the water one? What is the function of the swimming tube in this case?

57

6. The swimming tube and you always move following the water flow, while you didn't do anything. Why? Give an explanation.

58

7. You like to choose recumbent position when you slid down. Is there sliding speed difference between sit and recumbent position?

Write your anwer in a special report. You can attach photo and video CD. Don't forget to collect your homework from fisika smp (posting lama) at the end of next week.

Contoh LKS
Coba deh… Membuat kalorimeter sendiri Kalorimeter digunakan untuk menentukan panas yang dikeluarkan atau diterima suatu benda. Kalorimeter yang akan kamu buat di sini,dapat digunakan untuk menghitung panas hasil reaksi pada tekanan tetap. Kalorimeter ini dapat kalian buat dari 2 buah cangkir styrofoam yang ditumpuk dengan sebuah plastik penutup yang diberi lubang kecil untuk memasukkan termometer. (Ini sangat sederhana, tapi sangat efektif!) Kunci untuk memperoleh hasil yang

59

akurat ,dapat kamu awali dengan sebuah kalorimeter kering,yang digunakan untuk mengukur volume secara tepat, dan menentukan perubahan suhu dengan akurat. Rancang percobaan kamu sendiri, misalkan dengan mencampurkan sebuah fluida dengan suatu zat yang dapat mengubah temperatur larutan (misalkan air + es). Catat variable-variabel yang ingin kamu peroleh dalam sebuah tabel.

Catatan : Volume larutan harus diukur secara teliti dengan gelas ukur. Masukkan volume larutan seluruhnya, ke dalam kalorimeter kering. Jangan lupa menyelipkan batang pengaduk setiap kali percobaan. Susun kalorimeter dengan termometer (0° sampai 50°C, dengan skala terkecil 0.1°C) yang ditumpu sebuah batang pemegang sedemikian rupa sehingga termometer tidak menyentuh dasar cangkir. Perhatikan bahwa termometer yang digunakan untuk kalorimeter berbeda dibandingkan dengan termometer biasa yang kurang teliti. Ikatkan kalorimeter pada klem sedemikian rupa sehingga stabil pada pengaduk. Hati-hati jangan memanaskan larutan, supaya styrofoam tidak leleh. Perubahan temperatur ditentukan dengan mengukur temperatur awal, T1, dari reaktan, dan temperatur maksimum, T2, dari isi kalorimeter selama terjadi reaksi eksotermik. Gunakan kaca pembesar untuk mengukur temperatur secara tepat. Buat grafik temperatur vs. waktu !

Contoh RPP / Lesson Plan :
LESSON PLAN School Subject Matter Topic Subtopic Grade/semester Time Allocated A. Standard competency To applicate basic concept and principle of kinematics and dinamics of point object. B. Basic competency To analyze physics quantities in motion with constant velocity and constant acceleration. C. Indicator

: Junior High School : Physics : Kinematics : Linear Motion : VII/I : 2 x 45 minutes

To describe distance, displacement, speed, velocity, and acceleration.

60

To differentiate distance and displacement, and speed and velocity. To identify the motion with constant velocity and constant acceleration. To make a data table of displacement – time from the ticker timer tape. To make a graph of linear motion with constant velocity and constant acceleration.

D. Learning Materials Picturing Motion Objective – Draw and use motion diagrams to describe motion; Use a particle model to represent a moving object. Linear Motion - 4 types of linear motion • At rest, speeding up, constant speed, slowing down • Draw stick diagram of runner doing each - Particle Model – instead of the entire moving object considered, just a point at the center of mass • Draw the above diagrams again using a particle model

Where and When? Objective – Choosing Coordinates, Differentiate between Scalar & Vector; Displacement Vector; Signs of vector quantities - Coordinate System • • • • • • Arbitrarily chosen to fit your needs  Show origin on left and right of runner start Origin – where variables are 0 One dimension motion requires one axis (x) Two dimension motion requires two axis (x, y) Distance between origin and a point is a position vector You can have negative vectors (time, distance) – position prior the start of a race or origin

- Vectors & Scalars

61

• • •

Scalar – quantity that expresses magnitude only (time, mass, temperature) Represented by a simple letter (t, m, T) Vector – magnitude and direction  Draw a map of Wilson, Raleigh, Durham, Oriental  Draw an line with arrow to show distance and direction  Represented by a letter with an arrow above it, bold face letters for velocity or for acceleration, or

- Displacement Vector and Time Intervals • • • • Motion depends on scalar quantity time and the vector quantity displacement Displacement defines the distance and direction between two points For a runner, you have the start line and the finish line (d0 & d1), so Δd = d1 - d0 In addition you have time interval t0 (start) and t1 (end) so Δt = t1 - t0

• - In the above diagram for the runner for the 1st 50 meters • • • Δd = d1 - d0 where d0 = and d1 = 50m therefore Δd = 50m Δt = t1 - t0 where t0 = 0s and t1 = 6s therefore Δt = 6s Now we can draw the displacement vector

The length of the displacement vector is the distance, which is a scalar quantity Tail of arrow is at the earlier position and head at the later position - Velocity and Acceleration

62

Objectives – Define velocity and acceleration operationally, relate the direction and magnitude of velocity and acceleration vectors to the motion of objects, Create pictorial and physical models for solving motion problems. - Velocity • • • • • How do you measure your speed while driving? (miles/hour) In unit terms that is distance/time or Δd/Δt Example of a person running long distance measured over 100m This is a vector in the same direction as the displacement Average velocity is where ≡ means the left hand side of the

equation is defined by the right hand side – note that v is over a specific for a specific time interval over the distance covered in that time interval. • Average speed is Δd/Δt, but for the total distance traveled.  If you took a trip from here to the RBC Center to watch the Hurricanes play, your avg speed would be the distance from Wilson to the RBC Center/how long it took you to get there say 88km/60 minutes = 88km/hr  If you only measured the interval from I-95 until you entered Knightdale then you would have traveled 40km in 21 minutes, so your avg vel would be 40km/21min = 1.9 km/min = 114 km/hr • Instantaneous velocity  In the trip from I-95 to Knightdale our speed would have change some, as well as our direction – we may have made a wrong turn and gone the wrong direction before turning around – so average speed or velocity is just that, an average with no regard to what happened in the time interval  If you were to measure the speed and direction of an object at a particular instant in time, you would have the instantaneous velocity – noted as simply velocity with a symbol of v Average Velocity Motion Diagrams  Average velocity ( ) vector has the same direction as the displacement vector, not the same units (m vs. m/s)

63

 Using

, then Δd = vΔt

 Since Δd = d1 – d0 then d1 – d0 = Δt or d1 = d0 + Δt which shows that over the interval of time Δt , the average velocity of an object results in a change of position equal to vΔt  No avg velocity – no change of position  Example – golf putt

Sign of average velocity depends on the chosen coordinate system - Acceleration • In the above figure, the shorten average velocity vectors indicate that the average velocity was changing from one time interval to the next – this would indicate that the instantaneous velocity is changing also • • • • • An object whose velocity is changing is said to be accelerating Stated in terms of change of velocity per time unit Average acceleration is Units – velocity is m/s, acceleration is Motion Diagram

64

Average velocity is increasing in time intervals 1, 2, and 3, therefore acceleration is positive Average velocity is constant in time intervals 4,5,6,7, therefore acceleration is 0 Average velocity is decreasing in time intervals 8,9,10, therefore acceleration is negative E. Teaching and Learning Process a. The Model, Approach, and Method on Learning Learning model Learning approach Learning method
Session Opening Activities Apperception:

: Problem Solving : Science Process Skill : Problem Based Instruction
Time Allocated 30’ Life skills Academic skills

b. The Steps on Learning Activity

Students answer the teacher’s

greeting. • • Student’s presence is checked The teacher ought to tell the

student the purpose of lesson • The teacher says: in the junior

high school, you have been learned about motion. How can we know the object is in motion? And what kind of motion is it? • The teacher ask: Can you mention
Construction of hypothesis

how many physics quantities in motion? What is that?

65

The teacher gives a motivation by

doing a simple ball throwing and ask to student how is it going?
• • • • Students are given the sample of ticker timer tape. The students divide into some groups. The student make hypothesis guided by teacher how will be the graph in path. Students make a graph from the data at ticker timer tape. Communication skills

• The students fill the observation table based on task.
Main Activity • Students compare both phenomena of apperception before. 40’

Construction of hypotheses Observation skills Prediction skills

• The

students

discuss

their

observation result on group and answer the question in worksheet.
• • The students discuss about the right answer of the questions in worksheet. Students emphasizing conclusion the motion of the object that informed from ticker timer tape is linear motion with • constant velocity. The students answer the question on separated evaluation sheet. Drawing conclusions 20’ Academic skills

Enclosing

F. The Media and Learning Source The Media  Worksheet  The sample of ticker timer tape The Source: Kanginan, Marthen. (2003). Fisika, Untuk SMU Kelas 1. Jilid 2A. Jakarta: Penerbit Erlangga. G. Evaluation 66

a. Evaluation procedure • • • The purpose of evaluation The typical of evaluation The allocation of time : Formative : Closed essay : 30 minutes

b. The instrument of evaluation To differentiate distance and displacement (score: 20 points) 1. A teacher travel from the office to the class in path below : office

Class

Show the distance that teacher traveled! Show the displacement that teacher done! To differentiate speed and velocity (score: 20 points) 2. There are two people angry with each other. There is Hana and Tono. They walk opposite, and we see Hana walks to the left at 2 m/s and Tono walks at 2 m/s to the right. Now, we see. Are their speeds the same? Are their velocities the same? Draw it! To identify the motion with constant velocity and constant acceleration(score: 20 points) 3. You are riding a bicycle, firstly the bicycle at rest when you sit on the pedal. And then you turn the bicycle to go forward. You are happy to ride it. You get to your friend’s house and then you stop in front of his house. If we look from the physics. When the velocity change? When the velocities are the same? To make a data table (score: 20 points) 4. 5. From the ticker timer tape. Collect the data! Graph the data on the paper! To make a graph from the data table (score: 20 points)

67

WORKSHEET
Name : Presence No : Class Group : :

I.

A teacher travel from the office to the class in path below : office

Class

Show the distance that teacher traveled! Show the displacement that teacher done!

II. There are two people angry with each other. There is Hana and Tono. They walk opposite, and we see Hana walks to the left at 2 m/s and Tono walks at 2 m/s to the right. Now, we see. Are their speeds the same? Are their velocities the same? Draw it!

68

III.

You are riding a bicycle, firstly the bicycle at rest when you sit on the pedal. And then you turn the bicycle to go forward. You are happy to ride it. You get to your friend’s house and then you stop in front of his house. Of course you could tell me. When the velocity change? When the velocities are the same?

IV. From the ticker timer tape, we can collect some data! What quantities will we collect? Make a data table and write in the data!

V.

Graph the data based on the data table!

VI. From the graph that the motion is…

69

Post Test!
Name : Presence No : Class Group : : 1. A runner runs in a stadium. He runs in a path below: A

After running in a round path (600 m) in 5 minutes, and reaching the initial place, tell me: a. The distance he travels is…

b.

The displacement he done is...

c.

His speed is…

70

d.

His velocity is…

e.

Has he done accelerating? When is it?

RUBRIC

71

Do Measurement No 1 measure the distances correctly, measure time correctly, use a data scale which suitable with the instrument, identify the human error factor measure the distances correctly, measure time correctly, use a data scale which suitable with the instrument, do not identify the human error factor

Write the data of experiment The table suitable with the data, Systematic, use the scale correctly, use the unit correctly

2

The table doesn’t suitable with the data, Systematic, use the scale correctly, use the unit correctly

Plot a graph based on the data Can make a plot velocity-time correctly Can make a plot distance-time correctly A graph is made based on the data of experiment A graph is made use the scale correctly Can make a plot velocity-time correctly Can make a plot distance-time correctly A graph is made based on the data of experiment A graph is made use the scale correct less Can make a plot velocity-time correct less Can make a plot distance-time correct less A graph is made based on the data of experiment A graph is made use the scale correct less Can make a plot velocity-time correct less Can make a plot distance-time correct less A graph isn’t made based on the data of experiment A graph is made use the scale correct less

Present the result show the data table and the graph which is wished Presentation performance correct and clear use a good language, simple Lack of showing the data table and the graph which is wished Presentation performance correct and clear use a good language, simple Lack of showing the data table and the graph which is wished Presentation performance still correct less and clear less use a good language, simple Lack of showing the data table and the graph which is wished Presentation performance still correct less and clear less use a good language Complicated

3

measure the distances correctly, measure time correct less, use a data scale which suitable with the instrument, do not identify the human error factor

The table doesn’t suitable with the data, Systematic, Do not use the scale correctly, use the unit correctly

4

measure the distances correct less, measure time correctly, use a data scale which suitable with the instrument, do not identify the human error factor

The table doesn’t suitable with the data, Systematic, Do not use the scale correctly, Do not use the unit correctly

Nilai Pre test dan Pos test

72

73

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->