1

PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
DAN SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH
(Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)


SKRIPSI


Oleh
ESY NUR AISYAH
NIM : 04610023









JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
2008
2
PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
DAN SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH
(Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)


SKRIPSI

Diajukan Kepada :
Universitas Islam Negeri Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)


Oleh
ESY NUR AISYAH
NIM : 04610023








JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
2008
3
LEMBAR PERSETUJUAN

PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
DAN SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH
(Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)


SKRIPSI

Oleh
ESY NUR AISYAH
NIM : 04610023



Telah Disetujui 31 Maret 2008
Dosen Pembimbing,



Umrotul Khasanah, S.Ag.,M.Si
NIP. 150287782


Mengetahui :
Dekan,



Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA
NIP. 150231828
4
LEMBAR PENGESAHAN
PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DAN
SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH
(Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)

SKRIPSI

Oleh

ESY NUR AISYAH
NIM : 04610023

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji
Dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)
Pada 08 April 2008

Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan
1. Ketua
Indah Yuliana, SE., MM : ( )
NIP. 150327250

2. Sekretaris/Pembimbing
Umrotul Khasanah, S.Ag., M.Si : ( )
NIP. 150287782

3. Penguji Utama
Dr. H. Muhammad Djakfar, SH,M.Ag : ( )
NIP. 150203742

Disahkan Oleh :
Dekan,



Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA
NIP. 150231828
5
SURAT PERNYATAAN


Yang Bertandatangan di bawah ini saya:
Nama : Esy Nur Aisyah
NIM : 04610023
Alamat : Jl Raya Waru 9 Pamekasan-Madura

Menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan
kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang, dengan judul:

PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DAN SISTEM BAGI
HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH (Studi Kasus Pada BMT MMU
Cabang Wonorejo Pasuruan)

Adalah hasil karya saya sendiri, bukan “duplikasi” dari karya orang lain.

Selanjutnya apabila di kemudian hari ada “klaim” dari pihak lain, bukan menjadi
tanggungjawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas Ekonomi, tetapi
menjadi tanggungjawab saya sendiri.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan
dari siapapun.

Malang, 09 April 2008

Hormat Saya,


ESY NUR AISYAH
NIM : 04610023
6
PERSEMBAHAN



Ayahanda dan ibunda yang telah memberikan segalanya tanpa pamrih,
pengorbanan serta kasih sayang dan doa yang tulus, sampai kapanpun akan selalu
terukir indah dalam relung hati ananda yang paling dalam, dan menjadi pijakan
dalam menempuh masa depan ananda

Adikku tercinta, yang selalu memberikan keceriaan, semangat dalam menghadapi
segala sesuatu, dengan segala kasih sayangnya yang tiada pernah surut

Kawan-kawan seperjuangan HMI Komisariat Syariah UIN Malang yang senantiasa
memberikan bantuan, dorongan dan kesempatan penulis untuk bergulat dalam
ilmu pengetahuan dan kemasyarakatan

7
MOTTO




!κš‰!‾≈ ƒ š¸%!¦ ¦θ`ΖΒ¦´  ¦θ).¦ ´<¦ ¯¸´LΖ.9´ρ _±Ρ !Β ¸Β´‰% ¸‰-¸9 ¦θ).¦´ρ ´<¦
β¸| ´<¦ ´¸¸,> !ϑ¸, βθ=ϑ-. ∩⊇∇∪

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(QS.Al-Hasyr : 18)
8
KATA PENGANTAR


Puji syukur Alhamdulillah kita haturkan kepada Allah SWT. Yang telah
melimpahkan rahmat serta hiayah-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan
dengan judul: “ Penerapan Standar Operasional Prosedur dan Sistem Bagi Hasil
Pada Tabungan Mudharabah (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo
Pasuruan”).
Sholawat serta salam kita haturkan kepada Bapak revolusiner dunia padang
pasir Nabi Muhammad SAW. Yang telah merubah dunia yang penuh dengan
kebodohan dan penindasan menjadi dunia yang penuh kedamaian dan keselamatan
.
Selama proses penyusunan skripsi ini, banyak pihak yang terkait yang
dengan tulus ikhlas telah membantu dan memberikan motivasi kepada penulis
demi terselesaikannya penulisan skripsi ini. Ungkapan terima kasih yang mendalam
penulis haturkan kepada:
1. Bapak Prof. Dr.Imam Suprayogo, selaku Rektor UIN Malang.
2. Bapak Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA., selaku Dekan Fakultas Eknomi UIN
Malang.
3. Ibu Umrotul Khasanah, S.Ag.,M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan masukan, saran serta bimbingan dalam proses penulisan skripsi.
4. Bapak/ibu Dosen UIN Malang yang telah memberikan ilmunya dengan tulus.
5. Bapak H. Dumairi Nor, selaku Manager BMT MMU Pasuruan
9
6. Bapak, Abdullah, selaku Staf Manager BMT MMU Pasuruan
7. Bapak Chilmi, Bapak Sobir, Bapak Faiz selaku karyawan BMT MMU Cabang
wonorejo Pasuruan yang senantiasa memberikan pengarahan serta membantu
dalam menyelesaikan skripsi ini
8. Teman-teman dan seluruh pihak yang ikut andil dalam proses penyusunan
skripsi ini
Semoga amal baik anda semua tercatat sebagai amal ibadah dan mendapatkan
imbalan serta ganjaran dari Allah SWT. Amin.
Penulis mengakui bahwa tidak ada segala sesuatu pun yang sesempurna
kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, degan senang hati penulis menerima kritik dan
saran yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Amin.


Malang, 30 Maret 2008

Penulis






10
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN....................................................................... vi
MOTTO............................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR....................................................................................... viii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... x
DAFTAR TABEL............................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... Xii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiv
ABSTRAK........................................................................................................... xv

BAB I : PENDAHULUAN............................................................................. 1
A. Latar Belakang.............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................... 8
C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 8
D. Manfaat Penelitian....................................................................... 9

BAB II : KAJIAN PUSTAKA......................................................................... 10
A. Penelitian terdahulu .................................................................... 10
B. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) ................................................. 13
1. Pengertian BMT...................................................................... 13
2. Karakteristik BMT.................................................................. 14
3. Status dan Badan Hukum BMT........................................... 15
4. Prinsip Operasional BMT...................................................... 16
5. Produk-produk BMT............................................................. 17
6. Persamaan dan perbedaan Lembaga Keuangan Syariah
Dengan Konvensional ........................................................... 20
C. Standar Operasional Prosedur (SOP) ....................................... 21
1. Pengertian SOP....................................................................... 21
2. Tujuan SOP ........................................................................ 21
3. Fungsi SOP ........................................................................ 22
4. Kapan SOP diperlukan.......................................................... 22
5. Keuntungan Adanya SOP..................................................... 22
D. Tabungan....................................................................................... 23
1. Pengertian Tabungan ............................................................ 23
2. Menabung Dalam Perspektif Islam..................................... 24
3. Jenis-jenis Tabungan.............................................................. 25

11
E. Mudharabah ................................................................................. 27
1. Pengertian Mudharabah ....................................................... 27
2. Landasan Syariah................................................................... 30
3. Rukun dan Syarat Mudharabah .......................................... 31
4. Jenis-jenis Mudharabah......................................................... 32
F. Bagi Hasil ...................................................................................... 32
1. Pengertian Bagi Hasil ............................................................ 32
2. Pengertian nisbah................................................................... 34
3. Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil ........................... 34
4. Faktor yang Mempengaruhi Bagi Hasil ............................ 36
5. Perhitungan Bagi Hasil ......................................................... 37
G. Kerangka Berfikir ........................................................................ 42

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN.................................................... 43
A. Lokasi Penelitian ........................................................................ 43
B. Jenis dan Pendekatan Penelitian................................................ 43
C. Sumber Data ................................................................................. 44
D. Teknik Pengumpulan Data......................................................... 45
E. Teknik Analisis Data ................................................................... 46

BABIV:PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL
PENELITIAN..................................................................................... 50
A. Paparan Data Hasil Penelitian ................................................... 50
B. Pembahasan Data Hasil Penelitian............................................ 64
C. Pembahasan Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam.......... 89

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN....................................................... 94
A. Kesimpulan................................................................................... 94
B. Saran............................................................................................... 95

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
12
DAFTAR TABEL


Tabel 1.1 : Jumlah Nasabah Tabungan Mudharabah ................................ 5
Tabel 2.1 : Persamaan dan Perbedaan Penelitian terdahulu .................... 10
Tabel 2.2 : Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil............................................... 35
Tebel 2.3 : Contoh Bentuk Buku Tabungan Tuan Mujahid ..................... 39
Tabel 4.1 : Jumlah Anggota Tabungan......................................................... 65
Tabel 4.2 : Nisbah Tabungan Mudharabah................................................. 79
Tabel 4.3 : Contoh Bentuk Buku Tabungan Ibu Aisyah............................ 80
Tabel 4.4 : Perbandingan Saldo Rata-rata Tabungan Nasabah ................ 83
Tabel 4.5 : Saldo Rata-rata Tabungan dan Keuntungan............................ 84
Tabel 4.6 : Perhitungan Bagi Hasil................................................................ 85
Tabel 4.7 : Persamaan dan Perbedaan Produk Tabungan ........................ 88

13
DAFTAR GAMBAR


Gambar 4.1 : Struktur Organisasi BMT - MMU........................................... 58
Gambar 4.2 : Struktur Organisasi Cabang SPS BMT MMU....................... 59
Gambar 4.3 : Skema Mudharabah Muthlaqah .............................................. 65
14
DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran 1 : Bukti Konsultasi....................................................................... 99
Lampiran 2 : Surat Keterangan.....................................................................100
Lampiran 3 : Item Aktifitas Penyelesaian Skripsi ...................................... 101
Lampiran 4 : Analisis Data ............................................................................ 102
Lampiran 5 : Hasil Penelitian dengan Metode Wawancara .................... 104
Lampiran 6 : Hasil penelitian dengan Metode Observasi......................... 113
Lampiran 7 : Hasil Penelitian dengan Metode Dokumnetasi .................. 116
15
ABSTRAK

Aisyah, Esy Nur, 2008 SKRIPSI. Judul : “Penerapan Standar Operasional Prosedur
dan Sistem Bagi Hasil Pada Tabungan Mudharabah (Studi Pada BMT MMU
Cabang Wonorejo Pasuruan)”
Pembimbing : Umrotul Khasanah, S.Ag.,M.Si

Kata Kunci : Standar Operasional Prosedur Tabungan, Bagi Hasil

Dalam penghimpunan dana masyarakat melalui tabungan mudharabah,
sangat diperlukan standar-standar operasi prosedur oleh BMT (mudharib) dan
Anggota koperasi (shahibul maal) sebagai acuan kerja secara sungguh-sungguh
untuk menjadi sumber daya manusia yang professional. Keuntungan yang
didapatkan oleh kedua belah pihak adalah bagi hasil (nisbah) yang sudah
ditetapkan diawal akad. Perbandingan bagi hasil keuntungan ini tergantung pada
faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya bagi hasil.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Yang bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan SOP tabungan mudharabah,
penerapan sitem bagi hasil, serta faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya
bagi hasil. Disamping itu menganalisa adanya masalah dalam pelaksanaannya serta
memberikan solusi dan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi. Teknik
analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan teknik triangulasi
dalam menguji keabsahan data.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa pelaksanaan SOP Tabungan
mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo dapat mewujudkan visi misi BMT
yaitu memberikan kemudahan kepada anggota koperasi sehingga dapat menarik
masyarakat untuk menabung di BMT. Meskipun masih ada sebagian kecil dari
anggota tabungan yang tidak mematuhi prosedural menabung, hal ini disebabkan
karena sebagian masyarakat yang tergolong awam khususnya pada tabungan di
pasar, tidak mau dengan hal-hal yang ribet seperti dalam bukti transaksi (tanda
tangan). Untuk itulah BMT MMU Cabang Wonorejo mempunyai kebijakan
tersendiri dalam pelaksanaan prosedural tabungan pasar. Adapun penerapan
sistem bagi hasil tabungan mudharabah adalah dengan prinsip profit sharing. Dan
menggunakan saldo rata-rata harian dalam mengetahui jumlah dana yang
diinvestasikan oleh anggota. Namun jika mengalami kerugian, maka kerugian
tersebut hanya ditanggung oleh pihak BMT dengan asumsi kerugian tersebut terjadi
karena kelalaian BMT sebagai mudharib dalam mengelola tabungan anggota.
Sehingga BMT hanya mengembalikan tabungan pokok anggota. Sedangkan
kerugian tersebut ditutupi oleh BMT dengan pendapatan BMT pada akhir tahun.
16
ABSTRACT

Aisyah, Esy Nur. 2008. Thesis. Title: “The Implementation of the Standard
Operational Procedures and Profit Sharing System in
Mudharabah Saving (A Case Study at BMT MMU Branch of
Wonorejo-Pasuruan)”
Advisor : Umrotul Khasanah, S.Ag., M.Si

Keywords : Saving, Standard Operational Procedure (SOP), Profit Sharing

In the gathering of the public’s fund through Mudharabah saving, the BMT
(mudharib or fund manager) and the cooperative members require a standard
operational procedure (SOP) as a work frame to run the business professionally. The
profits to be gained by both parties follow the profit sharing scheme agreed upon in
the prior agreement. The profit sharing ratio is dependent on the factors which affect
how much or little amount of profits to be shared.
The study used a qualitative research design which applied a descriptive
method aiming at describing the implementation of SOP in mudharabah saving,
profit sharing system, and the factors influencing how much or little amount of
profits to be shared. In addition, the study analyzed the problems that appeared in
their implementation and sought and offered alternative solutions to the problems.
The study used a qualitative data analysis technique and applied data triangulation
technique to examine the data validity.
Based on the findings, it can be inferred that the implementation of SOP in
mudharabah saving at BMT MMU Wonorejo-Pasuruan Brach has realized the BMT
visions and missions when they give or provide abridged services to help the
cooperative members which in turn have encouraged greater interest in the part of
the public to save their money at BMT. Even though there still was a small number
of savers or depositors not following the procedures, it was due to their
unknowledgability and negligence of the saving procedures, such as signing the
signature slot, as required on the transaction document. Therefore, the BMT MMU
Wonorejo-Pasuruan Branch applies a distinctive, customized policy for their
downtown-based small traders’ savings.
In applying their policy, the profit gain system follows the profit sharing
principles which is based on the nominal value stated on the daily balance in order
to know the amount of fund which have been invested by the members or savers.
However, should financial loss is experienced, BMT should take full responsibility
and burden to cover the compensation money caused by the loss assuming that it
was caused by the negligence in the part of the BMT as the mudharib (fund
manager) in managing the members’ savings. In this case, the BMT will only pay
back or reimburse the capital/principal or base money of the savers fully. While the
compensation of the loss should be covered by the BMT’s income on the year end.
17
ﺺﻠﺨﺘﺴﳌﺍ

ﺴﺋﺎﻋ ﺓﺎ , ﺭﻮﻧ ﻲﺴﻳﺃ . 2008 . ﺤﺒﻟﺍ ﻲﻌﻣﺎﳉﺍ ﺚ ' . ﺱﺎﻴﻘﻣ ﻖﻴﺒﻄﺗ ﺔﻴﻠﻤﻋ ﺔﻴﻓﺮﺼﳌﺍ ﺕﺍﺍﺮﺟﻹﺍ ﺔﺒﺴﻧ ﻖﻴﺒﻄﺗﻭ ﲑﻓﻮﺗﺍ
ﺔﺑﺭﺎﻀﳌﺍ , ﺔﺳﺍﺭﺩ ﰲ BMT MMU ﺟﺭﻮﻧﻭ ﻉﺮﻓ ﻮ ﺎﺑ ﻥﺍﻭﺭﻮﺳ ',
ﺔﻓﺮﺸﳌﺍ : ﻋ ﺔﻨﺴﳊﺍ ﺓﺮﻤ ﺓﲑﺘﺴﺟﺎﳌﺍ

ﻟﺍ ﻤﻠﻜ ﺕﺎ ﺔﻴﺴﺋﺮﻟﺍ · ﺱﺎﻴﻘﻣ ﺔﻴﻠﻤﻋ ﺔﻴﻓﺮﺼﳌﺍ ﺕﺍﺍﺮﺟﻹﺍ , ﺔﺒﺴﻨﻟﺍ

· ﺝﺎﺘﳛ ﺔﺑﺭﺎﻀﳌﺍ ﺔﻌﻳﺩﻮﺑ ﻊﻤﺘ-ﺍ ﻝﺎﻣ ﺔﻠﺻ ﰲ ﻥﺇ ﺎ BMT , ﺏﺭﺎﻀﳌﺍ , ﺝﺎﻬﻨﳌﺍ ﺕﺎﻄﺑﺎﺿ ﻝﺎﳌﺍ ﺐﺣﺎﺻ
ﻑﺮﳏ ﱐﺎﺴﻧﻹﺍ ﻝﻮﻌﳌﺍ ﻥﻮﻜﻴﻟ ﻞﻤﻌﻟﺍ ﺓﺭﺎﺷﺈﻛ ﺔﻴﻠﻤﻌﻟﺍ . ﰲ ﺓﺭﺮﻘﻣ ﺔﺒﺴﻧ ﻝﺎﳌﺍ ﺐﺣﺎﺻﻭ ﺏﺭﺎﻀﳌﺍ ﺎﻫﺪﳚ ﱵﻟﺍ ﺢﺑﺮﻟﺍ
ﺪﻘﻌﻟﺍ ﻝﻭﺃ . ﺓﲑﺒﻛ ﺖﻧﺎﻛ ﺓﲑﻐﺻ ﺔﺒﺴﻨﻟﺍ ﺮﺛﺄﺗ ﱵﻟﺍ ﻞﻣﺍﻮﻌﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﺪﻤﺘﻌﺗ ﺢﺑﺮﻟﺍ ﺔﺒﺴﻧ ﻩﺪﻫ ﺔﻧﺭﺎﻘﻣﻭ .
ﻨﻟﺍ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﻦﻣ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﻥﻮﻜﻳ ﻖﻘﲢ ﻢﺳﺮﺑ ﺪﺼﻘﻳ ﻱﺬﻟﺍ ﻲﻔﺻﻮﻟﺍ ﺏﺍﺮﺘﻗﻹﺎﺑ ﻲﻋﻮ ﺱﺎﻴﻘﻣ ﺔﻴﻠﻤﻋ
ﺔﻴﻓﺮﺼﳌﺍ ﺕﺍﺍﺮﺟﻹﺍ ﻦﻣ ﲑﻓﻮﺘﻟﺍ ﺔﺑﺭﺎﻀﳌﺍ , ﺔﺒﺴﻨﻟﺍ ﺔﻣﻮﻈﻨﻣ ﻖﻴﺒﻄﺗ , ﺍﲑﺒﻛ ﻭﺍ ﻥﺎﻛ ﻼﻴﻠﻗ ﺔﺒﺴﻨﻟﺍ ﰲ ﺮﺛﺄﺗ ﱵﻟﺍ ﻞﻣﺍﻮﻋ ﻭ .
ﺔﻠﺌﺴﳌﺍ ﺏﺍﻮﺟ ﻡﺪﻘﻳﻭ ﻪﺘﻣﺎﻗﺇ ﰲ ﺔﻠﺌﺴﳌﺍ ﻞﻠﳛ ﺏﺍﺮﺘﻗﻹﺍ ﺍﺬﻫ ﺎﻀﻳﺃﻭ . ﻢﻴﺴﻘﺗ ﺏﻮﻠﺳﺄﺑ ﻲﻋﻮﻨﻟﺍ ﻞﻴﻠﺤﺘﻟﺍ ﻞﻤﻌﻧﻭ
ﺕﺎﺜﻠﺜﻣ ﱃﺇ ﺔﻘﻄﻨﳌﺍ Triangulasi) , ﺕﺎﻧﺎﻴﺒﻟﺍ ﺔﻗﺪﺻ ﺶﻴﺘﻔﺘﻟ ﺕﺎﻧﺎﻴﺒﻟﺍ ﻞﻴﻠﲢ ﺏﻮﻠﺳﺄﻛ .
ﺚﺤﺒﻟﺍ ﻞﺻﺎﺣ ﻦﻣﻭ , ﻑﺮﻌﻧ ﺱﺎﻴﻘﻣ ﻖﻴﺒﻄﺗ ﻥﺃ ﺔﻴﻠﻤﻋ ﺔﻴﻓﺮﺼﳌﺍ ﺕﺍﺍﺮﺟﻹﺍ ﰲ BMT MMU ﻉﺮﻓ ﻦﻣ
ﻥﺍﻭﺭﻮﺴﻓ ﺝﺭﻮﻧﻭ ﻦﻣ ﺔﺜﻌﺒﻟﺍ ﻭ ﺮﻈﻨﻟﺍ ﻖﻘﺣ ﺪﻗ BMT ﱃﺇ ﻊﻤﺘ-ﺍ ﺏﺬﺠﻨﻳ ﱴﺣ ﻝﺎﳌﺍ ﺐﺣﺎﺻ ﻰﻠﻋ ﻞﻴﻬﺴﺘﻟﺍ ﲏﻌﻳ
BMT ﺍ ﲑﻓﻮﺘﻟ . ﰲ ﺎﺻﻮﺼﺧ ﻢﻬﻠﻛ ﺎﻫﺍﻮﻓﺮﻌﻳ ﻻ ﻢ·ﻷ ﺔﻌﻳﺩﻮﻟﺍ ﺝﺎﻬﻨﻣ ﻊﻴﻄﻳ ﱂ ﻱﺬﻟﺍ ﻝﺎﳌﺍ ﺐﺣﺎﺻ ﻦﻣ ﻞﻗﺃ ﻭ
ﻕﻮﺴﻟﺍ , ﺀﺎﻀﻣﻹﺍ ﻞﺜﻤﻛ . ﻰﻠﻋ ﻚﻟﺬﻟﻭ BMT MMU ﻥﺍﻭﺭﻮﺴﻓ ﺝﺭﻮﻧﻭ ﻉﺮﻓ ﻦﻣ ﺝﺎﻬﻨﻣ ﻖﻘﲢ ﰲ ﺔﺳﺎﻴﺴﻟﺍ
ﲑﻓﻮﺘﻟﺍ ﻕﻮﺴﻟﺍ ﰲ . ﻢﺴﻗ ﺭﻮﺘﺳﺪﺑ ﺔﺑﺭﺎﻀﳌﺍ ﺔﻌﻳﺩﻭ ﻱ ﺔﺒﺴﻨﻟﺍ ﺔﻣﻮﻈﻨﻣ ﻖﻴﺒﻄﺗ ﻥﺇﻭ ﺢﺑﺮﻟﺍ ﻝﺎﻤﻌﺘﺳﺇ ﻭ ﻥﺍﺰﻴﻣ
ﻝﺎﳌﺍ ﺐﺣﺎﺻ ﻩﺮﻤﺜﺘﺳﺇ ﻝﺎﳌﺍ ﺔﻠﲨ ﻒﻳﺮﻌﺘﻟ ﻲﻣﻮﻴﻟﺍ ﻝﺪﻌﳌﺍ ﺕﺎﻋﻮﻓﺪﻣ . ﻥﺮﺼﳊﺍ ﺭﺪﺼﻳ ﻮﻟ , ﻰﻠﻌﻓ BMT ﺎﻬﻨﻣﺄﻳ ﻥﺍ
ﻝﺎﳘﺇ ﻦﻣ ﺓﺮﺴﻌﳌﺍ ﺀﺎﻋﺩﺈﺑ . ﻝﺎﳌﺍ ﺐﺣﺎﺻﺔﻌﻳﺩﻭ ﺱﺎﻴﺳ ﰲ ﺏﺭﺎﻀﳌﺎﻛ . ﻦﻣ ﺔﻴﺴﻴﺋﺮﻟﺍ ﺔﻌﻳﺩﻮﻟﺍ ﻊﺟﺮﻳ ﻥﺃ ﻰﻠﻋﻭ
ﻝﺎﳌﺍ ﺐﺣﺎﺻ . ﺎﻬﻘﻠﻐﻳ ﻥﺮﺼﳊﺍ ﻚﻠﺗﻭ BMT ﻞﺧﺪﺑ BMT ﺔﻨﺴﻟﺍ ﲑﺧﺃ ﰲ .
18
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam sebagai pedoman hidup manusia, merupakan agama yang tidak hanya
berkaitan dengan masalah ritual, akan tetapi merupakan sistem yang komprehensif
dan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah industri keuangan
sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian. Ekonomi tidak lepas dari
kehidupan manusia, sehingga masalah perekonomian telah diatur dalam al Qur’an
dan Hadits. Salah satu contoh dapat dilihat dalam surat al- Qashash juz 28 ayat 77
yang mengatur secara cukup terperinci aturan muamalah diantara manusia. Allah
berfirman :
¸_.¯,¦´ρ !ϑ‹¸· š9.¦´ ´<¦ ´‘¦$!¦ ο¸¸>ψ¦ Ÿω´ρ š[Ψ. 7,Š¸.Ρ š∅¸Β !´‹Ρ‘‰9¦
¸.>¦´ρ !ϑŸ2 ´.>¦ ´<¦ š‹9¸| Ÿω´ρ ¸_¯,. Š!.±9¦ ’¸· ¸_¯‘{¦ β¸| ´<¦ Ÿω ´¸¸>†
¸‰¸.±ϑ9¦ ∩∠∠∪

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-
Qashash : 77).
19
Pernyataan di atas, telah memberikan klarifikasi kepada sebagian para
pemikir Barat dan Intelektual Muslim. Dimana mereka berpandangan bahwa
dewasa ini masih terdapat anggapan bahwa Islam menghambat kemajuan.
Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (An
Abstract Growth) (Antonio, 2001:3).
Lahirnya Undang-undang No 10 Tahun 1998 tentang landasan hukum
Perbankan, telah memberikan arahan yang jelas tentang jenis-jenis usaha yang boleh
dioperasikan dan diimplementasikan secara syari’ah, serta undang-undang tersebut
telah memberikan peluang yang baik kepada tumbuhnya lembaga keuangan
syari’ah di Indonesia.
Keberadaan lembaga keuangan mempunyai peranan penting terhadap
perkembangan perekonomian suatu Negara. Posisi lembaga keuangan sangat
strategis dalam menggerakkan roda perekonomian. Bersamaan dengan fenomena
semakin bergairahnya masyarakat untuk kembali ke ajaran agama, banyak
bermunculan lembaga ekonomi yang berusaha menerapkan prinsip syari’ah Islam
terutama lembaga-lembaga keuangan, seperti perbankan, asuransi, dan Baitul Maal
Wat Tamwil (BMT). Khusus mengenai BMT menurut data yang ada, saat ini telah
berdiri kurang lebih 3000 BMT di seluruh Indonesia.
Adanya globalisasi dewasa ini, BMT dijadikan sebagai lembaga solidaritas
sekaligus lembaga ekonomi rakyat kecil untuk bersaing di pasar bebas. Di dalam
bidang operasionalnya, BMT berupaya mengkombinasikan unsur agama dan materi
20
secara optimal untuk mencapai keefektifan atau keefesienan produktif sehingga
membantu para anggotanya untuk bersaing secara efektif.
Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dewasa ini, merupakan
topik yang hangat dibicarakan, karena keberadaannya sangat dibutuhkan oleh
masyarakat sekitarnya, terutama pengusaha kecil dan mikro serta masyarakat
berpenghasilan rendah, yang relatif tidak terjangkau oleh lembaga keuangan
formal. Oleh karena itu, BMT sangat mempunyai peran dalam menggerakkan
perekonomian khususnya dalam pengembangan perekonomian Umat. Kita ketahui
bahwasanya sebagian besar penduduk Indonesia memeluk agama Islam, maka
mereka sangat menantikan suatu sistem lembaga keuangan syari’ah yang sehat dan
terpercaya untuk mengakomodasi kebutuhan mereka terhadap layanan jasa
keuangan yang sesuai dengan prinsip syari’ah.
Pengembangan BMT juga ditujukan untuk meningkatkan mobilisasi dana
masyarakat yang selama ini belum terlayanai oleh sistem keuangan konvensional.
Selain itu, sejalan dengan upaya-upaya restrukturisasi perbankan, pengembangan
lembaga keuangan syari’ah merupakan suatu alternatif sistem pelayanan jasa
keuangan dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya.
Sistem bagi hasil adalah karakteristik umum dan landasan dasar bagi
operasional lembaga keuangan Islam. Karena dengan sistem bagi hasil, baik instansi
maupun perorangan dapat menerapkan prinsip keadilan yang telah dianjurkan
dalam agama Islam. Seperti halnya di BMT MMU Cabang wonorejo yang
memberikan pelayanan jasa keuangan ekonomi mikro, dalam meningkatkan
21
mobilisasi dana masyarakat, serta penerapan sistem bagi hasil dengan nasabah
tabungan maupun pembiayaan.
Dengan melihat jumlah data nasabah tabungan di laporan keuangan BMT
MMU Pasuruan, BMT MMU Cabang Wonorejo yang merupakan salah satu Cabang
dari BMT MMU Pasuruan memiiki jumlah nasabah tabungan yang cukup banyak
dibandingkan dengan Cabang-cabang yang lainnya. Menurut data histories di BMT
MMU Pasuruan, BMT Cabang Wonorejo pada awalnya adalah kantor pusat BMT.
Kemudian kantor pusat dipindahkan ke Sidogiri. Faktor sejarah inilah yang
menyebabkan banyaknya nasabah di Cabang Wonorejo, selain itu juga didukung
oleh luasnya pasar di samping kantor BMT Wonorejo.
Adapun jumlah nasabah tabungan mudhrabah di BMT MMU Cabang
Wonorejo adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1
Jumlah Nasabah Tabungan Mudharabah

Nasabah
Tahun
Tabungan umum
Mudharabah
Mudharabah Berjangka
2002 1.111 370
2003 1.522 508
2004 2.131 710
2005 2.639 880
2006 3.206 1.069
2007 3.666 1.222
Jumlah 14.275 4.759
TOTAL 19.034
Prosentase 75% 25%
Sumber : Data diolah dari laporan keuangan BMT MMU Pasuruan
22
Sebagai mediator antara masyarakat yang kelebihan dana dan yang
kekurangan dana, maka BMT menawarkan berbagai macam produk kepada
masyarakat sebagai bentuk pelayanan BMT dalam meningkatkan produkfitas
masyarakat. Pelayanan tersebut terbagi menjadi dua. Pertama, pendanaan
(Tabungan), layanan ini diperuntukkan bagi orang yang kelebihan dana, dan yang
kedua, pembiayaan, yang diperuntukkan bagi orang yang kekurangan dana.
Berdasarkan hasil wawancara dengan costumer service, Prinsip Tabungan
yang digunakan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah akad mudharabah.
Produk tabungan Mudharabah yang di tawarkan BMT kepada masyarakat yaitu
tabungan umum mudharabah, dan mudharabah berjangka
Dengan melihat jumlah anggota koperasi tabungan pada tabel 1.1, tabungan
mudharabah yang paling diminati angggota adalah tabungan umum mudharabah
yang mempunyai prosentase 75% dari pada tabungan mudharabah berjangka.
Dari hasil penelitian terdahulu (Abdul Karim, 2005:98), kesimpulan
penelitiannya menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi masyarakat
menabung di BMT MMU Sidogiri Pasuruan adalah faktor budaya yang mempunyai
dua komponen yaitu faktor agama dan faktor bagi hasil sebagai bentuk
penghindaran dari unsur riba.
Fenomena yang terjadi di BMT MMU Cabang Wonorejo, dengan hasil
wawancara pada sebagian nasabah tabungan dan karyawan BMT. Mayoritas
anggota koperasi menabung bukan hanya karena faktor agama dan sistem bagi
hasil, akan tetapi juga karena kemudahan nasabah dalam menabung, dan hal ini
23
terkait dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) tabungan di BMT MMU
Pasuruan yang mudah dilaksanakani oleh sebagian besar masyarakat Wonorejo
yang mayoritas dari masyarakat awam.
Dalam pembagian keuntungan, BMT MMU Cabang Wonorejo menerapkan
sistem fee, bagi hasil dan margin. Akan tetapi, yang paling diminati oleh masyarakat
adalah sistem margin. Padahal secara prinsip, sistem bagi hasil lebih
menguntungkan dibandingkan dengan sistem yang lainnya, karena di dalam sistem
bagi hasil ada unsur saling berbagi baik keuntungan maupun dalam menanggung
resiko kerugian, dan dalam hal ini sesuai dengan kesepakatan awal.
Namun, persoalan yang sering terjadi di kalangan masyarakat khususnya di
Wonorejo adalah masih banyaknya nasabah atau masyarakat yang belum
mengetahui dan memahami tentang sistem bagi hasil serta perhitungannya. Hal ini
tampak dalam perbandingan jumlah nasabah antara jumlah nasabah tabungan
umum mudharabah dan mudharabah berjangka. Padahal secara pembagian
keuntungan (bagi hasil), tabungan mudharabah berjangka lebih menguntungkan
dibandingkan dengan tabungan umum mudharabah.
BMT MMU Cabang Wonorejo sebagai mudharib, dalam mendapatkan
keuntungan, mereka menyalurkan modal dari nasabah (shahibul maal) kepada
masyarakat yang membutuhkan dana melalui berbagai produk pembiayaan. Dan
kemudian atas dasar prinsip bagi hasil, BMT sebagai mudharib dari penabung
(shohibul maal), harus membagikan keuntungan yang diperolehnya kepada
24
penabung. Dan dalam hal ini juga memerlukan mekanisme perhitungan bagi hasil
antara BMT (mudharib) dan Penabung (shahibul maal).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul: “Penerapan Standar Operasional Prosedur dan Sistem
Bagi Hasil Pada Tabungan Mudharabah” (Studi Pada BMT MMU Cabang
Wonorejo Pasuruan).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) Tabungan umum
mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo
Pasuruan?
2. Bagaimana penerapan sistem bagi hasil tabungan umum mudharabah dan
mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan?
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi bagi hasil tabungan umum mudharabah
dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan?
C. Tujuan
1. Untuk mendeskripsikan Standar Operasional Prosedur (SOP) Tabungan
umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang
Wonorejo Pasuruan.
2. Untuk mendeskripsikan penerapan sistem bagi hasil tabungan umum
mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo
Pasuruan.
25
3. Untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi bagi hasil tabungan
umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang
Wonorejo Pasuruan.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Akademisi
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan
tentang sistem bagi hasil sebagai prinsip perekonomian Islam
2. Bagi Manajemen BMT
Sebagai informasi dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan serta
penetapan kebijakan demi kemajuan dan perkembangan BMT MMU Cabang
Wonorejo Pasuruan.
3. Bagi Masyarakat Luas
Menambah wawasan dan pemahaman masyarakat tentang keuangan
syari’ah khususnya Baitul Maal wat Tamwil. Sebagai alternatif dalam
mensosialisasikan produk dan mekanisme transaksi keuangan syari’ah.
4. Bagi Peneliti
Sebagai wahana untuk mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama
belajar di bangku kuliah, serta menambah pengetahuan tentang lembaga
keuangan syari’ah pada umumnya dan Implementasi sistem bagi hasil pada
tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka pada khususnya.


26
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu

Metode
Penelitian
No Nama Judul Jenis
peneliti
an
Analisi
s Data
Hasil
1 Yatty
Hariati
Ningsih,
2003,
Analisis
Penerapan
Sistem
Bagi Hasil
Tabungan
dan
Deposito
Di PT Bank
Perkredita
n Rakyat
Syari’ah
(BPRS)
Bumi
Rinjani
Batu
Kualitat
if
Kualitat
if
Kuantit
atif
Dalam pengolahan dana telah
memenuhi target seperti yang
ditetapkan oleh BPRS Bumi
Rinjani Batu yaitu dengan
penerapan sistem bagi hasil yang
mampu menarik minat nasabah,
karena nasabah berasumsi bahwa
hanya dengan menggunakan
sistem tersebut uang yang
ditabung di bank syari’ah jauh
dari unsur riba.
2 Emi
Suhariati,
2005,
Sistem
Perhitunga
n Bagi
Hasil
Pembiayaa
n
Mudhrabah
Pada PT
Bank
Syari’ah
Mandiri
Cabang
Kualitat
if
Kualitat
if
Bahwa sistem perhitungan bagi
hasil pembiayaan mudharabah yang
diterapkan oleh PT. Bank Syari’ah
Mandiri Cabang Malang melalui
beberapa tahapan:
a. Penentuan besarnya
pembiayaan, rencana
penerimaan usaha, jangka
waktu pembiayaan Expectasi rate
(keuntungan yang diharapkan).
b. Menghitung Expectasi bagi hasil,
27
Malang

dengan cara jangka waktu
pembiayaan dibagi 12 dikalikan
expectasi bagi hasil dibagi
rencana penerimaan usaha.
c. Menghitung nisbah bagi hasil,
dengan cara expectasi bagi hasil
di bagi recana penerimaan
usaha.
d. Mendistribusikan pendapatan
masing-masing sesuai dengan
nisbah yang telah disepakati
bersama.
Metode distribusi bagi hasil yang
diterapkan adalah revenue sharing
(bagi penerimaan) bukan profit
sharing (bagi untung) maupun
profit loss sharing (bagi untung dan
rugi)
3 Yustiana
Faizati,
2006,
Pelaksaaan
Pengawasa
n Bank
(shahibul
maal)
Terhadap
mudharib
dan
Mekanism
e
Perhitunga
n Bagi
Hasil.
(Studi
Kasus
Pada Bank
Perkredita
n Rakyat
Syari’ah
Al-Mabrur
Ponorogo)
Kualitat
if
Deskrip
tif
Pelaksanaan pengawasan yang
diterapkan BPRS Al-Mabrur
Ponorogo dalam pembiayaan
mudharabah adalah pengawasan
aktif (on the spot) dan pengawasan
pasif.
Mekanisme perhitungan bagi hasil
(nisbah) yang diterapkan BPRS Al-
Mabrur Ponorogo pada
pembiayaan mudharabah adalah
dengan mengacu bagi hasil
kesepakatan (negoisasi) anatara
bank (shahibul maal) dengan
debitur (mudharib). Adapun faktor
yang mempengaruhi dalam
penentuan bagi hasil akad
mudharabah adalah tingkat
komoditas (potensi) usaha debitur.
Hal tersebut akan mempengaruhi
tingkat kemampuan debitur dalam
melakukan pembayaran angsuran,
baik pembayaran pokok maupun
nisbah bagi hasilnya.
4 Esy Nur
Aisyah
Penerapan
Standar
Kualitat
if
Kualitat
if
Penerapan standar operasional
Prosedur Tabungan Mudharabah
28
2008, Operasion
al Prosedur
dan Sistem
Bagi Hasil
Pada
Tabungan
Mudharab
ah (Studi
Pada BMT
MMU
Cabang
Wonorejo
Pasuruan)
dengan
pendek
atan
deskrip
tif
di BMT MMU Cabang Wonorejo,
secara teknisi menggambarkan
bahwa dalam prosedural
menabung, BMT memberikan
kemudahan kepada anggota
koperasi. Kemudian system bagi
hasil yang diterapkan adalah
dengan prinsip Profit Sharing. Serta
faktor-faktor yang mempengaruhi
terhadap besar kecilnya bagi hasil
yaitu jumlah dana yang
diinvestasikan oleh anggota,
penetapan nisbah, pendapatan
bersih, serta kebijakan accounting
yang diterapkan oleh BMT.
Sumber : Data diolah dari hasil peneletian terdahulu

Dengan melihat tabel di atas, maka dapat terlihat persamaan dan perbedaan
penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Adapun persamaannya yaitu dalam hal
judul pembahasan dan juga metode penelitian. Sistem bagi hasil merupakan salah
satu pokok pembahasan dalam penelitian sekarang maupun dalam penelitian
terdahulu. Dan metode yang digunakan dalam penelitian antara keduanya yaitu
dengan pendekatan kualitatif.
Sedangkan yang membedakan antara penelitian sekarang dengan penelitian
terdahulu yaitu dalam hal produk yang diteliti serta hal-hal yang terkait di
dalamnya. Penelitian sekarang mendeskripsikan tentang produk tabungan serta
perosedural yang terkait di dalamnya seperti dalam hal Standar Operasional
Prosedur (SOP).


29
B. Baitul Maal wat Tamwil (BMT)
1. Pengertian
Menurut Ridwan (2004:126) BMT merupakan kependekan dari Baitul Maal
Wa Tamwil atau dapat juga ditulis dengan Baitul Maal Wa baitul Tamwil. Secara
harfiah/ lughawi Baitul Maal berarti rumah dana dan Baitul Tamwil berarti rumah
usaha. Baitul maal dikembangkan berdasarkan sejarah perkembangannya, yakni
dari masa Nabi sampai abad pertengahan perkembangan Islam. Dimana Baitul Maal
berfungsi untuk mengumpulkan sekaligus mentasyarufkan dana sosial. Sedangkan
Baitul Tamwil merupakan lembaga bisnis yang bermotif laba.
Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa BMT merupakan lembaga
yang mempunyai dua fungsi, yaitu lembaga sebagai sosial dan lembaga sebagai
bisnis untuk menghasilkan laba / keuntungan. Secara konsepsi BMT merupakan
mediator bagi orang yang kelebihan dana dengan orang yang kekurangan dana.
Oleh karena itu, dalam hal ini BMT mencakup dua jenis kegiatan sekaligus, yaitu:
a. Kegiatan mengumpulkan dana dari berbagai sumber seperti zakat, infak dan
sedekah, dan lain-lain yang dapat dibagikan/ disalurkan kepada yang
berhak dalam mengatasi kemiskinan.
b. Kegiatan produktif dalam rangka menciptakan nilai tambah baru dan
mendorong pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya manusia.
2. Karakteristik BMT
Menurut Ridwan (2004:132) BMT mempunyai ciri utama dan ciri khusus.
Adapun ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
30
a. Ciri utama
1) Berorientasi bisnis, mencari laba bersama, meningkatkan pemanfaatan
ekonomi paling banyak untuk anggota dan masyarakat.
2) Bukan lembaga sosial, tetapi bermanfaat untuk mengefektifkan
pengumpulan dan pensyarufan dana zakat, infaq, dan sedekah bagi
kesejahteraan orang banyak.
3) Ditumbuhkan dari bawah berlandaskan peran serta masyarakat di
sekitarnya.
4) Milik bersama masyarakat bawah bersama dengan orang kaya di sekitar
BMT, bukan milik perorangan atau orang dari luar masyarakat. Atas
dasarnya ini BMT tidak dapat berbadan hukum perseroan.
b. Ciri khusus
1) Staf dan karyawan BMT bertindak proaktif, tidak menunggu tetapi
menjemput bola, bahkan merebut bola, baik untuk menghimpun dana
anggota maupun untuk pembiayaan.
2) Kantor dibuka dalam waktu yang tertentu yang ditetapkan sesuai kebutuhan
pasar, waktu buka kasnya tidak terbatas pada siang hari saja, tetapi dapat
saja malam atau sore hari tergantung pada kondisi pasarnya.
3) BMT mengadakan pendampingan usaha anggota.
4) Manajemen BMT adalah profesional islami


31
3. Status dan Badan hukum BMT
Sebagai organisasi informasi dalam bentuk kelompok Simpan Pinjam (KSP)
atau Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), BMT secara prinsip memiliki sistem
operasi yang tidak jauh dengan sistem operasi BPR syari’ah. Berkenaan dengan itu,
badan hukum yang dapat disandang oleh BMT adalah sebagai berikut (Muhamad,
2000: 114):
a. Koperasi Serba Usaha atau Koperasi Simpan Pinjam
b. KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) atau Prakoperasi. Dalam program
PHBK-BI (Proyek Hubungan Bank dengan KSM: Kelompok Swadaya
Masyaraka Bank Indonesia), BI memberikan ijin kepada LPSM (Lembaga
Pengembangan Swadaya Masyarakat Bank) tertentu untuk membina KSM.
c. LPSM itu memberikan sertifikat kepada KSM (dalam hal Baitut tamwil) untuk
beroperasi KSM disebut juga Prakoperasi.
d. MUI, ICMI, dan BMI telah menyiapkan LPSM bernama PINBUK yang
kepengurusannya mengikut sertakan unsur-unsur DMI, IPHI, pejabat tinggi
Negara yang terkait, BUMN, dan lain-lalin.
4. Prinsip operasional Baitul Maal wat Tamwil (BMT)
Lembaga keuangan syari’ah dengan sistem bagi hasil dirancang untuk
terbinanya kebersamaan dalam menanggung resiko usaha dan berbagi hasil usaha
antara: pemilik dana (rabbul maal) yang menyimpan uangnya di lembaga, lembaga
selaku pengelola dana (mudharib), dan masyarakat yang membutuhkan dana yang
bisa berstatus peminjam dana atau pengelola dana.
32
Secara garis besar, hubungan ekonomi berdasarkan syari’ah Islam tersebut
ditentukan oleh hubungan aqad yang terdiri dari lima konsep dasar aqad.
Bersumber dari kelima konsep dasar inilah dapat ditemukan produk-produk
lembaga keuangan Bank Islam dan lembaga keuangan bukan bank Islam untuk
dioperasionalkan. Kelima konsep tersebut adalah:
a. Konsep dasar aqad Tijaroh atau pertukaran/jual beli
- Prinsip jual beli
- Syarat syahnya jual beli
- Syarat penjual dan pembeli
- Syarat barang
- Syarat harga
- Jenis jual beli
b. Konsep dasar aqad qadiah/titipan
- Wadi’ah Yad al Amanah
- Wadi’ah Yad Al Dhomanah
c. Konsep dasar aqad syirkah/berserikat
- Al-Musyarakah
- Al-Mudharabah
d. Konsep dasar aqad kafalah/memberi kepercayaan/memberi jaminan
e. Konsep dasar aqad wakalah/memberi ijin (Muhamad, 2000: 111-113).


33
5. Produk-produk Baitul Maal wat Tamwil
Muhamad (2000:117-120) berpendapat bahwa Secara fungsional, operasional
BMT adalah hampir sama dengan BPR Syari’ah. Yang membedakan hanyalah pada
sisi lingkup dan struktur. Dilihat dari fungsi pokok operasional BMT, ada dua
fungsi pokok dalam kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat, kedua
fungsi tersebut adalah:
Produk pengumpulan dana BMT
a. Simpanan Wadiah
Adalah titipan dana yang tiap waktu dapat ditarik pemilik atau anggota
dengan cara mengeluarkan semacam surat berharga pemindah bukuan/transfer
dari perintah bayaran lainnya.
b. Simpanan Mudharabah
Adalah simpanan pemilik dana yang penyetorannya dan penarikannya dapat
dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.
Adapun jenis-jenis tabungan/simpanan di BMT adalah sebagai berikut:
1) Tabungan persiapan qurban
2) Tabungan Pendidikan
3) Tabungan Persiapan untuk nikah
4) Tabungan persiapan untuk melahirkan
5) Tabungan naik haji/umroh
6) Simpanan Berjangka/deposito
7) Simpanan khusus untuk kelahiran
34
8) Simpanan sukarela
9) Simpanan hari tua
10) Simpanan aqiqoh
(http://www.smecda.com/kajian/files/jurnal keuangan.alt.pdf).
Produk Penyaluran dana
a. Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil (BBA)
Adalah suatu perjanjian pembiayaan yang disepakati antara BMT dengan
anggotanya, dimana BMT menyediakan dananya untuk sebuah investasi dan atau
pembelian barang modal dan usaha anggotanya yang kemudian proses
pembayarannya dilakukan secara mencicil atau angsuran. Jumlah kewajiban yang
harus dibayarkan oleh peminjam adalah jumlah atas harga barang modal dan mark-
up yang disepakati.
b. Pembiyaan Murabahah
Pembiayaan murabahah pada dasarnya merupakan kesepakatan antara BMT
sebagai pemberi modal dan anggota sebagai peminjam. Prinsip yang digunakan
adalah sama seperti pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil, hanya saja proses
pengembaliannya dibayarkan pada jatuh tempo pengembaliannya.
c. Pembiayaan Mudharabah
Adalah suatu perjanjian pembiayaan antara BMT dan anggota, dimana BMT
menyediakan dana untuk menyediakan modal kerja, sedangkan peminjam
berupaya mengelola dana tersebut untuk pengembangan usahanya.

35
d. Pembiayaan Musyarakah
Adalah penyertaan BMT sebagai pemilik modal dalam suatu usaha yang
mana antara resiko dan keuntungan ditanggung bersama secara berimbang dengan
porsi penyertaan.
e. Pembiayaan Al-Qardhul Hasan
Adalah perjanjian pembiayaan antar BMT dengan anggotanya. Hanya
anggota yang dianggap layak yang dapat diberi pinjaman ini.
6. Persamaan dan perbedaan lembaga keuangan syari’ah dengan konvensional
a. Persamaan
1) Teknis penerimaan uang
2) Mekanisme transfer
3) Teknologi yang digunakan
4) Syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, Proposal,
dsb.
b. Perbedaan
1) Aspek akad dan legalitas
Setiap akad dalam lembaga keuangan syari’ah, baik dalam hal barang, pelaku
transaksi, maupun ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad,
seperti rukun dan syaratnya.
2) Usaha yang dibiayai
Terdapat saringan kehalalan, kemanfaatan dan kemashlahatan.
3) Lingkungan kerja
36
Lingkungan kerja yang sejalan dengan syari’ah. Dalam hal etika, misalnya:
amanah, shiddiq, cerdas dan professional (fathanah), mampu melaksanakan
tugas secara team-work dimana informasi merata di seluruh fungsional
organisasi (tabligh). Selain itu juga cara berpakaian dan bertingkah laku.
4) Struktur organisasi
Keharusan adanya Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) yang bertugas
mengawasi operasional Lembaga Keuangan Syari’ah dan produk-produknya
agar sesuai dengan garis-garis syari’ah
(www.takaful.com/index.php/publisher/articleview/68).

C. Standar Operasional Prosedur (SOP)
1. Pengertian SOP
a) Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan
menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.
b) SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus
dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu.
2. Tujuan SOP
a) Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja
petugas/pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja.
b) Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam
organisasi
37
c) Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari
petugas/pegawai terkait.
d) Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek atau
kesalahan administrasi lainnya.
e) Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan
inefisiensi
3. Fungsi SOP
a) Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
b) Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
c) Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.
d) Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja.
e) Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.
4. Kapan SOP Diperlukan
a) SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan
b) SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah dilakukan
dengan baik atau tidak
c) Uji SOP sebelum dijalankan, lakukan revisi jika ada perubahan langkah kerja
yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja.
5. Keuntungan Adanya SOP
a) SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat
komunikasi dan pengawasan dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara
konsisten
38
b) Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa
yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan
c) SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bisa
digunakan untuk mengukur kinerja pegawai
(http//rafhli.multiply.com/journal/item/10).
Dengan demikian, secara umum SOP dapat memberikan kemudahan kepada
perusahaan untuk menjalankan operasional perusahaan, dan selain itu pula juga
dapat dijadikan acuan kerja oleh karyawan untuk menjadi sumber daya manusia
yang professional, handal sehingga dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan.

D. Tabungan
1. Pengertian Tabungan
Berdasarkan UU Perbankan No 10 Tahun 1998 yang merupakan
penyempurnaan dari Undang-undang No 7 Tahun 1992. Definisi tabungan adalah:
a. Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank
berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposit,
sertifikat deposito, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu.
b. Tabungan adalah simpanan yang penarikannnya hanya adapt dilakukan
menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan
cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
39
Dari pengertian di atas, maka definisi tabungan adalah dana yang
dipercayakan kepada bank, yang penarikannya sesuai dengan perjanjian
sebelumnya. Dalam penabungan, maka dana tersebut akan dikelola secara
profesional oleh pihak bank sesuai dengan motivasi dari si penabung.
Islam juga menganjurkan untuk hemat dalam setiap pengeluaran. Sehingga
Islam menetapkan aturan-aturan perekonomian dalam hal menyimpan dan
menabung. Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Menyimpan kelebihan setelah kebutuhan primer terpenuhi
b. Menyimpan kelebihan untuk menghadapi kesulitan
c. Hak harta generasi mendatang
d. Tidak menimbun harta
e. Pengembangan harta harus dilakukan dengan baik dan halal (Syahatah, 1998:
83-87).
2. Menabung Dalam Perspektif Islam
Menabung adalah tindakan yang dianjurkan oleh Islam, karena dengan
menabung berarti seorang muslim mempersiapkan diri untuk pelaksanaan
perencanaan masa yang akan datang, sekaligus untuk menghadapi hal-hal yang
tidak diinginkan.
Dalam al-qur’an terdapat ayat-ayat yang secara tidak langsung telah
memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan hari esok lebih baik
(Antonio, 2000:205-206):

40
a. Al-Qur’an
_‚´‹9´ρ š¸%!¦ ¯θ9 ¦θ. ¸. ¸Β `Ο¸γ¸±= > π−ƒ¸¯‘Œ !±≈-¸. ¦θ·l> ¯Ν¸γŠ=. ¦θ)−.´ ‹=· ´<¦
¦θ9θ)´ ‹9´ρ ω¯θ% ¦‰ƒ¸‰™ ∩∪

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah
dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(An-nisa’:9)
b. Al_Hadits
ﺣ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﻧ ` ﺼ ` ﺮ ` ﻳ ` ﻦ ﻋ ِ ﻠ ` ﻲ ﹾ ﻟﺍ ﺠ ` ﻬ ﻀ ِ ﻤ ' ﻲ , ﺣ ` ﺪ ﹶ ﺛ ﻨ ` ﻧ ﺎ ` ﻮ ` ﺡ ` ﺑ ` ﻦ ﹶ ﻗ ` ﻴ ٍ ﺲ , ﻋ ` ﻦ ﻋ ` ﻴ ِ ﺪ ِ ﷲﺍ ` ﺑ ِ ﻦ ِ ﻋ ` ﻤ ﺮ ِ ﻥﺍ , ﻋ ` ﻦ ﻋ ِ ﺻﺎ ٍ ﻢ ﹾ ﺍ َ ﻷ ` ﺣ ﻮ ِ ﻝﺍ , ﻋ ` ﻦ ِ ﻋ ` ﺒ ِ ﺪ
ِ ﷲﺍ ` ﺑ ِ ﻦ ﺳ ` ﺮ ِ ﺟ ﺲ ﹾ ﻟﺍ ` ﻤ ﺰ ِ ﻧ ` ﻲ , ﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ` ﻨﻟﺍ ِ ﺒ ` ﻲ ﺻ ﱠ ﻠ ُ ﷲﺍ ﻰ ﻋ ﹶ ﻠ ` ﻴ ِ ﻪ ﻭ ﺳ ﱠ ﻠ ﻢ ﹶ ﻗ ﹶ ﻝﺎ · ` ﺴﻟﺍ ` ﻤ ` ﺖ ﹾ ﻟﺍ ﺤ ﺴ ` ﻦ ﻭ ' ﺘﻟﺍ ﺆ ﺩ ﹸ ﺓ ﻭ ِ ﻻﹾ ﺍ ﹾ ﻗ ِ ﺘ ﺼ ` ﺩﺎ ` ﺟ ` ﺰ ٌ ﺀ ِ ﻣ ` ﻦ
ﹶ ﺃ ` ﺭ ﻳ ﻌ ٍ ﺔ ﻭ ِ ﻋ ` ﺸ ِ ﺮ ` ﻳ ﻦ ` ﺟ ` ﺰ ً ﺀ ِ ﻣ ﺍ ﻦ ' ﻨﻟﺍ ` ﺒ ` ﻮ ِ ﺓ .
Artinya: “Tingkah laku yang baik, pelan-pelan dalam mengerjakan sesuatu, dan sederhana
adalah sebagian dari dua puluh empat bagian kenabian.” (H.R Tarmizy : 2.010)
3. Jenis-jenis Tabungan
Dalam operasional bank syari’ah, menerapkan dua aqad dalam tabungan,
yaitu wadi’ah dan mudharabah. Tabungan yang menerapkan wadi’ah, mengikuti
prinsip-prinsip wadi’ah yad adh-dhamanah, dimana tabungan ini tidak mendapatkan
imbalan bagi hasil, karena sifatnya titipan dan dapat diambil dengan mengunakan
buku tabungan atau melalui ATM.
41
Tabungan yang menerapkan aqad mudharabah mengikuti prinsip
mudharabah, yang diantaranya adalah pertama, keuntungan yang diperoleh dari
dana yang dikelola oleh bank sebagai mudharib harus dibagi dengan nasabah
sebagai shahibul maal. Kedua, adanya tenggang waktu antara dana yang diberikan
dan pembagian keuntungan, karena untuk melakukan investasi dengan
memutarkan dana itu diperlukan waktu yang cukup.
Menurut Muhamad (2000:118) dalam lembaga keuangan Islam, Variasi jenis
simpanan yang berakad mudharabah dapat dikembangkan kedalam berbagai variasi
simpanan, seperti:
- Simpanan Idul Fitri
- Simpanan Idul Qurban
- Simpanan Haji
- Simpanan pendidikan
- Simpanan Kesehatan, dll .

E. Mudharabah
1) Pengertian Mudharabah
Antonio (2001: 95) memberikan definisi, mudharabah adalah akad kerja sama
usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh
(100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola, keuntungan usaha
secara secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam
kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian
42
itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena
kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengolala harus bertanggung jawab atas
kerugian tersebut.
Hal serupa diungkapkan oleh manager BMT MMU Sidogiri Pasuruan
Dumairi, dkk (2007: 9), Mudharabah (qiradh) adalah penyerahan harta dari shahib al-
mal (pemilik modal/dana kepada mudharib (pengelola dana) sebagai modal usaha,
sedangkan keuntungannya dibagi sesuai dengan nisbah (perbandingan laba rugi)
yang disepakati. Jika terjadi kerugian, maka ditutupi dengan laba yang diperoleh.
Penerapan prinsip mudharabah yaitu tenaga kerja dan pemiliki modal
bergabung bersama-sama sebagai mitra usaha untuk kerja. Ini bukan semata-mata
mitra usaha dalam arti modern. Ia mempunyai kelebihan karena islam telah
memberikan kode etik ekonomi yang menggabungkan nilai material dan spiritual
untuk jalan sistem ekonominya (Mannan, 1997: 167).
Dari pengertian di atas, maka mudharabah dapat diartikan sebagai akad
kerja sama antara pemilik modal (shahibul mal) dengan pengelola dana (mudharib)
untuk memperoleh keuntungan dengan sistem bagi hasil (nisbah) yang telah
disepakti di awal akad.
Pengaplikasian mudharabah dalam perbankan biasanya diterapkan pada
produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana al-
mudharabah diterapkan pada:
43
a. Tabungan, yaitu simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan
menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan
cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu
b. Deposito (tabungan berjangka), yaitu simpanan yang penarikannya hanya
dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian Nasabah
Penyimpan dengan Bank. Misalnya tabungan haji, tabungan qurban dan lain
sebagainya.
c. Giro, yaitu simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan
menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau
dengan pemindahbukuan;
Adapun pada sisi pembiayaan, mudharabah diterapkan untuk:
a. Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa.
b. Investasi khusus, disebut juga mudharabah muqayyadah, dimana sumber dana
khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah
ditetapkan oleh shahibul maal.
Ketentuan tabungan, giro dan deposito berdasarkan mudharabah dalam
masing-masing fatwanya adalah sama. Isi dari ketentuan-ketentuannya adalah
sebagai berikut:
1) Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik
dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana.
44
2) Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai
macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan
mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.
3) Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan
piutang.
4) Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan
dituangkan dalam akad pembuakaan rekening.
5) Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan atau giro atau
deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
6) Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa
persetujuan yang bersangkutan (Wirdyaningsih, 2005: 130).
2) Landasan Syari’ah
Secara umum, landasan dasar syari'ah al-mudharabah lebih mencerminkan
anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadits berikut
ini (Antonio, 2001: 95-96) :
a) Al-Qur’an
¦Œ¸|· ¸¸´Š¸.% οθ=¯.9¦ ¦ρ`¸¸:.Ρ! · ’¸· ¸_¯‘{¦ ¦θ-.¯,¦´ρ ¸Β ¸≅.· ¸<¦ ¦ρ`¸.Œ¦´ρ ´<¦ ¦¸¸. .
¯/3‾=-9 βθ>¸=±. ∩⊇⊃∪
Artinya: Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung. “(Al-Jumu’ah: 10)
45
b) Al-Hadits
ﺭ ﻭ ﻯﺍ ِ ﺇ ` ﺑ ` ﻦ ﻋ ` ﺒ ٍ ﺱﺎ ﺭ ِ ﺿ ﻲ ُ ﷲﺍ ﻋ ` ﻨ ` ﻬ ﻤ ﹶ ﺃ ﺎ ` ﻧ ` ﻪ ﹶ ﻗ ﹶ ﻝﺎ · ﹶ ﻛ ﹶ ﻥﺎ ﺳ ` ﻴ ` ﺪ ﻧ ﻌﻟﺍ ﺎ ` ﺒ ` ﺱﺎ ` ﻦﺑ ﻋ ` ﺒ ِ ﺪ ﹸ ﳌﺍ ﹸ ﻄ ﱢ ﻠ ِ ﺐ ِ ﺇ ﹶ ﺫ ﺩ ﺍ ﹶ ﻓ ﻊ ﹶ ﺎﳌﺍ ﹶ ﻝ ` ﻣ ﻀ ﺭﺎ ﺑ ﹰ ﺔ ِ ﺇ ` ﺷ ﺘ ﺮ ﹶ ﻁ
ﻋ ﹶ ﻠ ﺻ ﻰ ِ ﺣﺎ ِ ﺒ ِ ﻪ ﹾ ﻥﺍ ﹶ ﻻ ﻳ ` ﺴ ﹸ ﻠ ﻚ ِ ﺑ ِ ﻪ ﺑ ` ﺤ ﺮ ﻭ ﺍ ﹶ ﻻ ﻳ ` ﻨ ِ ﺰ ﹸ ﻝ ِ ﺑ ِ ﻪ ﻭ ِ ﺩﺍ ﹰ ﺎﻳ ﻭ ﹶ ﻻ ﻳ ` ﺸ ﺘ ِ ﺮ ﻱ ِ ﺑ ِ ﻪ ﺩ ` ﺑﺍ ﹰ ﺔ ﹶ ﺫ ﺕﺍ ﹶ ﻛ ِ ﺒ ِ ﺪ ﺭ ﹾ ﻃ ﺒ ِ ﺔ ﹶ ﻓ ِ ﺈ ﹾ ﻥ ﹶ ﻓ ﻌ ﹶ ﻞ ﹶ ﺫ ِ ﻟﺍ ﻚ ﺿ ِ ﻤ ﻦ
ﹶ ﻓ ﻴ ﹶ ﻠ ﹶ ﻎ ﺷ ` ﺮ ﹸ ﻃ ` ﻪ ﺭ ` ﺳ ` ﻮ ﹸ ﻝ ِ ﷲﺍ ﱠ ﻠﺻ ِ ﷲﺍ ﻰ ﻋ ﹶ ﻠ ` ﻴ ِ ﻪ ﻭ ﺳ ﱠ ﻠ ﻢ ﹶ ﻓ ﹶ ﺄ ﺟ ﺯﺎ ` ﻩﺍ .
Artinya:
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib jika
memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar
dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya,
atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, yang bersangkutan
bertanggungjawab atas dana tersebut. Di sampaikanlah syarat-syarat tersebut
kepada Rasulullah saw. Dan Rasulullah pun membolehkannya.”(HR Thabrani:
1296).
c) Ijma’
Imam Zailai telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus
terhadap legitimasi pengolahan harta yatim secara mudharabah. Kesepakatan para
sahabat ini sejalan dengan spirit hadits yang dikutip Abu Ubaid.
3) Rukun dan Syarat Mudharabah
Dumairi, Nor, dkk (2007: 10-12), membagi rukun mudharabah menjadi enam
dan syarat mudharabah menjadi tiga. Adapun rukun mudharabah adalah sebagai
berikut:
a. Malik/Shib al-mal (pemilik modal)
46
b. ‘Amil/Mudharib (pengelola)
c. Mal (Harta pokok, modal, atau dana)
d. ‘Amal (Usaha)
e. Ribh (Laba/keuntungan)
f. Shighat ‘Ijab Qabul (ucapan serah terima)
Sedangkan syarat mudharabah adalah:
a. Modal harus berupa uang atau perak
b. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan
dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
c. Tidak diikat dengan waktu khusus.
4) Jenis-jenis Mudharabah
Secara umum, mudharabah terbagi menjadi dua jenis, yaitu mudharabah
muthlaqah dan mudharabah muqayyadah :
a. Mudharabah Muthlaqah adalah bentuk kerja sama anatara shahibul maal dan
mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi
jenis usaha, waktu dan daerah bisnis.
b. Mudharabah Muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restricted
mudharabah/specified mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah
muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu atau
tempat usaha (Antonio, 2001: 97).


47
F. Bagi Hasil
1. Pengertian Bagi Hasil
Bagi hasil menurut terminology asing (Inggris) dikenal dengan profit sharing.
Profit sharing dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba (Muhammad, 2005:
105). Adapun menurut Muhammad (2001) dalam Ridwan (2004: 120), secara istilah
profit sharing merupakan distribusi beberapa bagian laba pada para pegawai dari
suatu perisahaan. Bentuk-bentuk distribusi ini dapat berupa pembagian laba akhir,
bonus prestasi, dll. Dengan demikian, bagi hasil merupakan sistem yang meliputi
tatacara pembagian hasil usaha antara pemilik dana dan pengelola dana.
Muhamad (2000: 47) berpendapat bahwa secara prinsipil bagi hasil dapat
diartikan sebagai prinsip muamalat berdasarkan syari’ah dalam melakukan usaha
bank seperti dalam hal:
a) Menetapkan imbalan yang akan diberikan masyarakat sehubungan dengan
penggunaan atau pemanfaatan dana masyarakat yang dipercayakan.
b) Menetapkan imbalan yang akan diterima sehubungan dengan penyediaan
dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan baik dalam bentuk
investasi maupun modal kerja.
c) Menetapkan imbalan sehubungan dengan kegiatan lain yang dilakukan oleh
bank dengan prinsip bagi hasil.
Prinsip bagi hasil merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi
operasional bank Islam secara kesuluruhan, dimana bank Islam berdasarkan kaidah
48
mudharabah dengan menjadikan bank sebagai mitra bagi nasabah ataupun bagi
pengusaha yang meminjam dana (Antonio, 2001: 137).
Secara umum prinsip bagi hasil dalam perbankan syari’ah dapat dilakukan
dalam empat aqad utama yaitu: al-musyarakah, al-mudharabah, al-muzaro’ah, dan al-
musyaqah.
2. Pengertian Nisbah
Nisbah merupakan proporsi pembagian hasil. Nisbah ini akan ditetapkan
dalam akad atau perjanjian. Sebelum akad ditandatangani, nasabah/anggota dapat
menawar sampai pada tahap kesepakatan. Hal ini tentunya berbeda dengan sistem
bunga, yakni nasabah selalu pada posisi pasif dan dikalahkan, karena pada
umumnya bunga menjadi kewenangan pihak bank (Ridwan, 2004: 121).
Jadi, nisbah adalah sebagai pembagian keuntungan yang terbagi dalam
bentuk prosentase antara pemilik modal dan pengelola modal. Kesepakatan
tentang nisbah ini selanjutnya tertuang dalam akad. Atas dasar laporan dari
nasabah/anggota, manajemen BMT akan membuat perhitungan bagi hasilnya
sesuai dengan nisbah tersebut
3. Perbedaan Antara Bunga dengan Bagi Hasil
Dalam surat al-Baqarah ayat 275, Islam dengan jelas mengharamkan riba dan
menghalalkan jual beli. Riba dalam hal ini adalah sistem bunga yang sering
dipraktekkan oleh perbankan konvensional. Sebagai bentuk penghindaran dari
unsur riba/bunga, Islam menawarkan sistem bagi hasil sebagai penerapan dari
prinsip keadilan sebagaimana yang dianjurkan oleh syariat Islam.
49
Kedua sistem tersebut, sama-sama memberikan keuntungan, Tetapi
memiliki perbedaan mendasar. Adapun perbedaannya dapat dilihat dalam tabel di
bawah ini:
Tebel 2.2
Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil

Bunga Bagi Hasil
Penentuan
Keuntungan
Pada waktu perjanjian
dengan asumsi harus
selalu untung
Pada waktu akad
dengan pedoman
kemungkinan untung
rugi
Besarnya Prosentase Berdasarkan jumlah
uang (modal) yang
dipinjamkan
Berdasarkan jumlah
keuntungan yang
diperoleh
Pembayaran Seperti yang dijanjikan
tanpa pertimbangan
untung rugi
Bergantung pada
keuntungan proyek bila
rugi ditanggung
bersama
Jumlah Pembayaran Tetap, tidak meningkat
walau keuntungan
berlipat
Sesuai dengan
peningkatan jumlah
pendapatan
Eksistensi Diragukan oleh semua
agama
Tidak ada yang
meragukan
keabsahannya
Sumber: Wiryaningsih (2005:49), Bank dan Asuransi Islam Di Indonesia (Kencana).
Dengan melihat perbedaan di atas, maka melakukan transaksi di perbankan
syari’ah adalah merupakan bentuk dari investasi. Karena dalam investasi terdapat
resiko yang harus ditanggung (terdapat unsur ketidakpastian). Sedangkan dalam
pembungaan uang adalah aktivitas yang kurang mengandung resiko karena adanya
prosentase suku bunga yang perolehan kembaliannya relatif pasti dan tetap, dan
dalam hal ini tergantung pada besarnya modal.
50
Dengan demikian, untuk dapat meningkatkan return on investment dan
bersaing dengan lembaga perbankan konvensional, perbankan syari’ah harus lebih
cepat dalam menemukan peluang pasar sehingga dapat lebih memberikan
kepercayaan kepada masyarakat.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi bagi hasil
Kontrak mudharabah adalah suatu kontrak yang dilakukan oleh minimal
dua pihak. tujuan utama kntrak ini adalah memperoleh hasil investasi. Besar
kecilnya hasil investasi dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor pengaruh tersebut
ada yang berdampak langsung dan ada yang tidak langsung.
a. Faktor langsung
1) Investment rate merupakan prosentase actual dana yang diinvestasikan dari
total dana
2) Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana
dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan. Dana tersebut
dapat dihitung dengan menggunakan salah satu metode:
- Rata-rata saldo minimum bulanan
- Rata-rata total saldo harian
Investment rate dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk
diinvestasikan akan menghasilkan jumlah dana aktual yang digunakan.
3) Nisbah (profit sharing ratio)
a) Salah satu ciri al mudharabah adalah nisbah yang harus ditentukan dan
disetujui pada awal perjanjian.
51
b) Nisbah antara satu bank dengan bank lainnya dapat berbeda.
c) Nisbah juga dapat berbeda dari waktu ke waktu dalam satu bank,
misalnya deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan.
d) Nisbah juga dapat berbeda antara satu account dengan account lainnya
sesuai dengan besarnya dana jatuh temponya.
b. Faktor tidak langsung
1) Penentuan butir-butir pendapatan dan biaya mudharabah
a) Bank dan nasabah melakukan share dalam pendapatan dan biaya
pendapatan yang dibagi hasilkan merupakan pendapatan yang diterima
dikurangi biaya-biaya.
b) Jika semua biaya ditanggung bank, maka hal ini disebut revenue sharing.
2) Kebijakan akunting (prinsip dan metode akuntansi)
Bagi hasil secara tidak langsung dipengaruhi oleh berjalannya aktivitas yang
diterapkan, terutama sehubungan dengan pengakuan pendapatan dan biaya
(Muhammad, 2005: 110-111).
5. Perhitungan Bagi Hasil
Menurut Muhammad (2005: 111) berpendapat bahawa Dana yang telah
dikumpulkan oleh bank Islam dari titipan dana pihak ketiga atau itipan lainnya,
perlu dikelola dengan penuh amanah dan istiqomah. Dengan harapan dana tersebut
mendatangkan keuntungan yang besar, baik untuk nasabah maupun bank Islam.
Prinsip utama yang harus dikembangkan bank Islam dalam kaitan dengan
manajemen dana adalah, bahwa : Bank Islam harus mampu memberikan bagi hasil
52
kepada penyimpan dana minimal sama dengan atau lebih besar dari suku bunga
yang berlaku di bank konvensional, dan mampu menarik bagi hasil dari debitur
lebih rendah dari pada bunga yang diberlaku di bank konvensional.
Bagi hasil dalam lembaga keuangan syari’ah adalah bagi hasil keuntungan
maupun kerugian. Jadi, jika dalam usaha bersama mengalami resiko maka dalam
konsep bagi hasil, kedua belah pihak akan sama-sama menanggung resiko. Shahibul
maal (nasabah) akan mengalami kerugian dalam modal, sedangkan pihak pengelola
dana akan kerugian dalam tenaga yang telah dikeluarkannya. Dengan
permasalahan itu, maka kedua belah pihak dalam konsep bagi hasil adalah adanya
partisipasi dalam menanggung resiko.
Muhammad (2005:117-120), juga menjelaskan tentang poin-poin yang
diperhitungkan dalam proses perhitungan bagi hasil. Adapun Poin-poin tersebut
adalah sebagi berikut :
a. Saldo Rata-rata Harian
Langkah-langkah untuk menghitung saldo rata-rata harian adalah sebagai
berikut:
1) Menentukan tanggal berapa keuntungan yang diperoleh dari penempatan dana
akan dibagihasilkan.
2) Jumlah hari yang dihitung dalam satu bulan adalah sesuai dengan hitungan
kalender.
53
Misalkan tuan Mujahid nasabah di bank syari’ah, berupa tabungan Usaha
Mudharabah. Catatan tabungannya di kartu menunjukkan transaksi sebagai
berikut:
Tabel 2.3
Contoh Bentuk Buku Tabungan Tuan Mujahid

SANDI: Penyertoran = 1 Kadar Keuntungan = 4 Rupa-rupa = 7
Pengambilan = 2 Pembetulan Kesalahan= 5 pajak = 8
Pemindah buukuan = 3 Pemindahan Saldo = 6 Zakat = 9
Tanggal Sandi Debet
Rp
Kredit
Rp
Saldo
Rp
PC Pengesahan
Petugas Bank
27/10/97 1 575.000 575.000
2/11/97 2 125.000 450.000
10/11/97 1 250.000 700.000
15/11/97 2 100.000 600.000
21/11/97 1 400.000 1.000.000
Sumber: Muhammad, Manajemen Bank Syari’ah, Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan
(UPP) AMPYKPN, 2005.

Dari buku tabungan ini kemudian dihitung saldo rata-rata harian per bulan
pada tanggal 27 Nopember 1997, yaitu pada tanggal pembagian bagi hasil bank
kepada nasabah, sebagai berikut:
1. Tgl 27/10/97 s/d Tgl 1/11/97 = 6 hari x 575.000 = 3.450.000
2. Tgl 2/11/97 s/d Tgl 9/11/97 = 8 hari x 450.000 = 3.600.000
3. Tgl 10/11/97 s/d Tgl 14/11/97 = 5 hari x 700.000 = 3.500.000
4. Tgl 15/11/97 s/d Tgl 20/11/97 = 6 hari x 600.000 = 3.600.000
5. Tgl 21/11/97 s/d Tgl 26/11/97 = 6 hari x 1.000.000 = 6.000.000
Jumlah = 31 hari = 20.150.000
Sehingga saldo rata-rata harian = 20.150.000 : 31 = 650.000
54
3) Cara perhitungan di atas digunakan juga untuk menghitung simapanan lainnya
seperti rekening giro dan deposito berjangka.
4) Untuk menghitung simpanan yang ditutup, maka saldo rata-rata yang dihitung
adalah sejak tanggal 27 sampai dengan tanggal penutupan rekening tersebut
(rekening giro, tabungan dan deposito yang sudah jatuh tempo).
b. Pendapatan yang akan dibagi hasilkan
Pendapatan bagi hasil yang diperoleh bank berasal dari hasil penempatan
dana pihak ketiga melalui pembiayaan yang berakad jual beli, maupun syirkah atau
jasa. Hasil dari pendapatan tersebut dibagi hasilkan kepada nasabah pemilik dana
(deposan). Namun perlu diperhatikan bahwa untuk membagihasilkan pendapatan
tersebut harus dilihat perbandingan antara jumlah dana yang dikelola, modal
sendiri, giro, tabungan, deposito, dan lainnya) dengan jumlah pembiayaan yang
disalurkan. Apabila jumlah pembiayaan lebih kecil dari total dana masyarakat,
maka pendapatan tersebut seluruhnya dibagihasilkan antara nasabah dengan bank,
sebaliknya jika pembiayaan jumlahnya lebih besar dari total dana masyarakat, maka
modal bank juga harus harus memperoleh bagian pendapatan.
Dalam bukunya Muhammad (2005:113), terdapat contoh sederhana
perhitungan bagi hasil. Contoh tersebut seperti dibawah ini:
Kasus:
Bapak A memiliki deposito Rp10 juta, jangka waktu satu bulan (1 Desember
1995 s/d 1 Januari 1995), dan nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank 57% : 43%.
Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito satu bulan per 31 Desember
55
1995 adalah Rp20 juta dan rata-rata deposito jangka waktu 1 bulan adalah Rp950
juta, berapa keuntungan yang diperoleh Bapak A?
Jawab:
Keuntungan yang diperoleh bapak A adalah:
(Rp10 juta / Rp950) x Rp20 juta x 57% = Rp120.000
Dengan melihat penjelasan di atas, yaitu tentang proses perhitungan bagi
hasil dan contoh kasus bagi hasil, maka perhitungan bagi hasil dapat dirumuskan
sebagai berikut:

Harian Tabungan rata Rata Saldo
bank di dana rata Rata Saldo nisbah Keuntungan
Hasil Bagi

− × ×
=


















56
G. Kerangka Berfikir

PENGHIMPUNAN DANA
MMU Cabang Wonorejo Pasuruan
MODAL
DEPOSITO
(T.Mudharabah Berjangka )
INVESTASI
(Mudharabah Muthlaqah)
TABUNGAN
(T. Umum Mudharabah)
Data

- Tabungan Umum

Jumlah nasabah : 10.609/75%
BAGI HASIL
FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI BAGI
HASIL
KESIMPULAN
Data

Jumlah Nasabah: 3.537 (25%
dari Tabungan Mudharabah)
SOP TABUNGAN
REKOMENDASI
57
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, lokasi yang dipilih oleh penulis adalah Baitul Maal wat
Tamwil (BMT) Mashlahah Mursalah lil Ummah (MMU) Cabang Wonorejo
Pasuruan, yang beralamat di Jl Raya no 3 Wonorejo Pasuruan.

B. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif.. Penelitian
kualitatif didefinisikan oleh Bogdan & Taylor (1975 :5) dalam Moleong (2006:4)
adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-
kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Dalam
penelitian ini peneliti mendeskripsikan tentang prosedural menabung, penerapan
sistem bagi hasil, serta faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya
bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo.
Dan menurut Supardi (2005 : 28), Penelitian deskripsi secara garis besar
merupakan kegiatan penelitian yang hendak membuat gambaran atau mencoba
mencandra suatu peristiwa atau gejala secara sistematis, faktual dengan
penyusunan yang akurat. Pada penelitian ini kegiatan yang dilakukan peneliti yaitu
menggambarkan tentang peristiwa-peristiwa di BMT MMU Cabang Wonorejo
terkait dengan prosedural menabung/SOP, sistem bagi hasil serta faktor-faktor
58
yang mempengaruhi besar kecilnya bagi hasil, kemudian disusun secara akurat dan
sistematis.

C. Sumber Data
Sumber data adalah subyek dari mana saja data dapat diperoleh
(Arikunto,2002: 107). Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini
dengan dua sumber data:
a. Data primer (Primary data), merupakan sumber data penelitian yang diperoleh
secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer
secara khusus dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian
(Indriantoro, dkk, 2002:146). Data ini diperoleh dengan melakukan wawancara
dan observasi dengan pihak terkait, khususnya pada Staf Manager, Costumer
Service, Teller, Debt Collector, serta sebagian nasabah tabungan (Shahibul Maal)
di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan. Adapun nama-nama yang
diwawancarai oleh peneliti dapat dilihat di lampiran.
b. Data Sekunder (Secondary Data), merupakan sumber data penelitian yang
diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (Indriantoro,
dkk, 2002:147). Data ini diperoleh dari dokumen-dokumen yang umumnya
berupa bukti transaksi, laporan keuangan BMT Wonorejo pada bulan Januari
dan Februari Tahun 2008, catatan atau laporan histories BMT MMU Cabang
Wonorejo yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter).


59
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan bagian dari proses pengujian data yang
berkaitan dengan sumber dan cara untuk memperoleh data penelitan. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi (Pengamatan)
Observasi adalah proses pencataan pola perilaku subyek (orang), obyek
(benda) atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi
dengan individu-individu yang diteliti (Indriantoro, dkk, 2002:157). Peneliti
melakukan pengamatan secara langsung dengan jenis observasi partisipan, serta
peneliti menggunakan alat check lists (memberi tanda) item-item yang diamati dalam
prosedur tabungan anggota koperasi serta pembagian hasil yang dibiayai oleh BMT
MMU Cabang Wonorejo (Mudharib) pada Anggota koperasi (shahibul maal).
2. Interview (Wawancara)
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk
mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan
muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti (Mardalis,
1999:64). Peneliti melakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait yaitu kepada
Staf Manager, Costumer Service, Teller, Debtcollector, serta sebagian nasabah
tabungan dengan maksud untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi.
Data ini berupa: data tentang prosedur menabung di BMT MMU Cabang Wonorejo,
penerapan sistem bagi hasil tabungan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi bagi
60
hasil antara shahibul maal (anggota koperasi) dengan mudharib (BMT MMU Cabang
Wonorejo)
3. Dokumentasi
Menurut Indriantoro, dkk (2002:146) data ini berupa: faktur, jurnal surat-
surat, notulen hasil rapat, memo atau dalam bentuk laporan program. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan dokumentasi sebagai sarana untuk
mendapatkan data tentang: sejarah berdirinya BMT MMU Sidogiri, struktur
organisasi, visi dan misi, kegiatan operasionalnya, bukti-bukti transaksi pendanaan
tabungan serta laporan keuangan di BMT MMU Cabang Wonorejo pada bulan
Januari dan Februari tahun 2008.

E. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah sebagai bagian dari proses pengujian data yang hasilnya
digunakan sebagai bukti yang memadai untuk menarik kesimpulan penelitian
(Indriantoro, 2002:11). Analisis data dapat dilakukan setelah memperoleh data-data,
baik dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian data-data tersebut
diolah dan dianalisis untuk mencapai tujuan akhir penelitian.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Kualitatif.
Analisis kualitatif dalam hal ini dilakukan terhadap data yang berupa informasi,
uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk
mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya, sehingga
61
memperoleh gambaran baru ataupun menguatkan suatu gambaran yang sudah ada
dan sebaliknya (Subagyo, 2004:106).
Menurut Lexy J. Moleong (1994:190) dalam Sukidin dan mundir (2005:247-
248), mengemukakan proses analisis data kualitatif secara dirinci sebagai berikut:
1. Menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, dari wawancara,
pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi,
dokumen resmi, gambar, foto, dan sebagainya.
2. Reduksi data. Data yang telah dibaca, dipelajari, dan ditelaah tersebut mungkin
sangat banyak sekali jumlahnya, sehingga memerlukan reduksi (pengurangan,
penyusutan, atau penurunan) dengan cara membuat abstraksi.
3. Menyusun data hasil reduksi ke dalam satuan-satuan.
4. Melakukan kategorisasi terhadap satuan-satuan data sambil membuat koding.
5. Uji keabsahan data, yaitu memeriksa keabsahan data, data yang memenuhi
syarat (reliable dan valid) dipertahankan dan yang tidak memenuhi syarat
digugurkan.
6. Penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori subtantif dengan
menggunakan beberapa metode tertentu.
7. Penarikan kesimpulan (Penulisan laporan hasil penelitian).
Dengan analisis Kualitatif, Peneliti dalam menganalisis penelitian ini adalah
sebagai berikut :
62
1. Peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dari penelitian, baik data primer
maupun sekunder. Pengumpulan ini dimaksudkan untuk mengklasifikasikan
data-data yang relevan dengan tujuan penelitian.
2. Melakukan pemilihan data yang memiliki hubungan antar satu bagian dengan
bagian yang lain. Dan dalam hal ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana
penerapan Standar Operasional Prosedur dan sistem bagi hasil pada produk
tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU
Cabang Wonorejo.
3. Kemudian melakukan pengujian terhadap keabsahan data. Keabsahan data ini
dapat tercapai apabila sudah memenuhi kriteria kredibilitas (derajat
kepercayaan) yaitu dengan teknik pemeriksaan triangulasi.
4. Melakukan penafsiran data yaitu tentang prosedur menabung, sistematika bagi
hasil tabungan mudharabah dan mudharabah Berjangka serta faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam penentuan besar kecilnya bagi hasil. Kemudian
merelevansikannya dengan teori-teori yang terkait. Disamping itu, peneliti
menganalisa adanya masalah dalam pelaksanaannya serta memberikan solusi
dan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.
5. Terakhir peneliti menarik suatu kesimpulan dan memberikan saran-saran.
63
BAB IV
PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN

A. Paparan Data Hasil Penelitian
1. Sejarah Perusahaan
Menurut Bakhri (2004: 38-41), yang melatar belakangi berdirinya BMT MMU
Pasuruan adalah bermula dari keprihatinan asatidz Madrasah Miftahul Ulum
Pondok Pesantren Sidogiri dan Madrasah-madrasah ranting/filial Madrasah
Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri atas perilaku masyarakat yang
cenderung kurang memperhatikan kaidah-kaidah syari’ah Islam di bidang
mu’amalat padahal mereka adalah masyarakat Muslim apalagi mereka sudah mulai
terlanda praktik-praktik yang mengarah pada ekonomi riba yang dilarang secara
tegas oleh agama.
Para asatidz dan para pengurus madrasah terus berpikir dan berdiskusi
untuk mencari gagasan yang bisa menjawab permasalahan umat tersebut. Akhirnya
ditemukanlah gagasan untuk mendirikan usaha bersama yang mengarah pada
pendirian keuangan lembaga syari’ah yang dapat mengangkat dan menolong
masyarakat bawah yang ekonominya masih dalam kelompok mikro (kecil).
Setelah didiskusikan dengan orang-orang yang ahli, maka alhamdulilllah
terbentuklah wadah itu dengan nama “Koperasi Baitul Mal wa Tamwil Maslahah
Mursalah Lill Ummah” disingkat dengan Koperasi BMT-MMU yang berkedudukan
di kecamatan Wonorejo Pasuruan. Pendirian koperasi didahului dengan rapat
64
pembentukan koperasi yang diselenggarakan pada tanggal 25 Muharrom 1418 H
atau 1 Juni 1997 diantara orang-orang yang getol memberikan gagasan berdirinya
koperasi BMT MMU ialah :
1. Ustadz Muhammad Hadhori Abdul Karim, yang saat itu menjabat sebagai
kepala Madrasah Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren
Sidogiri.
2. Ustadz Muhammad Dumairi Nor, yang saat itu menjabat sebagai wakil
kepala Madrasah Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren
Sidogiri.
3. Ustadz Baihaqi Utsman, yang saat itu menjabat sebagai Tata Usaha Madrasah
Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri.
4. Ustadz H. Mahmud Ali Zain, yang saat itu menjabat sebagi ketua Koperasi
Pondok Pesantren Sidogiri dan salah satu ketua DTTM (Dewan Tarbiyah wat
Ta’lim Madrosy).
5. Ustadz A. Muna’i Ahmad, yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala
Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri.
Dengan diskusi dan musyawarah antara para kepala Madrasah Miftahul
Ulum Afiliasi Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri maka
menyetujui membentuk tim kecil yang diketuai oleh ustadz Mahmud Ali Zain
untuk menggodok dan menyiapkan berdirinya koperasi baik yang terkait dengan
keanggotaan, permodalan, legalitas koperasi dan sistem operasionalnya.
65
Tim berkonsultasi dengan pejabat kantor Departemen Koperasi Dinas
Koperasi dan pengusaha kecil menengah Kabupaten Pasuruan untuk mendirikan
koperasi disamping mendapatkan tambahan informasi tentang BMT (Baitul Maal
wat Tamwil) dari pengurus PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) pusat dalam
suatu acara perkoperasian yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Zainul Hasan
Genggong Probolinggo dalam rangka sosialisasi kerjasama Inkopontren dengan
PINBUK pusat yang dihadiri antara lain oleh :
1. Bapak KH. Nor Muhammad Iskandar SQ dari Jakarta sebagi ketua
Inkopontren .
2. Bapak DR. Subiyakto Tjakrawardaya yang menjabat sebagai Menteri koperasi
PKM saat itu.
3. Bapak DR. Amin Aziz yang menjabat sebagi ketua PINBUK pusat saat itu.
Dari diskusi dan konsultasi serta tambahan informasi dari beberapa pihak
maka berdirilah koperasi BMT MMU tepatnya pada tanggal 12 Robi’ul awal 1418 H
atau 17 Juli 1997 berkedudukan di kecamatan Wonorejo Pasuruan. Pembukaan
dilaksanakan dengan diselenggarakan selamatan pembukaan yang diisi dengan
pembacaan sholawat Nabi Besar SAW bersama masyarakat Wonorejo dan pengurus
BMT MMU. Kantor pelayanan yang dipakai adalah dengan cara kontrak atau sewa
yang luasnya kurang lebih 16,5 M
2
pelayanan dilakukan oleh tiga orang karyawan.
Modal yang dipakai untuk usaha didapat dari simpanan anggota yang berjumlah
Rp. 13. 500. 000,- ( tiga belas juta lima ratus ribu rupiah) dengan anggota yang
berjumlah 348 orang terdiri dari para asatidz dan pimpinan serta pengurus
66
Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri dan beberapa orang asatidz
pengurus Pondok Pesantren Sidogiri.
Berdirinya koperasi BMT MMU sangat ditunjang dan didorong oleh
keterlibatan beberapa orang pengurus Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri
(Kopontren Sidogiri).
Koperasi BMT MMU ini telah mendapat legalitas berupa :
1. Badan Hukum Koperasi dengan nomor : 608/BH/KWK. 13/IX/97 tanggal 4
September 1997.
2. TDP dengan nomor : 13252600099
3. TDUP dengan nomor : 133/13.25/UP/IX/98
4. NPWP dengan nomor : 1-718-668.5-624
Dan dalam perkembangannya koperasi BMT MUU ini memiliki tiga unit
yang tergabung didalamnya, yaitu:
1. Unit Riil Koperasi BMT MUU
2. Unit BMT Koperasi BMT MUU
3. Unit BPRS Koperasi BMT MUU
2. Visi dan Misi BMT MMU
a. Visi
a) Terbangunnya dan berkembangnya ekonomi umat dengan landasan
Syari’ah Islam.
b) Terwujudnya budaya ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan di bidang
sosial ekonomi.
67
b. Misi
a) Menerapkan dan memasyarakatkan Syariat Islam dalam aktifitas ekonomi.
b) Menanamkan pemahaman bahwa sistem syari’ah dibidang ekonomi adalah
ADIL, MUDAH dan MASLAHAH.
c) Meningkatkan kesejahteraan Ummat dan anggota.
d) Melakukan aktifitas ekonomi dengan budaya STAF (Shiddiq/Jujur,
Tabligh/Komunikatif, Amanah/Dipercaya, Fatonah/Profesional).
3. Maksud dan Tujuan BMT MMU
Atas dasar visi dan misi disusunlah tujuan dari BMT MMU, antara lain :
a. Koperasi ini bermaksud menggalang kerja sama untuk membantu
kepentingan ekonomi anggota pada khususnya adalah masyarakat pada
umumnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan.
b. Koperasi ini bertujuan memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat
serta ikut membangun perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan
masyarakat madani yang berlandaskan pancasila dan UUD 1945 serta di
ridhoi oleh Allah SWT (Bakhri, 2004: 42).
4. Kantor Cabang
Pada tanggal 12 Rabi’ul awal 1418 atau 17 Juli 1997, Cabang pertama
didirikan di Wonorejo tepatnya di sebelah barat pasar Wonorejo dengan kantor
yang berukuran ± 16,5 m
2
dengan usaha BMT (Baitul Maal wat Tamwil), Balai
Usaha Terpadu atau Simpan Pinjam Syari’ah (SPS).
68
Setahun kemudian membuka cabang yang kedua yaitu usaha pertokoan yang
ditempatkan di sebelah utara pasar Wonorejo. Setengah tahun kemudian BMT
membuka kembali cabang yang ketiga yaitu usaha pembuatan dan penjualan roti
yang ditempatkan di desa Sidogiri. Dan kemudian dibukalah usaha BMT yang
diletakkan di desa Sidogoiri juga, Dan usaha ini menjadi Cabang BMT MMU yang
keempat.
Dengan demikian pada tahun 2000 BMT MMU hanya memiliki empat
cabang. Namun untuk selanjutnya dibuka pula beberapa cabang secara berturut-
turut, yaitu:
a. Cabang 5 ditempatkan di Warungdowo, yang operasionalnya dimulai pada
tanggal 22 April 2001
b. Cabang 6 ditempatkan di Kraton, yang operasionalnya dimulai pada tanggal
21 Mei 2001
c. Cabang 7 di tempatkan di Rembang, yang operasionalnya dimulai pada
tanggal 18 Juni 2001
d. Cabang 8 di tepatkan di Jetis Dhompo Kraton Pasuruan, yang operasionalnya
dimulai tanggal 27 November 2002
e. Cabang 9 ditempatkan di Nongkojajar, yang operasionalnya dimulai tanggal
17 April 2002
f. Cabang 10 ditempatkan di Grati, yang operasionalnya dimulai tanggal 26
April 2002
69
g. Cabang 11 ditempatkan di Gondangwetan, yang operasionalnya dimulai
tanggal 30 Juni 2002
h. Cabang 12 ditempatkan di Prigen Pandaan Pasuruan, yang operasionalnya
dimulai pada awal Maret 2004 (Bakhri, 2004:49-50)
5. Struktur Organisasi BMT MMU
Struktur organisasi merupakan mekanisme-mekanisme formal bagaimana
organisasi dikelola. Sehingga struktur organisasi dapat mununjukkan kerangka dan
susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi,
bagian-bagian, atau posisi-posisi, yang menjukkan kedudukan, tugas wewenang
dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Dengan demikian
dalam struktur ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja, koordinasi,
sentralisasi atau dresentralisasi dalam pembuatan keputusan atau kebijakan.
Struktur organisasi yang ada di BMT MMU Pasuruan bersifat sentralisasi
(terpusat), yaitu segala keputusan dan kebijakan serta wewenang menjadi
tanggung jawab dalam Rapat Anggota tahunan (RAT). Sedangkan struktur
organisasi dalam setiap Cabang Simpan Pinjam Syari’ah khususnya di BMT MMU
Cabang Wonorejo juga bersifat sentralisasi tetapi setiap keputusan. Kebijakan serta
wewenang menjadi tanggungjawab Kepala Cabang. Sehingga hierarki struktur
organisasi bersifat vertikal, dalam artian jabatan yang lebih rendah
bertanggungjawab kepada jabatan yang lebih tinggi.
70
Rapat Anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi.. Berdasarkan
Litbang di BMT-MMU Pasuruan, hasil Rapat Anggota Tahunan (RAT) periode
2006-2009 pengurus BMT MMU Pasuruan adalah sebagai berikut:
a. Ketua : M. Hadhori Abdul Karim
b. Wakil Ketua I : A. Mana’I Ahmad
c. Wakil Ketua II : Abdul Majid Umar
d. Sekreratris : M. Djakfar Sodiq
e. Bendahara : H. Abdul Majid Bahri
Kemudian di litbang BMT-MMU Cabang Wonorejo, tertulis nama-nama
Pengurus periode 2006-2008 adalah sebagai berikut:
a. Kepala Cabang : M. Ghufron
b. Customer Service : Achmad Chilmi
c. Kasir (Tabungan) : M. Shobir Jamal
d. Kasir (Pembiayaan) : M. Ali Makki
e. Account Officer : Abdul Kholiq
M. faizin
M. Fachrur Rozy
f. Surveyer : M. yazid
Faizin MB
M. Rosyidi










71
Gambar 4.1
Struktur Organisasi
BMT ”Maslahah Mursalah lil Ummah”


Sumber : Litbang BMT-MMU Pasuruan

Keterangan:
: Garis Intruksi/Perintah
: Garis Koordinasi


















RAT
PENGAWAS PENGURUS
MANAJER
STAF PENGURUS
KaDiv. Keuangan dan Administrasi KaDiv. SPS KaDiv. Usaha Riil
KaCab. SPS KaCab. Riil
72
Gambar 4.2
Struktur Organisasi
Cabang Simpan Pinjam Syari’ah
BMT ”Maslahah Mursalah lil Ummah”


Sumber: Litbang BMT-MMU Cabang Wonorejo Pasuruan

6. Job Discription
Adapun perincian tugas, wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing jabatan
dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya adalah sebagai berikut:
a. Manager
Adapun tugas manager adalah sebagai berikut:
1) Bertanggung jawab pada pengurus atas segala tugas-tugasnya
2) Memimpin organisasi dan kegiatan usaha BMT
3) Menyusun perencanaan dan pengembangan seluruh usaha BMT
4) Mengevaluasi dan melakukan pembinaan terhadap seluruh usaha BMT
5) Menjalankan setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pengurus
KEPALA
CABANG
SURVEYOR KASIR MARKETING
DEBT,COLLEC
TOR
COSTUMER
SERVICES
73
6) Menyampaikan laporan perkembangan usaha BMT kepada pengurus setiap
bulan satu kali
7) Mengangkat dan memberhentikan karyawan dengan sepengetahuan
pengurus
8) Menandatangani perjanjian pembiayaan
9) Memutuskan pemohonan pembiayaan sesuai dengan ketentuan gaji
karyawan
10) Mengupayakan jenis usaha lain yang produktif dengan persetujuan pengurus
11) Membuat peraturan karyawan
12) Menentukan target penempatan dari tiap-tiap cabang usaha dalam masa satu
tahun.
b. Kepala Cabang Simpan Pinjam Syari’ah (SPS)
1) Bertanggung jawab kepada kepala devisi SPS atas tugas-tugasnya
2) Memimpin organisasi dan kegiatan usaha cabang SPS
3) Mengevaluasi dan memutuskan setiap permohonan pembiayaan
4) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pengembalian pembiayaan
5) Menandatangani perjanjian pembiayaan
6) Menandatangani Buku tabungan dan Warkat Mudharabah
7) Menyampaikan laporan pengelolaan BMT kepada Kepala Devisi SPS setiap
bulan sekali


74
c. Kasir
1) Bertanggung jawab kepada kepala Cabang dibidang keuangan
2) Menerima dan membayarkan uang atas seluruh transaksi di BMT-MMU
Cabang berdasarkan bukti-bukti yang sah
3) Mengelola kas bersama Kepala Cabang
4) Mencatat seluruh transaksi keluar masuknya uang kas ke dalam formulir atau
buku yang telah disediakan
5) Membuat laporan transaksi harian
6) Membuat laporan keuangan bulanan dalam bentuk neraca, perhitungan hasil
usaha, Arus kas dan posisi kekayaan
d. Marketing/CS
1) Bertanggung jawab kepada Kepala Cabang atas tugas-tugasnya
2) Memasarkan produk jasa yang dimiliki SPS
3) Memeriksa kelengkapan persyaratan pembiayaan dan tabungan
4) Menerima dan menyetujui permohonan pembiayaan yang selanjutnya
dievaluasi dan diputuskan oleh Kepala Cabang
5) Membuat buku tabungan atau warkat Tabungan mudharabah berjangka
6) Menerima setiap saran, keluhan dan kritik dari setiap nasabah
e. Debtcollector
1) Bertanggung jawab kepada kasir atas tugas-tugasnya
2) Melakukan penagihan tunggakan pembiayaan
3) Menerima titipan setoran tabungan
75
4) Membuat laporan transaksi keuangan kepada kasir

7. Kegiatan Operasional BMT MMU
a. Ruang lingkup Kegiatan BMT MMU
Usaha yang dilakukan dalam koperasi ini adalah:
1. BMT (Baitul Mal wat Tamwil / Balai Usaha Mandiri Terpadu ) atau simpan
pinjam dengan pola syari’ah
2. Home Industri berupa pembuatan roti, pembuatan kue sagon aktifitasnya
ditampung dalam 3 cabang.
3. Sektor riil yang ditampung dalam cabang 2 (dua) aktifitasnya adalah
perdagangan.
4. Sektor jasa berupa jasa penggilingan padi
5. Dan usaha yang sedang dirilis yaitu peternakan.
6. Produk usaha unggulan adalah BMT karena manfaatnya sangat dirasakan
oleh anggota dan masyarakat umum.
b. Mitra Kerja
Koperasi BMT MMU mempunyai beberapa mitra kerja yang ikut mendukung
aktivitas koperasi BMT MMU ini yaitu
1. Koperasi pondok pesantren Sidogiri (Kopontren Sidogiri)
2. Koperasi PER MALABAR Paspepan Pasuruan
3.Koperasi UGT (Unit Gabungan Terpadu) Sidogiri
4.Koperasi Muawanah, berkedudukan di Lekok Pasuruan
76
5.Koperasi Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah “Untung Suropati” Bangil (Bakhri,
2004: 53).
c. Produk Operasional BMT
BMT singkatan dari Baitul Mal wat Tamwil/ Balai Usaha Mandiri Terpadu
adalah merupakan system simpan pinjam dengan pola syari’ah.
Sistem BMT ini adalah konsep muamalah syari’ah, tenaga yang menangani
kegiatan BMT ini telah mendapat pelatihan dari BMI (Bank Muamalat Indonesia)
Cabang Surabaya dan PINBUK (pusat INKUBASI Bisnis Usaha kecil) Pasuruan dan
Jawa.
Adapun produk BMT MMU Pasuruan adalah Produk pendanaan dan
produk pembiayaan. Adapun produk-produk pendanaan di BMT yaitu:
1) Tabungan umum mudharabah.
Pemilik harta (Sohibul Maal) menyimpan dananya di BMT MMU dengan akad
Mudharabah Mutlaqah atau Qardh. Dan dana merka bias diambil setiap saat dengan
menggunakan buku tabungan.
2) Tabungan Mudharabah Berjangka
Simpanan ini bisa ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah disepakati
yaitu tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, atau dua belas bulan. Keuntungan
bagi mitra yaitu : (1) sama dengan keuntungan bagi mitra. (2) nisbah (proporsi) bagi
hasil lebih besar dari pada tabungan .(3) bisa dijadikan sebagai jaminan
pembiayaan.
77
B. Pembahasan Data Hasil Penelitian
1. Prosedur Tabungan Mudharabah
Tabungan adalah simpanan dana yang dapat dilakukan kapan saja, tetapi
tidak dapat ditarik dengan menggunakan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya
yang dipersamakan dengan itu. Tabungan yang ditawarkan oleh BMT MMU
Cabang Wonorejo adalah tabungan dengan prinsip/akad mudharabah muthlaqah
yaitu bentuk kerja sama antara anggota (pemilik dana/shahibul maal) dan BMT-
MMU Cabang Wonorejo (mudharib) yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi
oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Customer Service , Skema mudharabah
muthlaqah yang diterapkan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah dapat
digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.3
Skema Mudharabah Muthlaqah

Sumber: Data diolah peneliti (wawancara dengan bapak Chilmi, 14 Januari, jam 08.00-10.00)

Produk tabungan mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah
tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka. Dan untuk
Penabung/
deposan
BMT Dunia
Usaha
1. titip dana
4 Bagi hasil
2. pemanfaatan
dana
3. Bagi hasil
78
Peminat/jumlah anggota dari kedua produk tabungan mudharabah ini, dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1
Jumlah anggota Tabungan
Bulan
Tabungan Mudharabah
Januari Februari
Tabungan umum Mudharabah 104 108
Mudharabah berjangka 9 9
Total 113 117
Sumber : Laporan Keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo Bulan Januari dan Februari
Adapun penjelasan tentang masing-masing produk tabungan mudharabah,
serta SOP tabungan mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah sebagai
berikut:
a. Tabungan umum mudharabah
Tabungan umum mudharabah adalah simpanan dana yang dapat dilakukan
kapan saja, baik dalam penyetoran/pengambil tabungan dengan menggunakan
buku tabungan anggota.
Menurut hasil wawancara dengan sebagian anggota/nasabah tabungan
umum mudharabah dan Costumer Service, salah satu factor yang menjadi alasan
masyarakat menabung di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah karena mudahnya
dalam proses penabungan maupun dalam penarikan tabungan dan juga hal-hal
yang terkait didalamnya.
Berdasarkan SOP (Standar Operasional Prosedur) di BMT MMU Pasuruan,
prosedur tabungan umum mudharabah adalah sebagai berikut:
79
1) Pembukaan Rekening Tabungan
Customer Service
a) Menerima kedatangan calon penabung dengan baik, sopan disertai senyum yang
ramah dan mengucapkan salam “assalamualikum” pada calon penabung dan
sebaliknya menjawab salam apabila calon penabung mengucapkan salam dulu
b) Customer service menanyakan “bapak/ibu, ada yang bisa saya kami Bantu?
“(calon penabung menjawb dan megutarakan keinginannya untuk menjadi
penabung BMT-MMU)
c) Customer service memberikan penjelasan tetang produk-produk BMT_MMU
mulai dari jenis-jenis tabungan, deposito dan pembiayaan
d) Customer service mengidentifikasi kebutuhan calon penabung, (contoh: calon
penabung memilih tabungan mudharabah umum)
e) Customer service memberikan penjelasan tentang tata cara dan aturan untuk
mernjadi penabung tabungan mudharabah Umum.
Persyaratan menjadi penabung :
- Menyerahkan fotocopy identitas diri berupa KTP, SIM, Kartu Santri, Passport
atau identitas lainnya yang masih berlaku
- Mengisi formulir permohonan menjadi calon anggota koperasi BMT MMU
Cabang Wonorejo (form :mmu-01)
- Mengisi setoran awal tabungan mudharabah umum menimal Rp 10.000
(sepuluh ribu) dan biaya administrasi Rp 5.000 (lima ribu rupiah) kecuali
80
untuk tabungan pasar setoran awal tabungan minimal Rp 5.000 (lima ribu
rupiah) dan biaya administrasi Rp 2.500 (dua ribu lima ratus rupiah).
Pemohon
a) Calon penabung mengisi formulir permohonan menjadi calon anggota (form
mmu-01) dan formulir permohonan pembukaan tabungan dan apabila ada hal
yang kurang dimengerti dipandu oleh Costumer Service. Adapun formulir
tersebut berisi tentang: nama, alamat, telepon, pekerjaan, nomer kartu identitas,
ahli waris,dan seterusnya.
b) Menyerahkan formulir permohonan menjadi calon anggota dan permohonan
pembukaan tabungan berserta fotocopy identitas dari ke customer service.
c) Mengisi slip setoran awal tabungan (form mmu-04). Yang didalamnya terdapat:
Cabang, kotak pilihan jenis tabungan, nomer rekening, nama penabung dan
seterusnya.
d) Menyerahkan slip setoran awal tabungan dan uang ke kasir.
Kasir
a) Menerima slip dan uang setoran awal tabungan dari penabung dan memeriksa
slip setoran awal tabungan dan uang
b) Apabila terjadi kesalahan dalam penulisan slip dan uang setoran tabungan maka
kasir meminta perbaikan kembali kepada penabung
c) Melakukan pengesahan tabungan yaitu dengan memberikan tanda stempel
koperasi BMT-MMU serta tanda tangan/paraf petugas kasir
81
d) Serahkan bukti copy slip setoran tabungan dan buku tabungan ke penabung dan
menghimbau kepada penabung agar buku tabungan disimpan di tempat yang
aman, apabila terjadi kehilangan dimohon cepat melapor ke kantor koperasi
BMT-MMU dan apabila hendak melakukan setoran atau penarikan tabungan
agar tabungan dibawa untuk dilakukan pencetakan mutasi saldo tabungan.
Dengan demikian, bagi masyarakat yang memiliki rekening tabungan di
BMT MMU Cabang Wonorejo, anggota dapat merasakan manfaat dan fasilitas
sebagai berikut:
1. Manfaat Tabungan Anggota
a. Tabungan anggota dengan saldo minimal Rp 50.000
b. Bebas Potongan Biaya
c. Uang tabungan anggota aman dan bersih dari riba
d. Mendapatkan buku rekening tabungan
2. Fasilitas Keanggotaan
a. Mendapatkan kartu anggota luar biasa
b. Anggota bias mendapatkan jasa layanan pembiayaan produktif maupun
konsumtif dengan jumlah sesuai dengan kebutuhannya
c. Pembiayaan menggunakan akad-akad syari’ah
d. Anggota bebas memilih akad yang sesuai dengan keinginan dan
kebutuhannya.


82
2) Setoran Tabungan Selanjutnya
a) Nasabah/anggota mengisi slip setoran tabungan
b) Nasabah menyerahkan slip tabungan yang sudah terisi dengan identitasnya,
buku tabungan dan uang kepada kasir bagian tabungan.
c) Kasir memeriksa kesesuaian identitas yang ada di dalam slip setoran tabungan
dengan yang ada didalam buku tabungan
d) Kasir memeriksa kesesuaian isi slip dengan uang setoran
e) Kasir mencatat setoran tabungan di transaksi mutasi saldo
f) Kasir mencetak validasi slip setoran tabungan
g) Kasir mencetak buku tabungan di transaksi mutasi saldo
h) Kasir memeriksa hasil cetakan buku tabungan di transaski mutasi saldo
i) Kasir menyerahkan buku tabungan dan copy slip setoran ke penabung
j) Kasir memohon ke penabung untuk memeriksa tabungannya
k) Kasir meletakkan uang dan slip setoran pada tempatnya
3) Penarikan Tabungan
a) Nasabah/anggota mengisi slip penarikan tabungan umum (form mmu-05), yang
didalamnya tertulis: cabang, jenis tabungan, nomer rekening, nama penabung,
nama pengambil, jumlah penarikan, dan seterusnya.
b) Nasabah menyerahkan slip penarikan, buku tabungan dan identitas diri ke kasir.
c) Kasir memeriksa identitas diri pemohon dan buku tabungan. Apabila bukan
milik sendiri, kasir memeriksa surat kuasa .
d) Kasir memeriksa slip penarikan
83
e) Kasir mencetak validasi penarikan di transaksi mutasi saldo. Dan memeriksa
hasil cetakan.
f) Kasir mencetak di buku tabungan, dan memeriksa hasil cetakan
g) Kasir memberikan uang, buku tabungan dan identitas diri ke penabung
h) Memohon ke penabung untuk memeriksa uang dan buku tabungannya.
4) Penggantian Buku Tabungan
Tabungan Rusak
a) Melakukan pemeriksaan buku tabungan dan identitas penabung
b) Mencocokkan nama dibuku tabungan dengan identitas penabung
c) Mencocokkan alamat di buku tabungan dengan kartu identitas diri penabung
yang perlu diperhatikan: jalan/dusun, RT/RW, desa, kecamatan,
kabupaten/kota dimana penabung berdomisili.
Tabungan Hilang
a) Menerima kartu identitas diri pelapor kemudian melakukan pemeriksaan, yaitu
Mencocokkan nomor kartu identitas pelapor dengan data master nasabah. data
yang perlu diperiksa adalah:
- Nomor kartu identitas
- Nama dan gelar pelapor
- Tempat dan tanggal lahir
- Alamat pelapor (jalan, RT/RW, dll)
- Saldo tabungan pelapor
84
b) Apabila terdapat perbedaan kartu identitas, maka pelapor harus menunjukkan
kartu keluarga dan menyerahkan foto copynya.
5) Penutupan Rekening Tabungan
Adapun prosedur penutupan rekening tabungan umum mudharabah adalah
sebagai berikut:
a) Nasabah/anggota menyerahkan buku tabungan dan identitas diri asli serta
copynya ke Customer service (pelayan anggota)
b) Costumer service memeriksa kesesuaian identitas antara identitas penabung
dengan identitas di buku tabungan. Jika terdapat ketidaksesusaian, maka
permohonan ditolak.
c) CS Memeriksa apakah pemohon ada tangggungan pembiayaan. Jika masih ada
tanggungan pembiayaan maka permohonan ditolak.
d) Pengisian formulir mmu-07 dan form-05 yaitu penarikan tabungan.
e) Kasir Mencetak validasi penarikan tabungan, kemudian mencetak di buku
tabungan
f) Kasir memberikan tanda pada buku tabungan dengan stempel “ditutup”
kemudian diplong
Dalam penutupan tabungan, BMT MMU Cabang Wonorejo hanya dapat
melakukan penutupan tabungan jika ada permintaan dari nasabah/anggota.
Dengan kata lain, BMT tidak dapat melakukan pemblokiran/penutupan tabungan
tanpa ada izin dari anggota.
85
Karena mayoritas anggota tabungan mudharabah di BMT MMU Cabang
Wonorejo adalah berasal dari masyarakat awam yang tidak suka dengan hal-hal
ribet/bersifat formal, ini menyebabkan hambatan bagi BMT untuk terlaksananya
SOP Tabungan dengan optimal.
Dari hasil wawancara dengan Debcollector dan Teller, bahwa tidak
terlaksananya SOP sebagian anggota tabungan tersebut terletak pada: pertama,
tidak patuhnya sebagian anggota tabungan terlebih pada tabungan di pasar yang
tidak mau mengisi identitas di slip tabungan. Sehingga pengisian tersebut
seluruhnya dilakukan oleh Debcollector atas permintaan anggota. Kedua, yaitu
kadang kala nasabah tidak membawa.surat kuasa pengambilan tabungan yang
bukan miliknya (wawancara dengan bapak Faizin dan Shobir, 19 Januari 2008, Jam
10-00-11.30, di ruang Teller).
Meskipun BMT memberikan kemudahan bagi nasabah pasar dalam
prosedural tabungan. namun disisi lain, ini dapat mengakibatkan resiko yang cukup
besar terhadap keuangan BMT terkait dengan saldo rekening tabungan milik
anggota. Karena prosedural seperti ini dapat memberikan peluang kepada
nasabah/karyawan untuk melakukan penyelewengan dana milik anggota.
Meskipun kasus penyelewengan ini masih belum pernah dialami oleh BMT MMU
Cabang Wonorejo.
Namun, permasalahan yang sering dihadapi oleh BMT adalah saat
penutupan kas, peneyabab tidak clopnya (balance) keuangan dilaci kasir dengan kas
yang tercatat di komputer adalah karena tabungan pasar yang sering mengalami
86
kelebihan/kekurangan setoran. Kesalahan ini sering kali disebabkan karena
kesalahan Debcollector dalam mencatat transaksi tabungan anggota di Pasar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan customer service dan Debcollector,
dari semua permasalahan dalam prosedural tabungan, khususnya tabungan pasar
yang dihadapi BMT MMU Cabang Wonorejo di atas, BMT mempunyai
pengendalian intern dalam menghindari resiko kerugian, yaitu :
1. Untuk surat kuasa dalam pengambilan tabungan, BMT memberikan kebijakan
yaitu BMT tetap memberikan pelayanan kepada anggota yang tidak membawa
surat kuasa, dengan syarat pihak BMT mengenali identitas pemilik tabungan
dan identitas orang yang melakukan penarikan tabungan.
2. Untuk tabungan di pasar, debcollector membuat perjanjian dengan nasabah,
bahwa jika terjadi kesalahan di kemudian hari, maka BMT tidak bertanggung
jawab.
3. Pada saat penutupan kas, Kasir dan Debcollector melakukan pengecekan slip
setoran/penarikan tabungan dengan data di komputer. Jika ada
kelebihan/kekurangan uang setelah pengecekan, maka kelebihan/kekurangan
tersebut masuk dalam dokumen kasus.. Sehingga jika terdapat komplain dari
nasabah karena factor saldo tabungan, maka BMT dapat melihat pada dokumen
kasus tersebut.
4. Kepala Cabang mempunyai catatan tersendiri untuk tabungan pasar.
5. Setiap akhir bulan, sebelum pendistribusian bagi hasil, Kepala Cabang dan
Debtcollector melakukan pengecekan slip tabungan atas seluruh transaksi yang
87
ada di pasar (wawancara dengan bapak Chilmi dan bapak Faiz, 19 Januari 2008,
jam 10.00-11.30, di Kantor).
Dengan pengendalian intern oleh BMT MMU Cabang Wonorejo di atas,
merupakan bentuk dari kehatian-hatian BMT dalam menghadapi resiko kerugian
karena tidak terlaksananya sebagian SOP Tabungan oleh anggota tabungan di
Pasar.

b. Prosedur Tabungan Mudharabah Berjangka
Tabungan mudharabah berjangka adalah simpanan dana berjangka yang
penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian
nasabah penyimpan (deposan) dengan BMT.
Meskipun sebagian kecil masyarakat Wonorejo ada yang masih
mempertimbangkan adanya sistem bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo,
Namun hal ini juga tidak lepas karena faktor SOP tabungan mudharabah berjangka,
yang memberikan kemudahan kepada nasabah untuk menabung.
Menurut SOP (Standar Operasional Prosedur) di BMT MMU Sidogiri
Pasuruan, prosedur tabungan mudharabah berjangka adalah sebagai berikut:
1) Pembukaan Tabungan Mudharabah Berjangka
Pemohon
a) Deposan mengisi formulir mmu-10, dan menyerahkan formulir tersebut beserta
buku tabungan ke customer service.
b) Melakukan akad tabungan berjangka
88
Kasir
a) Menerima formulir mmu-10 dan uang dari deposan dan memeriksa form
tersebut
b) Melakukan akad
c) Mencatat pengajuan pada mutasi tabungan Mudharabah Berjangka
d) Mencatat di formulir mmu-12 yaitu warkat mudharabah berjangka.
e) Menyerahkan form-12 ke kepala Cabang untuk disahkan
Customer Service
a) Mencatat di buku regestrasi
b) Menyerahkan warkat
2) Pencairan Tabungan Berjangka
Kepala Cabang
a) Memeriksa buku regestrasi
b) Mencatat daftar jatuh tempo 1 bulan ke depan
c) Menginformasikan daftar jatuh tempo ke kasir
- Perpanjangan
1. Periksa status perpanjangan deposito di buku regestrasi
2. Periksa form-10
3. Mencatat perpanjangan di mutasi perpanjangan sesuai perjanjian
4. Cetak warkat baru
5. Menyerahkan warkat ke Kepala Cabang untuk ditanda tangani

89
Nasabah
Menyerahkan warkat dan identitas
Kasir
a) Memeriksa warkat dan identitas
b) Mencatat pencairan tabungan berjangka di mutasi pencairan dan buku regestrasi
c) Mencairkan tabungan berjangka
d) Menyerahkan uang ke Nasabah
e) Memohon ke nasabah agar menghitung jumlah uangnya.
f) Meminta kepada nasabah untuk menandatangani kwintansi penarikan
g) Menyerahkan foto copy kwintansi kepada nasabah.
3) Penggantian Warkat
a) Mengisi formulir mmu-02 dan menyerahkan kepada coustumer service
b) CS mencetak warkat mudharabah
c) CS meminta tanda tangan dan stempel kepada Kepala Cabang
d) CS menyerahkan warkat mudharabah kepada nasabah

2. Penerapan Sistem Bagi Hasil Tabungan Mudharabah
a. Penerapan sistem bagi hasil
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan, Sistem bagi hasil tabungan
mudharabah yang diterapkan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah sistem
profit sharing. Sistem ini mempunyai pengertian bahwa adanya saling berbagi
keuntungan antara shahibul maal (anggota) dengan mudharib (BMT). Namun jika
90
BMT mengalami kerugian maka kerugian tersebut di tanggung oleh BMT MMU
Cabang. Dengan asumsi bahwa kerugian tersebut disebabkan karena kelalaian
karyawan sebagai mudharib dalam mengelola tabungan anggota (wawancara
dengan bapak Chilmi, 14 Januari 2008, Jam 08.00-10.00, di Kantor).
Dalam pembagian hasil, BMT mempunyai standar nominal tabungan untuk
setiap anggota, yaitu minimal mempunyai tabungan sebesar Rp50.000. Dan untuk
dibawah standar tersebut anggota tidak mendapatkan bagi hasil disetiap bulannya.
Pembagian hasil yang diberikan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo sebagai
mudharib (pengelola modal) dilakukan dengan melalui proses perhitungan bagi
hasil. Hal ini juga tidak lepas dengan posisi BMT yang juga sebagai shahibul maal
(pemilik modal) dalam menyalurkan dana melalui produk pembiayaan.
b. Proses perhitungan bagi hasil
Dalam perhitungan bagi hasil, langka-langkah awal dalam penentuan bagi
hasil adalah :
1) Penetapan nisbah bagi hasil untuk tabungan mudharabah :
Tabel 4.2
Nibah Tabungan Mudharabah
Tabungan Mudharabah Nisbah (%)
1. Tabungan Umum Mudharabah 50 : 50
2. Tabungan mudharabah berjangka
- 3 bulan
- 6 bulan
- 9 bulan

52 : 48
55 : 45
57 : 43
91
- 12 bulan 60 : 40
Sumber: Laporan Keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo
2) Menghitung saldo rata-rata tabungan masing-masing anggota.. Adapun contoh
perhitungannya adalah seperti dibawah ini:
Ibu Aisyah mempunyai rekening di BMT MMU Cabang Wonorejo. Catatan
tabungannya di kartu menunjukkan transaksi sebagai berikut:

Tabel 4.3
Contoh Bentuk Buku Tabungan Ibu Aisyah
No/tgl Snd Debet Rp Kredit Saldo Val
1/01/08 1.000.000 1.000.000
5/01/08 1.000.000 2.000.000
11/01/08 1.000.000 3.000.000
21/01/08 1.000.000 4.000.000
Sumber : Data diolah dari laporan keuangan BMT MMU cabang Wonorejo

Dalam mencari saldo rata-rata tabungan harian adalah sebagai berikut:
1/01/08 - 4/01/08 = 4 hari x 1.000.000 = 4.000.000
5/01/08 - 10/01/08 = 6 hari x 2.000.000 = 12.000.000
11/01/08 - 20/01/08 =10 hari x 3.000.000 = 30.000.000
21/01/08 – 31/01/08 =11 hari x 4.000.000 = 44.000.000
Jumlah = 31 hari = 90.000.000
Sehingga saldo rata-rata harian = 90.000.000 : 31 hari
= 2.903.225,8
92
3) Menghitung total saldo rata-rata tabungan anggota
4) Menghitung jumlah pendapatan BMT. Pendapatan BMT Diperoleh dari
keuntungan produk pembiayaan, laba provisi/administrasi, dan pendapatan
lain-lain. Dan perhitungan pendapatan menggunakan pendekatan profit sharing
yaitu pendapatan yang dibagikan kepada anggota adalah pendapatan bersih
yang sudah dikurangi dengan biaya-biaya operasional (wawancara dengan
bapak Abdullah, 22 Januari 2008, Jam 09.00-10.30, di Kantor Pusat).
Dengan mengetahui hasil akhir dari 3 langkah-langkah diatas, maka proses
perhitungan bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah rumus perhitungan
bagi hasil adalah:
Harian Tabungan rata Rata Saldo Total
anggota tabungan rata - rata saldo nisbah Keuntungan
Hasil Bagi

× ×
=
c. Pendistribusian bagi hasil
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kasir dan pengamatan,
Pendistribusian bagi hasil tabungan mudharabah dilakukan oleh BMT MMU
Cabang Wonorejo pada tiap akhir bulan tanpa ada potongan pajak atau zakat.
Distribusi bagi hasil tabungan umum mudharabah dibagi kepada anggota dengan
menambahkan pada saldo tabungan milik anggota, sedangkan untuk tabungan
mudharabah berjangka, deposan dapat mengambil secara langsung di BMT, atau
BMT memindah bukukan/menambahkan pada saldo tabungan umum mudharabah
milik Deposan. Dan apabila saat jatuh tempo deposan tidak mengambil dananya,
maka secara otomatis terjadi perpanjangan tabungan mudharabah berjangka,
93
dengan jangka waktu seperti pada akad yang pertama (wawancara dengan Bapak
Shobir, 19 Januari 2008, Jam 10.30-11.30 di ruang Teller).
Dalam penentuan perolehan bagi hasil tabungan mudharabah, BMT MMU
Cabang Wonorejo tidak membatasi jumlah hari dalam menginvestasikan dana dari
anggota. Namun BMT hanya memberi standar minimal jumlah saldo tabungan
anggota yaitu sebesar RP 50.000. Dengan demikian, Meskipun anggota/nasabah
bertransaksi pada akhir bulan dengan minimal saldo tabungan Rp 50.000, mereka
akan langsung mendapatkan bagi hasil pada akhir bulan pendistribusian
pendapatan. Namun perolehan besarnya bagi hasil disesuaikan dengan jangka
waktu transaksi (saldo rata-rata tabungan).
Dengan penerapan distribusi hasil seperti di atas, maka dalam hal ini
nasabah lebih diuntungkan, Keuntungan yang dirasakan oleh nasabah adalah tidak
adanya batasan jumlah hari dalam penentuan dapat/tidaknya bagi hasil. Sedangkan
bagi BMT, meskipun uang yang ditabung nasabah pada akhir bulan masih belum
tersalurkan ke produk pembiayaan, namun nasabah tetap mendapatkan bagi hasil.
Oleh karena itu secara otomatis karyawan BMT harus bekeja lebih ekstra untuk
menyalurkan dana pihak ketiga dalam memperoleh keuntungan.





94
d. Contoh perhitungan bagi hasil
1) Tabungan umum mudharabah
Contoh I :
Dimisalkan pada bulan Januari ada dua penabung yaitu A dan B, yang sama-
sama mempunyai rekening di BMT MMU Cabang Wonorejo dengan saldo Rp
5.000.000. Penabung A menyetorkan uangnya pada awal bulan yaitu tanggal 1,
sedangkan penabung B menyetorkan uangnya pada akhir bulan yaitu tanggal 25.
prosentase bagi hasil sebesar 0,0036. Perbedaan waktu transaksi tersebut dapat
mempengaruhi terhadap besarnya bagi hasil penabung A dan B. Untuk lebih
jelasnya, dapat dilihat dalam tebel perbandingan transaksi tabungan di bawah ini:
Tabel 4.4
Perbandingan Saldo Rata-rata Tabungan Nasabah
A B
1/01/08 - 31/01/08 = 5.000.0000
= 31 hari x 5.000.000 =155.000.000
Jumlah saldo rata-rata tabungan
= 155.000.000: 31 = 5.000.000
Bagihasil= 0,0036x5.000.000=18.000
25-01/08 – 31/01/08
= 7 hari x 5.000.000 = 35.000.000
Jumlah saldo rata-rata tabungan
= 35.000.000 : 31 = 1.129.032
Bagi hasil = 0,0036x1.129.032=4.065
Contoh 2:
Pada bulan Januari Ibu Aisyah mempunyai rekening tabungan di BMT MMU
Cabang Wonorejo dengan saldo rata-rata tabungan Rp 2.000.000. Saldo rata-rata dari
total tabungan mudharabah umum sebesar 3.733.736.894,62. dan memperoleh
keuntungan sebesar 26.926.777,12. Nisbah yang ditetapkan adalah 50:50. Dengan
95
data ini dapat menghitung berapa prosentase bagi hasil BMT dalam tabungan
mudharabah umum selama bulan Januari, serta jumlah bagi hasil yang diperoleh Ibu
Aisyah.
Jawab: Prosentase bagi hasil BMT MMU Cabang Wonorejo adalah sebagai berikut:
200 . 7
62 , 894 . 736 . 733 . 3
000 . 000 . 2 % 50 12 , 777 . 926 . 26
Hasil Bagi Rp =
× ×
=
2) Tabungan mudharabah berjangka
Adapun contoh perhitungan bagi hasil tabungan mudharabah berjangka
adalah sebagai berikut:
Contoh :
Ibu Jamilah mempunyai tabungan mudharabah berjangka di BMT MMU
Cabang Wonorejo sejumlah Rp20.000.000. Selama Bulan Januari BMT MMU
memiliki saldo rata-rata bulanan dan keuntungan sebagai berikut:
Tabel 4.5
Saldo Rata-rata Tabungan dan Keuntungan
Jangka Waktu Saldo Rata-rata Keuntungan
3 bulan 96.532.258,07 696.166,51
6 bulan 22.435.483,87 161.799,10
12 bulan 7.967.741,94 57.461,36
Sumber: Data diolah dari laporan keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo
bulan Januari 2008

Bagi hasil tabungan mudharabah berjangka dan keuntungan yang diperoleh
ibu Jamilah dalam tiap-tiap jangka waktu adalah sebagai berikut:
96
Tabel 4.6
Perhitungan Bagi Hasil

Deposito Saldo
rata-rata
Pendapat
an
Nisbah %
Nasaba
h
Saldo
Tabung
an
Jumlah
bagi
hasil
3 bulan 96.532.25
8,07
696.166,51 52% 0,0038 20.000.0
00
76.000
6 bulan 22.435.48
3,87
161.799,10 55% 0,0040 20.000.0
00
80.000
12bulan 7.967.741
,94
57.461,36 60% 0,0043 20.000.0
00
86.000
Sumber: data diolah dari laporan keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo

Dengan melihat hasil pembagian di atas, maka semakin lama jangka waktu
deposito dapat memberikan bagi hasil yang lebih tinggi. Sistem bagi hasil tabungan
mudharabah berjangka yang diterapkan oleh BMT memang memberikan
keuntungan yang cukup tinggi. Namun hal ini juga tidak lepas dari permasalahan
yang dihadapi BMT yaitu masih banyaknya masyarakat yang kurang mengerti
tentang sistem bagi hasil serta keuntungannya dengan menggunakan akad
mudharabah.
Selain itu juga tidak lepas dari faktor kualitas SDM BMT khususnya di BMT
MMU Cabang Wonorejo, yang juga masih terhipnotis oleh adanya komputerisasi,
sehingga menyebabkan mereka kurang mengerti bagaimana proses perhitungan
bagi hasil secara manual. Dan disaat ada nasabah yang menanyakan tentang proses
97
perhitungan bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo, para karyawan tidak dapat
memberikan penjelasan yang optimal, sehingga jawaban tersebut tidak dapat
menarik minat nasabah untuk meletakkan dananya di tabungan mudharabah
berjangka.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bagi Hasil
Faktor langsung yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya bagi hasil, baik
tabungan umum mudharabah maupun mudharabah berjangka adalah sebagai
berikut:
a. Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan/didepositokan, dimana dengan
menggunakan metode rata-rata harian untuk tabungan mudharabah dan metode
rata-rata bulanan untuk mudharabah berjangka (investment rate). Dengan
demikian, di BMT MMU Cabang Wonorejo dalam perhitungan prosentase bagi
hasi juga mempertimbangkan jangka waktu transaksi tabungan. Semakin lama
uang ditabung di BMT dapat memperbesar saldo rata-rata tabungan tiap-tiap
anggota/nasabah.
b. Nisbah, nisbah untuk tabungan umum mudharabah kurang mempengaruhi
terhadap prosentase bagi hasil, karena nisbah antara BMT dengan anggota
adalah sama yaitu 50:50. Akan tetapi untuk tabungan mudharabah berjangka
sangat berpengaruh, karena terdapat perbedaan prosentase antara tiap-tiap
jangka waktu deposito misalnya deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan dan
12 bulan.
98
Sedangkan faktor tidak langsung adalah sebagai berikut:
1. Faktor pendapatan.
Prinsip bagi hasil yang dipakai oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah
prinsip profit sharing. Sehingga pandapatan/keuntungan yang dibagikan kepada
anggota adalah pendapatan yang sudah dikurangi dengan biaya-biaya operasional.
Pendapatan BMT MMU Cabang Wonorejo adalah keuntungan dari produk
pembiayaan, pendapatan provisi/administrasi dan pendapatan lain-lain.
2. Faktor kebijakan akunting
Penentuan besar kecilnya bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo, secara
tidak langsung juga dipengaruhi oleh berjalannya aktivitas yang diterapkan BMT
MMU secara keseluruhan.
Dari hasil wawancara dengan staf manager, BMT memberikan standar
maksimal terhadap prosentase bagi hasil tabungan yaitu 0,070%.. Kemudian
kebijakan yng biasanya dilakukan oleh Akunting dalam penentuan besar kecilnya
bagi hasil adalah, pertama penyisihan piutang. Penyisihan ini pengkatagorian
aktiva yang lancar, cukup lancar dan tidak lancar, di BMT hanya mengambil 0.35%
bagi debet (pembiayaan) dibandingkan dengan ketetapan PPAP (Penyusutan dan
Penyisihan Aktiva Produktif) di perbankan. Sehingga dalam hal ini BMT hanya
mengambil sedikit pembebanan resiko macet terhadap nasabah.
Kedua, karena BMT hanya membebani PPAP lebih kecil dibandingkan
ketetapan PPAP di perbankan, maka kebijakan selanjutnya adalah kelebihan bagi
hasil yang ada di atas standar maksimal BMT MMU, dibebankan pada biaya-biaya
99
operasional BMT. Ketiga, dana dialokasikan pada dana ZIS dan dana sosial ke
pondok pesantren Sidogiri.
Dari keseluruhan aspek-aspek dalam tabungan umum mudharabah dan
mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo, maka persamaan dan
perbedaan dari keduanya dapat terlihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.7
Persamaan dan Perbedaan
Produk Tabungan Mudharabah

Aspek Tabungan
Umum Mudharabah Mudharabah Berjangka
1. Prosedural
- Prinsip/akad
- Persyaratan


- Fasilitas
- Setoran
- Penarikan

Mudharabah
Pengisian formulir


Buku Tabungan
Ada penambahan
Setiap saat memakai
slip tabungan

Mudharabah
Pengisian formulir, dan
Membuka tabungan
umum mudharabah
Warkat
Tidak ada penambahan
Jatuh tempo dengan
memakai kwintansi

2. Bagi Hasil
- Sistem
- Nisbah

- Perhitungan

- Syarat perolehan


Profit sharing
50:50

Menggunakan rata-
rata harian
Minimal saldo RP
50.000

Profit sharing
Sesuai jangka waktu jatuh
tempo
Menggunakan rata-rata
harian
Minimal saldo RP 50.000
3. Distribusi
- Waktu
- Pembagian



Tiap akhir bulan
Penambahan di saldo
tabungan anggota

Tiap akhir bulan
Diambil secara langsung,
atau ditambahkan ke saldo
tabungan umum
mudharabah milik deposan
4. Factor yang
mempengaruhi bagi
hasil
Jumlah dana yang
tersedia untuk
ditabung,pendapatan,
Jumlah dana yang tersedia
untuk
didepositokan,pendapatan,
100
nisbah, dan kebijakan
akunting
nisbah, dan kebijakan
akunting
Sumber : Data diolah dari Hasil Pembahasan

C. Pembahasan Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam
Tabungan dalam Islam jelas merupakan sebuah konsekwensi atau respon
dari prinsip ekonomi Islam dan nilai moral Islam, yang menyebutkan bahwa
manusia haruslah hidup hemat dan tidak bermewah-mewah serta mereka (diri
sendiri dan keturunannya) dianjurkan ada dalam kondisi yang tidak fakir. Jadi
dapat dikatakan bahwa motifasi utama orang menabung disini adalah nilai moral
hidup sederhana (hidup hemat) dan keutamaan tidak fakir.
Perintah tersebut tersirat dalam surat al-Baqarah ayat 266, Allah SWT
berfirman :
–Š´θƒ¦ ¯Ν2‰>¦ β¦ šχθ3. …µ9 πΨ> ¸Β ¸≅Š¸‚‾Ρ ¸,!Ψs¦´ρ “¸¸>. ¸Β !γ¸.`>.
`¸≈γΡ{¦ …µ 9 !γ‹¸· ¸Β ¸≅2 ¸,≡ ¸ ϑ.9¦ µ,! .¦´ρ ¸¸¸39¦ …`&!´ρ π−ƒ¸¯‘Œ '!±-. !γ,!.!·
"‘!.s¸| ¸µ‹¸· "‘!Ρ ¸ %´¸.>!· š¸9≡‹. ¸,`ƒ ´<¦ `Ν69 ¸¸≈ƒψ¦ ¯Ν3=-9
šχρ`¸3± .. ∩⊄∉∉∪
Artinya: “ Apakah ada salah seorang diantaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan
anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dia mempunyai dalam kebun
itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu
sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil (lemah)” (Q.S. Al-
Baqarah:266)
101
Ayat di atas memerintahkan kita untuk bersiap-siap dan mengantisispasi
masa depan keturunan, baik secara rohani (iman/taqwa) maupun secara ekonomi
harus dipikirkan langkah-langkah perencanaannya. Salah satu langkah perencanaan
adalah dengan menabung.
Tentang penjelasan sikap hemat dalam pengeluaran dikatakan bahwa Islam
menganjurkan umatnya agar tidak boros dan kikir. Yang dianjurkan Islam adalah
umatnya dapat menyimpan kelebihan atau menabungnya untuk masa depan.
Selain itu, melalui tabungan setiap orang dapat menolong orang lain dengan
kelebihan dana yang dimilikinya. Dan juga dapat menyebabkan orang lain yang
kekurangan dana untuk terhindar dari memakan/mengambil harta dengan jalan
yang bathil.
Dalam Islam terdapat empat prinsip utama, dimana syari’ah yang senantiasa
mendasari jaringan kerja Lembaga Keuangan Islam dengan sistem syari’ah yaitu:
1. Prinsip non-riba
2. Perniagaan halal
3. Keridhaan pihak-pihak dalam berkontrak
4. Pengelolaan dana yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Diriwayatkan oleh Ibn Majah :
ﺣ ` ﺪ ﹶ ﺎﺛ ﹶ ﻥ ﹾ ﻟﺍ ﺤ ﺴ ` ﻦ ` ﺑ ` ﻦ ﻋ ِ ﻠ ` ﻲ ﹾ ﻟﺍ ﺨ ﹼ ﻠ ﹶ ﺎ ﹸ ﻝ ﺣ ` ﺪ ﹶ ﺛ ﻨ ﺎ ِ ﺑ ` ﺸ ` ﺮ ` ﺑ ` ﻦ ﹶ ﺛ ِ ﺑﺎ ِ ﺖ ﹾ ﺍ ﺒﻟ ` ﺰ ﺍ ` ﺭ ﺣ ` ﺪ ﹶ ﺛ ﹶ ﺎﻨ ﻧ ` ﺼ ` ﺮ ` ﺑ ` ﻦ ﹾ ﺍ ﹶ ﻘﻟ ِ ﺳﺎ ِ ﻢ ﻋ ` ﻦ ﻋ ` ﺒ ِ ﺪ ﺍ ` ﺮﻟﺍ ` ﺣ ﻤ ِ ﻦ ` ﺑ ِ ﻦ ﺩ ` ﻭﺍ ﺩ
ﻋ ` ﻦ ﺻ ِ ﻟﺎ ِ ﺢ ` ﺑ ِ ﻦ ` ﺻ ﻬ ` ﻴ ِ ﺐ ﹶ ﻗ ﹶ ﻝﺎ ﺭ ` ﺳ ` ﻮ ﹸ ﻝ ﷲﺍ ﺻ ﱠ ﻠ ﻰ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﻋ ﹶ ﻠ ` ﻴ ِ ﻪ ﻭ ﺳ ﱠ ﻠ ﻢ ﹶ ﺛ ﹶ ﻼ ﹲ ﺙ ` ﻦِ ﻬ` ﻴِ ﻓ ﹸ ﺔﹶ ﻛ` ﺮ ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻊ` ﻴﺒﹶ ﻟﹾ ﺍﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ﻞ ﺟﹶ ﺃ ﹸ ﺔ ﺿ ﺭﺎﹶ ﻘ` ﻤﹸ ﻟﺍ ﻭ
ﹸ ﻁﹶ ﻼ` ﺧﹶ ﺃ ﻭ ` ﺮ` ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻴِ ﻌ` ﺸﻟﺎِ ﺑ ِ ﺮ ِ ﺖ` ﻴ ﺒﹾ ﻠِ ﻟ ﹶ ﻻ ِ ﻊ` ﻴ ﺒﹾ ﻠِ ﻟ .
102
Artinya: “Tiga perkara yang diberkahi Allah yaitu jual beli dengan mudah, memberikan
pengokohan harta (memberi modal), dan mencampur gandum dengan tepung
untuk rumah tangga bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah : 2280)
Dalam bentuk kerja sama antara pemilik modal dan pengelola modal,
pengelola modal menetapkan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh
pemilik modal. Dan dalam hal ini terkait dnegan prosedural. Prosedural yang
ditetapkan oleh pengelola modal (mudharib) bertujuan untuk dijadikan sebagai
pengawasan agar pekerjaan diselesaikan secara konsisten.
Investasi/mudharabah merupakan bentuk perniagaan dimana pemilik
modal/nasabah menyetorkan modalnya kepada pengelola modal untuk diusahakan
dengan keuntungan atau dibagi bersama sesama dengan kesepakatan dari kedua
belah pihak. Prinsip bagi hasil merupakan sistem dalam menghindari unsur ribawi
yang dilarang oleh Islam. Apapun bentuk urusan bisnis ribawi mestilah dijauhi.
Tidak ada tempat bagi riba untuk masuk ke dalam sistem perdagangan Islam.
Bagi pihak yang dipercayai untuk memegang/mengelola dana tersebut,
maka hal yang terpenting di dalamnya adalah amanah. Allah Berfirman dalam surat
Al-Baqarah ayat 283:
¸|´ρ `Ο.Ζ. ’?s ¸¸± ™ ¯Ν9´ρ ¦ρ‰¸>. !´,¸.l. "≈δ¸¸ · π.θ,)Β β¸|· ´¸Β¦ Ν3.- , !.-,
¸Šσ`‹=· “¸%!¦ ´¸ϑ.τ¦ …µ.´ Ζ≈Β¦ ¸,−.´‹9´ρ ´<¦ …µ−,´‘ Ÿω´ρ ¦θϑ.3. ο‰≈γ:9¦ Β´ρ
!γϑ.6ƒ …µ‾Ρ¸| · "Ν¸.¦´ …µ,= % ´<¦´ρ !ϑ¸, βθ= ϑ-. 'ΟŠ¸=. ∩⊄∇⊂∪

103
Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu
tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang
dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai
sebagian yang lain, Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,
hendaklah yang dipercayai itu untuk menunaikan amanatnya dan hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya..”(Q.S Al-Baqarah: 283)
Kemudian diriwayatkan oleh Abu Daud :
ﺣ ` ﺪ ﹶ ﺛ ﹶ ﺎﻨ ` ﻣ ﺤ ` ﻤ ` ﺪ ` ﺑ ` ﻦ ` ﺳ ﹶ ﺎ ` ﻳ ﹶ ﺎﻤ ﹶ ﻥ ﹾ ﻟﺍ ` ﻤ ِ ﺼ ` ﻴ ِ ﺼ ' ﻲ ﺣ ` ﺪ ﹶ ﺛ ﹶ ﺎﻨ ` ﻣ ﺤ ` ﻤ ` ﺪ ` ﺑ ` ﻦ ِ ﺰﻟﺍ ` ﺑ ِ ﺮ ﹶ ﻗ ِ ﻥﺎ ﻋ ` ﻦ ﹶ ﺃ ِ ﺑ ﻲ ﺣ ` ﻴ ﹶ ﻥﺎ ` ﺘﻟﺍ ` ﻴ ِ ﻤ ` ﻲ ﻋ ` ﻦ ﹶ ﺃ ِ ﺑ ` ﻴ ِ ﻪ ﻋ ` ﻦ ﹶ ﺃ ِ ﺑ ﻲ ` ﻫ ﺮ ` ﻳ ﺮ ﹶﺓ
ﺭ ﹶ ﻗ ﻌ ` ﻪ ﹶ ﻗ ﹶ ﻝﺎ ِ ﺇ ﱠ ﻥ َ ﷲﺍ ﻳ ﹸ ﻘ ` ﻮ ﹸ ﻝ ﹶ ﺃ ﻧ ﺎ ﹶ ﺛ ِ ﻟﺎ ﹸ ﺚ ` ﺸﻟﺍ ِ ﺮ ﹶ ﻜﻳ ` ﻴ ِ ﻦ ﻣ ﺎ ﹶ ﻟ ` ﻢ ﻳ ` ﺨ ` ﻦ ﹶ ﺃ ﺣ ` ﺪ ` ﻫ ﻤ ﺎ ﺻ ِ ﺣﺎ ﺒ ` ﻪ ﹶ ﻓ ِﺈ ﹶ ﺫ ﺍ ﺧ ﻧﺎ ` ﻪ ﺧ ﺮ ` ﺟ ` ﺖ ِ ﻣ ` ﻦ ﺑ ` ﻴ ِ ﻨ ِ ﻬ ﻤ ﺎ .
Artinya : “ Sesungguhnya Allah berfirman : aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang
mengadakan kesepakatan (berserikat) selama tidak saling berkhianat salah
satunya terhadap yang lain, apabila hal itu terjadi (berkhianat pada orang yang
lain) maka aku keluar dari mereka berdua”. (HR. Abu Daud : 2936)
Amanah merupakan salah satu moral keimanan. Amanah juga berarti
memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan
kepadanya. Amanah dapat ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, dan
pelayanan yang optimal kepada nasabah.




104
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta hasil yang diperoleh
seperti yang telah didiskrispsikan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik
kesimpulan bahwa:
1. Standar Operasional Prosedur Tabungan Mudharabah di BMT MMU Cabang
Wonorejo secara teknisi menggambarkan bahwa dalam prosedural menabung,
BMT memberikan kemudahan kepada anggota koperasi dalam melakukan
transaksi tabungan. Sehingga hal ini dapat mewujudkan visi dan misi yang
ditetapkan oleh BMT.
2. Sistem bagi hasil yang diterapkan BMT MMU Cabang Wonorejo pada tabungan
mudharabah dan mudharabah berjangka adalah mengacu pada prinsip profit
sharing. Kemudian dalam Penetapan pembagian nisbah bagi hasil, tidak ada
kesepakatan antara Nasabah (shahibul maal) dengan BMT (mudharib). Akan tetapi
nisbah ditetapkan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo. Adapun rumus
perhitungan bagi hasil adalah sebagai berikut:
Harian Tabungan rata Rata Saldo Total
anggota tabungan rata - rata saldo nisbah Keuntungan
Hasil Bagi

× ×
=
105
Rumus perhitungan bagi hasil di atas, dapat digunakan untuk menghitung bagi
hasil tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka. Namun yang
membedakan hanyalah dalam penentuan nisbah bagi hasil.
3. Dengan rumus perhitungan bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo, maka
dapat terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya bagi hasil
adalah:
a. Faktor langsung, yaitu Jumlah dana yang tersedia untuk
diinvestasikan/didepositokan dan besarnya nisbah bagi hasil.
b. Faktor tidak langsung, yaitu jumlah pendapatan dan kebijakan akunting di
BMT MMU Pasuruan.

B. Saran
Berdasarkan hasil analisa dan kesimpulan, maka penulis memberikan saran-
saran dalam upaya memajukan BMT MMU Cabang Wonorejo, yaitu:
1. Melakukan sosialisasi produk-produk BMT kepada masyarakat, khususnya
produk tabungan mudharabah, dengan melibatkan tokoh masyarakat seperti
ulama (kyai) dan ustadz, para dosen dan guru dalam upaya pemahaman
masyarakat tentang produk-produk syari’ah.
2. Membuat prosedural tabungan pasar, untuk meminimalisir permasalahan-
permasalahan yang sering terjadi di tabungan pasar akibat tidak terlaksananya
SOP tabungan di BMT.
106
3. Melengkapi peralatan-peralatan operasional dengan teknologi yang canggih dan
modern. Sehingga mampu memberikan pelayanan yang cepat dan memuaskan
bagi para nasabah, baik nasabah penabung maupun nasabah pembiayaan.


107
DAFTAR PUSTAKA


Antonio, Syafi’i, 2000, Bank Syari’ah Suatu Pengenalan Umum, Edisi Khusus, Penerbit
Aneka Tazkia, Jakarta.

, 2001. Bank Syari’ah dari Teori ke Praktek, Edisi Pertama, Penerbit Gema
Insani, Jakarta.

Arikunto, Suharsini, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi
Lima, Penerbit PT Rineka Cipta, Jakarta.

Bakhri, Syaiful, 2004. Kebangkitan Ekonomi syariah Di Pesantren Belajar dari Pengalaman
Sidogiri, Edisi Pertama, Penerbit Cipta Pustaka Utama, Pasuruan.

Dumairi, Nor, dkk, 2007. Ekonomi Syari’ah Versi Salaf, Edisi Pertama, Penerbit
Pustaka Sidogiri, Pasuruan.

Hafifuddin dan Maulana, 2006. Fungsi & Peran dalam Lembaga Keuangan Syariah.
www.Takaful.com/index.php/publisher/articleview/68. 30 Maret 2008.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 2002. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Karim, Abdul, 2005. Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nasabah Menabung Di
BMT MMU-Sidogiri, Skripsi. Tidak dipublikasikan. Fakultas Ekonomi,
Universitas Islam Negeri Malang.

Mannan, Abdul, 1997. Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Penerbit PT Dana Bhakti
Prima Yasa, Yogyakarta.

Mardalis, 1993. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Edisi Pertama, Penerbit
Bumi Aksara, Jakarta.

Moleong, Lexy, 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Penerbit PT
Remaja Rosdakarya, Bandung.

Muhamad, 2000. Lembaga-lembaga Keuangan Umat Kontemporer, Edisi Pertama,
Penerbit UII Press, Yogyakarta.
Muhammad, 2005. Manajemen Bank Syari’ah, Edisi Revisi, Penerbit Unit Penerbit dan
Percetakan (UPP) AMPYKPN, Yogyakarta.

108
Rachman, Arif, 2005. Standar Operasional Prosedur (SOP).
www.rafhli.multiply.com/journal/item/10. 20 Desember 2007

Ridwan, Muhammad, 2004. Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil, Edisi Pertama,
Penerbit UII Press, Yogyakarta.

Situmorang, Jannes. Kaji Tindak Peningkatan Peran Koperasi dan UKM Sebagai
Lembaga Keuangan Alternatif. www.semcda.com/kajian/files/jurnal
keuangan.alt.pdf. 21 November 2007

Subagyo, Joko, 2004. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Edisi Pertama,
Penerbit PT Rineka Cipta, Jakarta.

Sukidin, dan Mundir, 2005. Metode Penelitian membimbing dan Mengantar Kesuksesan
Anda dalam Dunia Penelitian, Edisi Pertama , Penerbit Insan Cendekia,
Surabaya.

Supardi, 2005. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis, Edisi Pertama, Penerbit UII
Press, Yogyakarta.

Syahatah, Husein, 1998. Ekonomi Rumah Tangga Muslim, Edisi Pertama, Penerbit
Gema Insani Press, Jakarta.

Wirdyaningsih, 2005. Bank dan Asuransi Islam Di Indonesia, Edisi Pertama, Penerbit
Kencana, Jakarta.

2

PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DAN SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)

SKRIPSI
Diajukan Kepada : Universitas Islam Negeri Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)

Oleh

ESY NUR AISYAH NIM : 04610023

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG 2008

3

LEMBAR PERSETUJUAN

PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DAN SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)

SKRIPSI

Oleh ESY NUR AISYAH

NIM : 04610023

Telah Disetujui 31 Maret 2008 Dosen Pembimbing,

Umrotul Khasanah, S.Ag.,M.Si NIP. 150287782

Mengetahui : Dekan,

Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP. 150231828

. SE. 150327250 2. 150203742 :( Tanda Tangan ) :( ) :( ) Disahkan Oleh : Dekan. S.Si NIP.4 LEMBAR PENGESAHAN PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DAN SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan) SKRIPSI Oleh ESY NUR AISYAH NIM : 04610023 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Pada 08 April 2008 Susunan Dewan Penguji 1.. Penguji Utama Dr. Sekretaris/Pembimbing Umrotul Khasanah. MA NIP. Muhammad Djakfar. SH.Ag NIP. MM NIP. HA. Drs. 150287782 3. 150231828 .Ag. MUHTADI RIDWAN.M. H. M. Ketua Indah Yuliana.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapapun.5 SURAT PERNYATAAN Yang Bertandatangan di bawah ini saya: Nama NIM Alamat : Esy Nur Aisyah : 04610023 : Jl Raya Waru 9 Pamekasan-Madura Menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. bukan “duplikasi” dari karya orang lain. tetapi menjadi tanggungjawab saya sendiri. Malang. dengan judul: PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DAN SISTEM BAGI HASIL PADA TABUNGAN MUDHARABAH (Studi Kasus Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan) Adalah hasil karya saya sendiri. ESY NUR AISYAH NIM : 04610023 . Selanjutnya apabila di kemudian hari ada “klaim” dari pihak lain. bukan menjadi tanggungjawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas Ekonomi. 09 April 2008 Hormat Saya.

dorongan dan kesempatan penulis untuk bergulat dalam ilmu pengetahuan dan kemasyarakatan . yang selalu memberikan keceriaan. sampai kapanpun akan selalu terukir indah dalam relung hati ananda yang paling dalam. dan menjadi pijakan dalam menempuh masa depan ananda Adikku tercinta.6 PERSEMBAHAN Ayahanda dan ibunda yang telah memberikan segalanya tanpa pamrih. pengorbanan serta kasih sayang dan doa yang tulus. dengan segala kasih sayangnya yang tiada pernah surut Kawan-kawan seperjuangan HMI Komisariat Syariah UIN Malang yang senantiasa memberikan bantuan. semangat dalam menghadapi segala sesuatu.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).7 MOTTO ©!$# (#θà)¨?$#uρ ( 7‰tóÏ9 ôMtΒ£‰s% $¨Β Ó§ø tΡ öÝàΖtFø9uρ ©!$# (#θà)®?$# (#θãΖtΒ#u šÏ%©!$# $pκš‰r'‾≈ƒ t ∩⊇∇∪ tβθè=yϑ÷ès? $yϑÎ/ 7ŽÎ7yz ©!$# ¨βÎ) 4 “Hai orang-orang yang beriman. dan bertakwalah kepada Allah.Al-Hasyr : 18) .

Muhtadi Ridwan. Dr. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan. selaku Manager BMT MMU Pasuruan . Ungkapan terima kasih yang mendalam penulis haturkan kepada: 1. selaku Dekan Fakultas Eknomi UIN Malang.8 KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah kita haturkan kepada Allah SWT. 4. Bapak Prof.Imam Suprayogo. Sholawat serta salam kita haturkan kepada Bapak revolusiner dunia padang pasir Nabi Muhammad SAW. 3.M. selaku Rektor UIN Malang. Selama proses penyusunan skripsi ini. saran serta bimbingan dalam proses penulisan skripsi.. 2. HA. Yang telah melimpahkan rahmat serta hiayah-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan judul: “ Penerapan Standar Operasional Prosedur dan Sistem Bagi Hasil Pada Tabungan Mudharabah (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan”). Bapak H. S. 5.Si. MA. Ibu Umrotul Khasanah. Bapak/ibu Dosen UIN Malang yang telah memberikan ilmunya dengan tulus. Dumairi Nor. banyak pihak yang terkait yang dengan tulus ikhlas telah membantu dan memberikan motivasi kepada penulis demi terselesaikannya penulisan skripsi ini..Ag. Bapak Drs. Yang telah merubah dunia yang penuh dengan kebodohan dan penindasan menjadi dunia yang penuh kedamaian dan keselamatan .

Penulis mengakui bahwa tidak ada segala sesuatu pun yang sesempurna kecuali Allah SWT. Oleh karena itu. Bapak Faiz selaku karyawan BMT MMU Cabang wonorejo Pasuruan yang senantiasa memberikan pengarahan serta membantu dalam menyelesaikan skripsi ini 8. Teman-teman dan seluruh pihak yang ikut andil dalam proses penyusunan skripsi ini Semoga amal baik anda semua tercatat sebagai amal ibadah dan mendapatkan imbalan serta ganjaran dari Allah SWT. Bapak. Malang. 30 Maret 2008 Penulis . Amin. Amin. degan senang hati penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Abdullah. selaku Staf Manager BMT MMU Pasuruan 7. Bapak Chilmi. Bapak Sobir.9 6.

.......... Manfaat Penelitian ......................... Kapan SOP diperlukan.................................................................................................... 10 B............................................................. 8 D..................... Pengertian SOP.... Menabung Dalam Perspektif Islam...................................................... Status dan Badan Hukum BMT . Tabungan...................................................................... 17 6..................................................................................... Produk-produk BMT ............................................ Latar Belakang....................... 21 3.................................................... Standar Operasional Prosedur (SOP) .............................. Fungsi SOP .................................................................... Pengertian Tabungan ..................................................... vii KATA PENGANTAR ............................................... 9 BAB II : KAJIAN PUSTAKA ....... iii HALAMAN PENGESAHAN. 22 D................................ 23 1.................... vi MOTTO.............................................................10 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................. 23 2.......... 21 1............................................... Rumusan Masalah .................... 1 A........................................................................ Baitul Maal wat Tamwil (BMT) . 16 5...................................................................................................... 8 C....................................... Karakteristik BMT......................................................................... Tujuan SOP ............. xv BAB I : PENDAHULUAN .................. 24 3............................. 1 B............................................................................................................. 25 ........................................................................................... Penelitian terdahulu ................................ viii DAFTAR ISI . Prinsip Operasional BMT................................... 22 4......... 21 2............................................................................................................................................... 22 5............................................................................................................................................................................................. Pengertian BMT.................................................................................................. 20 C.... xii DAFTAR GAMBAR.............................. Keuntungan Adanya SOP....................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................... Persamaan dan perbedaan Lembaga Keuangan Syariah Dengan Konvensional ........ Jenis-jenis Tabungan............. Tujuan Penelitian ...................................... 14 3................................................................. 10 A............................................... 15 4....... Xii DAFTAR LAMPIRAN..................................... x DAFTAR TABEL ... i HALAMAN PERSETUJUAN.................. 13 2.. 13 1....................................................................................... xiv ABSTRAK..................................

........................... Sumber Data . Paparan Data Hasil Penelitian ..................... 37 G.......................................................... Teknik Analisis Data ................................................... 43 B................... 42 BAB III : METODOLOGI PENELITIAN ................................................ 27 2..... 36 5..... 31 4......................... 30 3.............................. Perhitungan Bagi Hasil ......................11 E.................... Lokasi Penelitian .... Pengertian Bagi Hasil . 94 A..................................................................................................... 94 B....... Pembahasan Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam................................................................................ Pembahasan Data Hasil Penelitian................................................ 32 F................... Bagi Hasil ........................................................ 45 E... Faktor yang Mempengaruhi Bagi Hasil ........................... Teknik Pengumpulan Data......................................................... 43 A.................................... Pengertian nisbah. 50 B................... 89 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... Jenis-jenis Mudharabah...... Mudharabah .................................................................... 46 BABIV:PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN ....... 32 2............. Landasan Syariah.................... 64 C............................ Pengertian Mudharabah ..................................................... Jenis dan Pendekatan Penelitian................................................ 27 1.... 44 D......................................................................................................... 32 1........ 34 3....... Kesimpulan .................................... Rukun dan Syarat Mudharabah .................... 95 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ................................... Perbedaan Antara Bunga dan Bagi Hasil ......... 34 4........... Saran.................................................................................................. 50 A....................................... Kerangka Berfikir ......................... 43 C.......................

.....................5 : Saldo Rata-rata Tabungan dan Keuntungan...... 10 Tabel 2.. 5 Tabel 2...7 : Persamaan dan Perbedaan Produk Tabungan .....1 : Jumlah Anggota Tabungan...............................................................1 : Jumlah Nasabah Tabungan Mudharabah ........ 65 Tabel 4.......................................... 84 Tabel 4...........3 : Contoh Bentuk Buku Tabungan Tuan Mujahid .........................................12 DAFTAR TABEL Tabel 1........... 88 ....4 : Perbandingan Saldo Rata-rata Tabungan Nasabah ........... 79 Tabel 4..... 83 Tabel 4.............................. 39 Tabel 4......................2 : Nisbah Tabungan Mudharabah ..................6 : Perhitungan Bagi Hasil... 80 Tabel 4...........1 : Persamaan dan Perbedaan Penelitian terdahulu ..................................2 : Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil......... 35 Tebel 2.......... 85 Tabel 4...........3 : Contoh Bentuk Buku Tabungan Ibu Aisyah .................

.................................13 DAFTAR GAMBAR Gambar 4...............3 : Skema Mudharabah Muthlaqah ...1 : Struktur Organisasi BMT .....................................2 : Struktur Organisasi Cabang SPS BMT MMU...... 59 Gambar 4............ 65 ..MMU....... 58 Gambar 4..

..................... 101 Lampiran 4 : Analisis Data .............................................................................. 113 Lampiran 7 : Hasil Penelitian dengan Metode Dokumnetasi ..................... 102 Lampiran 5 : Hasil Penelitian dengan Metode Wawancara .... 99 Lampiran 2 : Surat Keterangan ........................ 104 Lampiran 6 : Hasil penelitian dengan Metode Observasi.................................................................................................. 116 ...14 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Bukti Konsultasi...............100 Lampiran 3 : Item Aktifitas Penyelesaian Skripsi ......................................................

Meskipun masih ada sebagian kecil dari anggota tabungan yang tidak mematuhi prosedural menabung. Dan menggunakan saldo rata-rata harian dalam mengetahui jumlah dana yang diinvestasikan oleh anggota. tidak mau dengan hal-hal yang ribet seperti dalam bukti transaksi (tanda tangan). Perbandingan bagi hasil keuntungan ini tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya bagi hasil.Ag. serta faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya bagi hasil. 2008 SKRIPSI. Disamping itu menganalisa adanya masalah dalam pelaksanaannya serta memberikan solusi dan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi. Bagi Hasil Dalam penghimpunan dana masyarakat melalui tabungan mudharabah. Sedangkan kerugian tersebut ditutupi oleh BMT dengan pendapatan BMT pada akhir tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.. maka kerugian tersebut hanya ditanggung oleh pihak BMT dengan asumsi kerugian tersebut terjadi karena kelalaian BMT sebagai mudharib dalam mengelola tabungan anggota. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan teknik triangulasi dalam menguji keabsahan data. . hal ini disebabkan karena sebagian masyarakat yang tergolong awam khususnya pada tabungan di pasar.15 ABSTRAK Aisyah. Judul : “Penerapan Standar Operasional Prosedur dan Sistem Bagi Hasil Pada Tabungan Mudharabah (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)” Pembimbing : Umrotul Khasanah. Berdasarkan hasil penelitian. Namun jika mengalami kerugian. Yang bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan SOP tabungan mudharabah. Esy Nur. Keuntungan yang didapatkan oleh kedua belah pihak adalah bagi hasil (nisbah) yang sudah ditetapkan diawal akad. diperoleh bahwa pelaksanaan SOP Tabungan mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo dapat mewujudkan visi misi BMT yaitu memberikan kemudahan kepada anggota koperasi sehingga dapat menarik masyarakat untuk menabung di BMT. S. Untuk itulah BMT MMU Cabang Wonorejo mempunyai kebijakan tersendiri dalam pelaksanaan prosedural tabungan pasar. penerapan sitem bagi hasil.Si Kata Kunci : Standar Operasional Prosedur Tabungan. sangat diperlukan standar-standar operasi prosedur oleh BMT (mudharib) dan Anggota koperasi (shahibul maal) sebagai acuan kerja secara sungguh-sungguh untuk menjadi sumber daya manusia yang professional. Sehingga BMT hanya mengembalikan tabungan pokok anggota.M. Adapun penerapan sistem bagi hasil tabungan mudharabah adalah dengan prinsip profit sharing.

The profit sharing ratio is dependent on the factors which affect how much or little amount of profits to be shared. it was due to their unknowledgability and negligence of the saving procedures. 2008.Ag. Thesis. Even though there still was a small number of savers or depositors not following the procedures. the BMT will only pay back or reimburse the capital/principal or base money of the savers fully. M. Title: “The Implementation of the Standard Operational Procedures and Profit Sharing System in Mudharabah Saving (A Case Study at BMT MMU Branch of Wonorejo-Pasuruan)” Advisor : Umrotul Khasanah. The study used a qualitative data analysis technique and applied data triangulation technique to examine the data validity. In addition.Si Keywords : Saving. BMT should take full responsibility and burden to cover the compensation money caused by the loss assuming that it was caused by the negligence in the part of the BMT as the mudharib (fund manager) in managing the members’ savings. Therefore. the BMT MMU Wonorejo-Pasuruan Branch applies a distinctive. In this case. The profits to be gained by both parties follow the profit sharing scheme agreed upon in the prior agreement. In applying their policy. Esy Nur. S. should financial loss is experienced. While the compensation of the loss should be covered by the BMT’s income on the year end. and the factors influencing how much or little amount of profits to be shared. the BMT (mudharib or fund manager) and the cooperative members require a standard operational procedure (SOP) as a work frame to run the business professionally. as required on the transaction document. the study analyzed the problems that appeared in their implementation and sought and offered alternative solutions to the problems. customized policy for their downtown-based small traders’ savings. the profit gain system follows the profit sharing principles which is based on the nominal value stated on the daily balance in order to know the amount of fund which have been invested by the members or savers. profit sharing system. The study used a qualitative research design which applied a descriptive method aiming at describing the implementation of SOP in mudharabah saving. .16 ABSTRACT Aisyah. it can be inferred that the implementation of SOP in mudharabah saving at BMT MMU Wonorejo-Pasuruan Brach has realized the BMT visions and missions when they give or provide abridged services to help the cooperative members which in turn have encouraged greater interest in the part of the public to save their money at BMT.. Standard Operational Procedure (SOP). Based on the findings. Profit Sharing In the gathering of the public’s fund through Mudharabah saving. However. such as signing the signature slot.

ﻭ ﻋﻮﺍﻣﻞ ﺍﻟﱵ ﺗﺄﺛﺮ ﰲ ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ ﻗﻠﻴﻼ ﻛﺎﻥ ﺍﻭ ﻛﺒﲑﺍ. ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻋﻠﻰ ‪ BMT MMU‬ﻣﻦ ﻓﺮﻉ ﻭﻧﻮﺭﺝ ﻓﺴﻮﺭﻭﺍﻥ ﺍﻟﺴﻴﺎﺳﺔ ﰲ ﲢﻘﻖ ﻣﻨﻬﺎﺝ‬ ‫ﺍﻟﺘﻮﻓﲑ ﰲ ﺍﻟﺴﻮﻕ. ﻭﺇﻥ ﺗﻄﺒﻴﻖ ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ ﻱ ﻭﺩﻳﻌﺔ ﺍﳌﻀﺎﺭﺑﺔ ﺑﺪﺳﺘﻮﺭ ﻗﺴﻢ ﺍﻟﺮﺑﺢ ﻭ ﺇﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﻣﻴﺰﺍﻥ‬ ‫ﻣﺪﻓﻮﻋﺎﺕ ﺍﳌﻌﺪﻝ ﺍﻟﻴﻮﻣﻲ ﻟﺘﻌﺮﻳﻒ ﲨﻠﺔ ﺍﳌﺎﻝ ﺇﺳﺘﺜﻤﺮﻩ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﳌﺎﻝ. ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻳﺮﺟﻊ ﺍﻟﻮﺩﻳﻌﺔ ﺍﻟﺮﺋﻴﺴﻴﺔ ﻣﻦ‬ ‫ﺻﺎﺣﺐ ﺍﳌﺎﻝ. ﺍﻟﺮﺑﺢ ﺍﻟﱵ ﳚﺪﻫﺎ ﺍﳌﻀﺎﺭﺏ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﳌﺎﻝ ﻧﺴﺒﺔ ﻣﻘﺮﺭﺓ ﰲ‬ ‫ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻌﻘﺪ.‬ ‫ﻳﻜﻮﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺤﺚ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺤﺚ ﺍﻟﻨﻮﻋﻲ ﺑﺎﻹﻗﺘﺮﺍﺏ ﺍﻟﻮﺻﻔﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﺮﺳﻢ ﲢﻘﻖ ﻣﻘﻴﺎﺱ ﻋﻤﻠﻴﺔ‬ ‫ﺍﻹﺟﺮﺍﺍﺕ ﺍﳌﺼﺮﻓﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻮﻓﲑ ﺍﳌﻀﺎﺭﺑﺔ. ﻭ ﺃﻗﻞ ﻣﻦ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﳌﺎﻝ ﺍﻟﺬﻱ ﱂ ﻳﻄﻴﻊ ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﻮﺩﻳﻌﺔ ﻷ‪‬ﻢ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﺍﻫﺎ ﻛﻠﻬﻢ ﺧﺼﻮﺻﺎ ﰲ‬ ‫ﺍﻟﺴﻮﻕ. ﺍﻟﺒﺤﺚ ﺍﳉﺎﻣﻌﻲ.‬ ‫ﻭﻣﻦ ﺣﺎﺻﻞ ﺍﻟﺒﺤﺚ. ﻓﻌﻠﻰ ‪ BMT‬ﺍﻥ ﻳﺄﻣﻨﻬﺎ‬ ‫ﺑﺈﺩﻋﺎﺀ ﺍﳌﻌﺴﺮﺓ ﻣﻦ ﺇﳘﺎﻝ.‫71‬ ‫ﺍﳌﺴﺘﺨﻠﺺ‬ ‫ﻋﺎﺋﺴﺎﺓ.ﻛﺎﳌﻀﺎﺭﺏ ﰲ ﺳﻴﺎﺱ ﻭﺩﻳﻌﺔﺻﺎﺣﺐ ﺍﳌﺎﻝ. ﻭﻧﻌﻤﻞ ﺍﻟﺘﺤﻠﻴﻞ ﺍﻟﻨﻮﻋﻲ ﺑﺄﺳﻠﻮﺏ ﺗﻘﺴﻴﻢ‬ ‫ﺍﳌﻨﻄﻘﺔ ﺇﱃ ﻣﺜﻠﺜﺎﺕ )‪ (Triangulasi‬ﻛﺄﺳﻠﻮﺏ ﲢﻠﻴﻞ ﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ ﻟﺘﻔﺘﻴﺶ ﺻﺪﻗﺔ ﺍﻟﺒﻴﺎﻧﺎﺕ. ﻛﻤﺜﻞ ﺍﻹﻣﻀﺎﺀ. ﻧﻌﺮﻑ ﺃﻥ ﺗﻄﺒﻴﻖ ﻣﻘﻴﺎﺱ ﻋﻤﻠﻴﺔ ﺍﻹﺟﺮﺍﺍﺕ ﺍﳌﺼﺮﻓﻴﺔ ﰲ ‪ BMT MMU‬ﻣﻦ ﻓﺮﻉ‬ ‫ﻭﻧﻮﺭﺝ ﻓﺴﻮﺭﻭﺍﻥ ﻗﺪ ﺣﻘﻖ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻭ ﺍﻟﺒﻌﺜﺔ ﻣﻦ ‪ BMT‬ﻳﻌﲏ ﺍﻟﺘﺴﻬﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﳌﺎﻝ ﺣﱴ ﻳﻨﺠﺬﺏ ﺍ‪‬ﺘﻤﻊ ﺇﱃ‬ ‫‪ BMT‬ﺍﻟﺘﻮﻓﲑ.‬ ‫ﻭﺃﻳﻀﺎ ﻫﺬﺍ ﺍﻹﻗﺘﺮﺍﺏ ﳛﻠﻞ ﺍﳌﺴﺌﻠﺔ ﰲ ﺇﻗﺎﻣﺘﻪ ﻭﻳﻘﺪﻡ ﺟﻮﺍﺏ ﺍﳌﺴﺌﻠﺔ. ﻭﻣﻘﺎﺭﻧﺔ ﻫﺪﻩ ﻧﺴﺒﺔ ﺍﻟﺮﺑﺢ ﺗﻌﺘﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻮﺍﻣﻞ ﺍﻟﱵ ﺗﺄﺛﺮ ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ ﺻﻐﲑﺓ ﻛﺎﻧﺖ ﻛﺒﲑﺓ. 8002. "ﺗﻄﺒﻴﻖ ﻣﻘﻴﺎﺱ ﻋﻤﻠﻴﺔ ﺍﻹﺟﺮﺍﺍﺕ ﺍﳌﺼﺮﻓﻴﺔ ﻭﺗﻄﺒﻴﻖ ﻧﺴﺒﺔ ﺍﺗﻮﻓﲑ‬ ‫ﻓﺮﻉ ﻭﻧﻮﺭﺟﻮ ﺑﺎﺳﻮﺭﻭﺍﻥ("‬ ‫‪BMT MMU‬‬ ‫ﺍﳌﻀﺎﺭﺑﺔ )ﺩﺭﺍﺳﺔ ﰲ‬ ‫ﺍﳌﺸﺮﻓﺔ : ﻋﻤﺮﺓ ﺍﳊﺴﻨﺔ ﺍﳌﺎﺟﺴﺘﲑﺓ‬ ‫ﺍﻟﻜﻠﻤﺎﺕ ﺍﻟﺮﺋﺴﻴﺔ: ﻣﻘﻴﺎﺱ ﻋﻤﻠﻴﺔ ﺍﻹﺟﺮﺍﺍﺕ ﺍﳌﺼﺮﻓﻴﺔ.‬ . ﺗﻄﺒﻴﻖ ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ. ﻟﻮ ﻳﺼﺪﺭ ﺍﳊﺼﺮﻥ. ﺍﻟﻨﺴﺒﺔ‬ ‫ﺇﻥ ﰲ ﺻﻠﺔ ﻣﺎﻝ ﺍ‪‬ﺘﻤﻊ ﺑﻮﺩﻳﻌﺔ ﺍﳌﻀﺎﺭﺑﺔ ﳛﺘﺎﺝ ‪‬ﺎ ‪) BMT‬ﺍﳌﻀﺎﺭﺏ( ﺻﺎﺣﺐ ﺍﳌﺎﻝ ﺿﺎﺑﻄﺎﺕ ﺍﳌﻨﻬﺎﺝ‬ ‫ﺍﻟﻌﻤﻠﻴﺔ ﻛﺈﺷﺎﺭﺓ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺍﳌﻌﻮﻝ ﺍﻹﻧﺴﺎﱐ ﳏﺮﻑ. ﺃﻳﺴﻲ ﻧﻮﺭ. ﻭﺗﻠﻚ ﺍﳊﺼﺮﻥ ﻳﻐﻠﻘﻬﺎ ‪ BMT‬ﺑﺪﺧﻞ‪ BMT‬ﰲ ﺃﺧﲑ ﺍﻟﺴﻨﺔ.

Ekonomi tidak lepas dari kehidupan manusia. merupakan agama yang tidak hanya berkaitan dengan masalah ritual. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.Qashash juz 28 ayat 77 yang mengatur secara cukup terperinci aturan muamalah diantara manusia.” (AlQashash : 77). dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik. Allah berfirman : ( $u‹÷Ρ‘‰9$# š∅ÏΒ y7t7ŠÅÁtΡ š[Ψs? Ÿωuρ ( nοtÅzFψ$# u‘#¤$!$# ª!$# š9t?#u !$yϑ‹Ïù Æ tGö/$#uρ =Ïtä† Ÿω ©!$# ¨βÎ) ( ÇÚö‘F{$# ’Îû yŠ$|¡x ø9$# Æ ö7s? Ÿωuρ ( šø‹s9Î) ª!$# z|¡ômr& !$yϑŸ2 Å¡ômr&uρ ∩∠∠∪ tωšø ßϑø9$# Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Salah satu contoh dapat dilihat dalam surat al. Latar Belakang Islam sebagai pedoman hidup manusia.18 BAB I PENDAHULUAN A. dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. akan tetapi merupakan sistem yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan. kepadamu. sehingga masalah perekonomian telah diatur dalam al Qur’an dan Hadits. . termasuk masalah industri keuangan sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian.

Lahirnya Undang-undang No 10 Tahun 1998 tentang landasan hukum Perbankan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (An Abstract Growth) (Antonio. BMT berupaya mengkombinasikan unsur agama dan materi . dan Baitul Maal Wat Tamwil (BMT). Di dalam bidang operasionalnya. 2001:3). seperti perbankan.19 Pernyataan di atas. Adanya globalisasi dewasa ini. serta undang-undang tersebut telah memberikan peluang yang baik kepada tumbuhnya lembaga keuangan syari’ah di Indonesia. saat ini telah berdiri kurang lebih 3000 BMT di seluruh Indonesia. Dimana mereka berpandangan bahwa dewasa ini masih terdapat anggapan bahwa Islam menghambat kemajuan. banyak bermunculan lembaga ekonomi yang berusaha menerapkan prinsip syari’ah Islam terutama lembaga-lembaga keuangan. telah memberikan klarifikasi kepada sebagian para pemikir Barat dan Intelektual Muslim. Khusus mengenai BMT menurut data yang ada. Bersamaan dengan fenomena semakin bergairahnya masyarakat untuk kembali ke ajaran agama. BMT dijadikan sebagai lembaga solidaritas sekaligus lembaga ekonomi rakyat kecil untuk bersaing di pasar bebas. Posisi lembaga keuangan sangat strategis dalam menggerakkan roda perekonomian. Keberadaan lembaga keuangan mempunyai peranan penting terhadap perkembangan perekonomian suatu Negara. telah memberikan arahan yang jelas tentang jenis-jenis usaha yang boleh dioperasikan dan diimplementasikan secara syari’ah. asuransi.

Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dewasa ini. karena keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitarnya. Sistem bagi hasil adalah karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional lembaga keuangan Islam. Karena dengan sistem bagi hasil. Oleh karena itu. Kita ketahui bahwasanya sebagian besar penduduk Indonesia memeluk agama Islam. merupakan topik yang hangat dibicarakan. terutama pengusaha kecil dan mikro serta masyarakat berpenghasilan rendah. yang relatif tidak terjangkau oleh lembaga keuangan formal. Selain itu. sejalan dengan upaya-upaya restrukturisasi perbankan. Seperti halnya di BMT MMU Cabang wonorejo yang memberikan pelayanan jasa keuangan ekonomi mikro. dalam meningkatkan . Pengembangan BMT juga ditujukan untuk meningkatkan mobilisasi dana masyarakat yang selama ini belum terlayanai oleh sistem keuangan konvensional. pengembangan lembaga keuangan syari’ah merupakan suatu alternatif sistem pelayanan jasa keuangan dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya.20 secara optimal untuk mencapai keefektifan atau keefesienan produktif sehingga membantu para anggotanya untuk bersaing secara efektif. baik instansi maupun perorangan dapat menerapkan prinsip keadilan yang telah dianjurkan dalam agama Islam. maka mereka sangat menantikan suatu sistem lembaga keuangan syari’ah yang sehat dan terpercaya untuk mengakomodasi kebutuhan mereka terhadap layanan jasa keuangan yang sesuai dengan prinsip syari’ah. BMT sangat mempunyai peran dalam menggerakkan perekonomian khususnya dalam pengembangan perekonomian Umat.

Kemudian kantor pusat dipindahkan ke Sidogiri.759 19.111 1. serta penerapan sistem bagi hasil dengan nasabah tabungan maupun pembiayaan.131 2.222 4.639 3.034 25% Sumber : Data diolah dari laporan keuangan BMT MMU Pasuruan . Adapun jumlah nasabah tabungan mudhrabah di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah sebagai berikut: Tabel 1. BMT MMU Cabang Wonorejo yang merupakan salah satu Cabang dari BMT MMU Pasuruan memiiki jumlah nasabah tabungan yang cukup banyak dibandingkan dengan Cabang-cabang yang lainnya. Faktor sejarah inilah yang menyebabkan banyaknya nasabah di Cabang Wonorejo.1 Jumlah Nasabah Tabungan Mudharabah Nasabah Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah TOTAL Prosentase Tabungan umum Mudharabah 1. BMT Cabang Wonorejo pada awalnya adalah kantor pusat BMT.275 75% Mudharabah Berjangka 370 508 710 880 1.069 1. selain itu juga didukung oleh luasnya pasar di samping kantor BMT Wonorejo.522 2. Menurut data histories di BMT MMU Pasuruan. Dengan melihat jumlah data nasabah tabungan di laporan keuangan BMT MMU Pasuruan.21 mobilisasi dana masyarakat.206 3.666 14.

Produk tabungan Mudharabah yang di tawarkan BMT kepada masyarakat yaitu tabungan umum mudharabah. kesimpulan penelitiannya menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi masyarakat menabung di BMT MMU Sidogiri Pasuruan adalah faktor budaya yang mempunyai dua komponen yaitu faktor agama dan faktor bagi hasil sebagai bentuk penghindaran dari unsur riba. 2005:98). tabungan mudharabah yang paling diminati angggota adalah tabungan umum mudharabah yang mempunyai prosentase 75% dari pada tabungan mudharabah berjangka. dan hal ini . maka BMT menawarkan berbagai macam produk kepada masyarakat sebagai bentuk pelayanan BMT dalam meningkatkan produkfitas masyarakat. pembiayaan. Dari hasil penelitian terdahulu (Abdul Karim. pendanaan (Tabungan). Berdasarkan hasil wawancara dengan costumer service.22 Sebagai mediator antara masyarakat yang kelebihan dana dan yang kekurangan dana. Pelayanan tersebut terbagi menjadi dua. akan tetapi juga karena kemudahan nasabah dalam menabung.1. Pertama. dan yang kedua. yang diperuntukkan bagi orang yang kekurangan dana. Prinsip Tabungan yang digunakan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah akad mudharabah. Mayoritas anggota koperasi menabung bukan hanya karena faktor agama dan sistem bagi hasil. layanan ini diperuntukkan bagi orang yang kelebihan dana. Fenomena yang terjadi di BMT MMU Cabang Wonorejo. dengan hasil wawancara pada sebagian nasabah tabungan dan karyawan BMT. dan mudharabah berjangka Dengan melihat jumlah anggota koperasi tabungan pada tabel 1.

karena di dalam sistem bagi hasil ada unsur saling berbagi baik keuntungan maupun dalam menanggung resiko kerugian. harus membagikan keuntungan yang diperolehnya kepada . sistem bagi hasil lebih menguntungkan dibandingkan dengan sistem yang lainnya.23 terkait dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) tabungan di BMT MMU Pasuruan yang mudah dilaksanakani oleh sebagian besar masyarakat Wonorejo yang mayoritas dari masyarakat awam. yang paling diminati oleh masyarakat adalah sistem margin. tabungan mudharabah berjangka lebih menguntungkan dibandingkan dengan tabungan umum mudharabah. BMT MMU Cabang Wonorejo menerapkan sistem fee. BMT sebagai mudharib dari penabung (shohibul maal). dalam mendapatkan keuntungan. Hal ini tampak dalam perbandingan jumlah nasabah antara jumlah nasabah tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka. bagi hasil dan margin. Padahal secara pembagian keuntungan (bagi hasil). BMT MMU Cabang Wonorejo sebagai mudharib. Padahal secara prinsip. Namun. Akan tetapi. dan dalam hal ini sesuai dengan kesepakatan awal. Dalam pembagian keuntungan. persoalan yang sering terjadi di kalangan masyarakat khususnya di Wonorejo adalah masih banyaknya nasabah atau masyarakat yang belum mengetahui dan memahami tentang sistem bagi hasil serta perhitungannya. mereka menyalurkan modal dari nasabah (shahibul maal) kepada masyarakat yang membutuhkan dana melalui berbagai produk pembiayaan. Dan kemudian atas dasar prinsip bagi hasil.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. B. Untuk mendeskripsikan Standar Operasional Prosedur (SOP) Tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan. maka rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana penerapan sistem bagi hasil tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan? 3. Faktor apa saja yang mempengaruhi bagi hasil tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan? C. . Berdasarkan latar belakang di atas.24 penabung. Untuk mendeskripsikan penerapan sistem bagi hasil tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan. maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Penerapan Standar Operasional Prosedur dan Sistem Bagi Hasil Pada Tabungan Mudharabah” (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan). Dan dalam hal ini juga memerlukan mekanisme perhitungan bagi hasil antara BMT (mudharib) dan Penabung (shahibul maal). Bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) Tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan? 2. 2. Tujuan 1.

4. Untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi bagi hasil tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan. Manfaat Penelitian 1.25 3. Bagi Masyarakat Luas Menambah wawasan dan pemahaman masyarakat tentang keuangan syari’ah khususnya Baitul Maal wat Tamwil. Sebagai alternatif dalam mensosialisasikan produk dan mekanisme transaksi keuangan syari’ah. Bagi Peneliti Sebagai wahana untuk mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama belajar di bangku kuliah. Bagi Akademisi Hasil penelitian diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan tentang sistem bagi hasil sebagai prinsip perekonomian Islam 2. . 3. D. Bagi Manajemen BMT Sebagai informasi dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan serta penetapan kebijakan demi kemajuan dan perkembangan BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan. serta menambah pengetahuan tentang lembaga keuangan syari’ah pada umumnya dan Implementasi sistem bagi hasil pada tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka pada khususnya.

jangka waktu pembiayaan Expectasi rate (keuntungan yang diharapkan). Penentuan besarnya pembiayaan.26 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 2003.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu Metode Penelitian Judul Jenis Analisi peneliti s Data an Analisis Kualitat Kualitat Penerapan if if Sistem Kuantit Bagi Hasil atif Tabungan dan Deposito Di PT Bank Perkredita n Rakyat Syari’ah (BPRS) Bumi Rinjani Batu Sistem Kualitat Kualitat Perhitunga if if n Bagi Hasil Pembiayaa n Mudhrabah Pada PT Bank Syari’ah Mandiri Cabang No Nama Hasil 1 Yatty Hariati Ningsih. Bank Syari’ah Mandiri Cabang Malang melalui beberapa tahapan: a. 2 Emi Suhariati. karena nasabah berasumsi bahwa hanya dengan menggunakan sistem tersebut uang yang ditabung di bank syari’ah jauh dari unsur riba. b. rencana penerimaan usaha. .Menghitung Expectasi bagi hasil. Bahwa sistem perhitungan bagi hasil pembiayaan mudharabah yang diterapkan oleh PT. Penelitian Terdahulu Tabel 2. 2005. Dalam pengolahan dana telah memenuhi target seperti yang ditetapkan oleh BPRS Bumi Rinjani Batu yaitu dengan penerapan sistem bagi hasil yang mampu menarik minat nasabah.

27

Malang

3

Yustiana Faizati, 2006,

Pelaksaaan Pengawasa n Bank (shahibul maal) Terhadap mudharib dan Mekanism e Perhitunga n Bagi Hasil. (Studi Kasus Pada Bank Perkredita n Rakyat Syari’ah Al-Mabrur Ponorogo)

4

Esy Nur Penerapan Aisyah Standar

dengan cara jangka waktu pembiayaan dibagi 12 dikalikan expectasi bagi hasil dibagi rencana penerimaan usaha. c. Menghitung nisbah bagi hasil, dengan cara expectasi bagi hasil di bagi recana penerimaan usaha. d.Mendistribusikan pendapatan masing-masing sesuai dengan nisbah yang telah disepakati bersama. Metode distribusi bagi hasil yang diterapkan adalah revenue sharing (bagi penerimaan) bukan profit sharing (bagi untung) maupun profit loss sharing (bagi untung dan rugi) Kualitat Deskrip Pelaksanaan pengawasan yang if tif diterapkan BPRS Al-Mabrur Ponorogo dalam pembiayaan mudharabah adalah pengawasan aktif (on the spot) dan pengawasan pasif. Mekanisme perhitungan bagi hasil (nisbah) yang diterapkan BPRS AlMabrur Ponorogo pada pembiayaan mudharabah adalah dengan mengacu bagi hasil kesepakatan (negoisasi) anatara bank (shahibul maal) dengan debitur (mudharib). Adapun faktor yang mempengaruhi dalam penentuan bagi hasil akad mudharabah adalah tingkat komoditas (potensi) usaha debitur. Hal tersebut akan mempengaruhi tingkat kemampuan debitur dalam melakukan pembayaran angsuran, baik pembayaran pokok maupun nisbah bagi hasilnya. Kualitat Kualitat Penerapan standar operasional if if Prosedur Tabungan Mudharabah

28

2008,

Operasion al Prosedur dan Sistem Bagi Hasil Pada Tabungan Mudharab ah (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)

dengan pendek atan deskrip tif

di BMT MMU Cabang Wonorejo, secara teknisi menggambarkan bahwa dalam prosedural menabung, BMT memberikan kemudahan kepada anggota koperasi. Kemudian system bagi hasil yang diterapkan adalah dengan prinsip Profit Sharing. Serta faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya bagi hasil yaitu jumlah dana yang diinvestasikan oleh anggota, penetapan nisbah, pendapatan bersih, serta kebijakan accounting yang diterapkan oleh BMT.

Sumber : Data diolah dari hasil peneletian terdahulu

Dengan melihat tabel di atas, maka dapat terlihat persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Adapun persamaannya yaitu dalam hal judul pembahasan dan juga metode penelitian. Sistem bagi hasil merupakan salah satu pokok pembahasan dalam penelitian sekarang maupun dalam penelitian

terdahulu. Dan metode yang digunakan dalam penelitian antara keduanya yaitu dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan yang membedakan antara penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu yaitu dalam hal produk yang diteliti serta hal-hal yang terkait di dalamnya. Penelitian sekarang mendeskripsikan tentang produk tabungan serta perosedural yang terkait di dalamnya seperti dalam hal Standar Operasional Prosedur (SOP).

29

B. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) 1. Pengertian Menurut Ridwan (2004:126) BMT merupakan kependekan dari Baitul Maal Wa Tamwil atau dapat juga ditulis dengan Baitul Maal Wa baitul Tamwil. Secara harfiah/ lughawi Baitul Maal berarti rumah dana dan Baitul Tamwil berarti rumah usaha. Baitul maal dikembangkan berdasarkan sejarah perkembangannya, yakni dari masa Nabi sampai abad pertengahan perkembangan Islam. Dimana Baitul Maal berfungsi untuk mengumpulkan sekaligus mentasyarufkan dana sosial. Sedangkan Baitul Tamwil merupakan lembaga bisnis yang bermotif laba. Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa BMT merupakan lembaga yang mempunyai dua fungsi, yaitu lembaga sebagai sosial dan lembaga sebagai bisnis untuk menghasilkan laba / keuntungan. Secara konsepsi BMT merupakan mediator bagi orang yang kelebihan dana dengan orang yang kekurangan dana. Oleh karena itu, dalam hal ini BMT mencakup dua jenis kegiatan sekaligus, yaitu: a. Kegiatan mengumpulkan dana dari berbagai sumber seperti zakat, infak dan sedekah, dan lain-lain yang dapat dibagikan/ disalurkan kepada yang berhak dalam mengatasi kemiskinan. b. Kegiatan produktif dalam rangka menciptakan nilai tambah baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya manusia. 2. Karakteristik BMT Menurut Ridwan (2004:132) BMT mempunyai ciri utama dan ciri khusus. Adapun ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:

meningkatkan pemanfaatan ekonomi paling banyak untuk anggota dan masyarakat. 2) Kantor dibuka dalam waktu yang tertentu yang ditetapkan sesuai kebutuhan pasar. waktu buka kasnya tidak terbatas pada siang hari saja. Ciri utama 1) Berorientasi bisnis. Ciri khusus 1) Staf dan karyawan BMT bertindak proaktif. 3) BMT mengadakan pendampingan usaha anggota. 2) Bukan lembaga sosial. b. 3) Ditumbuhkan dari bawah berlandaskan peran serta masyarakat di sekitarnya. baik untuk menghimpun dana anggota maupun untuk pembiayaan. bukan milik perorangan atau orang dari luar masyarakat.30 a. tetapi dapat saja malam atau sore hari tergantung pada kondisi pasarnya. 4) Manajemen BMT adalah profesional islami . tetapi bermanfaat untuk mengefektifkan pengumpulan dan pensyarufan dana zakat. dan sedekah bagi kesejahteraan orang banyak. tidak menunggu tetapi menjemput bola. mencari laba bersama. 4) Milik bersama masyarakat bawah bersama dengan orang kaya di sekitar BMT. bahkan merebut bola. infaq. Atas dasarnya ini BMT tidak dapat berbadan hukum perseroan.

KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) atau Prakoperasi. Koperasi Serba Usaha atau Koperasi Simpan Pinjam b. . Prinsip operasional Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Lembaga keuangan syari’ah dengan sistem bagi hasil dirancang untuk terbinanya kebersamaan dalam menanggung resiko usaha dan berbagi hasil usaha antara: pemilik dana (rabbul maal) yang menyimpan uangnya di lembaga. 4. LPSM itu memberikan sertifikat kepada KSM (dalam hal Baitut tamwil) untuk beroperasi KSM disebut juga Prakoperasi. ICMI. MUI. dan lain-lalin. c. Berkenaan dengan itu. Dalam program PHBK-BI (Proyek Hubungan Bank dengan KSM: Kelompok Swadaya Masyaraka Bank Indonesia). d. BMT secara prinsip memiliki sistem operasi yang tidak jauh dengan sistem operasi BPR syari’ah. lembaga selaku pengelola dana (mudharib). dan BMI telah menyiapkan LPSM bernama PINBUK yang kepengurusannya mengikut sertakan unsur-unsur DMI. BI memberikan ijin kepada LPSM (Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat Bank) tertentu untuk membina KSM. pejabat tinggi Negara yang terkait.31 3. Status dan Badan hukum BMT Sebagai organisasi informasi dalam bentuk kelompok Simpan Pinjam (KSP) atau Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bisa berstatus peminjam dana atau pengelola dana. BUMN. IPHI. 2000: 114): a. badan hukum yang dapat disandang oleh BMT adalah sebagai berikut (Muhamad.

hubungan ekonomi berdasarkan syari’ah Islam tersebut ditentukan oleh hubungan aqad yang terdiri dari lima konsep dasar aqad. Konsep dasar aqad qadiah/titipan Wadi’ah Yad al Amanah Wadi’ah Yad Al Dhomanah c.32 Secara garis besar. Kelima konsep tersebut adalah: a. Konsep dasar aqad Tijaroh atau pertukaran/jual beli Prinsip jual beli Syarat syahnya jual beli Syarat penjual dan pembeli Syarat barang Syarat harga Jenis jual beli b. Konsep dasar aqad syirkah/berserikat Al-Musyarakah Al-Mudharabah d. Konsep dasar aqad kafalah/memberi kepercayaan/memberi jaminan e. 2000: 111-113). Konsep dasar aqad wakalah/memberi ijin (Muhamad. Bersumber dari kelima konsep dasar inilah dapat ditemukan produk-produk lembaga keuangan Bank Islam dan lembaga keuangan bukan bank Islam untuk dioperasionalkan. .

Yang membedakan hanyalah pada sisi lingkup dan struktur. operasional BMT adalah hampir sama dengan BPR Syari’ah. b. Simpanan Mudharabah Adalah simpanan pemilik dana yang penyetorannya dan penarikannya dapat dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. kedua fungsi tersebut adalah: Produk pengumpulan dana BMT a. Simpanan Wadiah Adalah titipan dana yang tiap waktu dapat ditarik pemilik atau anggota dengan cara mengeluarkan semacam surat berharga pemindah bukuan/transfer dari perintah bayaran lainnya. Produk-produk Baitul Maal wat Tamwil Muhamad (2000:117-120) berpendapat bahwa Secara fungsional. ada dua fungsi pokok dalam kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat. Adapun jenis-jenis tabungan/simpanan di BMT adalah sebagai berikut: 1) Tabungan persiapan qurban 2) Tabungan Pendidikan 3) Tabungan Persiapan untuk nikah 4) Tabungan persiapan untuk melahirkan 5) Tabungan naik haji/umroh 6) Simpanan Berjangka/deposito 7) Simpanan khusus untuk kelahiran .33 5. Dilihat dari fungsi pokok operasional BMT.

Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil (BBA) Adalah suatu perjanjian pembiayaan yang disepakati antara BMT dengan anggotanya.com/kajian/files/jurnal keuangan.pdf). Pembiayaan Mudharabah Adalah suatu perjanjian pembiayaan antara BMT dan anggota. dimana BMT menyediakan dananya untuk sebuah investasi dan atau pembelian barang modal dan usaha anggotanya yang kemudian proses pembayarannya dilakukan secara mencicil atau angsuran.alt. Jumlah kewajiban yang harus dibayarkan oleh peminjam adalah jumlah atas harga barang modal dan markup yang disepakati. Prinsip yang digunakan adalah sama seperti pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil.smecda. b.34 8) Simpanan sukarela 9) Simpanan hari tua 10) Simpanan aqiqoh (http://www. . Pembiyaan Murabahah Pembiayaan murabahah pada dasarnya merupakan kesepakatan antara BMT sebagai pemberi modal dan anggota sebagai peminjam. Produk Penyaluran dana a. c. hanya saja proses pengembaliannya dibayarkan pada jatuh tempo pengembaliannya. sedangkan peminjam berupaya mengelola dana tersebut untuk pengembangan usahanya. dimana BMT menyediakan dana untuk menyediakan modal kerja.

6. Hanya anggota yang dianggap layak yang dapat diberi pinjaman ini. kemanfaatan dan kemashlahatan. e.35 d. baik dalam hal barang. 3) Lingkungan kerja . Pembiayaan Al-Qardhul Hasan Adalah perjanjian pembiayaan antar BMT dengan anggotanya. NPWP. Perbedaan 1) Aspek akad dan legalitas Setiap akad dalam lembaga keuangan syari’ah. Persamaan dan perbedaan lembaga keuangan syari’ah dengan konvensional a. maupun ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad. Proposal. pelaku transaksi. Pembiayaan Musyarakah Adalah penyertaan BMT sebagai pemilik modal dalam suatu usaha yang mana antara resiko dan keuntungan ditanggung bersama secara berimbang dengan porsi penyertaan. seperti rukun dan syaratnya. b. 2) Usaha yang dibiayai Terdapat saringan kehalalan. Persamaan 1) Teknis penerimaan uang 2) Mekanisme transfer 3) Teknologi yang digunakan 4) Syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP. dsb.

Selain itu juga cara berpakaian dan bertingkah laku. Standar Operasional Prosedur (SOP) 1. cerdas dan professional (fathanah).com/index. b) Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi . Dalam hal etika. shiddiq. misalnya: amanah.takaful. C.php/publisher/articleview/68). b) SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Pengertian SOP a) Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.36 Lingkungan kerja yang sejalan dengan syari’ah. Tujuan SOP a) Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas/pegawai atau tim dalam organisasi atau unit kerja. 2. 4) Struktur organisasi Keharusan adanya Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) yang bertugas mengawasi operasional Lembaga Keuangan Syari’ah dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syari’ah (www. mampu melaksanakan tugas secara team-work dimana informasi merata di seluruh fungsional organisasi (tabligh).

d) Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja. b) Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan. Fungsi SOP a) Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja. d) Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek atau kesalahan administrasi lainnya. 5. wewenang dan tanggung jawab dari petugas/pegawai terkait. Kapan SOP Diperlukan a) SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan b) SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah dilakukan dengan baik atau tidak c) Uji SOP sebelum dijalankan. 4. e) Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin. Keuntungan Adanya SOP a) SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana. c) Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak. keraguan. e) Untuk menghindari kegagalan/kesalahan. duplikasi dan inefisiensi 3. lakukan revisi jika ada perubahan langkah kerja yang dapat mempengaruhi lingkungan kerja.37 c) Memperjelas alur tugas. menjadi alat komunikasi dan pengawasan dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten .

D. sertifikat deposito. b. deposit. sertifikat deposito.38 b) Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yang harus dicapai dalam setiap pekerjaan c) SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bisa digunakan untuk mengukur kinerja pegawai (http//rafhli. Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro. Dengan demikian. secara umum SOP dapat memberikan kemudahan kepada perusahaan untuk menjalankan operasional perusahaan. .com/journal/item/10). tetapi tidak dapat ditarik dengan cek. Tabungan adalah simpanan yang penarikannnya hanya adapt dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati. handal sehingga dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan. Tabungan 1. tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Pengertian Tabungan Berdasarkan UU Perbankan No 10 Tahun 1998 yang merupakan penyempurnaan dari Undang-undang No 7 Tahun 1992.multiply. dan selain itu pula juga dapat dijadikan acuan kerja oleh karyawan untuk menjadi sumber daya manusia yang professional. Definisi tabungan adalah: a. bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Menyimpan kelebihan setelah kebutuhan primer terpenuhi b.39 Dari pengertian di atas. Tidak menimbun harta e. maka dana tersebut akan dikelola secara profesional oleh pihak bank sesuai dengan motivasi dari si penabung. Islam juga menganjurkan untuk hemat dalam setiap pengeluaran. Menyimpan kelebihan untuk menghadapi kesulitan c. Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut: a. Hak harta generasi mendatang d. sekaligus untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Menabung Dalam Perspektif Islam Menabung adalah tindakan yang dianjurkan oleh Islam. yang penarikannya sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Dalam al-qur’an terdapat ayat-ayat yang secara tidak langsung telah memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan hari esok lebih baik (Antonio. maka definisi tabungan adalah dana yang dipercayakan kepada bank. Dalam penabungan. 2000:205-206): . 1998: 83-87). karena dengan menabung berarti seorang muslim mempersiapkan diri untuk pelaksanaan perencanaan masa yang akan datang. 2. Sehingga Islam menetapkan aturan-aturan perekonomian dalam hal menyimpan dan menabung. Pengembangan harta harus dilakukan dengan baik dan halal (Syahatah.

40 a.010) 3. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.R Tarmizy : 2. karena sifatnya titipan dan dapat diambil dengan mengunakan buku tabungan atau melalui ATM.” (H. dan sederhana adalah sebagian dari dua puluh empat bagian kenabian. Tabungan yang menerapkan wadi’ah. ﻋﻦ ﻋﺎﺻﻢ ﹾﺍﻷﺣﻮﺍﻝ. mengikuti prinsip-prinsip wadi’ah yad adh-dhamanah. ﻋﻦ ﻋ‬ ‫ﻴﺪ ﺍﷲ‬‫ﻴﺲ. ﹶﺃﻥ ﺍﻟ‬ ‫ﺍﷲ‬  ِ     ‫ ِ ﹾ‬ ‫ﹸ‬         ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ﱠ‬  ِ ‫ ﹶ‬ ُ ‫ﱠ‬  ‫ ﱠ‬    ِ   ِ ِ . ﺣﺪﹶﺛ‬ ‫ﻧﺼﺮ‬ ‫ﺎ‬‫ﺣﺪﹶﺛﻨ‬ ِ ِ   ِ   َ ٍ ِ    ِ   ِ ِ ِ ِ    ٍ ‫ ﹶ‬      ِ     ِ      ‫ﺘﺆﺩﺓ ﻭﹾﺍﻻ ﻗِﺘﺼﺎﺩ ﺟﺰﺀ ٌﻣﻦ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺴﻤﺖ ﺍﹾﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟ‬‫ﻨِﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠ‬‫ﺑﻦ ﺳﺮﺟﺲ ﺍﹾﻟﻤﺰِﻧﻲ. . menerapkan dua aqad dalam tabungan. Jenis-jenis Tabungan Dalam operasional bank syari’ah. ﻋﻦ ﻋ‬‫ﺑﻦ ﻗ‬ ‫ﻧﻮﺡ‬ ‫ﻨﺎ‬‫ﻳﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﹾﻟﺠﻬﻀﻤﻲ. pelan-pelan dalam mengerjakan sesuatu. yaitu wadi’ah dan mudharabah. dimana tabungan ini tidak mendapatkan imbalan bagi hasil. yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. ‫ﺒﻮﺓ‬‫ﻨ‬‫ﻳﻦ ﺟﺰﺀﺍ ﻣﻦ ﺍﻟ‬‫ﻳﻌﺔ ﻭ ﻋﺸﺮ‬‫ﹶﺃﺭ‬ ِ  ِ ً    ِ  ِ  ٍ   Artinya: “Tingkah laku yang baik. Al_Hadits ‫ﺒﺪ‬‫ﺑﻦ ﻋﻤﺮﺍﻥ.ts? öθs9 šÏ%©!$# |·÷‚u‹ø9uρ ∩∪ #´‰ƒÏ‰y™ Zωöθs% (#θä9θà)u‹ø9uρ Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah.(An-nisa’:9) b. Al-Qur’an ©!$# (#θà)−Gu‹ù=sù öΝÎγøŠn=tæ (#θèù%s{ $¸ ≈yèÅÊ Zπ−ƒÍh‘èŒ óΟÎγÏ ù=yz ôÏΒ (#θä.

keuntungan usaha secara secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.41 Tabungan yang menerapkan aqad mudharabah mengikuti prinsip mudharabah. yang diantaranya adalah pertama. Mudharabah 1) Pengertian Mudharabah Antonio (2001: 95) memberikan definisi. seperti: Simpanan Idul Fitri Simpanan Idul Qurban Simpanan Haji Simpanan pendidikan Simpanan Kesehatan. Variasi jenis simpanan yang berakad mudharabah dapat dikembangkan kedalam berbagai variasi simpanan. adanya tenggang waktu antara dana yang diberikan dan pembagian keuntungan. Menurut Muhamad (2000:118) dalam lembaga keuangan Islam. mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal. karena untuk melakukan investasi dengan memutarkan dana itu diperlukan waktu yang cukup. Kedua. keuntungan yang diperoleh dari dana yang dikelola oleh bank sebagai mudharib harus dibagi dengan nasabah sebagai shahibul maal. sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. E. dll . sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian .

Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola. Pengaplikasian mudharabah dalam perbankan biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Penerapan prinsip mudharabah yaitu tenaga kerja dan pemiliki modal bergabung bersama-sama sebagai mitra usaha untuk kerja. maka mudharabah dapat diartikan sebagai akad kerja sama antara pemilik modal (shahibul mal) dengan pengelola dana (mudharib) untuk memperoleh keuntungan dengan sistem bagi hasil (nisbah) yang telah disepakti di awal akad. Mudharabah (qiradh) adalah penyerahan harta dari shahib almal (pemilik modal/dana kepada mudharib (pengelola dana) sebagai modal usaha. 1997: 167). Pada sisi penghimpunan dana almudharabah diterapkan pada: . si pengolala harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Hal serupa diungkapkan oleh manager BMT MMU Sidogiri Pasuruan Dumairi. maka ditutupi dengan laba yang diperoleh. sedangkan keuntungannya dibagi sesuai dengan nisbah (perbandingan laba rugi) yang disepakati. dkk (2007: 9). Dari pengertian di atas. Ini bukan semata-mata mitra usaha dalam arti modern. Jika terjadi kerugian. Ia mempunyai kelebihan karena islam telah memberikan kode etik ekonomi yang menggabungkan nilai material dan spiritual untuk jalan sistem ekonominya (Mannan.42 itu bukan akibat kelalaian si pengelola.

Misalnya tabungan haji. b. bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu b. Deposito (tabungan berjangka). Adapun pada sisi pembiayaan. Isi dari ketentuan-ketentuannya adalah sebagai berikut: 1) Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. Tabungan. sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan. disebut juga mudharabah muqayyadah. bilyet giro. yaitu simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian Nasabah Penyimpan dengan Bank. dimana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul maal. . Pembiayaan modal kerja. Giro. giro dan deposito berdasarkan mudharabah dalam masing-masing fatwanya adalah sama. yaitu simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek. Investasi khusus. Ketentuan tabungan. tabungan qurban dan lain sebagainya. yaitu simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati.43 a. mudharabah diterapkan untuk: a. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. c. tetapi tidak dapat ditarik dengan cek. seperti modal kerja perdagangan dan jasa.

4) Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembuakaan rekening. Maka bertebaranlah kamu di muka bumi. ©!$# (#ρãä. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.44 2) Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. “(Al-Jumu’ah: 10) . dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 3) Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya. 2005: 130). 2001: 95-96) : a) Al-Qur’an #ZŽÏWx. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadits berikut ini (Antonio. 5) Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan atau giro atau deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. 2) Landasan Syari’ah Secara umum. landasan dasar syari'ah al-mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. 6) Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan (Wirdyaningsih.øŒ$#uρ «!$# È≅ôÒsù ÏΒ (#θäótGö/$#uρ ÇÚö‘F{$# ’Îû (#ρãÏ±tFΡ$$sù äο4θn=¢Á9$# ÏMuŠÅÒè% #sŒÎ*sù ∩⊇⊃∪ tβθßsÎ=ø è? ö/ä3‾=yè©9 Artinya: Apabila Telah ditunaikan shalat.

Adapun rukun mudharabah adalah sebagai berikut: a. Kesepakatan para sahabat ini sejalan dengan spirit hadits yang dikutip Abu Ubaid.”(HR Thabrani: 1296). Dan Rasulullah pun membolehkannya. dkk (2007: 10-12). 3) Rukun dan Syarat Mudharabah Dumairi. yang bersangkutan bertanggungjawab atas dana tersebut.45 b) Al-Hadits ‫ﺘﺮﻁ‬‫ﺑﺔ ِﺇﺷ‬‫ﺒﺪ ﺍﳌﻄﻠﺐ ِﺇﺫﺍ ﺩﻓﻊ ﺍﳌﺎﻝ ﻣﻀﺎﺭ‬‫ﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋ‬‫ﻧﺎ ﺍﻟﻌ‬‫ﻴﺪ‬‫ﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻥ ﺳ‬‫ﻨﻬﻤﺎ ﹶﺃ‬‫ﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﻋ‬‫ﺑﻦ ﻋ‬‫ﺭﻭﺍﻯ ِﺇ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹰ‬   ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ِ ﹸ ﹸﱢ ِ ﹶ‬      ‫ ﹶ ﹶ ﹶ ﹶ‬    ُ  ِ  ٍ    ‫ﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﻓﻌﻞ ﺫﺍِﻟﻚ ﺿﻤﻦ‬‫ﺑﺔ ﺫﺍﺕ ﻛِﺒﺪ ﺭﻃ‬‫ﺘﺮﻱ ِﺑﻪ ﺩﺍ‬‫ﻳﺸ‬ ‫ﻨﺰﻝ ِﺑﻪ ﻭﺍﺩﻳﺎ ﻭﻻ‬‫ﻳ‬ ‫ﺑﺤﺮﺍ ﻭﻻ‬ ‫ﻳﺴﻠﻚ ِﺑﻪ‬ ‫ﻋﻠﻰ ﺻﺎﺣِﺒﻪ ﺍﻥ ﻻ‬  ِ   ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹾ ِ ﹶ ِ ﹾ ﹶ‬ ِ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹰ ﹶ‬ ِ  ِ  ‫ ﹶ‬ ‫ ِ ﹰ‬ ِ ‫ ﹶ ِ ﹸ‬   ِ  ‫ﹸ‬ ‫ ِ ِ ﹾ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ . ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺄﺟﺎﺯﺍﻩ‬‫ﻴﻠﻎ ﺷﺮﻃﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠ‬‫ﻓ‬    ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ﱠ‬  ِ ‫ ﹶ‬ ِ ‫ ﹸ ِ ﱠ‬    ‫ ﹸ‬  ‫ﹶ ﹶ ﹶ‬ Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan. menuruni lembah yang berbahaya. c) Ijma’ Imam Zailai telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus terhadap legitimasi pengolahan harta yatim secara mudharabah. Nor. Di sampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah saw. atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut. membagi rukun mudharabah menjadi enam dan syarat mudharabah menjadi tiga. Malik/Shib al-mal (pemilik modal) .

b. yaitu mudharabah muthlaqah dan mudharabah muqayyadah : a. Mudharabah Muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restricted mudharabah/specified mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah. Modal harus berupa uang atau perak b. Tidak diikat dengan waktu khusus. .46 b. waktu atau tempat usaha (Antonio. atau dana) d. c. modal. ‘Amil/Mudharib (pengelola) c. Ribh (Laba/keuntungan) f. waktu dan daerah bisnis. Shighat ‘Ijab Qabul (ucapan serah terima) Sedangkan syarat mudharabah adalah: a. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. 2001: 97). Mudharabah Muthlaqah adalah bentuk kerja sama anatara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha. mudharabah terbagi menjadi dua jenis. ‘Amal (Usaha) e. 4) Jenis-jenis Mudharabah Secara umum. Mal (Harta pokok.

dimana bank Islam berdasarkan kaidah . Muhamad (2000: 47) berpendapat bahwa secara prinsipil bagi hasil dapat diartikan sebagai prinsip muamalat berdasarkan syari’ah dalam melakukan usaha bank seperti dalam hal: a) Menetapkan imbalan yang akan diberikan masyarakat sehubungan dengan penggunaan atau pemanfaatan dana masyarakat yang dipercayakan. Dengan demikian. bagi hasil merupakan sistem yang meliputi tatacara pembagian hasil usaha antara pemilik dana dan pengelola dana. secara istilah profit sharing merupakan distribusi beberapa bagian laba pada para pegawai dari suatu perisahaan.47 F. Pengertian Bagi Hasil Bagi hasil menurut terminology asing (Inggris) dikenal dengan profit sharing. 2005: 105). c) Menetapkan imbalan sehubungan dengan kegiatan lain yang dilakukan oleh bank dengan prinsip bagi hasil. bonus prestasi. Profit sharing dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba (Muhammad. Prinsip bagi hasil merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional bank Islam secara kesuluruhan. Bentuk-bentuk distribusi ini dapat berupa pembagian laba akhir. Adapun menurut Muhammad (2001) dalam Ridwan (2004: 120). b) Menetapkan imbalan yang akan diterima sehubungan dengan penyediaan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan baik dalam bentuk investasi maupun modal kerja. dll. Bagi Hasil 1.

Islam menawarkan sistem bagi hasil sebagai penerapan dari prinsip keadilan sebagaimana yang dianjurkan oleh syariat Islam. nisbah adalah sebagai pembagian keuntungan yang terbagi bentuk prosentase antara pemilik modal dan pengelola modal. Perbedaan Antara Bunga dengan Bagi Hasil Dalam surat al-Baqarah ayat 275. Secara umum prinsip bagi hasil dalam perbankan syari’ah dapat dilakukan dalam empat aqad utama yaitu: al-musyarakah. Sebelum akad ditandatangani. Hal ini tentunya berbeda dengan sistem bunga.48 mudharabah dengan menjadikan bank sebagai mitra bagi nasabah ataupun bagi pengusaha yang meminjam dana (Antonio. . Islam dengan jelas mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli. manajemen BMT akan membuat perhitungan bagi hasilnya sesuai dengan nisbah tersebut 3. 2. karena pada umumnya bunga menjadi kewenangan pihak bank (Ridwan. al-mudharabah. yakni nasabah selalu pada posisi pasif dan dikalahkan. Sebagai bentuk penghindaran dari unsur riba/bunga. al-muzaro’ah. Atas dasar laporan dari nasabah/anggota. nasabah/anggota dapat menawar sampai pada tahap kesepakatan. 2001: 137). dan almusyaqah. Nisbah ini akan ditetapkan dalam akad atau perjanjian. Pengertian Nisbah Nisbah merupakan proporsi pembagian hasil. Jadi. dalam Kesepakatan tentang nisbah ini selanjutnya tertuang dalam akad. Riba dalam hal ini adalah sistem bunga yang sering dipraktekkan oleh perbankan konvensional. 2004: 121).

Dengan melihat perbedaan di atas. Tetapi memiliki perbedaan mendasar. tidak meningkat Sesuai dengan walau keuntungan peningkatan jumlah berlipat pendapatan Diragukan oleh semua Tidak ada yang agama meragukan keabsahannya Penentuan Keuntungan Besarnya Prosentase Pembayaran Jumlah Pembayaran Eksistensi Sumber: Wiryaningsih (2005:49). Sedangkan dalam pembungaan uang adalah aktivitas yang kurang mengandung resiko karena adanya prosentase suku bunga yang perolehan kembaliannya relatif pasti dan tetap. Bank dan Asuransi Islam Di Indonesia (Kencana). Adapun perbedaannya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tebel 2. Karena dalam investasi terdapat resiko yang harus ditanggung (terdapat unsur ketidakpastian).49 Kedua sistem tersebut. . dan dalam hal ini tergantung pada besarnya modal.2 Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil Bunga Bagi Hasil Pada waktu perjanjian Pada waktu akad dengan asumsi harus dengan pedoman selalu untung kemungkinan untung rugi Berdasarkan jumlah Berdasarkan jumlah uang (modal) yang keuntungan yang dipinjamkan diperoleh Seperti yang dijanjikan Bergantung pada tanpa pertimbangan keuntungan proyek bila untung rugi rugi ditanggung bersama Tetap. maka melakukan transaksi di perbankan syari’ah adalah merupakan bentuk dari investasi. sama-sama memberikan keuntungan.

50 Dengan demikian. Besar kecilnya hasil investasi dipengaruhi oleh banyak faktor. Dana tersebut dapat dihitung dengan menggunakan salah satu metode: . Faktor-faktor yang mempengaruhi bagi hasil Kontrak mudharabah adalah suatu kontrak yang dilakukan oleh minimal dua pihak.Rata-rata total saldo harian Investment rate dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan akan menghasilkan jumlah dana aktual yang digunakan. 4.Rata-rata saldo minimum bulanan . 3) Nisbah (profit sharing ratio) a) Salah satu ciri al mudharabah adalah nisbah yang harus ditentukan dan disetujui pada awal perjanjian. Faktor pengaruh tersebut ada yang berdampak langsung dan ada yang tidak langsung. perbankan syari’ah harus lebih cepat dalam menemukan peluang pasar sehingga dapat lebih memberikan kepercayaan kepada masyarakat. untuk dapat meningkatkan return on investment dan bersaing dengan lembaga perbankan konvensional. . Faktor langsung 1) Investment rate merupakan prosentase actual dana yang diinvestasikan dari total dana 2) Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan. a. tujuan utama kntrak ini adalah memperoleh hasil investasi.

2) Kebijakan akunting (prinsip dan metode akuntansi) Bagi hasil secara tidak langsung dipengaruhi oleh berjalannya aktivitas yang diterapkan. 6 bulan. d) Nisbah juga dapat berbeda antara satu account dengan account lainnya sesuai dengan besarnya dana jatuh temponya. Dengan harapan dana tersebut mendatangkan keuntungan yang besar. c) Nisbah juga dapat berbeda dari waktu ke waktu dalam satu bank. dan 12 bulan. 3 bulan. baik untuk nasabah maupun bank Islam. misalnya deposito 1 bulan. maka hal ini disebut revenue sharing. terutama sehubungan dengan pengakuan pendapatan dan biaya (Muhammad. b) Jika semua biaya ditanggung bank.51 b) Nisbah antara satu bank dengan bank lainnya dapat berbeda. bahwa : Bank Islam harus mampu memberikan bagi hasil . perlu dikelola dengan penuh amanah dan istiqomah. 2005: 110-111). Prinsip utama yang harus dikembangkan bank Islam dalam kaitan dengan manajemen dana adalah. b. 5. Perhitungan Bagi Hasil Menurut Muhammad (2005: 111) berpendapat bahawa Dana yang telah dikumpulkan oleh bank Islam dari titipan dana pihak ketiga atau itipan lainnya. Faktor tidak langsung 1) Penentuan butir-butir pendapatan dan biaya mudharabah a) Bank dan nasabah melakukan share dalam pendapatan dan biaya pendapatan yang dibagi hasilkan merupakan pendapatan yang diterima dikurangi biaya-biaya.

2) Jumlah hari yang dihitung dalam satu bulan adalah sesuai dengan hitungan kalender. jika dalam usaha bersama mengalami resiko maka dalam konsep bagi hasil. sedangkan pihak pengelola dana akan kerugian dalam tenaga yang telah dikeluarkannya. Jadi. juga menjelaskan tentang poin-poin yang diperhitungkan dalam proses perhitungan bagi hasil. Dengan permasalahan itu. dan mampu menarik bagi hasil dari debitur lebih rendah dari pada bunga yang diberlaku di bank konvensional. maka kedua belah pihak dalam konsep bagi hasil adalah adanya partisipasi dalam menanggung resiko. Adapun Poin-poin tersebut adalah sebagi berikut : a. .52 kepada penyimpan dana minimal sama dengan atau lebih besar dari suku bunga yang berlaku di bank konvensional. Muhammad (2005:117-120). Shahibul maal (nasabah) akan mengalami kerugian dalam modal. Saldo Rata-rata Harian Langkah-langkah untuk menghitung saldo rata-rata harian adalah sebagai berikut: 1) Menentukan tanggal berapa keuntungan yang diperoleh dari penempatan dana akan dibagihasilkan. Bagi hasil dalam lembaga keuangan syari’ah adalah bagi hasil keuntungan maupun kerugian. kedua belah pihak akan sama-sama menanggung resiko.

000 .150. Tgl 21/11/97 s/d Tgl 26/11/97 = 6 hari x 1.000 125.000 3.000 250.000.000 = 3.000. Tgl 15/11/97 s/d Tgl 20/11/97 = 6 hari x 600.450. 2005.000 = 6. berupa tabungan Usaha Mudharabah.600. Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMPYKPN.000 Saldo Rp 575.000 = 3.53 Misalkan tuan Mujahid nasabah di bank syari’ah.000 = 3. yaitu pada tanggal pembagian bagi hasil bank kepada nasabah. Catatan tabungannya di kartu menunjukkan transaksi sebagai berikut: Tabel 2.000 450.000 400.000 Sumber: Muhammad.000 PC Pengesahan Petugas Bank 27/10/97 2/11/97 10/11/97 15/11/97 21/11/97 1 2 1 2 1 100.000 : 31 = 20.000 = 3.500.150.600.000 = 650.3 Contoh Bentuk Buku Tabungan Tuan Mujahid SANDI: Penyertoran Pengambilan =1 =2 Kadar Keuntungan =4 Rupa-rupa = 7 pajak Zakat =8 =9 Pembetulan Kesalahan= 5 Pemindahan Saldo =6 Pemindah buukuan = 3 Tanggal Sandi Debet Rp Kredit Rp 575. Tgl 10/11/97 s/d Tgl 14/11/97 = 5 hari x 700.000 600. Manajemen Bank Syari’ah.000 Jumlah Sehingga saldo rata-rata harian = 31 hari = 20.000 5.000.000 2. Dari buku tabungan ini kemudian dihitung saldo rata-rata harian per bulan pada tanggal 27 Nopember 1997. Tgl 2/11/97 s/d Tgl 9/11/97 = 8 hari x 450.000 700.000 1. sebagai berikut: 1.000 4. Tgl 27/10/97 s/d Tgl 1/11/97 = 6 hari x 575.

dan lainnya) dengan jumlah pembiayaan yang disalurkan. tabungan dan deposito yang sudah jatuh tempo). giro. b. Dalam bukunya Muhammad (2005:113). maka saldo rata-rata yang dihitung adalah sejak tanggal 27 sampai dengan tanggal penutupan rekening tersebut (rekening giro. maupun syirkah atau jasa. Hasil dari pendapatan tersebut dibagi hasilkan kepada nasabah pemilik dana (deposan). maka modal bank juga harus harus memperoleh bagian pendapatan. 4) Untuk menghitung simpanan yang ditutup. Apabila jumlah pembiayaan lebih kecil dari total dana masyarakat. maka pendapatan tersebut seluruhnya dibagihasilkan antara nasabah dengan bank. terdapat contoh sederhana perhitungan bagi hasil. Namun perlu diperhatikan bahwa untuk membagihasilkan pendapatan tersebut harus dilihat perbandingan antara jumlah dana yang dikelola. sebaliknya jika pembiayaan jumlahnya lebih besar dari total dana masyarakat. Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito satu bulan per 31 Desember . jangka waktu satu bulan (1 Desember 1995 s/d 1 Januari 1995). tabungan. Pendapatan yang akan dibagi hasilkan Pendapatan bagi hasil yang diperoleh bank berasal dari hasil penempatan dana pihak ketiga melalui pembiayaan yang berakad jual beli. modal sendiri. dan nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank 57% : 43%.54 3) Cara perhitungan di atas digunakan juga untuk menghitung simapanan lainnya seperti rekening giro dan deposito berjangka. deposito. Contoh tersebut seperti dibawah ini: Kasus: Bapak A memiliki deposito Rp10 juta.

berapa keuntungan yang diperoleh Bapak A? Jawab: Keuntungan yang diperoleh bapak A adalah: (Rp10 juta / Rp950) x Rp20 juta x 57% = Rp120. maka perhitungan bagi hasil dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagi Hasil = Keuntungan × nisbah × Saldo Rata − rata dana di bank Saldo Rata − rata Tabungan Harian .000 Dengan melihat penjelasan di atas.55 1995 adalah Rp20 juta dan rata-rata deposito jangka waktu 1 bulan adalah Rp950 juta. yaitu tentang proses perhitungan bagi hasil dan contoh kasus bagi hasil.

56 G.537 (25% dari Tabungan Mudharabah) SOP TABUNGAN BAGI HASIL FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BAGI HASIL KESIMPULAN REKOMENDASI .609/75% Data Jumlah Nasabah: 3. Kerangka Berfikir PENGHIMPUNAN DANA MMU Cabang Wonorejo Pasuruan MODAL INVESTASI (Mudharabah Muthlaqah) TABUNGAN (T.Mudharabah Berjangka ) Data . Umum Mudharabah) DEPOSITO (T.Tabungan Umum Jumlah nasabah : 10.

Penelitian kualitatif didefinisikan oleh Bogdan & Taylor (1975 :5) dalam Moleong (2006:4) adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. penerapan sistem bagi hasil.. Penelitian deskripsi secara garis besar merupakan kegiatan penelitian yang hendak membuat gambaran atau mencoba mencandra suatu peristiwa atau gejala secara sistematis. faktual dengan penyusunan yang akurat. serta faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo. Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini. Dan menurut Supardi (2005 : 28). Pada penelitian ini kegiatan yang dilakukan peneliti yaitu menggambarkan tentang peristiwa-peristiwa di BMT MMU Cabang Wonorejo terkait dengan prosedural menabung/SOP. Dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikan tentang prosedural menabung. lokasi yang dipilih oleh penulis adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Mashlahah Mursalah lil Ummah (MMU) Cabang Wonorejo Pasuruan. yang beralamat di Jl Raya no 3 Wonorejo Pasuruan.57 BAB III METODE PENELITIAN A. sistem bagi hasil serta faktor-faktor . B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif.

dkk. b. Costumer Service. laporan keuangan BMT Wonorejo pada bulan Januari dan Februari Tahun 2008. Data ini diperoleh dari dokumen-dokumen yang umumnya berupa bukti transaksi. Sumber Data Sumber data adalah subyek dari mana saja data dapat diperoleh (Arikunto.58 yang mempengaruhi besar kecilnya bagi hasil. khususnya pada Staf Manager. Data primer secara khusus dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Indriantoro. Debt Collector. kemudian disusun secara akurat dan sistematis. dkk. Adapun nama-nama yang diwawancarai oleh peneliti dapat dilihat di lampiran. merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dengan dua sumber data: a. C. serta sebagian nasabah tabungan (Shahibul Maal) di BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan.2002: 107). Data ini diperoleh dengan melakukan wawancara dan observasi dengan pihak terkait. Teller. Data primer (Primary data). Data Sekunder (Secondary Data). . merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (Indriantoro. 2002:146). catatan atau laporan histories BMT MMU Cabang Wonorejo yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter). 2002:147).

Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan bagian dari proses pengujian data yang berkaitan dengan sumber dan cara untuk memperoleh data penelitan. 2002:157). serta faktor-faktor yang mempengaruhi bagi . 1999:64). Teller. obyek (benda) atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti (Indriantoro. Interview (Wawancara) Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti (Mardalis. Debtcollector. serta peneliti menggunakan alat check lists (memberi tanda) item-item yang diamati dalam prosedur tabungan anggota koperasi serta pembagian hasil yang dibiayai oleh BMT MMU Cabang Wonorejo (Mudharib) pada Anggota koperasi (shahibul maal). Peneliti melakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait yaitu kepada Staf Manager. penerapan sistem bagi hasil tabungan. Data ini berupa: data tentang prosedur menabung di BMT MMU Cabang Wonorejo. Costumer Service. Observasi (Pengamatan) Observasi adalah proses pencataan pola perilaku subyek (orang). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1. serta sebagian nasabah tabungan dengan maksud untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi. dkk. Peneliti melakukan pengamatan secara langsung dengan jenis observasi partisipan. 2.59 D.

baik dengan observasi. 2002:11). dkk (2002:146) data ini berupa: faktur. wawancara dan dokumentasi. memo atau dalam bentuk laporan program. uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya.60 hasil antara shahibul maal (anggota koperasi) dengan mudharib (BMT MMU Cabang Wonorejo) 3. Dokumentasi Menurut Indriantoro. Analisis kualitatif dalam hal ini dilakukan terhadap data yang berupa informasi. Teknik Analisis Data Analisis data adalah sebagai bagian dari proses pengujian data yang hasilnya digunakan sebagai bukti yang memadai untuk menarik kesimpulan penelitian (Indriantoro. bukti-bukti transaksi pendanaan tabungan serta laporan keuangan di BMT MMU Cabang Wonorejo pada bulan Januari dan Februari tahun 2008. penelitian ini. notulen hasil rapat. E. peneliti menggunakan dokumentasi sebagai sarana Dalam untuk mendapatkan data tentang: sejarah berdirinya BMT MMU Sidogiri. visi dan misi. Kemudian data-data tersebut diolah dan dianalisis untuk mencapai tujuan akhir penelitian. Analisis data dapat dilakukan setelah memperoleh data-data. sehingga . jurnal suratsurat. kegiatan operasionalnya. struktur organisasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Kualitatif.

dokumen pribadi. dipelajari. atau penurunan) dengan cara membuat abstraksi. Data yang telah dibaca. Penarikan kesimpulan (Penulisan laporan hasil penelitian). 2004:106). Uji keabsahan data. 2. dari wawancara. Melakukan kategorisasi terhadap satuan-satuan data sambil membuat koding. Reduksi data. yaitu memeriksa keabsahan data.61 memperoleh gambaran baru ataupun menguatkan suatu gambaran yang sudah ada dan sebaliknya (Subagyo. penyusutan. gambar. 7. pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. 6. dan ditelaah tersebut mungkin sangat banyak sekali jumlahnya. 3. dokumen resmi. Menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. data yang memenuhi syarat (reliable dan valid) dipertahankan dan yang tidak memenuhi syarat digugurkan. Menurut Lexy J. 5. Peneliti dalam menganalisis penelitian ini adalah sebagai berikut : . sehingga memerlukan reduksi (pengurangan. dan sebagainya. 4. mengemukakan proses analisis data kualitatif secara dirinci sebagai berikut: 1. Penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori subtantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu. foto. Moleong (1994:190) dalam Sukidin dan mundir (2005:247248). Dengan analisis Kualitatif. Menyusun data hasil reduksi ke dalam satuan-satuan.

3. Kemudian merelevansikannya dengan teori-teori yang terkait. Dan dalam hal ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana penerapan Standar Operasional Prosedur dan sistem bagi hasil pada produk tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo. baik data primer maupun sekunder. Melakukan pemilihan data yang memiliki hubungan antar satu bagian dengan bagian yang lain. 4.62 1. 5. Peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dari penelitian. Pengumpulan ini dimaksudkan untuk mengklasifikasikan data-data yang relevan dengan tujuan penelitian. . Terakhir peneliti menarik suatu kesimpulan dan memberikan saran-saran. 2. Disamping itu. Kemudian melakukan pengujian terhadap keabsahan data. peneliti menganalisa adanya masalah dalam pelaksanaannya serta memberikan solusi dan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi. sistematika bagi hasil tabungan mudharabah dan mudharabah Berjangka serta faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penentuan besar kecilnya bagi hasil. Keabsahan data ini dapat tercapai apabila sudah memenuhi kriteria kredibilitas (derajat kepercayaan) yaitu dengan teknik pemeriksaan triangulasi. Melakukan penafsiran data yaitu tentang prosedur menabung.

63 BAB IV PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN A. Para asatidz dan para pengurus madrasah terus berpikir dan berdiskusi untuk mencari gagasan yang bisa menjawab permasalahan umat tersebut. Setelah didiskusikan dengan orang-orang yang ahli. yang melatar belakangi berdirinya BMT MMU Pasuruan adalah bermula dari keprihatinan asatidz Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri dan Madrasah-madrasah ranting/filial Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri atas perilaku masyarakat yang cenderung kurang memperhatikan kaidah-kaidah syari’ah Islam di bidang mu’amalat padahal mereka adalah masyarakat Muslim apalagi mereka sudah mulai terlanda praktik-praktik yang mengarah pada ekonomi riba yang dilarang secara tegas oleh agama. Pendirian koperasi didahului dengan rapat . Paparan Data Hasil Penelitian 1. Sejarah Perusahaan Menurut Bakhri (2004: 38-41). Akhirnya ditemukanlah gagasan untuk mendirikan usaha bersama yang mengarah pada pendirian keuangan lembaga syari’ah yang dapat mengangkat dan menolong masyarakat bawah yang ekonominya masih dalam kelompok mikro (kecil). maka alhamdulilllah terbentuklah wadah itu dengan nama “Koperasi Baitul Mal wa Tamwil Maslahah Mursalah Lill Ummah” disingkat dengan Koperasi BMT-MMU yang berkedudukan di kecamatan Wonorejo Pasuruan.

64 pembentukan koperasi yang diselenggarakan pada tanggal 25 Muharrom 1418 H atau 1 Juni 1997 diantara orang-orang yang getol memberikan gagasan berdirinya koperasi BMT MMU ialah : 1. 2. Ustadz H. legalitas koperasi dan sistem operasionalnya. Mahmud Ali Zain. 3. . yang saat itu menjabat sebagi ketua Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri dan salah satu ketua DTTM (Dewan Tarbiyah wat Ta’lim Madrosy). yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala Madrasah Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri. Ustadz Baihaqi Utsman. Ustadz Muhammad Hadhori Abdul Karim. 5. permodalan. Dengan diskusi dan musyawarah antara para kepala Madrasah Miftahul Ulum Afiliasi Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri maka menyetujui membentuk tim kecil yang diketuai oleh ustadz Mahmud Ali Zain untuk menggodok dan menyiapkan berdirinya koperasi baik yang terkait dengan keanggotaan. yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri. Ustadz Muhammad Dumairi Nor. 4. yang saat itu menjabat sebagai kepala Madrasah Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri. Ustadz A. Muna’i Ahmad. yang saat itu menjabat sebagai Tata Usaha Madrasah Miftahul Ulum tingkat Ibtidaiyah Pondok Pesantren Sidogiri.

( tiga belas juta lima ratus ribu rupiah) dengan anggota yang berjumlah 348 orang terdiri dari para asatidz dan pimpinan serta pengurus . Subiyakto Tjakrawardaya yang menjabat sebagai Menteri koperasi PKM saat itu..65 Tim berkonsultasi dengan pejabat kantor Departemen Koperasi Dinas Koperasi dan pengusaha kecil menengah Kabupaten Pasuruan untuk mendirikan koperasi disamping mendapatkan tambahan informasi tentang BMT (Baitul Maal wat Tamwil) dari pengurus PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) pusat dalam suatu acara perkoperasian yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo dalam rangka sosialisasi kerjasama Inkopontren dengan PINBUK pusat yang dihadiri antara lain oleh : 1. 3. 2. Bapak KH. Modal yang dipakai untuk usaha didapat dari simpanan anggota yang berjumlah Rp. Bapak DR. Bapak DR. 000. Pembukaan dilaksanakan dengan diselenggarakan selamatan pembukaan yang diisi dengan pembacaan sholawat Nabi Besar SAW bersama masyarakat Wonorejo dan pengurus BMT MMU. Amin Aziz yang menjabat sebagi ketua PINBUK pusat saat itu. 500. Nor Muhammad Iskandar SQ dari Jakarta sebagi ketua Inkopontren .5 M2 pelayanan dilakukan oleh tiga orang karyawan. 13. Dari diskusi dan konsultasi serta tambahan informasi dari beberapa pihak maka berdirilah koperasi BMT MMU tepatnya pada tanggal 12 Robi’ul awal 1418 H atau 17 Juli 1997 berkedudukan di kecamatan Wonorejo Pasuruan. Kantor pelayanan yang dipakai adalah dengan cara kontrak atau sewa yang luasnya kurang lebih 16.

Badan Hukum Koperasi dengan nomor : 608/BH/KWK. b) Terwujudnya budaya ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan di bidang sosial ekonomi. NPWP dengan nomor : 1-718-668. Visi a) Terbangunnya dan berkembangnya ekonomi umat dengan landasan Syari’ah Islam. TDUP dengan nomor : 13252600099 : 133/13. TDP dengan nomor 3. 13/IX/97 tanggal 4 September 1997. Unit BMT Koperasi BMT MUU 3.5-624 Dan dalam perkembangannya koperasi BMT MUU ini memiliki tiga unit yang tergabung didalamnya. Berdirinya koperasi BMT MMU sangat ditunjang dan didorong oleh keterlibatan beberapa orang pengurus Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri (Kopontren Sidogiri).66 Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri dan beberapa orang asatidz pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Unit Riil Koperasi BMT MUU 2. 2. Unit BPRS Koperasi BMT MUU 2. . Koperasi BMT MMU ini telah mendapat legalitas berupa : 1. Visi dan Misi BMT MMU a.25/UP/IX/98 4. yaitu: 1.

. Koperasi ini bermaksud menggalang kerja sama untuk membantu kepentingan ekonomi anggota pada khususnya adalah masyarakat pada umumnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Balai Usaha Terpadu atau Simpan Pinjam Syari’ah (SPS). 4. MUDAH dan MASLAHAH. 2004: 42).5 m2 dengan usaha BMT (Baitul Maal wat Tamwil). Tabligh/Komunikatif. Melakukan aktifitas ekonomi dengan budaya STAF (Shiddiq/Jujur. c) d) Meningkatkan kesejahteraan Ummat dan anggota. Maksud dan Tujuan BMT MMU Atas dasar visi dan misi disusunlah tujuan dari BMT MMU. Cabang pertama didirikan di Wonorejo tepatnya di sebelah barat pasar Wonorejo dengan kantor yang berukuran ± 16. Kantor Cabang Pada tanggal 12 Rabi’ul awal 1418 atau 17 Juli 1997. b.67 b. antara lain : a. Menanamkan pemahaman bahwa sistem syari’ah dibidang ekonomi adalah ADIL. Koperasi ini bertujuan memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat serta ikut membangun perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat madani yang berlandaskan pancasila dan UUD 1945 serta di ridhoi oleh Allah SWT (Bakhri. 3. Fatonah/Profesional). Misi a) b) Menerapkan dan memasyarakatkan Syariat Islam dalam aktifitas ekonomi. Amanah/Dipercaya.

Cabang 10 ditempatkan di Grati. Cabang 9 ditempatkan di Nongkojajar. Cabang 8 di tepatkan di Jetis Dhompo Kraton Pasuruan. Setengah tahun kemudian BMT membuka kembali cabang yang ketiga yaitu usaha pembuatan dan penjualan roti yang ditempatkan di desa Sidogiri. Cabang 7 di tempatkan di Rembang. Dan kemudian dibukalah usaha BMT yang diletakkan di desa Sidogoiri juga. yang operasionalnya dimulai pada tanggal 21 Mei 2001 c. Cabang 6 ditempatkan di Kraton. yang operasionalnya dimulai pada tanggal 18 Juni 2001 d. yang operasionalnya dimulai tanggal 27 November 2002 e. yang operasionalnya dimulai tanggal 17 April 2002 f. yang operasionalnya dimulai pada tanggal 22 April 2001 b. Namun untuk selanjutnya dibuka pula beberapa cabang secara berturutturut. yang operasionalnya dimulai tanggal 26 April 2002 .68 Setahun kemudian membuka cabang yang kedua yaitu usaha pertokoan yang ditempatkan di sebelah utara pasar Wonorejo. Dan usaha ini menjadi Cabang BMT MMU yang keempat. Dengan demikian pada tahun 2000 BMT MMU hanya memiliki empat cabang. yaitu: a. Cabang 5 ditempatkan di Warungdowo.

. 2004:49-50) 5. Sehingga struktur organisasi dapat mununjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi.69 g. yang operasionalnya dimulai pada awal Maret 2004 (Bakhri. Cabang 11 ditempatkan di Gondangwetan. Sehingga hierarki struktur organisasi bersifat vertikal. Struktur organisasi yang ada di BMT MMU Pasuruan bersifat sentralisasi (terpusat). yang operasionalnya dimulai tanggal 30 Juni 2002 h. sentralisasi atau dresentralisasi dalam pembuatan keputusan atau kebijakan. dalam artian jabatan yang lebih rendah bertanggungjawab kepada jabatan yang lebih tinggi. tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi. Dengan demikian dalam struktur ini mengandung unsur-unsur spesialisasi kerja. Kebijakan serta wewenang menjadi tanggungjawab Kepala Cabang. yang menjukkan kedudukan. Struktur Organisasi BMT MMU Struktur organisasi merupakan mekanisme-mekanisme formal bagaimana organisasi dikelola. Sedangkan struktur organisasi dalam setiap Cabang Simpan Pinjam Syari’ah khususnya di BMT MMU Cabang Wonorejo juga bersifat sentralisasi tetapi setiap keputusan. Cabang 12 ditempatkan di Prigen Pandaan Pasuruan. atau posisi-posisi. yaitu segala keputusan dan kebijakan serta wewenang menjadi tanggung jawab dalam Rapat Anggota tahunan (RAT). bagian-bagian. koordinasi.

Kasir (Tabungan) : M. faizin M. Kasir (Pembiayaan) : M. Customer Service c. Abdul Majid Bahri Kemudian di litbang BMT-MMU Cabang Wonorejo. Ali Makki e. hasil Rapat Anggota Tahunan (RAT) periode 2006-2009 pengurus BMT MMU Pasuruan adalah sebagai berikut: a. Hadhori Abdul Karim : A. Ghufron : Achmad Chilmi : M. Bendahara : M.. Wakil Ketua I c. Fachrur Rozy f. Account Officer : Abdul Kholiq M. Wakil Ketua II d. Mana’I Ahmad : Abdul Majid Umar : M. yazid Faizin MB M. Surveyer : M. Djakfar Sodiq : H. Kepala Cabang b. tertulis nama-nama Pengurus periode 2006-2008 adalah sebagai berikut: a.70 Rapat Anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Berdasarkan Litbang di BMT-MMU Pasuruan. Shobir Jamal d. Rosyidi . Ketua b. Sekreratris e.

SPS KaCab.71 Gambar 4. SPS KaDiv. Riil Sumber : Litbang BMT-MMU Pasuruan Keterangan: : Garis Intruksi/Perintah : Garis Koordinasi . Keuangan dan Administrasi KaDiv.1 Struktur Organisasi BMT ”Maslahah Mursalah lil Ummah” RAT PENGAWAS PENGURUS STAF PENGURUS MANAJER KaDiv. Usaha Riil KaCab.

wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing jabatan dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya adalah sebagai berikut: a.2 Struktur Organisasi Cabang Simpan Pinjam Syari’ah BMT ”Maslahah Mursalah lil Ummah” KEPALA CABANG KASIR SURVEYOR MARKETING DEBT.COLLEC TOR Sumber: Litbang BMT-MMU Cabang Wonorejo Pasuruan COSTUMER SERVICES 6. Job Discription Adapun perincian tugas. Manager Adapun tugas manager adalah sebagai berikut: 1) Bertanggung jawab pada pengurus atas segala tugas-tugasnya 2) Memimpin organisasi dan kegiatan usaha BMT 3) Menyusun perencanaan dan pengembangan seluruh usaha BMT 4) Mengevaluasi dan melakukan pembinaan terhadap seluruh usaha BMT 5) Menjalankan setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pengurus .72 Gambar 4.

73 6) Menyampaikan laporan perkembangan usaha BMT kepada pengurus setiap bulan satu kali 7) Mengangkat pengurus 8) Menandatangani perjanjian pembiayaan 9) Memutuskan pemohonan pembiayaan sesuai dengan ketentuan gaji karyawan 10) Mengupayakan jenis usaha lain yang produktif dengan persetujuan pengurus 11) Membuat peraturan karyawan 12) Menentukan target penempatan dari tiap-tiap cabang usaha dalam masa satu tahun. b. Kepala Cabang Simpan Pinjam Syari’ah (SPS) 1) Bertanggung jawab kepada kepala devisi SPS atas tugas-tugasnya 2) Memimpin organisasi dan kegiatan usaha cabang SPS 3) Mengevaluasi dan memutuskan setiap permohonan pembiayaan 4) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pengembalian pembiayaan 5) Menandatangani perjanjian pembiayaan 6) Menandatangani Buku tabungan dan Warkat Mudharabah 7) Menyampaikan laporan pengelolaan BMT kepada Kepala Devisi SPS setiap bulan sekali dan memberhentikan karyawan dengan sepengetahuan .

Debtcollector 1) Bertanggung jawab kepada kasir atas tugas-tugasnya 2) Melakukan penagihan tunggakan pembiayaan 3) Menerima titipan setoran tabungan .74 c. Marketing/CS 1) Bertanggung jawab kepada Kepala Cabang atas tugas-tugasnya 2) Memasarkan produk jasa yang dimiliki SPS 3) Memeriksa kelengkapan persyaratan pembiayaan dan tabungan 4) Menerima dan menyetujui permohonan pembiayaan yang selanjutnya dievaluasi dan diputuskan oleh Kepala Cabang 5) Membuat buku tabungan atau warkat Tabungan mudharabah berjangka 6) Menerima setiap saran. keluhan dan kritik dari setiap nasabah e. Kasir 1) Bertanggung jawab kepada kepala Cabang dibidang keuangan 2) Menerima dan membayarkan uang atas seluruh transaksi di BMT-MMU Cabang berdasarkan bukti-bukti yang sah 3) Mengelola kas bersama Kepala Cabang 4) Mencatat seluruh transaksi keluar masuknya uang kas ke dalam formulir atau buku yang telah disediakan 5) Membuat laporan transaksi harian 6) Membuat laporan keuangan bulanan dalam bentuk neraca. perhitungan hasil usaha. Arus kas dan posisi kekayaan d.

Koperasi Muawanah. Dan usaha yang sedang dirilis yaitu peternakan. Sektor jasa berupa jasa penggilingan padi 5. 6. pembuatan kue sagon aktifitasnya ditampung dalam 3 cabang. b. berkedudukan di Lekok Pasuruan . Produk usaha unggulan adalah BMT karena manfaatnya sangat dirasakan oleh anggota dan masyarakat umum. Koperasi pondok pesantren Sidogiri (Kopontren Sidogiri) 2. 3. Kegiatan Operasional BMT MMU a. BMT (Baitul Mal wat Tamwil / Balai Usaha Mandiri Terpadu ) atau simpan pinjam dengan pola syari’ah 2. Sektor riil yang ditampung dalam cabang 2 (dua) aktifitasnya adalah perdagangan.75 4) Membuat laporan transaksi keuangan kepada kasir 7. 4.Koperasi UGT (Unit Gabungan Terpadu) Sidogiri 4. Ruang lingkup Kegiatan BMT MMU Usaha yang dilakukan dalam koperasi ini adalah: 1. Koperasi PER MALABAR Paspepan Pasuruan 3. Mitra Kerja Koperasi BMT MMU mempunyai beberapa mitra kerja yang ikut mendukung aktivitas koperasi BMT MMU ini yaitu 1. Home Industri berupa pembuatan roti.

tenaga yang menangani kegiatan BMT ini telah mendapat pelatihan dari BMI (Bank Muamalat Indonesia) Cabang Surabaya dan PINBUK (pusat INKUBASI Bisnis Usaha kecil) Pasuruan dan Jawa.Koperasi Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah “Untung Suropati” Bangil (Bakhri. Dan dana merka bias diambil setiap saat dengan menggunakan buku tabungan. . 2004: 53). Adapun produk-produk pendanaan di BMT yaitu: 1) Tabungan umum mudharabah. Produk Operasional BMT BMT singkatan dari Baitul Mal wat Tamwil/ Balai Usaha Mandiri Terpadu adalah merupakan system simpan pinjam dengan pola syari’ah. 2) Tabungan Mudharabah Berjangka Simpanan ini bisa ditarik berdasarkan jangka waktu yang telah disepakati yaitu tiga bulan. c. Pemilik harta (Sohibul Maal) menyimpan dananya di BMT MMU dengan akad Mudharabah Mutlaqah atau Qardh.76 5. atau dua belas bulan. sembilan bulan. Adapun produk BMT MMU Pasuruan adalah Produk pendanaan dan produk pembiayaan.(3) bisa dijadikan sebagai jaminan pembiayaan. (2) nisbah (proporsi) bagi hasil lebih besar dari pada tabungan . Keuntungan bagi mitra yaitu : (1) sama dengan keuntungan bagi mitra. enam bulan. Sistem BMT ini adalah konsep muamalah syari’ah.

Bagi hasil Dunia Usaha Sumber: Data diolah peneliti (wawancara dengan bapak Chilmi. Tabungan yang ditawarkan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah tabungan dengan prinsip/akad mudharabah muthlaqah yaitu bentuk kerja sama antara anggota (pemilik dana/shahibul maal) dan BMTMMU Cabang Wonorejo (mudharib) yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha. Dan untuk mudharabah .77 B. Berdasarkan hasil wawancara dengan Customer Service . 14 Januari. pemanfaatan dana 1. titip dana Penabung/ deposan 4 Bagi hasil BMT 3.00-10. bilyet giro. jam 08. Skema mudharabah muthlaqah yang diterapkan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 4.00) Produk tabungan tabungan umum mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah dan mudharabah berjangka. Prosedur Tabungan Mudharabah Tabungan adalah simpanan dana yang dapat dilakukan kapan saja.3 Skema Mudharabah Muthlaqah 2. dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. tetapi tidak dapat ditarik dengan menggunakan cek. waktu dan daerah bisnis. Pembahasan Data Hasil Penelitian 1.

Tabungan umum mudharabah Tabungan umum mudharabah adalah simpanan dana yang dapat dilakukan kapan saja. serta SOP tabungan mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah sebagai berikut: a. salah satu factor yang menjadi alasan masyarakat menabung di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah karena mudahnya dalam proses penabungan maupun dalam penarikan tabungan dan juga hal-hal yang terkait didalamnya. baik dalam penyetoran/pengambil tabungan dengan menggunakan buku tabungan anggota.1 Jumlah anggota Tabungan Tabungan Mudharabah Tabungan umum Mudharabah Mudharabah berjangka Total Bulan Januari 104 9 113 Februari 108 9 117 dapat Sumber : Laporan Keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo Bulan Januari dan Februari Adapun penjelasan tentang masing-masing produk tabungan mudharabah. Berdasarkan SOP (Standar Operasional Prosedur) di BMT MMU Pasuruan. Menurut hasil wawancara dengan sebagian anggota/nasabah tabungan umum mudharabah dan Costumer Service.78 Peminat/jumlah anggota dari kedua produk tabungan mudharabah ini. prosedur tabungan umum mudharabah adalah sebagai berikut: . dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.

SIM. ada yang bisa saya kami Bantu? “(calon penabung menjawb dan megutarakan keinginannya untuk menjadi penabung BMT-MMU) c) Customer service memberikan penjelasan tetang produk-produk BMT_MMU mulai dari jenis-jenis tabungan. Kartu Santri.79 1) Pembukaan Rekening Tabungan Customer Service a) Menerima kedatangan calon penabung dengan baik. Passport atau identitas lainnya yang masih berlaku - Mengisi formulir permohonan menjadi calon anggota koperasi BMT MMU Cabang Wonorejo (form :mmu-01) - Mengisi setoran awal tabungan mudharabah umum menimal Rp 10.000 (lima ribu rupiah) kecuali . deposito dan pembiayaan d) Customer service mengidentifikasi kebutuhan calon penabung. sopan disertai senyum yang ramah dan mengucapkan salam “assalamualikum” pada calon penabung dan sebaliknya menjawab salam apabila calon penabung mengucapkan salam dulu b) Customer service menanyakan “bapak/ibu. (contoh: calon penabung memilih tabungan mudharabah umum) e) Customer service memberikan penjelasan tentang tata cara dan aturan untuk mernjadi penabung tabungan mudharabah Umum. Persyaratan menjadi penabung : - Menyerahkan fotocopy identitas diri berupa KTP.000 (sepuluh ribu) dan biaya administrasi Rp 5.

Adapun formulir tersebut berisi tentang: nama. Kasir a) Menerima slip dan uang setoran awal tabungan dari penabung dan memeriksa slip setoran awal tabungan dan uang b) Apabila terjadi kesalahan dalam penulisan slip dan uang setoran tabungan maka kasir meminta perbaikan kembali kepada penabung c) Melakukan pengesahan tabungan yaitu dengan memberikan tanda stempel koperasi BMT-MMU serta tanda tangan/paraf petugas kasir . pekerjaan.dan seterusnya. Pemohon a) Calon penabung mengisi formulir permohonan menjadi calon anggota (form mmu-01) dan formulir permohonan pembukaan tabungan dan apabila ada hal yang kurang dimengerti dipandu oleh Costumer Service. b) Menyerahkan formulir permohonan menjadi calon anggota dan permohonan pembukaan tabungan berserta fotocopy identitas dari ke customer service. nomer rekening. Yang didalamnya terdapat: Cabang.000 (lima ribu rupiah) dan biaya administrasi Rp 2. telepon.500 (dua ribu lima ratus rupiah). d) Menyerahkan slip setoran awal tabungan dan uang ke kasir. nomer kartu identitas. c) Mengisi slip setoran awal tabungan (form mmu-04).80 untuk tabungan pasar setoran awal tabungan minimal Rp 5. kotak pilihan jenis tabungan. ahli waris. nama penabung dan seterusnya. alamat.

Manfaat Tabungan Anggota a. Uang tabungan anggota aman dan bersih dari riba d.81 d) Serahkan bukti copy slip setoran tabungan dan buku tabungan ke penabung dan menghimbau kepada penabung agar buku tabungan disimpan di tempat yang aman. Fasilitas Keanggotaan a. bagi masyarakat yang memiliki rekening tabungan di BMT MMU Cabang Wonorejo. Anggota bebas memilih akad yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Tabungan anggota dengan saldo minimal Rp 50. anggota dapat sebagai berikut: 1. merasakan manfaat dan fasilitas .000 b. apabila terjadi kehilangan dimohon cepat melapor ke kantor koperasi BMT-MMU dan apabila hendak melakukan setoran atau penarikan tabungan agar tabungan dibawa untuk dilakukan pencetakan mutasi saldo tabungan. Bebas Potongan Biaya c. Pembiayaan menggunakan akad-akad syari’ah d. Mendapatkan buku rekening tabungan 2. Mendapatkan kartu anggota luar biasa b. Dengan demikian. Anggota bias mendapatkan jasa layanan pembiayaan produktif maupun konsumtif dengan jumlah sesuai dengan kebutuhannya c.

yang didalamnya tertulis: cabang. c) Kasir memeriksa kesesuaian identitas yang ada di dalam slip setoran tabungan dengan yang ada didalam buku tabungan d) Kasir memeriksa kesesuaian isi slip dengan uang setoran e) Kasir mencatat setoran tabungan di transaksi mutasi saldo f) Kasir mencetak validasi slip setoran tabungan g) Kasir mencetak buku tabungan di transaksi mutasi saldo h) Kasir memeriksa hasil cetakan buku tabungan di transaski mutasi saldo i) Kasir menyerahkan buku tabungan dan copy slip setoran ke penabung j) Kasir memohon ke penabung untuk memeriksa tabungannya k) Kasir meletakkan uang dan slip setoran pada tempatnya 3) Penarikan Tabungan a) Nasabah/anggota mengisi slip penarikan tabungan umum (form mmu-05). d) Kasir memeriksa slip penarikan . c) Kasir memeriksa identitas diri pemohon dan buku tabungan.82 2) Setoran Tabungan Selanjutnya a) Nasabah/anggota mengisi slip setoran tabungan b) Nasabah menyerahkan slip tabungan yang sudah terisi dengan identitasnya. buku tabungan dan uang kepada kasir bagian tabungan. nama pengambil. kasir memeriksa surat kuasa . Apabila bukan milik sendiri. nomer rekening. jenis tabungan. nama penabung. buku tabungan dan identitas diri ke kasir. jumlah penarikan. b) Nasabah menyerahkan slip penarikan. dan seterusnya.

Alamat pelapor (jalan.83 e) Kasir mencetak validasi penarikan di transaksi mutasi saldo. kecamatan. data yang perlu diperiksa adalah: .Tempat dan tanggal lahir . Dan memeriksa hasil cetakan. Tabungan Hilang a) Menerima kartu identitas diri pelapor kemudian melakukan pemeriksaan. desa. 4) Penggantian Buku Tabungan Tabungan Rusak a) Melakukan pemeriksaan buku tabungan dan identitas penabung b) Mencocokkan nama dibuku tabungan dengan identitas penabung c) Mencocokkan alamat di buku tabungan dengan kartu identitas diri penabung yang perlu diperhatikan: jalan/dusun.Saldo tabungan pelapor . yaitu Mencocokkan nomor kartu identitas pelapor dengan data master nasabah. RT/RW.Nama dan gelar pelapor .Nomor kartu identitas . dan memeriksa hasil cetakan g) Kasir memberikan uang. buku tabungan dan identitas diri ke penabung h) Memohon ke penabung untuk memeriksa uang dan buku tabungannya. RT/RW. f) Kasir mencetak di buku tabungan. dll) . kabupaten/kota dimana penabung berdomisili.

Dengan kata lain.84 b) Apabila terdapat perbedaan kartu identitas. . maka permohonan ditolak. maka pelapor harus menunjukkan kartu keluarga dan menyerahkan foto copynya. Jika masih ada tanggungan pembiayaan maka permohonan ditolak. d) Pengisian formulir mmu-07 dan form-05 yaitu penarikan tabungan. e) Kasir Mencetak validasi penarikan tabungan. BMT MMU Cabang Wonorejo hanya dapat melakukan penutupan tabungan jika ada permintaan dari nasabah/anggota. BMT tidak dapat melakukan pemblokiran/penutupan tabungan tanpa ada izin dari anggota. kemudian mencetak di buku tabungan f) Kasir memberikan tanda pada buku tabungan dengan stempel “ditutup” kemudian diplong Dalam penutupan tabungan. 5) Penutupan Rekening Tabungan Adapun prosedur penutupan rekening tabungan umum mudharabah adalah sebagai berikut: a) Nasabah/anggota menyerahkan buku tabungan dan identitas diri asli serta copynya ke Customer service (pelayan anggota) b) Costumer service memeriksa kesesuaian identitas antara identitas penabung dengan identitas di buku tabungan. Jika terdapat ketidaksesusaian. c) CS Memeriksa apakah pemohon ada tangggungan pembiayaan.

yaitu kadang kala nasabah tidak membawa. 19 Januari 2008. Meskipun BMT memberikan kemudahan bagi nasabah pasar dalam prosedural tabungan. Karena nasabah/karyawan untuk melakukan penyelewengan dana milik anggota. ini menyebabkan hambatan bagi BMT untuk terlaksananya SOP Tabungan dengan optimal. Namun. Sehingga pengisian tersebut seluruhnya dilakukan oleh Debcollector atas permintaan anggota. bahwa tidak terlaksananya SOP sebagian anggota tabungan tersebut terletak pada: pertama.surat kuasa pengambilan tabungan yang bukan miliknya (wawancara dengan bapak Faizin dan Shobir. peneyabab tidak clopnya (balance) keuangan dilaci kasir dengan kas yang tercatat di komputer adalah karena tabungan pasar yang sering mengalami . namun disisi lain.85 Karena mayoritas anggota tabungan mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah berasal dari masyarakat awam yang tidak suka dengan hal-hal ribet/bersifat formal. Meskipun kasus penyelewengan ini masih belum pernah dialami oleh BMT MMU Cabang Wonorejo. permasalahan yang sering dihadapi oleh BMT adalah saat penutupan kas. di ruang Teller). Kedua.30. Jam 10-00-11. tidak patuhnya sebagian anggota tabungan terlebih pada tabungan di pasar yang tidak mau mengisi identitas di slip tabungan. Dari hasil wawancara dengan Debcollector dan Teller. ini dapat mengakibatkan resiko yang cukup besar terhadap keuangan BMT terkait dengan saldo rekening tabungan milik prosedural seperti ini dapat memberikan peluang kepada anggota.

BMT mempunyai pengendalian intern dalam menghindari resiko kerugian. dengan syarat pihak BMT mengenali identitas pemilik tabungan dan identitas orang yang melakukan penarikan tabungan. Jika ada kelebihan/kekurangan uang setelah pengecekan. maka kelebihan/kekurangan tersebut masuk dalam dokumen kasus. Pada saat penutupan kas. sebelum pendistribusian bagi hasil. Untuk surat kuasa dalam pengambilan tabungan. debcollector membuat perjanjian dengan nasabah. dari semua permasalahan dalam prosedural tabungan. maka BMT dapat melihat pada dokumen kasus tersebut. Kepala Cabang dan Debtcollector melakukan pengecekan slip tabungan atas seluruh transaksi yang . Berdasarkan hasil wawancara dengan customer service dan Debcollector. maka BMT tidak bertanggung jawab.86 kelebihan/kekurangan setoran. 3.. 4. Kasir dan Debcollector melakukan pengecekan slip setoran/penarikan tabungan dengan data di komputer. Setiap akhir bulan. 5. BMT memberikan kebijakan yaitu BMT tetap memberikan pelayanan kepada anggota yang tidak membawa surat kuasa. yaitu : 1. 2. Kepala Cabang mempunyai catatan tersendiri untuk tabungan pasar. khususnya tabungan pasar yang dihadapi BMT MMU Cabang Wonorejo di atas. Sehingga jika terdapat komplain dari nasabah karena factor saldo tabungan. Untuk tabungan di pasar. bahwa jika terjadi kesalahan di kemudian hari. Kesalahan ini sering kali disebabkan karena kesalahan Debcollector dalam mencatat transaksi tabungan anggota di Pasar.

jam 10. Namun hal ini juga tidak lepas karena faktor SOP tabungan mudharabah berjangka. dan menyerahkan formulir tersebut beserta buku tabungan ke customer service. Meskipun sebagian kecil masyarakat Wonorejo ada yang masih mempertimbangkan adanya sistem bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo. yang memberikan kemudahan kepada nasabah untuk menabung. di Kantor).30. Menurut SOP (Standar Operasional Prosedur) di BMT MMU Sidogiri Pasuruan. Prosedur Tabungan Mudharabah Berjangka Tabungan mudharabah berjangka adalah simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan (deposan) dengan BMT.00-11. b. merupakan bentuk dari kehatian-hatian BMT dalam menghadapi resiko kerugian karena tidak terlaksananya sebagian SOP Tabungan oleh anggota tabungan di Pasar. Dengan pengendalian intern oleh BMT MMU Cabang Wonorejo di atas. 19 Januari 2008.87 ada di pasar (wawancara dengan bapak Chilmi dan bapak Faiz. b) Melakukan akad tabungan berjangka . prosedur tabungan mudharabah berjangka adalah sebagai berikut: 1) Pembukaan Tabungan Mudharabah Berjangka Pemohon a) Deposan mengisi formulir mmu-10.

88 Kasir a) Menerima formulir mmu-10 dan uang dari deposan dan memeriksa form tersebut b) Melakukan akad c) Mencatat pengajuan pada mutasi tabungan Mudharabah Berjangka d) Mencatat di formulir mmu-12 yaitu warkat mudharabah berjangka. Mencatat perpanjangan di mutasi perpanjangan sesuai perjanjian 4. Menyerahkan warkat ke Kepala Cabang untuk ditanda tangani . Periksa form-10 3. Periksa status perpanjangan deposito di buku regestrasi 2. Cetak warkat baru 5. e) Menyerahkan form-12 ke kepala Cabang untuk disahkan Customer Service a) Mencatat di buku regestrasi b) Menyerahkan warkat 2) Pencairan Tabungan Berjangka Kepala Cabang a) Memeriksa buku regestrasi b) Mencatat daftar jatuh tempo 1 bulan ke depan c) Menginformasikan daftar jatuh tempo ke kasir - Perpanjangan 1.

3) Penggantian Warkat a) Mengisi formulir mmu-02 dan menyerahkan kepada coustumer service b) CS mencetak warkat mudharabah c) CS meminta tanda tangan dan stempel kepada Kepala Cabang d) CS menyerahkan warkat mudharabah kepada nasabah 2. f) Meminta kepada nasabah untuk menandatangani kwintansi penarikan g) Menyerahkan foto copy kwintansi kepada nasabah. Penerapan sistem bagi hasil Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan. Sistem bagi hasil tabungan mudharabah yang diterapkan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah sistem profit sharing. Penerapan Sistem Bagi Hasil Tabungan Mudharabah a. Namun jika .89 Nasabah Menyerahkan warkat dan identitas Kasir a) Memeriksa warkat dan identitas b) Mencatat pencairan tabungan berjangka di mutasi pencairan dan buku regestrasi c) Mencairkan tabungan berjangka d) Menyerahkan uang ke Nasabah e) Memohon ke nasabah agar menghitung jumlah uangnya. Sistem ini mempunyai pengertian bahwa adanya saling berbagi keuntungan antara shahibul maal (anggota) dengan mudharib (BMT).

Dengan asumsi bahwa kerugian tersebut disebabkan karena kelalaian karyawan sebagai mudharib dalam mengelola tabungan anggota (wawancara dengan bapak Chilmi. Tabungan Umum Mudharabah 2. yaitu minimal mempunyai tabungan sebesar Rp50.00.000. Jam 08. di Kantor). BMT mempunyai standar nominal tabungan untuk setiap anggota. Pembagian hasil yang diberikan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo sebagai mudharib (pengelola modal) dilakukan dengan melalui proses perhitungan bagi hasil. Dalam pembagian hasil.00-10. langka-langkah awal dalam penentuan bagi hasil adalah : 1) Penetapan nisbah bagi hasil untuk tabungan mudharabah : Tabel 4. 14 Januari 2008. Hal ini juga tidak lepas dengan posisi BMT yang juga sebagai shahibul maal (pemilik modal) dalam menyalurkan dana melalui produk pembiayaan. Dan untuk dibawah standar tersebut anggota tidak mendapatkan bagi hasil disetiap bulannya. b.2 Nibah Tabungan Mudharabah Tabungan Mudharabah 1. Proses perhitungan bagi hasil Dalam perhitungan bagi hasil.90 BMT mengalami kerugian maka kerugian tersebut di tanggung oleh BMT MMU Cabang. Tabungan mudharabah berjangka - Nisbah (%) 50 : 50 3 bulan 6 bulan 9 bulan 52 : 48 55 : 45 57 : 43 .

000.000.000.903.000 Val Sumber : Data diolah dari laporan keuangan BMT MMU cabang Wonorejo Dalam mencari saldo rata-rata tabungan harian adalah sebagai berikut: 1/01/08 . Adapun contoh perhitungannya adalah seperti dibawah ini: Ibu Aisyah mempunyai rekening di BMT MMU Cabang Wonorejo.225.000 1.000 = 12. Catatan tabungannya di kartu menunjukkan transaksi sebagai berikut: Tabel 4.000.20/01/08 21/01/08 – 31/01/08 Jumlah = 4 hari x 1.000.000.000.000.000.000 : 31 hari = 2.000 = 6 hari x 2.000 1.91 - 12 bulan 60 : 40 Sumber: Laporan Keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo 2) Menghitung saldo rata-rata tabungan masing-masing anggota.000 = 30.10/01/08 11/01/08 .000 =10 hari x 3.8 Sehingga saldo rata-rata harian .000 1.000 2.000.000 3.000.000 = 44.000 = 90.4/01/08 5/01/08 .000.000.000 Saldo 1.000 =11 hari x 4..000.000 = 31 hari = 90.000 4.000 = 4.3 Contoh Bentuk Buku Tabungan Ibu Aisyah No/tgl 1/01/08 5/01/08 11/01/08 21/01/08 Snd Debet Rp Kredit 1.000.000.000.000.

00-10. Distribusi bagi hasil tabungan umum mudharabah dibagi kepada anggota dengan menambahkan pada saldo tabungan milik anggota. Pendapatan BMT Diperoleh dari keuntungan produk pembiayaan. dan pendapatan lain-lain. .30.92 3) Menghitung total saldo rata-rata tabungan anggota 4) Menghitung jumlah pendapatan BMT. deposan dapat mengambil secara langsung di BMT. di Kantor Pusat). Pendistribusian bagi hasil Berdasarkan hasil wawancara dengan Kasir dan pengamatan.rata tabungan anggota Total Saldo Rata − rata Tabungan Harian c. Jam 09. Dan perhitungan pendapatan menggunakan pendekatan profit sharing yaitu pendapatan yang dibagikan kepada anggota adalah pendapatan bersih yang sudah dikurangi dengan biaya-biaya operasional (wawancara dengan bapak Abdullah. maka secara otomatis terjadi perpanjangan tabungan mudharabah berjangka. 22 Januari 2008. Dengan mengetahui hasil akhir dari 3 langkah-langkah diatas. laba provisi/administrasi. atau BMT memindah bukukan/menambahkan pada saldo tabungan umum mudharabah milik Deposan. Pendistribusian bagi hasil tabungan mudharabah dilakukan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo pada tiap akhir bulan tanpa ada potongan pajak atau zakat. maka proses perhitungan bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo adalah rumus perhitungan bagi hasil adalah: Bagi Hasil = Keuntungan × nisbah × saldo rata . sedangkan untuk tabungan mudharabah berjangka. Dan apabila saat jatuh tempo deposan tidak mengambil dananya.

000. namun nasabah tetap mendapatkan bagi hasil. Sedangkan bagi BMT. meskipun uang yang ditabung nasabah pada akhir bulan masih belum tersalurkan ke produk pembiayaan. Namun BMT hanya memberi standar minimal jumlah saldo tabungan anggota yaitu sebesar RP 50. Dalam penentuan perolehan bagi hasil tabungan mudharabah.93 dengan jangka waktu seperti pada akad yang pertama (wawancara dengan Bapak Shobir. 19 Januari 2008. Dengan penerapan distribusi hasil seperti di atas. BMT MMU Cabang Wonorejo tidak membatasi jumlah hari dalam menginvestasikan dana dari anggota. Oleh karena itu secara otomatis karyawan BMT harus bekeja lebih ekstra untuk menyalurkan dana pihak ketiga dalam memperoleh keuntungan. maka dalam hal ini nasabah lebih diuntungkan. mereka akan langsung mendapatkan bagi hasil pada akhir bulan pendistribusian pendapatan.30-11. Jam 10. . Keuntungan yang dirasakan oleh nasabah adalah tidak adanya batasan jumlah hari dalam penentuan dapat/tidaknya bagi hasil. Namun perolehan besarnya bagi hasil disesuaikan dengan jangka waktu transaksi (saldo rata-rata tabungan). Dengan demikian.000.30 di ruang Teller). Meskipun anggota/nasabah bertransaksi pada akhir bulan dengan minimal saldo tabungan Rp 50.

032=4.894.000. Untuk lebih jelasnya.000 Jumlah saldo rata-rata tabungan = 35.0036x1. dan memperoleh keuntungan sebesar 26.000.736.000.000.31/01/08 = 5.000 Jumlah saldo rata-rata tabungan = 155. prosentase bagi hasil sebesar 0.000.4 Perbandingan Saldo Rata-rata Tabungan Nasabah A 1/01/08 .000 =155. Dengan B 25-01/08 – 31/01/08 = 7 hari x 5. Perbedaan waktu transaksi tersebut dapat mempengaruhi terhadap besarnya bagi hasil penabung A dan B.000=18.0036x5.12. yang samasama mempunyai rekening di BMT MMU Cabang Wonorejo dengan saldo Rp 5.62.129.733.000 : 31 = 1.000.94 d. dapat dilihat dalam tebel perbandingan transaksi tabungan di bawah ini: Tabel 4.0036.000: 31 = 5.926. Penabung A menyetorkan uangnya pada awal bulan yaitu tanggal 1. Contoh perhitungan bagi hasil 1) Tabungan umum mudharabah Contoh I : Dimisalkan pada bulan Januari ada dua penabung yaitu A dan B. Nisbah yang ditetapkan adalah 50:50.000.000 Contoh 2: Pada bulan Januari Ibu Aisyah mempunyai rekening tabungan di BMT MMU Cabang Wonorejo dengan saldo rata-rata tabungan Rp 2.0000 = 31 hari x 5.000 Bagihasil= 0.000.000 = 35.000.000.129.032 Bagi hasil = 0.065 .777.000. Saldo rata-rata dari total tabungan mudharabah umum sebesar 3.000. sedangkan penabung B menyetorkan uangnya pada akhir bulan yaitu tanggal 25.000.

000.000 = Rp 7.000.94 Keuntungan 696.200 3.777.461.62 2) Tabungan mudharabah berjangka Adapun contoh perhitungan bagi hasil tabungan mudharabah berjangka adalah sebagai berikut: Contoh : Ibu Jamilah mempunyai tabungan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo sejumlah Rp20.51 161.733.87 7. Jawab: Prosentase bagi hasil BMT MMU Cabang Wonorejo adalah sebagai berikut: Bagi Hasil = 26.000. Selama Bulan Januari BMT MMU memiliki saldo rata-rata bulanan dan keuntungan sebagai berikut: Tabel 4.532. serta jumlah bagi hasil yang diperoleh Ibu Aisyah.5 Saldo Rata-rata Tabungan dan Keuntungan Jangka Waktu 3 bulan 6 bulan 12 bulan Saldo Rata-rata 96.967.926.736.483.799.07 22.12 × 50% × 2.435.95 data ini dapat menghitung berapa prosentase bagi hasil BMT dalam tabungan mudharabah umum selama bulan Januari.741.36 Sumber: Data diolah dari laporan keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo bulan Januari 2008 Bagi hasil tabungan mudharabah berjangka dan keuntungan yang diperoleh ibu Jamilah dalam tiap-tiap jangka waktu adalah sebagai berikut: .258.10 57.894.166.

87 12bulan 7.48 3.000 3 bulan 696.0040 Pendapat an Nisbah % Nasaba h 0. sehingga menyebabkan mereka kurang mengerti bagaimana proses perhitungan bagi hasil secara manual.0 00 86. yang juga masih terhipnotis oleh adanya komputerisasi.967.799. maka semakin lama jangka waktu deposito dapat memberikan bagi hasil yang lebih tinggi.000 00 20.94 57.532.461.51 52% Sumber: data diolah dari laporan keuangan BMT MMU Cabang Wonorejo Dengan melihat hasil pembagian di atas.741 .0043 161.000 80. Dan disaat ada nasabah yang menanyakan tentang proses .07 6 bulan 22.166. Namun hal ini juga tidak lepas dari permasalahan yang dihadapi BMT yaitu masih banyaknya masyarakat yang kurang mengerti tentang sistem bagi hasil serta keuntungannya dengan menggunakan akad mudharabah.0 00 20.36 60% 0.0 76.96 Tabel 4.25 8.0038 Saldo Jumlah Tabung bagi an hasil 20.000.10 55% 0.000.435. Sistem bagi hasil tabungan mudharabah berjangka yang diterapkan oleh BMT memang memberikan keuntungan yang cukup tinggi.6 Perhitungan Bagi Hasil Deposito Saldo rata-rata 96.000. Selain itu juga tidak lepas dari faktor kualitas SDM BMT khususnya di BMT MMU Cabang Wonorejo.

di BMT MMU Cabang Wonorejo dalam perhitungan prosentase bagi hasi juga mempertimbangkan jangka waktu transaksi tabungan. sehingga jawaban tersebut tidak dapat menarik minat nasabah untuk meletakkan dananya di tabungan mudharabah berjangka. 6 bulan. 9 bulan dan 12 bulan. Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan/didepositokan. baik tabungan umum mudharabah maupun mudharabah berjangka adalah sebagai berikut: a. b. 3. Semakin lama uang ditabung di BMT dapat memperbesar saldo rata-rata tabungan tiap-tiap anggota/nasabah. Akan tetapi untuk tabungan mudharabah berjangka sangat berpengaruh. 3 bulan. . Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bagi Hasil Faktor langsung yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya bagi hasil. karena terdapat perbedaan prosentase antara tiap-tiap jangka waktu deposito misalnya deposito 1 bulan. Nisbah. Dengan demikian. para karyawan tidak dapat memberikan penjelasan yang optimal. dimana dengan menggunakan metode rata-rata harian untuk tabungan mudharabah dan metode rata-rata bulanan untuk mudharabah berjangka (investment rate).97 perhitungan bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo. nisbah untuk tabungan umum mudharabah kurang mempengaruhi terhadap prosentase bagi hasil. karena nisbah antara BMT dengan anggota adalah sama yaitu 50:50.

Sehingga dalam hal ini BMT hanya mengambil sedikit pembebanan resiko macet terhadap nasabah. Pendapatan BMT MMU Cabang Wonorejo adalah keuntungan dari produk pembiayaan. Kemudian kebijakan yng biasanya dilakukan oleh Akunting dalam penentuan besar kecilnya bagi hasil adalah. di BMT hanya mengambil 0. pendapatan provisi/administrasi dan pendapatan lain-lain. maka kebijakan selanjutnya adalah kelebihan bagi hasil yang ada di atas standar maksimal BMT MMU. Dari hasil wawancara dengan staf manager. BMT memberikan standar maksimal terhadap prosentase bagi hasil tabungan yaitu 0. Prinsip bagi hasil yang dipakai oleh BMT MMU Cabang Wonorejo adalah prinsip profit sharing. Penyisihan ini pengkatagorian aktiva yang lancar.98 Sedangkan faktor tidak langsung adalah sebagai berikut: 1. Faktor pendapatan.070%. Kedua. pertama penyisihan piutang. Faktor kebijakan akunting Penentuan besar kecilnya bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo.. karena BMT hanya membebani PPAP lebih kecil dibandingkan ketetapan PPAP di perbankan. dibebankan pada biaya-biaya . 2. secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh berjalannya aktivitas yang diterapkan BMT MMU secara keseluruhan.35% bagi debet (pembiayaan) dibandingkan dengan ketetapan PPAP (Penyusutan dan Penyisihan Aktiva Produktif) di perbankan. cukup lancar dan tidak lancar. Sehingga pandapatan/keuntungan yang dibagikan kepada anggota adalah pendapatan yang sudah dikurangi dengan biaya-biaya operasional.

Distribusi .7 Persamaan dan Perbedaan Produk Tabungan Mudharabah Aspek 1. Factor yang Jumlah dana yang Jumlah dana yang tersedia mempengaruhi bagi tersedia untuk untuk hasil ditabung.pendapatan. .Waktu .99 operasional BMT.000 3. Bagi Hasil . Dari keseluruhan aspek-aspek dalam tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka di BMT MMU Cabang Wonorejo.Fasilitas .000 50. maka persamaan dan perbedaan dari keduanya dapat terlihat dalam tabel dibawah ini: Tabel 4.Menggunakan rata-rata rata harian harian Minimal saldo RP Minimal saldo RP 50.Syarat perolehan Profit sharing 50:50 Profit sharing Sesuai jangka waktu jatuh tempo Menggunakan rata.Perhitungan .pendapatan. Prosedural .Pembagian Tiap akhir bulan Tiap akhir bulan Penambahan di saldo Diambil secara langsung.Setoran . didepositokan. tabungan anggota atau ditambahkan ke saldo tabungan umum mudharabah milik deposan 4.Penarikan 2.Persyaratan Tabungan Umum Mudharabah Mudharabah Berjangka Mudharabah Pengisian formulir Mudharabah Pengisian formulir. dana dialokasikan pada dana ZIS dan dana sosial ke pondok pesantren Sidogiri.Prinsip/akad . dan Membuka tabungan umum mudharabah Buku Tabungan Warkat Ada penambahan Tidak ada penambahan Setiap saat memakai Jatuh tempo dengan slip tabungan memakai kwintansi .Nisbah .Sistem . Ketiga.

dan kebijakan nisbah.100 nisbah. Allah SWT $yγÏFóss? ÏΒ “̍ôfs? 5>$oΨôãr&uρ 9≅ŠÏ‚‾Ρ ÏiΒ ×π¨Ψy_ …çµs9 šχθä3s? βr& öΝà2߉tnr& –Šuθtƒr& !$yγt/$|¹r'sù â!$x yèàÊ ×π−ƒÍh‘èŒ …ã&s!uρ çŽy9Å3ø9$# çµt/$|¹r&uρ ÏN≡tyϑ¨W9$# Èe≅à2 ÏΒ $yγ‹Ïù …çµs9 ã≈yγ÷ΡF{$# öΝä3ª=yès9 ÏM≈tƒFψ$# ãΝà6s9 ª!$# ÚÎit7ムšÏ9≡x‹x. Perintah tersebut berfirman : tersirat dalam surat al-Baqarah ayat 266. dan akunting akunting Sumber : Data diolah dari Hasil Pembahasan kebijakan C. Pembahasan Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam Tabungan dalam Islam jelas merupakan sebuah konsekwensi atau respon dari prinsip ekonomi Islam dan nilai moral Islam. AlBaqarah:266) .S. kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil (lemah)” (Q. Jadi dapat dikatakan bahwa motifasi utama orang menabung disini adalah nilai moral hidup sederhana (hidup hemat) dan keutamaan tidak fakir. 3 ôMs%uŽtIôm$$sù Ö‘$tΡ Ïµ‹Ïù Ö‘$|ÁôãÎ) ∩⊄∉∉∪ šχρ㍩3x tGs? Artinya: “ Apakah ada salah seorang diantaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. yang menyebutkan bahwa manusia haruslah hidup hemat dan tidak bermewah-mewah serta mereka (diri sendiri dan keturunannya) dianjurkan ada dalam kondisi yang tidak fakir. dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan.

‫ﻴﻊ‬‫ﺒ‬‫ﻴﺖ ﻻ ِﻟﻠ‬‫ﺒ‬‫ﻴﺮ ِﻟﻠ‬‫ﺒﺮ ﺑِﺎﻟﺸﻌ‬‫ﻭﹶﺃﺧﻼﻁ ﺍﹾﻟ‬ ِ ‫ِ ِ ﹾ ِ ﹶ ﹾ‬  ‫ ﹶ ﹸ‬  . Prinsip non-riba 2. jujur. Yang dianjurkan Islam adalah umatnya dapat menyimpan kelebihan atau menabungnya untuk masa depan. Dan juga dapat menyebabkan orang lain yang kekurangan dana untuk terhindar dari memakan/mengambil harta dengan jalan yang bathil. Perniagaan halal 3. Pengelolaan dana yang amanah. Keridhaan pihak-pihak dalam berkontrak 4. melalui tabungan setiap orang dapat menolong orang lain dengan kelebihan dana yang dimilikinya. Dalam Islam terdapat empat prinsip utama. Selain itu. Salah satu langkah perencanaan adalah dengan menabung. dan bertanggung jawab.101 Ayat di atas memerintahkan kita untuk bersiap-siap dan mengantisispasi masa depan keturunan. Tentang penjelasan sikap hemat dalam pengeluaran dikatakan bahwa Islam menganjurkan umatnya agar tidak boros dan kikir. baik secara rohani (iman/taqwa) maupun secara ekonomi harus dipikirkan langkah-langkah perencanaannya. dimana syari’ah yang senantiasa mendasari jaringan kerja Lembaga Keuangan Islam dengan sistem syari’ah yaitu: 1. Diriwayatkan oleh Ibn Majah : ‫ﺑﻦ ﺩﺍﻭﺩ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﺍﻟﺮﺣﻤﻦ‬‫ﺑﻦ ﹾﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻋﻦ ﻋ‬ ‫ﻧﺼﺮ‬ ‫ﺒﺰﺍﺭ ﺣﺪﹶﺛﻨﺎ‬‫ﺑﻦ ﹶﺛﺎِﺑﺖ ﹾﺍﻟ‬ ‫ﺎ ِﺑﺸﺮ‬‫ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﹾﻟﺨﻠﺎﻝ ﺣﺪﹶﺛﻨ‬ ‫ﺣﺪﺛﺎﻥ ﺍﹾﻟﺤﺴﻦ‬   ِ ِ    ِ    ِ ِ ‫ ﹶ‬   ‫ ﹶ‬    ِ      ‫ﹼﹶ ﹸ‬  ِ     ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ﺍﹸﻟﻤﻘﹶﺎﺭﺿﺔ‬‫ﻞ ﻭ‬‫ﻴﻊ ِﺇﻟﹶﻰ ﹶﺃﺟ‬‫ﺒﺮﻛﺔ ﺍﹾﺍﻟﹶﺒ‬‫ﻴﻬﻦ ﺍﹾﻟ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﹶﺛﻼﺙ ﻓ‬‫ﻴﺐ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋﻠ‬‫ﺑﻦ ﺻﻬ‬ ‫ﻋﻦ ﺻﺎِﻟﺢ‬ ‫ﹸ‬    ‫ ﹶ ﹸ‬  ِ ِ ‫ ﹶ ﹲ‬ ‫ﱠ‬  ِ ‫ ﹶ‬ ‫ﱠ‬ ‫ ﹸ‬  ‫ ِ ﹶ ﹶ‬ ِ ِ    .

Tidak ada tempat bagi riba untuk masuk ke dalam sistem perdagangan Islam.102 Artinya: “Tiga perkara yang diberkahi Allah yaitu jual beli dengan mudah. maka hal yang terpenting di dalamnya adalah amanah.” (HR. Prinsip bagi hasil merupakan sistem dalam menghindari unsur ribawi yang dilarang oleh Islam. Ibnu Majah : 2280) Dalam bentuk kerja sama antara pemilik modal dan pengelola modal. dan mencampur gandum dengan tepung untuk rumah tangga bukan untuk dijual. (#ρ߉Éfs? öΝs9uρ 9x y™ 4’n?tã óΟçFΖä. memberikan pengokohan harta (memberi modal). Allah Berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 283: $VÒ÷èt/ Νä3àÒ÷èt/ zÏΒr& ÷βÎ*sù ( ×π|Êθç7ø)¨Β Ö≈yδ̍sù $Y6Ï?%x. Dan dalam hal ini terkait dnegan prosedural.−Gu‹ø9uρ …çµtFuΖ≈tΒr& zÏϑè?øτ$# “Ï%©!$# ÏjŠxσã‹ù=sù ∩⊄∇⊂∪ ÒΟŠÎ=tæ tβθè=yϑ÷ès? $yϑÎ/ ª!$#uρ 3 …çµç6ù=s% ÖΝÏO#u ÿ…çµ‾ΡÎ*sù $yγôϑçGò6tƒ . Apapun bentuk urusan bisnis ribawi mestilah dijauhi. Î)uρ tΒuρ 4 nοy‰≈y㤱9$# (#θßϑçGõ3s? Ÿωuρ 3 …çµ−/u‘ ©!$# È. Bagi pihak yang dipercayai untuk memegang/mengelola dana tersebut. pengelola modal menetapkan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh pemilik modal. Prosedural yang ditetapkan oleh pengelola modal (mudharib) bertujuan untuk dijadikan sebagai pengawasan agar pekerjaan diselesaikan secara konsisten. Investasi/mudharabah merupakan bentuk perniagaan dimana pemilik modal/nasabah menyetorkan modalnya kepada pengelola modal untuk diusahakan dengan keuntungan atau dibagi bersama sesama dengan kesepakatan dari kedua belah pihak.

103

Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu untuk menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya..”(Q.S Al-Baqarah: 283) Kemudian diriwayatkan oleh Abu Daud :

‫ﻳﺮﺓﹶ‬‫ﻴﻪ ﻋﻦ ﹶﺃِﺑﻲ ﻫﺮ‬‫ﻴﻤﻲ ﻋﻦ ﹶﺃِﺑ‬‫ﺘ‬‫ﻴﺎﻥ ﺍﻟ‬‫ﺑﺮ ﻗﺎﻥ ﻋﻦ ﹶﺃِﺑﻲ ﺣ‬ ‫ﺑﻦ ﺍﻟﺰ‬ ‫ﺪﹶﺛﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ‬‫ﻴﺼﻲ ﺣ‬‫ﻳﻤﺎﻥ ﺍﹾﻟﻤﺼ‬‫ﺑﻦ ﺳﺎ‬ ‫ﺣﺪﹶﺛﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ‬    ِ  ِ ‫ ﹶ‬   ِ ‫ ِ ِ ﹶ‬     ‫ ﹶ‬  ِ ِ  ‫ﹶ ﹶ ﹶ‬      ‫ ﹶ‬  . ‫ﻴِﻨﻬﻤﺎ‬‫ﺑ‬ ‫ﻧﻪ ﺧﺮﺟﺖ ﻣﻦ‬‫ﺒﻪ ﻓﺈِﺫﺍ ﺧﺎ‬‫ﻳﺨﻦ ﹶﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺻﺎﺣ‬ ‫ﻴﻦ ﻣﺎ ﹶﻟﻢ‬‫ﻧﺎ ﹶﺛﺎِﻟﺚ ﺍﻟﺸﺮﻳﻜ‬‫ﻳﻘﻮﻝ ﹶﺃ‬ ‫ﺭﻗﻌﻪ ﻗﺎﻝ ِﺇﻥ ﺍﷲ‬  ِ  ِ      ‫ ﹶ ﹶ‬ ِ          ِ ‫ِ ﹶ‬ ‫ﹸ‬ ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ ﹶ ﱠ َ ﹸ‬  ‫ﹶ‬
Artinya : “ Sesungguhnya Allah berfirman : aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang mengadakan kesepakatan (berserikat) selama tidak saling berkhianat salah satunya terhadap yang lain, apabila hal itu terjadi (berkhianat pada orang yang lain) maka aku keluar dari mereka berdua”. (HR. Abu Daud : 2936) Amanah merupakan salah satu moral keimanan. Amanah juga berarti memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan kepadanya. Amanah dapat ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, dan pelayanan yang optimal kepada nasabah.

104

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta hasil yang diperoleh seperti yang telah didiskrispsikan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Standar Operasional Prosedur Tabungan Mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo secara teknisi menggambarkan bahwa dalam prosedural menabung, BMT memberikan kemudahan kepada anggota koperasi dalam melakukan

transaksi tabungan. Sehingga hal ini dapat mewujudkan visi dan misi yang ditetapkan oleh BMT. 2. Sistem bagi hasil yang diterapkan BMT MMU Cabang Wonorejo pada tabungan mudharabah dan mudharabah berjangka adalah mengacu pada prinsip profit sharing. Kemudian dalam Penetapan pembagian nisbah bagi hasil, tidak ada kesepakatan antara Nasabah (shahibul maal) dengan BMT (mudharib). Akan tetapi nisbah ditetapkan oleh BMT MMU Cabang Wonorejo. Adapun rumus perhitungan bagi hasil adalah sebagai berikut:
Bagi Hasil = Keuntungan × nisbah × saldo rata - rata tabungan anggota Total Saldo Rata − rata Tabungan Harian

105

Rumus perhitungan bagi hasil di atas, dapat digunakan untuk menghitung bagi hasil tabungan umum mudharabah dan mudharabah berjangka. Namun yang membedakan hanyalah dalam penentuan nisbah bagi hasil. 3. Dengan rumus perhitungan bagi hasil di BMT MMU Cabang Wonorejo, maka dapat terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya bagi hasil adalah: a. Faktor langsung, yaitu Jumlah dana yang tersedia untuk

diinvestasikan/didepositokan dan besarnya nisbah bagi hasil. b. Faktor tidak langsung, yaitu jumlah pendapatan dan kebijakan akunting di BMT MMU Pasuruan.

B. Saran Berdasarkan hasil analisa dan kesimpulan, maka penulis memberikan saransaran dalam upaya memajukan BMT MMU Cabang Wonorejo, yaitu: 1. Melakukan sosialisasi produk-produk BMT kepada masyarakat, khususnya produk tabungan mudharabah, dengan melibatkan tokoh masyarakat seperti ulama (kyai) dan ustadz, para dosen dan guru dalam upaya pemahaman masyarakat tentang produk-produk syari’ah. 2. Membuat prosedural tabungan pasar, untuk meminimalisir permasalahanpermasalahan yang sering terjadi di tabungan pasar akibat tidak terlaksananya SOP tabungan di BMT.

baik nasabah penabung maupun nasabah pembiayaan. Sehingga mampu memberikan pelayanan yang cepat dan memuaskan bagi para nasabah. Melengkapi peralatan-peralatan operasional dengan teknologi yang canggih dan modern. .106 3.

Skripsi. Edisi Revisi Lima. Mannan. Fakultas Ekonomi. 30 Maret 2008. Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nasabah Menabung Di BMT MMU-Sidogiri. Muhamad. Yogyakarta. Edisi Pertama.Takaful. Suharsini. dkk. Hafifuddin dan Maulana. 1993. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2002. Penerbit Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMPYKPN. . 2004. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Nur dan Bambang Supomo. Lexy. Syaiful. 2006. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Edisi Revisi. Pasuruan. Bank Syari’ah Suatu Pengenalan Umum. Arikunto. Jakarta. 2006. Mardalis. Manajemen Bank Syari’ah. Penerbit Gema Insani. Bank Syari’ah dari Teori ke Praktek. Jakarta. Tidak dipublikasikan. Dumairi. Penerbit Bumi Aksara. Penerbit BPFE. Yogyakarta. www. Universitas Islam Negeri Malang. 1997. Edisi Pertama. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen. Jakarta. Moleong. 2000. Yogyakarta. Edisi Pertama. Yogyakarta. Penerbit Cipta Pustaka Utama. Penerbit PT Dana Bhakti Prima Yasa. Penerbit PT Rineka Cipta. Edisi Pertama. Pasuruan. Bakhri. Abdul.107 DAFTAR PUSTAKA Antonio. Karim. Syafi’i. Lembaga-lembaga Keuangan Umat Kontemporer. Nor.php/publisher/articleview/68.com/index. 2005. Penerbit UII Press. Penerbit Aneka Tazkia. 2001. Edisi Pertama. Abdul. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. 2007. 2005. 2002. Edisi Revisi. Fungsi & Peran dalam Lembaga Keuangan Syariah. Penerbit Pustaka Sidogiri. Indriantoro. Edisi Pertama. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 2000. Bandung. Ekonomi Syari’ah Versi Salaf. . Muhammad. Jakarta. Kebangkitan Ekonomi syariah Di Pesantren Belajar dari Pengalaman Sidogiri. Edisi Khusus.

Bank dan Asuransi Islam Di Indonesia. dan Mundir. Ridwan. Penerbit PT Rineka Cipta. Jakarta. Sukidin. Kaji Tindak Peningkatan Peran Koperasi dan UKM Sebagai Lembaga Keuangan Alternatif. Yogyakarta. Edisi Pertama. Metode Penelitian membimbing dan Mengantar Kesuksesan Anda dalam Dunia Penelitian. Jannes. 2004.alt. Penerbit Gema Insani Press. Wirdyaningsih. 2005. Edisi Pertama. Muhammad.semcda. Surabaya. . Jakarta. 1998. Penerbit UII Press.108 Rachman. 2005. Penerbit UII Press.pdf. Edisi Pertama. Penerbit Kencana.rafhli. Supardi. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. 2005. Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil. 20 Desember 2007 (SOP). Edisi Pertama.com/kajian/files/jurnal keuangan. Edisi Pertama . Yogyakarta.com/journal/item/10. Syahatah. Jakarta. Arif. 2005. www. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Situmorang.multiply. Penerbit Insan Cendekia. Standar Operasional Prosedur www. 2004. Joko. Ekonomi Rumah Tangga Muslim. Edisi Pertama. 21 November 2007 Subagyo. Husein.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful