Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas

Hanya orang-orang yang mampu membuat dirinya sebagai manusia saja yang akan dibangkitkan dalam rupa manusia Imam Khomeini Iftitah: apakah aku adalah “manusia” ? Pernahkah kita bertanya “Apakah saya adalah `manusia` ?” Pertanyaan ini aneh dan janggal. Namun, persis jawaban dari pertanyaan inilah yang kerap keliru. Akal sehat (common-sense) manusia sudah terlanjur menganggap bahwa seseorang menjadi “manusia” disebabkan oleh bentuk fisik-biologisnya. Pertanyaan yang muncul “apakah manusia fisik-biologis tersebut adalah manusia dalam arti yang sebenarnya (hakiki)?” Ternyata, mengutip pemikiran Ali Shari’ati, ada tiga kategori manusia, yakni basyar, insan dan alnas. Kategori basyar dan insan terkait dengan kualitas manusia. Karakteristik yang membedakan dua kategori manusia ini adalah kemampuan untuk melepaskan dari dari empat penjara manusia, yakni penjara alam, sejarah, masyarakat dan diri. Sedangkan kategori al-nas, secara sederhana, berarti manusia secara umum, rakyat atau massa. Tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. Penjelasan di bawah ini banyak mengutip pemikiran Ali Shari’ati. Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas 1. Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being) Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being). Artinya, manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisisbiologis. Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam) Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah. Shari’ati menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya. Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja. Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh. Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Shari’ati menilai bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan,

pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu. Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. (Shari’ati, 1982: 6768) Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara natural-instingtualnya. 2. Insan : Manusia Menjadi (Becoming) Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. (Shari’ati, 1982: 62) Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being), maka insan berbeda. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. Shari’ati memberi contoh: Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah. (Shari’ati, 1982: 64) Dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 menjelaskan tentang azas yang menunjuk pada evolusi tanpa henti manusia ke arah Yang Tanpa Batas. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Bagi Shari’ati, kata ilaihi berarti kepada-Nya, bukan di dalam-Nya. Menurut Shari’ati, inilah gagasan pokok tentang “menjadi”, yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal. Tuhan bukanlah titik beku dimana sesuatu mengarah. Tuhan adalah Yang Tanpa Batas, Yang Maha Abadi, dan Yang Maha Mutlak. Oleh karena itu, bergeraknya manusia ke arah-Nya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Inilah yang dimaksud Shari’ati sebagai manusia dalam keadaannya yang menjadi. (Shari’ati, 1982: 68-69). Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. (Shari’ati, 1982: 69) Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan pengalaman tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71) Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam. Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya. Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi kreatif insan

manusia dilarang memakan “buah” oleh Tuhan. 1982: 72-73) Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. (Shari’ati. adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia. Secara unik. Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial. penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. dan mengorbankan diri demi suatu citacita atau orang lain. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam. karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak. posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial. Shari’ati mensimbolkan pembebasan insan dari empat kekuatan determinan tersebut dengan simbol keluarnya manusia (Adam) dari firdaus (paradise atau the Garden of Eden). Saat di firdaus. Kedua. manusia adalah pemberontak yang melawan “kehendak Tuhan”. barang dan alat. 1979: 116-117) Dan. Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata al-nas adalah kata massa. masyarakat dan sejarah. Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya. empat ikatan. Menurut Shari’ati. Mereka adalah yang dikuasai dan ditindas oleh kutub Qabil (penguasa politik. sejarah dan masyarakat. Sehingga. manusia mencapai kualitas insan bila ia mampu melepaskan diri dari empat determinan. Tapi. maka ia terbebas dari determinasi “kehendak Tuhan” tersebut. Al-nas merupakan penjelmaan esensi kutub positif (Habil) masyarakat (masyarakat yang tertindas). empat rantai yang mengikat manusia. secara kreatif. berpihak pada al-nas. Jelas. Menurutnya. yang disimbolisasikan sebagai “kehendak Tuhan”. dalam penggunaannya. Hingga tak aneh. penjara terakhir manusia. Sedangkan. ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya. kata al-nas bisa ditukar dengan kata Allah dan sebaliknya.memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda. Al-Nas : Massa Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). 1982: 99) Jadi. yakni penjara ego (diri). menafsirkan simbolisasi ini dengan berpendapat bahwa “kehendak Tuhan” itu adalah empat kekuatan. manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga. Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. (Shari’ati. insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam. tapi dengan cinta. Shari’ati. para kapitalis dan agamawan bejat). 3. Shari’ati memaknai “buah” tersebut sebagai simbol kesadaran (consciousness). dalam . Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya. secara singkat. (Shari’ati. Sementara itu. Ketika seseorang mencapai kesadarannya (memakan buah). Menurut Shari’ati. yaitu penjara alam. yaitu: Pertama. memberontak. tidak dilawan dengan ilmu. posisi unik al-nas ini disebabkan karena al-Qur’an dialamatkan secara khusus untuk alnas. Dengan ilmu. Allah. dari yang paling kecil sampai yang kolosal. yang bentuk nyatanya adalah ilmu. Manusia memakan buah tersebut. al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people). bagi Shari’ati. (Shari’ati. insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. Tiga sifat. al-nas sebagai kutub sosial. 1979: 17-18). sejarah dan masyarakat. Jadi.

insan atau hanya sekedar al-nas? Rene Descartes menyarankan kita mulai untuk berfikir tentang “siapa Aku. Jadi. Yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dari manusia yang lain adalah sejauhmana seseorang mengembangkan nilai kemanusiaannya. 1979: 49) Akhir al-Kalam “Manusia adalah masalah puncak bagi manusia. Murtadha Muthahhari berpendapat.” Mempertanyakan diri kita adalah satu langkah dalam proses meng-insan-kan diri kita. dia harus memilki satu hal : kesepian batin. khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah. Imam Al-Qalqasyandi mengatakan.” pekik Battista Mondin. 2009 • • In: tErkiNi Comment! Pengertian Bahasa Khilafah Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa. 1991: 79) Inilah insan sejati itu. manusia “belum menjadi manusia” saat terlahir dari rahim ibunya. Bagaimana supaya kita mampu mengenal apakah diri kita adalah basyar. bergantung kepada dirinya sendiri. Menurut Imam Ath-Thabari. yang mengembangkan sifat kemanusiaan manusia adalah iman dan amal shalih. Manusia harus membuat dirinya menjadi “manusia”. Jadi. lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari. I/251). berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir. 1984:390). Ia tidak otomatis menjadi “manusia”. karena dia menggantikan penguasa sebelumnya.” barangsiapa hendak jelas dengan dirinya sendiri dan ingin bersuara lantang. Manusia itu mau menjadi “manusia” atau tidak. Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan. Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith. massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka.” Meister Eckhardt mengusulkan dengan pernyataannya. yaitu kekuasaan umum atas seluruh . menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma). bagi Shari’ati. I/199). Manusia harus mengembangkan sifatsifat kemanusiaannya. tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu.terminologi sosiologi. (Muthahhari. Massa adalah rakyat itu sendiri. (Shari’ati. al-nas adalah massa. Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i Definisi Khilafah/Khalifah Posted by: saif1924 on: Mei 8.

Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Dengan demikian. 478 H/1085 M). hal. Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia (Ghiyats Al-Umam. Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (AlBaghdadi. hal. yang wajib diikuti oleh seluruh umat (Hasyiyah Syarah Al-Thawali’. istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi. 1980:227). 15). dan Al-Baghdadi (1995) : Pertama. Ketiga. hal. Ali Belhaj (1991). 3). I/8-9). Maksudnya. pelaksanaan urusan-urusan umat. walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam). yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Hanya saja. dan ibadah-ibadah mahdhah. Al-Fiqh AlIslami wa Adillatuhu. dalam perkembangan selanjutnya. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi. 1980:226). Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. menurut Imam Al-Juwayni (w. misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan). pemeliharaan hak milik umat. Berikut ini akan disebutkan beberapa saja definisi Khilafah yang telah dihimpun oleh Al-Khalidi (1980). para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah).225). yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. Kemudian. al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik. Sebenarnya banyak sekali definisi Khilafah yang telah dirumuskan oleh oleh para ulama. Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). seperti nikah). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan. yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham alhukm). 450 H/1058 M). menurut Imam Al-Mawardi (w. Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazhhar ad-dini). 1995:20). Kedua. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkam As-Sulthaniyah. IX/823). Sulaiman Ath-Thamawi. dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi. Dr. As-Sulthat Ats-Tsalats. . Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah. Khilafah adalah pengganti bagi Rasulullah SAW oleh seseorang dari beberapa orang dalam penegakan hukum-hukum syariah. menurut Imam Al-Baidhawi (w. bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. Wahbah Az-Zuhaili. 685 H/1286 M). hal. 245.umat.

hal. 10). pelaksanaan urusan-urusan umat. Kesepuluh. Al-Khilafah. 1176 H/1763 M). 756 H/1355 M). Ketigabelas. Al-Mawaqif. menurut Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. maupun duniawiyah yang kembali kepada kemaslahatan ukhrawiyah (Al-Muqaddimah.Keempat. dan lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama (I’adah Al-Khilafah. yang wajib ditaati oleh seluruh umat (Lihat Al-Iji. 861 H/1457 M). menurut ‘Adhuddin Al-Iji (w. hal. VII/289). Khilafah adalah pengganti (niyabah) dari Nabi SAW dalam umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin (Tuhfah Al-Murid ‘Ala Jauhar At-Tauhid. menurut Mustafa Shabri (w. menurut Imam Ar-Ramli (w. I/8). 1373 H/1953 M). Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia. 141). menurut Ibnu Khaldun (w. 32). menurut Al-Qalqasyandi (w. Khilafah adalah kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. serta pemikulan tugas-tugasnya (Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. hal. Kelima. Imamah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan dunia dan agama (I’adah AlKhilafah. 33). sebagai pengganti dari Nabi SAW dalam penegakan agama. IV/363). 791 H/1389 M). . Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) dalam urusan-urusan dunia dan agama. Kedelapan. Lihat juga Rasyid Ridha. melaksanakan jihad…melaksanakan peradilan (qadha`). seorang Syaikhul Islam pada masa Daulah Utsmaniyah. menurut Al-Kamal ibn Al-Humam (w. khalifah adalah al-imam al-a’zham (imam besar). 1004 H/1596 M). menegakkan rukun-rukun Islam. Khilafah adalah pengganti dari Nabi SAW dalam pelaksanaan apa yang dibawa Nabi SAW berupa hukum-hukum syariah Islam (Mawqif Al-Aql wa Al-‘Ilm wa Al-‘Alim. menegakkan hudud… sebagai pengganti (niyabah) dari Nabi SAW (dikutip oleh Shadiq Hasan Khan dalam Iklil Al-Karamah fi Tibyan Maqashid Al-Imamah. 1177 H/1764 M). Kesebelas. 23). II/45). Keenam. hal. 821 H/1418 M). 166 & 190). Kesembilan. yang berkedudukan sebagai pengganti kenabian. pemeliharaan hak milik umat. seorang Syaikh AlAzhar. hal. 1354 H/1935 M). hal. 808 H/1406 M). Khilafah adalah otoritas (istihqaq) pengaturan umum atas kaum muslimin (Al-Musamirah fi Syarh Al-Musayirah. Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) … untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmuilmu agama. menurut Syaikh Al-Bajuri (w. Keduabelas. dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Nihayatul Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj. menurut At-Taftazani (w. III/603. menurut Syah Waliyullah Ad-Dahlawi (w. Ketujuh. Khilafah adalah pengembanan seluruh [urusan umat] sesuai dengan kehendak pandangan syariah dalam kemaslahatan-kemaslahatan mereka baik ukhrawiyah.

melaksanakan jihad. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah mengatur “umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin”. 1985:51). untuk menetapkan sebuah definisi. Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam dalam pelaksanaan urusan agama. Misalnya definisi Al-Iji. akan kita dapati bahwa secara global berbagai definisi tersebut lebih berupa deskripsi realitas Khilafah dalam dataran empirik (praktik) –misalnya adanya dikotomi wilayah “urusan dunia” dan “urusan agama”– daripada sebuah definisi yang bersifat syar’i. semisal definisi sholat dan zakat.”Khilafah lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama. Atau bahwa Khilafah mengatur “kemaslahatan-kemaslahatan duniawiyah dan ukhrawiyah”. beliau menyatakan. tanpa mengkaitkannya dengan fungsi Khilafah untuk mengatur “urusan agama”. yang sesungguhnya malah menyempitkan definisi. Bukankah ini ungkapan yang sangat luas jangkauannya? Sesungguhnya. Sebab definisi Khilafah seharusnya menggunakan redaksi yang tepat yang bisa mencakup hakikat Khilafah dan keseluruhan fungsi Khilafah. dan seterusnya. Misalnya definisi Al-Qalqasyandi. definisi yang berusaha menggabungkan penampakan agama (al-mazh-har ad-dini) dan penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). Misalnya definisi Khilafah menurut Imam AlMawardi yang disebutnya sebagai pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia. Ketiga. Selain itu. definisi yang lebih menekankan pada penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). tetapi digunakan dalam disiplin . Analisis Definisi Dari keempatbelas definisi yang telah disebutkan di atas. Meskipun Al-Iji menyatakan bahwa Khilafah mengatur urusan-urusan dunia dan urusan agama. melaksanakan peradilan (qadha`). apakah ia definisi syar’i (at-ta’rif asy-syar’i) atau definisi non-syar’i (at-ta’rif ghayr asy-syar’i) (Zallum. Di sini Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam berupa pelaksanaan urusan politik atau sistem pemerintahan. yang umumnya diungkapkan ulama dengan terminologi “urusan dunia” (umuur ad-dunya). menegakkan hudud. Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan agama dan dunia sebagai pengganti dari Nabi SAW (Tarikh Al-Islam. menurut Dr. menegakkan rukun-rukun Islam.Keempatbelas. Definisi syar’i merupakan definisi yang digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. yang diturunkan dari nash-nash syar’i. dapat dilihat sebetulnya ada 3 (tiga) kategori definisi. definisi yang lebih menekankan pada penampakan agama (al-mazh-har ad-dini). namun pada akhir kalimat. sepatutnya kita perlu memahami lebih dahulu.” Kedua. Beliau hanya menyinggung Khilafah sebagai kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. I/350). yaitu : Pertama. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah bertugas menghidupkan ilmuilmu agama. bukan dengan redaksi yang lebih bersifat deskriptif dan lebih memberikan contoh-contoh. Bukankah definisi ini menjadi terlalu rinci yang malah dapat menyulitkan kita menangkap hakikat Khilafah? Juga bukan dengan redaksi yang terlalu umum yang cakupannya justru sangat luas. Jadi. Sedang definisi non-syar’i merupakan definisi yang tidak digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Hasan Ibrahim Hasan. Dengan menelaah seluruh definisi tersebut secara mendalam. definisi-definisi tersebut kurang mencakup (ghayru jaami’ah).

Sunan At-Tirmidzi. yang wajib diistimbath dari nash-nash syar’i (AySyakhshiyyah Al-Islamiyah. jihad. Sedang Imam Muslim dalam Shahihnya telah mengumpulkannya dalam Kitab Al-Imarah (Ali Belhaj. Imam Malik. yaitu : (1) tugas menerapkan seluruh hukum-hukum syariah Islam. hadharah (peradaban). Adapun yang menunjukkan bahwa Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum muslimin di dunia. 1853). “Jika dibaiat dua orang khalifah. misalnya hadits Nabi yang mengharamkan adanya lebih dari satu khalifah bagi kaum muslimin seperti telah disebut sebelumnya (Shahih Muslim no. XII/213. dustur (UUD). Sebab nashnash syar’i. III/342-343. Dengan menelaah nash-nash hadits tersebut. dan harf (dalam ilmu Nahwu-Sharaf). 1705. perumusan definisi syar’i. qanun (UU). Sunan Abu Dawud. akan kita jumpai bahwa definisi Khilafah dapat dicari rujukannya pada 2 (dua) kelompok nash. 1853). wajib merujuk pada nash-nash syar’i yang berkaitan dengannya. semisal definisi isim. Al-Ma’lumat li Asy-Syabab. Ini berarti. zakat. definisi syar’i sesungguhnya adalah hukum syar’i.” (Shahih Muslim. misalnya nash hadits. Contoh lainnya misalkan definisi akal. nash-nash yang menerangkan hakikat Khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia. Mengapa? Sebab. yakni Imam Abu Hanifah. telah menggunakan lafazh-lafazh “khalifah” dan “imam” yang masih satu akar kata dengan kata Khilafah/Imamah. 1-3). masyarakat. Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya telah mengumpulkan hadits-hadits tentang Khilafah dalam Kitab Al-Ahkam. wajiblah kita memperhatikan berbagai nash-nash ini yang berkaitan dengan Khilafah. madaniyah (benda sarana kehidupan). Jadi. tak boleh lebih. Ini menunjukkan bahwa Khilafah adalah sebuah kepemimpinan (ri`asah/qiyadah/imarah). Sedang jika definisinya berupa definisi syar’i. Jelaslah. fi’il. Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al- . nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. haji. dan Imam Ahmad. Misalnya hadits Nabi. (2) tugas mengemban dakwah Islam di luar tapal batas negara ke seluruh bangsa dan umat dengan jalan jihad fi sabilillah Nash kelompok pertama. Imam Asy-Syafi’i. dan tentunya nash-nash Al-Qur`an. dan semisalnya. rahimahumullah (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri. hal. khususnya hadits-hadits Nabi SAW. III/438-442. ya. bahwa untuk mendefinisikan Khilafah.” (Shahih Muslim. bukan dari nash-nash syara’. 2928. no. bukan dari realitas. no.ilmu tertentu atau kalangan ilmuwan tertentu. Baik ia realitas empirik yang dapat diindera atau realitas berupa kosep-konsep yang dapat dijangkau faktanya dalam benak. yaitu : Kelompok Pertama. seluruh kaum muslimin di dunia hanya boleh dipimpin seorang khalifah saja. maka dasar perumusannya bertolak dari realitas (alwaqi’). Apakah definisi Khilafah (atau Imamah) merupakan definisi syar’i? Jawabannya. Dan kesatuan Khilafah untuk seluruh kaum muslimin di dunia sesungguhnya telah disepakati oleh empat imam madzhab. menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani. misalnya definisi sholat. maka dasar perumusannya wajib bertolak dari nash-nash syara’ Al-Qur`an dan AsSunnah. Kelompok Kedua. ideologi (mabda`).”Maka Imam yang [memimpin] atas manusia adalah [bagaikan} seorang penggembala dan dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya). kebangkitan. maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. IV/308). no. dan sebagainya Jika definisinya berupa definisi non-syar’i. 1991:15).

perjanjian bertetangga baik. sebab difinisi dari ‘abdun ialah yang tidak memiliki apa-apa. Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w.Arba’ah. Hal ini nampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS Al-Baqarah:216). istilah Khilafah dan Imamah dalam hadits-hadits shahih maknanya sama saja menurut pengertian syar’i (al-madlul asy-syar’i). misalnya mengadakan berbagai perjanjian perdagangan. bahwa ia tidak mempunyai apa-apa yang menjadi milik dirinya. kitab Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal. dan kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyah. Nash kelompok kedua. untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. V/308. itulah arti ibadah. adalah nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. menjaga akhlaq (QS Al-Isra`:32). Hal ini nampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu muslim (QS Al-Baqarah:188. Juz II hal. Berdasarkan dua kelompok nash inilah. agar mereka sudi kiranya untuk mengambilnya dan kemudian memperjuangkannya supaya menjadi realitas di muka bumi. 128. ia memperoleh banyak barang-barang. menjaga tapal batas negara (QS AlAnfaal:60). perjanjian gencatan senjata. misalnya kitab Al-Khilafah (hal. 1). sungguh. ‘Abdun artinya adalah dia yang segala sesuatu bukan lagi menjadi miliknya. Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf AlA`immah. orang-orang beriman akan merasa gembira dengan datangnya pertolongan Allah. Jadi. QS Muhammad:35). Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia. Muhammad ibn Abdurrahman Ad-Dimasyqi. dapat dirumuskan definisi Khilafah secara lebih mendalam dan lebih tepat. Semuanya semata-mata karena ihsan Allah taala atas manusia dan semata-mata hasil ciptaan-Nya sajalah maka manusia dianugerahi bentuk sebagai wujud cuptaan sehingga terlahirlah ia sebagai hamba-Nya) Ingatlah. tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. melainkan ia dengan sendirinya mendatangkan maut atas dirinya lalu ia mempersembahkannya kepada Allah taala. sebagian pun sudah . menegakkan hudud (QS AlBaqarah:179). Ada pun maksud yang mulia dari ibadah tiada lain adalah hendaknya kepada manusia diajarkan bahwa ia datang di dunia ini dengan tangan kosong. Dan dikarenakan ia adalah “hamba” maka gambaran keadaannya adalah. memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri. dan seterusnya. Kedua. yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut : Pertama. mengumpulkan dan membagikan zakat (QS At-Taubah:103). kemudian tangannya jadi terisi banyak. 1398 H/1977 M) dalam kitab-kitabnya. QS An-Nisaa`:58). tugas khalifah mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. 9. dan semisalnya (QS Al-Anfaal:61. Namun sekarang dia melakukan pemutusan hubungan dengan benda-benda duniwi tersebut bukan dengan paksaan atau dengan perantaraan maut. Pada saat itulah. Begitu pula kata ‘abdun terkandung di dalamnya yang artinya adalah ghulam (hamba). wassalam Muhammad Sidik Aljaw Fariz Kata Ibadah sebenarnya dari kata ‘ibadah dan ‘ubudiyat (pengabdian). tidaklah sulit bagi Allah Azza wa Jalla. menggantikan sistem kehidupan sekuler yang kufur saat ini. hal. Kemudian kepadanya dituntut untuk meninggalkan “miliknya” tersebut dengan senang hati. Dan yang demikian itu. Definisi inilah yang beliau tawarkan kepada seluruh kaum muslimin di dunia. ia menjadi banyak hubungan ikatan dengan macam-macam barang. menjamin masyarakat dapat menegakkan syiarsyiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS Al-Hajj:32). Walaupun itu tidak seluruhnya. yakni dalam proses pembentukan dirinya ia tidak ada peran dan tidak pula untuk kelanggengannya ia mempunyai campur tangan dalam upayanya. setelah itu diberikan kepemilikan sementara kepadanya. 208). “jangan mengambil apa-apa di rumah”. Menurut beliau juga. Dalam pengertian inilah di dalam Alquran kata ‘abdun digunakan untuk manusia.

sedangkan ibadah seorang hamba tuhan adalah perhubungan yang melepaskan segala yang menjadi miliknya dan semua itu diserahkn kepada Allah taala dengan dada yang lapang. jiwa dan raga. Kitab suci al-Qur’an – seperti yang ditulis Bint as-Syathi’ dalam al-qur’an wa Qadhaya al-Insan – sering kali memperhadapkan insane dengan jin/jan. memakan sesuatu. Manusia yang berbeda antara satu dengan yang lainya akibat perbedaan fisik. harmonis. Kata insan. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Pendapat ini. berjalan. ambillah untuk sementara waktu saja. al-Mukminun: 24 dan 33. jika ditinjau dari sudut pandang alQur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (lupa). Dalam ayat-ayat tersebut terlihat bahwa manusia dalam arti basyar adalah manusia dengan sifat-sifat kematerianya. yasin: 15. digunakan al-qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. “sehingga iradah (keinginan) kita bergabung serta menyatu dalam pengabdian kita”.com/2010/06/12/manusia-basyar-insan-dan-al-nas/ 1. mental. 4. atau nasa-yanusu (berguncang). Manusia dinamai basyar karena kulitnya nampak jelas. jin adalah makhluk halus yang tidak tampak. Basyar Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Ibrahim: 10. Duriyat Adam/Bani Adam . dan tampak. Jadi itulah perbedaan ibadah dengan ubudiyat. Al-Ins/al-Insan Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak lawan dari binatang liar. hubungannya dengan dunia sudah terputus dan menjadi dingin. An-Nas Dalam al-Qur’an manusia dalam pengertian an-nas disebutkan sebanyak 240 kali dengan keterangan yang jelas menunjukan pada jenis keturunan Nabi Adam as. sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah. 3.mencukupi. dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Itulah yang dinamakan ibadah. segalanya sudah diserahkan kembali kepada Allah taala dan Dia dijadikan sebagai pusat segala dambaan. Diantaranya terdapat dalam surat al-hujurat: 13. Di dalam ubudiyat seberapa jauh sikap dan persembahan dari si hamba semuanya itu tercakup dalam kata itu. Jalinlah perhubungan dengannya itu menjadi sangat khusus. Kalaupun tidak untuk masa yang panjang. Dengan demikian istilah basyar merupakan gambaran manusia secara materi yang dapat dilihat. 2. Diantaranya terdapat dalam surat al-Abiya’: 2-3. http://d3ndri. alkahfi: 110. intelektual dan juga spiritual.wordpress. Al-Isra: 93 dan lain-lain. hud: 26. Manusia dalam pengertian ini disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak 35 kali dalam berbagai surat. dan berbeda dengan kulit makhluk yang lain. as-Syu’ara’: 93.

38: 71) )75 :‫)ص‬ ّ (‫)قال يا إبليس ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي أستكبرت أم كنت من العالين‬ َ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ُ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ّ َ َ ِ ُ ْ ََ َ ِ َ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ُ ِْ ِ َ َ َ Allah berfirman: “Hai iblis. Hal ini dapat dilihat dalam QS at-Tin: 4.blogdetik.Al-Qur’an tidak menguraikan secara rinci proses kejadian Adam.com/2010/05/06/4-istilah-tentang-manusia-dalam-al-quran/ . Shad. Tetapi ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum. sedangkan dalam penciptaan Adam. (3) setelah proses penyempurnaannya selesai. Hal ini untuk menunjukan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan kejadian Adam AS. yang oleh mayoritas ulama dinamai manusia pertama. Penciptaan manusia secara umum. 38: 71-72]. ditiupkan kepadanya ruh ilahi [QS Al-Hijr. Al-Qur’an menunjuk kepada sang pencipta dengan menggunkan pengganti nama berbentuk tunggal: )71:‫)إذ قال ربك للملئكة إني خال ٌ بشرا من طين( )ص‬ ّ ٍ ِ ْ ِ ً َ َ ‫ِ ْ َ َ َ ّ َ ِ ْ َ ِ َ ِ ِ ّ َ ِق‬ (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (2) bahan tersebut adalah disempurnakan. Yang disampaikanya dalam konteks ini hanya (1) bahan awal manusia adalah tanah. 38: 75). Yang Maha Pencipta ditunjuk dengan menggunkan bentuk jamak. AtTin: 4). Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama. yaitu bapak dan ibu. Keterlibatan bapak dan ibu mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak. Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini Apakah anda menyukai tulisan ini ? http://ummgl. apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang Telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku.(QS. )4:‫)لقد خلقنا النسان في أحسن تقويم( )التين‬ ٍ ِ ْ َ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ِْ َ ْ ََ ْ َ َ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (QS Shad. tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak. melalui proses keterlibatan Tuhan bersama selain-Nya. 15: 28-29. apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (QS Shad.

Tetapi hal ini berbeda dengan seseorang yang sengaja lupa terhadap sesuatu kewajiban. abdun dan khalifah Dalam al-Qur'an. apabila manusia lupa terhadap seseuatu hal. mental. anasi. 1996 : 280]. Kata basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk baik laki-laki ataupun perempuan. 1992 : 22]. baik perubahan sosial maupun alamiah. Di sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menggunakan . disebabkan karena kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut. anisa. Manusia mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup tinggi. Sedangkan untuk jamaaknya dipakai kata an-nas. 10 April 2010 Konsep manusia sebagai basyar. dan berbeda dengan kulit binatang yang lain". dan sebagai makhluk yang berbudaya. Karena itu Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan bahwa "Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu [QS. ada tiga kata yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia. kata basyar dan kata Bani Adam. maka ia tidak berdosa. Kata insan yang berasal dari kata al-uns. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain adalah akibat perbedaan fisik. jika seseorang lupa sesuatu kewajiban yang seharusnya dilakukannya. sama seperti ins. jiwa dan raga.Sabtu. baik satu ataupun banyak. 1996 : 20) karena manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungannya. Manusia menghargai tata aturan etik. Adapun kata basyar dipakai untuk tunggal dan jamak. Al-Qur'an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna [dual] untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. karena ia kehilangan kesadaran terhadap kewajiban itu. menunjuk adanya kaitan dengan kesadaran diri. nasiya dan anasa. untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. yang lahir dari adanya kesadaran penalaran [Musa Asy'arie. yaitu kata insan. Kata insan digunakan al-Qur'an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. (Musa Asy'arie. Sedangkan kata insan untuk penyebutan manusia yang terambil dari akar kata al-uns atau anisa yang berarti jinak dan harmonis. Maka dalam kehidupan agama. maka dapatlah dikatakan bahwa kata insan menunjuk suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap. Kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang berarti kulit. Kata insan jika dilihat dari asalnya nasiya yang artinya lupa. insan. unasi. al-Kahf (18): 110]. Kata insan dalam al-Qur'an dipakai untuk manusia yang tunggal. sopan santun. ia tidak liar baik secara sosial maupun alamiah. Untuk itu. "Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas.Quraish Shihab. dan kecerdasan [M. insiya.

yang menggunakan kata basyar.al-Isro: 70 dan al-Hajj : 65]. yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab. yang keduanya mengandung pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang manusia [M. Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan. dan sikap hidupnya.1996 : 279].1996 : 280]. Allah sendirilah yang menciptakan manusia yang proporsional [adil] susunannya [Q. Dan karena itupula. kerendahan atau tidak berharga seperti binatang. al-Baqarah (2) : 30 yang menggunakan kata khalifah. artinya Islam tidak memposisikan manusia dalam kehinaan. Penggunaan kata basyar di sini "dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia.kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar. Untuk itu. yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. Dari pengertian insan dan basyar. Musa Asy'arie [1996 : 21]. Salah satu anugrah Allah yang diberikan kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dan kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan. minum dan mati. melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan. pendidikan.82:7].Quraish Shihab. kesadaran. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikanNya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain [Q. Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezki [M..S. dan QS. tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar [perhatikan QS al-Hijr (15) : 28]. Allah menanamkan kesiapan dan kehendak untuk melakukan kebaikan atau keburukan sehingga manusia mampu memilih jalan yang menjerumuskannya pada .Quraish Shihab. makan. pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan.al-Rum (3) : 20] "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya [Allah] menciptakan kamu dari tanah. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga. mengatakan manusia menurut pandangan Islam meliputi : [1] Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan. AlQur'an berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. Firman allah [QS. pemakaian kedua kata insan dan basyar untuk menyebut manusia mempunyai pengertian yang berbeda. benda mati atau makhluk lainnya [QS. Ke dalam naluri manusia. penalaran. Insan dipakai untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran.S. mengatakan bahwa manusia dalam pengertian basyar tergantung sepenuhnya pada alam.95 :4]. manusia merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psihis yang memiliki potensi untuk berkembang. ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran". [2] Manusia sebagai makhluk istimewa dan terpili. bumi dan bahkan para malaikat. sedangkan basyar dipakai untuk menunjukkan pada dimensi alamiahnya. Abdurrahman An-Nahlawi [1995].

Manusia tidak mampu memikul amanah yang diberikan Allah kepadanya. rasa tanggungjawab terhadap dirinya maupun alam semesta. al-Ahzab : 72 : "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit. kesalahan manusia dalam mempersepsi dirinya. seperti penglihatan.derajat manusia direndahkan Firman Allah QS. Kemaujudan mereka dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan. al-A'raf : 179 sebagai berikut : "Sesungguhnya Kami Jadikan untuk [isi neraka Jahanam] kebanyakan dari jin dan . [3] Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik. Qur'an mencela manusia disebabkan kelalaian manusia akan kemanusiaannya.S. Manusia dicela karena kebanyakan dari mereka tidak mau melihat kebelakang (al'aqiba). tidak mau memahami atau tidak mencoba untuk memahami tujuan hidup jangka panjang sebagai makhluk yang diberi dan bersedia menerima amanah. dan lain-lain pertanyaan Allah kepada manusia yang menunjukkan manusia mempunyai potensi untuk belajar. manusia dinyatakan luar biasa keji dan bodoh. bebas. al-Qur'an juga menyebutkan sifat-sifat kelemahan dari manusia. terpercaya. at-Tiin (95) : 5-6 : "Kemudian Kami [Allah] kembalikan dia [manusia] ke kondisi paling rendah". mengembangkan dan meninggalkan diri agar manusia terangkat dalam keutamaan [Q. potensi mata. yang kemudian bergerak ke arah kekuatan. manusia harus berupaya menyucikan. lagit dan bumi. serta sebagai makhluk semi-samawi dan semi duniawi. Allah telah menganugrahi manusia sarana untuk belajar. Selain itu. maka manusia bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan dan binatang buas sekalipun . Dengan kelengkapan sarana belajar tersebut. Allah selalu bertanya kepada manusia dalan firman-Nya "afala ta'kilun". 2000 : 11]. Tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan psikis mereka. potensi telinga. sebagai khalifahNya di muka bumi. dan kebodohan manusia dalam memanfaatkan potensi fitrahnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. untuk melihat dan mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan jelas Allah menyebutkan bahwa dalam hidupnya. Manusia dipusakai dengan kecenderungan jiwa ke arah kebaikan maupun kejahatan. kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan selalu mengingat-Nya [Rif'at Syauqi Nawawi. dalam surat al-Alaq : 3 dan 5.kebinasaan. Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan untuk belajar. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh". dan dipukullah amanat itu oleh manusia. Selanjutnya dalam firman Allah : QS. maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatirkan menghianatinya.as-Syam: 7-10]. Manusia banyak dicela. kecuali mereka yang beriman kepada Allah dan beramal saleh". Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan. pendengaran dan hati. Pernyataan ini ditegaskan dalam firman Allah QS. yang di dalam dirinya ditanamkan sifat-sifat : mengakui Tuhan. bumi dan gununggunung. Selain itu al-Qur'an juga mengingat manusia yang tidak menggunakan potensi hati. serta karunia keunggulan atas alam semesta. “afala tata fakkarun".

1999) Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perfektif. ada yang mengatakan masnusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof.manusia. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. menguasai ilmu pengetahuan. bahkan mereka lebih sesat lagi. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki. dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling canggih. yaitu mengaktualisasikan potensi iman kepada Allah. Untuk itu. tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayatayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. (Musa Asy’ari. Filsafat Islam. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya. kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan manusia hakekat manusia. A. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia. Mereka itu sebagai binatang ternak. karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Pendahuluan Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya. maka manusia akan menjadi makhluk yang paling mulia dan makhluk yang berkualitas di muka bumi ini seseuai dengan rekayasa fitrahnya. mereka mempunyai hati. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Mereka itulah orang-orang yang lalai". Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. mampu menggunakan potensi yang dimilikinya dengan baik. yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyatakan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia . dan melakukan aktivitas amal saleh.

ia baru produksi dari yang sesungguhnya dalam kebebasan dari kebutuhannya. binatang langsung menyatu dengan kegiatan hidupnya.menafsirkan simbol-simbol tersebut. Pemikiran Karl Marx. Manusia dalam bermaian memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. Manusia dalam bekerja secara bebas dan universal. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). manusia berproduksi mnurut berbagai jenis dan ukuran dengan objek yang inheren. (K. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. Binatang berproduksi hanya apa yang ia butuhkan secara langsung bagi dirinya danketurunnya. 2005) Marx menunjukan perbedaan antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja. Bertens. Manusia berhadapan bebas dari produknya dan binatang berproduksi menurut ukuran dan kebutuhan jenis produksinya. seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Permaianan dalam sejarahnya juga digunakan untu memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci. manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens. sedangkan manusia berproduksi secara universal bebas dari kebutuhan fisik. Manusai juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Dipihak yang lain ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhan. Oleh sebab itu menurut Marx manusia hnya terbuka pada nilai-nilai estetik dan hakekat perbedaan manusia dengan binatang adalah menunjukan hakekat bebas dan universal. Panorama Filsafat Modern. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Sedangkan manusia membuat kerja hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya. bebas I dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung. universal dikarenakan ia dapat memakai beberapa cara untuk tujuan yang sama. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”. 1999).(Franz Magnis Suseno. Antropologi adalah merupakan salah satu dari cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakekat manusia dan sepanjang sejarahnya manusia selalu . dikarenakan manusia berproduksi menurut hukum-hukum keindahan.

keterarahan. dan hidup dalam masa kini yang kekal. Dalam jawaban tentang manusia tidak pernah akan selesai dan dianggap tidak pernah sampai final dikarenakan realitas dalam keling manusia selalu baru. Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya .(Musa Asy’ari. Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah. yang kemudian menjadi perenungan tentang kegelisahan dirinya. 2002). (Denis Collin. manusia menciptakan sejarah juga sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah. yakni materi dalam pandangan materialisme. apakah ia sedang sendirian. ataukah mono pluralism yang meletakkan hakekat pada kesatuannya semua unsur yang membentuknya. Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya. Filsafat Islam. Paulo Freire Kehidupan. seperti dalam pandangan monoteisme. dan apakah makna keberadaannya ditengah kompleksitas perubahan itu? Pertanyaan tentang hakekat manusia merupkan pertanyaan kuno seumur keberadaan manusia dimuka bumi. atau unsur rohani dalam pandangan spritualisme. yang menunjukan disini berhubungan disana. meskipun dalam subtansinya tidak berubah. yang hanya berada dalam dunia. nyakni pandangan pluralisme yang menetapkan pandangan pada adanya berbagai unsur pokok yang pada dasarnya mencerminkan unsur yang ada dalam marco kosmos atau pandangan mono dualis yang menetapkan manusia pada kesatuannya dua unsur. atau dualisme yang memiliki pandangan yang menetapkan adanya dua unsur pokok sekaligus yang keduanya tidak saling menafikan nyaitu materi dan rohani. yang mempunyai kontak tidak kritis dengan dunia. yang menccari unsur pokok yang menentujkan yang bersifat tunggal. Karya dan Pemikirannya. sekarang berhubungan masa lalu dan berhubungan dengan masa depan. ataukah ia sedang dalam dinamika masyarakat dengan mempertanyakan tentang makna hidupnya ditengan dinamika perubahan yang kompleks. temporaritas dan trasendensi) yang menjadikan mahluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk meyampaikan hubungan dengan dunia. Tindakan dan kesadaran manusia bersifat historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal.mempertanyakan tentang dirinya. kan tetapi bukan berarti bahwea ia tidak dapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan . 1999) Manusia menurut Paulo Freire mnusia merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Manusi dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas.

Hakekat manusia Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata. Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Ego yang bebas. akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat. (Musa Asy’ari. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme.eksistensinya dalam kehidupan dunia ini mencapai kedewasaan dan semua kenyataan itu. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Filsafat Islam. Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada. 1999) B. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. 2001). Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. kedudukan. Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi. (Ali Syariati. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Paradigma Kaum Tertindas. Tujuan tersebut . empirisme dan rasionalisme. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral.

Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri. sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis. karya dan perbuatannya. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif.tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. Ruh Tuhan + Lempung Busuk Manusia . (Musa Asy’ari. dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia. 1999) Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. 2004) Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis. 2001) Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs. seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. keakuan. (Donny Grahal Adian. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui. ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual. Filsafat Islam. (Siti Murtiningsih. sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Matinya Metafisika Barat. dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Pendidikan sebagai Alat Perlawanan. diri. kekinian dan dinamik. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal.

(‘Ali Syariati. Dalam filsafat pembagian dalam melihat sesuatu materi yang terbagi menjadi dua macam esensi dan eksistensi. Begitu pula manusia dilihat sebagai materi yang memiliki dua macam bagian esensi dan eksistensi. Manusia adalah suatu kehendak bebas dan bertanggungjawab menempati suatu stasiun antara dua kutub yang berlawanan yakni Allah dan Syaitan. realitas alam dan Tuhan. Refleksi tersebut menjadikan manusia dapat memahami diri sendiri. Esensi dan eksistensi bersifat berjalan secara bersamaan dan dalam perjalananya dalam diri manusia ada yang mendahulukan esensi dan juga eksistensi. Manusia yang ideal menurut ‘Ali Syariati adalah manusia yang telah mendialektikakan ruh tuhan dengan lempung dan yang dominant dalam dirinya adalah ruh Tuhan. Manusia dalam hadir dalam dunia merupakan bagian yang berada dalam diri manusia esensi dan eksistensi. Hal ini yang menjadikan manusia sebagai realitas dialektis. Sebagaimana perkataan bijak yang dilontarkan oleh socrates bahwa hidup yang tak direfleksikan tak pantas untuk dijalanani. “Lempung busuk” merupakan simbol kerendahan stagnasi dan pasifitas mutlak. Dari dialektika tersebut menjadikan manusia berkehendak bebas mampu menentukan nasibnya sendiri dan bertanggung jawab. bahkan dengan mengkaji manusia yang merupakan mikro kosmos. Paradigma Kaum Tertindas. Begitu pula manusia yang menjalankan eksistensi tanpa melihat esensi maka yang terjadi ia hanya ada tetapi tidak dapat mengada. Manusia yang memahami tentang dirinya sendiri ma ia akan . Manusia yang menjalankan esensi menjadikan ia bersifat tidak bergerak dan menunjau lebih dalam saja tanpa melakukan aktualisasi. Gabungan tersebut menjadikan mansuia bersifat dialektis.Ruh Tuhan dan lempung busuk merupakan dua simbol individu. Seperti yang telah dikekmukakan oleh ‘Ali Syariati bahwa esensi manusia merupakan dialektika antara ruh Tuhan dengan lempung dari dialektika tersebut menjadikan manusia ada dalam mengada. 2001) Manusia merupakan mahluk yang unik yang menjadi salah satu kajian filsafat. Karena kedua istilah itu harus dikasih makna simbolis. Proses mengadanya manusia merupakan refleksi kritis terhadap manusia dan realitas sekitar. Pernyataan al Quran manusia merupakan gabungan ruh Tuhan dan lempung busuk. Esensi dan eksistensi manusia ini yang menjadikan manusia ada dalam muka bumi. Ruh Tuhan merupakan simbol dari gerak tanpa henti kearah kesempurnaan dan kemuliaan yang tak terbatas. Secara aktual manusia tidak diciptakan dari lempung busuk (huma’in masnun) ataupun ruh Tuhan.

tidak menjadi budak orang lain. keadilan dan keindahan lingkungan Manusia yang melakukan refleksi menyadari Estetika bahwa ia mahluk yang berdimensional dan bersifat unik. Sifat dari manusia tersebut adalah mahluk yang bebas berkreatif dan mahluk bersejarah dengan diliputi oleh nilai-nilai trasendensi yang selalu menuju kesempurnaan. agama dan realitas. hal tersebut menjadikan diri manusia menjadi insan kamil atau manusia sempurna. Manusia yang bereksistensi dalam kelima tersebut menjadikan ia sebagai mahluk pengganti Tuhan dan menjalankan tugas Tuhan dalam memakmurkan bumi. .memahami Penciptanya. kemakmuran. spiritual. Manusia menjadikan ia yang bertanggungjawab pada eksistensinya yang berbagai macam dimensi tersebut. Proses pemahaman diri dengan refleksi kristis diri. bilogis. Hal tersebut menjadikan manusia yang memiliki sifat dan karaktersistik profetik. Proses pemahaman diri dengan pencipta menjadikan manusia berproses menuju kesempurnaan yang berada dalam diri manusia. haus. Manusia dalam eksistensi tersebut dikarenakan potensi yang berada dalam diri manusia seperti intelektual. dingin Intelektual Biologis Intelektual Biologis Spiritual Sara ingin berterimakasihSpiritual dan bersykur kepada tuhan Rasa tahan sendiri danSosial menderita dalam kesepian 4 An-Nas Sosial 5 Khalifah filButuh keamanan. dan khalifah. Manusia dalam eksistensinya sebagai al insan. al basyar.Estetika ardli ketertiban. annas. kedamaian. Bagan Esensi dan Eksistensi Manusia No Eksistensi Esensi KesadaranBasic HumanKebutuhan manusia Fitrah (Basic HumanValues (BasicDasar (Basic Drives) Islamic Human Needs) Values) 1 2 3 Al Insan Al Basyar Abdullah Rasa ingin tahu Rasa lapar. Pembebasan yang dilakukan oleh manusia adalah pembebasan manusia dari korban penindasan sosialnya dan pembebasan dari alienasi antara eksistensi dan esensinya sehingga manusia menjadi diri sendiri. ‘abdullah. sosial dan estetika.

Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dala rangka memakmurkan bumi.C. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. akal dan. harta. al insan. an-nas. Manusia yang memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah. . keturunan. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta dalam bentuk imateri sedangkan unsur mteri yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia. jiwa. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba. D. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuha dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi. yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. Tetapi sebelum membahas tentang peran dan kedudukan. Kedudukan dan peran manusia Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. pengulangan kembali tentang esensi dan eksistensi manusia. Tujuan hidup manusia Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya. ekologi. dimana harus menjaga agama. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. al basyar dan khalifah. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah.

http://simplelove01diaz. Sebagaimana yang terjadi pada al Halaj. Proses penebaran cinta tersebut menjadikan manusia dapat bermanfaat pada yang lain menjadika diri sebagai cerminan Tuhan dalam muka bumi. Tetapi dari sini manusai mendaki tangga mi’raj menuju nafs Tuhan dengan cinta dan karena cinta pula terbentuknya alam serta manusia.Perjumpaan manusi dengan Tuhan dalam tahapan nafs. Pertemuan nafs manusia dengan nafs Tuhan merupakan perjumpaan dinamis yang sarat muatan kreatifitas dalam dimensi spiritualitas yang bercahaya. (Musa Asy’ari. Nafs yang dimiliki oleh manusia merupakan nafs yang terbatas akan kembali bersama nafs yang mutlak dan tak terbatas.com/2010/04/konsep-manusia-sebagai-basyarinsan. 1999) Proses bertemunya nafs manusia dengan Tuhan dalam kondisi spiritual tercapai jika manusai berusaha membersihkan diri dari sifat yang buruk yang ada padanya. yang spiritual dikarenakan nafs spiritual yang sangat indah dan Tuhan akan memanggilnya kembali nafs tersebut bersamanya. Pencitraan Tuhan dalam diri manusia menjadikan ia sebagai insan kamil dan dalam ajaran agama dapat menjadi rahmat bagi yang lain baik sesama manusia ataupun alam. Tetapi manusia setalah menyatu. dan kembalinya nafs manusia melalui ketauhidan antara iman dan amal sholeh. Yazid al Bustami Rabiah al Adawiyah dan yang lain mereka memiliki ekspreasi dan kelakuan yang berbeda ketika meresakan berteumnya dengan Pencipta.blogspot.html . lantas tak memperdulikan dengan yang lain dengan menyatu terus dengan pencipta. memahami cinta pada Pencita itu dimanifestasikan cinta tersebut untuk sesama manusia dan alam. Setelah menyatunya manusia dalam dimensi spiritual dengan Pencipta. Filsafat Islam. Kerjasama kreatifitas Tuhan dengan manusia dan melalui keratifitasnya manusia menaiki tangga mi’raj memasuki cahayaNya yang merupakan cahaya kreatifitas abadi. Perjumpaan nafs tersebut dapat dilihat pada sufi yang memenculkan berbagai macam ekspresi dalam perjumpaannya.