Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas

Hanya orang-orang yang mampu membuat dirinya sebagai manusia saja yang akan dibangkitkan dalam rupa manusia Imam Khomeini Iftitah: apakah aku adalah “manusia” ? Pernahkah kita bertanya “Apakah saya adalah `manusia` ?” Pertanyaan ini aneh dan janggal. Namun, persis jawaban dari pertanyaan inilah yang kerap keliru. Akal sehat (common-sense) manusia sudah terlanjur menganggap bahwa seseorang menjadi “manusia” disebabkan oleh bentuk fisik-biologisnya. Pertanyaan yang muncul “apakah manusia fisik-biologis tersebut adalah manusia dalam arti yang sebenarnya (hakiki)?” Ternyata, mengutip pemikiran Ali Shari’ati, ada tiga kategori manusia, yakni basyar, insan dan alnas. Kategori basyar dan insan terkait dengan kualitas manusia. Karakteristik yang membedakan dua kategori manusia ini adalah kemampuan untuk melepaskan dari dari empat penjara manusia, yakni penjara alam, sejarah, masyarakat dan diri. Sedangkan kategori al-nas, secara sederhana, berarti manusia secara umum, rakyat atau massa. Tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. Penjelasan di bawah ini banyak mengutip pemikiran Ali Shari’ati. Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas 1. Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being) Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being). Artinya, manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisisbiologis. Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam) Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah. Shari’ati menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya. Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja. Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh. Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Shari’ati menilai bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan,

pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu. Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. (Shari’ati, 1982: 6768) Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara natural-instingtualnya. 2. Insan : Manusia Menjadi (Becoming) Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. (Shari’ati, 1982: 62) Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being), maka insan berbeda. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. Shari’ati memberi contoh: Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah. (Shari’ati, 1982: 64) Dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 menjelaskan tentang azas yang menunjuk pada evolusi tanpa henti manusia ke arah Yang Tanpa Batas. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Bagi Shari’ati, kata ilaihi berarti kepada-Nya, bukan di dalam-Nya. Menurut Shari’ati, inilah gagasan pokok tentang “menjadi”, yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal. Tuhan bukanlah titik beku dimana sesuatu mengarah. Tuhan adalah Yang Tanpa Batas, Yang Maha Abadi, dan Yang Maha Mutlak. Oleh karena itu, bergeraknya manusia ke arah-Nya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Inilah yang dimaksud Shari’ati sebagai manusia dalam keadaannya yang menjadi. (Shari’ati, 1982: 68-69). Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. (Shari’ati, 1982: 69) Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan pengalaman tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71) Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam. Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya. Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi kreatif insan

adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia. Allah. 1982: 99) Jadi. Ketika seseorang mencapai kesadarannya (memakan buah). yang disimbolisasikan sebagai “kehendak Tuhan”. Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian. al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people). Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial. ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya. manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga. Dengan ilmu. Jelas. yaitu: Pertama. Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata al-nas adalah kata massa. dalam penggunaannya. penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. 1979: 116-117) Dan. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam. (Shari’ati. secara kreatif. Sementara itu. Shari’ati mensimbolkan pembebasan insan dari empat kekuatan determinan tersebut dengan simbol keluarnya manusia (Adam) dari firdaus (paradise atau the Garden of Eden). Shari’ati memaknai “buah” tersebut sebagai simbol kesadaran (consciousness). 3. Menurut Shari’ati. manusia dilarang memakan “buah” oleh Tuhan. masyarakat dan sejarah. Saat di firdaus. Hingga tak aneh. menafsirkan simbolisasi ini dengan berpendapat bahwa “kehendak Tuhan” itu adalah empat kekuatan. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya. Sedangkan. tidak dilawan dengan ilmu. karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. penjara terakhir manusia. sejarah dan masyarakat. Sehingga. (Shari’ati. dan mengorbankan diri demi suatu citacita atau orang lain. bagi Shari’ati. Al-Nas : Massa Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam. memberontak. (Shari’ati. posisi unik al-nas ini disebabkan karena al-Qur’an dialamatkan secara khusus untuk alnas. Manusia memakan buah tersebut. para kapitalis dan agamawan bejat). manusia mencapai kualitas insan bila ia mampu melepaskan diri dari empat determinan. 1979: 17-18). Shari’ati. berpihak pada al-nas. Jadi. Mereka adalah yang dikuasai dan ditindas oleh kutub Qabil (penguasa politik. Al-nas merupakan penjelmaan esensi kutub positif (Habil) masyarakat (masyarakat yang tertindas). posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial. sejarah dan masyarakat. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak. Tapi. manusia adalah pemberontak yang melawan “kehendak Tuhan”. yang bentuk nyatanya adalah ilmu. empat rantai yang mengikat manusia. dari yang paling kecil sampai yang kolosal. Tiga sifat. kata al-nas bisa ditukar dengan kata Allah dan sebaliknya. barang dan alat. empat ikatan. yakni penjara ego (diri). Kedua. maka ia terbebas dari determinasi “kehendak Tuhan” tersebut. Menurutnya. 1982: 72-73) Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. secara singkat. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya.memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda. kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. Secara unik. dalam . al-nas sebagai kutub sosial. (Shari’ati. insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. Menurut Shari’ati. yaitu penjara alam. Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya. tapi dengan cinta.

lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari. Imam Al-Qalqasyandi mengatakan. Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan. berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir. bagi Shari’ati. Murtadha Muthahhari berpendapat.” Mempertanyakan diri kita adalah satu langkah dalam proses meng-insan-kan diri kita. Ia tidak otomatis menjadi “manusia”. Manusia itu mau menjadi “manusia” atau tidak. menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma).” pekik Battista Mondin. 2009 • • In: tErkiNi Comment! Pengertian Bahasa Khilafah Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa.terminologi sosiologi. Yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dari manusia yang lain adalah sejauhmana seseorang mengembangkan nilai kemanusiaannya. Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith. massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka. makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah.” Meister Eckhardt mengusulkan dengan pernyataannya. manusia “belum menjadi manusia” saat terlahir dari rahim ibunya. Manusia harus membuat dirinya menjadi “manusia”. yang mengembangkan sifat kemanusiaan manusia adalah iman dan amal shalih. I/251). 1991: 79) Inilah insan sejati itu. Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i Definisi Khilafah/Khalifah Posted by: saif1924 on: Mei 8. Manusia harus mengembangkan sifatsifat kemanusiaannya. al-nas adalah massa. bergantung kepada dirinya sendiri. Bagaimana supaya kita mampu mengenal apakah diri kita adalah basyar. tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu. Jadi. Jadi. yaitu kekuasaan umum atas seluruh . (Shari’ati.” barangsiapa hendak jelas dengan dirinya sendiri dan ingin bersuara lantang. dia harus memilki satu hal : kesepian batin. karena dia menggantikan penguasa sebelumnya. (Muthahhari. insan atau hanya sekedar al-nas? Rene Descartes menyarankan kita mulai untuk berfikir tentang “siapa Aku. khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. Menurut Imam Ath-Thabari. Massa adalah rakyat itu sendiri. 1979: 49) Akhir al-Kalam “Manusia adalah masalah puncak bagi manusia. 1984:390). I/199).

Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (AlBaghdadi. Sebenarnya banyak sekali definisi Khilafah yang telah dirumuskan oleh oleh para ulama. Maksudnya. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi. Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. 685 H/1286 M). Hanya saja. Kedua. seperti nikah). dalam perkembangan selanjutnya. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik. Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. menurut Imam Al-Baidhawi (w. Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazhhar ad-dini). menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan. Ketiga. para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). menurut Imam Al-Mawardi (w. yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham alhukm). walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam). al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga.umat. Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Berikut ini akan disebutkan beberapa saja definisi Khilafah yang telah dihimpun oleh Al-Khalidi (1980). 15). 1980:227). Dengan demikian. hal. Dr. Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. Wahbah Az-Zuhaili. dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi.225). hal. misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan). I/8-9). Ali Belhaj (1991). 450 H/1058 M). pemeliharaan hak milik umat. Khilafah adalah pengganti bagi Rasulullah SAW oleh seseorang dari beberapa orang dalam penegakan hukum-hukum syariah. Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia (Ghiyats Al-Umam. dan ibadah-ibadah mahdhah. Sulaiman Ath-Thamawi. bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. 1995:20). pelaksanaan urusan-urusan umat. 478 H/1085 M). IX/823). yang wajib diikuti oleh seluruh umat (Hasyiyah Syarah Al-Thawali’. Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah. 1980:226). 3). Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkam As-Sulthaniyah. As-Sulthat Ats-Tsalats. . yakni institusi yang menjalankan urusan agama. 245. Kemudian. hal. istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi. menurut Imam Al-Juwayni (w. hal. dan Al-Baghdadi (1995) : Pertama. yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Al-Fiqh AlIslami wa Adillatuhu.

hal. Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) dalam urusan-urusan dunia dan agama. Keenam. Kedelapan. menurut Ibnu Khaldun (w. 1177 H/1764 M). menurut Imam Ar-Ramli (w. 1176 H/1763 M). hal. 23). menurut Mustafa Shabri (w. Kelima. 32). Khilafah adalah otoritas (istihqaq) pengaturan umum atas kaum muslimin (Al-Musamirah fi Syarh Al-Musayirah. Lihat juga Rasyid Ridha. 1354 H/1935 M). pelaksanaan urusan-urusan umat. . hal. 861 H/1457 M). Khilafah adalah pengganti (niyabah) dari Nabi SAW dalam umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin (Tuhfah Al-Murid ‘Ala Jauhar At-Tauhid. 141). Al-Khilafah. hal. yang wajib ditaati oleh seluruh umat (Lihat Al-Iji. III/603. Khilafah adalah kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. 166 & 190). Ketujuh. Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) … untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmuilmu agama. melaksanakan jihad…melaksanakan peradilan (qadha`). menegakkan rukun-rukun Islam. 821 H/1418 M). 791 H/1389 M). serta pemikulan tugas-tugasnya (Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. menegakkan hudud… sebagai pengganti (niyabah) dari Nabi SAW (dikutip oleh Shadiq Hasan Khan dalam Iklil Al-Karamah fi Tibyan Maqashid Al-Imamah. Kesebelas. Al-Mawaqif. 756 H/1355 M). II/45). menurut At-Taftazani (w. seorang Syaikhul Islam pada masa Daulah Utsmaniyah. sebagai pengganti dari Nabi SAW dalam penegakan agama. Kesembilan. 10). Imamah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan dunia dan agama (I’adah AlKhilafah.Keempat. seorang Syaikh AlAzhar. Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia. I/8). menurut Al-Qalqasyandi (w. 1373 H/1953 M). dan lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama (I’adah Al-Khilafah. menurut ‘Adhuddin Al-Iji (w. hal. maupun duniawiyah yang kembali kepada kemaslahatan ukhrawiyah (Al-Muqaddimah. menurut Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. pemeliharaan hak milik umat. 1004 H/1596 M). IV/363). Keduabelas. 808 H/1406 M). VII/289). menurut Al-Kamal ibn Al-Humam (w. menurut Syaikh Al-Bajuri (w. Ketigabelas. Kesepuluh. hal. khalifah adalah al-imam al-a’zham (imam besar). yang berkedudukan sebagai pengganti kenabian. 33). menurut Syah Waliyullah Ad-Dahlawi (w. Khilafah adalah pengembanan seluruh [urusan umat] sesuai dengan kehendak pandangan syariah dalam kemaslahatan-kemaslahatan mereka baik ukhrawiyah. Khilafah adalah pengganti dari Nabi SAW dalam pelaksanaan apa yang dibawa Nabi SAW berupa hukum-hukum syariah Islam (Mawqif Al-Aql wa Al-‘Ilm wa Al-‘Alim. dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Nihayatul Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj.

Misalnya definisi Al-Iji. dan seterusnya. tetapi digunakan dalam disiplin . Meskipun Al-Iji menyatakan bahwa Khilafah mengatur urusan-urusan dunia dan urusan agama. dapat dilihat sebetulnya ada 3 (tiga) kategori definisi. Jadi. untuk menetapkan sebuah definisi. Sebab definisi Khilafah seharusnya menggunakan redaksi yang tepat yang bisa mencakup hakikat Khilafah dan keseluruhan fungsi Khilafah. apakah ia definisi syar’i (at-ta’rif asy-syar’i) atau definisi non-syar’i (at-ta’rif ghayr asy-syar’i) (Zallum. beliau menyatakan. Atau bahwa Khilafah mengatur “kemaslahatan-kemaslahatan duniawiyah dan ukhrawiyah”. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah mengatur “umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin”. Ketiga. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah bertugas menghidupkan ilmuilmu agama. Misalnya definisi Al-Qalqasyandi. Hasan Ibrahim Hasan. Selain itu. akan kita dapati bahwa secara global berbagai definisi tersebut lebih berupa deskripsi realitas Khilafah dalam dataran empirik (praktik) –misalnya adanya dikotomi wilayah “urusan dunia” dan “urusan agama”– daripada sebuah definisi yang bersifat syar’i. I/350). Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam dalam pelaksanaan urusan agama. Di sini Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam berupa pelaksanaan urusan politik atau sistem pemerintahan. melaksanakan jihad.Keempatbelas. definisi-definisi tersebut kurang mencakup (ghayru jaami’ah). definisi yang berusaha menggabungkan penampakan agama (al-mazh-har ad-dini) dan penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). definisi yang lebih menekankan pada penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). Definisi syar’i merupakan definisi yang digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Beliau hanya menyinggung Khilafah sebagai kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. menurut Dr. yang umumnya diungkapkan ulama dengan terminologi “urusan dunia” (umuur ad-dunya). 1985:51). menegakkan rukun-rukun Islam. definisi yang lebih menekankan pada penampakan agama (al-mazh-har ad-dini). melaksanakan peradilan (qadha`). Sedang definisi non-syar’i merupakan definisi yang tidak digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. tanpa mengkaitkannya dengan fungsi Khilafah untuk mengatur “urusan agama”. sepatutnya kita perlu memahami lebih dahulu. yang diturunkan dari nash-nash syar’i. Dengan menelaah seluruh definisi tersebut secara mendalam.”Khilafah lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama. yang sesungguhnya malah menyempitkan definisi.” Kedua. Misalnya definisi Khilafah menurut Imam AlMawardi yang disebutnya sebagai pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia. namun pada akhir kalimat. semisal definisi sholat dan zakat. menegakkan hudud. Bukankah ini ungkapan yang sangat luas jangkauannya? Sesungguhnya. bukan dengan redaksi yang lebih bersifat deskriptif dan lebih memberikan contoh-contoh. Bukankah definisi ini menjadi terlalu rinci yang malah dapat menyulitkan kita menangkap hakikat Khilafah? Juga bukan dengan redaksi yang terlalu umum yang cakupannya justru sangat luas. Analisis Definisi Dari keempatbelas definisi yang telah disebutkan di atas. yaitu : Pertama. Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan agama dan dunia sebagai pengganti dari Nabi SAW (Tarikh Al-Islam.

seluruh kaum muslimin di dunia hanya boleh dipimpin seorang khalifah saja. definisi syar’i sesungguhnya adalah hukum syar’i. madaniyah (benda sarana kehidupan). hal. zakat.” (Shahih Muslim. 1705. kebangkitan. 1-3). akan kita jumpai bahwa definisi Khilafah dapat dicari rujukannya pada 2 (dua) kelompok nash. misalnya definisi sholat. Imam Malik. misalnya hadits Nabi yang mengharamkan adanya lebih dari satu khalifah bagi kaum muslimin seperti telah disebut sebelumnya (Shahih Muslim no. Kelompok Kedua. yaitu : (1) tugas menerapkan seluruh hukum-hukum syariah Islam. IV/308). maka dasar perumusannya wajib bertolak dari nash-nash syara’ Al-Qur`an dan AsSunnah. “Jika dibaiat dua orang khalifah. XII/213. 1853). III/438-442. Jadi. nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al- . Sedang Imam Muslim dalam Shahihnya telah mengumpulkannya dalam Kitab Al-Imarah (Ali Belhaj. 1853). 1991:15). Sedang jika definisinya berupa definisi syar’i. menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani. maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. semisal definisi isim. Contoh lainnya misalkan definisi akal. no. masyarakat. Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya telah mengumpulkan hadits-hadits tentang Khilafah dalam Kitab Al-Ahkam. bukan dari realitas. maka dasar perumusannya bertolak dari realitas (alwaqi’). wajib merujuk pada nash-nash syar’i yang berkaitan dengannya. misalnya nash hadits. nash-nash yang menerangkan hakikat Khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia. bahwa untuk mendefinisikan Khilafah. Apakah definisi Khilafah (atau Imamah) merupakan definisi syar’i? Jawabannya. dan sebagainya Jika definisinya berupa definisi non-syar’i. Ini menunjukkan bahwa Khilafah adalah sebuah kepemimpinan (ri`asah/qiyadah/imarah).” (Shahih Muslim. Adapun yang menunjukkan bahwa Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum muslimin di dunia. 2928. yakni Imam Abu Hanifah. ya. no. ideologi (mabda`). yaitu : Kelompok Pertama. fi’il. yang wajib diistimbath dari nash-nash syar’i (AySyakhshiyyah Al-Islamiyah. jihad. haji.ilmu tertentu atau kalangan ilmuwan tertentu. dustur (UUD). Baik ia realitas empirik yang dapat diindera atau realitas berupa kosep-konsep yang dapat dijangkau faktanya dalam benak. Imam Asy-Syafi’i. Mengapa? Sebab. dan tentunya nash-nash Al-Qur`an. no. Jelaslah. hadharah (peradaban). dan harf (dalam ilmu Nahwu-Sharaf). rahimahumullah (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri. Sunan Abu Dawud. tak boleh lebih. telah menggunakan lafazh-lafazh “khalifah” dan “imam” yang masih satu akar kata dengan kata Khilafah/Imamah. dan semisalnya. Dan kesatuan Khilafah untuk seluruh kaum muslimin di dunia sesungguhnya telah disepakati oleh empat imam madzhab. qanun (UU). Sebab nashnash syar’i. Al-Ma’lumat li Asy-Syabab. Misalnya hadits Nabi.”Maka Imam yang [memimpin] atas manusia adalah [bagaikan} seorang penggembala dan dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya). III/342-343. khususnya hadits-hadits Nabi SAW. perumusan definisi syar’i. Sunan At-Tirmidzi. Ini berarti. Dengan menelaah nash-nash hadits tersebut. wajiblah kita memperhatikan berbagai nash-nash ini yang berkaitan dengan Khilafah. bukan dari nash-nash syara’. dan Imam Ahmad. (2) tugas mengemban dakwah Islam di luar tapal batas negara ke seluruh bangsa dan umat dengan jalan jihad fi sabilillah Nash kelompok pertama.

QS An-Nisaa`:58). Semuanya semata-mata karena ihsan Allah taala atas manusia dan semata-mata hasil ciptaan-Nya sajalah maka manusia dianugerahi bentuk sebagai wujud cuptaan sehingga terlahirlah ia sebagai hamba-Nya) Ingatlah. QS Muhammad:35). Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. dan semisalnya (QS Al-Anfaal:61. 1). Ada pun maksud yang mulia dari ibadah tiada lain adalah hendaknya kepada manusia diajarkan bahwa ia datang di dunia ini dengan tangan kosong. Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf AlA`immah. Menurut beliau juga. menjaga tapal batas negara (QS AlAnfaal:60). kemudian tangannya jadi terisi banyak. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia. Dalam pengertian inilah di dalam Alquran kata ‘abdun digunakan untuk manusia. Namun sekarang dia melakukan pemutusan hubungan dengan benda-benda duniwi tersebut bukan dengan paksaan atau dengan perantaraan maut. yakni dalam proses pembentukan dirinya ia tidak ada peran dan tidak pula untuk kelanggengannya ia mempunyai campur tangan dalam upayanya. perjanjian bertetangga baik. tugas khalifah mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. mengumpulkan dan membagikan zakat (QS At-Taubah:103). ia menjadi banyak hubungan ikatan dengan macam-macam barang. itulah arti ibadah. 9. istilah Khilafah dan Imamah dalam hadits-hadits shahih maknanya sama saja menurut pengertian syar’i (al-madlul asy-syar’i). Dan dikarenakan ia adalah “hamba” maka gambaran keadaannya adalah. Hal ini nampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu muslim (QS Al-Baqarah:188. sebab difinisi dari ‘abdun ialah yang tidak memiliki apa-apa. untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. Pada saat itulah. Walaupun itu tidak seluruhnya. misalnya mengadakan berbagai perjanjian perdagangan. 1398 H/1977 M) dalam kitab-kitabnya. Definisi inilah yang beliau tawarkan kepada seluruh kaum muslimin di dunia. wassalam Muhammad Sidik Aljaw Fariz Kata Ibadah sebenarnya dari kata ‘ibadah dan ‘ubudiyat (pengabdian). setelah itu diberikan kepemilikan sementara kepadanya. Juz II hal. Nash kelompok kedua. Jadi. agar mereka sudi kiranya untuk mengambilnya dan kemudian memperjuangkannya supaya menjadi realitas di muka bumi. adalah nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. hal. Hal ini nampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS Al-Baqarah:216). misalnya kitab Al-Khilafah (hal. perjanjian gencatan senjata. yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut : Pertama. 128. Berdasarkan dua kelompok nash inilah. Dan yang demikian itu. memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri. ‘Abdun artinya adalah dia yang segala sesuatu bukan lagi menjadi miliknya. dan kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyah. orang-orang beriman akan merasa gembira dengan datangnya pertolongan Allah. melainkan ia dengan sendirinya mendatangkan maut atas dirinya lalu ia mempersembahkannya kepada Allah taala. dapat dirumuskan definisi Khilafah secara lebih mendalam dan lebih tepat. tidaklah sulit bagi Allah Azza wa Jalla. sebagian pun sudah . menggantikan sistem kehidupan sekuler yang kufur saat ini. dan seterusnya.Arba’ah. 208). menjamin masyarakat dapat menegakkan syiarsyiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS Al-Hajj:32). V/308. sungguh. Kedua. “jangan mengambil apa-apa di rumah”. menegakkan hudud (QS AlBaqarah:179). menjaga akhlaq (QS Al-Isra`:32). ia memperoleh banyak barang-barang. Begitu pula kata ‘abdun terkandung di dalamnya yang artinya adalah ghulam (hamba). bahwa ia tidak mempunyai apa-apa yang menjadi milik dirinya. Kemudian kepadanya dituntut untuk meninggalkan “miliknya” tersebut dengan senang hati. Muhammad ibn Abdurrahman Ad-Dimasyqi. kitab Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal.

hubungannya dengan dunia sudah terputus dan menjadi dingin. Jalinlah perhubungan dengannya itu menjadi sangat khusus. Di dalam ubudiyat seberapa jauh sikap dan persembahan dari si hamba semuanya itu tercakup dalam kata itu. memakan sesuatu. ambillah untuk sementara waktu saja. Al-Ins/al-Insan Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak lawan dari binatang liar. An-Nas Dalam al-Qur’an manusia dalam pengertian an-nas disebutkan sebanyak 240 kali dengan keterangan yang jelas menunjukan pada jenis keturunan Nabi Adam as. Manusia yang berbeda antara satu dengan yang lainya akibat perbedaan fisik. Duriyat Adam/Bani Adam . yasin: 15. dan tampak. http://d3ndri. Kata insan. Dengan demikian istilah basyar merupakan gambaran manusia secara materi yang dapat dilihat. Diantaranya terdapat dalam surat al-Abiya’: 2-3. Jadi itulah perbedaan ibadah dengan ubudiyat. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. 2. alkahfi: 110. intelektual dan juga spiritual. jin adalah makhluk halus yang tidak tampak. “sehingga iradah (keinginan) kita bergabung serta menyatu dalam pengabdian kita”. dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. hud: 26. sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah. Kitab suci al-Qur’an – seperti yang ditulis Bint as-Syathi’ dalam al-qur’an wa Qadhaya al-Insan – sering kali memperhadapkan insane dengan jin/jan. sedangkan ibadah seorang hamba tuhan adalah perhubungan yang melepaskan segala yang menjadi miliknya dan semua itu diserahkn kepada Allah taala dengan dada yang lapang. Ibrahim: 10.mencukupi.wordpress. segalanya sudah diserahkan kembali kepada Allah taala dan Dia dijadikan sebagai pusat segala dambaan. harmonis. mental. jika ditinjau dari sudut pandang alQur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (lupa). berjalan. Manusia dalam pengertian ini disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak 35 kali dalam berbagai surat. Al-Isra: 93 dan lain-lain. 3. as-Syu’ara’: 93. Itulah yang dinamakan ibadah. al-Mukminun: 24 dan 33. Manusia dinamai basyar karena kulitnya nampak jelas. Pendapat ini. atau nasa-yanusu (berguncang).com/2010/06/12/manusia-basyar-insan-dan-al-nas/ 1. Kalaupun tidak untuk masa yang panjang. digunakan al-qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. 4. Basyar Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. dan berbeda dengan kulit makhluk yang lain. jiwa dan raga. Diantaranya terdapat dalam surat al-hujurat: 13. Dalam ayat-ayat tersebut terlihat bahwa manusia dalam arti basyar adalah manusia dengan sifat-sifat kematerianya.

38: 71) )75 :‫)ص‬ ّ (‫)قال يا إبليس ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي أستكبرت أم كنت من العالين‬ َ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ُ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ّ َ َ ِ ُ ْ ََ َ ِ َ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ُ ِْ ِ َ َ َ Allah berfirman: “Hai iblis.blogdetik. apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang Telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini Apakah anda menyukai tulisan ini ? http://ummgl.Al-Qur’an tidak menguraikan secara rinci proses kejadian Adam. Shad. Penciptaan manusia secara umum. (QS Shad.com/2010/05/06/4-istilah-tentang-manusia-dalam-al-quran/ . Keterlibatan bapak dan ibu mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak. yang oleh mayoritas ulama dinamai manusia pertama. (QS Shad.(QS. (3) setelah proses penyempurnaannya selesai. 15: 28-29. melalui proses keterlibatan Tuhan bersama selain-Nya. )4:‫)لقد خلقنا النسان في أحسن تقويم( )التين‬ ٍ ِ ْ َ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ِْ َ ْ ََ ْ َ َ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . yaitu bapak dan ibu. 38: 75). apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Al-Qur’an menunjuk kepada sang pencipta dengan menggunkan pengganti nama berbentuk tunggal: )71:‫)إذ قال ربك للملئكة إني خال ٌ بشرا من طين( )ص‬ ّ ٍ ِ ْ ِ ً َ َ ‫ِ ْ َ َ َ ّ َ ِ ْ َ ِ َ ِ ِ ّ َ ِق‬ (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. ditiupkan kepadanya ruh ilahi [QS Al-Hijr. tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak. 38: 71-72]. Yang disampaikanya dalam konteks ini hanya (1) bahan awal manusia adalah tanah. AtTin: 4). Hal ini untuk menunjukan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan kejadian Adam AS. Tetapi ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum. sedangkan dalam penciptaan Adam. Yang Maha Pencipta ditunjuk dengan menggunkan bentuk jamak. Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama. Hal ini dapat dilihat dalam QS at-Tin: 4. (2) bahan tersebut adalah disempurnakan.

mental. 1992 : 22]. Karena itu Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan bahwa "Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu [QS. anasi. dan kecerdasan [M. insan. Kata basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk baik laki-laki ataupun perempuan. Untuk itu. Al-Qur'an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna [dual] untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. yang lahir dari adanya kesadaran penalaran [Musa Asy'arie. sopan santun. 1996 : 20) karena manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungannya. jika seseorang lupa sesuatu kewajiban yang seharusnya dilakukannya. abdun dan khalifah Dalam al-Qur'an. Kata insan jika dilihat dari asalnya nasiya yang artinya lupa. baik perubahan sosial maupun alamiah.Quraish Shihab. Manusia menghargai tata aturan etik. 10 April 2010 Konsep manusia sebagai basyar. Di sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menggunakan .Sabtu. Kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang berarti kulit. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain adalah akibat perbedaan fisik. Kata insan digunakan al-Qur'an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. Maka dalam kehidupan agama. insiya. dan sebagai makhluk yang berbudaya. Sedangkan untuk jamaaknya dipakai kata an-nas. "Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas. Adapun kata basyar dipakai untuk tunggal dan jamak. Manusia mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup tinggi. untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Sedangkan kata insan untuk penyebutan manusia yang terambil dari akar kata al-uns atau anisa yang berarti jinak dan harmonis. yaitu kata insan. nasiya dan anasa. baik satu ataupun banyak. sama seperti ins. 1996 : 280]. al-Kahf (18): 110]. Tetapi hal ini berbeda dengan seseorang yang sengaja lupa terhadap sesuatu kewajiban. maka ia tidak berdosa. disebabkan karena kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut. maka dapatlah dikatakan bahwa kata insan menunjuk suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap. (Musa Asy'arie. Kata insan yang berasal dari kata al-uns. dan berbeda dengan kulit binatang yang lain". Kata insan dalam al-Qur'an dipakai untuk manusia yang tunggal. unasi. kata basyar dan kata Bani Adam. ada tiga kata yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia. anisa. menunjuk adanya kaitan dengan kesadaran diri. jiwa dan raga. ia tidak liar baik secara sosial maupun alamiah. apabila manusia lupa terhadap seseuatu hal. karena ia kehilangan kesadaran terhadap kewajiban itu.

Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan.1996 : 279].Quraish Shihab.kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar.Quraish Shihab. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikanNya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain [Q. yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. kesadaran. Ke dalam naluri manusia.. mengatakan manusia menurut pandangan Islam meliputi : [1] Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan. Penggunaan kata basyar di sini "dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia.al-Isro: 70 dan al-Hajj : 65].S.82:7]. dan sikap hidupnya.al-Rum (3) : 20] "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya [Allah] menciptakan kamu dari tanah. Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezki [M. sedangkan basyar dipakai untuk menunjukkan pada dimensi alamiahnya. Insan dipakai untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran. Abdurrahman An-Nahlawi [1995]. yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab. melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan. artinya Islam tidak memposisikan manusia dalam kehinaan. yang keduanya mengandung pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang manusia [M. Salah satu anugrah Allah yang diberikan kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dan kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan. Untuk itu. manusia merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psihis yang memiliki potensi untuk berkembang. minum dan mati. AlQur'an berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar [perhatikan QS al-Hijr (15) : 28].S. penalaran. Allah sendirilah yang menciptakan manusia yang proporsional [adil] susunannya [Q. yang menggunakan kata basyar. ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran".1996 : 280]. bumi dan bahkan para malaikat. pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga. dan QS. mengatakan bahwa manusia dalam pengertian basyar tergantung sepenuhnya pada alam. Dari pengertian insan dan basyar. [2] Manusia sebagai makhluk istimewa dan terpili. Dan karena itupula. makan. pendidikan. Firman allah [QS. al-Baqarah (2) : 30 yang menggunakan kata khalifah. Musa Asy'arie [1996 : 21]. benda mati atau makhluk lainnya [QS. kerendahan atau tidak berharga seperti binatang.95 :4]. Allah menanamkan kesiapan dan kehendak untuk melakukan kebaikan atau keburukan sehingga manusia mampu memilih jalan yang menjerumuskannya pada . pemakaian kedua kata insan dan basyar untuk menyebut manusia mempunyai pengertian yang berbeda.

Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan. Pernyataan ini ditegaskan dalam firman Allah QS.as-Syam: 7-10]. maka manusia bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan dan binatang buas sekalipun . Tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan psikis mereka. al-Ahzab : 72 : "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit. Selanjutnya dalam firman Allah : QS. pendengaran dan hati. Selain itu. manusia harus berupaya menyucikan. dan lain-lain pertanyaan Allah kepada manusia yang menunjukkan manusia mempunyai potensi untuk belajar.kebinasaan. serta karunia keunggulan atas alam semesta. Allah selalu bertanya kepada manusia dalan firman-Nya "afala ta'kilun". [3] Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik. kesalahan manusia dalam mempersepsi dirinya. bumi dan gununggunung. Dengan jelas Allah menyebutkan bahwa dalam hidupnya. Manusia tidak mampu memikul amanah yang diberikan Allah kepadanya. potensi telinga. kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan selalu mengingat-Nya [Rif'at Syauqi Nawawi.S. dan dipukullah amanat itu oleh manusia. Selain itu al-Qur'an juga mengingat manusia yang tidak menggunakan potensi hati. terpercaya. Allah telah menganugrahi manusia sarana untuk belajar. “afala tata fakkarun". tidak mau memahami atau tidak mencoba untuk memahami tujuan hidup jangka panjang sebagai makhluk yang diberi dan bersedia menerima amanah. untuk melihat dan mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah. al-Qur'an juga menyebutkan sifat-sifat kelemahan dari manusia. Manusia dicela karena kebanyakan dari mereka tidak mau melihat kebelakang (al'aqiba). lagit dan bumi. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh". dan kebodohan manusia dalam memanfaatkan potensi fitrahnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Dengan kelengkapan sarana belajar tersebut. bebas. Manusia dipusakai dengan kecenderungan jiwa ke arah kebaikan maupun kejahatan. seperti penglihatan. mengembangkan dan meninggalkan diri agar manusia terangkat dalam keutamaan [Q. at-Tiin (95) : 5-6 : "Kemudian Kami [Allah] kembalikan dia [manusia] ke kondisi paling rendah". 2000 : 11]. yang di dalam dirinya ditanamkan sifat-sifat : mengakui Tuhan.derajat manusia direndahkan Firman Allah QS. sebagai khalifahNya di muka bumi. Kemaujudan mereka dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan. dalam surat al-Alaq : 3 dan 5. manusia dinyatakan luar biasa keji dan bodoh. kecuali mereka yang beriman kepada Allah dan beramal saleh". Manusia banyak dicela. yang kemudian bergerak ke arah kekuatan. rasa tanggungjawab terhadap dirinya maupun alam semesta. serta sebagai makhluk semi-samawi dan semi duniawi. Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan untuk belajar. Qur'an mencela manusia disebabkan kelalaian manusia akan kemanusiaannya. potensi mata. maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatirkan menghianatinya. al-A'raf : 179 sebagai berikut : "Sesungguhnya Kami Jadikan untuk [isi neraka Jahanam] kebanyakan dari jin dan .

dan melakukan aktivitas amal saleh. Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. mampu menggunakan potensi yang dimilikinya dengan baik. karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. bahkan mereka lebih sesat lagi. kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan manusia hakekat manusia. Mereka itu sebagai binatang ternak. (Musa Asy’ari. dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya. Filsafat Islam. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. A. dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). ada yang mengatakan masnusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Mereka itulah orang-orang yang lalai". Pendahuluan Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya. 1999) Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perfektif. Untuk itu. mereka mempunyai hati. manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling canggih. tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayatayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyatakan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia . menguasai ilmu pengetahuan. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki. maka manusia akan menjadi makhluk yang paling mulia dan makhluk yang berkualitas di muka bumi ini seseuai dengan rekayasa fitrahnya. yaitu mengaktualisasikan potensi iman kepada Allah.manusia.

Pemikiran Karl Marx. Dipihak yang lain ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhan. (K. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Manusia dalam bekerja secara bebas dan universal. Bertens. sedangkan manusia berproduksi secara universal bebas dari kebutuhan fisik. Permaianan dalam sejarahnya juga digunakan untu memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci. 2005) Marx menunjukan perbedaan antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya. binatang langsung menyatu dengan kegiatan hidupnya. Sedangkan manusia membuat kerja hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya. manusia berproduksi mnurut berbagai jenis dan ukuran dengan objek yang inheren. Antropologi adalah merupakan salah satu dari cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakekat manusia dan sepanjang sejarahnya manusia selalu . 1999). Manusai juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Panorama Filsafat Modern. Oleh sebab itu menurut Marx manusia hnya terbuka pada nilai-nilai estetik dan hakekat perbedaan manusia dengan binatang adalah menunjukan hakekat bebas dan universal. universal dikarenakan ia dapat memakai beberapa cara untuk tujuan yang sama. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”. Manusia dalam bermaian memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja. ia baru produksi dari yang sesungguhnya dalam kebebasan dari kebutuhannya. bebas I dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung. Manusia berhadapan bebas dari produknya dan binatang berproduksi menurut ukuran dan kebutuhan jenis produksinya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens. dikarenakan manusia berproduksi menurut hukum-hukum keindahan.menafsirkan simbol-simbol tersebut.(Franz Magnis Suseno. Binatang berproduksi hanya apa yang ia butuhkan secara langsung bagi dirinya danketurunnya.

yakni materi dalam pandangan materialisme. atau dualisme yang memiliki pandangan yang menetapkan adanya dua unsur pokok sekaligus yang keduanya tidak saling menafikan nyaitu materi dan rohani. apakah ia sedang sendirian. Karya dan Pemikirannya. sekarang berhubungan masa lalu dan berhubungan dengan masa depan. 2002). dan hidup dalam masa kini yang kekal.mempertanyakan tentang dirinya. meskipun dalam subtansinya tidak berubah. yang menunjukan disini berhubungan disana. Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya. Tindakan dan kesadaran manusia bersifat historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal. yang menccari unsur pokok yang menentujkan yang bersifat tunggal. Filsafat Islam. Manusi dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas. ataukah ia sedang dalam dinamika masyarakat dengan mempertanyakan tentang makna hidupnya ditengan dinamika perubahan yang kompleks. yang hanya berada dalam dunia. manusia menciptakan sejarah juga sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah. Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya . Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah. kan tetapi bukan berarti bahwea ia tidak dapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan . ataukah mono pluralism yang meletakkan hakekat pada kesatuannya semua unsur yang membentuknya. Dalam jawaban tentang manusia tidak pernah akan selesai dan dianggap tidak pernah sampai final dikarenakan realitas dalam keling manusia selalu baru.(Musa Asy’ari. keterarahan. atau unsur rohani dalam pandangan spritualisme. 1999) Manusia menurut Paulo Freire mnusia merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. seperti dalam pandangan monoteisme. nyakni pandangan pluralisme yang menetapkan pandangan pada adanya berbagai unsur pokok yang pada dasarnya mencerminkan unsur yang ada dalam marco kosmos atau pandangan mono dualis yang menetapkan manusia pada kesatuannya dua unsur. Paulo Freire Kehidupan. dan apakah makna keberadaannya ditengah kompleksitas perubahan itu? Pertanyaan tentang hakekat manusia merupkan pertanyaan kuno seumur keberadaan manusia dimuka bumi. temporaritas dan trasendensi) yang menjadikan mahluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk meyampaikan hubungan dengan dunia. yang mempunyai kontak tidak kritis dengan dunia. (Denis Collin. yang kemudian menjadi perenungan tentang kegelisahan dirinya.

(Ali Syariati. Paradigma Kaum Tertindas. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. (Musa Asy’ari. Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. empirisme dan rasionalisme. akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat. 2001). Tujuan tersebut . Filsafat Islam. hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada. Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. 1999) B. terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi.eksistensinya dalam kehidupan dunia ini mencapai kedewasaan dan semua kenyataan itu. dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. Hakekat manusia Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. kedudukan. Ego yang bebas. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti.

Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik. sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. kekinian dan dinamik. (Siti Murtiningsih. (Donny Grahal Adian. sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. keakuan. seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol.tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis. diri. Filsafat Islam. 1999) Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal. dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia. karya dan perbuatannya. 2001) Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui. 2004) Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri. Ruh Tuhan + Lempung Busuk Manusia . Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. (Musa Asy’ari. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya. Matinya Metafisika Barat. dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Pendidikan sebagai Alat Perlawanan.

Seperti yang telah dikekmukakan oleh ‘Ali Syariati bahwa esensi manusia merupakan dialektika antara ruh Tuhan dengan lempung dari dialektika tersebut menjadikan manusia ada dalam mengada. Esensi dan eksistensi bersifat berjalan secara bersamaan dan dalam perjalananya dalam diri manusia ada yang mendahulukan esensi dan juga eksistensi. realitas alam dan Tuhan. Proses mengadanya manusia merupakan refleksi kritis terhadap manusia dan realitas sekitar. Paradigma Kaum Tertindas. Esensi dan eksistensi manusia ini yang menjadikan manusia ada dalam muka bumi. Gabungan tersebut menjadikan mansuia bersifat dialektis. Manusia yang menjalankan esensi menjadikan ia bersifat tidak bergerak dan menunjau lebih dalam saja tanpa melakukan aktualisasi. Dalam filsafat pembagian dalam melihat sesuatu materi yang terbagi menjadi dua macam esensi dan eksistensi. Secara aktual manusia tidak diciptakan dari lempung busuk (huma’in masnun) ataupun ruh Tuhan.Ruh Tuhan dan lempung busuk merupakan dua simbol individu. Karena kedua istilah itu harus dikasih makna simbolis. Begitu pula manusia yang menjalankan eksistensi tanpa melihat esensi maka yang terjadi ia hanya ada tetapi tidak dapat mengada. Manusia adalah suatu kehendak bebas dan bertanggungjawab menempati suatu stasiun antara dua kutub yang berlawanan yakni Allah dan Syaitan. Dari dialektika tersebut menjadikan manusia berkehendak bebas mampu menentukan nasibnya sendiri dan bertanggung jawab. Refleksi tersebut menjadikan manusia dapat memahami diri sendiri. Manusia dalam hadir dalam dunia merupakan bagian yang berada dalam diri manusia esensi dan eksistensi. 2001) Manusia merupakan mahluk yang unik yang menjadi salah satu kajian filsafat.(‘Ali Syariati. Pernyataan al Quran manusia merupakan gabungan ruh Tuhan dan lempung busuk. Manusia yang memahami tentang dirinya sendiri ma ia akan . Ruh Tuhan merupakan simbol dari gerak tanpa henti kearah kesempurnaan dan kemuliaan yang tak terbatas. Sebagaimana perkataan bijak yang dilontarkan oleh socrates bahwa hidup yang tak direfleksikan tak pantas untuk dijalanani. bahkan dengan mengkaji manusia yang merupakan mikro kosmos. “Lempung busuk” merupakan simbol kerendahan stagnasi dan pasifitas mutlak. Manusia yang ideal menurut ‘Ali Syariati adalah manusia yang telah mendialektikakan ruh tuhan dengan lempung dan yang dominant dalam dirinya adalah ruh Tuhan. Begitu pula manusia dilihat sebagai materi yang memiliki dua macam bagian esensi dan eksistensi. Hal ini yang menjadikan manusia sebagai realitas dialektis.

spiritual. tidak menjadi budak orang lain. hal tersebut menjadikan diri manusia menjadi insan kamil atau manusia sempurna. bilogis. . annas.Estetika ardli ketertiban. Manusia menjadikan ia yang bertanggungjawab pada eksistensinya yang berbagai macam dimensi tersebut. Hal tersebut menjadikan manusia yang memiliki sifat dan karaktersistik profetik. Sifat dari manusia tersebut adalah mahluk yang bebas berkreatif dan mahluk bersejarah dengan diliputi oleh nilai-nilai trasendensi yang selalu menuju kesempurnaan. Proses pemahaman diri dengan pencipta menjadikan manusia berproses menuju kesempurnaan yang berada dalam diri manusia. Proses pemahaman diri dengan refleksi kristis diri. Manusia dalam eksistensinya sebagai al insan. Manusia dalam eksistensi tersebut dikarenakan potensi yang berada dalam diri manusia seperti intelektual. kedamaian. dan khalifah.memahami Penciptanya. Manusia yang bereksistensi dalam kelima tersebut menjadikan ia sebagai mahluk pengganti Tuhan dan menjalankan tugas Tuhan dalam memakmurkan bumi. agama dan realitas. Bagan Esensi dan Eksistensi Manusia No Eksistensi Esensi KesadaranBasic HumanKebutuhan manusia Fitrah (Basic HumanValues (BasicDasar (Basic Drives) Islamic Human Needs) Values) 1 2 3 Al Insan Al Basyar Abdullah Rasa ingin tahu Rasa lapar. kemakmuran. ‘abdullah. haus. sosial dan estetika. Pembebasan yang dilakukan oleh manusia adalah pembebasan manusia dari korban penindasan sosialnya dan pembebasan dari alienasi antara eksistensi dan esensinya sehingga manusia menjadi diri sendiri. dingin Intelektual Biologis Intelektual Biologis Spiritual Sara ingin berterimakasihSpiritual dan bersykur kepada tuhan Rasa tahan sendiri danSosial menderita dalam kesepian 4 An-Nas Sosial 5 Khalifah filButuh keamanan. keadilan dan keindahan lingkungan Manusia yang melakukan refleksi menyadari Estetika bahwa ia mahluk yang berdimensional dan bersifat unik. al basyar.

Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta dalam bentuk imateri sedangkan unsur mteri yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia. Tetapi sebelum membahas tentang peran dan kedudukan. jiwa. ekologi. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuha dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi. pengulangan kembali tentang esensi dan eksistensi manusia. dimana harus menjaga agama. an-nas. yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. al insan. harta. D. al basyar dan khalifah. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dala rangka memakmurkan bumi. Kedudukan dan peran manusia Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. keturunan. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum. . akal dan. Tujuan hidup manusia Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya. Manusia yang memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah.C.

memahami cinta pada Pencita itu dimanifestasikan cinta tersebut untuk sesama manusia dan alam. Pertemuan nafs manusia dengan nafs Tuhan merupakan perjumpaan dinamis yang sarat muatan kreatifitas dalam dimensi spiritualitas yang bercahaya. Proses penebaran cinta tersebut menjadikan manusia dapat bermanfaat pada yang lain menjadika diri sebagai cerminan Tuhan dalam muka bumi.com/2010/04/konsep-manusia-sebagai-basyarinsan. Kerjasama kreatifitas Tuhan dengan manusia dan melalui keratifitasnya manusia menaiki tangga mi’raj memasuki cahayaNya yang merupakan cahaya kreatifitas abadi. Filsafat Islam.Perjumpaan manusi dengan Tuhan dalam tahapan nafs. Perjumpaan nafs tersebut dapat dilihat pada sufi yang memenculkan berbagai macam ekspresi dalam perjumpaannya. dan kembalinya nafs manusia melalui ketauhidan antara iman dan amal sholeh. Yazid al Bustami Rabiah al Adawiyah dan yang lain mereka memiliki ekspreasi dan kelakuan yang berbeda ketika meresakan berteumnya dengan Pencipta. lantas tak memperdulikan dengan yang lain dengan menyatu terus dengan pencipta. Tetapi dari sini manusai mendaki tangga mi’raj menuju nafs Tuhan dengan cinta dan karena cinta pula terbentuknya alam serta manusia. Tetapi manusia setalah menyatu. Nafs yang dimiliki oleh manusia merupakan nafs yang terbatas akan kembali bersama nafs yang mutlak dan tak terbatas.blogspot. Pencitraan Tuhan dalam diri manusia menjadikan ia sebagai insan kamil dan dalam ajaran agama dapat menjadi rahmat bagi yang lain baik sesama manusia ataupun alam. (Musa Asy’ari. Setelah menyatunya manusia dalam dimensi spiritual dengan Pencipta.html . http://simplelove01diaz. yang spiritual dikarenakan nafs spiritual yang sangat indah dan Tuhan akan memanggilnya kembali nafs tersebut bersamanya. Sebagaimana yang terjadi pada al Halaj. 1999) Proses bertemunya nafs manusia dengan Tuhan dalam kondisi spiritual tercapai jika manusai berusaha membersihkan diri dari sifat yang buruk yang ada padanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful