P. 1
Manusia Dan Basyar

Manusia Dan Basyar

|Views: 67|Likes:
Published by Lestari Atun

More info:

Published by: Lestari Atun on May 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2016

pdf

text

original

Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas

Hanya orang-orang yang mampu membuat dirinya sebagai manusia saja yang akan dibangkitkan dalam rupa manusia Imam Khomeini Iftitah: apakah aku adalah “manusia” ? Pernahkah kita bertanya “Apakah saya adalah `manusia` ?” Pertanyaan ini aneh dan janggal. Namun, persis jawaban dari pertanyaan inilah yang kerap keliru. Akal sehat (common-sense) manusia sudah terlanjur menganggap bahwa seseorang menjadi “manusia” disebabkan oleh bentuk fisik-biologisnya. Pertanyaan yang muncul “apakah manusia fisik-biologis tersebut adalah manusia dalam arti yang sebenarnya (hakiki)?” Ternyata, mengutip pemikiran Ali Shari’ati, ada tiga kategori manusia, yakni basyar, insan dan alnas. Kategori basyar dan insan terkait dengan kualitas manusia. Karakteristik yang membedakan dua kategori manusia ini adalah kemampuan untuk melepaskan dari dari empat penjara manusia, yakni penjara alam, sejarah, masyarakat dan diri. Sedangkan kategori al-nas, secara sederhana, berarti manusia secara umum, rakyat atau massa. Tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. Penjelasan di bawah ini banyak mengutip pemikiran Ali Shari’ati. Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas 1. Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being) Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being). Artinya, manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisisbiologis. Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam) Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah. Shari’ati menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya. Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja. Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh. Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Shari’ati menilai bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan,

pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu. Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. (Shari’ati, 1982: 6768) Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara natural-instingtualnya. 2. Insan : Manusia Menjadi (Becoming) Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. (Shari’ati, 1982: 62) Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being), maka insan berbeda. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. Shari’ati memberi contoh: Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah. (Shari’ati, 1982: 64) Dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 menjelaskan tentang azas yang menunjuk pada evolusi tanpa henti manusia ke arah Yang Tanpa Batas. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Bagi Shari’ati, kata ilaihi berarti kepada-Nya, bukan di dalam-Nya. Menurut Shari’ati, inilah gagasan pokok tentang “menjadi”, yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal. Tuhan bukanlah titik beku dimana sesuatu mengarah. Tuhan adalah Yang Tanpa Batas, Yang Maha Abadi, dan Yang Maha Mutlak. Oleh karena itu, bergeraknya manusia ke arah-Nya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Inilah yang dimaksud Shari’ati sebagai manusia dalam keadaannya yang menjadi. (Shari’ati, 1982: 68-69). Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. (Shari’ati, 1982: 69) Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan pengalaman tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71) Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam. Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya. Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi kreatif insan

manusia dilarang memakan “buah” oleh Tuhan. dalam penggunaannya. Allah. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak. manusia mencapai kualitas insan bila ia mampu melepaskan diri dari empat determinan. kata al-nas bisa ditukar dengan kata Allah dan sebaliknya. 3. empat rantai yang mengikat manusia. Kedua. masyarakat dan sejarah. (Shari’ati. Al-Nas : Massa Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). penjara terakhir manusia. Al-nas merupakan penjelmaan esensi kutub positif (Habil) masyarakat (masyarakat yang tertindas). 1982: 99) Jadi. tidak dilawan dengan ilmu. Shari’ati memaknai “buah” tersebut sebagai simbol kesadaran (consciousness). secara kreatif. Shari’ati. Menurutnya. Jelas. Jadi. dari yang paling kecil sampai yang kolosal. 1979: 17-18). Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial. para kapitalis dan agamawan bejat). 1982: 72-73) Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. empat ikatan. al-nas sebagai kutub sosial. Saat di firdaus. maka ia terbebas dari determinasi “kehendak Tuhan” tersebut. Dengan ilmu. Mereka adalah yang dikuasai dan ditindas oleh kutub Qabil (penguasa politik. manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga. Sedangkan. secara singkat. Manusia memakan buah tersebut. dan mengorbankan diri demi suatu citacita atau orang lain. Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian. penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. Secara unik. 1979: 116-117) Dan. yaitu penjara alam. Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. berpihak pada al-nas. Tiga sifat. barang dan alat. posisi unik al-nas ini disebabkan karena al-Qur’an dialamatkan secara khusus untuk alnas. karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. sejarah dan masyarakat.memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda. Hingga tak aneh. adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia. memberontak. manusia adalah pemberontak yang melawan “kehendak Tuhan”. yang disimbolisasikan sebagai “kehendak Tuhan”. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. Menurut Shari’ati. Tapi. Sementara itu. al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people). Ketika seseorang mencapai kesadarannya (memakan buah). Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya. Sehingga. sejarah dan masyarakat. yaitu: Pertama. Menurut Shari’ati. dalam . insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam. Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya. insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial. bagi Shari’ati. (Shari’ati. (Shari’ati. yang bentuk nyatanya adalah ilmu. tapi dengan cinta. yakni penjara ego (diri). menafsirkan simbolisasi ini dengan berpendapat bahwa “kehendak Tuhan” itu adalah empat kekuatan. Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata al-nas adalah kata massa. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam. Shari’ati mensimbolkan pembebasan insan dari empat kekuatan determinan tersebut dengan simbol keluarnya manusia (Adam) dari firdaus (paradise atau the Garden of Eden). kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya. (Shari’ati.

(Muthahhari. berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir.terminologi sosiologi. dia harus memilki satu hal : kesepian batin.” barangsiapa hendak jelas dengan dirinya sendiri dan ingin bersuara lantang. Murtadha Muthahhari berpendapat. Manusia itu mau menjadi “manusia” atau tidak. 1979: 49) Akhir al-Kalam “Manusia adalah masalah puncak bagi manusia. Manusia harus membuat dirinya menjadi “manusia”. Jadi.” Mempertanyakan diri kita adalah satu langkah dalam proses meng-insan-kan diri kita. Manusia harus mengembangkan sifatsifat kemanusiaannya. Bagaimana supaya kita mampu mengenal apakah diri kita adalah basyar. yang mengembangkan sifat kemanusiaan manusia adalah iman dan amal shalih. manusia “belum menjadi manusia” saat terlahir dari rahim ibunya. Imam Al-Qalqasyandi mengatakan. Menurut Imam Ath-Thabari. 2009 • • In: tErkiNi Comment! Pengertian Bahasa Khilafah Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa. menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma). Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan.” Meister Eckhardt mengusulkan dengan pernyataannya. (Shari’ati. Jadi. I/199). Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith. Massa adalah rakyat itu sendiri. 1984:390). Yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dari manusia yang lain adalah sejauhmana seseorang mengembangkan nilai kemanusiaannya. bergantung kepada dirinya sendiri. yaitu kekuasaan umum atas seluruh . lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari. 1991: 79) Inilah insan sejati itu. insan atau hanya sekedar al-nas? Rene Descartes menyarankan kita mulai untuk berfikir tentang “siapa Aku. al-nas adalah massa. Ia tidak otomatis menjadi “manusia”. I/251). tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu. bagi Shari’ati. karena dia menggantikan penguasa sebelumnya. massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka. khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya.” pekik Battista Mondin. makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah. Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i Definisi Khilafah/Khalifah Posted by: saif1924 on: Mei 8.

Sebenarnya banyak sekali definisi Khilafah yang telah dirumuskan oleh oleh para ulama. pelaksanaan urusan-urusan umat. al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga. dan Al-Baghdadi (1995) : Pertama. As-Sulthat Ats-Tsalats. I/8-9). Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham alhukm). Maksudnya. Wahbah Az-Zuhaili. Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazhhar ad-dini). hal. Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah. para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah). yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. Ketiga. Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. hal. Ali Belhaj (1991). Dr. hal. seperti nikah). Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia (Ghiyats Al-Umam. yakni institusi yang menjalankan urusan agama. 685 H/1286 M). Sulaiman Ath-Thamawi. 1980:227). misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan). Khilafah adalah pengganti bagi Rasulullah SAW oleh seseorang dari beberapa orang dalam penegakan hukum-hukum syariah. menurut Imam Al-Baidhawi (w. Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (AlBaghdadi. istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi. 15). Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”.225). 450 H/1058 M). Hanya saja. hal. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi. IX/823). menurut Imam Al-Mawardi (w.umat. yang wajib diikuti oleh seluruh umat (Hasyiyah Syarah Al-Thawali’. . bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. 1995:20). Dengan demikian. 478 H/1085 M). menurut Imam Al-Juwayni (w. Kemudian. pemeliharaan hak milik umat. Kedua. 245. dan ibadah-ibadah mahdhah. Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkam As-Sulthaniyah. walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam). Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. 3). Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi. Al-Fiqh AlIslami wa Adillatuhu. Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). dalam perkembangan selanjutnya. Berikut ini akan disebutkan beberapa saja definisi Khilafah yang telah dihimpun oleh Al-Khalidi (1980). 1980:226). Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik. menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan.

Khilafah adalah pengganti (niyabah) dari Nabi SAW dalam umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin (Tuhfah Al-Murid ‘Ala Jauhar At-Tauhid. Kesembilan. 10). hal. I/8). 1373 H/1953 M). 861 H/1457 M). 1354 H/1935 M). pemeliharaan hak milik umat. Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) dalam urusan-urusan dunia dan agama. Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia. IV/363). serta pemikulan tugas-tugasnya (Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. 33). 1004 H/1596 M). melaksanakan jihad…melaksanakan peradilan (qadha`). dan lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama (I’adah Al-Khilafah. menurut Syaikh Al-Bajuri (w. menurut Al-Qalqasyandi (w. hal. pelaksanaan urusan-urusan umat. 1176 H/1763 M). Imamah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan dunia dan agama (I’adah AlKhilafah. Kesepuluh. yang wajib ditaati oleh seluruh umat (Lihat Al-Iji. Ketujuh. Ketigabelas. maupun duniawiyah yang kembali kepada kemaslahatan ukhrawiyah (Al-Muqaddimah. Khilafah adalah otoritas (istihqaq) pengaturan umum atas kaum muslimin (Al-Musamirah fi Syarh Al-Musayirah. hal. menurut Ibnu Khaldun (w. 808 H/1406 M). Lihat juga Rasyid Ridha. 756 H/1355 M). seorang Syaikhul Islam pada masa Daulah Utsmaniyah. 141). menurut At-Taftazani (w. khalifah adalah al-imam al-a’zham (imam besar). menurut Al-Kamal ibn Al-Humam (w. yang berkedudukan sebagai pengganti kenabian. II/45). 23). hal. menurut Mustafa Shabri (w. III/603. Keenam. . Al-Mawaqif. Kelima. seorang Syaikh AlAzhar. menegakkan hudud… sebagai pengganti (niyabah) dari Nabi SAW (dikutip oleh Shadiq Hasan Khan dalam Iklil Al-Karamah fi Tibyan Maqashid Al-Imamah. 791 H/1389 M). 166 & 190). menurut Syah Waliyullah Ad-Dahlawi (w. 1177 H/1764 M). menegakkan rukun-rukun Islam. hal. sebagai pengganti dari Nabi SAW dalam penegakan agama.Keempat. menurut Imam Ar-Ramli (w. Khilafah adalah pengganti dari Nabi SAW dalam pelaksanaan apa yang dibawa Nabi SAW berupa hukum-hukum syariah Islam (Mawqif Al-Aql wa Al-‘Ilm wa Al-‘Alim. Kesebelas. menurut ‘Adhuddin Al-Iji (w. Al-Khilafah. VII/289). Khilafah adalah pengembanan seluruh [urusan umat] sesuai dengan kehendak pandangan syariah dalam kemaslahatan-kemaslahatan mereka baik ukhrawiyah. dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Nihayatul Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj. 821 H/1418 M). Khilafah adalah kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) … untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmuilmu agama. 32). menurut Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. Keduabelas. Kedelapan. hal.

yaitu : Pertama. Hasan Ibrahim Hasan. Selain itu. yang sesungguhnya malah menyempitkan definisi. Misalnya definisi Al-Iji. Atau bahwa Khilafah mengatur “kemaslahatan-kemaslahatan duniawiyah dan ukhrawiyah”. tanpa mengkaitkannya dengan fungsi Khilafah untuk mengatur “urusan agama”. Bukankah ini ungkapan yang sangat luas jangkauannya? Sesungguhnya. yang diturunkan dari nash-nash syar’i. I/350). akan kita dapati bahwa secara global berbagai definisi tersebut lebih berupa deskripsi realitas Khilafah dalam dataran empirik (praktik) –misalnya adanya dikotomi wilayah “urusan dunia” dan “urusan agama”– daripada sebuah definisi yang bersifat syar’i. beliau menyatakan. menegakkan hudud. bukan dengan redaksi yang lebih bersifat deskriptif dan lebih memberikan contoh-contoh. untuk menetapkan sebuah definisi. yang umumnya diungkapkan ulama dengan terminologi “urusan dunia” (umuur ad-dunya). semisal definisi sholat dan zakat. namun pada akhir kalimat. Bukankah definisi ini menjadi terlalu rinci yang malah dapat menyulitkan kita menangkap hakikat Khilafah? Juga bukan dengan redaksi yang terlalu umum yang cakupannya justru sangat luas. definisi yang lebih menekankan pada penampakan agama (al-mazh-har ad-dini). Misalnya definisi Al-Qalqasyandi. definisi-definisi tersebut kurang mencakup (ghayru jaami’ah). 1985:51). Definisi syar’i merupakan definisi yang digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah.” Kedua. menegakkan rukun-rukun Islam. melaksanakan peradilan (qadha`). Misalnya ungkapan bahwa Khilafah mengatur “umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin”. tetapi digunakan dalam disiplin . Dengan menelaah seluruh definisi tersebut secara mendalam. definisi yang lebih menekankan pada penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). sepatutnya kita perlu memahami lebih dahulu. dapat dilihat sebetulnya ada 3 (tiga) kategori definisi. Beliau hanya menyinggung Khilafah sebagai kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. Meskipun Al-Iji menyatakan bahwa Khilafah mengatur urusan-urusan dunia dan urusan agama. dan seterusnya. Misalnya definisi Khilafah menurut Imam AlMawardi yang disebutnya sebagai pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia. definisi yang berusaha menggabungkan penampakan agama (al-mazh-har ad-dini) dan penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam dalam pelaksanaan urusan agama. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah bertugas menghidupkan ilmuilmu agama. Analisis Definisi Dari keempatbelas definisi yang telah disebutkan di atas. Ketiga. Jadi. Sedang definisi non-syar’i merupakan definisi yang tidak digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah.”Khilafah lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama.Keempatbelas. melaksanakan jihad. apakah ia definisi syar’i (at-ta’rif asy-syar’i) atau definisi non-syar’i (at-ta’rif ghayr asy-syar’i) (Zallum. menurut Dr. Di sini Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam berupa pelaksanaan urusan politik atau sistem pemerintahan. Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan agama dan dunia sebagai pengganti dari Nabi SAW (Tarikh Al-Islam. Sebab definisi Khilafah seharusnya menggunakan redaksi yang tepat yang bisa mencakup hakikat Khilafah dan keseluruhan fungsi Khilafah.

”Maka Imam yang [memimpin] atas manusia adalah [bagaikan} seorang penggembala dan dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya). definisi syar’i sesungguhnya adalah hukum syar’i. Imam Asy-Syafi’i. maka dasar perumusannya wajib bertolak dari nash-nash syara’ Al-Qur`an dan AsSunnah. Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al- . haji. 1853). yaitu : (1) tugas menerapkan seluruh hukum-hukum syariah Islam. rahimahumullah (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri. bukan dari realitas. 1853). maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. jihad. Jelaslah. telah menggunakan lafazh-lafazh “khalifah” dan “imam” yang masih satu akar kata dengan kata Khilafah/Imamah. misalnya hadits Nabi yang mengharamkan adanya lebih dari satu khalifah bagi kaum muslimin seperti telah disebut sebelumnya (Shahih Muslim no. 1-3). yang wajib diistimbath dari nash-nash syar’i (AySyakhshiyyah Al-Islamiyah. Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya telah mengumpulkan hadits-hadits tentang Khilafah dalam Kitab Al-Ahkam. Sedang jika definisinya berupa definisi syar’i. Mengapa? Sebab. nash-nash yang menerangkan hakikat Khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia. semisal definisi isim. Sebab nashnash syar’i. “Jika dibaiat dua orang khalifah. III/438-442. madaniyah (benda sarana kehidupan). kebangkitan. hadharah (peradaban). ya. fi’il. 1991:15). maka dasar perumusannya bertolak dari realitas (alwaqi’).” (Shahih Muslim. Adapun yang menunjukkan bahwa Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum muslimin di dunia. Ini berarti. no. seluruh kaum muslimin di dunia hanya boleh dipimpin seorang khalifah saja.ilmu tertentu atau kalangan ilmuwan tertentu. Contoh lainnya misalkan definisi akal. dustur (UUD). masyarakat. 2928. wajiblah kita memperhatikan berbagai nash-nash ini yang berkaitan dengan Khilafah. Kelompok Kedua. dan semisalnya. misalnya nash hadits. III/342-343. nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. Al-Ma’lumat li Asy-Syabab. (2) tugas mengemban dakwah Islam di luar tapal batas negara ke seluruh bangsa dan umat dengan jalan jihad fi sabilillah Nash kelompok pertama. Sedang Imam Muslim dalam Shahihnya telah mengumpulkannya dalam Kitab Al-Imarah (Ali Belhaj. Sunan Abu Dawud. Dan kesatuan Khilafah untuk seluruh kaum muslimin di dunia sesungguhnya telah disepakati oleh empat imam madzhab. dan tentunya nash-nash Al-Qur`an. 1705.” (Shahih Muslim. misalnya definisi sholat. Apakah definisi Khilafah (atau Imamah) merupakan definisi syar’i? Jawabannya. bahwa untuk mendefinisikan Khilafah. dan Imam Ahmad. zakat. Dengan menelaah nash-nash hadits tersebut. khususnya hadits-hadits Nabi SAW. bukan dari nash-nash syara’. ideologi (mabda`). hal. akan kita jumpai bahwa definisi Khilafah dapat dicari rujukannya pada 2 (dua) kelompok nash. yaitu : Kelompok Pertama. dan sebagainya Jika definisinya berupa definisi non-syar’i. Baik ia realitas empirik yang dapat diindera atau realitas berupa kosep-konsep yang dapat dijangkau faktanya dalam benak. wajib merujuk pada nash-nash syar’i yang berkaitan dengannya. Sunan At-Tirmidzi. Jadi. yakni Imam Abu Hanifah. Misalnya hadits Nabi. XII/213. menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani. no. perumusan definisi syar’i. IV/308). dan harf (dalam ilmu Nahwu-Sharaf). tak boleh lebih. qanun (UU). Imam Malik. Ini menunjukkan bahwa Khilafah adalah sebuah kepemimpinan (ri`asah/qiyadah/imarah). no.

wassalam Muhammad Sidik Aljaw Fariz Kata Ibadah sebenarnya dari kata ‘ibadah dan ‘ubudiyat (pengabdian). ia memperoleh banyak barang-barang. Dan dikarenakan ia adalah “hamba” maka gambaran keadaannya adalah. Juz II hal. ia menjadi banyak hubungan ikatan dengan macam-macam barang. perjanjian gencatan senjata. Muhammad ibn Abdurrahman Ad-Dimasyqi. Pada saat itulah. 1). sungguh. menggantikan sistem kehidupan sekuler yang kufur saat ini. istilah Khilafah dan Imamah dalam hadits-hadits shahih maknanya sama saja menurut pengertian syar’i (al-madlul asy-syar’i). adalah nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. Dan yang demikian itu. Dalam pengertian inilah di dalam Alquran kata ‘abdun digunakan untuk manusia. 9. Ada pun maksud yang mulia dari ibadah tiada lain adalah hendaknya kepada manusia diajarkan bahwa ia datang di dunia ini dengan tangan kosong. dan semisalnya (QS Al-Anfaal:61. Jadi. misalnya mengadakan berbagai perjanjian perdagangan. yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut : Pertama. ‘Abdun artinya adalah dia yang segala sesuatu bukan lagi menjadi miliknya. bahwa ia tidak mempunyai apa-apa yang menjadi milik dirinya. kemudian tangannya jadi terisi banyak. Hal ini nampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu muslim (QS Al-Baqarah:188. menjamin masyarakat dapat menegakkan syiarsyiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS Al-Hajj:32). agar mereka sudi kiranya untuk mengambilnya dan kemudian memperjuangkannya supaya menjadi realitas di muka bumi. menjaga akhlaq (QS Al-Isra`:32). Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia. tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. misalnya kitab Al-Khilafah (hal. sebagian pun sudah . perjanjian bertetangga baik. Semuanya semata-mata karena ihsan Allah taala atas manusia dan semata-mata hasil ciptaan-Nya sajalah maka manusia dianugerahi bentuk sebagai wujud cuptaan sehingga terlahirlah ia sebagai hamba-Nya) Ingatlah. kitab Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal. “jangan mengambil apa-apa di rumah”. Menurut beliau juga. QS An-Nisaa`:58). dan seterusnya. melainkan ia dengan sendirinya mendatangkan maut atas dirinya lalu ia mempersembahkannya kepada Allah taala. Kedua. tugas khalifah mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. Kemudian kepadanya dituntut untuk meninggalkan “miliknya” tersebut dengan senang hati. hal. menjaga tapal batas negara (QS AlAnfaal:60). Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. Hal ini nampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS Al-Baqarah:216). QS Muhammad:35). menegakkan hudud (QS AlBaqarah:179). untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri. mengumpulkan dan membagikan zakat (QS At-Taubah:103). Begitu pula kata ‘abdun terkandung di dalamnya yang artinya adalah ghulam (hamba). Walaupun itu tidak seluruhnya. dan kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyah. Nash kelompok kedua. Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf AlA`immah. 128. itulah arti ibadah. Definisi inilah yang beliau tawarkan kepada seluruh kaum muslimin di dunia.Arba’ah. tidaklah sulit bagi Allah Azza wa Jalla. setelah itu diberikan kepemilikan sementara kepadanya. V/308. yakni dalam proses pembentukan dirinya ia tidak ada peran dan tidak pula untuk kelanggengannya ia mempunyai campur tangan dalam upayanya. orang-orang beriman akan merasa gembira dengan datangnya pertolongan Allah. sebab difinisi dari ‘abdun ialah yang tidak memiliki apa-apa. Namun sekarang dia melakukan pemutusan hubungan dengan benda-benda duniwi tersebut bukan dengan paksaan atau dengan perantaraan maut. dapat dirumuskan definisi Khilafah secara lebih mendalam dan lebih tepat. 1398 H/1977 M) dalam kitab-kitabnya. 208). Berdasarkan dua kelompok nash inilah.

hud: 26.mencukupi. yasin: 15. sedangkan ibadah seorang hamba tuhan adalah perhubungan yang melepaskan segala yang menjadi miliknya dan semua itu diserahkn kepada Allah taala dengan dada yang lapang. Kalaupun tidak untuk masa yang panjang. 2. as-Syu’ara’: 93.wordpress. Manusia dinamai basyar karena kulitnya nampak jelas. al-Mukminun: 24 dan 33. memakan sesuatu. Al-Isra: 93 dan lain-lain. Di dalam ubudiyat seberapa jauh sikap dan persembahan dari si hamba semuanya itu tercakup dalam kata itu. Duriyat Adam/Bani Adam . Diantaranya terdapat dalam surat al-hujurat: 13. Jadi itulah perbedaan ibadah dengan ubudiyat. sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah. mental. intelektual dan juga spiritual. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. digunakan al-qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. Kitab suci al-Qur’an – seperti yang ditulis Bint as-Syathi’ dalam al-qur’an wa Qadhaya al-Insan – sering kali memperhadapkan insane dengan jin/jan. 3. http://d3ndri. Jalinlah perhubungan dengannya itu menjadi sangat khusus. Diantaranya terdapat dalam surat al-Abiya’: 2-3. jika ditinjau dari sudut pandang alQur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (lupa). Ibrahim: 10. atau nasa-yanusu (berguncang).com/2010/06/12/manusia-basyar-insan-dan-al-nas/ 1. Basyar Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dengan demikian istilah basyar merupakan gambaran manusia secara materi yang dapat dilihat. Manusia dalam pengertian ini disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak 35 kali dalam berbagai surat. dan tampak. dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. ambillah untuk sementara waktu saja. Kata insan. segalanya sudah diserahkan kembali kepada Allah taala dan Dia dijadikan sebagai pusat segala dambaan. dan berbeda dengan kulit makhluk yang lain. jiwa dan raga. Pendapat ini. An-Nas Dalam al-Qur’an manusia dalam pengertian an-nas disebutkan sebanyak 240 kali dengan keterangan yang jelas menunjukan pada jenis keturunan Nabi Adam as. alkahfi: 110. Manusia yang berbeda antara satu dengan yang lainya akibat perbedaan fisik. 4. harmonis. jin adalah makhluk halus yang tidak tampak. Itulah yang dinamakan ibadah. Al-Ins/al-Insan Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak lawan dari binatang liar. “sehingga iradah (keinginan) kita bergabung serta menyatu dalam pengabdian kita”. Dalam ayat-ayat tersebut terlihat bahwa manusia dalam arti basyar adalah manusia dengan sifat-sifat kematerianya. hubungannya dengan dunia sudah terputus dan menjadi dingin. berjalan.

sedangkan dalam penciptaan Adam. (3) setelah proses penyempurnaannya selesai. (2) bahan tersebut adalah disempurnakan. 15: 28-29. (QS Shad. apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. 38: 75). Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama. melalui proses keterlibatan Tuhan bersama selain-Nya. Yang disampaikanya dalam konteks ini hanya (1) bahan awal manusia adalah tanah. Penciptaan manusia secara umum. apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang Telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. (QS Shad. Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini Apakah anda menyukai tulisan ini ? http://ummgl.blogdetik. Yang Maha Pencipta ditunjuk dengan menggunkan bentuk jamak. 38: 71-72].Al-Qur’an tidak menguraikan secara rinci proses kejadian Adam. tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak. AtTin: 4). Keterlibatan bapak dan ibu mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak.com/2010/05/06/4-istilah-tentang-manusia-dalam-al-quran/ . yang oleh mayoritas ulama dinamai manusia pertama. )4:‫)لقد خلقنا النسان في أحسن تقويم( )التين‬ ٍ ِ ْ َ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ِْ َ ْ ََ ْ َ َ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .(QS. Hal ini dapat dilihat dalam QS at-Tin: 4. 38: 71) )75 :‫)ص‬ ّ (‫)قال يا إبليس ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي أستكبرت أم كنت من العالين‬ َ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ُ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ّ َ َ ِ ُ ْ ََ َ ِ َ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ُ ِْ ِ َ َ َ Allah berfirman: “Hai iblis. Tetapi ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum. Hal ini untuk menunjukan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan kejadian Adam AS. Shad. Al-Qur’an menunjuk kepada sang pencipta dengan menggunkan pengganti nama berbentuk tunggal: )71:‫)إذ قال ربك للملئكة إني خال ٌ بشرا من طين( )ص‬ ّ ٍ ِ ْ ِ ً َ َ ‫ِ ْ َ َ َ ّ َ ِ ْ َ ِ َ ِ ِ ّ َ ِق‬ (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. yaitu bapak dan ibu. ditiupkan kepadanya ruh ilahi [QS Al-Hijr.

al-Kahf (18): 110]. ada tiga kata yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia. Di sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menggunakan . Sedangkan untuk jamaaknya dipakai kata an-nas. menunjuk adanya kaitan dengan kesadaran diri. disebabkan karena kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut. ia tidak liar baik secara sosial maupun alamiah. sama seperti ins. maka ia tidak berdosa. jika seseorang lupa sesuatu kewajiban yang seharusnya dilakukannya. Manusia mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup tinggi. insiya. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain adalah akibat perbedaan fisik. 1996 : 20) karena manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungannya. Untuk itu. dan kecerdasan [M. baik perubahan sosial maupun alamiah. Kata insan jika dilihat dari asalnya nasiya yang artinya lupa. Kata insan digunakan al-Qur'an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. anisa. Kata insan dalam al-Qur'an dipakai untuk manusia yang tunggal. baik satu ataupun banyak. Manusia menghargai tata aturan etik. Sedangkan kata insan untuk penyebutan manusia yang terambil dari akar kata al-uns atau anisa yang berarti jinak dan harmonis. jiwa dan raga.Quraish Shihab. Maka dalam kehidupan agama. Tetapi hal ini berbeda dengan seseorang yang sengaja lupa terhadap sesuatu kewajiban. 1992 : 22]. yang lahir dari adanya kesadaran penalaran [Musa Asy'arie. dan berbeda dengan kulit binatang yang lain". insan. nasiya dan anasa. mental.Sabtu. Kata basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk baik laki-laki ataupun perempuan. "Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas. Kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang berarti kulit. apabila manusia lupa terhadap seseuatu hal. karena ia kehilangan kesadaran terhadap kewajiban itu. anasi. maka dapatlah dikatakan bahwa kata insan menunjuk suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap. (Musa Asy'arie. 10 April 2010 Konsep manusia sebagai basyar. abdun dan khalifah Dalam al-Qur'an. Karena itu Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan bahwa "Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu [QS. dan sebagai makhluk yang berbudaya. unasi. kata basyar dan kata Bani Adam. yaitu kata insan. Al-Qur'an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna [dual] untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Adapun kata basyar dipakai untuk tunggal dan jamak. Kata insan yang berasal dari kata al-uns. untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. sopan santun. 1996 : 280].

Untuk itu. Allah menanamkan kesiapan dan kehendak untuk melakukan kebaikan atau keburukan sehingga manusia mampu memilih jalan yang menjerumuskannya pada .S.kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar.S. melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan. Abdurrahman An-Nahlawi [1995].al-Rum (3) : 20] "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya [Allah] menciptakan kamu dari tanah. minum dan mati.82:7]. Insan dipakai untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran. Musa Asy'arie [1996 : 21]. Dan karena itupula. AlQur'an berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. [2] Manusia sebagai makhluk istimewa dan terpili. Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezki [M. yang menggunakan kata basyar. kerendahan atau tidak berharga seperti binatang. artinya Islam tidak memposisikan manusia dalam kehinaan.1996 : 280]. Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan. bumi dan bahkan para malaikat. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga. pendidikan. mengatakan manusia menurut pandangan Islam meliputi : [1] Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan.1996 : 279]. Firman allah [QS. penalaran.. pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan. Dari pengertian insan dan basyar. Penggunaan kata basyar di sini "dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia. Ke dalam naluri manusia. dan QS. dan sikap hidupnya. benda mati atau makhluk lainnya [QS. al-Baqarah (2) : 30 yang menggunakan kata khalifah.95 :4]. mengatakan bahwa manusia dalam pengertian basyar tergantung sepenuhnya pada alam. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikanNya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain [Q. makan.al-Isro: 70 dan al-Hajj : 65]. pemakaian kedua kata insan dan basyar untuk menyebut manusia mempunyai pengertian yang berbeda. sedangkan basyar dipakai untuk menunjukkan pada dimensi alamiahnya.Quraish Shihab. yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab. yang keduanya mengandung pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang manusia [M. tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar [perhatikan QS al-Hijr (15) : 28]. Salah satu anugrah Allah yang diberikan kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dan kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan. Allah sendirilah yang menciptakan manusia yang proporsional [adil] susunannya [Q. kesadaran. ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran".Quraish Shihab. manusia merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psihis yang memiliki potensi untuk berkembang.

al-Ahzab : 72 : "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit. terpercaya. manusia dinyatakan luar biasa keji dan bodoh. rasa tanggungjawab terhadap dirinya maupun alam semesta. kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan selalu mengingat-Nya [Rif'at Syauqi Nawawi. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh". serta sebagai makhluk semi-samawi dan semi duniawi. Qur'an mencela manusia disebabkan kelalaian manusia akan kemanusiaannya. Allah selalu bertanya kepada manusia dalan firman-Nya "afala ta'kilun". bumi dan gununggunung. Kemaujudan mereka dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan. kesalahan manusia dalam mempersepsi dirinya. pendengaran dan hati. Manusia dicela karena kebanyakan dari mereka tidak mau melihat kebelakang (al'aqiba). maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatirkan menghianatinya.as-Syam: 7-10]. mengembangkan dan meninggalkan diri agar manusia terangkat dalam keutamaan [Q. Pernyataan ini ditegaskan dalam firman Allah QS. al-A'raf : 179 sebagai berikut : "Sesungguhnya Kami Jadikan untuk [isi neraka Jahanam] kebanyakan dari jin dan . Dengan jelas Allah menyebutkan bahwa dalam hidupnya. tidak mau memahami atau tidak mencoba untuk memahami tujuan hidup jangka panjang sebagai makhluk yang diberi dan bersedia menerima amanah. potensi telinga. dan kebodohan manusia dalam memanfaatkan potensi fitrahnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. lagit dan bumi. Allah telah menganugrahi manusia sarana untuk belajar.derajat manusia direndahkan Firman Allah QS. Selain itu al-Qur'an juga mengingat manusia yang tidak menggunakan potensi hati. seperti penglihatan. serta karunia keunggulan atas alam semesta.S. [3] Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik. dan dipukullah amanat itu oleh manusia. Manusia banyak dicela. maka manusia bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan dan binatang buas sekalipun . yang kemudian bergerak ke arah kekuatan. dalam surat al-Alaq : 3 dan 5. Manusia dipusakai dengan kecenderungan jiwa ke arah kebaikan maupun kejahatan. Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan. manusia harus berupaya menyucikan. Tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan psikis mereka. Selain itu. sebagai khalifahNya di muka bumi.kebinasaan. at-Tiin (95) : 5-6 : "Kemudian Kami [Allah] kembalikan dia [manusia] ke kondisi paling rendah". untuk melihat dan mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah. “afala tata fakkarun". bebas. al-Qur'an juga menyebutkan sifat-sifat kelemahan dari manusia. Manusia tidak mampu memikul amanah yang diberikan Allah kepadanya. 2000 : 11]. Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan untuk belajar. Selanjutnya dalam firman Allah : QS. Dengan kelengkapan sarana belajar tersebut. dan lain-lain pertanyaan Allah kepada manusia yang menunjukkan manusia mempunyai potensi untuk belajar. kecuali mereka yang beriman kepada Allah dan beramal saleh". yang di dalam dirinya ditanamkan sifat-sifat : mengakui Tuhan. potensi mata.

dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. dan melakukan aktivitas amal saleh.manusia. kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan manusia hakekat manusia. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki. karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. A. dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Mereka itu sebagai binatang ternak. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyatakan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia . ada yang mengatakan masnusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof. Pendahuluan Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya. yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. yaitu mengaktualisasikan potensi iman kepada Allah. bahkan mereka lebih sesat lagi. menguasai ilmu pengetahuan. mampu menggunakan potensi yang dimilikinya dengan baik. (Musa Asy’ari. manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling canggih. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis. 1999) Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perfektif. Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Filsafat Islam. mereka mempunyai hati. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya. Mereka itulah orang-orang yang lalai". Untuk itu. tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayatayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). maka manusia akan menjadi makhluk yang paling mulia dan makhluk yang berkualitas di muka bumi ini seseuai dengan rekayasa fitrahnya. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia.

2005) Marx menunjukan perbedaan antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens. seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak yang lain ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhan.(Franz Magnis Suseno. Manusia berhadapan bebas dari produknya dan binatang berproduksi menurut ukuran dan kebutuhan jenis produksinya. dikarenakan manusia berproduksi menurut hukum-hukum keindahan. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”. Pemikiran Karl Marx. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Manusia dalam bermaian memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja. Manusia dalam bekerja secara bebas dan universal. Binatang berproduksi hanya apa yang ia butuhkan secara langsung bagi dirinya danketurunnya. Oleh sebab itu menurut Marx manusia hnya terbuka pada nilai-nilai estetik dan hakekat perbedaan manusia dengan binatang adalah menunjukan hakekat bebas dan universal. ia baru produksi dari yang sesungguhnya dalam kebebasan dari kebutuhannya. bebas I dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung. universal dikarenakan ia dapat memakai beberapa cara untuk tujuan yang sama. Bertens. binatang langsung menyatu dengan kegiatan hidupnya. Sedangkan manusia membuat kerja hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya. sedangkan manusia berproduksi secara universal bebas dari kebutuhan fisik. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. Manusai juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Antropologi adalah merupakan salah satu dari cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakekat manusia dan sepanjang sejarahnya manusia selalu .menafsirkan simbol-simbol tersebut. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). Permaianan dalam sejarahnya juga digunakan untu memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci. manusia berproduksi mnurut berbagai jenis dan ukuran dengan objek yang inheren. 1999). (K. Panorama Filsafat Modern. manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain.

Paulo Freire Kehidupan. yang kemudian menjadi perenungan tentang kegelisahan dirinya. ataukah mono pluralism yang meletakkan hakekat pada kesatuannya semua unsur yang membentuknya. yang menccari unsur pokok yang menentujkan yang bersifat tunggal. atau dualisme yang memiliki pandangan yang menetapkan adanya dua unsur pokok sekaligus yang keduanya tidak saling menafikan nyaitu materi dan rohani. yakni materi dalam pandangan materialisme. yang mempunyai kontak tidak kritis dengan dunia. meskipun dalam subtansinya tidak berubah. manusia menciptakan sejarah juga sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah. yang hanya berada dalam dunia. 2002). yang menunjukan disini berhubungan disana. Tindakan dan kesadaran manusia bersifat historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal. Dalam jawaban tentang manusia tidak pernah akan selesai dan dianggap tidak pernah sampai final dikarenakan realitas dalam keling manusia selalu baru. sekarang berhubungan masa lalu dan berhubungan dengan masa depan. Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya. Karya dan Pemikirannya. temporaritas dan trasendensi) yang menjadikan mahluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk meyampaikan hubungan dengan dunia. keterarahan.(Musa Asy’ari. dan apakah makna keberadaannya ditengah kompleksitas perubahan itu? Pertanyaan tentang hakekat manusia merupkan pertanyaan kuno seumur keberadaan manusia dimuka bumi.mempertanyakan tentang dirinya. kan tetapi bukan berarti bahwea ia tidak dapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan . Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah. Manusi dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas. Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya . atau unsur rohani dalam pandangan spritualisme. nyakni pandangan pluralisme yang menetapkan pandangan pada adanya berbagai unsur pokok yang pada dasarnya mencerminkan unsur yang ada dalam marco kosmos atau pandangan mono dualis yang menetapkan manusia pada kesatuannya dua unsur. seperti dalam pandangan monoteisme. (Denis Collin. apakah ia sedang sendirian. ataukah ia sedang dalam dinamika masyarakat dengan mempertanyakan tentang makna hidupnya ditengan dinamika perubahan yang kompleks. 1999) Manusia menurut Paulo Freire mnusia merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Filsafat Islam. dan hidup dalam masa kini yang kekal.

Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. 1999) B. Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Filsafat Islam. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral. hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada. Hakekat manusia Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Tujuan tersebut . 2001). Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. (Musa Asy’ari.eksistensinya dalam kehidupan dunia ini mencapai kedewasaan dan semua kenyataan itu. (Ali Syariati. terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. Ego yang bebas. martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. kedudukan. Paradigma Kaum Tertindas. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme. empirisme dan rasionalisme. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata. akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat.

dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. 2004) Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis.tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. kekinian dan dinamik. (Musa Asy’ari. diri. dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. 1999) Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Pendidikan sebagai Alat Perlawanan. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik. (Donny Grahal Adian. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri. tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. (Siti Murtiningsih. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal. Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. 2001) Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs. seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual. sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis. sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. Filsafat Islam. karya dan perbuatannya. dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia. Ruh Tuhan + Lempung Busuk Manusia . Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya. Matinya Metafisika Barat. keakuan.

Paradigma Kaum Tertindas. Manusia yang menjalankan esensi menjadikan ia bersifat tidak bergerak dan menunjau lebih dalam saja tanpa melakukan aktualisasi. bahkan dengan mengkaji manusia yang merupakan mikro kosmos. “Lempung busuk” merupakan simbol kerendahan stagnasi dan pasifitas mutlak. Manusia yang ideal menurut ‘Ali Syariati adalah manusia yang telah mendialektikakan ruh tuhan dengan lempung dan yang dominant dalam dirinya adalah ruh Tuhan. Karena kedua istilah itu harus dikasih makna simbolis. Gabungan tersebut menjadikan mansuia bersifat dialektis. realitas alam dan Tuhan. Pernyataan al Quran manusia merupakan gabungan ruh Tuhan dan lempung busuk.(‘Ali Syariati. Manusia dalam hadir dalam dunia merupakan bagian yang berada dalam diri manusia esensi dan eksistensi. Dari dialektika tersebut menjadikan manusia berkehendak bebas mampu menentukan nasibnya sendiri dan bertanggung jawab. Begitu pula manusia yang menjalankan eksistensi tanpa melihat esensi maka yang terjadi ia hanya ada tetapi tidak dapat mengada. Manusia yang memahami tentang dirinya sendiri ma ia akan .Ruh Tuhan dan lempung busuk merupakan dua simbol individu. Esensi dan eksistensi manusia ini yang menjadikan manusia ada dalam muka bumi. Begitu pula manusia dilihat sebagai materi yang memiliki dua macam bagian esensi dan eksistensi. Seperti yang telah dikekmukakan oleh ‘Ali Syariati bahwa esensi manusia merupakan dialektika antara ruh Tuhan dengan lempung dari dialektika tersebut menjadikan manusia ada dalam mengada. Proses mengadanya manusia merupakan refleksi kritis terhadap manusia dan realitas sekitar. Refleksi tersebut menjadikan manusia dapat memahami diri sendiri. Manusia adalah suatu kehendak bebas dan bertanggungjawab menempati suatu stasiun antara dua kutub yang berlawanan yakni Allah dan Syaitan. Ruh Tuhan merupakan simbol dari gerak tanpa henti kearah kesempurnaan dan kemuliaan yang tak terbatas. Esensi dan eksistensi bersifat berjalan secara bersamaan dan dalam perjalananya dalam diri manusia ada yang mendahulukan esensi dan juga eksistensi. 2001) Manusia merupakan mahluk yang unik yang menjadi salah satu kajian filsafat. Dalam filsafat pembagian dalam melihat sesuatu materi yang terbagi menjadi dua macam esensi dan eksistensi. Sebagaimana perkataan bijak yang dilontarkan oleh socrates bahwa hidup yang tak direfleksikan tak pantas untuk dijalanani. Secara aktual manusia tidak diciptakan dari lempung busuk (huma’in masnun) ataupun ruh Tuhan. Hal ini yang menjadikan manusia sebagai realitas dialektis.

Manusia dalam eksistensi tersebut dikarenakan potensi yang berada dalam diri manusia seperti intelektual. Manusia dalam eksistensinya sebagai al insan. dan khalifah. annas. haus. kemakmuran. Bagan Esensi dan Eksistensi Manusia No Eksistensi Esensi KesadaranBasic HumanKebutuhan manusia Fitrah (Basic HumanValues (BasicDasar (Basic Drives) Islamic Human Needs) Values) 1 2 3 Al Insan Al Basyar Abdullah Rasa ingin tahu Rasa lapar. sosial dan estetika. Pembebasan yang dilakukan oleh manusia adalah pembebasan manusia dari korban penindasan sosialnya dan pembebasan dari alienasi antara eksistensi dan esensinya sehingga manusia menjadi diri sendiri. Sifat dari manusia tersebut adalah mahluk yang bebas berkreatif dan mahluk bersejarah dengan diliputi oleh nilai-nilai trasendensi yang selalu menuju kesempurnaan. Manusia yang bereksistensi dalam kelima tersebut menjadikan ia sebagai mahluk pengganti Tuhan dan menjalankan tugas Tuhan dalam memakmurkan bumi. dingin Intelektual Biologis Intelektual Biologis Spiritual Sara ingin berterimakasihSpiritual dan bersykur kepada tuhan Rasa tahan sendiri danSosial menderita dalam kesepian 4 An-Nas Sosial 5 Khalifah filButuh keamanan. Proses pemahaman diri dengan pencipta menjadikan manusia berproses menuju kesempurnaan yang berada dalam diri manusia. Proses pemahaman diri dengan refleksi kristis diri. keadilan dan keindahan lingkungan Manusia yang melakukan refleksi menyadari Estetika bahwa ia mahluk yang berdimensional dan bersifat unik.memahami Penciptanya. spiritual. hal tersebut menjadikan diri manusia menjadi insan kamil atau manusia sempurna. agama dan realitas. kedamaian. tidak menjadi budak orang lain.Estetika ardli ketertiban. Manusia menjadikan ia yang bertanggungjawab pada eksistensinya yang berbagai macam dimensi tersebut. Hal tersebut menjadikan manusia yang memiliki sifat dan karaktersistik profetik. al basyar. ‘abdullah. bilogis. .

Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta dalam bentuk imateri sedangkan unsur mteri yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia. pengulangan kembali tentang esensi dan eksistensi manusia. yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. . D. dimana harus menjaga agama. al basyar dan khalifah. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum. keturunan. ekologi. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuha dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Tujuan hidup manusia Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. jiwa. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. akal dan. Tetapi sebelum membahas tentang peran dan kedudukan. al insan. an-nas.C. Manusia yang memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dala rangka memakmurkan bumi. Kedudukan dan peran manusia Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. harta.

Perjumpaan manusi dengan Tuhan dalam tahapan nafs. http://simplelove01diaz. Sebagaimana yang terjadi pada al Halaj.html . Perjumpaan nafs tersebut dapat dilihat pada sufi yang memenculkan berbagai macam ekspresi dalam perjumpaannya. Nafs yang dimiliki oleh manusia merupakan nafs yang terbatas akan kembali bersama nafs yang mutlak dan tak terbatas. Pertemuan nafs manusia dengan nafs Tuhan merupakan perjumpaan dinamis yang sarat muatan kreatifitas dalam dimensi spiritualitas yang bercahaya. Proses penebaran cinta tersebut menjadikan manusia dapat bermanfaat pada yang lain menjadika diri sebagai cerminan Tuhan dalam muka bumi. yang spiritual dikarenakan nafs spiritual yang sangat indah dan Tuhan akan memanggilnya kembali nafs tersebut bersamanya. Setelah menyatunya manusia dalam dimensi spiritual dengan Pencipta. (Musa Asy’ari. Tetapi manusia setalah menyatu. dan kembalinya nafs manusia melalui ketauhidan antara iman dan amal sholeh. 1999) Proses bertemunya nafs manusia dengan Tuhan dalam kondisi spiritual tercapai jika manusai berusaha membersihkan diri dari sifat yang buruk yang ada padanya. Kerjasama kreatifitas Tuhan dengan manusia dan melalui keratifitasnya manusia menaiki tangga mi’raj memasuki cahayaNya yang merupakan cahaya kreatifitas abadi. memahami cinta pada Pencita itu dimanifestasikan cinta tersebut untuk sesama manusia dan alam. Filsafat Islam.com/2010/04/konsep-manusia-sebagai-basyarinsan.blogspot. lantas tak memperdulikan dengan yang lain dengan menyatu terus dengan pencipta. Yazid al Bustami Rabiah al Adawiyah dan yang lain mereka memiliki ekspreasi dan kelakuan yang berbeda ketika meresakan berteumnya dengan Pencipta. Pencitraan Tuhan dalam diri manusia menjadikan ia sebagai insan kamil dan dalam ajaran agama dapat menjadi rahmat bagi yang lain baik sesama manusia ataupun alam. Tetapi dari sini manusai mendaki tangga mi’raj menuju nafs Tuhan dengan cinta dan karena cinta pula terbentuknya alam serta manusia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->