Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas

Hanya orang-orang yang mampu membuat dirinya sebagai manusia saja yang akan dibangkitkan dalam rupa manusia Imam Khomeini Iftitah: apakah aku adalah “manusia” ? Pernahkah kita bertanya “Apakah saya adalah `manusia` ?” Pertanyaan ini aneh dan janggal. Namun, persis jawaban dari pertanyaan inilah yang kerap keliru. Akal sehat (common-sense) manusia sudah terlanjur menganggap bahwa seseorang menjadi “manusia” disebabkan oleh bentuk fisik-biologisnya. Pertanyaan yang muncul “apakah manusia fisik-biologis tersebut adalah manusia dalam arti yang sebenarnya (hakiki)?” Ternyata, mengutip pemikiran Ali Shari’ati, ada tiga kategori manusia, yakni basyar, insan dan alnas. Kategori basyar dan insan terkait dengan kualitas manusia. Karakteristik yang membedakan dua kategori manusia ini adalah kemampuan untuk melepaskan dari dari empat penjara manusia, yakni penjara alam, sejarah, masyarakat dan diri. Sedangkan kategori al-nas, secara sederhana, berarti manusia secara umum, rakyat atau massa. Tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. Penjelasan di bawah ini banyak mengutip pemikiran Ali Shari’ati. Manusia: Basyar, Insan, dan al-Nas 1. Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being) Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being). Artinya, manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisisbiologis. Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam) Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah. Shari’ati menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya. Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja. Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh. Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Shari’ati menilai bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan,

pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu. Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. (Shari’ati, 1982: 6768) Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara natural-instingtualnya. 2. Insan : Manusia Menjadi (Becoming) Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. (Shari’ati, 1982: 62) Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being), maka insan berbeda. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. Shari’ati memberi contoh: Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah. (Shari’ati, 1982: 64) Dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 menjelaskan tentang azas yang menunjuk pada evolusi tanpa henti manusia ke arah Yang Tanpa Batas. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Bagi Shari’ati, kata ilaihi berarti kepada-Nya, bukan di dalam-Nya. Menurut Shari’ati, inilah gagasan pokok tentang “menjadi”, yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal. Tuhan bukanlah titik beku dimana sesuatu mengarah. Tuhan adalah Yang Tanpa Batas, Yang Maha Abadi, dan Yang Maha Mutlak. Oleh karena itu, bergeraknya manusia ke arah-Nya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Inilah yang dimaksud Shari’ati sebagai manusia dalam keadaannya yang menjadi. (Shari’ati, 1982: 68-69). Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. (Shari’ati, 1982: 69) Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan pengalaman tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71) Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam. Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya. Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi kreatif insan

Ketika seseorang mencapai kesadarannya (memakan buah). posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak. Tapi. Hingga tak aneh. Secara unik. posisi unik al-nas ini disebabkan karena al-Qur’an dialamatkan secara khusus untuk alnas. (Shari’ati. secara kreatif. empat ikatan. 1979: 17-18). Sehingga. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. dalam penggunaannya. penjara terakhir manusia. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya. Mereka adalah yang dikuasai dan ditindas oleh kutub Qabil (penguasa politik. Shari’ati memaknai “buah” tersebut sebagai simbol kesadaran (consciousness). sejarah dan masyarakat. al-nas sebagai kutub sosial. berpihak pada al-nas. manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga. insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam. (Shari’ati. maka ia terbebas dari determinasi “kehendak Tuhan” tersebut. (Shari’ati. Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial. yang bentuk nyatanya adalah ilmu. Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata al-nas adalah kata massa. barang dan alat. ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya. sejarah dan masyarakat. Menurutnya. Kedua. Dengan ilmu. Saat di firdaus. 1982: 99) Jadi. secara singkat. 1979: 116-117) Dan. (Shari’ati. Shari’ati mensimbolkan pembebasan insan dari empat kekuatan determinan tersebut dengan simbol keluarnya manusia (Adam) dari firdaus (paradise atau the Garden of Eden). dalam . penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. kata al-nas bisa ditukar dengan kata Allah dan sebaliknya. Menurut Shari’ati.memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda. Jadi. dari yang paling kecil sampai yang kolosal. yaitu penjara alam. Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian. manusia mencapai kualitas insan bila ia mampu melepaskan diri dari empat determinan. Menurut Shari’ati. insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia. al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people). Allah. 1982: 72-73) Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. empat rantai yang mengikat manusia. yaitu: Pertama. Tiga sifat. Sementara itu. memberontak. yang disimbolisasikan sebagai “kehendak Tuhan”. masyarakat dan sejarah. para kapitalis dan agamawan bejat). Al-Nas : Massa Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan. yakni penjara ego (diri). dan mengorbankan diri demi suatu citacita atau orang lain. Al-nas merupakan penjelmaan esensi kutub positif (Habil) masyarakat (masyarakat yang tertindas). tidak dilawan dengan ilmu. bagi Shari’ati. Jelas. menafsirkan simbolisasi ini dengan berpendapat bahwa “kehendak Tuhan” itu adalah empat kekuatan. 3. Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya. Shari’ati. manusia dilarang memakan “buah” oleh Tuhan. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam. Manusia memakan buah tersebut. Sedangkan. manusia adalah pemberontak yang melawan “kehendak Tuhan”. kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. tapi dengan cinta.

manusia “belum menjadi manusia” saat terlahir dari rahim ibunya. menurut tradisi umum istilah khilafah kemudian digunakan untuk menyebut kepemimpinan agung (az-za’amah al-uzhma). insan atau hanya sekedar al-nas? Rene Descartes menyarankan kita mulai untuk berfikir tentang “siapa Aku. (Muthahhari. 1979: 49) Akhir al-Kalam “Manusia adalah masalah puncak bagi manusia. Jadi. Jadi. Manusia harus mengembangkan sifatsifat kemanusiaannya. Murtadha Muthahhari berpendapat. Yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dari manusia yang lain adalah sejauhmana seseorang mengembangkan nilai kemanusiaannya. Dalam kitab Mu’jam Maqayis Al-Lughah (II/210) dinyatakan. Ia tidak otomatis menjadi “manusia”. dia harus memilki satu hal : kesepian batin. Imam Al-Qalqasyandi mengatakan. karena dia menggantikan penguasa sebelumnya. Menurut Imam Ath-Thabari. yang mengembangkan sifat kemanusiaan manusia adalah iman dan amal shalih.” Mempertanyakan diri kita adalah satu langkah dalam proses meng-insan-kan diri kita. khilafah dikaitkan dengan penggantian karena orang yang kedua datang setelah orang yang pertama dan menggantikan kedudukannya. (Shari’ati. makna bahasa inilah yang menjadi alasan mengapa as-sulthan al-a’zham (penguasa besar umat Islam) disebut sebagai khalifah. Wa Allah-u a’lam bi al-shawab-i Definisi Khilafah/Khalifah Posted by: saif1924 on: Mei 8. bagi Shari’ati.” barangsiapa hendak jelas dengan dirinya sendiri dan ingin bersuara lantang. tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu. Bagaimana supaya kita mampu mengenal apakah diri kita adalah basyar. 1984:390).” pekik Battista Mondin. 2009 • • In: tErkiNi Comment! Pengertian Bahasa Khilafah Khilafah menurut makna bahasa merupakan mashdar dari fi’il madhi khalafa. bergantung kepada dirinya sendiri. massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka. Makna khilafah menurut Ibrahim Anis (1972) adalah orang yang datang setelah orang lain lalu menggantikan tempatnya (jaa`a ba’dahu fa-shaara makaanahu) (Al-Mu’jam Al-Wasith. Manusia itu mau menjadi “manusia” atau tidak. Massa adalah rakyat itu sendiri.terminologi sosiologi. al-nas adalah massa. berarti : menggantikan atau menempati tempatnya (Munawwir. 1991: 79) Inilah insan sejati itu. Manusia harus membuat dirinya menjadi “manusia”.” Meister Eckhardt mengusulkan dengan pernyataannya. yaitu kekuasaan umum atas seluruh . I/199). I/251). lalu menggantikan posisinya (Tafsir Ath-Thabari.

menurut Imam Al-Baidhawi (w. 1995:20). Maksudnya. Dr. menurut Imam Al-Juwayni (w. bukan berarti dalam Islam tidak ada konsep negara. 685 H/1286 M). 15). Kedua. Atau tidak mewajibkan adanya Negara Islam. As-Sulthat Ats-Tsalats. dan pemikulan tugas-tugas mereka (Al-Qalqasyandi. al-ahwal asy-syakhshiyyah (hukum keluarga. Para ulama terdahulu telah membahas konsep negara Islam atau sistem pemerintahan Islam dengan istilah lain yang lebih spesifik. Berikut ini akan disebutkan beberapa saja definisi Khilafah yang telah dihimpun oleh Al-Khalidi (1980). Ada pula yang berusaha menghimpun dua penampakan ini. hal. 3). Kemudian. pelaksanaan urusan-urusan umat. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan mengapa para ulama tidak menyepakati satu definisi untuk Khilafah (Al-Khalidi. yang wajib diikuti oleh seluruh umat (Hasyiyah Syarah Al-Thawali’. Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. hal. hal.225). I/8-9).umat. yakni institusi yang menjalankan urusan agama. Sebagian ulama memandang Khilafah sebagai penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). seperti nikah). menjalankan urusan di luar bidang kekuasaan atau sistem pemerintahan. Al-Fiqh AlIslami wa Adillatuhu. Imamah ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Al-Ahkam As-Sulthaniyah. Dengan demikian. dalam perkembangan selanjutnya. Ali Belhaj (1991). Sulaiman Ath-Thamawi. dan ibadah-ibadah mahdhah. walaupun secara literal tak ada satu pun ayat Al-Qur`an yang menyebut kata “ad-dawlah al-islamiyah” (negara Islam). Wahbah Az-Zuhaili. 1980:226). misalnya pelaksanaan mu’amalah (seperti perdagangan). Hanya saja. dan Al-Baghdadi (1995) : Pertama. Inilah pengertiannya pada masa awal Islam. Imamah adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh (riyasah taammah) sebagai kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan khusus dan urusan umum dalam kepentingan-kepentingan agama dan dunia (Ghiyats Al-Umam. yaitu istilah Khilafah/Imamah atau istilah Darul Islam (Lihat Dr. pemeliharaan hak milik umat. yakni sebagai institusi yang menjalankan urusan politik atau yang berkaitan dengan kekuasaan (as-sulthan) dan sistem pemerintahan (nizham alhukm). IX/823). menurut Imam Al-Mawardi (w. 478 H/1085 M). 245. istilah Khilafah digunakan untuk menyebut Negara Islam itu sendiri (Al-Khalidi. Khilafah adalah pengganti bagi Rasulullah SAW oleh seseorang dari beberapa orang dalam penegakan hukum-hukum syariah. Pengertian Syar’i Khilafah Dalam pengertian syariah. Sementara sebagian lainnya memandang Khilafah sebagai penampakan agama (al-mazhhar ad-dini). Ketiga. Pemahaman ini telah menjadi dasar pembahasan seluruh ulama fiqih siyasah ketika mereka berbicara tentang “Khilafah” atau “Imamah”. Sebenarnya banyak sekali definisi Khilafah yang telah dirumuskan oleh oleh para ulama. Khilafah digunakan untuk menyebut orang yang menggantikan Nabi SAW dalam kepemimpinan Negara Islam (ad-dawlah al-islamiyah) (AlBaghdadi. 1980:227). 450 H/1058 M). . hal. para ulama mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda ketika memandang kedudukan Khilafah (manshib Al-Khilafah).

Ketujuh. Keenam. III/603. menurut Imam Ar-Ramli (w. menurut ‘Adhuddin Al-Iji (w. VII/289). Kedelapan. 141). dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia (Nihayatul Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj. Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) … untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmuilmu agama. Keduabelas. sebagai pengganti dari Nabi SAW dalam penegakan agama. 791 H/1389 M). Al-Mawaqif. Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia. menurut At-Taftazani (w. Imamah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan dunia dan agama (I’adah AlKhilafah. hal. pelaksanaan urusan-urusan umat. Khilafah adalah otoritas (istihqaq) pengaturan umum atas kaum muslimin (Al-Musamirah fi Syarh Al-Musayirah. seorang Syaikhul Islam pada masa Daulah Utsmaniyah. khalifah adalah al-imam al-a’zham (imam besar). menegakkan rukun-rukun Islam. menurut Ibnu Khaldun (w. 1354 H/1935 M). yang wajib ditaati oleh seluruh umat (Lihat Al-Iji. menurut Syaikh Al-Bajuri (w. 861 H/1457 M). yang berkedudukan sebagai pengganti kenabian. 33). 756 H/1355 M). 1373 H/1953 M). 10). Kesebelas. menurut Al-Kamal ibn Al-Humam (w. 1004 H/1596 M). 166 & 190). 821 H/1418 M). menegakkan hudud… sebagai pengganti (niyabah) dari Nabi SAW (dikutip oleh Shadiq Hasan Khan dalam Iklil Al-Karamah fi Tibyan Maqashid Al-Imamah. menurut Mustafa Shabri (w. 1176 H/1763 M). hal. Khilafah adalah kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. Kelima. hal. menurut Al-Qalqasyandi (w. pemeliharaan hak milik umat. maupun duniawiyah yang kembali kepada kemaslahatan ukhrawiyah (Al-Muqaddimah. IV/363). Ketigabelas. menurut Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. hal. serta pemikulan tugas-tugasnya (Ma`atsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah. II/45). Khilafah adalah pengembanan seluruh [urusan umat] sesuai dengan kehendak pandangan syariah dalam kemaslahatan-kemaslahatan mereka baik ukhrawiyah. Lihat juga Rasyid Ridha. . menurut Syah Waliyullah Ad-Dahlawi (w. hal. Khilafah adalah kepemimpinan umum (riyasah ‘ammah) dalam urusan-urusan dunia dan agama. Khilafah adalah pengganti (niyabah) dari Nabi SAW dalam umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin (Tuhfah Al-Murid ‘Ala Jauhar At-Tauhid. Al-Khilafah. dan lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama (I’adah Al-Khilafah. Kesepuluh.Keempat. 23). 32). Kesembilan. I/8). hal. melaksanakan jihad…melaksanakan peradilan (qadha`). seorang Syaikh AlAzhar. 808 H/1406 M). 1177 H/1764 M). Khilafah adalah pengganti dari Nabi SAW dalam pelaksanaan apa yang dibawa Nabi SAW berupa hukum-hukum syariah Islam (Mawqif Al-Aql wa Al-‘Ilm wa Al-‘Alim.

namun pada akhir kalimat. Sedang definisi non-syar’i merupakan definisi yang tidak digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. Misalnya definisi Al-Qalqasyandi. Misalnya ungkapan bahwa Khilafah mengatur “umumnya kemaslahatan-kemaslahatan kaum muslimin”.”Khilafah lebih utama disebut sebagai pengganti dari Rasulullah dalam penegakan agama. Misalnya definisi Khilafah menurut Imam AlMawardi yang disebutnya sebagai pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia. Dengan menelaah seluruh definisi tersebut secara mendalam. Sebab definisi Khilafah seharusnya menggunakan redaksi yang tepat yang bisa mencakup hakikat Khilafah dan keseluruhan fungsi Khilafah. yang diturunkan dari nash-nash syar’i. dan seterusnya. Hasan Ibrahim Hasan. Ketiga. bukan dengan redaksi yang lebih bersifat deskriptif dan lebih memberikan contoh-contoh. Di sini Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam berupa pelaksanaan urusan politik atau sistem pemerintahan. melaksanakan peradilan (qadha`). Misalnya definisi Al-Iji. yang umumnya diungkapkan ulama dengan terminologi “urusan dunia” (umuur ad-dunya). Meskipun Al-Iji menyatakan bahwa Khilafah mengatur urusan-urusan dunia dan urusan agama. Beliau hanya menyinggung Khilafah sebagai kekuasaan umum (wilayah ‘ammah) atas seluruh umat. menegakkan rukun-rukun Islam. melaksanakan jihad. Khilafah lebih dipahami sebagai manifestasi ajaran Islam dalam pelaksanaan urusan agama. beliau menyatakan. Jadi. Bukankah ini ungkapan yang sangat luas jangkauannya? Sesungguhnya. apakah ia definisi syar’i (at-ta’rif asy-syar’i) atau definisi non-syar’i (at-ta’rif ghayr asy-syar’i) (Zallum. Atau bahwa Khilafah mengatur “kemaslahatan-kemaslahatan duniawiyah dan ukhrawiyah”. menegakkan hudud. Bukankah definisi ini menjadi terlalu rinci yang malah dapat menyulitkan kita menangkap hakikat Khilafah? Juga bukan dengan redaksi yang terlalu umum yang cakupannya justru sangat luas. sepatutnya kita perlu memahami lebih dahulu. Analisis Definisi Dari keempatbelas definisi yang telah disebutkan di atas. untuk menetapkan sebuah definisi. Definisi syar’i merupakan definisi yang digunakan dalam nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah. definisi yang lebih menekankan pada penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). 1985:51). definisi yang lebih menekankan pada penampakan agama (al-mazh-har ad-dini). Khilafah adalah kepemimpinan umum dalam urusan-urusan agama dan dunia sebagai pengganti dari Nabi SAW (Tarikh Al-Islam. definisi yang berusaha menggabungkan penampakan agama (al-mazh-har ad-dini) dan penampakan politik (al-mazh-har as-siyasi). tetapi digunakan dalam disiplin . Misalnya ungkapan bahwa Khilafah bertugas menghidupkan ilmuilmu agama. tanpa mengkaitkannya dengan fungsi Khilafah untuk mengatur “urusan agama”. yang sesungguhnya malah menyempitkan definisi.Keempatbelas. Selain itu. menurut Dr. I/350). definisi-definisi tersebut kurang mencakup (ghayru jaami’ah). semisal definisi sholat dan zakat.” Kedua. yaitu : Pertama. dapat dilihat sebetulnya ada 3 (tiga) kategori definisi. akan kita dapati bahwa secara global berbagai definisi tersebut lebih berupa deskripsi realitas Khilafah dalam dataran empirik (praktik) –misalnya adanya dikotomi wilayah “urusan dunia” dan “urusan agama”– daripada sebuah definisi yang bersifat syar’i.

dan semisalnya. (2) tugas mengemban dakwah Islam di luar tapal batas negara ke seluruh bangsa dan umat dengan jalan jihad fi sabilillah Nash kelompok pertama. kebangkitan. yakni Imam Abu Hanifah. Jadi. fi’il. Sedang Imam Muslim dalam Shahihnya telah mengumpulkannya dalam Kitab Al-Imarah (Ali Belhaj. qanun (UU). misalnya hadits Nabi yang mengharamkan adanya lebih dari satu khalifah bagi kaum muslimin seperti telah disebut sebelumnya (Shahih Muslim no. Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya telah mengumpulkan hadits-hadits tentang Khilafah dalam Kitab Al-Ahkam. maka dasar perumusannya bertolak dari realitas (alwaqi’). no. 2928.” (Shahih Muslim. maka dasar perumusannya wajib bertolak dari nash-nash syara’ Al-Qur`an dan AsSunnah. 1705. wajiblah kita memperhatikan berbagai nash-nash ini yang berkaitan dengan Khilafah. yang wajib diistimbath dari nash-nash syar’i (AySyakhshiyyah Al-Islamiyah. Imam Malik. Sebab nashnash syar’i. Ini menunjukkan bahwa Khilafah adalah sebuah kepemimpinan (ri`asah/qiyadah/imarah). haji. hadharah (peradaban). ya. telah menggunakan lafazh-lafazh “khalifah” dan “imam” yang masih satu akar kata dengan kata Khilafah/Imamah. 1853). Baik ia realitas empirik yang dapat diindera atau realitas berupa kosep-konsep yang dapat dijangkau faktanya dalam benak. yaitu : Kelompok Pertama. Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al- . perumusan definisi syar’i. yaitu : (1) tugas menerapkan seluruh hukum-hukum syariah Islam. bukan dari realitas. dan tentunya nash-nash Al-Qur`an. seluruh kaum muslimin di dunia hanya boleh dipimpin seorang khalifah saja. 1-3). Apakah definisi Khilafah (atau Imamah) merupakan definisi syar’i? Jawabannya. Imam Asy-Syafi’i. Ini berarti.ilmu tertentu atau kalangan ilmuwan tertentu. bukan dari nash-nash syara’. 1853). Mengapa? Sebab. masyarakat. no. 1991:15). Dengan menelaah nash-nash hadits tersebut. definisi syar’i sesungguhnya adalah hukum syar’i. wajib merujuk pada nash-nash syar’i yang berkaitan dengannya. madaniyah (benda sarana kehidupan).”Maka Imam yang [memimpin] atas manusia adalah [bagaikan} seorang penggembala dan dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya). Jelaslah. misalnya definisi sholat. dan Imam Ahmad. akan kita jumpai bahwa definisi Khilafah dapat dicari rujukannya pada 2 (dua) kelompok nash. jihad. XII/213. nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. III/438-442. semisal definisi isim. rahimahumullah (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri. nash-nash yang menerangkan hakikat Khilafah sebagai sebuah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia. Misalnya hadits Nabi. no. Kelompok Kedua. khususnya hadits-hadits Nabi SAW. dan harf (dalam ilmu Nahwu-Sharaf). zakat. dustur (UUD). bahwa untuk mendefinisikan Khilafah. Dan kesatuan Khilafah untuk seluruh kaum muslimin di dunia sesungguhnya telah disepakati oleh empat imam madzhab. “Jika dibaiat dua orang khalifah. Sunan Abu Dawud.” (Shahih Muslim. dan sebagainya Jika definisinya berupa definisi non-syar’i. III/342-343. menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani. ideologi (mabda`). Al-Ma’lumat li Asy-Syabab. Adapun yang menunjukkan bahwa Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum muslimin di dunia. Sedang jika definisinya berupa definisi syar’i. tak boleh lebih. misalnya nash hadits. hal. Sunan At-Tirmidzi. Contoh lainnya misalkan definisi akal. IV/308).

tidaklah sulit bagi Allah Azza wa Jalla. 9. Semuanya semata-mata karena ihsan Allah taala atas manusia dan semata-mata hasil ciptaan-Nya sajalah maka manusia dianugerahi bentuk sebagai wujud cuptaan sehingga terlahirlah ia sebagai hamba-Nya) Ingatlah. setelah itu diberikan kepemilikan sementara kepadanya. yakni dalam proses pembentukan dirinya ia tidak ada peran dan tidak pula untuk kelanggengannya ia mempunyai campur tangan dalam upayanya. Begitu pula kata ‘abdun terkandung di dalamnya yang artinya adalah ghulam (hamba). untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. ‘Abdun artinya adalah dia yang segala sesuatu bukan lagi menjadi miliknya. Walaupun itu tidak seluruhnya. 208). memantapkan hubungan dengan berbagai negara menurut asas yang dituntut oleh politik luar negeri. bahwa ia tidak mempunyai apa-apa yang menjadi milik dirinya. Hal ini nampak dalam berbagai nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mengatur muamalat dan urusan harta benda antara individu muslim (QS Al-Baqarah:188. Menurut beliau juga. dan semisalnya (QS Al-Anfaal:61. perjanjian bertetangga baik. istilah Khilafah dan Imamah dalam hadits-hadits shahih maknanya sama saja menurut pengertian syar’i (al-madlul asy-syar’i). orang-orang beriman akan merasa gembira dengan datangnya pertolongan Allah. “jangan mengambil apa-apa di rumah”. 1398 H/1977 M) dalam kitab-kitabnya. Dan yang demikian itu. agar mereka sudi kiranya untuk mengambilnya dan kemudian memperjuangkannya supaya menjadi realitas di muka bumi. 128. QS An-Nisaa`:58). adalah nash-nash yang menjelaskan tugas-tugas khalifah. itulah arti ibadah. Ada pun maksud yang mulia dari ibadah tiada lain adalah hendaknya kepada manusia diajarkan bahwa ia datang di dunia ini dengan tangan kosong. kitab Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal. yang secara lebih rinci terdiri dari dua tugas berikut : Pertama. tugas khalifah menerapkan seluruh hukum syariah Islam atas seluruh rakyat. ia menjadi banyak hubungan ikatan dengan macam-macam barang. 1). QS Muhammad:35). sebagian pun sudah . dapat dirumuskan definisi Khilafah secara lebih mendalam dan lebih tepat. Nash kelompok kedua. dan seterusnya. Kedua. menjaga akhlaq (QS Al-Isra`:32). menjamin masyarakat dapat menegakkan syiarsyiar Islam dan menjalankan berbagai ibadat (QS Al-Hajj:32). menjaga tapal batas negara (QS AlAnfaal:60). Juz II hal. Dalam pengertian inilah di dalam Alquran kata ‘abdun digunakan untuk manusia. tugas khalifah mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia dengan jihad fi sabilillah. Pada saat itulah. Hal ini nampak dalam banyak nash yang menjelaskan tugas khalifah untuk mempersiapkan pasukan perang untuk berjihad (QS Al-Baqarah:216). mengumpulkan dan membagikan zakat (QS At-Taubah:103). Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. wassalam Muhammad Sidik Aljaw Fariz Kata Ibadah sebenarnya dari kata ‘ibadah dan ‘ubudiyat (pengabdian). sebab difinisi dari ‘abdun ialah yang tidak memiliki apa-apa. melainkan ia dengan sendirinya mendatangkan maut atas dirinya lalu ia mempersembahkannya kepada Allah taala. Dan dikarenakan ia adalah “hamba” maka gambaran keadaannya adalah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia. ia memperoleh banyak barang-barang. Muhammad ibn Abdurrahman Ad-Dimasyqi. kemudian tangannya jadi terisi banyak. menegakkan hudud (QS AlBaqarah:179). Kemudian kepadanya dituntut untuk meninggalkan “miliknya” tersebut dengan senang hati. V/308. hal. perjanjian gencatan senjata. sungguh. Berdasarkan dua kelompok nash inilah. misalnya kitab Al-Khilafah (hal. Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf AlA`immah. Namun sekarang dia melakukan pemutusan hubungan dengan benda-benda duniwi tersebut bukan dengan paksaan atau dengan perantaraan maut. dan kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyah. Jadi. misalnya mengadakan berbagai perjanjian perdagangan. menggantikan sistem kehidupan sekuler yang kufur saat ini. Definisi inilah yang beliau tawarkan kepada seluruh kaum muslimin di dunia.Arba’ah.

Ibrahim: 10. 4. mental. Kitab suci al-Qur’an – seperti yang ditulis Bint as-Syathi’ dalam al-qur’an wa Qadhaya al-Insan – sering kali memperhadapkan insane dengan jin/jan. ambillah untuk sementara waktu saja. berjalan.wordpress. Duriyat Adam/Bani Adam . Diantaranya terdapat dalam surat al-hujurat: 13. Manusia dalam pengertian ini disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak 35 kali dalam berbagai surat. Manusia dinamai basyar karena kulitnya nampak jelas. 2. Jadi itulah perbedaan ibadah dengan ubudiyat. Di dalam ubudiyat seberapa jauh sikap dan persembahan dari si hamba semuanya itu tercakup dalam kata itu. Jalinlah perhubungan dengannya itu menjadi sangat khusus. digunakan al-qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. Itulah yang dinamakan ibadah. Kalaupun tidak untuk masa yang panjang. hubungannya dengan dunia sudah terputus dan menjadi dingin. dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. hud: 26. Basyar Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. atau nasa-yanusu (berguncang). Pendapat ini. Al-Ins/al-Insan Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak lawan dari binatang liar. dan berbeda dengan kulit makhluk yang lain. http://d3ndri. sedangkan ibadah seorang hamba tuhan adalah perhubungan yang melepaskan segala yang menjadi miliknya dan semua itu diserahkn kepada Allah taala dengan dada yang lapang. Dengan demikian istilah basyar merupakan gambaran manusia secara materi yang dapat dilihat. Kata insan.mencukupi. jiwa dan raga. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. jika ditinjau dari sudut pandang alQur’an lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dari kata nasiya (lupa). sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah. dan tampak. “sehingga iradah (keinginan) kita bergabung serta menyatu dalam pengabdian kita”. segalanya sudah diserahkan kembali kepada Allah taala dan Dia dijadikan sebagai pusat segala dambaan. al-Mukminun: 24 dan 33. intelektual dan juga spiritual. memakan sesuatu. Diantaranya terdapat dalam surat al-Abiya’: 2-3. 3. as-Syu’ara’: 93. yasin: 15. An-Nas Dalam al-Qur’an manusia dalam pengertian an-nas disebutkan sebanyak 240 kali dengan keterangan yang jelas menunjukan pada jenis keturunan Nabi Adam as. harmonis. jin adalah makhluk halus yang tidak tampak. Manusia yang berbeda antara satu dengan yang lainya akibat perbedaan fisik. alkahfi: 110.com/2010/06/12/manusia-basyar-insan-dan-al-nas/ 1. Al-Isra: 93 dan lain-lain. Dalam ayat-ayat tersebut terlihat bahwa manusia dalam arti basyar adalah manusia dengan sifat-sifat kematerianya.

38: 71-72]. 38: 71) )75 :‫)ص‬ ّ (‫)قال يا إبليس ما منعك أن تسجد لما خلقت بيدي أستكبرت أم كنت من العالين‬ َ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ُ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ّ َ َ ِ ُ ْ ََ َ ِ َ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ُ ِْ ِ َ َ َ Allah berfirman: “Hai iblis. yang oleh mayoritas ulama dinamai manusia pertama. sedangkan dalam penciptaan Adam. melalui proses keterlibatan Tuhan bersama selain-Nya. Shad.com/2010/05/06/4-istilah-tentang-manusia-dalam-al-quran/ .(QS. Hal ini dapat dilihat dalam QS at-Tin: 4. Al-Qur’an menunjuk kepada sang pencipta dengan menggunkan pengganti nama berbentuk tunggal: )71:‫)إذ قال ربك للملئكة إني خال ٌ بشرا من طين( )ص‬ ّ ٍ ِ ْ ِ ً َ َ ‫ِ ْ َ َ َ ّ َ ِ ْ َ ِ َ ِ ِ ّ َ ِق‬ (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. ditiupkan kepadanya ruh ilahi [QS Al-Hijr. Tetapi ketika berbicara tentang reproduksi manusia secara umum. apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang Telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Yang Maha Pencipta ditunjuk dengan menggunkan bentuk jamak. AtTin: 4). tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak. )4:‫)لقد خلقنا النسان في أحسن تقويم( )التين‬ ٍ ِ ْ َ ِ َ ْ َ ِ َ َ ْ ِْ َ ْ ََ ْ َ َ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . 38: 75). (QS Shad. yaitu bapak dan ibu. 15: 28-29.Al-Qur’an tidak menguraikan secara rinci proses kejadian Adam. (3) setelah proses penyempurnaannya selesai. (QS Shad. apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (2) bahan tersebut adalah disempurnakan. Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama. Yang disampaikanya dalam konteks ini hanya (1) bahan awal manusia adalah tanah. Keterlibatan bapak dan ibu mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak.blogdetik. Hal ini untuk menunjukan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan kejadian Adam AS. Penciptaan manusia secara umum. Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini Apakah anda menyukai tulisan ini ? http://ummgl.

menunjuk adanya kaitan dengan kesadaran diri. Manusia mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup tinggi. yaitu kata insan. baik satu ataupun banyak. kata basyar dan kata Bani Adam. ada tiga kata yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia. Manusia menghargai tata aturan etik. Kata basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk baik laki-laki ataupun perempuan. Sedangkan untuk jamaaknya dipakai kata an-nas. al-Kahf (18): 110]. Adapun kata basyar dipakai untuk tunggal dan jamak. baik perubahan sosial maupun alamiah. abdun dan khalifah Dalam al-Qur'an. Kata insan yang berasal dari kata al-uns. dan sebagai makhluk yang berbudaya. insiya. Karena itu Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan bahwa "Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu [QS. untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain adalah akibat perbedaan fisik. anisa. disebabkan karena kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut. nasiya dan anasa. 1992 : 22]. Sedangkan kata insan untuk penyebutan manusia yang terambil dari akar kata al-uns atau anisa yang berarti jinak dan harmonis. yang lahir dari adanya kesadaran penalaran [Musa Asy'arie. Al-Qur'an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna [dual] untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Kata insan digunakan al-Qur'an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya. Untuk itu. Di sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat al-Qur'an yang menggunakan .Sabtu. jiwa dan raga. "Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas. Tetapi hal ini berbeda dengan seseorang yang sengaja lupa terhadap sesuatu kewajiban. sama seperti ins.Quraish Shihab. karena ia kehilangan kesadaran terhadap kewajiban itu. 1996 : 20) karena manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungannya. Kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang berarti kulit. dan kecerdasan [M. mental. unasi. insan. anasi. sopan santun. maka dapatlah dikatakan bahwa kata insan menunjuk suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap. (Musa Asy'arie. jika seseorang lupa sesuatu kewajiban yang seharusnya dilakukannya. 10 April 2010 Konsep manusia sebagai basyar. dan berbeda dengan kulit binatang yang lain". maka ia tidak berdosa. 1996 : 280]. apabila manusia lupa terhadap seseuatu hal. ia tidak liar baik secara sosial maupun alamiah. Kata insan jika dilihat dari asalnya nasiya yang artinya lupa. Maka dalam kehidupan agama. Kata insan dalam al-Qur'an dipakai untuk manusia yang tunggal.

yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya. sedangkan basyar dipakai untuk menunjukkan pada dimensi alamiahnya. Allah menanamkan kesiapan dan kehendak untuk melakukan kebaikan atau keburukan sehingga manusia mampu memilih jalan yang menjerumuskannya pada . pendidikan. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikanNya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain [Q. bumi dan bahkan para malaikat. AlQur'an berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga. mengatakan bahwa manusia dalam pengertian basyar tergantung sepenuhnya pada alam. Musa Asy'arie [1996 : 21].95 :4]. Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezki [M. Ke dalam naluri manusia.al-Isro: 70 dan al-Hajj : 65]. pemakaian kedua kata insan dan basyar untuk menyebut manusia mempunyai pengertian yang berbeda.. Allah sendirilah yang menciptakan manusia yang proporsional [adil] susunannya [Q. yang keduanya mengandung pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang manusia [M. penalaran. Untuk itu. Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan. Dari pengertian insan dan basyar. benda mati atau makhluk lainnya [QS.kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar. tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar [perhatikan QS al-Hijr (15) : 28].Quraish Shihab. Insan dipakai untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran. pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan. mengatakan manusia menurut pandangan Islam meliputi : [1] Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan. dan QS.S. Dan karena itupula.1996 : 279].1996 : 280].S. yang menggunakan kata basyar. artinya Islam tidak memposisikan manusia dalam kehinaan.al-Rum (3) : 20] "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya [Allah] menciptakan kamu dari tanah.82:7]. manusia merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psihis yang memiliki potensi untuk berkembang. Abdurrahman An-Nahlawi [1995]. dan sikap hidupnya. makan. minum dan mati. melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan. kesadaran. ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran". yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab. Salah satu anugrah Allah yang diberikan kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dan kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan. kerendahan atau tidak berharga seperti binatang.Quraish Shihab. [2] Manusia sebagai makhluk istimewa dan terpili. Firman allah [QS. al-Baqarah (2) : 30 yang menggunakan kata khalifah. Penggunaan kata basyar di sini "dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia.

dalam surat al-Alaq : 3 dan 5. Dengan kelengkapan sarana belajar tersebut. rasa tanggungjawab terhadap dirinya maupun alam semesta. yang kemudian bergerak ke arah kekuatan. Dengan jelas Allah menyebutkan bahwa dalam hidupnya.S. pendengaran dan hati. sebagai khalifahNya di muka bumi. tidak mau memahami atau tidak mencoba untuk memahami tujuan hidup jangka panjang sebagai makhluk yang diberi dan bersedia menerima amanah.as-Syam: 7-10]. Manusia dicela karena kebanyakan dari mereka tidak mau melihat kebelakang (al'aqiba). Qur'an mencela manusia disebabkan kelalaian manusia akan kemanusiaannya. dan dipukullah amanat itu oleh manusia. al-Qur'an juga menyebutkan sifat-sifat kelemahan dari manusia. 2000 : 11]. [3] Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik. Pernyataan ini ditegaskan dalam firman Allah QS. kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan selalu mengingat-Nya [Rif'at Syauqi Nawawi. dan kebodohan manusia dalam memanfaatkan potensi fitrahnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan. Manusia dipusakai dengan kecenderungan jiwa ke arah kebaikan maupun kejahatan. Allah telah menganugrahi manusia sarana untuk belajar. manusia dinyatakan luar biasa keji dan bodoh. manusia harus berupaya menyucikan. bebas.derajat manusia direndahkan Firman Allah QS. dan lain-lain pertanyaan Allah kepada manusia yang menunjukkan manusia mempunyai potensi untuk belajar. Manusia tidak mampu memikul amanah yang diberikan Allah kepadanya. maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatirkan menghianatinya. at-Tiin (95) : 5-6 : "Kemudian Kami [Allah] kembalikan dia [manusia] ke kondisi paling rendah". lagit dan bumi. kesalahan manusia dalam mempersepsi dirinya. mengembangkan dan meninggalkan diri agar manusia terangkat dalam keutamaan [Q. yang di dalam dirinya ditanamkan sifat-sifat : mengakui Tuhan. serta karunia keunggulan atas alam semesta. Allah selalu bertanya kepada manusia dalan firman-Nya "afala ta'kilun".kebinasaan. kecuali mereka yang beriman kepada Allah dan beramal saleh". seperti penglihatan. “afala tata fakkarun". untuk melihat dan mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah. Selanjutnya dalam firman Allah : QS. Selain itu al-Qur'an juga mengingat manusia yang tidak menggunakan potensi hati. potensi telinga. Kemaujudan mereka dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan. serta sebagai makhluk semi-samawi dan semi duniawi. Manusia banyak dicela. maka manusia bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan dan binatang buas sekalipun . Tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan psikis mereka. al-Ahzab : 72 : "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit. al-A'raf : 179 sebagai berikut : "Sesungguhnya Kami Jadikan untuk [isi neraka Jahanam] kebanyakan dari jin dan . potensi mata. Selain itu. terpercaya. Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan untuk belajar. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh". bumi dan gununggunung.

dan melakukan aktivitas amal saleh. mereka mempunyai hati. 1999) Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perfektif. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya. dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki. manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling canggih. A. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyatakan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia . Mereka itu sebagai binatang ternak. dan mereka mempunyai telinga [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itulah orang-orang yang lalai". mampu menggunakan potensi yang dimilikinya dengan baik. yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia. kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan manusia hakekat manusia. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Pendahuluan Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya. bahkan mereka lebih sesat lagi. Filsafat Islam. menguasai ilmu pengetahuan.manusia. karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. ada yang mengatakan masnusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini dinyakini oleh para filosof. yaitu mengaktualisasikan potensi iman kepada Allah. (Musa Asy’ari. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis. Untuk itu. maka manusia akan menjadi makhluk yang paling mulia dan makhluk yang berkualitas di muka bumi ini seseuai dengan rekayasa fitrahnya. Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. tetapi tidak dipergunakan untuk memahami [ayatayat Allah] dan mereka mempunyai mata [tetapi] tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah).

seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Permaianan dalam sejarahnya juga digunakan untu memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritus suci. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja.(Franz Magnis Suseno. Binatang berproduksi hanya apa yang ia butuhkan secara langsung bagi dirinya danketurunnya. Sedangkan manusia membuat kerja hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya. sedangkan manusia berproduksi secara universal bebas dari kebutuhan fisik. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens. Dipihak yang lain ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhan. dikarenakan manusia berproduksi menurut hukum-hukum keindahan. Manusai juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. 2005) Marx menunjukan perbedaan antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya. Panorama Filsafat Modern. Bertens. universal dikarenakan ia dapat memakai beberapa cara untuk tujuan yang sama. Antropologi adalah merupakan salah satu dari cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakekat manusia dan sepanjang sejarahnya manusia selalu . ia baru produksi dari yang sesungguhnya dalam kebebasan dari kebutuhannya. Oleh sebab itu menurut Marx manusia hnya terbuka pada nilai-nilai estetik dan hakekat perbedaan manusia dengan binatang adalah menunjukan hakekat bebas dan universal. Manusia dalam bekerja secara bebas dan universal.menafsirkan simbol-simbol tersebut. binatang langsung menyatu dengan kegiatan hidupnya. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”. manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli mahluk yang lain. Manusia berhadapan bebas dari produknya dan binatang berproduksi menurut ukuran dan kebutuhan jenis produksinya. Pemikiran Karl Marx. 1999). Manusia dalam bermaian memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. (K. manusia berproduksi mnurut berbagai jenis dan ukuran dengan objek yang inheren. bebas I dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya.

Tindakan dan kesadaran manusia bersifat historis manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal. Paulo Freire Kehidupan. 1999) Manusia menurut Paulo Freire mnusia merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Karya dan Pemikirannya. yang mempunyai kontak tidak kritis dengan dunia. Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah. atau unsur rohani dalam pandangan spritualisme. manusia menciptakan sejarah juga sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah. nyakni pandangan pluralisme yang menetapkan pandangan pada adanya berbagai unsur pokok yang pada dasarnya mencerminkan unsur yang ada dalam marco kosmos atau pandangan mono dualis yang menetapkan manusia pada kesatuannya dua unsur. yang kemudian menjadi perenungan tentang kegelisahan dirinya. ataukah ia sedang dalam dinamika masyarakat dengan mempertanyakan tentang makna hidupnya ditengan dinamika perubahan yang kompleks. seperti dalam pandangan monoteisme. sekarang berhubungan masa lalu dan berhubungan dengan masa depan. (Denis Collin. apakah ia sedang sendirian. dan hidup dalam masa kini yang kekal. ataukah mono pluralism yang meletakkan hakekat pada kesatuannya semua unsur yang membentuknya. Manusi dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas. Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya . kan tetapi bukan berarti bahwea ia tidak dapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan . yakni materi dalam pandangan materialisme. Dalam jawaban tentang manusia tidak pernah akan selesai dan dianggap tidak pernah sampai final dikarenakan realitas dalam keling manusia selalu baru. meskipun dalam subtansinya tidak berubah. keterarahan. 2002).(Musa Asy’ari. yang menccari unsur pokok yang menentujkan yang bersifat tunggal. yang hanya berada dalam dunia.mempertanyakan tentang dirinya. Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya. Filsafat Islam. dan apakah makna keberadaannya ditengah kompleksitas perubahan itu? Pertanyaan tentang hakekat manusia merupkan pertanyaan kuno seumur keberadaan manusia dimuka bumi. atau dualisme yang memiliki pandangan yang menetapkan adanya dua unsur pokok sekaligus yang keduanya tidak saling menafikan nyaitu materi dan rohani. yang menunjukan disini berhubungan disana. temporaritas dan trasendensi) yang menjadikan mahluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk meyampaikan hubungan dengan dunia.

(Musa Asy’ari. Tujuan tersebut . dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi. empirisme dan rasionalisme. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh memlalui penalaran dubium methodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegas keberadaannya). martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. (Ali Syariati. Hal ini dikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutan kehidupannya setelah mati. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergearak pada satu arah. akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. 2001). Menurut Iqbal aktivitas ego pada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkal tentang yang menyatukan pengalaman. hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusia bertindak membuktikan bahwa aku ada. Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silih berganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Tetapi bagi Iqabal bahwa ego manusia adalah nyata. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikan pangging teater bagai pengalaman yang silih berganti. Paradigma Kaum Tertindas. Ego yang bebas. Bagi Iqbal ego adalah bersifat bebas unifed dan immoratal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme. Agama telah memamaksa ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadian manusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. kedudukan. terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Filsafat Islam. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah ego absolut. Hakekat manusia Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme. Pendapat tersebut adalah membantah tesis yang dikemukanakn oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidak ditemukan dalam pengalaman konkit namun secara logis harus dapat dijatikan postulas bagi kepentingan moral.eksistensinya dalam kehidupan dunia ini mencapai kedewasaan dan semua kenyataan itu. 1999) B.

seperti halnya dalam proses kejadian adam mengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. 2004) Manusia dalam konsep al Quran mengunakan kensep filosofis. dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniah dan atributnya. Filsafat Islam. Pendidikan sebagai Alat Perlawanan.tidak ditetapakan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. Dari sini memunculkan kesadaran atau tindakan otentik. sedangkan pada kotauhid hakekat manusai dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. keakuan. (Musa Asy’ari. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasistasnya dapat mengetahui. tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Dari sini manusia sebagaiu suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. 1999) Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis. ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual. kekinian dan dinamik. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal. Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Matinya Metafisika Barat. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunidan hungungganya dengan dunia manusia bersifat unik. dikarenakan kesadaran merupakan penjelasnan eksistensi penjelasan manusia didunia. dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaan didalam dirinya sendiri. karya dan perbuatannya. diri. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri. Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. sebagaimana dilukiskan dalam kisah adam dapat diredusir menjadi rumus. Ruh Tuhan + Lempung Busuk Manusia . (Donny Grahal Adian. (Siti Murtiningsih. 2001) Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs.

Manusia dalam hadir dalam dunia merupakan bagian yang berada dalam diri manusia esensi dan eksistensi. Hal ini yang menjadikan manusia sebagai realitas dialektis. 2001) Manusia merupakan mahluk yang unik yang menjadi salah satu kajian filsafat. Proses mengadanya manusia merupakan refleksi kritis terhadap manusia dan realitas sekitar. Dalam filsafat pembagian dalam melihat sesuatu materi yang terbagi menjadi dua macam esensi dan eksistensi. Refleksi tersebut menjadikan manusia dapat memahami diri sendiri. Esensi dan eksistensi bersifat berjalan secara bersamaan dan dalam perjalananya dalam diri manusia ada yang mendahulukan esensi dan juga eksistensi.Ruh Tuhan dan lempung busuk merupakan dua simbol individu. Paradigma Kaum Tertindas. Manusia adalah suatu kehendak bebas dan bertanggungjawab menempati suatu stasiun antara dua kutub yang berlawanan yakni Allah dan Syaitan. Gabungan tersebut menjadikan mansuia bersifat dialektis. Dari dialektika tersebut menjadikan manusia berkehendak bebas mampu menentukan nasibnya sendiri dan bertanggung jawab. Esensi dan eksistensi manusia ini yang menjadikan manusia ada dalam muka bumi. Manusia yang memahami tentang dirinya sendiri ma ia akan . Sebagaimana perkataan bijak yang dilontarkan oleh socrates bahwa hidup yang tak direfleksikan tak pantas untuk dijalanani. Begitu pula manusia dilihat sebagai materi yang memiliki dua macam bagian esensi dan eksistensi.(‘Ali Syariati. Manusia yang ideal menurut ‘Ali Syariati adalah manusia yang telah mendialektikakan ruh tuhan dengan lempung dan yang dominant dalam dirinya adalah ruh Tuhan. Begitu pula manusia yang menjalankan eksistensi tanpa melihat esensi maka yang terjadi ia hanya ada tetapi tidak dapat mengada. Secara aktual manusia tidak diciptakan dari lempung busuk (huma’in masnun) ataupun ruh Tuhan. realitas alam dan Tuhan. Ruh Tuhan merupakan simbol dari gerak tanpa henti kearah kesempurnaan dan kemuliaan yang tak terbatas. bahkan dengan mengkaji manusia yang merupakan mikro kosmos. Seperti yang telah dikekmukakan oleh ‘Ali Syariati bahwa esensi manusia merupakan dialektika antara ruh Tuhan dengan lempung dari dialektika tersebut menjadikan manusia ada dalam mengada. Manusia yang menjalankan esensi menjadikan ia bersifat tidak bergerak dan menunjau lebih dalam saja tanpa melakukan aktualisasi. Karena kedua istilah itu harus dikasih makna simbolis. Pernyataan al Quran manusia merupakan gabungan ruh Tuhan dan lempung busuk. “Lempung busuk” merupakan simbol kerendahan stagnasi dan pasifitas mutlak.

kedamaian. Proses pemahaman diri dengan refleksi kristis diri. Sifat dari manusia tersebut adalah mahluk yang bebas berkreatif dan mahluk bersejarah dengan diliputi oleh nilai-nilai trasendensi yang selalu menuju kesempurnaan. bilogis. Bagan Esensi dan Eksistensi Manusia No Eksistensi Esensi KesadaranBasic HumanKebutuhan manusia Fitrah (Basic HumanValues (BasicDasar (Basic Drives) Islamic Human Needs) Values) 1 2 3 Al Insan Al Basyar Abdullah Rasa ingin tahu Rasa lapar. hal tersebut menjadikan diri manusia menjadi insan kamil atau manusia sempurna.memahami Penciptanya. dingin Intelektual Biologis Intelektual Biologis Spiritual Sara ingin berterimakasihSpiritual dan bersykur kepada tuhan Rasa tahan sendiri danSosial menderita dalam kesepian 4 An-Nas Sosial 5 Khalifah filButuh keamanan. al basyar. Manusia dalam eksistensinya sebagai al insan. sosial dan estetika. haus. Hal tersebut menjadikan manusia yang memiliki sifat dan karaktersistik profetik. tidak menjadi budak orang lain. kemakmuran. Pembebasan yang dilakukan oleh manusia adalah pembebasan manusia dari korban penindasan sosialnya dan pembebasan dari alienasi antara eksistensi dan esensinya sehingga manusia menjadi diri sendiri. Manusia dalam eksistensi tersebut dikarenakan potensi yang berada dalam diri manusia seperti intelektual.Estetika ardli ketertiban. Manusia menjadikan ia yang bertanggungjawab pada eksistensinya yang berbagai macam dimensi tersebut. dan khalifah. Manusia yang bereksistensi dalam kelima tersebut menjadikan ia sebagai mahluk pengganti Tuhan dan menjalankan tugas Tuhan dalam memakmurkan bumi. agama dan realitas. spiritual. Proses pemahaman diri dengan pencipta menjadikan manusia berproses menuju kesempurnaan yang berada dalam diri manusia. keadilan dan keindahan lingkungan Manusia yang melakukan refleksi menyadari Estetika bahwa ia mahluk yang berdimensional dan bersifat unik. . ‘abdullah. annas.

Kedudukan dan peran manusia Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba. Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. dimana harus menjaga agama. ekologi. Manusia yang memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah. Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dala rangka memakmurkan bumi. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta dalam bentuk imateri sedangkan unsur mteri yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia. an-nas. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. D. al insan. jiwa. Tujuan hidup manusia Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya. harta. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. . akal dan. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. pengulangan kembali tentang esensi dan eksistensi manusia. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai-esensi dari hukum.C. al basyar dan khalifah. keturunan. yang memiliki inspirasi nilai-nilai ke-Tuhan-an yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi. Tetapi sebelum membahas tentang peran dan kedudukan. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Misalkan sebagai khalifah dimuka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia disini harus bersentuha dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi.

Perjumpaan manusi dengan Tuhan dalam tahapan nafs. Kerjasama kreatifitas Tuhan dengan manusia dan melalui keratifitasnya manusia menaiki tangga mi’raj memasuki cahayaNya yang merupakan cahaya kreatifitas abadi. Tetapi manusia setalah menyatu. Filsafat Islam. lantas tak memperdulikan dengan yang lain dengan menyatu terus dengan pencipta. 1999) Proses bertemunya nafs manusia dengan Tuhan dalam kondisi spiritual tercapai jika manusai berusaha membersihkan diri dari sifat yang buruk yang ada padanya. memahami cinta pada Pencita itu dimanifestasikan cinta tersebut untuk sesama manusia dan alam. Pencitraan Tuhan dalam diri manusia menjadikan ia sebagai insan kamil dan dalam ajaran agama dapat menjadi rahmat bagi yang lain baik sesama manusia ataupun alam. Nafs yang dimiliki oleh manusia merupakan nafs yang terbatas akan kembali bersama nafs yang mutlak dan tak terbatas. Tetapi dari sini manusai mendaki tangga mi’raj menuju nafs Tuhan dengan cinta dan karena cinta pula terbentuknya alam serta manusia. Pertemuan nafs manusia dengan nafs Tuhan merupakan perjumpaan dinamis yang sarat muatan kreatifitas dalam dimensi spiritualitas yang bercahaya. Sebagaimana yang terjadi pada al Halaj. Yazid al Bustami Rabiah al Adawiyah dan yang lain mereka memiliki ekspreasi dan kelakuan yang berbeda ketika meresakan berteumnya dengan Pencipta.blogspot. (Musa Asy’ari. http://simplelove01diaz. yang spiritual dikarenakan nafs spiritual yang sangat indah dan Tuhan akan memanggilnya kembali nafs tersebut bersamanya. Proses penebaran cinta tersebut menjadikan manusia dapat bermanfaat pada yang lain menjadika diri sebagai cerminan Tuhan dalam muka bumi. dan kembalinya nafs manusia melalui ketauhidan antara iman dan amal sholeh. Setelah menyatunya manusia dalam dimensi spiritual dengan Pencipta.html .com/2010/04/konsep-manusia-sebagai-basyarinsan. Perjumpaan nafs tersebut dapat dilihat pada sufi yang memenculkan berbagai macam ekspresi dalam perjumpaannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful