P. 1
MAKALAH Individu Dan Masyarakat

MAKALAH Individu Dan Masyarakat

|Views: 681|Likes:
Published by Widya Purwanti

More info:

Published by: Widya Purwanti on May 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2013

pdf

text

original

Membentuk Sikap dan Mental Remaja Di Era Modern

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Individu dan Masyarakat yang ditujukan kepada dosen Siti Nurbayani K, S.Pd, M.Si

Oleh

Widiya Purwanti (0900940)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2010

1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunianya saya dapat menyusun makalah ini yang berjudul ”Membentuk Sikap dan Mental Remaja di Era Modern“ yang merupakan salah satu tugas dari Matakuliah Individu dan Masyarakat Tujuan penyusun membuat makalah ini adalah agar para pembaca dapat menambah pengetahuan dan mengembangkan wawasan setelah membaca dan memahami materi yang ada dalam makalah ini. Dan saya berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk pembaca khususnya remaja yang bisa

mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari Dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dari penulisan makalah ini, hal tersebut semata karena keterbatasan saya dalam mengolah materi kajian ini. Dan saya juga berharap mendapat saran dan kritik membangun dari pembaca agar saya dapat memperbaiki diri dalam pembuatan makalah yang lain kedepannya.

Bandung, 30 Mei 2010

Penulis

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... BAB 1 Pendahuluan ..................................................................................... 1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 1.3 Tujuan .................................................................................................... 1.4 Manfaat ................................................................................................... 1.5 Sistematika Penulisan .............................................................................. 1.6 Teknik Penulisan ..................................................................................... BAB 2 Landasan Teori ................................................................................. 2.1 Pengertian Mental dan Sikap ................................................................... 2.2 Pengertian Remaja .................................................................................. 2.3 Karakteristik Remaja ............................................................................... 2.4 Perkembangan dan Permasalahan Fisik Remaja ...................................... 2.5 Perkembangan Psikososial Remaja .......................................................... BAB 3 Pembahasan ...................................................................................... 3.1 Remaja, Calon Penerus Bangsa ............................................................... 3.2 Perbedaan Remaja Zaman Sekarang dengan Remaja Zaman Dahulu ....... 3.3 Dampak dari Lunturnya Mental dan Sikap Remaja Di Era Modern.......... 3.4 Bagaimana Membentuk Mental dan Sikap Remaja Di Era Modern? ........ BAB 4 Kesimpulan dan Saran ....................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

i ii 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 4 5 7 11 11 11 14 17 21 22

3

BAB 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Di zaman modern dan serba canggih ini mengharuskan kita sebagai generasi muda untuk lebih terampil dan pintar dalam segala hal baik dari sisi ilmu pengetahuan ataupun teknologi.Suatu tantangan bagi generasi muda khususnya remaja untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya agar menjadikan generasi muda yang berkualitas dan mampu bersaing dengan bangsa lain.Untuk itu saya memilih tema “Pembentukan Sikap dan Mental Remaja di Era Modern” , sebuah tema yang akan membahas sebab-sebab lunturnya sikap dan mental remaja zaman sekarang yang pada hakikatnya dari teknologi itu sendiri dan juga disini akan dibahas mengenai solusi-solusi ataupun cara yang tepat untuk membentuk sikap dan mental remaja yang kuat dalam menghadapi dunia modern ini, dengan dibentuknya mentalitas dan sikap remaja yang kuat, kokoh, disiplin maka akan terbentuk pula individu-individu yang mempunyai pribadi yang luar biasa. Karena meskipun masa remaja itu sangat singkat tapi masa inilah yang paling menentukan kelanjutan hidup seorang manusia. Para pakar pendidikan dan ilmu jiwa nampaknya sepakat mengatakan bahwa masa remaja adalah masa kritis seorang anak manusia dalam upaya menemukan jati dirinya. 1.2 Rumusan Masalah     Apa yang dimaksud dengan Mental dan Sikap? Mengapa Sikap dan Mental remaja sekarang mulai luntur? Bagaimana akibat dari lunturnya Sikap dan Mental remaja masa kini? Bagaimana solusi membentuk Sikap dan Mental remaja yang kuat?

4

1.3 Tujuan     Mengetahui definisi dari Mental dan Sikap Mengetahui penyebab lunturnya Sikap dan Mental remaja sekarang ini? Mengetahui akibat dari lunturnya Sikap dan Mental remaja masa kini Mengetahui dan memahami cara-cara atau bagaimana membentuk Sikap dan Mental remaja yang kuat 1.4 Manfaat Manfaat disusunnya makalah ini agar mendapat pengetahuan bagaimana membentuk sikap dan mental seorang remaja di era modern kini. 1.5 Sistematika Penulisan Makalah ini disusun secara sistematis mulai dari BAB 1 yaitu Pendahuluan yang berisikan Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan, Manfaat, dan Sistematika Penulisan. Pada BAB 2 berisi Landasan Teori yang memuat Pengertian Sikap dan Mental, Pengertian Remaja, Karakteristik Remaja, Perkembangan dan Permasalahan Fisik Remaja, Perkembangan Psikososial. Pada BAB 3 berisi Pembahasan yang terdiri dari Sebab-sebab lunturnya sikap dan mental remaja, akibat lunturnya sikap dan mental remaja, pembentukan sikap dan mental remaja. Pada BAB 4 berisi Kesimpulan dan saran dari Pembentukan sikap dan mental remaja. 1.6 Teknik Penulisan Teknik yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu dengan teknik litelatur dan browsing dari internet.

5

BAB 2 Landasan Teori

2.1

Pengertian Mental dan Sikap Sikap dan mental sangat diperlukan dalam berbagai hal termasuk dalam

kehidupan sehari-hari.Sementara itu pengertian sikap menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yaitu perbuatan yang berdasarkan pada pendirian atau keyakinan.Maka Sikap dapat diartikan Potensi atau pendorong yang ada dalam individu untuk bereaksi terhadap segala hal yang ada dalam lingkungannya. Sedangkan Mental menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) yaitu Bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.Jadi, Mental adalah rangkaian sistem abstrak yang hidup dalam pikiran mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidup. 2.2 Pengertian Remaja Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 1218 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 1223 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek. Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
6

Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. 2.3 Karakteristik Remaja Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu: 1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. 2. Ketidakstabilan emosi. 3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup. 4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua. 5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua. 6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya. 7. Senang bereksperimentasi. 8. Senang bereksplorasi. 9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan. 10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok. Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja

7

bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja. 2.4 Perkembangan dan Permasalahan Fisik Remaja Perubahan-perubahan fisik merupakan perubahan primer pada masa remaja yang berdampak pada perubahan psikologis (Sarwono,1994).Beberapa perubahan fisik yang terjadi selama masa remaja yaitu sebagai berikut : 1. Perubahan pada Tinggi dan Berat Perubahan tinggi dan berat pada usia remaja berlangsung pesat.Untuk perempuan pertumbuhan tertinggi pada usia 11 atau 12 tahun sedangkan untuk anak laki-lakinya 2 tahun kemudian. Menurut Seifert dan Hoffnung faktor penyebab laki-laki lebih tinggi dari perempuan dikarenakan laki-laki memulai percepatan pertumbuhan mereka 2 tahun lebih lambat dari perempuan.Begitupun terjadi pada penambahan berat badan,yakni sekitar 13kg bagi anak laki-laki dan 10 kg bagi anak perempuan (Malina, 1990). 2. Perubahan pada proporsi tubuh Percepatan pertumbuhan tinggi dan berat badan juga disertai dengan terjadinya proporsi tubuh.Perubahan proporsi tubuh yang tidak seimbang menyebabkan remaja merasa kaku dan canggung serta khawatir badannya tidak serasi dengan tangan dan kakinya.Perubahan tersebut juga terjadi pada wajah, yang mana wajah anak-anak mulai menghilang, seperti terjadinya meluasnya permukaan dahi, juga terjadinya perkembangan otot dengan cepat.Akan tetapi perkembangan otot laki-laki lebih cepat dan memiliki lebih banyak jaringan otot sehingga ank laki-laki lebih kuat dari anak perempuan. 3. Perubahan Pubertas

8

Pubertas adalah suatu periode dimana kematangan kerangka atau seksual terjadi dengan pesat terutama pada masa awal remaja. Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang ditandai dengan perubahan cirri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.  Perubahan ciri-ciri seks primer Ciri-ciri seks primer menunjukan pada organ tubuh secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Perubahan cirri-ciri seks primer pada laki-laki yaitu sangat dipengaruhi oleh hormone perangsang yang diproduksi oleh kelenjar bawah otak (Pituitary Gland). Hormon perangsan pria ini merangsang testis sehingga testis menghasilkan hormone testosterone dan androgen serta

spermatozoa (Sarwono, 1994).Pada umumnya usia 12 tahun lakilaki mengalami penyemburan air mania tau dikenal dengan istilah “mimpi basah”. Sedangkan pada anak perempuan ditandai dengan terjadinya menstruasi, yang disebut Menarche yaitu menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang gadis.Menstruasi pertama pada seorang gadis biasanya didahului oleh beberapa berubahan lain, seperti pembesaran payudara, pembesaran pinggul, dan kemunculan rambut pada daerah sekitar kelamin.Selanjutnya, ketika percepatan pertumbuhan mencapai puncaknya maka ovarium, uterus, vagina, labia dan klitoris berkembang pesat (Malina, 1990).  Perubahan ciri-ciri seks sekunder Ciri-ciri seks sekunder yaitu tanda-tanda jasmani yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi namun tandatanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, tandatanda jasmaniah ini muncul sebagai konsekuensi dari berfungsinya hormon-hormon tersebut.

9

Tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada laki-laki diantaranya yaitu tumbuh kumis dan janggut, jakun,bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, di dada, di kaki, di lengan, dan disekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi kuat.Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu disekitar ketiak dan kemaluan. 4. Permasalahan Fisik Remaja Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan stres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, perokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999 : Thompson et al). 2.5 Perkembangan Psikososial Remaja Perubahan fisik dan kognitif ternyata sangat berpengaruh pada

perkembangan kehidupan psikososial remaja, berikut saya akan membahas tentang beberapa aspek perkembangan psikososial selama remaja.
10

Perkembangan Identitas Diri Dalam konteks Psikologi perkembangan, pembentukan identitas merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja.Selama masa remaja ini, kesadaran akan identitas menjadi lebih kuat, karena itu mereka berusaha mencari identitas dan mendefinisikan kembali “siapakah” ia saat ini dan akan menjadi siapakah atau apakah mereka pada masa yang akan datang.Perkembangan identitas selama masa remaja ini juga sangat penting karena mereka memberikan suatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi interpersonal pada masa dewasa(Jones & Hartmann, 1988). Menurut Erikson dalam karyanya yang berjudul Identity : Youth and Crisis bahwa salah satu tugas perkembangan selama remaja yaitu menyelesaikan krisis identitas sehingga diharapkan

terbentuknya suatu identitas diri yang stabil pada akhir masa remaja, Remaja yang berhasil mencapai suatu identitas diri yang stabil akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaan dengan orang lain, menyadari kekurangan dan kelemahan dirinya, penuh percaya diri, tanggap terhadap berbagai situasi, mampu mengambil keputusan penting, mampu mengantisipasi tantangan masa depan serta mengenal perannya dalam masyarakat (Erikson, 1989).Kegagalan dalam mengatasi krisis identitas dan mencapai suatu identitas akan sangat membahayakan masa depan, sebab seluruh masa depan akan sangat ditentukan oleh penyelesaian krisis tersebut.  Perkembangan Hubungan Remaja dengan Orang Tua Perubahan-perubahan fisik, kognitif, dan social yang terjadi dalam perkembangan remaja mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap relasi orang tua-remaja.Salah satu cirinya yaitu remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua serta mengembangkan ide-ide meeka sendiri, orang tua

11

tidak lagi dipandang ototitas yang serba tahu.Untuk itu perlu adanya keterikatan yang kuat antara orang tua dan remaja karena dapat berpengaruh besar dalam menentukan arah perkembangan remaja, maka orang tua haru senantiasa harus menjaga dan dan mempertahankan keterikatan ini. Untuk mempertahankan

keterikatan dan kedekatan antara orang tua dan remaja tersebut, orang tua harus membiarkan mereka bebas untuk

berkembang.Hanya dengan cara tersebut maka keharmonisan antara orang tua dan remaja dapat tercapai disamping perlunya terus memberikan bimbingan untuk mengambil keputusankeputusan  yang masuk akal pada bidang-bidang dimana

pengetahuan anak remajanya masih terbatas. Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya Perkembangan social remaja ditandai dengan gejala meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka.sebagian banyak waktu mereka dihabiskan untuk bergaul dengan teman sebayanya. Menurut Kelly dan Hansen (1987) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman sebaya, yaitu : a. Mengontrol implus-implus agresif. b. Memperoleh dorongan emosional dan social serta menjadi lebih independen. c. Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial. d. Mengembangkan sikap terhadap seksual dan tingkah laku peran jenis kelamin. e. Memperkuat penyesuain moral dan nilai-nilai f. Meningkatkan harga diri (self-esteem)  Perkembangan Seksual Salah satu fenomena kehidupan remaja yang paling menonjol adalah terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas.

12

Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan seksual ini sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas. Untuk melepaskan diri dari ketegangan seksual tersebut, remaja mencobamengekspresikan dorongan seksual dalam berbagai bentuk tingkah laku seksual, mulai dari berpacaran (dating), berkencan, bercumbu, sampai dengan melakukan kontak seksual.Salah satu tingkah laku seksual yang paling menonjol dikalangan remaja yaitu Masturbasi. Dalam suatu investigasi yang dilakukan Haas,1979 ditemukan bahwa masturbasi sudah merupakan hal yang lumrah di kalangan remaja.Lebih dari satu pertiga remaja laki-laki dan satu setengah remaja perempuan melakukan masturbasi satu kali seminggu atau lebih. Belakangan ini, sebagai dampak dari perubahan-perubahan normanorma budaya, aktivitas seksual remaja terlihat semakin

meningkat. Sejumlah data penelitian menunjukan bahwa remaja mempunyai angka terbesar dalam melakukan aktivitas hubungan seksual.Fenomena ini jelas sangat mengkhawatirkan orang tua dan masyarakat.

13

BAB 3 Pembahasan

3.1

Remaja, Calon Penerus Bangsa Remaja merupakan periode tertentu dari kehidupan manusia yang penuh

gejolak dan gairah, sebab masa remaja (Adolence) merupakan masa transisi antara masa anak-anak menuju masa dewasa.Jadi, proses Adolence ini merupakan awal mula proses pembentukan kepribadiannya pada masa dewasa kelak. Untuk itu kita harus sama-sama berusaha membentuk pribadi remaja sekuat mungkin. Karena remaja di tangan remaja lah yang menentukan kemana arah dan tujuan bangsa kita kelak. 3.2 Perbedaan Remaja Zaman Sekarang dengan Remaja Zaman Dahulu Remaja zaman dahulu tentu saja berbeda dengan remaja zaman sekarang, hal apa sajakah yang membedakan remaja zaman sekarang dengan remaja zaman dulu, sehingga menyebabkan lunturnya sikap dan mental remaja sekarang, berikut akan dijelaskan beberapa faktor penyebab perbedaan tersebut : 1. Perkembangan teknologi media elektronika Tv, video, film dan sebagainya nampaknya ikut berperan merusak mental remaja, padahal mayoritas ibu-ibu yang sibuk menyuruh anaknya menonton tv sebagai upaya menghindari tuntutan anak yang tak ada habisnya. Sebuah penelitian lapangan yang pernah dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa film-film yang memamerkan tindak kekerasan sangat berdampak buruk pada tingkah laku remaja. Anak yang sering menonton film-film keras lebih terlibat dalam tindak kekerasan ketika remaja dibandingkan dengan teman-temannya yang jarang menonton film sejenis. Polisi Amerika menyebutkan bahwa sejumlah tindak kekerasan yang

14

pernah ditangani polisi ternyata dilakukan oleh remaja persis sama dengan adegan-adegan film yang ditontonnya. Ternyata anak meniru dan mengindentifikasi film-film yang ditontonnya. 2. Pengaruh Pergaulan Di usia remaja, anak mulai meluaskan pergaulan sosialnya dengan temanteman sebayanya. Remaja mulai betah berbicara berjam-jam melalui telefon. Topik pembicaraan biasanya seputar pelajaran, film, tv atau membicarakan cowok/ cewek yang ditaksir dsb. Hubungan sosial di masa remaja ini dinilai positif karena bisa mengembangkan orientasi remaja memperluas visi pandang dan wawasan serta menambah informasi, bahkan dari hubungan sosial ini remaja menyerap nilai-nilai sosial yang ada di sekelilingnya. Semua faktor ini menjadi penyokong dalam pembentukan kepribadiannya dan menambah rasa percaya diri karena pengaruh pergaulan yang begitu besar pada diri remaja, maka hubungan remaja dengan teman sebayanya menentuakan kualitas remaja itu. Kalau ini disadari oleh remaja, maka dengan sadar remaja akan menyeleksi teman yang d. Penelitian yang dilakukan oleh pihak kepolisian di Jakarta pada murid-murid sekolah menengah yang rajin tauran menunjukkan bahwa pencetus ide tauran itu hanyalah tiga atau empat orang remaja saja yang lainnya hanya ikut-ikutan. Pengawasan orantua secara tidak langsung dan dialog terbuka bisa menyadarkan remaja dari bahaya teman-teman yang tidak baik reputasinya. 3. Kurang Peduli pada Agama Perasaan beragama pada remaja yang mereka serap dari lingkungan menjadi milik pribadinya. Perasaan beragama ini biasanya tidak konstan, kadang-kadang remaja menunjukkan kesalehan yang berlebihan, di saat lain menunjukkan keraguan pada agama yang dianutnya. Di satu sisi remaja membutuhkan rasa keimanan kepada Allah untuk mencari ketenangan diri dari berbagai gejolak jiwa, di sisi lain agama berperan mengekang gejolak biologisnya. Orangtua yang hanya berfungsi sebagai panutan dalam pelaksanaan nilai-nilai agama di rumah belum menjamin

15

remaja bisa menjadi anak yang saleh. Fungsi sebagai panutan harus disertai dengan hubungan yang erat antara orangtua dan remaja sehingga remaja dapat menyerap semua nilai-nilai agama langsung dari

orangtuanya. Nilai-nilai inilah kelak yang akan menjadi bagian dari jatidirinya. 4. Keluarga yang tidak harmonis Dr. Afaf Haddad, seorang dokter jiwa di Universitas Ain Syams, dalam konperensi kedokteran jiwa yang digelar di Toronto-Kanada menyebutkan pada kertas penelitiannya bahwa sikaf acuh tak acuh orangtua dan perlakuan tak mesra orangtua membuat anak menjadi stress dan pada akhirnya menjadi penyebab penyakit gangguan jiwa (Sezoprania). Kritikan, cemoohan dan cacian orangtua pada remaja, apalagi di depan orang banyak menimbulkan ketidak puasan anak pada dirinya, menimbulkan rasa putus asa menghilangkan konsentrasi belajar sehingga anak menarik diri dari pergaulan. Pelariannya adalah menenggak minuman keras atau menggunakan obat bius (narkotik) 5. Masuknya kebudayaan barat Karena pengaruh media cetak maupun elektronik tersebut maka kebudayaan barat secara perlahan masuk ke wilayah Indonesia, seperti dari cara berpakaian yang serba minim, makanan ala luar negeri, dan gaya hidup yang meniru orang-orang barat, misalnya main ke clubbing Menurut Thomas Lickona berdasarkan hasil penelitiannya terdapat 10 tandatanda kemunduran suatu bangsa yang pada umumnya dibangun oleh budaya eksternal keluarga, yaitu :  Meningkatnya perilaku kekerasan dan merusak di kalangan remaja atau pelajar.  Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk, seperti kata ejekan, celaan, atau bahasa slengean.  Pengaruh teman lebih kuat daripada pengaruh orang tua dan guru.

16

 Meningkatnya perilaku penyalahgunaan seks, aborsi, pelajar berseragam yang mengisap rokok, atau penggunaan obat-obat terlarang di kalangan pelajar dan remaja.  Merosotnya perilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi atau mementingkan diri sendiri.  Menurunnya rasa bangga dan cinta pada bangsa dan tanah air (patriotisme)  Rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru.  Meningkatnya perilaku merusak atau tidak menjaga fasilitas kepentingan umum (publik).  Ketidak-jujuran terjadi di mana-mana.  Berkembangnya rasa saling curiga, membenci, dan memusuhi antar sesama masyarakat (kekerasan SARA). Faktor-faktor tersebut juga merupakan proses peralihan pada masa remaja, ini sebenarnya efek yang di timbulkan oleh gejolak di diri remaja yang biasa dikenal sebagai negative phase dengan ciri-ciri antara lain: ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi, penentangan terhadap kewibawaan orang dewasa, kurang percaya diri dan suka berkhayal. 3.3 Dampak dari Lunturnya Mental dan Sikap Remaja Di Era Modern Dengan berbagai faktor yang telah dijelaskan di atas maka mengakibatkan lunturnya sikap dan mental remaja terutama di zaman sekarang ini. Menurut Koentjaraningrat lunturrnya mental dan sikap bangsa Indonesia terjadi penjajahan yang dilakukan Belanda pada waktu dulu, proses dekolonisasi yang dalam Negara kita berlangsung terlampau lama yang mengakibatkan melekatnya kebiasaan itu hingga sekarang, contohnya seperti prasarana ekonomi yang diabaikan, pelabuhan-pelabuhan yang rusak dan tidak diperbaiki. Sifat-sifat yang diwariskan Penjajah tersebut adalah sebagai berikut : a. Mentalitas yang Meremehkan mutu

17

Kita sangat senang apabila pekerjaan yang kita lakukan selesai dengan cepat tanpa menghiraukan bagaimana cara atau proses tersebut selesai.Hal tersebut rupanya merupakan akibat otomatis dari kemiskinan yang terpuruk yang melanda bangsa kita, sehingga kita tak sempat memikirkan mutu atau kualitas dari pekerjaan tersebut.Padahal kualitas tersebut sangat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia dari bangsa Indonesia. Selain faktor kemiskinan masalah mentalitas yang meremehkan mutu disebabkan karena proses penyebaran, perluasan, pemerataan dan extentifikasi dari system pendidikan kita yang tidak disertai dengan perlengkapan dari prasarana-prasarana pendidikan. b. Mentalitas yang Suka Menerabas Mentalitas yang dimaksud tersebut yaitu bernafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak kerelaan berusaha dari permulaan secara selangkah demi selangkah atau bisa disebut dengan istilah mentalitas menerabas atau ingin serba instan. Apakah sebenarnya yang menyebabkan mulai menjalarnya dengan meluas mentalitas menerabas itu? Gejala ini sebenarnya sudah mulai pada zaman pendudukan jepang. Waktu itu banyak timbul lowongan dalam kedudukan-kedudukan tinggi dalam masyarakat akibat penangkapan dari pegawai-pegawai tinggi Belanda. Kedudukan dari pegawai-pegawai pribumi Indonesia meloncat ke atas, dan gejala ini terulang beberapa kali dalam aparatur Negara, dalam zaman republik zaman Republik Perjuangan di Yogyakarta, pada zaman sesudah penyerahan kemerdekaan, selama proses ambil alih perusahaan-perusahaan Belanda mulai tahun 1957-1958, dan pada masa sesudah 1963 waktu sistem pemerintahan Sukarno mulai dengan metodenya yang tidak konvensional. Proses meloncat-loncatnya kedudukan yang terjadi berkali-kali itu menyebabkan bahwa orang-orang yang seangkatan dan yang berada dalam kondisi yang sama, banyak yang berhasil menempati kedudukan-kedudukan tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Sistem meloncat-loncat itu tentu juga menyebabkan kemunduran dari pada keahlian di Indonesia. Hal itu disebabkan karena

18

sebelum seorang ahli, yang terpandai sekalipun, mendapat kemantapan dalam suatu tahap tertentu dari keahliannya, Ia sudah disedot ke atas untuk tugas-tugas yang baru. c. Sifat Tidak Percaya kepada Diri sendiri Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Koentjaraningrat bahwa sikap tidak percaya kepada diri sendiri telah memburuk terutama di antara golongan-golongan di Indonesia yang hidup dalam kota-kota.Dalam zaman kolonial nilai budaya itu telah menimbulkan rasa kekurangan akan kemampuan diri sendiri, di bandingkan dengan si penjajah yang berkulit putih. d. Sifat Tidak Berdisiplin Murni Sifat tidak berdisiplin murni juga merupakan suatu sifat yang justru dalam zaman setelah revolusi tampak semakin memburuk dan yang merupakan salah satu pangkal dari pada banyak masalah sosial-budaya yang sekarang ini kita hadapi.Walaupun demikian, sifat itu sebenarnya dapat

dikembalikan kepada nilai-budaya dalam mentalitas pegawai dan priyayi, yang terlampau banyak berorientasi vertikal tadi.Banyak orang di Indonesia, terutama di kota-kota, hanya berdisiplin karena takut akan pengawasan dari atas. Pada saat pengawasan itu kendor atau tidak ada, maka hilanglah juga hasrat murni dalam jiwanya untuk secara ketat menaati peraturan-peraturan. e. Sifat Tidak Bertanggung Jawab Sikap tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan mata pencaharian hidup sehari-hari mudah dapat kita mengerti sebab-sebabnya.Kesukaran hidup, kemiskinan, dan kekurangan tenaga banyak memaksa orang Indonesia untuk membagi perhatiannya kepada lebih satu pekerjaan dan kewajiban. Demikian sikap tanggung jawab ini sebenarnya merupakan suatu keadaan tidak mampu dari orang yang hidup serba kekurangan.

19

3.4

Bagaimana Membentuk Sikap dan Mental Remaja di Era Modern? Membentuk karakter dan sikap remaja di era modern tidak bisa ditangani

oleh orangtua saja tapi harus ada usaha terpadu antara orang tua, guru dan aparat kepolisian. Karena pepatah mengatakan,“Tindakan preventif lebih baik dari tindakan kuratif”, maka saran-saran berikut bisa menghindari remaja dalam pertumbuhannya dari kelainan tingkah laku. 1. Memberi penyuluhan kepada orangtua bagaimana menyikapi ulah remaja. 2. Menyadarkan orangtua untuk tidak memperlakukan remaja sebagai anak kecil tetapi menghormati jati dirinya. Orang tua tidak boleh membedakan perlakuan di antara anak-anaknya. 3. Menumbuhkan budaya pujian dan menjauhkan kritik serta cemoohan bagi tingkah laku remaja. 4. Memberikan motivasi-motivasi yang membangun dari pihak orang tua, kisah-kisah orang sukses, buku-buku motivasi. 5. Mengisi waktu kosong remaja dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat dan menyedot energi remaja seperti olahraga, pramuka, kesenian dan sebagainya. 6. Mengobati stress dan depresi pada remaja sedini mungkin dengan bantuan pysikiater. Selain hal yang telah disebutkan tersebut, solusi lain yaitu memberikan suatu ceramah yang cocok dengan remaja dari lembaga pendidikan formal yang remaja tersebut jalankan yaitu sekolah, atau bisa disebut dengan istilah “Dakwah Sekolah”. Dakwah sekolah adalah proses tarbiyah Islamiyah yang berlangsung di sekolah. Dakwah sekolah cukup mewakili tarbiyah islamiyah yang komprehensif ini. Fase ini sangat berguna dalam pembentukan kepribadian pemuda, yaitu fase dimulainya kematangan fisik, intelektual dan kejiwaan. Ada tiga kunci pentingnya dakwah sekolah, yaitu ladang emas dakwah yang efektif, massif dan strategis.

20

Efektif, karena pemuda dan pelajar lebih mudah direkrut dan didakwahi dengan baik dibandingkan generasi tua, atau bahkan kalangan kampus/mahasiswa. Strategis, karena dakwah sekolah dalam jangka panjang akan menyuplai SDM di berbagai lapisan masyarakat sekaligus. Peran dakwah sekolah yang sangat strategis ini yang di harapkan mengantarkan para remaja muslim yang berkepribadian penuh ketaqwaan yang akan menempati posisi penting di negara ini ke depan. Karena dakwah sekolah itu juga tidak terpaku dalam pembinaan mental spiritual remaja, namun juga mencakup aspek kepemimpinan, dan upayaupaya pengaktualan diri mereka pada sisi positif. sehingga para remaja tersebut siap dalam menghadapi zaman globalisasi dan menjadi manusia sukses dalam persaingan global ini. Dan itu sudah di buktikan oleh beberapa sekolah-sekolah yang umumnya ada di kota-kota besar dalam menciptakan pemimpin masa depan di berbagai lini (perusahaan, pemerintahan, maupun para wirausahawan) yang cerdas intelektualnya dan juga cerdas mental dan spiritualnya yaitu dengan nilainilai islam. Karena mereka dahulunya adalah produk dari penerapan dakwah sekolah. Dakwah sekolah bertujuan untuk mewujudkan barisan remaja-pelajar yang mendukung dan mempelopori tegaknya nilai-nilai kebenaran, mampu menghadapi tantangan masa depan dan menjadi batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat Islam. Bangsa dan agama membutuhkan barisan generasi yang kokoh dan memiliki kekuatan yang dashat sebagai agen perubahan. Barisan ini harus pandai memadukan aspek keimanan dan taqwa (imtaq) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Mereka akan mendapatkan bimbingan mental dan spiritual yang tidak biasa yang tidak didapat dari pendidikan formal di dalam kelas Menurut Prof. DR. Sofyan S. Willis, M.PD, ada lima metode dakwah pada remaja, yaitu:  Metode Ceramah

21

Metode ini menunjukkan keaktifan penceramah, sedangkan murid atau jamaahnya pasif. Keuntungannya dapat memberikan ceramah pada sekelompok besar pendengar. Kekurangannya ialah

pendengar pasif dan sulit memahami ceramah secara mendalam dan individual.  Metode Diskusi Diskusi mengajarkan murid berfikir secara terbuka dan demokratis. Daya kritis dan kreatif tersalur dengan wajar.  Metode Problem Solving Menekankan pada usaha pemecahan masalah sehingga

mengundang murid berfikir kreatif. Metode ini juga berkaitan dengan metode diskusi.  Metode Responsi Penceramah melengkapi metode dengan tanya-jawab.  Metode Peragaan Memberikan alat bantu untuk mata dan telinga. Metode-metode tersebut terdapat dalam program dakwah sekolah. Secara berkala, pelajar diberikan bimbingan dengan ceramah, mendiskusikan berbagai hal, adanya ruang tanya-jawab, upaya pemecahan masalah masing-masing rekan dan adanya waktu khusus untuk menyalurkan minat positif pelajar dengan berbagai kegiatan yang mengadu keberanian. Tastqif (ceramah agama) dan taklim (pemberian nasehat agama) menjadi agenda rutin dakwah sekolah. Diskusi melalui mentoring sangat efektif dan rihlah (jalan-jalan) serta hiking dalam menyegarkan fisik dan mental dengan melihat kebesaran Sang Pencipta di alam bebas.

22

Untuk itu perlu adanya wadah yang dapat mengelola energi-energi positif dakwah sekolah ini. Salah satunya ialah ROHIS (Kerohanian Islam) yang umum di kenal di beberapa sekolah. Ada juga DKM (Dewan Kesejahteraan Masjid Sekolah. Dan lain sebagainya. Yang penting adalah bagaimana peran dari Rohis / DKM tersebut mampu benar-benar membawa misi dakwah sekolah. Tentunya perlu sebuah manajemen dan pengelolaan yang terukur dan terarah. Serta dibutuhkan sentuhan dari berbagai pihak terutama komunikasi aspek penunjang dakwah sekolah. Yaitu, pihak sekolah, siswa serta Alumni. Pihak sekolah sebagai pemilik otoritas kebijakan di sekolah sebagai kekuatan utama yang harus di tunjang dengan para Alumni sebagai konseptor yang penuh ilmu dan pengalaman dan potensi lainnya yang. Akan menggiring dan menuntun para siswa sebagai objek dari dakwah sekolah yang juga di laksanakan oleh elit siswa di sekolah semisal ketua OSIS dan yang lebih penting lagi Ketua Rohis dan staf-stafnya sebagai motor dari dakwah sekolah itu sendiri, dan perlu untuk di bangunnya kesadaran seperti ini. Sehingga terbangunlah sebuah sinergi yang menggerakkan energi positif yang dapat mendorong arah vektor potensi remaja pada arah yang positif. Artinya akan terlahirlah kader-kader bangsa yang sempurna dari intelektual dan spiritualnya (Taqwa), atau terpadunya antara IMTAQ dan IPTEK. Sesuai dengan Motto Remaja masa depan yang taqwa, dan gaul yang sukses.

23

BAB 4 Kesimpulan dan Saran

4.1

Kesimpulan dan Saran Di atas telah kita bahas penyebab lunturnya sikap dan mental remaja,

akibat-akibat yang terjadi, dan bagaimana cara membentukan sikap dan mental remaja pada zaman yang serba canggih kini, diantaranya dengan metode dakwah sekolah dan bisa juga dengan pemberian motivasi dari orang lain disekitarnya. Dari pembahasan di atas kita dapat mengetahui bahwa remaja perlu penangan yang khusus agar sikap dan mental mereka terbentuk sejak dini.Namun kita tidak serta merta mengekang mereka dengan berbagai aturan. Untuk itu kita harus memberikan suatu dorongan positif pada remaja, karena di bahu mereka terletak tanggungjawab moral sebagai generasi penerus, menggantikan generasi yang ada saat ini. Mereka inilah yang kelak berperan menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas, menjadi aset nasional dan tumpuan harapan bangsa dalam kompetisi global, yang tentunya kian bersaing pesat di abad modern ini.

24

DAFTAR PUSTAKA Edi, Ayah. 2008. Mendidik Anak Zaman Sekarang Ternyata Mudah Lho (asalkan tahu caranya).Jakarta : Tangga Pustaka Koentjaraningrat. 2000. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : Gramedia Mar’at, Samsunuwiyati. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung : Rosda www.google.com www.wikipedia.com www.wikimu.com

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->