PROSTITUSI..??..Why..? BAGIAN I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Industri bisnis seks mencakup berbagai macam pekerjaan erotis, seperti misalnya prostitusi, pornografi, saluran-saluran telepon seks, panti pijat, pendamping (escorts), dan penari telanjang. Para wanita di dalam bisnis seks bekerja di berbagai macam lingkungan atau tempat, termasuk rumah bordil, bar, hotel, dan jalan-jalan. Pekerja-pekerja seks seringkali menghadapi diskriminasi dan kekerasan yang parah. Kenyataannya, bahwa banyak juga pekerja seks yang mempunyai masalah dengan adiksi, yang membuat mereka semakin rawan terhadap penganiayaan, penyakit, dan diskriminasi. “Sebaiknya tidak perlu ada hukum yang melarang aktivitas prostitusi karena akan ada seseorang dipersalahkan karena aktivitas tersebut.” Dan ini menjadi tidak adil dalam konteks di mana prostitusi adalah pelibatan dua orang lawan jenis untuk sebuah kesenangan seksual. Pandangan itu mungkin dapat menimbulkan kontroversi apabila dilontarkan di Indonesia karena masyarakat kita pasti menolak pandangan seperti itu. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan, sekalipun praktik prostitusi secara hukum dan agama dilarang di Indonesia, kegiatan prostitusi bawah tanah tetap saja marak di kota-kota besar di Indonesia. Tindak kriminal seksual dibagi ke dalam dua kategori: mereka yang menjadi korban dan mereka yang bukan. Dari perspektif korban, pemerkosaan orang dewasa, pemerkosaan anak-anak dan remaja, dan penyerangan seksual masuk ke dalam kategori tindak kriminal karena seseorang telah menjadi korban. Sementara itu, aktivitas seksual yang dipersiapkan melalui persetujuan kedua belah pihak, prostitusi dan pornografi, “tidak ada korbannya” (victim-less). Artinya, pihak yang terlibat di dalamnya menganggap tidak ada yang saling dirugikan. B. Maksud Dan Tujuan Pelacuran tidak hanya dilakukan oleh perempuan dewasa, tetapi saat ini mulai banyak anak perempuan (ABG) yang melacur dengan alasan ekonomi. Petugas Trantib beberpa kali melakukan razia terhadap pelacur jalanan yang mangkal di jalan-jalan protokol ibukota dan mengirimnya ke panti-panti sosial seperti Cipayung dan Kedoya, tetapi hal ini tidak membuat jera para pelacur, bahkan jumlahnya makin bertambah. Pelacur ini sebenarnya terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karena keadaan dan situasi ekonomi yang berat memaksa mereka dan memang tidak ada pilihan lain dan ada juga yang terjebak germo sehingga karena takut dengan anggapan masyarakat maka sekalian saja mereka menjadi pelacur. Selain itu Pemerintah kurang serius menangani masalah pelacuran ini, terbukti razia-razia yang bertujuan untuk mengurangi pelacuran itu tidak berhasil. Walaupun pelacur, mereka adalah perempuan, mereka melakukan itu karena selama ini anggapan masyarakat terutama laki-laki menempatkan perempuan hanya sebagai pemuas atau pelayan seks saja, jadilah pelacuran tumbuh subur. Hal ini lebih diperparah lagi dengan mitos keperawanan di masyarakat, padahal korban perkosaan semakin meningkat. Mereka

yang menjadi korban perkosaan dan berasal dari ekonomi lemah dengan kesempatan kerja yang kecil banyak yang akan lari ke dunia pelacuran. Kita tidak bisa menyalahkan mereka para pelacur itu karena sistem di Indonesia justru membuat perempuan terjebak dalam kepelacuran itu sendiri. Makalah ini difokuskan terhadap hukum yang membungkus kategori victim-less sebagai perbuatan seks kriminal. Apabila mengacu pada pendapat di atas, maka hukuman terhadap victim-less yang dipandang sebagai tindak kriminal sebaiknya dieliminasi dan lebih jauh aktivitas seperti itu sebaiknya didekriminalisasi (decriminalized). Persoalannya, mungkinkah dekriminalisasi prostitusi dikembangkan di Indonesia? Walaupun di Indonesia tidak ada undang-undang yang melarang praktik prostitusi, ada beberapa peraturan perundangan dan regulasi pemerintah yang menyentuh aktivitas seksual atas dasar kesepakatan bersama, atau lebih populer disebut seks komersial. Sejumlah pemerintah daerah memiliki peraturan daerah yang melarang pendirian lokalisasi. Dengan dasar hukum ini, aktivitas seksual atas dasar kesepakatan bersama di antara dua orang atau lebih dalam sebuah tempat yang bersifat pribadi atau “dipersiapkan” dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Definisi ini sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Ketentuan yang didasarkan pada definisi ini seharusnya sudah dieliminasi. Berdasarkan prinsip universal tentang hak asasi manusia, sebenarnya setiap orang dewasa memiliki hak melakukan apa saja yang dianggap “menyenangkan” bagi badan mereka. Meski demikian, sebagai bangsa yang “bermoral” dan “beragama”, perlulah kita memiliki upaya mengatasi masalah prostitusi. Langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah mengubah pandangan orang tentang kegiatan seksual dengan cara menggeser paradigma prostitusi sebagai “perbuatan asosial” kepada “kesenangan seksual” (sexual pleasure). Kita tidak perlu menyentuh isu seks komersialnya karena berkaitan dengan “kesenangan seksual” yang menjadi hak asasi seseorang. C. Identifikasi Masalah Tumbuh suburnya praktik prostitusi di kota-kota besar di Indonesia merupakan bukti bahwa paradigma kesenangan seksual sadar atau tidak diakui keberadaannya oleh masyarakat. Langkah kedua yang penting dipertimbangkan untuk dilakukan pemerintah adalah liberalisasi seks komersial tersebut. Kedua langkah itu tidak berarti Indonesia menuju pada negara yang memberi legalisasi pada praktik prostitusi, seperti halnya di Thailand dan Belanda, tetapi justru untuk mengendalikan prostitusi agar tidak merebak lebih luas dan mengurangi dampak sosial bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Persoalannya adalah apakah gagasan perubahan paradigma prostitusi dan liberalisasi prostitusi itu dapat mendorong pada masalah moral dan imoralitas seksual? Menurut hemat penulis, tampaknya tidak ada pikiran gagasan pergeseran paradigma dan liberalisasi seksual ini dapat menimbulkan konsekuensi yang merusak moral bangsa. Intinya, Indonesia tidak perlu mengatur isu seksual dengan hukum. Mungkin yang menjadi masalah besar bagi kita adalah adanya pikiran yang memaksakan kehendak agar prostitusi diberantas di Indonesia. Upaya ini yang selama ini sulit dilakukan siapa pun dan di mana pun.

Fakta lain adalah produk yang berhubungan dengan seks dapat ditemukan di mana saja dan bahwa sebagian besar orang dapat melihat produk tersebut. Jika hukum memandang aktivitas ini, yang melibatkan banyak orang, sebagai ilegal, berarti hukum ketinggalan zaman dan harus diubah dan diperbarui. Indonesia sangat mungkin melakukan penataan terhadap prostitusi. Pemerintah dapat memberikan lisensi bisnis kepada prostitusi dan menjamin mereka yang menjajakan seks untuk memperoleh pemeriksaan kesehatan fisik dan nonfisik sebagaimana yang dilakukan Pemerintah Belanda. Kewajiban pemerintah adalah memberikan pelayanan kesehatan dan sosial kepada penjaja seks agar mereka terhindar dari konsekuensi keterlibatan mereka dalam kegiatan seks komersial. BAGIAN II PEMBAHASAN MASALAH A. Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah memberi pelayanan sosial seperti ini bukan hanya memproteksi hak perempuan, tetapi mencegah munculnya masalah sosial yang disebabkan prostitusi. Apabila demikian adanya, lalu apakah Indonesia perlu melegalkan prostitusi? Penulis menolak tegas gagasan legalisasi prostitusi di Indonesia, tetapi yang penulis setuju adalah bagaimana gagasan “dekriminalisasi prostitusi” dapat diwacanakan kepada publik dan diimplementasikan dalam regulasi pemerintah. Gagasan dekriminalisasi dimaksud adalah memandang prostitusi sebagai suatu isu moral. Jika dua orang dewasa mencapai kesepakatan menyangkut persetujuan mengenai seks, kita sebaiknya tidak memandang persetujuan mereka sebagai tindak kriminal, apa pun alasannya. Apakah kesepakatan itu melibatkan uang atau tidak. Yang perlu dicermati prostitusi dipandang dari dimensi moral, dan pada dimensi inilah pemerintah seharusnya melakukan kajian dan hasilnya didiseminasikan kepada masyarakat. Dengan ini, masyarakat akan termotivasi untuk memberdayakan norma dan nilai agama dalam mengendalikan atau menghentikan praktik prostitusi secara sistematis melalui sebuah proses jangka panjang. Lalu bagaimana sebaiknya sikap dan tindakan kita terhadap prostitusi? Hingga sekarang, belum ada seorang pun yang berhasil secara tuntas mendekriminalisasi prostitusi dan mengeliminasi semua masalah yang berkaitan dengan prostitusi. Namun, jika Pemerintah Indonesia hanya sebatas melarang kegiatan prostitusi dengan undang-undang dan regulasi lainnya, hal itu justru akan mendorong prostitusi berlangsung secara “bawah tanah”. Pada tahap berikutnya, prostitusi bawah tanah ini akan mendorong munculnya campur tangan organisasi kriminal terorganisasi maupun korupsi di kalangan penegak hukum, dan muncul masalah sosial lainnya. Sekarang sudah saatnya semua pihak, termasuk birokrat, peneliti, akademisi, agamawan, dan praktisi, duduk bersama dan menemukan solusi efektif untuk menyelesaikan masalah prostitusi. Kita tidak perlu menangani isu ini dengan sikap yang terlalu emosional. Wujud dari pergeseran paradigma dan liberalisasi seksual adalah munculnya kebijakan nasional yang mendorong pemerintah daerah membuat konsep “pusat kesenangan seksual” dengan cara mendirikan bangunan besar dan bertingkat di pusat bisnis di tengah-tengah kota. Akan lebih bijaksana karena dampak sosialnya paling kecil dibandingkan dengan membangun lokalisasi wanita tunasusila (WTS) di daerah yang bercampur baur dengan penduduk setempat.

klab malam eksklusif. karena jarang laki-laki sebagai konsumen.B. Setelah terjebak di dalam dunia prostitusi pun mereka tak memiliki banyak kesempatan untuk keluar. germo atau mucikari. serta pengusaha tempat prostitusi ditangkap dan diproses secara hukum. khususnya masukan dari warga di sekitar lokasi prostitusi yang sebenarnya penting didengar karena mereka jugalah yang terkena imbas praktik prostitusi dengan segala eksesnya. secara substantif peraturan ini sudah bermasalah. destruktif tanpa pandang bulu. Apalagi jika diketahui. Sementara di diskotek. Hal ini menunjukkan pengakuan bersama komunitas internasional bahwa dalam prostitusi. Pada awal proses pembuatan misalnya. dari kelompok yang memakai bendera agama. agama mengajarkan manusia berbuat baik. dan . Di pihak lain. sistem regulasi. Nuansa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam penanganan masalah prostitusi selama ini sangat tinggi. nuansa ekonomis. Di wilayah DKI Jakarta misalnya. seorang perempuan yang dilacurkan adalah korban. sementara laki-laki yang keluyuran malam hari tak pernah dipersoalkan. landasan kebijakan yang digunakan aparat dalam melakukan penertiban terhadap para perempuan yang dilacurkan adalah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum di Wilayah DKI Jakarta. Upaya penghapusan lokalisasi yang marak beberapa tahun terakhir justru membuat “kantungkantung” prostitusi baru makin menyebar dan tak terpantau. karena yang menjadi sasaran penertiban kebanyakan mereka yang beroperasi di jalan dengan alasan melanggar ketertiban umum. alasan penertiban hanyalah pelanggaran jam buka tempat hiburan. juga diskriminasi. yang seharusnya justru dibimbing yang benar. kemiskinan. Yang juga ironis adalah. Nuansa bias jender di sini terjadi selain dalam bentuk stigmatisasi. Termasuk risiko terkena HIV/AIDS yang sulit dikontrol karena pemeriksaan rutin pada para perempuan yang dilacurkan di lokalisasi terhenti. masyarakat tidak dilibatkan dan tidak didengar suaranya. dan hotel berbintang yang terselubung. yang umumnya berasal dari keluarga miskin. Padahal. termasuk terhadap anggota keluarga korban. Sejak awal rekrutmen. Isi Perda No 11/1988 oleh banyak kalangan dipandang cenderung diskriminatif dan bias kelas. Sementara. bahkan cenderung main hakim sendiri. sebagai pengidap AIDS atau HIV positif. Kalaupun ada laki-laki yang tertangkap. kekerasan yang dialami akan semakin berlipat. dari berbagai pola pendekatan terhadap prostitusi. Hak-hak mereka atas pelayanan kesehatan yang memadai kian terabaikan. atau pelarangan. Saat aparat melakukan penertiban. pub. perlindungan memadai akan hak sebagai individu dan warga negara para perempuan korban itu masih terabaikan. dan itu pun bisa “diatur”. aparat hanya mendata. termasuk pada perempuan yang dilacurkan. Bentuk Penanganan Dalam Convention for the Suppresion of the Traffic to Persons and of the Prostitution of Others tahun 1949. dan beban eksploitasi sangat kental dialami perempuan yang dilacurkan. baik upaya penghapusan. sering terjadi salah tangkap karena ada asumsi bahwa setiap perempuan yang keluar pada malam hari adalah perempuan nakal. hanya mampu berharap suatu saat jalan itu terbuka. sering tidak manusiawi. penggerebekan dilakukan sepihak. memberi penyuluhan. Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (diratifikasi Pemerintah RI dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984) dan terakhir pada bulan Desember 1993 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perdagangan perempuan serta prostitusi paksa dimasukkan sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. apa pun bentuk dan motivasi yang melandasi.

diharapkan bukan hanya aparat laki-laki. memberi bekal para perempuan yang dilacurkan untuk menopang ekonomi keluarga berupa kemampuan baca. Janganjangan omongan imtaq menjadi tabir asap untuk menghindar dari menyebutkan masalahmasalah konkret yang ada. dan integratif. harus dihentikan. Keempat. Namun hal ini belum tentu betul mengenai omongan tentang iman dan taqwa. masyarakat. tetapi saat . diberi penyuluhan dan disuruh membayar denda. Termasuk memberi penyadaran. pendekatan keamanan dan ketertiban yang legalistik-formil dan militeristik.menyuruh pulang. penyelesaian persoalan harus sampai ke akar persoalan. seperti prostitusi. tidak menyelesaikan masalah. Kerja sama dan pengawasan ketat bersama pemerintah daerah asal dalam pemulangan juga diperlukan untuk menghindari agar tidak semata-mata menjadi proyek pemulangan saja. Percaya kepada Tuhan dan taat pada-Nya merupakan sikap manusia yang amat bagus dan aman. Upaya Pendekatan Keagamaan Adalah baik dan terpuji bahwa masyarakat. khususnya para pelaku dunia prostitusi. Mereka juga sangat rentan pelecehan seksual oleh aparat selama proses penertiban. Pertama. Untuk itu ada beberapa hal yang patut diperhatikan. maka perlindungan saksi pelapor juga diperlukan. menyamak kulit. dan penyandang masalah kesejahteraan sosial. diharapkan beriman dan taqwa terhadap Tuhan. misalnya untuk orang Islam (Pria atau wanita). penyakit masyarakat. Karena perempuan yang dilacurkan rentan pelecehan seksual. Yang kemudian melakukan penertiban. menjahit.tulis. C. seperti yang digunakan aparat keamanan dan ketertiban (tramtib). Kalau iman dan taqwa hanya berarti. Selama ini pendekatan yang digunakan. Jangan kemudian mereka hanya menjadi pelengkap. Apalagi terhadap masalah yang sangat kental nuansa pelanggaran HAM-nya. Bersama-sama kita bahu-membahu mencari solusi persoalan. harus dihapuskan. seperti sampah masyarakat. atau dimasukkan ke panti rehabilitasi selama beberapa bulan. keterampilan rias wajah. Kedua. Stigmatisasi korban yang tercetus dalam penggunaan bahasa semacam ini yang juga termin dalam kebijakan pemerintah. didata. padahal dia merupakan korban mata rantai sistemik feminisasi kemiskinan dan marjinalisasi perempuan. sampai sikap dan perilaku bahwa perempuan yang dilacurkan adalah korban. Pendekatan Kemanusiaan Pendekatan kemanusiaan terhadap masalah apa pun adalah suatu hal universal. Dalam hal ini tidak perlu ada kontroversi. haruslah penertiban yang women-friendly dengan pendekatan kemanusiaan. termasuk dalam kurikulum pendidikan para polisi pamong praja atau aparat lain. khususnya oleh pemerintah. wirausaha. D. Ketiga. apalagi “pajangan”. holistik. penggunaan berbagai istilah yang menyudutkan mereka. penggunaan pola militeristik yang menonjolkan kekerasan harus dihapus. mulai dari pola pikir aparat. Pendekatan dalam Perda No 11/1988 adalah abolisionis yang memandang perempuan yang dilacurkan sebagai kriminal. mulai sejak kurikulum pendidikan calon petugas tramtib. ingat kepada-NYA hanya saat sedang mengalami kesusahan. masih belum manusiawi. rohaniwan. Konsep atau pendekatan penertiban haruslah memasukkan unsur-unsur HAM. tetapi juga perempuan dengan jumlah proporsional. Kalaupun dilakukan penertiban prostitusi. atau inisiatif lain yang patut dihargai dan didukung. Sementara para perempuan yang terjaring.

mampu melihat kelemahannya sendiri. yang mau dikembangkan. . dijadikan fokus secara eksplisit. lintas golongan. politik serta moral dan agama. solidaritas nyata dengan mereka yang menderita. upaya menanggulangi prostitusi hanya dengan pendekatan moral dan agama adalah naif dan tidak akan menyelesaikan masalah itu. dan bermoral terus mengecam dan mencemooh para pelaku prostitusi itu dan berupaya untuk menghilangkannya. disisi lain prilaku ini ditolerir demi nilai ekonomi (perbuatan menguntungkan). mengingat praktek prostitusi itu telah sama tuanya dengan kehidupan manusia sendiri. betul-betul taqwa. Disamping itu juga prostitusi dilatar belakangi oleh faktor kemiskinan. politik selain moral dan agama untuk mencari penyelesaian serta menjawab persoalan prostitusi secara komprehensif. budaya. selalu membawa diri secara beradab. penanganan prostitusi tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan tidak hanya melihat berdasarkan aspek moral semata. BAGIAN III PENUTUP A. Kalau tidak. Prostitusi adalah persoalan yang rumit dan terkait aspek sosial. ekonomi. tidak menipunya. ciri-ciri hukum. itu hanya berguna apabila sikap-sikap yang memang diperlukan. tidak mengancamnya. yaitu dapat terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga dan kebutuhan laki-laki yang menginginkannya. E. Setidaknya. Pemerintah bersama seluruh masyarakat disarankan untuk menggunakan pendekatan sosial. Diibaratkan. sampai sekarang kebanyakan masyarakat yang menganggap dirinya suci. seperti di mana-mana iman dan taqwa. “Tapi tidak mungkin pula untuk menghapuskan prostitusi adalah juga fakta tidak terbantahkan.senang lupa akan kodratnya sebagai Mahluk ciptaan-NYA yang harus selalu beriman dan mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan dariNYA. budaya. Iman dan taqwa harus merupakan sikap batin yang pertama-tama kelihatan dalam cara orang membawa diri terhadap orang lain: Menghormati identitasnya. “Upaya seperti itu adalah tidak mungkin. Upaya Penghapusan Prostitusi Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghapuskan prostitusi. sering dihubungkan dengan kebutuhan. kita menipu diri dan omongan tentang imtaq malah menjadi hipokrit. Kesimpulan Di tengah masyarakat ada dua pendapat yang bertentangan. upaya itu dapat menekan dan meminimalkan perilaku prostitusi yang berkembang dalam masyarakat luas dengan tidak selalu menyalahkan perempuan sebagai pelaku dan penyebab prostitusi padahal lelaki yang banyak memanfaatkannya. kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup. seperti memberi makanan kering kepada orang yang sedang kehausan. naif dan „absurd‟. rendah hati. Orang macam itulah yang betul-betul beriman. disatu sisi prilaku prostitusi melanggar nilai-nilai moral (perbuatan tercela). Jadi. dimana kemiskinan merupakan suatu keadaan. pandangan bahwa prostitusi merupakan perilaku kotor dan tidak bermoral serta salah satu penyakit sosial adalah fakta yang tidak dapat terbantahkan pula. tetapi tetap saja ada dan tidak dapat dihilangkan. adil. ekonomi. bersih. Karena itu. jujur. Namun bukan berarti dengan begitu kita semua dapat membiarkan prostitusi terus berlangsung di sekitar kita.

apalagi menghakimi hitam-putih. Janganlah kita melihat. menilai.Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif. Keberpihakan itu tidak berarti kita menyetujui prostitusi. termasuk MELACUR. iman dan taqwa yang lemah maka setiap orang akan melakukan apa saja demi mempertahankan kelangsungan hidupnya. Saran Apa pun bentuknya. dan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait akan mampu melakukan tindak pencegahan dan penanggulanggan prilaku prostitusi di lingkungannya. . dosa-tidak dosa. dalam prostitusi. B. dengan rendahnya pendidikan. dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. masyarakat bila digerakkan. baik-buruknya seseorang dari apa yang ia lakukan. adalah urusan manusia dengan Tuhan-nya. Bagaimanapun. Urusan benar-salah. niat bertobat dalam hati para perempuan yang dilacurkan lebih patut dihargai jika dibandingkan dengan para koruptor berdasi dan dihormati yang diam-diam memakan uang rakyat banyak. tetapi mencoba memberi nuansa pendekatan yang berperikemanusiaan. perempuan yang dilacurkan adalah korban yang berhak atas perlakuan manusiawi karena mereka sama seperti kita. sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif.

Namun naluri ini sering disalahgunakan. ayam abu-abu dan ABG pelajar SLTP) hingga pada perilaku seks menyimpang (lesbian dan homo) yang merupakan gejala patologi sosial yang ada di masyarakat. Fenomena kumpul kebo dan pelacuran juga sampai pada dunia pendidikan (munculnya istilah ayam kampus. Sebaliknya orang yang membatasi diri dalam bergaul dianggap kuper. pergaulan antara laki-laki dan perempuan di tengah masyarakat merupakan suatu yang tidak dapat di hindari. Oleh karena itu. Untuk mewujudkan itu.BAB I PENDAHULUAN A. aborsi. merupakan bukti yang menunjukan bahayanya masalah ini bagi tatanan sosial dalam masyarakat. mode busana. film dan sinetron yang semuanya menggambarkan perilaku pergaulan bebas muda-mudi dan secara jelas menjurus ke arah pornografi dan pornoaksi. penyakit kelamin dan yang paling parah penyakit HIV/AIDS. diketahui bahwa ada bentukbentuk pekerja wanita yang bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang mudah dicari dan banyak menghasilkan keuntungan yang sekaligus sebagai pekerjaan yang tercela bagi seorang wanita. Akibatnya. Tidak bisa ditolerir tindakan yang melibatkan wanita-wanita dalam pekerjaan yang tercela ini. terjadi kerusakan akhlak dan penurunan moral yang cukup parah dan sangat memprihatinkan terjadi di dalam masyarakat. Faktor budaya dan pemahaman agama yang sempit yang menempatkan wanita dalam posisi inferior dan pria pada posisi superior merupakan juga salah satu penyebabnya. berciuman dan seterusnya) di anggap merupakan hal yang biasa dan sesuai dengan trend masa kini. pacaran dan segala bentuk aktivitas (seperti duduk berduaan 2 berbicara sambil berpegangan tangan. sering kali muncul rasa suka atau senang satu sama lain. menggerogoti dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat. jalan berdua. maka diciptakanlah sarana-sarana yang dapat membangkitkan naluri seksual. hubungan laki-laki dan perempuan yang semula merupakan hubungan tolong-menolong dan kerja sama antara sesama manusia berubah menjadi hubungan “jinsiyah” atau hubungan kejantanan dan kebetinaan. pelecehan seksual. Pada masa lalu eksploitasi terhadap wanita di kenal sebagai sebuah fenomena. Kasus hamil diluar nikah. Seiring perkembangan pengetahuan. tidak normal dan seterusnya. Bisa dilihat bagaimana tayangan iklan. kuno. Ini merupakan sebuah realitas dan tidak dapat pula pungkiri bahwa ketika terjadi interaksi. Sayangnya persoalan ini . melalui media masa (media cetak maupun media elektronik) yang berpengaruh terhadap munculnya naluri tersebut. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial terdiri dari laki-laki dan perempuan yang hidup bersama-sama di masyarakat dan berinteraksi satu sama lain karena kepentingan yang sama. Muncul pengertian bahwa hubungan pria dan wanita hanyalah sebatas hubungan atas dasar kecintaan yang sebenarnya untuk memuaskan hawa nafsu (seksualitas) semata. Mereka melakukan pekerjaan tercela ini atau terjerumus ke dunia pelacuran ini karena adanya faktor ketidakmampuan keluarga dan ketidakmampuan masyarakat 3 melindungi mereka dan lain-lain. dengan mengatasnamakan kebebasan. Sementara di masyarakat. Satu bentuk pekerjaan tersebut yaitu pekerjaan yang terjun dalam dunia pelacuran.

Mengapa perempuan paling banyak dieksploitasi? Ada suatu budaya yang sengaja dihembuskan sehingga perempuan adalah merupakan sesuatu obyek yang menarik. akan tetapi selanjutnya perempuanlah yang asyik mengeksploitasi dirinya sendiri. percabulan. Budaya salah kaprah dengan dibungkus modernisasi itulah yang berhembus sehingga membuat perempuan ikut mengeksploitasi rekan sejenisnya. untuk memilih pekerjaan ini sebagai jalan keluar dari kesulitan ekonomi yang dihadapinya. ada yang di kompleks lokalisasi. karena dianggap sebagai salah satu eksploitasi seksual dan komersial atas perempuan. Di antara mereka ada yang beroperasi di jalan-jalan ramai (itulah: "lubang jalan-jalan"). tanpa disadari eksploitasi manusia atas manusia itu dilaksanakan secara bersama-sama. Di beberapa negara. Pekerja seks komersial dan pelacuran pada dasarnya tidak dapat dipisahkan. juga terjadi dalam hal peningkatan kesehatan terhadap wanita. Pelacuran atau yang juga sering disebut prostitusi (berasal dari bahasa Latin pro-stituere) secara sederhana dapat diartikan “membiarkan diri melakukan persundalan. undang-undang 4 anti pelacuran telah ditetapkan. maka para pelacur punya "daerah operasi" yang berbeda. pelacuran dan pornografi merupakan eksploitasi seksual dan komersial atas kaum perempuan. Selain itu pelacuran disebabkan oleh . maka ada istilah “call girl” --wanita panggilan. yang dilakukan untuk memperoleh bayaran dari laki-laki yang datang dan wanita tersebut tidak ada pencaharian yang lain kecuali yang diperolehnya dari perhubungan sebentar-sebentar dengan banyak orang”. Pelacuran adalah pekerjaan paling tua di dunia dan fungsional dalam sistem sosial masyarakat selama berabad-abad. hal tersebut dapat dilihat dari pengertian pelacuran yang dikemukakan oleh Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar (1984:10-11) bahwa: “Prostitusi atau pelacuran adalah suatu perbuatan seorang wanita memperdagangkan atau menjual tubuhnya.jarang sekali diangkat sebagai suatu prioritas utama. Exploitation de’l homme par l’homme adalah satu kata yang dibenci oleh setiap orang yang cinta akan kemerdekaan. namun. dan pergendakan”. Ada yang menunggu panggilan di rumah tertentu (karena dipanggil itulah. karena datangnya dengan berkendaraan taksi). yang mendesak kaum perempuan maupun lelaki. Pelacuran diciptakan oleh struktur masyarakat. Laki-laki mengeksploitasi perempuan. atau bisa juga disebut “taxi girl”. Hal yang sama. Bergantung kepada "kelas"-nya. Pelacuran adalah penyerahan diri secara badaniah seorang wanita untuk pemuasan lakilaki siapapun yang menginginkannya dengan pembayaran. dan perempuan mengeksploitasi rekan sejawatnya. perzinaan. merendahkan harkat dan martabat perempuan. Dan mereka melakukan itu tentu memiliki sebab atau alasan kuat yang mendorong mereka untuk tetap berkerja pada pekerjaan yang menurut sebagian orang adalah pekerjaan yang tidak baik 5 atau benar baik secara moralitas dipandang dari norma masyarakat yang berlaku dan norma agama. Ini sebenarnya justru menjadi pelanggaran hak azasi manusia (HAM). Sebenarnya. maupun pekerjaan wanita. Memang hanya laki-laki yang tidak bertanggungjawab yang melakukan ekploitasi ini.

Tetapi tidak gampang menemukan jawaban yang sebenarnya mengapa seseorang menjadi PSK. Penulis mencoba meneliti permasalahan mengenai pelacuran dari sudut pandang ilmu sosial dengan lebih memfokuskan pada masalah kehidupan seorang wanita yang menggeluti pekerjaan menjadi pekerja seks komersial dan mencoba mengambil judul penelitian mengenai: “Memahami Kehidupan Pekerja Seks Komersial Dalam Lingkungan Sosio-Kultural Mereka (Kajian Tentang Wanita Pekerja Seks Komersial Di Kotamadya Bandung)” B. baik secara fisik. Rumusan Masalah Masalah yang akan dijadikan topik penelitian secara umum difokuskan pada kajian terhadap persoalan “Memahami Kehidupan Pekerja Seks Komersial Dalam Lingkungan Sosio-Kultural Mereka (Kajian Tentang Wanita Pekerja Seks Komersial Di Kotamadya Bandung)” Secara khusus masalah yang akan diteliti difokuskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana dan apa yang melatar belakangi pengambilan keputusan untuk memasuki pekerjaan sebagai penjaja seks? 7 3. Belum lagi dengan merebaknya pornografi dan gaya hidup bebas yang membuat semakin banyak saja terjadi kasus kehamilan di luar nikah. Tidak ada orang yang benar-benar bercita-cita dan memilih menjadi pelacur. kehamilan yang tidak diinginkan. dengan minimnya tingkat pendidikan sementara ia punya tanggung jawab untuk mengasuh anaknya maka menjadi PSK adalah solusi yang termudah. Bagaimanakah keadaan lingkungan sosio-kultural PSK.com) Pelacuran menyimpan kompleksitas yang tidak mudah diurai dan memendam persoalan dilematis yang gawat. yang meliputi latar belakang tingkat pendidikan.pikiran-rakyat. psikis maupun seksual yang menyebabkan terjadinya cedera.rendahnya pendidikan dan peluang kerja. yaitu para wanita pekerja seks komersial (PSK) yang berada di beberapa lingkungan jalan Kodya Bandung. hasil-hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada populasi lain. aborsi yang pada gilirannya membuat perempuan terjerumus dalam prostitusi. meski juga tidak jarang yang gampang menjalani pekerjaan sebagai PSK secara sadar dan profesional karena desakan hidup yang tidak terhindarkan. Barangkali yang 6 paling mungkin adalah tindakan agar dampak negatif yang ditimbulkannya tidak meluas ke masyarakat. apakah oleh faktor ekonomis. Faktor-faktor apakah yang mendukung dan menghambat program penanggulangan masalah PSK? Penelitian ini khusus dilakukan pada kasus tertentu. Oleh karena itu sesuai dengan prinsip-prinsip penelitian kualitatif. Justru ini akan menimbulkan dampak lain dan tidak menyelesaikan masalah. Menghapuskan sama sekali kegiatan para PSK seperti rencana penutupan lokalisasi atau operasi penertiban tampaknya tidak mungkin. dan masalah-masalah yang terkait dalam kehidupan keseharian? 2. tetapi . biologis. Kemiskinan juga membuka peluang terjadinya kekerasan terhadap perempuan. (http://www. faktor psikologis. bahkan mungkin politis. Untuk itu perlu dipahami latar belakang dan motivasi mereka menjadi PSK. perceraian. ekonomi. misalnya dampak kesehatan yaitu munculnya PMS termasuk HIV-AIDS.

Mencoba memperoleh informasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penanggulangan masalah ini. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban dari permasalahan yang dikemukakan di atas. dan masalah-masalah yang terkait dalam kehidupan keseharian. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang tertarik untuk meneliti lebih lanjut tujuan-tujuan penelitian yang diperoleh. Secara khusus penelitian ini bertujuan: 1. Mengetahui dan mendeskripsikan latar belakang pengambilan keputusan untuk memasuki pekerjaan sebagai pejaja seks. Memperoleh informasi dan data yang mendeskripsikan tentang keadaan lingkungan sosio-kultural PSK. 2. Manfaat Praktis Mencoba memberikan rekomendasi atau pertimbangan bagi praktisi pendidikan dan praktisi yang bergerak dalam bidang penanggulangan masalah-masalah sosial terutama pelacuran wanita untuk dapat menentukan kebijakan dan pengembangan suatu program yang dapat menanggulangi masalah-masalah sosial yang terjadi. ekonomi. C.lebih ditujukan untuk menggambarkan kebenaran yang terjadi di lapangan saat ini. Manfaat-manfaat ini dapat dibagi menjadi: 1. . yang meliputi latar belakang tingkat pendidikan. Manfaat Teoritik Memberikan masukan-masukan (input) yang dapat memberikan pemahaman bagi orang-orang yang mengajarkan pendidikan ilmu sosial dan orang-orang yang mengkaji permasalahan sosial mengenai kompleksnya permasalahan yang menyebabkan seseorang memilih dan memutuskan suatu pekerjaan yang kadang disadarinya dapat merugikan dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya. 8 D. 2. 3. dan secara umum untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang kehidupan pekerja seks komersial dalam lingkungan sosio-kultural mereka.

Bahkan. melainkan sebagai salah satu dari upaya untuk mencapai tujuan lain yang lebih utama. karena mereka tidak pernah bercita-cita menjalani profesi sebagai penjaja seks dan mau menjalani profesinya karena berbagai faktor. 1999) menekankan aspek positif dari pelacuran dan setuju dengan pernyataan Bonaparte tersebut. 2005). Pelacuran itu selalu ada pada semua negara berkembang dan senantiasa menjadi masalah sosial atau menjadi objek urusan hukum dan tradisi (Kartono. Bahkan menurut Bonaparte (dalam Setiawan. Walaupun banyak terjadi penolakan sosial terhadap pelacuran di sebagian besar negara Asia. Menurut Kartono (dalam Patnani. yaitu berupa tingkah laku lepas bebas tanpa kendali dan cabul. dan fenomena tersebut hingga saat ini belum bisa diatasi. pelacuran masih sangat diperlukan masyarakat dalam fungsinya sebagai kontrol sosial (Koentjoro. bahkan secara kuantitas justru meningkat dan penyebarannya semakin merata hampir di seluruh dunia. 2007) mengatakan bahwa pelacuran adalah suatu kebutuhan. Latar Belakang Masalah Salah satu fenomena sosial yang sudah ada sejak masa awal diciptakannya manusia adalah pelacuran. Profesi PSK selama ini selalu diidentikkan dengan sekse perempuan. Colemen and Cressey (dalam Koentjoro. tanpa pelacuran laki-laki akan menyerang wanita baik-baik di jalanan. setua umur kehidupan manusia itu sendiri. 1999). Pelacuran merupakan profesi yang sangat tua usianya. 1999) faktor utama yang mendorong seseorang berprofesi sebagai PSK adalah faktor keterbatasan ekonomi.DINAMIKA KOGNISI SOSIAL PADA PELACUR TERHADAP PENYAKIT MENULAR SEKSUAL SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan oleh : WENY KUSUMASTUTI F 100040059 kepada FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009 BAB I PENDAHULUAN A. (b) ia akan merambah ke daerah yang tidak mengenal pelacuran sebelumnya. jumlah pelacur jalanan akan makin banyak sehingga masalah lebih serius lain akan timbul. sehingga seorang perempuan menerjuni . Terjunnya seorang perempuan ke dalam dunia prostitusi dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. meski pada kenyataannya sekarang ini kaum laki-laki juga mulai merambah profesi ini. (c) penyakit 1 2 menular akan merajalela. yaitu (a) ia ”memancing” pria yang tidak tertarik pada pelacuran sebelumnya. Seseorang yang memutuskan menjadi pelacur sebenarnya bukan tujuan dalam mencari nafkah. Prosentase jumlah perempuan PSK yang lebih besar menyebabkan masalah ini selalu dikaitkan dengan perempuan. (d) jika rumah bordil ditutup. karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan. Akan tetapi praktek pelacuran juga harus tetap dikontrol karena empat alasan.

sehingga istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually Transmitted Diseases (STD) atau Penyakit Menular . Asumsi bahwa faktor ekonomi merupakan faktor utama yang mendorong seseorang terjun ke dalam dunia prostitusi mulai mengalami pergeseran sejalan dengan fenomena menarik dalam aktivitas ini. banyak ditemukan penyakit-penyakit baru. 1999) motif yang membuat para ABG tersebut menerjuni profesi ini yaitu adanya keinginan untuk menikmati hidup mewah tanpa harus bekerja dengan susah payah. kemiskinan dan mudah untuk mendapatkan uang. balas dendam. tekanan penguasa. Fenomena lain yang menarik belakangan ini adalah bentuk prostitusi yang tidak mengharapkan imbalan. kemiskinan. hubungan seksual terlalu dini. pelaut dan tentara yang umumnya lebih besar kemungkinannya untuk melakukan kontak seksual dengan banyak pasangan akan lebih besar resikonya untuk tertular penyakit kelamin. Faktor tersebut di atas dapat diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yahman (1999) di komplek resosialisasi Silir Surakarta. Sisanya 20. Seperti hubungan dalam keluarga yang tidak baik. Dari jumlah tersebut 19 orang menyatakan pekerjaan yang 3 ditekuninya cepat menghasilkan uang. seperti patah hati. kurang penanaman nilai agama serta perasaan dendam dan benci kepada laki-laki. 2002) juga menyatakan bahwa pelacuran disebabkan oleh penolakan dan tidak dihargai lingkungan. tentunya semakin banyak pula jumlah pelacur yang ada di negara ini. menemukan bahwa dari 48 orang responden yang diwawancarai. Penyakit kelamin sudah lama dikenal dan beberapa diantaranya sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat. diperoleh hasil bahwa dari 12 pekerja seksual yang diamati dan diwawancarai ditemukan hampir 100 % pekerja seks tersebut menjadi pelacur karena faktor desakan ekonomi walaupun pemahaman mereka terhadap nilai-nilai moral dan etika cukup baik. Koentjoro (1999) menyebutkan bahwa seorang pekerja seks merupakan mediator penyebaran Penyakit kelamin dan HIV/AIDS. dalam hal ini adalah uang. Kebebasan dan bersenang-senang adalah alasan yang selalu menjadi jawaban dalam situasi semacam ini. Kemudian menurut Soewarso (1988) wanita tuna susila (WTS). atau dikenal dengan ABG (Anak Baru Gede) (Patnani. pekerja hotel. Hal ini pun menjadi salah satu pemicu merebaknya penyakit kelamin.5 % karena alasan psikologis. masa depan tidak jelas. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan. dipaksa untuk menikah. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Purnomo & Siregar (dalam Yahman. Kemudian 12. 6 % memilih profesi sebagai pekerja seks karena alasan ekonomi.dunia prostitusi untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya. Materi. pergaulan bebas. Menurut Arivia (dalam Patnani. bukan lagi menjadi motivator utama. Dalam kondisi ini para pekerja seks bersedia melakukan pelayanan seksual karena faktor 4 suka sama suka. pendidikan rendah. dan sisanya 13 orang mengaku tidak memiliki ketrampilan kerja lain sehingga terpaksa menjadi pekerja seks.83 % tidak tahu kalau dijebloskan ke dalam pekerjaan sosial. yaitu maraknya remaja perempuan yang berusia sangat muda. 1999). Kemudian Adams (dalam Lestari. Menurut Lestari (2002) penyebab pelacuran sebenarnya bukan tunggal melainkan cenderung kompleks. 1999) di kompleks pelacuran Dolly Surabaya. Semakin kompleksnya motivasi seseorang menjadi pelacur.

Penyakit ini disebut juga veneral. 2001). 16-24 tahun pada wanita. 3) pekerja seksual atau wanita tunasusila. sedangkan jumlah infeksi HIV saat ini lebih dari 33. kepuasan. 2000). kekecewaan dan sebagainya) atau sikap. Adapun yang tergolong kelompok resiko tinggi adalah: 1) Usia (20-34 tahun pada laki-laki. WHO memperkirakan pada tahun 1999 terdapat 340 juta kasus baru PMS baru setiap tahunnya. 5 Penyakit menular seksual ini jelas sangat berbahaya dan peningkatan insidens PMS ini tidak terlepas dari kaitannya dengan perilaku resiko tinggi. Peningkatan jumlah penderita PMS harus juga diimbangi dengan tindakan untuk mengobati karena apabila individu terjangkit penyakit menular seksual ini tidak mendapatkan pengobatan yang sempurna bisa menimbulkan cacat jasmani dan rohani pada diri sendiri dan anak keturunan (Kartono. Sejak ditemukan AIDS pada tahun 1981. tetapi yang dipelajari dalam psikologi kognitif adalah berbagai hal seperti sikap. 5) homoseksual (Halim. 2) pelancong. Penelitian menunjukkan bahwa penderita sifilis melakukan hubungan seks rata-rata sebanyak 5 pasangan seksual yang tidak diketahui asal-usulnya. Dengan kata lain. Reaksi terhadap rangsang tidak selalu keluar berupa tingkah laku yang nyata (respon yang overt) akan tetapi juga bisa mengendap berupa ingatan atau diproses menjadi gejolak perasaan (gelisah. (Halim. 4) pecandu narkotik. dan 20-24 tahun pada kedua jenis kelamin). 2001). PMS yang belum dapat disembuhkan terutama PMS yang disebabkan oleh virus mendapat perhatian besar. dan AIDS. sedangkan penderita gonore melakukan hubungan seks dengan rata-rata 4 pasangan seksual. Secara umum kognisi berarti kesadaran. 2005). berasal dari kata venus. Dan salah satu mediatornya adalah profesi pelacur. Perilaku resiko tinggi dalam PMS adalah perilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai resiko besar terserang penyakit. Penularan penyakit ini biasanya terjadi karena seringnya seseorang melakukan hubungan seksual dengan bergantiganti pasangan. terlihat bahwa 28 % penderita sifilis dan 73 % penderita gonore melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan seksual karena ketagihan narkotik (Halim. psikologi kognitif mempelajari bagaimana arus informasi yanng ditangkap oleh indra diproses dalam jiwa seseorang sebelum diendapkan dalam kesadaran atau diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Demikian juga halnya antara PMS dengan pecandu narkotik. seperti suka dan tidak suka (Sarwono. ide. dapat diketahui bahwa penyakit menular seksual merupakan salah satu penyakit yang penyebarannya sangat pesat tiap 6 tahunnya.6 juta kasus. Kognisi sosial merupakan cara-cara seseorang untuk . Berdasarkan data tersebut di atas. 2002). Hal ini tentunya menjadi permasalahan bagi para pelacur pada khususnya dan masyarakat pada umumnya karena menurut Kartono (2005) pelacuran ini mempunyai dampak menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit. kondilomata akuminata. Untuk itulah pada sebagian masyarakat pada umumnya dan para pekerja seks pada khususnya memerlukan pengetahuan dan kehandalan untuk mengatasi permasalahan ini. 2001). misalnya herpes genitalis. harapan dan sebagainya. Jadi diperlukan suatu proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan tersebut atau dengan kata lain dibutuhkan suatu proses kognisi sosial.Seksual (PMS) (Hakim. Bisa juga melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sebelumnya telah terjangkiti salah satu jenis penyakit ini (Dianawati. 2001). yaitu Dewi Cinta dari Romawi kuno.

C. 1983 . Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika kognisi sosial pada pelacur terhadap penyakit menular seksual. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dari segi keterkaitan antara informan. dalam Yahman . beserta korelasinya dengan ilmu-ilmu yang lain. 3 Bagi peneliti dan peneliti yang lain Diharapkan bisa menambah wawasan tentang dunia prostitusi pada khususnya dan psikologi sosial pada umumnya. di mana profesi tersebut sangat rentan terkena penyakit menular seksual yang cukup berbahaya bagi diri maupun orang lain. menganalisa. Jadi hasil penelitian ini bisa menjadi tambahan data bagi peneliti lain yang juga meneliti tentang dunia prostiusi. 1999 ). Yahman. . Di mana permasalahan prostitusi tidak saja diungkap dengan ilmu psikologi. yang dapat digunakan untuk mencari solusi dari fenomena prostitusi. mengingat. 1999 . 4 Bagi dunia psikologi. yaitu dengan adanya faktor ingin hidup mewah tanpa perlu bersusah payah. dalam Suyono 2007). akan tetapi permasalahan tersebut bisa juga diungkap dengan ilmu-ilmu yang lain.menginterpretasi. 7 Berdasarkan uraian tersebut. Sedangkan Wirati (2002) meneliti tentang fenomena para ABG yang menjadi pejual jasa seks di Bali. menambah khazanah keilmuan khususnya pada psikologi sosial D. maka faktor keterbatasan ekonomi tersebut mengalami pergeseran. 1999). di mana penulis belum menemukan penelitian dengan tema tersebut. sehingga hal itulah yang membuat para ABG terjun menjadi penjual seks 9 (Patnani. 8 2 Bagi pemerintah Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi tambahan informasi. baik secara tertulis maupun tidak. baik yang terorganisir maupun yang tidak. sekaligus mencari penanganan penyakit menular seksual. B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjunnya seorang wanita ke dalam dunia prostitusi yaitu salah satunya karena faktor keterbatasan ekonomi ( Purnomo & Siregar. maka dapat diambil suatu rumusan yang hendak menjadi dasar penelitian ini yaitu bagaimana dinamika kognisi sosial pada pelacur terhadap penyakit menukar seksual?. sehingga dapat memberi gambaran tentang dampak dari profesi yang dilakukannya. Kartono. yaitu pelacur dengan penyakit menular seksual. dan menggunakan informasi mengenai dunia sosial (Baron & Byrne. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1 Bagi Pelacur Hasil penelitian ini diharapkan dapat disosialisasikan kepada para pelacur. Semakin berkembangnya zaman. Keaslian Penelitian Penelitian tentang prostitusi telah banyak dilakukan oleh para ahli. Berdasarkan rumusan masalah ini maka penulis mengadakan penelitian dengan judul ” Dinamika Kognisi Sosial pada Pelacur terhadap Penyakit Menular seksual”.

sosial. dan bisa mempengaruhi tingkah laku manusia. Maka adaptasi atau penyesuaian diri terhadap masyarakat modern yang hyper kompleks itu menjadi tidak mudah. bahwa bermacam-macam faktor tadi bekerja sama. atau tidak terintegrasi dengan tingkah laku umum. melanggar norma-norma umum dan adat istiadat. maupun yang tersembunyi dan internal. motivasi-motivasi. polisi. konflik-konflik. Pathologi sosial ialah ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap “sakit” disebabkan oleh faktor-faktor sosial. disintegrasi. mekanisasi. Maka tingkah laku yang dianggap sebagai tidak cocok.Mengulas Pekerjaan Prostitusi Prostitusi merupakan satu sisi perilaku manusia yang menurut mayoritas masyarakat sebagai tindakan a moral / tidak beradab di kalangan manusia secara normal. dianggap sebagai “masalah sosial. Jelaslah. sikap hidup yang keliru dan internalisasi diri yang salah. karena faktor ekonomi. sehingga banyak orang mengembangkan pola tingkah laku menyimpang dari norma-norma umum. saling mempengaruhi dan saling berkaitan satu sama lain. religius. atau berbuat semau sendiri tanpa mempedulikan gangguan kerugian yang berdampak pada orang lain. Sekalipun mereka adakalanya membuat kekeliruan dalam membuat analisa penilaian terhadap gejala sosial. kaum interaksionis dengan “teori interaksionalnya” menyatakan. sehingga orang melanggar norma-norma sosial yang ada. Antara lain disebut faktor-faktor: intelegensi.” Maka penyakit masyarakat/sosial itu adalah segenap tingkah laku manusia yang dianggap tidak sesuai. Pandangan psikologis dan psikiatris menyebutkan sebab-sebab tingkah laku pathologis dari aspek sosialnya. Disebut juga ilmu tentang “penyakit masyarakat. melanggar norma dan adat istiadat. dan sosial budaya. Faktor-faktor penyebab adanya masalah sosial di atas di antaranya adalah politik. Akan tetapi perbuatan ini dijadikan salah satu alternatif kehidupan (life style) dengan motivasi yang berbeda-beda. sebagai produk dari kemajuan teknologi. Masalah-masalah sosial tersebut dalam sosiologi disebut sebagai pathologi sosial. disharmoni atau ketidak selarasan ketidakmampuan penyesuaian diri. dan penyimpangan tingkah laku atau perilaku pathologis. “interplay” yang dinamis.” Orang yang dianggap kompeten menilai tingkah laku orang lain sebagai pathologi itu antara lain: pejabat. bahwa adat istiadat dan kebudayaan itu mempunyai nilai pengontrol dan nilai sanksional terhadap tingkah laku anggota masyarakatnya. di samping juga faktor ekonomi. atau tidak terintegrasi dengan tingkah laku umum. dan tidak adanya konsensus. sehingga terjadi. Akar masalah Masyarakat modern yang serba kompleks. baik yang terbuka dan eksternal sifatnya. industrialisasi dan urbanisasi memunculkan banyak masalah sosial. dan ilmuwan di bidang sosial. Kesulitan mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan kebingungan kecemasan dan konflik-konflik. ciri-ciri kepribadian. Mengenai hal ini. namun mereka itu pada umumnya dianggap mempunyai peranan menentukan dalam memastikan baik-buruknya pola tingkah laku masyarakat. Juga konflik-konflik emosional dan kecenderungan . rahaniawan. haki. sekaligus mungkin timbul perkembangan yang tidak imbang dalam kebudayaan.. dan sebagainya. dokter. Maka muncullah banyak disorganisasi. pengacara. Kemudian terjadi perubahan tingkah laku dan perubahan sosial.

deviasi situasional. misalnya seorang wanita tuna susila sekaligus kriminil. Sehubungan dengan lingkungan sosio cultural. b. Jadi ada kombinasi dari beberapa tingkah laku menyimpang. partisipasi social dan pendefinisian diri sendiri. Tingkah laku sosiophatis itu ditampilkan dalam bentuk: penyimpangan tingkah laku. tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikannya. deviasi tingkah laku dapat dibedakan menjadi : deviasi individual. . Dalam definisi ini jelas dinyatakan adanya peristiwa penjualan diri sebagai “profesi”atau mata pencaharian sehari-hari. sehingga individu tersebut terpaksa harus melanggar peraturan dan norma-norma umum atau hukum formal. karena upahnya tidak mencukupi untuk membeli perhiasan dan pakaian yang diinginkannya. akan tetapi tidak merugikan diri sendiri. kelompok-kelompok deviasi. Individu-individu dengan deviasi tingkah laku yang menjadi “masalah” bagi diri sendiri dan bagi orang lain. peranan-peranan sosial status dan interaksi simbolis yang keliru. individu-individu dengan tingkah laku yang menjadi “masalah” (merugikan dan destruktif) bagi orang lain. Jadi. Individu-individu dengan tingkah laku menyimpang yang menjadi “masalah” bagi diri sendiri. Deviasi dapat dibedakan menjadi tiga kelompok.„psikoptahologis‟ yang ada di balik tingkah laku menyimpang secara sosial itu. status. Situasi tersebut memberikan pengaruh yang memaksa. yaitu : a. dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanap kendali dengan banyak orang (promiskuitas). Bonger dalam tulisannya “Maatschap pelijke Oorzaken der Prostitutie” menulis definisi sebagai berikut: Prostitusi adalah gejala kemasyarakatan di mana wanita menjual diri melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencaharian. Kartini Kartono mendefinisikan prostitusi sebagai bentuk penyimpangan seksual. strukturstruktur sosial yang menyimpang. Pelacuran itu berasal dari bahasa latin pro-stituere atau pro-stauree. yang berarti membiarkan diri berbuat zina. Deviasi atau penyimpangan tingkah laku itu sifatnya bisa tunggal. Sarjana P. Seorang Wanita Tuna Susila (WTS) melakukan pelacuran karena perasaan tidak puas terhadap pekerjaan yang lalu. mereka menekankan fakor-faktor cultural dan social yang sangat mempengaruhi struktur organisasi social. atau pengaruh situasi di mana pribadi yang bersangkutan menjadi bagian integral di dalamnya. Namun juga bisa jamak sifatnya.A. Deviasi situasional disebabkan olehpengaruh bermacam-macam kekuatan situasional/social di luar individu. bahwa penyebab dari tingkah laku sosiophatis itu adalah murni sosiologis atau sosio-psikologis. melakukan persundalan. misalnya hanya kriminil saja dan tidak alkoholik atau pecandu bahan-bahan narkotik. yang harus dihentikan penyebarannya. percabulan. Profesor W. dan deviasi sistematik. Para sosiolog dengan teori sosiologisnya berpendapat. de Bruine Van Amstel menyatakan sebagai berikut: Prostitusi adalah penyerahan diri dari wanita kepada banyak laki-laki dengan pembayaran. Dikenal pula dengan istilah Wanita Tuna Susila.. dengan pola-pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi. Termasuk ke dalam deviasi situsasional adalah masalah prostitusi/pelacuran. peranan. dengan jalan melakukan relasi-relasi seksual. Selayang pandang tentang Prostitusi (pelacuran) Pelacuran atau prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat.J. Sedang prostitute adalah pelacur atau sundal. akan tetapi tidak merugikan orang lain c.

menggunakan teknik seksual yang magnetis. e. gadis bar atau B-girls. Kompensasi terhadap perasaan-perasaan inferior f. adanya dorongan manusia untuk menyalurkan kebutuhan seks. peperangan dan masa-masa kacau dalam suatu negeri 9. wanita atau gigolo. bertemunya macam-macam kebudayaan asing dengan kebudayaan setempat. pakaiannya sangat menyolok. yang impersonal tanpa afeksi sifatnya.disertai eksploitasi dan komersialisasi seks. di antaranya sebagai berikut : a. semakin besarnya penghinaan orang terhadap martabat kaum wanita dan harkat manusia 6. berasal dari strata ekonomi dan strata sosial rendah. juga tidak ada larangan terhadap orang yang melakukan relasi seks di luar pernikahan 2. gadis-gadis taxi-girls. Tekanan ekonomi. hostess atau pramuria. cantik. h. masih muda. antara lain : 1. Suka melakukan relasi seks jauh sebelum perkawinan i.rupawan.” b. b. perkembangan kota dan arus urbanisasi 11. kecenderungan untuk menghindarkan diri dari kesulitan hidup dan mendapatkan kesenangan melalui “jalan pendek. c. Bujuk rayu kaum lelaki dengan segala mimpi-mimpi manisnya. khususnya di luar ikatan perkawinan 3. Menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit .bersifat sangat mobil.ayu. pembangunan dengan mengkonsentrasikan pada pihak laki-laki 10. g. gadisgadis penggilan. Tidak adanya undang-undang yang melarang pelacuran. seperti kemiskinan d. dll Sebagai akibat dari terjadinya pelacuran akan memunculkan beberapa kejadian seperti hal berikut : a. Kategori pelacuran antara lain: pergundikan. Aspirasi kesenangan dunia/materi yang terlampau tinggi di kalangan wanita e. gadis-gadis juvenile delinquat. gadis-gadis binal atau free girls. ekonomi berdasarkan hukum permintaan dan penawaran 8. Adanya nafsu seks yang abnormal c. tante girang atau loose married woman. Dari segi ciri khas pelacur ini mempunyai beberapa tanda : a. kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu nafsu seks. dengan imbalan pembayaran. d. komersialisasi dari seks oleh beberapa pihak yang sengaja mengambil keuntungan 4. dekadensi moral 5. penggali emas atau gold-diggers. Dengan kata lain pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan badan. Selain itu ada juga motif yang melatarbelakangi adanya pelacuran.atraktif menarik baik wajah maupun tubuhnya.manis. rata-rata memiliki intelek yang normal. Pemberontakan anak gadis terhadap orang tua mereka yang terlalu menekan/membatasi h. Ada beberapa peristiwa sosial penyebab timbulnya pelacuran. Rasa ingin tahu para remaja wanita terhadap masalah seks sehingga rela terjerumus dalam dunia pelacuran g. kebudayaan eksploitasi terhadap pihak perempuan 7. f.

tapi mereka rela dijadikan pelayan-pelayan dalam bidang „esek-esek‟ di kota-kota besar. Usaha preventif tentunya dimaksudkan untuk kegiatan mencegah terjadinya pelacuran. Usaha tersebut antara lain : . selain itu sebagian PSK ada yang terjun karena niatan membantu orang tuanya yang semakin membaik. bahkan ia sempat bermimpi menjadi istri seorang ustadz.telah menjadi semacam fenomena gunung es. Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga c. Motivasi yang lain selain alasan di atas adalah dunia tersebut dijadikan sebagai PSK yang profesional . malahan mereka “cuti sekolah” hanya untuk membantu keluarganya dalam hal ekonomi untuk menambah biaya hidup. Berkorelasi dengan kriminalitas dan kecanduan bahan-bahan narkotika e. sebagai pelampiasan hidupnya ia rela menerjunkan diri menjadi PSK untuk mengurangi rasa sakitnya pada sang mantan pacar. atau bahkan gurunya pun ikut terlibat. dan sebagainya. hukum dan agama f. Indramayu Jawa Barat ada fenomena ketika murid Sekolah Dasar Negeri Sukamelang 3 akan menghadapi ujian kelulusan bukannya disibukkan dengan tambahan pelajaran yang lebih intensif. Dalam hati kecilnya Jeane menangis dan ingin segera mengakhiri „karir‟nya di dunia hitam tersebut. susila. Sehingga ia luput dari kenyataan hukum halal haram. barang. Mendemoralisir atau memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan d. Berbagai bentuk sebab dan alasan menghiasi setiap tindakan yang kontra dengan budaya ini. Mengaca pada realita Seperti telah disinggung di awal bahwa fenomena prostitusi –baik yang terdaftar ataupun tidak. masyarakat biasa. Hanya usaha yang mereka lakukan bukanlah dengan jualan makanan.b. dia terpaksa ikut terjun dalam dunia itu karena rasa sakit hati terhadap mantan pacarnya yang telah rela meninggalkannya dan menikah lagi dengan wanita lain sembari dia telah merabut keperawanan Jeane.Prostitusi terdaftar yaitu pelakunya diawasi oleh bagian vice control dari kepolisian yang dibantu dan bekerja sama dengan bagian social dan kesehatan .5 juta sampai 6 juta sebagai tanda jadi dan berhak membawa puteri-puteri mereka dibawa untuk dieksploitasi. Merusak sendi-sendi moral. pelacuran dibagi kepada dua bagian : . Sebuah Solusi Dalam hal ini ada dua jenis besar yang dapat dilakukan yaitu dengan usaha preventif dan refresif/kuratif. Adanya pengeksploitasian manusia datu oleh manusia yang lainnya g. Dia menjadi patah arang bahkan hampir prustasi. Lain halnya dengan kisah cerita sedih dari Jeane seorang pelacur dari Indramayu. baik secara perorangan maupun kelompok. Seperti contoh dalam fakta berikut : Di sebuah kecamatan bernama Kroya Kab. Bisa menyebabkan adanya disfungsi seksual Dari segi aktifitasnya. atau sejenisnya. Dengan dalih para orang tua mereka telah diberi semacam „uang muka‟ berkisar antara 2.Prostitusi tidak terdaftar yaitu mereka yang melakukan prostitusi secara gelap dan liar. Lebih ironi lagi seandainya kita tahu bahwa ternyata yang menjadi broker-krokernya ada di antaranya yang menjadi Kepala Desa.

Penyempurnaan tempat-tempat penampungan bagi wanita tuna susila yang terkena razia disertai pembinaan sesuai minat dan bakat masing-masing 4. Penyitaan terhadap buku-buku atau majalah-majalah cabul forno. dll 8. Mencarikan pasangan hidup yang permanent untuk membawa mereka ke jalan yang benar 8. film Biru. yang dilakukan oleh beberapa instansi 7. . Di antara usaha tersebut adalah : 1. Sedang usaha refresif/kuratif dimaksudkan untuk menekan (menghapuskan. Memperluas lapangan kerja bagi kaum wanita disesuaikan dengan kodrat dan bakatnya 5. Pembentukan badan atau team koordinasi dari semua usaha penanggulangan pelacuran. Melalui aktivitas rehabilitasi dan resosialisasi agar mereka bisa dikembalikan sebagai warga masyarakat yang susila 3. Mengikutsertakan ex WTS dalam program Trasmigrasi pemerintah di tanah air untuk pemerataan penduduk dan membuka lapangan kerja baru. Penyelenggaraan pendidikan seks dan pemahaman nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga 6. menindas) dan usaha menyembuhkan para wanita dari ke-Tuna susilaannya. Mengadakan pendekatan kepada pihak keluarga pelacur agar mereka mau menerima kembali wanita-wanita tuna susila tersebut untuk mengawali babak baru kehidupan mereka 7. Pemberian suntikan dan pengobatan interval waktu yang tetap untuk menjamin kesehatan para prostitute dan lingkungannya 5. Melalui lokalisaso yang sering ditafsirkan sebagai legalisasi orang melakukan control yang ketat 2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Penyempurnaan perundang-undangan mengenai larangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran 2. Intensifikasi pemberian pendidikan keagamaan dan kerohanian untuk memperkuat keimanan terhadap nilai-nilai religius dan norma kesusilaan 3. Menyediakan lapangan kerja baru bagi mereka yang bersedia meninggalkan dunia pelacuran 6. Menciptakan bermacam-macam kesibukan dan kesempatan rekreasi bagi anak-anak puber dan adolesen untuk menyalurkan kelebihan energinya 4.1.

Jadi tidak hanya kepuasaan batin saja. . prostitusi di artikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri atau menjual jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah sesuai dengan apa yang diperjanjikan sebelumnya. Dunia kesehatan juga menunjukkan dan memperingatkan bahaya penyakit kelamin yang mengerikan seperti HIV / AIDS akibat adanya pelacuran di tengah masyarakat. perbuatan prostitusi masih ada. Dari kalangan pejabat sampai tingkat rakyat biasa pengemudi becak dan juga direktur. bahkan terorganisir secara profesional dan rapi. tidak hanya di Indonesia. keluarga berada namun kurang kasih sayang dan yang paling parah yaitu alasan karena hobi yang ia jalankan. melainkan kepuasaan lahir dan kenikmatan sementara yang ia dapatkan dan rasakan. Prostitusi atau pelacuran merupakan penyakit masyarakat yang semakin marak sekarang ini dan mempunyai sejarah panjang. namun perbuatannya itu sangatlah tidak rasional. Menurut istilah. Latar belakang Prostitusi diartikan sebagai pelacur atau penjual jasa seksual atau disebut juga dengan pekerja seks komersial. Norma-norma sosial jelas mengharamkan keberadaan prostitusi. Walaupun prostitusi sudah ada sejak dulu. prostitusi oleh masyarakat Indonesia dianggap menjadi sesuatu yang biasa dan hampir ada disetiap daerah.Kehidupan Prostitusi dari Segi Sosiologi Hukum Posted by Administrator on Friday Mar 25th at 3:40pm PENDAHULUAN A. tidak hanya di kota – kota besar namun mencakup keseluruh daerah terpencil sekalipun . mereka yang mencarikan pelanggan bagi pelacur (pasal 506 KUHP). Kebanyakan alasan mereka para pelaku prostitusi hanya ingin mendapat uang banyak dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. namun masalah prostitusi yang dulu dianggap tabu atau tidak biasa. Namun pada jaman sekarang. Meski demikian. di lindungi oleh hukum bahkan mendapatkan fasilitas-fasilitas tertentu. Secara nalar sangat sulit untuk dibayangkan ada orang yang ingin hidup untuk menjadi seorang pelacur. dan mereka yang menjual perempuan dan laki-laki di bawah umur untuk dijadikan pelacur (pasal 297 KUHP). Meski ada sebab-sebab lain yang mendorong seseorang itu untuk melacur. Konsumennya pun beranekaragam dari orang miskin sampai orang kaya. ada juga karena dari keluarga broken home. Tempat-tempat prostitusi di sediakan. bahkan sudah ada UU mengenai praktek prostitusi yang ditinjau dari segi Yuridis yang terdapat dalam KUHP yaitu mereka yang menyediakan sarana tempat persetubuhan (pasal 296 KUHP). Sejak adanya kehidupan manusia telah diatur norma-norma perkawinan. dan sejak saat itu pula pelacuran sebagai salah satu penyimpangan dari pada norma-norma perkawinan tersebut lahir dimana tidak ada habis-habisnya yang terdapat di semua negara di dunia.

Sebab-sebab terjadinya pelacuran haruslah dilihat dan dicermati dari faktor-faktor endogen (dari dalam) dan eksogen (dari luar) serta banyak sekali alasan-alasan mengapa wanita dan gadis-gadis bahkan janda-janda memasuki pekerjaan kotor dan hina ini. Unsur – unsur keharusan biologis yaitu : a) Dorongan untuk makan Penyelenggaraan makan lebih mudah dilakukan dengan kerja sama daripada oleh tindakan perseorangan. dari pertumbuhan pertama hidup berkelompok manusia. B.Hal ini merupakan PR bagi bangsa kita untuk mencari sebab-sebab yang merongrong seseorang itu untuk berbuat melacur. Hak mogok pada satu bangsa merupakan hal wajar. Untuk memberikan respon positif terhadap sesama manusia sebagai makhluk yang social. c) Dorongan untuk melangsungkan jenis . Permasalahan PEMBAHASAN Dalam suatu masyarakat ada perbuatan yang ditinjau dari sudut pendirian perseorangan diperbolehkan benar-benar. manusia harus dipandang sebagai satuan tabiat kejiwaan yang lebih tinggi dan yang lebih sesuai yang tumbuh dari satuan “ biologis “. Dalam kehidupan social. akan tetapi alasan ekonomi dan psikologi lah yang paling menonjol dari semua alasan yang ada. Contoh tersebut menggambarkan bahwa sosiologi tentang kesadaran hukum harus berhubungan rapat dengan teori tentang kejahatan sebagai peristiwa sosial. untuk dapat menentukan pendapat terhadap peristiwa kejahatan yang demikian peliknya itu sebagai kenyataan sosial . Suatu norma atau kaedah terbentuk sebagai hasil dari perilaku manusia itu sendiri. maka dorongan untuk mempertahankan diri harus menjadi cambuk untuk bekerja sama. b) Dorongan untuk mempertahankan diri Pada keadaan primitif. Manusia sebagai makhluk social mempunyai daya pikir dan naluri yang kuat terhadap sesama. taat pada aturan dan selalu bertindak hati – hati. Tujuan adanya norma yaitu untuk membentuk pribadi manusia yang luhur. Globalisasi telah menimbulkan dampak yang sangat berarti dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. perubahan yang sangat controversial yaitu dengan adanya praktek – praktek prostitusi yang dipandang biasa dalam kehidupan sehari – hari. Sampai sekarang prostitusi belum bisa dihentikan secara merata oleh pemerintah. Dalam aspek masyarakat. namun hal tersebut dapat dirasakan sebagai pelanggaran di bangsa yang lain karena dalam kewajiban kerja hal tersebut merugikan persekutuan. Manusia sejak lahir telah dilengkapi dengan naluri untuk senantiasa hidup bersama – sama dengan orang lain. malah bahkan pemerintah seolah-olah melegalkan praktek ini. Juga dengan hasil bahwa kelompok yang paling besar dan paling teratur dapat mengalahkan yang lain. sungguhpun dapat merugikan persekutuan. Prostitusi seperti sudah mendarah daging dan sulit untuk diputus dan dilepaskan dari para pelaku. Salah satu cara hanya dengan menekan laju praktek-praktek yang berbau prostitusi.

Dari aspek kesehatan. derajat dan martabatnya didepan laki – laki hidung belang. mereka dipandang rendah oleh masyarakat sekitar. Kerabat merupakan gerombolan yang akan menjadi inti dikemudian hari. prostitusi dalam prakteknya sering terjadi pemerasan tenaga kerja. Tiap – tiap proses hidup diatas menunjukkan tiga macam aspek kejiwaan seperti aspek naluri. bagaimana peran pemerintah pusat dalam menanggulangi dan menutup tempat lokalisasi disetiap daerah melihat sebagian besar pendapatan daerah mengucur dari hasil tempat lokalisasi tersebut. Namun. Kewajiban ilmu jiwa social yaitu untuk memberikan penjelasan tentang fungsi pengikat kecenderungan social. Para pelakunya tidak hanya dari kalangan remaja. Kehidupan para pelaku prostitusi sangatlah primitive. Pemda setempat tidak melarang para pelaku seks komersil untuk beraktifitas dan menjalankan pekerjaannya sebagai pelacur ditempat tersebut. yang tidak hanya dikenal oleh dorongan untuk menjadi berharga. di cemooh. Dalam hal ini. di usir dari tempat tinggalnya. dan lain – lain sebagainya. rasa harga diri. Permasalahan Prostitusi tidak ubahnya sama dengan manusia pada umumnya. Secara sosiologi. Sebagai contoh. prostitusi merupakan kegiatan yang demoralisasi. aspek kebiasaan dan aspek pikiran. Bahkan diberikan tempat khusus dan syarat – syarat tertentu untuk dapat masuk ke area tersebut. Para pelaku prostitusi telah hilang rasa harga dirinya. Hanya demi untuk mendapat sesuap nasi dan kesenangan sesaat mereka telah mengorbankan kehormatan.Teristimewa penggabungan diri secara naluri untuk pemeliharaan keturunan. Dari aspek ekonomi. prostitusi dapat menurunkan kualitas dan estetika lingkungan perkotaan. dihina. Dari aspek kamtibmas praktek prostitusi dapat menimbulkan kegiatan-kegiatan kriminal Dari aspek penataan kota. praktek prostitusi merupakan media yang sangat efektif untuk menularnya penyakit kelamin dan kandungan yang sangat berbahaya. Mereka seakan – akan sebagai makhluk yang tidak bermoral dan meresahkan warga sekitar serta mencemarkan nama baik daerah tempat berasal mereka. Keanehan kecenderungan social yaitu perasaan yang egosentris lebih banyak tergantung dari rekan – rekan social daripada yang dapat diduga semula. secara garis . prostitusi merupakan kegiatan merendahkan martabat wanita. Meraka hanya dapat dinilai dengan uang dan didepan orang lain tidak menunjukkan rasa yang sekiranya tidak dapat dinilai dengan uang. seakan – akan pemerintah pusat pun melegalkan tindakan itu. harga diri. Pemerintah tiap daerah melegalkan tempat – tempat prostitusi untuk menaikkan pendapatan daerah dimana secara tidak langsung pendapatan asli daerah menjadi bertambah dan disisi lain sangat menguntungkan pemda. Dari aspek kewanitaan. sehingga tidak sembarang orang untuk dapat masuk ke tempat itu. anak dibawah umur melainkan dari kalangan ibu – ibu rumah tanggapun ada. Seperti halnya tempat lokalisasi yang terdapat disetiap daerah wisata. Dilihat dari aspek pendidikan. Dilihat dari segi sosiologinya. Manusia merupakan makhluk yang dapat dipengaruhi oleh saran dan diliputi dengan hubungan – hubungan kemanusiaan sebagai lapisan bawah kejiwaan yang merupakan dasar segala bentuk kehidupan bersama. prostitusi merupakan perbuatan amoral yang terdapat dalam masyarakat. karena para konsumen yang berdatangan ke tempat tersebut berasal dari golongan pejabat atas juga. tetapi untuk menampakkan dirinya berharga didepan orang lain.

Struktur sosial yang merupakan keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu a. Dalam hal ini pengembalian kedudukan seseorang yang dirugikan merupakan hal yang diprioritaskan. untuk mempertahankan prinsip dan pola yang telah ada dalam sistem hukum. Dalam bentuk ini warga masyarakat tergantung pada kelompoknya dan keutuhan masyarakatnya terjamin oleh hubungan antar manusia karena adanya tujuan bersama. Kelompok sosial b. oleh karena itu jenis kaedah hukum merupakan akibat dari bentuk solidaritas tertentu. Proses penemuan makna hidup bukanlah merupakan suatu perjalanan yang mudah bagi seorang PSK. hingga kini ada kecenderungan kuat dalam peneterapan hukum. Dalam menguraiakan teori tentang masyarakat Durkheim menaruh perhatian yang besar terhadap kaedah hukum yang dihubungkannya sebagai jenis solidaritas dalam masyarakat. perjalanan untuk dapat menemukan apa yang dapat mereka berikan dalam hidup mereka. Salah satu faktor yang mempengaruhi sosiologi hukum adalah bahwa perbedaan hukum dengna kebiasaan terletak pada unsur kekuasaan resmi. Serta kendala apa saja yang dihadapi oleh mereka dalam mencapai makna hidup. apa saja yang dapat diambil dari perjalanan mereka selama ini. Kebudayaan c. Solidaritas mekanis yang terutama terdapat pada masyarakat sederhana yang relatif masih homogin struktur sosial dan kebudayaannya.besar prostitusi tentunya juga mempunyai suatu makna hidup. 2. (3) peranan sanksi tersebut dalam masyarakat . Lembaga sosial d. Kekuasaan dan wewenang B. Kaedah dengan sanksi semacam itu merupakan kaedah hukum restitutif dengan pengurangan unsur pidana yang terdapat di dalamnya. serta sikap yang bagaimana yang diberikan terhadap ketentuan atau nasib yang bisa mereka rubah. Stratifikasi e. Selain daripada itu. Solidaritas organik yang ditandai antara lain adanya pembagian kerja dalam masyarakat yang biasanya dijumpai pada masyarkat yang komleks dan heterogin struktur sosial dan kebudayaannya. Sama halnya dengan manusia atau individu lainnya. Dalam suatu masyarakat terdapat sebuah gejala sosial yang ruang lingkup nya mencakup antara lain: A. Proses sosial yaitu pengaruh timbal balik antara pelbagai bidang kehidupan yang . Dalam hal ini tujuan utama dari sosiologi hukum adalah untuk menyajikan sebanyak mungkin kondisi yang diperlukan agar hukum dapat berlaku secara efisien. hukum dirumuskan sebagai kaedah yang bersanksi dimana berat ringannya tergantung pada (1) sifat pelanggaran. Kaedah hukum tersebut kemudian dikaitkan dengna bentuk solidaritas yang menjadi ciri masyarakat tertentu. Selain daripada itu terdapat sanksi yang tujuan utamanya adalah pemulihan keadaan (seperti keadaan sebelum terjadinya pelanggaran terhadap kaedah-kaedah yang mungkin menyebabkan kegoncangan dalam masyarakat. yang kesemuanya itu tidak bisa lepas dari hal-hal apa saja yang diinginkan selama menjalani kehidupan. yang dapat memaksakan berlakunya hukum tersebut. antara lain: 1. (2) anggapan serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya perilaku tertentu.

P. Interaksi sosial b.. Soerjono. Yogyakarta. Perubahan sosial c. dan mengadakan evaluasi terhadap efektifitas hukum dalam masyarakat. Secara visuil gambarannya adalah sebagai berikut : Gejala Sosial -> Hukum -> Gejala Sosial Lain Perkembangan dari gejala sosial yang terdapat dalam masyarakat berangkat dari sebuah hukum kebiasaan yang disebut dengan hukum adat. Dalam hal ini peran dari sosiologi hukum adalah untuk memahami hukum dalam konteks sosial. 1989. Kanikus.. PT Citra Aditya Bakti. Maslah sosial Berdasarkan hal di atas maka dapat disusun suatu paradigma sosiologi hukum yang ruang lingkupnya adalah pengaruh timbal balik antara hukum dengna gejala sosial lainnya. Bouman. Pengembangan ilmu hukum adat dan penelitian hukum adat (baik yang normatif maupun empiris) membuka jalan bagi tumbuhnya atau berkembangknya teori hukum yang bersifat sosiologi. DR. .J. 2. PT.mencakup a. Mengenal Sosiologi Hukum. Dalam apabila hukum adat diidentikkan dengan hukum kebiasaan maka identifikasinya terutama dilakukan secara empiris atau dengan metode induktif. Studi hukum Adat merupakan suatu jembatan yang menghubungkan pendekatan yuridis murni dengna pendekatan sosiologi murni. Daftar Pustaka Soekanto. menganalisa terhadap efektifikasi hukum dalam masyarakat baik sebagai sarana pengendalian sosial maupun sebagai sarana untuk merubah masyarakat. Secara analogis adalah hubungan antara ilmu hukum pidana dengan kriminologi. Bandung. Prof. Andaikata titik tolaknya adalah hukum ada yang tercatat maka pengujiannyapun dilakukan secara empiris. Pendeknya tentang teori hukum adat tersebut dapat ditonjolkkan hal sebagai berikut: 1. DR. 1976. Hukum adat mengawali pendekatan kemampuan ke arah interaksi sosial terutama hubungan hukum yang menjadi mengendalikan sosial dan pembaharuan. MA. yaitu ilmu penitentier 3. SH. Van Vollenhoven dan Ter Haar secara langsung maupun tidak. mengakui hal tersebut. Sosiologi Pengertian dan Masalah.

Akibat mungkin baik secara ekonomi seperti kasus Shanti tapi akibat jangka panjang membuktikan bahwa hal itu akan menjadi catatan kelam sepanjang hidup dan jelas sangat merugikan dalam membangun hubungan dan pergaulan. Tujuan yang baik dan hasil yang sesuai tujuan sekalipun bukanlah alasan untuk dapat melacurkan diri karena tindakan ini adalah tindakan bodoh dan merugikan diri sendiri serta bertentangan dengan norma agama dan adat istiadat. Untuk menghapus kegiatan prostitusi bukanlah hal yang mudah. Dapat dikatakan bahwa berbagai penyebab seperti masalah ekonomi. khususnya di area Bong Cino di lingkungan pelabuhan dan mendapat persetujuan dengan dalil „hubungan harus dilakukan dengan menggunakan pengaman semisal kondom‟. entah apa maksudnya. Hal lainnya adalah karena suatu penyakit seks yang tidak terobati sehingga ada keinginan untuk melakukan hubungan seks meskipun harus membayar secara khusus dengan harga yang beragam. ketidakpuasan dalam pernikahan dan coba-coba bagi anak muda yang belum mengenal pernikahan ditengarai menjadi penyebab meningkatnya kebutuhan akan wanita pelacur. Agama. karena sejak jaman Nabipun yang namanya praktik prostitusi memang sudah ada. Selama manusia masih mempunyai . Kesadaran etis untuk melihat hal ini adalah hal yang sangat diperluhkan disamping berbagai pertimbangan yang hadir karena pandangan lingkungan dalam masyarakat. Namun yang jelas semua kembali lagi pada pelaku pelacuran itu sendiri dan para konsumen dari jasa seksual itu. dapat di simpulkan bahwa sebagai wanita yang berhak hidup dengan pilihannya maka jelas adalah hal yang salah jika melacur menjadi sebuah pilihan dalam hidup seperti dalam kasus Shanti dan Wendy.Prostitusi DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT oleh: elangray     Pengarang : Elang Hamang Udhi Belum dinilai Kunjungan : 31 kata:900 More About : praktek pekerjaan sosial dan prostitusi Summarize It Pelacuran adalah suatu masalah kehidupan yang serius. Meskipun pemerintah menyusun larangan pada hubungan yang tidak sehat namun rumah remah-remang tersedia di berbagai tempat. pemerintah dan lain halnya. Kami melihat bahwa masalahnya bukan ada pada perkembangan penjualan jasa seksual yang kini makin nyata dan terbuka ditengah publik tetapi justru pada kebutuhan pasar akan hal ini yang semakin sulit dihilangkan. gengsi terhadap lingkungan. meskipun berbagai hal dilakukan untuk mengantisipasi makin berkembangnya masalah ini tetapi para konsumen dari jasa seksual selalu hadir dan mengundang adanya tanggapan dari kemauan yang telah dianggap sebagai kebutuhan ini terutama pada sebagian masyarakat pelabuhan di Kabupaten Batang. Sementara itu dilihat dari sisi wanita pelacur.

kemudian segala kegiatan prostitusi harus berpusat ditempat itu. Sebuah perkataan „ora et labora‟ jelas meganjurkan hidup bergantung pada Allah tapi juga mau bekerja sesuai kemampuan dan jelas harus halal. termasuk birokrat. tetapi sebagai manusia yang hidup dengan berbagai kebutuhan. Setiap orang pasti tidak akan mau untuk terjun dalam dunia prostitusi . Kita tidak perlu menangani isu ini dengan sikap yang terlalu emosional dan bertindak melebihi hakim seperti pada sebagian ormas yang kita tahu selama ini. Semua itu tidak bisa mendatangkan nilai ekonomi yang dapat merubah hidup mereka menjadi benar. karena itu juga dapat mengurangi sedikit demi sedikit para pelaku. dan solusi yang ada para WTS yang tertangkap hanya dikenakan tindak pidana ringan. padahal ketrampilan yang diberikan oleh dinas sosial. Saya menyadari bahwa terkadang manusia cenderung berpikir secara cepat dalam menghadapi tekanan hidup tetapi adalah sangat tepat jika kita sebagai warga muslim juga melihat dalam kacamata iman pada pengharapan akan Allah SWT yang memelihara kita umat ciptaan-Nya dan memaksimalkan setiap potensi dan kemampuan secara aktif dalam hidup. padahal ketrampilan yang diberikan belum tentu dapat diterima dan diterapkan di lingkungan. yaitu pemerintah dapat memantau kesehatan para pelaku prostitusi. jika ada kegiatan prostitusi diluar tempat yang sudah ditentukan harus ditindak tegas. penarikan pajak pendapatan dari tempat tersebut bisa lebih tinggi. ketegasan dari aparat hukum juga perlu ditingkatkan. penularan HIV/AIDS menjadi tidak terpantau. apalagi wanita pelacur adalah sama kita yang berhak mendapatkan perlakuan manusiawi karena mereka juga adalah makhluk ciptaan yang mungkin saja khilaf dalam bertindak. kemudian dibawa ke dinas sosial untuk diberi ketrampilan. Prostitusi akan terus ada dimanapun tempatnya. Dan masalah baru yang timbul. duduk bersama dan berusaha menemukan solusi efektif untuk menyelesaikan masalah prostitusi. Jika Pemerintah sedikit arif dalam memandang kegiatan prostitusi ini. Satu-satunya solusi yang terbaik adalah pemerintah harus menyediakan lahan yang jauh dari lingkungan penduduk. memasak dll. Sekarang sudah saatnya semua pihak. . dalam prakteknya aparat pemerintah dengan petugas Satpol atau pihak Kepolisian hanya mengusir dan menggusur lokasi-lokasi prostitusi. peneliti. Keberpihakan itu tidak berarti kita harus menghalalkan pelacuran. dan semua lapisan masyarakat atau sebagian ormas menyadari dan bijak bahwa sesungguhnya setiap orang mempunyai jalan dan tujuan hidup masing-masing. Kita harus secara serius membicarakan masalah lain yang juga menentukan kasus pelacuran. Adapun keuntungan yang diperoleh dari solusi tersebut. selama alasan sosial masih menjadi momok apalagi di negeri ini. Contoh yang seperti kita dengar atau kita lihat. kasus perselingkuhan di masyarakat naik. menyulam. dan praktisi. Seperti pelatihan menjahit. prostitusi terselubung yang berada di perumahan-perumahan warga. agamawan. tetapi saran kami adalah kita mencoba memberi nuansa pendekatan yang berperikemanusiaan. misalnya dalam hal kemiskinan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Selama ini dalam membrantas prostitusi yang dilakukan Pemerintah hanya menimbulkan masalah baru dalam Lingkungan masyarakat. akademisi. pada akhirnya mereka banyak mangkal di jalanan. Pelacuran adalah sebuah tanda ketidakmampuan untuk menghadapi kerasnya hidup walau ada yang memang telah menjadikan dunia ini sebagai tempat mencari uang atau ladang usaha.nafsu. kita akan selalu diperhadapkan dengan pilihan termasuk dalam memenuhi kebutuhan itu. Dalam mengatasi masalah prostitusi untuk 100% hilang di muka bumi ini sangat tidak mungkin.

Masalah prostitusi/ pelacuran atau tuna susila yang hidup. Kendala utama yang dihadapi dalam penanganan WTS adalah pendidikan mereka yang umumnya rendah. Hal ini mendorong pemerintah untuk lebih serius lagi mengembangkan program penanganan masalah pelacuran serta mencari terobosan baru. terutama yang berasal dari kelas bawah. Mempengaruhi sendi-sendi kehidupan dan penghidupan masyarakat. sehingga menambah kompleksnya tantangan yang harus dihadapi oleh petugas di lapangan. keinginan mendapat uang dengan cara mudah. rendahnya kontrol sosial pada sebagian masyarakat. daerah waisata. sosial. pendidikan. Meningkatnya fenomena pelacuran sejalan dengan terjadinya krisis ekonomi yang akhirnya menjadi krisis multi dimensi. Pengaruh negatif yang diakibatkan masalah ketunasusilaan ini sangat membahayakan kehidupan generasi muda serta sumber daya manusia sebagai harapan bangsa. ketertiban dan keamanan. sehingga meningkatkan pelacuran baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Masalah tersebut cenderung terus meningkat serta sering kali terjadi penyimpangan di dalam kegiatan dan kehidupan masyarakat. karena harus berpacu dengan pesatnya peningkatan jumlah WTS. WTS usia muda perkembangannya tidak hanya di kota-kota besar. tumbuh dan berkembang di masyarakat merupakan masalah yang sangat kompleks dan rumit serta tidak dapat hilang dari permasalahan hidup manusia. tidak memiliki keterampilan. Berdasarkan hal itu. Daerah industri baru. baik dari aspek ekonomi. norma-norma serta kaidah agama dan kesusilaan serta merendahkan harga diri atau martabat bangsa Indonesia. Masalah pelacuran atau masalah tuna susila yang hidup dan berkembang di masyarakat ini merupakan masalah nasional yang menghambat lajunya pelaksanaan pembangunan karena: Tindakan Tuna Susila merupakan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Pelacur (Wanita Tuna Susila ) kadang diistilahkan sebagai Wanita Penjaja Seks dan akhirakhir ini lebih popular dengan istilah Pekerja Seks Komersial (PSK). masalah tuna susila merupakan masalah yang kompleks dan . tetapi telah meluas sampai ke kota kecil. karena kenyataan adanya permintaan dan penawaran. maraknya eksploitasi wanita. budaya.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konfensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap perempuan. Dalam perkembangan pembangunan kesejahteraan sosial menunjukan bahwa kesadaran dan tanggungjawab sosial sebagian masyarakat mulai timbul. sehingga memerlukan penanganan secara komprehensif. yaitu dengan sistem non panti. psikolog. Ketidakseimbangan jumlah WTS yang meningkat dari tahun ke tahun dengan keterbatasan kemampuan pemerintah untuk memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial melalui PSKW. guru serta profesi lainnya. Undang-Undang Dasar 1945. LANDASAN HUKUM 1. pasal 27 ayat 2. atas dasar kerjasama berbagai disiplin ilmu dan profesi. dengan ditunjang oleh organisasi sosial masyarakat. seperti pekerjaan sosial. 3. . 5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah.multidimensional. dan jangka waktu kegiatan selama 6 bulan. B. Ini dipandang sebagai penangan yang cukup efektif. 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. dokter. 4. sehingga keinginan untuk berperan serta menangani masalah kesejahteraan sosial termasuk penanganan WTS mulai tumbuh dan berkembang melalui berbagai usaha kesejahteraan sosial. yang kemudian diberikan bimbingan lanjut. resosialisi dan pembinaan lanjut agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya dan mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. pelatihan keterampilan. terpadu dan berkesinambungan. pasal 28 & pasal 34. efisien dan bermanfaat dengan jangka waktu kegiatan 4 bulan. sampai saat ini hanya memiliki satu Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) dengan daya tampung 110 orang. Departemen Sosial RI cq. mengubah sikap dan tingkah laku. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia. PSKW “Mulya Jaya” Jakarta merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Departemen Sosial RI yang memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial kepada Penyandang Masalah Tuna Susila atau Wanita Tuna Susila. antara lain melalui kegiatan pembinaan fisik. Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial. Selain itu kerjasama antar instansi terkait baik pemerintah maupun swasta di tingkat pusat maupun daerah. sosial. mental. mendorong pemerintah mencari alternatif pemecahan dalam meningkatkan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi tuna susila.

D.21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. mengevaluasi dan melaporkan serta mengkoordinasikan dan memadukan dengan sektor-sektor lain dan pemerintah daerah.6. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. 7. C. Peraturan Menteri Sosial RI Nomor : 106/HUK/2009 Tentang Organisasi dan tata Kerja Panti Sosial di Lingkungan Departemen Sosial. KEBIJAKAN Kebijakan dalam pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi Wanita Tuna Susila adalah sebagai berikut : 1. gotong royong dan kesetiakawanan sosial. melaksanakan. 8. Keputusan Presiden Nomor 88 Tahun 2002 tentang Penghapusan Trafiking Perempuan dan Anak. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 20/HUK/1999 tentang Rehabilitasi Sosial Bekas Penyandang Masalah Tuna Sosial. Memantapkan manajemen pelayanan sosial yang dilakukan dengan penyempurnaan yang terus menerus dalam merencanakan. 3. 10. agar setiap warga negara khususnya penyandang masalah kesejahteraan sosial berhak untuk memperoleh pelayanan yang sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Undang-Undang No. 2. Undang-Undang RI. No. baik yang diselenggarakan oleh pemerintah. sehingga pelayanan dan rehabilitasi sosial menjadi semakin berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan kepada public. 9. 4. Meningkatkan dan memantapkan peranan masyarakat dalam menyelenggarakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah sosial dengan melibatkan semua unsur dan komponen masyarakat yang didasari oleh nilai – nilai swadaya. masyarakat dan dunia usaha bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial. Meningkatkan mutu pelayanan dan rehabilitasi sosial yang semakin profesional. Meningkatkan jangkauan pelayanan dan rehabilitasi sosial yang lebih adil dan merata. memantau. VISI dan MISI VISI . sehingga upaya tersebut merupakan usaha – usaha kesejahteraan sosial yang melembaga dan berkesinambungan.

Moelyadi Djoyomartono (Alm) dengan nama “Mulya Jaya” berdasarkan motto tanggal 20 Desember 1960. merupakan proyek percontohan Depsos. Tahun 1960 : Dibuka Menteri Sosial RI Bapak H.Pelayan dan Rehabilitasi Tuna Susila yang bermutu dan profesional MISI a. Mewujudkan keberhasilan pelayanan dan rehabilitasi Tuna Susila sesuai dengan indikator keberhasilan. pemerintah dan masyarakat dalam rangka meningkatkan pelayanan dan rehabilitasi tuna susila. Tahun 1969 : Diresmikan menjadi Pusat Pendidikan Pengajaran Kegunaan Wanita ( P3KW ) Tahun 1979 : Ditetapkan menjadi Panti Rehabilitasi Wanita Tuna Susila ( PRWTS) “Mulya Jaya” dengan SK Menteri Sosial RI . pelayanan dan rehabilitasi tuna susila. b. Mengembangkan jaringan kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Tahun 1963 : Diresmikan menjadi Panti Pendidikan Wanita ( PPW ) “Mulya Jaya” tanggal 1 Juni 1963. c. SEJARAH BERDIRINYA Tahun 1959 : Sebagai Pilot Proyek Pusat Pendidikan Wanita. Melaksanakan Pelayanan dan Rehabilitasi Tuna Susila sesuai dengan panduan yang telah ada. yaitu “Wanita Mulya Negara Jaya”. E.

14/HUK/1994 tanggal 23 April 1994. Panti Sosial Karya Wanita "Mulya Jaya" Jakarta JL. Tahun 1994 : Ditetapkan menjadi Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) “Mulya Jaya” dengan Keputusan Menteri Sosial RI No. 22/HUK/1995 tanggal 24 April 1995.id Kementerian Sosial Republik Indonesia .go. Tat Twam Asi Komplek Depsos Pasar Rebo Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Jakarta Timur. Tahun 1995 : Ditetapkan menjadi Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) “Mulya Jaya” dengan Keputusan Menteri Sosial RI No. 41/HUK/Kep/XI/1979 tanggal 1 Nopember 1979.No. Telp (021) 8400631 Sosial email : pskw_mulyajaya@depsos.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful