P. 1
33 ASKEP TF

33 ASKEP TF

|Views: 99|Likes:

More info:

Published by: Ayunda Shinta Nurarliah on May 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PASIEN TETRALOGI of FALLOT

Ns. ROSINTAN SIJABAT, SKep

A. DEFINISI
Tetralogi Falot adalah Kelainan jantung bawaan
1. 2. 3. 4.

Defek septum ventrikel ( lubang diantara ventrikel kiri dan kanan ) Stenosis katup pul moner ( penyempitan pada katup pulmonalis ) Transposisi aorta Hipertropi ventrikel kanan ( penebalan otot ventrikel kanan )

Daran “biru“ yang seharusnya dipompakan oleh bilik kanan keparu-paru karena penyempitan katup pulmonal. 2. Stenosis pulmonalis. VSD. dan berwarna merah gelap. . dan penebalan otot diding bilik kanan. 3. 4.Tetralogi of Fallot ( TOF ) TOF adalah PJB biru yang paling banyak terjadi. aorta “mengangkang“. Penyakit ini merupakan kombinasi dari 4 macam kelainan yaitu : 1. Akibatnya darah yang didistribusikan keseluruh tubuh oleh jantung mengandung banyak darah “kotor” yaitu darah yang kadar oksigennya rendah. akan masuk ke aorta melalui VSD.

Operasi untuk kondisi TOF dilakukan setelah usia 1 tahun. Kadang-kadang karena suatu sebab tidak mungkin dilakukan operasi korektif. .Anak akan tampak kebiruan terutama pada bibir dan kuku. tetapi harus melalui operasi bertahap. Operasi tahap pertama berupa pemasangan pembuluh buatan antara aorta atau cabangnya kearteri pulmonalis agar aliran darah keparu bertambah.

tetapi ada beberapa faktor yang dikaitkan dengan insiden penyakit ini seperti faktor prenatal dan faktor genetik.B.  Ibu sewaktu hamil minum obat-obatan antara lain .  Penyakit rubella pada trimester pertama kehamilan. bisulfan  Infeksi intrauterin yang langsung seperti setelah usaha menggugurkan bayi. Etiologi Etiologi dari kelainan jantung bawaan ini tidak diketahui. antara lain . . cortisone. dapat mengganggu embriogenus jantung. Thalidomide.

MANIFESTASI KLINIS 1. menebal dan melebar pada bagian lunak di bawah kuku 5. 3.C. aliran darah menurun yang mengakibatkan oksigen menurun . 4. Sianosis Dispnea akut dengan sianosis Pertumbuhan terhambat Clubbing finger( jari tangan yang membesar. 2. Penurunan toleransi aktifitas atau cepat lelah karena vascular sistemik menurun.

. Adanya murmur pada sistolik 7. Polisitemia.6. Respon yang dilakukan ketika timbul pusing dengan tujuan agar aliran darah ke otak lancar. Squating(Jongkok dan kepala menunduk). Pusing dan kejang karena anoksia cerebral 9. yang merupakan kompensasi dan peningkatan volume darah dan peningkatan hematokrit 8.

. Laboratorium : . Adanya pembesaran pada ventrikel kanan dan gambaran pedang sabit di arteri pulmonal. apeks terangkat ke atas.Hematokrit meningkat ( 50-60 % ) . Pada auskultasi terdapat bising sistolik yang keras terutama pada daerah garis sternal kiri bagian tengah 4. EKG menunjukkan RVH dan aksis bergeser ke kanan.D. Foto rontgen menunjukkan besar jantung normal. Pemeriksaan Penunjang 1.Hemoglobin meningkat ( 16-18 gr/dl) .AGD pa O2 : menurun pa CO2 : Meningkat ph : Menurun saturasi O2 : menurun 2. Gambaran jantung normal atau kecil dan tidak hiperaktif 3. dan delatasi Aorta 5.

6. untuk mengevaluasi struktur anatomi intra cardial 8. 7. overriding aorta. Kateterisasi jantung. Angiogram menunjukkan aliran darah abnormal yang melalui lubang septum interventrikel dan masuk ke Aorta dan terdapat sedikit aliran melalui arteri pulmonal yang stenosis. pembesaran ventrikel kanan bahkan VSD juga terlihat . Ekokardiogram memperlihatkan dilatasi aorta.

4. 2. KOMPLIKASI 1. Kerusakan otak karena hipoksia .E. Infeksi paru Gagal jantung kronik Emboli Cerebral Endokarditis arterial subkutan 5. 3.

koreksi asidosis metabolik . Pengobatan Konservatif - - Pemberian cairan untuk pencegahan dehidrasi dan hemokonsentrasi Penanggulangan serangan acut sianotik : posisi knee chest. PENATALAKSANAAN 1). pemberian oksigen.F.

Ada tiga macam tindakan paliatif : 1.2). Prosedur Blalock Taussig : pemotongan dan penyambungan bagian dari subclavia kanan dengan Arteri Pulmonalis ( banyak digunakan ) 2. Prosedur Waterson : Prosedur ini meliputi pemotongan dan penyambungan bagian Aorta Asenden dengan Arteri Pulmonalis . Prosedur Potts Anastomose : Membuat anastomose di bagian atas aorta asenden dgn arteri pulmonalis. Prosedur Pembedahan Paliatif Tindakan paliatif diberikan pd anak usia muda (early childhood) untuk mendapatkan tambahan asupan oksigen yang cukup selama masa pertumbuhan. 3.

Taussig Potts Anatomose Waterson .Blalock .

Prosedur Operatif Dilakukan Insisi sternotomi median Pembedahan terbuka dilakukan dengan menggunakan mesin Bypass Cardiopulmonal yang mengambil alih sementara oksigenasi extracorporal selama pembedahan.3). Defek jantung diperbaiki dengan menghilangkan stenosis dan menutup ventrikular defek septum serta melakukan perbaikan overriding aorta. Pembedahan jantung terbuka ( total Koreksi ) Tindakan koreksi dilakukan pada usia 2 – 5 th ketika anak dalam keadaan sehat dan dapat mentoleransi waktu pembedahan yg lama. Kanula dimasukan kedalam vena kavasuperior dan vena kavainferior darah dioksigenasi dan dibersihkan dalam oksigenator kemudian darah diedarkan kesirkulasi sistemik melalui kanula diaorta assendens .

Tubuh pasien dibuat dalam kondisi hipotermia selama pembedahan. untuk mengurangi metabolisme pada jaringan vital seperti jantung dan otak. . Identifikasi VSD dilakukan penutupan saluran intracardiac pada semua kejadian. alat untuk menutup digunakan dari bahan sintetik atau bagian dari pericardium. Otot Infundibular yang hipertropi dieksisi atau dibuang sebanyak yang memungkinkan.Sirkulasi miokardial diatur oleh kanula pada arteri coroner.

Valvulotomi dan infundibulektomi dilakukan pembuatan aliran atau saluran balik yang terbuat dari bahan sintetik atau jaringan homograf pulmonal untuk memperbesar saluran aliran balik tersebut. . Jika arteri pulmonal atau cincin katup agak kecil mungkin diperlukan pelebaran. Cardiopulmonal bypass dihentikan dan sternum ditutup.

.

Pre Operasi. Berikan persiapan fisik dan medikasi pre operasi sesuai program . Gunakan terapi bermain dalam mempersiapkan anak untuk pembedahan jantung. Jika mungkin lakukan penjelasan secara umum tentang situasi di kamar operasi. pembedahan dan perawatan pasca pembedahan. TAHAPAN YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA OPERASI 1. prosedur anastesi.G. Lakukan pemeriksaan laboratorium. Kaji usia pasien. tes diagnostik untuk mengkaji fungsi organ dan sebagai data dasar. kemampuan untuk memahami pembedahan dan hubungan anak dengan orang tua. Jika memungkinkan beri kesempatan pada keluarga untuk bersama dengan anak selama pembedahan Berikan dukungan keagamaan pada pasien dan keluarga.

Intra Operatif Monitor tanda-tanda vital secara kontinu Monitor ECG untuk mendeteksi adanya irama jantung irreguler.2. posisi elektroda selama pembedahan. . Monitor kenyamanan posisi pasien dimeja operasi. Monitor EEG untuk menentukan aktivitas serebral dan hipoksia Monitor tekanan darah dan suhu tubuh Monitor kestrilan instrument dan prosedur aseptik tehnik Hitung jumlah alat yang digunakan selama operasi. bandingkan dengan jumlah sebelum dilakukan operasi.

3. peningkatan nadi. . hipoksemia. – Tanda-tanda terjadinya sindrom post perfusion lung( atelektasis dan edema pulmoner) dengan melihat adanya sianosis.Post Operatif Pertahankan jalan nafas paten. Gunakan ventilator selama 24 jam pertama setelah pembedahan untuk meningkatkan penerimaan paru dan mencegah terjadinya atelektasis Evaluasi respon pasien. kaji adanya ronchi. hemorrhagi. Kaji terhadap adanya – distres pernafasan seperti nadi cepat. dispnea. penurunan tekanan darah. wheezing atau sianosis.

– Berikan obat-obat analgetik untuk mengurangi nyeri sesuai program. – Ajarkan pasien manajemen nyeri dan terapi relaksasi. – Lakukan perubahan posisi sesuai indikasi – Latih pasien untuk mobilisasi setelah 3 hari post operasi. . Lakukan ambulasi sesuai toleransi.– Batasi aktivitas pasien apabila masih terpasang alat monitor dan cairan infus. bantu kebutuhan Aktivitas sehari-hari pasien.

Berikan penjelasan kepada orang tua secara lengkap mengenai prosedur operasi dan keadaan jantung klien. ASUHAN KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan Pre Operatif 1. . Beri penjelasan tentang lingkungan kamar operasi. Kurang pengetahuan berhubungan dgn kurangnya informasi tentang persiapan operasi Intervensi : a. pulih sadar. Berikan penjelasan tentang anestesi (tidak sadar. d. dokter dan perawat mengenai baju operasi. e. Berikan penjelasan tentang perawatan pasca operasi.H. ICU ) f. g. c. Evaluasi : Klien atau orang tua dapat mengeksprisikan pengertian mereka mengenai pembedahan. Berikan penjelasan tentang lingkungan setelah operasi. Dorong mengajukan pernyaan yang akan membuat pemahaman tentang pembedahan. Berikan penjelasan tentang prosedur pembedahan b. topi dan masker.

amankan pasien pada meja operasi dengan sabuk pengaman. e. Evaluasi: – Cedera tidak terjadi . posisi Intervensi : a.Diagnosa Keperawatan Intra Operatif 1. c. Hindarkan / lindungi kulit pasien jangan menyentuh logam meja operasi. yakinkan dalam posisi baik dan tidak basah. Pastikan pasien puasa. alat jarum. sudah diklisma serta telah dicukur rambut di area operasi. Pantau pemasukan dan pengeluaran cairan sesuai prosedur . d. dengan benar. Berikan perlindungan pada mata pasien dengan salep. b. letakan elektrode penetral pada bagian yang berlemak. letakan ekstremitas sedemikian rupa sehingga tim operasi secara periodik dapat memantau sirkulasi. f. Siapkan peralatan dekat pasien. mata pisau. Resiko tinggi terhadap cedera b d pemajanan peralatan. atur posisi pasien . Pastikan dan catat jumlah pemakaian kassa.

Resiko tinggi infeksi berhubungan insisi jaringan . Tetap pada fasilitas kontrol infeksi sterilitas dan prosedur/kebijakan aseptik . Intervensi: a. b. Lakukan perawatan luka dengan benar.Diagnosa Keperawatan Intra Operatif 2. . c. Pastikan kesterilan perelatan tetap terjamin .

2 cc/ kg BB/ jam .5. intake dan output cairan seimbang. Intervensi a. Resiko tinggi gangguan keseimbangan cairan bd perdarahan. Evaluasi: – Keseimbangan cairan terpenuhi( odem tidak ada. produksi Urine minimal 0. Catat pengeluaran dan pemasukan cairan selama operasi. b.Diagnosa Keperawatan Intra Operatif 3. Catat perdarahan selama operasi berlangsung .

Monitoring tanda-tanda vital Evaluasi – Pola nafas efektif( bunyi. Lakukan perawatan selang endotrahel e. peningkatan sekresi pulmonal Intervensi: a. retraksi otot pernafasan. rales. frekuensi pernafasan normal). stridor. ronkhi). irama.Diagnosa Keperawatan Pasca Operasi 1. Kaji status pernafasan: frekuensi. kedalaman. – Tidak ada (Sianosis . . jalan nafas bersih. lakukan suktion sesuai kebutuhan c. bunyi paru b. Tidak efektifnya pola pernafasan bd anastesi. Pertahankan keefektipan jalan nafas. dispnea. pernafasan cuping hidung. takhipnoe. Berikan Oksigen sesuai program d. nyeri insisi.

Kaji perfusi ekstremitas : hanyat. bunyi jantung. Pantau produksi urine Evaluasi – Curah jantung adekuat ( frekuensi. analgetik sesuai kebutuhan e. kapilari refil < 3 detik. perfusi jaringan perifer hangat. bunyi jantung normal). irama. c. warna kulit normal . tingkat kesadaran d. diuretik. Penurunan curah jantung b d tidak adekuatnya kontraksi miokard Intervensi: a. Monitoring frekuensi nadi apikal dan irama jantung.Diagnosa Keperawatan Pasca Operasi 2. Beri digoksin. warna b. Monitoring tanda-tanda vital.

Jakarta: EGC . Edisi 8.RL.( 2000). (2001). Farchild. Buku Ajar Keperwatan Medical Bedah.C.(1996).B &Henze. Philadelphia: Lippincott.php?jdktg=19&iddtl=899 Smeltzer. Focus on Pathophysiologi.S. Peri Opertive Nursing: Principles and Practice. *http://www. S.medicastore.com/cybermed/detail_pyk.KEPUSTAKAAN Bullock. Second edition Philadelphia: Lippincott.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->