PERATURAN DASAR IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA

HASIL KONGRES XVI IPNU Ponpes Al-Hikmah Brebes, 19-24 Juni 2009

1

PERATURAN DASAR MUQADDIMAH Bismillahirrahmanirrahim Asyhadu alla ilaha illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Bahwasanya keyakinan umat Islam yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah sebagai prinsip hidup merupakan i’tikad dalam menegakkan nilai-nilai Islam, dasar berpijak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan Pancasila. Bahwasanya perjuangan dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalui tahapan pembangunan nasional untuk mewujudkan keadilan, kemaslahatan, kesejahteraan dan kecerdasan bangsa adalah kewajiban bagi setiap warga negara, baik secara perorangan maupun bersama-sama. Bahwasanya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama sebagai bagian yang tak terpisahkan dari potensi generasi muda Indonesia, senantiasa berpedoman pada garis perjuangan Nahdlatul Ulama dalam menegakkan nilai-nilai Islam dan Pancasila sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahwasanya atas dasar keinsyafan dan kesadaran akan tanggungjawab masa depan bangsa, kejayaan Islam, kemajuan Nahdlatul Ulama dan suksesnya pembangunan nasional, maka berkat rahmat Allah SWT, kami generasi muda Islam Indonesia menyatakan dengan Peraturan Dasar sebagai berikut: BAB I NAMA DAN KEDUDUKAN Pasal 1 Nama Organisasi ini bernama Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama disingkat IPNU yang didirikan pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H bertepatan dengan tanggal 24 Februari 1954 M di Semarang, untuk waktu yang tidak terbatas. Pasal 2 Kedudukan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) berkedudukan di Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. BAB II AQIDAH dan ASAS Pasal 3 Aqidah / Asas

1.
2.

Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama beraqidah Islam dengan menganut paham ahlussunnah wal jamaah. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/ kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. BAB III SIFAT DAN FUNGSI Pasal 4 Sifat

IPNU adalah organisasi yang bersifat keterpelajaran, kekaderan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagama an. Pasal 5 Fungsi

2

IPNU berfungsi sebagai: 1. Wadah perjuangan pelajar Nahdlatul Ulama dalam pendidikan dan kepelajaran. 2. Wadah kaderisasi pelajar untuk mempersiapkan kader-kader penerus Nahdlatul Ulama dan pemimpin bangsa. 3. Wadah penguatan pelajar dalam melaksanakan dan mengembangkan Islam ahlussunah wal-Jamaah untuk melanjutkan semangat, jiwa dan nilai-nilai nahdliyah 4. Wadah komunikasi pelajar untuk memperkokoh ukhuwah nahdliyah, islamiyah, insaniyah dan wathoniyah. BAB IV TUJUAN DAN USAHA Pasal 6 Tujuan Tujuan IPNU adalah terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam menurut faham ahlussunnah wal jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pasal 7 Usaha Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana pasal 6, maka IPNU melaksanakan usahausaha: 1. Menghimpun dan membina pelajar Nahdlatul Ulama dalam satu wadah organisasi. 2. Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa. 3. Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan program perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat (maslahah al-ammah), guna terwujudnya khaira ummah 4. Mengusahakan jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain selama tidak merugikan organisasi. BAB V LAMBANG Pasal 8 1. Lambang organisasi berbentuk bulat. 2. Warna dasar hijau, berlingkar kuning di tepinya, dengan diapit dua lingkaran putih. 3. Di bagian atas tercantum akronim “IPNU”, dengan tiga titik di antaranya dan diapit oleh tiga garis lurus pendek, yang satu di antaranya lebih panjang pada bagian kanan dan kirinya semua berwarna putih. 4. Di bawahnya terdapat bintang sembilan. Lima terletak sejajar, yang satu di antaranya lebih besar terletak di tengah dan empat bintang lainnya terletak mengapit membentuk sudut segitiga. Semua berwarna kuning. 5. Di antara bintang yang mengapit, terdapat dua kitab dan dua bulu angsa bersilang berwarna putih. BAB VI KEANGGOTAAN Pasal 9 1. 2. Setiap pelajar Islam yang menyatakan keinginanya dan sanggup menaati Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga IPNU, dapat diterima menjadi anggota. Ketentuan-ketentuan tentang keanggotaan diatur dalam Peraturan Rumah Tangga. BAB VII STRUKTUR DAN PERANGKAT ORGANISASI Pasal 10 Struktur Organisasi Struktur Organisasi IPNU terdiri dari : Pimpinan Pusat untuk tingkat nasional, disingkat PP. 2. Pimpinan Wilayah untuk tingkat propinsi, disingkat PW.

1.

3

3. 4. 5.

Pimpinan Cabang untuk tingkat kabupaten/kota atau daerah yang disamakan dengan kabupaten/kota, disingkat PC. Pimpinan Cabang Istimewa untuk luar negeri, disingkat PCI. Pimpinan Anak Cabang untuk tingkat kecamatan, disingkat PAC. 6. Pimpinan Komisariat untuk tingkat lembaga pendidikan, disingkat PK. 7. Pimpinan Ranting untuk tingkat desa atau kelurahan dan sejenisnya, disingkat PR. Pasal 11 Cabang Istimewa 1. Untuk mencapai tujuan dan usaha-usaha sebagaimana Pasal 6 dan 7, IPNU membentuk departemen, lembaga dan badan yang merupakan bagian dari kesatuan organisatoris IPNU. 2. Kepengurusan IPNU di semua tingkatan dapat membentuk departemen, lembaga dan badan sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya. BAB VIII KEPENGURUSAN Pasal 12 Pengurus 1. Pengurus IPNU di semua tingkatan sesuai dengan struktur organisasi yang ada dipilih dan ditetapkan dalam permusyawaratan sesuai dengan tingkat kepengurusanya. 2. Ketentuan mengenai komposisi, kriteria, pemilihan dan penetapan pengurus IPNU, diatur dalam Peraturan Rumah Tangga. Pasal 13 Masa Khidmat Kepengurusan dibatasi dengan periodisasi masa khidmat berikut: 1. Masa khidmat untuk Pimpinan Pusat adalah 3 (tiga) tahun 2. Masa khidmat untuk Pimpinan Wilayah adalah 3 (dua) tahun 3. Masa khidmat untuk Pimpinan Cabang adalah 2 (dua) tahun 4. Masa khidmat untuk Pimpinan Anak Cabang adalah 2 (dua) tahun 5. Masa khidmat untuk Pimpinan Komisariat adalah 1 (satu) tahun 6. Masa khidmat untuk Pimpinan Ranting adalah 2 (dua) tahun Pasal 14 Ketentuan tentang kekosongan kepengurusan dan kekosongan jabatan pengurus di semua tingkatan, diatur dalam Peraturan Rumah Tangga. BAB IX PELINDUNG DAN DEWAN PEMBINA Pasal 15 Di setiap tingkat kepengurusan sesuai dengan struktur organisasi yang ada, terdapat pelindung dan dewan pembina. Hal-hal berkaitan dengan pelindung dan dewan pembina lebih lanjut diatur dalam Peraturan Rumah Tangga. BAB X PERMUSYAWARATAN Pasal 16 I. Permusyawaratan untuk tingkat nasional, terdiri dari: 1. Kongres 2. Kongres Luar Biasa 3. Rapat Kerja Nasional 4. Rapat Pimpinan Nasional Permusyawaratan untuk tingkat propinsi, terdiri dari: 1. Konferensi Wilayah 2. Konferensi Wilayah Luar Biasa 3. Rapat Kerja Wilayah 4. Rapat Pimpinan Wilayah

II.

4

terdiri dari: 1. maka segala hak milik organisasi diserahkan kepada organisasi yang sehaluan dan/atau badan wakaf. Segala sesuatu yang belum diatur dalam Peraturan Dasar. Rapat Kerja Cabang 4. Peraturan Dasar ini berlaku sejak waktu ditetapkan. Rapat Anggota Luar Biasa 3. Rapat Anggota 2. Permusyawaratan untuk tingkat kabupaten/kota atau daerah yang disamakan dengan kabupaten/kota. Keuangan IPNU diperoleh dari sumber-sumber dana di lingkungan Nahdlatul Ulama. BAB XIII PENUTUP Pasal 20 1. Rapat Kerja Anak Cabang 4. Konferensi Cabang 2. Pemanfaatan iuran anggota lebih lanjut diatur dalam Peraturan Rumah Tangga. BAB XII PERUBAHAN DAN PEMBUBARAN Pasal 18 Peraturan Dasar IPNU hanya dapat diubah oleh Kongres dengan dukungan minimal 2/3 suara dari jumlah Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang yang sah. Rapat Kerja Anggota BAB XI KEUANGAN Pasal 17 a. Konferensi Cabang Luar Biasa 3. terdiri dari: 1. umat Islam. Rapat Pimpinan Cabang Permusyawaratan IPNU untuk tingkat Kecamatan. Konferensi Anak Cabang 2. 2. Konferensi Anak Cabang Luar Biasa 3. Pasal 19 1. IPNU hanya dapat dibubarkan dengan keputusan Kongres atau referendum yang dilakukan khusus untuk maksud tersebut. II.III. c. akan diatur dalam Peraturan Rumah Tangga 2. I. Apabila IPNU dibubarkan. b. maupun sumber-sumber lain yang halal dan tidak mengikat. Rapat Pimpinan Anak Cabang Permusyawaratan IPNU untuk tingkat lembaga pendidikan dan desa/kelurahan atau sejenisnya terdiri dari: 1. 1. 5 . Sumber dana di lingkungan IPNU bersumber dari: Iuran anggota Usaha yang sah dan halal Bantuan yang tidak mengikat 3. IPNU. 2.

19-24 Juni 2009 6 .PERATURAN RUMAH TANGGA IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA HASIL KONGRES XVI IPNU Ponpes Al-Hikmah Brebes.

Anggota Istimewa adalah alumni pengurus IPNU yang terwadahi dalam Majelis Alumni IPNU. pengelolaan administrasinya diserahkan pada Pimpinan Ranting/Komisariat terdekat. Mendapatkan Kartu Tanda Anggota b. Pasal 5 Kewajiban Anggota Setiap anggota berkewajiban: 1. Menaati Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga. b. 2. Sudah mengikuti dan lulus jenjang pendidikan kader Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA). Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan organisasi. BAB II KEANGGOTAAN Pasal 2 Jenis Keanggotaan Anggota IPNU terdiri dari: 1. Memberikan usul. 2.PERATURAN RUMAH TANGGA BAB I HARI LAHIR ORGANISASI Pasal 1 Hari Lahir Organisasi Hari lahir organisasi adalah 20 Jumadil Akhir menurut kalender Hijriyah. anggota yang tidak diterima melalui Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat. e. 4. Setiap anggota istimewa berhak: a. atau 24 Februari menurut kalender Masehi. Anggota kehormatan adalah orang yang berjasa kepada organisasi. Memilih dan dipilih menjadi pengurus sesuai dengan ketentuan yang berlaku. serta organisasi lainnya. Menjaga reputasi dan kemuliaan Nahdlatul Ulama. d. 3. Memberikan bimbingan dan bantuan kepada anggota dan pengurus. Memberikan usul. Pasal 3 Tata Cara Keanggotaan 1. 2. atau Pimpinan Cabang di daerah yang bersangkutan. peraturan-peraturan 7 . saran dan pendapat. Dalam keadaan khusus. Anggota biasa. Setiap anggota kehormatan berhak: a. 3. selanjutnya disebut anggota. Membayar iuran anggota. Anggota biasa pada dasarnya diterima melalui Pimpinan Ranting/Komisariat di tempat tinggalnya. saran dan pendapat. Berusia antara 12 sampai dengan 29 tahun. 2. Menyatakan kesediaanya secara tertulis kepada pimpinan IPNU setempat. 3. c. Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan organisasi. c. saran dan pendapat. Pasal 4 Persyaratan menjadi anggota adalah: 1. Setiap anggota berhak: a. Mengeluarkan usul. atau Pimpinan Anak Cabang. 2. yaitu setiap pelajar Indonesia yang menyetujui Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga IPNU. Memperoleh perlakuan yang sama dari/untuk organisasi. Pasal 6 Hak Anggota 1. 3. Menjaga dan membela keluhuran agama Islam.

tujuan dan/atau usaha IPNU atau yang dapat merugikan IPNU. Mundur atas permintaan sendiri yang diajukan kepada pimpinan IPNU secara tertulis. yang merupakan pimpinan tertinggi IPNU di tingkat propinsi. azas. Memberikan bantuan kepada organisasi. Diberhentikan karena melanggar Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga atau sebab-sebab lainnya. Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan organisasi. dan/atau usaha yang bertentangan dengan akidah. 3. 5. c. 4. Pasal 12 Pimpinan Cabang 1. BAB III PERANGKAT ORGANISASI Pasal 9 Perangkat Organisasi 1. BAB IV STRUKTUR ORGANISASI Pasal 10 Pimpinan Pusat 1. Pimpinan Wilayah berkedudukan di ibukota propinsi. Pasal 8 Gugurnya Keanggotaan Seseorang dinyatakan gugur keanggotaannya karena: 1. Pimpinan Pusat merupakan suatu kesatuan organik yang memiliki kedudukan sebagai pemegang kepemimpinan tertinggi organisasi di tingkat nasional. Pimpinan Wilayah merupakan suatu kesatuan organik yang memiliki kedudukan sebagai pemegang kepemimpinan organisasi di tingkat propinsi. 2. Departemen adalah perangkat organisasi yang melaksanakan kebijakan IPNU pada bidangbidang tertentu. Perangkat organisasi IPNU sebagaimana diatur dalam Pasal 11 Peraturan Dasar adalah departemen. 4. 2. Pimpinan Wilayah berfungsi sebagai koordinator Pimpinan Cabang di daerahnya. Pimpinan Cabang merupakan suatu kesatuan organik yang memiliki kedudukan sebagai 8 . 3. 3. 4. Dalam satu propinsi yang mempunyai sedikitnya 3 (tiga) Pimpinan Cabang dapat didirikan Pimpinan Wilayah. yang merupakan pimpinan tertinggi IPNU di tingkat nasional. tujuan. Lembaga dan badan sebagai perangkat organisasi IPNU bersifat semi otonom. Pasal 11 Pimpinan Wilayah 1. Pimpinan Pusat bertanggungjawab kepada Kongres. Pimpinan Wilayah bertanggungjawab kepada Konferensi Wilayah. 2. 2. untuk selanjutnya tidak diperbolehkan mendirikan Pimpinan Wilayah yang lain dalam propinsi tersebut. Pimpinan Pusat sebagai tingkat kepengurusan tertinggi dalam IPNU merupakan penanggungjawab kebijakan dalam pengendalian organisasi dan pelaksanaan keputusankeputusan Kongres. Pasal 7 Disiplin Organisasi Anggota IPNU tidak diperkenankan menjadi anggota organisasi lain yang mempunyai akidah. Pimpinan Pusat berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia. 5. Lembaga adalah perangkat organisasi yang melaksanakan kebijakan IPNU pada bidangbidang yang membutuhkan penanganan khusus. lembaga dan badan. Badan adalah perangkat taktis organisas dalam menangani bidang-bidang tertentu.b. azas. dan sebagai pelaksana Pimpinan Pusat untuk daerah yang bersangkutan.

2. Pimpinan Anak Cabang berkedudukan di ibukota kecamatan. Pimpinan Ranting memimpin dan mengkoordinir anggota di daerah kewenangannya. Pimpinan Cabang memimpin dan mengkoordinir Pimpinan Anak Cabang di daerah kewenangannya. perguruan tinggi. 4. pesantren. Dalam satu lembaga pendidikan yang telah mempunyai sedikitnya 10 (sepuluh) anggota dapat didirikan Pimpinan Komisariat. 3. 4. dapat didirikan Pimpinan Cabang dan selanjutnya tidak diperbolehkan mendirikan Pimpinan Cabang yang lain. Pasal 16 Pimpinan Ranting 1. 3. Pimpinan Cabang Istimewa bertanggung jawab kepada Konferensi Cabang Istimewa. Pimpinan Cabang berkedudukan di ibukota kabupaten/kota. 3. serta melaksanakan kebijakan Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Pusat untuk daerahnya. 3. Pimpinan Komisariat merupakan suatu kesatuan organik yang memiliki kedudukan sebagai pemegang kepemimpinan organisasi di tingkat sekolah. 2. 9 . 2. Dalam satu kabupaten/kota yang mempunyai sedikitnya 3 (tiga) Pimpinan Anak Cabang atau 45 (empat puluh lima) anggota. untuk selanjutnya tidak diperbolehkan mendirikan Pimpinan Anak Cabang yang lain. serta melaksanakan kebijakan Pimpinan Cabang untuk daerahnya. Pasal 15 Pimpinan Komisariat 1. untuk selanjutnya tidak diperbolehkan mendirikan Pimpinan Ranting yang lain. Pimpinan Ranting merupakan pimpinan tertinggi IPNU di tingkat desa/kelurahan atau sejenisnya. Pimpinan Komisariat bertanggungjawab kepada Rapat Anggota. atau lembaga pendidikan lainnya. yang merupakan pimpinan tertinggi IPNU di tingkat kecamatan. Pimpinan Anak Cabang memimpin dan mengkoordinir Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat di daerah kewenangannya. Pimpinan Komisariat memimpin dan mengkoordinir anggota di daerah kewenangannya. dapat didirikan Pimpinan Anak Cabang. 2. Pasal 13 Pimpinan Cabang Istimewa 1. Pimpinan Anak Cabang merupakan suatu kesatuan organik yang memiliki kedudukan sebagai pemegang kepemimpinan organisasi di tingkat kecamatan. 3.pemegang kepemimpinan organisasi di tingkat kabupaten/kotamadya/kota administratif. untuk selanjutnya tidak diperbolehkan mendirikan Pimpinan Komisariat yang lain. Pimpinan Ranting merupakan suatu kesatuan organik yang memiliki kedudukan sebagai pemegang kepemimpinan organisasi di tingkat desa atau kelurahan. serta melaksanakan kebijakan Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Cabang untuk daerahnya. Dalam satu desa/kelurahan atau sejenisnya yang telah mempunyai sedikitnya 10 (sepuluh) anggota dapat didirikan Pimpinan Ranting. 4. Pasal 14 Pimpinan Anak Cabang 1. Pimpinan Cabang beranggungjawab kepada Konferensi Cabang. Pimpinan Cabang Istimewa Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (disingkat PCI IPNU) merupakan suatu kesatuan organik yang memiliki kedudukan sebagai pemegang kepemimpinan organisasi IPNU di sebuah negara di luar negeri. Pimpinan Ranting bertanggungjawab kepada Rapat Anggota. Hal-hal yang berkaitan dengan syarat dan tata cara pembentukan Pimpinan Cabang Istimewa serta pengaturannya lebih lanjut diatur dalam Peraturan Organisasi. Dalam keadaan khusus (bila terdapat kepengurusan Cabang Nahdlatul Ulama) diperbolehkan mendirikan Pimpinan Cabang. 5. 2. Pimpinan Komisariat berkedudukan di lembaga pendidikan yang merupakan pimpinan tertinggi IPNU di tingkat lembaga pendidikan. yang merupakan pimpinan tertinggi IPNU di tingkat kabupaten/kota. 5. 6. 5. Pimpinan Cabang Istimewa berkedudukan di luar negeri. serta melaksanakan kebijakan Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Cabang untuk daerahnya. 4. Dalam satu daerah kecamatan yang mempunyai sedikitnya 3 (tiga) Pimpinan Ranting atau 15 (lima belas) anggota. 5. Pimpinan Anak Cabang bertanggungjawab kepada Konferensi Anak Cabang.

beberapa wakil sekretaris. Pasal 18 Dewan Pembina 1. sekretaris. 2. Pimpinan Cabang a. 3. 3. serta beberapa wakil bendahara. saran-saran dan bantuan moril maupun materil. Pengurus Pimpinan Cabang terdiri dari Pengurus Harian ditambah dengan Pengurus Departemen dan atau Pengurus Badan dan Lembaga. beberapa wakil sekretaris. 3. bendahara. sekretaris. beberapa wakil sekretaris jenderal. b. Struktur Dewan Pembina terdiri dari seorang koordinator dan beberapa anggota. Pengurus Pimpinan Anak Cabang terdiri dari Pengurus Harian ditambah dengan Pengurus Departemen dan atau Pengurus Badan dan Lembaga. b. Dewan Pembina IPNU di semua tingkat kepengurusan terdiri dari: a. b. 10 . bendahara. Pengurus b. serta beberapa wakil bendahara. beberapa wakil ketua. Pengurus Harian terdiri dari: ketua. Orang-orang yang mempunyai hubungan moril dan berjasa terhadap pembinaan generasi muda Nahdlatul Ulama. Pimpinan Pusat a. sekretaris. 4. b. Memberikan perlindungan dan pengayoman kepada organisasi sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Pengurus Harian terdiri dari: ketua umum. serta beberapa wakil bendahara. Pengurus Harian terdiri dari: ketua. Dewan Pembina berfungsi: a. beberapa wakil sekretaris. Pimpinan Anak Cabang a. Fungsi pelindung: a. 2.BAB V PELINDUNG DAN DEWAN PEMBINA Pasal 17 Pelindung 1. bendahara. beberapa ketua. Pimpinan Wilayah a. sekretaris. Pengurus Pimpinan Pusat terdiri dari Pengurus Harian ditambah dengan Departemen dan atau Pengurus Badan dan Lembaga. Alumni pengurus IPNU sesuai dengan tingkatan masing-masing. beberapa wakil ketua. Memberikan dorongan moril maupun materiil kepada organisasi. Memberikan dorongan. beberapa wakil ketua. wakil ketua umum. bendahara. b. Pengurus Pimpinan Wilayah terdiri dari Pengurus Harian ditambah dengan Pengurus Departemen dan atau Pengurus Badan dan Lembaga. Khusus untuk kepengurusan komisariat. 5. serta beberapa wakil bendahara. sekretaris jenderal. serta beberapa wakil bendahara. Pengurus Harian terdiri dari: ketua. pelindung dapat merupakan pimpinan lembaga pendidikan. Pimpinan Komisariat/Pimpinan Ranting a. BAB VI KEPENGURUSAN Pasal 19 Susunan Pengurus 1. Pelindung adalah Pengurus Nahdlatul Ulama sesuai dengan tingkat kepengurusan yang bersangkutan. Memberikan pembinaan secara berkesinambungan dan memberikan nasehat baik diminta ataupun tidak diminta. b. Pengurus Harian terdiri dari: ketua. beberapa wakil ketua. beberapa wakil sekretaris. Pengurus Pimpinan Komisariat/Ranting terdiri dari Pengurus Harian ditambah dengan Pengurus Departemen dan atau Pengurus Badan dan Lembaga b. bendahara umum. 2.

c. c.  Pernah menjadi pengurus Pimpinan Anak Cabang atau Pimpinan Cabang. Pendidikan serendah-rendahnya SLTP atau yang sederajat. b. Pimpinan Wilayah disahkan oleh Pimpinan Pusat dengan rekomendasi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama.  Sudah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA). dan tidak dapat dipilih kembali untuk masa khidmat berikutnya. c. Kriteria pengurus Pimpinan Ranting/Komisariat adalah: a. Pernah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA). b. b. Umur setinggi-tingginya 29 tahun. b. Kriteria pengurus Pimpinan Anak Cabang adalah: a. Pengalaman organisasi:  Sekurang-kurangnya 2 tahun aktif sebagai anggota. Pemilihan dan penetapan pengurus Pimpinan Cabang ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Ketua dipilih oleh Konferensi Wilayah atau Konferensi Wilayah Luar Biasa. b. Pengalaman organisasi:  Sekurang-kurangnya 3 tahun aktif sebagai anggota. c. dan tidak dapat dipilih kembali untuk masa khidmat berikutnya. b. d.Pasal 20 Kriteria Pengurus 1. d. dan Latihan Kader Utama(LAKUT). Pendidikan serendah-rendahnya SLTA atau yang sederajat. Umur setinggi-tingginya 27 tahun. Ketua Umum bertanggungjawab kepada Kongres. c. Pengalaman organisasi:  Sekurang-kurangnya 2 tahun aktif sebagai anggota. 2. 3. Umur setinggi-tingginya 23 tahun. Pasal 21 Pemilihan dan Penetapan Pengurus 1. Ketua dipilih oleh Konferensi Cabang atau Konferensi Cabang Luar Biasa. dan tidak dapat dipilih kembali untuk masa khidmat berikutnya. c. Ketua dibantu oleh formatur yang dipilih oleh Konferensi Wilayah menyusun kepengurusan Pimpinan Wilayah.  Sudah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA). 5. b. Kriteria pengurus Pimpinan Pusat adalah: a. Pendidikan serendah-rendahnya S. Pemilihan dan penetapan pengurus Pimpinan Wilayah ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. 4.  Pernah menjadi pengurus Pimpinan Ranting atau Pimpinan Komisariat atau Pimpinan Anak Cabang. 3.  Sudah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) dan Latihan Kader Muda (LAKMUD). Kriteria pengurus Pimpinan Wilayah adalah: a. Ketua Pimpinan Wilayah bertanggungjawab kepada Konferensi Wilayah. Latihan Kader Muda (LAKMUD). c.  Pernah menjadi pengurus Pimpinan Cabang atau Pimpinan Wilayah. 11 .1 atau yang sederajat. Pimpinan Pusat dikukuhkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Umur setinggi-tingginya 23 tahun. Ketua Umum dibantu oleh formatur yang dipilih oleh Kongres menyusun kepengurusan Pimpinan Pusat. Pendidikan serendah-rendahnya SLTP atau yang sederajat. Umur setinggi-tingginya 25 tahun. Pemilihan dan penetapan pengurus Pimpinan Pusat ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pendidikan serendah-rendahnya SLTA atau yang sederajat. 2.  Pernah menjadi pengurus Pimpinan Cabang atau Pimpinan Wilayah atau Pimpinan Pusat.  Sudah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) dan Latihan Kader Muda (LAKMUD). Kriteria pengurus Pimpinan Cabang adalah: a. Ketua Umum dipilih oleh Kongres atau Kongres Luar Biasa. Pengalaman organisasi:  Sekurang-kurangnya 3 tahun aktif sebagai anggota.

Ketua Pimpinan Ranting bertanggung jawab kepada Rapat Anggota 6. c. diharuskan memilih salah satu jabatan dalam kurun waktu selambat-lambatnya 2 (dua) bulan. Pemilihan dan penetapan pengurus Pimpinan Anak Cabang ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. 2. Ketua Pimpinan Komisariat bertanggung jawab kepada Rapat Anggota BAB VII RANGKAP JABATAN Pasal 22 Rangkap Jabatan 1. Jika ayat (2) tidak terpenuhi. Pengurus dilarang melibatkan diri dan/atau melibatkan organisasi dalam kegiatan politik praktis. maka pengurus tersebut dapat diberhentikan oleh pengurus yang bersangkutan atau tingkat kepengurusan di atasnya. d. b. c. Ketua dibantu oleh formatur yang dipilih oleh Rapat Anggota menyusun kepengurusan Pimpinan Komisariat. Bagi pengurus yang merangkap jabatan sebagaimana ayat (1). 4. Rangkap jabatan politik adalah merangkap jabatan pada kepengurusan harian partai politik. Pemilihan dan penetapan pengurus Pimpinan Komisariat ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Bagi pengurus yang mengikuti kegiatan politik atau mencalonkan diri untuk menduduki jabatan politik. BAB VIII KEKOSONGAN KEPENGURUSAN DAN KEKOSONGAN JABATAN 12 . organisasi underbow partai politik. Pasal 23 1. diwajibkan untuk non-aktif. Pimpinan Anak Cabang disahkan oleh Pimpinan Cabang dengan rekomendasi Majelis Wakil Cabang (MWC) NU. Pimpinan Komisariat disahkan oleh Pimpinan Cabang dengan rekomendasi Pimpinan Anak Cabang dan pimpinan lembaga pendidikan yang bersangkutan. dan tidak dapat dipilih kembali untuk masa khidmat berikutnya. atau kepengurusan IPNU di daerah atau tingkat yang berbeda. 3. Ketua dibantu oleh formatur yang dipilih oleh Konferensi Anak Cabang menyusun kepengurusan Pimpinan Anak Cabang. Pimpinan Ranting disahkan oleh Pimpinan Cabang dengan rekomendasi Pimpinan Anak Cabang dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama. b. 5. 2. 2. Ketua dipilih oleh Konferensi Anak Cabang atau Konferensi Anak Cabang Luar Biasa. Ketua dipilih oleh Rapat Anggota atau Rapat Anggota Luar Biasa dan tidak dapat dipilih kembali untuk masa khidmat berikutnya. diharuskan memilih salah satu jabatan dalam kurun waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan. b. Pengisian kekosangan jabatan akibat pemberlakukan ayat (3) dilakukan dengan mekanisme yang berlaku. c. Rangkap jabatan organisasi adalah merangkap dua atau lebih jabatan kepengurusan harian di lingkungan Nahdlatul Ulama. c.b. Pasal 24 1. d. dan atau jabatan politik lainnya. Ketua dibantu oleh formatur yang dipilih oleh Konferensi Cabang menyusun kepengurusan Pimpinan Cabang. d. Pemilihan dan penetapan pengurus Pimpinan Ranting ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Bagi pengurus yang merangkap jabatan sebagaimana ayat (1). Ketua Pimpian Anak Cabang bertanggung jawab kepada Konferensi Anak Cabang. Ketua dipilih oleh Rapat Anggota atau Rapat Anggota Luar Biasa dan tidak dapat dipilih kembali untuk masa khidmat berikutnya. d. Pimpinan Cabang disahkan oleh Pimpinan Pusat dengan rekomendasi Pimpinan Wilayah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama. Ketua Pimpinan Cabang bertanggungjawab kepada Konferensi Cabang 4. Ketua dibantu oleh formatur yang dipilih oleh Rapat Anggota menyusun kepengurusan Pimpinan Ranting.

d. seorang tidak diperbolehkan menjadi pengurus lebih dari 2 (dua) masa khidmat berturut-turut pada tingkat kepengurusan yang sama. 2. Forum permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat nasional adalah Kongres. Kekosongan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terjadi karena yang bersangkutan berhalangan tidak tetap.Pasal 25 Kekosongan Kepengurusan 1. f. Membahas dan menetapkan Garis-Garis Besar Program Perjuangan dan Pengembangan (GBP3). d. c. Kekosongan kepengurusan sebagaimana ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi Pasal 26 Kekosongan Jabatan 1. PC. Membahas dan menetapkan perubahan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga. Pimpinan Wilayah. b. maka hal tersebut diperbolehkan. 2. (2). e. Pimpinan Cabang. 2. Menilai laporan pertanggungjawaban Pimpinan Pusat. Berhalangan tidak tetap terjadi karena sakit tidak permanen. mengundurkan diri secara suka rela dan beralasan. c. Kongres adalah forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang diselenggarakan untuk: a. Mekanisme pengisian kekosongan jabatan pengurus sebagaimana ayat (1) diatur dalam Peraturan Organisasi. mengundurkan diri secara suka rela dan beralasan. 3. Kongres diadakan setiap 3 tahun sekali oleh Pimpinan Pusat dan dihadiri oleh Pimpinan Pusat. Kekosongan jabatan pengurus non-Ketua Umum/Ketua terjadi karena pengurus yang bersangkutan meninggal dunia. atau diberhentikan secara tetap karena melanggar PD-PRT dan/atau peraturan organisasi lainnnya. Membahas dan menetapkan Prinsip Perjuangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Memilih dan menetapkan Ketua Umum Pimpinan Pusat dan Tim Formatur. menunaikan ibadah haji. Pasal 30 13 . PR/PK) terjadi karena yang bersangkutan berhalangan tetap atau berhalangan tidak tetap. Pasal 27 1. Berhalangan tetap terjadi karena yang bersangkutan meninggal dunia. Pembekuan kepengurusan. Dalam hal yang bersangkutan terpilih menjadi ketua umum/ketua pada masa khidmat yang ketiga. b. Untuk kelancaran penyelenggaraan Kongres. atau diberhentikan secara tetap karena melanggar PD-PRT dan/atau peraturan organisasi lainnnya. atau didesak untuk mundur oleh separoh lebih satu dari pimpinan setingkat di bawahnya karena yang bersangkutan tidak melaksanakan tugasnya. Membahas dan menetapkan kebijakan-kebijakan IPNU secara nasional. BAB IX PERMUSYAWARATAN Pasal 29 Kongres 1. Demisionerisasi otomatis. Pengisian kekosongan jabatan sebagaimana ayat (1). Demisionerisasi resmi. Kekosongan jabatan ketua umum (untuk PP) atau ketua (untuk PW. 3. dan (3) diatur dalam Peraturan Organisasi. Di semua tingkat kepengurusan IPNU. Pasal 28 1. dan undangan. 3. 2. menjalankan tugas belajar atau tugas lainnya ke luar negeri atau luar daerah kerjanya. PAC. atau permintaan ijin cuti karena sesuatu hal yang dikabulkan. Kekosongan kepengurusan terjadi karena sebab-sebab berikut: a. 4. Pimpinan Pusat membentuk panitia yang bertanggungjawab kepada Pimpinan Pusat.

Kongres Luar Biasa Dalam hal-hal khusus dapat diselenggarakan Kongres Luar Biasa 1. Pasal 33 Konferensi Wilayah 1. Konferensi Wilayah Luar Bisa diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah-masalah organisasi yang mendesak dan penting yang tidak dapat diselesaikan dalam forum/permusyawaratan lain. 1. dan dihadiri oleh Pimpinan Wilayah. Kongres Luar Biasa dapat dilaksanakan atas usul separoh lebih satu jumlah Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang yang sah. Pasal 35 Rapat Kerja Wilayah 1. 3. 14 . 2. Pasal 32 Rapat Pimpinan Nasional 1. 2. khususnya yang berkaitan dengan kepentingan pelajar dan organisasi di tingkat nasional. Kongres Luar Biasa diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah-masalah organisasi yang mendesak dan penting yang tidak dapat diselesaikan dalam forum/permusyawaratan lain. 2. Kongres Luar Biasa dianggap sah apabila dihadiri oleh dua pertiga jumlah Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang yang sah. dan dihadiri oleh Pimpinan Pusat serta Pimpinan Wilayah. serta hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan. koordinasi dan evaluasi program. 3. Konferensi Wilayah diadakan setiap 3 tahun sekali oleh Pimpinan Wilayah dan dihadiri oleh Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang. serta penjabaran hasil Konferensi Wilayah. serta membahas masalah-masalah khusus organisasi di tingkat propinsi. Membahas dan menetapkan kebijakan-kebijakan organisasi di tingkat propinsi. Rapat Pimpinan Nasional merupakan forum permusyawaratan untuk membahas isu-isu aktual dan strategis. Konferensi Wilayah Luar Biasa dianggap sah apabila dihadiri oleh dua pertiga jumlah Pimpinan Cabang yang sah. Rapat Kerja Wilayah diadakan minimal 1 (satu) kali dalam masa kepengurusan Pimpinan Wilayah. Rapat Kerja Wilayah diadakan oleh Pimpinan Wilayah dan dihadiri oleh Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang. Konferensi Wilayah diselenggarakan untuk: a. Konferensi Wilayah Luar Biasa dapat dilaksanakan atas usul separoh lebih satu dari jumlah Pimpinan Cabang yang sah. 2. 3. 3. Menilai laporan pertanggungjawaban Pimpinan Wilayah d. Memilih dan menetapkan Ketua Pimpinan Wilayah dan Tim Formatur Pasal 34 Konferensi Wilayah Luar Biasa Dalam hal-hal khusus dapat diselenggarakan Konferensi Wilayah Luar Biasa. Rapat Kerja Wilayah merupakan forum permusyawaratan untuk membahas perencanaan. Rapat Pimpinan Nasional diadakan sesuai kebutuhan pada suatu masa khidmat tertentu. koordinasi dan sinkronisasi program kerja. Rapat Kerja Nasional diadakan minimal 1 (satu) kali dalam masa kepengurusan Pimpinan Pusat. Membahas dan menetapkan pokok-pokok program kerja Pimpinan Wilayah. Rapat Kerja Nasional diadakan oleh Pimpinan Pusat. Rapat Kerja Nasional merupakan forum permusyawaratan untuk membahas masalahmasalah organisasi yang bersifat khusus. 2. menyusun jadwal/program kerja. Pasal 31 Rapat Kerja Nasional 1. b. 3. c. 3. evaluasi. Forum permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat propinsi adalah Konferensi Wilayah. Rapat Pimpinan Nasional diadakan oleh Pimpinan Pusat. 2.

Rapat Pimpinan Cabang merupakan forum permusyawaratan untuk membahas isu-isu aktual dan strategis. 4. Memilih dan menetapkan Ketua Pimpinan Cabang dan Tim Formatur. Menilai laporan pertanggungjawaban Pimpinan Cabang d. serta membahas masalah-masalah khusus organisasi di tingkat kabupaten/kota. 2. Konferensi Cabang Luar Biasa dapat dilaksanakan atas usul separoh lebih satu jumlah Pimpinan Anak Cabang. Konferensi Cabang diadakan setiap 2 tahun sekali oleh Pimpinan Cabang yang dihadiri oleh Pimpinan Cabang. Konferensi Cabang Luar Biasa dianggap sah apabila dihadiri oleh dua pertiga jumlah Pimpinan Anak Cabang. koordinasi dan evaluasi program. Rapat Kerja Cabang diadakan oleh Pimpinan Cabang dan dihadiri oleh Pimpinan Anak Cabang. Rapat Pimpinan Wilayah dapat diadakan untuk membahas masalah-masalah yang akan dibawa pada Kongres atau Rapat Kerja Nasional. 3. Pimpinan Anak Cabang. serta penjabaran hasil Konferensi Cabang. atau Rapat Kerja Wilayah. Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat yang sah. Forum permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat kabupaten/kota adalah Konferensi Cabang. 2. Rapat Pimpinan Wilayah diadakan oleh Pimpinan Wilayah. menyusun jadwal/program kerja. Rapat Pimpinan Wilayah diadakan sesuai kebutuhan pada suatu masa khidmat tertentu. Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat. Konferensi Anak Cabang diadakan setiap 2 (dua) tahun sekali oleh Pimpinan Anak Cabang 15 . Forum permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat kecamatan adalah Konferensi Anak Cabang. Rapat Pimpinan Cabang dapat diadakan untuk membahas masalah-masalah yang akan dibawa pada Kongres. Pasal 41 Konferensi Anak Cabang 1. Pasal 37 Konferensi Cabang 1. 3. b. 4.Pasal 36 Rapat Pimpinan Wilayah 1. 3. khususnya yang berkaitan dengan kepentingan pelajar dan organisasi di tingkat kabupaten. Membahas dan menetapkan pokok-pokok program kerja Pimpinan Cabang. Konferensi Wilayah. 2. 1. Rapat Pimpinan Cabang diadakan oleh Pimpinan Cabang. 2. Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat yang sah. Rapat Kerja Cabang diadakan minimal 1 (satu) kali dalam masa kepengurusan Pimpinan Cabang. dan dihadiri oleh Pimpinan Cabang. Rapat Pimpinan Cabang diadakan sesuai kebutuhan pada suatu masa khidmat tertentu. Konferensi Cabang Luar Bisa diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah-masalah organisasi yang mendesak dan penting yang tidak dapat diselesaikan dalam forum/permusyawaratan lain. 2. c. Konferensi Cabang diselenggarakan untuk: a. Membahas dan menetapkan kebijakan-kebijakan organisasi di tingkat kabupaten/kota. Rapat Kerja Cabang merupakan forum permusyawaratan untuk membahas perencanaan. Rapat Pimpinan Wilayah merupakan forum permusyawaratan untuk membahas isu-isu aktual dan strategis. 3. Pasal 39 Rapat Kerja Cabang 1. khususnya yang berkaitan dengan kepentingan pelajar dan organisasi di tingkat propinsi. 2. 3. Pasal 38 Konferensi Cabang Luar Biasa Dalam hal-hal khusus dapat diselenggarakan Konferensi Cabang Luar Bisa. dan dihadiri oleh Pimpinan Anak Cabang. Pasal 40 Rapat Pimpinan Cabang 1.

serta membahas masalah-masalah khusus organisasi. 1. Rapat Anggota diselenggarakan untuk: a. Menilai laporan pertanggungjawaban Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat. 2. 3. b. koordinasi dan evaluasi program. Menilai laporan pertanggungjawaban Pimpinan Anak Cabang d. Rapat Pimpinan Anak Cabang dapat diadakan untuk membahas masalah-masalah yang akan dibawa pada Konferensi Cabang dan Rapat Kerja Cabang. Membahas dan menetapkan pokok-pokok program kerja Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat. Konferensi Anak Cabang Luar Biasa diselenggarakan untuk menyelesaikan masalahmasalah organisasi yang mendesak dan penting yang tidak dapat diselesaikan dalam forum/permusyawaratan lain. 3. Rapat Kerja Anak Cabang merupakan forum permusyawaratan untuk membahas perencanaan. d. 1. Pasal 43 Rapat Kerja Anak Cabang 1. Rapat Kerja Anak Cabang diadakan minimal 1 (satu) kali dalam masa kepengurusan Pimpinan Anak Cabang. menyusun jadwal/program kerja.yang dihadiri oleh Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat. Rapat Pimpinan Anak Cabang diadakan oleh Pimpinan Anak Cabang. 3. Pasal 45 Rapat Anggota 1. khususnya yang berkaitan dengan kepentingan pelajar dan organisasi di tingkat kecamatan. Memilih dan menetapkan Ketua Pimpinan Anak Cabang dan Tim Formatur Pasal 42 Konferensi Anak Cabang Luar Biasa Dalam hal-hal khusus dapat diselenggarakan Konferensi Anak Cabang Luar Bisa. Memilih dan menetapkan Ketua Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat dan Tim Formatur Pasal 46 Rapat Anggota Luar Biasa Dalam hal-hal khusus dapat diselenggarakan Rapat Anggota Luar Bisa. 3. 2. 2. Rapat Kerja Anak Cabang dapat diadakan guna membahas masalah-masalah yang akan dibawa pada Konferensi Cabang dan Rapat Kerja Cabang. b. 3. 4. c. Rapat Pimpinan Anak Cabang merupakan forum permusyawaratan untuk membahas isuisu aktual dan strategis. Rapat Anggota diadakan setiap 2 tahun sekali oleh Pimpinan Ranting/dan 1 tahun sekali oleh Pimpinan Komisariat yang dihadiri oleh anggota. Membahas dan menetapkan kebijakan-kebijakan organisasi di tingkat desa/kelurahan atau lembaga pendidikan. Membahas dan menetapkan kebijakan-kebijakan organisasi di tingkat kecamatan. dan dihadiri oleh Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat. Konferensi Anak Cabang diselenggarakan untuk: a. 4. c. Forum permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat desa/kelurahan atau lembaga pendidikan adalah Rapat Anggota. Pasal 44 Rapat Pimpinan Anak Cabang 1. Rapat Pimpinan Anak Cabang diadakan sesuai kebutuhan pada suatu masa khidmat tertentu. Konferensi Anak Cabang Luar Biasa dianggap sah apabila dihadiri oleh dua pertiga jumlah Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat yang sah. Rapat Anggota Luar Biasa diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah-masalah 16 . Konferensi Anak Cabang Luar Biasa dapat dilaksanakan atas usul separoh lebih satu jumlah Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat yang sah. Rapat Kerja Anak Cabang diadakan oleh Pimpinan Anak Cabang dan dihadiri oleh Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat. serta penjabaran hasil Konferensi Anak Cabang. Membahas dan menetapkan pokok-pokok program kerja Pimpinan Anak Cabang. 2.

Pimpina Wilayah : 10 % c. Rapat Pleno Gabungan. Pimpinan Cabang : 25 % d. menyusun jadwal/program kerja. c. Rapat Kerja Anggota diadakan oleh Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat dan dihadiri oleh anggota. 2. Pasal 47 Rapat Kerja Anggota 1.organisasi yang mendesak dan penting yang tidak dapat diselesaikan dalam forum/permusyawaratan lain. d. Rapat-rapat IPNU terdiri dari: a. Rapat Anggota Luar Biasa dapat dilaksanakan atas usul separoh lebih satu jumlah anggota. Pimpinan Pusat : 05 % b. Segala jenis permusyawaratan dinyatakan sah apabila dihadiri oleh separoh lebih satu dari jumlah Pimpinan Wilayah. b. Pasal 48 Legitimasi Permusyawaratan 1. 2. 3. 2. Pasal 50 Pengambilan keputusan 1. 4. f. 2. Pimpinan Cabang Istimewa. Hasil pendapatan iuran anggota dibagi untuk kepentingan: a. koordinasi dan evaluasi program. BAB X RAPAT-RAPAT Pasal 49 1. 3. dan penjabaran hasil Rapat Anggota. 2. Pimpinan Cabang. Pimpinan Anak Cabang : 30 % 17 . Rapat Anggota Luar Biasa dianggap sah apabila dihadiri oleh dua pertiga jumlah anggota. e. maka rapat dapat ditunda sampai batas yang tidak ditentukan. Ketentuan selanjutnya mengenai rapat-rapat diatur dalam Peraturan Organisasi. Pimpinan Anak Cabang. Besaran iuran anggota ditetapkan dalam Peraturan Pimpinan Pusat. 2. maka keputusan diambil dengan suara terbanyak. Konferensi Anak Cabang atau Rapat Kerja Anak Cabang. Rapat Kerja Anggota merupakan forum permusyawaratan untuk membahas perencanaan. Rapat Kerja Anggota juga dapat diadakan guna membahas masalah-masalah yang akan dibawa pada Konferensi Cabang. Apabila tidak memenuhi ketentuan ayat (1) di atas. Rapat Pleno Paripurna. Jika ketentuan pada ayat (2) tidak dapat terpenuhi. 3. Rapat Kerja Anggota diadakan minimal 1 (satu) kali dalam masa kepengurusan Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat. Rapat Panitia. Rapat Pleno. serta membahas masalah-masalah khusus organisasi di tingkat desa/kelurahan atau lembaga pendidikan. Rapat Pimpinan. Pimpinan Ranting/Pimpinan Komisariat atau anggota yang sah sesuai dengan tingkat permusyawaratan. Pengambilan keputusan dalam seluruh rapat dinyatakan sah apabila dihadiri sekurangkurangnya 2/3 dari jumlah peserta pada tingkat kepengurusan yang bersangkutan. Rapat Koordinasi Bidang. g. BAB XI KEUANGAN Pasal 51 Iuran 1. Rapat Harian. Segala keputusan yang diambil dalam setiap permusyawaratan diupayakan dengan cara musyawarah dan mufakat.

Pimpinan Ranting/Komisariat : 30% Pasal 52 Pengelolaan keuangan Pengelolaan keuangan IPNU dilakukan secara jujur. akan diatur dalam Peraturan Organisasi dan Peraturan Pimpinan Pusat.e. BAB XII PENUTUP Pasal 53 Ketentuan Penutup 1. 2. 18 . Peraturan Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Segala sesuatu yang belum diatur dalam Peraturan Rumah Tangga ini. transparan dan akuntabel.

19 .

19-24 Juni 2009 20 .PERATURAN DASAR IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA HASIL KONGRES XV IPPNU Ponpes Al-Hikmah Brebes.

4. dan kembali menjadi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada tanggal 23 Juni 2003. Bahwasanya perjuangan mempertahankan. kami generasi penerus Nahdlatul Ulama menyatukan diri dalam wadah organisasi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dengan Peraturan Dasar sebagai berikut : BAB I NAMA. berbangsa dan bernegara sesuai dengan nilai – nilai Pancasila. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Hambali. dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. kemajuan Nahdlatul Ulama dan sukses pembangunan Indonesia. dasar berpijak dalam kehidupan bermasyarakat. Pasal 2 Waktu Organisasi ini merupakan kelanjutan dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (1955-1988) dan Ikatan Putri – Putri Nahdlatul Ulama (1988-2003) yang didirikan pada 2 maret 1955 M bertepatan dengan 8 rojab 1374 H di Malang. Persatuan Indonesia. Pasal 3 Kedudukan Organisasi ini berkadudukan di ibukota Negara Republik Indonesia yang merupakan tempat kedudukan Pimpinan Pusat. BAB II AQIDAH DAN ASAS Pasal 4 Aqidah IPPNU beraqidah Islam Menurut faham ahlussunah waljama’ah dan mengikuti salah satu madzhab : Hanafi. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap. Bahwasanya pelajar putri Nahdlatul Ulama sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari generasi Indonesia. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmad Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan. Bahwasanya atas dasar keinsyafan generasi muda akan tanggung jawab masa depan bangsa. untuk waktu yang tidak terbatas. 2. kemaslahatan dan kecerdasan bangsa adalah kewajiban bagi setiap negara baik secara perorangan maupun bersamasama. senantiasa berpedoman pada garis perjuangan Nahdlatul Ulama dalam menegakkan syariat Islam dan bertanggung jawab terhadap Pancasila sebagai azas kehidupan berbangsa dan bernegara. BAB III KEDAULATAN Pasal 6 Kedaulatan Kedaulatan IPPNU berada ditangan anggota dan dilaksanakan oleh Kongres. Pasal 5 Asas IPPNU berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Syafi’i. 21 . Maliki.PERATURAN DASAR MUKADDIMAH Bismillahirrahmanirrahim Asyhadu an laa ilaaha illallah Wa asyhadu anna muhammadan rosulullah 1. 3. kejayaan Islam. WAKTU DAN KEDUDUKAN Pasal 1 Nama Organisasi ini bernama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama disingkat IPPNU. bertepatan dengan 29 Robi’ul Akhir 1424 H. maka berkat rahmat Allah SWT. mengisi kemerdekaan melalui tahapan pembangunan nasional untuk mewujudkan keadilan. Bahwasanya keyakinan umat Islam yang berhaluan Ahlussunah Wal Jama’ah sebagai prinsip hidup merupakan I’tikad dalam menegakkan syari’at Islam.

BAB VI KEANGGOTAN Pasal 11 Keanggotaan 1. 2.BAB IV SIFAT DAN FUNGSI Pasal 7 Sifat IPPNU adalah organisasi kepelajaran. Pimpinan IIPPNU di Kabupaten atau Kota. disebut Pimpinan Cabang disingkat PC IPPNU. SLTP. Mempersiapkan kader – kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa. 3. 2. 3. disebut Pimpinan Pusat disingkat PP IPPNU. 6. Pimpinan IPPNU di Kecamatan. 2. Wadah komunikasi. disebut Pimpinan Ranting disingkat PR IPPNU. Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun garis besar kebijakan organisasi dan landasan program sesuai dengan perkembangan masyarakat. berilmu. 3. 2. Pimpinan IPPNU Tingkat Pusat. Pimpinan IPPNU untuk Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi disebut Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi disingkat PKPT IPPNU. Wadah kaderisasi dan keilmuan pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk mempersiapkan kader – kader bangsa BAB V TUJUAN DAN USAHA Pasal 9 Tujuan Tujuan organisasi ini adalah kesempurnaan kepribadian bagi pelajar putri Indonesia sehingga akan terbentuk pelajar putri Indonesia yang bertaqwa kepada allah SWT. 5. Wadah berhimpun pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan nilai – nlai dan cita– cita perjuangan NU. 4. Pimpinan IPPNU tingkat dusun (jika diperlukan) maka disebut pimpinan anak ranting atau disingkat PPART. interaksi dan integrasi pelajar putri Nahdlatul Ulama untuk menggalang Ukhuwah Islamiyah dan mengembangkan syi’ar Islam ahlussunah waljama’ah. Anggota IPPNU terdiri dari : Anggota Biasa dan Anggota Istimewa. SLTA dan 1. Pasal 10 Usaha Menghimpun dan membina pelajar putri Islam dalam wadah organisasi IPPNU. 5. Pasal 8 Fungsi IPPNU berfungsi sebagai : 1. berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam Menurut faham Ahlussunah Waljamaah dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. kemasyarakatan dan keagamaan yang bersifat nirlaba. 22 . Pimpinan IPPNU Desa atau Kelurahan. 4. Mengembangkan sumber daya pelajar diberbagai sektor kehidupan. Anggota IPPNU adalah pelajar putri Islam yang berusia 12-30 tahun berjalan. BAB VII STRUKTUR ORGANISASI Pasal 12 Struktur Organisasi Struktur organisasi IPPNU terdiri dari : 1. Pimpinan IPPNU untuk Lembaga Pendidikan Ditingkat Pondok Pesantren. 8. Pimpinan IPPNU di Propinsi. 7. Membina persahabatan dan kerjasama dengan organisasi putri Islam pada khususnya dan organisasi lain pada umumnya selama tidak merugikan organisasi IPPNU baik dalam maupun luar negeri. disebut Pimpinan Anak Cabang disingkat PAC IPPNU. disebut Pimpinan Wilayah disingkat PW IPPNU.

Iuran Anggota 2. Ronferensi Cabang Istimewa Luar Biasa 27. Rapat Kerja Komisariat 25. Rapat Pimpinan Anak Cabang 18. Rapat Kerja Ranting 20. Usaha yang sah dan halal 3. Peraturan Organisasi 4. Rapat Kerja Nasional 5. Rapat Kerja Cabang Istimewa 28. 9. Rapat Pimpinan Wilayah 10. Konferensi Anak Cabang 15. Rapat Anggota Komisariat 24. Rapat Pimpinan Cabang Istimewa BAB IX KEUANGAN Pasal 14 Keuangan Keuangan IPPNU bersumber dari : 1. Rapat Kerja Komisariat Perguruan Tinggi 23. Peraturan Dasar 2. Kongres Luar Biasa 3. Ronferensi Cabang Istimewa 26. Rapat Kerja Wilayah 9. Konferensi Cabang Luar Biasa 12. Kongres 2. Peraturan Rumah Tangga 3. Konferensi Cabang 11. Rapat Kerja Cabang 13. Bantuan yang tidak mengikat BAB X PERATURAN Pasal 15 Peraturan Peraturan IPPNU terdiri dari : 1. Konferensi Wilayah Luar Biasa 8. Konferensi Wilayah 7. Peraturan Administrasi BAB XI PERUBAAHAN DAN PEMBUBARAN Pasal 16 Perubahan Peraturan Dasar IPPNU hanya dapat diubah oleh Kongres dengan dukungan 2/3 (dua per 23 . BAB III PERMUSYAWARATAN Pasal 13 Permusyawaratan Permusyawaratan IPPNU terdiri dari : 1. Rapat Kerja Anak Cabang 17. Rapat anggota anak ranting 21. Konferensi Anak Cabang Luar Biasa 16. Konferensi Besar 4.sederajat disebut Pimpinan Komisariat disingkat PK IPPNU. Konferensi Komisariat Perguruan Tinggi 22. Rapat Pimpinan Nasional 6. Rapat Pimpinan Cabang 14. Rapat Anggota Ranting 19. Pimpinan IPPNU Luar Negeri : disebut Pimpinan Cabang Istimewa disingkat PCI IPPNU.

lebih lanjut akan diataur dalam Peraturan Rumah Tangga. 2. IPPNU hanya dapat dibubarkan dengan keputusan Kongres atau Referandum yang dilakukan khusus untuk maksud tersebut. BAB XI PERUBAHAN DAN PEMBUBARAN Pasal 18 Ketentuan Penutup 1. Peraturan Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan 24 . 2. mka segala hak milik organisasi diserahkan kepada organisasi yang sehaluan dan atau badan wakaf. Apabila IPPNU dibubarkan.tiga) suara dari jumlah utusan Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang yang sah. Pasal 17 Pembubaran 1. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam peraturan Dasar.

25 .

PERATURAN RUMAH TANGGA IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA HASIL KONGRES XV IPPNU Ponpes Al-Hikmah Brebes. 19-24 Juni 2009 26 .

2. dikelilingi garis warna kuning yang kedua tepinya diapit oleh warna putih. Isi lambang. satu terletak diatas. Dalam keadaan khusus. empat buah lainnya menurun disisi kiri. 4. b. aqidah. Tulisan IPPNU dengan lima titik dibelakang huruf berwarna putih berada dibawah bulu angsa dan diantara dua bunga melati. Anggota biasa diterima melalui ranting/anak ranting/komisariat. dua kitab dan dua bulu angsa bersilang untuk ujung mata pena berwarna putih serta dua bunga melati putih di kedua sudut bawah lambang. Syarat menjadi anggota istimewa : a. aqidah. b. 3.berwarna kuning. Pasal 5 Syarat keanggotaan 1. Syarat menjadi anggota biasa IPPNU : a. Anggota IPPNU tidak diperkenankan menjadi anggota organisasi lain yang mempunyai asas. bintang sembilan. 2. Pasal 3 Atribut lainnya Ketentuan tentang arti lambang. tujuan dan usaha yang bertentangan dengan asas . Proses keanggotaan anggota biasa : a. Menyatakan kesediaaan menjadi anggota secara tertulis kepada Pimpinan IPPNU setempat. pondok pesantren atau sederajat dan menyetujui Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga IPPNU. 2. Putri Islam berusia 12 – 30 tahun berjalan b. Anggota biasa IPPNU adalah putri Islam berusia 12 – 30 tahun berjalan yang pernah atau sedang studi ditingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi.PERATURAN RUMAH TANGGA BAB I ATRIBUT Pasal 1 Lambang 1. dengan tidak terikat batasan usia. Anggota yang telah disahkan diberikan Kartu Tanda Anggota ( KTA ) oleh PC atas 27 . Lambang organisasi berbentuk segi tiga sama sisi. penggunaan lagu dan atribut lainnya ditetapkan dengan Peraturan Organisasi dan Administrasi IPPNU. Pasal 6 Proses keanggotaan 1. Menyatakan kesediannya menjadi anggota kepada Pimpinan IPPNU setempat. Alumni pengurus IPPNU dan orang yang diangap berjasa terhadap organisasi. anggota yang tidak diterima melalui ranting/anak ranting/komisariat. tujuan serta usaha IPPNU. d. Menyetujui Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga IPPNU. Anggota istimewa IPPNU adalah alumni pengurus IPPNU dan orang yang dianggap pernah berjasa terhadap organisasi.pengelolaan administrasinya diserahkan pada Pimpinan Anak Cabang dan struktur yang diatasnya. empat buah menurun disisi kanan. d. c. Pasal 2 Lagu Lagu – lagu wajib IPPNU terdiri dari mars dan hymne pelajar NU. c. Warna dasar hijau. Pengesahan anggota ditetapkan setelah mengikuti KKP(Diklatama Korps Kepanduan Putri) Masa Kesetiaan Anggota ( Makesta). BAB II KEANGGOTAAN Pasal 4 Jenis keanggotaan 1.

c. 8 orang bendahara (sesuai dengan jumlah ketua) i. saran dan pendapat. c. 2. yang merupakan Pimpinan tertinggi IPPNU ditingkat Nasional. Pimpinan pusat berkedudukan di ibu kota Negara Replubik Indonesia. 8 orang sekretaris (sesuai dengan jumlah ketua) g. Ketua umum dipilih oleh Kongres untuk masa bakti 3 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Mendukung dan mensukseskan program organisasi. Pelindung b. 2.permintaan PR/PK dengan rekomendasi PAC. Menjunjung tinggi nama baik. Atas permintaan sendiri d. Ketua Umum d. b. Mengikuti setiap kegiatan yang diselenggarakan organisasi. d. c. 8 orang ketua (sesuai dengan jumlah departemen ) e. Diberhentikan karena melanggar disiplin oranisasi 2. Pimpinan pusat disahkan oleh PBNU dan bertanggung jawab kepada Kongres. Memberikan usul. Pasal 8 Kewajiban anggota 1. Pimpinan pusat terdiri dari : a. Setiap Anggota biasa berhak : a. Memberikan bimbingan dan bantuan terhadap anggota dan pengurus. Pengurus pleno (sesuai kebutuhan) 3. Anggota biasa dan anggota istimewa berhenti karena : a. Tata cara keanggotaan anggota istimewa sepenuhnya menjadi kebijakan kepengurusan IPPNU disetiap tingkatan. Peraturan Administrasi dan Keputusan Organisasi. Peraturan Organisasi. Telah habis masa keanggotaannya c. tujuan dan kehormatan organisasi. 4. Mentaati Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga. b. 3 ketua lembaga (semi otonom) j. 2. Setiap Anggota biasa berkewajiban : a. Memilih dan dipilih menjadi pengurus dan atau memegang jabatan lain yang diamanatkan kepadanya. Setiap anggota istimewa berkewajiban melaksanakan hal – hal yang menjadi keputusan dan kebijakan kepengurusan IPPNU disetiap tingkatan. Pasal 11 28 . e. Setiap Anggota istimewa berhak : a. Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan organisasi. Pengaturan tentang pemberhentian anggota diatur dalam Peraturan Organisasi BAB III STRUKTUR ORGANISASI Pasal 10 Pimpinan Pusat 1. f. saran dan pendapat. Mengeluarkan usul. Sekretaris umum f. Pasal 7 Hak Anggota 1. Format KTA dan tata cara pengisian KTA diatur dalam Peraturan Organisasi dan Peraturan Administrasi 2. Mengadakan pembelaan terhadap keputusan organisasi tentang dirinya. Meninggal dunia b. Memperoleh perlakuan yang sama dari / untuk organisasi. Pasal 9 Pemberhentian anggota 1. b. Bendahara umum h. Dewan Pembina c. e. Memperoleh mandat atau rekomendasi untuk mengikuti kegiatan diluar organisasi.

Pimpinan Wilayah disahkan oleh Pimpinan Pusat atas rekomendasi Pengurus NU setempat dan bertanggung jawab kepada Konperensi Wilayah. Ketua d. 2 wakil bendahara i. 2 wakil sekretaris g. 4. Pasal 13 Pimpinan Anak Cabang 1. Pimpinan Ranting terdiri dari : a. 4 wakil ketua (sesuai dengan jumlah departemen) e. 2 wakil sekretaris g. Ketua Wilayah dipilih oleh Konperensi Wilayah untuk masa bakti 3 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Pimpinan Ranting berkedudukan di Desa/Kelurahan yang merupakan Pimpinan IPPNU tertinggi ditingkat Desa/Kelurahan. Pelindung b. 2. Pengurus pleno ( sesuai kebutuhan) 3. Pimpinan Anak Cabang terdiri dari : a. Ketua dipilih oleh Konperensi Cabang untuk masa bakti 2 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Dewan Pembina c. Pimpinan Anak Cabang disahkan oleh Pimpinan Cabang atas rekomendasi Pengurus NU setempat dan bertanggung jawab terhadap Konperensi Anak Cabang. Pasal 14 Pimpinan Ranting 1. Ketua d. 2 wakil bendahara i. Ketua dipilih oleh Konperensi Anak Cabang untuk masa bakti 2 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Pimpinan Cabang disahkan oleh Pimpinan Pusat atas rekomendasi Pimpinan Wilayah dan atau Pengurus NU setempat dan bertanggung jawab kepada Konperensi Cabang. Ketua Umum d. Sekretaris dan 1 wakil sekretaris f. Pelindung b. 4. ketua 3. Bendahara h. 2. Pelindung b. Pelindung b. Sekretaris f. Pimpinan Cabang berkedudukan di ibu kota Kabupaten/Kotamadya/Kota Administratif yang merupakan Pimpinan IPPNU ditingkat Kabupaten/Kotamadya/Kota Administratif. Dewan Pembina 29 . Dewan Pembina c. 4 wakil ketua : ketua 1. 2. yang merupakan Pimpinan tetinggi IPPNU ditingkat Propinsi. Pengurus pleno (sesuai kebutuhan) 3. Pimpinan Anak Cabang berkedudukan di ibu kota Kecamatan yang merupakan Pimpinan tertinggi IPPNU ditingkat Kecamatan. Pimpinan Wilayah berkedudukan di ibu kota Propinsi dan daerah istimewa. 3 ketua lembaga (semi otonom) j. 2 ketua lembaga (semi otonom) h. Bendahara h. Sekretaris f. ketua 2. Pengurus pleno (sesuai kebutuhan) 3. 2. 3 ketua lembaga (semi otonom) j. Pasal 12 Pimpinan Cabang 1. Bendahara dan 1 wakil bendahara g. Pimpinan Wilayah terdiri dari : a. 2 wakil ketua (sesuai dengan jumlah departemen) e. Pimpinan Cabang terdiri dari : a. Dewan Pembina c.Pimpinan Wilayah 1.dan ketua 4 e. 4.

Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi berkedudukan di Lembaga Perguruan Tinggi. Ketua dan wakil ketua d. 2. Pasal 16 Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi 1. Pimpinan Komisariat berkedudukan di Lembaga Pendidikan / Pondok Pesantren. Ketua dipilih oleh Rapat Anggota Anak Ranting untuk masa bakti 2 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. 2 ketua lembaga (semi otonom) g. Pasal 18 Pimpinan Cabang Istimewa 30 . Pelindung b. yang merupakan Pimpinan tertinggi IPPNU ditingkat Lembaga Perguruan Tinggi. 2. Sekretaris dan wakil sekretaris e. Pimpinan Komisariat disahkan oleh PC atas rekomendasi Lembaga Pendidikan/Pondok Pesantren setempat dan bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. Dewan Pembina c. Pengurus pleno (sesuai kebutuhan) 3. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi terdiri dari : a. Bendahara dan 1 wakil bendahara f. Pengurus pleno (sesuai kebutuhan) 3. 4. 4. 2 ketua Lembaga ( semi otonom) g. Pelindung b. Ketua dan 1 wakil ketua d. Pimpinan Komisariat terdiri dari : a. Pengurus pleno ( sesuai kebutuhan) 3. 2 ketua Lembaga ( semi otonom) g. 4. Pimpinan Ranting disahkan oleh PC atas rekomendasi PAC dan bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. Pimpinan Anak Ranting disahkan oleh PC atas rekomendasi Pimpinan Ranting setempat dan bertanggung jawab kepada Rapat Anggota Anak Ranting. yang merupakan Pimpinan tertinggi IPPNU di tingkat Lembaga Pendidikan / Pondok Pesantren.c. Bendahara dan 1 wakil bendahara f. 2 ketua lembaga (semi otonom) g. Bendahara dan 1 wakil bendahara f. 2. Bendahara dan wakil bendahara f. Dewan Pembina c. Pasal 15 Pimpinan Anak Ranting 1. Sekretaris dan 1 wakil sekretaris e. Ketua dipilih oleh Rapat Anggota Komisariat Perguruan Tinggi untuk masa bakti 2 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Ketua dan 1 wakil ketua d. Pasal 17 Pimpinan Komisariat 1. Dewan Pembina c. Ketua dipilih oleh Rapat Anggota masa bakti 1 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Ketua dipilih oleh Rapat Anggota untuk masa bakti 2 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya 4. Pimpinan Anak Ranting terdiri dari : a. Pengurus pleno (sesuai kebutuhan) 3. Sekretaris dan 1 wakil sekretaris e. yang merupakan Pimpinan tertinggi IPPNU ditingkat Desa/kelurahan. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi disahkan oleh PC atas rekomendasi Perguruan Tinggi setempat dan bertanggung jawab kepada Rapat Anggota Komisariat Perguruan Tinggi. Ketua dan 2 wakil ketua d. Pimpinan Anak Ranting berkedudukan di Desa/Kelurahan. Sekretaris dan 2 wakil sekretaris e. Pelindung b.

4. Sekretaris dan wakil sekretaris e. Dalam satu desa/beberapa dusun yang letak geografisnya tidak tidak terletak pada 1 ranting maka bisa dibentuk anak ranting yang memiliki anggota sekurang-kurangnya 10 orang. Dalam satu daerah Kecamatan yang telah mempunyai 3 ranting dan atau 3 komisariat dan atau 30 anggota dapat didirikan Pimpinan Anak Cabang dan selanjutnya tidak diperbolehkan mendirikan Pimpinan Anak Cabang yang lain. Pengurus pleno (sesuai kebutuhan) 3. Pelindung b. b. Pasal 21 Dewan Pembina 1. Dewan Pembina c. b. 2. Memberikan pembinaam secara kontineu dan memberikan nasihat baik di minta ataupun tidak. Memberikan dorongan. pengayoman pada organisasi dengan tingkatan masing – masing. 5. 2. Dalam satu daerah Tingkat 1 yang sekurang – kurangnya mempunyai 3 Cabang dapat didirikan Pimpian Wilayah dan selanjutnya tidak diperbolehkan dibentuk Pimpinan Wilayah yang lain dalam satu Propinsi. 3. 4. Pelindung untuk Pimpinan Komisariat Lembaga Pendidikan/Popndok Pesantren dari unsur pengurus Lembaga Pendidikan/Pondok Pesantren setempat berdasar pertimbangan Pengurus Cabang NU setempat. Memberikan bantuan moril maupun materil kepada orgnisasi. BAB V PELINDUNG DAN DEWAN PEMBINA Pasal 20 Pelindung 1. 2. 3 ketua lembaga (semi otonom) g. Memberikan perlindungan. Pelindung untuk Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi dari unsur pengurus Lembaga Perguruan tinggi setempat berdasar pertimbangan Pengurus Cabang NU setempat. Pimpinan Cabang Istimewa disahkan oleh Pimpinan Pusat atas rekomendasi Pengurus NU setempat dan bertanggung jawab kepada Konperensi Cabang Istimewa. Alumni Pimpinan IPPNU sesuai tingkatan masing – masing. BAB IV PEMBENTUKAN ORGANISASI Pasal 19 Pembentukan Organisasi 1. Ketua dan wakil ketua d. Pelindung adalah pengurus NU pada masing – masing tingkatan kepengurusan. Fungsi Pelindung: a. Fungsi Dewan Pembina : a. 2. Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi yang telah mempunyai anggota sekurang – kurangnya 10 orang dapat dibentuk Pimpinan Ranting atau Pimpinan Komisariat. Bendahara dan wakil bendahara f. Dalam satu Desa / Kelurahan. b. 4. Pembina terdiri dari: a. 3. Orang yang di anggap berjasa terhadap IPPNU. Pimpinan Cabang Istimewa terdiri dari : a. 3. Pada tiap – tiap tingkatan kepengurusan IPPNU terdapat dewan pembina. Pimpinan Cabang Istimewa berkedudukan di Luar Negeri.1. saran – saran dan bantuan moril maupun materiil. BAB VI KRITERIA PENGURUS 31 . Dalam satu Kabupaten / Kota yang telah mempunyai 3 Anak Cabang dan atau 6 Komisariat dan atau 45 anggota dapat dibentuk Pimpinan Cabang. Ketua Cabang dipilih oleh Konperensi Cabang Istimewa untuk masa bakti 2 tahun dan tidak dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya. Pada tiap – tiap tingkatan kepengurusaan IPPNU terdapat pelindung. 5. Lembaga Pendidikan.

pimpinan wilayah. dan mendapat rekomendasi dari PW 5. c. 4. berdedikasi tinggi dan loyal kepada organisasi 4. Pasal 24 Pimpinan Cabang 1. Pengalaman organisasi : Sekurang – kurangnya 2 tahun aktif sebagai anggota dan berprestasi. Pendidikan seendah – rendahnya SLTP atau sederajat. Pengurus harian khususnya ketua umum. Pendidikan serendah – rendahnya S-1 3. Pengalaman Organisasi : a. Pengalaman Organisasi : a. Pimpinan Wilayah dan atau Pimpinan Cabang c. Khusus untuk pengurus harian di syaratkan pernah menjadi pengurus Pimpinan Cabang dan atau Pimpinan Anak Cabang 5. a. bendahara umum harus bersedia tinggal di Jakarta. Pernah menjadi pengurus Pimpinan Cabang dan atau Pimpinan Anak Cabang c. Pernah mengikuti Latihan Kader Muda d. Pernah menjadi pengurus Pimpinan Pusat. Pernah mengikuti latihan Kader Muda d. Status bebas 6. Pengurus harian tidak boleh rangkap jabatan dengan parpol dan OKP yang tidak sehaluan dengan PD-PRT dan Citra Diri IPPNU. Status bebas 6. Pengurus harian tidak boleh rangkap jabatan dengan Parpol dan OKP yang tidak sehaluan dengan PD-PRT dan Citra Diri IPPNU. 2. Usia setinggi – tingginya 27 tahun 2. Sekurang – kurangnya 3 tahun aktif sebagai anggota dan berprestasi b. Berakhlak baik. Pasal 23 Pimpinan Wilayah 1. Pernah menjadi pengurus Pimpinan Anak Cabang dan atau Pimpinan Ranting dan atau Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi c. khusus untuk ketua umum disyaratkan pernah menjadi pengurus pengurus pimpinan pusat. Pernah mengikuti Makesta. Pengurus harian tidak boleh rangkap jabatan dengan Parpol dan OKP yang tidak sehaluan dengan PD-PRT dan Citra Diri IPPNU 7. Berakhlak baik. Pasal 25 Pimpinan Anak Cabang 1. berdedikasi tinggi dan loyal kepada organisasi 4. Sekurang – kurangnya 3 tahun aktif sebagai anggota dan berprestasi b. Pendidikan serendah – rendahnya SLTA atau sederajat 3. Khusus untuk pengurus harian disyaratkan pernah menjadi pengurus Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah. d. Pengurus harian khususnya ketua umum. Berakhlak baik. Status bebas 6. Berakhlak baik. Pernah menjadi pengurus Pimpinan Anak Cabang dan atau Pimpinan Ranting dan atau Pimpinan Komisariat. bendahara umum harus bersedia tinggal di wilayah ibukota propinsi setempat. Usia setinggi – tinginya 23 tahun. berdedikasi tinggi dan loyal pada organisasi. 7. sekretaris umum. Pendidikan serendah – rendahnya SLTA atau sederajat 3. Usia setinggi – tingginya belum31 tahun 2. Usia setinggi – tingginya 25 tahun 2. Sekurang – kurangnya 3 tahun aktif sebagai anggota dan berprestasi b. 3. sekretaris umum. Pernah mengikuti latihan kader muda dan latihan kader utama d. b.Pasal 22 Pimpinan Pusat 1. berdedikasi tinggi dan loyal kepada organisasi 4. Pengalaman Orgnisasi : a. Khusus untuk pengurus harian di syaratkan pernah menjadi pengurus Pimpinan Wilayah dan atau Pimpinan Cabang 5. Status bebas 32 .

2.5. berdedikasi tinggi dan loyal pada organisasi 4. Status bebas 6. 3. berdedikasi tinggi dan loyal pada organisasi 4. b. Berakhlak baik. Berakhla baik. berdedikasi tinggi dan loyal pada organisasi. Pernah mengikuti Makesta. Pengurus harian tidak boleh rangkap jabatan dengan Parpol dan OKP yang tidak sehaluan dengan PD-PRT dan Citra Diri IPPNU. Pasal 29 Pimpinan Komisariat 1. Pernah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota. 5. b. Berakhlak baik. Pengalaman organisasi : a. 2. Berstatus bebas. Khusus ketua disyaratkan pernah menjadi pengurus Pimpinan Ranting 5. 3. 4. berdedikasi tinggi dan loyal pada organisasi 4. Pengurus harian tidak boleh rangkap jabatan dengan Parpol dan OKP yang tidak sehaluan dengan PD-PRT dan Citra Diri IPPNU. Usia setinggi – tingginya 18 tahun . c. 3. Berakhlak baik. 2. Sekurang –kurangnya 1 tahun aktif sebagai anggota. Pendidikan serendah – rendahnya SLTP / sederajat. BAB VII HAK DAN KEWAJIBAN PIMPINAN Pasal 31 Pimpinan Pusat 33 . 3. c. Pengalaman organisasi : a. Khusus ketua disyaratkan pernah menjadi pengurus Pimpinan Ranting 5. Pengalaman organisasi : a. Pendidikan serendah. Status bebas 6. Usia setinggi – tingginya 21 tahun. Pendidikan serendah – rendahnya mahasiswa untuk Komisariat Perguruan Tinggi. b. Berstatus bebas 6. Pengurus harian tidak boleh rangkap jabatan dengan Parpol dan OKP yang tidak sehaluan dengan PD-PRT dan Citra Diri IPPNU. Usia setinggi – tingginya 22 tahun untuk Komisariat Perguruan Tinggi. c. Pernah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota. Pimpinan Komisariat Masih Aktif Sebagai Siswa/Santri Di Lembaga Tersebut Pasal 30 Pimpinan Cabang Istimewa Kriteri pengurus Pimpinan Cabang Istimewa di atur berdasarkan kebijakan Pimpinan Pusat. Pengalaman organisasi : a. 6.rendahnya SLTP atau yang sederajat. c. Pasal 27 Pimpinan Anak Ranting 1. Pengurus harian tidak boleh rangkap jabatan dengan Parpol dan OKP yang tidak sehaluan dengan PD-PRT dan Citra Diri IPPNU. b. Usia setinggi – tingginya 21 tahun. Pernah mengikuti Masa Kesetiaan Anggota. Sekurang-kurangnya 1 tahun aktif sebagaia anggota dan berprestasi. Pendidikan serendah. Sekurang-kurangnya 1 tahun aktif sebagaia anggota dan berprestasi. Pasal 26 Pimpinan Ranting 1. Khusus ketua disyaratkan pernah menjadi pengurus Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi 5. Khusus untuk ketua disyaratkan pernah menjadi pengurus Pimpinan Komisariat. 2. Sekurang – kurangnya 1 tahun aktif sebagai anggota.rendahnya SLTP atau yang sederajat. Pasal 28 Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi 1.

d. Mengesahkan PW dengan tembusan kepada Pengurus Wilayah NU setempat. Bertanggung jawab kepada Konferwil. g. Rakernas.Rapimnas. Mengambil kebijaksanaan organisasi untuk PAC/PR/PAR/PK. Mengesahkan PC dengan tembusan kepada Pimpinan Wilayah IPPNU dan Pengurus Wilayah NU setempat. apabila keduanya tidak dapat mengambil keputusan. Mengusulkan kepada PP untuk membatalkan keputusan atau kebijaksanaan PC. c. yang bertentangan dengan PD/PRT. h. Membatalkan keputusan dan kebijaksanan PAC/PR/PAR/PK. Konbes. Konferwil. yang bertentangan dengan PD/PRT. d. Mengesahkan PAC dengan tembusan Pengurus Anak cabang NU setempat d. yang melanggar peraturan organisasi melalui mekanisme Peratuaran Organisasi dan Peraturan Administrasi 2.Rapimcab dan kebijakan PC. Pimpinan Pusat berkewajiban : a. Pimpinan Cabang berkewajiban : a. d. Konbes. Melakukan konsolidasi antar tingkat secara intensif. b. c. apabila ketiganya tidak dapat mengambil keputusan. Menjalankan amanat Kongres. i. Konfercab. Konbes. yang bertentangan dengan PD dan PRT. e. Menjalankan amanat Kongres. Mengesahkan PR/PK dengan tembusan PAC IPPNU dan Pengurus Ranting NU/Pengurus Lembaga Pendidikan/Pondok Pesantren setempat. Konbes. c. e. Pimpinan Wilayah berkewajiban : a. Mengusulkan kepada PP mengenai pengesahan terbentuknya PC dengan persetujuan PW. b. Bertanggung jawab kepada Kongres. b. Mengadiri setiap undangan atas nama PP. Pimpinan Pusat berhak : a. Memberikan tandapenghargaan kepada pihak – pihak yang dianggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi. Rakernas. Menjalankan amanat Kongres. g. Pimpinan Cabang behak : a. Menentukan kebijaksanaan umum sesuai PD/PRT untuk menjalankan roda organisasi. Melaksanakan Konferwil. Mengambil kebijaksanaan untuk PW dan PC. Mengusulkan kepada PW untuk memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi 2. b. f.Rapimwil dan kebijakan PW. e. Rapimwil. e. Rakernas . 2. Rapimwil sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. Konferwil.1. d. Rakerwil. Memberikan rekomendasi kepada PP bagi pengesahan PC. Memberiakan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi di tingkat cabang. Memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang telah dianggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi di tingkat wilayah. Menentukan kebijaksanaan umum sesuai dengan tingkat kepengurusan PW. c. baik intern maupun ekstern. Rakerwil. f.Rapimnas. c.Rapimnas sesuai dengan ketentuan yang berlaku h. Pimpinan Wilayah berhak : a. Rakercab. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan. Mengaktifkan Korwil Pasal 32 Pimpinan wilayah 1. Mengaktifkan Korda Pasal 33 Pimpinan Cabang 1. i.Rapimnas dan kebijaksanaan PP. Membekukan PW atau PC. Mengajukan rekomendasi kepada PW untuk mendapatkan Surat Pengesahan PC dari PP c. Mengusulkan berdirinya PC kepada PP. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan. b. Mengesahkan PKPT/PK dengan tembusan PAC IPPNU dan Pengurus Ranting NU dan 34 . Rakernas. Mengusulkan kepada PP untuk memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi. Membatalkan keputusan atau kebijaksanaan PW atau PC. Rakerwil. Melaksanakan Kongres.

Memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi di tingkat kecamatan. Konferancab. Pimpinan Anak Cabang berkewajiban : a. e. Rapimwil.Rapimnas. Rakerwil. d.f. Konbes. 2.Rapimcab. e.Rapimnas. Konbes. Bertanggung jawab kepada Rapat Anggota pasal 37 Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi 1. Konferancab. c. Menentukan kebijaksanaan umum sesuai dengan tingkat kepengurusan PAC. i. Konfercab. Pasal 35 Pimpinan Ranting 1. Mengusulkan kepada PW dan PC untuk memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi. Bertanggung jawab kepada Konferancab. Rakercab. Memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi di tingkat Lembaga Pendidikan/Pondok Pesantren/Perguruan Tinggi. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan. Menjalankan amanat Kongres. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan.Rapimnas. b. Mengusulkan kepada PC untuk memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang dianggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi. Memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi di tingkat kelurahan/desa. b. Melaksanakan Konferancab dan Rakerancab sesuai dengan ketentuan yang belaku. Menjalankan amanat Kongres. Konferwil. Menentukan kabijaksanaan umum sesuai dengan tingkat kepengurusan PR. Rapimwil. Rakerancab kebijakan PAC dan Rapat Anggota b. b. 35 . Menentukan kabijaksanaan umum sesuai dengan tingkat kepengurusan PR. Rakerwil. e. Konfercab. Melaksanakan Rapat Anggota dan Rapat Kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Rakernas. Konferancab. g. Rakercab. Mengusulkan kepada PC untuk memberiakn tanda penghrgaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi. 2. Mengusulkan kepada PC untuk memberiakn tanda penghrgaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi. h. Bertanggung jawab kepada Rapat Anggota Pasal 36 Pimpinan Anak Ranting 1. Rakernas. Memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi di tingkat kelurahan/desa. Konferwil. Konferwil. c. d. Rakernas. d.Rapimcab sesuai dengan ketentuan yang berlaku Bertanggung jawab kepada Konfercab. b. Pasal 34 Pimpinan Anak Cabang 1. Memberikan rekomendasi kepada PC bagi pengesahan PR/PK. lembaga Perguruan Tinggi setempat. Konfercab. Rakercab. Melaksanakan Konfercab. f. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan. c. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan. Melaksanakan Rapat Anggota dan Rapat Kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Rapimwil. Pimpinan Ranting berhak : a. Rakerancab dan kebijakan PAC. Konbes. Rakercab. Pimpinan Anak Ranting berhak : a.Rapimcab. Pimpinan Komisariat berhak : a. c. Pimpinan Ranting berkewajiban : a. Rakerancab kebijakan PAC dan Rapat Anggota b. Pimpinan Ranting berkewajiban : a. 2. b. Mengusulkan kepada PC untuk membatalkan keputusan atau kebijaksanaan PR/PK yang bertentangan dengan PD dan PRT. Menentukan kebijaksanaan umum sesuai dengan tingkat kepengurusan PC. Pimpinan Anak Cabang berhak : a.Rapimcab. Menjalankan amanat Kongres. Rakerwil.

Memberiakn tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi di tingkat Lembaga Pendidikan/Pondok Pesantren/Perguruan Tinggi. Konferancab.2. b. Bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. 4. Hak suara PW dan PC masing – masing 1 (satu) suara. 2. Rapimwil. Kongres di selenggarakan untuk : a. Rakernas. Rakerwil. e. Undangan yang di tetapkan panitia 3. Menetapkan keputusan – keputusan lainnya. Memilih dan menetapkan Ketua Umum PP. Konbes. Konferwil. menetapkan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga. Rapimcab. Kekosongan pimpinan 3. Menjalankan amanat Kongres. Rakerwil. Rakerancab dan Rapat Anggota c. Rakercab. d. e. f. Melaksanakan Rapat Anggota sesuai ketentuan yang berlaku e.Rapimcab. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan. Kongres di adakan setiap 3 tahun sekali oleh PP IPPNU dan di hadiri : a.Rapimnas. Pimpinan Komisariat berkewajiban : a. Pimpinan Cabang d. Pimpinan Pusat b. d. Kevakuman pengurus maupun organisasi secara berturut-turut maksimal 1 tahun b. c. Menetapkan program umum organisasi tingkat nasional. Menilai dan menolak/menerima pertanggungjawaban PP IPPNU. BAB VIII PERMUSYAWARATAN Pasal 40 Kongres 1. Rakercab. Rakernas. Pimpinan Komisariat berkewajiban : a. Konferwil. antara lain: a. Konferancab. Rapimwil. Melaksanakan Rapat Anggota PKPT sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kongres merupakan forum permusyawaratan yang mempunyai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi IPPNU di tingkat Nasional/Pusat. Bertanggung jawab kepada Rapat Anggota Pasal 38 Pimpinan Komisariat 1. Pimpinan Komisariat berhak : a. Konfercab.Rapimnas. Menjalankan amanat Kongres. 2. Mengusulkan kepada PC untuk memberikan tanda penghargaan kepada pihak – pihak yang di anggap telah berjasa bagi kemajuan organisasi. Rakerancab dan Rapat Anggota c. Memberikan perlindungan dan pembelaan kepada anggota yang memerlukan. d. Konfercab. Pasal 41 Kongres Luar Biasa 1. Kongres Luar Biasa dilaksanakan karena sebab tertentu. Kongres Luar Biasa dapat dilaksanakan sewaktu – waktu atas usul setengah lebih satu jumlah Pimpinan Wilayah dan atau Pimpinan Cabang yang sah. Pasal 39 Pimpinan Cabang Istimewa Hak dan kewajiban Pimpinan Cabang Istimewa diatur berdasarkan kebijaksanaan Pimpinan Pusat. Pimpinan wilayah c. b. Pasal 42 Konferensi Besar 36 . Konbes. 2. Menyempurnakan. Kongres Luar Biasa di anggap sah apabila dihadiri oleh setengah lebih satu jumlah Pimpinan Wilayah dan atau Pimpinan Cabang yang sah. Merumuskan kebijaksanaan organisasi berkaitan dengan kehidupan kebangsaan kemasyarakatan dan keagamaan.

waktu oleh PP dan dihadiri : a. Konferensi Wilayah diselenggarakan untuk : a. Pasal 47 Rapat Kerja Wilayah 37 . 3. sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Rapimnas diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah – masalah organisasi yang dianggap mendesak dan penting. e. c. 4. Menetapkan Citra Diri. Pimpinan Wilayah. b. antara lain: a. Memilih dan menetapkan Ketua Umum Pimpinan Wilayah. Menetapkan program umum organisasi ditingkat regional. Pasal 46 Konferensi Wilayah Luar Biasa 1. Konferensi Wilayah ( Konferwil) diadakan 3 ahun sekali oleh PW dan dihadiri: a. Membahas Citra Diri . Merumuskan kebjaksanaan organisasi berkaitan dengan kehidupan kebangsaan. 3. Konferensi Wilayah Luar Biasa dapat dilaksanakan karena sebab tertentu. b. Konferensi Wilayah Luar Biasa dapat dilaksanakan sewaktu – waktu atas usul setengah lebih satu jumlah Pimpinan Cabang yang sah. Ketua Pimpinan Wilayah. Konferensi Besar diadakan untuk : a. d. Kevakuman pengurus maupun organisasi secara berturut-turut maksimal 1 tahun b. Konferensi Wilayah Luar Biasa di anggap sah apabila di hadiri oleh setengah lebih satu jumlah Pimpinan Cabang dan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi yang sah. Konferensi Besar dianggap sah apabila dihadiri oleh separuh lebih satu dari jumlah PW yang sah dan setiap keputusan dianggap sah apabila telah disetujui oleh separuh lebih satu dari jumlah peserta yang sah. Rapat Kerja Nasional diadakan untuk : a. Konferensi Wilayah merupakan permusyawaratan yang mempunyai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi IPPNU di tingkat regional/propinsi 2. Pimpinan Pusat b. Menetapkan keputusan – keputusan lainnya. 2.1. Melakukan penilaian atas pelaksanaan program tahunan. Pasal 45 Konferensi Wilayah 1. Konferensi Besar merupakan forum permusyawaratan untuk membahas masalah – masalah organisasi yang bersifat khusus di tingkat nasional/pusat. Rapat Kerja Nasional merupakan forum permusyawaratan untuk menilai perjalanan tahunan PP dan merumuskan perjalanan tahunan berikutnya. Merumuskan materi yang dipersiapkan sebagai bahan Kongres. 2. 4. Rapimnas merupakan forum konsolidasi dan silaturrohim PW dan PP. Hak suara PC dan PW masing – masing satu suara. Pimpinan Wilayah. Pimpinan Pusat. Pimpinan Pusat. Peraturan Organisasi dan Peraturan Administrasi serta Pedoman Pengkaderan b. Kekosongan pimpinan 3. Menilai dan menerima/menolak pertangungjawaban Pimpinan Wilayah. b. 2. Pimpinan Wilayah 3. Undangan yang ditetapkan panitia. Pasal 44 RAPIMNAS 1. Pimpinan Cabang c. Merumuskan penjabaran program kerja ( umum ) IPPNU b. Peraturan Organisasi dan Peraturan Administrasi serta Pedoman Pengkaderan c. Rapat Kerja Nasional diadakan oleh PP dan dihadiri : a. b. 3. Konferensi Besar di adakan sewaktu . Rapimnas dihadiri oleh : a. Pasal 43 Rapat Kerja Nasional 1. 2.

e. Merumuskan penjabaran program kerja PW b. b. 2. Rapat Kerja Wilayah merupakan forum permusyawaratan untuk membahas masalah – masalah organisasi yang bersifat khusus. Pimpinan Cabang.PK.Pondok Pesantren ). d. 3. Rapat Kerja Cabang di anggap sah apabila di hadiri separuh lebih satu dari jumlah PAC. b. Kekosongan pimpinan 3. Rapat Kerja Cabang ( Rakercab ) di adakan oleh PC dan dihadiri : a. b. Pasal 49 Konferensi Cabang 1. e. 3. 3. Rapat Kerja Wilayah di adakan untuk : a. Hak suara PAC .1. Pimpinan Ranting dan pengurus anak ranting d. Konferensi Cabang merupakan forum permusyawaratan yang mempunyai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi IPPNU ditingkat Cabang. Pimpinan Komisariat (PKPT. Konferensi Cabang Luar Biasa di anggap sah apabila dihadiri oleh setengah lebih satu jumlah PAC dan PKPT yang sah. Pimpinan Cabang b. c. Kevakuman pengurus maupun organisasi secara berturut-turut maksimal 1 tahun b. Rapimwil diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah – masalah organissasi yang dianggap mendesak dan penting. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi 3. Memilih dan menetapkan ketua Pimpinan Cabang. Membicarakan masalah – masalah penting yang timbul d. Konferensi Wilayah Luar Biasa dapat dilaksanakan karena sebab tertentu. 2. Undangan yang di tetapkan oleh panitia. 2. Pimpinan cabang. Melakukan penilaian atas pelaksanaan program tahunan. mulai perjalanan PC dan merumuskan kembali perjalanan tahun berikutnya. kemasyarakatan dan keagamaan. Konferensi Cabang Luar Biasa dapat dilakukan sewaktu – waktu atas usul setengah lebih satu jumlah Pimpinan PAC dan PKPT yang sah. Pasal 48 Rapimwil 1. Pimpinan Wilayah. Ketua Pimpinan Cabang. 38 . Pasal 50 Konferensi Cabang Luar Biasa 1. Rapat Kerja Cabang merupakan forum permusyawaratan untuk membahas masalah – masalah organisasi yang bersifat khusus.SMU. Menilai dan menerima atau menolak pertanggungjawaban Pimpinan Cabang. c. PR. Pimpinan Anak Cabang c. Rapat Kerja Wilayah ( Rakerwil ) di adakan oleh PW dan dihadiri oleh : a. Konferensi Cabang ( Konfercab ) diadakan 2 tahun sekali oleh PC dan dihadiri: a. Pasal 51 Rapat Kerja Cabang 1. antara lain: a.SLTA. 2. Merumuskan kebijaksanaan organisasi berkaitan dengan kehidupan kebangsaan. PAR Lembaga Pendidikan dan Pondok Pesantren masing – masing 1 ( satu ) suara. Menetapkan keputusan – keputusan lainnya. Pimpinan Wilayah. Pimpinan Anak Cabang. menilai perjalanan PW dan merumuskan kembali perjalanan tahunan berikutnya. Rapimwil dihadiri oleh : a. PKPT. 4. Menetapkan pgoram umum organisasi ditingkat Cabang. Merumuskan materi yang dipersiapkan sebagai bahan Konferwil maupun Kongres atau Konbes. Rapimwil merupakan forum konsolidasi dan silaturrohim PC dan PW. c. 2. b. Rapat Kerja Wilayah dianggap sah apabila dihadiri setengah lebih satu jumlah PC yang sah 4. Konferensi Cabang diselenggrakan untuk : a.

Pimpinan Komisariat setingkat ranting ( PK SMU. PK Lembaga Pendidikan dan Pondok Pesantren yang sah dan setiap keputusan di anggap sah apabila telah disetujui oleh separuh lebih satu dari jumlah suara yang sah. 3. e. Pimpinan Ranting c. Konferensi Anak Cabang Luar Biasa dapat di laksanakan sewaktu – waktu atas usul setengah lebih satu jumlah Pimpinan Ranting yang sah. Pasal 52 RAPIMCAB 1. Melakukan penilaian atas pelaksanaan program tahunan. Ketua Pimpinan Anak Cabang. Rapat Kerja Anak Cabang di anggap sah apabila dihadiri separuh lebih satu dari jumlah PR yang sah dan setiap keputusan di anggap sah apabila telah di setujui oleh separuh lebih satu dari jumlah separuh lebih satu yang sah. 2. kemasyarakatan dan keagamaan. Pasal 54 Konferensi Anak Cabang Luar Biasa 1. Merumuskan penjabaran program kerja PAC b. Rapimcab merupakan forum konsolidasi dan silaturrohim PAC dan PC. Rapat Kerja Anak Cabang di adakan untuk : a. Konferensi Anak Cabang Luar Biasa di anggap sah apabila dihadiri oleh setengah lebih satu jumlah PR yang sah. Merumuskan penjabaran kerja PC b. Membicarakan masalah – masalah yang timbul d. Hak suara PR da PK masing – masing 1 (satu) suara. Melakukan penilaian atas pelaksanaan program tahunan. Pimpinan Ranting. c. Menetapkan keputusan – keputusan lainnya. c. 2. Rapat Kerja Cabang di adakan untuk : a. d. 39 . 4. b. Pimpinan Anak Cabang b. c. Merumuskan materi yang dipersiapkan sebagai bahan Konferwil maupun Kongres atau Konbes. 2. Pasal 55 Rapat Kerja Anak Cabang 1. c. menilai perjalanan tahunan PAC dan merumuskan perjalanan tahunan berikutnya. Rapat Kerja Anak Cabang ( Rakerancab ) di adakan oleh PAC dan dihadiri : a. Ponpes. SLTP. Memilih dan menetapkan ketua Pimpinan Anak Cabang. 4. Konferensi Anak Cabang merupakan forum permusyawaratan yang mempunyai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi IPPNU di tingkat Kecamatan. Merumuskan materi yang di persiapkan sebagai bahan Konferwil maupun Kongres atau Konbes. Pimpinan Cabang b.PKPT. Rapimcab diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah – masalah organissasi yang dianggap mendesak dan penting. Rapimcab dihadiri oleh : a. 2. Undangan yang di tetapkan oleh panitia 3. Merumuskan kebijaksanaan organisasi berkaitan dengan kehidupan kebangsaan. c. Menetapkan program umum organisasi ditingkat Kecamatan. 4. Konferensi Anak Cabang ( Konferancab ) di adakan 2 tahun sekali oleh PAC dan dihadiri: a. Konferensi Anak Cabang diselenggarakan untuk : a. Acara tata tertib dan pemilihan ketua dan atau pengurus PAC dengan pengesahan peserta Konferensi Anak Cabang. Ketua PKPT Pasal 53 Konferensi Anak Cabang 1. 5. Pimpinan Anak Cabang b. Rapat Kerja Anak Cabang merupakan forum permusyawaratan untuk membahas masalah – masalah organisasi yang bersifat khusus. Membicarakan masalah – masalah penting yang timbul d. Menilai dan menerima / menolak pertanggung jawaban Pimpinan Anak Cabang. dll ) 3.

Sederajat Pasal 57 Konferensi Komisariat PKPT 1. 2. Masing – masing anggota mempunyai 1 ( satu ) hak suara. Pimpinan Ranting / Pimpinan Komisariat/PKPT b. kemasyarakatan dan keagamaan. Menetapkan keputusan – keputusan lainnya. Rapat anggota di adakan 2 tahun sekali oleh PKPT dan 1 tahun sekali untuk PR/PK lembaga pendidikan /pondok pesantren dan dihadiri oleh : a. Menilai dan menerima/menolak pertanggungjawaban PR/PK/PKPT e. Ponpes. Pimpinan PKPT 40 . Anggota c. Rapim ancab diselenggarakan untuk menyelesaikan masalah – masalah organissasi yang dianggap mendesak dan penting. g. 3. Menilai dan menerima/menolak pertanggungjawaban PR/PK/PKPT e.Pasal 56 Rapim Ancab 1. Pasal 58 Rapat Anggota 1. kemasyarakatan dan keagamaan. 5. 5. Rapim ancab merupakan forum konsolidasi dan silaturrohim PR dan PAC. 2. Memilih dan menetapkan ketua PR/PK/PKPT h. Menetapkan progran umum organisasi di tingkat desa / kelurahan maupun lembaga pendidikan / pondok pesantren/perguruan tinggi f. Masing – masing anggota mempunyai 1 ( satu ) hak suara. Menetapkan keputusan – keputusan lainnya. c. Anggota c. Acara tata tertib dan pemilihan ketua dan atau pengurus PR/PK/PKPT di tetapkan oleh PR/PK dengan pengesahan peserta rapat anggota. Rapat anggota di adakan 2 tahun sekali oleh PKPT dan 1 tahun sekali untuk PR/PK lembaga pendidikan /pondok pesantren dan dihadiri oleh : a. Undangan yang ditetapkan oleh Panitia 3. Rapat Kerja Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi merupakan forum permusyawaratan untuk membahas masalah – masalah organisasi yang bersifat khusus. 4. Ketua Pimpinan Ranting. Ketua PAR d. Merumuskan kebijaksanaan organisasi berkaitan dengan kehidupan kebangsaan. 4. menilai perjalanan tahunan PKPT dan merumuskan perjalanan tahunan berikutnya. Rapim ancab dihadiri oleh : a. Memilih dan menetapkan ketua PR/PK/PKPT h. g. Pimpinan Ranting / Pimpinan Komisariat/PKPT b. Komisariat SLTA. Rapat anggota diselenggarakan untuk : d. Rapat anggota merupakan forum permusyawaratan yang mempunyai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi IPPNU di tingkat desa / kelurahan maupun lembaga pendidikan/pondok pesantren/perguruan tinggi 2. Rapat anggota merupakan forum permusyawaratan yang mempunyai pemegang kekuasaan tertinggi organisasi IPPNU di tingkat desa / kelurahan maupun lembaga pendidikan/pondok pesantren/perguruan tinggi 2. Undangan yang ditetapkan oleh Panitia 3. Menetapkan progran umum organisasi di tingkat desa / kelurahan maupun lembaga pendidikan / pondok pesantren/perguruan tinggi f. Pimpinan Anak Cabang b. Rapat Kerja Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi ( RakerPKPT ) di adakan oleh PKPT dan dihadiri : a. Pasal 59 Rapat Kerja Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi 1. Rapat anggota diselenggarakan untuk : d. Merumuskan kebijaksanaan organisasi berkaitan dengan kehidupan kebangsaan. Acara tata tertib dan pemilihan ketua dan atau pengurus PR/PK di tetapkan oleh PR/PK dengan pengesahan peserta rapat anggota.

BAB X KEUANGAN Pasal 63 Iuran 1. Pimpinan Komisariat dan Perguruan Tinggi Pasal 64 Kepemilikan 1. Pimpinan Cabang b. maka penggantiannya diatur dalam peraturan Organisasi. Pimpinan Anak Cabang c. lebih lanjut diatur dalam Peraturan Organisasi dan atau Peraturan Administrasi. 2. 2. Pasal 60 Konferensi. Pengelolaan keuangan dan hak milik bukan uang dilakukan oleh Ketua Umum PP bertindak umtuk dan atas nama PP. maka keputusan diambil dengan suara terbanyak. sumbangan dan peralihan hak lainnya. Segala jenis permusyawaratan dinyatakan sah apabila dihadiri separuh lebih satu dari jumlah struktur satu tingkat dibawahnya. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 65 Penutup 1. Hal – hal yang belum diatur dalam Peraturan Rumah Tangga ini.b. 3. BAB IX RESHUFFLE Pasal 62 Apabila terjadi kevakuman/kekosongan kepengurusan disebabkan oleh satu dan lain hal. Harta milik organisasi diperoleh dari jual beli. Segala keputusan yang diambil dalam permusyawaratan di upayakan dengan cara musyawarah untuk mufakat. c. Rapat Kerja Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi di anggap sah apabila dihadiri separuh lebih satu dari jumlah PKPT yang sah dan setiap keputusan di anggap sah apabila telah di setujui oleh separuh lebih satu dari jumlah separuh lebih satu yang sah. Konferensi Luar Biasa dan Rapat Kerja Cabang Istimewa Konferensi. Pasal 61 Legitimasi Permusyawaratan 1. 41 . Merumuskan materi yang di persiapkan sebagai bahan Konferwil maupun Kongres atau Konbes. 2. Peraturan Rumah Tangga ini ditetapkan oleh kongres dan berlaku sejak tanggal ditetapkan. konferensi luar biasa dan rapat kerja cabang istimewa di atur berdasarkan kebijakan pimpinan pusat. Pembagian pendapatan iuran anggota diatur oleh : a. Besarnya iuran anggota akan ditetapkan kemudian dalam peraturan Organisasi dan/atau peraturan administrasi. wakaf. Peraturan Rumah Tangga ini hanya dapat diubah oleh kongres. Rapat Kerja Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi di adakan untuk : a. 3. Ketua PW bertindak untuk dan atas nama PW. Pimpinan Ranting 3. Ketua PC bertindak atas nama PW. Membicarakan masalah – masalah penting yang timbul d. Merumuskan penjabaran program kerja PKPT b. 2. 4. hibah. Jika point 2 tidak terpenuhi. Melakukan penilaian atas pelaksanaan program tahunan. Pimpinan Ranting d.

42 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful